( WOUND AND ITS MANAGEMEN

)

LEAN WIDYA SURYANTO RSUD NGUDI WALUYO WLINGI LEMBAR PENGESAHAN

JUDUL BUKU LUKA DAN PERAWATANNYA (WOUND AND ITS MANAGEMEN)

DI SUSUN OLEH LEAN WIDUASURYANO

MENGETAHUI PEMBIMBING

Ns. EKO JUNAETI, S Kep NIM:

KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa atas segala limpahan rahmat-Nya sehingga saya dapat menyelesaikan penyusunan buku yang berjudul ” LUKA DAN PERAWATANNYA (WOUND AND ITS MANAGEMEN) ” ini tepat pada waktunya. Tujuan dari penulisan makalah ini adalah untuk memenuhi persyaratan kenaikan pangkat. Selain itu, kami juga mengharapkan agar makalah ini bisa dijadikan sebagai tambahan materi dalam memahami luka dan managemen perawatannya sehingga wawasan kita akan bertambah, yang mana tujuan akhirnya adalah meningkatnya pelayanan kita terhadap pasien yang mengalami gangguan integumen erutama oleh adanya luka.
Dengan selesainya penyusunan buku ini, penulis menyampaikan rasa hormat dan ucapan terima kasih serta penghargaan yang tinggi kepada: 1. Ns. Eko Junaeti, S Kep. Selaku pembimbing penyusunan buku ini yang telah memberikan motivasi dan pengarahan. 2. Kepada semua pihak yang tidak dapat saya sebutkan satu persatu yang telah memberikan bantuan, motivasi, dan fasilitas hingga terselesaikanya penyusunan buku ini tepat pada waktunya.

Kami menyadari bahwa masih banyak kekurangan dalam buku ini, maka dari itu kami memohon kritik dan saran yang membangun untuk perbaikan kedepannya. Harapan kami, semoga buku ini dapat memberikan manfaat bagi semua pihak.

Blitar, 5 Juni 2011

Penulis

BAB I ANATOMI FISIOLOGI KULIT

ANATOMI KULIT Kulit adalah suatu organ pembungkus seluruh permukaan luar tubuh, merupakan organ terberat dan terbesar dari tubuh. Seluruh kulit beratnya sekitar 16 % berat tubuh, pada orang dewasa sekitar 2,7 – 3,6 kg dan luasnya sekitar 1,5 – 1,9 meter persegi. Tebalnya kulit bervariasi mulai 0,5 mm sampai 6 mm tergantung dari letak, umur dan jenis kelamin. Kulit tipis terletak pada kelopak mata, penis, labium minus dan kulit bagian medial lengan atas. Sedangkan kulit tebal terdapat pada telapak tangan, telapak kaki, punggung, bahu dan bokong. Secara embriologis kulit berasal dari dua lapis yang berbeda, lapisan luar adalah epidermis yang merupakan lapisan epitel berasal dari ectoderm sedangkan lapisan dalam yang berasal dari mesoderm adalah dermis atau korium yang merupakan suatu lapisan jaringan ikat.

EPIDERMIS Epidermis adalah lapisan luar kulit yang tipis dan avaskuler. Terdiri dari epitel berlapis gepeng bertanduk, mengandung sel melanosit, Langerhans dan merkel. Tebal epidermis berbeda-beda pada berbagai tempat di tubuh, paling tebal pada telapak tangan dan kaki. Ketebalan epidermis hanya sekitar 5 % dari seluruh ketebalan kulit. Terjadi regenerasi setiap 4-6 minggu.

Tidak tampak pada kulit tipis. Epidermis diperbaharui setiap 28 hari untuk migrasi ke permukaan. usia dan faktor lain. Terdapat berkas-berkas filament yang dinamakan tonofibril. Stratum GranulosumDitandai oleh 3-5 lapis sel polygonal gepeng yang intinya ditengah dan sitoplasma terisi oleh granula basofilik kasar yang dinamakan granula keratohialin yang mengandung protein kaya akan histidin. Stratum Spinosum.Epidermis terdiri atas lima lapisan (dari lapisan yang paling atas sampai yang terdalam) : 1. Terdapat sel Langerhans. biasanya terdapat pada kulit tebal telapak kaki dan telapak tangan. Epidermis pada tempat yang terus mengalami gesekan dan tekanan mempunyai stratum spinosum dengan lebih banyak tonofibril. hal ini tergantung letak. 5. 3. Terdapat aktifitas mitosis yang hebat dan bertanggung jawab dalam pembaharuan sel epidermis secara konstan. 4. Stratum Korneum. Stratum basale dan stratum spinosum disebut sebagai lapisan Malfigi. . 2. Terdapat sel Langerhans. Terdiri dari sel keratinosit yang bisa mengelupas dan berganti. Stratum Basale (Stratum Germinativum). Stratum Lusidum Berupa garis translusen. dianggap filamen-filamen tersebut memegang peranan penting untuk mempertahankan kohesi sel dan melindungi terhadap efek abrasi. Merupakan satu lapis sel yang mengandung melanosit.

Dermis terdiri dari dua lapisan : • • Lapisan papiler. menahan shearing forces dan respon inflamasi SUBKUTIS . Serabut elastin jumlahnya terus meningkat dan menebal. kandungan elastin kulit manusia meningkat kira-kira 5 kali dari fetus sampai dewasa. Lapisan retikuler. Serabut-serabut kolagen menebal dan sintesa kolagen berkurang dengan bertambahnya usia.Fungsi Epidermis : Proteksi barier. Terdiri atas jaringan ikat yang menyokong epidermis dan menghubungkannya dengan jaringan subkutis. kelenjar sebasea dan kelenjar keringat. pigmentasi (melanosit) dan pengenalan alergen (sel Langerhans). Kualitas kulit tergantung banyak tidaknya derivat epidermis di dalam dermis. organisasi sel. tebal terdiri dari jaringan ikat padat. yang paling tebal pada telapak kaki sekitar 3 mm. tipis mengandung jaringan ikat jarang. Dermis juga mengandung beberapa derivat epidermis yaitu folikel rambut. Tebalnya bervariasi. Pada usia lanjut kolagen saling bersilangan dalam jumlah besar dan serabut elastin berkurang menyebabkan kulit terjadi kehilangan kelemasannya dan tampak mempunyai banyak keriput. pembelahan dan mobilisasi sel. mechanical strength. sintesis vitamin D dan sitokin. Dermis mempunyai banyak jaringan pembuluh darah. suplai nutrisi. Fungsi Dermis : struktur penunjang. DERMIS Merupakan bagian yang paling penting di kulit yang sering dianggap sebagai “True Skin”.

Fungsi Subkutis / hipodermis : melekat ke struktur dasar. kontrol bentuk tubuh dan mechanical shock absorber. tiap papilla dermis punya satu arteri asenden dan satu cabang vena. Lapisan ini terdapat jaringan ikat yang menghubungkan kulit secara longgar dengan jaringan di bawahnya. cadangan kalori. VASKULARISASI KULIT Arteri yang memberi nutrisi pada kulit membentuk pleksus terletak antara lapisan papiler dan retikuler dermis dan selain itu antara dermis dan jaringan subkutis. Berfungsi menunjang suplai darah ke dermis untuk regenerasi.Merupakan lapisan di bawah dermis atau hipodermis yang terdiri dari lapisan lemak. Cabang kecil meninggalkan pleksus ini memperdarahi papilla dermis. Pada epidermis tidak terdapat pembuluh darah tapi mendapat nutrient dari dermis melalui membran epidermis . Jumlah dan ukurannya berbedabeda menurut daerah di tubuh dan keadaan nutrisi individu. isolasi panas.

trauma mekanik. Temperatur perifer mengalami proses keseimbangan melalui keringat. ultraviolet dan sebagai barier dari invasi mikroorganisme patogen. paru-paru dan mukosa bukal. sensasi. Temperatur kulit dikontrol dengan dilatasi atau kontriksi pembuluh darah kulit. kemudian tubuh akan mengurangi temperatur dengan melepas panas dari kulit dengan cara mengirim sinyal kimia yang dapat meningkatkan aliran darah di kulit. Bila temperatur meningkat terjadi vasodilatasi pembuluh darah. eskresi dan metabolisme. Pada temperatur yang menurun. Fungsi proteksi kulit adalah melindungi dari kehilangan cairan dari elektrolit.FISIOLOGI KULIT Kulit merupakan organ yang berfungsi sangat penting bagi tubuh diantaranya adalah memungkinkan bertahan dalam berbagai kondisi lingkungan. Sensasi telah diketahui merupakan salah satu fungsi kulit dalam merespon rangsang raba karena banyaknya akhiran saraf seperti pada daerah bibir. insessible loss dari kulit. Kulit berperan pada pengaturan suhu dan keseimbangan cairan elektrolit. sebagai barier infeksi. Termoregulasi dikontrol oleh hipothalamus. puting dan ujung jari. mengontrol suhu tubuh (termoregulasi). pembuluh darah kulit akan vasokontriksi yang kemudian akan mempertahankan panas. .

BAB II LUKA DAN MEKANISME PENYEMBUHANNYA A. genital dan urinari tidak terjadi. mukosa membran dan tulang atau organ tubuh lain (Kozier. Kematian sel B. yaitu luka bedah takterinfeksi yang mana tidak terjadi proses peradangan (inflamasi) dan infeksi pada sistem pernafasan. Ketika luka timbul. Respon stres simpatis 3. 1. Luka bersih biasanya menghasilkan luka yang tertutup. Jenis-Jenis Luka Luka sering digambarkan berdasarkan bagaimana cara mendapatkan luka itu dan menunjukkan derajat luka (Taylor. 1995). pencernaan. Hilangnya seluruh atau sebagian fungsi organ 2. jika . Kontaminasi bakteri 5. beberapa efek akan muncul : 1. 1997). Luka adalah kerusakan kontinyuitas kulit. Berdasarkan tingkat kontaminasi a) Clean Wounds (Luka bersih). 1997). Perdarahan dan pembekuan darah 4. Pengertian Luka adalah suatu gangguan dari kondisi normal pada kulit ( Taylor.

11%. Jackson – Pratt). 2. pada kategori ini juga termasuk insisi akut. termasuk luka terbuka. respirasi. yaitu terdapatnya mikroorganisme pada luka. pembedahan dimana saluran pencernaan. d)Dirty or Infected Wounds (Luka kotor atau infeksi). c) Contamined Wounds (Luka terkontaminasi). fresh. blister atau lubang yang dangkal. inflamasi nonpurulen. Merupakan luka superficial dan adanya tanda klinis seperti abrasi.diperlukan dimasukkan drainase tertutup (misal. Kemungkinan terjadinya infeksi luka sekitar 1% . luka akibat kecelakaan dan operasi dengan kerusakan besar dengan teknik aseptik atau kontaminasi dari saluran cerna.5%. genital atau perkemihan dalam kondisi terkontrol.17%. kontaminasi tidak selalu terjadi. c) Stadium III : Luka “Full Thickness” : yaitu hilangnya kulit keseluruhan meliputi kerusakan atau nekrosis jaringan subkutan yang dapat meluas sampai bawah tetapi tidak melewati jaringan . b)Clean-contamined merupakan luka Wounds (Luka bersih terkontaminasi). Berdasarkan kedalaman dan luasnya luka a) Stadium I : Luka Superfisial (“Non-Blanching Erithema) : yaitu luka yang terjadi pada lapisan epidermis kulit. kemungkinan timbulnya infeksi luka adalah 3% . b) Stadium II : Luka “Partial Thickness” : yaitu hilangnya lapisan kulit pada lapisan epidermis dan bagian atas dari dermis. Kemungkinan infeksi luka 10% .

d) Stadium IV : Luka “Full Thickness” yang telah mencapai lapisan otot. Luka timbul secara klinis sebagai suatu lubang yang dalam dengan atau tanpa merusak jaringan sekitarnya. Berdasarkan waktu penyembuhan luka a) Luka akut : yaitu luka dengan masa penyembuhan sesuai dengan konsep penyembuhan yang telah disepakati. Lukanya sampai pada lapisan epidermis. tendon dan tulang dengan adanya destruksi/kerusakan yang luas.yang mendasarinya. . Gambar : Stadium Luka 3. dermis dan fasia tetapi tidak mengenai otot.

Luka insisi (Incised wounds). Mekanisme terjadinya luka : 1. Luka tembus (Penetrating Wound). Luka lecet (Abraded Wound). 6. terjadi akibat kulit bergesekan dengan benda lain yang biasanya dengan benda yang tidak tajam. terjadi karena teriris oleh instrumen yang tajam.dapat karena faktor eksogen dan endogen. terjadi akibat adanya benda. terjadi akibat benturan oleh suatu tekanan dan dikarakteristikkan oleh cedera pada jaringan lunak. Luka memar (Contusion Wound). Misal yang terjadi akibat pembedahan. Luka bersih (aseptik) biasanya tertutup oleh sutura seterah seluruh pembuluh darah yang luka diikat (Ligasi) 2. . perdarahan dan bengkak. seperti peluru atau pisau yang masuk kedalam kulit dengan diameter yang kecil. Gambat luka kronis C. Luka gores (Lacerated Wound). Luka tusuk (Punctured Wound).Gambat luka akut b) Luka kronis yaitu luka yang mengalami kegagalan dalam proses penyembuhan. terjadi akibat benda yang tajam seperti oleh kaca atau oleh kawat. 4. 3. 5. yaitu luka yang menembus organ tubuh biasanya pada bagian awal luka masuk diameternya kecil tetapi pada bagian ujung biasanya lukanya akan melebar.

7. terkena air panas (scald). akibat sengatan listrik. Penyembuhan Luka Tubuh yang sehat mempunyai kemampuan alami untuk melindungi dan memulihkan dirinya. 1997). walaupun beberapa bahan perawatan dapat membantu untuk mendukung proses penyembuhan. melindungi area yang luka bebas dari kotoran dengan menjaga kebersihan membantu untuk meningkatkan penyembuhan jaringan (Taylor. D. membersihkan sel dan benda asing dan perkembangan awal seluler bagian dari proses penyembuhan. Prinsip Penyembuhan Luka Ada beberapa prinsip dalam penyembuhan luka menurut Taylor (1997) yaitu: a) Kemampuan tubuh untuk menangani trauma jaringan dipengaruhi oleh luasnya kerusakan dan keadaan umum kesehatan tiap orang. yaitu Suatu bentuk kerusakan atau kehilangan jaringan yang disebabkan kontak dengan sumber panas seperti kobaran api di tubuh (flame). sengatan matahari (sunburn) (Moenadjat. Proses penyembuhan terjadi secara normal tanpa bantuan. 2003). 1. Peningkatan aliran darah ke daerah yang rusak. Luka Bakar (Combustio). b) Respon tubuh pada luka lebih efektif jika nutrisi yang tepat tetap dijaga . akibat bahan-bahan kimia. jilatan api ke tubuh (flash). tersentuh benda panas (kontak panas). Sebagai contoh.

Dua proses utama terjadi pada fase ini yaitu hemostasis dan pagositosis. 2. Fase Inflamatori Fase ini terjadi segera setelah luka dan berakhir 3 – 4 hari. Fase Penyembuhan Luka Penyembuhan luka adalah suatu kualitas dari kehidupan jaringan hal ini juga berhubungan dengan regenerasi jaringan. Hemostasis (penghentian perdarahan) akibat fase konstriksi pembuluh darah besar di daerah luka. Menurut Kozier. 1995 a. Bekuan dan jaringan mati. Dibawah scab epithelial sel berpindah dari luka ke tepi. Bekuan darah dibentuk oleh platelet yang menyiapkan matrik fibrin yang menjadi kerangka bagi pengambilan sel. scab membantu hemostasis dan mencegah kontaminasi luka oleh mikroorganisme. Epitelial sel .c) Respon tubuh secara sistemik pada trauma d) Aliran darah ke dan dari jaringan yang luka e) Keutuhan kulit dan mukosa membran disiapkan sebagai garis pertama untuk mempertahankan diri dari mikroorganisme f) Penyembuhan normal ditingkatkan ketika luka bebas dari benda asing tubuh termasuk bakteri. Fase penyembuhan luka digambarkan seperti yang terjadi pada luka pembedahan (Kozier. Scab (keropeng) juga dibentuk dipermukaan luka. endapan fibrin (menghubungkan jaringan) dan pembentukan bekuan darah di daerah luka. retraksi pembuluh darah.1995).

Makrofag ini menelan mikroorganisme dan sel debris melalui proses yang disebut pagositosis. Suplai darah yang meningkat ke jaringan membawa bahan-bahan dan nutrisi yang diperlukan pada proses penyembuhan. Respon inflamatori ini sangat penting bagi proses penyembuhan b.membantu sebagai barier antara tubuh dengan lingkungan dan mencegah masuknya mikroorganisme. Gambar fase Inflamasi Fase inflamatori juga memerlukan pembuluh darah dan respon seluler digunakan untuk mengangkat benda-benda asing dan jaringan mati. Pada akhirnya daerah luka tampak merah dan sedikit bengkak. Fase Proliferatif Fase kedua ini berlangsung dari hari ke-3 atau 4 sampai hari ke21 setelah pembedahan. Tempat ini ditempati oleh makrofag yang keluar dari monosit selama lebih kurang 24 jam setelah cidera/luka. Makrofag juga mengeluarkan faktor angiogenesis (AGF) yang merangsang pembentukan ujung epitel diakhir pembuluh darah. Fibroblast (menghubungkan sel-sel jaringan) . Makrofag dan AGF bersama-sama mempercepat proses penyembuhan. Selama sel berpindah lekosit (terutama neutropil) berpindah ke daerah interstitial.

Kolagen adalah substansi protein yang menambah tegangan permukaan dari luka. Fibroblast berpindah dari pembuluh darah ke luka membawa fibrin. Jumlah kolagen yang meningkat menambah kekuatan permukaan luka sehingga kecil kemungkinan luka terbuka. Kapilarisasi tumbuh melintasi luka. Selama waktu itu sebuah lapisan penyembuhan nampak dibawah garis irisan luka. Kolagen menjalin . Gambar Fase Proliferasi c. meningkatkan aliran darah yang memberikan oksigen dan nutrisi yang diperlukan bagi penyembuhan. Fase Maturasi Fase maturasi dimulai hari ke-21 dan berakhir 1-2 tahun setelah pembedahan. Jaringan ini disebut granulasi jaringan yang lunak dan mudah pecah. Diawali dengan mensintesis kolagen dan substansi dasar yang disebut proteoglikan kira-kira 5 hari setelah terjadi luka. Seiring perkembangan kapilarisasi jaringan perlahan berwarna merah. Fibroblast terus mensintesis kolagen.yang berpindah ke daerah luka mulai 24 jam pertama setelah pembedahan.

kehilangan elastisitas dan meninggalkan garis putih. Fase Proliferative Dimulai pada hari ke 3 atau 4 dan berakhir pada hari ke-21. b. Diikuti vasodilatasi menyebabkan peningkatan aliran darah ke daerah luka yang dibatasi oleh sel darah putih untuk menyerang luka dan menghancurkan bakteri dan debris. Bekas luka menjadi kecil. Sebagai tekanan yang besar. Dua . menyatukan dalam struktur yang lebih kuat. Fase Inflamatory Fase inflammatory dimulai setelah pembedahan dan berakhir hari ke 3 – 4 pasca operasi.dirinya . Lebih kurang 24 jam setelah luka sebagian besar sel fagosit ( makrofag) masuk ke daerah luka dan mengeluarkan faktor angiogenesis yang merangsang pembentukan anak epitel pada akhir pembuluh luka sehingga pembentukan kembali dapat terjadi. Fibroblast secara cepat mensintesis kolagen dan substansi dasar. berakibat pembekuan darah untuk menutupi luka. Sebagai hasil adanya suatu konstriksi pembuluh darah. Gambar Fase Maurasi Menurut Taylor (1997): a. Dua tahap dalam fase ini adalah Hemostasis dan Pagositosis. luka menimbulkan lokal adaptasi sindrom.

membuatpenyembuhan luka lebih kuat dan lebih mirip jaringan. Menurut Potter (1998): a. membawa platelet menghentikan perdarahan. Kollagen yang ditimbun dalam luka diubah. . menekan pembuluh darah dalam penyembuhan luka. Hemostasis adalah kondisi dimana terjadi konstriksi pembuluh darah. Sebuah lapisan tipis dari sel epitel terbentuk melintasi luka dan aliran darah ada didalamnya. kemerahan dan mudah berdarah. Devensive / Tahap Inflamatory Dimulai ketika sejak integritas kulit rusak/terganggu dan berlanjut hingga 46 hari. adanya pembuluh darah. Kollagen baru menyatu. dimulai hari ke-21 dan dapat berlanjut selama 1 – 2 tahun setelah luka. Tibanya sel darah putih di luka. sekarang pembuluh kapiler melintasi luka (kapilarisasi tumbuh). c. Respon inflammatory adalah saat terjadi peningkatan aliran darah pada luka dan permeabilitas vaskuler plasma menyebabkan kemerahan dan bengkak pada lokasi luka. Tahap ini terbagi atas Homeostasis. Jaringan baru ini disebut granulasi jaringan.substansi ini membentuk lapislapis perbaikan luka. Fase Maturasi Fase akhir dari penyembuhan. sehingga bekas luka menjadi rata. tipis dan garis putih. Respon inflamatori. Bekuan membentuk sebuah matriks fibrin yang mencegah masuknya organisme infeksius.

Sampainya sel darah putih pada luka melalui suatu proses. c. dan asam amino pada jaringan kollagen. E. Kollagen menyiapkan struktur. Reconstruksion / Tahap Prolifrasi Penutupan dimulai hari ke-3 atau ke-4 dari tahap defensive dan berlanjut selama 2 – 3 minggu. kekuatan dan integritas luka. Usia Anak dan dewasa penyembuhannya lebih cepat daripada orang tua. selanjutnya makrofag membersihkan sel dari debris oleh pagositosis. Orang tua lebih sering terkena penyakit kronis. b. Tahap Maturasi Tahap akhir penyembuhan luka berlanjut selama 1 tahun atau lebih hingga bekas luka merekat kuat. Fibroblast berfungsi membantu sintesis vitamin B dan C. Epitelial sel bergerak dari dalam ke tepi luka selama lebih kurang 48 jam. Meningkatkan perbaikan luka dengan mengembalikan asam amino normal dan glukose. Monosit menjadi makrofag. Faktor yang Mempengaruhi Luka 1. neutrophils membunuh bakteri dan debris yang kemudian mati dalam beberapa hari dan meninggalkan eksudat yang menyerang bakteri dan membantu perbaikan jaringan. . Epitelial sel memisahkan sel-sel yang rusak. penurunan fungsi hati dapat mengganggu sintesis dari faktor pembekuan darah.

Klien yang gemuk meningkatkan resiko infeksi luka dan penyembuhan lama karena supply darah jaringan adipose tidak adekuat. Kurangnya volume darah akan mengakibatkan vasokonstriksi dan menurunnya ketersediaan oksigen dan nutrisi untuk penyembuhan luka. karbohidrat. Klien memerlukan diit kaya protein. Zn.2. lemak. Bakteri sumber penyebab infeksi. lebih mudah infeksi. Infeksi Infeksi luka menghambat penyembuhan. Adanya sejumlah besar lemak subkutan dan jaringan lemak (yang memiliki sedikit pembuluh darah). Aliran darah dapat terganggu pada orang dewasa dan pada orang yang menderita gangguan pembuluh darah perifer. 4. Oksigenasi jaringan menurun pada orang yang menderita anemia atau gangguan pernapasan kronik pada perokok. Sirkulasi (hipovolemia) dan Oksigenasi Sejumlah kondisi fisik dapat mempengaruhi penyembuhan luka. hipertensi atau diabetes millitus. dan lama untuk sembuh. vitamin C dan A. Klien kurang nutrisi memerlukan waktu untuk memperbaiki status nutrisi mereka setelah pembedahan jika mungkin. Nutrisi Penyembuhan menempatkan penambahan pemakaian pada tubuh. . dan mineral seperti Fe. 3. Pada orang-orang yang gemuk penyembuhan luka lambat karena jaringan lemak lebih sulit menyatu.

Hematoma Hematoma merupakan bekuan darah. 8. sehingga menghambat proses penyembuhan luka. 7. Dapat juga terjadi akibat faktor internal yaitu adanya obstruksi pada pembuluh darah itu sendiri. Diabetes Hambatan terhadap sekresi insulin akan mengakibatkan peningkatan gula darah. Tetapi jika terdapat bekuan yang besar hal tersebut memerlukan waktu untuk dapat diabsorbsi tubuh.5. Seringkali darah pada luka secara bertahap diabsorbsi oleh tubuh masuk kedalam sirkulasi. 6. fibrin. Akibat hal tersebut juga akan terjadi penurunan protein-kalori tubuh. Benda asing Benda menyebabkan asing seperti pasir suatu atau mikroorganisme sebelum benda akan terbentuknya abses tersebut diangkat. jaringan sel mati dan lekosit (sel darah merah). Iskemia Iskemia merupakan suatu keadaan dimana terdapat penurunan suplai darah pada bagian tubuh akibat dari obstruksi dari aliran darah. . yang membentuk suatu cairan yang kental yang disebut dengan nanah (“Pus”). Hal ini dapat terjadi akibat dari balutan pada luka terlalu ketat. Abses ini timbul dari serum. nutrisi tidak dapat masuk ke dalam sel.

luka mempengaruhi luka kecepatan gagal dan untuk penyembuhan Beberapa dapat 10. dehiscence dan eviscerasi. khusus dari luka. Gejala dari infeksi sering muncul dalam 2 – 7 hari setelah pembedahan. heparin dan anti neoplasmik mempengaruhi penyembuhan luka. a. selama pembedahan atau setelah pembedahan. Infeksi Invasi bakteri pada luka dapat terjadi pada saat trauma. Antibiotik : efektif diberikan segera sebelum pembedahan untuk bakteri penyebab kontaminasi yang spesifik. peningkatan drainase. F. Komplikasi Penyembuhan Luka Komplikasi penyembuhan luka meliputi infeksi. nyeri. Keadaan Luka Keadaan efektifitas menyatu. tidak akan efektif akibat koagulasi intravaskular. kemerahan dan . Gejalanya berupa infeksi termasuk adanya purulent. perdarahan. Obat Obat anti inflamasi (seperti steroid dan aspirin). Penggunaan antibiotik yang lama dapat membuat seseorang rentan terhadap infeksi luka. 1. Steroid : akan menurunkan mekanisme peradangan normal tubuh terhadap cedera b.9. Antikoagulan : mengakibatkan perdarahan c. Jika diberikan setelah luka pembedahan tertutup.

sulit membeku pada garis jahitan. Pemberian cairan dan intervensi pembedahan mungkin diperlukan. Ketika dehiscence dan eviscerasi terjadi luka harus segera ditutup dengan balutan steril yang lebar. Eviscerasi adalah keluarnya pembuluh melalui daerah irisan. kompres dengan normal saline. . G. Dehiscence dan Eviscerasi Dehiscence dan eviscerasi adalah komplikasi operasi yang paling serius. 3.bengkak di sekeliling luka. Perdarahan Perdarahan dapat menunjukkan suatu pelepasan jahitan. penambahan tekanan balutan luka steril mungkin diperlukan. muntah. kurang nutrisi. batuk yang berlebihan. atau erosi dari pembuluh darah oleh benda asing (seperti drain). Dehiscence adalah terbukanya lapisan luka partial atau total. peningkatan suhu.multiple trauma. dan peningkatan jumlah sel darah putih. dan dehidrasi. 2. gagal untuk menyatu. mempertinggi resiko klien mengalami dehiscence luka. kegemukan. Hipovolemia mungkin tidak cepat ada tanda.P. Perkembangan Perawatan Luka Profesional perawat percaya bahwa penyembuhan luka yang terbaik adalah dengan membuat lingkungan luka tetap kering (Potter. Dehiscence luka dapat terjadi 4 – 5 hari setelah operasi sebelum kollagen meluas di daerah luka. Sejumlah faktor meliputi.Jika perdarahan berlebihan terjadi. . infeksi. Sehingga balutan (dan luka di bawah balutan) jika mungkin harus sering dilihat selama 48 jam pertama setelah pembedahan dan tiap 8 jam setelah itu. Klien disiapkan untuk segera dilakukan perbaikan pada daerah luka.

Perawatan luka lembab tidak meningkatkan infeksi. Hasilnya menunjukkan bahwa lingkungan yang lembab lebih baik daripada lingkungan kering. 2000). J. Pada kenyataannya tingkat infeksi pada semua jenis balutan le:mbab adalah 2. asam asetat.5 %. 1999). melainkan disesuaikan terlebih dahulu dengan tipe dan jenis luka. Citotoxic agent seperti povidine iodine. Hasil penelitian ini menyimpulkan bahwa migrasi epidermal pada luka superficial lebih cepat pada suasana lembab daripada kering. Konsep penyembuhan luka dengan teknik lembab ini merubah penatalaksanaan luka dan memberikan rangsangan bagi perkembangan balutan lembab ( Potter. Perkembangan perawatan luka sejak tahun 1940 hingga tahun 1970. 1998). Rowel (1970) menunjukkan bahwa lingkungan lembab meningkatkan migrasi sel epitel ke pusat luka dan melapisinya sehingga luka lebih cepat sembuh. 1998). Luka dengan . P. Penggunaan antiseptic hanya untuk yang memerlukan saja karena efek toksinnya terhadap sel sehat. tiga peneliti telah memulai tentang perawatan luka. Penggantian balutan dilakukan sesuai kebutuhan tidak hanya berdasarkan kebiasaan. Winter (1962) mengatakan bahwa laju epitelisasi luka yang ditutup poly-etylen dua kali lebih cepat daripada luka yang dibiarkan kering. P.1998). dan ini merangsang perkembangan balutan luka modern ( Potter. seharusnya tidak secara sering digunakan untuk membersihkan luka karena dapat menghambat penyembuhan dan mencegah reepitelisasi. lebih baik dibanding 9 % pada balutan kering (Thompson. Untuk membersihkan luka hanya memakai normal saline (Dewi.

Jaringan granulasi mulai mempertemukan daerah luka. Tepi luka tampak meradang dan bengkak. Pembentukan kollagen mulai 4 hari setelah perlukan dan berlanjut sampai 6 bulan atau lebih. ukuran bekas luka menunjukkan pembentukan . 6. Tepi luka seharusnya bersih. berdekatan dengan lapisan sepanjang tepi luka. Inflamasi (kemerahan dan bengkak) pada tepi luka selama 1 – 3 hari. Peningkatan kelloid. Perawat dapat menduga tanda dari penyembuhan luka bedah insisi : 1. Tidak ada perdarahan dan munculnya tepi bekuan di tepi luka. 5. 7. Tepi luka ditandai dengan kemerahan dan sedikit bengkak dan hilang kira-kira satu minggu. Kulit menjadi tertutup hingga normal dan tepi luka menyatu. 2. D. Pembentukan bekas luka. (Walker. 8. 1996). Luka bertemu dan menutup selama 7 – 10 hari. Peningkatan inflamasi digabungkan dengan panas dan drainase mengindikasikan infeksi luka. 3. Penurunan inflamasi ketika bekuan mengecil. Tepi luka akan didekatkan dan dijepit oleh fibrin dalam bekuan selama satu atau beberapa jam setelah pembedahan ditutup. Pengecilan ukuran bekas luka lebih satu periode atau setahun. 4.sedikit debris dipermukaannya dapat dibersihkan dengan kassa yang dibasahi dengan sodium klorida dan tidak terlalu banyak manipulasi gerakan.

Sirkulasi • Kebas & kesemutan pada extrimitas. f. bola mata cekung. b. • Kulit kering/bersisik. e. gangguan tidur dan istirahat. • Kulit panas. bising usus lemah/menurun. letih. sulit bergerak/berjalan. kering & kemerahan.BAB III ASUHAN KEPERAWATAN LUKA Asuhan Keperawatan 1. • Takikardia/nadi yang menurun. kesulitan berkemih (infeksi) • Diare. Makanan/cairan • Hilang nafsu makan. • Kram otot. d. tergantung orang lain. Neurosensori . Eliminasi • Rasa nyeri/terbakar. c. tonus otot menurun. Pengkajian Data bergantung pada berat dan lamanya ketidakseimbangan metabolik dan pengaruh pada fungsi organ : a. mual/muntah. Integritas ego • Stress. turgor jelek. • Peka terhadap rangsangan. Aktifitas/Istirahat • Lemah.

diaforesis • Menurunnya kekuatan/rentang gerak. stupor/koma. 1. kesemutan. • Disorentasi : mengantuk. pembentukan edema.60% lebih besar dari proporsi normal pada cedera berat) atau katabolisme protein. Kerusakan integritas kulit berhubungan dengan Trauma : kerusakan permukaan kulit b. Kerusakan mobilitas fisik berhubungan dengan gangguan neuromuskuler. • Parestesia. Nyeri berhubungan dengan Kerusakan kulit/jaringan. • Demam. sakit kepala. Perubahan nutrisi : Kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dgn status hipermetabolik (sebanyak 50 % . h. gatal. letargia. prognosis dan kebutuhan pengobatan berhubungan dengan Salah interpretasi informasi Tidak mengenal sumber informasi . Keamanan • Kulit kering. Diagnosa Keperawatan a. penurunan kekuatan dan tahanan. Kurang pengetahuan tentang kondisi. d. ulkus kulit. Nyeri/kenyamanan • Abdomen tegang/nyeri • Wajah meringis. c. g.• Pusing/pening. palpitasi. kebas kelemahan pada otot. e. nyeri/tak nyaman. Manipulasi jaringan cidera contoh debridemen luka.

penekanan respons inflamasi g. Pertahanan sekunder tidak adekuat. kecacatan dan nyeri. jaringan traumatik. kerusakan perlinduingan kulit. Gangguan citra tubuh (penampilan peran) berhubungan dengan krisis situasi. . kejadian traumatik peran klien tergantung. Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan Pertahanan primer tidak adekuat.f. penurunan Hb.

Mempercepat proses penyembuhan luka 4. Pertahankan penutupan luka sesuai indikasi.Rencana Intervensi dan Rasional Rencana Keperawatan Tujuan dan Kriteria Hasil Memumjukkan regenerasi jaringan Kriteria hasil: Mencapai penyembuhan tepat waktu Intervensi 1. warna. Tindakan eksternal ini membantu . Analgesik diperlukan untuk memblok jaras nyeri dengan nyeri berat. 2. Evaluasi keefektifannya. Diagnosa Keperawatan Kerusakan integritas kulit berhubungan dengan Trauma : kerusakan permukaan kulit Menurunkan resiko infeksi/kegagalan kulit. Menurunkan pembengkakan dengan mengubah posisi yang mempengaruhi penyembuhan optimal. perhatikan jaringan nekrotik dan kondisi sekitar luka. Rasional Memberikan informasi dasar tentang kebutuhan luka. Manipulasi Pasien dapat mendemonstrasikan hilang dari ketidaknyamanan. pembentukan edema. 3. Berikan anlgesik yang diresepkan dan sedikitnya 30 menit sebelum prosedur perawatan luka. kedalaman luka. Pertahankan balutan diatas area graft baru dan/atau sisi donor sesuai indikasi. Kaji/catat ukuran. Kriteria evaluasi: 1. Nyeri berhubungan dengan Kerusakan kulit/jaringan. Lakukan perawatan luka dengan tepat dan tindakan kontrol infeksi.

menghemat kehilangan panas. khususnya bila pasien tak ketidaknyamanan.jaringan cidera menyangkal nyeri. 1. Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan Pertahanan primer tidak adekuat. 2. penurunan Hb. Kulit yang gundul menjadi media yang baik untuk kultur pertumbuhan baketri. penekanan respons inflamasi Pasien bebas dari infeksi. tingkatkan suhu ruangan dan berikan selimut ekstra untuk memberikan kehangatan. Bersihkan area luka bakar setiap hari dan lepaskan jaringan nekrotik (debridemen) sesuai standart prosedur perawatan luka 3. Lepaskan krim lama dari luka sebelum pemberian krim baru. melaporkan perasaan nyaman. Kolaborasi pemberian antibiotika IV sesuai ketentuan. Kriteria evaluasi: tak ada demam.Suhu setiap 4 jam. Mengikuti prinsip aseptik melindungi pasien dari infeksi. dapat membantu membalikkan badan sendiri. pada luka bakar selama gerakan Dapatkan bantuan tambahan sesuai membantu meinimalkan kebutuhan. Mengidentifikasi indikasi-indikasi kemajuan atau penyimapngan dari hasil yang diharapkan. Pertahanan sekunder tidak adekuat. 2. ekspresi wajah dan postur tubuh rileks. . Terapi antibiotik yang tepat dapat . kerusakan perlinduingan kulit. pembentukan jaringan granulasi baik. jaringan traumatik. Pertahankan pintu kamar tertutup. Bantu dengan pengubahan posisi tulang dependen. Pantau: . Dukungan adekuat setiap 2 jam bila diperlukan. Pembersihan dan pelepasan jaringan nekrotik meningkatkan pembentukan granulasi. 4.Jumlah makanan yang dikonsumsi setiap kali makan. Menghilangkan tekanan pada tonjolan 3.

Kurangnya berbagai rangsang ekstrenal dan kebebasan bergerak mencetuskan pasien pada kebosanan. Anjurkan NPT atau makanan enteral bial pasien tak dapat makan per oral. Mempertahankan status gizi secara optimal selama proses penyembuahn dengan cara: (Almatsier. 2005) . Kolaborasi pada tim ahli diet. diet tinggi kalori. sarung tangan dan penutup kepala dengan masker bila memberikan perawatan pada pasien. Teknik steril dan tindakan perawatan perlindungan lainmelindungi pasien terhadap infeksi. Mencegah terjadinya gangguan metabolic 3. 6. Untuk mempercepat penyembuhan 2.5. Berikan suplemen nutrisi seperti ensure atau sustacal dengan atau antara makan bila masukan makanan kurang dari 50%. menurunkan resiko infeksi Kulit adalah lapisan pertama tubuh untuk pertahanan terhadap infeksi. Pemberian diet pada pasien luka bertujuan untuk: 1. Gunakan skort steril. Nutrisi adekuat memabntu penyembuhan luka dan memenuhi kebutuhan energi. berikan protein tinggi. Gunakan linen tempat tidur steril. Tempatkan pasien pada ruangan khusus dan lakukan kewaspadaan untuk luka yang luas pada tubuh. handuk dan skort untuk pasien. Ahli diet adalah spesialis nutrisi yang dapat mengevaluasi paling baik status nutrisi pasien dan merencanakan diet untuk emmenuhi kebuuthan nutrisi penderita.

seng. natrium.Syarat-Syarat Pemberian o o o o Nutrisi enteral dini (NED) Protein tinggi. Bila mengalami trauma inhalasi. kalium. yaitu 15-20% dari kebutuhan energi total Karbohidrat sedang. dan magnesium. yaitu 50-60% dari kebutuhan energi total. Sebagian mineral diberikan dalam bentuk suplemen . fosfor. karbohidrat diberikan 45-55 % dari kebutuhan energi total o Vitamin diberikan diatas AKG (Angka Kecukupan Gizi): suplemen. Kebutuhan beberapa jenis vitamin adalah sebagai berikut  Vitamin A minimal 2 x AKG  Vitamin B minimal 2 x AKG  Vitamin C minimal 2 x AKG  Vitamin E 200 SI o Mineral tinggi. kalsium. terutama zat besi. yaitu 20-25% dari kebutuhan energi total Lemak sedang.

14. Memberikan lingkungan yang memadai untuk penyembuhan luka. membran mukosa atau jaringan lain yang disebabkan oleh adanya trauma. 9. Mencegah luka dari kontaminasi bakteri. Mencegah luka dan jaringan epitel baru dari cedera mekanis. Drainase untuk memudahkan pengeluaran eksudat 6. Mencegah infeksi dari masuknya mikroorganisme ke dalam kulit dan membran mukosa 2. Memberikan rasa nyaman mental dan fisik pada pasien. 12. B. Mencegah bertambahnya kerusakan jaringan 3. 8. 10. Membersihkan luka dari benda asing atau debris 5. Tujuan 1. Absorbsi drainase. . Menekan dan imobilisasi luka. fraktur. Mencegah perdarahan 7. Pengertian Merawat luka untuk mencegah trauma (injury) pada kulit.BAB IV PERAWATAN LUKA A. Mencegah excoriasi kulit sekitar drain. Meningkatkan hemostasis dengan menekan dressing. luka operasi yang dapat merusak permukaan kulit. 13. 11. Mempercepat penyembuhan 4.

1999). kilau metalik dan bau yang khas. Iodine hanya larut sedikit di air. Larutan povodine-iodine.com/woundcare/) 2. tetapi dapat larut secara keseluruhan dalam alkohol dan larutan sodium iodide encer. 1999).C. tidak iritan. Sodium klorida atau natrium klorida mempunyai Na dan Cl yang sama seperti plasma. Larutan ini akan melepaskan iodium anorganik bila kontak dengan kulit atau selaput lendir sehingga cocok untuk luka kotor dan terinfeksi bakteri gram .9 %. menjaga kelembaban sekitar luka dan membantu luka menjalani proses penyembuhan serta mudah didapat dan harga relatif lebih murah (http://rpromise. yang paling sering adalah sodium klorida 0.9 % Sodium klorida adalah larutan fisiologis yang ada di seluruh tubuh karena alasan ini tidak ada reaksi hipersensitivitas dari sodium klorida. Iodine adalah element non metalik yang tersedia dalam bentuk garam yang dikombinasi dengan bahan lain Walaupun iodine bahan non metalik iodine berwarna hitam kebiru-biruan. Sodium klorida tersedia dalam beberapa konsentrasi. Larutan ini tidak mempengaruhi sel darah merah (Handerson. Merupakan larutan isotonis aman untuk tubuh. melindungi granulasi jaringan dari kondisi kering. 1999). Iodide tinture dan solution keduanya aktif melawan spora tergantung konsentrasi dan waktu pelaksanaan (Lilley & Aucker. Bahan yang Digunakan dalam Perawatan Luka 1. Sodium Klorida 0. Ini adalah konsentrasi normal dari sodium klorida dan untuk alasan ini sodium klorida disebut juga normal saline (Lilley & Aucker. 1992). Normal saline aman digunakan untuk kondisi apapun (Lilley & Aucker.

9 % D. Larutan anti septic e. jamur. Rasa terbakar akan nampak dengan iodine ketika daerah yang dirawat ditutup dengan balutan oklusif kulit dapat ternoda dan menyebabkan iritasi dan nyeri pada sisi luka. Kasa untuk menutup luka. Tempat untuk larutan d. J. 4. Korentang. 1999). untuk menutup pasien 7. Selimut mandi jika perlu. Kapas atau kasa untuk membersihkan luka c. spora. Cara Kerja Perawatan Luka Secara Umum . 2000).positif dan negatif. Kantong tahan air untuk tempat balutan lama 5. dan protozoa. Plester atau alat pengaman balutan 6. C. Betadin 9. 2 pasang pinset f. Bahan ini agak iritan dan alergen serta meninggalkan residu (Sodikin. (Lilley & Aucker. Pembungkus b. Gunting. Studi menunjukan bahwa antiseptik seperti povodine iodine toxic terhadap sel (Thompson. 2002). Alat-alat yang diperlukan lainnya seperti : extra balutan dan zalf 3. Iodine dengan konsentrasi > 3 % dapat memberi rasa panas pada kulit. Cairan infus Sodium Clorida 0. Kapas Alkohol 8. Set steril yang terdiri atas : a. Persiapan alat 1. 2.

10. 8. 4. gunakan selimut mandi untuk menutup pasien jika perlu. Jaga privasi dan tutup jendela/pintu kamar Bantu pasien untuk mendapatkan posisi yang menyenangkan. 7. Jika menggunakan plester angkat dengan cara menarik dari kulit dengan hati-hati kearah luka.1. satu untuk mengangkat gaas dan satu untuk memegang drain. Jawab pertanyaan pasien. 5. Jika gaas dililitkan pada drain gunakan 2 pasang pinset. Tempatkan tempat sampah pada tempat yang dapat dijangkau. 9. 6. Jelaskan kepada pasien tentang apa yang akan dilakukan. Gunakan Alkoholl untuk melepaskan jika perlu. Angkat plester atau pembalut. Tempatkan pembungkus steril di samping luka 12. Angkat balutan paling dalam dengan pinset dan perhatikan jangan sampai mengeluarkan drain atau mengenai luka insisi. 2. Angkat balutan menjauhi pasien. Keluarkan balutan atau surgipad dengan tangan jika balutan kering atau menggunakan sarung tangan jika balutan lembab. Bukan hanya pada daerah luka. Buka set steril 11. . Tempatkan balutan yang kotor dalam kantong plastik. Bisa dipasang pada sisi tempat tidur. Minta bantuan untuk mengganti balutan pada bayi dan anak kecil 3.

lalu letakkan pinset ujungnya labih rendah daripada pegangannya. banyaknya jahitan dan keadaan luka. 16. Catat jenis drainnya bila ada. bersihkan dari insisi kearah drain : • Bersihkan dari atas ke bawah daripada insisi dan dari tengah keluar • Bersihkan dari atas ke bawah daripada insisi dan dari tengah keluar. Buang kantong plastik. bersihkan dari tengah luka kearah luar. gunakan pergerakan melingkar. Gunakan satu kapas satu kali mengoles. Membersihkan luka menggunakan pinset jaringan atau arteri dan kapas dilembabkan dengan anti septik. Ulangi pembersihan sampai semua drainage terangkat. 14. sesudah memasang balutan pinset dijauhkan dari daerah steril. • Bilas luka menggunakan cairan Normal Saline dg tekanan rendah • Jika ada drain bersihkan sesudah luka insisi • Untuk luka yang tidak teratur seperti dekubitus ulcer. 15.13. . Untuk menghindari dari kontaminasi ujung pinset dimasukkan dalam kantong kertas.

Catat penggantian balutan.17. Laporkan adanya perubahan pada luka atau drainage kepada perawat yang bertanggung jawab. Olesi zalf atau powder. . Bantu pasien dalam pemberian posisi yang menyenangkan. 18. Ratakan powder diatas luka dan gunakan alat steril. Prinsip membersihkan dari daerah bersih ke daerah yang terkontaminasi karena drainnya yang basah memudahkan pertumbuhan bakteri dan daerah daerah drain paling banyak mengalami kontaminasi. Gunakan satu balutan dengan plester atau pembalut 19. Angkat peralatan dan kantong plastik yang berisi balutan kotor. Amnkan balutan dengan plester atau pembalut 20. Jika letak drain ditengah luka insisi dapat dibersihkan dari daerah ujung ke daerah pangkal kearah drain. Cuci tangan 23. Kulit sekitar drain harus dibersihkan dengan antiseptik. Gunakan kapas yang lain. kaji keadaan luka dan respon pasien. Bersihkan alat dan buang sampah dengan baik. Membersihkan Daerah Drain Daerah drain dibersihkan sesudah insisi. 22. 21.

Tutup ruangan dengan tirai. Sarung tangan steril 2. Selimut mandi. bantalan kasa 5. Siapkan peralatan yang diperlukan di meja (jangan membuka peralatan) 3. forsep). Bantu klien pada posisi nyaman. Selimut mandi hanya untuk memajankan area luka.PERAWATAN LUKA BASAH KE KERING A. Ambil kantung plastik dan buat lipatan diatasnya. Cuci tangan secara menyeluruh . Set balutan ( gunting. Pester 10. tutup semua jendela yang terbuka 5. Sarung tangan sekali pakai 3. kasa kecil. Jelaskan prosedur kepada klien 2. Duk steril. Aseton (jika diperlukan) B. Kantung plastik untuk sampah 11. pinset. Peralatan 1. nierbekken 4. 6. Kom untuk larutan antiseptik atau larutan pembersih 7. Normal satin atau H2O steril 8. Balutan kasa ekstra dan surgipad atau bantalan ABD 6. Instruksikan klien agar tidak menyentuh area luka atau peralatan steril. Larutan pembersih yang diresepkan dokter 9. kasa besar. Prosedur 1. Letakkan kantung plastik agar mudah terjangkau oleh anda 4. bantalan tahan air 12.

(palpasi bila perlu. dapat dibersihkan dengan aseton) 10. Buka nampan balutan steril. Lepaskan sarung tangan dengan m. Buang pada nierbekken 14. Balutan.pinset dan forsep harus tetap pada nampan steril. Angkat balutan secara perlahan dengan menggunakan forsep atau pinset 11. pertahan lepaskan balutan dari eksudat yang mengering. Bersihkan luka dengan larutan antiseptik atau lanrtan normal satin. Lepaskan plester dengan melepaskan ujung dan menariknya dengan perlahan. Buka botol larutan antiseptik lalu tuang ke dalam kom steril atau kasa steril 15. Letakkan bantalan tahan air dibawah klien 8. integritas jahitan dan karakteristik drainase. dengan bagian tangan non dominan yang tidak akan menyentuh bahan steril) 17. Beritahukan klien tentang penarikan dan ketidak nyamanan 12. Jika balutan lengket pada luka. sejajar pada kulit dan mengarah pada balutan(bila masih terdapat plester pada kulit. Gunakan kasa terpisah untuk setiap usapanmembersihkan. gunting. Pakai sarung tangan steril 16. Perhatikan kondisinya. hindari kontaminasi permukaan luar kantung. Buang balutan kotor pada nierbekken atau kantung plastik. Observasi karakteristik dan jumlah drainase pada balutan 13. letak drain. Bersihkan dari daerah yang kurang terkontaminasi ke area terkontaminasi .enarik bagian dalam keluar. Gunakan sarung tangan bersih sekali pakai dan lepaskan plester 9. Pegang kasa yang dibasahi dalam larutan dengan forsep. Inspeksi luka.7. jangan dibasahi.

Kom untuk larutan antiseptik atau larutan pernbersih 7. Kasa besar. Larutan pembersih yang diresepkan dokter 10. atau balutan ABD 21. Catat pada catatan perawat PERAWATAN LUKA GANGREN A. Cuci tangan 25. pinset. Plester . Kasa kecil. Secara pedahan masukkan kasa ke dalam luka sehingga semua permukaan luka kontak dengan kasa basah 19. Bila luka dalam dengan perlahan bust kasaseperti kemasan dengan menekuk tepi kasa dengan forsep. Duk steril. bantalan kasa 5. Pasang kasa yang basah tepat pada permukaan luka. Pasang plester diatas balutan 22. Balutan kasa ekstra dan surgipad atau bantalan ABD 6.18. Set balutan ( gunting. l klem arteri. Nalrium Klorida atau H2O steril 8. surgipad. forsep. nierbekken 4. Sarung tangan sekali pakai 3. Pasang kasa steril keying diatas kasa basah 20. Salep yang diresepkan dokter 9. Tutup dengan kasa. Lepaskan sarung tangan dan buang pada tempat yang telah disediakan 23. Sarung tangan steril 2. Sisihkan semua alat dan bantu klien kembali pada posisi nyaman 24. Peralatan 1. gunting nekrotomi).

Prosedur 1. Bantu klien pada posisi nyaman. Angkat balutan secara perlahan dengan menggunakan forsep atau pinset 11. Selimut mandi. Selimut mandi hanya untuk memajankan area luka. Bantalan tahan air. Jika balutan lengket pada luka. Letakkan bantalan tahan air dibawah klien 8. Observasi karakteristik dan jumlah drainase pada balutan . Letakkan kantung plastik agar mudah terjangkau oleh anda 4. Instruksikan klien agar tidak menyentuh area luka atau peralatan steril. Ambil kantung plastik dan buat lipatan diatasnya. Siapkan peralatan yang diperlukan di meja (jangan membuka peralatan) 3. Cuci tangan secara menyeluruh 7. Tutup ruangan dengan tirai. Kantung plastik untuk sarnpah.terpal plastic 13. ember 12. Jelaskan prosedur kepada klien 2.11. dapat dibersihkan dengan aseton) 10. Lepaskan plester dengan melepaskan ujung dan menariknya dengan perlahan. 6. Beritahukan klien tentang penarikan dan ketidaknyamanan 12. tutup semua jendela yang terbuka 5. Gunakan sarung tangan bersih sekali pakai dan lepaskan plester 9. sejajar pada kulit dan mengarah pada balutan(bila masih terdapat plester pada kulit. perlahan lepaskan balutan dan eksudat yang mengering. dibasahi dengan memakai larutan NaCl. Larutan peroksida (jika diperlukan) B.

Secara perlahan masukkan kasa ke dalam luka sehingga semua permukaan luka kontak dengan kasa basah 19. hindari kontaminasi permukaan luar kantung. Inspeksi luka. Tutup dengan kasa. Bersihkan luka dengan larutan peroksida. lalu bersihkan dengan larutan antiseptik atau larutan NaCl. Buka botol larutan antiseptik lalu tuang ke dalam kom steril atau kasa steril 15. Buang pada nierbekken 14. angkat jaringan yang sudah mall dengan menggunakan gunting. surgipad. Buang balutan kotor pada nierbekken atau kantung plastik. gunting. Bila luka dalam dengan perlahan buat kasa seperti kemasan dengan menekuk tepi kasa dengan forsep. Lepaskan sarung tangan dengan menarik bagian dalam keluar.13.pinset dan forsep harus tetap pada nampan steril. Gunakan kasa terpisah untuk setiap usapan membersihkan. (palpasi bila perlu. Pasang plester diatas balutan 22. kemudian lakukan nekrotomi. Pakai sarung tangan steril 16. Pasang kasa steril kering di atas kasa basah 20. Perhatikan kondisinya. Buka nampan balutan steril. lakukan secara terus menerus. atau balutan ABD 21. letak drain. Lepaskan sarung tangan dan buang pada tempat yang telah disediakan . Balutan. dan karakteristik drainase. Pegang kasa yang dibasahi dalam larutan dengan forsep. Pasang kasa yang basah tepat pada permukaan luka. setelah jaringan yang mati habis. Bersihkan dari daerah yang kurang terkontaminasi ke area terkontaminasi 18. dengan bagian tangan non dominan yang tidak akan menyentuh bahan steril) 17.

Balutan kasa ekstra 13. pinset. bantalan kasa 12. Kom / nierbekken bersih untuk menampung larutan 6. Larutan irigasi (200 . Jeli pelumas dan spatel lidah (tidak menjadi keharusan) 9. pinset. Kantung plastik untuk sampah 15. Sarung tangan steril 2. Kom steril 3. bantalan tahan air 16. Catat pada catatan perawat IRlGASI LUKA A. Selimut mandi. Tray balutan steril dan Set balutan ( gunting. Spuit irigasi steril (kateter karet merah steril sebagai penghubung untuk luka dengan lubang kecil) 5. Sarung tangan sekali pakai 10. Set balutan ( gunting. Nierbekken 11. Peralatan 1. Cuci tangan 25.23. kasa kecil. Kasa besar. nierbekken 7. forsep). Plester 14. Sisihkan semua alat dan bantu klien kembali pada posisi nyaman 24. Aseton . forsep).500 ml sesuai pesanan) dihangatkan pada suhu tubuh 4. Bantalan tahan air 8.

Letakkan bantalan tahan air dibawah klien 6. Jelaskan prosedur kepada klien 2. sejajar pada kulit dan mengarah pada balutan(bila masih terdapat plester pada kulit. Prosedur 1. Balutan. Buang pada nierbekken 13. Buka nampan balutan steril. Cuci tangan secara menyeluruh 7. Lepaskan plester dengan melepaskan ujung dan menariknya dengan perlahan. gunting pinset dan forsep harus tetap pada nampan steril. siapkan peralatan yang diperlukan di meja (jangan membuka peralatan) 3. Observasi karakteristik dan jumlah drainase pada balutan 12. Buang balutan kotor pada nierbekken atau kantung plastik. Letakkan kom bersih menempel pada kulit klien di bawah insisi atau letak luka . lepaskan dengan meneteskan normal salin steril atau air steril 11. hindari kontaminasi permukaan luar kantung. Buka spuit siapkan tray balutan. Lepaskan sarung tangan dengan menarik bagian dalam keluar. Gunakan sarung tangan bersih sekali pakai dan lepaskan plester 8. dapat dibersihkan dengan aseton) 9. Pakai sarung tangan steril 15. Jika balutan lengket pada luka. 14. tepi luka ke dalam kom yang diletakkan di bawah luka 5.B. Posisikan klien sehingga larutan irigasi akan mengalir dari bagian atas 4. Buka kom dan tuangkan larutan (volume bervariasi tergantung ukuran luka dan banyaknya drainase). Angkat balutan secara perlahan dengan menggunakan forsep atau pinset 10.

Hindari menyemburkan atau menyemprotkan larutan. Irigasi tepat diatas luka.16. Bergerak secara progresif menekan dari garis insisi atau tepi luka 8. Pasang plester diatas balutan 20. Lanjutkan irigasi sampai larutan yang mengalir ke dalam kom jernih 18. Dengan kasa steril. keringkan tepi luka. Sisihkan semua afat dan Bantu klien kembali pada posisi nyaman 22. Cuci tangan 23. Bersihkan dari yang kurang terkontaminasi sampai ke Area yang terkontaminasi. Catat pada catatan perawat PENCEGAHAN INFEKSI Penggunaan antibiotika di rekomendasikan bila di temukan beberapa faktor risiko antara lain: • Tertunda presentasi (> 12hrs) • Luar badan • Luka berat kotor • Luka tusukan (terutama pada kaki) • Fraktur terbuka / terkena tendons . Lepaskan sarung tangan dan buang pada tempat yang telah disediakan 21. irigasi dengan peralatan tapi secara kontinu dengan tekanan yang cukup untuk mendorong drainase dan debris. 17. Tutup dengan kasa steril 19. Hisap larutan kedalam spuit Saat memegang ujung spuit tepat diatas Iuka.

DEBRIDEMENT • • • • Membuang jaringan mati Membuang material asing Membersihkan jaringan yang terkontaminasi Mempertahankan struktur penting semaksimal mungkin TEKNIK debridemen • Bedah debridemen • MEKANIK debridemen • AUTOLYTIC debridemen • ENZIMATIS debridemen .

perdarahan dan pembekuan darah. mempercepat penyembuhan. Luka adalah kerusakan kontinyuitas kulit. Kesimpulan Luka adalah suatu gangguan dari kondisi normal pada kulit ( Taylor. fraktur. luka operasi yang dapat merusak permukaan kulit serta bertujuan : mencegah infeksi dari masuknya mikroorganisme ke dalam kulit dan membran mukosa.serta memahami jenis luka. Hilangnya seluruh atau sebagian fungsi organ. 1995).respon stres simpatis. 1997). bertambahnya kerusakan jaringan. fase atau tahap penyembuhan luka sebelum melakukan perawatan luka. mengkaji keadaan luka dan respon pasien. B. membersihkan luka dari benda asing atau debris. mencegah excoriasi kulit sekitar drain. membran mukosa atau jaringan lain yang disebabkan oleh adanya trauma. kematian sel.BAB V PENUTUP A. Perawatan lukadilakukan untuk mencegah trauma (injury) pada kulit. mukosa membran dan tulang atau organ tubuh lain (Kozier. kontaminasi bakteri. Saran Hal yang penting dilakukan oleh perawat adalah mencatat penggantian balutan. drainase untuk memudahkan pengeluaran eksudat. Ketika luka timbul. mencegah perdarahan. beberapa efek akan muncul :. .

Eckersley JRT. Wind GG. Dudley HAF. Fakultas Kedokteran UI : Media Aescullapius. 10. Pedoman Tindakan Medik dan Bedah. 1995.DAFTAR PUSTAKA 1. 1992. An Illustrated Guide. 1993. Price. 12. Jakarta. AUP Surabaya. Perencanaan Asuhan Keperawatan. I. 1994. Zachary CB. USA. Bedah Minor. (2002). Jakarta : EGC 11. Atlas Teknik Bedah. et all. 1992. Bedah dan perawatannya. 1987. Hipokrates. Hipokrates Jakarta. Jakarta. Little Brown. Prinsip-prinsip Teknik Bedah. 8. Kaplan NE. Ed.. (1997) Patofisiologi. Churchill Livingstone. Doengoes. EGC Jakarta 2000. (1999). Puruhito. A Primer in Technique. 6. Oswari E. Thorek P. Rich NM. Bina rupa Aksara. Ilustrasi Ilmu Bedah Minor. 2. 3. Emergency Management of Skin and Soft Tissue Wounds. Jakarata : EGC. Hentz VR. Basic Cutaneous Surgery. Mansjoer. Arif. Gramedia. Dasar-daasar Teknik Pembedahan. 7. Boston. Saleh M. Kapita Selekta Kedokteran. 5. 1990. Bachsinar B. Jakarta. Anderson Sylvia. 9. Jakarta 1991. EGC . Paterson-Brown S. 4. London GB. . Sodera VK.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful