P. 1
Buku Wound Care

Buku Wound Care

|Views: 11,736|Likes:
Published by Lean Ws

More info:

Published by: Lean Ws on Jun 05, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

06/08/2015

pdf

text

original

Sections

  • JUDUL BUKU
  • LUKA DAN PERAWATANNYA
  • LEAN WIDUASURYANO
  • MENGETAHUI PEMBIMBING
  • Ns. EKO JUNAETI, S Kep NIM:
  • BAB I
  • ANATOMI FISIOLOGI KULIT
  • ANATOMI KULIT
  • EPIDERMIS
  • DERMIS
  • VASKULARISASI KULIT
  • FISIOLOGI KULIT
  • BAB II
  • LUKA DAN MEKANISME PENYEMBUHANNYA
  • A.Pengertian
  • B.Jenis-Jenis Luka
  • 1. Berdasarkan tingkat kontaminasi
  • 2. Berdasarkan kedalaman dan luasnya luka
  • 3. Berdasarkan waktu penyembuhan luka
  • C. Mekanisme terjadinya luka :
  • D. Penyembuhan Luka
  • 1. Prinsip Penyembuhan Luka
  • 2. Fase Penyembuhan Luka
  • Gambar Fase Proliferasi
  • Menurut Taylor (1997):
  • Menurut Potter (1998):
  • E. Faktor yang Mempengaruhi Luka
  • 1. Usia
  • 2. Nutrisi
  • 3. Infeksi
  • 4. Sirkulasi (hipovolemia) dan Oksigenasi
  • 5. Hematoma
  • 6. Benda asing
  • 7. Iskemia
  • 8. Diabetes
  • 9. Keadaan Luka
  • 10. Obat
  • F. Komplikasi Penyembuhan Luka
  • 1. Infeksi
  • 2. Perdarahan
  • 3. Dehiscence dan Eviscerasi
  • G. Perkembangan Perawatan Luka
  • BAB III
  • ASUHAN KEPERAWATAN LUKA
  • Asuhan Keperawatan
  • BAB IV
  • PERAWATAN LUKA
  • A. Pengertian
  • B. Tujuan
  • C. Bahan yang Digunakan dalam Perawatan Luka
  • C. Persiapan alat
  • D. Cara Kerja Perawatan Luka Secara Umum
  • PERAWATAN LUKA BASAH KE KERING
  • A.Peralatan
  • B.Prosedur
  • PERAWATAN LUKA GANGREN
  • IRlGASI LUKA
  • PENCEGAHAN INFEKSI
  • DEBRIDEMENT
  • TEKNIK debridemen
  • BAB V
  • PENUTUP
  • A.Kesimpulan
  • B.Saran
  • DAFTAR PUSTAKA

( WOUND AND ITS MANAGEMEN

)

LEAN WIDYA SURYANTO RSUD NGUDI WALUYO WLINGI LEMBAR PENGESAHAN

JUDUL BUKU LUKA DAN PERAWATANNYA (WOUND AND ITS MANAGEMEN)

DI SUSUN OLEH LEAN WIDUASURYANO

MENGETAHUI PEMBIMBING

Ns. EKO JUNAETI, S Kep NIM:

KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa atas segala limpahan rahmat-Nya sehingga saya dapat menyelesaikan penyusunan buku yang berjudul ” LUKA DAN PERAWATANNYA (WOUND AND ITS MANAGEMEN) ” ini tepat pada waktunya. Tujuan dari penulisan makalah ini adalah untuk memenuhi persyaratan kenaikan pangkat. Selain itu, kami juga mengharapkan agar makalah ini bisa dijadikan sebagai tambahan materi dalam memahami luka dan managemen perawatannya sehingga wawasan kita akan bertambah, yang mana tujuan akhirnya adalah meningkatnya pelayanan kita terhadap pasien yang mengalami gangguan integumen erutama oleh adanya luka.
Dengan selesainya penyusunan buku ini, penulis menyampaikan rasa hormat dan ucapan terima kasih serta penghargaan yang tinggi kepada: 1. Ns. Eko Junaeti, S Kep. Selaku pembimbing penyusunan buku ini yang telah memberikan motivasi dan pengarahan. 2. Kepada semua pihak yang tidak dapat saya sebutkan satu persatu yang telah memberikan bantuan, motivasi, dan fasilitas hingga terselesaikanya penyusunan buku ini tepat pada waktunya.

Kami menyadari bahwa masih banyak kekurangan dalam buku ini, maka dari itu kami memohon kritik dan saran yang membangun untuk perbaikan kedepannya. Harapan kami, semoga buku ini dapat memberikan manfaat bagi semua pihak.

Blitar, 5 Juni 2011

Penulis

BAB I ANATOMI FISIOLOGI KULIT

ANATOMI KULIT Kulit adalah suatu organ pembungkus seluruh permukaan luar tubuh, merupakan organ terberat dan terbesar dari tubuh. Seluruh kulit beratnya sekitar 16 % berat tubuh, pada orang dewasa sekitar 2,7 – 3,6 kg dan luasnya sekitar 1,5 – 1,9 meter persegi. Tebalnya kulit bervariasi mulai 0,5 mm sampai 6 mm tergantung dari letak, umur dan jenis kelamin. Kulit tipis terletak pada kelopak mata, penis, labium minus dan kulit bagian medial lengan atas. Sedangkan kulit tebal terdapat pada telapak tangan, telapak kaki, punggung, bahu dan bokong. Secara embriologis kulit berasal dari dua lapis yang berbeda, lapisan luar adalah epidermis yang merupakan lapisan epitel berasal dari ectoderm sedangkan lapisan dalam yang berasal dari mesoderm adalah dermis atau korium yang merupakan suatu lapisan jaringan ikat.

EPIDERMIS Epidermis adalah lapisan luar kulit yang tipis dan avaskuler. Terdiri dari epitel berlapis gepeng bertanduk, mengandung sel melanosit, Langerhans dan merkel. Tebal epidermis berbeda-beda pada berbagai tempat di tubuh, paling tebal pada telapak tangan dan kaki. Ketebalan epidermis hanya sekitar 5 % dari seluruh ketebalan kulit. Terjadi regenerasi setiap 4-6 minggu.

Epidermis diperbaharui setiap 28 hari untuk migrasi ke permukaan. Terdapat sel Langerhans. Terdiri dari sel keratinosit yang bisa mengelupas dan berganti. Stratum Basale (Stratum Germinativum). hal ini tergantung letak. Terdapat aktifitas mitosis yang hebat dan bertanggung jawab dalam pembaharuan sel epidermis secara konstan. 5. Terdapat berkas-berkas filament yang dinamakan tonofibril. 2. dianggap filamen-filamen tersebut memegang peranan penting untuk mempertahankan kohesi sel dan melindungi terhadap efek abrasi. Terdapat sel Langerhans. Stratum basale dan stratum spinosum disebut sebagai lapisan Malfigi. 3. Stratum GranulosumDitandai oleh 3-5 lapis sel polygonal gepeng yang intinya ditengah dan sitoplasma terisi oleh granula basofilik kasar yang dinamakan granula keratohialin yang mengandung protein kaya akan histidin. Epidermis pada tempat yang terus mengalami gesekan dan tekanan mempunyai stratum spinosum dengan lebih banyak tonofibril. Stratum Korneum. biasanya terdapat pada kulit tebal telapak kaki dan telapak tangan. 4. Tidak tampak pada kulit tipis. Stratum Lusidum Berupa garis translusen. usia dan faktor lain. Stratum Spinosum. Merupakan satu lapis sel yang mengandung melanosit.Epidermis terdiri atas lima lapisan (dari lapisan yang paling atas sampai yang terdalam) : 1. .

