PENANGGULANGAN PENYALAHGUNAAN DAN PEREDARAN GELAP NARKOBA DI INDONESIA

OLEH SINDIKAT A DAN B

I.

PENDAHULUAN

I.1.

LATAR BELAKANG

Penyalahgunaan Narkoba di Indonesia telah mencapai tahap yang sangat mengkhawatirkan. Narkoba tidak lagi mengenal batas usia. Orang tua, muda, remaja bahkan anak – anak ada yang menjadi penyalahguna dan pengedar gelap Narkoba. Diperkirakan 1,5 persen dari total jumlah penduduk Indonesia adalah pengguna Narkoba. Peredaran gelap Narkoba di Indonesia pun tidak kalah mengkhawatirkan. Narkoba tidak hanya beredar di kota – kota besar di Indonesia, tetapi juga sudah merambah sampai ke pelosok desa. Indonesia yang dahulunya merupakan Negara transit/ lalu lintas perdagangan gelap Narkoba karena letak geografis negara Indonesia yang sangat strategis (posisi silang), telah berudah menjadi Negara produsen Narkoba. Hal ini dapat dilihat dengan terungkapnya beberapa laboratorium narkoba (clandenstin lab) di Indonesia. Era globalisasi yang ditandai dengan kemajuan teknologi komunikasi, liberalisasi perdagangan serta pesatnya kemajuan industri pariwisata telah menjadikan Indonesia sebagai Negara potensial sebagai produsen Narkoba. Posisi Indonesia yang sudah berkembang sebagai Negara Produsen Narkoba telah menghadapkan Indonesia pada masalah yang sangat serius. Peredaran Narkoba yang semakin “menggila” disamping berakibat sangat buruk

1

IDENTIFIKASI PERMASALAHAN Berdasarkan latar belakang sebagaimana diuraikan tersebut diatas. 2. Apa itu Narkoba dan bagaimana bahaya penyalahgunaannya ? 2. diharapkan penulisan malakah ini berguna bagi perkembangan ilmu kepolisian. I. 2 . MANFAAT a.4. Untuk mengetahui bagaimana peredaran Narkoba di Indonesia dan upaya apa yang dapat dilakukan dalam menanggulanginya . pada akhirnya dapat pula menimbulkan gangguan keamanan dan ketertiban Nasional.3. maka rumusan masalah dalam penulisan makalah ini dapat diidentifikasi ke dalam persoalan – persoalan sebagai berikut : 1.bagi kehidupan masyarakat. TUJUAN PENULISAN MAKALAH Adapun tujuan dari penulisan makalah ini adalah : 1. bangsa dan Negara. Secara teoritis.2. khususnya dalam hal penanggulangan penyalahunaan Narkoba di Indonesia. Bagaimana modus operandi peredaran Narkoba di Indonesia dan upaya penanggulangannya ? I. I. Untuk mengetahui tentang Narkoba dan bahaya penyalahgunaannya.

b. II. PEMBAHASAN 2. baik sintetis maupun semisintetis. . kokain mentah.hilangnya rasa. (BNN.1. dan dapat menimbulkan ketergantungan. yang dapat menyebabkan penurunan atau perubahan kesadaran. Istilah narkotika yang dikenal di Indonesia berasal dari bahasa Inggris Narcotics yang berarti obat bius. diantaranya tanaman papaver somniverum L kecuali bijinya. kokaina. Menurut pasal 1 UU No 35 tahun 2009 tentang Narkotika. ganja. Acetil – alfa – metil fentanyl. 3 Alfameprodina. dan semua bentuk stereo kimianya. opium mentah/ masak (candu). Golongan I terdiri dari 65 (enam puluh lima) zat/ senyawa. Adapun yang termasuk Narkotika berdasarkan UU ini adalah dikelompokan dalam golongan I. Asetorfina. Metamfetamina (shabu – shabu) dan lain – lain. yang dibedakan ke dalam golongangolongan sebagaimana terlampir dalam Undang-Undang ini. dan semua isomer serta semua bentuk stereo kimianya. Delta 9 tetrahydrocannabinol. II dan III. Tetrahydrocannabinol. Alfametadol. diharapkan hal ini dapat memberikan masukan kepada berbagai pihak termasuk masyarakat dalam memahami bahaya penyalagunaan dan peredaran Narkoba di Indonesia serta upaya apa yang dapat dilakukan dalam penanggulangannya. koka. Psikotropika dan Bahan berbahaya lainnya. Secara praktik. NARKOBA DAN BAHAYA PENYALAHGUNAANNYA NARKOBA Narkoba adalah singkatan dari Narkotika. dalam bahasa yunani yang berarti menidurkan atau membiuskan. 2010). amfetamina (ectacy). Golongan II terdiri dari 86 (delapan puluh enam) zat/ senyawa. Heroina. pengertian Narkotika adalah zat atau obat yang berasal dari tanaman atau bukan tanaman. yang sama artinya dengan kata Narcotics. mengurangi sampai menghilangkan rasa nyeri. diantaranya Alfasetilmetadol.

