P. 1
Pramoedya Arus Balik DewiKZ 01

Pramoedya Arus Balik DewiKZ 01

|Views: 1,041|Likes:
Published by ilpt2000

More info:

Published by: ilpt2000 on Jun 06, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

05/11/2013

pdf

text

original

Arus Balik

Karya : Pramoedya Ananta Toer

Ebook pdf oleh : Dewi KZ http://kangzusi.com/ http://dewi-kz.info/ http://kang-zusi.info/ http://cerita_silat.cc/

Di Bawah Bulan Malam Ini Tiada setitik pun awan di langit. Dan bulan telah terbit bersamaan dengan tenggelamnya matari. Dengan cepat ia naik dari kaki langit, menguningi segala dan semua yang tersentuh cahayanya. Juga hutan, juga laut, juga hewan dan manusia. Langit jernih, bersih dan terang. Di atas bumi Jawa lain lagi keadaannya: gelisah, resah, seakan-akan manusia tak membutuhkan ketenteraman lagi. 0o-dw-o0 1. Abad ke enambelas Masehi Bahkan juga laut Jawa di bawah bulan purnama sidhi itu gelisah. Ombak-ombak besar bergulung-gulung memanjang terputus, menggunung, melandai, mengejajari pesisir pulau Jawa. Setiap puncak ombak dan riak, bahkan juga busanya yang bertebaran seperti serakan mutiara – semua – dikuningi oleh cahaya bulan. Angin meniup tenang. Ombak-ombak makin menggila. Sebuah kapal peronda pantai meluncur dengan kecepatan tinggi dalam cuaca angin damai itu. Badannya yang panjang langsing, dengan haluan dan buritan meruncing, timbul-tenggelam di antara ombak-ombak purnama yang menggila. Layar kemudi di haluan menggelembung membikin lunas menerjang serong gununggunung air itu – serong ke baratlaut. Barisan dayung pada dinding kapal berkayuh berirama seperti kaki-kaki pada ular naga. Layarnya yang terbuat dari pilinan kapas dan benang sutra, mengkilat seperti emas, kuning dan menyilaukan.

Pada puncak tiang utama, di bawah lentera, berkibar bendera panjang merah dan putih – bendera kadipaten Tuban. Di bawahnya lagi, duduk di atas tali-temali, seperti titik kelam, adalah jurutinjau. Tepat di bawah layar utama berdiri nakhoda yang sebentar-sebentar meninjau pada jurutinjau di atas. Di sampingnya berdiri Patragading, bertolak pinggang. “Tetap tak ada yang mengejar, Tuanku!” seru juru tinjau. “Kita akan selamat sampai di tempat,” bisik nakhoda pada Patragading sambil menyembah dada. “Tak ada yang mengejar kita.” Patragading mengangkat kain dan diikatkannya pada pinggang sehingga seluarnya dari sutera itu mengerjapngerjap terkena cahaya bulan. Kerisnya tertutup oleh kainnya – suatu gaya pembesar yang kehilangan kesabaran. “Silakan mengaso. Sebentar lagi Tuban akan nampak.” “Lihat yang perompak.” baik, barangkali ada iring-iringan

“Tak pernah ada perompak berani mendekati kapal sahaya.” “Lihat yang baik,” gertak Patragading. Tangannya membetulkan kain penutup dadanya. “Ahoo! Bagaimana dengan depan dan samping?” “Tiada sesuatu. Tuanku,” nakhoda itu meneruskan laporan jurutinjau sambil menyembah dada. “Sebaiknya Tuanku mengaso sebelum mendarat tengah malam ini.” Patragading melepas kain lagi sehingga seluar sutranya tertutup kembali. Ia tinggalkan tiang utama dan berjalan mondar-mandir di geladak, kemudian pergi ke haluan, memeriksa sendiri senjata cetbang. Sebentar. Ia menjenguk

putra ke dua ratus empat puluh satu. Tuanku.” “Pada putra Gusti Adipati tak ada nakhoda berani membantah. Begitu kakinya sampai ke geladak. kemudian berjalan lagi mondar-mandir tanpa tujuan. hanya agar tidak berada di dekat Patragading.ke bawah.” “Tapi sahaya jurutinjau. Juga tak lama. memandangi lunas yang menerjang ombak.” “Lebih gampang menumpas perompak.” sambut nakhoda.” “Boleh jadi ada perintah kembali.” “Dewa Batara!” sebut nakhoda. Dengan tinju ia memukul-mukul dinding kapal. “Ahoi! Turun!” perintah nakhoda pada jurutinjau. “Itu berarti akan terkapar ditelan hiu. jurutinjau itu menghembuskan nafas besar. apakah dia masih ada di tempat. Tuanku. . Nakhoda itu naik ke atas tiang utama. “Ya. biarpun putra ke dua ratus empat puluh satu!” “Uh.” “Ts-te-ts.” ‘Tengah malam ini tugas keparat ini akan selesai.” “Apa lagi yang hendak kau tinjau? Angin?” Jurutinjau pergi.” “Coba lihat jurumudi. Akhirnya ia menuruni tangga geladak dan hilang dari pemandangan. begitulah bila Tuanku majikan ada di kapal. bulan pun tersenyum melihat kita. “Mati semua awak kapal kalau orang darat ikut campur begini.

“Dengar anjing-anjing membaung!” orang tua itu menuding ke arah atap. jantan betina dan anak-anaknya. Lehernya memanjang. Yang datang justru berpuluh-puluh yang lain. melolong. membaung. Tapi bulan penuh. Semua memanjangkan leher mendengarkan baung ratusan anjing di tengah hutan. Ia memanggil bulan dan yang dipanggilnya tak mau datang. kaki belakangnya bersimpuh. “Bulan purnama begini. menua . meraung. Rama?” kepala desa yang duduk agak di belakang orang tua itu bertanya. memasuki balai-desa. melolong. Semua itu memandang ke atas. Kepala itu diangkat lagi. Sejak dahulu pun tidak. Suaranya melayang. Badannya tetap tenang duduk di atas tikar menghadapi para pendengarnya. Matanya semakin sayu. Kaki depannya berdiri. Kepalanya terangkat-angkat. Hanya anjinganjing pada menangis. “Tak pernah anjing hutan membaung seperti itu. pelahan. membaung. memanggil-manggil sang bulan.Juga di bawah bulan purnama sidhi itu pula. kemudian menunduk pelan sambil mengeluarkan suara tenggorokan. Alisnya yang putih terangkat. mengambang dalam cahaya bulan mencapai desa perbatasan kadipaten Tuban: Awis Krambil. di sebuah botakan hutan seekor anjing hutan merenungi langit.” Sunyi-senyap di ruangan balai-desa. Hutan yang senyap itu berubah jadi hiruk. Bulan itu takkan menanggapi mereka. Ratusan sumbu damarsewu yang menyala di sepanjang dan seputar rumah umum itu bergoyanggoyang terkena angin silir. kupingnya berdiri dan buntutnya berkibas-kibas pelahan ke kiri dan kanan. “Apakah gerangan yang akan terjadi. Dari mulutnya keluar suara keras. Menusuk lebih dalam ke tengah-tengah desa. Semua indah.

Dulu desa ini dinamai Sumber Raja…” Tiba-tiba suaranya terangkat naik. Rama. Hutan dan alang-alang masih berjabat-jabatan.” Ia tertawa sengit. melengking. Bulan purnama sekarang.” “Kita belum pernah tenggelam. gadis. Kita sedang tenggelam. Sawah belum ada.” “Apa saja kalian kerjakan dalam tujuh tahun ini maka sebuah desa bisa kekurangan kelapa?” orang tua itu tak menoleh pada kepala desa. Kita – kita pernah terbit. “Kau belum pernah tenggelam. Ingat-ingat itu! Ada apa-apa kecuali kelapa. Kalian semua belum lagi lahir.” orang tua itu meneruskan dengan tubuh tetap tidak bergerak dalam silanya. “Apakah di mandala kalian sudah tak pernah diajarkan tentang kelapa dan tentang desa. adalah karena ada apa-apa kecuali kelapa di dalam kepala-kepala desanya. Kau pun belum pernah terbit. “Nama itu diberikan sebagai ucapan ikut prihatin terhadap sulitnya kelapa di sini.” bantah kepala desa gopohgapah dan menebarkan pandang minta sokongan hadirin. tapi bukan purnama untuk kalian.” protes seorang gadis di tengah-tengah hadirin. dan sekarang sedang tenggelam. Lihat. “Bukan begitu Rama Guru. “Desa yang kekurangan kelapa….” . sebagai bayi aku dilahirkan di sini. “Kalian biarkan desa ini di hina oleh orang kota. Untuk kita. gadis. Lama-lama jadi sebutan resmi di Tuban. Kami hanya mengikuti. Rama. Hanya huma. “Dengarkan kata-kata Rama Cluring ini.dan hilang. bahwa kesejahteraan desa nampak dari puncakpuncak pohon kelapanya?” Para hadirin berhenti mengunyah sirih mendengar perselisihan sudah dimulai itu. dan kalian sendiri setuju dengan nama Awis Krambil.

seperti kepala Anoman dalam Ramayana.” Tak ada yang menyanggah. ‘Tapi para dewa.” Kembali orang mendengarkan baung yang sayup-sayup dari tengah hutan. Namanya tetap Sumber Raja sebagaimana diberikan oleh leluhur para pendiri. Rama Guru?” tanya kepala desa tersiksa. Dengan lunak ia mulai bercerita tentang kelapa di desa-desa lain yang lebih tandus. tinggal hanya peninggalan nenek-moyang. Tak seorang pun mentertawakan keputihannya. “Aku dan kami mungkin memang bebal. Mereka menghormati orang tua yang terkenal sebagai pemuja Ken Arok Sri Ranggah Rajasa Sang Amurwabhumi. “Dengar. Mereka mendengarkan dengan diam-diam sambil mengunyah sirih. laki dan perempuan. Para hadirin.“Apakah apa-apa dalam kepalaku. Maka kelapa pun tak kunjung berbiak. berkain dan berkalung kain batik pula. “Nenek-moyang kalian tidak sebebal kalian sekarang.” seseorang di tengah-tengah hadirin membantah. Dahulu penduduk desa masih punya harga diri.” tiba-tiba orang tua itu menetak kejam. berdestar putih. “Bukankah kau tahu juga dari orangtuamu. cipta kalian yang merosot sampai ke telapak kaki. gadis dan perjaka memperhatikan tubuh pembicara yang pendekkecil. Rama . berjanggut dan bermisai putih. Sekarang. berlidah pedang dan berludah api itu. tua dan muda. bukan karena kelapa itu tidak tumbuh. desa ini dahulu mencukupi buat semua? Memang lain. barangkali anjing-anjing itu akan membaung sepanjang malam.

Lupakah kau pada ajaran.Guru. merangkak.” seseorang nenek memprotes. sampai jadi hewan yang tak mengubah sesuatu pun. Rama. dan ada cinta di dalamnya. sehingga nalar yang buruk memanggil keburukan untuk dirinya. terus merosot sampai ke telapaknya sendiri. mengulangi ajaran Buddha dan Syiwa tentang manusia dan kebajikannya sebagai makhluk dewa. maka bocah yang belum terpanggil oleh Sang Buddha pun tahu. karena manusia diciptakan dalam keadaan sempurna. Tak ada seorang pun menghinakan keadaannya. pertanda masih ada hati. Untuk mempunyai ekor pun manusia demikian tidak berdaya. “Berbahagialah kau yang bisa bersakit hati. Yang ditunggu tiada kunjung datang. hewan takkan mengubah apalagi alamnya? Tetapi manusia tanpa cipta merosot. Tak ada penghujatan semacam itu. Padaku ada wewenang menamai kalian bebal.” “Puah!” seru Rama Cluring. Dagunya tertarik ke depan seperti sedang menunggu tantangan. pada kami tak diberikan tanah yang cukup baik untuk kelapa. Tubuhnya tetap tak bergerak. bumi ini diberikan oleh Hyang Tunggal pada manusia dalam keadaan sebaik-baiknya. Dan ia meneruskan. tentang alam dan kemungkinan-kemungkinannya. Semua kalian melewatkan masa kanak-kanak dan remaja di bawah petunjuk dan ajaran Sang Guru. Tapi macam cinta apa kau kandung dalam hatimu? Cinta pada .” “Kata-kata itu menyakitkan hati. “Sewaktu kecilku takkan ada orang menyalahkan para dewa. Mandala masih berwibawa dan guru-guru dihormati. melata. Kemudian menutup dengan nada tinggi meledak: “Guru-gurumu takkan lupa menyampaikan: yang buruk datang pada manusia yang salah menggunakan nalar.” Sebentar ia diam.

Segala keenakan dan kebanggaan itu bukan hak kalian. sampai di Tanjung Selatan Wulungga sana? Tak pernahkah orangtua kalian bercerita semacam itu maka hatimu jadi sakit karena kebebalan sendiri?” Rama Cluring berhenti bicara. Kembali baung beraturan anjing mengisi suasana. Kalian. Orang sana juga menggemari cerita-cerita Panji dari Jenggala seperti kalian. Nah.kebebalan adalah juga kebebalan. Tapi kalian terus juga membayar upeti. sekarang coba ikuti kata-kataku: telah kalian ubah nama ini dari Sumber Raja jadi Awis Krambil. Di sana pun dahulu kalian akan dengar gamelan kalian sendiri. Mereka juga mencintai Panji Semirang. di Benggal. Tak seorang di antara kalian menyaksikan jauh-jauh di seberang sana bagaimana Dewa Ruci dan Arjuna Wiwaha didengarkan orang. orang-orang yang telah kehilangan harga diri dan tak punya cipta. “Tak ada seorang pun di antara pemuda desa ini pernah menginjakkan kaki di bumi Atas Angin. Sang Adipati tidak memberikan kesempatan pada kalian. Ia bercerita tentang kebesarankebesaran Majapahit. Malagasi. Apa sudah kalian terima dari Sang Adipati? Siapa di antara anak-anak desa ini mendapat kesempatan merajai lautan seperti di jaman Majapahit dulu? Menyaksikan dunia besar? Dihormati dan disegani di manamana? Di Tumasik. Ngabesi. juga seperti kalian di desa ini.” Orangtua itu mulai bercerita tentang negeri-negeri jauh yang pernah dikunjunginya. barang jadi dan barang gubal. Dan ia menyentakkan mereka dengan lidah parangnya: “Ha! Mengantuk kalian terayun oleh keenakan-keenakan masa-la lu. Para pendengarnya mulai terbuai. Upeti demi upeti. hanya karena desa ini tak mampu membayar upeti kelapa untuk pasukan gajah Tuban. Bahkan membiakkan pohon kelapa pun kalian tak mampu!” .

Tidak lain dari Rama sendiri yang lebih mengerti aturan darmaraja. “Rama telah…. semua. semua tahu sebabnya kecuali binatang dan tumbuh-tumbuhan. tak ada sesuatu yang berharga telah dipersembahkannya pada Majapahit. Suasana tak terkendali. silir yang “Dulu. Orang tua itu mengangkat telunjuknya. Matanya berbeliak menyemburkan api kemarahan.” dua-tiga orang mulai berseru-seru. menutup perawanterbuka. “Benar. laki dan perempuan.” “Rama!” tegur kepala desa di belakangnya. “Paling tidak menghasut pembangkangan. Semua mengenakan kain dada. Di tangannya juga Majapahit padam sinarnya. Para hadirin mulai gelisah. . “Itu pemberontakan!” ia menuduh. Sekarang dalam usia tuanya. Namun ada juga perawan yang membiarkan buah dadanya dipermain-mainkan sinar damar sewu dan angin mengentalkan darah. berselisih satu dengan yang lain. hasutan. pemberontakan.” Orangtua itu menoleh ke belakang dan tertawa. Orang tua itu sendiri tetap tenang bersila di atas tikarnya. “Katakan itu di Tuban!” seseorang meraung. apakah yang bisa diperbuatnya? Untuk desa pinggiran ini pun tidak sesuatu! Kalian ini kawula Sang Adipati ataukah budaknya yang ditangkap di medan perang?” “Kawula!” seseorang memberikan jawaban. “Mengapa raja kalian tak berbuat sesuatu untuk kalian?” “Rama!” seorang lagi berseru tegang. waktu Sang Adipati masih muda.Malam itu dingin. “Kalau aku tidak bicara di Tuban. jadi pembesar berkuasa di Wilwatikta. dan semua terdiam.

juga para dewa: sekali diucapkan. memekik: “Mengaku sudah Islam. Seorang prajurit bertombak meraung: “Semua penduduk nelayan pulau Panjang supaya menghadap!” Di tempat-tempat lain suara itu diteruskan.” Juga di bawah bulan purnama itu beratus-ratus sampan membawa penduduk dewasa pesisir sedang menyisiri seluruh pantai Jepara.” . Seorang prajurit berpedang menghardik: “Mengapa raguragu menangkap?” ia lari menghampiri. Empat ratus sampan telah mendarat di pulau Panjang. Dalam sebuah rumpun bakau yang lebat orang menemukan sebuah arca Ganesya yang belum lagi selesai. Dan tak ada seorang nelayan pun datang menghadap. Tak ada yang tahu ke mana mereka melarikan diri. karena kebenaran selalu datang dari Hyang Widhi sendiri. Seorang prajurit lain datang. ke bandar-bandar seberang…. Empat buah besi pahat dan dua penohok tergeletak pada alas kaki arca. Ia sendiri terkejut melihat arca belum jadi itu. sambung menyambut berkait-kaitan. Ceburkan ke laut.juga Hyang Widhi. menjalar ke mana-mana. berkembang biak dalam hati manusia waras. Juga kata-kataku akan sampai ke Tuban. membawa pedang dan tombak meneliti setiap sudut dan lapangan. menyisiri Teluk Awur. Mengapa pada batu takut? Ayoh. gulingkan. Rombongan penduduk pesiar Jepara itu terkesima oleh pemandangan itu. kebenaran meluncur turun dari ketinggian. pulau Kelor dan pulau Panjang.

Ia tak berani. “lihatlah. Hanya sepuluh orang maju. di pesisir selatan Jepara. “Ludahi dia!” perintah prajurit kedua. dia sama sekali tak ada kekuatan untuk melawan. “Lihat. pecahpecah kepalanya terkena panas dan hujan. Tak lama kemudian terdengar batu itu tercebur ke laut dan hilang dari pandangan bulan dan manusia. “Guling-gulingkan sampai ke teluk!” Makin lama makin banyak orang yang ikut serta. Di Tegalsambi. Tak dapat dikenali lagi arca apa.” kemudian ia menggoyang-goyang kepala gajah yang belum jadi itu. Mereka mendorong kepala arca itu sampai terguling ke tanah. juga tidak membuktikan diri punya sakti. pengikutnya juga bersorak. . dia diam saja aku ludahi. Prajurit kedua bersorak. Prajurit pertama itu nampak malu dalam cahaya bulan. Prajurit pertama melengos. gulingkan!” perintahnya kemudian. penduduk kota yang dikerahkan hanya menemukan sebuah gubuk. ayoh bantu aku gulingkan batu ini!” pekik prajurit kedua. “Barangsiapa masih mengaku Islam.Tapi penduduk pesisir Jepara dan prajurit pertama itu ragu-ragu. Di depannya berdiri tunggul kayu setinggi sepuluh depa. Pada puncaknya terpahat sebuah arca yang telah rusak. Ayoh. Di dalam gubuk itu sendiri hanya dapat ditemukan sebuah tempayan kecil berisi abu jenazah. Dengan langkah goyah ia mendekati Ganesya belum selesai itu dan dengan takut-takut menyentuh belalainya dengan tulunjuknya. Dan belalai Ganesya itu tidak hangat. Prajurit ke dua itu mendekati arca itu dan meludahinya.

Sebuah kotak kayu tempat alat-lukis yang didapatkan di atas para-para dilemparkan keluar gubuk. di muara kali Wiso serombongan pembesar sedang turun dari sebuah kapal Tuban yang kena sergap. Payung kuning dari sutera itu mengkilat bermain-main dengan cahaya bulan. Seorang pembawa payung berlari-lari mendekati dan memayunginya. Di Jepara sendiri.” “Seluruh merah-putih majapahitan itu akan tumpas dari muka bumi. Dengan mata pedangnya ia hancurkan lukisan itu berkeping-keping.” “Semua ikut memandangi bendera putih yang berkibar malas dalam angin silir lemah itu. Pada sebuah dinding tergantung papan kayu nangka dengan lukisan seorang wanita cantik dengan dua jari tangan membelai dagunya sendiri dan dengan tangan kiri memegangi pergelangan tangan kanan. merah-putih. Begitu turun ke darat seorang di antaranya menengok ke belakang pada tiang utama kapal. Juga bendera itu dari sutera. diam.terletak di atas para-para. tidak bergerak lagi.” ‘Tentu. Tapi orang itu tidak mengindahkan. Gambar kupu-tarung di tengah-tengahnya kelihatan hanya sebagai setumpukan garis sambung-putus. “Kupu-tarung lebih bagus daripada seseorang memberikan tanggapan. Seorang prajurit menghancurkan tempayan itu dengan punggung pedangnya sehingga abu itu buyar berhamburan. Ia bergumam: “Lebih bagus dengan bendera kita.” . kemudian menyepaknya berantakan. Alat-alat yang telah berjamur itu bergelatakan dalam cahaya bulan.

Pasuruan. Setiap minggu ada saja yang meninggalkan Wilwatikta untuk selama-lamanya.Dengan sendirinya rombongan itu mengalihkan pandang pada sang bulan. seakan tak ada lagi setetes darah memerahi medan perang. Juga di bawah bulan purnama itu beberapa puluh anakanak. Perawan dan perjaka. Mereka sedang menyampaikan puji-pujian kepada sang bulan sebelum memulai dengan permainan malam. Mereka bergandengan satu dengan yang lain. laki dan perempuan. mengelu-elukan bulan yang memerangi langit tanpa noda itu. untuk membuktikan pada dunia. kedudukan Dahanapura. bahwa tak ada . bekas ibukota Majapahit. ibukota kerajaan Blambangan. beratus-ratus melingkari bocah-bocah yang sedang menyampaikan pujibulan. Malam purnama ini jumlah mereka semakin sedikit. merupakan lingkaran. Di tengah-tengahnya berdiri seorang anak yang memimpin permainan. tapi seorang pedanda pria setengah baya. karena cuaca seindah itu menjanjikan kemakmuran dan perdamaian. sedang bernyanyi bersama di tanah lapang Wilwatikta. Antara sebentar semua bertepuk-tepuk dan bersoraksorai. Juga di bawah bulan purnama itu di tanah lapang di ibukota kerajaan Blambangan ribuan bocah sedang bernyanyi bersama seperti di Wilwatikta. Nampak semakin besar dan semakin kuning…. semakin lama semakin besar setelah Sri Baginda Ranawijaya Girindrawardhana. raja Blambangan membariskan pasukannya memasuki Majapahit yang telah runtuh. pindah ke Gresik atau kota-kota bandar lainnya. Juga seluruh Dahanapura. Hanya bukan seorang nenek memimpin mereka. Seluruh dunia seakan dalam keadaan tenang dan damai.

Ia mendengarkan tanpa menggerakkan badan. Kalau ada yang masih dirusuhkan oleh Sri Baginda Ranawijaya Girindra wardhana dan Patih Udara. kita teteskan di atasnya dan panen pun jadi. Namun orang tak meneteskan darah di wilayah Blambangan karena perang. untuk mengalihkan perhatian orang dari Majapahit ke Blambangan. Itulah harga dari semua upeti kita. tak dapat dipindahkannya ke Pasuruan. Pengayoman itu yang membuat Rama tidak tahu. Hujan jatuh membawa kesuburan. hanya karena bandar Majapahit. Anak-anak dapat bermain-main damai setiap hari. setiap jengkal tanah yang kita pacul adalah milik Gusti Adipati. “Betul!” orang memekik di tengah-tengah hadirin. yang sekarang masih berdiri di Blambangan. Dan keringat jatuh membawa kesejahteraan. 1489 M. “tidak lain dari Rama Guru sendiri yang lebih tahu tentang darmaraja. Pengayoman. Dari Tuban datang pengayoman. Hal itu tidak pernah terjadi dengan guru pembicara lain yang pernah datang ke desa ini. Ia berhasil dan Pasuruan menjadi bandar besar.kekuatan lain berhak menjamah bekas kerajaan Majapahit dan ibukotanya selama darah Sri Baginda Kretarajasa. Gresik. Keringat kita. pasukannya ditarik kembali ke Blambangan. Kemudian: “Indah sekali kata-kata itu.. dirampas dengan parang dan tombak dari tangan musuh-musuhnya dan dibenarkan oleh para dewa. Di balai-desa Awis Krambil antara Rama Cluring dan para hadirin ketegangan semakin menjadi-jadi. kau tidak pernah ikut meneteskan keringat. Tiga tahun setelah menduduki Wilwatikta. damai dan kemakmuran melimpah. sehingga tak ada musuh datang menyerbu kami. Rama. Aman.” Rama Cluring tak pernah memotong kata-kata orang. tidak pernah ikut . Aku dapat lihat.

” kata Galeng. Kalau perang datang. nampak menarik nafas panjang. “Sayang kau tak berani muncul. Putra ke berapa ratus kau dari Sang Adipati? Coba sini. Balatentara Tuban tidak. berbisik: “Jadi. “Dari mana?” Rama Cluring menjawab. Berbahagialah suami-istri yang sama-sama bekerja.” Pembicara itu tidak menampakkan mukanya. apa maunya?” “Dengarkan saja. Galeng. tapi balatentara Tuban akan menumpas dan menghancurkan kalian dan desa kalian. perlihatkan mukamu. “Dari mana datangnya pengayoman kalau bukan dari upeti?” seseorang bertanya ragu-ragu.mencangkul. tapi pemuda itu tak peduli. Kalian. Pacarnya mencubit sengit. bukan pengayoman yang datang. “Kalau upeti tak muncul. Sebaliknya kalianlah yang diwajibkan mengayomi dia!” ia tertawa menunggu tantangan. orangmuda. “Dengarkan kalian semua punggawa desa yang hidup dari keringat orang lain. apalagi kalian. yang hidup dari penyisihan upeti. tak seorang pun di antara kalian mendapat pengayoman. Petani tidak seperti itu kata-katanya. menghimpun kekuatan dari seluruh alam ke dalam paru-paru untuk disalurkan ke dalam sikapnya. gadis Idayu menyikut pacarnya. maka haknya pun sama di hadapan para dewa dan manusia. sama sekali tak bisa berbuat apa-apa . Rama Cluring berkomat-kamit dan mengocok mata. Kau. Di sebelah pinggir di antara para hadirin. sama halnya dengan perempuan pemalas yang merasa lebih beruntung jadi selir atau gundik di bandar-bandar daripada mendampingi seorang suami di sawah dan ladang. Kemudian ia tegakkan dada.

” Ia diam. karena rajadiraja tiada. Perempuan akan dijarah-rayah dan kanak-kanak akan terlantar. bukankah akan sia-sia semua yang sudah kami kerjakan dan usahakan?” “Jelas. Kakek-kakek mereka telah lama meramalkan akan datangnya perang yang tiada kan habishabisnya bila dewa-dewa telah berganti dan bila berbagai bangsa dengan berbagai warna kulit telah mulai berdatangan menjamah bumi Jawa. “bila kekacauan dan perang akan memburu-buru kami silih berganti. Kemerosotan jaman dan kemerosotan kalian sendiri yang akan menumpas kalian selama kalian tak mampu menahan kemerosotan besar ini. tak ada kekacauan tak . Sama sekali tanpa guna. Para pendengar terdiam. apalagi mengayomi rakyatmu. Di waktu damai kalian bersorak-sorai tentang pengayoman demi sang sisa upeti. Apalagi upeti-upeti ke Tuban itu.kalau perang datang. Bukan karena kata-kataku. lebih ketakutan.” seorang wanita dengan suara mendayudayu memohon. bagaimana pula macam rajamu?” Ketegangan sekaligus berubah jadi ketakutan. “Rama Guru. Mereka telah terbiasa terpengaruh oleh ramalan orang tua-tua pengembara yang telah jauh langkah. Mangayomi diri sendiri pun tak bisa. Kalian takkan ditumpas karena kata-kataku. Mari aku ceritai: jaman ini adalah jaman kemerosotan. Kekacauan dan perang akan memburu kalian silih-berganti. Sekarang dengarkan: di jaman Majapahit tak ada perang yang tidak selesai. Raja-raja kecil bermunculan pada berdiri sendiri. “Apa kalian takuti? Akan datang masanya kalian akan lebih. Lelaki akan pada mati di medan perang. Kalau kalian sudah seperti itu.

Lebih beberapa puluh tahun dari seratus. “Dua ratus?” Rama Cluring kerongkongan. kecuali atas perintah.” “Mengapa menurut perhitungan surya?” seorang lain bertanya.” “Berapa umurmu. . tempat menyimpan abu para mendiang. Menurut perhitungan surya. Tidak seperti sekarang. Bila anak-anak itu tak dapat menjawab pertanyaan mereka. mendeham dan membersihkan “Tak ada orang hidup sampai dua ratus. Dengan demikian setiap bocah dapat membaca dan menulis. baik kepala desa mau pun bapa-bapa mandala kena teguran. Di jaman Majapahit para punggawa disebarkan ke seluruh negeri bukan untuk memata-matai kawula. tahu akan dewa-dewa dan hafal akan banyak lontar. Tak lagi sungaisungai dipelihara. Mereka bicara dengan bocah-bocah. Di mana-mana nampak pakaian gemerlapan bermain dengan sinar matari. Orang hanya menenun kapas. Tak lagi riam dan sangkrah dibersihkan oleh pasukan-pasukan laut.diatasi. Dahulu perawan-perawan pada menenun sutra. Ulat sutra yang tinggal hanya ditenun untuk layar perahu dan kapal besar dan untuk pengantin. Setiap orang boleh mendirikan candi keluarga. maka tahu banyak tentang jaman kejayaan Majapahit?” seorang gadis bertanya. Setiap orang boleh belajar mengecor besi dan mencetaknya. Rama Guru. Kapal besar tak lagi dapat masuk ke pedalaman. “Di masa itu semua orang boleh membikin bata. Sekarang ulat sutra pun tumpas. Saluran yang dulu dibikin di mana-mana sekarang sudah pada mendangkal.” ia mulai mengubah nada suaranya menjadi lunak dan ramah. Menempa besi dan baja pun tidak diperkenankan.

banjir . sutra. Mereka itu yang membikin para bupati dan adipati pesisir hanya mengingat pada harta-kekayaan. tulisan kita yang sempurna sandang dan sukunya…. ratusan di tengah hutan. Kemerosotan jaman. sudah mulai muncul tulisan yang sama sekali tidak berbunyi…” “Adakah Rama Cluring pernah lihat tulisan itu?” Orang tua pendek kecil itu tiba-tiba mengangkat telunjuk. Mereka tak memerlukan gunung. kain khasa. Yang paling tidak hormat pada para dewa juga yang paling mula jadi korban wabah dari Atas Angin ini. Mereka tak memerlukan surya. Mereka pengaruhi bupati dan adipati pesisir supaya tak membikin kapal-kapal lagi.“Di bandar-bandar ada orang yang mulai menggunakan perhitungan rembulan – orang-orang gila itu. Rama Guru?” “Aku belum lagi tahu. Boleh jadi akan datang banjir – banjir air. boleh jadi…. Mereka hanya hidup dari pantai dan dari laut. Bahkan tulisan kita. orangtua tak tahu sesuatu kecuali kesenangan sendiri…. Tak heran. Mereka hanya memerlukan harta dan kekayaan. Orang mulai tak dapat memilih apa yang baik untuk dirinya. ‘Tak pernah binatang itu membaung selama itu. Perhitungan rembulan menjalar seperti wabah. Di pesisir Atas Angin sana mereka sama saja tingkahnya. Mereka mempunyai dewa lain dari kita. kembali menggelombang. Semua terdiam. tidak menginjakkan kaki di sawah ataupun ladang. di mana mandala tidak berdaya.” “Mereka penyembah rembulan. Baung dan salak dan lolong anjing. lupa pada Baginda Kaisar di Majapahit. permadani…. Barangkali. tembikar. Mereka menyuap dengan mas. Mereka petualang-petualang dari Atas Angin. jaman gila. seramai itu. Mereka hidup hanya dari berdagang. “Dengar!” perintahnya.

Wilwatikta.bencana. Hyang Widhi tidak pernah salah memilih wakilnya di atas bumi. penguasa tertinggi atas keamanan dan kesejahteraan ibukota Majapahit. justru ia bergabung dengan yang lain-lain. malah tetap mengukuhi wilayah kekuasaan yang didapatnya dari darmaraja. Ditumbangkannya akuwu dan raja.” “Ditumbangkan. memerintahkan menjawakan kitab-kitab suci.” Ia menoleh kepada kepala desa. malapetaka yang membikin semua lebih merosot tersedot lumpur. Bertanya: “Darmaraja? Pengayoman? Apakah yang sudah diperbuat oleh Sang Adipati Tuban Tumenggung Wilwatikta waktu para bupati pesisir mulai membangkang mempersembahkan upeti? Bukankah Sang Adipati itu rajamu sekarang? Bukankah sebagai Tumenggung Wilwatikta.” “Dan Majapahit pun tumbang.” “Maka juga Ken Arok Rajasanagara ditumbangkan. telah bangunkan .” “Tumbangnya gajah yang meninggalkan gading. dan sendiri marak jadi raja. membentang dari Tuban sampai Jepara – sebuah kadipaten dengan tidak kurang dari lima buah bandar?” ‘Tak pernah ada yang menggugat seorang raja!” bantah kepala desa. “karena hanya dengan karunia Hyang Widhi saja seseorang bisa bertahta! Bukankah Rama Guru dengan demikian menghujat Hyang Widhi?” “Uah! Seperti kau tidak mengenal anak tani bernama Ken Arok. Tapi darahnya kekaisaran Majapahit yang tiada tara. membangkang mempersembahkan upeti. memerintahkan dilaksanakannya gaya baru dalam bangunan-bangunan suci.

bahu yang kukuh. tak mampu menyumambrahkan dengan jari-jarinya yang kaku – karena . Tulikah kau? Tiada kau dengar baung. Mereka tahu Rama CIuring sedang menggugat Sang Adipati. Matanya berpendar-pendar dari wajah ke wajah di antara hadirin. bantuan dan simpati.” “Negarakertagama dan Pararaton tak bilang begitu. Ia hanya tersenyum melihat ratusan anjing yapg menggonggonginya dalam kebotakan hutan. Dan ketegangan menarik otot-otot muka mereka sehingga seperti terbuat daripada kayu jati. ‘Tak lain dari Hyang Widhi juga yang menggulingkan raja-rajanya sendiri yang kaki dan bahunya lemah. mampu memikul pilihan Hyang Widhi. di langit. lebih cepat daripada yang kau sangka?” Untuk menghindari pertengkaran kepala desa terdiam. lolong dan gonggong anjing-anjing hutan itu? Tak tahukah kau itu pesta untuk haridepanku yang bakal cepat tiba. bulan purnama bertahta tanpa tandingan dalam kebeningan. Di luar. karena tugasku hanya mengatakan tentang kebenaran. Dan keseraman mewarnai wajah-wajah itu oleh berpuluh mata sumbu damar-sewu yang selalu berayun tak pernah tenang dan menggeletarkan semua bayang-bayang. manusia pertama yang berani lakukan itu.” “Dan apa katanya tentang Adipati pembangkang yang bersekutu dengan pedagang-pedagang Atas Angin yang berdewa lain?” “Waktu itu belum ada Sang Adipati. demi Hyang Widhi. Ia meminta pengertian.” “Maka akulah yang mengatakan.Hanya kaki yang kuat. tak mampu memikul kebesaran-Nya. Hadirin sendiri sedang tercengkam.

” seorang di antara hadirin angkat bicara.” kepala desa itu menegah. Suaranya enteng mengambang di udara malam yang hangat itu. tapi budak! . besi penggurit dan jelaga. Rama Guru. Rama. Rama Guru. balatentara Tuban paling tidak membutuhkan satu-dua hari.” “Belum perlu. Kalian semua ini bukan kawula. memohon perlindungan Sang Bupati Bojonegara. “Apa kau akan bilang kalau aku membubuhkannya pada lontar? Ambilkan lontar. kata-kata Rama sendiri yang menempatkan kami semua dalam bahaya kemusnahan. kami nampak memang kurang harga diri. biar yang terpandai di antara kalian menuliskannya. Masih belum mengerti? Tak ada keadilan mengikat antara sang Adipati dengan kawulanya di sini. yang ada hanya ikatannya saja. Setiap saat setiap orang di antara kalian yang tidak dungu bisa tinggalkan desa ini. kepala desa? Penduduk desa ini terusmenerus membayar upeti dan memikulnya sendiri ke Tuban Kota. ikatan perbudakan. tidak lain dari Rama!” Rama CIuring mendengus meremehkan. “Rama. Rama Guru. menyeberang perbatasan. “Untuk mencapai desa ini. Tapi kami hidup dalam kesejahteraan. Kalau ikatan keadilan tidak ada.” pembicara itu meneruskan. kurang kehormatan. “Memang belum perlu. mungkin juga memang bebal. Masih juga kau tidak mengerti. Aku tidak menjerumuskan kalian. Kalian tidak akan ditumpas. Sebaliknya. keamanan dan perdamaian.” “Kata-kata itu tidak terdapat dalam lontar. Lembah kebinasaan itu kalian galang sendiri di atas kedunguan.jari-jari itu hanya pandai mengambil untuk dirinya sendiri dan tidak bisa memberikan sesuatu untuk kawulanya.

Dua-duanya busuk. dua-duanya sumber keonaran di atas bumi ini…. Kalian tahu kelanjutannya: Barangsiapa mengadili kebenaran. bagaimana agar kami tidak jadi budak?” “Rama Cluring yang bijaksana. Ditaklukkan tanpa perang!” “Baiklah kami ini budak tanpa dikalahkan dengan perang. Jangan kuatir.” dan ia teruskan wejangannya tentang kebenaran dan keadilan dan kedudukannya di tengah-tengah kehidupan manusia dan para dewa. setiap saat datang pengawal perbatasan berkuda?” “Dia juga perlu mendengarkan kata-kataku ini. dia memanggil Sang Hyang Kala. Sang Hyang Widhi merestui barangsiapa punya kebenaran dalam hatinya.” “Tidakkah Rama Guru akan dibawanya ke Tuban dan diadili?” “Bukan pertama terjadi kebenaran diadili. Katakan pada kami.Budak Tuban. “Juga Sang Adipati Tuban Arya Teja Tumenggung Wilwatikta tidak bebas dari ketentuan Maha Dewa. Bukankah mandala kalian pernah mengajarkan: kebenaran tak dapat diadili. “bukankah Rama Guru lebih dari tahu.” seorang lain lagi menyerondol.” Ia tersenyum dan mengangguk-angguk. budak Sang Adipati sama dengan musuhmusuhnya yang telah ditaklukkannya. Rama Guru. kiranya? Ketakutan selalu jadi bagian mereka yang tak berani mendirikan keadilan. Kepala desa! Kurang tepat jawabanku. karena dialah pengadilan tertinggi di bawah Hyang Widhi. . Kejahatan selalu jadi bagian mereka yang mengingkari kebenaran maka melanggar keadilan. dia akan dilupakan orang kecuali kedunguannya.

Kapal itu terus melaju. Layar kemudi yang menggembung di atas haluan. Waktu lampu menara bandar Tuban mulai hilangmuncul di atas kepala ombak terdengar pekikan aba-aba. Dari kejauhan nampak seperti naga laut yang tak kelihatan buntutnya. kemudian ke bawah. ke tiadaan. bergerak hanya dengan kekuatan dayung. Ledakan di langit yang sebentar tadi menandingi bulan kini lenyap tanpa bekas. Peluru cetbang meluncur ke udara dengan buntut api yang kuning merah meninggalkan asap yang segera lenyap. Juga layar kemudi tidak nampak lagi. Puluhan pendayung yang seirama membelah permukaan memercikkan air dan semburannya menari dengan cahaya bulan. Api menyemburat melontarkan bunga api yang membuat lonjakan ke atas. bahkan lebih depan dari haluan itu sendiri.Kapal peronda pantai dengan layarnya yang berkilat-kilat itu menyeberangi malam dan menyeberangi Laut Jawa dengan cepat. Ledakan itu menyebabkan permukaan laut gemerlapan beberapa detik. Layar-layar mulai diturunkan. berebut dulu untuk menghantam pesisir utara pulau Jawa. kemudian kembali jadi manis bermain-main dengan cahaya bulan kembali. Dan semua alun dan ombak terus juga berkejar-kejaran. 0o-dw-o0 . melengkung seperti busur yang sedang ditarik. Tak lama kemudian menyusul ledakan di belakang layar kemudi. Beberapa bagian dari detik. Lunas itu menerjang alun dan ombak pada sudut lebih besar daripada semula. dan peluru itu meledak di langit. Dengan cepat membelok ke kanan.

“Sekarang aku hendak teguk lagi tuak desa ini. Sebelumnya. dengarkan: jangan bandingkan Majapahit dengan Tuban ini. Ingat kata-kataku: Kalau kemerosotan ini tak dapat dicegah. tak selembar daun dapat kalian jadikan pengayoman. biar kalian tidak didera oleh perang. takut pada kebenaran. Bibirnya ia gigit. Kalau perang sudah pecah. Tinggalkan kebebalan. ia hendak meminumnya. Pahami pergantian jaman. Dengan kedua bolah tangan ia menekan perutnya. hanya seorang pembicara yang menggaungkan kebenaran milik Maha Dewa. Mukanya pucat. Ia angkat tinggi. kemudian menudingnya: “Lihatlah ini tampang kepala desamu. Kalian sendiri yang mengatakan: hanya sembilan hari dibutuhkan untuk mengedari seluruh wilayah Tuban – itu pun hasil pengkhianatannya terhadap Majapahit. dengan wilayah kekuasaannya.” Cawan itu dibantingnya pecah di hadapannya. berpaling cepat pada kepala desa. “Dewa Batara!” sebutnya keras.” Ia rendahkan cawan. pada keadilan. Ia baru habis menceritakan tentang kebesaran Majapahit dengan angkatan lautnya. . Dari desa dan kota petani-petani akan digiring. menaruhnya pada bibir dan meneguknya sekali habis. agar dia tetap jadi kepala desa. memperlihatkan pada semua hadirin. dan perang akan pecah di mana-mana. mati untuk raja-raja kecil yang tak pernah berbuat apa-apa untuk kalian. dia telah racun aku!” Cepat ia tarik mukanya dan berseru pada para hadirin: “Dia telah racun aku! Dan kalian kenal siapa aku. takkan lama lagi.Rama Cluring segera mengambil cawan tanah yang diletakkan oleh anak gadis Kepala desa. dengan ilmu dan ketrampilan membikin kapal-kapal samudra. Dengarkan kebijaksanaan.

. berseru lantang: “Tak ada seorang pun meracun Rama. Mereka masih terpaku pada tempatnya bersila. kalian. Ia tak menoleh. Orang tua itu terus juga berjalan sambil menekan perutnya dengan kedua belah tangan. Galeng dan Idayu merasai gigilan pada tubuh tua itu. Kepala desa menolongnya dari belakang.” “Dengar si mulut palsu ini! Dengarkan. Yang menganggap benar-benar Rama Cluring terkena racun cepat-cepat bangkit dan lari memburu. Rama Cluring bangkit berdiri dengan susah-payah. Tanpa mengindahkan protes Rama Cluring mereka berdua menunjangnya pada bahu dan pinggangnya. Kami semua menghormati Rama.“Rama!” seseorang berteriak dan lari ke depan hendak menolongnya. Setengah hadirin menganggap tingkahnya juga bagian dari gaya dan cara. Ia menolak tuntunan orang. Diam-diam mereka bertiga berjalan cepat. Setiap guru-pembicara punya gaya dan cara sendiri dalam usaha mempengaruhi dan mengetahui sampai di mana pengaruhnya bekerja. melompat keluar dari balai desa. Galeng dan Idayu ikut lari memburu. semua penduduk Awis Krambil!” Ia lepaskan diri dari pegangan kepala desa. Di belakang mereka serombongan orang berseru-seru memohon ampunnya sambil berlari-lari kecil. Tak pernah terjadi seorang guru-pembicara mengalami penganiayaan di desa mana pun.

membaringkannya di atas ambin bambu. Ia muntah lagi. kembali lagi dan menuangkan minyak kelapa ke mulut orang tua itu. Ia tekan-tekan perut orang tua itu agar muntah. Dituangkan seluruhnya ke mulut sang guru.” seru seseorang. cepatnya mengangkatnya dan membawanya ke rumah Idayu. itu meliuk-liuk gelisah pada Ruangan sempit rumah Idayu segera jadi penuh. Tiba-tiba guru berhenti. . kelapa hijau. Guru-pembicara pinggangnya. Idayu pergi keluar rumah dan datang lagi membawa cawan tanah besar. Dan Rama tidak menolak. Tak ada pohon kelapa hijau di seluruh Awis Krambil. “Air kelapa muda. menguaki punggung orang banyak. “Cepat!” “Memang terkena racun!” di belakang orang memberi komentar.Idayu melepas kain dada dari bahu dan menyelimutkan pada dada Rama setelah menyembah meminta ampun.” Galeng memperingatkan. Rama sedang sakit. Dan setiap orang menyembah sambil mengucapkan permohonan ampun. membungkuk dan muntah. Orang duduk berdesak-desak di lantai untuk menyatakan prihatin. “Diam! Diam semua. Idayu lari ke dapur. Dalam cawan itu bukan air kelapa hijau. tapi air kelapa biasa. Galeng menyembahnya. “Rama! Rama!” bisik Galeng. “Beri aku minyak kelapa!” pinta Rama Cluring.

gadis. “Pulang. pulang kalian semua. “Batara!” sahut Idayu. “Mengapa jadi begini. “Siapa lagi?” . Mati aku. Rama?” Galeng menghampiri orang banyak. Ampuni mereka yang jahil. bergumam mengancam: “Kalau tidak suka pada kata-katanya. Air kelapa campur minyak keluar dari mulut berjalurkan dengan benang darah hidup. Rama bergumam: “Semua air adalah air kehidupan.” Rama meliuk-liuk dan meringis kesakitan. leher dan bahunya yang basah dengan selembar kain. “Bagaimana bisa diam? Dia telah membahayakan kita semua: balatentara Tuban itu….” seseorang membantah. “Terlambat. “Diam kau!” bentaknya.” “Siapa kiramu yang meracun?” seseorang bertanya.” Matanya terbuka dan disapukan pandangnya pada mereka yang duduk berdesak di atas lantai.Mengetahui bukan kelapa hijau. Dewa Batara. Idayu menyeka mulut. cukup sudah.” “Mereka mencintai dan menghormati Rama.” “Tak ada guna cinta dan hormat.” Ia muntah. “Kalau kata-kataku bisa hidup dalam hati mereka.” “Mereka masih haus akan kata-katamu. mengapa tak mengusirnya saja? Atau memberinya kecubung? Mengapa mesti diracun?” “Rama Guru juga salah.” bisik Idayu.

demi Hyang Widhi. jangan sumpahi kami.” katanya sambil menurunkan sembahnya. Seorang dengan menuntun kuda menghampiri kapal. terlalu. Patragading melompat turun. berdiri di atas jagang bambu berkaki. “Terlalu. jangan tulah kami. demi kesejahteraan kami semua.“Meracun seorang guru…. ya Rama. hanya orang melakukannya.” panggil Idayu. berayun-ayun cepat. kemudian padam sama sekali. Baung anjing dari botakan hutan telah berkurang. Dan pelita di tengah-tengah ruangan itu. “Rama.” keparat Rama muntah lagi. Ia tak jadi memasuki halaman rumah itu. bulan sudah mulai menggeser ke titik tertinggi dan kini mulai agak condong. turun. Beberapa bentar hanya dan sampai ia di hadapan prajuritprajurit pengawal yang menahannya. Gandarwa pun lebih baik. berseru: “Butakah kalian tak melihat siapa aku?” . Minyak dan air kelapa tidak mempan. Rama. Orang berlarian mencari lagi di rumah-rumah. menempuh jalanan yang diterangi bulan purnama. Waktu telah didapatkan Rama Cluring telah tergolek pingsan. “jangan kutuki kami.” orang menyesali. Patragading melompat ke punggung kuda. berpacu. “Dirgahayu. demi desa Rama sendiri. Rama…” 0o-dw-o0 Begitu kapal peronda pantai itu merapat pada dermaga bandar Tuban kota. Penuntun kuda itu bersimpuh kemudian menyembah. Warnanya merah seluruhnya.

anakanda. Patragading segera menghadap ke pendopo.” “Bangunkan Sang Patih. Seorang prajurit lain datang. Ia menunduk dalam. Ia berpakaian kain batik. menegur “Dingin-dingin begini anakanda datang. Pasti ada sesuatu keluarbiasaan. Tuanku. Sampai di pendopo seseorang berlarian datang padanya dan menyembah. bersimpuh di atas lantai tanah. Pendopo yang gelap itu kini diterangi dengan damarsewu pada tengah-tengahnya.“Tuanku Patragading Jepara. juga cambang dan jenggot. kemudian mengambil-alih kuda tunggangannya. sekarang juga.” Patragading melompat lagi ke atas kudanya. berdestar batik dan berkerudung kain batik pula pada dadanya. Kemudian Sang Patih berhenti di tengah-tengah pendopo. Kalung dan gelang masnya berkilat-kilat. Kumisnya yang tebal berkilat-kilat. Jelas benar telah diminyaki dengan minyak katel! Kain batiknya terbeber di selingkaran kaki. Mata-mata sumbu itu menyala berkibar-kibar dalam barisan seperti prajurit baris. memasuki halaman luas tertutup rumput pendek dengan pinggiran ditanami bunga-bungaan. bersimpuh dan menyembah: “Menunggu titah. melalui samping gedung besar itu dan hilang dari pemandangan. dekat pada damarsewu. sembah. “Anakanda Patragading!” Sang Patih memasuki pendopo.” .” Patragading berdiri bertolak pinggang tanpa mempedulikan prajurit yang diperintahnya lari menjauh darinya. Ampuni kami. Patragading mengangkat membetulkan letak kerisnya. Mendekat sini.

” Sang Patih bertepuk tangan tigakali. Balatentara Demak di bawah Adipati Kudu^ memasuki Jepara tanpa diduga-duga. Paduka.” “Apa saja kau kerjakan sampai tidak tahu? Bukankah Demak dukuh tidak berarti selama ini?”1 “Inilah patik menyerahkan hidup dan mati patik. Paduka. setelah meninggal disebut Pangeran Sabrang Lor. Paduka. menyalahi aturan perang. merebahkan diri pada kaki Sang Patih.” “Dari mana Demak dapat mengumpulkan brandal sebanyak itu?” “Patik tidak tahu.” “Bagaimana Bupati Jepara?” “Tewas enggan menyerah Paduka. [1] Minyak kelapa direbus dengan laba-laba tanah jenis besar berwarna dan berbulu hitam untuk penghitam rambut. “Itu bukan aturan raja-raja! Itu aturan brandal!” “Balatentara Tuban tak sempat dikerahkan. bersenjata tombak dan perisai. Lebih dari tiga ribu orang. “Ampuni patik.Dan Patragading berjalan mendekat dengan lututnya sambil mengangkat sembah. Setelah itu biasa disebut adipati Unus. “Sisa balatentara Tuban mundur ke timur kota. membangunkan Paduka pada malam buta begini Kabar duka. 0o-dw-o0 . Satu regu prajurit berlarian datang.” “Allah Dewa Batara!” sahut Sang Patih. Jepara penuh dengan balatentara Demak.” Patragading mengangkat sembah. 2.

Begitu turun ke tanah ia memandangi bulan. kulit binatang hutan. gula garam. memukul dadanya. Dari laut bandar Tuban Kota nampak seperti sepotong balok. Dari barat. kuning. itulah kampung-kampung nelayan. Sang Patih masih tegak berdiri di tempatnya. putra Sang Adipati. kemudian berbalik dan masuk ke dalam rumah. Patragading. dan itulah bandar alam lainnya yang dimiliki negeri Tuban.) dan cendana dari Nusa Tenggara. Ia menggalang pelahan. Hijau lagi. Itulah perbukitan kapur bernama Kendeng. pepohonan dan taman-taman. dan berbarislah mereka meninggalkan halaman kepatihan. Dari timur orang membongkar rempah-rempah dari kepulauan yang belakangan ini mulai disebut bernama Mameluk (Nama yang diberikan oleh pedagang-pedagang Arab. Paling tidak telah seribu tahun perahu dan kapal-kapal berlabuh di bandar Tuban Kota. Bila lumut hijau hilang dan muncul coklat baru. . minyak tanah dan minyak-minyak nabati lainnya. Hijau lagi. Ayahandanya sendiri yang akan menentukan hidup dan matinya. minyak kelapa.” Patragading digiring keluar pendopo. Dari Tuban sendiri orang memunggah beras. di sana-sini agak hijau.2. coklat lagi. coklat lagi. timur dan utara. kemudian berobah jadi Maluku. Paduka!” perintah kepala regu. dan itulah bandar Pasukan Laut dan galangan kapal. Tuban “Tahan dia ini. bergumam: “Apakah masih patut aku membawa mukaku sendiri?” “Jalan ke kiri. Di atas balok coklat bermulut berdiri barisan perbukitan tebal.

Dan bila orang mendarat dari pelayaran.Dan di atas perbukitan adalah langit para dewa. entah dari jauh entahlah dekat. dengan pikulan atau grobak beroda bulat dari potongan batang kayu. Orang tak henti-hentinya mengangkuti barang dari dan ke bandar. segera ia akan terpikat melihat lalu lalang. ia akan berhenti di satu tempat beberapa puluh langkah dari dermaga. semua saja jalanan besar yang dilaluinya. Ia akan selalu berpapasan dengan pribumi yang berjalan tenang tanpa gegas. sebuah tugu batu berpahat dengan prasasti peninggalan Sri Airlangga. Bila ia meneruskan langkahnya. Pasukan Kaki. Penariknya adalah sapi atau kerbau. indah. juga bikinan alam. Lautnya dalam dan dermaganya kokoh. mengapa tak ditarik oleh kuda? Dan dengan senang hati orang akan menerangkan: tak diperkenankan menggunakan kuda atau diri sendiri untuk penarik grobak Kalau pendatang itu bertanya: mengapa terlalu sedikit kereta di sini? Ia akan mendapat jawaban: memang. disempurnakan oleh tangan manusia selama paling tidak seribu tahun. jalanan ekonomi sekaligus militer. . Seorang pendatang boleh jadi akan bertanya. Bandar Tuban adalah bikinan alam yang pemurah. Grobak beroda kayu utuh berasal dari pedalaman. Kereta sangat sedikit. dan milik para panglima Pasukan Pengawal. Kalau orang datang untuk pertama kali. sepotong jalur karang yang menjorok ke laut. Ia akan mengangkat sembah – di hadapannya berdiri Sela Baginda. Lebih banyak lagi grobak beruji. Pasukan Gajah dan Pasukan Laut. apalagi yang beruji kayu. yang beruji dari kota sendiri. Pedagang-pedagang Atas Angin menamai bandar ini Permata Bumi Selatan. tuan jumlahnya taklah lebih dari dua puluh – semua milik para pembesar negeri dan praja. sekalipun di bawah matari terik.

lalu lintas berhenti. Dan bila kereta Sang Adipati sendiri yang lewat. Kuda-kuda penarik itu pun dihias dengan gombak dan limbai aneka warna. bekerja di bawah capil bambu anyaman. itulah pertanda mereka pedagang pedalaman yang berurusan dengan pedagangpedagang beragama Islam. Benggala. bendera jabatan dan kesatuan. perunggu dan perak. Parsi. Dan bila rambut panjang mereka tergulung dalam destar. Dari jauh telah terdengar gerincing giring-giringnya dari kuningan berkilat-kilat dan nampak umbul-umbul beraneka warna. di pasar kota dan bandar sendiri. Abah-abahnya berkilat-kilat dengan hiasan dari tembaga. tetapi berkain tenun genggang atau polos tanpa belahan. menyibakkan diri untuk memberi penghormatan. di pelataran rumah. adalah mereka yang telah menanggalkan agama leluhur. Dan mereka bekerja sambil berdendang. Pria berambut panjang berdestar batik pertanda masih mengukuhi Buddha atau Shiwa atau Wisynu. Arab. . bahkan gundul tak berdestar atau berkopiah. Orang-orang asing. Orang takkan melihat adanya suami-istri berjalan-jalan bersama di siang hari. Mereka tidak berkain batik. dan hampir selalu berkain batik atau wulung. Tionghoa. kuningan. Namun wanita nampak di manamana. juga penduduk asing harus menyembah dengan caranya masing-masing. Pribumi sendiri juga beraneka. Juga orang-orang asing diwajibkan berhenti bila kereta lewat. Juga mereka berkain batik seperti kaum pria. kadang juga dari mas. di pinggir jalan.Bila kereta berkuda empat semacam itu lewat. bangsa-bangsa Nusantara. Pria berambut pendek. tak mengenakan wiron atau dodot. Lalu lalang di bandar beraneka ragam. bergaya dengan pakaian negeri masing-masing. Mereka melakukan segala macam pekerjaan yang juga dikerjakan oleh pria. penduduk berlutut menyembah.

cicit Jengis Khan yang bertahta di Khan Baliqr Seperti air bah prajurit-prajurit Tartar mendarat dari laut. damai. juga darah musuh-musuhnya yang datang menyerbu. Orang bilang ini terjadi pada 1292 Masehi. pribumi dan asing menghadap Tuanku Penghulu Negeri agar membatasi penghajaran kafir pada kanak-kanak. Lima tahun yang lalu jarang terjadi yang demikian. dan mulai mereka bergentayangan tanpa penggembala. tawa dan sorak-sorainya. Tetapi semua itu semu belaka. Sejak jaman-jaman yang tidak dapat diingat lagi Tuban terlalu sering dihembalang bencana perang dan kerusuhan. Anak-anak kecil bermain-main dalam rombongan besar di setiap lapangan terbuka. Setelah sidang para pedagang Islam. Maka sekarang mereka tak bertelanjang dada lagi seperti halnya dengan kaum pria Pribumi. Namun buminya tak juga jenuh tersiram darah putra dan putrinya. memohon agar para wanita menutup buahdadanya.Lima tahun yang lalu sidang para pedagang Islam telah menghadap Tuanku Penghulu Negeri. Sejak itu semua wanita yang keluar dari rumah diharuskan mengenakan kemban. Negeri ini terinjakinjak balatentara yang bersepatu itu. Pertama oleh balatentara Kublai Khan. keadaan aman. asrama-asrama mulai ditinggalkan oleh mereka. Perang besar kedua dan ternyata kelak bukan yang terakhir terjadi pada awal abad ke XIY Masehi. dan meninggalkannya lagi untuk meneruskan penyerbuannya ke Singasari. Ke mana pun mata ditebarkan. Bupati yang . Dua kali negeri ini dilanda perang besar. mengisi udara pagi dan sore dengan cericau. menyapu Tuban yang sama sekali tak mampu bertahan terhadap senjata api. sejahtera.

Majapahit jatuh. Dan Sri Baginda membebani gubernur baru itu dengan tanggungan pasukan Gajah. . menyebabkan balatentara Majapahit datang menyerbu. Setelah perang besar kedua selesai. jadi raja-raja kedi. Juga bupati Tuban Sang Adipati Arya Teja Tumenggung Wilwatikta. Pada awal abad ke XYI sekarang kekuatan pemersatu kekaisaran Majapahit telah patah. Para gubernur pesisir telah memunggungi Majapahit sehingga runtuh dan berdiri sendiri-sendiri. raja pertama Majapahit. Seluruh kota dihancurkan. Baginda Sri Kartarajasa mengangkat seorang bupati baru. Dan kota. Adipati Ranggalawe sendiri gugur. didirikan pada awal abad ke XI Masehi. tanpa ada yang berani mengangkat diri jadi Kaisar. Orang tua-tua hanya dengan berbisik-bisik berani membicarakan dengan sesama tua. yang tertinggal setengah utuh hanya Sela Baginda. yang menjadi inti kekuatan darat balatentara Majapahit. termasuk bangunan-bangunan suci dan galangan kapal. Pertentangannya tentang kebijaksanaan praja dengan Sri Baginda Kartarajasa. Sekarang tidak demikian lagi. seluruh dunia peradaban. seluruh Nusantara. Dua puluh tahun lamanya pembangunan kembali kota Tuban dilaksanakan. tak lain dari Sang Adipati juga yang memprakarsai dan memimpin persekutuan rahasia ini. Tak sebuah rumah tinggal berdiri.memerintahTuban waktu itu adalah Adipati Ranggalawe. sampai menjadi penghasil kapalperang dan niaga terbesar di seluruh Jawa. salah seorang pendiri Majapahit. diperbesar. rata dengan tanah. yang dibangun pada awal abad ketujuh Masehi itu binasa. Penataran dan galangan kapal dipulihkan.

Arus kapal dari selatan semakin tipis. Ia menyokong diperbesamya armada dagang ke Maluku. keamanan. Hampir setiap bulan Sang Adipati datang berkuda ke pelabuhan. dengan pedang tergantung pada pinggang. ke Campa ataupun ke Tiongkok. serta melindungi pantai dari gangguan mereka. membawa barang-barang baru. Di bawah pemerintahan dan kebijaksanaannya bandar Tuban berkembang mendesak bandar Gresik. Jumbai dan pitamerah menghiasi tombak mereka. Ia tak menghendaki Tuban jadi kekaisaran benua seperti Majapahit dengan terlalu banyak urusan. Angkatan Laut tidak diperlukannya. Sang Adipati Arya Teja Tumenggung Wilwatikta. Gemerincing “giring-giring mereka serta kepulan debu menyebabkan orang dari jauh-jauh telah bersimpuh di tanah dan mengangkat sembah kepala. Juga ke Tuban. ketenteraman dan kesejahteraan sekarang dengan mengembangkan perdagangan antarpulau. Sebaliknya arus dari utara semakin deras. Gubernur Tuban. . bertombak.Sekarang makin lama makin sedikit kapal-kapal Jawa belayar kentara. pikiran-pikiran baru. bertekad mempertahankan kedamaian itu. Bandar Tuban Kota adalah buahhati Sang Adipati. Di belakangnya berderap pasukan pengawal lagi. Ia tak berminat meluaskan kekuatan ke laut. Di depannya berderap pasukan pengawal berkuda. agama baru. Dagang! Dagang saja. Ia merasa puas dengan pekerjaan Syahbandar Tuban: Ishak Indrajit. berperisai. menjadi pusat penumpukan rempah-rempah dari Mameluk dan Nusa Tenggara. ke Atas Angin. sekedar cukup jadi penghalau bajak dan perompak. Dalam usia tua ia hanya ingin bertenang-tenang.

jatuhlah negeri ini jadi jarahan. ia menjawab tak peduli: Orang juga boleh menyebut seperti itu. Ia sendiri tak pernah merasa terhina dengan segala julukan dan ejekan. Pendirian dan sikapnya tetap: perniagaan antarpulau harus terus dan makin berkembang. kata salah seorang di antara mereka. Nusantara dan Tiongkok. Apalah arti Pasukan Gajah. ia dianggap telah kehilangan keksatriaannya. Sang Adipati memang bukan lagi seorang ksatria. Sekali ada yang menyerbu. Bandar harus makin banyak disinggahi kapal-kapal Atas Angin. Pertahanan negeri Tuban sendiri dianggapnya mudah. Dengan Pasukan Gajah Tuban yang masyhur ia percaya akan dapat memukul mundur setiap dan semua penyerbu. dengan kekayaannya yang datang dari laut. Dirasani begitu ia hanya tertawa. dilaksanakan oleh satuan-satuan berkuda yang terus-menerus bergerak. . Rangga dikerat dari nama Ranggalawe yang perkasa dan Demang adalah pangkat rendah dalam kepunggawaan praja. Padahal.Karena semakin tua ia semakin mengutamakan perniagaan oleh para bupati tetangga. Ia telah letakkan dasar jaringan pengawasan daerah-daerah perbatasan. kalau dia mau. Maka para bupati tetangga semakin yakin. dengan pasukan gajahnya yang berabad jadi perisai Majapahit. bupati-bupati yang mengiri akan kesejahteraan dan kekayaan Tuban suka merasani. hanya jadi beban kawula. telah merosot jadi sudra. sebenarnya ia mampu menaklukkan tetangga-tetangganya dan sendiri marak jadi kaisar. Sekali waktu Sang Adipati mempersembahkan ada seorang bupati lain yang mengejeknya dengan nama Rangga Demang.

Semua lelaki dapat menghias dirinya dengan keris dengan pamor dan rangka sebagusbagusnya. Segala yang berhubungan dengan bandar dan wilayahnya dibiayai dengan penghasilan bandar. Mereka tetap segan terhadap Pasukan Gajah. Walau ia membiarkan runtuhnya Majapahit. Ia tak ingin terjadi suatu perubahan. Ia telah berhasil menciptakan cara untuk mengikat kesetiaan desa-desa perbatasan dengan jalan mengambil hati penduduk: bunga-bunga tercantik diselir dengan gelar Nyi Ayu. Ia pergunakan . Semua kawula mempunyai penghidupan yang layak. desa-desa dikenakan upeti sepersepuluh dari setiap dan semua macam penghasilan dengan tambahan khusus: jatah untuk umpah gajah serta pembuatan dan pemeliharaan jalanan umum. Patih Tuban bertindak sebagai pengawas tertinggi dan pengatur tertinggi semua pekerjaan. untuk selamalamanya. Sedang binatang itu tak kenal kecut apalagi khianat. tak urung ia juga yang suka menebah dada sebagai pewaris kekaisaran benua yang sudah runtuh itu.Tak juga ada yang berani menyerbu. Untuk pembiayaan praja. Dan nampaknya semua akan abadi seperti itu sampai ia mati dan juga setelah ia mati. seekor gajah sama ampuhnya dengan dua ratus prajurit kaki yang tangguh. Dengan demikian Sang Adipati telah menyebarkan ratusan dari anaknya di seluruh negeri. dan mengirimkan keturunannya kembali ke desa sebagai punggawa dengan gelar Raden Bambang dan menjadi pujaan desa. Dan Ishak Indrajit yang mengurus semua itu. malah ikut mengambil prakarsa terjadinya persekutuan untuk itu. Dan semua orang tahu. Sang Adipati sudah puas dengan semua itu.

Gajah dan Kaki. ia telah perintahkan berdirinya sebuah mesjid di wilayah pelabuhan.bendera Majapahit untuk negeri dan kapal-kapalnya. Sejak purbakala penduduk Tuban tak punya prasangka keagamaan. yang juga tidak banyak. Parsi dan Arab. Aceh. merasa dewa sembahannya tidak menggubrisnya maka dicarinya dewa sembahan lain. Bugis. Tuban tidak hanya panglima tetap. kedamaian. merah-putih. hanya lebih panjang daripada yang lama. kebiasaan tak berpanglima diteruskan. Pecinan. Menurut tradisi Majapahit pula hanya di waktu perang seorang adipati atau menteri ditunjuk memegang jabatan itu. Keselamatan praja dijaga oleh Pasukan Kuda. sedang keamanan desa-desa dilakukan oleh pagardesa yang terdiri atas pemuda-pemuda pilihan. Sang Adipati tak pernah punya kekuatiran akan timbulnya pertentangan karena agama. Sang Adipati juga mengijinkan berdirinya sebuah klenting batu yang jadi pusat perkampungan penduduk Tionghoa. Klenting yang lama telah dianggap terlalu kecil. Setelah Majapahit jatuh dan Tuban jadi negeri bebas. Keamanan. Untuk mengambil hati rakyat di pesisir yang makin banyak yang memeluk Islam. Keamanan pantai dipegang oleh Pasukan Laut. Yang baru didirikan di sebelah barat pelabuhan. Gujarat. ketenteraman dan kesejahteraan yang didambakan dan dipertahankan dengan segala macam kebijaksanaan kini mulai terancam dari sebelah barat: . Dalam waktu pendek bangunan itu telah menjadi suatu perkampungan Islam dari orang-orang Melayu. Keamanan Tuban Kota dilakukan oleh Pasukan Pengawal yang tidak banyak jumlahnya. Orang berpindah agama karena kesulitan dalam penghidupan.

langsung dari kuda. kemudian segera berjongkok dan menyembah.” “Ampun.Demak mulai bergerak dan merampas Jepara. sekarang dari ayahandanya dibenarkan menggunakan gelar Adipati Unus. Gusti.” . Jubah putihnya berkibar-kibar. belum lepas dari ingus sendiri.” “Brandal-brandal itu mengimpi hendak menguasai laut. “juga telah mendirikan galangan-galangan kapal besar.” Sang Patih mengangkat sembah. Gelisah hati Sang Adipati yang telah lanjut usia itu. Sampai barang tujuh langkah dari Sang Adipati ia berdiri dan mengangkat sembah kepala. Para pengawal di depan sana telah berhenti di pasiran pantai. Syahbandar Tuban. kumis dan jenggot yang mulai jadi kelabu. Konon kabarnya Unus adalah nama dewa baru penguasa lautan. Sang Patih mengiringkan di belakangnya. Kakang Patih?” menduduki Jepara… “Ampun. Sang Patih juga turun. Sore itu ia datang berkuda di pelabuhan. “Mereka bukan saja telah Bagaimana.” “Anak baru kemarin. Sebagian menghadap ke laut biru-kuning yang gelisah/Sebagian menghadap pada Sang Adipati yang sedang turun dari kuda dengan kaki sebelah di atas tanah. lari menuruni kesyahbandaran. daerah kekuasaan Tuban…. kaki lain diatas punggung seorang pengawal yang menungging. Ishak Indrajit. Gusti. setelah Adipati Kudus Pangeran Sabrang Lor menguasai wilayah terbarat Gusti. lebat ditumbuhi cambang. Tenang dan damai keadaan Tuban Kota. Sorbannya nampak terlalu besar dan berat bertengger pada kepalanya yang kecil.

Gusti. Gusti.“Patik. Berkata pelan: “Makin lama makin sedikit kapal Atas Angin singgah. Bukan untuk perang. Tangannya yang bergelang mas tiga susun menuding pada pasir. Pada dermaga tertambat tiga buah kapal asing. Namun semua itu tak menarik perhatian Sang Adipati.” . Kakang Patih. Gusti tidak berkenan memukulnya dengan perang.” “Bangunkan. Mereka belum punya Pasukan Kuda. Tuban pun harus segera mengimbangi.” “Patik. hanya untuk mengimbangi. tidak akan mampu menahan balatentara kita. tidak punya Pasukan Gajah. Perwira-perwiranya. Di kejauhan sana nampak sebuah kapal peronda pantai yang sedang belayar kearah ba rat. Hatinya tetap gelisah.” : “Demak sudah mendirikan galangan-galangan kapal besar di Jepara.” “Patik. Demak akan terus mendesak ke timur. Kakinya yang sebelah ditariknya dan punggung pengawalnya. dan ia meninjau ke laut yang disebari perahu nelayan yang baru berangkat pulang. Demak sendiri dapat ditumpas dalam tiga hari Gusti. orang-orang Tionghoa itu. sekali Gusti titahkan. Kalau dibiarkan.” Sang Adipati masih juga berdiri.” “Allah Dewa Batara. Ia tarik pandangnya dari laut dan dilekatkan sebentar pada destar Sang Patih yang dihiasi dengan permata. Gusti. tidak hanya Jepara. Semua layarnya menggelembung seperti busur.” “Dewa lama dan Allah baru tidak bakal membenarkan.

Sang Patih, jauh lebih muda, anak paman Sang Adipati, mengangkat sembah: “Keadaan di lautan Atas Angin sana sudah berubah, Gusti,” kemudian dengan jarinya menggaris-garis di atas pasir membuat gambar, “kapalkapal asing yang selama ini tidak pernah dikenal sekarang mulai berdatangan dari Ujung Selatan Wulungga – tanjung yang tak pernah dilewati nenek-moyang, Gusti.” Sang Adipati mengerutkan kening. Alisnya, kumis, jenggot dan cambangnya yang putih membikin wajah tuanya yang penuh kerut-mirut itu nampak semakin pucat. Matanya kini tersangkut pada pipa celana Sang Patih yang hitam kelam dengan ujung-ujung pipa dihiasi sulaman benang sutra kurung. “Ampun, Gusti sesembahan patik. Mereka, Gusti, menyusuri pantai Wulungga, memasuki jalan laut kapalkapal Atas Angin. Kapal-kapal mereka, kata orang, tidak lebih besar dari kapal-kapal Majapahit, agak lebih besar dari kapal-kapal Atas Angin dan Tuban, tetapi layarnya jauh lebih banyak dan lebih besar. Jalannya laju seperti cucut, dapat membelok cepat sambil miring, dengan lambung menepis permukaan laut seperti camar.” “Betapa indah, sebagai cerita, Kakang Patih,” Sang Adipati memberanikan. “Layar-layarnya, Gusti, digambari dengan salib raksasa.” “Salib?” “Ampun, Gusti, hanya dua buah garis bersilang. Orang bilang, garis yang datar melambangkan kerajaan manusia, garis dari atas ke bawah, kata orang, melambangkan karunia dewa di atas pada kerajaannya.” “Apa bedanya dengan swastika Buddha?”

“Kalau dibuang siripnya tentu dia akan sama, Gusti.” Sang Patih membikin salib di atas pasir. “Sebab itu besar, besar sekali, merah menyala, dapat dilihat sepemandangan dari atas gajah dan dari atas menara. Layar-layar putih sangat besar, dari ufuk nampak seperti kuntum melati.” “Kapal-kapal siapa yang muncul dari Ujung Selatan Wulungga yang keramat itu, Kakang Patih?” ‘Itulah kapal-kapal Peninggi, Gusti sesembahan patik,” jawabnya sambil mengangkat sembah, menunduk lagi dan meneruskan gurisannya di atas pasir, membuat gambar kirakira dari kapal-kapal baru itu. “Tentu mereka bajak yang menakutkan,” Sang Adipati memancing-mancing pendapat. Tenang dan damai keadaan Tuban Kota. Gelisah hati Sang Adipati yang telah lanjut usia itu. Sore itu ia datang berkuda di pelabuhan. Sang Patih mengiringkan di belakangnya. Para pengawal di depan sana telah berhenti di pasiran pantai. Sebagian menghadap ke laut biru-kuning yang gelisah/Sebagian menghadap pada Sang Adipati yang sedang turun dari kuda dengan kaki sebelah di atas tanah, kaki lain diatas punggung seorang pengawal yang menungging. Sang Patih juga turun, langsung dari kuda, kemudian segera berjongkok dan menyembah. Syahbandar Tuban, Ishak Indrajit, lari menuruni kesyahbandaran. Jubah putihnya berkibar-kibar. Sorbannya nampak terlalu besar dan berat bertengger pada kepalanya yang kecil, lebat ditumbuhi cambang, kumis dan jenggot yang mulai jadi kelabu. Sampai barang tujuh langkah dari Sang Adipati ia berdiri dan mengangkat sembah kepala.

“Mereka bukan saja telah Bagaimana, Kakang Patih?”

menduduki

Jepara…

“Ampun, Gusti,” Sang Patih mengangkat sembah, “juga telah mendirikan galangan-galangan kapal besar.” “Brandal-brandal itu mengimpi hendak menguasai laut.” “Ampun, Gusti, setelah Adipati Kudus Pangeran Sabrang Lor menguasai wilayah terbarat Gusti, sekarang dari ayahandanya dibenarkan menggunakan gelar Adipati Unus. Konon kabarnya Unus adalah nama dewa baru penguasa lautan.” “Anak baru kemarin, belum lepas dari ingus sendiri.” “Patik, Gusti. Gusti tidak berkenan memukulnya dengan perang. Kalau dibiarkan, Demak akan terus mendesak ke timur.” “Dewa lama dan Allah baru tidak bakal membenarkan.” “Allah Dewa Batara, sekali Gusti titahkan, tidak hanya Jepara, Demak sendiri dapat ditumpas dalam tiga hari Gusti. Mereka belum punya Pasukan Kuda, tidak punya Pasukan Gajah. Perwira-perwiranya, orang-orang Tionghoa itu, tidak akan mampu menahan balatentara kita.” : “Demak sudah mendirikan galangan-galangan kapal besar di Jepara.” “Patik, Gusti. Tuban pun harus segera mengimbangi.” “Bangunkan, Kakang Patih. Bukan untuk perang, hanya untuk mengimbangi.” “Patik, Gusti.” Sang Adipati masih juga berdiri. Kakinya yang sebelah ditariknya dan punggung pengawalnya, dan ia meninjau ke

Gusti sesembahan patik. Kapal-kapal mereka. “kapalkapal asing yang selama ini tidak pernah dikenal sekarang mulai berdatangan dari Ujung Selatan Wulungga – tanjung yang tak pernah dilewati nenek-moyang. Pada dermaga tertambat tiga buah kapal asing. jenggot dan cambangnya yang putih membikin wajah tuanya yang penuh kerut-mirut itu nampak semakin pucat. tidak lebih besar dari kapal-kapal Majapahit. Namun semua itu tak menarik perhatian Sang Adipati. Semua layarnya menggelembung seperti busur.” kemudian dengan jarinya menggaris-garis di atas pasir membuat gambar. Tangannya yang bergelang mas tiga susun menuding pada pasir. Ia tarik pandangnya dari laut dan dilekatkan sebentar pada destar Sang Patih yang dihiasi dengan permata.” Sang Adipati mengerutkan kening.laut yang disebari perahu nelayan yang baru berangkat pulang. menyusuri pantai Wulungga. . tetapi layarnya jauh lebih banyak dan lebih besar. Hatinya tetap gelisah. Berkata pelan: “Makin lama makin sedikit kapal Atas Angin singgah. Jalannya laju seperti cucut. kumis. Matanya kini tersangkut pada pipa celana Sang Patih yang hitam kelam dengan ujung-ujung pipa dihiasi sulaman benang sutra kuning. anak paman Sang Adipati. Gusti. memasuki jalan laut kapalkapal Atas Angin. kata orang. Di kejauhan sana nampak sebuah kapal peronda pantai yang sedang belayar kearah ba rat. Gusti. mengangkat sembah: “Keadaan di lautan Atas Angin sana sudah berubah. Alisnya. Gusti.” Sang Patih. agak lebih besar dari kapal-kapal Atas Angin dan Tuban. jauh lebih muda. Mereka. “Ampun.

dapat cepat digulung…. Gusti. sebesar tiga kali gajah. Kakang Patih?” ‘Itulah kapal-kapal Peninggi.”jawabnya sambil mengangkat sembah. Orang bilang. “Tentu mereka bajak yang menakutkan. karena layarnya yang berlapis-lapis.” Sang Patih membikin salib di atas pasir. Gusti sesembahan patik.” . dengan lambung menepis permukaan laut seperti camar. Layar-layar putih sangat besar.” “Apa bedanya dengan swastika Buddha?” “Kalau dibuang siripnya tentu dia akan sama. Gusti. melambangkan karunia dewa di atas pada kerajaannya. dapat dilihat sepemandangan dari atas gajah dan dari atas menara.” Sang Adipati memancing-mancing pendapat. garis yang datar melambangkan kerajaan manusia. “Layar-layarnya.” Sang Adipati memberanikan.” “Betapa indah. “Sebab itu besar.” “Salib?” “Ampun. membuat gambar kira-kira dari kapal-kapal baru itu. merah menyala. garis dari atas ke bawah. dari ufuk nampak seperti kuntum melati. dapat mengempis seperti kantong kosong. Mereka tak bisa dihindari. “Kalau hanya sekedar bajak. hanya dua buah garis bersilang. Kakang Patih. kata orang. digambari dengan salib raksasa. dapat mekar menggelembung seperti melati. Gusti. Gusti. besar sekali.dapat membelok cepat sambil miring.” “Kapal-kapal siapa yang muncul dari Ujung Selatan Wulungga yang keramat itu. Bukan saja karena kelajuannya. sebagai cerita. mereka bisa dihindari bahkan bisa dilawan. ya Gusti…. menunduk lagi dan meneruskan gurisannya di atas pasir.

Gusti. “Dari mana pula dongengan menarik itu berasal.” “Lebih dahsyat!” Sang Adipati berseru menyepelekan. Dan di laut kapal dan perahu yang tertambat berayun-ayun dengan layar tergulung dan tiang-tiangnya menuding langit.” “Ampun.” “Ampun.“Maksudmu meriamnya?” “Benar. Orang . Dongengan patik yang indah ini datang menghadap Gusti untuk jadi bahan periksa. Gusti. memuntahkan api dan….” ia menuding pada langit tanpa mengangkat kepala.” senjatanya itu. Kapal-kapal Atas Angin pada gentar. tertawa kosong. Gusti. beribu ampun. “Memuntahkan api! Apakah Kakang Patih bermaksud mengatakan ada bangsa lain di atas bumi ini punya cetbang Majapahit? Ada di negeri Atas Angin sana? Kakang Patih tidak hendak mendongeng lagi?” “Ampun. Dongengan kanak-kanak itu sekarang sudah jadi kenyataan. Gusti. Gusti. meriamnya. dapat “Adakah Patih sedang mengulangi dongeng kanak-kanak itu. Jauhjauh di darat nampak orang bersimpuh di atas tanah dengan kepala menunduk ke bumi. kiranya?” Deburan ombak terdengar nyata. Ada bangsa jauh di Atas Angin sana punya semacam cetbang Majapahit. Gusti sesembahan patik.” “Kenyataan!” Sang Adipati terpekik. Bergumam: “Ada yang lebih dahsyat dari cetbang Majapahit. Kakang Patih. Lebih dahsyat. ”Teruskan. Tak ada manusia bergerak dalam sepengelihatan penguasa Tuban itu.

cetbang mereka bukan sekedar dapat menyemburkan api dan meledak. Gusti. Gusti.” “Maka datang?” makin berkurang kapal-kapal Atas Angin “Demikian adanya. tapi maut belaka. Semua pedagang mengimpikan dan memburu keuntungan. Juga destarnya yang panjang-panjang itu sebentar menggelepar tertiup angin. Gusti sesembahan patik. maka benua dan lautan ditempuh. maka mereka lebih suka tinggal tidur di tengah-tengah mewahan di rumah masing-masing di bandar sendiri. juga memuntahkan bola-bola besi sebesar. baiduri dan jamrud yang menghiasi bagian depan destar gemerlapan bermain-main dengan sinar surya. dengan munculnya kapal-kapal Peranggi.” Sang Adipati tercenung sebentar. Lambat-lambat kedua belah tangannya tertarik ke atas dan bertolak pinggang Sebentar dia berpaling dan menebarkan pandang pada laut.bilang banyak di antaranya telah mereka kirimkan ke dasar lautan. Gusti. Bertanya seakan tak acuh: “Bangsa apa kata kakang tadi?” . Bertanya pelan: “Bagaimana bisa ada senjata lebih dahsyat dari cetbang?” “Beribu ampun. sebesar. Intan. Apakah bedanya buah kelapa itu terkupas atau tidak? Besi sebesar tinju pun akan dapat remukkan setiap kapal. Ia menunduk dan berpikir. bukan keuntungan yang teraih. kemudian pada langit. Mengetahui.” Adipati Tuban Arya Teja Tumenggung Wilwatikta terdiam. kata orang. sebesar buah kelapa” “Sebesar buah kelapa! Terkupas atau tidak?” “Gusti Adipati berolok-olok.

Mereka sudah berlarian cari selamat. baik di laut mau pun di darat. Kakang Patih?” “Mereka lain dari orang-orang Arab.” “Ampun.” “Barangkali sebangsa hantu laut?” “Gusti berolok-olok. Gusti. Keadaan dunia sungguh-sungguh sudah berubah. Orang bilang. lain dari semua bangsa yang pernah datang di Tuban.” . Kapal-kapal Atas Angin itu. lebih keras. selalu dalam rombongan. juga sama hebatnya. Mereka itu putih seperti kapas. Kakang Patih. Dari dulu orang tua-tua sudah mendongeng tentang bangsa kulit putih. tak pernah belayar sendirian. seperti awan. Gusti. seperti dongengan tentang dedemit para leluhur. iblis dan setan. Parsi atau Benggala. tak pernah dalam rombongan.” Sang Patih menurunkan nada suaranya dan meneruskan pelahan bercampur dengan tiupan angin… “Aku tak dengar. Gusti. seperti kapur. ada bangsa lain. Mohon apalah kiranya tidak berolok-olok. Gusti.” “Dalam rombongan seperti armada Majapahit?” “Benar. Gusti. Kapal-kapal Atas Angin pada ketakutan. Karena persaingan satu dengan yang lain. seperti dongeng tentang peri dan gandarwa. Sedang kapal Peranggi itu. Gusti. Gusti. Sekarang ternyata bangsa manusia berkulit putih sesungguhnya ada. Ispanya namanya. biarpun hanya melihat dari kejauhan. seperti dongengan orang Islam tentang jin.“Peranggi. paling tidak dua atau tiga buah. Gusti.” “Apa lagi ceritamu. milik pedagang-pedagang itu. berlingsatan tunggang-langgang cari hidup. Mereka punya negeri dan rajanya sendiri. seperti bawang putih….

apa peduli? Allah Maha Besar telah memberikan pada manusia berbagai macam warna. “Apa persembahanmu. Mereka tidak mengagungkan Allah Yang Maha Besar. memusuhi semua bangsa. Yang dilambainya bergerak. Gusti. siapa tahu. maupun lspanya. Mereka mau merajai . dan Hindu. kemudian dilambainya Syahbandar agar mendekat. barangkali pada suatu kali jin dan iblis dan setan orang-orang Islam juga punya negeri sendiri kapal dan cetbang. kecuali pemeluk Buddha. Mereka penyembah patung.” “Auzubillah min zalik!” seru Syahbandar. Selama mereka datang membawa kesejahteraan untuk bandar Tuban… siapa saja baik. “Apa pengetahuanmu tentang bangsa berkulit putih?” “Bangsa kafir itu.” “Lebih keras!” “Ampun.” “Kafir atau tidak apa salahnya? Penyembah patung atau tidak apa buruknya? Roh. Gusti.” Sang Adipati memperbaiki letak keris. memusuhi semua orang Islam. Gusti…. semua bangsa manusia.Ia turunkan lagi nada suaranya sehingga hampir bergumam. dan Yahudi. “Siapa tahu. Tuan Syahbandar?” “Diampuni oleh Allah apalah kiranya… Baik Peranggi. hitam seperti jelaga periuk. Gusti. Gusti. tapi hatinya. dan Buddha. nyawa atau hatinya hitam atau putih atau kelabu ataupun ungu seperti bunga kecubung. hitam. bangsa berkulit putih. Gusti. tetap berdiri dan mengangkat sembah kepala. rohnya. nyawanya. Sedangkan orang Jawa pun bukan penyembah patung. Mereka penyembah patung.

” susul Syahbandar pada Sang Adipati tak senang.” “Di mana negerinya? Jauh atau dekat? Maka akan dapat mengenyahkan semua bangsa dari muka bumi?” “Jauh.segala-galanya. tentu mereka bangsa yang pandai dan gagahberani. Kalau semua bangsa tidak mau.” tibatiba ia berpaling pada Syahbandar. “dengan bimbingan Allah. Angin yang meniupi dadanya membikin bulu dada yang putih itu berombak. . Tuhan akan mengenyahkan mereka dari muka bumi.” “Kapan Tuhan mengenyahkan mereka?” “Semua bangsa. Arabia ataupun Turki. “Mereka diberanikan oleh iblis.” sembah Ishak Indrajit terus dalam Melayu. Mereka telah lewati Ujung Selatan Wulungga yang tak pernah dilalui oleh nenek-moyang. Gusti Adipati Tuban. lebih jauh dari Parsi.” puji Sang Adipati pada bangsa yang belum dikenal itu. dipimpin oleh setan. bagaimana bisa orang-orang Islam takut pada kafir?” “Senjata dari iblis!” Sang Adipati mengulangi. Gusti. “Bangsa-bangsa Atas Angin takut pada mereka. Tak dirasainya seekor lalat hinggap pada dagunya. merekalah yang bakal menghalau kita semua…. Ia sedang bekerja keras memanggil kapal-kapal Peranggi dan lspanya dalam angan-angan. Gusti.” “Kalau dongengan itu benar. pasti kapalnya banyak. Pandangnya ditebarkan ke laut yang masih juga disebari perahu-perahu nelayan. “Tuan Syahbandar. Negerinya ada di atas Atas Angin. kuat dan hebat. Sang Adipati tak memperhatikan.

” “Sihir!” Sang Adipati mengulangi. terutama rempah-rempah. semua kapal Islam. Senjata itu dapat menenggelamkan kapal yang sebesar-besarnya dari jarak sepemandangan. Gusti.“Sihir namanya. melecehkan. Gusti. Rempah-rempah. “Kalau begitu orang Islam pasti punya mantra-mantra penangkal.” Tiba-tiba Sang Adipati tertawa senang dan bergumam pada angin mendesau: “Ha! Rempah-rempah! Seperti kapalkapal lain. Gusti. memasuki Teluk Parsi dan mengamuk tiada terlawan.” “Apa yang mereka cari. menunduk lebih dalam.” “Jadi kapal?” sungguh-sungguh mereka memusuhi semua “Benar. semua. Gusti sesembahan patik. Gusti. orang-orang… apa pula namanya tadi?” “Peranggi. “adapun senjata itu sama sekali bukan sihir. Tubuhnya yang tinggi jangkung nampak meriut kecil.” Syahbandar terdiam. semua yang mereka cari.” sembah Sang Patih. tak menemukan kata-kata jawaban. “Semua. seperti yang selebihnya. Gusti. Hai!” “Beribu ampun. juga sudah menduduki Goa. Kapal-kapal armada gabungan dari beberapa negeri dibabat lenyap ditelan laut… Sekarang mereka bukan hanya sudah mulai kelihatan di Benggala dan Langka.” Sang Patih meneruskan. “para nakhoda bilang mereka mulai kelihatan di Malagasi. juga kapal-kapal bukan Islam dari Benggala. bila senjata mereka berdentum. Gusti.” sela Sang Patih sambil menyembah. Kapal-kapal tak bisa lari dari tudingannya. dan terutama kapal-kapal berbendera bulan dan bintang. justru cetbang yang lebih ampuh. “Ampun. Ya. .

Api pun menyemburat dari moncong senjatanya dan bola besi itu melesit ke udara seperti peluru cetbang. Mariam. bersujud ke tanah. mendesis di udara. Kata orang sebelum mereka mendentumkan senjatanya. Mereka namai senjata itu dengan nama Dewi Ibunda Nabi Isa. 0o-dw-o0 . Syahbandar tertinggal di tempatnya…. bergerak mengiringkan Sang Adipati. Gusti. Gusti. kemudian menungging untuk jadi anak tangga. dan dengan kaki lain melompat ke atas punggung kuda. melangkah menuju pada kudanya.” Sang Adipati mulai bosan mendengar keterangan bertele. Tuan Syahbandar. Burung-burung lumpuh sayap dan berjatuhan mati.” Sang Adipati tersenyum.langit seperti belah dan hati yang mendengarnya jadi ciut. pastilah mereka memang bangsa-bangsa unggul. Tanpa memperhatikan yang lain-lain Sang Adipati naik ke atas punggung orang dengan sebelah kaki. Kemudian senjata itu dinamai Meriam. Prajurit pengawal pemegang kuda itu pun mengangkat sembah. beramai-ramai mereka memekikkan nama Ibunda Nabi Isa alaihissalaam. dikutuk oleh Allah apalah kiranya mereka itu. menyerahkan kendali padanya. Bukan mereka sendiri yang menamainya. Sang Patih juga naik ke atas kudanya. memang. Tumpaslah kapal yang terkena. hampir-hampir tak dapat ditangkap oleh mata. meriam bukan nama senjata itu?” “Ampun. Berseru pelahan: “Ya-ya-ya. Bolabola besi sebesar kelapa bersemburan. Semua prajurit pengawal menyembah dan beringsut menjauhkan diri. Ia bergerak dari tempatnya. menyembah lagi. Gusti.

rempah-rempah. dialah si pembohong itu.Kapal unggul senjata unggul bangsa unggul kulit putih. sesuatu telah berubah di dunia yang tak dikenal di utara. Tuban punya rempah-rempah! Mereka akan datang kemari. Bangsa unggul saja bisa membikin dan menggunakan senjata unggul. Mungkin satu bangsa bisa menjadi unggul karena mencari rempah-rempah? Uh. Tapi mereka membutuhkan rempah-rempah! Mereka bangsa manusia biasa. Dan melalui kebutuhannya mereka akan aku kendalikan! 0o-dw-o0 Tanpa mereka semua ketahui. Mereka juga bisa dikendalikan melalui kebutuhannya. Hanya yang dapat menahan dan mengalahkan mereka lebih unggul. Bangsa-bangsa menjadi kaya karena berdagang rempahrempah. Ada suatu lembaga yang membikin mereka jadi unggul. pertanyaan lucu. salib… semua menjadi masalah ganda yang berjubal dalam kepala Sang Adipati. Bangsa-bangsa mencarinya karena memang sudah unggul Mungkinkah suatu bangsa bisa jadi unggul hanya karena punya senjata unggul? Hhhh. Orang harus mengenal lebih dulu bangsa-bangsa dari negeri terjauh ini. jauh di baratlaut sana. bangsa-bangsa dari atas Atas Angin. pertanyaan bodoh. maka segala yang ditanganinya juga jadi unggul: kapal dan senjata. Ia membutuhkan waktu untuk memikirkan semua itu. bangsa-bangsa yang telah menaklukkan Ujung Selatan Wulungga yang belum pernah ditembus kapal-kapal Majapahit. . Orang takkan mati tanpa dia. Mereka pergi ke mana-mana untuk mengalahkan dan menaklukkan. Salib itukah mungkin lambang lembaganya? Sekarang ini siapa yang tahu? Barang siapa bisa menjawab.

Tahun tolaknya dari Tiongkok pun sama: 1292 Masehi. meriam itu. Seperti halnya dengan Majapahit. Cetbang dan kapal unggul Majapahit pada suatu kali telah menghancurkan dirinya sendiri dalam Perang Paregreg. Majapahit semasa Mahapatih Gajah Mada telah mengembangkan senjata api ini jadi cetbang. Musket dibikin dalam bentuk raksasa menjadi meriam. mengarungi samudra tanpa gangguan. Setelah itu cetbang tidak berkembang lagi. menaklukkan dan menjajah negeri.senjata-api bertolak dari Tiongkok. juga setelah matinya. dibawa oleh Marco Polo dan diperkenalkan di Eropa. Dengannya Portugis dan Spanyol mengusir penjajahan Arab di negeri mereka. Perkembangan selanjutnya melahirkan musket. Dengan cetbang. kekaisaran Asia Tenggara. Orang mengetawakan dan mengejeknya. semenanjung Iberia. Bersama dengan balatentara Kublai Khan yang melakukan expedisi penghukuman di Singasari. dalam hanya dua puluh tahun Majapahit Gajah Mada berhasil dapat mempersatukan Nusantara menjadi kekaisaran Malasya. Lawan-lawan Majapahit pada mulanya menamai senjata ini “sihir api petir”. karena dari bawah ia memancarkan api dan di udara atau pada sasaran dia meledak. nenek-moyang cetbang Majapahit dibawa serta di samping kuda perang dari Mongolia dan Korea3. Makin banyaknya orang Eropa berkunjung ke Tiongkok menyebabkan orang lebih mengerti dan mulai mencoba-coba membikin sendiri.Senjata baru. dengan kapal dan senjatanya mereka mulai menguasai jalan laut dan musuh-musuhnya. sesungguhnya sama nenekmoyangnya dengan cetbang Majapahit. Juga Spanyol dan Portugis akan musnah karenanya sekiranya Tahta Sua tidak segera turun tangan . Pada tahun 1292 itu juga prinsip. Dengannya mereka mempersenjatai kapal-kapal.

karena percaya Islamlah yang jaya kelak. kami sengajakan mengabdi pada raja Islam Demak. “Kakang Patih. yang membelah dunia non-Kristen jadi dua bagian. wilayah kami?” “Belum banyak yang dapat dipersembahkan. bagaimana warta putra mahkota Demak setelah merampas Jepara. Berapa sudah di antara putra-putra kami. Dalam perjalanan Sang Adipati memerlukan menengok ke belakang. Tanahnya lebih tandus dari Tuban. terdengar ragu-ragu: “Kakang Patih. Diberinya Sang Patih isyarat agar mendekat Suaranya sayup-sayup di antara gemerincing giring-giring dan derap kuda.” “Patik. Gusti. “Bagaimana kira-kira jadinya semua ini nanti?” “Allah Dewa Batara!” sebut Sang Patih tak bisa menjawab. berpakaian seperti orang tidak ber bangsa.meleraikan dua negeri ini dengan Jus Patronatus atau Padroado. Apa sekarang? Kapal-kapal Islam takut pada kafir-kafir Peranggi dan Ispanya…. Dan mulailah kapal-kapal mereka tanpa ragu-ragu menjelajahi dunia dengan salib sebagai panji-panjinya. .” Sang Patih menunduk dan mengangkat sembah. dan sekarang jadi pemuka Islam yang dihormati. bukankah telah Kakang ketahui sendiri bagaimana telah kami petaruhkan hari depan pada kejayaan Islam? Bukankah banyak di antara putra-putra kami telah menggunakan nama Islam yang diberikan oleh gurugurunya? Kami biarkan putra kami Raden Said mendalami agama Atas Angin ini. Gusti. hidup sebagai pandita dan pertapa. menaklukkan dan menguasai bangsa dan negeri-negeri yang dianggapnya dalam belah dunia bagiannya….” “Kerajaan pedalaman. sebagian untuk Portugis dan yang lain untuk Spanyol.

bertanya waktu menghentikan kudanya: “Apakah putra mahkota Demak.” “Dan lebih berhati-hati terhadap Lao Sam. Gusti. sejak kecil Adipati Unus. Jaraknya pun . Kakang Patih. tidak membentuk kekuatan seperti Semarang. Adipati Unus. Setiap ada sesuatu yang mencurigakan. Jepara. sekiranya tak ada lagi tenaga Cina membantu di Jepara. ya Gusti.” sembah Sang Patih.” Sang Adipati tidak menanggapi. Gusti. hancurkan saja bandar itu. Selmrang membutuhkan bandar sendiri. Gusti.” “Patik. sudah memerintahkan pembikinan kapal perang?” “Baru pendirian galangan-galangan. Gusti. “Boleh jadi sudah terjadi perpecahan antara Semarang dan Demak. ditimangtimang oleh Ibundanya jadi Laksamana. keterangan itu harus didapatkan.” “Patik Gusti.Tak punya laut. Sang Patih melambatkan kudanya sehingga kembali tercecer di belakang. putra mahkota Demak. merajai kepulauan dan lautan. Lao Sam nampaknya tetap tenang. meneruskan dengan suara lebih keras: “Apakah ada dugaanmu putra mahkota Demak merampas wilayah kami. Adakah kota Semarang sudah menolak memunggah barang-barangnya maka ia memberandali wilayah kami? Apakah Demak sudah bercekeok dengan Semarang?” “Rupa-rupanya perlu dikirimkan telik. Sesampainya di alun-alun tiba-tiba Sang Adipati menengok lagi ke belakang. Sudah sejak lama.” Sang Adipati tak meneruskan pertanyaannya. untuk membangun sebuah Angkatan Laut?” “Demikian konon wartanya.

Sang Adipati tak memperhatikan. mulai mendatangkan pandai cor dari Pasuruan. Dalam tiga hari pasukan Gusti Adipati sudah dapat mencapainya melewati pesisir. Tombak dan perisai mereka bergeletakan damai di atas bumi. Nampaknya pula sedang ada persiapan membikin cetbang di sana.” “Patik.” “Kalau itu benar. Gusti. Hancurlah dia! Yang agak mencurigakan justru Jepara. Gusti.” “Jadi Islam bisa kerjasama dengan Hindu?” “Nampaknya demikian. Gusti sesembahan. bumi selatan. “Brandal-brandal itu hendak beramin jadi satria.” Sang Adipati mengangguk-angguk. Juga para pengawal di depan dan belakang.” “Apakah menurut dugaanmu Unus berani mengeluari Peranggi dan Ispanya?” “Kuda-kuda itu berhenti.sangat dekat dengan Tuban. raja Islam itu sedang punya persiapan membikin yang berbahaya. langsung berkendara menuju ke pendopo. Adipati Unus.” “Tidak bisa lain.” “Pandai-pandai itu tentunya Hindu. Kudanya digerakkan lagi dan berjalan melewati gapura. putra mahkota itu telah bersumpah akan membentengi Islam di belah bumi sini. Gusti. Konon putra mahkota Demak. . “Konon kabarnya. Segera kirimkan telik.” Para pengawal gerbang pada bersimpuh dan mengangkat sembah.

tentulah karena banyak hal lain sedang jadi pikiran Gusti. Nampaknya Gusti kurang mengkaruniakan perhatian. Gusti. Gusti. Unus dapat mengalahkan mereka? Tanpa meriam dan hanya dengan cetbang bikinan pandai cor Blambangan?” “Ya. ya Gusti. dan menurut katanya pula Mahapatih Gajah Mada pernah bersembah pada Sri Baginda Kaisar Hayam Wuruk: hanya kapal-kapal yang bisa melalui Ujung Selatan Wulungga tertitahkan untuk menguasai buana. Patik telah persembahkan semua. nenek patik pernah bercerita tentang kapal-kapal Majapahit. Tak ada daratan dan lautan lagi di sebaliknya. Setelah turun dari kuda ia datang menghadap dan langsung mendapat teguran: “Banyak nian yang tak Kakang persembahkan selama ini.” “Tidak pernah. jauh dari ujian Ujung Selatan Wulungga. jatuh curam langsung ke neraka.Seorang pengawal menerima kuda dan seorang lain menyediakan punggung untuk jadi anak tangga. Sang Patih mengerti masih diperlukan. Ujung Selatan selama ini selalu dianggap jadi batas dunia. Ampun. Gusti.” .” “Ampun.” “Nyata Majapahit tak pernah berhasil melaluinya.” “Dan kapal-kapal mereka telah melewatinya. mereka telah datang dari balik Ujung Selatan. Ia turun tapi tak langsung masuk ke dalam.” “Tentu Kakang Patih benar. bagaimana patik harus persembahkan? Waktu patik masih kecil. Peranggi dan Ispanya bukan hanya melalui. Apakah menurut dugaan Kakang. Gusti. Datang langsung dari neraka itu! Kapal-kapal Unus barangkali masih dalam angan-angan.

Belum lagi sampai ke kepatihan. Ia mengambil kudanya dari tangan seorang prajurit pengawal dan keluar meninggalkan kadipaten. mulai merabai dan merampasi semua barang apa yang baru . Mereka bukan sekedar mencari dagangan dan rempah-rempah. Mengapa tidak mau berbagi?” “Konon wartanya. Tentu mereka telah kalahkan kapal-kapal Parsi.Sang Adipati berbalik meninggalkan Sang Patih dan masuk ke dalam kadipaten. Benggali dan Langka. mengangkat sembah. “Mereka sudah lewati Ujung Selatan Wulungga. Jawa dan Tuban sendiri. Sang Patih. dan Melayu. Ia berbalik menuju ke kadipaten. mereka tadinya bangsa miskin. Mereka akan kalahkan juga kapal-kapal Aceh. kecuali orang-orang Tartar yang dibinasakan itu. Gusti. Sang Adipati sedang menunggunya di dalam kadipaten. baru melihat dunia. Sekarang baru keluar dari kemiskinan. Mereka datang ke mana-mana untuk mencari negeri asal rempah-rempah.” “Nampaknya Peranggi dan Ispanya lain daripada yang lain. seorang penunggang kuda telah menyusulnya. Mesir. Ia dapati Sang Adipati sedang duduk berfikir dengan wajah menekuri lantai. juga semua yang tertinggal.” “Mengapa musti mengalahkan. Arabia. Mereka hendak merampas semua untuk dirinya sendiri.” “Kerakusan tiada tara. Gusti. Kakang Patih? Bukankah kapal-kapal asing datang kemari bukan untuk mengalahkan kita? Tak pernah yang demikian terjadi sejak nenekmoyang. Dan duduklah ia di bawah mengangkat sembah.” “Gusti. Kakang Patih. Turki.

Hanya awas-awas pada yang di barat sana: Semarang. seperti si lapar melihat sajian. wajahnya berseri: “Ya. memekakkan dan melumpuhkan burungburung di cakrawala. apa saja yang indah. Kerakusan yang mau berkuasa dan memiliki untuk diri sendiri semata. manusia berkulit putih lucu itu.” “Kerakusan tidak mengenal kenyang. Perbandingan yang indah. Jepara.” “Sekarang rempah-rempah juga yang memanggil kerakusan yang tak mau berbagi. matanya berkilau. hanya para pendita bijaksana dapat menerangkan. Dan mereka akan datang ke sini juga akhir-akhir kelaknya. Lao Sam. Kapal unggul. kelaparan unggul. Bagaimana harus memahami ini.” “Kakang Patih benar.” Sang Adipati tersenyum.” Sebentar ia berhenti bicara. Semoga mereka telah kenyang dalam perjalanan. Kakang?” ”Itulah suratan tangan bangsa-bangsa. padasuatu kali mereka. ya Gusti. Ya barangkali benar begitu. tersenyum menimbangnimbang. Gusti. Mereka yang datang mencari rempah-rempah yang jaya dan kaya. Gusti. Mereka makin mendekati Tuban. Kakang Patih. Sebaliknya.dilihatnya. . Kadang-kadang memang memusingkan untuk memahami hal-hal baru. yang mahal.” Suaranya menjadi pelahan mendekati bisikan: “Tapi Adipati Tuban tidak gentar. Rasa-rasanya telah dapat kami dengar bunyi meriamnya. mereka yang justru memiliki negeri yang menghasilkan rempah-rempah. Kakang. Demak. “Si lapar melihat sajian. sepanjang sejarahnya selalu hidup dalam kemiskinan dan perbudakan. membunuh dan menenggelamkan.

jauh. Tak lama kemudian Ispanya dan Portugis merajai benua baru itu. Ke Tuban. dengan panjipanji Jus Patronatus yang dikeluarkan oleh Tahta Suci pada . permata. Bukan sorak kemenangan. berhamburan di Tuban. Nusantara dan Tiongkok. Itu perintah kami. Kakang Patih. sutra.seperti bawang. pada 1498 pelaut Portugis Yasco da Gama mulai menjelajah dunia Timur. menemukan benua baru Amerika. mereka tidak akan mendatangkan kebinasaan atau kehancuran….” Sekarang ia tertawa. intan. jauh dari Tuban. Kakang Patih. Ke Mamuluk. 0o-dw-o0 Pada waktu ia tenggelam dalam pikirannya. dari kapal-kapal mereka.” “… mereka akan datang membawa kekayaan. bukan sorak-sorai minta beli lebih banyak! Rempah-rempah! Rempah-rempah! Kerahkan semua armada niaga. akan datang kemari. baik di negeri Portugis maupun Ispanya. Enam tahun kemudian. tembaga. semakin riang. akan berjatuhan. Pada 1492 Kristoforus Colombo telah menyeberangi samudra Atlantik. Angkut semua yang ada. mas. perak. Kapal-kapal mereka akan terikat pada patok dermaga Tuban.” “Allah Dewa Batara membimbing Gusti Adipati Sesembahan. kemakmuran melimpah.” 1 Sang Adipati masuk ke peraduan dan memusatkan seluruh pikirannya untuk mendapatkan keuntungan dari perubahan baru tanpa harus mengurangi keuntungan yang bisa didapatkan dari kapal-kapal Islam. anak bangsa unggul itu. “untuk Tuban. kejadian-kejadian besar telah datang silihberganti. Semua. Sudah kudengar mereka bersorak-sorai.

Dari jalanan hanya nampak atapnya yang dari sirap jati. yang dilemparkan dan diarahkan dengan laras dengan tolakan ledakan. Sebuah adalah kadipaten. yang lain gedung penghulu negeri ummat Islam Tuban. Kapalnya memasuki Malabar dan Goa dan ikut serta pula kekuasaannya. 0o-dw-o0 3. Sebuah istana Kaisar. Senjata ini didasarkan atas prinsip roket. kelabu kehitaman. ibukota Majapahit. Penghulu Negeri berasal dari seberang. Penghuninya. Menjelang Pesta Lomba Seni dan Olahraga Dulu di Wilwatikta. penghulu agung ummat Buddha. Melalui pagar setinggi tiga depa itu orang tak dapat meninjau ke dalam. Tetapi beberapa hari belakangan seluruh pelatarannya dikelilingi pagar papan kayu tinggi. Sekarang gedung kayu besar megah itu tidak lagi ditinggali oleh Sang Penghulu. Dahulu ia diangkat untuk mengurusi soal-soal agama . Jalan laut kapal-kapal Islam mulai terdekat. kosong. Sekarang di Tuban Kota terdapat dua gedung utama. telah dipecat oleh Sang Patih atas perintah Sang Adipati. yang lain istana Sang Dharmadhyaksa. terdapat dua istana. 0o-dw-o0 Turunan kuda Korea di Jawa kemudian disebut kuda Kore.4 Mei 1493. Pangkalanpangkalan diambil-alih dengan meriam….

telah datang ke Tuban Kota untuk menggondol kejuaraan ketiga kalinya. Desas-desus telah datang mendahului. ia sendiri yang telah . Desas-desus meniup sejadi-jadinya: dia datang untuk takkan balik ke desanya lagi – sebagai bunga perbatasan pasti dia akan diselir oleh Sang Adipati. memercik ke seluruh kota seperti kebakaran pada padang ilalang. dibiayai oleh seluruh desa.penduduk dan mengajarkan Islam pada anak-anak pembesar. Tapi rombongan seni dan olahraga dari Awis Krambil belum lagi tiba. Ia juga diangkat untuk jadi guru putra-putra Sang Adipati. Sebelum bidadari itu jadi milik pribadi Sang Adipati orang memerlukan datang untuk membelainya dengan pandangnya. Dengan keputusan sendiri ia telah meracuni guru-pembicara itu. Sebagai selir dia takkan dapat dipuja atau dikagumi lagi. juara tari dua kali berturut. Hanya mereka yang melaksanakan perintahnya tahu benar duduk-perkaranya: Wejangan terakhir Rama Cluring telah membawa desa Awis Krambil ke tepi kebinasaan. Ia mengakui di depan umum. I dayu. Tetapi ia menyia-nyiakan agama-agama lain yang masih dipeluk oleh penduduk negeri Tuban. Sekarang gedung utama kedua itu tertinggal kosong. Seorang pengawal perbatasan berkuda ikut menyaksikan. mencoba dapat mengintip ke balik dinding pagar. Setelah pelataran dipagari tinggi orang justru pada datang dalam bondongan dan menggerombol. terang-terangan ia menyesali wejangan ipendiang. Beberapa pemuda telah bermimpi akan melarikannya. Dan pada upacara pembakaran jenasahnya. Dan tak lain dari kepala desa Awis Krambil sendiri yang merencanakan dan menitipkannya. Berita telah pecah ke seluruh kota: Bidadari Awis Krambil. Rombongan yang belum datang itu tak tahu-menahu.

meracunnya untuk menghindari murka Sang Adipati. “Dirgahayu. Ia tahu pasti segala sesuatu tentang Awis Krambil telah sampai pada Sang Patih dan Sang Adipati. Rombongan Awis Krambil telah nampak dari kejauhan. Gendangnya bertalu-talu menyampaikan berita. kanak-kanak. kakek. menangguhkan sampai sehabis Lomba Seni dan Olahraga. biar Sang Adipati segera dapat menjatuhkan hukumannya. tidak berkemben. Awis Krambil! Dirgahayu Idayu!” Bocah-bocah pada berlarian menyongsong dengan tangan melambai-lambai. Debuan jalanan mengepul tak kenal ampun. Setelah itu ia datang pada Idayu dan Galeng. pada Rama Cluring. Mereka berdua telah merawat Rama Cluring sampai matinya. destar terikat longgar. Dan desas-desus itu perlu untuk mengingatkan mereka pada Awis Krambil. mengkilat coklat kehitaman seperti kayu sawo muda. Dan umbul-umbul di kejauhan semakin cepat naik-turun. Umbulumbulnya jelas turun-naikdi udara mengundang semua untuk senang menerima kedatangannya. Pria-pria tak berbaju dengan keris terselit pada pinggang. telanjang atau setengah telanjang. Wanita-wanita dalam rombongan juga tidak berbaju. bertopi . pertanda menempuh perjalanan jauh. Serulingnya melengking. Bocah-bocah terbang berlarian untuk menyatakan kegembiraan atas kedatangan juara negeri. Orang-orang kota yang menyambut pada gerbang pinggiran Kota ikut bersorak. kekasih semua dewa. Mereka harus digiring ke Tuban Kota. dan: tindakannya yang bijaksana. perempuan. Tubuh mereka. membatalkan rencana perkawinan mereka. nenek. Penyambut sepanjang jalan bersorak-sorai gegap-gempita. Laki. Galeng dan Idayu.

keindahan tubuh dan buahdadanya.” semua. Begitu sampai ke gerbang perbatasan Kota. Semua bunyi-bunyian padam. untuk lebih dahulu membelaikan pandang pada Idayu. kecuali pemuda-pemuda yang sedang menelan tubuh bidadari Awis Krambil. mengagumi kecantikan. Penyambut resmi melambaikan tangan kanan. harus menutup dadanya. maju ke tengah jalan menghentikan rombongan. Pemuda-pemuda penyambut segera mengepung rombongan. Paling sedikit dengan kemban. semua bunyibunyian meriuh gila. “Tahukah kalian aturan masuk ke Kota?” tanya penyambut resmi itu. Gusti Bendoro Penghulu yang membuat aturan sudah dipecat!” . pendatang dan penonton. sedang destarnya disuntingi bunga kenanga.” Dan seperti pada tahun-tahun sebelumnya juga sekarang pemuda-pemuda bersorak mengejek: “Ho-ho-ho. Seorang punggawa kadipaten. Soraksorai beku. merabai tubuhnya dengan pandang rakus.caping. juga seperti tahun-tahun yang sebelumnya. barangsiapa dari pedalaman memasuki Kota harus memperhatikan aturan ini: semua wanita. dengarkan tajam-tajam. Semua melambaikan tangan bersorak-sorai. kecuali anak-anak di bawah umur. Dengan suara berwibawa ia angkat bicara: “Dirgahayu Awis Krambil!” “Dirgahayuuuuuuu. meledak serentak. “Belum! Belum!” jawab rombongan seperti pada tahun yang lalu. Atas titah Sang Patih. Penyambut resmi itu mengangkat tangan tanpa melambaikannya. dadanya terhiasi selempang selendang sutra. menurun semua diam mendengarkan: “Buka kuping. sekarang bertolak pinggang.

Gendangnya bertalu-talu menyampaikan berita. wanita-wanita Awis Krambil. “Dirgahayu. Penyambut sepanjang jalan bersorak-sorai gegap-gempita. Semua wanita pendatang melakukan gerakan-gerakan membantah kehendak para pemuda. telanjang atau setengah telanjang. setelah keluarnya larangan. Ambil kemban dan pakailah!” Upacara selesai. “Jangan biarkan Sang Surya malu melihat kalian. seakan-akan itu pun sudah jadi bagian dari upacara.Begitu sorak ejekan padam. Maka terjadilah tarian untuk merebut dan mempertahankan kemban. Gamelan semakin riuh dan tarian semakin indah.” Maka gerak-gerik perawan yang hendak berkemban dan pemuda-pemuda yang menghalangi berubah jadi tarian yang sesungguhnya. Cepat. Kanak-kanak bersorak dan berjingkrak dan gamelan mulai ditabuh riuh. Rombongan Awis Krambil telah nampak dari kejauhan. Tubuh mereka. Awis Krambil! Dirgahayu Idayu!” Bocah-bocah pada berlarian menyongsong dengan tangan melambai-lambai. penyambut resmi menirukan: “Tetap berlaku! Ho-ho-ho!” ejekan semakin gemuruh. karena seluruh Kota sudah menunggu. Serulingnya melengking. “Nah. Dan orang-orang tua pada menekur mengenangkan masa mudanya. Pemuda-pemuda menghalangi mereka pemakaian kemban. Umbulumbulnya jelas turun-naikdi udara mengundang semua untuk senang menerima kedatangannya. Kalian sudah dengar peraturan ini. mengkilat coklat kehitaman seperti kayu .

Semua bunyi-bunyian padam. kakek. semua bunyibunyian meriuh gila. Begitu sampai ke gerbang perbatasan Kota. mengagumi kecantikan. Bocah-bocah terbang berlarian untuk menyatakan kegembiraan atas kedatangan juara negeri. Pemuda-pemuda penyambut segera mengepung rombongan. nenek. Pria-pria tak berbaju dengan keris terselit pada pinggang.sawo muda. kanak-kanak. Penyambut resmi itu mengangkat tangan tanpa melambaikannya. . juga seperti tahun-tahun yang sebelumnya. Laki. untuk lebih dahulu membelaikan pandang pada Idayu. sedang destarnya disuntingi bunga kenanga. tidak berkemben. merabai tubuhnya dengan pandang rakus. Debuan jalanan mengepul tak kenal ampun. Dan umbul-umbul di kejauhan semakin cepat naik-turun. Soraksorai beku. pendatang dan penonton.” semua. tanya “Belum! Belum!” jawab rombongan seperti pada tahun yang lalu. kekasih semua dewa. keindahan tubuh dan buahdadanya. maju ke tengah jalan menghentikan rombongan. sekarang bertolak pinggang. Wanita-wanita dalam rombongan juga tidak berbaju. kecuali pemuda-pemuda yang sedang menelan tubuh bidadari Awis Krambil. destar terikat longgar. Dengan suara berwibawa ia angkat bicara: “Dirgahayu Awis Krambil!” “Dirgahayuuuuuuu. Semua melambaikan tangan bersorak-sorai. meledak serentak. dadanya terhiasi selempang selendang sutra. perempuan. bertopi caping. Seorang punggawa kadipaten. pertanda menempuh perjalanan jauh. ‘Tahukah kalian aturan masuk ke Kota?” penyambut resmi itu. Orang-orang kota yang menyambut pada gerbang pinggiran Kota ikut bersorak.

kecuali anak-anak di bawah umur.” Maka gerak-gerik perawan yang hendak berkemban dan pemuda-pemuda yang menghalangi berubah jadi tarian yang sesungguhnya. dengarkan tajam-tajam. barangsiapa dari pedalaman memasuki Kota harus memperhatikan aturan ini: semua wanita. menurun semua diam mendengarkan: “Buka kuping. Bahkan kereta pembesar mengalah . Kalian sudah dengar peraturan ini. Ambil kemban dan pakailah!” Upacara selesai. Gamelan semakin riuh dan tarian semakin indah. penyambut resmi menirukan: “Tetap berlaku! Ho-ho-ho!” ejekan semakin gemuruh. Atas titah Sang Patih. Dan orang-orang tua pada menekur mengenangkan masa mudanya. seakan-akan itu pun sudah jadi bagian dari upacara. setelah keluarnya larangan. wanita-wanita Awis Krambil. Paling sedikit dengan kemban. harus menutup dadanya. karena seluruh Kota sudah menunggu. “Jangan biarkan Sang Surya malu melihat kalian. Kanak-kanak bersorak dan berjingkrak dan gamelan mulai ditabuh riuh. Maka terjadilah tarian untuk merebut dan mempertahankan kemban. Semua wanita pendatang melakukan gerakan-gerakan membantah kehendak para pemuda. Rombongan Awis Krambil semakin tebal dan panjang. Pemuda-pemuda menghalangi mereka pemakaian kemban.” Dan seperti pada tahun-tahun sebelumnya juga sekarang pemuda-pemuda bersorak mengejek: “Ho-ho-ho.Penyambut resmi melambaikan tangan kanan. Gusti Bendoro Penghulu yang membuat aturan sudah dipecat!” Begitu sorak ejekan padam. “Nah. Cepat. Jalanan penuh-sesak.

dan pergi nyah kau dari sini. Penonton bersorak-sorai. Di tangannya ia membawa pedang terhunus. “Dari mana semua ini. iring-iringan berhenti.” Dan dengan demikian rombongan Awis Krambil masuk. Berikanlah pintu pada rombongan terbaik seluruh negeri ini. kecuali bukan peserta. Dua orang pengawalnya maju. Di kiri dan kanannya berdiri pengawal bertombak dan berperisai. “dari desa perbatasan Awis Krambil. Seorang penyambut berdiri di tengah-tengah pintu. kain itu tak mencapai matakaki. Ia berkain. Dan pintu pagar tertutup rapat. Gerobak pada melarikan diri sebelum terseret dalam kepadatan manusia. Sepanjang jalan seruan dirgahayu berderai bersambutsambutan. pelancang?” gertak penyambut sambil mengamangkan pedangnya. Sampai di depan bekas gedung Penghulu Negeri yang terpagari papan kayu tinggi. “Ahai! Datang untuk merebut kejuaraan. bergalau memanggil-manggil Idayu.” “Apa keperluanmu. Ia tak mengenakan selendang sutra yang menyelimpangi dada. maka membikin onar di Kota?” “Kami. Tidak semudah itu orang desa!” “Berilah kami kesempatan!” “Baik. Karena tubuhnya tinggi. “Datang ke kota untuk merebut kejuaraan. Pintu pagar terbuka lebar.tanpa menuntut simpuh dan sembah. Dadanya telanjang.” jawab kepala desa yang melompat ke depan. memasang kuda-kuda dengan tombaknya.” jawab kepala desa. . masukkan semua rombonganmu.

mereka hendak melangsungkan perkawinan. Suasana hangat membubung di atas bumi dan kepala manusia Tuban Kota. dan’.0o-dw-o0 Dua hari rombongan peserta Awis Krambil telah diasramakan. ‘Kehormatannya harus dipulihkan. Taruhan itu sampai mencapai seluruh muatan kapal. Mereka tetap menolak. kepala desa itu . wanita sebelah kiri. Kemudian tak lain dari kepala desa sendiri yang datang. Semua wakil desa-desa telah datang. Persiapan perkawinan mereka kembali harus disimpan di dalam lumbung. Pria menempati bangunan sebelah kanan. katanya. memaksa dengan segala macam alasan. Seorang demi seorang dari punggawa desa itu mendatangi mereka. Latihan pun sudah dimulai Di bandar saudagar-saudagar. Juga Idayu tak kurang sibuknya: berlatih dan melakukan pekerjaan untuk kepentingan bersama: memasak dan membersihkan asrama. Galeng pun sibuk melatih otot-ototnya. Punggawa-punggawa desa Awis Krambil semakin giat meniup-niupkan desas-desus. Dan hanya tiga orang saja sekarang tak tahu tentang itu: Idayu sendiri. ‘Desa kita telah dicemarkan oleh mendiang Rama Cluring’. Datang berarti bidadari Awis Krambil akan terambil jadi selir. malahan kapalnya sendiri. Mereka turun ke kota dan memasuki asrama dengan hati berat. Galeng dan Sang Adipati Penguasa Tuban itu masih juga sibuk menata pikiran menghadapi kemungkinan datangnya Portugis dan Spanyol. asing dan Pribumi mengadakan taruhan satu sepuluh: datang-tidaknya Sang Adipati ke asrama untuk mengunjungi Idayu.

dikenal bernama Boris. Nama lengkapnya Borisrawa. Boris. “Kang Galeng. Tahulah ia: otot-otot yang perkasa sama sekali tanpa daya menghadapi kekuasaan kepala desa. Orang itu ternyata penantangnya dari desa lain.” Boris milirik tajam. dan ia harus menggondol kemenangan. ‘kau bertanggungjawab juga dalam pencemaran itu!’ Galeng membantah dan punggawa itu tetap menudingnya. Ia menyerah tanpa rela hatinya. namun semangatnya untuk menang memancar kemilau pada matanya. “Kau datang lagi ke Tuban Kota tahun ini. Sebelum pergi kepala desa masih mengancam: ‘Kau harus menggondol kemenangan itu di Tuban Kota nanti.menuding Galeng. Galeng meletakkan timba dan menghampirinya. Dalam segala ukuran Boris kalah daripadanya.” “Kau juga. bibirnya tertarik kejang mengejek: “Kau datang untuk menang? Atau untuk kehilangan Idayu?” . 0o-dw-o0 Galeng sedang menimba sumur asrama waktu didengarnya teguran seseorang: Ia menengok. mengancam akan menyerahkannya pada pengawal perbatasan. Kembalikan kehormatan Awis Krambil! Ia hanya bisa mendeham menerima paksaan kepala desa. seorang pengejek yang tajam menyayat kata-katanya.” katanya lagi.

Sekarang jelas padanya arti sindiran-sindiran selama dalam perjalanan dan memuncak dalam asrama ini. dan rapat desa diadakan dengan terburu-buru. “Betapa indahnya kehidupan di desa sendiri.Darah Galeng tersirap. pandang wanita yang mengagumi dan . Sekarang gelombang sindiran tentang kehilangan Idayu. Ia pun masih dapat mengingat penutupan perlombaan tahun lalu: semua gadis perbatasan diperintahkan menari di pendopo kadipaten.” jawabnya hambar. Kang – rupanya kau sudah relakan dia. Galeng mencoba tersenyum. Sumbang. Sebelum kepergian terakhir ke Tuban ia selalu merasa bangga melihat pandang pria yang memberahikan kekasihnya.” tetaknya. Idayu. Dan pesan kepala desa dan anggota-anggota majelisnya untuk turun lagi ke gelanggang perlombaan. Siapa bakal mampu merampas kekasih daripadanya kalau bukan punggawa? Ia masih dapat mengingat kebencian Rama Cluring terhadap para punggawa – kebencian yang bukan tanpa alasan. “Ya. Ia masih dapat mengingat waktu Idayu menolak. “Idayu. Tak ada penduduk desa diperkenankan hadir. Dua masalahnya belum lagi terpecahkan: menang dan lepas dari hukuman Sang Adipati. tapi Sang Adipati sendiri bakal merampas kekasihnya. ya Kang?” Boris masih juga mencoba membakar dan menganiaya hatinya. Dan kemudian desasdesus ini mata Sang Adipati tak lepas-lepas dari gadisnya. Satu dugaan telah mendorongnya ke pojok: bukan salah seorang dari para punggawa itu.

Apa akan tetap kau biarkan putih seperti itu?” “Gigimu pun masih putih. Sekali ini kemarahan memang membuncah. Barangkali hanya aku yang berani menyatakan ini terang-terangan padamu. kaum punggawa.” Di luar dugaan Boris. Tapi kembali ancaman kepala desa memasuki ingatannya. masuk ke dalam asrama. Ia tak jadi menimba. Jauh lebih dari itu: kekuasaan atas hidup dan mati. Kang. tentu juga Idayu. Giginya kemudian muncul. terutama Sang Adipati sendiri bukan sekedar gumpalan otot perkasa dan kecekatan menggunakannya. percuma. Hadapi aku nanti di gelanggang. Seorang pun takkan bakal mampu merampas kekasihnya selama otot-otot dan kecekatannya masih dapat diandalkannya. Boris. Kalau dia libatkan diriku pada Rama CIuring. ke hadapan Sang Adipati sendiri. itu pun beralasan. Kapan kau hitamkan?” “Bagiku tidak soal. nampak dan gemerlapan putih.mencemburui. Kang.” Tiba-tiba ia menetak lagi: “Aku tidak mengharapkan perawan atau jandanya Idayu. . Jangan di sumur sini. Sekiranya kau marah. “Mengapa kau diam saja. Apa lagi ia tahu Boris sengaja hendak mengganggunya. Sekarang ia tersedar. Dan ia tak ingin terjadi perkelahian. Galeng tersenyum. hendak berdamai dengan hati sendiri. apa gigimu akan tetap putih juga?” Galeng meninggalkan sumur dengan kesakitan dalam hatinya. Dia dan majelisnya telah giring kami ke Tuban Kota. Kalau dia lepas dari tanganmu. Aku memang penantangmu. kang? Marah barangkali?” Begitu dilihatnya Galeng menjatuhkan pandang ke tanah basah berbatuan segera ia meneruskan: “Tak ada guna marah Kang. “Gigimu masih putih.

Tidak sekarang. mereka tak pernah berbuat sesuatu untuk kawula. terhadap seorang raja. Mati.” “Apa maksudmu sesungguhnya?” ia tinggalkan periuk dan mendekati teman masaknya. Aku dan Idayu akan ditindak. tanpa tawa tanpa candanya. . Harus! Kemenangan saja yang barangkali dapat melepaskan kami berdua dari hukuman.? 0o-dw-o0 Idayu sedang masak waktu mendengar berita itu: “Galeng bingung! Galeng bimbang! Dia akan kalah di gelanggang nanti. Dan apa pula arti duka-cita seorang anak desa seperti kami bagi seorang Adipati yang berkuasa atas hidup dan mati…. Tak ada tawaran lain. Kalau dia menang. dia . pastilah nanti sehabis perlombaan. “Bukan teka-teki.” Idayu menanggapi dan belum begitu menyedari duduk-perkara. kau saja. tanpa dia. tapi Idayu? Mungkinkah dia bisa balik ke Awis Krambil bersama denganku? Betapa bakal sunyi hidup ini tanpa Idayu. Hukuman. sekalipun hanya dengan kata-kata. dia akan kehilangan satu: Idayu saja.” ‘Teka-teki yang buruk. Dia akan kehilangan dua: kejuaraan dan Idayu. Dia tetap akan kehilangan. Kau sendiri lebih tahu dari aku.Setiap orang tahu akibat gugatan terhadap punggawa. Tapi Rama CIuring tidak keliru. Maka aku dan Idayu harus menang.benar. Ia pun tahu betul: ada aturan yang membebaskan setiap peserta perlombaan yang diasramakan dari segala tuntutan. terhadap Sang Adipati. Bebas! Bebas! Mungkin aku bisa bebas. segala tingkah laku mereka tak boleh disalahkan.

akan membantu kau mencapai segala yang jadi impianmu. pemenang tunggal akhir-akhirnya Gusti Adipati juga. Centong pada tangannya luruh ke tanah. kemudian membetulkan letak kayu bakar. Idayu. mencengkeram udara kosong.” katanya lagi sambil melewatinya. la mengerti betul kata-kata temannya itu. hitam diselaputi jelaga tipis. Juga semua orang tahu harga kecantikan dalam percaturan kekuasaan. Sebagai gantinya muncul kepala desa yang berkumis jarang dan kata-katanya yang lembut. “Tak ada pilihan lain bagimu. Dalam mata batin Idayu kini terpampang dirinya sendiri. semua orang melihat betapa indah dan bersinar kulitmu. Idayu. belum ada lagi Nyi Ayu….” Idayu membeliak. Idayu. Sampai sekarang kabarnya Awis Krambil belum juga mendapat tambahan Raden Bambang.“Maksudku. di desa ataupun kota. Di desamu sana. Idayu. Matanya berpendaran pada langit-langit dapur. memikat.” Idayu menarik ke dua-dua lengannya jadi siku-siku. Wajah temannya tak nampak olehnya. Satu . agung kalau sudah menari. Dan semua orang menilainya sebagai cantik dan tanpa tandingan dalam menari. “Ya. Tidak kurang tertarik. Idayu. Temannya memungut centong dan mencucinya dalam jambang air. tinggi semampai seperti puncak gunung kapur. mengejang jari-jarinya pada pipi. Tidak lain dari kau sendiri yang lebih mengerti.” Teman masak itu mendekatkan bibir pada kuping Idayu: “Kau akan tinggal di keputrian. Di sini orang melihat kau hanya pada wajahmu. Dan ia diam. manis dan membujuk: ‘Kecakapan dan kecantikanmu.

Damarsewu pendek menerangi semua pojokan. Dan ia masih dapat menangkap sindiran dari sana-sini.doa kesejahteraan membubung dari dalam hatinya. Tanpa bicara ia rebahkan tubuhnya di antara kawan-kawannya wanita. menggonggong dan melolong seperti anjing di musim kawin. Idayu! Idayu! Hati mereka berseru-seru. Hampir pada setiap kepala mereka hidup satu gambaran: Idayu yang sedang menari pada perlombaan tahun yang lalu. terutama Sang Adipati sendiri. Dan setiap orang di antaranya punya harapan: seorang dewa pemurah akan mengkaruniakan gadis perbatasan itu pada dirinya. Dan malam itu setelah mengikuti pelajaran tatakrama kerajaan bagaimana harus berlaku di hadapan para punggawa. Kelelahan berlatih dan bekerja membikin mereka terlalu rindu pada bantal. mencari para dewa yang masih punya persediaan kemurahan…. Di depan asrama orang semakin banyak datang. Asrama itu sendiri terletak di tentang alun-alun. tak seberapa jauh dari gedung kadipaten. berbisik-bisik. Beduk mesjid Kota dan mesjid pelabuhan telah bertalu-talu. Idayu masuk ke bangsal wanita. Di sela desau dan deru ombak yang mendesak daratan terdengar azan bilal. Hari semakin gelap. Di luar asrama orang-orang terus juga menggerombol dengan harapan pintu pagar sekali-sekali dibuka dan dapatlah pandang dilemparkan ke dalam. semua calon petanding menuju ke bangsal ketiduran masing-masing. . senyum seorang bidadari pujaan. Lebih dari itu: sedang tersenyum pada si pemilik hati masing-masing.

‘Ayam tak perlu banyak/ kekasihnya menyarani. Kadang berlomba dengan desah angin yang merobosi sirap. Yang tertinggal akan hanya sampahnya yang berhamburan tak menentu. Seorang demi seorang telah mulai tertidur. Sampai dengan kemarin ia masih terbiasa membayangkan sebuah pondok bambu beratap ilalang. Tiga ekor induk dan seekor jago sudah cukup untuk permulaan. Dan mereka berdua akan membuka hutan di pinggiran desa itu. Akhirnya tenang. Dan ia tak dapat memberikannya. . Aku sudah temukan daerah enau. Dan sepasang anjing yang cerdas. Idayu diam saja dan hanya dapat berdoa. berdiri sederhana di pinggir hutan. Segala keindahan masa kemarin serasa akan bubar-buyar dari angan-angan kekasihnya. Dayu! Kita akan bikin gula dan tuak sebanyak-banyaknya! Ia simpan gambaran itu sebagai suatu yang terlalu mahal sekarang ini. Deburan laut terdengar semakin nyata dan semakin nyata. berkilauan tertimpa sinar damarsewu. Dan kekasih yang dempal kuat itu muncul dalam perasaannya seperti seorang bayi seminggu yang membutuhkan perawatannya.“Siapa seminggu kemudian akan memasuki keputrian?” dan tawa terkikik-kikik menyusul berpantulan dari bibir ke bibir. dan membuka huma seluas-luasnya untuk gogo dan palawija. Sudah aku ketahui ada daerah enau. Tanpa disadarinya matanya telah melepas mutiaramutiara. Galeng sendiri yang mengusulkan pendirian pondok itu. Ia rasakan duka-cita yang sedang menerjang kekasihnya. ‘kecuali kalau hutan itu sudah terbuka luas. Kelak atap ilalang akan kuganti dengan injuk.

Ah. Ikat pinggangnya dari kulit. Idayu. terpasang pada bibir – ia memberi isyarat agar tak ada sesuatu bunyi. mendadak telah berdiri di hadapannya dan menyentuh dirinya. Kang Galeng! Bahkan kekasihnya itu tak berani menengok untuk memandangi buat terakhir kali. orangtuanya sendiri pun tidak. Sudah terlalu banyak cerita tentang raja yang menghendaki perawan cantik dan menikam kekasih perawan dengan tangan dan keris sendiri. Galeng tidak. Galeng. tetapi dalam hatiku kekuatiran yang merajalela. Gelang mas menghiasi lengan. Destarnya saja menyangkal keningratannya. di tangan Sang Adipati tak ada orang boleh menyentuh dirinya. Tiba-tiba ia tersedan pelan. Gadis Awis Krambil itu melangkah ke sebuah damarsewu dan membacanya: “Idayu. berumur empat belasan. Apa pula arti air mata bagi Sang Adipati? Sedang nyawa orang pun miliknya? Ia tahu. menang . yang bercincin mas. gagah. Jangan kaget karena datangnya lontar ini. Seorang bocah lelaki. lebar. Telunjuknya. bertolak pinggang. berkilauan dengan hiasan perak. Ia menggeragap bangun. Masih dilihatnya bocah itu berpakaian ningrat. Dengan sikap rahasia si bocah menyerahkan secarik lontar. Kalau nanti. sangat pelan. Kekasihnya itu merangkak pergi bersama dengan impian dan kesakitan sendiri. Dan sebelum Idayu sempat bertanya ia telah keluar dari bangsal wanita. Dirinya sendiri tidak dapat berbuat apa-apa. karena ujung-ujung pengikatnya terkanji kaku.Kemudian Sang Adipati muncul dalam mata batinnya. tegap. kekasih si Kakang. Idayu. kekasih si Kakang. Ia pandangi anak itu dari balik selaputan air mata. dan Galeng dihalau dari hadapannya. Di luar sana malam. semua rambutnya telah putih.

ya Kang? Jangan pikirkan yang lain-lain kecuali pertandingan. Kang.atau kalah dalam pertandingan. bagaimana akan jadinya?” Perawan perbatasan itu menghela nafas panjang. pujaan si Kakang. kepala di pintu. tahu-tahu Gusti Adipati menghendaki dirimu…. Aku akan jadi si embok lurah. Kang? Gusti Adipati tak dapat kita hadapi. Dari dalamnya ia keluarkan selembar lontar dan sepotong besi menggurit. si bocah Pada menyerahkan lontar balasan pada Galeng. Lontar itu diciumnya. Dalam bangsal pria. “Kakang Galeng. Gulungan kecil lontar itu dimasukkan ke dalamnya subang itu dikenakannya kembali. Setelah selesai disekanya dengan jelaga pelita dan muncul tulisannya. kemudian ia gulung kecil. Memang semua orang sudah bicara. Idayu. Jangan malukan aku dengan kekalahan. Hyang Widhi mengabulkan. Juara gulat tahun lalu itu tanpa sabarnya segera membacanya. kakang si adik. kepala desa Awis Krambil. Kelak kau akan terpilih jadi kepala desa. Gerombolan orang di luar asrama sudah lama bubar dengan menyemaikan harapan untuk hari esok. Ia lepaskan subang kiri dari kuping dan membuka cepuknya. Kang. ia tekuk.” . Si bocah menongolkan menyerahkan lontar balasan. Semoga yang ini tidak akan terjadi. Semua orang sudah tahu. lampu harus tetap menyala dari surya tenggelam sampai terbit…. Menurut aturan asrama. Apa kau dan aku bisa perbuat. Dengan penggurit itu ia mulai menulis. Idayu Damarsewu tetap menyala. Kang. Ia merangkak ke ambin dan turun lagi mengambil kantong tipis dari anyaman bambu.

Kedua untuk membangunkan para pekerja pelabuhan. pada malam ini kelihatan datangnya kapal asing akan memasuki pelabuhan.Galeng menyorong lontar itu pada api damarsewu. Dan yang . para mbokayu calon juara! Artinya. Juara gulat itu mengangguk. Baru dua tiga langkah ia masuk terdengar canang bertalu tiada hentinya. ‘Tidak ada perang. Canang itu memang belum ada pada tahun yang lalu. Ia berhenti dan mendengarkan. Ke sana pula ia pergi. Lengannya yang bergelang mas diangkatnya semakin tinggi untuk memamerkan perhiasannya. Apalagi di malam hari seperti ini. “jangan kaget jangan terkejut. Kemudian terjadi yang diduganya: keributan terbit di dalam bangsal itu. Ia pandangi Pada yang masih berdiri di sampingnya.” “Mengapa dipukul terus seperti panggilan perang?” seseorang bertanya. para mbokayu calon juara. Tidak ada kerusuhan. terbakar. Bocah itu lebih suka berada di bangsal wanita. Mata terarah pada Idayu yang juga berdiri bertanya-tanya. Ia angkat lengan. Aturan baru. memberi isyarat agar semua tenang kembali. seperti pembesar berpengalaman. bertanya satu pada yang lain: bunyi canang tak pernah masuk dalam acara. Para penghuni telah terbangun semua. Pada berdiri tegak. Pertama-tama sebagai pemberitahuan pada para pedagang pelabuhan supaya siap-siap dengan barang dagangannya. “Para mbokayu calon juara!” katanya lantang tanpa ragu-ragu. meneruskan kewajibannya meronda ke sekeliling asrama. jangan gaduh. Cepat-cepat ia masuk ke ruangan tidur. dan bocah itu pergi menghindar. jadi abu. jangan ribut.

” tegur Pada sebagai pejabat. para mbokayu calon juara: warta itu tertuju pada kadipaten. Aku lebih celaka lagi. Idayu justru mendekati Pada. “Tidur. Percayalah pada Pada ini. “Apakah ada nampak olehmu Pada ini tak dapat dipercaya?” si bocah berbisik kembali. bukan pada asrama ini!” ‘Taluan canang itu lebih mirip dengan panggilan perang. Beberapa hari lagi pertandingan dimulai. tentulah kapal Demak.” “Bukannya aku tidak percaya. Bukankah semua orang . “Jangan katakan pada siapa pun tentang lontar tadi. Tentang yang sama itu bukankah Mbokayu sendiri yang tinggal pilih? Kang Galeng sendiri bisa apa? Memilih seorang di antara dua tidaklah sulit.” seseorang membantah. Mereka kembali merangkak ke ambinnya masing-masing dan meneruskan tidurnya. ”Kalau betul ada kapal asing datang.terpenting.” bisik gadis perbatasan itu tanpa mengindahkan teguran. Kau begitu pucat. “Percintaan memang dilarang di sini mbokayu. mbokayu. “Mbokayu celaka. “apa bakal?” “Apa bakal jadinya?” ia mencibir.” Gadis-gadis itu terlampau mudah diyakinkan dengan gerak gelang dan cincin Pada. Kang Galeng celaka.” Idayu menuding ke arah kadipaten. Kalau sampai terdengar ke sana….” “Demak?” “Demak menyerbu dari laut?” “Tidak. Tidurlah lagi semua mbokayu calon juara.

menyala-nyala memberahikannya. Tubuh mereka yang dipenuhi oleh gumpalan otot kuat sejak leher sampai betis seakan . Pada. tentu mudah untuk membantu.” “Kalau kau sudah memutuskan. “Akhir-akhirnya aku bukan satu-satunya yang pernah menghadapi soal seperti ini. Si Dama lari ke negeri Atas Angin dengan Parta. Mbokayu calon juara. dan soal Mbokayu dengan yang sana?” “Kalau bicara semaumu sendiri.” bisiknya berwibawa. dan semua akan selesai. Makin banyak melanggar aturan makin tidak baik.” dan ia pergi. Tapi memang tidak semudah itu. Si lancang mulut itu ke luar dari ruang tidur. 0o-dw-o0 Pagi itu di ruangan latihan gulat tak ada seorang pun berlatih. Pada. Tak ada terniat dalam hatimu untuk membantu aku dan Kakang?” Untuk pertama kali dalam asrama gadis itu melihat mata si bocah. yang beberapa tahun lebih muda daripadanya itu.” ia mengalah setelah mengherani kebijaksanaannya.sudah tahu soal Mbokayu dan Kang Galeng. ‘Tak ada orang bisa membantu. Para calon petanding dan pengawasnya pada duduk-duduk di atas tikar menghadapi sebuah meja rendah panjang yang belum lagi berisi sarapan. Mereka sedang memikirkan sesuatu. Bukankah Mbokayu seorang wanita di negeri sendiri?” “Kau benar. Pada. Kau harus membantu. “Hanya Mbokayu sendiri yang bisa menentukan. tidurlah. Si Mira dulu lebih suka menyobek perutnya.” ”Sudah.

“Dasar tolol perbatasan. Galeng wajib tahunama itu.” pengawas mengulangi. siapa tahu tentang negeri Peranggi? Ayoh katakan siapa yang tahu. juara tahun lalu.” Galeng diam-diam mendengarkan untuk mengetahui duduk perkara. kalian. itu pun bakal tak kau ketahui juga. Kata orang kulitnya putih. Rasanya sudah sepatutnya kalau aku pun tidak tahu. Untuk selama-lamanya. Boris pun tidak “Di mana negeri Peranggi. Keling pun tidak. tidak lebih tinggi. Kongso Dalbi… orang Peranggi. “Dia bukan Jawa. Barangkali dia punya darah Jawa dari sebelah sana.” Tak ada yang menjawab. juga tidak lebih besar daripada kita.” “Husy!” pengawas mendiamkan. “Kongso – seperti nama orang sebelah barat sana. Badannya tidak lebih dempal.bongkahan batu-batuan gunung yang terhempas di pinggir jalan. rambutnya sama hitamnya dengan kita. kau. Juga bukan turunan Jawa. “Kongso Dalbi!” seseorang menyebut nama dengan dihembuskan. “Ayoh. “Peranggi.” “Jadi siapa Kongso Dalbi?” akhirnya Galeng bertanya juga. Apa guna ototmu kalau tak pernah dengar nama Kongso Dalbi? Dasar tolol perbatasan! Hanya Idayu saja tahu. Pengawas?” “Aku tak segagah tidak sedempal kalian. “Kau. Memang tidak patut tidak mengetahuinya.” . Peranggi pun kau tidak tahu barangkali?” Galeng menggeleng dan Boris mentertawakannya.

Bagaimana bisa kalau mereka sudah bubar sebelum mencoba? Tapi kau jangan coba-coba.” “Betul. bahwasanya ada negeri di Atas Angin yang telah jatuh di tangan Peranggi. mungkin juga dengan membawa keharuman. daripada kalah untuk kedua kalinya di gelanggang ada baiknya dia diberi kemenangan di luar gelanggang. “Tidak. Tak ada yang bisa mengalahkan kapaikapai mereka. “ketahuilah. “akan pulang. Di laut. Kang. betul sekali.” “Biar. “Biar dia bebas menggetarkan bibirnya sebelum lehernya patah. Jangan suka mengejek tidak sepatutnya. Kau tak bakal bisa mendekat. bukan berita kengerian. pengawas.” Galeng melepaskan anak panahnya.” “Betul. Hanya mendekat! Tangan mereka terlalu panjang. uh. kau banting. Yang jelas dia akan pulang . Goa namanya.“Jadi apa sedang kita bicarakan ini? Petai hampa? Ya. Boris? Petai hampa?” Galeng bertanya. Mereka bisa lemparkan bola-bola besi berapi padamu. kau kemah-kemah. Dan Kang Galeng. Galeng. calon bekas juara. sebesar sukun! Dan kau. Bandar itu sekarang dipergunakan jadi pangkalan kapal-kapalnya.” kata Boris. perhatikan mulutmu. Sebuah negeri bandar. mungkin juga tidak. sebesar sukun! Coba.” cegah pengawas. Galeng. “Kau pun sama saja. pengawas. kau hanya agar-agar belaka di tangan mereka. “Hanya agaragar.” “Husy. Anak perbatasan juga punya kehormatan dan harga diri. Jangan kalian lupa.” jawab Boris gagah.” pengawas membenarkan. Kalian datang kemari untuk jadi petanding atau pembunuh? PUH! Kalian pulang ke desa masing-masing untuk membawa keharuman. Di darat mungkin orang-orang Peranggi akan jadi pisang goreng di tanganmu. Kang Galeng. Boris.

yang berlatih tak diperkenankan berhenti sebelum sarapan pagi datang. mengambil kebijaksanaan untuk mengobrol sambil menunggu. Dan apa pun yang sedang terjadi. Tidak ada apa-apa. Mereka tak mendapatkannya. Pengawas. Canang dari pelabuhan berarti: nakhoda dengan atau tanpa saudagar dari kapal semalam sudah berlabuh. Percaya sajalah. Tak lama kemudian canang kadipaten menyahuti bertalu pula. tahun ini – dengarkan baik-baik. Hanya barang siapa ingin mengintip untuk melihat iring-iringan penghadap – kalau bisa mengintip – tapi jangan rusakkan pagar – jangan lewatkan kesempatan!” “Barangkali Kongso Dalbi!” Pengawas menyarani. Sebagaimana surya terbit pada hari ini….” Tiba-tiba percakapan mereka terputus oleh bunyi canang bertalu. Jangan gaduh. Mereka berlompatan berebut dulu meninggalkan ruangan latihan. Dari luar ruangan terdengar suara Pada berseru-seru seperti seorang pembesar “Para Mbokayu dan Kakang calon juara – sesuai dengan aturan. Dan justru karena canang yang ramai bersahut-sahutan pengawas tak jadi meneruskan ceritanya. bahwa kapalkapal Peranggi sudah mulai kelihatan berkeliaran melewati Singhala Dwipa. yang mengetahui pemuda-pemuda tani dan pekerja tak punya kekuatan sebelum sarapan.lenggang-kangkung tak lagi bergandengan dengan seperti datangnya. Canang kadipaten yang menyahuti menandakan: Gusti Adipati siap dihadap. menurut peraturan. jangan gelisah. lari ke luar gedung. Sekarang sudah siap menghadap Gusti Adipati Tuban. Seperti dengan sendirinya baik gadis maupun perjaka mengisi pelataran depan dan bingung mencari lobang pada pagar. Mereka lari ke sana kemari mencari .

Benar ia seorang saudagar Arab. Syahbandar yang . pertanda iringiringan melewati gapura kadipaten.tumpukan batu atau kayu. Paling depan dalam iring-iringan itu berjalan Syahbandar Tuban Ishak Indrajit. Melewati pagar kayu tinggi itu orang melihat alun-alun yang lengang seperti biasa pada siang atau pagi hari. Dan orang bertaruh. Dan para pengintip meninggalkan tempat masing-masing dan berlarian kembali ke dalam asrama untuk mendapatkan sarapan. Barang-barang yang dipikul selalu jadi pergunjingan. berjubah dan bersorban coklat muda. Canang kadipaten bertalu satu-satu. Orang mendapat kesempatan menaksir-naksir berapa dan apa macam yang bakal dipersembahkan. Di belakangnya menyusul para pemikul. Langkahnya tenang sambil membelai-belai jenggot yang sangat tebal lebat dan kepalanya selalu menunduk seakan sedang menghitung setiap batu yang dilewatinya. Beberapa orang yang sedang lewat tidak bersimpuh menghormati iring-iringan. Ia berterompah seperti halnya dengan Syahbandar. Yang mendapatkan tangga berseri-seri dengan keunggulannya dan menebah dada dengan kemenangannya. Tubuhnya yang jangkung itu berjubah dan bersorban putih. Sedikit di belakangnya berjalan seorang nakhoda berbangsa Arab. 0o-dw-o0 Pada siang hari berita tentang kedatangan tamu itu meniup cepat. Jalanjalan raya pun senyap. tetapi berhenti menonton. Pada pergelangannya melingkar akar bahar besar. yang lebih biasa disebut Rangga Ishak. Sebuah iring-iringan kecil menuju ke kadipaten. bukan nakhoda dan hanya bisa berbahasa Arab.

” “Ya. kain khasaa dari Benggala. Para calon petanding pada memperhatikan gelang dan cincin mas Pada: Bocah yang punya gaya pembesar itu cekatan dalam mengatur letak makanan dan minuman: Hanya Galeng memperhatikan airmukanya. “Mungkin juga pintar Jawa. Pada. Lebih dari itu orang tak tahu. penganan serta cawan minuman dan madu lebah. madu Arabia yang tiada tandingan. ‘Tuak tidak. Pada. “Madu dan telor memang cukup. Birma dan Singhala Dwipa. berdiri tegak menantang mata setiap orang: Ia tahu tak ada di antara pegulat-pegulat itu berani meletakkan tangan pada seorang pejabat: Dan ia seorang pejabat terpercaya dari Sang Adipati. “Jadi dia bisa Melayu!” seseorang memberi komentar.” tegur juara gulat dari Awis Krambil itu. kata warta yang datang meniup. “Semestinya Kakang semua ini sudah senang . Persembahannya berupa permadani terindah dari Bagdad dan Ashkhabad untuk peraduan Gusti Adipati Tuban dan untuk keputrian. Juga tidak diperlukan penterjemah. tembikar. Kemudian: batu-batu permata dari Arabia.jadi penterjemah. Ia telah memohon diperkenankan mempersembahkan sesuatu tanpa dihadiri atau didengar oleh siapa pun. Tamu itu agak aneh. “Tuak dilarang di sini!” Pada memekik sengit dan keras. kasut sulaman putri-putri Mesir dan Alqur’an. tuak! Tuak!” yang lain-lain membenarkan. Persoalan baru itu tidak menarik orang. Tuak.” yang lain menambahi. sutra Tiongkok. Barangkali kau sendiri yang menghabiskannya. kertas. Di dalam ruangan latihan Galeng berdiri di dekat sebuah meja rendah panjang yang kini telah ditaruhi cobek-cobek tanah berisi telur dan buah-buahan.

” “Dulu tak begitu banyak larangan.dengan pelayananku. yang sudah jadi pandita besar Islam. dengarkan sendiri nanti di alun-alun. Di asrama sini. katanya. “Memang.” “Nampaknya di Kota ini hanya larangan saja yang ada. Raden Said.” Galeng memprotes. dulu – sekarang. . Kang Galeng tidak keliru: Dulu. Tiba-tiba ditariknya meja rendah panjang itu dan ditekuk-lipatnya dengan kedua belah tangan sampai gemertak patah. juga daging anjing. Akan dibuang ke laut!” “Apa salahnya batu-batu itu? “Salahnya.” Mereka tak menyedari. Dengan mata membelalak ia lemparan meja remuk itu pada dinding.” Galeng mengancam. “Kata orang. Dan batu berukir dalam peraturan Islam. karena mereka berukir!” jawab Pada ketus. kataku. “Kalau tidak percaya. jadi Ulama. kata orang. sekarang. barangbarang jahat. Nanti sore akan diresmikan larangan baru: orang tak boleh lagi memahat batu. Gusti Adipati Tuban merasa segan terhadap putranya.” Dan suaranya meningkat keras. Semua batu berukir di dalam kota harus dikumpulkan di alun-alun – besok sampai lusa. “Belum lagi semua aku katakan. Cawan-cawan dan cobek beserta isinya jatuh pecah berhamburan di lantai. jadi guru pembicara di mana-mana. Boris dengan diam-diam mendengarkan dan mendekati mereka: Matanya menyalanyala berang. Juga itu belum semua. sebelum perlombaan dimulai. Nanti sore. Bukankah ada juga tuak kumasukkan untuk para Kakang? Apa tak juga mencukupi layananku? Tuak dilarang. Daging babi pun sekarang sudah tak boleh dihidangkan di sini.

Mengapa orang tak boleh memahat lagi? Mengapa? Apa jahatnya batu-batu berukir itu?” Galeng tak memperhatikan kata-kata itu. perut. Boris berjalan mondar-mandir dalam berangnya. Pegulat penantang itu berdiri di tengah-tengah ruangan. Ketegangan pada wajah dan otot Boris lambat-lambat jadi kendur. Suatu kemurungan menggantikannya. Sungguh lawan bertanding yang bisa mematahkan lehernya. Tanpa memandang pada siapa pun keluar kata-kata sendu: “Memahat batu dilarang. Ia terheranheran melihat kekuatan penantangnya. Boris. Pada. pinggul dan punggung bermunculan tegang seakan bersiap hendak bertarung. Boris?” Pada mencoba meredakan.Orang terkesimak. siap hendak menerkam siapa saja yang datang. utuh bulat tiada retak tiada rekah. juga penuh bergumpalan otot. Teruskan. “Pada belum lagi selesai dengan wartanya. Tahun yang lalu ia belum sekuat itu. Seluruh ototnya di dada. “bapakku mengajari aku memahat. Tak ada orang datang menyerang.” kata Pada lunak. Kedua belah tangannya kini terangkat sampai bahu. “Mengapa marah. Kekuasaan mutlak seorang raja yang tak dapat ditawar tak dapat diketeng. Keluarga kami hidup dari pahatan. turun-temurun. “Sejak kecil. “Teduh! Teduh!” kata Galeng menghibur. Lututnya ditariknya jadi siku-siku. Lantas harus kerja apa aku?” “Itu baru warta. Ia menunduk dalam. Boris jadi pusat perhatian.” . Yang ada justru sesuatu yang tak nampak: kekuasaan Sang Adipati.” Boris mengadu dengan suara tetap sendu.

“Bagaimana wajah dunia tanpa gapura?” Boris mengaum.” “Biadab! Disambar petirlah dia!” Boris meraung. kuil. Ia jadi iba terhadapnya. Ia rasai kesamaan nasib. Boris. seakan batu-batu itu bagian dari dirinya sendiri. Tak perlu dicari!” Meraung: “Biadaaaaab!” Ia lari keluar ruangan. Ia dekati Boris. “Dia hendak cekik semua pernahat dan semua dewa di kahyangan. langsung menuju ke pelataran depan. Dikutuk dia oleh Batara Kala!” Tiba-tiba suaranya turun menghibahiba: “Apa lagi artinya pengabdian? Biadab! Aku pergi! Jangan dicari. Dirinya dan Boris tak ubahnya seperti bayi tanpa daya. Celakalah manusia bila para dewa tak mau tahu lagi. juga terhadap diri sendiri. pagoda. Pada. Diangkatnya tangga dan dengannya melangkahi pagar papan kayu. candi. gapura. tanpa daya: “Pindah entah ke mana para dewa itu. Suaranya keluar lagi.” Pada meneruskan dengan hatihati matanya tertuju pada Boris.” “Begitulah kata warta. “Dewa-dewa pun akan enggan turun ke bumi. seperti tangis bayi. Dari balik pagar orang berseru-seru: “Lari dari asrama! Lari!” . arca. dan: ‘Teduh. Teruskan. yang jelas. Setiap batu berukir telah dijatuhi hukum buang ke laut! Tinggal hanya pengumumannya. pernahat penantangnya sama halnya dengan dirinya: sedang menghadapi kekuasaan yang tak dapat dilawan. Apakah Gusti Adipati sudah bertekad melawan para dewa?” Lambat-laun Galeng mengerti. akan dibongkar. dan para dewa akan pindah ke tempat lain” Ia tutup mukanya dengan kedua belah tangan seperti sedang memanggil-manggil kekuatan dari luar dirinya. Hancurkanlah gapura kahyangan. “Semua bangunan batu di atas wilayah Kota.

Dan itu tidak mungkin. Ia juga ingin bebas. Hatinya terpaut pada Idayu….” Galeng melemparkan pandang pada tangga. lari seperti Boris. jenggot dan cambangnya yang putih menyala tertimpa sinar damarsewu. ya. Keadaan tenang sampai malam turun pelahan-lahan langit dan menyelebungi bumi. Sang Adipati memasuki asrama. Mereka yang tertinggal masih juga termangu-mangu. kumis. bersimpuh di lantai dan mengangkat sembah. dengan iringan beberapa orang pengawal bertombak tanpa perisai. pegulat?” “Boriiiiiis! Mau ke mana kau? Kembali!” Sebentar kemudian seruan-seruan terdengar menggelombang dan bergumul jadi satu. “Biar saja dia pergi. tak dapat ditangkap maksudnya.” Seperti telah ada persetujuan bathin. Suatu pertanda orang sudah mulai menggerombol lagi di depan asrama. Itu lebih baik. Gadis-gadis mulai menyerbu ke dalam ruangan latihan gulat. Para calon petanding pada bergolek-golek di atas ambin sambil mengobrol. Ia berjalan langsung menuju ke bangsal wanita. Melalui pintu pagar samping. “Gila mendadak!” jawab Pengawas. ‘Idayu! Mana Idayu!” panggil Sang Adipati. . “Mana Idayu Awis Krambil?” Alis. “Pergi. Melihat Sang Adipati masuk semua melompat turun. Damarsewu yang memancar di setiap pojokan tidak mengacuhkan kedatangannya.“Siapa? Siapa? Pegulat.

“Idayu, kekasih Tuban! Mendekat sini, kau, Gadis!” Sesosok tubuh merangkak beringsut-ingsut menghampiri kaki Sang Adipati. Tubuhnya menggigil seperti kucing habis tercebur dalam comberan. Dengan tangan menggigil ia mengangkat sembah untuk ke sekian kali, kemudian bersujud mencium kaki Sang Adipati sebagaimana diajarkan oleh tatakrama. “Bawalah keharuman dari Tuban, semua kalian! Kau juga, Idayu, kekasih Tuban. Jangan mengecewakan. Tidurlah kalian pada waktu yang sudah ditentukan. Beberapa hari lagi kau dan kalian akan bertanding. Dan kau, Idayu, kau bertekad jadi juara lagi tahun ini? Juara tiga kali berturut?” “Inilah patik, Gusti Adipati Tuban,” jawabnya gemetar. “Rupanya sudah cukup dewasa kau sekarang. Belum lagi cukupkah jadi juara dua kali berturut?” “Ampun, Gusti Adipati Tuban. Patik sekedar menjalankan putusan rapat desa,” suaranya masih juga gemetar. “Kalau sudah jadi putusan rapat desa, tak dapatlah orang menolaknya?” “Ampun, Gusti Adipati Tuban, sesembahan patik. Patik takkan sanggup hidup di luar desa patik, Gusti. Iagi pula apalah buruknya menjalankan keputusan rapat desa, Gusti?” Sang Adipati tertawa senang. “Kata-katamu sudah seperti orang kota. Gadis. Bagus. Bukankah Tuban Kota lebih baik daripada desamu? Pasti lambat-laun kau akan lebih suka tinggal di sini.”

Menurut tatakrama yang diajarkan, apa pun yang telah dititahkan oleh Sang Adipati, orang tak boleh membantah. Orang hanya mengiyakan sambil mengangkat sembah. Mendapat teguran saja dari seorang raja sama halnya dengan menerima karunia dari para dewa. Idayu bergulat dengan kata hatinya sendiri. Bumi yang ditundukinya menjadi pengap. Tak diketahuinya kaki penguasa sudah tak ada di hadapannya. Sang Adipati telah meninggalkan asrama dan memasuki kegelapan malam. 0o-dw-o0 Melalui jalan belakang Sang Adipati menuju ke sebuah taman di belakang kadipaten yang terletak di tentang kandang gajah pribadi Duduk ia di sana seorang diri dalam kerumunan nyamuk. Para pengawal bertugur di kejauhan Dan inilah waktu untuk menyendiri baginya. Waktu seperti ini dipergunakannya untuk mengingatingat Juga untuk merancang-rancang. Juga sekarang ini. Nama saudagar Arab yang memohon menghadap sendiri itu tak juga dapat diingatnya. Ia mencoba dan mencoba. Tanpa hasil. Nama itu terlalu sulit, terlalu panjang. Di antara deretan nama itu ia pun tak tahu, mana gelar mana tidak. Bahasa Melayunya lancar, indah dan paut. Alqur’anul Karim yang patik persembahkan, ya Gusti, adalah dari Mufti Besar Hayderabad, dengan harapan sudi apalah kiranya Gusti Adipati Tuban daiam berpegangan pada kitab suci ini serta memikirkan ummat Islam di Atas Angin sana. Tuban dimasyhurkan di Atas Angin sebagai

kerajaan terkuat di Jawa setelah Majapahit. Raja-raja Islam mempunyai harapan besar Gusti Adipati Tuban melimpahkan kesudian yang tiada keringnya. Ya, Gusti, armada Peranggi tak henti-hentinya berusaha menguasai dan menaklukkan kerajaan-kerajaan sekepercayaan sepanjang pantai. Bila kekuatan mereka tak dibendung bersamasama, ya Allah, pastilah Allah jua yang akan menghukum semua kita, karena tak berbuat sesuatu terhadap angkara si kafir. Bila mereka tidak dibendung, ya Gusti Adipati Tuban, entah kapan, jalan-jalan pelayaran akan dikuasai semua olehnya. Mereka takkan berhenti sekalipun sudah menguasai semua bandar. Bila mereka sampai ke Jawa, matilah sudah semua pelayaran, matilah perdagangan, matilah bandar-bandar. Yang tinggal hanya Peranggi dengan angkaranya. Seluruh ummat Islam bisa kehilangan perlindungan, kekafiran akan menang. Mereka akan menumpas ajaran Rasulullah s.a.w. Sang Adipati masih ingat setiap kata dari persembahan itu. Juga barang-barang persembahan yang berasal dari empat orang raja Atas Angin, semuanya Islam. Dari persembahan itu ia menarik dua hal, pertama Tuban diakui juga sebagai kerajaan terkuat di Jawa, dan kedua ia dianggap sebagai raja Islam. Ia tersenyum dalam kegelapan dan mengangguk-angguk senang. Mereka tidak tahu, satu wilayah Tuban telah dirampas oleh kerajaan Islam, Demak. Dan aku tidak mengerti, bagaimana banyak aturan aku titahkan untuk membuat penyesuaian dengan Demak. Ia semakin tenggelam dalam pikirannya. Jauh, jauh di sana, mereka sudah mengakui keislamanku. Dan karenanya mereka menuntut, berdasarkan keislamanku, agar aku ikut memikirkan dan bersumbang tangan. Ya-ya, Islam telah banyak menguntungkan kami selama ini. Tapi apakah itu sudah cukup

Bangsa dan kapal unggul yang digentari harus dilayani oleh seorang yang bijaksana dan tahu segala. Gusti. Peranggi dan Ispanya pasti akan datang. dengan semua kerajaan Islam. itulah satu-satunya jalan menyelamatkan Tuban. Bandar tetap jadi inti persoalan. Kemudian ia mulai pikirkan untuk kesekian kalinya keadaan baru yang menggelombang di Atas Angin. Dalam kegelapan itu terdengar ia mendengus tertawa. bukan urusan Tuban untuk mencampuri. Keadaan baru harus dihadapi dengan persiapan baru. Dia harus diganti. ya Gusti Adipati sesembahan patik. ‘Bergabung dengan negeri-negeri lain. juga seluruh Demak. teringat pada persembahan Sang Patih. bukan saja Jepara akan kembali di tangan.banyak untuk peperangan? mempertaruhkan Tuban dalam suatu Ia mengggeleng lemah. Rempah-rempah dari Tuban takkan memasuki Jepara dan Semarang! Dan apa yang terjadi di Atas Angin sana. lebih mematikan’ Sang Adipati senang mendengarkan setiap pikiran. Gusti. aku bersumpah. Tidak dengan perang. Ishak Indrajit alias Rangga Iskak tak pandai berbahasa Peranggi dan Ispanya. Jepara jatuh. Syahbandar harus seorang yang pandai melayaninya. Peranggi dan Ispanya lebih berbahaya. Perang tidak menguntungkan. tapi dalam hidupku. Menurut patik. Tidak menguntungkan! Demak masih harus diemong untuk tidak jadi binal. ampunilah patik. Dan Sang Adipati bertanya. mengangguk dan tersenyum seakan-akan menyatakan . ‘Sementara Demak harus dilupakan. ‘Juga dengan Demak?’ Sang Patih menjawab. Jelas itu bukan Rangga Iskak. bersama-sama menghancurkan Peranggi dan Ispanya.

Malahan laporan dari para punggawa yang berasal dari rakyat kebanyakan hampir tak pernah ia gubris. Ishak Indrajit alias Rangga Iskak Ia sedang gelisah di kesyahbandaran. Syahbandar harus diganti. Dan itulah keputusannya malam ini. 0o-dw-o0 Pada waktu Sang Adipati sedang mengukuhkan kebijaksanaannya dalam kegelapan taman. Dari semuanya paling banyak ia ambil separoh sebagai kebenaran. juga tak tahu kebenaran. orang menjadi berbangsa karena justru punya kehormatan. ia berpendirian.terimakasih. lain lagi yang terjadi pada diri Syahbandar Tuban. terpaksa merantau dan mati dalam perantauan. Hari ini ia telah dijengkelkan oleh tamu yang seorang itu. Tak ada punggawa yang tulus sepenuhnya. Menurut pendapatnya. Sebagian dari ketulusan mereka hanya bea untuk keselamatan diri dan kepunggawaannya. Kejatuhannya disebabkan oleh kelicikan seorang Arab. tanpa terimakasih. Setiap orang Arab mengingatkannya pada abangnya yang telah jatuh sebagai Syahbandar Malaka. apa pun biayanya. Saudagar Arab! Kecuali yang berhubungan dengan agama ia seorang pembend Arab. . Sebaliknya setiap laporan ia dengarkan sungguh-sungguh tanpa senyum tanpa tawa. dan rakyat kebanyakan itu bukan saja tidak punya. Tapi dengan diam-diam ia lebih suka mencari jalan sendiri. Dengan demikian baginya berdikari menjadi semacam olahraja.

Dan sekarang Abud. saudagar Arab itu. tak berkumis. Tuan. berumur sekira dua puluh delapan menurut perhitungan bulan. juga di Tuban Kota. Yakub berperawakan kecil. Baru saja datang. Ia mengangguk memerintahkan Yakub mendekat.” jawabnya dalam Melayu juga. membungkuk dan beruluk salam: “Assalamu alaikum. dan: kurangajar. Ternyata ia bukan tidak bisa berbahasa Melayu! Tadi ia telah panggil Yakub agar datang menghadap padanya. “Sang Adipati sudah memerintahkan penyingkiran peninggalan Hindu. putranya sendiri memesan itu. dan ia sudah menimbulkan kecurigaan: mohon menghadap sendiri tanpa penterjemah. tak berjenggot. Dan sekarang ia sudah berdiri di pintu. Memang orang bilang. Dan tawanya selalu mengesani mengentengkan segala perkara. tanpa saksi. sekarang sudah mengenakan gelar aneh Ki Aji Kalijaga. Yakub?” tanyanya tajam dalam Melayu. licin seperti muka belut. Ia tertawa. Orang Jawa memang sulit Tuan Syahbandar. tapi lidah Jawanya memang lidah kafir terkutuk: Bukankah kali itu yang dimaksudkannya Kholik?” ‘ Rangga Iskak bertanya tajam: “Bukankah kau tahu bukan itu yang kutanyakan?” . Ia tak pernah menyilakannya duduk. Kemudian: “Apa yang bisa kau katakan. “Tuan Syahbandar sendiri semestinya sudah tahu. ya Tuan Syahbandar!” Ia bergumam menjawabi dan melambaikan tangan menyuruh masuk. harus ia layani kebutuhannya selama tinggal di Tuban. Raden Said. terutama di kesyahbandaran. Kursi adalah benda kebesaran. maksud menggunakan gelar berbahasa Arab.

Apa lagi yang dapat kau katakan sekarang?” Yakub memperbaiki sikapnya. Tuan Syahbandar. Ditarik-tariknya ujungujung bajunya yang kombor putih.“Yang tadi itulah. Tak pernah aku menyalahkan keteranganmu. Rangga Iskak menelengkan kepala ke atas. “Apa yang lucu padamu?” Rangga Iskak tertawa di antara tawanya. Ujung hidungnya yang mancung bercahaya bergemuk memantulkan sinar lilin.” bisiknya sambil mendekatkan mulutnya pada kuping Rangga Iskak. Keterangan penting patut dihargai satu dinar. “Tuan mengetawakan Yakub?” tanyanya menuduh. Sungguh mati. Dengan kedua belah tangan ia menepuk-nepuk dadanya sendiri. Tapi sekalipun ia sudah bersitinjak dengan kaki dan mendongakkan muka. “Ada sesuatu yang lebih penting. Tuan. “Tak pernah kau nampak setolol sekarang. jarak antara mulutnya dan kuping Syahbandar masih terpaut sejengkal. berputar membalikkan badan dan meneruskan tawanya. “Ada sesuatu yang lebih penting. Ada keanehan dalam pesanan itu: Klenteng dan Pecinan tidak boleh diganggu!” Sekarang Syahbandar yang tertawa. seperti seekor ayam sedang melirik pada elang di langit. Terkena sinar tiga batang lilin yang menyala pada kandil kelihatan Yakub terheran-heran.” “Laporan Yakub salah?” ‘Tidak. Sedinar saja. Tuan Syahbandar. Nampaknya ia sedang menguasai suasana dan bersikap resmi.” ia menjauhkan kepala dari tuan rumah untuk dapat menatap nya dengan .

dia akan menjadi-jadi. Pasti dia bukan saudagar. Dilemparkannya pada orang muda yang menjijikkan itu sambil menyumpah. Selama ini keterangan Yakub selalu benar. dan karenanya lebih penting dari segala-galanya. Sekarang juga kukeluarkan. saudagar Arab itu. Abud.” Yakub merajuk. tapi ini lebih penting dari segalagalanya. dan memasukkannya dalam pundi-pundinya sendiri. Ini sudah pemerasan. dan ia muak pada sikapnya yang kurang-ajar dan menantang.” “Sayang tidak. Dan biar bagaimanapun sedinar terlalu mahal. mengujinya di bawah lampu. Satu dinar. Dengan berat hati ia keluarkan mata uang mas dari pundi-pundinya. Yakub menangkapnya.pandang menuntut “Apa kau kira aku nenekmu sendiri. Kalau dibiarkan.” “Tidak. tersenyum. “Bukankah aku tak perlu menunggu begini lama?” Pertahanan Rangga Iskak patah. pikirnya bukan lagi minta upah. Yang belum kukatakan ini justru yang terpenting. sama sekali tidak membawa atau mengambil barang dagangan.” Syahbandar nampak ragu: Pandangnya ditebarkannya ke seluruh ruangan. mengikatnya dan memasukkannya ke dalam ikat . pembikin dinar? Apa kau kira satu dinar sedikit? Empat kali belayar belum tentu kau memperolehnya. “Satu dinar tidaklah banyak untuk keterangan penting. Ia tatap mata pewarung tuak dan ciu-arak itu.” “Jangan coba-coba bohongi aku. Tuan. kau. penipu. Tuan Syahbandar. Kalau keterangan itu tentang pembicaraan saudagar Abud dengan Sang Adipati. apa boleh buat.

Aku sudah tahu sesungguhnya isi perintah itu: mulai besok harus sudah dipersiapkan pembikinan delapan belas cetbang baru. Tuan. Mengerti Yakub takkan bicara lagi ia mengalah. Tuan.” Ia sorong Yakub. Perang akan terjadi. kemudian duduk termenung di atas bangku bantal kulit onta dan tak henti-hentinya bergumam: “Penipu yang tertipu itu telah jual dagangannya padaku.” “Dalam berapa lama cetbang harus selesai?” “Tidak jelas. baru sebentar tadi. seakan setiap kata yang keluar daripadanya telah diperhitungkan harganya. “Pada sore hari ini juga. memperbaiki letak baju itu dan menebah pinggang. Pemeriksaan atas anak buah sudah dimulai sejak jatuhnya perintah.” “Husy!” bentak Rangga Iskak tersinggung. Orang itu keluar dan hilang ke dalam kegelapan. Rangga Iskak berkecap-kecap menyesali dinarnya yang berpindah tangan. Bertanya: “Adakah Sang Adipati sudah berkunjung ke asrama wanita?” “Ada. “Katakan” “Baik. Perwira-perwira telah mendapat perintah untuk bersiap-siap. Tapi bibir itu sudah tak bergerak lagi. Dengan kecewa ia kunci pintu dari dalam.” dengan bisiknya Yakub meminta perhatian sambil mencoba mencari kuping tuanrumah dengan mulutnya.pinggang di balik baju kombornya.” Syahbandar mengawasi bibir Yakub.” “Itu beritamu yang terpenting?” “Betul. dengarkan sungguh-sungguh. Sang Adipati telah mengirimkan utusan ke Trantang. . mungkin tahu-tahu Tuan sudah kehilangan jabatan Tuan. “Kalau Tuan lebih sayang pada dinar yang satu ini. Tuan. Tuan.

Yakub! Apa yang kau dapatkan dari dinar itu jadilah tuba dalam tubuhmu. Rangga Demang! Pesan Raden Said alias Ki Aji Kalijaga itu pasti juga tidak ada. tapi hanya Pribumi kawulamu yang bisa percaya! Ha. Tapi kau memang cerdik seperti selama ini. tapi aku tidak. dia lari sebagai protes. Dan mengapa kelenting dan Pecinan tak boleh dirusak? Tulisan cina itu juga sama dengan Hindu. Ya-ya. Tua bangka tak tahu diri! Sekarang aku baru mengerti mengapa si Boris itu lari dari asrama. Siapa tak kenal Boris pernahat terkenal itu? Peninggalan Hindu harus disingkirkan. Tapi kau jangan anggap dapat mudah untuk kelabui aku.” Dengan lemas ia masih juga berkecap-kecap menyesal setelah mengetahui Sang Adipati berkunjung ke rumah asrama wanita. terutama saudagar Arab si Abud keparat itu diharapkannya terbawa ke Atas Angin…. Kau hanya menghendaki dibenarkan keislamanmu. dengan cetbang-cetbangmu itu sekaligus kau hendak menggertak Demak.Tuhan akan kutuki kau. Si pernahat jadilah seperti Syahbandar kehilangan bandar. Ia punya pedoman: Apabila Sang Adipati masih mempunyai perhatian pada wanita baru. Sengaja dibuat demikian rupa agar semua orang tahu. sesuatu yang bersungguh-sungguh tidak akan mungkin keluar dari pikirannya. Cetbang-cetbang itu pastilah bukan sesuatu yang dirahasiakan. Runtuhnya Majapahit juga karena kecerdikanmu! Tiba-tiba ia terdiam. Adipati Tuban. Pikiran iblis! Laknat! Pikiran licik! Tapi aku tak bisa kau tipu. Rangga Demang! Yakub bisa. pikirnya. Tapi siapa pun tahu kau lebih suka berdagang daripada berperang. Kau tetap kafir. Ishak Indrajit ini tak bisa kau tipu! Kau boleh berlagak cerdik. mengapa tak boleh dirusak? Ia berdiri untuk .

menggelincir tanpa guna. Kau benar-benar cerdik.” Abud meneruskan dalam rembang fajar di depan pintu gedung. Dinar yang satu itu juga yang terbayang-bayang. Waktu Demak merampas Jepara untuk berkokok pada dunia dia tidak takut pada Tuban. Dan Semarang yang mendirikan kerajaan Demak untuk menjadi bentengnya terhadap Tuban. Mereka terus mendesak ke timur. Sedang kita bicara begini Singhala pun sudah jatuh. Pecinan Tuban Kota bersetia pada Lao Sam. “Bagaiman sikap Tuan Syahbandar kalau musuh Islam. Dan karena semua itu aku kehilangan satu dinar! Keparat si Yakub! Malam itu Rangga Iskak lebih banyak menggiliri istriistrinya di kamar-kamar belakang. . disebut Lasem. yang oleh penduduk disebut Semarang. Tak jadi. Peranggi dan Ispanya. Setelah sembahyang subuh baru ia mendapat ketenangan sedikit. dan duduk kembali. Beberapa bentar kemudian saudagar Abud muncul untuk minta diri. yang oleh penduduk. “Mana mungkin. ‘Tuban terlalu jauh.” jawabnya tak acuh. Dan Malabar. menyerang Tuban?” tanyanya dalam Arab. ya Abud. Rangga Demang! Anak-anakmu pada mengabdi pada Demak. ya Abud?” “Bagaimana tidak mungkin? Goa jatuh.mengambil kitab catatannya. semua anakmu yang di Demak diam. Ia telah berdoa memohon rezeki yang berlimpahan Ketenangan itu tiada lama umurnya. Lasem bersetia pada Sampo Toalang. Ia mengangguk-angguk mengerti. Namun setelah itu ia tetap sulit memicingkan mata.

” Pandangnya tertebar ke mana-mana. setiap… semua menutupi tangannya yang merogo pundi-pundi orang. “Dia sedang menikmati dinarku.” katanya menyarani. menembusi halimun tipis pagi hari. kau. Terompahnya yang tua itu membikin ia ragu-ragu. . Ditebarkan pandangnya pada kapalkapal yang sedang berlabuh. Terkutuk bapaknya.” Kemudian ia berjalan menuju ke menara pelabuhan dan naik. “Demi Allah. Matari pun mulai terbit.” “Setiap Syahbandar yang cerdik bisa lebih dari raja.” “Aku hanya Syahbandar. Tuan Syahbandar mampu mempengaruhi Sang Adipati untuk sudi bergabung dengan kerajaan-kerajaan lain. kerajaan Islam. jih!” Rangga Iskak meludah ke tanah. Allah memberkahi Tuan” Pembicaraan pendek itu selesai dengan kepergian Abud ke jurusan pelabuhan. Awas. Cepat ia alahkan keraguannya. melawan mereka. Diangkatnya kaki kanannya. Kaki itu turun cepat menumbuk perut penjaga menara berganti-ganti. terkutuk Pribumi ibunya. bedebah!” Tak dapat ia menahan amarahnya. bukan raja. setiap omongan. Samarsamar nampak olehnya kedai tuak dan ciu-arak Yakub yang masih tutup.“Benggala pun jauh dari Peranggi. Dan ia lihat Yakub sedang turun dari kapal si Abud. “Arab. iblis keparat itu. “Si keparat itu tentu sudah mendapat dinar lagi. “Setiap gerak. Dilihatnya penjaga-penjaga menara dua orang itu sedang tidur nyenyak. Dipunggunginya pelabuhan.

“Kafir!” makinya dan turun lagi. 0o-dw-o0 .

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->