Dermis mempunyai banyak jaringan pembuluh darah. Lapisan retikuler. Pada usia lanjut kolagen saling bersilangan dalam jumlah besar dan serabut elastin berkurang menyebabkan kulit terjadi kehilangan kelemasannya dan tampak mempunyai banyak keriput. kelenjar sebasea dan kelenjar keringat. mechanical strength. Fungsi Dermis : struktur penunjang. yang paling tebal pada telapak kaki sekitar 3 mm. Serabut elastin jumlahnya terus meningkat dan menebal. pembelahan dan mobilisasi sel. kandungan elastin kulit manusia meningkat kira-kira 5 kali dari fetus sampai dewasa. organisasi sel. Serabut-serabut kolagen menebal dan sintesa kolagen berkurang dengan bertambahnya usia. Kualitas kulit tergantung banyak tidaknya derivat epidermis di dalam dermis. Terdiri atas jaringan ikat yang menyokong epidermis dan menghubungkannya dengan jaringan subkutis.Fungsi Epidermis : Proteksi barier. DERMIS Merupakan bagian yang paling penting di kulit yang sering dianggap sebagai “True Skin”. menahan shearing forces dan respon inflamasi SUBKUTIS . tipis mengandung jaringan ikat jarang. Dermis juga mengandung beberapa derivat epidermis yaitu folikel rambut. pigmentasi (melanosit) dan pengenalan alergen (sel Langerhans). Dermis terdiri dari dua lapisan : • • Lapisan papiler. Tebalnya bervariasi. sintesis vitamin D dan sitokin. suplai nutrisi. tebal terdiri dari jaringan ikat padat.

Pada epidermis tidak terdapat pembuluh darah tapi mendapat nutrient dari dermis melalui membran epidermis . isolasi panas.Merupakan lapisan di bawah dermis atau hipodermis yang terdiri dari lapisan lemak. Cabang kecil meninggalkan pleksus ini memperdarahi papilla dermis. Lapisan ini terdapat jaringan ikat yang menghubungkan kulit secara longgar dengan jaringan di bawahnya. Fungsi Subkutis / hipodermis : melekat ke struktur dasar. Berfungsi menunjang suplai darah ke dermis untuk regenerasi. tiap papilla dermis punya satu arteri asenden dan satu cabang vena. VASKULARISASI KULIT Arteri yang memberi nutrisi pada kulit membentuk pleksus terletak antara lapisan papiler dan retikuler dermis dan selain itu antara dermis dan jaringan subkutis. kontrol bentuk tubuh dan mechanical shock absorber. cadangan kalori. Jumlah dan ukurannya berbedabeda menurut daerah di tubuh dan keadaan nutrisi individu.

. Kulit berperan pada pengaturan suhu dan keseimbangan cairan elektrolit. Temperatur kulit dikontrol dengan dilatasi atau kontriksi pembuluh darah kulit. Temperatur perifer mengalami proses keseimbangan melalui keringat. puting dan ujung jari. ultraviolet dan sebagai barier dari invasi mikroorganisme patogen. Pada temperatur yang menurun. trauma mekanik. eskresi dan metabolisme. Termoregulasi dikontrol oleh hipothalamus. mengontrol suhu tubuh (termoregulasi).FISIOLOGI KULIT Kulit merupakan organ yang berfungsi sangat penting bagi tubuh diantaranya adalah memungkinkan bertahan dalam berbagai kondisi lingkungan. Bila temperatur meningkat terjadi vasodilatasi pembuluh darah. insessible loss dari kulit. Sensasi telah diketahui merupakan salah satu fungsi kulit dalam merespon rangsang raba karena banyaknya akhiran saraf seperti pada daerah bibir. Fungsi proteksi kulit adalah melindungi dari kehilangan cairan dari elektrolit. kemudian tubuh akan mengurangi temperatur dengan melepas panas dari kulit dengan cara mengirim sinyal kimia yang dapat meningkatkan aliran darah di kulit. sebagai barier infeksi. pembuluh darah kulit akan vasokontriksi yang kemudian akan mempertahankan panas. sensasi. paru-paru dan mukosa bukal.

Kematian sel B. Pengertian Luka adalah suatu gangguan dari kondisi normal pada kulit ( Taylor. yaitu luka bedah takterinfeksi yang mana tidak terjadi proses peradangan (inflamasi) dan infeksi pada sistem pernafasan. pencernaan. Berdasarkan tingkat kontaminasi a) Clean Wounds (Luka bersih). 1. genital dan urinari tidak terjadi. Luka adalah kerusakan kontinyuitas kulit. Respon stres simpatis 3. 1997). 1995).BAB II LUKA DAN MEKANISME PENYEMBUHANNYA A. Luka bersih biasanya menghasilkan luka yang tertutup. Kontaminasi bakteri 5. 1997). mukosa membran dan tulang atau organ tubuh lain (Kozier. Perdarahan dan pembekuan darah 4. beberapa efek akan muncul : 1. Ketika luka timbul. Hilangnya seluruh atau sebagian fungsi organ 2. Jenis-Jenis Luka Luka sering digambarkan berdasarkan bagaimana cara mendapatkan luka itu dan menunjukkan derajat luka (Taylor. jika .

c) Contamined Wounds (Luka terkontaminasi). fresh.17%. pada kategori ini juga termasuk insisi akut.diperlukan dimasukkan drainase tertutup (misal. 2. d)Dirty or Infected Wounds (Luka kotor atau infeksi). respirasi. Kemungkinan terjadinya infeksi luka sekitar 1% . luka akibat kecelakaan dan operasi dengan kerusakan besar dengan teknik aseptik atau kontaminasi dari saluran cerna. termasuk luka terbuka. Jackson – Pratt). kontaminasi tidak selalu terjadi. Berdasarkan kedalaman dan luasnya luka a) Stadium I : Luka Superfisial (“Non-Blanching Erithema) : yaitu luka yang terjadi pada lapisan epidermis kulit. genital atau perkemihan dalam kondisi terkontrol. Merupakan luka superficial dan adanya tanda klinis seperti abrasi. kemungkinan timbulnya infeksi luka adalah 3% .11%. yaitu terdapatnya mikroorganisme pada luka. blister atau lubang yang dangkal. b) Stadium II : Luka “Partial Thickness” : yaitu hilangnya lapisan kulit pada lapisan epidermis dan bagian atas dari dermis. c) Stadium III : Luka “Full Thickness” : yaitu hilangnya kulit keseluruhan meliputi kerusakan atau nekrosis jaringan subkutan yang dapat meluas sampai bawah tetapi tidak melewati jaringan . b)Clean-contamined merupakan luka Wounds (Luka bersih terkontaminasi). pembedahan dimana saluran pencernaan. Kemungkinan infeksi luka 10% .5%. inflamasi nonpurulen.

dermis dan fasia tetapi tidak mengenai otot. Luka timbul secara klinis sebagai suatu lubang yang dalam dengan atau tanpa merusak jaringan sekitarnya. Gambar : Stadium Luka 3. tendon dan tulang dengan adanya destruksi/kerusakan yang luas. Lukanya sampai pada lapisan epidermis. . d) Stadium IV : Luka “Full Thickness” yang telah mencapai lapisan otot.yang mendasarinya. Berdasarkan waktu penyembuhan luka a) Luka akut : yaitu luka dengan masa penyembuhan sesuai dengan konsep penyembuhan yang telah disepakati.

dapat karena faktor eksogen dan endogen. Mekanisme terjadinya luka : 1. Gambat luka kronis C. Luka gores (Lacerated Wound). 6. Luka tembus (Penetrating Wound). . terjadi akibat kulit bergesekan dengan benda lain yang biasanya dengan benda yang tidak tajam. perdarahan dan bengkak. Luka memar (Contusion Wound). terjadi akibat benda yang tajam seperti oleh kaca atau oleh kawat. 4. terjadi karena teriris oleh instrumen yang tajam. Misal yang terjadi akibat pembedahan. yaitu luka yang menembus organ tubuh biasanya pada bagian awal luka masuk diameternya kecil tetapi pada bagian ujung biasanya lukanya akan melebar.Gambat luka akut b) Luka kronis yaitu luka yang mengalami kegagalan dalam proses penyembuhan. Luka tusuk (Punctured Wound). 5. 3. terjadi akibat adanya benda. seperti peluru atau pisau yang masuk kedalam kulit dengan diameter yang kecil. Luka insisi (Incised wounds). terjadi akibat benturan oleh suatu tekanan dan dikarakteristikkan oleh cedera pada jaringan lunak. Luka bersih (aseptik) biasanya tertutup oleh sutura seterah seluruh pembuluh darah yang luka diikat (Ligasi) 2. Luka lecet (Abraded Wound).

walaupun beberapa bahan perawatan dapat membantu untuk mendukung proses penyembuhan. 1. 1997). Sebagai contoh. jilatan api ke tubuh (flash). terkena air panas (scald). sengatan matahari (sunburn) (Moenadjat. Luka Bakar (Combustio).7. Peningkatan aliran darah ke daerah yang rusak. tersentuh benda panas (kontak panas). melindungi area yang luka bebas dari kotoran dengan menjaga kebersihan membantu untuk meningkatkan penyembuhan jaringan (Taylor. Prinsip Penyembuhan Luka Ada beberapa prinsip dalam penyembuhan luka menurut Taylor (1997) yaitu: a) Kemampuan tubuh untuk menangani trauma jaringan dipengaruhi oleh luasnya kerusakan dan keadaan umum kesehatan tiap orang. D. 2003). Proses penyembuhan terjadi secara normal tanpa bantuan. yaitu Suatu bentuk kerusakan atau kehilangan jaringan yang disebabkan kontak dengan sumber panas seperti kobaran api di tubuh (flame). Penyembuhan Luka Tubuh yang sehat mempunyai kemampuan alami untuk melindungi dan memulihkan dirinya. membersihkan sel dan benda asing dan perkembangan awal seluler bagian dari proses penyembuhan. b) Respon tubuh pada luka lebih efektif jika nutrisi yang tepat tetap dijaga . akibat sengatan listrik. akibat bahan-bahan kimia.

Dua proses utama terjadi pada fase ini yaitu hemostasis dan pagositosis. Fase penyembuhan luka digambarkan seperti yang terjadi pada luka pembedahan (Kozier. Dibawah scab epithelial sel berpindah dari luka ke tepi. Bekuan dan jaringan mati. Fase Inflamatori Fase ini terjadi segera setelah luka dan berakhir 3 – 4 hari. Hemostasis (penghentian perdarahan) akibat fase konstriksi pembuluh darah besar di daerah luka.c) Respon tubuh secara sistemik pada trauma d) Aliran darah ke dan dari jaringan yang luka e) Keutuhan kulit dan mukosa membran disiapkan sebagai garis pertama untuk mempertahankan diri dari mikroorganisme f) Penyembuhan normal ditingkatkan ketika luka bebas dari benda asing tubuh termasuk bakteri. Epitelial sel . 1995 a.1995). Scab (keropeng) juga dibentuk dipermukaan luka. scab membantu hemostasis dan mencegah kontaminasi luka oleh mikroorganisme. retraksi pembuluh darah. endapan fibrin (menghubungkan jaringan) dan pembentukan bekuan darah di daerah luka. Fase Penyembuhan Luka Penyembuhan luka adalah suatu kualitas dari kehidupan jaringan hal ini juga berhubungan dengan regenerasi jaringan. Bekuan darah dibentuk oleh platelet yang menyiapkan matrik fibrin yang menjadi kerangka bagi pengambilan sel. Menurut Kozier. 2.

Suplai darah yang meningkat ke jaringan membawa bahan-bahan dan nutrisi yang diperlukan pada proses penyembuhan. Makrofag juga mengeluarkan faktor angiogenesis (AGF) yang merangsang pembentukan ujung epitel diakhir pembuluh darah. Makrofag ini menelan mikroorganisme dan sel debris melalui proses yang disebut pagositosis. Pada akhirnya daerah luka tampak merah dan sedikit bengkak. Selama sel berpindah lekosit (terutama neutropil) berpindah ke daerah interstitial. Gambar fase Inflamasi Fase inflamatori juga memerlukan pembuluh darah dan respon seluler digunakan untuk mengangkat benda-benda asing dan jaringan mati. Respon inflamatori ini sangat penting bagi proses penyembuhan b. Fase Proliferatif Fase kedua ini berlangsung dari hari ke-3 atau 4 sampai hari ke21 setelah pembedahan. Makrofag dan AGF bersama-sama mempercepat proses penyembuhan. Tempat ini ditempati oleh makrofag yang keluar dari monosit selama lebih kurang 24 jam setelah cidera/luka.membantu sebagai barier antara tubuh dengan lingkungan dan mencegah masuknya mikroorganisme. Fibroblast (menghubungkan sel-sel jaringan) .

meningkatkan aliran darah yang memberikan oksigen dan nutrisi yang diperlukan bagi penyembuhan.yang berpindah ke daerah luka mulai 24 jam pertama setelah pembedahan. Fibroblast terus mensintesis kolagen. Jaringan ini disebut granulasi jaringan yang lunak dan mudah pecah. Fibroblast berpindah dari pembuluh darah ke luka membawa fibrin. Jumlah kolagen yang meningkat menambah kekuatan permukaan luka sehingga kecil kemungkinan luka terbuka. Diawali dengan mensintesis kolagen dan substansi dasar yang disebut proteoglikan kira-kira 5 hari setelah terjadi luka. Gambar Fase Proliferasi c. Seiring perkembangan kapilarisasi jaringan perlahan berwarna merah. Selama waktu itu sebuah lapisan penyembuhan nampak dibawah garis irisan luka. Kolagen menjalin . Fase Maturasi Fase maturasi dimulai hari ke-21 dan berakhir 1-2 tahun setelah pembedahan. Kolagen adalah substansi protein yang menambah tegangan permukaan dari luka. Kapilarisasi tumbuh melintasi luka.

Fase Inflamatory Fase inflammatory dimulai setelah pembedahan dan berakhir hari ke 3 – 4 pasca operasi. Lebih kurang 24 jam setelah luka sebagian besar sel fagosit ( makrofag) masuk ke daerah luka dan mengeluarkan faktor angiogenesis yang merangsang pembentukan anak epitel pada akhir pembuluh luka sehingga pembentukan kembali dapat terjadi. Fibroblast secara cepat mensintesis kolagen dan substansi dasar. luka menimbulkan lokal adaptasi sindrom. Gambar Fase Maurasi Menurut Taylor (1997): a. Diikuti vasodilatasi menyebabkan peningkatan aliran darah ke daerah luka yang dibatasi oleh sel darah putih untuk menyerang luka dan menghancurkan bakteri dan debris. b. Dua tahap dalam fase ini adalah Hemostasis dan Pagositosis. berakibat pembekuan darah untuk menutupi luka. Fase Proliferative Dimulai pada hari ke 3 atau 4 dan berakhir pada hari ke-21.dirinya . Dua . Bekas luka menjadi kecil. Sebagai hasil adanya suatu konstriksi pembuluh darah. kehilangan elastisitas dan meninggalkan garis putih. Sebagai tekanan yang besar. menyatukan dalam struktur yang lebih kuat.

adanya pembuluh darah. Menurut Potter (1998): a. Respon inflammatory adalah saat terjadi peningkatan aliran darah pada luka dan permeabilitas vaskuler plasma menyebabkan kemerahan dan bengkak pada lokasi luka. menekan pembuluh darah dalam penyembuhan luka. Tahap ini terbagi atas Homeostasis. membuatpenyembuhan luka lebih kuat dan lebih mirip jaringan. Hemostasis adalah kondisi dimana terjadi konstriksi pembuluh darah. .substansi ini membentuk lapislapis perbaikan luka. Kollagen baru menyatu. Sebuah lapisan tipis dari sel epitel terbentuk melintasi luka dan aliran darah ada didalamnya. Fase Maturasi Fase akhir dari penyembuhan. Tibanya sel darah putih di luka. dimulai hari ke-21 dan dapat berlanjut selama 1 – 2 tahun setelah luka. membawa platelet menghentikan perdarahan. Bekuan membentuk sebuah matriks fibrin yang mencegah masuknya organisme infeksius. Jaringan baru ini disebut granulasi jaringan. tipis dan garis putih. c. Respon inflamatori. Kollagen yang ditimbun dalam luka diubah. sekarang pembuluh kapiler melintasi luka (kapilarisasi tumbuh). kemerahan dan mudah berdarah. Devensive / Tahap Inflamatory Dimulai ketika sejak integritas kulit rusak/terganggu dan berlanjut hingga 46 hari. sehingga bekas luka menjadi rata.

E. . Meningkatkan perbaikan luka dengan mengembalikan asam amino normal dan glukose. kekuatan dan integritas luka. Usia Anak dan dewasa penyembuhannya lebih cepat daripada orang tua. neutrophils membunuh bakteri dan debris yang kemudian mati dalam beberapa hari dan meninggalkan eksudat yang menyerang bakteri dan membantu perbaikan jaringan. Reconstruksion / Tahap Prolifrasi Penutupan dimulai hari ke-3 atau ke-4 dari tahap defensive dan berlanjut selama 2 – 3 minggu. Epitelial sel bergerak dari dalam ke tepi luka selama lebih kurang 48 jam. Kollagen menyiapkan struktur. Monosit menjadi makrofag. Epitelial sel memisahkan sel-sel yang rusak. penurunan fungsi hati dapat mengganggu sintesis dari faktor pembekuan darah. selanjutnya makrofag membersihkan sel dari debris oleh pagositosis. Orang tua lebih sering terkena penyakit kronis. Fibroblast berfungsi membantu sintesis vitamin B dan C. b. dan asam amino pada jaringan kollagen.Sampainya sel darah putih pada luka melalui suatu proses. c. Faktor yang Mempengaruhi Luka 1. Tahap Maturasi Tahap akhir penyembuhan luka berlanjut selama 1 tahun atau lebih hingga bekas luka merekat kuat.

Adanya sejumlah besar lemak subkutan dan jaringan lemak (yang memiliki sedikit pembuluh darah). Klien kurang nutrisi memerlukan waktu untuk memperbaiki status nutrisi mereka setelah pembedahan jika mungkin. lemak. 3. Infeksi Infeksi luka menghambat penyembuhan. Nutrisi Penyembuhan menempatkan penambahan pemakaian pada tubuh. . 4. vitamin C dan A. Oksigenasi jaringan menurun pada orang yang menderita anemia atau gangguan pernapasan kronik pada perokok. Kurangnya volume darah akan mengakibatkan vasokonstriksi dan menurunnya ketersediaan oksigen dan nutrisi untuk penyembuhan luka. lebih mudah infeksi. Aliran darah dapat terganggu pada orang dewasa dan pada orang yang menderita gangguan pembuluh darah perifer.2. dan lama untuk sembuh. Bakteri sumber penyebab infeksi. Pada orang-orang yang gemuk penyembuhan luka lambat karena jaringan lemak lebih sulit menyatu. Zn. dan mineral seperti Fe. Klien memerlukan diit kaya protein. Klien yang gemuk meningkatkan resiko infeksi luka dan penyembuhan lama karena supply darah jaringan adipose tidak adekuat. Sirkulasi (hipovolemia) dan Oksigenasi Sejumlah kondisi fisik dapat mempengaruhi penyembuhan luka. karbohidrat. hipertensi atau diabetes millitus.

7. Seringkali darah pada luka secara bertahap diabsorbsi oleh tubuh masuk kedalam sirkulasi. nutrisi tidak dapat masuk ke dalam sel. Diabetes Hambatan terhadap sekresi insulin akan mengakibatkan peningkatan gula darah. Hal ini dapat terjadi akibat dari balutan pada luka terlalu ketat. 8. Hematoma Hematoma merupakan bekuan darah. Iskemia Iskemia merupakan suatu keadaan dimana terdapat penurunan suplai darah pada bagian tubuh akibat dari obstruksi dari aliran darah. Dapat juga terjadi akibat faktor internal yaitu adanya obstruksi pada pembuluh darah itu sendiri. Tetapi jika terdapat bekuan yang besar hal tersebut memerlukan waktu untuk dapat diabsorbsi tubuh. Benda asing Benda menyebabkan asing seperti pasir suatu atau mikroorganisme sebelum benda akan terbentuknya abses tersebut diangkat. Akibat hal tersebut juga akan terjadi penurunan protein-kalori tubuh. 6. jaringan sel mati dan lekosit (sel darah merah).5. yang membentuk suatu cairan yang kental yang disebut dengan nanah (“Pus”). sehingga menghambat proses penyembuhan luka. . Abses ini timbul dari serum. fibrin.

luka mempengaruhi luka kecepatan gagal dan untuk penyembuhan Beberapa dapat 10. nyeri. tidak akan efektif akibat koagulasi intravaskular. heparin dan anti neoplasmik mempengaruhi penyembuhan luka. Keadaan Luka Keadaan efektifitas menyatu. Komplikasi Penyembuhan Luka Komplikasi penyembuhan luka meliputi infeksi. Antibiotik : efektif diberikan segera sebelum pembedahan untuk bakteri penyebab kontaminasi yang spesifik. Gejala dari infeksi sering muncul dalam 2 – 7 hari setelah pembedahan. perdarahan.9. 1. Antikoagulan : mengakibatkan perdarahan c. Gejalanya berupa infeksi termasuk adanya purulent. F. Infeksi Invasi bakteri pada luka dapat terjadi pada saat trauma. peningkatan drainase. dehiscence dan eviscerasi. kemerahan dan . Obat Obat anti inflamasi (seperti steroid dan aspirin). a. Penggunaan antibiotik yang lama dapat membuat seseorang rentan terhadap infeksi luka. selama pembedahan atau setelah pembedahan. khusus dari luka. Steroid : akan menurunkan mekanisme peradangan normal tubuh terhadap cedera b. Jika diberikan setelah luka pembedahan tertutup.

Pemberian cairan dan intervensi pembedahan mungkin diperlukan. Eviscerasi adalah keluarnya pembuluh melalui daerah irisan.Jika perdarahan berlebihan terjadi. Dehiscence adalah terbukanya lapisan luka partial atau total. Dehiscence luka dapat terjadi 4 – 5 hari setelah operasi sebelum kollagen meluas di daerah luka. G. Sehingga balutan (dan luka di bawah balutan) jika mungkin harus sering dilihat selama 48 jam pertama setelah pembedahan dan tiap 8 jam setelah itu. 2.P. Ketika dehiscence dan eviscerasi terjadi luka harus segera ditutup dengan balutan steril yang lebar. sulit membeku pada garis jahitan. kompres dengan normal saline. Perdarahan Perdarahan dapat menunjukkan suatu pelepasan jahitan. . gagal untuk menyatu. kegemukan. penambahan tekanan balutan luka steril mungkin diperlukan. infeksi. Klien disiapkan untuk segera dilakukan perbaikan pada daerah luka. Sejumlah faktor meliputi. batuk yang berlebihan. . peningkatan suhu.bengkak di sekeliling luka. muntah. Dehiscence dan Eviscerasi Dehiscence dan eviscerasi adalah komplikasi operasi yang paling serius. kurang nutrisi. dan peningkatan jumlah sel darah putih. Hipovolemia mungkin tidak cepat ada tanda. Perkembangan Perawatan Luka Profesional perawat percaya bahwa penyembuhan luka yang terbaik adalah dengan membuat lingkungan luka tetap kering (Potter.multiple trauma. mempertinggi resiko klien mengalami dehiscence luka. atau erosi dari pembuluh darah oleh benda asing (seperti drain). 3. dan dehidrasi.

Perkembangan perawatan luka sejak tahun 1940 hingga tahun 1970. 1999). seharusnya tidak secara sering digunakan untuk membersihkan luka karena dapat menghambat penyembuhan dan mencegah reepitelisasi. Hasil penelitian ini menyimpulkan bahwa migrasi epidermal pada luka superficial lebih cepat pada suasana lembab daripada kering. dan ini merangsang perkembangan balutan luka modern ( Potter. melainkan disesuaikan terlebih dahulu dengan tipe dan jenis luka. Luka dengan . J. P. Citotoxic agent seperti povidine iodine. Pada kenyataannya tingkat infeksi pada semua jenis balutan le:mbab adalah 2. Hasilnya menunjukkan bahwa lingkungan yang lembab lebih baik daripada lingkungan kering. Konsep penyembuhan luka dengan teknik lembab ini merubah penatalaksanaan luka dan memberikan rangsangan bagi perkembangan balutan lembab ( Potter. P. 1998). Perawatan luka lembab tidak meningkatkan infeksi. tiga peneliti telah memulai tentang perawatan luka. Penggantian balutan dilakukan sesuai kebutuhan tidak hanya berdasarkan kebiasaan. asam asetat. Untuk membersihkan luka hanya memakai normal saline (Dewi. Rowel (1970) menunjukkan bahwa lingkungan lembab meningkatkan migrasi sel epitel ke pusat luka dan melapisinya sehingga luka lebih cepat sembuh. 2000). 1998). lebih baik dibanding 9 % pada balutan kering (Thompson.1998).5 %. Winter (1962) mengatakan bahwa laju epitelisasi luka yang ditutup poly-etylen dua kali lebih cepat daripada luka yang dibiarkan kering. Penggunaan antiseptic hanya untuk yang memerlukan saja karena efek toksinnya terhadap sel sehat.

Tepi luka akan didekatkan dan dijepit oleh fibrin dalam bekuan selama satu atau beberapa jam setelah pembedahan ditutup.sedikit debris dipermukaannya dapat dibersihkan dengan kassa yang dibasahi dengan sodium klorida dan tidak terlalu banyak manipulasi gerakan. Inflamasi (kemerahan dan bengkak) pada tepi luka selama 1 – 3 hari. Tepi luka tampak meradang dan bengkak. Peningkatan kelloid. Tidak ada perdarahan dan munculnya tepi bekuan di tepi luka. Kulit menjadi tertutup hingga normal dan tepi luka menyatu. 5. Pembentukan kollagen mulai 4 hari setelah perlukan dan berlanjut sampai 6 bulan atau lebih. 2. Penurunan inflamasi ketika bekuan mengecil. 1996). berdekatan dengan lapisan sepanjang tepi luka. 7. Peningkatan inflamasi digabungkan dengan panas dan drainase mengindikasikan infeksi luka. Tepi luka ditandai dengan kemerahan dan sedikit bengkak dan hilang kira-kira satu minggu. Perawat dapat menduga tanda dari penyembuhan luka bedah insisi : 1. 3. Tepi luka seharusnya bersih. Pengecilan ukuran bekas luka lebih satu periode atau setahun. Luka bertemu dan menutup selama 7 – 10 hari. Pembentukan bekas luka. Jaringan granulasi mulai mempertemukan daerah luka. 6. (Walker. 4. 8. ukuran bekas luka menunjukkan pembentukan . D.

Sirkulasi • Kebas & kesemutan pada extrimitas. letih. bola mata cekung. • Kram otot. bising usus lemah/menurun. kesulitan berkemih (infeksi) • Diare. • Peka terhadap rangsangan. f. gangguan tidur dan istirahat. b. kering & kemerahan. Makanan/cairan • Hilang nafsu makan. tonus otot menurun. Neurosensori . turgor jelek.BAB III ASUHAN KEPERAWATAN LUKA Asuhan Keperawatan 1. • Kulit panas. sulit bergerak/berjalan. d. • Takikardia/nadi yang menurun. Eliminasi • Rasa nyeri/terbakar. e. Integritas ego • Stress. tergantung orang lain. Pengkajian Data bergantung pada berat dan lamanya ketidakseimbangan metabolik dan pengaruh pada fungsi organ : a. mual/muntah. • Kulit kering/bersisik. c. Aktifitas/Istirahat • Lemah.

palpitasi. Nyeri/kenyamanan • Abdomen tegang/nyeri • Wajah meringis. • Parestesia. pembentukan edema.• Pusing/pening. • Disorentasi : mengantuk. ulkus kulit. g. Kerusakan mobilitas fisik berhubungan dengan gangguan neuromuskuler. d. h. Perubahan nutrisi : Kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dgn status hipermetabolik (sebanyak 50 % . stupor/koma. diaforesis • Menurunnya kekuatan/rentang gerak.60% lebih besar dari proporsi normal pada cedera berat) atau katabolisme protein. • Demam. gatal. prognosis dan kebutuhan pengobatan berhubungan dengan Salah interpretasi informasi Tidak mengenal sumber informasi . Diagnosa Keperawatan a. Keamanan • Kulit kering. sakit kepala. Kurang pengetahuan tentang kondisi. Manipulasi jaringan cidera contoh debridemen luka. c. e. 1. kesemutan. letargia. Kerusakan integritas kulit berhubungan dengan Trauma : kerusakan permukaan kulit b. Nyeri berhubungan dengan Kerusakan kulit/jaringan. nyeri/tak nyaman. kebas kelemahan pada otot. penurunan kekuatan dan tahanan.

. penekanan respons inflamasi g. Pertahanan sekunder tidak adekuat. jaringan traumatik. kerusakan perlinduingan kulit. Gangguan citra tubuh (penampilan peran) berhubungan dengan krisis situasi. kejadian traumatik peran klien tergantung. Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan Pertahanan primer tidak adekuat. penurunan Hb. kecacatan dan nyeri.f.

warna. pembentukan edema. Manipulasi Pasien dapat mendemonstrasikan hilang dari ketidaknyamanan. Berikan anlgesik yang diresepkan dan sedikitnya 30 menit sebelum prosedur perawatan luka. Kaji/catat ukuran. Analgesik diperlukan untuk memblok jaras nyeri dengan nyeri berat. Nyeri berhubungan dengan Kerusakan kulit/jaringan. Pertahankan balutan diatas area graft baru dan/atau sisi donor sesuai indikasi. Rasional Memberikan informasi dasar tentang kebutuhan luka. Diagnosa Keperawatan Kerusakan integritas kulit berhubungan dengan Trauma : kerusakan permukaan kulit Menurunkan resiko infeksi/kegagalan kulit. Lakukan perawatan luka dengan tepat dan tindakan kontrol infeksi. Menurunkan pembengkakan dengan mengubah posisi yang mempengaruhi penyembuhan optimal. Pertahankan penutupan luka sesuai indikasi. Tindakan eksternal ini membantu . Kriteria evaluasi: 1. Evaluasi keefektifannya. perhatikan jaringan nekrotik dan kondisi sekitar luka.Rencana Intervensi dan Rasional Rencana Keperawatan Tujuan dan Kriteria Hasil Memumjukkan regenerasi jaringan Kriteria hasil: Mencapai penyembuhan tepat waktu Intervensi 1. 2. kedalaman luka. 3. Mempercepat proses penyembuhan luka 4.

ekspresi wajah dan postur tubuh rileks. Kulit yang gundul menjadi media yang baik untuk kultur pertumbuhan baketri. Bantu dengan pengubahan posisi tulang dependen. Pertahankan pintu kamar tertutup. Kolaborasi pemberian antibiotika IV sesuai ketentuan. Mengikuti prinsip aseptik melindungi pasien dari infeksi. Menghilangkan tekanan pada tonjolan 3.jaringan cidera menyangkal nyeri. dapat membantu membalikkan badan sendiri. jaringan traumatik. Bersihkan area luka bakar setiap hari dan lepaskan jaringan nekrotik (debridemen) sesuai standart prosedur perawatan luka 3. Lepaskan krim lama dari luka sebelum pemberian krim baru. menghemat kehilangan panas. Pertahanan sekunder tidak adekuat. melaporkan perasaan nyaman. Pantau: . pembentukan jaringan granulasi baik.Jumlah makanan yang dikonsumsi setiap kali makan. 2. khususnya bila pasien tak ketidaknyamanan. Terapi antibiotik yang tepat dapat . Kriteria evaluasi: tak ada demam. Pembersihan dan pelepasan jaringan nekrotik meningkatkan pembentukan granulasi. Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan Pertahanan primer tidak adekuat. penurunan Hb. 4. Dukungan adekuat setiap 2 jam bila diperlukan. penekanan respons inflamasi Pasien bebas dari infeksi. 1. kerusakan perlinduingan kulit. 2.Suhu setiap 4 jam. Mengidentifikasi indikasi-indikasi kemajuan atau penyimapngan dari hasil yang diharapkan. pada luka bakar selama gerakan Dapatkan bantuan tambahan sesuai membantu meinimalkan kebutuhan. . tingkatkan suhu ruangan dan berikan selimut ekstra untuk memberikan kehangatan.

sarung tangan dan penutup kepala dengan masker bila memberikan perawatan pada pasien. Ahli diet adalah spesialis nutrisi yang dapat mengevaluasi paling baik status nutrisi pasien dan merencanakan diet untuk emmenuhi kebuuthan nutrisi penderita. berikan protein tinggi. handuk dan skort untuk pasien. Teknik steril dan tindakan perawatan perlindungan lainmelindungi pasien terhadap infeksi. Nutrisi adekuat memabntu penyembuhan luka dan memenuhi kebutuhan energi. Kurangnya berbagai rangsang ekstrenal dan kebebasan bergerak mencetuskan pasien pada kebosanan. diet tinggi kalori. Berikan suplemen nutrisi seperti ensure atau sustacal dengan atau antara makan bila masukan makanan kurang dari 50%. Mencegah terjadinya gangguan metabolic 3. 6. Kolaborasi pada tim ahli diet. Gunakan linen tempat tidur steril. Untuk mempercepat penyembuhan 2. Gunakan skort steril.5. Pemberian diet pada pasien luka bertujuan untuk: 1. Anjurkan NPT atau makanan enteral bial pasien tak dapat makan per oral. 2005) . Mempertahankan status gizi secara optimal selama proses penyembuahn dengan cara: (Almatsier. Tempatkan pasien pada ruangan khusus dan lakukan kewaspadaan untuk luka yang luas pada tubuh. menurunkan resiko infeksi Kulit adalah lapisan pertama tubuh untuk pertahanan terhadap infeksi.

Kebutuhan beberapa jenis vitamin adalah sebagai berikut  Vitamin A minimal 2 x AKG  Vitamin B minimal 2 x AKG  Vitamin C minimal 2 x AKG  Vitamin E 200 SI o Mineral tinggi. karbohidrat diberikan 45-55 % dari kebutuhan energi total o Vitamin diberikan diatas AKG (Angka Kecukupan Gizi): suplemen. yaitu 15-20% dari kebutuhan energi total Karbohidrat sedang. Bila mengalami trauma inhalasi. dan magnesium. Sebagian mineral diberikan dalam bentuk suplemen . kalium. terutama zat besi.Syarat-Syarat Pemberian o o o o Nutrisi enteral dini (NED) Protein tinggi. kalsium. seng. natrium. yaitu 50-60% dari kebutuhan energi total. fosfor. yaitu 20-25% dari kebutuhan energi total Lemak sedang.

Mencegah infeksi dari masuknya mikroorganisme ke dalam kulit dan membran mukosa 2. Mencegah luka dari kontaminasi bakteri. B. Drainase untuk memudahkan pengeluaran eksudat 6. Mencegah excoriasi kulit sekitar drain. 13. Meningkatkan hemostasis dengan menekan dressing. membran mukosa atau jaringan lain yang disebabkan oleh adanya trauma.BAB IV PERAWATAN LUKA A. Mempercepat penyembuhan 4. Memberikan lingkungan yang memadai untuk penyembuhan luka. 8. Membersihkan luka dari benda asing atau debris 5. 9. . Memberikan rasa nyaman mental dan fisik pada pasien. fraktur. Mencegah bertambahnya kerusakan jaringan 3. 12. 10. Mencegah luka dan jaringan epitel baru dari cedera mekanis. Tujuan 1. 14. Absorbsi drainase. Pengertian Merawat luka untuk mencegah trauma (injury) pada kulit. Menekan dan imobilisasi luka. 11. luka operasi yang dapat merusak permukaan kulit. Mencegah perdarahan 7.

Merupakan larutan isotonis aman untuk tubuh.com/woundcare/) 2. yang paling sering adalah sodium klorida 0.9 % Sodium klorida adalah larutan fisiologis yang ada di seluruh tubuh karena alasan ini tidak ada reaksi hipersensitivitas dari sodium klorida. Larutan povodine-iodine. Bahan yang Digunakan dalam Perawatan Luka 1. Ini adalah konsentrasi normal dari sodium klorida dan untuk alasan ini sodium klorida disebut juga normal saline (Lilley & Aucker. menjaga kelembaban sekitar luka dan membantu luka menjalani proses penyembuhan serta mudah didapat dan harga relatif lebih murah (http://rpromise. 1992). Iodine hanya larut sedikit di air. 1999). 1999). tidak iritan. Sodium klorida atau natrium klorida mempunyai Na dan Cl yang sama seperti plasma. Sodium klorida tersedia dalam beberapa konsentrasi. kilau metalik dan bau yang khas. Iodide tinture dan solution keduanya aktif melawan spora tergantung konsentrasi dan waktu pelaksanaan (Lilley & Aucker. melindungi granulasi jaringan dari kondisi kering. Larutan ini tidak mempengaruhi sel darah merah (Handerson.C. tetapi dapat larut secara keseluruhan dalam alkohol dan larutan sodium iodide encer. Normal saline aman digunakan untuk kondisi apapun (Lilley & Aucker. Sodium Klorida 0.9 %. Iodine adalah element non metalik yang tersedia dalam bentuk garam yang dikombinasi dengan bahan lain Walaupun iodine bahan non metalik iodine berwarna hitam kebiru-biruan. 1999). Larutan ini akan melepaskan iodium anorganik bila kontak dengan kulit atau selaput lendir sehingga cocok untuk luka kotor dan terinfeksi bakteri gram .

Kapas atau kasa untuk membersihkan luka c. 2002). J. Larutan anti septic e. untuk menutup pasien 7. 1999). dan protozoa. Kasa untuk menutup luka.positif dan negatif. Pembungkus b. Studi menunjukan bahwa antiseptik seperti povodine iodine toxic terhadap sel (Thompson. Kapas Alkohol 8. Gunting. 2. Alat-alat yang diperlukan lainnya seperti : extra balutan dan zalf 3. Cara Kerja Perawatan Luka Secara Umum . Rasa terbakar akan nampak dengan iodine ketika daerah yang dirawat ditutup dengan balutan oklusif kulit dapat ternoda dan menyebabkan iritasi dan nyeri pada sisi luka. Bahan ini agak iritan dan alergen serta meninggalkan residu (Sodikin. jamur. Tempat untuk larutan d. Selimut mandi jika perlu. spora. Set steril yang terdiri atas : a. (Lilley & Aucker. 2000). Betadin 9. 4.9 % D. Persiapan alat 1. Cairan infus Sodium Clorida 0. C. 2 pasang pinset f. Plester atau alat pengaman balutan 6. Iodine dengan konsentrasi > 3 % dapat memberi rasa panas pada kulit. Korentang. Kantong tahan air untuk tempat balutan lama 5.

5. Tempatkan balutan yang kotor dalam kantong plastik. 7. Bukan hanya pada daerah luka. gunakan selimut mandi untuk menutup pasien jika perlu. Jika gaas dililitkan pada drain gunakan 2 pasang pinset. Jelaskan kepada pasien tentang apa yang akan dilakukan. Jaga privasi dan tutup jendela/pintu kamar Bantu pasien untuk mendapatkan posisi yang menyenangkan. Bisa dipasang pada sisi tempat tidur. 9. 4. Jika menggunakan plester angkat dengan cara menarik dari kulit dengan hati-hati kearah luka. 8. 6. Buka set steril 11. Angkat plester atau pembalut. Minta bantuan untuk mengganti balutan pada bayi dan anak kecil 3. . 10. Tempatkan pembungkus steril di samping luka 12. 2. Gunakan Alkoholl untuk melepaskan jika perlu. satu untuk mengangkat gaas dan satu untuk memegang drain. Angkat balutan paling dalam dengan pinset dan perhatikan jangan sampai mengeluarkan drain atau mengenai luka insisi. Tempatkan tempat sampah pada tempat yang dapat dijangkau. Angkat balutan menjauhi pasien. Keluarkan balutan atau surgipad dengan tangan jika balutan kering atau menggunakan sarung tangan jika balutan lembab. Jawab pertanyaan pasien.1.

15. • Bilas luka menggunakan cairan Normal Saline dg tekanan rendah • Jika ada drain bersihkan sesudah luka insisi • Untuk luka yang tidak teratur seperti dekubitus ulcer. Gunakan satu kapas satu kali mengoles. Untuk menghindari dari kontaminasi ujung pinset dimasukkan dalam kantong kertas. bersihkan dari tengah luka kearah luar. . Ulangi pembersihan sampai semua drainage terangkat. sesudah memasang balutan pinset dijauhkan dari daerah steril. 14. Buang kantong plastik. gunakan pergerakan melingkar. 16.13. lalu letakkan pinset ujungnya labih rendah daripada pegangannya. banyaknya jahitan dan keadaan luka. Membersihkan luka menggunakan pinset jaringan atau arteri dan kapas dilembabkan dengan anti septik. bersihkan dari insisi kearah drain : • Bersihkan dari atas ke bawah daripada insisi dan dari tengah keluar • Bersihkan dari atas ke bawah daripada insisi dan dari tengah keluar. Catat jenis drainnya bila ada.

Gunakan kapas yang lain. . 21. Ratakan powder diatas luka dan gunakan alat steril. Membersihkan Daerah Drain Daerah drain dibersihkan sesudah insisi. Angkat peralatan dan kantong plastik yang berisi balutan kotor.17. 22. Bersihkan alat dan buang sampah dengan baik. Prinsip membersihkan dari daerah bersih ke daerah yang terkontaminasi karena drainnya yang basah memudahkan pertumbuhan bakteri dan daerah daerah drain paling banyak mengalami kontaminasi. Jika letak drain ditengah luka insisi dapat dibersihkan dari daerah ujung ke daerah pangkal kearah drain. Kulit sekitar drain harus dibersihkan dengan antiseptik. Laporkan adanya perubahan pada luka atau drainage kepada perawat yang bertanggung jawab. Olesi zalf atau powder. Gunakan satu balutan dengan plester atau pembalut 19. Catat penggantian balutan. Cuci tangan 23. Amnkan balutan dengan plester atau pembalut 20. kaji keadaan luka dan respon pasien. Bantu pasien dalam pemberian posisi yang menyenangkan. 18.

6. Selimut mandi hanya untuk memajankan area luka. Normal satin atau H2O steril 8. tutup semua jendela yang terbuka 5. Cuci tangan secara menyeluruh . kasa besar. bantalan tahan air 12. Larutan pembersih yang diresepkan dokter 9. forsep). Tutup ruangan dengan tirai. Aseton (jika diperlukan) B. Bantu klien pada posisi nyaman. Kom untuk larutan antiseptik atau larutan pembersih 7. Balutan kasa ekstra dan surgipad atau bantalan ABD 6. Set balutan ( gunting.PERAWATAN LUKA BASAH KE KERING A. Sarung tangan sekali pakai 3. Peralatan 1. Instruksikan klien agar tidak menyentuh area luka atau peralatan steril. Sarung tangan steril 2. bantalan kasa 5. kasa kecil. Selimut mandi. Letakkan kantung plastik agar mudah terjangkau oleh anda 4. pinset. Prosedur 1. nierbekken 4. Kantung plastik untuk sampah 11. Duk steril. Jelaskan prosedur kepada klien 2. Siapkan peralatan yang diperlukan di meja (jangan membuka peralatan) 3. Ambil kantung plastik dan buat lipatan diatasnya. Pester 10.

Gunakan sarung tangan bersih sekali pakai dan lepaskan plester 9.pinset dan forsep harus tetap pada nampan steril. Buang pada nierbekken 14. Bersihkan luka dengan larutan antiseptik atau lanrtan normal satin. Pakai sarung tangan steril 16. sejajar pada kulit dan mengarah pada balutan(bila masih terdapat plester pada kulit. dengan bagian tangan non dominan yang tidak akan menyentuh bahan steril) 17. Gunakan kasa terpisah untuk setiap usapanmembersihkan. Lepaskan plester dengan melepaskan ujung dan menariknya dengan perlahan. pertahan lepaskan balutan dari eksudat yang mengering. Observasi karakteristik dan jumlah drainase pada balutan 13. Pegang kasa yang dibasahi dalam larutan dengan forsep. Angkat balutan secara perlahan dengan menggunakan forsep atau pinset 11. integritas jahitan dan karakteristik drainase. letak drain. Jika balutan lengket pada luka. (palpasi bila perlu. Buka nampan balutan steril. dapat dibersihkan dengan aseton) 10. hindari kontaminasi permukaan luar kantung.enarik bagian dalam keluar. Lepaskan sarung tangan dengan m. Perhatikan kondisinya.7. Bersihkan dari daerah yang kurang terkontaminasi ke area terkontaminasi . Beritahukan klien tentang penarikan dan ketidak nyamanan 12. Balutan. Inspeksi luka. Letakkan bantalan tahan air dibawah klien 8. jangan dibasahi. Buang balutan kotor pada nierbekken atau kantung plastik. Buka botol larutan antiseptik lalu tuang ke dalam kom steril atau kasa steril 15. gunting.

atau balutan ABD 21. gunting nekrotomi). forsep. l klem arteri. Balutan kasa ekstra dan surgipad atau bantalan ABD 6. surgipad. Pasang kasa steril keying diatas kasa basah 20. pinset. Salep yang diresepkan dokter 9. Duk steril. Catat pada catatan perawat PERAWATAN LUKA GANGREN A. Bila luka dalam dengan perlahan bust kasaseperti kemasan dengan menekuk tepi kasa dengan forsep. Kasa kecil. Tutup dengan kasa. Lepaskan sarung tangan dan buang pada tempat yang telah disediakan 23. Nalrium Klorida atau H2O steril 8. Peralatan 1. Kasa besar. nierbekken 4. Pasang kasa yang basah tepat pada permukaan luka. Larutan pembersih yang diresepkan dokter 10. Sisihkan semua alat dan bantu klien kembali pada posisi nyaman 24. Set balutan ( gunting. Cuci tangan 25. Plester . Pasang plester diatas balutan 22.18. Sarung tangan steril 2. bantalan kasa 5. Kom untuk larutan antiseptik atau larutan pernbersih 7. Secara pedahan masukkan kasa ke dalam luka sehingga semua permukaan luka kontak dengan kasa basah 19. Sarung tangan sekali pakai 3.

Letakkan kantung plastik agar mudah terjangkau oleh anda 4.terpal plastic 13. Observasi karakteristik dan jumlah drainase pada balutan . perlahan lepaskan balutan dan eksudat yang mengering. Tutup ruangan dengan tirai. dibasahi dengan memakai larutan NaCl. dapat dibersihkan dengan aseton) 10. Larutan peroksida (jika diperlukan) B. Bantu klien pada posisi nyaman. Cuci tangan secara menyeluruh 7. Angkat balutan secara perlahan dengan menggunakan forsep atau pinset 11. ember 12. sejajar pada kulit dan mengarah pada balutan(bila masih terdapat plester pada kulit. Instruksikan klien agar tidak menyentuh area luka atau peralatan steril.11. 6. tutup semua jendela yang terbuka 5. Jika balutan lengket pada luka. Lepaskan plester dengan melepaskan ujung dan menariknya dengan perlahan. Bantalan tahan air. Selimut mandi. Beritahukan klien tentang penarikan dan ketidaknyamanan 12. Prosedur 1. Gunakan sarung tangan bersih sekali pakai dan lepaskan plester 9. Siapkan peralatan yang diperlukan di meja (jangan membuka peralatan) 3. Selimut mandi hanya untuk memajankan area luka. Letakkan bantalan tahan air dibawah klien 8. Ambil kantung plastik dan buat lipatan diatasnya. Kantung plastik untuk sarnpah. Jelaskan prosedur kepada klien 2.

dengan bagian tangan non dominan yang tidak akan menyentuh bahan steril) 17. Inspeksi luka. Pasang kasa steril kering di atas kasa basah 20. gunting. Buang balutan kotor pada nierbekken atau kantung plastik. Secara perlahan masukkan kasa ke dalam luka sehingga semua permukaan luka kontak dengan kasa basah 19. Balutan. Gunakan kasa terpisah untuk setiap usapan membersihkan. Buka botol larutan antiseptik lalu tuang ke dalam kom steril atau kasa steril 15. atau balutan ABD 21. surgipad. Pasang kasa yang basah tepat pada permukaan luka. Pakai sarung tangan steril 16.13. Pegang kasa yang dibasahi dalam larutan dengan forsep. letak drain. Bersihkan dari daerah yang kurang terkontaminasi ke area terkontaminasi 18. Lepaskan sarung tangan dan buang pada tempat yang telah disediakan . Tutup dengan kasa. Bersihkan luka dengan larutan peroksida.pinset dan forsep harus tetap pada nampan steril. Lepaskan sarung tangan dengan menarik bagian dalam keluar. Buang pada nierbekken 14. Perhatikan kondisinya. (palpasi bila perlu. lakukan secara terus menerus. dan karakteristik drainase. lalu bersihkan dengan larutan antiseptik atau larutan NaCl. setelah jaringan yang mati habis. hindari kontaminasi permukaan luar kantung. Bila luka dalam dengan perlahan buat kasa seperti kemasan dengan menekuk tepi kasa dengan forsep. Buka nampan balutan steril. kemudian lakukan nekrotomi. Pasang plester diatas balutan 22. angkat jaringan yang sudah mall dengan menggunakan gunting.

Set balutan ( gunting. forsep). Plester 14. Balutan kasa ekstra 13. Kom / nierbekken bersih untuk menampung larutan 6. Bantalan tahan air 8.500 ml sesuai pesanan) dihangatkan pada suhu tubuh 4. bantalan kasa 12. Kasa besar. bantalan tahan air 16. Nierbekken 11. Sisihkan semua alat dan bantu klien kembali pada posisi nyaman 24. Peralatan 1. Kom steril 3. Sarung tangan steril 2. pinset. Sarung tangan sekali pakai 10. Larutan irigasi (200 . Selimut mandi. Jeli pelumas dan spatel lidah (tidak menjadi keharusan) 9. Tray balutan steril dan Set balutan ( gunting. pinset. Spuit irigasi steril (kateter karet merah steril sebagai penghubung untuk luka dengan lubang kecil) 5. forsep). Kantung plastik untuk sampah 15. Cuci tangan 25. kasa kecil. Catat pada catatan perawat IRlGASI LUKA A. Aseton . nierbekken 7.23.

Buka nampan balutan steril. Observasi karakteristik dan jumlah drainase pada balutan 12. Lepaskan plester dengan melepaskan ujung dan menariknya dengan perlahan. siapkan peralatan yang diperlukan di meja (jangan membuka peralatan) 3. gunting pinset dan forsep harus tetap pada nampan steril. Buang pada nierbekken 13. Angkat balutan secara perlahan dengan menggunakan forsep atau pinset 10. Gunakan sarung tangan bersih sekali pakai dan lepaskan plester 8. dapat dibersihkan dengan aseton) 9. Pakai sarung tangan steril 15. Jelaskan prosedur kepada klien 2. tepi luka ke dalam kom yang diletakkan di bawah luka 5.B. Jika balutan lengket pada luka. lepaskan dengan meneteskan normal salin steril atau air steril 11. Buka kom dan tuangkan larutan (volume bervariasi tergantung ukuran luka dan banyaknya drainase). Prosedur 1. Posisikan klien sehingga larutan irigasi akan mengalir dari bagian atas 4. Balutan. Buka spuit siapkan tray balutan. sejajar pada kulit dan mengarah pada balutan(bila masih terdapat plester pada kulit. Letakkan kom bersih menempel pada kulit klien di bawah insisi atau letak luka . Letakkan bantalan tahan air dibawah klien 6. Lepaskan sarung tangan dengan menarik bagian dalam keluar. Cuci tangan secara menyeluruh 7. Buang balutan kotor pada nierbekken atau kantung plastik. hindari kontaminasi permukaan luar kantung. 14.

Hisap larutan kedalam spuit Saat memegang ujung spuit tepat diatas Iuka. Hindari menyemburkan atau menyemprotkan larutan. Cuci tangan 23. Sisihkan semua afat dan Bantu klien kembali pada posisi nyaman 22. Pasang plester diatas balutan 20. 17. Irigasi tepat diatas luka.16. Dengan kasa steril. Bersihkan dari yang kurang terkontaminasi sampai ke Area yang terkontaminasi. Tutup dengan kasa steril 19. keringkan tepi luka. Bergerak secara progresif menekan dari garis insisi atau tepi luka 8. Lepaskan sarung tangan dan buang pada tempat yang telah disediakan 21. Lanjutkan irigasi sampai larutan yang mengalir ke dalam kom jernih 18. Catat pada catatan perawat PENCEGAHAN INFEKSI Penggunaan antibiotika di rekomendasikan bila di temukan beberapa faktor risiko antara lain: • Tertunda presentasi (> 12hrs) • Luar badan • Luka berat kotor • Luka tusukan (terutama pada kaki) • Fraktur terbuka / terkena tendons . irigasi dengan peralatan tapi secara kontinu dengan tekanan yang cukup untuk mendorong drainase dan debris.

DEBRIDEMENT • • • • Membuang jaringan mati Membuang material asing Membersihkan jaringan yang terkontaminasi Mempertahankan struktur penting semaksimal mungkin TEKNIK debridemen • Bedah debridemen • MEKANIK debridemen • AUTOLYTIC debridemen • ENZIMATIS debridemen .

fraktur. fase atau tahap penyembuhan luka sebelum melakukan perawatan luka. perdarahan dan pembekuan darah. membersihkan luka dari benda asing atau debris. kematian sel. kontaminasi bakteri. . B. luka operasi yang dapat merusak permukaan kulit serta bertujuan : mencegah infeksi dari masuknya mikroorganisme ke dalam kulit dan membran mukosa. bertambahnya kerusakan jaringan. Kesimpulan Luka adalah suatu gangguan dari kondisi normal pada kulit ( Taylor. drainase untuk memudahkan pengeluaran eksudat. Perawatan lukadilakukan untuk mencegah trauma (injury) pada kulit. 1995). mencegah perdarahan. Hilangnya seluruh atau sebagian fungsi organ. Ketika luka timbul.respon stres simpatis. mempercepat penyembuhan. Saran Hal yang penting dilakukan oleh perawat adalah mencatat penggantian balutan. 1997).serta memahami jenis luka. mencegah excoriasi kulit sekitar drain. mengkaji keadaan luka dan respon pasien. Luka adalah kerusakan kontinyuitas kulit. membran mukosa atau jaringan lain yang disebabkan oleh adanya trauma. mukosa membran dan tulang atau organ tubuh lain (Kozier. beberapa efek akan muncul :.BAB V PENUTUP A.

Jakarta. Bedah Minor. Jakarta : EGC 11. 4. Kaplan NE. A Primer in Technique. Puruhito. Paterson-Brown S. Arif. (2002). Boston. Price. Kapita Selekta Kedokteran. Ed. Hipokrates Jakarta. 1990. Bedah dan perawatannya. (1999). Little Brown. Hentz VR. An Illustrated Guide. Oswari E. 12. Bachsinar B. Anderson Sylvia. EGC Jakarta 2000. 5. Jakarta 1991. Hipokrates. Eckersley JRT. AUP Surabaya. Emergency Management of Skin and Soft Tissue Wounds. Churchill Livingstone. (1997) Patofisiologi. Doengoes. Dasar-daasar Teknik Pembedahan. USA. et all. 7. Dudley HAF. EGC . Zachary CB. 9. Fakultas Kedokteran UI : Media Aescullapius. 1992. 6. Bina rupa Aksara. Basic Cutaneous Surgery. 3. Jakarta. Perencanaan Asuhan Keperawatan.. 1994. Jakarta. Jakarata : EGC. 1992.DAFTAR PUSTAKA 1. . Ilustrasi Ilmu Bedah Minor. 8. 1987. London GB. Pedoman Tindakan Medik dan Bedah. Saleh M. 1995. Thorek P. Gramedia. I. 10. Prinsip-prinsip Teknik Bedah. 2. Atlas Teknik Bedah. Rich NM. Sodera VK. Mansjoer. 1993. Wind GG.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->