dan lain – lain. N-Acetylanthranilic Acid. Namun berdasarkan UU No 35 tahun 2009. Dan Golongan III terdiri dari 14 (empat belas) zat/ senyawa. diantaranya : Allobarbital. dll. Bromazepam. 4 . Petidina. garam-garam dari Narkotika dalam golongan tersebut diatas. III dan IV. jiwa. Flunitrazepam. Aminorex. Anthranilic Acid. Acetone.trimeperidina. Kodeina. mengganggu sistem syaraf pusat dan dapat menyebabkan ganguan fisik. zat dalam lem/ perekat dan lain – lain. dan ketergantungan secara psikis (gejala putus zat). Sifat utama yang terkandung dalam Narkoba dapat mengakibatkan beberapa efek terhadap pengguna yang berlebihan secara umum berdampak sugesti (keinginan yang tak tertahankan terhadap Narkoba). Alprazolam. dan lain – lain. Etilmorfina. Sedangkan precursor Narkotika terdiri dari Acetic Anhydride. sosial dan keamananan. Berdasarkan UU No 5 tahun 1997. Penyalahgunaan Narkoba mengakibatkan ketergantungan. baik alamiah maupun sintetis bukan narkotika. toleransi (kecendrungan untuk menambah dosis). Dekstropropoksifena. diantaranya : Amobarbital. Adapun yang menjadi zat berbahaya lainnya adalah alkohol yang terdapat dalam minuman keras atau zat lainnya. Asetildihidrokodein. Etil amfetamina. II. Adapun golongan III psikotropika terdiri dari 9 (sembilan) zat/ senyawa. BAHAYA PENYALAHGUNAAN NARKOBA Narkoba adalah zat atau obat yang sangat berbahaya jika disalahgunakan. buprenorfina. Metadona. Psikotropika menurut pasal 1 UU No 5 tahun 1997 tentang Psikotropika adalah zat atau obat. Sedangkan Golongan IV terdiri dari 60 (enam puluh) zat/ senayawa. nikotin yang terdapat dalam rokok. Vinilbital. Psikotopika dikelompokan dalam golongan I. dan lain – lain. campuran atau sediaan difenoksin dengan bahan lain bukan narkotika dan campuran atau sediaan difenoksilat dengan bahan lain bukan narkotika. yang berkhasiat psikoaktif melalui pengaruh selektif pada susunan saraf pusat yang menyebabkan perubahan khas pada aktivitas mental dan perilaku. Ethyl Ether dan lain – lain. diantaranya Asetildihidrokodeina. ketergantungan secara psikis (gelisah emosional). golongan I dan II psikotropika tersebut dipindahkan dalam golongan I Narkotika.

5 . termasuk norma hokum dan agama sudah demikian longgar. Terhadap Kehidupan berbangsa dan bernegara. kehidupan keluarga. Disamping hal tersebut diatas. merampok. mengalami over dosis yg dapat menyebabkan gangguan konsentrasi.Selain itu penyalahgunaan narkoba dapat menimbulkan bermacammacam bahaya atau kerugian. seorang pengguna Narkoba tidak lagi segan mencuri barang – barang di rumah untuk untuk membeli narkoba. memeras. menodong. membunuh. seorang pengguna Narkoba juga rentan tertular penyakit berbahaya. kehidupan social bermasyarakat serta kehidupan berbangsa dan bernegara. tidak lagi menjaga sopan santun di rumah bahkan melawan kepada orang tua serta mencemarkan nama keluarganya sendiri. melacur dan sebagainya. Dengan banyaknya generasi penerus bangsa yang mengkonsumsi Narkoba maka akan tidak ada lagi calon – calon pemimpin bangsa yang bisa diandalkan karena secara fisik dan psikis pengguna Narkoba mengalami kemunduran dan keterbelakangan. Bahkan tidak jarang melakukan penyiksaan terhadap diri sendiri karena ingin menghilangkan rasa nyeri atau menghilangkan sifat ketergantungan Narkoba. pemarah bahkan melawan terhadap siapapun. seperti tidak lagi memperhatikan lingkungan disekitarnya. seorang pengguna Narkoba cendrung melakukan pnyimpangan social dan perbuatan criminal karena pandangannya terhadap norma-norma yang ada ditengah masyarakat. Cendrung untuk melakukan penyimpangan. Terhadap keluarga. Serta sering melakukan kegiatan yang berbahaya bagi ketentraman dan keselamatan umum untuk mendapatkan uang guna membeli Narkoba seperti mencuri. Terhadap kehidupan social. Terhadap pribadi. peredaran Narkoba yang semarak dapat merupakan ancaman terhadap kehidupan berbangsa dan bernegara. proses fikir dan perilaku. Menimbulkan sifat masa bodoh sekalipun terhadap dirinya sendiri. Adapun kerugian itu antara lain terhadap pribadi. Narkoba mampu merubah kepribadian penggunanya secara drastis seperti berubah menjadi pemurung. Bahkan tidak jarang para pengguna Narkoba berakhir dengan kematian yang mengenaskan.

letak goegrafis yang strategis dan kondisi sosial politik tengah berada pada proses transisi dimana stabilitas politik dan keamanan masih sangat labil dan rapuh telah mendorong Indonesia menjadi daerah tujuan perdagangan Narkoba. liberalisasi perdagangan serta pesatnya kemajuan industri pariwisata telah menjadikan Indonesia sebagai Negara potensial sebagai produsen Narkoba. Lingkungan Pendidikan Sekolah. Peredaran Narkoba lewat darat sering terjadi di perbatasan antara Indonesia dengan Negara sekitar. Distributor dan Konsumen. Era globalisasi yang ditandai dengan kemajuan teknologi komunikasi. Peredaran Narkoba di Indonesia pada hakekatnya melalui 3 ( tiga ) komponen utama yaitu Produsen. Universitas/Kampus sangat memungkinkan terdapat peredaran narkoba karena banyak nya interaksi yang terjadi baik antar teman maupun lingkungannya. Tempat Kost / rumah kontrakan. Hal ini dapat dilihat dengan terungkapnya beberapa laboratorium narkoba (clandenstin lab) yang cukup besar di Indonesia. Disamping dari Dalam Negeri. Lingkungan tempat tinggal Perumahan Asrama. Karaoke. Lingkungan Pekerjaan baik di institusi pemerintahan maupun swasta bahkan tidak menutup kemungkinan bahwa di lingkungan Polri sendiri di dapati kasus penyalahgunaan narkoba. PEREDARAN GELAP NARKOBA DI INDONESIA DAN UPAYA PENANGGULANGANNYA PEREDARAN GELAP NARKOBA DI INDONESIA Pada saat ini Indonesia tidak hanya sekedar menjadi daerah transit/ lalu lintas Narkoba karena posisinya yang strategis.2. Beberapa lingkungan tempat yang sering menjadi sasaran peredaran gelap Narkoba antara lain Lingkungan Pergaulan danTempat Hiburan ( Diskotik. Hal ini dapat terjadi melalui pengiriman darat.2. Apartemen dan Hotel. Jumlah penduduk yang besar. Narkoba juga masih banyak yang didatangkan dari Luar Negeri. Pub ). beberapa tahun belakangan ini Indonesia juga diindikasikan sebagai daerah penghasil Narkoba. Hal ini terjadi karena lemahnya sistema dan 6 . Parahnya lagi. laut maupun udara.

Peredaran Narkoba melalui udara juga rentan menjadi akses masuk Narkoba ke Indonesia.pengawasan keamanan Indonesia di daerah perbatasan. Apalagi semakin lama modus dan upaya penyelundupan Narkoba ke Indonesia semakin berkembang mulai dari melalui kurir anak – anak dan perempuan sampai dengan cara – cara yang tidak masuk akal seperti menelan Narkoba dengan dibungkus semacam pembungkus khusus untuk menghindari pendeteksian Narkoba oleh petugas. Tidak semua wilayah bisa terkawal dengan optimal oleh petugas Polair Polri. Peredaran Narkoba lewat laut juga termasuk sering dilakukan. dengan mengharapkan untuk mendapat imbalan ataupun suap. Wilayah Indonesia yang % adalah lautan adalah pintu bagi masuknya Narkoba di Indonesia. namun masih banyak sekali bandara yang belum memilikinya. Para aparat dan petugas yang bekerja diperbatasan tidak didukung dengan sarana dan prasarana yang memadai. Tanpa peran serta masyarakat. Serta kebijakan pemerintah telah yang kurang memperhatikan perkembangan daerah perbatasan mengakibatkan kesenjangan yang cukup besar antara masyarakat Indonesia dan daerah perbatasan. Upaya yang dilakukan pemerintah tidak akan secara maksimal. Walaupun beberapa bandara di Indonesia sudah dilengkapi dengan alat pendeteksi Narkoba yang canggih. Hal ini cendrung mendorong masyarakat local untuk melakukan upaya kriminal dan bukan tidak mungkin membantu atau membiarkan terjadinya peredaran Narkoba untuk mendapatkan keuntungan dan memenuhi kebutuhan hidupnya. TNI Angkatan Laut maupun oleh Departemen terkait lainnya. Namun demikian peran serta masyarakat dalam menanggulangi Narkoba juga mutlak diperlukan. UPAYA PENANGGULANGAN PENYALAHGUNAAN DAN PEREDARAN GELAP NARKOBA DI INDONESIA Penanggulangangan penyalahgunaan dan peredaran gelap Narkoba wajib dilakukan oleh pemerintah melalui aparat penegak hukum dan fungsi terkait. Belum lagi control yang kurang sangat rentan dimanfaatkan oleh oknum petugas untuk meloloskan Narkoba masuk ke Indonesia. 7 .

Apotik. Barang bukti dari aparat kepolisian. serta mengadakan pendekatan solusi usaha mengantikan tanaman ganja yang sering di tanam dengan tanaman pengganti yang lebih memiliki nilai jual tinggi namun tidak melanggar hukum bagi masyarakat petani di Aceh. mencegah kebocoran Narkoba dari sumber-sumber resmi seperti Rumah sakit. dan memberikan pencerahan bahwa menggunakan. menciptakan hubungan yang harmonis antar sesama masyarakat dan antara masyarakat dengan Polri melalui upaya penyuluhan dan sambang. pengadilan dan lainya. dan juga tentang perlunya 8 . Upaya pre-emtif antara lain dilakukan dengan cara educatif pembinaan dan pengembangan lingkungan pola hidup masyarakat. mengadakan patroli pencarian sumber Narkoba atau ladang ganja meliputi seluruh wilayah terpencil. kejaksaan. pembinaaan dan pengembangan lingkungan hidup juga dapat dilakukan oleh fungsi Polair terhadap masyarakat perairan dan masyarakat kepulauan di pulau – pulau yang sulit terjangkau. meningkatkan kesadaran masyarakat dalam turut serta menjaga keamanan ditengah masyarakat itu sendiri. penerangan dan bimbingan tentang bahaya narkoba. pencegahan melalui kegiatan penyuluhan.Langkah penanggulangan penyalahgunaan dan peredaran gelap Narkoba yang dilakukan polri dapat digolongkan menjadi 3 upaya yaitu preemtif. membeli bahkan sampai memperjual belikan Narkoba adalah perbuatan melanggar norma hukum dan norma agama. Disamping itu untuk mencegah lalulintas Narkoba ilegal di dalam negeri dengan melakukan kegiatan-kegiatan seperti : operasi khusus / razia di jalan – jalan terhadap kendaraan roda 2 dan roda 4 pada daerah rentan lalu lintas Narkoba dengan sistem zig zag sehingga tidak terbaca oleh jaringan pengedar Narkoba. Upaya pre – emtif sebagaimana tersebut diatas dapat dilakukan oleh fungsi Bimbingan masyarakat (Bimmas) dan fungsi intelijen Polri. Disamping itu upaya upaya edukasi. pengamanan dan penggalangan. preventif maupun repsesif.karaoke. Disamping itu upaya pre emtif juga dapat dilakukan melalui upaya lidik. pelabuhan laut dan perbatasanperbatasan darat.pub. melakukan Razia di tempat-tempat rawan lalulintas narkoba secara ilegal atau tempat-tempat rawan transaksi narkoba seperti tempat – tempat hiburan (Diskotik. Upaya preventif dapat dilakukan melalui upaya mencegah masuknya narkoba dari Luar negeri dengan melakukan pengawasan secara ketat di daerah-daerah perbatsan seperti Bandara. kafe wareng remang dan lain-lain).

Adapun upaya tersebut dilakukan dengan memperhatikan perangkat hukum yang ada secara maksimal dan tepat sasaran agar tercipta keseimbangan antara perbuatan yang dilakukan dengan sanksi hukuman yang diterapkan serta menindak bagi siapa saja yang menghalangi atau mempersulit penyidikan serta penuntutan dan pemeriksaan perkara tindak pidana Narkotika dan atau tindak pidana Prekursor Narkotika sebagaimana diatur dalam pasal 138 UU No 35 tahun 2009. kawasan regional ASEAN maupun Interasional melalui Perserikatan Bangsa – Bangsa (PBB) melalui wadah Interpol. 9 . Dirjen Imigrasi.pengawasan lingkungan oleh masyarakat sendiri terutama keluarga. Polri dapat bekerjasama dengan lembaga pemerintah kementerian dan non kementerian. seperti Dirjen Bea Cukai. Kerjasama tersebut dapat berupa bantuan dalam penyidikan tindak pidana Narkoba maupun kerjasama pendidikan melalui Jakarta Center for Law Enforcemet Cooperation (JCLEC) dan United Nation on Drug and Crime (UNODC). PERANAN LEMBAGA PEMERINTAH KEMENTERIAN DAN NON KEMENTERIAN Dalam melaksanakan penanggulangan penyalahgunaan dan peredaran gelap Narkoba. Upaya preventif ini dapat dilakukan oleh fungsi samapta. Disamping hal tersebut diatas dalam menanggulangi penyalahgunaan dan peredaran gelap Narkoba dari luar negeri. lalu lintas. Sedangkan upaya represif berupa upaya penindakan/ penegakan hukum terhadap penyalahgunaan dan peredaran gelap Narkoba dapat dilakukan dengan upaya penyelidikan dan penyidikan secara professional oleh fungsi Reskrim / Res Narkoba Polri. Tentu saja kerjasama Polri ini perlu didukung dan ditindak lanjuti oleh pemerintah Negara dengan melakukan kerjasama Government to Government dalam bentuk kerjasama atau perjanjian ekstradisi dan perjanjian bantuan hukum timbal-balik dalam masalah pidana. dan lain – lain. Polri melakukan kerjasama dengan kepolisian Negara lain baik berupa kerjasama antar Negara. Dan perkara penyalahgunaan dan peredaran gelap Narkoba termasuk perkara yang didahulukan dari perkara lainya untuk diajukan ke pengadilan untuk penyelesaian perkara secepatnya sesuai pasal 74 UU No 35 tahun 2009 dan pasal 58 UU No 5 tahun 1997.

Dalam UU No 35 tahun 2009 juga dijelaskan bahwa Penyidik Kepolisian Negara Republik Indonesia dan penyidik BNN berwenang melakukan penyidikan terhadap penyalahgunaan dan peredaran gelap Narkotika dan Prekursor Narkotika. Kehakiman. PENUTUP 3. Selain hal tersebut diatas.1.Departemen Agama. menyapaikan saran dan pendapat serta memperoleh jawaban atas pertanyaan tentang laporannya mengenai adanya dugaan penyalahgunaan dan peredaran gelap Narkoba. PERAN SERTA MASYARAKAT Masyarakat memiliki kesempatan yang seluas – luasnya untuk berperan serta membantu pencegahan dan pemberantasan penyalahgunaan dan peredaran gelap Narkoba sesuai dengan pasal 104 UU No 35 tahun 2009 tentang Narkotika dan pasal 54 UU No 5 TAHUN 1997 tentang Psikotropika. Peran serta masyarakat dapat dilakukan melalui upaya mencari. Dan dalam prakteknya Penyidik Kepolisian Negara Republik Indonesia dan penyidik BNN dapat melakukan kerjasama dan koordinasi dalam melakukan penyidikan terhadap penyalahgunaan dan peredaran gelap Narkotika dan Prekursor Narkotika. peran serta masyarakat dapat dilakukan dengan berbagi cara sesuai dengan lingungan dengan mewujudkan keluarga yang harmonis dan lingkungan sosial yang sadar akan bahaya Narkoba. Kejaksaan. Badan Pom. Departemen Pariwisata Seni dan Budaya. III. KESIMPULAN 10 . dan lain – lain. memperoleh dan memberikan informasi. kegiatan keagamaan dan kegiatan sosial masyarakat lainnya. Hal ini juga dapat dilakukan oleh masyarakat melalui jalur/ lingkungan pendidikan. Badan Narkotika Nasionla (BNN).

kehidupan social bermasyarakat serta kehidupan berbangsa dan bernegara. Agar menggalakan upaya – upaya untuk meningkatkan kesadaran masyarakat tentang bahaya Narkoba dan mengoptimalkan peran 11 . c. Namun demikian peran serta masyarakat dalam menanggulangi Narkoba juga mutlak diperlukan agar upaya tersebut dapat berjalan optimal.2. SARAN a.a. letak goegrafis yang strategis dan kondisi sosial politik tengah berada pada proses transisi dimana stabilitas politik dan keamanan masih sangat labil dan rapuh telah mendorong Indonesia yang dahulunya hanya sebagai daerah transit/ lalu lintas Narkoba menjadi daerah tujuan perdagangan bahkan telah pula terindikasi sebagai Negara penghasil / produksi Narkoba. b. sosial dan keamananan. Narkoba adalah singkatan dari Narkotika. Jumlah penduduk yang besar. d. b. Psikotropika dan Bahan berbahaya lainnya yang merupakan zat atau obat yang sangat berbahaya jika disalahgunakan. Agar menggalakkan sosisalisasi UU Narkoba yang baru yaitu UU No 35 tahun 2009 tentang Narkotika. 3. Penyalahgunaan sistem Narkoba syaraf mengakibatkan dan dapat ketergantungan. Adapun kerugian akibat penyalahgunaan Narkoba memiliki dampak terhadap pribadi. kehidupan keluarga. jiwa. sehingga dapat meningkatkan eksistensi Badan Narkotika Nasional (BNN) bersama – sama Polri serta meningkatkan kesadaran hukum masyarakat dalam upaya penanggulangan penyalahgunaan dan peredaran gelap Narkoba di Indonesia. Upaya penanggulangangan penyalahgunaan dan peredaran gelap Narkoba wajib dilakukan oleh pemerintah melalui aparat penegak hukum dan instansi /fungsi terkait. mengganggu pusat menyebabkan ganguan fisik.

12 . c. Hal ini dapat dilakukan melalui penyuluhan Narkoba sampai ke tingkat RT/RW serta pemberian penghargaan terhadap lingkungan bebas Narkoba termasuk individu – individu yang telah berjasa membantu pemerintah /aparat penegak hukum dalam upaya peran serta penanggulangan penyalahgunaan dan peredaran gelap Narkoba. Agar meningkatkan kerjasama antara Polri dengan lembaga pemerintah kementerian dan non kementerian yang berhubungan dengan penanggulangan penyalahgunaan dan peredaran gelap Narkoba. “Kapita selekta penegakkan hukum tindak pidana tertentu”. Chairuddin. DAFTAR PUSTAKA BUKU Modul Manajemen Opsnal Kepolisian PTIK. 2007. Hal ini dapat diwujudkan dengan membuat perjanjian kerjasama atau memorandum of understanding (Mou) yang ditindak lanjuti dengan pembentukan satuan tugas (satgas) anti Narkoba yang komprehensif. 2007. Ismail. PTIK Press.masyarakat dalam pemberantasannya.

“1. Travel.Kelana. “Konsep – konsep hukum Kepolisian Indonesia”. Peraturan Perundang – undangan Undang – Undang RI Nomor 8 tahun 1981 tentang KUHAP Undang – Undang RI Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika Undang – Undang RI Nomor 5 tahun 1997 tentang Psikotropika. Antara News. 13 . Momo. 2007 Artikel internet King. “Pencegahan dan penanggulangan penyalahgunaan Narkoba” .com/social-sciences/education/1900061-pencegahan-danpenanggulangan-penyalahgunaan-narkoba/ diakses pada 20 Mei 2011. PTIK Press.shvoong. http://id.com/15-persen-penduduk-indonesia-pengguna-narkoba.html diakses pada 20 Mei 2011.5 persen penduduk Indonesia pengguna Narkoba” http://hileud.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful