Artikel Yayasan Paramadina

Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota II.9. KONSEP-KONSEP KEADILAN oleh Abdurrahman Wahid Tidak dapat dipungkiri, al-Qur'an meningkatkan sisi keadilan dalam kehidupan manusia, baik secara kolektif maupun individual. Karenanya, dengan mudah kita lalu dihinggapi semacam rasa cepat puas diri sebagai pribadi-pribadi Muslim dengan temuan yang mudah diperoleh secara gamblang itu. Sebagai hasil lanjutan dari rasa puas diri itu, lalu muncul idealisme atas al-Qur'an sebagai sumber pemikiran paling baik tentang keadilan. Kebetulan persepsi semacam itu sejalan dengan doktrin keimanan Islam sendiri tentang Allah sebagai Tuhan Yang Maha Adil. Bukankah kalau Allah sebagai sumber keadilan itu sendiri, lalu sudah sepantasnya al-Qur'an yang menjadi firmanNya (kalamu 'l-Lah) juga menjadi sumber pemikiran tentang keadilan? Cara berfikir induktif seperti itu memang memuaskan bagi mereka yang biasa berpikir sederhana tentang kehidupan, dan cenderung menilai refleksi filosofis yang sangat kompleks dan rumit. Mengapakah kita harus sulit-sulit mencari pemikiran dengan kompleksitas sangat tinggi tentang keadilan? Bukankah lebih baik apa yang ada itu saja segera diwujudkan dalam kenyataan hidup kaum Muslimin secara tuntas? Bukankah refleksi yang lebih jauh hanya akan menimbulkan kesulitan belaka? "Kecenderungan praktis" tersebut, memang sudah kuat terasa dalam wawasan teologis kaum skolastik (mutakallimin) Muslim sejak delapan abad terakhir ini. Argumentasi seperti itu memang tampak menarik sepintas lalu. Dalam kecenderungan segera melihat hasil penerapan wawasan Islam tentang keadilan dalam hidup nyata. Apalagi dewasa ini justru bangsa-bangsa Muslim sedang dilanda masalah ketidakadilan dalam ukuran sangat massif. Demikian juga, persaingan ketat antara Islam sebagai sebuah paham tentang kehidupan, terlepas dari hakikatnya sebagai ideologi atau bukan, dan paham-paham besar lain di dunia ini, terutama ideologi-ideologi besar seperti Sosialisme, Komunisme, Nasionalisme dan Liberalisme. Namun, sebenarnya kecenderungan serba praktis seperti itu adalah sebuah pelarian yang tidak akan menyelesaikan masalah. Reduksi sebuah kerumitan menjadi masalah yang disederhanakan, justru akan menambah parah keadaan. Kaum Muslim akan semakin menjauhi keharusan mencari pemecahan yang hakiki dan berdayaguna penuh untuk jangka panjang, dan merasa puas dengan "pemecahan" sementara yang tidak akan berdayaguna efektif dalam jangka panjang. Ketika Marxisme dihadapkan kepada masalah penjagaan hak-hak perolehan warga masyarakat, dan dihadapkan demikian kuatnya wewenang masyarakat untuk memiliki alat-alat produksi, pembahasan masalah itu oleh pemikir Komunis diabaikan, dengan menekankan slogan "demokrasi sosial" sebagai pemecahan praktis yang menyederhanakan masalah. Memang berdayaguna besar dalam jangka pendek, terbukti dengan kemauan mendirikan negara-negara Komunis dalam kurun waktu enam dasawarsa terakhir ini. Namun, "pemecahan masalah" seperti itu ternyata

membawa hasil buruk, terbukti dengan "di bongkar pasangnya" Komunisme dewasa ini oleh para pemimpin mereka sendiri di mana-mana. Rendahnya produktivitas individual sebagai akibat langsung dari hilangnya kebebasan individual warga masyarakat yang sudah berwatak kronis, akhirnya memaksa parta-partai Komunis untuk melakukan perombakan total seperti diakibatkan oleh perestroika dan glasnost di Uni Soviet beberapa waktu lalu. Tilikan atas pengalaman orang lain itu mengharuskan kita untuk juga meninjau masalah keadilan dalam pandangan Islam secara lebih cermat dan mendasar. Kalaupun ada persoalan, bahkan yang paling rumit sekalipun, haruslah diangkat ke permukaan dan selanjutnya dijadikan bahan kajian mendalam untuk pengembangan wawasan kemasyarakatan Islam yang lebih relevan dengan perkembangan kehidupan umat manusia di masa-masa mendatang. Berbagai masalah dasar yang sama akan dihadapi juga oleh paham yang dikembangkan Islam, juga akan dihadapkan kepada nasib yang sama dengan yang menentang Komunisme, jika tidak dari sekarang dirumuskan pengembangannya secara baik dan tuntas, bukankah hanya melalui jalan pintas belaka. Pembahasan berikut akan mencoba mengenal (itemize) beberapa aspek yang harus dijawab oleh Islam tentang wawasan keadilan sebagaimana tertuang dalam al-Qur'an. Pertama-tama akan dicoba untuk mengenal wawasan yang ada, kemudian dicoba pula untuk menghadapkannya kepada keadaan dan kebutuhan nyata yang sedang dihadapi umat manusia. Jika dengan cara ini lalu menjadi jelas hal-hal pokok dan sosok kasar dari apa yang harus dilakukan selanjutnya, tercapailah sudah apa yang dikandung dalam hati. PENGERTIAN KEADILAN Al-Qur'an menggunakan pengertian yang berbeda-beda bagi kata atau istilah yang bersangkut-paut dengan keadilan. Bahkan kata yang digunakan untuk menampilkan sisi atau wawasan keadilan juga tidak selalu berasal dari akar kata 'adl. Kata-kata sinonim seperti qisth, hukm dan sebagainya digunakan oleh al-Qur'an dalam pengertian keadilan. Sedangkan kata 'adl dalam berbagai bentuk konjugatifnya bisa saja kehilangan kaitannya yang langsung dengan sisi keadilan itu (ta'dilu, dalam arti mempersekutukan Tuhan dan 'adl dalam arti tebusan). Kalau dikatagorikan, ada beberapa pengertian yang berkaitan dengan keadilan dalam al-Qur'an dari akar kata 'adl itu, yaitu sesuatu yang benar, sikap yang tidak memihak, penjagaan hak-hak seseorang dan cara yang tepat dalam mengambil keputusan ("Hendaknya kalian menghukumi atau mengambil keputusan atas dasar keadilan"). Secara keseluruhan, pengertian-pengertian di atas terkait langsung dengan sisi keadilan, yaitu sebagai penjabaran bentuk-bentuk keadilan dalam kehidupan. Dari terkaitnya beberapa pengertian kata 'adl dengan wawasan atau sisi keadilan secara langsung itu saja, sudah tampak dengan jelas betapa porsi "warna keadilan" mendapat tempat dalam al-Qur'an, sehingga dapat dimengerti sikap kelompok Mu'tazilah dan Syi'ah untuk menempatkan keadilan ('adalah) sebagai salah satu dari lima prinsip utama al-Mabdi al-Khamsah.) dalam keyakinan atau akidah mereka. Kesimpulan di atas juga diperkuat dengan pengertian dan dorongan al-Qur'an agar manusia memenuhi janji, tugas dan amanat yang dipikulnya, melindungi yang menderita, lemah dan

kekurangan, merasakan solidaritas secara konkrit dengan sesama warga masyarakat, jujur dalam bersikap, dan seterusnya. Hal-hal yang ditentukan sebagai capaian yang harus diraih kaum Muslim itu menunjukkan orientasi yang sangat kuat akar keadilan dalam al-Qur'an. Demikian pula, wawasan keadilan itu tidak hanya dibatasi hanya pada lingkup mikro dari kehidupan warga masyarakat secara perorangan, melainkan juga lingkup makro kehidupan masyarakat itu sendiri. Sikap adil tidak hanya dituntut bagi kaum Muslim saja tetapi juga mereka yang beragama lain. Itupun tidak hanya dibatasi sikap adil dalam urusan-urusan mereka belaka, melainkan juga dalam kebebasan mereka untuk mempertahankan keyakinan dan melaksanakan ajaran agama masing-masing. Yang cukup menarik adalah dituangkannya kaitan langsung antara wawasan atau sisi keadilan oleh al-Qur'an dengan upaya peningkatan kesejahteraan dan peningkatan taraf hidup warga masyarakat, terutama mereka yang menderita dan lemah posisinya dalam percaturan masyarakat, seperti yatim-piatu, kaum muskin, janda, wanita hamil atau yang baru saja mengalami perceraian. Juga sanak keluarga (dzawil qurba) yang memerlukan pertolongan sebagai pengejawantahan keadilan. Orientasi sekian banyak "wajah keadilan" dalam wujud konkrit itu ada yang berwatak karikatif maupun yang mengacu kepada transformasi sosial, dan dengan demikian sedikit banyak berwatak straktural. Fase terpenting dari wawasan keadilan yang dibawakan al-Qur'an itu adalah sifatnya sebagai perintah agama, bukan sekedar sebagai acuan etis atau dorongan moral belaka. Pelaksanaannya merupakan pemenuhan kewajiban agama, dan dengan demikian akan diperhitungkan dalam amal perbuatan seorang Muslim di hari perhitungan (yaum al-hisab) kelak. Dengan demikian, wawasan keadilan dalam al-Qur'an mudah sekali diterima sebagai sesuatu yang ideologis, sebagaimana terbukti dari revolusi yang dibawakan Ayatullah Khomeini di Iran. Sudah tentu dengan segenap bahaya-bahaya yang ditimbulkannya, karena ternyata dalam sejarah, keadilan ideologis cenderung membuahkan tirani yang mengingkari keadilan itu Sebab kenyataan penting juga harus dikemukakan dalam hal ini, bahwa sifat dasar wawasan keadilan yang dikembangkan al-Qur'an ternyata bercorak mekanistik, kurang bercorak reflektif. Ini mungkin karena "warna" dari bentuk konkrit wawasan keadilan itu adalah "warna" hukum agama, sesuatu yang katakanlah legal-formalistik. PERMASALAHAN Mengingat sifat dasar wawasan keadilan yang legal-formalistik dalam al-Qur'an itu, secara langsung kita dapat melihat adanya dua buah persoalan utama yaitu keterbatasan visi yang dimiliki wawasan keadilan itu sendiri, dan bentuk penuangannya yang terasa "sangat berbalasan" (talionis, kompensatoris). Keterbatasan visi itu tampak dari kenyataan, bahwa kalau suatu bentuk tindakan telah dilakukan, terpenuhilah sudah kewajiban berbuat adil, walaupun dalam sisi-sisi yang lain justru wawasan keadilan itu dilanggar. Dapat dikemukakan sebagai contoh, umpamanya, seorang suami telah "bertindak adil" jika "berbuat adil" dengan menjaga ketepatan bagian menggilir dan memberikan nafkah antara dua orang isteri, tanpa mempersoalkan apakah memiliki dua orang isteri itu sendiri adalah sebuah tindakan yang adil. Dengan demikian, pemenuhan tuntutan

keadilan yang seharusnya berwajah utuh, lalu menjadi sangat parsial dan tergantung kepada pelaksanaan di satu sisinya belaka. Warna kompensatoris dari wawasan keadilan yang dibawakan al-Qur'an itu juga terlihat dalam sederhananya perumusan apa yang dinamakan keadilan itu sendiri. Wanita yang diceraikan dalam keadaan hamil berhak memperoleh santunan hingga ia melahirkan anak yang dikandungnya, cukup dengan jumlah tertentu berupa uang atau bahan makanan. Sangat terasa watak berbalasan dari "pemenuhan keadilan" yang berbentuk seperti ini, karena ada "pertukaran jasa" antara mengandung anak (bagi suami) dan memberikan santunan material (bagi isteri). Dari pengamatan akan kedua hal di atas lalu menjadi jelas, bahwa permasalahan utama bagi wawasan keadilan dalam pandangan al-Qur'an itu masih memerlukan pengembangan lebih jauh, apalagi jika dikaitkan dengan perkembangan wawasa keadilan dalam kehidupan itu sendiri. Sampai sejauh manakah dapat dikembangkan wawasan demokrasi yang utuh bila dipandang dari sudut wawasan keadilan yang dimiliki al-Qur'an itu? Dapatkah kepada kelompok demokrasi yang utuh bila dipandang dari sudut wawasan keadilan yang dimiliki al-Qur'an itu? Dapatkah kepada kelompok minoritas agama diberikan hak yang sama untuk memegang tampuk kekuasaan? Dapatkah wawasan keadilan itu menampung kebutuhan akan persamaan derajat agama dikesampingkan oleh kebutuhan akan hukum yang mencerminkan kebutuhan akan persamaan perlakuan hukum secara mutlak bagi semua warga negara tanpa melihat asal-usul agama, etnis, bahasa dan budayanya? Dapatkah dikembangkan sikap untuk membatasi hak milik pribadi demi meratakan pemilikan sarana produksi dan konsumsi guna tegaknya demokrasi ekonomi? Deretan pertanyaan fundamental, yang jawaban-jawabannya akan menentukan mampukah atau tidak wawasan keadilan yang terkandung dalam al-Qur'an memenuhi kebutuhan sebuah masyarakat modern di masa datang. Diperlukan kajian-kajian lebih lanjut tentang peta permasalahan seperti dikemukakan di atas, namun jelas sekali bahwa visi keadilan yang ada dalam al-Qur'an dewasa ini harus direntang sedemikian jauh, kalau diinginkan relevansi berjangka panjang dari wawasan itu sendiri. Jelas, masalahnya lalu menjadi rumit dan memerlukan refleksi filosofis, di samping kejujuran intelektual yang tinggi untuk merampungkannya secara kolektif. Masalahnya, masih punyakah umat Islam kejujuran intelektual seperti itu, atau memang sudah tercebur semuanya dalam pelarian sloganistik dan "kerangka operasionalisasi" serba terbatas, sebagai pelarian yang manis? -------------------------------------------Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah Editor: Budhy Munawar-Rachman Penerbit Yayasan Paramadina Jln. Metro Pondok Indah Pondok Indah Plaza I Kav. UA 20-21 Jakarta Selatan Telp. (021) 7501969, 7501983, 7507173 Fax. (021) 7507174 Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan

ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota
Please direct any suggestion to Media Team

Artikel Yayasan Paramadina
Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota I.1. PERSOALAN PENAFSIRAN METAFORIS ATAS FAKTA-FAKTA TEKSTUAL oleh M. Quraish Shihab (1/2) Dalam kamus linguistik, "metafora" (metaphor) berarti pemakaian suatu kata atau ungkapan untuk suatu obyek atau konsep, berdasarkan kias atau persamaan." (1) Itu berarti suatu kosakata atau susunan kata yang pada mulanya digunakan untuk makna tertentu (secara literal atau harfiah) dialihkan kepada makna lain. Dalam disiplin ilmu al-Qur'an pengalihan arti itu disebut ta'wil, atau oleh ulama-ulama sesudah abad ke 3 H., diartikan sebagai "mengalihkan arti suatu kata atau kalimat dari makna asalnya yang hakiki ke makna lain berdasarkan indikator-indikator atau argumentasi-argumentasi yang menyertainya." (2) Salah satu cabang disiplin ilmu bahasa Arab yaitu ilmu al-bayan menggunakan istilah majaz untuk maksud di atas. Tak dapat disangkal, setiap bahasa mengenal kata atau ungkapan yang bersifat metaforis, termasuk bahasa yang digunakan al-Qur'an. Tapi bagaimana dengan al-Qur'an yang redaksi-redaksinya merupakan susunan Ilahi? Apakah mengenal pula metafora? Al-Qur'an menegaskan, Ia turun dalam bahasa Arab. Kosakata yang digunakan umumnya digunakan pula oleh masyarakat Arab pada masa turunnya, tapi gaya susunannya yang bukan prosa dan bukan pula puisi, serta keindahan nada yang dihasilkannya menjadikan pakar-pakar bahasa Arab ketika itu mengakui, mereka tak mampu menyusun semacam redaksi ayat-ayatnya. Hal ini memberi petunjuk atau kesan bahasa al-Qur'an berbeda dengan bahasa yang digunakan ketika itu. Tapi di sisi lain, para ahli dalam rangka memahami al-Qur'an menelusuri dan mempelajari penggunaan kosakata dan ungkapan-ungkapan yang digunakan khususnya oleh suku-suku Qais, Tamim dan Asad karena mereka dinilai masih bertahan dengan bahasa Arab asli. Mereka oleh pakar-pakar budaya dan bahasa dinilai belum atau tak tersentuh oleh akulturasi budaya atau bahasa. Berbeda dengan suku-suku Arab lain nya yang bertetangga dengan daerah-daerah yang tak berbahasa Arab ketika itu seperti, Lakhem dan Juzaam yang bertetangga dengan penduduk Coptik di Mesir atau Gassaan dan Qudha'ah yang bertetangga dengan penduduk Syam yang berbahasa Ibrani. Atau suku Abdi al-qais dan Azad, penduduk Bahrain (Emirat Arab) yang bergaul dengan orang-orang India dan Persia. Bahkan para pakar bahasa tersebut --tak merujuk dalam rangka memahami kosakata atau ungkapan-ungkapan al-Qur'an-- pada penduduk kota-kota Hijaz sekali pun, karena mereka menilai bahwa pergaulan mereka relatif luas sehingga mengakibatkan bahasa mereka tak "asli" lagi. Isi yang dikemukakan di atas, menjadi bukti bahwa pemahaman

al-Qur'an tak terlepas dari pemahaman kosakata atau ungkapan yang digunakan orang-orang Arab pada masa turunnya; dan apabila terbukti mereka menggunakan metafora dalam percakapan mereka maka tentunya dalam al-Qur'an hal yang demikian pasti ditemukan, karena ia diturunkan dengan bahasa Arab, agar dapat mereka pahami (QS. Fushshilat: 3). Penelitian-penelitian yang dilakukan pakar-pakar bahasa, seringkali menimbulkan perbedaan-perbedaan di antara mereka, khususnya ulama-ulama Kufah versus ulama-ulama Bashrah. Ini berarti sebagian hasil-hasil yang mereka peroleh belum mendapat kesepakatan semua pihak, yang berakibat membawa sebagian ulama pada sikap hati-hati dalam menolak pemahaman metaforis bagi teks-teks keagamaan. Paling tidak, jika tak memahaminya secara literal, mereka menyerahkan pengertian sekian banyak kosakata atau ungkapan al-Qur'an kepada Allah swt. Sikap semacam ini tentunya tak memuaskan banyak pihak dan dari hari ke hari pembahasan masalah-masalah metaforis dalam teks-teks keagamaan tumbuh dengan pesatnya. Agaknya al-Jahiz (w. 255 H/868 M) merupakan tokoh pertama yang menghasilkan pemikiran-pemikiran jernih menyangkut masalah tersebut. Walaupun harus diakni bahwa kitab tafsir pertama, karya Abu Ubaidah Mu'ammar bin Al-Mustana (w. 209 H) bernama Majazat al-Qur'an. Namun nama ini tak berkaitan dengan pengertian majaz atau metafora yang dimaksud di sini. Tokoh al-Mahiz adalah seorang penganut aliran rasional dalam bidang teologi (Mu'tazilah) dan dengan penafsiran-penafsirannya ia telah mampu menyelesaikan sekian banyak problema pemahaman keagamaan yang tadinya dihadapi sekian banyak ulama. Imam Malik (w. 795 M) misalnya, enggan membenarkan redaksi "langit menurunkan hujan," karena berkeyakinan bahwa yang menurunkan hujan adalah Allah swt. (3) Demikian juga ketika beliau ditanya tentang pengertian Firman Allah dalam QS. Thaha: 5, "Tuhan yang maha pemurah bersemayam di atas Arasy." Malik menjawab: Pertanyaan semacam ini merupakan bid'ah" (tercela dalam pandangan agama). Bahkan sebagaimana ditulis al-Jahiz dalam bukunya al-Hayawan (4) ada orang-orang yang menduga bahwa batu merupakan makhluk berakal, berdasarkan Firman Allah dalam QS. al-Baqarah: 74 "... dan diantaranya (diantara batu) sungguh ada yang meluncur karena takut kepada Allah ...," sebagaimana ada yang menduga bahwa ada nabi-nabi untuk lebah-lebah berdasarkan QS. al-Nahl: 68, "Dan Tuhanmu mewahyukan kepada lebah." Kemudian mereka berpaham demikian merangkai hikayat-hikayat yang tak mempunyai dasar sedikitpun. Al-Jahiz yang sangat rasional dan ahli dalam bidang kebahasaan itu membantah pendapat-pendapat semacam itu dengan menunjuk pada penggunaan kosakata atau ungkapan yang sama dan yang pernah digunakan orang-orang Arab menjelang dan pada masa turunnya al-Qur'an. Ibnu Qutaibah (w. 276 H/889 M), murid al-Jahid walau pun bukan penganut aliran Muitazilah bahkan dinilai sebagai "juru bicara Ahl-u'l-Sunnah" (5) melanjutkan dan mengembangkan usaha-usaha gurunya dalam memahami teks-teks keagamaan dengan berbagai

motif yang berkembang dengan sangat pesat; dan tentu menggunakan segala cara dan argumentasi, baik logika maupun kebahasaan. Mereka yang menolak pemahaman metaforis dalam teks-teks keagamaan, paling tidak menggunakan dua argumentasi berikut, pertama, Metafora sama dengan kebohongan, sedangkan al-Qur'an adalah firman-firman Allah yang suci dari hal tertentu. Kedua, Seorang pembicara tak menggunakan metafora kecuali jika ia tak mampu menemukan kosakata atau ungkapan yang bersifat hakiki, dan tentunya harus diyakini bahwa Allah maha mampu atas segala sesuatu. Kedua argumentasi di atas jelas sekali kekeliruannya, sehingga berbagai ahli menolaknya. Ibnu Qutaibah menolak dengan menyatakan, "Seandainya metafora atau majaz dinilai kebohongan, maka alangkah banyaknya ucapan-ucapan kita merupakan kebohongan." (6) Al-Sayuthi (w. 911 H/1505 M) menulis dalam bukunya al-Itqan, "Metafora adalah unsur keindahan bahasa dan jika ia ditolak keberadaannya dalam al-Qur'an, maka tentunya sebahagian unsur keindahan pun tak akan ada padanya." (7) Sebagaimana telah dikemukakan pada awal uraian metafora dalam istilah ilmu bahasa Arab dinamai majaz, atau dalam istilah ilmu-ilmu al-Qur'an disebut ta'wil. Majaz menurut kaidah kebahasaan dapat dilakukan akibat adanya satu dari dua hal berikut, pertama, terdapat persamaan antara makna yang dikandung kosakata atau ungkapan dalam arti literalnya dengan makna yang dikandung oleh pengertian metaforis yang ditetapkan. Kedua, adanya perkaitan atau hubungan antara dua hal dalam ungkapan, sehingga mengakibatkan terjadinya penisbahan satu kalimat kepada sesuatu yang seharusnya bukan kepadanya. Ia dinisbahkan, misalnya "langit menurunkan hujan." Di sini terdapat perkaitan antara langit dan hujan, karena langit atau awan adalah sumber kedatangannya dan dengan demikian kepadanya ia dinisbahkan. Disepakati oleh mereka yang berpendapat adanya metafora, bahwa dibutuhkan dukungan petunjuk atau argumen guna mengalihkan satu makna hakiki ke makna metaforis. Tanpa adanya petunjuk maka penta'wilan tak dapat dilakukan. Tapi bagaimana bentuk petunjuk atau argumen tersebut, diperselisihkan mereka. Pertama, Kelompok yang dikenal dengan "al-Dhahiriyah" yaitu pengikut-pengikut Daud al-Dhahiri (w. 270 H) tak membenarkan adanya penta'wilan atau pengertian metaforis dalam teks-teks keagamaan, kecuali bila pengertian yang ditetapkan itu telah populer di kalangan orang-orang Arab pada masa turunnya al-Qur'an, serta terdapat petunjuk yang jelas yang mendukung pengalihan makna atau penta'wilan tersebut. (8) Ibnu Hazem (w. 456 H/1064 M) menegaskan,"Selama arti yang dipilih bagi satu kosakata atau ungkapan telah dikenal di kalangan sahabat dan Tabi'in dan sejalan pula dengan bahasaArab klasik, maka arti tersebut harus diterima baik dalam pengertian majaz, maupun hakiki." (9) Hanya perlu dicatat, satu kosakata atau ungkapan, tak dialihkan ke makna metaforis kecuali setelah makna hakiki tak dapat digunakan. Kedua, al-Syathibi penta'wilan ayat-ayat mengemukakan dua syarat al-Qur'an" (10) Pertama, pokok makna bagi yang

dipilih sesuai dengan hakikat kebenaran yang diakui oleh mereka yang memiliki otoritas dalam bidangnya. Tidak tepat kata al-Syathibi, memahami kata khalila dalam QS. al-Nisa' 125: Allah menjadikan Ibrahim khalila sebagai seorang "fakir" karena pengertian tersebut bertentangan dengan nash al-Qur'an yang lain, yaitu bahwa "ia (Ibrahim) menjamu tamunya dengan daging anak sapi yang dipanggang" (QS. Hud:69), yang menunjukkan beliau bukan seorang fakir; di samping bahwa kenyatann sejarah membuktikan bahwa Ibrahim as. bukan seorang fakir. Kedua, arti yang dipilih tersebut telah dikenal oleh bahasa-bahasa Arab klasik. Dalam syarat ini terbaca bahwa syarat "popularitas" artinya kosakata tak disinggung lagi, bahkan lebih jauh al-Syathibi menegaskan bahwa satu kosakata yang bersifat ambigu atau musytarak (mempunyai lebih dari satu makna), maka kesemua maknanya dapat digunakan bagi pengertian teks tersebut selama tak bertentangan satu dengan lainnya. Contoh kata "hidup" dan "mati." Al-Qur'an menggunakan kata "hidup" dalam arti berpisahnya Ruh dari badan dan juga dalam arti "kosongnya jiwa dari nilai-nilai agama." Firman Allah dalam QS. al-Rum 19, "Dia Allah mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup" dapat diartikan dengan salah satu atau dengan kedua arti tersebut di atas, demikian pula sebaliknya kata mati. Dalam hal ini tentunya kita tak dapat menyalahkan mereka yang memahami Firman Allah dalam QS. al-Baqarah 243, "Apakah kamu tak mengetahui orang-orang yang keluar dari kampung halaman mereka yang jumlah mereka beribu-ribu (keluar) karena takut mati, maka Allah berfirman kepada mereka 'matilah kamu,' kemudian Allah menghidupkan mereka, sesungguhnya Allah mempunyai karunia terhadap manusia tetapi kebanyakan manusia tak bersyukur." -------------------------------------------Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah Editor: Budhy Munawar-Rachman Penerbit Yayasan Paramadina Jln. Metro Pondok Indah Pondok Indah Plaza I Kav. UA 20-21 Jakarta Selatan Telp. (021) 7501969, 7501983, 7507173 Fax. (021) 7507174 (bersambung 2/2)

Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang YayasanISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota
Please direct any suggestion to Media Team

Artikel Yayasan Paramadina
Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota I.1. PERSOALAN PENAFSIRAN METAFORIS ATAS FAKTA-FAKTA TEKSTUAL oleh M. Quraish Shihab (2/2) Kita tak mempermasalahkan walaupun seandainya kita tak

Satu hal yang pasti. perpecahan. maka yang digunakan adalah riwayat-riwayat yang sangat lemah atau dibuat-buat. Pertanyaan malaikat kepada Tuhan tentang khalifah yang dapat merusak dan menumpahkan darah. 1906 M) dinilai sebagai salah seorang tokoh penganut aliran ini. Keengganan Iblis sujud. tetapi penyampaian Tuhan kepada malaikat tentang rencana-Nya menciptakan khalifah di bumi. adalah bahwa "malaikat merupakan makhluk-makhluk Allah yang bertugas dalam pekerjaan-pekerjaan tertentu. menandakan kelemahan manusia dan ketakmampuannya menghilangkan bisikan-bisikan negatif yang mengantar kepada perselisihan.sependapat dengan orang-orang yang memahami kata "matilah kamu" dan "Allah menghidupkan mereka" dalam pengertian "kematian semangat jihad mereka" kemudian "kehidupan" semangat jihad tersebut sehingga kembali ke kampung halaman mereka untuk mengusir orang yang selama itu menganiaya mereka. Sedang pendapat yang kedua. agresi dan permusuhan di muka bumi ini. Muhammad Abduh (w. Mereka juga dinilai sangat memperluas penggunaan metafora dengan menggunakan pemahaman tamsil atau perumpamaan bagi ayat-ayat al-Qur'an. adalah pertanda kesiapan bumi untuk menyambut satu makhluk yang dapat mengolahnya sehingga tercapai kesempurnaan hidup di dunia." Selanjutnya Abduh menulis. Ketiga. Sementara penganut-penganut aliran Rasional dinilai sementara ahli melakukan ta'wil dengan menitik beratkan tolok ukurnya pada akal mereka dan kalau pun menggunakan argumentasi kebahasaan. hal tersebut mereka namakan natural power karena mereka tak mengenal dalam kehidupan ini kecuali apa yang tampak dan atau yang tampak bekasnya dalam alam nyata. seperti menumbuhkan tumbuh-tumbuhan memelihara manusia dan sebagainya. dalam istilah agama dengan "malaikat. Pengajaran Tuhan kepada Adam tentang nama benda-benda. Hal ini tak dapat diingkari siapa pun yang berakal walau pun mereka tak beriman atau mengingkari bahwa hal tersebut dinamai malaikat. Pertama. menunjukkan kemampuan manusia memanfaatkan hukum-hukum alam. Abduh ketika menguraikan tentang "malaikat. Yang demikian itu menurut Abduh dinamai. kata Abduh selanjutnya. adalah gambaran tentang potensi manusia mengetahui serta mengolah dan mengambil manfaat segala yang terdapat di bumi ini. dipahami Abduh sebagai gambaran tentang potensi dalam diri manusia untuk melakukan kejahatan. Pemaparan pertanyaan kepada malaikat dan ketakmampuan mereka menjawab. Sujudnya Malaikat kepada Adam. adalah isyarat yang lebih jelas dari satu redaksi tentang satu ciri tertentu bahwa pertumbuhan dalam tumbuh-tumbuhan terjadi tak lain kecuali dengan adanya Ruh yang dihembuskan Allah Swt ke dalam benihnya. sehingga dengan demikian terjadilah kehidupan bagi tumbuhan tersebut. menunjukkan keterbatasan hukum-hukum alam. pada surah al-Baqarah 30 dan seterusnya. "Bagi mereka yang tak mengindahkan penamaan yang ditetapkan agama. bahwa hakikat setiap ciptaan terdapat sesuatu yang menjadi sumber ketergantungannya serta sistem wujudnya. demikian pula sebaliknya hal tersebut tak diingkari oleh seseorang yang ." Hal ini menurut Abduh. Demikian pula halnya dengan manusia dan binatang. (11) sehingga tak ada dialog sebagaimana tersurat. Ayat-ayat yang menguraikan kisah kejadian Adam as. bahwa malaikat merupakan makhluk ghaib yang tak dapat diketahui hakikatnya namun harus dipercaya wujudnya. difahaminya atas dasar tamsil." mengemukakan dua pendapat.

Kita dapat memahami motivasi Muhammad Abduh dan penganut-penganut alirannya dalam menggunakan akal seluas-luasnya ketika memahami teks-teks keagamaan sehingga merasionalkan ajaran-ajaran agama sambil mempersempit sedapat mungkin wilayah ghaib. "Dan sesungguhnya Kami telah anugerahkan kepada Daud karunia dari Kami. dapat mengantar pada pengingkaran hal-hal yang bersifat supra-rasional. Tidak demikian! Apa yang dikemukakan di atas hanya berarti bahwa bila suatu redaksi sudah cukup jelas serta penafsirannya tak bertentangan dengan akal. walaupun belum dipahaminya. Tapi tentunya ini bukan pula berarti kita menerima begitu saja penafsiran-penafsiran yang tak logis." Demikian antara lain penta'wilan yang dilakukan Muhammad Abduh. penamaan tersebut dengan Muhammad Abduh menambahkan.beriman walaupun ia mengingkari "natural power" atau hukum alam. tak mustahil dinamai Allah atau dinamai penyebab hal tersebut sebagai "malaikat. (Kami berfirman) Hai gunung-gunung bertasbihlah berulang-ulang bersama Daud. yang ini berkata "Kerjakanlah" dan yang itu "Jangan." (12) Pendapat di atas dinilai sementara ulama tak sejalan dengan teks ayat di mana yang diperintahkan adalah gunung-gunung. Ahmad Musthafa al-Maraghi salah seorang penganut aliran Abduh menulis dalam tafsirnya menyangkut ayat 10 surah Saba'. sedang terdapat ayat yang lain yang menegaskan bahwa: "Langit yang tujuh. sebagaimana ditemukan kemudian dalam perkembangan pemikiran selanjutnya. seakan-akan apa yang terlintas dalam pikirannya itu sedang diajukan ke suatu sidang Majelis Permusyawaratan yang ini menerima dan yang itu menolak. namun hal ini bila diturutkan tanpa batas yang jelas. bukannya Daud. sejarah kemanusiaan dan hal-hal ghaib berarti menggunakan sesuatu yang terbatas terhadap perbuatan-perbuatan Tuhan (zat yang tak terbatas itu). dirasakan oleh mereka yang mengamati dirinya. bumi dan semua yang ada di dalammya bertasbih . atau membanding-bandingkan pikiran dan kehendaknya yang mempunyai dua sisi baik dan buruk. dengan jalan pandangan yang diarahkan Daud kepada keajaiban tersebut berfungsi mengingatkan sebagaimana seseorang mengingatkan yang lain. Menggunakan akal sebagai tolok ukur satu-satunya dalam memahami teks-teks keagamaan khususnya tentang peristiwa-peristiwa alam. Dan yang lebih penting lagi bahwa Mufassir al-Maraghi telah berusaha memahami hakikat tasbih gunung. maka redaksi tersebut tak harus dita'wilkan lagi dengan memaksakan suatu penafsiran yang dianggap logis sehingga dipahami akal. Karena kalau hal tersebut harus dipaksakan maka tak jarang ditemukan pemahaman-pemahaman yang tak hanya bertentangan dengan kaidah-kaidah kebahasaan tetapi juga bertentangan dengan hakikat keagamaan." Al-Maraghi menulis bahwa pengertian ayat tersebut adalah bahwa "gunung mengantar Daud bertasbih mensucikan Allah. yang kemudian diikuti oleh tak sedikit dari ulama-ulama sesudah masa beliau. bahwa dalam batinnya terjadi pergolakan. Proses demikian yang terdapat dalam jiwa setiap manusia." demikian halnya sehingga pada akhirnya menanglah salah satu pilihan.

al-Isra' 44)." Bukti yang dijadikan dasar pertimbangannya adalah. CATATAN 1. Kedua. Syarid Al-Radhy. dan anehnya "daun-daun surga" difahami secara hakiki. 18. tetapi setelah mereka mendekatinya (memakan buah terlarang) redaksi ayat berbentuk plural atau jama' "Turunlah kamu. tapi kamu sekalian tak mengetahui (hakikat) tasbih mereka. h. membutuhkan. Al-Halaby. al-Baqarah: 36). h. 2.S. Muhammad . diedit oleh Abdulghani Hasan. Kosakata "pohon" dita'wilkan atau dipahami secara metaforis tanpa ada argumentasi pendukung. Perasaan malu akibat terlihatnya alat kelamin hanya dialami oleh mereka yang telah mengadakan hubungan sexual. ayat al-Qur'an menggambarkan bahwa keadaan tanpa busana terjadi setelah atau akibat dari memakan buah pohon terlarang bukan sebelumnya. Kamus linguistik. al-Tafsir Wa 'l-Mufassirun. apalagi penta'wilan ayat-ayatnya. berbeda dengan orang dewasa yang merasa malu. Dr. 11. 1963. Hal ini menunjukkan bahwa ketika itu mereka yang tadinya hanya berdua (Adam dan Hawa) kini telah menjadi lebih dari dua orang dengan adanya janin yang dikandung oleh Hawa setelah hubungan sex tersebut. juga penguasaan bahasa Arab. Talkhis al-Bayan. Muhammad Husen al-Zahaby. Jika apa yang digambarkan tentang pendapat al-Maragi di atas tak disetujui.kepada Allah dan tak sesuatu pun melainkan bertasbih memujiNya. sebagaimana dipahami oleh Mustafa Mahmud. (13) Apa yang dikemukakan di atas hemat kita bertentangan dengan teks ayat-ayat al-Qur'an serta kaidah-kaidah kebahasaan." QS. Di sisi lain bahasa Arab tak menganggap wujud janin sebagai wujud yang penuh. h. 106. Jilid 1. Jakarta 1983. Cairo. Ketika mereka (Adam dan Hawa) telah memakan (buah) pohon tersebut (mengadakan hubungan sex) mereka tanpa busana dan berusaha menutupi auratnya dengan daun-daun surga. di samping nalar. sebahagian kamu menjadi musuh bagi yang lain" (Q. tetap harus diakni bahwa pendapat tersebut dari sisi kebahasaan memiliki alasan-alasannya. walau sekedar menyebutnya. Contoh yang dikemukakan di atas menunjukkan betapa pemahaman ayat-ayat al-Qur'an. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penyantun lagi Maha Pengampun" (QS. Pertama. Penta'wilan yang parah adalah yang semata-mata mengandalkan penalaran akal seseorang dengan mengabaikan pertimbanganpertimbangan kebahasaan. tak sebagaimana dipahami oleh dr. Harimurti Kridalaksana. (medis) Mustafa Mahmud memahami larangan Tuhan pada Adam dan Hawa "mendekati pohon" sebagai larangan mengadakan "hubungan sexual. Dar al-Kutub al-Haditsah. Mustafa Mahmud. karena itu wanita hamil akan tetap diperlakukan oleh bahasa sebagai wujud tunggal. Pertama. Kedua. Mesir. Redaksi Firman Allah sebelum mereka mendekati pohon tersebut adalah dalam bentuk dual ("Janganlah kamu berdua mendekati pohon ini. Gramedia. ketika itu mereka merasa malu. Terbukti bahwa anak kecil tak merasakan hal tersebut. 1955. Ketiga. 3. al-Baqarah: 35).

Muhammad Rajab al-Bayyumy. 1967. 1364 H. h. h. 1971. 92. Cairo. al-Muwafaqat. Op. 1318 H. Cairo. Lihat lebih jauh Abdul Muta'al Muhammad al-Jabri. Lihat al-Jahiz dalam al-Hayawan.. h. Cairo 1964 M. Lihat Abu Ishaq al-Syathiby. 12. hl. 9. 7. 6. 226. Ibid. sebagaimana . Cairo 1367 H. h. Tentang pendapat-pendapat Abduh lihat lebih jauh Muhammad Rasyid Ridha dalam Tafsir al-Manar. diedit oleh Abdussalam Harun. Ahmad Musthafa al-Maraghy. Tafsir Al-Maraghy. Cairo. MASALAH TA'WIL SEBAGAI METODOLOGI PENAFSIRAN AL. sendiri. sehingga yang diperlihatkan bukanlah makna lahiriyah kata-kata pada teks sumber suci itu.261 dst. th. Dr. Cairo. Al Sayuthi. Cit. al-Halaby. 11. 119 dst.4.QUR'AN oleh Nurcholish Madjid (1/2) Interpretasi metaforis atau ta'wil. Dar Al-Fikr. Jilid 11. 56.II. Cairo. ialah pemahaman atau pemberian pengertian atas fakta-fakta tekstual dari sumber-sumber suci (al-Qur'an dan al-Sunnah) sedemikian rupa. 1971. Dar al-Ma'rifah. Ibnu Hazem Hayatuha Wa Ashruhu. Khathawat al-Tafsir Al-Bayany. Jilid. Metro Pondok Indah Pondok Indah Plaza I Kav. 13. Dar al-Itisham. Metode pemahaman serupa itu (ta'wil) telah muncul sejak masa-masa dini sejarah Islam (jika tidak malah sejak masa Rasul Allah saw. al-Itqan. Al-Azhar.2. Jilid 1. 7507173 Fax. 99. 7501983. (021) 7501969. Majma' al-Buhuts. Syarif AlRadhy. Juz 22. Syathahat Musthafa Mahmud. hal. -------------------------------------------Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah Editor: Budhy Munawar-Rachman Penerbit Yayasan Paramadina Jln. 64. 8. tapi pada "makna dalam" (bathin. 5.. Percetakan al-Manar. 36. inward meaning) yang dikandungnya. Beirut. 128. diedit oleh Abdullah Darraz. (021) 7507174 Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota Please direct any suggestion to Media Team Artikel Yayasan Paramadina Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota I. Abu Zahrah. h. 10. tp. Jilid 111. h. UA 20-21 Jakarta Selatan Telp. h.

Sikap dapat memahami persoalan berkenaan dengan perselisihan paham di kalangan umat itu semakin dirasa mendesak akhir-akhir ini. kejadian di Iran pada penghujung dasawarsa lalu itu dalam suatu sentakan. setiap pribadi orang modern mengalami bombardemen informasi yang seringkali menyangkut segi-segi kesadarannya yang mendalam. Adanya kedua jenis ayat itu. mereka akan mengikuti bagian-bagian yang tersamar (mutasyabihat) daripadanya. Karena itu persoalan interpretasi metaforis ini mempunyai saham cukup besar dalam timbulnya perselisihan. seperti halnya dengan revolusi-revolusi lain). Maka salah satu manfaat yang menjadi tujuan tulisan ini ialah tumbuhnya keinsafan lebih besar tentang bibit-bibit perselisihan paham dalam Islam. kita berharap dapat menempatkan diri lebih baik dalam memandang berbagai aliran dan madzhab di kalangan umat sendiri. semuanya dari sisi Tuhan kami. dan ayat-ayat lain yang mutasyabihat. kemudian perpecahan. misalnya kesadaran hampir tiba-tiba kaum Muslim Indonesia tentang adanya golongan Syi'ah dan berbagai alirannya. untuk kalangan kaum Muslim. yang didalamnya terdapat ayat-ayat muhkamat yang merupakan induk Kitab Suci (Umm al-Kitab). AYAT-AYAT MUHKAMAT DAN MUTASYABIHAT Salah satu pokok perselisihan di kalangan umat Islam yang terkait erat dengan masalah ta'wil ini ialah adanya ayat-ayat suci al-Qur'an yang "bermakna jelas atau pasti" (muhkamat) dan yang "bermakna samar atau tidak pasti" (mutasyabihat. Maka dengan menengok masalah ta'wil ini. untuk kemudian sikap yang sama itu sedapat mungkin kita bawa pada persoalan masyarakat secara keseluruhan." Dan tidaklah akan dapat merenung (menangkap pesan) kecuali orang-orang yang berpengertian mendalam. perbedaan pandangan tentang mana saja ayat-ayat suci yang muhkamat. Lepas dari masalah revolusi itu sendiri (yang agaknya lebih baik dilihat sebagai gejala politik. disebutkan dalam Kitab Suci sendiri sebagai berikut: Dia (Tuhan) yang telah menurunkan kepada engkau (Muhammad) Kitab Suci. dan mana pula yang mutasyabihat. Padahal tidak mengetahui ta'wil-nya kecuali Allah. telah melahirkan sejenis kesadaran baru di kalangan umat Islam dunia. yang interpretable).dikatakan kalangan Islam tertentu). Karena perselisihan ini maka ada ayat-ayat suci yang bagi suatu kelompok umat Islam bersifat . di kalangan kaum Muslim. Ada pun orang-orang yang dalam hatinya terdapat keserongan. "Kami percaya kepada Kitab Suci itu. yaitu kesadaran tentang pluralitas Islam dan potensi yang ada di balik setiap golongan. Dari sekian banyak informasi itu. Dalam abad telekomunikasi mondial yang serba cepat dan luas. yakni. Sedangkan orang-orang yang mendalam ilmunya maka akan menyatakan. termasuk informasi tentang adanya berbagai kelompok dan aliran pemikiran yang beraneka ragam Terlintas dalam pikiran. serta bagaimana seharusnya kita menempatkan diri dalam kancah perselisihan itu secara adil. antara lain karena revolusi mereka di Iran 1979. dengan tujuan membuat fitnah (perpecahan) dan mencari ta'wil bagian-bagian tersamar itu. [1] Masalah muhkamat dan mutasyabihat itu setidak-tidaknya menimbulkan tiga jenis perbedaan pandangan: Pertama. ialah yang berkenaan dengan keadaan umat Islam sendiri di seluruh dunia.

misalnya. maka sangat masuk akal bahwa hak untuk melakukannya harus dibatasi hanya pada lingkungan yang memenuhi syarat. "tangan". Sebagian lagi yang tidak membolehkannya. para filsuf adalah kalangan orang-orang Muslim yang paling banyak melakukan ta'wil. kata-kata berserikat)." "melihat. masih terdapat perselisihan tentang siapa yang harus melakukan interpretasi itu. seperti kata-kata "mendengar. al-khawash) dan kelompok-kelompok umum (awam. khususnya manusia. Mereka dengan kuat memandang.muhkamat. "marah." dan yang kedua terdiri dari "orang-orang kebanyakan. Mereka yang melakukan interpretasi (karena beranggapan bahwa Tuhan mustahil memiliki kualitas-kualitas yang sama dengan manusia) akan memandang ayat-ayat yang bersangkutan dengan itu sebagai metafor-metafor belaka. Untuk dapat menangkap arti sebenarnya dari ungkapan-ungkapan itu. ungkapan-ungkapan kebahasaan dalam sumber-sumber ajaran agama. yang tak mesti menunjuk pada hakikatnya. Mereka yang tidak membenarkan interpretasi akan melihat firman-firman itu seperti adanya. Karena interpretasi bukanlah pekerjaan yang gampang. sedangkan kenyataan tidaklah seperti yang dikesankan pengertian lahir firman-firman itu. .'. perbedaan pandangan tentang boleh atau tidaknya melakukan ta'wil terhadap ayat-ayat yang mutasyabihat itu. berpendapat dalam memahami ayat-ayat itu kita harus berhenti pada makna-makna seperti yang dibawakan ungkapan lahiriah lafal dan kalimatnya. harus dilakukan interpretasi di balik ungkapan-ungkapan lahiriah. Firman-firman berkenaan dengan surga dan neraka." PANDANGAN PARA FILSUF Seperti dapat diduga. al-'awam). bagi mereka yang membolehkan interpretasi." "mengetahui. bersifat mutasyabihat sehingga pelukisan tentang surga dan neraka itu mereka pahami sebagai metafor-metafor atau kias-kias. antara lain pengetahuan yang luas dan kemampuan berpikir yang mendalam. Ini membawa konsekuensi terbaginya anggota masyarakat manusia kepada kelompok-kelompok khusus (khawas. baik Kitab Suci maupun Sunnah Nabi adalah ungkapan-ungkapan metaforis atau alegoris. Sebagian kelompok Islam membolehkannya. Termasuk dalam permasalahan ini ialah problema homonimi (Arab: ism musytarak. Maka pelukisan itu mengesankan bahwa Tuhan dan manusia "berserikat" dalam beberapa sifat dan kelengkapan. dan ini menimbulkan problema. dengan memberi penegasan bahwa Tuhan memiliki kualitas-kualitas itu "tanpa bagaimana." "senang"' dan lain-lain yang dalam Kitab Suci disebutkan sebagai sifat-sifat Tuhan. Jadi tidak dimaksudkan seperti apa adanya menurut arti lahiriah ungkapan-ungkapan itu. Yang pertama adalah "kaum ahli. Kedua. diperlukan disiplin dan latihan berpikir yang tinggi. disebabkan kuatnya pengakuan sebagai para pencari hakikat dan kebenaran demonstratif (yang terbuktikan secara tak terbantah). bagi kebanyakan kaum Muslim bersifat muhkamat. namun bagi kelompok lain bersifat mutasyabihat. sehingga dalam memahami ayat-ayat mutasyabihat itu. seperti golongan al-Bathiniyyun ("Kaum Kebatinan" . yang menurut mereka hanya diperoleh melalui pemikiran kefilsafatan. padahal kata-kata atau sifat-sifat itu juga dapat diberlakukan kepada makhluk.lihat pembahasan di bawah)." Ketiga. tapi bagi sebagian mereka.

Dengan kata lain. ". AL-BATHINIYYUN (KAUM KEBATINAN) . maka kalangan khawas. yaitu pendidikan orang banyak atau kaum awam.. Maka para filsuf Islam memandang diri mereka sebagai "penganut kearifan" (ahl al-hikmah) atau para orang arif-bijaksana (al-hukama). [4] Karena "pendidikan" itu ditujukan pada kalangan awam. orang awam akan menjadi kafir jika melakukan interpretasi. sehingga filsafat pun disebut al-hikmah." karena mereka ini berhak atau wajib melakukan ta'wil terhadap bunyi teks-teks suci.. "Kami beriman kepada Kitab Suci itu. karena bertujuan kebaikan. [3] Karena itu para filsuf rawan terhadap tuduhan. agar mereka berbuat baik dan meninggalkan keburukan." sebagai ganti cara baca kaum awam (lihat terjemah kutipan firman itu di atas). Kadang-kadang juga disebut ahl al-burhan ("para penganut kebenaran demonstratif atau apodeiktik. para filsuf sendiri. Adanya bahaya ini (bahaya kekafiran. Kelebihan mereka itu. [2] Jadi para filsuf dengan kata lain. seperti yang dituduhkan Ibn Taymiyyah. Para filsuf akan menjadi kafir jika tidak melakukan interpretasi (karena bagi mereka ajaran-ajaran agama tertentu seperti surga dan neraka dalam pengertian fisik itu tidak masuk akal. tak seharusnya mengikuti cara awam dalam memahami ajaran agama. menggunakan metode interpretasi metaforis terhadap teks-teks keagamaan. Filsuf Islam terkenal dari Cordova. yang tak terjangkau kemampuan akal mereka.. Tapi "kebohongan" Nabi bukanlah kejahatan. [5] Sehingga sering dikatakan. yakni. Mereka ini berkata. Dan sebaliknya. dan mereka berhak. maka Ibn Rusyd berpendapat. kemudian menjadi kearifan itu sendiri. Padahal tidak mengetahui ta'wilnya kecuali Allah dan orang-orang yang mendalam ilmunya. disebabkan sulitnya pemahaman interpretatif yang abstrak itu. misalnya berpandangan para filsuf selaku ahl al-burhan itulah yang dimaksudkan dalam firman Ilahi (dikutip di atas) sebagai "orang-orang yang mendalam ilmunya. para filsuf menganut teori Nabi telah melakukan "kebohongan untuk kebaikan" (al-kidzb li al-mashlahah).. Para flsuf harus melakukan ta'wil terhadap bunyi-bunyi teks suci baik Kitab maupun Sunnah (Hadits). Jadi bagi Ibn Rusyd firman Tuhan itu harus dibaca kaum khawas sedemikian rupa sehingga "orang-orang yang mendalam ilmunya" termasuk ke dalam yang mengetahui ta'wil ayat-ayat mutasyabihat. memandang Nabi mengutarakan sesuatu dengan ungkapan-ungkapan metaforis dan alegoris. semuanya dari sisi Tuhan kami. filsafat adalah kecintaan kepada kearifan (wisdom). yakni kebenaran tak terbantah"). mereka adalah golongan khawas di kalangan umat. Nabi telah melakukan sejenis kebohongan: Mengungkapkan sesuatu tanpa memaksudkan makna lahiriah ungkapan itu. baik dari pihak khawas maupun awam). metode Ibn Rusyd yang membagi manusia dalam golongan khawas dan awam itu akan melahirkan semacam elitisme dalam kehidupan beragama.Sesuai dengan makna asal katanya dalam bahasa Yunani. ta'wil harus disimpan dan dirahasiakan untuk kalangan kaum khawas saja. Ibn Rusyd (Latin: Averroes). Spanyol. mereka sebenarnya menganut teori. sedangkan orang awam harus menerimanya menurut apa adanya sesuai dengan bunyi dan makna lahiriah lafalnya itu. jadi tertolak). bahkan wajib. Yaitu dengan memindah tanda baca berhenti (waqaf:) sehingga terbaca. yang tidak memaksudkan makna-makna lahir ungkapan-ungkapan itu. melainkan pada makna batinnya.

maka makna batin itu ditujukan hanya pada orang-orang istimewa tertentu saja. Adalah al-Bathiniyyun ini yang menjadi salah satu sasaran karya-karya polemis pemikir Sunni al-Ghazali dalam rangka usahanya menghancurkan filsafat. Dalam gabungannya dengan semangat keagamaan mereka. sistem filsafat itu menyediakan penyimpangan kandungan batin ajaran-ajaran agama yang antara lain. khususnya Neo-Platonisme. tak mampu menangkap makna batin yang sulit itu. Mereka juga dinamakan kaum Syi'ah Sab'iyyah (Syi'ah Tujuh). terutama kaum Isma'ili. Makna dan kebenaran agama. Dalam hal paham keimanan itu mereka berbeda dengan umumnya golongan Syi'ah Itsna 'Asy'ariyyah (Syi'ah Duabelas. semua ajaran agama (Islam) selalu mengandung makna lahir dan makna batin. dan hanya mereka inilah yang dapat menangkap makna-makna batiniah agama. Tapi karena orang awam. penganut aliran Isma'iliyyah. Mereka memang masih memiliki persamaan dengan orang-orang Muslim lain. seperti pandangan tentang kewajiban melakukan ibadat-ibadat tertentu. kadang-kadang juga Ahl al-Bawathin (Kaum Kebatinan) digunakan secara longgar untuk mengidentifikasi kelompok-kelompok Islam yang orientasinya berat ke arah paham keagamaan yang lebih mengutamakan usaha menangkap makna dalam (bathin) dari suatu teks atau ajaran agama. yaitu suatu pecahan aliran Syi'ah yang muncul sesudah wafat Isma'il ibn Ja'far al-Shadiq sekitar 148 H (765 M). Tapi mereka juga berpegang pada paham tentang adanya ajaran-ajaran esoteris (bathin) yang membentuk sistem filsafat kaum Isma'ili. Metro Pondok Indah Pondok Indah Plaza I Kav. memberi dukungan pada usaha pembuktian bahwa lembaga imamat (keimaman) adalah langsung dari Tuhan. sejak dari Hasan ibn 'Ali sebagai imam pertama. Pembuktian itu diperoleh antara lain karena doktrin. seperti juga menjadi pandangan kaum filsuf. kemenakan. khususnya kandungan al-Qur'an. Maka hanya mereka yang memiliki kemampuan spiritual yang tinggi sajalah yang mampu mengakui peranan khusus 'Ali. termasuk kaum Sufi. yang dipercayai sekarang sedang bersembunyi dan akan kembali sebagai Imam Mahdi). karena kepercayaan mereka pada imam-imam yang duabelas jumlahnya. tapi menyimpang ke Musa al-Kadhim ibn Jafar --dan bukannya ke Muhammad ibn Isma'il-. Oleh kaum Sunni istilah itu juga secara khusus digunakan untuk kelompok Islam tertentu. malah berbahaya bagi mereka. karena kepercayaan mereka pada imam-imam yang tujuh (yaitu sejak Hasan ibn 'Ali sampai Muhammad ibn Isma'il (ibn Ja'far al-Shadiq ibn Muhammad al-Baqir). Karena itu istilah tersebut berlaku untuk hampir semua kelompok esoteris Islam. bagi mereka.kemudian berakhir dengan Muhammad al-Muntadhar. yang tersembunyi dan dirahasiakan itu hanya diberikan Nabi kepada 'Ali.Istilah al-Bathiniyyun. -------------------------------------------Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah Editor: Budhy Munawar-Rachman Penerbit Yayasan Paramadina Jln. melalui Ja'far al-Shadiq seperti kaum Isma'ili. para pengikut Syi'ah Isma'iliyyah ini memang banyak sekali menggunakan sumber-sumber filsafat. UA 20-21 Jakarta Selatan (bersambung 2/2) . menantu dan sahabat yang menjadi kepercayaan beliau. Sebab dalam melakukan ta'wil terhadap fakta-fakta tekstual agama.

MASALAH TA'WIL SEBAGAI METODOLOGI PENAFSIRAN AL. Paham Sy'iah Isma'iliyyah bertemu dengan Manicheanisme dalam ajaran yang hendak memberi pada penganutnya "kearifan dan martabat kosmis" yang budi kasar orang umum tak mampu menggapainya. pertumbuhan historis paham Sunni merupakan . Mereka juga banyak mengadakan pameran benda-benda seni peninggalan Islam di kota-kota besar dunia (1983 di New York). seperti tampak nyata di banyak kawasan Afrika Timur. Mereka tidak saja menjadi sponsor atas kegiatan kultural dan ilmiah yang antusias. Mereka juga terdiri dari kaum bisnis dan wirausahawan yang sukses. Jawa Tengah. 7507173 Fax. yang menurut penilaian mereka diwakili rintisannya oleh pesantren itu). Magelang. 7501983. Pandangan hidup kaum Isma'ili yang sangat esoteris (bathini) itu telah membuat mereka sebagai salah satu kelompok yang paling eksklusifistik dalam Islam. sebagai bentuk keterlibatan nyata mereka dalam sejarah kemanusiaan.Telp.Risalat Ikhwan al-Shafa. yaitu suatu pecahan agama Majusi (Zoroastrianisme).QUR'AN oleh Nurcholish Madjid (2/2) Unsur Neo-Platonis Kaum Kebatinan ini kemudian muncul dalam karya kefilsafatan besar --yang ditulis sekelompok sarjana yang menamakan diri mereka Ikhwan al-Shafa' (Persaudaraan Suci)-. (021) 7501969. mereka memberi award bidang arsitektur Islam kepada Pesantren Pabelan. paham kebatinan ini juga menunjukkan tanda-tanda adanya pengarah Manicheanisme. atas dasar konsep tentang arsitektur Islam masa depan yang cukup revolusioner. [6] Mereka itu kini dipimpin Aga Khan yang terkenal itu. tapi juga banyak mendorong kemajuan masyarakat manusia pada umumnya. (021) 7507174 Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota Please direct any suggestion to Media Team Artikel Yayasan Paramadina Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota I. PANDANGAN KAUM SUNNI Dari satu segi. khususnya masyarakat Islam sendiri. suatu bentuk kegiatan yang dimungkinkan oleh minat mereka yang besar kepada usaha memelihara warisan sejarah Islam. Diduga bahwa orang-orang Persi penganut Manicheanisme di zaman Abbasiyah secara rahasia masuk Islam dan memeluk paham kebatinan kalangan kaum Isma'ili. kebatinan kaum Isma'ili sangat menekankan pembangunan praktis susunan masyarakat dunia. (Sebagai misal. Tapi lain dari Manucheanisme. Selain unsur Neo-Platonis.2. Sedikit sekali kemungkinan orang luar lingkungan sendiri akan diberi pengakuan kemanusiann yang penuh.

menurut Ibn Taymiyyah. tapi dengan pembatasan-pembatasan begitu rupa sehingga masih bisa dikuasai. Syria. Sebab jika pintu interpretasi metaforis itu ditenggang dengan tidak hati-hati.tapi juga senantiasa menyediakan "lubang pelarian" (loop hole) di bidang hukum bagi mereka yang kesadaran hukumnya lemah. [9] Masih dalam konteks paham Sunni tentang ta'wil ini. yang telah Kami turunkan kepada engkau (Muhammad). Paling jauh. wajah dan mata Tuhan itu tidak sama dengan yang ada pada makhluk seperti manusia. khususnya antara 'Ali dan Mu'awiyah beserta pengikut masing-masing. agar mereka (manusia) merenungkan ayat-ayatnya. merasa senang dan tidak senang.gabungan dua komponen. [8] Mungkin disebabkan latar belakang pertumbuhan historisnya itu maka paham Sunni ditandai semangat umum moderasi dan akomodasi. menutup samasekali kemungkinan mengadakan ta'wil akan menghadapkan orang-orang Muslim yang serius pada kesulitan mengartikan berbagai pelukisan tentang Tuhan yang antropomorfis (yakni. sebaliknya. Berdasarkan firman Allah. wajah dan mata. jika mereka tidak melakukan interpretasi. semua bagian dari ajaran agama akan habis diinterpretasikan. Interpretasi metaforis atau ta'wil tidak saja selalu bersifat abstrak dan intelektualistik --yang tak terjangkau masyarakat banyak-. madzab Madinah itu juga didukung oleh sebagian besar "para pelopor pertama" (al-sabiqun al-awwalun). keterangan dalam al-Qur'an bahwa Tuhan mempunyai tangan. dan agar mereka yang berpengetahuan mendalam menangkap pesannya" [10] Ibn Taymiyyah mengatakan . sehingga tidak ada lagi sisa yang bersifat pasti. [7] Yang politik pragmatis. Tapi. dan "tanpa bagaimana" (bi-la kayfa). Ibn Taymiyyah mengemukakan pandangan yang cukup menarik. mereka tetap menolak antropomorfisme. Kaum Sunni umumnya menerima adanya intepretasi metaforis. Usamah ibn Zayd. Khususnya yang terjadi pada tahun 41 H yang sering disebut para ahli sejarah sebagai "Tahun Persatuan" ('Am al-Jama'ah). Muhammad ibn Maslamah. "Kitab Suci penuh berkah. Inilah metode al-Asy'ari. pendekatan metaforis pada agama akan mempunyai efek melemahnya sendi-sendi dan kesadaran hukum masyarakat banyak. Bahkan. bahwa Dia bertahta di Singgasana. dengan mengatakan bahwa sekali pun disebutkan Tuhan itu mempunyai tangan. Said ibn Abi Waqqash. Yang ideologis ialah "Aliran Penduduk Madinah" (Madzhab Ahl al-Madinah) seperti dikemukakan mereka yang tak mau terlibat dalam pertikaian-pertikaian politik saat itu. dan 'Imran ibn Hasyim. dan tidak bisa disamakan dengan sesuatu apa pun juga. Mereka ini dipelopori 'Abdullah ibn 'Umar. Salah satu wujud semangat itu tampak dalam paham Sunni menghadapi masalah ta'wil itu. Kaum Sunni --yang secara garis besar perjalanan sejarahnya hampir selalu paralel dengan susunan mapan masyarakat Islam-sangat mengkhawatirkan. wajah. menyerupai manusia. dan yang kedua komponen politik pragmatis. namun tangan. misalnya. mata dan lain-lain. Abu Bakrah. maka bagaikan membuka Kotak Pandora. dan seterusnya). Sebab pelukisan antropomorfis itu tidak sesuai dengan penegasan Kitab Suci sendiri bahwa Tuhan tidak sebanding. rujukan utama paham Sunni dalam ilmu Ketuhanan atau akidah. ialah sikap mendukung sebagian terbesar kaum Muslim kepada Mu'awiyah sebagai Khalifah yang sah berkedudukan di Damaskus. yang pertama komponen ideologis.

sifat alegoris atau metaforis keterangan-keterangan dalam Kitab Suci itu tak dapat tidak harus digunakan sebagai metodologi penyampaian pesan. Hanya hal-hal yang maknanya tak masuk akal saja yang tidak direnungkan. baik yang muhkamat maupun mutasyabihat. bagian yang bersifat figuratif. tapi tumpang tindih. Asad berpendapat bahwa al-Qur'an memang mengandung ayat-ayat yang pasti maknanya tanpa samar. sebab "tidak ada kesalahan yang lebih besar daripada berpikir bahwa "terjemahan-terjemahan" (yakni. yaitu. "Apakah mereka (manusia) tidak merenungkan al-Qur'an. Sebagian dari reasoning itu tentu saja. Menurut sarjana ini." [14] PENUTUP Telah dikatakan. Tapi juga tidak sedikit daripadanya yang semata-mata merupakan hasil interaksi antara sesama . juga berpegang pada pandangan yang sama dalam masalah ta'wil ini. dan penafsir al-Qur'an terkemuka Terhadap firman Allah berkenaan dengan ayat-ayat muhkamat dan mutasyabihat yang dikutip di atas tadi. kata Ibn Taymiyyah." dan kedua. ataukah sebenarnya hati mereka telah tersumbat?" [11] Karena itu. ungkapan-ungkapan dalam bahasa manusia) itu dapat memberi definisi pada sesuatu yang tak mungkin didefinisikan. [12] Pandangan hampir serupa dianut juga oleh Abdullah Yusuf Ali. sebagaimana perintah untuk itu dapat dipahami dari firman-Nya. [13] Seorang sarjana Muslim modern penafsir al-Qur'an lain. Abdullah Yusuf Ali memberi komentar sebagai berikut. Secara garis besar al-Qur'an itu dapat dibagi ke dalam dua bagian. inti atau dasar Kitab Suci. Ayat ini memberi kita suatu kunci penting untuk interpretasi al-Qur'an. yang tidak ada asosiasinya dengan apa yang sudah ada dalam alam pikirannya. bersumber pada atau bersifat murni keagamaan. bahwa tujuan kita membahas persoalan interpretasi metaforis ini antara lain ialah untuk mendapatkan kesadaran tentang suatu dimensi pemahaman keagamaan dalam Islam yang ikut memberi corak keanekaragaman kaum Muslim di dunia. tak dibenarkan menganggap perolehannya sebagai mutlak dan final. Maka Allah memuji mereka yang merenungkan firman-firman-Nya. di seluruh Kitab Suci. dan hal yang tak masuk akal itu tak ada dalam al-Qur'an. metaforis dikenakan kepada esensi itu. yang tidak diberikan secara terpisah. pertama. tetapi tak boleh menyia-nyiakan energi kita dalam memperdebatkan sesuatu yang berada di luar kedalaman diri kita. Kita harus mencoba memahaminya sebaik mungkin.bahwa yang harus direnungkan itu ialah semua ayat-ayat al-Qur'an. Dari uraian di atas diharapkan ada sedikit kejelasan bahwa masing-masing kelompok atau aliran dalam Islam memiliki reasoning mereka sendiri dalam memilih suatu pemahaman agama. secara harfiah "Induk Kitab Suci. Namun manusia. baik yang muhkamat maupun yang mutasyabihat. Allah dan Rasul-Nya tidaklah mencela orang yang merenungkan makna di balik ungkapan-ungkapan ayat-ayat mutasyabihat dalam al-Qur'an kecuali jika dilakukan dengan maksud menimbulkan perpecahan dan mencari-cari interpretasinya yang tidak masuk akal. dalam usahanya memahami keterangan-keterangan suci itu. sarjana Muslim di zaman modern ini. Muhammad Asad. namun kebanyakan justru firman-firman yang metaforis. sebab manusia tidak akan dapat memahami sesuatu yang samasekali abstrak.

Tarikh al-Tasyri' al-lslami (Beirut: Dar al-Fikr. 193. Ini sejalan dengan yang dipesankan Tuhan sendiri dalam ajaran-Nya tentang prinsip persaudaraan di antara orang-orang beriman dan bagaimana memeliharanya. 8. atau malah secara logis diperlukan. jil. The Venture of Islam. jil. Shad/38:29. --seperti dikatakan Abdullah Yusuf Ali yang telah dikutip-. meskipun dari sudut pandangan lain. 9. h. 8-9. 378-9. Tuduhan Ibn Taymiyyah itu dinyatakan dalam risalahnya. 7. 4. Namun. hh. (Lihat terjemahnya. keyakinan. QS. 'All 'Imran 3:7. kalau-kalau mereka yang dipandang rendah itu lebih baik daripada mereka yang memandang rendah. khususnya sesama Muslim. h. Khazanah Intelektual Islam [Jakarta: Bulan Bintang. h. Ibn Rusyd. 110. Ma'arij al-Wushul fi Ma'rifat anna Ushul al-Din wa Furu'a-hu qad Bayyana-ha al-Rasul. Maka yang benar ialah menerapkan sikap "ragu yang sehat" (healthy scepticism). Abu al-Hasan al-Asy'ari. 230-1 6. 1974). sebab --seperti kata Muhammad Asad tadi-kita sebenarnya hendak menggapai sesuatu (Kebenaran Mutlak) yang tidak bakal tergapai. Marshall G. QS. (Chicago: The University of Chicago Press.. Lihat risalahnya.. cit. dalam buku kami. Khazanah. Dan sementara kita melihat orang lain demikian. hh. khususnya.orang-orang Muslim sendiri atau antara orang-orang Muslim dengan non-Muslim dalam sejarah. Ibn Rusyd. 1387 H 1967 M). 3 jilid. tt. Itsbat al-Nubuwwat. 2. 1. . 1348 H). Al-Syaykh Muhammad al-Hudlari Bek. 10. 1 h. 137-51. 3. 11. dianut Ibn Sina (Avicenna). Lihat dalam buku kami." [15] CATATAN 1. h. al-Ibanah'an Ushul al-Diyanah (Idarat al-Thiba'at al-Muniriyyah. 249). QS.. Khazanah. Ibn Taymiyyah. 217-8). S. atau memberi orang lain apa yang disebut "hikmah keraguan" (benefit of doubt) dalam pergaulan sesama manusia. Hodgson. pengakuan itu mungkin dibenarkan saja.). 1984]. op. (dalam Khazanah). Dari sudut pandangan inilah absurd-nya pengakuan diri sendiri sebagai yang paling benar. khususnya h. (Riyadl: Maktabat al-Riyadl al-Haditsah. Muhammad/47:24. pada waktu yang sama kita harus menyadari bahwa orang lain pun melihat kita demikian. yang kami terjemahkan dalam buku kami. misalnya. janganlah ada suatu kaum di antara kamu yang memandang rendah kaum yang lain. 'Wahai sekalian orang-orang yang beriman. 4 jilid. Pandangan seperti ini.seorang yang bijaksana tak boleh bersikap dogmatis. misalnya. Minhaj al-Sunnah al-Nabawiyyah fi Naqdl Kalam al-Syi'ah wa al-Qadariyyah. 5. Fashl al-Maqal wa Taqrir Ma bayn al-Hikmah wa al-Syari'ah min al-Ittishal.

but intermingled. but between the meanings attached to them. Muhammad Asad. as the final meaning is known to God alone. -------------------------------------------Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah Editor: Budhy Munawar-Rachman Penerbit Yayasan Paramadina Jln. 7501983. Metro Pondok Indah Pondok Indah Plaza I Kav. and something eternal and independent of time and space. h. 991. (021) 7501969. but it refers to such a profound spiritual matters that human language is inadequate to it. Each verse is but a Sign or Symbol: what it presents is something immediately applicable. Translation and Commentary. no one should be dogmatic. The Message of the Qur'an. --the "Forms of Ideas" in Plato's Philosophy. not given separately. which are plain to everyone's understanding. Yusuf Ali. Broadly speaking it may be divided into two portions. and though people of wisdom may get some light from it. 14. The division is not between the verses. appendix 1. The wise man will understand that there is an "essence" and an illustrative clothing given to the essence. Al-Hujarat/49:11. h. QS. h.12. we shall find that in a sense the whole of the Qur'an has both "established meaning" and allegorical meaning. and ordinance If we refer to xi-1 and xxxix-23. the essence of God's message. This passage gives us an important clue to the interpretation of the Qur'an. The Commentators usually understand the verses "of established meaning" (muhkam) to refer to the categarical orders of the Syari'at (or the Law). The Holy Qur'an. as distinguished from the various illustrative parables. 8-9. We must try to understand it as best as we can but not waste our energies in disputing about matters beyond our dept (A. 1973). It is very fascinating to take up the latter. allegorical. 123. 7507173 Fax. al-Iklil fi al-Mutasyabih wa al-Ta'wil (Kairo: Dar al-Mathba'at al-Salafiyyah. 1403 H]. 13. But perhaps the meaning is wider: the "mother of the Book" must include the very foundation on which all Law rests. catatan 347)." and (2) the part which is figurative. literally "the mother of the Book. (1) the nucleus or foundation of the Book. allegoric. (021) 7507174 Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota Please direct any suggestion to Media Team Artikel Yayasan Paramadina Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan . UA 20-21 Jakarta Selatan Telp. Ibn Taymiyyah. throughout the Book. [Jeddah: Dar al-Qiblah. and exercise our ingenuity about its inner meaning. viz. 15. metaphorical.

Relevansinya Bagi Pandangan Historisis Segi-Segi Tertentu Ajaran Keagamaan oleh Masdar F. sebagai berikut: 1. MANFAAT PENGETAHUAN ASBAB AL-NUZUL Di antara hal-hal yang dapat dengan jelas menjadi petunjuk tentang sebab turunnya sebuah firman ialah jika dimulai dengan ungkapan dialogis. diketahui dengan cukup pasti adanya situasi atau konteks tertentu diwahyukan suatu firman. 3. Seperti. sejarah al-Qur'an maupun sejarah Islam. dan lain sebagainya.ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota I. teori atau berita tentang adanya "sebab-sebab turun"-nya wahyu tertentu dari al-Qur'an kepada Nabi s. Alasan mula pertama yang mendasari suatu kepentingan hukum. Makna dan implikasi langsung dan segera terpahami (muhabir. Menentukan apakah makna sebuah ayat mengandung terapan yang bersifat khusus atau bersifat umum. Konteks itu akan memberi penjelasan tentang implikasi sebuah firman. 5. Mas'udi (1/3) Asbab al-Nuzul adalah konsep. Situasi historis pada zaman Nabi dan perkembangan komunitas muslim. Maksud asal sebuah ayat. baik berupa satu ayat.. Atau seperti surat al-Masad (Tabbat).a. 4. seperti "Mereka bertanya kepadamu (Nabi)". ayat tentang perubahan bentuk rembulan (al-ahillah) dalam surat al-Baqarah/2:189. beserta istrinya. dan kalau demikian dalam keadaan bagaimana itu dapat atau harus diterapkan. Demikian juga. Beberapa di antaranya bahkan dapat langsung disimpulkan dari lafal teks firman bersangkutan. khususnya mengenai ayat-ayat hukum. sebagaimana hal tersebut dapat dilihat dari konteks aslinya. KONSEP ASBAB AL-NUZUL . "Katakan kepada Mereka". Pengetahuan tentang asbab al-Nuzul akan membantu seseorang memahami konteks diturunkannya sebuah ayat suci. dan lain-lain. misalnya. sudah dikemukakan di atas. 2. satu rangkaian ayat atau satu surat. Sebagai sebuah contoh ialah firman Allah. dan memberi bahan melakukan penafsiran dan pemikiran tentang bagaimana mengaplikasikan sebuah firman itu dalam situasi yang berbeda. yang bernama atau dipanggil Abu Lahab. Konsep ini muncul karena dalam kenyataan. "Kepunyaan Allah-lah timur dan barat. lafal permulaan ayat pertama surat al-Anfal menunjukan dengan jelas bahwa firman itu diturunkan kepada Nabi untuk memberi petunjuk kepada beliau mengenai perkara yang ditanyakan orang tentang bagaimana membagi harta rampasan perang. immediate) dari sebuah firman. paman nabi sendiri. dan juga Zayd (ibn Haritsah). Ahmad von Denffer memberi rincian arti penting bagi pengetahuan tentang asbab al-nuzul.3. seperti diungkapkan para ahli biografi Nabi. maka kemanapun kamu menghadapkan . Juga jika di situ disebutkan nama pribadi orang seperti. dari lafal dan konteksnya masing-masing dapat diketahui dengan jelas sebab-sebab turunnya surat Abasa al-Tahim. Dengan mengutip berbagai sumber otoritas dalam bidang ini. adalah jelas turun dalam kaitannya dengan pengalaman Nabi yang menyangkut seorang tokoh kafir Quraisy.w. nama Abu Lahab.

Nilai berita itu sendiri sama dengan nilai berita-berita lain yang menyangkut Nabi dan Kerasulan Beliau. Maka tidak perlu lagi ditegaskan bahwa informasi-informasi yang ada harus dipilih dengan sikap kritis." Tetapi karena konteks turunnya firman itu bersangkutan dengan peristiwa tertentu diatas. dengan dampak kesamaan yang menakjubkan antara seluruh kaum muslim di muka bumi ini dalam hal peribadatan. perbedaan sangat . Kalangan bukan Islam biasanya merasa heran. serta otentik dan palsunya. penuturan atau berita tentang suatu sebab turunnya wahyu tertentu juga dapat beraneka ragam. sekalipun dalam keadaan normal diwajibkan. Karena itu bersangkut pula persoalan kuat dan lemahnya berita itu. yang menegaskan bahwa kemanapun seseorang menghadapkan wajahnya.wajahmu. Ia harus menghadap ke kiblat yang sah. ia sebenarnya juga menghadap Tuhan. Sebab yang penting ialah nilai shalat itu sendiri sebagai tindakan mendekatkan diri kepada Allah dan mengasah jiwa untuk lebih bertaqwa kepada-Nya. mungkin tidak akan dapat mengerti. Sebagai misal ialah berita tentang sebab turunnya firman yang dikutip di atas. Kiblat itu hanya sebagai lambang orientasi hidup yang benar dan konsisten serta kesatuan orientasi itu antara seluruh umat Islam sedunia. Dan seperti halnya persoalan hadits pada umumnya. Kemudian mereka bertanya kepada Nabi berkenaan dengan apa yang mereka alami itu. berdasarkan penuturan Abd 'l-Lah ibn 'Umar. tidaklah menyangkut sebenarnya nilai shalat itu. Maka turunlah ayat suci itu. seseorang boleh melakukan shalat sunnah kemanapun di atas kendaraannya. tidaklah berarti dalam sembahyang seorang muslim dapat menghadap kemanapun ia suka. yaitu al-Masjid al-Haram di Makkah. timur ataupun barat. tidaklah menjadi persoalan. karena Tuhan tidak terikat oleh ruang dan waktu. shahih dan dha'if. sehingga Tuhanpun "ada dimana-mana. al-Baqarah/2:115). atau kalau karena kondisi tertentu tidak mungkin baginya menghadap ke arah yang benar. Pertama. al-Wahidi al-Nisaburi menerangkan tentang adanya beberapa versi lain tentang sebab turunnya firman terrsebut. Berdasarkan penuturan Jabil ibn 'Abd-Allah. di sanalah Wajah Allah. Firman ini turun kepada Nabi berkaitan dengan adanya peristiwa yang dialami sekelompok orang beriman yang mengadakan perjalanan di malam hari yang gelap gulita. mengapa terdapat kesamaan yang demikian besar dan jauh diantara seluruh umat Islam di dunia dalam hal shalat dan peribadatan lain. (Dalam agama lain. Menghadap kiblat yang telah ditentukan. sehingga implikasinya juga dapat menyangkut beberapa situasi yang berbeda. sejalan dengan keaneka ragaman sumber berita. Tapi firman itu juga menegaskan bahwa sembahyang menghadap kemanapun dalam keadaan darurat. Pagi harinya mereka baru menyadari bahwa semalam mereka bersembahyang dengan menghadap ke arah yang salah. Sesungguhnya Allah adalah Maha Meliputi dan Maha Tahu". Semua ini menjadi wewenang cabang ilmu kritik hadits (ilmu tajrih dan ta'dil) para ahli. melainkan sunnah. yaitu arah al-Masjid al-Haram di Makkah. yaitu berita-berita Hadist. (QS. Tetapi ia dibenarkan menghadap mana saja dalam shalat jika ia tidak tahu arah yang benar. Kita sendiri mengetahui betapa efektifnya simbolisasi kiblat ini. tidak ke kiblat. apalagi jika sembahyang itu bukan sembahyang wajib. [1] SUMBER BERITA ASBAB AL-NUZUL Sumber pengetahuan tentang asbab al-nuzul diperoleh dari penuturan para Sahabat Nabi.

Ethiopia). Maka berlomba-lombalah kamu sekalian untuk berbagai kebaikan." (QS. Dan umat manusia dalam orientasi yang berbeda-beda itu hendaknya berlomba menuju kepada berbagai kebaikan. mengingat jasa-jasanya yang besar itu. menurut versi penuturan ashab al-nuzul ini. Di (kelompok) manapun kamu berada. karena perlindungan yang diberikannya kepada para pengikut Nabi yang berhijrah ke negeri itu untuk menghindar dari penyiksaan kaum musyrik Makkah. ketika Nabi dengan izin Allah mengubah kiblat sembahyang dari arah Yerusalem menjadi ke arah Makkah. kurang lebih adalah demikian: Dan bagi setiap (kelompok manusia) ada arah (wijhah) yang kepadanya kelompok itu menghadap. tidaklah dibenarkan adanya tekanan yang serba mutlak atas kewajiban menghadapkan wajah ke Makkah. Menurut penuturan ibn Abi Thalhah. Najasyi adalah raja Habasyah yang besar sekali jasanya kepada Nabi. Seterusnya. kaum Yahudi bertanya-tanya. "Kami adalah orang-orang Nasrani" (Q. Jadi firman Allah tentang "timur dan barat" tersebut di mempunyai kemungkinan implikasi dan aplikasi yang luas. Meskipun lambang dan makna harus ada secara serentak. mengapa mereka diperintahkan untuk melakukan shalat jenazah bagi Raja Najasyi (Negus) dari Abessinia (Habasyah. ayat suci di atas itu turun berkenaan dengan adanya pertanyaan kepada Nabi. sebab tekanan serupa itu akan membawa kepada sikap lebih mementingkan lambang atau simbol daripada isi atau makna. Walaupun kiblat sebagai lambang persatuan dan kesamaan itu demikian pentingnya. seperti difirmankan di tempat lain. Allah akan mengumpulkan kamu semua. Dari balik pertanyaan sementara Sahabat di atas itu dapat diketahui dengan jelas bahwa sekalipun Najasyi adalah seorang Kristen. kaum Muslim. berdasarkan penuturan 'Abd 'l-Lah ibn 'Abbas. tanpa terlalu banyak mempersoalkan perbedaan antara mereka. al-Maidah/6:82). menegaskan bahwa masalah kemanapun orang menghadap dalam sembahyang bukanlah perkara penting. Dan Nabi dalam memerintahkan sahabat beliau untuk melakukan shalat jenazah bagi Najasyah menggambarkan raja Habasyah itu sebagai "saudara" kaum beriman. namun berdasarkan firman Allah yang menegaskan bahwa kemanapun kita menghadapkan wajah kita maka di sanalah wajah Allah. juga dari bangsa atau negeri ke bangsa atau negeri lain meskipun dari satu sekte). Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu. atas Versi ketiga tentang sebab turunnya firman itu menyangkut kaum Yahudi Madinah. yang menegaskan bahwa sedekat-dekat umat manusia dalam rasa cintanya kepada kaum muslim ialah "mereka yang berkata. .s. al-Baqarah/2:148). Lengkapnya. kaum muslim dan agama Islam. pandangan lain. namun dari ayat suci itu jelas sekali bahwa segi makna adalah lebih penting daripada segi lambang. terjemahnya. firman Allah itu. Perlakuan yang amat simpatik kepada kaum muslim dan sikapnya yang penuh pengertian kepada ajaran Islam yang menyebabkan turunnya firman Allah yang lain. Yang penting ialah sikap batin yang ada dalam dada.terasa dari sekte ke sekte lain. setiap kelompok manusia mempunyai arah (wijhah) ke mana mereka menghadap atau berorientasi. Dan firman Allah yang terkait itu. Sebab. namun Nabi memerintahkan mereka berdoa baginya. yang semasa hidupnya (sebagai seorang Kristen) bersembahyang menghadap kiblat yang berbeda dengan kiblat mereka sendiri.

Lengkapnya.mengapa ada perubahan yang mengesankan sikap tidak teguh dalam beragama serupa itu?! Maka firman Allah tersebut dimaksudkan untuk menampik ejekan kaum Yahudi dan menegaskan bahwa perkara arah menghadap dalam sembahyang bukanlah sedemikian prinsipilnya sehingga harus dikaitkan dengan permasalahan nilai keagamaan yang lebih mendalam seperti keteguhan atau konsistensi (istiqamah) sebagai ukuran kesejatian dan kepalsuan. dan jika orang mendermakan hartanya. guna membebaskan budak. [2] Berkenaan dengan masalah itu bahkan turun firman yang menegaskan bahwa kebaikan tidaklah diperoleh hanya menghadapkan muka ke arah timur ataupun barat. Nabi dan masyarakat Islam di zaman beliau. adalah milik Allah semata. para peminta-minta. dan tabah dalam menghadapi penderitaan dan kesusahan. Telah dikemukakan bahwa adanya nama pribadi Zayd yang tersebutkan dalam al-Qur'an. orang terlantar di perjalanan. Hari Kemudian. (QS. khususnya segi-segi tertentu ajaran agama di bidang hukum. dan berbuat kepada sesama manusia dan makhluk untuk dibawa ke Hadirat Tuhan di Akhirat nanti. serta mereka yang menepati janji jika mereka berjanji. melainkan karena hal-hal yang lebih sejati seperti iman kepada Allah yang selalu hadir (omnipresent) dalam hidup manusia sehari-hari. juga jika orang menegakkan sembahyang dan mengeluarkan zakat. betapapun cintanya kepada harta itu. IMPLIKASI ASBAB AL-NUZUL Salah satu masalah yang banyak dibahas oleh para ahli agama. para Malaikat. Tetapi kebaikan ialah jika orang beriman kepada Allah. Suatu peristiwa pribadi. Asbab al-Nuzul menunjukkan banyaknya kasus suatu nilai ajaran atau hukum diwahyukan kepada Nabi dalam kaitannya dengan peristiwa nyata tertentu yang menyangkut. telah menjadi titik tolak ditetapkannya suatu hukum Tuhan tentang pembatalan atau. Mereka itulah orang-orang yang benar (sejati dalam kebaikan). siapa ayah-ibu biologis anak tersebut). orang-orang miskin. "Taghayyur al-ahkam bi thagayyur al-zaman wa al-makan" (Perubahan hukum oleh perubahan zaman dan tempat). Tetapi mereka berselisih tentang batas terjauh dibenarkannya perubahan itu. Para ahli fiqih sepakat bahwa dalam hukum berubah menurut peruhahan zaman dan tempat. yatim piatu. al-Baqarah/2:177). Pembatalan ini dipertegas . Zaynab. Kaidah mereka mengatakan. serta dalam masa-masa sulit. seperti barat dan timur. untuk kaum kerabat. berupa perceraian Zayd ("ibn Muhamad") dari istrinya. firman berkenaan dengan masalah kiblat ini. terjemahnya adalah demikian: Bukanlah kebaikan itu bahwa kamu menghadapkan wajahmu ke arah timur atau barat. Sebab akhirnya semua penjuru angin. tanpa kelebihan nilai salah satu atas yang lain. penghentian makna kehukuman (legal significance) praktek pengambilan anak angkat (tanpa memelihara atau mempertahankan adanya informasi tentang. percaya kepada adanya pertanggungjawaban pribadi mutlak di Hari Kemudian (Akhirat). ialah sejauh mana nilai atau ketetapan hukum dalam Islam ditentukan oleh keadaan ruang dan waktu. Para ulama telah menuangkan masalah asbab al-nuzul ini dalam berbagai karya ilmiah yang kini menjadi rujukan para ahli. dan mereka itulah orang-orang yang bertaqwa. Kitab Suci dan para Nabi.

Allah Maha Tahu akan segala sesuatu. mereka takut kepada-Nya. 7501983. agar tidak lagi ada halangan bagi kaum beriman untuk (kawin dengan bekas) istri anak-anak angkat mereka.s. "namun engkau sendiri (Nabi) merahasiakan apa yang ada dalam dirimu yang Allah akan memperlihatkannya. Mereka (yang telah lalu sebelumnya) itu adalah orang-orang yang menyampaikan risalat (pesan-pesan suci) Allah. Metro Pondok Indah Pondok Indah Plaza I Kav. bekas anak angkatnya. yaitu "ibn Haritsah. dan engkau (Nabi) takut kepada sesama manusia padahal Allah lebih patut engkau takuti.dengan contoh nyata. Tidak sepatutnya bagi Nabi ada perasaan enggan mengenai apa yang diwajibkan Allah kepadanya. (Q. sesuai dengan sunnah (hukum) Allah pada mereka yang telah lewat sebelumnya. Kemudian Zayd-pun tidak lagi menyandang nama "ibn Muhamad" tapi dikembalikan kepada nama aslinya. jika mereka (anak-anak angkat) itu telah putus menceraikan istri-istri mereka. 7507173 Fax. Zayd. Muhamad bukanlah ayah seseorang (tanpa keterkaitan keorangtuaan biologis) di antara kamu. dengan sebuah kasus jaz'i (partikular). yaitu dinikahkannya Nabi oleh Allah dengan Zainab. yaitu perceraian Zaid dari Zainab dan perkawinan .3. (021) 7507174 Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota Please direct any suggestion to Media Team Artikel Yayasan Paramadina Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota I. UA 20-21 Jakarta Selatan Telp. melainkan dia adalah rasul Allah dan Penutup para Nabi. Mas'udi (2/3) Jadi firman itu memang turun kepada Nabi berkenaan dengan suatu peristiwa konkret yang menyangkut sepasang suami-istri. Cukuplah Allah sebagai penghitung. al-Ahzab/33:37-40). Dapat dilihat bahwa dalam peristiwa Zaid dan Zainab dan yang "ditangani" langsung oleh kitab suci itu terdapat kaitan antara suatu nilai hukum kulli (universal). maka setelah putus Zaid untuk bercerai dari dia (Zainab). dan tidak takut kepada seorangpun selain Allah. -------------------------------------------. (021) 7501969. Dan perintah Allah adalah sesuatu yang sangat pasti. yaitu pembatalan makna legal praktek mengangkat anak. "Pertahankanlah istrimu (Zainab) dan bertaqwalah kepada Allah.Relevansinya Bagi Pandangan Historisis Segi-Segi Tertentu Ajaran Keagamaan oleh Masdar F. Dan perintah Allah haruslah terlaksana.(bersambung 2/3) Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah Editor: Budhy Munawar-Rachman Penerbit Yayasan Paramadina Jln. setelah bercerai dari." Firman Allah yang menyangkut tentang Zaid dan Zainab itu demikian: Dan ingatlah tatkala engkau (Nabi) berkata kepada dia (Zaid) yang Allah telah karuniakan kebahagiaan dan engkaupun telah pula memberinya kebahagiaan. KONSEP ASBAB AL-NUZUL .

maka sungguh sia-sialah amal perbuatannya. la bi khushush al-sabab). Pada hari ini dihalalkan pada kamu perkara yang baik-baik. dan makanan kamu halal bagi mereka. sebagimana makanan kaum beriman halal bagi mereka: Mereka bertanya kepada engkau (Nabi) tentang apa yang dihalalkannya untuk mereka. Makanan mereka yang mendapat Kitab Suci (Ahl al-Kitab) adalah halal bagi kamu. atau bahkan mungkin ta'wil (interprestasi metaforis) yang tidak jarang menimbulkan kontroversi. Dengan begitu nilai tersebut tidak lagi terikat oleh kekhususan peristiwa asal mulanya dan dapat diberlakukan pada kasus-kasus lain di semua tempat dan sepanjang masa (dan inilah makna universalitas suatu nilai). dan sebutlah nama Adlah atasnya. ketika Hudzaifah meminta pendapat. Masalah selanjutnya yang lebih esensial dari contoh di atas itu ialah. Dan (halal. yang pada lahirnya seperti meninggalkan atau menyimpang dari ketentuan Kitab Contoh klasik dari persoalan tersebut ialah tindakan Umar ibn al-Khaththab pada waktu menjabat sebagai khalifah. juga wanita merdeka dari kalangan mereka yang mendapat Kitab Suci sebelum kamu. bekas "menantu"-nya. Sesungguhnya Allah Maha Cepat dalam perhitungan. bagaimana suatu nilai dari sebuah kasus dapat ditarik dari dataran generasitas yang setinggi-tingginya. Maka . yang isinya menceritakan bahwa ia telah kawin dengan seorang wanita Yahudi di kota al-Mada'in. dan kamu nikahi mereka (secara sah). karena itu makanlah apa yang ditangkap oleh binatang berburu itu untuk kamu. Ini dengan sendirinya menyangkut masalah kemampuan pemahaman yang mendalam sedalam-dalamnya dan seluas-luasnya. jika kamu beri mereka mahar-mahar mereka. Penyebutan tentang dibolehkannya lelaki Muslim kawin dengan wanita Kristen atau Yahudi dalam al-Qur'an ada dalam rangkaian dengan penyebutan tentang dihalalkannya makanan kaum Ahl al-Kitab itu bagi kaum beriman. Lalu. padahal al-Qur'an jelas membolehkannya. al-Maidah/5:4-5)." (QS. Para ahli hukum Islam telah membuat patokan untuk masalah ini. tanpa kamu menjadikan mereka objek seksual semata (zina). dengan kaidah mereka. Barangsiapa menolak untuk beriman. yakni dibenarkan kawin. dan tanpa kamu memperlakukan mereka sebagai gundik. Suatu ketika Umar menerima surat dari Hudzaifah ibn al-Yamman. Tetapi sebuah generalisasi hanya dapat dilakukan jika inti pesan suatu firman dapat ditangkap. Sebab dalam melakukannya selalu ada kemungkinan dicapai suatu pandangan. juga (dihalalkan bagi kamu binatang yang ditangkap) oleh binatang-binatang berburu yang kamu latih dengan kamu biasakan menangkap binatang buruan dan kamu ajari binatang-binatang itu dengan sesuatu (ketrampilan) yang diajarkan Allah kepada kamu.Nabi dengan Zainab. pada urutannya. "Pengambilan makna dilakukan berdasarkan generalitas lafal. tersangkut pula masalah tafsir. atau tindakan. dan ia di akhirat akan tergolong orang-orang yang merugi. Tapi Umar seperti dalam beberapa kasus lain. Jawablah. tidak berdasarkan partikularitas penyebab" (Al-Ibrah bi umum al-lafdh. tidak berpegang kepada makna lahiriah bunyi lafal firman itu. bagi kamu) para wanita merdeka dari kalangan wanita beriman. serta bertaqwalah kepada Allah. "Dihalalkannya bagi kamu apa saja yang baik. Komandan kaum beriman (Amir al-Mu'minin) itu tidak membenarkan seorang tokoh Sahabat Nabi kawin dengan wanita Ahl al-Kitab (Yahudi atau Kristen).

antara lain dengan mengatakan: "Kuharap engkau tidak akan melepaskan surat ini sampai dia (wanita Yahudi) itu engkau lepaskan Sebab aku khawatir kaum Muslim akan mengikuti jejakmu. dan banyaknya bangsa-bangsa bukan muslim yang menjadi rakyat kekhalifahan itu. Muhamad ibn al-Husain. mengatakan. dan itulah juga pendapat Abu Hanifah. Kita hanya berpendapat hendaknya para wanita muslim diutamakan. dan Thalhah ibn Ubaid-Allah yang . selain Hudzaifah. mengatakan bahwa tindakan khalifah kedua itu menyalahi nas atau lafal Kitab Suci. Utsman bin Affan. dan kepada kaum Hindu. Konfusianis. Sebab. Meskipun ternyata larangan (sementara) Umar itu lambat laun ditinggalkan (dan bangsa Arab umumnya melakukan integrasi total dengan penduduk di mana mereka hidup sehingga lebur dengan bangsa setempat)." Menurut julur penuturan lain. "Kita ikuti pendapat Umar itu. Ia hanya mengkawatirkan terlantarnya wanita muslimah. MASALAH KEPENTINGAN UMUM (AL-MASHLAHAT AL-AMMAH) Maka berdasarkan tindakan Umar itu. tetapi dapat diperluas juga kepada kaum Majusi atau Zoroastri (sudah sejak Umar). yaitu terlantarnya kaum muslimah sendiri jika kaum muslim lelaki diizinkan dengan bebas menikah dengan wanita Ahl al-Kitab. [3] Maka apa yang dikuatirkan khalifah sungguh-sungguh dapat menjadi kenyataan. juga menyalahi apa yang dilakukan sebagian para Sahabat Nabi. Na'ilah al-Kalbiyah. dan belum banyak kalangan dari bangsa lain yang memeluk Islam.Umar. Dr. asal-usul agama-agama Asia itupun adalah paham Ketuhanan Yang Maha Esa atau Tauhid. seperti. khalifah ketiga. lalu mereka mengutamakan para wanita Ahl al-Dzimmah (Ahl al-Kitab yang dilindungi) karena kecantikan mereka. dan agama-agama itu mempunyai kitab suci. yang beristrikan wanita Kristen Arab. misalnya. Hal ini sudah cukup sebagai bencana bagi para wanita kaum muslim. Sebab waktu itu kaum muslim itu hanya terbatas kepada minoritas kecil para penguasa politik dan militer dan hampir terdiri hanya dari bangsa Arab saja. seperti dikatakan oleh Abd al-Hamid Hakim. seperti. Disebabkan oleh meluasnya daerah kekuasaan politik kekhalifahan Islam. Sebab. dalam surat jawabannya memberi peringatan keras. Apabila kelak. Abd-al-Fattah Husaini al-Syaikh. Taois. namun kebijakan khalifah kedua itu menjadi preseden dalam yurisprudensi Islam tentang kemungkinan dilakukannya kebijakan khusus sesuai dengan tuntutan ruang dan waktu. Umar menegaskan bahwa kaum lelaki muslim kawin dengan wanita Ahl alKitab tidaklah terlarang atau haram. Karena itu banyak ahli fiqih yang berpandangan bahwa konsep Ahl al-Kitab tidak terbatas hanya kepada kaum Yahudi atau Kristen saja. misalnya. setelah Persia dibebaskan (di zaman Umar sendiri) dan lembah Indus oleh Muhamad ibn Qasim (di zaman al-Walid ibn al-Malik). Shinthois dll. ada beberapa tokoh Sahabat Nabi yang beristrikan wanita Ahl al-Kitab. Jadi ada timbangan sisi historis dan humanis dalam menetapkan suatu hukum. Buddha. para ahli hukum Islam masa lalu. maka kesempatan nikah dengan wanita Kristen dan Yahudi juga menjadi terbuka lebar. seorang tokoh terkemuka pembaharuan Islam di Sumatra Barat. konsep tentang Ahl al-Kitab diperluas meliputi kaum Majusi dan Hindu-Buddha. namun kita tidak memandang perkara tersebut (lelaki muslim kawin dengan wanita Ahl al-Kitab) sebagai terlarang." Kemudian rektor universitas al-Azhar. sekalipun berada di negara Islam.

pendahulunya. Tetapi faktor itu lenyap. penghapusan perlakuan khusus pada para mu'allaf. maka dengan sendirinya lenyap pula alasan melarangnya. Maka Umar dengan berbagai kebijakannya adalah seorang penguasa yang berusaha mengurangi sesedikit mungkin efek kritis perubahan sosial itu. membuat ibukota. Kekhalifahan Umar adalah masa permulaan pembebasan negeri-negeri sekitar Arabia. namun kedua-duanya bermaksud membela keadilan. yang dapat menjadi sumber krisis. kata rektor al-Azhar lebih lanjut. mengalami berbagai perubahan sosial yang besar. Abu Bakar berpendapat bahwa keadilan terwujud dengan penyamarataan antara semua tentara Islam. bahwa pemerintah boleh melarang sementara sesuatu yang sebenarnya halal jika ada faktor yang merugikan masyarakat. adalah sepenuhnya berada dibawah kekuasaan dan menjadi "milik" perampasnya). termasuk juga wanita tawanan (yang menurut hukum perang di seluruh dunia pada waktu itu tawanan perang. khususnya Syria. Khalifah dalam menetapkan kebijakan hukumnya menerapkan prinsip bahwa semua hukum agama mengandung alasan hukum (illah. pembagian tingkat penerimaan "ransum" (semacam gaji tetap) bagi tentara Islam berdasarkan seberapa jauh ia banyak atau kurang berjasa dalam sejarah Islam sejak zaman Nabi (padahal Abu Bakar. [4] Karena itu ada yang menyatakan bahwa tindakan khalifah kedua itu adalah sejenis tindakan politik (tasharuf siyasi). Semua tindakan tersebut tidaklah dilakukan khalifah menurut kehendak hatinya sendiri. pengefektifan hukum talak tiga (talak batin yang dilarang rujuk) bagi orang yang menyatakan talak tiga kali kepada istrinya meskipun pernyataan itu diucapkan sekaligus dan tanpa tenggang waktu. Sebaliknya Umar justru berpendapat akan tidak adil jika masa lalu . Umar tidak melakukan larangan itu kecuali setelah melihat adanya hal yang kurang menguntungkan bagi masyarakat Islam. Umar berbeda dengan Abu Bakar dalam kebijakannya tentang penyamarataan atau pembedaan besarnya jumlah ransum tentara. pembagian tanah-tanah pertanian di Syria dan Irak kepada penduduk setempat (tidak kepada tentara Islam seperti sebagian besar Sahabat Nabi berpendapat demikian). tanpa memandang masa lampau mereka. lelaki maupun lebih-lebih lagi perempuan. Dan Umar tidaklah mengatakan sebagai haram --hal mana tentu akan berarti menentang hukum Allah-. Madinah. Kekayaan yang melimpah ruah secara tiba-tiba akibat banyaknya harta rampasan perang. yang dalam hal ini adalah jauh lebih kaya daripada Hijaz di Jazirah Arabia. larangan berkumpul untuk selamanya bagi wanita dengan lelaki yang tidak dikawininya pada saat menunggu (iddah). Dan Umar tidak hanya menerapkan kebijakan politik melarang sementara perkawinan dengan wanita Ahl al-Kitab. sejalan dengan kepentingan umum (al-mashlahat al-ammah) dan sesuai dengan tanggungjawab seorang penguasa dan pelaksana hukum bersangkutan.beristrikan seorang wanita Yahudi dari Syam (Syiria).melainkan hanya sekedar menjalankan suatu patokan yang sudah tetap dikalangan para ahli. sebagai misal. Ia juga dicatat membuat deretan berbagai kebijaksanaan "kontroversial" seperti meniadakan hukum potong tangan bagi pencuri di masa sulit seperti paceklik. [6] Dan meskipun. Menurut Dr Abd-al-Fattah. Mesir dan Persia. menerapkan prinsip penyamarataan antara semuanya). Tetapi. yang timbul karena pertimbangan kemanfaatan (expediency) menurut tuntutan zaman dan tempat. ratio legis) yang harus diperhatikan dalam pelaksanaannya.

Konsep itu. 7501983. 7507173 Fax. yaitu bahwa masalah penarikan atau pengangkatan makna umum (generalisasi) suatu nilai hukum akan menyangkut masalah penafsiran dan kemampuan memahami lebih mendalam inti pesan yang dikandungnya.masing-masing tentara itu diabaikan. baik Kitab maupun Sunnah. seperti dikatakan rektor al-Azhar. padahal sebagian dari mereka benar-benar jauh lebih berjasa daripada sebagian yang lain. seperti yang pandangan teoretisnya dikembangkan oleh para ahli fiqih dengan kepeloporan Imam al-Syafi'i. menyangkut masalah adanya bagian tertentu dari al-Qur'an ataupun Hadits yang "dihapus" (mansukh) dan yang "menghapus" (nasikh). yang menjadi salah satu tumpuan harapan bahwa Islam akan mampu lebih baik dalam menjawab tantangan zaman di masa depan. Metro Pondok Indah Pondok Indah Plaza I Kav. Rasa keadilan mengatakan bahwa sebagian orang yang berbuat lebih banyak tentunya juga harus mendapatkan balas jasa dan penghargaan lebih banyak. UA 20-21 Jakarta Selatan Telp. dalam arti wujud fisiknya yang menyangRut formalitas penghadapan wajah ke suatu arah tertentu. pendirian Abu Bakar dan Umar membuktikan bahwa yang dituju oleh hukum ialah makna atau pesan yang dikandungnya (al-ahkam turadu li ma ani-ha). menurut Hodgson. maka hasilnya pun dapat berbeda-beda pula. konsep nasikh-mansukh juga mengandung kesadaran historis di kalangan ahli hukum Islam. maka makna tidak boleh ditinggalkan. Dan karena lebih penting daripada formalitas. Yaitu bahwa kiblat. namun sebagian besar ulama menganutnya. (021) 7507174 Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota Please direct any suggestion to Media Team . melainkan dimaksudkan maknanya. sementara formalitas dalam keadaan tertentu boleh ditinggalkan. Adalah kesadaran historis ini. yang ikut berharap bahwa umat Islam akhirnya akan mampu menjawab tantangan zaman: -------------------------------------------. Yang jelas ialah. berkenaan dengan sumber-sumber pengambilan ajaran agama. [6] Ini membawa kita kembali pada polemik sekitar kiblat shalat yang telah dikemukakan di atas. MASALAH HISTORIS AJARAN KEAGAMAAN Itulah wujud contoh apa yang dikemukakan di atas. [7] Meskipun teori "hapus-menghapuskan" ini tidak lepas dari kontroversi.(bersambung 3/3) Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah Editor: Budhy Munawar-Rachman Penerbit Yayasan Paramadina Jln. tidaklah dimaksudkan pada dirinya sendiri. Yang jelas ialah bahwa dalam kaitannya dengan konsep tentang asbab al-Nuzul. Dan karena kemampuan tersebut dapat berbeda-beda antara berbagai pribadi. Kata Hodgson. (021) 7501969. dengan perbedaan disana-sini dalam hal materi mana yang menghapus dan mana pula yang dihapus. Konsep asbab al-Nuzul mempunyai kaitan yang erat dengan konsep lain yang juga amat penting. yaitu nasikh-mansukh.

lalu mengapa agama para Nabi itu berbeda-beda? Jawabnya ialah. yang dapat terjadi lewat penelitian ilmiah atau pengalaman rohani baru. Jadi jalan tauhid pun satu. Sama juga dengan cara pengobatan yang berbeda-beda. Fushush al-Hikam. dalam syarah al-Syaikh Abd-al-Razzaq al-Qasyani.Artikel Yayasan Paramadina Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota I. Sebab. tujuan dan hakikat metode itu semuanya satu. dan semua cara pengobatan itu sebagai cara menyingkirkan penyakit dan mengembalikan kesehatan adalah satu. KONSEP ASBAB AL-NUZUL . Al-Syafi'i membawa ke depan kecenderungan yang sudah ada secara laten dalam karya (Nabi) Muhamad sendiri ketika ia menekankan pemahaman al-Qur'an secara benar-benar konkret dalam interaksi historisnya dengan kehidupan Nabi Muhamad dan masyarakat beliau. dan tujuannya ialah hidayah ke arah kebenaran. [9] Dalam syarah Fushush al-Hikam diuraikan sebagai berikut: Jika cara turunnya ajaran ke dalam jiwa para Nabi itulah yang dimaksud dengan kesatuan cara yang diturunkannya semua ajaran (dari Tuhan). Jari-jari tersebut merupakan jalan-jalan yang berbeda-beda menurut perbedaan garis yang menghubungkan antara titik pusat lingkaran itu dengan setiap titik yang ditentukan pada garis lingkar luarnya. namun mereka tidak pernah mengingkari prinsip bahwa ketepatan historis adalah fondasi semua pengetahuan keagamaan. Ia (al-Syafi'i) melakukan hal ini memang tanpa ketepatan sejarah tertentu. yakni kesehatan. seperti jari-jari yang menghubungkan garis luar lingkaran dengan titik pusat lingkaran itu. Dalam kitab ini dijelaskan tentang adanya konteks sejarah bagi ajaran agama-agama sehingga menghasilkan manifestasi lahiriah yang berbeda-beda. membuat agama itu mampu menampung ilham baru apapun ke dalam realita dari warisan dan dari titik tolak mulanya yang kreatif. kesediaan mengikuti dengan sungguh-sungguh bahwa tradisi agama terbentuk dalam waktu. yang sejak dari semula mempunyai tempat begitu besar dalam dialognya.Relevansinya Bagi Pandangan Historisis Segi-Segi Tertentu Ajaran Keagamaan oleh Masdar F. yaitu kitab Muhyi al-Din ibn al-Arabi. dan selalu mempunyai dimensi historis. Sebab perbaikan setiap umat adalah dengan menghilangkan keburukan . tetapi perbedaan kesiapan umat manusia mengakibatkan perbedaan agama dan aliran. Maka begitu pula cara turunnya ajaran kepada Para Nabi adalah satu. [8] Sekarang bandingkan ungkapan Hodgson itu dengan yang dapat kita baca dalam sebuah kitab klasik. sepanjang ajaran tentang pasrah kepada Allah (Islam) berdasarkan kepercayaan kepada Tuhan Yang Maha Esa (tawhid). Mas'udi (3/3) Tetapi barangkali modal potensial terbesar Islam yang paling hebat ialah kesadaran historisnya yang jelas. karena terdapat perbedaan kesiapan antara berbagai umat maka berbeda pula bentuk-bentuk jalan tauhid dan bagaimana jalan itu ditempuh. sementara maksud.3. namun tujuannya adalah satu. tetapi itu bukanlah maksudnya yang semula dan meskipun oleh kaum muslim kemudian hari kajian yang jujur tentang kenyataan sejarah masa silam Islam ditukar dengan gambaran stereotipikal dan berang. Padahal inti semua agama yang benar.

khususnya sekitar Timur Tengah. yaitu bagaimana menangkap pesan inti yang uraiversal itu. Maka banyak para ahli yang akhirnya sampai kepada persoalan bahasa: bagaimana kita mempersepsi suatu ungkapan linguistik untuk dapat melakukan generallisasi tinggi dari makna immediate-nya ke makna universalnya. Misalnya. Dan karena yang universal ini tidak terikat oleh ruang dan waktu. dan umat manusiapun kemudian mengetahui seperti Adam mengetahui. demikian: Jadi diketahui bahwa Tuhan mengajari jenis manusia agar mengungkapkan apa yang dikehendaki dan digambarkan dalam benaknya dengan bahasanya. yaitu Adam. meskipun bahasa itu berlainan. agar kita waspada agar jangan sampai kita terkungkung oleh lingkaran kebahasaan semata dan terjerumus ke dalam sikap mental seolah-olah suatu nilai akan hilang kebenarannya jika tidak dinyatakan dalam bahasa tertentu atau ungkapan kebahasaan tertentu yang dianggap suci. keterangan yang cukup baik diberikan oleh Ibn Taimiyah. Padahal bahasa Ibrani adalah paling dekat ke bahasa Arab. Ibrahim/14:4). dan hidayah mereka bersumber dari berbagai sentra dan martabat yang berbeda-beda menurut tabiat dan kejiwaan mereka. juga tidak kepada suatu sebab khusus dari asbab al-Nuzul munculnya suatu ajaran atau hukum. Tetapi masalahnya tetap sama. dan dengan sabda itu Allah menjelaskan apa yang dikendaki dari mahlukNya dan apa perintahNya. [10] Pendekatan historis ini tidaklah berarti relativisasi total ajaran agama dan sifat yang memandang sebagai tidak lebih daripada produk pengalaman sejarah belaka. meskipun bahasa mereka berbeda-beda. Allah telah memberi wahyu kepada Musa dalam bahasa Ibrani (Hebrew) serta kepada Muhamad dalam bahasa Arab. dan tidak hanya berkaitan dengan kasus spesifik . Dan jika masalah kebahasaan menyangkut pula segi kultural ini. Bahasa termasuk kategori historis. Berkaitan dengan ini. Tentang hal ini. tetapi juga kulturalnya. dan kesadaran kebahasaan akan dengan sendirinya menyangkut kesadaran historis. Hal yang sudah amat jelas ini perlu dipertegas. namun tujuan dan makna risalah mereka semua sama. melainkan menyangkut seluruh Kitab Suci itu seutuhnya. maka konsep asbab al-nuzul dapat diperluas sehingga tidak hanya menyangkut sebuah ayat tertentu saja misalnya. yang tidak tergantung kepada konteks. al-Mulk/67:3). dan semuanya itu adalah sabda (Kalam) Allah. Justru dalam penegasan tentang kesatuan agama para Nabi terkandung makna yang tegas bahwa ada sesuatu yang benar-benar universal dalam setiap agama dan menjadi titik pertemuan antara semua agama. Maka meskipun bahasa para Nabi itu bermacam-macam.yang khusus ada padanya. Dan yang pertama mengetahui hal itu ialah bapak mereka. memang mengenal adanya konsep demikian. [11] Namun masalah kebahasaan mungkin akan ternyata tidak terbatas hanya kepada segi linguistiknya semata. sedemikian dekatnya sehingga kedua bahasa itu lebih dekat daripada bahasa bukan Arab (Ajam) satu dari yang lain. jika dalam al-Qur'an disebutkan bahwa Allah menciptakan tujuh lapis langit (QS. terdapat kemungkinan bahwa "tujuh lapis langit" adalah bahasa kultural (yang historis). karena kosmologi yang umum pada waktu itu. penting sekali memahami penegasan dalam Kitab Suci bahwa Allah tidak mengutus seorang Rasulpun kecuali dengan bahasa kaumnnya (QS. maka dapat disebut "tidak historis".

hh. Al-Risalah.48. Kairo. Jika benar temuan itu maka kita akan lebih mampu memahami penuturan al-Qur'an (al-Fajr/87:6-8) tentang kaum 'Ad dan pesan suci di balik penuturan itu. jil. kita tidak hanya akan mendapat manfaat dari pengetahuan tentang asbab al-nuzul saja. 7. bukan sekedar dicambuk seratus kali seperti yang ada dalam al-Qur'an sekarang ini. Dalam bahasa fiqhnya. Terutama kegiatan arkeologis yang baru-baru ini secara spektakuler. Ibid. khususnya Timur Tengah. berkat teknologi satelit. berhasil menemukan kota kuna Ubar (Iram) yang didirikan oleh Syaddad ibn Ad hampir empat ribu tahun yang lalu. 1988. Q. Maka dari sudut ini sungguh besar harapan kita kepada kegiatan penelitian ilmiah di bidang kultural yang mulai tumbuh di Jazirah Arabia. lebih khusus lagi Jazirah Arabia sebagai "situs" langsung wahyu Allah kepada Nabi Muhamad. Risalah). Al-Mu'in al-Mubin. maka rajamlah mereka sama sekali. 'Abd al-Hamid Hakim. 'Ulum al-Qur'an.. Dar al-Ittihad al-'Arabi. 4. Tarikh al-Tasyri' al-Islami. Karena itu. h. 2. tetapi juga pengetahuan yang lebih menyeluruh tentang pola budaya Arabia dalam sejarahnya yang panjang. Ahmad Von Denffer. (Buku ini dapat diperoleh dalam terjemahan Indonesia. h. Asbab al-Nuzul.. sebelum Islam. firman itu berbunyi: Lelaki maupun perempuan kawin jika berzina.92-93. 177 dan 185. Pembahasan panjang lebar diberikan Imam al-Syafi'i dalam kitabnya yang terkenal. Kairo: Markaz al-Ahram. 4 jilid (Bukittinggi. hh. namun hukumnya masih berlaku. 161. 4.1985). 5. dari sudut pendekatan historis dan ilmiah kepada wahyu Tuhan. sebagai kelanjutan dan pengembangan ide Imam al-Syafi'i. ada "penghapusan lafal tapi makna hukumnya tetap" . 1990. Dr 'Abd al-Fattah. [12] CATATAN 1. Menurut Umar.175. 1968. Termasuk masalah Nasikh-Mansukh atau "hapus menghapus" ini adalah keterangan Umar. 6.4. tetapi maknanya sudah tidak berlaku. 3. Segi amat menarik dari masalah ini ialah adanya teori dalam nasikh-mansukh bahwa suatu firman mungkin saja masih tetap bertahan (tidak dihapus) dari segi bunyi lafalnya. seperti "ayat cambuk" diatas: sebaliknya.dalam kehidupan Nabi dan masyarakat beliau pada saat itu. semasa Nabi. tetapi meliputi seluruh kondisi kultural dunia. h. perempuan dan lelaki. al-Nur/4:24). firman ini dalam isi hukum atau makna legalnya telah menghapus firman Allah: "Orang yang berzina. Menurut para ulama. Al-Wahidi al-Nisaburi. Nusantara 1955 M/1374 H). an Introduction to the Sciences of the Qur'an (London: The Islamic Foundation.177. h. Kairo. dan (bagi kita sekarang) sesudah Islam. Khalifah kedua bahwa ada firman bahwa hukuman orang yang sudah beristri atau bersuami kemudian berzina ialah dirajam sampai mati.96-144 dan 170-176. cambuklah masing-masing seratus kali".s. ada kemungkinan suatu firman dihapus (terhapus?) dari segi lafalnya. Ibid. hh. seperti "ayat rajam" di atas.

S. 8. 7501983. Orang yang menyembah-Nya dan bersama Dia menyembah "tuhan" yang lain bukanlah seorang yang tunduk patuh (muslim). seperti dapat dilihat dalam praktek di Kerajaan Saudi Arabia. 3. hh. dapat dilihat dari kesepakatan hampir seluruh para ulama bahwa orang yang sudah kawin dan berzina memang harus dihukum rajam sampai mati. 17 Peb. Kairo: Mushthafa al-Babi al-Halabi. Lihat berita arkeologis penting ini dalam Time. Kairo: Dar al-Thiba'ah al-Muhammadiyah. Dalam pembahasannya. 12. Hodgson.. (Chicago. 8.[kalimat dalam huruf Arab] atau sebaliknya "penghapusan hukum tapi lafalnya tetap" [kalimat dalam huruf Arab] Bagaimana umat Islam memperoleh teori yang "aneh" ini. Ibn Taimiyah antara lain mengatakan: [kalimat dalam huruf Arab] (Hakikat perbedaannya adalah bahwa arti "islam" ialah "din" dan "din" adalah masdar dari kata kerja "dana-yadinu" (yang menunjuk makna) jika (seseorang) tunduk dan patuh. Marshall G. 1992. bahkan besar kepala untuk menyembah-Nya. "Agama Islam" yang diridhai Allah dan dengan itu diutus-Nya pada Rasul ialah "istislam " (sikap tundukpatuh) kepada Allah semata. The University of Chicago Press. dengan menyembah (beribadat) kepada-Nya semata. UA 20-21 Jakarta Selatan Telp. 437. 223-4. h. tanpa orang lain. yaitu tindakan kalbu dan anggota badan ") 10. Lihat [kalimat dengan huruf Arab] oleh [kalimat dengan huruf Arab]. Ibn Taimiyah. op. bukanlah seorang muslim. 3 jilid. Dan orang yang tidak menyembah-Nya. Lihat penjelasan makna asal kata-kata Arab "islam" dalam kitab Ibn Taimiyah. yaitu tunduk dan penghambaan diri kepada-Nya. h. -------------------------------------------Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah Editor: Budhy Munawar-Rachman Penerbit Yayasan Paramadina Jln. 30. 7507173 Fax. al-Iman. jld. 1974). (021) 7501969. h. 11. (1987). (021) 7507174 Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota Please direct any suggestion to Media Team . Para ahli bahasa mengatakan begini: "Seseorang melakukan islam (aslama) jika ia melakukan istislam (istaslama). Pangkalnya pada kalbu ialah sikap tunduk kepada Allah semata. "Jadi "islam" pada asalnya termasuk bab tindakan (bukan nama). The Venture of Islam. 9. "Islam" ialah "istislam" kepada Allah. h. 82. tt. Metro Pondok Indah Pondok Indah Plaza I Kav.. cit.

Artikel Yayasan Paramadina
Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota I.4. NASIKH MANSUKH DALAM AL-QUR'AN (1/2) oleh KH Ali Yafie Dari awal hingga akhir, al-Qur'an merupakan kesatuan utuh. Tak ada pertentangan satu dengan lainnya. Masing-masing saling menjelaskan al-Qur'an yufassir-u ba'dhuhu ba'dha. [1] Dari segi kejelasan, ada empat tingkat pengertian. Pertama, cukup jelas bagi setiap orang. Kedua, cukup jelas bagi yang bisa berbahasa Arab. Ketiga, cukup jelas bagi ulama/para ahli, dan keempat, hanya Allah yang mengetahui maksudnya. [2] Dalam al-Qur'an dijelaskan tentang adanya induk pengertian hunna umm al-kitab [3] yang sudah mempunyai kekuatan hukum tetap. Ketentuan-ketentuan induk itulah yang senantiasa harus menjadi landasan pengertian dan pedoman pengembangan berbagai pengertian, sejalan dengan sistematisasi interpretasi dalam ilmu hukum -hubungan antara ketentuan undang-undang yang hendak ditafsirkan dengan ketentuan-ketentuan lainnya dari undang-undang tersebut maupun undang-undang lainnya yang sejenis, yang harus benar-benar diperhatikan supaya tidak ada kontradiksi antara satu ayat dengan ayat lainnya. Hal ini untuk menjamin kepastian hukum. Sementara, unsur-unsur bahasa, sistem dan teologi dari teori interpretasi hukum masih harus dilengkapi dengan satu unsur lain yang tidak kalah pentingnya. Itulah unsur sejarah yang melatarbelakangi terbentuknya suatu undang-undang, yang biasa dikenal "interpretasi historis." Dalam ilmu tafsir ada yang disebut asbab al-nuzul, yang mempunyai unsur historis cukup nyata. Dalam kaitan ini para mufassir memberi tempat yang cukup tinggi terhadap pengertian ayat al-Qur'an. Dalam konteks sejarah yang menyangkut interpretasi itulah kita membicarakan masalah nasikh-mansukh. Dalam hal ini masalah yang terpenting untuk kita soroti adalah masalah asas, pengertian/batasan, jenis-jenis, kedudukan, hirarki penggunaan, kawasan penggunaan dan hikmah kegunaannya. ASAS Andaikan al-Qur'an tidak diturunkan dari Allah, isinya pasti saling bertentangan. [4] Ungkapan ini sangat penting dalam rangka memahami dan menafsirkan ayat-ayat serta ketentuan-ketentuan yang ada dalam al-Qur'an. Kitab Suci yang terdiri dari 6000 ayat lebih dan terbagi dalam 114 kelompok surat, mengandung berbagai jenis pembicaraan dan persoalan. Didalamnya terkandung antara lain nasihat, sejarah, dasar-dasar ilmu pengetahuan, keimanan, ajaran budi luhur, perintah dan larangan. Masalah-masalah yang disebutkan terakhir ini, tampak jelas dengan adanya ciri-ciri hukum didalamnya. Semua jenis masalah ini terkait satu dengan lainnya dan saling menjelaskan. Dalam kaitan itu, Imam Suyuthi maupun Imam Syathibi banyak

mengulas prinsip tersebut. Mereka mencatat adanya pendapat yang memandang adanya tiap ayat atau kelompok ayat yang berdiri sendiri. Tapi semuanya berpendapat bahwa antara satu ayat dengan ayat lainnya dari al-Qur'an tidak ada kontradiksi (ta'arudl). Dari asas inilah lahir metode-metode penafsiran untuk meluruskan pengertian terhadap bagian-bagian yang sepintas lalu tampak saling bertentangan. Adanya gejala pertentangan (ta'arudl) yang demikian merupakan asas metode penafsiran dimana Nasikh-Mansukh merupakan salah satu bagiannya. [5] PENGERTIAN Nasikh-Mansukh berasal dari kata naskh. Dari segi etimologi, kata ini dipakai untuk beberapa pengertian: pembatalan, penghapusan, pemindahan dan pengubahan. Menurut Abu Hasyim, pengertian majazinya ialah pemindahan atau pengalihan. [6] Diantara pengertian etimologi itu ada yang dibakukan menjadi pengertian terminologis. Perbedaan terma yang ada antara ulama mutaqaddim dengan ulama mutaakhkhir terkait pada sudut pandangan masing-masing dari segi etimologis kata naskh itu. Ulama mutaqaddim memberi batasan naskh sebagai dalil syar'i yang ditetapkan kemudian, tidak hanya untuk ketentuan/hukum yang mencabut ketentuan/hukum yang sudah berlaku sebelumnya, atau mengubah ketentuan/hukum yang pertama yang dinyatakan berakhirnya masa pemberlakuannya, sejauh hukum tersebut tidak dinyatakan berlaku terus menerus, tapi juga mencakup pengertian pembatasan (qaid) bagi suatu pengertian bebas (muthlaq). Juga dapat mencakup pengertian pengkhususan (makhasshish) terhadap suatu pengertian umum ('am). Bahkan juga pengertian pengecualian (istitsna). Demikian pula pengertian syarat dan sifatnya. Sebaliknya ulama mutaakhkhir memperciut batasan-batasan pengertian tersebut untuk mempertajam perbedaan antara nasikh dan makhasshish atau muqayyid, dan lain sebagainya, sehingga pengertian naskh terbatas hanya untuk ketentuan hukum yang datang kemudian, untuk mencabut atau menyatakan berakhirnya masa pemberlakuan ketentuan hukum yang terdahulu, sehingga ketentuan yang diberlakukan ialah ketentuan yang ditetapkan terakhir dan menggantikan ketentuan yang mendahuluinya. Dengan demikian tergambarlah, di satu pihak naskh mengandung lebih dari satu pengertian, dan di lain pihak -dalam perkembangan selanjutnya- naskh membatasinya hanya pada satu pengertian. [7] JENIS-JENIS NASKH Masalah pertama yang ingin kami soroti dalam bagian ini ialah adanya naskh antara satu syari'at dengan syari'at lainnya. Ini terjadi sebagaimana dapat kita amati antara syari'at Nabi Isa as. dengan syari'at hukum agama Yahudi yang lebih dahulu ada. Dalam hubungan ini, dapat kita katakan bilamana kita mengikrarkan Islam sebagai syari'at, dengan sendirinya kita mengaku adanya naskh, karena syari'at-syari'at sebelumnya tidak akan kita anut lagi dan semua hukumnya pun tidak akan kita berlakukan, sepanjang tidak dikukuhkan kembali oleh syari'at Nabi Muhammad saw. Jadi, adanya nasikh-mansukh antar syari'at itu merupakan salah satu jenis naskh. Hal semacam ini jika ditinjau dari

segi pendekatan ilmu hukum, sangat jelas maksudnya, misalnya pengertian suatu pemerintahan/negara dengan pemerintahan/ negara lainnya. Contohnya, adanya pemerintahan/negara kolonial Hindia Belanda dengan pemerintahan/negara nasional Republik Indonesia. Dalam kaitan ini soal kedaulatan, hukum dasar dan hukum-hukum yang langsung berhubungan dengan kedaulatan, serta hukum-hukum lainnya semuanya dicabut dan tidak diberlakukan lagi sepanjang tidak dikukuhkan pemerintah/negara baru itu. Jika kita sudah melihat adanya nasikh-mansukh antar syari'at, apakah didalam satu syari'at terjadi juga nasikh-mansukh antara hukum yang satu dengan hukum yang lainnya? Jika kita kembali pada syari'at Islam sendiri, kita akan menemui beberapa kasus yang dapat memberikan jawaban atas masalah ini. 1. Sesudah hijrah ke Madinah, kaum Muslim masih berkiblat ke arah Bait al-Muqaddas. Sekitar enam bulan kemudian, Allah menetapkan ketentuan lain: keharusan berkiblat ke arah Bait al-Haram. [8] Ini berarti terjadi nasikh-mansukh dalam hukum kiblat. Kasus lain misalnya dalam hal shalat yang semula tidak diperintahkan lima waktu dengan 17 raka'at. Ini juga berarti telah terjadi nasikh-mansukh dalam hukum shalat. 2. Kasus-kasus yang digambarkan di atas, semuanya menyangkut bidang ibadat. Sedangkan di bidang mu'amalat, dapat pula kita catat beberapa kasus, misalnya hukum keluarga. Sebagai contoh, semula ditetapkan masa tenggang ('iddah) bagi seorang janda, lamanya 1 (satu) tahun. [9] Beberapa waktu kemudian ditetapkan ketentuan hukum lain bahwa masa tenggangnya 4 bulan 10 hari. [10] Di bidang lain ada pula perubahan-perubahan yang menyangkut ketentuan hukum pembelaan diri, tentang minuman keras dan sebagainya. Dari seluruh kasus-kasus tersebut dapat ditarik kesimpulan, memang terbukti adanya nasikh-mansukh yang sifatnya intern dalam syari'at Islam. Beberapa ketentuan hukum yang sudah berlaku, kemudian dicabut atau berakhir masa pemberlakuannya dan diganti dengan ketentuan hukum lain. Hal seperti ini, jika dilihat dari sudut pendekatan ilmu hukum adalah hal yang lumrah dan banyak terjadi. Bahwa suatu undang-undang atau peraturan hukum lainnya dicabut atau dinyatakan tidak berlaku lagi, kemudian diganti dengan menetapkan undang-undang atau peraturan lain. Persoalan lebih jauh dalam masalah nasikh-mansukh ini ialah soal nasikh-mansukh antara al-Qur'an dengan Sunnah. Adanya nasikh-mansukh antara satu ayat yang memuat ketentuan hukum dalam al-Qur'an dengan lain ayat yang juga memuat ketentuan hukum dalam soal yang sama, adalah satu hal yang tidak diperselisihkan lagi. Demikian pula adanya nasikh-mansukh antara satu hadits yang memuat ketentuan hukum dalam soal yang sama, merupakan satu hal yang tidak diperselisihkan lagi. Juga, adanya nasikh-mansukh antara satu hadits yang memuat ketentuan hukum dalam Sunnah dengan lain hadits yang juga memuat ketentuan hukum dalam soal yang sama, merupakan satu hal yang sudah tidak diperselisihkan lagi. Masalah yang menimbulkan perbedaan pendapat diantara para ulama ialah adanya nasikh-mansukh silang antara al-Qur'an dengan Hadits/Sunnah. Jika disimak alasan masing-masing pihak, mungkin dapat ditarik satu garis bahwa faktor utama terjadinya perbedaan pendapat ialah pandangan masing-masing

tentang kedudukan hirarki syari'at itu sendiri.

al-Qur'an

dan

Sunnah

dalam

(bersambung 2/2)

-------------------------------------------Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah Editor: Budhy Munawar-Rachman Penerbit Yayasan Paramadina Jln. Metro Pondok Indah Pondok Indah Plaza I Kav. UA 20-21 Jakarta Selatan Telp. (021) 7501969, 7501983, 7507173 Fax. (021) 7507174 Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota
Please direct any suggestion to Media Team

Artikel Yayasan Paramadina
Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota I.4. NASIKH MANSUKH DALAM AL-QUR'AN (2/2) oleh KH Ali Yafie Dalam kaitan hirarki al-Qur'an dan Sunnah, ada semacam kesepakatan bahwa dalam nasikh-mansukh kedua unsurnya harus sama tingkatnya dan sama nilai dan sifatnya. Lembaga tawatur dan ahad termasuk faktor yang dipertimbangkan. Jalan pikiran seperti ini terdapat juga di kalangan ahli hukum bahwa suatu peraturan hukum tidak dapat dicabut dengan peraturan hukum lainnya yang lebih rendah tingkatannya. Demikian pula lembaga yang mengeluarkan peraturan hukum menjadi faktor pertimbangan. Berdasarkan pemikiran ini, ada satu hal yang perlu kita catat bahwa setelah Rasulullah saw wafat maka tidak ada lagi nasikh-mansukh yang mungkin terjadi pada syari'at. Jenis nasikh-mansukh yang diuraikan diatas, menyangkut segi formalnya. Jenis lain yang menyangkut segi materialnya, ada yang bersifat eksklusif (sharih) dan inklusif (dlimni). Untuk yang bersifat sharih, nasikh itu langsung menjelaskan mansukhnya, misalnya hukum kiblat. Ketentuan yang nasikh (pengganti) ditetapkan secara jelas. [12] Ini contoh dari al-Qur'an. Sedangkan contoh lain dari Sunnah misalnya hukum ziarah kubur. Didalam hadits disebutkan, "Pernah aku melarang kalian melakukan ziarah kubur. Sekarang lakukanlah!". [12] Berbeda dengan hal tersebut diatas, nasikh yang bersifat dlimni tidak memuat penegasan didalamnya bahwa ketentuan yang mendahuluinya tercabut, tetapi isinya cukup jelas bertentangan dengan ketentuan yang mendahuluinya. Jenis seperti inilah yang banyak ditemukan dalam hukum syari'at. KEDUDUKAN NASKH Masalah naskh bukanlah sesuatu yang berdiri sendiri. Ia merupakan bagian yang berada dalam disiplin Ilmu Tafsir dan Ilmu Ushul Fiqh. Karena itu masalah naskh merupakan techniseterm dengan batasan pengertian yang baku. Dalam

kaitan ini Imam Subki menerangkan adanya perbedaan pendapat tentang kedudukan naskh: apakah ia berfungsi mencabut (raf) atau menjelaskan (bayan). [13] Ungkapan Imam Subki ini dapat dikaitkan dengan hal-hal yang menyangkut jenis-jenis naskh yang diuraikan di atas. Jika ditinjau dari segi formalnya maka fungsi pencabutan itu lebih nampak. Tapi bila ditinjau dari segi materinya, maka fungsi penjelasannya lebih menonjol. Meski demikian, pada akhirnya dapat dilihat adanya suatu fungsi pokok bahwa naskh merupakan salah satu interpretasi hukum. HIRARKI PENGGUNAAN NASKH Yang menjadi persoalan sekarang, apakah naskh menempati urutan pertama dalam interpretasi hukum-syari'at? Dalam upaya melakukan interpretasi suatu peraturan dalam syari'at, baik al-Qur'an maupun Hadits setiap ketentuan hukum itu harus jelas. Pengertiannya tidak boleh meragukan, supaya kepastian hukumnya terjamin. Semua segi yang dapat memperjelas kondisi sesungguhnya, maksud ketentuan hukum itu harus disoroti dan didalami. Misalnya, tentang segi bahasanya, proses terjadinya, hubungannya antara ketentuan hukum itu dengan ketentuan hukum yang lain. Dalam hal ini harus ada upaya mengawinkan kedua ketentuan hukum itu (jam') atau memperkuat salah satu diantaranya (tarjih). Baik upaya jam' maupun tarjih sudah mempunyai tata aturan yang sudah baku dalam disiplin ilmu Usul Fiqh. Jika tingkat interpretasi ini sudah ditempuh dan ternyata kontradiksi antara dua ketentuan hukum itu juga sudah teratasi, maka pada tingkat inilah dipersoalkan kemungkinan adanya nasikh-mansukh antara dua ketentuan hukum tersebut. Kuncinya terletak pada soal historis yang menyangkut kedua ketentuan hukum tersebut. Faktor asbab al-nuzul bagi ayat dan asbab al-wurud bagi Hadits, ada dalam tingkat ini. Maka setiap masalah nasikh-mansukh berada pada tingkat akhir dari suatu upaya interpretasi. [14] Kawasan Penggunaan Naskh Masalah yang tidak kurang pentingnya disoroti, sejauh mana jangkauan naskh itu? Apakah semua ketentuan hukum didalam syari'at ada kemungkinannya terjangkau naskh? Dalam hal ini Imam Subki menukil pendapat Imam Ghazali bahwa esensi taklif (beban tugas keagamaan) sebagai suatu kebulatan tidak mungkin terjangkau oleh naskh. Selanjutnya, Syekh Asshabuni mencuplik pendapat jumhur ulama bahwa naskh hanya menyangkut perintah dan larangan, tidak termasuk masalah berita, karena mustahil Allah berdusta. [16] Sejalan dengan ini Imam Thabari mempertegas, nasikh-mansukh yang terjadi antara ayat-ayat al-Qur'an yang mengubah halal menjadi haram, atau sebaliknya, itu semua hanya menyangkut perintah dan larangan, sedangkan dalam berita tidak terjadi nasikh-mansukh. Ungkapan ini cukup penting diperhatikan, karena soal naskh adalah semata-mata soal hukum, yang hanya menyangkut perintah dan larangan, dan merupakan dua unsur pokok hukum. Hal seperti yang diuraikan di atas, di bidang ilmu Hukum dapat kita lihat gambarnya pada Hukum Dasar, misalnya Undangundang Dasar Negara yang tidak dapat dijangkau pencabutan. Adanya pencabutan terhadap sesuatu peraturan

hukum dan penetapan peraturan lain untuk menggantikannya hanya berlaku pada undang-undang organik atau peraturan, kedudukan dan kawasan naskh. Dengan demikian, dengan mudah kita dapat mengenal beberapa persyaratan, yaitu: 1. Adanya ketentuan hukum yang dicabut (mansukh) dalam formulasinya tidak mengandung keterangan bahwa ketentuan itu berlaku untuk seterusnya atau selama-lamanya. 2. Ketentuan hukum tersebut bukan yang telah mencapai kesepakatan universal tentang kebaikan atau keburukannya, seperti kejujuran dan keadilan untuk pihak yang baik serta kebohongan dan ketidakadilan untuk yang buruk. 3. Ketentuan hukum yang mencabut (nasikh) ditetapkan kemudian, karena pada hakikatnya nasikh adalah untuk mengakhiri pemberlakuan ketentuan hukum yang sudah ada sebelumnya. 4. Gejala kontradiksi sudah tidak dapat diatasi lagi. HIKMAH ADANYA NASKH Adanya nasikh-mansukh tidak dapat dipisahkan dari sifat turunnya al-Qur'an itu sendiri dan tujuan yang ingin dicapainya. Turunnya Kitab Suci al-Qur'an tidak terjadi sekaligus, tapi berangsur-angsur dalam waktu 20 tahun lebih. Hal ini memang dipertanyakan orang ketika itu, lalu Qur'an sendiri menjawab, pentahapan itu untuk pemantapan, [17] khususnya di bidang hukum. Dalam hal ini Syekh al-Qasimi berkata, sesungguhnya al-Khalik Yang Maha Suci lagi Maha Tinggi mendidik bangsa Arab selama 23 tahun dalam proses tadarruj (bertahap) sehingga mencapai kesempurnaannya dengan perantaraan berbagai sarana sosial. Hukum-hukum itu mulanya bersifat kedaerahan, kemudian secara bertahap diganti Allah dengan yang lain, sehingga bersifat universal. Demikianlah Sunnah al-Khaliq diberlakukan terhadap perorangan dan bangsa-bangsa dengan sama. Jika engkau melayangkan pandanganmu ke alam yang hidup ini, engkau pasti akan mengetahui bahwa naskh (penghapusan) adalah undang-undang alami yang lazim, baik dalam bidang material maupun spiritual, seperti proses kejadian manusia dari unsur-unsur sperma dan telur kemudian menjadi janin, lalu berubah menjadi anak, kemudian tumbuh menjadi remaja, dewasa, kemudian orang tua dan seterusnya. Setiap proses peredaran (keadaan) itu merupakan bukti nyata, dalam alam ini selalu berjalan proses tersebut secara rutin. Dan kalau naskh yang terjadi pada alam raya ini tidak lagi diingkari terjadinya, mengapa kita mempersoalkan adanya penghapusan dan proses pengembangan serta tadarruj dari yang rendah ke yang lebih tinggi? Apakah seorang dengan penalarannya akan berpendapat bahwa yang bijaksana langsung membenahi bangsa Arab yang masih dalam proses permulaan itu, dengan beban-beban yang hanya patut bagi suatu bangsa yang telah mencapai kemajuan dan kesempurnaan dalam kebudayaan yang tinggi? Kalau pikiran seperti ini tidak akan diucapkan seorang yang berakal sehat, maka bagaimana mungkin hal semacam itu akan dilakukan Allah swt. Yang Maha Menentukan hukum, memberikan beban kepada suatu bangsa yang masih dalam proses pertumbuhannya dengan beban yang tidak akan bisa dilakukan melainkan oleh suatu bangsa yang telah menaiki jenjang kedewasaannya? Lalu, manakah yang lebih baik, apakah syari'at kita yang menurut sunnah Allah ditentukan hukum-hukumnya sendiri, kemudian di-nasakh-kan karena dipandang perlu atau disempurnakan hal-hal yang dipandang tidak mampu dilaksanakan manusia

dengan alasan kemanusiaan? Ataukah syari'at-syari'at agama lain yang diubah sendiri oleh para pemimpinnya sehingga sebagian hukum-hukumnya lenyap sama sekali? [18] Syari'at Allah adalah perwujudan dari rahmat-Nya. Dia-lah yang Maha Mengetahui kemaslahatan hidup hamba-Nya. Melalui sarana syari'at-Nya, Dia mendidik manusia hidup tertib dan adil untuk mencapai kehidupan yang aman, sejahtera dan bahagia di dunia dan di akhirat. CATATAN 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. 12. 13. 14. 15. 16. 17. 18. Jalaluddin al-Suyuthi, Al-Itqan Ibn Katsir, Tafsir-u 'l-Qur'an-i 'l-'Azhim QS. Ali 'Imran: 7 QS. Al-Nisa: 82 Imam Abu Zahrah, Ushul al-Fiqh Al-Thusi, Uddat al-Ushul 'Abbas Mutawalli Hamadah, Al-Sunnat al-Nabawiyyah QS. Al-Baqarah: 114 QS. Al-Baqarah: 240 QS. Al-Baqarah: 234 QS. Al-Baqarah: 142 Imam Muslim, Al-Jami' al-Shahih Imam Al-Subki, Jam' al-Jawami' Abdul Wahab Khallaf, Ilmu Ushul al-Fiqh Imam Al-Subki, Jam' al-Jawami Muhammad Ali Al-Shabuni, Rawai'al-Bayan QS. Al-Furqan: 32 Al-Qasimi, Mahasin al-Ta'wil.

-------------------------------------------Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah Editor: Budhy Munawar-Rachman Penerbit Yayasan Paramadina Jln. Metro Pondok Indah Pondok Indah Plaza I Kav. UA 20-21 Jakarta Selatan Telp. (021) 7501969, 7501983, 7507173 Fax. (021) 7507174 Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota
Please direct any suggestion to Media Team

Artikel Yayasan Paramadina
Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota IV.29. PANDANGAN KONTEMPORER TENTANG FIQH (1/4) Telaah Problematika hukum Islam di Zaman Modern Oleh Nurcholish Madjid Salah satu kesibukan para intelektual Muslim di seluruh dunia saat ini ialah memikirkan bagaimana menerjemahkan nilai-nilai Islam ke dalam perangkat nyata kehidupan modern. Seorang Muslim yang serius tentu menyadari, betapa ia dihadapkan pada tantangan hidup dalam suatu masyarakat modern, yaitu suatu masyarakat yang notabene merupakan kelanjutan logis, meskipun

melalui proses transmutasi yang amat besar, dari berbagai unsur tatanan dan nilai hidup yang telah pernah berkembang sebelumnya, khusus di dunia Islam. Ilmu pengetahuan modern, misalnya, dengan mudah dapat ditelusuri asal-usulnya sebagai kelanjutan dunia keilmuan Islam yang pernah berkembang dalam masanya jayanya yang "liberal," ketika kaum Muslim terlatih menghargai suatu temuan pikiran dan keilmuan baru, dan ketika wawasan mereka terbentuk karena semangat kosmopolitanisme dan universalisme sejati. Namun pada saat yang sama, karena tuntutan imannya, seorang Muslim "modern" harus tetap berada dalam pangkuan agamanya dan dijiwai nilai-nilai asasinya. Zaman modern, atau yang menurut Marshall Hodgson lebih tepat dinamakan "Zaman Teknik" (Technical Age) adalah jelas berbeda secara mendasar dari zaman agraris sebelumnya. Padahal agama Islam, sebagaimana halnya dengan agama-agama besar lain, dilahirkan dalam zaman agraris. Seperti baru saja disebutkan di atas, ini tidaklah berarti zaman modern terputus samasekali dari zaman sebelumnya Justru unsur kontinuitasnya dengan masa lalu sedemikian rupa tidak mungkin diingkari, karena dasar-dasar zaman modern ini pun diletakkan masa sebelumnya, yaitu di zaman agraris. Suatu teori kesejarahan dunia malah menyebutkan, zaman agraris sebenarnya telah mengalami perkembangan menuju ke arah kompleksitas yang tinggi pada masa Axial Age ("Masa Aksial" atau "Sumbu"), yaitu masa yang terbentang selama enam abad sejak abad kedelapan sampai abad kedua sebelum Nabi 'Isa al-Masih as. Pada saat itu terjadi perubahan asasi di mana-mana, akibat lepasnya monopoli pengetahuan tulis baca dari tangan kelas pendeta, menjadi tersebar di antara berbagai kelompok borjuis, dan karenanya watak serta kecepatan perkembangan tradisi tulis-baca itu juga berubah. Pada waktu yang sama, keseluruhan tatanan geografis bagi kegiatan bermakna kesejarahan manusia juga mengalami transformasi, sebab saat itu mulai menyebar, meliputi hampir seluruh belahan bumi. [1] Pada masa itu dengan nyata budaya manusia mulai berkembang keluar dari inti kawasan Nil-Amudarya (Mesir-Transoxiana) yang menjadi inti kawasan bumi yang berpenghuni dan berperadaban (Arab: al-Da'irat al-Ma'murah; Yunani: Oikoumene, "Daerah Berpenduduk"). Zaman Islam adalah zaman "Pasca-Sumbu" (Post-Axial), dan masa kejayaan Islam merupakan puncak perkembangan "Zaman Agraria Berkota" (Agrariante Citied Society), yaitu masyarakat agraris dengan ciri kehidupan perkotaan (urbanity) yang menonjol. Adalah dalam urbanity itu --suatu pola kehidupan sosial-ekonomi yang ditandai tingginya kegiatan ekonomi urban dan penghargaan kepadanya, khususnya perdagangan, dan etos intelektual-- terletak benang merah kontinuitas antara zaman modern dengan zaman Islam. Tapi sekali pun zaman Islam masih sepenuhnya berada dalam rangkaian zaman agraris (jadi masih mempunyai kesinambungan dengan zaman sebelumnya), perubahan yang dibawanya sedemikian radikal dan eksplosif, sebanding dengan radikal dan eksklusif pembebasan (futuhat) yang dilakukan kaum Muslim, pertama-tama atas kawasan Nil-Amudarya, kemudian segera meliputi daerah yang lebih luas, yang kurang lebih waktu itu merupakan daerah paling maju di muka bumi. Dengan flashback di atas, kiranya menjadi jelas, sesungguhnya peralihan dari masa lalu yang agraris-urban itu, ke zaman modern sekarang, ini tidaklah terlalu unik dalam pandangan sejarah umat manusia. Dan disebabkan faktor peranan sejarahnya sendiri sebagai puncak zaman agraris urban, maka Islam

pengamatan lebih jauh atas berbagai peristiwa besar menyimpulkan tidak adanya kemestian pilihan hitam putih antara kontinuitas dan perubahan. sementara Jepang yang Buddhis justru memperlihatkan tanda-tanda Barat dalam beberapa segi industrialnya. yang menyebabkan kebanyakan kaum Muslim mengalami kesulitan dalam menghadapi zaman modern. karena unsur-unsur asasi zaman modern itu tidak asing bagi pandangan hidup kaum Muslim. dan pelanjut serta pengembangnya di masa depan. Turki yang Muslim sampai sekarang masih menunjukkan ciri dunia ketiga yang non-industrial. sebagaimana sedikit banyak ditunjukkan dalam pembicaraan di atas tadi. dan bukannya faktor kontinuitas kultural di atas. Maka. atau dapat diterangkan dalam kerangka nilai lama yang lebih luas itu. Apalagi bangsa-bangsa Barat itu. Justru tidak jarang esensi nilai baru dalam suatu masyarakat yang berubah itu memperoleh pengukuhannya dan penguatan efektifitasnya karena mendapatkan tempat dalam sistem nilai lama yang lebih luas. bahkan sebaliknya sikap positif terhadap ilmu pengatahuan adalah sui generis atau tiada taranya dalam pandangan hubungan organiknya yang sejati dengan sistem keimanan. situasi problematik itu dapat dikata tidak ada sama sekali. dengan sesuatu yang lain dengan sendirinya selalu menimbulkan kesan pertentangan: Tapi.memiliki potensi menjadi pewaris yang paling beruntung dari zaman modern ini. jelas-jelas membawa kenangan pengalaman historis masa lampau yang penuh permusuhan (antara lain dilambangkan dan dibuktikan dalam: bagaimana para penjajah Spanyol menamakan kaum Muslim Mindanao sebagai "orang-orang Moro. khususnya pengalaman permusuhan (antara lain karena titik singgung keagamaan Islam-Kristen dan ketetanggaan geografis Timur Tengah-Eropa) justru nampak menjadi sumber problematik bangsa-bangsa Muslim menghadapi perubahan ke zaman modern. Jika kita ambil peristiwa Inkuisisi Kristen dalam menghadapi ilmu pengetahuan. Kesulitan kaum Muslim ini di antaranya tercermin dalam bagaimana menangani masalah reinterpretasi hukum Islam untuk zaman modern. Sejarah membuktikan betapa problematiknya hubungan dogma Kristen dengan unsur pokok modernitas. misalnya. sebagaimana setiap "kesan" atau "dugaan" (dhan) tidak selamanya mengandung kebenaran. Inilah yang dalam jargon ilmu sosial mutakhir disebut "modernitas tradisi". yaitu ilmu pengetahuan." sebagai kelanjutan semangat permusuhan antara orang Spanyol Kristen dengan orang Spanyol Muslim yang mereka sebut "orang Moro"). . Adalah beberapa pengalaman historis permusuhan ini. Tapi sudah tentu faktor kontinuitas prinsipil bukanlah satu-satunya perkara yang membentuk dan menentukan sikap seseorang atau komunitas dalam menghadapi perubahan zaman. tetap terdapat unsur-unsur persambungan tertentu dengan masa lalu. Betapa pun besarnya suatu perubahan. praktis tidak ada hal serupa dalam Islam. karena adanya asosiasi (yang tidak seluruhnya benar) antara modernisme dan westernisme. MASALAH KONTINUITAS DAN PERUBAHAN Kontinuitas yang mengisyaratkan pertahanan unsur-unsur masa lalu dan perubahan yang mengandung makna penggantian unsur-unsur masa lalu itu. dan betapa dalam Islam. Berbagai pengalaman historis yang lebih spesifik pada bangsa-bangsa Muslim dalam interaksinya dengan bangsa-bangsa Barat. ketika melakukan penjajahan atas bangsa-bangsa Muslim.

dan hanya dalam Islam..Garis argumen itu lebih-lebih tepat.sangat membantu adaptasi Islam ke dunia modern. dan samasekali tidak perlu meninggalkannya. Sementara Protestantisme Eropa hanya menyiapkan lahan untuk nasionalisme melalui perluasan melek-huruf. Yaitu bahwa mereka. dan sistematisasi rasional kehidupan sosial. betapapun ad hoc dan eclectic-nya sikap yang melatarbelakanginya) tapi dapat bertahan dengan nilai-nilai keislamannya. skripturalisme. yang pernah menjadi alas dangkal tradisi sentral sekarang menjadi kambing hitam yang dibuang. tapi sebaliknya sebagai kelanjutan dan penyempurnaan dialog lama dalam Islam. jika dikenakan terhadap Islam dan kaum Muslim dalam menghadapi zaman modern. sementara secara imperatif mesti menerima kehidupan modern (sebagaimana telah menjadi kenyataan. egalitarianisme spiritual.. Versi kerakyatan lama (seperti praktek kesufian rakyat yang tidak sah atau mu'tabarah. Karena itu meskipun tidak merupakan sumber modernitas. misalnya. Yaitu dipandang dari sudut semangat Islam tentang universalisme. bahkan sering dengan nada peneguhan dan apresiasi. tidak sebagai inovasi ataupun konsesi kepala pihak luar. sehingga orang tidak lagi mudah mengatakan mana salah satu dari keduanya itu yang paling bermanfaat bagi yang lain. perluasan partisipasi dalam masyarakat suci yang meliputi semua anggotanya tanpa kecuali. Jadi dalam Islam. Ia katakan: Hanya Islam yang mampu bertahan sebagai keimanan yang serius. memiliki pandangan tentang Islam dan kemodernan yang mungkin membuat seorang Muslim menjadi lebih percaya diri. Dalam zaman cita-cita melek huruf universal. resmi dan "murni" Islam bersemangat egaliter dan keilmiahan --sementara hirarki dan ekstase (seperti dalam banyak praktek kesufian rakyat-NM berkaitan dengan bentuk-bentuknya yang bersifat pinggiran senantiasa meluas namun akhirnya ditampik. misalnya-NM). dan dengan begitu maka cita-cita "protestan" agar semua yang beriman mempunyai akses yang sama (kepada kitab Suci-NM) akan terlaksana. dan penegahan apa yang dianggap suatu ciri lokal lama. Tradisi Besarnya dapat dipermodern (modernisable). para pengamat luar pun mengakui adanya hal yang sama. dapat dilakukan dalam bahasa dan perangkat simbol yang satu dan sama. purifikasi/modernisasi di satu pihak. Maka sosiolog terkenal Ernest Gellner. lapisan sarjana yang terbuka (dalam Islam) dapat berkembang sehingga meliputi seluruh masyarakat. yang mengatasi baik tradisi kecil maupun Tradisi Besar.[2] Karena observasi dan kesimpulannya itu. Egalitarianisme modern terpenuhi.[3] Pendapat tentang tidak perlunya kaum Muslim menanggalkan . Kenyataan bahwa varian sentral. yang dipersalahkan menyebabkan kemunduran dan dominasi unsur asing. potensi Islam yang hangkit kembali untuk skripturalisme egaliter dapat secara aktual menyatu dengan nasionalisme. Islam adalah agama yang paling dekat dengan modernitas dibanding agama Yahudi dan Kristen. dan pelaksanaannya dapat disajikan. maka tidak heran menurut Ernest Gellner. Jika hal ini dengan sendirinya menjadi keyakinan seorang Muslim. Islam mungkin akan ternyata merupakan penerima manfaat modernitas itu.

Jawaban terhadap pertanyaan ini diberikan pada akhir bukunya. kesimpulannya yang tegas bahwa kaum Muslim tidak meninggalkan hal-hal yang secara esensial bersifat namun perlu Islam . Rodinson mempertanyakan. "Sejauh mana orang (Muslim) harus pergi dalam proses mencapai kemakmuran yang menggiurkan dari negara-negara industri? Haruskah seseorang berjalan sedemikian jauhnya sehingga mengorbankan berbagai nilai yang secara khusus diyakini. maka jika kemajuan adalah suatu "Kapitalisme" (sebagaimana orang cenderung melihat buktinya melalui runtuhnya sistem sosialis atau komunis) maka Islam dapat saja bersatu dengan kapitalisme itu. juga seorang sosiolog (Perancis) kontemporer.29. UA 20-21 Jakarta Selatan Telp. 7507173 Fax.nilai-nilai dasar keislaman mereka untuk dapat masuk zaman modern itu juga dikemukakan Maxime Rodinson. Metro Pondok Indah Pondok Indah Plaza I Kav. yaitu yang membentuk ciri tertentu. apalagi dituduh. Rodinson menunjuk kepada kenyataan betapa masyarakat-masyarakat Islam sepanjang sejarahnya menunjukkan gejala menganut pola ekonomi yang bermacam-macam dalam zaman yang berbeda atau tempat yang berbeda. (021) 7507174 Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota Please direct any suggestion to Media Team Artikel Yayasan Paramadina Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota IV. Dalam pembukaan sebuah bukunya. kepribadian dan identitas kelompok orang bersangkutan?"4. Dalam perkataan lain. PANDANGAN KONTEMPORER TENTANG FIQH (2/4) Telaah Problematika hukum Islam di Zaman Modern Oleh Nurcholish Madjid MASALAH PESAN DASAR ISLAM Ketika mengatakan Islam tidak mempunyai sangkut paut dengan milieu ekonomi negeri-negeri Muslim sehingga tidak dapat dipandang. yang oleh Leonard Binder diringkaskan. tanpa kehilangan sifatnya yang paling mendasar. Karena itu Islam tidak dapat dipandang sebagai bertanggung jawab atas kemunduran kaum Muslim. [5] -------------------------------------------(bersambung 2/4) Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah Editor: Budhy Munawar-Rachman Penerbit Yayasan Paramadina Jln. 7501983. (021) 7501969. sebagai penyebab kemunduran negeri-negeri itu. seseorang dapat berjalan sejauh yang ia perlukan untuk dapat mengejar Barat tanpa mengorbankan apapun yang esensial bagi Islam dan yang menjadi bagian integral dari identitas kaum Muslim. bahwa tidaklah perlu meninggalkan sesuatu apapun yang secara esensial bersifat Islam. Tesis Rodinson ini terbuka untuk dipersoalkan. karena Islam sesungguhnya tidak ada kaitannya dengan lingkungan ekonomi negeri-negeri Muslim.

'aqd dan mitsaq. merupakan indikasi kesulitan menangkap pesan dasar agama seperti sering dikuatirkan sementara Ahl al-Bawathin tentang orientasi keagamaan Ahl al-Dhawahir. jika menyalahi perjanjiannya dengan Allah setelah perjanjian itu menjadi kesepakatan. munkar). tapi gagal mengungkapkannya).[11] Muhammad Asad. dengan Allah dan tidak membatalkan kesepakatan antara dia dan Allah itu. dengan berbuat hal-hal tidak bermoral (fahsya'. bahwa manusia tidak akan menyembah setan dan harus hanya menyembah Allah semata. keturunan mereka dan Dia minta kesaksian mereka atau diri mereka sendiri: "Bukankah Aku ini Tuhanmu?" Mereka mergawab: "Benar. Meskipun problem di sini agaknya lebih banyak berurusan dengan soal kemampuan ekspresif.[9] Maka kaum beriman sejati ialah mereka yang memenuhi janjinya. demi perkenan Tuhan (ridha Allah). namun kemudian Adam melupakannya dan tergoda setan. maka dalam suatu masyarakat yang diliputi paham serba simbol (akibat pendidikan yang rata-rata rendah dan cara berpikir yang sederhana) "pesan dasar" itu sering terkacaukan dengan hal-hal simbolik dan formal yang mewadahinya. Tanpa berarti dukungan untuk salah satu dari Ahl al-Dhawahir dan Ahl al-Bawathin yang buah pikiran mereka sempat ikut mewarnai polemik-polemik dalam khazanah literatur Islam klasik. namun dalam kenyataan kita masih menemui diri kita. Artinya. Beragama bagi seseorang tentu tidak akan bermakna. Tapi sementara frase "pesan dasar" Islam terdengar familiar bagi setiap yang pernah membahas masalah-masalah keislaman. kami bersaksi!" (Demikian itu supaya kami tidak) berkata di hari Kiamat: "Sesungguhnya kami lupa akan hal itu. yang membuatnya diusir dari surga. kecenderungan banyak orang menilai kadar keimanan orang lain hanya dari segi hal-hal simbolik dan formal. Karena suatu "pesan dasar" mengacu pada suatu nilai yang amat tinggi.[8] Karena itu manusia diharapkan memenuhi perjanjiannya dengan Tuhan. bukan substantif (orang tahu atau merasa tahu substansinya. Sebuah firman suci menyebutkan adanya perjanjian primordial antara Tuhan dan manusia. persetujuan dan kesepakatan antara Tuhan dan manusia. Perjanjian primordial itu juga diungkapkan dalam bahasa metaforik yang sangat ilustratif. dan harus menjauh dari penyembahan kepada setan.[6]. sering tidak begitu jelas mengenai pesan dasar itu. yang dinyatakan dalam kata-kata Arab sebagai abd. Dalam Kitab Suci al-Qur'an banyak diungkapkan tentang adanya perjanjian. demikian: Dan ingatlah ketika Tuhanmu mengambil (menciptakan) dari anak cucu Adam. jika ia tidak mampu menangkap pesan dasar itu. tidak bisa disangkal. yaitu dari tulang belakang mereka. namun wujud nyatanya sendiri sering masih merupakan problem." [7] Perjanjian itu pula yang terjadi antara Tuhan dan Adam. agar Tuhan pun memenuhi perjanjian-Nya dengan manusia. Namun realita menunjukkan adanya kesulitan yang nyata. hal-hal yang secara esensial bersifat Islam itu dengan sendirinya adalah "pesan dasar" (risalah asasiyyah) Islam itu sendiri. dengan mengutip Zamakhsyari dalam tafsir . karena itu ada risiko abstraksi yang tinggi pula.mendorong orang bertanya: Lalu apa wujud dari hal-hal yang secara esensial bersifat Islam itu? Jawabnya adalah. manusia harus menempuh hidup bermoral.[l0] Sebaliknya orang itu kafir.

Ibrahim adalah seorang Muslim (yang pasrah dan damai kepada Allah). al-Qur'an menolak klaim kaum Yahudi atau Nasrani bahwa Nabi Ibrahim adalah seorang Yahudi atau Nasrani. yaitu seorang yang karena bimbingan kesucian dirinya sendiri (fithrah) memelihara kecenderungan dan pemihakan yang murni kepada yang benar dan baik secara generik. sebab dalam pandangan Kitab Suci al-Qur'an keyahudian dan kenasranian adalah bentuk-bentuk pelembagaan formal dan bahkan parokial dari suatu agama generik.al-Kasysyaf. Demikian pula bentuk-bentuk pelembagaan formal dan parokial lainnya.[13]." [20] Pesan dasar itu. Allah membimbing siapa saja yang mengikuti keridlaan-Nya ke berbagai jalan keselamatan. [12].dalam suatu cara yang ditetapkan Ailah untuknya. sedangkan yang kedua (Nasrani) konon berdasarkan nama tempat (Nazaret). Karena itu al-Qur'an menegaskan. dalam bahasa Arab.[21] Maka. Ibrahim adalah seorang hanif. atas dasar keinsyafan mendalam. juga dari engkau (Muhammad) dan dari Nuh. Kesadaran Ketuhanan (Rabbaniyyah) yang mendasari akhlaq mulia itulah inti pesan dasar agama lewat para Rasul. sebagaimana telah disinggung. asli dan sejati. menerangkan.[l4] dan pokok perjanjian Tuhan dengan semua Nabi: "Ingatlah ketika Kami (Tuhan) mengambil dari para Nabi perjanjian mereka. yang selamanya menyertai dan mengawasi tingkah laku setiap orang. Yang pertama (Yahudi) merupakan pelembagaan berdasarkan kebangsaan (atau malah kesukuan. yang antara lain akan membawa manusia kepada kesadaran akan dirinya berhadapan dengan Sang Maha Pencipta. adalah suatu istilah umum yang mencakup kewajiban-kewajiban moral dan sosial yang timbul akibat iman itu. yaitu sikap hidup yang penuh pertimbangan moral.[22] . Juga ditegaskan. sebagai merujuk pada kewajiban moral manusia untuk menggunakan karunia bawaan lahirnya --intelektual dan fisik-." [l7] Dengan al-Qur'an itu." [16] Pemenuhan perjanjian manusia dengan Tuhannya itu melahirkan sikap hidup bertaqwa." [l9] Dan bahwa "Yang paling banyak menyebabkan manusia masuk surga ialah taqwa kepada Allah dan budi pekerti luhur. yaitu suku keturunan Yehuda. Ibrahim. [16] Maka al-Qur'an pun disebutkan sebagai "petunjuk bagi orang-orang yang bertaqwa. terhadap sesama manusia. yang titik tolaknya ialah sikap pasrah dan berdamai dengan Allah (dalam bahasa Arab disebut Islam). yang sesungguhnya tidak memerlukannya. perjanjian (Inggris: covenant) antara Allah dan manusia itu. misalnya. Asad juga memperjelas makna perjanjian dengan Allah (ahd Allah). ditolak Kitab Suci. yaitu makna dasar dan universal sebelum suatu agama terlembagakan menjadi bentuk-bentuk formal dan parokial. sepanjang penjelasan al-Qur'an. sebab agama yang benar secara asli haruslah tidak bernama kecuali dengan nama yang menggambarkan semangat makna generik kebenaran itu sendiri. Karena itu. agama yang benar ialah agama yang memiliki makna generik itu. Islam (Sikap Pasrah dan Damai kepada Allah). dan telah Kami ambil dari mereka perjanjian yang berat. anak pertama Israil atau Ya'qub). yang dalam bahasa Inggris secara konvensional diterjemahkan dengan God's covenant.[18] Dan Nabi saw pun bersabda bahwa "Tiada suatu apapun yang dalam timbangannya lebih berat daripada keluhuran budi. bahwa Allah adalah Maha Hadir. yaitu. sebagai pesan Tuhan kepada semua Nabi dan Rasul --dan melalui mereka kepada seluruh ummat manusia membentuk makna "generik" agama. Musa dan Isa putera Maryam.

sikap pasrah kepada-Nya (islam) dan kesadaran akan kehadiran-Nya dalam hidup (taqwa. Ketika pesan dasar itu menuntut terjemahannya dalam tindakan sosial nyata.[24] Dan sebagai wujud terpenting pemenuhan perjanjian dengan Allah dan pelaksanaan pesan dasar agama. wasth (semuanya memiliki makna dasar "tengah" atau "jujur") adalah wujud lain hukum keseimbangan (mizan) yang telah ditetapkan Allah untuk seluruh jagad raya. menegakkan keadilan dalam masyarakat adalah amanat Allah kepada manusia. Bahkan neraca yang kita kenal dan tampak bekerja secara "sederhana" itu pun adalah . yang menyangkut masalah pengaturan tata hidup manusia dalam hubungan mereka satu sama lain dalam masyarakat. dan jangan kamu bertindak merugikan (hukum) keseimbangan. Hendaknya kamu tidak melanggar (hukum) keseimbangan itu. berlaku untuk semua ummat manusia. dan dengan jalan menempuh hidup bermoral. yang dimaksud dengan mizan dalam firman itu ialah neraca yang dikenal. dan demikian pula dengan semua Nabi. PRINSIP KEADILAN (SOSIAL) Pada pokoknya pesan dasar ini.Demikianlah Nabi Ibrahim.[26] Beberapa tafsir dan terjemah konvensional menerangkan. mitsaq di atas). bahkan meliputi seluruh alam raya ciptaan-Nya ini. Karena itu tindakan menegakkan keadilan ditegaskan sebagai nilai yang paling mendekati taqwa.[25] Keadilan yang dalam bahasa Kitab Suci dinyatakan dalam kata-kata 'adl. termasuk Musa dan Isa (Yesus. dan Dia tetapkan (hukum) keseimbangan. Maka keadilan adalah aturan kosmis (cosmic order). qisth. Tentu saja tidak terlalu salah. dan tidak terbatasi oleh pelembagaan formal agama-agama. (sekalipun tidak berarti para Nabi itu secara harfiah menggunakan perkataan Arab yang berbunyi m-u-s-l-i-m dan i-s-l-a-m. karena justru kebanyakan para Nabi bukanlah orang-orang Arab). rabbaniyyah). Sebagai hukum dasar dari Tuhan. dalam makna kosmologisnya. Sesungguhnya. semuanya adalah tokoh-tokoh yang muslim dan mengajarkan islam [23]. Tapi dalam kaitannya dengan penciptaan Allah akan jagad raya. Mereka adalah muslim dan mengajarkan islam dalam arti. maka lebih tepat memandang perkataan mizan ini. dari sudut pandangan kosmologi al-Qur'an. pesan dasar ini. Inilah yang antara lain dapat kita ambil pengertiannya dari firman Allah: Dan langit pun ditinggikan oleh-Nya. maka tidak ada manifestasinya yang lebih penting daripada nilai keadilan. yang dalam firman ini dilambangkan sebagai penciptaan langit yang "ditinggikan" oleh-Nya. adalah universal. aqd. yang pelanggaran terhadapnya dapat dilukiskan secara metaforik sebagai mengganggu atau "mengguncangkann tatanan jagad raya. setelah lewat proses pengalihan nama itu dalam bahasa Yunani). yaitu seluruh jagad raya ini berjalan mengikuti hukum keseimbangan. Dan tegakkanlah olehmu semua akan neraca dengan jujur. yaitu agar manusia tunduk patuh kepada-Nya melalui sikap pasrah dan berdamai. keadilan adalah hukum primer seluruh jagad raya. yang meliputi perjanjian dengan Allah ('ahd. di mana manusia hanyalah salah satu bagian saja. maka ditegaskan. semuanya bersikap pasrah dan berdamai dengan Allah dan membawa pesan dasar yang sama.

-------------------------------------------(bersambung 3/4) Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah Editor: Budhy Munawar-Rachman Penerbit Yayasan Paramadina Jln. jika tidak disertai keadilan. meskipun suatu masyarakat adalah kafir namun menegakkan keadilan di dunia ini. atau Sunnatullah yang tidak tergantung kepada keinginan seseorang (obyektif) dan berlaku universal. suatu cosmic order yang menjadi hukum Tuhan.suatu gejala kosmis. Sebab. dan tidak akan bertahan lama bersama kezaliman dan Islamn" [27] Dengan pernyataannya yang tidak biasa itu. Sebaliknya. Metro Pondok Indah Pondok Indah Plaza I Kav. di segala tempat dan masa. yakni. Keislaman yang formal saja tidak akan membawa keselamatan di dunia ini. dalam hal ini khususnya Ibn Taymiyyah. keadilan adalah "tatanan segala sesuatu" (nidham-u kull-i syay) [28]. Ibn Taymiyyah hanya bermaksud agar ummat Islam tidak taken for granted dalam hal keislaman. 7507173 Fax." dan "Dunia akan bertahan bersama keadilan dan kekafiran. (021) 7501969. untuk membahas masalah-masalah pokok yang mendasari pemikiran kontemporer tentang fiqh. misalnya. UA 20-21 Jakarta Selatan Telp. Sedemikian rupa jauhnya pandangan Ibn Taymiyyah. melalui hukum gravitasi. sehingga tidak akan berubah (immutable). dan tidak akan menegakkan negeri yang zalim meskipun Islam. (021) 7507174 Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota Please direct any suggestion to Media Team Artikel Yayasan Paramadina Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota IV. 7501983. sedemikian tegas dan jauh berpegang pada prinsip keadilan itu sebagai ideatum tatanan sosial manusia yang akan menjamin kekokohan dan kelangsungannya. karena keseimbangan dalam sebuah neraca adalah kelanjutan dari hukum keseimbangan yang lebih luas (yang menguasai seluruh alam). khususnya dalam arti sosial. Berbagai pemikiran mutakhir tentang fiqh menegaskan perlunya kesadaran akan pesan dasar Islam sebelum . Dari sudut pandangan inilah kita memahami mengapa banyak para 'ulama'. PANDANGAN KONTEMPORER TENTANG FIQH (3/4) Telaah Problematika hukum Islam di Zaman Modern Oleh Nurcholish Madjid BEBERAPA CONTOH PEMIKIRAN KONTEMPORER FIQH Kita telah pergi sejauh yang diperlukan. maka masyarakat itu akan tegak.29. sehingga ia menguatkan pandangan bahwa "Sesungguhnya Allah akan menegakkan negeri yang adil meskipun kafir. didukung Allah. sama dengan yang telah dijelaskan di atas.

yaitu Fat'hi 'Utsman (pemimpin redaksi majalah Islam internasional Arabia yang terbit di London). dan Ahmad Zaki Yamani (yang pernah menjabat Menteri Perminyakan Saudi Arabia dan tokoh OPEC yang amat terkenal). Tapi kalau seandainya seluruh situasi yang berkaitan dengan lingkungan telah tersedia dengan sebaik-baiknya. kelompok atau perbedaan tingkat sosial. al-Din li al-Waqi' (Agama untuk Realita): Keadilan Sosial sebelum hukuman.suatu hukum atau hukuman dilaksanakan. sama dengan yang dikatakan Francis Aveling dalam bukunya ilmu Jiwa Klasik dan Modern. Di sini akan dikemukakan contoh pemikiran para intelektual Islam mutakhir." Dalam praktek memang telah terjadi berbagai usaha ke arah ini melalui berbagai pengabdian sosial. maka sesungguhnya ia juga menetapkan kemudahan jalan perkawinan dan melindungi bagian-bagian privat dari tubuh dengan menutup aurat dan menjaga penglihatan mata. Dari sini kita melihat. termasuk yang ada dalam al-Qur'an dapat dilaksanakan hanya setelah ditegakkannya keadilan sosial dan tatanan kemasyarakatan yang menjamin anggotanya untuk tidak melanggar ketentuan yang ditetapkan. Dan ketika Islam menetapkan hukum rajam atau cambuk atas pezina. baik yang berasal dari lingkungan atau pun dari pribadi sendiri. Muhammad Asad (salah seorang arsitek dan pemikir konstitusi Negara Islam Pakistan). ia bersama itu juga menetapkan langkah-langkah yang menjamin hilangnya dorongan-dorongan permusuhan golongan. Fatthi 'Utsman menegaskan. suatu hukum. Allah menerangkan dalam Kitab-Nya berbagai hukuman kejahatan (had) seperti. hukum bunuh (qishash) untuk kejahatan pembunuhan. Kami kutipkan dan terjemahkan sepenuhnya pendapat Fat'hi 'Utsman yang relevan. maka tentulah yang tersisa bagi kita ialah memikirkan sebab-sebab individual yang mendorong orang untuk melakukan pelanggaran-pelanggaran. dari tiga tokoh yang representatif. "Kalau tujuan kita ialah kebaikan masyarakat. maka Islam tidaklah melakukan hal itu sebelum tegaknya hak-hak hidup pribadi dan mantapnya tanggung negara untuk menjamin hak-hak pribadi itu. maka tujuan hukuman haruslah proteksi. Tapi penetapan hukum Islam tidak pernah disebut kecuali mesti timbul dalam pikiran orang. Kesadaran itu dapat disebut sebagai karakteristik pemikiran fiqh dan hukum Islam di zaman modern. dan lain-lainnya. serta melarang khalwat (kencan seorang lelaki dan . Sedangkan yang sebenarnya ialah bahwa rahmat Allah untuk sekalian alam tidaklah menetapkan hukuman. gambaran yang mengerikan tentang tangan-tangan buntung dan jasad-jasad berserakan. maka itulah cara yang ideal yang kita wajib menggunakannya. Islam ketika menetapkan pelaksanaan qishash dalam kejahatan pembunuhan. potong tangan untuk pencurian. kecuali sesudah ditempuh jalan proteksi. Jadi jika kita dapat mencegah sebab-sebab dan situasi yang mendorong kejahatan. Dan ketika menetapkan hukuman potong tangan pencuri. Wajar bahwa Islam menempuh jalan penetapan hukum-hukum setelah ditempuhnya jalan pengarahan pikiran melalui aqidah dan pendidikan tingkah laku melalui prinsip tabadul. misalnya. Dan cara apapun yang dapat merealisasikan tujuan ini harus dipandang sebagai wajar dari sudut pandangan sosial. dari bukunya.

no real freedom and. "Proverty may well . As is evedent from innumerable Qur'anic ordinances as well as the Prophet's injuctions forthcoming from authentic Traditions. no spiritual progress: for. there can be no real happiness and strength in a society that permits some of its members to suffer undeserved want while others have more than the need. he or she must be assured of an equitable standard of living commensurate with the resource at the disposal of the community. but for his bodily and intellectual needs as well. Now. namun maaf tidak sempat menerjemahkan): The extreme severity of this Qur'anic punishment can be understood only if one bears in mind the fundamental principle of Islamic Law that no duty (taklif) is ever imposed on man without his being granted a coresponding right (haq). liability to punishment.the believers are not entitled to look upon spiritual truths and values as something that could be divorced from the physical and social factors of human existence. It was undoubtedly this that the Prophet had in mind when he uttered the warning woeds (quoted by al-Suyuti in al-Jami al-Saghir).seorang perempuan yang bukan muhrim. for instance. namun tanpa muhrim perempuan itu).is the right to protection (in every sense of the word) by the community as a whole. In short. (Di sini kami kutipkan seluruh uraian itu. to the Muslim community in the early days of Islam). every citizen is entitled to a share in the community's economic resources and thus. in the last resort. poverty becomes the most dangerous enemy of spiritual progress. For. But if the available resources of a community are so unevenly distributed that certain groups within it live in affluence while the majority of the people are forced to use up all their energies in search of their daily bread. Dalam memberi penjelasan tentang makna yang lebih mendasar di balik hukuman yang amat keras bagi pencuri (potong tangan). that --in order to be truly Islamic-. through it. such shared privations may become a source of spiritual strength and. Islam envisages and demands a society that provides not only for the spiritual needs of man. among the inalienable rights of every member of the Islamic society --Muslim and non-Muslim alike-. If the whole society suffers privations owing to circumstances beyond its control (as happened.[29] Lebih runtut lagi adalah jalan pikiran dan garis argumen Muhammad Asad. of future greatness. in this context. man and woman. threfore. It follows. Jadi pengaturan sosial berjalan seiring atau mendahului penetapan hukuman kejahatan. Asad membuat uraian panjang lebar. may enjoy that minimum of material well-being and security without which there can be no human dignity. although the Qur'an makes it clear that human life cannot be expressed in terms of physical existence alone --the ultimate values of life being spiritual in nature-. and the term "duty" also comprises.a society (or a state) must be so constituted that every individual. to the enjoyment of social security: in other words. an occasionally drives whole communities away from God-consciousness and into the arms of soul-destroying materialism.

always hear in mind the principle mentioned at the beginning of this note: namely. enforeced enemployment. any attempt on the part of an individual to achieve an easy. but must confine itself to milder forms of administrative punishment. etc. the absolute interdependence between man's right and corresponding duties (including liability to punishment). it has not right to invoke the full sanction of criminal law (had) against the individual transgressor. theft cannot and should not be punished as severely as it should be punished in a state in which social security is a reality in the full sense of the woed. the entire socioeconomic system of Islam is based on the faith of its adherents. old age." Consequently. however. and since. therefore. In a community or state which neglects or is unable to provide complete social security for all its members. and (d) free medical care in health and sickness.turn into a denial of the truth (kafr). III/1. It was the second Caliph. unjustified gain at the expense of other members of the community must be considered an attack against the system as a whole. It is against the background of this social security scheme envisaged by Islam that the Qur'an imposes the severe sentence of hand-cutting as a deterrent punishment for robbery. or under-age.) To sum up. the communal obligation to create such a comprehensive social security scheme has been laid down in many Qur'anic verses. under the circumstances outlined above. Umar ibn al-Khattab. (b) an adequate home. and must be punished as such: and. and has been amplified and explained by a great number of the Prophers commandments. one may safely conclude that the cutting-off of a hand in punishment for theft is applicable only within the context of an already existing fully-functioning social security . and a provision (by the community or the state) of adequate nourishment. Since. his successors had either the vision nor the statemanship to continue his unfinished work. "temptation" cannot be admitted as a justifiable excuse. 213-217). the above ordinance which lays down that the hand of the thief shall be cut off. In a community in which everyone is assured of full security and social justice. (c) equal opportunities and facilities for education. who began to translate these ordinances into a concrete administrative scheme (see Ibn Said. strictly enforced protection. but after his premature death. in cases of disability resulting from illness. (Its was in correct appreciation of this principle that the great Caliph Umar waived the had of handcutting in a period of famine which afflicted Arabia during his reign. in the last resort. If the society is unable to fulfil its duties with regard to everyone of its memebers. Tabagat. woman and child has (a) enough to eat and wear. consequently. shelter. As already mentioned. A corollary of these rights is the right to productive and remunerative work while of working age and in good health. One must. the temptation to enrich onself by illegal means often becomes irresistible --and. the social legislation of Islam aims at a state of affair in which every man. its balance is extremely delicate and in need of constant. widowhood.

scheme. and sometimes contradictory principles resolving the same issues depending on the Juristic school that propagated the principle. not all the principles of Shari'a in its wider sense are of a binding authority. whether it dealt with contemporaneous issues of the time or in anticipation of future ones. The jurists derived their principles from the Qur'an and the Sunnah (way of action and the opinions of the Prophet). Sama dengan yang di atas. such as the Kingdom of Saudi Arabia. and surely we cannot maintain that previous Moslem Jurists have anticipated all our existing contemporary problems. provided such consensus was possible. constitutes a huge Juristic tradition the value of which depends on the individual jurist himself. Furthermore. his era. Construed narrowly. Generally and widely construed. Viewed as such. and in no other circumstances. yang belum tentu cocok dengan tuntutan zaman kita sekarang. maaf tidak sempat menerjemahkannya): The Islamic Shari'a as a phrase has two scope of meanings. karena pemikiran itu tidak lepas dari tuntutan zaman dan tempat yang lebih spesifik. and the consensus of the community represented by its sholars and learned men during a certain period and regarding a particular problem. looked upon in this wide scope. The importance of differentiating between the wide and the narrow scope of Shari'a is evident in countries that fully implement the system. however. and from the other sources of Shari'a such as Ijma' (the consensus of the community represented by its scholars and learned men).. dalam sebuah risalahnya yang terkenal. As such the system has a tremendous scholastic value to the Moslem. it has no binding authority. As I explained earlier. it denotes everything that has been written by Moslem jurists throughout the centuries. or even the particular problem confronting him. Perhatikanlah bagaimana Yamani menegaskan. memperjelas persoalan Syari'ah itu dalam kaitannya dengan hasil karya para ulama terdahulu yang secara keseluruhannya biasanya dipandang sebagai korpus Hukum Islam. Ahmad Zaki Yamani. the Shari'a is confined to the undoubted principles of the Qur'an. as I said before in this wide sense. since within it one might find different. di sini kami kutipkan sepenuhnya uraian Yamani (namun. and public interest considerations. jika bukannya malah identik (seperti menurut pengertian kebanyakan orang). one cannot deny the Shari'a scholastic value as an elaborate system of deduction which should be relied upon for future derivations of principles. and he is obligated to follow and employ it to solve his affairs . it cannot have a binding authority since circumstances that brought about a certain principle might not be in existence any more. to what is true and valid of the Sunna.[30] Fiqh sangat erat kaitan dengan Syari'ah.. Yet. the Shari'a has a binding authority on every Moslem. hasil pemikiran ("fiqh" dalam arti asalnya) para ulama dalam kitab-kitab itu baginya tidaklah mengikat. The Shari'a. sekali lagi. because of certain inherent .

and consensus. 7501983. dengan implikasi sebuah dukungan. 7507173 Fax. Berkaitan dengan prinsip ini.difficulties in attempting to harmonize some of them. to adopt the narrow meaning of Shari'a. (021) 7501969. but not the validity of that on which there is consensus.. [31] -------------------------------------------(bersambung 4/4) Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah Editor: Budhy Munawar-Rachman Penerbit Yayasan Paramadina Jln. pendapat yang ekstrim dari Imam al-Tuff yang diduga dari madzhab Hanbali (tapi juga ada yang menduganya bermadzhab Syi'ah). are not worthy of being followed. the Sunna. PANDANGAN KONTEMPORER TENTANG FIQH (4/4) Telaah Problematika hukum Islam di Zaman Modern Oleh Nurcholish Madjid Bagi Yamani prinsip public interest atau kepentingan umum adalah sangat fundamental. select principles from the various juristic schools with no exceptions." it becomes imperative . Maka jika terdapat pertentangan pertimbangan kepentingan umum di satu pihak. deriving such solutions from the general principles of the Shariia and considerations of public interest and communal welfare. dan ketentuan tekstual atau nas di pihak lain. (021) 7507174 Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota Please direct any suggestion to Media Team Artikel Yayasan Paramadina Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota IV. then. Such countries could legislate new solutions for novel problems. Ia berpandangan bahwa kepentingan umum itulah yang menjadi maksud dan tujuan Maha Hakim (Allah). Yamani mengutip. UA 20-21 Jakarta Selatan Telp. According to the well-known Shari'a principle "the validity of that on which there is a difference can be questioned. since as a logical consiquence on would have to maintain the princiles of the other schools are not valid. yang mengatakan bahwa kepentingan umum mengatasi dan mendahului ketentuan tekstual. confined to the Qur'an. the criterion being what is more appropriate to the needs of that particular country. one cannot choose one juristic school for implementation to the exclusion of all others. sekalipun dari al-Qur'an dan Sunnah. or at least. betapapun absahnya sebuah nas. al-Tufi berpendapat bahwa kepentingan umum itu harus dimenangkan..29. Furthermore. Metro Pondok Indah Pondok Indah Plaza I Kav. sedangkan ketentuan tekstual yang diwahyukan dan sumber-sumber lainnya hanyalah perantara . dengan merujuk kepada kitab Thabaqat al-Hanabilah oleh Ibn Rajab. which was done in the past.

. "pure" variant was egalitarian and scholarly. 1974). yang kini masih banyak melanda kaum Muslim. Only Islam survives as a serious faith pervading both a folk and a Great Tradition. fiqh dan sistem hukum Islam memiliki kesempatan besar untuk diterapkan dalam zaman modern. The Prophet himself had set precedence for this religious-secular relationship when he said "I am only human. Marshal G. Tapi dengan bekal inner dynamics Islam itu sendiri. 1. Hodgson. once a shallow of the central tradition now becomes a repidiated scapegoat. the latter principles have to be viewed as a system of civil Iaw. though not the source of modernity. 2. can be done in one and the same language and set of symbols. Tetapi prasyaratnya ialah. 108.." [33] PENUTUP Dari seluruh uraian di atas dapatlah disimpulkan. Its great Tradition is modernisable. masa depan yang lebih baik tentu dapat diciptakan.. The fact that its central.S. Yamani mengritik sebagian kaum Orientalis yang tidak memahami Syari'ah dan mencampuradukkan dua unsurnya yang berbeda namun tidak terpisah. Thus in Islam. dan tujuan harus selalu mendahului perantaraan atau cara. Though both are derived from the same source. if I order something of my opinion consider it in the light that I am only human. based on public interest and utility." Or when he said.. . mengembangkan pemikiran hukum yang akan menjawab tuntutan zaman dan tempat.untuk mencapai tujuan itu. and only in Islam.[32] Lebih jauh.. Halangan terbesar bagi kemungkinan itu datang dari sikap-sikap dogmatic dan literalis. Many Western Orientalists who wrote about Shari'a failed to distinguish between what is purely religious and the principles of secular transactions. 3 jilid (Chicago: The University of Chicago Press. yaitu hukum-hukum keagaman ('ibadat) dan hukum-hukum kegiatan manusia dalam hidup keduniaan (mu'amalat): The religious essence and value of the Shari'a must never be overestimated. The old folk version. h. CATATAN 1. but rather as the continuation and completion of and old dialogue within Islam. if I order something pertaining to your religion comply. dan berdasarkan itu. not as an innovation or concession to oursiders. Hence. Islam may yet turn out to be its beneficiary. The Venture of Islam. and the reaffirmation of a putative old local identity on the other. and the operation can be presented. jil. whilst hierarchy and . and therefore always evolving to an ideal best. "You know better about your civil non-religious matters. sehingga akan terbukti ramalan Gellner: Kaum Muslim adalah penarik manfaat yang sebenarnya dari modernitas. official. kaum Muslim harus mampu terlebih dahulu menangkap pesan dasar agamanya. purification modernization on the one hand. blamed for retardation and foreign domination..

greatly aids its adaptation to the modern world. 19. al-Ra'd/13:25. 1978). 1981). or some. 11.. al-Ma'idah/5:16. By various obvious criteria --universalism. 7). Brill. and thus the 'protestant' ideal of equal access for all believers can be implemented. 18. al-Ahzab/433:7. terjemahan dari Perancis oleh Brian Peace (Austin: University of Texas Press. Lihat QS. al-Hadid/57:4. . Islam and Capitalism. h. 1561. 15. 1551. Lihat QS.363.Islam is. so that one can hardly tell which one of the two is of most benefit to the other. eventually disavowed. 7-8. (Gallner. 16. h. spiritual egalitarianism. al-Ra'd/13:20. 17. h. Lihat QS. Lihat QS. Muslim Society (Cambridge: Cambridge University Press.Ibid. hadits No.. 4-5). Lihat QS. h. Maxime Rodinson. Lihat QS. al-A'raf/7:172. catatan 42. 1988). Ibid. 211. and the rational systematisation of social life-. (Ernest Gallner. scripturalism. peripheral forms. 4. 10. but to all. Whilst European Protestantism merely prepared the ground for nationalism by furthering literacy.ecstaasy pertained to its expendable. hadits No.. h. h. Ali Imran 3:79. 1. 13. In an age of aspiration to universal literacy. Bulugh al-Maram. QS. 9. QS. the one closest to modernity. Islamic Liberalism (Chicago: The University of Chicago Press. 14. the open class of scholars can expand towards embracing the entire community. al-Baqarah/2:40. catatan 21. The Message of the Qur'an (London: E. 8. 3.J. al-Baqarah/2:2. Lihat QS. Lihat QS. Leonard Binder. Thaha/20:115. of the three great Western monotheisms. Yasin/36:60 7. 20. 5. the extension of full participation in the sacred community not to one. 6. Lihat QS. 1980). 12. the reawakened Muslim potential for egalitarian scripturalism can actually fuse with nationalism. Modern egalitarianism is satisfied. Muhammad Asad.

). Ali Imran/3:79-80). dan bersikap pasrah kepada-Nya (Islam). Isma'il dan Ishaq. 25. hanif) menyembah Tuhan yang sama.'" (QS. 24. Setiap orang yang dikaruniai Allah pangkat kenabian pasti menyeru manusia agar berkesadaran Ketuhanan (Rabbaniyyun) dan tidak akan menyimpang dari garis lurus itu setelah para pengikutnya benar-benar menjadi kaum yang pasrah kepada-Nya (muslimun): "Tidak pernah terjadi pada seorang manusia yang kepadanya Allah mengaruniakan kitab suci. "Ibrahim itu bukanlah seorang Yahudi ataupun Nasrani.21. 27. al-Ma'idah/5:8. langsung dan tidak langsung. Sesungguhnya manusia yang paling dekat kepada Ibrahim ialah mereka yang benar-benar mengikutinya dan Nabi ini (Muhammad) serta mereka yang beriman. yaitu Tuhan Yang Maha Esa. 23. QS. catatan 48. 26. 30. h. Terdapat banyak penegasan.91-92. Muhammad Asad. Lihat QS. 149-150. al-Baqarah 2:133). 22. 40. h. al-Din li al Waqi' (Kuwait: al-Dar al-Kuwaytiyyah. Ibn Taymiyyah. dan seorang muslim (pasrah kepada Tuhan). al-Nisa/4:58. melainkan seorang hanif (lurus kepada kebenaran). bukan bagi Allah!' Melainkan (ia tentu berkata): 'Jadilah kamu orang-orang yang berkesadaran Ketuhanan (Rabbaniyyun) berdasarkan kitab suci yang kamu ajarkan dan berdasarkan yang kamu sendiri pelajari. Lihat QS. dan tidaklah dia termasuk mereka yang musyrik. Suatu penegasan bahwa semua penganut agama (yang benar secara generik. Ali Imran 3:19 dan 85. yaitu Tuhan Yang Maha Esa. ajaran kebenaran (hukum) dan kenabian kemudian berkata kepada orang banyak: 'Jadilah kamu semua hamba-hamba bagiku. Apakah patut ia menyuruh kamu menjadi kafir sesudah kamu semua menjadi orang-orang yang pasrah (muslimun)?" (QS. tt. Lihat QS. Ali Imran/3:67-68). al-Rahman/55:7-9. 29. 1396 H/1976 M). dan kami semua pasrah (muslimun) kepada-Nya. al-Amr bi al-Ma'ruf wa al-Nahy 'an al-Munkar (Beirut: Dar al-Kitab a-jadid. berkenaan dengan keislaman para Nabi. Ibid.' Dan ia (Nabi itu) tidak menyuruh kamu agar kamu mengambil para malaikat dan para Nabi yang lain sebagai tuhan-tuhan. 28. dalam risalahnya. . h. Fat'hi Utsman. Secara umum dapat disimpulkan dari firman Allah tentang sikap anak turun Ya'qub Israil): "Adakah kamu menjadi saksi ketika maut datang kepada Ya'qub." (QS. Ibrahim. Allah adalah pembimbing kaum beriman itu. ketika ia bertanya anak-anaknya: 'Apa yang kamu sembah sesudahku?' Mereka menjawab: 'Kami menyembah Tuhanmu dan Tuhan nenek moyangmu.

Sunnah. dikenal juga adanya sumber-sumber sekunder (al-mashadir al-tab'iyyah). dalam pengembangan pemikiran hukumnya (metoda ijtihadnya) volume penggunaan rasio lebih besar dari volume penggunaan hadist (sebagai salah satu sumber syari'ah). 10-11. atau sama sekali tidak menggunakan sumber hukum itu. Selain dari sumber hukum primer tersebut. Istihsan. (021) 7507174 Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota Please direct any suggestion to Media Team Artikel Yayasan Paramadina Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota KONSEP-KONSEP ISTIHSAN.31. Tokoh utama kubu Irak ialah Imam Abu Hanifah. yaitu kubu Irak dan kubu Hijaz. 32. ISTIHSAN Pada saat-saat awal terbentuknya pemikiran hukum Islam yang metodis (ilmu fiqh). 33. . Ibid. Biasanya para ulama pendukung kubu Irak dikenal sebagai ahl al-ra'y. Metro Pondok Indah Pondok Indah Plaza I Kav. sumber hukum Islam terdiri atas: al-Qur'an. h. 7507173 Fax. h. dikenal adanya dua kubu pengembangan pemikiran hukum Islam. 7501983. UA 20-21 Jakarta Selatan Telp. Ahl al-ra'y sesuai dengan situasi lingkungannya. dan para ulama pendukung kubu Hijaz dikenal sebagai ahl al-hadits. Ini tidak berarti. 6-7). -------------------------------------------Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah Editor: Budhy Munawar-Rachman Penerbit Yayasan Paramadina Jln. (021) 7501969. Tapi penggunaannya sangat terbatas. Ahmad Zaki Yamani. Ijma' dan akal. h. mereka tidak mengakui keabsahan hadist itu.. Ibid. Itulah yang berkembang menjadi ijtihad. kebiasaan/adat-istiadat (al'urf). Istishlah dan Istishhab. upaya ilmiah menggali dan menemukan hukum bagi hal-hal yang tidak ditetapkan hukumnya secara tersurat (manshus) dalam syariah (al-kitab wa sunnah). 13-14. Dengan demikian. Islamic Law and Contemporary Issues (Jeddah: The Saudi Publishing House 1388 H). dan tokoh utama kubu Hijaz adalah Imam Malik. ISTISHLAH DAN MASHLAHAT AL-AMMAH Oleh KH Ali Yafie Dinamika hukum Islam dibentuk oleh adanya interaksi antara wahyu dan rasio.. Pendapat sahabat Nabi (qaul al-shahabi). yaitu: syariah terdahulu (syar' man qablana).

atau dalam arti yang mencakup qias yang lebih luas yang dikaitkan dengan suatu ketentuan umum atau suatu kaidah-kaidah hukum yang baku. atau kita menggunakan istihsan dalam masalah ini. mereka dalam pengembangan pemikiran hukum (metode ijtihadnya) volume penggunaan sumber hukum hadits lebih besar dari volume penggunaan sumber rasio (dalam hal ini qias). dibandingkan dengan qias yang jelas (jali). ternyata tidak saja menggunakan qias yang merupakan bentuk penggunaan rasio dengan cara analogis ilmiah ketat. dalam masalah ini. menyebutkan Istihsan itu suatu qias yang lebih dalam (khafi). tidak segera dapat ditangkap. atau dharurah. bukan saja tidak mencakup. ahl al-hadits sesuai dengan situasi lingkungannya. atau ijma' atau dharurah. Mereka menggunakannya secara tersendiri atau menyebutnya berdampingan dengan kata/istilah qias. Definisi yang lain. Syekh Muhammad Zakariya al-Bardisi. dan menurut Istihsan hukumnya begini. Ini tidak berarti mereka menolak penggunaan sumber rasio itu. Menurut al-Bardisi definisi ini tidak mencakup (ghair jami'). Sebagian lagi memberikan definisi. atau sumber hukum yang . Dengan kata lain mereka mengatakan. bahkan kita menemukan dari mereka beberapa definisi yang kontradiktif. Sepanjang penelitian guru besar ilmu-ilmu Syari'ah pada Fakultas Hukum Universitas Kairo. istihsan itu ialah semua ketentuan syar'i (baik yang bersifat nash. karena ada juga istihsan yang ditegakkan atas landasan 'urf atau mashlahah Secara harfiah Istihsan itu berarti menganggap baik akan sesuatu baik itu fisik maupun nilai. karena tidak dapat menampung Istihsan yang ditegakkan di luar landasan qias. Definisi ini menurutnya. Definisi ini pun belum mencakup. seperti Istihsan yang ditegakkan di atas landasan nas. Kata ini kemudian digunakan sebagai suatu technische-term yang membentuk pengertian baru menggambarkan suatu konsep penalaran dalam rangka penggunaan rasio secara lebih luas untuk menggali dan menemukan hukum sesuatu kejadian yang tidak ditetapkan hukum dari sumber syari'ah yang tersurat. Ahl al-ra'y yang volume penggunaan rasionya lebih besar. Istilah "Istihsan" sebagai technische-term banyak beredar di kalangan tokoh-tokoh (ulama) dari aliran pemikiran hukum (mazhab) Hanafiyah. hukum dalam masalah ini bersumber dari Istihsan. atau ijma'. menurut qias hukumnya begini. Mereka sering mengatakan. Kedua kubu tersebut mengakui keabsahan sumber hukum qias. Kita menggunakan qias dalam masalah ini.Di pihak lain kita dapat mengamati. mereka yang menggunakan Istihsan sebagai sumber hukum tidak mempunyai kesepakatan atas suatu definisi tentang Istihsan itu. atau qias yang lebih dalam) dibandingkan dengan qias yang jelas. tapi apa yang dia maksud dengan qias di sini tidak begitu jelas. ialah peralihan dari hasil sesuatu qias kepada qias yang lain yang lebih kuat. Dalam hubungan inilah lahir konsep Istihsan. tapi mereka juga menggunakan analogi yang longgar dan lebih luas. di antaranya adalah: Istihsan itu. apakah itu qias dalam arti technische-term.

Dengan kata lain pertimbangan adanya ketentuan lain atau kesepakatan. atau keadaan darurat atau suatu kepentingan nyata. karena beliau berpendapat. Alasan itulah menjadikan qias jali (biasa) dialihkan kepada qias khafi (alternatif) dan hasilnya disebut Istihsan. Dan ternyata kemudian diambil alih juga oleh Imam al-Ghazali dari aliran Syafi'iyah dengan beberapa . atau mashlahah. untuk menghasilkan suatu hukum bagi kejadian baru. sudah cukup. tapi sebagian yang lain beranggapan. yakni kesepakatan para ahli yang berwenang (ahl al-ijtihad) di kalangan umat Islam. Dalam bahasa tekniknya harus ada ashl dan harus ada 'illah. Kemudian berkembang pula secara terbatas dalam aliran Malikiyah dan Hambaliyah. Dalam perkembangan pemikiran hukum Islam. pada hakekatnya konsep ini telah dikenal dan digunakan oleh angkatan pertama ahl al-ijtihad di kalangan sahabat dan tabi'in. al-mashlah al-mursalah atau al-mashalih al-mursalah. Yang dicatat sebagai seorang tokoh yang menolak menempatkan Istihsan itu sebagai suatu sumber hukum sekunder. masih ada upaya penalaran yang lain seperti Istihsan dan istislah dan seterusnya. sekalipun dengan istilah-istilah yang berbeda. ketentuan yang dihasilkan dari pengaitan (ilhaq) tersebut di atas dan inilah yang disebut hukum qias. Istihsan ini ditempatkan sebagai sumber hukum sekunder.dipersamakan dengan itu. dalam hal tujuan dan sasaran ditetapkannya ketentuan tersebut. yakni ketentuan pokok (ashl). Tapi dapat kita catat. yang perlu ditata dalam hukum Islam. pengecualian masalah tertentu dari suatu ketentuan pokok yang bersifat umum. kaidah-kaidah interpretasi atas ketentuan-ketentuan syari'ah (al-Qur'an dan Sunnah) ditambah dengan analogi qias. landasan penyamaan ('illah). atau ijma'. Analogi Istihsan tidak terikat pada keketatan analogi qias karena dimungkinkan adanya qias alternatif (qias kahfi) yang terlepas dari elemen 'illah (dalam analogi qias biasa). semua itu merupakan elemen-elemen dalam hukum Istihsan. adalah Imam Syafi'i. Termasuk pula dalam kategori Istihsan. dibutuhkan adanya suatu ketentuan pokok yang bersifat terinci (tafshili) untuk dijadikan landasan mengaitkan sesuatu yang ada persamaannya. ada empat elemen dari analogi qias itu. ISTISHLAH Istishlah merupakan suatu konsep dalam pemikiran hukum Islam yang menjadikan mashlahah (kepentingan/kebutuhan manusia) yang sifatnya tidak terikat (mursalah) menjadi suatu sumber hukum sekunder. karena pengecualian itu didukung oleh suatu nash. Konsep penalaran ini bermula dikembangkan dalam aliran pemikiran hukum Islam (madzhab) Malikiyah. atau dari suatu kaidah hukum. untuk menampung segala perkembangan yang terjadi. kejadian baru (far). Sebagian ahl al-ijtihad menganggap qias ini merupakan upaya final dalam penggalian dan penemuan hukum-hukum dari sumber syari'ah atau sumber yang dipersamakan (ijma'). Karenanya juga konsep ini lebih dikenal dengan sebutan. atas pertimbangan sesuatu alasan yang lebih kuat. Dari uraian ini dapat ditangkap. di kalangan penganut aliran pemikiran hukum (madzhab) Hanafiyah. atau 'urf atau dharurah. Dalam analogi qias. atau kebiasaan.

1. Tapi perlu dicatat. Maka tidak dituntut untuk dilakukan manusia untuk kepentingan hidupnya.Mashlahah yang tidak diakui ajaran syari'ah.Dharuriyyah (bersifat mutlak) karena menyangkut komponen kehidupannya sendiri sebagai manusia. yang terdiri dari tiga tingkat kebutuhan manusia. Namun perlu dicatat ruang lingkup penerapan hukum mashlahah ini adalah bidang mu'amalat. yaitu. Maka. Para ahli yang mendukung konsep penalaran ini mencatat tiga persyaratan dalam penerapan hukum mashlahah ini. harta bendanya.3. 1. Mashlahah itu tidak merupakan kepentingan pribadi atau segolongan kecil masyarakat. bukan sekadar anggapan atau rekaan. upaya mewujudkan mashlahah dan mencegah mafsadah (hal-hal yang merusak) adalah sesuatu yang sangat nyata dibutuhkan setiap orang dan jelas dalam syari'ah yang diturunkan Allah kepada semua rasul-Nya.1. Dan itulah sasaran utama dari hukum Islam. dan manusia tidak dicegah melakukan sesuatu. 1. Kelima tersebut biasanya disebut al-kulliyyat al-khams atau al-dharuriyyat al-khams. dan tidak menjangkau bidang ibadat.2. raga dan kehormatannya) akal pikirannya. 3. konsep ini ditolak oleh Landasan pemikiran yang membentuk konsep ini ialah. yaitu: 1. bahwa ia memang mewujudkan suatu manfaat atau mencegah terjadinya madharrah (bahaya atau kemelaratan). 2. yang menjadi dasar mashlahah (kepentingan dan kebutuhan manusia). nasab keturunannya dan kepercayaan keagamaannya. Hasil penalaran mashlahah itu tidak berujung pada terabaikannya sesuatu prinsip yang ditetapkan oleh nash .Mashlahah yang diakui ajaran syari'ah. menjadikan hukum Islam itu luwes dan dapat diterapkan pada setiap kurun waktu di segala lingkungan sosial. Penempatan masalah ini sebagai suatu sumber hukum sekunder. Mashlahah itu harus bersifat pasti. syari'ah Islam dalam berbagai pengaturan dan hukumnya mengarah kepada terwujudnya mashlahah (apa yang menjadi kepentingan dan apa yang dibutuhkan manusia dalam kehidupannya di permukaan bumi). aliran Zhahiriyyah dan Syi'ah.Hajiyyah (kebutuhan pokok) untuk menghindarkan kesulitan dan kemelaratan dalam kehidupannya.penyempurnaan. yakni hal-hal yang menyangkut terpelihara dirinya (jiwa. 2. kenyataan bahwa. yaitu kepentingan yang bertentangan dengan maslahah yang diakui terutama pada tingkat pertama. 3. yaitu: 1. Dalam kajian para ahl-ijtihad ada tiga jenis mashlahah. kecuali hal-hal yang pada galibnya membahayakan dan memelaratkan hidupnya. karena ibadat itu adalah hak prerogatif Allah sendiri.Mashlahah yang tidak terikat pada jenis pertama dan kedua. tapi harus bersifat umum dan menjadi kebutuhan umum.Tahsiniyyah (kebutuhan pelengkap) dalam rangka memelihara sopan santun dan tata krama dalam kehidupan.

Imam al Syafi'i. 3. DAFTAR KEPUSTAKAAN 1. yang sifatnya umum yakni yang merupakan kepentingan setiap manusia dalam hidupnya. menciptakan lapangan kerja untuk mewujudkan mata pencaharian bagi anggota-anggota masyarakat. Seterusnya yang menyangkut mashlahah akal pikiran. Al-Asybah wa 'l-Nazhair: 5. -------------------------------------------Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah Editor: Budhy Munawar-Rachman Penerbit Yayasan Paramadina Jln. Seperti misalnya yang menyangkut mashlahah harta benda/kepentingan seorang manusia memiliki harta benda (untuk makan. 7501983. Al-Muwafaqat. hukum Islam juga mengenal mashlahah 'ammah yang menjadi kepentingan bersama masyarakat atau kepentingan umum (algemeen blang). Begitu seterusnya menyangkut tiap mashlahah yang sifatnya dharuriyyah. di antaranya adalah mencegah kemelaratan orang banyak (kaum Muslim). Hal-hal ini terkait dengan taklif yang berbentuk fardhu 'ain. Imam Suyuthi. Di samping mashlahah tersebut di atas. Al-Umm. (021) 7501969. 7507173 Fax. 4. Madkhal al-Fiqh al-Islami. bersangkutan dengan fardhu 'ain yang dijelaskan dalam hadits lain yang berbunyi (thalb-u 'l-'ilmi faridhatun 'ala kulli muslim). Al-Mahmashani. Metro Pondok Indah Pondok Indah Plaza I Kav. Sallam Madkur.fardhu kifayah itu adalah urusan umum yang menyangkut kepentingan-kepentingan (mashalih) tegaknya urusan agama dan dunia dalam kehidupan kita.syari'ah atau ketetapan yang dipersamakan (ijma'). pakaian dan tempat tinggalnya) hal ini bersangkutan dengan fardhu 'ain yang dijelaskan dalam tuntunan Rasulullah saw (thalab-u 'l-halal faridhatun 'ala kulli muslim) yaitu kewajiban bekerja mencari rizki memenuhi kebutuhan hidupnya sehari-hari. bimbingan keagamaan (fatwa) dan penyebaran buku-buku. Al-Mustashfa. Imam al-Ghazali. UA 20-21 Jakarta Selatan Telp. Imam al-Syathibi. Hikmatuttasyri'wa Falsafatih. AL-MASHLAHAH AL-'AMMAH Hukum Islam mengenal mashlahah 'ainiyah (kepentingan perorang) dari setiap manusia. 2. Imam Rafi'i menjelaskan. menegakkan kontrol sosial melalui amar ma'ruf nahi mungkar. jelas memperlihatkan keterkaitannya dengan kewajiban perorangan sebagai imbalan adanya pengakuan atas mashlahah dharuriyyah yang menimbulkan hak-hak mutlak perorangan bagi setiap manusia. seperti yang digambarkan dalam uraian terdahulu tentang al-kulliyyat al-khams. mencerdaskan kehidupan masyarakat melalui pendidikan. Ini menyangkut hak publik dan berkaitan dengan fardhu kifayah. 6. (021) 7507174 . M.

bolehkah saya menerima bunga depositonya? Apakah bunga deposito itu sama. sekali lagi jawabannya akan beragam. dengan riba? Tanyalah ulama yang Anda kenal. Para ulama merumuskan syari'at dalam bentuk fiqh yang mengatur bidang-bidang kehidupan yang lebih kompleks. Di antara metode-metode itu adalah qiyas. dari golongan apa saja. Anehnya bila golongan yang ditanya --Muhammadiyah. Mereka bukan saja menganggap dewan ini tidak bertentangan dengan syar'i. tidak boleh. mereka menemukan lembaga yang menyelesaikan urusan orang-orang yang dizalimi. Mereka tidak menemukan nash --teks al-Qur'an atau Hadits-. tapi apakah riba sama dengan bunga deposito? Kemusykilan seperti itu telah dihadapi para ulama sepanjang sejarah. Semua metode ini hanyalah upaya memecahkan persoalan. sebagian menolakaya. PERANAN TUNTUTAN SITUASI DALAM MEMAHAMI HUKUM ISLAM oleh Jalaluddin Rakhmat Jika saya mendepositokan uang saya di bank. Kebanyakan di antara umat Islam masih belum mendapat jawaban yang tegas dan memuaskan. tapi mereka menganggap lembaga ini sangat bagus.26. Lembaga ini tidak terdapat dalam al-Qur'an dan Sunnah. Yang kita sebut syari'at pada mulanya hanya menyangkut masalah keluarga. tapi bahkan memelihara tujuan syar'i. Tidak ada kesepakatan ulama mengenai kebolehan menggunakan masing-masing di antara ketiga hal itu. para ulama mengembangkan metode istinbath (menarik kesimpulan hukum) baik berdasarkan kaidah-kaidah atau petunjuk umum dalam nash maupun dari penggunaan akal. Syafi'i. tidak tahu. Ketika Islam bertemu dengan peradaban-peradaban lain. misalnya. Persis. Ada memang ketentuan tentang riba. apa yang tercakup dalam syari'at menjadi lebih luas. perdagangan yang sederhana dan hukum pidana. Bila diminta fatwa lisan atau tulisan.Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota Please direct any suggestion to Media Team Artikel Yayasan Paramadina Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota IV. Menurut al-Mawardi dalam al-Ahkam al-Sulthaniyah. ketika dinasti Umayyah bertemu dengan kebudayaan Persia. Kemudian penguasa Umayyah mengukuhkan lembaga itu dan menamainya Dewan Mazhalim. Ada tiga kemungkinan jawaban: boleh. Sebagian menerimanya. menyerang istihsan dan menganggapnya sebagai usaha untuk membuat syari'at (man . Studi kritis terhadapnya akan segera membuktikan bahwa penggunaan metode-metode tersebut juga menimbulkan persoalan. Deposito dan bunganya tidak dikenal di zaman Rasulullah saw. Ulama yang ditanya itu memang mengalami kemusykilan. Semua golongan itu sepakat (ijma') untuk menyimpan uangnya di bank dan memanfaatkan bunganya. verba non acta. istihsan dan istishlah. NU jawabannya satu. Tidak jarang perbedaan itu muncul karena perbedaan pemaknaan istilah-istilah itu.yang menerangkan ketentuan hukum untuk deposito. tentu saja bagi kepentingan umat Islam. Secara berangsur-angsur.

ia tidak keluar dari upaya menjalankan nash. Tidak ada madzhab yang menolak penggunaan istihsan kecuali madzhab Dzahiriyah dan Syi'ah. Tapi ketika Syafi'i menyerang istihsan seperti yang dimaknakan olehnya. Pendirian Dewan Madzalim dipandang baik. Namun sebelum itu. kita akan menemukan banyak sekali definisi istihsan --yang tidak selalu menunjukkan . walaupun ia berbeda dari mujtahidin lainnya dalam cara dan cakupan penggunaan qiyas. istihsan artinya memandang baik terhadap sesuatu. artinya. Maliki dan Hanafi memandang istihsan bahkan harus didahulukan dari qiyas." --Hadits menurut riwayat Abdullah bin Mas'ud. Imam Malik juga mengambil qiyas. yang tidak lain daripada istihsan menurut mazhab Hanafi. PENGERTIAN ISTIHSAN Secara denotatif. [2] Bila illat itu diketahui dengan menggunakan cara-cara yang dikenal dalam kitab ushul dan ada hubungan antara illat ini dengan kasus yang akan ditetapkan hukumnya. atau meninggalkan qiyas kepada atsar. tapi sesudah mengambil mashalih mursalah dan istihsan. para ulama yang mempertahankan istihsan mengambil dalil dari al-Qur'an dan Sunnah yang menyebutkan kata istihsan dalam pengertian denotatif ini (yaitu. atau tidak ada yang dapat dijadikan hujjah dari pendapat-pendapat mereka. Sunnah. Begitu pula para pengikut Hanafi yang membahas qiyas sesudah al-Kitab. Tulisan ini akan dimulai dengan mencoba menyelesaikan kemelut makna istihsan dan istishlah dan diakhiri dengan petunjuk praktis penggunaannya dalam menjawab tuntutan situasi sekarang ini. harus dilakukan berdasarkan istihsan. Adapun cara menggunakan qiyas sebagai berikut: Seorang mujtahidin melakukan penelitian apakah ada dalil yang menunjukkan dalil tentang illat untuk menentukan hukum far'. orang-orang yang mendengarkan kata dan diturutinya yang paling baik. atau mashlahat. Q. Sunnah dan ijma. Dalam semua keadaan itu. Imam Ahmad pun bersandar kepada qiyas dengan syarat sesudah meninjau hukum itu dalam al-Qur'an dan Hadits dalam maknanya yang lebih luas. al-Zumar: 55. ia menggunakan metode qiyas khafi.s al-Zumar: 18. ijma' dan pendapat para sahabat. dan sudah ditegaskan hubungannya disamakanlah hukum yang asal dengan far' berdasarkan kesamaan illat seperti yang dipahaminya. "Dan turutlah (pimpinan) yang sebaik-baiknya yang telah diturunkan kepadamu dari Tuhanmu". sebagai pengantar. Yang demikian itu disebut istihsan. Malik menyebut istihsan sebagai sembilan persepuluh ilmu (Al-istihsan tis'at a'syar al-'ilm). menurut Allah baik juga. ia bersandar kepada qiyas. Kadang-kadang mujtahid meninggalkan satu dalil kepada dalil yang lebih kuat. Bila kita mengacu pada literatur. saya kutipkan penjelasan Sayyid Musa Tuwanat: [1] Bila mujtahid tidak menemukan hukum dalam al-Qur'an.istahsana fa qad syara'a). Menarik sekali. atau kepada ijma' atau kepada dharurat. Kadang-kadang qiyas ditinggalkan karena ada dalil yang kuat atsarnya. atau kepada maslahat. Inilah yang ditetapkan oleh Imam Syafi'i dan ditegaskan al-Syirazi dan al-Maqdisi. atau qiyas. "Apa yang dianggap kaum Muslim baik.

referensi yang sama. Ada definisi yang dibuat dengan memperhatikan segi-segi politis dan bukan segi-segi ilmiahnya. Untuk menunjukkan bagaimana definisi-definisi itu lebih banyak menyulitkan daripada membantu, kita lihat contoh di bawah ini: 1. Istihsan adalah meninggalkan qiyas untuk mengambil yang lebih sesuai dengan orang banyak. 2. Istihsan adalah mencari kemudahan dari hukum-hukum yang dihadapi orang banyak atau orang tertentu. 3. Istihsan adalah mengambil keluasan dan mencari kelegaan. 4. Istihsan adalah mengambil yang permisif dan memilih yang di dalamnya ada ketenangan (semuanya dari al-Sarkhashi). 5. Istihsan artinya meninggalkan kepastian qiyas kepada qiyas yang lebih kuat atau mentakhshiskan qiyas dengan dalil yang lebih kuat (al-Bazdawi dari madzhab Hanafi). 6. Istihsan artinya mengamalkan yang lebih kuat di antara dua dalil (al-Syathibi dari madzhab Maliki). 7. Istihsan artinya meninggalkan hukum masalah dari yang semacamnya karena dalil syara' yang tertentu (al-Thufi dari madzhab Hambali). 8. Istihsan adalah apa yang dipandang baik oleh mujtahid dengan akalnya. [3] Karena kita mengalami kesulitan memahami istihsan dari berbagai definisi itu, marilah kita ambil contoh kasus yang oleh para mujtahid disebut sebagai istihsan. Melihat aurat perempuan yang bukan muhrim haram, karena dapat menimbulkan "fitnah" (membawa orang kepada kemaksiatan). Yang dalam kurung itu disebut 'illat yang sangat jelas (kita sekarang sedang melakukan qiyas jaliy). Bagaimana hukumnya seorang dokter yang harus memeriksa pasien wanitanya? Bila ia tidak melihat auratnya, ia tak bisa menolong pasien itu dengan baik. Ia harus menolong pasien itu untuk mengembalikan kesehatannya, untuk kemaslahatan pasiennya. Tapi alasan ('illat) ini hanya dalam kasus pasien saja dan dianggap tegas (kita sedang melakukan qiyas khafiy). Bila kita meninggalkan qiyas jaliy dan mengambil qiyas khafiy, kita melakukan istihsan. Kadang-kadang seorang mujtahid meninggalkan qiyas karena menemukan hadits yang lebih kuat, atau karena memperhatikan kemaslahatan, atau karena 'urf (adat kebiasaan yang sudah lazim). Bila kita memperhatikan praktek-praktek yang disebut istihsan, kita menemukan istihsan dalam tiga pengertian: Pertama, istihsan berarti memilih yang lebih kuat di antara dua dalil yang bertentangan atau berbeda (berikhtilaf). Boleh jadi ikhtilaf di antara dua dalil lafzhi --yakni dalil yang diambil dari al-Qur'an dan Sunnah. Atau ikhtilaf di antara dua dalil ghair lafzhi; misalnya, antara qiyas jaliy dengan qiyas khafiy. Atau ikhtilaf di antara dalil lafzhi dan ghair lafzhi. Marilah kita mulai dengan ikhtilaf di antara dua dalil lafzhi. Dalam hal ini, ikhtilaf dapat berupa tazakam dan ta'arudh. Yang dimaksud dengan Tazabum adalah pembenaran dua hukum yang berasal dari syara', yang tidak mungkin digabungkan. Ta'arudh

artinya perbedaan hukum shawar al-masalah).

karena

perbedaan

kasus

(ikhtilaf

Kita melakukan istihsan bila kita mentarjih (menganggap lebih baik) salah satu di antaranya. Sambil memberikan contoh-contohnya, saya akan menunjukkan petunjuk-petunjuk praktis penggunaan istihsan pada tazahum dan ta'arudh. (1) Dulukan hukum yang mendesak (mudhiq) di atas hukum yang memberikan kelonggaran (musi'). Misalnya, antara menghilangkan najis di masjid dengan melakukan shalat pada awal waktunya, atau antara menolong orang yang celaka dengan melakukan shalat Jum'at. Pilihlah menghilangkan najis dan menolong orang yang celaka. (2) Dulukan yang tidak ada penggantinya dengan yang ada penggantinya. Misalnya, menggunakan air untuk memuaskan rasa haus atau untuk berwudhu'. Wudhu' itu ada penggantinya, yaitu tayammum. Tapi memuaskan haus tidak bisa diganti dengan batu. (3) Dulukan yang sudah tertentu (mu'ayyan) di atas urusan yang memberikan alternatif (mukhayyar). Misalnya memenuhi nadzar atau membayar kifarat. Anda bernadzar untuk memberikan makanan bagi orang miskin, tapi juga Anda harus membayar kifarat puasa. (4) Dulukan yang lebih penting dari pada yang penting. Anda wajib melakukan haji dan pada saat yang sama Anda harus membayar hutang. Bayarlah hutang Anda lebih dulu. Ta'arudh terjadi kalau ada dua dalil syara' yang bertentangan. Para ulama ushul mengusulkan beberapa cara, yang tidak dapat kita perinci satu per satu: mendulukan yang mutlak di atas yang muqayyad, takhshish di atas 'am, nasikh di atas mansukh, hakim di atas mahkum, al-Qur'an di atas Sunnah, yang disepakati di atas yang diikhtilafi. Kedua, istihsan berarti mengambil sesuatu yang sudah dipandang baik oleh 'urf atau akal. Misalnya, mencatat pernikahan di kantor departemen Agama. Istihsan dalam arti ini harus dilakukan dengan sangat hati-hati. Karena apa yang dipandang baik 'urf atau akal itu boleh jadi sangat subyektif, sehingga besar kemungkinan mengikuti bias-bias sosio-psikologis. Kita juga tidak cukup waktu membicarakan hal ini. Ketiga, istihsan berarti meninggalkan dalil-dalil tertentu untuk mendatangkan maslahat atau menegakkan hukum di atas pertimbangan maslahat yang lima: memelihara agama, jiwa, akal, keturunan dan harta. Istihsan jenis terakhir ini disebut juga istishan atau al-mashalih al-mursalah. PENUTUP Yang terakhir ini exercise. Apakah cara berpikir yang berikut ini termasuk istihsan atau bukan. Bunga deposito dapat dibenarkan karena beberapa pertimbangan. Pertama, uang yang disimpan mengalami penurunan nilai karena inflasi. Tingkat inflasi bisa jadi lebih tinggi dari bunga deposito. Kedua, dengan menyimpan, deposan harus membayar opportunity cost yang boleh jadi lebih mahal dari bunga deposito. Ketiga, mendepositokan uang juga siap memikul resiko, yang nilainya dapat dihitung (serta mungkin saja lebih besar dari bunga

deposito). Walhasil, bila Anda tidak mengambil deposito Anda, Anda akan menjadi pihak yang terzalimi atau teraniaya. Padahal, agama menyatakan "tidak boleh menindas dan tidak boleh ditindas"?? CATATAN 1. Al-Ijtihad wa Muda Hajatina ilaih fi Hadza al-'Ashr, Mesir: Dar al-Kutub al-Haditsah, hal. 324 - 325. 2. Ada empat rukun qiyas: (1) asalnya, yakni kasus yang ada dalam nas, misalnya minum khamar; (2) hukumnya, yakni haram; (3) far', kasus baru yang akan ditetapkan hukumnya, misalnya bir; (4) illat atau washf jami', yakni sebab yang menyamakan kedua kasus itu, misalnya memabukkan atau minuman keras. 3. Lihat, Muhammad Taqiy, Al-Ushul al-Ammah fi al-Ammah fi al-fiqh al-Muqaran, Beirut: Dar al-Andalus, 1979, hal. 361-362. -------------------------------------------Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah Editor: Budhy Munawar-Rachman Penerbit Yayasan Paramadina Jln. Metro Pondok Indah Pondok Indah Plaza I Kav. UA 20-21 Jakarta Selatan Telp. (021) 7501969, 7501983, 7507173 Fax. (021) 7507174 Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota
Please direct any suggestion to Media Team

Artikel Yayasan Paramadina
Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota IV.25. TAQLID DAN IJTIHAD (1/4) MASALAH KONTINUITAS DAN KREATIVITAS DALAM MEMAHAMI PESAN AGAMA oleh Nurcholish Madjid Jika masalah taqlid dan ijtihad harus ditelusuri ke belakang, barangkali yang paling tepat ialah kita menengok ke zaman 'Umar ibn al-Khathtab, Khalifah ke II. Bagi orang-orang muslim yang datang kemudian, khususnya kalangan kaum Sunni, berbagai tindakan 'Umar dipandang sebagai contoh klasik persoalan taqlid dan ijtihad. Salah satu hal yang memberi petunjuk kita tentang prinsip dasar 'Umar berkenaan dengan persoalan pokok ini ialah isi suratnya kepada Abu Musa al-Asy'ari, gubernur di Basrah, Irak: "Adapun sesudah itu, sesungguhnya menegakkan hukum (al qadla) adalah suatu kewajiban yang pasti dan tradisi (Sunnah) yang harus dipatuhi. Maka pahamilah jika sesuatu diajukan orang kepadamu. Sebab, tidaklah ada manfaatnya berbicara mengenai kebenaran jika tidak dapat dilaksanakan. Bersikaplah ramah antara sesama manusia dalam kepribadianmu, keadilanmu dan majlismu, sehingga seorang yang berkedudukan tinggi (syarif) tidak sempat berharap akan keadilanmu.

Memberi bukti adalah wajib atas orang yang menuduh, dan mengucapkan sumpah wajib bagi orang yang mengingkari (tuduhan). Sedangkan kompromi (ishlah, berdamai) diperbolehkan diantara sesama orang Muslim, kecuali kompromi yang menghalalkan hal yang haram dan mengharamkan hal yang halal. Dan janganlah engkau merasa terhalang untuk kembali pada yang benar berkenaan dengan perkara yang telah kau putuskan kemarin tetapi kemudian engkau memeriksa kembali jalan pikiranmu lalu engkau mendapat petunjuk kearah jalanmu yang benar; sebab kebenaran itu tetap abadi, dan kembali kepada yang benar adalah lebih baik daripada berketerusan dalam kebatilan. Pahamilah, sekali lagi, pahamilah, apa yang terlintas dalam dadamu yang tidak termaktub dalam Kitab dan Sunnah, kemudian temukanlah segi-segi kemiripan dan kesamaannya, dan selanjutnya buatlah analogi tentang berbagai perkara itu, lalu berpeganglah pada segi yang paling mirip dengan yang benar. Untuk orang yang mendakwahkan kebenaran atau bukti, berilah tenggang waktu yang harus ia gunakan dengan sebaik-baiknya. Jika ia berhasil datang membawa bukti itu, engkau harus mengambilnya untuk dia sesuai dengan haknya. Tetapi jika tidak, maka anggaplah benar keputusan (yang kau ambil) terhadapnya, sebab itulah yang lebih menjamin untuk menghindari keraguan, dan lebih jelas dari ketidakpastian (al-a'ma, kebutaan, kegelapan) ... Barang siapa telah benar niatnya kemudian teguh memegang pendiriannya, maka Allah akan melindunginya berkenaan dengan apa yang terjadi antara dia dan orang banyak. Dan barang siapa bertingkah laku terhadap sesama manusia dengan sesuatu yang Allah ketahui tidak berasal dari dirinya (tidak tulus), maka Allah akan menghinakannya ..." [1] Dari kutipan surat yang lebih panjang itu ada beberapa prinsip pokok yang dapat kita simpulkan berkenaan dengan masalah taqlid dan ijtihad. Prinsip-prinsip pokok itu ialah: Pertama, prinsip keotentikan (authenticity). Dalam surat 'Umar itu prinsip keotentikan tercermin dalam penegasannya bahwa keputusan apapun mengenai suatu perkara harus terlebih dahulu diusahakan menemukannya dalam Kitab dan Sunnah. Kedua, prinsip pengembangan. Yaitu, pengembangan asas-asas ajaran dari Kitab dan Sunnah untuk mencakup hal-hal yang tidak dengan jelas termaktub dalam sumber-sumber pokok itu. Metodologi pengembangan ini ialah penalaran melalui analogi. Pengembangan ini diperlukan, sebab suatu kebenaran akan membawa manfaat hanya kalau dapat terlaksana, dan syarat keterlaksanaan itu ialah relevansi dengan keadaan nyata. Ketiga, prinsip pembatalan suatu keputusan perkara yang telah terlanjur diambil tetapi kemudian ternyata salah, dan selanjutnya, pengambilan keputusan itu kepada yang benar. Ini bisa terjadi karena adanya bahan baru yang datang kemudian, yang sebelumnya tidak diketahui. Keempat, prinsip ketegasan dalam mengambil keputusan yang menyangkut perkara yang kurang jelas sumber pengambilannya (misalnya, tidak jelas tercantum dalam Kitab dan Sunnah), namun perkara itu amat penting dan mendesak. Ketegasan dalam hal ini bagaimanapun lebih baik daripada keraguan dan ketidakpastian.

Kelima, prinsip ketulusan dan niat baik, yaitu bahwa apapun yang dilakukan haruslah berdasarkan keikhlasan. Jika hal itu benar-benar ada, maka sesuatu yang menjadi akibatnya dalam hubungan dengan sesama manusia (seperti terjadinya kesalahpahaman), Tuhanlah yang akan memutuskan kelak (dalam bahasa 'Umar, Allah yang akan "mencukupkannya"). Dari prinsip-prinsip itu, prinsip keotentikan adalah yang pertama dan utama, disebabkan kedudukannya sebagai sumber keabsahan. Karena agama adalah sesuatu yang pada dasarnya hanya menjadi wewenang Tuhan, maka keotentikan suatu keputusan atau pikiran keagamaan diperoleh hanya jika ia jelas memiliki dasar referensial dalam sumber-sumber suci, yaitu Kitab dan Sunnah. Tanpa prinsip ini maka klaim keabsahan keagamaan akan menjadi mustahil. Justru suatu pemikiran disebut bernilai keagamaan karena ia merupakan segi derivatif semangat yang diambil dari sumber-sumber suci agama itu. TAQLID Prinsip keotentikan juga menyangkut masalah konsistensi ketaatan pada asas. Konsistensi itu, pada urutannya, akan menjadi batu penguji lebih lanjut tingkat keabsahan suatu pemikiran. Karena itu dalam pengembangan suatu pemikiran keagamaan tidak mungkin dihindari kewajiban memperhatikan hal-hal parametris dalam sistem ajaran sumber-sumber suci, sebab hal-hal parametris itulah yang menjadi tulang punggung kerangka ajarannya yang abadi (sesuai untuk segala zaman dan tempat). Hal-hal parametris itu dalam Kitab Suci disebut sebagai al-muhkamat (petunjuk-petunjuk dengan makna jelas), yang juga disebut sebagai prinsip dasar atau induk ajaran Kitab Suci (umm al-Kitab), kebalikan petunjuk-petunjuk metaforikal, alegoris dan interpretatif (mutasyabihat). [2] Karena keontentikan dan konsistensi mengimplikasikan penerimaan terhadap suatu postulat, premis atau formula dasar, dengan sendirinya ia juga mengandung makna taqlid menurut makna asli (generik) kata-kata itu, yakni, sebelum ia menjadi istilah teknis dengan makna sekunder seperti kini umum dipahami. Sebab, taqlid dalam arti generik merupakan unsur sikap menerima kebenaran suatu postulat berdasarkan pengakuan bahwa sumber atau pembuat postulat mempunyai wewenang penuh dan tinggi. Karena salah satu konsekuensi konsep tentang Tuhan ialah konsep tentang Dia Yang Maha Berwenang, maka menerima dengan penuh keyakinan terhadap kebenaran ajaran-Nya dengan sendirinya merupakan implikasi kepercayaan atau iman kepada Rasul dan ajaran-ajaran yang dibawa-Nya. [3] Iman yang sempurna dengan sendirinya mengandung semangat sikap pasrah sepenuhnya. Segi lain tentang makna penting taqlid ialah yang menyangkut masalah akumulasi informasi dan pengalaman. Taqlid sebagai pola penerimaan otoritas pendahulu dalam rentetan pengembangan ilmu dan pemikiran hampir tidak mungkin dihindari. Sebab, ekonomi pemikiran tidak mengizinkan terlalu banyak bersandar pada kemampuan pribadi secara terpisah dan atomistis, sehingga segala sesuatu akan menjadi tanggung jawab sendiri, dengan keharusan merintis setiap pengembangan dari titik nol (from the scratch). Pengetahuan

manusia seperti yang ada sekarang ini yang menandai zaman modern ("iptek") adalah hasil kumulatif penggalian informasi dan pengalaman yang melibatkan hampir seluruh ummat manusia sepanjang sejarah yang telah berjalan ribuan tahun. Deretan pengalaman dan pengawetan serta pelembagaan dalam karya-karya intelektual sepanjang masa itu menjadi pohon tradisi intelektual universal ummat manusia, yang tanpa itu kekayaan dan kesuburan seperti yang ada sekarang akan menjadi sama sekali mustahil. Memulai suatu pengembangan pemikiran dan dalam hal ini juga pengembangan bidang budaya manusia manapun dari titik nol akan hanya berakhir dengan kemiskinan (malah pemiskinan - improverishment) hasil usaha itu sendiri. Karena itu taqlid dalam makna generik yang positif merupakan dasar penumbuhan kekayaan intelektual yang integral, yakni integral dalam arti bahwa suatu bangunan tradisi intelektual memiliki akar-akar dalam sejarah. Jadi, keotentikan historis, yang keontentikan itu sendiri diperlukan jika diinginkan daya kembang dan kreativitas yang maksimal. Maka, untuk sekedar misal, seorang Albert Camus dalam tradisi intelektual Eropa (Barat) yang telah tampil dengan filsafat kontemporernya tentang eksistensialisme absurdity yang kontroversial itu pun harus dipahami sebagai bagian integral tradisi intelektual di sana yang akar-akarnya bisa ditelusuri jauh ke masa lalu, sampai ke masa Yunani kuno. Albert Camus, dalam jalan pikiran orang-orang Barat, tidak dapat dipahami tanpa melihat salah satu jalur konsistensi dan benang merah pemikiran Barat itu sendiri, melintasi zaman sampai ke masa lalu yang sangat jauh. Sekalipun konsep absurdity dapat dilihat sebagai Camus, namun sesungguhnya ia adalah salah satu hasil pertumbuhan kumulatif pemikiran Barat. [4] Ia memiliki keabsahan sebagai pemikiran Barat yang integral. Jadi keintegralan dan keotentikan diperkuat oleh adanya konstinuitas tradisi yang berkembang. Tetapi segi positff taqlid ini hanya terwujud jika ia tidak menjadi paham tersendiri yang tertutup, yang tumbuh menjadi "isme" terpisah. Sebab, taqlid seperti ini (yang barangkali lebih tepat disebut "taqlidisme") mengisyaratkan sikap penyucian masa lampau dan pemutlakan otoritas tokoh sejarah. Memang benar, masa lampau selalu mengandung otoritas. Tapi, justru demi pengembangan bidang yang menjadi otoritasnya, masa lampau beserta tokoh-tokohnya harus senantiasa terbuka untuk diuji dan diuji kembali. Pengujian itu dilakukan dengan pertama-tama, menemukan dan menginsafi segi-segi yang merupakan imperatif ruang dan waktu yang ikut membentuk suatu sosok pemikiran. Sebab, suatu sosok pemikiran tidak pernah muncul dan berkembang dari kevakuman. Ia selalu merupakan hasil interaksi berbagai faktor, dan faktor ruang dan waktu acap kali dominan. (bersambung 2/4) -------------------------------------------Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah Editor: Budhy Munawar-Rachman Penerbit Yayasan Paramadina Jln. Metro Pondok Indah Pondok Indah Plaza I Kav. UA 20-21 Jakarta Selatan Telp. (021) 7501969, 7501983, 7507173

Fax. (021) 7507174 Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota
Please direct any suggestion to Media Team

Artikel Yayasan Paramadina
Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota IV.25. TAQLID DAN IJTIHAD (2/4) MASALAH KONTINUITAS DAN KREATIVITAS DALAM MEMAHAMI PESAN AGAMA oleh Nurcholish Madjid Kedua, dengan menghadapkan sosok pemikiran itu pada kenyataan-kenyataan disini sekarang. Penghadapan ini diperlukan untuk melihat relevansi suatu sosok pemikiran historis, karena ia akan berguna untuk kita, disini dan kini. Seperti tubuh manusia yang memiliki mekanisme penolakan terhadap benda-benda asing yang tidak cocok dengan dirinya lewat gejala alergi, ruang dan waktu pun, yang mengejawantah dalam sistem sosial, memiliki mekanisme penolakan terhadap sesuatu yang tidak sesuai tanpa membiarkan diri secara pasif menjadi tawanan ruang dan waktu, kita tidak bisa dihadapkan pada kebutuhankebutuhan nyata yang didiktekan dan ditentukan oleh lingkungan kita. HIKMAH AGAMA Tujuan seorang Rasul diutus kepada umat manusia antara lain untuk mengajarkan Kitab Suci dan hikmah kepada mereka. Karena cakupan maknanya yang demikian luas, "hikmah" diterangkan kedalam berbagai pengertian dan konsep, diantaranya wisdom atau kewicaksanaan (dari bahasa Jawa, untuk membedakannya dari kata "kebijaksanaan"), ilmu pengetahuan, filsafat, malahan "blessing in disguise" (untuk menekankan segi kerahasiaan hikmah). [6] Mendasari konsep itu ialah kesadaran bahwa suatu "hikmah" selalu mengandung kemurahan dan rahmat Ilahi yang maha luas dan mendalam, yang tidak seluruhnya kita mampu menangkapnya. Maka disebutkan bahwa siapa dikaruniai hikmah, ia sungguh telah mendapatkan kebajikan yang berlimpah-ruah. [6] Jika "hikmah" itu kita hubungkan kembali pada istilah "muhkam" (kedua kata itu terambil dari akar kata yang sama, yaitu h-k-m), maka dalam menumbuhkan tradisi intelektual yang integral dan kreatif berdasarkan kaidah taqlid dan ijtihad itu memerlukan kemampuan menangkap hikmah pesan Ilahi seperti yang terlembagakan dalam ajaran-ajaran agama. Berkenaan dengan ini, dan dikaitkan pada keterangan dalam Kitab Suci tentang adanya ayat-ayat mahkam dan mutasyabih tersebut, menarik sekali kita mengangkat penafsiran A. Yusuf Ali atas makna muhkam itu: [7] ... The Commentators usually understand the verses "of established meaning" (muhkam) to refer to the categorical orders of the Shari'at (or the Law), which are plain to everyone's understanding. But perhaps the meaning is wider: "the mother of the Book" must include the very foundation on which all Law rests, the essence of God's Message, as

distinguished from the various allegories, and ordinances.

illustrative

parables,

If we refer to xi. 1 and xxxix. 23, [8] we shall find that in a sense the whole of the Qur'an has both "established meaning" and allegorical meaning. The division is not between the verses, but between the meanings to be attached to them. Each is but a Sign or Symbol: what it represents is something immediately applicable, and something eternal and independent of time and space, - the "Forms of Ideas" in Plato's Philosophy. The wise man will understand that there is an "essence" and an illustrative clothing given to the essence, throught the Book. We must try to understand it as best we can, but not waste our energies in disputing about matters beyond our depth.[9] Sesuatu dari ajaran Kitab Suci yang abadi dan tak terikat oleh waktu dan ruang (eternal and independent of time and space) dalam pengertian tentang muhkam itu tidak lain ialah makna, semangat, atau tujuan universal yang harus ditarik dari suatu materi ajaran agama yang bersifat spesifik, atau malah mungkin ad-hoc. Kadang-kadang makna dan tujuan universal dibalik suatu ketentuan spesifik itu sekaligus diterangkan langsung dalam rangkaian firman itu sendiri. Tapi, kadang-kadang makna itu harus ditarik melalui proses konseptualisasi atau ideasi (ideation). Contoh yang pertama ialah firman Ilahi yang mengurus perceraian Zaid (seorang bekas budak yang dimerdekakan dan diangkat anak oleh Nabi) dari istrinya, Zainab (seorang wanita bangsawan Quraisy dengan status sosial tinggi dan rupawan), dan perceraian itu kemudian diteruskan dengan dikawinkannya Nabi dengan Zainab oleh Tuhan. Maka terlaksanalah perkawinan seseorang -dalam hal ini Nabi menikahi bekas isteri anak angkatnya. Namun kejadian yang bagi orang-orang tertentu terdengar sebagai skandal ini justru -katakanlah- dirancang oleh Tuhan untuk suatu maksud yang mendukung nilai universal yang sejak semula menjadi klaim ajaran Islam, yaitu nilai sekitar konsep kealamian (naturalness) yang suci, yakni konsep fithrah. Dalam hal ini, anak angkat bukanlah anak alami seperti anak (biologis) sendiri, sehingga juga tidaklah alami dan tidak pula wajar jika hubungannya dengan ayah angkatnya dikenakan ketentuan yang sama dengan anak alami, termasuk dalam urusan nikah. Maka, kejadian ad-hoc yang menyangkut Zaid, Zainab dan Nabi itu langsung diterangkan tujuan universalnya, yaitu "agar tidak ada halangan bagi kaum beriman untuk mengawini (bekas) isteri-isteri anak-anak angkat mereka." [10] Tujuan ini jelas langsung terkait dengan segi universal yang lebih menyeluruh, yaitu konsep atau ajaran fithrah, yang mengimplikasikan bahwa segala sesuatu dalam tatanan hidup manusia ini hendaknya diatur dengan ketentuan yang sealami mungkin sesuai dengan hukum alam (Qadar) [11] dan hukum sejarah (Sunnat-u 'l-Lah) yang pasti dan tak berubah-ubah. [12] Pandangan bahwa segala sesuatu harus sealami mungkin adalah benar-benar sentral namun menuntut pemahaman mendalam yang disebut sebagai agama ftthrah yang hanif. Itulah hikmah pesan agama dalam arti yang seluas-luasnya dan secara global. Dalam arti yang lebih terinci, konsep hikmah agama dinyatakan dalam berbagai ungkapan, seperti telah menjadi tema dan judul sebuah buku yang cukup terkenal, Hikmat al-Tasyri' wa Falsafatuhu. [13] Hikmah pesan agama

dan meluas serta kompleks. yaitu bahwa ia berarti hilangnya akal sehat yang menjadi bagian dari fithrah manusia. khususnya di masa-masa penuh kekacauan menjelang keruntuhan Baghdad. seperti khamar) ialah sifatnya yang memabukkan. mendalam. ijtihad itu diajukan orang sebagai salah satu tema pokok usaha reformasi atau penyegaran kembali pemahaman terhadap agama. seperti konsep sekitar 'illat al-hukm (Latin: ratio legis). khususnya pembahasan bidang hukum (syari'ah -par excellence). Bahwa rationale diharamkannya minuman keras (alkoholik. Kini. Contoh nyata penerapan konsep ini ialah yang dikenakan pada hukum khamr. Sikap penabuan dengan sendirinya tidak dapat dibenarkan meskipun sesungguhnya ia muncul dari obsesi para ulama pada ketertiban dan ketenangan atau keamanan. Dalam sejarah masyarakat Muslim sempat tumbuh pandangan yang hampir menabukan ijtihad. Dan selanjutnya. menyangkut hal-hal yang cukup rumit.masih bisa dilihat rationalenya sehingga ia negatif. yaitu kerusakan mental. dalam perkembangan selanjutnya penabuan itu juga dapat dilihat sebagai kelanjutan masa kegelapan (obskurantisme) dalam pemikiran Islam. Tapi. Para pembaharu mendapati bahwa praktek taqlid yang umum . [14] IJTIHAD Uraian di atas dibuat dengan tujuan memberi gambaran bahwa masalah taqlid dan ijtihad. karena selama paling kurang tujuh atau delapan abad. Kemudian sifat memabukkan itu sendiri dihukumnya sebagai tidak baik. Padahal memelihara fithrah itulah. yang juga sering disebut dengan manath al-hukm (sumbu perputaran hukum). Maka ijtihad bisa dilakukan hanya oleh orang-orang tertentu yang benar-benar telah memenuhi syarat itu. yaitu tema-tema teori politik Sunni. (Disebut anomalous. Syarat-syarat itu sekarang boleh kedengaran kuno.ini juga dikenal dengan istilah lain sebagai maqashid al-syari'ah (maksud dan tujuan syari'ah). Berkaitan dengan ini berbagai konsep yang telah mapan dalam pembahasan agama Islam. Melalui tokoh-tokoh pembaharu seperti Muhammad Abduh dan Sayid Ahmad Khan. orang-orang muslim terbiasa berpikir bahwa dunia ini milik mereka. justru merupakan salah satu ajaran sentral agama Islam. lebih dari pada yang dipahami umum. tapi justru karena itu menuntut persyaratan banyak dan berat. ijtihad dikemukakan kembali sebagai metode terpenting menghilangkan situasi anomalous dunia Islam yang kalah dan dijajah oleh dunia Kristen Barat. Hanya saja. terutama daerah Nil sampai Ozus. kerusakan mental itu -betapa pun jelas negatif. dan hak mengatur dunia hanya ada pada mereka. Karena itu di kalangan ulama klasik ada pendapat hampir merata bahwa ijtihad adalah suatu tugas yang penuh gengsi. sebagai salah satu akibat penguasaan mereka atas daerah-daerah sentral peradaban manusia. Konsep-konsep ini dibuat berkenaan dengan perlunya menemukan suatu rationale yang mendasari penetapan suatu hukum. namun ia dibuat dengan tujuan menjamin adanya kewenangan dan tanggung jawab. pelukisan tentang kegiatan ijtihad sebagai sesuatu yang amat eksklusif telah melahirkan persepsi salah. karena ia mengakibatkan suatu jenis kerusakan. jantung kawan (Oikoumene).

UA 20-21 Jakarta Selatan Telp. sepanjang penuturannya." [18] (bersambung 3/4) -------------------------------------------Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah Editor: Budhy Munawar-Rachman Penerbit Yayasan Paramadina Jln. yang meliputi penolakan secara sadar terhadap segala sesuatu yang baru. khususnya Muhammad Abduh. 7507173 Fax. tetapi mengikuti berbagai pertimbangan kemaslahatan dan melihat makna-makna yang merupakan poros penetapan hukum (manath al-tasyri') yang diridlai Allah s. telah berkembang menjadi suatu sikap mental. Tokoh pembaharu modern paling berpengaruh ini "memahami ijtihad dalam pengertiannya yang luas sebagai penelitian bebas. (021) 7507174 Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota Please direct any suggestion to Media Team Artikel Yayasan Paramadina Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota IV. selain . [16] Bahkan 'Umar "tidak memandang semua perkara bersifat ta'abbudi (bernilai 'ubudiyyah. penegasannya bahwa "tidaklah ada gunanya berbicara tentang kebenaran namun tidak dapat dilaksanakan. 7501983. Metro Pondok Indah Pondok Indah Plaza I Kav. paling celaka kecemasan dan rendah diri.w. paling untung chauvinisme. khususnya zaman 'Umar. dari kalangan generasi awal Islam. yang tidak segan-segan mengambil apa saja yang baik dari umat-umat lain. (021) 7501969. sungguh menarik pemaparan pemikiran al-Makki bahwa melakukan ijtihad. Ia melukiskan semangat kosmopolit zaman klasik Islam. dan tentang apa yang paling baik disini dan sekarang. Xenophobia itu sendiri merupakan gejala. Sebab. tidak hanya para Sahabat seperti 'Umar dll. malah juga Rasulullah sendiri! Menurut al-Makki. dan merupakan konsekwensi dari. [15] Ini dengan mudah dilihat gejala xenophobia.t. jika bukan malah pandangan teologis. TAQLID DAN IJTIHAD (3/4) MASALAH KONTINUITAS DAN KREATIVITAS DALAM MEMAHAMI PESAN AGAMA oleh Nurcholish Madjid Agaknya jalan pikiran 'Umar dari zaman klasik (salaf) Islam itu muncul lagi pada orang-orang tertentu dari kalangan para pemikir Islam zaman modern. menurut kerangka aturan yang telah mapan tentang pengambilan hukum dan norma-norma moral Islam. 'Umar adalah seorang yang "berpikiran luas. devotional)." [17] Pandangan 'Umar ini sejalan dengan. khususnya jika berbentuk unsur dari budaya asing." [19] Berkenaan dengan itu. baik awam maupun ulama. dan tidak memandang baik terhadap sikap jumud dalam hukum. seorang pemikir Makkah dari madzhab Maliki.25. meskipun umat itu kafir.. Gejala ini pula yang hari-hari ini dilihat al-Makki.menguasai orang-orang muslim.

Al-Makki mengatakan bahwa dalam berijtihad Nabi selalu benar. sebagai sama-sama kegiatan manusiawi yang serba terbatas. sampai ia akhirnya bertemu (liqa. Muhammad Hasyim Asy'ari dan al-Sayyid Muhammad Ibn Alawi ibn "Abbas al-Maliki al-Hasani al-Makki. para Sahabat Nabi dahulu. selalu toleran satu sama lain. yang menjadi alasan bagi Sang Kebenaran untuk menuntun seseorang ke berbagai jalan menuju kepada-Nya. jalan itu sebanyak jumlah mereka yang mencarinya dengan sungguh-sungguh. Jadi tidak dibenarkan adanya absolutisme di sini. namun tidak mustahil. kiranya jelas bahwa taqlid dan ijtihad sama-sama diperlukan dalam masyarakat manapun. dan sekaligus berkembang dan kreatif tanpa kehilangan keotentikan dan keabsahan -suatu penitian jalan yang sulit. maka taqlid ataupun ijtihad selalu mengandung persoalan. sehingga harus senantiasa dibiarkan membuka diri bagi tinjauan dan pengujian. Sebab. dan ketertutupan itu akan menjadi sumber absolutnya. [23] Akhirnya. khususnya pemikiran. dengan mekanisme penerimaan dan penganutan suatu otoritas (taqlid) kekayaan pengalaman kultural manusia. Tapi. begitu pula para Imam madzhab sendiri. Jika diluar itu Nabi bisa salah. atau kalaupun salah beliau akan segera mendapat teguran Ilahi melalui wahyu yang suci sehingga kesalahan itu tidak melembaga dan menjadi satu dengan pola hidup orang banyak. maka seperti ditegaskan Ibn Taymiyyah. namun tanpa menjadi satu) dengan Kebenaran. dengan izin dan ridla dari Sang Kebenaran itu sendiri. setiap bentuk absolutisme akan membuat suatu sistem pemikiran menjadi tertutup. yang menegaskan bahwa siapa yang berijtihad dan benar. Jalan menuju kesana ternyata banyak. dan ijtihad diperlukan justru untuk mengembangkan dan lebih memperkaya pengalaman itu. ia akan mendapat dua pahala. sebagaimana tercermin dalam sabda Nabi yang amat terkenal. Nabi juga sering melakukan ijtihad dengan menggunakan metode analogi atau qiyas. Sebab. [20] (Dalam hal ini al-Makki mirip dengan Ibn Taymiyyah yang berpendapat bahwa Nabi bersifat ma'shum hanya dalam tugas menyampaikan (al-balagh) wahyu. Inilah barangkali letak kebenaran ucapan Karl Mannheim bahwa setiap ideologi (yakni. Bahkan. meskipun amat jarang.selaku Utusan Tuhan yang menerima wahyu parametris. Maka problema yang dihadapkan kepada setiap orang ialah bagaimana ia teguh tanpa menjadi kemutlakan-kemutlakan. pasti memang hanya usaha yang penuh kesungguhan saja. Hadlrat al-Syaikh K. Sesuatu dari kreasi manusiawi yang diabsolutkan akan secepat itu pula akan terobsolutkan. Sebab.H. dan selalu langsung dikoreksi Tuhan). yaitu ijtihad dan mujahadah. Seluruh ide tentang mendekati (taqarrub) kepada Tuhan mengisyaratkan perlunya manusia berjalan tanpa jemu-jemunya meniti jalan lurus yang sulit itu. [21] NILAI SEBUAH IJTIHAD Dari uraian di atas. dan siapa yang . [22] Dan karena banyaknya jalan menuju Kebenaran itu. dan saling menghargai pendapat yang ada di kalangan mereka. menjadi kumulatif. dari sudut pandangan esoterisnya. pemikiran yang dihayati secara ideologis-absolutistik) cenderung untuk selalu bakal ditinggalkan zaman.

Sebab perkembangan dan pertumbuhan adalah tanda vitalitas. dan Zabur dalam Perjanjian Lama." 3. ia masih mendapat satu pahala. yaitu sama dengan "filsafat" yang memang menyiratkan wisdom. sampai kepada Heracleitus dari Ephesus di zaman Yunani kuno. sebab Dia-lah Kebenaran Yang Pertama dan yang Akhir. demi Tuhanmu.berijtihad dan salah. Dinamika penting tidak saja karena merupakan unsur vitalitas. Al-Sayyid Muhammad ibn Alawi ibn Abbas al-Maliki al-Hasani al-Makki. Adapun mereka yang dalam hatinya terdapat kecenderungan kurang baik (serong). Padahal tidak ada yang mengetahui maknanya yang tersembunyi itu kecuali Allah.s. Amos." 4. [24] Dengan berbekal ketulusan. tapi ia juga benar. dan lainnya berupa ayat-ayat mutasyabihat (jamak dari mutasyabih). h. 5. QS. maka akan (hanya) mencari yang mutasyabih saja dari Kitab Suci itu dengan tujuan menciptakan perpecahan dan mencari-cari maknanya yang tersembunyi (membuat-buat interpretasi). Seperti dikatakan 'Umar dalam suratnya di atas. "Dia (Tuhan)-lah yang menurunkan kepadamu (Muhammad) Kitab Suci. karena takut salah itu sendiri adanya kesalahan yang paling fatal. Sedangkan orang-orang yang mendalam pengetahuannya akan berkata. Hanya Dzat Allah yang kekal abadi. sehingga para filsuf . Syarifat Allah al-Khalidah: Dirasat fi Tarikh Tasyri al-Ahkam wa Madzahib al-Fuqaha al-A'lam (Jeddah: Dar al-Syuruq. 1407 H/1986 M). sebab semuanya dari Tuhan kami. dan mereka pasrah sepasrah-pasrahnya. "kami beriman dengan ayat-ayat itu. Diantara isinya ayat-ayat muhkamat (jamak dari muhkam) yang merupakan induk (ajaran) Kitab Suci itu. Ini merupakan hal yang amat penting dalam perkembangan dan pertumbuhan. "Tidak. 1964). mereka tidaklah beriman sehingga mereka mengangkatmu sebagai hakim berkenaan dengan hal-hal yang diperselisihkan di antara mereka. ed. melintasi zaman. termasuk sejarah manusia. [26] Dalam dinamika itu tidak perlu takut salah. "hikmah" memang sering diartikan sebagai wisdom. (lihat Maurice Friedman. kemudian Job. Micah. Dan memang tidaklah menangkap pesan ini kecuali mereka yang berpengertian. Karena itu tujuan hidup yang benar hanyalah Allah. sedangkan seluruh wujud ini berjalan dan terus berubah. para penganjurnya mengklaim sebagai berakar pada masa lampau yang jauh. sedangkan kemandekan berarti kematian. al-Nisa 4:65. sejak zaman Nabi 'Isa a. niat baik dan ketulusan hati adalah sumber perlindungan Ilahi dalam usaha kita mengembangkan masyarakat. QS. CATATAN 1. 'Ali 'Imran 3:7. karena merupakan Sunnat Allah untuk seluruh ciptaannya. hal 1728. The Word of Existentialism: A Critical Reader (Chicago: The University of Chicago Press. Ini bisa dipahami dari firman. Berkenaan dengan "pohon" tradisi intelektual Barat cabang filsafat eksistensialisme ini. (khutbahnya di atas bukit Moria (Zion) -yang kini berdiri Masjid 'Umar atau Qubbat al-Shakhrah dan Masjid al-Aqsha itu) sebagaimana dituturkan dalam Injil Matius 5 dari Perjanjian Baru. 120-121. Dalam literatur klasik Arab. Eclesiastes. kemudian mereka tidak mendapati dalam diri mereka keberatan terhadap apa yang telah kau putuskan. kita terus bergerak maju secara dinamis. 2.

catatan 347. catatan 1493 dan hal. 7501983. tt). "Dia (Tuhan) memberi hikmah kepada siapa saja yang dikehendaki-Nya. (021) 7507174 Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota Please direct any suggestion to Media Team Artikel Yayasan Paramadina Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota IV. Yusuf Ali ini dianggap paling standar dan populer dalam . konsisten) namun matsani (berulang-ulang.. hal. yang manusia sedapat mungkin berusaha keras menangkapnya. Fash al-Maqal wa Taqrir ma bain al-Hikmah wa al-Syari'ah min al-Ittishat (Kata Putus dan Kejelasan tentang Hubungan antara Filsafat dan Agama). 514. catatan 4276). The Holy Qur'an (Jeddah: Dar al-Qiblah for Islamic Literature. al-Baqarah 2: 269. maka sungguh ia telah diberi kebaikan yang banyak. kemudian dirinci. 6.(al-falasifah) juga disebut al-hukama ("orang-orang bijaksana"). Namun. Al-Zumar 39:23. Lihat catatan 2 di atas. hal. QS. dari risalah Ibn Rusyd. 7507173 Fax. tanpa dogmatik dan tertutup. 8. misalnya. Metro Pondok Indah Pondok Indah Plaza I Kav. 123. Ali." A Yusuf Ali mengartikan perkataan mutasyabih di sini berbeda dengan yang ada pada 3:7 di atas. (021) 7501969.Y.Yusuf Ali. Sebab. (Lihat A. "Allah telah menurunkan sebaik-baik Firman dalam bentuk sebuah Kitab yang mutasyabih (serasi. sedangkan di 3:7 dengan muhkam.." dan QS. Ini dengan jelas tercermin. yakni serasi antara berbagai ajarannya.25. (Patut diketahui bahwa terjemahan al-Qur'an dan tafsir ke dalam Bahasa Inggris oleh A. (bersambung 4/4) -------------------------------------------Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah Editor: Budhy Munawar-Rachman Penerbit Yayasan Paramadina Jln. Dan barangsiapa diberi hikmah. mutasyabih di sini dikontraskan terhadap matsani. A." 7. ide pokoknya atau "Form of Ideas"-nya sama. Hud 11:1. TAQLID DAN IJTIHAD (4/4) MASALAH KONTINUITAS DAN KREATIVITAS DALAM MEMAHAMI PESAN AGAMA oleh Nurcholish Madjid 9. (Inilah) Kitab yang ayat-ayatnya dibuat jelas maknanya (digunakan kata kerja pasif "uhkimat" yang sama artinya dengan kata sifat atau participte pasif "muhkam"). UA 20-21 Jakarta Selatan Telp. "Alif Lam Ra." Induk Kitab Suci" (Umm al-Kitab). Yaitu QS. Ayat-ayat muhkam itu disebut sebagai "mother of the Book. yakni dalam mengungkapkan ajaran-ajaran itu) . 1243. dari sisi Yang Maha Bijaksana dan Maha Teliti. yaitu bahwa ajaran al-Qur'an membentuk suatu kesatuan yang utuh.

dengan hak hak pada anak angkat itu yang sama dengan anak biologis (alami). agar tidak ada halangan bagi orang-orang beriman untuk mengawini isteri-isteri anak-anak angkat mereka jika memang mereka (anak-anak angkat) telah membatalkan (perkawinan) dari mereka (isteri-isteri mereka). 10. Al-Furqan 25:2 "Dan Dia (Tuhan) menciptakan segala sesuatu kemudian ditetapkan kepastiannya sepasti-pastinya. dan bertaqwalah kepada Allah. yaitu Zaid ibn Haritsah. QS. meniru penempatan Kitab Suci Kristen yang telah lama ada). QS. Dan perintah Allah haruslah dilaksanakan. padahal Allah-lah yang lebih berhak kau takuti. Tetapi dengan adanya pembatalan sistem anak angkat yang disamakan dengan anak kandung dan sejak itu bernama lengkap seperti semestinya. dan engkau takut kepada manusia. menegaskan tentang adanya hukum kepastian dari Allah (Qadar) yang menguasai dan mengatur alam raya ciptaan-Nya ini.. 12. dan mereka takut kepada-Nya. Kami (Tuhan) kawinkan engkau (Muhammad) kepadanya (Zainab). Salah satu edisinya dimaksudkan untuk hotel-hotel internasional. melainkan Rasul Allah dan Penutup Nabi. Firman yang dimaksud berkenaan dengan masalah ini ialah QS. Zaid yang bekas budak (hitam) itu memang seorang pemuda yang saleh dan cerdas. ". "Ingatlah ketika engkau berkata kepada seseorang (Zaid) yang telah mendapatkan nikmat dari Allah dan mendapat nikmat (kasih sayang) darimu sendiri. "Sesungguhnya Kami (Tuhan) telah menciptakan segala sesuatu dengan (hukum) kepastian (Qadar). Allah Maha Mengetahui atas segala sesuatu. Tetapi engkau menyimpan sesuatu dalam dirimu yang Allah hendak membukanya keluar." Kedua ayat itu. Al-Ahzab 33:37-40. "Pertahankanlah untukmu isterimu (Zainab) itu. Maka setelah Zaid melaksanakan pembatalan (perkawinannya) dengan dia (Zainab) secara pasti (resmi). Fathir 36:43." 11.. dan sejak itu bernama lengkap Zaid ibn Muhammad. Ini adalah "contoh klasik" metode pendekatan al-Qur'an terhadap masalah sosial kemanusiaan yang pelik dan peka. termasuk yang menyangkut masalah kawin dan waris. Al-Qamar 54:49. yang setelah dimerdekakan diangkat Nabi sebagai anak angkat. Dan mengapa mereka tidak memperhatikan Sunnah yang terjadi pada orang-orang yang telah lalu? Engkau tidak akan mendapatkan peralihan dalam Sunnat Allah dan engkau tidak akan menemukan perubahan dalam ." Dan QS. yaitu (Sunnat Allah) kepada mereka yang menyampaikan pesan-pesan Allah. Penyebarannya di seluruh dunia banyak dibiayai oleh Pemerintah Saudi Arabia sejak 1384 H/1965 M dengan sponsor Rabithah Alam Islami yang diketuai Syeik Mohammed Sour as-Sabhan sampai saat ini dengan berbagai cetakan dan edisi. telah lama mempraktekan pengangkatan anak atau apa yang disebut tabanni. tidak terkecuali Nabi sendiri. Tidak boleh ada kesulitan pada Nabi berkenaan dengan apa yang telah ditetapkan oleh Allah. dan cukuplah Allah sebagai yang membuat perhitungan Muhammad bukanlah ayah seseorang dari kaum lelaki diantara kamu. yang kemudian juga mendapat restu dan persetujuan Ri'asat Idarat al-Buhuts al-Ilmiyyah wa 'l-Ifta wa 'l-Da'wah wa 'I-Irsyad di Riyadh sebagai badan tertinggi urusan keagamaan Saudi Arabia. dan masih banyak lagi ayat-ayat yang lain. Itulan Sunnat Allah kepada mereka yang telah lewat sebelumnya. Orang-orang Arab. dan perintah Allah adalah kepastian yang sepasti-pastinya.dunia Islam internasional.

Kita diwajibkan memeriksa dan meneliti kemudian menarik pelajaran daripadanya. dan masih banyak lagi yang lain. cit. serta . pengaruhnya terhadap kesehatan.) hal. yakni hukum-hukum kepastian dari Allah yang menguasai dan mengatur kehidupan manusia dalam sejarah. menjelaskan tentang adanya Sunnat Allah. (Beirut: Dar al-Fikr. jumlah kematian karena alkoholisme. pada peredaran darahnya. 269-281. alkohol dan pengaruh buruknya terhadap negeri-negeri panas. oleh Ali Ahmad al-Jurjawi yang mencoba melihat hikmah setiap bentuk ibadat serta ajaran dan praktek keagamaan yang lain. Yaitu judul sebuah kitab yang cukup terkenal. yang meliputi pula pembicaraan sekitar pengaruh alkohol kepada peminumnya. tetapi cukup mewakili suatu contoh pencarian makna umum ibadat. Namun isinya masih jauh dari klaim judul buku itu sendiri. Lihat pembahasan panjang lebar tentang masalah ini dalam al-Jurjawi (op. yaitu filsafat at-tasyri' (filsafat penetapan hukum syari'at atau agama). 14. bisnis asuransi jiwa.Sunnat Allah." Firman ini. tt). 13. ajaran dan praktek keagamaan itu secara rinci. Pendekatannya kurang meyakinkan dan berbau apologetik.

Versi manapun yang benar. Hodgson.S. supaya musuh pun dapat pula memanfaatkannya. 5. Al-Tahrim 66:1. Pembahasan tentang ishamat atau ketidak-biasaan . Sedangkan yang disebut-sebut ijtihad Nabi yang kemudian mendatangkan teguran Ilahi ialah yang terabadikan dalam QS. karena menghalangi mereka dari air termasuk taktik perang dan menjadi sebab kemenangan." Inipun. Al-Makki op. karena murka kepada Aisyah atau Hafshah. hal. semuanya menunjukkan suatu yang dimaksudkan oleh al-Makki sebagai contoh ijtihad Nabi. Hodgson op. "Wahai Nabi. "Ini dari wahyu atau dari pendapat (ijtihad)?" Nabi menjawab.. Al-Makki. The Venture of Islam. 1974). Nabi berijitihad untuk tidak usah menguasai sumber air yang vital. hal. sehingga. Kemudian al-Khabab membalas." Yaitu.a. hal. hal. karena Beliau melakukan analogi bahwa menghalangi mereka (musuh) dari memperoleh air yang vital itu sama dengan menghalangi binatang dari air. 116. 3. 18. (Lihat. kata al-Makki. 121. "Pendapat. tt. Cit. masih belum muslim. salah satunya ialah ijtihad Nabi di waktu menyiapkan Perang Badar. lalu Hafshah pun marah kepada Nabi. salah satu metode ijtihad yang amat penting.w. 274-275. Musuh dalam perang bukanlah orang yang harus dihormati sehingga tidak diperbolehkan dihalangi dari air. 19. menurut hukum Allah adalah halal.hal. 17. ada versi lain berkenaan dengan kejadian yang terabaikan dalam firman ini. cit. Jadi. Ibid.korelasi antara alkohol dan kejahatan. Yang dimaksudkan al-Makki sebagai sesuatu yang diambil 'Umar dari orang-orang kafir ialah idenya membuat Bayt al-Mal dan kalender (Hijrah).cit. 137). 15.) jil.. Ide itu ditirunya dari orang-orang Persia. Padahal Nabi s. tentu saja. jil. 274. Hal itu kemudian diketahui oleh Hafshah. 5 jilid (Beirut: Muassasat Sya'ban. 3 jilid (Chicago: The University of Chicago Press. termasuk pendekatan analogis. isteri Beliau yang berasal dari Mesir. demi menyenangkan hati Hafshah (anak 'Umar ibn al-Khattab) Nabi berjanji dan mengharamkan berkumpul dengan Mariyah atas diri Beliau. maka datanglah al-Khabbab ibn al-Mundzir bertanya. Marshall G. mengapa engkau mengharamkan sesuatu yang dihalalkan Allah hanya untuk memperoleh kerelaan (kesenangan hati) isteri-isterimu?!" Para penafsir klasik menuturkan tentang suatu kejadian bahwa Nabi suatu hari tinggal di rumah Mariyah. 48. Lihat catatan 1 di atas. hal. padahal Mariyah adalah isteri Beliau yang sah. Dari beberapa contoh yang dituturkan al-Makki. mempunyai naluri amat kuat untuk bersikap kasih kepada sesama hidup. 21. yang pada waktu itu.. 16. "Pendapat yang benar ialah kita harus menghalangi mereka (musuh) itu dari air yang vital ini. Juga. sedangkan menyiksa binatang seperti itu tidaklah diperbolehkan. Anwar al Tanzil wa Asrar al-Ta'wil al-ma'ruf bi tafsir al-Baydlawi. Nashir al-Din Abi Said 'Abdullah ibn 'Umar ibn Muhammad al-Syirazi al-Baydlawi. op. 20.

Jadi kita tahu bahwa apa yang kita sebut diri kita sendiri tidaklah punya makna. Pribadi. Tiada suatu Tuhan melainkan Dia. karya ini ditulis sebagai polemihya dengan golongan Syi'ah. hal. jil. dan kepadanyalah kamu semua akan dikembalikan. Hasyim Asy'ari. "Dia (Tuhan)-lah Yang Pertama dan yang Akhir. Ibn Taymiyyah. suatu kekuatan kebaikan yang abstrak. dan Dia Maha mengetahui atas segala sesuatu. Lihat. Muh. sebab hanya ada satu Diri yang benar. Yusuf Ali memberi komentar yang menarik tentang ayat terakhir Surah 28 ini: "Ini meringkaskan pelajaran seluruh Surah. UA 20-21 Jakarta Selatan Telp. QS. "Janganlah menyeru bersama Allah (Tuhan Yang Maha Esa) suatu Tuhan yang lain. sebagaimana tereermin dari judulnya. yang tentang Dia itu kita hanya mampu menangkap gaung samar-samar atau cerminan dalam momen yang paling intens dalam luapan spiritual. cit. "Dan barangsiapa berusaha sungguh-sungguh (mujahadah) di jalan Kami." -------------------------------------------Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah Editor: Budhy Munawar-Rachman Penerbit Yayasan Paramadina Jln. 4 jilid (Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiyyah. op. dan itu adalah Tuhan. Inilah juga doktrin Advaita dan Shri Shankara dalam jabarannya terhadap Brihadaranyaka Upanishad dalam filsafat Hindu. al-Tanbihat.. 25. "Wajah"-Nya atau Diri. Seluruh jagad lahir dan tunduk kepada hukum peralihan dan perubahan fana akan sirna. Metro Pondok Indah Pondok Indah Plaza I Kav. al-Ankabut 29:69. kita tidak dapat menggabungkannya dengan Pribadi atau Wujud yang vital. 1." 23. atau Wujud-Nya itulah yang harus kita cari. Kenyataan satu-satunya ialah Tuhan. 22. maka pastilah akan Kami tunjukkan kepada mereka berbagai jalan (subul) Kami. 7507173 Fax. namun Dia akan tetap abadi. 24. Yang Lahir dan Yang Batin. Lihat catatan no." A. (021) 7501969. Al-Qashash 28:88. 130. Jika berpikir tentang Tuhan yang impersonal. Lihat juga QS. Ikhtilaf al-Ummah fi al-Ibadat.H. QS.. yang tentang hal itu kita bisa mempunyai berbagai pengertian. 7501983. Baginyalah ketentuan hukum. (021) 7507174 Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota Please direct any suggestion to Media Team . K.(infallibility) Nabi oleh Ibn Taymiyyah ini dapat kita jumpai dalam karya besarnya Minhaj al -Sunnat al-Nabawiyyah fi Naqdl Kalam al-Syi'ah wa al-Qadariyvah. Perlu diketahui. 1 di atas dan keterangan yang bersangkutan awal-awal tulisan ini. Al-Hadid 57:3. karena menyadari bahwa Dia-lah satu-satunya hal yang abadi. tt). dan al-Makki. Segala sesutu binasa kecuali Wajah-Nya. 244 dan passim. hal.

yang mengemukakan rumusan definisi. Persoalan taqlid akan lebih mudah dipahami jika seseorang telah memahami persoalan ijtihad. PENGERTIAN IJTIHAD Menurut bahasa. 2. baik yang terdekat itu diperoleh dari nash -yang terkenal dengan qiyas (ma'qul nash). ijtihad berarti "pengerahan segala kemampuan untuk mengerjakan sesuatu yang sulit. Dalam tulisan ini saya hanya akan bicara tentang beberapa aspek ijtihad dan taqlid yang dipandang penting. 3. dimana dalam buku-buku Ushul Fiqh. Sekedar mengikuti kelaziman." Atas dasar ini maka tidak tepat apabila kata "ijtihad" dipergunakan untuk melakukan sesuatu yang mudah/ringan.yang terkenal dengan "mashlahat. ada dua kelompok ahli ushul flqh (ushuliyyin) -kelompok mayoritas dan kelompok minoritas. atau yang terdekat itu diperoleh dari maksud dan tujuan umum dari hikmah syari'ah. dimana untuk melakukannya diperlukan beberapa persyaratan yang karenanya tidak mungkin pekerjaan itu (ijtihad) dilakukan sembarang orang.24. Minimal ada tiga alasan kenapa lebih mendahulukan ijtihad daripada taqlid. Menurut mereka. Dalam tulisan ini hanya akan diungkapkan pengertian ijtihad menurut rumusan ushuliyyin dari kelompok mayoritas. Dan di sisi lain ada pengertian ijthad yang telah digunakan para sahabat Nabi. TAQLID DAN IJTIHAD (1/4) Beberapa Pengertian Dasar Oleh KH. disamping banyaknya buku yang mengupas masalah tersebut yang mudah kita temukan. Taqlid tidak akan ada tanpa ijtihad. masalah ijtihad selalu lebih dahulu dibicarakan sebelum masalah taqlid. baru kemudian menyoroti masalah taqlid. Dengan demikian seseorang hanya dibenarkan bertaqlid kepada mujtahid yang mu'tabar. ijtihad adalah pengerahan segenap . Pengertian ijtihad menurut bahasa ini ada relevansinya dengan pengertian ijtihad menurut istilah. IJTIHAD Tulisan ini akan mendahulukan masalah ijtihad. 1.Artikel Yayasan Paramadina Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota IV. mengingat kedua masalah itu amat sering diperbincangkan. Mereka memberikan batasan bahwa ijtihad adalah "penelitian dan pemikiran untuk mendapatkan sesuatu yang terdekat pada Kitab-u 'l-Lah dan Sunnah Rasul." Dalam kaitan pengertan ijtihad menurut istilah. Ibrahim Hosen 1.

Hukum Islam yang ma'qulu 'l-ma'na/ta'aqquly (kausalitas . Atas dasar itu ada kekeliruan pendapat sementara pihak yang mengatakan bahwa ijtihad juga berlaku di bidang aqidah. 3. Masalah-masalah baru yang hukumnya belum ditegaskan oleh nash al-Qur'an atau Sunnah secara jelas. bukan yang lain. Lapangan atau medan dimana ijtihad dapat memainkan peranannya adalah: 1. Nash-nash Dhanny dan dalil-dalil hukum yang diperselisihkan. Masalah-masalah baru yang hukumnya belum diijma'i oleh ulama atau aimamatu 'l-mujtahidin. Dalam hubungan ini komentator Jam'u 'l-Jawami' (Jalaluddin al-Mahally) menegaskan. salah seorang tokoh mu'tazilah. Yang ingin dicapai oleh ijtihad adalah hukum syar'i. 379). Status hukum syar'i yang dihasilkan oleh ijtihad adalah dhanni. Pendapat ini bukan saja menunjukkan inkonsistensi terhadap suatu disiplin ilmu (ushul fiqh). Dia mengatakan bahwa ijtihad juga berlaku di bidang aqidah. Juz II. 2. dan akan membawa rahmat manakala ijtihad dilakukan oleh yang memenuhi persyaratan dan dilakukan di medannya (majalul ijtihad). serta perbedaan yang terjadi sebagai akibat ijtihad ditolerir. tetapi juga akan membawa konsekuensi pembenaran terhadap aqidah non Islam yang dlalal. hukum Islam yang mana saja yang mungkin untuk di-ijtihad-i? Adakah hal itu berlaku di dunia hukum (hukum Islam) secara mutlak? Ulama telah bersepakat bahwa ijtihad dibenarkan. 2. yaitu hukum Islam yang berhubungan dengan tingkah laku dan perbuatan orang-orang dewasa. hal. (Jam'u 'l-Jawami'. Jadi apabila kita konsisten dengan definisi ijtihad diatas maka dapat kita tegaskan bahwa ijtihad sepanjang pengertian istilah hanyalah monopoli dunia hukum. Pendapat yang nyeleneh atau syadz ini dipelopori al-Jahidh. "yang dimaksud ijtihad adalah bila dimutlakkan maka ijtihad itu bidang hukum fiqih/hukum furu'. MEDAN IJTIHAD Di atas telah ditegaskan bahwa ijtihad hanya berlaku di bidang hukum. bukan hukum i'tiqadi atau hukum khuluqi. Lalu. Dari definisi tersebut sebagai berikut: dapat ditarik beberapa kesimpulan 1. 3. 4. Lantaran itulah Jumhur 'ulama' telah bersepakat bahwa ijtihad hanya berlaku di bidang hukum (hukum Islam) dengan ketentuan-ketentuan tertentu. Pelaku utihad adalah seorang ahli fiqih/hukum Islam (faqih).kesanggupan dari seorang ahli fxqih atau mujtahid untuk memperoleh pengertian tingkat dhann terhadap sesuatu hukum syara' (hukum Islam).

maka ia memperoleh dua pahala (pahala ijtihad dan pahala kebenarannya). demikian juga ijtihad akan gugur dengan sendirinya apabila hasil ijtihad itu berlawanan dengan nash. maka ia mendapat satu pahala (pahala ijtihadnya).hukumnya/'illat-nya dapat diketahui mujtahid). (021) 7501969. "Apabila seorang hakim akan memutuskan perkara. Hal ini sejalan dengan kaidah. Sebaliknya ulama telah bersepakat berlaku atau tidak dibenarkan pada: bahwa ijtihad tidak 1. dan ia berijtihad. Disamping ijtihad tidak berlaku atau tidak mungkin dilakukan pada ketiga macam hukum Islam di atas. yang dalam istilah ushul fiqih dikenal dengan syari'ah atau "ma'ulima min al-din bi al-dlarurah. 2. Hukum Islam yang bersifat ta'abbudy/ghairu ma'quli 'lma'na (yang kausalitas hukumnya/'illat-nya tidak dapat dicerna dan diketahui mujtahid). lalu ia melakukan ijtihad. Hukum Islam yang telah diijma'i ulama. Apabila ini yang kita lakukan dan kita memang telah memenuhi persyaratannya maka pantaslah kita dianggap sebagai mujtahid di abad modern ini yang akan didukung semua pihak. kalau kita akan melakukan reaktualisasi hukum Islam. kaidah itulah yang menghambat aspirasi sementara kalangan yang hendak merombak hukum-hukum Islam qath'i seperti hukum kewarisan al-Qur'an. Jadi. (bersambung 2/4) -------------------------------------------Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah Editor: Budhy Munawar-Rachman Penerbit Yayasan Paramadina Jln. "Tidak berlaku ijtihad pada masalah-masalah hukum yang ditentukan berdasarkan nash yang status dalalah-nya qath'i dan tegas. UA 20-21 Jakarta Selatan Telp. Hal ini antara lain diketahui dari Hadits Nabi yang artinya. Hukum Islam yang telah ditegaskan nash al-Qur'an atau Sunnah yang statusnya qath'iy (ahkamun manshushah)." (Riwayat Bukhari Muslim). Jika hakim akan memutuskan perkara. Banyak ayat al-Qur'an dan Hadits Nabi yang menyinggung masalah ini. kemudian ijtihadnya benar. kemudian hasil ijtihadnya salah." PERBEDAAN YANG DITOLERIR Ijtihad dilegalisasi bahkan sangat dianjurkan oleh Islam. Islam bukan saja memberi legalitas ijtihad." Atas dasar itu maka muncullah ketentuan. 7507173 . 7501983. Metro Pondok Indah Pondok Indah Plaza I Kav. disinilah seharusnya kita melakukan terobosan-terobosan baru. akan tetapi juga mentolerir adanya perbedaan pendapat sebagai hasil ijtihad." Bila kita telaah. "Tidak ada ijtihad dalam melawan nash. 3.

Prinsip ini dipegang teguh oleh para imam mujtahid. betapapun kuat dalilnya. dan pendapat selain kami salah. porsi kebenarannya lebih dominan/rajih.24. Demikian juga al-Qur'an tidak perlu diturunkan. yakni fiqih." Hal ini sejalan dengan status fiqih sebagai produk ijtihad yang statusnya dhanny. akan tetapi juga menunjukkan kepada kita bahwa adanya perbedaan pendapat sebagai hasil ijtihad ditolerir. yang artinya kebenarannya tidak bersifat absolut. ia benar tetapi mengandung kemungkinan salah. menurut mujtahid. Apabila benar bahwa semua agama itu sama tentu tidak ada kewajiban berda'wah. Apabila hal ini dapat kita pegangi secara konsisten maka jiwa tasammuh dalam menanggapi aneka ragam pendapat di bidang fiqih sebagai akibat perbedaan dalam berijtihad akan tetap dapat ditumbuhkan. Ibrahim Hosen Hadits di atas bukan saja memberi legalitas ijtihad. ia salah tetapi mengandung kemungkinan benar. Oleh sebab itu maka ijtihad yang satu tidak dapat membatalkan ijtihad yang lain. tetapi mengandung kemungkinan salah. "Ijtihad yang satu tidak dapat digugurkan oleh ijtihad yang lain. Perbedaan pendapat dalam hukum Islam sebagai hasil ijtihad inilah yang ditegaskan Nabi akan membawa rahmat (kelapangan bagi umat) sebagaimana diketahui ditegaskan dalam sebuah hadits. "Perbedaan pendapat di kalangan ulama akan membawa rahmat. TAQLID DAN IJTIHAD (2/4) Beberapa Pengertian Dasar Oleh KH. ia tetap eksis. sehingga kita akan sanggup menjadikan perbedaan pendapat tersebut sebagai rahmat yang memporak-porandakan persatuan umat Islam. . tidak dapat begitu saja dilenyapkan oleh ijtihad yang lain. sejalan dengan kaidah. Hanya saja.Fax. Ini jelas tidak dapat dibenarkan. amar ma'ruf nahi munkar. "Pendapat kami benar. IJTIHAD TIDAK DAPAT DIGUGURKAN DENGAN IJTIHAD Di atas telah disinggung bahwa hukum yang dihasilkan oleh ijtihad statusnya dhanny." Betapapun lemahnya suatu ijtihad. jihad dan sebagainya. tetapi mengandung kemungkinan benar. (021) 7507174 Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota Please direct any suggestion to Media Team Artikel Yayasan Paramadina Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota IV. sehingga muncullah ucapan mereka yang sangat populer. Inilah yang ingin saya tegaskan dalam kesempatan ini mengingat adanya sementara pihak yang menggunakan hadits marfu' untuk membenarkan adanya perbedaan pendapat di bidang aqidah yang akan bermuara pada paham "pluralisme agama" -semua agama sama atau benar." (Abu Nashar Al-Muqaddasi). Yang dimaksud dengan perbedaan di sini adalah perbedaan pendapat dalam hukum Islam ijtihady.

agar ia mampu melakukan istinbath hukum secara tepat. 9. "Pendapat kami benar. Berilmu pengetahuan yang luas tentang hadits-hadits Rasul yang berhubungan dengan masalah hukum. Menguasai seluruh masalah yang hukumnya telah ditunjukkan oleh ijma' agar ia tidak berijtihad yang hasilnya bertentangan dengan ijma'. dengan pengertian ia mampu membahas ayat-ayat tersebut untuk menggali hukum.Prinsip tasammuh sebagai manifestasi dari status fiqih yang bersifat dhanny tersebut dipegang teguh oleh para Imam Mujtahid. 8. Sebab al-Qur'an dan Sunnah sebagai sumber asasi hukum Islam tersusun dalam bahasa Arab yang sangat tinggi gaya bahasanya dan cukup unik dan ini merupakan kemu'jizatan al-Qur'an. sehingga muncullah ucapan mereka yang sangat populer. Menguasai bahasa Arab secara mendalam. Sebab untuk menentukan derajad/nilai suatu Hadits sangat tergantung dengan ihwal perawi yang lazim disebut dengan istilah sanad Hadits. dengan arti ia sanggup untuk membahas hadits-hadits tersebut untuk menggali hukum. Di antara sekian persyaratan itu yang terpenting ialah: 1. tapi mengandung kemungkinan salah. Menguasai kaidah-kaidah istinbath hukum/ushul fiqh. 10." SYARAT-SYARAT IJTIHAD. apakah Hadits itu dapat diterima ataukah tidak. . agar dengan kaidah-kaidah ini ia mampu mengolah dan menganalisa dalil-dalil hukum untuk menghasilkan hukum suatu permasalahan yang akan diketahuinya. Mengetahui latar belakang turunnya ayat (asbab-u 'l-nuzul) dan latar belakang suatu Hadits (asbab-u 'l-wurud). 4. supaya ia dapat menilai sesuatu Hadist. Hal itu agar ia tidak mempergunakan ayat al-Qur'an atau Hadits Nabi yang telah dinasakh (mansukh) untuk menggali hukum. Mengetahui secara mendalam tentang nasikh-mansukh dalam al-Qur'an dan Hadits. Mengetahui sejarah para periwayat hadits. 7. 5. dan pendapat selain kami salah. 3. Memiliki ilmu pengetahuan yang luas tentang ayat-ayat al-Qur'an yang berhubungan dengan masalah hukum. 2. Mengetahui ilmu logika/mantiq agar ia dapat menghasilkan deduksi yang benar dalam menyatakan suatu pertimbangan hukum dan sanggup mempertahankannya. Mengetahui secara mendalam tentang masalah qiyas dan dapat mempergunakannya untuk menggali hukum. tidak mungkin kita akan melakukan ta'dil tajrih (screening). Seseorang yang ingin mendudukkan dirinya sebagai mujtahid harus memenuhi beberapa persyaratan. tetapi mengandung kemungkinan benar. 6. Tanpa mengetahui sejarah perawi Hadits.

mereka memakai sistem atau metode yang telah dirumuskan imamnya. Ijtihad mazhab atau fatwa yang pelakunya disebut mujtahid mazhab/fatwa. Ijtihad mereka hanya berkisar pada masalah-masalah yang memang belum diijtihadi imamnya. Imam Malik. Ijtihad di bidang tarjih. mana yang shahih dan mana yang lemah. Contohnya. Imam Syafi'i dan Imam Ahmad yang terkenal dengan sebutan Mazhab Empat. Sebagian ulama mengatakan bahwa antara kelompok ketiga dan keempat ini sedikit sekali perbedaannya. men-takhrij-kan pendapat imamnya dan menyeleksi beberapa pendapat yang dinukil dari imamnya. Ijtihad kategori ini tidak termasuk ketentuan ijtihad menurut ketentuan ushul fiqih. demikian juga mengenai hukum furu'/fiqih yang telah dihasilkan imamnya. Dalam mazhab Syafi'i. 2. Mereka hanya berhak menafsirkan apa yang dimaksud dari norma-norma dan kaidah-kaidah tersebut. Ijtihad Muthlaq/Mustaqil. 3. BENARKAH PINTU IJTIHAD SUDAH DIKUNCI? Para ahli fiqih telah sepakat bahwa ijtihad dengan pengertian penyesuaian suatu perkara dengan sesuatu hukum yang sudah ada tetap terbuka. Jadi untuk menggali hukum dari sumbernya. yaitu ijtihad yang dilakukan seorang mujtahid dalam lingkungan madzhab tertentu. Norma-norma dan kaidah itu dapat diubahnya sendiri manakala dipandang perlu. tidak menciptakan sendiri. hal itu bisa kita lihat pada Imam Nawawi dan Imam Rafi'i. Sebagian ulama berpendapat bahwa pintu ijtihad telah tertutup. yaitu ijtihad yang dilakukan dengan cara menciptakan sendiri norma-norma dan kaidah istinbath yang dipergunakan sebagai sistem/metode bagi seorang mujtahid dalam menggali hukum. yaitu ijtihad yang dilakukan dengan cara mentarjih dari beberapa pendapat yang ada baik dalam satu lingkungan madzhab tertentu maupun dari berbagai mazhab yang ada dengan memilih mana diantara pendapat itu yang paling kuat dalilnya atau mana yang paling sesuai dengan kemaslahatan sesuai dengan tuntunan zaman. Contohnya seperti Imam Ghazali dan Juwaini dari madzhab Syafi'i. Ijtihad Muntasib. sehingga sangat sulit untuk dibedakan. Dari madzhab Hanafi seperti Muhammad bin Hasan dan Abu Yusuf. 4. Gema ini digelorakan oleh ulama-ulama mutakhirin pada awal abad ke-IV Hijriah setelah dunia Islam diliputi kabut ta'ashub madzhab serta banyaknya man laisa . Ijtihad terdiri dari bermacam-macam tingkatan. Sebagian ulama menilai bahwa Abu Yusuf termasuk kelompok pertama/mujtahid muthalaq/mustaqil. Mujtahid dari tingkatan ini contohnya seperti Imam Hanafi. Pada prinsipnya mereka mengikuti norma-norma/kaidah-kaidah istinbath imamnya. Perbedaan pendapat terjadi pada ijtihad menurut definisi ushul fiqih. yaitu ijtihad yang dilakukan seorang mujtahid dengan mempergunakan norma-norma dan kaidah-kaidah istinbath imamnya (mujtahid muthlaq/Mustaqil). dari mazhab Syafi'i seperti Muzany dan Buwaithy.MACAM-MACAM TINGKATAN IJTIHAD. Oleh karena itu mereka menjadikannya satu tingkatan. yaitu: 1.

munakahah. Mungkin berupa hukum yang telah dikeluarkan oleh salah satu Madzhab Empat. Menutup pintu ijtihad berarti menjadikan hukum Islam yang semestinya lincah dan dinamis menjadi kaku dan beku. Hukum Islam baik dalam bidang 'ibadah. Pendapat ini antara lain diproklamirkan Imam al-Syaukani pada pertengahan abad ke-XIII Hijriah. yang kemudian di Mesir digalakkan oleh Syekh Al-Maraghy. Sebagian ulama yang lain berpendapat bahwa pintu ijtihad tetap terbuka dan dapat dimasuki oleh siapa saja yang memiliki kuncinya (memenuhi persyaratan). Menutup pintu ijtihad berarti menutup kesempatan ulama Islam untuk menciptakan pemikiran-pemikiran yang baik dalam memanfaatkan dan menggali sumber atau dalil hukum Islam 3. yang berarti ijtihad yang dilakukan itu hanyalah tahsil al-hasil . Dengan demikian maka hukum Islam akan selalu berkembang dan tumbuh subur serta sanggup menjawab tantangan zaman. mereka berpendapat bahwa pintu ijtihad tetap terbuka. Ia harus terikat tidak boleh pindah madzhab. yaitu: 1. Kini. Rektor Universitas Al-Azhar pada waktu itu. Golongan yang berpendapat bahwa pintu ijtihad telah tertutup antara lain beralasan: 1. yang kebolehannya masih diperselisihkan kaum ushuliyyin. Golongan yang memandang bahwa ijtihad adalah sumber hukum. Sebab. Karena itu kita tidak perlu melakukan ijtihad lagi. mereka berpendapat bahwa pintu ijtihad telah tertutup. mu'amalah. yang biasa kita kenal dengan istilah talfiq. Dengan membuka pintu ijtihad maka setiap permasalahan baru yang dihadapi umat.lahu ahlu 'l-Ijtihad (mujtahid karbitan) yang tampil mengaku sebagai mujtahid. juga hasilnya akan berkisar: a. yaitu sejak wafatnya imam-imam mujtahid kenamaan. Mungkin berupa hukum yang terdiri dari koleksi pendapat antara dua madzhab atau lebih. sehingga Islam akan ketinggalan zaman. 2. akan banyak kasus baru yang hukumnya belum dijelaskan oleh al-Qur'an dan Sunnah serta belum dibahas oleh ulama-ulama terdahulu. Oleh karena itu tiap-tiap yang menganut madzhab Ahl al-Sunnah harus memilih salah-satu dari Madzhab Empat. jinayah dan lain sebagainya seluruhnya sudah lengkap dan dibukukan secara terperinci dan rapi. kita perlu mengetahui argumentasi dari golongan yang berpendapat bahwa pintu ijtihad masih tetap terbuka. Sedangkan golongan yang memandang bahwa ijtihad adalah kegiatan/pekerjaan mujtahid. tidak dapat diketahui bagaimana status hukumnya. 3. akan dapat diketahui hukumnya. b. 2. Membuka pintu ijtihad selain hal itu percuma dan membuang-buang waktu. Mayoritas Ahl al-Sunnah hanya mengakui Madzhab Empat.

(bersambung 3/4) -------------------------------------------Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah Editor: Budhy Munawar-Rachman Penerbit Yayasan Paramadina Jln. Lembaga penelitian akan mengatur usaha-usaha untuk mencapai ijtihad bersama baik secara mazhab maupun secara mutlaq untuk dapat dipergunakan dimana perlu.24. Hal ini menunjukkan bahwa untuk memenuhi syarat-syarat ijtihad yang telah ditentukan itu memang sangat sulit kalau tidak dikatakan tidak mungkin lagi untuk saat seperti sekarang ini. hendaklah dipilih di antara hukum-hukum fiqih pada tiap-tiap mazhab suatu hukum yang memuaskan. Metro Pondok Indah Pondok Indah Plaza I Kav. Realitas sejarah menunjukkan bahwa sejak awal abad ke-IV Hijriah sampai detik ini tak seorangpun ulama berani menonjolkan diri atau ditonjolkan oleh pengikut-pengikutnya sebagai seorang mujtahid muthlaq/mustaqil. Jika tidak terdapat suatu hukum yang memuaskan dengan jalan tersebut. sebagai berikut: "Mu'tamar mengambil keputusan bahwa al-Qur'an dan Sunnah Rasul merupakan sumber pokok hukum Islam." Dari Keputusan Lembaga Penelitian Islam al-Azhar tersebut . dan jika tidak memuaskan maka berlakulah ijtihad bersama secara mutlaq. Hal semacam ini pada hakikatnya menentang ijma'. UA 20-21 Jakarta Selatan Telp. selain Mazhab Empat tidaklah dianggap. 7507173 Fax.c. (021) 7507174 Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota Please direct any suggestion to Media Team Artikel Yayasan Paramadina Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota IV. menurut mayoritas ulama Ahl al-Sunnah. TAQLID DAN IJTIHAD (3/4) Beberapa Pengertian Dasar Oleh KH. dan bahwa berijtihad untuk mengambil hukum dari al-Qur'an dan Sunnah dibenarkan manakala ijtihad itu dilakukan pada tempatnya. 7501983. 4. Mungkin berupa hukum yang sesuai dengan salah satu mazhab di luar Mazhab Empat. Ibrahim Hosen Sebelum saya mengambil kesimpulan dengan mempertemukan kedua pendapat yang saling berbeda itu marilah kita ikuti hasil keputusan Lembaga Penelitian Islam al-Azhar Cairo yang bersidang pada bulan Maret 1964 M. d. Padahal. Mungkin berupa hukum yang tidak seorangpun ulama Islam membenarkannya. (021) 7501969. dan bahwa jalan untuk memelihara kemaslahatan dan untuk menghadapi peristiwa-peristiwa yang selalu timbul. maka berlakulah ijtihad bersama (kolektif) berdasarkan madzhab.

3. tentunya tertutup kemungkinan untuk membuka pintu ijtihad dengan segala macam bentuknya. mengingat sangat jarangnya faqih/ulama ahli hukum seperti saat sekarang ini. Ijtihad di bidang madzhab apabila dilakukan secara kolektif (ijtihad madzhab jama'iy). Keputusan Lembaga Penelitian Islam al-Azhar tersebut sangat bijaksana.dapat diambil kesimpulan bahwa: 1. Ijtihad madzhab secara kolektif 3. Butir pertama hanya berlaku untuk: a. Bagi yang tidak. Ijtihad dibenarkan apabila dilakukan di tempat-tempat dimana ijtihad boleh dilakukan. Poin kedua tidak berlaku untuk: a. Ijtihad di bidang tarjih baik bagi perorangan maupun kelompok secara kolektif. Ijtihad di bidang tarjih baik secara perorangan maupun pintu ijtihad . kalau secara mutlaq/tanpa batasan kita mengatakan bahwa pintu ijtihad telah tertutup. c. Dan sebaliknya. 4. b. Ijtihad madzhab secara perorangan (ijtihad madzhab fardy). Ijtihad muthlaq secara kolektif. Ijtihad mutlaq secara perorangan. Menurut saya. Ijtihad di bidang tarjih baik secara perorangan (ijtihad fardy) maupun secara kolektif (ijtihad Jama'iy). Dengan demikian. tidak tepat kalau kita mengatakan secara mutlaq/tanpa batasan bahwa pintu ijtihad masih tetap terbuka. c. 2. Pintu ijtihad masih tetap terbuka bagi yang memenuhi persyaratan. Dan harus kita sadari bahwa pintu ijtihad masih tetap terbuka dalam bidang-bidang tertentu tersebut adalah bagi yang memenuhi syarat. Demikian juga pendapat yang mengatakan bahwa telah tertutup haruslah kita artikan untuk: 1. Ijtihad muthlaq secara perorangan (ijtihad muthlaq fardy). 2. karena keputusan itu telah mempertemukan antara dua pendapat yang saling berbeda. Ijtihad madzhab secara perorangan. Jadi tidak tepat. maka yang masih benar-benar dapat dilakukan adalah: 1. Ijtihad muthlaq apabila dilakukan secara kolektif (ijtihad muthlaq jama'iy). 2. pendapat yang mengatakan bahwa pintu ijtihad masih tetap terbuka haruslah diartikan untuk: 1.

sekalipun imannya sah. sebab bisa berakibat fatal. pengkajian dan penelaahan secara mendalam. MUI dengan Komisi Fatwanya. sudah banyak dilakukan oleh Komisi Fatwa MUI. hal itu juga akan membawa akibat terbengkalainya urusan-urusan duniawi/kehidupan yang lain. mengingat tingkatan manusia yang berbeda-beda. Bagi mereka yang memenuhi persyaratan ijtihad sebagaimana telah disebutkan di atas. memahami dan menggali hukum Islam yang harus diamalkannya secara langsung dari dalil atau sumbernya. yang khusus untuk mencapai hukum furu'/fiqih dikenal dengan ijtihad. Disamping tidak logis dan tidak realistis. karena waktu dan segala konsentrasi umat manusia hanya tercurah kearah ijtihad. Sedangkan penelitian. Dari sinilah muncul persoalan taqlid. sistem dan metode yang baik yang seharusnya kita jadikan washilah/sarana mencapai atau memperoleh ilmu adalah nadhar. Kelompok kedua. Mentaklif atau mewajibkan seluruh umat manusia untuk meraih rutbatu 'l-ijtihad jelas tidak mungkin.secara kolektif. 2. tentu mereka harus lewat perantara. Ijtihad untuk kasus-kasus tertentu yang memang belum pernah dibahas oleh aimmat al-mujtahidin terdahulu. mengingat kecerdasan. alhamdulillah. Secara faktual. eksistensi taqlid memang tidak mungkin dihindarkan. 2. TAQLID Tidak semua orang sanggup memahami hukum Islam secara langsung dari dalil atau sumbernya. NU dengan Syuriyah dan Bahstul Matsailnya. memahami dan menggali hukum Islam dari sumber atau dalilnya secara langsung. Sebagai contoh untuk . Oleh karena itu jumhur ulama telah mencapai konsensus bahwa taqlid tidak dapat dijadikan dasar atau metode keilmuan di bidang aqidah. Pesan saya dalam menutup uraian tentang ijtihad ini. Bagi mereka yang tidak memiliki persyaratan ijtihad. Milikilah persyaratan dan berijtihadlah di tempat-tempat yang dibenarkan untuk melakukan ijtihad sesuai dengan ketentuan yang berlaku. janganlah sok berijtihad. daya tangkap dan ilmu yang dimiliki seseorang bagaimanapun tidaklah sama. Ini jelas tidak rasionil. kalau memang bukan faqih yang menguasai kaidah-kaidah istinbath. Hal ini dapat dilakukan secara perorangan maupun secara kolektif. Karena itu pula pelaku taqlid berdosa. yaitu harus mengetahuinya melalui mujtahid. Mereka itulah para mujtahid dengan segala macam tingkatannya. yakni mengetahui. Kaidah Agama yang mengatakan. La taklifa fawqa 'l-istitha'a -manusia tidak akan ditaklif untuk melakukan sesuatu yang tidak mungkin dilaksanakan/diluar kemampuannya. mereka akan sanggup melakukan hal tersebut. Untuk mengetahui hukum Islam yang akan diamalkannya. tentu tidak akan sanggup mengetahui. Memang harus kita sadari bahwa taqlid bukanlah merupakan sistem atau metode keilmuan yang baik yang digunakan seseorang untuk memperoleh ilmu. Sebab. Kelompok pertama sudah banyak dilakukan oleh Muhammadiyah dengan Majelis Tarjihnya. sayangnya belum banyak dipublikasikan.

Taqlid di bidang hukum inilah yang kita maksud dan yang akan kita bicarakan dalam tulisan ini. Dalam praktek memang demikian. Sedangkan dalam masalah hukum ada yang bersifat qathi'iy dan ada yang bersifat dhanny. tanpa disadari oleh kambing yang bersangkutan." Mengenai taqlid di bidang hukum Islam. al-Zuhruf Ayat 23. Hal inilah yang pernah melanda umat Islam termasuk umat Islam di Indonesia sampai berpuluh-puluh tahun lamanya. melainkan orang-orang yang hidup mewah di negeri itu berkata. Syukurlah setelah gelap kini terangpun datang. Analisa bahasa ini menunjukkan kepada kita seolah-olah seseorang yang telah bertaqlid kepada seorang mujtahid/imam telah memberi identitas diri dengan sebuah kalung di lehernya dan ia telah mengikat dirinya dengan pendapat mujtahid/imam tersebut. untuk kemudian pindah ke pendapat selain imamnya/mujtahid yang diikuti. Dalam bidang aqidah/keimanan. Apabila hal itu diketahui lewat taqlid. atau seperti binatang yang akan dijadikan dam. khususnya fiqih. atau seperti kambing yang lehernya telah diikat dengan tali atau tambang yang dapat ditarik ke mana saja. mengingat bahwa dalam masalah hukum taklifi seseorang dibenarkan melakukan sesuatu berdasarkan dhann-nya. sehingga muncullah rasa ta'ashub madzhab/fanatik madzhab yang kadang sampai berlebih-lebihan. dan kini telah mulai memancar sinar itu ke ufuk penjuru dunia Islam termasuk Negeri Pancasila tercinta ini. ia tidak akan begitu mudah melepaskan diri dari ikatan itu. taqlid -bentuk masdar dari kata qallada berarti kalung yang dipakai/dikalungkan ke leher orang lain. Hal ini antara lain berkat digalakkannya studi fiqh perbandingan dan ushul fiqih perbandingan di . niscaya pen-taklid-an itu justru tidak jalan. yang artinya sbb: "Dan demikianlah. meski imannya dianggap sah. Taqlid di bidang aqidah inilah yang antara lain dicela al-Qur'an sebagaimana yang ditegaskan dalam QS. Lantaran itulah maka taqlid di bidang hukum dibenarkan. "Sesungguhnya kami mendapati bapak-bapak (leluhur) kami menganut suatu agama dan sesungguhnya kami adalah pengikut jejak-jejak mereka. dimana lehernya diberi kalung sebagai tanda. agama membenarkan. Oleh karena itu ulama telah sepakat bahwa penetapan aqidah haruslah berdasarkan nash qath'iy al-dalalah yang tidak mengandung pen-takwil-an. Kami tidak mengutus sebelum kamu seorang Nabi/Rasul yang memberi peringatan pada suatu negeri. Disinilah antara lain perbedaan ajaran Islam yang berhubungan dengan masalah aqidah/keimanan dengan ajaran Islam yang berhubungan dengan masalah hukum. sehingga umat Islam menjadi jumud dan Islam ketinggalan zaman. PENGERTIAN TAQLID Menurut bahasa. ia berdosa. Kalaulah dalam masalah hukum ini semuanya harus berdasarkan dalil qath'iy. Hanya saja tentunya kita jangan cukup puas mendudukkan diri kita pada kursi taqlid ini.mengetahui bahwa Allah itu ada maka harus ditempuh lewat nadhar. semuanya bersifat qath'iy atau pasti benarnya. Seseorang yang telah bertaqlid dengan seorang mujtahid/imam. Bahkan sebagian besar hukum taklifi dasarnya dhann.

harus terus kita kembangkan. UA 20-21 Jakarta Selatan Telp. Sementara pihak ada yang membedakan antara taqlid dan ittiba'. Menurut hemat saya yang ada hanyalah ijtihad dan taqlid. Menerima pendapat orang lain dalam kondisi anda tidak mengetahui dari mana orang itu berpendapat. Beramal berdasarkan pendapat orang lain tanpa berdasarkan dalil. hanya istilah dan tingkatannya saja yang berbeda. Taqlid ialah mengamalkan pendapat orang lain tanpa mengetahui dalilnya. Beramal berdasarkan ijma' c.perguruan-perguruan tinggi Islam. 3. 7501983. (021) 7507174 Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota Please direct any suggestion to Media Team Artikel Yayasan Paramadina Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota . 7507173 Fax. sedangkan ittiba' adalah beramal atau mengamalkan pendapat orang lain dengan mengetahui dalilnya. Sebagian ulama ada yang berpendapat bahwa beramal atau mengamalkan pendapat orang lain dengan mengetahui dalilnya adalah ijtihad. Demukian menurut al-Syaukany dalam Irsyad al-Fukhul. Metro Pondok Indah Pondok Indah Plaza I Kav. Beramal berdasarkan ayat al-Qur'an atau Hadits Nabi. Sesuai dengan pengertian taqlid di atas maka beberapa hal seperti di bawah ini tidaklah termasuk kategori taqlid. Seorang hakim yang memutuskan perkara berdasarkan kesaksian saksi yang adil. Jadi Ittiba' itu sendiri termasuk kategori taqlid. (bersambung 4/4) -------------------------------------------Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah Editor: Budhy Munawar-Rachman Penerbit Yayasan Paramadina Jln. yaitu sama-sama mengikuti pendapat orang lain. b. Sedangkan taqlid antara lain: menurut istilah Kondisi ada yang baik ini beberapa rumusan. (021) 7501969. tapi hakikatnya sama. dan ini dilakukan tanpa berdasarkan dalil. 2. Demikian menurut al-Qaffal. Demikian menurut al-Kamal Ibn al-Hammam dalam al-Tahrir. Taqlid ialah beramal berdasarkan pendapat orang lain yang pendapatnya itu tidak merupakan salah satu dalil yang dibenarkan. Beberapa hal itu ialah: a. 1.

mereka mengikuti pendapat imam mujtahid. al-Nahl: 43). Ibrahim Hosen Bagi orang-orang yang tidak memenuhi persyaratan ijtihad baik mereka ulama maupun awam. sejalan dengan firman-Nya. Dan Allah berfirman. Sebab ada beberapa ulama yang semestinya mereka mampu berijtihad. haram bagi mereka berijtihad. Sebab ijtihad yang dilakukannya justru akan membawa pada kesesatan. "Allah tidak menaklif/memberi pembenahan kewajiban kepada seseorang kecuali sesuai dengan kemampuannya. demikian juga taqlid/muqallid yang terdiri dari beberapa tingkatan.IV. dimana dalam keseluruhan hukum Islam.24. TINGKATAN TAQLID/MUQALLID Sebagaimana halnya ijtihad/mujtahid yang bertingkat-tingkat. jangan sampai terjadi adanya "man laisa lahu ahlun li 'l-ijtihad" memberanikan diri untuk berijtihad. tetapi nyatanya masih tetap menjadi muqallidin yang setia. "Bertanyalah kepada ulama apabila kamu tidak mengerti. Taqlid secara total/murni (taqlid al-mahdli). TAQLID DAN IJTIHAD Beberapa Pengertian Dasar HARAM IJTIHAD DAN WAJIB TAQLID (4/4) Oleh KH. Dengan demikian tidak benar jika kita mengatakan bahwa ijtihad itu wajib dan taqlid itu haram secara mutlaq/tanpa ada batasan. Kalau sudah pada tempatnya untuk duduk di kursi ijtihad. Syafi'i dan lain-lain yang melarang taqlid. mayoritas umat Islam dari kalangan awam. Kearah inilah harus kita fahami ucapan imam-imam mujtahid kenamaan seperti Hanafi. seperti taqlid yang dilakukan oleh kebanyakan orang awam. bagi yang mampu berijtihad sendiri karena telah memenuhi persyaratannya janganlah mengikuti atau bertaqlid kepada mujtahid yang lain. yaitu: 1. janganlah menduduki bangku taqlid. Yang awam ini jelas tidak mungkin untuk dipaksakan harus mengupayakan dirinya menjadi mujtahid. Kenyataan menunjukkan bahwa sejak dahulu sampai saat sekarang dan akan berlanjut terus sampai akhir zaman nanti. Ini sangat berbahaya. Artinya. . Diantara ulama yang mengharamkan taqlid dan mewajibkan ijtihad tanpa ada batasan-batasan tertentu ialah Ibnu Hazm dan al-Syaukany. yang artinya. Bagi kita yang harus kita tempuh ialah mengusahakan bagaimana agar lahirnya ulama-ulama yang ahlu li 'l-ijtihad dapat diperbanyak. tetapi wajib berijtihad sendiri." Orang-orang yang tidak memenuhi persyaratan ijtihad semacam itu wajib mengikuti pendapat imam mujtahid yang mu'tabar atau istifta'/meminta penjelasan hukum kepada ahl al-dzikr. Demikian juga harus kita usahakan. Tidak dibenarkan/haram baginya bertaqlid atau mengikuti pendapat mujtahid yang lain. WAJIB IJTIHAD DAN HARAM TAQLID Bagi orang-orang yang memenuhi persyaratan ijtihad maka wajib bagi mereka berijtihad dan mengamalkan hasil ijtihadnya. Sebab tidak realistis." (QS.

Taqlid dalam bidang-bidang hukum tertentu saja. ataukah ia tidak terikat dengan arti boleh baginya mengikuti atau pindah ke madzhab lain? Dalam hal ini ada tiga pendapat: 1. seperti yang dilakukan para ulama yang mampu berijtihad dalam bidang madzhab. MASALAH TALFIQ Berbicara masalah taqlid. apabila seseorang telah mengikuti/bertaqlid dengan salah satu mazhab. seperti yang dilakukan oleh mujtahid muntasib. Pendapat kedua ini membenarkan talfiq sekalipun dimaksudkan untuk mencari kemudahan. Dari segi dalil maupun kemaslahatan diantara ketiga pendapat di atas menurut hemat saya yang paling kuat adalah pendapat Al-Kamal Ibnu Hammam dengan alasan antara lain: .2. selama tidak terjadi dalam kasus hukum (dalam kesatuan qadliyah) dimana imam yang pertama dan imam yang kedua atau imam yang sekarang diikuti sama-sama menganggap batal. Baginya tidak boleh pindah ke madzhab lain baik secara keseluruhan maupun sebagian (talfiq). tetapi dilihat dari sisi lain. Pendapat ketiga ini dipelopori oleh Al-Kamal Ibnu Hammam. apakah ia harus terikat dengan madzhab tersebut yang berarti ia tidak dibenarkan mengikuti atau pindah ke madzhab lain. Ushuliyyin berbeda pendapat mengenai boleh dan tidaknya seseorang ber-talfiq. Dengan demikian dilihat dari satu segi. Pendapat ini memperbolehkan talfiq sekalipun dimaksudkan untuk tujuan mencari keringanan tersebut. walaupun dengan motivasi mencari kemudahan. dan bidang fatwa. Perbedaan ini bersumber dari masalah boleh dan tidaknya seseorang pindah mazhab. 3. mereka termasuk muqallid. yang di zaman partai-partai Islam masih ada. Taqlid dalam hal kaidah-kaidah istinbath. mereka dianggap sebagai mujtahid. dengan ketentuan tidak terjadi dalam kesatuan qadliyah yang menurut imam pertama dan imam kedua sama-sama dianggap batal. Tidak ada larangan bagi seseorang untuk berpindah madzhab. Pendapat ini tidak membenarkan talfiq. Pendapat ini rupanya yang banyak memasyarakat di Indonesia. Golongan ini dipelopori olah al-Qarafi. Apabila seseorang telah mengikuti salah satu mazhab maka ia harus terikat dengan madzhab tersebut. Seorang yang telah memilih salah satu madzhab boleh saja pindah ke madzhab lain. bidang tarjih. rasanya tidak lengkap kalau kita tidak menyinggung masalah talfiq. sempat dipolitisir dan eksploitir. 2. sekalipun dimaksudkan untuk mencari keringanan. Pendapat pertama ini dipelopori oleh Imam Qaffal. 3. Menurut definisinya. talfiq ialah beramal dalam suatu masalah/qadliyah atas dasar hukum yang terdiri dari kumpulan/gabungan dua mazhab atau lebih. Artinya.

Seseorang berwudlu mengikuti tata cara Syafi'i. Dalam Ibadat. Hadits Nabi yang menyatakan bahwa Rasulullah tidak pernah disuruh memilih sesuatu kecuali akan memilih yang paling mudah. Yang ada adalah perintah untuk bertanya kepada ulama tanpa ditentukan ulama yang mana dan siapa orangnya (QS. ia terus bershalat dengan mengikuti madzhab Hanafi yang mengatakan bahwa sentuhan tersebut tidak membatalkan wudlu. Hanya saja dalam hal-hal yang menyangkut kemasyarakatan maka yang berlaku adalah mazhab pemerintah atau pendapat yang diundangkan pemerintah lewat perundang-undangan. Ijtihad merupakan sarana yang paling efektif untuk mendukung tetap tegak dan eksisnya hukum Islam serta menjadikannya sebagai tatanan hidup yang up to date yang sanggup menjawab tantangan zaman (shalihun li kulli zaman wa makan). 1. kemudian Qadli Syafi'i menetapkan bahwa ru'yah tersebut berlaku pada seluruh wilayah kekuasaannya. "al-ami la madzhaba lahu" -orang awam tidak punya mazhab. sebab Qadli tadi berpegang dengan pendapat madzhab Maliki dan Hanafi yang tidak memandang persoalan mathla'. Hal ini sejalan dengan kaidah.1. Masalah Kemasyarakatan 1. Kesimpulan Dari beberapa uraian di atas kesimpulan sebagai berikut: ingin saya ambil beberapa 1. kemudian ia bersentuhan kulit dengan ajnabiyah. b. 2. 3. mengenai sah jatuhnya thalaq raj'i mengikuti madzhab Hanafi yang memandang sah ruju' bi 'l-fi'li (langsung bersetubuh). Kaidah yang berbunyi. 2. Tidak ada nash agama baik dari al-Qur'an maupun Sunnah yang mewajibkan seseorang harus terikat dengan salah satu mazhab saja. Ijtihad baru akan berfungsi dan berdayaguna sebagaimana . 2. "Keputusan pemerintah mengikat atau wajib dipatuhi dan akan menyelesaikan persengketaan. Tidak punya mazhab artinya tidak terikat. 2. Terjadi ru'yah yang mu'tabarah pada suatu tempat." Contoh Talfiq a. Seseorang berwudlu menurut madzhab Syafi'i yang menyapu kurang dari seperempat kepala. selama tidak membawa ke dosa. Hal ini dimaksudkan untuk keseragaman dan menghindarkan adanya kesimpang-siuran. kemudian ia bershalat dengan menghadap kiblat dengan posisi sebagaimana ditentukan oleh madzhab Hanafi. Membuat undang-undang perkawinan dimana akad nikahnya harus dengan wali dan saksi karena mengikuti madzhab Syafi'i. al-Nahl: 43).

3. 7. Perbedaan yang ditolerir oleh Islam yang dinyatakan akan membawa rahmat/kelapangan adalah perbedaan di bidang hukum furu'/fiqih sebagai akibat dari adanya perbedaan ijtihad. 10.disebutkan pada Butir pertama jika ijtihad dilakukan para ahlinya (mereka yang memenuhi persyaratan dan dilakukan pada tempatnya sesuai dengan ketentuan yang telah diakui kebenaran dan kesalahannya). Taisirut-Tahrir Al-Syaukani. Untuk menggalakkan ijtihad guna menjadikan hukum Islam ini dinamis dan lincah perlu digalakkan studi fiqih perbandingan dan ushul fiqih perbandingan di lembaga-lembaga pendidikan Islam. 4. Ijtihad yang dilakukan oleh yang bukan ahlinya/yang tidak memenuhi persyaratan atau dilakukan tidak pada tempatnya justru akan membawa kehancuran Islam dan bencana serta malapetaka bagi umatnya. 5. Ijtihad akan membawa kejayaan bagi Islam dan umatnya. al-Tahrõr Muhammad bin Amir al-Halabi.Marilah kita menjadi mujtahid yang benar atau muqallid yang baik yang mempunyai komitmen yang utuh terhadap ajaran agama Islam. 6. DAFTAR KEPUSTAKAAN 1. Ijtihad dapat kita jadikan alat untuk menjawab perlu dan tidaknya reaktualisasi hukum Islam dan hal itu hanya memenuhi persyaratan ijtihad. 16. Al-Syafi'i. Tanpa itu hanya omong kosong. Ijtihad yang saat ini benar-benar masih dapat kita lakukan ialah ijtihad di bidang tarjih dan ijtihad dalam kasus-kasus tertentu yang belum pernah diijtihadi dibahas oleh imam-imam mujtahid terdahulu. al-Mu'tamad Al-Juwaini. apabila hal itu dilakukan oleh yang memenuhi persyaratan dan dilakukan di tempat-tempat yang diperbolehkan memainkan peranan ijtihad. Ijtihad sepanjang pengertian ushuliyyin hanyalah berlaku di dunia hukum. 8. 9. Keduanya ini dapat kita lakukan secara perorangan (ijtihad fardy) atau secara kolektif (ijtihad jamma'iy). 13. 3. 11. Irsyadu 'l-Fukhul Muhibbu 'l-Lah "Abdus-Syakur. 6. al-Mahshul Al-Amidi. Na'udzu bi 'l-Lah." Musallamu 'l-Tsubur . 5. Ranqikhu 'l-Ushul Al-Kamal Ibnul-Hammam. 4. 17. 7. 15. Nihayatu 'l-Sul Al-Subki. Minhaju 'l-Ushul Al-Asnawi. al-Risalah Muhammad bin 'Ali al-Bashri. Jam'ul Jawami' Ushulus-Sarkhasi Ushulul-Bazdawi Al-Nasafi. al-Manar Al-Baghdadi. khususnya perguruan tinggi. 9. al-Musthafa Fakhruddin al-Razi. Inkamu 'l-Ihkam Al-Baidlawi. 10. 18. 12. 8. 2. Badi'un-Nidham Shadrus-Syari'ah Al-Bukhari. 14. al-Burhan Al-Ghazali.

" [1] "Yang dimaksud Ammar. Engkau tidak shalat. 7501983. Al-Bukhari mencatat perdebatan Abdullah bin Mas'ud dengan Abu Musa al-Asy'ari tentang kasus ini pada hadits No. Menarik untuk dicatat bahwa kelak . al-Muwafaqat 20. Dan Nabi berkata. [2] "Aku melihat memang lebih baik tidak meriwayatkan hadits ini ketimbang meriwayatkannya Aku setuju denganmu. Toh. Ibnul Qayyim. 'Umar menjawab. Metro Pondok Indah Pondok Indah Plaza I Kav. bila tidak ada air.orang junub. (021) 7507174 Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota Please direct any suggestion to Media Team Artikel Yayasan Paramadina Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota IV. "Wa hadza madzab masyhur 'an 'Umar. dan menahan diriku. takutlah pada Allah".dengan mengutip ayat ("jika kalian tak mendapatkan air hendaklah tayamum dengan tanah yang baik"). al-Syathibi." Mendengar demikian Umar menegur 'Ammar: "Ya Ammar. 'Ammar tidak meriwayatkan peristiwa itu lagi. TINJAUAN KRITIS ATAS SEJARAH FIQH (1/10) Dari Fiqh Al-Khulafa' Al-Rasyidin Hingga Madzhab Liberalisme oleh Jalaluddin Rakhmat 1. A'lamu 'l-Muwaqq'in -------------------------------------------Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah Editor: Budhy Munawar-Rachman Penerbit Yayasan Paramadina Jln.19. 7507173 Fax. Kita dalam keadaan junub." 'Ammar bin Yasir berkata pada 'Umar bin Khathab: "Tidakkah Anda ingat. Aku sampaikan kejadian ini kepada Rasulullah saw. Abu Musa menentang pendapat Abdullah --sekaligus madzhab Umar-." kata Ibn Hajar. tidak perlu shalat." Sejak itu.pernah berada dalam perjalanan. FIQH AL-KHULAFA' AL-RASYIDIN: FIQH PENGUASA Seorang laki-laki datang menemui 'Umar bin Khathab: "Saya dalam keadaan junub dan tidak ada air. "Ya Amir al-Mu'minin. aku sudah menyampaikannya. UA 20-21 Jakarta Selatan Telp. (021) 7501969. aku tidak akan menceritakan hadits ini selama engkau hidup. Dulu --engkau dan aku-." Maksud kedatangannya untuk menanyakan apakah ia harus shalat atau tidak. sedangkan aku berguling-guling di atas tanah. kecuali Abdullah bin Mas'ud." kata Ibn Hajar. 'Umar tetap berpegang teguh pada pendapatnya -.22. "Jangan shalat sampai engkau mendapatkan air. 247. cukuplah bagi kamu berbuat demikian. Semua sahabat menolak pendapat Umar. sehingga aku tidak bersalah. Kata Ammar. jika engkau inginkan.

karena itu. mashalih mursalah dan sebagainya. Saya akan memulai makalah ini dengan membahas urgensi fiqh sahabat dalam keseluruhan pemikiran fiqhiyah.a. pada zaman sahabat rujukan itu adalah diri sendiri. "Sunnah sahabat r. zaman sahabat adalah zaman segera setelah berakhirnya masa tasyri'. saya akan menjelaskan sebab-musabab timbulnya ikhtilaf fiqh di antara para sahabat. URGENSI FIQH SAHABAT Fiqh shahabi memperoleh kedudukan yang sangat penting dalam khazanah pemikiran Islam.akhirnya menjadi salah satu sumber hukum Islam di samping istihsan. perbedaan di antara para sahabat berpengaruh besar pada ikhtilaf kaum Muslim pada abad-abad berikutnya Karena itu membicarakan fiqh para sahabat menjadi sangat penting sebagai pijakan bagi pembahasan masalah fiqh mutakhir. ada yang berijtihad dengan qiyas seperti Abdullah bin Mas'ud. lewat kekuasaan. sebagian lagi sebagai hujjah bila bertentangan dengan qiyas. Sebagian menganggaprlya sebagai hujjah mutlak. ayat yang sama. terlihat ada sikap hiperkritis dalam menerima atau menyampaikan riwayat Dan keempat." Dalam perkembangan ilmu fiqh. Sementara itu. Pertama. dan tidak melewatinya.dengan merujuk mazhab 'Umar. Pertama. ijtihad para sahabat menjadi rujukan yang harus diamalkan.adalah orang yang berjumpa dengan Rasulullah saw dan meninggal dunia sebagai orang Islam. perluasan kekuasaan Islam dan interaksi antara Islam dengan peradaban-peradaban lain menimbulkan masalah-masalah baru. memang terjadi perbedaan paham di antara sahabat dalam masalah fiqhiyah Kedua. Dengan demikian. dan contoh-contoh fiqh al-khulafa al-rasyidin. Ketika menceritakan ijtihad pada zaman sahabat. sahabat --sebagaimana didefinisikan ahli hadits-.). al-hukm. Inilah embrio ilmu fiqh yang pertama. madzhab sahabat --sebagai ucapan dan perilaku yang keluar dari para sahabat-. zaman sahabat juga melahirkan prinsip-prinsip umum dalam mengambil keputusan hukum (istinbath. dan bentuk ra'yu-nya bermacam-macam. Bila pada zaman tasyri' orang memverifikasi pemahaman agamanya atau mengakhiri perbedaan pendapat dengan merujuk pada Rasulullah. adalah sunnah yang harus diamalkan dan dijadikan rujukan. Madzhab sahabat pun menjadi hujjah. [3] Dari makalah kita mengenal sunnah Rasulullah. dari mereka juga kita mewarisi ikhtilaf di kalangan kaum Muslim. Kedua. Tentang hal ini. Abu Zahrah menulis: [4] Di antara sahabat ada yang berijtihad dalam batas-batas al-Kitab dan al-Sunnah. ada pula yang berijtihad dengan ra'yu bila tidak ada nash. 'Umar menghendaki pembakuan paham dan mengeliminasi pendapat yang berlainan. Al-Syathibi [5] menulis. Ketiga. karakteristik fiqh sahabat. Ketiga. ulama berbeda pendapat. Setelah itu. mazhab Hanafi melanjutkan Lebih menarik lagi untuk kita catat adalah beberapa pelajaran dari riwayat di atas. dan ada yang berijtihad dengan metode mashlahat. yang nanti diformulasikan dalam kaidah-kaidah ushul fiqh. perilaku mereka menjadi sunnah yang diikuti. qiyas. sebagian lainnya hanya . Dan para sahabat merespon situasi ini dengan mengembangkan fiqh (pemahaman) mereka. bila tidak ada nash.

Kelompok kedua lebih banyak menggunakan . dan celaan. muncul dua pandangan. Allah memuliakan mereka dengan karunia-Nya menempatkan kedudukan mereka pada tempat ikutan. berpendapat bahwa yang menjadi hujjah hanyalah kesepakatan khulafa' al-Rasyidin. yang harus dirujuk untuk menyelesaikan masalah-masalah dan menetapkan hukum-hukum Allah. ahl al-Sunnah sepakat menetapkan bahwa seluruh sallabat adalah baik (al-shahabiy kulluhum 'udul). maka tidak mengherankan bila mazhab sahabat menjadi rujukan penting bagi perkembangan fiqh Islam sepanjang sejarah. Imam ahli jarh dan ta'dil. pemimpin-pemimpin hidayah. [6] Terakhir keempat. Karena posisi sahabat begitu istimewa. bila mereka ikhtilaf. kekeliruan. Bila mereka sepakat.menganggap hujjah pada pendapat Abu Bakar dan Umar saja. karena banyak hal tak terjawab oleh nash.. di antara para sahabat itu yang paling penting adalah khulafa al-rasyidun. [8] Kelompok pertama memandang bahwa otoritas untuk menetapkan hukum-hukum Tuhan dan menjelaskan makna al-Qur'an setelah Rasulullah wafat dipegang ahl al-Bait. Al-Qur'an dan al-Sunnah adalah sumber untuk menarik hukum-hukum berkenaan dengan masalah-masalah yang timbul di masyarakat. Kelompok ini --kelak disebut Ahl al-Sunnah-ternyata tidak mudah mengambil hukum dari nash. mazhab sahabat menimbulkan kemusykilan yang sulit diatasi. ini yang terpenting. hujjah agama. menurut kesepakatan ahl al-sunnah. yakni Abu Bakar dan Umar"). Hanya merekalah.. Sementara itu. setelah Rasulullah wafat. atau dinilai sebagaimana perawi hadits lain. Mereka tak boleh dikritik. putuslah masa tasyi'. dan pembawa al-Qur'an dan al-'Sunnah. menurut nash dari Rasul.menemani Nabi-Nya. Tentu saja. Kelompok ini tidak mengalami kesulitan dalam masa berhentinya wahyu. dan sebagian yang lain.. yang dipilih Allah untuk. Lalu mengapa mereka ikhtilaf? PENYEBAB IKHTILAF DI KALANGAN SAHABAT Salah satu sebab utama ikhtilaf di antara para sahabat adalah prosedur penetapan hukum untuk masalah-masalah baru yang tidak terjadi pada zaman Rasulullah saw. mengetahui tafsir dar ta'wil. pendapat mereka dapat membantu memecahkan masalah fiqh. untuk menolongnya. dusta. Kelompok kedua memandang tidak ada orang tertentu yang ditunjuk rasul untuk menafsirkan dan menetapkan perintah Ilahi. karena mereka tahu betul --tugas mereka adalah mengacu pada Ma'shumun. keraguan kesombongan. Mereka dibersikkan dari keraguan. kecuali Ali bin Abi Thalib. berdasarkan hadits ("berpeganglah pada dua orang sesudahku. Mereka akhirnya menggunakan metode-metode ijtidah seperti qiyas atau istihsan. dipersalahkan. memenangkan ke benarannya. Allah menamai mereka sebagai 'udul al-ummah (umat yang paling bersih). mereka adalah orang-orang yang menyaksikan turunnya wahyu. Merekalah 'udul al-ummah. Abu Hatim al-Razi dalam pengantar kitabnya menulis: [7] Adapun sahabat Rasulullah saw. Menghadapi masalah-masalah baru itu. Semua Khalifah al-Rasyidin termasuk kelompok kedua.. menegakkan agamanya.

Ketika Rasulullah saw. Kelompok kedua banyak menggunakan dalil aqly. menderanya 40 kali. [15] Kadang-kadang ikhtilaf terjadi di antara para sahabat karena perbedaan pengetahuan yang mereka miiiki. Umar pernah menegur orang yang dikiranya salah ketika membaca QS al-Fath: 26. ketika saya diundang. melakukan atau tidak melakukan sesuatu. ditanya tentang suatu masalah. contoh-contoh berikut menunjukkan perbedaan memahami nash. Demi Allah Ya Umar.ra'yu. Anda tidak. menurut riwayat lain dari Abdullah bin Zubair. [11] Umar --atas saran Abd al-Rahman bin Auf menderanya 80 kali.. Ali membebaskan hukum itu berdasarkan hadits. Abdullah bin Mas'ud dan Umar mengartikan "quru" itu haidh. Ketika Utsman juga melarangnya. sebagian lain tidak mengetahuinya. berbeda-beda dalam kemampuan pengambilannya dan dalam menerima riwayatnya. karena itu Ibn Umar mengharamkan wanita ahli kitab dinikahi laki-laki Muslim. kelompok pertama dalil naqli. Utsman tampaknya sependapat dengan Ibn 'Abbas. Ibn 'Abbas menganggap ayat itu sebagai pengecualian (takhshish) dari ayat wa la tankihu al-musyrikat hatta yu'minna. [9] Setelah perdebatan ini. karena ia menikah dengan Nailah. [10] Contoh lainnya adalah hukuman dera bagi peminum khamr. Rasulullah saw. [13] Bila contoh-contoh tadi berkenaan dengan perbedaan antara ketetapan nash dengan ra'yu. Ia menghukum dengan hukum tertentu memerintahkan atau melarang sesuatu. dan engkau sendiri melakukannya. siapa yang tak mau boleh meninggalkannya. Utsman berkata: Sesungguhnya laranganku itu hanya ra'yuku saja. Kata quru dalam wal muthalaqatu yatarabbashna bi anfusihim tsalatsatu quru' diartikan berbeda-beda. Rasulullah saw. padahal al-Qur'an dan al-Sunnah sangat tegas menetapkannya.. Siapa yang mau boleh menjalankannya. Zaid ibn Tsabit mengartikannya masa bersuci di antara haidh dengan haidh lagi. dan kelompok pertama lebih banyak merujuk nash. Ali menjawab: Aku tak akan meninggalkan sunnah Rasulullah saw. Ali secara demonstratif melakukannya di depan Utsman. sesungguhnya Anda tahu. yang tidak hadir tentu tidak mengetahuinya.. Yang hadir waktu itu dapat menyimpan peristiwa itu. misalnya. dan Thalhah menikahi wanita Yahudi dari Syam. Umar pernah melarang hajji tamattu'. Sebagian sahabat. Kata Utsman: Aku melarang manusia melakukan tamattu. Ali kembali menderanya 40 kali. [16] Al-Syaikh Muhammad Muhammad al-Madany menjelaskan sebab ikhtilaf yang berkenaan dengan sunnah: [17] salah satu Sahabat Rasulullah saw. hanya karena pendapat seseorang. wafat. Ia memarahi orang itu. ketika ia membaca ayat itu. [14] Ibn Umar menafsirkan "al-muhshanat dalam ayat wa al muhshanat min alladzina utu al-kitab sebagai wanita Muslim. Tetapi Umar kemudian dikoreksi Ubayy bin Ka'ab. Kata Ubayy Anda tahu saya berada di dalam beserta Rasulullah saw. menetapkan thalaq tiga dalam satu majlis itu dihitung satu. Umar memutuskan hukuman rajam bagi orang gila yang berzina. Engkau sendiri berada di pintu. ketika saya hadir Anda tidak ada. [12] Begitu pula Ali. yang mengambil sunnah dari Nabi dan meriwayatkannya. wanita Nashrani. Rasulullah saw. Umar menetapkan thalaq tiga itu jatuh tiga sekaligus. mengetahui nash tertentu. bertebaranlah sahabat di .

orang Syam hadir di tempat yang tidak dihadiri orang Basrah. Buat orang-orang sektarian. 'Umar bin Abd . Ia mengutus orang bertanya pada Hafshah. Khalifah bahkan menetapkan sangsi bagi orang yang mempunyai pendapat berbeda. wajib mandi." Kata Umar: "Bila ada lagi orang berfatwa bahwa tidak wajib mandi kalau tidak keluar. ikhtilaf di antara para sahabat itu dibiarkan dan diwariskan kepada generasi berikutnya." Kata Umar: "Apakah Rasulullah saw. lalu aku sampaikan -.. apalagi orang-orang setelah kalian!" Kata Ali. orang Basrah menghadiri tempat yang tidak dihadiri orang Syam." dari Rifa'ah bin Rafi'. Ibn 'Umar. Berkata Ibn Hazm: "Orang Madinah hadir pada tempat yang tidak dihadiri orang Basrah. ikhtilaf ini adalah assets bagi perkembangan pemikiran. Dalam kasus-kasus yang lain. orang Kufah hadir di tempat yang tidak dihadiri orang Madinah. aku dengar kau berfatwa pada manusia dengan ra'yumu sendiri? Kata Zaid: "Ya Amir al-Mu'minin. sehingga mereka berkata: Orang junub tidak tayamum.bila kalian bercampur dengan isteri kalian dan tidak keluar air mani kalian mandi?" Kata Rafa'ah: "Kami melakukan begitu pada zaman Rasulullah saw. Semua orang berkata tidak perlu mandi. 'Amar dan yang lain mengetahui tentang tayamum.dan Abi Ayyub dari Ubbay bin Ka'ab." Lalu Umar mengumpulkan Muhajirin dan Anshar. wajib mandi. Tidak juga ada larangan dari Rasulullah saw. Umar dan Ibn Mas'ud tidak mengetahuinya. ikhtilaf para sahabat ini menjadi sumber perpecahan. dan setiap penduduk negeri mengambil dari sahabat yang ada di negeri mereka. Ini jelas menurut akal. 'Aisyah ditanya. dan tidak mengetahui apa yang tidak ia hadiri. walau pun tidak menemukan air selama dua bulan. Ali Hudzaifah al-Yamani dan lain-lain mengetahui hukum mengusap tetapi 'Aisyah. ini Zaid bin Tsabit berfatwa di masjid dengan ra'yunya berkenaan dengan mandi janabah. Kata Umar: "Panggil Rafa'ah bin Rafi'. aku akan pukul dia. Abu Hurairah tidak mengetahuinya walaupun mereka penduduk Madinah. Aku tidak melakukan itu. masuklah seorang laki-laki: "Ya Amir al-Mu'minin. Keduanya berkata: "Jika kedua khitan bertemu. Tidak turun ayat yang mengharamkan." Kata Umar: "Kalian sahabat-sahabat yang ikut Badr sudah ikhtilaf. Padahal --seperti telah kita jelaskan--sebagian sahabat pada sebagian waktu tidak hadir di majelis Rasulullah saw. dan pada saat kita memerlukan informasi." [18] Dalam kasus yang baru kita ceritakan. sedangkan sebagian lagi hadir. Ya Amir al-Mu'minin: "tidak ada orang yang lebih tahu dalam hal ini kecuali isteri Rasulullah saw. Tetapi aku mendengar hadits dari paman-pamanku. kecuali Ali dan Mu'adz. Marilah kita berikan satu contoh lagi yang lebih ilustratif." Kata Umar: "Panggil dia!" Zaid pun datang dan Umar berkata: "Hai musuh dirinya sendiri!. Hafshah tidak tahu. Anak perempuan dari anak beserta anak perempuan mendapat waris diketahui Ibn Mas'ud tetapi tidak diketahui Abu Musa. orang Basrah menghadiri yang tidak dihadiri orang Kufah.negeri-negeri. Setiap orang hanya mcngetahui apa yang ia saksikan. Ketika orang sedang berkumpul di hadapan Umar bin Khathab. Buat orang yang berjiwa terbuka. lalu bermusyawarah. Kata 'Aisyah: "Bila khitan sudah bertemu khitan. ikhtilaf di antara para sahabat dapat diselesaikan oleh khalifah. Ini semua terjadi dalam hadits. mengetahuinya?" Kata Rafa'ah: "Tidak tahu. Ia berkata: "Apakah kalian berbuat demikian .

al-'Aziz. Jika kita mengambil dari siapa saja di antara mereka. tapi akan memutuskan perhatian pada metode ijtihad kelompok sahabat yang tak merujuk ahl al-Bait. ada dua cara yang dilakukan para sahabat. saya tak akan membicarakan kelompok sahabat ini. TINJAUAN KRITIS ATAS SEJARAH FIQH (2/10) Dari Fiqh Al-Khulafa' Al-Rasyidin Hingga Madzhab Liberalisme oleh Jalaluddin Rakhmat KARAKTERISTIK FIQH SAHABAT Seperti telah disebutkan di muka. menurut mereka. Allah memberikan keluasan pada umat dengan adanya ikhtilaf furu'i di antara mereka. fiqh mereka ini hanya terbatas pada qiyas. pendapat seseorang menjadi hujjah bila orang itu ma'shum. Mereka adalah teladan yang diikuti. Mereka berpendapat bahwa ada dua nash yang dengan tegas menyuruh kaum Muslim berpegang teguh pada pimpinan ahl-al-Bait. Seandainya pendapat mereka itu tunggal. ia membuka umat untuk memasuki Rahmat-Nya. [30] Pada bagian ini. Muhammad Ali al-Sais menyebutkan bahwa ijtihad sahabat itu meliputi qiyas. 'Ammar bin Yasir. dan ijtihad dengan ra'yu seperti al-Mashalih al-Mursalah dan istihsan. tokoh ukhuwah Islamiyah yang menghentikan kutukan pada Ali di mimbar." [19] -------------------------------------------. b) qiyas pada nash atau pada ijma'. Ah al-Bait memiliki kema'shuman berdasarkan nash al-Qur'an dan al-Sunnah. Dengan begitu. 7501983.22. Metro Pondok Indah Pondok Indah Plaza I Kav. berkata: "Aku tidak senang kalau sahabat Nabi tidak ikhtilaf. Lagi pula. karena bila mereka tidak membukanya. mereka membuka pintu ijtihad bagi manusia.merujuk pada ahl al-Bait dalam menghadapi masalah-masalah baru. . Menurut Muhammad Salim Madkur. Menurut Muhammad al-Khudlari Bek. para mujtahid berada dalam kesempitan. (021) 7507174 Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota Please direct any suggestion to Media Team Artikel Yayasan Paramadina Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota IV. dari segi prosedur penetapan hukum. ijtihad mereka menggunakan tiga metode: a) menjelaskan dan menafsirkan nash. sempitlah manusia dibuatnya. Abu Dzar. Hudzaifah dan sebagian besar Bani Hasyim -. Kedua cara ini melahirkan dua mazhab besar di kalangan sahabat -. Artinya.Madzhab 'Alawi dan Madzhab 'Umari yang akhirnya mewariskan kepada kita sekarang sebagai Syi'ah dan ahli Sunnah. (021) 7501969. Para sahabat -seperti Miqdad.(bersambung 2/10) Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah Editor: Budhy Munawar-Rachman Penerbit Yayasan Paramadina Jln. UA 20-21 Jakarta Selatan Telp. 7507173 Fax. Mereka boleh ikhtilaf. jadilah itu sunnah.

Di bawah ini saya kutipkan berbagai riwayat berkenaan dengan sikap Khulafa al-Rasyidin pada Hadits (sunnah): 1) Dari Ibn Abbas: ketika Nabi menjelang wafat.Di antara Anda dan kami ada Kitab Allah. para Khulafa al-Rasyidin selain Ali. Pada suatu pagi ia datang padaku dan berkata: "Bawalah hadits-hadits yang ada padamu itu. dan Abu Mas'ud al-Anshari. [28] Karakteristik kedua dari ijtihad sahabat. Umar ingin menuliskan sunnah-sunnah Rasulullah saw." Umar berkata: "Nabi sedang dikuasai penyakitnya. aku tuliskan bagimu tulisan yang tidak akan menyesatkanmu selama-lamanya." [22] 2) 'Aisyah meriwayatkan: Ayahku telah mengumpulkan 500 hadits Rasulullah saw. Pada tahap pertama. Cukuplah bagimu Kitab Allah. "Kalian meriwayatkan hadits Rasulullah saw. Menurut satu riwayat. Nanti orang-orang setelah kalian akan lebih bertikai lagi." [23] al-Dzahabi meriwayatkan bahwa Abu Bakar mengumpulkan orang setelah Nabi wafat dan berkata. Tidak layak di hadapanku bertengkar. bahkan pertimbangan kepentingan umum (maslahat) didahulukan dari nash. ada tiga tahap dalam ijtihad para sahabat: a) merujuk pada nash al-Qur'an dan al-Sunnah b) menggunakan metode-metode ijtihad seperti qiyas. penulisan hadits terlambat sampai abad 8 M. [21] Menurut pendapat saya. berkumpul orang-orang. yang kalian pertengkarkan. jawablah -. Mereka tenggelam dalam tulisan mereka dan meninggalkan Kitab Allah. bila nash tidak ada atau tidak diketahui. tampaknya lebih memusatkan perhatian pada ayat-ayat al-Qur'an (atau ruh ajaran al-Qur'an) dengan agak mengabaikan (kadang-kadang menafikan hadits). Abu Darda. sehingga di kalangan ahl al-sunnah. Jika ada yang bertanya kepada kalian. Nabi saw. berkata: "Pergilah kamu semua dari aku. [25] Umar kemudian mengumpulkan hadits-hadits itu dan membakarnya. Ia membakar dan berkata. di antaranya Umar bin Khathab. ia memutuskan dan menyatakan: "Aku teringat orang-orang sebelum kalian. Padamu ada Kitab Allah. di rumah Rasulullah saw. halalkanlah apa yang dihalalkannya. menggunakan qiyas atau pertimbangan kepentingan umum. [26] Ia juga menetapkan tahanan rumah pada tiga sahabat yang banyak meriwayatkan hadits: Ibn Mas'ud.istihsan. Janganlah meriwayatkan satu Hadits pun dari Rasulullah saw. Nabi berkata: "Bawalah ke sini. al-mashalih al-mursalah. Di antara mereka ada yang mengikuti ucapan Umar. Dalam beberapa kasus. Ia memikirkannya selama satu bulan. Umar ibn Abd al-Aziz (meninggal 719/101) adalah orang yang pertama menginstruksikan penulisan hadits. mengharapkan bimbingan Allah dalam hal ini. walaupun ada nash sharih . "Aku takut jika aku mati aku masih meninggalkan hadits-hadits ini bersamamu. bila tidak ada nash. Pada suatu pagi. "Aku membawanya. dan c) mencapai kesepakatan lewat proses perkembangan opini publik yang alamiah." Terjadi ikhtilaf di antara orang-orang di rumah itu. dan haramkanlah apa yang diharamkannya" [24] 3) Al-Zuhri meriwayatkan. sadd al-dzara'i. al-baraah al-ashliyah. Ketika terjadi banyak pertengkaran dan ikhtilaf./2 H.." [27] Tradisi pelarangan hadits ini dilanjutkan para tabi'in.

." Kata Ibn Qayyim. Abu Bakar dan Umar tidak memberikan hak khumus dari keluarga Rasulullah saw. [36] d) membolehkan tidak mandi bagi yang bercampur dengan isterinya tanpa mengeluarkan mani. Umar meninggalkan sunnah dan menyingkirkan ijma. Ketika kelompok muallaf datang menemui Abu Bakar untuk menuntut surat. [38] f) mendahulukan khotbah sebelum shalat pada shalat 'id. Abu Bakar memberinya bekal. Umar melihat ini untuk kemashlahatan umat di zamannya. Abu Bakar dan permulaan Khilafah Umar. Al-Fujaah pernah menyatakan diri ingin berjihad dan meminta perbekalan pada Abu Bakar. yang menunjang kaidah hukum berubah karena perubahan zaman ialah jatuhnya thalaq tiga dengan satu kalimat. [31] 4." Ketika Rasul dan Abu Bakar membolehkan penjualan Ummahat al-Awlad. Mereka berpendapat. Allah sudah memenangkan Islam dan melepaskan dari kalian. serta Rasulullah dan Abu Bakar melakukannya. [39] . [30] 3. Umar ingin menghukum keteledoran ini. [37] e) mengambil zakat dari kuda. khalifah yang berhak mengatur pembagian khumus. setelah Rasulullah saw. Jika kamu Islam (baiklah itu). "Adakah khalifah itu atau dia? "Abu Bakar menjawab.. Abu Bakar menyuruh Tharifah bin Hajiz untuk membawanya ke Madinah. "Ia. dengan itu. mereka datang kepada Umar. [33] Utsman juga melakukan banyak "pembaharuan" dalam fiqh Islam: a) mengitmamkan shalat dalam keadaan safat di Mina. Amir al-Mu'minin Umar bin Khathab melihat orang telah melecehkan urusan thalaq. Utsman bin Affan membolehkan "menikahi" dua orang wanita bersaudara dari antara budak belian sekaligus.. "Kami tidak memberi kamu sedikit pun karena Islam. tapi menyalurkan hak itu fi sabilillah. Dr. Ali bin Abi Thalib mengharamkannya. Ini adalah prinsip taghayyarat bihi al-fatwa litaghayyur al-zaman. "Kami tidak memerlukan kalian lagi. Kata Umar: "Manusia terlalu terburu-buru di tempat yang seharusnya hati-hati.. thalaq tiga pada sekali ucapan dijadikan satu seperti hadits shahih dari Ibn 'Abbas... [35] c) melarang haji tamattu.. Umar merobek surat itu dan berkata. Abu Bakar menghukumnya dengan membakarnya hidup-hidup. Khalid Muhammad Khalid menulis tentang ijtihad Umar dalam al-Dimuqrathiyyah: Umar bin Khattab telah meninggalkan nash-nash agama yang Suci dari al-Qur'an dan al-Sunnah ketika dituntut kemaslahatan untuk itu. Bila al-Qur'an menetapkan bagian muallaf dari zakat. Al-Fujaah ternyata menggunakan fasilitas Abu Bakar ini untuk merampok.a. [32] 5. wafat. sehingga sahabat menahan dirinya untuk tidak mudah menjatuhkan thalaq. Umar melarangnya. "Mereka kembali pada Abu Bakar dan berkata. Ketika talaq tiga dalam satu majelis dihitung satu menurut Sunnah dan ijma." [29] 2. " Lalu berlalulah apa yang diputuskan Umar.(tegas) yang bertentangan contoh-contohnya. sedangkan di zaman Nabi. insya Allah. [34] b) menambahkan adzan ketiga pada hari Jum'at . jika tidak pedanglah yang memutuskan antara kamu dan kami. Umar datang dan berkata. al-Dawalibi menulis hal yang sama dalam 'Ilm Ushul al-Fiqh: "Di antara kreasi Umar r. Berikut ini 1.

" [41] 2.adalah fondasi utama dari seluruh bangunan fiqh Islam sepanjang zaman. Hai anak saudaraku. waktu itu yang disebut sunnah ialah apa yang disebut Imam Malik sebagai al-amr al-mujtama' 'alaih. Anda berbaiat kepadanya di bawah pohon. Adzan tetap seperti dulu. Anda menjadi sahabat Rasulullah saw. Marilah kita lihat proses perkembangan pemikiran para sahabat sehubungan dengan sunnah. Ikhtilaf di antara para sahabat. KESIMPULAN Fiqh para sahabat --khususnya seperti diwakili oleh al-Khulafa. dari bapaknya (seorang sahabat). sikap kritis ini telah "dimatikan" dengan vonnis zindiq oleh sebagian ahli hadits. mereka sahabatku. [43] Bid'ah-bid'ah ini telah mengubah sunnah Rasulullah saw. al-Rasyidun-. juga --seperti kata 'Umar ibn Abdul Aziz-. tidak berganti. FIQH TABI'IN: FIQH USHUL Sejak zaman sahabat (dan ini diakui para sahabat sendiri) telah terjadi perubahan-perubahan dalam syari'at Islam. Tidak berubah. 'Umar sendiri berkata. kecuali dalam satu hal: Apa yang disepakati tidak selalu berkembang dari hasil persaingan pendapat yang demokratis. Suatu ketika seorang tabi'in. Seringkali yang disebut ijma' adalah konsensus yang "ditetapkan" oleh penguasa politik waktu itu. Menurut Fazlur Rahman. Imam Malik meriwayatkan dari pamannya Abu Suhail bin Malik. pendapat-pendapat tertentu kemudian berkembang menjadi opini generalis. Ketika banyak orang marah karena 'Umar dikritik. lalu konsesnsus. Nabi saw: "Ya Rabbi. [44] Imam Syafi'i meriwayatkan dari Wahab bin Kaysan.Saya hentikan kutipan kasus-kasus ijtihad Khulafa' al-Rasyidin di sini. orang secara bebas memberikan tafsiran pada sunnah Rasulullah saw. Sayang sekali. Dalam proses free market of ideas. Saya hampir sependapat dengan Fazlur Rahman. Sebagian sahabat mulai mengeluhkan terjadinya perubahan ini. dan perbuatan yang lain telah berubah. [40] pada zaman para sahabat. Ia berkata: Aku tidak mengenal lagi apa-apa yang aku lihat dilakukan "orang" kecuali panggilan shalat. engkau tidak tahu hal-hal baru yang kami adakan sepeninggal Rasulullah.menyumbangkan khazanah yang kaya untuk memperluas pemikiran. untuk itu diperlukan penelaahan kritis terhadapnya." Al-Barra menjawab. Dikatakan kepadanya: Engkau tak tahu apa-apa yang mereka ada-adakan sepeninggal kamu. Ia melihat Ibn . selain mewariskan kemusykilan bagi kita sekarang. lalu opini publik. Fiqih shahabi memberikan dua macam pola pendekatan terhadap syari'ah yang kemudian melahirkan tradisi fiqh yang berbeda. Berkembanglah berbagai penafsiran. "Semoga Allah meyampaikan kepadaku kesalahan-kesalahanku sebagai suatu bingkisan. Ada dua sikap ekstrim terhadap sahabat yang harus dihindari: menghindari sikap kritis atau melakukan sikap hiperkritis. [42] Kata ma ahdatsna (apa-apa yang kami adakan) menunjukkan pada perbuatan bid'ah yang dilakukan para sahabat Nabi. Tidak berlebih-lebihan kalau kita simpulkan bahwa fiqih al-Khulafa al-Rasyidin adalah fiqih penguasa. Al-Zarqani mengomentari hadits ini: Yang dimaksud "orang" adalah sahabat. Al-Musayyab memuji Al-Barra bin 'Azib: "Beruntunglah Anda. Karena itu. waktunya telah diakhirkan. Diriwayatkan bahwa pada hari kiamat ada rombongan manusia yang pernah menyertai Nabi diusir dari al-haudh (telaga). Tentu saja. Ada pun shalat.

. mungkin karena pengetahuan mereka. "Aku sudah tidak mengenal lagi apa yang aku lihat. khususnya yang dijalankan secara setia oleh Ali dan para pengikutnya. [45] Kata Al-Zuhri: Aku menemui Anas bin Malik di Damaskus. Ini pun sudah dilalaikan orang". sampai shalat pun. juga mengambil ijtihad para sahabat. Sebagian lagi banyak sekali memberi fatwa. kehatihatian. Utsman 146 hadits. Tidak semua sahabat menjawab pertanyaan mereka. Secara keseluruhan. dan mereka pun tidak bertanya pada semua sahabat. Abu bakar meriwayatkan hanya 142 hadits.kita akan membicarakan juga tradisi fiqh al-atsar dan fiqh al-ra'y. kita lebih banyak menelaah ushul ketimbang fiqh. Karena pendapat-pendapat para sahabat terbagi dua --yang berpusat pada al-hadits dan al-ra'y-. Fiqh Tab'in. sedangkan sujud di atas tanah dianggap musyrik dan dihitung sebagai perbuatan zindiq". Ia mengingatkan aku pada Shalat Muhammad saw. yang menjadi tradisi Rasulullah saw dan para sahabat Nabi seperti Abu Bakar. sebagai upaya menghapus jejak Ali. sujud di atas kain menjadi syi'ar Ahl al-Sunnah. Dalam perkembangannya. Ia sedang menangis. [49] Contohnya. laknatlah mereka." tanya Al-Zuhri. [51] Contoh-contoh di atas menunjukkan bagaimana campur tangan kekuasaan politik membentuk fiqh. Sebab itu. kurang dari 27% hadits yang diriwayatkan Abu Hurairah (Abu Huraiah meriwayatkan 5374 hadits). marilah kita lihat sedikit latar belakang fiqh tabi'in. Karena fiqh lebih banyak didasarkan pada al-hadits. sunnah Nabi sudah banyak diubah. Jabir ibn Abdullah dan lain-lain. [47] 'Umran bin al Husain pernah shalat di belakang Ali. Sebagian sahabat sedikit sekali memberi fatwa. Hal ini disebabkan ushul adalah sandaran para tabi'in. [50] Contoh yang lain adalah sujud di atas tanah.Zubair memulai shalatnya sebelum khutbah. kita juga akan mengupas kemusykilan ijtihad sahabat. atau karena posisinya memungkinkan untuk itu. Salah satu sebab utama perubahan adalah campur tangan penguasa. APA YANG DIMAKSUD DENGAN FIQH TABI'IN Setelah Nabi Muhammad saw meninggal dunia. Mereka meninggalkan sunnah karena benci kepada Ali. selain mengambil hadits sebagai sumber hukum. orang-orang Islam bertanya pada sahabat dalam urusan hukum-hukum agama. Ibn 'Abbas berdoa: Ya Allah. Jika semua hadits mereka disatukan hanya berjumlah 1411 hadits. Karena pertimbangan politik. Ali 586 hadits. kecuali shalat. [48] Jadi pada zaman sahabat pun. penguasa politik kemudian melakukan manipulasi hadits dengan motif politik. "Mengapa Anda menangis. Umar 537 hadits. Ibn Mas'ud. atau lagi-lagi pertimbangan politis. menjaharkan basmalah. Menarik untuk dicatat. kemudian berkata: Semua sunnah Rasulullah saw sudah diubah. mungkin karena ketidaktahuan. Anas menjawab. mereka tidak mengenal kamu (yang kamu amalkan) kecuali kiblat kamu". [46] Al-Hasan al-Bashri menegaskan: "Seandainya sahabat-sahabat Rasulullah saw lewat. Sebelum membahas itu semua. Ibn 'Umar. dan karenanya secara singkat ia disebut Fiqh al-ushul. Bani Umayyah telah mengubah sunnah Nabi. bahwa dalam khazanah fiqh ahl al-Sunnah para khalifah sedikit sekali memberi fatwa atau meriwayatkan al-hadits. Ia memegang tangan Muthrif bin Abd Allah dan berkata: Ia telah shalat seperti shalatnya Muhammad saw.

murid-murid sahabat itu para mawali (non Arab). Abdullah ibn 'Umar serta ayahnya Al-Faroq. UA 20-21 Jakarta Selatan Telp. Sahabat yang terkenal punya banyak murid adalah Ibn Mas'ud di Iraq. para tabi'in. Dalam kaitan ini. sebelum Dinasti Umayyah berkuasa. Metro Pondok Indah Pondok Indah Plaza I Kav. Zaid ibn Tsabit dan lain-lain di Madinah. 7507173 Fax. TINJAUAN KRITIS ATAS SEJARAH FIQH (3/10) Dari Fiqh Al-Khulafa' Al-Rasyidin Hingga Madzhab Liberalisme oleh Jalaluddin Rakhmat Sebenarnya. bahkan sedikit sekali sahabat yang keluar dari Madinah. tidak banyak. Ayahku menjawab Aku menemukan sahabat-sahabat Nabi bertanya kepada 'Alqamah dan meminta fatwanya. (021) 7501969. karena itu. hanya sedikit para sahabat yang meninggalkan Madinah. dan lain-lain.22. Kebanyakan. menurut Abu Zahrah. mereka diizinkan keluar. Yang keluar kebanyakan bukan fuqaha. Ka'ab al-Ahbar sering dimintai fatwa oleh Ibn Abbas. 'Umar ingin mengambil manfaat dari pendapat mereka. Kedua. umumnya bukanlah murid al-Khulafa al-Rasyidin. ketika kekuasaan Islam meluas. Baru ketika Utsman memerintah. mengapa Anda tinggalkan sahabat dan mendatangi 'Alqamah. . Bila ada masalah baru yang tidak terdapat pada kedua hal tersebut. Abu Musa al-Asy'ari. Umar bin Khatab menahan para sahabat senior di Madinah dan melarang mereka meninggalkan kota itu. Fiqh tabi'in. Pertama.(bersambung 3/10) Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah Editor: Budhy Munawar-Rachman Penerbit Yayasan Paramadina Jln. 'Alqamah dan Ka'ab keduanya tabi'in. Banyak diantara tabi'in yang mencapai faqahah (kefaqihan) begitu rupa sehingga sahabat (sic!) berguru pada mereka. Qabus ibn Abi Zhabiyan berkata: Aku tanya ayahku. Abu Zahrah menulis: [52] -------------------------------------------. Abu Hurairah. baik secara politik maupun administratif dalam pemerintahan. 7501983. kecuali yang diizinkan keluar oleh Umar. seperti Abdullah bin Mas'ud. dan Abdullah ibn Amr. umumaya fiqh mawali. Juga bukan sahabat senior. Dalam pada itu. yakni mereka yang berguru pada sahabat.Karena itu. para tabi'in mengumpulkan dua hal: Hadits-hadits Nabi saw dan pendapat-pendapat para sahabat (aqwal al-shahabat). (021) 7507174 Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota Please direct any suggestion to Media Team Artikel Yayasan Paramadina Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota IV. mereka melakukan ijtihad seperti atau dengan metode yang dilakukan para sahabat. ia mempertimbangkan alasan-alasan. Dari sahabat.

BUKTI-BUKTI MANIPULASI HADITS Di sini tidak ditunjukkan manipulasi hadits kecuali seperti tampak pada kitab-kitab hadits yang ada sekarang. siapa yang aku laknat atau aku kecam. [55] Ketiga. antara lain sebagai berikut. Di samping mereka ada 'Atha ibn Abi Rabah. Mu'awiyah pun mengakuinya. [56] Bagaimana mungkin laknat Nabi menjadi . Sulayman ibn Yasar (wafat 100 H) dan Kharijah ibn Zaid ibn Tsabit (wafat?). "Kalian menginginkan kekuasaan ini seperti kekuasaan Heraclius!". Abu Bakar ibn 'Abid (wafat 94 H). Tetapi ia membuang semua isi surat itu dengan alasan "supaya orang banyak tidak resah mendengarkannya. saudaranya. Al-Qasim ibn Muhammad ibn Abu Bakar (Wafat 108 H). ia berkata. 'Aisyah menolak asbab al-nuzul ini." Ibn Atsir dalam Al-Bidayah wa al-Nihayah juga menghilangkan kedua surat itu dengan mengemukakan alasan yang sama. jadikanlah laknat dan kecaman itu kesucian dan rahmat baginya. Muhammad ibn Abu Bakar menulis surat kepada Mu'awiyah menjelaskaan keutamaan Ali sebagai washi Nabi saw. Pertama. Marwan berkata: Ayat al-Qur'an: alladzi qala liwalidaihi uffin lakum turun tentang Abd al-Rahman. Shahih Bukhari menghilangkan ucapan Abd al-Rahman dengan mengatakan faqaala 'Abd al-Rahman ibn 'Abi Bakar syai'an (Abd al-Rahman mengatakan sesuatu). membuang seluruh berita tentang sahabat dengan petunjuk adanya penghilangan itu. Ibrahim al-Nakh'i. Kata Al-Dzahabi: Barangkali yang dimaksudkan dengan keutamaan Mu'awiyah ini adalah ucapan Nabi saw: Ya Allah. kecaman kepada Mu'awiyah dan Marwan tidak diketahui. dan 'Ikrimah mawla Ibn Abbas. 'Urwah ibn al-Zubair (wafat 94 H). Ia lari ke kamar 'Aisyah ra. Kata-kata ini dalam Tafsir al-Thabari dan Ibn Katsir diganti dengan: wa kadza wa kadza (demikianlah-demikianlah). ketika al-Nasai diminta meriwayatkan keutamaan Mu'awiyah. Ada beberapa cara manipulasi hadits. semoga Allah tidak mengenyangkan perut Mu'awiyah".Ada tujuh orang faqih tabi'in yang terkenal (al-fuqaha al-sab'ah): Sa'id ibn Musayyab (wafat 93 H). [54] Kedua. ia meminta rakyat untuk membaiat Yazid. Contoh-contoh yang diberikan di sini difokuskan pada manipulasi yang diduga beralasan politis. Abidullah ibn Abdillah (wafat 99 H). Abd al-Rahman ibn Abu Bakar memprotes Marwan sambil berkata. Ketika Marwan menjadi Gubernur Mu'awiyah di Hijaz. memberikan makna lain (ta'wil) pada hadits. Tentu saja kata "washi"dan "khalifah" mempunyai konotasi yang sangat jelas. [53] Dengan cara itu. Dari situ paling tidak kita melihat petunjuk (indikator) manipulasi hadits pada zaman tabi'in. Kehormatan Khalifah dan Gubernurnya terpelihara. Al-Thabari (wafat 310 H) melaporkan peristiwa itu dengan menunjuk kedua kitab di atas sebagai sumber. membuang sebagian isi hadits dan menggantinya dengan kata-kata yang tidak jelas. al-Thabari meriwayatkan ucapan Nabi saw tentang Ali: "Inilah washihu dan khalifahku untuk kamu". "hadits apa yang harus aku keluarkan kecuali ucapan Nabi. Hamad ibn Abu Sulayman Salim mawla Ibn Umar. Al-Syu'bi. Al-Dzahabi ketika meriwayatkan biografi Al-Nasai menulis. Marwan marah dan menyuruh orang menangkap Abd al-Rahman. Isi surat ini secara lengkap dimuat dalam Kitab Shiffin dari Nashr bin Mazahim (wafat 212 H) dan Muruj al-Dzahab tulisan al-Mas'udi (wafat 246 H). Dalam tarikhnya.

ucapan Nabi saw ini dihilangkan sama sekali. Khalifah bertanya. Al-Thabrani memberi komentar: Ia menjadikan washi untuk keluarganya. Ia berkata: menyampaikan padaku Al-Harits. Ia menganggap riwayat itu sebagai dusta. Andalah tonggak agama. cetakan kedua (Tahun 1354). mendha'ifkan hadits-hadits yang mengurangi kehormatan penguasa atau yang menunjang keutamaan lawan. Al-Syu'bi meriwayatkan hadits dari Al-Harits al-Hamdani. cetakan pertama. dan khalifahku untuk kamu. atau orang-orang yang bodoh dalam ilmu hadits. Ibn Hisyam mendasarkan tarikhnya pada tarikh Ibn Ishaq. Anda berhaji ke Baitullah. ia mengutip ucapan Nabi: Siapa yang akan membantuku dalam urusan ini supaya menjadi saudaraku. Pada Hayat Muhammad. bukan untuk Khalifah. ya Amir al-Mu'minin. Berkenaan dengan ini bagian "Fiqh al-Khulafa' al-Rasyidin" di atas. Al-Syuibi mengutamakan Abu Bakar. tetapi Bukhari dan Muslim memang meriwayatkan hadits ini. orang yang paling baik. orang terbaik. "Atas nama Allah . Keenam. [69] Ia lupa bahwa hadits ini diriwayatkan dari banyak sahabat Nabi oleh Imam Ahmad. washiku dan Khalifahku untuk kamu. Al-Thabari. kata al-Manshur. Anda perangi musuh.kesucian dan rahmat. dan bahwa Abu Bakar adalah orang yang pertama masuk Islam. Pada bukunya. Ibn Katsir mendha'ifkan riwayat Nabi tentang Ali sebagai Washi. Ibnu 'Asakir dan lain-lain. Ia dikawal para prajurit dengan pedang-pedang terhunus. 3. Kelima. Anda berikan keamanan di jalan. dan umat teradil." [58] Belakangan ini Muhammad Husayn Haykal. "Bagaimana pendapat kalian tentang diriku? Apakah aku pemimpin adil atau zalim?" Malik bin Anas berkata: "Ya Amiral Mu'minin. aku tawassul padamu dengan Allah swt dan aku meminta tolong padamu dengan Muhammad saw dan dengan kekeluargaanmu padanya. maafkanlah aku untuk tidak berbicara. Al-Thabrani. Karena itu. yang dibuat-buat oleh orang Syi'ah. membuang sebagian isi hadits tanpa menyebutkan petunjuk ke situ atau alasan. dalam Hayat Muhammad melakukan hal yang sama. Dalam Ibn Ishaq diriwayatkan Nabi saw berkata. "Inilah saudaraku. Keempat. Abu Nu'aim al-Isbahani. "Tetapi aku tinggalkan sebagian riwayat Ibn Ishaq yang jelek bila disebut orang". Di antara yang dibuang itu adalah kisah "wa andzir 'asyirataka al-aqrabin"." "Aku maafkan Anda". Demi Allah. Anda lindungi orang yang lemah supaya tidak dimakan yang kuat. kata Ibn Hisyam dalam pengantarnya. Ibn Sam'an dan Ibn Abi Dzuaib. Ia membenci Al-Harits karena kecintaannya yang berlebihan pada Ali dan mengutamakan Ali di atas sahabat yang lain. Beberapa tabi'in juga melarang penulisan hadits." Kemudian al-Manshur melirik Ibn Abi Dzuaib. ia mengundang Malik ibn Anas. Lahirnya Madzhab-madzhab Fiqh Ketika al-Manshur baru saja diangkat menjadi khalifah. Setelah berbicara panjang. demi Allah. washiku. wallahu a'lam. Al-Syu'bi mendustakan Al-Harits. melarang penulisan hadits Nabi saw. Ibn Abd al-Barr mengomentari ucapan al-Syu'bi: Ia tidak menjelaskan apa alasan dusta untuk Al-Harits. salah seorang pendusta. Kemudian ia melirik kepada Ibn Sam'an: "Bagaimana pendapat kamu?" Kata Ibn Sam'an: "Anda. [57] Al-Thabrani dalam Majma' al-Zawaid meriwayatkan ucapan Rasulullah saw kepada Salman bahwa Ali adalah washi-nya.

Walau Malik menolak rencana kedua khalifah itu. "Menurut pendapatku. menunjukkan posisi Malik ibn Anas dibandingkan ulama yang sezaman dengannya. Fiqhnya "dicurigai" dan para pengamalnya dianiaya. Ibn Dzuaib adalah orang yang membukukan hadits di Madinah. adalah seorang alim yang terkenal faqih dan wara. Seperti akan kita uraikan nanti. anak yatim. Anda manusia terjahat. dengan para pengikut yang tersebar di berbagai bagian dunia Islam. sebetulnya banyak madzhab muncul. RasulNya. zuhud. Tapi. "Benar. yaitu saya salin. Ia lebih berani. Tapi sebelum itu. demi Allah. Apa alasanmu di hadapan Allah nanti?" "Celaka kamu. Pada akhir bagian ini kita akan membicarakan "pokok dan tokoh" madzhab yang masih memiliki banyak pengikut sampai sekarang. tidakkah kamu lihat apa yang ada dihadapanmu?" kata al-Manshur. tetapi karena tidak didukung penguasa. Anda merampas harta Allah. madzhab-madzhab itu akhirnya hilang dari catatan sejarah. Anda persulit orang yang kuat. ketika Harun al-Rasyid berkuasa. kita tahu bahwa Malik didukung para penguasa. dan bagian keluarga Rasul. serta saya instruksikan agar mereka mengamalkan isinya sehingga mereka tidak mengambil yang lain." Peristiwa di atas. Ia pun hampir tidak dikenal kecuali pada kalangan pengikutnya saja. Malik berkata tentang Ja'far: "Aku pernah berguru pada Ja'far bin Muhammad beberapa waktu. . Menurut al-Dahlawi. dan boleh jadi lebih faqih dari Malik.bagaimana pendapatmu tentang diriku?" Yang ditanya menjawab. Anda tahan harta mereka. Ia tak bicara sesuatu yang tak manfaat. aku lihat pedang dan itu berarti kematian. Aku tidak pernah melihatnya kecuali dalam salah satu di antara tiga keadaan: sedang shalat. Dalam tulisan ini kita akan mencatat beberapa orang tokoh madzhab yang terlupakan. Malik bin Anas kelak terkenal sebagai pendiri madzhab Maliki. namanya hampir tidak pernah disebut dalam buku-buku tarikh. dan orang miskin. Ketika naik haji." Sifat terakhir ini justru menyebabkan Ja'far tidak disenangi penguasa. yang hanya takut kepada Allah saja." Begitu pula. atau sedang membaca al-Qur'an. Anda hancurkan yang lemah. Ja'far al-Shadiq. ia bermusyawarah dengan Malik untuk menggantungkan al-Muwaththa pada Ka'bah dan memerintahkan orang untuk beramal menurut Kitab itu. sedang puasa. Imam Malik menjadi terkemuka setelah al-Manshur memberikan segala kehormatan kepadanya. Fame bestows no favors upon the losers. Masih sezaman dengan Malik dan bahkan Malik pernah berguru kepadanya. nama lengRapnya Abu al-Harit Muhammad ibn Abd al-Rahman ibn al-Mughirah ibn Dzuaib al-'Amiri. yang dikisahkan Ibn Qutaybah. Namun sekarang hampir tidak ada orang yang mengenalnya. Ibn Dzuaib. Tidak pernah aku lihat ia meriwayatkan hadits dari Rasulullah kecuali dalam keadaan suci. kita akan meninjau latar belakang historis dari tumbuhnya madzhab-madzhab fiqh. adalah faqih dari keluarga Rasulullah saw. dan kepada setiap wilayah kaum Muslim saya kirim satu naskah. al-Manshur berkata kepada Malik: "Saya punya rencana untuk memperbanyak kitab yang kau susun ini. Ibn Abi Dzuaib. tentu saja tidak dikenal. dan ia termasuk ulama yang taat beribadah. Bagiku sama saja apakah mati itu dipercepat atau diperlambat. Sejarah memang hanya memihak yang menang. di samping Malik.

Ibn Qutaybah dalam Kitab al-Ikhtilaf menceritakan bagaimana raja-raja Umawiyyat berusaha menghapuskan tradisi ahl al-Bayt dengan mengutuk Ali bin Abi Thalib di mimbar-mimbar. Pada zaman kekuasaan dinasti Umawiyyah. Hanafi. madrasah al-Khulafa bercabang lagi ke dalam dua cabang besar: Madrasah al-Hadits dan Madrasah al-Ra'y.SEJARAH PEMBENTUKAN MADZHAB Kelima Madzhab yang akan kita bicarakan -Ja'fari. Yaitu ahl al-Bayt dan para pengikutnya. Umar. Kedua madrasah ini berbeda dalam menafsirkan al-Qur'an. Ali dan kedua puteranya. Yang pertama. 'Ammar bin Yasir. Para sahabat dapat dikelompokkan dalam dua besar. Ali dan sebagainya. masuk kelompok pertama. Pada zaman sebelum itu. dan mengeluarkan fatwa yang bertentangan dengan ahl al-Bayt. juga para sahabat di luar ahl al-Bayt. Tidak jarang sunnah Rasulullah yang sahih ditinggalkan karena sunnah itu dipertahankan dengan teguh oleh para pengikut ahl al-Bayt. Aisyah. Murtadha al-'Askary menyebut dua madzhab awal ini sebagai Madrasah al-Khulafa dan Madrasah Ahl al-Bayt." Salah satu contoh sunnah yang dijauhi orang adalah tasthih seperti diceritakan oleh Muhamamd bin 'Abd al-Rahma yang berkata: "Yang sunnah dalam membuat kubur adalah meratakan permukaan kubur (tasthith). Abu Rafi Mawla Rasulullah. memandang sunnah Rasulullah. bila orang berbicara tentang madzhab. Sedangkan Abu Bakar. dan melakukan istinbath hukum. "Tapi Abu Hanifah dan Ahmad berkata: "Menaikkan permukaan kubur (tasnim) lebih baik. dan sebagainya. Ummi Salamah. Yang kedua. Hudzaifah. Utsman. sehingga sunni tidak berbeda dengan syi'ah. Metro Pondok Indah . al-Sunnah dan Ijtihad para sahabat. membunuh para pengikut setianya." -------------------------------------------. Abu Hurairah dan lain-lain masuk kelompok kedua.tumbuh pada zaman kekuasaan dinasti Abbasiyah. Inilah yang paling kuat menurut madzhab Syaf'i. Aisyah. Maliki. Abu Dzarr. melandaskan fiqhnya pada al-Qur'an. sedikit menggunakan hadits dan lebih banyak berpijak pada penalaran rasional dengan melihat sebab hukum (illat) dan tujuan syara' (maqashid syar'iyyah). Karena walaupun meninggalkannya tidak wajib menampakkannya berarti menyerupai (tasyabbuh) mereka. maka yang dimaksud adalah madzhab di kalangan sahabat Nabi: Madzhab Umar.(bersambung 4/10) Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah Editor: Budhy Munawar-Rachman Penerbit Yayasan Paramadina Jln. Kemaslahatan berbeda dengan mereka dalam rangka menjauhi dan menentang mereka lebih besar dari kemaslahatan mengamalkan yang musthab itu. berpusat di Madinah. Karena tekanan dan penindasan. Madrasah ahl al-Bayt tumbuh "di bawah tanah" mengikuti para imam mereka. dan sedapat mungkin menghindari ra'yu dalam menetapkan hukum. Ibn Taymiyyah menulis perihal tasyabbuh dengan syiah: "Dari sinilah para fuqaha berpendapat untuk meninggalkan al-mustahabbat (yang sunat) bila sudah menjadi syiar orang-orang Syi'ah. dan Hanbali-. Sementara itu. Miqdad. mereka mengembangkan esoterisme dan disimulasi untuk memelihara fiqh mereka. Ibn Abbas. Ibn Umar. berpusat di Iraq. karena tasthih sudah menjadi syi'ar sy'iah. Syafi'i.

Madzhab Hanafi mulai berkembang ketika Abu Yusuf. Kitab ini adalah rujukan utama madzhab Hanafi. Muhammad Farouq al-Nabhan menjelaskan sebab-sebab berikut: a) Hubungan yang buruk antara ulama dan khulafa. Keduanya mengembangkan ajaran mereka pada zaman Abbasiyah. Waktu itu. Madzhab Hanbali menjadi kuat pada masa pemerintahan al-Mutawakkil. TINJAUAN KRITIS ATAS SEJARAH FIQH (4/10) Dari Fiqh Al-Khulafa' Al-Rasyidin Hingga Madzhab Liberalisme oleh Jalaluddin Rakhmat Pada periode Umawiyyah. murid Abu Hanifah. bahwa madzhab-madzhab besar yang kita kenal sekarang --kecuali mazhab Ja'fari-.membesar karena dukungan penguasa. Dr.22. Di antara mawali itu adalah Abu Hanafi dan di antara imam ahl al-Bayt adalah Ja'far bin Muhammad. dan al-Rasyid. Di Afrika. Waktu itu al-Mutawakkil tidak mengangkat seorang qadhi kecuali dengan persetujuan Imam Ahmad ibn Hanbal. UA 20-21 Jakarta Selatan Telp. diangkat menjadi qadhi dalam pemerintahan tiga khalifah Abbasiyah: al-Mahdi. Karena itu pada permulaan pemerintahannya. (021) 7507174 Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota Please direct any suggestion to Media Team Artikel Yayasan Paramadina Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota IV. Madzhab Syafi'i membesar di Mesir ketika Shalahuddin al-Ayyubi merebut negeri itu. c) Politik diskriminasi yang mengistimewakan orang Arab di atas orang bukan Arab. 7507173 Fax. Al-Kharaj adalah Kitab yang disusun atas permintaan al-Rasyid. Kebijakan ini menyebabkan timbulnya rasa tidak senang pada para mawali .Pondok Indah Plaza I Kav. . Madzhab Maliki berkembang di khilafah Timur atas dukungan al-Manshur dan di khilafah Barat atas dukungan Yahya bin Yahya ketika diangkat menjadi qadhi oleh para khalifah Andalusia. Banyak tokoh sahabat dan tabi'in yang menganggap daulat Umawiyyah ditegakkan di atas dasar yang batil. Dinasti Abbasiyah disambut dengan penuh antusias baik oleh mawali maupun pengikut ahl al-Bayt. IMAM-IMAM MADZHAB YANG TERLUPAKAN Sudah disebutkan di muka. pusat pemerintahan berada di Syam. Para khalifah banyak melakukan hal-hal yang melanggar sunnah Rasulullah saw b) Terputusnya hubungan antara pusat khilafah dengan pusat ilmiah. al-Hadi. Banyak di antara mereka adalah para sarjana dalam berbagai disiplin ilmu. sedangkan pusat-pusat ilmiah berada di Iraq dan Hijaz. Dinasti Umawiyah memisahkan Arab dan mawali. madrasah-madrasah itu tidak melahirkan pemikiran-pemikiran madzhab. al-Mu'iz Badis mewajibkan seluruh penduduk untuk mengikuti madzhab Maliki.yang justru lebih banyak pada daerah kekuasaan Islam. 7501983. (021) 7501969.

Lahir di Kufah tahun 65 H dan wafat di Bashrah tahun 161 H. Ketika ia diminta menjadi qadhi. 3. 5. Madzhabnya diamalkan orang sampai abad IV. mengetahui betul makna al-Qur'an. Abu Ishaq dan lain-lain. Ibn Dinar. maka orang tak ingin mempelajari madzhabnya. Bila para pengikut madzhab itu lemah dan tidak memperoleh posisi sebagai hakim dan tidak berwewenang memberi fatwa. Lalu madzhab itu pun hilang setelah beberapa lama. Ayahnya termasuk perawi hadits yang ditsiqatkan Ibn Ma'in. Pahamnya diikuti orang sampai abad IV Hijrah. Ia faqih. Madzhab al-Zhahiry. al-Awza'iy. lalu orang mempelajari madzhab itu terang-terangan. Malik dan al-Tsawry) yang paling benar? Malik berkata: "Al-Awza'iy. Ia mengambil ilmu dari Imam Ja'far. Madzhab al-Thabary. 4. Pendirinya Abd al-Rahman bin Amr al-Awza'iy adalah imam penduduk Syam. Di antara yang mengambil riwayat dari padanya adalah Syafi'i. Imam Ahmad menyebutnya sebagai seorang faqih. 2. Ia berguru pada Ja'far al-Shadiq dan meriwayatkan banyak hadits. dan tulisan mereka terkenal di masyarakat. yang nasikh dan yang mansukh dan paham akan pendapat para sahabat. ketika Ahmad menyebut dirinya hanya sebagai ahli hadits. ia melarikan diri dan meninggal di tempat pelarian. Madzhab Ibn 'Uyaiynah. tetapi setelah itu hilang karena tidak ada dukungan penguasa. Madzhab al-Tsawri. hilanglah ilmu Hijaz. Ia diberi gelar al-Zhahiry karena berpegang secara . Madzhab al-Awza'iy. Abu Ja'far Muhammad ibn Jarir ibn Yazid ibn Khalid ibn Ghalib al-Thabary lahir di Thabaristan 224 H dan wafat di Baghdad 310 H. dapat membedakan yang sahih dan yang lemah. Ia termasuk mujtahid ahl al sunnah yang tidak bertaklid kepada siapa pun. mengetahui sunnah dan jalan-jalannya. Nama lengkapnya Abu Muhammad Sufyan ibn 'Uyaiynah wafat tahun 198 H. Madzhabnya tersisihkan hanya ketika Muhammad bin Utsman dijadikan qadhi di Damaskus dan memutuskan hukum menurut Madzhab Syafi'i Ketika Malik ditanya tentang siapa di antara yang empat (Abu Hanifah. Tokoh madzhab ini adalah Abu Abd Allah Sufyan bin Masruq al-Tsawry." Mazhabnya diamalkan orang sampai tahun 302 H. tersebarlah madzhabnya di seluruh penjuru bumi. Syah Wali al-Dahlawi menulis: "Bila pengikut suatu madzhab menjadi masyhur dan diberi wewenang untuk menetapkan keputusan hukum dan memberikan fatwa. Kata Ibn Khuzaymah: Ia hafal dan paham al-Qur'an. Ia sangat dekat dengan Bani Umayyah dan juga Bani Abbas. Dengan begitu. Abu Sulayman Dawud ibn 'Ali dilahirkan di Kufah tahun 202 H dan hidup di Baghdad sampai tahun 270 H. Salah seorang muridnya yang masyhur adalah Ibn Hazm. Tidak diketahui sampai kapan madzhabnya diikuti orang. tetapi ia berhasil lolos. Ia memberi komentar: "Seandainya tidak ada Malik dan Ibn 'Uyaiynah.Dalam menyimpulkan semua ini. al-Zuhry. Berkali-kali al-Manshur mau membunuhnya. Madzhabnya berkembang sampai abad VII." Beberapa madzhab sebagai berikut: yang hilang itu secara singkat diuraikan 1.

yang kemudian dijawab Ia orang pintar dan mengetahui agama. kita tuliskan percakapannya dengan muridnya selama dua tahun seperti diceritakan Abu Nu'aim: Abu Hanifah. Kaum 'Alawi menunjukkan nasab seperti mereka dan memiliki kekerabatan dengan Rasulullah yang tidak dimililki 'Abbasiy." . Ali Zainal Abidin keturunan Rasul yang selamat dari pembantaian di Karbela. pemberontakan Zaid ibn Ali. mereka segera mengucilkannya atau membunuhnya. Ibn 'Uyaiynah. Untuk mengetahui pemikiran Imam Ja'far dalam hal fiqh. dan ribuan para perawi. Ibn Syabramah. Di antara murid-muridnya adalah Imam Malik.harfiah pada teks-teks nash. Ia juga menyaksikan naiknya al-Saffah dan al-Manshur dengan memanipulasikan kecintaan orang pada ahl al-Bayt. dan penindasan terhadap para pengikut madrasah ahl al-Bayt. ia diasuh oleh ayahnya Muhammad al-Baqir dan hidup bersama selama sembilan belas tahun. Dalam suasana seperti itulah. Fadhail ibn Iyadh." tanya Ja'far. Selama lima belas tahun ia tinggal bersama kakeknya.di sini hanya disebutkan beberapa catatan kecil saja." Ja'far bertanya kepada Abu Hanffah: "Siapa namamu?" "Nu'man. Abu Zahrah menulis: Dinasti 'Abbasiyah selalu merasa terancam dalam kekuasaannya oleh para pengikut Ali. Syu'bah ibn al-Hajjaj. Mereka tak perduli membunuh orang tak berdosa karena dianggap mengancam pemerintahannya. Orang-orang yang menentang mereka semuanya berasal dari 'Alawiyyin. Pokok-pokok pikirannya dalam fiqh akan kita perkenalkan secara singkat. IMAM JA'FAR IBN MUHAMMAD AL-SHIDIQ (82-140 H) Ja'far ibn Muhammad ibn Ali ibn Husain (ibn Ali) ibn Fathimah binti Rasulullah saw lahir di Madinah tahun 82 H pada masa pemerintah Abd al-Malik ibn Marwan. mereka segera menghukumnya. Imam Ja'far memusatkan perhatiannya pada penyebaran sunnah Rasulullah dan peningkatan ilmu dan akhlak kaum Muslim. "Benar. bila para penguasa 'Abbasiyah melihat ada dakwah 'Alawi. Ia menanyakan Ibn Abi Layla tentang kawannya. Ia berkembang di daerah Maroko. Inilah sebagian di antara tokoh-tokoh madzhab yang tidak lagi dianut secara resmi sekarang ini. "Bukankah ia suka melakukan qiyas dalam urusan agama?. Setelah Ali wafat. al-Tsawry. Karena itu. Bila mereka melihat ada pejabat yang memuji Bani 'Ali. Ia sempat menyaksikan kekejaman al-Hajjaj. Karena riwayat hidup mereka sudah disebutkan di atas --kecuali Imam Ja'far-. Mereka selalu cemas menghadapi mereka. dan Ibn Abi Layla menghadap Imam Ja'far. Abu Hanifah. ketika Ya'qub ibn Yusuf ibn Abd al-Mu'min meninggalkan mazhab Maliki dan mengumumkan perpindahannya ke madzhab al-Zhahiry. Ia juga menyaksikan bahwa para khalifah Abbasiyah tidak lebih baik dari para khalifah Umawiyah dalam kebenciannya kepada keluarga Rasul. Berikut adalah para pemuka madzhab yang terkenal.

Karena Rasulullah dan para imam adalah orang yang mengetahui rahasia-rahasia al-Qur'an. Tugas mujtahid adalah mengeluarkan dari al-Qur'an jawaban-jawaban umum untuk masalah-masalah yang khusus. c) Al-Qur'an dipandang telah lengkap menjawab seluruh persoalan agama. Ia menentang setiap kezaliman." "Lalu. Beberapa kali ia mengkritik al-Manshur secara terbuka. . Abu Hanifah berbay'at kepadanya." Dari percakapan di atas kita melihat perbedaan pendekatan hukum di antara dua pemuka madzhab. Di antara karakteristik khas dari madzhab Ja'fari.shalat atau shawm (puasa)?" "Shalat" "Mengapa wanita yang haidh harus mengqadha shawmnya tetapi tidak harus mengqadha shalatnya. Begitu pula. ketika Imam Zayd melawan penguasa. dan bahwa para khalifah yang sezaman dengan mereka telah merampas haknya dan karena itu mereka zalim. digunakan akal berdasarkan kaidah-kaidah tertentu. selain menolak qiyas adalah hal-hal berikut: a) Sumber-sumber syar'iy adalah al-Qur'an. IMAM ABU HANIFAH Abu Hanifah terkenal sebagai alim yang teguh pendirian. b) Istihsan tidak boleh dipergunakan. Manakah yang lebih besar dosanya .membunuh atau berzinah? "Membunuh." Sikap Abu Hanifah itu. al-Sunnah dan akal. Termasuk ke dalam sunnah adalah sunnah ahl al-Bayt: yakni para imam yang ma'shum. menulis: "Sesungguhnya Abu Hanifah itu Syi'ah dalam kecenderungan dan pendapatnya tentang penguasa di zamannya. Ketika Muhammad dan Ibrahim dari ahl al-Bayt memberontak. Karena ketika Allah menyuruhnya bersujud kepada Adam ia berdalih: Aku lebih baik dari dia karena aku Kau buat dari api dan ia Kau buat dari tanah. karena ia mengikutinya dengan qiyas. ayahku memberitahukan kepadaku dari kakekku bahwa Nabi saw bersabda: Orang yang pertama menggunakan qiyas dalam agama adalah iblis. Abu Zahrah. penulis biografi Abu Hanifah." kata Ja'far sambil mengajukan berbagai pertanyaan yang tidak bisa dijawab Abu "Hai Nu'man. Mereka tidak mau menjadikan hujjah hadits-hadits yang diriwayatkan para sahabat yang memusuhi ahl al-Bayt. mengapa Allah hanya menuntut dua orang saksi untuk pembunuhan dan empat orang saksi untuk zinah."Aku tidak melihat Anda menguasai sedikit pun. Pada hal-hal yang tak terdapat ketentuan nashnya. Abu Hanifah mendukungnya. penafsiran al-Qur'an yang paling absah adalah yang berasal dari mereka. Qiyas hanya dipergunakan bila 'illat-nya manshush (terdapat dalam nash). Barang siapa yang menggiyas dalam agama. Allah akan menyertakannya bersama iblis. ia melihat bahwa khalifah haruslah diserahkan pada keturunan Ali dari Fathimah. Bagaimana kamu menggunakan qiyasmu." "Mana yang lebih besar kewajibannya . Bertaqwalah kepada Allah dan jangan melakukan qiyas dalam agama. ditambah hasutan Ibn Abi Layla. Yakni.

yaitu dengan menggunakan qiyas dan istihsan. ia dicambuk sepuluh lecutan.22. al-Sunnah. karena diberi makanan beracun. UA 20-21 Jakarta Selatan Telp. ia dipenjarakan. Ia --menurut satu riwayat-. ijma. yang disampaikan oleh orang-orang yang dapat dipercaya. yang kemudian menjadi qadhi dan banyak memasukkan hadits dalam kitab-kitabnya.". dan pendapat para sahabat. mereka berijtihad dan aku pun berijtihad. b) Sumber-sumber ijtihadiyah. Abu Hanifah bahkan mengarqurkan beramal dengan 'urif. al-Manshur merasa bersalah.mengeluarkan fatwa yang tidak dikehendaki penguasa. Jika tidak aku dapatkan dalam al-Kitab dan Sunnah Rasulullah. TINJAUAN KRITIS ATAS SEJARAH FIQH (5/10) Dari Fiqh Al-Khulafa' Al-Rasyidin Hingga Madzhab Liberalisme oleh Jalaluddin Rakhmat IMAM MALIK Pada zaman kekuasaan Ja'far ibn Sulayman tahun 146 H Malik dihukum cambuk. "Aku mengambil dari al-Kitab. Abu Hanifah berkata.menimbulkan kemarahan Al-Manshur. 7507173 Fax. di samping ingin berusaha memanfaatkan alim besar ini. 7501983. dan Zafr ibn al-Hudzail. aku ambil Sunnah Rasulullah dan hadits-hadits yang sahih. yang pernah berguru pada Malik dan kemudian menggabungkan madrasah hadits dengan madrasah Ra'y. c) Al-A'raf. Setiap hari. Lalu ia menjebak Abu Hanifah dengan jabatan qadhi. yang meliputi al-Qur'an. Di antaranya Abu Yusuf.(bersambung 5/10) Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah Editor: Budhy Munawar-Rachman Penerbit Yayasan Paramadina Jln. yakni adat kebiasaan yang tidak bertentangan dengan nash. Ketika Abu Hanifah menolaknya. Aku tidak keluar dari pendapat sahabat kepada pendapat yang lain. aku mengambil pendapat para sahabat yang aku kehendaki dan meninggalkan yang tidak aku kehendaki. yang sangat ekstrem menggunakan qiyas. Setelah itu. menurut satu riwayat. Muhammad ibn Hasan al-Syaybany. -------------------------------------------. (021) 7501969. jika aku dapatkan di dalamnya. (021) 7507174 Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota Please direct any suggestion to Media Team Artikel Yayasan Paramadina Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota IV. terutama dalam masalah perdagangan. Abu Hanifah meninggalkan banyak murid. Ia tidak mungkin menarik Ja'far dan tidak berhasil . Bila tidak. Bila sudah sampai pada tabi'in. Pokok fiqih madzhab Hanafi bersumber pada tiga hal: a) Sumber-sumber naqliyah. Tapi karena kedudukan Abu Hanifah di masyarakat. Ia mengakhiri hidupnya. Metro Pondok Indah Pondok Indah Plaza I Kav. Al-Mansur tak dapat membunuhnya tanpa alasan.

" Pemuda itu bermaksud menunjukkan bahwa Ibn Abbas. e) Qiyas. e) Khabar Ahad dan Qiyas. "Ini khusus untuk Rasulullah saw. k) Syar'man qablana. Tunisia. "Mereka membawa agama baru yang bukan agama Muhammad saw. Ketika seorang murid membantah Malik perihal penguburan rambut dan kuku." Orang itu berkata: "Bukan aku yang berkata begitu. f) Istihsan. Mereka menyalahi al-Qur'an yang menyatakan bahwa shalat itu bagi kaum Mukmin kewajiban yang ditetapkan waktunya. Ia mengembalikan kedua kitab itu sambil berkata. g) Mashalih mursalah. ijma' secara naql. d) Hadits mursal dan dha'if. ijma' mutaakhir: masing-masing dengan kekuatan hukum yang berbeda. didahulukan al-sunnah. Ijma' sebelum terbunuhnya Utsman. d) Fatwa sahabat. Ketika ia membacanya. b) Fatwa sahabat. Muhammad al-Tijani al-Samawi bercerita tentang kisah fanatisme di kota Qafsah. Tetapi shalat jamak ini terdapat dalam kitab hadits shahih Bukhari dan Muslim. Al-Manshur pada musim haji 153 H." Catatan kecil di atas menunjukkan kekuasaan Malik. i) Mura'at khilaf al-mujtahidin. hadirin tercengang mendengarnya. seorang pemuda menanyakan lagi perihal shalat jamak. "Tidak benar. Bila zhahirnya sunnah bertentangan dengan al-Qur'an. Bila engkau sudah menjadi Rasul Allah bolehlah engkau melakukannya. IMAM HANBALI Pokok-pokok fiqh madzhab Hanbali: a) Al-Nushush. meminta maaf kepada Malik atas perlakukan salah seorang penguasanya. Madzhab Maliki mendasarkan fiqhnya pada 12 pokok: a) Al-Qur'an: zhahirnya." Seusai shalat. dalil-nya. Orang-orang ketakutan berada di majlisnya. j) Istishhab." kata sang imam. Seorang alim besar di kota itu mengecam orang-orang yang menjamak shalat Zhuhur dan Ashar. e) Qiyas. mafhum-nya dan illat-nya. b) al-Ijma'. h) Sadd al-Dzara'i. . c) Ijma' penduduk Madinah. Anas ibn Malik dan banyak sahabat lainnya melakukan shalat jamak (bukan karena bepergian). Ini sangat berpengaruh pada penyebaran madzhabnya. bunuh dia. Ia juga boleh menghukum mati atau memenjarakan yang dipandangnya bersalah. Aku hanya melaporkan ucapan orang lain.mengambil hati Abu Hanifah. 4. STAGNASI PEMIKIRAN FIQH: MASA KETERTUTUPAN Dr. c) Pendapat sahabat yang tidak ada yang menentangnya. IMAM SYAFI'I Pokok-pokok fiqh Syafi'i ada lima: a) Al-Qur'an dan al-Sunnah." Malik menukas: "Tapi aku hanya mendengarnya dari kamu. Pemuda itu mengeluarkan kedua kitab shahih tersebut dan memintanya membaca hadits-hadits tentang shalat jamak. Ia berkata bahwa itu termasuk salah satu bid'ah orang Syi'ah. kata pemuda itu. d) Ikhtilaf sahabat Nabi. Ia memberikan wewenang besar pada Malik untuk mengangkat dan memberhentikan para pejabat yang dipandangnya tidak mampu. Malik menjadi sangat berwibawa. Karena wewenangnya ini. c) Ikhtilaf sahabat. b) Al-Sunnah: al-mutawatirah dan al-masyhurah. Malik memukul orang itu dan memenjarakannya Ketika seorang bertanya: "Bagaimana pendapat Anda tentang orang yang berpendapat bahwa al-Qur'an itu makhluk?." Malik memanggil pengawalnya: "Ia zindiq. karena wibawa Malik.

Maksudnya untuk . Para pengikut membukukan fatwa-fatwa dan hasil ijthad para mujtahid tersebut. Kawan shalat di sampingnya memukulnya dengan keras sehingga telunjuk itu patah. fiqh memasuki zaman tadwin (kodifikasi). Kita akan mengakhiri dengan melacak sebab-sebab timbulnya stagnasi pemikiran ini. ilmu jarh wa ta'dil dan riwayat para sahabat. Mereka menulis buku-buku yang lebih merupakan ensiklopedia atau kamus dari pada analisis ilmiah. Hadits-hadits dibukukan dalam bentuk al-jawami'. tapi di sisi lain menyebabkan para ulama merasa cukup dengan apa yang telah tersedia. dibukukan pula riwayat para perawi hadits. Berbagai ilmu Islam dibukukan dan tidak disampaikan secara lisan lagi. Ketika ditanya mengapa itu terjadi. dimulai kemandegan dan diakhiri kebekuan. Al-Ustadz al-Zarqa melukiskan situasi umum pada waktu itu: Pada zaman tersebut pemikiran fiqh mengalami kemunduran. para ulama menghimpun hadits-hadits Nabi saw. Pasal ini akan memperlihatkan karakteristik zaman ini dari segi karya-karya ilmiah yang lahir waktu itu dan dari segi kecenderungan pemikiran. dan para mujtahid. Sebuah rentang waktu yang oleh para Tarikh Tasyri' disebut sebagai zaman stagnasi pemikiran fiqh ('ashr al-rukud). tabi'in. menghilanglah kegiatan yang dulu merupakan gerakan takhrij. al-ma'ajim. ia menjawab bahwa menggerakkan telunjuk dalam tasyahud adalah haram. Apa dalilnya? Dalilnya terdapat dalam Kitab fiqh al-Syaikh al-Kaydani. Pada masa inilah berkembang al-tafsir bi al-ma'tsur. sesudah sebelumnya mempelajari al-Qur'an. tarjih. ilmu ushul al-fiqh. Pada zaman inilah pemikiran taqlid mutlak dominan. pokok-pokok dan maksud-maksud syara'. dan fiqh para imam madzhab disusun dalam buku. Penafsiran al-Qur'an. Pemikiran bergeser dari upaya mencari sebab-sebab dan maksud syara' dalam memahami hukum. Dalam penafsiran al-Qur'an misalnya. Mereka tak merasa perlu melakukan penelitian ulang. Kedua peristiwa di atas terjadi dalam rentang waktu cukup lama -menurut sebagian penulis dari abad VI Hijrah sampai abad XIII. al-Sunnah. dan tanzhim dalam madzhab fiqh. Bersamaan dengan itu. Di Afghanistan seorang mushalli memberi isyarat dengan telunjuknya dan menggerak-gerakkannya. Peminat fiqh hanya mempelajari kitab yang ditulis seorang faqih tertentu di antara tokoh-tokoh madzhabnya Ia tidak melihat kepada syari'at dan fiqh kecuali melalui tulisan dalam kitab itu. di satu sisi menyimpan khazanah ilmu para ulama.tetapi ia mengurungkan maksudnya. KARAKTERISTIK ZAMAN STAGNASI: TRADISI MENSYARAH KITAB Setelah keempat imam madzhab ahl al-Sunnah meninggal dunia. Dengan begitu. al-masanid. baik yang lemah maupun yang kuat. Gerakan tadwin. al-mustadrakat dan sebagainya. hadits. ke upaya menghapal yang sia-sia dan merasa cukup dengan menerima apa yang telah tertulis dalam kitab-kitab madzhab tanpa penelitian. walau selama masa itu muncul juga beberapa ulama fiqh dan ushul yang cemerlang. Perlahan-lahan berkembanglah tradisi membuat syarah (komentar) dan matan. serta menghimpun penafsiran para sahabat.

Sikap ini ditunjukkan jelas oleh al-Syaykh Abu al-Hasan Abdullah al-Karkhy ketika ia berkata. Bantahan ini dibantah lagi oleh al-Mar'asyi al-Tustary. Ada pula beberapa kitab yang mensyarah al-Muwatha susunan Imam Malik. Mereka menjelaskan kata-kata atau kalimat-kalimat secara sematik. Pada zaman ini. harus dita'wilkan atau dimansukhkan. Atau sebaliknya. Para ulama dari keempat madzhab diundang ke istana.memudahkan pembaca memahami kitab-kitab rujukan. Konon Nabi Muhammad saw pernah berkata: "Semua nabi bangga denganku dan aku bangga dengan Abu Hanifah. Ia belajar pada Abu Hanifah setiap waktu Subuh selama lima puluh tahun. Umdat al-Qary. Sekarang bantahan itu sudah menjadi 19 jilid Ihqaq al-Haq. FANATISME MADZHAB Asad Haydar menyebut tahun 645 Hijrah sebagai tahun ditetapkannya empat mazhab sebagai madzhab yang diakui khilafah Islam waktu itu. sepanjang saya ketahui. yang setiap jilidnya seukuran satu jilid Encyclopedia Britannica. Ketika Abu Hanifah wafat. siapa yang membenci Abu Hanifah ia membenciku. Para ulama madzhab Syafi'i menyerang tulisan para ulama madzhab Hanbali atau sebaliknya. Seperti telah disampaikan pada tulisan terdahulu. Tapi pada zaman kemandegan. Di antara karamah Abu Hanifah ialah bergurunya Nabi Khidr kepadanya. Ulama ahl al-Sunnah menulis kitab yang menyerang ajaran Syi'ah. Setiap madzhab membela pahamnya dengan tidak lagi mengindahkan adab diskusi ilmiah. Tentang Imam . atau menambahkan penjelasan dengan mengutip ucapan para ulama lain. Tidak jarang syarah suatu kitab disyarahi dan disyarahi lagi. Nabi Hidhir mohon agar ia diizinkan tetap berguru padanya di alam kubur. paling tidak ada tiga kitab syarah: Fath al-Bary. Kadang-kadang riwayat-riwayatnya dinisbahkan pada Nabi Muhammad saw. juga berkembang tradisi munaqasyah madzhabiyah (diskusi madzhab). Ulama Syi'ah membalasnya dengan menulis kitab lagi. Irsyad al-Sary. Imam Syafi'i. Argumentasi dikembangkan untuk membela madzhab masing masing. "setiap ayat atau hadits yang bertentangan dengan apa yang ditetapkan madzhab kami. misalnya. supaya ia dapat mengajarkan syari'at Islam secara lengkap. Ibn Taymiyah menulis Minhaj al-Sunnah untuk menolak Minhaj al-Karamah. Untuk mempertahankan keunggulan madzhabuya. Untuk Shahih al-Bukhari. Ia kemudian menyelesaikan kuliah dari Abu Hanifah selama 25 tahun lagi. Al-Amini menulis 11 jilid al-Ghadir hanya untuk membuktikan keshahihan hadits Ghadir Khum. Ibn Rouzbahan menulis bantahan pada Minhaj al-Karamah. munaqasyah madzhabiyah telah menjadi benih yang menyuburkan fanatisme madzhab. Sebagai jawaban terhadap serangan ahl al-Sunnah. Polemik antar madzhab ini bukanlah sesuatu yang jelek dan telah berlangsung sejak zaman para imam madzhab. al-Hilly menulis Minhaj al-Karamah. melakukan kritik terhadap beberapa pendapat Muhammad ibn al-Hasan al-Syaybany. gejala fanatisme madzhab dapat dilacak sejak abad IV Hijrah. kekuasaan sangat berperan dalam menyuburkan fanatisme madzhab. Allah mengizinkannya. para pengikutnya meriwayatkan mitos di sekitar para imam madzhabnya. Walau begitu. yang didhaifkan Ibn Taymiyah. Diriwayatkan oleh para pengikut Maliki bahwa pada paham Imam Malik sudah tertulis Malik Hujatullah di bumi. Siapa yang mencintai Abu Hanifah ia mencintaiku.

Aku bertanya: "Ya Rasul Allah. memandangku dengan heran bila aku bacakan ayat-ayat al-Qur'an tentang beberapa masalah yang bertentangan dengan madzhab mereka. pertama. Kedua kelompok itu.Syafi'i. mencacad mereka dan menuduhnya menyalahi sunnah. Kadang-kadang mereka mencela para fuqaha. Mereka tidak mau menerimanya bahkan tidak mau menelitinya. Mereka heran bagaimana mungkin mengamalkan zhahirnya ayat-ayat itu." Dengan berbagai "keutamaannya" itulah. Padahal keduanya sama-sama dibutuhkan dan tidak bisa ditinggalkan dalam menuju cita-cita kehidupan. pengikutnya mensakralkan fatwa para mujtahid. katanya. walau tidak didukung satu dalil pun atau tidak meyakinkan. dan pemisahan hadit-hadits gharib dan syadz --hadits-hadits yang kebanyakan mawadhu' dan maqlub. Mengenai Imam Ahmad bin Hanbal Abdullah al-Sajastany berkata: "Aku pernah melihat Rasul Allah saw dalam mimpi. kecuali sebagian kecil. pengumpulan sanad. Fatwa mujtahid lebih didulukan dari ayat al-Qur'an dan al-Sunnah. Mereka sepakat menerima hadits dhaif dan munqathi' bila telah masyhur di kalangan mereka dan telah membibir dalam percakapan mereka. kebanyakan tidak memilih-milih hadits." Orang alim itu adalah Imam Syafi'i. dan tidak mengungkapkan kandungan fiqhnya. yang bagus dan yang buruk. Mereka hampir tidak bisa membedakan hadits yang shahih dan hadits yang dhaif. Setiap fondasi tanpa bangunan. tidak menggali rahasianya. Aku pernah menyaksikan sekelompok faqih yang taklid. keduanya menjadi ikhwan yang saling berjauhan: mereka tak menampakkan sikap saling membantu dan menolong di jalan yang hak. Apabila diriwayatkan pada mereka madzhab mereka atau para ahli hasil ijtihad para tokoh dari aliran mereka. karena seorang alimnya akan memenuhi seluruh bumi dengan ilmunya. sedangkan fiqh bagaikan bangunannya. Rasul Allah saw bersabda: "Ya Allah berilah petunjuk pada suku Quraiysy. Mereka tidak mempedulikan hadits-hadits yang dikuasai dan yang digunakan untuk mempertahankan argumentasinya di hadapan lawan bila hadits-hadits tersebut telah sesuai dengan madzhab yang mereka ikuti dan pendapat yang mereka yakini. padahal ulama dari madzhab mereka terdahulu tidak pernah mengamalkannya. maka akan sunyi dan lekas rusak. Mereka tidak sadar bahwa kadar keilmuannya sendiri sangat dangkal dan mereka berdosa melemparkan kata-kata kotor pada para fuqaha. mereka . yakni ahli fiqh dan fikir. Saya lihat kedua kelompok ini saling berdekatan tempat tinggalnya dan sebetulnya saling membutuhkan. Itu karena hadits bagaikan fondasi. Setiap bangunan yang fondasinya tidak kokoh. yang patut kami ikuti di zaman kami?" Rasul Allah saw menjawab: "Aku tinggalkan bagimu Ahmad bin Hanbal. Mereka tidak memelihara matannya. siapakah yang engkau tinggalkan. Al-Fakhr al-Razy menceritakan pengalamannya ketika ia menafsirkan: afala yatadabbarun al-Qur'an. tidak memahami maknanya. kelompok ahli hadits dan atsar rata-rata berambisi dalam periwayatan. Namun. Sedangkan kelompok kedua. maka akan cepat roboh. Yang demikian adalah suatu kesesatan dan penipuan ra'yu. karena rasa harga diri mereka yang sangat tajam. Abu Sulayman al-Khaththaby mengisahkan suasana zaman itu: Saya lihat ahli ilmu dewasa itu terbagi menjadi dua kelompok: pendukung hadits dan atsar dan ahli fiqh dan fikir.

Sebagai contoh adalah peristiwa yang terjadi di Baghdad. Begitu juga para pengikut al-Syafi'i. Dalam sejarah. terhadapnya.segera mencari kepercayaan umat tidak ikut bertanggungjawab. Maka pendapat yang datang dari Al-Hakam tidak memiliki keistimewaan di mata mereka. ashhab (para sahabat). Metro Pondok Indah Pondok Indah Plaza I Kav. Bila pendapat itu datang dari al-Hasan ibn Ziyad dan pendapatnya berbeda dengan riwayat yang melalui mereka. kelompok terhadap madzhab Fanatisme madzhab bukan saja telah menghambat pemikiran. 7501983. Ia selalu mengecam Ahmad ibn Hanbal dan para pengikutnya sebagai penganut antropomorfisme. telah terjadi beberapa kali. dan para pendahulu yang setingkat dengan mereka. Mereka hanya menerima riwayat al-Muzany dan al-Raby ibn Sulayman al-Murady. Pemerintah kemudian mengumpulkan wakil kedua belah pihak dan meminta supaya mereka berdamai. Abd al-Khaliq ibn Isa. namun mereka Saya lihat para pendukung Malik tidak menerima riwayat dari padanya kecuali yang melalui Abu al-Qasim (Rasul Allah). al-Jiziy dan sebagainya. menghancurkan otak-otak cemerlang. (021) 7501969.22. Mereka mau menerima riwayat dari padanya kecuali yang melalui Abu Yusuf. UA 20-21 Jakarta Selatan Telp. mereka saling mengkafirkan yang kemudian memuncak pada peperangan antar sesama Muslim. (021) 7507174 Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota Please direct any suggestion to Media Team Artikel Yayasan Paramadina Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota IV. Pengikut al-Qusyayry menutup pintu-pintu pasar madrasah Nizhamiyah. Lalu. Muhammad ibn al-Hasan dan para tokoh sahabat serta murid-muridnya yang lain. tapi juga menimbulkan perpecahan di kalangan kaum Muslim. -------------------------------------------. Ibn al-Qusyayry al-Syafi'i memegang kekuasaan. mereka tak memperhatikan dan tak menganggapnya sebagai pendapat al-Syafi'i. TINJAUAN KRITIS ATAS SEJARAH FIQH (6/10) Dari Fiqh Al-Khulafa' Al-Rasyidin Hingga Madzhab Liberalisme oleh Jalaluddin Rakhmat Pada madrasah Nizhamiyah.(bersambung 6/10) Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah Editor: Budhy Munawar-Rachman Penerbit Yayasan Paramadina Jln. terjadilah pertumpahan darah antara kedua golongan. Al-Qusyayry berkata: "Perdamaian macam apa yang harus ada diantara kami? Perdamaian . mereka tidak akan menerima. Demikianlah keumuman sikap setiap imam dan gurunya masing-masing. 7507173 Fax. 469 Hijrah. Maka bila datang riwayat Harmalah. Dengan bantuan penguasa ia menyerang pemimpin Hanbaly.

Adapun ijtihad fi al-madzhab. Maka ketika satu madzhab memperoleh kekuasaan. mungkin karena ia berijtihad dengan metode yang sama untuk menjawab masalah-masalah yang belum dipecahkan imam mazhabnya. yang ditutup adalah ijtihad muthlaq. terputusnya pengembangan ilmu dan terhalangnya kemajuan pemikiran. Pada ijtihad muthlaq. Jika kita membaca kitab-kitab sejarah madzhab. campur tangan penguasa dalam kekuasaan kehakiman dan kelemahan posisi ulama dalam menghadapi umara. kita akan menemukan bagaimana seseorang yang . Bahayanya banyak --berakibat pada terbengkalainya akal. ijtihad mustaqil sudah tertutup. di zaman kemandegan pintu ijtihad. Kaum Muslim mundur karena meninggalkan ijtihad sehingga mereka menjadi seperti yang kita lihat sekarang ini. Namun sebaliknya menurut kebanyakan Hanbaly. Muhammad Farouq al-Nabhan menyebut tiga sebab stagnasi pemikiran pada zaman ini: faktor-faktor politik. Untuk yang pertama. ia tentu saja masih menggunakan fatwa imam mazhabnya sebagai rujukan. Sebalikaya. Sedangkan kaum ini menganggap kami kafir dan kami menganggap orang-orang yang aqidahnya tidak sama dengan kami juga kafir. Sebenarnya. Menurut para pengikut madzhab Syafi'iy dan kebanyakan Hanafi. setiap zaman tak boleh kosong dari mujtahid mustaqil. Dalam hal ini. atau menafsirkan yang mujmal menjelaskan yang mubham dari ucapan imam. SEBAB-SEBAB STAGNASI Dr. menurut Abu Zahrah. meski pada tiap zaman boleh saja tak ada mujtahid mustaqil. Sayyid Rasyid Ridha. Sementara itu menurut Maliky. Maka perdamaian macam apa yang bisa berlaku di antara kami. Walau tak diketahui secara pasti sejak kapan. tapi boleh saja menghasilkan kesimpulan furu'iyyah yang berbeda dari imam mazhabnya. Di sini mujtahid berpegang pada metode ijtihad imam mazhabnya. terus berkembang. penutupan pintu ijtihad pada saat ini. atau mentarjih (memilih yang terkuat) pendapat imam yang bermacam-macam itu. Yang dapat melakukan ijtihad jenis ini disebut mujtahid mustaqil (mujtahid independen). Namun kenyataannya. tapi tak boleh tidak harus ada mujtahid fi al-madzhab. seorang mujtahid mengembangkan metode ijtihadnya secara mandiri dan mengeluarkan hukum-hukum berdasarkan metodenya itu.terjadi di antara orang yang memperebutkan kekuasaan atau kerajaan. Demikian catatan Abu Zahrah tentang tertutupnya pintu ijtihad. Karena itu. kita dapat mengelompokkan dua macam ijtihad: ijtihad muthlaq dan ijtihad fi al-madzhab. kita ingin menegaskan kembali bahwa madzhab berkembang karena dukungan politik." PENUTUPAN PINTU IJTIHAD Walau ada pembagian ijtihad yang bermacam-macam. penutupan pintu ijtihad terjadi karena ada anggapan bahwa tidak ada ulama yang memenuhi persyaratan seperti keempat imam itu. di kalangan Syi'ah tidak pernah dikenal tertutupnya pintu ijtihad. ia disebut mujtahid muntasib. mengecam penutupan pintu ijtihad yang mana pun: "Kita tidak menemukan manfaat apa pun dari penutupan pintu ijtihad". pemikiran yang bertentangan dengan madzhab itu ditindas. mengikuti gurunya Syaikh Muhammad Abduh. lebih ditujukan pada ijtihad muthlaq.

Abd al-Wahhab Khalaf menyebutkan empat faktor yang menyebabkan kemandegan.dengan anak saudara perempuannya Fathimah bint al-Walid bin 'Utbah bin Rabi'ah. Itu lebih adil di sisi Allah. kalau pun ulama berijtihad.datang menemui Rasulullah saw. mengangkat Zaid ibn Haritsah sebagai anak. Umara tentu saja selalu berusaha mempertahankan status quo. demi "ketertiban dan keamanan". Ulama sangat bergantung kepada umara. yang paling aman adalah mengikuti pendapat para imam mazhab yang sudah dibukukan. Ia berkata: 'Urwah bin Zub air mengabarkan kepadaku bahwa Hudzaifah bin 'Utbah bin Rabi'ah --salah seorang sahabat Nabi saw. dikembalikan kepada mawlanya. Contoh terakhir adalah pernyataan para ulama Rabithah yang mendukung kehadiran tentara Amerika di Jazirah Arab. Di samping itu. Abu Hudzaifah menikahkan Salim --yang dipandang sebagai anaknya itu-. menyebarnya ulama mutathaffilin (ulama yang memberi fatwa berdasarkan petunjuk Bapak). terbaginya para mujtahid berdasarkan madrasah tempat mereka belajar. Lebih-lebih bila berbeda pendapat dengan madzhab penguasa. Waktu itu ia termasuk wanita muhajirat yang awal dan gadis Quraysy yang utama. ijtthadnya hanyalah dalam rangka memberikan legitimasi pada kebijakan penguasa. maka mereka adalah saudaramu dalam agama dan mawla-mawla kamu --maka dikembalikanlah setiap orang di antara mereka itu kepada bapaknya. Jika kamu tidak mengetahui bapak-bapak mereka. Sahlan binti Suhail --istri Hudzaifah dari Bani Amir-. yang ikut menyaksikan perang Badar-. didiskreditkan ulama dan diadukan pada penguasa. sebagaimana Rasulullah saw. posisi ulama yang lemah memperkuat fanatisme madzhab.telah mengangkat Salim sebagai anaknya. para ulama yang sama menyatakan Saddam sebagai bughat dan pemimpin dhalim. Qadhi tidak ingin mengambil risiko berbeda pendapat dengan madzhabnya.berbeda madzhab atau berganti madzhab menghadapi berbagai cobaan. dan bila benar dua. Dalam posisi seperti itu. Setelah invasi. FIQH DITELAAH KEMBALI: FIQH KAUM PEMBARU "Yahya memberitakan kepadaku dari Malik dari Ibn Syihab. Ia ditanya tentang menyusui orang dewasa. para ulama dari 70 negara Islam menyatakan bahwa Saddam sebagai mujahid Islam yang taat pada Allah dan al-Qur'an. Yaitu terpecahnya kekuasaan Islam menjadi negara-negara kecil hingga umat disibukkan dengan eksistensi politik. dan menyebarnya penyakit akhlak seperti hasud dan egoisme di kalangan ulama. Sehingga ia disebut Salim mawla Abu Hudzaifah. ia mendapat satu pahala. bagaimana menurut . Kami hanya mempunyai rumah satu. Empat puluh tiga hari sebelum Saddam menyerbu Kuwait. Di sini harus dicatat: dalam sejarah. karena ia dapat dikucilkan oleh masyarakat. Ia sering masuk ke rumahku dan aku dalam keadaan fudhul (memakai busana rumah yang tidak menutup aurat). dan berkata: "Ya Rasul Allah. 5. Karena itu. Bila tidak diketahui bapaknya. kami menganggap anak kepada Salim. para penguasa Muslim lebih sering menindas kebebasan pendapat dari pada mengembanghannya. Ketika Allah menurunkan ayat dalam Kitab-Nya tentang Zaid ibn Haritsah --panggillah mereka dengan nama bapak-bapak mereka. Bukankah ini ijtihad dan setiap ijtihad selalu mendapat pahala? Bila ijtihadnya salah. Untuk sebab kedua. Qadhi diangkat oleh penguasa. telah ditunjukkan bagaimana para ulama berebutan menjadi qadhi.

kecuali bila laki-laki itu saudara sepesusuan. Ahkam al-Qur'an 2:565). . apalagi menyusu kepadanya?). Istri-istri Nabi saw yang lain menolak untuk mengizinkan laki-laki masuk ke rumah dengan susuan seperti itu. (3) Dianjurkan menyusukan orang yang sudah dewasa supaya ia halal masuk ke rumah seorang perempuan. ternyata "Kembali kepada al-Qur'an dan al-Sunnah" tidak segampang seperti yang dibayangkan. Dalam istilah fiqh. (Ia mabuk) dan 'Umar menetapkan hukum cambuk baginya. Mungkinkah ini hanya fiqhnya 'Aisyah. berkata kepadanya: "Susukanlah dia lima kali susuan sehingga ia menjadi muhrim dengan susunya". tetapi juga ushul al-fiqh. Umu Kultsum binti Abu Bakar al-Shiddik dan anak-anak perempuan saudaranya untuk menyusukan laki-laki yang ingin masuk ke rumahnya. Tentu saja fuqaha mazhab-mazhab yang lain menolaknya. Al-Muwatha 2: 115-116) Contoh lain: "Seorang A'raby meminum minuman 'Umar. campurkan air ke dalamnya. Setelah itu ia memandangnya sebagai anak susuan. Dua peristiwa di atas diambil dari kitab-kitab yang menjadi rujukan dalam menjawab masalah-masalah fiqhiyah. Bukankah istri-istri Nabi saw yang lain menolaknya? Bukankah pada kitab hadits yang sama Umar ibn Khatab dan Abdullah ibn Mas'ud hanya membenarkan susuan pada waktu kecil saja? Peristiwa yang kedua dijadikan dalil oleh sebagian pengikut madzhab Hanafi untuk menghalalkan minuman keras (khususnya Nabi) bila dicampur dengan air. Yang kemudian menjadi persoalan adalah tindakan 'Umar. lalu mencampurkan air ke dalamnya.Anda? Rasulullah saw. (2) Tidak boleh laki-laki yang bukan muhrim memasuki rumah seorang perempuan. 'Umar meminta minumannya itu. (Malik. Orang A'raby itu berkata: Aku minum dari minumanmu. Mereka mempersoalkan cara menyusukan itu. Aisyah mengambil cara ini bila ada laki-laki yang ingin masuk ke rumahnya Ia menyuruh saudaranya. Dari peristiwa yang pertama para faqih menyimpulkan beberapa hukum: (1) Batas susuan yang menyebabkan seorang haram dinikahi adalah lima kali susuan. Ibrahim al-Nakhti meriwayatkan hadits yang sama dari 'Umar dan berkata: 'Umar meminumnya setelah mencambuk orang A'raby itu. Yang dipersoalkan bukan hanya penafsiran nash-nash tetapi juga metode pengambilan keputusan. Kesimpulan terakhir ini telah disepakati fuqaha. Ia berkata: Siapa yang ragu untuk meminumnya. Dari fenomena tersebut. (Al-Jashash. yang harus ditinjau bukan saja al-adillat al-syar'iyat. kemudian meminumnya. Apakah perilaku 'Umar dapat dijadikan model dalam pengambilan kesimpulan hukum? Apakah pendapat para sahabat dapat dijadikan hujjah dalam agama? Apakah tindakan 'Umar itu suatu preseden bolehnya meninggalkan nash-nash syari'at bila kondisi berubah? Pertanyaan-pertanyaan tersebut merupakan problema yang dihadapi para pembaru Islam ketika mereka menelaah kembali fiqh yang ada. Slogan yang di Indonesia didengungkan kaum modernis ini. Bagaimana mungkin Nabi saw menghalalkan sesuatu dengan tindakan yang haram? (Bukankah bersentuhan dengan perempuan yang bukan muhrim itu haram. Dengan merujuk pada hadits yang mengharamkan minuman keras --baik sedikit maupun banyak mereka telah membenarkan halalnya minuman keras karena dicampur air.

Smith. 1987:95). the introvert warmth and other wordly pety of the mystic way. maqashid syar'iyah dan sebagainya.sebetulnya hanyalah salah satu aliran peninjauan kembali fiqh. kita harus memulai dengan menyorot kedua aliran ini secara kritis dibahas skriptularisme. Karena itu.. Mereka menolak ta'wil dan menerima hadits secara harfiyah. Semuanya terjadi karena Ahmad mendasarkan mazhabnya pada hadits Rasulullah saw (meski lemah). yaitu aliran yang berpegang kepada teks-teks syari'at secara kaku. kami mengikuti ijtihad Ahmad ibn Hanbal: (Mughniyah. yang mengumpulkan ribuan hadits dalam musnadnya. LATAR BELAKANG SKRIPTURALISME Seperti diketahui dalam fiqh tabi'in. Aliran tersebut sebenarnya adalah skripturalisme. fatwa para sahabat. Yang paling dekat dengan ahl al-ra'y adalah madzhab Hanafi.. ketika menyampaikan khutbahnya di Makkah tahun 1355. dan yang paling dekat dengan ahl al-hadits adalah mazhab Hanbali. Raja Malik ibn Abd al-Aziz. ada dua aliran besar dalam fiqh Islam: ahl al-Ra'y dan ahl al-Hadits. Seperti Ibn Taymiyah. Muhammad ibn Abd al-Wahab menolak "the corruption and laxity of the contemporary decline. Berbagai upaya rekonstroksi fiqh di dunia Islam sekarang ini berangkat dari kedua aliran tersebut. Pada Ibn Hazm. yaitu liberalisme. . Makna ini dianggap sebagai ruh ajaran Islam. Dalam kalimat W. filsuf dan sufi. The Encyclopedia of Islam menyebut Ibn Taymiyah sebagai the bitter enemy of innovations. . memang lebih terkenal sebagai ahli hadits dari pada ahli fiqh. Paham Ibn Taymiyah dihidupkan kembali oleh Muhammad ibn Abd al-Wahab lima abad kemudian. dalam upaya menelaah kembali fiqh.C. Ibn Qutaybah memasukkan Ahmad di antara muhadditsin dan Ibn Jarir al-Thabari menolak Ahmad sebagai ahli fiqh. berkata: "Madzhab kami mengikuti dalil. ia mencela kaum mutakallim. tugas ahli fiqh hanyalah mencari nash yang relevan. 1968:42). dan menolak qiyas kecuali dalam keadaan terpaksa. Jadi fiqhnya selalu merujuk pada nash-nash al-Qur'an atau hadits. Yang kedua berdasarkan fiqh pada hadits walaupun lemah dan menolak penggunaan rasio. sekaligus merupakan fiqh baru yang dapat menjawab masalah-masalah baru akibat perubahan masyarakat.the alien intellectualism not only of philosophy but also theology" (Smith.. dan yang ada hanya ijtihad. Imam Ahmad ibn Hanbal. bila ada. makna hakiki dari teks. tema umum Islam. Ibn Taymiyah memperkuat gerakan anti rasionalisme ini dengan menolak setiap penggunaan logika dalam khazanah ilmu-ilmu Islam dan sekaligus menolak praktek-praktek yang tidak ada dasarnya dalam teks al-Qur'an dan hadits. dan terutama sekali pada Daud al-Zhahiri. Yang pertama menekankan rasio dalam pengambilan keputusan. Skripturalisme dan liberalisme keduanya berusaha mendobrak kebekuan pemikiran Islam. bila tidak ada. tapi berusaha menangkap menurutnya. Aliran ini tak lagi terikat dengan bunyi teks. setelah orang merasa perlu membuka kembali pintu ijtihad. kesetiaan pada teks sangat ekstrem. Mazhab-mazhab fiqh terletak di antara kedua ekstrim itu. Arkoun menyebut aliran ini logosentrisme yang ia gambarkan sebagai berikut: Di samping aliran ini ada aliran yang sangat menekankan rasio (akal). Karena itu.

duduk di atas 'arasy. tetapi juga dikafirkan. 7501983. yang kemudian menjadi paham resmi Arab Saudi. mengobrol dengan ahli surga. (021) 7507174 Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota Please direct any suggestion to Media Team Artikel Yayasan Paramadina Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota IV.22. skriptualisme menyingkirkan pengalaman mistikal dari kehidupan beragama. yang disebut bid'ah adalah apa saja yang tidak merujuk pada dalil yang telah dipilihnya. dianggap sesat. (021) 7501969. Pertama. mengucapkan doa yang tidak ma'tsur. Kaum sufi. membaca shalawat kepada Nabi saw. Wacana teologi menjadi gersang. --dan di Indonesia-.menyelenggarakan upacara tahlilan dan marhabanan dianggap tidak mengikuti sunnah Rasulullah saw (dalam bahasa orang awam. Dengan menolak ta'wil. tertawa dan sebagainya. Metro Pondok Indah Pondok Indah Plaza I Kav. menurut Fazlur Rahman. tidak ada contohnya dari Nabi saw). Selanjutnya. 7507173 Fax. yang mencoba menangkap makna batiniyah dari nash-nash. UA 20-21 Jakarta Selatan Telp. mereka telah mematikan telaah filosofis. 1981:26). Ada beberara kegagalan skripturalisme.(bersambung 7/10) Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah Editor: Budhy Munawar-Rachman Penerbit Yayasan Paramadina Jln. dianggap bid'ah. "since the leaders of these movements were interested in negating some of the influences of the medieval school of islamic thought and law. Qunut pada shalat Subuh. Pada saat yang sama. -------------------------------------------. dalam aqidah. membaca dzikir bersama. . mereka menetapkan keharusan percaya bahwa Ia turun ke langit dunia. Karena skriptualisme menerima teks-teks al-Qur'an dan hadits dengan apa adanya. Filsafat bukan saja dijauhi. dan kembali kepada al-Qur'an dan hadits sebagai satu-satunya jalan untuk memecahkan segala persoalan Islam. mempengaruhi banyak aliran pembaharuan di seluruh dunia. Kedua.Paham ini. they inevitably took a negative attitude toward the intellectual and spiritual developments that had taken place in the intervening centuries" (Rahman. Mereka melihat masa Salaf sebagai model. TINJAUAN KRITIS ATAS SEJARAH FIQH (7/10) Dari Fiqh Al-Khulafa' Al-Rasyidin Hingga Madzhab Liberalisme oleh Jalaluddin Rakhmat KEGAGALAN SKRIPTURALISME Keyakinan bahwa kesetiaan pada teks al-Qur'an dan hadits cukup untuk memecahkan persoalan ternyata hanya simplikasi. Praktek-praktek keagamaan yang tidak secara spesifik ditunjukkan dalam nash.

FIQH KAUM PEMBARU: MADZHAB LIBERALISME Seperti telah disebut di atas. Mereka membentuk kelompok-kelompok. Bukankah segala persoalan dapat diselesaikan dengan merujuk pada dalil-dalil al-Qur'an dan hadits. Madzhab yang lain akan dianggap menyimpang dari al-Qur'an dan sunnah. kelima. makna 'urfi (kebiasaan). makna haqiqi dan majazi. Tulisan ini hanya ingin mengingatkan kita akan pentingnya penilaian kritis terhadap pendekatan pada fiqh. Sebagian kaum modernis di Indonesia. Terakhir. yang menolak qiyas. saya kira. Melalui studi kritis terhadap keduanya. Ada yang mengqiyaskan zakat profesi dengan zakat pertanian. Dengan menyingkirkan mistisisme. Para pengikutnya tidak lagi "menikmati" agama dan sebagian mengalami ketidakpuasan rohaniah. Keempat. Mereka kembali secara ketat pada teks-teks al-Qur'an dan al-hadits atau mereka berusaha menemukan ruh atau semangat dari ajaran al-Qur'an dan al-hadits. skripturalisme terbukti tidak menjawab berbagai masalah kontemporer. Muncullah para "mujtahid" yang tidak berkualifikasi. makna 'am dan khash dan sebagainya. Pada tahap institusional. Ketiga. para pembaru mencoba mendobrak stagnasi dengan melakukan salah satu di antara dua pilihan. Al-masail al-lafzhiyah --seperti makna lughawi. Pada gilirannya. Tidak ada maksud saya --dan bukan tempatnya di sini-. tetapi tanpa aturan yang konsisten. tetapi tidak berdasarkan dalil yang disetujui mereka. karena berusaha secara bebas untuk menggunakan penalaran. yang memuncak pada fragmentasi umat. penentuan keshahihan hadits. kita dapat merumuskan kaidah-kaidah baru dalam menegakkan fiqh yang lebih relevan dan signifikan. mukhtalaf al-hadits. mudah mendorong orang ke arah fanatisme. Dalam skala makroskopis. Kritik terhadap skripturalisme sama sekali tidak dimaksudkan untuk membela liberalisme. zakat emas dan perak. paham ini melahirkan orang-orang yang wawasannya sempit. Sebagian di antara mereka akhirnya menggunakan qiyas juga. qawaid ushul al-fiqh dan masalah-masalah lain yang berkaitan dengan penafsiran nash tidak mendapat perhatian. Salah satu contoh adalah perbincangan tentang zakat profesi atau pekerjaan-pekerjaan yang tidak diwajibkan zakat padanya. skripturalisme tidak dapat menyelesaikan kemusykilan-kemusykilan yang terjadi ketika melakukan istidlal (memberikan dalil-dalil hukum) dari nash-nash. kita sebut liberalisme. skripturalisme. kaum skripturalis telah menghilangkan pengalaman beragama (religious experiences) yang emosional. bukan tidak mengikuti sunnah. menggunakannya dalam menjelaskan zakat profesi. liberalisme juga sangat rentan terhadap berbagai problem.untuk merinci dalil-dalil orang-orang yang mempraktekkan upacara-upacara agama tersebut. Yang pertama kita sebut skripturalisme (sudah dibicarakan) dan kedua. 6. dan zakat perdagangan. orang-orang awam tidak merasa perlu lagi dengan kehadiran fuqaha. karena menolak wacana intelektual.Padahal. saya akan mengutip deskripsinya tentang kaum liberalis . Walaupun saya tidak akan membahas pokok-pokok pikiran kaum liberal Islam seperti yang dipaparkan Leonard Binder. tapi merasa faqih. Akibat kegagalan skripturalisme tersebut. orang tidak memberikan solusi terhadap segala kemusykilan ini.

Karena itu. "Dengan ini kalian tidak akan sesat selamanya"' kata Nabi. sedangkan 'Umar mengusulkan untuk membunuh mereka. Umar berkata. Pada bagian kedua. Nabi menginginkan agar para tawanan Badar dibebaskan dengan tebusan. Yaitu yang berhubungan dengan ibadah ritual (kelak disebut huquq Allah) dan yang berhubungan dengan masalah-masalah sosial (kelak disebut huquq al-'ibad). Mereka menerima yang pertama secara ta'abbudi. tapi Umar melarangnya. wahyu . SEJARAH MADZHAB LIBERALISME Fiqh kaum liberal dapat dilacak pada madzhab ahl al-ra'y di kalangan para sahabat Nabi. there is a need for an effort at understanding which is based on the words. Nabi menyuruh sahabatnya mengambil dawat dan pena untuk menuliskan wasiatnya. Para ahli hadits meriwayatkan berbagai peristiwa ketika ijtihad Nabi berbeda dengan ijtihad 'Umar. makna wahyu di luar arti lahiriah dari kata-kata. Karena itu." Tampaknya Umar berpendapat bahwa kondisi sakit Nabi melahirkan ijtihad Nabi yang tidak perlu diikuti. sesudah mengutip sejarah ijtihad bi al-ra'y saya akan mengutip juga perkembangan tafsir bi al-ma'tsur. di sini para sahabat tidak merasa terikat dengan sunnah. but which goes beyond them. "Kamu lebih tahu urusan duniamu?" Bukhari meriwayatkan peristiwa yang oleh Ibn 'Abbas disebut sebagai "tragedi hari Kamis". tapi kaum liberalis modern justru mengambil inspirasi dari tafsir bi al-ma'tsur. Seperti biasa. "Nabi saw dalam keadaan sakit parah. Dalam kasus-kasus ini. Since the words of the Qur'an do not exhaust the meaning of revelation. For Islamic liberals. but the content and the meaning of revelation is not essentially verbal. Setelah itu. Di tangan kalian ada kitab Allah. dan ketika Rahman mengulas pemikiran modernis dan fundamentalis. Di bawah ini saya akan mengulangi lagi akar pemikiran kaum liberalis dengan mengutip apa yang pernah saya tulis pada pengantar buku Islam dan tantangan Modernitas. Fiqh al-ra'y sebenarnya sejajar dengan tafsir al-Qur'an bi al-dirayat. pada akhirnya saya akan mengajukan kritik. keduanya menggaungkan kembali perbedaan pendapat para sahabat tentang sunnah Rasullah saw. Nabi hendak menshalatkan 'Abdullah ibn Ubayy. Jadi ciri khas kaum liberalis ialah upaya untuk menangkap esensi wahyu. dan yang kedua secara ta'aqquli. dan Allah membenarkan ijtihad 'Umar. Apakah Nabi Muhammad saw berijtihad? Banyak para sahabat membagi perintah-perintah Nabi ke dalam dua bagian. the language of the Qur'an is coordinate with the essence of revelation. ijtihadnya boleh jadi benar atau salah. Cukuplah buat kita kitab Allah itu. seeking that which is represented or revealed by language. Bukankah Nabi mengatakan.Islam. Mereka bersedia meninggalkan makna lahir dari teks untuk menemakan makna dalam dari konteks. TRADISI IJTIHAD BI 'L-RA'Y Ketika [brahim Hosen berbicara tentang ta'aqquli dan ta'abbudi. Rasulullah saw sering berijtihad. secara khusus kita akan mengambil contoh pemikiran Ibrahim Hosen dan Fazlur Rahman untuk menggambarkan pokok-pokok pemikiran kaum liberalis. Dalam keadaan sakit.

" kata Nabi. Kalau benar." Nabi kemudian menceritakan tentang wahyu yang membenarkan Umar dan menyalahkan Nabi. Fiqh al-ra'y makin diperteguh dengan kecenderungan umum madzhab Umari untuk mengabaikan penulisan hadits. "tidak akan ada yang selamat kecuali Umar ibn Khaththab. Diriwayatkan bahwa Nabi saw. Tidak ada ijtihad Nabi. berkembanglah madzhab Hijaz. Kalau tidak. daerah Hijaz. Sebagai lawan mereka --dalam pemikiran-adalah madzhab Alawi. menulis: "Para sahabat r. ia datang menemuiku dan berkata." Karena Umar adalah primadona dari kelompok pertama para sahabat ini. Bila benar. dari Allah dan kalau salah. tinggalkan saja. disertai Abu Bakar pernah menangis terisak-isak menyesali kekeliruan ijtihadnya. Ketika Umar dan Utsman --pada zamannya masing-masing melarang haji tamattu" Ali menentangnya." (QS 53:3). "ambilkan . Ketika Abu Bakar dan Umar meninggalkan pasukan Usamah. Ibn Abi al-Hadid membenarkan kedua sahabat itu. Allah dan Rasul-Nya terlepas darinya. 'Umar bertanya: "Apa yang menyebabkan Anda dan sahabat Anda menangis? Kalau ada sesuatu yang patut aku tangisi. Ketika Utsman melarang menggabungkan haji dengan 'umrah. 'Aisyah melaporkan: "Ayahku telah mengumpulkan 500 hadits Nabi saw. kemudian kita pun menyebut madzhab pemikiran mereka sebagai madzhab Umari. "Seandainya azab turun. ia berasal dari Allah dan bila salah ia berasal dari setan. yang terdiri atas sahabat-sahabat yang berkumpul di sekitar Ali ibn Abi Thalib. "Ia tidak berbicara berdasarkan hawa nafsunya." Abdullah ibn Mas'ud berkata seperti itu juga: "Aku mengatakan ini dengan ra'yuku. silakan ambil ra'yu-ku. sebelum ia memindahkan ibu kota ke Kufah pada masa kekhalifahannya. Ali tetap tinggal di Madinah. Utsman berkata: "Aku tidak melarangnya. ia menegur Ali: "Kau lakukan itu padahal aku melarangnya?" Ali menjawab: "Aku tidak akan meninggalkan sunnah Rasulullah saw karena (ra'yu) salah seorang manusia. aku akan berupaya menangis seperti tangisan Anda.a." Para tabi'in dari Kufah kelak berguru kepada Abdullah ibn Mas'ud. Ibn Katsir. dari Umar. aku akan menangis. sangat takut kepada Umar dan tidak menemukan orang yang melawan pendapat Umar kecuali Ali ibn Abi Thalib. dalam kitab tarikhnya. Kalau orang mau. Ini hanyalah ra'yu yang aku pegang." Ketika Ali menegur Utsman yang melarang tamattu'. "Sesungguhnya Nabi saw mengirimkan pasukan itu berdasarkan Ijtihad dan bukan berdasarkan wahyu yang diharamkan membantahnya. Kalau tidak ada tangisan." Kita pun kemudian mengetahui bahwa di Madinah. tetapi ia hanya berbicara berdasarkan wahyu yang diturunkan kepadanya. yang menekankan Fiqh al-atsar. padahal Nabi memerintahkan mereka untuk berada di dalamnya." Umar juga diriwayatkan berkata: "Inilah ra'yu Umar. ia sudah menjalankan kitab Allah dan sunnah NabiNya. Mereka tidak membedakan huquq al-'ibad dan huquq Allah dalam instruksi-instruksi Nabi yang bernilai tasyri'. Sementera itu." Hadits-hadits di atas --walaupun keabsahannya harus kita teliti secara kritis-. sehingga lahirlah mazhab Kufah yang menitik-beratkan Fiqh al-ra'y. yang berkata: "Barang siapa melakukan tamattu'.merupakan justifikasi terhadap peluang menggunakan ra'yu dalam menghadapi sunnah (yang berasal dari Ijtihad Nabi).selalu turun membenarkan Umar. Pada suatu pagi.

khusus di kalangan ahl al-Sunnah." Lalu saya berikan kepadanya. Prinsip mereka dalam pengambilan hukum. Walaupun begitu. tetapi membentuk kontinum. yang pertama kali melakukan tadwin hadits adalah Ibn Syihab al-Zahri atas perintah Umar ibn Abd al-Aziz. Ke dalamnya. periwayatan hadits tetap berlangsung sampai zaman Umar. Sejarah singkat madzhab 'Umari ini menunjukkan tiga ciri khasnya: (1) madzhab ini memusatkan perhatian utamanya --dan seringkali dengan mengabaikan yang lain-. Ia membakarnya dan berkata: "Saya khawatir. penulisan hadits terlambat sekitar dua abad. jawablah: "Di antara Anda dan kami ada Kitab Allah. dan meninggalkan hadits-hadits itu padamu. Bila ada yang bertanya kepada kalian. Sesungguhnya maslahat yang difatwakan sahabat tidak bertentangan dengan nash. Al-Hasan ibn Abi al-Hasan --menjelang kematiannya-. Janganlah meriwayatkan sesuatu pun dari Rasulullah saw.hadits-hadits yang ada padamu. Kaidah mereka: la ra'yu fi al-din (tidak ada tempat rasio dalam agama). Sa'id ibn Jubair. madzhab ini sebenarnya juga menggunakan rasio. Ali Yafie melukiskannya sebagai lingkaran-lingkaran: "Lingkaran paling dalam (pertama) merupakan kelompok yang paling sedikit menggunakan ra'yunya. Abu Zahrah menulis: "Tidak seorang sahabat pun meninggalkan nash demi ra'yunya atau kemaslahatan yang dipandangnya. dan lain-lain. Akibatnya. Madzhab yang menggunakan kaidah semacam ini disebut madzhab al-Zhahiri. ia lemparkan semua tulisan. "Hasbuna Kitab Allah.dilanjutkan oleh tabi'in." kata Umar. kecuali satu buku saja. fiqh al-ra'y dan fiqh al-atsar ini tidak terpilah tegas. berdasarkan pemahaman yang benar akan maksud-maksud syara'. Metro Pondok Indah . (2) madzhab ini mengutamakan ra'yu ketimbang al-Sunnah.kepada al-Qur'an. Ibrahim al-Nakha'i. dan (3) madzhab ini menekankan aspek maqashid syar'iyyah atau kemaslahatan umat untuk menetapkan hukum. hadits-hadits yang kalian perselisihkan. Disadari atau tidak. saya mati. yaitu.memerintahkan pembantunya untuk menyalakan api pembakaran. dan kurang terikat pada zhawahir (makna tekstual) dan nash. Rasul Ja'farian menyebutkan nama-nama ulama tabi'in yang melarang penulisan hadits. tak memperkenankan penggunaan akal. Untuk menangkis tuduhan bahwa Umar sering meninggalkan nash-nash al-Qur'an secara sengaja. halalkan yang halal dan haramkan yang haram. Abu Burdah. Umar menyuruh mengumpulkan hadits-hadits itu dan memerintahkan untuk membakarnya.(bersambung 8/10) Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah Editor: Budhy Munawar-Rachman Penerbit Yayasan Paramadina Jln. Ashim." Abu Bakar juga pernah mengumpulkan orang setelah Nabi wafat. tetapi mengaplikasikan nash secara baik. karena diprakarsai Dawud al-Zhahiri yang dilanjutkan Ibn Hazm dalam kitabnya al-Muhalla. Hanya intensitas penggunaannya sangat sedikit. Konon. -------------------------------------------. dan berkata: "Kalian meriwayatkan dari Rasulullah saw. Nanti. Abu Sa'id.". manusia sesudahmu akan lebih daripada itu. Di kalangan madzhab-madzhab ahl al-Sunnah." Tradisi pengabaian penulisan hadits --dan sekaligus pembakarannya-. Madzhab-madzhab itu berbeda dalam intensitas penggunaan nash dan ra'yu. Alasan Umar: "Aku khawatir hadits-hadits itu akan memalingkan orang dari Kitab Allah.

ia menjawab: "Abu Hanifah adalah orang paling pandai tentang apa yang sudah terjadi. UA 20-21 Jakarta Selatan Telp. Doktrin mereka menyatakan bahwa hadits dha'if harus lebih diprioritaskan daripada akal. "Lingkaran keempat adalah madzhab Syafi'i yang dipelopori Imam Syafi'i. Ia memprioritaskan ra'yu dalam mengeluarkan keputusan . "Lingkaran ketiga. Simaklah riwayat yang diceritakan Dr. Mazhab ini disebut mazhab Hanbali yang dipelopori Imam Ahmad ibn Hanbal. Madzhab ini banyak dilaksanakan di Saudi Arabia. marilah kita melihat madzhab Hanafi. terakhir. merupakan madzhab yang menggunakan rasio agak lebih intens daripada kelompok pertama tadi. adalah mazhab yang frekuensi penggunaan akalnya lebih banyak. Dalam proses pengambilan hukum.Pondok Indah Plaza I Kav. ia akan mengambil banyak pendapatku. kelompok yang disebut madzhab Maliki yang dipelopori Imam Malik. Madzhab ini dipelopori oleh Imam Hanafi. 7507173 Fax." Yang dimaksud dengan apa yang sudah terjadi adalah hadits-hadits Nabi. Ali Hasan Abd al-Qadir: "Musuh-musuh Abu Hanifah menuduhnya tidak memberikan perhatian besar pada hadits. Kata Dr. Kaidah mereka adalah al-Mashalih al-Mursalah." Untuk memberikan contoh madzhab yang paling "Umari". Doktrinnya menyatakan bahwa rasio harus diperhatikan guna pertimbangan kemaslahatan. Kata Ibn Khaldun.22. Ketika Raqabah ibn Musqilah ditanya tentang Abu Hanifah. kurangnya hadits pada Abu Hanifah menunjukkan bahwa ia tidak merasa puas dengan menyampaikan hadits saja. Bukankah agama itu ra'yu yang baik?" Barangkali ini penegasannya tentang keharusan nash tunduk pada analisis rasional. Ahmad Amin. Akal lebih dipentingkan dalam proses pengambilan hukum daripada hadits. TINJAUAN KRITIS ATAS SEJARAH FIQH (8/10) Dari Fiqh Al-Khulafa' Al-Rasyidin Hingga Madzhab Liberalisme oleh Jalaluddin Rakhmat "Lingkaran yang kedua. Abu Hanifah memang hanya sedikit meriwayatkan hadits. hal itu dikarenakan Abu Hanifah sangat memperketat syarat-syarat penerimaan hadits. 7501983. Abu Hanifah pernah dilaporkan berkata: "Seandainya Rasulullah berjumpa denganku. "Sedangkan kelompok kelima. madzhab ini lebih banyak menggunakan analogi atau qiyas. ia menguji hadits dengan pertimbangan psikologis dan konteks sosial. (021) 7501969. Apa yang belum terjadi adalah ketetapan hukum berdasarkan qiyas. (021) 7507174 Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota Please direct any suggestion to Media Team Artikel Yayasan Paramadina Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota IV.

antara lain pada masa al-Mahdi. kuda mendapat dua bagian. ada baiknya kita juga meninjau perkembangan metodologi penafsiran al-Qur'an." Kata Abu Hanifah: "Bila jual beli wajib. sebagaimana fiqh al-ra'y mempunyai persamaannya dalam tafsir bi 'l-dirayat. Salah satu murid terkemuka dari Abu Hanifah adalah Abu Yusuf. Lewat tangan-tangan kekuasaan.. Karena itu. sebagaimana kritik Rahman terhadap hadits (sunnah) dapat ditelusuri pada kritik fuqaha al-ra'y terhadap fuqaha al-atsar. . Di Mesir." Ibn Abu Syaibah dalam bukunya. Tidak heran kalau Fazlur Rahman sering --bahkan paling sering-menyebut Abu Yusuf. Tafsir Kontekstual-. TAFSIR BI 'L-RIWAYAT DAN TAFSIR BI 'L-DIRAYAT Fiqh al-atsar mempunyai tandingan dalam tafsir bi al-riwayat. tidak ada khiyar. Cukuplah dikatakan bahwa dengan mempelajari fiqh-fiqh klasik. Fazlur Rahman dilahirkan. tidak berbeda dari Ibn Taimiyah bagi madzhab Hanbali." Kata mereka: "Pada zaman Abu Hanifah. "aku mendengar Yusuf ibn Asbath berkata. Ia menolak banyak hadits demi ra'yu.. (Untuk menggembirakan kita semua kedua-duanya berhak disebut Syaikh al-Islam). Daerah-daerah madzhab Hanafi antara lain Mesir dan Pakistan. Ia memegang jabatan qadhi pada masa-masa kekhalifahan 'Abbasiyyah." Katanya: "Rasulullah berkata. al-Hadi dan al-Rasyid.fiqh. dan menetapkan "sunnah yang dikenal baik" sebagai kriteria terhadap "semangat dan sikap kolektif" dari hadits. Abu Hanifah menolak 400 atau lebih hadits Nabi saw. Di Pakistan.hanya dapat diterima oleh orang yang tidak mempunyai dasar dalam pemikiran Islam tradisional. Kita tidak akan membicarakan pengaruh Abu Yusuf terhadap metodologi Rahman (dan juga Hosen). Ibrahim Hosen mereguk ilmunya. ketika merumuskan metodologi ijtihadnya. madzhab Hanafi tersebar ke seluruh kekuasaan Islam. menerima hadits dengan sikap kritis. Kata Abu Hanifah: "Isy'ar adalah penganiayaan. sebagai latar belakang teoretis dalam memahami penafsiran al-Qur'an yang dirumuskan oleh Rahman." Rasulullah melakukan isy'ar (melukai punggung unta) sebelum menyembelih hewan kurbannya. Abu Hanifah tidak tertarik untuk menemui mereka. ada empat orang sahabat. prajurit mendapat satu bagian." Nabi mengundi istri-istrinya kalau mau bepergian. Kata Abu Hanifah: "Aku tidak akan menjadikan bagian binatang lebih banyak daripada bagian seorang Mukmin. Tafsir --menurut Muhammad Ali al-Shabuni-adalah ilmu untuk memahami Kitab Allah yang diturunkan kepada . Rahman. Kita akan membicarakan kritik pembaruan Rahman di akhir tulisan ini. bagi madzhab Hanafi. Ia memuji Abu Yusuf karena memberikan penafsiran yang situasional kepada hadits yang "berdiri sendiri". Sebelum sampai ke situ. Kata Abu Hanifah: "Undian itu judi. Kataku: "Berikan sebagian contohnya. kita akan terkejut menemukan bahwa klaim orisinalitas pembaruan Rahman --yang berulangkali disebut Taufik Adnan Amal dalam bukunya. pada bab khusus. menyebut hadist-hadist yang ditolak Abu Hanifah dan mencapai 150 hadits. Abu Shalih al-Fura menuturkan. Uraian di atas diberikan untuk menjelaskan dasar-dasar pemikiran Rahman pada perkembangan pemikiran Islam klasik." Nabi bersabda: "Dua jual beli dengan khiyar sebelum keduanya berpisah. kritik terhadap Rahman juga dapat dilacak pada kritik fuqaha al-atsar terhadap fuqaha al-ra'y.

dalam Tafsir al-Mizan. Paling tidak. Di antara kedua jenis tafsir itu. kita dapat membaginya ke dalam kelompok: tafsir Qur'ani yang murattab (berdasarkan urutan ayat dari al-Fatihah sampai al-Nas) dan tafsir Qur'ani maudhu'i (berdasarkan tema-tema atau topik-topik tertentu) Untuk mengetahui prosedur penafsiran qurani yang murattab. yang menjadi pijakan Rahman. Selanjutnya. Setelah itu Allah mematikan mereka dan menghidupkan mereka kembali pada Hari Kiamat. Sesudah itu. tafsir al-Qur'an dengan al-Qur'an adalah yang paling baik. dari sinilah Rahman mengajak kita untuk menafsirkan al-Qur'an dengan melihat al-Qur'an secara keseluruhan dan dengan melihat "sebab-sebab pewahyuan". Tafsir al-Qur'an dengan al-Qur'an mempunyai basis dalam petunjuk-petunjuk al-Qur'an sendiri (QS 11:1. Banyak kitab tafsir mengaku menggunakan metoda ini.maka kita menyebutnya tafsir bi al-dirayah atau tafsir bi 'l-ra'y. dari penafsiran QS 31:14 dengan QS 46:15. Untuk yang terakhir ini. . Semula manusia mati. Bila tafsir itu diperoleh dengan menukil penjelasan dari al-Qur'an lagi. Kemudian Allah menghidupkan mereka di dunia. Muhammad saw. Ali ibn Abi Thalib menyimpulkan bahwa waktu minimal kehamilan adalah enam bulan. Ibn Abbas menafsirkan dua kematian dan dua kehidupan dalam surah Ghafir ayat 11 dengan merujuk kepada surah al-Baqarah ayat 28. Pertama kali. Tradisi Nabi ini dilanjutkan oleh para sahabat. tafsir bi 'l-riwayat seperti ini diambil Rahman ketika berbicara tentang hukum Islam dan ditinggalkan Rahman ketika membahas aspek teologis dan eskatologis ajaran Islam. Untuk mengapresiasi metode penafsiran Rahman. serta menggali prinsip-prinsip universal ajaran Islam. ketika berada dalam tulang sulbi orang tua mereka. Abd al-Karim al-Khathib al-Mishri bahkan menamai kitab tafsirnya al-Tafsir al-Qur'ani li al-Qur'an. Akhirnya. para mufasir menganggap taisir bi 'l-riwayat adalah yang paling dapat dipercaya. Bila tafsir itu berpijak pada ijtihad mufasir --dengan mengerahkan kemampuan nalar dan/atau intuisinya-. kita uraikan jalan yang ditempuh oleh al-Thabathaba'i. lewat asbab al-nuzul). kita akan melacak kemusykilan asbab al-nuzul. yang --menurut Rahman-dapat mengungkapkan latar belakang situasional. maka tafsir itu disebut tafsir bi 'l-riwayat atau tafsir bi 'l-ma'tsur. baru tafsir al-Qur'an dengan al-Sunnah (misalnya. kemusykilan kedua penafsiran ini akan kita lihat. 2:185) dan al-Sunnah. Bila kita teliti kitab-kitab itu. Rupanya. al-Hadits. dan menjelaskan maknanya serta menggali hukum-hukum dari hikmahnya. Nabi saw. 7:52. membedakan ketetapan legal dari sasaran dan tujuan al-Qur'an. Di antara jenis-jenis tafsir bi 'l-riwayat. Anehnya. pendapat sahabat dan tabi'in. kita akan menelusuri akar-akar penafsiran Rahman pada tafsir bi 'l-dirayat. kita akan melihat problematik al-Qur'an yufassir ba'dhuhu bad'dhan. kita akan menemukan prosedur penafsiran Qur'ani yang bermacam-macam. wa lam yalbisu imanabum bi zhulm (QS 6:82) sebagai syirk berdasarkan ayat inn al-syirk la-zhulm 'azhim (QS 31:13).Nabi-Nya. Rahman hampir sepenuhnya berpijak pada tafsir bi 'l-dirayat. menafsirkan kata zhulm dalam.

Tafsir maudhu'i dimulai dari topik. Ja'far Subhani menulis serial mafahim al-Qur'an (sampai sekarang sudah selesai lima jilid). atau bersifat haliyah. Yunus ayat 14. al-Najm ayat 42. ayat "Dan Allah menciptakan kamu serta apa yang kamu perbuat" (QS 37:96).. Perbedaan antara tafsir maudhu'i dengan tafsir murattab mirip dengan perbedaan antara thesaurus dengan dictionary. (Kita) kumpulkan setiap ayat yang berkaitan dengan pengertian tertentu dan topik tertentu. kemudian dikumpulkan ayat-ayat yang berkenaan dengan topik tersebut. dan menjelaskan metodenya sebagai berikut: ".. Seringkali kita mengalami kesulitan untuk memahami ayat atau mengetahui tujuannya karena jarak kita yang jauh dari zaman wahyu. Pengantar pada tafsir ini --sepanjang pengetahuan saya dari kalangan kaum Muslim-. Tafsir maudhu'i baru muncul belakangan. dan karena kita tidak mengetahui konteks turunnya ayat itu atau petunjuk-petunjuk situasional yang berlaku pada masyarakat Islam saat itu. Apakah kamu menyembah barang yang kamu pahat. 26." Misalnya.Pertama. ". salah satu aspek dari topik tertentu itu. (QS 37:95)." Yang dimaksud dengan "khalifah" dalam surah al-Baqarah ayat 30 tidak terbatas pada Adam. seperti kasus-kasus atau fenomena yang menjadi petunjuk bagi topik yang dibicarakan. Al-Qur'an menunjukkan dalam setiap surah atau setiap tempat. dalam satu tempat. seperti kata-kata yang membentuk kalimat tunggal yang berkaitan dengan lafadz yang ingin kita pahami. Tanpa melihat konteks ayat. Kadang-kadang ayat-ayat yang berkaitan dengan topik tertentu tersebar pada surah-surah yang berbeda atau pada tempat-tempat yang berbeda dalam surah yang sama.. Yang dimaksud dengan kata al-mustaqar dalam surah al-Qiyamah ayat 12 adalah "tempat kembali" dengan melihat surah al-Insyiqaq ayat 6. "maka ayat-ayat al-Qur'an dilihat dari konteks ayat-ayat itu" (siyaq al-ayat). tetapi meliputi anak-cucunya. "ayat-ayat lain dipergunakan untuk memahami ayat-ayat yang mujmal atau sama. Kita memperoleh manfaat lain dari pengumpulan ayat-ayat yang berkaitan dengan topik tertentu dengan tetap berpijak pada pandangan Qur'ani yang utuh tentang topik tersebut. dengan melihat surah al-A'raf ayat 69. Bahwa "apa yang kamu perbuat" adalah berhala-berhala itu. Ayat ini terdapat dalam kisah ucapan Ibrahim kepada para penyembah berhala. Ibrahim Hosen. dan al-Qhashash ayat 88. Ayat-ayat itu kemudian disusun dan dirangkai begitu rupa sehingga dihasilkan kesatuan pandangan yang lengkap dan kesatuan pemikiran yang menghimpun dan meliputi seluruh ayat tersebut.. dan al-Naml ayat 62." POKOK-POKOK PEMIKIRAN MADZHAB LIBERALISME Pendapat Prof. Jadi jelas. al-'Alaq ayat 8. mempermudah makna yang sulit. Yang dimaksud dengan konteks adalah "semua yang mengungkapkan ( makna) lafadz yang ingin kita pahami dari petunjuk-petunjuk yang lain. atau menjelaskan istilah-istilah yang dipergunakan dalam al-Qur'an. dapat membantu kita dalam menghilangkan kekaburan dan ketidakjelasan. Ketua Komisi Fatwa Majelis Ulama . padahal Allah menciptakan kamu serta apa yang kamu perbuat (QS 37:96). Mengumpulkan ayat-ayat dalam hubungannya satu sama lain. kita akan terjatuh ke dalam paham Jabbariyah. baik yang bersifat lafdziyah. Kedua.ditulis oleh Muhammad al-Baqir al-Abthahi.

kita harus mengganti pendekatan ta'abbudi terhadap nash-nash dengan pendekatan ta'aqquli. kita harus melepaskan diri dari masalikul'illah gaya lama dan mengembangkan perumusan 'illat hukum yang baru. Ia mengusulkan enam hal. ketiga langkah ini merupakan langkah pertama dalam perumusan prinsip-prinsip hukum Islam. Kedua. (021) 7507174 Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota Please direct any suggestion to Media Team Artikel Yayasan Paramadina Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota IV. Terakhir. UA 20-21 Jakarta Selatan Telp. 7501983. ketiga. Kita tidak perlu terikat pada teks-teks . pendekatan historis untuk menemukan makna teks. TAFSIR KONTEKSTUAL FAZLUR RAHMAN Rahman dalam Tema Pokok al-Qur'an memperinci metodologi penafsiran al-Qur'an dalam tiga langkah. Ketiga. Secara operasional. kita harus mengambil sunnah Rasul dari segi jiwanya untuk tasyri al-ahkam dan memberikan keleluasaan sepenuhnya untuk mengembangkan teknik dan pelaksanaan masalah-masalah keduniawian. kedua.(bersambung 9/10) Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah Editor: Budhy Munawar-Rachman Penerbit Yayasan Paramadina Jln. kita harus meninggalkan pemahaman harfiah terhadap al-Qur'an dan menggantinya dengan pemahaman berdasarkan semangat dan jiwa al-Qur'an. Amal dan Pangabean memperincinya dalam Tafsir Kontekstual al-Qur'an. pembedaan antara ketetapan legal dengan sasaran dan tujuan al-Qur'an. -------------------------------------------. Pertama. Nanti. Dari ketiga langkah tersebut di atas. Kelima. Metro Pondok Indah Pondok Indah Plaza I Kav. yaitu. TINJAUAN KRITIS ATAS SEJARAH FIQH (9/10) Dari Fiqh Al-Khulafa' Al-Rasyidin Hingga Madzhab Liberalisme oleh Jalaluddin Rakhmat KRITIK PADA FIQH IBRAHIM HOSEN Esensi dari pemikiran Hosen ialah jiwa atau semangat dari al-Qur'an dan Sunnah. (021) 7501969. kita harus mendukung hak pemerintah untuk mentakhshish umumnya nash dan membatasi muthlaqnya.Indonesia ini pernah mengajukan saran-saran bagi pembaruan pemikiran keagamaan di Indonesia. pemahaman sasaran al-Qur'an dengan memperhatikan latar belakang sosiologisnya. 7507173 Fax. kita harus menggeser perhatian dari masalah pidana yang ditetapkan oleh nash kepada tujuan pemidanaan. Dalam perkembangan pemikirannya yang kemudian. prinsip-prinsip umum ini kita aplikasikan untuk memecahkan masalah-masalah konkret dewasa ini.22. Pertama. kita harus sanggup menyimpulkan prinsip-prinsip umum ajaran al-Qur'an. bergerak dari yang khusus kepada yang umum. Keempat.

Kita tidak boleh menerima teks-teks itu begitu saja (secara ta'abbudi). Fiqh menjadi alat status quo dan bukan sebagai korektor. Tanpa kriteria ini kaum liberalis dapat membawa kita ke arah tadhyi (pengabaian nash) dan tahrif (penyimpangan makna). yang dimaksud ialah hendaknya wanita memelihara kesucian dirinya dengan menutup diri dari perbuatan-perbuatan yang tercela. Makna lahiriah dari teks. dahulu wanita-wanita Arab itu senang membuka dadanya untuk merangsang kaum pria. "Dan hendaklah mereka menutupkan kerudungnya sampai menutupi dada mereka" (QS. Bukan semangat dari ajaran zakat ialah pemerataan pendapatan dan pengurangan kemiskinan? Ketika para sahabat bersiap diri menghadapi perang di bulan Ramadlan. Sekarang. Tetapi yang menjadi persoalan ialah apakah berpegang pada semangat al-Qur'an atau al-Sunnah itu berarti tidak usah setia lagi pada makna lahiriahnya. ketika kita meninggalkan makna lahir teks dan mencari jiwa atau semangat teks. Kita harus menggunakan akal (ta'aqquli). Apakah perempuan tidak perlu memakai kerudung bila ia sudah pandai menjaga diri tidak melakukan tindakan yang "merangsang"? Kita memerlukan kriteria kapan teks harus ditinggalkan demi makna yang lebih dalam dan kapan makna yang lebih dalam itu harus diperlakukan sebagai pengayaan makna lahiriah dan bukan pengabaiannya. ketika kita harus meninggalkan produktivitas. Misal. kita meninggalkan makna obyektif yang sudah jelas dan memasuki makna subyektif yang tidak jelas kriterianya. Kita dapat menggashar shalat hanya karena kita baru saja menyelenggarakan seminar yang menguras energi. Dalam istilah sebagian orang. qashar tidak lagi berlaku dalam perjalanan tetapi dalam situasi apapun yang membuat orang payah. kepastian hukum menjadi kabur. Kata sebagian orang. apakah kita juga harus meninggalkan puasa. Dengan kebebasan mencari 'illat baru. Kita masih dapat mengumpulkan pendapat-pendapat lain. Apa semangat dari larangan ini? Umat Islam sedang menghadapi tugas yang berat. pemikiran seperti ini tidak memerlukan usaha yang sungguh yang menjadi makna ijtihad. Kita harus mencari semangat atau ruh perintah ini. bukan menutupkan kerudung. Rasulullah menyuruh mereka berbuka. Semangat ajaran Islam itu kesucian diri. berdasarkan pada 'illat baru. Pandangan ini menimbulkan beberapa kemusykilan.lahir al-Qur'an dan Sunnah. karena . ketika kita memerlukan tenaga untuk membangun. dengan mengganti 'illat qashar pada masyaqqah (kepayahan). Kedua. Perintah ini harus dipahami sebagai perintah untuk menahan diri dari perbuatan-perbuatan yang mendorong orang ke arah pemuasaan nafsu. Kata sebagian orang. Mereka memerlukan tenaga dan kekuatan. Kata "menutupkan kerudung" harus dipahami sebagai kata kiasan. Ketiga. Saya yakin. Islam akan dipandang hanya sebagai suplemen dan bukan sebagai alternatif. al-Nur: 31) jelas menunjukkan perintah memakai kerudung sampai menutup dada. Kita tidak perlu mengeluarkan zakat bila pemerintah sudah melakukan kebijakan pemerataan pendapatan dan memberikan santunan pada fakir miskin. Sekarang kita abaikan makna lahiriah ini. dengan menetapkan pemerintah sebagai pentakhshish dan pengtaqyid nash. Pertama. Dengan cara ini terbukalah peluang untuk memasukkan pikiran-pikiran non-islami ke dalam struktur syari'at Islam. hukum-hukum syari'at dapat berubah. Dalam situasi seperti itu puasa boleh ditinggalkan. fiqh akan lebih berfungsi sebagai pemberi justifikasi daripada jurisprudensi.

datanglah . tetapi hanya ahli sejarah yang dapat mengubah sejarah. Kemusykilan lainnya --yang terlalu panjang bila diuraikan di sini-. ketika nash-nash itu dijadikan rujukan. Seperti dikatakan Subhani. hadist-hadist tentang asbab al-nuzul itu sangat sedikit. KRITIK PADA FAZLUR RAHMAN Metodologi Rahman --seperti telah disebutkan di atas-bersandar sepenuhnya pada pendekatan historis untuk memperoleh makna teks dari analisis latar sosiologis untuk memahami sasaran al-Qur'an. tetapi mempunyai motif-motif yang patut dicurigai. Pernah orang datang kepada Rasulullah saw. meminta agar beliau memohon ampun kepada Allah untuk orang itu. Lebih dari itu. Yang paling musykil --dan justru di sini Rahman berpijak-adalah menetapkan apakah asbab al-nuzul itu hanya berkenaan dengan peristiwa atau orang yang spesifik atau dapat digeneralisasikan. bila bertentangan dengan apa yang telah dipandangnya sebagai prinsip-prinsip umum ajaran al-Qur'an. karena jarak kita yang jauh dari masa wahyu.berkenaan dengan hubungan antara dengan asbab al-nuzul. Kemudian turun surah al-Nisa ayat 64.dapat "membuktikan" pengaruh-pengaruh Kristen dan Yahudi dalam al-Qur'an. sebagaimana yang telah banyak diketahui oleh para peneliti ulum al-Qur'an. Kadang-kadang ayat yang sama dijelaskan dengan asbab al-nuzul yang berlainan (ta'addud al-asbab wa al-nazil wahid). yang terbukti seringkali ditulis oleh orang-orang yang tidak mempunyai pengetahuan historiografi. 224). Kadang-kadang sebab yang sama berkaitan dengan ayat-ayat yang berlainan (ta'addud al-nazil wa 'l-sabab wahid)."menilai bahwa literatur asbab al-nuzul itu seringkali sangat bertentangan dengan kacau-balau" (h. "terdapat jarak yang sangat jauh antara situasi sosial ketika nash-nash itu dilahirkan dengan situasi sosial dewasa ini. sedang dalam situasi lain sebabnya khusus tetapi efek legalnya umum. sebab itu khusus dan efek legalnya juga khusus. Apalagi --sebagai pelanjut mazhab Umari-Rahman seringkali tidak ragu-ragu menanggap hadist-hadist sebagai "fiksi yang dirumuskan belakangan saja". Di antara yang sedikit itu. sangat sukar kita memperoleh gambaran utuh mengenai situasi sosial waktu itu. seperti yang dilukiskan oleh Taufik dalam buku ini (h. Terdapat juga kemusykilan dalam menentukan apakah dalam situasi tertentu." Dari mana kita memperoleh informasi tentang situasi masa lalu itu? Pertama. Karena itu. Apakah meminta doa kepada Rasul itu hanya berlaku pada waktu Rasul masih hidup atau juga berlaku sekarang? Bukankah dari ayat ini dapat disimpulkan suatu prinsip umum: Bila berbuat dosa. para orientalis --lewat "analisis sosiologi" mereka-. Rahman menyadari pentingnya asbab al-nuzul. tetapi --pada saut yang sama-. Tuhan dapat membuat sejarah. dari buku-buku tarikh. Apalagi. Di kalangan para mufassirin terjadi ikhtilaf apakah pelajaran (al-'ibrah) itu bersifat spesifik (bi khushush al-sabab) atau umum (bi 'umum al-lafazh). Kedua. 158).justifikasi tidak memerlukan pemikiran yang mendalam. kita merumuskan situasi di zaman Nabi itu dari asbab al-nuzul. seperti kata sebagian orang. Dalam kalimat Shadr. sebagian besar tidak tahan kritik --bahkan pada tingkat kritik rawi atau sanad.

Rahman menunjukkan evolusi "sikap" al-Qur'an terhadap khamr. dan orang-orang Quraisy lainnya. ". alkohol menjadi membahayakan sehingga pengkonsumsiannya tidak diperkenankan. "Aku tidak keberatan. jauh sebelum turun surah al-Maidah. Muhammad mengharamkan zina. Yang pertama mengharamkan khamr sebenarnya adalah surah . Marilah kita ambil kasus khamr. ketika umat Islam belum merupakan suatu masyarakat (society). ketika manusia menjadi sebuah masyarakat (society). tetapi akhirnya dianggap sebagai perbuatan setan (QS 5:90-91). Dan seterusnya. Di sini tampak bahwa prinsip umum yang diyakini oleh mufasir menentukan spesifikasi atau generalisasi asbab al-nuzul. jika kita menyimpulkan --dari kesimpulannya-bahwa pengkonsumsian alkohol secara individual dalam komunitas informal tidak haram. khamr diharamkan. maka pengharaman ditegaskan berkali-kali --dari tahrim 'am sampai tahrim khash bi tasydid al-baligh (pengharaman khusus yang sangat keras). penelitian saya tentang pengharaman menghasilkan kesimpulan yang berbeda. "Tidak turun ayat al-Ma'idah. Peristiwa ini terjadi di Makkah. bagaimana kita dapat memastikan situasi sosial dari tarikh yang dapat kita akses. Mula-mula khamr dipandang sebagai rahmat Tuhan (QS 16:66-69). juga. Apa prinsip umum yang dapat ditarik dari latar sosiologis ini? Kata Rahman. ketika Abu Jahal masih hidup. Menurut Thabathaba'i. Khamr sudah diharamkan sejak awal kenabian." "Abu Bashir. Ketika ia bermaksud menyatakan Islamnya di depan Rasulullah saw." Inilah ratio legis haramnya alkohol. di Makkah. tetapi hanya merupakan komunitas informal. di tengah jalan ia dicegat Abu Sufyan... Abu Jahal. Abu Jahal terbunuh dalam perang Badar. "Hai Abu Bashir. Menurut Rahman --juga kebanyakan ulama-. Setiap orang juga tahu bahwa asbab al-nuzul dan tarikh sangat penting. Dengan menggunakan metodologi Rahman. Khamr tidak diharamkan. karena mereka menganggap enteng larangan ilahi ini. Mereka berpegang pada sebab yang khusus (bi khushush al-sabab). para ahli tafsir sepakat menyebutkan surah al-Maidah ayat 90 sebagai ayat yang terakhir. kecuali untuk mempertegas (keharaman khamr) bagi menusia..kepada Rasulullah --baik dalam keadaan hidup atau mati dan mintakan agar beliau memohonkan ampunan buat kita? Kaum Wahhabi berpendapat bahwa tawassul itu syirik dan karena itu menganggap ayat ini hanya berlaku ketika Rasulullah masih hidup. Setelah umat Islam terbentuk sebagai masyarakat. Muhammad mengharamkan khamr. Dalam hadist yang dikeluarkan oleh Thabrani dari Mu'adz ibn Jabal disebutkan bahwa di antara yang pertama kali diharamkan pada permulaan kenabian adalah minuman khamr. Kedua-duanya sangat dihajatkan terutama sekali untuk menetapkan tujuan atau sasaran yang ingin dicapai al-Qur'an ("ideal moral" al-Qur'an) atau sebab berlakunya hukum (ratio legis). Kita tidak tahu apakah Rahman setuju." Bahwa khamr telah diharamkan sejak awal bi'tsah dapat dilihat pada peristiwa masuk-Islamnya A'sya ibn Qais.pengharaman khamr ini berlangsung secara gradual. Yang ingin diketahui orang ialah bagaimana Rahman menarik kesimpulan dari ayat-ayat yang tidak ada asbab al-nuzul-nya. Setiap orang akan setuju bahwa konteks historis sangat diperlukan untuk memahami al-Qur'an. Tetapi karena sahabat terus-menerus melakukan pelanggaran." kata mereka. Dalam urutan pengharaman khamr. Kata A'sya." kata mereka lagi.

Muslim.(bersambung 10/10) Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah Editor: Budhy Munawar-Rachman Penerbit Yayasan Paramadina Jln. Al-Itsm dalam ayat itu adalah khamr. Kami berhenti!" Ini hanyalah sebuah contoh penggunaan metodologi Rahman dengan hasil yang sama sekali berbeda dari konklusi Rahman. 7501983. al-Nasai.karena sahabat masih tetap melakukannya. Seandainya tidak turun ayat lain yang mengharamkan. Mereka bertanya kepadamu tentang khmr dan judi. pengharaman khamr diulang-ulang --makin lama makin keras-. "Kami berhenti. ------------------------------------------. dan dosa. Menurut riwayat.Riwayat ini dihimpun berdasarkan hadits Bukhari.al-A'raf ayat 33. Dosa semuanya diharamkan dengan firman Allah." Walhasil. Karena itu surah al-Ma'idah 90 diakhiri dengan kata Mengapa kalian belum berhenti juga. Tuhanku hanya mengharamkan kekejian. sebagai penegas akan bahayanya. TINJAUAN KRITIS ATAS SEJARAH FIQH (10/10) Dari Fiqh Al-Khulafa' Al-Rasyidin Hingga Madzhab Liberalisme oleh Jalaluddin Rakhmat CATATAN 1. (021) 7507174 Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota Please direct any suggestion to Media Team Artikel Yayasan Paramadina Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota IV. al-A'raf:33). sebagaimana ditegaskan dalam surah al-Baqarah ayat 214.. tetapi (untuk khamr) mempertegasnya dengan menyebutkan dosa besar.dan dosa (al-itsm) dan pembangkangan tak benar serta menyekutukan Allah.. Tentang surah al-Baqarah ayat 219 --yang dianggap Rahman dan kebanyakan mufassirin belum mengharamkan khamr-. (QS. UA 20-21 Jakarta Selatan Telp. Katakanlah di dalamnya ada dosa besar (itsm kabir). karena yang dimaksud manfaat itu manfaat dunia dan semua yang diharamkan ada manfaat duniawi bagi pelanggarnya. Adapun kata manfaat bagi manusia tidaklah berarti menghalalkannya. Katakan Tuhanku hanya mengharamkan kekejian --baik yang tampak maupun yang tersembunyi-. Karena basis metodologi Rahman adalah tarikh dan asbab al-nuzul. 7507173 Fax. Ibn Majah. yang harus lebih dahulu dirumuskan adalah kritik keduanya (yang kurang diperhatikan Rahman). Ahmad Abu Dawud.al-Jashash menjelaskan: "Ayat ini menetapkan haramnya khamr. Allah tidak saja menjelaskan bahwa dosa itu haram. Umar menjawabnya. Metro Pondok Indah Pondok Indah Plaza I Kav. di dalamnya dosa besar. Ibn Hajar . cukuplah ayat ini saja. Al-A'raf termasuk surah yang turun dalam periode Makkiyah awal. (021) 7501969.22. Karena Allah berfirman.

4:74. 1974:133-143. al-Mustasyfa. 1:135. Al-Muwafaqat fi Ushul al-Syari'at. tidak dikenai celaan.al-Asqalani. "Sahabat sama seperti perawi hadits yang lain kecuali satu hal --pada mereka tidak berlaku jarh dan ta'dil. menurut Ibn Hazm. Lihat: Fath al-Bari. Dar al-Andalus. Ibn Al-Atsir dalam Usud al-Ghabah fi Ma'rifat al-Shahabah.Abu Ishaq al-Syatiby. "Siapa yang mengkritik salah seorang di antara sahabat Rasulullah saw.. Mathba'ah al-Maktabah al-Tijariyah. 1371.Abu Zahrah. hal. Pembaca yang tertarik dapat melihat M.T Al-Hakim Al-Ushul al-'Ammah fi al-Fiqh al-Muqaran. padahal mereka boleh ikhtilaf? Mungkinkah dua orang ma'shum ikhtilaf? Bagaimana mungkin. hal. yang melihatnya tetapi tidak menghadiri majelisnya. 250. beriman kepadanya dan meninggal dalam Islam.Taqdimah al-Ma'rifah li Kitab al-Jarh wa al-Ta'dil. Bagaimana mungkin berhujjah dengan ucapan mereka dengan kemungkinan mereka salah. 6. "Seluruh sahabat itu mukmin yang saleh. 1:443 al-Maktabah al-Salafiyah. tak ada yang menentang hal ini kecuali orang-orang bid'ah yang menyirnpang" (Al-Ishabah 1:9. menulis. Mengenai 'Udul-nya sahabat. bahkan mereka mewajibkan --dalam masalah ijtihad-." Begitu "sucinya" para sahabat itu sehingga Abu Zar'ah menulis. 2." 7. Dar al-Fikr. Heiderabad. 1:3. Mereka yang termasuk jumpa ini orang yang lama bergaul dengan Nabi atau yang sebentar. 1:457 3. Ibn Hajar mengemukakan dalil-dalil tentang 'udul-nya sahabat secara rinci dalam kitab ini juga).Ibn Hajar mendefinisikan sahahat sebagai "orang yang berjumpa dengan Nabi saw. al-Ghazali menolak semua pendapat itu dan berkata. Kecuali untuk sahabat yang masuk Islam sesudah Bai'at al-Ridwan (sambil mereka pun tidak boleh disebut kecuali kebaikan)." Lihat Al-Ishabah 1:10.Lihat al-Ghazali. ketahuilah bahwa dia itu zindiq (atheis). tanpa tahun. "Sepakat semua Ahl Sunnah bahwa sahabat seluruhnya 'udul. . 1:10 4. Tarikh al-Madhahib al-Islamiyah.agar setiap mujtahid mengikuti ijtihadnya masing-masing. Bagaimana mungkin menetapkan ishmah mereka tanpa hujjah yang mutawatir? Bagaimana dapat dibayangkan adanya 'ishmah. padahal sahabat sepakat bolehnya bertentangan dengan sahabat yang lain? Abu Bakar dan Umar tidak mengingkari orang yang berbeda ijtihadnya dengan mereka.Fath al-Bari. al-Ishahah fi Tamyiz al-Shahabah. Beirut. semuanya mati dalam iman. tanpa kota. Pada halaman yang sama. 7-9. Al-Syatibi mengutip ayat-ayat al-Qur'an dan hadits-hadits untuk menunjang pendapatnya. Ibn Hajar berkata. sebab mereka semna 'udul. Mesir: Mustafa Muhammad. 5. yang berperang besertanya atau tidak. Beirut. tanpa tahun. Muhammad Taqiy al-hakim mengkritik kelemahan argumentasi al-Syatibi secara rinci. "Siapa saja yang mungkin salah atau lupa dan tidak tegas 'ishmahnya tidak boleh pembicaraannya menjadi hujjah. atau yang tidak melihatnya seperti orang buta".

" (Saya kutip lagi dari Muhammad 'Ajal al-Khatib. 18. Taysir al-Wushul 2:5. Tarikh al-Madzahib. vol. tt 1:63-64. Teheran: Sepahar. Musnad Ahmad 1:314. 8. 252. Fath al-Bari 12:101. al-Baihaqi dalam Sunan al-Kubra 8:264. Sunan al-Baihaqi. Musnad Ahmad 4:366.Abu Dawud 2:242. turun berkenaan dengan Ali bin Abi Thalib). Sunan al-Nasa'i. pada Kitab Al-Muharibin. Kairo: Dar al-Kutub al-Haditsah. Kairo. "Ra'y Gera'i Dar Ijtihad". Al-Ahzab 33 (tentang 'ishmah ahli bait). Zad al-Ma'ad 1:177-225.Tafsir Ibn Katsir 4:194. Di antara hadist-hadits tentang hal yang sama adalah hadits Tsaqalain: Aku tinggalkan bagimu dua hal. al-hakim 2:196. hal. Sunan al-Baihaqi 7:336. Tarikh al-Madzahib. Diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris oleh Mahliqa Qara'i. Kanz al-Ummal 3:102. "I'lam al-Muqi'in. hal. 9. Saya kutip lagi dari Abu Zahrah. 1404. Al-Syura 23 (tentang keharusan mencintai ahli waris). tanpa tahun. 19. Al-Sunnah qabl al-Tadwin. V NO. 13. Kanz al-Ummal 1:185. "Al-'Itisham.Kupasan tentang perdebatan ini. dalam Hawl al-Wahdah al-Islamiyah. dalam Al-Tawhid. 9. Al-Baihaqi dalam Sunan al-Kubra 8:318.Muhammad Ibrahim Jannati. 227-228. Bukhari meriwayatkan hadits ini tetapi dengan tidak lengkap. 5:148. "Ijtihad and the Practise of Ra'y". 10. Maktabah Wahdah.Asbab al-Ikhtilaf bain Aimmah al-Madzahib al-Islamiyah". 32-33. hal. lihat Ibn Qayyim. 395-396). 1963. 15.Abu Dawud 2:227. Mesir: Mathba'ah Sa'adah. 1408. 11.Shahih al-Bukhari. 3:69. al-Dar al-Mantsur 1:279. 16. hal.Abu Zahrah. Umdat al-Qari 11:151. Tafsir al-Darr al-Mantsur 6:74. 14. al-Hakim dalam al-Mubarak 2:59 dan 4:389.Di antara ayat-ayat yang menunjukkan keharusan mengikuti ahli bait adalah Al-Maidah 55 (Menurut banyak ahli tafsir. 20.Shahih Muslim 1:574. Shahih Muslim 2:52. lihat juga Shahih Muslim. dalam Kayhan-e Andisheh NO.petunjuk. 2. Ibn Majah 2:227. 57-58. Al-Baihaqi . tidak seorangpun masuk neraka. 1:349. semuanya masuk surga. Musa Towana. kamu tidak akan sesat selama-lamanya Kitab Allah den Ahli Baitku (hadits-hadits yang semakna dengan ini diriwayatkan oleh Shaih Muslim dalam Kitab Fadhail al-Shahabat".Dr. dan kebajikan. Al-Ijtihad: wa Mada Hajatina ilaih fi Hadza al-Ashar.Al-Syatibi.Ibn Qayyim al-Jawziyyah. yang jika kamu berpegang teguh. hal. Irsayad al-Sari 10:9. 255. 17. 12. 4:352 dan 5:22.

Al-Thabaqat al-Kubra. Sunan al-Baihaqi 6:342-343. "Kitab al-Jihad". Abu Bakar shalat di Mina dua rakaat. Il-Ishabah 2:322. Gubahan syair dari Al-Amini al-Inhaqi dari Syiria.Al-Thabaqat al-Kubra. hal. 1:174. Jakarta: Pustaka Panjimas. 11:257. Tarikh Ibn Katsir 6:319. Al-Muhalla' 9:622.Al-Thabaqat al-Kubra. Sunan al-nasai 2:179. Thabaqat ibn Sa'ad 2:244. ed.Tadzkirat al-Huffazh. 23. Kanz al-'Ummal. hal. Ahkam al-Qur'an dari Al-Jahshash 3:60 62. Riwayat pelarangan bagian muallaf. Lihat juga Shahih al-Bukhari 2:154. Shahih al-Turmudzi 1:68. 25. lihat Tafsir al-Manar 10:297. Umar shalat di Mina dua rakaat. Kanz al-'Umal 1:47 dan lain-lain). 31.2:148.Shahih al-Bukhari 3:69. dan hadits: "Ahli baitku adalah tempat yang aman dari ikhtilaf bagi umatku" (Mustadrak al-Shahihain 3:348). "Kitab al-'Ilam". dalam Limadza Ikhtartu Madzhab Ahl al-Bait. Sunan Abu Dawud 1:171. Taisir al-Khazim 1:356. Polemik Reaktualisasi Ajaran Islam.Kitab al-Kharraj 24-25. 44. hadits NO. 1:22.Tarikh al-Thabari 3:234. dan Kitab al-Jizyah". 2:10. Al-Kamil ibn al-Katsir 2:146. Shahih Muslim Bab "Tark al-Wasyiyyah" Musnad Ahmad. 24.Lihat Dr. Tafsir al-Syawkani 1:418.Tadzkirat al-Huffadz.Diriwayatkan oleh Imam Malik dalam Al-Muwaththa' 1:282 dari Urwah: Rasulullah shalat dua rakaat di Mina pada shalat-shalat yang empat rakaat. Shahih al-Turmudzi 2:308. 26. Tafsir al-Qurthubi 6:117.Shaih al-Bukhari. 10404 H. 7:188. 22. Musa Towana. 1:7.Lihat "Kontroversi sekitar Ijtihad 'Umar r. Al-Durr al-Mantsur 3:252. Lihat juga Shahih Bukhari. 1:5. Tafsir al-Thabari 10:6.Al-Muwaththa'.. Ahkam al-Qur'an dari Al-Jahshash 2:168. dalam Iqbal Abdurrauf Saimima. 1935. Qum Abu Mujtaba. Mustadrak al-Shahihain 3:109. Sunan al-Muslim 2:260. 7:447. 50. 36. Usman mula-mula shalat dua rakaat. Sunan . al-Baihaqi 7:164. Tafsir al-Zamahsyari 1:359. 29. 1:2-3. tarjamah Abu Bakr. tetapi kemudian meng-itmam-kannya.a". bukan tempatnya di sini menuliskan semua riwayat yang dijadikan dalil oleh kelompok pertama. 21. Sunan Ibnu Majah 1:348. hal.Al-Jawharah al-Nayyirah. dikutip lagi dari al-Nash wa al-Ijtihad. Tarikh Thabari 3:193. 138. 1988. 30. 33. Al-Ijtihad. Musnad Ahmad 2:148 Sunan al-Baihaqi 3:126. 32. 39-40.Tadzkirat al-Huffazh. menyimpulkan dalil-dalil itu. 27. 34. tarjamah 'Umar 28. Tarikh al-Khulafa. Al-Durr al-Mautsir 2:136.

532. tt. Shahih Muslim.Al-Imam Al-Syafi'i. lihat Al-Syawkani dalam Al-Awthar 3:374. Membuka Pintu Ijtihad. juga Al-Baladzuri dalam al-Anshab 5:26.Jami'Bayan Al-' Ilm.Shahih Muslim 1:142.Shahih al-Bukhari 3:69. 42.Syibli Nu'mani. Kitab Al-Riqaq. Mustadrak al-hakim 1:472. Tanwir Al-Hawalik. 48. Ibn Hajar memberikan komentar. 267. Tasyir al-Wushul 1:282. 152. (3) bahwa unsur kreatif dari kandungan ini adalah ijtihad personal yang mengalami kristalisasi menjadi ijma' berdasarkan petunjuk pokok dari sunnah nabi yang tidak dianggap sebagai sesuatu yang sangat bersifat spesifik. Sunan al-Baihaqi 1:472. 46. "Bab I: Al-Hawah". sedangkan Marwan supaya orang mendengarkan khutbahnya. 1:221. 26 menulis: Kami telah menyatakan (1) bahwa sunnah dari kaum muslim di masa lampau secara konsepsional dan kurang lebih secara garis besarnya berhubungan erat dengan sunnah Nabi dan pendapat yang menyatakan bahwa praktek-praktek muslim di masa lampau terpisah dari konsep sunnah Nabi adalah salah sekali. Musnad Ahmad 1:61. 1:208. Lihat juga Sunan al-Baihaqi .Syarh Al-Muwaththa'. Bandung: Pustaka. Fath al-bari 7:449-450. 2:180. hal. 2:244.Shahih Bukhari. 47.Ibn Hazm dalam Al-Muhalla 5:227. 1983.. (2) bahwa meskipun demikian. Dar Al-Fikr Al-Araby.al-Nasai 3:100.Ansab Al-Asyraf.95. Lihat Fath al-Bari. 37. 3:192. Sunan al-Nasai 5:148.Fazlur Rahman. lihat juga Dhuha Al-Islam. Bandung: Pustaka. 11:463-476. 39. hal. kandungan yang khusus dan aktual dari sunnah kaum muslim di masa lampau tersebut sebagian besarnya adalah produk dari kaum muslim sendiri. Tarikh Al-Madzahib Al-Islamiyah. 1:365." 40. Shahih al-Bukhari 1:109. Umar Yang Agung. 2:244. 1:93-94. hal. (4) bahwa kandungan sunnah atau sunnah dengan pengertian sebagai praktek yang disepakati secara bersama adalah identik dengan ijma'. 43. 49. "Bab Ghazwat Al-Hudaibiyah. Kitab al-Umm 1:173. "Bab Itsbat". 37.Shahih Bukhari. hadits ke 4170. 205.Ibn Hajar. Sunan al-Baihaqi 1:429. 45.Abu Zahrah. 38.Jami' Bayan Al-'Ilm. 41. Al-Umm. 1404. 44." Kitab Al-Maghazi. 2:401. Fath al-Bari 2:361. "Utsman melihat kemaslahatan jamaah supaya dapat mengejar shalat. Turmudzi 3:302. Shahih al-Muslim 1:349. Kitab Al-Fadhail.

Tarikh al-Madzahib al-Islamiyyah. 4:481.. 54. Metro Pondok Indah Pondok Indah Plaza I Kav. 8:143. Ibn Al-Atsir. 58.Tafsir Al-Thabari. "Para fuqaha menyebut peristiwa ini berkenaan dengan sujud. 51. 7:214 57. Ibn Katsir. 55. ketika menjelaskan hadits ini. (021) 7501969.Shahih Al-Bukhari. Al-Ishabah. 1:79. 7507173 Fax. juz I.Al-Sirah Al-Nabawiyyah. Fath Al-Bari. ibid. 14. -------------------------------------------Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah Editor: Budhy Munawar-Rachman Penerbit Yayasan Paramadina Jln. berkata.Tafsir Al-Nisabury. 7501983. 257.Abu Zahrah. Al-Bidayah wa Al-Nihayah. 50. Tidak mungkin kita menurunkan semua hadits itu di sini Cukuplah kita kutip hadits Muslim dari Khabab bin Al-Arat.Kata Al-Dzhabi dalam Tadzkirat Al-Huffadz. Nabi saw. lihat juga biografi Abdurrahman bin Abi Bakr dalam Ibn Asakir. hal. 5:263. UA 20-21 Jakarta Selatan Telp. 59. dalam Al-Nihayah. Jabir bin Abdillah dan lain-lain melarang sujud selain di atas tanah. Dar Ihya' Al-Turats Al-'Arabiy. Usud Al-Ghabab. berdasarkan hadit-hadits yang diriwayatkan Ahl Sunnah bahwa disamping Rasulullah saw. 52. Dar Al Tarqib.2:68. Tetapi. (021) 7507174 Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan . Mustadrak Al-Hakim. Beirut. tetapi mereka dilarang berbuat begitu.Lihat Ali Al-Hamady. tidak mengizinkan kami (sujud selain di atas tanah). Kitab ini menunjukkan. 53. 3:40. mengizinkan mereka sujud di atas pakaian mereka itu. 8:889. bab "Man La Ha'arahun Naby". Waktu itu para sahabat meletakkan ujung baju mereka dilarang ketika akan sujud untuk menghindarkan panas yang sangat. Ketika mereka mengadukan apa yang mereka alami.Catatan kaki pada hamisy kitab Sunan Al-Nasai. 19:72-75. 56. "Kami mengeluoh kepada Rasulullah tentang udara yang sangat panas sehingga tanah menjadi sangat panas pada dahi-dahi kami. Kanz al-'Ummal. 698-701. hal. Abdullah bin Mas'ud. Tarikh Dimasq. Nabi saw. Al-Sujud 'ala al-A'rdh. "Bab Walladzi Qala li Walidaihi".Ibn Katsir. Kitab Al-Birr wa Al-Shilah. Ali bin Abi Thalib. sahabat-sahabat seperti Abu Bakar. Tarikh Ibn Katsir. 1978.Shahih Muslim. Lihat juga biografi Al-Haban bin Al-'Ash pada Al-'Isti'ab. 10:197-198.. pada hamisy kitab Tafsir Al Thabari. 3:124.

23. yang kita saksikan dalam sejarah perkembangan fiqh ialah dinamika dan kreativitas. (semoga Allah meridlai keduanya) dalam banyak masalah yang jumlahnya mencapai sekitar enam ribu. Demikian pula telah terjadi perbedaan dalam furu' antara Imam Abu Hanifah dan Imam Malik (semoga Allah meridlai keduanya) dalam banyak masalah yang jumlahnya mencapai sekitar empatbelas ribu dalam bab-bab ibadat dan mu'amalah.ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota Please direct any suggestion to Media Team Artikel Yayasan Paramadina Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota IV. dan akhirnya pertumbuhannya di masa para imam madzhab. yang senantiasa disertai dengan kegaduhan polemik dan kontroversi. namun tidak seorang pun dari mereka memusuhi yang lain. dan masing-masing berdoa untuk segala kebaikan mereka itu. demikian pula antara Imam Ahmad ibn Hanbal dan gurunya.H. berpersaudaraan. Imam al-Syafi'i. juga antara Imam Ahmad ibn Hajar dan Imam al-Ramli dan para pengikut mereka. serta antara Imam al-Syafi'i dan gurunya. maka yang terjadi ialah pertumbuhan dan perkembangan madzhab itu sendiri. tapi kemudian dikembangkan begitu rupa sehingga yang terwujud ialah sebuah aliran yang meluas dan . Imam Malik.sejak dari pertumbuhannya di masa para Sahabat. juga tidak seorang pun dari mereka yang menyakiti yang lain. dan tidak saling menisbatkan lainnya kepada kesalahan ataupun cacat. Jalan pikiran para imam itu menjadi titik tolak. Hasyim Asy'ari juga menyebut." [2] Setelah masa-masa para imam madzhab lewat. dan tidak seorang pun dari mereka menisbatkan yang lain kepada kesalahan dan cacat. tidak seorang pun dari mereka menyakiti yang lain. yaitu mulai sekitar abad keempat Hijri. TRADISI SYARAH DAN HASYIYAH DALAM FIQH DAN MASALAH STAGNASI PEMIKIRAN HUKUM ISLAM (1/2) oleh Nurcholish Madjid Kita telah membicarakan garis perkembangan pemikiran sistem hukum Islam --yang kemudian dikenal dengan (ilmu) fiqh-.H. dalam banyak masalah. namun tidak seorang pun dari mereka yang menyakiti yang lain. terjadi banyak perbedaan pendapat antara para tokoh intern madzhab sendiri pada saat-saat permulaan perkembangannya. Sebaliknya mereka tetap saling mencintai. tidak seorang pun dari mereka mendengki yang lain. Sampai dengan masa itu. namun "tidak seorang pun dari mereka memusuhi yang lain. kemudian para Tabi'in dan pengikut mereka. bahkan sebaliknya mereka selalu saling mencintai. tidak seorang pun dari mereka mencerca yang lain. Muhammad Hasyim Asy'ari dari Tebuireng: Telah diketahui bahwa sesungguhnya telah terjadi perbedaan dalam furu' (makalah rincian) antara para Sahabat Rasulullah saw (semoga Allah meridlai mereka semua).[1] K. dan saling menolong. saling mendukung sesama saudara mereka. Keadaan demikian itu dilukiskan K. dan tidak seorang pun dari mereka menisbatkan yang lain kepada kesalahan dan cacat. namun dalam suasana saling menghargai dan tenggang rasa yang besar. seperti antara Imam al-Rafi'i dan Imam al-Nawawi.

al-Za'farani. yaitu stagnasi atau kemandekan. Demikian pula tokoh-tokoh dari madzhab-madzhab yang lain. Tetapi masa itu segera diikuti oleh masa dengan tingkat kreativitas dan orisinalitas intelektual yang lebih rendah. sehingga yang muncul sebagai dambaan atau obsesi utama masyarakat." dan apapun produk pemikiran mereka harus diterima sebagai berlaku "sekali dan untuk selamanya". melainkan pemikiran yang meskipun tetap berwatak "kesyafi'ian" namun dalam banyak hal Imam al-Syafi'i sendiri mungkin tidak lagi tersangkut paut. berakhir dengan kekalahan mereka oleh ummat-ummat lain. atas nama doktrin taqlid dan tertutupnya ijtihad. al-Rabi'. menjadi kenyataan. Ketidakberanian mengambil risiko salah dalam penelitian dan penjelajahan itu kemudian dirasionalisasikan dengan argumen: Apa yang telah dihasilkan para imam madzhab dan pendukung-pendukung mereka itu seolah-olah sudah "final. Jadi tidak berlebihan jika masa itu sering ditunjuk sebagai permulaan kemunduran peradaban Islam. Inilah yang dimaksudkan dengan istilah "madzhab. Jadi sesungguhnya seorang pemikir seperti al-Syafi'i menjadi imam madzhab adalah secara post factum. Ditambah lagi dengan keadaan politik negeri-negeri Muslim yang telah mulai kehilangan "elan vital"-nya antara lain karena banyaknya serbuan-serbuan militer dari Asia Tengah seperti dari kalangan bangsa-bangsa Turki dan Mongol. yang kemudian kelak. Ciri umum masyarakat Muslim saat itu ialah suasana traumatis terhadap perpecahan dan perselisihan. Maka dari titik tolak pemikiran Imam al-Syafi'i. tapi dengan ongkos yang amat mahal. Karena orisinalitas pemikiran tidak berkembang lagi. maka dambaan kepada ketenangan dan ketenteraman menjadi semakin beralasan. Mula-mula masih terdapat sisa-sisa kreativitas dan keberanian intelektual yang menghasilkan karya-karya tersendiri dengan tingkat orisinalitas yang memadai. namun belum tentu orang tersebut sepenuhnya dapat dipandang sebagai ikut bertanggungjawab. ialah ketenangan dan ketenteraman. yang serba berkecukupan. dan lain-lain dari kalangan para penganut madzhab Syafi'i. Pertumbuhan madzhab itu dengan sendirinya terjadi melalui para pengikut tokoh yang kelak disebut "imam madzhab" tersebut. al-Muzni. yaitu setelah fakta perkembangan pemikiran yang bertitik tolak dari dia itu. Dan karena pemikiran kritis juga terkekang. bertitik tolak dari produk intelektual satu orang. misalnya. Agaknya dambaan mereka tercapai. Penilaian ini lebih-lebih beralasan. khususnya bangsa-bangsa Eropa. karena para tokoh pemikir yang menjadi pangkal pengembangan madzhab tersebut semasa hidupnya sendiri sering mengisyaratkan keengganan menjadi pusat pengikutan. al-Karabisi. Inilah masa syarah (penjabaran) dan hasyiyah (penjabaran atas syarah)." yaitu suatu kesatuan pemikiran yang tumbuh dan berkembang. Sebab ketenangan dan ketenteraman itu mereka "beli" dengan menutup dan mengekang kreativitas intelektual dan penjelasan. al-Buwaythi. setelah dia sendiri lama tiada. tumbuh dan berkembang pemikiran yang lebih meluas dan mendalam.mendalam dan cukup pada dirinya sendiri (self-sufficient). seperti yang banyak dilakukan oleh misalnya. maka yang terjadi ialah pengulangan dan penghafalan yang sudah ada. yang kemudian lambat laun berkembang menjadi semacam etos di kalangan kaum Muslim di seluruh dunia. Karena itu yang ada bukanlah pemikiran Imam al-Syafi'i itu an sich. . maka tercipta suasana bagi tumbuhnya mitos-mitos.

dan yang terakhir ini tentu berakibat kepada masalah istiqamah atau keteguhan dan keikhlasan dalam beragama. karena dalam praktek serupa itu mudah sekali masuk unsur oportunisme dalam paham (seperti. Ilmu Kalam. sebagaimana telah disinggung. 7501983. UA 20-21 Jakarta Selatan Telp. Keharusan memilih salah satu madzhab sekaligus larangan mencampur lebih dari satu madzhab --betapapun tulusnya hal itu dilakukan-. ialah karya-karya syarah. Sebuah karya sparah membuka peluang kepada bentuk elaborasi lebih lanjut. dan terutama. Pemisahan itu akan menghasilkan inkonsistensi. mengenai suatu hukum tertentu seseorang cenderung mencari yang mudah dan ringan dari berbagai madzhab. seperti dari sudut keprihatinan karena situasi politik yang tidak mantap. yang dipandang sebagai matan (teks inti). tetapi sesungguhnya juga merambah ke berbagai cabang ilmu keislaman yang lain. yang kemudian dikenal sebagai talfiq. Begitu pula larangan mencampuradukkan lebih dari satu madzhab. sehingga merupakan "elaborasi atas elaborasi. dan bersamaan dengan itu hilang pula kemampuan memberi responsi pada keadaan masyarakat nyata (historis) yang senantiasa berkembang dan berubah.SYARAH DAN HASYIYAH Mulai saat itulah kurang lebih muncul ide tentang keharusan seorang Muslim memilih salah satu dari madzhab-madzhab yang ada sebagai anutan. keharusan memilih suatu madzhab seperti itu dapat dibenarkan. yang taqlid itu. Logika keharusan ini ialah ide tentang taqlid. Metro Pondok Indah Pondok Indah Plaza I Kav. seperti. merupakan dinamik dambaan kepada ketenteraman." yang biasanya disebut hasyiyah. Kegiatan pseudo-ilmiah serupa ini paling banyak terjadi dalam pemikiran judisial. tanpa kesungguhan meneliti bagaimana pangkal sebenarnya hukum itu). Pada saat itulah sejauh mengenai kegiatan intelektual yang muncul. misalnya. yaitu karya tulis berupa kitab yang mengelaborasi karya lain yang lebih orisinal.secara tersirat mengandung doktrin bahwa suatu pemikiran madzhab adalah suatu kesatuan organik yang tidak boleh dipisah-pisah. (bersambung 2/2) -------------------------------------------Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah Editor: Budhy Munawar-Rachman Penerbit Yayasan Paramadina Jln. Tapi konsekuensi yang lebih jauh ialah --sebagaimana telah disinggung tadi-. Dari beberapa sudut pandang tertentu. (021) 7507174 Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota Please direct any suggestion to Media Team Artikel Yayasan Paramadina . Tapi syarah bukanlah akhir perjalanan tradisi pseudo-ilmiah dalam masa kemandekan intelektual ini. (021) 7501969. 7507173 Fax.hilangnya kreativitas dan orisinalis intelektual. juga sangat dicela.

menurut keadaan aslinya dalam kitab. jauh di bawah ukuran masa kejayaan intelektual sebelumnya seperti diwakili karya-karya Ibn Sina. yaitu penjabaran atau elaborasi lebih lanjut." [5] Kutipan di atas itu sengaja dibuat dalam bentuk terjemahan harfiah tanpa memberi tanda-tanda baca sesuai konteks. Maksudnya ialah agar kita dapat merasakan kesulitan yang dihadapi oleh mereka yang membaca "kitab gundul. TRADISI SYARAH DAN HASYIYAH DALAM FIQH DAN MASALAH STAGNASI PEMIKIRAN HUKUM ISLAM (2/2) oleh Nurcholish Madjid Untuk memperoleh gambaran apa yang dinamakan syarah dan hasyiyah itu. sebuah kitab yang boleh dipandang cukup tinggi: Matan: Air yang boleh untuk menyucikan ada tujuh air: air langit. Matan itu kemudian diberi syarah dalam kitab Fat'h al-Qarib. dan air embun. yaitu sebuah kitab fiqh yang paling standar. maka ia mencakup Nil dan Furat dan sebagainya. berikut ini adalah contoh kutipan dari matan kitab Taqrib. juga sangat standar di pesantren-pesantren. [3] Syarah: (Air yang boleh) artinya sah (untuk menyucikan ada tujuh: air langit) artinya yang terjun dari langit. [4] Syarah ini kemudian diberi hasyiyah. air sumber. air sumber. air salju dan air embun) dan tujuh air itu tercakup dalam ungkapan Anda "Apa yang turun dari langit dan apa yang menyembul dari bumi dalam keadaan bagaimanapun adalah termasuk pokok penciptann." jika mereka tidak terlatih membaca dalam konteks. dan akhirnya diberi hasyiyah dalam kitab al-Bajuri. di pesantren-pesantren. Ibn Taymiyyah. dan asalnya dari surga sebagaimana hal itu disebutkan dalam nas mengenainya sebab sesungguhnya diturunkan dari surga Nil Mesir dan Sihun sungai India dan Jihun sungai Balkh dan keduanya itu bukanlah Sihan dan Jiham menurut yang unggul berlainan dengan orang yang menyangka keduanya itu sinonim sebab Sihan adalah sungai Arnah dan Jihan adalah sungai al-Mashishah dan Dajlah dan Furat adalah dua sungai di Irak dari asal Sidrat al-Muntaha dan itulah makna firman Dia Yang Maha Tinggi "Dan Kami turunkan dari langit air dengan takaran tertentu" maka pada waktu keluarnya Ya'juj dan Ma'juj sungai-sungai itu diangkat dan itulah makna firman Dia Yang Maha Tinggi "Dan sesungguhnya Kami tentulah berkuasa untuk menghilangkannya.Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota IV. yaitu hujan (air laut) artinya yang asin (air sungai) artinya yang tawar (air sumur. air sungai. al-Ghazali. air salju. Ibn Rusyd. artinya air yang mengalir di sungai (nahr) dengan fa'thah ha' dan matinya dan yang pertama lebih fasih dan al di situ adalah untuk jenis. air laut. yaitu "air sungai" saja): Hasyiyah: (Perkataannya dan air sungai) rangkaian dalam pengertian di. Berikut ini adalah contoh hasyiyah-nya (tapi karena hasyiyah yang bersangkutan itu panjang sekali. air sumur.23. Dan keadaan menurut aslinya itu dapat memberi gambaran tentang ungkapan "ilmiah" masa kemunduran itu yang tidak dapat disebut mengagumkan. Ibn Arabi. dan . maka demi kepraktisan kita akan mengutip hasyiyah yang menyangkut salah satu dari air yang tujuh itu.

Batas atau limit ilmu hanya ada pada Allah. yaitu bangsa-bangsa Eropa Barat. keadaan sudah sangat terlambat. sehingga dorongan ke arah kebangkitan kembali yang muncul sejak itu sampai sekarang belum mencapai tujuan yang dimaksud. yaitu ujung terakhir perkembangan pemikiran ilmiah. Sebuah adagium mungkin relevan dengan masalah ini yaitu yang berbunyi: "Tidak akan menjadi baik umat ini kecuali dengan sesuatu yang telah membuat baiknya umat terdahulu. akibat dominasi mereka atas kehidupan di muka bumi selama berabad-abad (dalam perhitungan konservatif setidaknya selama delapan abad.sebagainya. Berbagai gejala masa-masa terakhir ini. jelas bahwa yang membuat baik mereka generasi Islam klasik itu ialah apa yang dalam ungkapan kontemporer dinamakan "Etos Ilmiah". khususnya sejarah pemikirannya. Tapi perbatasan atau frontier ilmu hanyalah produk kemampuan manusia sendiri yang tidak sempurna. karena itu harus selalu diusahakan untuk . Furat dan Dajlah itu ke langit sebagai tafsir atas ayat suci al-Qur'an pula. yang berarti empat kali lebih panjang daripada masa dominasi Eropa Barat yang sudah berlangsung selama dua abad ini). Dan dalam pandangan mereka. seperti bahwa sungai Nil berasal dari surga dan sungai Dajlah (Tigris) dan Furat (Eufrat) di Irak berasal dari Sidrat al-Muntaha! Juga ada mitos lain yang tercampur dengan pandangan keagamaan tertentu seperti cerita tentang datangnya Ya'juj dan Ma'juj (Gog dan Mogog) yang tersebut dalam Kitab Suci al-Qur'an [6]. Dan ketika mereka dikejutkan oleh datangnya tentara Perancis ke Mesir di bawah Napoleon yang dengan amat mudah mengalahkan mereka itu. Berbeda dengan obskurantisme. semua ini diawali karena umat Islam terkena penyakit "puas diri". melainkan ilmu hanya mempunyai perbatasan (frontier). seolah-olah segala sesuatu terjadi secara wajar saja. apalagi daripada masa obskurantisme tersebut di atas itu. Barat Laut." dan yang tersisa ialah mencerna apa saja yang diwariskan dari generasi sebelumnya. Tapi tentu saja umat Islam masih tetap mempunyai kesempatan yang baik. yang dirangkaikan dengan paham keagamaan. ilmu pengetahuan telah "habis. sehingga mewarnai sikap intelektual sebagian besar kaum Muslim. karena itu tak terjangkau." [8] Sementara banyak tafsiran yang berbeda-beda tentang apa "yang membuat baik umat terdabulu. Bahkan dalam kutipan itu dapat dilihat munculnya beberapa dongeng dan mitologi. yang biasanya diletakkan dalam bracket "kebangkitan Islam". Stagnasi ini tidak dirasakan oleh kaum Muslim. sampai akhirnya mereka terhentak dan kalah oleh bangkitnya bangsa-bangsa yang selama ini mereka remehkan. Banyak ahli yang mengatakan." namun dari pembacaan kepada sejarah peradaban Islam. bangsa-bangsa pelopor umat manusia masuk Zaman Modern. yang pada saat itu akan diangkat sungai-sungai Nil. atau lebih persisnya. etos ilmiah yang benar harus memandang ilmu tidak mempunyai batas (limit). [7] KESIMPULAN Semangat obskurantisme atau kemasabodohan intelektual akibat berbagai faktor ekstern dalam proses-proses dan struktur-struktur politik masa itu sedemikian mencekam. dapat diacu sebagai petunjuk adanya masa depan yang baik. setidaknya lebih baik daripada sekarang.

. al Kahf/18:109). tt. Batas atau limit ilmu hanya ada pada Allah swt. 7507173 Fax. 3. ialah toleransi dan saling menghargai dalam perbedaan. etos ilmiah yang ada mengajarkan agar setiap bertemu dengan perbatasan hendaknya kembali ke semula. 6. UA 20-21 Jakarta Selatan Telp. maka lautan itu akan habis sebelum Kalimat Tuhanku habis. (Semarang: Pustaka al-'Alawiyyah. seperti dikemukakan KH. apalagi ditembus. 5. (Risalah ini ditulis pada 1360 H atau 1941 M). etos ilmiah Zaman Klasik Islam memandang perbatasan ilmu harus selalu ditebus. tt. s. Muhammad Hasyim Asy'ari. meski kami datangkan tinta sebanyak itu pula.ditembus dengan keberanian intelektual serta kreativitas dan orisinalitasnya. 'Kalau seandainya seluruh lautan ini tinta untuk Kalimat Tuhanku. 11. Ibid. "Katakan. h. jadi tidak mungkin dicapai manusia. Seperti halnya dengan Zaman Modern. s. 12. CATATAN 1.." (Q. h. Dan suasana itu tidak lain. 2. (021) 7501969. Al-Syaykh Ibrahim al-Hajuri. Hasyim Asy'ari di atas. sementara dalam zaman obskurantisme. 7501983. h.). al-Tibyan fi al-Nahy 'an Muqata'at al-Arham wa al-Aqarib wa al-Ikhwan (Surabaya: Mathba'at Nahdlat al-'Ulama. Lihat Q.). -------------------------------------------Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah Editor: Budhy Munawar-Rachman Penerbit Yayasan Paramadina Jln. al-Kahf/18:94 (dalam cerita tentang Dzu al Qarnayan) 7. Lihat Q. Hasyiyat al-Hajuri (Semarang: Maktabah wa Mathba'ah Usaha Keluarga. dan ini menghasilkan praktek menghafal. h. Abu Syuja' Ahmad Ibn al-Husayn al-Ishfahani.s. 8. "La tashluhu hadzihi al-Umah illa bi ma shaluha bihi awwaluha. 4. al-Ghayah wa al Taqrib. 3. Fat'h al-Qarib (Semarang: Maktabah wa Mathba'ah Usaha Keluarga." 9. [9] Semuanya itu memerlukan suasana yang bersifat kondusif. (021) 7507174 Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota Please direct any suggestion to Media Team Artikel Yayasan Paramadina Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan . Metro Pondok Indah Pondok Indah Plaza I Kav. 27. al Mu'minun/23:18. Muhammad ibn Qasim al-Ghazzi. h. tt).. 2-3. tt).

21. kaum Muslim generasi ketiga). Tumbuhnya partisan-partisan politik yang berjuang keras memperoleh pengakuan dan legitimasi bagi klaim-klaim mereka. Begitulah.ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota VI. yang bersumber dari sisa dan kelanjutan berbagai konflik politik. Yang disebut "para pengikut" (makna kata Tabi'in) ialah kaum Muslim generasi kedua (mereka menjadi Muslim ditangan para Sahabat Nabi). serta meninggalkan keharusan taat pada Dinasti Umayyah. serta setelah orang-orang Muslim terpecah-pecah menjadi berbagai kelompok. Dan pertikaian itu antara lain menjadi sebab bagi berkecamuknya praktek pemalsuan hadits atau penuturan dan cerita tentang Nabi dan para sahabat. Sebagian besar orang-orang Muslim memihak 'Ali dalam perselisihannya dengan Mu'awiyah. dan ditambah-tambahnya Sunnah itu serta digunakannya sebagai alat melayani berbagai kepentingan politik dan perpecahan internal Islam.a. wafat dan Mu'awiyah habis masa kekhilafahannya (juga wafat) anggota rumah tangga Nabi (Ahl al-Bayt) bersama sekelompok orang-orang Muslim menuntut hak mereka akan kekhalifahan. Syi'ah. dianggap sebagai masa-masa paling otentik dalam sejarah Islam. dengan penampilan kesarjanaan di bidang keahlian yang lebih mengarah pada spesialisasi. Tahun empat puluh Hijriah adalah batas pemisah antara kemurnian Sunnah dan kebebasannya dari kebohongan dan pemalsuan di satu pihak. Khususnya setelah perselisihan antara 'Ali dan Mu'awiyah berubah menjadi peperangan dan yang banyak menumpahkan darah dan mengorbankan jiwa. bersama dengan masa para Sahabat sebelumnya dan masa Tabi'in al-Tabi'in ("para pengikut dari para pengikut" yakni. dan sebagainya. SEJARAH AWAL PENYUSUNAN (1/3) DAN PEMBAKUAN HUKUM ISLAM oleh Nurcholish Madjid Dalam bidang fiqh seperti juga dalam bidang-bidang yang lain masa Tabi'in adalah masa peralihan dari masa sahabat Nabi dan masa tampilnya imam-imam madzhab. dan ketiga masa itu sebagai kesatuan suasana yang disebut salaf (Klasik). Di satu pihak masa itu bisa disebut sebagai kelanjutan wajar masa sahabat Nabi. Setelah 'Ali r. Dalam pandangan keagamaan banyak ulama masa Tabi'in itu. Melukiskan keadaan yang ruwet itu Musthafa al-Siba'i mengetengahkan keterangan di bawah ini. terutama yang terjadi sejak peristiwa pembunuhan 'Utsman. pertentangan ini kemudian mengambil bentuk sifat . telah mendorong berbagai pertikaian paham. Justru sifat transisional masa ini ditandai berbagai gejala kekacauan pemahaman keagamaan tertentu. Umawiyyah. peristiwa-peristiwa politik menjadi sebab terpecahnya kaum Muslim dalam berbagai golongan dan partai. sedangkan kaum Khawarij menaruh dendam terhadap 'Ali dan Mu'awiyah sekaligus setelah mereka itu sendiri sebelumnya merupakan pendukung 'Ali yang bersemangat. Disesalkan. Khalifah III. Walaupun begitu tidaklah berarti masa generasi kedua ini bebas dari persoalan dan kerumitan. di lain pihak pada masa itu juga mulai disaksikan munculnya tokoh-tokoh dengan sikap yang secara nisbi lebih mandiri. seperti Khawarij.

Pada masa para sahabat yang kemudian disusul masa para Tabi'in. Dasar-dasar itu memang tidak semuanya langsung bersifat kehukuman atau legalistik. Maka tindakan Nabi dan kebijaksanaannya di Madinah adalah kelanjutan yang sangat wajar dari apa yang telah dirintis pada periode Makkah itu. namun ketentuan-ketentuan yang bersifat kehukuman telah ada sejak di Makkah. sekalipun keadaan di Makkah belum mengizinkan bagi Nabi untuk melaksanakannya. Itu semua tidak akan tidak melahirkan sistem hukum.. Daerah-daerah . setelah hal itu tidak mungkin mereka lakukan terhadap al-Qur'an karena ia sangat terlindung (terpelihara) dan banyaknya orang Muslim yang meriwayatkan dan membacanya. Maka mereka palsukanlah banyak hadits tentang kelebihan imam-imam mereka dan para tokoh kelompok mereka. dan seterusnya. WAWASAN HUKUM ZAMAN TABI'IN Antara Islam sebagai agama dan Hukum terdapat kaitan langsung yang tidak mungkin diingkari. Dari situlah mulai pemalsuan Hadits dan pencampuradukan yang sahih dengan yang palsu.keagamaan. Setiap partai berusaha menguatkan posisinya dengan al-Qur'an dan Sunnah. bahkan justru dasar-dasarnya telah diletakkan dengan kokoh dalam periode pertama itu. kewajiban mengurus harta anak yatim secara benar. Ada yang mengatakan bahwa yang pertama melakukan hal itu ialah kaum Syi'ah -dengan perbedaan berbagai kelompok mereka.sebagaimana dituturkan Ibn Abi al-Hadid dalam Syarh Nahj al-Balaghah. yang kelak mempunyai pengaruh yang lebih jauh bagi tumbuhnya aliran-aliran keagamaan dalam Islam. Maka sejak di Makkah Nabi mengajarkan tentang cita-cita keadilan sosial yang antara lain mendasari konsep-konsep tentang harta yang halal dan yang haram (semua harta yang diperoleh melalui penindasan adalah haram). yaitu penyusunan dan pembakuan Hukum Islam melalui fiqh atau "proses pemahaman" yang sistimatis." Tapi kemudian diimbangi orang-orang bodoh dari kalangan Ahl al-Sunnah dengan perbuatan pemalsuan juga. Meskipun baru setelah tinggal menetap di Madinah Nabi saw. dan wajarlah bahwa al-Qur'an dan Sunnah itu untuk setiap kelompok tidak selalu mendukung klaim-klaim mereka. [1] Dihadapkan keruwetan itu. keharusan menghormati hak milik sah orang lain. sebab selalu dikaitkan dengan ajaran moral dan etika. "Ketahuilah bahwa pangkal kebohongan dalam hadits-hadits tentang keunggulan (tokoh-tokoh) muncul dari arah kaum Syi'ah. melakukan kegiatan legislasi. Maka sebagian golongan itu melakukan interpretasi al-Qur'an tidak menurut hakikatnya dan membawa nash-nash Sunnah pada makna yang tidak dikandungnya. prinsip-prinsip yang diwariskan Nabi itu berhasil digunakan. Sasaran pertama yang dituju para pemalsu hadits itu ialah sifat-sifat utama para tokoh. para Tabi'in -dengan dipimpin tokoh-tokoh yang mulai tumbuh dengan penampilan kesarjanaanmencoba melakukan sesuatu yang amat berat namun kemudian membuahkan hasil yang agung. Sebagian lagi meletakkan pada lisan Rasul hadits-hadits yang menguatkan klaim mereka. perlindungan terhadap kaum wanita dan janda. dan kemudian segera melebar dan meluas sehingga membentang dari semenanjung Iberia sampai lembah sungai Indus. menopang ditegakkannya kekuasaan politik Imperium Islam yang meliputi daerah antara Nil sampai Amudarya..

seperti berbagai kepentingan kemasyarakatan (al-mashalih al-madaniyyah). Berkenaan dengan hal ini al-Sayyid Sabiq menjelaskan. maka Rasul saw. diperintahkan bermusyawarah mengenai itu semua. . agaknya yang telah terjadi pada masa tabi'in itu ialah semacam pendekatan ad hoc dan praktis-pragmatis terhadap persoalan-persoalan hukum. diberikan secara sepenuhnya terperinci. "Tidaklah ia (Nabi) berbicara atas kemauan sendiri. tidak pernah timbul kecuali dari wahyu Allah kepada Nabi-Nya s. Dan tugas Rasul tidak keluar dari lingkaran tugas menyampaikan (tabligh) dan menjelaskan (tabyin). Dan Nabi pernah mempunyai suatu pendapat. dengan menggunakan prinsip-prinsip umum yang ada dalam Kitab Suci..[2] Para ahli hukum Islam sudah terbiasa mengatakan secara benar bahwa letak kekuatan Islam ialah sifatnya yang akomodatif terhadap setiap perkembangan zaman dan peralihan tempat (shalih li kull zaman wa makan. politik dan perang. Tapi sebelum ilmu itu tumbuh secara utuh. tapi ditinggalkannya dan menerima pendapat para sahabat. yaitu Ilmu Fiqh. urusan politik dan peperangan.a. Tetapi yang berkembang menurut perkembangan zaman dan tempat. Untuk mengerti masalah ini sangat menarik mengutip lebih lanjut keterangan al-Sayyid Sabiq.sesuai untuk setiap zaman dan tempat).w. dan Indo-Iran umumnya. al-Najm/53:34). seperti hukum-hukum ibadat." (QS. diberikan secara garis besar.. maka tidak seorang pun dibenarkan menambah atau mengurangi. atau dengan suatu ijtihad yang disetujuinya. Penetapan hukum keagamaan murni. Adapun penetapan hukum yang berkaitan dengan perkara duniawi bersifat kehakiman. Karena itu mudah dipahami jika timbul semacam tuntutan intelektual untuk berbagai segi kehidupan masyarakat yang harus dijawab para penguasa yang terdiri dari kaum Muslim Arab itu. Penetapan Hukum (al-tasyri') Islam merupakan salah satu dari berbagai segi yang amat penting yang disusun oleh tugas suci Islam dan yang memberi gambaran segi ilmiah dari tugas suci itu. baik dari Kitab ataupun Sunnah. yang dalam wawasan geopolitik Yunani kuno dianggap sebagai heatland Oikoumene (Daerah Berperadaban -Arab: al-Da'irat al-Ma'murah) telah mempunyai tradisi sosial-politik yang sangat mapan dan tinggi.. seperti 'aqa'id dan 'ibadat. sebagaimana terjadi pada . bahkan Arab. Pendekatan ini dimungkinkan karena watak dasar Hukum Islam yang lapang dan luwes. tidak lain itu adalah wahyu yang diwahyukan kepadanya. Tuntutan intelektual itu mendorong tumbuhnya suatu genre kegiatan ilmiah yang sangat khas Islam.itu. agar bersesuaian dengan kepentingan manusia di semua zaman dan agar dapat dipedomani oleh para pemegang wewenang (ulu al-amr) dalam menegakkan keadilan dan kebenaran. dengan dijelaskan oleh nash-nash yang bersangkutan. termasuk tradisi kehukumannya. Di sebelah Barat tradisi itu merupakan warisan Yunani-Romawi. khususnya masyarakat Madinah. sehingga mampu menampung setiap perkembangan yang terjadi. dan dengan melakukan rujukan pada Tradisi Nabi dan para Sahabat serta masyarakat lingkungan mereka yang secara ideal terdekat.Bahwa hal-hal yang tidak berkembang menurut perkembangan zaman dan tempat.

Seperti dilukiskan Siba'i yang telah dikutip di atas. (021) 7501969. melewati zaman Nabi sendiri. yang kemudian bertindak sebagai tempat rujukan. "Dua Tokoh") yang amat . guna menanyakan apa yang tidak mereka ketahui. Dan para Sahabat ra. SEJARAH AWAL PENYUSUNAN (2/3) DAN PEMBAKUAN HUKUM ISLAM oleh Nurcholish Madjid Sudah tentu keluasan dan fleksibilitas semangat umum Hukum Islam itu dipertahankan. dan diteruskan ke zaman para Tabi'in.waktu perang Badar dan Uhud.21. kemudian zaman para Sahabat. dan bertahan. UA 20-21 Jakarta Selatan Telp. Ini terjadi tanpa peduli dengan sambutan sebagian besar umat Islam kepada tahun 41 Hijri sebagai "Tahun Persatuan" atau "Tahun Solidaritas" ('Am al-Jama'ah). Tapi sejak pertikaian politik pada paroh kedua kekhalifahan 'Utsman. Metro Pondok Indah Pondok Indah Plaza I Kav. sebab "persatuan" dan "solidaritas" itu agaknya hanya terbatas pada kenyataan kembalinya kesatuan politik (formal) umat Islam di bawah Khalifah Mu'awiyah ibn Abi Sufyan di Damaskus. sehingga Nabi kadang-kadang membenarkan pemahaman mereka itu. Mereka juga mengemukakan kepada Nabi pemahaman mereka tentang nash-nash itu. ketika banyak partisan mulai berusaha keras memperebutkan legitimasi untuk klaim-klaim mereka. Tapi jika pada zaman Nabi tempat rujukannya ialah Nabi sendiri. dan kemudian berselisihnya.. Pada zaman para sahabat Nabi itu diwarisi banyak tokoh. pun selalu meruduk kepada Nabi saw. tanda-tanda menyebarnya. (021) 7507174 Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota Please direct any suggestion to Media Team Artikel Yayasan Paramadina Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota VI. DUA KUBU ORIENTASI FIQH: HIJAZ DAN IRAK Di bawah pimpinan Khalifah Mu'awiyah (yang masa kekhalifahannya disebut Ibn Taymiyyah sebagai permulaan masa "kerajaan dengan rahmat" -al-mulk bi al-rahmah) kaum Muslim dapat dikatakan kembali pada keadaan seperti zaman Abu Bakar dan 'Umar (zaman al-Syaykhani.[3] (bersambung 2/3) -------------------------------------------Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah Editor: Budhy Munawar-Rachman Penerbit Yayasan Paramadina Jln. dan meminta tafsiran tentang makna-makna berbagai nash yang tidak jelas bagi mereka. 7501983. penyebaran dan perselisihan otoritas itu memuncak pada sekitar sesudah 40 H. 7507173 Fax. dengan otoritas yang diakui semua. tempat rujukan itu sudah mulai nampak. dan kadang-kadang beliau menerangkan letak kesalahan dalam pendapat mereka itu.

yaitu tumbuhnya orientasi kehukuman (Islam) kepada Hadits atau Tradisi (dengan "T" besar) yang berpusat di Madinah dan Makkah serta mendapat dukungan langsung atau tak langsung dari rezim Damaskus. kompleksitas kehidupannya. Sedangkan Irak telah mempunyai peradabannya sendiri. tradisi atau Sunnah) dan nash-nash. sebagai dasar ijtihad. Apa pun kualitas kekhalifahan Mu'awiyah itu. Ini masih ditambah dengan kecenderungan mereka untuk banyak membuat asumsi-asumsi dan perincian karena keinginan mendapatkan tambahan pengetahuan. Dan yang dibawa pindah oleh mereka itu pun masih lebih sedikit daripada yang ada di Hijaz. memelihara sabda-sabda beliau dan menerapkannya. adalah lebih luas dan lebih banyak.dirindukan orang banyak. sistem pemerintahannya. Di situ Rasul menetap. Tempatnya ialah Irak. kemudian para Sahabat beliau menyambut. Tapi "koalisi" itu mempunyai akibat cukup penting dalam bidang fiqh. menyampaikan seruannya. penelitian tentang tujuan-tujuan hukum dan alasan-alasannya. begitu pula kebudayaan penduduknya dan terlatihnya mereka itu kepada penalaran.. Ini kemudian berdampak tumbuhnya dua orientasi dengan perbedaan yang cukup penting: Hijaz (Makkah-Madinah) dengan orientasi Haditsnya. Pada zaman itu (zaman Tabi'in). Adanya dua aliran itu merupakan akibat yang wajar dari situasi masing-masing Hijaz dan Irak. Dan (Hijaz) tetap menjadi tempat tinggal banyak dari mereka (para Sahabat) yang datang kemudian sampai beliau wafat. dan penggunaannya juga lebih banyak. yaitu kaum Tabi'in yang bersemangat untuk tinggal di sana. disebabkan masa lampaunya. Penyandaran diri kepadanya juga lebih jelas nampak. Penjelasan menarik tentang hal ini diberikan oleh Syaykh 'Ali al-Khafif. namun dalam hal masalah penegakan hukum mereka tetap sedapat mungkin berpegang dan meneruskan tradisi para Khalifah di Madinah dahulu. kias. dan Irak (Kufah-Basrah) dengan orientasi penalaran pribadi (ra'y)-nya.. termasuk para "aktivis militan" yang membunuh 'Utsman (dan yang kemudian [ikut] mensponsori pengangkatan 'Ali namun akhirnya berpisah dan menjadi golongan Khawarij)." yakni. dalam ifta' (pemberian fatwa) ada dua aliran: aliran yang cenderung pada kelonggaran dan bersandar atas penalaran. akibat masalah keabsahan kekuasaan Bani Umayyah itu). Kemudian mereka ini mewariskan apa saja yang mereka ketahui kepada penduduk (berikut)-nya. dan hanya bersandar kepada bukti-bukti atsar (peninggalan atau "petilasan. dan tidak mendapatkan bagian dari Sunnah kecuali melalui para Sahabat dan Tabi'in yang pindah kesana. Irak dengan kota-kota Kufah dan Basrah adalah kawasan yang selalu potensial menentang Damaskus secara efektif. khususnya tradisi 'Umar. mendengarkan. Karena itu ada semacam "koalisi" antara Damaskus dan Madinah (tapi suatu koalisi yang tak pernah sepenuh hati. adalah lebih banyak daripada yang ada di Hijaz. mengingat sedikitnya Sunnah pada mereka itu tidak memadai untuk semua tuntutan mereka. Karena itulah keperluan mereka kepada penalaran lebih kuat terasa. Sementara banyak tokoh Madinah sendiri tetap mempertanyakan keabsahan rezim Umayyah itu. Tempatnya ialah Hijaz. Dan aliran yang cenderung tidak kepada kelonggaran dalam hal tersebut. . Hijaz adalah tempat tinggal kenabian. Padahal peristiwa-peristiwa (hukum) di Irak itu.

Tapi disamping itu. perubahan situasi politik. kaum 'Abbasi lebih banyak dan lebih tulus perhatian mereka kepada masalah-masalah keagamaan dari pada kaum Umawi. apakah itu penalaran atau penuturan riwayat. Yaitu ijtihad yang dilakukan tanpa ikatan pendapat seorang mujtahid yang terlebih dahulu. tampil seorang penganut dan pembela "Kelompok Riwayat" yang sangat tegar. suasana lebih mengizinkan untuk muncul. termasuk menuturkan riwayat dan Hadits. Ini semakin memperkaya pemikiran hukum zaman Tabi'in. meneliti dan memahami yang benar." karena mereka banyak berpegang kepada penuturan masa lampau. Ikatan hanya terjadi jika ditemukan sebuah pendapat seorang Sahabat Nabi. Ijtihad yang terjadi di zaman Tabi'in adalah ijtihad mutlak. berkenaan dengan hukum. [5] . khususnya Umar). sikap tersebut menciptakan suasana yang lebih mendukung bagi perkembangan kajian agama. meskipun masing-masing tetap dapat dikenali ciri utamanya dari kedua katagori tersebut. sebagai pedoman) dan orang-orang Irak adalah Ahl al-Ra'y ("Kelompok Penalaran"." dan di kalangan para sarjana Irak. seperti Hadits. adalah tidak tepat. membuat generalisasi bahwa sesuatu kelompok hanya melakukan satu metode penetapan hukum atau tasry'.penalaran mendalam dan pelaksanaan yang banyak. baik yang bersangkutan dengan bidang politik. dan ini pada urutannya memberi peluang lebih baik pada para sarjana untuk menyatakan pendapatnya. Terdapat persilangan antara keduanya. Misalnya.[4] Jika dikatakan bahwa orang-orang Hijaz adalah Ahl al-Riwayah ("Kelompok Riwayat. Sedangkan pada peringkat individu. teologi dan hukum. cukup banyak dari masing-masing daerah yang tidak mengikuti karakteristik umum itu. telah membawa perubahan penting dalam sikap keagamaan. dengan perpindahan kekuasaan dari kaum Umawi ke kaum 'Abbasi. Kini usaha ini memperoleh dorongan baru. kemudian pada zaman Tabi'in itu. lebih-lebih zaman Tabi'in al-Tabi'in. Disamping itu. sesungguhnya itu hanya karakteristik gaya intelektual masing-masing daerah itu. seorang anggota Majma' al-Buhuts al-Islamiyyah (Badan Riset Islam) Universitas al-Azhar. maupun yang lain. dan dihadapkan kepada oposisi kaum Syi'ah dan Khawarij). Sikap berpegang kepada syari'ah ini bagi kaum 'Abbasi berarti pengukuhan legitimasi politik dan kekuasaan mereka (dibandingkan dengan kedudukan kaum Umawi. kelak. Usaha secara resmi pembakuan Sunnah (yang kemudian menjadi sejajar dengan Hadits) telah mulai tumbuh sejak jaman 'Umar ibn 'Abd-al'Aziz menjelang akhir kekuasaan Umawi. Meskipun sesungguhnya kaum 'Abbasi akhirnya banyak meneruskan wawasan hukum keagamaan kaum Umawi sebagai pendukung Ahl al-Sunnah wa al-Jama'ah (yang sebagaimana telah disinggung. IJTIHAD TABI'IN SEBAGAI PENDAHULU MADZHAB-MADZHAB Menurut 'Ali al-Khafifi. dan yang secara langsung diarahkan membahas. yaitu Ahmad ibn Hanbal. yang diduga bersandar kepada Sunnah yang karena beberapa sebab Sunnah itu tidak muncul sebelumnya. Kairo. Maka di kalangan orang-orang Hijaz terdapat seorang sarjana bernama Rabi'ah yang tergolong "Kelompok Penalaran. banyak berorientasi kepada preseden-preseden para khalifah Madinah. dengan isyarat tidak banyak mementingkan "riwayat"). dan merangsang tumbuhnya berbagai aliran pemikiran keagamaan.

Tarikh al-Tasyri' al-Islami. 2. seperti dituturkan al-Syaykh Muhammad al-Hudlari Beg dalam kitabnya. Banyak belajar dari bibinya. bahkan guru-guru para calon imam madzhab itu. kultural dan geografis anggota masyarakat Islam. [6] Maka zaman itu kita menyaksikan tampilnya tokoh-tokoh kesarjanaan dengan bidang kajian ilmu yang lebih terspesialisasi. terdapat nuansa yang cukup berarti. dan lain-lain. dan cukup penting diperhatikan. Dia adalah imam keempat kaum Syi'ah Imamiyyah. Lahir dimasa kekhalifahan 'Utsman. Al-Hasan al-Bashri banyak berkonsultasi dengannya. Terkenal sangat saleh sehingga digelari "pendeta Quraysy" (rahib Quraysy). Persi. madzhab. Lahir di masa kekhalifahan 'Umar. Wafat pada 94 H. (bersambung 3/3) -------------------------------------------Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah Editor: Budhy Munawar-Rachman Penerbit Yayasan Paramadina Jln. berupa semakin beragamnya latar belakang etnis. Wafat pada 94 H. 'Aisyah. al-Hasan ibn 'Ali. (021) 7501969. wafat pada 94 H. (021) 7507174 Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota Please direct any suggestion to Media Team . dan sempat belajar dari para pembesar Sahabat Nabi.Abu Bakr ibn 'Abd-al-Rahman ibn al-Harits ibn Hisyam al-Makhzumi. khususnya. disebabkan banyaknya orang-orang bukan Arab (Syiria. Namun diantara keduanya. Ia terkenal sangat 'alim (terpelajar). Ia belajar dari ayahnya dan dari pamannya. Suatu hal yang amat penting diperhatikan ialah adanya kaitan suatu aliran pikiran (yakni. dan dalam diri masing-masing aliran besar itu.'Urwah ibn al-Zubayr ibn al-'Awwam. 3. tapi tidak banyak meriwayatkan Hadits. dan dikenal dengan Zayn al-'Abidin. Telah disebutkan adanya dua aliran pokok: Irak dan Hijaz. istri Nabi saw. Mesir.Semua kegiatan itu juga terpengaruh kenyataan sosial-politik. 4. Wafat pada 94 H. Di Madinah tampil cukup banyak sarjana. 7507173 Fax. antara lain: 1. Banyak meriwayatkan Hadist yang bersambung dengan Abu Hurayrah.Sa'id ibn al Musayyib al-Makhzumi. school of thought) dengan tempat. Aisyah. Metro Pondok Indah Pondok Indah Plaza I Kav. Merekalah para pendahulu imam-imam madzhab. Nuansa-nuansa itu tercermin dalam ketokohan sarjana atau 'ulama' yang mendominasi suasana intelektual suatu tempat. Lahir dua tahun kekhalifahan 'Umar. 7501983. bidang kajian hukum Islam atau fiqh. dan sebagainya) yang masuk Islam.'Ali ibn al-Husayn ibn 'Ali ibn Abi Thalib al-Hasyimi. UA 20-21 Jakarta Selatan Telp. ibn 'Abbas.

21. Belajar dari ayahnya sendiri. Abu Hurayrah.Nafi'. dan pernah dibacakan do'a oleh Nabi agar mempunyai pemahaman mendalam (tafaqquh) dalam agama. klien 'Abd-Allah ibn 'Umar. klien Maymunah (istri Nabi saw. Lahir 50 H. Wafat pada 106 H. Belajar banyak dari 'Umar.Qasim ibn Muhammad ibn Abi Bakr. Belajar dari patronnya sendiri. Wafat pada 107 H.Sulayman ibn Yasar. dan lain-lain. yang dikenal dengan sebutan al-Baqir.Abu Ja'far ibn Muhammad ibn 'Ali ibn al-Husayn. Wafat di Thaif pada 68 H.Muhammad ibn Muslim. dan sebagainya. dan sebagainya. Wafat pada 114 H.'Abd-Allah ibn. dan lain-lain. Belajar dari Sa'd.'Ubayd-Allah ibn 'Abd-Allah ibn 'Utbah ibn Mas'ud. 'A'isyah. 'Abbas ibn 'Abd-Muthalib.) Belajar dari patronnya sendiri.. 'A'isyah. Abd Hurayrah. dia adalah guru Khalifah 'Umar ibn 'Abd al-'Aziz. Mendapat pendidikan dari 'A'isyah (bibinya sendiri). Berasal dari Daylam (daerah Iran). Dia adalah imam kelima kaum Syi'ah. Di Makkah beberapa sarjana terkenal juga tampil: 1. Mendapat perintah dari 'Umar ibn 'Abd-al-Aziz untuk mencatat Sunnah penduduk Madinah sebagai rintisan resmi pertama pembukuan Hadits. klien Ibn 'Abbas. Dianggap Bapak Ilmu tafsir al-Qur'an. Abu Hurayrah.Artikel Yayasan Paramadina Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota VI. dan belajar dari 'Abd-Allah ibn 'Umar. SEJARAH AWAL PENYUSUNAN (3/3) DAN PEMBAKUAN HUKUM ISLAM oleh Nurcholish Madjid 5. 7. Ibn 'Abbas. juga dari Jabir dan 'Abd-Allah Ibn 'Umar. Belajar dari 'Aisyah. Selain kepemimpinannya dalam fiqh dan Hadits. 10. dan dari 'A'isyah. Abu Hurayrah. dan dari 'A'isyah. 9. Annas ibn Malik. dll. Ibn Abbas. Beliau diajar tentang ta'wil. Wafat pada 117 H. dan sebagainya. Lahir dua tahun sebelum Hijrah. Wafat pada 103 H. Abu Hurayrah. dan sebagainya. ia juga terkenal sebagai penyair. 11. 8. yang terkenal dengan Ibn Syihab al-Zuhri. Sa'id ibn al-Musayyaib. Dikenal sebagai "Kepala Bani Hasyim" di zamannya. Pernah menyatakan ia sependapat . Belajar dari ayahandanya sendiri. 3. Zayd ibn Tsabit. Ibn Abbas. Wafat pada 98 H. Abu Hurayrah. Klien Bani Makhzum. juga dari A'isyah. 2. Diutus oleh 'Umar ibn 'Abd-al-Aziz ke Mesir. Ibn 'Umar. dan lainnya. 6. Sa'id ibn al-Musyyaib.Mujahid ibn Jabr.'Ikrimah. Belajar dari Ibn 'Abbas. 'Ali dan Ubay ibn Ka'b. Ibn 'Abbas. Wafat pada 106 H. mengajar Sunnah. dan lain-lain.Salim ibn 'Abd-Allah ibn 'Umar.

dan sama-sama tampil sebagai sarjana terkemuka. Abu Hurayrah. dan sebagainya. 3. Ibn 'Abbas. Kedua-duanya wafat pada 95 H. Abu Idris al-Khulani.Ibrahim ibn Yazid al-Nakha'i. Kemudian dari Basrah. Belajar dari 'Umar. Keduanya bersaudara. klien Zayd ibn Tsabit. 'Umar. dan lainnya. Ibn Mas'ud. Ibn 'Umar. 'Utsman. Selain ahli hukum Islam. Wafat pada 63 H. ia juga ahli bahasa.Anas ibn Malik al-Anshari. Wafat pada 118 H. dll. antara lain: 1.Masruq ibn al-Ajda' al-Hamdani.'Alqamah ibn Qays al-Nakha'i. Selain belajar dari Nabi juga banyak belajar dari Abu Bakr. Belajar dari patronnya. termasuk mereka yang hidup sezaman. Wafat pada 107 H. Murid terkemuka Ibn Mas'ud.Al-Aswab ibn Yazid al-Nakha'i. Wafat pada 114 H.dengan kaum Khawarij. tampil tokoh-tokoh. Ibn 'Abbas. Wafat pada 93 H. Raja ibn Hayah al-Kindi. Wafat pada 90 H. Namun yang paling . dan sebagainya. Ibn Mas'ud. 'Utsman.Muhammad ibn Sirin. seperti 'Abd-al-rahman ibn Gahnim al-Asy'ari. 2. Wafat pada 90 H. 'Ali. dan 4. Sarjana Tabi'in yang paling terkemuka. Sangat banyak mendapat pujian dari para 'ulama' yang lain. Karena penampilannya sebagai sarjana dan peranannya dalam mendidik para Tabi'in maka ia termasukkan dalam daftar ini. Disebutkan berkulit hitam kelam. Dari kalangan warga Kufah yang tampil antara lain ialah: 1. dan sebagainya. Wafat pada 110 H. Wafat pada 110 H. Lahir 17 H. karena ia Sahabat Nabi sejak Hijrah sampai wafat. 'A'isyah. dan lain-lain.Al-Hasan ibn Abi al-Hasan Yassar. kemudian dari Abu Hurayrah. Lahir di masa Nabi masih hidup. Banyak belajar dari kawannya sendiri itu. Abu Hanifah. kawan Ibn 'Abbas. Belajar dari 'A'isyah. 2. dan belajar dari 'Umar. Guru utama Imam Abu Hanifah. Abu Hurayrah. Cukup menarik bahwa al-Sya'bi tidak suka kepada metode qiyas (analogi) yang menjadi ciri Ahl al-Ra'y yang dikembangkan muridnya.Abu al-Syaitsa'. Ibn 'Abbas dan Ibn 'Umar. Belajar dari 'Ali.'Atha ibn Rabbah. 'Ali. 5. Seorang khadam. Jabir ibn Zayd.'Amir ibn Syarahil al-Sya'bi. sejarah dan geneologi (al-nasab). Wafat pada 62 H. Ibn Mas'ud. 6. Qabishah ibn Dzu'ayb. yang fasih dan luas pengetahuan. Dari daerah Syam (Syria) beberapa tokoh ahli hukum tampil. Dibesarkan di Madinah dan menghafal al-Qur'an di zaman 'Utsman. di samping seorang sarjana terkemuka. Ubbay.Qatadah ibn Da'aman al-Dusi. 'Ali dan 'A'isyah. Seorang pejuang yang terkenal berani. Makhul ibn Abi Muslim. 5.Abu al-'Aliyah Rafi' ibn Mahran al-Riyahi. 4. klien Anas ibn Malik. 4. Belajar dari 'Umar. 3.

2. Dia wafat pada 101 H. bersama Masjid-Universitas al-Azharnya). dan lainnya. h.penting dari para sarjana Syam itu ialah Khalifah 'Umar ibn 'Abd-al-'Aziz. 224-5. al-Syafi'i.Al-Sayyid Sabiq. Yazid ibn Abi Habib yang disebut-sebut sebagai pelopor ilmu pengetahuan di Mesir dan ahli masalah halal dan haram (wafat pada 128 H. Tarikh al-Tasyri' al-Islami (Beirut: Dar al-Fikr.. Di Jazirah Arabia sebelah selatan. . dan ibukota Mesir ialah Fusthath yang perkembangannya tidak terlalu pesat seperti lain-lain.). Thawus ibn Kaysan al-Jundi (wafat pada 106 H.Ibid. 4. I h. Kota Kairo belum ada (baru didirikan oleh Dinasti Fathimiyah kelak. 'Utsman dan 'Ali) dan mensponsori secara resmi (kenegaraan) usaha penulisan Sunnah atau Hadits.Musthafa al-Siba'i. juga banyak muncul sarjana-sarjana dengan pengaruh yang jauh keluar dari batasan daerahnya sendiri. 6. seperti al-Awza'i. Mesir saat itu belum menjadi tandingan tempat-tempat yang tersebut di atas. (Riyadl: Jami'at al-Imam Muhammad ibn Su'ud al-lslamiyyah. (Kuwait: Dar al-Bayan 1968/1388)." dalam Al-Ijtihad fi al-Syari'at al-Islamiyyah. [7] Para tokoh ahli hukum itu dan kegiatan ilmiah serta pengajarannya telah mendorong tumbuhnya para spesialis hukum angkatan berikutnya. 'Abd-al-Khayr ibn 'Abd-allah al-Yazani (wafat pada 90 H.Untuk keterangan lebih lengkap tentang tokoh-tokoh ini. Kemudian Wahb ibn Munabbin al-Shan'ani. Malik. 5. Selanjutnya ialah Yahya ibn Abi Katsir yang menurut sementara 'ulama' yang lain seperti Syu'bah dianggap lebih ahli tentang Hadits daripada al-Zuhri tersebut. 222.Ibid. 1949). Mereka ini.) yang belajar dari Zayd ibn Tsabit. 1387/1968). dan lainnya. "Al-Ijtihad fi 'Ashr al-Tabi'in wa Tabi'i 'l-Tabi'in. lihat al-Syaykh Muhammad al-Hudlari Beg. 17. yaitu Yaman. 3. 13.). Abu Hurayrah. terkenal sebagai 'Umar II dan banyak dipandang sebagai yang kelima dari al-Khulafa' al-Rasyidin. Wafat pada 114 H. Ibn 'Abbas. al-Layts ibn Sa'd. jil. pada gilirannya. 126-41. 7fe7). dan Ahmad ibn Hanbal. 1404/1984).Ibid. h. dan lainnya. h. antara lain. Sufyan al-Tsawri.). Dialah yang mengukuhkan tarbi. 'Umar. hh. 223. Fiqh al -Sunnah. 'A'isyah.Al-Syaykh 'Ali al-Khafifi. Walaupun begitu telah tampil pula di kalangan Mesir beberapa sarjana terkemuka. Jabir.. hh. seperti 'Abd-Allah ibn al-'Ash (wafat pada 65 H. Al-Sunnah wa Makanatuha fi al-Tasyri' al-Islami (Kairo: al-Dar al-Qawmiyyah. (mengakui empat Khalifah pertama: Abu Bakr. h. yang belajar dari Ibn 'Umar. CATATAN 1. telah melapangkan jalan bagi tampilnya para imam madzhab yang sampai saat ini pengaruhnya masih amat kukuh seperti Abu Hanifah. 7. Mereka itu.

keputusan-keputusan pengadilan agama ini sifatnya mengikat kepada pihak-pihak yang berperkara. Kitab-kitab fiqh ketika ditulis juga tidak dimaksudkan. kitab-kitab itu tidak dimaksudkan untuk diberlakukan secara umum di suatu negeri. adalah keputusan-keputusan pengadilan agama. keputusan-keputusan pengadilan agama. ialah kitab-kitab fiqh yang pada saat di tulis pengarangnya. karena itu memerlukan perhatian tersendiri pula. 7501983. Metro Pondok Indah Pondok Indah Plaza I Kav. (021) 7507174 Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota Please direct any suggestion to Media Team Artikel Yayasan Paramadina Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota IV.-------------------------------------------Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah Editor: Budhy Munawar-Rachman Penerbit Yayasan Paramadina Jln. Jenis produk pemikiran hukum ketiga. Fatwa-fatwa ulama atau mufti. Orang yang terlibat dalam perumusannya juga tidak terbatas pada para fuqaha atau ulama. fatwa-fatwa ulama. Isi fatwa itu sendiri belum tentu dinamis. yaitu: kitab-kitab fiqh. FIQH DAN REAKTUALISASI AJARAN ISLAM Oleh Atho' Mudzhar Sedikitnya ada empat macam produk pemikiran hukum Islam yang kita kenal dalam perjalanan sejarah Islam. Berbeda dengan fatwa. tapi fatwa biasanya cenderung bersifat dinamis karena merupakan respon terhadap perkembangan baru yang sedang dihadapi masyarakat si peminta fatwa. Fatwa tidak mempunyai daya ikat. tapi sifat responsifnya itu yang sekurang-kurangaya dapat dikatakan dinamis. dalam arti si peminta fatwa tidak harus mengikuti isi/hukum fatwa yang diberikan kepadanya. Masing-masing produk pemikiran hukum itu mempunyai ciri khasnya tersendiri.28. untuk . tapi juga para politisi dan cendekiawan lainnya. yaitu peraturan perundangan di negeri Muslim. Jenis produk pemikiran Islam yang kedua. Ini juga bersifat mengikat atau mempunyai daya ikat yang lebih luas. sifatnya adalah kasuistik karena merupakan respon atau jawaban terhadap pertanyaan yang diajukan peminta fatwa. 7507173 Fax. meskipun dalam sejarah kita mengetahui. beberapa buku fiqh tertentu telah diperlakukan sebagai kitab undang-undang. Jenis produk pemikiran hukum keempat. (021) 7501969. dan sampai tingkat tertentu juga bersifat dinamis karena merupakan usaha memberi jawaban atau menyelesaikan masalah yang diajukan ke pengadilan pada suatu titik waktu tertentu. dan peraturan perundangan di negeri-negeri Muslim. UA 20-21 Jakarta Selatan Telp.

selama berabad-abad fiqh menduduki tempat yang amat terpandang sebagai bagian dari agama itu sendiri. maka orang yang menguasai fiqh yang biasanya disebut fugaha. sekarang kita lihat bagaimana dalam kenyataan. fiqh cenderung dianggap sebagai aturan Tuhan itu sendiri. SIKAP MUSLIM TERHADAP FIQH Setelah kita melihat bagaimana seharusnya memandang fiqh. dan saran-saran pemecahan masalahnya. Gambaran ini diperlukan. masyarakat memandang fiqh. Dengan cara meletakkan fiqh pada proporsinya yang demikian itu maka diharapkan kita akan memperlakukannya secara proporsional pula. maka fiqh sebenarnya tidak boleh resisten terhadap pemikiran baru yang muncul kemudian. keputusan pengadilan agama. Dan ketiga. bukan saja sebagai orang yang memaklumi produk pemikiran keagamaan tapi sebagai penjaga hukum agama itu sendiri. memandang fiqh identik dengan hukum Islam. seperti pertama. Inilah kedudukan kitab fiqh sebagai salah satu bentuk produk pemikiran hukum Islam dan karakteristik serta kecenderungan-kecenderungannya dibanding dengan produk-produk pemikiran hukum lainnya: fatwa. tapi sebagai buku agama itu sendiri. dan karena hukum Tuhan adalah hukum yang paling benar dan tidak bisa dirubah maka kitab-kitab fiqh bukan saja dipandang sebagai produk keagamaan. Kedua. Ketika seorang faqih dari suatu masa menuliskan tintanya menjadi kitab fiqh. Kalau fatwa dan keputusan pengadilan agama sifatnya kasuistik --yaitu membahas masalah tertentu-. Akibat lebih lanjut dari kedudukan fiqh yang diidentikkan dengan agama itu. Selain itu kitab-kitab fiqh juga mempunyai karakteristik lain. Pada umumnya masyarakat Islam. Karena itu kitab-kitab fiqh cenderung menjadi resisten terhadap perubahan. maka perbaikan atau revisi terhadap sebagian isi kitab fiqh dianggap dapat. dalam rangka reaktualisasi ajaran Islam. dan hukum Islam dipandang identik dengan aturan Tuhan. maka kitab-kitab fiqh dipandang sebagai kumpulan hukum Tuhan. Secara sosiologis kedudukan demikian itu memberi hak-hak istimewa dan peranan tertentu kepada fuqaha pada lapisan sosial tertentu. karena sifatnya sebagai produk pemikiran.maka kitab-kitab fiqh sifatnya menyeluruh dan meliputi semua aspek bahasan hukum Islam. maka sebenarnya itu . Dengan cara pandang itu. membiarkan fiqh sebagai kumpulan aturan yang tidak mempunyai batasan masa lakunya. khususnya masyarakat Islam Indonesia. Dengan tidak adanya masa laku ini. juga mempunyai kedudukan tinggi. dan bukan bagian dari produk pemikiran keagamaan. maka kitab-kitab fiqh cenderung dianggap harus berlaku untuk semua masa. atau akan mengganggu keutuhan isi keseluruhannya. yang pada gilirannya akan mempengarahi cara pandang dan cara pikir fuqaha itu sendiri. Sebagai salah satu akibat dari sifatnya yang menyeluruh ini.digunakan pada masa atau periode tertentu. sebelum kita mencoba memberi analisa lebih jauh tentang mekanisme kerja fiqh. yang oleh sebagian orang lalu dianggap sebagai jumud atau beku alias tidak berkembang. adalah sama dengan menghalalkan produk pemikiran manusia yang semestinya temporal. fiqh hanyalah salah satu dari beberapa bentuk produk pemikiran hukum Islam. Akibatnya. Sebagai akibatnya. dan peraturan perundangan negeri Muslim.

sedangkan kelompok kedua menghasilkan kitab-kitab fiqh yang bersifat rasional. dalam hal porsi penggunaan akal. aturan yang disebut hukum Islam itu tidak boleh terkena intervensi akal manusia karena hukum Islam itu adalah kebenarannya mutlak yang hanya diatur dengan wahyu. dan untuk itu terlebih dahulu perlu dipahami faktor-faktor apa sebenarnya mengakibatkan kekeliruan tersebut. Kelompok pertama terutama berkembang di Madinah. Kelompok pertama adalah mereka yang mengutamakan penggunaan hadits dalam memahami ayat-ayat Qur'an dan kelompok kedua. apalagi aspek-aspek kehidupan yang merupakan produk perkembangan zaman modern. tidak terkecuali di Indonesia. dan dipelopori Imam Malik bin Anas dan kelompok kedua berkembang di Kufah dan Baghdad. empat diantaranya akan disebutkan dan diuraikan di sini. Imam Syafi'i sebenarnya telah berusaha menjembatani kedua kelompok itu. dan untuk memelihara status diri mereka. Ironisnya. sebagaimana telah disebutkan di muka. maka para fuqaha memerlukan kehidupan fiqh yang tinggi. Kelompok pertama kemudian dikenal dengan ahl al-hadith dan kelompok kedua disebut ahl al-ra'yi. Inilah yang menyebabkan lahirnya pandangan yang telah membiarkan fiqh sebagai kumpulan aturan yang tidak mempunyai batasan masa lalu . Kitab-kitab fiqh hasil kelompok pertama lebih memberi tempat kepada hadits-hadits meskipun lemah. dipelopori Imam Abu Hanifah. tapi tidak sepenuhnya berhasil.tidak terlepas sebagian atau tadi. dari cara seluruhuya pandang dan cara pikirnya yang diwarnai oleh kedudukan sosialnya Di sini. Pilihan Wahyu dan Akal Dalam sejarah pertumbuhan hukum Islam kita mengetahui. dalam memandang fiqh. sebenarnya terjadi siklus yang menarik diamati: bahwa untuk menjaga dan memeliharanya. EMPAT PASANGAN PILIHAN Terdapat sejumlah pasangan pilihan yang dapat mempengaruhi pandangan seseorang tentang fiqh. Keempat pasangan pilihan tersebut ialah sebagai berikut: 1. karena beliau sendiri pada akhirnya lebih memihak pada kelompok pertama. dalam mencoba memahami dan menjabarkan ajaran Islam tentang hukum. adalah mereka yang mengutamakan penggunaan akal. Demikian kesalahpahaman yang terjadi di kalangan sementara orang Islam. Kekeliruan ini rasanya perlu diperbarui dan dibetulkan. produk-produk pemikiran fiqh itu dianggap sebagai identik dengan hukum Tuhan itu sendiri. Meskipun pandangan ini bersifat utopis karena kenyataan. terdapat dua aliran besar di kalangan para pendiri madzhab. Kadang-kadang fiqh yang dipeliharanya itu adalah produk para pendahulunya. fiqh memerlukan penjaga yang disebut faqih atau fuqaha. jumlah ayat al-Qur'an mengenai hukum itu hanya sedikit sekali (kurang lebih 276-500 ayat). tapi pandangan ini telah mempunyai pengaruh dalam memberikan label bahwa produk pemikiran fiqh itupun merupakan upaya menafsirkan kehendak Tuhan yang bersifat abadi dalam bidang hukum. dan karenanya tidak meliput semua aspek kehidupan manusia. Kedua aliran ini telah menghasilkan kitab-kitab fiqh yang berbeda. tapi kadang-kadang juga produksinya sendiri. Jadi sejak awal pertumbuhannya telah ada pihak-pihak yang berpendirian.

fiqh yang dipandang identik dengan hukum Islam itu bermacam-macam. bahwa pandangan pertama telah mendominasi benak kaum Muslim selama berabad-abad. Bagi kita kaum Muslim Indonesia. adalah kitab-kitab fiqh yang ditulis lima atau enam abad yang lalu. karena hukum Islam itu adalah hukum Tuhan maka semestinya hukum Islam itu hanya ada satu macam saja untuk seluruh umat manusia. antara cita-cita dan kenyataan. kitab-kitab fiqh yang kita pelajari itu mengandung ekspresi lokal di Timur Tengah sana. Ini berarti --sejarah telah membuktikannya-. bahwa kitab-kitab fiqh itu pada umumnya ditulis para fuqaha. maka kitab fiqh yang berpuluh-puluh jilid itupun menjadi tabu mendapatkan revisi. dan bukan oleh para hakim di pengadilan agama. untuk seluruh umat Islam di dunia. tapi dulunya lebih merupakan ekspresi lokal. Pilihan Kesatuan dan Keragaman Pasangan pilihan kedua adalah. Hukum Islam sebagai kesatuan artinya. Tapi karena hukum Islam dipandang identik dengan fiqh. Kesalahan dalam melakukan pilihan antara wahyu dan akal. Kita mengetahui dari sejarah. Satu kitab fiqh dapat ditulis dalam berpuluh-puluh jilid. dan sebagai hasilnya fiqh selalu resisten terhadap perubahan. Jadi. dan merupakan ekspresi dari kultur tertentu di sekitar Timur Tengah. Kita mengetahui terdapat berbagai madzhab dalam fiqh. Tapi pada kenyataan kita melihat. Tapi justru kitab-kitab yang dipandang sebagai hukum Islam itu di Indonesia dipandang universal tadi. Kitab-kitab fiqh yang kita pelajari sekarang di Indonesia ini. Bahkan kita mengetahui banyak fuqaha menolak jabatan qadi atau hakim. atau para ahli hukum. Begitulah. Orang harus melakukan pilihan antara pandangan yang mengatakan hukum Islam itu universal. atau lebih tepatnya kesalahan dalam memberikan porsi peranan wahyu dan akal ternyata telah membawa pada kejumudan fiqh itu sendiri yang justru meliputi sebagian terbesar dari aturan hukum Islam yang ada. seperti yang kita saksikan selama ini. dengan pandangan yang mengatakan hukum Islam itu partikular . mengidentikkan fiqh dengan hukum Islam yang universal. Sekarang kita melihat madzhab-madzhab itu sebagai aliran-aliran dalam hukum Islam. antara hukum Islam sebagai kesatuan dan hukum Islam sebagai keragaman. lebih ironis lagi. sementara wahyu yang mendasarinya hanya beberapa ratus ayat saja. dan dari suatu masa tertentu di masa silam. Jadi. dan sebagian diterjemahkan atau disadur dalam bahasa Indonesia. selain sudah tua. 3. Tentu saja selebihnya adalah produk penafsiran dan pemikiran manusia. meskipun untuk itu mereka harus masuk penjara. Artinya kitab-kitab fiqh itu partikularistik.dan cenderung mengekalkan produk pemikiran manusia yang semestinya temporal dan liable terhadap perubahan. Demikianlah perkembangan hukum Islam. kesalahan dalam melakukan pilihan yang tepat antara porsi peranan wahyu dan akal telah mempunyai dampak yang serius dalam sejarah perkembangan --atau lebih tepatnya ketidak-berkembangan fiqh. telah mengakibatkan mandeknya perkembangan fiqh. Pilihan Idealisme dan Realisme Pasangan pilihan ketiga yang telah mempengaruhi perkembangan fiqh adalah pilihan antara idealisme dan realisme. Hukum Islam yang dianggap universal itu sebenarnya adalah produk fuqaha dari suatu lingkungan kultur tertentu. 2.fiqh pada umumnya dirumuskan para teoritisi belakang meja daripada . jurist. Kita mengetahui dalam sejarah.

baik remote waktu maupun tempat. Kita harus memandang fiqh sebagai produk dominan akal ketimbang wahyu. Sebagai akibatnya. LANGKAH-LANGKAH REAKTUALISASI Uraian di atas dapat disimpulkan: Kemandekan pemikiran fiqh di dunia Islam selama ini adalah karena kekeliruan menetapkan pilihan dari pasangan-pasangan pilihan tersebut di atas. melainkan akibat lanjutan dari pilihan pada pasangan-pasangan sebelumnya. lebih menekankan segala sesuatunya pada hal-hal yang maksimal daripada minimal. atau sekurang-kurangnya kekeliruan dalam menentukan bobot masing-masing pilihan itu. Sebagai akibatnya kitab-kitab fiqh menjadi beku.praktisi di lapangan. telah mengakibatkan kemandekan pemikiran fiqh di dunia Islam selama ini. statis. khususnya dalam bidang hukum. Semua itu. dan Irak. Baru pada abad ke-19 terdengar suara-suara untuk melakukan perubahan terhadap fiqh yang ada. Pasangan pilihan ini sebenarnya tidak sepenuhnya berdiri sendiri. Fiqh telah mewakili hukum dalam bentuk cita-cita daripada sebagai respon atau refleksi kenyataan yang ada secara realis. maka kita harus membalik pilihan-pilihan tersebut di atas. 4. dan karenanya boleh diotak-atik. Akibat lain dari pilihan atas idealisme daripada realisme itu. Karena hukum Islam harus hanya ada satu. Kebekuan fiqh itu. Fiqh harus dipandang sebagai varian suatu keragaman yang bersifat partikularistik yang terkait dengan tempat dan waktu. apalagi ketika kitab-kitab fiqh itu menjadi remote dari masyarakat yang mengamalkannya. sebagaimana disebutkan di muka. Fiqh juga telah memilih stabilitas daripada perubahan. Hal ini terjadi di Tunisia. Bahkan Saudi Arabia pun dalam banyak hal telah mulai melakukan suplemen terhadap hukum-hukum fiqh Hambali yang umumnya terlalu literalis. dan lebih khusus lagi dalam bidang fiqh. fiqh harus dilihat sebagai mata rantai perubahan yang tak henti-hentinya tanpa harus dipersoalkan keabsahannya karena toh pada akhirnya fiqh itu hanya menyangkut soal cabang . dan tidak boleh mengalami perubahan. Fiqh telah dipandang sebagai ekspresi kesatuan hukum Islam yang universal daripada sebagai ekspresi keragaman partikular. khususnya dalam hal hukum keluarga. Jika kita hendak mereaktualisasikan ajaran-ajaran Islam. fiqh yang dihasilkannya lebih mengekspresikan hal-hal yang ideal daripada real. dan resisten terhadap perubahan. Pendek kata. Mesir. Beberapa negeri Muslim setelah pertemuan yang pahit dengan peradaban Barat. Ini telah terjadi pada saat kitab fiqh itu dituliskan. mulai mencoba melakukan revisi terhadap fiqhnya. maka secara konseptual hukum Islam tidak menerima adanya variasi. dirubah atau bahkan dibuang pada setiap saat. Pilihan Stabilitas dan Perubahan Pasangan pilihan keempat adalah pilihan stabilitas dan perubahan. dengan mengintrodusir dan memperbaharui peraturan perundangan. Siria. ini berarti hukum Islam itu harus stabil. Fiqh harus dikembangkan dari yurisprudensi pengadilan yang bertumpu pada realisme. ialah: fiqh semakin hari semakin jauh dari kenyataan masyarakat. telah berlangsung selama berabad-abad. Dari dimensi waktu.

adanya tingkat pendidikan dan tingkat keterbukaan yang tinggi dari masyarakat Muslim. Chicago. dan tidak pula menyadari betapa surat pendek itu dapat menjadi pangkal gerakan kemanusiaan yang besar dan mendalam seperti . Pakistan. dan termasuk yang sering dibaca dalam shalat itu. kaum muslim Indonesia seperti tidak pernah tersentuh oleh makna dan semangat firman Allah itu. Kedua. (021) 7507174 Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota Please direct any suggestion to Media Team Artikel Yayasan Paramadina Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota V. 7507173 Fax. Conflicts and Tensions in Islamic Law (The University of Chicago Press. maka produk pemikiran hukum itu dengan sendirinya harus dirubah.. Noel J.35. Catatan-catatan kuliah Sejarah Sosial Hukum Islam pada Fakultas Pasca Sarjana. Dan ketiga. -------------------------------------------Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah Editor: Budhy Munawar-Rachman Penerbit Yayasan Paramadina Jln. Surat itu sendiri sudah merupakan bagian dari hafalan baku para santri. yaitu surat al-Ma'un (QS 107). 1990/1991. IAIN Jakarta. sampai dengan tampilnya Kyai Dahlan dengan Muhammadiyahnya. Coulson. Metro Pondok Indah Pondok Indah Plaza I Kav. 1977). sedikitnya ada tiga syarat yang harus dipenuhi yaitu: Pertama.dari agama. UA 20-21 Jakarta Selatan Telp. Muhammad Muslehuddin. memahami faktor-faktor sosiokultural dan politik yang melatarbelakangi lahirnya suatu produk pemikiran fiqhiyah tertentu. Tapi untuk melakukan pilihan-pilihan yang tepat diperlukan beberapa syarat. MASALAH SIMBOL DAN SIMBOLISME DALAM EKSPRESI KEAGAMAAN (1/2) Oleh Nurcholish Madjid Ketika Kyai Ahmad Dahlan mulai menapak jalan menuju cita-cita reformasi Islam di Indonesia. khususnya para imam shalat. DAFTAR KEPUSTAKAAN Atho' Mudzhar. agar dapat memahami partikularisme dari produk pemikiran hukum itu. adanya keberanian di kalangan umat Islam untuk mengambil pilihan-pilihan yang tidak konvensional dari pasangan-pasangan pilihan tersebut di atas. jika di tempat lain atau pada waktu lain ditemukan unsur-unsur partikularisme yang berbeda. (021) 7501969. Tetapi. Dengan demikian dinamika hukum Islam dapat terus dijaga dan dikembangkan. 1969). beliau memperkenalkan dan mempropagandakan sebuah surat pendek al-Qur'an dari Juz 'Amma. Philosophy of Islamic Law and the Orientalists (Islamic Publications Ltd. Dengan demikian. 7501983.

adalah karena mereka merupakan kelompok-kelompok sosial yang paling memerlukan usaha bersama untuk memperbaiki nasib mereka. tidak ada yang timbangan atau bobot nilai kebaikannya lebih erat daripada budi pekerti luhur. haji. kita melakukan ibadat karena menghayati bahwa shalat adalah perintah Allah lalu tidak menghayati apa makna shalat itu yang lebih mendalam dan luas. Maka celakalah untuk orang-orang yang shalat. Sebuah Hadits yang amat terkenal mengisyaratkan bahwa tujuan tugas suci atau risalah dibangkitkannya Nabi s. namun tidak menghayati dan tidak mewujud-nyatakan hikmahnya." Artinya. orang yang mendustakan agama? Itulah orang yang menghardik anak yatim dan tidak berjuang untuk memberi makan orang miskin. seperti kemestian yang ada pada pola pergaulan dalam suatu kelompok. Disebutkannya anak yatim dan orang miskin. yang menurut istilah sekarang. Dikatakan semakin diperburuk karena kepalsuan kita dalam beragama memperoleh bungkus kebajikan berupa amalan ibadat lahiriah. Seperti kita ketahui. dll. yaitu budi pekerti yang luhur. sekurang-kurangnya mungkin sekali kita sekedar pamrih kepada sesama anggota kelompok Islam. "kelompok orang-orang Islam. yang dibidikkan oleh ibadat itu.a. Indikasinya ialah keseganan untuk berkorban guna memberi pertolongan kepada orang yang perlu. biarpun sedikit. yaitu mereka yang akan shalat tetapi lalai. Sebab mungkin kita sendiri tidak merasa.Muhammadiyah dengan amal-amal sosialnya. kurang lebih adalah: Pernahkah engkau lihat (hai Muhammad).w. [5] Lalu beliau gambarkan bahwa yang paling banyak menyebabkan manusia . dan yang enggan memberi pertolongan. dan bungkus itu dengan sendirinya akan mempunyai dampak penipuan. [4] Sejalan dengan ini Nabi juga menggambarkan bahwa diantara semua kualitas manusia. Artinya. Keagamaan yang sejati menuntut adanya wujud nyata konsekuensi ibadat. Jadi sesungguhnya kita menjalankan ibadat itu karena pamrih atau riya'. adalah untuk menyempurnakan berbagai keluhuran budi. yang tingkah laku itu bakal membentuk budi pekerti luhur [2]. Anak yatim dan orang miskin mewakili seluruh anggota masyarakat yang tidak beruntung oleh berbagai sebab dan cara. [1] Jelas sekali firman Allah itu menegaskan bahwa kepalsuan dapat terjadi dalam sikap keagamaan kita jika kita tidak memiliki komitmen batin kepada usaha-usaha. [3] AGAMA DAN AKHLAQ Surat al-Ma'un memperingatkan kita bahwa beragama dengan tulus tidaklah cukup hanya dengan mengerjakan segi-segi formal keagamaan seperti shalat. namun ibadat itu tidak mempengaruhi tingkah laku kita yang lebih mendalam. yaitu mereka yang suka pamrih kepada sesama. puasa. Karena itulah Allah mengutuk orang yang menjalankan ibadat formal serupa itu namun ia lupa atau lalai akan ibadat mereka sendiri. sementara kita mungkin rajin menjalankan ibadat-ibadat formal seperti shalat. surat al-Ma'un itu terjemahnya. menegaskan keadilan sosial. kita menjalankan ibadat-ibadat hanyalah untuk memenuhi kemestian-kemestian sosial kultural semata. misalnya. Penilaian diri kita sebagai pendusta agama atau beragama secara palsu karena tidak memiliki komitmen sosial yang makin diperburuk oleh tingkah laku lahiriah kita sendiri yang nampak seperti menjalankan ibadat formal.

[6] Penegasan-penegasan Nabi itu merupakan kelanjutan dari ajaran al-Qur'an tentang apa yang dinamakan nilai kebajikan (al-birr atau 'amal shalih). [8] Dalam kaitan itu menarik sekali memperhatikan komentar Yusuf Ali atas firman yang amat penting ini. serta mereka yang tabah dalam kesulitan. betapapun cinta orang itu kepada harta tersebut. (3) kita harus menjadi warga masyarakat yang baik. para malaikat. dan ajaran-ajaran-Nya yang tidak lagi berada jauh dari kita. dan memang berhak untuk meminta. dan orang yang menepati janji jika membuat janji. dan (4) jiwa pribadi kita sendiri harus teguh dan tidak goyah dalam segala keadaan. tapi ia harus memusatkan pandangannya kepada cinta Tuhan dan cinta sesama manusia. melainkan datang dalam pengalaman kita sendiri. Kita diberi empat pokok: (1) iman kita harus sejati dan tulus." [7] Dan penegasan-Nya lagi. peminta-minta. kesusahan dan masa perang. Keempat pokok itu saling berkaitan. . Jika kita sadari itu. yang lebih terinci: Bukanlah kebajikan itu bahwa kamu menghadapkan mukamu ke timur dan ke barat. anak-anak yatim (termasuk siapa saja yang tidak punya topangan hidup atau bantuan). orang yang benar-benar memerlukan pertolongan tetapi tidak pernah meminta (kewajiban kita menemukan mereka itu). kitab-kitab suci dan para nabi. menegaskan "Kamu sekalian tidak akan memperoleh kebajikan sebelum kamu mendermakan sebagian dari (harta) yang kamu cintai. Dikatakannya: Seakan untuk menekankan lagi peringatan melawan formalisme yang mematikan. tapi masih dapat dipandang secara terpisah. Tindakan-tindakan derma yang praktis mempunyai nilai hanya jika keluar dari rasa cinta dan tidak dari motif-motif yang lain. Kita juga melihat karya Ilahi dalam alam ciptaan-Nya. Dalam hal ini. berujud jenjang yang wajar. juga. Mereka itulah orang-orang benar (tulus). orang-orang miskin. Untuk kerabat. Kita harus menyadari kehadiran Tuhan dan kebaikan-Nya. hal-hal besar menjadi kecil di depan mata kita segala kepalsuan dan sifat sementara dunia ini akan tidak lagi memperbudak kita. Iman bukanlah semata-mata perkara ucapan. Allah swt. Orang itu harus mentaati aturan-aturan yang membawa kebaikan. orang terlantar di perjalanan. Hari kemudian.Tetapi kebajikan ialah (jika) orang yang beriman kepada Allah. yakni. dan mereka itulah orang-orang yang berbakti (bertaqwa). sebab kita melihat Hari Kemudian seolah-olah terjadi sekarang ini. dan untuk membebaskan para budak. dan mereka didahulukan sebelum orang yang meminta. sanak keluarga kita. dan orang yang mendermakan hartanya. (2) kita harus memperlihatkannya dalam tindakan-tindakan kebaikan kepada sesama kita. kita diberi gambaran yang indah tentang orang yang salih dan takut kepada Tuhan.masuk surga ialah taqwa kepada Allah dan keluhuran budi. bukan sekedar pengemis yang malas tetapi orang A. yang mendukung organisasi-organisasi sosial. anak-anak yatim. kewajiban kita dapat berbentuk berbagai macam.

"Tempat dia di neraka!." Kemudian orang itu menceritakan tentang seorang wanita yang kedengarannya jelek. yang memberi peringatan keras kepada orang yang suka pamer kebajikan palsu dan kemunafikan dalam menekuni segi-segi forma keagamaan. Jadi. namun ia rajin memberi pertolongan kepada orang-orang sengsara. tetapi lidahnya selalu menyakiti sanak keluarganya. [9] Dalam menafsir firman itu. Seseorang yang datang kepada Nabi dan menceritakan tentang seorang wanita yang rajin mengerjakan shalat. sehingga tidak seharusnya dipandang dalam kerangka sebagai tujuan dalam dirinya sendiri sementara tujuan yang sebenarnya terlupakan. seperti soal pakaian atau tingkah "tidak sopan" dan "tidak bermoral" tertentu. namun reaksi kepada masalah-masalah kepincangan sosial seperti kemiskinan dan kezaliman masih lemah. Perbudakan mengandung berbagai bentuk yang tersembunyi dan berbahaya dan semuanya tercakup di situ. BUKAN TAUHID NAMA . puasa dan zakat.[l0] Dan memang menghadapkan muka ke arah tertentu dalam ibadat hanyalah bentuk formal lahiriah semata dari sebuah amalan. sebelum kita mengisinya dengan hal-hal yang lebih esensial. Prinsip ini dipertegas oleh Nabi saw dalam sebuah Hadits mengenai dua wanita: Abu Hurayrah meriwayatkan prinsip penting yang diajarkan Nabi ini. banyak orang Islam yang lebih cepat bereaksi kepada gejala-gejala yang dinilai menyimpang dari ketentuan lahiriah keagamaan.yang memerlukan bantuan kita dalam bentuk tertentu (kewajiban kita untuk tanggap kepada mereka). Maka Hadits di atas dapat dirujuk sebagai sebuah ilustrasi tentang apa yang dikatakan Prof. dan tidak pernah menyakiti hati sanak keluarganya. Yang dimaksud ialah. Mukti Ali itu. "Tempat dia di surga. Prof. pernah mengatakan bahwa orang-orang Muslim banyak yang lebih peka kepada masalah-masalah keagamaan daripada masalah-masalah sosial. Maka Rasul saw bersabda." Seorang tokoh Islam Indonesia. Karena itu juga tidak pula segi-segi lahiriah itu akan menghantarkan kita menuju kebahagiaan. agama kita mengajarkan bahwa formalitas ritual belaka tidaklah cukup sebagai wujud keagamaan yang benar. TAUHID ESENSI. karena ia melalaikan shalat dan puasa. Justru sikap-sikap membatasi diri hanya kepada hal-hal ritualistik dan formal akan sama dengan peniadaan tujuan agama yang hakiki. Maka Nabi saw bersabda. dan budak-budak (kita harus melakukan apa saja yang dapat kita lakukan untuk memberi atau membeli kemerdekaan mereka). dan di situ nampak bahwa Nabi saw justru lebih peka pada masalah-masalah sosial yang lebih substantif daripada masalah-masalah formal keagamaan semata yang simbolik. Mukti Ali. A. Muhammad Asad menegaskan bahwa al-Qur'an menekankan prinsip yang semata-mata mengikuti bentuk-bentuk lahiriah tidaklah memenuhi persyaratan kebajikan. Disebutnya masalah menghadapkan wajah ke arah ini atau itu dalam sembahyang adalah kelanjutan dari pembahasan tentang kiblat dalam urutan ayat-ayat sebelumnya.

Karena salah paham. melainkan berbilang sebanyak nama yang digunakan. Dan janganlah engkau (Muhammad) mengeraskan shalatmu. Sebetulnya dzikir adalah lebih banyak sikap hati (dzat al-shadr). selain nama "Allah" untuk Wujud Maha Tinggi. al-Razzaq. Metro Pondok Indah Pondok Indah Plaza I Kav. Maka turunlah firman Allah. yang selama ini tidak dikenal orang Arab yang selama ini menggunakan nama Allah (al-Lah). UA 20-21 Jakarta Selatan Telp." [12] -------------------------------------------. jangan pula kau lirihkan. al-Rahim. maka bagi Dia adalah nama-nama yang terbaik". al-Ghaffar. Dalam pandangan mereka yang keliru itu. (021) 7507174 Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota Please direct any suggestion to Media Team Artikel Yayasan Paramadina Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota V. firman Allah itu mengandung makna bahwa . khususnya kata-kata atau lafal yang berkaitan dengan Tuhan seperti "Allah" dan "La ilaha illa 'l-lah". nama manapun yang kamu serukan. jika Dzat Yang Mutlak itu mempunyai nama lain. yang secara langsung atau tidak. seperti pengucapan atau pembacaan kata-kata atau lafal-lafal tertentu dari perbendaharaan keagamaan. Namun dzikr juga dapat melahirkan gejala formal. seperti al-Rahman. dan carilah jalan tengah antara keduanya. dll. berarti Ia tidak Maha Esa. "Serulah olehmu sekalian (nama) Allah atau serulah olehmu sekalian (nama) al-Rahman. 7507173 Fax. (021) 7501969. Selain lafal "Allah" sebagai lafal keagungan (lafzh al-jalalah) karena merupakan nama Wujud Maha Tinggi yang utama juga terdapat lafal-lafal lain yang merupakan nama-nama Wujud Maha Tinggi itu. dari antara nama-nama terbaik (al-asma al-husna) Tuhan. Sebab pada saat itu al-Qur'an mulai banyak menggunakan nama al-Rahman.35. 7501983. dapat dipahami dari berbagai sumber suci dalam al-Qur'an dan Sunnah.(bersambung 2/2) Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah Editor: Budhy Munawar-Rachman Penerbit Yayasan Paramadina Jln. Dalam Kitab Suci al-Qur'an terdapat sebuah firman yang isinya petunjuk kepada Nabi saw menghadapi orang-orang musyrik Arab yang menolak adanya nama lain. memberi petunjuk kepada Nabi dalam menghadapi mereka: "Katakan (hai Muhammad). kaum musyrik Arab mengira bahwa Nabi tidak konsisten dalam mengajarkan paham Ketuhanan Yang Maha Esa. MASALAH SIMBOL DAN SIMBOLISME DALAM EKSPRESI KEAGAMAAN (2/2) Oleh Nurcholish Madjid Menurut Sayyid Quthub.Dzikr atau ingat kepada Tuhan adalah salah satu bentuk ritus yang amat penting dalam agama Islam.

Firman itu juga merupakan sanggahan terhadap kaum Jahiliah yang mengingkari nama "al-Rahman". Dzat Yang Maha Esa itulah yang bernama "Allah" dan atau "al-Rahman" serta nama-nama terbaik lainnya. Maka barangsiapa menyembah nama tanpa makna. ia berkata: "Dia (Muhammad) melarang kita menyembah dua Tuhan. dan dalam bersujud beliau mengucapkan: "Ya Allah. Dalam sebuah penuturan. Karena itu al-Baidlawi menegaskan bahwa pahan Tauhid bukanlah ditujukan kepada nama. bahwa di suatu malam nabi beribadat. [l4] Pandangan Ketuhanan yang amat mendasar ini diterangkan dengan jelas sekali oleh Ja'far al-Shadiq. bukannya "Allah" bernama "al -Rahman" atau "al-Rahim". Jadi. selain nama "Allah"." Ada juga penuturan bahwa ayat itu turun kepada Nabi karena kaum Ahl al-Kitab pernah mengatakan kepada beliau. Engkau mengerti. Dzat atau Wujud yang satu dan sama. Ja'far al-Shadiq menyambung. yaitu Dzat (Esensi) Wujud Yang Maha Mutlak itu. tafsir-tafsir klasik menuturkan adanya Hadits dari Ibn Abbas. mendengar tentang ucapan Nabi dalam sujud itu. Jadi yang bersifat Maha Esa itu bukanlah Nama-Nya. "Bagi Allah Yang Maha Mulia dan Maha Agung ada sembilanpuluh sembilan nama. al-Baidlawi dan al-Nasafi menegaskan bahwa kata ganti nama "Dia" dalam kalimat "maka bagi Dia adalah nama-nama yang terbaik" dalam ayat itu mengacu tidak kepada nama "Allah" atau "al-Rahman". ya Rahman". dan sekarang ia sendiri menyembah Tuhan yang lain lagi. "Al-Lah") berasal "ilah" dan "ilah" mengandung makna "ma'luh'. wahai Hisyam?" Hisyam mengatakan lagi. Dan barangsiapa menyembah makna tanpa nama maka itulah Tawhid. ia sungguh telah kafir dan tidak menyembah apa-apa. padahal Allah banyak menggunakan nama itu dalam Taurat. Tetapi Allah Yang Maha Mulia dan Maha Agung adalah suatu Makna (Esensi) yang diacu oleh nama-nama itu.manusia dibenarkan memanggil atau menyeru dan menamakan Tuhan mereka sekehendak mereka sesuai dengan nama-nama-Nya yang paling baik (al-asma al-husna). dan nama (ism) tidaklah sama dengan yang dinamai (al-musamma). sebab Dia mempunyai banyak nama. melainkan kepada esensi. maka ia sungguh telah musyrik dan menyembah dua hal. maka setiap nama itu adalah suatu Tuhan. Maka Tauhid yang benar ialah "Tawhid al-Dzat" bukan "Tawhid al-Ism" (Tauhid Esensi. Zamakhsyari. bukan Tauhid Nama). baik untuk kalangan Ahl al-Sunnah maupun Syi'ah. (yang disembah). sedangkan nama-nama itu sendiri seluruhnya tidaklah sama dengan Dia . Kalau seandainya nama itu sama dengan yang dinamai. tetapi kepada suatu dzat atau esensi." [15] . "Engkau (Muhammad) jarang menyebut nama al-Rahman. tokoh musyrik Makkah yang sangat memusuhi kaum beriman. dan keduanya menunjuk kepada Hakikat. Sebab suatu nama tidaklah diberikan kepada nama yang lain.. "Tambahilah aku (ilmu)". melainkan Dzat atau Esensi-Nya. Ketika Abu Jahal.. guru dari para imam dan tokoh keagamaan besar dalam sejarah Islam. [l3] Berkenaan dengan alasan turunnya firman itu." Maka turunnya ayat itu tidak lain ialah untuk menegaskan bahwa kedua nama itu sama saja. melainkan kepada sesuatu yang dinamai. Barangsiapa menyembah nama dan makna (sekaligus). ia menjelaskan nama "Allah" dan bagaimana menyembah-Nya secara benar sebagai jawaban atas pertanyaan Hisyam: "Allah" (kadang-kadang dieja.

namun tetap ada kesadaran bahwa suatu simbol hanya mempunyai nilai instrumental. [17] Jadi. Justru segi ini harus ditumbuhkan lebih kuat dalam masyarakat. menerangkan. 'Ali Ibn Abi Thalib ra. melainkan menuju kepada suatu nilai yang tinggi). namun simbol tanpa makna adalah absurd. antara nama (ism) dan yang dinamakan (musamma) tidak identik. seperti ditegaskan oleh Ja'far al-Shadiq yang dikutip di atas. Maka sebenarnya yang boleh dikatakan "ideal" dalam kehidupan keagamaan ialah jika ada keseimbangan antara simbolisasi dan substansiasi. sebagaimana keduanya itu dipesankan kepada kita melalui shalat kita. tidak benar untuk dijadikan tujuan penyembahan. menyembah Tuhan sebagai maknanya berarti menyembah Wujud yang tak terjangkau dan tak terhingga. dan yang terdinding dari dugaan dan benih pikiran. Jadi "al-Lah" ialah Dia yang tertutup dari indera makhluk. Bersamaan dengan penggunaan simbol-simbol diperlukan adanya kesadaran tentang hal-hal yang lebih substantif.. yang Hakikatnya tidak dibatasi oleh nama-nama-Nya. Orang Arab mengatakan "Seseorang tercekam (aliha) jika ia merasa bingung (tahayyara) atas sesuatu yang tidak dapat dipahaminya. Nama Tuhan pun. "Allah" maknanya "Yang Disembah" yang agar makhluk (aliha. mewariskan penjelasan yang amat berharga kepada kita Dia mengatakan. yang justru mempunyai nilai intrinsik. dan orang itu terpukau (walaha) jika ia merasa takut (fazi'a) kepada sesuatu yang ia takuti atau kuatiri. muspra dan malah berbahaya.") pada penutupannya. berarti kita harus menunjukkan penyembahan kita kepada Dia yang menurut al-Qur'an memang tidak tergambarkan. Allah adalah Wujud dan tertutup dari kemampuan penglihatan. Agama tidak mungkin tanpa simbolisasi. betapapun nama-nama itu nama-nama utama (al-Asma al-Husna). [16] Dan Muhammad al-Baqir ra. betapapun. Maka agama ialah pendekatan diri kepada Allah dan perbuatan baik kepada sesama manusia.Kalau kita harus menyembah Makna atau Esensi. menurut Hadits-hadits di atas. CATATAN . Jadi. Berkenaan dengan ini. dan tidak sebanding dengan apapun. "Allah" artinya "Yang Disembah" (al-Ma'bud). tidak mampu atau bingung) mengetahui Esensi-Nya (Mahiyyah) dan memahami Kualitas-Nya (Kaifiyyah). Artinya. dan bukan menyembah Nama seperti yang diperingatkan dengan keras sebagai suatu bentuk kemusyrikan oleh Ja'far al-Shadiq itu. Sebab. jangankan sekedar simbol dan ritus. dan tidak intrinsik (dalam arti tidak menjadi tujuan dalam dirinya sendiri. sambil melupakan Makna dan Esensi di balik Nama itu. dalam makna takbir (ucapan "Allah-u Akbar") pada pembukaan dan dalam makna taslim (ucapan.'assalamu'alaikum . yang mengenai Dia itu makhluk merasa tercekam (ya'lahu) dan dicekam (yu'lahu) oleh-Nya.. jika terdapat kewajaran dalam penggunaan simbol-simbol sedemikian rupa sehingga agama memiliki daya cekam kepada masyarakat luas (umum).

sehingga mereka yang menjalankan shalat itu dengan mereka yang tidak menjalankannya sama saja. QS. Yang dimaksud dalam firman ini bukanlah mereka itu dikutuk Allah karena lupa mengerjakan shalat yang disebabkan. hal." 5. Jadi.("Tiada sesuatu apapun yang dalam timbangan (nilainya) lebih berat daripada keluhuran budi"). Sebab lupa dan alpa serupa itu justru dimaafkan oleh Allah. Apalagi jika lebih buruk! 3. Hassan dalam Al-Furqan. 46). menerjemahkannya dalam bahasa Inggeris dengan "feels no urge" (tidak merasakan adanya dorongan). Yaitu sabda Nabi saw. misalnya. 4 jilid. sebagai "comprises the small items needed for one's daily use.. Ibn Taymiyyah. Jadi bergaya hidup egoistis. tt. kata-kata "al-ma'un" mencakup hal-hal kecil yang diperlukan orang dalam penggunaan sehari-hari. [tulisan Arab] "ma min syay-in fi 'il-mizan-i atsqal-u min husn-i 'l-khulaq-i. Jilid 3. [tulisan Arab] "Innama bu'its-tu li-utammim-a makarim-a 'l-akhlaq-iSesungguhnya aku diutus hanyalah untuk menyempurnakan berbagai keluhuran budi. Dalam maknanya yang lebih luas. Yaitu sabda nabi yang amat terkenal. Perkataan "yahudldlu" yang diterjemahkan dengan "berjuang" di sini mempunyai asal arti "menganjurkan dengan kuat". Maktabat al-Riyadl al-Haditsah. Yang diterjemahkan dengan "lupa" atau "lalai" dalam firman itu ialah kata-kata yang dalam bahasa aslinya (Arab) "sahun". perkataan "yahudldlu" menunjuk pada adanya komitmen batin yang tinggi. menerjemahkan perkataan itu dengan "menggemarkan. as well as the occasional acts of kindness consisting in helping out one's fellow-men with such item. dalam The Message of the Qur'an. it denotes "aid" or "assistance" in any difficulty" (. In its wider sense. Berarti bahwa indikasi ketulusan dan kesejatian dalam beragama ialah adanya komitmen sosial yang tinggi dan mendalam kepada orang bersangkutan. khususnya mereka yang memerlukan pertolongan. tidak dikutuk. 2. tidak peduli kepada orang lain sekitar. al Ma'un/107:1-7. (Lihat.1. . Minhaj al-Sunnah. A. Dan Muhammad Asad.. yakni usaha mengangkat dan menolong nasib kaum miskin. dalam arti bahwa shalat mereka tidak mempunyai pengarah apa-apa kepada pendidikan akhlaknya. 4. Kata-kata Arab "al-ma'un" yang merupakan ujung surat dan menjadi nama suratnya dijelaskan oleh Muhammad asad. 979.. kata-kata itu berarti "bantuan" atau "pertolongan" dalam setiap kesulitan) -The Message of the Qur'an. Riyadl. juga perbuatan kebaikan kala-kala berupa pemberian bantuan kepada sesama manusia dalam hal-hal kecil tersebut. terlalu sibuk bekerja. Tapi yang dimaksud dalam firman itu ialah mereka yang menjalankan shalat itu lupa akan shalat mereka sendiri. berdasarkan berbagai tafsir klasik." Departemen Agama menerjemahkan dengan "menganjurkan" sedangkan Mahmud Yunus dalam tafsir Qur'an Karim menggunakan perkataan "menyuruh". karena baginya perkataan "yahudldlu" mempunyai makna "mendorong diri sendiri" (sebelum mendorong orang lain). hal.

7. 5. 7507173 Fax. QS. 14. QS. Untuk pembahasan ini. Lengkapnya. 7501983. -------------------------------------------Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah Editor: Budhy Munawar-Rachman Penerbit Yayasan Paramadina Jln. [tulisan Arab]. Madarik al-Tanzil wa Haqaiq al-Ta'wil oleh al-Nasafi. 69. [tulisan Arab]. 73. "Aktsar-u ma yudkhil-u 'l-jannat-a taqwa 'l-Lah-i wa husn-u 'l-khuluq-i "Yang paling banyak memasukan orang ke dalam surga ialah taqwa kepada Allah dan keluhuran budi". 16. Sayyid Quthub. 13. Translation and Commentery (Jeddah: Dar al-Qiblah 1403 H). Muhammad Asad. Juz 15. Dikutip oleh Roger Garaudy. 9. 1992). [tulisan Arab]. The Holy Qur'an. Fi Zhilal al-Qur'an. Yaitu sebuah penuturan atau riwayat yang berasal dari Muhammad al-Baqir. 15.'Ali 'Imran 3:93.6. al-Baqarah 2:177. riwayat itu dalam bahasa aslinya (Arab) adalah demikian.a. 8. dalam Integrismes. UA 20-21 Jakarta Selatan Telp. 36.32. A. al-Kasysyaf al-Zamaksyari. 17. hal. ZAKAT KONSEP HARTA YANG BERSIH . hal. Jil. Metro Pondok Indah Pondok Indah Plaza I Kav. Khalil A. [tulisan Arab]. 93: 12. lihat tafsir ayat bersangkutan dalam kitab-kitab tafsir klasik: Anwar al-Tanzil wa Asrar al-Ta'wil oleh al-Baidlawi. Yusuf Ali. Yaitu keterangan dari Ali ibn Abi Thalib r. Sebuah Hadits otentik. al-Isra'/17:110. (021) 7507174 Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota Please direct any suggestion to Media Team Artikel Yayasan Paramadina Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota V. 11. hal. 10.. terjemah bahasa Arab oleh Dr. Tafsir al-Khazin oleh al-Baghdadi. QS. menurut sebuah penuturan. hal. Khalil. AlUshuliyyat al-Mu'ashirah: Asbabuha wa Mazhahiruha (Paris: Dar Am Alfayn. (021) 7501969. dll.

logika kesejarahan hadir dalam ujud hal yang bersifat empirik. seseorang yang kebetulan kaya raya tiba-tiba terpanggil menginfakkan seluruh hartanya untuk menghidupi orang-orang miskin. Tanpa diduga-duga orang ini tiba-tiba tersadarkan bahwa di alam dunia ini. tapi sekaligus juga ma'mul (applicable). kekuatan maupun kelemahan. tapi yang ma'mul secara implisit haruslah ma'qul. Sebagai agama yang datang untuk kehidupan manusia dalam ukuran yang normal atau yang wajar. dikontrol dan bisa diukur. Tapi adanya kekuatan ghaib. harus bisa dijabarkan dalam kerangka kerja sistem yang bisa dirancang. tapi dalam hati tetap bercokol keyakinan. Berbeda dengan logika teoritis yang bersifat abstrak dan subyektif. Misalnya karena kekhusyukannya dalam menunaikan shalat. Tapi. anehnya orang tak kunjung kapok menjadikannya sebagai tema. tentang "pemerataaan" atau lebih mendasar lagi soal "keadilan sosial. kehebatan dan mukjizatnya diperlihatkan juga. logika empiris bersifat konkrit dan obyektif. Sesungguhnyalah. yang tersimpan dalam kata-kata "zakat" itu sendiri.Oleh Masdar F. Logika pemikiran hadir dalam ujud rnaqal yang bersifat teoritis. Mas'udi Bicara soal zakat dikaitkan dengan pemerataan ada kesan memaksakan diri. manusia yang dengan hak prerogatif Tuhan hanya memiliki kemungkinan baik. puasa." orang bisa saja mengatakan bahwa semua rukun Islam yang lima cukup ma'qul untuk memecahkannya. .Islam tak punya urusan. bagaimanapun hal ini memang tak mustahil. Sementara untuk manusia yang luar biasa. atau hanya memiliki potensi buruk --kalau saja yang demikian itu ada dalam kenyataan Islam-. seseorang boleh tak punya apa-apa. Bahkan mengkaitkannya dengan rukun Islam yang lain (syahadat. Islam tak saja harus ma'qul (sensible). Suatu ajaran untuk bisa disebut ma'mul. dengan konsep zakat bukan merupakan hal yang tak masuk akal. sedang ma'mul artinya bisa dicerna logika kesejarahan. yang penting adalah keterpautan hati secara terus menerus untuk menyebut nama-nama Nya. Tapi dari semua yang ma'qul itu. lambat atau cepat. orang ini terbuka tabir kerohaniannya. di mana akan munculnya momen-momen ajaib yang lahir atas campur tangan langsung Tuhan seperti digambarkan di atas. Yakni manusia sebagai makhluk Tuhan yang memiliki segala kemungkinan dan potensi kebaikan maupun keburukan. Kembali pada pokok soal. suatu saat nanti. Karena Islam datang sebagai petunjuk untuk manusia dan diterapkan oleh manusia dalam kapasitas kodratinya yang wajar-wajar saja. shalat. Ajaib! Tapi. kata-kata zakat diyakini sebagai tokoh imam mahdi atau ratu adil yang meski pun sangat sulit orang mencernanya. magic. Masalahnya. bahkan keadilan sekaligus. atau hanya pas-pasan saja. bisa baik bisa jahat. Seolah-olah yang penting bukan kesepadanan konsep zakat dengan pemerataan. bisa meng-iblis tapi juga bisa menjadi laiknya malaikat. dengan segala ajarannya. Ibarat figur. Ini berarti bahwa yang ma'qul belum tentu matmul. mengkaitkan soal pemerataan. Manusia yang bisa salah bisa benar. Ma'qul artinya bisa dicerna logika penalaran. Islam bukanlah sejenis halte tempat orang menunggu dengan kepasifan. mangada-ada!. juga haji) bukan merupakan perkara mustahil.

konsep pajak sedikit banyak sudah mulai diberi fungsi redistribusi kekayaan seperti tersebut di atas. Lebih dari sekedar meletakkan soal penguasaan sumber daya materi sebagai subyeknya. Tapi karena manusia mengidap nafsu "cinta harta" (hub-u 'l-dunya). lembaga negara yang secara moral hanya bisa dijustified sepanjang berfungsi sebagai racun penawar terhadap kerakusan duniawi masyarakat manusia (yang kuat). Maka bisa dimengerti apabila pernah muncul suatu obsesi dalam sejarah pemikiran manusia yang mengimpikan suatu zaman dimana apa yang disebut lembaga negara itu tak usah ada lagi. ketimpangan di bidang yang lain (politik dan budaya) hampir pasti selalu saja membuntuti. rata sedikitnya atau banyaknya. maka kehadiran lembaga yang memiliki kewenangan memaksa untuk melakukan pengalihan itu pun menjadi tak terelakkan. Karena seperti halnya tema pemerataan. dalam sejarah politik kenegaraan modern. Tapi disinilah persoalannya. yang dalam realitas sosiologis memuncak pada apa yang dikenal dengan negara (state). zakat adalah satu-satunya rukun Islam yang berkaitan langsung dengan persoalan materi itu. Benar bahwa haji pun bersentuhan dengan soal materi. Tapi persoalannya. Maka konsep dasar zakat sebagai mekanisme redistribusi kekayaan (materi) adalah pengalihan sebagian aset materi yang dimiliki kalangan kaya (yang memiliki lebih dari yang diperlukan) untuk kemudian didistribusikan pada mereka yang tak punya (fakir miskin dan sejenisnya) dan kepentingan bersama. Sebab bermula dari ketimpangan dalam hal materi (ekonomi). dimana sebagian yang lain hampir-hampir tak memiliki sama sekali.bahkan meletakkannya sebagai sesuatu yang harus diatur sedemikian rupa agar kemungkinannya untuk menumpuk hanya pada kalangan tertentu (aghniya) bisa dihindarkan. siapa yang sebenarnya paling .satu-satunya yang sekaligus ma'mul adalah rukun yang ketiga. zakat --berbeda dengan haji-. Zaman idaman baginya adalah zaman ketika lembaga negara telah lenyap berikut seluruh akar-akarnya. Ia dengan segala perangkat lunaknya (seperti sistem hukum dan perundang-undangan) maupun yang keras (seperti satelit pengintai dan senjata rudalnya) seringkali menjadi alat bagi kepentingan "penyakit keduniaan" yang seharusnya dinetralisir oleh keberadaannya. Seyogyanyalah pengalihan itu dilaksanakan kalangan berada atas kesadaran mereka sendiri. Syahdan. tapi hanya sebagai sarana yang tetap ada di luar zat-Nya. 18 abad kemudian secara eksplisit mengidealkan kepunahannya. Tapi lembaga anomali tersebut perlu justru untuk menjadi penawar bagi anomali lain yang ada pada diri manusia. Ajaran Nabi Isa secara implisit ingin sekali mengingkari keberadaannya. Bahkan dengan tarif begitu tinggi yang disebut dengan pajak progresif. yakni nafsu gila harta (keduniaan) tadi. setelah pajak yang tinggi itu ditarik dari masyarakat wajib pajak. atau ditekan serendah-rendahnya. yakni zakat. Lembaga itu. atau keadilan sosial. Juga ajaran Karl Marx. apakah memang kemudian ditasarufkan untuk mengangkat kehidupan mereka yang tak punya dan untuk kemaslahatan semua pihak? Inilah persoalan dasar. yang titik berangkatnya adalah pada pemerataan akses sumber daya materi. Sasarannya bukan agar semua orang memiliki bagian secara sama rata. dari sudut moral memang merupakan anomali. dalam sejarahnya justru cenderung memainkan peran terbalik. Tapi agar tak terjadi suasana ketimpangan.

secara lahir batin. sama sekali tak berarti. Tapi hal itu tetap bukan (belum?) dalam rangka penegakkan kontrol atas lembaga negara bagi kepentingan rakyat. tapi baru yang ada di lapisan menengah dan terutama lapisan atas. Bahwa di negara-negara Eropa dan Amerika yang pendapatan perkapitanya telah mencapai angka 8 ribu sampai 11 ribu dollar pertahun masih banyak warga negara yang tuna wisma (homeless) adalah bukti yang sangat cukup bahwa rakyat jelata di sana memang belum bisa disebut ikut memiliki negara. Apabila negara di zaman modern sudah mulai melibatkan rakyat melalui wakil-wakilnya dalam menentukan penggunaan uang pajaknya melalui undang-undang. Lembaga Perwakilan Rakyat hanyalah sekedar "nama dan proforma". atau oleh hampir semua negara di atas bumi ini? Pertanyaan tersebut mengena bukan saja terhadap lembaga negara yang dikelola secara otoriter. di negara-negara Timur yang paternalistik. baik secara keturunan maupun SK jabatan seperti di Timur). tapi juga terhadap negara-negara lain yang mengaku berjalan secara demokratis. yaitu rakyat keseluruhan yang dimulai dari lapisannya yang paling jelata. atau semi otoriter. legislatif maupun judikatif). negara monarki absolut memandang kewenangan pengalokasian uang pajak (upeti/tax) sepenuhnya di tangan sang raja saja. politik dan budaya. pada hakekatnya adalah lembaga Perwakilan Penguasa. Tapi ya itu tadi. Kesadaran dan perilaku mereka tetaplah untuk mengelabui rakyat bagi kepentingan para penguasa yang mengatur keberadaan mereka. Memang lebih gila lagi. di Barat negara memang sudah tak lagi sepenuhuya milik penguasa (kaum bangsawan. Berapa anggaran belanja yang diperuntukkan bagi pembebasan rakyat (jelata). masih jauh dari dapat disebut memiliki negara.diuntungkan oleh pranata pajak yang ditangani lembaga negara. Dimulai dari pembebasan di bidang ekonomi. . seperti Amerika dan negara-negara Barat. aristokrat. Mereka yang ada di lapisan bawah. sudah berada di tangan rakyat. Bagian yang paling besar dari dana itu diperuntukkan untuk melindungi atau melayani kepentingan kelas menengah ke atas. Penjelasannya sederhana. dalam alokasi penggunaan dana pajak dalam APBN mereka. keberadaan lembaga perwakilan rakyat umumnya hanya merupakan permainan politik kalangan elite penguasa. atau melalui sektor pembangunan sarana-sarana mana yang diperuntukkan utamanya bagi kalangan masyarakat kelas menengah ke atas. Tapi juga belum berarti telah kembali pada pemiliknya yang sah. adalah negara-negara monarki absolut zaman dulu. Lembaga Perwakilan Rakyat di negara-negara Timur yang paternalistik. seperti yang terjadi di banyak bumi belahan Timur. lebih-lebih rakyat pada lapisannya yang paling jelata. Berbeda dengan di Timur. yang justru merupakan pemilik utama sebutan "rakyat" kapan saja ia diucapkan. independensi lembaga perwakilan rakyat dengan penguasa (baca: eksekutif) memang cukup kuat. Hal tersebut dapat dilihat dengan jelas. kemudian menyusul bidang-bidang kehidupan lain yang lebih sublim. Di Barat negara dengan seluruh soko gurunya (eksekutif. dengan peranan lembaga perwakilan rakyat dalam tata kenegaraan modern belum menjadi jaminan bahwa uang pajak akan ditasarufkan dengan prioritas utama bagi pembebasan rakyat lemah. misalnya. Apakah melalui sektor pertahanan dalam pengertian yang luas dengan dalih demi kepentingan nasional mereka. Di negara-negara Barat yang liberal-kapitalistik.

Hanya masalahnya. Sementara di Barat yang liberal-kapitalistik. yakni kaum kapitalis dan tentu saja para elite politik sebagai pengawal kepentingan-kepentingannya. sekurang-kurangnya dalam tingkat verbal.Memang ada drama yang menarik. negara-negara Barat segera menunjukkan kedermawanannya (charity). yakni kelompok orang-orang yang secara politik mengendalikan jalannya pemerintahan itu sendiri dan kalangan para kaya kapitalis. Sampai titik ini sebenarnya telah jelas bagi kita bahwa. mereka siap menawarkan bantuannya. Baik yang berupa hibah (grant) maupun yang berupa pinjaman (loan). bahkan dalam tarif yang begitu tinggi. Dan kepentingan mereka (negara-negara Barat). Nafsu kerakusan mereka untuk mengakumulasikan kekayaan lebih banyak dan lebih banyak lagi. akan segera tampak pada kita bahwa apa yang diperbuat negara-negara Barat tetaplah demi kepentingan mereka sendiri. ternyata digelapkan oleh negara sehingga tak sampai ke alamat (mustahiq) yang semestinya. dan bisa mengelabui banyak orang. Setiap kali bencana dan musibah terjadi di masyarakat dunia Timur. dana pajak yang semestinya diprioritaskan pentasarufannya untuk memperkuat yang lemah. seolah negara-negara liberal kapitalis Barat itu telah menempatkan dirinya di bawah kepentingan rakyat sejati. yakni beban pajak. Di dunia Timur yang feodalistik. sistem kenegaraan/pemerintahan yang liberal-kapitalistik memang merupakan pilihan sejarah terbaik dan terakhir. banyak orang terhegemoni untuk meyakini bahwa Barat memang teladan dunia. kaum lemah dan melarat. bahwa beban yang ditimpakan kepada mereka yang punya. dana pajak yang dikenakan atas orang-orang kaya dibelokkan pentasarufannya untuk kepentingan para penguasa untuk mempertahankan kekuasaannya. Dengan pranata pajaknya ide zakat (bahwa yang kuat harus menanggung beban) sudah banyak dilaksanakan oleh hampir semua negara di jaman ini. So. jelas merupakan persoalan yang tetap serius bagi ide pemerataan dan keadilan. Persoalan pokok itu kini jelas terutama ada di pihak apa yang kita sebut lembaga negara. agaknya tak lagi terutama terletak pada kalangan kaya. dan kemudian keadilan sosial dalam tatarannya yang lebih luas. Lebih dari itu. selaku cukongnya. lebih-lebih kenegaraan modern. sama sekali bukan demi kepentingan rakyat dan bangsa negara-negara Timur. Memang di sana bukan tak ada masalah sama sekali. apabila negara-negara Timur yang miskin itu memerlukan perbaikan ekonomi. Padahal. Dengan kata lain persoalan pokok dalam topik redistribusi kekayaan (asset) untuk pemerataan. ide dasar dari zakat bukan sesuatu yang sama sekali asing dalam struktur pemikiran kenegaraan. seperti disebutkan di atas adalah kepentingan kelompok yang mengontrol roda kenegaraan atau pemerintahan. what?! Menuruti obsesi Marx bahwa lembaga negara mesti dienyahkan . Akibat permainan drama kolosal ini. diputarkan kembali untuk melipat gandakan kekuatan mereka yang sudah kuat. Drama itu pementasannya di masyarakat bangsa negara-negara Timur yang umumnya miskin dan lemah. Karena dia (lembaga negara)-lah yang berbuat selingkuh. jika dilihat sedikit lebih kritis. Tapi fakta bahwa dalam kerakusannya mereka bisa diikat komitmennya untuk menyisihkan sebagian dari kekayaannya (berupa pajak) adalah bukti bahwa persoalan pokok tak lagi sepenuhnya di tangan mereka.

Konsepsi tentang ajaran zakat (dan pada akhirnya tentang bangunan fiqh secara keseluruhan) yang sudah terlanjur mendogma di kalangan umat selama lebih dari sepuluh abad. UA 20-21 Jakarta Selatan Telp. Sebagian orang mungkin merasa lebih aman dalam dekapan dogma lama ketimbang harus berspekulasi dengan pamahaman ajaran yang "baru. bukan bagi kepentingan penguasa atau kalangan kaya. Dari sudut konsepsi zakat. tak lebih hanyalah mitos belaka. "Biarlah badan itu tetap ada dan tumbuh dengan kewajarannya. dengan meyakinkan masyarakat akan pentingnya kontrol sosial (amar ma'ruf nahi munkar) secara terus menerus. 7507173 Fax. harus ditransformasikan terlebih dahulu." Demikianlah Muhammad Rasulullah sebagai teladan umat manusia tak perlu menyatakan penolakan terhadap keberadaan lembaga negara. tak seorang pun --kecuali langka. kalau pun ada-. agar keberadaan lembaga negara itu tetap sebagai alat. Tapi inilah kuncinya. maka pengkaitan ajaran Zakat dengan cita pemerataan. ada pekerjaan rumah (PR) yang harus diselesaikan lebih dahulu. Tapi dengan bercokolnya nafsu-nafsu itu pada badan. lembaga kenegaraan itu beliau bangun dengan kewaspadaan penuh.atau pengingkaran Isa as. -------------------------------------------Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah Editor: Budhy Munawar-Rachman Penerbit Yayasan Paramadina Jln. Bahkan beliau sendiri dengan komunitasnya. (021) 7501969. (021) 7507174 Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota Please direct any suggestion to Media Team Konsep dasar dalam al qur. 7501983. Mengingkari lembaga negara untuk semangat (ruh) kolektivitas manusia hukumnya sama belaka dengan mengingkari badan bagi ruh individualitas manusia. Memang untuk menegakkan keadilan sosial dalam semangat dan kerangka zakat. apalagi dalam pengertian yang lebih luas sebagai lembaga permufakatan kolektif. Tapi dengan pengawasan atau kontrol yang terus menerus jangan sampai jatuh dan diperalat oleh nafsu-nafsu jahat yang mengitarinya. dengan membebaskan kemaslahatan (keadilan dan kesejahteraan) bagi semuanya. negara sebagai badan besar pun mengidap nafsu-nafsu (interests) negatif duniawi yang selalu cenderung memperalat dirinya. apalagi keadilan. Seperti halnya badan (kecil). Metro Pondok Indah Pondok Indah Plaza I Kav.yang pernah menyarankan jalan keluar agar badan itu dimusnahkan saja daripada diperalat oleh nafsu-nafsu negatif yang melekat padanya Yang paling sehat dan fitri (Islami) tentulah pendirian yang mengatakan. kedudukan negara atau kekuasaan pemerintahan adalah amil yang harus melayani kepentingan segenap rakyat. dengan sadar telah membangun lembaga itu. Pekerjaan ini berat dan memakan waktu. betapa pun konyolnya tidaklah mungkin dihindari. melainkan bagi kepentingan seluruh rakyat yang ada dalam otoritasnya. terhadap lembaga itu rasa-rasanya tak realistik." Tapi tanpa keberanian moral dan intelektual untuk melakukan perubahan itu. Negara.an( rasif) .

Yang pertama. menulis buku al-fiqh-u 'l-akbar yang isinya bukan tentang ilmu fiqih. keduanya baik ilmu kalam atau ilmu tauhid maupun ilmu fiqih pada dasarnya adalah fiqih atau pemahaman yang tersistematisasikan. baik yang dikategorikan sebagai sifat-sifat yang wajib. Sebab pemungutan suatu istilah dari khazanah dan tradisi agama lain tidaklah harus dipandang sebagai sesuatu yang negatif.Artikel Yayasan Paramadina Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota II. apalagi jika istilah tersebut bisa memperkaya khazanah dan membantu mensistematisasikan pemahaman kita tentang Islam. Boleh jadi. dan bukan hanya dengan ilmu kalam atau ilmu tauhid. Imam Abu Hanifah. Pijakan tulisan ini tentang teologi al-Qur'an. Melalui kategori-kategori yang dirumuskan sebagai hukum akal itu. yakni: wajib. Masalah-masalah lain seperti kepercayaan tentang . kita diajak memahami tentang konsep ketuhanan dan kenabian. Akan tetapi perjalanan sejarah dan tradisi keilmuan Islam telah menyingkirkan pengertian fiqih sebagaimana dipergunakan Imam Abu Hanifah. Kata teologi sebagaimana dijelaskan dalam Encyclopaedia of Religion and Religions berarti "ilmu yang membicarakan tentang Tuhan dan hubungan-Nya dengan alam semesta. ilmu fiqih seperti yang berkembang sekarang ini dalam kerangka pemikiran Imam Abu Hanifah adalah al-fiqh-u 'l-ashghar. sifat-sifat yang mustahil maupun sifat-sifat yang harus.5. dalam mempelajari ilmu tersebut. Sebab. namun seringkali diperluas mencakup keseluruhan bidang agama. tapi justru tentang aqidah yang menjadi obyek bahasan ilmu kalam atau tauhid. Biasanya. sedangkan yang kedua meyangkut bidang furu'iyah (detail atau cabang). melainkan istilah fiqih seperti yang pernah digunakan sebelum ilmu fiqih lahir. mustahil dan harus." Dalam pengertian ini agaknya perkataan teologi lebih tepat dipadankan dengan istilah fiqih. Hal ini tidaklah dimaksudkan untuk menolak pemakaian kata teologi itu." Hal ini bisa kita baca dalam buku-buku ilmu tauhid. menyangkut bidang ushuliyah (tentang yang prinsip atau yang pokok). dari yang sangat tradisional hingga yang termasuk modern seperti buku Risalah Tawhid karya Muhammad Abduh. Pertanyaan yang perlu kita munculkan. Kita tentu sepakat bahwa ide sentral dalam teologi al-Qur'an adalah ide tauhid. sebab ia membantu kita memahami Islam secara lebih utuh dan lebih terpadu. yaitu dari khazanah dan tradisi Gereja Kristiani. Bapak ilmu fiqih.mengenal atau pernah diberi pelajaran ilmu tauhid. Istilah fiqih di sini bukan dimaksudkan ilmu fiqih sebagaimana kita pahami selama ini. hanya ingin dikatakan bahwa pemakaian istilah teologi mempunyai alasan cukup kuat. bagaimana sebaiknya kita memahami dan kemudian menghayati ide tauhid itu dalam kehidupan kita sebagai muslim? Dalam pengalaman kita --sekurang-kurangnya sebagian dari kita-. misalnya. Ia istilah yang diambil dari agama lain. KONSEP-KONSEP TEOLOGIS oleh Djohan Effendi Perkataan teologi tidak berasal dari khazanah dan tradisi agama Islam. Maka kita pun mengetahui sifat-sifat Tuhan dan Nabi-nabi. pertama-tama kita diperkenalkan dengan apa yang disebut sebagai "hukum akal. Dengan menyinggung masalah ini.

ta'alluq tanjizi hadits. yang membuat kita bergairah dalam aksi untuk membebaskan diri kita dan masyarakat sekitar kita dari segala bentuk kemusyrikan. 4:171. Dengan mengemukakan hal itu ingin diturunkkan betapa jauhnya teologi yang dibahas dalam buku-buku ilmu tauhid dengan dunia praktis. dengan problematika kemanusiaan. dan kedua. ta'alluq hukmiyah. muncul berbagai konsep seperti sifat nafsiyah. misalnya penyembahan benda-benda langit seperti matahari. ma'ani dan sifat ma'nawiyah. pertama. seperti dilakukan para penganut agama-agama "pagan. 4:117). Berkenaan dengan penyembahan berhala. benda-benda langit atau benda-benda mati lainnya. 21:52). yakni. Teologi semacam itu adalah teologi yang steril dan mandul. Lebih-lebih kalau kita memasuki pembahasan yang lebih rumit. 5:116. 17:40 dan 37:49). 6:102. Salbiyah." Dalam membahas sifat dua puluh itu. ta'alluq ta'tsir. 41:37) atau benda-benda mati lainnya (QS. kiranya dari segi keberagamaan kita sebagai muslim. 6:74. Juga disinggung adanya penyembahan makhluk halus seperti jin (QS. menganggap Tuhan mempunyai andad atau saingan. moral maupun spiritual. 16:57. ta'alluq bi 'l-quwwah. Kalau kita mendengar perkataan syirik atau kemusyrikan yang segera terbayang dalam angan-angan kita biasanya penyembahan berhala. Masalahnya sangat jelas dan karena itu menghindarinya pun sangat mudah. 6:101) atau tokoh-tokoh yang dipertuhan atau dianggap mempunyai unsur-unsur ketuhanan (QS. Al-Qur'an mengemukakan dua ciri utama dari kemusyrikan. terutama ketika membicarakan sifat-sifat Tuhan. bulan dan bintang (QS. ta'alluq shuluhi qadim. yang selama ini dikenal sebagai "sifat dua puluh. Akan tetapi masalah . 19:82-92. menganggap Tuhan mempunyai syarik atau sekutu. hari akhirat maupun qadla dan qadar. dan muncullah konsep-konsep tentang ta'alluq ma'iyah." Dan memang al-Qur'an sendiri menyinggung bahkan mengecam orang-orang yang menjadikan berhala sebagai ilah atau sesembahan (QS. ta'allaq tanjizi qadim.malaikat. bukanlah persoalan yang masih memerlukan perhatian lebih banyak. Teologi semacam itu tidaklah membuahkan elan vital (gairah hidup). Kedua ciri utama itu wujud dalam berbagai bentuk manifestasi. ada baiknya bila kita memahami apa-apa yang oleh al-Qur'an dianggap sebagai syirik atau kemusyrikan. Ia tidak mempunyai relevansi dengan realitas kehidupan kita. Ia tidak melahirkan innerforce (kekuatan batin). Jelas sekali pembahasan tentang teologi sebagaimana terdapat dalam ilmu tauhid sangat intelektualistik sifatnya. Kebanyakan dari kita tentu tidak akrab dengan istilah-istilah atau konsep -konsep tersebut. atau penyembahan makhluk halus atau manusia yang dipertuhan. BENTUK-BENTUK KEMUSYRIKAN Dalam memahami ide tauhid. Selain berhala al-Qur'an juga mengemukakan hal-hal lain yang bisa dijadikan obyek sesembahan selain Tuhan. adalah kelanjutan atau pelengkap dari kepercayaan terhadap Tuhan dan Kenabian tersebut. Juga dikemukakan pembahasan tentang kaitan atau ta'alluq sifat-sifat Tuhan dengan alam ini. 7:138. Pembahasan tentang dan di sekitar hal-hal inilah yang selama ini disebut sebagai ilmu tauhid. kitab-kitab wahyu.

yakni: (1) Surah al-'Alaq. tahap Mekkah awal (610-615 M. Hal-hal lain yang oleh al-Qur'an dijadikan contoh sebagai saingan Tuhan dalam kaitannya dengan kecintaan kita adalah keluarga dan kerabat dekat kita. (7) Surah al-Ma'un. yang lebih halus sifatnya. Sengaja hanya diambil 12 surah di atas. Ia sangat terkait dengan hal-hal yang sangat praktis. KESERAKAHAN DAN KETIDAKPEDULIAN SOSIAL Berangkat dari berbagai bentuk manifestasi kemusyrikan yang disebutkan al-Qur'an di atas. Untuk memperjelas hal ini ada baiknya bila lebih dahulu dikemukakan tentang periodisasi turunnya al-Qur'an. (3) Surah al-Lahab. kekayaan. terutama berkaitan dengan ciri kemusyrikan yang menempatkan adanya andad atau saingan terhadap Tuhan. (11) Surah al-Balad. kita bisa sampai pada kesimpulan bahwa teologi al-Qur'an tidak sekedar terbatas pada aspek kepercayaan saja. 9:24). Al-Qur'an masih mengemukakan hal-hal lain yang berkaitan dengan masalah kemusyrikan. Di sini hanya diambil 12 surah paling awal saja.) dan periode Madinah (622-632 M. aliran atau juga organisasi yang berlebih-lebihan (QS." yaitu hawa nafsu kita sendiri (QS. (9) Surah al-Fil. sebab surah yang ke-13 adalah Surah al-Dhuha. karena itu usaha kita menjadi orang yang benar-benar bertauhid bukanlah masalah yang mudah. Berbagai bentuk manifestasi kemusyrikan tersebut. Dalam kategori ini bisa dimasukkan juga sikap ketaatan yang sama sekali tanpa reserve terhadap ulama (QS.).kemusyrikan tidak berhenti sampai di situ saja. Pada masa periode Mekkah awal terdapat 48 surah yang diwahyukan kepada Nabi Muhammad saw. 30:31-32). (5) Surah al-Kawtsar. usaha atau bussiness kita. baik pandangan maupun sikapnya. justru pada surat-surat atau ayat-ayat yang diwahyukan di masa-masa permulaan kenabian Muhammad saw tidak terdapat kecaman terhadap penyembahan berhala. Khususnya berkaitan dengan kekayaan. mendapat sorotan yang sangat tajam dalam al-Qur'an. (4) Surah al-Quraysy. (2) Surah al-Mudatstsir. (10) Surah al-Layli.25:43). menunjukkan bahwa masalah kemusyrikan bukanlah sesuatu yang sederhana. Periode Mekkah sendiri juga dibagi dalam tiga tahap. (6) Surah al-Humazah. 2:165). dan (12) Surah al-Insyirah. tahap Mekkah pertengahan (616-617) dan tahap Mekkah akhir (618-622 M. Beberapa mufassir menceriterakan bahwa Surah al-Dhuha turun sesudah Nabi mengalami masa jeda di mana wahyu . bukan dalam bentuk penyembahan melainkan dalam bentuk kecintaan (QS.). Kebertauhidan tidak hanya menyangkut kepercayaan kita terhadap Tuhan Yang Maha Esa tetapi juga menyangkut pandangan dan sikap kita terhadap manusia. Selain itu masih ada satu hal lagi yang oleh al-Qur'an disebutkan sebagai "sesuatu yang bisa menjadi ilah atau sesembahan kita. Seperti kita ketahui masa turunnya al-Qur'an dibagi dalam dua priode: periode Mekkah (610-622 M. Hubungan manusia dengan benda. dan rumah-rumah mewah kita (QS. sebagaimana dikemakakan al-Qur'an.). Hal ini menarik dan perlu untuk dikaji lebih jauh. 23:52-53. Yang ada malah kecaman terhadap keserakahan dan ketidakpedulian sosial. (8) Surah al-Takatsur. 9:31) atau sikap fanatisme golongan. Suatu hal yang sangat menggoda untuk direnungkan adalah. benda dan lembaga.

Dan tiada berguna baginya kekayaannya ketika ia binasa. Pada anak yatim yang punya tali kekerabatan. Maka siapa yang suka memberi dan bertaqwa. dan apa yang dikerjakannya! Akan dibakar ia dalam api menyala Surah al-Humazah. Tahukah engkau orang yang membohongkan agama Itulah dia yang mengusir anak yatim. atau dari sejarah Islam. Kalian menjadi lalai karena perlombaan mencari kekayaan. . Dan mendustakan nilai kebaikan Kami akan mudahkan baginya jalan kesengsaraan. Surah al-Takatsur. yang turun dalam urutan ke-6. Ke-12 surah tersebut sama sekali tidak menyinggung masalah penyembahan berhala. Tidak berguna baginya kekayaannya. memberikan peringatan keras terhadap orang-orang yang asyik berlomba-lomba dalam kemewahan dan kekayaan. Dan siapa yang kikir dan menyombongkan kekayaan. Dan tidak menganjurkan memberi makan orang-orang miskin. Atau orang papa yang terlunta-lunta. Celaka amat si pengumpat si pemfitnah. Dan Kami tunjuki ia dua jalan. Dan membenarkan nilai kebaikan Kami akan memudahkan baginya jalan kebahagiaan. yang turun dalam urutan ke-3. Dalam Surah al-Lahab.terhenti beberapa lama. Karena itu ke-12 surah di atas turun atau diwahyukan kepada Nabi pada masa-masa sangat awal dari kenabian. Surah berikutnya yang turun dalam urutan ke-8. kemegahan dan Dalam Surah al-Layli yang diwahyukan dalam urutan ke-10 diberikan kabar baik terhadap mereka yang suka memberi dan sebaliknya kabar buruk bagi mereka yang kikir dan bakhil. disinggung bahwa harta kekayaan dan usaha seseorang sama sekali tidak akan menyelamatkannya dari hukuman di Hari Akhirat. Tapi tak mau ia menempuh jalan mendaki. Yang menumpuk-numpuk harta kekayaan dan menghitung-hitungnya. Hingga kalian masuk ke pekuburan. Yang terakhir Surah al-Balad yang diwahyukan dalam urutan ke-11. Ia menyangka harta kekayaannya bisa mengekalkannya. menyinggung keengganan manusia memberikan bantuan kepada sesamanya yang hidup dalam penderitaan dan kesengsaraan. Memerdekakan budak sahaya. Surah al-Ma'un. Tahukah engkau jalan mendaki itu. dengan keras mengingatkan akan nasib celaka bagi mereka yang dengan serakah menumpuk-numpuk kekayaan dan menganggap kekayaannya itu bisa mengabadikannya. Dalam surah yang turun berikutnya. Atau memberi makanan di masa kelaparan. Enam surah di antaranya justru menyinggung masalah keserakahan terhadap kekayaan dan ketidakpedulian terhadap orang-orang yang menderita. orang-orang yang tidak mempedulikan penderitaan anak-anak yatim dan orang-orang miskin dikualifikasikan sebagai orang-orang yang membohongkan agama.

motivasi dan orientasi kita tidak boleh bergeser dari ide untuk menciptakan --atau setidak-tidaknya menjadi bagian dari proses menciptakan-suatu tata kehidupan yang dilandasi nilai-nilai rahmah itu. bahwa keserakahan dan ketidakpedulian sosial adalah yang menimbulkan suatu kehidupan yang tidak disemangati nilai-nilai rahmah. Ia tidak sekedar masalah etik dan moral. 7501983. sangat jelas dan sama sekali tidak memerlukan penafsiran. 7507173 Fax.6. Pertanyaan yang mungkin timbul. memberikan suatu isyarat kepada kita agar kita menjadikan diri kita sebagai perwujudan dari nilai-nilai rahmah itu bagi sesama makhluk Tuhan.Pesan-pesan al-Qur'an di atas. Ia memperlihatkan betapa. keserakahan dan ketidakpedulian sosial mendapat sorotan tajam pada masa yang sangat awal dari kenabian Muhammad. Anjuran Nabi agar kita selalu memulai kegiatan dan kerja kita dengan ucapan "Bismillahirrahmanirrahim" (bism-i 'l-Lah-i 'l-rahman-i 'l-rahim). misi utama Nabi Muhammad saw adalah membantu manusia mewujudkan tata kehidupan yang disemangati nilai-nilai rahmah. Itulah prioritas utama yang digumuli Nabi dalam usaha mewujudkan reformasi sosial. keserakahan dan ketidakpedulian sosial dengan cita-cita tentang reformasi sosial yang dilandasi semangat mewujudkan kehidupan yang penuh rahmah itu? Kaitannya sangat jelas. Dengan perkataan lain apapun profesi kita. UA 20-21 Jakarta Selatan Telp. Karena itu reformasi sosial mestilah ditandai. Metro Pondok Indah Pondok Indah Plaza I Kav. 21:107). mungkin kita bisa menarik kesimpulan bahwa Risalah Nabi kita terutama untuk mengadakan reformasi sosial. (021) 7507174 Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota Please direct any suggestion to Media Team Artikel Yayasan Paramadina Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota II. (021) 7501969. dalam al-Qur'an masalah kekayaan. bagaimana kaitan antara sorotan tajam terhadap kekayaan. Hal ini bisa kita kaitkan dengan penegasan al-Qur'an yang mengatakan bahwa Muhammmad diutus tidak lain kecuali dalam rangka membawa rahmat bagi seluruh alam (QS. Ia langsung menyangkut kebertauhidan kita. -------------------------------------------Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah Editor: Budhy Munawar-Rachman Penerbit Yayasan Paramadina Jln. yang diwahyukan justru di masa yang sangat awal dari kenabian. REFORMASI SOSIAL Kalau kita renungkan mengapa masalah kekayaan. keserakahan dan ketidakpedulian sosial mempunyai perspektif teologis. Dengan perkataan lain. pertama-tama oleh distribusi kekayaan yang adil. KONSEP-KONSEP KOSMOLOGIS (1/2) .

serta ardh yaitu bumi yang datar yang dikurung oleh bola langit. dan dengan Sunnah Rasul sebagai penjelasan. Dapat kita lihat dalam kasus ini bahwa konsep kosmologis dalam al-Qur'an. tidak ada lagi sesuatu yang lebih besar daripadanya. Namun. yang berputar mengelilingi sumbunya. Sesungguhnya dalam ciptaan langit dan bumi. al-Dzariyat: 47). misalnya dalam surah 'Ali Imran 190 disebut. pengertiannya ialah bahwa langit itu adalah sebuah bola super raksasa yang panjang radiusnya tertentu. setelah ia sekian lama terhampar di permukaan bumi seperti layaknya sebuah tenda yang belum dipasang. tergantung pada pengetahuan mufassir tentang alam semesta itu sendiri. dan seluruh langit itu berputar-putar dalam satu hari (siang dan malam). karena konsepsinya tidak mampu mengakomodasikan gejala yang dinyatakan ayat 4 surah al-Dzariyat. Bintang-bintang tampak tidak berubah posisinya yang satu terhadap yang lain. Mengingat hal-hal tersebut di atas. terdapat ayat-ayat Allah bagi orang-orang yang berakal (dapat menalar). [1] dan ardh [2] itu dahulu sesuatu yang padu. ciptaan Tuhan di seluruh jagad raya ini secara jelas disebutkan sebagai "ayat-ayat Allah". maka sebagai padanan untuk mendapatkan arti ayat-ayat al-Qur'an yang menyangkut al-Kaun dapat digunakan juga ayat-ayat Allah yang berada di dalam alam semesta ini. Dan sama' itu kami bangun dengan kekuatan dan sesungguhnya kamilah yang meluaskannya (QS. sesuatu konsepsi mengenai alam semesta yang benar harus dapat .dengan menggunakan ayat-ayat lain di dalam kitab suci tersebut. Dan tidakkah orang-orang kafir itu mengetahui bahwa agama sama. Apalagi kalau ia melingkupi seluruh ruang kosmos beserta isinya.oleh Achmad Baiquni Telah banyak kitab yang ditulis ulama masyhur untuk menafsirkan ayat-ayat suci al-Qur'an --yang merupakan garis-garis besar ajaran Islam itu-. Seseorang yang hidup dalam abad 9 M akan mengatakan bahwa kata sama' artinya langit. Pada hemat saya. Untuk memberikan contoh yang nyata. al-Anbiya': 30. Dan itu tidaklah benar. kapan pun juga. Sebuah langit yang berbentuk bola dengan jari-jari tertentu bukanlah langit yang bertambah luas. sebagai bandingan. Bola ini dikatakan mewadahi seluruh ruang alam dan segala sesuatu yang berada di dalamnya. dalam al-Qur'an sendiri. serta silih bergantinya malam dan siang. maka tidaklah mengherankan apabila ketetapan dalam penafsiran ayat-ayat al-Qur'an yang berisi konsep-konsep Kauniyah sangat bervariasi. Dan pada dindingnya tampak menempel bintang-bintang yang gemerlapan di malam hari. kita dapat menelaah ayat-ayat berikut. Dan mungkin sekali ia akan mengatakan bahwa ayat 30 surah al-Anbiya' itu melukiskan peristiwa ketika Tuhan menyebutkan langit menjadi bola. mengenai penciptaan alam semesta. Apa yang kiranya dapat kita harapkan dari orang ini andaikata ia diminta memberikan penafsiran (bukan sekadar salinan kata-kata) ayat-ayat tersebut? Tentu saja ia akan memberikan interpretasi yang sesuai dengan persepsinya tentang langit. Ia merasa yakin bahwa persepsinya mengenai langit itulah yang sesuai dengan apa yang dapat diamati setiap hari. kemudian kami pisahkan keduanya (QS. yang dikemukakan orang itu sangatlah sederhana. Karenanya.

dan yang memiliki nilai-nilai tak Islami. atau dalam keadaan berbaring. dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah. dan pikirkan tentang penciptaan sama' dan ardh. serta silih bergantinya siang dan malam. sehingga sejak itu sains tumbuh dalam kerangka acuan budaya. mental dan spiritual yang bukan Islam. (QS. kiranya perlu kita pertanyakan apakah benar konsep kosmologi yang berkembang dalam sains itu sejalan dengan apa yang terdapat dalam al-Qur'an. Maha suci Engkau. Mari kita kaji sambil menelusuri perkembangan ilmu kealaman sejak akhir abad 19 hingga akhir abad 20. yang bersama-sama astronomi membentuk konsep-konsep kosmologi. Perhatikanlah dalam intighon apa yang ada di sama' dan di ardh (QS. ketika ia berjalan sangat cepat. maka peliharalah kami dari siksa azab neraka. Dengan diikutinya perintah dan petunjuk ini. al-Ghasyiyah: 1 dan 18). [3] Dia mengajar manusia apa yang tidak diketahuinya. Penerapan metode ilmiah ini. bagaimana ia ditinggikan. 4 dan 5 surah al-'Alaq. Bacalah. Maka apakah mereka itu tak memperhatikan onta-dalam intighon. yang terdiri atas pengukuran teliti pada observasi dan penggunaan pertimbangan yang rasional. Dan sama'. Ali Imran: 190 dan 191). Yunus: 101). maka tersusunlah himpunan rasionalitas kolektif insani yang kita kenal sebagai sains. Untuk mendapatkan konsepsi yang benar itu pada hakekatnya telah diberikan petunjuk sang pencipta misalnya dalam ayat 101 surah Yunus. jauh melampaui kelajuannya dalam abad-abad sebelumnya. Kita akan menemukan bahwa pada tahap-tahap tertentu ia tampak tidak sesuai dengan ajaran agama kita. sejalan dengan kecanggihan instrumentasi yang dipergunakan dalam observasi dan matematika sebagai sarana komputasi. Serta dalam ayat 190 dan 191 surah Ali Imran. sedangkan dalam fase-fase lain menghasilkan kesimpulan yang sehaluan dengannya. yang menyangkut proses-proses alamiah di langit itu. Karena telah menjadi kebiasaan para pakar menulis hasil penelitian orang lain. tapi mempunyai ciri empiris sehingga tersusunlah dasar-dasar sains. terdapat ayat-ayat bagi orang-orang yang berakal (dapat menalar). yang mengajar dengan qalam. Dalam teguran ayat 1 dan 18 dalam surah al-Ghasyiyah.dipergunakan untuk menerangkan semua peristiwa yang dilukiskan ayat-ayat dalam kitab suci. ia harus sesuai dengan konsep-konsep kosmologis dalam al-Qur'an. wahai Tuhan kami. Kita ingat ayat 3. Jelaslah di sini bahwa sains adalah hasil konsensus di antara para pakar. Yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk. Penalaran tentang "bagaimana" dan "mengapa". bagaimana ia diciptakan. Katakanlah (wahai Muhammad). Meskipun ilmu pengetahuan keislaman ini tumbuh sebagai akibat dari pelaksanaan salah satu perintah agama. Sebab obor pengembangan ilmu telah mulai berpindah tangan dari umat Islam kepada para cendekiawan bukan Islam sejak pertengahan abad ke 13 sampai selesai dalam abad 17. menyebabkan timbulnya cabang baru dalam sains yang dinamakan astrofisika. telah mengubah astrologi menjadi astronomi. sehingga ilmu tidak lagi bersifat kontemplatif belaka. . (QS. maka muncullah di lingkungan umat Islam suatu kegiatan observasional yang disertai dengan pengukuran. seperti yang berkembang di lingkungan Yunani. Sesungguhnya dalam penciptaan sama' dan ardh. tiadalah Engkau ciptakan ini dengan sia-sia.

sehingga sains kembali dapat berkembang dalam kerangka sistem nilai yang Islami). langit adalah ruang jagad-raya. al-Thalaq: 12) Allah-lah yang menciptakan sama' dan ardh dan apa yang ada di antara keduanya dalam enam hari. yang telah mengetahui melalui kegiatan sainsnya. ia akan mengatakan juga bahwa bola super besar yang mewadahi seluruh ruang kosmos itu tidak ada sebab baginya ruang jagad-raya ini tak berhingga besarnya dan tidak mempunyai batas. Fushshilat: 12) Allah-lah yang telah menciptakan tujuh sama' dan ardh seperti itu pula (QS. dan ada bintang-bintang kembar dan gerombolan-gerombolan bintang dalam galaksi kita yang disebut Bimasakti. Dan kita akan melihat sepanjang pertumbuhan sains selanjutnya bahwa ide-ide semacam ini. Dari uraian di atas bahwa konsep kosmologi sains pada abad ke 19 gagal total dan sama sekali tak mampu menerangkan apa yang terkandung dalam dua ayat tersebut di atas. ada sejak dulu dan akan ada seterusnya. dan Kami memeliharanya. bahwa bintang-bintang di langit jaraknya dari bumi tidak sama. Dalam pada itu Dia mengarah pada penciptaan sama'. Karena konsep kosmologi yang berlaku waktu itu berasal dari Newton. keduanya menjawab: kami datang dengan taat (QS. maka saya selalu menganjurkan agar umat Islam yang ingin mengejar ketinggalan mereka dalam sains dan teknologi akhir-akhir ini bersiap-siap mengadakan langkah-langkah pengamanan dengan meng-Islamkan sains. yang mengandung konsepsi tentang alam yang langgeng. sebab alam semesta yang tak terbatas dan tak berhingga besarnya. dianggap tak berawal dan tidak berakhir. tak lagi akan mengatakan. karena tak dapat mengakomodasi peristiwa yang: dilukiskan ayat 30 surah al-Anbiya' dan ayat 47 surah al-Dzariyat. demikianlah ketentuan Yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui. Hud: 7) Sesungguhnya Allah menahan sama' dan ardh agar jangan lenyap. dan ia penuh dukhon [4]. sebagian diikuti satelitnya. Ia akan mengatakan. dan Dia mewahyukan kepada tiap sama' peraturannya masing-masing. dan kami hiasi langit dunia dengan pelita-pelita. langit itu sebuah bola super raksasa. dan pada waktu itu pula bersemayam di arsy-Nya [5] (QS. Sudah tentu konsep kosmologi sains abad yang lalu ini tidak sesuai dengan konsep al-Qur'an. Fushshilat: 11) Maka Dia menjadikannya tujuh sama' dalam dua hari. lalu Dia berkata kepadanya dan kepada ardh. dan sungguh jika keduanya akan lenyap dan tak ada siapa pun .Seseorang yang hidup pada akhir abad 19. (QS. (Karena itu. Padahal mereka baru merupakan sebagian saja dari ayat-ayat al-Qur'an yang berisi konsep-konsep kosmologi. Lebih dari itu bahkan bertentangan dengan ajaran agama kita. yang di dalamnya terdapat bintang-bintang. dan bahkan mampu mengukur jarak itu dan mengatakan berapa massanya. al-Sajadah:4) Dan Dialah yang telah menciptakan sama' dan ardh dalam enam hari. selalu timbul-tenggelam. Kita dapat juga mengemukakan beberapa ayat lainnya sebagai berikut. Datanglah kalian mematuhi-Ku dengan suka atau terpaksa. ada pun Arsy-Nya telah tegak pada ma' [6] untuk menguji siapakah di antara kalian yang lebih baik amalnya (QS.

sebagaimana Kami telah mulai awal penciptaan. . Jadi konsep dentuman besar terpaksa dikoreksi yaitu bahwa keberadaan alam semesta ini diawali oleh ledakan maha dahsyat ketika tercipta ruang-waktu dan energi yang keluar dari singularitas dengan suhu yang tak terkirakan tingginya. Lebih kecil dari bintang pulsar yang jari-jarinya hanya sebesar 2 sampai 3 kilometer dan massanya kira-kira 2 sampai 3 kali massa sang surya. sekitar 15 milyar tahun yang lalu. sesungguhnya Kamilah yang akan melaksanakannya (QS. sebab gaya gravitasi gumpalan itu akan begitu besar sehingga ia akan teremas menjadi sangat kecil. Pada tahun 1952 Gamow berkesimpulan bahwa galaksi-galaksi di seluruh jagad-raya yang cacahnya kira-kira 100 milyar dan masing-masing rata-rata berisi 100 milyar bintang itu pada mulanya berada di satu tempat bersama-sama dengan bumi.yang dapat menahan keduanya itu selain Allah. tidak sulit untuk menghitung kapan mereka itu mulai berlari. Sebab konsepsinya tentang alam semesta memang salah hingga tidak cocok dengan apa yang ada dalam al-Qur'an. Kita telah melihat dari contoh-contoh yang diberikan. Gumpalan ini berada dalam ruang alam dan tanpa diketahui sebab musababnya meledak dengan sangat dahsyat sehingga terhamburlah materi itu ke seluruh ruang jagad-raya. Sudah barang tentu gumpalan sebesar itu tak pernah bergelimpangan di ruang kosmos. bahwa dengan bekal pengetahuan abad 19 saja seseorang tak mungkin memahaminya. dan bahkan lebih kecil dari lobang hitam (black hole) yang massanya jauh melebihi pulsar dan jari-jarinya menyusut mendekati ukuran titik. meski ia seorang pakar yang ulung sekali pun. sehingga dalam sains terdapat istilah alam yang mengembang (expanding universe). berapa besar kepadatan materi dalam titik yang volumenya nol itu jika seluruh massa 100 milyar kali 100 milyar bintang sebesar matahari dipaksakan masuk di dalamnya! Inilah yang biasa disebut sebagai singularitas. jika ia ditanya tentang konsep kosmologi sains yang mutakhir yang dihasilkan penelitian para pakar? Secara garis besar. Hal ini mengingatkan orang pada pacuan kuda. yang lebih jauh kecepatannya lebih besar. sebab elektron-elektron yang berasal dari masing-masing atom telah menyatu dengan protonnya dan membentuk neotron sehingga tak ada gaya tolak listrik antara masing-masing elektron dan antara masing-masing proton. Karena kelajuan dan jarak masing-masing galaksi dari bumi diketahui. peristiwa inilah yang kemudian terkenal sebagai "dentuman besar" (big bang). Sesungguhnya Dia adalah Maha Penyantun dan Maha Pengampun (QS. jawabnya kira-kira sebagai berikut: Konsepsi mengenai alam semesta ini sebenarnya mulai mengalami perubahan sejak tahun 1929 ketika Hubble melihat dan yakin bahwa galaksi-galaksi di sekitar Bimasakti menjauhi kita dengan kelajuan yang sebanding dengan jarak dari bumi. Materi yang sekian banyaknya itu terkumpul sebagai suatu gumpalan yang terdiri dari neotron. al-Anbiya': 104) Sekarang mari kira cari pengertian yang terdapat dalam ayat itu. kuda yang paling laju akan berlari paling depan. Apa yang akan dikatakan oleh seorang kosmolog atau seorang fisikawan abad 20. itulah janji yang akan kami tepati. Gambarkan saja dalam angan-angan. begitulah Kami akan mengembalikannya. Fathir: 41) Pada hari Kami gulung sama' seperti menggulung lembaran tulis.

sehingga suhunya merendah melewati 1. Vakum yang mempunyai kandungan energi yang luarbiasa besarnya serta tekanan gravitasi yang negatif ini menimbulkan suatu dorongan eksplosif keluar dari singularitas. (021) 7507174 Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota Please direct any suggestion to Media Team Artikel Yayasan Paramadina Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota II. Pada saat pengembunan tersentak. berapa? duakah? tigakah? atau berapa? para ilmuwan tidak tahu. Jenis materi apa yang muncul pertama-tama di alam ini tidak seorang pun tahu. KONSEP-KONSEP KOSMOLOGIS (2/2) oleh Achmad Baiquni Para pakar berpendapat bahwa alam semesta tercipta dari ketiadaan sebagai goncangan vakum yang membuatnya mengandung energi yang sangat tinggi dalam singularitas yang tekanannya menjadi negatif. namun tatkala umur alam mendekati seper-seratus sekon. pada saat itu . 7507173 Fax.000 tahun elektron-elektron masuk dalam orbit mereka sekitar inti dan membentuk atom sambil melepaskan radiasi. keluarlah energi yang memanaskan kosmos kembali menjadi 1.-------------------------------------------. tetapi beberapa alam.(bersambung 2/2) Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah Editor: Budhy Munawar-Rachman Penerbit Yayasan Paramadina Jln. Metro Pondok Indah Pondok Indah Plaza I Kav. maka di lokasi-lokasi tertentu terdapat konsentrasi materi yang merupakan benih galaksi-galaksi yang tersebar di seluruh kosmos. Dan masing-masing alam dapat mempunyai hukum-hukumnya sendiri. tidak perlu aturannya sama dengan apa yang ada di alam kita ini. dalam periode ini atom-atom ringan terbentuk sebagai hasil reaksi fusi-nuklir. pada umur 10-35 sekon.000 trilyun-trilyun derajat. Selama proses inflasi ini. terjadilah gejala "lewat dingin". isinya terdiri atas radiasi dan partikel-partikel sub-nuklir. ada kemungkinan bahwa tidak hanya satu alam saja yang muncul. Karena materialisasi dari energi yang tersedia.000 trilyun-trilyun derajat. Pada saat itu suhu kosmos adalah sekitar 100 milyar derajat dan campuran partikel dan radiasi yang sangat rapat tetapi bersuhu sangat tinggi itu lebih menyerupai zat-alir daripada zat padat sehingga para ilmuwan memberikan nama "sop kosmos" kepadanya Antara umur satu sekon dan tiga menit terjadi proses yang dinamakan nukleosintesis. Baru setelah umur alam mencapai 700. dan selurnh kosmos terdorong membesar dengan kecepatan luar biasa selama waktu 10-32 sekon. (021) 7501969. yang berakibat terhentinya inflasi. 7501983. Tatkala alam mendingin. karena ekspansinya. Ekspansi yang luar biasa cepataya ini menimbulkan kesan-kesan alam kita digelembungkan dengan tiupan dahsyat sehingga ia dikenal sebagai gejala inflasi.6. UA 20-21 Jakarta Selatan Telp. tidak terjadi secara serentak.

karena "tergulung" dengan jarij-ari 10-32 sentimeter yang bermanifestasi sebagai muatan listrik dan muatan nuklir. beberapa ilmuwan mencoba mengembalikan keabadian kosmos dengan mengatakan. tapi berekspansi. karena Hubble mengobservasi justeru jagad-raya ini berekspansi. Dengan demikian maka konsepsi yang berawal lebih dikukuhkan. maka ada kemungkinan bahwa alam yang kita huni ini mempunyai kembaran (shadow world) yang sebenarnya berada di sekeliling kita. entropinya besarnya tidak terhingga. dan mendapatkan pembetulan. Pertama. oleh Wilson dan Penzias pada 1964. ia hanya dapat kita hubungi lewat medan gaya gravitasi sedangkan hukum alamnya tidak perlu sama dengan yang berlaku di dunia ini. Saya akan mengungkapkan beberapa saja yang relevan. Kita lihat bahwa hasrat mempertahankan konsepsi alam semesta yang tak berawal (tak diciptakan) selalu menemui kegagalan. Menurut perhitungan kami. Tapi langkah pembetulan itu mendapat tamparan. Selama perjalanan mencari kebenaran itu. alam semesta mempunyai dimensi 10. suatu asumsi yang konsekuensinya tak didukung kenyataan. Dimensi yang kita hayati adalah dimensi yang. "terbentang" dan mengejawantah sebagai ruang-waktu. Begitulah kira-kira uraian fisikawan itu. sebenarnya sains telah mengalami penyelewengan-penyelewengan yang akhirnya terbongkar kesalahannya.seluruh langit bercahaya terang benderang dan hingga kini "cahaya" ini masih dapat diobservasi sebagai radiasi gelombang mikro. yaitu kosmos yang statis. telah mendorong para pakar mengakuinya sebagai kilatan dalam alam semesta yang tersisa dari peristiwa dentuman besar. Ketiga. karena tak sesuai dengan kenyataan yang terobservasi. tapi tak dapat kita lihat. . meledak dan masuk kembali tak henti-hentinya tak berawal dan tak berakhir. Kalau semua yang telah dirintis secara matematis ini mendapatkan pembenaran dari eksprimen atau observasi di alam luas. Kedua. Sudah tentu apa yang dikatakan itu adalah hasil mutakhir kegiatan penelitian dan saling kaji antara para pakar dan merupakan konsensus. yaitu 4 buah dimensi ruang-waktu yang kita hayati. dinyatakan oleh Friedman bahwa ia memberi gambaran kosmos yang mengembang. yang dirumuskan untuk melukiskan alam semesta. alam semesta ini berkembang-kempis (oscillating universe). katakan saja. ia segera diubah oleh si-perumus agar sesuai dengan konsep kosmologi pada waktu itu. Sebab alam yang berkelakuan seperti itu. Namun Weinberg menunjukkan kepalsuannya. ketika dentuman besar tak dapat disangkal. karena tak cocok dengan kenyataan. Einstein mengalah dan kembali ke perumusannya yang semula yang melukiskan alam yang tak statis. sebagai contoh. Namun terungkapnya keberadaan gelombang mikro yang mendatangi bumi dari segala penjuru alam secara uniform. ketika gagasan Gamow tentang dentuman besar yang menjurus pada konsep alam semesta yang berawal dikumandangkan beberapa kosmolog yang dipelopori Hoyle mengajukan tandingan yang dikenal sebagai kosmos yang mantap (steady state universe) yang menyatakan bahwa alam semesta ajeg sejak dulu sampai sekarang dan hingga nanti tanpa awal dan tanpa akhir. ketika persamaan matematis Einstein. dan 6 lainnya yang tidak kita sadari.

al-Anbiya': 30) Dan ruang waktu itu Kami bangun dengan kekuatan (ketika dentuman besar dan inflasi melandanya sehingga beberapa dari dimensinya menjadi terbentang) dan sesungguhnya Kamilah yang m eluaskannya (sebagai kosmos yang berekspansi) (QS. yaitu yang dinamakan gaya kritis. Qaul yang pertama didasarkan pada kenyataan bahwa masa seluruh alam ini tak cukup besar untuk menarik kembali semua galaksi yang bertebaran. Dan tidakkah orang yang kafir itu mengetahui bahwa ruang waktu dan energi-materi itu dulu sesuatu yang padu (dalam singularitas). yaitu ekspansi alam semesta dan radiasi gelombang mikro. sebagai sunnat-u 'l-lah yang berlaku sejak dulu.konsep tersebut. Apakah para fisikawan-kosmolog mengetahui nasib alam itu pada akhirnya? Ada dua pandangan yang dianut dalam sains yaitu. maka para pakar. seperti layaknya tim detektif yang ingin memecahkan sebuah misteri dengan menggunakan sekelumit abu rokok dan pecahan-pecahan gelas yang berserakan di sekitar tempat kejadian. tempat ia keluar dulu kala. dan yang saya pilih di antara sekian banyak ayat yang mengandung konsep. karena bintang-bintang yang bercahaya dan materi antar bintang. di samping menggunakan pertimbanganpertimbangan rasional. kemudian kami pisahkan keduanya itu (QS. yang dalam ayat 23 surah al-Fath dinyatakan memiliki stabilitas." sehingga pada suatu saat ekspansinya akan berhenti dan alam kembali mengecil untuk akhirnya seluruhnya mencebur kembali dalam singularitas. yang terobservasi pengaruhnya. Sedangkan qaul yang kedua mendasari pernyataannya dengan adanya neutrinoneutrino yang mereka percayai membawa sebagian besar dari massa alam ini sehingga sebagai totalitas kekuatan gaya kritis itu akan terlampaui.Bagaimana para fisikawan-kosmolog dapat mengatakan semuanya itu tanpa melihat sendiri kejadiannya? Sebenarnya mereka melihat dua gejala. segenap peraturan Allah swt yang mengendalikan tingkah laku alam. Sekarang marilah kita gali konsep-konsep kosmologi dalam al-Qur'an. hanya dapat menyajikan sekitar 20 persen saja dari gaya yang diperlukan. yang mereka pergunakan untuk menelusuri kembali peristiwanya yang terjadi sekitar 15 milyar tahun lalu. sebagian gelap. lalu Dia berkata kepadanya dan kepada materi: Datanglah kalian mematuhi . tidak dengan pengetahuan orang abad ke 9 atau ke 19 melainkan dengan pengetahuan seseorang dari abad 20. pertama. alam semesta ini "terbuka. sedangkan sebagian lagi dibawa zarah-zarah yang disebut neutrino. sekali-kali kamu tak akan menemukan perubahan pada sunnatullah itu. al-Dzariyat: 47) Dalam pada itu Dia mengarah pada penciptaan ruang-waktu dan ia penuh "embunan" (dari materialisasi energi)." sehingga ia akan berekspansi selamanya. Kalau para detektif itu cukup memakai penalaran logis saja. Sebab mereka tak mempunyai informasi berapa sebenarnya massa yang terkandung dalam alam ini. dan kedua jagad raya ini "tertutup. Kapan? Mereka tak tahu. sebagai berikut. harus melandasinya juga dengan pengetahuan sunnatullah. Saya akan menafsirkan ayat-ayat yang telah dicantumkan di atas. sebagian massa itu bercahaya.

(QS. karena ada beberapa konsepsi sains yang telah saya tolak. al-Anbiya': 104). itulah janji yang akan kami tepati. demikianlah ketentuan Yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui (QS. untuk membimbing mereka dari kesesatan dalam memahami ciptaanNya. (QS. hasil karya pikir manusia. sesungguhnya Kamilah yang akan melaksanakannya (QS. dan sungguh jika keduanya akan lenyap tiada siapa pun yang dapat menahan keduanya selain Allah. Patokan saya adalah kebenaran kitab suci umat Islam. hingga para ilmuwan yang setia kepada tradisi umat Islam. Fushshilat: 12) Allah-lah yang menciptakan tujuh ruang-waktu (alam semesta). karena tidak sesuai dengan al-Qur'an. Mengatakan bahwa apa yang telah saya lakukan ini sebagai usaha menarik-narik al-Qur'an agar sejalan atau cocok dengan sains. Apa yang telah saya lakukan di sini bukanlah pembenaran (justification) sains dengan al-Qur'an. al-Fathir: 41) Pada hari Kami gulung ruang-waktu (alam semesta) laksana menggulung lembaran tulis. yang salaf. begitulah Kami akan mengembalikannya. Akan Kami perlihatkan kepada mereka ayat-ayat Kami di segenap penjuru dan dalam diri mereka sendiri sehingga jelaslah bagi mereka itu bahwa ia (al-Qur'an) adalah yang benar. dan kami hiasi ruang-waktu (alam) dunia dengan pelita-pelita. al-Thalaq: 12) Allah-lah yang menciptakan ruang-waktu dan materi dan apa yang ada di antara keduanya dalam enam hari. Dan tidak pula saya menarik al-Qur'an agar sesuai dengan sains. Hud: 7) Sesungguhnya Allah menahan ruang-waktu (alam semesta) dan materi di dalamnya agar jangan lenyap (sebagai jagad-raya yang terbuka). al-Sajadah: 4) Dan Dia-lah yang telah menciptakan ruang-waktu dan materi dalam enam hari. sebagaimana Kami telah mulai awal penciptaan. sesungguhnya Dia adalah Maha Penyantun dan Maha Pengampun (QS. Demikian konsep-konsep kosmologi yang dapat digali dari al-Qur'an sebagaimana saya melihatnya selaku orang yang berkecimpung dalam bidang sains. dan pada saat itu pula menegakkan pemerintahan-Nya (yang seluruh perangkat peraturannya ditaati oleh segenap mahluk-Nya dengan suka hati) (QS. Fushshilat: 11). Dan bukankah justeru Allah swt sendiri yang mengungkapkan adanya gejala ekspansi kosmos dan radiasi gelombang mikro kepada para ilmuwan.(peraturan)-Ku dengan suka atau terpaksa. Dalam awal uraian saya telah dikatakan bahwa penggalian konsep-konsep kosmologi dalam al-Qur'an merupakan pekerjaan . dan Dia mewahyukan kepada tiap alam itu peraturan (hukum alam)-nya masing-masing. dan materinya seperti itu pula. dan Kami memeliharanya. memeriksa ruang-waktu (alam semesta) serta materi di dalamnya sesuai dengan perintah-Nya dalam surah Yunus 101 itu mendapatkan petunjuk ke arah yang benar seperti tercantum dalam surah Fushshilat 53. adalah suatu tuduhan yang tak berdasar. Maka dia menjadikannya tujuh ruang-waktu (alam semesta) dalam dua hari. keduanya menjawab: Kami datang dengan kepatuhan. dan apa yang bertentangan dengannya saya tolak. sedang pemerintahan-Nya telah tegak pada fase zat alir (yaitu sop kosmos) untuk menguji siapakah di antara kalian yang lebih baik amalannya (QS.

bahkan inti atom pun pada saat itu belum terbentuk! Oleh karenanya. aparatur dan peraturannya. maka saya condong untuk menggunakan istilah sarana tulis sebagai ganti "pena". maka saya memilih maknanya sebagai zat alir. Ma'. 4. Ardh. 5. dengan vulpen. Karenanya. maka saya lebih suka mempergunakan katakata "Pemerintahan" (Allah) untuk mengartikan kata-kata arsy. 6. saya condong untuk menafsirkan sebagai pemerintahan lengkap dengan sarana. galaksi-galaksi dan lain-lainnya. yang kecuali terkandung dalam asap dan uap juga lebih mengena bila dipergunakan melukiskan gejala yang ditemukan pada suatu sistem yang mendingin dari suhu yang sangat tinggi (dalam kasus ini bertrilyun-trilyun derajat). pena. pada saat awal penciptaan. Maka saya condong mengartikan kata-kata ardh dengan istilah "materi. Dan karena pada saat itu isi alam semesta yakni radiasi dan materi pada suhu yang sangat tinggi itu wujudnya lain daripada yang kita dapat temui di dunia sekarang ini. Sama'. Qalam. yang sudah ada sesaat setelah Allah menciptakan jagad-raya. bumi atau tanah. karena dalam fase penciptaan alam itu air yang terdiri dari atom oksigen dan atom-atom hidrogen belum dapat berbentuk.5 milyar tahun lalu di sekitar matahari. melainkan ruang alam yang di dalamnya terdapat bintang-bintang. Arsy." yakni bakal-bumi. melainkan pemerintah Indonesia yang bertindak. dengan mesin ketik dan lain-lain sebagainya. dan tanah di bumi kita ini baru terjadi sekitar 3 milyar tahun lalu sebagai kerak di atas magma. Karena secara eksprimental dapat dibuktikan bahwa ruang serta waktu merupakan satu kesatuan. maka penggunaan istilah "sop kosmos" sebagai keterangan melukiskan . CATATAN Di bawah ini disajikan pertimbangan yang saya pergunakan untuk memilih kata-kata dalam penafsiran. dengan pangkal bulu. air atau zat alir. maka saya gunakan istilah ruang-waktu sebagai ganti "ruang". 3. kini tak lagi diartikan sebagai bola super-raksasa yang dindingnya ditempeli bintang-bintang. hal ini tidak berarti bahwa gedung itulah yang mengambil keputusan. maka saya condong menggunakan istilah embunan. dengan bolpen. Memang begitulah karena sains akan berkembang dan akan senantiasa menemukan hal-hal yang yang dapat lebih melengkapi pengetahuan manusia hingga lebih memahami ayat-ayat Allah. misalnya dengan lidi-aren. Dan karena telah terbukti bahwa materi dan energi setara dan dapat berubah dari yang satu menjadi yang lain. Malahan saya lebih suka mengartikan sebagai "karya tulis". atom-atom yang belum berbentuk karena suhu alam masih sangat tinggi dan elektron-elektron belum dapat ditangkap oleh inti-inti atom. karena melukiskan Tuhan duduk di singgasana adalah syirik. karena orang dapat menulis sesuatu tak hanya dengan pena. 1. singgasana atau tahta. karena bumi baru terbentuk sekitar 4. Dukhan asap atau uap.yang terus baru dapat tak kunjung henti. dengan kuas. Sebab jika kita mengatakan: itu keputusan Bina Graha. maka saya akan mencakup keduanya dalam istilah energi-materi. 2.

Ideologi adalah Weltanchauung. yang menjelaskan realitas dalam perspektif tertentu. Metro Pondok Indah Pondok Indah Plaza I Kav. yang secara khusus menjelaskan principe d'entre manusia ini. Karena itu dalam seluruh bukunya. sesama manusia. yaitu Islam. Dr. KONSEP-KONSEP ANTROPOLOGIS (1/2) oleh Jalaluddin Rakhmat Al-Qur'an adalah kitab manusia. . ketika mengantarkan tulisannya tentang pandangan Qur'ani mengenai manusia dalam bab Les Fils d'Adam. (021) 7507174 Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota Please direct any suggestion to Media Team Artikel Yayasan Paramadina Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota II. Agak terperinci. mengulas manusia dari segi penciptaannya. UA 20-21 Jakarta Selatan Telp. a la fois. Tuhan. en fonction de l'objektif social poursuiri. Semuanya dapat disimpulkan dalam kalimatnya. (021) 7501969. Di antara realitas penting yang diulas ideologi adalah manusia. dan fungsi manusia sebagai hamba Tuhan. tulis Marcel A. 7501983. tacitement on explicitement. Toute ideologie precise d'emblee. Yusuf Qardhawi (1977: 33) Masyarakat Islam dibentuk karena ideologinya. walaupun Boisard mengakui pentingnya filsafat antropologis dalam Islam. [1] Dirk Bakker (1965) dalam bukunya Man in the Qur'an. 7507173 Fax. Adalah Rahman (1980). la nature de l'individu et la place qui lui est assignee daus la groupe. hubungannya dengan dunia. Ideologi adalah cara memandang realitas. dieu sera la reference primordial et unique puisqu'll est. bukan untuk menjelaskan manusia -non pour expliquer l'humain (Boisard. Pour une religion eschatologique comme l'Islam. tapi tidak membahas principe d'entre manusia. Boisard hampir tidak pernah membahas karakteristik manusia menurut al-Qur'an. I origine et le fin de la destine e humaine. kata Fazlur Rahman (1980: 43). Agak mengherankan.7. seperti lazimnya filsafat manusia (philosophic de l'homme). Karena al-Qur'an seluruhnya berbicara untuk manusia atau berbicara tentang manusia. -------------------------------------------Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah Editor: Budhy Munawar-Rachman Penerbit Yayasan Paramadina Jln.zat yang sangat rapat tapi dapat mengalir pada suhu yang amat tinggi. Boisard (1979: 84). ia kemudian menyebutkan bahwa al-Qur'an diwahyukan untuk memperkenalkan Tuhan kepada manusia. ia menjelaskan perbedaan manusia dengan makhluk lain. tidaklah terlalu aneh. 1979: 84).

juga dalam tulisan lain (Rahman. Ketika Izutsu membahas kosep Tuhan dan manusia dalam al-Qur'an. kita memilih istilah-istilah kunci (key-terms) dari vocabulary al-Qur'an. It is extremely difficult. . mereka meneliti ayat-ayat al-Qur'an yang berkenaan dengan manusia. Ketiga. hubungan komunikasi nonlinguistik. Jadi. man ought to follow his nature. juga walaupun pendek tulisan al-Faruqi (1404: 332). 1960). Yang kita perlukan di sini. ia menyebut pembahasannya sebagai semantics of the Koranic weltanschauung. Izutsu sendiri berkata. Mungkin tulisan Mutahhari (tanpa tahun) dan beberapa tulisan lainnya (Lihat Mutahhari. akan dibahas implikasi dari bidang semantik tersebut untuk memperoleh gambaran tentang Weltanschauung Qur'ani.uraian Rahman tidak berbeda dengan pembahasan al-Ghazali yang lebih klasik (Lihat Othman. if not absolutely impossible.The only different is that while every other creature follows its nature automatically. for an outsider even to get a general idea of what it is like (Izutsu. yang kita anggap merupakan unsur konseptual dasar dari Weltanschauung Qur'ani ini. akan dibahas istilah-istilah kunci manusia dan bidang semantiknya. lalu menyimpulkan secara induktif. 1980: 24) Rahman mengulas manusia dengan mengulas pandangan al-Qur'an tentang kedudukan manusia sebagai individu dan anggota masyarakat. Tidak mungkin dalam makalah ini. seperti Fazlur Rahman. saya menguraikannya secara terperinci. 1964: 19). Ia mengambil konsep Allah sebagai istilah kunci dan menjelaskan hubungan konsep itu dengan manusia. Ia tidak memulai dari konsep dasar yang digunakan al-Qur'an untuk mengabsorbsikan manusia. Pertama. Sayangnya. Dalam tulisan tersebut. kita menentukan makna pokok (basic meaning) dan makna nasabi (relational meaning). Ia sama sekali tidak menyebut berbagai konsep yang digunakan al-Qur'an untuk merujuk manusia. this tranformation of the is into ought is both fhe unique privelege and the unique risk of man (Rahman. 1967) --yang membahas amanah sebagai inti kodrat manusia-. kita menyimpulkan weltanschauung yang menyajikan konsep-konsep itu dalam satu kesatuan. Unfortunately. Pertama. Ia menyebutkan tiga hubungan ontologis. 1964: 10). penulis makalah ini juga outsider. Tulisan ini mengambil jalan lain. Kedua. what is called semantics today is so bewilderingly complicated. 1986) membahas karakteristik khas manusia yang lebih "maju" dari al-Ghazali. kemudian mengenal bidang semantik setiap istilah itu. dengan resiko salah beberapa langkah. Malangnya di samping makalah ini tidak dimaksudkan untuk itu. 1965) yang memperkenalkan metodologi semantik [2] dalam memahami konsep-konsep dasar al-Qur'an. sebetulnya menemukan bagaimana al-Qur'an memberi makna tentang konsep-konsep dasar manusia. dan hubungan komunikasi linguistik. Dengan kata lain. sebagaimana digunakan dalam al-Qur'an. Saya sangat terkesan dengan Izutsu (1964. kita mengidentifikasikan istilah-istilah al-Qur'an tentang manusia. Makna nasabi adalah makna tambahan yang terjadi karena istilah itu dihubungkan dengan konteks di mana istilah itu berada. Kedua. Makna pokok yang berkenaan dengan constant semantic element which remains attached to the word whereever it goes and however it is used (Izutsu.

karena nabi hanyalah basyar --manusia biasa yang "seperti kita. unas digunakan untuk menunjukkan 12 golongan dalam Bani Israil. 27:56) dan menunjukkan kelompok atau golongan manusia. insan. ins. Ketika wanita-wanita Mesir takjub melihat ketampanan Yusuf as. Tentang para Nabi. bagaimana mungkin aku mempunyai anak. Bukankah Rasul itu memakan makanan dan berjalan-jalan di pasar. orang-orang kafir selalu berkata.BASYAR. Unas disebut lima kali dalam al-Qur'an (2:60. 41:25. [3] Dalam seluruh ayat tersebut. Bukankah ia Basyar seperti kamu. 17:88. padahal aku tidak disentuh basyar (3:47). dan QS. seperti kursiy. ada tiga istilah kunci yang mengacu kepada makna pokok manusia: basyar. 70:160. Tuhanku. 51:56. aku ini manusia biasa (basyar) seperti kamu. Ins disebut 18 kali dalam al-Qur'an. Ayat ini ditegaskan dalam QS. Dan tidak Kami utus sebelummu para utusan kecuali mereka itu memakan makanan dan berjalan-jalan di pasar. Dalam QS. Ada konsep-konsep lain yang jarang dipergunakan dalam al-Qur'an dan dapat dilacak pada salah satu di antara tiga istilah kunci di atas. dan ia minum apa yang kamu minum (33:33). yang merupakan bentuk lain dari insan. anasiy. kita tidak tepat menafsirkan basyarun mitslukum sebagai manusia seperti kita dalam hal berbuat dosa. basyar memberikan referensi pada manusia sebagai makhluk biologis. dan makan dengan menggunakan tangan. 74. Marilah kita kembali kepada ketiga istilah kunci tadi. Nabi Muhammad saw. Surat 17:21 dengan jelas menunjukkan makna ini pada hari kami memanggil setiap unas dengan imam mereka. 179. mereka berkata. Al-Syaukani (1964. Secara singkat konsep basyar selalu dihubungkan dengan sifat-sifat biologis manusia: makan. 56. ini bukan basyar. 7:82. dan al-Nas. 55:33. berjalan di pasar. hanya saja aku diberi wahyu bahwa Tuhanmu ialah Tuhan yang satu (18:110. 2:60. 46:18. 72:5. ia makan apa yang kamu makan. 41:6). tapi ini tidak lain kecuali malaikat yang mulia (12:31). unas. disuruh Allah menegaskan bahwa secara biologis. menjadi karasiy (Lihat al-Thabrasi. dengan mengganti nun atau ya atau boleh juga bentuk jamak dari insiy. 17:71. Dari segi inilah. 39. Lihatlah bagaimana Maryam berkata. tapi sifat-sifat psikologis (atau spiritual). 29. Kecenderungan para Rasul untuk tidak patuh pada dosa dan kesalahan bukan sifat-sifat biologis. 7:38. minum. DAN AL-NAS Dalam al-Qur'an. Basyar." bukan superman. Sama tidak tepatnya untuk tidak menafsirkan Sesungguhnya telah kami jadikan insan dalam bentuk yang sebaik-baiknya (95: 4) dengan menunjukkan karakteristik fisiologi manusia.. seks. Anasiy dalam bentuk jamak dari insan. 25: 7. Katakanlah. 27:17. INSAN. Tapi Ibn 'Arabi . Kata Basyar dihubungkan dengan mitslukum (tujuh kali) dan mitsluna (enam kali) diantara ayat-ayat tersebut di muka. Yusuf Ali (1977: 1759) dengan tepat menafsirkan ayat ini to man God gave the purest and the best nature. Mereka berkata. 130. misalnya. Ya Allah. and man's duty is to preserve the pattern on which God has made him (QS 30:30). 1937). Anasiy hanya disebut satu kali (25:49). 5: 465) menyebutkan umumnya para mufasir mengartikan ayat ini untuk menunjukkan kelebihan manusia secara fisiologis: berjalan tegak. atau bagaimana kaum yang diseru para nabi menolak ajarannya. dan selalu dihubungkan dengan jinn sebagai pasangan makhluk manusia yang mukallaf (6:112. Basyar disebut 27 kali. 128. 6). insiy. 25: 20. ia seperti manusia yang lain.

75:3. Pertama. bila ia mendapat keberuntungan. Akan Kami perlihatkan kepada mereka (insan) tanda-tanda Kami di alam semesta ini dan pada diri mereka sendiri sehingga jelas baginya bahwa ia itu al-Haq (41: 53). manusia adalah makhluk yang diberi ilmu. amalnya dicatat dengan cermat untuk diberi balasan sesuai dengan apa yang dikerjakannya (53: 39). berbicara. insan sangat dipengaruhi lingkungannya. yang berbeda dengan basyar. kata insan berkali-kali dihubungkan dengan kata nazhar. ia cenderung sombong. Manusia diberi kemampuan mengembangkan ilmu dan daya nalarnya. menguasainya atau dalam istilah al-Qur'an "mengetahui nama-nama semuanya" dan kemudian menggunakannya. berkuasa. mengetahui. tt. manusia sebagai pemikul al wilayah al-ilahiyyah. Kecuali kategori ketiga yang akan kita jelaskan kemudian. untuk menciptakan tatanan dunia yang baik. umumnya para mufassir bermula dari salah paham tentang semantic field istilah insan. Insan disuruh menazhar (merenungkan. (Al-Thabathabai. Ia diwasiatkan untuk berbuat baik (29:8. maka insan dalam al-Qur'an juga dihubungkan dengan konsep tanggung jawab (75: 36. Karena itu juga. proses terbentuknya makanan dari siraman air hujan hingga terbentuknya buah-buahan (80: 24-36). Allah berfirman. Dan ketiga Insan dihubungkan dengan proses penciptaan manusia. [5] (96: 4. amanah adalah menemukan hukum alam. Insan. kita melihat keistimewaan manusia sebagai wujud yang berbeda dengan hewani. Insan disebut 65 kali dalam al-Qur'an. [4] Kita dapat mengelompokkan konteks insan dalam tiga kategori. "Ia mengajarkan (insan) al-bayan" [6] (55: 3). Insan dihubungkan dengan predisposisi negatif diri manusia. Kedua. Sekali lagi. manusia adalah makhluk yang memikul amanah (33: 72). Pada kategori pertama. 80:17. mengamati) perbuatannya (79: 35). insanlah yang dimusuhi setan (17:53. 17:67. 41:49. Dalam hubungan inilah. Keempat. mitsaq. 51. 79:35. mendengar. 351-352) mengutip berbagai pendapat para mufassir tentang makna amanah dan memilih makna amanah sebagai predisposisi (isti'dad) untuk beriman dan mentaati Allah. kedua. 11:9. Yang mengajar dengan pena. [7] Predisposisi untuk beriman inilah yang digambarkan secara metaforis [8] dalam surat 7:172. Ketiga. takabur. 5). Menurut Fazlur Rahman (1967: 9). 14. Menurut al-Qur'an. kekeliruan penafsiran. dengan inisiatif moral insani. Allah membuatnya hidup. dan bahkan musyrik (10:12. dan memutuskan. ia cenderung menyembah Allah dengan ikhlas. Tak ada makhluk Allah yang lebih bagus daripada manusia. Bila ia ditimpa musibah. 'isr). Insan dihubungkan dengan keistimewaannya sebagai khalifah atau pemikul amanah. 42:48. berkehendak. Amanah inilah yang dalam ayat-ayat lain disebutkan sebagai perjanjian (ahd. 89:15). 89:23). dalam menyembah Allah. menganalisis. dan ini adalah sifat-sifat rabbaniyah. setelah Allah menjelaskan sifat insan yang tidak labil. Di dalamnya terkandung makna khilafah. 50:16). 59:16) dan ditentukan nasibnya di hari Qiyamat (75:10. 46:15). mengajar insan apa yang tidak diketahuinya. dan penciptaannya (86: 5). . 17:83. memikirkan. karena manusia memikul amanah. 31:14.berkata. 13. Karena itu. 39:8. 49. melihat. semua konteks insan menunjuk pada sifat-sifat psikologis atau spiritual.

Ini mendorong saya untuk menyimpulkan bahwa proses penciptaan manusia menggambarkan secara simbolis karakteristik basyari dan karakteristik insani.21). ditakdirkan untuk bersusah payah dan menderita (84:6. tergesa-gesa (17:11. UA 20-21 Jakarta Selatan Telp. 7507173 Fax. 30:20) dan air (25:54).(bersambung 2/2) Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah Editor: Budhy Munawar-Rachman Penerbit Yayasan Paramadina Jln. tanah (15:28. manusia itu cenderung zalim dan kafir (14:34. Metro Pondok Indah Pondok Indah Plaza I Kav. dan tidak boleh ia mengurangi hak-hak ruh untuk memenuhi hak tubuh. 16:4. 21:37). unsur material dan yang kedua unsur ruhani. Yang pertama unsur basyari. KONSEP-KONSEP ANTROPOLOGIS (2/2) oleh Jalaluddin Rakhmat Pada kategori kedua. gelisah. pada kata al-Nas). kata insan dihubungkan dengan predisposisi negatif pada diri manusia. 20.-------------------------------------------. "Tidak boleh (seorang mukmin) mengurangi hak-hak tubuh untuk memenuhi hak ruh. Sebagai insan manusia diciptakan dari tanah liat. Yang pertama. Bila dihubungkan dengan sifat-sifat manusia pada kategori pertama. banyak membantah atau mendebat (18:54. Tak mungkin dalam makalah . 7:381). 43:15). Secara menarik proses penciptaan manusia atau asal kejadian manusia dinisbahkan pada konsep insan dan basyar sekaligus. Demikian pula basyar berasal dari tanah liat. 75:5). 90:4). (021) 7507174 Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota Please direct any suggestion to Media Team Artikel Yayasan Paramadina Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota II. Inilah manusia yang paling banyak disebut al-Qur'an (240 kali. tanah (15:26.7. resah. 32:7). bodoh (33:72). Konsep kunci ketiga ialah al-Nas yang mengacu pada manusia sebagai makhluk sosial. yang kedua unsur insani." kata Abbas Mahmud al-'Aqqad (1974. Kedua kekuatan ini digambarkan dengan kategori ayat-ayat ketiga. 7501983. Al-Nas. meragukan hari akhirat (19:66). Keduanya harus tergabung dalam keseimbangan. berbuat dosa (96:6. Menurut Qardhawi (1973: 76). al-Mu'jam. saripati tanah. Menurut al-Qur'an. manusia adalah gabungan kekuatan tanah dan hembusan Ilahi (bain qabdhat al-thin wa nafkhat al-ruh). yang berjuang mengatasi konflik dua kekuatan yang saling bertentangan: kekuatan mengikuti fitrah (memikul amanat Allah) dan kekuatan mengikuti predisposisi negatif. 22:66. insan menjadi makhluk paradoksal. 36:77). dan segan membantu (70:19. 55:14. tidak berterima kasih (100:6). bakhil (17:100). lihat 'Abd al-Baqi. 23:12. 38:71. (021) 7501969.

Pada keadaan itu. dan sebagainya). Ia menyerap sifat-sifat rabbaniah menurut ungkapan Ibn Arabi. yang mengambil sekutu terhadap Allah (2:165). Manusia sebagai basyar berkaitan dengan unsur material. sebagian besar manusia mempunyai kwalitas rendah. 45:26. mereka akan menyesatkanmu dari jolan Allah.8. 25:50). yang berdebat dengan Allah tanpa ilmu. yang berilmu atau dapat mengambil pelajaran (18:22. 12:103. 29:10). di samping ada sebagian orang yang rela mengorbankan dirinya untuk mencari kerelaan Allah. yang hanya memikirkan kehidupan dunia (2:200). psikologis dan sosial. yang menjual pembicaraan yang menyesatkan (31:6). Ayat-ayat itu lazimnya dikenal dengan ungkapan wa min al-Nas (dan diantara sebagian manusia). Cukuplah di sini ditunjukkan beberapa hal yang memperkuat pertanyaan pada awal paragraf ini --yakni. 40:58. dengan memperhatikan ungkapan aktsar al-Nas. tetapi memusuhi kebenaran (2:204). 2:88. 32:9). kalam. 7:3. 24:35. yang menyembah Allah dengan iman yang lemah (22:11. maka ada juga hukum-hukum yang mengendalikan manusia sebagai makhluk psikologis dan makhluk sosial. dan kebanyakan harus menanggung azab (22:18). 28. yang tidak diperdayakan syetan (4:83). sama taatnya seperti matahari. qadar. dan al-Kitab (22:3.36. 2:243. yang mempesonakan orang dalam pembicaraan tentang kehidupan dunia. tapi sebetulnya tidak beriman (2:8). 38:24. 4:170. seperti kata . kita menjelaskan seluruh bidang semantik istilah al-Nas. Dengan memperhatikan ungkapan ini. Surat 6116 menyimpulkan bukti kedua ini. 69:42). Ia dengan sendirinya musayyar. seperti sama'. 13:1). 67:23. Al-Nas sering dihubungkan al-Qur'an dengan petunjuk atau al-Kitab (57:25. Namun manusia sebagai insan dan al-Nas bertalian dengan unsur hembusan Ilahi. al-Nas menunjuk pada manusia sebagai makhluk sosial. yang bersyukur (34:13. kafir (17:89. 23:78. 4:46. 12:38). kita menemukan kelompok manusia yang menyatakan beriman. kita dapat menyimpulkan. Pertama. Kepadanya dikenakan aturan-aturan. manusia secara otomatis tunduk kepada takdir Allah di alam semesta. baik dari segi ilmu maupun dari segi iman. 39:27. al-Qur'an menegaskan bahwa petunjuk al-Qur'an bukanlah hanya dimaksudkan pada manusia secara individual. tidak bersyukur (40:61. Ia menjadi mahkluk yang mukhayyar. Ia mengemban wilayah Ilahiyah. melalaikan ayat-ayat Allah (10:92). Kedua. yang selamat dari azab Allah (11:116). 12:21. 30.singkat ini. 40:57). WELTANSCHAUUNG QUR'ANI TENTANG MANUSIA Dari uraian di muka tampak al-Qur'an memandang manusia sebagai makhluk biologis. 27:62.68. tidak beriman (11:17. petunjuk. 7:10. 30:6. fasiq (5:49). Banyak ayat yang menunjukkan kelompok-kelompok sosial dengan karakteristiknya. bashar. Ketiga. Menurut al-Qur'an sebagian manusia itu tidak berilmu (7:187. 34:28. tapi ia diberikan kekuatan untuk tunduk atau melepaskan diri daripadanya. 31:20). Ayat-ayat ini dipertegas dengan ayat-ayat yang menunjukkan sedikitnya kelompok manusia yang beriman (4:66. 4:155). tapi juga manusia secara sosial. 14:1. hewan dan tumbuh-tumbuhan. Sebagaimana ada hukum-hukum yang berkenaan dengan karakteristik biologis manusia. Jika kamu ikuti kebanyakan yang ada di bumi. yang dilambangkan manusia dengan unsur tanah.

Metodologi semantik didefinisikan sebagai an analytic study of the key-terms of language with a view to arriving eventually at a conceptual grasp of the Weltanschauung or world-view of the people who use that language as tool not only of speaking and thinking. Sesungguhnya kami jadikan apa yang ada dipermukaan bumi sebagai perhiasan untuk menguji mereka. Mu'jam. Ini terjadi bila manusia tetap setia pada amanah yang dipikulnya. Inilah hakikat kemanusiaannya. sebuah benda. "Apa yang ingin ditelaah bukanlah suatu makhluk. more important still. kita menyimpulkannya bahwa ilmu dan iman adalah dasar yang membedakan manusia dari makhluk lainnya. of conceptualizing and interpreting the world that surround them (Izutsu. jawab." tulis Leahy (1985: 11) 2. sesuatu yang olehnya ia merupakan sebuah nilai yang unik. sedikit sekali orang yang dapat mengembangkan ilmu dan iman ini sekaligus. Dalam pandangan al-Qur'an. sesuatu yang olehnya manusia mempunyai karakteristik yang khas." tulis Mutahhari (tt. Karena banyak. 4. 58:11). Obyek formal dari filsafat manusia ialah inti manusia. Secara konkrit kesetiaan ini diungkapkan dengan kepatuhan pada syari'at Islam yang dirancang sesuai amanah. 1964:11) 3. 5. al-Mu'jam. "Allah mengangkat derajat orang-orang yang beriman diantara kamu dan orang-orang yang diberi ilmu" (QS. Al-Qur'an tak lain merupakan rangkaian ayat yang mengingatkan manusia untuk memenuhi janjinya itu. Usaha untuk mengembangkan keduanya disebut 'amal shalih. Ia lah yang menciptakan kehidupan dan kematian untuk menguji kamu siapa diantara kamu yang paling baik amalnya (QS. al-Qur'an menyatakan hidup ini medan untuk membuktikan 'amal shalih. "Karenanya. "Allah telah memberi manusia gairah dan kemampuan untuk meneliti dan menyelidiki untuk mengadakan percobaan sehingga . Karena itu. Kelompok terakhir inilah yang disebut al-Qur'an.al-Thabathabai. sedikit orang yang berilmu. siapa diantara mereka yang paling baik amalannya (18:7). kewajiban manusia ialah memenangkan predisposisi positif. but. Makna hidup manusia diukur sejauh mana ia berhasil beramal sebaik-baiknya. Lihat al-Baqi. Bila Sartre mengatakan hidup ini absurd. Sesuatu yang olehnya manusia menjadi apa yang terwujud. menurut al-Qur'an. Keduanya harus dikembangkan secara seimbang. pembaca dianjurkan melihat sendiri dalam Al-Baqi. yaitu potensi mengembangkan iman dan ilmu. tapi suatu prinsip adanya (principe d'etre). Sedikit orang yang beriman. CATATAN 1. Dr Muhammad Mahmud Hijazi (1968. dan lebih sedikit lagi orang yang beriman dan berilmu.30:65) menjelaskan ayat ini.: 17). ia dituntut untuk bertanggung Karena pada manusia ada predisposisi negatif dan positif sekaligus. yakni sejauh mana ia mengembangkan iman dan ilmunya. 67:2). Ada dua komponen esensial yang membentuk hakikat manusia yang membedakannya dari binatang. alam kodratnya strukturnya yang fundamental.

Tanpa tahun. The Covenant in The Koran. nikmat Allah. Uraian berbagai pendapat tersebut beserta kritiknya disajikan lengkap oleh Subhani (1400:75 106)." al-Tawhid. L'humanisme de L'Islam. Al-Thabrasi. 1937. Yusuf 1977. 1968. Ali. daftaer kondisi yang harus dipenuhi pihak kedua. no 9. Muhammad Fuad. Al-Mu'jam al Mufahras Li al-Alfazh al Qur'an al-Karim. Lihat al-Syaukani (1964. Muhamad Hussein. Beirut: Dar el-fikr. Boisard. ancaman. 1964. The Holy al-Qur'an American Trust Publication. Ismail. Al-Tafsir al-Wadhih Kairo: A1-Istiqdal al-Kubra. Penerbit tidak diketahui. Al-Mizan fi 'l-Tafsir al-Qur'an. "Al-lnsan fil Qur'an" dalam Al-A'mal al-Kamilah. Beirut: Dar al-Kutub al-Lubuani. Fath al-Qadir Kairo: Mustafa Al-Babi al-Halbi. Al-'Aqqad Abbas Mahmud. Toshihiko.Qur'an. Biazar (1366) banyak memberikan contoh-contoh yang menarik. DAFTAR KEPUSTAKAAN Abd al Baqi. Hijazi. Tokyo Keio Institute of Cultural and Linguistic Studies. Muhammad bin Ali. pengetahuan tentang halal dan haram. 1404. Majma' al-Bayan. Abd al-Karim Biazar menulis tentang the Covenant in the Qur'an sebagai kunci yang mempersatukan ayat-ayat dalam setiap surat al-Qur'an. Qum: Al-Hauza al-Ilmiyah. kemampuan mengembangkan ilmu. al-Thabathabai (TT. God and Man in The Koran. 1356. dan pelajaran dari masa lalu. Man in The Qur'an. Muhammad Mahmud. Al-Faruqi. Abu Ali Al-Fadhl. terjadi banyak ikhtilaf di kalangan mufassir. Al-Syaukani. janji. Sida: A1-Irfan Bakker. tanda-tanda yang berjanji. yang terdiri dari pihak pertama (Allah) pihak kedua (Manusia). Surat-surat dalam al-Qur'an mengingatkan manusia pada perjanjian Allah. . Al-Thabathabai. "Nazhriyat al-lnsan fi 'l. 5:131)." 6. Al-Bayan ditafsirkan sebagai kemampuan berbicara. 1964. Ahd al Karim. 1966. saksi. Dirk. Tentang perjanjian manusia di alam dzarrah ini. 8. tahun 2. Izutsu. Paris: Albin Michel. Amsterdam: Drukkerrij Holland NV: Biazard. sumpah dengan ayat-ayat Allah. jilid 7. Lalu ia menundukkan semuanya untuk berbakti memenuhi kehendak manusia. 1978. 19:95) 7. 1974. Marcel A.sampai pada pengetahuan tentang rahasia alam semesta serta tabiat segala hal.

(021) 7501969. Akidah tentang Allah yang menciptakan alam semesta. 1986. Al-Iman wa 'l-Hayat.------. 7507173 Fax. Maktabah Wahbah. Maktabah Wahbah Rahman. March 1967. [1] Melalui suatu pengamatan yang cermat atas segala alam sekitar kita. Louis. -------------------------------------------Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah Editor: Budhy Munawar-Rachman Penerbit Yayasan Paramadina Jln. 7501983. ------. Murtadha. Major Themes of the Qur'an. Montreal: McGill University Press. tapi merupakan bagian integral dari akidah. Leahy. Ma'alim al-Tawhid fi 'l-Qur'an al-Karim. 1986. Yusuf. 1977. Betapa teraturnya gerakan bintang-bintang pada garis edarnya . Ali Yafie Hukum yang diperkenalkan al-Qur'an bukanlah sesuatu yang berdiri sendiri. Metro Pondok Indah Pondok Indah Plaza I Kav. the universe. Ethico Religious Concepts in the Qur'an. Hukum Allah meliputi segenap makhluk (alam semesta). 1980. Islamic Studies. UA 20-21 Jakarta Selatan Telp. ------. 1966. Chicago: Bibliotheca Islamica Subhani. memeliharanya dan menjaganya sehingga segala makhluk itu menjalani kehidupannya masing-masing dengan baik dan melakukan fungsinya masing-masing dengan tertib. Othman. 1400. dapat disaksikan betapa teraturnya alam raya ini. Al-Insan wa 'l-Iman Teheran: Muassasah al-Bi'tsah. 1973. Ja'far. Manusia: Sebuah Misteri. VI: 1. Kairo: Dar al-Maaref Qardhawi. Jakarta: Gramedia. Qum: Antara lain Khayyam. Fazlur. KONSEP-KONSEP HUKUM (1/3) oleh KH. The Concept of Man in Islam in the writings of Al Ghazali. Bandung: Mizan. Mutahhari. The Qur'anic Concept of God. 1965. and Man. Al-Khashaish al-Amimah li 'l-Islam. Tanpa tahun. 1960. Ali Issa. Manusia dan Agama. (021) 7507174 Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota Please direct any suggestion to Media Team Artikel Yayasan Paramadina Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota II.8. ------. mengaturnya.

Pusat pengatur tubuh. hukum konservasi. Dan apakah mereka tidak memperhatikan kekuasaan langit dan bumi dan segala sesuatu yang diciptakan Allah . memberikan informasi yang jelas pada kita betapa alam raya ini mulai dari bagian-bagiannya yang terkecil seperti partikel-partikel dalam inti atom yang sukar dibayangkan kecilnya. hukum Pascal. Penemuan hukum-hukum alam (natuurwet) sebagaimana disinggung di atas. Sedangkan ketangguhannya menunjukkan staminanya. [2] Dalam hubungan ini. maka peliharalah kami dari siksaan neraka. pencernaan dan tugas-tugas lain yang tidak terbilang banyaknya. hukum gerak. memikirkan dan mempelajari alam semesta.. tubuh manusia terdiri dari 50 juta sel. Tubuh manusia jauh lebih rumit dan menakjubkan daripada pesawat komputer. Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan) Kami segenap ufuk dan pada diri mereka sendiri.Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi. [5] . seperti hukum proporsi. Tanpa kita sadari.. dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal. Tidaklah bermanfaat tanda kekuasaan Allah dan Rasul-rasul yang memberi peringatan bagi orang-orang yang tidak beriman. Maha Suci Engkau. Meskipun demikian fungsi-fungsi tubuh yang tidak tampak. Lewat ilmu pengetahuan alam kita diperkenalkan dengan hukum-hukum fisika dan kimia serta biologi.. dapat kita renungkan salah satu ayat al-Qur'an yang berbunyi.masing-masing. Katakanlah! Perhatikanlah apa yang ada di langit dan di bumi. tekanan darah kita.. sampai kepada galaksi-galaksi yang tak terbayangkan besar dan luasnya. [3] Pesan untuk mengamati.. hukum relativitas. menalar. lebih mengesankan lagi. [7] Petunjuk-petunjuk al-Qur'an yang mengarahkan manusia untuk berfikir. Bumi tempat kita hidup yang berputar pada sumbunya dan beredar pada orbitnya di sekeliling matahari dalam jangka waktu tertentu dan pasti menyebabkan silih bergantinya siang dan malam dan bertukarnya satu musim ke musim lain secara teratur. Prestasi atletik seringkali memperlihatkan tenaga tubuh yang bersifat melar. sangatlah jelas dan berulang-ulang kali disampaikan dalam sekian banyaknya ayat-ayat al-Qur'an. [4] .. hukum gravitasi. meneliti. kode genetik. Dan yang lebih dekat kita renungkan ialah keadaan tubuh jasmani kita sendiri. yakni otak memiliki kemampuan merekam dan menyimpan lebih banyak informasi dibandingkan dengan pesawat apapun. tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia. jumlah panjang jaringan pembuluh darahnya sampai 100 ribu kilometer dan lebih dari 500 macam proses kimiawi terjadi di dalam hati. (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang Engkau menciptakan langit dan bumi (seraya berkata) ya Tuhan kami. Ilmu pengetahuan mengungkapkan. tubuh mengatur suhu badan kita. mengomentari ayat-ayat ini dengan sabdanya. mengamati dan meneliti sebagaimana disinggung di atas yang sifatnya global. semuanya bergerak menurut ketentuan-ketentuan hukum alam yang mengaturnya. Celakalah orang yang membaca ayat ini lalu tidak berfikir. hukum reproduksi dan embriologi. Misalnya . sehingga jelaslah bagi mereka bakwa al-Qur'an itu adalah benar. [6] Rasulullah saw. dilengkapi dengan petunjuk-petunjuk lain yang bersifat detail dimana terbayang isyarat-isyarat yang mengacu pada pokok-pokok ilmu pengetahuan tentang alam dan hukum-hukum yang berlaku atasnya.

[10] Dalam terminologi teologis hal semacam itu termasuk dalam kategori qadar dan qadla. biasanya dalam bahasa ilmu-pengetahuan disebut natuurwet atau hukum alam. Tidaklah mungkin bagi matahari mencapai bulan dan malampun tidak dapat mendahului siang. yang merupakan . mendorong minat dan membangkitkan semangat kaum Muslim angkatan-angkatan pertama --yang dapat menghayati ayat-ayat al-Qur'an ini-. menurut ukuran. Dia menguraikan tanda-tanda (kekuasaannya) kepada orang-orang yang mengetahui (berilmu)" [8] . Romawi. Parsi. India dan Cina di bidang pengetahuan filsafat dan alam. diantaranya. Maka sekali-kali kamu tidak akan mendapat pergantian bagi sunnatullah itu. berbunyi . tumbuh-tumbuhan. kilat. Dan telah Kami tetapkan bagi bulan manzilah-manzilah perjalanan sehingga (setelah ia sampai ke manzilah terakhir) kembalilah ia sebagai bentuk tandan yang tua. Benda-benda yang ada disekeliling kita.Dan matahari itu berjalan di tempatnya. Ayat yang secara jelas merangkaikan sunnatullah itu dengan qadar. dan adalah ketetapan Allah itu suatu qadar yang pasti berlaku. baik berupa benda mati maupun makhluk hidup... itulah ketentuan dari Yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui. namun istilah ini lebih mendominasi hal-hal yang bersangkut paut dengan perilaku manusia. al-Farabi. Dan masing-masing di dalam orbitnya pada beredar.dianggap identik dengan determinisme. penelitian dan penalaran lewat ilmu-ilmu yang mempelajari perilaku dan sifat-sifat makhluk-makhluk. Adanya sejumlah ketentuan yang pasti dan berlaku sebagai hukum yang mengatur segala makhluk di alam raya ini. Allah tidak menciptakan yang demikian itu melainkan dengan hak. Salah satu ayatnya mengatakan. dan tentang manusia sendiri dan kejadiannya serta segala macam permasalahannya. Isyarat yang ada dibalik kalimat ini dapat ditangkap lebih jelas dengan bantuan ilmu fisika yang membahas tentang materi dan unsur. awan. air. Sesungguhaya Kami menciptakan segala sesuatu dengan qadar.untuk terjun menggali ilmu pengetahuan yang luas dan khazanah ilmiah bangsa-bangsa Yunani. dan sering kali --secara kurang hati-hati-. Upaya pengamatan.. telah mengungkapkan banyak penemuan yang memperkenalkan kepada kita hukum-hukum yang berlaku dengan pasti atas alam ini. Kehadiran ayat-ayat yang mengandung isyarat-isyarat yang mengacu pada pengungkapan misteri alam.(Allah telah menetaphan yang demikian) sebagai sunnatullah pada mereka yang telah berlaku dahulu.ayat yang berbunyi. Demikian pula halnya dengan ilmu-ilmu lain yang dapat menangkap isyarat-isyarat berbagai ayat al-Qur'an yang berbicara tentang hewan. [11] Penjelasan lebih jauh tentang qadar itu dapat kita simak dari beberapa ayat. [9] Kedua ayat ini cukup jelas isyarat-isyaratnya yang dapat ditangkap ilmu astronomi. al-Ghazali dan serentetan nama besar yang tidak asing bagi dunia ilmu pengetahuan di Timur dan di Barat.. dan sekali-kali tidak (pula) akan menemni penyimpangan dari sunnatullah itu. dan ditetapkan manzilah-manzilah (mansion) bagi peredarannya supaya kalian mengetahui bilangan tahun-tahun dan perhitungannya. di dalam bahasa al-Qur'an kadangkala disebut sunnatullah. Ibn Rusyd. sehingga menghasilkan ilmuwan-ilmuwan besar seperti Ibn Sina. [12] Kata bi qadar (dengan qadar) di sini ditafsirkan. Dialah yang menjadikan matahari bersinar dan bulan bercahaya.

memperlihatkan kepada kita adanya kadar ukuran tertentu yang menjadi ketentuan-ketentuan yang pasti yang dapat diamati dalam diri setiap makhluk. Semuanya ini merupakan bagian dari hukum yang mengatur dan memelihara alam semesta. unsur Fe (besi). (021) 7501969. tapi harus dengan mata hati. Air murni selalu mempunyai proporsi oksigen dan hidrogen yang sudah tertentu dan tetap. Dan Dia (Allah) telah menciptakan segala sesuatu dan Dia-lah yang menetapkan qadar/ukurannya secara pasti serapi-rapinya. jumlah protonnya 47. perak. 7501983. unsur Ag (perak).". unsur Au (emas). unsur Al (aluminium). unsur-unsur telah bergabung membentuk suatu senyawa. (021) 7507174 Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan . emas. Unsur-unsur yang tergabung dalam suatu senyawa selalu mempunyai proporsi tertentu. jumlah protonnya 29. sebagian besar mengaitkan bermacam-macam fenomena alam yang dimintakan perhatian supaya manusia mengamatinya dan melakukan penalarannya untuk dapat membaca tulisan Ilahi yang tersirat di dalamnya. semuanya itu termasuk dalam kategori materi. unsur Cu (tembaga). Mungkin itulah yang disindir Imam Ghazali dengan ungkapannya:. Dalam kasus-kasus seperti ini. tumbuh-tumbuhan. Tergabungnya dua unsur atau lebih melalui pola persenyawaan atau pola percampuran membentuk suatu materi tertentu. Isyarat serupa yang kita peroleh dari informasi ilmu fisika sebagaimana disinggung di atas. .. unsur Hg (air raksa). air dan sebagainya. [13] Secara sepintas dari dua informasi yang disajikan di atas. seng. Padahal ayat-ayat yang berbicara tentang qudrat-iradat Allah/kekuasaan dan keagungan Allah. jumlah protonnya 26. unsur Ni (nikel). Sebahagian besar dari materi-materi yang kita kenal terdiri dari unsur-unsur. Misalnya unsur oksigen bergabung dengan hidrogen membentuk senyawa cair. jumlah protonnya 80. Juga untuk menemukan sunnatullah atau hukum-hukum kauniyah yang akan menopang tegaknya hukum-hukum syar'iyyah. Metro Pondok Indah Pondok Indah Plaza I Kav. unsur Pt (platina). dapat pula kita temui dari informasi ilmu kimia yang membahas unsur-unsur itu. dan disebut air. Dalam hubungan ini dapat kita hayati ungkapan sebuah ayat yang berbunyi.. demikian pula dengan proporsi nitrogen dan hidrogen dalam amoniak. Misalnya. UA 20-21 Jakarta Selatan Telp. mengikuti suatu aturan yang dikenal hakam proporsi yang sudah tertentu. hewan. jumlah protonnya 78. dan seterusnya. [14] Pembahasan teologis dalam bidang qada dan qadar (masalah takdir) kurang menyentuh apa yang kami singgung di atas. mereka tidak mampu membaca tulisan Ilahi yang tergurat di atas lembaran-lembaran alam semesta. [15] -------------------------------------------..bahan-bahan kebutuhan dalam hidup kita seperti kayu.(bersambung 2/3) Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah Editor: Budhy Munawar-Rachman Penerbit Yayasan Paramadina Jln. besi. 7507173 Fax. jumlah protonnya 28. tulisan tanpa aksara dan bunyi itu pasti tidak dapat diraih dengan mata telanjang. jumlah protonnya 79. jumlah proton yang terkandung di dalamnya 13.

asbab al-nuzul.8. dan sebagainya. Apa yang dikenal dalam ilmu hukum dengan historis-interpretasi cukup jelas padanannya dalam ilmu ushul fiqh yang lazim dipakai dalam mengolah hukum Islam. Thur. Saba'. dan seterusnya. Sunnah Rasullullah saw yang menggambarkan perjuangannya selama dua dasawarsa lebih. merupakan sebagian dari sunnatullah. Jalut. Quraisy. dan sebagainya. Sejarah mempunyai hukumnya sendiri dalam hal-hal tersebut di atas. Dari sejarah itu tergambar bagaimana proses kebangkitan suatu umat dan bagaimana proses kehancurannya. sunana al-ladzina min qablikum. asbab al-wurud dan status makkiyah atau madaniyah dari ayatayat. yang memeras golongan lemah. al-Kahf.ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota Please direct any suggestion to Media Team Artikel Yayasan Paramadina Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota II. aspek kesejarahan mempunyai juga arti penting dalam hukum-hukum syar'iyyah. semua itu tidaklah lahir dalam sehari dengan kilatan lampu aladin. yang banyak dicatat dalam al-Qur'an menerjemahkan dengan jelas sunnatullah yang berlaku dalam sejarah. al-Fath. Ali 'Imran. Hunain." Ayat-ayat di dalam surah-surah al-Isra'. tapi merupakan hasil kerja keras yang lama dan berkesinambungan. Tubba'. al-Ahzab. direnungkan dan mengambil pelajaran daripadanya. Demikian pula halnya dengan tempat-tempat bersejarah seperti Badr. yang berlaku secara pasti. dan memenangkan suatu perjuangan besar dalam menegakkan kebenaran dan keadilan serta mewujudkan kesejahteraan yang memberi arti bagi kemanusiaan. Fathir. sunnata man arsalna qablak. Dalam rangka itu al-Qur'an memperkenalkan tokoh-tokoh sejarah zaman lampau seperti Fir'aun. bahkan dalam al-Qur'an. . al-Anfal. apa faktor-faktor kemenangan dan apa faktor-faktor kegagalan dalam satu perjuangan. yang mengabaikan nilai-nilai moral. Haman. dan lain sebagainya. dengan adanya hukum nasikh-mansukh. Uhud. Ghafir. yang hidup bergelimang kemewahan. Hukum yang berlaku sepanjang sejarah kehidupan manusia. yang diminta al-Qur'an supaya diamati. tapi juga menjangkau alam nonmateri. al-Nisa. pemakaian kata sunnatullah lebih banyak mengacu pada apa yang disebut oleh ilmu pengetabuan sebagai "hukum sejarah. sebagaimana berlaku natuurwet. Bagaimana pertarungan antara pahlawan-pahlawan kebenaran dan akibat-akibat apa yang dialami para penentang kebenaran yang melakukan kezaliman. yang berbicara tentang sunnatullah dengan berbagai formulasi seperti sunnat alawwalin. Sukses besar berupa keberhasilan membangun dan membina suatu umat teladan. Hijr. Selain itu. semuanya berkaitan dengan peristiwa sejarah yang dialami para Nabi/Rasul dengan umatnya masing-masing. al-Tsamud. KONSEP-KONSEP HUKUM (2/3) oleh KH. semuanya itu adalah untuk memperjelas proses terbentuknya suatu hukum dan latar belakang sejarah yang mendorong kehadiran hukum tersebut. Ali Yafie Sunnatullah yang diperkenalkan al-Qur'an sebagaimana diuraikan di atas tidaklah terbatas pada ketentuan-ketentuan yang mengatur alam materi saja. Ahqaf.

Sebaliknya juga segala penyebab terjadinya suatu kegagalan atau kehancuran harus disadari dan dihindari.yang didorong oleh rasa percaya diri dan semangat juang yang tinggi sebagai perwujudan iman dan taqwa. Hukum sejarah sejalan dengan hukum alam. tapi hanya sebagai alat menciptakan kemakmuran dan untuk menegakkan hukum Allah dalam hal memerintahkan yang ma'ruf dan mencegah yang mungkar. maka keharusan memenuhi segala persyaratan-persyaratan itu adalah suatu hal yang mutlak. atau hukum moral yang disebut tawakkal. karena khawatir kalau-kalau upaya berobat untuk menghindarkan penyakit bertentangan dengan iman tauhudnya dan tidak menjadikan ia bertawakkal kepada Allah. Sunnah Rasulullah dalam perjuangan itu mendidik umatnya supaya memahami dan menghayati sunnatullah yang berlaku dalam sejarah. Keraguan seperti itu sejak dini telah muncul. Maka dengan adanya perjuangan antara kebenaran dengan kebatilan. Pesan dan petunjuk yang diberikan al-Qur'an pada manusia. menyebarkan ketentraman. Sebab-sebab keberhasilan dan kemenangan dalam suatu perjuangan dapat dipelajari dari sejarah dan harus dipersiapkan dengan sebaik-baiknya. ayat-ayat yang berbicara tentang perjuangan Rasulullah. tapi dalam bentuk kesadaran keimanan yang menjadikan mereka menyadari kewajibannya dan melaksanakan perjuangan dengan gigih tanpa pamrih. Keduanya mempunyai titik temu dalam hukum sebab-akibat. disamping menjelaskan hal itu dalam petunjuk lisannya pada mereka yang segan berobat di kala ia sakit. tidak menjadikan kekuatan/kekuasaan itu sebagai alat menindas dan merusak. Lebih lanjut beliau menjelaskan bahwa dalam al-Qur'an banyak ayat memuat janji Allah untuk membantu memenangkan perjuangan orang-orang mukmin. ialah ajarannya yang cukup praktis dan realistis menghadapi kenyataan sosial dengan langkah-langkah pemecahan yang praktis pula. Dianggapnya hukum tauhid itu cenderung memberikan cap syirik (mempersekutukan Allah) jika seseorang menganggap ada penyebab (faktor penentu) selain Allah. melihat adanya semacam kontradiksi antara hukum sebab-musabab (hukum kausal) dengan hukum teologis yang disebut tauhid. Dalam hubungan . atau karena sudah memeluk agama Allah. [16] Ciri utama agama Islam. yang menandai kehidupan sosial. hanya karena mereka sudah mengaku beriman/percaya kepada Allah. yang menempuh segala persyaratan dan mengkaitkan segala sebab dengan musababnya. Dalam hubungan ini Syeikh Mahmud Syaltut mengomentari. membimbing kita supaya menyadari keterkaitan segala sesuatu dengan penyebabnya. Atau dianggapnya hukum tawakkal bertentangan dengan hukum sebab-musabab (kausal). lalu diluruskan oleh sunnah Rasulullah dalam praktek sebagaimana tercermin dengan jelas dalam cara-cara perjuangan Rasul saw. Siapa yang menolong/membela agama Allah dengan jalan menegakkan keadilan. Dan Allah pun mewujudkan janjinya pada mereka. demikian pula sunnah Rasulullah yang memberikan penjelasan praktis pada pesan al-Qur'an itu. memantapkan keamanan. Sikap yang demikian membuktikan bahwa mereka sudah memenuhi janjinya kepada Allah. sebagai syarat bagi terjadinya. tapi tidak mewujudkan janji itu dalam bentuk suatu keajaiban yang langsung turun dari langit. mengungkapkan sesungguhnya Allah hanya memenangkan suatu perjuangan sesuai dengan ketentuan sunnahNya yang berlaku atas segenap mahluk-Nya. Ada sebagian pendapat yang kurang memahami sunnatullah dalam bentuk hukum alam dan hukum sejarah.

Sebaliknya hukum menurut ajaran al-Qur'an penegakkannya berjalan sekaligus dengan penabinaan moral dan akhlak yang bersumber dari akidah/keimanan. diatur dalam hukum mu'amalat. Apa yang dimaksud dengan nilai moral dan akhlak tidaklah tergolong hukum. yakni bidang 'ibadat. Hubungan antara makhluk (manusia) dengan Al-Khaliq. hukum itu terdiri dari suruhan/perintah dan larangan serta hak dan kewajiban. diatur melalui hukum jinayat. supaya kalian tidak menyimpang (dari kebenaran). Dan jika kalian memutarbalikkan (kebenaran) atau enggan menjadi saksi. Itu (pengobatan) adalah sebahagian dari qadar Allah. Di sinilah terlihat secara nyata keterkaitan hukum itu dengan akidah/keimanan. keamanan serta kesejahteraannya yang ditegakkan oleh pemegang kekuasaan umum atau badan peradilan. bidang mu'amalat. Maka sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala apa yang kalian lakukan. Ibadat tidak lain adalah perwujudan dari akidah yang diimani. dan terakhir tata hubungan keselamatan. Hubungan manusia sebagai makhluk dengan Khaliqnya (Allah) diatur penataannya melalui hukum ibadat. Menurut ilmu hukum. Kepatuhan mentaati hukum menjadi kepatuhan yang semu dan bersifat lahiriah belaka. Dengan demikian tidaklah mengherankan akibatnya dalam rangka pembinaan hukum. Wahai orang-orang yang berilmu! jadilah kalian orang yang benar-benar penegak keadilan. [l7] Dalam sabdanya yang lain. Demikian ulasan al-Ghazali dalam Kitab Tawhid dan Tawakkal. hukum itu hanya sekedar mengurus dan mengatur hubungan antar sesama manusia. sebab-musabab itu adalah sunnatullah dan penyimpangan dari sunnatullah bukanlah persyaratan dalam tawakkal bahkan ada kalanya merupakan kebodohan yang dicela agama. [18] Imam Ghazali menjelaskan. Bertobatlah kalian. karena sesungguhnya Allah menciptakan penyakit dan menciptakan juga obat. Adanya hukum niat yang diberi peran menentukan nilai perilaku manusia. [20] Itulah pesan al-Qur'an. bersabda. apakah itu bertentangan dengan qadar (taqdir)? Lalu Beliau menjawab. menjadi saksi karena Allah. kaya maupun miskin. Adanya hukum-ibadat dalam batang tubuh hukum Islam yang bersumber dari al-Qur'an itu merupakan ciri utama hukum Islam. Di luar itu tidak diperlukan hukum. memperlihatkan dengan jelas peran moral dalam hukum itu. bidang munakahat dan bidang jinayat. ketika Beliau ditanya tentang pengobatan. Maka janganlah kalian mengikuti hawa nafsumu. Di sini pula tampak titik awal perbedaan antara pemahaman hukum menurut ilmu hukum dengan hukum Islam yang bersumber dari al-Qur'an. Menurut ilmu hukum. Tata hubungan antara manusia dengan sesamanya dalam lalulintas pergaulan dan hubungan sehari-hari untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. . Selain itu.itu Nabi saw. diatur melalui hukum munakahat. Pembinaan hukum di sini tidak diarahkan kepada pembinaan diri manusianya. diatur secara pasti. Allah jualah yang lebih tabu keadaannya. Dalam penegakkan hukum menurut ajaran al-Qur'an selalu ditekankan suatu pesan sebagai berikut. hanya diarahkan supaya tidak melanggar rambu-rambu hukum. biarpun terhadap dirimu sendiri atau ibu bapak dan keluarga kerabatmu. Tata hubungan manusia dalam kehidupan berkeluarga dalam suatu lingkungan rumah tangga. [39] Penjabaran yang merinci hukum-hukum al-Qur'an yang dilakukan fiqh memperlihatkan adanya empat bidang utama yang menjadi sasaran dari hukum itu. masih ada perbedaan asasi antara kedua jenis hukum itu. Karena itu penegakkan hukum menurut ilmu hukum selama tidak diawasi dan diketahui pejabat/aparat hukum selalu terjadi pelanggaran hukum.

lalu aku memutus perkara itu atas dasar apa yang saya dengar (dari alasan/keterangan) itu. Demikian sabda Rasulullah. Sesungguhnya kalian mengajukan perkara-perkara kepadaku (untuk diputus). Ide hukum yang diajarkan al-Qur'an berkembang terus dari kurun ke kurun. secara dini al-Qur'an memperingatkan. KONSEP-KONSEP HUKUM (3/3) oleh KH. 7501983. Kemungkinan seorang pencari keadilan berlaku memperdaya hakim.bagaimana seyogyanya seorang berbuat adil. Maka barang siapa menerima putusan perkara (yang ia sendiri tahu) bahwa itu hak saudaranya (lawannya dalam perkara) maka janganlah ia mengambil (hak) itu. Metro Pondok Indah Pondok Indah Plaza I Kav. Mungkin sebahagian dari kalian lebih mampu dari yang lain (lawannya) mengemukakan alasan-alasan untuk memperkuat tuntutannya. dengan hukum dalam rumusan yang diajarkan al-Qur'an. UA 20-21 Jakarta Selatan Telp. (021) 7507174 Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota Please direct any suggestion to Media Team Artikel Yayasan Paramadina Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota II. (021) 7501969. [22] -------------------------------------------.(bersambung 3/3) Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah Editor: Budhy Munawar-Rachman Penerbit Yayasan Paramadina Jln. Seandainya hukum yang diajarkan al-Qur'an itu tergantung . 7507173 Fax. Di dalamnya terpadu antara sunnatullah dengan sunnah Rasulullah. Dan janganlah sebagian dari kalian memakan harta benda sebagian yang lain dengan jalan batil dan jangan pula mempergunakan harta itu sebagai umpan (guna menyuap) para hakim. yang pertama ialah dari dan terhadap dirinya sendiri. padahal kalian mengetahui. maka hukum dari ajaran al-Qur'an itu mempunyai kekuatan sendiri yang tidak sepenuhnya tergantung pada adanya suatu kekuasaan sebagai kekuatan pemaksa dari luar hukum itu. Ali Yafie Dengan demikian maka jelaslah. melalui jalur ilmu. Tidak dituntut dari dan terhadap orang lain saja. Dengan sifatnya yang demikian itu. atau adanya aparat hukum yang menyalahgunakan kedudukannya. Karena sesungguhnya ia hanya mengambil (menerima dariku) sepotong api neraka. sunnah Rasulullah memperjelas sebagai berikut.8. sebagaimana terpadunya antara aqidah/keimanan dan moral/ahklak. supaya kalian dapat memakan sebahagian harta benda orang lain itu dengan (jalan berbuat) dosa. al-Qur'an memperkenalkan satu konsepsi hukum yang bersifat integral. [2l] Dalam hubungan adanya kemungkinan seseorang berlaku memperdayakan hakim.

perkembangan segi-seginya tidaklah seimbang. yang sangat mendominasi bangsa-bangsa Barat. Terakhir kita mendengar selesainya upaya kompilasi Hukum Islam yang dilakukan Mahkamah Agung bersama Departemen Agama. penerapannya ternyata juga kurang terpadu antara hukum-hukumnya yang menyangkut segi sosial kemasyarakatan. karena memang demikianlah hukum sejarah dalam sunnatullah sendiri. Namun harus diakui. wawasan hukum yang diperkenalkan al-Qur'an. perkembangan ilmu pengetahuan yang sangat pesat. Karena kita semua cukup mengetahui betapa hebat upaya dari kekuasaan-kekuasaan yang mampu menaklukkan wilayah-wilayah Islam dan umatnya disertai upaya melikwidasi budaya dan hukumnya. Ia tetap bertahan bahkan berkembang dalam bentuk baru melalui proses taqnin (dirumuskan menjadi positif melalui yurisprudensi dan adakalanya melalui berbagai bentuk perundang-undangan). yang terjadi di negara-negara maju dapat pula mencari pandangan yang negatif terhadap Islam dan al-Qur'an. sebagai ilmu. sejak 1978 sampai dengan 1983 telah dilaksanakan pengkajian hukum yang meliputi antara lain Hukum Islam. Tapi ternyata hukum Islam dari ajaran al-Qur'an itu dapat memperlihatkan daya tahannya yang ampuh. sangat berjasa dalam menumbuhkan kesadaran hukum dan sikap normatif dalam kehidupan umat Islam. Hukum yang diperkenalkan al-Qur'an hidup terus. perkembangan segi fiqhnya yang merumuskan hukum sosial kemasyarakatan itu. Dua hal yang disinggung terakhir ini. sekali pun harus mengalami pasang surut dan pasang naik dan penerapannya.pada suatu kekuasaan. Tetapi bagaimana pun juga. dari kongres ke kongres mulai terbuka pandangan terhadap Islam. Maka Fiqh ini dijadikan agenda tetap dalam pengkajian-pengkajian mereka di bidang hukum. yakni keseimbangan dan keterpaduan dalam hal pemahaman. sehingga perundang-undangan ini dapat memenuhi kebutuhan hidup modern. [23] Dalam rangka pembangunan hukum di negara kita Republik Indonesia. yang tidak lain wujud nyatanya dan terinci adalah fiqh (hukum Islam) itu sendiri. Di lain pihak. kurang mendapat perhatian dalam pengembangannya. Sebagai kelanjutan dari pokok pikiran ini. Sebagai contoh dapat kita lihat dari hasil Kongres Ahli-ahli Hukum Internasional yang berlangsung di London (2-7 Juli 1951) yang antara lain menetapkan. Salah satu gejala dari perkembangan tersebut adalah minat para ilmuwan Barat untuk mempelajari Islam/Qur'an. pembangunan dan pembinaan hukum nasional diarahkan kepada pembaharuan hukum yang sesuai dengan kesadaran hukum yang berkembang dalam masyarakat. maka sudah lama jenis hukum ini terkubur dalam perut sejarah atau sekurang-kurangnya menjadi barang pajangan di lemari-lemari museum. perundang-undangan Islam kaya dengan berbagai teori hukum dan teknik hukum yang indah. pokok-pokok hukum (undang-undang) yang terdapat dalam agama Islam merupakan undang-undang yang bernilai tinggi dan sulit dibantah kebenarannya. dengan hukum-hukumnya yang menyangkut sunnatullah yang berupa hukum alam dan hukum sejarah. pelaksanaan dan pengembangan wawasan hukum yang diperkenalkan al-Qur'an itu merupakan tantangan bagi para ulama dan para . Dalam rangka itu para ahli hukum dari mereka. Dan seginya yang menyangkut sunatullah berupa hukum alam dan sejarah. Selain itu. Disamping itu. adanya berbagai madrasah dan madzhab di dalamnya menunjukkan. Seginya yang menyangkut hukum sosial kemasyarakatan (ahkam syar'iyah 'amaliyah/fiqh) lebih banyak mendominasi perkembangan itu.

al-Qamar:49. 'Ali 'Imran. 15) QS. 10) QS. 13) QS. LV/89. CATATAN 1) QS. al-Maidah:8. al-A'raf: 185. 18) QS. al-Maidah:43.cendekiawan Muslim. 2) QS. 14) Taisir Ibn' Katsir. Fathir :43. 23) Min Taujuhat al-Islam. 16) QS. Al-Ra'd:15. al-A'raf:87. Grolier Internasional Inc. (021) 7501969. Yunus:101. Hud:45. Human Body. 20) Ilmu Pengetahuan Populer. 11) QS. Syaltut. 3) QS. 'Ali 'Imran:190/191. 7) UU No. Penjelasan Umum. 19) QS. 7507173 Fax. 9) Jonathan Rutland. UA 20-21 Jakarta Selatan Telp. 6) UUD 1945. (021) 7507174 Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan . al-Mumtahanah:10. al-Ahzab:38. Metro Pondok Indah Pondok Indah Plaza I Kav. I/440. 4) QS. -------------------------------------------Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah Editor: Budhy Munawar-Rachman Penerbit Yayasan Paramadina Jln. al-Ghazali. 17) QS. 12) QS.83. al-Furqan:2 22) Ihya 'Ulum al-Din. 14 Tahun 1970 tentang Ketentuan Pokok Kekuasaan Kehakiman 8) QS. Fusshilat:53. al-Maidah:42 5) QS.272. Yasln:38/40. al-Nisa':68. h. IV/146. 21) QS. dan lain-lain. 7501983. Yunus:15.

ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota Please direct any suggestion to Media Team Artikel Yayasan Paramadina Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota II. maka akan berada dalam surga. Sebab Tuhanmu pasti melaksanakan apa saja yang menjadi kehendak-Nya. baik yang bersifat keagamaan maupun yang bersifat keduniaan semata (seperti Marxisme. Sebab tujuan hidup manusia tak lain ialah memperoleh kebahagiaan dan menghindari kesengsaraan. selama langit dan bumi masih ada kecuali jika Tuharmu menghendaki hal berbeda. sebagai anugerah yang tiada batasnya. (QS. .10. atau di akhirat saja seperti dalam agama-agama other-wordly. Ada pun mereka yang bahagia. Al-Qur'an melukiskan keadaan itu demikian. KONSEP-KONSEP KEBAHAGIAAN DAN KESENGSARAAN (1/4) oleh Nurcholish Madjid Masalah kebahagiaan (sa'adah) dan kesengsaraan (syaqawah) adalah masalah kemanusiaan yang paling hakiki. Meskipun ilustrasi tentang surga dan neraka itu berbeda-beda --dalam banyak hal perbedaan itu sangat radikal dan prinsipil-. penyandang sa'adah. misalnya) menjanjikan kebahagiaan bagi para pengikutnya dan mengancam para penentangnya dengan kesengsaraan. Gambaran tentang wujud kebahagiaan atau kesengsaraan itu sangat beranekaragam. yakni. Kitab Suci al-Qur'an menyajikan banyak ilustrasi dan penegasan yang kuat tentang kebahagiaan dan kesengsaraan Dalam sebuah firman disebutkan tentang terbaginya manusia ke dalam dua kelompok: yang sengsara (syaqiy penyandang syaqawah. gambaran tentang wujud kebahagiaan dan kesengsaraan itu dinyatakan dalam konsep-konsep tentang kehidupan di surga dan di neraka.namun semuanya menunjukkan adanya keyakinan yang pasti tentang pengalaman kebahagiaan atau kesengsaraan dalam hidup manusia. maka akan tinggal dalam neraka di sana mereka akan berkeluh kesah semata. Hud/11:105-108) Munculnya persoalan pengertian kebahagiaan dan kesengsaraan ini dalam Islam. Dalam agama-agama. Semua ajaran. Kebahagiaan atau kesengsaraan itu dapat terjadi hanya di dunia ini saja seperti dalam Marxisme. yang sengsara dan yang bahagia. patut kita bahas secara sungguh-sungguh. kecuali jika Tuhanmu menghendaki hal berbeda. Ada pun mereka yang sengsara. Kekal abadi di dalamnya. selama langit dan bumi masih ada. Namun semua ajaran dan ideologi selalu menegaskan bahwa kebahagiaan yang dijanjikannya atau kesengsaraan yang diancamkannya adalah jenis yang paling sejati dan abadi. kesengsaraan) dan yang bahagia (sa'id. kekal abadi di dalamnya. yakni kebahagiaan). atau di dunia dan akhirat seperti dalam Islam. Jika Hari (Kiamat) itu telah tiba. maka tiada seorang pun akan berbicara kecuali dengan izin-Nya Mereka manusia akan terbagi menjadi dua.

namun dirasa perlu kita mulai membahasnya mengingat perkembangan keagamaan di negeri kita yang pesat dengan tuntutan-tuntutannya yang terus meningkat. Walaupun begitu. bukan fase peralihan seperti diyakini agama-agama (Lihat QS. dan dengan sendirinya. seseorang dianjurkan mengejar kebahagiaan di akhirat. Dalam Islam. mengajarkan tentang adanya kebahagiaan atau kesengsaraan yang hanya bersifat jasmani. yang hanya mempercayai kehidupan duniawi ini saja. banyak pula dijanjikan kehidupan yang bahagia sekaligus di dunia ini dan di akhirat kelak untuk mereka yang beriman dan berbuat baik. Dalam tulisan ini kita akan membicarakan konsep kebahagiaan dan kesengsaraan sebagai pengalaman keagamaan (pribadi). Demikian itu masalah kebahagiaan. Kebahagiaan hanya diperoleh dengan tindakan dan perilaku meninggalkan dunia. kehidupan jasmani adalah kesengsaraan. namun tetap membedakan keduanya. Islam mengajarkan kebahagiaan dan kesengsaraan jasmani dan rohani atau duniawi dan ukhrawi. yaitu. Maka manusia didorong mengejar kedua bentuk kebahagiaan itu. demikian pula masalah . ataukah pengalaman rohani dan jasmani sekaligus. Marxisme. Ateisme dengan sendirinya mengingkari kehidupan sesudah mati atau akhirat. merupakan bagian dari dialog Islam sejak masa klasik. dari kalangan pria maupun wanita. KEBAHAGIAAN DAN KESENGSARAAN: JASMANI DAN ROHANI? Di atas telah disinggung. Perselisihan tentang wujud kebahagiaan atau kesengsaraan itu. Kaum Marxis yang ateis ini mirip dengan gambaran dalam al-Qur'an tentang golongan manusia pemuja waktu (al-Dahr). al-Nahl/16:97). Barangsiapa berbuat baik. Kehidupan yang bahagia di dunia menjadi semacam pendahuluan bagi kehidupan yang lebih bahagia di akhirat. karena sifatnya yang membelenggu sukma manusia. Bagi agama-agama itu. Sebaliknya. serta berusaha menghindar dari penderitaan azab lahir dan batin (QS. al-Qashash/28:77). Ini akan banyak menyangkut konsep-konsep kefilsafatan dan kesufian yang cukup rumit. sebagian agama mengajarkan adanya kebahagiaan dan kesengsaraan rohani semata. dan dia itu beriman maka pastilah akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik (di dunia). dalam orientasi hidup yang mengarah ke kehidupan rohani saja. tentu saja. semua itu berlangsung hanya dalam hidup di dunia ini saja. al-Baqarah/2:200). al-Jatsiyah/45:24). sesuai dengan sebaik-baik apa yang telah mereka kerjakan (QS.disebabkan adanya perbedaan interpretasi atas ayat-ayat suci yang menggambarkan kebahagiaan dan kesengsaraan itu. namun diingatkan agar jangan melupakan nasibnya dalam hidup di dunia ini (Lihat QS. orang yang mengalami kebahagiaan duniawi belum tentu akan mendapatkan kebahagiaan di akhirat. dan kematian adalah fase final hidup manusia. apakah berupa pengalaman kerohanian semata. dan pastilah akan Kami ganjarkan kepada mereka pahala mereka (di akhirat). atau pengalaman jasmani semata. Itu berarti memperoleh kebahagiaan akhirat belum tentu dan tidak dengan sendirinya memperoleh kebahagiaan di dunia.

kesengsaraan. Sebab hampir seluruh keterangan dan pelukisan tentang surga dan neraka dalam Kitab dan Sunnah menggambarkan tentang pengalaman kebahagiaan atau kesengsaraan yang serba fisik. yang dahulu kamu dustakan. Orang yang ingkar kepada kebenaran dan berbuat jahat diancam baginya kesengsaraan dalam hidup di dunia ini sebelum kesengsaraan yang lebih besar kelak di akhirat. dan harus dipahami dalam konteks adres pembicaraan (al-mukhathab)." Dan pastilah Kami (Tuhan) buat mereka merasakan azab yang lebih ringan (di dunia ini) sebelum azab yang lebih besar (di akhirat nanti) agar kiranya mereka mau kembali. tepat janji. mereka dikembalikan ke dalamnya. dapat dipercaya. manusia dengan kaum khawas (al-khawash atau orang-orang khusus. Beberapa nilai akhlak luhur seperti jujur. Ibn Rusyd mengaitkan perkara ini dengan kenyataan terbaginya manusia dalam susunan tinggi dan rendah. dengan kebahagiaan di akhirat yang jauh lebih besar. Ciri tersebut akan membawa mereka pada kebahagiaan duniawi dan ukhrawi sekaligus. yang dikaitkan dengan "kebijaksanaan" Tuhan sebagai yang Maha Kasih-Sayang dan Maha Adil. maka tempat mereka adalah neraka. khususnya keterangan atau pelukisan tentang surga dan neraka Yaitu perbedaan antara mereka yang memahami teks-teks suci secara harfiah dan mereka yang melakukan interpretasi metaforis (ta'wil) Bagi mereka yang memahami teks-teks suci itu secara harfiah. Kemudian ada beberapa keterangan. pengertian tentang kebahagiaan dan kesengsaraan akan cenderung bersifat fisik. melainkan rohani atau sekurang-kurangnya psikologis. Adapun orang-orang yang jahat. MASALAH INTERPRETASI Meskipun para ulama sepakat tentang adanya kebahagiaan dan kesengsaraan dunia-akhirat itu. Dalam kemungkinan tinjauan yang lebih menyeluruh. Tapi memang ada dan banyak. dan bahwa tidak selamanya mengejar salah satu akan dengan sendirinya menghasilkan yang lain. perilaku lahir dan batin manusia yang membawa akibat pada adanya pengalaman kebahagiaan atau kesengsaruan duniawi dan ukhrawi sekaligus. berkesungguhan dalam mencapai hasil kerja sebaik-baiknya (itqan). hemat. tulus. (QS. cinta kerja keras. dan lain-lain adalah pekerti-pekerti yang dipujikan Allah sebagai ciri-ciri kaum beriman. al-Sajdah/32:20-21) Penegasan-penegasan ini tidak perlu dipertentangkan dengan penegasan-penegasan terdahulu di atas bahwa ada perbedaan antara kebahagiaan duniawi dan kebahagiaan ukhrawi. the . sambil dikatakan kepada mereka: "Sekarang rasakanlah azab neraka ini. tabah. baik dalam Kitab maupun Sunnah yang memberi isyarat bahwa pengalaman kebahagiaan dan kesengsaraan itu tidak fisik. mereka tetap berselisih tentang kebahagiaan dan kesengsaraan yang sejati dan abadi Pangkal perbedaan itu ialah adanya perbedaan dalam tafsiran atas berbagai keterangan suci tentang kebahagiaan dan kesengsaraan. yang melahirkan piramida eksistensial. maka pelukisan kebahagiaan dan kesengsaraan apa pun harus diterima sebagai sesuatu yang wujudi atau eksistensial. baik dari al-Qur'an maupun Sunnnah. Setiap kali mereka hendak keluar dari sana.

Sebab dengan demikian berarti Tuhan menjanjikan kebahagiaan hanya kepada kelompok kecil manusia saja. Karena yang pokok ialah iman kepada Allah serta berbuat baik. 7501983. (021) 7501969. maka pengertian tentang hakikat kebahagiaan dan kesengsaraan itu menjadi kurang relevan bagi kaum awam. UA 20-21 Jakarta Selatan Telp. Fashl al-Maqa]). yang sanggup memahami kebenarankebenaran hakiki lewat alegori-alegori dengan melakukan "penyeberangan" (al-i'tibar) ke pengertian-pengertian sebenarnya di balik alegori-alegori. Meskipun pendekatan ini mengesankan elitisme. 7507173 Fax. Karena itu Tuhan juga mengarahkan sabda-Nya kepada khalayak umum. sesuai dan setingkat dengan cara berfikir serta kemampuan mereka menangkap pesan dan memahami masalah. dan kaum awam (al-awam orang-orang umum atau kebanyakan. Mereka yang mampu memahaminya dengan melakukan al-i'tibar. (021) 7507174 Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota Please direct any suggestion to Media Team . Mereka ini wajib menerima pelukisan tentang surga dan neraka apa adanya. seluruh keterangan tentang kebahagiaan dan kesengsaraan. Metro Pondok Indah Pondok Indah Plaza I Kav. -------------------------------------------. suatu hal yang jelas mustahil yang kualifikasi kelompok kecil itu ialah kesanggupan memahami hal-hal abstrak di balik ungkapan-ungkapan kiasan. karena memang pelukisan yang bersifat fisik itulah yang dapat ditangkap dan dipahami umum. Kaum awam ini membentuk bagian terbesar struktur piramidal masyarakat manusia. Tapi Tuhan Yang Maha Adil dan Maha Kasih-Sayang kepada sekalian umat manusia tentu mustahil mengalamatkan sabda-Nya hanya kepada orang-orang khusus yang jumlahnya sedikit itu.specials) menempati puncak piramida itu. menurut Ibn Rusyd wajib melakukan pemahaman serupa itu. Karena itu. namun dalam pandangan Ibn Rusyd tidaklah terhindarkan karena kenyataan dalam masyarakat menunjukkan adanya orang-orang tertentu yang jumlahnya tidak banyak. (Lihat Ibn Rusyd. dalam pandangan Ibn Rusyd dan para filsuf Muslim. Pemahaman me lalui metode i'tibar adalah interpretasi alegoris atau ta'wil. berbentuk pelukisan kehidupan di surga dan neraka dalam Kitab Suci dan Sabda Nabi. the commons) menempati bagian-bagian bawah sampai ke dasar piramida. adalah metafor-metafor atau makna-makna kiasan (majaz). sesuai dengan cara yang sekiranya akan mendorong mereka berbuat baik dan mencegah dari berbuat jahat. pelukisan tentang kebahagiaan dan kesengsaraan dalam Kitab Suci dan Sunnah Nabi kebanyakan bersifat fisik. Bagi mereka ini.(bersambung 2/4) Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah Editor: Budhy Munawar-Rachman Penerbit Yayasan Paramadina Jln. Dengan jalan itu kaum khawas dapat menerima agama dan rahmat yang dikandung agama itu pada dataran yang lebih tinggi daripada kaum awam. jika mendapatkan bahwa pengertian harfiah pelukisan itu adalah mustahil atau absurd.

Di dalam surga itu mereka mendapatkan buah-buahan dari segala macam. yang murni-bersih. juga memperoleh ampunan dari Tuhan mereka. (QS. Sebagaimana juga (tamsil-ibarat) orang yang kekal di dalam neraka. sehingga banyak salah pengertian yang kemudian mengundang polemik dan . di dalamnya ada sungai-sungai dari air. al-Zumar/39:27). sebagai ajaran "rahasia" bagi kaum khawas. KONSEP-KONSEP KEBAHAGIAAN DAN KESENGSARAAN (2/4) oleh Nurcholish Madjid Para filsuf menemukan dukungan bagi metodologi ta'wil mereka dalam berbagai penjelasan. al-Rum/30:58 dan QS. dapat dipahami dari firman berikut. bahwa dalam al-Qur'an Tuhan memang menyediakan berbagai "tamsil-ibarat". adalah nyata dan tidak mungkin diingkari. sepatutnya tidaklah dipahami menurut makna bunyi lafal lahiriahnya. Lebih jauh lagi. ada berbagai isyarat bahwa keterangan tentang surga dan neraka pun bersifat tamsil-ibarat. dan buah-buahannya tumbuh tanpa berhenti. Itulah tempat kesudahan bagi mereka yang bertaqwa. termasuk mengenai kebahagiaan dan kesengsaraan. yang minuman itu memotong-motong usus mereka. yang diberi minum dengan air mendidih. Karena merupakan pemahaman keagamaan yang lebih batini (esoterik) daripada lahiri (eksoterik). demikian pula naungan rindang yang diberikannya. dan disampaikan hanya kepada kalangan tertentu yang terbatas. lihat juga QS. maka filsafat dan tasawuf acapkali sengaja dibuat tidak bisa diarah oleh orang umum. Al-Rad/13:35) Tamsil-ibarat surga yang dijanjikan untuk orang-orang yang bertaqwa ialah. (QS. namun "tamsil-ibarat" dan pelukisan mengenai hakikatnya dapat menerima penafsiran-penafsiran. sungai-sungainya mengalir di bawahnya. alegori atau metafor. dan sungai-sungai dari susu. QS. yang tidak akan berubah cita-rasanya. Maka sementara masalah adanya kebahagiaan dan kesengsaraan itu. dan sungai-sungai dari madu. yang tidak akan rusak. sedangkan tempat kesudahan mereka yang menentang ialah api neraka.10. Tamsil-ibarat surga (jannah: kebun) yang dijanjikan untuk mereka yang bertaqwa ialah. Namun kebanyakan manusia tidak menerimanya. seperti dapat diketahui dari firman berikut. kecuali dengan sikap ingkar. baik di dunia maupun di akhirat. Dan sungguh telah Kami (Tuhan) beberkan untuk manusia dalam al-Qur'an ini setiap bentuk tamsil-ibarat. (QS. dan sungai-sungai dari khamar.Artikel Yayasan Paramadina Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota II. yang segar melezatkan bagi yang meminumnya. Dan memang kenyataannya pendekatan esoterik senantiasa sulit dipahami kaum awam. al-Isra'/17:89. termasuk penafsiran alegoris (tamtsili ataupun ta'wil). Bahwa banyak kandungan al-Qur'an yang bersifat tamsil-ibarat. al-Kahf/16:54. Muhammad/47:15) Jadi karena pelukisan tentang surga dan neraka itu disebut sebagai tamsil-ibarat dalam al-Qur'an. Inilah yang dicari dan dikejar para filsuf dan kaum sufi.

karena akses pada bahan bacaan. sulit dan ruwet. surga-surga yang di bawahnya mengalir sungai-sungai. kekal di sana selama-lamanya. seperti al-Hallaj dan Suhrawardi.. tingkat kecerdasan anggota masyarakat yang semakin tinggi menuntut pengertian-pengertian agama yang tidak konvensional atau. Pertama. al-Tawbah/9:72) Dalam menafsirkan firman Allah ini. Walaupun pemahaman esoterik senantiasa rumit. Kedua. Surga dengan segala kenikmatan yang ada di dalamnya tidaklah berarti apa-apa dan akan menjadi tidak seberapa di depan hebatnya keridlaan Allah yang Maha Pemurah. seperti Ibn 'Arabi. pria maupun wanita. Saat perjumpaan dengan Allah. Sebagaimana telah diisyaratkan dalam pembahasan di atas. apalagi. saat pencerahan ketika relung-relung sukma benderang dengan berkas . Selain berdasarkan isyarat tentang banyaknya kandungan al-Qur'an yang disebut sebagai tamsil-ibarat di atas. Dan keridlaan dari Allah adalah yang akbar. termasuk di bidang kesufian atau mistisisme. . Surga-surga yang di bawahnya mengalir sungai-sungai. stereotipikal. dan ketokohannya disanjung dan dikecam secara sama. pandangan kefilsafatan dan kesufian tentang bahagia dan sengsara cenderung mengarah pada pengertian-pengertian yang lebih rohani daripada jasmani atau. Dan keridlaan dari Allah itulah yang akbar.kontroversi. Beberapa pelopor pemahaman esoterik. karena berbagai hal. dalam surga-surga kebahagiaan abadi. Ketiga pergaulan kemanusiaan sejagad makin tidak terhindarkan. Dan keridlaan dari Allah itulah yang akbar. sebagai tempat kediaman yang tenang tenteram. Dan di atas itu semua mereka akan mendapatkan sesuatu yang lebih besar dan lebih agung lagi. harus menemui kematian di tangan penguasa. Itulah sebenarnya kebahagiaan yang agung. terwujud dalam ridla Allah. saat pembebasan diri dari kungkungan jasad yang campur aduk ini serta dari beban bumi dan iming-iming jangka pendeknya. Bahkan kiranya memang tidak perlu dan tidak dibenarkan untuk dibendung. Allah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman. namun tidak berarti tertutup rapat untuk setiap orang.. malah dalam banyak hal merupakan kebutuhan. yang tumbuh pesat tidak mungkin lagi dibendung. BAHAGIA DAN SENGSARA: PANDANGAN KEFILSAFATAN DAN KESUFIAN Walaupun begitu dalam zaman sekarang pendekatan esoterik tidak lagi dapat dipertahankan sepenuhnya sebagai kerahasiaan. Karena tidak jarang pendekatan esoterik memang menyegarkan. saat dari lubuk hati manusia yang mendalam terpancar sinar dari Cahaya yang mata tidak mampu memandangNya.. saat menyaksikan Keagungan-Nya. telah meninggalkan karya-karya besar yang sampai sekarang dipelajari orang dengan penuh minat. Kebahagiaan di surga menanti kaum beriman. Sebagian tokoh lagi. akibat intrik-intrik politik yang menjerat mereka. Sayyid Quthub mengatakan. kaum sufi dan para filsuf juga mendapatkan banyaknya penegasan bahwa kebahagiaan tertinggi jika bukannya seluruh kebahagiaan itu sendiri. juga tempat-tempat tinggal yang indah. barangkali lebih psikologis daripada fisiologis. (dijanjikan pula) tempat-tempat tinggal yang indah.. Sebuah firman mengatakan. (QS. dalam surga-surga kebahagiaan abadi. berkat kemajuan teknologi informasi dan transportasi. kekal di sana selama-lamanya.

juga tidak setiap harapan. Tuhan yang sebenarnya itu dan tidak kepada apa dan siapapun yang lain. semuanya adalah satu momen dari momen-momen yang bertumpu pada kelangkaan amat sedikit bagi manusia dalam suasana kesucian total. Tuhan atau Sesembahan yang sebenarnya). KEBEBASAN DAN KEBAHAGIAAN Salah satu tema utama dalam metodologi kesufian ialah takhalli. terbentuk dari kata-kata Illah dan artikel "al"-yakni. Metro Pondok Indah Pondok Indah Plaza I Kav. Fi Zhilal al-Qur'an. Apalagi keridlaan Allah meliputi seluruh sukma.(bersambung 3/4) Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah Editor: Budhy Munawar-Rachman Penerbit Yayasan Paramadina Jln. Belenggu itu dilambangkan dalam konsep tentang "Tuhan" atau "Sesembahan".Ruh Allah. yaitu setiap bentuk obyek ketundukan (Arab: Ilah). dan sukma-sukma itu tercekam di dalamnya tanpa kesudahan! "ltulah kebahagiaan sejati yang agung". termasuk dalam hidup sekarang ini jika mungkin.. maka tujuannya ialah pembebasan diri dari setiap belenggu. 7507173 Fax. UA 20-21 Jakarta Selatan Telp. menjadi tujuan semua olah-rohani (riyadlah) dan perjuangan spiritual (mujahadah). jika menghalangi pada Kebenaran. (021) 7507174 Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota Please direct any suggestion to Media Team Artikel Yayasan Paramadina Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan . -------------------------------------------. maka yang dimaksudkan ialah kemestian kita tunduk pada Allah. Jika kalimat persaksian dimulai dengan al-nafy atau peniadaan dalam fase negatif tiada Tuhan. yakni. jilid 10. seperti yang diajarkan kaum sufi. 254-5) Dengan tafsirnya itu. yang menurut banyak ahli termasuk 'Ali ibn Abi Thalib dan Ja'far al-Shadiq. 7501983. epiphanic.. termasuk pembebasan dari belenggu budaya dan tradisi. Pembebasan adalah juga salah satu tema pokok seruan Nabi kepada umat manusia. yang dihadapan pengalaman kesaksian itu semua bentuk kebahagiaan menjadi tidak bermakna apa-apa adalah sebuah tafsiran kasyafi (theophanic. sebagai keridlaan Allah --sebagai pengalaman kesaksian rohani akan Wujud Maha Benar itu. Sayyid Quthub telah melakukan pendekatan filosofis dan sufi pada masalah hakikat kebahagiaan. sungguh dihadapan itu semua tidaklah bermakna lagi setiap kesenangan. bersifat penyingkapan dan pengalaman spiritual akan kehadiran Kebenaran Ilahi). Metodologi seperti itu dikembangkan dalam tasawuf. Tafsiran bahwa kebahagiaan tertinggi dan paling agung.. hal. Tercapainya pengalaman tersebut. (021) 7501969. Dan jika kalimat persaksian itu harus mutlak diteruskan dengan al-itsbat atau peneguhan dalam fase afirmatif "kecuali Allah" (al-Lah. (Sayyid Quthub. yaitu sikap pengosongan diri dan pembebasannya dari setiap belenggu yang menghalangi jalan kepada Allah..

atau sikap dan pandangan yang mengangkat keinginan diri sendiri itu sebagai Tuhan. dan daripada perjuangan di jalan-Nya. Dengan kata lain. al-Tawbah/9:24) Firman Allah ini tidaklah dipahami bahwa Nabi D4uhammad datang untuk membawa pertentangan dalam keluarga. 25:43 dan 45:23)." seperti dilambangkan dalam kalimat syahadat pertama. dan terus mencari Kebenaran. Tuhan yang sebenarnya-. (dan jika) kekayaan yang telah berhasil kamu kumpulkan. QS.salah satu yang patut sekali kita renungkan terbaca (terjemahnya) demikian. Padahal pikirin itu tak akan luput dari dorongan diri sendiri dan keinginannya. saudara-saudaramu. (jika itu semua) lebih kamu cintai daripada Allah dan Rasul-Nya. yaitu Tuhan). perdagangan yang kerugiannya kamu kuatirkan. kerabat dan umat manusia pada umumnya. anak-anakmu. Maka tunduk secara benar --dalam bahasa Arab disebut Islam. Dan .10. suatu proses "pembebasan dan ketundukan. al-Syura 42:11). Inilah antara lain tafsir atas peringatan dalam Kitab Suci bahwa di antara manusia ada yang menjadikan hawa atau keinginan dirinya sendiri sebagai Tuhan (Lihat. tapi juga akan berarti bahwa Tuhan telah disejajarkan dengan apa yang tercapai oleh pikirannya sendiri. atau pembebasan yang membimbing kita kepada ketundukan dinamis tersebut --dari banyak penjelasan dalam kitab Suci tentang berbagai akibat dan implikasinya-. keyakinan bahwa diri sendiri telah "mengetahui Tuhan akan berakhir dengan penuhanan keinginan diri sendiri. serta tiada suatu apa pun yang sepadan dengan Dia (wa lam yakun lauu kufuw-an ahad-un. maka tunggulah sampai saat Allah melaksanakan keputusan-Nya Allah tidak akan memberi petunjuk kepada mereka yang bersemangat jahat".al-Ikhlash/112:4) maka tunduk pada Tuhan berarti tunduk dalam maknanya yang dinamis. serta karib-kerabatmu. jodoh-jodohmu. Mengenai negasi atau peniadaan yang menghantarkan kita kepada afirmasi itu. Juga tidak untuk mendoronng manusia agar meninggalkan kegiatan duniawi. Tuhan tidak mungkin diketahui manusia sebab tidak akan terjangkau oleh pikiran dan khayalnya. Tidak saja karena hal ini akan merupakan contradiction in terms (berupa kemustahilan suatu wujud nisbi seperti manusia dapat menjangkau atau mengetahui Wujud Mutlak. (QS. berupa usaha yang tulus dan murni untuk mencari. Jadi sesungguhnya kebahagiaan dimulai dengan "negasi dan afirmasi". Yang pertaa tidak benar. yaitu sikap pasrah yang tulus kepada Allah.justru akan secara langsung membawa pada kebebasan dan pembebasan diri dari setiap nilai dan pranata yang membelenggu sukma. QS. maka sesungguhnya keyakinan atau klaim "mengetahui Tuhan" (yang diindikasikan oleh sikap "berhenti mencari") adalah suatu jenis pembelengguan diri. Usaha mencari Kebenaran inilah sifat kehanifan (hanifiyyah) manusia atas dorongan fithrah atau kejadian asalnya sendiri yang suci.ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota II. KONSEP-KONSEP KEBAHAGIAAN DAN KESENGSARAAN (3/4) oleh Nurcholish Madjid Karena Allah adalah Wujud yang tak dapat dibandingkan dengan sesuatu apapun (laysa ka-mitslihi syay-un. karena al-Qur'an sarat dengan ajaran tentang kewajiban memelihara cinta kasih di antara keluarga. Katakan (wahai Muhammad): "Jika orang-orang tuamu. QS. besar ataupun kecil. serta tempat tinggal yang untukmu menyenangkan.

(Erich Fromm. "Tiada Tuhan. suami atau isteri. atau karib kerabat. Sang Kebenaran. Yusuf Ali dalam menafsirkan firman ini. Text. kedudukan. 78). keluarga dan masyarakat) mau pun sosio-ekonomi dan fisik (pekerjaan. dan wujud nyata usaha tersebut pada pribadi yang bersangkutan ialah adanya kualitas . Translation and Commentary. separoh lagi jalan yang harus ditempuh ialah yang dilambangkan dalam pernyataan tekad untuk tunduk pada Sang Kebenaran itu sendiri. "TANYALAH JALAN" (SAL SABIL-AN) Setelah proses pembebasan. Hati manusia terikat kepada (1) sanak-kadangnya sendiri. Firman Allah tersebut hanya menegaskan. dan menantu perempuan melawan mertua perempuannya" (Matius 10:35). catatan 1272). New Haven. dan menjadi bebas sepenuhnya.orang tua. Maryland: Amana Corp." Tetapi pembebasan dari belenggu-belenggu sosio-kultural dan sosio ekonomi hanyalah separuh jalan menuju kepada kebahagiaan sejati. dan tempat tinggal). biarpun harus mengorbankan itu semua. artinya ketundukan dalam wujud usaha tak kenal henti secara tulus "mencari"' "mendekat" (taqarrub). 1983. yang proses pembebasan itu merupakan konsistensi pernyataan negatif atau al-nafy pada bagian pertama kalimat syahadat. baik untuk gengsi mau pun kesenangan. dengan kemungkinan manusia memperoleh kebahagiaan di dunia ini. Nabi Isa al-Masih. Brentwood. The Holy Qur'an. melainkan untuk menggambarkan dalam bentuk yang paling tegas dan drastis sebuah prinsip. yaitu kebahagiaan "bertemu" dengan Tuhan. (3) perdagangan atau cara-cara memperoleh keuntungan dan penghasilan. sepanjang catatan dalam Perjanjian Baru. agar ia menjadi manusia sejati. anak-anak. adalah ketundukan yang dinamis. (4) gedung-gedung indah. Sebab seperti dikatakan A. h. Conn. Yusuf Ali. yang merupakan konsistensi pertanyaan afirmatif atau al-itsbat pada bagian kedua kalimat syahadat. suatu hal yang manusia dipesan jangan sampai melupakannya. 1972. h. juga pernah menyatakan. "Karena aku datang untuk membuat manusia melawan ayahnya. Serupa dengan makna firman Allah itu. Psychoanalysis and Religion. (2) kekayaan dan kemakmuran. saudara.yang kedua juga tidak benar karena al-Qur'an mengajarkan pandangan yang optimis-positif kepada kehidupan.: Yale University Press. anak perempuan melawan ibunya. dan akhirnya "bertemu" (liqa) dengan Kebenaran. Dalam melakukan pendekatan psikoanalitis terhadap agama dan gejala keagamaan. Jika semuanya ini menjadi halangan dalam jalan Allah. Erich Fromm mengatakan bahwa dengan pernyataannya itu Nabi Isa tidak bermaksud mengajarkan kebencian pada orang tua. Inilah Islam yaitu ketundukan kepada Yang Maha Benar (al-Haqq). baik sosio-kultural (orang tua. kita harus memilih mana yang lebih kita cintai. "kecuali Allah". Telah dikemukakan bahwa ketundukan kepada Allah Sang Kebenaran Mutlak. Usaha terus-menerus mencari Kebenaran itu disebut berjalan menempuh "Jalan Allah" (sabil al-Lah). (A. yaitu "jalan Allah" (sabil al-Lah) dapat ditempuh baru setelah seseorang mampu membebaskan diri dari belenggu lingkungannya. 445. Begitulah contoh implikasi proses pembebasan diri yang diterangkan dalam Kitab Suci. Kita harus mencintai Allah. bahwa jalan menuju Kebenaran. orang harus memutuskan hubungan kekeluargaan yang bersifat membelenggu.

Dan kalau shalat itu disebutkan dalam al-Qur'an sebagai kewajiban atas kaum beriman dengan dikaitkan pada pembagian waktu selama sehari-semalaman (pagi. akan menyesatkan kita dari Kebenaran. maka salah satu "pesan" yang dikandungnya ialah agar kita bertanya tentang jalan yang lurus itu setiap saat. Yang pertama banyak ditempuh oleh ahli perang dan para pahlawan. sore. sudah merupakan sumber mata air pengalaman kebahagiaan yang tinggi. dan mujahadah (dalam dimensinya yang lebih spiritual). Justru amat berharga dalam menempuh jalan itu semangat mencari dan berusaha yang sungguh-sungguh. juga yang akan kita tempuh. yang kedua oleh para pemikir baik dalam bidang fiqh maupun Kalam. artinya." baik secara sendirian maupun bersama orang lain. Sesungguhnya dalam Al-Qur'an dilukiskan bahwa berusaha secara dinamis. kemudian "diaminkan. Jalan Allah yang harus ditempuh melalui ketiga fase itu juga disebut "jalan lurus" (al-shirath al-mustaqim). yang toh tidak akan kita sadari pada saat mengalaminya sendiri. karena jalan itu membentang langsung antara diri kita yang paling suci. al-Fatihah/1:6). ia akan mendapatkan pahala ganda. Al-Qur'an melukiskan bahwa dalam surga. ijtihad dan mujahadah tersebut tadi. terutama dalam setiap kali shalat. dan jika (ternyata) keliru. sebagai sumber kesadaran akan kebenaran). Akibatnya. mencari dan menemukan jalan ke arah Kebenaran itu sendiri. Dalam kesungguhan mencari dan menemukan jalan itu kita tidak perlu takut membuat kekeliruan. saat terbenam matahari dan malam) (QS. maka Sang Kebenaran itu sungguh mutlak dan tak akan terjangkau. lalu ia menempuh jalan yang (ternyata) benar. mendekat dan bertemu dengan Kebenaran. lurus ke arah (sekali lagi ke arah) Kebenaran Mutlak. sehingga melahirkan sikap hidup jihad (dalam dimensinya yang lebih fisik). bersifat terang." Sebuah . Maka dalam perjalanan menempuh jalan yang lurus itu justru kita harus terus menerus bertanya dan bertanya. karena kekeliruan pun. masih akan memberi kebahagiaan. siang. tak boleh dipastikan sebagai mutlak lurus. dan yang ketiga oleh kaum sufi dan ahli 'Irfan. Tunjukkanlah kami jalan yang lurus (QS. para penghuninya akan diberi minum yang sejuk dan amat menyegarkan yang airnya diambil dari mata air yang bernama "salsabil-an" atau "sal sabil-an. maka ia masih mendapatkan satu pahala (sebuah Hadist terkenal). al-Nisa 4:103). tanpa henti-hentinya. yaitu dalam tempat dan lingkungan pengalaman kebahagiaan sejati. meskipun tidak sepenuhnya. yaitu fitrah kita dalam hati nurani (nurani. sebab perhentian berarti menyalahi seluruh prinsip tentang Kebenaran Mutlak. Ini berarti bahwa jalan yang telah kita tempuh. Pertanyaan dan penanyaan itulah yang mendasari ketulusan hati dalam permohonan kepada Tuhan. karena tidak lurus lagi? Siapa Tahu? Pertanyaan dan penanyaan itu adalah eksistensial dan esensial sekali dalam mencari. ijtihad (dalam dimensinya yang lebih intelektual). asalkan tak disengaja. apa selanjutnya? Apakah tak ada kemungkinan sama sekali bahwa jalan yang telah kita tempuh apalagi yang masih akan kita tempuh. Tapi justru karena kemutlakanNya. yaitu jihad. Inilah makna penegasan Nabi bahwa barangsiapa berusaha dengan sungguh-sungguh. Seorang yang memang tunduk patuh kepada Allah (muslim) akan terus menerus memohon petunjuk jalan yang lurus itu."kesungguhan dalam berusaha" (dinyatakan dalam kata-kata Arab juha -usaha penuh kesungguhan). dalam menempuh jalan lurus itu kita tidak boleh berhenti.

adalah suatu bentuk perkembangan rasionalitas yang tertinggi. Metro Pondok Indah Pondok Indah Plaza I Kav. catatan 9). h. 90. Mereka (yang bahagia) di sana disajikan minuman dalam piala yang ramuannya ialah zanjabil. yang disebut salsabil. dari mata air yang ada. "Carilah Jalan". asumsi-asumsi dan klaim-klaim tentang pengetahuan yang benar. maka dalam konteks pencarian Kebenaran sejati itu." (Erich Fromm. "carilah jalanmu ke surga dengan cara melakukan perbuatan baik".. 1658. ia justru mengetengahkan perkembangan tertinggi rasionalitas dalam pemikiran keagamaan. Justru tasawuf sebagai bidang yang menggarap segi esoterik keagamaan. quite in contrast to a populer sentiment that mysticism is an irrational type of religious experience. (Lihat. Jika dalam konteks duniawi berpikir selalu menuntut adanya pra-asumsi atau premis. (Saya harus memberi catatan bahwa. telah kita bicarakan. metodologi itu mengharuskan adanya proses pengosongan diri dari anggapan-anggapan. Muhammad Asad mengatakan bahwa begitulah Ali ibn Abi Thalib. As Albert Schweitzer has put it: "Rational thinking which is free from assumptions ends in mysticism.. -------------------------------------------Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah Editor: Budhy Munawar-Rachman Penerbit Yayasan Paramadina Jln. (Lihat. Kembali kepada metodologi takhalli di kalangan kaum Sufi. (QS. Muhammad Asad. The Holy Qur'an. yang dapat dibagi menjadi dua komponen. (021) 7501969. alegori atau makna kiasan yang sungguh indah. Perkataan itu secara harfiah berarti. karena perkataan Arab sal sabil-a itu tidak lain arti harfiahnya ialah "tanyalah jalan". Kenyataan bahwa al-Qur'an senantiasa menyerukan penggunaan akal untuk mencari dan menerima Kebenaran menunjukkan bahwa antara rasio dan pengalaman keagamaan tidaklah terdapat pertentangan. h. UA 20-21 Jakarta Selatan Telp. Jalan itu sekarang terbuka menuju Hadirat Yang Maha Tinggi. Yusuf Ali. catatan 17). agar supaya dalam menempuh jalan lurus mencari Kebenaran itu terjadi kemurnian sejati (ikhlash).metafor. "salsabil-an" ("tanyalah [atau "carilah"] jalan"): yakni. 7501983. Tapi. sebagaimana dikutip Zamakhsyari dan Razi. pra-asumsi dan premis justru harus dilepaskan. sangat berlawanan dengan perasaan umum bahwa mistisisme adalah suatu jenis pengalaman keagamaan yang tidak rasional. al-Insan/76:17-18) Menafsirkan metafor dalam firman ini. Seperti dinyatakan oleh Albert Schweitzer: "Pemikiran rasional yang bebas dari asumsi-asumsi berakhir dalam mistisisme"). h. ibid. the higgest development of rationality in religious thinking. A. The Message of the Qur'an. catatan 5850). it represents". 7507173 (bersambung 4/4) . Kata Erich Fromm: I should like to note that. menerangkan kata-kata salsabil-an jelas merupakan kata majemuk itu. berpikir dalam konteks kesufian tidaklah berarti tiadanya rasionalitas. meskipun tanpa ada pra-asumsi atau premis. 917. Dan Yusuf Ali menafsirkan firman itu dengan mengatakan bahwa mata air salsabil (-an) ini membawa kita kepada ide metaforis yang lain.

10.al-Ikhlash/112:4) maka tunduk pada Tuhan berarti tunduk dalam maknanya yang dinamis. saudara-saudaramu.Fax. atau pembebasan yang membimbing kita kepada ketundukan dinamis tersebut --dari banyak penjelasan dalam kitab Suci tentang berbagai akibat dan implikasinya-. 25:43 dan 45:23). serta karib-kerabatmu. QS. Padahal pikirin itu tak akan luput dari dorongan diri sendiri dan keinginannya. maka sesungguhnya keyakinan atau klaim "mengetahui Tuhan" (yang diindikasikan oleh sikap "berhenti mencari") adalah suatu jenis pembelengguan diri. Maka tunduk secara benar --dalam bahasa Arab disebut Islam. suatu proses "pembebasan dan ketundukan. al-Syura 42:11).salah satu yang patut sekali kita renungkan terbaca (terjemahnya) demikian. tapi juga akan berarti bahwa Tuhan telah disejajarkan dengan apa yang tercapai oleh pikirannya sendiri. yaitu sikap pasrah yang tulus kepada Allah. anak-anakmu. Tuhan tidak mungkin diketahui manusia sebab tidak akan terjangkau oleh pikiran dan khayalnya. Dengan kata lain. berupa usaha yang tulus dan murni untuk mencari. yaitu Tuhan).justru akan secara langsung membawa pada kebebasan dan pembebasan diri dari setiap nilai dan pranata yang membelenggu sukma. jodoh-jodohmu. Katakan (wahai Muhammad): "Jika orang-orang tuamu." seperti dilambangkan dalam kalimat syahadat pertama. (jika itu semua) lebih kamu cintai daripada Allah dan Rasul-Nya. Inilah antara lain tafsir atas peringatan dalam Kitab Suci bahwa di antara manusia ada yang menjadikan hawa atau keinginan dirinya sendiri sebagai Tuhan (Lihat. dan daripada . QS. (dan jika) kekayaan yang telah berhasil kamu kumpulkan. serta tempat tinggal yang untukmu menyenangkan. Tidak saja karena hal ini akan merupakan contradiction in terms (berupa kemustahilan suatu wujud nisbi seperti manusia dapat menjangkau atau mengetahui Wujud Mutlak. Usaha mencari Kebenaran inilah sifat kehanifan (hanifiyyah) manusia atas dorongan fithrah atau kejadian asalnya sendiri yang suci. atau sikap dan pandangan yang mengangkat keinginan diri sendiri itu sebagai Tuhan. keyakinan bahwa diri sendiri telah "mengetahui Tuhan akan berakhir dengan penuhanan keinginan diri sendiri. (021) 7507174 Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota Please direct any suggestion to Media Team Artikel Yayasan Paramadina Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota II. Jadi sesungguhnya kebahagiaan dimulai dengan "negasi dan afirmasi". Mengenai negasi atau peniadaan yang menghantarkan kita kepada afirmasi itu. KONSEP-KONSEP KEBAHAGIAAN DAN KESENGSARAAN (3/4) oleh Nurcholish Madjid Karena Allah adalah Wujud yang tak dapat dibandingkan dengan sesuatu apapun (laysa ka-mitslihi syay-un. perdagangan yang kerugiannya kamu kuatirkan. Tuhan yang sebenarnya-. serta tiada suatu apa pun yang sepadan dengan Dia (wa lam yakun lauu kufuw-an ahad-un. dan terus mencari Kebenaran. QS.

Maryland: Amana Corp. Firman Allah tersebut hanya menegaskan. kita harus memilih mana yang lebih kita cintai. Dan yang kedua juga tidak benar karena al-Qur'an mengajarkan pandangan yang optimis-positif kepada kehidupan. orang harus memutuskan hubungan kekeluargaan yang bersifat membelenggu. kerabat dan umat manusia pada umumnya. juga pernah menyatakan. baik untuk gengsi mau pun kesenangan. yang proses pembebasan itu merupakan konsistensi pernyataan negatif atau al-nafy pada bagian pertama kalimat syahadat. karena al-Qur'an sarat dengan ajaran tentang kewajiban memelihara cinta kasih di antara keluarga. anak-anak. yaitu "jalan Allah" (sabil al-Lah) dapat ditempuh baru setelah seseorang mampu membebaskan diri dari belenggu lingkungannya. sepanjang catatan dalam Perjanjian Baru. bahwa jalan menuju Kebenaran. (A. Juga tidak untuk mendoronng manusia agar meninggalkan kegiatan duniawi. (Erich Fromm. al-Tawbah/9:24) Firman Allah ini tidaklah dipahami bahwa Nabi D4uhammad datang untuk membawa pertentangan dalam keluarga. Sebab seperti dikatakan A. saudara. "TANYALAH JALAN" (SAL SABIL-AN) Setelah proses pembebasan. besar ataupun kecil. Erich Fromm mengatakan bahwa dengan pernyataannya itu Nabi Isa tidak bermaksud mengajarkan kebencian pada orang tua. Brentwood.orang tua.perjuangan di jalan-Nya. biarpun harus mengorbankan itu semua. baik sosio-kultural (orang tua. dan menjadi bebas sepenuhnya. yaitu kebahagiaan "bertemu" dengan Tuhan." Tetapi pembebasan dari belenggu-belenggu sosio-kultural dan sosio ekonomi hanyalah separuh jalan menuju kepada kebahagiaan sejati. 445. Begitulah contoh implikasi proses pembebasan diri yang diterangkan dalam Kitab Suci. keluarga dan masyarakat) mau pun sosio-ekonomi dan fisik (pekerjaan. Yang pertaa tidak benar. separoh lagi jalan yang harus ditempuh ialah yang dilambangkan dalam pernyataan tekad untuk tunduk pada Sang Kebenaran itu sendiri. Serupa dengan makna firman Allah itu. Dalam melakukan pendekatan psikoanalitis terhadap agama dan gejala keagamaan. 1983. Translation and Commentary. (4) gedung-gedung indah. (QS. h. Hati manusia terikat kepada (1) sanak-kadangnya sendiri. "Tiada Tuhan. Text. atau karib kerabat. dan tempat tinggal). 1972. Jika semuanya ini menjadi halangan dalam jalan Allah. dan menantu perempuan melawan mertua perempuannya" (Matius 10:35). agar ia menjadi manusia sejati. (2) kekayaan dan kemakmuran. kedudukan. suami atau isteri. Kita harus mencintai Allah. Nabi Isa al-Masih. dengan kemungkinan manusia memperoleh kebahagiaan di dunia ini. anak perempuan melawan ibunya. h. Sang Kebenaran. suatu hal yang manusia dipesan jangan sampai melupakannya. catatan 1272). yang merupakan . The Holy Qur'an. Yusuf Ali. Conn. melainkan untuk menggambarkan dalam bentuk yang paling tegas dan drastis sebuah prinsip. Yusuf Ali dalam menafsirkan firman ini. New Haven.: Yale University Press. maka tunggulah sampai saat Allah melaksanakan keputusan-Nya Allah tidak akan memberi petunjuk kepada mereka yang bersemangat jahat". (3) perdagangan atau cara-cara memperoleh keuntungan dan penghasilan. "Karena aku datang untuk membuat manusia melawan ayahnya. 78). Psychoanalysis and Religion.

maka Sang Kebenaran itu sungguh mutlak dan tak akan terjangkau. dan wujud nyata usaha tersebut pada pribadi yang bersangkutan ialah adanya kualitas "kesungguhan dalam berusaha" (dinyatakan dalam kata-kata Arab juha -usaha penuh kesungguhan)." baik secara sendirian maupun bersama orang lain. tanpa henti-hentinya. Justru amat berharga dalam menempuh jalan itu semangat mencari dan berusaha yang sungguh-sungguh. tak boleh dipastikan sebagai mutlak lurus. Inilah makna penegasan Nabi bahwa barangsiapa berusaha dengan sungguh-sungguh.konsistensi pertanyaan afirmatif atau al-itsbat pada bagian kedua kalimat syahadat. dan mujahadah (dalam dimensinya yang lebih spiritual). akan menyesatkan kita dari Kebenaran. Inilah Islam yaitu ketundukan kepada Yang Maha Benar (al-Haqq). Dalam kesungguhan mencari dan menemukan jalan itu kita tidak perlu takut membuat kekeliruan. Yang pertama banyak ditempuh oleh ahli perang dan para pahlawan. mendekat dan bertemu dengan Kebenaran. Pertanyaan dan penanyaan itulah yang mendasari ketulusan hati dalam permohonan kepada Tuhan. Dan kalau shalat itu disebutkan dalam al-Qur'an sebagai kewajiban atas kaum beriman dengan dikaitkan pada pembagian waktu selama sehari-semalaman (pagi. yang toh tidak akan kita sadari pada saat mengalaminya sendiri. sebab perhentian berarti menyalahi seluruh prinsip tentang Kebenaran Mutlak. yaitu jihad. karena tidak lurus lagi? Siapa Tahu? Pertanyaan dan penanyaan itu adalah eksistensial dan esensial sekali dalam mencari. ijtihad dan mujahadah tersebut tadi. karena kekeliruan pun. meskipun tidak sepenuhnya. juga yang akan kita tempuh. dan akhirnya "bertemu" (liqa) dengan Kebenaran. sore. ia akan mendapatkan pahala ganda. al-Nisa 4:103). Ini berarti bahwa jalan yang telah kita tempuh. lurus ke arah (sekali lagi ke arah) Kebenaran Mutlak. siang. maka ia masih mendapatkan satu . Usaha terus-menerus mencari Kebenaran itu disebut berjalan menempuh "Jalan Allah" (sabil al-Lah). Telah dikemukakan bahwa ketundukan kepada Allah Sang Kebenaran Mutlak. Tunjukkanlah kami jalan yang lurus (QS. artinya ketundukan dalam wujud usaha tak kenal henti secara tulus "mencari"' "mendekat" (taqarrub). maka salah satu "pesan" yang dikandungnya ialah agar kita bertanya tentang jalan yang lurus itu setiap saat. al-Fatihah/1:6). masih akan memberi kebahagiaan. karena jalan itu membentang langsung antara diri kita yang paling suci. kemudian "diaminkan. dan jika (ternyata) keliru. "kecuali Allah". apa selanjutnya? Apakah tak ada kemungkinan sama sekali bahwa jalan yang telah kita tempuh apalagi yang masih akan kita tempuh. Akibatnya. dalam menempuh jalan lurus itu kita tidak boleh berhenti. sehingga melahirkan sikap hidup jihad (dalam dimensinya yang lebih fisik). Jalan Allah yang harus ditempuh melalui ketiga fase itu juga disebut "jalan lurus" (al-shirath al-mustaqim). Maka dalam perjalanan menempuh jalan yang lurus itu justru kita harus terus menerus bertanya dan bertanya. lalu ia menempuh jalan yang (ternyata) benar. adalah ketundukan yang dinamis. Seorang yang memang tunduk patuh kepada Allah (muslim) akan terus menerus memohon petunjuk jalan yang lurus itu. sebagai sumber kesadaran akan kebenaran). ijtihad (dalam dimensinya yang lebih intelektual). dan yang ketiga oleh kaum sufi dan ahli 'Irfan. bersifat terang. asalkan tak disengaja. saat terbenam matahari dan malam) (QS. artinya. yang kedua oleh para pemikir baik dalam bidang fiqh maupun Kalam. terutama dalam setiap kali shalat. yaitu fitrah kita dalam hati nurani (nurani. Tapi justru karena kemutlakanNya.

. ibid. it represents". Kata Erich Fromm: I should like to note that. 917. (Lihat. ia justru mengetengahkan perkembangan tertinggi rasionalitas dalam pemikiran keagamaan. Sesungguhnya dalam Al-Qur'an dilukiskan bahwa berusaha secara dinamis. "Carilah Jalan". karena perkataan Arab sal sabil-a itu tidak lain arti harfiahnya ialah "tanyalah jalan". "carilah jalanmu ke surga dengan cara melakukan perbuatan baik". Muhammad Asad mengatakan bahwa begitulah Ali ibn Abi Thalib. Jika dalam konteks duniawi berpikir selalu menuntut adanya pra-asumsi atau premis." (Erich Fromm. Yusuf Ali. catatan 5850). h. sudah merupakan sumber mata air pengalaman kebahagiaan yang tinggi. Mereka (yang bahagia) di sana disajikan minuman dalam piala yang ramuannya ialah zanjabil." Sebuah metafor. dari mata air yang ada. Dan Yusuf Ali menafsirkan firman itu dengan mengatakan bahwa mata air salsabil (-an) ini membawa kita kepada ide metaforis yang lain. Perkataan itu secara harfiah berarti. 90. Al-Qur'an melukiskan bahwa dalam surga.pahala (sebuah Hadist terkenal). The Holy Qur'an. catatan 9). meskipun tanpa ada pra-asumsi atau premis. (Lihat. quite in contrast to a populer sentiment that mysticism is an irrational type of religious experience. yaitu dalam tempat dan lingkungan pengalaman kebahagiaan sejati. mencari dan menemukan jalan ke arah Kebenaran itu sendiri. Kenyataan bahwa al-Qur'an senantiasa menyerukan penggunaan akal untuk mencari dan menerima Kebenaran menunjukkan bahwa antara rasio dan pengalaman keagamaan tidaklah terdapat pertentangan. telah kita bicarakan. A. catatan 17). sangat berlawanan dengan perasaan umum bahwa mistisisme adalah suatu jenis pengalaman keagamaan yang tidak rasional. al-Insan/76:17-18) Menafsirkan metafor dalam firman ini. menerangkan kata-kata salsabil-an jelas merupakan kata majemuk itu. metodologi itu mengharuskan adanya proses pengosongan diri dari anggapan-anggapan. Kembali kepada metodologi takhalli di kalangan kaum Sufi. maka dalam konteks pencarian Kebenaran sejati itu. h.. berpikir dalam konteks kesufian tidaklah berarti tiadanya rasionalitas. "salsabil-an" ("tanyalah [atau "carilah"] jalan"): yakni. Jalan itu sekarang terbuka menuju Hadirat Yang Maha Tinggi. alegori atau makna kiasan yang sungguh indah. (Saya harus memberi catatan bahwa. As Albert Schweitzer has put it: "Rational thinking which is free from assumptions ends in mysticism. Seperti dinyatakan oleh Albert Schweitzer: "Pemikiran rasional . Justru tasawuf sebagai bidang yang menggarap segi esoterik keagamaan. 1658. adalah suatu bentuk perkembangan rasionalitas yang tertinggi. pra-asumsi dan premis justru harus dilepaskan. the higgest development of rationality in religious thinking. yang dapat dibagi menjadi dua komponen. (QS. h. asumsi-asumsi dan klaim-klaim tentang pengetahuan yang benar. agar supaya dalam menempuh jalan lurus mencari Kebenaran itu terjadi kemurnian sejati (ikhlash). Tapi. The Message of the Qur'an. sebagaimana dikutip Zamakhsyari dan Razi. Muhammad Asad. yang disebut salsabil. para penghuninya akan diberi minum yang sejuk dan amat menyegarkan yang airnya diambil dari mata air yang bernama "salsabil-an" atau "sal sabil-an.

sehingga Ibnu Abbas yang meriwayatkan hadits di atas menyebutkannya sebagai tragedi hari Kamis. (021) 7507174 Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota Please direct any suggestion to Media Team Ilmu tradisional Artikel Yayasan Paramadina Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota III. Nabi saw berkata. "Sakit keras menguasai diri." Umar berkata." Kata al-Khithabi. beliau bersabda. UA 20-21 Jakarta Selatan Telp. 7507173 Fax. "Alangkah tragisnya kejadian yang menghalangi Nabi saw. untuk menuliskan wasiatnya. hanya pengarahan pada cara yang terbaik. Apalagi ada firman Allah "Tidak ada yang Kami lewatkan dalam Kitab ini sedikit pun. Umar mengatakan Nabi saw. Apakah ia menyesalkan pertikaian sahabat di hadapan Nabi saw. (021) 7501969. "Sesungguhnya Umar berpendapat seperti itu. yang sedang udzur. yang mempunyai pandangan jauh ke depan." Orang-orang pun bertikai dan ramailah pembicaraan. tapi para ulama salaf tidak. Kita tidak tahu mengapa Ibnu Abbas menyebutkan sebagai tragedi. 7501983. Tapi Umar beserta kelompok sahabat lainnya melihat perintah itu bukan wajib. Tidak pantas bertikai di hadapanku.(bersambung 4/4) Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah Editor: Budhy Munawar-Rachman Penerbit Yayasan Paramadina Jln. murka kepada mereka? Ataukah ia menyesalkan ucapan Umar yang menuduh perintah Nabi saw itu dilakukan tidak sadar (Dalam riwayat lain. karena sekiranya Nabi saw. sehingga Nabi saw. "Cukuplah Kitab Allah bagi kita. "Bawa kepadaku Kitab agar kalian tidak akan sesat sesudahku." Peristiwa ini konon terjadi pada hari Kamis. menetapkan sesuatu yang menghilangkan ikhtilaf (di kalangan kaum muslim). tidak perlu lagi ada petunjuk Rasulullah saw di luar itu? Ibnu Abbas sebagai ulama salaf boleh menyesalkan peristiwa itu. mengigau!)." kata Ibnu Abbas. sehingga tidak perlu dipatuhi? Ataukah ia menyesalkan ucapan Umar bahwa al-Qur'an saja sudah cukup. Metro Pondok Indah Pondok Indah Plaza I Kav. Mereka tidak ingin membebani Nabi saw dengan sesuatu yang memberatkannya dalam keadaan (sakit) seperti itu. Pada kita ada kitab Allah itu cukup buat kita.20. -------------------------------------------. tentu tak . "Memang yang diperintah harus segera menjalankan perintah. Mereka bahkan memuji kebijakan Umar." dan al-Qur'an itu menjelaskan segala sesuatu. Kata al-Qurthubi. DARI SUNNAH KE HADITS ATAU SEBALIKNYA (1/3) oleh Jalaluddin Rakhmat Pada waktu Nabi saw sakit keras.yang bebas dari asumsi-asumsi berakhir dalam mistisisme"). "Enyahlah kalian dari sini. Karena itu Umar berkata.

sembari berkata: Tidak boleh ada matsnat seperti matsnat Ahli Kitab. Janganlah kalian meriwayatkan hadits sedikit pun dari Rasulullah saw. Mereka melarang periwayatan hadits dengan keras. katakan di antara kita dan Anda ada Kitab Allah. "Ayahku telah menghimpun 500 hadits dari Nabi. apa yang mereka jadikan acuan? Fazlur Rahman menjawab. kepada apa Umar merujuk selain al-Qur'an? Ketika mereka ingin mengetahui cara-cara shalat yang tidak diuraikan al-Qur'an atau menghadapi masalah-masalah baru yang timbul dalam perkembangan Islam. Mu'ammar di Yaman. kelak orang-orang munafik akan mencari jalan untuk mengecam apa yang dituliskan itu. juga sebagian besar tokoh tabi'un seperti Sa'id ibn Jubair. kita harus mulai dari peninjauan ulang kepada kedua konsep itu. "Hadits-hadits makin bertambah banyak pada zaman Umar. sehingga kalian bertengkar. Al-Awza'i di Syria. sedangkan sunnah atau hadits adalah produk pemikiran manusia. tapi sesudah itu mereka melihat hadits. ketika beberapa orang mulai merintis pengumpulan dan penulisan hadits. dan karena itu tidak mengikat? Sikap Umar terhadap hadist adalah sikap Abu Bakar juga. Setelah hadits-hadits itu terkumpul. Al-Dzahabi. Selama rentang waktu yang cukup panjang itu. Betulkah al-Qur'an saja sudah cukup? Atau bisakah kita menyimpulkan bahwa hanya al-Qur'an sajalah karya ilahi." Baik Abu Bakar maupun Umar.." Kemenakan Aisyah. Malik di Madinah. Mereka adalah Ibnu Jurayj di Makkah. "Kitab Allah . Saya pun membawakan untukmu." Kata Ibn al-Jawzi. kita harus kembali lagi kepada sunnah.. Suatu pagi beliau datang kepadaku dan berkata. al-Nakha'i. Aisyah bercerita. "Umar kuatir sekiranya Nabi saw. menegaskan sikap mereka dengan tindakan. Abu Bakar berkata: "Kamu sekalian meriwayatkan hadits-hadits dari Rasulullah saw. dan Sofyan al-Tsawry di Kufah. perkataan Umar. Untuk membuka pintu ijtihad. mula-mula umat Islam merujuk kepada sunnah. ketika menulis biografi Abu Bakar. Sa'id bin Musayyab tidak mau menuliskan hadits.. . Sa'id bin Abu 'Urwah di Basrah." Apapun komentar para ulama. menuliskan dalam keadaan sakit. "Bawa hadits-hadits itu kepadaku." telah memulai problematika sunnah atau hadits yang berada di luar al-Qur'an. Umar meletakkannya di atas bara api. Nanti orang-orang sesudah kalian akan lebih keras lagi bertikai. mengisahkan satu peristiwa ketika Abu Bakar mengumpulkan orang banyak setelah Nabi saw wafat." Ia lalu membakarnya dan berkata: Aku takut setelah aku mati. Kemudian beliau memerintahkannya untuk dikumpulkan. Bila ada orang yang meminta kalian (meriwayatkan hadits)." Abu Bakar dan Umar adalah dua khalifah pertama yang termasuk al-Khulafa' al-Rasyidun. Qasim ibn Muhammad ibn Abi Bakar. al-Hasan bin Abu al-Hasan. halalkan apa yang dihalalkannya dan haramkan apa yang diharamkannya. berkata. Situasi seperti ini berlangsung sampai paruh terakhir abad kedua Hijrah. Saya melihat perkembangan sebaliknya: dari hadits ke sunnah.ada gunanya lagi ulama dan ijtihad pun tidak perlu lagi. Sekarang. dalam rangka membuka pintu ijtihad. Tidak heran bila sebagian besar sahabat. meninggalkan hadits-hadits itu kepadamu.

dan ijma' menjadi rusak. berkembang sunnah yang umumnya disepakati para ulama di daerah tersebut. berkembanglah penafsiran individual terhadap teladan Nabi itu. Sayangnya. diekspresikan dalam hadits. para sahabat memperhatikan perilaku Nabi saw. Sebagian kandungan sunnah berasal dari kebiasaan Jahiliyah (pra-Islam) yang dilestarikan dalam Islam. tapi tidak benar sehubungan dengan konsepnya yang menyatakan sunnah Nabi tetap merupakan konsep yang memiliki validitas dan operatif. Romawi. sunnah adalah praktek kaum muslim pada zaman awal. (3) Bahwa konsep sunnah sesudah Nabi wafat tidak hanya mencakup sunnah Nabi tapi juga penafsiran-penafsiran terhadap sunnah Nabi tersebut." Fazlur Rahman menegaskan: mengkoreksi pandangan orientalis ini dengan Sekarang kami akan menunjukkan (1) Bahwa sementara kisah perkembangan Sunnah di atas hanya benar sehubungan dengan kandungannya. sebagai teladan. dan Persia. Ketika timbul gerakan hadits pada paruh kedua Abad 2 Hijrah. TELADAN NABI SAW | PRAKTEK PARA SAHABAT | PENAFSIRAN INDIVIDUAL | OPINIO GENERALIS | OPINIO PUBLICA (SUNNAH) | FORMALISASI SUNNAH (HADITS) Jadi. Karena itu. seluruh sunnah yang ada. berkembang secara demokratis sunnah yang disepakati (amr al-majtama' 'alaih). dan disebut "Sunnah Nabi." pada daerah tertentu seperti Madinah. Setelah Nabi saw.DARI SUNNAH KE HADITS Beberapa orang orientalis berpendapat. ijtihad. Ketika gerakan hadits muncul pada Abad 3 Hijrah. Hadits adalah verbalisasi sunnah. . (2) Bahwa kandungan sunnah yang bersumber dari Nabi tidak banyak jumlahnya dan tidak dimaksudkan bersifat spesifik secara mutlak. dinisbahkan kepada Nabi saw. di tambah unsur-unsur yang berasal dari kebudayaan Yahudi. ada sunnah Kuffah. Sebagian lagi hanyalah interpretasi para ahli hukum Islam terhadap sunnah yang ada. (4) Bahwa sunnah dalam pengertian terakhir ini. hubungan organis di antara sunnah. tidak menganggapnya sunnah. tapi sahabat yang lain. formalisasi sunnah ke dalam hadits ini. Mereka berusaha mempraktekkannya dalam kehidupan sehari-hari. sama luasnya dengan ijma' yang pada dasarnya merupakan sebuah proses yang semakin meluas secara terus-menerus. Kuffah. wafat. sejak awal sejarah Islam hingga masa kini. pada daerah kekuasaan kaum muslim. dan yang terakhir sekali (6) Bahwa setelah gerakan pemurnian Hadits yang besar-besaran. Sunnah yang sudah disepakati kebanyakan orang ini. Ada sunnah Madinah. Secara berangsur-angsur. Dalam "free market of ideas. menurut Fazlur Rahman. sunnah tidak lain daripada opinio publica. Boleh jadi sebagian sahabat memandang perilaku tertentu sebagai sunnah. telah memasung proses kreatif sunnah dan menjerat para ulama Islam pada rumus-rumus yang kaku.

berlawanan dengan tesis Fazlur Rahman. berulangkali menyuruh sahabat menirunya. perilakunya itu sunnah yang harus diikuti." Namun. Secara lebih tepat hadits adalah komentar yang monumental mengenai Nabi oleh umat muslim di masa lampau. ia berkata "Ambillah dari aku manasik kalian. Hadits adalah keseluruhan aphorisme yang diformulasikan dan dikemukakan seolah-olah dari Nabi. Siapa yang berpaling dari sunnahku ia tidak termasuk golonganku. oleh kaum muslimin sendiri. Inilah yang disebut hadits. (021) 7507174 Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota Please direct any suggestion to Media Team Artikel Yayasan Paramadina Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota III. Sifatnya yang aphoristik menunjukkan bahwa hadits tersebut tidak bersifat historis. "Nikah itu sunnahku. mereka menisbatkan sunnah itu kepada Nabi saw. seperti saya kutip di bawah ini: Berulang kali telah kami katakan --mungkin sampai membosankan sebagian pembaca-. UA 20-21 Jakarta Selatan Telp. walaupun secara historis tidak terlepas dari Nabi. setelah kaum muslim awal secara berangsur-angsur sepakat menerima sunnah. hadits adalah pembakuan yang kaku. DARI HADITS KE SUNNAH Sepakat dengan Fazlur Rahman.20. Kemudian. mereka merumuskan sunnah itu dalam bentuk verbal. DARI SUNNAH KE HADITS ATAU SEBALIKNYA (2/3) oleh Jalaluddin Rakhmat Mungkin banyak ulama akan tercengang membaca pandangan Fazlur Rahman tentang hadits. (021) 7501969. Nabi saw. Nabi saw. 7507173 Fax.-------------------------------------------. 7501983. "Shalatlah kalian seperti kalian melihat aku shalat. ijma' (yang merupakan opinio publica) dan ijtihad (yang merupakan proses interpretasi umat terhadap ajaran Islam) menjadi tersisihkan.(bersambung 2/3) Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah Editor: Budhy Munawar-Rachman Penerbit Yayasan Paramadina Jln. saya juga berpendapat bahwa perilaku Nabi saw. menegaskan. Bila sunnah adalah proses kreatif yang terus menerus." Sesekali Nabi saw.bahwa walaupun landasannya yang utama adalah teladan Nabi. Metro Pondok Indah Pondok Indah Plaza I Kav. Dalam hal shalat. Mereka dengan kadar yang bermacam-macam berusaha membentuk tingkah lakunya sesuai dengan Nabi saw. hadits merupakan hasil karya dari generasi-generasi muslim. Walhasil. saya berpendapat bahwa yang pertama kali beredar di kalangan kaum muslim adalah . selama hidupnya terus-menerus menjadi perhatian para sahabat. Ketika gerakan hadits unggul." Dalam hal haji. berkata.

masalah penafsiran. kemudian menjadi sunnah. redaksinya dapat berubah-ubah. karena para sahabat meminta izin untuk menulis hadits tapi Umar mencegahnya. orang-orang mencari petunjuk dari ra'yu-nya. Sebagian orang menuding Umarlah yang bertanggung jawab atas kejadian ini. seperti diriwayatkan Bukhari." Kedua. tidak adanya rujukan tertulis menyebabkan banyak orang secara bebas membuat hadits untuk kepentingan politis. Abdullah bin Amr bin Ash juga dilaporkan rajin mencatat apa yang didengarnya dari Nabi. tidak dituliskan dan para sahabat tidak berupaya . Karena makna adalah masalah persepsi. Dalam rangkaian periwayatan. Umar sendiri pernah mengumpulkan catatan-catatan hadits yang berserakan dan membakarnya. Untuk memperparah keadaan. Sekarang aku berpikir. Keempat. Ada di antara mereka yang menuliskannya." Ketiga. menurut Rasm Ja'farian. boleh jadi juga karena dipaksakan penguasa. periwayatan dengan makna. pengaruh kedua sahabat besar ini terasa sampai lebih dari satu abad. Tidak mungkin kita memberi contoh-contohnya secara terperinci disini. Banyak riwayat menunjukkan perhatian para sahabat untuk menghapal ucapan-ucapan Nabi atau menyampaikan apa yang dilakukan Nabi saw. Abu al-Abbas al-Hanbaly menulis. pasar gagasan umumnya tidak bebas) sebagian ra'yu menjadi dominan. Karena sejumlah hadits hilang. Karena orang hanya menerima hadits secara lisan.hadits. menurut Fazlur Rahman. kita melihat 'Aisyah juga menyimpan catatan-catatan hadits (mungkin ditulis Abu Bakar). Keengganan mencatat hadits. ketika menyampaian hadits itu mereka hanya menyampaikan maknanya. Bersamaan dengan perbedaan pendapat ini. yang menghimpun keputusan-keputusan hukum yang pernah dibuat Rasulullah saw. hilangnya sejumlah besar hadits. Urwah bin Zubayr pernah berkata. Aku bersedia memberikan seluruh anakku dan hartaku untuk memperolehnya kembali. maka redaksi hadits berkembang sesuai dengan penafsiran orang yang meriwayatkannya. Sebuah ra'yu menjadi dominan boleh jadi karena proses kreatif dan adanya demokrasi. "Ketika hadits-hadits Nabi saw. dominasi ra'yu sangat ditopang oleh hilangnya catatan-catatan tertulis. ekonomi. "Dulu aku menulis sejumlah besar hadits. terjadilah perbedaan pendapat. Dalam pasar ra'yu yang "bebas" (dalam kenyataannya. lahirlah akibat yang kelima. telah mengakibatkan hal-hal yang merugikan umat Islam. atau sosiologis. Pertama. alangkah baiknya kalau aku tidak menghancurkan hadits-hadist itu. Dalam semua kejadian ini. kemudian aku hapuskan semuanya. Kita tidak akan mengupas mengapa dua khalifah pertama mengadakan gerakan "penghilangan" hadits. Ra'yu dominan inilah. sunnah akan tercatat tidak lebih dari satu rantai saja (dalam penyampaian) antara Nabi saw dan umat sesudahnya. Misalnya Ali. terbukanya peluang pada pemalsuan hadits. Seandainya para sahabat menuliskan apa-apa yang pernah didengarnya dari Rasulullah saw. Abu Rayyah menulis. Dalam peristiwa-peristiwa yang disebutkan dalam pengantar di atas. yang mengandalkan ra'yu. Yang jelas. "Salah satu penyebab timbulnya perbedaan pendapat di antara para ulama adalah hadits-hadits dan teks-teks yang kontradiktif. mempunyai mushaf di luar al-Qur'an.

Sunnah pada gilirannya kelihatan sebagai produk para ahli hukum Islam: yang kemudian dinisbahkan kepada Nabi saw. Demi Allah. Waktu itu ia menjadi Gubernur Madinah yang ditunjuk oleh Mu'awiyah. Tafsir Ibn Katsir 4:159. Tafsir al-dur al-Mansur 6:41 dan kitab-kitab tafsir lainnya). anaknya. kepada Marwan dan menyamarkan ucapan Abd-u 'l Rahman. Bila saya mendaftar kesulitan yang disebut terakhir. Marwan di Hijaz sebagai gubernur yang diangkat Muawiyah. Tafsir Al-Fakhr al-Razi 7:491. Jadi. Ia ingin menunjuk orang sebagai khalifah." Hadits ini diriwayatkan al-Nasa'i. Abd-u 'l-Rahman lari ke kamar saudaranya. Inilah riwayat Bukhari. yang meriwayatkan apa saja yang mereka inginkan tanpa takut kepada siapapun. hadits adalah produk pemikiran kaum muslim awal untuk memformulasikan sunnah. pintu periwayatan hadits palsu terbuka baik untuk orang taat maupun orang sesat. Aisyah Ummu 'l-Mukminin. bila Fazlur Rahman sampai kepada kesimpulan. MENCARI DEFINISI HADITS DAN SUNNAH Pada suatu hari Marwan bin Hakam berkhotbah di Masjid Madinah. Demi Allah. Tidak lain Muawiyah hanya ingin memberikan kasih-sayang dan kehormatan kepada anaknya. Ulum al-Hadits mungkin membantu kita mengatasi kesulitan ini dengan menambah kesulitan baru. "Tentang orang inilah turun ayat yang berkata pada orang tuanya 'cis' bagimu berdua. saya hanya ingin mengajak pembaca merekonstruksi kembali pandangannya tentang hadits dan sunnah." Marwan marah dan menyuruh agar Abd-u 'l-Rahman ditangkap. Ia berkhotbah dan menyebut Yazid ibn Muawiyah supaya ia dibaiat . Jadi ia ingin melanjutkan sunnah Abubakar dan Umar. Marwan berdusta." Ucapan itu sampai kepada Aisyah. aku dapat menyebutkan kepada siapa ayat ini turun. "Sesungguhuya Allah ta'ala telah memperlihatkan kepada Amir-u 'l-Mu'minin yakni Muawiyah pandangan yang baik tentang Yazid. yang lebih merujuk pada tema perilaku yang hidup di tengah-tengah masyarakat. Bukhari meriwayatkan hadits ini dengan singkat. Sesungguhnya kamu adalah tetesan dari laknat Allah. Abd-u 'l-Rahman ibn Abu Bakar berkata. Panjangnya rangkaian periwayatan hadits telah memungkinkan orang-orang menambahkan kesimpulan dan pendapatnya pada hadits-hadits. telah melaknat ayahmu ketika kamu masih berada di sulbinya." Pendeknya. Timbullah sunnah. terutama. Ketika hadits-hadits dihidupkan kembali. "Ini sunnah Heraklius dan Kaisar. Kesulitan bahkan muncul ketika kita mendefinisikan hadits dan sunnah. Ia berkata. Ibn Mundzir. yang kemudian disebut sunnah. Tafsir al-Qurthubi 16:197. orang berusaha menghambat periwayatan hadits. dalam bentuk tertulis. melalui kegiatan para pengumpul hadits. Bila aku mau. Marwan melanjutkan khotbahnya. bukanlah ayat itu turun untuk dia. Tidak mengherankan. kesulitan menguji hadits menjadi sangat besar.mengumpulkannya. Abubakar tidak pernah menunjuk salah seorang anaknya atau salah seorang keluarganya untuk menjadi khalifah. Ia berkata. daripada pada teks. Ia membuang laknat Rasulullah saw. mula-mula muncul hadits. hilangnya catatan-catatan hadits telah menimbulkan dominasi ra'yu. "Marwan berdusta. Tapi Rasulullah saw. al-Hakim dan al-Hakim menshahihkannya (lihat Mustadrak al-Hakim 4:481. Kemudian.

apakah kalian menjanjikan padaku dan seterusnya. Aisyah berkata dari balik hijab: Allah tidak menurunkan ayat apapun tentang kami kecuali Allah menurunkan ayat untuk membersihkanku. atau sifat-sifat atau akhlak (Lihat Dr. Nurrudin Atar. segera kita menemukan banyak riwayat di dalamnya. "Tangkaplah dia." Ia masuk ke rumah Aisyah dan mereka tidak berhasil menangkapnya Kemudian Marwan berkata.20. 117 menceritakan tangkisan Abu Hurairah kepada orang-orang yang menyatakan Abu Hurairah terlalu banyak meriwayatkan hadits. 7501983.(bersambung 3/3) Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah Editor: Budhy Munawar-Rachman Penerbit Yayasan Paramadina Jln. Yang menarik kita bukanlah apa yang dibuang Bukhari.sesudah bapakuya. Sekedar memperjelas persoalan di sini. taqrir. (021) 7501969. Yang pertama menyebutkan. "Sesungguhnya dia inilah yang tentang dia Allah menurunkan ayat-ayat dan orang yang berkata kepada kedua orang tuanya 'cis' bagimu berdua. perbuatan. tetapi "perang hadits" antara dua orang sahabat --Marwan ibn Hakam dan 'Aisyah. DARI SUNNAH KE HADITS ATAU SEBALIKNYA (3/3) oleh Jalaluddin Rakhmat KERANCUAN PENGERTIAN HADITS Riwayat di atas disebut "hadits" padahal yang diceritakan adalah perilaku para sahabat. karena ayat itu turun berkenaan dengan orang lain. Para ahli ilmu hadits mendefinisikan hadits sebagai "apa saja yang disandarkan (dinisbahkan) kepada Nabi saw. Hadits ini adalah hadits No. Bila kita membuka kitab-kitab hadits. 'Aisyah malah menegaskan dengan hadits yang menyatakan bahwa Marwan adalah orang yang dilaknat Allah dan Rasul-Nya. Maka Abdurrahman mengatakan sesuatu. Riwayat di atas tidak menceritakan hal ihwal Nabi saw. hadits No. 4826 dalam hitungan Ibnu Hajar al-Asqalani (lihat Fath al-Bari 8:576). Manhaj al-Naqd fi Ulum al-Hadits. ia bercerita tentang perilaku para sahabatnya. tidak berkenaan dengan ucapan. Ia menjelaskan bahwa ia tidak disibukkan . Ia berkata. Metro Pondok Indah Pondok Indah Plaza I Kav. UA 20-21 Jakarta Selatan Telp. Yang kedua menegaskan bahwa yang pertama berdusta. berupa ucapan. berbuatan atau taqrir Nabi saw. dikutipkan beberapa saja diantaranya. (021) 7507174 Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota Please direct any suggestion to Media Team Artikel Yayasan Paramadina Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota III. asbab al-nuzul ayat al-Ahqaf itu berkenaan dengan 'Abd-u 'l-Rahman ibn Abu Bakar. -------------------------------------------. 7507173 Fax. halaman 26). Pada Shahih Bukhari.

Salah satu contohnya adalah hadits yang sering disampaikan kaum modernis untuk menolak tradisi slametan ("tahlilan") pada kematian." Hadits ini merupakan ucapan 'Abd-u l-Lah al-Bajali. Ibnu Hajar dalam pengantarnya pada Syarh al-Bukhari menyebutkan secara terperinci hadits-hadits mawquf dalam Shahih Bukhari. Atar. dan menghapal hadits yang tidak dihapal orang lain. dan sesungguhnya al-Qur'an itu adalah al-Qur'an ini. harus mengubah anggapan kita selama ini. Kami melakukan muth'ah pada zaman Rasulullah saw. Hadits itu berbunyi. Yang paling menyusahkan kita ternyata tidak semua hadits walaupun shahih meriwayatkan sunnah Rasulullah saw. perbuatan atau taqrir Nabi saw. taqrir. riwayat tentang para sahabat masih dapat dianggap hadits. Adalah Rasul ini. menghadiri majelis yang tidak dihadiri yang lain. ada hadits yang berbunyi "Iman itu perkataan dan perbuatan. Kembali kepada Rasulullah saw. Bila ya. bertambah dan berkurang. Ada dua muth'ah yang ada pada zaman Rasulullah saw." Sampai di sini kita bertanya apakah kita sepakat dengan definisi Dr. (lihat Nayl al-Awthar 4:148). para ulama di luar para sahabat juga sebagai hadits. Ia berkata: Padaku ada hadits. sehingga definisi hadits sekarang ialah "apa saja yang disandarkan (dinisbahkan) kepada Nabi saw. Ketika Umar berkuasa. atau sifat fisik atau akhlak dan apa saja yang dinisbahkan kepada para sahabat dan tabi'in." Namun jangan terkejut kalau ahli hadits bahkan menyebut riwayat. Mungkin bagi banyak orang." Ini bukan sabda Nabi saw. perbuatan. Yang pertama muth'ah . kebiasaan melakukan adzan awal pada shalat Jum'at di kalangan ulama tradisional. Untuk mengenyangkan perutnya. atau sifat fisik atau akhlak dan apa saja yang dinisbahkan kepada para sahabat. Atar. Ia selalu menyertai Nabi saw. Demikian pula. Hadits yang menceritakan sahabat disebut hadits mawquf (istilah yang didalamnya terdapat kontradiksi. seperti sahabat-sahabat Anshar dan Muhajirin. Boleh jadi banyak amal yang kita lakukan selama ini ternyata bersumber pada "hadits" yang bukan hadits (menurut definisi yang pertama). Riwayat tentang para tabi'in yakni ulama yang berguru kepada para sahabat. Tetapi aku melarangnya dan akan menghukum pelakunya. padahal riwayat ini tidak menyangkut ucapan. Perhatikan Bukhari memasukkan sebagai salah satu kitab haditsnya. didasarkan kepada hadits yang menceritakan perilaku orang Islam di zaman Utsman ibn 'Affan. Ucapan "al-shalat-u khair-un min al-nawm" dalam adzan Shubuh adalah tambahan yang dilakukan atas perintah Umar ibn Khatab. misalnya. Dan pada zaman Abu Bakar ra. taqrir. berupa ucapan. Ternyata hadits itu tidak semuanya berkenaan dengan Nabi saw. Akhirnya. bukan ucapan Bani saw. perbuatan. berupa ucapan.). ini adalah ucapan para ulama di berbagai negeri (lihat Fath-u 'l-Bari 1:47). Menurut Bukhari. Dalam Shahih Bukhari.dengan urusan ekonomi. perhatikanlah hadits ini: Dari Jabir ra: Sesungguhnya Ibnu Zubair melarang muth'ah tetapi Ibn Abbas memerintahkannya. definisi hadits yang paling tepat ialah "apa saja yang disandarkan (dinisbahkan) kepada Nabi saw. Karena itu menurut Dr. karena bukan hadits bila tidak berkenaan dengan Nabi saw. disebut hadits maqthu. ia berkhotbah kepada orang banyak: Sesungguhnya Rasulullah saw. "Kami menganggap berkumpul pada ahli mayit dan menyediakan makanan sesudah penguburannya termasuk meratap.

Yang membiarkan sahabatnya melakukan muth'ah atau hadits larangan Umar? Umumnya kita memilih yang kedua. Batuk tidak bernilai syar'i. h. Yang kedua muth'ah haji (haji tamattu'). Batuk tiga kali setelah takbirat-u 'l-ihram. memberi isyarat dengan telunjuknya tapi tidak mengerakkannya?" (Nayl al-Awthar 2:318). Bila ada seorang laki-laki menikahi perempuan sampai waktu tertentu. kita mengamalkan juga sunnah para sahabat. Imam Hanafi dan . yang tepat untuk dijadikan dalil hukum syar'i" (Muhammad Ajjaj al Khathib. tidak semua hadits mengandung sunnah. yang dllaporkan dalam hadits. Hadits ini menceritakan khotbah sahabat Umar yang mengharamkan muth'ah yang dilakukan para sahabat sejak zaman Rasulullah saw. Masalahnya sekarang: kapan perkataan. fi hadza 'l-hadits khams-u sunnah. menyebut sunnah pada semua perilaku Nabi saw. Membalikkan serbannya." dapatkah kita menetapkan perilaku Nabi saw. al-Sunnah Qabl al-Tadwin. Tidak pernah memindahkan serban kecuali kalau berat. Hadits ini diriwayatkan dalam Sunnah Baihaqi 7:206. Itu tepat disebut sunnah? Seandainya seorang sahabat berkata. "Dalam hadits ini ada lima sunnah. Imam Ahmad pernah diriwayatkan berkata. dan taqrir. perbuatan. duduk tasyahhud. dengan memperluas definisi hadits sehingga juga memasukkan perilaku para sahabat dan tabi'in. Sampai ke zaman Abu Bakar ra. Pada waktu khotbah istisqa Nabi saw. Mungkin saja buat sebagian di antara mereka. menyamakan hadits dengan sunnah." Jadi pemindahan dalam khotbah istisqa itu tentu mempunyai implikasi syar'i. aku aakan melemparinya dengan batu. Ahli ushul fiqh mendefinisikan sunnah sebagai "apa saja yang keluar dari Nabi saw. Kerancuan definisi hadits ini membawa kita kepada ikhtilaf mengenai apa yang disebut sunnah. "Nabi saw. Dalam hadits itu sebagai sunnah? Anda berkata tidak. "Aku melihatnya menggerakkan telunjuknya sambil berdoa?" Tidakkah anda menyimpulkan bahwa gerakan telunjuk itu sama dengan batuk --yang hanya secara kebetulan tidak mempunyai implikasi hukum. Dalam riwayat lain. Banyak orang. Abdullah bin Zaid bercerita tentang istisqa Nabi saw. Itu hanya kebetulan saja dan tidak mempunyai implikasi hukum. Selain al-Qur'an berupa ucapan. Manakah yang harus kita pegang: hadits taqrir Nabi saw. KERANCUAN PENGERTIAN SUNNAH Para ahli hadits. sehingga ujung serban sebelah kanan disimpan pada bahu sebelah kiri dan ujung serban sebelah kiri disimpan pada bahu sebelah kanan. Nabi saw. memindahkan serbannya. dalam hadits hanya ada tiga sunnah. perbuatan dan taqrir Nabi saw. dan banyak di antara kita. dikeluarkan juga oleh Muslim dalam shahihnya. Walhasil. sehingga bagian dalam serban itu di luar dan sebalik. yang tidak jarang bertentangan dengan sunnah Rasulullah saw. "Aku mendengar Rasulullah saw. Jumhur ulama termasuk Imam Syafi'i dan Malik menetapkan pembalikan atau pemindahan serban itu sebagai sunnah. Bukankah Ibnu Zubair melihat "Nabi saw. karena perbuatan Nabi saw.16) Jadi menurut ulama ushul fiqh." Tidak semua ulama setuju dengan pernyataan Ahmad.perempuan. Tetapi bagaimana pendapat anda bila Wail bin Hajar melaporkan apa yang disaksikannya ketika Nabi saw. termasuk para ulama yang menyamakan hadits dengan sunnah. Kata Syafi' i.

Dengan latar belakang uraian tentang hadits sebelumnya. mengapa kita tidak mau melanjutkannya. Karena itu. harus mengacu pada teks-teks yang menjadi landasan ajaran Islam. maka yang disebut sunnah adalah pendapat umum. hukum. Bahkan ketika merujuk pada al-Qur'an pun. kita harus melihat hadits. nilai sunnah tentu saja tidak bersifat mutlak seperti al-Qur'an. kita menemukan juga adanya sunnah para sahabat. dari kebohongan. sehingga pada awalnya sunnah sama dengan ijma'. Bukanlah selama ini yang kita anggap benar secara mutlak adalah al Qur'an dan sunnah? Patut dicatat bahwa kesimpulan Fazlur Rahman itu didasarkan pada sunnah dalam pengertian sunnah Rasulullah saw. UA 20-21 Jakarta Selatan . ia duduk di hadapan Rasulullah saw. ekonomi. Anda melihat bagaimana para ulama berbeda dalam mengambil sunnah hanya dari satu hadits saja. Siapa yang ingin melanjutkan tradisi Imam Bukhari dewasa ini? -------------------------------------------Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah Editor: Budhy Munawar-Rachman Penerbit Yayasan Paramadina Jln. pada kenyataannya tidak lagi dipakai. Bila para pembaru Islam terdahulu memulai kiprahnya dari kritik terhadap hadits dan sunnah (Ingat bagaimana Muhammadiyah dan PERSIS "men-dha'if-kan" hadits-hadits yang dipergunakan orang-orang NU). kemusykilan tentang sunnah makin bertambah. Konon Imam Bukhari bermimpi. Ketika kita sedang giat melakukan islamisasi ilmu. Metro Pondok Indah Pondok Indah Plaza I Kav. dan di tangannya ada kipas untuk mengusir lalat agar tidak mengenai tubuh Nabi saw. Semua orang sepakat pentingnya hadits dan sunnah dalam merealisasikan ajaran Islam. PENUTUP. Bila sunnah sudah mencakup juga perilaku sahabat. Karena sunnah adalah hasil penafsiran. mereka berkata.sebagian pengikut Maliki menetapkan bukan sunnah. Fazlur Rahman dalam Membuka Pintu Ijtihad menegaskan adanya unsur penafsiran manusia dalam sunnah. dan masyarakat. bahkan sunnah para tabi'in. dengan membuang ribuan hadits yang dianggap dha'if (lemah). Pemindahan itu hanya kebetulan saja. Pernyataan Fazlur Rahman ini bagi kebanyakan orang sangat mengejutkan. Ketika ia bertanya kepada orang-orang pandai apa arti mimpi itu. Kita lupa bahwa kritik terhadap keduanya telah diteladankan kepada kita oleh para ulama terdahulu. kita tidak bisa tidak harus merujuk pada hadits dan sunnah (tentu saja sesudah al-Qur'an). Ketika terjadi perbedaan paham. Para ulama juga ikhtilaf untuk menetapkan apakah pemindahan serban itu berlaku bagi imam atau berlaku bagi jemaah juga. "Anda akan membersihkan hadits Nabi saw. Definisi sunnah seperti disebutkan di atas. Sikap kritis ini seringkali dicurigai akan menghilangkan hadits atau sunnah. budaya. apakah yang sunnah itu pemindahan atau pembalikkan." Inilah yang mendorong Bukhari mengumpulkan hadits-hadits yang sahih saja. Sunnah adalah perumusan para ulama mengenai kandungan hadits. Pembaruan pemikiran Islam atau reaktualisasi ajaran Islam. Yang sering kita lupakan adalah bersikap kritis terhadap keduanya.

di antara keduanya terdapat jalinan yang erat. Oleh karena dampak masalah ini dalam usaha penetapan hukum (tasyri') sangat besar dan penting. Jika seseorang menyebut "sunnah" maka dengan sendirinya akan terbayang padanya sejumlah kitab koleksi sabda Nabi. Abu Dawud. namun sesungguhnya tidaklah identik. sekalipun jelas tidak dapat dilakukan secara umum tanpa penelitian tentang hadits tertentu mana yang dimaksud. Yang pertama (sunnah) mengandung pengertian yang lebih luas daripada yang kedua (hadits). "Dua Yang Sahih"). wafat 179 H. Berdasarkan sabda Nabi tentang Kitab dan sunnah di atas.) yang menghasilkan kitab hadits al-Muwaththa'. Sebab yang disebutkan sebagai sumber kedua sesudah Kitab Suci al-Qur'an ialah sunnah.Telp. maka golongan ini menjadi sasaran kritik para ulama dan tokoh Islam. Tapi sebelum mereka sudah ada seorang kolektor hadits yang amat kenamaan dan berpengaruh besar yaitu sarjana dan pemikir dari Madinah. 7507173 Fax. (021) 7501969. Sudah jelas. "Aku tinggalkan di antara kalian dua perkara. sebagaimana sering dituturkan tentang adanya sabda Nabi saw. (021) 7507174 Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota Please direct any suggestion to Media Team Artikel Yayasan Paramadina Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota III. Perjalanan sejarah . PERGESERAN PENGERTIAN "SUNNAH" KE "HADITS" (1/3) IMPLIKASINYA DALAM PENGEMBANGAN SYARI'AH oleh Nurcholish Madjid Dalam masyarakat Islam di beberapa negara terdapat kelompok-kelompok yang meragukan otoritas hadits sebagai sumber kedua penetapan hukum Islam." Tapi sekarang ini sunnah memang tidak dapat dibedakan dari hadits. ada suatu golongan yang menanamkan dirinya kaum "Inkar al-Sunnah".diharapkan akan dapat membantu memperjelas persoalan. Pada banyak kasus mungkin terjadi semacam kekacauan akibat kecenderungan masyarakat untuk menyamakan begitu saja antara sunnah dan hadits. dan yang lengkapnya meliputi pula kitab-kitab koleksi oleh Ibn Majah. Bahkan dapat dikatakan bahwa sunnah mengandung makna yang lebih prinsipil daripada hadits. Tapi ingkar kepada hadits. 7501983. Di negara kita. demikian pula sebaliknya. Karena sikap mereka menolak perlunya kaum muslim berpegang pada sunnah. pada prinsipnya sikap ingkar pada sunnah tidak dapat dibenarkan. al-Turmudzi dan al-Nasa'i.19. Malik Ibn Anas (pendiri madzhab Maliki. Yang paling terkenal di antaranya ialah dua kitab koleksi oleh al-Bukhari dan Muslim (disebut al-Shahihayn. telah terjadi dalam kurun waktu yang panjang pada golongan-golongan tertentu Islam seperti kaum Mu'tazilah. bukan hadits. maka kajian kesejarahan tentang evolusi pengertian sunnah --yang diungkapkan Nabi meski secara tersirat-. yang kamu tidak akan sesat selama berpegang kepada keduanya: Kitab Allah dan sunnah RasulNya.

antara sunnah dan hadits terbentang garis kontinuitas yang tidak terputus. karena memuat gambaran tentang perjalanan hidup Nabi khususnya dalam kapasitas beliau sebagai pemimpin. Maka. Sebab. Pemahaman Nabi terhadap pesan atau wahyu Allah itu teladan beliau dalam melaksanakannya membentuk "tradisi" atau "sunnah" kenabian (al-sunnah al-Nabawiyyah). termasuk yang sahih. Sebelum Ishaq.perkembangan dan perubahan itu sendiri cukup panjang dan rumit. Dan ia telah mengumpulkan bahan untuk kitab sirah-nya beberapa lama sebelum usaha-usaha pengumpulkan hadits. yang secara logis paling paham akan apa yang dipesankan Tuhan pada manusia melalui beliau. namun masih juga sering mengundang kekaburan. Tapi jika kita berhasil melepaskan diri dari dogmatisme yang menerima begitu saja pengertian-pengertian mapan tentang apa yang terjadi di masa lampau. tidak berarti bahwa hadits dengan sendirinya mencakup seluruh sunnah. sunnah tidak terbatas hanya pada hadits. Jika disebutkan oleh Nabi bahwa sunnah merupakan pedoman kedua setelah Kitab Suci bagi kaum muslim dalam memahami agama. Berarti. Jika sunnah merupakan keseluruhan perilaku Nabi. Sebab. termasuk yang sangat dini ditulis ialah Sirah Ibn Ishaq yang kemudian disunting oleh Ibn Hisyam (berturut-turut wafat pada tahun 151 dan 219 Hijri). Meskipun wafat di Baghdad. Sedangkan hadits merupakan bentuk reportase atau penuturan tentang apa yang disebabkan Nabi atau yang dijalankan dalam praktek tindakan orang lain yang "didiamkan" beliau (yang dapat dapat diartikan sebagai "pembenaran"). harus mencari contoh bagaimana Nabi sendiri memahami dan melaksanakannya. maka dari celah-celah sejarah itu kita akan dapat menarik "benang merah" yang memberikan kejelasan tentang perkembangan dan perubahan itu. Namun demikian. namun mencampuradukkan antara keduanya tidak dapat dibenarkan. Di antara kitab-kitab sirah.. Itulah makna asal kata hadits. Yaitu. Pengertian lain yang menyalahi hal itu mustahil dapat diterima. kitab-kitab itu juga merupakan sumber . bersama dengan kitab-kitab biografi Nabi yang lain amat penting. harus dimasukkan pula corak dan ragam tindakan beliau. PENGERTIAN SUNNAH Sunnah lebih luas daripada hadits. Sekalipun pengertian ini cukup jelas. baik sebagai pribadi maupun pemimpin. Dalam kedudukan beliau sebagai pemimpin itulah Kitab-kitab sirah banyak memberi gambaran. maka kita dapat mengetahui dari sumber-sumber yang selama ini tidak dimasukkan sebagai hadits. kedua. Kitab-kitab itu. telah muncul berbagai karya tulis tentang riwayat peperangan Nabi yang lazim disebut kitab-kitab al-Maghazi. dalam memahami agama dan melaksanakannya. Nabi-lah sebagai utusan Tuhan. seperti kitab-kitab sirah atau biografi Nabi. kemudian. dalam lingkup sunnah sebagai keseluruhan tingkah laku Nabi. yang sekarang ini definisinya makin luas batasannya dan komprehensif. juga yang paling tahu bagaimana melaksanakannya. dan tumbuh sebagai sarjana terkemuka di kota Nabi. orang Islam tentu pertama-tama harus melihat apa yang ada dalam Kitab Suci. Ibn Ishaq lahir di Madinah (pada tahun 85 H). Memang. maka sesungguhnya Nabi hanya menyatakan sesuatu yang amat logis.

Dan pastilah kemudian hari lebih baik bagimu daripada yang sekarang ada. yang keseluruhannya menampilkan sosok Nabi yang berkeprlbadian mulia. senantiasa berharaplah! (QS. karena ilham teladan baik dari beliau. Dalam sejarah terbukti bahwa pembacaan biografi Nabi. Sebagai contoh. al-Qalam 68:4). kemudian Dia melindungimu?! Dan Dia mendapatimu bingung. maka kamu akan lega. berhasil membangkitkan semangat perjuangan Islam. dan tidak pula murka.S. al-Syarh 94:1-8) Para ahli hampir semuanya sepakat bahwa surat al-Dluha turun kepada Nabi berkenaan dengan peristiwa terputusnya wahyu yang relatif panjang. menjadi pedoman hidup kedua setelah Kitab Suci bagi seluruh kaum beriman. Sunnah Nabi harus pula dipahami sebagai keseluruhan kepribadian Nabi dan akhlak beliau. Sebab sesungguhnya akhlak Nabi yang mulia itu tidak lain adalah semangat Kitab Suci al-Qur'an itu sendiri. Tetapi justru karena itu maka memahami sunnah Nabi tidak dapat lepas dari memahami Kitab Suci sendiri. dan keseluruhan sasaran peneladanan itu tidak lain ialah sunnah nabi. janganlah engkau menghardik! Dan kepada peminta-minta. Dari pengamatan atas gambaran itu kita dapat memperoleh ilham tentang peneladanan pada beliau. sebagaimana dilukiskan A'isyah. khususnya yang berkaitan dengan riwayat peperangan beliau yang dikena sebagai al-Maghazi tersebut. Bukankah Dia mendapatimu yatim. al-Dluha 93:1-11) Bukankah Kamu telah lapangkan dadamu?! Dan Kami bebaskan bebanmu.yang baik untuk memahami sunnah. isteri beliau. Dengan demikian Nabi. yang ternyata berhasil gemilang. al-Ahzab 33:32). dua surat yang termasuk paling banyak dibaca dalam sembahyang dapat kita renungkan maknanya di sini: Demi pagi yang cerah dan demi malam ketika telah kelam. yang dalam kepribadian dan akhlak beliau disebutkan dalam Kitab Suci sebagai teladan yang baik (uswah hasanah) bagi kita semua "yang benar-benar berharap pada Allah pada Hari Kemudian.S. dalam hal ini tingkah laku dan kepribadian beliau sebagai seorang yang berakhlak mulia. Dan beliau juga dilukiskan dalam Kitab Suci sebagai seorang yang berakhlak amat mulia (Q. baik yang menyenangkan atau tidak. yaitu upacara memperingati kelahiran Nabi dengan membaca riwayat hidup beliau. kemudian Dia membimbingmu?! Dan Dia mendapatimu miskin. Dan juga pastilah Tuhanmu akan menganugerahimu. kemudian Dia memperkayamu?! Maka kepada anak yatim. Dan dengan "eksperimen" itu pemimpin Islam dari Mesir yang kemudian terkenal dengan sebutan "Sultan Saladin" itu mewariskan pada Umat Islam seluruh dunia tradisi Maulid. Inilah "eksperimen" Sultan Shalah al-Din al-Ayyubi dalam menghadapi tentara Salib. sehingga menimbulkan ejekan dan sinisme kaum . serta banyak ingat kepada Allah" (Q. Dari Kitab Suci kita mengetahui lebih banyak perkembangan kepribadian Nabi yang menggambarkan pengalaman Nabi. jika yang dimaksud selain tindakan-tindakan Nabi atau sabda beliau yang bersifat terpisah dan ad hoc seperti umumnya tema catatan hadits. janganlah kamu membentak! Sedangkan berkenaan dengan nikmat karunia Tuhanmu. yang memberati punggungmu?! Serta Kami muliakan namamu?! Sebab sesunggahnya bersama kesulitan tentu ada kemudahan! Maka jika engkau bebas. kerja keraslah! Dan kepada Tuhanmu. Tidaklah Tuhanmu meninggalkan engkau (Muhammad). engkau harus nyatakan! (QS. khususnya.

Allah menghibur beliau dan memberinya dorongan moril. surat ini juga menggambarkan tentang suatu dinamika pengalaman Nabi dalam perjuangan beliau. Sebab. dan selalu ingat dengan penuh syukur akan nikmat karunia Tuhan. 7507173 Fax.19. berupa kemenangan demi kemenangan yang diraih Nabi setelah hijrah ke Madinah. (021) 7507174 Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota Please direct any suggestion to Media Team Artikel Yayasan Paramadina Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota III. UA 20-21 Jakarta Selatan Telp. bingung tentang apa yang hendak dilakukan.(bersambung 2/3) Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah Editor: Budhy Munawar-Rachman Penerbit Yayasan Paramadina Jln. selama perjuangan diteruskan dengan penuh kesabaran dan harapan. Metro Pondok Indah Pondok Indah Plaza I Kav. (021) 7501969. Allah menjanjikan untuk memberi kemenangan yang bakal membuat beliau puas dan lega. dan beliau pun wafat memenuhi panggilan menghadap Allah dalam keadaan menang dan sukses luar biasa). bahwa Allah samasekali tidak meninggalkan beliau dan tidak pula murka. Serentak dengan itu semua Allah juga mengingatkan akan masa lampau Nabi yang penuh kesusahan seperti keadaan beliau yang yatim-piatu. . dan bagaimana Allah telah menunjukkan kasih-Nya pada beliau dengan memberi kemampuan mengatasi kesusahan itu semua. Dan dalam jangka panjang itulah. atau membentak peminta-minta. Dalam terjemah kontemporernya. -------------------------------------------. Allah mengingatkan Nabi bahwa perjuangan jangka panjang.musyrik Makkah bahwa Tuhan telah meninggalkan Nabi dan murka kepadanya. yang taktis. Dan berdasarkan latar belakang itu maka Allah berpesan agar Nabi janganlah sampai menghardik anak-yatim. (Janji Tuhan ini kelak ternyata terbukti dan terlaksana. Dari latar belakang turunnya. 7501983. dan miskin. PERGESERAN PENGERTIAN "SUNNAH" KE "HADITS" (2/3) IMPLIKASINYA DALAM PENGEMBANGAN SYARI'AH oleh Nurcholish Madjid IMPLIKASI SUNNAH SEBAGAI KOREKSI HADITS DALAM PENGEMBANGAN SYARI'AH Allah juga mengingatkan Nabi bahwa masa mendatang lebih penting daripada masa sekarang. yang strategis lebih penting daripada pengalaman jangka pendek. sehingga seperti dikatakan Sayyid Quthub. Oleh karena itu hendaknya Nabi tidak putus asa atau kecil hati oleh pengalaman kekecewaan jangka pendek. perjuangan besar selalu memerlukan waktu untuk mencapai hasil dan semakin besar nilai suatu perjuangan maka semakin panjang pula dimensi waktu yang diperlukannya.

3. 7. berkat perjuangan beliau dan kebajikan yang ditegakkannya. dengan penuh harapan kepadaNya. sambil senantiasa mengarahkan diri kepada Allah. namun hasil perjuangan itu di kemudian hari tentu akan membawa kebahagiaan. Jika kita renungkan lebih mendalam gambaran itu. dan membuat semua beban terasa ringan bagi beliau.Sadar akan perjuangan jangka panjang. dari kedua surat pendek yang banyak dibaca dalam shalat itu dapat disimpulkan gambaran dinamika kepribadian Nabi berhubung dengan pengalaman hidup perjuangan beliau.Tidak kecil hati karena kesulitan. dan dari situ pula kita mengerti suatu aspek makna firman Allah bahwa pada diri Rasulullah terdapat teladan yang baik bagi kaum beriman.Yakin akan kemenangan akhir 4. Jadi.Menggunakan setiap waktu luang untuk kerja-kerja produktif 11.Senantiasa bersyukur pada Allah atas segala nikmat karunia-Nya.Ingat akan latar belakang diri di masa lalu dan bagaimana semua kesulitan teratasi 5. seperti telah diutarakan. Oleh karena itu sikap-sikap yang telah ditunjukkan oleh Nabi sebagaimana tersimpul dari kedua surat pendek itu akan melengkapi kaum beriman dengan contoh nyata dalam menghadapi problema kehidupan. sebab yakin akan masa datang yang lebih baik 10.Sikap senantiasa berpengharapan kepada Allah 2. para ahli mengatakan bahwa wahyu itu turun kepada Nabi masih dalam kaitannya dengan surat al-Dluha.Tetap berorientasi kepada Allah. Lalu Allah menegaskan bahwa setiap kesulitan tentu akan membawa kemudahan.Bersikap lapang dada 8. Dari situ kita paham sebuah sunnah Nabi. bahkan merupakan kelanjutannya.Memikul beban tanggungjawab dengan penuh kerelaan 9. Juga diingatkan bahwa Allah telah membuat terhormat nama Nabi dan dijunjung tinggi. maka sesungguhnya dinamika pengalaman hidup Nabi tersebut adalah universal.Rasa kasih sayang kepada sesama manusia yang kurang beruntung 6. Dalam surat ini Allah menegaskan bagaimana Dia telah membuat Nabi sebagai seorang yang lapang dada (munsyarih al-shadr). Pengkajian terhadap firman-firman itu akan memberi gambaran yang utuh tentang siapa Nabi dan bagaimana garis besar sepak terjang . asal dan tuduan semua yang Firman Allah yang memberi gambaran dinamika kepribadian Nabi sebagai uswah hasanah dalam al-Qur'an cukup banyak.Berkenaan dengan surat al-Syarh. dalam arti dapat terjadi dan dialami oleh siapa saja dari kalangan manusia yang mempunyai tekad atau komitmen pada cita-cita luhur. Akhlak serta kepribadian yang menjadi sunnah Nabi. yang dapat disimpulkan dari kedua surat itu adalah kurang lebih demikian: 1. Maka dari itu setiap kesempatan harus digunakan untuk kerja keras. bahwa amal usaha tentu mengandung kesulitan.

al-Siba'i mengutip tokoh itu yang pandangannya pernah dimuat oleh majalah al-Manar pimipinan Sayyid Muhammad Rashyid Ridla. yang telah tampil membela Islam dengan cara yang mengagumkan. menurut al-Siba'i. dari dahulu sampai sekarang. karena ingkar pada sunnah Nabi adalah mustahil bagi seorang muslim. Sedangkan sunnah (yang dimaksud tentunya hadits) mengandung keraguan dalam keabsahannya sebagai sumber argumen (hujjah) karena terjadi penambahan-penambahan padanya. Tanpa menyebut namanya secara jelas. dan yang dinilainya banyak membuka pintu bagi orang lain sesudahnya untuk juga bersikap ingkar pada hadits.beliau dalam hidup beliau baik sebagai pribadi maupun sebagai Utusan Ilahi. seorang pembela paham Sunni yang bersemangat dan mantan dekan Fakultas Syari'ah Universitas Syiria. dan karena adanya banyak kontradiksi dalam sebagian cukup besar nash-nash-nya. Mereka mendasarkan pandangan itu pada hal-hal berikut: 1. dan bahwa Kitab Suci merupakan satu-satunya sumber penetapan syari'ah disebabkan kepastian otentisitasnya. Secara ringkas. PERGESERAN PENGERTIAN SUNNAH KE HADITS Di atas telah dikemukakan adanya kelompok-kelompok kaum muslim yang sangat meragukan otentisitas dan otoritas kumpulan hadits. Sangat menarik jalan pikiran seorang tokoh yang ingkar hadits itu di zaman modern. serta seorang tokoh pembina gerakan al-Ikhwan al-Muslimun di Syiria. Mereka sebenarnya tidak mengingkari sunnah. Tetapi mereka ini dapat disebut sebagai golongan "Ingkar Hadits" (sebutlah "Inkar al-Hadits"). sehingga tidak lagi ada peran bagi sunnah (hadits) untuk menatapkan hukum . khususnya segi-segi yang dinamik dan mendasar. Mushthafa al-Siba'i. pandangan mereka yang menolak hadits ialah bahwa Islam hanyalah al-Qur'an saja. menurut Mushthafa al-Siba'i. Sedangkan yang ada dalam al-Qur'an. sekalipun dituturkan dalam kaitan dengan ruang dan waktu atau pengalaman khusus Nabi.Allah telah menegaskan "Tidak ada satu perkarapun yang Kami abaikan dalam Kitab Suci (Q. namun ajaran moral di balik cerita selalu bersifat dinamik sehingga dapat dengan mudah diangkat pada tingkat generalitas yang tinggi. Tapi pandangannya yang menolak otoritas hadits telah menimbulkan heboh di kalangan para ulama al-Azhar. Kita dapat mendekteksi dinamika kepribadian Nabi itu dari firman-frman yang ditunjukkan khusus kepada Nabi. adalah seorang muslim yang bergairah. Ini menjelaskan bahwa Kitab Suci telah mencakup seluruh prinsip penetapan syari'ah. Menurut Dr. yang disebutkan oleh al-Siba'i sebagai contoh.S. dapat lebih banyak diketahui dari Kitab Suci daripada dari kumpulan kitab hadits. Al-An'am 6:38). seperti diindikasikan oleh penggunaan kata pengganti nama "engkau" dalam suatu format dialog antara Tuhan dan Utusan-Nya. Meskipun banyak laporan dalam kitab-kitab hadits yang juga memberi gambaran tentang tingkah laku atau kepribadian Nabi. Jadi sunnah Nabi. golongan Ingkar Hadits itu terdapat di mana-mana dalam dunia Islam. meskipun hadits (yang sahih) memang termasuk sunnah. namun umumnya bersifat ad hoc terkait erat dengan tuntutan khusus ruang dan waktu. Karena itu sunnah Nabi sebenarnya tidak terbatas hanya pada hadits. Tokoh itu sendiri. dengan demikian bernilai universal.

Tuhan tidak menjamin pemeliharaan sunnah (hadits). dan apapun yang sampai kepadamu dan menyalahi al-Qur'an. karena Allah berfirman. menunjukkan sikap tidak suka pada usaha membukukannya. sehingga masuk ke dalamnya penambahan dan pemalsuan.Allah menjamin pemeliharaan al-Qur'an dari kesalahan. Mungkin yang dimaksudkan ialah adanya dorongan pembukuan hadits oleh Khalifah 'Umar Ibn 'Abd al-'Aziz (w.. tentulah Tuhan memeliharanya untuk kepentingan para hamba-Nya dari kemungkinan penyelewengan dan perubahan sebagaimana Dia telah memelihara Kitab Suci-Nya. bahwa beliau bersabda "Sesungguhnya hadits akan memancarkan dari diriku.an. dan hal itu dengan sendirinya menempatkan sunnah pada tingkat dugaan (martabat al-dhann) belaka. ia berasal dari diriku. 'Alqamah. bahkan secara otentik diceritakan bahwa beliau melarang membukukannya. jika bukannya malah merupakan wujud historis yang kongkret dari "tradisi" atau "sunnah" Nabi sendiri. "Sesungguhnya Kami benar-benar telah menurunkan pelajaran. Abu Bakr.Terdapat penuturan dari Nabi saw. ia tidak berasal dariku. Dari sudut analisa politik. Maka banyak kalangan kaum Muslim yang memandang 'Umar II sebagai anggota kelima dari al-Khulafa. dan sesungguhnyalah Kami yang memelihara-Nya" (Q. al-Hijr 15:9). al-Rasyidun. dan selesai pengumpulan dan koreksinya pada pertengahan abad ketiga.. al-Najm 52:28). "Sesungguhnya dugaan tidak sedikit pun menghasilkan kebenaran" (Q. tindakan 'Umar II ini adalah untuk menemukan dan mengukuhkan landasan pembenaran bagi ideologi Jama'ah-nya.S. Syihab al-Din al-Zuhri (w. dan rampung pada pertengahan abad ketiga. dan kebanyakan tokoh besar para sahabat Nabi serta para Tabi'un seperti 'Umar. 'Ubaydah. 3. al-Qasim Ibn Muhammad. al-Nakha'i. 102 H. Kalau seandainya hadits termasuk sumber penetapan syari'ah. sebagaimana difirmankan. sedangkan dugaan tidak dapat menghasilkan hukum syar'i. 'Umar II memerintahkan seorang sarjana terkenal. Ini adalah jangka waktu yang cukup panjang untuk menimbulkan keraguan tentang keabsahan teks-teks hadits. 124 H) untuk meneliti dan membuktikan tradisi yang hidup di kalangan penduduk Madinah. al-Sya'bi. Apapun yang sampai kepadamu sekalian dan bersesuaian dengan al-Qur. Kota Nabi." [1] Dalam kutipan al-Siba'i tentang argumen orang yang ingkar pada hadits itu disebutkan bahwa pembukaan hadits dimulai pada akhir abad pertama Hijri. Khalifah ini terkenal dengan sebutan kehormatan.) dari Bani Umayyah. 2. sesudah 'Ali Ibn Abi Thalib. Hadits juga belum dibukukan di zaman al-Khulafa al-Rasyidun.dan membuat syari'ah. dll. yang mengisyaratkan pengakuan bahwa ia adalah pelanjut kekhalifahan 'Umar Ibn al-Khaththab yang bijakbestari.Sunnah (hadits) belum dibukukan di zaman Nabi saw. yang dengan ideologi itu ia ingin merangkul . Pembukuan hadits baru dimulai pada akhir abad pertama. Umar II.S. karena keyakinan 'Umar II bahwa tradisi itu merupakan kelanjutan langsung pola kehidupan masyarakat Madinah di zaman Nabi. 4.

sikap yang serba inklusifistik sesama kaum muslim itu merupakan "tradisi" atau "sunnah" historis penduduk Madinah. Maka penelitian dan pembukaan tentang tradisi penduduk Madinah akan dengan sendirinya menghasilkan pembukaan "tradisi" atau "sunnah" Nabi. menurut al-Siba'i. lalu diteruskan berturut-turut oleh Muslim (w. dan dengan begitu. 'Umar II melihat bahwa sikap yang serba akomodatif pada semua kaum muslim tanpa memandang aliran politik atau paham keagamaan khasnya itu telah diberikan contohnya oleh penduduk Madinah. Abu Dawud (w. 279 H) dan terakhir. 7507173 Fax. 7501983. Selanjutnya. sebagaimana dilakukan oleh 'Abd Allah Ibn 'Amr Ibn al-'Ash. Akibatnya.(bersambung 3/3) Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah Editor: Budhy Munawar-Rachman Penerbit Yayasan Paramadina Jln. 303 H). 261 H). sekalipun ia menyesalkan sikap Khalifah yang baginya terlalu banyak memberi angin pada kaum Syi'ah dan Khawarij (karena. UA 20-21 Jakarta Selatan Telp. Berdasarkan latar belakang inilah maka ideologi 'Umar II kelak disebut sebagai paham "sunnah dan jama'ah" dan para pendukungnya disebut ahl al-sunnah wa al-Jama'ah (golongan sunnah dan jama'ah). sesungguhnya. pengertian "sunnah" pun kemudian menjadi hampir identik dengan koleksi hadits dalam "Kitab yang Enam" itu. Jadi. 'Abd-Allah Ibn 'Abbas dan 'Abd-Allah Ibn Mas'ud. Metro Pondok Indah Pondok Indah Plaza I Kav. dan baru benar-benar rampung pada awal abad keempat Hijri. termasuk kaum Syi'ah dan Khawarij yang merupakan kaum oposan terhadap rezim Umayyah. "sunnah" itu akan memberi landasan legitimasi bagi idenya tentang persatuan seluruh umat Islam dalam "Jama'ah" yang serba mencakup. pembukuan hadits secara sistematis dan kritis dan dalam skala besar serta pada tingkat kesungguhan yang tinggi baru dimulai pada awal abad ketiga dengan tampilnya Iman al-Syafi'i (w. 256 H). sebelum masa 'Umar II pun sebetulnya sudah ada usaha-usaha pribadi untuk mencatat hadits. Koleksi mereka berenam itulah yang kelak disebut "Kitab yang Enam" (al-Kutub al-Sittah). dengan tampilnya al-Nasa'i (w. dalam pandangan al-Siba'i.w.273 H). [2] Tapi. al-Turmudzi (. (021) 7501969. Ibn Majah (w. al-Nasa'i (w. Teori dan metodenya kemudian diterapkan dengan setia oleh al-Bukhari (w. dalam kolaborasinya dengan kaum Abbasi.seluruh kaum Muslim tanpa memandang aliran politik atau pemahaman keagamaan mereka.275 H). juga merupakan kelanjutan yang sah dari "tradisi" atau "sunnah" Nabi. mereka akhirnya mampu meruntuhkan Dinasti Umayyah dan melaksanakan pembalasan dendam yang sangat kejam). golongan oposisi itu kemudian mampu memobilisasi diri sehingga. di bawah ke kepeloporan tokoh-tokohnya seperti 'Abd-Allah ibn 'Umar (Ibn al-Khaththab). dalam pandangan 'Umar II. Dan. Mushthafa al-Siba'i amat menghargai kebijakan 'Umar II berkenaan dengan pembukaan sunnah itu. (021) 7507174 Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota . Imam al-Syafi'i adalah tokoh pemikir peletak sebenarnya teori ilmiah pengumpulan dan klasifikasi hadits. 303 H). -------------------------------------------. 204 H).

. 3. namun sudah tidak lagi banyak berarti. PERGESERAN PENGERTIAN "SUNNAH" KE "HADITS" (3/3) IMPLIKASINYA DALAM PENGEMBANGAN SYARI'AH oleh Nurcholish Madjid IMPLIKASI SUNNAH SEBAGAI KOREKSI HADITS DALAM PENGEMBANGAN SYARI'AH Fakta historis tersebut di atas menunjukkan bahwa proses pengumpulan hadits berlangsung selama satu abad atau lebih. 4. Dr. tapi tidak menjamin hal serupa untuk Hadits. Sebagaimana telah dikutip kembali dari keterangan (kutipan) Mushthafa al-Siba'i.Please direct any suggestion to Media Team Artikel Yayasan Paramadina Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota III. Dia 1. dan menolak yang lain. dimulai sejak sekitar dua abad setelah Nabi dan rampung sekitar tiga abad setelah Nabi. Sesudah masa itu memang masih terdapat usaha pengumpulan sisa-sisa hadits oleh beberapa pribadi. penulisan hadits di masa beliau. dalam hal ini hadits. Sunnah dan hadits tetap terpelihara. 2. demikian pula para sahabat dan para Tabi'un terkenal.Nabi melarang. karena telah menegaskan bahwa Kitab Suci itu telah memuat segala sesuatu. 2.masa kodifikasi dan seleksi hadits yang demikian lama sesudah masa Nabi dan yang memakan waktu demikian panjang merupakan dasar sikap mereka yang meragukan otoritas hadits. melalui sistem hafalan kaum muslim Arab yang memang terkenal memiliki kemampuan menghafal yang amat kuat (sebagai akibat pengembangan bahasa Arab yang amat tinggi namun tidak banyak bersandar pada penggunaan tulisan). tegar.Yang disebut bakal dijamin terpelihara dari usaha pengubahan tidak hanya pada al-Qur'an tapi juga meliputi sunnah. Musthafa al-Siba'i.Memang benar Kitab Suci memuat segala sesuatu.19. dasar-dasar argumen menolak otoritas hadits secara ringkasnya adalah sebagai berikut: 1. tapi hanya dalam garis besar saja.Keseluruhan ajaran Islam cukup berdasarkan pada al-Qur'an saja.Nabi menegaskan agar orang menerima hadits hanya yang benar-benar bersesuaian dengan al-Qur'an.Allah menjamin terpeliharanya al-Qur'an. dengan tandas menyatakan: seorang pembela paham Sunni yang menolak argumen-argumen itu. Selain dasar-dasar pertimbangan yang berasal dari al-Qur'an dan pesan Nabi sendiri --menurut pengertian yang dipegang oleh mereka yang ingkar hadits-. sekurangnya menghalangi.

3.Pencegahan Nabi dan para pembesar sahabat dan Tabi'un dari usaha membukukan hadits terjadi karena kekuatiran akan tercampur dengan teks-teks al-Qur'an yang saat itu kodifikasi resminya belum mapan di kalangan umat, disebabkan sedikitnya mereka yang ahli baca-tulis. Pencegahan itu hanya menyangkut usaha pembukuan resmi. Sedangkan yang tidak resmi dan sebagai catatan pribadi, beberapa sahabat telah melakukannya. 4.Keabsahan hadits yang menjadi landasan argumen keempat di atas diragukan oleh para ahli. Dan jika benar pun, maknanya adalah sangat wajar, yaitu bahwa kita harus menerima hadits hanya yang sejalan dengan al-Qur'an. Justru para ulama semuanya sepakat bahwa, Hadits yang sahih, meskipun menetapkan ajaran secara tersendiri, tidak ada yang bertentangan dengan al-Qur'an. Pembelaan al-Siba'i atas sunnah sebagai hadits itu mewakili pandangan yang sangat umum di kalangan para ulama. Namun ia tidak memberi kejelasan tentang bagaimana efek kenyataan sejarah bahwa untuk sampai pada koleksi dan kodifikasi hadits seperti sekarang ini proses-proses yang amat sulit harus dilewati, khususnya proses pemisahan mana dari laporan-laporan hadits itu otentik dan yang palsu. masih tetap diperlukan adanya argumen yang kukuh dan mendasar untuk pandangan bahwa klasifikasi yang ada sekarang adalah terpercaya, atau sudah tidak lagi memerlukan peninjauan kembali. Batu penarung bagi pandangan ini ialah kenyataan bahwa zaman sekarang ditandai dengan mudahnya diperoleh bahan bacaan di semua bidang, termasuk bidang-bidang yang dapat dijadikan landasan kajian perbandingan ilmu kritik hadits, baik dari segi metodologinya maupun dari segi hasil-hasil yang telah dicapai. Karena itu pada zaman sekarang akan lebih mudah bagi mereka yang berminat secara khusus untuk meneliti kembali hadits-hadits dan membuat klasifikasi baru tentang sahih-tidaknya matan-matan dan riwayat-riwayat yang ada. Sebenarnya hal ini dapat sekedar merupakan pengulangan atau penerapan kembali metodologi Imam al-Bukhari, tapi dengan dibantu oleh penggunaan kemudahan-kemudahan yang ditawarkan oleh zaman modern, baik dari segi perangkat kerasnya (material dan bahan bacaan yang tersedia) maupun perangkat lunaknya (metodologi kritiknya). Imam al-Bukhari sendiri sekedar meneruskan dan menerapkan dengan setia teori dan prinsip-prinsip riset hadits yang diletakkan oleh Imam al-Syafi'i. Dorongan untuk meletakkan teori dan metodologinya itu ialah keprihatinan al-Syafi'i oleh adanya kekacauan dan berkecamuknya usaha pemalsuan laporan-laporan hadits di zamannya, yang laporan-laporan itu sendiri semula dan kebanyakan bergaya anekdotal tentang generasi Islam yang telah lewat, mencakup tentang Nabi sendiri dan para sahabat. Karena itu hadits juga disebut Khabar, Akhbar, Riwayah, Atsar, dan lain-lain, yang kesemuanya menunjukkan sisa pengertiannya yang mula-mula, yaitu kabar, berita, penuturan, peninggalan, dan lain-lain. Maka yang dilakukan al-Syafi'i mempunyai nilai yang sungguh besar, dengan pengaruh yang sampai sekarang dirasakan oleh seluruh umat Islam. Tapi yang telah dilakukan banyak daripada sekedar penelitian hadits. Tokoh oleh imam al-Syafi'i jauh lebih meletakkan dasar-dasar metodologi pendiri madzhab yang penganutnya

banyak di negeri kita ini juga diakui jasanya sebagai yang meletakkan dasar-dasar metodologi penetapan syari'ah, yang justru terasa semakin relevan dengan keadaan zaman sekarang ini. Menurut Marshall Hodgson --yang dapat kita anggap sebagai seorang peninjau netral dan cukup jujur-- al-Syafi'i berjasa sebagai seorang sarjana yang dengan penuh kesadaran meletakkan prinsip adanya pertimbangan historis bagi penetapan syari'ah. Hal itu tercermin dalam konsepnya tentang nasikh-mansukh, yaitu konsep yang memandang kemungkinan suatu hukum dihapuskan oleh hukum yang lain dalam Islam, disebabkan adanya pertimbangan baru berkenaan dengan lingkungan (dharf), baik lingkungan ruang (dharf al-makan) maupun lingkungan waktu (dharf al-zaman). [3] Berdasarkan metodologid al-Syafi'i itu maka terkenal sekali rumus hukum Islam yang mengatakan bahwa hukum berubah oleh perubahan zaman dan tempat. Terutama perubahan zaman, semua ulama sepakat bahwa hal itu tidak dapat dielakkan akan membawa perubahan hukum. Prinsip ini tercermin dalam dua kalimat rumusannya dalam bahasa Arab, [Tulisan Arab] yang artinya, "Perubahan hukum oleh perubahan zaman. Tidak dapat diingkari perubahan hukum oleh perubahan zaman). [4] Untuk dapat melaksanakan prinsip amat penting itu tidaklah mudah. Salah satu yang mesti diperlukan ialah kemampuan menangkap "pesan zaman", sehingga suatu hukum dapat diterapkan secara efektif karena relevan dengan pesan zaman itu. Ini berarti juga menuntut kemampuan membuat generalisasi atau abstraksi dari hukum-hukum yang ada menjadi prinsip-prinsip umum yang berlaku untuk setiap zaman dan tempat. Dan berlakunya suatu prinsip untuk segala zaman dan tempat adalah berarti kemestian memberi peluang pada prinsip itu untuk dilaksanakan secara teknis dan kongkret menurut tuntutan ruang dan waktu. Karena ruang dan waktu berubah, maka tuntutan spesifiknya pun tentu berubah, dan ini membawa perubahan hukum. Maka yang berubah bukanlah prinsipnya, melainkan pelaksanaan teknis dan kongkret hukum itu dalam masyarakat tertentu dan masa tertentu. Iman al-Syafi'i khususnya, dan madzhab Syafi'i umumnya meletakkan dasar metodologi generalisasi dan abstraksi (ta'mim, istiqra, tajrid) tersebut dalam lima cara pendekatan pada setiap ketentuan hukum, yaitu: 1) semua perkara harus diperhatikan maksud dan tujuannya; 2) bahaya harus dihilangkan atau dihindari; 3) adat kebiasaan adalah sumber penetapan hukum; 4) hal mantap tidak boleh dihapus oleh hal yang meragukan; 5) kesulitan pelaksanaan harus menghasilkan kemudahan hukum. Dalam bahasa Arab, kelima prinsip itu diberi patokan rumusan baku sebagai berikut, [5] [Tulisan Arab] Kemudian, sesuai dengan kebiasaan klasik dalam budaya Islam, kelima prinsip itu oleh seorang penganut Syafi'i didendangkan dalam bentuk syair, demikian: [Tulisan Arab] Jika diperhatikan benar-benar metodologi Imam al-Syafi'i itu literer madzhab

maka sesungguhnya terdapat dorongan yang cukup kuat untuk mendekati suatu ketentuan tekstual, baik dalam Kitab Suci maupun dalam hadits tidak secara harfiah, melainkan dengan penarikan ide prinsipil atau fikrah mabda iyyah atau fikrah ushuliyyah yang dikandungnya, dan yang menjadi inti hikmah tasyri' dari ketentuan yang ada. Oleh karena tema-tema hadits umumnya bersifat ad hoc dan lepas dari keseluruhan kepribadian Nabi, maka abstraksi dan generalisasi dari hadits menghasilkan problema dan kesulitan yang tidak kecil. Padahal hanya dari abstraksi dan generalisasi itu kita dapat memahami sunnah Nabi, dan bukannya sekedar menyamakan begitu saja makna dan semangat sunnah dengan teks-teks laporan hadits. CATATAN 1.Dr. Mushthafa al-Siba'i, "Al-A'ashir fi wajh al-Sunnah Hadits-an" dalam majalah Al-Muslimin, Damaskus, No. 3 (Syawal 1374 H/Ayyar [Mei 1955]), hal. 24-26. Meskipun Al-Siba'i tidak menyebutkan nama tokoh Ingkar Hadits ini, namun dari bukunya. Al-Sunnah wa Makanatuha fi al-Tasyri' al-Islami, nama itu dapat diperkirakan sebagai Dr. Ahmad Amin, seorang penganut modernisme Islam yang terkenal. (Al-Siba'i, Al-Sunnah, Nurcholish Madjid (terj & ed) (Jakarta: Pustaka Firdaus, tt). 2.Ibid, hal. 27. 3.Marshall G.S. Hodgson, The Venture of Islam, 3 jilid (Chicago: The University of Chicago Press, 1974), jilid 33, hal.437. Menurut Hodgson, sesungguhnya yang dikembangkan oleh Imam al-Syafi'i adalah prinsip-prinsip yang tendensinya sudah terlihat di zaman Nabi sendiri, jadi memiliki tingkat otentisitas yang tinggi, dan Hodgson melihat pada metodologi itu sebagai salah satu sumber ketentuan dan kemampuan Islam menjawab tantangan zaman, khususnya zaman modern sekarang ini. Maka berkenaan dengan ini menarik sekali keputusan para ulama NU seluruh Indonesia di Tambakberas, Jombang, beberapa waktu yang lalu, yang menetapkan bahwa penganutan kepada madzhab Syafi'i seyogyanya tidak terbatas hanya kepada pendapat-pendapat spesifik (qawl) beliau saja, tetapi lebih penting lagi ialah kepada metodologi (manhaj, minhaj) yang dirintis dan dikembangkannya. 4.Mushthafa Ahmad al-Zarqa, "Taghayyur al-Ahkam bi Taghayyur al-Azman," dalam majalah Al-Muslimun, Damaskus, No. 8 (Syawal 1373 H/Juni 1954 M), hal. 34. 5."Tarikh al-Qawa'id al-Kulliyyah fi al-Syari'at al-Islamiyyah," dalam majalah Al-Muslimun Damaskus, No. 12 (Syawal 1373 H/Mei 1955 M), hal. 17. -------------------------------------------Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah Editor: Budhy Munawar-Rachman Penerbit Yayasan Paramadina Jln. Metro Pondok Indah Pondok Indah Plaza I Kav. UA 20-21 Jakarta Selatan

Telp. (021) 7501969, 7501983, 7507173 Fax. (021) 7507174 Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota
Please direct any suggestion to Media Team

Artikel Yayasan Paramadina
Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota III.8. ANTARA SUKMA NURANI DAN SUKMA DHULMANI oleh Jalaluddin Rakhmat Menurut para sufi, manusia adalah mahluk Allah yang paling sempurna di dinia ini. Hal ini, seperti yang dikatakan Ibnu'Arabi manusia bukan saja karena merupakan khalifah Allah di bumi yang dijadikan sesuai dengan citra-Nya, tetapi juga karena ia merupakan mazhaz (penampakan atau tempat kenyataan) asma dan sifat Allah yang paling lengkap dan menyeluruh. Allah menjadikan Adam (manusia) sesuai dengan citra-Nya. Setelah jasad Adam dijadikan dari alam jisim, kemudian Allah meniupkan ruh-Nya ke dalam jasad Adam. Allah berfirman: Maka apabila Aku telah menyempurnakan tiupkan kepadanya ruh-Ku (QS. 15: 29) kejadiannya dan Aku

Jadi jasad manusia, menurut para sufi, hanyalah alat, perkakas atau kendaraan bagi rohani dalam melakukan aktivitasnya. Manusia pada hakekatnya bukanlah jasad lahir yang diciptakan dari unsur-unsur materi, akan tetapi rohani yang berada dalam dirinya yang selalu mempergunakan tugasnya. Karena itu, pembahasan tentang jasad tidak banyak dilakukan para sufi dibandingkan pembahasan mereka tentang ruh (al-ruh), jiwa (al-nafs), akal (al-'aql) dan hati nurani atau jantung (al-qalb). RUH DAN JIWA (AL-RUH DAN AL-NAFS) Banyak ulama yang menyamakan pengertian antara ruh dan jasad. Ruh berasal dari alam arwah dan memerintah dan menggunakan jasad sebagai alatnya. Sedangkan jasad berasal dari alam ciptaan, yang dijadikan dari unsur materi. Tetapi para ahli sufi membedakan ruh dan jiwa. Ruh berasal dari tabiat Ilahi dan cenderung kembali ke asal semula. Ia selalu dinisbahkan kepada Allah dan tetap berada dalam keadaan suci. Karena ruh bersifat kerohanian dan selalu suci, maka setelah ditiup Allah dan berada dalam jasad, ia tetap suci. Ruh di dalam diri manusia berfungsi sebagai sumber moral yang baik dan mulia. Jika ruh merupakan sumber akhlak yang mulia dan terpuji, maka lain halaya dengan jiwa. Jiwa adalah sumber akhlak tercela, al-Farabi, Ibn Sina dan al-Ghazali membagi jiwa pada: jiwa nabati (tumbuh-tumbuhan), jiwa hewani (binatang) dan jiwa insani. Jiwa nabati adalah kesempurnaan awal bagi benda alami yang

organis dari segi makan, tumbuh dan melahirkan. Adapun jiwa hewani, disamping memiliki daya makan untuk tumbuh dan melahirkan, juga memiliki daya untuk mengetahui hal-hal yang kecil dan daya merasa, sedangkan jiwa insani mempunyai kelebihan dari segi daya berfikir (al-nafs-al-nathiqah). Daya jiwa yang berfikir (al-nafs-al-nathiqah atau al-nafs-al-insaniyah). Inilah, menurut para filsuf dan sufi, yang merupakan hakekat atau pribadi manusia. Sehingga dengan hakekat, ia dapat mengetahui hal-hal yang umum dan yang khusus, Dzatnya dan Penciptaannya. Karena pada diri manusia tidak hanya memiliki jiwa insani (berpikir), tetapi juga jiwa nabati dan hewani, maka jiwa (nafs) manusia mejadi pusat tempat tertumpuknya sifat-sifat yang tercela pada manusia. Itulah sebabnya jiwa manusia mempunyai sifat yang beraneka sesuai dengan keadaannya. Apabila jiwa menyerah dan patuh pada kemauan syahwat dan memperturutkan ajakan syaithan, yang memang pada jiwa itu sendiri ada sifat kebinatangan, maka ia disebut jiwa yang menyuruh berbuat jahat. Firman Allah, "Sesungguhnya jiwa yang demikian itu selalu menyuruh berbuat jahat." (QS. 12: 53) Apabila jiwa selalu dapat menentang dan melawan sifat-sifat tercela, maka ia disebut jiwa pencela, sebab ia selalu mencela manusia yang melakukan keburukan dan yang teledor dan lalai berbakti kepada Allah. Hal ini ditegaskan oleh-Nya, "Dan Aku bersumpah dengan jiwa yang selalu mencela." (QS. 75:2). Tetapi apabila jiwa dapat terhindar dari semua sifat-sifat yang tercela, maka ia berubah jadi jiwa yang tenang (al-nafs al-muthmainnah). Dalam hal ini Allah menegaskan, "Hai jiwa yang tenang, kembalilah kepada Tuhanmu dengan rasa puas lagi diridhoi, dan masuklah kepada hamba-hamba-Ku, dan masuklah ke dalam Surga-Ku." (QS. 89:27-30) Jadi, jiwa mempunyai tiga buah sifat, yaitu jiwa yang telah menjadi tumpukan sifat-sifat yang tercela, jiwa yang telah melakukan perlawanan pada sifat-sifat tercela, dan jiwa yang telah mencapai tingkat kesucian, ketenangan dan ketentraman, yaitu jiwa muthmainnah. Dan jiwa muthmainnah inilah yang telah dijamin Allah langsung masuk surga. Jiwa muthmainnah adalah jiwa yang selalu berhubungan dengan ruh. Ruh bersifat Ketuhanan sebagai sumber moral mulia dan terpuji, dan ia hanya mempunyai satu sifat, yaitu suci. Sedangkan jiwa mempunyai beberapa sifat yang ambivalen. Allah sampaikan, "Demi jiwa serta kesempurnaannya, Allah mengilhamkan jiwa pada keburukan dan ketaqwaan." (QS.91:7-8). Artinya, dalam jiwa terdapat potensi buruk dan baik, karena itu jiwa terletak pada perjuangan baik dan buruk. AKAL Akal yang dalam bahasa Yunani disebut nous atau logos atau intelek (intellect) dalam bahasa Inggris adalah daya berpikir yang terdapat dalam otak, sedangkan "hati" adalah daya jiwa (nafs nathiqah). Daya jiwa berpikir yang ada pada otak di kepala disebut akal. Sedangkan yang ada pada hati (jantung) di dada disebut rasa (dzauq). Karena itu ada dua sumber pengetahuan, yaitu pengetahuan akal (ma'rifat aqliyah) dan

pengetahuan hati (ma'rifat qalbiyah). Kalau para filsuf mengunggulkan pengetahuan akal, para sufi lebih mengunggulkan pengetahuan hati (rasa). Menurut para filsuf Islam, akal yang telah mencapai tingkatan tertinggi --akal perolehan (akal mustafad)-ia dapat mengetahui kebahagiaan dan berusaha memperolehnya. Akal yang demikian akan menjadikan jiwanya kekal dalam kebahagiaan (sorga). Namun, jika akal yang telah mengenal kebahagiaan itu berpaling, berarti ia tidak berusaha memperolehnya. Jiwa yang demikian akan kekal dalam kesengsaraan (neraka). Adapun akal yang tidak sempurna dan tidak mengenal kebahagiaan, maka menurut al-Farabi, jiwa yang demikian akan hancur. Sedangkan menurut para filsuf tidak hancur. Karena kesempurnaan manusia menurut para filsuf terletak pada kesempurnaan pengetahuan akal dalam mengetahui dan memperoleh kebahagiaan yang tertinggi, yaitu ketika akan sampai ke tingkat akal perolehan. HATI SUKMA (QALB) Hati atau sukma terjemahan dari kata bahasa Arab qalb. Sebenarnya terjemahan yang tepat dari qalb adalah jantung, bukan hati atau sukma. Tetapi, dalam pembahasan ini kita memakai kata hati sebagaimana yang sudah biasa. Hati adalah segumpal daging yang berbentuk bulat panjang dan terletak di dada sebelah kiri. Hati dalam pengertian ini bukanlah objek kajian kita di sini, karena hal itu termasuk bidang kedokteran yang cakupannya bisa lebih luas, misalnya hati binatang, bahkan bangkainya. Adapun yang dimaksud hati di sini adalah hati dalam arti yang halus, hati-nurani --daya pikir jiwa (daya nafs nathiqah) yang ada pada hati, di rongga dada. Dan daya berfikir itulah yang disebut dengan rasa (dzauq), yang memperoleh sumber pengetahuan hati (ma'rifat qalbiyah). Dalam kaitan ini Allah berfirman, "Mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakan memahaminya." (QS. 7:1-79). Dari uraian di atas, dapat kita ambil kesimpulan sementara, bahwa menurut para filsuf dan sufi Islam, hakekat manusia itu jiwa yang berfikir (nafs insaniyah), tetapi mereka berbeda pendapat pada cara mencapai kesempurnaan manusia. Bagi para filsuf, kesempurnaan manusia diperoleh melalui pengetahuan akal (ma'rifat aqliyah), sedangkan para sufi melalui pengetahuan hati (ma'rifat qalbiyah). Akal dan hati sama-sama merupakan daya berpikir. Menurut sufi, hati yang bersifat nurani itulah sebagai wadah atau sumber ma'rifat --suatu alat untuk mengetahui hal-hal yang Ilahi. Hal ini hanya dimungkinkan jika hati telah bersih dari pencemaran hawa nafsu dengan menempuh fase-fase moral dengan latihan jiwa, serta menggantikan moral yang tercela dengan moral yang terpuji, lewat hidup zuhud yang penuh taqwa, wara' serta dzikir yang kontinyu, ilmu ladunni (ilmu Allah) yang memancarkan sinarnya dalam hati, sehingga ia dapat menjadi Sumber atau wadah ma'rifat, dan akan mencapai pengenalan Allah Dengan demikian, poros jalan sufi ialah moralitas. Latihan-latihan ruhaniah yang sesuai dengan tabiat terpuji

adalah sebagai kesehatan hati dan hal ini yang lebih berarti ketimbang kesehatan jasmani sebab penyakit anggota tubuh luar hanya akan membuat hilangnya kehidupan di dunia ini saja, sementara penyakit hati nurani akan membuat hilangnya kehidupan yang abadi. Hati nurani ini tidak terlepas dari penyakit, yang kalau dibiarkan justru akan membuatnya berkembang banyak dan akan berubah menjadi hati dhulmani --hati yang kotor. Kesempurnaan hakikat manusia (nafs insaniyah) ditentukan oleh hasil perjuangan antara hati nurani dan hati dhulmani. Inilah yang dimaksud dengan firman Allah yang artinya, "Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang mensucikan jiwanya, dan rugilah orang yang mengotorinya." (QS. 91:8-9). Hati nurani bagaikan cermin, sementara pengetahuan adalah pantulan gambar realitas yang terdapat di dalamnya. Jika cermin hati nurani tidak bening, hawa nafsunya yang tumbuh. Sementara ketaatan kepada Allah serta keterpalingan dari tuntutan hawa nafsu itulah yang justru membuat hati-nurani bersih dan cemerlang serta mendapatkan limpahan cahaya dari Allah Swt. Bagi para sufi, kata al-Ghazali, Allah melimpahkan cahaya pada dada seseorang, tidaklah karena mempelajarinya, mengkajinya, ataupun menulis buku, tetapi dengan bersikap asketis terhadap dunia, menghindarkan diri dari hal-hal yang berkaitan dengannya, membebaskan hati nurani dari berbagai pesonanya, dan menerima Allah segenap hati. Dan barangsiapa memiliki Allah niscaya Allah adalah miliknya. Setiap hikmah muncul dari hati nurani, dengan keteguhan beribadat, tanpa belajar, tetapi lewat pancaran cahaya dari ilham Ilahi. Hati atau sukma dhulmani selalu mempunyai keterkaitan dengan nafs atau jiwa nabati dan hewani. Itulah sebabnya ia selalu menggoda manusia untuk mengikuti hawa nafsunya. Kesempurnaan manusia (nafs nathiqah), tergantung pada kemampuan hati-nurani dalam pengendalian dan pengontrolan hati dhulmani. DAFTAR KEPUSTAKAAN Abu al-Wafi aI-Taftazani, Maduhal ila al-Tashawwuf al-Islamiy, Kairo, 1983. Ahmad Dandy, Allah dan Manusia Dalam Konsepsi Syeikh Nurudin al-Raniry Jakarta, Rajawali, 1983. Al-Farabi, Kitab Ara Ahl al-Madinah al-Fadhilah, Kairo, 1906. Al-Ghazali, Ihya Ulum al-Din, Kairo, 1334 H. ------, Ma'arij al-Quds fi Madarij Ma'rifah al-Nafs, Kairo, 1327 H. ------, Asnan al-Qur'an fi Ihya 'Ulum al-Din, Kairo. Harun Nasution, Falsafah dan Mistisisme Islam, Bulan Bintang, Jakarta, 1978. Muhyiddin Ibnu Arabi, Fushush al-Hikam, Kairo, 1949. --------------------------------------------

Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah Editor: Budhy Munawar-Rachman Penerbit Yayasan Paramadina Jln. Metro Pondok Indah Pondok Indah Plaza I Kav. UA 20-21 Jakarta Selatan Telp. (021) 7501969, 7501983, 7507173 Fax. (021) 7507174 Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota
Please direct any suggestion to Media Team

Artikel Yayasan Paramadina
Indeks Islam | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota III.17. PANDANGAN KESUFIAN TENTANG DIRI MANUSIA oleh M. Bambang Pranowo Elingana yen ana timbalan Yen wis budal ora kena wakilan, Ora kena wakilan Timbalane kang Maha Kuasa Gelem ora gelem bakale lunga (Ingatlah jika telah datang panggilan Kau harus pergi dan tak bisa kau wakilkan, tak bisa kau wakilkan Panggilan dari Yang Maha Kuasa Mau tak mau kau harus pergi jua) Nyanyian puitis di atas adalah penggalan dari sebuah nyanyian keagamaan yang cukup panjang. Di Jawa, nyanyian itu disebut pujian atau erang-erangan. Pujian tersebut biasanya didendangkan bersama-sama oleh para jemaah di langgar atau mesjid menjelang shalat Subuh, Maghrib atau Isya, sembari menanti datangnya anggota masyarakat lain yang turut mendirikan salat berjamaah. Mungkin berkat susunannya yang ritmis dan mudah dihapal maka pujian tersebut seringkali menjadi "nyanyian" populer yang dilakukan bukan hanya di mesjid dan langgar, tapi juga di sawah dan ladang ketika seseorang menggembalakan ternaknya, atau di rumah-rumah ketika ibu-ibu berusaha menidurkan anaknya. Tidak jelas siapa pengarang pujian yang cukup populer tersebut, terutama di desa-desa bagian Jawa Tengah Selatan. Namun, orang mengenal bahwa pujian semacam itu disebarkan oleh kalangan pesantren. Perlu dicatat, para kyai pemimpin pesantren kebanyakan juga pemimpin tarekat, sehingga tidak mengherankan kalau pujian yang diciptakan sarat dengan pesan-pesan kesufian. Dan, dari pujian tersebut tercermin sebuah permintaan agar manusia menyadari bahwa suka atau tidak, ia harus memenuhi panggilan Tuhan Yang Maha Kuasa untuk kembali ke haribaannya. Panggilan Tuhan tersebut tidak dapat didelegasikan kepada siapapun juga. Memang, di antara pesan kesufian yang terpenting adalah ajakan agar manusia menyadari sepenuhnya sifat kefanaan dari kehidupan dunia ini. Oleh karena dunia bersifat fana dan yang kekal hanyalah Tuhan, maka dunia ini dipandang benar-benar

Inilah yang menerangkan mengapa di lingkungan pesantren dan di kalangan para penganut tarekat. ia dianggap sudah tiada. orang-orang yang menjadikan harta. Ibadat yang paling mendekatkan Hamba-Ku. Kedua. Dalam "perangkap" seperti itu manusia cenderung berorientasi hanya kepada usaha mewujudkan kesenangan sementara yang segera dapat dinikmati kini dan di sini. cerminnya terlalu kotor sehingga cahaya Ilahi yang seterang apapun tidak dapat ditangkap dengan cermin rohani yang dimilikinya. cermin tersebut memang membelakangi sumber cahaya hingga memang tak dapat diharapkan dapat tersentuh oleh cahaya petunjuk Ilahi. puasa Nabi Daud. t. TEORI CERMIN AL-GHAZALI Bagaimanapun roh atau sukma akan kembali kepada Tuhan. Hamba-Ku adalah mereka yang mendekatkan dirinya kepada-Ku dan melakukan pula hal-hal sunnah yang Aku cintai. dan lebih-lebih usaha senantiasa mempertautkan diri dengan Allah melalui dzikir merupakan hal yang sangat sentral dalam kehidupan sehari-hari mereka.bermakna hanya apabila ia senantiasa diorientasikan kepada Tuhan. riyadlah atau latihan kerohanian dalam berbagai bentuk amalan sunnah --salat sunnah. Contoh yang sangat tepat untuk kategori ini orang-orang kafir yang dengan sadar mengingkari keberadaan Tuhan. di antara cermin dan sumber cahaya terdapat penghalang yang tidak memungkinkan cahaya Ilahi menerpa cermin tersebut. vol. tahta dan kesenangan lahir sebagai orientasi hidupnya. Ia lupa bahwa manusia disebut manusia tidak lain karena roh sukma yang ditiupkan Tuhan masih melekat di jasad atau raganya. sedangkan petunjuk Tuhan bagaikan nur atau cahaya. Yang termasuk dalam kategori ini adalah mereka yang dilumuri dengan perbuatan-perbuatan kotor dan aniaya. Sedangkan jika manusia tidak mampu menangkap sinyal-sinyal spiritual dari Tuhan. Dengan demikian jika hati manusia benar-benar bersih niscaya ia akan bisa menangkap cahaya petunjuk Ilahi dan memantulkan cahaya tersebut ke sekitarnya (lihat Ghazali. mengapa manusia seringkali lalai dan lupa kepada Tuhan dan detik-detik kehadirannya di dunia ini justru lebih banyak tersita untuk hal-hal yang bersifat jasadi atau lahiriah belaka? Imam Ghazali menjawab masalah ini dengan Teori Cermin (al-Mir'ah) dalam karyanya yang sangat terkenal itu --Ihya' 'ulum al-Din. Dalam kenyataannya. . Ketiga. hati manusia ibarat cermin. ia harus senantiasa berusaha memurnikan diri dengan jalan menguasai nafsu-nafsu rendah serta mengikuti perjalanan hidup para nabi melalui berbagai latihan kerohanian (riyadlah). Agar hati manusia selalu dapat menjadi cermin yang bening.I: h. di dunia yang fana ini. Menurut Imam Ghazali. akan Kunyatakan perang. sehingga Aku sayang kepadanya adalah menunaikan semua perintah yang telah Aku berikan. Melaksanakan secara intensif berbagai amalan sunnah tersebut tak lain merupakan usaha mengamalkan sebuah hadits Qudsi sebagai berikut: Kepada orang yang memusuhi Wali-Ku. Yang termasuk dalam kategori ini. Kamis. itu pada dasarnya disebabkan tiga kemungkinan. puasa Senin. 119-125).t. Begitu sukma meninggalkan raga. Lalai dari kesadaran berketuhanan berarti manusia telah terjerat oleh perangkat serba kefanaan.. Pertama.

Jangan-jangan dirinya rajin beribadah itu bukan karena Allah melainkan justru karena orang memujinya sebagai orang alim. ya Allah. tetapi insya Allah benar-benar karena Engkau semata. Orang sepasar akhirnya bergumam: "Oh. Apabila dia meminta kepada-Ku akan Aku beri. hidup ini merupakan pergulatan terus-menerus dengan diri sendiri. Aku-lah matanya untuk melihat. Sesampainya di pasar secara demonstratif ia sengaja mencuri ayam yang sedang diperjualbelikan. padahal sebenarnya ia tak lebih dari seorang maling!" Mendengar omongan seperti itu ia bukannya sedih melainkan bersyukur kepada Allah. Dalam kaitan ini Imam Malik. Maqam-maqam tersebut dari . ia fasiq (tak bermoral). Dengan demikian. dan Aku-lah kakinya untuk berjalan. mengatakan bahwa siapa yang bertasawuf tanpa mengamalkan fiqh. Ayam dikembalikannya dan ia pun pulang dalam keadaan babak belur. dari sudut pandang kesufian. maka di kalangan kaum sufi ibadah ritual selalu dibarengi bahkan didahului oleh penggeledahan dan interogasi diri: apakah ibadah yang kita lakukan sudah benar-benar karena Allah dan bukannya karena yang lain? Dalam kaitannya dengan upaya rohani seperti itulah kisah sufistik yang dicatat dari pesantren --Tarekat Qadariah-Naqshabandiyah di Jawa Timur-. yang menjurus kapada zindiq (penyelewengan). ternyata ia hanya pura-pura alim. salah seorang pendiri mazhab fiqih yang terkenal. hal itu dalam pandangan kesufian tidak secara otomatis merupakan jaminan bahwa orang tersebut akan sampai pada tujuan hakiki dari ibadah yakni terjalinnya hubungan konstan dengan Allah. Agar ibadah ritual benar-benar dapat bermakna dan tak jatuh ke nilai seremonial yang tanpa isi. dan apabila ia meminta perlindungan akan Aku beri. Segala pujian dilimpahkan orang kepada si Alim atas kesalehan dan kealimannya.Apabila Aku telah mencintainya." Demikianlah. Sebaliknya sikap batin yang tidak diaktualisasikan dalam bentuk pelaksanann ibadah sebagaimana yang dituntunkan syariat dan dicontohkan oleh Nabi. keberanian untuk melakukan penggeledahan dan interogasi diri merupakan inti keberagamaan dan sekaligus bagaikan tangga naik yang akan mengantarkan diri seseorang kepada derajat yang terus meningkat dari suatu tingkat (maqam) tertentu ke tingkat rohani berikutnya yang lebih tinggi. dipandang sebagai kesombongan spiritual. kini aku beribadah bukan karena manusia. ia zindiq dan siapa yang mengamalkan fiqh tanpa bertasawuf. Setibanya di rumah ia langsung sujud syukur "Alkhamdulillah. Mendengar berbagai pujian tersebut si Alim jadi gelisah. Di sebuah desa hidup seorang yang dikenal oleh kalangan luas sebagai orang yang sangat alim. Aku-lah tangannya untuk bekerja. maka Aku-lah yang menjadi telinganya yang dipakai untuk mendengar. Karena tertangkap basah maka iapun dipukuli banyak orang. Ibadah ritual akan jatuh nilainya menjadi seremonial tanpa isi jika ibadah tersebut dilaksanakan tanpa sikap batin yang dipimpin semata-mata oleh harapan memperoleh ridha Allah. (Riwayat Bukhari dan Abi Hurairah) Apabila seseorang telah melaksanakan berbagai ibadah secara intensif. Pada suatu pagi ia pun pergi menuju pasar di seberang desa.merupakan ilustrasi relatif menarik.

yang terendah hingga yang tertinggi dikenal di kalangan kaum sufi dengan istilah-istilah sebagai berikut: (1) Maqam Tawbat. (7) Maqam Khauf. semua itu mengantarkan kita pada kesimpulan bahwa pola kehidupan yang semata-mata dipimpin oleh otak (head) dan ketrampilan teknologis (hand) itu perlu diimbangi dan dikendalikan dengan kebeningan hati (heart). jika maqam-maqam tersebut dipandang sebagai tidak lain dari upaya pendakian rohani menuju ridla Allah. yakni meninggalkan dan tidak mengulangi lagi perbuatan dosa yang pernah dilakukan dan dosa-dosa sepadannya demi menjunjung tinggi ajaran Allah dan mengingkari murka-Nya. semua itu terpulang kepada manusia sendri apakah ia akan menundukkan sukmanya kepada kehidupan yang berorientasi pada kebutuhan jasadi yang bersifat kini dan di sini (sukma dhulmani. dibenci. melalui sudut pandang kesufian kiranya kehidupan beragama akan marnpu mewujudkan pribadi-pribadi yang seimbang seperti itu. yaitu tenang serta tabah sewaktu melarat dan mengutamakan orang lain di kala berada. yakni hati yang diliputi rasa gembira karena mengetahui kemurahan dari Allah yang menjadi tumpuan harapannya. (9) Maqam Tawakkal. (3) Maqam Zuhud. ialah ketabahan dalam menghadapi dan mendorong hawa nafsu. hedonisme yang telah menyebabkan merajalelanya AIDS. (5) Maqam Faqir. Mengenal selintas maqam-maqam tersebut seolah-olah mustahil nilai-nilai kesufian tersebut dapat diwujudkan dalan kehidupan yang sudah serba modern ini. serta materialisme yang cenderung mencekal nilai-nilai spiritual. ataukah ia akan mengarahkan sukmanya sehingga sang sukmalah yang memimpin kebutuhan jasadi agar senantiasa berada dalam terpaan cahaya . (10)Maqam Ridla. Namun. maupun ditakuti. diharapkan. yaitu menyadari bahwa segala kenikmatan itu datangnya dari Allah semata. (6) Maqam Syukur. sukma yang berada dalam kegelapan). (4) Maqam Shabar. yaitu menahan diri untuk tidak melakukan sesuatu dalam rangka menjunjung tinggi perintah-Nya. yaitu sikap hati yang bergantung hanya kepada Allah dalam menghadapi segala sesuatu baik yang disukai. Akhirnya. (2) Maqam Wara'. Menengok pada luka menganga yang menjangkiti dunia modern seperti konsumerisme yang seolah tak mengenal kata puas. ialah rasa puas di hati sekalipun menerima nasib pahit. yakni lepasnya pandangan keduniaan dan usaha memperolehnya dari diri orang yang sebetulnya mampu untuk memperolehnya. maka maqam-maqam tersebut adalah acuan yang memang harus dimiliki mereka yan benar-benar merindukan leburnya diri kembali kepada Yan Maha Hakiki. ialah rasa ngeri dalam menghadapi siksa Allah atau tidak tercapainya kenikmatan dari Allah. Dan. (8) Maqam Raja'.

95:4). Johns. A.. hanif dan berakal. hal. UA 20-21 Jakarta Selatan Telp." dalam Journal of Southeast Asian History.I. Pesantren Raudlatul Thulab. 1985. Purwokerto. Pekalongan. "Jalan ke Surga" (Kumpulan 772 Hadist Qudsi). "Tasauf dan Pesantren". Al-Ghazali.Ilahi.. (021) 7507174 Indeks Islam | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota Please direct any suggestion to Media Team Artikel Yayasan Paramadina Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota III. 10-23. 4:174). -------------------------------------------Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah Editor: Budhy Munawar-Rachman Penerbit Yayasan Paramadina Jln. Yayasan Kesejahteraan Bersama. sehingga masih harus berjuang untuk menyempurnakan dirinya (QS. DAFTAR KEPUSTAKAAN Firdaus A. masih belum selesai atau setengah jadi. (dengan terjemahan Jiwa oleh Misbah Zaini Mustofa). MANUSIA DAN PROSES PENYEMPURNAAN DIRI oleh Komaruddin Hidayat Secara tegas Allah menyatakan bahwa manusia merupakan puncak ciptaan-Nya dengan tingkat kesempurnaan dan keunikan-Nya yang prima dibanding makhluk lainnya (QS. Muhamad Nawawi Shidiq. Lebih dari itu bagi seorang mukmin petunjuk primordial ini masih ditambah lagi dengan datangnya Rasul Tuhan pembawa kitab suci sebagai petunjuk hidupnya (QS. "Ihya' 'Ulum al-Din". Metro Pondok Indah Pondok Indah Plaza I Kav. Zarkasyi. Raja Murah..16.) Pesantren dan Pembaharuan. LP3ES. 2 (1961). Namun begitu Allah juga memperingatkan bahwa kualitas kemanusiaannya. 1977. (021) 7501969. vol. 1981. Jadi.N. "Soal-Jawab Thoriqiyah". Jakarta. Imam. vol. Di dalam tradisi kaum sufi terdapat postulat yang berbunyi: Man 'arafa nafsahu faqad 'arafa rabbabu --Siapa yang telah mengenal dirinya maka ia (akan mudah) mengenal Tuhannya. "Sufism As a Category in Indonesian Literature And History. Proses penyempurnaan ini amat dimungkinkan karena pada naturnya manusia itu fithri. Madjid. pengenalan diri adalah tangga yang harus dilewati seseorang untuk mendaki ke jenjang yang lebih tinggi dalam rangka . 91:7-10). dalam M. 7501983. Berjan. tanpa tahun.H. 7507173 Fax. Nurcholish. Dawam Rahardjo (ed.

semakin jauh pula ia terkurung dalam bilik lorong yang ia masuki. Freud signalizes the sexual instinct. katanya: Nietzsche proclaims the will to power. Terjadinya ideologisasi terhadap ilmu-ilmu agama. yang berarti semakin terputus dari pemahaman komprehensif tentang manusia. We acquired instead a complete anarchy of thought. antropologi. Marx enthrones the economic instinct. ekonomi. tumbuh dan berkembang dibentuk dan dipengaruhi oleh berbagai faktor yang dijumpai dalam realitas sejarah hidupnya. sementara manusia adalah subyek-subyek yang cenderung membangkang dan harus siap menerima vonis-vonis dari kemurkaan Tuhan Sang Maha Hakim atau. Demikianlah. melainkan juga di kalangan Islam. bila langkah pertama untuk mengenal Tuhan adalah mengenal diri sendiri terlebih dahulu secara benar. Semakin seorang ahli pikir mendalami satu sudut kajian tentang manusia. Differensiasi metodologis setiap ilmu. (Ernst Cassier. meskipun obyek materialnya sama-sama manusia. Jadi. kedokteran.mengenal Tuhan. Persoalan serius yang menghadang adalah. sosiologi. Each theory becomes a Procrustean bed in which the empirical facts are stretched to fit a preconceived pattern. oleh Ernst Cassirer.21) Krisis pengenalan diri sesungguhnya tidak hanya dirasakan kalangan ahli pikir Barat modern. maka ilmu kalam lebih menggarisbawahi gambaran Tuhan sebagai Maha Akal. secara sadar atau tidak. filsuf. Dalam tradisi ilmu fiqih misalnya. Owing to this development our modern theory of man lost its intellectual center. 1978. teologi dan lainnya semuanya menjadikan manusia sebagai obyek kajian materialnya. p. akan melahirkan kesimpulan yang berbeda pula mengenai siapa dan apa hakikat manusia itu. manusia pada akhirnya akan menuntut imbalan pahala atas ketaatannya melaksanakan dekrit-Nya. sementara ilmu tasawuf memproyeksikan Tuhan sebagai Sang Kekasih. dan ahli pikir pada umumnya. kini manusia semakin mendapatkan kesulitan untuk mengenali jati diri dan hakikat kemanusiaannya Dengan majunya spesialisasi dalam dunia ilmu pengetahuan dan berkembangnya differensiasi dalam profesi kehidupan maka protret atau konsep tentang realitas manusia semakin terpecah meniadi kepingan-kepingan kecil sehingga keutuhan sosok manusia semakin sulit dihadirkan secara utuh. tetapi masing-masing memiliki metode dan tujuan yang berbeda. Krisis pengenalan jati diri manusia ini secara eksplisit dikemukakan. maka . biologi. telah menghantarkan pada persepsi yang terpecah dalam melihat manusia dan hubungannya dengan Tuhan. politik. sebaliknya. Demikianlah manusia senantiasa mengandung sebuah misteri yang melekat pada dirinya dan misteri ini telah mengandung sebuah misteri yang melekat pada dirinya dan misteri ini telah mengundang kegelisahan intelektual pare ahli pikir untuk mencoba berlomba menjawabnya. Perbedaan-perbedaan ini muncul dalam benak manusia karena pada dasarnya yang bertuhan adalah manusia. sebagaimana diakui kalangan psikolog. misalnya. di mana manusia itu lahir. secara tak langsung ilmu ini cenderung menghadirkan wajah Tuhan sebagai Yang Maha Hakim. Sederet disiplin ilmu seperti psikologi. bila ilmu fiqih cenderung mengenalkan Tuhan sebagai Maha Hakim.

Progressive reductionism works as follows. Lebih dari itu dalam tradisi sufi terdapat keyakinan yang begitu populer bahwa manusia sengaja diciptakan Tuhan karena dengan penciptaan itu Tuhan akan melihat dan menampakkan kebesaran diri-Nya. secara sederhana kita bisa membedakan dua paradigma pemahaman terhadap manusia. mereka cenderung sepakat bahwa manusia adalah microcosmos yang memiliki sifat-sifat yang menyerupai Tuhan dan paling potensial mendekati Tuhan (Bandingkan QS. manusia adalah wakil Tuhan di muka bumi untuk melaksanakan 'blueprint'-Nya membangun bayang-bayang surga di bumi ini (QS. Bagi mereka yang berpandangan atau terbiasa dengan metode berpikir empirisme-materialistik akan sulit diajak untuk menghayati makna penyempurnaan kualitas insani sebagaimana yang lazim diyakini di kalangan pare sufi. hal. only electrical charges. Meski demikian. the art object or act of love is only a flow of electricity. Dari jenjang pertama sampai ke tiga aktivitas dan daya jangkau manusia masih berada dalam lingkup dunia materi dan dunia materi selalu menghadirkan polaritas atau fragmentasi yang saling berlawanan (the primordial pair). sebaliknya yang kedua berkeyakinan bahwa dunia materi ini hakikatnya berasal dari realitas yang bersifat imateri (upward causation). Yang pertama berkeyakinan pada teori bahwa semua realitas materi (downward causation). 1962. misalnya. antara lain. animality. Kuntu kanzan makhfiyyan fa ahbabtu an u'rafa fa khalaqtu al-khalqa fabi 'arafu-ni --Aku pada mulanya adalah harta yang tersembunyi. 15:29. memberikan contoh yang amat sederhana tetapi gamblang betapa miskinnya penganut materialisme dalam memahami kehidupan yang penuh nuansa ini. therefore. pada umumnya orang sufi menerima hadits tersebut. Terlepas apakah riwayatnya sahih ataukah lemah. dan akan mudah dijumpai pada berbagai bidang studi keilmuan Barat kontemporer dengan dalih. 8). misalnya. namun dengan beberapa penafsiran yang berbeda. 41:53). Kritik terhadap aliran materialisme akhir-akhir ini semakin gencar. Dalam konteks inilah . dan humanity.langkah pertama yang harus kita mengenal diri kita secara benar. Pandangan yang begitu dangkal tentang manusia secara tegas dikritik oleh al-Qur'an. vegetality. tempuh ialah bagaimana Meskipun Cassirer secara gamblang menunjukkan krisis pengenalan diri. Dalam QS. realitas manusia memiliki jenjang-jenjang dan mata rantai eksistensi. Bila diurut dari bawah unsurnya ialah minerality. Ralph Ross." Pendek kata. an act of love only chemiphysical. An art object is only mass and light waves. Allah menyatakan bahwa dalam diri manusia memang terdapat unsur Ilahi yang dalam al-Qur'an beristilah "min ruhi. yaitu paradigma materialisme-atheistik dan spiritualisme-theistik. 2:3). (Ralph ross. kemudian Aku ingin dikenal. Menurut doktrin al-Qur'an. Kuciptakanlah makhluk maka melalui Aku mereka kenal Aku. faham ini telah mereduksi keagungan manusia yang dinyatakan Tuhan sebagai moral and religious being.

Pertama.yang dimaksud bahwa realitas yang kita tangkap tentang dunia materi adalah realitas yang terpecah berkeping-keping. namun para sarjana muslim sepakat bahwa inti tasawuf adalah ajaran yang menyatakan bahwa hakekat keluhuran nilai seseorang bukanlah terletak pada wujud fisiknya melainkan pada kesucian dan kemuliaan hatinya. lalu turunlah tahtanya ke level yang lebih rendah. tujuan utama ajaran tasawuf adalah membantu seseorang bagaimana caranya seseorang bisa memelihara dan meningkatkan kesucian jiwanya sehingga dengan begitu ia merasa damai dan juga kembali ke tempat asal muasalnya dengan damai pula (QS. suatu mengaktualisasikan kesadaran dan kapasitas kemampuan untuk dirinya sebagai . Makin berkembang ilmu pengetahuan. Yaitu. Kalangan sufi yakin. Jadi. Secara garis besar tahapan seorang mukmin untuk meningkatkan kualitas jiwanya terdiri dari tiga maqam. penuh damai. jiwa yang tadinya duduk dan memerintah dari atas singgasana "imateri" dengan sifat-sifatnya yang mulia seperti: cinta kasih. "Keakuan" orang bukan lagi difokuskan pada kesucian jiwa tetapi pada prestasi akumulasi dan konsumsi materi. dia tidak boleh lepas dari berfikir dan berdzikir untuk Tuhannya (QS. secara sadar meniru sifat-sifat Tuhan sehingga seorang mukmin memiliki sifat-sifat mulia sebagaimana sifat-Nya. yaitu dataran: minerality. 3:191). Dalam konteks ini kalangan sufi biasanya menyandarkan Hadits Nabi yang berbunyi. Dari kenyataan ini maka tidak terlalu salah bila ada yang berpendapat bahwa sesungguhnya potensi dan kecenderungan kehidupan batin manusia ke arah kehidupan mistik bersifat natural dan universal. Yaitu." Maqam ketiga tahaqquq. "Takhallaqu bi akhlaq-i Allah. Seperti dikemukakan Carel Alexis bahwa man has gained the mistery of the material world before knowing himself. yang pertumbuhannya sering terhalangi oleh pertumbuhan dan naluri jiwa nabati dan hewani yang melekat pada manusia. senang kesucian. roh Ilahi yang bersifat imateri dan berperan sebagai "sopir" bagi kendaraan "jasad" kita ini seringkali lupa diri sehingga ia kehilangan otonominya sebagai master. Di manapun seorang mukmin berada. Dalam kaitan definisi. 89:27). dan animality. bahkan dalam tradisi pemikiran filsafat akan mudah pula dijumpai. pada nurani manusia yang terdapat dalam cahaya suci yang senantiasa ingin menatap Yang Maha Cahaya (Tuhan) karena dalam kontak dan kedekatan antara nurani dan Tuhan itulah muncul kedamaian dan kebahagiaan yang paling prima. berusaha mengingat dan mengikatkan kesadaran hati dan pikiran kita kepada Allah. tradisi tasawuf belum mempunyai definisi tunggal. sehingga ia bisa sedekat mungkin dengan Tuhan yang Maha Suci. Bila hal ini terjadi maka terjadilah kerancuan standar nilai. Dengan kiasan lain. dzikir atau ta'alluq pada Tuhan. Yaitu. Proses ini bisa juga disebut sebagai proses internalisasi sifat Tuhan ke dalam diri manusia. Artinya. selalu ingin dekat kepada Yang Maha Suci dan Abstrak. dan makin jauh pula manusia untuk mampu mengenal dirinya secara utuh. vegetality. makin bertambah kepingan gambaran realitas dunia. dahaga dan kerinduan mendekati Tuhan ini bukanlah hasil rekayasa pendidikan (kultur) melainkan merupakan natur manusia yang paling dalam. Dari dzikir ini meningkat sampai maqam kedua -takhalluq. Pendeknya. Ajaran spiritualitas seperti ini tidak hanya terdapat pada Islam melainkan pada agama lain.

Menurut Ibn 'Arabi. Kebaikan dan kejahatan kerajaan itu akan tergantung bagaimana perilaku sang raja. takhalluq.seorang mukmin yang dirinya sudah "didominasi" sifat-sifat Tuhan sehingga tercermin dalam perilakunya yang serba suci dan mulia. Pandangan semacam itu tentu saja kurang populer dan sulit diterima oleh kalangan terdekat. Taqallub-nya hati sang sufi. ia akan mengetahui Tuhannya karena manusia adalah "microcosmos" atau jagad cilik dimana 'arsy Tuhan berada di situ. menurut Ibn 'Arabi. Hossein Nasr. kata 'Arabi. . seorang sufi kontemporer adalah mereka yang tidak asing berdzikir dan berfikir tentang Tuhan sekalipun di hotel mewah dan datang dengan kendaraan yang mewah pula. Dalam konteks inilah. 1977. namun luasnya hati Insan Kamil (qalb al-'arif) melebihi luasnya langit dan bumi karena ia sanggup menerima 'arsy Tuhan. Bukankah Allah punya blue-print dan proyek untuk memakmurkan bumi. kata qalb senantiasa berasosiasi dengan kata taqallub yang bergerak atau berubah secara konstan. melainkan Tuhan dalam sifat-Nya yang Dhahir. bukannya Yang Bathin. Maqam tahaqquq ini sejalan dengan Hadits Qudsi yang digemari kalangan sufi yang menyatakan bahwa bagi seorang mukmin yang telah mencapai martabat yang sedemikian dekat dan intimnya dengan Tuhan maka Tuhan akan melihat kedekatan hamba-Nya. maka seorang mukmin akan mencapai derajat khalifah Allah dengan kapasitasnya yang perkasa tetapi sekaligus penuh kasih dan damai. Namun begitu. adalah seiring dengan tajalli-nya Tuhan.138). dan bukankah hamba-hamba-Nya yang saleh telah dinyatakan sebagai mandataris-Nya? Jadi. Seorang 'abd-u 'l-Lah (budak Allah) yang saleh adalah sekaligus juga wakil-Nya untuk membangun bayang-bayang surga di muka bumi ini. hanya hati seorang Insan Kamil-lah yang paling mampu menangkap lalu memancarkan tajalli-Nya dalam perilaku kemanusiaan (Fushushul Hikam. sementara badan dan anggotanya bagai istana dan para abdi dalem-nya. secara karikatural. yang dimaksudkan dengan ungkapan siapa yang mengetahui jiwanya. p. XII. KHALIFAH ALLAH: MANUSIA SUCI NAN PERKASA Bila upaya penyucian jiwa merupakan inti tasawuf. bukankah cukup tegas isyarat al-Qur'an maupun Hadits yang menyatakan bahwa kewajiban setiap muslim adalah mensucikan jiwanya sehingga kesuciannya termanifestasikan dalam perilaku insaniyahnya? Melalui tahapan ta'alluq. Dalam tradisi tasawuf yang menjadi fokus kajiannya ialah apa yang disebut gaib atau hati dalam pengertiannya yang metafisis. dan itu dilakukan dalam upaya mendekati dan menggapai kasih Tuhan. sementara bumi langit tidak sanggup. Beberapa ayat al-Qur'an dan Hadits menegaskan bahwa hati seseorang bagaikan raja. dan tahaqquq. Dalam sebuah hadits Qudsi disebutkan bahwa meskipun secara fisik hati itu kecil dan mengambil tempat pada jasad manusia. Dan dari sekian makhluk Tuhan. Tajalli berarti penampakan diri Tuhan ke dalam makhluk-Nya dalam pengertian metafisik. maka tasawuf bisa dikatakan sebagai inti keberagaman dan karenanya setiap muslim semestinya berusaha untuk menjadi sufi. tetapi Tuhan bukan pengertian huwiyah-Nya atau "ke-Dia-annya" yang Maha Absolut dan Maha Esa.

1980. Harun.. Louis. New York. Lahore. Sedangkan tiga kata lainnya menjadi terma yang terkenal dalam tasawuf. 7507173 Fax. (021) 7507174 Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota Please direct any suggestion to Media Team Artikel Yayasan Paramadina Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota III. -------------------------------------------Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah Editor: Budhy Munawar-Rachman Penerbit Yayasan Paramadina Jln. Princeton. 181) oleh KH Ali Yafie Kata syari'ah telah beredar luas di kalangan umat muslim. mereka .. Dr. 1978. Nasution. Valiuddin. Prof.. (021) 7501969. Izutsu. Raiph. Toshihiko. Metro Pondok Indah Pondok Indah Plaza I Kav. Mir. Lahore. New York.DAFTAR KEPUSTAKAAN Arabi. Annemarie. Dr.. Bahkan. 7501983. 1978. Fushush al-Hikam (The Bezels of Wisdom). Falsafat dan Mistisisme Dalam Islam. 1938 Cassirer. Schimmel. UA 20-21 Jakarta Selatan Telp. The Concept of Perpetual Creation in Islamic Mysticism and Zen Buddhism. Jilid II dan III. Massiggnon. 1976. 1977. The Mystical Philosophy of Muhyi al-Din Ibnul 'Arabi. 1982. kata tersebut telah dipakai antara lain pada Surah al-Jatsiyah: 18. 1973 Ross. Pemakaian kata tersebut mengacu kepada makna ajaran dan norma agama itu sendiri. telah mengakibatkan terbatasnya pengertian syari'ah sehingga lebih banyak mengacu pada norma hukum. 1962. Afifi. THARIQAH. Mengenai kelompok tasawuf ada dua pendapat. Ibn. London. AE. haqiqah dan ma'rifah. Dimensi Mistik Dalam Islam. The Qur'anic Sufism. Ernst. Teheran. Symbols and Civilization. Dalam perkembangan Islam munculnya tiga kata thariqah. Jakarta. The Passion of al-Hallaj. Karena itu ada baiknya kita lebih dahulu berbicara tentang tasawuf itu sendiri. dalam al-Qur'an sendiri. HAQIQAH DAN MA'RIFAH (hal. An Essay on Man. SYARI'AH.15. Pertama.

Kelompok intelektual ini terdiri dari ulama-ulama mutakallim (ahli teologi). dan produk penalaran ulama tasawuf yang disebut haqiqah. . sedangkan kelompok formal terdiri dari ulama-ulama muhaddits dan fuqaha. Kecenderungan seperti ini secara umum terjadi pada kalangan kaum muslim angkatan pertama. Ketika itulah angkatan pertama kaum muslim yang mempertahankan pola hidup sederhananya lebih dikenal sebagai kaum sufiyah. Pada tahap perkembangannya.terjadilah pemisahan antara dua pola penalaran. atau kesenangan duniawi lainnya. Ajaran Tasawuf pada dasarnya merupakan bagian dari prinsip-prinsip Islam sejak awal. begitu pula seorang mutakallimin sekaligus juga ulama sufiyah. sehingga tidak diperbudak harta atau tahta. secara berangsur-angsur pola pikir dan pola hubungan antara ahli syari'ah dan ahli haqiqah makin berbeda. yaitu produk penalaran ulama muhaddits dan fuqaha yang disebut syari'ah. pola dasar tasawuf adalah kedisiplinan beribadah. serta patuh melaksanakan ajaran-ajaran agama dalam kehidupannya sehari-hari. konsentrasi tujuan hidup menuju Allah (untuk mendapatkan ridla-Nya).adalah kelompok spiritual dalam umat Islam yang berada di tengah-tengah dua kelompok lainnya yang disebut kelompok formal dan kelompok Intelektual. Kedua. seperti kita dapat simak dalam karya sastra "cerita seribu satu malam" dimasa kejayaan kekhalifahan Abbasiyah. Keadaan tersebut berkelanjutan hingga mencapai puncak perkembangannya pada akhir abad 4 H. dan upaya membebaskan diri dari keterikatan mutlak pada kehidupan duniawi. Pada angkatan berikutnya (abad 2 H) dan seterusnya. Ibnu Khaldun mengungkapkan. Dalam masa tiga abad itu dunia Islam mencapai kemakmuran yang melimpah. Upaya penalaran para ulama muhaddits dan fuqaha dalam menjabarkan prinsip-prinsip ajaran Islam mengenai penataan kehidupan pribadi dan masyarakat yang sudah berkembang selama tiga abad -dengan munculnya disiplin ilmu Tasawuf. sehingga di kalangan atas dan menengah terdapat pola kehidupan mewah. Pada tingkat perkembangan inilah muncul beberapa terma yang dulunya tidak lazim dipakai dalam ilmu-ilmu keislaman. Dan ini menimbulkan banyak pertentangan antara kedua kelompok tersebut.soal pengalaman agama dalam bentuk yang formalistik (syi'ar-syi'ar lahiriah). Sehingga seharusnya kita katakan seorang muhaddttsin sekaligus juga ulama sufiyah. bahwa tasawuf itu hanyalah suatu kecenderungan spiritual yang membentuk etika moral dan lingkungan sosial khusus. Perbedaan tersebut ditandai dengan beberapa hal berikut: 1. Ahli syari'ah menonjolkan -kadang-kadang secara berlebih-lebihan. Ajaran ini tak ubahnya merupakan upaya mendidik diri dan keluarga untuk hidup bersih dan sederhana. tapi mulai ditandai juga dengan berkembangnya suatu cara penjelasan teoritis yang kelak menjadi suatu disiplin ilmu yang disebut ilmu Tasawuf. Sedang dilain pihak. Selanjutnya para fuqaha pun disebut ahli syari'ah dan para ulama tasawuf disebut ahli haqiqah. secara berangsur-angsur terjadi pergeseran nilai sehingga orientasi kehidupan duniawi menjadi lebih berat. Pada masa itu gerakan tasawuf juga mengalami perkembangan yang tidak terbatas hanya pada praktek hidup bersahaja saja.

Dan tempat ketiga diduduki tarekat ulama penyair kenamaan Parsi. tokoh pertama yang memperkenalkan sistem thariqah (tarekat) itu Syekh Abdul Qadir al-Jilani (w. Padahal. kita jumpai Tarekat Qadiriyah yang cukup dikenal. dia sudah bebas dari ikatan-ikatan formal. Ghinia dan Jawa. Syadziliyah. kalau seseorang sudah mencapai derajat wali. Di Indonesia kita lebih banyak mengenal ajaran tasawuf lewat lembaga keagamaan non-formal yang namanya "tarekat" asal kata thariqah. misalnya teori al-fana fi 'l-Lah (peleburan diri dalam Allah) yang dikemukakan Abu Yazid al-Busthami dan teori Hub al-Lah (cinta Allah) hasil pemikiran Rabi'ah al-'Adawiyah serta teori Maqamat-Ahwal (terminal-terminal dan situasi-situasi) ciptaan Dzunn-un al-Mishri. Jalal . yang berhak mendapatkan perlindungan dalam rangka tertib kemasyarakatan suatu negara. Pertimbangannya ialah. Sebagian ahli haqigah tidak merasa terikat dengan syi'ar-syi'ar agama yang ritual-formalistis.para ahli haqiqah menonjolkan aspek-aspek batiniah ajaran Islam. bagaimanapun keberadaan penganut-penganut tarekat itu merupakan bagian dari potensi bangsa/umat. Jurang pemisah yang makin hari makin melebar antara ahli syari'ah dan ahli haqiqah makin menjadi-jadi pada sekitar akhir abad kelima Hijrah. Pada tahun lima puluhan. Dalam buku ini beliau mempertemukan teori-teori syari'ah dengan teori-teori haqiqah Ternyata upaya al-Ghazali ini sangat membantu dalam merukunkan kembali antara para ahli syari'ah dengan ahli haqiqah. kita melihat adanya langkah lebih maju dalam perkembangan tarekat-tarekat tersebut dengan adanya koordinasi antara berbagai macam tarekat itu lewat ikatan yang dikenal dengan nama Jam'iyah Ahl al-Thariqah al-Mu'tabarah. Untuk lebih mengenal adanya tarekat itu. Semua itu dianggap sebagai ajaran aneh oleh para ahli syari'ah. Dalam satu dasawarsa terakhir ini. dan Imam Ghazali berupaya memulihkannya. 3. maka dia akan mampu menaklukkan alam dan melakukan hal-hal yang luar biasa (keramat). Sedangkan di Mesir. 561 H/1166 M) di Baghdad. Kamil Musthafa al-Syibi dalam tesisnya tentang gerakan tasawuf dan gerakan syi'ah mengungkapkan. ada baiknya kita mempertanyakan kapankah munculnya tarekat (al-thuruq al-shufiyah) itu dalam sejarah perkembangan gerakan tasawuf Dr. 2. Tijaniyah dan Sanusiyah. 4. Di Jawa Timur misalnya. Adanya teori-teori ahli haqiqah yang menggusarkan para ahli syari'ah. Dalam kaitan inilah beliau tampil dengan karya besarnya Ihya 'Ulum al-Din. tarekat yang banyak pengikutnya Tarekat Rifa'iyyah yang dibangun Sayid Ahmad al-Rifa'i. Ajaran tarekatnya menyebar ke seluruh penjuru dunia Islam. yang mendapat sambutan luas di Aljazair. para pendahulu mereka sangat disiplin dalam pengalaman syari'ah. Ahli haqiqah mengklaim. siapa yang telah sampai perjalanan rohaniahnya kepada Allah dan sudah terlebur dirinya dalam diri Allah. Mereka berkata. pemerintah Mesir menempatkan pembinaan dan koordinasi tarekat-terekat tersebut di bawah Departemen Bimbingan Nasional (Wizarah al-Irsyad al-Qaumi). disamping Tarekat Naqsyabandiyah.

Kemudian sistem ini berkembang terus dan meluas. tekun beribadah kepada Allah. Sasaran akhir dari pembinaan pribadi dalam pola hidup bertasawuf adalah hidup bersih. Di bawah syeikhnya yang terakhir. Penghormatan dan penyerahan total kepada Syeikh atau pembantunya yang tidak bisa dibantah Dari sistem dan metode tersebut Nicholson menyimpulkan. membimbing masyarakat ke arah yang diridlai Allah. tapi ada beberapa ciri yang menyamakan: 1. dan pada umumnya tarekat-tarekat tersebut walaupun beragam namanya dan metodenya. Beliau membuat tradisi baru dengan menggunakan alat-alat musik sebagai sarana dzikir. . Sayyid Ahmad al-Syarif al-Sanusi berhasil menggalang satu kekuatan perlawanan rakyat yang mampu memerangi kolonialis Italia. dan akhirnya membebaskan wilayah Libya. Dalam periode berikutnya muncul tarekat al-Syadziliyah yang mendapat sambutan luas di Maroko dan Tunisia khususnya. Pada titik pengenalan ini akan terpadu makna tawakkal dalam tawhid. 5. Menekuni pembacaan dzikir tertentu (awrad) dalam waktu-waktu tertentu setiap hari. Memakai pakaian khusus (sedikitnya ada tanda pengenal) 3. Apa yang dimaksud dengan kata ma'rifah dalam terma mereka ialah penghayatan puncak pengenalan keesaan Allah dalam wujud semesta dan wujud dirinya sendiri. Menjalani riyadlah (latihan dasar) berkhalwat. dan dunia Islam bagian Timur pada umumnya. sehingga dapat berbuat hal-hal yang berlaku di luar kebiasaan. Menyepi dan berkonsentrasi dengan shalat dan puasa selama beberapa hari (kadang-kadang sampai 40 hari). bahwa sistem hidup bersih dan bersahaja (zuhd) adalah dasar semua tarekat yang berbeda-beda itu. Perancis dan Inggris secara berturut-turut. bersahaja. Ada upacara khusus ketika seseorang diterima menjadi penganut (murid). 672 H/1273 M).al-Din al-Rumi (w. 2. Yang juga perlu dicatat di sini ialah munculnya Tarekat Sanusiyah yang mempunyai disiplin tinggi mirip disiplin militer. 4. ada kalanya dengan alat-alat bantu seperti musik dan gerak badan yang dapat membina konsentrasi ingatan. Semua pengikutnya dididik dalam disiplin itu. Mempercayai adanya kekuatan gaib/tenaga dalam pada mereka yang sudah terlatih. dengan jalan pengamalan syari'ah dan penghayatan haqiqah dalam sistem/metode thariqah untuk mencapai ma'rifah. Mungkin sifat keras dari iklim yang dibentuk Tarekat Sanusiyah inilah yang mewarnai Mu'ammar al-Qadafi mengambil alih kekuasaan dan berkuasa sampai saat ini sebagai Kepala Negara tersebut. Adakalanya sebelum yang bersangkutan diterima menjadi penganut. 6. dia harus terlebih dahulu menjalani masa persiapan yang berat. bahwa tarekat-tarekat sufi merupakan bentuk kelembagaan yang terorganisasi untuk membina suatu pendidikan moral dan solidaritas sosial. Nicholson mengungkapkan hasil penelitiannya.

Filsafat yang menjadi dasar pendekatan diri itu adalah. Ahmad Amin. TASAWUF (hal. (021) 7501969. Yang dimaksud saf di sini ialah baris pertama dalam salat di mesjid. Tuhan adalah Maha Suci. Rijal al-fikri wa 'l-Da'wah fi 'l-lslam. al-Shilah bain al-Tashawwuf wa 'l-Tasyayyu'. terutama salat dan puasa. kaum sufi banyak berusaha menyucikan diri mereka melalui banyak melaksanakan ibadat. maka yang dapat diterima Tuhan untuk mendekatiNya adalah roh yang suci. Tuhan bersifat rohani. (021) 7507174 Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota Please direct any suggestion to Media Team Artikel Yayasan Paramadina Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota III.14. pertama. bukan jasadnya. Dhuha al-Islam dan Zhuhur al-Islam Imam al Ghazali. dan melepaskan dirinya dari ketergantungan mutlak kepada sesuatu selain Allah. 42) oleh Harun Nasution (1/4) Tujuan tasawuf adalah mendekatkan diri sedekat mungkin dengan Tuhan sehingga ia dapat melihat-Nya dengan mata hati bahkan rohnya dapat bersatu dengan Roh Tuhan. DAFTAR KEPUSTAKAAN Abu 'l-Hasan al-Nadawi. al-Muqaddimah. UA 20-21 Jakarta Selatan Telp. 7501983. -------------------------------------------Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah Editor: Budhy Munawar-Rachman Penerbit Yayasan Paramadina Jln. Dan memang. Saf (baris). Saf pertama ditempati oleh orang-orang yang cepat datang ke mesjid dan banyak membaca .yang melahirkan sikap pasrah total kepada Allah. 2. Metro Pondok Indah Pondok Indah Plaza I Kav. Penulis-penulis banyak mengaitkannya dengan kata: 1. Kamil Mushthafa al-Syibli. Ihya 'Ulum al-Din Irnam Ibn Khaldun. 7507173 Fax. Safa dalam arti suci dan sufi adalah orang yang disucikan. maka bagian yang dapat mendekatkan diri dengan Tuhan adalah roh. Kedua. Tasawuf adalah ilmu yang membahas masalah pendekatan diri manusia kepada Tuhan melalui penyucian rohnya. ASAL KATA SUFI Tidak mengherankan kalau kata sufi dan tasawuf dikaitkan dengan kata-kata Arab yang mengandung arti suci.

filsafat Yunani dan agama Hindu dan Buddha. Sophos (bahasa Yunani yang masuk kedalam filsafat Islam) yang berarti hikmat. Pendapat ini memang banyak yang menolak. karena kata sophos telah masuk kedalam kata falsafat dalam bahasa Arab. 4. Ahl al-Suffah. Roh yang masuk ke dalam janin di kandungan ibu berasal dari alam rohani yang . Sufi juga mengasingkan diri dari dunia ramai. dan di malam hari lampu mereka menjadi petunjuk jalan bagi musafir. Tempat mereka menjadi tujuan orang yang perlu bantuan di padang yang gersang. Ada yang mengatakan bahwa pengaruhnya datang dari rahib-rahib Kristen yang mengasingkan diri untuk beribadat dan mendekatkan diri kepada Tuhan di gurun pasir Arabia. Untuk itu ia harus menyucikan diri dengan memusatkan perhatian pada fllsafat serta ilmu pengetahuan dan melakukan beberapa pantangan. ASAL-USUL TASAWUF Karena tasawuf timbul dalam Islam sesudah umat Islam mempunyai kontak dengan agama Kristen. Orang yang pertama memakai kata sufi kelihatannya Abu Hasyim al-Kufi di Irak (w.ayat-ayat al-Qur'an dan berdzikir sebelum waktu salat datang. Filsafat sufi juga demikian. kemah mereka menjadi tempat berteduh bagi orang yang kepanasan. walaupun untuk sementara. Jadi. Diantara semua pendapat itu. Suf (kain wol). 3. Roh yang pada mulanya suci itu menjadi tidak suci dan karena itu tidak dapat kembali ke tempatnya semula yang suci. muncullah anggapan bahwa aliran tasawuf lahir dalam Islam atas pengaruh dari luar. Ahl al-Suffah. Pakaian ini melambangkan kesederhanaan serta kemiskinan dan kejauhan dari dunia. Dalam filsafatnya. berhati baik serta mulia dan tidak mementingkan dunia. pemurah dan suka menolong. dan pemurah dan suka menolong. Dalam sejarah tasawuf. (pelana) sebagai bantal. ia meninggalkan pakaian mewah yang biasa dipakainya dan diganti dengan kain wol kasar yang ditenun secara sederhana dari bulu domba. dan ditulis dengan sin dan bukan dengan shad seperti yang terdapat dalam kata tasawuf. dan kaum sufi pula yang tahu hikmat. sufi adalah orang yang memakai wol kasar untuk menjauhkan diri dari dunia materi dan memusatkan perhatian pada alam rohani. Inilah pula sifat-sifat kaum sufi. Di Madinah mereka hidup sebagai orang miskin. yaitu para sahabat yang hijrah bersama Nabi ke Madinah dengan meninggalkan harta kekayaannya di Mekkah. Pengaruh filsafat Yunani dikatakan berasal dari pemikiran mistik Pythagoras. tinggal di Mesjid Nabi dan tidur di atas bangku batu dengan memakai suffah. 5.150 H). kemudian turun ke dunia materi dan masuk ke dalam tubuh manusia yang bernafsu. pendapat terakhir inilah yang banyak diterima sebagai asal kata sufi. Rahib-rahib itu berhati baik. berhati baik. sungguhpun tak mempunyai apa-apa. kalau seseorang ingin memasuki jalan tasawuf. roh manusia adalah suci dan berasal dari tempat suci. Di siang hari. Orang-orang seperti ini adalah yang berusaha membersihkan diri dan dekat dengan Tuhan.

Tapi. yaitu persatuan roh manusia dengan roh Tuhan. Kita perlu mencatat. Ajaran menghancurkan diri untuk bersatu dengan Tuhan juga terdapat dalam Islam. Ayat berikut menggambarkan lebih lanjut betapa dekatnya Tuhan dengan manusia. agar Tuhan mengabulkan seruannya untuk melihat Tuhan dan berada dekat kepada-Nya. Tentang dekatnya Tuhan. ia dapat mendekatkan diri dengan Tuhan sampai ke tingkat bersatu dengan Dia di bumi ini. tapi kemudian dipengaruhi oleh hawa nafsu yang terdapat dalam tubuh manusia. maka Aku dekat dan mengabulkan seruan orang yang memanggil jika Aku dipanggil. dia berpendapat bahwa roh yang masuk ke dalam tubuh manusia juga kotor. digambarkan oleh ayat berikut. "Timur dan Barat kepunyaan Tuhan. filsafat Yunani dan agama Kristen datang lama sebelum Islam. ia berseru agar Tuhan membuka hijab dan menampakkan diri-Nya kepada yang berseru. agama Hindu dan Buddha. Dalam tasawuf terdapat pengalaman ittihad. Tuhan memang dekat sekali dengan manusia. memang terdapat dalam tasawuf Islam. roh yang telah kotor itu dibersihkan dulu melalui ibadat yang banyak. Paham itu memang bertentangan dengan ajaran al-Qur'an bahwa roh. Tuhan dekat dan sufi tak perlu pergi jauh. memasuki hidup kontemplasi dan menghancurkan diri. tetapi berseru. sama dengan Pythagoras.suci. Kalau sudah bersih. ia akan tetap tinggal di bumi berusaha membersihkan diri melalui reinkarnasi. Nirwana dapat dicapai dengan meninggalkan dunia. Ayat ini mengandung arti bahwa dimana saja Tuhan dapat dijumpai. "Telah Kami ciptakan manusia dan Kami . pengaruh itu dikaitkan dengan filsafat emanasi Plotinus. tidakkah mungkin tasawuf timbul dari dalam diri Islam sendiri? Hakekat tasawuf kita adalah mendekatkan diri kepada Tuhan. Dekatnya Tuhan kepada manusia disebut al-Qur'an dan Hadits. Masih dari filsafat Yunani. Tapi. Dalam ajaran Islam. Paham penyucian diri melalui reinkarnasi tak terdapat dalam ajaran tasawuf." Kaum sufi mengartikan do'a disini bukan berdo'a. roh pergi ke alam barzah menunggu datangnya hari perhitungan. maka kemana saja kamu berpaling di situ ada wajah Tuhan" (QS. al-Baqarah 115). Dalam kaitan ini timbul pertanyaan: sekiranya ajaran-ajaran tersebut diatas tidak ada. untuk menjumpainya. Maka untuk dapat bertemu dengan Tuhan Yang Maha Suci. Selama masih kotor. dan tak dapat kembali ke Tuhan. pengaruhnya dikatakan dari konsep Nirwana. konsep Plotinus tentang bersatunya roh dengan Tuhan di dunia ini. Dengan kata lain. Tapi pendapat serupa ini memerlukan bukti-bukti historis. Bahwa yang kemudian datang dipengaruhi oleh yang datang terdahulu adalah suatu kemungkinan. Dari agama Buddha. Sedangkan pengaruh dari agama Hindu dikatakan datang dari ajaran bersatunya Atman dengan Brahman melalui kontemplasi dan menjauhi dunia materi. Sesudah bercerai dengan tubuh. "Jika hambaKu bertanya kepadamu tentang Aku. Roh memancar dari diri Tuhan dan akan kembali ke Tuhan. Ayat 186 dari surat al-Baqarah mengatakan. sesudah tubuh mati tidak akan kembali ke hidup serupa di bumi.

tapi juga kepada makhluk lain sebagaimana dijelaskan hadis berikut. Qaf 16). "Siapa yang mengetahui dirinya mengetahui Tuhannya. Ayat ini menggambarkan Tuhan berada bukan diluar diri manusia. Bertahun-tahun orang harus menempuh jalan yang sulit itu.tahu apa yang dibisikkan dirinya kepadanya. membaca al-Qur'an dan dzikir. Karena itu hadis mengatakan. "Bukanlah kamu yang membunuh mereka. Dalam konteks inilah ayat berikut dipahami kaum sufi." Untuk mencari Tuhan. sufi melihat persatuan manusia dengan Tuhan. cukup ia masuk kedalam dirinya dan Tuhan yang dicarinya akan ia jumpai dalam dirinya sendiri. Demikianlah ayat-ayat al-Qur'an dan Hadits Nabi menggambarkan betapa dekatnya Tuhan kepada manusia dan juga kepada makhluk-Nya yang lain. Bahwa Tuhan dekat bukan hanya kepada manusia. JALAN PENDEKATAN DIRI KEPADA TUHAN Jalan yang ditempuh seseorang untuk sampai ke tingkat melihat Tuhan dengan mata hati dan akhirnya bersatu dengan Tuhan demikian panjang dan penuh duri. Jalan itu. Dan Kami lebih dekat dengan manusia daripada pembuluh darah yang ada di lehernya (QS. hadits terakhir ini mengandung konsep wahdat al-wujud. sufi tak perlu pergi jauh. shalat. al-Anfal 17). Jalan itu disebut tariqah (bahasa Arab). lalu melihat Tuhan dengan mata hatinya dan akhirnya mengalami persatuan rohnya dengan roh Tuhan. yang intinya adalah penyucian diri. Disini. tetapi di dalam diri manusia sendiri. dan inilah hakikat tasawuf. persatuan manusia dengan Tuhan. dibagi kaum sufi ke dalam stasion-stasion yang dalam bahasa Arab disebut maqamat -tempat seorang calon sufi menunggu sambil berusaha keras untuk membersihkan diri agar dapat melanjutkan perjalanan ke stasion berikutnya. stasion pertama dalam tasawuf . dan melalui mereka Aku-pun dikenal. Kalau ayat-ayat diatas mengandung arti ittihad." Disini terdapat paham bahwa Tuhan dan makhluk bersatu. Perbuatan manusia adalah perbuatan Tuhan. seorang calon sufi banyak melaksanakan ibadat. terjadilah penyucian diri calon sufi secara berangsur. Tujuan semua ibadat dalam Islam ialah mendekatkan diri itu. "Pada mulanya Aku adalah harta yang tersembunyi. Maka. Dengan khusuk dan banyak beribadat ia akan merasakan kedekatan Tuhan. Karena itu hanya sedikit sekali orang yang bisa sampai puncak tujuan tasawuf. Maka Kuciptakan makhluk. Karena itu. Gambaran serupa ini tidak memerlukan pengaruh dari luar agar seorang muslim dapat merasakan kedekatan Tuhan itu. dan dari sinilah berasal kata tarekat dalam bahasa Indonesia. Jelas kiranya bahwa usaha penyucian diri. langkah pertama yang harus dilakukan seseorang adalah tobat dari dosa-dosanya. tapi Allah-lah yang membunuh dan bukanlah engkau yang melontarkan ketika engkau lontarkan (pasir) tapi Allah-lah yang melontarkannya (QS. Sebagaimana telah di sebut diatas penyucian diri diusahakan melalui ibadat. terutama puasa. kemudian Aku ingin dikenal. kesatuan wujud makhluk dengan Tuhan. dan bukan manusia saja yang bersatu dengan Tuhan.

melakukan shalat. dan membuat ia tahan lapar dan dahaga. membaca al-Qur'an dan dzikir. membaca al-Qur'an dan berdzikir. orang yang tidak bisa lagi digoda oleh kesenangan dunia dan kelezatan materi. Ia makan dan minum hanya untuk mempertahankan kelanjutan hidup. (bersambung 2/4) -------------------------------------------Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah Editor: Budhy Munawar-Rachman Penerbit Yayasan Paramadina Jln. 7501983. Sampailah ia ke stasion wara'. UA 20-21 Jakarta Selatan Telp. shalat. TASAWUF (hal. 42) oleh Harun Nasution (2/4) Untuk memantapkan tobatnya ia pindah ke stasion kedua. melakukan shalat.14. (021) 7501969. Jelaslah bahwa usaha ini memakan waktu panjang. Ia juga akan selalu naik haji. yaitu tobat yang membuat orangnya menyesal atas dosa-dosanya yang lampau dan betul-betul tidak berbuat dosa lagi walau sekecil apapun. Pakaiannyapun sederhana. Metro Pondok Indah Pondok Indah Plaza I Kav. Ia menjadi orang zahid dari dunia. dan itu diperolehnya dalam berpuasa. Kalau kesenangan dunia dan kelezatan materi tak bisa menggodanya lagi. Ia sedikit tidur dan banyak beribadat. 7507173 Fax. Di stasion ini ia dijauhkan Tuhan dari perbuatan-perbuatan syubhat. puasa. Di stasion ini ia menjauhkan diri dari dunia materi dan dunia ramai. membaca al-Qur'an dan berdzikir. Ia mengasingkan diri ke tempat terpencil untuk beribadat. (021) 7507174 Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota Please direct any suggestion to Media Team Artikel Yayasan Paramadina Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota III. Kebutuhan hidupnya hanya sedikit dan ia tidak meminta kecuali hanya untuk dapat . Pada mulanya seorang calon sufi harus tobat dari dosa-dosa besar yang dilakukannya Kalau ia telah berhasil dalam hal ini. ia akan tobat dari dosa-dosa kecil. Ia terus banyak berpuasa. Bisyr al-Hafi tidak bisa mengulurkan tangan ke arah makanan yang berisi syubhat. ia keluar dari pengasingannya masuk kembali ke dunianya semula. Puasanya yang banyak membuat hawa nafsunya lemah. Dari stasion wara'. kemudian dari perbuatan makruh dan selanjutnya dari perbuatan syubhat. ia pindah ke stasion faqr. Dalam literatur tasawuf disebut bahwa al-Muhasibi menolak makanan. karena di dalamnya terdapat syubhat.adalah tobat. yaitu zuhud. Yang dicarinya ialah kebahagiaan rohani. Tobat yang dimaksud adalah taubah nasuha. Di stasion ini ia menjalani hidup kefakiran.

Dari stasion ini ia tidak menentang percobaan dari Tuhan bahkan ia menerima dengan senang hati. Bahkan ia tidak meminta sungguhpun ia tidak punya. Bahkan. Ketiga. calon sufi dalam hubungannya dengan Tuhan dipengaruhi rasa takut atas dosa-dosa yang dilakukannya. ia tidak mau makan. Sufi memberikan arti mahabbah sebagai berikut. pertama. Mengosongkan hati dari segala-galanya. Rasa takut hilang dan timbullah sebagai gantinya rasa cinta kepada Tuhan. tapi baru menjadi zahid atau calon sufi. sungguhpun tak ada padanya. memeluk kepatuhan kepada Tuhan dan membenci sikap melawan kepada-Nya. ia selamanya merasa tenteram. baginya cukup apa yang ada untuk hari ini. Ia tidak memikirkan hari esok. Ia bersikap seperti telah mati." Selanjutnya ayat . Selanjutnya ia pindah ke stasion tawakkal. bahkan dalam al-Qur'an terdapat ayat-ayat yang menggambarkan cinta Tuhan kepada hamba dan cinta hamba kepada Tuhan. Ia menjadi sufi setelah sampai ke stasion berikutnya dan memperoleh pengalaman-pengalaman tasawuf. Di dalam hatinya tidak ada perasaan benci. Karena stasion-stasion tersebut di atas baru merupakan tempat penyucian diri bagi orang yang memasuki jalan tasawuf. Rasa takut itu kemudian berubah menjadi rasa waswas apakah tobatnya diterima Tuhan sehingga ia dapat meneruskan perjalanannya mendekati Tuhan. ia sebenarnya belumlah menjadi sufi. "Allah akan mendatangkan suatu umat yang dicintai-Nya dan orang yang mencintai-Nya. tetapi juga sabar dalam menerima percobaan-percobaan berat yang ditimpakan Tuhan kepadanya. Ia tidak meminta tapi tidak menolak pemberian Tuhan. bahkan ia tidak menunggu-nunggu datangnya pertolongan. Di sini ia telah dekat sekali dengan Tuhan dan iapun sampai ke ambang pintu melihat Tuhan dengan hati nurani untuk selanjutnya bersatu dengan Tuhan. Ia sabar menderita. Setelah menjalani hidup kefakiran ia sampai ke stasion sabar.menjalankan kewajiban-kewajiban agamanya. Kendatipun ada padanya. cinta Ilahi. Dari stasion tawakkal. Lambat laun ia rasakan bahwa Tuhan bukanlah zat yang suka murka. karena ada orang yang lebih berhajat pada makanan dari padanya. Ia sabar bukan hanya dalam menjalankan perintah-perintah Tuhan yang berat dan menjauhi larangan-larangan Tuhan yang penuh godaan. Ia tidak minta masuk surga dan dijauhkan dari neraka. rasa cinta kepada Tuhan bergelora dalam hatinya. Maka ia pun sampai ke stasion mahabbah. tapi zat yang sayang dan kasih kepada hamba-Nya. Ketika malapetaka turun. Ia menyerahkan diri sebulat-bulatnya kepada kehendak Tuhan. Pada stasion ridla. kecuali dari Diri Yang Dikasihi. Menyerahkan seluruh diri kepada Yang Dikasihi. ia meningkat ke stasion ridla. Ayat 54 dari surat al-Maidah. Ia bukan hanya tidak meminta pertolongan dari Tuhan. Mencintai Tuhan tidaklah dilarang dalam Islam. PENGALAMAN SUFI Di masa awal perjalanannya. yang ada hanyalah perasaan senang. Kedua. hatinya merasa senang dan di dalamnya bergelora rasa cinta kepada Tuhan.

"Tuhanku. jika kamu cinta kepada Tuhan. Sekiranya Engkau usir aku dari depan pintuMu.30 dari surat 'Ali Imran menyebutkan. apakah ia benci kepada setan. "Tuhanku. tetapi aku mengabdi karena cintaku kepada-Nya. Hatiku telah enggan mencintai selain Engkau. Dalam doanya. "Cintaku kepada Tuhan tidak meninggalkan ruang kosong di dalam hatiku untuk benci setan. aku tidak akan bergerak. jika kupuja Engkau karena takut kepada neraka." Pernah pula ia berkata. Cinta karena diriku dan cinta karena diri-Mu. karena cintaku kepada-Mu telah memenuhi hatiku. sehingga ketika orang bertanya kepadanya. Membuat aku melihat Engkau karena Engkau bukakan hijab. Ia telah melihat Tuhan dengan hati nuraninya. Rabi'ah al-'Adawiah. Dengan kata lain. bintang di langit telah gemerlapan. janganlah sembunyikan keindahan-Mu yang kekal itu dari pandanganku." Hadits juga menggambarkan cinta itu. dan inilah aku berada di hadirat-Mu. Aku menjadi pendengaran. tiap pecinta telah berduaan dengan yang dicintainya. Ia mengatakan. Rabi'ah al-'Adawiah telah benar-benar menjadi sufi. penglihatan dan tangannya. bakarlah mataku karena Engkau. Bagi-Mu-lah puji dan untuk itu semua. ia tidak meminta dijauhkan dari neraka dan pula tidak meminta dimasukkan ke surga. kebahagiaan dari kesenanganku. Cinta karena diriku Membuat aku lupa yang lain dan senantiasa menyebut nama-Mu. apakah Engkau terima aku sehingga aku bahagia." Begitu penuh hatinya dengan rasa cinta kepada Tuhan." Ia bermunajat. "Buah hatiku. "Senantiasa hamba-Ku mendekatkan diri kepada-Ku melalui ibadat sehingga Aku cinta kepadanya. seperti yang berikut. Cintanya yang dalam kepada Tuhan memalingkannya dari segala yang lain dari Tuhan. ataukah Engkau tolak sehingga aku merasa sedih. maka turutlah Aku. Engkau harapanku. telah sampai ke stasion sesudah mahabbah. malam telah berlalu dan siang segera akan menampakkan diri. Aku gelisah." Sufi yang masyhur dalam sejarah tasawuf dengan pengalaman cinta adalah seorang wanita bernama Rabi'ah al-'Adawiah (713-801 M) di Basrah. . Beri ampunlah pembuat dosa yang datang ke hadiratMu. akhirnya dibalas Tuhan. "Aku mengabdi kepada Tuhan bukan karena takut kepada neraka. bukan pula karena ingin masuk surga." Ketika fajar menyingsing ia dengan rasa cemas mengucapkan. Yang ia pinta adalah dekat kepada Tuhan. Orang yang Ku-cintai. mata-mata telah bertiduran. hanya Engkaulah yang kukasihi. Tiada puji bagiku untuk ini dan itu. Demi keMahakuasaan-Mu inilah yang akan kulakukan selama Engkau beri hajat kepadaku. "Katakanlah." Cinta tulus Rabi'ah al-'Adawiah kepada Tuhan. dan Allah akan mencintai kamu. ia menjawab. yaitu ma'rifah. pintu-pintu istana telah dikunci. Ia telah sampai ke stasion yang menjadi idaman kaum sufi. Cinta kepada diri-Mu. dan ini tertera dari syairnya yang berikut: Kucintai Engkau dengan dua cinta. "Tuhanku." Sewaktu malam telah sunyi ia berkata.

ditonjolkan oleh Zunnun al-Misri (w. kalau mata yang terdapat di dalam hati sanubari manusia terbuka. ma'rifah adalah cermin. tapi qalb atau kalbu (jantung) yang berpusat di dada. daya untuk-mengetahui sifat-sifat Tuhan yang disebut qalb. Ketiga. Sirr adalah daya terpeka dari kalbu dan daya ini keluar setelah sufi berhasil menyucikan jiwanya sesuci-sucinya. pertama." Kata ma'rifat memang mengandung arti pengetahuan. bukan filsafat. Dalam bahasa sufi. sehingga akhirnya dapat menangkap daya cemerlang yang dipancarkan Tuhan. ia tidak akan dapat melihat Tuhan. 'Ilm ini diperoleh melalui akal. Kedua. Sebagaimana disebut dalam literatur tasawuf." Yang dimaksud Zunnun ialah bahwa ia memperoleh ma'rifah karena kemurahan hati Tuhan. yang dilihat orang 'arif. mata kepalanya akan tertutup dan ketika itu yang dilihatnya hanya Allah. Tapi. Karena itu al-Ghazali mengartikan ma'rifat. pertama. baik sewaktu tidur maupun sewaktu bangun hanyalah Allah. keyakinannya untuk memperoleh kebenaran ternyata melalui tasawuf. Pengetahuan ini disebut ilm ladunni. setelah mencapai ma'rifah. Karena cinta ikhlas dan suci itulah Tuhan mengungkapkan tabir dari pandangan sufi dan dengan terbukanya tabir itu sufi pun dapat menerima cahaya yang dipancarkan Tuhan dan sufi pun melihat keindahan-Nya yang abadi. yang kalau senantiasa dibersihkan dan digosok akan mempunyai daya tangkap yang besar. Kedua. pengetahuan yang diperoleh melalui kalbu. Ma'rifah berbeda dengan 'ilm. Keempat. Ma'rifah adalah anugerah Tuhan kepada sufi yang dengan ikhlas dan sungguh-sungguh mencintai Tuhan. Ketiga daya untuk melihat Tuhan yang disebut sirr. Juga dikatakan bahwa ma'rifah datang ketika cinta sufi dari bawah dibalas Tuhan dari atas. Dalam hubungan dengan Tuhan. daya untuk mencintai Tuhan yang disebut ruh.860 M). makin lama ia disucikan dengan ibadat yang banyak. makin suci ia dan makin besar daya tangkapnya. sufi berusaha keras mendekatkan diri dari bawah dan Tuhan menurunkan rahmat-Nya dari atas. Maka. "Aku melihat dan mengetahui Tuhan dengan Tuhan dan sekiranya tidak karena Tuhan aku tidak melihat dan tidak tahu Tuhan. Semua orang yang .Pengalaman ma'rifah. Lebih jauh mengenai ma'rifah dalam literatur tasawuf dijumpai ungkapan berikut. Kalbu mempunyai tiga daya. Sebelum menempuh jalan tasawuf al-Ghazali diserang penyakit syak. ma'rifat dalam tasawuf berarti pengetahuan yang diperoleh langsung dari Tuhan melalui kalbu. menurut al-Ghazali. Ketika itu sufi pun bergemilang dalam cahaya Tuhan dan dapat melihat rahasia-rahasia Tuhan. "Melihat rahasia-rahasia Tuhan dan mengetahui peraturan-peraturan Tuhan tentang segala yang ada. sufi memakai alat bukan akal yang berpusat di kepala. Sekiranya Tuhan tidak membukakan tabir dari mata hatinya. yaitu ma'rifah. Kalau sufi melihat ke cermin itu yang akan dilihatnya hanyalah Allah. Ketika Zunnun ditanya. sekiranya ma'rifah mengambil bentuk materi. jiwa tak ubahnya sebagai kaca. Dalam pendapat al-Ghazali. Demikian juga jiwa. ia menjawab. lebih benar dari pengetahuan yang diperoleh melalui akal. bagaimana ia memperoleh ma'rifah. yaitu 'ilm. cahaya yang disinarkannya gelap.

Hilang maksiat akan timbul takwa. seorang sufi harus terlebih dahulu mengalami fana' dan baqa'. Yang dimaksud dengan fana' adalah hancur sedangkan baqa' berarti tinggal.14. Dalam literatur tasawuf disebutkan. orang yang fana dari maksiat akan baqa (tinggal) takwa dalam dirinya. Metro Pondok Indah Pondok Indah Plaza I Kav. Ia ingin mengatakan bahwa dalam usia tujuh puluh tahunlah ia baru sampai ke stasion ittihad. Untuk sampai ke ittihad. (021) 7501969. Yang dimaksud bukan hancurnya jiwa sufi menjadi tiada. Seseorang pernah bertanya kepada Abu Yazid tentang perjuangannya untuk mencapai ittihad. (bersambung 3/4) -------------------------------------------Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah Editor: Budhy Munawar-Rachman Penerbit Yayasan Paramadina Jln. sufi harus terlebih dahulu mengalami al-fana' 'an al-nafs. yang tinggal dalam dirinya sifat-sifat yang baik. Hilang sifat buruk akan timbul sifat baik. "Tiga tahun. TASAWUF (hal. Ucapan-ucapan yang ditinggalkannya menunjukkan bahwa untuk mencapai ittihad diperlukan usaha yang keras dan waktu yang lama. . tak tahan melihat Tetapi sufi yang dapat menangkap cahaya ma'rifah dengan mata hatinya akan dipenuhi kalbunya dengan rasa cinta yang mendalam kepada Tuhan. Ia ingin mengalami persatuan dengan Tuhan. 42) oleh Harun Nasution (3/4) Pengalaman ittihad ini ditonjolkan oleh Abu Yazid al Bustami (w.memandangnya akan mati karena kecemerlangan dan keindahannya. UA 20-21 Jakarta Selatan Telp. 874 M). Sebelum sampai ke ittihad. Ia ingin berada lebih dekat lagi dengan Tuhan. Hilang kejahilan akan timbul ilmu. (021) 7507174 Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota Please direct any suggestion to Media Team Artikel Yayasan Paramadina Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota III. Sesuatu hilang dari diri sufi dan sesuatu yang lain akan timbul sebagai gantinya. orang yang fana dari kejahatan akan baqa (tinggal) ilmu dalam dirinya. Dengan demikian. Ia menjawab. dalam arti lafdzi kehancuran jiwa. Tidak mengherankan kalau sufi merasa tidak puas dengan stasion ma'rifah saja. 7501983." sedang umurnya waktu itu telah lebih dari tujuh puluh tahun. 7507173 Fax. Sesuatu didalam diri sufi akan fana atau hancur dan sesuatu yang lain akan baqa atau tinggal. yang di dalam istilah tasawuf disebut ittihad.

"Manusia tobat dari dosanya. sehingga jika . makhluk-Ku ingin melihat engkau. antara lain." Kara-kata ini menggambarkan bahwa cinta mendalam Abu Yazid telah dibalas Tuhan. Sedangkan mengenai fana dan baqa'. tiada Tuhan selain Allah. berhadapan langsung dengan Tuhan dan mengatakan kepadaNya: Tiada Tuhan selain Engkau. tetapi ia tak sadar lagi pada diri mereka dan pada dirinya. dengan arti kesadaran tentang diri sendiri hancur dan timbullah kesadaran diri Tuhan. "Ia membuat aku gila pada diriku hingga aku mati. Sebenarnya dirinya tetap ada. diapun berkata lagi. Aku hanya mengucapkan. tetapi aku tidak. Tetapi jika itu kehendak-Mu. dan akupun hidup. Aku menjawab. kemudian aku mengetahui-Nya melalui diri-Nya dan akupun hidup. Kemudian Ia membuat aku gila kepada diri-Nya. Abu Yazid ingin berada di hadirat Tuhan. Abu Yazid mengatakan. Di sini terjadilah ittihad. "Tinggalkan dirimu dan datanglah. karena aku hanyalah hamba yang hina. Masalah ittihad. al-Qusyairi menulis. sebagai berikut. "Aku tidak meminta dari Tuhan kecuali Tuhan. "Pada suatu ketika aku dinaikkan kehadirat Tuhan dan Ia berkata." Abu Yazid tobat dengan lafadz syahadat demikian. aku tak berdaya menentang-Mu. kekasih-Ku. demikian pula makhluk lain." Akhirnya Abu Yazid dengan meninggalkan dirinya mengalami fana." Lalu. Tetapi aku heran melihat cinta-Mu padaku. ia mengungkapkan lagi. "Apa jalannya untuk sampai kepadaMu?" Tuhan menjawab. karena lafadz itu menggambarkan Tuhan masih jauh dari sufi dan berada di belakang tabir. Syatahat yang diucapkan Abu Yazid. karena Engkau adalah Raja Maha Kuasa. persatuan atau manunggal dengan Tuhan. "Aku tidak heran melihat cintaku pada-Mu. Abu Yazid. aku tak ingin melihat mereka. Hiasilah aku dengan keesaan-Mu." Dalam menjelaskan pengertian fana'. Kesadaran sufi tentang dirinya dan makhluk lain lenyap dan pergi ke dalam diri Tuhan dan terjadilah ittihad. dia berkata lagi. Dalam mimpi ia bertanya. Mengenai fana'. "Aku mengetahui Tuhan melalui diriku hingga aku hancur. Inilah yang disebut kaum sufi al-fana' 'an al-nafs wa al-baqa. Abu Yazid menggambarkan dengan kata-kata berikut ini. bi 'l-Lah.tapi kehancurannya akan menimbulkan kesadaran sufi terhadap diri-Nya." Ketika sampai ke ambang pintu ittihad dari sufi keluar ungkapan-ungkapan ganjil yang dalam istilah sufi disebut syatahat (ucapan teopatis). Dia juga mengucapkan." Seperti halnya Rabi'ah yang tidak meminta surga dari Tuhan dan pula tidak meminta dijauhkan dari neraka dan yang dikehendakinya hanyalah berada dekat dan bersatu dengan Tuhan. "Gila pada diriku adalah fana' dan gila pada diri-Mu adalah baqa' (kelanjutan hidup). "Fananya seseorang dari dirinya dan dari makhluk lain terjadi dengan hilangnya kesadaran tentang dirinya dan makhluk lain. baqa' dan ittihad. Lalu.

Hal ini juga dialami Abu Yazid. rohnya telah melebur dalam diri Tuhan. Tetapi yang mereka lihat sebenarnya adalah Engkau. Mengakui dirinya Tuhan adalah dosa terbesar. telah kami lihat Engkau. "Maha Suci Aku. Abu Yazid. sufi haruslah bersih bukan dari dosa saja. karena ketika itu aku tak ada di sana. "Akulah Yang Satu. tetapi itu tidak berarti bahwa ia mengakui dirinya Tuhan. Tiada Allah selain Aku. Aku adalah Allah. Di dalam jubah ini tidak ada selain Allah. Sufi lain yang mengalami persatuan dengan Tuhan adalah Husain Ibn Mansur al-Hallaj (858-922 M). "Abu Yazid. tetapi itu tidak mengandung pengakuan Abu Yazid bahwa ia adalah Tuhan." Ia berkata lagi.makhluk-Mu melihat aku. Ia tetap meminta bersatu dengan Tuhan. "Engkaulah Yang Satu. Maha Besar Aku. kata menjadi satu." Dalam literatur tasawuf disebut bahwa dalam ittihad." Akupun berkata." Permintaan Abu Yazid dikabulkan Tuhan dan terjadilah persatuan." Ia berkata kepadaku. dan sebagaimana dilihat pada permulaan makalah ini. Maka yang mengatakan "Hai Aku Yang Satu" bukan Abu Yazid. yang ada hanyalah Tuhan. semuanya kecuali engkau adalah makhluk-Ku. agar dapat dekat kepada Tuhan. "Dialog pun terputus. Engkau adalah aku dan aku adalah Engkau." Dalam istilah sufi." Aku menjawab: "Aku adalah Aku. mereka akan berkata." Yang penting diperhatikan dalam ungkapan diatas adalah kata-kata Abu Yazid "Aku menjawab melalui diriNya" (Fa qultu bihi). Tuhanlah yang mengaku diri-Nya Allah melalui lidah Abu Yazid. yang berlainan . seperti kelihatan dalam ungkapan selanjutnya. "Engkau adalah Engkau. sebagaimana terungkap dari kata-kata berikut ini. Dalam arti serupa inilah harus diartikan kata-kata yang diucapkan lidah sufi ketika berada dalam ittihad yaitu kata-kata yang pada lahirnya mengandung pengakuan sufi seolah-olah ia adalah Tuhan. Kata-kata bihi -melalui diri-Nya. tidak ada di rumah ini selain Allah Yang Maha Kuasa. aku menjawab melalui diri-Nya "Hai Aku. Maka dosa terbesar tersebut diatas akan membuat Abu Yazid jauh dari Tuhan dan tak dapat bersatu dengan Dia. Karena itu dia pun mengatakan. Maka dalam pengertian sufi. "Hiasilah aku dengan keesaan-Mu. kata-kata diatas betul keluar dari mulut Abu Yazid. Godaan Tuhan untuk mengalihkan perhatian Abu Yazid ke makhluk-Nya ditolak Abu Yazid. tetapi juga dari syubhat." Aku menjawab. bahkan seluruhnya menjadi satu. Maka Ia pun berkata kepadaku. maka sembahlah Aku. aku adalah Engkau. kata-kata tersebut memang diucapkan lidah Abu Yazid. mengeluarkan kata-kata. Ini kelihatan dari kata-katanya. tetapi Tuhan melalui Abu Yazid. Maha Suci Aku. Itu adalah kata-kata Tuhan yang diucapkan melalui lidah Abu Yazid.menggambarkan bersatunya Abu Yazid dengan Tuhan. "Pergilah. seusai sembahyang subuh. "Hai Engkau. yang satu memanggil yang lain dengan kata-kata: Ya ana (Hai aku)." Dialog antara Abu Yazid dengan Tuhan ini menggambarkan bahwa ia dekat sekali dengan Tuhan." Yang mengucapkan kata-kata itu memang lidah Abu Yazid. Ia tidak ada lagi. Dengan kata lain.

Hal ini karena dia mengatakan. lahut (ketuhanan) dan nasut (kemanusiaan). Landasan bahwa Tuhan dan manusia sama-sama mempunyai sifat diambil dari hadits yang menegaskan bahwa Tuhan menciptakan Adam sesuai dengan bentuk-Nya. manusia mempunyai dua sifat dasar: nasut (kemanusiaan) dan lahut (ketuhanan). Menurut al-Hallaj. Demikian juga Tuhan mempunyai dua sifat dasar. Nasibnya malang karena dijatuhi hukuman bunuh. "Ana 'l-Haqq" (Akulah Yang Maha Benar). (021) 7501969. Tuhan memilih tubuh-tubuh manusia tertentu untuk bersemayam didalamnya dengan sifat-sifat ketuhanannya. Hadits ini mengandung arti bahwa didalam diri Adam ada bentuk Tuhan dan itulah yang disebut lahut manusia. yang dialami Abu Yazid dalam ittihad sebelum tercapai hulul.Engkau adalah aku. ketika itu -dalam tiap hal. Pengalaman persatuannya dengan Tuhan tidak disebut ittihad. nasut manusia lenyap dan muncullah lahut-nya dan ketika itulah nasut Tuhan turun bersemayam dalam diri sufi dan terjadilah hulul. Dalam literatur tasawuf hulul diartikan. Hal ini terlihat jelas pada syair al-Hallaj sebagai berikut: Maha Suci Diri Yang Sifat kemanusiaan-Nya Membukakan rahasia cahaya ketuhanan-Nya yang gemilang Kemudian kelihatan bagi makhluk-Nya dengan nyata Dalam bentuk manusia yang makan dan minum Dengan membersihkan diri malalui ibadat yang banyak dilakukan. (bersambung 4/4) -------------------------------------------Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah Editor: Budhy Munawar-Rachman Penerbit Yayasan Paramadina Jln. mayatnya dibakar dan debunya dibuang ke sungai Tigris.nasibnya dengan Abu Yazid. al-Hallaj mengalami persatuannya dengan Tuhan turun ke bumi. Sebaliknya didalam diri Tuhan terdapat bentuk Adam dan itulah yang disebut nasut Tuhan. setelah sifat-sifat kemanusiaan yang ada dalam tubuh itu dihancurkan. (021) 7507174 Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota Please direct any suggestion to Media Team . Hal itu digambarkan al-Hallaj dalam syair berikut ini: Jiwa-Mu disatukan dengan jiwaku Sebagaimana anggur disatukan dengan air suci Jika Engkau disentuh. Metro Pondok Indah Pondok Indah Plaza I Kav. 7507173 Fax. aku disentuhnya pula Maka. Di sini terdapat juga konsep fana. Kalau Abu Yazid mengalami naik ke langit untuk bersatu dengan Tuhan. 7501983. UA 20-21 Jakarta Selatan Telp. tetapi hulul.

Ketika mengalami hulul yang digambarkan diatas itulah lidah al-Hallaj mengucapkan. Dalam sejarah Islam memang terkenal adanya pertentangan keras antara kaum syari'at dan kaum hakekat. gelar yang diberikan kepada kaum sufi. Tetapi sebagaimana halnya dengan Abu Yazid. Dalam pengalamannya.14. Kami adalah dua jiwa yang menempati satu tubuh. "Aku adalah rahasia Yang Maha Benar. engkau lihat Kami. Dalam perkembangan selanjutnya. yang bagi al-Hallaj merupakan dua hal yang berbeda. Muhy al-Din Ibn 'Arabi (1165-1240) membawa ajaran kesatuan wujud makhluk dengan Tuhan dalam wahdat al-wujud. Kaum syari'at yang banyak terikat kepada formalitas ibadat." Syatahat atau kata-kata teofani sufi seperti itu membuat kaum syari'at menuduh sufi telah menyeleweng dari ajaran Islam dan menganggap tasawuf bertentangan dengan Islam. sungguhpun ia tidak mengharamkan tingkat fana'. Kalau filsafat. Maka bedakanlah antara kami. Jika Engkau lihat aku. yaitu mendekatkan diri sedekat mungkin kepada Tuhan. baqa. Ia tidak mengkafirkan Abu Yazid dan al-Hallaj. TASAWUF (hal. "Ana 'l-Haqq" (Akulah Yang Maha Benar). Pertentangan ini mereda setelah al-Ghazali datang dengan pengalamannya bahwa jalan sufilah yang dapat membawa orang kepada kebenaran yang menyakinkan. setelah kritik al-Ghazali dalam bukunya Tahafut al-Falasifah. tapi mengkafirkan al-Farabi dan Ibn Sina. Yang Maha Benar bukanlah Aku.Artikel Yayasan Paramadina Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota III. ucapan itu tidak mengandung arti pengakuan al-Hallaj dirinya menjadi Tuhan. 42) oleh Harun Nasution (4/4) Hulul juga digambarkan dalam syair berikut: Aku adalah Dia yang kucintai Dan Dia yang kucintai adalah aku. Dan jika engkau lihat Dia. tiap makhluk mempunyai dua aspek. tidak berkembang lagi di dunia Islam Sunni. Sufi yang bernasib malang ini mengatakan. tasawuf sebaliknya banyak diamalkan. Al-Ghazali menghalalkan tasawuf sampai tingkat ma'rifah. dan ittihad. Kata-kata itu adalah kata-kata Tuhan yang Ia ucapkan melalui lidah al-Hallaj. ia satukan menjadi dua aspek. Aspek batin yang merupakan . tidak menangkap pengalaman sufi yang mementingkan hakekat dan tujuan ibadat. bahkan oleh syariat sendiri. Lahut dan nasut. Aku hanya satu dari yang benar. engkau lihat Dia. setelah pengalaman persatuan manusia dengan Tuhan yang dibawa al-Bustami dalam ittihad dan al-Hallaj dalam hulul.

Pada tingkat tawassut. Alam hanya merupakan penampakan diri atau tajalli dari Tuhan. Tuhan berada di luar dan bukan di dalam alam. Ajaran wahdat al-wujud dengan tajalli Tuhan ini selanjutnya membawa pada ajaran al-Insan al-Kamil yang dikembangkan terutama oleh Abd al-Karim al-Jilli (1366-1428). Tuhan menampakkan diri dengan nama-nama dan sifat-sifat-Nya pada makhluk-Nya. dirinya kelihatan banyak. Bagi Ibn Arabi. sufi disinari oleh nama-nama Tuhan. Di dalam cermin. Huwiah dan Aniyah. Sungguhpun manusia merupakan tajalli atau penampakan diri Tuhan yang paling sempurna diantara semua makhluk-Nya. pada diri manusia Ia menampakkan diri-Nya dengan segala sifat-Nya. wujud alam bersatu dengan wujud Tuhan dalam ajaran wahdat al-wujud. Oleh karena itu ada orang yang mengidentikkan ajaran wahdat al-wujud Ibn Arabi dengan panteisme dalam arti bahwa yang disebut Tuhan adalah alam semesta. Dalam pengalaman al-Jilli. Jelas bahwa Ibn Arabi tidak mengidentikkan alam dengan Tuhan. sebagaimana halnya dengan sufi-sufi lainnya. Tajalli Tuhan yang sempurna terdapat dalam Insan Kamil. Maka. pada sufi yang demikian. Dan Tuhan ber-tajalli pada sufi demikian dengan . wujud alam tak akan ada tanpa wujud Tuhan. Tuhan dalam keabsolutannya baru keluar dari al-'ama. Sebagai bayangan. kemudian Ia ingin dikenal maka diciptakan-Nya makhluk. adalah penampakan diri atau tajalli dari Tuhan. tawassut dan khitam. Alam sebagai cermin yang didalamnya terdapat gambar Tuhan. Keadaan ini tak ubahnya sebagai orang yang melihat dirinya dalam beberapa cermin yang diletakkan di sekelilingnya. Yang ada dalam alam ini kelihatannya banyak tetapi pada hakekatnya satu. Sebagai bayangan. tanpa nama dan sifat. sufi disinari oleh sifat-sifat Tuhan. Penyayang dan sebagainya (tajalli fi al-asma). tetapi pada hakekatnya dirinya hanya satu. disebut al-haqq. ia lihat dirinya. Tuhan menampakkan diri dalam nama-nama-Nya. Wujud alam tergantung pada wujud Tuhan. Pada tingkat bidayah. Pada tahap ahadiah. dan aspek luar yang merupakan aksiden disebut al-khalq. Di antara semua makhluk-Nya. tetapi masih dalam bentuk potensial. dengan kata lain. ilmu. Tuhan. Yang lain dan yang banyak adalah bayangannya. sebagaimana disebut dalam Hadits yang telah dikutip pada permulaan. Wujud semuanya satu. Pada tahap hawiah nama dan sifat Tuhan telah muncul. tajalli atau penampakan diri Tuhan mengambil tiga tahap tanazul (turun). tajalli-Nya tidak sama pada semua manusia. alam adalah bayangan Tuhan. pada awalnya adalah "harta" tersembunyi. seperti hayat. Untuk mencapai tingkat Insan Kamil. Di dalam tiap cermin. Semua makhluk dalam aspek luarnya berbeda. alam sebagai makhluk. Dengan kata lain. tetapi dalam aspek batinnya satu. sufi mesti mengadakan taraqqi (pendakian) melalui tiga tingkatan: bidayah. dan melalui makhluklah Ia dikenal. yaitu al-haqq. kabut kegelapan. Tuhan adalah transendental dan bukan imanen. ahadiah.esensi. yaitu wujud al-haqq. seperti Pengasih. Pada tahap aniah. qudrat dll.

Untuk itu tidak mengherankan kalau pemimpin-pemimpin pembaharuan dalam Islam seperti Jamaluddin Afghani. Karena pengaruh besar dalam masyarakat itu orientasi akhirat dan sikap tawakal berkembang di kalangan umat Islam yang bekas-bekasnya masih ada pada kita sampai sekarang. sehingga timbullah pertentangan antara kaum syari'at dan kaum tarekat. Di Turki Usmani. Suria dan Mesir. yang dibentuk oleh murid-murid atau pengikut-pengikut sufi besar untuk melestarikan ajaran gurunya. Pada tingkat ini sufi pun menjadi Insan Kamil. Sanusiah di Libia. Syattariah. Rasyid Ridha dan terutama Kamal Ataturk memandang tarekat sebagai salah satu faktor yang membawa kepada kemunduran . Mawlawiah (Jalaluddin Rumi) di Turki. Demikianlah. muncul pada abad ke-14 bagi pengikut Bahauddin Naqsyabandi (w. Ia menjadi manusia sempurna. Dialah bayangan Tuhan yang sempurna. 1166 M). Insan Kamil yang tersempurna terdapat dalam diri Nabi Muhammad. Sementara itu tasawuf pada masa awal sejarahnya mengambil bentuk tarekat. Dengan kata lain. Perlu ditegaskan bahwa sampai permulaan abad ke-20. sufi disinari dzat Tuhan yang dengan demikian sufi tersebut ber-tajalli dengan dzat-Nya. Karena pengaruh besar itu. Tarekat ada yang telah menyalahi ajaran dasar sufi dan syari'at Islam. tentara menjadi anggota tarekat Bekhtasyi dan dalam perlawanan mereka terhadap pembaharuan yang diadakan sultan-sultan. pengikut Abdullah Syattar (w. Pada tingkat khitam. Mesir dan Suria. Naqsyabandiah. tujuan sufi untuk berada sedekat mungkin dengan Tuhan akhirnya tercapai malalui ittihad serta hulul yang mengandung pengalaman persatuan roh manusia dengan roh Tuhan dan melalui wahdat al-wujud yang mengandung arti penampakan diri atau tajalli Tuhan yang sempurna dalam diri Insan Kamil. mereka mendapat sokongan dari tarekat Bekhtasyi dan para ulama Turki. ajaran-ajaran sufi besar tersebut terkadang diselewengkan. dan Tijaniah yang muncul pada abad ke-19 di Marokko dan Aljazair. 1415 M). tarekat mempunyai pengaruh besar dalam masyarakat Islam. 1415 M). Syadziliah di Marokko. Sementara itu ada pula tarekat yang menekankan pentingnya kehidupan rohani dan mengabaikan kehidupan duniawi. yang dikembangkan tarekat adalah orientasi akhirat dan sikap tawakal. Tarekat-tarekat besar lain diantaranya adalah Bekhtasyiah di Turki. Dan dialah yang menjadi perantara antara manusia dan Tuhan. mempunyai sifat ketuhanan dan dalam dirinya terdapat bentuk (shurah) Allah. orang-orang yang ingin mendapat dukungan dari masyarakat menjadi anggota tarekat. Insan Kamil terdapat dalam diri para Nabi dan para wali. dan disamping itu menekankan ajaran tawakal sufi. Dalam tarekat. Muhammad Abduh. sehingga mengabaikan usaha. dan Rifa'iah di Irak. Di antara tarekat-tarekat besar yang terdapat di Indonesia adalah Qadiriah yang muncul pada abad ke-13 Masehi untuk melestarikan ajaran Syekh Abdul Qadir Jailani (w. dalam arti organisasi tasawuf. Di antara semuanya.sifat-sifat-Nya. sehingga tarekat menyimpang dari tujuan sebenarnya dari sufi untuk menyucikan diri dan berada dekat dengan Tuhan.

UA 20-21 Jakarta Selatan Telp. al-Nahdah al-Misriah. A. FILSAFAT ISLAM (1/3) oleh Harun Nasution . Pada akhir-akhir ini memang kelihatan gejala orang-orang di Barat yang bosan hidup kematerian lalu mencari hidup kerohanian di Timur. H.R. George Allan and Unwin Ltd.. Histoire de la Philosophie Islamique. 1963. Dalam pada itu dunia dewasa ini dilanda oleh materialisme yang menimbulkan berbagai masalah sosial yang pelik. Banyak orang mengatakan bahwa dalam menghadapi meterialisme yang melanda dunia sekarang. Metro Pondok Indah Pondok Indah Plaza I Kav.. Paris. 7507173 Fax.. Badawi. 7501983. (021) 7501969. Syatahat al-Sufiah. perlu dihidupkan kembali spiritualisme.J. umpamanya aliran Subud di Jakarta. Disini tasawuf dengan ajaran kerohanian dan akhlak mulianya dapat memainkan peranan penting. (021) 7507174 Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota Please direct any suggestion to Media Team Artikel Yayasan Paramadina Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota III. Arberry dalam bukunya Sufism menulis bahwa Muslim dan bukan Muslim adalah makhluk Tuhan yang satu. London. Cairo. 1949. Ada yang pergi ke kerohanian dalam agama Buddha.umat Islam. ada ke kerohanian dalam agama Hindu dan tak sedikit pula yang mengikuti kerohanian dalam agama Islam. A. -------------------------------------------Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah Editor: Budhy Munawar-Rachman Penerbit Yayasan Paramadina Jln.13. 1964. Corbin. A.. Tetapi untuk itu yang perlu ditekankan tarekat dalam diri para pengikutnya adalah penyucian diri dan pembentukan akhlak mulia disamping kerohanian dengan tidak mengabaikan kehidupan keduniaan. Oleh karena itu bukanlah tidak pada tempatnya bagi seorang Kristen untuk mempelajari ajaran-ajaran sufi yang telah meninggalkan pengaruh besar dalam kehidupan umat Islam dan bersama-sama dengan orang Islam menggali kembali ajaran-ajaran sufi yang akan dapat memenuhi kebutuhan orang yang mencari nilai-nilai kerohanian dan moral zaman yang penuh kegelapan dan tantangan seperti sekarang. DAFTAR KEPUSTAKAAN Arberry.J. Dalam hubungan itu kira-kira 30 tahun lalu. Gallimard. Sufism.

bahwa tidak ada paksaan dalam agama dan bahwa kewajiban orang Islam hanya menyampaikan ajaran-ajaran yang dibawa Nabi. maka akal yang kuat menggambarkan manusia yang kuat.Ketika datang ke Timur Tengah pada abad IV SM. Dari pihak umat Islam timbul satu golongan yang melihat bahwa serangan itu tidak dapat ditangkis kecuali dengan memakai argumen-argumen filosofis pula. Mereka pun menyerang agama Islam dengan memajukan argumen-argumen berdasarkan falsafat yang mereka peroleh dari Yunani. Daerah-daerah ini. dengan penduduk setempat. Manusia dewasa. baik dalam perbuatan maupun pemikiran. Mereka tinggalkan arti harfiah teks dan ambil arti majazinya. jatuh ke bawah kekuasaan Islam. mampu berdiri sendiri. Dengan demikian timbullah di panggung sejarah pemikiran Islam teologi rasional yang dipelopori kaum Mu'tazilah. tidak dipaksa para sahabat untuk masuk-Islam. tapi juga menanamkan kebudayaan Yunani di daerah-daerah yang dimasukinya. Untuk itu ia adakan pembauran antara orang-orang Yunani yang dibawanya. yang di Barat dikenal dengan istilah free-will and free-act. Karena itu aliran ini menganut faham qadariah. Mereka dikenal banyak memakai ta'wil dalam memahami wahyu. yang membawa kepada konsep manusia yang penuh dinamika. 3. dengan menangnya kekuatan Islam dalam peperangan tersebut. Aleksander Yang Agung membawa bukan hanya kaum militer tetapi juga kaum sipil. Untuk itu mereka pelajari filsafat dan ilmu pengetahuan Yunani. Ciri-ciri dari teologi rasional ini ialah: 1. 2. Tujuannya bukanlah hanya meluaskan daerah kekuasaannya ke luar Macedonia. dan timbullah pusat-pusat peradaban Yunani seperti Iskandariah (dari nama Aleksander) di Mesir. Selopsia serta Jundisyapur di Irak dan Baktra (sekarang Balkh) di Iran. sesuai dengan ajaran al-Qur'an. Akal menunjukkan kekuatan manusia. Kedudukan akal yang tinggi dalam pemikiran Yunani mereka jumpai sejalan dengan kedudukan akal yang tinggi dalam al-Qur'an dan Sunnah Nabi. mempunyai kebebasan dalam kemauan serta perbuatan. dan mampu berfikir secara mendalam. Antakia di Suria. yaitu manusia dewasa. berlainan dengan anak kecil. Tetapi penduduknya. dan kekuatan Kerajaan Persia di Iran. dengan lain kata mereka tinggalkan arti tersurat dari nash wahyu dan mengambil arti tersiratnya. Mereka tetap memeluk agama mereka semula terutama yang menganut agama Nasrani dan Yahudi. Dengan jalan demikian berkembanglah falsafat dan ilmu pengetahuan Yunani di Timur Tengah. Ketika para Sahabat Nabi Muhammad menyampaikan dakwah Islam ke daerah-daerah tersebut terjadi peperangan antara kekuatan Islam dan kekuatan Kerajaan Bizantium di Mesir. Dari warga negara non Islam ini timbul satu golongan yang tidak senang dengan kekuasaan Islam dan oleh karena itu ingin menjatuhkan Islam. Suria serta Irak. Pemikiran filosofis mereka membawa kepada penekanan . Kedudukan akal tinggi di dalamnya. sehingga mereka tidak mau tunduk kepada arti harfiah dari teks wahyu yang tidak sejalan dengan pemikiran filosofis dan ilmiah.

yang mengatur perjalanan apa yang ada di alam ini. dan peraturan itu perlu dicari untuk kepentingan hidup manusia di dunia ini. Yang Maha Esa berfikir tentang diriNya yang esa. Karena pemikiran Tuhan tentang diriNya merupakan daya . Dalam hal ini al-Farabi (870-950 M) memberi konsep yang lebih murni lagi. Yang Maha Esa. (haqiqah kulliah) yang disebut mahiah. pancaran) dari al-Farabi. Filsafat yang termulia dalam pendapat Al-Kindi adalah filsafat ketuhanan atau teologi. Filsafat dengan demikian membahas soal Tuhan dan agama. Benda-benda yang ada di luar akal merupakan juz'iat (kekhususan. al-Kindi. Tiap-tiap benda mempunyai hakikat sebagai juz'i (haqiqah jaz'iah) yang disebut aniah dan hakikat sebagai kulli. universals). dalam al-Qur'an disebut Sunnatullah. dan dalam penjelasan tentang yang benar juga memakai argumen-argumen rasional. yaitu sesuainya konsep dalam akal dengan benda bersangkutan yang berada di luar akal. adalah sesuainya apa yang ada di dalam akal dengan apa yang ada diluarnya.konsep Tuhan Yang Maha Adil. (796-873M) satu-satunya filsuf Arab dalam Islam. berusaha memurnikan keesaan Tuhan dari arti banyak. Filsuf besar pertama yang dikenal adalah al-Kindi. tetapi juga sains. Al-haqiqah atau kebenaran. yang di dalam diriNya terdapat arti banyak. Keadilan Tuhan membawa mereka selanjutnya kepada keyakinan adanya hukum alam ciptaan Tuhan. particulars). Hakikat yang ada dalam benda-benda itu disebut kulliat (keumuman. berhubungan langsung dengan ciptaannya yang tak dapat dihitung banyaknya itu. Dengan filsafat "al-Haqq al-Awwal"nya. dan berfalsafat tidaklah haram dan tidak dilarang. Memurnikan tauhid memang masalah penting dalam teologi dan filsafat Islam. Filsafat ia artikan sebagai pembahasan tentang yang benar (al-bahs'an al-haqq). Teologi rasional Mu'tazilah inilah. di dalam diri Tuhan terdapat arti banyak. Mempelajari teologi adalah wajib dalam Islam. kebebasan manusia dalam berfikir serta berbuat dan adanya hukum alam ciptaan Tuhan. yang membawa pada perkembangan Islam. Zat. dan pemikiran merupakan daya atau energi. Yang penting bagi filsafat bukanlah benda-benda atau juz'iat itu sendiri. Maka kedua-duanya membahas yang benar. Karena itu mempelajari filsafat. dengan keyakinan akan kedudukan akal yang tinggi. Alam ini berjalan menurut peraturan tertentu. pada masa antara abad ke VIII dan ke XIII M. Menurut pemikiran filsafat kalau ada yang benar maka mesti ada "Yang Benar Pertama" (al-Haqq al-Awwal). tidaklah sebenarnya esa. Ia dengan tegas mengatakan bahwa antara filsafat dan agama tak ada pertentangan. Pemurnian tauhid inilah yang menimbulkan filsafat emanasi (al-faid. Dalam pemikirannya. Selanjutnya filsafat dalam pembahasannya memakai akal dan agama. tetapi wajib. Agama dalam pada itu juga menjelaskan yang benar. menurut pendapatnya. yaitu hakikat yang bersifat universal dalam bentuk jenis. Pencipta alam semesta. hanya berhubungan dengan yang esa. Yang Benar Pertama itu dalam penjelasan Al-Kindi adalah Tuhan. Maka keadilan Tuhanlah yang menjadi titik tolak pemikiran teologi mereka. tetapi yang penting adalah hakikat dari juz'iat itu sendiri. bukan hanya filsafat. kalau Tuhan. agar menjadi esa.

Akal VII menghasilkan Akal VIII dan Venus. Akal IX menghasilkan Akal X dan Bulan. Dalam diri yang esa atau Akal I inilah mulai terdapat arti banyak. udara.yang dahsyat. yaitu Tuhan dan dirinya sendiri. air dan tanah. Dengan lain kata Akal I. Jadi. Ak al VIII menghasilkan Akal IX dan Merkuri. tetapi dari sesuatu yang dipancarkan pemikiran Tuhan. Sesuatu mesti diciptakan dari suatu yang telah ada. Memang tiap-tiap Akal itu mengurus planet yang diwujudkannya. Pemikirannya tentang Tuhan menghasilkan Akal III dan pemikirannya tentang dirinya sendiri menghasilkan Alam Bintang. yang dikritik al-Ghazali. Yang diciptakan pemikiran Tuhan tentang diriNya itu adalah Akal I. Akal II dan seterusnya serta materi asal yang empat api. tetapi melalui Akal atau malaikat. Akal II juga mempunyai obyek pemikiran. Dari sinilah timbul pengertian alam qadim. tetapi dari materi asal yaitu api. Pemikiran Akal X tentang Tuhan tidak lagi menghasilkan Akal. Ibn Sina dan filsuf-filsuf Islam yang menganut paham emanasi. Akal II melalui Akal III dan demikianlah seterusnya sampai ke penciptaan Bumi melalui Akal X. air dan tanah adalah pula qadim. dalam arti tidak mempunyai permulaan dalam zaman. Maka materi asal timbul bukan dari tiada. yaitu zaman tak bermula. Tuhan tidak langsung menciptakan yang banyak ini. cukup kuat lagi untuk menghasilkan Demikianlah gambaran alam dalam astronomi yang diketahui di zaman Aristoteles dan zaman al-Farabi. yaitu alam yang terdiri atas sepuluh falak. Begitulah Tuhan menciptakan alam semesta dalam falsafat emanasi al-Farabi. karena tidak ada lagi planet yang akan diurusnya. Dalam pendapat falsafat dari nihil tak dapat diciptakan sesuatu. Akal IV menghasilkan Akal V dan Yupiter. Pemikirannya tentang Tuhan menghasilkan Akal II dan pemikirannya tentang dirinya menghasilkan Langit Pertama. Akal dalam pendapat filsuf Islam adalah malaikat. maka daya itu menciptakan sesuatu. Akal V menghasilkan Akal VI dan Mars. dan Akal I melalui Akal II. udara. . tetapi melalui Akal I yang esa. Akal VI menghasilkan Akal VII dan Matahari. Pemikiran Akal X tidak Akal. Alam dalam filsafat Islam diciptakan bukan dari tiada atau nihil. Yang Maha Esa menciptakan yang esa. Dengan demikian diperolehlah gambaran berikut: Akal III menghasilkan Akal IV dan Saturnus. Obyek pemikiran Akal I adalah Tuhan dan dirinya sendiri. Tuhan tidak langsung berhubungan dengan yang banyak. Begitulah Akal selanjutnya berfikir tentang Tuhan dan menghasilkan Akal dan berpikir tentang dirinya sendiri dan menghasilkan planet-planet. Dalam diri Tuhan tidak terdapat arti banyak. apa yang dipancarkan pemikiran Tuhan itu mestilah pula qadim. Akal X menghasilkan hanya Bumi. dan inilah tauhid yang murni dalam pendapat al-Farabi. Karena Tuhan beffikir semenjak qidam.

-------------------------------------------. (021) 7507174 Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota Please direct any suggestion to Media Team Artikel Yayasan Paramadina Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota III. . yaitu pendengaran. 7507173 Fax. yang tak pernah ada dalam materi seperti Tuhan.13. Sama dengan al-Farabi ia membagi jiwa kepada tiga bagian: 1. 3. UA 20-21 Jakarta Selatan Telp. pindah dari satu tempat ke tempat. Metro Pondok Indah Pondok Indah Plaza I Kav. Jiwa tumbuh-tumbuhan yang mempunyai daya makan. Indra penganggap yang menangkap arti-arti yang terlindung dalam gambar-gambar tersebut. Filsafat yang terbaik mengenai ini adalah pemikiran yang diberikan Ibn Sina (980-1037M). tumbuh dan berkembang biak. b. yang mempunyai hanya satu daya. roh dan malaikat. Jiwa binatang yang mempunyai daya gerak. iii. yang menerima arti-arti yang berasal dari materi melalui indra pengingat yang ada dalam jiwa binatang. Indra pengingat yang menyimpan arti-arti itu. (021) 7501969. iv. yang terbagi dua: (a) Indra luar. FILSAFAT ISLAM (2/3) oleh Harun Nasution Selain kemahaesaan Tuhan. rasa dan raba. Jiwa manusia. yaitu berfikir yang disebut akal. yang dibahas filsuf-filsuf Islam ada pula soal jiwa manusia yang dalam falsafat Islam disebut al-nafs. dan daya menangkap dengan pancaindra. 7501983. Indra bersama yang menerima kesan-kesan yang diperoleh pancaindra. 2. Indra penggambar yang melepaskan gambar-gambar dari materi. Akal teoritis.(bersambung 2/3) Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah Editor: Budhy Munawar-Rachman Penerbit Yayasan Paramadina Jln. Dan (b) Indra dalam yang berada di otak dan terdiri dari: i. Akal praktis.Indra pereka yang mengatur gambar-gambar ini. Akal terbagi dua: a. penglihatan. yang menangkap arti-arti murni. v. ii.

Tetapi jika jiwa manusia yang berpengaruh terhadap dirinya maka ia dekat menyerupai malaikat. berlainan dengan kedua jiwa di atas fungsinya tidak berkaitan dengan yang bersifat fisik tetapi yang bersifat abstrak dan rohani. yang akan tinggal menghadapi perhitungan di depan Tuhan adalah jiwa manusia. tetapi di akhirat. Sifat seseorang banyak bergantung pada jiwa mana dari tiga yang tersebut di atas berpengaruh pada dirinya. Kalau jiwa tumbuh tumbuhan dan binatang tidak kekal. kalau terpengaruh oleh materi. jiwa tak berhajat lagi pada badan. Akal inilah yang dapat menangkap arti-arti murni yang dipancarkan Tuhan melalui Akal X ke Bumi. Kalau akal sudah sampai kepada kesempurnaan. karena telah memperoleh balasan di dunia ini tidak akan dihidupkan kembal di akhirat. Akal perolehan yang telah sempurna kesanggupannya menangkap arti-arti murni. Jiwa manusia. Akal aktual. Makin banyak arti yang diteruskan otak kepadanya makin kuat daya akal untuk menangkap arti-arti murni. sehingga hawa nafsu yang terdapat di dalamnya tidak menjadi halangan bagi akal praktis untuk membawa manusia kepada kesempurnaan. dan jelas bahwa yang terpenting diantaranya adalah jiwa berpikir manusia yang disebut akal itu Akal praktis. Jika jiwa tumbuh-tumbuhan dan binatang yang berpengaruh. Kedua jiwa ini. karena otaklah. Dalam diri manusia terdapat tiga macam jiwa ini. Tetapi kalau ia teruskan akal teoritis akan berkembang dengan baik. sebagaimana dilihat di atas. jiwa manusia adalah . Akal bakat. Karena itu balasan yang akan diterimanya bukan di dunia. 4.Akal praktis memusatkan perhatian kepada alam materi. yang telah mudah dan lebih banyak menangkap arti-arti murni. bahkan badan bisa menjadi penghalang baginya dalam menangkap arti-arti murni. ke akal teoritis. 2. yang diterimanya dari indra pengingat dalam jiwa binatang. yang diciptakan Tuhan setiap ada janin yang siap untuk menerima jiwa. Akal teoritis mempunyai empat tingkatan: 1. Akal inilah yang mengontrol badan manusia. Setelah tubuh manusia mati. 3. Jiwa berhajat kepada badan manusia. yang pada mulanya menolong akal untuk menangkap arti-arti. Dan dalam hal ini akal praktis mempunyai malaikat. sedang akal teoritis kepada alam metafisik. Jiwa manusia mempunyai wujud tersendiri. Jiwa tumbuh-tumbuhan dan binatang lenyap dengan matinya tubuh karena keduanya hanya mempunyai fungsi-fungsi fisik seperti dijelaskan sebelumnya. tidak meneruskan arti-arti. Akal potensial dalam arti akal yang mempunyai potensi untuk menangkap arti-arti murni. Jiwa tumbuh-tumbuhan dan jiwa binatang akan lenyap dengan hancurnya tubuh kembali menjadi tanah. Akal tingkat keempat inilah yang tertinggi dan dimiliki filsuf-filsuf. yang telah mulai dapat menangkap arti-arti murni. orang itu dekat menyerupai binatang.

Alam qadim dalam arti tak bermula dalam zaman 2. yang ada hanyalah semata-mata zat. Tidak diciptakan bisa pula berarti tidak perlu adanya Pencipta yaitu Tuhan. Kalau alam qadim. Politeisme dan ateisme jelas bertentangan sekali dengan ajaran dasar Islam tauhid yang sebagaimana dilihat di atas para filsuf mengusahakan Islam memberikan arti semurni-murninya. tak bermula dalam zaman dan baqin. Tuhan mengetahui hanya yang bersifat universal. Dari paham bahwa jiwa manusialah yang akan menghadapi perhitungan kelak timbul faham tidak adanya pembangkitan jasmani yang juga dikritik al-Ghazali. Yang tidak diciptakan adalah Tuhan. Dan ini berarti tidak diciptakan. dosa besar yang dalam al-Qur'an disebut tak dapat diampuni Tuhan. timbul pendapat bahwa Tuhan tidak mengetahui juz'iat. II dan seterusnyalah yang mengatur planet-planet maka Akal I. diantara sepuluh itu. pembangkitan jasmani tak ada. Tetapi kalau ia berpisah dari badan dalam keadaan belum sempurna ia akan mengalami kesengsaraan kelak. Maka syahadat dalam teologi Islam adalah: la qadima. Jika ia telah mencapai kesempurnaan sebelum berpisah dengan badan ia akan mengalami kebahagiaan di akhirat. Tuhan tidak mengetahui perincian yang terjadi di alam. Karena inti manusia adalah jiwa berfikir untuk memperoleh kesempurnaan. . tidak ada yang qadim selain Allah. maka alam adalah pula Tuhan dan terdapatlah dua Tuhan. Sebagai orang yang banyak berkecimpung dalam bidang sains para filsuf percaya pula kepada tidak berubahnya hukum alam. yaitu perincian yang ada dalam alam ini. Karena akal I. Konsep alam qadim membawa kepada kekufuran dalam pendapat al-Ghazali karena qadim dalam filsafat berarti sesuatu yang wujudnya tidak mempunyai permulaan dalam zaman yaitu tidak pernah tidak ada di zaman lampau. Pemurnian itu membawa al-Farabi pula kepada falsafat emanasi yang di dalamnya terkandung pemikiran alam qadim. Ini membawa kepada paham syirk atau politeisme. Pembangkitan jasmani tak ada 3. Sebagai seorang Mu'tazilah al-Kindi juga tidak percaya pada adanya sifat-sifat Tuhan. II dan seterusnya itulah yang mengetahui juz'iat atau kekhususan yang terjadi di alam ini. Demikianlah beberapa aspek penting dari falsafat Islam. Karena Tuhan dalam filsafat emanasi tak boleh berhubungan langsung dengan yang banyak dan hanya berfikir tentang diriNya Yang Maha Esa.kekal. Ini membawa pula kepada ateisme. Inilah yang mendorong al-Ghazali untuk mencap kafir filsuf yang percaya bahwa alam ini qadim. Pemurnian konsep tauhid membawa al-Kindi kepada pemikiran Tuhan tidak mempunyai hakikat dan tak dapat diberi sifat jenis (al-jins) serta diferensiasi (al-fasl). tak mempunyai akhir dalam zaman. menurut al-Ghazali membawa mereka kepada kekufuran. illallah. yaitu: 1. Tiga. Inilah sepuluh dari duapuluh kritikan yang dimajukan al-Ghazali (1058-1111 M) terhadap pemikiran para filsuf Islam.

yang ada ialah kebiasaan alam. Mereka tidak mengambil arti tersurat dari wahyu untuk menyesuaikannya dengan pemikiran ilmiah dan filosofis. Katakanlah: Yang menghidupkan adalah Yang Menciptakannya pertama kali. sedangkan teks ayat-ayat dalam al-Qur'an menggambarkan adanya pembangkitan jasmani itu. Sebagai lawan dari teologi rasional Mu'tazilah teologi Asy'ari bercorak tradisional. berlawanan dengan teks ayat dalam al-Qur'an. 2. Dalam pada itu sebelum zaman al-Ghazali telah muncul teologi baru yang menentang teologi rasional Mu'tazilah. teologi tradisional inilah yang berkembang di dunia Islam bagian Timur. Apalagi di samping pengkafiran itu al-Ghazali mengeluarkan pendapat bahwa jalan sebenarnya untuk mencapai hakikat bukanlah filsafat tetapi tasawuf. Tidak mengherankan kalau sesudah zaman . Umpamanya ayat 78/9 dari surat Yasin "Siapa yang menghidupkan tulang-tulang yang telah rapuh ini?. Manusia dan alam ini diatur Tuhan menurut kehendak mutlakNya dan bukan menurut peraturan yang dibuatnya. Tuhan tidak mengetahui perincian yang ada di alam juga didasarkan atas keadaan falsafat itu. Oleh sebab-sebab yang belum begitu jelas ia meninggalkan paham Mu'tazilahnya dan munculkan sebagai lawan dari teologi Mu'tazilah teologi baru yang kemudian dikenal dengan nama teologi al-Asy'ari. tak terdapat. Corak tradisionalnya dilihat dari hal-hal 1. 3. Pengkafiran tentang masalah ketiga. Karena itu hukum alam dalam teologi ini. Pengkafiran al-Ghazali ini membuat orang di dunia Islam bagian timur dengan Baghdad sebagai pusat pemikiran menjauhi falsafat. Manusia di sini bersikap statis. Dalam teologi ini akal mempunyai kedudukan rendah sehingga kaum Asy'ari banyak terikat kepada arti lafzi dari teks wahyu. Karena akal lemah manusia dalam teologi ini merupakan manusia lemah dekat menyerupai anak yang belum dewasa yang belum bisa berdiri sendiri tetapi masih banyak bergantung pada orang lain untuk membantunya dalam hidupnya. Jelas teologi tradisional al-Asy'ari ini tidak mendorong pada berkembangnya pemikiran ilmiah dan filosofis sebagaimana halnya dengan teologi rasional Mu'tazilah. Sesudah al-Ghazali. Teologi baru itu dibawa oleh al-Asy'ari (873-935) yang pada mulanya adalah salah satu tokoh teologi rasional. Dengan demikian bagi mereka api tidak sesuai dengan hukum alam selamanya membakar tetapi biasanya membakar sesuai dengan kehendak mutlak Tuhan." Maka pengkafiran di sini berdasar atas berlawanannya falsafat tidak adanya pembangkitan jasmani dengan teks al-Qur'an yang adalah wahyu dari Tuhan.Mengenai masalah kedua pembangkitan jasmani tak ada. Pemikiran teologi al-Asy'ari bertitik tolak dari paham kehendak mutlak Tuhan. Sebagai umpama dapat disebut ayat 59 dari surat al-An'am: Tiada daun yang jatuh yang tidak diketahui-Nya. Teologi ini mengajarkan paham jabariah atau fatalisme yaitu percaya kepada kada dan kadar Tuhan.

-------------------------------------------. (021) 7501969. kebaikan serta kejahatan dan kewajiban manusia berbuat baik dan menjauhi perbuatan jahat. tidak ada sesuatu di samping Tuhan. wajibnya manusia berterimakasih kepada Tuhan. tidak sesuai dengan kandungan al-Qur'an.(bersambung 3/3) Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah Editor: Budhy Munawar-Rachman Penerbit Yayasan Paramadina Jln. Dalam hal-hal ini wahyu datang untuk memperkuat akal. 7507173 Fax. Metro Pondok Indah Pondok Indah Plaza I Kav. kata Ibn Rusyd. FILSAFAT ISLAM (3/3) oleh Harun Nasution Di dunia Islam bagian Barat yaitu di Andalus atau Spanyol Islam. jauh dari masyarakat manusia.al-Ghazali ilmu dan falsafat tak berkembang lagi di Baghdad sebagaimana sebelumnya di zaman Mu'tazilah dan filsuf-filsuf Islam. (021) 7507174 Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota Please direct any suggestion to Media Team Artikel Yayasan Paramadina Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota III. telah ada sesuatu di sampingNya. dapat mencapai kesempurnaan sehingga ia sanggup menerima pancaran ilmu dari Tuhan. Didalam al-Qur'an digambarkan bahwa sebelum alam diciptakan Tuhan. Tuhan menciptakan alam dari tiada atau nihil. menurut Ibn Rusyd mengandung arti bahwa ketika Tuhan menciptakan alam. 1185 M) dalam bukunya Hayy Ibn Yaqzan malahan menghidupkan pendapat Mu'tazilah bahwa akal manusia begitu kuatnya sehingga ia dapat mengetahui masalah-masalah keagamaan seperti adanya Tuhan. sebaliknya pemikiran filsafat masih berkembang sesudah serangan al-Ghazali tersebut. konsep al-Ghazali bahwa alam hadis. Mengenai masalah pertama qidam al-alam. 7501983. Ayat 7 dari surat Hud umpamanya mengatakan. Tapi Ibn Rusyd-lah (1126-1198 M) yang mengarang buku Tahafut al-Tahafut sebagai jawaban terhadap kritik-kritik Al-Ghazali yang ia uraikan dalam Tahafut al-Falasifah. kelihatannya mencela al-Ghazali yang berpendapat bahwa bukanlah akal tetapi al-dzauq dan ma'rifat sufilah yang membawa orang kepada kebenaran yang meyakinkan. alam tidak mempunyai permulaan dalam zaman. Ibn Bajjah (1082-1138) dalam bukunya Risalah al-Wida'.13. alam mempunyai permulaan dalam zaman. Ibn Tufail (w. di ketika itu berada dalam kesendirianNya. Tuhan. dengan kata lain. UA 20-21 Jakarta Selatan Telp. . Dan akal orang yang terpencil di suatu pulau. seperti yang terdapat dalam falsafat emanasi Al-Farabi dan Ibn Sina. Konsep serupa ini.

Apakah orang-orang yang tak percaya tidak melihat bahwa langit dan bumi (pada mulanya) adalah satu dan kemudian Kami pisahkan. tetapi juga berarti sesuatu yang diciptakan dalam keadaan terus menerus. Dalam hal bumi. menurut penjelasan Ibn Rusyd tidak membawa kepada politeisme atau ateisme. Kemudian Ia pun naik ke langit sewaktu ia masih merupakan uap. Ayat 12 dari surat al-Mu'minun. mulai dari zaman tak bermula di masa lampau sampai ke zaman tak berakhir di masa mendatang. Di sini yang ada di samping Tuhan adalah uap. Adapun langit dan bumi susunannya adalah baru (hadis). Manusia di dalam al-Qur'an diciptakan bukan dari "tiada" tetapi dari sesuatu yang "ada. Jadi Tuhan qadim berarti Tuhan tidak diciptakan. Ayat 47/8 dari surat Ibrahim menyebut: Janganlah sangka bahwa Allah akan menyalahi janji bagi rasul-rasulNya. Filsafat memang tidak menerima konsep penciptann dari tiada (creatio ex nihilo)." yang terjadi ialah "ada" berubah menjadi "ada" dalam bentuk lain. bahwa ketika Tuhan menciptakan langit dan bumi telah ada di samping Tuhan.Dan Dia-lah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam hari dan takhtaNya (pada waktu itu) berada di atas air." yaitu intisari tanah seperti disebut oleh ayat di atas. menjelaskan. Ibn Sina dan filsuf-filsuf lain. tetapi adalah Pencipta dan alam qadim berarti alam diciptakan dalam keadaan terus menerus dari zaman tak bermula ke zaman tak berakhir." seperti yang dikatakan para filsuf. Ayat 11 dari Ha Mim menyebut pula. menggambarkan penciptaan bukan dari "tiada. air. kata khalaqa di dalam al-Qur'an. Dengan demikian sungguhpun alam qadim. alam bukan Tuhan. "ada" dalam bentuk materi asal yang empat dirubah Tuhan menjadi "ada" dalam bentuk bumi. Qadimnya alam. Dengan ayat-ayat serupa inilah Ibn Rusyd menentang pendapat al-Ghazali bahwa alam diciptakan Tuhan dari tiada dan bersifat hadis dan menegaskan bahwa pendapat itu tidak sesuai dengan kandungan al-Qur'an. Di samping itu. Bahwa alam yang terus menerus dalam keadaan diciptakan ini tetap akan ada dan baqin digambarkan juga oleh al-Qur'an. karena qadim dalam pemikiran filsafat bukan hanya berarti sesuatu yang tidak diciptakan. Kami ciptakan manusia dari inti sari tanah." seperti yang dikatakan al-Ghazali. "Tiada. tetapi adalah ciptaan Tuhan." kata Ibn Rusyd tidak bisa berubah menjadi "ada. Sesungguhnya Allah Maha Kuasa dan Maha Pemberi balasan di hari bumi ditukar dengan bumi yang lain dan . Kami jadikan segala yang hidup dari air. Dan yang qadim adalah materi asal. Ayat ini mengandung arti bahwa langit dan bumi pada mulanya berasal dari unsur yang satu dan kemudian menjadi dua benda yang berlainan. Yang sesuai dengan kandungan al-Qur'an sebenarnya adalah konsep al-Farabi. Selanjutnya ayat 30 dari surat al-Anbia' mengatakan pula. dan air serta uap adalah satu. Jelas disebut dalam ayat ini. Demikian pula langit. kata Ibn Rusyd. tetapi dari "ada.

(demikian pula) langit. Di hari perhitungan atau pembalasan nanti, tegasnya di hari kiamat, Tuhan akan menukar bumi ini dengan bumi yang lain dan demikian pula langit sekarang akan ditukar dengan langit yang lain. Konsep ini mengandung arti bahwa pada hari kiamat bumi dan langit sekarang akan hancur susunannya dan menjadi materi asal api, udara, air dan tanah kembali; dari keempat unsur ini Tuhan akan menciptakan bumi dan langit yang lain lagi. Bumi dan langit ini akan hancur pula, dan dari materi asalnya akan diciptakan pula bumi dan langit yang lain dan demikianlah seterusnya tanpa kesudahan. Jadi pengertian qadim sebagai sesuatu yang berada dalam kejadian terus menerus adalah sesuai dengan kandungan al-Qur'an. Dengan demikian al-Ghazali tidak mempunyai argumen kuat untuk mengkafirkan filsuf dalam filsafat mereka tentang qadimnya alam. Kedua-duanya, kata Ibn Rusyd, yaitu pihak al-Farabi dan pihak al-Ghazali sama-sama memberi tafsiran masing-masing tentang ayat-ayat al-Qur'an mengenai penciptaan alam. Yang bertentangan bukanlah pendapat filsuf dengan al-Qur'an, tetapi pendapat filsuf dengan pendapat al-Ghazali. Mengenai masalah kedua, Tuhan tidak mengetahui perincian yang terjadi di alam, Ibn Rusyd menjelaskan bahwa para filosof tak pernah mengatakan demikian. Menurut mereka Tuhan mengetahui perinciannya; yang mereka persoalkan ialah bagaimana Tuhan mengetahui perincian itu. Perincian berbentuk materi dan materi dapat ditangkap pancaindra, sedang Tuhan bersifat immateri dan tak mempunyai pancaindra. Dalam hal pembangkitan jasmani, Ibn Rusyd menulis dalam Tahafut al-Tahafut bahwa filsuf-filsuf Islam tak menyebut hal itu. Dalam pada itu ia melihat adanya pertentangan dalam ucapan-ucapan al-Ghazali. Di dalam Tahajut al-Falasifah ia menulis bahwa dalam Islam tidak ada orang yang berpendapat adanya pembangkitan rohani saja, tetapi di dalam buku lain ia mengatakan, menurut kaum sufi, yang ada nanti ialah pembangkitan rohani dan pembangkitan jasmani tidak ada. Dengan demikian al-Ghazali juga tak mempunyai argumen kuat untuk mengkafirkan kaum filsuf dalam pemikiran tentang tidak tahunya Tuhan tentang perincian di alam dan tidak adanya pembangkitan jasmani. Ini bukanlah pendapat filsuf, dan kelihatannya adalah kesimpulan yang ditarik al-Ghazali dari filsafat mereka. Dalam pada itu Ibn Rusyd, sebagaimana para filsuf Islam lain, menegaskan bahwa antara agama dan falsafat tidak ada pertentangan, karena keduanya membicarakan kebenaran, dan kebenaran tak berlawanan dengan kebenaran. Kalau penelitian akal bertentangan dengan teks wahyu dalam al-Qur'an maka dipakai ta'wil; wahyu diberi arti majazi. Arti ta'wil adalah meningga]kan arti lafzi untuk pergi ke arti majazi. Dengan kata lain, meninggalkan arti tersurat dan mengambil arti tersirat. Tetapi arti tersirat tidak boleh disampaikan kepada kaum awam, karena mereka tak dapat memahaminya. Antara filsafat dan agama Ibn Rusyd mengadakan harmoni. Dan dalam harmoni ini akal mempunyai kedudukan tinggi. Pengharmonian akal dan wahyu ini sampai ke Eropa dan di sana dikenal dengan averroisme. Salah satu ajaran averroisme ialah

kebenaran ganda, yang mengatakan bahwa pendapat filsafat benar, sungguhpun menurut agama salah. Agama mempunyai kebenarannya sendiri. Dan averroisme inilah yang menimbulkan pemikiran rasional dan ilmiah di Eropa. Tak lama sesudah zaman Ibn Rusyd umat Islam di Spanyol mengalami kemunduran besar dan kekuasaan luas Islam sebelumnya hanya tinggal di sekitar Granada di tangan Banu Nasr. Pada 1492 dinasti ini terpaksa menyerah kepada Raja Ferdinand dari Castilia. Dengan hilangnya Islam dari Andalus atau di Spanyol, hilang pulalah pemikiran rasional dan ilmiah dari dunia Islam bagian barat. Di dunia Islam bagian timur, kecuali di kalangan Syi'ah, teologi tradisional al-Asy'ari dan pendapat al-Ghazali bahwa jalan tasawuf untuk mencapai kebenaran adalah lebih meyakinkan dari pada jalan filsafat. Hilanglah pemikiran rasional, filosofis dan ilmiah dari dunia Islam sunni sehingga datang abad XIX dan umat Islam dikejutkan oleh kemajuan Eropa dalam bidang pemikiran, filsafat dan sains, sebagaimana disebut di atas, berkembang di Barat atas pengaruh metode berpikir Ibn Rusyd yang disebut averroisme. Semenjak itu pemikiran rasional mulai ditimbulkan oleh pemikir-pemikir pembaruan seperti al-Afghani, Muhammad Abduh, Sayyid Ahmad Khan, dan lain-lain. DAFTAR KEPUSTAKAAN De Boer, TJ., History of Philosophy in Islam, Tranl. E.R. Jones, London, Luzac & Co., 1970. Al-Farabi, Rasail, Hyderabad, t.t. Al-Ghazali, Tahafut al-Falasifah, Kairo, Dar al-Ma'arif, 1966. Al-Ghazali, Al-Munqiz min al-Dalal, Cairo, al-Maktab al-Fanni, 1961. Harun Nasution, Falsafah dan Mistisisme dalam Islam, Jakarta, Bulan Bintang, 1983. Ibn Rusyd, Tahafut al-Tahafut, Kairo, Dar al-Ma'arif, 1964. Ibn Rusyd, Fals al-Maqal, London, J.E. Brill, 1969. Ibn Sina, Al-Najah, Kairo, M.B. al-Halabi, 1938. O. Leary, De Lacy, How Greek Science Passed to The Arabs, London, Routledge & Kegan Paul, 1964. Sharif M.M., ed., A History of Muslim Philosophy, Weisbaden, 1963. -------------------------------------------Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah Editor: Budhy Munawar-Rachman Penerbit Yayasan Paramadina Jln. Metro Pondok Indah Pondok Indah Plaza I Kav. UA 20-21 Jakarta Selatan Telp. (021) 7501969, 7501983, 7507173 Fax. (021) 7507174 Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan

ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota
Please direct any suggestion to Media Team

Artikel Yayasan Paramadina
Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota III.12. KEKUATAN DAN KELEMAHAN PAHAM ASY'ARI (1/3) SEBAGAI DOKTRIN AKIDAH oleh Zainun Kamal Paham teologi Asy'ari termasuk paham teologi tradisional, yang mengambil posisi antara ekstrim rasionalis yang menggunakan metafor dan golongan ekstrim tekstualis yang leterlek. Ia mengambil posisi di antara aliran Mu'tazilah dan Salafiyah, tetapi "benang merah" sebagai jalan tengah yang diambilnya tidak begitu jelas. Suatu kali ia memihak Mu'tazilah, lain kali cenderung ke Salafiyah, dan lain kali lagi, mengambil kedua pendapat dari kedua aliran yang bertentangan itu lalu mengkompromikannya menjadi satu. [1] Untuk meninjau pemikiran-pemikiran al-Asy'ari lebih baik memaparkan lebih dulu sejarah hidupnya meski secara ringkas. Dengan pemaparan ini akan terlihat gambaran latar belakang pemikirannya. Sebab suatu pemikiran merupakan hasil refleksi zaman dan kondisi dari suatu masyarakat. Dan al-Asy'ari juga tidak lepas dari konteks zaman dan maksyarakatnya sendiri. Sebenarnya, nama asli Imam Asy'ari adalah Ali Ibn Ismail [2] -keluarga Abu Musa al-Asy'ari. [3] Panggilan akrabnya Abu al-Hasan [4]. Dia dilahirkan di Bashrah pada 260 H./875 M [5] -saat wafatnya filsuf Arab muslim al-Kindi. [6] Ia wafat di Baghdad pada tahun 324 H./935 M. Abu al-Hasan al-Asy'ari pada mulanya belajar membaca, menulis dan menghafal al-Qur'an dalam asuhan orang tuanya, yang kebetulan meninggal dunia ketika ia masih kecil. Selanjutnya dia belajar kepada ulama Hadits, Fiqh, Tafsir dan bahasa antara lain kepada al-Saji, Abu Khalifah al-Jumhi, Sahal Ibn Nuh, Muhammad Ibn Ya'kub, Abdur Rahman Ibn Khalf dan lain-lain. [7] Demikian juga ia belajar Fiqih Syafi'i kepada seorang faqih: Abu Ishak al-Maruzi (w. 340 H./951 M.) -seorang tokoh Mu'tazilah di Bashrah. Sampai umur empat puluh tahun ia selalu bersama ustaz al-Juba'i, serta ikut berpartisipasi dalam mempertahankan ajaran-ajaran Mu'tazilah. [9] Pada tahun 300 H./915 M dalam usia 40 tahun, Abu al-Hasan al-Asy'ari meninggalkan ajaran-ajaran Mu'tazilah. Untuk hal ini terdapat beberapa pendapat mengenai sebab-sebab meninggalkan atau keluar dari Mu'tazilah. Sebab klasik yang biasa disebut perpisahan dia dengan gurunya karena terjadinya dialog antara keduanya tentang salah satu ajaran pokok Mu'tazilah, yaitu masalah "keadilan Tuhan." Mu'tazilah berpendapat, "semua perbuatan Tuhan tidak kosong dari manfaat dan kemashlahatan. Tuhan tidak menghendaki sesuatu, kecuali bermanfaat bagi manusia, bahkan Dia mesti menghendaki yang baik dan terbaik untuk kemashlahatan manusia. Paham ini di sebut al-Shalah wa 'l-Ashlah. [10]

Dialog tersebut berlangsung sebagai berikut: Al-Asy'ari (A) - Bagaimana pendapat tuan tentang nasib tiga orang bersaudara setelah wafat; yang tua mati dalam bertaqwa; yang kedua mati kafir; dan yang ketiga mati dalam keadaan masih kecil. Aldubba'i (J) - yang taqwa mendapat terbaik; yang kafir masuk neraka; dan yang kecil selamat dari bahaya neraka. A - Kalau yang kecil ingin mendapatkan tempat yang lebih baik di Sorga, mungkinkah? J - Tidak, karena tempat itu hanya dapat dicapai dengan jalan ibadat dan kepatuhan kepada Tuhan. Adapun anak kecil belum mempunyai ibadat dan kepatuhan kepada-Nya. A- Kalau anak kecil itu mengatakan kepada Tuhan: itu bukan salahku. Sekiranya Engkau bolehkan aku terus hidup, aku akan mengerjakan perbuatan baik seperti yang dilakukan oleh yang taqwa itu. J - Allah akan menjawab kepada anak kecil itu, Aku tahu, jika engkau terus hidup, engkau akan berbuat maksiat dan engkau akan mendapat siksa; maka Saya (Allah - Red) matikan engkau adalah untuk kemaslahatanmu. A - Sekiranya saudaranya yang kafir mengatakan, "Ya Tuhanku Engkau ketahui masa depanku sebagaimana Engkau ketahui masa depannya, mengapa Engkau tidak jaga kepentinganku? Al-Jubba'i menjawab, "Engkau gila, (dalam riwayat lain dikatakan, bahwa Al-Jubba'i hanya terdiam dan tidak menjawab). [11] Dalam percakapan di atas, al-Jubba'i, jagoan Mu'tazilah itu, tampaknya dengan mudah saja dapat ditumbangkan oleh al-Asy'ari. Tetapi dialog ini kelihatannya hanyalah sebuah ilustrasi yang dibuat para pengikut al-Asy'ari sendiri untuk memperlihatkan perbedaan logikanya dengan logika orang-orang Mu'tazilah. Bagi Mu'tazilah, si anak kecil tentu tidak akan mengajukan protes kepada Allah, karena dia sendiri tahu, bahwa sesuai dengan keadilan Tuhan, tempat yang cocok untuknya memang di sana. Kalau Tuhan menempatkan anak kecil sederajat dengan tempat orang yang taqwa, tentu dia sendiri akan merasakan bahwa Tuhan sudah tidak adil lagi terhadap dirinya. Sebab, tempatnya memang bukanlah seharusnya sederajat dengan orang-orang yang taqwa. Di alam akhirat, menurut Mu'tazilah, tidak ada lagi perdebatan tentang keadilan Tuhan. Di sana, manusia sudah mendapati al-Wa'ad wa al-Wa'id. Dia sudah menepati janji. Yang taqwa mendapat sorga, yang kafir mendapat neraka, dan jika di sana terdapat yang meninggal dunia dalam keadaan masih kecil, baik anak-anak orang mukmin atau kafir, maka bagi mereka tidak ada alasan untuk disiksa, karena Tuhan Maha Suci dari penganiayaan. [12] Bagi yang kafir lebih tidak punya alasan lagi. Sebab, Tuhan

lebih memperhatikan kemaslahatannya di dunia. Tuhan tidak menghendaki kekafirannya. Berarti, jika ia kafir sama artinya dengan kehendak diri sendiri. Sementara, dia sendiri sudah tahu akibat kekafirannya, karena ia diberi akal dan petunjuk. [13] Jadi, kalau yang kafir harus menyalahkan Tuhan atas kehendak dan perbuatannya sendiri, maka ia dianggap oleh Memorandum suatu pemikiran yang tidak rasional. Sebab lain yang biasa disebutkan adalah meninggalkan ajaran-ajaran Mu'tazilah karena pernah bermimpi melihat Rasulullah saw sebanyak tiga kali. Mimpi itu terjadi pada bulan Ramadhan. Mimpi pertama terjadi pada tanggal 10; mimpi kedua pada tanggal duapuluh, dan mimpi ketiga pada tanggal tigapuluh. [14] Dalam mimpi yang terjadi pada bulan Ramadlan itu Rasulullah menyampaikan bahwa madzhab ahli haditslah yang benar, karena itulah madzhabnya yang berasal dari saya. [15] Diriwayatkan bahwa al-Asy'ari sebelum mengambil keputusan untuk keluar dari Mu'tazilah, ia mengisolir diri di rumahnya selama limabelas hari. Sesudah itu ia pergi ke mesjid lalu naik mimbar dan menyampaikan: "Saya dulu mengatakan, bahwa al-Qur'an adalah makhluk; Allah swt. tidak dapat dilihat dengan pandangan mata orang mukmin di akhirat dan perbuatan jahat adalah perbuatan saya sendiri. Sekarang saya taubat dari semuanya itu. Saya lemparkan keyakinan-keyakinan lama saya, sebagaimana saya lemparkan baju ini (isyarat pada jubahnya). Dan saya keluar dari kekejian dan skandal Mu'tazilah." [16] Terlepas dari soal sesuai atau tidaknya uraian di atas dengan fakta sejarah; maka dari sisi lain dapat pula kita ungkapkan sebab yang mendorong al-Asy'ari meninggalkan faham Mu'tazilah. Sebab itu ialah rasa skeptis dan ketidakpercayaannya lagi terhadap kemampuan akal, sebagaimana yang pernah pula dialami oleh al-Ghazali di kemudian hari. Pada kedua tokoh ini terdapat suatu indikasi kesamaan yang sangat mirip. Al-Asy'ari, sebagai contoh pendiri aliran, setelah belajar pada Mu'tazilah, kemudian merasa tidak puas, lantas menyerangnya. Demikian juga halnya dengan al-Ghazali, sebagai benteng pertahanan yang kokoh terhadap aliran al-Asy'ari, setelah ia belajar filsafat, kemudian merasa tidak puas, lalu menyerang pula. Al-Asy'ari memakai ungkapan-ungkapan yang pedas sekali dalam menyerang Mu'tazilah, dengan tuduhan sebagai golongan sesat, penyeleweng, dan majusinya umat. Begitu pula al-Ghazali menyerang para filsuf, dengan tuduhan sebagai golongan bid'ah dan kufur. Al-Asy'ari melakukan sanggahan terhadap Mu'tazilah setelah ia mengetahui benar akan aliran Mu'tazilah itu. Setelah itu ia menulis sebuah buku yang bernama Maqalat al-Islamiyyin yang berisikan kepercayaan aliran-aliran. Dan untuk bantahannya ia menulis lagi sebuah buku yang bernama al-Ibanah. Demikian juga halnya dengan al-Ghazali, setelah mengkaji filsafat secara mendalam, kemudian ia tulis pemikiran-pemikiran filsuf itu dalam sebuah buku yang bernama Maqasid al-Falsafah. Setelah itu, baru ia melakukan bantahan-bantahan terhadap para filsuf dengan mengarang sebuah buku yang bernama Tahafut

al-Falasifah (kesalahan para filsuf). Sebagaimana diketahui, pemegang janji rasional pada masa al-Asy'ari adalah para tokoh Mu'tazilah, karena itu sanggahannya tertuju langsung pada Mu'tazilah. Sementara para filsuf yang dinilai sebagai pewaris pemikiran rasional Mu'tazilah, maka al-Ghazali sebagai pembela ikhlas terhadap aliran al-Asy'ari harus dengan tegas pula melakukan sanggahan terhadap filsuf. Pemikiran al-Asy'ari yang asli baru dapat diketahui setelah ia menyatakan pemisahan dirinya dari Mu'tazilah dan pengakuannya menganut paham aqidah salafiyah aliran Ahmad bin Hambal. [17] Yaitu keimanan yang tidak didasari penyelaman persoalan gaib yang mendalam. Di sisi lain, ia hanya percaya pada akidah dengan dalil yang ditunjuk oleh nash, dan dipahami secara tekstual sebagaimana yang tertulis dalam Kitab suci dan sunnah Rasul. Fungsi akal hanyalah sebagai saksi pembenar dan penjelas dalil-dalil al-Qur'an. [18] Jadi akal terletak di belakang nash-nash agama yang tidak boleh berdiri sendiri. Ia bukanlah hakim yang akan mengadili. Spekulasi apapun terhadap segala sesuatu yang sakral dianggap suatu bid'ah. Setiap dogma harus dipercayai tanpa mengajukan pertanyaan bagaimana dan mengapa. Sekarang permasalahannya ialah, sampai seberapa jauh al-Asy'ari meninggalkan ajaran-ajaran Mu'tazilah dan keikhlasannya terhadap ajaran Salafiyah. Untuk mengetahui ajaran-ajaran al-Asy'ari, kita dapat melihat pada kitab-kitab yang ditulisnya, terutama: 1.Maqalat al-Islamiyyin, merupakan karangan yang pertama dalam soal-soal kepercayaan Islam. Buku ini menjadi sumber yang penting, karena ketelitian dan kejujuran pengarangnya. Buku ini terdiri -dari tiga bagian: a.Tinjauan tentang golongan-golongan dalam Islam b.Aqidah aliran Ashhab al-Hadits dan Ahl al-Sunnah, dan c.Beberapa persoalan ilmu Kalam. 2.Al-Ibanah 'an Ushul al-Diyanah, berisikan uraian tentang kepercayaan Ahl al-Sunnah dan pernyataan penghargaannya terhadap persoalan-persoalan yang banyak dan penting. Dalam buku ini ia menyerang dengan pedas aliran Mu'tazilah. 3.Kitab al-Luma' fi al-Radd 'ala ahl al-Zaigh wa al-bida', berisikan sorotan terhadap lawan-lawannya dalam beberapa persoalan ilmu Kalam. Para ahli mempertanyakan tentang perbedaan kandungan yang terdapat pada kedua kitabnya al-Ibanah dan al-Luma'. Yang pertama, peranan naql lebih tinggi ketimbang akal. Dalam arti, Salafiahnya lebih dominan dibandingkan Mu'tazilah. Sedangkan buku kedua (al-Luma'), peranan akal lebih tinggi dalam memahami nash-nash. Di sini terlihat adanya anjuran kembali untuk memahami nash-nash agama dengan metode ilmu kalam. [19] Perbedaan ini bisa terjadi, karena al-Asy'ari pada kitabnya al-Ibanah ditulisnya langsung setelah pernyataannya keluar dari Mu'tazilah. Jadi, secara psikologis, bukunya dalam rangka menonjolkan sikap loyalnya terhadap kaum Salafi,

sebagai rekan barunya. Dan sikap kebenciannya terhadap Mu'tazilah karena penilaiannya sebagai musuh yang sedang dihadapinya, meski dulu teman akrabnya. Sebenarnya, ini dapat dipahami. Sebab, seseorang yang selama ini dijadikan teman baik, oleh karena suatu hal berubah menjadi musuh, maka ia akan memperlihatkan sikap bencinya terhadap musuh itu. Dan sebaliknya akan memperlihatkan sikap loyalnya terhadap teman baru. Karena itu, kitab al-Ibanah mencerminkan tingkat kesunyian secara penuh. Sebaliknya, menampakkan sikap bencinya terhadap Mu'tazilah lebih nyata. Karena itu, kitab al-Ibanah menurut para ahli ditulis langsung setelah al-Asy'ari meninggalkan faham Mu'tazilah. (bersambung 2/3) -------------------------------------------Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah Editor: Budhy Munawar-Rachman Penerbit Yayasan Paramadina Jln. Metro Pondok Indah Pondok Indah Plaza I Kav. UA 20-21 Jakarta Selatan Telp. (021) 7501969, 7501983, 7507173 Fax. (021) 7507174 Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota
Please direct any suggestion to Media Team

Artikel Yayasan Paramadina
Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang YayasanISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota III.12. KEKUATAN DAN KELEMAHAN PAHAM ASY'ARI (2/3) SEBAGAI DOKTRIN AKIDAH oleh Zainun Kamal Lain halnya dengan kitabnya al-Luma', yang ditulis setelah kitab al-Ibanah. Ia sudah mesti mengambil sikap yang jelas. Maka di sini terlihat kembali kajian keagamaan al-Asy'ari dengan dalil-dalil rasional dan membangun ilmu kalamnya sendiri. Dengan demikian, ketika menulis kitab al-Luma', argumentasi rasional al-Asy'ari menonjol kembali dalam memahami nash-nash agama dan terlihat interpretasi metaforisnya (ta'wil). Kecenderungannya pada metode kaum Mu'tazilah inilah yang menyebabkan kaum Hambali menolak paham teologi al-Asy'ari. Hal itu memperlihatkan gambaran yang agak mirip dengan sikap al-Ghazali yang mencoba menyerang para filsuf, tetapi kenyataannya ia tetap mempergunakan metode falsafah dalam kajian keislaman, khususnya logika Aristoteles. Inilah yang dikatakan oleh Ibn Taimiyyah bahwa al-Ghazali telah masuk ke dalam kandang falsafah, kemudian berusaha keluar, dan berputar-putar mencari pintunya, tetapi sudah tidak berdaya lagi untuk keluar. Sebagai penentang Mu'tazilah, sudah barang tentu al-Asy'ari berpendapat, bahwa Tuhan mempunyai sifat. Mustahil Tuhan sendiri merupakan pengetahuan ('Ilm). Yang benar, Tuhan itu

mengetahui (Alim). Tuhan mengetahui dengan pengetahuanNya, bukanlah dengan Zat-Nya. Demikian pula bukan dengan sifat-sifat seperti, sifat hidup, berkuasa, mendengar dan melihat. [20] Disini terlihat, al-Asy'ari menetapkan sifat kepada Tuhan seperti halnya kaum Salafi. Namun cara penafsirannya cukup berbeda. Kaum Salafi hanya menetapkan sifat kepada Allah, sebagaimana teks ayat, tanpa melakukan pembahasan mendalam. Mereka hanya menerima arti dengan jalan kepercayaan, bahwa sifat-sifat Allah berbeda dengan sifat makhluk-Nya. Begitu hati-hatinya mereka dalam menjaga persamaan Allah dengan makhluk-Nya, sehingga mereka mengatakan, "Siapa yang tergerak tangannya, lalu ketika membaca ayat yang berbunyi "Aku (Allah) ciptakan dengan tangan-Ku," lalu ia langsung mengatakan, wajib dipotong tangannya." [21] Lain halnya dengan al-Asy'ari, baginya arti sifat tidak berbeda dengan pengertian sifat bagi Muitazilah. al-Asy'ari, sifat berada pada Zat, tetapi sifat bukan dan bukan pula lain dari Zat. Ungkapan al-Asy'ari seperti ini, kata Dr. Ibrahim Madkour, tidak terlepas paradoks. [22] jauh Bagi Zat, yang dari

Bagi Mu'tazilah, sifat sama dengan Zat. Sifat tidak mempunyai pengertian yang sebenarnya. Jika dikatakan, yang mengetahui ('Alim), maka artinya menetapkan pengetahuan ('Ilm) bagi Allah, dan yang mengetahui itu adalah Zat-Nya sendiri. Dalam hal ini, menetapkan sifat hanya sekedar untuk memahami bahwa Allah bukanlah jahil. Seperti juga mengatakan yang berkuasa (qadir) adalah menetapkan kekuasaan (qudrah) bagi Allah. Kekuasaan itu adalah Zat-Nya sendiri. Artinya, menafsirkan kelemahan Allah. [23] Masih berbicara tentang tauhid, pemikiran al-Asy'ari yang lain ialah, bahwa Tuhan dapat dilihat di akhirat. Untuk itu, al-Asy'ari membawakan argumen rasio dan nash. Yang tidak dapat dilihat, kata al-Asy'ari, hanyalah yang tak punya wujud. Setiap wujud mesti dapat dilihat, Tuhan berwujud, dan oleh karena itu dapat dilihat. [24] Argumen al-Qur'an yang dimajukannya antara lain, "Wajah-wajah yang ketika itu berseri-seri memandang kepada Allah" (QS. al-Qiyamah: 22-23). Menurut al-Asy'ari kata nazirah dalam ayat itu tak bisa berarti memikirkan seperti pendapat Mu'tazilah, karena akhirat bukanlah tempat berfikir; juga tak bisa berarti menunggu, karena wajah atau muka tidak dapat menunggu, yang menunggu adalah manusia. Lagi pula, di sorga tidak ada penungguan, karena menunggu mengandung arti dan membuat kejengkelan dan kebosanan. Oleh karena itu, nazirah mesti berarti melihat dengan mata kepala. [25] Sungguhpun al-Asy'ari berpendapat, bahwa orang-orang mukmin nanti dapat melihat Tuhan di Akhirat dengan mata kepala, namun pemahamannya bukanlah bersifat harfiyah. Tetapi menghendaki suatu penafsiran lagi yaitu, bahwa melihat Tuhan itu tidak mesti mempunyai tempat dan terarah pada tujuan, tetapi hanya merupakan suatu penglihatan pengetahuan dan kesadaran, dengan mempergunakan mata, yang belum terfikirkan bagi kita sekarang, bagaimana bentuk mata itu nantinya. [26]

kata al-Asy'ari. artinya. bahwa yang dimaksud tidak dapat melihat Tuhan adalah di dunia ini.Namun demikian. menjatuhkan hukuman bagi orang mukmim. termasuk orang-orang kafir. kalau Tuhan memasukkan seluruh umat manusia ke dalam sorga. dan bukan di akhirat. Sengaja dirangkaikan keadilan dengan tauhid. Paham keadilan al-Asy'ari ini mirip dengan paham sebagian umat yang merestui seorang raja yang absolut diktator. [28] Al-Asy'ari meninjau keadilan Tuhan dari sudut kekuasaan dan kehendak mutlak Tuhan. ia menolak bahwa kita mewajibkan sesuatu kepada Allah. [29] Tidak dapat dikatakan salah. atau memasukkan orang kafir ke dalam sorga. Dari asumsi itu. Tuhan sebagai pemilik yang berkuasa mutlak. [32] Upah yang diberikan Tuhan hanyalah merupakan rahmat dan hukuman tetap merupakan keadilan Tuhan. karena pembahasan tentang tauhid hanyalah merupakan filsafat ketuhanan semata. Tuhan masih tetap bersifat adil. memiliki hal penuh untuk membunuh atau menghidupkan rakyatnya. dan karena di atas Tuhan tidak ada undang-undang atau hukum. bebas memperbuat apa yang kehendaki-Nya. Tuhan wajib mewujudkan yang baik. Dan juga diartikan tidak dapat melihat Tuhan di akhirat bagi orang kafir. kata al-Asy'ari. bahkan yang terbaik untuk kemaslahatan manusia. Kemudian digambarkan. maka al-Asy'ari memerlukan pula untuk menafsirkan atau menta'wilkan ayat yang berikut ini: Artinya: "Penglihatan tak dapat menangkap-Nya tetapi ia dapat mengangkat penglihatannya. meyakini bahwa Allah adalah Maha Adil. kemudian al-Asy'ari menganalogikan bahwa . Sekarang kita berpindah kepada pemikirannya tentang keadilan. [30] Karena perbuatan salah dan tidak adil menurut pendapatnya adalah perbuatan yang melanggar hukum. maka Tuhan tidaklah berbuat salah dan dzalim. dan juga tidak dapat dikatakan Tuhan bersifat dzalim. Keadilan diartikannya "menempatkan sesuatu pada tempat yang sebenarnya. dia tidak perlu patuh dan tunduk kepada undang-undang dan hukum. untuk dapat menerima. [31] Oleh karena itu. Tetapi seperti kaum Salafi." yaitu seseorang mempunyai kekuasaan mutlak atas harta yang dimilikinya serta mempergunakannya sesuai dengan pengetahuan pemilik. bahwa Tuhan dapat dilihat nanti di akhirat. Sang raja yang absolut diktator itu. Al-Asy'ari. adalah merupakan sebagian dari pemikiran al-Asy'ari tentang tauhid. maka perbuatan Tuhan tidak pernah bertentangan dengan hukum. bahwa sang raja itu diatas dari undang-undang dan hukum. [27] Apa yang telah kita ungkapkan di atas. Allah. sedangkan keadilan adalah merupakan filsafat hubungan khaliq dengan makhluknya. jika Ia memasukkan seluruh manusia ke dalam neraka. Dan juga menolak faham al-Shalah wa al-Ashlah Mu'tazilah. Karena undang-undang dan hukum itu adalah bikinannya sendiri. seperti Mu'tazilah." (al-An'am: 103) Ayat tersebut di atas diartikan oleh al-Asy'ari. dalam arti. dapat berbuat apa saja yang dikehendaki-Nya terhadap makhluk-Nya. Jika Tuhan menyakiti anak-anak kecil di hari kiamat.

Jika Tuhan menghendaki sesuatu. [38] Dengan perkataan lain. Namun dalam penjelasannya tertangkap bahwa kasb itu pada hakekatnya adalah ciptaan Tuhan. kalau ia menganiaya seluruh rakyatnya. maka paham al-Asy'ari dalam hal ini lebih dekat kepada faham Jabariyah (fatalisme) dari faham Qadariyah (Free Will). Di satu pihak ia ingin melukiskan peran manusia dalam perbuatannya. [36] Melihat kepada pengertian. Untuk menggambarkan hubungan perbuatan dengan kemauan dan kekuasaan mutlak Tuhan al-Asyari memakai istilah al-kasb (acquisition." al-Shaffat 37:96) (QS. Tentang faham kasb ini. [39] Firman Tuhan: "Kamu tidak menghendaki al-Insan 76:30). Jadi. Bahwa perbuatan manusia sebenarnya adalah perbuatan Tuhan. maupun di akhirat. sehingga akhirnya manusia bersifat pasif dalam perbuatan-perbuatannya. maka tak seorangpun yang sanggup menentangnya. sebenarnya adalah Tuhan sendiri. bagi al-Asy'ari. Manusia dalam kelemahannya banyak tergantung kepada kehendak dan kekuasaan Tuhan. baik di dunia ini. kata al-Asy'ari. Tetapi keterangan bahwa "kasb itu adalah ciptaan Tuhan" menghilangkan arti keaktifan itu. Dia memperbuat sekehendak-Nya terhadap milik-Nya. kecuali jika Allah menghendaki manusia . Jadi dalam paham al-Asy'ari. ia pasti ada. [34] Karena manusia dipandang lemah. yang mewujudkan kasb atau perbuatan manusia. perolehan). Maka tidak seorangpun yang dapat mewajibkan sesuatu kepada Allah mengenai kemaslahatan umat manusia. Al-Asy'ari menegaskan bahwa Tuhan menghendaki segala apa yang mungkin dikehendaki. dan jika Tuhan tidak menghendakinya niscaya ia tiada. "sesuatu yang timbul dari yang berbuat" mengandung atas perbuatannya. Persis seperti seorang raja yang absolut diktator. perbuatan-perbuatan manusia adalah diciptakan Tuhan. menurut al-Asy'ari. Karena manusia. Al-Kasb dapat diartikan sebagai suatu perbuatan yang timbul dari manusia dengan perantaraan daya yang diciptakan oleh Allah. [33] Kalau Allah menganiaya seluruh umat manusia. baik di dunia atau di akhirat. dalam teori kasb manusia tidak mempunyai pengaruh efektif dalam perbuatannya. Tidak satupun didalam ini terwujud lepas dari kekuasaan dan kehendak Tuhan. selalu digambarkan sebagai seorang yang lemah. adalah sesuatu yang timbul dari yang berbuat (al-muhtasib) dengan perantaraan daya yang diciptakan. Argumen yang dimajukan oleh al-Asy'ari tentang diciptakannya kasb oleh Tuhan adalah ayat: "Allah menciptakan kamu dan perbuatan-perbuatan kamu. dapat dilihat dari pendapat al-Asy'ari tentang kehendak dan daya yang menyebabkan perbuatan menjadi wujud. kecuali Allah menghendaki" (QS. maka tidak seorangpun yang akan sanggup mempersalahkan dan menuntut-Nya. [35] Kasb. Ayat ini diartikan oleh al-Asy'ari bahwa manusia tak bisa menghendaki sesuatu. tidak mempunyai daya dan kekuatan apa-apa disaat berhadapan dengan kekuasaan absolut mutlak. al-Asy'ari memberi penjelasan yang sulit ditangkap. [37] Dan tidak ada pembuat (agent) bagi kasb kecuali Allah.Allah adalah memiliki kemerdekaan mutlak.

yang seorang mampu mengangkatnya sendirian. 7507173 Fax. sedangkan yang seorang lagi tidak mampu. sebenarnya tidak lain dari kehendak Tuhan. Perbuatan pada hakekatnya terjadi dengan perantaraannya daya Tuhan. yaitu perbuatan Tuhan dan perbuatah manusia. sedangkan daya manusia tidaklah efektif kalau tidak disokong oleh daya Tuhan. [43] (bersambung 3/3) -------------------------------------------Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah Editor: Budhy Munawar-Rachman Penerbit Yayasan Paramadina Jln. daya Tuhan dan daya manusia. UA 20-21 Jakarta Selatan Telp. 7501983. terdapat dua perbuatan.12. Tetapi daya yang berpengaruh dan efektif pada akhirnya dalam perwujudan perbuatan ialah daya Tuhan. tetapi manusia dalam pada itu tidak kehilangan sifat sebagai pembuat. Al-Baghdadi mencoba menjelaskan kepada kita sebagai berikut. Perbuatan Tuhan adalah hakiki dan perbuatan manusia adalah majazi (sebagai lambang). [44] Harun Nasution juga berpendapat demikian. 456 H) dan Ibn Taimiyyah (w. sebagai jabariyah murni. Metro Pondok Indah Pondok Indah Plaza I Kav. maka banyak para ahli menilai bahwa kasb adalah sebagai jabariyah moderat. untuk terwujudnya perbuatan perlu ada dua daya. 728 H) menilai. maka terangkatnya batu itu adalah oleh yang kuat tadi. namun tidak berarti bahwa orang yang tidak sanggup itu tidak turut mengangkat. Dalam teori kasb. (021) 7501969. untuk terwujudnya suatu perbuatan dalam perbuatan manusia. [40] Ini mengandung arti bahwa kehendak manusia adalah satu dengan kehendak Tuhan. Kalau kedua orang tersebut sama-sama mengangkat batu besar itu. KEKUATAN DAN KELEMAHAN PAHAM ASY'ARI (3/3) SEBAGAI DOKTRIN AKIDAH oleh Zainun Kamal Buat sementara dapat kita simpulkan bahwa dalam paham al-Asy'ari. dan perbuatan itu sendiri adalah perbuatan Tuhan dan bukan perbuatan manusia. Karena manusia dalam teori kasb al-Asy'ari tidak mempunyai pengaruh efektif dalam perbuatannya. dan kehendak yang ada dalam diri manusia. Alasannya karena menurut al-Asy'ari kemauan dan daya untuk berbuat adalah kemauan dan daya Tuhan. Demikian pulalah perbuatan manusia. Tuhan dan manusia dalam suatu perbuatan adalah seperti dua orang yang mengangkat batu b esar . (021) 7507174 Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang YayasanISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota Please direct any suggestion to Media Team Artikel Yayasan Paramadina Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota III.supaya menghendaki sesuatu itu. [46] . bahkan Ibn Hazm (w.

al-Asy'ari menegaskan bahwa kasb manusia itu tidak mempunyai efek nyata dalam mewujudkan perbuatan manusia itu. [47] dimana raja-raja selalu berkuasa dengan diktator dan mempunyai hak penuh untuk menghukum siapa saja yang diinginkannya. bahwa aliran al-Asy'ari telah berhasil menarik rakyat banyak di bawah naungannya berkat campur tangan khalifah al-Mutawakkil. Memang. sebagai konsekuensi logis dari paham manusia lemah dan patuh kepada penguasa. al-Juwaini dan al-Ghazali. Ia telah menghilangkan kesadaran pemikiran rasionalisme di dunia Islam. Kasb-nya al-Asy'ari itu telah membawa para pengikutnya berfaham Jabariyah murni. Mereka adalah orang-orang yang tidak setuju dengan ajaran-ajaran Mu'tazilah. maka disinilah letak kekuatan teologi itu. apalagi berhadapan dengan kekuasaan mutlak Allah. sehingga mayoritas umat Islam menganutnya sampai detik ini. paham al-Asy'ari ini juga telah membawa dampak dan pengaruh negatif. Sungguhpun demikian. Sejarah menunjukkan. al-Baqillani. yaitu keadaan masyarakat Islam pada abad ke-9 M. Kunci keberhasilan teologi al-Asy'ari ialah karena sejak awal berdirinya ia telah berpihak kepada awwamnya . ia sering mendapat dukungan. yang mengingkari sama sekali adanya kemampuan pada manusia untuk berbuat. menurut Ibn Taimiyyah. Hilangnya pemikiran rasionalisme tersebut telah menyebabkan kemunduran umat Islam selama berabad-abad. aliran itu mengalami kemajuan besar sekali. Sebab undang-undang dan hukum itu adalah bikinannya sendiri. Kemudian setelah wafatnya al-Asy'ari pada tahun 935M. ketika yang terakhir ini membatalkan aliran Mu'tazilah sebagai paham resmi pada waktu itu. yang tidak mempunyai daya dan kekuatan apa-apa disaat berhadapan dengan kekuasaan yang absolut. Ajarannya dikembangkan oleh para pengikutnya. Teologi ini timbul merupakan refleksi dari status sosial dan kultural masyarakat pada masanya. Sebab. [46] PENGARUH KALAM AL-ASY'ARI Seperti telah disebutkan di atas. . Ibn Taimiyyah menilai konsep kasb yang ditetapkan al-Asy'ari itu tidak masuk akal.Ibn Taimiyyah menilai al-Asy'ari telah gagal dengan konsep kasb-nya yang hendak menengahi antara Qaddariyyah dengan Jabbariyah. seperti yang sudah kita uraikan di atas. antara lain. Karena teologi al-Asy'ari didirikan atas kerangka landasan yang menganggap bahwa akal manusia mempunyai daya yang lemah.umat Islam. bahwa dalam faham teologi al-Asy'ari manusia selalu digambarkan sebagai seorang yang lemah. Salah satu faktor penting bagi tersebarnya teologi al-Asy'ariyah di dunia Islam adalah sifat akomodatifnya terhadap Dinasti yang berkuasa. sang raja tidak perlu patuh dan tunduk kepada undang-undang dan hukum. bahkan menjadi aliran dari Dinasti yang berkuasa. yaitu ia dengan mudah dapat diterima oleh umumnya umat Islam yang bersifat sederhana dalam pemikiran. Oleh karena itu. Dengan demikian. Akhirnya. yang jumlahnya selalu mayoritas di dunia Sunni.

dan lebih dari itu. mempunyai daya yang lemah. maqalat al-Islamiyyin wa Ikhtilaf al-Mushallin. sehingga tidak ada yang mau bertanggungjawab atasnya.Karena akal manusia.Ali Ibn Ismail Ibn Abi Basyar Ishak Ibn Salim Ibn Ismail Ibn Abdullah Ibn Musa Ibn Bilal Ibn Abi Burdah Ibn Musa al-Asy'ari (Lihat Abu al-Hasan al-Asy'ari. akibatnya. tahun 1976. al-lbanah). Mesir. 1977.Abu Musa al-Asy'ari adalah salah seorang sahabat Rasul-Allah saw. menjadikan penganutnya kurang mempunyai ruang gerak. Peristiwa terowongan Mina adalah salah satu bukti nyata dari faham Fatalisme. h. Mesir. Lihat juga Abu al-Hasan al-Asy'ari. menurut al-Asy'ari. ia dapat merupakan salah satu dari faktor-faktor yang memperlambat kemajuan dan pembangunan. adalah atas kehendak Tuhan menghilangkan makna pertanggungjawaban manusia atas segala perbuatannya. Al-Ibanah. 1973 h. tetapi juga pada ayat-ayat yang mengandung arti dzanni. dan salah seorang hakim yang mewakili Ali Ibn Abi Thalib waktu terjadinya arbitrase antara Ali dan Muawiyah..Ibrahim Madkour. ed. [49] Paham bahwa semua peristiwa yang terjadi. lebih tegas lagi. Untuk menutup tulisan ini. Mesir. 60 4. Mahyudin Abdul Hamid. 3 3. termasuk perbuatan manusia. h. 10 . CATATAN 1. Al-lbanah 'an Ushul al-Dinyanah. h. lihat Hamudah Guramah. serta jauh dari pengetahuan. Bahkan. menjadikan manusia-manusia yang enggan merubah nasibnya sendiri dan merubah struktur masyarakat. tetapi mereka artikan secara letterlek. Selain itu. menjadikan manusia-manusia yang tidak mau bertanggungjawab atas kesalahan-kesalahannya. Dengan demikian para penganutnya teologi ini sukar dapat mengikuti dan mentolerir perubahan dan perkembangan yang terjadi dalam masyarakat modern. Fi al-Falsafah al-Islamiyyah II. Mesir.Fauqiyah. Dan ia selalu mempersalahkan takdir atas kemiskinan. Fauqiyah. 9 (Selanjutnya disebut. seperti rezeki. Paham fatalisme yang berkembang dalam masyarakat. 46 2. Sayeed Ameer Ali mengatakan bahwa kemerosotan bangsa-bangsa Islam sekarang ini salah satu sebabnya karena formalisme al-Asy'ari. M. Abu al-Hasan al-Asy'ari. Dr. 1969. h. karena terikat tidak saja pada dogma-dogma. Tetapi teologi ini akan menjadi lemah disaat berhadapan perkembangan ilmu pengetahuan dan penemuan teknologi baru. Fauqiyah Husein Mahmud. Dengan dalih peristiwa itu terjadi atas kehendak Tuhan semata. Ed. kebodohan dan kematian massal yang terjadi. suatu kesimpulan dapat diambil bahwa faham teologi al-Asy'ari mempunyai basis yang kuat pada suatu masyarakat yang bersifat sederhana dalam cara hidup dan berpikir. jodoh dan maut adalah di tangan Tuhan. yaitu ayat-ayat yang sebenarnya boleh mengandung arti lain dari arti letterlek.

Abd. 41 17. 312 Gardet & Anawati.Zuhdi Jar Allah. h. Fi Ilm al-Kalam II. 1985./881 M.A. h.65 12. Kairo. 303 (dikutip dari Fanqiyah. 13. al-Asy'ari. 1976.A. Tarikh.Al-Syahrastani. Al-Ibanah. h. h. 50 23. Dar el Ulum. Kairo. 60 7. 1973 h.Hasan Mahmud al-Asy'ari.Al-Asy'ari.Subhi.Terdapat beberapa variasi pendapat dalam menetapkan tahun lahirnya: 270 H. h. 100 . 164-165 14. Ali Abu Rayyan. h.Ibid. 116. h. Tarikh al-Fikri al-Falsafi Fi al-lslam.5. 1974. h. Al-Ibanah. Ed. 159. h.. h. h. 1982.Hamuddh.Ibid. 17. Al-Makrizi.1397 H. Mahmud Subhi.) Bairut. Falsafah. hal. al-Milal wa al-Nihal I. hal. 104 22. h. Ibid. 13 Penulis lebih cenderung menetapkan sejarah lahirnya pada ketika memisahkan diri dari Mu'tazilah adalah pada tahun 300 H. dapat dilihat pada. Falsafat al-Fikrial-Dini Bain al-Islam wa al-Masihiyah I (terj. 29 8.Faiqiyah.Abu al-Hasan al-Asy'ari. 35 19. Al-Ibanah. h 93 10. h. Al-Mu'tazilah. 52 270 H. Al-Asy'ari. Subhi Fi Ilm al-Kalam II. Ibn Atsir. h.. Iskandariyah. Iskandiyah. Mahmud Kasim. 1980.8 18.Louis Gardet & J. Kairo. Fi al-Falsafah. 1968. H. 30 21. Al-Mihal I.Lihat Rayyan. Dirasat Fi al-Falsafah al-Islamiyyah. Iskandiyah. 51 24. dan lihat juga Subhi. dalam al-Lubab I. Iskandiyah.Bahwa manusia harus bertanggung jawab atas kehendak dan perbuatannya sendiri menurut pendapat Mu'tazilah. h. Fi al-Fasafah II. h. Madkour.Madkour. Sedangkan usianya waktu itu sudah umum diketahui empat puluh tahun. Fi Ilm al-Kalam II. 1982 h. 310 6. dalam. Mahmud Subhi. 31 15. 38 20. (lihat M. Fi Ilm al-Kalam II. h.M. Mesir. 36 9. dalam al-Khutbath III. Dan Hamudah./885 M. Mesir. h. 1965. Dirasat Arabiyah wa Islamiyah I. 102 11.Fauqiyah. Al-Ibanah'an Ushul al-Dinayah.Abu al-Hasan al-Asy'ari.. h. 73. Aziz M. Bairut. Kitab al-Luma' Fi al-Rad'ala ahl al-Zaigh wa al-Bida'.Fauqiyah. 34 16. Al-Syahrastani. Fi Ilm al-Kalam II. Iskandiyah. Al-Ibanah. h. Anawati. 94. h. h. Lihat juga. Wakil.

167 33. Al-Luma'. 7507173 Fax. (021) 7501969.Al-Asy'ari. h. h. Dirasat. Bairut. 27. h. Dirasat. tt. h. 113 29. h. 472 473. 13 26. Tarikh al-Madzahib. Al-Luma'. Al-Milal I. 101 30.Mahmud Kasim. UI-Press. 133-134 44. h. 76 37. Al-Milal I.Ibid.Abu Zahrah. Delhi. 71 32. Lihat juga Madkour. 205 45. al-Luma'. 1971. lihat juga Mahmud Kasim. (021) 7507174 .Al-Sahrastani. h. 16-17 47.Mahmud Kasim.. h. Madzahib al-Islamiyin.Al-Asy'ari.25. Al-Ibanah. 1981. h.. h. h. 100.Al-Syahrastani. h. Jakarta. h.Muhammad Abu Zahrah. Al-Ibanah. h. h. Bairut.Al-Asy'ari. 1983 h. h.Ibid. h. The Spirit Of Islam. Tarikh al-Madzahib al-Islamiyah.Ibn Taimiyyah. 41 42.Al-Asy'ari. Minhaj al-Sunnah II.Ibid 31.Harun Nasution. -------------------------------------------Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah Editor: Budhy Munawar-Rachman Penerbit Yayasan Paramadina Jln. h. 57 41. Metro Pondok Indah Pondok Indah Plaza I Kav. 562 43. 35. 112 46.Abd al-Rahman Badawi. 16 28. tt.Al-Asy'ari. Teologi Islam. Kitab Ushul al Din. 51 40. UA 20-21 Jakarta Selatan Telp.Ibid. 102.205 36.Ibid.. h. 168 34..Sayeed Ameer Alim. 70 38.. 34 48. h. 7501983. Ibid. h.Ibid..Abd al-Qahir al-Baghdadi. Kairo. 72 39.Al-Asy'ari.Ibid.

tapi di sana. Kedua." yaitu mengapa dan dalam konteks sosial yang bagaimana suatu amal telah dilakukan. maka sesungguhnya Nabi Muhammad saw sedang berteori bagaimana suatu amal. menurut agama. melainkan lebih pada kenyataan sejauh mana ia mengena pada realitas yang diresponsnya. Yang pertama adalah realitas yang terdapat dalam dunia ide yang dipikirkan. di alam akhirat nanti. Itu adalah urusan Tuhan dan pribadi yang bersangkutan. adalah kesadaran tentang tujuan suatu amal dilakukan. Tujuan amal yang bersifat "kedalam" landasannya adalah "iman. Yang ada pada wewenang kita. oleh realitas kehidupan yang mendorong kehadirannya. harus dikritik atau. justru lantaran konteks yang melahirkannya adalah juga bersifat relatif dan berubah. Maka bobot dan relevansinya juga tergantung pada sejauh mana definisi atas realitas itu memiliki ketepatan. di dunia ini. maka bisa dikemukakan beberapa acuan sebagai berikut. kritik amal atas dasar niat yang bersifat kedalam sama sekali bukan urusan kita. Dan hanya dalam kaitan sebab akibat itulah suatu amal bisa dinilai. TELAAH KRITIS ATAS TEOLOGI MU'TAZILAH (1/2) oleh Masdar F. yaitu realitas teoritik dan realitas empirik. sebagai makhluk sosial. Tak ada suatu amal yang muncul begitu saja lepas dari kaitan sebab akibat yang melingkupinya. dapat kita kelompokkan dalam dua katagori. Dalam hubungan ini innama 'l-a'malu bi 'l-niyyat akan berarti." Syahdan. seperti diketahui. dan waktunya. karena setiap amal adalah respons terhadap realitas yang didefinisikannya. Pertama.Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota Please direct any suggestion to Media Team Artikel Yayasan Paramadina Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota III. amal itu diikat dan ditentukan oleh konteksnya. dikritik atau dievaluasi. dalam bahasa manajemennya. realitas yang menjadi pijakan amal pemikiran. Sementara itu. Dengan menerima dasar penilaian atau kritik yang demikian ini. semakin tinggi pula bobot dan relevansi pemikiran yang diresponinya. dan kedua yang bersifat keluar dan sosial. pertama yang bersifat ke dalam dan personal. bobot dan relevansi suatu amal pemikiran pertama-tama tidak ditentukan penilaian benar tidaknya dari sudut doktrin. bukan di sini. Dan amal berdimensi ganda. Semakin tepat definisi realitas yang ditangkap. bobot dan relevansi suatu amal (dalam hal ini amal pemikiran) pada dasarnya adalah relatif dan bisa berubah. Ketiga." sedang tujuan yang bersifat "ke luar" landasannya adalah "realitas kehidupan. Sedang yang kedua adalah realitas yang ada dalam dunia kenyataan yang . dievaluasi.11. Niat. adalah kritik atau evaluasi amal dari sudut niat (tujuan)nya yang bersifat "keluar. Mas'udi Dengan mengatakan innama 'l-a'malu bi 'l-niyyat (amal ditentukan niyatnya).

dan dalam kontrol siapakah ia. sedang yang kedua akan bercorak populis. bahwa pemikiran-pemikiran keagamaan (fiqh atau teologi) sebagai amal yang ditawarkan para pemikir Muslim sejak abad pertengahan adalah lahir dari suatu pola keprihatinan yang serupa. juga akan cenderung pada hal-hal yang konkrit yang bisa mengena pada kepentingan orang banyak. tapi telah saling membunuh. Seperti selalu diulang-ulang para sejarawan. titik tolaknya adalah keprihatinan terhadap realitas empiris (baru kemudian realitas yang bersifat teoritis). atau kekuatan-kekuatan itu. Tapi yang saya maksudkan adalah. telah terjadi dua perkembangan yang sangat signifikan dalam sejarah umat Islam. Berkaitan dengan tanggungjawab perbuatan manusia tadi. Dengan kedua perkembangan itulah muncul pertanyaan-pertanyaan teologis. karena titik tolak keprihatinannya pada realitas abstrak dan umumnya terbatas hanya pada concern kalangan tertentu. Bagaimana hukumnya orang Islam yang melakukan dosa besar (seperti membunuh sesama Muslim tanpa hak). (Suatu pemikiran yang jelas berangkat dari keprihatinan teoritik). Pemikiran kategori pertama." Perkembangan kedua adalah masuknya bangsa Parsi dan sekitarnya kedalam Islam berikut pemikiran dan keyakinan-keyakinan lamanya yang sudah terbentuk kuat dalam benak masing-masing. sebagian amal pemikiran benar-benar lahir dengan titik tolak keprihatinan pada realitas teoritis (baru kemudian.dirasakan. apakah faktor itu adalah "amal perbuatannya" ataukah "rahmat Tuhan" semata yang diberikan kepada siapa saja yang dikehendaki-Nya. bahwa pada paroh kedua abad pertama Hijriah. yang satu terhadap yang lain bisa saling pengaruh mempengaruhi. Syahdan. Perkembangan yang tragis ini yang terjadi dua kali. Pertama. Pertanyaan ini muncul -besar kemungkinan karena menurut doktrin Kristiani yang ketika itu juga sudah dibawa masuk dalam lingkungan umat Islam. "cobaan besar. PEMIKIRAN TEOLOGI MU'TAZILAH Fakta sejarah. yaitu balasan sorga dan balasan neraka. akan cenderung bercorak elitis. pemikiran katagori pertama. keduanya tak harus selalu terpisah. sedang sebagian amal pemikiran yang lain."penyelamatan Tuhan" itu tak ada sangkut pautnya dengan amal perbuatan manusia. tapi semata-mata atas dasar "rahmat" yang disediakan melalui pintu tunggalnya: Yesus. Memang. dari keprihatinan atas pertanyaan-pertanyaan inilah . Sebaliknya. kenyataan bahwa di kalangan umat terjadi konflik internal yang boleh jadi tidak pernah diinginkan oleh mereka sendiri. jika dirasa perlu. pemikiran yang lahir dari keprihatinan pada realitas riil yang dirasakan orang banyak. yaitu bagaimana ajaran agama bisa dipahami umat secara benar. Demikianlah. ada dua jenis balasan sejati di akhirat nanti. Menurut ajaran Islam. bergerak ke realitas empiris). Siapakah yang sesungguhnya bertanggungjawab atas tindakan manusia: dirinyakah. maka dampak sosialnya pun cenderung abstrak dan terbatas pada kalangan tertentu saja. dikenal dengan sebutan fitnah kubra. dimana satu kelompok bukan saja telah mengutuk kelompok yang lain. faktor apakah yang memastikan orang memperoleh penyelamatan Tuhan dengan masuk sorga. dengan sendirinya.

Yang menarik adalah bahwa masing-masing aliran ini. yang lainnya adalah salah. Muslim no yang baru pada taraf pembentukan diri. karena ajaran-ajaran Islam itu pun harus diolah terlebih dahulu melalui subyektifitas masing-masing pemikir. 110 H/ 728 M). Hasan Basri selaku pemimpin dan tokoh yang merasa harus menjaga keutuhan umat berada dalam arus kecenderungan umum ini. yaitu bahwa identitas seseorang apakah ada "di dalam" (minna) atau "di luar" (minhum) harus benar-benar jelas. Kata i'tazala (hengkang) yang jadi sebutan Mu'tazilah (yang hengkang dari arus umum) itu pun kemudian ditempelkan kepada Washil bin Atha dan segenap pengikutnya. dengan melakukan dosa besar. orang akan selalu merujuk pada episoda diskusi Hasan al-Bashri (w. I'tazala'anna!. Masing-masing jawaban tumbuh sebagai aliran pemikiran yang berdiri sendiri. karena merasa berpedoman pada pegangan mutlak yang ada di tangan. di kemudian hari nama-nama: Khawarij. Jawaban kedua mengatakan bahwa Muslim yang melakukan dosa besar masih tetap tergolong Muslim. maka pertanyaan tentang "kebebasan manusia. prinsip kebebasan juga hanya akan berarti kalau ada "janji dan ancaman" yang setimpal di hari kemudian. Asy'ariyah. Jawaban ini diajukan kelompok yang terkenal dengan sebutan Khawarij. Pertama. Khasywiyah dan sebagainya. minhum). manusia secara moral dapat dituntut pertanggungjawaban di kemudian hari. yang berkembang saat itu adalah jawaban-jawaban berikut. Dan sebenarnya pada kisaran inilah Mu'tazilah benar-benar tumbuh sebagai aliran teologi yang tersendiri diantara aliran-aliran teologi yang lain. maka jawaban pun hadir dalam corak dan pendekatan yang demikian berbeda-beda. Qadariyah. Itulah sebabnya ketika Washil melontarkan pendapatnya yang melawan arus tadi. seorang ulama terkemuka pada zamannya. hanya dengan prinsip kebebasan inilah.para pemikir Islam ketika itu merasa ditantang merumuskan jawabannya yang benar sesuai dengan ajaran-ajaran Islam yang shahih. dengan nada menyesal Hasan berkomentar: Ia telah keluar dari kita. Jawaban inilah yang agaknya dicondongi mayoritas umat Islam yang disebut sebagai kelompok Murji'ah (artinya: menangguhkan). Dan sebaliknya. Murjiah. seorang Muslim telah terpental dari kelompok (komunitas) alias menjadi "kafir" dan karena itu -sesuai dengan hukum riddah. Maturidiya. Tersebutlah. sangat menekankan perlunya seseorang dapat memperjelas (diperjelas) kedudukannya apakah termasuk orang dalam (in group. Jabariyah. Mu'tazilah secara tegas mengatakan bahwa "manusia sepenuhnya memiliki kebebasannya sendiri bertindak. . Berbeda dengan aliran teologi lainnya. Berbicara tentang awal mula sejarah Muitazilah. mengaku sebagai satu-satunya yang benar. Saya kira." terasa lebih bersifat murni teologis. Mu'tazilah. Tapi kalau pertanyaan tentang "status pendosa besar" ini banyak diselimuti latar belakang politis. dengan para muridnya diseputar tema Muslim yes. minna) atau termasuk orang luar (out group. dan bagaimana dengan dosa yang dilakukannya itu terserah Tuhan di hari akhirat nanti." Baginya. Karuan saja. Maka terhadap pertanyaan yang terlontar dalam diskusi Hasan tadi.halal ditumpahkan darahnya. Prinsip "janji dan ancaman" (al-wa'du wa 'l wa'id) yang akan dilaksanakan di hari kemudian tak bisa dipahami tanpa adanya prinsip "kebebasan" tadi.

(bersambung 2/2) -------------------------------------------Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah Editor: Budhy Munawar-Rachman Penerbit Yayasan Paramadina Jln. berupa akal yang lebih dipahami sebagai rasio atau nalar. Secara harfiyah prinsip yang tersebut terakhir ini bukan barang baru bagi umat Islam pada jamannya. pastilah manusia yang memiliki kemampuan yang memungkinkan dirinya menentukan mana yang baik dan mana yang buruk. Sebagai yang Maha adil Tuhan harus membalas keburukan atas setiap tindakan buruk dan harus membalas kebaikan atas semua tindakan yang baik. 7501983. Dia tak bisa tidak kecuali harus bertindak yang terbaik bagi manusia. (021) 7501969. Apakah dengan begitu. Metro Pondok Indah Pondok Indah Plaza I Kav. Seperti diketahui. diluar diri manusia sendiri. manusia yang bebas dan bertanggungjawab itu. manusia tumbuh sebagai makhluk yang mandiri dan tidak lagi tergantung pada pihak lain dalam menentukan jalan hidupnya. Mas'udi Mu'tazilah yakin bahwa pembalasan di akhirat semata-mata ditentukan oleh "amal perbuatan manusia" yang diambilnya sendiri secara bebas merdeka. Dan sebagai yang Maha adil. Dengan nalarnya. Pada poin inilah Mu'tazilah dimasyhurkan sebagai aliran pemikiran yang rasionalistik. (021) 7507174 Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota Please direct any suggestion to Media Team Artikel Yayasan Paramadina Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota III. Tapi "keesaan Tuhan" dalam teori Mu'tazilah ini menjadi baru karena yang ia maksudkan rupanya adalah pembebasan (tanzih) . Baik atau buruk (al-hasan wa 'l-qabh) bukanlah sesuatu yang harus didiktekan siapa pun juga. yang cenderung mengunggulkan otoritas "akal" (nalar) atas "naqal. bahkan juga sebelumnya. Sementara itu. Mu'tazilah tak lagi perlu? Tak ada penegasan eksplisit tentang itu. 7507173 Fax. dengan tesisnya bahwa al-Qur'an itu makhluk. UA 20-21 Jakarta Selatan Telp.11. al-Qur'an (wahyu) tidak memiliki otoritas yang dapat mendikte manusia. tesis tentang Qur'an tersebut erat kaitannya dengan tesisnya yang lain tentang "Keesaan Tuhan" yang dibangunnya dengan pendekatan murni filosofis. TELAAH KRITIS ATAS TEOLOGI MU'TAZILAH (2/2) oleh Masdar F. maka sebenarnya Mu'tazilah sudah berketetapan hati bahwa sebagai sesama makhluk. Kemampuan itu menurut keyakinan Mu'tazilah sudah diberikan Tuhan." suatu pendirian yang oleh mayoritas Muslim dipandang sangat membahayakan keutuhan doktrin. Tapi.

Tuhan tahu. juga dengan logika akalnya. yang adalah teolog Mu'tazilah terkemuka pada zamannya. pada suatu ketika. 241 H/855 M). justru ingin membebaskan-Nya tetap berada di atas batas-batas manusia tadi. termasuk sifat-sifat yang dikenakan kepadaNya. Asy'ari pun juga menggunakan akal (logika) untuk mendukung argumentasinya. 330 H/942 M). Keduanya memiliki perbedaan yang substansial. Dengan menarik postulat ini lebih jauh. kejar Asy'ari lebih lanjut. jawab Jubbaiy. Mengapa harus begitu? Tanya Asy'ari. Kalau begitu. al-Asy'ari bertanya kepada guru besarnya. bahwa Mu'tazilah mengaku telah menemukan kebenaran tunggal dan mutlak itu melalui logika akal. Hanya bedanya. Sesungguhnyalah kritik ini tidak saja mengena pada Mu'tazilah. syirk. maka Qur'an sebagai ekspresi salah satu sifat-Nya (al-kalam) yang hadits dengan demikian juga berkapasitas hadits. Tapi. jika si anak dibiarkan hidup. Kalau kritik al-Asy'ari itu adalah juga kritik kita kepada Mu'tazilah. bagaimana jika orang-orang yang dijebloskan dalam neraka protes. kenapa mereka tidak dimatikan saja ketika masih muda. TIGA KRITIK Adalah al-Asy'ari (w. Yang tersebut terakhir ini dengan sangat militan diwakili oleh golongan Khasywiyah yang mengaku menjadi pengikut Imam Ahmad bin Hambal (w. sesuai dengan keadilan Tuhan dalam persepsi Mu'tazilah. maka kritik kita yang kedua adalah pada klaimnya sebagai telah menemukan kebenaran tunggal yang harus diterima semua pihak. Kenapa harus terjadi si anak tidak diberi usia yang cukup agar ia bisa berbuat kebaikan seperti temannya yang dewasa? Kejar Asy'ari. Yakni. Sifat-sifat atau atribut yang dikenakan kepada Tuhan bukanlah sesuatu yang sebangun dengan hakikat-Nya. salah satu ciri yang menonjol dari sejarah pemikiran keagamaan saat itu adalah kesembronoannya yang benar-benar diyakini dalam menuduh orang atau pihak lain sebagai kafir. Karena yang dewasa telah sempat beramal kebaikan. al-Jubba'iy. ia akan tumbuh menjadi manusia durhaka. kilah Jubbaiy. tentang nasib seorang anak dan seorang dewasa yang sama-sama masuk sorga karena imannya.Tuhan dari seluruh "sifat" bahkan yang secara eksplisit tersebut dalam ajaran-ajaran wahyu (Qur'an). Sementara Tuhan harus berbuat yang terbaik untuk manusia. tapi seperti halnya Jubbaiy. . sedang si anak belum. Konon. sedang lawan-lawannya mengaku menemukan kebenaran mutlak itu melalui huruf-huruf naqal. maka diciptakan (makhluq). orang yang mati dewasa itu menempati kedudukan lebih tinggi dibanding kedudukan si anak. adalah hadits. jika hakikat Tuhan itu qadim. menurut catatan sejarah yang pertama kali menyatakan kekecewaannya terhadap konsep teologi Mu'tazilah yang rasionalistik itu. maka segala sesuatu selainnya. tapi juga pada semua aliran teologi yang tumbuh pada masa-masa itu karena klaim yang sama. murtad dan sejenisnya hanya lantaran pendapat yang berbeda. Bedanya adalah bahwa Jubbaiy (Mu'tazilah) dengan logika akalnya bersikeras untuk mendefinisikan Tuhan menurut batas-batas manusia. sedang Asy'ari. Itulah sebabnya. hingga tak sempat tumbuh jadi manusia durhaka? Yang menarik dari diskusi ini bukan saja al-Jubbaiy kehabisan akal menjawabnya.

Yang pertama berwatak formal dengan orientasi pada bentuk . Tragedi teologis ini dikenal dengan mihnah. adalah yang tersebut pertama muaranya adalah pada terbangunnya kesesuaian realitas pemahaman dengan bunyi doktrin yang statis. Seperti telah disinggung di atas. maka bagi saya. Sementara itu. Seperti diketahui. sedang yang tersebut terakhir concernnya pada kesesuaian antara realitas kehidupan dengan semangat doktrin yang dinamis. maka rupanya keadilan yang dimaksudkan adalah keadilan lain (yang bersifat eskatologis) yang berkaitan dengan "peranan" Tuhan di hari kemudian. beda antara teologi dialektika retorik di satu pihak dengan dialektika empiris di lain pihak. (Kritik ini pun mengena pada aliran teologi lainnya. karena pada dasarnya Mu'tazilah lahir dari keprihatinan pada realitas teoritis bahkan yang berdimensi metafisik. terutama jika diingat praktek kesewenang-wenangan yang dilakukan kalangan penguasa. Dan dalam kaitannya dengan persoalan keadilan yang dirasakan umat." tapi keadilan yang menjadi tanggung jawab manusia dalam kehidupan di "sini. karena dasar keprihatinannya yang serupa)." Saya pikir. kelompok Mu'tazilah ini justru bergandengan-tangan dengan rejim yang berkuasa untuk melakukan tindak sewenang-wenang terhadap siapa saja yang tidak disukainya. Sehingga kalau realitas yang menggugah keprihatinannya adalah soal keadilan. salah satu prinsip ajaran yang dipropagandakan Mu'tazilah adalah tentang "keadilan" suatu isu yang sebenarnya sangat relevan pada saat itu. Dilihat dari sudut muaranya. Tapi kalau dialektika teologi yang mengabdi doktrin itu berwatak retorik (dialektika yang terjadi dalam proses penghadapan antagonis antara satu doktrin dengan doktrin yang lain). adalah yang benar-benar berangkat dari lapisannya paling bawah. Tapi. kritik yang ketiga. maka dialektika teologi baru itu bersifat empiris (dialektika yang terjadi dari proses penghadapan kritis antara realitas kehidupan dengan pesan-pesan universal).Untuk kasus Mu'tazilah sikap intoleransi ini ditindak lanjuti dengan prinsip amar ma'ruf nahi munkarnya yang merisaukan banyak pihak yang menjadi lawan polemiknya. maka keadilan yang dimaksud bukanlah keadilan Tuhan yang harus ditegakkan di "sana. kalau teologi abad pertengahan (seperti Mu'tazilah maupun lawan-lawannya) yang mengabdi kepada kepentingan doktrin disebut teologi dialektik. TAWARAN ALTERNATIF Mencoba konsisten dengan kerangka teori "niat" seperti tersebut di atas. sistem pemikiran teologis atau apa saja atributnya yang relevan untuk dibangun. maka sebutan yang sama pun bisa juga dikenakan pada teologi yang perlu kita kembangkan ini. Mu'tazilah telah melancarkan intrik terhadap orang lain untuk menerima doktrin-doktrin teologinya dan menimpakan hukuman atas siapa saja yang mencoba menolaknya. atau inquition yang dilakukannya dengan dukungan tangan-tangan kekuasaan dan birokrasi pemerintahan yang karena alasan politik tertentu dapat dipengaruhinya. (Dari dasar keprihatinannya ini." atau "teologi kerakyatan"). lantaran dasar keprihatinannya yang elitis tadi. ia bisa disebut misalnya "teologi populis. maka isu-isu yang digelutinya pun hampir tak punya sentuhan yang bermakna bagi umat pada umumnya. dengan dalih itu.

. masing-masing menyebut yang lain sebagai Judas. sedang yang kedua berwatak substansial yang berorientasi pada substansi dan bersifat terbuka. a synagogne of Satan. Pada tahun 1043." Kristen Yunani berdoa sambil berdiri. teolog Yunani menolak tambahan filioque pada syahadat sex patre filioque procedit hasil perumusan Gereja Romawi. (021) 7507174 Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota Please direct any suggestion to Media Team Dimensi sosial Artikel Yayasan Paramadina Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota VI. teologi dialektika empiris ini akan menerima perbedaan pendapat sebagai realitas kehidupan yang wajar. Sebagai gantinya. Metro Pondok Indah Pondok Indah Plaza I Kav. UA 20-21 Jakarta Selatan Telp. Peristiwa ini disebut sebagai skisma besar Gereja Timur. (021) 7501969. sedang secara horizontal berwatak demokratis. tetapi diperbolehkan bagi pastor Yunani. Pembaptisan di Yunani dilakukan dengan penyelaman. Pertentangan keduanya dan pengikutnya sampai kepada tingkat saling mengkafirkan. kardinal-kardinal Perancis berkumpul di Anagui. Dengan demikian. Kristen Romawi sembahyang sambil berlutut. Dengan watak keterbukaannya. Patriarch Konstantinopel. pastor Yunani ahli teologi. 7501983." (Durant. a conventicle of schismatics. Lebih dari tiga abad kemudian. di Romawi dengan pemercikan. "Kiai" Yunani memelihara janggut. maka kemungkinan menemukan pilihan "yang terbaik" menjadi tersedia. 1950:544).52. Sebagai balasan. Paus St.dan cenderung tertutup. Pernikahan dilarang bagi pastor Romawi. -------------------------------------------Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah Editor: Budhy Munawar-Rachman Penerbit Yayasan Paramadina Jln. mengeluarkan manifesto yang mengatakan pemilihan Paus Urbanus VI tidak sah. Dua Paus bertahta. sedangkan rekannya dari Roma mencukurnya. teologi dialektika empiris ini secara vertikal berwatak populis. Pastor Romawi ahli politik. menyebarkan tulisan yang mengkritik keras Paus di Roma. SKISME DALAM ISLAM SEBUAH TELAAH ULANG (1/3) oleh Jalaluddin Rakhmat Ketika matahari Islam sedang naik di sebelah Timur. Mereka berpisah seperti "a biological species divided in space and diversified in time. Menurut laporan Will Durant (Durant). Leo mengekskomunikasikan Cerularius dan menggelari pengikut-pengikutnya sebagai "an assembly of heretics. mereka mengangkat Robert dari Genewa dengan gelar Clement VII. di Barat Kristianitas terbelah dua pola: Gereja Romawi dan Gereja Yunani. Justru dengan pendapat yang berbeda-beda itu. 7507173 Fax. dua sisi yang selama ini seperti cenderung terpisah. Terakhir. Michael Cerularius.

the penitents so shriven. legitimasi ini diperoleh dengan memalsukan sumber-sumber ajaran agama atau memberikan penatsiran yang diselewengkan. mengapa kita tiba-tiba bicara tentang skisme dalam Islam. de sheuring in de. "Kalian akan mengikuti tradisi umat sebelum kalian. de afscheiding van een deel van de Gr. sehingga begitu saja mendengarnya. ada-ada saja!.. R. toen er verschillende pausaen tegelijk waren. Ketiga.. kerk. 21:92)? Bukanlah mereka seperti bangunan yang kokoh. severed Christendom into East and West" (Durant. 1054. Katholieke kerk van Rome. Kedua. Skisma memang bukan istilah Islam. Tidak jarang." [1] Kata skisme tidak mengada-ada. sehingga kalau satu anggota sakit. atau seperti tubuh yang satu. (Gr. and not the slight diversities of creed. Sebuah kamus klasik. the dying so anointed. dalam Islam.K. sesiku demi sesiku. tradisi yang same telah diikuti umat Islam juga. 1937:648) menjelaskan makna skisme: Schisma. setelah saya merenungkan pertanyaan-pertanyaan di atas? terlintas dalam ingatan saya sebuah hadits." Secara singkat. Pernahkan Islam mempunyai Paus dua dan di antara keduanya ada tuduhan saling mengkafirkan? Bukankah umat Islam adalah "ummatan wahidatan" (QS. yang semula bersifat politis. saya segera berkomentar. "Siapa lagi. anggota-anggota lainnya ikut demam dan panas? Mula-mula saya menganggap istilah skisme dalam Islam sebagai mengada-ada. apakah mereka itu Yahudi dan Nashara. Al-Syahrastani dalam al-Milal wa al-Nihal menulis. Pertikaian dalam gereja Katolik. Bila skisme adalah istilah Kristiani. dalam Islam pun kaum politisi memperbesar perbedaan doktrinal yang kecil untuk menyuburkan fanatisme --saling mengkafirkan dan saling membid'ahkan. and that the children so baptized. di dunia Katolik pernah muncul gerakan konsiliasi (cinciliar movement) yang dipelopori oleh kaum cendekiawan. Sahabat bertanya.these galling political events. Encyclopedisch Woordenbock voor Groot-Nederland (Ter laan. William Occam menentang identifikasi Kristianitas dalam gereja . Seperti dalam dunia Kristiani. 1378-1407. Will Durant melukiskan skisme besar tahun 1054. 23:53." Nabi menjawab. Nabi Muhammad berkata." Peristiwa ini pun disebut sebagai Skisma Besar. ia menulis. kamu pun akan mengikutinya. Pertama. kemudian diperluas ke dalam bidang liturgi dan doktrin: begitu pula.1953:362) "Each side claimed the sacraments administered by priests of the opposite obedience are invalid. sehingga bila mereka memasuki gua serigala. ". "Tidak pernah darah di tumpahkan dan pedang dihunus dalam Islam kecuali karena pertikaian masalah imamah (kepemimpinan). remained in a state of mortal sin. doomed to hell or limbo if death should supervene. baik skisme dalam Kristen maupun skisme dalam Islam lebih banyak dilandasi pertikaian kepentingan politik daripada karena pertikaian aqidah. Walaupun skisme berasal dari dunia kristen. yang saling menguatkan satu same lain.= shedding). pertikaian politik sering dicarikan legitimasinya dengan pengembangan teologi yang berlainan." Tetapi. "Ya Rasullah. 1950:544). "Ah. Ada tiga kesamaan antara skisma Kristiani dengan perpecahan dalam Islam.

Bagian pertama makalah ini akan membicarakan skisme politik. di sini kita akan meneliti perbedaan konsep politik di antara kedua madzhab besar itu dan melacak penyebab-penyebabnya. abstraksi pandangan politik ahl al-Sunnah dapat disimpulkan hanya pada perbedaan konsep imamah dan khilafah yang dianut Syi'ah. Tulisan ini. perlawanan Husayn bin Ali terhadap Yazid. Kasyif Githa (dari Syi'ah).Islam tidak memisahkan aspek politik dan aspek intelektual. menggalakkan upaya-upaya taqrib.Syi'ah (yaitu tiga skisme yang pertama). terus terang saja. ijma' dan bay'ah. Ahl al-Sunnah menetapkan pemimpin melalui kesepakatan (al-ittifaq) dan pemilihan (al-ikhtiyar). walaupun membicarakan skisme. ANTARA KHALIFAH DAN IMAMAH Hamid Enayat menyebutkan tiga konsep kunci untuk pandangan politik Ahl al-Sunnah . Al-Mawardi dalam Al-Ahkam al-Sulthaniyah (450 H) dan Abu Ya'la dalam Al-Ahkam al-Sulthaniyah (458 H) semuanya menulis. wilayat. tujuan akhirnya adalah menumbuhkan sikap persatuan --sikap nonskismatik. Heinrich von Langenstein.tertentu. "Kepemimpinan ditetapkan dengan dua cara: pertama. untuk mudahnya saja. dalam Islam pun umat terbanyak lebih banyak mendengar suara politisi ketimbang cendekiawan. atau penobatan Syarif al-Husain sebagai Khalifah tandingan khalifah Utsmaniyah. Di antara semua skisme tersebut. Walaupun --karena sifat ajarannya-. Jadi. Ada beberapa kali terjadi skisme politik besar dalam sejarah Islam: pemberontakan 'Aisyah terhadap Khalifah Ali bin Abi Thalib. pertentangan khalifah antara Mu'awiyah dan Ali bin Abi Thalib setelah perjanjian Shiffin. menulis buku Concilium Pacis (1381). di sini kedua aspek itu dipisahkan. atau penobatan Abdullah bin Zubair (681-692) sebagai Khalifah bersamaan dengan masa Khalifah Yazid. penunjukan imam sebelumnya" (Perlu dicatat di sini bahwa penulis-penulis di atas adalah ulama ahl al-Sunnah. dan 'ishmah. dan bagian kedua skisme intelektual. Karena itu. dan Jamaluddin al-Afgani (tidak jelas dari Sunnah atau Syi'ah). seperti dalam dunia Kristiani. tokoh-tokoh cendekia seperti Syaikh Syaltut (dari ahl al-Sunnah). Dalam Islam. Wilayah dan 'ishmah merupakan karakteristik tak terpisahkan dari imamah. Pada bagian akhir. Sementara itu. teolog dari Universitas Paris. pemilihan Ahl al-Hal wa al-'Aqd. Sayang. Ijma' dan bay'ah diterima juga dalam Syi'ah walaupun dalam arti yang terbatas. tetapi -anehnya menyebut kepemimpinan dengan istilah imamah). ingin mengikuti suara cendekiawan dan mengesampingkan suara politisi. dan kedua. sikap nonsektarian. dan lain-lain. makalah ini akan mengajukan rekomendasi apa yang seharusnya kita lakukan. imamah. Syi'ah menetapkan pemimpin lewat keterangan agama (nash) dan penunjukan (ta'yin).yakni.yakni Khalifah. yang baru saja dihapuskan tiga hari sebelumnya. [2] Al-Syahrustani membedakan di antara kedua madzhab ini dalam hal kepemimpinan politik. Ketiga konsep kunci untuk pandangan politik Syi'ah . skisme yang tetap berpengaruh sampai sekarang adalah skisme-skisme yang melahirkan polarisasi Sunnah . Karena itu. Ahl al-Sunnah berpegang pada ketentuan syura sebagai landasan .

. Mawardi dalam bukunya. 1406: 234-256). Ahl al-Sunnah tidak mempunyai konsepsi yang jelas tentang ketentuan-ketentuan syura. Akhirnya. al-Syura 38 dan Ali Imran 164 sebagai dalil. pemimpin tidak perlu ditunjuk oleh nash. pemimpin bahkan dapat disahkan tidak lewat ittifaq tetapi lewat al-ghalabah (kemenangan perang). Pengangkatan Abu Bakar dipilih oleh Umar bin Khathab.. Al-Ahkam al-Sulthaniyah 6-7. boleh dilakukan dalam jumlah terbatas dan ittifaq paling sedikit dilakukan lima orang. Usaid bin Hudhair.: 39) menulis: From the Shi'ite point of view it appears as unlikely that the leader of a movement. Begitu pula Umar mempercayakan Dewan Formatur yang terdiri dari enam orang untuk memilih satu di antaranya sebagai khalifah.W. dan Salim Mawla Abi Hudzaifah. "Ia telah memikirkan dan merencanakan pelanjutnya ." kata Al-Askari (1406:202). but not introduce him to his completely loyal and devout aides and friends. Menurut Al-Mawardi. untuk menegakkan masyarakat Islam. syura. dan berapa jumlah orang yang sepakat.t. "Sejak pertama kali ia mengajak orang pada Islam. Empat imam mazhab Ahl al-Sunnah sepakat bahwa pemimpin sah dengan salah satu di antara empat cara (al-Yahfufi. 1406:147. syura dan ittifaq cukup dilakukan oleh seorang saja (sic!). Umat boleh memiliki (ikhtiyar) pemimpin yang disepakatinya (ittifaq) Dalam kenyataan. dikutip lagi dari Al-Askari. Mereka beryakinan bahwa Rasulullah SA. and refuse to make any distinctions. Bukankah aqad nikah sah dengan dua saksi dan satu wali? Kata kelompok yang lain." Sayyid Muhammad Husayn Tabatabai (t. Jadi karena pemimpin adalah hasil syura. Ini pendapat fuqaha Bashrah. Nor does it appear likely that such a leader should accept someone as his deputy and successor and introduce him to others as such. menunjuk pengganti-pengganti sesudahnya untuk memimpin umat Islam.kepemimpinan dan menunjuk QS. Basyir bin Sa'ad. Menurut fuqaha Kufah. menurut Ahl al-Sunnah. -------------------------------------------Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah Editor: Budhy Munawar-Rachman (bersambung 2/3) . should introduce to strangers one of his associates as his successor and deputy. disregard the respect due to his position as successor. but then throughout his life and religious call deprive his deputy of his duties as deputy. Abu 'Ubaidah bin al-Jarah. syura cukup tiga orang dan satu di antara mereka disepakati oleh dua orang yang lain. seperti ketika 'Abbas mendatangi Ali untuk membai'atnya. during the first days of his activity. siapa yang memilih. yaitu: (1) sistem syura yang terbatas (seperti pemilihan Abu Bakar) (2) sistem istikhlaf (penunjukan pengganti seperti yang dilakukan Abu Bakar terhadap 'Umar (3) sistem syura dari dewan formatur yang ditunjuk khalifah sebelumnya (seperti pengangkatan Utsman bin Affan) (4) sistem al-ghalabah bi al-saif (penaklukan dengan kekuatan militer seperti yang dilakukan Mu'awiyah) Syi'ah berpendapat bahwa imamah hanya sah bila ditegaskan dalam nash.

dan mutakallimun bahwa imam tidak boleh di dimakzulkan karena kefasikan.Penerbit Yayasan Paramadina Jln. penguasa muslim yang dzalim atau penguasa kafir yang adil. UA 20-21 Jakarta Selatan Telp. maka tentu imam adalah orang yang terbaik. Akan menganggap tidak baik mendahulukan al-mafdhul dan menghinakan al-fadhil. "Berkata jumhur ahl al-Sunnah dari kalangan fuqaha. (021) 7507174 Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota Please direct any suggestion to Media Team Artikel Yayasan Paramadina Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota VI. Syi'ah melarang dan Ahl al-Sunnah mengharuskan petaatan pada penguasa yang zalim. mahaddtsin. Dengan begitu mereka menyalahi akal dan nash al-Kitab." Kontroversi selanjutnya adalah tindakan untuk menjawab pertanyaan manakah yang lebih utama. Wajib bagi rakyat menasihati dan memperingatkannya. "Keluar memerangi mereka haram berdasarkan ijma' kaum muslimin. Al-Nawawi berkata dalam Syarh Muslim-nya. ada nash-nash yang jelas dari Rasulullah saw. menurut Syi'ah. Mazhab Imamiyah sepakat tentang hal itu. Al-Hilli (dalam Al-Hasan. dan kedzaliman. Syi'ah Jawad Mughnuyah (1406: 26) berpendapat. 7507173 Fax. Bagaimana kalian menetapkan keputusan?. "Apakah orang yang memberi petunjuk kepada yang benar lebih berhak diikuti ataukah orang yang tidak dapat memberi petunjuk. atau pelanggaran hak. Metro Pondok Indah Pondok Indah Plaza I Kav. Ahl al-Sunnah ijma' bahwa sulthan tidak boleh dimakzulkan karena kefasikan. 1396: 27) menulis: Imam mesti yang paling utama dari rakyatnya." Karena Syi'ah menetapkan al-fadhil dan Ahl al-Sunnah membolehkan al-mafdhul sebagai imam. Al-Jumhur (yakni. walaupun mereka fasik dan zalim. Ini melahirkan kontroversi al-fadhil dan al-mafdhul. 7501983. bahkan terpelihara dari dosa. SKISME DALAM ISLAM SEBUAH TELAAH ULANG (2/3) oleh Jalaluddin Rakhmat Walhasil. Ahl al-Sunnah) membolehkan mendahulukan al-mafdhul di atas al-fadhil." Sebelum itu ia menulis (Syarh Muslim 12: 229). terjadilah kontroversi berikutnya. Sudah jelas sekali hadits-hadits yang menunjukkan pengertian yang saya sebut. (021) 7501969. dan Syi'ah mengikuti yang kedua. [3] Karena imam itu ditunjuk oleh nash. "Ketika Syi'ah menegaskan bahwa khilafah adalah hak ilahi bagi Ali dan keturunannya. Ahl al-Sunnah memilih yang pertama. bahkan harus diberi petunjuk.52. Ia tidak boleh diturunkan dan tidak boleh orang keluar menentangnya. . Al-Qur'an menentang hal itu dengan berkata. yang menunjukkan Ali sebagai penggantinya dan sebelas orang imam dari keturunannya.

Pada bidang religius. perbedaan preferensi penguasa (kafir yang adil atau muslim yang dzalim). Mengapa terjadi perbedaan itu. Setiap anggota marga bangsa dalam menghitung-hitung prestasi nenek moyangnya. Kita hanya akan mengulas dua teori saja: teori sosioantropologis Bangsa Arab dan teori pendekatan doktrinal. Tidak mungkin dalam makalah ini. dan secara terperinci dijelaskan kembali oleh Jafri (1967). Orang Arab percaya bahwa selain karateristik fisikal. mereka mengikuti khalifah al-Manshur. Asumsi pertama menunjukkan bahwa status sosial seseorang sangat ditentukan oleh status marganya. Menarik untuk dicatat bahwa khalq (karakteristik fisik) dan khuluq (perilaku) ditulis sama dalam bahasa Arab. Secara singkat. misalnya. dan menjadi kebanggaan anggota kabilah. kafir yang adil lebih baik dari Muslim yang dzalim. Di antara . Kontroversi lain --yang justru sangat esensial-. Sementara itu. TEORI SOSIO-ANTROPOLOGIS BANGSA ARAB. sejak berakhirnya Khulafa al-Rasyidun. dan perbedaan dalam memandang hubungan kekuasann politis dengan kekuasaan religius (digabungkan atau dipisahkan). Secara politis. orang mengikuti Imam Malik.mereka telah bersikap ekstrem dalam toleransinya terhadap penguasa yang adil. kesetiaan pada suku dan ketergantungan kehormatan pada sukunya menjadi sangat penting. perbedaan kualifikasi pemimpin (al-fadhil atau al-mafdhul). ahl al-Sunnah memisahkan kedua kepemimpinan itu. Mereka mengutamakan non-muslim jika ia adil daripada seorang penguasa Muslim yang dzalim. lahirlah skisme politik besar Islam yang berlangsung sampai kini. pada kata imamah (yang secara khusus berarti kepemimpinan ruhaniah) juga terkandung makna wilayah (secara khusus berarti kepemimpinan politis). yang sama? Ada beberapa teori yang menjawab pertanyaan ini. teori ini berpijak pada dua asumsi: (1) Bangsa Arab adalah bangsa yang terorganisasi atas dasar kesukuan. Orang Syi'ah sering mendefinisikan diri mereka sebagai madzhab ahl al-bayt. saya menguraikan teori ini secara lengkap. Bagi orang Syi'ah. dan pada bidang politis. Ibn Thawus yang masyhur menegaskan. ahl al-bayt --di samping memegang hak kepemimpinan politis-juga menjadi rujukan dalam masalah-masalah keagamaan. Perilaku yang menjadi tradisi suatu kabilah. Karena itu. padahal kedua mazhab ini lahir dari Islam yang sama dan pengikut Nabi saw. Dari perbedaan pengangkatan pemimpin (ikhtiyar atau ta'yin). Teori ini dikemukakan oleh Nicholson (1969). Nahnu ma'aman ghalab" (Kami bersama orang yang berkuasa). lazim disebut Sunnah. Dengan demikian. ahl al-Sunnah berpegang pada kaidah yang diberikan Ibn Umar pada waktu ada pertikaian antara Ali dan para penentangnya. karakteristik perilaku juga herediter.adalah hubungan antara kepemimpinan relegius dengan kepemimpinan politis. Wellhausen (1927). (2) Bangsa Arab yang membentuk umat Islam permulaan terdiri dari dua subkultur-subkultur Arab Selatan dan subkultur Arab Tengah-Utara. kehormatan seseorang dalam bahasa Arab disebut hasab (dari akar kata hasiba yang berarti menghitung). Goldziher (1967).

sejak zaman jahiliyah orang Arab tidak mengenal pemisahan antara kepemimpinan temporal dan kepemimpinan sakral. inskripsi pada monumen Arab Selatan menunjukkan perasaan syukur dan penyerahan diri pada Tuhan. of power" dari Bani Hasyim. pada Arab Selatan. Pada suku-suku Arab Utara. Perlawanan terhadap Islam. sejak Mu'awiyah merebut kekuasaan berupaya untuk menekan konsepsi kepemimpinan ahl al-bayt. kepemimpinan Arab dipegang oleh keturunan Qushayy. datang paling banyak dari Bani Umayyah. Bani Abd al-Syams perlahan-lahan muncul sebagai kekuatan politik dan bani Hasyim mulai melemah. Karena itu. pemimpin dipilih berdasarkan kesucian keturunan (hereditary sanctity). Nabi saw menyadari betul aspek-aspek kultural dari kepemimpinan ahl al-bayt. Tema ahl al-bayt memiliki "appeal" yang kuat bagi bangsa Arab. argumentasi yang dikemukakan Umar bin Khathab kepada 'Abbas ketika bertengkar masalah kepemimpinan 'Ali. Ka'bah adalah rumah suci yang dihormati semua kabilah Arab. karena itu. Ia mengembalikan lagi wibawa kepemimpinan Bani Hasyim sebagai Ahl al-Bayt. Ali pernah memindahkan ibu kota pemerintahan Islam dari Madinah --yang sudah dikuasai Bani Ummayah-. penguasa-penguasa yang bukan ahl al-bayt tidak menafikan kehormatan itu. menerjemahkan sebagian argumentasi Shadr ini tanpa komentar sedikitpun: yang kita Saya akan memberikan . misalnya. pengurusan rumah suci (bayt) dan kehormatan (hasab) tidak dapat dipisahkan. Kabilah yang mendapat tugas secara turun temurun memelihara Ka'bah disebut sebagai "keluarga al-bayt" atau ahl al-bayt. pemimpin umumnya dipilih berdasarkan usia atau senioritas. berkembang skisme Sunnah-Syi'ah. Dalam pertentangan memperebutkan kedudukan ahl al-bayt. Islam menyuruh menghormatiahl al-bayt (yang sekarang didefinisikan lebih terbatas lagi sebagai keturunan Rasulullah saw). muncullah Muhammad bin Abdullah bin Abd al-Muthalib. menemoi suku Aws dan Khazraj yang berasal dari Arab Selatan. Kepemimpinan ahl al-bayt menggabungkan dimensi temporal dan sakral sekaligus. "Orang banyak tidak menginginkan nubuwwah dan khalifah bergabung pada Bani Hasyim" (Tarikh Thabari 1: 2769). [4] TEORI PENDEKATAN DOKTRINAL Sayyid Baqr Shadr (1982:73-96) mengemukakan apa sebut sebagai teori pendekatan doktrinal. khususnya Arab Selatan.ke Kufah. Bila inskripsi pada monumen di Arab Utara memuja keberanian dan kepahlawanan. Yang tidak mereka inginkan adalah gabungan antara kehormatan religius dengan kehormatan politik. Inilah. Ahl al-Sunnah. Bani "Umayyah tentu tidak rela dengan "return. Karena secara doktrinal. Ketika Nabi hijrah ke Madinah. Mereka adalah suku Arab yang memiliki sensitivitas religius yang tinggi. Ketika keturunan "Umayyah merasakan ada angin baru yang menguntungkan mereka. Sejak awal. Mungkin. Dari kedua subkultur inilah.sunnah yang paling dihargai adalah mengurus dan memelihara tempat-tempat suci. Bagi bangsa Arab. Karena itu Bani Hasyim dikenal bangsa Arab sebagai Ahl al-Bayt. Bani Hasyim menang dan menyisihkan lawannya dari Bani Abd al-Syams. Pada masa Abu Thalib. karena itu pula.

yang bertentangan dengan nash. sampai pada saat menjelang kematiannya (yang akan diuraikan nanti). dengan meyakini bahwa apa yang dilakukannya benar. Sebagian berkata: Dekatkan supaya Nabi menulis . Ia berkata: "Menjelang Rasulullah saw wafat. Yang mengikuti aliran ini terdiri dari sahabat-sahabat besar. kita temukan dua aliran utama yang berbeda. Dua aliran utama yang menyertai zaman Nabi sejak awal adalah: pertumbuhan umat Islam di (1) Aliran yang beriman sepenuhnya pada ta'abbud bi 'l-din berhukum dan berserah mutlak pada nash-nash agama dalam seluruh bidang kehidupan. Keduanya hidup bersama dalam lingkungan umat yang dilahirkan oleh Rasul sang Pemimpin. di antaranya Umar bin Khathab. Cukuplah bagi kita Kitab Allah. Kelompok yang lain tidak berhasil memperoleh kekuasann dan berkembang sebagai kelompok minoritas menghadapi lingkungan Islam yang umum. sehingga sejarah manusia tidak pernah menyaksikan generasi aqidah yang lebih mulia. aliran ijtihadi. Di hadapan kalian ada al-Qur'an. (2) Aliran yang hanya merasa tunduk pada agama pada bidang-bidang khusus seperti ibadah dan hal-hal yang ghaib. Sahabat adalah kelompok Mukmin yang cemerlang. benih yang paling utama pada saat pertumbuhan risalah. dan tinggi dari generasi yang dilahirkan Rasulullah. Perbedaan di antara kedua aliran ini telah menimbulkan perbedaan doktrinal sesudah wafat Rasulullah saw. Di samping itu. Rasul telah bertahan berkali-kali menghadapi aliran ini. Penghuni rumah itu pun bertikai. Aliran ini meyakini kemungkinan ijtihad. karena harus tunduk pada adanya aliran yang luas pada bidang kehidupan. yang menyertai perkembangan umat dalam permulaan eksperimen Islam. Berkata Umar: Nabi saw sedang dicengkram sakit. serta meninggalkan kecenderungan mengikuti kemaslahatan yang tidak dapat difahami tujuannya.Bila kita mengikuti periode permulaan dari kehidupan umat Islam di zaman Nabi saw. lebih suci. tampaknya lebih menyebar di kalangan kaum muslimin karena kecenderungan manusia untuk tunduk pada kemaslahatan yang dapat difahami dan diperkirakannya. sejak dini. dengan peralihan atau perubahan. memisahkan umat dua kelompok besar. Umar bin Khathab pernah melawan Rasulullah saw dan berijtihad pada banyak kejadian. Minoritas ini adalah Syi'ah. sesuai dengan kemaslahatan masyarakat. ada juga sahabat yang bertahkim dan bertaslim sepenuhnya pada nash-nash agama di semua bidang kehidupan. Pernah kedua aliran ini bertentangan di hadapan Rasul pada hari-hari terakhir kehidupannya. para sahabat cenderung mendahulukan ijtihad untuk memperkirakan dan memperoleh maslahat daripada ta'abbud secara harfiyah pada nash-nash agama. Salah satu kelompok berhasil berkuasa dan sanggup berkembang sehingga mencakup mayoritas kaum muslimin. Bukhari meriwayatkan dalam shahihnya dari Ibn 'Abbas. membolehkan memalingkan nash agama pada bidang-bidang kehidupan di luar bidang-bidang kehidupan di atas. di rumahnya ada banyak orang. Nabi berkata: Mari aku tuliskan untuk kamu tulisan sehingga kamu tidak sesat sesudahnya. Aliran kedua. Walaupun demikian.

yang muthlaq dan yang muqayyad (bersyarat). atau jika salah seorang di antara kamu datang dari jamban. UA 20-21 Jakarta Selatan Telp.(wasiat) kitab sehingga kamu tidak sesat sesudahnya. ketika para politisi mulai masuk. tidak berlaku tayammum baginya. tetapi hanya akan menunjukkan penyebab timbulnya ikhtilaf tersebut. tidak sakit. atau setelah kamu menjamah wanita. Skisme intelektual (mungkin malah tidak tepat disebut skisme) memang bisa menjadi solid. Pertikaian justru terjadi ketika kaum Muslim berusaha memahami al-Qur'an dan al-Sunnah. atau bepergian. Madzhab yang lain berpendapat bahwa syarat sah tayammum adalah salah satu di antara tiga kondisi: tidak ada air. Saya tidak akan memperinci kedua ikhtilaf ini. maka bertayamumlah dengan debu yang suci. dan sapulah muka kamu dan tangan kamu itu. Kalimat ini dipahami Abu Hanifah sebagai berikut: Orang yang tidak bepergian. Sebagian lagi berkata seperti kata Umar. Lihatlah perbedaan pemahaman ayat tayamum ini. atau sakit. Skisme ini dapat terjadi pacla bidang ilmu kalam atau bidang fiqh. Sebab-sebab yang berkaitan dengan pemahaman al-Qur'an dan al-Sunnah. dan tidak wajib shalat. (021) 7507174 Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota Please direct any suggestion to Media Team pertikaian dan Artikel Yayasan Paramadina Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan . Di dalam kedua sumber tasyri' ini terdapat kata-kata atau kalimat yang musytarak (mengandung makna ganda). Abu Zuhrah (1987) menyebut yang pertama ikhtilaf 'aqaidi dan yang kedua ikhtilaf fiqhi. atau kamu tak menemukan air. yang tidak mungkin semuanya dibahas di sini. Ayat tersebut hanya mewajibkan tayammum bila tidak ada air khusus pada yang sakit atau musafir. 7501983. ia berkata: Pergilah kalian. Metro Pondok Indah Pondok Indah Plaza I Kav.(bersambung 3/3) Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah Editor: Budhy Munawar-Rachman Penerbit Yayasan Paramadina Jln. Ketika sudah ramai perbincangan dan pertikaian di hadapan Nabi. Banyak orang berpikir sederhana: pertikaian akan segera selesai bila kita kembali kepada al-Qur'an dan al-Sunnah. dan ada air. -------------------------------------------. Kebanyakan aliran-aliran itu muncul sebagai hasil refleksi intelektual." Peristiwa ini cukup menunjukkan dalamnya pertentangan di antara kedua aliran ini. lafazh yang 'am (berlaku umum) dan khash (berlaku khusus). (021) 7501969. "Dan jika kamu sakit atau sedang bepergian. 7507173 Fax. SKISME INTELEKTUAL Dari kedua aliran ini kemudian berkembang aliran-aliran lainnya." (al-Qur'an 5: 6).

"Debu" meliputi pasir dan tanah. Umar melaporkan bahwa mayit akan disiksa karena tangisan keluarganya. 1960). Mereka menangisi jenazah itu. Yang pertama dipilih oleh Syafi'i. kata Hambali. Ibn Umar).52." [5] SEBAB-SEBAB BERKENAAN DENGAN PERBEDAAN KAIDAH USHUL FIQH Apabila ada rangkaian kalimat majemuk.ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota VI. lalu di ujunguya ada kata yang mengecualikan (istitsna). Kemusykilan kedua adalah sampai atau tidak sampainya hadits. kemana pengecualian itu berlaku? Kepada semua kalimat atau kepada kalimat yang terakhir. air mutlak saja. 'Aisyah menolak hadits 'Umar ini. juga air mudhaf (seperti air jeruk. air teh). menjilati jari setelah makan. . Ada yang menyertai Nabi hampir setiap saat. kata Maliki. apakah kesaksian penuduh dapat diterima bila orang itu telah bertaubat? Semua mazhah --selain Hanafi-memilih rnenjawab "ya" untuk pertanyaan-pertanyaan di atas. 'Aisyah berkata. "Semoga Allah meyayangi Abu Abd al-Rahman (yakni. Karena itu. kalian menangis. salju dan logam." Istitsna datang sesudah kalimat-kalimat itu. Perbedaan ini akan makin melebar. Pernah lewat jenazah Yahudi di depan Rasulullah saw. air itu termasuk air mutlak (H2O). ia mencambuki orang yang menangisi mayat. Hambali. Kemusykilan pertama terjadi ketika kita mengambil pelajaran dari hadits: apakah yang diberitakan hadits itu Sunnah atau bukan." dan (3) "Mereka itulah orang-orang fasik. SKISME DALAM ISLAM SEBUAH TELAAH ULANG (3/3) oleh Jalaluddin Rakhmat Apa yang dimaksud "air"? Kata mazhab Hanafi. dan menggunakan siwak adalah sunnah. Manakah yang sunnah. kata Syafi'i. Maliki. padahal ia sedang disiksa. ketika kita memasuki pengkajian-pengkajian Islam yang lebih operasional seperti epistimologi Islam. Nabi berkata. al-Mughniyah. Jamaat Tabligh berpendapat makan di bawah. pasir. dan ada yang berjumpa dengan Nabi sesaat saja. tanah. mengampuni para tawanan (seperti yang dilakukan Rasulullah saw. batuan. yang mempunyai lingkup pengalaman yang berlainan bersama Rasulullah saw. tanah saja. Hadits dilaporkan oleh para sahabat. 24:4) mengandung tiga kalimah: (1) "Deralah mereka 80 deraan. tanah. umat Islam yang lainnya tidak beranggapan begitu. dan sebagainya. Dalam bidang ilmu kalam terjadi perbedaan pemahaman nash-nash yang berkenaan dengan qadha dan qadar." (2) "Jangan terima kesaksian mereka selama-lamanya. pasir. SEBAB-SEBAB YANG BERKENAAN DENGAN SUNNAH Masalah-masalah yang berkenaan dengan sunnah lebih musykil lagi. sehingga kita mengenal Jabbariyah dan Qadariyah. 1986. Ia mendengar sesuatu tetapi tidak menghafalnya. Ketika Ibnu Umar melaporkan lagi hadits dari ayahnya. Apakah deraan harus dihilangkan bila orang taubat. Ayat yang berkenaan dengan tuduhan berzinah (QS. pada Fath Makkah) atau membunuhnya (seperti yang dilakukan Nabi pada perang Khandaq). kata Hanafi dan Hambali. dan batuan. Kata mazhab yang lain. teologi Islam. sebagian wajah oleh Ja'fari (al-Jaziri. Yang terakhir diambil oleh Hanafi.

Muhammad Rasulullah. pendapat itu tetap dzhanni. Ini cara untuk menghindarkan "terburu-buru" menangkap ruh dari suatu nash. terjebak dalam keterburu--buruan. Semua sepakat shalat dimulai dengan takbir. dan muamalah yang disetujui bersama. qaul shahabat. Di samping itu. terdapat juga beberapa metode ijtihad yang tidak disepakati. keyakinan kita harus diamalkan sejauh tidak merusak keutuhan umat atau tidak mendatangkan mudharat. kita harus menguji perbedaan paham itu lewat ukuran-ukuran naqli dan aqli. saya maksudkan. tidak ada perbedaan antara Ahl al-Sunnah dan Syi'ah dalam hal bilangan rakaat.hanya boleh dilakukan setelah pengujian naqli. qiyas. jumlah shalat wajib. siap berbeda pada yang dzhann-i: Kita dapat membagi hukum-hukum fiqh ke dalam dua bagian besar. Dengan ukuran naqli. Seorang tidak dikatakan Muslim lagi bila berbeda pada bagian fiqh yang pertama. Tentang shalat. Adalah kenyataan yang menakjubkan walaupun sering lolos dari perhatian kita bahwa dalam bagian pertama seluruh mazhab mencapai kesepakatan. Kita akan segera menemukan bahwa bagian pertama berdasarkan dalil-dalil qath'i dan bagian kedua berdasarkan dalil-dalil dzanni. istishlah. dan Hari Kebangkitan. Orang yang menganggap bahwa setiap orang berhak ijtihad dan menafsirkan al-Qur'an karena ruh ajaran Islam itu egalitarian. 1986: 99-103). Sepakat pada yang qath'i. istihsan. 2. Mencurigai hadits-hadits tentang wasiat Nabi kepada keluarganya. Dalam hal akidah --semuanya percaya kepada Allah yang Esa. Kedua. mereka berbeda dalam cara mengangkat tangan dalam takbir. Ukuran aqli --yang saya definisikan sebagai metode dialektik untuk menguji konsistensi logis suatu proposisi-. sebagai pertentangan dengan prinsip egalitarian al-Qur'an [6] adalah mendahulukan kritik 'aqli daripada kritik naqli. misalnya. Di tengah-tengah umat. Perbedaan mulai terjadi pada rincian dari pokok-pokok itu. Tetapi betapapun kuatnya. Pada bagian yang kedua sepatutnya kita saling menghargai dan menggunakan perbedaan pendapat untuk pengembangan wawasan tentang Islam. bertalian dengan cabang-cabang (furu') dari pokok-pokok di atas yang memungkinkan terjadinya perbedaan. Misalnya. dan bagian-bagian shalat yang penting lainnya. Demikian pula halnya dengan keberatan sementara orang terhadap hadits-hadits tentang Imam Mahdi. berkenaan dengan pokok-pokok akidah. Berpikir dengan prinsip tarjih. Memilih pendapat yang paling kuat inilah tarjih. APA YANG HARUS DILAKUKAN? Saya ingin mengakhiri makalah ini dengan menuliskan kembali apa yang saya sampaikan pada tempat lain (Rahmat. betapapun banyak dan sahihnya. mencari dalil-dalil yang paling kuat lewat kritik hadits (yang secara konvensional telah disepakati oleh ulama ahli hadits) dan ilmu-ilmu al-Qur'an (kalau berkenaan dengan penafsiran al-Qur'an). 1. Misalnya. dan sebagainya. beramal dengan prinsip silaturahim: Bila terjadi perbedaan paham atau penafsiran pada hal-hal yang dzanni. Pertama. bila dalil-dalil yang dipergunakan sama-sama kuat. apa pun mazhabnya.Inilah salah satu contoh perbedaan penggunaan kaidah Ushul Fiqh. jumlah ruku' dan sujud. .

Beirut: Dar al-Turats al-Islami. Ketika ditegur ia menjawab. Bukan ijtihad bila dilakukan tanpa ilmu. al-Ra'd:16). 1974.dapat menimbulkan chaos. 1406). Ahmad. Akibatnya.Ini saya sebut prinsip shilaturrahim. Ketika Utsman shalat empat rakaat. tetapi mengulang lagi shalatnya di rumah (para ulama menyebutnya ihtiyath). Seperti sangat beragamnya kemampuan dan pengetahuan orang. seperti itu pula beragamnya perbedaan pendapat. keyakinan kita terhadap paham kita terlalu tinggi sehingga kita cenderung eksklusivistis dan meninggalkan prinsip silaturrahim. Ini mempertebal ketergantungan kepada paham fiqh kita. "Perselisihan itu semua jelek" -(al-khilaf syarr kullah). Al-Mujadilah: 11). Dan seterusnya sehingga terbentuk lingkaran setan yang tidak berujung. 3. al-Thabrani. di samping membuat kendala-kendala yang berbentuk kriteria. "Tidak sama orang buta dan orang yang melihat. Fathir:19). Al-Qur'an yang mengajarkan persamaan dengan tegas mengatakan. kita cenderung menerima informasi hanya lewat sumber-sumber yang kita setujui dan menutup diri dari informasi yang datang dari sumber lain. mengkritik hadits. CATATAN 1) Hadits ini diriwayatkan oleh Al-Bukhari. Imam Syafi'i tidak membaca qunut pada shalat Shubuh karena menghormati makam Abu Hanifah yang tidak jauh dari situ. hanya sekelompok kecil orang yang dapat melakukannya. Ibn Majah. Salah satu penyebab perpecahan ialah pendekatan parsial yang pada gilirannya disebabkan kekurangan pengetahuan. Ali yakin ia paling berhak menjadi khalifah. Ibnu Mas'ud berpendapat shalat Dzuhur dan 'Ashar di Mina harus di qashar. Ijtihad memerlukan pengetahuan yang komprehensif tentang Islam. Sayang sekali. Ilmu mengurangi perbedaan. dan ini berarti. Ibnu Mas'ud shalat juga empat rakaat. tetapi ia menahan diri karena memikirkan kemaslahatan umat. Berbagai matan hadits ini dan penjelasannya dapat dibaca pada Al-Sayyid Murtadha al-Askari. Ijtihad bagi Ulama dan taqlid bagi orang awam: Membedakan mana yang qath'i dan dzanni. "Berijtihad" tanpa ilmu berarti membuang seluruh konvensi dan kriteria. "Katakan. al-Bazzar. dan ini berarti anarkhi. Ibnu Umar shalat empat rakaat. "Katakan. apakah sama orang yang buta dengan orang yang melihat. melakukan tarjih bukanlah pekerjaan yang bisa dilakukan setiap orang. 2) Al-Sayyid Murtadha al-'Askari menulis studi perbandingan antara Sunnah dan Syi'ah dalam Ma'alim al-Madrasatain (Teheran: Al-Bi'tsah. Tidak sama kegelapan dan cahaya" (QS. Khamsun wa Mi-ah Shahabi Mukhtalaq. Ijtihad sebetulnya secara inheren melibatkan banyak ilmu. apakah sama orang vang berpengetahuan dengan yang tidak berpengetahuan" (QS. Mengizinkan setiap orang berijtihad --tanpa mempedulikan perbedaan mereka dalam pengetahuan agama-. karena ilmu meletakkan konvensi-konvensi yang disetujui bersama. Ia menyebut Ahl al Sunnah sebagai madrasah al-khilafah dan Syi'ah sebagai madrasah al-imamah. Tidakkah kalian pikirkan itu?" (QS. . al-Zumar:9) "Allah mengangkat derajat orang yang beriman dan memiliki ilmu pengetahuan" (QS. Di Indonesia. banyak paham timbul --barangkali setelah melakukan taryih. al-Turmidzi al-Hakim.

Lihat Shahih al-Bukhari. 1987. 5) Hadits ini diriwayatkan Muslim dalam Kitab al-Jana-iz. -------------. New York: Simon and Schuster. pamannya (Hamzah). Beirut: Dar al-Jawad. 20:30. Mobtadiyah: Dar al-Mu'alim Al-Jaziri. 1405. Barber. Vol. Goldziher. 1967-1972. 1405. 4) Mayoritas penduduk Kufah adalah orang Yaman dari Arab Selatan. Orang-orang Yaman adalah para pendukung Syi'ah. Musthafa. 19:6. Dalail al-Shidq. Musnad Ahmad 5:89. "Ulu al-Amr 'inda Madzahib al-Islamiyah. 1396. 27:16. Tarikh al-Madzahib al-Islamiyah. Al-Mughniyah. I. Muhammad. S. Begitu banyaknya Sabaiyyah yang mendukung Syi'ah." dalam Al-Maqalat wa al-Dirasat.M. Shahih al-Turmudzi 2: 35: Mustadrak al-Shakihain 4: 501. The story of Civilization. mereka kemudian dikenal sebagai Sabaiyyah. Hadits-hadits yang melaporkan bolehnya menangisi mayat cukup banyak. DAFTAR PUSTAKA Abu Zuhrah. tidak diketahui penerbitnya. 1953. Al-Syi'ah wa al-Hakimun. New York: Simon and Schuster. Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiyah. Nabi menangisi putranya (Ibrahim). Kitab al-Ahkam. Kitab al-Imarah. Shahih Muslim. Karena mereka berasal dari kerajaan Saba. Will. 4:54. London. Abd al-Rahman. dan ibunya (Aminah). Al-fiqh 'ala al-Madzahib al-Arba'ah. Muslim Studies. Murtadha. Terjemahan Inggris oleh S. -------------. sehingga Syi'ah sering disebut sebagai Sabaiyyah. Lihat 3:33. Teheran: Wizarat al-Irsyad al-Islamiyah. 1406.IV. Stern dan C. Muhammedanische Studien. Al-Hasan. Durant. 19:58. Al-fiqh 'ala al-Madzahib al-Khaumsah. 6) Padahal dalam banyak ayat al-Qur'an. Kita hanya ingin menunjukkan bahwa prinsip egalitarian hendaknya ditafsirkan dengan merujuk pada dalil-dalil yang sahih. Dalam sunan al-Nasai dan Al-Turmudzi ada bab yang berjudul: Bab bolehnya menangisi mayit. . 2:124. 1986. 14:37. prinsip pewarisan kepemimpinan pada keturunan atau keluarga nabi-nabi sering ditegaskan.R.3) Hadits tentang dua belas imam ini diriwayatkan juga dalam kitab-kitab shahih di kalangan Ahl al-Sunnah. Beirut: Dar al-Fikr al-Arabi. 1982. Teheran: Bittsah. The story of Civilization.V. 6:84. 1950. Ma'alim at-Madrasatain. Kanz al-Ummal 6: 201. Al-Yahfufi. Kita tidak bermaksud menunjukkan bahwa pendapat wasiat Nabi pada Ali adalah satu-satunya paham yang benar. Jawad. Vol. Al-Askari.

Trans.51. sebagaimana telah sering dibicarakan. Thabari. Nicholson. Dengan mengesampingkan beberapa perorangan atau kelompok yang agaknya mengalami kesulitan besar untuk "mengakomodasi" kenyataan baru berupa peranan amat mengesankan dari kaum Syi'ah dalam percaturan keislaman internasional sekarang ini.M. M. Wellhausen. 1979. (021) 7507174 Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota Please direct any suggestion to Media Team Artikel Yayasan Paramadina Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota VI. Bandung: Mizan. J. Julius. Calcutta. Husayn. Metro Pondok Indah Pondok Indah Plaza I Kav. Tabatabai. 1986. SKISME DALAM ISLAM (1/4) Tinjauan Singkat Secara Kritis-Historis Proses Dini Perpecahan Sosial-Keagamaan Islam oleh Nurcholish Madjid Pembicaraan tentang Agama Islam kecuali jika dibatasi hanya kepada hal-hal yang sama sekali normatif belaka dengan tingkat idealisasi sejarah Islam yang tinggi pasti melibatkan pembicaraan tentang berbagai skisme atau perpecahan dalam agama itu. RA. Tidak diketahui penerbitnya. "Ukhuwah Islamiyah: Perspektif al-Qur'an dan Sejarah" dalam Haidar Bagir (ed.H. Sebuah Dilemma. A Literary History of The Arabs. S. Teheran: Maktabah al-Najah. UA 20-21 Jakarta Selatan Telp. Beirut: Dar al-Fikr. Weir. 1982.. Shi'a. Rahmat. (021) 7501969. muncul dengan kuat di kalangan kaum muslimin Indonesia khususnya dan dunia umumnya karena adanya Revolusi Iran pada 1979. Kesadaran akan adanya skisme itu akhir-akhir ini. 1927.Jafri. 1976. Satu Islam. S. The Arab Kingdom and Its Fall. 7501983. Revolusi Iran bagi sebagian orang-orang muslim menawarkan semacam "hikmah . Ibn Jarir. Baths Hawl al-Wilayah. Beirut: American University. 1956. 7507173 Fax. Tanpa Tahun. -------------------------------------------Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah Editor: Budhy Munawar-Rachman Penerbit Yayasan Paramadina Jln. Shadr.). Baqr. Tarikh al-Umam wa al-Muluk.. The Origins and Early Development of Shi'a Islam. Cambridge.

dan berbuatlah kebajikan. Namun justru secara historis masalah kesatuan itulah di antara hal-hal yang amat sulit dicapai oleh manusia. Dengan begitu diharap bahwa secara berangsur kita dapat mewujudkan dalam kenyataan berbagai angan-angan mengenai umat atau masyarakat Islam yang mendekati gambaran dalam Kitab suci sebagai "ruhama baynahum" (saling cinta kasih antara sesamanya). Ini menjadi dasar pandangan tentang Kesatuan Kenabian (Wahdat al-Nubuwwah) dan Kesatuan Risalah atau pesan suci (Wahdat al-Risalah). sedangkan Aku adalah Pelindungmu semua. umat yang tunggal. Berdasarkan itu semua. sebab Pesan Suci mereka pun tunggal. Dan inilah pula dasar pandangan tentang Kesatuan Kemanusiaan (al-Wahdat al-Insaniyyah). Salah satu firman suci dalam al-Qur'an yang relevan dengan masalah ini terbaca: Wahai para Rasul. Keadaan yang menyimpang dari seharusnya ini tidak saja karena berbagai usaha mereka memahami ajaran Tuhan dan menerapkannya dalam kehidupan nyata . Dan ini adalah umatmu semua. Karena itu jika harus disebutkan kegunaan utama pembahasan kita sekarang ini. dan dalam memandang keberagamaan "orang lain" (dalam pengertian yang seluas-luasnya). Termasuk ke dalam makna kedewasaan itu. maka bertaqwalah kamu sekalian kepada-Ku.terselubung" (blessing in disguise) berupa cakrawala pandangan keagamaan (Islam) yang lebih meluas. Lebih menarik lagi sebagai bahan kajian bahwa manusia cenderung berpecah-belah justru setelah mereka menerima ajaran Tuhan yang dibawa oleh para Utusan-Nya. UMAT YANG TUNGGAL Kenyataan historis pertama tentang agama Islam ialah bahwa umatnya telah terpecah dan bahkan saling menumpahkan darah sejak masa-masa amat dini perjalanan sejarahnya. kiranya. Seorang muslim yang serius dan prihatin tentu merasakan adanya semacam anomali dalam kenyataan sejarah itu. makanlah dari yang baik-baik. yaitu pesan suci keprasahan yang tulus kepada kehendak Ilahi (al-islam dalam makna generiknya). ialah kesediaan dan kemampuan untuk melihat berbagai kenyataan sejarah secara proporsional. Sesungguhnya Kami (Tuhan) maha mengetahui akan segala sesuatu yang kamu kerjakan. agar waspada terhadap bahaya perpecahan dan pertentangan. Tetapi berbagai pengalaman menunjukkan bahwa keadaan itu tidak akan tercipta jika kita tidak memiliki cukup kedewasann dalam sikap keberagamaan kita. Apalagi al-Qur'an sendiri sejak dari semula menyatakan dan memperingatkan. dan apa yang sedang dan bakal terjadi. maka pembahasan kita dalam makalah ini insya Allah akan kita lakukan dalam semangat tinjauan kritis berdasarkan pandangan yang memperhitungkan berbagai faktor sejarah. tidak saja kepada kaum muslim tetapi juga kepada para penganut agama para Nabi dan Rasul Allah keseluruhannya. dengan mengakui dan memasukkannya ke dalam hitungan berbagai faktor sejarah sebagai ikut menentukan apa yang telah terjadi. [1] Tafsir atas firman itu tidak bisa lain daripada penegasan bahwa semua Nabi dan Utusan Tuhan itu membentuk persaudaraan umat yang tunggal. maka kegunaan itu ialah sebagai bagian dari usaha bersama untuk mendorong lebih jauh kecenderungan positif tersebut. yaitu mengabdi kepada Tuhan Yang Maha Esa yang mencintai dan melindungi mereka.

Maka dalam gabungannya dengan naf:su benar sendiri dan sektarianisme yang jelas selalu mengancam setiap orang atau golongan tanpa kecuali variasi pendekatan dan interpretasi itu. acapkali malah menjuruskan orang banyak kepada perpecahan dan pertentangan. tapi juga karena variasi cara pendekatan kepada ajaran itu membuahkan variasi dalam interpretasi. Firman itu ialah. termasuk yang ada dalam satu agama pun.(jadi tentunya tumbuh dari niat yang baik dan ketulusan hati). Kemudian Allah mengutus para Nabi untuk membawa berita gembira dan peringatan. diselesaikan dengan pertumpahan darah dan penindasan. Jika seandainya tidak karena adanya "Sabda" (Kalimah) yang telah lewat dari Tuhanmu. maka barangkali kita hanya harus menyebutkan kenyataan tentang semua agama. Tetapi mereka itu akan tetap selalu berselisih. Perpecahan dan pertentangan itu semakin destruktif sifatnya karena pembawaannya yang sering bergaya absolutistik dan tak kenal kompromi akibat watak dasar suatu keyakinan keagamaan. dengan izin-Nya. [2] Jika harus menyebutkan bukti kebenaran firman itu. maka tentunya Dia jadikan manusia umat yang tunggal. [4] Firman-firman itu membuka kemungkinan berbagai interpretasi . Maka Allah pun. memberi petunjuk tentang kebenaran yang mereka perselisihkan itu kepada mereka yang beriman. yang dikehendaki-Nya). dan untuk itulah Dia menciptakan mereka. misalnya: Kalau seandainya Tuhanmu menghendaki. Lebih dari itu. yang jelas tanpa kecuali terbagi-bagi dan terpecah-pecah menjadi berbagai golongan dan sekte. kecuali mereka yang mendapatkan rahmat dari Tuhanmu." Mungkin keterangan itu dapat diperoleh dari beberapa firman Ilahi juga. Allah memberi petunjuk ke arah jalan yang lurus kepada siapa yang menghendakinya (atau. meskipun disertai dengan penuh niat baik dan tulus. karena rasa permusuhan antara sesama mereka. yang melengkapi firman-firman terkutip di atas sehingga menjadi pandangan dan pengertian yang bulat. dari perspektif pesan suci semula agama bersangkutan sendiri. dan Dia menurunkan bersama para Nabi itu Kitab Suci dengan sebenarnya untuk memutuskan perkara antara umat manusia berkenaan dengan masalah yang mereka perselisihkan. tidak ada yang lebih absurd daripada penyelesaian perselisihan faham keagamaan melalui penindasan dan penumpahan darah. Keadaan menyedihkan ini pun secara ringkas digambarkan dalam Kitab Suci: Pada mulanya manusia adalah umat yang tunggal. kemudian mereka berselisih. Barangkali. Tapi mungkin kita harus mencoba mencari keterangan lain untuk membuat semuanya itu "make sense. kerapkali persengketaan di antara sesama mereka. maka tentulah diputuskan (sekarang juga) antara mereka berkenaan dengan perkara yang mereka perselisihkan itu. [3] Juga firman Allah: Manusia itu tidak lain kecuali umat yang tunggal. Namun inilah yang sebenarnya terjadi dalam pengalaman hidup umat manusia. Dan mereka yang menerima Kitab Suci itu tidaklah berselisih mcngenai sesuatu (masalah Kebenaran) kecuali setelah datang berbagai penjelasan.

yaitu faktor terpenting yang membuat manusia berbeda-beda -NM) yang diberikan-Nya kepadamu. Here we have again the mystic doctrine of "the Word. [8] kita akan melakukan tahap pembahasan ini dengan pembicaraan singkat tentang peristiwa menyedihkan yang kemudian dikenal sebagai al-fitnat al-kubra . TENTANG "AL-FITNAT AL-KUBRA" Mungkin bagi banyak orang cukup membosankan. [6] Dan ayat suci itu bersesuaian dengan ayat suci yang lain.."Word" is the Decree of God." "Sabda" adalah Keputusan Tuhan. and thus pointing back to the ultimate Unity and Reality... Kepada Allah-lah tempat kembalimu semua.. Ketika manusia telah bersimpangan jalan satu dari yang lain. Maka dengan sedikit melawan semacam "konsensus" di kalangan kaum Sunni untuk menghindari pembicaraan tentang tingkah laku historis para Sahabat yang kurang mencocoki beberapa ketentuan normatif. misalnya. pernyataan Iradat atau Hikmat-Nya yang universal dalam suatu masalah tertentu. [7] Dari perspektif inilah kita akan memasuki bidang yang sebenarnya dari pembahasan makalah ini. kemudian Dia akan menerangkan kepada kamu tentang segala sesuatu yang pernah kamu perselisihkan. yang menyebutkan adanya Kehendak Ilahi tentang perbedaan antara sesama manusia. dan dengan mengarah kembali kepada Kesatuan den Wujud yang mutlak Ayat suci dan tafsirnya itu mengingatkan kita kepada sebuah hadits yang sering dikutip orang bahwa perselisihan di antara orang yang beriman adalah suatu rahmat. yang merupakan ekspresi Iradat dan Hikmat-Nya yang universal dalam peristiwa tertentu.. maka pastilah Dia menjadikan kamu sekalian umat yang tunggal. [5] Di sini (dalam ayat ini) kita mendapatkan lagi doktrin kesufian tentang "Sabda. God made their very differences subserve the higher ends by increasing emulation in virtue and piety. Karena itu berlomba-lombalah kamu semua (dengan menggunakan kelebihan itu) untuk berbagai kebaikan. sebagai fitnah besar yang mengawali skisme dalam Islam tidak mungkin dihindarkan. Tetapi (Dia tidak menghendakinya) karena Dia hendak menguji kamu semua berkenaan dengan sesuatu (kelebihan. Tuhan membuat justru berbagai perbedaan mereka itu membantu mengarahkan manusia kepada tercapainya tujuan-tujuan yang lebih tinggi dengan meningkatnya perlombaan dalam kebaikan den kesalahan. When men began to deverge from one another.". Mengenai "Sabda" (Kalimah) dalam firman yang dikutip terakhir itu. Utsman ibn Affan. ditafsirkan sebagai berarti "Keputusan" Tuhan. yaitu tinjauan ulang secara kritis-historis terhadap perpecahan sosial keagamaan yang terjadi dalam Islam dalam perjalanan perkembangannya yang amat dini.tentang apa yang ada dalam ajaran Kitab Suci mengenai hakikat manusia sebagai makhluk sejarah berkenaan dengan perkara persatuan dan perpecahan. Ayat suci itu ialah firman-Nya: Jika seandainya Allah menghendaki. namun pembicaraan tentang pembunuhan khalifah ketiga. the expression of His Universal Will or Wisdom in a particular case. emulation in virtue and piety). dan adanya Kehendak agar dengan perbedaan itu manusia berlomba-lomba ke arah berbagai kebaikan (istibaq al-khayrat.

(021) 7507174 Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota Please direct any suggestion to Media Team Artikel Yayasan Paramadina Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota VI. karena telah diberi tahu (secara palsu) bahwa persoalan mereka telah diselesaikan dengan baik oleh Khalifah melalui perundingan dengan ketua utusan mereka. (Seperti halnya dengan Umar sebelumnya. Namun setelah mereka mendapat berita yang benar bahwa ketua utusan mereka itu malah telah dibunuh. sampai dengan saat Nabi menaklukkan Makkah. Meskipun akhirnya Abu Sufyan masuk Islam. tanpa pengawal. namun hal itu terjadi lebih banyak hanya berkat kebijaksanaan diplomatik Nabi yang memberi dan mengakui hak istimewa dan kehormatan mereka. 7501983. UA 20-21 Jakarta Selatan Telp. delegasi tentera itu menyerbu Utsman di rumahnya. juga anaknya Mu'awiyah yang sedikit terlebih dahulu berbuat serupa. Kebiasaan itu membantu memudahkan usaha membunuhnya. bahkan sikap permusuhan mereka itu berlangsung terus sampai boleh dikata detik-detik terakhir sebelum Nabi wafat. namun dia adalah seorang anggota klan Umayyah yang berkuasa di kota itu. yang di situ kaum bukan-Umawi di Madinah menunjukkan sikap netral. Utsman memerintah hanya dengan mengandalkan reputasi dan nama baik pribadi. bahwa meskipun Utsman termasuk perintis pertama orang-orang Arab Makkah masuk Islam.(bersambung 2/4) Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah Editor: Budhy Munawar-Rachman Penerbit Yayasan Paramadina Jln. Sekelompok tentara (Arab Islam) dari Mesir datang Ke Madinah untuk mengajukan klaim kepada Khalifah tentang apa yang menjadi hak mereka. sebagaimana layaknya adat kebiasaan para sesepuh (al-syaykh) suku-suku Arab menjalankan kepemimpinan mereka. melainkan banyak dan cukup kompleks. -------------------------------------------.51. Pertama ialah. adalah seorang penguasa Makkah yang mengorganisasi dan memobilisasi orang-orang Quraisy melawan Nabi di Mekkah. 7507173 Fax. Abu Sufyan.("ujian besar") itu. Pembunuhan terhadap khalifah ketiga terjadi duapuluh empat tahun setelah wafat Nabi. dan membunuhnya. SKISME DALAM ISLAM (2/4) Tinjauan Singkat Secara Kritis-Historis Proses Dini . (021) 7501969. juga Ali sesudahnya. sebagaimana telah terjadi pada Umar sebelumnya dan kelak terjadi pula pada Ali). [9] Tentang mengapa delegasi tentara itu tidak puas terhadap Utsman dalam menjalankan tugas kekhalifahannya. yang klan itu menjadi musuh utama Nabi. tersedia tidak hanya satu keterangan. Setelah beberapa saat perundingan dan musyawarah. Tapi mereka segera kembali pulang ke Mesir. Metro Pondok Indah Pondok Indah Plaza I Kav. misalnya. mereka kembali ke Madinah untuk mengajukan tuntutan.

daerah subur yang membentuk konfigurasi bulan sabit dari pantai timur Laut Tengah naik ke utara. karena Umar melihat pada kaum Umawi itu kecakapan pemerintahan yang bisa dimanfaatkan. khususnya orang-orang Arab setempat. ke Lembah Mesopotamia). seperti Kufah. Ini acapkali menimbulkan rasa keberatan dari pihak orang-orang Arab yang kurang mampu. Ini tumbuh menjadi faktor penunjang bagi protes-protes yang mulai dilancarkan para tentara. tapi tanpa mempunyai wibawa hebat seorang Umar. terutama Mesopotamia di Irak. Para tentera ini hidup menetap di tempat-tempat tersebut. yang pergi ke daerah-daerah taklukan. sementara perang sendiri. Mereka memegang pemerintahan menghadapi kecenderungan kesukuan dan semangat kedaerahan orang-orang Arab. dan kekuasaan mereka itu diawasi oleh semangat ajaran umum Islam yang saat itu Islam telah menjadi ciri utama sifat ke-Arab-an mereka. Kebijaksanaan Utsman itu membantu mengurangi kecenderungan emigrasi ke luar Hijaz dan memperkuat kekuasaan pusat di Madinah secara fisik (sumber daya manusia). yang kebanyakan mereka itu terdiri dari kaum Umawi. seperti seorang "aktivis" Umawi. Bertindak sebagai penguasa pada kota-kota perbatasan itu ialah para gubernur (bekas) pedagang kaya yang cakap memerintah dari keluarga-keluarga Quraisy dan sekutu mereka dari Taif (klan Tsaqif).Perpecahan Sosial-Keagamaan Islam oleh Nurcholish Madjid Sebagai klan dengan tradisi kekuasaan yang mapan. Tetapi kebijaksanaan Utsman yang yang menghambat emigrasi dari Hijaz itu membuatnya tidak populer di kalangan orang-orang Makkah. dalam suasana terpisah dari penduduk bukan-Arab sekelilingnya. dan meneruskan usaha perdagangan mereka di sana. Mereka mengelilingi Utsman dengan penasehat-penasehat dan tenaga-tenaga ahli. yakni para pedagang Mekkah. dan ia pun terjerumus kedalam praktek-praktek nepotistik yang mengundang berbagai reaksi keras banyak kalangan. Tetapi tanpa keteguhan kepribadian Umar. Sebagian dari hadirnya para penasehat dan tenaga ahli Umawi itu sebenarnya merupakan lanjutan kebijaksanaan Umar sebelumnya. Apalagi setelah ekspedisi menaklukkan Iran telah . Kebijaksanaan itu juga mengurangi ancaman bahwa budaya Arab akan terserap ke dalam budaya daerah-daerah Bulan Sabit Subur (Fertile Crescent. Marwan ibn al-Hakam. Para tentera suku Arab (al-muqatilah) yang oleh Umar ditempatkan di berbagai kota garnizun di daerah-daerah taklukan dipertahankan oleh Utsman seperti keadaan mereka semasa Umar. Utsman pun tidak bisa mengatasi situasi warisan pendahulunya itu. Sebenarnya Utsman melanjutkan kebijakan Umar. yang menjadi alasan penempatan itu. Utsman menjadi tidak banyak berdaya menghadapi klannya sendiri. ke daerah pegunungan Anatolia sebelah selatan membentang ke timur dan kembali ke selatan. (Harus diingat bahwa pada saat itu semua orang muslim adalah warga negara dan sekaligus tentara). Sudah sejak masa Umar banyak orang Arab Quraisy yang kaya. berbentuk proyek-proyek irigasi di berbagai oase. telah menjadi peristiwa sesekali saja. kaum Umawi segera melihat pada kekhalifahan Utsman suatu kesempatan untuk mengembalikan kedudukan mereka yang baru saja hilang. meskipun sebenarnya ia berhasil sedikit mengubah keadaan dengan mengarahkan sebagian investasi dari Lembah Mesopotamia ke Hijaz.

Tetapi gubernur yang ditempatkan di Mesir (di kota Fusthath. Menurut para ahli akhirnya ia patuh juga kepada keputusan Khalifah. salah seorang ahli membaca al-Qur'an yang amat terkenal dan disegani. khususnya lembaga atau sistem penggajian tentera dengan besar dan kecilnya gaji (sesungguhnya lebih tepat disebut lumpsum) itu menurut tingkat kepeloporan seseorang dan jasanya dalam agama Islam. tidak pernah memuaskan orang-orang setempat. karena dipandang kurang menunjukkan ukuran moral yang tinggi (konon suka minuman keras dan mabuk). [10] Dan seperti hampir semua kebijaksanaan Utsman yang lain. Kebijaksanaan Utsman berkenaan dengan Kitab Suci itu sungguh patut dipuji. Kairo lama). maka sebagian besar keberuntungan itu adalah berkat jasa Utsman ibn Affan yang bergelar Jami' al-Qur'an. Suatu kerusuhan muncul di Kufah. Basrah dengan Ibn Amir (yang di waktu damai giat berdagang untuk mengumpulkan kekayaan tapi bertindak cukup adil karena ia menganjurkan orang lain agar berbuat serupa pula). Maka penduduk Syria puas dengan Mu'awiyah. Penyatuan ejaan al-Qur'an itu amat prinsipiil sebagai dasar penyatuan orang-orang Arab Muslim khususnya dan semua orang Muslim umumnya. usaha Utsman itu tidak berjalan tanpa tantangan. Namun. Tetapi kejadian itu tetap meninggalkan bekas. sekalipun akhirnya dapat dinetralisasikan melalui usaha akomodasi berbagai versi bacaan Kitab Suci dalam bentuk pengakuan keabsahan "bacaan tujuh" Al-qira'at al-sab'ah. Dan jika ummat Islam sesudah itu menikmati kesatuan penulisan dan pembukuan Kitab Suci-nya yang tidak ada bandingnya dalam sistim kepercayaan atau faham lainnya mana pun juga. sekalipun mereka agaknya juga mempunyai jalur penuturan dari Ali ibn Abi Thalib. ketidakpuasan di kalangan tentara terhadap kebijakan Utsman semakin keras dinyatakan orang. Umar disebut sebagai "yang pertama menciptakan lembaga-lembaga" (Arab: awwal man dawwana al-dawawin). dengan menyesuaikan dan mengikuti cara penulisan Kitab Suci menurut ejaan Utsman. Utsman dikenal sebagai amat berjasa menyatukan ejaan penulisan al-Qur'an dengan memerintahkan untuk membakar semua versi ejaan yang lain (sehingga sampai sekarang ejaan standar Kitab Suci agama Islam itu disebut ejaan atau "rasm Utsmani"). Para gubernur yang melanjutkan tugas mereka semenjak diangkat oleh Umar banyak yang cakap dan sebagian dari mereka diterima baik oleh penduduk setempat. berkedudukan di Kufah. Maka untuk menunjang sistemnya inilah antara lain Umar tidak mengizinkan tentera memiliki . tidak ada kebijakannya yang dapat diterima di sana. tindakannya untuk menyatukan sistem penulisan al-Qur'an itu pun dapat dikatakan sebagai kelanjutan kebijakan Umar sebelumnya. sempat menunjukkan perasaan tidak sukanya kepada kebijakan Utsman. handalan utama mereka dalam masalah periwayatan).rampung dan tuntas. sesungguhnya. (Pengumpul al al-Qur'an). karena tidak lagi bisa dialih-arahkan kepada kegiatan-kegiatan ekspedisi militer. Demikian pula Kufah. bahkan gubernurnya pun ditolak orang. Ibn Mas'ud. (Bahkan kaum Syi'ah yang dikenal sangat anti Utsman itupun akhirnya juga mengakui jasa khalifah ketiga ini. sebuah kota garnizun yang didirikan Umar dan kerusuhan itu harus ditindas dengan penumpahan darah. Salah satu kebijakan lagi dari Umar yang dilanjutkan atau diwarisi oleh Utsman ialah yang berkenaan dengan sistem keuangan negara.

ternyata sedikit demi sedikit sistem Umar itu mulai menunjukkan segi-segi kelemahannya. menurut sementara ahli sejarah Islam. Tentang mengapa yang terjadi ialah pengangkatan Abu Bakr. ahli perang (warrior) yang tangkas. memimpin. SYI'AH DAN SUNNAH Kejadian pembunuhan Utsman hanyalah permulaan. dari deretan fitnah yang amat besar pengaruhnya kepada terjadinya skisme dalam Islam. salah seorang isteri beliau yang amat dicintainya) sebagai imam (imam. Maka. adalah bahan kontroversi yang serius. maka. sama dengan harta rampasan perang mana pun juga. seorang Sahabat Nabi yang amat dekat dan senior. tapi sejak wafat Nabi sendiri. Jadi berbeda dengan pandangan Umar yang tidak melihatnya demikian. Mereka menginginkan untuk secara langsung mengontrol dan menguasai penghasilan daerahnya masing-masing itu. telah tumbuh sejak zaman Nabi sendiri sebagai seorang pahlawan. dengan pensponsoran kuat dari Umar. hanya selang sekitar seperempat abad sejak wafat Nabi. seperti telah disinggung. Tetapi agaknya penunjukan Abu Bakr. dan hanyalah salah satu. serta pelopor mula pertama dalam Islam. sebagaimana telah dikemukakan. Baru di masa Umar sifat kedaruratan itu mulai hilang. Ketidakpuasan ini masih harus ditambah. khususnya dalam shalat berjama'ah) ummat Islam di Madinah itu. Bagi banyak pihak di Madinah. Ditambah lagi. yang sampai sekarang masih menjadi bahan pembicaraan. meskipun tidak disepakati oleh semua orang. ketokohan Ali membuatnya paling tepat sebagai pengganti (khalifah) Nabi. tercermin dari penggunaan istilah Khalifah (pengganti) olehnya untuk tugasnya itu. para bekas pembunuh itu atau simpatisan mereka mensponsori pengangkatan Ali (ibn Abi Thalib) sebagai khalifah. tentu saja. (Juga Umarlah yang memprakarsai pendirian lembaga keuangan yang dikenal dengan bayt al-mal --harfiah berarti "rumah harta"). Tentera di berbagai kota garnizun mulai merasakan tidak adilnya penghasilan daerah mereka dikontrol dan dibawa ke Madinah sebagai fay' (milik negara). dengan gejala-gejala nepotisme Umawi yang semakin terasa pada masa Utsman. Akumulasi dari semua ketidakpuasan terhadap Utsman itu yang jelas sebagian bukan karena kesalahan Utsman sendiri berakhir dengan pembunuhan Khalifah. mengulangi perdebatan di masa Umar sekitar masalah tanah-tanah pertanian daerah taklukan itu. kalangan Sunni) dan diakui oleh para ahli bukan-Muslim sebagai suatu tindakan seorang genius dan bijak. khususnya dalam bidang-bidang keuangan ini. Kebetulan Ali yang adalah kemenakan dan menantu Nabi. tidak hanya sekarang sesudah Utsman. khususnya di kawasan Bulan Sabit Subur. artinya orang yang berdiri di depan. Utsman tidak memiliki wibawa dan kecakapan seperti pendahulunya itu. Segera setelah Utsman terbunuh. yakni. dan dilepaskan dari pengawasan Madinah. serta mertua beliau (ayahanda A'isyah. Dan dengan begitu dimulailah perang saudara selama lima tahun. menggantikan Utsman. Tapi ketika Utsman mewarisinya. dengan sikap hidup yang penuh kesalihan dan hikmah (wisdom) yang luas dan mendalam. [11] para tentera menghendaki agar tanah-tanah produktif itu langsung dibagikan kepada tentera penakluk bersangkutan.tanah-tanah produktif (pertanian) di daerah-daerah yang telah mereka bebaskan. lebih mirip tindakan darurat (emergency). dan tumbuh . Kebijakan Umar di bidang ini dan di bidang finansial pada umumnya sangat dihargai oleh para ahli sejarah Islam (khususnya. GOLONGAN-GOLONGAN KHAWARIJ.

memilih nama atau gelar Amir al-Mu'minin. Ali agaknya akan akhirnya memenangkan pertempurannya melawan Mu'awiyah. Mu'awiyah (anak abu Sufyan. Kecurigaan itu mewujudkan diri dalam reaksi-reaksi tidak setuju kepada pengangkatan Ali sebagai khalifah. yaitu kalangan kaum Umawi (Umawi. seorang anggota keluarga Abu Bakr. anak cucu Umayyah ibn 'Abd Syams. gubernur dan komandan militer yang menaklukkan Mesir. Program itu sendiri konon sebagai kelanjutan rintisan dan pelaksanaan pesan Nabi menjelang wafat. dibawa oleh sikapnya yang salih dan populis. Akibatnya ialah bahwa ia justru . 'Ali yang seorang ahli perang (warrior) yang cakap dan berani agaknya dengan mudah mengalahkan A'isyah dan al-Zubayr di pertempuran dekat Basrah yang kemudian dikenal sebagai "Peristiwa Onta" (karena A'isyah memimpin pasukan dengan menunggang onta. dan di hadapan berbagai kritis yang mulai mengancam ummat Islam lembaga itu menjadi rebutan dalam tema-tema "to be or not to be. Berbagai reaksi kurang menguntungkan terhadap 'Ali itu tidak saja membuat situasi masyarakat Islam yang masih muda dilanda suasana tak menentu dan sedikit chaotik. Sedangkan dari kalangan kaum Umawi. ialah permusuhan antara Ali dan Mu'awiyah. Tetapi ketokohannya itu menjadi problem karena kenyataan bahwa sejak semula ia. meskipun jelas mustahil mendukung pembunuhannya. puteri Abu Bakr dan isteri Nabi yang sangat dicintainya. Reaksi-reaksi itu segera menyeret masyarakat Islam ke dalam kancah peperangan sesama mereka. untuk sebutan resmi jabatannya itu. jika tidak bisa disebut kelicikan. diletakkan oleh Umar. Tetapi mungkin sebagai gabungan antara kesalihan yang lebih mementingkan perdamaian dan sikap meremehkan kepintaran.kesadaran padanya akan sifat kepermanenan jabatan pemimpin ummat Islam. Tetapi peristiwa itu sendiri menimbulkan luka sosial-keagamaan pada ummat Islam yang sampai sekarang belum seluruhnya tersembuhkan. Yang lebih parah. Perkembangan pranata politik Islam pada saat pengangkatan Ali ialah bahwa sistem kekhalifahan telah berjalan dan tumbuh selama hampir seperempat abad. dan dibantu oleh 'Amr ibn al-'Ash. musuh utama Nabi sampai penaklukan Mekkah). Komandan Orang-orang Beriman. karena memang program utama masyarakat Islam waktu itu ialah melancarkan ekspedisi-ekspedisi militer ke luar Jazirah Arabia. Maka Umar. dengan korban jiwa yang tidak sedikit. Maka kekhalifahan sebagai saat itu telah menjadi terlalu amat penting untuk dilewatkan begitu saja. Maka suasana curiga kepada Ali dari banyak pihak menjadi tak terhindarkan. tidak saja dari kalangan yang secara langsung mempunyai hubungan darah dengan Utsman. dipelopori oleh politikus dan gubernur yang cakap. juga al-Zubayr ibn al-Awwam. yakni. dengan akibat yang amat jauh dalam bidang sosial-keagamaan. ayah dari pada kakek Mu'awiyah) tetapi juga dari tokoh-tokoh seperti A'isyah. seperti dapat diduga. dan onta itu terbunuh dalam pertempuran). menunjukkan simpati kepada para pemrotes kebijaksanaan Utsman." Telah disebutkan bahwa Ali sebenarnya adalah tokoh yang amat tepat menghadapi situasi kritis itu. Juga disebabkan oleh kecakapan militernya. tuntutan untuk pengusutan pembunuhan Utsman sangat keras. diplomatik Mu'awiyah dan para pendukungnya. lengkap dengan berbagai pelembagaannya yang sebagian besar sebagaimana telah disinggung. Ali secara iktikad baik dan "polos" menerima usul arbitrasi di Shiffin. Khalifah terbunuh.

dan yang dengan kuat sekali mewarnai pandangan-pandangan hidup di daerah Bulan Sabit Subur. ." dengan secara total menyerahkan dan mengorbankan diri untuk agama yang benar. Mereka ini kemudian membentuk kelompok ketiga." [12] -------------------------------------------. yang sejak semula menginginkan penyelesaian militer terhadap Mu'awiyah. Metro Pondok Indah Pondok Indah Plaza I Kav. dan menamakan diri mereka kaum al-Syurat.(bersambung 3/4) Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah Editor: Budhy Munawar-Rachman Penerbit Yayasan Paramadina Jln. Tetapi karena dibawakan dengan militansi yang hampir tak terkendalikan. SKISME DALAM ISLAM (3/4) Tinjauan Singkat Secara Kritis-Historis Proses Dini Perpecahan Sosial-Keagamaan Islam oleh Nurcholish Madjid Maka sebutan al-Syurat itu sekaligus memberi gambaran tentang hakikat dan sifat gerakan mereka. UA 20-21 Jakarta Selatan Telp. 7507173 Fax. (Sebutan ini merujuk kepada firman Allah. yaitu gerakan dengan semangat sendirinya mereka berkembang menjadi kelompok dengan tingkat ekstremisme yang amat tinggi.kehilangan dukungan dari para sponsornya yang gigih dan militan. seorang tokoh yang pernah mereka unggulkan dengan penuh antusiasme. namun akhirnya mereka habisi dalam suatu pembunuhan politik. (021) 7507174 Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota Please direct any suggestion to Media Team Artikel Yayasan Paramadina Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota VI. "Dan di antara manusia ada yang 'menjual' dirinya demi memperoleh ridla Allah. untuk akhirnya melenyapkan diri mereka sendiri. Karena kegiatan mereka yang selalu merongrong tatanan mapan. (021) 7501969. yakni. Dan Allah itu Maha Penyantun kepada para hamba-Nya. yaitu semua orang harus menyingkir dari tatanan mapan dan bergabung dengan mereka demi iman yang benar telah menjerumuskan masyarakat Islam kepada suasana "semua lawan semua. 7501983." tanpa ada pihak yang benar-benar diuntungkan. Korban yang paling tragis dari ekstremisme mereka ialah Ali sendiri. maka konsep-konsep itu yang antara lain melahirkan doktrin hijrah. "orang-orang yang menjual diri (kepada Allah).51. yang kemudian secara tak terhindarkan membawa mereka kepada situasi mudah sekali terpecah-belah dan saling bermusuhan. Egalitarianisme radikal kelompok ini membawa mereka kepada konsep-konsep sosialpolitik yang sesungguhnya lebih dekat kepada cita-cita Islam seperti diletakkan oleh Nabi dan merupakan kelanjutan cita-cita universal dalam tradisi bangsa-bangsa Irano-Semitik sejak ratusan tahun.

sehingga para ahli sejarah ada yang mengatakan sebagai Khalifah Islam yang kedua terbesar. justru banyak sekali faham-faham keagamaan yang kini berkembang dan mapan di kalangan kaum Muslimin dapat ditelusuri kembali sebagai asal dari problematika kaum Khawarij. Bahkan ada tanda-tanda bahwa problematika kaum Khawarij itu. mempertahankan klaim kekhalifahan. dalam polemiknya dengan kaum Syi'ah. yakni. dan orang dengan penuh harapan menyebut tahun itu sebagai "Tahun Persatuan" (Amal-Jama'ah).mereka kemudian lebih dikenal sebagai kaum Khawarij (pemberontak). Dengan maksud untuk tidak mengambil risiko yang dapat mengganggu "keseimbangan rawan" (delicate balance) susunan masyarakat Islam yang ada dan yang diperoleh dengan banyak pengorbanan itu. dalam pandangan Ibn Taymiyyah. (Mu'awiyah ternyata menunjukkan kecakapan memerintah yang mengesankan. Tetapi kekhalifahan Yazid yang memang tidak banyak memenuhi gambaran ideal seorang penguasa Muslim itu segera mengundang munculnya kembali pertentangan-pertentangan laten. sesudah Umar ibn al-Khaththab. Bahkan cukup menarik bahwa ibn Taymiyyah. Mu'awiyah mendapat dukungan yang boleh dikata universal. sudah sejak semula dalam kekhalifahannya Mu'awiyah meminta agar masyarakat menyetujui untuk mengangkat Yazid. (Mereka juga dinamakan kaum al-Haruriyyun. mereka ini kemudian mengalami penghancuran diri sendiri (self annihilation) justru karena watak mereka yang sangat akstrem. Seperti telah dikatakan tadi. sekurang-kurangnya secara de facto. sebagaimana dahulu muncul dalam sistem kalam kaum Mu'tazilah. menunjukkan segi tertentu kelebihan Mu'awiyah atas Ali. keadaan kembali kepada kekacauannya yang semula. Tantangan terhadap Yazid mula-mula datang dari para pendukung Ali yang memang nampak selalu siap menggunakan setiap kesempatan. meskipun ia tetap secara keseluruhan mengunggulkan Ali atas lawannya itu). dan Yazid pun dinyatakan sebagai Khalifah. tempat mereka berpangkalan). agar Hasan. sebagai penggantinya. Akibatnya ialah bahwa mereka hampir-hampir praktis tidak tertahan untuk menyaksikan zaman modern sekarang ini. Sedangkan secara doktrinal. Ini. Terutama pada tahun 41 Hijri. . (Sesungguhnya mereka berharap. Perkembangan lebih lanjut masyarakat Islam setelah terbunuhuya Ali oleh kaum Khawarij ialah pengakuan dan dukungan hampir universal masyarakat kepada kekuasaan Mu'awiyah di Damaskus. anaknya. ummat Islam di bawah Mu'awiyah dapat dikatakan kembali kepada keutuhannya yang semula. sepeninggal Ali. Tetapi sebenarnya hanya secara fisik mereka boleh dikata terhapus dari sejarah. anak sendiri. nisbat kepada oase al-Harura dekat Kufah. [13] Dengan modal persatuan itu Mu'awiyah dapat melanjutkan program-program ekspansi militer dan politik yang sempat tertunda beberapa lama oleh adanya fitnah. [14] Tetapi setelah Mu'awiyah meninggal. kini menunjukkan daya tarik dan vitalitasnya di kalangan sebagian kaum Muslim "liberal" (dalam arti lebih banyak menunjukkan sikap kritis dan mungkin ingin lepas dari kukungan tatanan mapan sosial-keagamaan yang ada). Sebagian besar masyarakat Islam menyetujui ide itu. masih sempat menunjuk kepada kenyataan bahwa sementara Ali mendapat dukungan bagi kekhalifahannya hanya dari sebagian umat Islam.

saudara Hasan. khususnya di daerah pedesaan atau badawah. khususnya faham persamaan umat manusia. meliputi sebagian besar pedalaman Jazirah Arabia. telah membuat kaum Khawarij cukup favorable di mata kaum non-muslim. dengan Makkah sebagai ibukota. putera Ali dan Fathimah. dan setelah penguasa Damaskus ini meninggal sesudah menjabat sebagai khalifah selama sekitar tiga tahun saja. sebelum tentera Syria datang menyerbu. Abdullah oleh sebagian besar umat diakui sebagai khalifah yang sah. yang mereka undang untuk memberontak di Kufah. Tetapi Hasan mengecewakan mereka dengan sikapnya yang lebih senang turun dari klaim itu dan hidup hampir menyendiri secara damai di Madinah. seperti terbunuhnya Utsman sebelumnya. Ini membuat kekuasaan kaum Khawarij. Dan politik mereka yang menerapkan prinsip nonintervensi terhadap kelompok-kelompok bukan-Muslim. terbunuh secara amat kejam dan tragis. Dengan menggunakan sentimen umum terhadap kematian tragis Husayn. merupakan peristiwa terpenting dalam fitnah kedua. dengan membiarkan mereka dalam otonomi penuh mengurus kepentingan mereka sendiri. Maka harapan para pendukung Ali kini ditujukan kepada Husayn. cucu Nabi. dan Husayn. Irak. Yazid tidak bisa mengatasinya. Terbunuhnya Husayn. setelah berhasil dibujuk oleh gubernur Syria. Tetapi Abdullah tidak menikmati kekuasaan yang mantap. Tetapi kaum Khawarij gagal memperoleh dukungan dari kalangan Muslim yang lebih terorganisir di kota-kota. tidak pernah efektif. Husayn dengan kekuatan tenteranya yang kecil menolak untuk menyerah. dan mereka ini terkucilkan di padang pasir Karbala. dekat Kufah. setelah secaara singkat menjadi pendukung Abdullah ibn al-Zubayr pada saat permulaan penampilan khalifah Makkah . Adalah sejak peristiwa Karabala itu para pendukung setia Ali dan keturunannya dikenal dengan sebutan kaum Syi'ah (yang sebetulnya lengkapnya ialah syi'ah Ali. Di luar kota Makkah sendiri. yang mempunyai dampak amat luas dan mendalam pada sistem sosial-keagamaan Islam sampai sekarang. banyak kalangan penduduk Kufah sendiri yang menarik dukungannya kepada Husayn. meskipun selama fitnah kedua ini menguasai teritorial yang paling luas. Tetapi Yazid tidak hanya menghadapi tantangan dari kaum Syi'ah. kaum Syi'ah perlahan-lahan mengkonsolidasikan diri dan mengembangkan pandangan-pandangan sosial-politik keagamaan yang kelak menjadi dasar sistem doktrinal Syi'isme. "Partai Ali"). Egalitarianisme mereka telah membuat mereka termasuk yang pertama dalam sejarah Islam yang tidak membeda bedakan antara Muslim Arab dan Muslim bukan-Arab. Tentera Yazid menghancurkan mereka. Sebenarnya kaum Khawarij ini hampir berhasil menghidupkan beberapa nilai yang diajarkan oleh Nabi. kekuasaan berada di tangan kaum Khawarij yang seperti selama ini melancarkan perang "hit and run" terhadap Abdullah ibn al-Zubayr. Di Makkah bangkit Abdullah ibn al-Zubayr (ibn al-Awwam) yang ayahnya dahulu pernah menentang Ali bersama A'isyah dan kalah kini bangkit menentang Yazid dengan cukup efektif. Tetapi. Kebiasaan mereka untuk melakukan gerilya dalam kelompok-kelompok penyerang yang disusun seperti sistem kabilah sebelum Islam (masa Jahiliyah) telah mengundang antipati orang-orang kota.menghadapi Mu'awiyah di Damaskus. Apalagi.

Abd al-Malik (692-705). Setelah mengalami kekalahan yang tragis oleh Yazid di padang Karbala. sama halnya dengan kaum Khawarij. dan di situ Khalifah Abdullah ibn al-Zubayr (ibn al-Awwam) terbunuh. (Adalah Marwan ini yang dahulu bertindak sebagai penasehat utama Khalifah Utsman ibn Affan dan didakwa sebagai dalang pembunuhan pemimpin delegasi Mesir yang datang ke Madinah untuk mengadukan perkara mereka. sepupu Mu'awiyah. Sementara itu. Abd al-Malik. Dengan tegas Abd al-Malik mendasarkan sistemnya di atas konsep kekuatan (force). yang kemudian berpaling melawan mereka. yang oleh Hodgson disebut sebagai khalifah Islam terbesar ketiga setelah Umar dan Mu'awiyah. kaum Khawarij terpecah menjadi dua. juga ingin menegakkan prinsip persamaan manusia. Irak juga jatuh ke tangan kaum Umawi. Mereka ini akhirnya dikalahkan oleh tentara Ibn al-Zubayr yang berpangkalan di Basrah. di utara. Kaum Syi'ah. Pemberontakan kaum Syi'ah ini dipimpin oleh Mukhtar ibn Abi Ubayd. Kini kekhalifahan sepenuhnya pindah ke tangan anak Marwan. Keberhasilan Ibn al-Zubayr mematahkan kaum Khawarij dan Syi'ah tidak berarti bahwa mereka benar-benar bebas dari oposisi. Dengan cepat kekuatan kaum Umawi di Syria sebagai salah satu kontestan untuk kekhalifahan tumbuh dan berkembang. namun dengan cara-cara yang lebih moderat. yang berbasiskan Iran. kaum Syi'ah sekali lagi mencoba memobilisasi diri dan menemukan figur sentral mereka pada putera Ali yang lain. Irak. Tetapi egalitarianisme mereka ini justru membuat marah orang-orang Muslim Arab Kufah. Tantangan orang Kufah ini mempermudah pemberontakan kaum Syi'ah untuk dipatahkan oleh Ibn al-Zubayr dengan menggunakan kekuatan tentara dari Basrah yang saat itu telah bebas dari tugas menghadapi kaum Khawarij. menganggap siapa saja yang tidak bergabung dengan mereka sebagai murtad. Hingga akhirnya kaum Umawi berhasil merebut Makkah sendiri (Ka'bah sempat hancur dan harus dibangun kembali karena pertempuran memperebutkan kota suci itu).itu. yaitu Ibn al-Hanafiyyah. Maka negara menjadi negara kekuasan (macht staat). Ibn al-Zubayr masih harus menyelesaikan masalah Syi'ah. Setelah menyusul Irak. Mereka dengan tegas mengambil sikap yang menyamakan status antara orang-orang Muslim bukan-Arab dengan Muslim Arab. Juga penggantian kekhalifahan dengan tegas didasarkan kepada pewarisan. dan faham keagamaan diperhitungkan hanya setelah jelas siapa yang unggul melalui kekuatan itu. dengan melakukan berbagai akomodasi. yang dikenal sehagai kaum Azariqah. sehingga Mesir pun tidak lama jatuh ke tangan Marwan dan anaknya. dengan akibat hukum bunuh yang mereka laksanakan secara konsekuen. sebagai Khalifah. Selain menghadapi kaum Khawarij. Kota-kota garnizun di bawah kepemimpinan kaum Umawi yang tegar kini lebih efektif dalam melawan gerilya kaum Khawarij dari pedalaman dibanding keadaan mereka dibawah kepemimpinan Ibn al-Zubayr yang lunak. di Syria. kekuatan-kekuatan oposisi kelanjutan kaum Umawi berhasil mengkonsolidasi diri. Kaum Khawarij dan Syi'ah itu tetap merupakan ancaman yang laten. yang berarti hilangnya basis dukungan bagi Ibn al-Zubayr di Mekkah. Segi kebenaran Abd al-Malik ialah bahwa ia berhasil mengakhiri fitnah (kedua). Kaum Umawi yang berkoalisi dengan kaum Banu Kalb (sandaran utama kekuatan Arab Syria bagi kaum Umawi sejak masa Mu'awiyah) mengangkat Marwan ibn al-Hakam. dan yang kemudian membangkitkan amarah mereka dengan akibat pembunuhan khalifah). dalam bentuk suksesi melalui penunjukan oleh khalifah yang .

dan berfungsi terutama sebagai kode etik dan ajaran disiplin bagi kekuatan elite penakluk dan penguasa. Marwani. banyak referensi dilakukan kepada preseden yang ada dalam sejarah Islam. maka efeknya ialah penegasan kedaulatan Islam. Maka kaum Umawi di Damaskus itu. Kebesaran Abd al-Malik ibn Marwan yang lain terletak dalam kegairahannya untuk menegaskan supremasi Islam terhadap yang lain. Kemudian dorongan untuk memahami lebih baik dan melaksanakan ajarannya secara lebih tepat tumbuh dengan pesat di kalangan umum. yaitu sebagai lambang persatuan dan kesatuan (Jama'ah) yang tak tergugat. sudah tentu. Karena itu ketika para qadli sebagai pemegang semacam kekuasaan yudikatif di daerah-daerah (Abd al-Malik adalah orang pertama melembagakan jabatan qadli itu). pada kalangan Banu Tsaqif (yang sebelumnya telah membantu menaklukkan Mekkah. Maka dalam usaha memahami lebih baik Kitab Suci itu dan melaksanakannya dalam kehidupan nyata. semakin banyak merasakan perlunya bahan rujukan dari kebiasaan mapan (sunnah) masa lalu Islam. dalam masalah pemerintahan menurut pengertian seluas-luasnya. kaum Muslimin. dengan berbagai modifikasi dan penyesuaian. Tetapi. banyak melanjutkan rintisan dan percontohan Umar ibn al-Khathab.terdahulu. Abd al-Malik meneruskan usaha mempersatukan ummat Islam berkenaan dengan Kitab Suci mereka. ialah masa Nabi sendiri. Melalui kebijaksanaan Abd al-Malik ibn Marwan ini maka al-Qur'an mempunyai fungsi lain. dengan memperbaiki cara penulisannya dan memastikan harakat bacaannya melalui penambahan beberapa diakritik dan vokalisasi (harakat). dan menghancurkan Ka'bah serta membangunnya kembali). sebagaimana sebutan pilihan sementara ahli sejarah Islam). Bagi mereka Islam adalah lambang Arabisme yang dipersatukan. yang menjadi dasar kebesaran kekuasaan Umawi (lebih tepat. dengan dibantu oleh keahlian dan kesarjanaan al-Hajjaj ibn Yusuf. yang sebenarnya belum lama berselang itu. Sebagai dukungan asasi bagi konsep Jama'ah-Nya itu. Tetapi ketika Abd al-Malik mengganti mata uang logam Yunani yang bergambar kepala raja mereka dengan mata uang logam khas Arab dan Islam dengan simbol kalimah syahadat. Solidaritas Arab berdasarkan Islam melawan kecenderungan kesukuan lama (Jahiliyah) ini kemudian menjadi dasar ide tentang Jama'ah. Berdasarkan pandangannya itu Abd al-Malik melihat pentingnya usaha lebih lanjut mempersatukan orang-orang Arab di bawah bendera Islam melawan kecenderungan kesukuan yang sampai saat itu masih menunjukkan potensi latennya. jika pemerintahan itu harus dijalankan dengan norma-norma keislaman. Di sisi lain tindakannya bisa disebut sebagai sejenis nasionalisme Arab. terlebih lagi para penguasa Umawi. membunuh Ibn al-Zubayr. masa Umar ibn al-Khathab nampak paling banyak dijadikan rujukan. Maka dengan begitu secara berangsur tumbuhlah . Berbeda dengan pandangan keagamaan kaum Khawarij dan Syi'ah pandangan keagamaan kaum Umawi memang sangat berat berwarna ke-Arab-an. [15] Dampak amat penting tindakan ini ialah penyatuan yang lebih meyakinkan seluruh kekuatan Islam (dan Arab). suatu konsep atau idiologi yang meletakkan nilai-nilai persatuan dan kesatuan di atas semangat kesukuan dan bahkan di atas faham-faham keagamaan faksional. bekas guru madrasah di Thaif. sepanjang mengenai pelaksanaan pemerintahan sehari-hari. Nampaknya masa lalu Islam itu yang paling otoritatif.

rupanya malah sejak masa nabi sendiri. Metro Pondok Indah Pondok Indah Plaza I Kav. SKISME DALAM ISLAM (4/4) Tinjauan Singkat Secara Kritis-Historis Proses Dini Perpecahan Sosial-Keagamaan Islam oleh Nurcholish Madjid Keperluan kepada bahan rujukan dari masa lalu (preseden) untuk menetapkan hukum lambat-laun tumbuh manjadi kesadaran tentang otoritas tradisi (sunnah) yang sah (valid). Muslim. yang di situ setiap kelompok memperoleh kehormatannya. Dorongan yang amat kuat untuk menyudahi berbagai fitnah yang telah meninggalkan kesan-kesan penuh trauma itu telah mengharuskan kaum Marwani atau Umawi untuk menunjukkan sikap-sikap yang lebih akomodatif dan kompromistis. Utsman. [16] -------------------------------------------. anekdot. UA 20-21 Jakarta Selatan Telp.51. Umar II sebenarnya hanya melanjutkan kecenderungan yang sudah ada pada kaum Marwani atau Umawi. tapi juga tentang tokoh-tokoh generasi ketiga umat Islam. oleh para sarjana hadits seperti al-Bukhari. dan penuturan tentang para tokoh masa lalu itu.yurisprudensi Islam. (021) 7501969. tetap lebih unggul daripada Ali. menjadi semakin besar. (021) 7507174 Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota Please direct any suggestion to Media Team Artikel Yayasan Paramadina Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota VI. khususnya sejak kekhalifahan Abd al-Malik ibn Marwan. Ini semua kelak disistematisasi dan dikritik. dll. yaitu ilmu fiqh. 7501983. khususnya tentang Nabi sendiri dan para Sahabat. Dengan begitu kaum Marwani atau Umawi meletakkan landasan dialog intern Islam yang meliputi semua.(bersambung 4/4) Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah Editor: Budhy Munawar-Rachman Penerbit Yayasan Paramadina Jln. 7507173 Fax. anggota-anggota klan mereka. untuk selanjutnya dikodifikasi. dan menjadi dasar . Para ahli mengatakan bahwa gerakan perorangan untuk mencatat hadits telah terjadi sejak masa sangat awal sejarah Islam. Tradisi ini berkembang dan tumbuh kuat. pada urutan keempat (artinya. yang kelak melahirkan disiplin terpisah dalam ilmu-ilmu keagamaan Islam. Maka perhatian kepada cerita. Dalam rangka ini. juga anggota klan mereka tapi menjadi musuh Ali). Tapi sejarah mencatat bahwa dorongan paling kuat ke arah sana itu dimulai oleh Khalifah Umar ibn Abd al-Aziz (ibn Marwan) yang dikenal sebagai Umar II (memerintah 717-720) karena mengingatkan orang kepada Khalifah Umar ibn al-Khaththab. tindakan terpenting ialah mengakui Ali sebagai khalifah yang sah. sedikit atau pun banyak. namun Ali lebih unggul daripada Mu'awiyah.

Syi'ah dan Sunnah. Masing-masing pecahan itu sesungguhnya pecah lagi ke dalam berbagai kelompok. kaum Marwani atau Umawi. QS. (Patut diperhatikan.faham yang kini merupakan anutan terbesar kaum Muslim di dunia. sebagai jawab kecenderungan alami manusia untuk memihak yang baik dan benar: "Maka ikutilah olehmu semua agama Ibrahim. Juga bisa dilihat. [17] Sebenarnya semangat non-sektarianisme inilah salah satu pandangan dasar Islam yang dibawa Nabi. mempunyai sistem dan teori pembenaran bagi pandangan masing-masing. mengakui semuanya namun dengan mengunggulkan Utsman atas Ali dan Ali atas Mu'awiyah. golongan Sunni. lebih-lebih lagi jika kita perhitungkan pandangan semua kelompok mengenai masalah kekhalifahan itu. QS. maka disebut Ahl al-Sunnah wa 'l-Jama'ah. dengan sendirinya. karena mengambil pelajaran dari pengalaman agama-agama sebelumnya. . al-Baqarah/2:213. Umar. betapa kaum Syi'ah cenderung hanya mengakui Ali. tidak jarang dinyatakan dalam gaya-gaya absolutistik dan "pasti benar"). meskipun jauh dari sempurna dan lengkap. yang dapat dikemukakan di atas hanyalah masalah-masalah mendasar tentang faham-faham pecahan dini Islam. yaitu mereka yang memecah belah agama mereka kemudian menjadi bersekte-sekte. setiap golongan membanggakan apa yang ada pada mereka" (yakni. dan melihat sektarianisme sebagai jenis kemusyrikan. yaitu faham yang menggabungkan antara ideologi Jama'ah (persatuan dan kesatuan) dan ideologi Sunnah (faham yang memandang otoritas masa lalu dan tradisi yang sah sebagai bahan rujukan). kaum Khawarij hanya Abu Bakr dan Umar. Dan setiap kelompok itu." [18] Semangat non-sektarianis itulah salah satu makna yang dimaksud bahwa agama Tawhid Nabi Ibrahim adalah hanif. betapa problematisnya kekhalifahan dan kedudukan seorang khalifah. secara hanif. Maka kesimpulannya. yakni. antara lain. Uraian di atas. kemudian dibarengi atau disusul oleh munculnya berbagai pecahan yang lain lagi. biasa disingkat dengan Ahl al-Sunnah. CATATAN 1. plus Mu'awiyah." [19] Agaknya kita semua ditantang untuk memerangi sektarianisme yang kini masih menggejala. Utsman. 2. sama dengan golongan Sunni. mungkin yang diperlukan sekarang ialah mengembangkan dasar fikiran nonsektarianisme. mengaku benar sendiri). "Dan janganlah kamu termasuk orang-orang musyrik. lebih singkat lagi. sebagai tercermin dalam peringatan yang lain. diharap dapat memberi gambaran (dan kesadaran) betapa relatifnya pangkal skisme dalam Islam (karena berakar dalam pertikaian sosial-politik yang sama sekali tidak mungkin lepas dari konteks ruang dan waktu dalam pengertian yang seluas-luasnya). engkau (Muhammad) tidak sedikit pun termasuk mereka. yaitu Khawarij. al-Mu'minun/23:51-52. "Sesungguhnya mereka yang memecah belah agama mereka kemudian menjadi bersekte-sekte. Maka dengan jelas dapat dilihat betapa absurd-nya memutlakkan kebenaran suatu aliran paham dalam agama (Islam). PENUTUP Dikarenakan terbatasaya ruang dan sifat pembahasan. kaum Umawi lama hanya Abu Bakr. sesuai dengan peringatan.

. Lafal lain terbaca. Tapi uraian berikut hanyak dibuat dengan bersandar kepada kepada Marshall G. salah satu unsur dalam faham Sunni ialah semacam konsensus untuk tidak membicarakan peristiwa-peristiwa menyedihkan yang menyangkut peperangan dan perebutan posisi politik yang terjadi antara para Sahabat Nabi sekitar seperempat abad sesudah wafat beliau. QS. baik yang diterbitkan pada masa pemerintahan Syah Reza Pahlewi maupun yang diterbitkan pada masa pemerintahan Islam revolusioner (Khumaini). Teheran.tb5./1965 M. baik dari kesahihan sanadnya maupun dari segi lafalnya yang lebih persis. misalnya. h. misalnya. 1403 H). Dalam kata penutup terbitan mushaf ini (h. Bukan saja samasekali tidak ada perbedaan antara al-Qur'an pada kaum Sunni dan al-Qur'an pada kaum Syi'i. H. Ikhtilaf al-a'immah rahmah li al-ummah (Perbedaan pendapat para imam adalah rahmat untuk ummat). 8. jil. QS. seperti . Tarjamah Sabil al-Abid ala Jawharat al-Tauhid [tanpa data penerbitan]. 488. The Holy Qur'an. Translation and Commentary (Jeddah: Dar al Qibla. (Meskipun tidak disebutkan dalam pengantar atau lainnya bahwa mushaf itu ditulis dengan ejaan Utsmani. Ikhtilaf ummati rahmah (Perbedaan pendapat ummatku adalah rahmat). QS. Khilaf al-Ummah fi al-Ibadat wa Madzhab Ahl al-Sunnah wa al-Jama'ah (Perselisihan umat dalam ibadat dan Madzhab Ahl al-Sunnah wa al-Jama'ah). 1974). Tapi betapa pun diperselisihkan hadits itu nampaknya banyak dipercayai para ahli. 983) ditegaskan oleh penerbit bahwa mushaf itu menggunakan ejaan yang paling asli dan paling aktual. catatan 1407.tb5 5." Bahkan qira'at atau bacaannya disebutkan. tiga jilid (Chicago. hh. Terdapat pandangan bahwa kalangan "awam" sebaiknya tidak membicarakan hal itu. (Lihat. yang dikenal dcngall "rasm al-mushaf" atau "rasm Utsmani. 1326 H. Teheran. 9. 7. 6. Bahkan al-Qur'an kaum Syi'i pun ditulis dengan mengikuti ejaan atau rasm Utsmani. Hodgson. A. passim. The Venture of Islam. Mungkin bisa dikatakan sebagai suatu bentuk penghindaran dari kenyataan pahit dalam sejarah Islam. (Cairo: Mathba'at al-Manar. 1. Cukup ironis bahwa justru hadits ini pun diperselisihkan. The University of Chicago Press. Rasyid Ridla. 10. Yang pertama diwakili oleh mushaf terbitan Mu'assasat Intisyarat Amir Kabir. yang meskipun ditulis di bawah bayangan kuat idiologi Sunni namun sampai batas yang cukup jauh tidak kehilangan sifat ilmiahnya.). memberi pengantar dengan semangat hadits itu untuk penerbitan risalah Ibn Taymiyyah.241-242).S. Hud/11:118-119. 1405 Hijri qamari (lunar) atau 1363 Hijri Syamsi (solar). Yusuf Ali.3. Banyak bahan rujuknya dari literatur klasik untuk pembahasan sekitar perkembangan dini sejarah Islam yang menyangkut fitnah besar ini. 1343 H. Salah satunya ialah Tarikh at-Thabari yang terkenal. misalnya. 4. namun kenyataannya ia persis sama dengan mushaf ejaan Utsmani). Yang kedua diwakili oleh mushaf terbitan Mu'assasat Intisyarat Shabirin. Muhammad Shalih ibn Umar Samarani. Sabda Nabi yang terbaca. Yunus/10:19. al-Ma'idah 5:51.

Sedangkan mereka yang tidak demikian keadaannya akan terbentur kepada sistem huruf Arab. 15. QS. Ibn Taymiyyah masih sempat mencatat demikian. Dan tatkala dia (Ali) melamar anak perempuan Abu Jahl. Perlu diingat bahwa meskipun al-Qur'an telah dipersatukan kodifikasinya oleh Utsman namun orang masih mengalami kesulitan untuk memastikan pembacaannya. dan rakyatnya mencintainya." (Minhaj al-Sunnah. dokumen No.. Zeltschrift der Deutschen Morgenlandischen dalam Majmu'at al-Watsa'iq al-Siyasiyyah li al-Ahd al-Nabawi wa Khilaafat al-Rasyidah (Beirut: Dar al-Irsyad. Dan sungguh aku tidak akan mengizinkan. Ibn Taymiyyah. Dan kemudian konsep Jama'ah itu dikembangkan sebagai idiologi." 11. juga h. bahwa beliau bersabda. al-Syaykh Muhammad al-Hudlari Bek.'" (ibid. 194). 189). Dar al-Fikr. Demi Allah. 114 dan 115): Tulisan seperti di masa Rasulullah itulah yang juga digunakan . al-Baqarah 2:207. yang diturun oleh Dr. sebagai berasal dari riwayat Hafsh dari Ashim. Sebaliknya tentang Ali. salah seorang pemikir Sunni mazhab Hanbali yang sangat polemis terhadap golongan Syi'ah. 'Sebaik-baik para pemimpinmu ialah yang kamu cinta kepada mereka dan mereka cinta kepada kamu dan berdo'a untuk kebaikanmu. Bani al-Mughirah meminta izin kepadaku untuk mengawinkan anak perempuan mereka kepada Ali. Karena hampir semua kelompok Islam mengakui kekuasaan de facto Mu'awiyah. 110. kecuali mereka yang benar-benar mengenal bahasa Arab karena dibesarkan sebagai orang Arab. Muhammad Hamidullah dengan izin majalah orientalisme Jerman. Abu Ya'quh Yusuf. 87). "yang dari jalur lain dari Imam Ali ibn Abi Thalib. Tarikh al-Tasri al-Islami. 1387 H/1967]. "Perilaku Mu'awiyah terhadap rakyatnya adalah termasuk sebaik-baik perilaku para penguasa. tanpa huruf hidup. 57 (antara hh. Padahal telah mantap dalam al-Shahihayn (Bukhari-Muslim) dari Nabi s.. mengatakan. serta kamu mengutuk mereka dan mereka mengutuk kamu.w. ". Jadi dalam kutipan pertama Ibn Taymiyyah ingin mengesankan bahwa Mu'awiyah bertingkah laku sesuai dengan Sunnah. maka tahun 41 Hijri disebut "Tahun Persatuan" ('Am al Jama'ah). sekali lagi tidak akan mengizinkan. 12. h. 1389 H/1969). h. Kitab al-Kharaj. Sedangkan seburuk-buruk pemimpinmu ialah yang kamu benci kepada mereka dan mereka benci kepadamu. yang hanya mengenal konsonan. sekali lagi tidak akan mengizinkan! Kecuali jika anak Abu Thalib itu menceraikan anak perempuanku (Fathimah) dan kemudian kawin dengan anak perempuan mereka. jil.mushaf Sunni. sama dengan huruf-hurut Semitik yang lain.pada mushaf.a. dan dalam kutipan kedua ia mau memperlihatkan betapa Ali pernah membuat hal yang menyakiti hati Nabi. h. beliau (Nabi) bersabda. Sangat menarik sebagai bahan studi lebih mendalam mempelajari berbagai polemik sekitar Ali dan Mu'awiyah ini. 3. Sebagai contoh tulisan Arab tingkat awal itu berikut ini adalah (foto) kopi surat Rasulullah kepada al-Mundzir ibn Sawi. [Beirut. 14.. (Lihat. tidak akan berkumpul menjadi satu anak perempuan Rasulullah dengan anak perempuan musuh Allah pada satu orang lelaki. 13. Perdebatan itu terekam dalam karya seorang murid Imam Abu Hanifah. Misalnya.

Maka penambahan beberapa diakritik. antara dal dan dzal. seperti untuk bunyi-bunyi ba'.. 7507173 Fax. (021) 7501969. "Katakan Muhammad.. tsa nun dan ya'. antara lain. QS. seperti satu. sehingga pengetahuan mengenai masalah-masalah hukum pun dianggap fiqh par excellence.untuk kodifikasi al-Qur'an oleh Utsman dan menghasilkan mushaf rasmUtsmani. al-An'am/6:161). di bawah dan di atas oleh al-Hajjaj merupakan fase amat penting dalam sejarah metode penulisan al-Qur'an. Jadi yang dimaksudkan dengan perkataan fiqh dalam firman-firman itu pendalaman ajaran keagamaan secara menyeluruh. 17. "Kami (Tuhan) telah merinci berbagai ayat untuk kaum yang mengerti" (ber-fiqh) (QS. al-An'am 6:98). Perhatikan bahwa untuk perkembangan tulisan Arab saat itu. yaitu agama yang teguh (konsisten). 19. agama (Nabi) Ibrahim yang hanif . antara ra' dan za' antara sin dan syin. QS. Ali 'Imran/3:95. UA 20-21 Jakarta Selatan Telp. kesulitan masih harus ditambah dengan tidak adanya perbedaan simbol untuk cukup banyak bunyi. khususnya pada masa dinasti Marwani itu (antara lain karena urgensi mengatasi dan menyudahi fitnah yang berkelarutan). maka segi hukum dari agama juga amat dominan dan supreme. Keadaan serupa itu bertahan hampir sepanjang sejarah Islam sesudah masa Marwani. antara lain.." (QS. akhirnya. Maka hendaklah dari setiap golongan ada satu kelompok orang yang pergi (mencurahkan perhatian) untuk memahami agama secara mendalam (ber-tafaqquh) .. tiga titik. Penggunaan perkataan "fiqh" sebenarnya merujuk kepada beberapa firman Allah. al-An'am/6:169. dan antara bunyi-bunyi jim. Metro Pondok Indah Pondok Indah Plaza I Kav. ha' dan kha'. antara 'ayn dan ghayn. (021) 7507174 Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota Please direct any suggestion to Media Team Artikel Yayasan Paramadina Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan . antara tha' dan dha'. Perkataan Arab "fiqh" sendiri berarti "faham" (dalam makna "mengerti"). QS. al-Rum/30:32. sampai sekarang. -------------------------------------------Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah Editor: Budhy Munawar-Rachman Penerbit Yayasan Paramadina Jln." (QS. ta'. 'Sesungguhnya aku diberi petunjuk oleh Tuhanku ke arah jalan yang lurus. ". antara shad dan dlal. dan. Bahwa agama yang dibawa Nabi Muhammad adalah juga agama Ibrahim ditegaskan dalam cukup banyak ayat-ayat suci. al-Tawbah/9:122. antara fa' dan qaf. 18. Ini tercermin dalam bagaimana sebagian besar kaum Muslim mempersepsi agamanya sebagai terutama sistem hukum. 16. 7501983. dua. Tapi karena dominasi dan supremasi persoalan penataan kembali masyarakat saat-saat dini sejarah Islam.

tentang kata-kata "wali" dan "amr. wali negara). atau wilayahnya). Maka dalam rangka urusan tersebut kita dapat memahami kehadiran Undang-undang Perkawinan dan Undang-undang Peradilan Agama (yang belum lama ini sudah diundangkan). persahabatan. power. Sesudah itu. teman atau sahabat. kewenangan. menyuruh melakukan. pemilik atau penguasa sesuatu barang." Kedua bagian kata majemuk ini sudah lazim dipakai dalam bahasa Indonesia. Dalam kaitan masalah-masalah tersebut di atas terkait permasalahan wali al-amr. Mengamarkan: memerintahkan. pelindung. yaitu kata "amr" biasa dibunyikan "amar" yang berarti: perintah atau suruhan (misalnya: dengan amar raja diartikan: atas perintah raja). amirul mu'minin (khalifah). Kata ini biasa diartikan "penguasa. tugas (yang harus dilakukan). kekeluargaan. juga berarti: urusan. "imarah" (sifat keamiran. yaitu orang suci dan keramat (seperti Wali Songo). otoritas." cukup beralasan dilihat dari segi pemakaian bahasa. Lebih lanjut kita melihat hal seperti itu dalam masalah perkawinan dan peradilan khusus yang menyangkut penyelesaian sengketa urusan kekeluargaan di kalangan kaum muslimin bangsa Indonesia. pemelihara. 47. daerah yurisdiksi. ia mempunyai arti yang lebih luas. Dari akar kata ini berkembang bentuk-bentuk kata: wala yang berarti: cinta. selain berarti: order. kata ini berarti juga: penolong. masalah penting. Adapun kata "wali" juga sudah lazim dipakai dalam bahasa Indonesia. kata "wilayah" yang berarti kekuasaan.ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota VI." Maka kata "waliy-u 'l-amr" dengan pengertian "penguasa" atau "pemerintah. Kata "wali al-amr" (dalam sebutan Indonesia) berasal dari "waliy-u 'l-amr" (bahasa Arab). loyalitas. ingin kita melihat kaitan pengertian kata ini dengan persoalan hukum dalam rangka kajian fiqh. kepala pemerintahan (seperti wali kota. yang berarti: orang yang menurut hukum diserahi kewajiban mengurus anak yatim serta hartanya selama anak itu belum dewasa. "amiralay (brigadier general). Dalam bahasa asalnya. Itulah pembahasan sepintas dari segi etimologis dan lexicologis. komando. persoalan atau perkara. suruhan. timbul bentuk-bentuk kata "amir. wali Allah atau waliullah. petugas. Dan itu terlansir dalam sebuah Keputusan Presiden dan diperkuat Keputusan Menteri Agama. Kalau ditambah dengan akhiran "an" maka menjadi "amaran" yang berarti: perintah. Dalam persoalan ini tentunya pada tingkat pertama kita . atau markasnya. Hal itu jelas memperlihatkan keterkaitan Pemerintah dengan urusan keagamaan (pelaksanaan ajaran agama). PENGERTIAN WALI AL-AMR DAN PROBLEMATIKA (1/2) HUBUNGAN ULAMA DAN UMARA oleh Ali Yafie Pemerintah memandang perlu untuk mengeluarkan sebuah keputusan dalam kaitan hari libur Idul Fithri sebagai hari libur nasional. Dari akar kata "amr" ini. pengasuh pengantin perempuan ketika nikah yaitu keluarga dekatnya yang melakukan janji atau akad nikah dengan pengantin laki-laki (dalam urusan nikah ini dikenal juga adanya wali hakim yaitu pejabat urusan agama yang bertindak sebagai wali)." "amiral" (admiral). Tetapi dalam kata asalnya.

Dan yang kedua berbunyi (Terjemahnya): Apabila mereka ditimpa sesuatu peristiwa keamanan atau ketakutan.'l-amr" ada dua pendapat. Dari ulasan beliau dapat ditarik pengertian bahwa didalam kata "uli 'l-amr" termasuk penguasa atau pemimpin tertinggi pemerintahan sampai kepada pejabat-pejabat yang berwenang di daerah-daerah. Demikian pendapat Jabir.. Ahli fiqh kenamaan yakni Imam Abul Hasan 'Ali al-Mawardi ketika mengulas jenis-jenis kewenangan yang disebut "imarah" yang pejabatnya disebut "amir" beliau mensitir juga ayat 59 surah an-Nisa tersebut di atas. yaitu pada ayat 59 surah an-Nisa.)..517 Juz I Tafsir Ibn Katsir).: Barangsiapa mendurhakai aku berarti dia sudah taat kepada Allah dan barangsiapa mendurhakai amir yang saya angkat berarti dia telah mendurhakai aku.berupaya mencari pokok persoalannya dalam al-Qur'an. Al Hasan Al Bashri dan Abul 'Aliyah (semuanya ulama Tabi'in) yakni al-'ulama" (yang dimaksud dengan uli 'l-amr adalah ulama). Mereka itu disebut "wulat" (mufradnya wali sebagai singkatan dari waliy-u 'l-amr) dan umara (tunggalnya amir) yaitu penguasa yang diberi kewenangan dalam satu urusan tertentu..a. Teori Wilayah (Kekuasaan atau Kewenangan) Di dalam Fiqh (Ilmu Hukum Islam) ditemukan adanya dua jenis kekuasaan (wilayah) yang dikaitkan dengan sumbernya. [2] ditambah dengan penjelasan hadits shahih yang diriwayatkan Abu Hurairah r. Beberapa hadits lainnya dari berbagai sumber berita dari sejumlah sahabat Nabi telah dipaparkan oleh Ibn Katsir. al-Hasan dan 'Atha. dan pada ayat 83 dari surah yang sama. bahwa yang dimaksud dengan kata itu. beliau juga berpatokan dari ayat 59 (surah an-Nisa) tersebut. Maka disana kita akan menemukan pemakaian kata "uli 'l-amr" (yang artinya dengan "waliy-u 'l-amr"). lalu mereka menyiarkannya. Pengertian ini diperkuat oleh ayat 63 surah al-Maidah dan ayat 43 surah an-Nahl. pendapat Mujahid. Sama dengan itu. "yakni ahl-u 'l fiqh-i wa 'l-din" (yang dimaksud dengan uli 'l-amr yaitu ahli dalam masalah-masalah agama).a. dan dua . (Lihat h. niscaya orang-orang yang meneliti diantara mereka mengetahui hal itu . 'Atha. lalu beliau menjelaskan bahwa didalam pengertian "uli. [3] Maka semua penjelasan ini merupakan perintah untuk mentaati para ulama dan umara. dan ini pendapat Ibn Abbas r.. pada dua tempat.w. Pendapat kedua. yang semuanya mengacu kepada keharusan mentaati amir-amir (para petugas atau penguasa yang diangkat Nabi dalam berbagai urusan yang ditempatkan di berbagai daerah (yang telah dibebaskan ketika itu).a. kata ini pengertian umumnya mencakup para amir (umara) ulama. Bahkan Imam al-Mawardi ini ketika membahas masalah Imamah atau Kekhalifahan (Bab Pertama dari bukunya yang berjudul al-Ahkam al-Shulthaniyah).a. Pertama. [1] Yang pertama berbunyi (terjemahnya): Hai orang-orang yang beriman! Taatilah Allah dan taatilah rasulNya dan "ulil amri" dari kalian. Ibn Katsir melanjutkan keterangannya bahwa yang jelas (wa 'l-Lah-u a'lam). atau suatu daerah kekuasaan tertentu. Mufassir kenamaan yakni Imam 'Imaduddin Ibn Katsir menukilkan keterangan Ibn 'Abbas (Sahabat Nabi) r. ialah amir-amir. Seandainya mereka mengembalikan persoalan itu kepada Rasul dan kepada "uli 'l-amri" dari mereka. bahwa yang dimaksud dengan kata ini ialah para ulama. dari sabda Rasulullah s.). atau dalam urusan-urusan yang diserahkan pengelolanya kepada mereka.

ketujuh. beheersmacht (kekuasaan mengelola). dan keter