Artikel Yayasan Paramadina

Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota II.9. KONSEP-KONSEP KEADILAN oleh Abdurrahman Wahid Tidak dapat dipungkiri, al-Qur'an meningkatkan sisi keadilan dalam kehidupan manusia, baik secara kolektif maupun individual. Karenanya, dengan mudah kita lalu dihinggapi semacam rasa cepat puas diri sebagai pribadi-pribadi Muslim dengan temuan yang mudah diperoleh secara gamblang itu. Sebagai hasil lanjutan dari rasa puas diri itu, lalu muncul idealisme atas al-Qur'an sebagai sumber pemikiran paling baik tentang keadilan. Kebetulan persepsi semacam itu sejalan dengan doktrin keimanan Islam sendiri tentang Allah sebagai Tuhan Yang Maha Adil. Bukankah kalau Allah sebagai sumber keadilan itu sendiri, lalu sudah sepantasnya al-Qur'an yang menjadi firmanNya (kalamu 'l-Lah) juga menjadi sumber pemikiran tentang keadilan? Cara berfikir induktif seperti itu memang memuaskan bagi mereka yang biasa berpikir sederhana tentang kehidupan, dan cenderung menilai refleksi filosofis yang sangat kompleks dan rumit. Mengapakah kita harus sulit-sulit mencari pemikiran dengan kompleksitas sangat tinggi tentang keadilan? Bukankah lebih baik apa yang ada itu saja segera diwujudkan dalam kenyataan hidup kaum Muslimin secara tuntas? Bukankah refleksi yang lebih jauh hanya akan menimbulkan kesulitan belaka? "Kecenderungan praktis" tersebut, memang sudah kuat terasa dalam wawasan teologis kaum skolastik (mutakallimin) Muslim sejak delapan abad terakhir ini. Argumentasi seperti itu memang tampak menarik sepintas lalu. Dalam kecenderungan segera melihat hasil penerapan wawasan Islam tentang keadilan dalam hidup nyata. Apalagi dewasa ini justru bangsa-bangsa Muslim sedang dilanda masalah ketidakadilan dalam ukuran sangat massif. Demikian juga, persaingan ketat antara Islam sebagai sebuah paham tentang kehidupan, terlepas dari hakikatnya sebagai ideologi atau bukan, dan paham-paham besar lain di dunia ini, terutama ideologi-ideologi besar seperti Sosialisme, Komunisme, Nasionalisme dan Liberalisme. Namun, sebenarnya kecenderungan serba praktis seperti itu adalah sebuah pelarian yang tidak akan menyelesaikan masalah. Reduksi sebuah kerumitan menjadi masalah yang disederhanakan, justru akan menambah parah keadaan. Kaum Muslim akan semakin menjauhi keharusan mencari pemecahan yang hakiki dan berdayaguna penuh untuk jangka panjang, dan merasa puas dengan "pemecahan" sementara yang tidak akan berdayaguna efektif dalam jangka panjang. Ketika Marxisme dihadapkan kepada masalah penjagaan hak-hak perolehan warga masyarakat, dan dihadapkan demikian kuatnya wewenang masyarakat untuk memiliki alat-alat produksi, pembahasan masalah itu oleh pemikir Komunis diabaikan, dengan menekankan slogan "demokrasi sosial" sebagai pemecahan praktis yang menyederhanakan masalah. Memang berdayaguna besar dalam jangka pendek, terbukti dengan kemauan mendirikan negara-negara Komunis dalam kurun waktu enam dasawarsa terakhir ini. Namun, "pemecahan masalah" seperti itu ternyata

membawa hasil buruk, terbukti dengan "di bongkar pasangnya" Komunisme dewasa ini oleh para pemimpin mereka sendiri di mana-mana. Rendahnya produktivitas individual sebagai akibat langsung dari hilangnya kebebasan individual warga masyarakat yang sudah berwatak kronis, akhirnya memaksa parta-partai Komunis untuk melakukan perombakan total seperti diakibatkan oleh perestroika dan glasnost di Uni Soviet beberapa waktu lalu. Tilikan atas pengalaman orang lain itu mengharuskan kita untuk juga meninjau masalah keadilan dalam pandangan Islam secara lebih cermat dan mendasar. Kalaupun ada persoalan, bahkan yang paling rumit sekalipun, haruslah diangkat ke permukaan dan selanjutnya dijadikan bahan kajian mendalam untuk pengembangan wawasan kemasyarakatan Islam yang lebih relevan dengan perkembangan kehidupan umat manusia di masa-masa mendatang. Berbagai masalah dasar yang sama akan dihadapi juga oleh paham yang dikembangkan Islam, juga akan dihadapkan kepada nasib yang sama dengan yang menentang Komunisme, jika tidak dari sekarang dirumuskan pengembangannya secara baik dan tuntas, bukankah hanya melalui jalan pintas belaka. Pembahasan berikut akan mencoba mengenal (itemize) beberapa aspek yang harus dijawab oleh Islam tentang wawasan keadilan sebagaimana tertuang dalam al-Qur'an. Pertama-tama akan dicoba untuk mengenal wawasan yang ada, kemudian dicoba pula untuk menghadapkannya kepada keadaan dan kebutuhan nyata yang sedang dihadapi umat manusia. Jika dengan cara ini lalu menjadi jelas hal-hal pokok dan sosok kasar dari apa yang harus dilakukan selanjutnya, tercapailah sudah apa yang dikandung dalam hati. PENGERTIAN KEADILAN Al-Qur'an menggunakan pengertian yang berbeda-beda bagi kata atau istilah yang bersangkut-paut dengan keadilan. Bahkan kata yang digunakan untuk menampilkan sisi atau wawasan keadilan juga tidak selalu berasal dari akar kata 'adl. Kata-kata sinonim seperti qisth, hukm dan sebagainya digunakan oleh al-Qur'an dalam pengertian keadilan. Sedangkan kata 'adl dalam berbagai bentuk konjugatifnya bisa saja kehilangan kaitannya yang langsung dengan sisi keadilan itu (ta'dilu, dalam arti mempersekutukan Tuhan dan 'adl dalam arti tebusan). Kalau dikatagorikan, ada beberapa pengertian yang berkaitan dengan keadilan dalam al-Qur'an dari akar kata 'adl itu, yaitu sesuatu yang benar, sikap yang tidak memihak, penjagaan hak-hak seseorang dan cara yang tepat dalam mengambil keputusan ("Hendaknya kalian menghukumi atau mengambil keputusan atas dasar keadilan"). Secara keseluruhan, pengertian-pengertian di atas terkait langsung dengan sisi keadilan, yaitu sebagai penjabaran bentuk-bentuk keadilan dalam kehidupan. Dari terkaitnya beberapa pengertian kata 'adl dengan wawasan atau sisi keadilan secara langsung itu saja, sudah tampak dengan jelas betapa porsi "warna keadilan" mendapat tempat dalam al-Qur'an, sehingga dapat dimengerti sikap kelompok Mu'tazilah dan Syi'ah untuk menempatkan keadilan ('adalah) sebagai salah satu dari lima prinsip utama al-Mabdi al-Khamsah.) dalam keyakinan atau akidah mereka. Kesimpulan di atas juga diperkuat dengan pengertian dan dorongan al-Qur'an agar manusia memenuhi janji, tugas dan amanat yang dipikulnya, melindungi yang menderita, lemah dan

kekurangan, merasakan solidaritas secara konkrit dengan sesama warga masyarakat, jujur dalam bersikap, dan seterusnya. Hal-hal yang ditentukan sebagai capaian yang harus diraih kaum Muslim itu menunjukkan orientasi yang sangat kuat akar keadilan dalam al-Qur'an. Demikian pula, wawasan keadilan itu tidak hanya dibatasi hanya pada lingkup mikro dari kehidupan warga masyarakat secara perorangan, melainkan juga lingkup makro kehidupan masyarakat itu sendiri. Sikap adil tidak hanya dituntut bagi kaum Muslim saja tetapi juga mereka yang beragama lain. Itupun tidak hanya dibatasi sikap adil dalam urusan-urusan mereka belaka, melainkan juga dalam kebebasan mereka untuk mempertahankan keyakinan dan melaksanakan ajaran agama masing-masing. Yang cukup menarik adalah dituangkannya kaitan langsung antara wawasan atau sisi keadilan oleh al-Qur'an dengan upaya peningkatan kesejahteraan dan peningkatan taraf hidup warga masyarakat, terutama mereka yang menderita dan lemah posisinya dalam percaturan masyarakat, seperti yatim-piatu, kaum muskin, janda, wanita hamil atau yang baru saja mengalami perceraian. Juga sanak keluarga (dzawil qurba) yang memerlukan pertolongan sebagai pengejawantahan keadilan. Orientasi sekian banyak "wajah keadilan" dalam wujud konkrit itu ada yang berwatak karikatif maupun yang mengacu kepada transformasi sosial, dan dengan demikian sedikit banyak berwatak straktural. Fase terpenting dari wawasan keadilan yang dibawakan al-Qur'an itu adalah sifatnya sebagai perintah agama, bukan sekedar sebagai acuan etis atau dorongan moral belaka. Pelaksanaannya merupakan pemenuhan kewajiban agama, dan dengan demikian akan diperhitungkan dalam amal perbuatan seorang Muslim di hari perhitungan (yaum al-hisab) kelak. Dengan demikian, wawasan keadilan dalam al-Qur'an mudah sekali diterima sebagai sesuatu yang ideologis, sebagaimana terbukti dari revolusi yang dibawakan Ayatullah Khomeini di Iran. Sudah tentu dengan segenap bahaya-bahaya yang ditimbulkannya, karena ternyata dalam sejarah, keadilan ideologis cenderung membuahkan tirani yang mengingkari keadilan itu Sebab kenyataan penting juga harus dikemukakan dalam hal ini, bahwa sifat dasar wawasan keadilan yang dikembangkan al-Qur'an ternyata bercorak mekanistik, kurang bercorak reflektif. Ini mungkin karena "warna" dari bentuk konkrit wawasan keadilan itu adalah "warna" hukum agama, sesuatu yang katakanlah legal-formalistik. PERMASALAHAN Mengingat sifat dasar wawasan keadilan yang legal-formalistik dalam al-Qur'an itu, secara langsung kita dapat melihat adanya dua buah persoalan utama yaitu keterbatasan visi yang dimiliki wawasan keadilan itu sendiri, dan bentuk penuangannya yang terasa "sangat berbalasan" (talionis, kompensatoris). Keterbatasan visi itu tampak dari kenyataan, bahwa kalau suatu bentuk tindakan telah dilakukan, terpenuhilah sudah kewajiban berbuat adil, walaupun dalam sisi-sisi yang lain justru wawasan keadilan itu dilanggar. Dapat dikemukakan sebagai contoh, umpamanya, seorang suami telah "bertindak adil" jika "berbuat adil" dengan menjaga ketepatan bagian menggilir dan memberikan nafkah antara dua orang isteri, tanpa mempersoalkan apakah memiliki dua orang isteri itu sendiri adalah sebuah tindakan yang adil. Dengan demikian, pemenuhan tuntutan

keadilan yang seharusnya berwajah utuh, lalu menjadi sangat parsial dan tergantung kepada pelaksanaan di satu sisinya belaka. Warna kompensatoris dari wawasan keadilan yang dibawakan al-Qur'an itu juga terlihat dalam sederhananya perumusan apa yang dinamakan keadilan itu sendiri. Wanita yang diceraikan dalam keadaan hamil berhak memperoleh santunan hingga ia melahirkan anak yang dikandungnya, cukup dengan jumlah tertentu berupa uang atau bahan makanan. Sangat terasa watak berbalasan dari "pemenuhan keadilan" yang berbentuk seperti ini, karena ada "pertukaran jasa" antara mengandung anak (bagi suami) dan memberikan santunan material (bagi isteri). Dari pengamatan akan kedua hal di atas lalu menjadi jelas, bahwa permasalahan utama bagi wawasan keadilan dalam pandangan al-Qur'an itu masih memerlukan pengembangan lebih jauh, apalagi jika dikaitkan dengan perkembangan wawasa keadilan dalam kehidupan itu sendiri. Sampai sejauh manakah dapat dikembangkan wawasan demokrasi yang utuh bila dipandang dari sudut wawasan keadilan yang dimiliki al-Qur'an itu? Dapatkah kepada kelompok demokrasi yang utuh bila dipandang dari sudut wawasan keadilan yang dimiliki al-Qur'an itu? Dapatkah kepada kelompok minoritas agama diberikan hak yang sama untuk memegang tampuk kekuasaan? Dapatkah wawasan keadilan itu menampung kebutuhan akan persamaan derajat agama dikesampingkan oleh kebutuhan akan hukum yang mencerminkan kebutuhan akan persamaan perlakuan hukum secara mutlak bagi semua warga negara tanpa melihat asal-usul agama, etnis, bahasa dan budayanya? Dapatkah dikembangkan sikap untuk membatasi hak milik pribadi demi meratakan pemilikan sarana produksi dan konsumsi guna tegaknya demokrasi ekonomi? Deretan pertanyaan fundamental, yang jawaban-jawabannya akan menentukan mampukah atau tidak wawasan keadilan yang terkandung dalam al-Qur'an memenuhi kebutuhan sebuah masyarakat modern di masa datang. Diperlukan kajian-kajian lebih lanjut tentang peta permasalahan seperti dikemukakan di atas, namun jelas sekali bahwa visi keadilan yang ada dalam al-Qur'an dewasa ini harus direntang sedemikian jauh, kalau diinginkan relevansi berjangka panjang dari wawasan itu sendiri. Jelas, masalahnya lalu menjadi rumit dan memerlukan refleksi filosofis, di samping kejujuran intelektual yang tinggi untuk merampungkannya secara kolektif. Masalahnya, masih punyakah umat Islam kejujuran intelektual seperti itu, atau memang sudah tercebur semuanya dalam pelarian sloganistik dan "kerangka operasionalisasi" serba terbatas, sebagai pelarian yang manis? -------------------------------------------Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah Editor: Budhy Munawar-Rachman Penerbit Yayasan Paramadina Jln. Metro Pondok Indah Pondok Indah Plaza I Kav. UA 20-21 Jakarta Selatan Telp. (021) 7501969, 7501983, 7507173 Fax. (021) 7507174 Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan

ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota
Please direct any suggestion to Media Team

Artikel Yayasan Paramadina
Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota I.1. PERSOALAN PENAFSIRAN METAFORIS ATAS FAKTA-FAKTA TEKSTUAL oleh M. Quraish Shihab (1/2) Dalam kamus linguistik, "metafora" (metaphor) berarti pemakaian suatu kata atau ungkapan untuk suatu obyek atau konsep, berdasarkan kias atau persamaan." (1) Itu berarti suatu kosakata atau susunan kata yang pada mulanya digunakan untuk makna tertentu (secara literal atau harfiah) dialihkan kepada makna lain. Dalam disiplin ilmu al-Qur'an pengalihan arti itu disebut ta'wil, atau oleh ulama-ulama sesudah abad ke 3 H., diartikan sebagai "mengalihkan arti suatu kata atau kalimat dari makna asalnya yang hakiki ke makna lain berdasarkan indikator-indikator atau argumentasi-argumentasi yang menyertainya." (2) Salah satu cabang disiplin ilmu bahasa Arab yaitu ilmu al-bayan menggunakan istilah majaz untuk maksud di atas. Tak dapat disangkal, setiap bahasa mengenal kata atau ungkapan yang bersifat metaforis, termasuk bahasa yang digunakan al-Qur'an. Tapi bagaimana dengan al-Qur'an yang redaksi-redaksinya merupakan susunan Ilahi? Apakah mengenal pula metafora? Al-Qur'an menegaskan, Ia turun dalam bahasa Arab. Kosakata yang digunakan umumnya digunakan pula oleh masyarakat Arab pada masa turunnya, tapi gaya susunannya yang bukan prosa dan bukan pula puisi, serta keindahan nada yang dihasilkannya menjadikan pakar-pakar bahasa Arab ketika itu mengakui, mereka tak mampu menyusun semacam redaksi ayat-ayatnya. Hal ini memberi petunjuk atau kesan bahasa al-Qur'an berbeda dengan bahasa yang digunakan ketika itu. Tapi di sisi lain, para ahli dalam rangka memahami al-Qur'an menelusuri dan mempelajari penggunaan kosakata dan ungkapan-ungkapan yang digunakan khususnya oleh suku-suku Qais, Tamim dan Asad karena mereka dinilai masih bertahan dengan bahasa Arab asli. Mereka oleh pakar-pakar budaya dan bahasa dinilai belum atau tak tersentuh oleh akulturasi budaya atau bahasa. Berbeda dengan suku-suku Arab lain nya yang bertetangga dengan daerah-daerah yang tak berbahasa Arab ketika itu seperti, Lakhem dan Juzaam yang bertetangga dengan penduduk Coptik di Mesir atau Gassaan dan Qudha'ah yang bertetangga dengan penduduk Syam yang berbahasa Ibrani. Atau suku Abdi al-qais dan Azad, penduduk Bahrain (Emirat Arab) yang bergaul dengan orang-orang India dan Persia. Bahkan para pakar bahasa tersebut --tak merujuk dalam rangka memahami kosakata atau ungkapan-ungkapan al-Qur'an-- pada penduduk kota-kota Hijaz sekali pun, karena mereka menilai bahwa pergaulan mereka relatif luas sehingga mengakibatkan bahasa mereka tak "asli" lagi. Isi yang dikemukakan di atas, menjadi bukti bahwa pemahaman

al-Qur'an tak terlepas dari pemahaman kosakata atau ungkapan yang digunakan orang-orang Arab pada masa turunnya; dan apabila terbukti mereka menggunakan metafora dalam percakapan mereka maka tentunya dalam al-Qur'an hal yang demikian pasti ditemukan, karena ia diturunkan dengan bahasa Arab, agar dapat mereka pahami (QS. Fushshilat: 3). Penelitian-penelitian yang dilakukan pakar-pakar bahasa, seringkali menimbulkan perbedaan-perbedaan di antara mereka, khususnya ulama-ulama Kufah versus ulama-ulama Bashrah. Ini berarti sebagian hasil-hasil yang mereka peroleh belum mendapat kesepakatan semua pihak, yang berakibat membawa sebagian ulama pada sikap hati-hati dalam menolak pemahaman metaforis bagi teks-teks keagamaan. Paling tidak, jika tak memahaminya secara literal, mereka menyerahkan pengertian sekian banyak kosakata atau ungkapan al-Qur'an kepada Allah swt. Sikap semacam ini tentunya tak memuaskan banyak pihak dan dari hari ke hari pembahasan masalah-masalah metaforis dalam teks-teks keagamaan tumbuh dengan pesatnya. Agaknya al-Jahiz (w. 255 H/868 M) merupakan tokoh pertama yang menghasilkan pemikiran-pemikiran jernih menyangkut masalah tersebut. Walaupun harus diakni bahwa kitab tafsir pertama, karya Abu Ubaidah Mu'ammar bin Al-Mustana (w. 209 H) bernama Majazat al-Qur'an. Namun nama ini tak berkaitan dengan pengertian majaz atau metafora yang dimaksud di sini. Tokoh al-Mahiz adalah seorang penganut aliran rasional dalam bidang teologi (Mu'tazilah) dan dengan penafsiran-penafsirannya ia telah mampu menyelesaikan sekian banyak problema pemahaman keagamaan yang tadinya dihadapi sekian banyak ulama. Imam Malik (w. 795 M) misalnya, enggan membenarkan redaksi "langit menurunkan hujan," karena berkeyakinan bahwa yang menurunkan hujan adalah Allah swt. (3) Demikian juga ketika beliau ditanya tentang pengertian Firman Allah dalam QS. Thaha: 5, "Tuhan yang maha pemurah bersemayam di atas Arasy." Malik menjawab: Pertanyaan semacam ini merupakan bid'ah" (tercela dalam pandangan agama). Bahkan sebagaimana ditulis al-Jahiz dalam bukunya al-Hayawan (4) ada orang-orang yang menduga bahwa batu merupakan makhluk berakal, berdasarkan Firman Allah dalam QS. al-Baqarah: 74 "... dan diantaranya (diantara batu) sungguh ada yang meluncur karena takut kepada Allah ...," sebagaimana ada yang menduga bahwa ada nabi-nabi untuk lebah-lebah berdasarkan QS. al-Nahl: 68, "Dan Tuhanmu mewahyukan kepada lebah." Kemudian mereka berpaham demikian merangkai hikayat-hikayat yang tak mempunyai dasar sedikitpun. Al-Jahiz yang sangat rasional dan ahli dalam bidang kebahasaan itu membantah pendapat-pendapat semacam itu dengan menunjuk pada penggunaan kosakata atau ungkapan yang sama dan yang pernah digunakan orang-orang Arab menjelang dan pada masa turunnya al-Qur'an. Ibnu Qutaibah (w. 276 H/889 M), murid al-Jahid walau pun bukan penganut aliran Muitazilah bahkan dinilai sebagai "juru bicara Ahl-u'l-Sunnah" (5) melanjutkan dan mengembangkan usaha-usaha gurunya dalam memahami teks-teks keagamaan dengan berbagai

motif yang berkembang dengan sangat pesat; dan tentu menggunakan segala cara dan argumentasi, baik logika maupun kebahasaan. Mereka yang menolak pemahaman metaforis dalam teks-teks keagamaan, paling tidak menggunakan dua argumentasi berikut, pertama, Metafora sama dengan kebohongan, sedangkan al-Qur'an adalah firman-firman Allah yang suci dari hal tertentu. Kedua, Seorang pembicara tak menggunakan metafora kecuali jika ia tak mampu menemukan kosakata atau ungkapan yang bersifat hakiki, dan tentunya harus diyakini bahwa Allah maha mampu atas segala sesuatu. Kedua argumentasi di atas jelas sekali kekeliruannya, sehingga berbagai ahli menolaknya. Ibnu Qutaibah menolak dengan menyatakan, "Seandainya metafora atau majaz dinilai kebohongan, maka alangkah banyaknya ucapan-ucapan kita merupakan kebohongan." (6) Al-Sayuthi (w. 911 H/1505 M) menulis dalam bukunya al-Itqan, "Metafora adalah unsur keindahan bahasa dan jika ia ditolak keberadaannya dalam al-Qur'an, maka tentunya sebahagian unsur keindahan pun tak akan ada padanya." (7) Sebagaimana telah dikemukakan pada awal uraian metafora dalam istilah ilmu bahasa Arab dinamai majaz, atau dalam istilah ilmu-ilmu al-Qur'an disebut ta'wil. Majaz menurut kaidah kebahasaan dapat dilakukan akibat adanya satu dari dua hal berikut, pertama, terdapat persamaan antara makna yang dikandung kosakata atau ungkapan dalam arti literalnya dengan makna yang dikandung oleh pengertian metaforis yang ditetapkan. Kedua, adanya perkaitan atau hubungan antara dua hal dalam ungkapan, sehingga mengakibatkan terjadinya penisbahan satu kalimat kepada sesuatu yang seharusnya bukan kepadanya. Ia dinisbahkan, misalnya "langit menurunkan hujan." Di sini terdapat perkaitan antara langit dan hujan, karena langit atau awan adalah sumber kedatangannya dan dengan demikian kepadanya ia dinisbahkan. Disepakati oleh mereka yang berpendapat adanya metafora, bahwa dibutuhkan dukungan petunjuk atau argumen guna mengalihkan satu makna hakiki ke makna metaforis. Tanpa adanya petunjuk maka penta'wilan tak dapat dilakukan. Tapi bagaimana bentuk petunjuk atau argumen tersebut, diperselisihkan mereka. Pertama, Kelompok yang dikenal dengan "al-Dhahiriyah" yaitu pengikut-pengikut Daud al-Dhahiri (w. 270 H) tak membenarkan adanya penta'wilan atau pengertian metaforis dalam teks-teks keagamaan, kecuali bila pengertian yang ditetapkan itu telah populer di kalangan orang-orang Arab pada masa turunnya al-Qur'an, serta terdapat petunjuk yang jelas yang mendukung pengalihan makna atau penta'wilan tersebut. (8) Ibnu Hazem (w. 456 H/1064 M) menegaskan,"Selama arti yang dipilih bagi satu kosakata atau ungkapan telah dikenal di kalangan sahabat dan Tabi'in dan sejalan pula dengan bahasaArab klasik, maka arti tersebut harus diterima baik dalam pengertian majaz, maupun hakiki." (9) Hanya perlu dicatat, satu kosakata atau ungkapan, tak dialihkan ke makna metaforis kecuali setelah makna hakiki tak dapat digunakan. Kedua, al-Syathibi penta'wilan ayat-ayat mengemukakan dua syarat al-Qur'an" (10) Pertama, pokok makna bagi yang

dipilih sesuai dengan hakikat kebenaran yang diakui oleh mereka yang memiliki otoritas dalam bidangnya. Tidak tepat kata al-Syathibi, memahami kata khalila dalam QS. al-Nisa' 125: Allah menjadikan Ibrahim khalila sebagai seorang "fakir" karena pengertian tersebut bertentangan dengan nash al-Qur'an yang lain, yaitu bahwa "ia (Ibrahim) menjamu tamunya dengan daging anak sapi yang dipanggang" (QS. Hud:69), yang menunjukkan beliau bukan seorang fakir; di samping bahwa kenyatann sejarah membuktikan bahwa Ibrahim as. bukan seorang fakir. Kedua, arti yang dipilih tersebut telah dikenal oleh bahasa-bahasa Arab klasik. Dalam syarat ini terbaca bahwa syarat "popularitas" artinya kosakata tak disinggung lagi, bahkan lebih jauh al-Syathibi menegaskan bahwa satu kosakata yang bersifat ambigu atau musytarak (mempunyai lebih dari satu makna), maka kesemua maknanya dapat digunakan bagi pengertian teks tersebut selama tak bertentangan satu dengan lainnya. Contoh kata "hidup" dan "mati." Al-Qur'an menggunakan kata "hidup" dalam arti berpisahnya Ruh dari badan dan juga dalam arti "kosongnya jiwa dari nilai-nilai agama." Firman Allah dalam QS. al-Rum 19, "Dia Allah mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup" dapat diartikan dengan salah satu atau dengan kedua arti tersebut di atas, demikian pula sebaliknya kata mati. Dalam hal ini tentunya kita tak dapat menyalahkan mereka yang memahami Firman Allah dalam QS. al-Baqarah 243, "Apakah kamu tak mengetahui orang-orang yang keluar dari kampung halaman mereka yang jumlah mereka beribu-ribu (keluar) karena takut mati, maka Allah berfirman kepada mereka 'matilah kamu,' kemudian Allah menghidupkan mereka, sesungguhnya Allah mempunyai karunia terhadap manusia tetapi kebanyakan manusia tak bersyukur." -------------------------------------------Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah Editor: Budhy Munawar-Rachman Penerbit Yayasan Paramadina Jln. Metro Pondok Indah Pondok Indah Plaza I Kav. UA 20-21 Jakarta Selatan Telp. (021) 7501969, 7501983, 7507173 Fax. (021) 7507174 (bersambung 2/2)

Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang YayasanISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota
Please direct any suggestion to Media Team

Artikel Yayasan Paramadina
Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota I.1. PERSOALAN PENAFSIRAN METAFORIS ATAS FAKTA-FAKTA TEKSTUAL oleh M. Quraish Shihab (2/2) Kita tak mempermasalahkan walaupun seandainya kita tak

sependapat dengan orang-orang yang memahami kata "matilah kamu" dan "Allah menghidupkan mereka" dalam pengertian "kematian semangat jihad mereka" kemudian "kehidupan" semangat jihad tersebut sehingga kembali ke kampung halaman mereka untuk mengusir orang yang selama itu menganiaya mereka. bahwa malaikat merupakan makhluk ghaib yang tak dapat diketahui hakikatnya namun harus dipercaya wujudnya. Yang demikian itu menurut Abduh dinamai. tetapi penyampaian Tuhan kepada malaikat tentang rencana-Nya menciptakan khalifah di bumi. dalam istilah agama dengan "malaikat. Ketiga. Pengajaran Tuhan kepada Adam tentang nama benda-benda. demikian pula sebaliknya hal tersebut tak diingkari oleh seseorang yang . seperti menumbuhkan tumbuh-tumbuhan memelihara manusia dan sebagainya. dipahami Abduh sebagai gambaran tentang potensi dalam diri manusia untuk melakukan kejahatan. Hal ini tak dapat diingkari siapa pun yang berakal walau pun mereka tak beriman atau mengingkari bahwa hal tersebut dinamai malaikat. Demikian pula halnya dengan manusia dan binatang. menandakan kelemahan manusia dan ketakmampuannya menghilangkan bisikan-bisikan negatif yang mengantar kepada perselisihan. Pertanyaan malaikat kepada Tuhan tentang khalifah yang dapat merusak dan menumpahkan darah." Hal ini menurut Abduh. Sujudnya Malaikat kepada Adam. Satu hal yang pasti. pada surah al-Baqarah 30 dan seterusnya. Keengganan Iblis sujud." mengemukakan dua pendapat. menunjukkan kemampuan manusia memanfaatkan hukum-hukum alam. adalah bahwa "malaikat merupakan makhluk-makhluk Allah yang bertugas dalam pekerjaan-pekerjaan tertentu. Muhammad Abduh (w. maka yang digunakan adalah riwayat-riwayat yang sangat lemah atau dibuat-buat. bahwa hakikat setiap ciptaan terdapat sesuatu yang menjadi sumber ketergantungannya serta sistem wujudnya. Abduh ketika menguraikan tentang "malaikat. Sedang pendapat yang kedua. adalah pertanda kesiapan bumi untuk menyambut satu makhluk yang dapat mengolahnya sehingga tercapai kesempurnaan hidup di dunia. adalah isyarat yang lebih jelas dari satu redaksi tentang satu ciri tertentu bahwa pertumbuhan dalam tumbuh-tumbuhan terjadi tak lain kecuali dengan adanya Ruh yang dihembuskan Allah Swt ke dalam benihnya. Sementara penganut-penganut aliran Rasional dinilai sementara ahli melakukan ta'wil dengan menitik beratkan tolok ukurnya pada akal mereka dan kalau pun menggunakan argumentasi kebahasaan. difahaminya atas dasar tamsil. perpecahan. menunjukkan keterbatasan hukum-hukum alam. kata Abduh selanjutnya. Pertama. Mereka juga dinilai sangat memperluas penggunaan metafora dengan menggunakan pemahaman tamsil atau perumpamaan bagi ayat-ayat al-Qur'an. "Bagi mereka yang tak mengindahkan penamaan yang ditetapkan agama. agresi dan permusuhan di muka bumi ini. 1906 M) dinilai sebagai salah seorang tokoh penganut aliran ini. sehingga dengan demikian terjadilah kehidupan bagi tumbuhan tersebut." Selanjutnya Abduh menulis. Pemaparan pertanyaan kepada malaikat dan ketakmampuan mereka menjawab. hal tersebut mereka namakan natural power karena mereka tak mengenal dalam kehidupan ini kecuali apa yang tampak dan atau yang tampak bekasnya dalam alam nyata. adalah gambaran tentang potensi manusia mengetahui serta mengolah dan mengambil manfaat segala yang terdapat di bumi ini. (11) sehingga tak ada dialog sebagaimana tersurat. Ayat-ayat yang menguraikan kisah kejadian Adam as.

dirasakan oleh mereka yang mengamati dirinya. bukannya Daud." Demikian antara lain penta'wilan yang dilakukan Muhammad Abduh. sedang terdapat ayat yang lain yang menegaskan bahwa: "Langit yang tujuh. Karena kalau hal tersebut harus dipaksakan maka tak jarang ditemukan pemahaman-pemahaman yang tak hanya bertentangan dengan kaidah-kaidah kebahasaan tetapi juga bertentangan dengan hakikat keagamaan." demikian halnya sehingga pada akhirnya menanglah salah satu pilihan. namun hal ini bila diturutkan tanpa batas yang jelas. seakan-akan apa yang terlintas dalam pikirannya itu sedang diajukan ke suatu sidang Majelis Permusyawaratan yang ini menerima dan yang itu menolak.beriman walaupun ia mengingkari "natural power" atau hukum alam. "Dan sesungguhnya Kami telah anugerahkan kepada Daud karunia dari Kami. sebagaimana ditemukan kemudian dalam perkembangan pemikiran selanjutnya. dapat mengantar pada pengingkaran hal-hal yang bersifat supra-rasional. bumi dan semua yang ada di dalammya bertasbih ." (12) Pendapat di atas dinilai sementara ulama tak sejalan dengan teks ayat di mana yang diperintahkan adalah gunung-gunung. Proses demikian yang terdapat dalam jiwa setiap manusia. (Kami berfirman) Hai gunung-gunung bertasbihlah berulang-ulang bersama Daud. dengan jalan pandangan yang diarahkan Daud kepada keajaiban tersebut berfungsi mengingatkan sebagaimana seseorang mengingatkan yang lain. yang ini berkata "Kerjakanlah" dan yang itu "Jangan. Tidak demikian! Apa yang dikemukakan di atas hanya berarti bahwa bila suatu redaksi sudah cukup jelas serta penafsirannya tak bertentangan dengan akal. maka redaksi tersebut tak harus dita'wilkan lagi dengan memaksakan suatu penafsiran yang dianggap logis sehingga dipahami akal. bahwa dalam batinnya terjadi pergolakan. Dan yang lebih penting lagi bahwa Mufassir al-Maraghi telah berusaha memahami hakikat tasbih gunung. atau membanding-bandingkan pikiran dan kehendaknya yang mempunyai dua sisi baik dan buruk. Tapi tentunya ini bukan pula berarti kita menerima begitu saja penafsiran-penafsiran yang tak logis. Ahmad Musthafa al-Maraghi salah seorang penganut aliran Abduh menulis dalam tafsirnya menyangkut ayat 10 surah Saba'. walaupun belum dipahaminya. tak mustahil dinamai Allah atau dinamai penyebab hal tersebut sebagai "malaikat. yang kemudian diikuti oleh tak sedikit dari ulama-ulama sesudah masa beliau." Al-Maraghi menulis bahwa pengertian ayat tersebut adalah bahwa "gunung mengantar Daud bertasbih mensucikan Allah. penamaan tersebut dengan Muhammad Abduh menambahkan. Kita dapat memahami motivasi Muhammad Abduh dan penganut-penganut alirannya dalam menggunakan akal seluas-luasnya ketika memahami teks-teks keagamaan sehingga merasionalkan ajaran-ajaran agama sambil mempersempit sedapat mungkin wilayah ghaib. sejarah kemanusiaan dan hal-hal ghaib berarti menggunakan sesuatu yang terbatas terhadap perbuatan-perbuatan Tuhan (zat yang tak terbatas itu). Menggunakan akal sebagai tolok ukur satu-satunya dalam memahami teks-teks keagamaan khususnya tentang peristiwa-peristiwa alam.

kepada Allah dan tak sesuatu pun melainkan bertasbih memujiNya. al-Tafsir Wa 'l-Mufassirun. Kedua. Dr. Di sisi lain bahasa Arab tak menganggap wujud janin sebagai wujud yang penuh. Kamus linguistik. Penta'wilan yang parah adalah yang semata-mata mengandalkan penalaran akal seseorang dengan mengabaikan pertimbanganpertimbangan kebahasaan. Pertama. Muhammad Husen al-Zahaby. Ketiga. sebagaimana dipahami oleh Mustafa Mahmud." QS. Terbukti bahwa anak kecil tak merasakan hal tersebut. diedit oleh Abdulghani Hasan. h. Cairo. Jilid 1. Jika apa yang digambarkan tentang pendapat al-Maragi di atas tak disetujui. h. Redaksi Firman Allah sebelum mereka mendekati pohon tersebut adalah dalam bentuk dual ("Janganlah kamu berdua mendekati pohon ini. tapi kamu sekalian tak mengetahui (hakikat) tasbih mereka. walau sekedar menyebutnya. 1963. Muhammad . (medis) Mustafa Mahmud memahami larangan Tuhan pada Adam dan Hawa "mendekati pohon" sebagai larangan mengadakan "hubungan sexual. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penyantun lagi Maha Pengampun" (QS. tetap harus diakni bahwa pendapat tersebut dari sisi kebahasaan memiliki alasan-alasannya. Kedua. 106. 11. CATATAN 1. Pertama. Perasaan malu akibat terlihatnya alat kelamin hanya dialami oleh mereka yang telah mengadakan hubungan sexual. sebahagian kamu menjadi musuh bagi yang lain" (Q. h. Mesir. karena itu wanita hamil akan tetap diperlakukan oleh bahasa sebagai wujud tunggal. 18. tetapi setelah mereka mendekatinya (memakan buah terlarang) redaksi ayat berbentuk plural atau jama' "Turunlah kamu. Ketika mereka (Adam dan Hawa) telah memakan (buah) pohon tersebut (mengadakan hubungan sex) mereka tanpa busana dan berusaha menutupi auratnya dengan daun-daun surga. 3. al-Baqarah: 36). ayat al-Qur'an menggambarkan bahwa keadaan tanpa busana terjadi setelah atau akibat dari memakan buah pohon terlarang bukan sebelumnya. (13) Apa yang dikemukakan di atas hemat kita bertentangan dengan teks ayat-ayat al-Qur'an serta kaidah-kaidah kebahasaan. juga penguasaan bahasa Arab. Al-Halaby. Mustafa Mahmud. Jakarta 1983. ketika itu mereka merasa malu. berbeda dengan orang dewasa yang merasa malu. al-Isra' 44). Dar al-Kutub al-Haditsah. membutuhkan. Harimurti Kridalaksana. Kosakata "pohon" dita'wilkan atau dipahami secara metaforis tanpa ada argumentasi pendukung. Contoh yang dikemukakan di atas menunjukkan betapa pemahaman ayat-ayat al-Qur'an. Hal ini menunjukkan bahwa ketika itu mereka yang tadinya hanya berdua (Adam dan Hawa) kini telah menjadi lebih dari dua orang dengan adanya janin yang dikandung oleh Hawa setelah hubungan sex tersebut. al-Baqarah: 35). Talkhis al-Bayan. 2. apalagi penta'wilan ayat-ayatnya. 1955. tak sebagaimana dipahami oleh dr. dan anehnya "daun-daun surga" difahami secara hakiki. di samping nalar. Syarid Al-Radhy.S. Gramedia." Bukti yang dijadikan dasar pertimbangannya adalah.

(021) 7507174 Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota Please direct any suggestion to Media Team Artikel Yayasan Paramadina Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota I. th. Jilid. Cairo 1964 M. al-Itqan. Majma' al-Buhuts. 5. 56. Metode pemahaman serupa itu (ta'wil) telah muncul sejak masa-masa dini sejarah Islam (jika tidak malah sejak masa Rasul Allah saw. sebagaimana . 1971. diedit oleh Abdussalam Harun. Khathawat al-Tafsir Al-Bayany. 7507173 Fax. Abu Zahrah.QUR'AN oleh Nurcholish Madjid (1/2) Interpretasi metaforis atau ta'wil. al-Halaby. 36. Al-Azhar. Jilid 111. h. Beirut.261 dst. Cairo. Syathahat Musthafa Mahmud. hl. Dar Al-Fikr. Cairo. sendiri. Dar al-Itisham. 226. Ahmad Musthafa al-Maraghy. tp.2.II. diedit oleh Abdullah Darraz. UA 20-21 Jakarta Selatan Telp. 1971. 119 dst. Lihat Abu Ishaq al-Syathiby.4. Lihat lebih jauh Abdul Muta'al Muhammad al-Jabri. 1318 H. Ibnu Hazem Hayatuha Wa Ashruhu. Cit. tapi pada "makna dalam" (bathin. 10. -------------------------------------------Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah Editor: Budhy Munawar-Rachman Penerbit Yayasan Paramadina Jln. 128. Dr. ialah pemahaman atau pemberian pengertian atas fakta-fakta tekstual dari sumber-sumber suci (al-Qur'an dan al-Sunnah) sedemikian rupa. Metro Pondok Indah Pondok Indah Plaza I Kav. Juz 22. h. Cairo. Muhammad Rajab al-Bayyumy.. Tentang pendapat-pendapat Abduh lihat lebih jauh Muhammad Rasyid Ridha dalam Tafsir al-Manar. 11. Ibid. 1364 H. Op. Cairo. 7. 92. h. Jilid 1. inward meaning) yang dikandungnya. h. 9. 7501983. Tafsir Al-Maraghy. Cairo. Cairo 1367 H. sehingga yang diperlihatkan bukanlah makna lahiriyah kata-kata pada teks sumber suci itu.. 13. 99. Jilid 11. Dar al-Ma'rifah. 1967. Syarif AlRadhy. hal. al-Muwafaqat. 12. h. 6. (021) 7501969. MASALAH TA'WIL SEBAGAI METODOLOGI PENAFSIRAN AL. h. Al Sayuthi. 64. h. Lihat al-Jahiz dalam al-Hayawan. 8. Percetakan al-Manar.

mereka akan mengikuti bagian-bagian yang tersamar (mutasyabihat) daripadanya. kejadian di Iran pada penghujung dasawarsa lalu itu dalam suatu sentakan. dengan tujuan membuat fitnah (perpecahan) dan mencari ta'wil bagian-bagian tersamar itu. yang didalamnya terdapat ayat-ayat muhkamat yang merupakan induk Kitab Suci (Umm al-Kitab). semuanya dari sisi Tuhan kami.dikatakan kalangan Islam tertentu). Padahal tidak mengetahui ta'wil-nya kecuali Allah. antara lain karena revolusi mereka di Iran 1979. yakni. serta bagaimana seharusnya kita menempatkan diri dalam kancah perselisihan itu secara adil. Sikap dapat memahami persoalan berkenaan dengan perselisihan paham di kalangan umat itu semakin dirasa mendesak akhir-akhir ini. di kalangan kaum Muslim. untuk kalangan kaum Muslim. Maka salah satu manfaat yang menjadi tujuan tulisan ini ialah tumbuhnya keinsafan lebih besar tentang bibit-bibit perselisihan paham dalam Islam." Dan tidaklah akan dapat merenung (menangkap pesan) kecuali orang-orang yang berpengertian mendalam. Maka dengan menengok masalah ta'wil ini. dan ayat-ayat lain yang mutasyabihat. yaitu kesadaran tentang pluralitas Islam dan potensi yang ada di balik setiap golongan. untuk kemudian sikap yang sama itu sedapat mungkin kita bawa pada persoalan masyarakat secara keseluruhan. kita berharap dapat menempatkan diri lebih baik dalam memandang berbagai aliran dan madzhab di kalangan umat sendiri. telah melahirkan sejenis kesadaran baru di kalangan umat Islam dunia. AYAT-AYAT MUHKAMAT DAN MUTASYABIHAT Salah satu pokok perselisihan di kalangan umat Islam yang terkait erat dengan masalah ta'wil ini ialah adanya ayat-ayat suci al-Qur'an yang "bermakna jelas atau pasti" (muhkamat) dan yang "bermakna samar atau tidak pasti" (mutasyabihat. Adanya kedua jenis ayat itu. perbedaan pandangan tentang mana saja ayat-ayat suci yang muhkamat. Ada pun orang-orang yang dalam hatinya terdapat keserongan. seperti halnya dengan revolusi-revolusi lain). Dalam abad telekomunikasi mondial yang serba cepat dan luas. "Kami percaya kepada Kitab Suci itu. Lepas dari masalah revolusi itu sendiri (yang agaknya lebih baik dilihat sebagai gejala politik. Dari sekian banyak informasi itu. setiap pribadi orang modern mengalami bombardemen informasi yang seringkali menyangkut segi-segi kesadarannya yang mendalam. termasuk informasi tentang adanya berbagai kelompok dan aliran pemikiran yang beraneka ragam Terlintas dalam pikiran. kemudian perpecahan. Sedangkan orang-orang yang mendalam ilmunya maka akan menyatakan. misalnya kesadaran hampir tiba-tiba kaum Muslim Indonesia tentang adanya golongan Syi'ah dan berbagai alirannya. dan mana pula yang mutasyabihat. Karena perselisihan ini maka ada ayat-ayat suci yang bagi suatu kelompok umat Islam bersifat . disebutkan dalam Kitab Suci sendiri sebagai berikut: Dia (Tuhan) yang telah menurunkan kepada engkau (Muhammad) Kitab Suci. yang interpretable). ialah yang berkenaan dengan keadaan umat Islam sendiri di seluruh dunia. Karena itu persoalan interpretasi metaforis ini mempunyai saham cukup besar dalam timbulnya perselisihan. [1] Masalah muhkamat dan mutasyabihat itu setidak-tidaknya menimbulkan tiga jenis perbedaan pandangan: Pertama.

diperlukan disiplin dan latihan berpikir yang tinggi. perbedaan pandangan tentang boleh atau tidaknya melakukan ta'wil terhadap ayat-ayat yang mutasyabihat itu. dengan memberi penegasan bahwa Tuhan memiliki kualitas-kualitas itu "tanpa bagaimana.'. Jadi tidak dimaksudkan seperti apa adanya menurut arti lahiriah ungkapan-ungkapan itu. "tangan"." PANDANGAN PARA FILSUF Seperti dapat diduga. bagi mereka yang membolehkan interpretasi. Firman-firman berkenaan dengan surga dan neraka.lihat pembahasan di bawah). ungkapan-ungkapan kebahasaan dalam sumber-sumber ajaran agama. . disebabkan kuatnya pengakuan sebagai para pencari hakikat dan kebenaran demonstratif (yang terbuktikan secara tak terbantah). yang tak mesti menunjuk pada hakikatnya. dan ini menimbulkan problema. kata-kata berserikat). sedangkan kenyataan tidaklah seperti yang dikesankan pengertian lahir firman-firman itu. Ini membawa konsekuensi terbaginya anggota masyarakat manusia kepada kelompok-kelompok khusus (khawas. Termasuk dalam permasalahan ini ialah problema homonimi (Arab: ism musytarak. seperti kata-kata "mendengar. Maka pelukisan itu mengesankan bahwa Tuhan dan manusia "berserikat" dalam beberapa sifat dan kelengkapan." "melihat. antara lain pengetahuan yang luas dan kemampuan berpikir yang mendalam. bersifat mutasyabihat sehingga pelukisan tentang surga dan neraka itu mereka pahami sebagai metafor-metafor atau kias-kias. Kedua." dan yang kedua terdiri dari "orang-orang kebanyakan." "mengetahui. tapi bagi sebagian mereka. padahal kata-kata atau sifat-sifat itu juga dapat diberlakukan kepada makhluk. Mereka yang melakukan interpretasi (karena beranggapan bahwa Tuhan mustahil memiliki kualitas-kualitas yang sama dengan manusia) akan memandang ayat-ayat yang bersangkutan dengan itu sebagai metafor-metafor belaka. berpendapat dalam memahami ayat-ayat itu kita harus berhenti pada makna-makna seperti yang dibawakan ungkapan lahiriah lafal dan kalimatnya. Mereka yang tidak membenarkan interpretasi akan melihat firman-firman itu seperti adanya. Mereka dengan kuat memandang. misalnya. yang menurut mereka hanya diperoleh melalui pemikiran kefilsafatan. Karena interpretasi bukanlah pekerjaan yang gampang. al-khawash) dan kelompok-kelompok umum (awam. Yang pertama adalah "kaum ahli. Sebagian kelompok Islam membolehkannya. khususnya manusia. "marah. baik Kitab Suci maupun Sunnah Nabi adalah ungkapan-ungkapan metaforis atau alegoris. para filsuf adalah kalangan orang-orang Muslim yang paling banyak melakukan ta'wil. bagi kebanyakan kaum Muslim bersifat muhkamat. harus dilakukan interpretasi di balik ungkapan-ungkapan lahiriah. al-'awam)." Ketiga. maka sangat masuk akal bahwa hak untuk melakukannya harus dibatasi hanya pada lingkungan yang memenuhi syarat. masih terdapat perselisihan tentang siapa yang harus melakukan interpretasi itu. Sebagian lagi yang tidak membolehkannya." "senang"' dan lain-lain yang dalam Kitab Suci disebutkan sebagai sifat-sifat Tuhan.muhkamat. sehingga dalam memahami ayat-ayat mutasyabihat itu. Untuk dapat menangkap arti sebenarnya dari ungkapan-ungkapan itu. seperti golongan al-Bathiniyyun ("Kaum Kebatinan" . namun bagi kelompok lain bersifat mutasyabihat.

maka kalangan khawas. "Kami beriman kepada Kitab Suci itu. agar mereka berbuat baik dan meninggalkan keburukan.. sehingga filsafat pun disebut al-hikmah. para filsuf menganut teori Nabi telah melakukan "kebohongan untuk kebaikan" (al-kidzb li al-mashlahah). orang awam akan menjadi kafir jika melakukan interpretasi.Sesuai dengan makna asal katanya dalam bahasa Yunani. bahkan wajib. AL-BATHINIYYUN (KAUM KEBATINAN) .. ". Ibn Rusyd (Latin: Averroes). menggunakan metode interpretasi metaforis terhadap teks-teks keagamaan. Kadang-kadang juga disebut ahl al-burhan ("para penganut kebenaran demonstratif atau apodeiktik. metode Ibn Rusyd yang membagi manusia dalam golongan khawas dan awam itu akan melahirkan semacam elitisme dalam kehidupan beragama. ta'wil harus disimpan dan dirahasiakan untuk kalangan kaum khawas saja. [5] Sehingga sering dikatakan. yang tidak memaksudkan makna-makna lahir ungkapan-ungkapan itu. melainkan pada makna batinnya. kemudian menjadi kearifan itu sendiri. maka Ibn Rusyd berpendapat. baik dari pihak khawas maupun awam). Dan sebaliknya. Jadi bagi Ibn Rusyd firman Tuhan itu harus dibaca kaum khawas sedemikian rupa sehingga "orang-orang yang mendalam ilmunya" termasuk ke dalam yang mengetahui ta'wil ayat-ayat mutasyabihat. Spanyol. Filsuf Islam terkenal dari Cordova. mereka sebenarnya menganut teori. mereka adalah golongan khawas di kalangan umat. para filsuf sendiri. [4] Karena "pendidikan" itu ditujukan pada kalangan awam. Dengan kata lain. [3] Karena itu para filsuf rawan terhadap tuduhan. karena bertujuan kebaikan. filsafat adalah kecintaan kepada kearifan (wisdom). Nabi telah melakukan sejenis kebohongan: Mengungkapkan sesuatu tanpa memaksudkan makna lahiriah ungkapan itu. yakni kebenaran tak terbantah"). Para flsuf harus melakukan ta'wil terhadap bunyi-bunyi teks suci baik Kitab maupun Sunnah (Hadits). Yaitu dengan memindah tanda baca berhenti (waqaf:) sehingga terbaca. yakni. semuanya dari sisi Tuhan kami. Tapi "kebohongan" Nabi bukanlah kejahatan. Mereka ini berkata. Kelebihan mereka itu. jadi tertolak). Para filsuf akan menjadi kafir jika tidak melakukan interpretasi (karena bagi mereka ajaran-ajaran agama tertentu seperti surga dan neraka dalam pengertian fisik itu tidak masuk akal. tak seharusnya mengikuti cara awam dalam memahami ajaran agama. misalnya berpandangan para filsuf selaku ahl al-burhan itulah yang dimaksudkan dalam firman Ilahi (dikutip di atas) sebagai "orang-orang yang mendalam ilmunya." karena mereka ini berhak atau wajib melakukan ta'wil terhadap bunyi teks-teks suci. dan mereka berhak. [2] Jadi para filsuf dengan kata lain.. Padahal tidak mengetahui ta'wilnya kecuali Allah dan orang-orang yang mendalam ilmunya. yaitu pendidikan orang banyak atau kaum awam.. sedangkan orang awam harus menerimanya menurut apa adanya sesuai dengan bunyi dan makna lahiriah lafalnya itu. seperti yang dituduhkan Ibn Taymiyyah. memandang Nabi mengutarakan sesuatu dengan ungkapan-ungkapan metaforis dan alegoris." sebagai ganti cara baca kaum awam (lihat terjemah kutipan firman itu di atas). disebabkan sulitnya pemahaman interpretatif yang abstrak itu. yang tak terjangkau kemampuan akal mereka. Maka para filsuf Islam memandang diri mereka sebagai "penganut kearifan" (ahl al-hikmah) atau para orang arif-bijaksana (al-hukama). Adanya bahaya ini (bahaya kekafiran.

tak mampu menangkap makna batin yang sulit itu. yang dipercayai sekarang sedang bersembunyi dan akan kembali sebagai Imam Mahdi). maka makna batin itu ditujukan hanya pada orang-orang istimewa tertentu saja. kadang-kadang juga Ahl al-Bawathin (Kaum Kebatinan) digunakan secara longgar untuk mengidentifikasi kelompok-kelompok Islam yang orientasinya berat ke arah paham keagamaan yang lebih mengutamakan usaha menangkap makna dalam (bathin) dari suatu teks atau ajaran agama. Tapi mereka juga berpegang pada paham tentang adanya ajaran-ajaran esoteris (bathin) yang membentuk sistem filsafat kaum Isma'ili. sejak dari Hasan ibn 'Ali sebagai imam pertama. Dalam hal paham keimanan itu mereka berbeda dengan umumnya golongan Syi'ah Itsna 'Asy'ariyyah (Syi'ah Duabelas. Dalam gabungannya dengan semangat keagamaan mereka. semua ajaran agama (Islam) selalu mengandung makna lahir dan makna batin. khususnya Neo-Platonisme. menantu dan sahabat yang menjadi kepercayaan beliau. melalui Ja'far al-Shadiq seperti kaum Isma'ili. tapi menyimpang ke Musa al-Kadhim ibn Jafar --dan bukannya ke Muhammad ibn Isma'il-. Tapi karena orang awam. termasuk kaum Sufi. karena kepercayaan mereka pada imam-imam yang tujuh (yaitu sejak Hasan ibn 'Ali sampai Muhammad ibn Isma'il (ibn Ja'far al-Shadiq ibn Muhammad al-Baqir).kemudian berakhir dengan Muhammad al-Muntadhar. malah berbahaya bagi mereka. memberi dukungan pada usaha pembuktian bahwa lembaga imamat (keimaman) adalah langsung dari Tuhan. UA 20-21 Jakarta Selatan (bersambung 2/2) .Istilah al-Bathiniyyun. Mereka juga dinamakan kaum Syi'ah Sab'iyyah (Syi'ah Tujuh). kemenakan. terutama kaum Isma'ili. Adalah al-Bathiniyyun ini yang menjadi salah satu sasaran karya-karya polemis pemikir Sunni al-Ghazali dalam rangka usahanya menghancurkan filsafat. Metro Pondok Indah Pondok Indah Plaza I Kav. penganut aliran Isma'iliyyah. yaitu suatu pecahan aliran Syi'ah yang muncul sesudah wafat Isma'il ibn Ja'far al-Shadiq sekitar 148 H (765 M). seperti juga menjadi pandangan kaum filsuf. Oleh kaum Sunni istilah itu juga secara khusus digunakan untuk kelompok Islam tertentu. dan hanya mereka inilah yang dapat menangkap makna-makna batiniah agama. Karena itu istilah tersebut berlaku untuk hampir semua kelompok esoteris Islam. yang tersembunyi dan dirahasiakan itu hanya diberikan Nabi kepada 'Ali. Makna dan kebenaran agama. Maka hanya mereka yang memiliki kemampuan spiritual yang tinggi sajalah yang mampu mengakui peranan khusus 'Ali. para pengikut Syi'ah Isma'iliyyah ini memang banyak sekali menggunakan sumber-sumber filsafat. karena kepercayaan mereka pada imam-imam yang duabelas jumlahnya. seperti pandangan tentang kewajiban melakukan ibadat-ibadat tertentu. -------------------------------------------Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah Editor: Budhy Munawar-Rachman Penerbit Yayasan Paramadina Jln. bagi mereka. Mereka memang masih memiliki persamaan dengan orang-orang Muslim lain. khususnya kandungan al-Qur'an. Pembuktian itu diperoleh antara lain karena doktrin. Sebab dalam melakukan ta'wil terhadap fakta-fakta tekstual agama. sistem filsafat itu menyediakan penyimpangan kandungan batin ajaran-ajaran agama yang antara lain.

7501983. paham kebatinan ini juga menunjukkan tanda-tanda adanya pengarah Manicheanisme.Risalat Ikhwan al-Shafa. Mereka juga terdiri dari kaum bisnis dan wirausahawan yang sukses. Selain unsur Neo-Platonis. sebagai bentuk keterlibatan nyata mereka dalam sejarah kemanusiaan. atas dasar konsep tentang arsitektur Islam masa depan yang cukup revolusioner. khususnya masyarakat Islam sendiri. Sedikit sekali kemungkinan orang luar lingkungan sendiri akan diberi pengakuan kemanusiann yang penuh. 7507173 Fax. Mereka tidak saja menjadi sponsor atas kegiatan kultural dan ilmiah yang antusias. Pandangan hidup kaum Isma'ili yang sangat esoteris (bathini) itu telah membuat mereka sebagai salah satu kelompok yang paling eksklusifistik dalam Islam. yang menurut penilaian mereka diwakili rintisannya oleh pesantren itu).2. (021) 7501969.QUR'AN oleh Nurcholish Madjid (2/2) Unsur Neo-Platonis Kaum Kebatinan ini kemudian muncul dalam karya kefilsafatan besar --yang ditulis sekelompok sarjana yang menamakan diri mereka Ikhwan al-Shafa' (Persaudaraan Suci)-. Tapi lain dari Manucheanisme. Jawa Tengah. tapi juga banyak mendorong kemajuan masyarakat manusia pada umumnya. Paham Sy'iah Isma'iliyyah bertemu dengan Manicheanisme dalam ajaran yang hendak memberi pada penganutnya "kearifan dan martabat kosmis" yang budi kasar orang umum tak mampu menggapainya. yaitu suatu pecahan agama Majusi (Zoroastrianisme). seperti tampak nyata di banyak kawasan Afrika Timur. MASALAH TA'WIL SEBAGAI METODOLOGI PENAFSIRAN AL. Magelang. PANDANGAN KAUM SUNNI Dari satu segi.Telp. Mereka juga banyak mengadakan pameran benda-benda seni peninggalan Islam di kota-kota besar dunia (1983 di New York). (021) 7507174 Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota Please direct any suggestion to Media Team Artikel Yayasan Paramadina Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota I. pertumbuhan historis paham Sunni merupakan . [6] Mereka itu kini dipimpin Aga Khan yang terkenal itu. mereka memberi award bidang arsitektur Islam kepada Pesantren Pabelan. Diduga bahwa orang-orang Persi penganut Manicheanisme di zaman Abbasiyah secara rahasia masuk Islam dan memeluk paham kebatinan kalangan kaum Isma'ili. kebatinan kaum Isma'ili sangat menekankan pembangunan praktis susunan masyarakat dunia. (Sebagai misal. suatu bentuk kegiatan yang dimungkinkan oleh minat mereka yang besar kepada usaha memelihara warisan sejarah Islam.

wajah. misalnya. [8] Mungkin disebabkan latar belakang pertumbuhan historisnya itu maka paham Sunni ditandai semangat umum moderasi dan akomodasi. Syria. bahwa Dia bertahta di Singgasana. sebaliknya. dan seterusnya). Kaum Sunni --yang secara garis besar perjalanan sejarahnya hampir selalu paralel dengan susunan mapan masyarakat Islam-sangat mengkhawatirkan. semua bagian dari ajaran agama akan habis diinterpretasikan. Interpretasi metaforis atau ta'wil tidak saja selalu bersifat abstrak dan intelektualistik --yang tak terjangkau masyarakat banyak-. Khususnya yang terjadi pada tahun 41 H yang sering disebut para ahli sejarah sebagai "Tahun Persatuan" ('Am al-Jama'ah). wajah dan mata Tuhan itu tidak sama dengan yang ada pada makhluk seperti manusia. rujukan utama paham Sunni dalam ilmu Ketuhanan atau akidah. dan yang kedua komponen politik pragmatis. "Kitab Suci penuh berkah. Abu Bakrah. jika mereka tidak melakukan interpretasi. dan agar mereka yang berpengetahuan mendalam menangkap pesannya" [10] Ibn Taymiyyah mengatakan . Yang ideologis ialah "Aliran Penduduk Madinah" (Madzhab Ahl al-Madinah) seperti dikemukakan mereka yang tak mau terlibat dalam pertikaian-pertikaian politik saat itu. mereka tetap menolak antropomorfisme.gabungan dua komponen.tapi juga senantiasa menyediakan "lubang pelarian" (loop hole) di bidang hukum bagi mereka yang kesadaran hukumnya lemah. Salah satu wujud semangat itu tampak dalam paham Sunni menghadapi masalah ta'wil itu. Mereka ini dipelopori 'Abdullah ibn 'Umar. [9] Masih dalam konteks paham Sunni tentang ta'wil ini. [7] Yang politik pragmatis. Berdasarkan firman Allah. Sebab jika pintu interpretasi metaforis itu ditenggang dengan tidak hati-hati. dan "tanpa bagaimana" (bi-la kayfa). Usamah ibn Zayd. dan 'Imran ibn Hasyim. Tapi. sehingga tidak ada lagi sisa yang bersifat pasti. menutup samasekali kemungkinan mengadakan ta'wil akan menghadapkan orang-orang Muslim yang serius pada kesulitan mengartikan berbagai pelukisan tentang Tuhan yang antropomorfis (yakni. maka bagaikan membuka Kotak Pandora. mata dan lain-lain. Kaum Sunni umumnya menerima adanya intepretasi metaforis. keterangan dalam al-Qur'an bahwa Tuhan mempunyai tangan. dengan mengatakan bahwa sekali pun disebutkan Tuhan itu mempunyai tangan. Said ibn Abi Waqqash. merasa senang dan tidak senang. Bahkan. Ibn Taymiyyah mengemukakan pandangan yang cukup menarik. tapi dengan pembatasan-pembatasan begitu rupa sehingga masih bisa dikuasai. ialah sikap mendukung sebagian terbesar kaum Muslim kepada Mu'awiyah sebagai Khalifah yang sah berkedudukan di Damaskus. khususnya antara 'Ali dan Mu'awiyah beserta pengikut masing-masing. pendekatan metaforis pada agama akan mempunyai efek melemahnya sendi-sendi dan kesadaran hukum masyarakat banyak. Muhammad ibn Maslamah. wajah dan mata. dan tidak bisa disamakan dengan sesuatu apa pun juga. Sebab pelukisan antropomorfis itu tidak sesuai dengan penegasan Kitab Suci sendiri bahwa Tuhan tidak sebanding. yang telah Kami turunkan kepada engkau (Muhammad). menurut Ibn Taymiyyah. madzab Madinah itu juga didukung oleh sebagian besar "para pelopor pertama" (al-sabiqun al-awwalun). agar mereka (manusia) merenungkan ayat-ayatnya. Inilah metode al-Asy'ari. namun tangan. yang pertama komponen ideologis. menyerupai manusia. Paling jauh.

sifat alegoris atau metaforis keterangan-keterangan dalam Kitab Suci itu tak dapat tidak harus digunakan sebagai metodologi penyampaian pesan. sebagaimana perintah untuk itu dapat dipahami dari firman-Nya. di seluruh Kitab Suci. juga berpegang pada pandangan yang sama dalam masalah ta'wil ini. Dari uraian di atas diharapkan ada sedikit kejelasan bahwa masing-masing kelompok atau aliran dalam Islam memiliki reasoning mereka sendiri dalam memilih suatu pemahaman agama. inti atau dasar Kitab Suci. sebab manusia tidak akan dapat memahami sesuatu yang samasekali abstrak.bahwa yang harus direnungkan itu ialah semua ayat-ayat al-Qur'an. namun kebanyakan justru firman-firman yang metaforis. Muhammad Asad. tak dibenarkan menganggap perolehannya sebagai mutlak dan final. ataukah sebenarnya hati mereka telah tersumbat?" [11] Karena itu. tapi tumpang tindih. secara harfiah "Induk Kitab Suci. bahwa tujuan kita membahas persoalan interpretasi metaforis ini antara lain ialah untuk mendapatkan kesadaran tentang suatu dimensi pemahaman keagamaan dalam Islam yang ikut memberi corak keanekaragaman kaum Muslim di dunia. Asad berpendapat bahwa al-Qur'an memang mengandung ayat-ayat yang pasti maknanya tanpa samar. Ayat ini memberi kita suatu kunci penting untuk interpretasi al-Qur'an. Sebagian dari reasoning itu tentu saja. sarjana Muslim di zaman modern ini. Maka Allah memuji mereka yang merenungkan firman-firman-Nya. Abdullah Yusuf Ali memberi komentar sebagai berikut. Hanya hal-hal yang maknanya tak masuk akal saja yang tidak direnungkan. dan hal yang tak masuk akal itu tak ada dalam al-Qur'an. yang tidak diberikan secara terpisah. Menurut sarjana ini. metaforis dikenakan kepada esensi itu. baik yang muhkamat maupun mutasyabihat. baik yang muhkamat maupun yang mutasyabihat. yaitu. Namun manusia. [13] Seorang sarjana Muslim modern penafsir al-Qur'an lain. Secara garis besar al-Qur'an itu dapat dibagi ke dalam dua bagian. ungkapan-ungkapan dalam bahasa manusia) itu dapat memberi definisi pada sesuatu yang tak mungkin didefinisikan. [12] Pandangan hampir serupa dianut juga oleh Abdullah Yusuf Ali. yang tidak ada asosiasinya dengan apa yang sudah ada dalam alam pikirannya. bersumber pada atau bersifat murni keagamaan. Tapi juga tidak sedikit daripadanya yang semata-mata merupakan hasil interaksi antara sesama . Allah dan Rasul-Nya tidaklah mencela orang yang merenungkan makna di balik ungkapan-ungkapan ayat-ayat mutasyabihat dalam al-Qur'an kecuali jika dilakukan dengan maksud menimbulkan perpecahan dan mencari-cari interpretasinya yang tidak masuk akal." [14] PENUTUP Telah dikatakan. "Apakah mereka (manusia) tidak merenungkan al-Qur'an. bagian yang bersifat figuratif. kata Ibn Taymiyyah. pertama. dan penafsir al-Qur'an terkemuka Terhadap firman Allah berkenaan dengan ayat-ayat muhkamat dan mutasyabihat yang dikutip di atas tadi. sebab "tidak ada kesalahan yang lebih besar daripada berpikir bahwa "terjemahan-terjemahan" (yakni. tetapi tak boleh menyia-nyiakan energi kita dalam memperdebatkan sesuatu yang berada di luar kedalaman diri kita. dalam usahanya memahami keterangan-keterangan suci itu. Kita harus mencoba memahaminya sebaik mungkin." dan kedua.

193. atau memberi orang lain apa yang disebut "hikmah keraguan" (benefit of doubt) dalam pergaulan sesama manusia. pengakuan itu mungkin dibenarkan saja. khususnya sesama Muslim. 249). (Lihat terjemahnya. jil. cit. meskipun dari sudut pandangan lain. 'All 'Imran 3:7.. hh. 110. Shad/38:29. QS. 10. Pandangan seperti ini. jil. . misalnya. 2. misalnya. Abu al-Hasan al-Asy'ari. 1387 H 1967 M). S. Al-Syaykh Muhammad al-Hudlari Bek. Hodgson. 4 jilid. Ibn Rusyd. keyakinan.orang-orang Muslim sendiri atau antara orang-orang Muslim dengan non-Muslim dalam sejarah. 8-9. Khazanah. Khazanah. 11. 8. dalam buku kami. tt. QS. Maka yang benar ialah menerapkan sikap "ragu yang sehat" (healthy scepticism). 7. Khazanah Intelektual Islam [Jakarta: Bulan Bintang. Muhammad/47:24. janganlah ada suatu kaum di antara kamu yang memandang rendah kaum yang lain. khususnya h." [15] CATATAN 1. Ma'arij al-Wushul fi Ma'rifat anna Ushul al-Din wa Furu'a-hu qad Bayyana-ha al-Rasul. al-Ibanah'an Ushul al-Diyanah (Idarat al-Thiba'at al-Muniriyyah. hh. yang kami terjemahkan dalam buku kami. Dan sementara kita melihat orang lain demikian. 1974). Marshall G. --seperti dikatakan Abdullah Yusuf Ali yang telah dikutip-. 1348 H). 1. Lihat risalahnya. sebab --seperti kata Muhammad Asad tadi-kita sebenarnya hendak menggapai sesuatu (Kebenaran Mutlak) yang tidak bakal tergapai.). (Chicago: The University of Chicago Press. Dari sudut pandangan inilah absurd-nya pengakuan diri sendiri sebagai yang paling benar. The Venture of Islam. Tuduhan Ibn Taymiyyah itu dinyatakan dalam risalahnya. 137-51. Ini sejalan dengan yang dipesankan Tuhan sendiri dalam ajaran-Nya tentang prinsip persaudaraan di antara orang-orang beriman dan bagaimana memeliharanya.seorang yang bijaksana tak boleh bersikap dogmatis. (Riyadl: Maktabat al-Riyadl al-Haditsah. Tarikh al-Tasyri' al-lslami (Beirut: Dar al-Fikr. QS. dianut Ibn Sina (Avicenna). h. 230-1 6. Ibn Taymiyyah. Fashl al-Maqal wa Taqrir Ma bayn al-Hikmah wa al-Syari'ah min al-Ittishal. 4. khususnya. kalau-kalau mereka yang dipandang rendah itu lebih baik daripada mereka yang memandang rendah. h. 217-8). Namun.. Lihat dalam buku kami. Itsbat al-Nubuwwat. pada waktu yang sama kita harus menyadari bahwa orang lain pun melihat kita demikian. 3 jilid. op. 'Wahai sekalian orang-orang yang beriman. (dalam Khazanah).. 1984]. 9. h. 3. 378-9. atau malah secara logis diperlukan. Minhaj al-Sunnah al-Nabawiyyah fi Naqdl Kalam al-Syi'ah wa al-Qadariyyah. 5. h. Ibn Rusyd. 1 h.

-------------------------------------------Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah Editor: Budhy Munawar-Rachman Penerbit Yayasan Paramadina Jln. (1) the nucleus or foundation of the Book. This passage gives us an important clue to the interpretation of the Qur'an. But perhaps the meaning is wider: the "mother of the Book" must include the very foundation on which all Law rests. 13. h. The Holy Qur'an. UA 20-21 Jakarta Selatan Telp. and though people of wisdom may get some light from it. Muhammad Asad. viz. (021) 7507174 Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota Please direct any suggestion to Media Team Artikel Yayasan Paramadina Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan . which are plain to everyone's understanding.12. as distinguished from the various illustrative parables. not given separately. The wise man will understand that there is an "essence" and an illustrative clothing given to the essence. 15. as the final meaning is known to God alone. We must try to understand it as best as we can but not waste our energies in disputing about matters beyond our dept (A. 991. catatan 347). literally "the mother of the Book. Yusuf Ali. but between the meanings attached to them. and exercise our ingenuity about its inner meaning. 7501983. throughout the Book. al-Iklil fi al-Mutasyabih wa al-Ta'wil (Kairo: Dar al-Mathba'at al-Salafiyyah. no one should be dogmatic. but intermingled. 1403 H]. [Jeddah: Dar al-Qiblah. Al-Hujarat/49:11. h. metaphorical. allegoric. Broadly speaking it may be divided into two portions. The Message of the Qur'an. Translation and Commentary." and (2) the part which is figurative. and something eternal and independent of time and space. 1973). and ordinance If we refer to xi-1 and xxxix-23. 123. It is very fascinating to take up the latter. 14. The division is not between the verses. the essence of God's message. appendix 1. --the "Forms of Ideas" in Plato's Philosophy. h. we shall find that in a sense the whole of the Qur'an has both "established meaning" and allegorical meaning. The Commentators usually understand the verses "of established meaning" (muhkam) to refer to the categarical orders of the Syari'at (or the Law). 8-9. but it refers to such a profound spiritual matters that human language is inadequate to it. 7507173 Fax. Each verse is but a Sign or Symbol: what it presents is something immediately applicable. Ibn Taymiyyah. (021) 7501969. Metro Pondok Indah Pondok Indah Plaza I Kav. allegorical. QS.

Beberapa di antaranya bahkan dapat langsung disimpulkan dari lafal teks firman bersangkutan. 2. Dengan mengutip berbagai sumber otoritas dalam bidang ini.. dan lain-lain.w. Konsep ini muncul karena dalam kenyataan. Menentukan apakah makna sebuah ayat mengandung terapan yang bersifat khusus atau bersifat umum. Makna dan implikasi langsung dan segera terpahami (muhabir. maka kemanapun kamu menghadapkan . baik berupa satu ayat. 3. seperti "Mereka bertanya kepadamu (Nabi)". dan juga Zayd (ibn Haritsah). sebagai berikut: 1. beserta istrinya. lafal permulaan ayat pertama surat al-Anfal menunjukan dengan jelas bahwa firman itu diturunkan kepada Nabi untuk memberi petunjuk kepada beliau mengenai perkara yang ditanyakan orang tentang bagaimana membagi harta rampasan perang. paman nabi sendiri. satu rangkaian ayat atau satu surat. Demikian juga.Relevansinya Bagi Pandangan Historisis Segi-Segi Tertentu Ajaran Keagamaan oleh Masdar F. seperti diungkapkan para ahli biografi Nabi. diketahui dengan cukup pasti adanya situasi atau konteks tertentu diwahyukan suatu firman. sejarah al-Qur'an maupun sejarah Islam. Seperti. sudah dikemukakan di atas. adalah jelas turun dalam kaitannya dengan pengalaman Nabi yang menyangkut seorang tokoh kafir Quraisy. Juga jika di situ disebutkan nama pribadi orang seperti. "Kepunyaan Allah-lah timur dan barat. 4. dari lafal dan konteksnya masing-masing dapat diketahui dengan jelas sebab-sebab turunnya surat Abasa al-Tahim. immediate) dari sebuah firman. teori atau berita tentang adanya "sebab-sebab turun"-nya wahyu tertentu dari al-Qur'an kepada Nabi s.ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota I. Atau seperti surat al-Masad (Tabbat). sebagaimana hal tersebut dapat dilihat dari konteks aslinya. Sebagai sebuah contoh ialah firman Allah. nama Abu Lahab. MANFAAT PENGETAHUAN ASBAB AL-NUZUL Di antara hal-hal yang dapat dengan jelas menjadi petunjuk tentang sebab turunnya sebuah firman ialah jika dimulai dengan ungkapan dialogis. Situasi historis pada zaman Nabi dan perkembangan komunitas muslim. Alasan mula pertama yang mendasari suatu kepentingan hukum. dan lain sebagainya.a. khususnya mengenai ayat-ayat hukum. Konteks itu akan memberi penjelasan tentang implikasi sebuah firman. misalnya. KONSEP ASBAB AL-NUZUL . Mas'udi (1/3) Asbab al-Nuzul adalah konsep. Ahmad von Denffer memberi rincian arti penting bagi pengetahuan tentang asbab al-nuzul. Maksud asal sebuah ayat.3. ayat tentang perubahan bentuk rembulan (al-ahillah) dalam surat al-Baqarah/2:189. dan memberi bahan melakukan penafsiran dan pemikiran tentang bagaimana mengaplikasikan sebuah firman itu dalam situasi yang berbeda. Pengetahuan tentang asbab al-Nuzul akan membantu seseorang memahami konteks diturunkannya sebuah ayat suci. dan kalau demikian dalam keadaan bagaimana itu dapat atau harus diterapkan. 5. yang bernama atau dipanggil Abu Lahab. "Katakan kepada Mereka".

Maka turunlah ayat suci itu. shahih dan dha'if. mengapa terdapat kesamaan yang demikian besar dan jauh diantara seluruh umat Islam di dunia dalam hal shalat dan peribadatan lain. perbedaan sangat . al-Baqarah/2:115). dengan dampak kesamaan yang menakjubkan antara seluruh kaum muslim di muka bumi ini dalam hal peribadatan. sejalan dengan keaneka ragaman sumber berita. Menghadap kiblat yang telah ditentukan. Kiblat itu hanya sebagai lambang orientasi hidup yang benar dan konsisten serta kesatuan orientasi itu antara seluruh umat Islam sedunia. Sebab yang penting ialah nilai shalat itu sendiri sebagai tindakan mendekatkan diri kepada Allah dan mengasah jiwa untuk lebih bertaqwa kepada-Nya. sekalipun dalam keadaan normal diwajibkan. Kemudian mereka bertanya kepada Nabi berkenaan dengan apa yang mereka alami itu. seseorang boleh melakukan shalat sunnah kemanapun di atas kendaraannya." Tetapi karena konteks turunnya firman itu bersangkutan dengan peristiwa tertentu diatas. Tapi firman itu juga menegaskan bahwa sembahyang menghadap kemanapun dalam keadaan darurat. Berdasarkan penuturan Jabil ibn 'Abd-Allah. ia sebenarnya juga menghadap Tuhan. tidaklah menjadi persoalan. Kalangan bukan Islam biasanya merasa heran. sehingga Tuhanpun "ada dimana-mana. (QS. melainkan sunnah. berdasarkan penuturan Abd 'l-Lah ibn 'Umar. penuturan atau berita tentang suatu sebab turunnya wahyu tertentu juga dapat beraneka ragam. al-Wahidi al-Nisaburi menerangkan tentang adanya beberapa versi lain tentang sebab turunnya firman terrsebut. yaitu al-Masjid al-Haram di Makkah. karena Tuhan tidak terikat oleh ruang dan waktu. Sesungguhnya Allah adalah Maha Meliputi dan Maha Tahu". atau kalau karena kondisi tertentu tidak mungkin baginya menghadap ke arah yang benar. Ia harus menghadap ke kiblat yang sah. Dan seperti halnya persoalan hadits pada umumnya. apalagi jika sembahyang itu bukan sembahyang wajib. yaitu berita-berita Hadist. [1] SUMBER BERITA ASBAB AL-NUZUL Sumber pengetahuan tentang asbab al-nuzul diperoleh dari penuturan para Sahabat Nabi. yaitu arah al-Masjid al-Haram di Makkah. (Dalam agama lain. tidak ke kiblat. Pertama. Karena itu bersangkut pula persoalan kuat dan lemahnya berita itu. sehingga implikasinya juga dapat menyangkut beberapa situasi yang berbeda.wajahmu. Pagi harinya mereka baru menyadari bahwa semalam mereka bersembahyang dengan menghadap ke arah yang salah. Sebagai misal ialah berita tentang sebab turunnya firman yang dikutip di atas. Semua ini menjadi wewenang cabang ilmu kritik hadits (ilmu tajrih dan ta'dil) para ahli. yang menegaskan bahwa kemanapun seseorang menghadapkan wajahnya. di sanalah Wajah Allah. tidaklah berarti dalam sembahyang seorang muslim dapat menghadap kemanapun ia suka. timur ataupun barat. Firman ini turun kepada Nabi berkaitan dengan adanya peristiwa yang dialami sekelompok orang beriman yang mengadakan perjalanan di malam hari yang gelap gulita. Tetapi ia dibenarkan menghadap mana saja dalam shalat jika ia tidak tahu arah yang benar. serta otentik dan palsunya. Kita sendiri mengetahui betapa efektifnya simbolisasi kiblat ini. Nilai berita itu sendiri sama dengan nilai berita-berita lain yang menyangkut Nabi dan Kerasulan Beliau. Maka tidak perlu lagi ditegaskan bahwa informasi-informasi yang ada harus dipilih dengan sikap kritis. mungkin tidak akan dapat mengerti. tidaklah menyangkut sebenarnya nilai shalat itu.

tanpa terlalu banyak mempersoalkan perbedaan antara mereka. terjemahnya. berdasarkan penuturan 'Abd 'l-Lah ibn 'Abbas. ayat suci di atas itu turun berkenaan dengan adanya pertanyaan kepada Nabi. namun berdasarkan firman Allah yang menegaskan bahwa kemanapun kita menghadapkan wajah kita maka di sanalah wajah Allah. Di (kelompok) manapun kamu berada. . Seterusnya. sebab tekanan serupa itu akan membawa kepada sikap lebih mementingkan lambang atau simbol daripada isi atau makna. pandangan lain. Sebab. mengingat jasa-jasanya yang besar itu. Walaupun kiblat sebagai lambang persatuan dan kesamaan itu demikian pentingnya. namun Nabi memerintahkan mereka berdoa baginya. firman Allah itu. Dari balik pertanyaan sementara Sahabat di atas itu dapat diketahui dengan jelas bahwa sekalipun Najasyi adalah seorang Kristen. Ethiopia).terasa dari sekte ke sekte lain. karena perlindungan yang diberikannya kepada para pengikut Nabi yang berhijrah ke negeri itu untuk menghindar dari penyiksaan kaum musyrik Makkah. yang menegaskan bahwa sedekat-dekat umat manusia dalam rasa cintanya kepada kaum muslim ialah "mereka yang berkata. Perlakuan yang amat simpatik kepada kaum muslim dan sikapnya yang penuh pengertian kepada ajaran Islam yang menyebabkan turunnya firman Allah yang lain. Dan firman Allah yang terkait itu. menurut versi penuturan ashab al-nuzul ini. yang semasa hidupnya (sebagai seorang Kristen) bersembahyang menghadap kiblat yang berbeda dengan kiblat mereka sendiri. Jadi firman Allah tentang "timur dan barat" tersebut di mempunyai kemungkinan implikasi dan aplikasi yang luas. Menurut penuturan ibn Abi Thalhah. kurang lebih adalah demikian: Dan bagi setiap (kelompok manusia) ada arah (wijhah) yang kepadanya kelompok itu menghadap. juga dari bangsa atau negeri ke bangsa atau negeri lain meskipun dari satu sekte). Najasyi adalah raja Habasyah yang besar sekali jasanya kepada Nabi. seperti difirmankan di tempat lain.s. Lengkapnya. "Kami adalah orang-orang Nasrani" (Q. setiap kelompok manusia mempunyai arah (wijhah) ke mana mereka menghadap atau berorientasi. al-Maidah/6:82). kaum Yahudi bertanya-tanya. Maka berlomba-lombalah kamu sekalian untuk berbagai kebaikan. ketika Nabi dengan izin Allah mengubah kiblat sembahyang dari arah Yerusalem menjadi ke arah Makkah. mengapa mereka diperintahkan untuk melakukan shalat jenazah bagi Raja Najasyi (Negus) dari Abessinia (Habasyah. Dan umat manusia dalam orientasi yang berbeda-beda itu hendaknya berlomba menuju kepada berbagai kebaikan. al-Baqarah/2:148). kaum muslim dan agama Islam. Meskipun lambang dan makna harus ada secara serentak. Dan Nabi dalam memerintahkan sahabat beliau untuk melakukan shalat jenazah bagi Najasyah menggambarkan raja Habasyah itu sebagai "saudara" kaum beriman. Allah akan mengumpulkan kamu semua. namun dari ayat suci itu jelas sekali bahwa segi makna adalah lebih penting daripada segi lambang. tidaklah dibenarkan adanya tekanan yang serba mutlak atas kewajiban menghadapkan wajah ke Makkah. Yang penting ialah sikap batin yang ada dalam dada. Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu. atas Versi ketiga tentang sebab turunnya firman itu menyangkut kaum Yahudi Madinah. menegaskan bahwa masalah kemanapun orang menghadap dalam sembahyang bukanlah perkara penting. kaum Muslim." (QS.

berupa perceraian Zayd ("ibn Muhamad") dari istrinya. yatim piatu. melainkan karena hal-hal yang lebih sejati seperti iman kepada Allah yang selalu hadir (omnipresent) dalam hidup manusia sehari-hari. siapa ayah-ibu biologis anak tersebut). Sebab akhirnya semua penjuru angin. Asbab al-Nuzul menunjukkan banyaknya kasus suatu nilai ajaran atau hukum diwahyukan kepada Nabi dalam kaitannya dengan peristiwa nyata tertentu yang menyangkut. khususnya segi-segi tertentu ajaran agama di bidang hukum. IMPLIKASI ASBAB AL-NUZUL Salah satu masalah yang banyak dibahas oleh para ahli agama. Mereka itulah orang-orang yang benar (sejati dalam kebaikan). orang terlantar di perjalanan. firman berkenaan dengan masalah kiblat ini. betapapun cintanya kepada harta itu. penghentian makna kehukuman (legal significance) praktek pengambilan anak angkat (tanpa memelihara atau mempertahankan adanya informasi tentang. Kitab Suci dan para Nabi. Para ahli fiqih sepakat bahwa dalam hukum berubah menurut peruhahan zaman dan tempat. serta mereka yang menepati janji jika mereka berjanji. para Malaikat. dan mereka itulah orang-orang yang bertaqwa. Nabi dan masyarakat Islam di zaman beliau. juga jika orang menegakkan sembahyang dan mengeluarkan zakat. dan berbuat kepada sesama manusia dan makhluk untuk dibawa ke Hadirat Tuhan di Akhirat nanti. guna membebaskan budak. untuk kaum kerabat. Suatu peristiwa pribadi. Pembatalan ini dipertegas . Lengkapnya. orang-orang miskin. Kaidah mereka mengatakan. ialah sejauh mana nilai atau ketetapan hukum dalam Islam ditentukan oleh keadaan ruang dan waktu.mengapa ada perubahan yang mengesankan sikap tidak teguh dalam beragama serupa itu?! Maka firman Allah tersebut dimaksudkan untuk menampik ejekan kaum Yahudi dan menegaskan bahwa perkara arah menghadap dalam sembahyang bukanlah sedemikian prinsipilnya sehingga harus dikaitkan dengan permasalahan nilai keagamaan yang lebih mendalam seperti keteguhan atau konsistensi (istiqamah) sebagai ukuran kesejatian dan kepalsuan. tanpa kelebihan nilai salah satu atas yang lain. dan tabah dalam menghadapi penderitaan dan kesusahan. dan jika orang mendermakan hartanya. Zaynab. serta dalam masa-masa sulit. Telah dikemukakan bahwa adanya nama pribadi Zayd yang tersebutkan dalam al-Qur'an. seperti barat dan timur. (QS. Para ulama telah menuangkan masalah asbab al-nuzul ini dalam berbagai karya ilmiah yang kini menjadi rujukan para ahli. "Taghayyur al-ahkam bi thagayyur al-zaman wa al-makan" (Perubahan hukum oleh perubahan zaman dan tempat). Tetapi mereka berselisih tentang batas terjauh dibenarkannya perubahan itu. telah menjadi titik tolak ditetapkannya suatu hukum Tuhan tentang pembatalan atau. al-Baqarah/2:177). para peminta-minta. terjemahnya adalah demikian: Bukanlah kebaikan itu bahwa kamu menghadapkan wajahmu ke arah timur atau barat. Hari Kemudian. percaya kepada adanya pertanggungjawaban pribadi mutlak di Hari Kemudian (Akhirat). Tetapi kebaikan ialah jika orang beriman kepada Allah. adalah milik Allah semata. [2] Berkenaan dengan masalah itu bahkan turun firman yang menegaskan bahwa kebaikan tidaklah diperoleh hanya menghadapkan muka ke arah timur ataupun barat.

Kemudian Zayd-pun tidak lagi menyandang nama "ibn Muhamad" tapi dikembalikan kepada nama aslinya. melainkan dia adalah rasul Allah dan Penutup para Nabi. mereka takut kepada-Nya.3. (Q. -------------------------------------------. Cukuplah Allah sebagai penghitung. Mas'udi (2/3) Jadi firman itu memang turun kepada Nabi berkenaan dengan suatu peristiwa konkret yang menyangkut sepasang suami-istri. Allah Maha Tahu akan segala sesuatu. yaitu perceraian Zaid dari Zainab dan perkawinan . agar tidak lagi ada halangan bagi kaum beriman untuk (kawin dengan bekas) istri anak-anak angkat mereka.(bersambung 2/3) Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah Editor: Budhy Munawar-Rachman Penerbit Yayasan Paramadina Jln. al-Ahzab/33:37-40). yaitu dinikahkannya Nabi oleh Allah dengan Zainab. Dapat dilihat bahwa dalam peristiwa Zaid dan Zainab dan yang "ditangani" langsung oleh kitab suci itu terdapat kaitan antara suatu nilai hukum kulli (universal). (021) 7501969. UA 20-21 Jakarta Selatan Telp." Firman Allah yang menyangkut tentang Zaid dan Zainab itu demikian: Dan ingatlah tatkala engkau (Nabi) berkata kepada dia (Zaid) yang Allah telah karuniakan kebahagiaan dan engkaupun telah pula memberinya kebahagiaan. Dan perintah Allah adalah sesuatu yang sangat pasti. maka setelah putus Zaid untuk bercerai dari dia (Zainab). Metro Pondok Indah Pondok Indah Plaza I Kav. 7501983. Tidak sepatutnya bagi Nabi ada perasaan enggan mengenai apa yang diwajibkan Allah kepadanya. (021) 7507174 Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota Please direct any suggestion to Media Team Artikel Yayasan Paramadina Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota I. bekas anak angkatnya. 7507173 Fax. "Pertahankanlah istrimu (Zainab) dan bertaqwalah kepada Allah. jika mereka (anak-anak angkat) itu telah putus menceraikan istri-istri mereka.s. "namun engkau sendiri (Nabi) merahasiakan apa yang ada dalam dirimu yang Allah akan memperlihatkannya. KONSEP ASBAB AL-NUZUL . sesuai dengan sunnah (hukum) Allah pada mereka yang telah lewat sebelumnya.dengan contoh nyata. Zayd. Muhamad bukanlah ayah seseorang (tanpa keterkaitan keorangtuaan biologis) di antara kamu. dan engkau (Nabi) takut kepada sesama manusia padahal Allah lebih patut engkau takuti. dan tidak takut kepada seorangpun selain Allah.Relevansinya Bagi Pandangan Historisis Segi-Segi Tertentu Ajaran Keagamaan oleh Masdar F. yaitu "ibn Haritsah. yaitu pembatalan makna legal praktek mengangkat anak. setelah bercerai dari. dengan sebuah kasus jaz'i (partikular). Dan perintah Allah haruslah terlaksana. Mereka (yang telah lalu sebelumnya) itu adalah orang-orang yang menyampaikan risalat (pesan-pesan suci) Allah.

pada urutannya. sebagimana makanan kaum beriman halal bagi mereka: Mereka bertanya kepada engkau (Nabi) tentang apa yang dihalalkannya untuk mereka. dan ia di akhirat akan tergolong orang-orang yang merugi. Sesungguhnya Allah Maha Cepat dalam perhitungan. atau bahkan mungkin ta'wil (interprestasi metaforis) yang tidak jarang menimbulkan kontroversi. Maka . jika kamu beri mereka mahar-mahar mereka. tersangkut pula masalah tafsir. "Dihalalkannya bagi kamu apa saja yang baik. Masalah selanjutnya yang lebih esensial dari contoh di atas itu ialah. Penyebutan tentang dibolehkannya lelaki Muslim kawin dengan wanita Kristen atau Yahudi dalam al-Qur'an ada dalam rangkaian dengan penyebutan tentang dihalalkannya makanan kaum Ahl al-Kitab itu bagi kaum beriman. Jawablah. al-Maidah/5:4-5). dengan kaidah mereka. tidak berdasarkan partikularitas penyebab" (Al-Ibrah bi umum al-lafdh. Komandan kaum beriman (Amir al-Mu'minin) itu tidak membenarkan seorang tokoh Sahabat Nabi kawin dengan wanita Ahl al-Kitab (Yahudi atau Kristen). dan makanan kamu halal bagi mereka. Barangsiapa menolak untuk beriman. Ini dengan sendirinya menyangkut masalah kemampuan pemahaman yang mendalam sedalam-dalamnya dan seluas-luasnya. la bi khushush al-sabab). bekas "menantu"-nya. maka sungguh sia-sialah amal perbuatannya. "Pengambilan makna dilakukan berdasarkan generalitas lafal. yakni dibenarkan kawin. yang isinya menceritakan bahwa ia telah kawin dengan seorang wanita Yahudi di kota al-Mada'in. Para ahli hukum Islam telah membuat patokan untuk masalah ini. juga (dihalalkan bagi kamu binatang yang ditangkap) oleh binatang-binatang berburu yang kamu latih dengan kamu biasakan menangkap binatang buruan dan kamu ajari binatang-binatang itu dengan sesuatu (ketrampilan) yang diajarkan Allah kepada kamu. Pada hari ini dihalalkan pada kamu perkara yang baik-baik.Nabi dengan Zainab. ketika Hudzaifah meminta pendapat. padahal al-Qur'an jelas membolehkannya. Tapi Umar seperti dalam beberapa kasus lain. karena itu makanlah apa yang ditangkap oleh binatang berburu itu untuk kamu. Makanan mereka yang mendapat Kitab Suci (Ahl al-Kitab) adalah halal bagi kamu. Suatu ketika Umar menerima surat dari Hudzaifah ibn al-Yamman. Dengan begitu nilai tersebut tidak lagi terikat oleh kekhususan peristiwa asal mulanya dan dapat diberlakukan pada kasus-kasus lain di semua tempat dan sepanjang masa (dan inilah makna universalitas suatu nilai). Sebab dalam melakukannya selalu ada kemungkinan dicapai suatu pandangan. bagi kamu) para wanita merdeka dari kalangan wanita beriman. Dan (halal. atau tindakan. tanpa kamu menjadikan mereka objek seksual semata (zina). dan kamu nikahi mereka (secara sah). Lalu." (QS. dan sebutlah nama Adlah atasnya. tidak berpegang kepada makna lahiriah bunyi lafal firman itu. dan tanpa kamu memperlakukan mereka sebagai gundik. juga wanita merdeka dari kalangan mereka yang mendapat Kitab Suci sebelum kamu. yang pada lahirnya seperti meninggalkan atau menyimpang dari ketentuan Kitab Contoh klasik dari persoalan tersebut ialah tindakan Umar ibn al-Khaththab pada waktu menjabat sebagai khalifah. serta bertaqwalah kepada Allah. bagaimana suatu nilai dari sebuah kasus dapat ditarik dari dataran generasitas yang setinggi-tingginya. Tetapi sebuah generalisasi hanya dapat dilakukan jika inti pesan suatu firman dapat ditangkap.

MASALAH KEPENTINGAN UMUM (AL-MASHLAHAT AL-AMMAH) Maka berdasarkan tindakan Umar itu. dan agama-agama itu mempunyai kitab suci. lalu mereka mengutamakan para wanita Ahl al-Dzimmah (Ahl al-Kitab yang dilindungi) karena kecantikan mereka. Abd-al-Fattah Husaini al-Syaikh. mengatakan bahwa tindakan khalifah kedua itu menyalahi nas atau lafal Kitab Suci. Sebab. Konfusianis. seperti. mengatakan. Kita hanya berpendapat hendaknya para wanita muslim diutamakan. Na'ilah al-Kalbiyah." Menurut julur penuturan lain. setelah Persia dibebaskan (di zaman Umar sendiri) dan lembah Indus oleh Muhamad ibn Qasim (di zaman al-Walid ibn al-Malik). [3] Maka apa yang dikuatirkan khalifah sungguh-sungguh dapat menjadi kenyataan. maka kesempatan nikah dengan wanita Kristen dan Yahudi juga menjadi terbuka lebar. Hal ini sudah cukup sebagai bencana bagi para wanita kaum muslim.Umar. "Kita ikuti pendapat Umar itu. namun kebijakan khalifah kedua itu menjadi preseden dalam yurisprudensi Islam tentang kemungkinan dilakukannya kebijakan khusus sesuai dengan tuntutan ruang dan waktu. seperti dikatakan oleh Abd al-Hamid Hakim. seorang tokoh terkemuka pembaharuan Islam di Sumatra Barat. dan kepada kaum Hindu. Muhamad ibn al-Husain. juga menyalahi apa yang dilakukan sebagian para Sahabat Nabi. sekalipun berada di negara Islam. antara lain dengan mengatakan: "Kuharap engkau tidak akan melepaskan surat ini sampai dia (wanita Yahudi) itu engkau lepaskan Sebab aku khawatir kaum Muslim akan mengikuti jejakmu. tetapi dapat diperluas juga kepada kaum Majusi atau Zoroastri (sudah sejak Umar). asal-usul agama-agama Asia itupun adalah paham Ketuhanan Yang Maha Esa atau Tauhid. Sebab waktu itu kaum muslim itu hanya terbatas kepada minoritas kecil para penguasa politik dan militer dan hampir terdiri hanya dari bangsa Arab saja. Karena itu banyak ahli fiqih yang berpandangan bahwa konsep Ahl al-Kitab tidak terbatas hanya kepada kaum Yahudi atau Kristen saja." Kemudian rektor universitas al-Azhar. Jadi ada timbangan sisi historis dan humanis dalam menetapkan suatu hukum. yaitu terlantarnya kaum muslimah sendiri jika kaum muslim lelaki diizinkan dengan bebas menikah dengan wanita Ahl al-Kitab. dan itulah juga pendapat Abu Hanifah. dalam surat jawabannya memberi peringatan keras. yang beristrikan wanita Kristen Arab. Umar menegaskan bahwa kaum lelaki muslim kawin dengan wanita Ahl alKitab tidaklah terlarang atau haram. Shinthois dll. Taois. misalnya. Buddha. misalnya. dan belum banyak kalangan dari bangsa lain yang memeluk Islam. Sebab. seperti. Utsman bin Affan. para ahli hukum Islam masa lalu. dan banyaknya bangsa-bangsa bukan muslim yang menjadi rakyat kekhalifahan itu. dan Thalhah ibn Ubaid-Allah yang . konsep tentang Ahl al-Kitab diperluas meliputi kaum Majusi dan Hindu-Buddha. Dr. ada beberapa tokoh Sahabat Nabi yang beristrikan wanita Ahl al-Kitab. Meskipun ternyata larangan (sementara) Umar itu lambat laun ditinggalkan (dan bangsa Arab umumnya melakukan integrasi total dengan penduduk di mana mereka hidup sehingga lebur dengan bangsa setempat). namun kita tidak memandang perkara tersebut (lelaki muslim kawin dengan wanita Ahl al-Kitab) sebagai terlarang. Ia hanya mengkawatirkan terlantarnya wanita muslimah. khalifah ketiga. Disebabkan oleh meluasnya daerah kekuasaan politik kekhalifahan Islam. selain Hudzaifah. Apabila kelak.

Semua tindakan tersebut tidaklah dilakukan khalifah menurut kehendak hatinya sendiri. adalah sepenuhnya berada dibawah kekuasaan dan menjadi "milik" perampasnya). Kekhalifahan Umar adalah masa permulaan pembebasan negeri-negeri sekitar Arabia. maka dengan sendirinya lenyap pula alasan melarangnya. khususnya Syria. Dan Umar tidak hanya menerapkan kebijakan politik melarang sementara perkawinan dengan wanita Ahl al-Kitab. pembagian tanah-tanah pertanian di Syria dan Irak kepada penduduk setempat (tidak kepada tentara Islam seperti sebagian besar Sahabat Nabi berpendapat demikian). yang timbul karena pertimbangan kemanfaatan (expediency) menurut tuntutan zaman dan tempat. Menurut Dr Abd-al-Fattah. mengalami berbagai perubahan sosial yang besar. Mesir dan Persia. Khalifah dalam menetapkan kebijakan hukumnya menerapkan prinsip bahwa semua hukum agama mengandung alasan hukum (illah. yang dalam hal ini adalah jauh lebih kaya daripada Hijaz di Jazirah Arabia. Ia juga dicatat membuat deretan berbagai kebijaksanaan "kontroversial" seperti meniadakan hukum potong tangan bagi pencuri di masa sulit seperti paceklik. larangan berkumpul untuk selamanya bagi wanita dengan lelaki yang tidak dikawininya pada saat menunggu (iddah). Sebaliknya Umar justru berpendapat akan tidak adil jika masa lalu . termasuk juga wanita tawanan (yang menurut hukum perang di seluruh dunia pada waktu itu tawanan perang. pembagian tingkat penerimaan "ransum" (semacam gaji tetap) bagi tentara Islam berdasarkan seberapa jauh ia banyak atau kurang berjasa dalam sejarah Islam sejak zaman Nabi (padahal Abu Bakar. [6] Dan meskipun. tanpa memandang masa lampau mereka. membuat ibukota. Madinah. yang dapat menjadi sumber krisis. pendahulunya. [4] Karena itu ada yang menyatakan bahwa tindakan khalifah kedua itu adalah sejenis tindakan politik (tasharuf siyasi). bahwa pemerintah boleh melarang sementara sesuatu yang sebenarnya halal jika ada faktor yang merugikan masyarakat. sejalan dengan kepentingan umum (al-mashlahat al-ammah) dan sesuai dengan tanggungjawab seorang penguasa dan pelaksana hukum bersangkutan. Maka Umar dengan berbagai kebijakannya adalah seorang penguasa yang berusaha mengurangi sesedikit mungkin efek kritis perubahan sosial itu. Dan Umar tidaklah mengatakan sebagai haram --hal mana tentu akan berarti menentang hukum Allah-. Tetapi.beristrikan seorang wanita Yahudi dari Syam (Syiria). Abu Bakar berpendapat bahwa keadilan terwujud dengan penyamarataan antara semua tentara Islam. Umar berbeda dengan Abu Bakar dalam kebijakannya tentang penyamarataan atau pembedaan besarnya jumlah ransum tentara. ratio legis) yang harus diperhatikan dalam pelaksanaannya. lelaki maupun lebih-lebih lagi perempuan. penghapusan perlakuan khusus pada para mu'allaf. Tetapi faktor itu lenyap. menerapkan prinsip penyamarataan antara semuanya). kata rektor al-Azhar lebih lanjut. Kekayaan yang melimpah ruah secara tiba-tiba akibat banyaknya harta rampasan perang. namun kedua-duanya bermaksud membela keadilan. sebagai misal.melainkan hanya sekedar menjalankan suatu patokan yang sudah tetap dikalangan para ahli. pengefektifan hukum talak tiga (talak batin yang dilarang rujuk) bagi orang yang menyatakan talak tiga kali kepada istrinya meskipun pernyataan itu diucapkan sekaligus dan tanpa tenggang waktu. Umar tidak melakukan larangan itu kecuali setelah melihat adanya hal yang kurang menguntungkan bagi masyarakat Islam.

baik Kitab maupun Sunnah.(bersambung 3/3) Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah Editor: Budhy Munawar-Rachman Penerbit Yayasan Paramadina Jln. UA 20-21 Jakarta Selatan Telp. Yang jelas ialah bahwa dalam kaitannya dengan konsep tentang asbab al-Nuzul. Dan karena kemampuan tersebut dapat berbeda-beda antara berbagai pribadi. Metro Pondok Indah Pondok Indah Plaza I Kav. [7] Meskipun teori "hapus-menghapuskan" ini tidak lepas dari kontroversi. yaitu nasikh-mansukh. maka hasilnya pun dapat berbeda-beda pula. dalam arti wujud fisiknya yang menyangRut formalitas penghadapan wajah ke suatu arah tertentu. 7501983. berkenaan dengan sumber-sumber pengambilan ajaran agama. (021) 7501969. Yaitu bahwa kiblat. seperti yang pandangan teoretisnya dikembangkan oleh para ahli fiqih dengan kepeloporan Imam al-Syafi'i. Kata Hodgson. menurut Hodgson. padahal sebagian dari mereka benar-benar jauh lebih berjasa daripada sebagian yang lain. 7507173 Fax. Adalah kesadaran historis ini. Konsep itu. (021) 7507174 Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota Please direct any suggestion to Media Team . melainkan dimaksudkan maknanya. sementara formalitas dalam keadaan tertentu boleh ditinggalkan. dengan perbedaan disana-sini dalam hal materi mana yang menghapus dan mana pula yang dihapus. menyangkut masalah adanya bagian tertentu dari al-Qur'an ataupun Hadits yang "dihapus" (mansukh) dan yang "menghapus" (nasikh). [6] Ini membawa kita kembali pada polemik sekitar kiblat shalat yang telah dikemukakan di atas. namun sebagian besar ulama menganutnya. Yang jelas ialah. pendirian Abu Bakar dan Umar membuktikan bahwa yang dituju oleh hukum ialah makna atau pesan yang dikandungnya (al-ahkam turadu li ma ani-ha). Dan karena lebih penting daripada formalitas. Konsep asbab al-Nuzul mempunyai kaitan yang erat dengan konsep lain yang juga amat penting. yang ikut berharap bahwa umat Islam akhirnya akan mampu menjawab tantangan zaman: -------------------------------------------. yaitu bahwa masalah penarikan atau pengangkatan makna umum (generalisasi) suatu nilai hukum akan menyangkut masalah penafsiran dan kemampuan memahami lebih mendalam inti pesan yang dikandungnya. Rasa keadilan mengatakan bahwa sebagian orang yang berbuat lebih banyak tentunya juga harus mendapatkan balas jasa dan penghargaan lebih banyak. konsep nasikh-mansukh juga mengandung kesadaran historis di kalangan ahli hukum Islam. maka makna tidak boleh ditinggalkan.masing-masing tentara itu diabaikan. MASALAH HISTORIS AJARAN KEAGAMAAN Itulah wujud contoh apa yang dikemukakan di atas. yang menjadi salah satu tumpuan harapan bahwa Islam akan mampu lebih baik dalam menjawab tantangan zaman di masa depan. tidaklah dimaksudkan pada dirinya sendiri. seperti dikatakan rektor al-Azhar.

membuat agama itu mampu menampung ilham baru apapun ke dalam realita dari warisan dan dari titik tolak mulanya yang kreatif. Dalam kitab ini dijelaskan tentang adanya konteks sejarah bagi ajaran agama-agama sehingga menghasilkan manifestasi lahiriah yang berbeda-beda. namun mereka tidak pernah mengingkari prinsip bahwa ketepatan historis adalah fondasi semua pengetahuan keagamaan. dan semua cara pengobatan itu sebagai cara menyingkirkan penyakit dan mengembalikan kesehatan adalah satu. [8] Sekarang bandingkan ungkapan Hodgson itu dengan yang dapat kita baca dalam sebuah kitab klasik. Jadi jalan tauhid pun satu. yang sejak dari semula mempunyai tempat begitu besar dalam dialognya. yang dapat terjadi lewat penelitian ilmiah atau pengalaman rohani baru. Jari-jari tersebut merupakan jalan-jalan yang berbeda-beda menurut perbedaan garis yang menghubungkan antara titik pusat lingkaran itu dengan setiap titik yang ditentukan pada garis lingkar luarnya. Al-Syafi'i membawa ke depan kecenderungan yang sudah ada secara laten dalam karya (Nabi) Muhamad sendiri ketika ia menekankan pemahaman al-Qur'an secara benar-benar konkret dalam interaksi historisnya dengan kehidupan Nabi Muhamad dan masyarakat beliau. [9] Dalam syarah Fushush al-Hikam diuraikan sebagai berikut: Jika cara turunnya ajaran ke dalam jiwa para Nabi itulah yang dimaksud dengan kesatuan cara yang diturunkannya semua ajaran (dari Tuhan). sepanjang ajaran tentang pasrah kepada Allah (Islam) berdasarkan kepercayaan kepada Tuhan Yang Maha Esa (tawhid). Sebab. Mas'udi (3/3) Tetapi barangkali modal potensial terbesar Islam yang paling hebat ialah kesadaran historisnya yang jelas. lalu mengapa agama para Nabi itu berbeda-beda? Jawabnya ialah. namun tujuannya adalah satu. dalam syarah al-Syaikh Abd-al-Razzaq al-Qasyani. seperti jari-jari yang menghubungkan garis luar lingkaran dengan titik pusat lingkaran itu. kesediaan mengikuti dengan sungguh-sungguh bahwa tradisi agama terbentuk dalam waktu. Sebab perbaikan setiap umat adalah dengan menghilangkan keburukan . dan tujuannya ialah hidayah ke arah kebenaran. tetapi perbedaan kesiapan umat manusia mengakibatkan perbedaan agama dan aliran. karena terdapat perbedaan kesiapan antara berbagai umat maka berbeda pula bentuk-bentuk jalan tauhid dan bagaimana jalan itu ditempuh.3. Padahal inti semua agama yang benar. yaitu kitab Muhyi al-Din ibn al-Arabi. Ia (al-Syafi'i) melakukan hal ini memang tanpa ketepatan sejarah tertentu. yakni kesehatan.Artikel Yayasan Paramadina Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota I. Sama juga dengan cara pengobatan yang berbeda-beda. tetapi itu bukanlah maksudnya yang semula dan meskipun oleh kaum muslim kemudian hari kajian yang jujur tentang kenyataan sejarah masa silam Islam ditukar dengan gambaran stereotipikal dan berang. tujuan dan hakikat metode itu semuanya satu. Maka begitu pula cara turunnya ajaran kepada Para Nabi adalah satu.Relevansinya Bagi Pandangan Historisis Segi-Segi Tertentu Ajaran Keagamaan oleh Masdar F. KONSEP ASBAB AL-NUZUL . dan selalu mempunyai dimensi historis. Fushush al-Hikam. sementara maksud.

Hal yang sudah amat jelas ini perlu dipertegas. tetapi juga kulturalnya. meskipun bahasa mereka berbeda-beda. sedemikian dekatnya sehingga kedua bahasa itu lebih dekat daripada bahasa bukan Arab (Ajam) satu dari yang lain. yaitu Adam. [10] Pendekatan historis ini tidaklah berarti relativisasi total ajaran agama dan sifat yang memandang sebagai tidak lebih daripada produk pengalaman sejarah belaka. Dan yang pertama mengetahui hal itu ialah bapak mereka. juga tidak kepada suatu sebab khusus dari asbab al-Nuzul munculnya suatu ajaran atau hukum. meskipun bahasa itu berlainan. agar kita waspada agar jangan sampai kita terkungkung oleh lingkaran kebahasaan semata dan terjerumus ke dalam sikap mental seolah-olah suatu nilai akan hilang kebenarannya jika tidak dinyatakan dalam bahasa tertentu atau ungkapan kebahasaan tertentu yang dianggap suci. terdapat kemungkinan bahwa "tujuh lapis langit" adalah bahasa kultural (yang historis). al-Mulk/67:3). dan dengan sabda itu Allah menjelaskan apa yang dikendaki dari mahlukNya dan apa perintahNya. [11] Namun masalah kebahasaan mungkin akan ternyata tidak terbatas hanya kepada segi linguistiknya semata. yang tidak tergantung kepada konteks. Bahasa termasuk kategori historis.yang khusus ada padanya. Tentang hal ini. Maka banyak para ahli yang akhirnya sampai kepada persoalan bahasa: bagaimana kita mempersepsi suatu ungkapan linguistik untuk dapat melakukan generallisasi tinggi dari makna immediate-nya ke makna universalnya. karena kosmologi yang umum pada waktu itu. Dan karena yang universal ini tidak terikat oleh ruang dan waktu. Dan jika masalah kebahasaan menyangkut pula segi kultural ini. memang mengenal adanya konsep demikian. Justru dalam penegasan tentang kesatuan agama para Nabi terkandung makna yang tegas bahwa ada sesuatu yang benar-benar universal dalam setiap agama dan menjadi titik pertemuan antara semua agama. dan hidayah mereka bersumber dari berbagai sentra dan martabat yang berbeda-beda menurut tabiat dan kejiwaan mereka. dan tidak hanya berkaitan dengan kasus spesifik . Padahal bahasa Ibrani adalah paling dekat ke bahasa Arab. keterangan yang cukup baik diberikan oleh Ibn Taimiyah. melainkan menyangkut seluruh Kitab Suci itu seutuhnya. khususnya sekitar Timur Tengah. penting sekali memahami penegasan dalam Kitab Suci bahwa Allah tidak mengutus seorang Rasulpun kecuali dengan bahasa kaumnnya (QS. demikian: Jadi diketahui bahwa Tuhan mengajari jenis manusia agar mengungkapkan apa yang dikehendaki dan digambarkan dalam benaknya dengan bahasanya. Ibrahim/14:4). Maka meskipun bahasa para Nabi itu bermacam-macam. dan kesadaran kebahasaan akan dengan sendirinya menyangkut kesadaran historis. yaitu bagaimana menangkap pesan inti yang uraiversal itu. dan umat manusiapun kemudian mengetahui seperti Adam mengetahui. namun tujuan dan makna risalah mereka semua sama. jika dalam al-Qur'an disebutkan bahwa Allah menciptakan tujuh lapis langit (QS. Allah telah memberi wahyu kepada Musa dalam bahasa Ibrani (Hebrew) serta kepada Muhamad dalam bahasa Arab. maka dapat disebut "tidak historis". Tetapi masalahnya tetap sama. Misalnya. Berkaitan dengan ini. maka konsep asbab al-nuzul dapat diperluas sehingga tidak hanya menyangkut sebuah ayat tertentu saja misalnya. dan semuanya itu adalah sabda (Kalam) Allah.

175. Nusantara 1955 M/1374 H). dari sudut pendekatan historis dan ilmiah kepada wahyu Tuhan. Segi amat menarik dari masalah ini ialah adanya teori dalam nasikh-mansukh bahwa suatu firman mungkin saja masih tetap bertahan (tidak dihapus) dari segi bunyi lafalnya. firman ini dalam isi hukum atau makna legalnya telah menghapus firman Allah: "Orang yang berzina.4. Dalam bahasa fiqhnya. kita tidak hanya akan mendapat manfaat dari pengetahuan tentang asbab al-nuzul saja. 7. Jika benar temuan itu maka kita akan lebih mampu memahami penuturan al-Qur'an (al-Fajr/87:6-8) tentang kaum 'Ad dan pesan suci di balik penuturan itu. 5. Risalah). seperti "ayat cambuk" diatas: sebaliknya. 161. h. Ahmad Von Denffer. maka rajamlah mereka sama sekali. Al-Mu'in al-Mubin. Kairo. hh. Khalifah kedua bahwa ada firman bahwa hukuman orang yang sudah beristri atau bersuami kemudian berzina ialah dirajam sampai mati. namun hukumnya masih berlaku. (Buku ini dapat diperoleh dalam terjemahan Indonesia. Menurut para ulama. 2.177. 'Abd al-Hamid Hakim. Kairo. Dr 'Abd al-Fattah. 3. al-Nur/4:24). hh. tetapi juga pengetahuan yang lebih menyeluruh tentang pola budaya Arabia dalam sejarahnya yang panjang. h. khususnya Timur Tengah. Tarikh al-Tasyri' al-Islami. ada kemungkinan suatu firman dihapus (terhapus?) dari segi lafalnya.96-144 dan 170-176. Maka dari sudut ini sungguh besar harapan kita kepada kegiatan penelitian ilmiah di bidang kultural yang mulai tumbuh di Jazirah Arabia. Al-Wahidi al-Nisaburi. 'Ulum al-Qur'an. tetapi maknanya sudah tidak berlaku. sebelum Islam. Al-Risalah. Kairo: Markaz al-Ahram. Q. bukan sekedar dicambuk seratus kali seperti yang ada dalam al-Qur'an sekarang ini. Terutama kegiatan arkeologis yang baru-baru ini secara spektakuler. berhasil menemukan kota kuna Ubar (Iram) yang didirikan oleh Syaddad ibn Ad hampir empat ribu tahun yang lalu. Asbab al-Nuzul. sebagai kelanjutan dan pengembangan ide Imam al-Syafi'i. 1988. 6. seperti "ayat rajam" di atas. Pembahasan panjang lebar diberikan Imam al-Syafi'i dalam kitabnya yang terkenal. hh. semasa Nabi. tetapi meliputi seluruh kondisi kultural dunia. perempuan dan lelaki. berkat teknologi satelit. Karena itu. firman itu berbunyi: Lelaki maupun perempuan kawin jika berzina. jil. dan (bagi kita sekarang) sesudah Islam. ada "penghapusan lafal tapi makna hukumnya tetap" . 1990. 4. Ibid. 177 dan 185. 4. Dar al-Ittihad al-'Arabi. lebih khusus lagi Jazirah Arabia sebagai "situs" langsung wahyu Allah kepada Nabi Muhamad. [12] CATATAN 1.92-93. Menurut Umar.1985). 1968.. h. Termasuk masalah Nasikh-Mansukh atau "hapus menghapus" ini adalah keterangan Umar.dalam kehidupan Nabi dan masyarakat beliau pada saat itu.. cambuklah masing-masing seratus kali". an Introduction to the Sciences of the Qur'an (London: The Islamic Foundation. Ibid. h.s.48. 4 jilid (Bukittinggi.

"Agama Islam" yang diridhai Allah dan dengan itu diutus-Nya pada Rasul ialah "istislam " (sikap tundukpatuh) kepada Allah semata. (1987). tt.. yaitu tunduk dan penghambaan diri kepada-Nya. Ibn Taimiyah. seperti dapat dilihat dalam praktek di Kerajaan Saudi Arabia. 7507173 Fax. (021) 7507174 Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota Please direct any suggestion to Media Team . 8. 7501983. 1992. dengan menyembah (beribadat) kepada-Nya semata. h. 9. Kairo: Mushthafa al-Babi al-Halabi. 11. "Jadi "islam" pada asalnya termasuk bab tindakan (bukan nama). Para ahli bahasa mengatakan begini: "Seseorang melakukan islam (aslama) jika ia melakukan istislam (istaslama). (Chicago. Metro Pondok Indah Pondok Indah Plaza I Kav. Kairo: Dar al-Thiba'ah al-Muhammadiyah. al-Iman.[kalimat dalam huruf Arab] atau sebaliknya "penghapusan hukum tapi lafalnya tetap" [kalimat dalam huruf Arab] Bagaimana umat Islam memperoleh teori yang "aneh" ini. Lihat berita arkeologis penting ini dalam Time.S. Lihat [kalimat dengan huruf Arab] oleh [kalimat dengan huruf Arab]. tanpa orang lain.. yaitu tindakan kalbu dan anggota badan ") 10. Hodgson. (021) 7501969. Lihat penjelasan makna asal kata-kata Arab "islam" dalam kitab Ibn Taimiyah. jld. 30. bukanlah seorang muslim. 3 jilid. 1974). 82. Dan orang yang tidak menyembah-Nya. Dalam pembahasannya. UA 20-21 Jakarta Selatan Telp. The Venture of Islam. op. hh. The University of Chicago Press. -------------------------------------------Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah Editor: Budhy Munawar-Rachman Penerbit Yayasan Paramadina Jln. "Islam" ialah "istislam" kepada Allah. Marshall G. bahkan besar kepala untuk menyembah-Nya. 3. h. cit. Orang yang menyembah-Nya dan bersama Dia menyembah "tuhan" yang lain bukanlah seorang yang tunduk patuh (muslim). Pangkalnya pada kalbu ialah sikap tunduk kepada Allah semata. Ibn Taimiyah antara lain mengatakan: [kalimat dalam huruf Arab] (Hakikat perbedaannya adalah bahwa arti "islam" ialah "din" dan "din" adalah masdar dari kata kerja "dana-yadinu" (yang menunjuk makna) jika (seseorang) tunduk dan patuh. 17 Peb. h. 223-4. dapat dilihat dari kesepakatan hampir seluruh para ulama bahwa orang yang sudah kawin dan berzina memang harus dihukum rajam sampai mati. h. 12. 8. 437.

Artikel Yayasan Paramadina
Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota I.4. NASIKH MANSUKH DALAM AL-QUR'AN (1/2) oleh KH Ali Yafie Dari awal hingga akhir, al-Qur'an merupakan kesatuan utuh. Tak ada pertentangan satu dengan lainnya. Masing-masing saling menjelaskan al-Qur'an yufassir-u ba'dhuhu ba'dha. [1] Dari segi kejelasan, ada empat tingkat pengertian. Pertama, cukup jelas bagi setiap orang. Kedua, cukup jelas bagi yang bisa berbahasa Arab. Ketiga, cukup jelas bagi ulama/para ahli, dan keempat, hanya Allah yang mengetahui maksudnya. [2] Dalam al-Qur'an dijelaskan tentang adanya induk pengertian hunna umm al-kitab [3] yang sudah mempunyai kekuatan hukum tetap. Ketentuan-ketentuan induk itulah yang senantiasa harus menjadi landasan pengertian dan pedoman pengembangan berbagai pengertian, sejalan dengan sistematisasi interpretasi dalam ilmu hukum -hubungan antara ketentuan undang-undang yang hendak ditafsirkan dengan ketentuan-ketentuan lainnya dari undang-undang tersebut maupun undang-undang lainnya yang sejenis, yang harus benar-benar diperhatikan supaya tidak ada kontradiksi antara satu ayat dengan ayat lainnya. Hal ini untuk menjamin kepastian hukum. Sementara, unsur-unsur bahasa, sistem dan teologi dari teori interpretasi hukum masih harus dilengkapi dengan satu unsur lain yang tidak kalah pentingnya. Itulah unsur sejarah yang melatarbelakangi terbentuknya suatu undang-undang, yang biasa dikenal "interpretasi historis." Dalam ilmu tafsir ada yang disebut asbab al-nuzul, yang mempunyai unsur historis cukup nyata. Dalam kaitan ini para mufassir memberi tempat yang cukup tinggi terhadap pengertian ayat al-Qur'an. Dalam konteks sejarah yang menyangkut interpretasi itulah kita membicarakan masalah nasikh-mansukh. Dalam hal ini masalah yang terpenting untuk kita soroti adalah masalah asas, pengertian/batasan, jenis-jenis, kedudukan, hirarki penggunaan, kawasan penggunaan dan hikmah kegunaannya. ASAS Andaikan al-Qur'an tidak diturunkan dari Allah, isinya pasti saling bertentangan. [4] Ungkapan ini sangat penting dalam rangka memahami dan menafsirkan ayat-ayat serta ketentuan-ketentuan yang ada dalam al-Qur'an. Kitab Suci yang terdiri dari 6000 ayat lebih dan terbagi dalam 114 kelompok surat, mengandung berbagai jenis pembicaraan dan persoalan. Didalamnya terkandung antara lain nasihat, sejarah, dasar-dasar ilmu pengetahuan, keimanan, ajaran budi luhur, perintah dan larangan. Masalah-masalah yang disebutkan terakhir ini, tampak jelas dengan adanya ciri-ciri hukum didalamnya. Semua jenis masalah ini terkait satu dengan lainnya dan saling menjelaskan. Dalam kaitan itu, Imam Suyuthi maupun Imam Syathibi banyak

mengulas prinsip tersebut. Mereka mencatat adanya pendapat yang memandang adanya tiap ayat atau kelompok ayat yang berdiri sendiri. Tapi semuanya berpendapat bahwa antara satu ayat dengan ayat lainnya dari al-Qur'an tidak ada kontradiksi (ta'arudl). Dari asas inilah lahir metode-metode penafsiran untuk meluruskan pengertian terhadap bagian-bagian yang sepintas lalu tampak saling bertentangan. Adanya gejala pertentangan (ta'arudl) yang demikian merupakan asas metode penafsiran dimana Nasikh-Mansukh merupakan salah satu bagiannya. [5] PENGERTIAN Nasikh-Mansukh berasal dari kata naskh. Dari segi etimologi, kata ini dipakai untuk beberapa pengertian: pembatalan, penghapusan, pemindahan dan pengubahan. Menurut Abu Hasyim, pengertian majazinya ialah pemindahan atau pengalihan. [6] Diantara pengertian etimologi itu ada yang dibakukan menjadi pengertian terminologis. Perbedaan terma yang ada antara ulama mutaqaddim dengan ulama mutaakhkhir terkait pada sudut pandangan masing-masing dari segi etimologis kata naskh itu. Ulama mutaqaddim memberi batasan naskh sebagai dalil syar'i yang ditetapkan kemudian, tidak hanya untuk ketentuan/hukum yang mencabut ketentuan/hukum yang sudah berlaku sebelumnya, atau mengubah ketentuan/hukum yang pertama yang dinyatakan berakhirnya masa pemberlakuannya, sejauh hukum tersebut tidak dinyatakan berlaku terus menerus, tapi juga mencakup pengertian pembatasan (qaid) bagi suatu pengertian bebas (muthlaq). Juga dapat mencakup pengertian pengkhususan (makhasshish) terhadap suatu pengertian umum ('am). Bahkan juga pengertian pengecualian (istitsna). Demikian pula pengertian syarat dan sifatnya. Sebaliknya ulama mutaakhkhir memperciut batasan-batasan pengertian tersebut untuk mempertajam perbedaan antara nasikh dan makhasshish atau muqayyid, dan lain sebagainya, sehingga pengertian naskh terbatas hanya untuk ketentuan hukum yang datang kemudian, untuk mencabut atau menyatakan berakhirnya masa pemberlakuan ketentuan hukum yang terdahulu, sehingga ketentuan yang diberlakukan ialah ketentuan yang ditetapkan terakhir dan menggantikan ketentuan yang mendahuluinya. Dengan demikian tergambarlah, di satu pihak naskh mengandung lebih dari satu pengertian, dan di lain pihak -dalam perkembangan selanjutnya- naskh membatasinya hanya pada satu pengertian. [7] JENIS-JENIS NASKH Masalah pertama yang ingin kami soroti dalam bagian ini ialah adanya naskh antara satu syari'at dengan syari'at lainnya. Ini terjadi sebagaimana dapat kita amati antara syari'at Nabi Isa as. dengan syari'at hukum agama Yahudi yang lebih dahulu ada. Dalam hubungan ini, dapat kita katakan bilamana kita mengikrarkan Islam sebagai syari'at, dengan sendirinya kita mengaku adanya naskh, karena syari'at-syari'at sebelumnya tidak akan kita anut lagi dan semua hukumnya pun tidak akan kita berlakukan, sepanjang tidak dikukuhkan kembali oleh syari'at Nabi Muhammad saw. Jadi, adanya nasikh-mansukh antar syari'at itu merupakan salah satu jenis naskh. Hal semacam ini jika ditinjau dari

segi pendekatan ilmu hukum, sangat jelas maksudnya, misalnya pengertian suatu pemerintahan/negara dengan pemerintahan/ negara lainnya. Contohnya, adanya pemerintahan/negara kolonial Hindia Belanda dengan pemerintahan/negara nasional Republik Indonesia. Dalam kaitan ini soal kedaulatan, hukum dasar dan hukum-hukum yang langsung berhubungan dengan kedaulatan, serta hukum-hukum lainnya semuanya dicabut dan tidak diberlakukan lagi sepanjang tidak dikukuhkan pemerintah/negara baru itu. Jika kita sudah melihat adanya nasikh-mansukh antar syari'at, apakah didalam satu syari'at terjadi juga nasikh-mansukh antara hukum yang satu dengan hukum yang lainnya? Jika kita kembali pada syari'at Islam sendiri, kita akan menemui beberapa kasus yang dapat memberikan jawaban atas masalah ini. 1. Sesudah hijrah ke Madinah, kaum Muslim masih berkiblat ke arah Bait al-Muqaddas. Sekitar enam bulan kemudian, Allah menetapkan ketentuan lain: keharusan berkiblat ke arah Bait al-Haram. [8] Ini berarti terjadi nasikh-mansukh dalam hukum kiblat. Kasus lain misalnya dalam hal shalat yang semula tidak diperintahkan lima waktu dengan 17 raka'at. Ini juga berarti telah terjadi nasikh-mansukh dalam hukum shalat. 2. Kasus-kasus yang digambarkan di atas, semuanya menyangkut bidang ibadat. Sedangkan di bidang mu'amalat, dapat pula kita catat beberapa kasus, misalnya hukum keluarga. Sebagai contoh, semula ditetapkan masa tenggang ('iddah) bagi seorang janda, lamanya 1 (satu) tahun. [9] Beberapa waktu kemudian ditetapkan ketentuan hukum lain bahwa masa tenggangnya 4 bulan 10 hari. [10] Di bidang lain ada pula perubahan-perubahan yang menyangkut ketentuan hukum pembelaan diri, tentang minuman keras dan sebagainya. Dari seluruh kasus-kasus tersebut dapat ditarik kesimpulan, memang terbukti adanya nasikh-mansukh yang sifatnya intern dalam syari'at Islam. Beberapa ketentuan hukum yang sudah berlaku, kemudian dicabut atau berakhir masa pemberlakuannya dan diganti dengan ketentuan hukum lain. Hal seperti ini, jika dilihat dari sudut pendekatan ilmu hukum adalah hal yang lumrah dan banyak terjadi. Bahwa suatu undang-undang atau peraturan hukum lainnya dicabut atau dinyatakan tidak berlaku lagi, kemudian diganti dengan menetapkan undang-undang atau peraturan lain. Persoalan lebih jauh dalam masalah nasikh-mansukh ini ialah soal nasikh-mansukh antara al-Qur'an dengan Sunnah. Adanya nasikh-mansukh antara satu ayat yang memuat ketentuan hukum dalam al-Qur'an dengan lain ayat yang juga memuat ketentuan hukum dalam soal yang sama, adalah satu hal yang tidak diperselisihkan lagi. Demikian pula adanya nasikh-mansukh antara satu hadits yang memuat ketentuan hukum dalam soal yang sama, merupakan satu hal yang tidak diperselisihkan lagi. Juga, adanya nasikh-mansukh antara satu hadits yang memuat ketentuan hukum dalam Sunnah dengan lain hadits yang juga memuat ketentuan hukum dalam soal yang sama, merupakan satu hal yang sudah tidak diperselisihkan lagi. Masalah yang menimbulkan perbedaan pendapat diantara para ulama ialah adanya nasikh-mansukh silang antara al-Qur'an dengan Hadits/Sunnah. Jika disimak alasan masing-masing pihak, mungkin dapat ditarik satu garis bahwa faktor utama terjadinya perbedaan pendapat ialah pandangan masing-masing

tentang kedudukan hirarki syari'at itu sendiri.

al-Qur'an

dan

Sunnah

dalam

(bersambung 2/2)

-------------------------------------------Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah Editor: Budhy Munawar-Rachman Penerbit Yayasan Paramadina Jln. Metro Pondok Indah Pondok Indah Plaza I Kav. UA 20-21 Jakarta Selatan Telp. (021) 7501969, 7501983, 7507173 Fax. (021) 7507174 Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota
Please direct any suggestion to Media Team

Artikel Yayasan Paramadina
Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota I.4. NASIKH MANSUKH DALAM AL-QUR'AN (2/2) oleh KH Ali Yafie Dalam kaitan hirarki al-Qur'an dan Sunnah, ada semacam kesepakatan bahwa dalam nasikh-mansukh kedua unsurnya harus sama tingkatnya dan sama nilai dan sifatnya. Lembaga tawatur dan ahad termasuk faktor yang dipertimbangkan. Jalan pikiran seperti ini terdapat juga di kalangan ahli hukum bahwa suatu peraturan hukum tidak dapat dicabut dengan peraturan hukum lainnya yang lebih rendah tingkatannya. Demikian pula lembaga yang mengeluarkan peraturan hukum menjadi faktor pertimbangan. Berdasarkan pemikiran ini, ada satu hal yang perlu kita catat bahwa setelah Rasulullah saw wafat maka tidak ada lagi nasikh-mansukh yang mungkin terjadi pada syari'at. Jenis nasikh-mansukh yang diuraikan diatas, menyangkut segi formalnya. Jenis lain yang menyangkut segi materialnya, ada yang bersifat eksklusif (sharih) dan inklusif (dlimni). Untuk yang bersifat sharih, nasikh itu langsung menjelaskan mansukhnya, misalnya hukum kiblat. Ketentuan yang nasikh (pengganti) ditetapkan secara jelas. [12] Ini contoh dari al-Qur'an. Sedangkan contoh lain dari Sunnah misalnya hukum ziarah kubur. Didalam hadits disebutkan, "Pernah aku melarang kalian melakukan ziarah kubur. Sekarang lakukanlah!". [12] Berbeda dengan hal tersebut diatas, nasikh yang bersifat dlimni tidak memuat penegasan didalamnya bahwa ketentuan yang mendahuluinya tercabut, tetapi isinya cukup jelas bertentangan dengan ketentuan yang mendahuluinya. Jenis seperti inilah yang banyak ditemukan dalam hukum syari'at. KEDUDUKAN NASKH Masalah naskh bukanlah sesuatu yang berdiri sendiri. Ia merupakan bagian yang berada dalam disiplin Ilmu Tafsir dan Ilmu Ushul Fiqh. Karena itu masalah naskh merupakan techniseterm dengan batasan pengertian yang baku. Dalam

kaitan ini Imam Subki menerangkan adanya perbedaan pendapat tentang kedudukan naskh: apakah ia berfungsi mencabut (raf) atau menjelaskan (bayan). [13] Ungkapan Imam Subki ini dapat dikaitkan dengan hal-hal yang menyangkut jenis-jenis naskh yang diuraikan di atas. Jika ditinjau dari segi formalnya maka fungsi pencabutan itu lebih nampak. Tapi bila ditinjau dari segi materinya, maka fungsi penjelasannya lebih menonjol. Meski demikian, pada akhirnya dapat dilihat adanya suatu fungsi pokok bahwa naskh merupakan salah satu interpretasi hukum. HIRARKI PENGGUNAAN NASKH Yang menjadi persoalan sekarang, apakah naskh menempati urutan pertama dalam interpretasi hukum-syari'at? Dalam upaya melakukan interpretasi suatu peraturan dalam syari'at, baik al-Qur'an maupun Hadits setiap ketentuan hukum itu harus jelas. Pengertiannya tidak boleh meragukan, supaya kepastian hukumnya terjamin. Semua segi yang dapat memperjelas kondisi sesungguhnya, maksud ketentuan hukum itu harus disoroti dan didalami. Misalnya, tentang segi bahasanya, proses terjadinya, hubungannya antara ketentuan hukum itu dengan ketentuan hukum yang lain. Dalam hal ini harus ada upaya mengawinkan kedua ketentuan hukum itu (jam') atau memperkuat salah satu diantaranya (tarjih). Baik upaya jam' maupun tarjih sudah mempunyai tata aturan yang sudah baku dalam disiplin ilmu Usul Fiqh. Jika tingkat interpretasi ini sudah ditempuh dan ternyata kontradiksi antara dua ketentuan hukum itu juga sudah teratasi, maka pada tingkat inilah dipersoalkan kemungkinan adanya nasikh-mansukh antara dua ketentuan hukum tersebut. Kuncinya terletak pada soal historis yang menyangkut kedua ketentuan hukum tersebut. Faktor asbab al-nuzul bagi ayat dan asbab al-wurud bagi Hadits, ada dalam tingkat ini. Maka setiap masalah nasikh-mansukh berada pada tingkat akhir dari suatu upaya interpretasi. [14] Kawasan Penggunaan Naskh Masalah yang tidak kurang pentingnya disoroti, sejauh mana jangkauan naskh itu? Apakah semua ketentuan hukum didalam syari'at ada kemungkinannya terjangkau naskh? Dalam hal ini Imam Subki menukil pendapat Imam Ghazali bahwa esensi taklif (beban tugas keagamaan) sebagai suatu kebulatan tidak mungkin terjangkau oleh naskh. Selanjutnya, Syekh Asshabuni mencuplik pendapat jumhur ulama bahwa naskh hanya menyangkut perintah dan larangan, tidak termasuk masalah berita, karena mustahil Allah berdusta. [16] Sejalan dengan ini Imam Thabari mempertegas, nasikh-mansukh yang terjadi antara ayat-ayat al-Qur'an yang mengubah halal menjadi haram, atau sebaliknya, itu semua hanya menyangkut perintah dan larangan, sedangkan dalam berita tidak terjadi nasikh-mansukh. Ungkapan ini cukup penting diperhatikan, karena soal naskh adalah semata-mata soal hukum, yang hanya menyangkut perintah dan larangan, dan merupakan dua unsur pokok hukum. Hal seperti yang diuraikan di atas, di bidang ilmu Hukum dapat kita lihat gambarnya pada Hukum Dasar, misalnya Undangundang Dasar Negara yang tidak dapat dijangkau pencabutan. Adanya pencabutan terhadap sesuatu peraturan

hukum dan penetapan peraturan lain untuk menggantikannya hanya berlaku pada undang-undang organik atau peraturan, kedudukan dan kawasan naskh. Dengan demikian, dengan mudah kita dapat mengenal beberapa persyaratan, yaitu: 1. Adanya ketentuan hukum yang dicabut (mansukh) dalam formulasinya tidak mengandung keterangan bahwa ketentuan itu berlaku untuk seterusnya atau selama-lamanya. 2. Ketentuan hukum tersebut bukan yang telah mencapai kesepakatan universal tentang kebaikan atau keburukannya, seperti kejujuran dan keadilan untuk pihak yang baik serta kebohongan dan ketidakadilan untuk yang buruk. 3. Ketentuan hukum yang mencabut (nasikh) ditetapkan kemudian, karena pada hakikatnya nasikh adalah untuk mengakhiri pemberlakuan ketentuan hukum yang sudah ada sebelumnya. 4. Gejala kontradiksi sudah tidak dapat diatasi lagi. HIKMAH ADANYA NASKH Adanya nasikh-mansukh tidak dapat dipisahkan dari sifat turunnya al-Qur'an itu sendiri dan tujuan yang ingin dicapainya. Turunnya Kitab Suci al-Qur'an tidak terjadi sekaligus, tapi berangsur-angsur dalam waktu 20 tahun lebih. Hal ini memang dipertanyakan orang ketika itu, lalu Qur'an sendiri menjawab, pentahapan itu untuk pemantapan, [17] khususnya di bidang hukum. Dalam hal ini Syekh al-Qasimi berkata, sesungguhnya al-Khalik Yang Maha Suci lagi Maha Tinggi mendidik bangsa Arab selama 23 tahun dalam proses tadarruj (bertahap) sehingga mencapai kesempurnaannya dengan perantaraan berbagai sarana sosial. Hukum-hukum itu mulanya bersifat kedaerahan, kemudian secara bertahap diganti Allah dengan yang lain, sehingga bersifat universal. Demikianlah Sunnah al-Khaliq diberlakukan terhadap perorangan dan bangsa-bangsa dengan sama. Jika engkau melayangkan pandanganmu ke alam yang hidup ini, engkau pasti akan mengetahui bahwa naskh (penghapusan) adalah undang-undang alami yang lazim, baik dalam bidang material maupun spiritual, seperti proses kejadian manusia dari unsur-unsur sperma dan telur kemudian menjadi janin, lalu berubah menjadi anak, kemudian tumbuh menjadi remaja, dewasa, kemudian orang tua dan seterusnya. Setiap proses peredaran (keadaan) itu merupakan bukti nyata, dalam alam ini selalu berjalan proses tersebut secara rutin. Dan kalau naskh yang terjadi pada alam raya ini tidak lagi diingkari terjadinya, mengapa kita mempersoalkan adanya penghapusan dan proses pengembangan serta tadarruj dari yang rendah ke yang lebih tinggi? Apakah seorang dengan penalarannya akan berpendapat bahwa yang bijaksana langsung membenahi bangsa Arab yang masih dalam proses permulaan itu, dengan beban-beban yang hanya patut bagi suatu bangsa yang telah mencapai kemajuan dan kesempurnaan dalam kebudayaan yang tinggi? Kalau pikiran seperti ini tidak akan diucapkan seorang yang berakal sehat, maka bagaimana mungkin hal semacam itu akan dilakukan Allah swt. Yang Maha Menentukan hukum, memberikan beban kepada suatu bangsa yang masih dalam proses pertumbuhannya dengan beban yang tidak akan bisa dilakukan melainkan oleh suatu bangsa yang telah menaiki jenjang kedewasaannya? Lalu, manakah yang lebih baik, apakah syari'at kita yang menurut sunnah Allah ditentukan hukum-hukumnya sendiri, kemudian di-nasakh-kan karena dipandang perlu atau disempurnakan hal-hal yang dipandang tidak mampu dilaksanakan manusia

dengan alasan kemanusiaan? Ataukah syari'at-syari'at agama lain yang diubah sendiri oleh para pemimpinnya sehingga sebagian hukum-hukumnya lenyap sama sekali? [18] Syari'at Allah adalah perwujudan dari rahmat-Nya. Dia-lah yang Maha Mengetahui kemaslahatan hidup hamba-Nya. Melalui sarana syari'at-Nya, Dia mendidik manusia hidup tertib dan adil untuk mencapai kehidupan yang aman, sejahtera dan bahagia di dunia dan di akhirat. CATATAN 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. 12. 13. 14. 15. 16. 17. 18. Jalaluddin al-Suyuthi, Al-Itqan Ibn Katsir, Tafsir-u 'l-Qur'an-i 'l-'Azhim QS. Ali 'Imran: 7 QS. Al-Nisa: 82 Imam Abu Zahrah, Ushul al-Fiqh Al-Thusi, Uddat al-Ushul 'Abbas Mutawalli Hamadah, Al-Sunnat al-Nabawiyyah QS. Al-Baqarah: 114 QS. Al-Baqarah: 240 QS. Al-Baqarah: 234 QS. Al-Baqarah: 142 Imam Muslim, Al-Jami' al-Shahih Imam Al-Subki, Jam' al-Jawami' Abdul Wahab Khallaf, Ilmu Ushul al-Fiqh Imam Al-Subki, Jam' al-Jawami Muhammad Ali Al-Shabuni, Rawai'al-Bayan QS. Al-Furqan: 32 Al-Qasimi, Mahasin al-Ta'wil.

-------------------------------------------Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah Editor: Budhy Munawar-Rachman Penerbit Yayasan Paramadina Jln. Metro Pondok Indah Pondok Indah Plaza I Kav. UA 20-21 Jakarta Selatan Telp. (021) 7501969, 7501983, 7507173 Fax. (021) 7507174 Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota
Please direct any suggestion to Media Team

Artikel Yayasan Paramadina
Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota IV.29. PANDANGAN KONTEMPORER TENTANG FIQH (1/4) Telaah Problematika hukum Islam di Zaman Modern Oleh Nurcholish Madjid Salah satu kesibukan para intelektual Muslim di seluruh dunia saat ini ialah memikirkan bagaimana menerjemahkan nilai-nilai Islam ke dalam perangkat nyata kehidupan modern. Seorang Muslim yang serius tentu menyadari, betapa ia dihadapkan pada tantangan hidup dalam suatu masyarakat modern, yaitu suatu masyarakat yang notabene merupakan kelanjutan logis, meskipun

melalui proses transmutasi yang amat besar, dari berbagai unsur tatanan dan nilai hidup yang telah pernah berkembang sebelumnya, khusus di dunia Islam. Ilmu pengetahuan modern, misalnya, dengan mudah dapat ditelusuri asal-usulnya sebagai kelanjutan dunia keilmuan Islam yang pernah berkembang dalam masanya jayanya yang "liberal," ketika kaum Muslim terlatih menghargai suatu temuan pikiran dan keilmuan baru, dan ketika wawasan mereka terbentuk karena semangat kosmopolitanisme dan universalisme sejati. Namun pada saat yang sama, karena tuntutan imannya, seorang Muslim "modern" harus tetap berada dalam pangkuan agamanya dan dijiwai nilai-nilai asasinya. Zaman modern, atau yang menurut Marshall Hodgson lebih tepat dinamakan "Zaman Teknik" (Technical Age) adalah jelas berbeda secara mendasar dari zaman agraris sebelumnya. Padahal agama Islam, sebagaimana halnya dengan agama-agama besar lain, dilahirkan dalam zaman agraris. Seperti baru saja disebutkan di atas, ini tidaklah berarti zaman modern terputus samasekali dari zaman sebelumnya Justru unsur kontinuitasnya dengan masa lalu sedemikian rupa tidak mungkin diingkari, karena dasar-dasar zaman modern ini pun diletakkan masa sebelumnya, yaitu di zaman agraris. Suatu teori kesejarahan dunia malah menyebutkan, zaman agraris sebenarnya telah mengalami perkembangan menuju ke arah kompleksitas yang tinggi pada masa Axial Age ("Masa Aksial" atau "Sumbu"), yaitu masa yang terbentang selama enam abad sejak abad kedelapan sampai abad kedua sebelum Nabi 'Isa al-Masih as. Pada saat itu terjadi perubahan asasi di mana-mana, akibat lepasnya monopoli pengetahuan tulis baca dari tangan kelas pendeta, menjadi tersebar di antara berbagai kelompok borjuis, dan karenanya watak serta kecepatan perkembangan tradisi tulis-baca itu juga berubah. Pada waktu yang sama, keseluruhan tatanan geografis bagi kegiatan bermakna kesejarahan manusia juga mengalami transformasi, sebab saat itu mulai menyebar, meliputi hampir seluruh belahan bumi. [1] Pada masa itu dengan nyata budaya manusia mulai berkembang keluar dari inti kawasan Nil-Amudarya (Mesir-Transoxiana) yang menjadi inti kawasan bumi yang berpenghuni dan berperadaban (Arab: al-Da'irat al-Ma'murah; Yunani: Oikoumene, "Daerah Berpenduduk"). Zaman Islam adalah zaman "Pasca-Sumbu" (Post-Axial), dan masa kejayaan Islam merupakan puncak perkembangan "Zaman Agraria Berkota" (Agrariante Citied Society), yaitu masyarakat agraris dengan ciri kehidupan perkotaan (urbanity) yang menonjol. Adalah dalam urbanity itu --suatu pola kehidupan sosial-ekonomi yang ditandai tingginya kegiatan ekonomi urban dan penghargaan kepadanya, khususnya perdagangan, dan etos intelektual-- terletak benang merah kontinuitas antara zaman modern dengan zaman Islam. Tapi sekali pun zaman Islam masih sepenuhnya berada dalam rangkaian zaman agraris (jadi masih mempunyai kesinambungan dengan zaman sebelumnya), perubahan yang dibawanya sedemikian radikal dan eksplosif, sebanding dengan radikal dan eksklusif pembebasan (futuhat) yang dilakukan kaum Muslim, pertama-tama atas kawasan Nil-Amudarya, kemudian segera meliputi daerah yang lebih luas, yang kurang lebih waktu itu merupakan daerah paling maju di muka bumi. Dengan flashback di atas, kiranya menjadi jelas, sesungguhnya peralihan dari masa lalu yang agraris-urban itu, ke zaman modern sekarang, ini tidaklah terlalu unik dalam pandangan sejarah umat manusia. Dan disebabkan faktor peranan sejarahnya sendiri sebagai puncak zaman agraris urban, maka Islam

Kesulitan kaum Muslim ini di antaranya tercermin dalam bagaimana menangani masalah reinterpretasi hukum Islam untuk zaman modern. Maka. Berbagai pengalaman historis yang lebih spesifik pada bangsa-bangsa Muslim dalam interaksinya dengan bangsa-bangsa Barat. ketika melakukan penjajahan atas bangsa-bangsa Muslim." sebagai kelanjutan semangat permusuhan antara orang Spanyol Kristen dengan orang Spanyol Muslim yang mereka sebut "orang Moro"). dan bukannya faktor kontinuitas kultural di atas. sementara Jepang yang Buddhis justru memperlihatkan tanda-tanda Barat dalam beberapa segi industrialnya. sebagaimana sedikit banyak ditunjukkan dalam pembicaraan di atas tadi. yaitu ilmu pengetahuan. dengan sesuatu yang lain dengan sendirinya selalu menimbulkan kesan pertentangan: Tapi. sebagaimana setiap "kesan" atau "dugaan" (dhan) tidak selamanya mengandung kebenaran. dan betapa dalam Islam. Tapi sudah tentu faktor kontinuitas prinsipil bukanlah satu-satunya perkara yang membentuk dan menentukan sikap seseorang atau komunitas dalam menghadapi perubahan zaman. pengamatan lebih jauh atas berbagai peristiwa besar menyimpulkan tidak adanya kemestian pilihan hitam putih antara kontinuitas dan perubahan. Apalagi bangsa-bangsa Barat itu. atau dapat diterangkan dalam kerangka nilai lama yang lebih luas itu. . Turki yang Muslim sampai sekarang masih menunjukkan ciri dunia ketiga yang non-industrial. misalnya. Sejarah membuktikan betapa problematiknya hubungan dogma Kristen dengan unsur pokok modernitas. Betapa pun besarnya suatu perubahan. karena unsur-unsur asasi zaman modern itu tidak asing bagi pandangan hidup kaum Muslim.memiliki potensi menjadi pewaris yang paling beruntung dari zaman modern ini. Adalah beberapa pengalaman historis permusuhan ini. tetap terdapat unsur-unsur persambungan tertentu dengan masa lalu. situasi problematik itu dapat dikata tidak ada sama sekali. khususnya pengalaman permusuhan (antara lain karena titik singgung keagamaan Islam-Kristen dan ketetanggaan geografis Timur Tengah-Eropa) justru nampak menjadi sumber problematik bangsa-bangsa Muslim menghadapi perubahan ke zaman modern. Jika kita ambil peristiwa Inkuisisi Kristen dalam menghadapi ilmu pengetahuan. yang menyebabkan kebanyakan kaum Muslim mengalami kesulitan dalam menghadapi zaman modern. karena adanya asosiasi (yang tidak seluruhnya benar) antara modernisme dan westernisme. dan pelanjut serta pengembangnya di masa depan. MASALAH KONTINUITAS DAN PERUBAHAN Kontinuitas yang mengisyaratkan pertahanan unsur-unsur masa lalu dan perubahan yang mengandung makna penggantian unsur-unsur masa lalu itu. Justru tidak jarang esensi nilai baru dalam suatu masyarakat yang berubah itu memperoleh pengukuhannya dan penguatan efektifitasnya karena mendapatkan tempat dalam sistem nilai lama yang lebih luas. Inilah yang dalam jargon ilmu sosial mutakhir disebut "modernitas tradisi". bahkan sebaliknya sikap positif terhadap ilmu pengatahuan adalah sui generis atau tiada taranya dalam pandangan hubungan organiknya yang sejati dengan sistem keimanan. praktis tidak ada hal serupa dalam Islam. jelas-jelas membawa kenangan pengalaman historis masa lampau yang penuh permusuhan (antara lain dilambangkan dan dibuktikan dalam: bagaimana para penjajah Spanyol menamakan kaum Muslim Mindanao sebagai "orang-orang Moro.

Sementara Protestantisme Eropa hanya menyiapkan lahan untuk nasionalisme melalui perluasan melek-huruf.[2] Karena observasi dan kesimpulannya itu. lapisan sarjana yang terbuka (dalam Islam) dapat berkembang sehingga meliputi seluruh masyarakat. tidak sebagai inovasi ataupun konsesi kepala pihak luar. Yaitu dipandang dari sudut semangat Islam tentang universalisme. maka tidak heran menurut Ernest Gellner. resmi dan "murni" Islam bersemangat egaliter dan keilmiahan --sementara hirarki dan ekstase (seperti dalam banyak praktek kesufian rakyat-NM berkaitan dengan bentuk-bentuknya yang bersifat pinggiran senantiasa meluas namun akhirnya ditampik. yang mengatasi baik tradisi kecil maupun Tradisi Besar. misalnya-NM). Ia katakan: Hanya Islam yang mampu bertahan sebagai keimanan yang serius. tapi sebaliknya sebagai kelanjutan dan penyempurnaan dialog lama dalam Islam. Egalitarianisme modern terpenuhi. dan pelaksanaannya dapat disajikan. Versi kerakyatan lama (seperti praktek kesufian rakyat yang tidak sah atau mu'tabarah. Jika hal ini dengan sendirinya menjadi keyakinan seorang Muslim. bahkan sering dengan nada peneguhan dan apresiasi.Garis argumen itu lebih-lebih tepat. dan samasekali tidak perlu meninggalkannya. potensi Islam yang hangkit kembali untuk skripturalisme egaliter dapat secara aktual menyatu dengan nasionalisme. dan hanya dalam Islam.. betapapun ad hoc dan eclectic-nya sikap yang melatarbelakanginya) tapi dapat bertahan dengan nilai-nilai keislamannya. Karena itu meskipun tidak merupakan sumber modernitas. yang dipersalahkan menyebabkan kemunduran dan dominasi unsur asing. jika dikenakan terhadap Islam dan kaum Muslim dalam menghadapi zaman modern. Islam adalah agama yang paling dekat dengan modernitas dibanding agama Yahudi dan Kristen. dan dengan begitu maka cita-cita "protestan" agar semua yang beriman mempunyai akses yang sama (kepada kitab Suci-NM) akan terlaksana. purifikasi/modernisasi di satu pihak. sehingga orang tidak lagi mudah mengatakan mana salah satu dari keduanya itu yang paling bermanfaat bagi yang lain. sementara secara imperatif mesti menerima kehidupan modern (sebagaimana telah menjadi kenyataan.sangat membantu adaptasi Islam ke dunia modern. Islam mungkin akan ternyata merupakan penerima manfaat modernitas itu. Tradisi Besarnya dapat dipermodern (modernisable). skripturalisme. para pengamat luar pun mengakui adanya hal yang sama. Jadi dalam Islam. dan penegahan apa yang dianggap suatu ciri lokal lama. yang pernah menjadi alas dangkal tradisi sentral sekarang menjadi kambing hitam yang dibuang.[3] Pendapat tentang tidak perlunya kaum Muslim menanggalkan . dapat dilakukan dalam bahasa dan perangkat simbol yang satu dan sama. dan sistematisasi rasional kehidupan sosial. perluasan partisipasi dalam masyarakat suci yang meliputi semua anggotanya tanpa kecuali. Kenyataan bahwa varian sentral. misalnya. Yaitu bahwa mereka. Dalam zaman cita-cita melek huruf universal. egalitarianisme spiritual. memiliki pandangan tentang Islam dan kemodernan yang mungkin membuat seorang Muslim menjadi lebih percaya diri.. Maka sosiolog terkenal Ernest Gellner.

Karena itu Islam tidak dapat dipandang sebagai bertanggung jawab atas kemunduran kaum Muslim. Metro Pondok Indah Pondok Indah Plaza I Kav. Jawaban terhadap pertanyaan ini diberikan pada akhir bukunya. "Sejauh mana orang (Muslim) harus pergi dalam proses mencapai kemakmuran yang menggiurkan dari negara-negara industri? Haruskah seseorang berjalan sedemikian jauhnya sehingga mengorbankan berbagai nilai yang secara khusus diyakini. kesimpulannya yang tegas bahwa kaum Muslim tidak meninggalkan hal-hal yang secara esensial bersifat namun perlu Islam . Dalam perkataan lain. 7501983. [5] -------------------------------------------(bersambung 2/4) Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah Editor: Budhy Munawar-Rachman Penerbit Yayasan Paramadina Jln.29. (021) 7507174 Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota Please direct any suggestion to Media Team Artikel Yayasan Paramadina Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota IV.nilai-nilai dasar keislaman mereka untuk dapat masuk zaman modern itu juga dikemukakan Maxime Rodinson. kepribadian dan identitas kelompok orang bersangkutan?"4. Rodinson menunjuk kepada kenyataan betapa masyarakat-masyarakat Islam sepanjang sejarahnya menunjukkan gejala menganut pola ekonomi yang bermacam-macam dalam zaman yang berbeda atau tempat yang berbeda. tanpa kehilangan sifatnya yang paling mendasar. seseorang dapat berjalan sejauh yang ia perlukan untuk dapat mengejar Barat tanpa mengorbankan apapun yang esensial bagi Islam dan yang menjadi bagian integral dari identitas kaum Muslim. yang oleh Leonard Binder diringkaskan. Rodinson mempertanyakan. 7507173 Fax. sebagai penyebab kemunduran negeri-negeri itu. maka jika kemajuan adalah suatu "Kapitalisme" (sebagaimana orang cenderung melihat buktinya melalui runtuhnya sistem sosialis atau komunis) maka Islam dapat saja bersatu dengan kapitalisme itu. yaitu yang membentuk ciri tertentu. UA 20-21 Jakarta Selatan Telp. bahwa tidaklah perlu meninggalkan sesuatu apapun yang secara esensial bersifat Islam. karena Islam sesungguhnya tidak ada kaitannya dengan lingkungan ekonomi negeri-negeri Muslim. apalagi dituduh. (021) 7501969. Tesis Rodinson ini terbuka untuk dipersoalkan. PANDANGAN KONTEMPORER TENTANG FIQH (2/4) Telaah Problematika hukum Islam di Zaman Modern Oleh Nurcholish Madjid MASALAH PESAN DASAR ISLAM Ketika mengatakan Islam tidak mempunyai sangkut paut dengan milieu ekonomi negeri-negeri Muslim sehingga tidak dapat dipandang. juga seorang sosiolog (Perancis) kontemporer. Dalam pembukaan sebuah bukunya.

[11] Muhammad Asad. agar Tuhan pun memenuhi perjanjian-Nya dengan manusia. Karena suatu "pesan dasar" mengacu pada suatu nilai yang amat tinggi. Dalam Kitab Suci al-Qur'an banyak diungkapkan tentang adanya perjanjian. namun kemudian Adam melupakannya dan tergoda setan. tidak bisa disangkal. Tapi sementara frase "pesan dasar" Islam terdengar familiar bagi setiap yang pernah membahas masalah-masalah keislaman. jika ia tidak mampu menangkap pesan dasar itu. namun dalam kenyataan kita masih menemui diri kita. hal-hal yang secara esensial bersifat Islam itu dengan sendirinya adalah "pesan dasar" (risalah asasiyyah) Islam itu sendiri. yang dinyatakan dalam kata-kata Arab sebagai abd. Artinya. sering tidak begitu jelas mengenai pesan dasar itu. persetujuan dan kesepakatan antara Tuhan dan manusia. Beragama bagi seseorang tentu tidak akan bermakna. yang membuatnya diusir dari surga. Perjanjian primordial itu juga diungkapkan dalam bahasa metaforik yang sangat ilustratif." [7] Perjanjian itu pula yang terjadi antara Tuhan dan Adam. manusia harus menempuh hidup bermoral. Meskipun problem di sini agaknya lebih banyak berurusan dengan soal kemampuan ekspresif. bahwa manusia tidak akan menyembah setan dan harus hanya menyembah Allah semata. jika menyalahi perjanjiannya dengan Allah setelah perjanjian itu menjadi kesepakatan. kami bersaksi!" (Demikian itu supaya kami tidak) berkata di hari Kiamat: "Sesungguhnya kami lupa akan hal itu.[8] Karena itu manusia diharapkan memenuhi perjanjiannya dengan Tuhan.[9] Maka kaum beriman sejati ialah mereka yang memenuhi janjinya. merupakan indikasi kesulitan menangkap pesan dasar agama seperti sering dikuatirkan sementara Ahl al-Bawathin tentang orientasi keagamaan Ahl al-Dhawahir. 'aqd dan mitsaq. dan harus menjauh dari penyembahan kepada setan. demikian: Dan ingatlah ketika Tuhanmu mengambil (menciptakan) dari anak cucu Adam. yaitu dari tulang belakang mereka. karena itu ada risiko abstraksi yang tinggi pula.mendorong orang bertanya: Lalu apa wujud dari hal-hal yang secara esensial bersifat Islam itu? Jawabnya adalah.[6]. Namun realita menunjukkan adanya kesulitan yang nyata. demi perkenan Tuhan (ridha Allah). Sebuah firman suci menyebutkan adanya perjanjian primordial antara Tuhan dan manusia. kecenderungan banyak orang menilai kadar keimanan orang lain hanya dari segi hal-hal simbolik dan formal. maka dalam suatu masyarakat yang diliputi paham serba simbol (akibat pendidikan yang rata-rata rendah dan cara berpikir yang sederhana) "pesan dasar" itu sering terkacaukan dengan hal-hal simbolik dan formal yang mewadahinya. dengan Allah dan tidak membatalkan kesepakatan antara dia dan Allah itu. dengan mengutip Zamakhsyari dalam tafsir . munkar). Tanpa berarti dukungan untuk salah satu dari Ahl al-Dhawahir dan Ahl al-Bawathin yang buah pikiran mereka sempat ikut mewarnai polemik-polemik dalam khazanah literatur Islam klasik.[l0] Sebaliknya orang itu kafir. bukan substantif (orang tahu atau merasa tahu substansinya. tapi gagal mengungkapkannya). keturunan mereka dan Dia minta kesaksian mereka atau diri mereka sendiri: "Bukankah Aku ini Tuhanmu?" Mereka mergawab: "Benar. dengan berbuat hal-hal tidak bermoral (fahsya'. namun wujud nyatanya sendiri sering masih merupakan problem.

sedangkan yang kedua (Nasrani) konon berdasarkan nama tempat (Nazaret).[21] Maka. al-Qur'an menolak klaim kaum Yahudi atau Nasrani bahwa Nabi Ibrahim adalah seorang Yahudi atau Nasrani. Asad juga memperjelas makna perjanjian dengan Allah (ahd Allah). yaitu. dan telah Kami ambil dari mereka perjanjian yang berat. yaitu suku keturunan Yehuda. Karena itu. sebagai merujuk pada kewajiban moral manusia untuk menggunakan karunia bawaan lahirnya --intelektual dan fisik-. Musa dan Isa putera Maryam. yang dalam bahasa Inggris secara konvensional diterjemahkan dengan God's covenant. yang selamanya menyertai dan mengawasi tingkah laku setiap orang.[22] .[18] Dan Nabi saw pun bersabda bahwa "Tiada suatu apapun yang dalam timbangannya lebih berat daripada keluhuran budi. yaitu seorang yang karena bimbingan kesucian dirinya sendiri (fithrah) memelihara kecenderungan dan pemihakan yang murni kepada yang benar dan baik secara generik." [l7] Dengan al-Qur'an itu. sepanjang penjelasan al-Qur'an. atas dasar keinsyafan mendalam. Karena itu al-Qur'an menegaskan. sebab dalam pandangan Kitab Suci al-Qur'an keyahudian dan kenasranian adalah bentuk-bentuk pelembagaan formal dan bahkan parokial dari suatu agama generik. Yang pertama (Yahudi) merupakan pelembagaan berdasarkan kebangsaan (atau malah kesukuan. yang antara lain akan membawa manusia kepada kesadaran akan dirinya berhadapan dengan Sang Maha Pencipta.dalam suatu cara yang ditetapkan Ailah untuknya. yang titik tolaknya ialah sikap pasrah dan berdamai dengan Allah (dalam bahasa Arab disebut Islam). [12]. menerangkan. [16] Maka al-Qur'an pun disebutkan sebagai "petunjuk bagi orang-orang yang bertaqwa. Ibrahim adalah seorang hanif. Demikian pula bentuk-bentuk pelembagaan formal dan parokial lainnya. misalnya. Ibrahim adalah seorang Muslim (yang pasrah dan damai kepada Allah). terhadap sesama manusia. Juga ditegaskan. yaitu sikap hidup yang penuh pertimbangan moral. Allah membimbing siapa saja yang mengikuti keridlaan-Nya ke berbagai jalan keselamatan. ditolak Kitab Suci. Ibrahim. juga dari engkau (Muhammad) dan dari Nuh. adalah suatu istilah umum yang mencakup kewajiban-kewajiban moral dan sosial yang timbul akibat iman itu. Kesadaran Ketuhanan (Rabbaniyyah) yang mendasari akhlaq mulia itulah inti pesan dasar agama lewat para Rasul. asli dan sejati. sebab agama yang benar secara asli haruslah tidak bernama kecuali dengan nama yang menggambarkan semangat makna generik kebenaran itu sendiri.[13]. sebagaimana telah disinggung.al-Kasysyaf. Islam (Sikap Pasrah dan Damai kepada Allah)." [16] Pemenuhan perjanjian manusia dengan Tuhannya itu melahirkan sikap hidup bertaqwa. yaitu makna dasar dan universal sebelum suatu agama terlembagakan menjadi bentuk-bentuk formal dan parokial.[l4] dan pokok perjanjian Tuhan dengan semua Nabi: "Ingatlah ketika Kami (Tuhan) mengambil dari para Nabi perjanjian mereka. yang sesungguhnya tidak memerlukannya. anak pertama Israil atau Ya'qub). dalam bahasa Arab. perjanjian (Inggris: covenant) antara Allah dan manusia itu. sebagai pesan Tuhan kepada semua Nabi dan Rasul --dan melalui mereka kepada seluruh ummat manusia membentuk makna "generik" agama. bahwa Allah adalah Maha Hadir." [20] Pesan dasar itu. agama yang benar ialah agama yang memiliki makna generik itu." [l9] Dan bahwa "Yang paling banyak menyebabkan manusia masuk surga ialah taqwa kepada Allah dan budi pekerti luhur.

dan Dia tetapkan (hukum) keseimbangan. yang dalam firman ini dilambangkan sebagai penciptaan langit yang "ditinggikan" oleh-Nya. aqd. Karena itu tindakan menegakkan keadilan ditegaskan sebagai nilai yang paling mendekati taqwa.[26] Beberapa tafsir dan terjemah konvensional menerangkan. yang meliputi perjanjian dengan Allah ('ahd. karena justru kebanyakan para Nabi bukanlah orang-orang Arab). berlaku untuk semua ummat manusia. pesan dasar ini. qisth. (sekalipun tidak berarti para Nabi itu secara harfiah menggunakan perkataan Arab yang berbunyi m-u-s-l-i-m dan i-s-l-a-m. Tentu saja tidak terlalu salah. Bahkan neraca yang kita kenal dan tampak bekerja secara "sederhana" itu pun adalah . Inilah yang antara lain dapat kita ambil pengertiannya dari firman Allah: Dan langit pun ditinggikan oleh-Nya. keadilan adalah hukum primer seluruh jagad raya. di mana manusia hanyalah salah satu bagian saja. Sebagai hukum dasar dari Tuhan. dan tidak terbatasi oleh pelembagaan formal agama-agama. yaitu seluruh jagad raya ini berjalan mengikuti hukum keseimbangan. wasth (semuanya memiliki makna dasar "tengah" atau "jujur") adalah wujud lain hukum keseimbangan (mizan) yang telah ditetapkan Allah untuk seluruh jagad raya. dari sudut pandangan kosmologi al-Qur'an. mitsaq di atas). menegakkan keadilan dalam masyarakat adalah amanat Allah kepada manusia. yang menyangkut masalah pengaturan tata hidup manusia dalam hubungan mereka satu sama lain dalam masyarakat. bahkan meliputi seluruh alam raya ciptaan-Nya ini. Mereka adalah muslim dan mengajarkan islam dalam arti. Maka keadilan adalah aturan kosmis (cosmic order).[24] Dan sebagai wujud terpenting pemenuhan perjanjian dengan Allah dan pelaksanaan pesan dasar agama. sikap pasrah kepada-Nya (islam) dan kesadaran akan kehadiran-Nya dalam hidup (taqwa. maka lebih tepat memandang perkataan mizan ini. dan jangan kamu bertindak merugikan (hukum) keseimbangan. maka ditegaskan. Hendaknya kamu tidak melanggar (hukum) keseimbangan itu. semuanya bersikap pasrah dan berdamai dengan Allah dan membawa pesan dasar yang sama. dan demikian pula dengan semua Nabi.Demikianlah Nabi Ibrahim. Ketika pesan dasar itu menuntut terjemahannya dalam tindakan sosial nyata. termasuk Musa dan Isa (Yesus. semuanya adalah tokoh-tokoh yang muslim dan mengajarkan islam [23]. dan dengan jalan menempuh hidup bermoral. rabbaniyyah). maka tidak ada manifestasinya yang lebih penting daripada nilai keadilan. setelah lewat proses pengalihan nama itu dalam bahasa Yunani). Sesungguhnya. adalah universal.[25] Keadilan yang dalam bahasa Kitab Suci dinyatakan dalam kata-kata 'adl. Tapi dalam kaitannya dengan penciptaan Allah akan jagad raya. yang dimaksud dengan mizan dalam firman itu ialah neraca yang dikenal. PRINSIP KEADILAN (SOSIAL) Pada pokoknya pesan dasar ini. yang pelanggaran terhadapnya dapat dilukiskan secara metaforik sebagai mengganggu atau "mengguncangkann tatanan jagad raya. Dan tegakkanlah olehmu semua akan neraca dengan jujur. yaitu agar manusia tunduk patuh kepada-Nya melalui sikap pasrah dan berdamai. dalam makna kosmologisnya.

meskipun suatu masyarakat adalah kafir namun menegakkan keadilan di dunia ini. Sebaliknya. UA 20-21 Jakarta Selatan Telp. misalnya. sehingga tidak akan berubah (immutable). atau Sunnatullah yang tidak tergantung kepada keinginan seseorang (obyektif) dan berlaku universal. melalui hukum gravitasi. yakni. Dari sudut pandangan inilah kita memahami mengapa banyak para 'ulama'. sedemikian tegas dan jauh berpegang pada prinsip keadilan itu sebagai ideatum tatanan sosial manusia yang akan menjamin kekokohan dan kelangsungannya.suatu gejala kosmis. dan tidak akan bertahan lama bersama kezaliman dan Islamn" [27] Dengan pernyataannya yang tidak biasa itu. PANDANGAN KONTEMPORER TENTANG FIQH (3/4) Telaah Problematika hukum Islam di Zaman Modern Oleh Nurcholish Madjid BEBERAPA CONTOH PEMIKIRAN KONTEMPORER FIQH Kita telah pergi sejauh yang diperlukan. didukung Allah. untuk membahas masalah-masalah pokok yang mendasari pemikiran kontemporer tentang fiqh. sama dengan yang telah dijelaskan di atas. suatu cosmic order yang menjadi hukum Tuhan. Ibn Taymiyyah hanya bermaksud agar ummat Islam tidak taken for granted dalam hal keislaman. Keislaman yang formal saja tidak akan membawa keselamatan di dunia ini. -------------------------------------------(bersambung 3/4) Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah Editor: Budhy Munawar-Rachman Penerbit Yayasan Paramadina Jln. jika tidak disertai keadilan. Sedemikian rupa jauhnya pandangan Ibn Taymiyyah. (021) 7501969. dan tidak akan menegakkan negeri yang zalim meskipun Islam. karena keseimbangan dalam sebuah neraca adalah kelanjutan dari hukum keseimbangan yang lebih luas (yang menguasai seluruh alam).29. di segala tempat dan masa. dalam hal ini khususnya Ibn Taymiyyah. (021) 7507174 Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota Please direct any suggestion to Media Team Artikel Yayasan Paramadina Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota IV. Sebab. 7501983. maka masyarakat itu akan tegak. Metro Pondok Indah Pondok Indah Plaza I Kav." dan "Dunia akan bertahan bersama keadilan dan kekafiran. khususnya dalam arti sosial. keadilan adalah "tatanan segala sesuatu" (nidham-u kull-i syay) [28]. 7507173 Fax. sehingga ia menguatkan pandangan bahwa "Sesungguhnya Allah akan menegakkan negeri yang adil meskipun kafir. Berbagai pemikiran mutakhir tentang fiqh menegaskan perlunya kesadaran akan pesan dasar Islam sebelum .

maka tentulah yang tersisa bagi kita ialah memikirkan sebab-sebab individual yang mendorong orang untuk melakukan pelanggaran-pelanggaran. sama dengan yang dikatakan Francis Aveling dalam bukunya ilmu Jiwa Klasik dan Modern. "Kalau tujuan kita ialah kebaikan masyarakat. Dari sini kita melihat. baik yang berasal dari lingkungan atau pun dari pribadi sendiri. maka itulah cara yang ideal yang kita wajib menggunakannya. kecuali sesudah ditempuh jalan proteksi. dari tiga tokoh yang representatif. Muhammad Asad (salah seorang arsitek dan pemikir konstitusi Negara Islam Pakistan). hukum bunuh (qishash) untuk kejahatan pembunuhan. dan Ahmad Zaki Yamani (yang pernah menjabat Menteri Perminyakan Saudi Arabia dan tokoh OPEC yang amat terkenal). Tapi kalau seandainya seluruh situasi yang berkaitan dengan lingkungan telah tersedia dengan sebaik-baiknya. Fatthi 'Utsman menegaskan. maka Islam tidaklah melakukan hal itu sebelum tegaknya hak-hak hidup pribadi dan mantapnya tanggung negara untuk menjamin hak-hak pribadi itu. Wajar bahwa Islam menempuh jalan penetapan hukum-hukum setelah ditempuhnya jalan pengarahan pikiran melalui aqidah dan pendidikan tingkah laku melalui prinsip tabadul. Kesadaran itu dapat disebut sebagai karakteristik pemikiran fiqh dan hukum Islam di zaman modern. yaitu Fat'hi 'Utsman (pemimpin redaksi majalah Islam internasional Arabia yang terbit di London). Dan ketika Islam menetapkan hukum rajam atau cambuk atas pezina. suatu hukum. serta melarang khalwat (kencan seorang lelaki dan . potong tangan untuk pencurian. Di sini akan dikemukakan contoh pemikiran para intelektual Islam mutakhir. Tapi penetapan hukum Islam tidak pernah disebut kecuali mesti timbul dalam pikiran orang. maka sesungguhnya ia juga menetapkan kemudahan jalan perkawinan dan melindungi bagian-bagian privat dari tubuh dengan menutup aurat dan menjaga penglihatan mata. Islam ketika menetapkan pelaksanaan qishash dalam kejahatan pembunuhan. al-Din li al-Waqi' (Agama untuk Realita): Keadilan Sosial sebelum hukuman. Sedangkan yang sebenarnya ialah bahwa rahmat Allah untuk sekalian alam tidaklah menetapkan hukuman. Kami kutipkan dan terjemahkan sepenuhnya pendapat Fat'hi 'Utsman yang relevan. Jadi jika kita dapat mencegah sebab-sebab dan situasi yang mendorong kejahatan. dan lain-lainnya. Dan cara apapun yang dapat merealisasikan tujuan ini harus dipandang sebagai wajar dari sudut pandangan sosial. Dan ketika menetapkan hukuman potong tangan pencuri. maka tujuan hukuman haruslah proteksi. Allah menerangkan dalam Kitab-Nya berbagai hukuman kejahatan (had) seperti. termasuk yang ada dalam al-Qur'an dapat dilaksanakan hanya setelah ditegakkannya keadilan sosial dan tatanan kemasyarakatan yang menjamin anggotanya untuk tidak melanggar ketentuan yang ditetapkan. ia bersama itu juga menetapkan langkah-langkah yang menjamin hilangnya dorongan-dorongan permusuhan golongan. gambaran yang mengerikan tentang tangan-tangan buntung dan jasad-jasad berserakan. misalnya." Dalam praktek memang telah terjadi berbagai usaha ke arah ini melalui berbagai pengabdian sosial. kelompok atau perbedaan tingkat sosial. dari bukunya.suatu hukum atau hukuman dilaksanakan.

poverty becomes the most dangerous enemy of spiritual progress. to the enjoyment of social security: in other words. in this context. "Proverty may well .the believers are not entitled to look upon spiritual truths and values as something that could be divorced from the physical and social factors of human existence. to the Muslim community in the early days of Islam). that --in order to be truly Islamic-. although the Qur'an makes it clear that human life cannot be expressed in terms of physical existence alone --the ultimate values of life being spiritual in nature-. among the inalienable rights of every member of the Islamic society --Muslim and non-Muslim alike-.[29] Lebih runtut lagi adalah jalan pikiran dan garis argumen Muhammad Asad. If the whole society suffers privations owing to circumstances beyond its control (as happened. for instance. liability to punishment. In short. man and woman. every citizen is entitled to a share in the community's economic resources and thus. but for his bodily and intellectual needs as well.is the right to protection (in every sense of the word) by the community as a whole. of future greatness. For. no spiritual progress: for. It was undoubtedly this that the Prophet had in mind when he uttered the warning woeds (quoted by al-Suyuti in al-Jami al-Saghir). an occasionally drives whole communities away from God-consciousness and into the arms of soul-destroying materialism. Islam envisages and demands a society that provides not only for the spiritual needs of man.a society (or a state) must be so constituted that every individual. Jadi pengaturan sosial berjalan seiring atau mendahului penetapan hukuman kejahatan. and the term "duty" also comprises. But if the available resources of a community are so unevenly distributed that certain groups within it live in affluence while the majority of the people are forced to use up all their energies in search of their daily bread. may enjoy that minimum of material well-being and security without which there can be no human dignity.seorang perempuan yang bukan muhrim. threfore. It follows. Asad membuat uraian panjang lebar. Dalam memberi penjelasan tentang makna yang lebih mendasar di balik hukuman yang amat keras bagi pencuri (potong tangan). namun tanpa muhrim perempuan itu). (Di sini kami kutipkan seluruh uraian itu. Now. such shared privations may become a source of spiritual strength and. there can be no real happiness and strength in a society that permits some of its members to suffer undeserved want while others have more than the need. no real freedom and. through it. he or she must be assured of an equitable standard of living commensurate with the resource at the disposal of the community. namun maaf tidak sempat menerjemahkan): The extreme severity of this Qur'anic punishment can be understood only if one bears in mind the fundamental principle of Islamic Law that no duty (taklif) is ever imposed on man without his being granted a coresponding right (haq). As is evedent from innumerable Qur'anic ordinances as well as the Prophet's injuctions forthcoming from authentic Traditions. in the last resort.

the communal obligation to create such a comprehensive social security scheme has been laid down in many Qur'anic verses. A corollary of these rights is the right to productive and remunerative work while of working age and in good health. and (d) free medical care in health and sickness.) To sum up. Since. Tabagat. (Its was in correct appreciation of this principle that the great Caliph Umar waived the had of handcutting in a period of famine which afflicted Arabia during his reign. its balance is extremely delicate and in need of constant." Consequently. any attempt on the part of an individual to achieve an easy. One must. Umar ibn al-Khattab. widowhood. shelter. enforeced enemployment. it has not right to invoke the full sanction of criminal law (had) against the individual transgressor.turn into a denial of the truth (kafr). therefore. or under-age. As already mentioned. III/1. one may safely conclude that the cutting-off of a hand in punishment for theft is applicable only within the context of an already existing fully-functioning social security . consequently. and since. but after his premature death. "temptation" cannot be admitted as a justifiable excuse. woman and child has (a) enough to eat and wear. It was the second Caliph. It is against the background of this social security scheme envisaged by Islam that the Qur'an imposes the severe sentence of hand-cutting as a deterrent punishment for robbery. 213-217). In a community in which everyone is assured of full security and social justice. and a provision (by the community or the state) of adequate nourishment. the absolute interdependence between man's right and corresponding duties (including liability to punishment). and has been amplified and explained by a great number of the Prophers commandments. in cases of disability resulting from illness. the social legislation of Islam aims at a state of affair in which every man. (b) an adequate home. his successors had either the vision nor the statemanship to continue his unfinished work. always hear in mind the principle mentioned at the beginning of this note: namely. the temptation to enrich onself by illegal means often becomes irresistible --and. theft cannot and should not be punished as severely as it should be punished in a state in which social security is a reality in the full sense of the woed. the entire socioeconomic system of Islam is based on the faith of its adherents. and must be punished as such: and. strictly enforced protection. however. in the last resort. unjustified gain at the expense of other members of the community must be considered an attack against the system as a whole. If the society is unable to fulfil its duties with regard to everyone of its memebers. under the circumstances outlined above. (c) equal opportunities and facilities for education. old age. but must confine itself to milder forms of administrative punishment. etc. In a community or state which neglects or is unable to provide complete social security for all its members. the above ordinance which lays down that the hand of the thief shall be cut off. who began to translate these ordinances into a concrete administrative scheme (see Ibn Said.

and surely we cannot maintain that previous Moslem Jurists have anticipated all our existing contemporary problems.[30] Fiqh sangat erat kaitan dengan Syari'ah. provided such consensus was possible.scheme. and public interest considerations. memperjelas persoalan Syari'ah itu dalam kaitannya dengan hasil karya para ulama terdahulu yang secara keseluruhannya biasanya dipandang sebagai korpus Hukum Islam. however. The importance of differentiating between the wide and the narrow scope of Shari'a is evident in countries that fully implement the system. it has no binding authority. Ahmad Zaki Yamani. not all the principles of Shari'a in its wider sense are of a binding authority. and sometimes contradictory principles resolving the same issues depending on the Juristic school that propagated the principle. and in no other circumstances. di sini kami kutipkan sepenuhnya uraian Yamani (namun. to what is true and valid of the Sunna. because of certain inherent . maaf tidak sempat menerjemahkannya): The Islamic Shari'a as a phrase has two scope of meanings.. karena pemikiran itu tidak lepas dari tuntutan zaman dan tempat yang lebih spesifik. jika bukannya malah identik (seperti menurut pengertian kebanyakan orang). The Shari'a. Yet. As I explained earlier. hasil pemikiran ("fiqh" dalam arti asalnya) para ulama dalam kitab-kitab itu baginya tidaklah mengikat. Sama dengan yang di atas. and from the other sources of Shari'a such as Ijma' (the consensus of the community represented by its scholars and learned men). or even the particular problem confronting him. the Shari'a is confined to the undoubted principles of the Qur'an. looked upon in this wide scope. such as the Kingdom of Saudi Arabia. The jurists derived their principles from the Qur'an and the Sunnah (way of action and the opinions of the Prophet). as I said before in this wide sense. since within it one might find different. one cannot deny the Shari'a scholastic value as an elaborate system of deduction which should be relied upon for future derivations of principles. and the consensus of the community represented by its sholars and learned men during a certain period and regarding a particular problem. Generally and widely construed. it denotes everything that has been written by Moslem jurists throughout the centuries. sekali lagi. his era. and he is obligated to follow and employ it to solve his affairs . Construed narrowly. Perhatikanlah bagaimana Yamani menegaskan. Furthermore. the Shari'a has a binding authority on every Moslem. it cannot have a binding authority since circumstances that brought about a certain principle might not be in existence any more. Viewed as such. As such the system has a tremendous scholastic value to the Moslem. constitutes a huge Juristic tradition the value of which depends on the individual jurist himself.. dalam sebuah risalahnya yang terkenal. whether it dealt with contemporaneous issues of the time or in anticipation of future ones. yang belum tentu cocok dengan tuntutan zaman kita sekarang.

since as a logical consiquence on would have to maintain the princiles of the other schools are not valid.. Berkaitan dengan prinsip ini. dengan implikasi sebuah dukungan. betapapun absahnya sebuah nas. sedangkan ketentuan tekstual yang diwahyukan dan sumber-sumber lainnya hanyalah perantara . Ia berpandangan bahwa kepentingan umum itulah yang menjadi maksud dan tujuan Maha Hakim (Allah). Metro Pondok Indah Pondok Indah Plaza I Kav. Such countries could legislate new solutions for novel problems. According to the well-known Shari'a principle "the validity of that on which there is a difference can be questioned. yang mengatakan bahwa kepentingan umum mengatasi dan mendahului ketentuan tekstual. sekalipun dari al-Qur'an dan Sunnah. 7507173 Fax. then. but not the validity of that on which there is consensus. to adopt the narrow meaning of Shari'a. (021) 7501969. the Sunna. Furthermore." it becomes imperative . 7501983.difficulties in attempting to harmonize some of them. dengan merujuk kepada kitab Thabaqat al-Hanabilah oleh Ibn Rajab. dan ketentuan tekstual atau nas di pihak lain. which was done in the past. or at least. and consensus. Maka jika terdapat pertentangan pertimbangan kepentingan umum di satu pihak. deriving such solutions from the general principles of the Shariia and considerations of public interest and communal welfare.. confined to the Qur'an. are not worthy of being followed.29. [31] -------------------------------------------(bersambung 4/4) Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah Editor: Budhy Munawar-Rachman Penerbit Yayasan Paramadina Jln. pendapat yang ekstrim dari Imam al-Tuff yang diduga dari madzhab Hanbali (tapi juga ada yang menduganya bermadzhab Syi'ah). Yamani mengutip. PANDANGAN KONTEMPORER TENTANG FIQH (4/4) Telaah Problematika hukum Islam di Zaman Modern Oleh Nurcholish Madjid Bagi Yamani prinsip public interest atau kepentingan umum adalah sangat fundamental. select principles from the various juristic schools with no exceptions. UA 20-21 Jakarta Selatan Telp. (021) 7507174 Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota Please direct any suggestion to Media Team Artikel Yayasan Paramadina Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota IV. the criterion being what is more appropriate to the needs of that particular country. one cannot choose one juristic school for implementation to the exclusion of all others. al-Tufi berpendapat bahwa kepentingan umum itu harus dimenangkan.

fiqh dan sistem hukum Islam memiliki kesempatan besar untuk diterapkan dalam zaman modern.. CATATAN 1. if I order something pertaining to your religion comply.. . 1974).untuk mencapai tujuan itu. The Prophet himself had set precedence for this religious-secular relationship when he said "I am only human. though not the source of modernity. dan berdasarkan itu. yaitu hukum-hukum keagaman ('ibadat) dan hukum-hukum kegiatan manusia dalam hidup keduniaan (mu'amalat): The religious essence and value of the Shari'a must never be overestimated. official. Many Western Orientalists who wrote about Shari'a failed to distinguish between what is purely religious and the principles of secular transactions. blamed for retardation and foreign domination. Yamani mengritik sebagian kaum Orientalis yang tidak memahami Syari'ah dan mencampuradukkan dua unsurnya yang berbeda namun tidak terpisah. Though both are derived from the same source. jil. 3 jilid (Chicago: The University of Chicago Press. if I order something of my opinion consider it in the light that I am only human. 1. Tetapi prasyaratnya ialah. and the operation can be presented. once a shallow of the central tradition now becomes a repidiated scapegoat. purification modernization on the one hand. based on public interest and utility. Marshal G. Only Islam survives as a serious faith pervading both a folk and a Great Tradition." [33] PENUTUP Dari seluruh uraian di atas dapatlah disimpulkan. Thus in Islam.. h. sehingga akan terbukti ramalan Gellner: Kaum Muslim adalah penarik manfaat yang sebenarnya dari modernitas. "You know better about your civil non-religious matters. the latter principles have to be viewed as a system of civil Iaw. The Venture of Islam. mengembangkan pemikiran hukum yang akan menjawab tuntutan zaman dan tempat. Islam may yet turn out to be its beneficiary. whilst hierarchy and .S. not as an innovation or concession to oursiders. 2. and the reaffirmation of a putative old local identity on the other. dan tujuan harus selalu mendahului perantaraan atau cara. "pure" variant was egalitarian and scholarly. Hodgson. yang kini masih banyak melanda kaum Muslim. and therefore always evolving to an ideal best. Hence. Tapi dengan bekal inner dynamics Islam itu sendiri. The old folk version. The fact that its central. kaum Muslim harus mampu terlebih dahulu menangkap pesan dasar agamanya. Halangan terbesar bagi kemungkinan itu datang dari sikap-sikap dogmatic dan literalis. and only in Islam. masa depan yang lebih baik tentu dapat diciptakan.. 108. but rather as the continuation and completion of and old dialogue within Islam..[32] Lebih jauh. Its great Tradition is modernisable." Or when he said.. can be done in one and the same language and set of symbols.

. 1980). 10.J. 1981). hadits No. 11. h. peripheral forms. 7). al-Baqarah/2:2. h. so that one can hardly tell which one of the two is of most benefit to the other. terjemahan dari Perancis oleh Brian Peace (Austin: University of Texas Press. spiritual egalitarianism.ecstaasy pertained to its expendable. Lihat QS. 3. catatan 42. 4-5). but to all. al-Ma'idah/5:16. al-Baqarah/2:40. Yasin/36:60 7. QS. The Message of the Qur'an (London: E. catatan 21. Modern egalitarianism is satisfied. the open class of scholars can expand towards embracing the entire community. and thus the 'protestant' ideal of equal access for all believers can be implemented. 13.. Lihat QS. 1.Islam is. 15. h. Thaha/20:115. 5. 18. 1561. 1978). scripturalism. 211. Lihat QS. 19. 8. In an age of aspiration to universal literacy. Ibid. Muslim Society (Cambridge: Cambridge University Press. 1988). Maxime Rodinson. 20. Brill. al-Ra'd/13:20. al-Hadid/57:4. (Ernest Gallner. Islamic Liberalism (Chicago: The University of Chicago Press. the reawakened Muslim potential for egalitarian scripturalism can actually fuse with nationalism. h. eventually disavowed. al-Ahzab/433:7. Bulugh al-Maram. 4. Lihat QS. 7-8. and the rational systematisation of social life-. al-Ra'd/13:25. 6. greatly aids its adaptation to the modern world. 14. 12. of the three great Western monotheisms. h. (Gallner. Lihat QS. Islam and Capitalism. Leonard Binder. hadits No.Ibid. 1551. 17. h.. Lihat QS. 16. Lihat QS. . al-A'raf/7:172. the extension of full participation in the sacred community not to one. the one closest to modernity. Whilst European Protestantism merely prepared the ground for nationalism by furthering literacy. Lihat QS.363. Lihat QS. Muhammad Asad. 9. By various obvious criteria --universalism. QS. Ali Imran 3:79. or some.

catatan 48. 149-150. Fat'hi Utsman. Isma'il dan Ishaq. Secara umum dapat disimpulkan dari firman Allah tentang sikap anak turun Ya'qub Israil): "Adakah kamu menjadi saksi ketika maut datang kepada Ya'qub. 24. berkenaan dengan keislaman para Nabi. Setiap orang yang dikaruniai Allah pangkat kenabian pasti menyeru manusia agar berkesadaran Ketuhanan (Rabbaniyyun) dan tidak akan menyimpang dari garis lurus itu setelah para pengikutnya benar-benar menjadi kaum yang pasrah kepada-Nya (muslimun): "Tidak pernah terjadi pada seorang manusia yang kepadanya Allah mengaruniakan kitab suci. dan tidaklah dia termasuk mereka yang musyrik.'" (QS. Allah adalah pembimbing kaum beriman itu. h. Suatu penegasan bahwa semua penganut agama (yang benar secara generik. 29. h. 25.91-92.21. h. ajaran kebenaran (hukum) dan kenabian kemudian berkata kepada orang banyak: 'Jadilah kamu semua hamba-hamba bagiku. Sesungguhnya manusia yang paling dekat kepada Ibrahim ialah mereka yang benar-benar mengikutinya dan Nabi ini (Muhammad) serta mereka yang beriman. Ali Imran/3:79-80). . 30." (QS. 27. al-Baqarah 2:133). 1396 H/1976 M). Ali Imran 3:19 dan 85. tt. melainkan seorang hanif (lurus kepada kebenaran). QS. hanif) menyembah Tuhan yang sama. al-Din li al Waqi' (Kuwait: al-Dar al-Kuwaytiyyah. dalam risalahnya. al-Nisa/4:58. "Ibrahim itu bukanlah seorang Yahudi ataupun Nasrani. Terdapat banyak penegasan. Ibrahim. ketika ia bertanya anak-anaknya: 'Apa yang kamu sembah sesudahku?' Mereka menjawab: 'Kami menyembah Tuhanmu dan Tuhan nenek moyangmu. 40.' Dan ia (Nabi itu) tidak menyuruh kamu agar kamu mengambil para malaikat dan para Nabi yang lain sebagai tuhan-tuhan. 28. Muhammad Asad. al-Ma'idah/5:8. 22. Lihat QS. Lihat QS. yaitu Tuhan Yang Maha Esa. Ali Imran/3:67-68). bukan bagi Allah!' Melainkan (ia tentu berkata): 'Jadilah kamu orang-orang yang berkesadaran Ketuhanan (Rabbaniyyun) berdasarkan kitab suci yang kamu ajarkan dan berdasarkan yang kamu sendiri pelajari. dan bersikap pasrah kepada-Nya (Islam). dan kami semua pasrah (muslimun) kepada-Nya. Ibid.). yaitu Tuhan Yang Maha Esa. 23. 26. Apakah patut ia menyuruh kamu menjadi kafir sesudah kamu semua menjadi orang-orang yang pasrah (muslimun)?" (QS. al-Amr bi al-Ma'ruf wa al-Nahy 'an al-Munkar (Beirut: Dar al-Kitab a-jadid. langsung dan tidak langsung. Ibn Taymiyyah. dan seorang muslim (pasrah kepada Tuhan). Lihat QS. al-Rahman/55:7-9.

Istishlah dan Istishhab. Sunnah. sumber hukum Islam terdiri atas: al-Qur'an. h.. Metro Pondok Indah Pondok Indah Plaza I Kav. Istihsan. . -------------------------------------------Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah Editor: Budhy Munawar-Rachman Penerbit Yayasan Paramadina Jln. Biasanya para ulama pendukung kubu Irak dikenal sebagai ahl al-ra'y. Ahl al-ra'y sesuai dengan situasi lingkungannya. dikenal adanya dua kubu pengembangan pemikiran hukum Islam. dan tokoh utama kubu Hijaz adalah Imam Malik. 10-11. Itulah yang berkembang menjadi ijtihad. Islamic Law and Contemporary Issues (Jeddah: The Saudi Publishing House 1388 H).. mereka tidak mengakui keabsahan hadist itu. Pendapat sahabat Nabi (qaul al-shahabi). 32. 6-7). Ibid. 33. dikenal juga adanya sumber-sumber sekunder (al-mashadir al-tab'iyyah). h. Tapi penggunaannya sangat terbatas. h. UA 20-21 Jakarta Selatan Telp. 13-14. atau sama sekali tidak menggunakan sumber hukum itu. 7507173 Fax.31. Selain dari sumber hukum primer tersebut. ISTISHLAH DAN MASHLAHAT AL-AMMAH Oleh KH Ali Yafie Dinamika hukum Islam dibentuk oleh adanya interaksi antara wahyu dan rasio. ISTIHSAN Pada saat-saat awal terbentuknya pemikiran hukum Islam yang metodis (ilmu fiqh). Ibid. dalam pengembangan pemikiran hukumnya (metoda ijtihadnya) volume penggunaan rasio lebih besar dari volume penggunaan hadist (sebagai salah satu sumber syari'ah). dan para ulama pendukung kubu Hijaz dikenal sebagai ahl al-hadits. Tokoh utama kubu Irak ialah Imam Abu Hanifah. kebiasaan/adat-istiadat (al'urf). Dengan demikian. Ijma' dan akal. (021) 7507174 Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota Please direct any suggestion to Media Team Artikel Yayasan Paramadina Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota KONSEP-KONSEP ISTIHSAN. Ini tidak berarti. upaya ilmiah menggali dan menemukan hukum bagi hal-hal yang tidak ditetapkan hukumnya secara tersurat (manshus) dalam syariah (al-kitab wa sunnah). yaitu: syariah terdahulu (syar' man qablana). Ahmad Zaki Yamani. yaitu kubu Irak dan kubu Hijaz. (021) 7501969. 7501983.

apakah itu qias dalam arti technische-term. Kata ini kemudian digunakan sebagai suatu technische-term yang membentuk pengertian baru menggambarkan suatu konsep penalaran dalam rangka penggunaan rasio secara lebih luas untuk menggali dan menemukan hukum sesuatu kejadian yang tidak ditetapkan hukum dari sumber syari'ah yang tersurat. seperti Istihsan yang ditegakkan di atas landasan nas. Definisi ini menurutnya. ternyata tidak saja menggunakan qias yang merupakan bentuk penggunaan rasio dengan cara analogis ilmiah ketat. menyebutkan Istihsan itu suatu qias yang lebih dalam (khafi). Ini tidak berarti mereka menolak penggunaan sumber rasio itu. Kita menggunakan qias dalam masalah ini. dan menurut Istihsan hukumnya begini. atau ijma'. Istilah "Istihsan" sebagai technische-term banyak beredar di kalangan tokoh-tokoh (ulama) dari aliran pemikiran hukum (mazhab) Hanafiyah. Sebagian lagi memberikan definisi. karena ada juga istihsan yang ditegakkan atas landasan 'urf atau mashlahah Secara harfiah Istihsan itu berarti menganggap baik akan sesuatu baik itu fisik maupun nilai. mereka dalam pengembangan pemikiran hukum (metode ijtihadnya) volume penggunaan sumber hukum hadits lebih besar dari volume penggunaan sumber rasio (dalam hal ini qias). atau ijma' atau dharurah. bahkan kita menemukan dari mereka beberapa definisi yang kontradiktif. atau kita menggunakan istihsan dalam masalah ini. atau dharurah. tapi apa yang dia maksud dengan qias di sini tidak begitu jelas. di antaranya adalah: Istihsan itu. Dengan kata lain mereka mengatakan. Definisi ini pun belum mencakup. ialah peralihan dari hasil sesuatu qias kepada qias yang lain yang lebih kuat. Dalam hubungan inilah lahir konsep Istihsan. karena tidak dapat menampung Istihsan yang ditegakkan di luar landasan qias. tapi mereka juga menggunakan analogi yang longgar dan lebih luas. Definisi yang lain. Ahl al-ra'y yang volume penggunaan rasionya lebih besar. istihsan itu ialah semua ketentuan syar'i (baik yang bersifat nash. hukum dalam masalah ini bersumber dari Istihsan. Mereka menggunakannya secara tersendiri atau menyebutnya berdampingan dengan kata/istilah qias. atau sumber hukum yang . bukan saja tidak mencakup. mereka yang menggunakan Istihsan sebagai sumber hukum tidak mempunyai kesepakatan atas suatu definisi tentang Istihsan itu. dibandingkan dengan qias yang jelas (jali). atau qias yang lebih dalam) dibandingkan dengan qias yang jelas. Kedua kubu tersebut mengakui keabsahan sumber hukum qias. Menurut al-Bardisi definisi ini tidak mencakup (ghair jami').Di pihak lain kita dapat mengamati. ahl al-hadits sesuai dengan situasi lingkungannya. atau dalam arti yang mencakup qias yang lebih luas yang dikaitkan dengan suatu ketentuan umum atau suatu kaidah-kaidah hukum yang baku. Syekh Muhammad Zakariya al-Bardisi. Mereka sering mengatakan. dalam masalah ini. menurut qias hukumnya begini. Sepanjang penelitian guru besar ilmu-ilmu Syari'ah pada Fakultas Hukum Universitas Kairo. tidak segera dapat ditangkap.

semua itu merupakan elemen-elemen dalam hukum Istihsan.dipersamakan dengan itu. Termasuk pula dalam kategori Istihsan. sudah cukup. atau mashlahah. Tapi dapat kita catat. atau dari suatu kaidah hukum. Dalam analogi qias. landasan penyamaan ('illah). atau ijma'. al-mashlah al-mursalah atau al-mashalih al-mursalah. karena beliau berpendapat. atas pertimbangan sesuatu alasan yang lebih kuat. yakni ketentuan pokok (ashl). Analogi Istihsan tidak terikat pada keketatan analogi qias karena dimungkinkan adanya qias alternatif (qias kahfi) yang terlepas dari elemen 'illah (dalam analogi qias biasa). Dari uraian ini dapat ditangkap. kejadian baru (far). untuk menghasilkan suatu hukum bagi kejadian baru. Dengan kata lain pertimbangan adanya ketentuan lain atau kesepakatan. Alasan itulah menjadikan qias jali (biasa) dialihkan kepada qias khafi (alternatif) dan hasilnya disebut Istihsan. Yang dicatat sebagai seorang tokoh yang menolak menempatkan Istihsan itu sebagai suatu sumber hukum sekunder. Kemudian berkembang pula secara terbatas dalam aliran Malikiyah dan Hambaliyah. adalah Imam Syafi'i. pada hakekatnya konsep ini telah dikenal dan digunakan oleh angkatan pertama ahl al-ijtihad di kalangan sahabat dan tabi'in. Sebagian ahl al-ijtihad menganggap qias ini merupakan upaya final dalam penggalian dan penemuan hukum-hukum dari sumber syari'ah atau sumber yang dipersamakan (ijma'). atau 'urf atau dharurah. Dalam perkembangan pemikiran hukum Islam. Karenanya juga konsep ini lebih dikenal dengan sebutan. Istihsan ini ditempatkan sebagai sumber hukum sekunder. ISTISHLAH Istishlah merupakan suatu konsep dalam pemikiran hukum Islam yang menjadikan mashlahah (kepentingan/kebutuhan manusia) yang sifatnya tidak terikat (mursalah) menjadi suatu sumber hukum sekunder. dalam hal tujuan dan sasaran ditetapkannya ketentuan tersebut. atau keadaan darurat atau suatu kepentingan nyata. pengecualian masalah tertentu dari suatu ketentuan pokok yang bersifat umum. atau kebiasaan. kaidah-kaidah interpretasi atas ketentuan-ketentuan syari'ah (al-Qur'an dan Sunnah) ditambah dengan analogi qias. dibutuhkan adanya suatu ketentuan pokok yang bersifat terinci (tafshili) untuk dijadikan landasan mengaitkan sesuatu yang ada persamaannya. ada empat elemen dari analogi qias itu. Konsep penalaran ini bermula dikembangkan dalam aliran pemikiran hukum Islam (madzhab) Malikiyah. yakni kesepakatan para ahli yang berwenang (ahl al-ijtihad) di kalangan umat Islam. masih ada upaya penalaran yang lain seperti Istihsan dan istislah dan seterusnya. tapi sebagian yang lain beranggapan. sekalipun dengan istilah-istilah yang berbeda. yang perlu ditata dalam hukum Islam. karena pengecualian itu didukung oleh suatu nash. untuk menampung segala perkembangan yang terjadi. Dalam bahasa tekniknya harus ada ashl dan harus ada 'illah. Dan ternyata kemudian diambil alih juga oleh Imam al-Ghazali dari aliran Syafi'iyah dengan beberapa . di kalangan penganut aliran pemikiran hukum (madzhab) Hanafiyah. ketentuan yang dihasilkan dari pengaitan (ilhaq) tersebut di atas dan inilah yang disebut hukum qias.

Hajiyyah (kebutuhan pokok) untuk menghindarkan kesulitan dan kemelaratan dalam kehidupannya.3. bahwa ia memang mewujudkan suatu manfaat atau mencegah terjadinya madharrah (bahaya atau kemelaratan). 1. konsep ini ditolak oleh Landasan pemikiran yang membentuk konsep ini ialah. yang menjadi dasar mashlahah (kepentingan dan kebutuhan manusia). Maka tidak dituntut untuk dilakukan manusia untuk kepentingan hidupnya. Mashlahah itu tidak merupakan kepentingan pribadi atau segolongan kecil masyarakat.Tahsiniyyah (kebutuhan pelengkap) dalam rangka memelihara sopan santun dan tata krama dalam kehidupan. yaitu: 1. Maka.1.Dharuriyyah (bersifat mutlak) karena menyangkut komponen kehidupannya sendiri sebagai manusia. 3. nasab keturunannya dan kepercayaan keagamaannya.Mashlahah yang tidak diakui ajaran syari'ah. Penempatan masalah ini sebagai suatu sumber hukum sekunder. yang terdiri dari tiga tingkat kebutuhan manusia. kenyataan bahwa. 2. bukan sekadar anggapan atau rekaan. Tapi perlu dicatat. Dan itulah sasaran utama dari hukum Islam. 1. dan manusia tidak dicegah melakukan sesuatu. menjadikan hukum Islam itu luwes dan dapat diterapkan pada setiap kurun waktu di segala lingkungan sosial.penyempurnaan.Mashlahah yang tidak terikat pada jenis pertama dan kedua. 3. Para ahli yang mendukung konsep penalaran ini mencatat tiga persyaratan dalam penerapan hukum mashlahah ini. tapi harus bersifat umum dan menjadi kebutuhan umum. Kelima tersebut biasanya disebut al-kulliyyat al-khams atau al-dharuriyyat al-khams. kecuali hal-hal yang pada galibnya membahayakan dan memelaratkan hidupnya. raga dan kehormatannya) akal pikirannya. Namun perlu dicatat ruang lingkup penerapan hukum mashlahah ini adalah bidang mu'amalat. Dalam kajian para ahl-ijtihad ada tiga jenis mashlahah. dan tidak menjangkau bidang ibadat. 2. syari'ah Islam dalam berbagai pengaturan dan hukumnya mengarah kepada terwujudnya mashlahah (apa yang menjadi kepentingan dan apa yang dibutuhkan manusia dalam kehidupannya di permukaan bumi).Mashlahah yang diakui ajaran syari'ah. 1. harta bendanya. karena ibadat itu adalah hak prerogatif Allah sendiri.2. yakni hal-hal yang menyangkut terpelihara dirinya (jiwa. aliran Zhahiriyyah dan Syi'ah. Mashlahah itu harus bersifat pasti. yaitu kepentingan yang bertentangan dengan maslahah yang diakui terutama pada tingkat pertama. upaya mewujudkan mashlahah dan mencegah mafsadah (hal-hal yang merusak) adalah sesuatu yang sangat nyata dibutuhkan setiap orang dan jelas dalam syari'ah yang diturunkan Allah kepada semua rasul-Nya. Hasil penalaran mashlahah itu tidak berujung pada terabaikannya sesuatu prinsip yang ditetapkan oleh nash . yaitu: 1. yaitu.

Al-Umm. 6. -------------------------------------------Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah Editor: Budhy Munawar-Rachman Penerbit Yayasan Paramadina Jln. 4. bimbingan keagamaan (fatwa) dan penyebaran buku-buku. Imam Suyuthi. AL-MASHLAHAH AL-'AMMAH Hukum Islam mengenal mashlahah 'ainiyah (kepentingan perorang) dari setiap manusia. 7507173 Fax. UA 20-21 Jakarta Selatan Telp. M. Al-Muwafaqat. pakaian dan tempat tinggalnya) hal ini bersangkutan dengan fardhu 'ain yang dijelaskan dalam tuntunan Rasulullah saw (thalab-u 'l-halal faridhatun 'ala kulli muslim) yaitu kewajiban bekerja mencari rizki memenuhi kebutuhan hidupnya sehari-hari. Hal-hal ini terkait dengan taklif yang berbentuk fardhu 'ain. Di samping mashlahah tersebut di atas. jelas memperlihatkan keterkaitannya dengan kewajiban perorangan sebagai imbalan adanya pengakuan atas mashlahah dharuriyyah yang menimbulkan hak-hak mutlak perorangan bagi setiap manusia. menciptakan lapangan kerja untuk mewujudkan mata pencaharian bagi anggota-anggota masyarakat. Hikmatuttasyri'wa Falsafatih. Imam al-Syathibi. 7501983. di antaranya adalah mencegah kemelaratan orang banyak (kaum Muslim). Al-Mustashfa. Madkhal al-Fiqh al-Islami. seperti yang digambarkan dalam uraian terdahulu tentang al-kulliyyat al-khams. menegakkan kontrol sosial melalui amar ma'ruf nahi mungkar. DAFTAR KEPUSTAKAAN 1. Al-Asybah wa 'l-Nazhair: 5. Seperti misalnya yang menyangkut mashlahah harta benda/kepentingan seorang manusia memiliki harta benda (untuk makan. Ini menyangkut hak publik dan berkaitan dengan fardhu kifayah. (021) 7507174 . Imam al Syafi'i. Sallam Madkur. yang sifatnya umum yakni yang merupakan kepentingan setiap manusia dalam hidupnya. mencerdaskan kehidupan masyarakat melalui pendidikan.fardhu kifayah itu adalah urusan umum yang menyangkut kepentingan-kepentingan (mashalih) tegaknya urusan agama dan dunia dalam kehidupan kita. Seterusnya yang menyangkut mashlahah akal pikiran. bersangkutan dengan fardhu 'ain yang dijelaskan dalam hadits lain yang berbunyi (thalb-u 'l-'ilmi faridhatun 'ala kulli muslim).syari'ah atau ketetapan yang dipersamakan (ijma'). (021) 7501969. Metro Pondok Indah Pondok Indah Plaza I Kav. Begitu seterusnya menyangkut tiap mashlahah yang sifatnya dharuriyyah. hukum Islam juga mengenal mashlahah 'ammah yang menjadi kepentingan bersama masyarakat atau kepentingan umum (algemeen blang). 3. Al-Mahmashani. Imam al-Ghazali. 2. Imam Rafi'i menjelaskan.

misalnya. para ulama mengembangkan metode istinbath (menarik kesimpulan hukum) baik berdasarkan kaidah-kaidah atau petunjuk umum dalam nash maupun dari penggunaan akal. dengan riba? Tanyalah ulama yang Anda kenal. Syafi'i. NU jawabannya satu. tentu saja bagi kepentingan umat Islam. Persis. Menurut al-Mawardi dalam al-Ahkam al-Sulthaniyah. dari golongan apa saja. Mereka tidak menemukan nash --teks al-Qur'an atau Hadits-. Deposito dan bunganya tidak dikenal di zaman Rasulullah saw. mereka menemukan lembaga yang menyelesaikan urusan orang-orang yang dizalimi.26. tidak boleh. Ada tiga kemungkinan jawaban: boleh. Semua golongan itu sepakat (ijma') untuk menyimpan uangnya di bank dan memanfaatkan bunganya. verba non acta. Para ulama merumuskan syari'at dalam bentuk fiqh yang mengatur bidang-bidang kehidupan yang lebih kompleks. Di antara metode-metode itu adalah qiyas. tidak tahu. Bila diminta fatwa lisan atau tulisan. istihsan dan istishlah. Kebanyakan di antara umat Islam masih belum mendapat jawaban yang tegas dan memuaskan. Lembaga ini tidak terdapat dalam al-Qur'an dan Sunnah. ketika dinasti Umayyah bertemu dengan kebudayaan Persia. Studi kritis terhadapnya akan segera membuktikan bahwa penggunaan metode-metode tersebut juga menimbulkan persoalan. PERANAN TUNTUTAN SITUASI DALAM MEMAHAMI HUKUM ISLAM oleh Jalaluddin Rakhmat Jika saya mendepositokan uang saya di bank. Mereka bukan saja menganggap dewan ini tidak bertentangan dengan syar'i. sebagian menolakaya. tapi bahkan memelihara tujuan syar'i. Kemudian penguasa Umayyah mengukuhkan lembaga itu dan menamainya Dewan Mazhalim. Secara berangsur-angsur. Sebagian menerimanya. menyerang istihsan dan menganggapnya sebagai usaha untuk membuat syari'at (man . perdagangan yang sederhana dan hukum pidana. Tidak jarang perbedaan itu muncul karena perbedaan pemaknaan istilah-istilah itu. Anehnya bila golongan yang ditanya --Muhammadiyah. Ulama yang ditanya itu memang mengalami kemusykilan. Ada memang ketentuan tentang riba. Yang kita sebut syari'at pada mulanya hanya menyangkut masalah keluarga. tapi apakah riba sama dengan bunga deposito? Kemusykilan seperti itu telah dihadapi para ulama sepanjang sejarah. tapi mereka menganggap lembaga ini sangat bagus.Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota Please direct any suggestion to Media Team Artikel Yayasan Paramadina Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota IV. Ketika Islam bertemu dengan peradaban-peradaban lain. apa yang tercakup dalam syari'at menjadi lebih luas. bolehkah saya menerima bunga depositonya? Apakah bunga deposito itu sama.yang menerangkan ketentuan hukum untuk deposito. sekali lagi jawabannya akan beragam. Tidak ada kesepakatan ulama mengenai kebolehan menggunakan masing-masing di antara ketiga hal itu. Semua metode ini hanyalah upaya memecahkan persoalan.

Adapun cara menggunakan qiyas sebagai berikut: Seorang mujtahidin melakukan penelitian apakah ada dalil yang menunjukkan dalil tentang illat untuk menentukan hukum far'. Imam Malik juga mengambil qiyas. Q. artinya." --Hadits menurut riwayat Abdullah bin Mas'ud. harus dilakukan berdasarkan istihsan. menurut Allah baik juga. ia bersandar kepada qiyas.s al-Zumar: 18. atau kepada ijma' atau kepada dharurat. atau tidak ada yang dapat dijadikan hujjah dari pendapat-pendapat mereka. yang tidak lain daripada istihsan menurut mazhab Hanafi. Kadang-kadang mujtahid meninggalkan satu dalil kepada dalil yang lebih kuat. ia tidak keluar dari upaya menjalankan nash. Tidak ada madzhab yang menolak penggunaan istihsan kecuali madzhab Dzahiriyah dan Syi'ah. atau meninggalkan qiyas kepada atsar. Tapi ketika Syafi'i menyerang istihsan seperti yang dimaknakan olehnya. ia menggunakan metode qiyas khafi. istihsan artinya memandang baik terhadap sesuatu. Bila kita mengacu pada literatur. Malik menyebut istihsan sebagai sembilan persepuluh ilmu (Al-istihsan tis'at a'syar al-'ilm). PENGERTIAN ISTIHSAN Secara denotatif. "Apa yang dianggap kaum Muslim baik. kita akan menemukan banyak sekali definisi istihsan --yang tidak selalu menunjukkan . atau kepada maslahat. Begitu pula para pengikut Hanafi yang membahas qiyas sesudah al-Kitab. orang-orang yang mendengarkan kata dan diturutinya yang paling baik. Menarik sekali. Imam Ahmad pun bersandar kepada qiyas dengan syarat sesudah meninjau hukum itu dalam al-Qur'an dan Hadits dalam maknanya yang lebih luas. "Dan turutlah (pimpinan) yang sebaik-baiknya yang telah diturunkan kepadamu dari Tuhanmu". dan sudah ditegaskan hubungannya disamakanlah hukum yang asal dengan far' berdasarkan kesamaan illat seperti yang dipahaminya. Pendirian Dewan Madzalim dipandang baik. [2] Bila illat itu diketahui dengan menggunakan cara-cara yang dikenal dalam kitab ushul dan ada hubungan antara illat ini dengan kasus yang akan ditetapkan hukumnya. Tulisan ini akan dimulai dengan mencoba menyelesaikan kemelut makna istihsan dan istishlah dan diakhiri dengan petunjuk praktis penggunaannya dalam menjawab tuntutan situasi sekarang ini. Kadang-kadang qiyas ditinggalkan karena ada dalil yang kuat atsarnya. Inilah yang ditetapkan oleh Imam Syafi'i dan ditegaskan al-Syirazi dan al-Maqdisi. Sunnah.istahsana fa qad syara'a). atau mashlahat. Yang demikian itu disebut istihsan. al-Zumar: 55. walaupun ia berbeda dari mujtahidin lainnya dalam cara dan cakupan penggunaan qiyas. Namun sebelum itu. para ulama yang mempertahankan istihsan mengambil dalil dari al-Qur'an dan Sunnah yang menyebutkan kata istihsan dalam pengertian denotatif ini (yaitu. sebagai pengantar. saya kutipkan penjelasan Sayyid Musa Tuwanat: [1] Bila mujtahid tidak menemukan hukum dalam al-Qur'an. ijma' dan pendapat para sahabat. Sunnah dan ijma. atau qiyas. Maliki dan Hanafi memandang istihsan bahkan harus didahulukan dari qiyas. tapi sesudah mengambil mashalih mursalah dan istihsan. Dalam semua keadaan itu.

referensi yang sama. Ada definisi yang dibuat dengan memperhatikan segi-segi politis dan bukan segi-segi ilmiahnya. Untuk menunjukkan bagaimana definisi-definisi itu lebih banyak menyulitkan daripada membantu, kita lihat contoh di bawah ini: 1. Istihsan adalah meninggalkan qiyas untuk mengambil yang lebih sesuai dengan orang banyak. 2. Istihsan adalah mencari kemudahan dari hukum-hukum yang dihadapi orang banyak atau orang tertentu. 3. Istihsan adalah mengambil keluasan dan mencari kelegaan. 4. Istihsan adalah mengambil yang permisif dan memilih yang di dalamnya ada ketenangan (semuanya dari al-Sarkhashi). 5. Istihsan artinya meninggalkan kepastian qiyas kepada qiyas yang lebih kuat atau mentakhshiskan qiyas dengan dalil yang lebih kuat (al-Bazdawi dari madzhab Hanafi). 6. Istihsan artinya mengamalkan yang lebih kuat di antara dua dalil (al-Syathibi dari madzhab Maliki). 7. Istihsan artinya meninggalkan hukum masalah dari yang semacamnya karena dalil syara' yang tertentu (al-Thufi dari madzhab Hambali). 8. Istihsan adalah apa yang dipandang baik oleh mujtahid dengan akalnya. [3] Karena kita mengalami kesulitan memahami istihsan dari berbagai definisi itu, marilah kita ambil contoh kasus yang oleh para mujtahid disebut sebagai istihsan. Melihat aurat perempuan yang bukan muhrim haram, karena dapat menimbulkan "fitnah" (membawa orang kepada kemaksiatan). Yang dalam kurung itu disebut 'illat yang sangat jelas (kita sekarang sedang melakukan qiyas jaliy). Bagaimana hukumnya seorang dokter yang harus memeriksa pasien wanitanya? Bila ia tidak melihat auratnya, ia tak bisa menolong pasien itu dengan baik. Ia harus menolong pasien itu untuk mengembalikan kesehatannya, untuk kemaslahatan pasiennya. Tapi alasan ('illat) ini hanya dalam kasus pasien saja dan dianggap tegas (kita sedang melakukan qiyas khafiy). Bila kita meninggalkan qiyas jaliy dan mengambil qiyas khafiy, kita melakukan istihsan. Kadang-kadang seorang mujtahid meninggalkan qiyas karena menemukan hadits yang lebih kuat, atau karena memperhatikan kemaslahatan, atau karena 'urf (adat kebiasaan yang sudah lazim). Bila kita memperhatikan praktek-praktek yang disebut istihsan, kita menemukan istihsan dalam tiga pengertian: Pertama, istihsan berarti memilih yang lebih kuat di antara dua dalil yang bertentangan atau berbeda (berikhtilaf). Boleh jadi ikhtilaf di antara dua dalil lafzhi --yakni dalil yang diambil dari al-Qur'an dan Sunnah. Atau ikhtilaf di antara dua dalil ghair lafzhi; misalnya, antara qiyas jaliy dengan qiyas khafiy. Atau ikhtilaf di antara dalil lafzhi dan ghair lafzhi. Marilah kita mulai dengan ikhtilaf di antara dua dalil lafzhi. Dalam hal ini, ikhtilaf dapat berupa tazakam dan ta'arudh. Yang dimaksud dengan Tazabum adalah pembenaran dua hukum yang berasal dari syara', yang tidak mungkin digabungkan. Ta'arudh

artinya perbedaan hukum shawar al-masalah).

karena

perbedaan

kasus

(ikhtilaf

Kita melakukan istihsan bila kita mentarjih (menganggap lebih baik) salah satu di antaranya. Sambil memberikan contoh-contohnya, saya akan menunjukkan petunjuk-petunjuk praktis penggunaan istihsan pada tazahum dan ta'arudh. (1) Dulukan hukum yang mendesak (mudhiq) di atas hukum yang memberikan kelonggaran (musi'). Misalnya, antara menghilangkan najis di masjid dengan melakukan shalat pada awal waktunya, atau antara menolong orang yang celaka dengan melakukan shalat Jum'at. Pilihlah menghilangkan najis dan menolong orang yang celaka. (2) Dulukan yang tidak ada penggantinya dengan yang ada penggantinya. Misalnya, menggunakan air untuk memuaskan rasa haus atau untuk berwudhu'. Wudhu' itu ada penggantinya, yaitu tayammum. Tapi memuaskan haus tidak bisa diganti dengan batu. (3) Dulukan yang sudah tertentu (mu'ayyan) di atas urusan yang memberikan alternatif (mukhayyar). Misalnya memenuhi nadzar atau membayar kifarat. Anda bernadzar untuk memberikan makanan bagi orang miskin, tapi juga Anda harus membayar kifarat puasa. (4) Dulukan yang lebih penting dari pada yang penting. Anda wajib melakukan haji dan pada saat yang sama Anda harus membayar hutang. Bayarlah hutang Anda lebih dulu. Ta'arudh terjadi kalau ada dua dalil syara' yang bertentangan. Para ulama ushul mengusulkan beberapa cara, yang tidak dapat kita perinci satu per satu: mendulukan yang mutlak di atas yang muqayyad, takhshish di atas 'am, nasikh di atas mansukh, hakim di atas mahkum, al-Qur'an di atas Sunnah, yang disepakati di atas yang diikhtilafi. Kedua, istihsan berarti mengambil sesuatu yang sudah dipandang baik oleh 'urf atau akal. Misalnya, mencatat pernikahan di kantor departemen Agama. Istihsan dalam arti ini harus dilakukan dengan sangat hati-hati. Karena apa yang dipandang baik 'urf atau akal itu boleh jadi sangat subyektif, sehingga besar kemungkinan mengikuti bias-bias sosio-psikologis. Kita juga tidak cukup waktu membicarakan hal ini. Ketiga, istihsan berarti meninggalkan dalil-dalil tertentu untuk mendatangkan maslahat atau menegakkan hukum di atas pertimbangan maslahat yang lima: memelihara agama, jiwa, akal, keturunan dan harta. Istihsan jenis terakhir ini disebut juga istishan atau al-mashalih al-mursalah. PENUTUP Yang terakhir ini exercise. Apakah cara berpikir yang berikut ini termasuk istihsan atau bukan. Bunga deposito dapat dibenarkan karena beberapa pertimbangan. Pertama, uang yang disimpan mengalami penurunan nilai karena inflasi. Tingkat inflasi bisa jadi lebih tinggi dari bunga deposito. Kedua, dengan menyimpan, deposan harus membayar opportunity cost yang boleh jadi lebih mahal dari bunga deposito. Ketiga, mendepositokan uang juga siap memikul resiko, yang nilainya dapat dihitung (serta mungkin saja lebih besar dari bunga

deposito). Walhasil, bila Anda tidak mengambil deposito Anda, Anda akan menjadi pihak yang terzalimi atau teraniaya. Padahal, agama menyatakan "tidak boleh menindas dan tidak boleh ditindas"?? CATATAN 1. Al-Ijtihad wa Muda Hajatina ilaih fi Hadza al-'Ashr, Mesir: Dar al-Kutub al-Haditsah, hal. 324 - 325. 2. Ada empat rukun qiyas: (1) asalnya, yakni kasus yang ada dalam nas, misalnya minum khamar; (2) hukumnya, yakni haram; (3) far', kasus baru yang akan ditetapkan hukumnya, misalnya bir; (4) illat atau washf jami', yakni sebab yang menyamakan kedua kasus itu, misalnya memabukkan atau minuman keras. 3. Lihat, Muhammad Taqiy, Al-Ushul al-Ammah fi al-Ammah fi al-fiqh al-Muqaran, Beirut: Dar al-Andalus, 1979, hal. 361-362. -------------------------------------------Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah Editor: Budhy Munawar-Rachman Penerbit Yayasan Paramadina Jln. Metro Pondok Indah Pondok Indah Plaza I Kav. UA 20-21 Jakarta Selatan Telp. (021) 7501969, 7501983, 7507173 Fax. (021) 7507174 Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota
Please direct any suggestion to Media Team

Artikel Yayasan Paramadina
Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota IV.25. TAQLID DAN IJTIHAD (1/4) MASALAH KONTINUITAS DAN KREATIVITAS DALAM MEMAHAMI PESAN AGAMA oleh Nurcholish Madjid Jika masalah taqlid dan ijtihad harus ditelusuri ke belakang, barangkali yang paling tepat ialah kita menengok ke zaman 'Umar ibn al-Khathtab, Khalifah ke II. Bagi orang-orang muslim yang datang kemudian, khususnya kalangan kaum Sunni, berbagai tindakan 'Umar dipandang sebagai contoh klasik persoalan taqlid dan ijtihad. Salah satu hal yang memberi petunjuk kita tentang prinsip dasar 'Umar berkenaan dengan persoalan pokok ini ialah isi suratnya kepada Abu Musa al-Asy'ari, gubernur di Basrah, Irak: "Adapun sesudah itu, sesungguhnya menegakkan hukum (al qadla) adalah suatu kewajiban yang pasti dan tradisi (Sunnah) yang harus dipatuhi. Maka pahamilah jika sesuatu diajukan orang kepadamu. Sebab, tidaklah ada manfaatnya berbicara mengenai kebenaran jika tidak dapat dilaksanakan. Bersikaplah ramah antara sesama manusia dalam kepribadianmu, keadilanmu dan majlismu, sehingga seorang yang berkedudukan tinggi (syarif) tidak sempat berharap akan keadilanmu.

Memberi bukti adalah wajib atas orang yang menuduh, dan mengucapkan sumpah wajib bagi orang yang mengingkari (tuduhan). Sedangkan kompromi (ishlah, berdamai) diperbolehkan diantara sesama orang Muslim, kecuali kompromi yang menghalalkan hal yang haram dan mengharamkan hal yang halal. Dan janganlah engkau merasa terhalang untuk kembali pada yang benar berkenaan dengan perkara yang telah kau putuskan kemarin tetapi kemudian engkau memeriksa kembali jalan pikiranmu lalu engkau mendapat petunjuk kearah jalanmu yang benar; sebab kebenaran itu tetap abadi, dan kembali kepada yang benar adalah lebih baik daripada berketerusan dalam kebatilan. Pahamilah, sekali lagi, pahamilah, apa yang terlintas dalam dadamu yang tidak termaktub dalam Kitab dan Sunnah, kemudian temukanlah segi-segi kemiripan dan kesamaannya, dan selanjutnya buatlah analogi tentang berbagai perkara itu, lalu berpeganglah pada segi yang paling mirip dengan yang benar. Untuk orang yang mendakwahkan kebenaran atau bukti, berilah tenggang waktu yang harus ia gunakan dengan sebaik-baiknya. Jika ia berhasil datang membawa bukti itu, engkau harus mengambilnya untuk dia sesuai dengan haknya. Tetapi jika tidak, maka anggaplah benar keputusan (yang kau ambil) terhadapnya, sebab itulah yang lebih menjamin untuk menghindari keraguan, dan lebih jelas dari ketidakpastian (al-a'ma, kebutaan, kegelapan) ... Barang siapa telah benar niatnya kemudian teguh memegang pendiriannya, maka Allah akan melindunginya berkenaan dengan apa yang terjadi antara dia dan orang banyak. Dan barang siapa bertingkah laku terhadap sesama manusia dengan sesuatu yang Allah ketahui tidak berasal dari dirinya (tidak tulus), maka Allah akan menghinakannya ..." [1] Dari kutipan surat yang lebih panjang itu ada beberapa prinsip pokok yang dapat kita simpulkan berkenaan dengan masalah taqlid dan ijtihad. Prinsip-prinsip pokok itu ialah: Pertama, prinsip keotentikan (authenticity). Dalam surat 'Umar itu prinsip keotentikan tercermin dalam penegasannya bahwa keputusan apapun mengenai suatu perkara harus terlebih dahulu diusahakan menemukannya dalam Kitab dan Sunnah. Kedua, prinsip pengembangan. Yaitu, pengembangan asas-asas ajaran dari Kitab dan Sunnah untuk mencakup hal-hal yang tidak dengan jelas termaktub dalam sumber-sumber pokok itu. Metodologi pengembangan ini ialah penalaran melalui analogi. Pengembangan ini diperlukan, sebab suatu kebenaran akan membawa manfaat hanya kalau dapat terlaksana, dan syarat keterlaksanaan itu ialah relevansi dengan keadaan nyata. Ketiga, prinsip pembatalan suatu keputusan perkara yang telah terlanjur diambil tetapi kemudian ternyata salah, dan selanjutnya, pengambilan keputusan itu kepada yang benar. Ini bisa terjadi karena adanya bahan baru yang datang kemudian, yang sebelumnya tidak diketahui. Keempat, prinsip ketegasan dalam mengambil keputusan yang menyangkut perkara yang kurang jelas sumber pengambilannya (misalnya, tidak jelas tercantum dalam Kitab dan Sunnah), namun perkara itu amat penting dan mendesak. Ketegasan dalam hal ini bagaimanapun lebih baik daripada keraguan dan ketidakpastian.

Kelima, prinsip ketulusan dan niat baik, yaitu bahwa apapun yang dilakukan haruslah berdasarkan keikhlasan. Jika hal itu benar-benar ada, maka sesuatu yang menjadi akibatnya dalam hubungan dengan sesama manusia (seperti terjadinya kesalahpahaman), Tuhanlah yang akan memutuskan kelak (dalam bahasa 'Umar, Allah yang akan "mencukupkannya"). Dari prinsip-prinsip itu, prinsip keotentikan adalah yang pertama dan utama, disebabkan kedudukannya sebagai sumber keabsahan. Karena agama adalah sesuatu yang pada dasarnya hanya menjadi wewenang Tuhan, maka keotentikan suatu keputusan atau pikiran keagamaan diperoleh hanya jika ia jelas memiliki dasar referensial dalam sumber-sumber suci, yaitu Kitab dan Sunnah. Tanpa prinsip ini maka klaim keabsahan keagamaan akan menjadi mustahil. Justru suatu pemikiran disebut bernilai keagamaan karena ia merupakan segi derivatif semangat yang diambil dari sumber-sumber suci agama itu. TAQLID Prinsip keotentikan juga menyangkut masalah konsistensi ketaatan pada asas. Konsistensi itu, pada urutannya, akan menjadi batu penguji lebih lanjut tingkat keabsahan suatu pemikiran. Karena itu dalam pengembangan suatu pemikiran keagamaan tidak mungkin dihindari kewajiban memperhatikan hal-hal parametris dalam sistem ajaran sumber-sumber suci, sebab hal-hal parametris itulah yang menjadi tulang punggung kerangka ajarannya yang abadi (sesuai untuk segala zaman dan tempat). Hal-hal parametris itu dalam Kitab Suci disebut sebagai al-muhkamat (petunjuk-petunjuk dengan makna jelas), yang juga disebut sebagai prinsip dasar atau induk ajaran Kitab Suci (umm al-Kitab), kebalikan petunjuk-petunjuk metaforikal, alegoris dan interpretatif (mutasyabihat). [2] Karena keontentikan dan konsistensi mengimplikasikan penerimaan terhadap suatu postulat, premis atau formula dasar, dengan sendirinya ia juga mengandung makna taqlid menurut makna asli (generik) kata-kata itu, yakni, sebelum ia menjadi istilah teknis dengan makna sekunder seperti kini umum dipahami. Sebab, taqlid dalam arti generik merupakan unsur sikap menerima kebenaran suatu postulat berdasarkan pengakuan bahwa sumber atau pembuat postulat mempunyai wewenang penuh dan tinggi. Karena salah satu konsekuensi konsep tentang Tuhan ialah konsep tentang Dia Yang Maha Berwenang, maka menerima dengan penuh keyakinan terhadap kebenaran ajaran-Nya dengan sendirinya merupakan implikasi kepercayaan atau iman kepada Rasul dan ajaran-ajaran yang dibawa-Nya. [3] Iman yang sempurna dengan sendirinya mengandung semangat sikap pasrah sepenuhnya. Segi lain tentang makna penting taqlid ialah yang menyangkut masalah akumulasi informasi dan pengalaman. Taqlid sebagai pola penerimaan otoritas pendahulu dalam rentetan pengembangan ilmu dan pemikiran hampir tidak mungkin dihindari. Sebab, ekonomi pemikiran tidak mengizinkan terlalu banyak bersandar pada kemampuan pribadi secara terpisah dan atomistis, sehingga segala sesuatu akan menjadi tanggung jawab sendiri, dengan keharusan merintis setiap pengembangan dari titik nol (from the scratch). Pengetahuan

manusia seperti yang ada sekarang ini yang menandai zaman modern ("iptek") adalah hasil kumulatif penggalian informasi dan pengalaman yang melibatkan hampir seluruh ummat manusia sepanjang sejarah yang telah berjalan ribuan tahun. Deretan pengalaman dan pengawetan serta pelembagaan dalam karya-karya intelektual sepanjang masa itu menjadi pohon tradisi intelektual universal ummat manusia, yang tanpa itu kekayaan dan kesuburan seperti yang ada sekarang akan menjadi sama sekali mustahil. Memulai suatu pengembangan pemikiran dan dalam hal ini juga pengembangan bidang budaya manusia manapun dari titik nol akan hanya berakhir dengan kemiskinan (malah pemiskinan - improverishment) hasil usaha itu sendiri. Karena itu taqlid dalam makna generik yang positif merupakan dasar penumbuhan kekayaan intelektual yang integral, yakni integral dalam arti bahwa suatu bangunan tradisi intelektual memiliki akar-akar dalam sejarah. Jadi, keotentikan historis, yang keontentikan itu sendiri diperlukan jika diinginkan daya kembang dan kreativitas yang maksimal. Maka, untuk sekedar misal, seorang Albert Camus dalam tradisi intelektual Eropa (Barat) yang telah tampil dengan filsafat kontemporernya tentang eksistensialisme absurdity yang kontroversial itu pun harus dipahami sebagai bagian integral tradisi intelektual di sana yang akar-akarnya bisa ditelusuri jauh ke masa lalu, sampai ke masa Yunani kuno. Albert Camus, dalam jalan pikiran orang-orang Barat, tidak dapat dipahami tanpa melihat salah satu jalur konsistensi dan benang merah pemikiran Barat itu sendiri, melintasi zaman sampai ke masa lalu yang sangat jauh. Sekalipun konsep absurdity dapat dilihat sebagai Camus, namun sesungguhnya ia adalah salah satu hasil pertumbuhan kumulatif pemikiran Barat. [4] Ia memiliki keabsahan sebagai pemikiran Barat yang integral. Jadi keintegralan dan keotentikan diperkuat oleh adanya konstinuitas tradisi yang berkembang. Tetapi segi positff taqlid ini hanya terwujud jika ia tidak menjadi paham tersendiri yang tertutup, yang tumbuh menjadi "isme" terpisah. Sebab, taqlid seperti ini (yang barangkali lebih tepat disebut "taqlidisme") mengisyaratkan sikap penyucian masa lampau dan pemutlakan otoritas tokoh sejarah. Memang benar, masa lampau selalu mengandung otoritas. Tapi, justru demi pengembangan bidang yang menjadi otoritasnya, masa lampau beserta tokoh-tokohnya harus senantiasa terbuka untuk diuji dan diuji kembali. Pengujian itu dilakukan dengan pertama-tama, menemukan dan menginsafi segi-segi yang merupakan imperatif ruang dan waktu yang ikut membentuk suatu sosok pemikiran. Sebab, suatu sosok pemikiran tidak pernah muncul dan berkembang dari kevakuman. Ia selalu merupakan hasil interaksi berbagai faktor, dan faktor ruang dan waktu acap kali dominan. (bersambung 2/4) -------------------------------------------Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah Editor: Budhy Munawar-Rachman Penerbit Yayasan Paramadina Jln. Metro Pondok Indah Pondok Indah Plaza I Kav. UA 20-21 Jakarta Selatan Telp. (021) 7501969, 7501983, 7507173

Fax. (021) 7507174 Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota
Please direct any suggestion to Media Team

Artikel Yayasan Paramadina
Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota IV.25. TAQLID DAN IJTIHAD (2/4) MASALAH KONTINUITAS DAN KREATIVITAS DALAM MEMAHAMI PESAN AGAMA oleh Nurcholish Madjid Kedua, dengan menghadapkan sosok pemikiran itu pada kenyataan-kenyataan disini sekarang. Penghadapan ini diperlukan untuk melihat relevansi suatu sosok pemikiran historis, karena ia akan berguna untuk kita, disini dan kini. Seperti tubuh manusia yang memiliki mekanisme penolakan terhadap benda-benda asing yang tidak cocok dengan dirinya lewat gejala alergi, ruang dan waktu pun, yang mengejawantah dalam sistem sosial, memiliki mekanisme penolakan terhadap sesuatu yang tidak sesuai tanpa membiarkan diri secara pasif menjadi tawanan ruang dan waktu, kita tidak bisa dihadapkan pada kebutuhankebutuhan nyata yang didiktekan dan ditentukan oleh lingkungan kita. HIKMAH AGAMA Tujuan seorang Rasul diutus kepada umat manusia antara lain untuk mengajarkan Kitab Suci dan hikmah kepada mereka. Karena cakupan maknanya yang demikian luas, "hikmah" diterangkan kedalam berbagai pengertian dan konsep, diantaranya wisdom atau kewicaksanaan (dari bahasa Jawa, untuk membedakannya dari kata "kebijaksanaan"), ilmu pengetahuan, filsafat, malahan "blessing in disguise" (untuk menekankan segi kerahasiaan hikmah). [6] Mendasari konsep itu ialah kesadaran bahwa suatu "hikmah" selalu mengandung kemurahan dan rahmat Ilahi yang maha luas dan mendalam, yang tidak seluruhnya kita mampu menangkapnya. Maka disebutkan bahwa siapa dikaruniai hikmah, ia sungguh telah mendapatkan kebajikan yang berlimpah-ruah. [6] Jika "hikmah" itu kita hubungkan kembali pada istilah "muhkam" (kedua kata itu terambil dari akar kata yang sama, yaitu h-k-m), maka dalam menumbuhkan tradisi intelektual yang integral dan kreatif berdasarkan kaidah taqlid dan ijtihad itu memerlukan kemampuan menangkap hikmah pesan Ilahi seperti yang terlembagakan dalam ajaran-ajaran agama. Berkenaan dengan ini, dan dikaitkan pada keterangan dalam Kitab Suci tentang adanya ayat-ayat mahkam dan mutasyabih tersebut, menarik sekali kita mengangkat penafsiran A. Yusuf Ali atas makna muhkam itu: [7] ... The Commentators usually understand the verses "of established meaning" (muhkam) to refer to the categorical orders of the Shari'at (or the Law), which are plain to everyone's understanding. But perhaps the meaning is wider: "the mother of the Book" must include the very foundation on which all Law rests, the essence of God's Message, as

distinguished from the various allegories, and ordinances.

illustrative

parables,

If we refer to xi. 1 and xxxix. 23, [8] we shall find that in a sense the whole of the Qur'an has both "established meaning" and allegorical meaning. The division is not between the verses, but between the meanings to be attached to them. Each is but a Sign or Symbol: what it represents is something immediately applicable, and something eternal and independent of time and space, - the "Forms of Ideas" in Plato's Philosophy. The wise man will understand that there is an "essence" and an illustrative clothing given to the essence, throught the Book. We must try to understand it as best we can, but not waste our energies in disputing about matters beyond our depth.[9] Sesuatu dari ajaran Kitab Suci yang abadi dan tak terikat oleh waktu dan ruang (eternal and independent of time and space) dalam pengertian tentang muhkam itu tidak lain ialah makna, semangat, atau tujuan universal yang harus ditarik dari suatu materi ajaran agama yang bersifat spesifik, atau malah mungkin ad-hoc. Kadang-kadang makna dan tujuan universal dibalik suatu ketentuan spesifik itu sekaligus diterangkan langsung dalam rangkaian firman itu sendiri. Tapi, kadang-kadang makna itu harus ditarik melalui proses konseptualisasi atau ideasi (ideation). Contoh yang pertama ialah firman Ilahi yang mengurus perceraian Zaid (seorang bekas budak yang dimerdekakan dan diangkat anak oleh Nabi) dari istrinya, Zainab (seorang wanita bangsawan Quraisy dengan status sosial tinggi dan rupawan), dan perceraian itu kemudian diteruskan dengan dikawinkannya Nabi dengan Zainab oleh Tuhan. Maka terlaksanalah perkawinan seseorang -dalam hal ini Nabi menikahi bekas isteri anak angkatnya. Namun kejadian yang bagi orang-orang tertentu terdengar sebagai skandal ini justru -katakanlah- dirancang oleh Tuhan untuk suatu maksud yang mendukung nilai universal yang sejak semula menjadi klaim ajaran Islam, yaitu nilai sekitar konsep kealamian (naturalness) yang suci, yakni konsep fithrah. Dalam hal ini, anak angkat bukanlah anak alami seperti anak (biologis) sendiri, sehingga juga tidaklah alami dan tidak pula wajar jika hubungannya dengan ayah angkatnya dikenakan ketentuan yang sama dengan anak alami, termasuk dalam urusan nikah. Maka, kejadian ad-hoc yang menyangkut Zaid, Zainab dan Nabi itu langsung diterangkan tujuan universalnya, yaitu "agar tidak ada halangan bagi kaum beriman untuk mengawini (bekas) isteri-isteri anak-anak angkat mereka." [10] Tujuan ini jelas langsung terkait dengan segi universal yang lebih menyeluruh, yaitu konsep atau ajaran fithrah, yang mengimplikasikan bahwa segala sesuatu dalam tatanan hidup manusia ini hendaknya diatur dengan ketentuan yang sealami mungkin sesuai dengan hukum alam (Qadar) [11] dan hukum sejarah (Sunnat-u 'l-Lah) yang pasti dan tak berubah-ubah. [12] Pandangan bahwa segala sesuatu harus sealami mungkin adalah benar-benar sentral namun menuntut pemahaman mendalam yang disebut sebagai agama ftthrah yang hanif. Itulah hikmah pesan agama dalam arti yang seluas-luasnya dan secara global. Dalam arti yang lebih terinci, konsep hikmah agama dinyatakan dalam berbagai ungkapan, seperti telah menjadi tema dan judul sebuah buku yang cukup terkenal, Hikmat al-Tasyri' wa Falsafatuhu. [13] Hikmah pesan agama

Hanya saja. seperti konsep sekitar 'illat al-hukm (Latin: ratio legis). Karena itu di kalangan ulama klasik ada pendapat hampir merata bahwa ijtihad adalah suatu tugas yang penuh gengsi. Kemudian sifat memabukkan itu sendiri dihukumnya sebagai tidak baik. Melalui tokoh-tokoh pembaharu seperti Muhammad Abduh dan Sayid Ahmad Khan. seperti khamar) ialah sifatnya yang memabukkan. yaitu kerusakan mental. yaitu tema-tema teori politik Sunni. sebagai salah satu akibat penguasaan mereka atas daerah-daerah sentral peradaban manusia. Tapi. Bahwa rationale diharamkannya minuman keras (alkoholik. (Disebut anomalous. namun ia dibuat dengan tujuan menjamin adanya kewenangan dan tanggung jawab. Kini. ijtihad dikemukakan kembali sebagai metode terpenting menghilangkan situasi anomalous dunia Islam yang kalah dan dijajah oleh dunia Kristen Barat. yang juga sering disebut dengan manath al-hukm (sumbu perputaran hukum). mendalam. Berkaitan dengan ini berbagai konsep yang telah mapan dalam pembahasan agama Islam. Konsep-konsep ini dibuat berkenaan dengan perlunya menemukan suatu rationale yang mendasari penetapan suatu hukum.masih bisa dilihat rationalenya sehingga ia negatif. justru merupakan salah satu ajaran sentral agama Islam. tapi justru karena itu menuntut persyaratan banyak dan berat. Maka ijtihad bisa dilakukan hanya oleh orang-orang tertentu yang benar-benar telah memenuhi syarat itu. dan hak mengatur dunia hanya ada pada mereka. dan meluas serta kompleks. dalam perkembangan selanjutnya penabuan itu juga dapat dilihat sebagai kelanjutan masa kegelapan (obskurantisme) dalam pemikiran Islam. terutama daerah Nil sampai Ozus. Syarat-syarat itu sekarang boleh kedengaran kuno. jantung kawan (Oikoumene). yaitu bahwa ia berarti hilangnya akal sehat yang menjadi bagian dari fithrah manusia. Dan selanjutnya. Contoh nyata penerapan konsep ini ialah yang dikenakan pada hukum khamr. pelukisan tentang kegiatan ijtihad sebagai sesuatu yang amat eksklusif telah melahirkan persepsi salah. karena ia mengakibatkan suatu jenis kerusakan. orang-orang muslim terbiasa berpikir bahwa dunia ini milik mereka. Para pembaharu mendapati bahwa praktek taqlid yang umum . Sikap penabuan dengan sendirinya tidak dapat dibenarkan meskipun sesungguhnya ia muncul dari obsesi para ulama pada ketertiban dan ketenangan atau keamanan. kerusakan mental itu -betapa pun jelas negatif. Padahal memelihara fithrah itulah. lebih dari pada yang dipahami umum. ijtihad itu diajukan orang sebagai salah satu tema pokok usaha reformasi atau penyegaran kembali pemahaman terhadap agama. Dalam sejarah masyarakat Muslim sempat tumbuh pandangan yang hampir menabukan ijtihad. [14] IJTIHAD Uraian di atas dibuat dengan tujuan memberi gambaran bahwa masalah taqlid dan ijtihad. khususnya pembahasan bidang hukum (syari'ah -par excellence). menyangkut hal-hal yang cukup rumit. khususnya di masa-masa penuh kekacauan menjelang keruntuhan Baghdad. karena selama paling kurang tujuh atau delapan abad.ini juga dikenal dengan istilah lain sebagai maqashid al-syari'ah (maksud dan tujuan syari'ah).

7507173 Fax. paling untung chauvinisme. khususnya Muhammad Abduh.. Ia melukiskan semangat kosmopolit zaman klasik Islam. sungguh menarik pemaparan pemikiran al-Makki bahwa melakukan ijtihad.25. dan merupakan konsekwensi dari." [19] Berkenaan dengan itu. selain . jika bukan malah pandangan teologis. baik awam maupun ulama." [17] Pandangan 'Umar ini sejalan dengan. (021) 7507174 Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota Please direct any suggestion to Media Team Artikel Yayasan Paramadina Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota IV. yang tidak segan-segan mengambil apa saja yang baik dari umat-umat lain. khususnya jika berbentuk unsur dari budaya asing. dan tidak memandang baik terhadap sikap jumud dalam hukum. dan tentang apa yang paling baik disini dan sekarang. Sebab." [18] (bersambung 3/4) -------------------------------------------Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah Editor: Budhy Munawar-Rachman Penerbit Yayasan Paramadina Jln. sepanjang penuturannya.menguasai orang-orang muslim. 'Umar adalah seorang yang "berpikiran luas.w. malah juga Rasulullah sendiri! Menurut al-Makki. TAQLID DAN IJTIHAD (3/4) MASALAH KONTINUITAS DAN KREATIVITAS DALAM MEMAHAMI PESAN AGAMA oleh Nurcholish Madjid Agaknya jalan pikiran 'Umar dari zaman klasik (salaf) Islam itu muncul lagi pada orang-orang tertentu dari kalangan para pemikir Islam zaman modern. dari kalangan generasi awal Islam. Gejala ini pula yang hari-hari ini dilihat al-Makki. UA 20-21 Jakarta Selatan Telp. [16] Bahkan 'Umar "tidak memandang semua perkara bersifat ta'abbudi (bernilai 'ubudiyyah. yang meliputi penolakan secara sadar terhadap segala sesuatu yang baru. seorang pemikir Makkah dari madzhab Maliki. Xenophobia itu sendiri merupakan gejala. (021) 7501969. Metro Pondok Indah Pondok Indah Plaza I Kav. 7501983. paling celaka kecemasan dan rendah diri. khususnya zaman 'Umar. tidak hanya para Sahabat seperti 'Umar dll.t. menurut kerangka aturan yang telah mapan tentang pengambilan hukum dan norma-norma moral Islam. Tokoh pembaharu modern paling berpengaruh ini "memahami ijtihad dalam pengertiannya yang luas sebagai penelitian bebas. penegasannya bahwa "tidaklah ada gunanya berbicara tentang kebenaran namun tidak dapat dilaksanakan. [15] Ini dengan mudah dilihat gejala xenophobia. meskipun umat itu kafir. tetapi mengikuti berbagai pertimbangan kemaslahatan dan melihat makna-makna yang merupakan poros penetapan hukum (manath al-tasyri') yang diridlai Allah s. telah berkembang menjadi suatu sikap mental. devotional).

ia akan mendapat dua pahala. meskipun amat jarang. sebagai sama-sama kegiatan manusiawi yang serba terbatas. begitu pula para Imam madzhab sendiri. sampai ia akhirnya bertemu (liqa. Seluruh ide tentang mendekati (taqarrub) kepada Tuhan mengisyaratkan perlunya manusia berjalan tanpa jemu-jemunya meniti jalan lurus yang sulit itu. dan sekaligus berkembang dan kreatif tanpa kehilangan keotentikan dan keabsahan -suatu penitian jalan yang sulit. yaitu ijtihad dan mujahadah. atau kalaupun salah beliau akan segera mendapat teguran Ilahi melalui wahyu yang suci sehingga kesalahan itu tidak melembaga dan menjadi satu dengan pola hidup orang banyak. Maka problema yang dihadapkan kepada setiap orang ialah bagaimana ia teguh tanpa menjadi kemutlakan-kemutlakan. maka taqlid ataupun ijtihad selalu mengandung persoalan. pasti memang hanya usaha yang penuh kesungguhan saja. namun tanpa menjadi satu) dengan Kebenaran. setiap bentuk absolutisme akan membuat suatu sistem pemikiran menjadi tertutup. dan selalu langsung dikoreksi Tuhan). Al-Makki mengatakan bahwa dalam berijtihad Nabi selalu benar. Jalan menuju kesana ternyata banyak. [20] (Dalam hal ini al-Makki mirip dengan Ibn Taymiyyah yang berpendapat bahwa Nabi bersifat ma'shum hanya dalam tugas menyampaikan (al-balagh) wahyu. Tapi. dari sudut pandangan esoterisnya. Sebab. [23] Akhirnya. selalu toleran satu sama lain. Hadlrat al-Syaikh K. Jadi tidak dibenarkan adanya absolutisme di sini. sehingga harus senantiasa dibiarkan membuka diri bagi tinjauan dan pengujian. namun tidak mustahil. jalan itu sebanyak jumlah mereka yang mencarinya dengan sungguh-sungguh. dan saling menghargai pendapat yang ada di kalangan mereka. para Sahabat Nabi dahulu. Sebab. Bahkan.H. yang menjadi alasan bagi Sang Kebenaran untuk menuntun seseorang ke berbagai jalan menuju kepada-Nya. khususnya pemikiran.selaku Utusan Tuhan yang menerima wahyu parametris. maka seperti ditegaskan Ibn Taymiyyah. yang menegaskan bahwa siapa yang berijtihad dan benar. [21] NILAI SEBUAH IJTIHAD Dari uraian di atas. Sebab. dengan izin dan ridla dari Sang Kebenaran itu sendiri. [22] Dan karena banyaknya jalan menuju Kebenaran itu. Nabi juga sering melakukan ijtihad dengan menggunakan metode analogi atau qiyas. Muhammad Hasyim Asy'ari dan al-Sayyid Muhammad Ibn Alawi ibn "Abbas al-Maliki al-Hasani al-Makki. kiranya jelas bahwa taqlid dan ijtihad sama-sama diperlukan dalam masyarakat manapun. dan siapa yang . dan ijtihad diperlukan justru untuk mengembangkan dan lebih memperkaya pengalaman itu. sebagaimana tercermin dalam sabda Nabi yang amat terkenal. menjadi kumulatif. dan ketertutupan itu akan menjadi sumber absolutnya. Inilah barangkali letak kebenaran ucapan Karl Mannheim bahwa setiap ideologi (yakni. Sesuatu dari kreasi manusiawi yang diabsolutkan akan secepat itu pula akan terobsolutkan. pemikiran yang dihayati secara ideologis-absolutistik) cenderung untuk selalu bakal ditinggalkan zaman. dengan mekanisme penerimaan dan penganutan suatu otoritas (taqlid) kekayaan pengalaman kultural manusia. Jika diluar itu Nabi bisa salah.

sedangkan seluruh wujud ini berjalan dan terus berubah. The Word of Existentialism: A Critical Reader (Chicago: The University of Chicago Press. para penganjurnya mengklaim sebagai berakar pada masa lampau yang jauh. [24] Dengan berbekal ketulusan. karena merupakan Sunnat Allah untuk seluruh ciptaannya.s. Sebab perkembangan dan pertumbuhan adalah tanda vitalitas. Karena itu tujuan hidup yang benar hanyalah Allah. demi Tuhanmu. 120-121. Ini bisa dipahami dari firman. melintasi zaman. niat baik dan ketulusan hati adalah sumber perlindungan Ilahi dalam usaha kita mengembangkan masyarakat. 1407 H/1986 M). ed. kemudian mereka tidak mendapati dalam diri mereka keberatan terhadap apa yang telah kau putuskan. kita terus bergerak maju secara dinamis. maka akan (hanya) mencari yang mutasyabih saja dari Kitab Suci itu dengan tujuan menciptakan perpecahan dan mencari-cari maknanya yang tersembunyi (membuat-buat interpretasi). sebab semuanya dari Tuhan kami." 3. Amos. al-Nisa 4:65. Dan memang tidaklah menangkap pesan ini kecuali mereka yang berpengertian. Dalam literatur klasik Arab. sampai kepada Heracleitus dari Ephesus di zaman Yunani kuno. "Tidak. hal 1728. termasuk sejarah manusia. "hikmah" memang sering diartikan sebagai wisdom. CATATAN 1. 5. [26] Dalam dinamika itu tidak perlu takut salah. QS. sedangkan kemandekan berarti kematian. dan Zabur dalam Perjanjian Lama. 'Ali 'Imran 3:7. mereka tidaklah beriman sehingga mereka mengangkatmu sebagai hakim berkenaan dengan hal-hal yang diperselisihkan di antara mereka. Seperti dikatakan 'Umar dalam suratnya di atas. sebab Dia-lah Kebenaran Yang Pertama dan yang Akhir. Hanya Dzat Allah yang kekal abadi. ia masih mendapat satu pahala. Adapun mereka yang dalam hatinya terdapat kecenderungan kurang baik (serong). Berkenaan dengan "pohon" tradisi intelektual Barat cabang filsafat eksistensialisme ini. Sedangkan orang-orang yang mendalam pengetahuannya akan berkata. Syarifat Allah al-Khalidah: Dirasat fi Tarikh Tasyri al-Ahkam wa Madzahib al-Fuqaha al-A'lam (Jeddah: Dar al-Syuruq. Dinamika penting tidak saja karena merupakan unsur vitalitas. dan lainnya berupa ayat-ayat mutasyabihat (jamak dari mutasyabih).berijtihad dan salah. Ini merupakan hal yang amat penting dalam perkembangan dan pertumbuhan. (khutbahnya di atas bukit Moria (Zion) -yang kini berdiri Masjid 'Umar atau Qubbat al-Shakhrah dan Masjid al-Aqsha itu) sebagaimana dituturkan dalam Injil Matius 5 dari Perjanjian Baru. karena takut salah itu sendiri adanya kesalahan yang paling fatal. (lihat Maurice Friedman. Diantara isinya ayat-ayat muhkamat (jamak dari muhkam) yang merupakan induk (ajaran) Kitab Suci itu. "kami beriman dengan ayat-ayat itu. Padahal tidak ada yang mengetahui maknanya yang tersembunyi itu kecuali Allah." 4. h. "Dia (Tuhan)-lah yang menurunkan kepadamu (Muhammad) Kitab Suci. dan mereka pasrah sepasrah-pasrahnya. sehingga para filsuf . yaitu sama dengan "filsafat" yang memang menyiratkan wisdom. kemudian Job. 2. QS. Micah. tapi ia juga benar. sejak zaman Nabi 'Isa a. Al-Sayyid Muhammad ibn Alawi ibn Abbas al-Maliki al-Hasani al-Makki. Eclesiastes. 1964).

Yaitu QS. A. 7501983. maka sungguh ia telah diberi kebaikan yang banyak. (Patut diketahui bahwa terjemahan al-Qur'an dan tafsir ke dalam Bahasa Inggris oleh A. yaitu bahwa ajaran al-Qur'an membentuk suatu kesatuan yang utuh. "Dia (Tuhan) memberi hikmah kepada siapa saja yang dikehendaki-Nya. tt). Namun. Ali. QS." Induk Kitab Suci" (Umm al-Kitab). dari sisi Yang Maha Bijaksana dan Maha Teliti. 8." dan QS. misalnya." A Yusuf Ali mengartikan perkataan mutasyabih di sini berbeda dengan yang ada pada 3:7 di atas. yakni serasi antara berbagai ajarannya. 7507173 Fax. (021) 7507174 Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota Please direct any suggestion to Media Team Artikel Yayasan Paramadina Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota IV. Hud 11:1. Lihat catatan 2 di atas.25. Ini dengan jelas tercermin. "Alif Lam Ra. dari risalah Ibn Rusyd. The Holy Qur'an (Jeddah: Dar al-Qiblah for Islamic Literature. kemudian dirinci. Metro Pondok Indah Pondok Indah Plaza I Kav. hal. 514. 123. Sebab. catatan 4276). hal. Ayat-ayat muhkam itu disebut sebagai "mother of the Book. Al-Zumar 39:23. Yusuf Ali ini dianggap paling standar dan populer dalam ..Y. TAQLID DAN IJTIHAD (4/4) MASALAH KONTINUITAS DAN KREATIVITAS DALAM MEMAHAMI PESAN AGAMA oleh Nurcholish Madjid 9.Yusuf Ali.. yang manusia sedapat mungkin berusaha keras menangkapnya. 6. (021) 7501969. tanpa dogmatik dan tertutup. "Allah telah menurunkan sebaik-baik Firman dalam bentuk sebuah Kitab yang mutasyabih (serasi. 1243. UA 20-21 Jakarta Selatan Telp. ide pokoknya atau "Form of Ideas"-nya sama. catatan 1493 dan hal. (Inilah) Kitab yang ayat-ayatnya dibuat jelas maknanya (digunakan kata kerja pasif "uhkimat" yang sama artinya dengan kata sifat atau participte pasif "muhkam"). mutasyabih di sini dikontraskan terhadap matsani.(al-falasifah) juga disebut al-hukama ("orang-orang bijaksana"). Fash al-Maqal wa Taqrir ma bain al-Hikmah wa al-Syari'ah min al-Ittishat (Kata Putus dan Kejelasan tentang Hubungan antara Filsafat dan Agama)." 7. yakni dalam mengungkapkan ajaran-ajaran itu) . (bersambung 4/4) -------------------------------------------Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah Editor: Budhy Munawar-Rachman Penerbit Yayasan Paramadina Jln. sedangkan di 3:7 dengan muhkam. konsisten) namun matsani (berulang-ulang. catatan 347. (Lihat A. Dan barangsiapa diberi hikmah. al-Baqarah 2: 269.

Kami (Tuhan) kawinkan engkau (Muhammad) kepadanya (Zainab). Tetapi engkau menyimpan sesuatu dalam dirimu yang Allah hendak membukanya keluar. Penyebarannya di seluruh dunia banyak dibiayai oleh Pemerintah Saudi Arabia sejak 1384 H/1965 M dengan sponsor Rabithah Alam Islami yang diketuai Syeik Mohammed Sour as-Sabhan sampai saat ini dengan berbagai cetakan dan edisi. Allah Maha Mengetahui atas segala sesuatu. Maka setelah Zaid melaksanakan pembatalan (perkawinannya) dengan dia (Zainab) secara pasti (resmi). Orang-orang Arab. tidak terkecuali Nabi sendiri. Al-Ahzab 33:37-40. yang kemudian juga mendapat restu dan persetujuan Ri'asat Idarat al-Buhuts al-Ilmiyyah wa 'l-Ifta wa 'l-Da'wah wa 'I-Irsyad di Riyadh sebagai badan tertinggi urusan keagamaan Saudi Arabia. Firman yang dimaksud berkenaan dengan masalah ini ialah QS. "Ingatlah ketika engkau berkata kepada seseorang (Zaid) yang telah mendapatkan nikmat dari Allah dan mendapat nikmat (kasih sayang) darimu sendiri. Ini adalah "contoh klasik" metode pendekatan al-Qur'an terhadap masalah sosial kemanusiaan yang pelik dan peka. 12. QS. dan bertaqwalah kepada Allah.dunia Islam internasional. melainkan Rasul Allah dan Penutup Nabi. Al-Qamar 54:49. menegaskan tentang adanya hukum kepastian dari Allah (Qadar) yang menguasai dan mengatur alam raya ciptaan-Nya ini. dan masih banyak lagi ayat-ayat yang lain. dan engkau takut kepada manusia. "Pertahankanlah untukmu isterimu (Zainab) itu.. dan perintah Allah adalah kepastian yang sepasti-pastinya. Fathir 36:43. 10." Dan QS. Zaid yang bekas budak (hitam) itu memang seorang pemuda yang saleh dan cerdas. ". dan sejak itu bernama lengkap Zaid ibn Muhammad. Salah satu edisinya dimaksudkan untuk hotel-hotel internasional." 11. Tidak boleh ada kesulitan pada Nabi berkenaan dengan apa yang telah ditetapkan oleh Allah. Dan perintah Allah haruslah dilaksanakan. yang setelah dimerdekakan diangkat Nabi sebagai anak angkat. yaitu Zaid ibn Haritsah. agar tidak ada halangan bagi orang-orang beriman untuk mengawini isteri-isteri anak-anak angkat mereka jika memang mereka (anak-anak angkat) telah membatalkan (perkawinan) dari mereka (isteri-isteri mereka). padahal Allah-lah yang lebih berhak kau takuti. QS. dan cukuplah Allah sebagai yang membuat perhitungan Muhammad bukanlah ayah seseorang dari kaum lelaki diantara kamu. termasuk yang menyangkut masalah kawin dan waris." Kedua ayat itu. Itulan Sunnat Allah kepada mereka yang telah lewat sebelumnya. yaitu (Sunnat Allah) kepada mereka yang menyampaikan pesan-pesan Allah. "Sesungguhnya Kami (Tuhan) telah menciptakan segala sesuatu dengan (hukum) kepastian (Qadar). dan mereka takut kepada-Nya. Tetapi dengan adanya pembatalan sistem anak angkat yang disamakan dengan anak kandung dan sejak itu bernama lengkap seperti semestinya. meniru penempatan Kitab Suci Kristen yang telah lama ada). Dan mengapa mereka tidak memperhatikan Sunnah yang terjadi pada orang-orang yang telah lalu? Engkau tidak akan mendapatkan peralihan dalam Sunnat Allah dan engkau tidak akan menemukan perubahan dalam . telah lama mempraktekan pengangkatan anak atau apa yang disebut tabanni.. Al-Furqan 25:2 "Dan Dia (Tuhan) menciptakan segala sesuatu kemudian ditetapkan kepastiannya sepasti-pastinya. dengan hak hak pada anak angkat itu yang sama dengan anak biologis (alami).

14. yaitu filsafat at-tasyri' (filsafat penetapan hukum syari'at atau agama). ajaran dan praktek keagamaan itu secara rinci. yakni hukum-hukum kepastian dari Allah yang menguasai dan mengatur kehidupan manusia dalam sejarah. 13. pada peredaran darahnya. yang meliputi pula pembicaraan sekitar pengaruh alkohol kepada peminumnya.Sunnat Allah. jumlah kematian karena alkoholisme. serta . tetapi cukup mewakili suatu contoh pencarian makna umum ibadat. 269-281. oleh Ali Ahmad al-Jurjawi yang mencoba melihat hikmah setiap bentuk ibadat serta ajaran dan praktek keagamaan yang lain. Pendekatannya kurang meyakinkan dan berbau apologetik. Yaitu judul sebuah kitab yang cukup terkenal. Kita diwajibkan memeriksa dan meneliti kemudian menarik pelajaran daripadanya. tt). alkohol dan pengaruh buruknya terhadap negeri-negeri panas. dan masih banyak lagi yang lain. cit." Firman ini.) hal. bisnis asuransi jiwa. pengaruhnya terhadap kesehatan. (Beirut: Dar al-Fikr. menjelaskan tentang adanya Sunnat Allah. Lihat pembahasan panjang lebar tentang masalah ini dalam al-Jurjawi (op. Namun isinya masih jauh dari klaim judul buku itu sendiri.

Juga. lalu Hafshah pun marah kepada Nabi. "Pendapat. Marshall G. "Wahai Nabi. padahal Mariyah adalah isteri Beliau yang sah. 5 jilid (Beirut: Muassasat Sya'ban. mempunyai naluri amat kuat untuk bersikap kasih kepada sesama hidup. sedangkan menyiksa binatang seperti itu tidaklah diperbolehkan. maka datanglah al-Khabbab ibn al-Mundzir bertanya. 274-275. hal. tt. 5. "Pendapat yang benar ialah kita harus menghalangi mereka (musuh) itu dari air yang vital ini. Hodgson. Kemudian al-Khabab membalas. 137). mengapa engkau mengharamkan sesuatu yang dihalalkan Allah hanya untuk memperoleh kerelaan (kesenangan hati) isteri-isterimu?!" Para penafsir klasik menuturkan tentang suatu kejadian bahwa Nabi suatu hari tinggal di rumah Mariyah. Hodgson op.a. cit. Cit. 3. (Lihat. tentu saja. demi menyenangkan hati Hafshah (anak 'Umar ibn al-Khattab) Nabi berjanji dan mengharamkan berkumpul dengan Mariyah atas diri Beliau. masih belum muslim. hal. Padahal Nabi s. Yang dimaksudkan al-Makki sebagai sesuatu yang diambil 'Umar dari orang-orang kafir ialah idenya membuat Bayt al-Mal dan kalender (Hijrah).w. hal. supaya musuh pun dapat pula memanfaatkannya.) jil. isteri Beliau yang berasal dari Mesir.korelasi antara alkohol dan kejahatan. Ibid. 18. 21. 121. The Venture of Islam. salah satu metode ijtihad yang amat penting. 15. 16. Al-Makki op. semuanya menunjukkan suatu yang dimaksudkan oleh al-Makki sebagai contoh ijtihad Nabi. hal. 1974). kata al-Makki. Musuh dalam perang bukanlah orang yang harus dihormati sehingga tidak diperbolehkan dihalangi dari air. Ide itu ditirunya dari orang-orang Persia. Jadi. Anwar al Tanzil wa Asrar al-Ta'wil al-ma'ruf bi tafsir al-Baydlawi. karena menghalangi mereka dari air termasuk taktik perang dan menjadi sebab kemenangan. ada versi lain berkenaan dengan kejadian yang terabaikan dalam firman ini. 3 jilid (Chicago: The University of Chicago Press. 17." Yaitu. jil.. Hal itu kemudian diketahui oleh Hafshah. Nashir al-Din Abi Said 'Abdullah ibn 'Umar ibn Muhammad al-Syirazi al-Baydlawi. Sedangkan yang disebut-sebut ijtihad Nabi yang kemudian mendatangkan teguran Ilahi ialah yang terabadikan dalam QS. 116. sehingga. yang pada waktu itu. 48. Nabi berijitihad untuk tidak usah menguasai sumber air yang vital.cit. 274. Dari beberapa contoh yang dituturkan al-Makki.S. "Ini dari wahyu atau dari pendapat (ijtihad)?" Nabi menjawab. Pembahasan tentang ishamat atau ketidak-biasaan . Al-Tahrim 66:1. 19.hal. termasuk pendekatan analogis. menurut hukum Allah adalah halal.. hal. op. salah satunya ialah ijtihad Nabi di waktu menyiapkan Perang Badar. Al-Makki. karena murka kepada Aisyah atau Hafshah. Lihat catatan 1 di atas. 20.." Inipun. karena Beliau melakukan analogi bahwa menghalangi mereka (musuh) dari memperoleh air yang vital itu sama dengan menghalangi binatang dari air. Versi manapun yang benar.

Muh. 24. kita tidak dapat menggabungkannya dengan Pribadi atau Wujud yang vital. Inilah juga doktrin Advaita dan Shri Shankara dalam jabarannya terhadap Brihadaranyaka Upanishad dalam filsafat Hindu. (021) 7507174 Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota Please direct any suggestion to Media Team ." A. 7501983. QS.(infallibility) Nabi oleh Ibn Taymiyyah ini dapat kita jumpai dalam karya besarnya Minhaj al -Sunnat al-Nabawiyyah fi Naqdl Kalam al-Syi'ah wa al-Qadariyvah. Segala sesutu binasa kecuali Wajah-Nya. maka pastilah akan Kami tunjukkan kepada mereka berbagai jalan (subul) Kami. karena menyadari bahwa Dia-lah satu-satunya hal yang abadi. "Dia (Tuhan)-lah Yang Pertama dan yang Akhir. hal. Lihat. Al-Hadid 57:3. "Janganlah menyeru bersama Allah (Tuhan Yang Maha Esa) suatu Tuhan yang lain. QS. 25. UA 20-21 Jakarta Selatan Telp. "Wajah"-Nya atau Diri. Ibn Taymiyyah. Ikhtilaf al-Ummah fi al-Ibadat. 7507173 Fax. Lihat juga QS. dan al-Makki. 244 dan passim. (021) 7501969. tt). Seluruh jagad lahir dan tunduk kepada hukum peralihan dan perubahan fana akan sirna. yang tentang hal itu kita bisa mempunyai berbagai pengertian. al-Tanbihat.. dan kepadanyalah kamu semua akan dikembalikan. Lihat catatan no. 1 di atas dan keterangan yang bersangkutan awal-awal tulisan ini. namun Dia akan tetap abadi. K. Perlu diketahui. atau Wujud-Nya itulah yang harus kita cari. Yang Lahir dan Yang Batin. Tiada suatu Tuhan melainkan Dia. al-Ankabut 29:69." 23. sebab hanya ada satu Diri yang benar.. Baginyalah ketentuan hukum. Al-Qashash 28:88. Kenyataan satu-satunya ialah Tuhan. Jadi kita tahu bahwa apa yang kita sebut diri kita sendiri tidaklah punya makna. sebagaimana tereermin dari judulnya. op. "Dan barangsiapa berusaha sungguh-sungguh (mujahadah) di jalan Kami. suatu kekuatan kebaikan yang abstrak." -------------------------------------------Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah Editor: Budhy Munawar-Rachman Penerbit Yayasan Paramadina Jln. karya ini ditulis sebagai polemihya dengan golongan Syi'ah. cit. Jika berpikir tentang Tuhan yang impersonal. 22. Hasyim Asy'ari. dan Dia Maha mengetahui atas segala sesuatu. dan itu adalah Tuhan.H. Yusuf Ali memberi komentar yang menarik tentang ayat terakhir Surah 28 ini: "Ini meringkaskan pelajaran seluruh Surah. 1. hal. 4 jilid (Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiyyah. Pribadi. 130. Metro Pondok Indah Pondok Indah Plaza I Kav. jil. yang tentang Dia itu kita hanya mampu menangkap gaung samar-samar atau cerminan dalam momen yang paling intens dalam luapan spiritual.

Pengertian ijtihad menurut bahasa ini ada relevansinya dengan pengertian ijtihad menurut istilah. baru kemudian menyoroti masalah taqlid. dimana dalam buku-buku Ushul Fiqh. Dalam tulisan ini hanya akan diungkapkan pengertian ijtihad menurut rumusan ushuliyyin dari kelompok mayoritas. ada dua kelompok ahli ushul flqh (ushuliyyin) -kelompok mayoritas dan kelompok minoritas. TAQLID DAN IJTIHAD (1/4) Beberapa Pengertian Dasar Oleh KH.yang terkenal dengan "mashlahat. Dengan demikian seseorang hanya dibenarkan bertaqlid kepada mujtahid yang mu'tabar.yang mengemukakan rumusan definisi. Persoalan taqlid akan lebih mudah dipahami jika seseorang telah memahami persoalan ijtihad. ijtihad adalah pengerahan segenap ." Atas dasar ini maka tidak tepat apabila kata "ijtihad" dipergunakan untuk melakukan sesuatu yang mudah/ringan. Taqlid tidak akan ada tanpa ijtihad. Dalam tulisan ini saya hanya akan bicara tentang beberapa aspek ijtihad dan taqlid yang dipandang penting. Minimal ada tiga alasan kenapa lebih mendahulukan ijtihad daripada taqlid. 3. 1. Sekedar mengikuti kelaziman. mengingat kedua masalah itu amat sering diperbincangkan." Dalam kaitan pengertan ijtihad menurut istilah. disamping banyaknya buku yang mengupas masalah tersebut yang mudah kita temukan. PENGERTIAN IJTIHAD Menurut bahasa. dimana untuk melakukannya diperlukan beberapa persyaratan yang karenanya tidak mungkin pekerjaan itu (ijtihad) dilakukan sembarang orang.24. masalah ijtihad selalu lebih dahulu dibicarakan sebelum masalah taqlid. Menurut mereka. atau yang terdekat itu diperoleh dari maksud dan tujuan umum dari hikmah syari'ah. 2. Ibrahim Hosen 1.Artikel Yayasan Paramadina Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota IV. baik yang terdekat itu diperoleh dari nash -yang terkenal dengan qiyas (ma'qul nash). ijtihad berarti "pengerahan segala kemampuan untuk mengerjakan sesuatu yang sulit. IJTIHAD Tulisan ini akan mendahulukan masalah ijtihad. Mereka memberikan batasan bahwa ijtihad adalah "penelitian dan pemikiran untuk mendapatkan sesuatu yang terdekat pada Kitab-u 'l-Lah dan Sunnah Rasul. Dan di sisi lain ada pengertian ijthad yang telah digunakan para sahabat Nabi.

hukum Islam yang mana saja yang mungkin untuk di-ijtihad-i? Adakah hal itu berlaku di dunia hukum (hukum Islam) secara mutlak? Ulama telah bersepakat bahwa ijtihad dibenarkan. 4. Masalah-masalah baru yang hukumnya belum diijma'i oleh ulama atau aimamatu 'l-mujtahidin. 379). serta perbedaan yang terjadi sebagai akibat ijtihad ditolerir. Lantaran itulah Jumhur 'ulama' telah bersepakat bahwa ijtihad hanya berlaku di bidang hukum (hukum Islam) dengan ketentuan-ketentuan tertentu. bukan yang lain. (Jam'u 'l-Jawami'. Masalah-masalah baru yang hukumnya belum ditegaskan oleh nash al-Qur'an atau Sunnah secara jelas. "yang dimaksud ijtihad adalah bila dimutlakkan maka ijtihad itu bidang hukum fiqih/hukum furu'. Pendapat ini bukan saja menunjukkan inkonsistensi terhadap suatu disiplin ilmu (ushul fiqh). Atas dasar itu ada kekeliruan pendapat sementara pihak yang mengatakan bahwa ijtihad juga berlaku di bidang aqidah. Juz II. Lalu. 3. Dalam hubungan ini komentator Jam'u 'l-Jawami' (Jalaluddin al-Mahally) menegaskan. dan akan membawa rahmat manakala ijtihad dilakukan oleh yang memenuhi persyaratan dan dilakukan di medannya (majalul ijtihad). yaitu hukum Islam yang berhubungan dengan tingkah laku dan perbuatan orang-orang dewasa. tetapi juga akan membawa konsekuensi pembenaran terhadap aqidah non Islam yang dlalal. Nash-nash Dhanny dan dalil-dalil hukum yang diperselisihkan.kesanggupan dari seorang ahli fxqih atau mujtahid untuk memperoleh pengertian tingkat dhann terhadap sesuatu hukum syara' (hukum Islam). Pendapat yang nyeleneh atau syadz ini dipelopori al-Jahidh. Dia mengatakan bahwa ijtihad juga berlaku di bidang aqidah. 3. bukan hukum i'tiqadi atau hukum khuluqi. 2. 2. MEDAN IJTIHAD Di atas telah ditegaskan bahwa ijtihad hanya berlaku di bidang hukum. hal. Lapangan atau medan dimana ijtihad dapat memainkan peranannya adalah: 1. Jadi apabila kita konsisten dengan definisi ijtihad diatas maka dapat kita tegaskan bahwa ijtihad sepanjang pengertian istilah hanyalah monopoli dunia hukum. Dari definisi tersebut sebagai berikut: dapat ditarik beberapa kesimpulan 1. Pelaku utihad adalah seorang ahli fiqih/hukum Islam (faqih). Hukum Islam yang ma'qulu 'l-ma'na/ta'aqquly (kausalitas . Status hukum syar'i yang dihasilkan oleh ijtihad adalah dhanni. salah seorang tokoh mu'tazilah. Yang ingin dicapai oleh ijtihad adalah hukum syar'i.

2. lalu ia melakukan ijtihad. Sebaliknya ulama telah bersepakat berlaku atau tidak dibenarkan pada: bahwa ijtihad tidak 1. "Tidak ada ijtihad dalam melawan nash. maka ia memperoleh dua pahala (pahala ijtihad dan pahala kebenarannya). Metro Pondok Indah Pondok Indah Plaza I Kav. yang dalam istilah ushul fiqih dikenal dengan syari'ah atau "ma'ulima min al-din bi al-dlarurah. (bersambung 2/4) -------------------------------------------Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah Editor: Budhy Munawar-Rachman Penerbit Yayasan Paramadina Jln.hukumnya/'illat-nya dapat diketahui mujtahid). Banyak ayat al-Qur'an dan Hadits Nabi yang menyinggung masalah ini. 7507173 . Jika hakim akan memutuskan perkara. "Tidak berlaku ijtihad pada masalah-masalah hukum yang ditentukan berdasarkan nash yang status dalalah-nya qath'i dan tegas. Hal ini antara lain diketahui dari Hadits Nabi yang artinya." PERBEDAAN YANG DITOLERIR Ijtihad dilegalisasi bahkan sangat dianjurkan oleh Islam." (Riwayat Bukhari Muslim). Jadi. Islam bukan saja memberi legalitas ijtihad. "Apabila seorang hakim akan memutuskan perkara. disinilah seharusnya kita melakukan terobosan-terobosan baru. 3. kalau kita akan melakukan reaktualisasi hukum Islam. dan ia berijtihad. kaidah itulah yang menghambat aspirasi sementara kalangan yang hendak merombak hukum-hukum Islam qath'i seperti hukum kewarisan al-Qur'an. maka ia mendapat satu pahala (pahala ijtihadnya). (021) 7501969." Bila kita telaah. akan tetapi juga mentolerir adanya perbedaan pendapat sebagai hasil ijtihad. demikian juga ijtihad akan gugur dengan sendirinya apabila hasil ijtihad itu berlawanan dengan nash. Hukum Islam yang telah diijma'i ulama. 7501983. Disamping ijtihad tidak berlaku atau tidak mungkin dilakukan pada ketiga macam hukum Islam di atas. kemudian ijtihadnya benar. Apabila ini yang kita lakukan dan kita memang telah memenuhi persyaratannya maka pantaslah kita dianggap sebagai mujtahid di abad modern ini yang akan didukung semua pihak. UA 20-21 Jakarta Selatan Telp." Atas dasar itu maka muncullah ketentuan. Hukum Islam yang bersifat ta'abbudy/ghairu ma'quli 'lma'na (yang kausalitas hukumnya/'illat-nya tidak dapat dicerna dan diketahui mujtahid). Hukum Islam yang telah ditegaskan nash al-Qur'an atau Sunnah yang statusnya qath'iy (ahkamun manshushah). Hal ini sejalan dengan kaidah. kemudian hasil ijtihadnya salah.

Fax. Ibrahim Hosen Hadits di atas bukan saja memberi legalitas ijtihad. Demikian juga al-Qur'an tidak perlu diturunkan. sejalan dengan kaidah." (Abu Nashar Al-Muqaddasi). yang artinya kebenarannya tidak bersifat absolut. menurut mujtahid. (021) 7507174 Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota Please direct any suggestion to Media Team Artikel Yayasan Paramadina Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota IV. jihad dan sebagainya. tetapi mengandung kemungkinan benar. . TAQLID DAN IJTIHAD (2/4) Beberapa Pengertian Dasar Oleh KH. Perbedaan pendapat dalam hukum Islam sebagai hasil ijtihad inilah yang ditegaskan Nabi akan membawa rahmat (kelapangan bagi umat) sebagaimana diketahui ditegaskan dalam sebuah hadits. Prinsip ini dipegang teguh oleh para imam mujtahid. sehingga muncullah ucapan mereka yang sangat populer. tetapi mengandung kemungkinan salah. IJTIHAD TIDAK DAPAT DIGUGURKAN DENGAN IJTIHAD Di atas telah disinggung bahwa hukum yang dihasilkan oleh ijtihad statusnya dhanny. yakni fiqih. ia salah tetapi mengandung kemungkinan benar. porsi kebenarannya lebih dominan/rajih. Inilah yang ingin saya tegaskan dalam kesempatan ini mengingat adanya sementara pihak yang menggunakan hadits marfu' untuk membenarkan adanya perbedaan pendapat di bidang aqidah yang akan bermuara pada paham "pluralisme agama" -semua agama sama atau benar. ia tetap eksis. Apabila hal ini dapat kita pegangi secara konsisten maka jiwa tasammuh dalam menanggapi aneka ragam pendapat di bidang fiqih sebagai akibat perbedaan dalam berijtihad akan tetap dapat ditumbuhkan. Yang dimaksud dengan perbedaan di sini adalah perbedaan pendapat dalam hukum Islam ijtihady. Apabila benar bahwa semua agama itu sama tentu tidak ada kewajiban berda'wah. dan pendapat selain kami salah. sehingga kita akan sanggup menjadikan perbedaan pendapat tersebut sebagai rahmat yang memporak-porandakan persatuan umat Islam. akan tetapi juga menunjukkan kepada kita bahwa adanya perbedaan pendapat sebagai hasil ijtihad ditolerir. ia benar tetapi mengandung kemungkinan salah. "Pendapat kami benar." Hal ini sejalan dengan status fiqih sebagai produk ijtihad yang statusnya dhanny.24. Hanya saja. "Perbedaan pendapat di kalangan ulama akan membawa rahmat. "Ijtihad yang satu tidak dapat digugurkan oleh ijtihad yang lain. betapapun kuat dalilnya. tidak dapat begitu saja dilenyapkan oleh ijtihad yang lain. Ini jelas tidak dapat dibenarkan. Oleh sebab itu maka ijtihad yang satu tidak dapat membatalkan ijtihad yang lain. amar ma'ruf nahi munkar." Betapapun lemahnya suatu ijtihad.

dengan pengertian ia mampu membahas ayat-ayat tersebut untuk menggali hukum. 10. Sebab al-Qur'an dan Sunnah sebagai sumber asasi hukum Islam tersusun dalam bahasa Arab yang sangat tinggi gaya bahasanya dan cukup unik dan ini merupakan kemu'jizatan al-Qur'an.Prinsip tasammuh sebagai manifestasi dari status fiqih yang bersifat dhanny tersebut dipegang teguh oleh para Imam Mujtahid. 9. Memiliki ilmu pengetahuan yang luas tentang ayat-ayat al-Qur'an yang berhubungan dengan masalah hukum. "Pendapat kami benar." SYARAT-SYARAT IJTIHAD. dan pendapat selain kami salah. 3. Berilmu pengetahuan yang luas tentang hadits-hadits Rasul yang berhubungan dengan masalah hukum. Mengetahui sejarah para periwayat hadits. 8. . Menguasai seluruh masalah yang hukumnya telah ditunjukkan oleh ijma' agar ia tidak berijtihad yang hasilnya bertentangan dengan ijma'. 2. Menguasai bahasa Arab secara mendalam. Hal itu agar ia tidak mempergunakan ayat al-Qur'an atau Hadits Nabi yang telah dinasakh (mansukh) untuk menggali hukum. tidak mungkin kita akan melakukan ta'dil tajrih (screening). Mengetahui latar belakang turunnya ayat (asbab-u 'l-nuzul) dan latar belakang suatu Hadits (asbab-u 'l-wurud). 6. Di antara sekian persyaratan itu yang terpenting ialah: 1. tetapi mengandung kemungkinan benar. sehingga muncullah ucapan mereka yang sangat populer. tapi mengandung kemungkinan salah. Seseorang yang ingin mendudukkan dirinya sebagai mujtahid harus memenuhi beberapa persyaratan. 7. Mengetahui secara mendalam tentang nasikh-mansukh dalam al-Qur'an dan Hadits. Tanpa mengetahui sejarah perawi Hadits. Sebab untuk menentukan derajad/nilai suatu Hadits sangat tergantung dengan ihwal perawi yang lazim disebut dengan istilah sanad Hadits. Mengetahui secara mendalam tentang masalah qiyas dan dapat mempergunakannya untuk menggali hukum. agar dengan kaidah-kaidah ini ia mampu mengolah dan menganalisa dalil-dalil hukum untuk menghasilkan hukum suatu permasalahan yang akan diketahuinya. Mengetahui ilmu logika/mantiq agar ia dapat menghasilkan deduksi yang benar dalam menyatakan suatu pertimbangan hukum dan sanggup mempertahankannya. Menguasai kaidah-kaidah istinbath hukum/ushul fiqh. supaya ia dapat menilai sesuatu Hadist. dengan arti ia sanggup untuk membahas hadits-hadits tersebut untuk menggali hukum. 4. agar ia mampu melakukan istinbath hukum secara tepat. apakah Hadits itu dapat diterima ataukah tidak. 5.

sehingga sangat sulit untuk dibedakan. Oleh karena itu mereka menjadikannya satu tingkatan. dari mazhab Syafi'i seperti Muzany dan Buwaithy. Ijtihad mazhab atau fatwa yang pelakunya disebut mujtahid mazhab/fatwa. Contohnya seperti Imam Ghazali dan Juwaini dari madzhab Syafi'i. Sebagian ulama berpendapat bahwa pintu ijtihad telah tertutup. tidak menciptakan sendiri. Mereka hanya berhak menafsirkan apa yang dimaksud dari norma-norma dan kaidah-kaidah tersebut. Mujtahid dari tingkatan ini contohnya seperti Imam Hanafi. 4. BENARKAH PINTU IJTIHAD SUDAH DIKUNCI? Para ahli fiqih telah sepakat bahwa ijtihad dengan pengertian penyesuaian suatu perkara dengan sesuatu hukum yang sudah ada tetap terbuka. Ijtihad di bidang tarjih. Ijtihad mereka hanya berkisar pada masalah-masalah yang memang belum diijtihadi imamnya. Norma-norma dan kaidah itu dapat diubahnya sendiri manakala dipandang perlu. men-takhrij-kan pendapat imamnya dan menyeleksi beberapa pendapat yang dinukil dari imamnya. Ijtihad terdiri dari bermacam-macam tingkatan. Gema ini digelorakan oleh ulama-ulama mutakhirin pada awal abad ke-IV Hijriah setelah dunia Islam diliputi kabut ta'ashub madzhab serta banyaknya man laisa . yaitu ijtihad yang dilakukan dengan cara menciptakan sendiri norma-norma dan kaidah istinbath yang dipergunakan sebagai sistem/metode bagi seorang mujtahid dalam menggali hukum. yaitu: 1. Perbedaan pendapat terjadi pada ijtihad menurut definisi ushul fiqih. 3. demikian juga mengenai hukum furu'/fiqih yang telah dihasilkan imamnya. Contohnya. 2. Ijtihad kategori ini tidak termasuk ketentuan ijtihad menurut ketentuan ushul fiqih. yaitu ijtihad yang dilakukan seorang mujtahid dengan mempergunakan norma-norma dan kaidah-kaidah istinbath imamnya (mujtahid muthlaq/Mustaqil). Ijtihad Muntasib. yaitu ijtihad yang dilakukan dengan cara mentarjih dari beberapa pendapat yang ada baik dalam satu lingkungan madzhab tertentu maupun dari berbagai mazhab yang ada dengan memilih mana diantara pendapat itu yang paling kuat dalilnya atau mana yang paling sesuai dengan kemaslahatan sesuai dengan tuntunan zaman. Dalam mazhab Syafi'i. yaitu ijtihad yang dilakukan seorang mujtahid dalam lingkungan madzhab tertentu. Dari madzhab Hanafi seperti Muhammad bin Hasan dan Abu Yusuf. mana yang shahih dan mana yang lemah. Ijtihad Muthlaq/Mustaqil. Sebagian ulama mengatakan bahwa antara kelompok ketiga dan keempat ini sedikit sekali perbedaannya. Imam Malik. mereka memakai sistem atau metode yang telah dirumuskan imamnya. Imam Syafi'i dan Imam Ahmad yang terkenal dengan sebutan Mazhab Empat. hal itu bisa kita lihat pada Imam Nawawi dan Imam Rafi'i. Sebagian ulama menilai bahwa Abu Yusuf termasuk kelompok pertama/mujtahid muthalaq/mustaqil.MACAM-MACAM TINGKATAN IJTIHAD. Pada prinsipnya mereka mengikuti norma-norma/kaidah-kaidah istinbath imamnya. Jadi untuk menggali hukum dari sumbernya.

Hukum Islam baik dalam bidang 'ibadah. akan dapat diketahui hukumnya. Kini. Golongan yang berpendapat bahwa pintu ijtihad telah tertutup antara lain beralasan: 1. yang biasa kita kenal dengan istilah talfiq. 3. b. Sedangkan golongan yang memandang bahwa ijtihad adalah kegiatan/pekerjaan mujtahid. yaitu: 1. Karena itu kita tidak perlu melakukan ijtihad lagi. akan banyak kasus baru yang hukumnya belum dijelaskan oleh al-Qur'an dan Sunnah serta belum dibahas oleh ulama-ulama terdahulu. yang berarti ijtihad yang dilakukan itu hanyalah tahsil al-hasil . Menutup pintu ijtihad berarti menutup kesempatan ulama Islam untuk menciptakan pemikiran-pemikiran yang baik dalam memanfaatkan dan menggali sumber atau dalil hukum Islam 3. Ia harus terikat tidak boleh pindah madzhab. Oleh karena itu tiap-tiap yang menganut madzhab Ahl al-Sunnah harus memilih salah-satu dari Madzhab Empat.lahu ahlu 'l-Ijtihad (mujtahid karbitan) yang tampil mengaku sebagai mujtahid. 2. Rektor Universitas Al-Azhar pada waktu itu. sehingga Islam akan ketinggalan zaman. mereka berpendapat bahwa pintu ijtihad telah tertutup. yaitu sejak wafatnya imam-imam mujtahid kenamaan. tidak dapat diketahui bagaimana status hukumnya. juga hasilnya akan berkisar: a. Menutup pintu ijtihad berarti menjadikan hukum Islam yang semestinya lincah dan dinamis menjadi kaku dan beku. Sebab. yang kemudian di Mesir digalakkan oleh Syekh Al-Maraghy. Membuka pintu ijtihad selain hal itu percuma dan membuang-buang waktu. Mayoritas Ahl al-Sunnah hanya mengakui Madzhab Empat. Sebagian ulama yang lain berpendapat bahwa pintu ijtihad tetap terbuka dan dapat dimasuki oleh siapa saja yang memiliki kuncinya (memenuhi persyaratan). Golongan yang memandang bahwa ijtihad adalah sumber hukum. Dengan membuka pintu ijtihad maka setiap permasalahan baru yang dihadapi umat. Mungkin berupa hukum yang telah dikeluarkan oleh salah satu Madzhab Empat. Pendapat ini antara lain diproklamirkan Imam al-Syaukani pada pertengahan abad ke-XIII Hijriah. Dengan demikian maka hukum Islam akan selalu berkembang dan tumbuh subur serta sanggup menjawab tantangan zaman. Mungkin berupa hukum yang terdiri dari koleksi pendapat antara dua madzhab atau lebih. mereka berpendapat bahwa pintu ijtihad tetap terbuka. yang kebolehannya masih diperselisihkan kaum ushuliyyin. 2. kita perlu mengetahui argumentasi dari golongan yang berpendapat bahwa pintu ijtihad masih tetap terbuka. mu'amalah. munakahah. jinayah dan lain sebagainya seluruhnya sudah lengkap dan dibukukan secara terperinci dan rapi.

menurut mayoritas ulama Ahl al-Sunnah. selain Mazhab Empat tidaklah dianggap. 7507173 Fax. hendaklah dipilih di antara hukum-hukum fiqih pada tiap-tiap mazhab suatu hukum yang memuaskan. dan jika tidak memuaskan maka berlakulah ijtihad bersama secara mutlaq. Mungkin berupa hukum yang tidak seorangpun ulama Islam membenarkannya.24. Realitas sejarah menunjukkan bahwa sejak awal abad ke-IV Hijriah sampai detik ini tak seorangpun ulama berani menonjolkan diri atau ditonjolkan oleh pengikut-pengikutnya sebagai seorang mujtahid muthlaq/mustaqil. Metro Pondok Indah Pondok Indah Plaza I Kav. UA 20-21 Jakarta Selatan Telp. (021) 7507174 Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota Please direct any suggestion to Media Team Artikel Yayasan Paramadina Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota IV. Lembaga penelitian akan mengatur usaha-usaha untuk mencapai ijtihad bersama baik secara mazhab maupun secara mutlaq untuk dapat dipergunakan dimana perlu. Hal ini menunjukkan bahwa untuk memenuhi syarat-syarat ijtihad yang telah ditentukan itu memang sangat sulit kalau tidak dikatakan tidak mungkin lagi untuk saat seperti sekarang ini.c. maka berlakulah ijtihad bersama (kolektif) berdasarkan madzhab. (bersambung 3/4) -------------------------------------------Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah Editor: Budhy Munawar-Rachman Penerbit Yayasan Paramadina Jln. 4. (021) 7501969." Dari Keputusan Lembaga Penelitian Islam al-Azhar tersebut . dan bahwa jalan untuk memelihara kemaslahatan dan untuk menghadapi peristiwa-peristiwa yang selalu timbul. sebagai berikut: "Mu'tamar mengambil keputusan bahwa al-Qur'an dan Sunnah Rasul merupakan sumber pokok hukum Islam. Ibrahim Hosen Sebelum saya mengambil kesimpulan dengan mempertemukan kedua pendapat yang saling berbeda itu marilah kita ikuti hasil keputusan Lembaga Penelitian Islam al-Azhar Cairo yang bersidang pada bulan Maret 1964 M. 7501983. dan bahwa berijtihad untuk mengambil hukum dari al-Qur'an dan Sunnah dibenarkan manakala ijtihad itu dilakukan pada tempatnya. Hal semacam ini pada hakikatnya menentang ijma'. Jika tidak terdapat suatu hukum yang memuaskan dengan jalan tersebut. Padahal. Mungkin berupa hukum yang sesuai dengan salah satu mazhab di luar Mazhab Empat. d. TAQLID DAN IJTIHAD (3/4) Beberapa Pengertian Dasar Oleh KH.

Dengan demikian. Ijtihad muthlaq apabila dilakukan secara kolektif (ijtihad muthlaq jama'iy). Ijtihad muthlaq secara kolektif. Menurut saya. tidak tepat kalau kita mengatakan secara mutlaq/tanpa batasan bahwa pintu ijtihad masih tetap terbuka. Dan harus kita sadari bahwa pintu ijtihad masih tetap terbuka dalam bidang-bidang tertentu tersebut adalah bagi yang memenuhi syarat. c. Poin kedua tidak berlaku untuk: a. 4. Pintu ijtihad masih tetap terbuka bagi yang memenuhi persyaratan. kalau secara mutlaq/tanpa batasan kita mengatakan bahwa pintu ijtihad telah tertutup. Bagi yang tidak. maka yang masih benar-benar dapat dilakukan adalah: 1. 2. 3. Ijtihad madzhab secara perorangan. b. Ijtihad dibenarkan apabila dilakukan di tempat-tempat dimana ijtihad boleh dilakukan. Keputusan Lembaga Penelitian Islam al-Azhar tersebut sangat bijaksana. karena keputusan itu telah mempertemukan antara dua pendapat yang saling berbeda. Ijtihad di bidang tarjih baik secara perorangan (ijtihad fardy) maupun secara kolektif (ijtihad Jama'iy). c. Ijtihad muthlaq secara perorangan (ijtihad muthlaq fardy). Ijtihad di bidang tarjih baik secara perorangan maupun pintu ijtihad . 2.dapat diambil kesimpulan bahwa: 1. Ijtihad di bidang madzhab apabila dilakukan secara kolektif (ijtihad madzhab jama'iy). 2. Jadi tidak tepat. mengingat sangat jarangnya faqih/ulama ahli hukum seperti saat sekarang ini. tentunya tertutup kemungkinan untuk membuka pintu ijtihad dengan segala macam bentuknya. Demikian juga pendapat yang mengatakan bahwa telah tertutup haruslah kita artikan untuk: 1. Ijtihad di bidang tarjih baik bagi perorangan maupun kelompok secara kolektif. Butir pertama hanya berlaku untuk: a. Ijtihad madzhab secara perorangan (ijtihad madzhab fardy). pendapat yang mengatakan bahwa pintu ijtihad masih tetap terbuka haruslah diartikan untuk: 1. Ijtihad madzhab secara kolektif 3. Ijtihad mutlaq secara perorangan. Dan sebaliknya.

NU dengan Syuriyah dan Bahstul Matsailnya. pengkajian dan penelaahan secara mendalam. tentu mereka harus lewat perantara. daya tangkap dan ilmu yang dimiliki seseorang bagaimanapun tidaklah sama. Kelompok pertama sudah banyak dilakukan oleh Muhammadiyah dengan Majelis Tarjihnya. eksistensi taqlid memang tidak mungkin dihindarkan. Sedangkan penelitian. memahami dan menggali hukum Islam dari sumber atau dalilnya secara langsung. Sebab. sistem dan metode yang baik yang seharusnya kita jadikan washilah/sarana mencapai atau memperoleh ilmu adalah nadhar. Mentaklif atau mewajibkan seluruh umat manusia untuk meraih rutbatu 'l-ijtihad jelas tidak mungkin. Disamping tidak logis dan tidak realistis. sekalipun imannya sah. Bagi mereka yang tidak memiliki persyaratan ijtihad. sebab bisa berakibat fatal. mengingat tingkatan manusia yang berbeda-beda. Milikilah persyaratan dan berijtihadlah di tempat-tempat yang dibenarkan untuk melakukan ijtihad sesuai dengan ketentuan yang berlaku. yang khusus untuk mencapai hukum furu'/fiqih dikenal dengan ijtihad. 2. La taklifa fawqa 'l-istitha'a -manusia tidak akan ditaklif untuk melakukan sesuatu yang tidak mungkin dilaksanakan/diluar kemampuannya.secara kolektif. Untuk mengetahui hukum Islam yang akan diamalkannya. Ini jelas tidak rasionil. Hal ini dapat dilakukan secara perorangan maupun secara kolektif. Karena itu pula pelaku taqlid berdosa. Ijtihad untuk kasus-kasus tertentu yang memang belum pernah dibahas oleh aimmat al-mujtahidin terdahulu. janganlah sok berijtihad. mengingat kecerdasan. hal itu juga akan membawa akibat terbengkalainya urusan-urusan duniawi/kehidupan yang lain. Sebagai contoh untuk . Dari sinilah muncul persoalan taqlid. TAQLID Tidak semua orang sanggup memahami hukum Islam secara langsung dari dalil atau sumbernya. yakni mengetahui. kalau memang bukan faqih yang menguasai kaidah-kaidah istinbath. sudah banyak dilakukan oleh Komisi Fatwa MUI. 2. alhamdulillah. sayangnya belum banyak dipublikasikan. Mereka itulah para mujtahid dengan segala macam tingkatannya. Kelompok kedua. MUI dengan Komisi Fatwanya. Oleh karena itu jumhur ulama telah mencapai konsensus bahwa taqlid tidak dapat dijadikan dasar atau metode keilmuan di bidang aqidah. Memang harus kita sadari bahwa taqlid bukanlah merupakan sistem atau metode keilmuan yang baik yang digunakan seseorang untuk memperoleh ilmu. karena waktu dan segala konsentrasi umat manusia hanya tercurah kearah ijtihad. Bagi mereka yang memenuhi persyaratan ijtihad sebagaimana telah disebutkan di atas. yaitu harus mengetahuinya melalui mujtahid. Kaidah Agama yang mengatakan. tentu tidak akan sanggup mengetahui. Pesan saya dalam menutup uraian tentang ijtihad ini. Secara faktual. mereka akan sanggup melakukan hal tersebut. memahami dan menggali hukum Islam yang harus diamalkannya secara langsung dari dalil atau sumbernya.

ia tidak akan begitu mudah melepaskan diri dari ikatan itu. Sedangkan dalam masalah hukum ada yang bersifat qathi'iy dan ada yang bersifat dhanny. meski imannya dianggap sah. dan kini telah mulai memancar sinar itu ke ufuk penjuru dunia Islam termasuk Negeri Pancasila tercinta ini. Kalaulah dalam masalah hukum ini semuanya harus berdasarkan dalil qath'iy. Kami tidak mengutus sebelum kamu seorang Nabi/Rasul yang memberi peringatan pada suatu negeri. Syukurlah setelah gelap kini terangpun datang. al-Zuhruf Ayat 23. melainkan orang-orang yang hidup mewah di negeri itu berkata. khususnya fiqih. taqlid -bentuk masdar dari kata qallada berarti kalung yang dipakai/dikalungkan ke leher orang lain. "Sesungguhnya kami mendapati bapak-bapak (leluhur) kami menganut suatu agama dan sesungguhnya kami adalah pengikut jejak-jejak mereka." Mengenai taqlid di bidang hukum Islam. atau seperti kambing yang lehernya telah diikat dengan tali atau tambang yang dapat ditarik ke mana saja. untuk kemudian pindah ke pendapat selain imamnya/mujtahid yang diikuti. Taqlid di bidang aqidah inilah yang antara lain dicela al-Qur'an sebagaimana yang ditegaskan dalam QS.mengetahui bahwa Allah itu ada maka harus ditempuh lewat nadhar. Dalam bidang aqidah/keimanan. Hanya saja tentunya kita jangan cukup puas mendudukkan diri kita pada kursi taqlid ini. semuanya bersifat qath'iy atau pasti benarnya. Disinilah antara lain perbedaan ajaran Islam yang berhubungan dengan masalah aqidah/keimanan dengan ajaran Islam yang berhubungan dengan masalah hukum. Seseorang yang telah bertaqlid dengan seorang mujtahid/imam. Bahkan sebagian besar hukum taklifi dasarnya dhann. agama membenarkan. tanpa disadari oleh kambing yang bersangkutan. dimana lehernya diberi kalung sebagai tanda. ia berdosa. mengingat bahwa dalam masalah hukum taklifi seseorang dibenarkan melakukan sesuatu berdasarkan dhann-nya. Oleh karena itu ulama telah sepakat bahwa penetapan aqidah haruslah berdasarkan nash qath'iy al-dalalah yang tidak mengandung pen-takwil-an. Analisa bahasa ini menunjukkan kepada kita seolah-olah seseorang yang telah bertaqlid kepada seorang mujtahid/imam telah memberi identitas diri dengan sebuah kalung di lehernya dan ia telah mengikat dirinya dengan pendapat mujtahid/imam tersebut. Hal ini antara lain berkat digalakkannya studi fiqh perbandingan dan ushul fiqih perbandingan di . Apabila hal itu diketahui lewat taqlid. PENGERTIAN TAQLID Menurut bahasa. Lantaran itulah maka taqlid di bidang hukum dibenarkan. Hal inilah yang pernah melanda umat Islam termasuk umat Islam di Indonesia sampai berpuluh-puluh tahun lamanya. Dalam praktek memang demikian. yang artinya sbb: "Dan demikianlah. Taqlid di bidang hukum inilah yang kita maksud dan yang akan kita bicarakan dalam tulisan ini. niscaya pen-taklid-an itu justru tidak jalan. atau seperti binatang yang akan dijadikan dam. sehingga umat Islam menjadi jumud dan Islam ketinggalan zaman. sehingga muncullah rasa ta'ashub madzhab/fanatik madzhab yang kadang sampai berlebih-lebihan.

Demikian menurut al-Kamal Ibn al-Hammam dalam al-Tahrir. UA 20-21 Jakarta Selatan Telp. b. (021) 7501969. dan ini dilakukan tanpa berdasarkan dalil. 2. 7501983. 7507173 Fax. Menurut hemat saya yang ada hanyalah ijtihad dan taqlid. tapi hakikatnya sama. 3. (021) 7507174 Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota Please direct any suggestion to Media Team Artikel Yayasan Paramadina Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota . Taqlid ialah beramal berdasarkan pendapat orang lain yang pendapatnya itu tidak merupakan salah satu dalil yang dibenarkan. yaitu sama-sama mengikuti pendapat orang lain. Seorang hakim yang memutuskan perkara berdasarkan kesaksian saksi yang adil. Menerima pendapat orang lain dalam kondisi anda tidak mengetahui dari mana orang itu berpendapat. harus terus kita kembangkan. Taqlid ialah mengamalkan pendapat orang lain tanpa mengetahui dalilnya. Sesuai dengan pengertian taqlid di atas maka beberapa hal seperti di bawah ini tidaklah termasuk kategori taqlid. Sebagian ulama ada yang berpendapat bahwa beramal atau mengamalkan pendapat orang lain dengan mengetahui dalilnya adalah ijtihad. sedangkan ittiba' adalah beramal atau mengamalkan pendapat orang lain dengan mengetahui dalilnya. Beberapa hal itu ialah: a. Jadi Ittiba' itu sendiri termasuk kategori taqlid. 1. Sedangkan taqlid antara lain: menurut istilah Kondisi ada yang baik ini beberapa rumusan. Demikian menurut al-Qaffal.perguruan-perguruan tinggi Islam. Sementara pihak ada yang membedakan antara taqlid dan ittiba'. (bersambung 4/4) -------------------------------------------Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah Editor: Budhy Munawar-Rachman Penerbit Yayasan Paramadina Jln. hanya istilah dan tingkatannya saja yang berbeda. Beramal berdasarkan pendapat orang lain tanpa berdasarkan dalil. Metro Pondok Indah Pondok Indah Plaza I Kav. Demukian menurut al-Syaukany dalam Irsyad al-Fukhul. Beramal berdasarkan ayat al-Qur'an atau Hadits Nabi. Beramal berdasarkan ijma' c.

Dan Allah berfirman. Ini sangat berbahaya. Kearah inilah harus kita fahami ucapan imam-imam mujtahid kenamaan seperti Hanafi. Yang awam ini jelas tidak mungkin untuk dipaksakan harus mengupayakan dirinya menjadi mujtahid. TINGKATAN TAQLID/MUQALLID Sebagaimana halnya ijtihad/mujtahid yang bertingkat-tingkat. Diantara ulama yang mengharamkan taqlid dan mewajibkan ijtihad tanpa ada batasan-batasan tertentu ialah Ibnu Hazm dan al-Syaukany. Ibrahim Hosen Bagi orang-orang yang tidak memenuhi persyaratan ijtihad baik mereka ulama maupun awam. "Allah tidak menaklif/memberi pembenahan kewajiban kepada seseorang kecuali sesuai dengan kemampuannya. Kenyataan menunjukkan bahwa sejak dahulu sampai saat sekarang dan akan berlanjut terus sampai akhir zaman nanti. Dengan demikian tidak benar jika kita mengatakan bahwa ijtihad itu wajib dan taqlid itu haram secara mutlaq/tanpa ada batasan. bagi yang mampu berijtihad sendiri karena telah memenuhi persyaratannya janganlah mengikuti atau bertaqlid kepada mujtahid yang lain. Sebab ijtihad yang dilakukannya justru akan membawa pada kesesatan. al-Nahl: 43). . Sebab tidak realistis. dimana dalam keseluruhan hukum Islam. Artinya. Demikian juga harus kita usahakan. TAQLID DAN IJTIHAD Beberapa Pengertian Dasar HARAM IJTIHAD DAN WAJIB TAQLID (4/4) Oleh KH.24. sejalan dengan firman-Nya. mayoritas umat Islam dari kalangan awam." (QS. janganlah menduduki bangku taqlid. tetapi nyatanya masih tetap menjadi muqallidin yang setia. jangan sampai terjadi adanya "man laisa lahu ahlun li 'l-ijtihad" memberanikan diri untuk berijtihad. tetapi wajib berijtihad sendiri. mereka mengikuti pendapat imam mujtahid." Orang-orang yang tidak memenuhi persyaratan ijtihad semacam itu wajib mengikuti pendapat imam mujtahid yang mu'tabar atau istifta'/meminta penjelasan hukum kepada ahl al-dzikr. WAJIB IJTIHAD DAN HARAM TAQLID Bagi orang-orang yang memenuhi persyaratan ijtihad maka wajib bagi mereka berijtihad dan mengamalkan hasil ijtihadnya. Sebab ada beberapa ulama yang semestinya mereka mampu berijtihad. yang artinya. "Bertanyalah kepada ulama apabila kamu tidak mengerti. seperti taqlid yang dilakukan oleh kebanyakan orang awam. Taqlid secara total/murni (taqlid al-mahdli). haram bagi mereka berijtihad. Tidak dibenarkan/haram baginya bertaqlid atau mengikuti pendapat mujtahid yang lain. yaitu: 1. demikian juga taqlid/muqallid yang terdiri dari beberapa tingkatan. Kalau sudah pada tempatnya untuk duduk di kursi ijtihad. Bagi kita yang harus kita tempuh ialah mengusahakan bagaimana agar lahirnya ulama-ulama yang ahlu li 'l-ijtihad dapat diperbanyak.IV. Syafi'i dan lain-lain yang melarang taqlid.

mereka termasuk muqallid. talfiq ialah beramal dalam suatu masalah/qadliyah atas dasar hukum yang terdiri dari kumpulan/gabungan dua mazhab atau lebih. seperti yang dilakukan para ulama yang mampu berijtihad dalam bidang madzhab. selama tidak terjadi dalam kasus hukum (dalam kesatuan qadliyah) dimana imam yang pertama dan imam yang kedua atau imam yang sekarang diikuti sama-sama menganggap batal. 3. Pendapat ini tidak membenarkan talfiq. sempat dipolitisir dan eksploitir. Ushuliyyin berbeda pendapat mengenai boleh dan tidaknya seseorang ber-talfiq. dan bidang fatwa. Pendapat ini memperbolehkan talfiq sekalipun dimaksudkan untuk tujuan mencari keringanan tersebut. Perbedaan ini bersumber dari masalah boleh dan tidaknya seseorang pindah mazhab. sekalipun dimaksudkan untuk mencari keringanan. Tidak ada larangan bagi seseorang untuk berpindah madzhab. ataukah ia tidak terikat dengan arti boleh baginya mengikuti atau pindah ke madzhab lain? Dalam hal ini ada tiga pendapat: 1. walaupun dengan motivasi mencari kemudahan. tetapi dilihat dari sisi lain. bidang tarjih. seperti yang dilakukan oleh mujtahid muntasib. Dari segi dalil maupun kemaslahatan diantara ketiga pendapat di atas menurut hemat saya yang paling kuat adalah pendapat Al-Kamal Ibnu Hammam dengan alasan antara lain: . Artinya. 2. Pendapat kedua ini membenarkan talfiq sekalipun dimaksudkan untuk mencari kemudahan. mereka dianggap sebagai mujtahid. MASALAH TALFIQ Berbicara masalah taqlid. yang di zaman partai-partai Islam masih ada. Pendapat ini rupanya yang banyak memasyarakat di Indonesia. Baginya tidak boleh pindah ke madzhab lain baik secara keseluruhan maupun sebagian (talfiq). Taqlid dalam hal kaidah-kaidah istinbath. 3. apakah ia harus terikat dengan madzhab tersebut yang berarti ia tidak dibenarkan mengikuti atau pindah ke madzhab lain. dengan ketentuan tidak terjadi dalam kesatuan qadliyah yang menurut imam pertama dan imam kedua sama-sama dianggap batal.2. Apabila seseorang telah mengikuti salah satu mazhab maka ia harus terikat dengan madzhab tersebut. Menurut definisinya. Golongan ini dipelopori olah al-Qarafi. Taqlid dalam bidang-bidang hukum tertentu saja. rasanya tidak lengkap kalau kita tidak menyinggung masalah talfiq. apabila seseorang telah mengikuti/bertaqlid dengan salah satu mazhab. Dengan demikian dilihat dari satu segi. Pendapat pertama ini dipelopori oleh Imam Qaffal. Seorang yang telah memilih salah satu madzhab boleh saja pindah ke madzhab lain. Pendapat ketiga ini dipelopori oleh Al-Kamal Ibnu Hammam.

Ijtihad baru akan berfungsi dan berdayaguna sebagaimana . Kaidah yang berbunyi.1. 2. Membuat undang-undang perkawinan dimana akad nikahnya harus dengan wali dan saksi karena mengikuti madzhab Syafi'i. Dalam Ibadat. Hal ini sejalan dengan kaidah. 2. Hadits Nabi yang menyatakan bahwa Rasulullah tidak pernah disuruh memilih sesuatu kecuali akan memilih yang paling mudah." Contoh Talfiq a. Masalah Kemasyarakatan 1. Terjadi ru'yah yang mu'tabarah pada suatu tempat. mengenai sah jatuhnya thalaq raj'i mengikuti madzhab Hanafi yang memandang sah ruju' bi 'l-fi'li (langsung bersetubuh). Seseorang berwudlu menurut madzhab Syafi'i yang menyapu kurang dari seperempat kepala. Ijtihad merupakan sarana yang paling efektif untuk mendukung tetap tegak dan eksisnya hukum Islam serta menjadikannya sebagai tatanan hidup yang up to date yang sanggup menjawab tantangan zaman (shalihun li kulli zaman wa makan). Yang ada adalah perintah untuk bertanya kepada ulama tanpa ditentukan ulama yang mana dan siapa orangnya (QS. kemudian Qadli Syafi'i menetapkan bahwa ru'yah tersebut berlaku pada seluruh wilayah kekuasaannya. kemudian ia bersentuhan kulit dengan ajnabiyah. kemudian ia bershalat dengan menghadap kiblat dengan posisi sebagaimana ditentukan oleh madzhab Hanafi. al-Nahl: 43). 1. Seseorang berwudlu mengikuti tata cara Syafi'i. 2. Tidak punya mazhab artinya tidak terikat. Hal ini dimaksudkan untuk keseragaman dan menghindarkan adanya kesimpang-siuran. b. ia terus bershalat dengan mengikuti madzhab Hanafi yang mengatakan bahwa sentuhan tersebut tidak membatalkan wudlu. 3. "Keputusan pemerintah mengikat atau wajib dipatuhi dan akan menyelesaikan persengketaan. Hanya saja dalam hal-hal yang menyangkut kemasyarakatan maka yang berlaku adalah mazhab pemerintah atau pendapat yang diundangkan pemerintah lewat perundang-undangan. sebab Qadli tadi berpegang dengan pendapat madzhab Maliki dan Hanafi yang tidak memandang persoalan mathla'. Kesimpulan Dari beberapa uraian di atas kesimpulan sebagai berikut: ingin saya ambil beberapa 1. selama tidak membawa ke dosa. "al-ami la madzhaba lahu" -orang awam tidak punya mazhab. 2. Tidak ada nash agama baik dari al-Qur'an maupun Sunnah yang mewajibkan seseorang harus terikat dengan salah satu mazhab saja.

Na'udzu bi 'l-Lah.disebutkan pada Butir pertama jika ijtihad dilakukan para ahlinya (mereka yang memenuhi persyaratan dan dilakukan pada tempatnya sesuai dengan ketentuan yang telah diakui kebenaran dan kesalahannya). Badi'un-Nidham Shadrus-Syari'ah Al-Bukhari. al-Risalah Muhammad bin 'Ali al-Bashri. 6. 9. Untuk menggalakkan ijtihad guna menjadikan hukum Islam ini dinamis dan lincah perlu digalakkan studi fiqih perbandingan dan ushul fiqih perbandingan di lembaga-lembaga pendidikan Islam. 3. Taisirut-Tahrir Al-Syaukani. Ijtihad sepanjang pengertian ushuliyyin hanyalah berlaku di dunia hukum.Marilah kita menjadi mujtahid yang benar atau muqallid yang baik yang mempunyai komitmen yang utuh terhadap ajaran agama Islam. 8. 5. 7. al-Musthafa Fakhruddin al-Razi. al-Mu'tamad Al-Juwaini. 11. 17. Ijtihad akan membawa kejayaan bagi Islam dan umatnya. 6. 16. 10. khususnya perguruan tinggi. 5. 4." Musallamu 'l-Tsubur . 9. 18. al-Mahshul Al-Amidi. 7. 10. 14. 12. Minhaju 'l-Ushul Al-Asnawi. 13. apabila hal itu dilakukan oleh yang memenuhi persyaratan dan dilakukan di tempat-tempat yang diperbolehkan memainkan peranan ijtihad. al-Tahrõr Muhammad bin Amir al-Halabi. 4. 2. Ijtihad dapat kita jadikan alat untuk menjawab perlu dan tidaknya reaktualisasi hukum Islam dan hal itu hanya memenuhi persyaratan ijtihad. al-Manar Al-Baghdadi. Irsyadu 'l-Fukhul Muhibbu 'l-Lah "Abdus-Syakur. Jam'ul Jawami' Ushulus-Sarkhasi Ushulul-Bazdawi Al-Nasafi. Ijtihad yang saat ini benar-benar masih dapat kita lakukan ialah ijtihad di bidang tarjih dan ijtihad dalam kasus-kasus tertentu yang belum pernah diijtihadi dibahas oleh imam-imam mujtahid terdahulu. Tanpa itu hanya omong kosong. DAFTAR KEPUSTAKAAN 1. 8. Keduanya ini dapat kita lakukan secara perorangan (ijtihad fardy) atau secara kolektif (ijtihad jamma'iy). Al-Syafi'i. Perbedaan yang ditolerir oleh Islam yang dinyatakan akan membawa rahmat/kelapangan adalah perbedaan di bidang hukum furu'/fiqih sebagai akibat dari adanya perbedaan ijtihad. 3. Ijtihad yang dilakukan oleh yang bukan ahlinya/yang tidak memenuhi persyaratan atau dilakukan tidak pada tempatnya justru akan membawa kehancuran Islam dan bencana serta malapetaka bagi umatnya. al-Burhan Al-Ghazali. Ranqikhu 'l-Ushul Al-Kamal Ibnul-Hammam. 15. Nihayatu 'l-Sul Al-Subki. Inkamu 'l-Ihkam Al-Baidlawi.

al-Syathibi. FIQH AL-KHULAFA' AL-RASYIDIN: FIQH PENGUASA Seorang laki-laki datang menemui 'Umar bin Khathab: "Saya dalam keadaan junub dan tidak ada air. 7507173 Fax. (021) 7501969. 'Ammar tidak meriwayatkan peristiwa itu lagi. Kata Ammar. sedangkan aku berguling-guling di atas tanah. kecuali Abdullah bin Mas'ud. [2] "Aku melihat memang lebih baik tidak meriwayatkan hadits ini ketimbang meriwayatkannya Aku setuju denganmu. A'lamu 'l-Muwaqq'in -------------------------------------------Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah Editor: Budhy Munawar-Rachman Penerbit Yayasan Paramadina Jln. Al-Bukhari mencatat perdebatan Abdullah bin Mas'ud dengan Abu Musa al-Asy'ari tentang kasus ini pada hadits No. 247. 'Umar tetap berpegang teguh pada pendapatnya -. al-Muwafaqat 20. "Wa hadza madzab masyhur 'an 'Umar. cukuplah bagi kamu berbuat demikian. 7501983. Abu Musa menentang pendapat Abdullah --sekaligus madzhab Umar-. (021) 7507174 Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota Please direct any suggestion to Media Team Artikel Yayasan Paramadina Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota IV. Semua sahabat menolak pendapat Umar.pernah berada dalam perjalanan. tidak perlu shalat. aku tidak akan menceritakan hadits ini selama engkau hidup. Engkau tidak shalat.dengan mengutip ayat ("jika kalian tak mendapatkan air hendaklah tayamum dengan tanah yang baik"). Kita dalam keadaan junub. Metro Pondok Indah Pondok Indah Plaza I Kav. Dan Nabi berkata. TINJAUAN KRITIS ATAS SEJARAH FIQH (1/10) Dari Fiqh Al-Khulafa' Al-Rasyidin Hingga Madzhab Liberalisme oleh Jalaluddin Rakhmat 1." [1] "Yang dimaksud Ammar. takutlah pada Allah"." 'Ammar bin Yasir berkata pada 'Umar bin Khathab: "Tidakkah Anda ingat. "Jangan shalat sampai engkau mendapatkan air." Sejak itu. Ibnul Qayyim. aku sudah menyampaikannya. UA 20-21 Jakarta Selatan Telp. sehingga aku tidak bersalah." Mendengar demikian Umar menegur 'Ammar: "Ya Ammar. 'Umar menjawab. Aku sampaikan kejadian ini kepada Rasulullah saw. dan menahan diriku. jika engkau inginkan. Menarik untuk dicatat bahwa kelak . Toh.22. "Ya Amir al-Mu'minin. bila tidak ada air." Maksud kedatangannya untuk menanyakan apakah ia harus shalat atau tidak." kata Ibn Hajar.19." kata Ibn Hajar.orang junub. Dulu --engkau dan aku-.

Inilah embrio ilmu fiqh yang pertama.akhirnya menjadi salah satu sumber hukum Islam di samping istihsan. sahabat --sebagaimana didefinisikan ahli hadits-. ada yang berijtihad dengan qiyas seperti Abdullah bin Mas'ud. mazhab Hanafi melanjutkan Lebih menarik lagi untuk kita catat adalah beberapa pelajaran dari riwayat di atas. Pertama. ayat yang sama. Setelah itu. Al-Syathibi [5] menulis. Saya akan memulai makalah ini dengan membahas urgensi fiqh sahabat dalam keseluruhan pemikiran fiqhiyah.adalah orang yang berjumpa dengan Rasulullah saw dan meninggal dunia sebagai orang Islam. lewat kekuasaan. perbedaan di antara para sahabat berpengaruh besar pada ikhtilaf kaum Muslim pada abad-abad berikutnya Karena itu membicarakan fiqh para sahabat menjadi sangat penting sebagai pijakan bagi pembahasan masalah fiqh mutakhir.a. adalah sunnah yang harus diamalkan dan dijadikan rujukan. mashalih mursalah dan sebagainya. Sementara itu. Abu Zahrah menulis: [4] Di antara sahabat ada yang berijtihad dalam batas-batas al-Kitab dan al-Sunnah. Ketika menceritakan ijtihad pada zaman sahabat. sebagian lainnya hanya . [3] Dari makalah kita mengenal sunnah Rasulullah.dengan merujuk mazhab 'Umar. terlihat ada sikap hiperkritis dalam menerima atau menyampaikan riwayat Dan keempat. Tentang hal ini. URGENSI FIQH SAHABAT Fiqh shahabi memperoleh kedudukan yang sangat penting dalam khazanah pemikiran Islam. memang terjadi perbedaan paham di antara sahabat dalam masalah fiqhiyah Kedua. Ketiga. madzhab sahabat --sebagai ucapan dan perilaku yang keluar dari para sahabat-. pada zaman sahabat rujukan itu adalah diri sendiri. Ketiga. dan tidak melewatinya. al-hukm. Sebagian menganggaprlya sebagai hujjah mutlak. dan contoh-contoh fiqh al-khulafa al-rasyidin. bila tidak ada nash. yang nanti diformulasikan dalam kaidah-kaidah ushul fiqh. ulama berbeda pendapat. 'Umar menghendaki pembakuan paham dan mengeliminasi pendapat yang berlainan. "Sunnah sahabat r. perluasan kekuasaan Islam dan interaksi antara Islam dengan peradaban-peradaban lain menimbulkan masalah-masalah baru. saya akan menjelaskan sebab-musabab timbulnya ikhtilaf fiqh di antara para sahabat. ada pula yang berijtihad dengan ra'yu bila tidak ada nash. ijtihad para sahabat menjadi rujukan yang harus diamalkan. zaman sahabat adalah zaman segera setelah berakhirnya masa tasyri'. Dengan demikian. dan ada yang berijtihad dengan metode mashlahat. karakteristik fiqh sahabat. sebagian lagi sebagai hujjah bila bertentangan dengan qiyas.). Madzhab sahabat pun menjadi hujjah. Bila pada zaman tasyri' orang memverifikasi pemahaman agamanya atau mengakhiri perbedaan pendapat dengan merujuk pada Rasulullah. perilaku mereka menjadi sunnah yang diikuti. Pertama. Kedua. karena itu. dari mereka juga kita mewarisi ikhtilaf di kalangan kaum Muslim. dan bentuk ra'yu-nya bermacam-macam." Dalam perkembangan ilmu fiqh. Dan para sahabat merespon situasi ini dengan mengembangkan fiqh (pemahaman) mereka. zaman sahabat juga melahirkan prinsip-prinsip umum dalam mengambil keputusan hukum (istinbath. qiyas.

Menghadapi masalah-masalah baru itu. Allah menamai mereka sebagai 'udul al-ummah (umat yang paling bersih). mereka adalah orang-orang yang menyaksikan turunnya wahyu. Kelompok kedua memandang tidak ada orang tertentu yang ditunjuk rasul untuk menafsirkan dan menetapkan perintah Ilahi. yakni Abu Bakar dan Umar").menganggap hujjah pada pendapat Abu Bakar dan Umar saja. berpendapat bahwa yang menjadi hujjah hanyalah kesepakatan khulafa' al-Rasyidin. Merekalah 'udul al-ummah. yang harus dirujuk untuk menyelesaikan masalah-masalah dan menetapkan hukum-hukum Allah. maka tidak mengherankan bila mazhab sahabat menjadi rujukan penting bagi perkembangan fiqh Islam sepanjang sejarah. Semua Khalifah al-Rasyidin termasuk kelompok kedua. atau dinilai sebagaimana perawi hadits lain. keraguan kesombongan. menegakkan agamanya. berdasarkan hadits ("berpeganglah pada dua orang sesudahku. muncul dua pandangan.menemani Nabi-Nya. Kelompok kedua lebih banyak menggunakan . Mereka dibersikkan dari keraguan. bila mereka ikhtilaf.. untuk menolongnya. Sementara itu. karena mereka tahu betul --tugas mereka adalah mengacu pada Ma'shumun. dusta. Tentu saja. hujjah agama. Karena posisi sahabat begitu istimewa. putuslah masa tasyi'. menurut nash dari Rasul.. mazhab sahabat menimbulkan kemusykilan yang sulit diatasi. pendapat mereka dapat membantu memecahkan masalah fiqh. Lalu mengapa mereka ikhtilaf? PENYEBAB IKHTILAF DI KALANGAN SAHABAT Salah satu sebab utama ikhtilaf di antara para sahabat adalah prosedur penetapan hukum untuk masalah-masalah baru yang tidak terjadi pada zaman Rasulullah saw. dan celaan. ini yang terpenting.. Bila mereka sepakat. Allah memuliakan mereka dengan karunia-Nya menempatkan kedudukan mereka pada tempat ikutan.. mengetahui tafsir dar ta'wil. Al-Qur'an dan al-Sunnah adalah sumber untuk menarik hukum-hukum berkenaan dengan masalah-masalah yang timbul di masyarakat. menurut kesepakatan ahl al-sunnah. setelah Rasulullah wafat. Kelompok ini tidak mengalami kesulitan dalam masa berhentinya wahyu. Mereka tak boleh dikritik. [6] Terakhir keempat. dan sebagian yang lain. Hanya merekalah. ahl al-Sunnah sepakat menetapkan bahwa seluruh sallabat adalah baik (al-shahabiy kulluhum 'udul). Abu Hatim al-Razi dalam pengantar kitabnya menulis: [7] Adapun sahabat Rasulullah saw. dan pembawa al-Qur'an dan al-'Sunnah. pemimpin-pemimpin hidayah. yang dipilih Allah untuk. kecuali Ali bin Abi Thalib. memenangkan ke benarannya. karena banyak hal tak terjawab oleh nash. Mereka akhirnya menggunakan metode-metode ijtidah seperti qiyas atau istihsan. Imam ahli jarh dan ta'dil. di antara para sahabat itu yang paling penting adalah khulafa al-rasyidun. kekeliruan. Kelompok ini --kelak disebut Ahl al-Sunnah-ternyata tidak mudah mengambil hukum dari nash. dipersalahkan. [8] Kelompok pertama memandang bahwa otoritas untuk menetapkan hukum-hukum Tuhan dan menjelaskan makna al-Qur'an setelah Rasulullah wafat dipegang ahl al-Bait.

Ketika Utsman juga melarangnya. [15] Kadang-kadang ikhtilaf terjadi di antara para sahabat karena perbedaan pengetahuan yang mereka miiiki. [11] Umar --atas saran Abd al-Rahman bin Auf menderanya 80 kali. berbeda-beda dalam kemampuan pengambilannya dan dalam menerima riwayatnya.. Rasulullah saw. yang tidak hadir tentu tidak mengetahuinya. ketika ia membaca ayat itu.. Rasulullah saw. Sebagian sahabat. Kata Ubayy Anda tahu saya berada di dalam beserta Rasulullah saw. karena ia menikah dengan Nailah. wanita Nashrani. Anda tidak. Ibn 'Abbas menganggap ayat itu sebagai pengecualian (takhshish) dari ayat wa la tankihu al-musyrikat hatta yu'minna. Umar pernah menegur orang yang dikiranya salah ketika membaca QS al-Fath: 26. [13] Bila contoh-contoh tadi berkenaan dengan perbedaan antara ketetapan nash dengan ra'yu. Siapa yang mau boleh menjalankannya. [12] Begitu pula Ali. siapa yang tak mau boleh meninggalkannya. menetapkan thalaq tiga dalam satu majlis itu dihitung satu. misalnya. Yang hadir waktu itu dapat menyimpan peristiwa itu. padahal al-Qur'an dan al-Sunnah sangat tegas menetapkannya. Kelompok kedua banyak menggunakan dalil aqly.. Ali kembali menderanya 40 kali. Ia memarahi orang itu. Ali membebaskan hukum itu berdasarkan hadits. Rasulullah saw. dan kelompok pertama lebih banyak merujuk nash. menurut riwayat lain dari Abdullah bin Zubair.ra'yu. ketika saya hadir Anda tidak ada. sebagian lain tidak mengetahuinya. Engkau sendiri berada di pintu. Umar menetapkan thalaq tiga itu jatuh tiga sekaligus. hanya karena pendapat seseorang. Zaid ibn Tsabit mengartikannya masa bersuci di antara haidh dengan haidh lagi. contoh-contoh berikut menunjukkan perbedaan memahami nash. ketika saya diundang. ditanya tentang suatu masalah. sesungguhnya Anda tahu. [10] Contoh lainnya adalah hukuman dera bagi peminum khamr. Abdullah bin Mas'ud dan Umar mengartikan "quru" itu haidh. wafat. kelompok pertama dalil naqli. Umar memutuskan hukuman rajam bagi orang gila yang berzina. Ketika Rasulullah saw. [14] Ibn Umar menafsirkan "al-muhshanat dalam ayat wa al muhshanat min alladzina utu al-kitab sebagai wanita Muslim. Kata Utsman: Aku melarang manusia melakukan tamattu. Umar pernah melarang hajji tamattu'. yang mengambil sunnah dari Nabi dan meriwayatkannya. Ali secara demonstratif melakukannya di depan Utsman. Utsman berkata: Sesungguhnya laranganku itu hanya ra'yuku saja. karena itu Ibn Umar mengharamkan wanita ahli kitab dinikahi laki-laki Muslim. Demi Allah Ya Umar. bertebaranlah sahabat di . Kata quru dalam wal muthalaqatu yatarabbashna bi anfusihim tsalatsatu quru' diartikan berbeda-beda. dan engkau sendiri melakukannya. Tetapi Umar kemudian dikoreksi Ubayy bin Ka'ab. mengetahui nash tertentu. dan Thalhah menikahi wanita Yahudi dari Syam. Utsman tampaknya sependapat dengan Ibn 'Abbas. menderanya 40 kali. melakukan atau tidak melakukan sesuatu. [16] Al-Syaikh Muhammad Muhammad al-Madany menjelaskan sebab ikhtilaf yang berkenaan dengan sunnah: [17] salah satu Sahabat Rasulullah saw. [9] Setelah perdebatan ini. Ali menjawab: Aku tak akan meninggalkan sunnah Rasulullah saw. Ia menghukum dengan hukum tertentu memerintahkan atau melarang sesuatu.

walau pun tidak menemukan air selama dua bulan. ikhtilaf para sahabat ini menjadi sumber perpecahan.dan Abi Ayyub dari Ubbay bin Ka'ab. Buat orang yang berjiwa terbuka. lalu bermusyawarah." Kata Umar: "Bila ada lagi orang berfatwa bahwa tidak wajib mandi kalau tidak keluar. Kata 'Aisyah: "Bila khitan sudah bertemu khitan.." Kata Umar: "Kalian sahabat-sahabat yang ikut Badr sudah ikhtilaf.negeri-negeri." dari Rifa'ah bin Rafi'." Kata Umar: "Panggil dia!" Zaid pun datang dan Umar berkata: "Hai musuh dirinya sendiri!. orang Syam hadir di tempat yang tidak dihadiri orang Basrah. Tetapi aku mendengar hadits dari paman-pamanku. aku dengar kau berfatwa pada manusia dengan ra'yumu sendiri? Kata Zaid: "Ya Amir al-Mu'minin. Ia mengutus orang bertanya pada Hafshah. Ini semua terjadi dalam hadits. Dalam kasus-kasus yang lain. lalu aku sampaikan -. orang Basrah menghadiri tempat yang tidak dihadiri orang Syam.bila kalian bercampur dengan isteri kalian dan tidak keluar air mani kalian mandi?" Kata Rafa'ah: "Kami melakukan begitu pada zaman Rasulullah saw. Buat orang-orang sektarian. Marilah kita berikan satu contoh lagi yang lebih ilustratif. masuklah seorang laki-laki: "Ya Amir al-Mu'minin. Ali Hudzaifah al-Yamani dan lain-lain mengetahui hukum mengusap tetapi 'Aisyah. Ia berkata: "Apakah kalian berbuat demikian . ikhtilaf di antara para sahabat itu dibiarkan dan diwariskan kepada generasi berikutnya. kecuali Ali dan Mu'adz. sehingga mereka berkata: Orang junub tidak tayamum. Setiap orang hanya mcngetahui apa yang ia saksikan. Anak perempuan dari anak beserta anak perempuan mendapat waris diketahui Ibn Mas'ud tetapi tidak diketahui Abu Musa. ikhtilaf ini adalah assets bagi perkembangan pemikiran. Khalifah bahkan menetapkan sangsi bagi orang yang mempunyai pendapat berbeda. Ini jelas menurut akal. 'Amar dan yang lain mengetahui tentang tayamum. Ketika orang sedang berkumpul di hadapan Umar bin Khathab. dan setiap penduduk negeri mengambil dari sahabat yang ada di negeri mereka. Keduanya berkata: "Jika kedua khitan bertemu. 'Aisyah ditanya. Berkata Ibn Hazm: "Orang Madinah hadir pada tempat yang tidak dihadiri orang Basrah." Kata Umar: "Apakah Rasulullah saw. wajib mandi. Tidak juga ada larangan dari Rasulullah saw. Hafshah tidak tahu." Lalu Umar mengumpulkan Muhajirin dan Anshar. Padahal --seperti telah kita jelaskan--sebagian sahabat pada sebagian waktu tidak hadir di majelis Rasulullah saw. dan tidak mengetahui apa yang tidak ia hadiri. 'Umar bin Abd . apalagi orang-orang setelah kalian!" Kata Ali. sedangkan sebagian lagi hadir. Aku tidak melakukan itu. Abu Hurairah tidak mengetahuinya walaupun mereka penduduk Madinah. ikhtilaf di antara para sahabat dapat diselesaikan oleh khalifah. wajib mandi. Kata Umar: "Panggil Rafa'ah bin Rafi'. orang Kufah hadir di tempat yang tidak dihadiri orang Madinah. orang Basrah menghadiri yang tidak dihadiri orang Kufah. Semua orang berkata tidak perlu mandi. Umar dan Ibn Mas'ud tidak mengetahuinya. mengetahuinya?" Kata Rafa'ah: "Tidak tahu. aku akan pukul dia. Ibn 'Umar. dan pada saat kita memerlukan informasi. ini Zaid bin Tsabit berfatwa di masjid dengan ra'yunya berkenaan dengan mandi janabah. Tidak turun ayat yang mengharamkan." [18] Dalam kasus yang baru kita ceritakan. Ya Amir al-Mu'minin: "tidak ada orang yang lebih tahu dalam hal ini kecuali isteri Rasulullah saw.

ada dua cara yang dilakukan para sahabat. Lagi pula. (021) 7507174 Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota Please direct any suggestion to Media Team Artikel Yayasan Paramadina Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota IV. Menurut Muhammad al-Khudlari Bek. Artinya." [19] -------------------------------------------. Ah al-Bait memiliki kema'shuman berdasarkan nash al-Qur'an dan al-Sunnah. UA 20-21 Jakarta Selatan Telp. jadilah itu sunnah. pendapat seseorang menjadi hujjah bila orang itu ma'shum. dari segi prosedur penetapan hukum. Jika kita mengambil dari siapa saja di antara mereka. . Mereka adalah teladan yang diikuti. Muhammad Ali al-Sais menyebutkan bahwa ijtihad sahabat itu meliputi qiyas. Mereka berpendapat bahwa ada dua nash yang dengan tegas menyuruh kaum Muslim berpegang teguh pada pimpinan ahl-al-Bait. TINJAUAN KRITIS ATAS SEJARAH FIQH (2/10) Dari Fiqh Al-Khulafa' Al-Rasyidin Hingga Madzhab Liberalisme oleh Jalaluddin Rakhmat KARAKTERISTIK FIQH SAHABAT Seperti telah disebutkan di muka. berkata: "Aku tidak senang kalau sahabat Nabi tidak ikhtilaf. Menurut Muhammad Salim Madkur. Abu Dzar. menurut mereka. dan ijtihad dengan ra'yu seperti al-Mashalih al-Mursalah dan istihsan. 7501983. saya tak akan membicarakan kelompok sahabat ini. Seandainya pendapat mereka itu tunggal. tapi akan memutuskan perhatian pada metode ijtihad kelompok sahabat yang tak merujuk ahl al-Bait. mereka membuka pintu ijtihad bagi manusia.merujuk pada ahl al-Bait dalam menghadapi masalah-masalah baru. Dengan begitu. [30] Pada bagian ini. (021) 7501969.al-'Aziz.22. Para sahabat -seperti Miqdad. Metro Pondok Indah Pondok Indah Plaza I Kav. ijtihad mereka menggunakan tiga metode: a) menjelaskan dan menafsirkan nash. 'Ammar bin Yasir. Hudzaifah dan sebagian besar Bani Hasyim -. Kedua cara ini melahirkan dua mazhab besar di kalangan sahabat -. ia membuka umat untuk memasuki Rahmat-Nya.(bersambung 2/10) Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah Editor: Budhy Munawar-Rachman Penerbit Yayasan Paramadina Jln. Allah memberikan keluasan pada umat dengan adanya ikhtilaf furu'i di antara mereka. para mujtahid berada dalam kesempitan. 7507173 Fax. sempitlah manusia dibuatnya. fiqh mereka ini hanya terbatas pada qiyas. tokoh ukhuwah Islamiyah yang menghentikan kutukan pada Ali di mimbar. karena bila mereka tidak membukanya. Mereka boleh ikhtilaf. b) qiyas pada nash atau pada ijma'.Madzhab 'Alawi dan Madzhab 'Umari yang akhirnya mewariskan kepada kita sekarang sebagai Syi'ah dan ahli Sunnah.

Janganlah meriwayatkan satu Hadits pun dari Rasulullah saw. Dalam beberapa kasus.istihsan. Pada suatu pagi. dan haramkanlah apa yang diharamkannya" [24] 3) Al-Zuhri meriwayatkan. ia memutuskan dan menyatakan: "Aku teringat orang-orang sebelum kalian. Tidak layak di hadapanku bertengkar.Di antara Anda dan kami ada Kitab Allah." Terjadi ikhtilaf di antara orang-orang di rumah itu. Nanti orang-orang setelah kalian akan lebih bertikai lagi. bila nash tidak ada atau tidak diketahui. Umar ibn Abd al-Aziz (meninggal 719/101) adalah orang yang pertama menginstruksikan penulisan hadits. Jika ada yang bertanya kepada kalian. di antaranya Umar bin Khathab. berkata: "Pergilah kamu semua dari aku. Di antara mereka ada yang mengikuti ucapan Umar. aku tuliskan bagimu tulisan yang tidak akan menyesatkanmu selama-lamanya. mengharapkan bimbingan Allah dalam hal ini. sehingga di kalangan ahl al-sunnah. al-baraah al-ashliyah. dan Abu Mas'ud al-Anshari. menggunakan qiyas atau pertimbangan kepentingan umum. yang kalian pertengkarkan. [28] Karakteristik kedua dari ijtihad sahabat. Ia membakar dan berkata. "Kalian meriwayatkan hadits Rasulullah saw. halalkanlah apa yang dihalalkannya. "Aku membawanya. jawablah -.. sadd al-dzara'i. Mereka tenggelam dalam tulisan mereka dan meninggalkan Kitab Allah. ada tiga tahap dalam ijtihad para sahabat: a) merujuk pada nash al-Qur'an dan al-Sunnah b) menggunakan metode-metode ijtihad seperti qiyas. Pada tahap pertama. penulisan hadits terlambat sampai abad 8 M. al-mashalih al-mursalah. walaupun ada nash sharih ." Umar berkata: "Nabi sedang dikuasai penyakitnya. [25] Umar kemudian mengumpulkan hadits-hadits itu dan membakarnya. di rumah Rasulullah saw. bahkan pertimbangan kepentingan umum (maslahat) didahulukan dari nash. berkumpul orang-orang." [27] Tradisi pelarangan hadits ini dilanjutkan para tabi'in. Nabi berkata: "Bawalah ke sini. Di bawah ini saya kutipkan berbagai riwayat berkenaan dengan sikap Khulafa al-Rasyidin pada Hadits (sunnah): 1) Dari Ibn Abbas: ketika Nabi menjelang wafat. [26] Ia juga menetapkan tahanan rumah pada tiga sahabat yang banyak meriwayatkan hadits: Ibn Mas'ud." [22] 2) 'Aisyah meriwayatkan: Ayahku telah mengumpulkan 500 hadits Rasulullah saw. "Aku takut jika aku mati aku masih meninggalkan hadits-hadits ini bersamamu. dan c) mencapai kesepakatan lewat proses perkembangan opini publik yang alamiah." [23] al-Dzahabi meriwayatkan bahwa Abu Bakar mengumpulkan orang setelah Nabi wafat dan berkata. Menurut satu riwayat. Ia memikirkannya selama satu bulan. tampaknya lebih memusatkan perhatian pada ayat-ayat al-Qur'an (atau ruh ajaran al-Qur'an) dengan agak mengabaikan (kadang-kadang menafikan hadits). [21] Menurut pendapat saya. Abu Darda. Pada suatu pagi ia datang padaku dan berkata: "Bawalah hadits-hadits yang ada padamu itu. para Khulafa al-Rasyidin selain Ali./2 H. Umar ingin menuliskan sunnah-sunnah Rasulullah saw. Padamu ada Kitab Allah. Nabi saw. Ketika terjadi banyak pertengkaran dan ikhtilaf. Cukuplah bagimu Kitab Allah. bila tidak ada nash.

[38] f) mendahulukan khotbah sebelum shalat pada shalat 'id. Umar ingin menghukum keteledoran ini.. khalifah yang berhak mengatur pembagian khumus. jika tidak pedanglah yang memutuskan antara kamu dan kami. Al-Fujaah ternyata menggunakan fasilitas Abu Bakar ini untuk merampok. [33] Utsman juga melakukan banyak "pembaharuan" dalam fiqh Islam: a) mengitmamkan shalat dalam keadaan safat di Mina. Jika kamu Islam (baiklah itu). "Kami tidak memerlukan kalian lagi. Abu Bakar memberinya bekal. wafat. "Ia.. Utsman bin Affan membolehkan "menikahi" dua orang wanita bersaudara dari antara budak belian sekaligus. sehingga sahabat menahan dirinya untuk tidak mudah menjatuhkan thalaq. serta Rasulullah dan Abu Bakar melakukannya. tapi menyalurkan hak itu fi sabilillah. Umar melarangnya.. "Kami tidak memberi kamu sedikit pun karena Islam. Mereka berpendapat. Abu Bakar dan permulaan Khilafah Umar. Umar datang dan berkata. [36] d) membolehkan tidak mandi bagi yang bercampur dengan isterinya tanpa mengeluarkan mani. Berikut ini 1. Umar meninggalkan sunnah dan menyingkirkan ijma. yang menunjang kaidah hukum berubah karena perubahan zaman ialah jatuhnya thalaq tiga dengan satu kalimat. sedangkan di zaman Nabi. Ketika kelompok muallaf datang menemui Abu Bakar untuk menuntut surat. [32] 5. " Lalu berlalulah apa yang diputuskan Umar. Ketika talaq tiga dalam satu majelis dihitung satu menurut Sunnah dan ijma. "Mereka kembali pada Abu Bakar dan berkata..a. Abu Bakar dan Umar tidak memberikan hak khumus dari keluarga Rasulullah saw.(tegas) yang bertentangan contoh-contohnya. Ali bin Abi Thalib mengharamkannya. [35] c) melarang haji tamattu.. Umar merobek surat itu dan berkata.. Al-Fujaah pernah menyatakan diri ingin berjihad dan meminta perbekalan pada Abu Bakar. insya Allah. Bila al-Qur'an menetapkan bagian muallaf dari zakat. setelah Rasulullah saw. [37] e) mengambil zakat dari kuda. Amir al-Mu'minin Umar bin Khathab melihat orang telah melecehkan urusan thalaq. [39] . Kata Umar: "Manusia terlalu terburu-buru di tempat yang seharusnya hati-hati.." [29] 2. [30] 3. dengan itu. Khalid Muhammad Khalid menulis tentang ijtihad Umar dalam al-Dimuqrathiyyah: Umar bin Khattab telah meninggalkan nash-nash agama yang Suci dari al-Qur'an dan al-Sunnah ketika dituntut kemaslahatan untuk itu. "Adakah khalifah itu atau dia? "Abu Bakar menjawab. Allah sudah memenangkan Islam dan melepaskan dari kalian. Umar melihat ini untuk kemashlahatan umat di zamannya. thalaq tiga pada sekali ucapan dijadikan satu seperti hadits shahih dari Ibn 'Abbas. mereka datang kepada Umar. Dr. [34] b) menambahkan adzan ketiga pada hari Jum'at . al-Dawalibi menulis hal yang sama dalam 'Ilm Ushul al-Fiqh: "Di antara kreasi Umar r. Abu Bakar menyuruh Tharifah bin Hajiz untuk membawanya ke Madinah. [31] 4. Ini adalah prinsip taghayyarat bihi al-fatwa litaghayyur al-zaman. Abu Bakar menghukumnya dengan membakarnya hidup-hidup." Ketika Rasul dan Abu Bakar membolehkan penjualan Ummahat al-Awlad." Kata Ibn Qayyim.

Ia melihat Ibn .Saya hentikan kutipan kasus-kasus ijtihad Khulafa' al-Rasyidin di sini. al-Rasyidun-. Diriwayatkan bahwa pada hari kiamat ada rombongan manusia yang pernah menyertai Nabi diusir dari al-haudh (telaga). "Semoga Allah meyampaikan kepadaku kesalahan-kesalahanku sebagai suatu bingkisan. Tentu saja.menyumbangkan khazanah yang kaya untuk memperluas pemikiran. tidak berganti. Menurut Fazlur Rahman. lalu opini publik. Ikhtilaf di antara para sahabat. juga --seperti kata 'Umar ibn Abdul Aziz-. Saya hampir sependapat dengan Fazlur Rahman. Anda menjadi sahabat Rasulullah saw. [44] Imam Syafi'i meriwayatkan dari Wahab bin Kaysan. Al-Zarqani mengomentari hadits ini: Yang dimaksud "orang" adalah sahabat. waktu itu yang disebut sunnah ialah apa yang disebut Imam Malik sebagai al-amr al-mujtama' 'alaih. dan perbuatan yang lain telah berubah. untuk itu diperlukan penelaahan kritis terhadapnya. Karena itu. Sayang sekali. [42] Kata ma ahdatsna (apa-apa yang kami adakan) menunjukkan pada perbuatan bid'ah yang dilakukan para sahabat Nabi. Al-Musayyab memuji Al-Barra bin 'Azib: "Beruntunglah Anda. [43] Bid'ah-bid'ah ini telah mengubah sunnah Rasulullah saw. Berkembanglah berbagai penafsiran. sikap kritis ini telah "dimatikan" dengan vonnis zindiq oleh sebagian ahli hadits. FIQH TABI'IN: FIQH USHUL Sejak zaman sahabat (dan ini diakui para sahabat sendiri) telah terjadi perubahan-perubahan dalam syari'at Islam. engkau tidak tahu hal-hal baru yang kami adakan sepeninggal Rasulullah. orang secara bebas memberikan tafsiran pada sunnah Rasulullah saw. pendapat-pendapat tertentu kemudian berkembang menjadi opini generalis. [40] pada zaman para sahabat. Adzan tetap seperti dulu. selain mewariskan kemusykilan bagi kita sekarang. Marilah kita lihat proses perkembangan pemikiran para sahabat sehubungan dengan sunnah. Tidak berlebih-lebihan kalau kita simpulkan bahwa fiqih al-Khulafa al-Rasyidin adalah fiqih penguasa. Ada dua sikap ekstrim terhadap sahabat yang harus dihindari: menghindari sikap kritis atau melakukan sikap hiperkritis. lalu konsesnsus. Ia berkata: Aku tidak mengenal lagi apa-apa yang aku lihat dilakukan "orang" kecuali panggilan shalat. Anda berbaiat kepadanya di bawah pohon. Fiqih shahabi memberikan dua macam pola pendekatan terhadap syari'ah yang kemudian melahirkan tradisi fiqh yang berbeda. Ketika banyak orang marah karena 'Umar dikritik. 'Umar sendiri berkata. Sebagian sahabat mulai mengeluhkan terjadinya perubahan ini.adalah fondasi utama dari seluruh bangunan fiqh Islam sepanjang zaman. Imam Malik meriwayatkan dari pamannya Abu Suhail bin Malik. Nabi saw: "Ya Rabbi. Tidak berubah." Al-Barra menjawab. Ada pun shalat. mereka sahabatku. waktunya telah diakhirkan. KESIMPULAN Fiqh para sahabat --khususnya seperti diwakili oleh al-Khulafa. Dalam proses free market of ideas. Suatu ketika seorang tabi'in. Seringkali yang disebut ijma' adalah konsensus yang "ditetapkan" oleh penguasa politik waktu itu." [41] 2. kecuali dalam satu hal: Apa yang disepakati tidak selalu berkembang dari hasil persaingan pendapat yang demokratis. Hai anak saudaraku. dari bapaknya (seorang sahabat). Dikatakan kepadanya: Engkau tak tahu apa-apa yang mereka ada-adakan sepeninggal kamu.

atau karena posisinya memungkinkan untuk itu. bahwa dalam khazanah fiqh ahl al-Sunnah para khalifah sedikit sekali memberi fatwa atau meriwayatkan al-hadits. selain mengambil hadits sebagai sumber hukum. [46] Al-Hasan al-Bashri menegaskan: "Seandainya sahabat-sahabat Rasulullah saw lewat. orang-orang Islam bertanya pada sahabat dalam urusan hukum-hukum agama. kecuali shalat. APA YANG DIMAKSUD DENGAN FIQH TABI'IN Setelah Nabi Muhammad saw meninggal dunia. laknatlah mereka. Jabir ibn Abdullah dan lain-lain. Bani Umayyah telah mengubah sunnah Nabi. Ibn 'Umar. Salah satu sebab utama perubahan adalah campur tangan penguasa. kemudian berkata: Semua sunnah Rasulullah saw sudah diubah. [51] Contoh-contoh di atas menunjukkan bagaimana campur tangan kekuasaan politik membentuk fiqh. mungkin karena pengetahuan mereka. "Aku sudah tidak mengenal lagi apa yang aku lihat. Tidak semua sahabat menjawab pertanyaan mereka. [47] 'Umran bin al Husain pernah shalat di belakang Ali. Sebab itu.Zubair memulai shalatnya sebelum khutbah. sebagai upaya menghapus jejak Ali. sedangkan sujud di atas tanah dianggap musyrik dan dihitung sebagai perbuatan zindiq". atau lagi-lagi pertimbangan politis. Abu bakar meriwayatkan hanya 142 hadits. [50] Contoh yang lain adalah sujud di atas tanah. kita juga akan mengupas kemusykilan ijtihad sahabat. Ia memegang tangan Muthrif bin Abd Allah dan berkata: Ia telah shalat seperti shalatnya Muhammad saw. mungkin karena ketidaktahuan. Umar 537 hadits. "Mengapa Anda menangis. juga mengambil ijtihad para sahabat. Mereka meninggalkan sunnah karena benci kepada Ali. dan karenanya secara singkat ia disebut Fiqh al-ushul. Karena pertimbangan politik. sampai shalat pun. menjaharkan basmalah. Karena pendapat-pendapat para sahabat terbagi dua --yang berpusat pada al-hadits dan al-ra'y-. Hal ini disebabkan ushul adalah sandaran para tabi'in. khususnya yang dijalankan secara setia oleh Ali dan para pengikutnya. penguasa politik kemudian melakukan manipulasi hadits dengan motif politik. mereka tidak mengenal kamu (yang kamu amalkan) kecuali kiblat kamu". kurang dari 27% hadits yang diriwayatkan Abu Hurairah (Abu Huraiah meriwayatkan 5374 hadits). kehatihatian. Sebagian sahabat sedikit sekali memberi fatwa." tanya Al-Zuhri. marilah kita lihat sedikit latar belakang fiqh tabi'in. Sebelum membahas itu semua. yang menjadi tradisi Rasulullah saw dan para sahabat Nabi seperti Abu Bakar. Ia sedang menangis. Ini pun sudah dilalaikan orang". Dalam perkembangannya. Anas menjawab.kita akan membicarakan juga tradisi fiqh al-atsar dan fiqh al-ra'y. Sebagian lagi banyak sekali memberi fatwa. kita lebih banyak menelaah ushul ketimbang fiqh. [45] Kata Al-Zuhri: Aku menemui Anas bin Malik di Damaskus. dan mereka pun tidak bertanya pada semua sahabat. Ia mengingatkan aku pada Shalat Muhammad saw. Fiqh Tab'in. [49] Contohnya. [48] Jadi pada zaman sahabat pun. . Ibn Mas'ud. Menarik untuk dicatat. Karena fiqh lebih banyak didasarkan pada al-hadits. Utsman 146 hadits. Secara keseluruhan. Ibn 'Abbas berdoa: Ya Allah. sunnah Nabi sudah banyak diubah. Ali 586 hadits. sujud di atas kain menjadi syi'ar Ahl al-Sunnah. Jika semua hadits mereka disatukan hanya berjumlah 1411 hadits.

Banyak diantara tabi'in yang mencapai faqahah (kefaqihan) begitu rupa sehingga sahabat (sic!) berguru pada mereka. baik secara politik maupun administratif dalam pemerintahan.(bersambung 3/10) Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah Editor: Budhy Munawar-Rachman Penerbit Yayasan Paramadina Jln. Bila ada masalah baru yang tidak terdapat pada kedua hal tersebut. hanya sedikit para sahabat yang meninggalkan Madinah. yakni mereka yang berguru pada sahabat. UA 20-21 Jakarta Selatan Telp.22. mereka melakukan ijtihad seperti atau dengan metode yang dilakukan para sahabat. Kedua. karena itu. tidak banyak. Pertama. kecuali yang diizinkan keluar oleh Umar. umumaya fiqh mawali. dan Abdullah ibn Amr. Dalam kaitan ini. Abu Hurairah. Dalam pada itu. bahkan sedikit sekali sahabat yang keluar dari Madinah. seperti Abdullah bin Mas'ud. . ketika kekuasaan Islam meluas. Abu Zahrah menulis: [52] -------------------------------------------.Karena itu. TINJAUAN KRITIS ATAS SEJARAH FIQH (3/10) Dari Fiqh Al-Khulafa' Al-Rasyidin Hingga Madzhab Liberalisme oleh Jalaluddin Rakhmat Sebenarnya. Sahabat yang terkenal punya banyak murid adalah Ibn Mas'ud di Iraq. Baru ketika Utsman memerintah. Zaid ibn Tsabit dan lain-lain di Madinah. para tabi'in. murid-murid sahabat itu para mawali (non Arab). (021) 7501969. sebelum Dinasti Umayyah berkuasa. Abu Musa al-Asy'ari. mengapa Anda tinggalkan sahabat dan mendatangi 'Alqamah. Ayahku menjawab Aku menemukan sahabat-sahabat Nabi bertanya kepada 'Alqamah dan meminta fatwanya. Yang keluar kebanyakan bukan fuqaha. umumnya bukanlah murid al-Khulafa al-Rasyidin. Abdullah ibn 'Umar serta ayahnya Al-Faroq. Kebanyakan. Umar bin Khatab menahan para sahabat senior di Madinah dan melarang mereka meninggalkan kota itu. Qabus ibn Abi Zhabiyan berkata: Aku tanya ayahku. Fiqh tabi'in. mereka diizinkan keluar. para tabi'in mengumpulkan dua hal: Hadits-hadits Nabi saw dan pendapat-pendapat para sahabat (aqwal al-shahabat). Juga bukan sahabat senior. (021) 7507174 Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota Please direct any suggestion to Media Team Artikel Yayasan Paramadina Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota IV. 7501983. Metro Pondok Indah Pondok Indah Plaza I Kav. Ka'ab al-Ahbar sering dimintai fatwa oleh Ibn Abbas. dan lain-lain. menurut Abu Zahrah. ia mempertimbangkan alasan-alasan. 'Alqamah dan Ka'ab keduanya tabi'in. 7507173 Fax. 'Umar ingin mengambil manfaat dari pendapat mereka. Dari sahabat.

jadikanlah laknat dan kecaman itu kesucian dan rahmat baginya. al-Thabari meriwayatkan ucapan Nabi saw tentang Ali: "Inilah washihu dan khalifahku untuk kamu". Isi surat ini secara lengkap dimuat dalam Kitab Shiffin dari Nashr bin Mazahim (wafat 212 H) dan Muruj al-Dzahab tulisan al-Mas'udi (wafat 246 H)." Ibn Atsir dalam Al-Bidayah wa al-Nihayah juga menghilangkan kedua surat itu dengan mengemukakan alasan yang sama. kecaman kepada Mu'awiyah dan Marwan tidak diketahui. "hadits apa yang harus aku keluarkan kecuali ucapan Nabi. Al-Qasim ibn Muhammad ibn Abu Bakar (Wafat 108 H). Al-Thabari (wafat 310 H) melaporkan peristiwa itu dengan menunjuk kedua kitab di atas sebagai sumber. [56] Bagaimana mungkin laknat Nabi menjadi . antara lain sebagai berikut. dan 'Ikrimah mawla Ibn Abbas. Al-Syu'bi. Dalam tarikhnya. Shahih Bukhari menghilangkan ucapan Abd al-Rahman dengan mengatakan faqaala 'Abd al-Rahman ibn 'Abi Bakar syai'an (Abd al-Rahman mengatakan sesuatu). [53] Dengan cara itu. semoga Allah tidak mengenyangkan perut Mu'awiyah". ketika al-Nasai diminta meriwayatkan keutamaan Mu'awiyah. Abidullah ibn Abdillah (wafat 99 H). Mu'awiyah pun mengakuinya. Al-Dzahabi ketika meriwayatkan biografi Al-Nasai menulis. membuang seluruh berita tentang sahabat dengan petunjuk adanya penghilangan itu. ia meminta rakyat untuk membaiat Yazid. Abd al-Rahman ibn Abu Bakar memprotes Marwan sambil berkata. Pertama. Ibrahim al-Nakh'i.Ada tujuh orang faqih tabi'in yang terkenal (al-fuqaha al-sab'ah): Sa'id ibn Musayyab (wafat 93 H). memberikan makna lain (ta'wil) pada hadits. 'Aisyah menolak asbab al-nuzul ini. [55] Ketiga. Abu Bakar ibn 'Abid (wafat 94 H). saudaranya. ia berkata. Kehormatan Khalifah dan Gubernurnya terpelihara. Kata-kata ini dalam Tafsir al-Thabari dan Ibn Katsir diganti dengan: wa kadza wa kadza (demikianlah-demikianlah). Marwan marah dan menyuruh orang menangkap Abd al-Rahman. "Kalian menginginkan kekuasaan ini seperti kekuasaan Heraclius!". Ketika Marwan menjadi Gubernur Mu'awiyah di Hijaz. Muhammad ibn Abu Bakar menulis surat kepada Mu'awiyah menjelaskaan keutamaan Ali sebagai washi Nabi saw. Di samping mereka ada 'Atha ibn Abi Rabah. membuang sebagian isi hadits dan menggantinya dengan kata-kata yang tidak jelas. siapa yang aku laknat atau aku kecam. Hamad ibn Abu Sulayman Salim mawla Ibn Umar. BUKTI-BUKTI MANIPULASI HADITS Di sini tidak ditunjukkan manipulasi hadits kecuali seperti tampak pada kitab-kitab hadits yang ada sekarang. Ia lari ke kamar 'Aisyah ra. Sulayman ibn Yasar (wafat 100 H) dan Kharijah ibn Zaid ibn Tsabit (wafat?). Marwan berkata: Ayat al-Qur'an: alladzi qala liwalidaihi uffin lakum turun tentang Abd al-Rahman. 'Urwah ibn al-Zubair (wafat 94 H). Contoh-contoh yang diberikan di sini difokuskan pada manipulasi yang diduga beralasan politis. Dari situ paling tidak kita melihat petunjuk (indikator) manipulasi hadits pada zaman tabi'in. Kata Al-Dzahabi: Barangkali yang dimaksudkan dengan keutamaan Mu'awiyah ini adalah ucapan Nabi saw: Ya Allah. Tetapi ia membuang semua isi surat itu dengan alasan "supaya orang banyak tidak resah mendengarkannya. Tentu saja kata "washi"dan "khalifah" mempunyai konotasi yang sangat jelas. Ada beberapa cara manipulasi hadits. [54] Kedua.

maafkanlah aku untuk tidak berbicara. ya Amir al-Mu'minin. Dalam Ibn Ishaq diriwayatkan Nabi saw berkata. Pada bukunya. wallahu a'lam. Ia membenci Al-Harits karena kecintaannya yang berlebihan pada Ali dan mengutamakan Ali di atas sahabat yang lain. Ia menganggap riwayat itu sebagai dusta. ucapan Nabi saw ini dihilangkan sama sekali. Keempat. washiku dan Khalifahku untuk kamu. Ibn Katsir mendha'ifkan riwayat Nabi tentang Ali sebagai Washi. tetapi Bukhari dan Muslim memang meriwayatkan hadits ini. cetakan pertama. Al-Thabrani memberi komentar: Ia menjadikan washi untuk keluarganya. dan umat teradil. [69] Ia lupa bahwa hadits ini diriwayatkan dari banyak sahabat Nabi oleh Imam Ahmad.kesucian dan rahmat. salah seorang pendusta. Andalah tonggak agama. aku tawassul padamu dengan Allah swt dan aku meminta tolong padamu dengan Muhammad saw dan dengan kekeluargaanmu padanya. Karena itu. ia mengundang Malik ibn Anas. Ia berkata: menyampaikan padaku Al-Harits. atau orang-orang yang bodoh dalam ilmu hadits. Ibn Sam'an dan Ibn Abi Dzuaib. orang yang paling baik. washiku. Beberapa tabi'in juga melarang penulisan hadits. Berkenaan dengan ini bagian "Fiqh al-Khulafa' al-Rasyidin" di atas. Anda perangi musuh. Al-Syu'bi meriwayatkan hadits dari Al-Harits al-Hamdani. Al-Thabari. [57] Al-Thabrani dalam Majma' al-Zawaid meriwayatkan ucapan Rasulullah saw kepada Salman bahwa Ali adalah washi-nya. Keenam. Abu Nu'aim al-Isbahani." Kemudian al-Manshur melirik Ibn Abi Dzuaib. Kelima. yang dibuat-buat oleh orang Syi'ah. Ibn Abd al-Barr mengomentari ucapan al-Syu'bi: Ia tidak menjelaskan apa alasan dusta untuk Al-Harits." [58] Belakangan ini Muhammad Husayn Haykal. Kemudian ia melirik kepada Ibn Sam'an: "Bagaimana pendapat kamu?" Kata Ibn Sam'an: "Anda. "Bagaimana pendapat kalian tentang diriku? Apakah aku pemimpin adil atau zalim?" Malik bin Anas berkata: "Ya Amiral Mu'minin. bukan untuk Khalifah. Di antara yang dibuang itu adalah kisah "wa andzir 'asyirataka al-aqrabin". mendha'ifkan hadits-hadits yang mengurangi kehormatan penguasa atau yang menunjang keutamaan lawan. Setelah berbicara panjang. kata al-Manshur. kata Ibn Hisyam dalam pengantarnya. Anda berikan keamanan di jalan. "Atas nama Allah . Anda berhaji ke Baitullah. Ibnu 'Asakir dan lain-lain." "Aku maafkan Anda". Ibn Hisyam mendasarkan tarikhnya pada tarikh Ibn Ishaq. membuang sebagian isi hadits tanpa menyebutkan petunjuk ke situ atau alasan. Al-Thabrani. Demi Allah. Khalifah bertanya. cetakan kedua (Tahun 1354). dalam Hayat Muhammad melakukan hal yang sama. "Inilah saudaraku. Lahirnya Madzhab-madzhab Fiqh Ketika al-Manshur baru saja diangkat menjadi khalifah. ia mengutip ucapan Nabi: Siapa yang akan membantuku dalam urusan ini supaya menjadi saudaraku. Al-Syuibi mengutamakan Abu Bakar. Ia dikawal para prajurit dengan pedang-pedang terhunus. melarang penulisan hadits Nabi saw. Al-Syu'bi mendustakan Al-Harits. Pada Hayat Muhammad. Anda lindungi orang yang lemah supaya tidak dimakan yang kuat. demi Allah. "Tetapi aku tinggalkan sebagian riwayat Ibn Ishaq yang jelek bila disebut orang". 3. dan khalifahku untuk kamu. dan bahwa Abu Bakar adalah orang yang pertama masuk Islam. orang terbaik.

Dalam tulisan ini kita akan mencatat beberapa orang tokoh madzhab yang terlupakan. dan kepada setiap wilayah kaum Muslim saya kirim satu naskah. demi Allah. Ia lebih berani. menunjukkan posisi Malik ibn Anas dibandingkan ulama yang sezaman dengannya. Sejarah memang hanya memihak yang menang. Ia pun hampir tidak dikenal kecuali pada kalangan pengikutnya saja." Begitu pula. yaitu saya salin. madzhab-madzhab itu akhirnya hilang dari catatan sejarah. Anda manusia terjahat. adalah seorang alim yang terkenal faqih dan wara. Aku tidak pernah melihatnya kecuali dalam salah satu di antara tiga keadaan: sedang shalat. Masih sezaman dengan Malik dan bahkan Malik pernah berguru kepadanya." Peristiwa di atas. Menurut al-Dahlawi. aku lihat pedang dan itu berarti kematian. sedang puasa. Malik berkata tentang Ja'far: "Aku pernah berguru pada Ja'far bin Muhammad beberapa waktu." Sifat terakhir ini justru menyebabkan Ja'far tidak disenangi penguasa. di samping Malik. Pada akhir bagian ini kita akan membicarakan "pokok dan tokoh" madzhab yang masih memiliki banyak pengikut sampai sekarang. Anda merampas harta Allah. Namun sekarang hampir tidak ada orang yang mengenalnya. Seperti akan kita uraikan nanti. nama lengRapnya Abu al-Harit Muhammad ibn Abd al-Rahman ibn al-Mughirah ibn Dzuaib al-'Amiri. dengan para pengikut yang tersebar di berbagai bagian dunia Islam. Ibn Dzuaib adalah orang yang membukukan hadits di Madinah. ketika Harun al-Rasyid berkuasa. dan ia termasuk ulama yang taat beribadah. Ibn Dzuaib. Imam Malik menjadi terkemuka setelah al-Manshur memberikan segala kehormatan kepadanya. Anda hancurkan yang lemah. ia bermusyawarah dengan Malik untuk menggantungkan al-Muwaththa pada Ka'bah dan memerintahkan orang untuk beramal menurut Kitab itu. dan bagian keluarga Rasul. Ja'far al-Shadiq. serta saya instruksikan agar mereka mengamalkan isinya sehingga mereka tidak mengambil yang lain. Apa alasanmu di hadapan Allah nanti?" "Celaka kamu. atau sedang membaca al-Qur'an. namanya hampir tidak pernah disebut dalam buku-buku tarikh. al-Manshur berkata kepada Malik: "Saya punya rencana untuk memperbanyak kitab yang kau susun ini. Malik bin Anas kelak terkenal sebagai pendiri madzhab Maliki. Fiqhnya "dicurigai" dan para pengamalnya dianiaya. . tetapi karena tidak didukung penguasa. Ketika naik haji. Tapi sebelum itu. Walau Malik menolak rencana kedua khalifah itu. anak yatim. "Benar. Anda tahan harta mereka. dan boleh jadi lebih faqih dari Malik. Anda persulit orang yang kuat. yang dikisahkan Ibn Qutaybah.bagaimana pendapatmu tentang diriku?" Yang ditanya menjawab. kita akan meninjau latar belakang historis dari tumbuhnya madzhab-madzhab fiqh. Ia tak bicara sesuatu yang tak manfaat. tidakkah kamu lihat apa yang ada dihadapanmu?" kata al-Manshur. Ibn Abi Dzuaib. zuhud. Fame bestows no favors upon the losers. adalah faqih dari keluarga Rasulullah saw. sebetulnya banyak madzhab muncul. kita tahu bahwa Malik didukung para penguasa. Bagiku sama saja apakah mati itu dipercepat atau diperlambat. dan orang miskin. tentu saja tidak dikenal. Tidak pernah aku lihat ia meriwayatkan hadits dari Rasulullah kecuali dalam keadaan suci. RasulNya. yang hanya takut kepada Allah saja. "Menurut pendapatku. Tapi.

maka yang dimaksud adalah madzhab di kalangan sahabat Nabi: Madzhab Umar. Ummi Salamah. Yaitu ahl al-Bayt dan para pengikutnya. memandang sunnah Rasulullah. Yang pertama. Pada zaman kekuasaan dinasti Umawiyyah. Ibn Umar. Karena tekanan dan penindasan. Umar.(bersambung 4/10) Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah Editor: Budhy Munawar-Rachman Penerbit Yayasan Paramadina Jln. masuk kelompok pertama. dan sedapat mungkin menghindari ra'yu dalam menetapkan hukum. Hanafi. Abu Rafi Mawla Rasulullah. Ibn Abbas. Aisyah. Murtadha al-'Askary menyebut dua madzhab awal ini sebagai Madrasah al-Khulafa dan Madrasah Ahl al-Bayt. Utsman. Kemaslahatan berbeda dengan mereka dalam rangka menjauhi dan menentang mereka lebih besar dari kemaslahatan mengamalkan yang musthab itu. Abu Hurairah dan lain-lain masuk kelompok kedua. al-Sunnah dan Ijtihad para sahabat. Ali dan sebagainya. Ibn Taymiyyah menulis perihal tasyabbuh dengan syiah: "Dari sinilah para fuqaha berpendapat untuk meninggalkan al-mustahabbat (yang sunat) bila sudah menjadi syiar orang-orang Syi'ah. Hudzaifah. Pada zaman sebelum itu. Miqdad. dan melakukan istinbath hukum. Tidak jarang sunnah Rasulullah yang sahih ditinggalkan karena sunnah itu dipertahankan dengan teguh oleh para pengikut ahl al-Bayt. dan sebagainya. 'Ammar bin Yasir. Inilah yang paling kuat menurut madzhab Syaf'i. bila orang berbicara tentang madzhab. dan Hanbali-. melandaskan fiqhnya pada al-Qur'an. juga para sahabat di luar ahl al-Bayt. madrasah al-Khulafa bercabang lagi ke dalam dua cabang besar: Madrasah al-Hadits dan Madrasah al-Ra'y. Karena walaupun meninggalkannya tidak wajib menampakkannya berarti menyerupai (tasyabbuh) mereka. Sedangkan Abu Bakar.tumbuh pada zaman kekuasaan dinasti Abbasiyah. berpusat di Iraq. berpusat di Madinah." Salah satu contoh sunnah yang dijauhi orang adalah tasthih seperti diceritakan oleh Muhamamd bin 'Abd al-Rahma yang berkata: "Yang sunnah dalam membuat kubur adalah meratakan permukaan kubur (tasthith). Ibn Qutaybah dalam Kitab al-Ikhtilaf menceritakan bagaimana raja-raja Umawiyyat berusaha menghapuskan tradisi ahl al-Bayt dengan mengutuk Ali bin Abi Thalib di mimbar-mimbar. Ali dan kedua puteranya. dan mengeluarkan fatwa yang bertentangan dengan ahl al-Bayt. membunuh para pengikut setianya. Syafi'i. "Tapi Abu Hanifah dan Ahmad berkata: "Menaikkan permukaan kubur (tasnim) lebih baik. Madrasah ahl al-Bayt tumbuh "di bawah tanah" mengikuti para imam mereka. sedikit menggunakan hadits dan lebih banyak berpijak pada penalaran rasional dengan melihat sebab hukum (illat) dan tujuan syara' (maqashid syar'iyyah). Sementara itu. karena tasthih sudah menjadi syi'ar sy'iah. Kedua madrasah ini berbeda dalam menafsirkan al-Qur'an.SEJARAH PEMBENTUKAN MADZHAB Kelima Madzhab yang akan kita bicarakan -Ja'fari. Aisyah. Yang kedua. Metro Pondok Indah . Abu Dzarr. Para sahabat dapat dikelompokkan dalam dua besar. mereka mengembangkan esoterisme dan disimulasi untuk memelihara fiqh mereka. Maliki. sehingga sunni tidak berbeda dengan syi'ah." -------------------------------------------.

Di Afrika. Dinasti Abbasiyah disambut dengan penuh antusias baik oleh mawali maupun pengikut ahl al-Bayt. diangkat menjadi qadhi dalam pemerintahan tiga khalifah Abbasiyah: al-Mahdi. Banyak tokoh sahabat dan tabi'in yang menganggap daulat Umawiyyah ditegakkan di atas dasar yang batil. madrasah-madrasah itu tidak melahirkan pemikiran-pemikiran madzhab. al-Mu'iz Badis mewajibkan seluruh penduduk untuk mengikuti madzhab Maliki. sedangkan pusat-pusat ilmiah berada di Iraq dan Hijaz. Dinasti Umawiyah memisahkan Arab dan mawali. Madzhab Maliki berkembang di khilafah Timur atas dukungan al-Manshur dan di khilafah Barat atas dukungan Yahya bin Yahya ketika diangkat menjadi qadhi oleh para khalifah Andalusia. Al-Kharaj adalah Kitab yang disusun atas permintaan al-Rasyid. UA 20-21 Jakarta Selatan Telp. (021) 7507174 Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota Please direct any suggestion to Media Team Artikel Yayasan Paramadina Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota IV. TINJAUAN KRITIS ATAS SEJARAH FIQH (4/10) Dari Fiqh Al-Khulafa' Al-Rasyidin Hingga Madzhab Liberalisme oleh Jalaluddin Rakhmat Pada periode Umawiyyah. dan al-Rasyid. 7507173 Fax. Waktu itu al-Mutawakkil tidak mengangkat seorang qadhi kecuali dengan persetujuan Imam Ahmad ibn Hanbal. murid Abu Hanifah.Pondok Indah Plaza I Kav. . Banyak di antara mereka adalah para sarjana dalam berbagai disiplin ilmu. bahwa madzhab-madzhab besar yang kita kenal sekarang --kecuali mazhab Ja'fari-. Para khalifah banyak melakukan hal-hal yang melanggar sunnah Rasulullah saw b) Terputusnya hubungan antara pusat khilafah dengan pusat ilmiah. Waktu itu.22. Keduanya mengembangkan ajaran mereka pada zaman Abbasiyah. Dr.yang justru lebih banyak pada daerah kekuasaan Islam. Kitab ini adalah rujukan utama madzhab Hanafi. Madzhab Syafi'i membesar di Mesir ketika Shalahuddin al-Ayyubi merebut negeri itu. Madzhab Hanbali menjadi kuat pada masa pemerintahan al-Mutawakkil. Muhammad Farouq al-Nabhan menjelaskan sebab-sebab berikut: a) Hubungan yang buruk antara ulama dan khulafa. Kebijakan ini menyebabkan timbulnya rasa tidak senang pada para mawali .membesar karena dukungan penguasa. c) Politik diskriminasi yang mengistimewakan orang Arab di atas orang bukan Arab. Karena itu pada permulaan pemerintahannya. Madzhab Hanafi mulai berkembang ketika Abu Yusuf. pusat pemerintahan berada di Syam. Di antara mawali itu adalah Abu Hanafi dan di antara imam ahl al-Bayt adalah Ja'far bin Muhammad. al-Hadi. 7501983. (021) 7501969. IMAM-IMAM MADZHAB YANG TERLUPAKAN Sudah disebutkan di muka.

Madzhab al-Thabary. Bila para pengikut madzhab itu lemah dan tidak memperoleh posisi sebagai hakim dan tidak berwewenang memberi fatwa. Abu Ishaq dan lain-lain. Di antara yang mengambil riwayat dari padanya adalah Syafi'i. Salah seorang muridnya yang masyhur adalah Ibn Hazm. Madzhab al-Tsawri. Ia berguru pada Ja'far al-Shadiq dan meriwayatkan banyak hadits. Lahir di Kufah tahun 65 H dan wafat di Bashrah tahun 161 H." Beberapa madzhab sebagai berikut: yang hilang itu secara singkat diuraikan 1. 5. ketika Ahmad menyebut dirinya hanya sebagai ahli hadits. hilanglah ilmu Hijaz. 4. Ia memberi komentar: "Seandainya tidak ada Malik dan Ibn 'Uyaiynah. Pahamnya diikuti orang sampai abad IV Hijrah. Dengan begitu. yang nasikh dan yang mansukh dan paham akan pendapat para sahabat. Imam Ahmad menyebutnya sebagai seorang faqih. tersebarlah madzhabnya di seluruh penjuru bumi. ia melarikan diri dan meninggal di tempat pelarian. Malik dan al-Tsawry) yang paling benar? Malik berkata: "Al-Awza'iy. al-Awza'iy. Ayahnya termasuk perawi hadits yang ditsiqatkan Ibn Ma'in. dan tulisan mereka terkenal di masyarakat. Tokoh madzhab ini adalah Abu Abd Allah Sufyan bin Masruq al-Tsawry. Ia termasuk mujtahid ahl al sunnah yang tidak bertaklid kepada siapa pun. Ia diberi gelar al-Zhahiry karena berpegang secara . Ia mengambil ilmu dari Imam Ja'far. lalu orang mempelajari madzhab itu terang-terangan. Abu Ja'far Muhammad ibn Jarir ibn Yazid ibn Khalid ibn Ghalib al-Thabary lahir di Thabaristan 224 H dan wafat di Baghdad 310 H. tetapi ia berhasil lolos. mengetahui betul makna al-Qur'an. Madzhab al-Zhahiry. Madzhab al-Awza'iy. Madzhabnya diamalkan orang sampai abad IV. 2. 3. mengetahui sunnah dan jalan-jalannya. Nama lengkapnya Abu Muhammad Sufyan ibn 'Uyaiynah wafat tahun 198 H. dapat membedakan yang sahih dan yang lemah. al-Zuhry. Madzhabnya berkembang sampai abad VII. Ibn Dinar. Ia sangat dekat dengan Bani Umayyah dan juga Bani Abbas. Tidak diketahui sampai kapan madzhabnya diikuti orang.Dalam menyimpulkan semua ini. Madzhab Ibn 'Uyaiynah. Lalu madzhab itu pun hilang setelah beberapa lama. Abu Sulayman Dawud ibn 'Ali dilahirkan di Kufah tahun 202 H dan hidup di Baghdad sampai tahun 270 H. Berkali-kali al-Manshur mau membunuhnya. Pendirinya Abd al-Rahman bin Amr al-Awza'iy adalah imam penduduk Syam. Syah Wali al-Dahlawi menulis: "Bila pengikut suatu madzhab menjadi masyhur dan diberi wewenang untuk menetapkan keputusan hukum dan memberikan fatwa. Ketika ia diminta menjadi qadhi. Ia faqih. Madzhabnya tersisihkan hanya ketika Muhammad bin Utsman dijadikan qadhi di Damaskus dan memutuskan hukum menurut Madzhab Syafi'i Ketika Malik ditanya tentang siapa di antara yang empat (Abu Hanifah. maka orang tak ingin mempelajari madzhabnya. Kata Ibn Khuzaymah: Ia hafal dan paham al-Qur'an." Mazhabnya diamalkan orang sampai tahun 302 H. tetapi setelah itu hilang karena tidak ada dukungan penguasa.

Karena riwayat hidup mereka sudah disebutkan di atas --kecuali Imam Ja'far-. al-Tsawry. Ia sempat menyaksikan kekejaman al-Hajjaj. Bila mereka melihat ada pejabat yang memuji Bani 'Ali. ia diasuh oleh ayahnya Muhammad al-Baqir dan hidup bersama selama sembilan belas tahun." . Imam Ja'far memusatkan perhatiannya pada penyebaran sunnah Rasulullah dan peningkatan ilmu dan akhlak kaum Muslim. Fadhail ibn Iyadh. Inilah sebagian di antara tokoh-tokoh madzhab yang tidak lagi dianut secara resmi sekarang ini. Pokok-pokok pikirannya dalam fiqh akan kita perkenalkan secara singkat. Mereka selalu cemas menghadapi mereka.di sini hanya disebutkan beberapa catatan kecil saja. kita tuliskan percakapannya dengan muridnya selama dua tahun seperti diceritakan Abu Nu'aim: Abu Hanifah. "Benar. pemberontakan Zaid ibn Ali. Ibn 'Uyaiynah. bila para penguasa 'Abbasiyah melihat ada dakwah 'Alawi. Orang-orang yang menentang mereka semuanya berasal dari 'Alawiyyin. Ia juga menyaksikan naiknya al-Saffah dan al-Manshur dengan memanipulasikan kecintaan orang pada ahl al-Bayt. Ibn Syabramah. Selama lima belas tahun ia tinggal bersama kakeknya. Mereka tak perduli membunuh orang tak berdosa karena dianggap mengancam pemerintahannya. Kaum 'Alawi menunjukkan nasab seperti mereka dan memiliki kekerabatan dengan Rasulullah yang tidak dimililki 'Abbasiy. Untuk mengetahui pemikiran Imam Ja'far dalam hal fiqh. "Bukankah ia suka melakukan qiyas dalam urusan agama?. Syu'bah ibn al-Hajjaj. Ia berkembang di daerah Maroko. Setelah Ali wafat. IMAM JA'FAR IBN MUHAMMAD AL-SHIDIQ (82-140 H) Ja'far ibn Muhammad ibn Ali ibn Husain (ibn Ali) ibn Fathimah binti Rasulullah saw lahir di Madinah tahun 82 H pada masa pemerintah Abd al-Malik ibn Marwan. ketika Ya'qub ibn Yusuf ibn Abd al-Mu'min meninggalkan mazhab Maliki dan mengumumkan perpindahannya ke madzhab al-Zhahiry. Ia menanyakan Ibn Abi Layla tentang kawannya. Berikut adalah para pemuka madzhab yang terkenal. Dalam suasana seperti itulah. mereka segera mengucilkannya atau membunuhnya." tanya Ja'far. dan ribuan para perawi. Abu Hanifah. Karena itu." Ja'far bertanya kepada Abu Hanffah: "Siapa namamu?" "Nu'man. mereka segera menghukumnya.harfiah pada teks-teks nash. dan Ibn Abi Layla menghadap Imam Ja'far. dan penindasan terhadap para pengikut madrasah ahl al-Bayt. yang kemudian dijawab Ia orang pintar dan mengetahui agama. Ia juga menyaksikan bahwa para khalifah Abbasiyah tidak lebih baik dari para khalifah Umawiyah dalam kebenciannya kepada keluarga Rasul. Ali Zainal Abidin keturunan Rasul yang selamat dari pembantaian di Karbela. Di antara murid-muridnya adalah Imam Malik. Abu Zahrah menulis: Dinasti 'Abbasiyah selalu merasa terancam dalam kekuasaannya oleh para pengikut Ali.

Tugas mujtahid adalah mengeluarkan dari al-Qur'an jawaban-jawaban umum untuk masalah-masalah yang khusus. Bertaqwalah kepada Allah dan jangan melakukan qiyas dalam agama." Dari percakapan di atas kita melihat perbedaan pendekatan hukum di antara dua pemuka madzhab. Qiyas hanya dipergunakan bila 'illat-nya manshush (terdapat dalam nash). penulis biografi Abu Hanifah. Mereka tidak mau menjadikan hujjah hadits-hadits yang diriwayatkan para sahabat yang memusuhi ahl al-Bayt. Ia menentang setiap kezaliman. al-Sunnah dan akal. digunakan akal berdasarkan kaidah-kaidah tertentu. penafsiran al-Qur'an yang paling absah adalah yang berasal dari mereka." Sikap Abu Hanifah itu." "Mana yang lebih besar kewajibannya ." kata Ja'far sambil mengajukan berbagai pertanyaan yang tidak bisa dijawab Abu "Hai Nu'man. ia melihat bahwa khalifah haruslah diserahkan pada keturunan Ali dari Fathimah. IMAM ABU HANIFAH Abu Hanifah terkenal sebagai alim yang teguh pendirian. ditambah hasutan Ibn Abi Layla." "Lalu. Begitu pula. ayahku memberitahukan kepadaku dari kakekku bahwa Nabi saw bersabda: Orang yang pertama menggunakan qiyas dalam agama adalah iblis. Termasuk ke dalam sunnah adalah sunnah ahl al-Bayt: yakni para imam yang ma'shum. Barang siapa yang menggiyas dalam agama. Abu Zahrah. c) Al-Qur'an dipandang telah lengkap menjawab seluruh persoalan agama. dan bahwa para khalifah yang sezaman dengan mereka telah merampas haknya dan karena itu mereka zalim. ketika Imam Zayd melawan penguasa. mengapa Allah hanya menuntut dua orang saksi untuk pembunuhan dan empat orang saksi untuk zinah. Ketika Muhammad dan Ibrahim dari ahl al-Bayt memberontak. Abu Hanifah berbay'at kepadanya. menulis: "Sesungguhnya Abu Hanifah itu Syi'ah dalam kecenderungan dan pendapatnya tentang penguasa di zamannya. selain menolak qiyas adalah hal-hal berikut: a) Sumber-sumber syar'iy adalah al-Qur'an."Aku tidak melihat Anda menguasai sedikit pun. b) Istihsan tidak boleh dipergunakan. Karena ketika Allah menyuruhnya bersujud kepada Adam ia berdalih: Aku lebih baik dari dia karena aku Kau buat dari api dan ia Kau buat dari tanah. . Pada hal-hal yang tak terdapat ketentuan nashnya. Allah akan menyertakannya bersama iblis. Beberapa kali ia mengkritik al-Manshur secara terbuka. Abu Hanifah mendukungnya.membunuh atau berzinah? "Membunuh.shalat atau shawm (puasa)?" "Shalat" "Mengapa wanita yang haidh harus mengqadha shawmnya tetapi tidak harus mengqadha shalatnya. Karena Rasulullah dan para imam adalah orang yang mengetahui rahasia-rahasia al-Qur'an. karena ia mengikutinya dengan qiyas. Manakah yang lebih besar dosanya . Bagaimana kamu menggunakan qiyasmu. Di antara karakteristik khas dari madzhab Ja'fari. Yakni.

yang pernah berguru pada Malik dan kemudian menggabungkan madrasah hadits dengan madrasah Ra'y. Aku tidak keluar dari pendapat sahabat kepada pendapat yang lain.mengeluarkan fatwa yang tidak dikehendaki penguasa.menimbulkan kemarahan Al-Manshur. yaitu dengan menggunakan qiyas dan istihsan. (021) 7501969. karena diberi makanan beracun. Lalu ia menjebak Abu Hanifah dengan jabatan qadhi. 7501983. Muhammad ibn Hasan al-Syaybany. Ketika Abu Hanifah menolaknya. dan pendapat para sahabat.22. mereka berijtihad dan aku pun berijtihad. (021) 7507174 Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota Please direct any suggestion to Media Team Artikel Yayasan Paramadina Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota IV. al-Sunnah. c) Al-A'raf. -------------------------------------------. Ia mengakhiri hidupnya. dan Zafr ibn al-Hudzail. yang sangat ekstrem menggunakan qiyas. Setelah itu. terutama dalam masalah perdagangan. Abu Hanifah bahkan mengarqurkan beramal dengan 'urif.". Bila tidak. yang kemudian menjadi qadhi dan banyak memasukkan hadits dalam kitab-kitabnya. "Aku mengambil dari al-Kitab. Ia --menurut satu riwayat-. UA 20-21 Jakarta Selatan Telp. yakni adat kebiasaan yang tidak bertentangan dengan nash. aku ambil Sunnah Rasulullah dan hadits-hadits yang sahih. 7507173 Fax. Bila sudah sampai pada tabi'in. Metro Pondok Indah Pondok Indah Plaza I Kav. di samping ingin berusaha memanfaatkan alim besar ini. al-Manshur merasa bersalah. ijma. ia dicambuk sepuluh lecutan. menurut satu riwayat. b) Sumber-sumber ijtihadiyah. Tapi karena kedudukan Abu Hanifah di masyarakat. yang disampaikan oleh orang-orang yang dapat dipercaya. aku mengambil pendapat para sahabat yang aku kehendaki dan meninggalkan yang tidak aku kehendaki. Ia tidak mungkin menarik Ja'far dan tidak berhasil . TINJAUAN KRITIS ATAS SEJARAH FIQH (5/10) Dari Fiqh Al-Khulafa' Al-Rasyidin Hingga Madzhab Liberalisme oleh Jalaluddin Rakhmat IMAM MALIK Pada zaman kekuasaan Ja'far ibn Sulayman tahun 146 H Malik dihukum cambuk. Di antaranya Abu Yusuf. ia dipenjarakan. yang meliputi al-Qur'an. Pokok fiqih madzhab Hanafi bersumber pada tiga hal: a) Sumber-sumber naqliyah. Abu Hanifah berkata.(bersambung 5/10) Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah Editor: Budhy Munawar-Rachman Penerbit Yayasan Paramadina Jln. jika aku dapatkan di dalamnya. Setiap hari. Abu Hanifah meninggalkan banyak murid. Al-Mansur tak dapat membunuhnya tanpa alasan. Jika tidak aku dapatkan dalam al-Kitab dan Sunnah Rasulullah.

" Seusai shalat. f) Istihsan. Ia mengembalikan kedua kitab itu sambil berkata. mafhum-nya dan illat-nya. Bila zhahirnya sunnah bertentangan dengan al-Qur'an.mengambil hati Abu Hanifah. Al-Manshur pada musim haji 153 H. IMAM SYAFI'I Pokok-pokok fiqh Syafi'i ada lima: a) Al-Qur'an dan al-Sunnah. Madzhab Maliki mendasarkan fiqhnya pada 12 pokok: a) Al-Qur'an: zhahirnya. Anas ibn Malik dan banyak sahabat lainnya melakukan shalat jamak (bukan karena bepergian). . b) Al-Sunnah: al-mutawatirah dan al-masyhurah. "Tidak benar. ijma' mutaakhir: masing-masing dengan kekuatan hukum yang berbeda. d) Ikhtilaf sahabat Nabi. kata pemuda itu. Ia memberikan wewenang besar pada Malik untuk mengangkat dan memberhentikan para pejabat yang dipandangnya tidak mampu. "Ini khusus untuk Rasulullah saw. e) Qiyas. d) Hadits mursal dan dha'if. i) Mura'at khilaf al-mujtahidin. c) Pendapat sahabat yang tidak ada yang menentangnya. d) Fatwa sahabat." Catatan kecil di atas menunjukkan kekuasaan Malik. Pemuda itu mengeluarkan kedua kitab shahih tersebut dan memintanya membaca hadits-hadits tentang shalat jamak. dalil-nya. Muhammad al-Tijani al-Samawi bercerita tentang kisah fanatisme di kota Qafsah. Bila engkau sudah menjadi Rasul Allah bolehlah engkau melakukannya. g) Mashalih mursalah. Tunisia. h) Sadd al-Dzara'i." kata sang imam. Mereka menyalahi al-Qur'an yang menyatakan bahwa shalat itu bagi kaum Mukmin kewajiban yang ditetapkan waktunya. STAGNASI PEMIKIRAN FIQH: MASA KETERTUTUPAN Dr. e) Khabar Ahad dan Qiyas. meminta maaf kepada Malik atas perlakukan salah seorang penguasanya. b) al-Ijma'. c) Ikhtilaf sahabat. IMAM HANBALI Pokok-pokok fiqh madzhab Hanbali: a) Al-Nushush. Malik memukul orang itu dan memenjarakannya Ketika seorang bertanya: "Bagaimana pendapat Anda tentang orang yang berpendapat bahwa al-Qur'an itu makhluk?. Malik menjadi sangat berwibawa. ijma' secara naql. k) Syar'man qablana. 4. didahulukan al-sunnah. karena wibawa Malik." Orang itu berkata: "Bukan aku yang berkata begitu. Ketika ia membacanya. Aku hanya melaporkan ucapan orang lain." Pemuda itu bermaksud menunjukkan bahwa Ibn Abbas. bunuh dia. c) Ijma' penduduk Madinah. "Mereka membawa agama baru yang bukan agama Muhammad saw." Malik memanggil pengawalnya: "Ia zindiq. Ia juga boleh menghukum mati atau memenjarakan yang dipandangnya bersalah. Ketika seorang murid membantah Malik perihal penguburan rambut dan kuku. e) Qiyas. Karena wewenangnya ini. Tetapi shalat jamak ini terdapat dalam kitab hadits shahih Bukhari dan Muslim. seorang pemuda menanyakan lagi perihal shalat jamak. b) Fatwa sahabat. Ia berkata bahwa itu termasuk salah satu bid'ah orang Syi'ah. hadirin tercengang mendengarnya. Orang-orang ketakutan berada di majlisnya. Seorang alim besar di kota itu mengecam orang-orang yang menjamak shalat Zhuhur dan Ashar. Ijma' sebelum terbunuhnya Utsman. Ini sangat berpengaruh pada penyebaran madzhabnya. j) Istishhab." Malik menukas: "Tapi aku hanya mendengarnya dari kamu.

Apa dalilnya? Dalilnya terdapat dalam Kitab fiqh al-Syaikh al-Kaydani. Mereka menulis buku-buku yang lebih merupakan ensiklopedia atau kamus dari pada analisis ilmiah. al-Sunnah. Perlahan-lahan berkembanglah tradisi membuat syarah (komentar) dan matan. Dalam penafsiran al-Qur'an misalnya. Pasal ini akan memperlihatkan karakteristik zaman ini dari segi karya-karya ilmiah yang lahir waktu itu dan dari segi kecenderungan pemikiran. pokok-pokok dan maksud-maksud syara'. di satu sisi menyimpan khazanah ilmu para ulama. walau selama masa itu muncul juga beberapa ulama fiqh dan ushul yang cemerlang. Gerakan tadwin. dan fiqh para imam madzhab disusun dalam buku. Kedua peristiwa di atas terjadi dalam rentang waktu cukup lama -menurut sebagian penulis dari abad VI Hijrah sampai abad XIII. Penafsiran al-Qur'an. Dengan begitu. Di Afghanistan seorang mushalli memberi isyarat dengan telunjuknya dan menggerak-gerakkannya. dibukukan pula riwayat para perawi hadits. ilmu ushul al-fiqh. serta menghimpun penafsiran para sahabat. Para pengikut membukukan fatwa-fatwa dan hasil ijthad para mujtahid tersebut. al-mustadrakat dan sebagainya.tetapi ia mengurungkan maksudnya. KARAKTERISTIK ZAMAN STAGNASI: TRADISI MENSYARAH KITAB Setelah keempat imam madzhab ahl al-Sunnah meninggal dunia. Peminat fiqh hanya mempelajari kitab yang ditulis seorang faqih tertentu di antara tokoh-tokoh madzhabnya Ia tidak melihat kepada syari'at dan fiqh kecuali melalui tulisan dalam kitab itu. ke upaya menghapal yang sia-sia dan merasa cukup dengan menerima apa yang telah tertulis dalam kitab-kitab madzhab tanpa penelitian. tapi di sisi lain menyebabkan para ulama merasa cukup dengan apa yang telah tersedia. Mereka tak merasa perlu melakukan penelitian ulang. al-masanid. hadits. ia menjawab bahwa menggerakkan telunjuk dalam tasyahud adalah haram. Kawan shalat di sampingnya memukulnya dengan keras sehingga telunjuk itu patah. tarjih. baik yang lemah maupun yang kuat. ilmu jarh wa ta'dil dan riwayat para sahabat. Berbagai ilmu Islam dibukukan dan tidak disampaikan secara lisan lagi. Pada masa inilah berkembang al-tafsir bi al-ma'tsur. Bersamaan dengan itu. al-ma'ajim. Maksudnya untuk . menghilanglah kegiatan yang dulu merupakan gerakan takhrij. fiqh memasuki zaman tadwin (kodifikasi). Hadits-hadits dibukukan dalam bentuk al-jawami'. dimulai kemandegan dan diakhiri kebekuan. Ketika ditanya mengapa itu terjadi. Al-Ustadz al-Zarqa melukiskan situasi umum pada waktu itu: Pada zaman tersebut pemikiran fiqh mengalami kemunduran. Kita akan mengakhiri dengan melacak sebab-sebab timbulnya stagnasi pemikiran ini. dan tanzhim dalam madzhab fiqh. Pemikiran bergeser dari upaya mencari sebab-sebab dan maksud syara' dalam memahami hukum. para ulama menghimpun hadits-hadits Nabi saw. sesudah sebelumnya mempelajari al-Qur'an. Sebuah rentang waktu yang oleh para Tarikh Tasyri' disebut sebagai zaman stagnasi pemikiran fiqh ('ashr al-rukud). Pada zaman inilah pemikiran taqlid mutlak dominan. tabi'in. dan para mujtahid.

Ia kemudian menyelesaikan kuliah dari Abu Hanifah selama 25 tahun lagi. Seperti telah disampaikan pada tulisan terdahulu. Untuk mempertahankan keunggulan madzhabuya. Ibn Rouzbahan menulis bantahan pada Minhaj al-Karamah. yang didhaifkan Ibn Taymiyah. Untuk Shahih al-Bukhari. sepanjang saya ketahui. Para ulama madzhab Syafi'i menyerang tulisan para ulama madzhab Hanbali atau sebaliknya. Sekarang bantahan itu sudah menjadi 19 jilid Ihqaq al-Haq. yang setiap jilidnya seukuran satu jilid Encyclopedia Britannica. Umdat al-Qary. Sebagai jawaban terhadap serangan ahl al-Sunnah. para pengikutnya meriwayatkan mitos di sekitar para imam madzhabnya. Irsyad al-Sary. al-Hilly menulis Minhaj al-Karamah. paling tidak ada tiga kitab syarah: Fath al-Bary. Siapa yang mencintai Abu Hanifah ia mencintaiku. melakukan kritik terhadap beberapa pendapat Muhammad ibn al-Hasan al-Syaybany. Ada pula beberapa kitab yang mensyarah al-Muwatha susunan Imam Malik. siapa yang membenci Abu Hanifah ia membenciku. juga berkembang tradisi munaqasyah madzhabiyah (diskusi madzhab). Walau begitu. Ibn Taymiyah menulis Minhaj al-Sunnah untuk menolak Minhaj al-Karamah. Allah mengizinkannya. Ulama ahl al-Sunnah menulis kitab yang menyerang ajaran Syi'ah.memudahkan pembaca memahami kitab-kitab rujukan. Ia belajar pada Abu Hanifah setiap waktu Subuh selama lima puluh tahun. supaya ia dapat mengajarkan syari'at Islam secara lengkap. "setiap ayat atau hadits yang bertentangan dengan apa yang ditetapkan madzhab kami. Diriwayatkan oleh para pengikut Maliki bahwa pada paham Imam Malik sudah tertulis Malik Hujatullah di bumi. gejala fanatisme madzhab dapat dilacak sejak abad IV Hijrah. Al-Amini menulis 11 jilid al-Ghadir hanya untuk membuktikan keshahihan hadits Ghadir Khum. kekuasaan sangat berperan dalam menyuburkan fanatisme madzhab. Di antara karamah Abu Hanifah ialah bergurunya Nabi Khidr kepadanya. Ketika Abu Hanifah wafat. Ulama Syi'ah membalasnya dengan menulis kitab lagi. Argumentasi dikembangkan untuk membela madzhab masing masing. Pada zaman ini. atau menambahkan penjelasan dengan mengutip ucapan para ulama lain. munaqasyah madzhabiyah telah menjadi benih yang menyuburkan fanatisme madzhab. Tidak jarang syarah suatu kitab disyarahi dan disyarahi lagi. Polemik antar madzhab ini bukanlah sesuatu yang jelek dan telah berlangsung sejak zaman para imam madzhab. Para ulama dari keempat madzhab diundang ke istana. Sikap ini ditunjukkan jelas oleh al-Syaykh Abu al-Hasan Abdullah al-Karkhy ketika ia berkata. Mereka menjelaskan kata-kata atau kalimat-kalimat secara sematik. Atau sebaliknya. Setiap madzhab membela pahamnya dengan tidak lagi mengindahkan adab diskusi ilmiah. Kadang-kadang riwayat-riwayatnya dinisbahkan pada Nabi Muhammad saw. Tapi pada zaman kemandegan. Imam Syafi'i. Nabi Hidhir mohon agar ia diizinkan tetap berguru padanya di alam kubur. Tentang Imam . Konon Nabi Muhammad saw pernah berkata: "Semua nabi bangga denganku dan aku bangga dengan Abu Hanifah. misalnya. harus dita'wilkan atau dimansukhkan. Bantahan ini dibantah lagi oleh al-Mar'asyi al-Tustary. FANATISME MADZHAB Asad Haydar menyebut tahun 645 Hijrah sebagai tahun ditetapkannya empat mazhab sebagai madzhab yang diakui khilafah Islam waktu itu.

padahal ulama dari madzhab mereka terdahulu tidak pernah mengamalkannya. mencacad mereka dan menuduhnya menyalahi sunnah." Orang alim itu adalah Imam Syafi'i. Aku bertanya: "Ya Rasul Allah. Itu karena hadits bagaikan fondasi. Setiap fondasi tanpa bangunan. kebanyakan tidak memilih-milih hadits. yang bagus dan yang buruk. pengumpulan sanad. dan pemisahan hadit-hadits gharib dan syadz --hadits-hadits yang kebanyakan mawadhu' dan maqlub. keduanya menjadi ikhwan yang saling berjauhan: mereka tak menampakkan sikap saling membantu dan menolong di jalan yang hak." Dengan berbagai "keutamaannya" itulah. Sedangkan kelompok kedua. karena rasa harga diri mereka yang sangat tajam. Yang demikian adalah suatu kesesatan dan penipuan ra'yu. kelompok ahli hadits dan atsar rata-rata berambisi dalam periwayatan. Namun. Kedua kelompok itu. pengikutnya mensakralkan fatwa para mujtahid. Saya lihat kedua kelompok ini saling berdekatan tempat tinggalnya dan sebetulnya saling membutuhkan. katanya. Mereka sepakat menerima hadits dhaif dan munqathi' bila telah masyhur di kalangan mereka dan telah membibir dalam percakapan mereka.Syafi'i. Rasul Allah saw bersabda: "Ya Allah berilah petunjuk pada suku Quraiysy. Mereka tidak mau menerimanya bahkan tidak mau menelitinya. Aku pernah menyaksikan sekelompok faqih yang taklid. Mengenai Imam Ahmad bin Hanbal Abdullah al-Sajastany berkata: "Aku pernah melihat Rasul Allah saw dalam mimpi. walau tidak didukung satu dalil pun atau tidak meyakinkan. kecuali sebagian kecil. Al-Fakhr al-Razy menceritakan pengalamannya ketika ia menafsirkan: afala yatadabbarun al-Qur'an. tidak memahami maknanya. yang patut kami ikuti di zaman kami?" Rasul Allah saw menjawab: "Aku tinggalkan bagimu Ahmad bin Hanbal. Fatwa mujtahid lebih didulukan dari ayat al-Qur'an dan al-Sunnah. tidak menggali rahasianya. Kadang-kadang mereka mencela para fuqaha. Mereka tidak mempedulikan hadits-hadits yang dikuasai dan yang digunakan untuk mempertahankan argumentasinya di hadapan lawan bila hadits-hadits tersebut telah sesuai dengan madzhab yang mereka ikuti dan pendapat yang mereka yakini. Abu Sulayman al-Khaththaby mengisahkan suasana zaman itu: Saya lihat ahli ilmu dewasa itu terbagi menjadi dua kelompok: pendukung hadits dan atsar dan ahli fiqh dan fikir. Mereka tidak sadar bahwa kadar keilmuannya sendiri sangat dangkal dan mereka berdosa melemparkan kata-kata kotor pada para fuqaha. maka akan cepat roboh. yakni ahli fiqh dan fikir. maka akan sunyi dan lekas rusak. Mereka hampir tidak bisa membedakan hadits yang shahih dan hadits yang dhaif. mereka . Padahal keduanya sama-sama dibutuhkan dan tidak bisa ditinggalkan dalam menuju cita-cita kehidupan. sedangkan fiqh bagaikan bangunannya. memandangku dengan heran bila aku bacakan ayat-ayat al-Qur'an tentang beberapa masalah yang bertentangan dengan madzhab mereka. Mereka tidak memelihara matannya. siapakah yang engkau tinggalkan. Mereka heran bagaimana mungkin mengamalkan zhahirnya ayat-ayat itu. Apabila diriwayatkan pada mereka madzhab mereka atau para ahli hasil ijtihad para tokoh dari aliran mereka. karena seorang alimnya akan memenuhi seluruh bumi dengan ilmunya. pertama. dan tidak mengungkapkan kandungan fiqhnya. Setiap bangunan yang fondasinya tidak kokoh.

7501983. tapi juga menimbulkan perpecahan di kalangan kaum Muslim. Begitu juga para pengikut al-Syafi'i. namun mereka Saya lihat para pendukung Malik tidak menerima riwayat dari padanya kecuali yang melalui Abu al-Qasim (Rasul Allah). Maka pendapat yang datang dari Al-Hakam tidak memiliki keistimewaan di mata mereka. terjadilah pertumpahan darah antara kedua golongan. Lalu. al-Jiziy dan sebagainya. Mereka hanya menerima riwayat al-Muzany dan al-Raby ibn Sulayman al-Murady. kelompok terhadap madzhab Fanatisme madzhab bukan saja telah menghambat pemikiran. mereka tidak akan menerima. Ibn al-Qusyayry al-Syafi'i memegang kekuasaan. menghancurkan otak-otak cemerlang. telah terjadi beberapa kali. Ia selalu mengecam Ahmad ibn Hanbal dan para pengikutnya sebagai penganut antropomorfisme. Maka bila datang riwayat Harmalah. Bila pendapat itu datang dari al-Hasan ibn Ziyad dan pendapatnya berbeda dengan riwayat yang melalui mereka. 469 Hijrah. Dalam sejarah. Pengikut al-Qusyayry menutup pintu-pintu pasar madrasah Nizhamiyah. dan para pendahulu yang setingkat dengan mereka. Sebagai contoh adalah peristiwa yang terjadi di Baghdad.segera mencari kepercayaan umat tidak ikut bertanggungjawab. (021) 7501969. Muhammad ibn al-Hasan dan para tokoh sahabat serta murid-muridnya yang lain. Dengan bantuan penguasa ia menyerang pemimpin Hanbaly. Al-Qusyayry berkata: "Perdamaian macam apa yang harus ada diantara kami? Perdamaian . -------------------------------------------. Mereka mau menerima riwayat dari padanya kecuali yang melalui Abu Yusuf. Pemerintah kemudian mengumpulkan wakil kedua belah pihak dan meminta supaya mereka berdamai. UA 20-21 Jakarta Selatan Telp. 7507173 Fax. Demikianlah keumuman sikap setiap imam dan gurunya masing-masing. (021) 7507174 Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota Please direct any suggestion to Media Team Artikel Yayasan Paramadina Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota IV. mereka tak memperhatikan dan tak menganggapnya sebagai pendapat al-Syafi'i.(bersambung 6/10) Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah Editor: Budhy Munawar-Rachman Penerbit Yayasan Paramadina Jln. terhadapnya. Abd al-Khaliq ibn Isa. ashhab (para sahabat). mereka saling mengkafirkan yang kemudian memuncak pada peperangan antar sesama Muslim. Metro Pondok Indah Pondok Indah Plaza I Kav.22. TINJAUAN KRITIS ATAS SEJARAH FIQH (6/10) Dari Fiqh Al-Khulafa' Al-Rasyidin Hingga Madzhab Liberalisme oleh Jalaluddin Rakhmat Pada madrasah Nizhamiyah.

Demikian catatan Abu Zahrah tentang tertutupnya pintu ijtihad. Adapun ijtihad fi al-madzhab. Pada ijtihad muthlaq. setiap zaman tak boleh kosong dari mujtahid mustaqil. Namun kenyataannya. campur tangan penguasa dalam kekuasaan kehakiman dan kelemahan posisi ulama dalam menghadapi umara. Dalam hal ini. atau menafsirkan yang mujmal menjelaskan yang mubham dari ucapan imam. yang ditutup adalah ijtihad muthlaq. tapi tak boleh tidak harus ada mujtahid fi al-madzhab. atau mentarjih (memilih yang terkuat) pendapat imam yang bermacam-macam itu. Karena itu. seorang mujtahid mengembangkan metode ijtihadnya secara mandiri dan mengeluarkan hukum-hukum berdasarkan metodenya itu. terputusnya pengembangan ilmu dan terhalangnya kemajuan pemikiran. Sebalikaya. Bahayanya banyak --berakibat pada terbengkalainya akal. kita dapat mengelompokkan dua macam ijtihad: ijtihad muthlaq dan ijtihad fi al-madzhab. Yang dapat melakukan ijtihad jenis ini disebut mujtahid mustaqil (mujtahid independen). ia tentu saja masih menggunakan fatwa imam mazhabnya sebagai rujukan. Jika kita membaca kitab-kitab sejarah madzhab. Di sini mujtahid berpegang pada metode ijtihad imam mazhabnya. lebih ditujukan pada ijtihad muthlaq. Walau tak diketahui secara pasti sejak kapan." PENUTUPAN PINTU IJTIHAD Walau ada pembagian ijtihad yang bermacam-macam. mungkin karena ia berijtihad dengan metode yang sama untuk menjawab masalah-masalah yang belum dipecahkan imam mazhabnya. penutupan pintu ijtihad terjadi karena ada anggapan bahwa tidak ada ulama yang memenuhi persyaratan seperti keempat imam itu. penutupan pintu ijtihad pada saat ini. mengikuti gurunya Syaikh Muhammad Abduh. Menurut para pengikut madzhab Syafi'iy dan kebanyakan Hanafi. Sebenarnya. Untuk yang pertama. Muhammad Farouq al-Nabhan menyebut tiga sebab stagnasi pemikiran pada zaman ini: faktor-faktor politik. mengecam penutupan pintu ijtihad yang mana pun: "Kita tidak menemukan manfaat apa pun dari penutupan pintu ijtihad". Sedangkan kaum ini menganggap kami kafir dan kami menganggap orang-orang yang aqidahnya tidak sama dengan kami juga kafir. pemikiran yang bertentangan dengan madzhab itu ditindas. Maka ketika satu madzhab memperoleh kekuasaan. kita akan menemukan bagaimana seseorang yang . Kaum Muslim mundur karena meninggalkan ijtihad sehingga mereka menjadi seperti yang kita lihat sekarang ini. Sementara itu menurut Maliky. kita ingin menegaskan kembali bahwa madzhab berkembang karena dukungan politik.terjadi di antara orang yang memperebutkan kekuasaan atau kerajaan. menurut Abu Zahrah. ijtihad mustaqil sudah tertutup. Sayyid Rasyid Ridha. meski pada tiap zaman boleh saja tak ada mujtahid mustaqil. tapi boleh saja menghasilkan kesimpulan furu'iyyah yang berbeda dari imam mazhabnya. Namun sebaliknya menurut kebanyakan Hanbaly. terus berkembang. di zaman kemandegan pintu ijtihad. di kalangan Syi'ah tidak pernah dikenal tertutupnya pintu ijtihad. SEBAB-SEBAB STAGNASI Dr. ia disebut mujtahid muntasib. Maka perdamaian macam apa yang bisa berlaku di antara kami.

para ulama yang sama menyatakan Saddam sebagai bughat dan pemimpin dhalim. didiskreditkan ulama dan diadukan pada penguasa.datang menemui Rasulullah saw. 5. Qadhi diangkat oleh penguasa. Sehingga ia disebut Salim mawla Abu Hudzaifah. demi "ketertiban dan keamanan". Di samping itu. Karena itu. menyebarnya ulama mutathaffilin (ulama yang memberi fatwa berdasarkan petunjuk Bapak). Bukankah ini ijtihad dan setiap ijtihad selalu mendapat pahala? Bila ijtihadnya salah. Sahlan binti Suhail --istri Hudzaifah dari Bani Amir-. kami menganggap anak kepada Salim. dikembalikan kepada mawlanya. Umara tentu saja selalu berusaha mempertahankan status quo. Abu Hudzaifah menikahkan Salim --yang dipandang sebagai anaknya itu-. Bila tidak diketahui bapaknya. para ulama dari 70 negara Islam menyatakan bahwa Saddam sebagai mujahid Islam yang taat pada Allah dan al-Qur'an. Setelah invasi. Ia berkata: 'Urwah bin Zub air mengabarkan kepadaku bahwa Hudzaifah bin 'Utbah bin Rabi'ah --salah seorang sahabat Nabi saw.berbeda madzhab atau berganti madzhab menghadapi berbagai cobaan. terbaginya para mujtahid berdasarkan madrasah tempat mereka belajar. Empat puluh tiga hari sebelum Saddam menyerbu Kuwait. sebagaimana Rasulullah saw. dan menyebarnya penyakit akhlak seperti hasud dan egoisme di kalangan ulama. Untuk sebab kedua. kalau pun ulama berijtihad. yang ikut menyaksikan perang Badar-.telah mengangkat Salim sebagai anaknya. Dalam posisi seperti itu. karena ia dapat dikucilkan oleh masyarakat. Ketika Allah menurunkan ayat dalam Kitab-Nya tentang Zaid ibn Haritsah --panggillah mereka dengan nama bapak-bapak mereka. telah ditunjukkan bagaimana para ulama berebutan menjadi qadhi. para penguasa Muslim lebih sering menindas kebebasan pendapat dari pada mengembanghannya. ia mendapat satu pahala. Abd al-Wahhab Khalaf menyebutkan empat faktor yang menyebabkan kemandegan.dengan anak saudara perempuannya Fathimah bint al-Walid bin 'Utbah bin Rabi'ah. Kami hanya mempunyai rumah satu. maka mereka adalah saudaramu dalam agama dan mawla-mawla kamu --maka dikembalikanlah setiap orang di antara mereka itu kepada bapaknya. Lebih-lebih bila berbeda pendapat dengan madzhab penguasa. Ia ditanya tentang menyusui orang dewasa. Di sini harus dicatat: dalam sejarah. Ulama sangat bergantung kepada umara. Itu lebih adil di sisi Allah. dan berkata: "Ya Rasul Allah. yang paling aman adalah mengikuti pendapat para imam mazhab yang sudah dibukukan. ijtthadnya hanyalah dalam rangka memberikan legitimasi pada kebijakan penguasa. Waktu itu ia termasuk wanita muhajirat yang awal dan gadis Quraysy yang utama. Qadhi tidak ingin mengambil risiko berbeda pendapat dengan madzhabnya. Jika kamu tidak mengetahui bapak-bapak mereka. posisi ulama yang lemah memperkuat fanatisme madzhab. mengangkat Zaid ibn Haritsah sebagai anak. FIQH DITELAAH KEMBALI: FIQH KAUM PEMBARU "Yahya memberitakan kepadaku dari Malik dari Ibn Syihab. Ia sering masuk ke rumahku dan aku dalam keadaan fudhul (memakai busana rumah yang tidak menutup aurat). Yaitu terpecahnya kekuasaan Islam menjadi negara-negara kecil hingga umat disibukkan dengan eksistensi politik. bagaimana menurut . dan bila benar dua. Contoh terakhir adalah pernyataan para ulama Rabithah yang mendukung kehadiran tentara Amerika di Jazirah Arab.

Mungkinkah ini hanya fiqhnya 'Aisyah. Bukankah istri-istri Nabi saw yang lain menolaknya? Bukankah pada kitab hadits yang sama Umar ibn Khatab dan Abdullah ibn Mas'ud hanya membenarkan susuan pada waktu kecil saja? Peristiwa yang kedua dijadikan dalil oleh sebagian pengikut madzhab Hanafi untuk menghalalkan minuman keras (khususnya Nabi) bila dicampur dengan air. Dalam istilah fiqh. (3) Dianjurkan menyusukan orang yang sudah dewasa supaya ia halal masuk ke rumah seorang perempuan. Bagaimana mungkin Nabi saw menghalalkan sesuatu dengan tindakan yang haram? (Bukankah bersentuhan dengan perempuan yang bukan muhrim itu haram. Ibrahim al-Nakhti meriwayatkan hadits yang sama dari 'Umar dan berkata: 'Umar meminumnya setelah mencambuk orang A'raby itu. . kemudian meminumnya. Dengan merujuk pada hadits yang mengharamkan minuman keras --baik sedikit maupun banyak mereka telah membenarkan halalnya minuman keras karena dicampur air. (Malik. ternyata "Kembali kepada al-Qur'an dan al-Sunnah" tidak segampang seperti yang dibayangkan. Dari peristiwa yang pertama para faqih menyimpulkan beberapa hukum: (1) Batas susuan yang menyebabkan seorang haram dinikahi adalah lima kali susuan. Umu Kultsum binti Abu Bakar al-Shiddik dan anak-anak perempuan saudaranya untuk menyusukan laki-laki yang ingin masuk ke rumahnya. Slogan yang di Indonesia didengungkan kaum modernis ini. (2) Tidak boleh laki-laki yang bukan muhrim memasuki rumah seorang perempuan. Aisyah mengambil cara ini bila ada laki-laki yang ingin masuk ke rumahnya Ia menyuruh saudaranya. yang harus ditinjau bukan saja al-adillat al-syar'iyat. Dari fenomena tersebut. Apakah perilaku 'Umar dapat dijadikan model dalam pengambilan kesimpulan hukum? Apakah pendapat para sahabat dapat dijadikan hujjah dalam agama? Apakah tindakan 'Umar itu suatu preseden bolehnya meninggalkan nash-nash syari'at bila kondisi berubah? Pertanyaan-pertanyaan tersebut merupakan problema yang dihadapi para pembaru Islam ketika mereka menelaah kembali fiqh yang ada. apalagi menyusu kepadanya?). berkata kepadanya: "Susukanlah dia lima kali susuan sehingga ia menjadi muhrim dengan susunya". Setelah itu ia memandangnya sebagai anak susuan. (Ia mabuk) dan 'Umar menetapkan hukum cambuk baginya. Kesimpulan terakhir ini telah disepakati fuqaha. Al-Muwatha 2: 115-116) Contoh lain: "Seorang A'raby meminum minuman 'Umar. Ahkam al-Qur'an 2:565). Ia berkata: Siapa yang ragu untuk meminumnya. tetapi juga ushul al-fiqh. Yang kemudian menjadi persoalan adalah tindakan 'Umar. campurkan air ke dalamnya. (Al-Jashash. Dua peristiwa di atas diambil dari kitab-kitab yang menjadi rujukan dalam menjawab masalah-masalah fiqhiyah. kecuali bila laki-laki itu saudara sepesusuan. 'Umar meminta minumannya itu. Orang A'raby itu berkata: Aku minum dari minumanmu. Yang dipersoalkan bukan hanya penafsiran nash-nash tetapi juga metode pengambilan keputusan. Istri-istri Nabi saw yang lain menolak untuk mengizinkan laki-laki masuk ke rumah dengan susuan seperti itu. Mereka mempersoalkan cara menyusukan itu.Anda? Rasulullah saw. lalu mencampurkan air ke dalamnya. Tentu saja fuqaha mazhab-mazhab yang lain menolaknya.

ketika menyampaikan khutbahnya di Makkah tahun 1355. tema umum Islam. ada dua aliran besar dalam fiqh Islam: ahl al-Ra'y dan ahl al-Hadits.sebetulnya hanyalah salah satu aliran peninjauan kembali fiqh. dan menolak qiyas kecuali dalam keadaan terpaksa. tapi berusaha menangkap menurutnya. Karena itu. dan yang paling dekat dengan ahl al-hadits adalah mazhab Hanbali. Mereka menolak ta'wil dan menerima hadits secara harfiyah. 1968:42). yang mengumpulkan ribuan hadits dalam musnadnya. Imam Ahmad ibn Hanbal. dan yang ada hanya ijtihad. 1987:95). Semuanya terjadi karena Ahmad mendasarkan mazhabnya pada hadits Rasulullah saw (meski lemah). The Encyclopedia of Islam menyebut Ibn Taymiyah sebagai the bitter enemy of innovations.. Mazhab-mazhab fiqh terletak di antara kedua ekstrim itu.. bila ada. Raja Malik ibn Abd al-Aziz. berkata: "Madzhab kami mengikuti dalil. fatwa para sahabat. filsuf dan sufi. Yang paling dekat dengan ahl al-ra'y adalah madzhab Hanafi. memang lebih terkenal sebagai ahli hadits dari pada ahli fiqh. Yang kedua berdasarkan fiqh pada hadits walaupun lemah dan menolak penggunaan rasio. sekaligus merupakan fiqh baru yang dapat menjawab masalah-masalah baru akibat perubahan masyarakat. Ibn Taymiyah memperkuat gerakan anti rasionalisme ini dengan menolak setiap penggunaan logika dalam khazanah ilmu-ilmu Islam dan sekaligus menolak praktek-praktek yang tidak ada dasarnya dalam teks al-Qur'an dan hadits. Arkoun menyebut aliran ini logosentrisme yang ia gambarkan sebagai berikut: Di samping aliran ini ada aliran yang sangat menekankan rasio (akal). Dalam kalimat W.the alien intellectualism not only of philosophy but also theology" (Smith. . makna hakiki dari teks. the introvert warmth and other wordly pety of the mystic way. setelah orang merasa perlu membuka kembali pintu ijtihad. Skripturalisme dan liberalisme keduanya berusaha mendobrak kebekuan pemikiran Islam. Smith. LATAR BELAKANG SKRIPTURALISME Seperti diketahui dalam fiqh tabi'in.C. kita harus memulai dengan menyorot kedua aliran ini secara kritis dibahas skriptularisme. Yang pertama menekankan rasio dalam pengambilan keputusan.. Karena itu. Aliran ini tak lagi terikat dengan bunyi teks. Paham Ibn Taymiyah dihidupkan kembali oleh Muhammad ibn Abd al-Wahab lima abad kemudian. Ibn Qutaybah memasukkan Ahmad di antara muhadditsin dan Ibn Jarir al-Thabari menolak Ahmad sebagai ahli fiqh. Muhammad ibn Abd al-Wahab menolak "the corruption and laxity of the contemporary decline. yaitu aliran yang berpegang kepada teks-teks syari'at secara kaku. Makna ini dianggap sebagai ruh ajaran Islam. Berbagai upaya rekonstroksi fiqh di dunia Islam sekarang ini berangkat dari kedua aliran tersebut. kami mengikuti ijtihad Ahmad ibn Hanbal: (Mughniyah. bila tidak ada. Seperti Ibn Taymiyah. tugas ahli fiqh hanyalah mencari nash yang relevan. . kesetiaan pada teks sangat ekstrem. yaitu liberalisme. maqashid syar'iyah dan sebagainya. ia mencela kaum mutakallim. dalam upaya menelaah kembali fiqh. Jadi fiqhnya selalu merujuk pada nash-nash al-Qur'an atau hadits. Pada Ibn Hazm. dan terutama sekali pada Daud al-Zhahiri. Aliran tersebut sebenarnya adalah skripturalisme.

tidak ada contohnya dari Nabi saw). yang disebut bid'ah adalah apa saja yang tidak merujuk pada dalil yang telah dipilihnya. mereka menetapkan keharusan percaya bahwa Ia turun ke langit dunia. Kaum sufi.22. -------------------------------------------. yang mencoba menangkap makna batiniyah dari nash-nash. . UA 20-21 Jakarta Selatan Telp. tertawa dan sebagainya. TINJAUAN KRITIS ATAS SEJARAH FIQH (7/10) Dari Fiqh Al-Khulafa' Al-Rasyidin Hingga Madzhab Liberalisme oleh Jalaluddin Rakhmat KEGAGALAN SKRIPTURALISME Keyakinan bahwa kesetiaan pada teks al-Qur'an dan hadits cukup untuk memecahkan persoalan ternyata hanya simplikasi. mempengaruhi banyak aliran pembaharuan di seluruh dunia. dan kembali kepada al-Qur'an dan hadits sebagai satu-satunya jalan untuk memecahkan segala persoalan Islam. Pada saat yang sama. 1981:26). duduk di atas 'arasy. (021) 7501969. "since the leaders of these movements were interested in negating some of the influences of the medieval school of islamic thought and law.(bersambung 7/10) Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah Editor: Budhy Munawar-Rachman Penerbit Yayasan Paramadina Jln. 7507173 Fax. 7501983. membaca shalawat kepada Nabi saw. --dan di Indonesia-. Wacana teologi menjadi gersang. Karena skriptualisme menerima teks-teks al-Qur'an dan hadits dengan apa adanya. skriptualisme menyingkirkan pengalaman mistikal dari kehidupan beragama. they inevitably took a negative attitude toward the intellectual and spiritual developments that had taken place in the intervening centuries" (Rahman. Ada beberara kegagalan skripturalisme. Pertama. Filsafat bukan saja dijauhi.Paham ini. mereka telah mematikan telaah filosofis. Kedua. mengobrol dengan ahli surga. (021) 7507174 Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota Please direct any suggestion to Media Team Artikel Yayasan Paramadina Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota IV. Praktek-praktek keagamaan yang tidak secara spesifik ditunjukkan dalam nash. dalam aqidah. menurut Fazlur Rahman. membaca dzikir bersama. mengucapkan doa yang tidak ma'tsur. Mereka melihat masa Salaf sebagai model. Dengan menolak ta'wil. yang kemudian menjadi paham resmi Arab Saudi. Metro Pondok Indah Pondok Indah Plaza I Kav. dianggap bid'ah. Selanjutnya. Qunut pada shalat Subuh. tetapi juga dikafirkan.menyelenggarakan upacara tahlilan dan marhabanan dianggap tidak mengikuti sunnah Rasulullah saw (dalam bahasa orang awam. dianggap sesat.

Pada gilirannya. kelima. penentuan keshahihan hadits. Pada tahap institusional. saya akan mengutip deskripsinya tentang kaum liberalis . Ada yang mengqiyaskan zakat profesi dengan zakat pertanian. Kritik terhadap skripturalisme sama sekali tidak dimaksudkan untuk membela liberalisme. Muncullah para "mujtahid" yang tidak berkualifikasi.Padahal. Akibat kegagalan skripturalisme tersebut. mukhtalaf al-hadits. bukan tidak mengikuti sunnah. skripturalisme tidak dapat menyelesaikan kemusykilan-kemusykilan yang terjadi ketika melakukan istidlal (memberikan dalil-dalil hukum) dari nash-nash. Mereka membentuk kelompok-kelompok. zakat emas dan perak. orang tidak memberikan solusi terhadap segala kemusykilan ini. kita dapat merumuskan kaidah-kaidah baru dalam menegakkan fiqh yang lebih relevan dan signifikan. Sebagian di antara mereka akhirnya menggunakan qiyas juga. menggunakannya dalam menjelaskan zakat profesi. Madzhab yang lain akan dianggap menyimpang dari al-Qur'an dan sunnah. tapi merasa faqih. Walaupun saya tidak akan membahas pokok-pokok pikiran kaum liberal Islam seperti yang dipaparkan Leonard Binder. saya kira.untuk merinci dalil-dalil orang-orang yang mempraktekkan upacara-upacara agama tersebut. yang memuncak pada fragmentasi umat. tetapi tanpa aturan yang konsisten. 6. makna 'am dan khash dan sebagainya. Sebagian kaum modernis di Indonesia. Mereka kembali secara ketat pada teks-teks al-Qur'an dan al-hadits atau mereka berusaha menemukan ruh atau semangat dari ajaran al-Qur'an dan al-hadits. liberalisme juga sangat rentan terhadap berbagai problem. karena berusaha secara bebas untuk menggunakan penalaran. para pembaru mencoba mendobrak stagnasi dengan melakukan salah satu di antara dua pilihan. yang menolak qiyas. orang-orang awam tidak merasa perlu lagi dengan kehadiran fuqaha. kaum skripturalis telah menghilangkan pengalaman beragama (religious experiences) yang emosional. qawaid ushul al-fiqh dan masalah-masalah lain yang berkaitan dengan penafsiran nash tidak mendapat perhatian. Yang pertama kita sebut skripturalisme (sudah dibicarakan) dan kedua. skripturalisme terbukti tidak menjawab berbagai masalah kontemporer. kita sebut liberalisme. Para pengikutnya tidak lagi "menikmati" agama dan sebagian mengalami ketidakpuasan rohaniah. makna haqiqi dan majazi. makna 'urfi (kebiasaan). Melalui studi kritis terhadap keduanya. mudah mendorong orang ke arah fanatisme. Bukankah segala persoalan dapat diselesaikan dengan merujuk pada dalil-dalil al-Qur'an dan hadits. FIQH KAUM PEMBARU: MADZHAB LIBERALISME Seperti telah disebut di atas. Tidak ada maksud saya --dan bukan tempatnya di sini-. Tulisan ini hanya ingin mengingatkan kita akan pentingnya penilaian kritis terhadap pendekatan pada fiqh. Terakhir. paham ini melahirkan orang-orang yang wawasannya sempit. tetapi tidak berdasarkan dalil yang disetujui mereka. skripturalisme. Keempat. karena menolak wacana intelektual. dan zakat perdagangan. Al-masail al-lafzhiyah --seperti makna lughawi. Ketiga. Salah satu contoh adalah perbincangan tentang zakat profesi atau pekerjaan-pekerjaan yang tidak diwajibkan zakat padanya. Dalam skala makroskopis. Dengan menyingkirkan mistisisme.

Since the words of the Qur'an do not exhaust the meaning of revelation. secara khusus kita akan mengambil contoh pemikiran Ibrahim Hosen dan Fazlur Rahman untuk menggambarkan pokok-pokok pemikiran kaum liberalis. sesudah mengutip sejarah ijtihad bi al-ra'y saya akan mengutip juga perkembangan tafsir bi al-ma'tsur. Jadi ciri khas kaum liberalis ialah upaya untuk menangkap esensi wahyu. Cukuplah buat kita kitab Allah itu. dan yang kedua secara ta'aqquli. Umar berkata. Di bawah ini saya akan mengulangi lagi akar pemikiran kaum liberalis dengan mengutip apa yang pernah saya tulis pada pengantar buku Islam dan tantangan Modernitas.Islam. TRADISI IJTIHAD BI 'L-RA'Y Ketika [brahim Hosen berbicara tentang ta'aqquli dan ta'abbudi. For Islamic liberals. Nabi menyuruh sahabatnya mengambil dawat dan pena untuk menuliskan wasiatnya. di sini para sahabat tidak merasa terikat dengan sunnah." Tampaknya Umar berpendapat bahwa kondisi sakit Nabi melahirkan ijtihad Nabi yang tidak perlu diikuti. Nabi hendak menshalatkan 'Abdullah ibn Ubayy. keduanya menggaungkan kembali perbedaan pendapat para sahabat tentang sunnah Rasullah saw. Di tangan kalian ada kitab Allah. pada akhirnya saya akan mengajukan kritik. Setelah itu. tapi kaum liberalis modern justru mengambil inspirasi dari tafsir bi al-ma'tsur. SEJARAH MADZHAB LIBERALISME Fiqh kaum liberal dapat dilacak pada madzhab ahl al-ra'y di kalangan para sahabat Nabi. Yaitu yang berhubungan dengan ibadah ritual (kelak disebut huquq Allah) dan yang berhubungan dengan masalah-masalah sosial (kelak disebut huquq al-'ibad). ijtihadnya boleh jadi benar atau salah. Dalam keadaan sakit. Rasulullah saw sering berijtihad. dan ketika Rahman mengulas pemikiran modernis dan fundamentalis. wahyu . Bukankah Nabi mengatakan. Nabi menginginkan agar para tawanan Badar dibebaskan dengan tebusan. dan Allah membenarkan ijtihad 'Umar. Dalam kasus-kasus ini. Karena itu. "Kamu lebih tahu urusan duniamu?" Bukhari meriwayatkan peristiwa yang oleh Ibn 'Abbas disebut sebagai "tragedi hari Kamis". but which goes beyond them. the language of the Qur'an is coordinate with the essence of revelation. Apakah Nabi Muhammad saw berijtihad? Banyak para sahabat membagi perintah-perintah Nabi ke dalam dua bagian. tapi Umar melarangnya. makna wahyu di luar arti lahiriah dari kata-kata. Seperti biasa. Fiqh al-ra'y sebenarnya sejajar dengan tafsir al-Qur'an bi al-dirayat. seeking that which is represented or revealed by language. Mereka menerima yang pertama secara ta'abbudi. "Dengan ini kalian tidak akan sesat selamanya"' kata Nabi. there is a need for an effort at understanding which is based on the words. "Nabi saw dalam keadaan sakit parah. Para ahli hadits meriwayatkan berbagai peristiwa ketika ijtihad Nabi berbeda dengan ijtihad 'Umar. but the content and the meaning of revelation is not essentially verbal. Pada bagian kedua. Mereka bersedia meninggalkan makna lahir dari teks untuk menemakan makna dalam dari konteks. sedangkan 'Umar mengusulkan untuk membunuh mereka. Karena itu.

ia sudah menjalankan kitab Allah dan sunnah NabiNya. Diriwayatkan bahwa Nabi saw. yang terdiri atas sahabat-sahabat yang berkumpul di sekitar Ali ibn Abi Thalib. Mereka tidak membedakan huquq al-'ibad dan huquq Allah dalam instruksi-instruksi Nabi yang bernilai tasyri'." (QS 53:3). dalam kitab tarikhnya." Ketika Ali menegur Utsman yang melarang tamattu'. ia datang menemuiku dan berkata. Ibn Abi al-Hadid membenarkan kedua sahabat itu. Allah dan Rasul-Nya terlepas darinya. aku akan berupaya menangis seperti tangisan Anda.merupakan justifikasi terhadap peluang menggunakan ra'yu dalam menghadapi sunnah (yang berasal dari Ijtihad Nabi). Bila benar. Ali tetap tinggal di Madinah. 'Aisyah melaporkan: "Ayahku telah mengumpulkan 500 hadits Nabi saw. aku akan menangis. ia menegur Ali: "Kau lakukan itu padahal aku melarangnya?" Ali menjawab: "Aku tidak akan meninggalkan sunnah Rasulullah saw karena (ra'yu) salah seorang manusia. "Seandainya azab turun." Umar juga diriwayatkan berkata: "Inilah ra'yu Umar. padahal Nabi memerintahkan mereka untuk berada di dalamnya. Ini hanyalah ra'yu yang aku pegang. Ibn Katsir." Para tabi'in dari Kufah kelak berguru kepada Abdullah ibn Mas'ud. menulis: "Para sahabat r." Hadits-hadits di atas --walaupun keabsahannya harus kita teliti secara kritis-. Kalau tidak. Fiqh al-ra'y makin diperteguh dengan kecenderungan umum madzhab Umari untuk mengabaikan penulisan hadits. Ketika Umar dan Utsman --pada zamannya masing-masing melarang haji tamattu" Ali menentangnya. Utsman berkata: "Aku tidak melarangnya. dari Allah dan kalau salah." Abdullah ibn Mas'ud berkata seperti itu juga: "Aku mengatakan ini dengan ra'yuku. Sementera itu.a. sebelum ia memindahkan ibu kota ke Kufah pada masa kekhalifahannya.selalu turun membenarkan Umar. "tidak akan ada yang selamat kecuali Umar ibn Khaththab." Kita pun kemudian mengetahui bahwa di Madinah. sehingga lahirlah mazhab Kufah yang menitik-beratkan Fiqh al-ra'y." Nabi kemudian menceritakan tentang wahyu yang membenarkan Umar dan menyalahkan Nabi. sangat takut kepada Umar dan tidak menemukan orang yang melawan pendapat Umar kecuali Ali ibn Abi Thalib." Karena Umar adalah primadona dari kelompok pertama para sahabat ini. dari Umar. silakan ambil ra'yu-ku. tetapi ia hanya berbicara berdasarkan wahyu yang diturunkan kepadanya. berkembanglah madzhab Hijaz. Sebagai lawan mereka --dalam pemikiran-adalah madzhab Alawi. "ambilkan . tinggalkan saja. Tidak ada ijtihad Nabi. Ketika Abu Bakar dan Umar meninggalkan pasukan Usamah. Ketika Utsman melarang menggabungkan haji dengan 'umrah. 'Umar bertanya: "Apa yang menyebabkan Anda dan sahabat Anda menangis? Kalau ada sesuatu yang patut aku tangisi. Kalau tidak ada tangisan. Pada suatu pagi. ia berasal dari Allah dan bila salah ia berasal dari setan. yang menekankan Fiqh al-atsar." kata Nabi. daerah Hijaz. Kalau orang mau. Kalau benar. "Ia tidak berbicara berdasarkan hawa nafsunya. disertai Abu Bakar pernah menangis terisak-isak menyesali kekeliruan ijtihadnya. yang berkata: "Barang siapa melakukan tamattu'. kemudian kita pun menyebut madzhab pemikiran mereka sebagai madzhab Umari. "Sesungguhnya Nabi saw mengirimkan pasukan itu berdasarkan Ijtihad dan bukan berdasarkan wahyu yang diharamkan membantahnya.

Disadari atau tidak. Rasul Ja'farian menyebutkan nama-nama ulama tabi'in yang melarang penulisan hadits. tak memperkenankan penggunaan akal. Kaidah mereka: la ra'yu fi al-din (tidak ada tempat rasio dalam agama). tetapi membentuk kontinum.(bersambung 8/10) Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah Editor: Budhy Munawar-Rachman Penerbit Yayasan Paramadina Jln.". Nanti. saya mati. karena diprakarsai Dawud al-Zhahiri yang dilanjutkan Ibn Hazm dalam kitabnya al-Muhalla. Ali Yafie melukiskannya sebagai lingkaran-lingkaran: "Lingkaran paling dalam (pertama) merupakan kelompok yang paling sedikit menggunakan ra'yunya. tetapi mengaplikasikan nash secara baik. Janganlah meriwayatkan sesuatu pun dari Rasulullah saw. dan berkata: "Kalian meriwayatkan dari Rasulullah saw." Abu Bakar juga pernah mengumpulkan orang setelah Nabi wafat." Lalu saya berikan kepadanya. -------------------------------------------. Umar menyuruh mengumpulkan hadits-hadits itu dan memerintahkan untuk membakarnya. Al-Hasan ibn Abi al-Hasan --menjelang kematiannya-. yang pertama kali melakukan tadwin hadits adalah Ibn Syihab al-Zahri atas perintah Umar ibn Abd al-Aziz. Ashim. madzhab ini sebenarnya juga menggunakan rasio. penulisan hadits terlambat sekitar dua abad. dan (3) madzhab ini menekankan aspek maqashid syar'iyyah atau kemaslahatan umat untuk menetapkan hukum. Sejarah singkat madzhab 'Umari ini menunjukkan tiga ciri khasnya: (1) madzhab ini memusatkan perhatian utamanya --dan seringkali dengan mengabaikan yang lain-. Akibatnya. Prinsip mereka dalam pengambilan hukum. dan lain-lain. Madzhab yang menggunakan kaidah semacam ini disebut madzhab al-Zhahiri.memerintahkan pembantunya untuk menyalakan api pembakaran. periwayatan hadits tetap berlangsung sampai zaman Umar. Ibrahim al-Nakha'i. dan meninggalkan hadits-hadits itu padamu. jawablah: "Di antara Anda dan kami ada Kitab Allah. fiqh al-ra'y dan fiqh al-atsar ini tidak terpilah tegas. yaitu. dan kurang terikat pada zhawahir (makna tekstual) dan nash.dilanjutkan oleh tabi'in. "Hasbuna Kitab Allah.kepada al-Qur'an. khusus di kalangan ahl al-Sunnah. Konon. Abu Zahrah menulis: "Tidak seorang sahabat pun meninggalkan nash demi ra'yunya atau kemaslahatan yang dipandangnya. halalkan yang halal dan haramkan yang haram." kata Umar. Sa'id ibn Jubair. ia lemparkan semua tulisan. Metro Pondok Indah . (2) madzhab ini mengutamakan ra'yu ketimbang al-Sunnah. Hanya intensitas penggunaannya sangat sedikit. hadits-hadits yang kalian perselisihkan. Ia membakarnya dan berkata: "Saya khawatir. Madzhab-madzhab itu berbeda dalam intensitas penggunaan nash dan ra'yu. kecuali satu buku saja. manusia sesudahmu akan lebih daripada itu.hadits-hadits yang ada padamu. Di kalangan madzhab-madzhab ahl al-Sunnah. Ke dalamnya. Sesungguhnya maslahat yang difatwakan sahabat tidak bertentangan dengan nash. Walaupun begitu. Abu Sa'id. Bila ada yang bertanya kepada kalian. Untuk menangkis tuduhan bahwa Umar sering meninggalkan nash-nash al-Qur'an secara sengaja. Abu Burdah." Tradisi pengabaian penulisan hadits --dan sekaligus pembakarannya-. berdasarkan pemahaman yang benar akan maksud-maksud syara'. Alasan Umar: "Aku khawatir hadits-hadits itu akan memalingkan orang dari Kitab Allah.

madzhab ini lebih banyak menggunakan analogi atau qiyas. ia akan mengambil banyak pendapatku. 7507173 Fax. "Sedangkan kelompok kelima. Ali Hasan Abd al-Qadir: "Musuh-musuh Abu Hanifah menuduhnya tidak memberikan perhatian besar pada hadits. Akal lebih dipentingkan dalam proses pengambilan hukum daripada hadits. (021) 7507174 Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota Please direct any suggestion to Media Team Artikel Yayasan Paramadina Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota IV.22. "Lingkaran ketiga. Kata Dr.Pondok Indah Plaza I Kav." Untuk memberikan contoh madzhab yang paling "Umari". Ahmad Amin. kurangnya hadits pada Abu Hanifah menunjukkan bahwa ia tidak merasa puas dengan menyampaikan hadits saja. Mazhab ini disebut mazhab Hanbali yang dipelopori Imam Ahmad ibn Hanbal. terakhir. hal itu dikarenakan Abu Hanifah sangat memperketat syarat-syarat penerimaan hadits. Abu Hanifah memang hanya sedikit meriwayatkan hadits. Madzhab ini banyak dilaksanakan di Saudi Arabia. TINJAUAN KRITIS ATAS SEJARAH FIQH (8/10) Dari Fiqh Al-Khulafa' Al-Rasyidin Hingga Madzhab Liberalisme oleh Jalaluddin Rakhmat "Lingkaran yang kedua. Doktrinnya menyatakan bahwa rasio harus diperhatikan guna pertimbangan kemaslahatan. (021) 7501969. Doktrin mereka menyatakan bahwa hadits dha'if harus lebih diprioritaskan daripada akal. Simaklah riwayat yang diceritakan Dr. 7501983. merupakan madzhab yang menggunakan rasio agak lebih intens daripada kelompok pertama tadi. Madzhab ini dipelopori oleh Imam Hanafi. Kata Ibn Khaldun. Ia memprioritaskan ra'yu dalam mengeluarkan keputusan . Abu Hanifah pernah dilaporkan berkata: "Seandainya Rasulullah berjumpa denganku. UA 20-21 Jakarta Selatan Telp. Ketika Raqabah ibn Musqilah ditanya tentang Abu Hanifah. kelompok yang disebut madzhab Maliki yang dipelopori Imam Malik. ia menguji hadits dengan pertimbangan psikologis dan konteks sosial. marilah kita melihat madzhab Hanafi." Yang dimaksud dengan apa yang sudah terjadi adalah hadits-hadits Nabi. "Lingkaran keempat adalah madzhab Syafi'i yang dipelopori Imam Syafi'i. Dalam proses pengambilan hukum. Apa yang belum terjadi adalah ketetapan hukum berdasarkan qiyas. ia menjawab: "Abu Hanifah adalah orang paling pandai tentang apa yang sudah terjadi. adalah mazhab yang frekuensi penggunaan akalnya lebih banyak. Bukankah agama itu ra'yu yang baik?" Barangkali ini penegasannya tentang keharusan nash tunduk pada analisis rasional. Kaidah mereka adalah al-Mashalih al-Mursalah.

" Nabi bersabda: "Dua jual beli dengan khiyar sebelum keduanya berpisah. Abu Shalih al-Fura menuturkan. Karena itu." Ibn Abu Syaibah dalam bukunya. madzhab Hanafi tersebar ke seluruh kekuasaan Islam. Kataku: "Berikan sebagian contohnya." Kata mereka: "Pada zaman Abu Hanifah. Rahman. sebagaimana kritik Rahman terhadap hadits (sunnah) dapat ditelusuri pada kritik fuqaha al-ra'y terhadap fuqaha al-atsar. tidak berbeda dari Ibn Taimiyah bagi madzhab Hanbali. Kata Abu Hanifah: "Undian itu judi. sebagaimana fiqh al-ra'y mempunyai persamaannya dalam tafsir bi 'l-dirayat.hanya dapat diterima oleh orang yang tidak mempunyai dasar dalam pemikiran Islam tradisional. tidak ada khiyar. Kata Abu Hanifah: "Isy'ar adalah penganiayaan. "aku mendengar Yusuf ibn Asbath berkata. Tafsir Kontekstual-. Kita akan membicarakan kritik pembaruan Rahman di akhir tulisan ini. sebagai latar belakang teoretis dalam memahami penafsiran al-Qur'an yang dirumuskan oleh Rahman. (Untuk menggembirakan kita semua kedua-duanya berhak disebut Syaikh al-Islam). pada bab khusus.. Di Mesir.fiqh. ada empat orang sahabat. menyebut hadist-hadist yang ditolak Abu Hanifah dan mencapai 150 hadits. Abu Hanifah tidak tertarik untuk menemui mereka. menerima hadits dengan sikap kritis. Sebelum sampai ke situ. . Daerah-daerah madzhab Hanafi antara lain Mesir dan Pakistan. prajurit mendapat satu bagian. kita akan terkejut menemukan bahwa klaim orisinalitas pembaruan Rahman --yang berulangkali disebut Taufik Adnan Amal dalam bukunya. Tidak heran kalau Fazlur Rahman sering --bahkan paling sering-menyebut Abu Yusuf. Ibrahim Hosen mereguk ilmunya." Nabi mengundi istri-istrinya kalau mau bepergian.. al-Hadi dan al-Rasyid. antara lain pada masa al-Mahdi. Tafsir --menurut Muhammad Ali al-Shabuni-adalah ilmu untuk memahami Kitab Allah yang diturunkan kepada . Abu Hanifah menolak 400 atau lebih hadits Nabi saw. kuda mendapat dua bagian." Rasulullah melakukan isy'ar (melukai punggung unta) sebelum menyembelih hewan kurbannya. ketika merumuskan metodologi ijtihadnya." Katanya: "Rasulullah berkata. TAFSIR BI 'L-RIWAYAT DAN TAFSIR BI 'L-DIRAYAT Fiqh al-atsar mempunyai tandingan dalam tafsir bi al-riwayat. Uraian di atas diberikan untuk menjelaskan dasar-dasar pemikiran Rahman pada perkembangan pemikiran Islam klasik. ada baiknya kita juga meninjau perkembangan metodologi penafsiran al-Qur'an. dan menetapkan "sunnah yang dikenal baik" sebagai kriteria terhadap "semangat dan sikap kolektif" dari hadits. Di Pakistan. Ia memuji Abu Yusuf karena memberikan penafsiran yang situasional kepada hadits yang "berdiri sendiri". Kata Abu Hanifah: "Aku tidak akan menjadikan bagian binatang lebih banyak daripada bagian seorang Mukmin. Ia menolak banyak hadits demi ra'yu." Kata Abu Hanifah: "Bila jual beli wajib. Lewat tangan-tangan kekuasaan. Salah satu murid terkemuka dari Abu Hanifah adalah Abu Yusuf. bagi madzhab Hanafi. Ia memegang jabatan qadhi pada masa-masa kekhalifahan 'Abbasiyyah. Cukuplah dikatakan bahwa dengan mempelajari fiqh-fiqh klasik. Kita tidak akan membicarakan pengaruh Abu Yusuf terhadap metodologi Rahman (dan juga Hosen). Fazlur Rahman dilahirkan. kritik terhadap Rahman juga dapat dilacak pada kritik fuqaha al-atsar terhadap fuqaha al-ra'y.

wa lam yalbisu imanabum bi zhulm (QS 6:82) sebagai syirk berdasarkan ayat inn al-syirk la-zhulm 'azhim (QS 31:13). dalam Tafsir al-Mizan. membedakan ketetapan legal dari sasaran dan tujuan al-Qur'an. Di antara jenis-jenis tafsir bi 'l-riwayat. baru tafsir al-Qur'an dengan al-Sunnah (misalnya. kita akan menelusuri akar-akar penafsiran Rahman pada tafsir bi 'l-dirayat. Bila tafsir itu diperoleh dengan menukil penjelasan dari al-Qur'an lagi. Ibn Abbas menafsirkan dua kematian dan dua kehidupan dalam surah Ghafir ayat 11 dengan merujuk kepada surah al-Baqarah ayat 28. tafsir bi 'l-riwayat seperti ini diambil Rahman ketika berbicara tentang hukum Islam dan ditinggalkan Rahman ketika membahas aspek teologis dan eskatologis ajaran Islam. kemusykilan kedua penafsiran ini akan kita lihat. Anehnya. Rahman hampir sepenuhnya berpijak pada tafsir bi 'l-dirayat. kita uraikan jalan yang ditempuh oleh al-Thabathaba'i. pendapat sahabat dan tabi'in. Rupanya. Bila kita teliti kitab-kitab itu. Untuk mengapresiasi metode penafsiran Rahman.maka kita menyebutnya tafsir bi al-dirayah atau tafsir bi 'l-ra'y. Pertama kali. Untuk yang terakhir ini. Semula manusia mati. 2:185) dan al-Sunnah. yang menjadi pijakan Rahman. dan menjelaskan maknanya serta menggali hukum-hukum dari hikmahnya. al-Hadits. lewat asbab al-nuzul). para mufasir menganggap taisir bi 'l-riwayat adalah yang paling dapat dipercaya. Ali ibn Abi Thalib menyimpulkan bahwa waktu minimal kehamilan adalah enam bulan. . Setelah itu Allah mematikan mereka dan menghidupkan mereka kembali pada Hari Kiamat. maka tafsir itu disebut tafsir bi 'l-riwayat atau tafsir bi 'l-ma'tsur. Muhammad saw. Akhirnya. 7:52. Paling tidak. Sesudah itu.Nabi-Nya. Nabi saw. Bila tafsir itu berpijak pada ijtihad mufasir --dengan mengerahkan kemampuan nalar dan/atau intuisinya-. Banyak kitab tafsir mengaku menggunakan metoda ini. yang --menurut Rahman-dapat mengungkapkan latar belakang situasional. Abd al-Karim al-Khathib al-Mishri bahkan menamai kitab tafsirnya al-Tafsir al-Qur'ani li al-Qur'an. Kemudian Allah menghidupkan mereka di dunia. kita akan menemukan prosedur penafsiran Qur'ani yang bermacam-macam. kita dapat membaginya ke dalam kelompok: tafsir Qur'ani yang murattab (berdasarkan urutan ayat dari al-Fatihah sampai al-Nas) dan tafsir Qur'ani maudhu'i (berdasarkan tema-tema atau topik-topik tertentu) Untuk mengetahui prosedur penafsiran qurani yang murattab. Selanjutnya. tafsir al-Qur'an dengan al-Qur'an adalah yang paling baik. kita akan melihat problematik al-Qur'an yufassir ba'dhuhu bad'dhan. serta menggali prinsip-prinsip universal ajaran Islam. menafsirkan kata zhulm dalam. Tafsir al-Qur'an dengan al-Qur'an mempunyai basis dalam petunjuk-petunjuk al-Qur'an sendiri (QS 11:1. dari sinilah Rahman mengajak kita untuk menafsirkan al-Qur'an dengan melihat al-Qur'an secara keseluruhan dan dengan melihat "sebab-sebab pewahyuan". dari penafsiran QS 31:14 dengan QS 46:15. ketika berada dalam tulang sulbi orang tua mereka. Tradisi Nabi ini dilanjutkan oleh para sahabat. Di antara kedua jenis tafsir itu. kita akan melacak kemusykilan asbab al-nuzul.

Seringkali kita mengalami kesulitan untuk memahami ayat atau mengetahui tujuannya karena jarak kita yang jauh dari zaman wahyu.. Jadi jelas. atau bersifat haliyah. Kita memperoleh manfaat lain dari pengumpulan ayat-ayat yang berkaitan dengan topik tertentu dengan tetap berpijak pada pandangan Qur'ani yang utuh tentang topik tersebut. salah satu aspek dari topik tertentu itu. seperti kata-kata yang membentuk kalimat tunggal yang berkaitan dengan lafadz yang ingin kita pahami. Ayat ini terdapat dalam kisah ucapan Ibrahim kepada para penyembah berhala. Mengumpulkan ayat-ayat dalam hubungannya satu sama lain. kemudian dikumpulkan ayat-ayat yang berkenaan dengan topik tersebut. 26. al-'Alaq ayat 8. Tafsir maudhu'i dimulai dari topik." Misalnya. al-Najm ayat 42. Apakah kamu menyembah barang yang kamu pahat. (QS 37:95). dan karena kita tidak mengetahui konteks turunnya ayat itu atau petunjuk-petunjuk situasional yang berlaku pada masyarakat Islam saat itu. Kedua. (Kita) kumpulkan setiap ayat yang berkaitan dengan pengertian tertentu dan topik tertentu. padahal Allah menciptakan kamu serta apa yang kamu perbuat (QS 37:96). Yang dimaksud dengan kata al-mustaqar dalam surah al-Qiyamah ayat 12 adalah "tempat kembali" dengan melihat surah al-Insyiqaq ayat 6. dengan melihat surah al-A'raf ayat 69.Pertama.. tetapi meliputi anak-cucunya. Ketua Komisi Fatwa Majelis Ulama . Kadang-kadang ayat-ayat yang berkaitan dengan topik tertentu tersebar pada surah-surah yang berbeda atau pada tempat-tempat yang berbeda dalam surah yang sama." Yang dimaksud dengan "khalifah" dalam surah al-Baqarah ayat 30 tidak terbatas pada Adam. "maka ayat-ayat al-Qur'an dilihat dari konteks ayat-ayat itu" (siyaq al-ayat). Bahwa "apa yang kamu perbuat" adalah berhala-berhala itu. Ibrahim Hosen. ". mempermudah makna yang sulit. ayat "Dan Allah menciptakan kamu serta apa yang kamu perbuat" (QS 37:96). Yang dimaksud dengan konteks adalah "semua yang mengungkapkan ( makna) lafadz yang ingin kita pahami dari petunjuk-petunjuk yang lain. Ayat-ayat itu kemudian disusun dan dirangkai begitu rupa sehingga dihasilkan kesatuan pandangan yang lengkap dan kesatuan pemikiran yang menghimpun dan meliputi seluruh ayat tersebut.. seperti kasus-kasus atau fenomena yang menjadi petunjuk bagi topik yang dibicarakan. dapat membantu kita dalam menghilangkan kekaburan dan ketidakjelasan.. Tafsir maudhu'i baru muncul belakangan. baik yang bersifat lafdziyah." POKOK-POKOK PEMIKIRAN MADZHAB LIBERALISME Pendapat Prof. Pengantar pada tafsir ini --sepanjang pengetahuan saya dari kalangan kaum Muslim-. Tanpa melihat konteks ayat.ditulis oleh Muhammad al-Baqir al-Abthahi. atau menjelaskan istilah-istilah yang dipergunakan dalam al-Qur'an. kita akan terjatuh ke dalam paham Jabbariyah. dan al-Naml ayat 62. dan menjelaskan metodenya sebagai berikut: ". "ayat-ayat lain dipergunakan untuk memahami ayat-ayat yang mujmal atau sama. Yunus ayat 14. dan al-Qhashash ayat 88. Perbedaan antara tafsir maudhu'i dengan tafsir murattab mirip dengan perbedaan antara thesaurus dengan dictionary. Ja'far Subhani menulis serial mafahim al-Qur'an (sampai sekarang sudah selesai lima jilid). Al-Qur'an menunjukkan dalam setiap surah atau setiap tempat. dalam satu tempat.

pendekatan historis untuk menemukan makna teks.Indonesia ini pernah mengajukan saran-saran bagi pembaruan pemikiran keagamaan di Indonesia. kita harus mengambil sunnah Rasul dari segi jiwanya untuk tasyri al-ahkam dan memberikan keleluasaan sepenuhnya untuk mengembangkan teknik dan pelaksanaan masalah-masalah keduniawian. kita harus menggeser perhatian dari masalah pidana yang ditetapkan oleh nash kepada tujuan pemidanaan. Dalam perkembangan pemikirannya yang kemudian. pemahaman sasaran al-Qur'an dengan memperhatikan latar belakang sosiologisnya.22. Pertama. (021) 7507174 Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota Please direct any suggestion to Media Team Artikel Yayasan Paramadina Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota IV. Ketiga. Ia mengusulkan enam hal. ketiga langkah ini merupakan langkah pertama dalam perumusan prinsip-prinsip hukum Islam. yaitu. Metro Pondok Indah Pondok Indah Plaza I Kav. UA 20-21 Jakarta Selatan Telp. Dari ketiga langkah tersebut di atas. Kelima. Amal dan Pangabean memperincinya dalam Tafsir Kontekstual al-Qur'an. 7507173 Fax. kedua. kita harus melepaskan diri dari masalikul'illah gaya lama dan mengembangkan perumusan 'illat hukum yang baru.(bersambung 9/10) Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah Editor: Budhy Munawar-Rachman Penerbit Yayasan Paramadina Jln. (021) 7501969. kita harus meninggalkan pemahaman harfiah terhadap al-Qur'an dan menggantinya dengan pemahaman berdasarkan semangat dan jiwa al-Qur'an. Nanti. Kedua. prinsip-prinsip umum ini kita aplikasikan untuk memecahkan masalah-masalah konkret dewasa ini. Secara operasional. TAFSIR KONTEKSTUAL FAZLUR RAHMAN Rahman dalam Tema Pokok al-Qur'an memperinci metodologi penafsiran al-Qur'an dalam tiga langkah. -------------------------------------------. pembedaan antara ketetapan legal dengan sasaran dan tujuan al-Qur'an. TINJAUAN KRITIS ATAS SEJARAH FIQH (9/10) Dari Fiqh Al-Khulafa' Al-Rasyidin Hingga Madzhab Liberalisme oleh Jalaluddin Rakhmat KRITIK PADA FIQH IBRAHIM HOSEN Esensi dari pemikiran Hosen ialah jiwa atau semangat dari al-Qur'an dan Sunnah. Pertama. bergerak dari yang khusus kepada yang umum. Terakhir. kita harus sanggup menyimpulkan prinsip-prinsip umum ajaran al-Qur'an. kita harus mendukung hak pemerintah untuk mentakhshish umumnya nash dan membatasi muthlaqnya. ketiga. Keempat. kita harus mengganti pendekatan ta'abbudi terhadap nash-nash dengan pendekatan ta'aqquli. Kita tidak perlu terikat pada teks-teks . 7501983.

Sekarang kita abaikan makna lahiriah ini. Apakah perempuan tidak perlu memakai kerudung bila ia sudah pandai menjaga diri tidak melakukan tindakan yang "merangsang"? Kita memerlukan kriteria kapan teks harus ditinggalkan demi makna yang lebih dalam dan kapan makna yang lebih dalam itu harus diperlakukan sebagai pengayaan makna lahiriah dan bukan pengabaiannya. Perintah ini harus dipahami sebagai perintah untuk menahan diri dari perbuatan-perbuatan yang mendorong orang ke arah pemuasaan nafsu. Pandangan ini menimbulkan beberapa kemusykilan. Mereka memerlukan tenaga dan kekuatan. apakah kita juga harus meninggalkan puasa. al-Nur: 31) jelas menunjukkan perintah memakai kerudung sampai menutup dada. berdasarkan pada 'illat baru. "Dan hendaklah mereka menutupkan kerudungnya sampai menutupi dada mereka" (QS. Apa semangat dari larangan ini? Umat Islam sedang menghadapi tugas yang berat. Tetapi yang menjadi persoalan ialah apakah berpegang pada semangat al-Qur'an atau al-Sunnah itu berarti tidak usah setia lagi pada makna lahiriahnya. ketika kita memerlukan tenaga untuk membangun. qashar tidak lagi berlaku dalam perjalanan tetapi dalam situasi apapun yang membuat orang payah. kita meninggalkan makna obyektif yang sudah jelas dan memasuki makna subyektif yang tidak jelas kriterianya. Dalam situasi seperti itu puasa boleh ditinggalkan. Fiqh menjadi alat status quo dan bukan sebagai korektor. fiqh akan lebih berfungsi sebagai pemberi justifikasi daripada jurisprudensi. Kata sebagian orang. Makna lahiriah dari teks.lahir al-Qur'an dan Sunnah. dahulu wanita-wanita Arab itu senang membuka dadanya untuk merangsang kaum pria. Kita tidak boleh menerima teks-teks itu begitu saja (secara ta'abbudi). Sekarang. kepastian hukum menjadi kabur. hukum-hukum syari'at dapat berubah. Misal. Dengan cara ini terbukalah peluang untuk memasukkan pikiran-pikiran non-islami ke dalam struktur syari'at Islam. Rasulullah menyuruh mereka berbuka. dengan mengganti 'illat qashar pada masyaqqah (kepayahan). pemikiran seperti ini tidak memerlukan usaha yang sungguh yang menjadi makna ijtihad. Dengan kebebasan mencari 'illat baru. Kita dapat menggashar shalat hanya karena kita baru saja menyelenggarakan seminar yang menguras energi. ketika kita meninggalkan makna lahir teks dan mencari jiwa atau semangat teks. Kita harus mencari semangat atau ruh perintah ini. ketika kita harus meninggalkan produktivitas. bukan menutupkan kerudung. Islam akan dipandang hanya sebagai suplemen dan bukan sebagai alternatif. yang dimaksud ialah hendaknya wanita memelihara kesucian dirinya dengan menutup diri dari perbuatan-perbuatan yang tercela. Dalam istilah sebagian orang. karena . Kata sebagian orang. Tanpa kriteria ini kaum liberalis dapat membawa kita ke arah tadhyi (pengabaian nash) dan tahrif (penyimpangan makna). dengan menetapkan pemerintah sebagai pentakhshish dan pengtaqyid nash. Pertama. Kita tidak perlu mengeluarkan zakat bila pemerintah sudah melakukan kebijakan pemerataan pendapatan dan memberikan santunan pada fakir miskin. Bukan semangat dari ajaran zakat ialah pemerataan pendapatan dan pengurangan kemiskinan? Ketika para sahabat bersiap diri menghadapi perang di bulan Ramadlan. Ketiga. Kita harus menggunakan akal (ta'aqquli). Saya yakin. Kedua. Kita masih dapat mengumpulkan pendapat-pendapat lain. Semangat ajaran Islam itu kesucian diri. Kata "menutupkan kerudung" harus dipahami sebagai kata kiasan.

sebagaimana yang telah banyak diketahui oleh para peneliti ulum al-Qur'an. Lebih dari itu.dapat "membuktikan" pengaruh-pengaruh Kristen dan Yahudi dalam al-Qur'an. Karena itu. sangat sukar kita memperoleh gambaran utuh mengenai situasi sosial waktu itu.justifikasi tidak memerlukan pemikiran yang mendalam. Di antara yang sedikit itu. Dalam kalimat Shadr. Kadang-kadang ayat yang sama dijelaskan dengan asbab al-nuzul yang berlainan (ta'addud al-asbab wa al-nazil wahid)." Dari mana kita memperoleh informasi tentang situasi masa lalu itu? Pertama. Apalagi --sebagai pelanjut mazhab Umari-Rahman seringkali tidak ragu-ragu menanggap hadist-hadist sebagai "fiksi yang dirumuskan belakangan saja". Apalagi. Kemusykilan lainnya --yang terlalu panjang bila diuraikan di sini-. bila bertentangan dengan apa yang telah dipandangnya sebagai prinsip-prinsip umum ajaran al-Qur'an."menilai bahwa literatur asbab al-nuzul itu seringkali sangat bertentangan dengan kacau-balau" (h. "terdapat jarak yang sangat jauh antara situasi sosial ketika nash-nash itu dilahirkan dengan situasi sosial dewasa ini. datanglah . Terdapat juga kemusykilan dalam menentukan apakah dalam situasi tertentu. meminta agar beliau memohon ampun kepada Allah untuk orang itu. Kemudian turun surah al-Nisa ayat 64. tetapi --pada saut yang sama-.berkenaan dengan hubungan antara dengan asbab al-nuzul. Pernah orang datang kepada Rasulullah saw. KRITIK PADA FAZLUR RAHMAN Metodologi Rahman --seperti telah disebutkan di atas-bersandar sepenuhnya pada pendekatan historis untuk memperoleh makna teks dari analisis latar sosiologis untuk memahami sasaran al-Qur'an. sedang dalam situasi lain sebabnya khusus tetapi efek legalnya umum. sebab itu khusus dan efek legalnya juga khusus. Seperti dikatakan Subhani. yang terbukti seringkali ditulis oleh orang-orang yang tidak mempunyai pengetahuan historiografi. 224). seperti yang dilukiskan oleh Taufik dalam buku ini (h. Rahman menyadari pentingnya asbab al-nuzul. dari buku-buku tarikh. Di kalangan para mufassirin terjadi ikhtilaf apakah pelajaran (al-'ibrah) itu bersifat spesifik (bi khushush al-sabab) atau umum (bi 'umum al-lafazh). tetapi hanya ahli sejarah yang dapat mengubah sejarah. Tuhan dapat membuat sejarah. kita merumuskan situasi di zaman Nabi itu dari asbab al-nuzul. Kedua. seperti kata sebagian orang. 158). sebagian besar tidak tahan kritik --bahkan pada tingkat kritik rawi atau sanad. karena jarak kita yang jauh dari masa wahyu. Kadang-kadang sebab yang sama berkaitan dengan ayat-ayat yang berlainan (ta'addud al-nazil wa 'l-sabab wahid). Apakah meminta doa kepada Rasul itu hanya berlaku pada waktu Rasul masih hidup atau juga berlaku sekarang? Bukankah dari ayat ini dapat disimpulkan suatu prinsip umum: Bila berbuat dosa. para orientalis --lewat "analisis sosiologi" mereka-. tetapi mempunyai motif-motif yang patut dicurigai. Yang paling musykil --dan justru di sini Rahman berpijak-adalah menetapkan apakah asbab al-nuzul itu hanya berkenaan dengan peristiwa atau orang yang spesifik atau dapat digeneralisasikan. hadist-hadist tentang asbab al-nuzul itu sangat sedikit. ketika nash-nash itu dijadikan rujukan.

Yang pertama mengharamkan khamr sebenarnya adalah surah .. Yang ingin diketahui orang ialah bagaimana Rahman menarik kesimpulan dari ayat-ayat yang tidak ada asbab al-nuzul-nya.kepada Rasulullah --baik dalam keadaan hidup atau mati dan mintakan agar beliau memohonkan ampunan buat kita? Kaum Wahhabi berpendapat bahwa tawassul itu syirik dan karena itu menganggap ayat ini hanya berlaku ketika Rasulullah masih hidup. "Aku tidak keberatan. alkohol menjadi membahayakan sehingga pengkonsumsiannya tidak diperkenankan. Kata A'sya. Abu Jahal terbunuh dalam perang Badar. penelitian saya tentang pengharaman menghasilkan kesimpulan yang berbeda. jauh sebelum turun surah al-Maidah. Muhammad mengharamkan khamr. khamr diharamkan. Setelah umat Islam terbentuk sebagai masyarakat. Kita tidak tahu apakah Rahman setuju. tetapi akhirnya dianggap sebagai perbuatan setan (QS 5:90-91). Khamr sudah diharamkan sejak awal kenabian. Muhammad mengharamkan zina. Di sini tampak bahwa prinsip umum yang diyakini oleh mufasir menentukan spesifikasi atau generalisasi asbab al-nuzul. para ahli tafsir sepakat menyebutkan surah al-Maidah ayat 90 sebagai ayat yang terakhir." Bahwa khamr telah diharamkan sejak awal bi'tsah dapat dilihat pada peristiwa masuk-Islamnya A'sya ibn Qais. Mereka berpegang pada sebab yang khusus (bi khushush al-sabab). juga. Tetapi karena sahabat terus-menerus melakukan pelanggaran. ketika umat Islam belum merupakan suatu masyarakat (society). tetapi hanya merupakan komunitas informal. Dengan menggunakan metodologi Rahman. "Hai Abu Bashir. Mula-mula khamr dipandang sebagai rahmat Tuhan (QS 16:66-69). Kedua-duanya sangat dihajatkan terutama sekali untuk menetapkan tujuan atau sasaran yang ingin dicapai al-Qur'an ("ideal moral" al-Qur'an) atau sebab berlakunya hukum (ratio legis). Dalam urutan pengharaman khamr. Peristiwa ini terjadi di Makkah. ketika Abu Jahal masih hidup. di Makkah. Menurut Thabathaba'i. dan orang-orang Quraisy lainnya. ". ketika manusia menjadi sebuah masyarakat (society).. Dalam hadist yang dikeluarkan oleh Thabrani dari Mu'adz ibn Jabal disebutkan bahwa di antara yang pertama kali diharamkan pada permulaan kenabian adalah minuman khamr. Abu Jahal. Marilah kita ambil kasus khamr. Setiap orang juga tahu bahwa asbab al-nuzul dan tarikh sangat penting. bagaimana kita dapat memastikan situasi sosial dari tarikh yang dapat kita akses.pengharaman khamr ini berlangsung secara gradual. Rahman menunjukkan evolusi "sikap" al-Qur'an terhadap khamr. Menurut Rahman --juga kebanyakan ulama-. Apa prinsip umum yang dapat ditarik dari latar sosiologis ini? Kata Rahman. Ketika ia bermaksud menyatakan Islamnya di depan Rasulullah saw. jika kita menyimpulkan --dari kesimpulannya-bahwa pengkonsumsian alkohol secara individual dalam komunitas informal tidak haram.. di tengah jalan ia dicegat Abu Sufyan." "Abu Bashir. karena mereka menganggap enteng larangan ilahi ini. maka pengharaman ditegaskan berkali-kali --dari tahrim 'am sampai tahrim khash bi tasydid al-baligh (pengharaman khusus yang sangat keras). Khamr tidak diharamkan. Dan seterusnya. kecuali untuk mempertegas (keharaman khamr) bagi menusia." Inilah ratio legis haramnya alkohol. Setiap orang akan setuju bahwa konteks historis sangat diperlukan untuk memahami al-Qur'an." kata mereka." kata mereka lagi. "Tidak turun ayat al-Ma'idah.

22. tetapi (untuk khamr) mempertegasnya dengan menyebutkan dosa besar. Karena itu surah al-Ma'idah 90 diakhiri dengan kata Mengapa kalian belum berhenti juga. Umar menjawabnya. (021) 7507174 Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota Please direct any suggestion to Media Team Artikel Yayasan Paramadina Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota IV. TINJAUAN KRITIS ATAS SEJARAH FIQH (10/10) Dari Fiqh Al-Khulafa' Al-Rasyidin Hingga Madzhab Liberalisme oleh Jalaluddin Rakhmat CATATAN 1. Tuhanku hanya mengharamkan kekejian. dan dosa. al-A'raf:33). yang harus lebih dahulu dirumuskan adalah kritik keduanya (yang kurang diperhatikan Rahman). Ahmad Abu Dawud. Al-Itsm dalam ayat itu adalah khamr.dan dosa (al-itsm) dan pembangkangan tak benar serta menyekutukan Allah. Tentang surah al-Baqarah ayat 219 --yang dianggap Rahman dan kebanyakan mufassirin belum mengharamkan khamr-. UA 20-21 Jakarta Selatan Telp. Kami berhenti!" Ini hanyalah sebuah contoh penggunaan metodologi Rahman dengan hasil yang sama sekali berbeda dari konklusi Rahman. Katakanlah di dalamnya ada dosa besar (itsm kabir). 7501983. Dosa semuanya diharamkan dengan firman Allah. Menurut riwayat. cukuplah ayat ini saja. (QS. Muslim. Seandainya tidak turun ayat lain yang mengharamkan. karena yang dimaksud manfaat itu manfaat dunia dan semua yang diharamkan ada manfaat duniawi bagi pelanggarnya. Al-A'raf termasuk surah yang turun dalam periode Makkiyah awal. sebagai penegas akan bahayanya. Karena basis metodologi Rahman adalah tarikh dan asbab al-nuzul.karena sahabat masih tetap melakukannya." Walhasil. "Kami berhenti. Ibn Majah.(bersambung 10/10) Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah Editor: Budhy Munawar-Rachman Penerbit Yayasan Paramadina Jln.Riwayat ini dihimpun berdasarkan hadits Bukhari. pengharaman khamr diulang-ulang --makin lama makin keras-. ------------------------------------------. sebagaimana ditegaskan dalam surah al-Baqarah ayat 214.al-A'raf ayat 33. Mereka bertanya kepadamu tentang khmr dan judi.. Katakan Tuhanku hanya mengharamkan kekejian --baik yang tampak maupun yang tersembunyi-. Ibn Hajar . al-Nasai.al-Jashash menjelaskan: "Ayat ini menetapkan haramnya khamr. Karena Allah berfirman. (021) 7501969. Allah tidak saja menjelaskan bahwa dosa itu haram. Metro Pondok Indah Pondok Indah Plaza I Kav.. 7507173 Fax. di dalamnya dosa besar. Adapun kata manfaat bagi manusia tidaklah berarti menghalalkannya.

Dar al-Fikr.Abu Ishaq al-Syatiby. Mesir: Mustafa Muhammad. sebab mereka semna 'udul." 7. 1:135.Ibn Hajar mendefinisikan sahahat sebagai "orang yang berjumpa dengan Nabi saw. 5.Taqdimah al-Ma'rifah li Kitab al-Jarh wa al-Ta'dil. al-Ghazali menolak semua pendapat itu dan berkata. Heiderabad. 1:457 3.Fath al-Bari. atau yang tidak melihatnya seperti orang buta". "Sahabat sama seperti perawi hadits yang lain kecuali satu hal --pada mereka tidak berlaku jarh dan ta'dil. "Sepakat semua Ahl Sunnah bahwa sahabat seluruhnya 'udul. "Siapa yang mengkritik salah seorang di antara sahabat Rasulullah saw. Bagaimana mungkin berhujjah dengan ucapan mereka dengan kemungkinan mereka salah.. Beirut. tak ada yang menentang hal ini kecuali orang-orang bid'ah yang menyirnpang" (Al-Ishabah 1:9. 2. Lihat: Fath al-Bari. tanpa tahun.Lihat al-Ghazali. yang melihatnya tetapi tidak menghadiri majelisnya. yang berperang besertanya atau tidak. Al-Muwafaqat fi Ushul al-Syari'at.Abu Zahrah. semuanya mati dalam iman. hal.agar setiap mujtahid mengikuti ijtihadnya masing-masing. ketahuilah bahwa dia itu zindiq (atheis). tanpa kota. beriman kepadanya dan meninggal dalam Islam. Pada halaman yang sama. padahal mereka boleh ikhtilaf? Mungkinkah dua orang ma'shum ikhtilaf? Bagaimana mungkin. Pembaca yang tertarik dapat melihat M. "Siapa saja yang mungkin salah atau lupa dan tidak tegas 'ishmahnya tidak boleh pembicaraannya menjadi hujjah.al-Asqalani. Tarikh al-Madhahib al-Islamiyah. Mathba'ah al-Maktabah al-Tijariyah. Mereka yang termasuk jumpa ini orang yang lama bergaul dengan Nabi atau yang sebentar. menurut Ibn Hazm. 1371. tanpa tahun. Beirut. hal. Ibn Al-Atsir dalam Usud al-Ghabah fi Ma'rifat al-Shahabah.T Al-Hakim Al-Ushul al-'Ammah fi al-Fiqh al-Muqaran. Kecuali untuk sahabat yang masuk Islam sesudah Bai'at al-Ridwan (sambil mereka pun tidak boleh disebut kecuali kebaikan). padahal sahabat sepakat bolehnya bertentangan dengan sahabat yang lain? Abu Bakar dan Umar tidak mengingkari orang yang berbeda ijtihadnya dengan mereka. al-Ishahah fi Tamyiz al-Shahabah. bahkan mereka mewajibkan --dalam masalah ijtihad-. 1:3. 250. 1:10 4. tidak dikenai celaan. Ibn Hajar berkata. 1974:133-143. "Seluruh sahabat itu mukmin yang saleh. Bagaimana mungkin menetapkan ishmah mereka tanpa hujjah yang mutawatir? Bagaimana dapat dibayangkan adanya 'ishmah." Begitu "sucinya" para sahabat itu sehingga Abu Zar'ah menulis. Dar al-Andalus. Al-Syatibi mengutip ayat-ayat al-Qur'an dan hadits-hadits untuk menunjang pendapatnya. 7-9. Ibn Hajar mengemukakan dalil-dalil tentang 'udul-nya sahabat secara rinci dalam kitab ini juga). . Mengenai 'Udul-nya sahabat. 4:74." Lihat Al-Ishabah 1:10. 6. menulis. 1:443 al-Maktabah al-Salafiyah. al-Mustasyfa. Muhammad Taqiy al-hakim mengkritik kelemahan argumentasi al-Syatibi secara rinci.

252. "Ijtihad and the Practise of Ra'y". Fath al-Bari 12:101. dalam Al-Tawhid. Taysir al-Wushul 2:5. Kairo. Sunan al-Baihaqi 7:336. Teheran: Sepahar. Kairo: Dar al-Kutub al-Haditsah.Muhammad Ibrahim Jannati.Abu Dawud 2:227. Ibn Majah 2:227. Al-Baihaqi .Asbab al-Ikhtilaf bain Aimmah al-Madzahib al-Islamiyah". Umdat al-Qari 11:151.Shahih Muslim 1:574. hal. Kanz al-Ummal 1:185. Tarikh al-Madzahib.Ibn Qayyim al-Jawziyyah. 8. Irsayad al-Sari 10:9. 227-228.Tafsir Ibn Katsir 4:194." (Saya kutip lagi dari Muhammad 'Ajal al-Khatib. 4:352 dan 5:22. Mesir: Mathba'ah Sa'adah. hal. turun berkenaan dengan Ali bin Abi Thalib). 2. lihat juga Shahih Muslim. hal. Diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris oleh Mahliqa Qara'i. 9. Saya kutip lagi dari Abu Zahrah. Tafsir al-Darr al-Mantsur 6:74. 395-396). Musa Towana. yang jika kamu berpegang teguh. 1963. tanpa tahun. Sunan al-Nasa'i. "I'lam al-Muqi'in. 1404. Musnad Ahmad 1:314. al-Baihaqi dalam Sunan al-Kubra 8:264. tidak seorangpun masuk neraka. 15. pada Kitab Al-Muharibin. dalam Kayhan-e Andisheh NO. V NO. 3:69. Bukhari meriwayatkan hadits ini tetapi dengan tidak lengkap. semuanya masuk surga.Al-Syatibi. 19. 17.Shahih al-Bukhari. dalam Hawl al-Wahdah al-Islamiyah. hal. 12. Zad al-Ma'ad 1:177-225. Shahih Muslim 2:52.Di antara ayat-ayat yang menunjukkan keharusan mengikuti ahli bait adalah Al-Maidah 55 (Menurut banyak ahli tafsir. 11. 255.Abu Dawud 2:242. 57-58.Kupasan tentang perdebatan ini. 14. lihat Ibn Qayyim. Al-Ahzab 33 (tentang 'ishmah ahli bait).Abu Zahrah. Kanz al-Ummal 3:102. dan kebajikan. 5:148.petunjuk. 1408.Dr. 13. "Al-'Itisham. "Ra'y Gera'i Dar Ijtihad". Musnad Ahmad 4:366. Al-Syura 23 (tentang keharusan mencintai ahli waris). Tarikh al-Madzahib. Al-Sunnah qabl al-Tadwin. Al-Ijtihad: wa Mada Hajatina ilaih fi Hadza al-Ashar. 32-33. Di antara hadist-hadits tentang hal yang sama adalah hadits Tsaqalain: Aku tinggalkan bagimu dua hal. 1:349. Al-Baihaqi dalam Sunan al-Kubra 8:318. 18. al-hakim 2:196. al-Hakim dalam al-Mubarak 2:59 dan 4:389. 16. vol. Sunan al-Baihaqi. 10. 9. Maktabah Wahdah. 20. kamu tidak akan sesat selama-lamanya Kitab Allah den Ahli Baitku (hadits-hadits yang semakna dengan ini diriwayatkan oleh Shaih Muslim dalam Kitab Fadhail al-Shahabat". al-Dar al-Mantsur 1:279. tt 1:63-64. hal.

Riwayat pelarangan bagian muallaf. 36.2:148.Diriwayatkan oleh Imam Malik dalam Al-Muwaththa' 1:282 dari Urwah: Rasulullah shalat dua rakaat di Mina pada shalat-shalat yang empat rakaat. lihat Tafsir al-Manar 10:297. dalam Limadza Ikhtartu Madzhab Ahl al-Bait. menyimpulkan dalil-dalil itu. Shahih al-Turmudzi 2:308. Sunan Abu Dawud 1:171. Jakarta: Pustaka Panjimas. Tafsir al-Zamahsyari 1:359. 11:257. Ahkam al-Qur'an dari Al-Jahshash 3:60 62.a". tarjamah Abu Bakr. Tarikh Thabari 3:193. Kanz al-'Umal 1:47 dan lain-lain). 27. Gubahan syair dari Al-Amini al-Inhaqi dari Syiria.Al-Thabaqat al-Kubra. Al-Ijtihad. 21. Kanz al-'Ummal. Tarikh al-Khulafa. Qum Abu Mujtaba. 7:447. 30.Al-Muwaththa'. bukan tempatnya di sini menuliskan semua riwayat yang dijadikan dalil oleh kelompok pertama. dikutip lagi dari al-Nash wa al-Ijtihad. dan hadits: "Ahli baitku adalah tempat yang aman dari ikhtilaf bagi umatku" (Mustadrak al-Shahihain 3:348). Lihat juga Shahih Bukhari. Ahkam al-Qur'an dari Al-Jahshash 2:168.Shaih al-Bukhari. 39-40. Sunan al-Baihaqi 6:342-343.Al-Jawharah al-Nayyirah. Taisir al-Khazim 1:356. Al-Durr al-Mantsur 3:252.Kitab al-Kharraj 24-25.Shahih al-Bukhari 3:69. al-Baihaqi 7:164. 1:22. "Kitab al-'Ilam".Tadzkirat al-Huffazh.Lihat Dr. 1:5. Abu Bakar shalat di Mina dua rakaat. tetapi kemudian meng-itmam-kannya. Sunan al-nasai 2:179.Tadzkirat al-Huffadz.Tadzkirat al-Huffazh. Musnad Ahmad 2:148 Sunan al-Baihaqi 3:126. Tafsir al-Thabari 10:6. Tarikh Ibn Katsir 6:319. 23. Shahih Muslim Bab "Tark al-Wasyiyyah" Musnad Ahmad.Lihat "Kontroversi sekitar Ijtihad 'Umar r. tarjamah 'Umar 28. 32. hadits NO. 22. Al-Durr al-Mautsir 2:136. Umar shalat di Mina dua rakaat. 33. 31. Musa Towana. hal. 10404 H. Al-Kamil ibn al-Katsir 2:146. 44. 50. Sunan Ibnu Majah 1:348. Sunan . Lihat juga Shahih al-Bukhari 2:154. 29. 34. 1935. "Kitab al-Jihad". hal. ed. Tafsir al-Qurthubi 6:117. Usman mula-mula shalat dua rakaat. 24. 25. 1:7. Thabaqat ibn Sa'ad 2:244.Al-Thabaqat al-Kubra. 7:188. hal.Tarikh al-Thabari 3:234. Polemik Reaktualisasi Ajaran Islam. 2:10. Il-Ishabah 2:322. Al-Muhalla' 9:622.. dalam Iqbal Abdurrauf Saimima.Al-Thabaqat al-Kubra. 1:2-3. Mustadrak al-Shahihain 3:109. 26. Sunan al-Muslim 2:260. 1988. Shahih al-Turmudzi 1:68. 1:174. Tafsir al-Syawkani 1:418. 138. dan Kitab al-Jizyah".

Shahih al-Bukhari 1:109.Ibn Hajar. hal. 1:208. 205. 267. 1:221. Shahih al-Muslim 1:349.Ibn Hazm dalam Al-Muhalla 5:227. 1983.Ansab Al-Asyraf.Syibli Nu'mani. 46. (2) bahwa meskipun demikian. 37.Jami'Bayan Al-' Ilm. "Utsman melihat kemaslahatan jamaah supaya dapat mengejar shalat. juga Al-Baladzuri dalam al-Anshab 5:26. hal. lihat Al-Syawkani dalam Al-Awthar 3:374. "Bab I: Al-Hawah". Shahih Muslim. sedangkan Marwan supaya orang mendengarkan khutbahnya.Abu Zahrah. Fath al-bari 7:449-450.Jami' Bayan Al-'Ilm. Ibn Hajar memberikan komentar. Umar Yang Agung. Turmudzi 3:302. 3:192. 37. lihat juga Dhuha Al-Islam. 26 menulis: Kami telah menyatakan (1) bahwa sunnah dari kaum muslim di masa lampau secara konsepsional dan kurang lebih secara garis besarnya berhubungan erat dengan sunnah Nabi dan pendapat yang menyatakan bahwa praktek-praktek muslim di masa lampau terpisah dari konsep sunnah Nabi adalah salah sekali. Sunan al-Nasai 5:148. Fath al-Bari 2:361.. Lihat juga Sunan al-Baihaqi . 11:463-476. hal. 1:365. 1:93-94. "Bab Itsbat"." Kitab Al-Maghazi. Bandung: Pustaka. 45. 38.Shahih Bukhari. Tarikh Al-Madzahib Al-Islamiyah.Fazlur Rahman. 49.Syarh Al-Muwaththa'.al-Nasai 3:100. 2:180. 44. kandungan yang khusus dan aktual dari sunnah kaum muslim di masa lampau tersebut sebagian besarnya adalah produk dari kaum muslim sendiri. 1404. Tasyir al-Wushul 1:282." 40.Shahih Muslim 1:142. 47. 41.Al-Imam Al-Syafi'i. Musnad Ahmad 1:61. 42. hadits ke 4170. Mustadrak al-hakim 1:472. Kitab Al-Fadhail. Sunan al-Baihaqi 1:429.Shahih al-Bukhari 3:69. Lihat Fath al-Bari. 2:244. 532. (4) bahwa kandungan sunnah atau sunnah dengan pengertian sebagai praktek yang disepakati secara bersama adalah identik dengan ijma'. 43. Kitab al-Umm 1:173. 48. Al-Umm. tt. Dar Al-Fikr Al-Araby. 39. Tanwir Al-Hawalik. "Bab Ghazwat Al-Hudaibiyah. Bandung: Pustaka. 2:401. Membuka Pintu Ijtihad. Kitab Al-Riqaq. 152. (3) bahwa unsur kreatif dari kandungan ini adalah ijtihad personal yang mengalami kristalisasi menjadi ijma' berdasarkan petunjuk pokok dari sunnah nabi yang tidak dianggap sebagai sesuatu yang sangat bersifat spesifik. Sunan al-Baihaqi 1:472.Shahih Bukhari. 2:244.95.

Tarikh al-Madzahib al-Islamiyyah. Nabi saw.. Usud Al-Ghabab. Ali bin Abi Thalib. Dar Al Tarqib. Al-Sujud 'ala al-A'rdh.Abu Zahrah. 59.Tafsir Al-Nisabury.2:68. 58. Dar Ihya' Al-Turats Al-'Arabiy. "Kami mengeluoh kepada Rasulullah tentang udara yang sangat panas sehingga tanah menjadi sangat panas pada dahi-dahi kami. Al-Ishabah. 52. Ibn Katsir. 3:40. Mustadrak Al-Hakim. Nabi saw. Tarikh Ibn Katsir. Beirut. hal. 8:889. 50. 53. 51. 56. 8:143. 55. Jabir bin Abdillah dan lain-lain melarang sujud selain di atas tanah. 54. 7:214 57. bab "Man La Ha'arahun Naby". mengizinkan mereka sujud di atas pakaian mereka itu.Shahih Al-Bukhari. 4:481. 257. dalam Al-Nihayah. Al-Bidayah wa Al-Nihayah. 7501983. pada hamisy kitab Tafsir Al Thabari. Kanz al-'Ummal. Abdullah bin Mas'ud.Catatan kaki pada hamisy kitab Sunan Al-Nasai. 10:197-198. Kitab Al-Birr wa Al-Shilah. "Para fuqaha menyebut peristiwa ini berkenaan dengan sujud. 19:72-75. UA 20-21 Jakarta Selatan Telp. 5:263. lihat juga biografi Abdurrahman bin Abi Bakr dalam Ibn Asakir.Kata Al-Dzhabi dalam Tadzkirat Al-Huffadz. 7507173 Fax. 14. tetapi mereka dilarang berbuat begitu. Tarikh Dimasq. Metro Pondok Indah Pondok Indah Plaza I Kav.Lihat Ali Al-Hamady. hal. (021) 7501969. -------------------------------------------Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah Editor: Budhy Munawar-Rachman Penerbit Yayasan Paramadina Jln. Kitab ini menunjukkan. tidak mengizinkan kami (sujud selain di atas tanah).Shahih Muslim. ibid. Tetapi. Fath Al-Bari. 1978. berdasarkan hadit-hadits yang diriwayatkan Ahl Sunnah bahwa disamping Rasulullah saw.Al-Sirah Al-Nabawiyyah. ketika menjelaskan hadits ini. "Bab Walladzi Qala li Walidaihi".. 3:124. juz I. 698-701. sahabat-sahabat seperti Abu Bakar. Lihat juga biografi Al-Haban bin Al-'Ash pada Al-'Isti'ab. berkata. Ketika mereka mengadukan apa yang mereka alami.Ibn Katsir. Waktu itu para sahabat meletakkan ujung baju mereka dilarang ketika akan sujud untuk menghindarkan panas yang sangat. Tidak mungkin kita menurunkan semua hadits itu di sini Cukuplah kita kutip hadits Muslim dari Khabab bin Al-Arat. 1:79.Tafsir Al-Thabari. (021) 7507174 Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan . Ibn Al-Atsir.

Muhammad Hasyim Asy'ari dari Tebuireng: Telah diketahui bahwa sesungguhnya telah terjadi perbedaan dalam furu' (makalah rincian) antara para Sahabat Rasulullah saw (semoga Allah meridlai mereka semua). kemudian para Tabi'in dan pengikut mereka.H. tapi kemudian dikembangkan begitu rupa sehingga yang terwujud ialah sebuah aliran yang meluas dan . Sebaliknya mereka tetap saling mencintai. tidak seorang pun dari mereka mencerca yang lain. bahkan sebaliknya mereka selalu saling mencintai. dalam banyak masalah.23. maka yang terjadi ialah pertumbuhan dan perkembangan madzhab itu sendiri. Jalan pikiran para imam itu menjadi titik tolak. juga antara Imam Ahmad ibn Hajar dan Imam al-Ramli dan para pengikut mereka. demikian pula antara Imam Ahmad ibn Hanbal dan gurunya. terjadi banyak perbedaan pendapat antara para tokoh intern madzhab sendiri pada saat-saat permulaan perkembangannya. Hasyim Asy'ari juga menyebut. tidak seorang pun dari mereka menyakiti yang lain. Keadaan demikian itu dilukiskan K.H.sejak dari pertumbuhannya di masa para Sahabat. Imam Malik. namun "tidak seorang pun dari mereka memusuhi yang lain. yang senantiasa disertai dengan kegaduhan polemik dan kontroversi. dan tidak seorang pun dari mereka menisbatkan yang lain kepada kesalahan dan cacat. seperti antara Imam al-Rafi'i dan Imam al-Nawawi. (semoga Allah meridlai keduanya) dalam banyak masalah yang jumlahnya mencapai sekitar enam ribu. tidak seorang pun dari mereka mendengki yang lain. dan tidak saling menisbatkan lainnya kepada kesalahan ataupun cacat. dan saling menolong. namun tidak seorang pun dari mereka yang menyakiti yang lain. serta antara Imam al-Syafi'i dan gurunya. Sampai dengan masa itu. namun dalam suasana saling menghargai dan tenggang rasa yang besar. namun tidak seorang pun dari mereka memusuhi yang lain. juga tidak seorang pun dari mereka yang menyakiti yang lain. dan masing-masing berdoa untuk segala kebaikan mereka itu. yang kita saksikan dalam sejarah perkembangan fiqh ialah dinamika dan kreativitas. berpersaudaraan. yaitu mulai sekitar abad keempat Hijri. dan tidak seorang pun dari mereka menisbatkan yang lain kepada kesalahan dan cacat.ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota Please direct any suggestion to Media Team Artikel Yayasan Paramadina Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota IV. Imam al-Syafi'i. TRADISI SYARAH DAN HASYIYAH DALAM FIQH DAN MASALAH STAGNASI PEMIKIRAN HUKUM ISLAM (1/2) oleh Nurcholish Madjid Kita telah membicarakan garis perkembangan pemikiran sistem hukum Islam --yang kemudian dikenal dengan (ilmu) fiqh-." [2] Setelah masa-masa para imam madzhab lewat. Demikian pula telah terjadi perbedaan dalam furu' antara Imam Abu Hanifah dan Imam Malik (semoga Allah meridlai keduanya) dalam banyak masalah yang jumlahnya mencapai sekitar empatbelas ribu dalam bab-bab ibadat dan mu'amalah. saling mendukung sesama saudara mereka.[1] K. dan akhirnya pertumbuhannya di masa para imam madzhab.

al-Za'farani. Jadi sesungguhnya seorang pemikir seperti al-Syafi'i menjadi imam madzhab adalah secara post factum. atas nama doktrin taqlid dan tertutupnya ijtihad. Agaknya dambaan mereka tercapai. yang kemudian kelak. Inilah masa syarah (penjabaran) dan hasyiyah (penjabaran atas syarah). . al-Buwaythi. melainkan pemikiran yang meskipun tetap berwatak "kesyafi'ian" namun dalam banyak hal Imam al-Syafi'i sendiri mungkin tidak lagi tersangkut paut. sehingga yang muncul sebagai dambaan atau obsesi utama masyarakat. berakhir dengan kekalahan mereka oleh ummat-ummat lain. Karena orisinalitas pemikiran tidak berkembang lagi. Demikian pula tokoh-tokoh dari madzhab-madzhab yang lain. Inilah yang dimaksudkan dengan istilah "madzhab. Tetapi masa itu segera diikuti oleh masa dengan tingkat kreativitas dan orisinalitas intelektual yang lebih rendah. misalnya. bertitik tolak dari produk intelektual satu orang. namun belum tentu orang tersebut sepenuhnya dapat dipandang sebagai ikut bertanggungjawab. Penilaian ini lebih-lebih beralasan. yaitu setelah fakta perkembangan pemikiran yang bertitik tolak dari dia itu. yang kemudian lambat laun berkembang menjadi semacam etos di kalangan kaum Muslim di seluruh dunia. yaitu stagnasi atau kemandekan. tapi dengan ongkos yang amat mahal. maka dambaan kepada ketenangan dan ketenteraman menjadi semakin beralasan." dan apapun produk pemikiran mereka harus diterima sebagai berlaku "sekali dan untuk selamanya". maka tercipta suasana bagi tumbuhnya mitos-mitos. ialah ketenangan dan ketenteraman. al-Karabisi. Ketidakberanian mengambil risiko salah dalam penelitian dan penjelajahan itu kemudian dirasionalisasikan dengan argumen: Apa yang telah dihasilkan para imam madzhab dan pendukung-pendukung mereka itu seolah-olah sudah "final. al-Muzni. khususnya bangsa-bangsa Eropa. yang serba berkecukupan. Karena itu yang ada bukanlah pemikiran Imam al-Syafi'i itu an sich. setelah dia sendiri lama tiada. tumbuh dan berkembang pemikiran yang lebih meluas dan mendalam. Pertumbuhan madzhab itu dengan sendirinya terjadi melalui para pengikut tokoh yang kelak disebut "imam madzhab" tersebut." yaitu suatu kesatuan pemikiran yang tumbuh dan berkembang. dan lain-lain dari kalangan para penganut madzhab Syafi'i. Jadi tidak berlebihan jika masa itu sering ditunjuk sebagai permulaan kemunduran peradaban Islam. al-Rabi'. Dan karena pemikiran kritis juga terkekang. Maka dari titik tolak pemikiran Imam al-Syafi'i. seperti yang banyak dilakukan oleh misalnya. menjadi kenyataan. karena para tokoh pemikir yang menjadi pangkal pengembangan madzhab tersebut semasa hidupnya sendiri sering mengisyaratkan keengganan menjadi pusat pengikutan. Mula-mula masih terdapat sisa-sisa kreativitas dan keberanian intelektual yang menghasilkan karya-karya tersendiri dengan tingkat orisinalitas yang memadai. Ditambah lagi dengan keadaan politik negeri-negeri Muslim yang telah mulai kehilangan "elan vital"-nya antara lain karena banyaknya serbuan-serbuan militer dari Asia Tengah seperti dari kalangan bangsa-bangsa Turki dan Mongol. Ciri umum masyarakat Muslim saat itu ialah suasana traumatis terhadap perpecahan dan perselisihan.mendalam dan cukup pada dirinya sendiri (self-sufficient). Sebab ketenangan dan ketenteraman itu mereka "beli" dengan menutup dan mengekang kreativitas intelektual dan penjelasan. maka yang terjadi ialah pengulangan dan penghafalan yang sudah ada.

yang taqlid itu. Tapi konsekuensi yang lebih jauh ialah --sebagaimana telah disinggung tadi-. Logika keharusan ini ialah ide tentang taqlid. Pemisahan itu akan menghasilkan inkonsistensi. Keharusan memilih salah satu madzhab sekaligus larangan mencampur lebih dari satu madzhab --betapapun tulusnya hal itu dilakukan-. tetapi sesungguhnya juga merambah ke berbagai cabang ilmu keislaman yang lain. 7501983." yang biasanya disebut hasyiyah. merupakan dinamik dambaan kepada ketenteraman.secara tersirat mengandung doktrin bahwa suatu pemikiran madzhab adalah suatu kesatuan organik yang tidak boleh dipisah-pisah. juga sangat dicela. sehingga merupakan "elaborasi atas elaborasi.hilangnya kreativitas dan orisinalis intelektual. karena dalam praktek serupa itu mudah sekali masuk unsur oportunisme dalam paham (seperti. seperti. Sebuah karya sparah membuka peluang kepada bentuk elaborasi lebih lanjut. (bersambung 2/2) -------------------------------------------Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah Editor: Budhy Munawar-Rachman Penerbit Yayasan Paramadina Jln. UA 20-21 Jakarta Selatan Telp. (021) 7507174 Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota Please direct any suggestion to Media Team Artikel Yayasan Paramadina . Tapi syarah bukanlah akhir perjalanan tradisi pseudo-ilmiah dalam masa kemandekan intelektual ini. ialah karya-karya syarah. Ilmu Kalam. (021) 7501969.SYARAH DAN HASYIYAH Mulai saat itulah kurang lebih muncul ide tentang keharusan seorang Muslim memilih salah satu dari madzhab-madzhab yang ada sebagai anutan. yang kemudian dikenal sebagai talfiq. sebagaimana telah disinggung. Metro Pondok Indah Pondok Indah Plaza I Kav. misalnya. mengenai suatu hukum tertentu seseorang cenderung mencari yang mudah dan ringan dari berbagai madzhab. dan bersamaan dengan itu hilang pula kemampuan memberi responsi pada keadaan masyarakat nyata (historis) yang senantiasa berkembang dan berubah. Begitu pula larangan mencampuradukkan lebih dari satu madzhab. yaitu karya tulis berupa kitab yang mengelaborasi karya lain yang lebih orisinal. 7507173 Fax. Dari beberapa sudut pandang tertentu. tanpa kesungguhan meneliti bagaimana pangkal sebenarnya hukum itu). dan terutama. dan yang terakhir ini tentu berakibat kepada masalah istiqamah atau keteguhan dan keikhlasan dalam beragama. Pada saat itulah sejauh mengenai kegiatan intelektual yang muncul. yang dipandang sebagai matan (teks inti). Kegiatan pseudo-ilmiah serupa ini paling banyak terjadi dalam pemikiran judisial. keharusan memilih suatu madzhab seperti itu dapat dibenarkan. seperti dari sudut keprihatinan karena situasi politik yang tidak mantap.

di pesantren-pesantren. berikut ini adalah contoh kutipan dari matan kitab Taqrib." jika mereka tidak terlatih membaca dalam konteks. dan asalnya dari surga sebagaimana hal itu disebutkan dalam nas mengenainya sebab sesungguhnya diturunkan dari surga Nil Mesir dan Sihun sungai India dan Jihun sungai Balkh dan keduanya itu bukanlah Sihan dan Jiham menurut yang unggul berlainan dengan orang yang menyangka keduanya itu sinonim sebab Sihan adalah sungai Arnah dan Jihan adalah sungai al-Mashishah dan Dajlah dan Furat adalah dua sungai di Irak dari asal Sidrat al-Muntaha dan itulah makna firman Dia Yang Maha Tinggi "Dan Kami turunkan dari langit air dengan takaran tertentu" maka pada waktu keluarnya Ya'juj dan Ma'juj sungai-sungai itu diangkat dan itulah makna firman Dia Yang Maha Tinggi "Dan sesungguhnya Kami tentulah berkuasa untuk menghilangkannya. Ibn Rusyd. air laut. Ibn Arabi. [3] Syarah: (Air yang boleh) artinya sah (untuk menyucikan ada tujuh: air langit) artinya yang terjun dari langit. yaitu sebuah kitab fiqh yang paling standar. TRADISI SYARAH DAN HASYIYAH DALAM FIQH DAN MASALAH STAGNASI PEMIKIRAN HUKUM ISLAM (2/2) oleh Nurcholish Madjid Untuk memperoleh gambaran apa yang dinamakan syarah dan hasyiyah itu. air sumber.23. al-Ghazali. Matan itu kemudian diberi syarah dalam kitab Fat'h al-Qarib. Dan keadaan menurut aslinya itu dapat memberi gambaran tentang ungkapan "ilmiah" masa kemunduran itu yang tidak dapat disebut mengagumkan. sebuah kitab yang boleh dipandang cukup tinggi: Matan: Air yang boleh untuk menyucikan ada tujuh air: air langit. Ibn Taymiyyah. maka demi kepraktisan kita akan mengutip hasyiyah yang menyangkut salah satu dari air yang tujuh itu. dan . air sumur. maka ia mencakup Nil dan Furat dan sebagainya. jauh di bawah ukuran masa kejayaan intelektual sebelumnya seperti diwakili karya-karya Ibn Sina. air sumber. yaitu hujan (air laut) artinya yang asin (air sungai) artinya yang tawar (air sumur. air sungai. Maksudnya ialah agar kita dapat merasakan kesulitan yang dihadapi oleh mereka yang membaca "kitab gundul. dan akhirnya diberi hasyiyah dalam kitab al-Bajuri. air salju dan air embun) dan tujuh air itu tercakup dalam ungkapan Anda "Apa yang turun dari langit dan apa yang menyembul dari bumi dalam keadaan bagaimanapun adalah termasuk pokok penciptann.Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota IV. artinya air yang mengalir di sungai (nahr) dengan fa'thah ha' dan matinya dan yang pertama lebih fasih dan al di situ adalah untuk jenis. juga sangat standar di pesantren-pesantren. [4] Syarah ini kemudian diberi hasyiyah. air salju. Berikut ini adalah contoh hasyiyah-nya (tapi karena hasyiyah yang bersangkutan itu panjang sekali. menurut keadaan aslinya dalam kitab. yaitu penjabaran atau elaborasi lebih lanjut. dan air embun. yaitu "air sungai" saja): Hasyiyah: (Perkataannya dan air sungai) rangkaian dalam pengertian di." [5] Kutipan di atas itu sengaja dibuat dalam bentuk terjemahan harfiah tanpa memberi tanda-tanda baca sesuai konteks.

etos ilmiah yang benar harus memandang ilmu tidak mempunyai batas (limit). Bahkan dalam kutipan itu dapat dilihat munculnya beberapa dongeng dan mitologi. Berbagai gejala masa-masa terakhir ini. Batas atau limit ilmu hanya ada pada Allah." [8] Sementara banyak tafsiran yang berbeda-beda tentang apa "yang membuat baik umat terdabulu. sampai akhirnya mereka terhentak dan kalah oleh bangkitnya bangsa-bangsa yang selama ini mereka remehkan. yang berarti empat kali lebih panjang daripada masa dominasi Eropa Barat yang sudah berlangsung selama dua abad ini). Dan ketika mereka dikejutkan oleh datangnya tentara Perancis ke Mesir di bawah Napoleon yang dengan amat mudah mengalahkan mereka itu. melainkan ilmu hanya mempunyai perbatasan (frontier)." namun dari pembacaan kepada sejarah peradaban Islam. yang dirangkaikan dengan paham keagamaan. Sebuah adagium mungkin relevan dengan masalah ini yaitu yang berbunyi: "Tidak akan menjadi baik umat ini kecuali dengan sesuatu yang telah membuat baiknya umat terdahulu. Barat Laut. Banyak ahli yang mengatakan. ilmu pengetahuan telah "habis." dan yang tersisa ialah mencerna apa saja yang diwariskan dari generasi sebelumnya. seperti bahwa sungai Nil berasal dari surga dan sungai Dajlah (Tigris) dan Furat (Eufrat) di Irak berasal dari Sidrat al-Muntaha! Juga ada mitos lain yang tercampur dengan pandangan keagamaan tertentu seperti cerita tentang datangnya Ya'juj dan Ma'juj (Gog dan Mogog) yang tersebut dalam Kitab Suci al-Qur'an [6]. yaitu bangsa-bangsa Eropa Barat. sehingga mewarnai sikap intelektual sebagian besar kaum Muslim. akibat dominasi mereka atas kehidupan di muka bumi selama berabad-abad (dalam perhitungan konservatif setidaknya selama delapan abad. Berbeda dengan obskurantisme. dapat diacu sebagai petunjuk adanya masa depan yang baik. keadaan sudah sangat terlambat. setidaknya lebih baik daripada sekarang. Stagnasi ini tidak dirasakan oleh kaum Muslim. yaitu ujung terakhir perkembangan pemikiran ilmiah. atau lebih persisnya. jelas bahwa yang membuat baik mereka generasi Islam klasik itu ialah apa yang dalam ungkapan kontemporer dinamakan "Etos Ilmiah". khususnya sejarah pemikirannya. Furat dan Dajlah itu ke langit sebagai tafsir atas ayat suci al-Qur'an pula. yang pada saat itu akan diangkat sungai-sungai Nil. seolah-olah segala sesuatu terjadi secara wajar saja. sehingga dorongan ke arah kebangkitan kembali yang muncul sejak itu sampai sekarang belum mencapai tujuan yang dimaksud. [7] KESIMPULAN Semangat obskurantisme atau kemasabodohan intelektual akibat berbagai faktor ekstern dalam proses-proses dan struktur-struktur politik masa itu sedemikian mencekam. bangsa-bangsa pelopor umat manusia masuk Zaman Modern. yang biasanya diletakkan dalam bracket "kebangkitan Islam". apalagi daripada masa obskurantisme tersebut di atas itu. Dan dalam pandangan mereka.sebagainya. Tapi tentu saja umat Islam masih tetap mempunyai kesempatan yang baik. Tapi perbatasan atau frontier ilmu hanyalah produk kemampuan manusia sendiri yang tidak sempurna. semua ini diawali karena umat Islam terkena penyakit "puas diri". karena itu tak terjangkau. karena itu harus selalu diusahakan untuk .

11. etos ilmiah Zaman Klasik Islam memandang perbatasan ilmu harus selalu ditebus. Abu Syuja' Ahmad Ibn al-Husayn al-Ishfahani. h. 27. s. jadi tidak mungkin dicapai manusia. etos ilmiah yang ada mengajarkan agar setiap bertemu dengan perbatasan hendaknya kembali ke semula. "La tashluhu hadzihi al-Umah illa bi ma shaluha bihi awwaluha. h. Lihat Q. 3.ditembus dengan keberanian intelektual serta kreativitas dan orisinalitasnya. 3. "Katakan.. ialah toleransi dan saling menghargai dalam perbedaan. 7507173 Fax. tt). 4. dan ini menghasilkan praktek menghafal. 'Kalau seandainya seluruh lautan ini tinta untuk Kalimat Tuhanku. Lihat Q. (Semarang: Pustaka al-'Alawiyyah. 2. Ibid. Muhammad ibn Qasim al-Ghazzi. Hasyim Asy'ari di atas. al Kahf/18:109). 6. 7501983.). tt." 9. (Risalah ini ditulis pada 1360 H atau 1941 M). tt). Dan suasana itu tidak lain. apalagi ditembus.. h.. -------------------------------------------Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah Editor: Budhy Munawar-Rachman Penerbit Yayasan Paramadina Jln. h. Muhammad Hasyim Asy'ari. 12. Seperti halnya dengan Zaman Modern. (021) 7501969. tt. al-Kahf/18:94 (dalam cerita tentang Dzu al Qarnayan) 7. al-Tibyan fi al-Nahy 'an Muqata'at al-Arham wa al-Aqarib wa al-Ikhwan (Surabaya: Mathba'at Nahdlat al-'Ulama. Batas atau limit ilmu hanya ada pada Allah swt. seperti dikemukakan KH. Fat'h al-Qarib (Semarang: Maktabah wa Mathba'ah Usaha Keluarga. s. CATATAN 1. al Mu'minun/23:18. meski kami datangkan tinta sebanyak itu pula. [9] Semuanya itu memerlukan suasana yang bersifat kondusif. 8. h. 2-3. maka lautan itu akan habis sebelum Kalimat Tuhanku habis." (Q. (021) 7507174 Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota Please direct any suggestion to Media Team Artikel Yayasan Paramadina Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan . Metro Pondok Indah Pondok Indah Plaza I Kav.). al-Ghayah wa al Taqrib. UA 20-21 Jakarta Selatan Telp. sementara dalam zaman obskurantisme. 5. Hasyiyat al-Hajuri (Semarang: Maktabah wa Mathba'ah Usaha Keluarga. Al-Syaykh Ibrahim al-Hajuri.s.

seperti Khawarij. dengan penampilan kesarjanaan di bidang keahlian yang lebih mengarah pada spesialisasi. serta meninggalkan keharusan taat pada Dinasti Umayyah. Di satu pihak masa itu bisa disebut sebagai kelanjutan wajar masa sahabat Nabi. SEJARAH AWAL PENYUSUNAN (1/3) DAN PEMBAKUAN HUKUM ISLAM oleh Nurcholish Madjid Dalam bidang fiqh seperti juga dalam bidang-bidang yang lain masa Tabi'in adalah masa peralihan dari masa sahabat Nabi dan masa tampilnya imam-imam madzhab. pertentangan ini kemudian mengambil bentuk sifat . Tahun empat puluh Hijriah adalah batas pemisah antara kemurnian Sunnah dan kebebasannya dari kebohongan dan pemalsuan di satu pihak. Umawiyyah. Disesalkan. Khalifah III. yang bersumber dari sisa dan kelanjutan berbagai konflik politik. dan ketiga masa itu sebagai kesatuan suasana yang disebut salaf (Klasik). Sebagian besar orang-orang Muslim memihak 'Ali dalam perselisihannya dengan Mu'awiyah. bersama dengan masa para Sahabat sebelumnya dan masa Tabi'in al-Tabi'in ("para pengikut dari para pengikut" yakni.21. Justru sifat transisional masa ini ditandai berbagai gejala kekacauan pemahaman keagamaan tertentu. terutama yang terjadi sejak peristiwa pembunuhan 'Utsman. sedangkan kaum Khawarij menaruh dendam terhadap 'Ali dan Mu'awiyah sekaligus setelah mereka itu sendiri sebelumnya merupakan pendukung 'Ali yang bersemangat. peristiwa-peristiwa politik menjadi sebab terpecahnya kaum Muslim dalam berbagai golongan dan partai. Setelah 'Ali r. Syi'ah. Melukiskan keadaan yang ruwet itu Musthafa al-Siba'i mengetengahkan keterangan di bawah ini. serta setelah orang-orang Muslim terpecah-pecah menjadi berbagai kelompok.a. Tumbuhnya partisan-partisan politik yang berjuang keras memperoleh pengakuan dan legitimasi bagi klaim-klaim mereka. Yang disebut "para pengikut" (makna kata Tabi'in) ialah kaum Muslim generasi kedua (mereka menjadi Muslim ditangan para Sahabat Nabi).ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota VI. dan ditambah-tambahnya Sunnah itu serta digunakannya sebagai alat melayani berbagai kepentingan politik dan perpecahan internal Islam. telah mendorong berbagai pertikaian paham. Khususnya setelah perselisihan antara 'Ali dan Mu'awiyah berubah menjadi peperangan dan yang banyak menumpahkan darah dan mengorbankan jiwa. Dalam pandangan keagamaan banyak ulama masa Tabi'in itu. dianggap sebagai masa-masa paling otentik dalam sejarah Islam. Walaupun begitu tidaklah berarti masa generasi kedua ini bebas dari persoalan dan kerumitan. Begitulah. Dan pertikaian itu antara lain menjadi sebab bagi berkecamuknya praktek pemalsuan hadits atau penuturan dan cerita tentang Nabi dan para sahabat. wafat dan Mu'awiyah habis masa kekhilafahannya (juga wafat) anggota rumah tangga Nabi (Ahl al-Bayt) bersama sekelompok orang-orang Muslim menuntut hak mereka akan kekhalifahan. di lain pihak pada masa itu juga mulai disaksikan munculnya tokoh-tokoh dengan sikap yang secara nisbi lebih mandiri. dan sebagainya. kaum Muslim generasi ketiga).

[1] Dihadapkan keruwetan itu." Tapi kemudian diimbangi orang-orang bodoh dari kalangan Ahl al-Sunnah dengan perbuatan pemalsuan juga.. para Tabi'in -dengan dipimpin tokoh-tokoh yang mulai tumbuh dengan penampilan kesarjanaanmencoba melakukan sesuatu yang amat berat namun kemudian membuahkan hasil yang agung. bahkan justru dasar-dasarnya telah diletakkan dengan kokoh dalam periode pertama itu. setelah hal itu tidak mungkin mereka lakukan terhadap al-Qur'an karena ia sangat terlindung (terpelihara) dan banyaknya orang Muslim yang meriwayatkan dan membacanya. kewajiban mengurus harta anak yatim secara benar. keharusan menghormati hak milik sah orang lain. prinsip-prinsip yang diwariskan Nabi itu berhasil digunakan. yang kelak mempunyai pengaruh yang lebih jauh bagi tumbuhnya aliran-aliran keagamaan dalam Islam.keagamaan. Setiap partai berusaha menguatkan posisinya dengan al-Qur'an dan Sunnah. dan wajarlah bahwa al-Qur'an dan Sunnah itu untuk setiap kelompok tidak selalu mendukung klaim-klaim mereka. dan seterusnya. Sasaran pertama yang dituju para pemalsu hadits itu ialah sifat-sifat utama para tokoh. Maka sejak di Makkah Nabi mengajarkan tentang cita-cita keadilan sosial yang antara lain mendasari konsep-konsep tentang harta yang halal dan yang haram (semua harta yang diperoleh melalui penindasan adalah haram). Meskipun baru setelah tinggal menetap di Madinah Nabi saw. Maka tindakan Nabi dan kebijaksanaannya di Madinah adalah kelanjutan yang sangat wajar dari apa yang telah dirintis pada periode Makkah itu. namun ketentuan-ketentuan yang bersifat kehukuman telah ada sejak di Makkah. perlindungan terhadap kaum wanita dan janda. menopang ditegakkannya kekuasaan politik Imperium Islam yang meliputi daerah antara Nil sampai Amudarya. yaitu penyusunan dan pembakuan Hukum Islam melalui fiqh atau "proses pemahaman" yang sistimatis. Sebagian lagi meletakkan pada lisan Rasul hadits-hadits yang menguatkan klaim mereka. Maka sebagian golongan itu melakukan interpretasi al-Qur'an tidak menurut hakikatnya dan membawa nash-nash Sunnah pada makna yang tidak dikandungnya. Pada masa para sahabat yang kemudian disusul masa para Tabi'in. sekalipun keadaan di Makkah belum mengizinkan bagi Nabi untuk melaksanakannya.. Ada yang mengatakan bahwa yang pertama melakukan hal itu ialah kaum Syi'ah -dengan perbedaan berbagai kelompok mereka. Dasar-dasar itu memang tidak semuanya langsung bersifat kehukuman atau legalistik. WAWASAN HUKUM ZAMAN TABI'IN Antara Islam sebagai agama dan Hukum terdapat kaitan langsung yang tidak mungkin diingkari. Dari situlah mulai pemalsuan Hadits dan pencampuradukan yang sahih dengan yang palsu. Maka mereka palsukanlah banyak hadits tentang kelebihan imam-imam mereka dan para tokoh kelompok mereka. "Ketahuilah bahwa pangkal kebohongan dalam hadits-hadits tentang keunggulan (tokoh-tokoh) muncul dari arah kaum Syi'ah. dan kemudian segera melebar dan meluas sehingga membentang dari semenanjung Iberia sampai lembah sungai Indus. Itu semua tidak akan tidak melahirkan sistem hukum. sebab selalu dikaitkan dengan ajaran moral dan etika. melakukan kegiatan legislasi. Daerah-daerah .sebagaimana dituturkan Ibn Abi al-Hadid dalam Syarh Nahj al-Balaghah.

. Karena itu mudah dipahami jika timbul semacam tuntutan intelektual untuk berbagai segi kehidupan masyarakat yang harus dijawab para penguasa yang terdiri dari kaum Muslim Arab itu. Dan Nabi pernah mempunyai suatu pendapat.. sebagaimana terjadi pada . Penetapan hukum keagamaan murni. diperintahkan bermusyawarah mengenai itu semua. urusan politik dan peperangan. dan Indo-Iran umumnya. agar bersesuaian dengan kepentingan manusia di semua zaman dan agar dapat dipedomani oleh para pemegang wewenang (ulu al-amr) dalam menegakkan keadilan dan kebenaran.. al-Najm/53:34). khususnya masyarakat Madinah. Dan tugas Rasul tidak keluar dari lingkaran tugas menyampaikan (tabligh) dan menjelaskan (tabyin). maka Rasul saw. dan dengan melakukan rujukan pada Tradisi Nabi dan para Sahabat serta masyarakat lingkungan mereka yang secara ideal terdekat. Adapun penetapan hukum yang berkaitan dengan perkara duniawi bersifat kehakiman.sesuai untuk setiap zaman dan tempat). dengan dijelaskan oleh nash-nash yang bersangkutan. politik dan perang. bahkan Arab. seperti 'aqa'id dan 'ibadat. "Tidaklah ia (Nabi) berbicara atas kemauan sendiri. tidak pernah timbul kecuali dari wahyu Allah kepada Nabi-Nya s.a. Di sebelah Barat tradisi itu merupakan warisan Yunani-Romawi. Penetapan Hukum (al-tasyri') Islam merupakan salah satu dari berbagai segi yang amat penting yang disusun oleh tugas suci Islam dan yang memberi gambaran segi ilmiah dari tugas suci itu." (QS. seperti berbagai kepentingan kemasyarakatan (al-mashalih al-madaniyyah).w. agaknya yang telah terjadi pada masa tabi'in itu ialah semacam pendekatan ad hoc dan praktis-pragmatis terhadap persoalan-persoalan hukum.Bahwa hal-hal yang tidak berkembang menurut perkembangan zaman dan tempat. baik dari Kitab ataupun Sunnah.. Pendekatan ini dimungkinkan karena watak dasar Hukum Islam yang lapang dan luwes. termasuk tradisi kehukumannya. sehingga mampu menampung setiap perkembangan yang terjadi.itu. dengan menggunakan prinsip-prinsip umum yang ada dalam Kitab Suci. Tapi sebelum ilmu itu tumbuh secara utuh. Tuntutan intelektual itu mendorong tumbuhnya suatu genre kegiatan ilmiah yang sangat khas Islam. yaitu Ilmu Fiqh. Tetapi yang berkembang menurut perkembangan zaman dan tempat. diberikan secara sepenuhnya terperinci. atau dengan suatu ijtihad yang disetujuinya. seperti hukum-hukum ibadat. tidak lain itu adalah wahyu yang diwahyukan kepadanya.[2] Para ahli hukum Islam sudah terbiasa mengatakan secara benar bahwa letak kekuatan Islam ialah sifatnya yang akomodatif terhadap setiap perkembangan zaman dan peralihan tempat (shalih li kull zaman wa makan. tapi ditinggalkannya dan menerima pendapat para sahabat. Berkenaan dengan hal ini al-Sayyid Sabiq menjelaskan. Untuk mengerti masalah ini sangat menarik mengutip lebih lanjut keterangan al-Sayyid Sabiq. yang dalam wawasan geopolitik Yunani kuno dianggap sebagai heatland Oikoumene (Daerah Berperadaban -Arab: al-Da'irat al-Ma'murah) telah mempunyai tradisi sosial-politik yang sangat mapan dan tinggi. diberikan secara garis besar. maka tidak seorang pun dibenarkan menambah atau mengurangi.

. dan bertahan. 7507173 Fax. sehingga Nabi kadang-kadang membenarkan pemahaman mereka itu. dan kemudian berselisihnya. tanda-tanda menyebarnya. tempat rujukan itu sudah mulai nampak. Tapi jika pada zaman Nabi tempat rujukannya ialah Nabi sendiri.[3] (bersambung 2/3) -------------------------------------------Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah Editor: Budhy Munawar-Rachman Penerbit Yayasan Paramadina Jln. Dan para Sahabat ra. Ini terjadi tanpa peduli dengan sambutan sebagian besar umat Islam kepada tahun 41 Hijri sebagai "Tahun Persatuan" atau "Tahun Solidaritas" ('Am al-Jama'ah). dan kadang-kadang beliau menerangkan letak kesalahan dalam pendapat mereka itu. ketika banyak partisan mulai berusaha keras memperebutkan legitimasi untuk klaim-klaim mereka. Pada zaman para sahabat Nabi itu diwarisi banyak tokoh. "Dua Tokoh") yang amat . DUA KUBU ORIENTASI FIQH: HIJAZ DAN IRAK Di bawah pimpinan Khalifah Mu'awiyah (yang masa kekhalifahannya disebut Ibn Taymiyyah sebagai permulaan masa "kerajaan dengan rahmat" -al-mulk bi al-rahmah) kaum Muslim dapat dikatakan kembali pada keadaan seperti zaman Abu Bakar dan 'Umar (zaman al-Syaykhani. Mereka juga mengemukakan kepada Nabi pemahaman mereka tentang nash-nash itu. (021) 7507174 Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota Please direct any suggestion to Media Team Artikel Yayasan Paramadina Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota VI. Seperti dilukiskan Siba'i yang telah dikutip di atas. sebab "persatuan" dan "solidaritas" itu agaknya hanya terbatas pada kenyataan kembalinya kesatuan politik (formal) umat Islam di bawah Khalifah Mu'awiyah ibn Abi Sufyan di Damaskus. guna menanyakan apa yang tidak mereka ketahui. penyebaran dan perselisihan otoritas itu memuncak pada sekitar sesudah 40 H. kemudian zaman para Sahabat.21. (021) 7501969. Tapi sejak pertikaian politik pada paroh kedua kekhalifahan 'Utsman. melewati zaman Nabi sendiri. SEJARAH AWAL PENYUSUNAN (2/3) DAN PEMBAKUAN HUKUM ISLAM oleh Nurcholish Madjid Sudah tentu keluasan dan fleksibilitas semangat umum Hukum Islam itu dipertahankan. yang kemudian bertindak sebagai tempat rujukan. dan diteruskan ke zaman para Tabi'in. 7501983.waktu perang Badar dan Uhud. UA 20-21 Jakarta Selatan Telp. dengan otoritas yang diakui semua. Metro Pondok Indah Pondok Indah Plaza I Kav. pun selalu meruduk kepada Nabi saw. dan meminta tafsiran tentang makna-makna berbagai nash yang tidak jelas bagi mereka.

kias. adalah lebih luas dan lebih banyak. Karena itu ada semacam "koalisi" antara Damaskus dan Madinah (tapi suatu koalisi yang tak pernah sepenuh hati. Adanya dua aliran itu merupakan akibat yang wajar dari situasi masing-masing Hijaz dan Irak. begitu pula kebudayaan penduduknya dan terlatihnya mereka itu kepada penalaran." yakni. Penjelasan menarik tentang hal ini diberikan oleh Syaykh 'Ali al-Khafif. yaitu tumbuhnya orientasi kehukuman (Islam) kepada Hadits atau Tradisi (dengan "T" besar) yang berpusat di Madinah dan Makkah serta mendapat dukungan langsung atau tak langsung dari rezim Damaskus. mengingat sedikitnya Sunnah pada mereka itu tidak memadai untuk semua tuntutan mereka. namun dalam hal masalah penegakan hukum mereka tetap sedapat mungkin berpegang dan meneruskan tradisi para Khalifah di Madinah dahulu. Kemudian mereka ini mewariskan apa saja yang mereka ketahui kepada penduduk (berikut)-nya. Pada zaman itu (zaman Tabi'in). menyampaikan seruannya. Dan (Hijaz) tetap menjadi tempat tinggal banyak dari mereka (para Sahabat) yang datang kemudian sampai beliau wafat. termasuk para "aktivis militan" yang membunuh 'Utsman (dan yang kemudian [ikut] mensponsori pengangkatan 'Ali namun akhirnya berpisah dan menjadi golongan Khawarij). dan Irak (Kufah-Basrah) dengan orientasi penalaran pribadi (ra'y)-nya. Padahal peristiwa-peristiwa (hukum) di Irak itu. dan hanya bersandar kepada bukti-bukti atsar (peninggalan atau "petilasan. sebagai dasar ijtihad. Dan aliran yang cenderung tidak kepada kelonggaran dalam hal tersebut. disebabkan masa lampaunya. khususnya tradisi 'Umar. kemudian para Sahabat beliau menyambut.dirindukan orang banyak. Tapi "koalisi" itu mempunyai akibat cukup penting dalam bidang fiqh. akibat masalah keabsahan kekuasaan Bani Umayyah itu). Ini kemudian berdampak tumbuhnya dua orientasi dengan perbedaan yang cukup penting: Hijaz (Makkah-Madinah) dengan orientasi Haditsnya. . mendengarkan. kompleksitas kehidupannya.. Apa pun kualitas kekhalifahan Mu'awiyah itu. yaitu kaum Tabi'in yang bersemangat untuk tinggal di sana. memelihara sabda-sabda beliau dan menerapkannya. dan penggunaannya juga lebih banyak. Di situ Rasul menetap. Sementara banyak tokoh Madinah sendiri tetap mempertanyakan keabsahan rezim Umayyah itu. tradisi atau Sunnah) dan nash-nash. sistem pemerintahannya. Irak dengan kota-kota Kufah dan Basrah adalah kawasan yang selalu potensial menentang Damaskus secara efektif. dan tidak mendapatkan bagian dari Sunnah kecuali melalui para Sahabat dan Tabi'in yang pindah kesana. Karena itulah keperluan mereka kepada penalaran lebih kuat terasa. penelitian tentang tujuan-tujuan hukum dan alasan-alasannya. Hijaz adalah tempat tinggal kenabian. adalah lebih banyak daripada yang ada di Hijaz. Penyandaran diri kepadanya juga lebih jelas nampak. Tempatnya ialah Irak. Ini masih ditambah dengan kecenderungan mereka untuk banyak membuat asumsi-asumsi dan perincian karena keinginan mendapatkan tambahan pengetahuan.. dalam ifta' (pemberian fatwa) ada dua aliran: aliran yang cenderung pada kelonggaran dan bersandar atas penalaran. Tempatnya ialah Hijaz. Dan yang dibawa pindah oleh mereka itu pun masih lebih sedikit daripada yang ada di Hijaz. Sedangkan Irak telah mempunyai peradabannya sendiri.

termasuk menuturkan riwayat dan Hadits. tampil seorang penganut dan pembela "Kelompok Riwayat" yang sangat tegar. telah membawa perubahan penting dalam sikap keagamaan. [5] . yang diduga bersandar kepada Sunnah yang karena beberapa sebab Sunnah itu tidak muncul sebelumnya. cukup banyak dari masing-masing daerah yang tidak mengikuti karakteristik umum itu. kelak. Disamping itu. teologi dan hukum.[4] Jika dikatakan bahwa orang-orang Hijaz adalah Ahl al-Riwayah ("Kelompok Riwayat. perubahan situasi politik. Usaha secara resmi pembakuan Sunnah (yang kemudian menjadi sejajar dengan Hadits) telah mulai tumbuh sejak jaman 'Umar ibn 'Abd-al'Aziz menjelang akhir kekuasaan Umawi." dan di kalangan para sarjana Irak. khususnya Umar). maupun yang lain. dan merangsang tumbuhnya berbagai aliran pemikiran keagamaan. IJTIHAD TABI'IN SEBAGAI PENDAHULU MADZHAB-MADZHAB Menurut 'Ali al-Khafifi. sesungguhnya itu hanya karakteristik gaya intelektual masing-masing daerah itu. seorang anggota Majma' al-Buhuts al-Islamiyyah (Badan Riset Islam) Universitas al-Azhar. meskipun masing-masing tetap dapat dikenali ciri utamanya dari kedua katagori tersebut.penalaran mendalam dan pelaksanaan yang banyak. dengan isyarat tidak banyak mementingkan "riwayat"). yaitu Ahmad ibn Hanbal. kaum 'Abbasi lebih banyak dan lebih tulus perhatian mereka kepada masalah-masalah keagamaan dari pada kaum Umawi. adalah tidak tepat. Tapi disamping itu. baik yang bersangkutan dengan bidang politik. Ini semakin memperkaya pemikiran hukum zaman Tabi'in. dengan perpindahan kekuasaan dari kaum Umawi ke kaum 'Abbasi." karena mereka banyak berpegang kepada penuturan masa lampau. Ikatan hanya terjadi jika ditemukan sebuah pendapat seorang Sahabat Nabi. Ijtihad yang terjadi di zaman Tabi'in adalah ijtihad mutlak. membuat generalisasi bahwa sesuatu kelompok hanya melakukan satu metode penetapan hukum atau tasry'. Sikap berpegang kepada syari'ah ini bagi kaum 'Abbasi berarti pengukuhan legitimasi politik dan kekuasaan mereka (dibandingkan dengan kedudukan kaum Umawi. berkenaan dengan hukum. lebih-lebih zaman Tabi'in al-Tabi'in. sikap tersebut menciptakan suasana yang lebih mendukung bagi perkembangan kajian agama. kemudian pada zaman Tabi'in itu. Misalnya. banyak berorientasi kepada preseden-preseden para khalifah Madinah. Maka di kalangan orang-orang Hijaz terdapat seorang sarjana bernama Rabi'ah yang tergolong "Kelompok Penalaran. dan yang secara langsung diarahkan membahas. dan dihadapkan kepada oposisi kaum Syi'ah dan Khawarij). Kairo. meneliti dan memahami yang benar. Kini usaha ini memperoleh dorongan baru. sebagai pedoman) dan orang-orang Irak adalah Ahl al-Ra'y ("Kelompok Penalaran". apakah itu penalaran atau penuturan riwayat. Terdapat persilangan antara keduanya. Sedangkan pada peringkat individu. suasana lebih mengizinkan untuk muncul. Meskipun sesungguhnya kaum 'Abbasi akhirnya banyak meneruskan wawasan hukum keagamaan kaum Umawi sebagai pendukung Ahl al-Sunnah wa al-Jama'ah (yang sebagaimana telah disinggung. Yaitu ijtihad yang dilakukan tanpa ikatan pendapat seorang mujtahid yang terlebih dahulu. dan ini pada urutannya memberi peluang lebih baik pada para sarjana untuk menyatakan pendapatnya. seperti Hadits.

Wafat pada 94 H. Namun diantara keduanya.'Ali ibn al-Husayn ibn 'Ali ibn Abi Thalib al-Hasyimi. wafat pada 94 H. istri Nabi saw. khususnya. (021) 7507174 Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota Please direct any suggestion to Media Team . (021) 7501969. dan dikenal dengan Zayn al-'Abidin. dan sebagainya) yang masuk Islam. 3. (bersambung 3/3) -------------------------------------------Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah Editor: Budhy Munawar-Rachman Penerbit Yayasan Paramadina Jln. Merekalah para pendahulu imam-imam madzhab. Persi. 4. Terkenal sangat saleh sehingga digelari "pendeta Quraysy" (rahib Quraysy). Banyak belajar dari bibinya. dan dalam diri masing-masing aliran besar itu. 'Aisyah. Lahir dua tahun kekhalifahan 'Umar. school of thought) dengan tempat. Wafat pada 94 H. Dia adalah imam keempat kaum Syi'ah Imamiyyah. seperti dituturkan al-Syaykh Muhammad al-Hudlari Beg dalam kitabnya. Suatu hal yang amat penting diperhatikan ialah adanya kaitan suatu aliran pikiran (yakni. [6] Maka zaman itu kita menyaksikan tampilnya tokoh-tokoh kesarjanaan dengan bidang kajian ilmu yang lebih terspesialisasi. Ia belajar dari ayahnya dan dari pamannya. Lahir di masa kekhalifahan 'Umar. Mesir. 7501983. tapi tidak banyak meriwayatkan Hadits. bahkan guru-guru para calon imam madzhab itu. kultural dan geografis anggota masyarakat Islam. berupa semakin beragamnya latar belakang etnis. dan lain-lain. dan cukup penting diperhatikan. terdapat nuansa yang cukup berarti. Di Madinah tampil cukup banyak sarjana. disebabkan banyaknya orang-orang bukan Arab (Syiria. Tarikh al-Tasyri' al-Islami. 2. Aisyah.Semua kegiatan itu juga terpengaruh kenyataan sosial-politik. antara lain: 1. Metro Pondok Indah Pondok Indah Plaza I Kav. ibn 'Abbas. Lahir dimasa kekhalifahan 'Utsman. Nuansa-nuansa itu tercermin dalam ketokohan sarjana atau 'ulama' yang mendominasi suasana intelektual suatu tempat. dan sempat belajar dari para pembesar Sahabat Nabi. bidang kajian hukum Islam atau fiqh. Telah disebutkan adanya dua aliran pokok: Irak dan Hijaz. UA 20-21 Jakarta Selatan Telp. madzhab. 7507173 Fax. al-Hasan ibn 'Ali. Wafat pada 94 H. Banyak meriwayatkan Hadist yang bersambung dengan Abu Hurayrah.Abu Bakr ibn 'Abd-al-Rahman ibn al-Harits ibn Hisyam al-Makhzumi. Ia terkenal sangat 'alim (terpelajar).'Urwah ibn al-Zubayr ibn al-'Awwam.Sa'id ibn al Musayyib al-Makhzumi. Al-Hasan al-Bashri banyak berkonsultasi dengannya.

Belajar dari Sa'd.Mujahid ibn Jabr. dan dari 'A'isyah. Klien Bani Makhzum. Abd Hurayrah. 7. Belajar dari ayahnya sendiri. Wafat di Thaif pada 68 H. yang dikenal dengan sebutan al-Baqir. Belajar banyak dari 'Umar. Belajar dari Ibn 'Abbas. 6. Ibn 'Abbas.'Abd-Allah ibn. klien 'Abd-Allah ibn 'Umar. Wafat pada 103 H.21. dan lain-lain. Wafat pada 106 H. dan sebagainya. Zayd ibn Tsabit. 'Ali dan Ubay ibn Ka'b. Beliau diajar tentang ta'wil. Selain kepemimpinannya dalam fiqh dan Hadits. dan belajar dari 'Abd-Allah ibn 'Umar. 9. dan sebagainya. dia adalah guru Khalifah 'Umar ibn 'Abd al-'Aziz. 8. juga dari Jabir dan 'Abd-Allah Ibn 'Umar. Wafat pada 107 H. SEJARAH AWAL PENYUSUNAN (3/3) DAN PEMBAKUAN HUKUM ISLAM oleh Nurcholish Madjid 5.Nafi'. Sa'id ibn al-Musyyaib. Wafat pada 117 H. dan sebagainya. dan lain-lain. Mendapat pendidikan dari 'A'isyah (bibinya sendiri). Annas ibn Malik. Sa'id ibn al-Musayyaib.) Belajar dari patronnya sendiri. dan lain-lain. Abu Hurayrah. 2. Belajar dari 'Aisyah. dan lainnya. Abu Hurayrah. Dikenal sebagai "Kepala Bani Hasyim" di zamannya. ia juga terkenal sebagai penyair. Lahir dua tahun sebelum Hijrah. Belajar dari patronnya sendiri. Abu Hurayrah. Pernah menyatakan ia sependapat . 11. Wafat pada 106 H. Dia adalah imam kelima kaum Syi'ah. Dianggap Bapak Ilmu tafsir al-Qur'an. Ibn Abbas.Artikel Yayasan Paramadina Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota VI. Wafat pada 98 H. Ibn Abbas. yang terkenal dengan Ibn Syihab al-Zuhri. 'A'isyah.'Ubayd-Allah ibn 'Abd-Allah ibn 'Utbah ibn Mas'ud.'Ikrimah. 10. klien Maymunah (istri Nabi saw. Ibn 'Abbas.Qasim ibn Muhammad ibn Abi Bakr. dan sebagainya. 'A'isyah.. Belajar dari ayahandanya sendiri. juga dari A'isyah. Abu Hurayrah. 'Abbas ibn 'Abd-Muthalib.Salim ibn 'Abd-Allah ibn 'Umar. Lahir 50 H. Abu Hurayrah. dll. Diutus oleh 'Umar ibn 'Abd-al-Aziz ke Mesir. Mendapat perintah dari 'Umar ibn 'Abd-al-Aziz untuk mencatat Sunnah penduduk Madinah sebagai rintisan resmi pertama pembukuan Hadits. 3. Di Makkah beberapa sarjana terkenal juga tampil: 1.Sulayman ibn Yasar. dan dari 'A'isyah.Abu Ja'far ibn Muhammad ibn 'Ali ibn al-Husayn. Berasal dari Daylam (daerah Iran). klien Ibn 'Abbas. Ibn 'Umar.Muhammad ibn Muslim. mengajar Sunnah. dan pernah dibacakan do'a oleh Nabi agar mempunyai pemahaman mendalam (tafaqquh) dalam agama. Wafat pada 114 H.

Keduanya bersaudara. dan belajar dari 'Umar. Wafat pada 62 H. termasuk mereka yang hidup sezaman. Belajar dari 'Umar.Qatadah ibn Da'aman al-Dusi. Abu Hurayrah. dan sama-sama tampil sebagai sarjana terkemuka. Abu Hurayrah. Raja ibn Hayah al-Kindi. Dari kalangan warga Kufah yang tampil antara lain ialah: 1. Ibn 'Abbas dan Ibn 'Umar. Seorang khadam.Al-Aswab ibn Yazid al-Nakha'i. 5. Abu Idris al-Khulani. antara lain: 1. Lahir 17 H. Ibn Mas'ud. Banyak belajar dari kawannya sendiri itu. seperti 'Abd-al-rahman ibn Gahnim al-Asy'ari.Ibrahim ibn Yazid al-Nakha'i. Kedua-duanya wafat pada 95 H.Al-Hasan ibn Abi al-Hasan Yassar. dll. Ibn Mas'ud. Sarjana Tabi'in yang paling terkemuka. Belajar dari 'A'isyah. 5. di samping seorang sarjana terkemuka. klien Zayd ibn Tsabit. Belajar dari 'Umar. Ibn Mas'ud. 4. Kemudian dari Basrah. 'Utsman. 'Ali.Abu al-'Aliyah Rafi' ibn Mahran al-Riyahi. Ibn 'Abbas. 3. 'Ali dan 'A'isyah. sejarah dan geneologi (al-nasab). Belajar dari patronnya. Wafat pada 63 H. Dari daerah Syam (Syria) beberapa tokoh ahli hukum tampil.'Atha ibn Rabbah.dengan kaum Khawarij. ia juga ahli bahasa. Dibesarkan di Madinah dan menghafal al-Qur'an di zaman 'Utsman. 'Umar. dan 4. klien Anas ibn Malik. 2. dan sebagainya. 'Ali. Murid terkemuka Ibn Mas'ud. Makhul ibn Abi Muslim. Disebutkan berkulit hitam kelam. dan sebagainya.Muhammad ibn Sirin. Ibn 'Abbas. Wafat pada 114 H.Masruq ibn al-Ajda' al-Hamdani. Wafat pada 110 H.'Amir ibn Syarahil al-Sya'bi. Wafat pada 93 H. yang fasih dan luas pengetahuan. 6.Anas ibn Malik al-Anshari. karena ia Sahabat Nabi sejak Hijrah sampai wafat. Karena penampilannya sebagai sarjana dan peranannya dalam mendidik para Tabi'in maka ia termasukkan dalam daftar ini. Selain ahli hukum Islam. Lahir di masa Nabi masih hidup. Ubbay. 'Utsman. 4. kawan Ibn 'Abbas.'Alqamah ibn Qays al-Nakha'i. Belajar dari 'Ali. Wafat pada 90 H. Abu Hanifah. dan lain-lain. Qabishah ibn Dzu'ayb. Guru utama Imam Abu Hanifah. 'A'isyah. Ibn 'Umar. 2. dan sebagainya. Namun yang paling . Wafat pada 107 H. Selain belajar dari Nabi juga banyak belajar dari Abu Bakr. Jabir ibn Zayd. tampil tokoh-tokoh. Seorang pejuang yang terkenal berani. Wafat pada 90 H. kemudian dari Abu Hurayrah. Sangat banyak mendapat pujian dari para 'ulama' yang lain. Cukup menarik bahwa al-Sya'bi tidak suka kepada metode qiyas (analogi) yang menjadi ciri Ahl al-Ra'y yang dikembangkan muridnya. Wafat pada 118 H. 3. dan lainnya. Wafat pada 110 H.Abu al-Syaitsa'.

I h. Walaupun begitu telah tampil pula di kalangan Mesir beberapa sarjana terkemuka. [7] Para tokoh ahli hukum itu dan kegiatan ilmiah serta pengajarannya telah mendorong tumbuhnya para spesialis hukum angkatan berikutnya. juga banyak muncul sarjana-sarjana dengan pengaruh yang jauh keluar dari batasan daerahnya sendiri. yaitu Yaman. 1404/1984). h. 17. Jabir. 3. seperti 'Abd-Allah ibn al-'Ash (wafat pada 65 H. Yazid ibn Abi Habib yang disebut-sebut sebagai pelopor ilmu pengetahuan di Mesir dan ahli masalah halal dan haram (wafat pada 128 H.). 222.) yang belajar dari Zayd ibn Tsabit. jil. Malik. telah melapangkan jalan bagi tampilnya para imam madzhab yang sampai saat ini pengaruhnya masih amat kukuh seperti Abu Hanifah. (Riyadl: Jami'at al-Imam Muhammad ibn Su'ud al-lslamiyyah. Al-Sunnah wa Makanatuha fi al-Tasyri' al-Islami (Kairo: al-Dar al-Qawmiyyah. dan ibukota Mesir ialah Fusthath yang perkembangannya tidak terlalu pesat seperti lain-lain. dan Ahmad ibn Hanbal. 'Abd-al-Khayr ibn 'Abd-allah al-Yazani (wafat pada 90 H. Kota Kairo belum ada (baru didirikan oleh Dinasti Fathimiyah kelak.). 223. Wafat pada 114 H. hh. 5. Dialah yang mengukuhkan tarbi. 13. yang belajar dari Ibn 'Umar. seperti al-Awza'i.Al-Sayyid Sabiq. Mereka itu. al-Syafi'i. "Al-Ijtihad fi 'Ashr al-Tabi'in wa Tabi'i 'l-Tabi'in. Mesir saat itu belum menjadi tandingan tempat-tempat yang tersebut di atas. h. lihat al-Syaykh Muhammad al-Hudlari Beg.Ibid. 7fe7). Kemudian Wahb ibn Munabbin al-Shan'ani. bersama Masjid-Universitas al-Azharnya). Abu Hurayrah. dan lainnya. (mengakui empat Khalifah pertama: Abu Bakr. 2." dalam Al-Ijtihad fi al-Syari'at al-Islamiyyah. Ibn 'Abbas. 'A'isyah. pada gilirannya. Fiqh al -Sunnah. Mereka ini. al-Layts ibn Sa'd. 6. 7. hh. Thawus ibn Kaysan al-Jundi (wafat pada 106 H. 224-5.. Sufyan al-Tsawri. 'Umar. Dia wafat pada 101 H.Ibid. h. (Kuwait: Dar al-Bayan 1968/1388). CATATAN 1. dan lainnya..). Di Jazirah Arabia sebelah selatan. Tarikh al-Tasyri' al-Islami (Beirut: Dar al-Fikr. 4. dan lainnya.Musthafa al-Siba'i. . Selanjutnya ialah Yahya ibn Abi Katsir yang menurut sementara 'ulama' yang lain seperti Syu'bah dianggap lebih ahli tentang Hadits daripada al-Zuhri tersebut.Untuk keterangan lebih lengkap tentang tokoh-tokoh ini.Ibid. 126-41. 'Utsman dan 'Ali) dan mensponsori secara resmi (kenegaraan) usaha penulisan Sunnah atau Hadits.penting dari para sarjana Syam itu ialah Khalifah 'Umar ibn 'Abd-al-'Aziz. antara lain. h. 1949). terkenal sebagai 'Umar II dan banyak dipandang sebagai yang kelima dari al-Khulafa' al-Rasyidin. 1387/1968).Al-Syaykh 'Ali al-Khafifi.

Metro Pondok Indah Pondok Indah Plaza I Kav. Jenis produk pemikiran Islam yang kedua. Orang yang terlibat dalam perumusannya juga tidak terbatas pada para fuqaha atau ulama. Kitab-kitab fiqh ketika ditulis juga tidak dimaksudkan. keputusan-keputusan pengadilan agama ini sifatnya mengikat kepada pihak-pihak yang berperkara. kitab-kitab itu tidak dimaksudkan untuk diberlakukan secara umum di suatu negeri. Jenis produk pemikiran hukum ketiga. karena itu memerlukan perhatian tersendiri pula. meskipun dalam sejarah kita mengetahui. tapi sifat responsifnya itu yang sekurang-kurangaya dapat dikatakan dinamis. FIQH DAN REAKTUALISASI AJARAN ISLAM Oleh Atho' Mudzhar Sedikitnya ada empat macam produk pemikiran hukum Islam yang kita kenal dalam perjalanan sejarah Islam. (021) 7501969. Isi fatwa itu sendiri belum tentu dinamis. 7507173 Fax. dan peraturan perundangan di negeri-negeri Muslim. dalam arti si peminta fatwa tidak harus mengikuti isi/hukum fatwa yang diberikan kepadanya. untuk . sifatnya adalah kasuistik karena merupakan respon atau jawaban terhadap pertanyaan yang diajukan peminta fatwa. Ini juga bersifat mengikat atau mempunyai daya ikat yang lebih luas. (021) 7507174 Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota Please direct any suggestion to Media Team Artikel Yayasan Paramadina Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota IV. ialah kitab-kitab fiqh yang pada saat di tulis pengarangnya. Berbeda dengan fatwa.-------------------------------------------Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah Editor: Budhy Munawar-Rachman Penerbit Yayasan Paramadina Jln. keputusan-keputusan pengadilan agama. UA 20-21 Jakarta Selatan Telp. Fatwa tidak mempunyai daya ikat. Fatwa-fatwa ulama atau mufti. tapi fatwa biasanya cenderung bersifat dinamis karena merupakan respon terhadap perkembangan baru yang sedang dihadapi masyarakat si peminta fatwa. Masing-masing produk pemikiran hukum itu mempunyai ciri khasnya tersendiri. adalah keputusan-keputusan pengadilan agama.28. yaitu peraturan perundangan di negeri Muslim. 7501983. beberapa buku fiqh tertentu telah diperlakukan sebagai kitab undang-undang. dan sampai tingkat tertentu juga bersifat dinamis karena merupakan usaha memberi jawaban atau menyelesaikan masalah yang diajukan ke pengadilan pada suatu titik waktu tertentu. fatwa-fatwa ulama. Jenis produk pemikiran hukum keempat. yaitu: kitab-kitab fiqh. tapi juga para politisi dan cendekiawan lainnya.

dan bukan bagian dari produk pemikiran keagamaan. bukan saja sebagai orang yang memaklumi produk pemikiran keagamaan tapi sebagai penjaga hukum agama itu sendiri.maka kitab-kitab fiqh sifatnya menyeluruh dan meliputi semua aspek bahasan hukum Islam. atau akan mengganggu keutuhan isi keseluruhannya. yang pada gilirannya akan mempengarahi cara pandang dan cara pikir fuqaha itu sendiri. dalam rangka reaktualisasi ajaran Islam. Gambaran ini diperlukan. Dan ketiga. sekarang kita lihat bagaimana dalam kenyataan. Dengan cara pandang itu. Secara sosiologis kedudukan demikian itu memberi hak-hak istimewa dan peranan tertentu kepada fuqaha pada lapisan sosial tertentu. Sebagai salah satu akibat dari sifatnya yang menyeluruh ini. Kalau fatwa dan keputusan pengadilan agama sifatnya kasuistik --yaitu membahas masalah tertentu-. khususnya masyarakat Islam Indonesia. maka sebenarnya itu . keputusan pengadilan agama. dan saran-saran pemecahan masalahnya. maka perbaikan atau revisi terhadap sebagian isi kitab fiqh dianggap dapat. dan hukum Islam dipandang identik dengan aturan Tuhan. seperti pertama. karena sifatnya sebagai produk pemikiran. juga mempunyai kedudukan tinggi. masyarakat memandang fiqh. Akibat lebih lanjut dari kedudukan fiqh yang diidentikkan dengan agama itu. dan peraturan perundangan negeri Muslim. fiqh hanyalah salah satu dari beberapa bentuk produk pemikiran hukum Islam. Sebagai akibatnya. fiqh cenderung dianggap sebagai aturan Tuhan itu sendiri. maka orang yang menguasai fiqh yang biasanya disebut fugaha. adalah sama dengan menghalalkan produk pemikiran manusia yang semestinya temporal. Karena itu kitab-kitab fiqh cenderung menjadi resisten terhadap perubahan. yang oleh sebagian orang lalu dianggap sebagai jumud atau beku alias tidak berkembang. memandang fiqh identik dengan hukum Islam. dan karena hukum Tuhan adalah hukum yang paling benar dan tidak bisa dirubah maka kitab-kitab fiqh bukan saja dipandang sebagai produk keagamaan. Pada umumnya masyarakat Islam. Dengan cara meletakkan fiqh pada proporsinya yang demikian itu maka diharapkan kita akan memperlakukannya secara proporsional pula. Ketika seorang faqih dari suatu masa menuliskan tintanya menjadi kitab fiqh. maka kitab-kitab fiqh cenderung dianggap harus berlaku untuk semua masa.digunakan pada masa atau periode tertentu. SIKAP MUSLIM TERHADAP FIQH Setelah kita melihat bagaimana seharusnya memandang fiqh. Selain itu kitab-kitab fiqh juga mempunyai karakteristik lain. maka fiqh sebenarnya tidak boleh resisten terhadap pemikiran baru yang muncul kemudian. membiarkan fiqh sebagai kumpulan aturan yang tidak mempunyai batasan masa lakunya. Dengan tidak adanya masa laku ini. Inilah kedudukan kitab fiqh sebagai salah satu bentuk produk pemikiran hukum Islam dan karakteristik serta kecenderungan-kecenderungannya dibanding dengan produk-produk pemikiran hukum lainnya: fatwa. tapi sebagai buku agama itu sendiri. Akibatnya. selama berabad-abad fiqh menduduki tempat yang amat terpandang sebagai bagian dari agama itu sendiri. Kedua. sebelum kita mencoba memberi analisa lebih jauh tentang mekanisme kerja fiqh. maka kitab-kitab fiqh dipandang sebagai kumpulan hukum Tuhan.

maka para fuqaha memerlukan kehidupan fiqh yang tinggi. tapi kadang-kadang juga produksinya sendiri. dipelopori Imam Abu Hanifah. dan untuk itu terlebih dahulu perlu dipahami faktor-faktor apa sebenarnya mengakibatkan kekeliruan tersebut. karena beliau sendiri pada akhirnya lebih memihak pada kelompok pertama. aturan yang disebut hukum Islam itu tidak boleh terkena intervensi akal manusia karena hukum Islam itu adalah kebenarannya mutlak yang hanya diatur dengan wahyu. EMPAT PASANGAN PILIHAN Terdapat sejumlah pasangan pilihan yang dapat mempengaruhi pandangan seseorang tentang fiqh. adalah mereka yang mengutamakan penggunaan akal. dan untuk memelihara status diri mereka. tapi tidak sepenuhnya berhasil. Inilah yang menyebabkan lahirnya pandangan yang telah membiarkan fiqh sebagai kumpulan aturan yang tidak mempunyai batasan masa lalu . sebagaimana telah disebutkan di muka. Pilihan Wahyu dan Akal Dalam sejarah pertumbuhan hukum Islam kita mengetahui. dan dipelopori Imam Malik bin Anas dan kelompok kedua berkembang di Kufah dan Baghdad. jumlah ayat al-Qur'an mengenai hukum itu hanya sedikit sekali (kurang lebih 276-500 ayat). Kelompok pertama adalah mereka yang mengutamakan penggunaan hadits dalam memahami ayat-ayat Qur'an dan kelompok kedua. Kelompok pertama terutama berkembang di Madinah. Kekeliruan ini rasanya perlu diperbarui dan dibetulkan. dan karenanya tidak meliput semua aspek kehidupan manusia. produk-produk pemikiran fiqh itu dianggap sebagai identik dengan hukum Tuhan itu sendiri. apalagi aspek-aspek kehidupan yang merupakan produk perkembangan zaman modern. Kelompok pertama kemudian dikenal dengan ahl al-hadith dan kelompok kedua disebut ahl al-ra'yi.tidak terlepas sebagian atau tadi. Kadang-kadang fiqh yang dipeliharanya itu adalah produk para pendahulunya. Kitab-kitab fiqh hasil kelompok pertama lebih memberi tempat kepada hadits-hadits meskipun lemah. empat diantaranya akan disebutkan dan diuraikan di sini. Ironisnya. terdapat dua aliran besar di kalangan para pendiri madzhab. Demikian kesalahpahaman yang terjadi di kalangan sementara orang Islam. Kedua aliran ini telah menghasilkan kitab-kitab fiqh yang berbeda. Keempat pasangan pilihan tersebut ialah sebagai berikut: 1. dalam memandang fiqh. tidak terkecuali di Indonesia. sebenarnya terjadi siklus yang menarik diamati: bahwa untuk menjaga dan memeliharanya. fiqh memerlukan penjaga yang disebut faqih atau fuqaha. Imam Syafi'i sebenarnya telah berusaha menjembatani kedua kelompok itu. Meskipun pandangan ini bersifat utopis karena kenyataan. dalam mencoba memahami dan menjabarkan ajaran Islam tentang hukum. tapi pandangan ini telah mempunyai pengaruh dalam memberikan label bahwa produk pemikiran fiqh itupun merupakan upaya menafsirkan kehendak Tuhan yang bersifat abadi dalam bidang hukum. sedangkan kelompok kedua menghasilkan kitab-kitab fiqh yang bersifat rasional. Jadi sejak awal pertumbuhannya telah ada pihak-pihak yang berpendirian. dalam hal porsi penggunaan akal. dari cara seluruhuya pandang dan cara pikirnya yang diwarnai oleh kedudukan sosialnya Di sini.

dan merupakan ekspresi dari kultur tertentu di sekitar Timur Tengah. atau lebih tepatnya kesalahan dalam memberikan porsi peranan wahyu dan akal ternyata telah membawa pada kejumudan fiqh itu sendiri yang justru meliputi sebagian terbesar dari aturan hukum Islam yang ada. Artinya kitab-kitab fiqh itu partikularistik. seperti yang kita saksikan selama ini. kitab-kitab fiqh yang kita pelajari itu mengandung ekspresi lokal di Timur Tengah sana. Hukum Islam yang dianggap universal itu sebenarnya adalah produk fuqaha dari suatu lingkungan kultur tertentu. atau para ahli hukum. dan bukan oleh para hakim di pengadilan agama.fiqh pada umumnya dirumuskan para teoritisi belakang meja daripada . Orang harus melakukan pilihan antara pandangan yang mengatakan hukum Islam itu universal. adalah kitab-kitab fiqh yang ditulis lima atau enam abad yang lalu. dan dari suatu masa tertentu di masa silam. Sekarang kita melihat madzhab-madzhab itu sebagai aliran-aliran dalam hukum Islam. mengidentikkan fiqh dengan hukum Islam yang universal. Tapi pada kenyataan kita melihat. Demikianlah perkembangan hukum Islam. Begitulah. Bagi kita kaum Muslim Indonesia. Ini berarti --sejarah telah membuktikannya-. Satu kitab fiqh dapat ditulis dalam berpuluh-puluh jilid. lebih ironis lagi. meskipun untuk itu mereka harus masuk penjara. telah mengakibatkan mandeknya perkembangan fiqh.dan cenderung mengekalkan produk pemikiran manusia yang semestinya temporal dan liable terhadap perubahan. bahwa kitab-kitab fiqh itu pada umumnya ditulis para fuqaha. karena hukum Islam itu adalah hukum Tuhan maka semestinya hukum Islam itu hanya ada satu macam saja untuk seluruh umat manusia. Bahkan kita mengetahui banyak fuqaha menolak jabatan qadi atau hakim. Tapi karena hukum Islam dipandang identik dengan fiqh. 3. tapi dulunya lebih merupakan ekspresi lokal. untuk seluruh umat Islam di dunia. Pilihan Kesatuan dan Keragaman Pasangan pilihan kedua adalah. maka kitab fiqh yang berpuluh-puluh jilid itupun menjadi tabu mendapatkan revisi. bahwa pandangan pertama telah mendominasi benak kaum Muslim selama berabad-abad. Kita mengetahui dari sejarah. Jadi. dengan pandangan yang mengatakan hukum Islam itu partikular . fiqh yang dipandang identik dengan hukum Islam itu bermacam-macam. Tapi justru kitab-kitab yang dipandang sebagai hukum Islam itu di Indonesia dipandang universal tadi. Kita mengetahui terdapat berbagai madzhab dalam fiqh. Jadi. selain sudah tua. Kesalahan dalam melakukan pilihan antara wahyu dan akal. Tentu saja selebihnya adalah produk penafsiran dan pemikiran manusia. Kitab-kitab fiqh yang kita pelajari sekarang di Indonesia ini. antara hukum Islam sebagai kesatuan dan hukum Islam sebagai keragaman. kesalahan dalam melakukan pilihan yang tepat antara porsi peranan wahyu dan akal telah mempunyai dampak yang serius dalam sejarah perkembangan --atau lebih tepatnya ketidak-berkembangan fiqh. Hukum Islam sebagai kesatuan artinya. dan sebagian diterjemahkan atau disadur dalam bahasa Indonesia. 2. sementara wahyu yang mendasarinya hanya beberapa ratus ayat saja. jurist. dan sebagai hasilnya fiqh selalu resisten terhadap perubahan. Pilihan Idealisme dan Realisme Pasangan pilihan ketiga yang telah mempengaruhi perkembangan fiqh adalah pilihan antara idealisme dan realisme. antara cita-cita dan kenyataan. Kita mengetahui dalam sejarah.

Hal ini terjadi di Tunisia. Sebagai akibatnya. khususnya dalam hal hukum keluarga. telah berlangsung selama berabad-abad. baik remote waktu maupun tempat. dan tidak boleh mengalami perubahan. Akibat lain dari pilihan atas idealisme daripada realisme itu. Pasangan pilihan ini sebenarnya tidak sepenuhnya berdiri sendiri. melainkan akibat lanjutan dari pilihan pada pasangan-pasangan sebelumnya. dan karenanya boleh diotak-atik. statis. Jika kita hendak mereaktualisasikan ajaran-ajaran Islam. apalagi ketika kitab-kitab fiqh itu menjadi remote dari masyarakat yang mengamalkannya. Sebagai akibatnya kitab-kitab fiqh menjadi beku. 4. maka kita harus membalik pilihan-pilihan tersebut di atas. Ini telah terjadi pada saat kitab fiqh itu dituliskan. dirubah atau bahkan dibuang pada setiap saat. mulai mencoba melakukan revisi terhadap fiqhnya. dan Irak. Pendek kata. atau sekurang-kurangnya kekeliruan dalam menentukan bobot masing-masing pilihan itu. Fiqh telah mewakili hukum dalam bentuk cita-cita daripada sebagai respon atau refleksi kenyataan yang ada secara realis. khususnya dalam bidang hukum. Karena hukum Islam harus hanya ada satu. Kita harus memandang fiqh sebagai produk dominan akal ketimbang wahyu. dengan mengintrodusir dan memperbaharui peraturan perundangan. fiqh yang dihasilkannya lebih mengekspresikan hal-hal yang ideal daripada real. Semua itu. Beberapa negeri Muslim setelah pertemuan yang pahit dengan peradaban Barat. Fiqh harus dikembangkan dari yurisprudensi pengadilan yang bertumpu pada realisme. lebih menekankan segala sesuatunya pada hal-hal yang maksimal daripada minimal. Kebekuan fiqh itu. Fiqh telah dipandang sebagai ekspresi kesatuan hukum Islam yang universal daripada sebagai ekspresi keragaman partikular. Fiqh harus dipandang sebagai varian suatu keragaman yang bersifat partikularistik yang terkait dengan tempat dan waktu. Dari dimensi waktu. Bahkan Saudi Arabia pun dalam banyak hal telah mulai melakukan suplemen terhadap hukum-hukum fiqh Hambali yang umumnya terlalu literalis. dan lebih khusus lagi dalam bidang fiqh. ialah: fiqh semakin hari semakin jauh dari kenyataan masyarakat. telah mengakibatkan kemandekan pemikiran fiqh di dunia Islam selama ini. fiqh harus dilihat sebagai mata rantai perubahan yang tak henti-hentinya tanpa harus dipersoalkan keabsahannya karena toh pada akhirnya fiqh itu hanya menyangkut soal cabang . Baru pada abad ke-19 terdengar suara-suara untuk melakukan perubahan terhadap fiqh yang ada. Pilihan Stabilitas dan Perubahan Pasangan pilihan keempat adalah pilihan stabilitas dan perubahan. maka secara konseptual hukum Islam tidak menerima adanya variasi. dan resisten terhadap perubahan.praktisi di lapangan. Siria. sebagaimana disebutkan di muka. Fiqh juga telah memilih stabilitas daripada perubahan. LANGKAH-LANGKAH REAKTUALISASI Uraian di atas dapat disimpulkan: Kemandekan pemikiran fiqh di dunia Islam selama ini adalah karena kekeliruan menetapkan pilihan dari pasangan-pasangan pilihan tersebut di atas. Mesir. ini berarti hukum Islam itu harus stabil.

khususnya para imam shalat. 1969). Metro Pondok Indah Pondok Indah Plaza I Kav. maka produk pemikiran hukum itu dengan sendirinya harus dirubah. (021) 7507174 Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota Please direct any suggestion to Media Team Artikel Yayasan Paramadina Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota V. jika di tempat lain atau pada waktu lain ditemukan unsur-unsur partikularisme yang berbeda. sedikitnya ada tiga syarat yang harus dipenuhi yaitu: Pertama. Muhammad Muslehuddin. yaitu surat al-Ma'un (QS 107).35. Kedua. Dan ketiga. UA 20-21 Jakarta Selatan Telp. Dengan demikian. dan termasuk yang sering dibaca dalam shalat itu. Conflicts and Tensions in Islamic Law (The University of Chicago Press. adanya tingkat pendidikan dan tingkat keterbukaan yang tinggi dari masyarakat Muslim. Chicago. DAFTAR KEPUSTAKAAN Atho' Mudzhar. (021) 7501969. dan tidak pula menyadari betapa surat pendek itu dapat menjadi pangkal gerakan kemanusiaan yang besar dan mendalam seperti . memahami faktor-faktor sosiokultural dan politik yang melatarbelakangi lahirnya suatu produk pemikiran fiqhiyah tertentu. Pakistan. agar dapat memahami partikularisme dari produk pemikiran hukum itu. adanya keberanian di kalangan umat Islam untuk mengambil pilihan-pilihan yang tidak konvensional dari pasangan-pasangan pilihan tersebut di atas. -------------------------------------------Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah Editor: Budhy Munawar-Rachman Penerbit Yayasan Paramadina Jln. beliau memperkenalkan dan mempropagandakan sebuah surat pendek al-Qur'an dari Juz 'Amma.. 1977). Surat itu sendiri sudah merupakan bagian dari hafalan baku para santri. 7501983.dari agama. Noel J. kaum muslim Indonesia seperti tidak pernah tersentuh oleh makna dan semangat firman Allah itu. 7507173 Fax. 1990/1991. Tapi untuk melakukan pilihan-pilihan yang tepat diperlukan beberapa syarat. Coulson. sampai dengan tampilnya Kyai Dahlan dengan Muhammadiyahnya. Philosophy of Islamic Law and the Orientalists (Islamic Publications Ltd. Tetapi. IAIN Jakarta. MASALAH SIMBOL DAN SIMBOLISME DALAM EKSPRESI KEAGAMAAN (1/2) Oleh Nurcholish Madjid Ketika Kyai Ahmad Dahlan mulai menapak jalan menuju cita-cita reformasi Islam di Indonesia. Dengan demikian dinamika hukum Islam dapat terus dijaga dan dikembangkan. Catatan-catatan kuliah Sejarah Sosial Hukum Islam pada Fakultas Pasca Sarjana.

kurang lebih adalah: Pernahkah engkau lihat (hai Muhammad).Muhammadiyah dengan amal-amal sosialnya. namun ibadat itu tidak mempengaruhi tingkah laku kita yang lebih mendalam. Anak yatim dan orang miskin mewakili seluruh anggota masyarakat yang tidak beruntung oleh berbagai sebab dan cara." Artinya. dan bungkus itu dengan sendirinya akan mempunyai dampak penipuan. kita melakukan ibadat karena menghayati bahwa shalat adalah perintah Allah lalu tidak menghayati apa makna shalat itu yang lebih mendalam dan luas. yang dibidikkan oleh ibadat itu. biarpun sedikit. yang menurut istilah sekarang. orang yang mendustakan agama? Itulah orang yang menghardik anak yatim dan tidak berjuang untuk memberi makan orang miskin. [1] Jelas sekali firman Allah itu menegaskan bahwa kepalsuan dapat terjadi dalam sikap keagamaan kita jika kita tidak memiliki komitmen batin kepada usaha-usaha. misalnya. dan yang enggan memberi pertolongan. sementara kita mungkin rajin menjalankan ibadat-ibadat formal seperti shalat. surat al-Ma'un itu terjemahnya. yaitu budi pekerti yang luhur. [3] AGAMA DAN AKHLAQ Surat al-Ma'un memperingatkan kita bahwa beragama dengan tulus tidaklah cukup hanya dengan mengerjakan segi-segi formal keagamaan seperti shalat. yang tingkah laku itu bakal membentuk budi pekerti luhur [2].a. sekurang-kurangnya mungkin sekali kita sekedar pamrih kepada sesama anggota kelompok Islam. menegaskan keadilan sosial. tidak ada yang timbangan atau bobot nilai kebaikannya lebih erat daripada budi pekerti luhur. dll. [4] Sejalan dengan ini Nabi juga menggambarkan bahwa diantara semua kualitas manusia. adalah untuk menyempurnakan berbagai keluhuran budi. [5] Lalu beliau gambarkan bahwa yang paling banyak menyebabkan manusia . adalah karena mereka merupakan kelompok-kelompok sosial yang paling memerlukan usaha bersama untuk memperbaiki nasib mereka. Artinya. Seperti kita ketahui. Jadi sesungguhnya kita menjalankan ibadat itu karena pamrih atau riya'. Sebab mungkin kita sendiri tidak merasa. Indikasinya ialah keseganan untuk berkorban guna memberi pertolongan kepada orang yang perlu. yaitu mereka yang akan shalat tetapi lalai. Dikatakan semakin diperburuk karena kepalsuan kita dalam beragama memperoleh bungkus kebajikan berupa amalan ibadat lahiriah.w. yaitu mereka yang suka pamrih kepada sesama. Keagamaan yang sejati menuntut adanya wujud nyata konsekuensi ibadat. namun tidak menghayati dan tidak mewujud-nyatakan hikmahnya. "kelompok orang-orang Islam. kita menjalankan ibadat-ibadat hanyalah untuk memenuhi kemestian-kemestian sosial kultural semata. puasa. Karena itulah Allah mengutuk orang yang menjalankan ibadat formal serupa itu namun ia lupa atau lalai akan ibadat mereka sendiri. Maka celakalah untuk orang-orang yang shalat. Sebuah Hadits yang amat terkenal mengisyaratkan bahwa tujuan tugas suci atau risalah dibangkitkannya Nabi s. haji. Disebutkannya anak yatim dan orang miskin. seperti kemestian yang ada pada pola pergaulan dalam suatu kelompok. Penilaian diri kita sebagai pendusta agama atau beragama secara palsu karena tidak memiliki komitmen sosial yang makin diperburuk oleh tingkah laku lahiriah kita sendiri yang nampak seperti menjalankan ibadat formal.

Keempat pokok itu saling berkaitan. yang mendukung organisasi-organisasi sosial. betapapun cinta orang itu kepada harta tersebut. orang-orang miskin. [6] Penegasan-penegasan Nabi itu merupakan kelanjutan dari ajaran al-Qur'an tentang apa yang dinamakan nilai kebajikan (al-birr atau 'amal shalih). dan (4) jiwa pribadi kita sendiri harus teguh dan tidak goyah dalam segala keadaan. . anak-anak yatim (termasuk siapa saja yang tidak punya topangan hidup atau bantuan). dan untuk membebaskan para budak. peminta-minta. melainkan datang dalam pengalaman kita sendiri. dan memang berhak untuk meminta. [8] Dalam kaitan itu menarik sekali memperhatikan komentar Yusuf Ali atas firman yang amat penting ini. Tindakan-tindakan derma yang praktis mempunyai nilai hanya jika keluar dari rasa cinta dan tidak dari motif-motif yang lain. para malaikat. serta mereka yang tabah dalam kesulitan. juga. dan ajaran-ajaran-Nya yang tidak lagi berada jauh dari kita.masuk surga ialah taqwa kepada Allah dan keluhuran budi. menegaskan "Kamu sekalian tidak akan memperoleh kebajikan sebelum kamu mendermakan sebagian dari (harta) yang kamu cintai. Dikatakannya: Seakan untuk menekankan lagi peringatan melawan formalisme yang mematikan. berujud jenjang yang wajar. Allah swt. orang yang benar-benar memerlukan pertolongan tetapi tidak pernah meminta (kewajiban kita menemukan mereka itu). sebab kita melihat Hari Kemudian seolah-olah terjadi sekarang ini. kitab-kitab suci dan para nabi. Untuk kerabat. orang terlantar di perjalanan. Dalam hal ini.Tetapi kebajikan ialah (jika) orang yang beriman kepada Allah. kesusahan dan masa perang. tapi masih dapat dipandang secara terpisah. kita diberi gambaran yang indah tentang orang yang salih dan takut kepada Tuhan. yang lebih terinci: Bukanlah kebajikan itu bahwa kamu menghadapkan mukamu ke timur dan ke barat. bukan sekedar pengemis yang malas tetapi orang A. kewajiban kita dapat berbentuk berbagai macam. Kita juga melihat karya Ilahi dalam alam ciptaan-Nya. Mereka itulah orang-orang benar (tulus). (2) kita harus memperlihatkannya dalam tindakan-tindakan kebaikan kepada sesama kita. dan mereka itulah orang-orang yang berbakti (bertaqwa). dan orang yang menepati janji jika membuat janji. dan mereka didahulukan sebelum orang yang meminta. Iman bukanlah semata-mata perkara ucapan. hal-hal besar menjadi kecil di depan mata kita segala kepalsuan dan sifat sementara dunia ini akan tidak lagi memperbudak kita. (3) kita harus menjadi warga masyarakat yang baik. sanak keluarga kita. Kita diberi empat pokok: (1) iman kita harus sejati dan tulus. Orang itu harus mentaati aturan-aturan yang membawa kebaikan. tapi ia harus memusatkan pandangannya kepada cinta Tuhan dan cinta sesama manusia. Hari kemudian. dan orang yang mendermakan hartanya. Jika kita sadari itu." [7] Dan penegasan-Nya lagi. anak-anak yatim. Kita harus menyadari kehadiran Tuhan dan kebaikan-Nya. yakni.

Yang dimaksud ialah. dan di situ nampak bahwa Nabi saw justru lebih peka pada masalah-masalah sosial yang lebih substantif daripada masalah-masalah formal keagamaan semata yang simbolik. TAUHID ESENSI. Mukti Ali itu. Perbudakan mengandung berbagai bentuk yang tersembunyi dan berbahaya dan semuanya tercakup di situ. Mukti Ali. Maka Hadits di atas dapat dirujuk sebagai sebuah ilustrasi tentang apa yang dikatakan Prof. agama kita mengajarkan bahwa formalitas ritual belaka tidaklah cukup sebagai wujud keagamaan yang benar. Prof. Disebutnya masalah menghadapkan wajah ke arah ini atau itu dalam sembahyang adalah kelanjutan dari pembahasan tentang kiblat dalam urutan ayat-ayat sebelumnya." Seorang tokoh Islam Indonesia. dan budak-budak (kita harus melakukan apa saja yang dapat kita lakukan untuk memberi atau membeli kemerdekaan mereka). Muhammad Asad menegaskan bahwa al-Qur'an menekankan prinsip yang semata-mata mengikuti bentuk-bentuk lahiriah tidaklah memenuhi persyaratan kebajikan. namun ia rajin memberi pertolongan kepada orang-orang sengsara. pernah mengatakan bahwa orang-orang Muslim banyak yang lebih peka kepada masalah-masalah keagamaan daripada masalah-masalah sosial. A. Karena itu juga tidak pula segi-segi lahiriah itu akan menghantarkan kita menuju kebahagiaan. yang memberi peringatan keras kepada orang yang suka pamer kebajikan palsu dan kemunafikan dalam menekuni segi-segi forma keagamaan. tetapi lidahnya selalu menyakiti sanak keluarganya. karena ia melalaikan shalat dan puasa. Maka Rasul saw bersabda. sehingga tidak seharusnya dipandang dalam kerangka sebagai tujuan dalam dirinya sendiri sementara tujuan yang sebenarnya terlupakan.[l0] Dan memang menghadapkan muka ke arah tertentu dalam ibadat hanyalah bentuk formal lahiriah semata dari sebuah amalan. sebelum kita mengisinya dengan hal-hal yang lebih esensial.yang memerlukan bantuan kita dalam bentuk tertentu (kewajiban kita untuk tanggap kepada mereka). Jadi. namun reaksi kepada masalah-masalah kepincangan sosial seperti kemiskinan dan kezaliman masih lemah." Kemudian orang itu menceritakan tentang seorang wanita yang kedengarannya jelek. dan tidak pernah menyakiti hati sanak keluarganya. Seseorang yang datang kepada Nabi dan menceritakan tentang seorang wanita yang rajin mengerjakan shalat. Justru sikap-sikap membatasi diri hanya kepada hal-hal ritualistik dan formal akan sama dengan peniadaan tujuan agama yang hakiki. seperti soal pakaian atau tingkah "tidak sopan" dan "tidak bermoral" tertentu. BUKAN TAUHID NAMA . Prinsip ini dipertegas oleh Nabi saw dalam sebuah Hadits mengenai dua wanita: Abu Hurayrah meriwayatkan prinsip penting yang diajarkan Nabi ini. [9] Dalam menafsir firman itu. puasa dan zakat. Maka Nabi saw bersabda. "Tempat dia di neraka!. "Tempat dia di surga. banyak orang Islam yang lebih cepat bereaksi kepada gejala-gejala yang dinilai menyimpang dari ketentuan lahiriah keagamaan.

al-Rahim. Namun dzikr juga dapat melahirkan gejala formal. berarti Ia tidak Maha Esa. seperti pengucapan atau pembacaan kata-kata atau lafal-lafal tertentu dari perbendaharaan keagamaan. seperti al-Rahman. yang selama ini tidak dikenal orang Arab yang selama ini menggunakan nama Allah (al-Lah). khususnya kata-kata atau lafal yang berkaitan dengan Tuhan seperti "Allah" dan "La ilaha illa 'l-lah". Metro Pondok Indah Pondok Indah Plaza I Kav. dan carilah jalan tengah antara keduanya. jangan pula kau lirihkan. UA 20-21 Jakarta Selatan Telp. (021) 7501969.Dzikr atau ingat kepada Tuhan adalah salah satu bentuk ritus yang amat penting dalam agama Islam. maka bagi Dia adalah nama-nama yang terbaik". yang secara langsung atau tidak." [12] -------------------------------------------. Karena salah paham. selain nama "Allah" untuk Wujud Maha Tinggi. "Serulah olehmu sekalian (nama) Allah atau serulah olehmu sekalian (nama) al-Rahman. memberi petunjuk kepada Nabi dalam menghadapi mereka: "Katakan (hai Muhammad). al-Ghaffar. melainkan berbilang sebanyak nama yang digunakan. Dan janganlah engkau (Muhammad) mengeraskan shalatmu. Selain lafal "Allah" sebagai lafal keagungan (lafzh al-jalalah) karena merupakan nama Wujud Maha Tinggi yang utama juga terdapat lafal-lafal lain yang merupakan nama-nama Wujud Maha Tinggi itu. dll.(bersambung 2/2) Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah Editor: Budhy Munawar-Rachman Penerbit Yayasan Paramadina Jln. 7501983. firman Allah itu mengandung makna bahwa . kaum musyrik Arab mengira bahwa Nabi tidak konsisten dalam mengajarkan paham Ketuhanan Yang Maha Esa. dari antara nama-nama terbaik (al-asma al-husna) Tuhan. jika Dzat Yang Mutlak itu mempunyai nama lain. al-Razzaq. Maka turunlah firman Allah. (021) 7507174 Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota Please direct any suggestion to Media Team Artikel Yayasan Paramadina Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota V. 7507173 Fax. nama manapun yang kamu serukan. Sebetulnya dzikir adalah lebih banyak sikap hati (dzat al-shadr).35. MASALAH SIMBOL DAN SIMBOLISME DALAM EKSPRESI KEAGAMAAN (2/2) Oleh Nurcholish Madjid Menurut Sayyid Quthub. Sebab pada saat itu al-Qur'an mulai banyak menggunakan nama al-Rahman. dapat dipahami dari berbagai sumber suci dalam al-Qur'an dan Sunnah. Dalam pandangan mereka yang keliru itu. Dalam Kitab Suci al-Qur'an terdapat sebuah firman yang isinya petunjuk kepada Nabi saw menghadapi orang-orang musyrik Arab yang menolak adanya nama lain.

ia menjelaskan nama "Allah" dan bagaimana menyembah-Nya secara benar sebagai jawaban atas pertanyaan Hisyam: "Allah" (kadang-kadang dieja. wahai Hisyam?" Hisyam mengatakan lagi. Barangsiapa menyembah nama dan makna (sekaligus). [l4] Pandangan Ketuhanan yang amat mendasar ini diterangkan dengan jelas sekali oleh Ja'far al-Shadiq. Jadi. Jadi yang bersifat Maha Esa itu bukanlah Nama-Nya. maka setiap nama itu adalah suatu Tuhan. guru dari para imam dan tokoh keagamaan besar dalam sejarah Islam. Dzat Yang Maha Esa itulah yang bernama "Allah" dan atau "al-Rahman" serta nama-nama terbaik lainnya. sedangkan nama-nama itu sendiri seluruhnya tidaklah sama dengan Dia . Dan barangsiapa menyembah makna tanpa nama maka itulah Tawhid. tokoh musyrik Makkah yang sangat memusuhi kaum beriman. bahwa di suatu malam nabi beribadat. "Tambahilah aku (ilmu)". dan sekarang ia sendiri menyembah Tuhan yang lain lagi. "Al-Lah") berasal "ilah" dan "ilah" mengandung makna "ma'luh'. Dalam sebuah penuturan. tafsir-tafsir klasik menuturkan adanya Hadits dari Ibn Abbas. Engkau mengerti. Maka Tauhid yang benar ialah "Tawhid al-Dzat" bukan "Tawhid al-Ism" (Tauhid Esensi. Firman itu juga merupakan sanggahan terhadap kaum Jahiliah yang mengingkari nama "al-Rahman". melainkan kepada esensi. melainkan kepada sesuatu yang dinamai.manusia dibenarkan memanggil atau menyeru dan menamakan Tuhan mereka sekehendak mereka sesuai dengan nama-nama-Nya yang paling baik (al-asma al-husna). al-Baidlawi dan al-Nasafi menegaskan bahwa kata ganti nama "Dia" dalam kalimat "maka bagi Dia adalah nama-nama yang terbaik" dalam ayat itu mengacu tidak kepada nama "Allah" atau "al-Rahman".. selain nama "Allah". mendengar tentang ucapan Nabi dalam sujud itu. padahal Allah banyak menggunakan nama itu dalam Taurat. Karena itu al-Baidlawi menegaskan bahwa pahan Tauhid bukanlah ditujukan kepada nama. Ja'far al-Shadiq menyambung.. dan dalam bersujud beliau mengucapkan: "Ya Allah. tetapi kepada suatu dzat atau esensi." Ada juga penuturan bahwa ayat itu turun kepada Nabi karena kaum Ahl al-Kitab pernah mengatakan kepada beliau. Ketika Abu Jahal. ia sungguh telah kafir dan tidak menyembah apa-apa. Dzat atau Wujud yang satu dan sama. "Engkau (Muhammad) jarang menyebut nama al-Rahman. dan nama (ism) tidaklah sama dengan yang dinamai (al-musamma). Sebab suatu nama tidaklah diberikan kepada nama yang lain. Tetapi Allah Yang Maha Mulia dan Maha Agung adalah suatu Makna (Esensi) yang diacu oleh nama-nama itu. Maka barangsiapa menyembah nama tanpa makna. ia berkata: "Dia (Muhammad) melarang kita menyembah dua Tuhan. [l3] Berkenaan dengan alasan turunnya firman itu. Zamakhsyari. maka ia sungguh telah musyrik dan menyembah dua hal. (yang disembah). Kalau seandainya nama itu sama dengan yang dinamai. ya Rahman". bukan Tauhid Nama). sebab Dia mempunyai banyak nama. yaitu Dzat (Esensi) Wujud Yang Maha Mutlak itu. "Bagi Allah Yang Maha Mulia dan Maha Agung ada sembilanpuluh sembilan nama. melainkan Dzat atau Esensi-Nya. baik untuk kalangan Ahl al-Sunnah maupun Syi'ah. bukannya "Allah" bernama "al -Rahman" atau "al-Rahim". dan keduanya menunjuk kepada Hakikat." [15] ." Maka turunnya ayat itu tidak lain ialah untuk menegaskan bahwa kedua nama itu sama saja.

'Ali Ibn Abi Thalib ra. mewariskan penjelasan yang amat berharga kepada kita Dia mengatakan. jika terdapat kewajaran dalam penggunaan simbol-simbol sedemikian rupa sehingga agama memiliki daya cekam kepada masyarakat luas (umum). betapapun nama-nama itu nama-nama utama (al-Asma al-Husna). Orang Arab mengatakan "Seseorang tercekam (aliha) jika ia merasa bingung (tahayyara) atas sesuatu yang tidak dapat dipahaminya. Artinya. "Allah" artinya "Yang Disembah" (al-Ma'bud).'assalamu'alaikum . Maka sebenarnya yang boleh dikatakan "ideal" dalam kehidupan keagamaan ialah jika ada keseimbangan antara simbolisasi dan substansiasi. dan bukan menyembah Nama seperti yang diperingatkan dengan keras sebagai suatu bentuk kemusyrikan oleh Ja'far al-Shadiq itu. menerangkan. Agama tidak mungkin tanpa simbolisasi. antara nama (ism) dan yang dinamakan (musamma) tidak identik. Jadi.. Allah adalah Wujud dan tertutup dari kemampuan penglihatan. Bersamaan dengan penggunaan simbol-simbol diperlukan adanya kesadaran tentang hal-hal yang lebih substantif. dan tidak sebanding dengan apapun. Sebab. menurut Hadits-hadits di atas. CATATAN . [17] Jadi. Jadi "al-Lah" ialah Dia yang tertutup dari indera makhluk. betapapun. seperti ditegaskan oleh Ja'far al-Shadiq yang dikutip di atas. yang justru mempunyai nilai intrinsik.Kalau kita harus menyembah Makna atau Esensi. yang mengenai Dia itu makhluk merasa tercekam (ya'lahu) dan dicekam (yu'lahu) oleh-Nya. menyembah Tuhan sebagai maknanya berarti menyembah Wujud yang tak terjangkau dan tak terhingga. namun simbol tanpa makna adalah absurd. muspra dan malah berbahaya. jangankan sekedar simbol dan ritus. dalam makna takbir (ucapan "Allah-u Akbar") pada pembukaan dan dalam makna taslim (ucapan. melainkan menuju kepada suatu nilai yang tinggi). namun tetap ada kesadaran bahwa suatu simbol hanya mempunyai nilai instrumental. Maka agama ialah pendekatan diri kepada Allah dan perbuatan baik kepada sesama manusia.. dan tidak intrinsik (dalam arti tidak menjadi tujuan dalam dirinya sendiri. Justru segi ini harus ditumbuhkan lebih kuat dalam masyarakat. sambil melupakan Makna dan Esensi di balik Nama itu. Nama Tuhan pun. sebagaimana keduanya itu dipesankan kepada kita melalui shalat kita. yang Hakikatnya tidak dibatasi oleh nama-nama-Nya. dan orang itu terpukau (walaha) jika ia merasa takut (fazi'a) kepada sesuatu yang ia takuti atau kuatiri. Berkenaan dengan ini. "Allah" maknanya "Yang Disembah" yang agar makhluk (aliha. tidak benar untuk dijadikan tujuan penyembahan. berarti kita harus menunjukkan penyembahan kita kepada Dia yang menurut al-Qur'an memang tidak tergambarkan. [16] Dan Muhammad al-Baqir ra. tidak mampu atau bingung) mengetahui Esensi-Nya (Mahiyyah) dan memahami Kualitas-Nya (Kaifiyyah). dan yang terdinding dari dugaan dan benih pikiran.") pada penutupannya.

tt. sehingga mereka yang menjalankan shalat itu dengan mereka yang tidak menjalankannya sama saja. menerjemahkan perkataan itu dengan "menggemarkan. Yaitu sabda Nabi saw. Ibn Taymiyyah. Yang diterjemahkan dengan "lupa" atau "lalai" dalam firman itu ialah kata-kata yang dalam bahasa aslinya (Arab) "sahun". . Hassan dalam Al-Furqan. (Lihat. 4. Apalagi jika lebih buruk! 3. Tapi yang dimaksud dalam firman itu ialah mereka yang menjalankan shalat itu lupa akan shalat mereka sendiri.. [tulisan Arab] "Innama bu'its-tu li-utammim-a makarim-a 'l-akhlaq-iSesungguhnya aku diutus hanyalah untuk menyempurnakan berbagai keluhuran budi. juga perbuatan kebaikan kala-kala berupa pemberian bantuan kepada sesama manusia dalam hal-hal kecil tersebut.. Dan Muhammad Asad. tidak peduli kepada orang lain sekitar. tidak dikutuk. Sebab lupa dan alpa serupa itu justru dimaafkan oleh Allah.1. khususnya mereka yang memerlukan pertolongan. Riyadl. it denotes "aid" or "assistance" in any difficulty" (." Departemen Agama menerjemahkan dengan "menganjurkan" sedangkan Mahmud Yunus dalam tafsir Qur'an Karim menggunakan perkataan "menyuruh". kata-kata itu berarti "bantuan" atau "pertolongan" dalam setiap kesulitan) -The Message of the Qur'an. 4 jilid." 5. karena baginya perkataan "yahudldlu" mempunyai makna "mendorong diri sendiri" (sebelum mendorong orang lain). [tulisan Arab] "ma min syay-in fi 'il-mizan-i atsqal-u min husn-i 'l-khulaq-i. Yang dimaksud dalam firman ini bukanlah mereka itu dikutuk Allah karena lupa mengerjakan shalat yang disebabkan. Dalam maknanya yang lebih luas. Kata-kata Arab "al-ma'un" yang merupakan ujung surat dan menjadi nama suratnya dijelaskan oleh Muhammad asad. dalam arti bahwa shalat mereka tidak mempunyai pengarah apa-apa kepada pendidikan akhlaknya. al Ma'un/107:1-7.("Tiada sesuatu apapun yang dalam timbangan (nilainya) lebih berat daripada keluhuran budi"). menerjemahkannya dalam bahasa Inggeris dengan "feels no urge" (tidak merasakan adanya dorongan). hal. 2. A. Yaitu sabda nabi yang amat terkenal. Jilid 3. In its wider sense. kata-kata "al-ma'un" mencakup hal-hal kecil yang diperlukan orang dalam penggunaan sehari-hari. perkataan "yahudldlu" menunjuk pada adanya komitmen batin yang tinggi. sebagai "comprises the small items needed for one's daily use. misalnya. 979. Jadi. dalam The Message of the Qur'an. Jadi bergaya hidup egoistis. terlalu sibuk bekerja. 46). Perkataan "yahudldlu" yang diterjemahkan dengan "berjuang" di sini mempunyai asal arti "menganjurkan dengan kuat". Minhaj al-Sunnah. QS. as well as the occasional acts of kindness consisting in helping out one's fellow-men with such item.. yakni usaha mengangkat dan menolong nasib kaum miskin. Maktabat al-Riyadl al-Haditsah. hal. berdasarkan berbagai tafsir klasik. Berarti bahwa indikasi ketulusan dan kesejatian dalam beragama ialah adanya komitmen sosial yang tinggi dan mendalam kepada orang bersangkutan.

hal. Yusuf Ali. QS. -------------------------------------------Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah Editor: Budhy Munawar-Rachman Penerbit Yayasan Paramadina Jln. Untuk pembahasan ini. (021) 7507174 Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota Please direct any suggestion to Media Team Artikel Yayasan Paramadina Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota V. "Aktsar-u ma yudkhil-u 'l-jannat-a taqwa 'l-Lah-i wa husn-u 'l-khuluq-i "Yang paling banyak memasukan orang ke dalam surga ialah taqwa kepada Allah dan keluhuran budi".. 7. al-Baqarah 2:177. The Holy Qur'an. Khalil. Translation and Commentery (Jeddah: Dar al-Qiblah 1403 H). 36. QS. 10. QS. 93: 12. 7501983. hal. Dikutip oleh Roger Garaudy. Sayyid Quthub.a. A. 7507173 Fax. AlUshuliyyat al-Mu'ashirah: Asbabuha wa Mazhahiruha (Paris: Dar Am Alfayn.'Ali 'Imran 3:93. Tafsir al-Khazin oleh al-Baghdadi. [tulisan Arab]. al-Isra'/17:110. 17. ZAKAT KONSEP HARTA YANG BERSIH . Khalil A. Yaitu sebuah penuturan atau riwayat yang berasal dari Muhammad al-Baqir. [tulisan Arab]. 15.32. 14. riwayat itu dalam bahasa aslinya (Arab) adalah demikian. 11. hal. 9. 5. 8. al-Kasysyaf al-Zamaksyari. dalam Integrismes. Muhammad Asad.6. 13. [tulisan Arab]. Lengkapnya. terjemah bahasa Arab oleh Dr. Madarik al-Tanzil wa Haqaiq al-Ta'wil oleh al-Nasafi. menurut sebuah penuturan. Jil. (021) 7501969. 69. 16. Metro Pondok Indah Pondok Indah Plaza I Kav. Yaitu keterangan dari Ali ibn Abi Thalib r. lihat tafsir ayat bersangkutan dalam kitab-kitab tafsir klasik: Anwar al-Tanzil wa Asrar al-Ta'wil oleh al-Baidlawi. 1992). UA 20-21 Jakarta Selatan Telp. hal. Sebuah Hadits otentik. Juz 15. dll. Fi Zhilal al-Qur'an. 73. [tulisan Arab].

shalat. bagaimanapun hal ini memang tak mustahil. atau hanya pas-pasan saja. Islam bukanlah sejenis halte tempat orang menunggu dengan kepasifan. yang penting adalah keterpautan hati secara terus menerus untuk menyebut nama-nama Nya. Berbeda dengan logika teoritis yang bersifat abstrak dan subyektif. Islam tak saja harus ma'qul (sensible). Tapi adanya kekuatan ghaib. yang tersimpan dalam kata-kata "zakat" itu sendiri. Logika pemikiran hadir dalam ujud rnaqal yang bersifat teoritis. seseorang yang kebetulan kaya raya tiba-tiba terpanggil menginfakkan seluruh hartanya untuk menghidupi orang-orang miskin. seseorang boleh tak punya apa-apa. Ma'qul artinya bisa dicerna logika penalaran. mangada-ada!. sedang ma'mul artinya bisa dicerna logika kesejarahan. juga haji) bukan merupakan perkara mustahil. Sementara untuk manusia yang luar biasa. bisa meng-iblis tapi juga bisa menjadi laiknya malaikat. Masalahnya. Mas'udi Bicara soal zakat dikaitkan dengan pemerataan ada kesan memaksakan diri. Kembali pada pokok soal. logika empiris bersifat konkrit dan obyektif. Ajaib! Tapi. Tapi dari semua yang ma'qul itu. Sesungguhnyalah. tapi dalam hati tetap bercokol keyakinan." orang bisa saja mengatakan bahwa semua rukun Islam yang lima cukup ma'qul untuk memecahkannya. Tapi. Ibarat figur. di mana akan munculnya momen-momen ajaib yang lahir atas campur tangan langsung Tuhan seperti digambarkan di atas. Suatu ajaran untuk bisa disebut ma'mul. Seolah-olah yang penting bukan kesepadanan konsep zakat dengan pemerataan. Yakni manusia sebagai makhluk Tuhan yang memiliki segala kemungkinan dan potensi kebaikan maupun keburukan. Misalnya karena kekhusyukannya dalam menunaikan shalat. dikontrol dan bisa diukur. Tanpa diduga-duga orang ini tiba-tiba tersadarkan bahwa di alam dunia ini. logika kesejarahan hadir dalam ujud hal yang bersifat empirik. suatu saat nanti. dengan konsep zakat bukan merupakan hal yang tak masuk akal. tentang "pemerataaan" atau lebih mendasar lagi soal "keadilan sosial. . atau hanya memiliki potensi buruk --kalau saja yang demikian itu ada dalam kenyataan Islam-. tapi sekaligus juga ma'mul (applicable). bisa baik bisa jahat. Karena Islam datang sebagai petunjuk untuk manusia dan diterapkan oleh manusia dalam kapasitas kodratinya yang wajar-wajar saja. orang ini terbuka tabir kerohaniannya.Islam tak punya urusan. Bahkan mengkaitkannya dengan rukun Islam yang lain (syahadat. lambat atau cepat.Oleh Masdar F. Sebagai agama yang datang untuk kehidupan manusia dalam ukuran yang normal atau yang wajar. kekuatan maupun kelemahan. Ini berarti bahwa yang ma'qul belum tentu matmul. Manusia yang bisa salah bisa benar. kehebatan dan mukjizatnya diperlihatkan juga. harus bisa dijabarkan dalam kerangka kerja sistem yang bisa dirancang. dengan segala ajarannya. puasa. magic. anehnya orang tak kunjung kapok menjadikannya sebagai tema. kata-kata zakat diyakini sebagai tokoh imam mahdi atau ratu adil yang meski pun sangat sulit orang mencernanya. tapi yang ma'mul secara implisit haruslah ma'qul. bahkan keadilan sekaligus. manusia yang dengan hak prerogatif Tuhan hanya memiliki kemungkinan baik. mengkaitkan soal pemerataan.

bahkan meletakkannya sebagai sesuatu yang harus diatur sedemikian rupa agar kemungkinannya untuk menumpuk hanya pada kalangan tertentu (aghniya) bisa dihindarkan. atau ditekan serendah-rendahnya. Juga ajaran Karl Marx. Tapi agar tak terjadi suasana ketimpangan. yakni zakat. Tapi lembaga anomali tersebut perlu justru untuk menjadi penawar bagi anomali lain yang ada pada diri manusia. dimana sebagian yang lain hampir-hampir tak memiliki sama sekali. dalam sejarahnya justru cenderung memainkan peran terbalik. rata sedikitnya atau banyaknya. Ia dengan segala perangkat lunaknya (seperti sistem hukum dan perundang-undangan) maupun yang keras (seperti satelit pengintai dan senjata rudalnya) seringkali menjadi alat bagi kepentingan "penyakit keduniaan" yang seharusnya dinetralisir oleh keberadaannya. Seyogyanyalah pengalihan itu dilaksanakan kalangan berada atas kesadaran mereka sendiri.satu-satunya yang sekaligus ma'mul adalah rukun yang ketiga. Lebih dari sekedar meletakkan soal penguasaan sumber daya materi sebagai subyeknya. Zaman idaman baginya adalah zaman ketika lembaga negara telah lenyap berikut seluruh akar-akarnya. siapa yang sebenarnya paling . yang titik berangkatnya adalah pada pemerataan akses sumber daya materi. tapi hanya sebagai sarana yang tetap ada di luar zat-Nya. dari sudut moral memang merupakan anomali. setelah pajak yang tinggi itu ditarik dari masyarakat wajib pajak. 18 abad kemudian secara eksplisit mengidealkan kepunahannya. maka kehadiran lembaga yang memiliki kewenangan memaksa untuk melakukan pengalihan itu pun menjadi tak terelakkan. Sasarannya bukan agar semua orang memiliki bagian secara sama rata. dalam sejarah politik kenegaraan modern. Tapi disinilah persoalannya. konsep pajak sedikit banyak sudah mulai diberi fungsi redistribusi kekayaan seperti tersebut di atas. Sebab bermula dari ketimpangan dalam hal materi (ekonomi). yang dalam realitas sosiologis memuncak pada apa yang dikenal dengan negara (state). Benar bahwa haji pun bersentuhan dengan soal materi. Ajaran Nabi Isa secara implisit ingin sekali mengingkari keberadaannya. Karena seperti halnya tema pemerataan. Bahkan dengan tarif begitu tinggi yang disebut dengan pajak progresif. Lembaga itu. Maka bisa dimengerti apabila pernah muncul suatu obsesi dalam sejarah pemikiran manusia yang mengimpikan suatu zaman dimana apa yang disebut lembaga negara itu tak usah ada lagi. zakat adalah satu-satunya rukun Islam yang berkaitan langsung dengan persoalan materi itu. Tapi persoalannya. yakni nafsu gila harta (keduniaan) tadi. ketimpangan di bidang yang lain (politik dan budaya) hampir pasti selalu saja membuntuti. zakat --berbeda dengan haji-. lembaga negara yang secara moral hanya bisa dijustified sepanjang berfungsi sebagai racun penawar terhadap kerakusan duniawi masyarakat manusia (yang kuat). Tapi karena manusia mengidap nafsu "cinta harta" (hub-u 'l-dunya). atau keadilan sosial. Syahdan. Maka konsep dasar zakat sebagai mekanisme redistribusi kekayaan (materi) adalah pengalihan sebagian aset materi yang dimiliki kalangan kaya (yang memiliki lebih dari yang diperlukan) untuk kemudian didistribusikan pada mereka yang tak punya (fakir miskin dan sejenisnya) dan kepentingan bersama. apakah memang kemudian ditasarufkan untuk mengangkat kehidupan mereka yang tak punya dan untuk kemaslahatan semua pihak? Inilah persoalan dasar.

seperti Amerika dan negara-negara Barat. Hal tersebut dapat dilihat dengan jelas. Apakah melalui sektor pertahanan dalam pengertian yang luas dengan dalih demi kepentingan nasional mereka. Berbeda dengan di Timur. seperti yang terjadi di banyak bumi belahan Timur. atau melalui sektor pembangunan sarana-sarana mana yang diperuntukkan utamanya bagi kalangan masyarakat kelas menengah ke atas. Apabila negara di zaman modern sudah mulai melibatkan rakyat melalui wakil-wakilnya dalam menentukan penggunaan uang pajaknya melalui undang-undang. tapi baru yang ada di lapisan menengah dan terutama lapisan atas. Lembaga Perwakilan Rakyat hanyalah sekedar "nama dan proforma". dalam alokasi penggunaan dana pajak dalam APBN mereka. yaitu rakyat keseluruhan yang dimulai dari lapisannya yang paling jelata. sudah berada di tangan rakyat. lebih-lebih rakyat pada lapisannya yang paling jelata. masih jauh dari dapat disebut memiliki negara. Tapi juga belum berarti telah kembali pada pemiliknya yang sah. . Di negara-negara Barat yang liberal-kapitalistik. aristokrat. Berapa anggaran belanja yang diperuntukkan bagi pembebasan rakyat (jelata). tapi juga terhadap negara-negara lain yang mengaku berjalan secara demokratis. Tapi hal itu tetap bukan (belum?) dalam rangka penegakkan kontrol atas lembaga negara bagi kepentingan rakyat. yang justru merupakan pemilik utama sebutan "rakyat" kapan saja ia diucapkan. legislatif maupun judikatif). Memang lebih gila lagi. Mereka yang ada di lapisan bawah. secara lahir batin. pada hakekatnya adalah lembaga Perwakilan Penguasa. di Barat negara memang sudah tak lagi sepenuhuya milik penguasa (kaum bangsawan. Bagian yang paling besar dari dana itu diperuntukkan untuk melindungi atau melayani kepentingan kelas menengah ke atas. Lembaga Perwakilan Rakyat di negara-negara Timur yang paternalistik. Di Barat negara dengan seluruh soko gurunya (eksekutif. dengan peranan lembaga perwakilan rakyat dalam tata kenegaraan modern belum menjadi jaminan bahwa uang pajak akan ditasarufkan dengan prioritas utama bagi pembebasan rakyat lemah. Kesadaran dan perilaku mereka tetaplah untuk mengelabui rakyat bagi kepentingan para penguasa yang mengatur keberadaan mereka. atau oleh hampir semua negara di atas bumi ini? Pertanyaan tersebut mengena bukan saja terhadap lembaga negara yang dikelola secara otoriter. baik secara keturunan maupun SK jabatan seperti di Timur). di negara-negara Timur yang paternalistik. negara monarki absolut memandang kewenangan pengalokasian uang pajak (upeti/tax) sepenuhnya di tangan sang raja saja. Bahwa di negara-negara Eropa dan Amerika yang pendapatan perkapitanya telah mencapai angka 8 ribu sampai 11 ribu dollar pertahun masih banyak warga negara yang tuna wisma (homeless) adalah bukti yang sangat cukup bahwa rakyat jelata di sana memang belum bisa disebut ikut memiliki negara. sama sekali tak berarti. Dimulai dari pembebasan di bidang ekonomi. Penjelasannya sederhana. keberadaan lembaga perwakilan rakyat umumnya hanya merupakan permainan politik kalangan elite penguasa. politik dan budaya. adalah negara-negara monarki absolut zaman dulu. atau semi otoriter. kemudian menyusul bidang-bidang kehidupan lain yang lebih sublim.diuntungkan oleh pranata pajak yang ditangani lembaga negara. Tapi ya itu tadi. misalnya. independensi lembaga perwakilan rakyat dengan penguasa (baca: eksekutif) memang cukup kuat.

Padahal. ide dasar dari zakat bukan sesuatu yang sama sekali asing dalam struktur pemikiran kenegaraan. Dan kepentingan mereka (negara-negara Barat). selaku cukongnya. So. Dengan kata lain persoalan pokok dalam topik redistribusi kekayaan (asset) untuk pemerataan. dana pajak yang dikenakan atas orang-orang kaya dibelokkan pentasarufannya untuk kepentingan para penguasa untuk mempertahankan kekuasaannya. Hanya masalahnya. what?! Menuruti obsesi Marx bahwa lembaga negara mesti dienyahkan . Karena dia (lembaga negara)-lah yang berbuat selingkuh. Drama itu pementasannya di masyarakat bangsa negara-negara Timur yang umumnya miskin dan lemah. negara-negara Barat segera menunjukkan kedermawanannya (charity). Sementara di Barat yang liberal-kapitalistik. bahkan dalam tarif yang begitu tinggi. mereka siap menawarkan bantuannya. diputarkan kembali untuk melipat gandakan kekuatan mereka yang sudah kuat. dan bisa mengelabui banyak orang. banyak orang terhegemoni untuk meyakini bahwa Barat memang teladan dunia. seolah negara-negara liberal kapitalis Barat itu telah menempatkan dirinya di bawah kepentingan rakyat sejati.Memang ada drama yang menarik. yakni beban pajak. Persoalan pokok itu kini jelas terutama ada di pihak apa yang kita sebut lembaga negara. Lebih dari itu. Dengan pranata pajaknya ide zakat (bahwa yang kuat harus menanggung beban) sudah banyak dilaksanakan oleh hampir semua negara di jaman ini. akan segera tampak pada kita bahwa apa yang diperbuat negara-negara Barat tetaplah demi kepentingan mereka sendiri. lebih-lebih kenegaraan modern. sekurang-kurangnya dalam tingkat verbal. jelas merupakan persoalan yang tetap serius bagi ide pemerataan dan keadilan. Akibat permainan drama kolosal ini. jika dilihat sedikit lebih kritis. Memang di sana bukan tak ada masalah sama sekali. agaknya tak lagi terutama terletak pada kalangan kaya. dan kemudian keadilan sosial dalam tatarannya yang lebih luas. kaum lemah dan melarat. Setiap kali bencana dan musibah terjadi di masyarakat dunia Timur. sistem kenegaraan/pemerintahan yang liberal-kapitalistik memang merupakan pilihan sejarah terbaik dan terakhir. Nafsu kerakusan mereka untuk mengakumulasikan kekayaan lebih banyak dan lebih banyak lagi. apabila negara-negara Timur yang miskin itu memerlukan perbaikan ekonomi. Tapi fakta bahwa dalam kerakusannya mereka bisa diikat komitmennya untuk menyisihkan sebagian dari kekayaannya (berupa pajak) adalah bukti bahwa persoalan pokok tak lagi sepenuhnya di tangan mereka. Sampai titik ini sebenarnya telah jelas bagi kita bahwa. sama sekali bukan demi kepentingan rakyat dan bangsa negara-negara Timur. bahwa beban yang ditimpakan kepada mereka yang punya. yakni kaum kapitalis dan tentu saja para elite politik sebagai pengawal kepentingan-kepentingannya. Di dunia Timur yang feodalistik. dana pajak yang semestinya diprioritaskan pentasarufannya untuk memperkuat yang lemah. ternyata digelapkan oleh negara sehingga tak sampai ke alamat (mustahiq) yang semestinya. yakni kelompok orang-orang yang secara politik mengendalikan jalannya pemerintahan itu sendiri dan kalangan para kaya kapitalis. Baik yang berupa hibah (grant) maupun yang berupa pinjaman (loan). seperti disebutkan di atas adalah kepentingan kelompok yang mengontrol roda kenegaraan atau pemerintahan.

Tapi dengan bercokolnya nafsu-nafsu itu pada badan. ada pekerjaan rumah (PR) yang harus diselesaikan lebih dahulu. lembaga kenegaraan itu beliau bangun dengan kewaspadaan penuh. dengan membebaskan kemaslahatan (keadilan dan kesejahteraan) bagi semuanya. harus ditransformasikan terlebih dahulu. melainkan bagi kepentingan seluruh rakyat yang ada dalam otoritasnya. Dari sudut konsepsi zakat. maka pengkaitan ajaran Zakat dengan cita pemerataan. Bahkan beliau sendiri dengan komunitasnya. dengan meyakinkan masyarakat akan pentingnya kontrol sosial (amar ma'ruf nahi munkar) secara terus menerus. Memang untuk menegakkan keadilan sosial dalam semangat dan kerangka zakat.atau pengingkaran Isa as. dengan sadar telah membangun lembaga itu. -------------------------------------------Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah Editor: Budhy Munawar-Rachman Penerbit Yayasan Paramadina Jln. betapa pun konyolnya tidaklah mungkin dihindari. kalau pun ada-. Metro Pondok Indah Pondok Indah Plaza I Kav. Seperti halnya badan (kecil). apalagi keadilan. terhadap lembaga itu rasa-rasanya tak realistik. bukan bagi kepentingan penguasa atau kalangan kaya. (021) 7501969. 7507173 Fax. Sebagian orang mungkin merasa lebih aman dalam dekapan dogma lama ketimbang harus berspekulasi dengan pamahaman ajaran yang "baru. 7501983." Tapi tanpa keberanian moral dan intelektual untuk melakukan perubahan itu.yang pernah menyarankan jalan keluar agar badan itu dimusnahkan saja daripada diperalat oleh nafsu-nafsu negatif yang melekat padanya Yang paling sehat dan fitri (Islami) tentulah pendirian yang mengatakan. (021) 7507174 Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota Please direct any suggestion to Media Team Konsep dasar dalam al qur. Konsepsi tentang ajaran zakat (dan pada akhirnya tentang bangunan fiqh secara keseluruhan) yang sudah terlanjur mendogma di kalangan umat selama lebih dari sepuluh abad. Tapi dengan pengawasan atau kontrol yang terus menerus jangan sampai jatuh dan diperalat oleh nafsu-nafsu jahat yang mengitarinya. negara sebagai badan besar pun mengidap nafsu-nafsu (interests) negatif duniawi yang selalu cenderung memperalat dirinya. tak lebih hanyalah mitos belaka." Demikianlah Muhammad Rasulullah sebagai teladan umat manusia tak perlu menyatakan penolakan terhadap keberadaan lembaga negara. "Biarlah badan itu tetap ada dan tumbuh dengan kewajarannya. Pekerjaan ini berat dan memakan waktu. Tapi inilah kuncinya.an( rasif) . kedudukan negara atau kekuasaan pemerintahan adalah amil yang harus melayani kepentingan segenap rakyat. apalagi dalam pengertian yang lebih luas sebagai lembaga permufakatan kolektif. agar keberadaan lembaga negara itu tetap sebagai alat. UA 20-21 Jakarta Selatan Telp. tak seorang pun --kecuali langka. Mengingkari lembaga negara untuk semangat (ruh) kolektivitas manusia hukumnya sama belaka dengan mengingkari badan bagi ruh individualitas manusia. Negara.

Sebab pemungutan suatu istilah dari khazanah dan tradisi agama lain tidaklah harus dipandang sebagai sesuatu yang negatif. Biasanya." Dalam pengertian ini agaknya perkataan teologi lebih tepat dipadankan dengan istilah fiqih. Pijakan tulisan ini tentang teologi al-Qur'an. yakni: wajib. Maka kita pun mengetahui sifat-sifat Tuhan dan Nabi-nabi. Boleh jadi. misalnya. Dengan menyinggung masalah ini. Imam Abu Hanifah. yaitu dari khazanah dan tradisi Gereja Kristiani. menulis buku al-fiqh-u 'l-akbar yang isinya bukan tentang ilmu fiqih.mengenal atau pernah diberi pelajaran ilmu tauhid. ilmu fiqih seperti yang berkembang sekarang ini dalam kerangka pemikiran Imam Abu Hanifah adalah al-fiqh-u 'l-ashghar. Akan tetapi perjalanan sejarah dan tradisi keilmuan Islam telah menyingkirkan pengertian fiqih sebagaimana dipergunakan Imam Abu Hanifah.Artikel Yayasan Paramadina Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota II. Sebab. bagaimana sebaiknya kita memahami dan kemudian menghayati ide tauhid itu dalam kehidupan kita sebagai muslim? Dalam pengalaman kita --sekurang-kurangnya sebagian dari kita-. Kita tentu sepakat bahwa ide sentral dalam teologi al-Qur'an adalah ide tauhid. KONSEP-KONSEP TEOLOGIS oleh Djohan Effendi Perkataan teologi tidak berasal dari khazanah dan tradisi agama Islam. baik yang dikategorikan sebagai sifat-sifat yang wajib. sedangkan yang kedua meyangkut bidang furu'iyah (detail atau cabang). sifat-sifat yang mustahil maupun sifat-sifat yang harus. sebab ia membantu kita memahami Islam secara lebih utuh dan lebih terpadu. hanya ingin dikatakan bahwa pemakaian istilah teologi mempunyai alasan cukup kuat. Hal ini tidaklah dimaksudkan untuk menolak pemakaian kata teologi itu. Masalah-masalah lain seperti kepercayaan tentang . Istilah fiqih di sini bukan dimaksudkan ilmu fiqih sebagaimana kita pahami selama ini. melainkan istilah fiqih seperti yang pernah digunakan sebelum ilmu fiqih lahir. Bapak ilmu fiqih. tapi justru tentang aqidah yang menjadi obyek bahasan ilmu kalam atau tauhid. pertama-tama kita diperkenalkan dengan apa yang disebut sebagai "hukum akal. Ia istilah yang diambil dari agama lain.5. keduanya baik ilmu kalam atau ilmu tauhid maupun ilmu fiqih pada dasarnya adalah fiqih atau pemahaman yang tersistematisasikan. mustahil dan harus. Melalui kategori-kategori yang dirumuskan sebagai hukum akal itu. namun seringkali diperluas mencakup keseluruhan bidang agama. Kata teologi sebagaimana dijelaskan dalam Encyclopaedia of Religion and Religions berarti "ilmu yang membicarakan tentang Tuhan dan hubungan-Nya dengan alam semesta. Pertanyaan yang perlu kita munculkan. dan bukan hanya dengan ilmu kalam atau ilmu tauhid. menyangkut bidang ushuliyah (tentang yang prinsip atau yang pokok). kita diajak memahami tentang konsep ketuhanan dan kenabian. dari yang sangat tradisional hingga yang termasuk modern seperti buku Risalah Tawhid karya Muhammad Abduh. dalam mempelajari ilmu tersebut. Yang pertama." Hal ini bisa kita baca dalam buku-buku ilmu tauhid. apalagi jika istilah tersebut bisa memperkaya khazanah dan membantu mensistematisasikan pemahaman kita tentang Islam.

6:102. Ia tidak mempunyai relevansi dengan realitas kehidupan kita. yakni. 19:82-92. kiranya dari segi keberagamaan kita sebagai muslim. Masalahnya sangat jelas dan karena itu menghindarinya pun sangat mudah. Salbiyah. 17:40 dan 37:49). yang selama ini dikenal sebagai "sifat dua puluh. 41:37) atau benda-benda mati lainnya (QS. 16:57. Ia tidak melahirkan innerforce (kekuatan batin).malaikat. ta'alluq hukmiyah. 6:74. bulan dan bintang (QS. 7:138. yang membuat kita bergairah dalam aksi untuk membebaskan diri kita dan masyarakat sekitar kita dari segala bentuk kemusyrikan. ta'alluq bi 'l-quwwah. ada baiknya bila kita memahami apa-apa yang oleh al-Qur'an dianggap sebagai syirik atau kemusyrikan. seperti dilakukan para penganut agama-agama "pagan. atau penyembahan makhluk halus atau manusia yang dipertuhan. moral maupun spiritual. Lebih-lebih kalau kita memasuki pembahasan yang lebih rumit. Teologi semacam itu adalah teologi yang steril dan mandul. Pembahasan tentang dan di sekitar hal-hal inilah yang selama ini disebut sebagai ilmu tauhid. dan muncullah konsep-konsep tentang ta'alluq ma'iyah. BENTUK-BENTUK KEMUSYRIKAN Dalam memahami ide tauhid. Kebanyakan dari kita tentu tidak akrab dengan istilah-istilah atau konsep -konsep tersebut. bukanlah persoalan yang masih memerlukan perhatian lebih banyak." Dan memang al-Qur'an sendiri menyinggung bahkan mengecam orang-orang yang menjadikan berhala sebagai ilah atau sesembahan (QS. dengan problematika kemanusiaan. ta'alluq ta'tsir. Jelas sekali pembahasan tentang teologi sebagaimana terdapat dalam ilmu tauhid sangat intelektualistik sifatnya. ta'allaq tanjizi qadim. 6:101) atau tokoh-tokoh yang dipertuhan atau dianggap mempunyai unsur-unsur ketuhanan (QS. Selain berhala al-Qur'an juga mengemukakan hal-hal lain yang bisa dijadikan obyek sesembahan selain Tuhan. ma'ani dan sifat ma'nawiyah. ta'alluq tanjizi hadits. Kedua ciri utama itu wujud dalam berbagai bentuk manifestasi. Dengan mengemukakan hal itu ingin diturunkkan betapa jauhnya teologi yang dibahas dalam buku-buku ilmu tauhid dengan dunia praktis. 21:52). Al-Qur'an mengemukakan dua ciri utama dari kemusyrikan. dan kedua. adalah kelanjutan atau pelengkap dari kepercayaan terhadap Tuhan dan Kenabian tersebut. misalnya penyembahan benda-benda langit seperti matahari. benda-benda langit atau benda-benda mati lainnya. Akan tetapi masalah . Juga dikemukakan pembahasan tentang kaitan atau ta'alluq sifat-sifat Tuhan dengan alam ini. terutama ketika membicarakan sifat-sifat Tuhan. 4:117). hari akhirat maupun qadla dan qadar. kitab-kitab wahyu. Juga disinggung adanya penyembahan makhluk halus seperti jin (QS. Berkenaan dengan penyembahan berhala. Teologi semacam itu tidaklah membuahkan elan vital (gairah hidup). Kalau kita mendengar perkataan syirik atau kemusyrikan yang segera terbayang dalam angan-angan kita biasanya penyembahan berhala. menganggap Tuhan mempunyai syarik atau sekutu. ta'alluq shuluhi qadim." Dalam membahas sifat dua puluh itu. 5:116. 4:171. menganggap Tuhan mempunyai andad atau saingan. pertama. muncul berbagai konsep seperti sifat nafsiyah.

benda dan lembaga.25:43). aliran atau juga organisasi yang berlebih-lebihan (QS. sebab surah yang ke-13 adalah Surah al-Dhuha.).) dan periode Madinah (622-632 M. Dalam kategori ini bisa dimasukkan juga sikap ketaatan yang sama sekali tanpa reserve terhadap ulama (QS. 30:31-32). tahap Mekkah pertengahan (616-617) dan tahap Mekkah akhir (618-622 M. KESERAKAHAN DAN KETIDAKPEDULIAN SOSIAL Berangkat dari berbagai bentuk manifestasi kemusyrikan yang disebutkan al-Qur'an di atas. dan (12) Surah al-Insyirah. yakni: (1) Surah al-'Alaq." yaitu hawa nafsu kita sendiri (QS. Seperti kita ketahui masa turunnya al-Qur'an dibagi dalam dua priode: periode Mekkah (610-622 M. terutama berkaitan dengan ciri kemusyrikan yang menempatkan adanya andad atau saingan terhadap Tuhan. yang lebih halus sifatnya. 2:165). Ia sangat terkait dengan hal-hal yang sangat praktis. Al-Qur'an masih mengemukakan hal-hal lain yang berkaitan dengan masalah kemusyrikan. Hubungan manusia dengan benda. Kebertauhidan tidak hanya menyangkut kepercayaan kita terhadap Tuhan Yang Maha Esa tetapi juga menyangkut pandangan dan sikap kita terhadap manusia. mendapat sorotan yang sangat tajam dalam al-Qur'an. dan rumah-rumah mewah kita (QS. sebagaimana dikemakakan al-Qur'an. Sengaja hanya diambil 12 surah di atas. Beberapa mufassir menceriterakan bahwa Surah al-Dhuha turun sesudah Nabi mengalami masa jeda di mana wahyu . (11) Surah al-Balad. Hal-hal lain yang oleh al-Qur'an dijadikan contoh sebagai saingan Tuhan dalam kaitannya dengan kecintaan kita adalah keluarga dan kerabat dekat kita. Yang ada malah kecaman terhadap keserakahan dan ketidakpedulian sosial. (9) Surah al-Fil. Hal ini menarik dan perlu untuk dikaji lebih jauh.kemusyrikan tidak berhenti sampai di situ saja.). (8) Surah al-Takatsur.). 23:52-53. (7) Surah al-Ma'un. tahap Mekkah awal (610-615 M. Pada masa periode Mekkah awal terdapat 48 surah yang diwahyukan kepada Nabi Muhammad saw. Di sini hanya diambil 12 surah paling awal saja. kita bisa sampai pada kesimpulan bahwa teologi al-Qur'an tidak sekedar terbatas pada aspek kepercayaan saja. (4) Surah al-Quraysy. (3) Surah al-Lahab. karena itu usaha kita menjadi orang yang benar-benar bertauhid bukanlah masalah yang mudah. justru pada surat-surat atau ayat-ayat yang diwahyukan di masa-masa permulaan kenabian Muhammad saw tidak terdapat kecaman terhadap penyembahan berhala. bukan dalam bentuk penyembahan melainkan dalam bentuk kecintaan (QS. (2) Surah al-Mudatstsir. menunjukkan bahwa masalah kemusyrikan bukanlah sesuatu yang sederhana. (10) Surah al-Layli. (6) Surah al-Humazah. Selain itu masih ada satu hal lagi yang oleh al-Qur'an disebutkan sebagai "sesuatu yang bisa menjadi ilah atau sesembahan kita. Khususnya berkaitan dengan kekayaan. Periode Mekkah sendiri juga dibagi dalam tiga tahap. Untuk memperjelas hal ini ada baiknya bila lebih dahulu dikemukakan tentang periodisasi turunnya al-Qur'an. Suatu hal yang sangat menggoda untuk direnungkan adalah. kekayaan. baik pandangan maupun sikapnya. 9:31) atau sikap fanatisme golongan. (5) Surah al-Kawtsar. Berbagai bentuk manifestasi kemusyrikan tersebut. usaha atau bussiness kita. 9:24).

Surah al-Ma'un. yang turun dalam urutan ke-3. yang turun dalam urutan ke-6. Ia menyangka harta kekayaannya bisa mengekalkannya. Dan membenarkan nilai kebaikan Kami akan memudahkan baginya jalan kebahagiaan. Celaka amat si pengumpat si pemfitnah. Maka siapa yang suka memberi dan bertaqwa. Enam surah di antaranya justru menyinggung masalah keserakahan terhadap kekayaan dan ketidakpedulian terhadap orang-orang yang menderita. Pada anak yatim yang punya tali kekerabatan. Dan siapa yang kikir dan menyombongkan kekayaan. Atau memberi makanan di masa kelaparan. Dan Kami tunjuki ia dua jalan. Tahukah engkau jalan mendaki itu. Tapi tak mau ia menempuh jalan mendaki. atau dari sejarah Islam. Dalam Surah al-Lahab. Dan mendustakan nilai kebaikan Kami akan mudahkan baginya jalan kesengsaraan. Ke-12 surah tersebut sama sekali tidak menyinggung masalah penyembahan berhala.terhenti beberapa lama. Tahukah engkau orang yang membohongkan agama Itulah dia yang mengusir anak yatim. Kalian menjadi lalai karena perlombaan mencari kekayaan. Surah berikutnya yang turun dalam urutan ke-8. Tidak berguna baginya kekayaannya. memberikan peringatan keras terhadap orang-orang yang asyik berlomba-lomba dalam kemewahan dan kekayaan. Memerdekakan budak sahaya. . Atau orang papa yang terlunta-lunta. Dan tidak menganjurkan memberi makan orang-orang miskin. menyinggung keengganan manusia memberikan bantuan kepada sesamanya yang hidup dalam penderitaan dan kesengsaraan. dengan keras mengingatkan akan nasib celaka bagi mereka yang dengan serakah menumpuk-numpuk kekayaan dan menganggap kekayaannya itu bisa mengabadikannya. disinggung bahwa harta kekayaan dan usaha seseorang sama sekali tidak akan menyelamatkannya dari hukuman di Hari Akhirat. Surah al-Takatsur. Hingga kalian masuk ke pekuburan. Dan tiada berguna baginya kekayaannya ketika ia binasa. Karena itu ke-12 surah di atas turun atau diwahyukan kepada Nabi pada masa-masa sangat awal dari kenabian. Dalam surah yang turun berikutnya. orang-orang yang tidak mempedulikan penderitaan anak-anak yatim dan orang-orang miskin dikualifikasikan sebagai orang-orang yang membohongkan agama. Yang menumpuk-numpuk harta kekayaan dan menghitung-hitungnya. dan apa yang dikerjakannya! Akan dibakar ia dalam api menyala Surah al-Humazah. Yang terakhir Surah al-Balad yang diwahyukan dalam urutan ke-11. kemegahan dan Dalam Surah al-Layli yang diwahyukan dalam urutan ke-10 diberikan kabar baik terhadap mereka yang suka memberi dan sebaliknya kabar buruk bagi mereka yang kikir dan bakhil.

Ia memperlihatkan betapa. yang diwahyukan justru di masa yang sangat awal dari kenabian. Dengan perkataan lain apapun profesi kita. 7501983. pertama-tama oleh distribusi kekayaan yang adil. 21:107). keserakahan dan ketidakpedulian sosial mendapat sorotan tajam pada masa yang sangat awal dari kenabian Muhammad. bagaimana kaitan antara sorotan tajam terhadap kekayaan. Ia tidak sekedar masalah etik dan moral. Pertanyaan yang mungkin timbul. (021) 7507174 Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota Please direct any suggestion to Media Team Artikel Yayasan Paramadina Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota II. Karena itu reformasi sosial mestilah ditandai. Hal ini bisa kita kaitkan dengan penegasan al-Qur'an yang mengatakan bahwa Muhammmad diutus tidak lain kecuali dalam rangka membawa rahmat bagi seluruh alam (QS. memberikan suatu isyarat kepada kita agar kita menjadikan diri kita sebagai perwujudan dari nilai-nilai rahmah itu bagi sesama makhluk Tuhan. sangat jelas dan sama sekali tidak memerlukan penafsiran. 7507173 Fax. UA 20-21 Jakarta Selatan Telp. Ia langsung menyangkut kebertauhidan kita. Anjuran Nabi agar kita selalu memulai kegiatan dan kerja kita dengan ucapan "Bismillahirrahmanirrahim" (bism-i 'l-Lah-i 'l-rahman-i 'l-rahim). Dengan perkataan lain.Pesan-pesan al-Qur'an di atas.6. (021) 7501969. keserakahan dan ketidakpedulian sosial dengan cita-cita tentang reformasi sosial yang dilandasi semangat mewujudkan kehidupan yang penuh rahmah itu? Kaitannya sangat jelas. mungkin kita bisa menarik kesimpulan bahwa Risalah Nabi kita terutama untuk mengadakan reformasi sosial. bahwa keserakahan dan ketidakpedulian sosial adalah yang menimbulkan suatu kehidupan yang tidak disemangati nilai-nilai rahmah. misi utama Nabi Muhammad saw adalah membantu manusia mewujudkan tata kehidupan yang disemangati nilai-nilai rahmah. -------------------------------------------Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah Editor: Budhy Munawar-Rachman Penerbit Yayasan Paramadina Jln. keserakahan dan ketidakpedulian sosial mempunyai perspektif teologis. dalam al-Qur'an masalah kekayaan. REFORMASI SOSIAL Kalau kita renungkan mengapa masalah kekayaan. KONSEP-KONSEP KOSMOLOGIS (1/2) . Itulah prioritas utama yang digumuli Nabi dalam usaha mewujudkan reformasi sosial. Metro Pondok Indah Pondok Indah Plaza I Kav. motivasi dan orientasi kita tidak boleh bergeser dari ide untuk menciptakan --atau setidak-tidaknya menjadi bagian dari proses menciptakan-suatu tata kehidupan yang dilandasi nilai-nilai rahmah itu.

Seseorang yang hidup dalam abad 9 M akan mengatakan bahwa kata sama' artinya langit. Untuk memberikan contoh yang nyata. Sebuah langit yang berbentuk bola dengan jari-jari tertentu bukanlah langit yang bertambah luas. karena konsepsinya tidak mampu mengakomodasikan gejala yang dinyatakan ayat 4 surah al-Dzariyat. al-Anbiya': 30. Dan pada dindingnya tampak menempel bintang-bintang yang gemerlapan di malam hari. Bola ini dikatakan mewadahi seluruh ruang alam dan segala sesuatu yang berada di dalamnya. Dan tidakkah orang-orang kafir itu mengetahui bahwa agama sama. setelah ia sekian lama terhampar di permukaan bumi seperti layaknya sebuah tenda yang belum dipasang. Sesungguhnya dalam ciptaan langit dan bumi. Namun. sesuatu konsepsi mengenai alam semesta yang benar harus dapat . Dan sama' itu kami bangun dengan kekuatan dan sesungguhnya kamilah yang meluaskannya (QS. ciptaan Tuhan di seluruh jagad raya ini secara jelas disebutkan sebagai "ayat-ayat Allah". maka tidaklah mengherankan apabila ketetapan dalam penafsiran ayat-ayat al-Qur'an yang berisi konsep-konsep Kauniyah sangat bervariasi. pengertiannya ialah bahwa langit itu adalah sebuah bola super raksasa yang panjang radiusnya tertentu. al-Dzariyat: 47). Apa yang kiranya dapat kita harapkan dari orang ini andaikata ia diminta memberikan penafsiran (bukan sekadar salinan kata-kata) ayat-ayat tersebut? Tentu saja ia akan memberikan interpretasi yang sesuai dengan persepsinya tentang langit. serta ardh yaitu bumi yang datar yang dikurung oleh bola langit. sebagai bandingan. yang berputar mengelilingi sumbunya. Bintang-bintang tampak tidak berubah posisinya yang satu terhadap yang lain. Karenanya. misalnya dalam surah 'Ali Imran 190 disebut. Dapat kita lihat dalam kasus ini bahwa konsep kosmologis dalam al-Qur'an. [1] dan ardh [2] itu dahulu sesuatu yang padu. Pada hemat saya. Mengingat hal-hal tersebut di atas. Apalagi kalau ia melingkupi seluruh ruang kosmos beserta isinya.oleh Achmad Baiquni Telah banyak kitab yang ditulis ulama masyhur untuk menafsirkan ayat-ayat suci al-Qur'an --yang merupakan garis-garis besar ajaran Islam itu-. Dan mungkin sekali ia akan mengatakan bahwa ayat 30 surah al-Anbiya' itu melukiskan peristiwa ketika Tuhan menyebutkan langit menjadi bola. dan dengan Sunnah Rasul sebagai penjelasan. dan seluruh langit itu berputar-putar dalam satu hari (siang dan malam). Dan itu tidaklah benar. maka sebagai padanan untuk mendapatkan arti ayat-ayat al-Qur'an yang menyangkut al-Kaun dapat digunakan juga ayat-ayat Allah yang berada di dalam alam semesta ini. kita dapat menelaah ayat-ayat berikut. terdapat ayat-ayat Allah bagi orang-orang yang berakal (dapat menalar). tidak ada lagi sesuatu yang lebih besar daripadanya.dengan menggunakan ayat-ayat lain di dalam kitab suci tersebut. mengenai penciptaan alam semesta. serta silih bergantinya malam dan siang. kemudian kami pisahkan keduanya (QS. yang dikemukakan orang itu sangatlah sederhana. kapan pun juga. Ia merasa yakin bahwa persepsinya mengenai langit itulah yang sesuai dengan apa yang dapat diamati setiap hari. tergantung pada pengetahuan mufassir tentang alam semesta itu sendiri. dalam al-Qur'an sendiri.

mental dan spiritual yang bukan Islam. maka muncullah di lingkungan umat Islam suatu kegiatan observasional yang disertai dengan pengukuran. Dan sama'. yang bersama-sama astronomi membentuk konsep-konsep kosmologi. Untuk mendapatkan konsepsi yang benar itu pada hakekatnya telah diberikan petunjuk sang pencipta misalnya dalam ayat 101 surah Yunus. yang terdiri atas pengukuran teliti pada observasi dan penggunaan pertimbangan yang rasional. wahai Tuhan kami. atau dalam keadaan berbaring. ketika ia berjalan sangat cepat. jauh melampaui kelajuannya dalam abad-abad sebelumnya. sedangkan dalam fase-fase lain menghasilkan kesimpulan yang sehaluan dengannya. (QS. Karena telah menjadi kebiasaan para pakar menulis hasil penelitian orang lain.dipergunakan untuk menerangkan semua peristiwa yang dilukiskan ayat-ayat dalam kitab suci. yang mengajar dengan qalam. Maka apakah mereka itu tak memperhatikan onta-dalam intighon. 4 dan 5 surah al-'Alaq. [3] Dia mengajar manusia apa yang tidak diketahuinya. Penerapan metode ilmiah ini. bagaimana ia diciptakan. Kita akan menemukan bahwa pada tahap-tahap tertentu ia tampak tidak sesuai dengan ajaran agama kita. Sebab obor pengembangan ilmu telah mulai berpindah tangan dari umat Islam kepada para cendekiawan bukan Islam sejak pertengahan abad ke 13 sampai selesai dalam abad 17. sehingga sejak itu sains tumbuh dalam kerangka acuan budaya. kiranya perlu kita pertanyakan apakah benar konsep kosmologi yang berkembang dalam sains itu sejalan dengan apa yang terdapat dalam al-Qur'an. Perhatikanlah dalam intighon apa yang ada di sama' dan di ardh (QS. yang menyangkut proses-proses alamiah di langit itu. Maha suci Engkau. menyebabkan timbulnya cabang baru dalam sains yang dinamakan astrofisika. (QS. Dengan diikutinya perintah dan petunjuk ini. Bacalah. Meskipun ilmu pengetahuan keislaman ini tumbuh sebagai akibat dari pelaksanaan salah satu perintah agama. dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah. Yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk. Jelaslah di sini bahwa sains adalah hasil konsensus di antara para pakar. bagaimana ia ditinggikan. serta silih bergantinya siang dan malam. Yunus: 101). telah mengubah astrologi menjadi astronomi. dan pikirkan tentang penciptaan sama' dan ardh. maka peliharalah kami dari siksa azab neraka. al-Ghasyiyah: 1 dan 18). ia harus sesuai dengan konsep-konsep kosmologis dalam al-Qur'an. Sesungguhnya dalam penciptaan sama' dan ardh. seperti yang berkembang di lingkungan Yunani. Ali Imran: 190 dan 191). Mari kita kaji sambil menelusuri perkembangan ilmu kealaman sejak akhir abad 19 hingga akhir abad 20. tiadalah Engkau ciptakan ini dengan sia-sia. Penalaran tentang "bagaimana" dan "mengapa". tapi mempunyai ciri empiris sehingga tersusunlah dasar-dasar sains. . sejalan dengan kecanggihan instrumentasi yang dipergunakan dalam observasi dan matematika sebagai sarana komputasi. maka tersusunlah himpunan rasionalitas kolektif insani yang kita kenal sebagai sains. Serta dalam ayat 190 dan 191 surah Ali Imran. sehingga ilmu tidak lagi bersifat kontemplatif belaka. dan yang memiliki nilai-nilai tak Islami. terdapat ayat-ayat bagi orang-orang yang berakal (dapat menalar). Katakanlah (wahai Muhammad). Kita ingat ayat 3. Dalam teguran ayat 1 dan 18 dalam surah al-Ghasyiyah.

Dan kita akan melihat sepanjang pertumbuhan sains selanjutnya bahwa ide-ide semacam ini. sebab alam semesta yang tak terbatas dan tak berhingga besarnya. Kita dapat juga mengemukakan beberapa ayat lainnya sebagai berikut. lalu Dia berkata kepadanya dan kepada ardh. ada pun Arsy-Nya telah tegak pada ma' [6] untuk menguji siapakah di antara kalian yang lebih baik amalnya (QS. Datanglah kalian mematuhi-Ku dengan suka atau terpaksa. ada sejak dulu dan akan ada seterusnya. yang mengandung konsepsi tentang alam yang langgeng. keduanya menjawab: kami datang dengan taat (QS. Fushshilat: 11) Maka Dia menjadikannya tujuh sama' dalam dua hari. al-Sajadah:4) Dan Dialah yang telah menciptakan sama' dan ardh dalam enam hari. Dalam pada itu Dia mengarah pada penciptaan sama'. yang telah mengetahui melalui kegiatan sainsnya. dan pada waktu itu pula bersemayam di arsy-Nya [5] (QS. maka saya selalu menganjurkan agar umat Islam yang ingin mengejar ketinggalan mereka dalam sains dan teknologi akhir-akhir ini bersiap-siap mengadakan langkah-langkah pengamanan dengan meng-Islamkan sains. demikianlah ketentuan Yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui.Seseorang yang hidup pada akhir abad 19. Lebih dari itu bahkan bertentangan dengan ajaran agama kita. dan Kami memeliharanya. dan ada bintang-bintang kembar dan gerombolan-gerombolan bintang dalam galaksi kita yang disebut Bimasakti. Padahal mereka baru merupakan sebagian saja dari ayat-ayat al-Qur'an yang berisi konsep-konsep kosmologi. (Karena itu. Ia akan mengatakan. dan kami hiasi langit dunia dengan pelita-pelita. Sudah tentu konsep kosmologi sains abad yang lalu ini tidak sesuai dengan konsep al-Qur'an. langit itu sebuah bola super raksasa. dan ia penuh dukhon [4]. dan bahkan mampu mengukur jarak itu dan mengatakan berapa massanya. dan Dia mewahyukan kepada tiap sama' peraturannya masing-masing. (QS. tak lagi akan mengatakan. Fushshilat: 12) Allah-lah yang telah menciptakan tujuh sama' dan ardh seperti itu pula (QS. langit adalah ruang jagad-raya. Karena konsep kosmologi yang berlaku waktu itu berasal dari Newton. bahwa bintang-bintang di langit jaraknya dari bumi tidak sama. al-Thalaq: 12) Allah-lah yang menciptakan sama' dan ardh dan apa yang ada di antara keduanya dalam enam hari. ia akan mengatakan juga bahwa bola super besar yang mewadahi seluruh ruang kosmos itu tidak ada sebab baginya ruang jagad-raya ini tak berhingga besarnya dan tidak mempunyai batas. yang di dalamnya terdapat bintang-bintang. sebagian diikuti satelitnya. dianggap tak berawal dan tidak berakhir. dan sungguh jika keduanya akan lenyap dan tak ada siapa pun . sehingga sains kembali dapat berkembang dalam kerangka sistem nilai yang Islami). karena tak dapat mengakomodasi peristiwa yang: dilukiskan ayat 30 surah al-Anbiya' dan ayat 47 surah al-Dzariyat. Hud: 7) Sesungguhnya Allah menahan sama' dan ardh agar jangan lenyap. selalu timbul-tenggelam. Dari uraian di atas bahwa konsep kosmologi sains pada abad ke 19 gagal total dan sama sekali tak mampu menerangkan apa yang terkandung dalam dua ayat tersebut di atas.

Sudah barang tentu gumpalan sebesar itu tak pernah bergelimpangan di ruang kosmos. Sebab konsepsinya tentang alam semesta memang salah hingga tidak cocok dengan apa yang ada dalam al-Qur'an. sebagaimana Kami telah mulai awal penciptaan. Kita telah melihat dari contoh-contoh yang diberikan. al-Anbiya': 104) Sekarang mari kira cari pengertian yang terdapat dalam ayat itu. meski ia seorang pakar yang ulung sekali pun. Gumpalan ini berada dalam ruang alam dan tanpa diketahui sebab musababnya meledak dengan sangat dahsyat sehingga terhamburlah materi itu ke seluruh ruang jagad-raya. berapa besar kepadatan materi dalam titik yang volumenya nol itu jika seluruh massa 100 milyar kali 100 milyar bintang sebesar matahari dipaksakan masuk di dalamnya! Inilah yang biasa disebut sebagai singularitas. bahwa dengan bekal pengetahuan abad 19 saja seseorang tak mungkin memahaminya. sebab elektron-elektron yang berasal dari masing-masing atom telah menyatu dengan protonnya dan membentuk neotron sehingga tak ada gaya tolak listrik antara masing-masing elektron dan antara masing-masing proton. jawabnya kira-kira sebagai berikut: Konsepsi mengenai alam semesta ini sebenarnya mulai mengalami perubahan sejak tahun 1929 ketika Hubble melihat dan yakin bahwa galaksi-galaksi di sekitar Bimasakti menjauhi kita dengan kelajuan yang sebanding dengan jarak dari bumi. sesungguhnya Kamilah yang akan melaksanakannya (QS. Lebih kecil dari bintang pulsar yang jari-jarinya hanya sebesar 2 sampai 3 kilometer dan massanya kira-kira 2 sampai 3 kali massa sang surya. kuda yang paling laju akan berlari paling depan. sehingga dalam sains terdapat istilah alam yang mengembang (expanding universe). Fathir: 41) Pada hari Kami gulung sama' seperti menggulung lembaran tulis. sebab gaya gravitasi gumpalan itu akan begitu besar sehingga ia akan teremas menjadi sangat kecil. Jadi konsep dentuman besar terpaksa dikoreksi yaitu bahwa keberadaan alam semesta ini diawali oleh ledakan maha dahsyat ketika tercipta ruang-waktu dan energi yang keluar dari singularitas dengan suhu yang tak terkirakan tingginya. Gambarkan saja dalam angan-angan.yang dapat menahan keduanya itu selain Allah. Apa yang akan dikatakan oleh seorang kosmolog atau seorang fisikawan abad 20. begitulah Kami akan mengembalikannya. sekitar 15 milyar tahun yang lalu. dan bahkan lebih kecil dari lobang hitam (black hole) yang massanya jauh melebihi pulsar dan jari-jarinya menyusut mendekati ukuran titik. peristiwa inilah yang kemudian terkenal sebagai "dentuman besar" (big bang). itulah janji yang akan kami tepati. Hal ini mengingatkan orang pada pacuan kuda. jika ia ditanya tentang konsep kosmologi sains yang mutakhir yang dihasilkan penelitian para pakar? Secara garis besar. Materi yang sekian banyaknya itu terkumpul sebagai suatu gumpalan yang terdiri dari neotron. . Pada tahun 1952 Gamow berkesimpulan bahwa galaksi-galaksi di seluruh jagad-raya yang cacahnya kira-kira 100 milyar dan masing-masing rata-rata berisi 100 milyar bintang itu pada mulanya berada di satu tempat bersama-sama dengan bumi. Karena kelajuan dan jarak masing-masing galaksi dari bumi diketahui. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penyantun dan Maha Pengampun (QS. tidak sulit untuk menghitung kapan mereka itu mulai berlari. yang lebih jauh kecepatannya lebih besar.

Karena materialisasi dari energi yang tersedia. (021) 7507174 Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota Please direct any suggestion to Media Team Artikel Yayasan Paramadina Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota II. yang berakibat terhentinya inflasi. terjadilah gejala "lewat dingin". 7507173 Fax. tetapi beberapa alam. sehingga suhunya merendah melewati 1. tidak perlu aturannya sama dengan apa yang ada di alam kita ini. Selama proses inflasi ini. tidak terjadi secara serentak. 7501983. Tatkala alam mendingin. maka di lokasi-lokasi tertentu terdapat konsentrasi materi yang merupakan benih galaksi-galaksi yang tersebar di seluruh kosmos.000 trilyun-trilyun derajat.6. pada saat itu . Jenis materi apa yang muncul pertama-tama di alam ini tidak seorang pun tahu. Pada saat itu suhu kosmos adalah sekitar 100 milyar derajat dan campuran partikel dan radiasi yang sangat rapat tetapi bersuhu sangat tinggi itu lebih menyerupai zat-alir daripada zat padat sehingga para ilmuwan memberikan nama "sop kosmos" kepadanya Antara umur satu sekon dan tiga menit terjadi proses yang dinamakan nukleosintesis. dalam periode ini atom-atom ringan terbentuk sebagai hasil reaksi fusi-nuklir. berapa? duakah? tigakah? atau berapa? para ilmuwan tidak tahu. Dan masing-masing alam dapat mempunyai hukum-hukumnya sendiri. Ekspansi yang luar biasa cepataya ini menimbulkan kesan-kesan alam kita digelembungkan dengan tiupan dahsyat sehingga ia dikenal sebagai gejala inflasi. dan selurnh kosmos terdorong membesar dengan kecepatan luar biasa selama waktu 10-32 sekon. keluarlah energi yang memanaskan kosmos kembali menjadi 1. ada kemungkinan bahwa tidak hanya satu alam saja yang muncul. pada umur 10-35 sekon. isinya terdiri atas radiasi dan partikel-partikel sub-nuklir. UA 20-21 Jakarta Selatan Telp. karena ekspansinya.-------------------------------------------. (021) 7501969. Metro Pondok Indah Pondok Indah Plaza I Kav. Baru setelah umur alam mencapai 700. Pada saat pengembunan tersentak.(bersambung 2/2) Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah Editor: Budhy Munawar-Rachman Penerbit Yayasan Paramadina Jln. KONSEP-KONSEP KOSMOLOGIS (2/2) oleh Achmad Baiquni Para pakar berpendapat bahwa alam semesta tercipta dari ketiadaan sebagai goncangan vakum yang membuatnya mengandung energi yang sangat tinggi dalam singularitas yang tekanannya menjadi negatif.000 trilyun-trilyun derajat. namun tatkala umur alam mendekati seper-seratus sekon. Vakum yang mempunyai kandungan energi yang luarbiasa besarnya serta tekanan gravitasi yang negatif ini menimbulkan suatu dorongan eksplosif keluar dari singularitas.000 tahun elektron-elektron masuk dalam orbit mereka sekitar inti dan membentuk atom sambil melepaskan radiasi.

seluruh langit bercahaya terang benderang dan hingga kini "cahaya" ini masih dapat diobservasi sebagai radiasi gelombang mikro. ketika dentuman besar tak dapat disangkal. Sebab alam yang berkelakuan seperti itu. suatu asumsi yang konsekuensinya tak didukung kenyataan. tapi tak dapat kita lihat. sebenarnya sains telah mengalami penyelewengan-penyelewengan yang akhirnya terbongkar kesalahannya. ketika gagasan Gamow tentang dentuman besar yang menjurus pada konsep alam semesta yang berawal dikumandangkan beberapa kosmolog yang dipelopori Hoyle mengajukan tandingan yang dikenal sebagai kosmos yang mantap (steady state universe) yang menyatakan bahwa alam semesta ajeg sejak dulu sampai sekarang dan hingga nanti tanpa awal dan tanpa akhir. Ketiga. karena tak sesuai dengan kenyataan yang terobservasi. tapi berekspansi. Kedua. Menurut perhitungan kami. ia segera diubah oleh si-perumus agar sesuai dengan konsep kosmologi pada waktu itu. beberapa ilmuwan mencoba mengembalikan keabadian kosmos dengan mengatakan. telah mendorong para pakar mengakuinya sebagai kilatan dalam alam semesta yang tersisa dari peristiwa dentuman besar. yaitu kosmos yang statis. Pertama. dinyatakan oleh Friedman bahwa ia memberi gambaran kosmos yang mengembang. dan 6 lainnya yang tidak kita sadari. karena Hubble mengobservasi justeru jagad-raya ini berekspansi. ketika persamaan matematis Einstein. Kita lihat bahwa hasrat mempertahankan konsepsi alam semesta yang tak berawal (tak diciptakan) selalu menemui kegagalan. Einstein mengalah dan kembali ke perumusannya yang semula yang melukiskan alam yang tak statis. yang dirumuskan untuk melukiskan alam semesta. Namun terungkapnya keberadaan gelombang mikro yang mendatangi bumi dari segala penjuru alam secara uniform. oleh Wilson dan Penzias pada 1964. Begitulah kira-kira uraian fisikawan itu. karena tak cocok dengan kenyataan. karena "tergulung" dengan jarij-ari 10-32 sentimeter yang bermanifestasi sebagai muatan listrik dan muatan nuklir. dan mendapatkan pembetulan. yaitu 4 buah dimensi ruang-waktu yang kita hayati. alam semesta mempunyai dimensi 10. Dimensi yang kita hayati adalah dimensi yang. alam semesta ini berkembang-kempis (oscillating universe). "terbentang" dan mengejawantah sebagai ruang-waktu. entropinya besarnya tidak terhingga. Tapi langkah pembetulan itu mendapat tamparan. ia hanya dapat kita hubungi lewat medan gaya gravitasi sedangkan hukum alamnya tidak perlu sama dengan yang berlaku di dunia ini. Kalau semua yang telah dirintis secara matematis ini mendapatkan pembenaran dari eksprimen atau observasi di alam luas. meledak dan masuk kembali tak henti-hentinya tak berawal dan tak berakhir. Dengan demikian maka konsepsi yang berawal lebih dikukuhkan. Selama perjalanan mencari kebenaran itu. Sudah tentu apa yang dikatakan itu adalah hasil mutakhir kegiatan penelitian dan saling kaji antara para pakar dan merupakan konsensus. katakan saja. . maka ada kemungkinan bahwa alam yang kita huni ini mempunyai kembaran (shadow world) yang sebenarnya berada di sekeliling kita. Saya akan mengungkapkan beberapa saja yang relevan. Namun Weinberg menunjukkan kepalsuannya. sebagai contoh.

sekali-kali kamu tak akan menemukan perubahan pada sunnatullah itu. dan yang saya pilih di antara sekian banyak ayat yang mengandung konsep. alam semesta ini "terbuka. Dan tidakkah orang yang kafir itu mengetahui bahwa ruang waktu dan energi-materi itu dulu sesuatu yang padu (dalam singularitas). pertama. Sedangkan qaul yang kedua mendasari pernyataannya dengan adanya neutrinoneutrino yang mereka percayai membawa sebagian besar dari massa alam ini sehingga sebagai totalitas kekuatan gaya kritis itu akan terlampaui. dan kedua jagad raya ini "tertutup. yang terobservasi pengaruhnya. Kalau para detektif itu cukup memakai penalaran logis saja. seperti layaknya tim detektif yang ingin memecahkan sebuah misteri dengan menggunakan sekelumit abu rokok dan pecahan-pecahan gelas yang berserakan di sekitar tempat kejadian. maka para pakar. sebagai sunnat-u 'l-lah yang berlaku sejak dulu. yang dalam ayat 23 surah al-Fath dinyatakan memiliki stabilitas. Saya akan menafsirkan ayat-ayat yang telah dicantumkan di atas. hanya dapat menyajikan sekitar 20 persen saja dari gaya yang diperlukan. harus melandasinya juga dengan pengetahuan sunnatullah. sedangkan sebagian lagi dibawa zarah-zarah yang disebut neutrino.Bagaimana para fisikawan-kosmolog dapat mengatakan semuanya itu tanpa melihat sendiri kejadiannya? Sebenarnya mereka melihat dua gejala. di samping menggunakan pertimbanganpertimbangan rasional. kemudian kami pisahkan keduanya itu (QS. yaitu ekspansi alam semesta dan radiasi gelombang mikro. Apakah para fisikawan-kosmolog mengetahui nasib alam itu pada akhirnya? Ada dua pandangan yang dianut dalam sains yaitu. sebagian massa itu bercahaya. al-Dzariyat: 47) Dalam pada itu Dia mengarah pada penciptaan ruang-waktu dan ia penuh "embunan" (dari materialisasi energi). al-Anbiya': 30) Dan ruang waktu itu Kami bangun dengan kekuatan (ketika dentuman besar dan inflasi melandanya sehingga beberapa dari dimensinya menjadi terbentang) dan sesungguhnya Kamilah yang m eluaskannya (sebagai kosmos yang berekspansi) (QS. tidak dengan pengetahuan orang abad ke 9 atau ke 19 melainkan dengan pengetahuan seseorang dari abad 20." sehingga pada suatu saat ekspansinya akan berhenti dan alam kembali mengecil untuk akhirnya seluruhnya mencebur kembali dalam singularitas. tempat ia keluar dulu kala. Sebab mereka tak mempunyai informasi berapa sebenarnya massa yang terkandung dalam alam ini. yaitu yang dinamakan gaya kritis. lalu Dia berkata kepadanya dan kepada materi: Datanglah kalian mematuhi . yang mereka pergunakan untuk menelusuri kembali peristiwanya yang terjadi sekitar 15 milyar tahun lalu. Kapan? Mereka tak tahu." sehingga ia akan berekspansi selamanya. sebagian gelap. Qaul yang pertama didasarkan pada kenyataan bahwa masa seluruh alam ini tak cukup besar untuk menarik kembali semua galaksi yang bertebaran. segenap peraturan Allah swt yang mengendalikan tingkah laku alam.konsep tersebut. sebagai berikut. karena bintang-bintang yang bercahaya dan materi antar bintang. Sekarang marilah kita gali konsep-konsep kosmologi dalam al-Qur'an.

dan Dia mewahyukan kepada tiap alam itu peraturan (hukum alam)-nya masing-masing. al-Anbiya': 104). sesungguhnya Kamilah yang akan melaksanakannya (QS. dan apa yang bertentangan dengannya saya tolak. (QS. Hud: 7) Sesungguhnya Allah menahan ruang-waktu (alam semesta) dan materi di dalamnya agar jangan lenyap (sebagai jagad-raya yang terbuka). al-Sajadah: 4) Dan Dia-lah yang telah menciptakan ruang-waktu dan materi dalam enam hari. al-Fathir: 41) Pada hari Kami gulung ruang-waktu (alam semesta) laksana menggulung lembaran tulis. Maka dia menjadikannya tujuh ruang-waktu (alam semesta) dalam dua hari. Mengatakan bahwa apa yang telah saya lakukan ini sebagai usaha menarik-narik al-Qur'an agar sejalan atau cocok dengan sains. Apa yang telah saya lakukan di sini bukanlah pembenaran (justification) sains dengan al-Qur'an. untuk membimbing mereka dari kesesatan dalam memahami ciptaanNya. dan sungguh jika keduanya akan lenyap tiada siapa pun yang dapat menahan keduanya selain Allah. sebagaimana Kami telah mulai awal penciptaan. dan pada saat itu pula menegakkan pemerintahan-Nya (yang seluruh perangkat peraturannya ditaati oleh segenap mahluk-Nya dengan suka hati) (QS. Fushshilat: 12) Allah-lah yang menciptakan tujuh ruang-waktu (alam semesta). Demikian konsep-konsep kosmologi yang dapat digali dari al-Qur'an sebagaimana saya melihatnya selaku orang yang berkecimpung dalam bidang sains. dan kami hiasi ruang-waktu (alam) dunia dengan pelita-pelita. Dan bukankah justeru Allah swt sendiri yang mengungkapkan adanya gejala ekspansi kosmos dan radiasi gelombang mikro kepada para ilmuwan. keduanya menjawab: Kami datang dengan kepatuhan. begitulah Kami akan mengembalikannya. hingga para ilmuwan yang setia kepada tradisi umat Islam. sesungguhnya Dia adalah Maha Penyantun dan Maha Pengampun (QS. Dalam awal uraian saya telah dikatakan bahwa penggalian konsep-konsep kosmologi dalam al-Qur'an merupakan pekerjaan . memeriksa ruang-waktu (alam semesta) serta materi di dalamnya sesuai dengan perintah-Nya dalam surah Yunus 101 itu mendapatkan petunjuk ke arah yang benar seperti tercantum dalam surah Fushshilat 53. Patokan saya adalah kebenaran kitab suci umat Islam. Dan tidak pula saya menarik al-Qur'an agar sesuai dengan sains. Akan Kami perlihatkan kepada mereka ayat-ayat Kami di segenap penjuru dan dalam diri mereka sendiri sehingga jelaslah bagi mereka itu bahwa ia (al-Qur'an) adalah yang benar. al-Thalaq: 12) Allah-lah yang menciptakan ruang-waktu dan materi dan apa yang ada di antara keduanya dalam enam hari. sedang pemerintahan-Nya telah tegak pada fase zat alir (yaitu sop kosmos) untuk menguji siapakah di antara kalian yang lebih baik amalannya (QS. dan Kami memeliharanya. adalah suatu tuduhan yang tak berdasar. hasil karya pikir manusia. yang salaf.(peraturan)-Ku dengan suka atau terpaksa. (QS. dan materinya seperti itu pula. karena tidak sesuai dengan al-Qur'an. Fushshilat: 11). itulah janji yang akan kami tepati. demikianlah ketentuan Yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui (QS. karena ada beberapa konsepsi sains yang telah saya tolak.

Ardh. Sama'. singgasana atau tahta. maka saya condong menggunakan istilah embunan. dengan bolpen. maka saya memilih maknanya sebagai zat alir. Maka saya condong mengartikan kata-kata ardh dengan istilah "materi. Sebab jika kita mengatakan: itu keputusan Bina Graha. Memang begitulah karena sains akan berkembang dan akan senantiasa menemukan hal-hal yang yang dapat lebih melengkapi pengetahuan manusia hingga lebih memahami ayat-ayat Allah. dengan kuas. galaksi-galaksi dan lain-lainnya. maka saya lebih suka mempergunakan katakata "Pemerintahan" (Allah) untuk mengartikan kata-kata arsy. 4. 2. bahkan inti atom pun pada saat itu belum terbentuk! Oleh karenanya. 3. karena orang dapat menulis sesuatu tak hanya dengan pena." yakni bakal-bumi.yang terus baru dapat tak kunjung henti. 6. dengan vulpen. atom-atom yang belum berbentuk karena suhu alam masih sangat tinggi dan elektron-elektron belum dapat ditangkap oleh inti-inti atom. dengan pangkal bulu. dengan mesin ketik dan lain-lain sebagainya. karena bumi baru terbentuk sekitar 4. hal ini tidak berarti bahwa gedung itulah yang mengambil keputusan. Qalam. maka saya condong untuk menggunakan istilah sarana tulis sebagai ganti "pena". 5. maka saya gunakan istilah ruang-waktu sebagai ganti "ruang". Karenanya. kini tak lagi diartikan sebagai bola super-raksasa yang dindingnya ditempeli bintang-bintang. Malahan saya lebih suka mengartikan sebagai "karya tulis". yang kecuali terkandung dalam asap dan uap juga lebih mengena bila dipergunakan melukiskan gejala yang ditemukan pada suatu sistem yang mendingin dari suhu yang sangat tinggi (dalam kasus ini bertrilyun-trilyun derajat). melainkan pemerintah Indonesia yang bertindak. karena melukiskan Tuhan duduk di singgasana adalah syirik. aparatur dan peraturannya. Dukhan asap atau uap. misalnya dengan lidi-aren. Ma'. bumi atau tanah. pada saat awal penciptaan. Arsy. Dan karena telah terbukti bahwa materi dan energi setara dan dapat berubah dari yang satu menjadi yang lain.5 milyar tahun lalu di sekitar matahari. melainkan ruang alam yang di dalamnya terdapat bintang-bintang. yang sudah ada sesaat setelah Allah menciptakan jagad-raya. 1. pena. maka penggunaan istilah "sop kosmos" sebagai keterangan melukiskan . air atau zat alir. maka saya akan mencakup keduanya dalam istilah energi-materi. CATATAN Di bawah ini disajikan pertimbangan yang saya pergunakan untuk memilih kata-kata dalam penafsiran. Dan karena pada saat itu isi alam semesta yakni radiasi dan materi pada suhu yang sangat tinggi itu wujudnya lain daripada yang kita dapat temui di dunia sekarang ini. saya condong untuk menafsirkan sebagai pemerintahan lengkap dengan sarana. Karena secara eksprimental dapat dibuktikan bahwa ruang serta waktu merupakan satu kesatuan. dan tanah di bumi kita ini baru terjadi sekitar 3 milyar tahun lalu sebagai kerak di atas magma. karena dalam fase penciptaan alam itu air yang terdiri dari atom oksigen dan atom-atom hidrogen belum dapat berbentuk.

I origine et le fin de la destine e humaine. Adalah Rahman (1980). Pour une religion eschatologique comme l'Islam. Karena al-Qur'an seluruhnya berbicara untuk manusia atau berbicara tentang manusia. ia menjelaskan perbedaan manusia dengan makhluk lain. Tuhan. mengulas manusia dari segi penciptaannya. UA 20-21 Jakarta Selatan Telp.zat yang sangat rapat tapi dapat mengalir pada suhu yang amat tinggi. tacitement on explicitement. ia kemudian menyebutkan bahwa al-Qur'an diwahyukan untuk memperkenalkan Tuhan kepada manusia. . bukan untuk menjelaskan manusia -non pour expliquer l'humain (Boisard. sesama manusia. 1979: 84). Agak terperinci. Agak mengherankan. Boisard hampir tidak pernah membahas karakteristik manusia menurut al-Qur'an. yang secara khusus menjelaskan principe d'entre manusia ini. (021) 7501969. dan fungsi manusia sebagai hamba Tuhan. yang menjelaskan realitas dalam perspektif tertentu. Di antara realitas penting yang diulas ideologi adalah manusia. seperti lazimnya filsafat manusia (philosophic de l'homme). hubungannya dengan dunia. KONSEP-KONSEP ANTROPOLOGIS (1/2) oleh Jalaluddin Rakhmat Al-Qur'an adalah kitab manusia. Metro Pondok Indah Pondok Indah Plaza I Kav. 7501983. tapi tidak membahas principe d'entre manusia. Ideologi adalah Weltanchauung. [1] Dirk Bakker (1965) dalam bukunya Man in the Qur'an. en fonction de l'objektif social poursuiri. yaitu Islam. a la fois. tulis Marcel A. Karena itu dalam seluruh bukunya. la nature de l'individu et la place qui lui est assignee daus la groupe. 7507173 Fax. (021) 7507174 Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota Please direct any suggestion to Media Team Artikel Yayasan Paramadina Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota II. Toute ideologie precise d'emblee. Yusuf Qardhawi (1977: 33) Masyarakat Islam dibentuk karena ideologinya. Ideologi adalah cara memandang realitas. ketika mengantarkan tulisannya tentang pandangan Qur'ani mengenai manusia dalam bab Les Fils d'Adam. Semuanya dapat disimpulkan dalam kalimatnya. kata Fazlur Rahman (1980: 43). Dr. dieu sera la reference primordial et unique puisqu'll est.7. tidaklah terlalu aneh. Boisard (1979: 84). -------------------------------------------Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah Editor: Budhy Munawar-Rachman Penerbit Yayasan Paramadina Jln. walaupun Boisard mengakui pentingnya filsafat antropologis dalam Islam.

kita memilih istilah-istilah kunci (key-terms) dari vocabulary al-Qur'an. Dalam tulisan tersebut. dan hubungan komunikasi linguistik. Tulisan ini mengambil jalan lain. 1960). Ia menyebutkan tiga hubungan ontologis.The only different is that while every other creature follows its nature automatically. Izutsu sendiri berkata. Kedua. kita mengidentifikasikan istilah-istilah al-Qur'an tentang manusia. Dengan kata lain. lalu menyimpulkan secara induktif. Tidak mungkin dalam makalah ini. 1965) yang memperkenalkan metodologi semantik [2] dalam memahami konsep-konsep dasar al-Qur'an. Saya sangat terkesan dengan Izutsu (1964. saya menguraikannya secara terperinci. Makna nasabi adalah makna tambahan yang terjadi karena istilah itu dihubungkan dengan konteks di mana istilah itu berada. juga dalam tulisan lain (Rahman. Malangnya di samping makalah ini tidak dimaksudkan untuk itu. kita menyimpulkan weltanschauung yang menyajikan konsep-konsep itu dalam satu kesatuan. Ia tidak memulai dari konsep dasar yang digunakan al-Qur'an untuk mengabsorbsikan manusia. ia menyebut pembahasannya sebagai semantics of the Koranic weltanschauung. akan dibahas istilah-istilah kunci manusia dan bidang semantiknya. 1964: 19). 1964: 10). if not absolutely impossible. kemudian mengenal bidang semantik setiap istilah itu. juga walaupun pendek tulisan al-Faruqi (1404: 332). Pertama. Ia sama sekali tidak menyebut berbagai konsep yang digunakan al-Qur'an untuk merujuk manusia. .uraian Rahman tidak berbeda dengan pembahasan al-Ghazali yang lebih klasik (Lihat Othman. akan dibahas implikasi dari bidang semantik tersebut untuk memperoleh gambaran tentang Weltanschauung Qur'ani. what is called semantics today is so bewilderingly complicated. dengan resiko salah beberapa langkah. seperti Fazlur Rahman. Sayangnya. for an outsider even to get a general idea of what it is like (Izutsu. It is extremely difficult. sebetulnya menemukan bagaimana al-Qur'an memberi makna tentang konsep-konsep dasar manusia. penulis makalah ini juga outsider. Pertama. Yang kita perlukan di sini. this tranformation of the is into ought is both fhe unique privelege and the unique risk of man (Rahman. Ketika Izutsu membahas kosep Tuhan dan manusia dalam al-Qur'an. 1980: 24) Rahman mengulas manusia dengan mengulas pandangan al-Qur'an tentang kedudukan manusia sebagai individu dan anggota masyarakat. Ketiga. 1967) --yang membahas amanah sebagai inti kodrat manusia-. Kedua. Ia mengambil konsep Allah sebagai istilah kunci dan menjelaskan hubungan konsep itu dengan manusia. hubungan komunikasi nonlinguistik. kita menentukan makna pokok (basic meaning) dan makna nasabi (relational meaning). mereka meneliti ayat-ayat al-Qur'an yang berkenaan dengan manusia. sebagaimana digunakan dalam al-Qur'an. Jadi. 1986) membahas karakteristik khas manusia yang lebih "maju" dari al-Ghazali. Unfortunately. Mungkin tulisan Mutahhari (tanpa tahun) dan beberapa tulisan lainnya (Lihat Mutahhari. Makna pokok yang berkenaan dengan constant semantic element which remains attached to the word whereever it goes and however it is used (Izutsu. yang kita anggap merupakan unsur konseptual dasar dari Weltanschauung Qur'ani ini. man ought to follow his nature.

basyar memberikan referensi pada manusia sebagai makhluk biologis. dengan mengganti nun atau ya atau boleh juga bentuk jamak dari insiy. Sama tidak tepatnya untuk tidak menafsirkan Sesungguhnya telah kami jadikan insan dalam bentuk yang sebaik-baiknya (95: 4) dengan menunjukkan karakteristik fisiologi manusia. 41:6). padahal aku tidak disentuh basyar (3:47). 130. 56. atau bagaimana kaum yang diseru para nabi menolak ajarannya. seks. Kecenderungan para Rasul untuk tidak patuh pada dosa dan kesalahan bukan sifat-sifat biologis. 1937). 25: 20. Tapi Ibn 'Arabi ." bukan superman.BASYAR. 70:160. berjalan di pasar. Ya Allah. Bukankah ia Basyar seperti kamu. ins. misalnya. bagaimana mungkin aku mempunyai anak. 2:60. insan. Bukankah Rasul itu memakan makanan dan berjalan-jalan di pasar. 7:82. 55:33. Yusuf Ali (1977: 1759) dengan tepat menafsirkan ayat ini to man God gave the purest and the best nature. unas. INSAN. dan ia minum apa yang kamu minum (33:33). anasiy. 51:56. ada tiga istilah kunci yang mengacu kepada makna pokok manusia: basyar. 17:88. dan QS. minum. 7:38. Ins disebut 18 kali dalam al-Qur'an. disuruh Allah menegaskan bahwa secara biologis. 17:71. and man's duty is to preserve the pattern on which God has made him (QS 30:30). 5: 465) menyebutkan umumnya para mufasir mengartikan ayat ini untuk menunjukkan kelebihan manusia secara fisiologis: berjalan tegak. Marilah kita kembali kepada ketiga istilah kunci tadi. Kata Basyar dihubungkan dengan mitslukum (tujuh kali) dan mitsluna (enam kali) diantara ayat-ayat tersebut di muka. insiy. 6). Al-Syaukani (1964. dan makan dengan menggunakan tangan. orang-orang kafir selalu berkata. Dan tidak Kami utus sebelummu para utusan kecuali mereka itu memakan makanan dan berjalan-jalan di pasar. Ada konsep-konsep lain yang jarang dipergunakan dalam al-Qur'an dan dapat dilacak pada salah satu di antara tiga istilah kunci di atas. Ketika wanita-wanita Mesir takjub melihat ketampanan Yusuf as. 25: 7. 128. 27:56) dan menunjukkan kelompok atau golongan manusia. 39. DAN AL-NAS Dalam al-Qur'an. Nabi Muhammad saw. ini bukan basyar. Surat 17:21 dengan jelas menunjukkan makna ini pada hari kami memanggil setiap unas dengan imam mereka. tapi ini tidak lain kecuali malaikat yang mulia (12:31). Ayat ini ditegaskan dalam QS. 46:18. Basyar. karena nabi hanyalah basyar --manusia biasa yang "seperti kita. aku ini manusia biasa (basyar) seperti kamu. hanya saja aku diberi wahyu bahwa Tuhanmu ialah Tuhan yang satu (18:110. Dari segi inilah. dan al-Nas. menjadi karasiy (Lihat al-Thabrasi. 179. Basyar disebut 27 kali. ia seperti manusia yang lain. Anasiy hanya disebut satu kali (25:49). Katakanlah. 74. Secara singkat konsep basyar selalu dihubungkan dengan sifat-sifat biologis manusia: makan. mereka berkata. Tuhanku. Mereka berkata. tapi sifat-sifat psikologis (atau spiritual). Unas disebut lima kali dalam al-Qur'an (2:60. Lihatlah bagaimana Maryam berkata. ia makan apa yang kamu makan. 72:5. yang merupakan bentuk lain dari insan. seperti kursiy. unas digunakan untuk menunjukkan 12 golongan dalam Bani Israil. 27:17. 41:25. dan selalu dihubungkan dengan jinn sebagai pasangan makhluk manusia yang mukallaf (6:112. Dalam QS.. 29. Anasiy dalam bentuk jamak dari insan. Tentang para Nabi. kita tidak tepat menafsirkan basyarun mitslukum sebagai manusia seperti kita dalam hal berbuat dosa. [3] Dalam seluruh ayat tersebut.

Insan disuruh menazhar (merenungkan. insan sangat dipengaruhi lingkungannya. Kedua. 'isr). 31:14. melihat. Tak ada makhluk Allah yang lebih bagus daripada manusia. manusia adalah makhluk yang memikul amanah (33: 72). Menurut Fazlur Rahman (1967: 9). takabur. 41:49. [7] Predisposisi untuk beriman inilah yang digambarkan secara metaforis [8] dalam surat 7:172. 51. Manusia diberi kemampuan mengembangkan ilmu dan daya nalarnya. Insan. tt. insanlah yang dimusuhi setan (17:53. kita melihat keistimewaan manusia sebagai wujud yang berbeda dengan hewani. berkuasa. dan ini adalah sifat-sifat rabbaniyah. Akan Kami perlihatkan kepada mereka (insan) tanda-tanda Kami di alam semesta ini dan pada diri mereka sendiri sehingga jelas baginya bahwa ia itu al-Haq (41: 53). berkehendak. 46:15). 89:23). Allah membuatnya hidup. Karena itu juga. [5] (96: 4. [4] Kita dapat mengelompokkan konteks insan dalam tiga kategori. 49. mendengar. 17:67. dalam menyembah Allah. mengamati) perbuatannya (79: 35). dan memutuskan. karena manusia memikul amanah. Karena itu. Insan dihubungkan dengan predisposisi negatif diri manusia. untuk menciptakan tatanan dunia yang baik. 351-352) mengutip berbagai pendapat para mufassir tentang makna amanah dan memilih makna amanah sebagai predisposisi (isti'dad) untuk beriman dan mentaati Allah. Sekali lagi. 39:8. 17:83. dengan inisiatif moral insani. mengetahui. Menurut al-Qur'an. memikirkan. 50:16). . 75:3. Kecuali kategori ketiga yang akan kita jelaskan kemudian. 13. 14. berbicara. amanah adalah menemukan hukum alam. mengajar insan apa yang tidak diketahuinya. ia cenderung menyembah Allah dengan ikhlas. bila ia mendapat keberuntungan. Ia diwasiatkan untuk berbuat baik (29:8. (Al-Thabathabai. menguasainya atau dalam istilah al-Qur'an "mengetahui nama-nama semuanya" dan kemudian menggunakannya. kata insan berkali-kali dihubungkan dengan kata nazhar. Keempat. Yang mengajar dengan pena. Amanah inilah yang dalam ayat-ayat lain disebutkan sebagai perjanjian (ahd. Pada kategori pertama. 79:35. Pertama. Insan dihubungkan dengan keistimewaannya sebagai khalifah atau pemikul amanah.berkata. Ketiga. 89:15). 42:48. setelah Allah menjelaskan sifat insan yang tidak labil. umumnya para mufassir bermula dari salah paham tentang semantic field istilah insan. proses terbentuknya makanan dari siraman air hujan hingga terbentuknya buah-buahan (80: 24-36). maka insan dalam al-Qur'an juga dihubungkan dengan konsep tanggung jawab (75: 36. Dalam hubungan inilah. 80:17. Allah berfirman. 11:9. yang berbeda dengan basyar. kekeliruan penafsiran. dan bahkan musyrik (10:12. mitsaq. Di dalamnya terkandung makna khilafah. manusia adalah makhluk yang diberi ilmu. "Ia mengajarkan (insan) al-bayan" [6] (55: 3). amalnya dicatat dengan cermat untuk diberi balasan sesuai dengan apa yang dikerjakannya (53: 39). 59:16) dan ditentukan nasibnya di hari Qiyamat (75:10. kedua. 5). Insan disebut 65 kali dalam al-Qur'an. semua konteks insan menunjuk pada sifat-sifat psikologis atau spiritual. dan penciptaannya (86: 5). manusia sebagai pemikul al wilayah al-ilahiyyah. ia cenderung sombong. Bila ia ditimpa musibah. menganalisis. Dan ketiga Insan dihubungkan dengan proses penciptaan manusia.

dan tidak boleh ia mengurangi hak-hak ruh untuk memenuhi hak tubuh. banyak membantah atau mendebat (18:54.7. 38:71. kata insan dihubungkan dengan predisposisi negatif pada diri manusia. (021) 7501969. insan menjadi makhluk paradoksal. berbuat dosa (96:6. Yang pertama unsur basyari. 43:15). Secara menarik proses penciptaan manusia atau asal kejadian manusia dinisbahkan pada konsep insan dan basyar sekaligus.(bersambung 2/2) Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah Editor: Budhy Munawar-Rachman Penerbit Yayasan Paramadina Jln. tergesa-gesa (17:11. Kedua kekuatan ini digambarkan dengan kategori ayat-ayat ketiga. UA 20-21 Jakarta Selatan Telp. 32:7). Sebagai insan manusia diciptakan dari tanah liat. 22:66. bodoh (33:72). manusia itu cenderung zalim dan kafir (14:34. dan segan membantu (70:19. Metro Pondok Indah Pondok Indah Plaza I Kav. 55:14. Ini mendorong saya untuk menyimpulkan bahwa proses penciptaan manusia menggambarkan secara simbolis karakteristik basyari dan karakteristik insani. Yang pertama. saripati tanah.-------------------------------------------. 90:4). Keduanya harus tergabung dalam keseimbangan. "Tidak boleh (seorang mukmin) mengurangi hak-hak tubuh untuk memenuhi hak ruh. yang berjuang mengatasi konflik dua kekuatan yang saling bertentangan: kekuatan mengikuti fitrah (memikul amanat Allah) dan kekuatan mengikuti predisposisi negatif. Al-Nas. Konsep kunci ketiga ialah al-Nas yang mengacu pada manusia sebagai makhluk sosial. (021) 7507174 Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota Please direct any suggestion to Media Team Artikel Yayasan Paramadina Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota II. 30:20) dan air (25:54). lihat 'Abd al-Baqi. tanah (15:28. bakhil (17:100). 36:77). unsur material dan yang kedua unsur ruhani. pada kata al-Nas). KONSEP-KONSEP ANTROPOLOGIS (2/2) oleh Jalaluddin Rakhmat Pada kategori kedua. 7:381). 21:37). 20. 16:4. 75:5).21). meragukan hari akhirat (19:66). Menurut Qardhawi (1973: 76). manusia adalah gabungan kekuatan tanah dan hembusan Ilahi (bain qabdhat al-thin wa nafkhat al-ruh). Bila dihubungkan dengan sifat-sifat manusia pada kategori pertama. 7501983. yang kedua unsur insani. 23:12. Menurut al-Qur'an. resah." kata Abbas Mahmud al-'Aqqad (1974. tidak berterima kasih (100:6). gelisah. 7507173 Fax. tanah (15:26. ditakdirkan untuk bersusah payah dan menderita (84:6. Inilah manusia yang paling banyak disebut al-Qur'an (240 kali. al-Mu'jam. Demikian pula basyar berasal dari tanah liat. Tak mungkin dalam makalah .

kalam. seperti sama'. 13:1). 34:28. 7:10. qadar. melalaikan ayat-ayat Allah (10:92). Banyak ayat yang menunjukkan kelompok-kelompok sosial dengan karakteristiknya. Manusia sebagai basyar berkaitan dengan unsur material. tetapi memusuhi kebenaran (2:204). yang dilambangkan manusia dengan unsur tanah. Ayat-ayat ini dipertegas dengan ayat-ayat yang menunjukkan sedikitnya kelompok manusia yang beriman (4:66. tidak beriman (11:17. Dengan memperhatikan ungkapan ini. Kepadanya dikenakan aturan-aturan. yang tidak diperdayakan syetan (4:83). manusia secara otomatis tunduk kepada takdir Allah di alam semesta. tapi juga manusia secara sosial. WELTANSCHAUUNG QUR'ANI TENTANG MANUSIA Dari uraian di muka tampak al-Qur'an memandang manusia sebagai makhluk biologis. 12:21. 30:6. yang selamat dari azab Allah (11:116). 40:57). Menurut al-Qur'an sebagian manusia itu tidak berilmu (7:187. Ia menyerap sifat-sifat rabbaniah menurut ungkapan Ibn Arabi. 2:88. kita menemukan kelompok manusia yang menyatakan beriman. Namun manusia sebagai insan dan al-Nas bertalian dengan unsur hembusan Ilahi. Ia dengan sendirinya musayyar. 45:26. Ketiga. maka ada juga hukum-hukum yang mengendalikan manusia sebagai makhluk psikologis dan makhluk sosial. baik dari segi ilmu maupun dari segi iman. fasiq (5:49). al-Qur'an menegaskan bahwa petunjuk al-Qur'an bukanlah hanya dimaksudkan pada manusia secara individual. dan kebanyakan harus menanggung azab (22:18). 7:3. Cukuplah di sini ditunjukkan beberapa hal yang memperkuat pertanyaan pada awal paragraf ini --yakni. 14:1. kafir (17:89. yang mengambil sekutu terhadap Allah (2:165). 31:20). yang bersyukur (34:13. Jika kamu ikuti kebanyakan yang ada di bumi. 4:46. yang hanya memikirkan kehidupan dunia (2:200). sama taatnya seperti matahari. dan al-Kitab (22:3. 29:10). yang berdebat dengan Allah tanpa ilmu. 40:58. Al-Nas sering dihubungkan al-Qur'an dengan petunjuk atau al-Kitab (57:25. 12:103. yang menyembah Allah dengan iman yang lemah (22:11. 32:9). 30. 27:62. 24:35. tapi ia diberikan kekuatan untuk tunduk atau melepaskan diri daripadanya. 12:38). 69:42). Pertama. Ia menjadi mahkluk yang mukhayyar. kita dapat menyimpulkan. sebagian besar manusia mempunyai kwalitas rendah. Ayat-ayat itu lazimnya dikenal dengan ungkapan wa min al-Nas (dan diantara sebagian manusia). Sebagaimana ada hukum-hukum yang berkenaan dengan karakteristik biologis manusia. yang mempesonakan orang dalam pembicaraan tentang kehidupan dunia. bashar. yang berilmu atau dapat mengambil pelajaran (18:22. Ia mengemban wilayah Ilahiyah. dan sebagainya). psikologis dan sosial.singkat ini. Kedua. dengan memperhatikan ungkapan aktsar al-Nas. kita menjelaskan seluruh bidang semantik istilah al-Nas. Surat 6116 menyimpulkan bukti kedua ini. seperti kata .8. petunjuk. 4:170. Pada keadaan itu. 28.68. mereka akan menyesatkanmu dari jolan Allah. hewan dan tumbuh-tumbuhan. yang menjual pembicaraan yang menyesatkan (31:6). 38:24. 23:78. tapi sebetulnya tidak beriman (2:8). al-Nas menunjuk pada manusia sebagai makhluk sosial. 2:243. 25:50). 4:155). 39:27. di samping ada sebagian orang yang rela mengorbankan dirinya untuk mencari kerelaan Allah. tidak bersyukur (40:61.36. 67:23.

Dalam pandangan al-Qur'an. yaitu potensi mengembangkan iman dan ilmu. jawab. siapa diantara mereka yang paling baik amalannya (18:7). kita menyimpulkannya bahwa ilmu dan iman adalah dasar yang membedakan manusia dari makhluk lainnya. Lihat al-Baqi. Makna hidup manusia diukur sejauh mana ia berhasil beramal sebaik-baiknya. more important still. 1964:11) 3. "Allah telah memberi manusia gairah dan kemampuan untuk meneliti dan menyelidiki untuk mengadakan percobaan sehingga . 67:2). Inilah hakikat kemanusiaannya. 58:11). but. 4. dan lebih sedikit lagi orang yang beriman dan berilmu. menurut al-Qur'an. tapi suatu prinsip adanya (principe d'etre). Usaha untuk mengembangkan keduanya disebut 'amal shalih. Mu'jam. sedikit sekali orang yang dapat mengembangkan ilmu dan iman ini sekaligus. Sesuatu yang olehnya manusia menjadi apa yang terwujud. "Karenanya. Ini terjadi bila manusia tetap setia pada amanah yang dipikulnya. Bila Sartre mengatakan hidup ini absurd. Metodologi semantik didefinisikan sebagai an analytic study of the key-terms of language with a view to arriving eventually at a conceptual grasp of the Weltanschauung or world-view of the people who use that language as tool not only of speaking and thinking. sesuatu yang olehnya ia merupakan sebuah nilai yang unik. pembaca dianjurkan melihat sendiri dalam Al-Baqi. of conceptualizing and interpreting the world that surround them (Izutsu.30:65) menjelaskan ayat ini. Dr Muhammad Mahmud Hijazi (1968. sebuah benda. sesuatu yang olehnya manusia mempunyai karakteristik yang khas. 5. Ia lah yang menciptakan kehidupan dan kematian untuk menguji kamu siapa diantara kamu yang paling baik amalnya (QS. CATATAN 1.al-Thabathabai. al-Qur'an menyatakan hidup ini medan untuk membuktikan 'amal shalih. Sesungguhnya kami jadikan apa yang ada dipermukaan bumi sebagai perhiasan untuk menguji mereka." tulis Mutahhari (tt. Keduanya harus dikembangkan secara seimbang. al-Mu'jam.: 17). ia dituntut untuk bertanggung Karena pada manusia ada predisposisi negatif dan positif sekaligus. Karena banyak. alam kodratnya strukturnya yang fundamental. "Apa yang ingin ditelaah bukanlah suatu makhluk. "Allah mengangkat derajat orang-orang yang beriman diantara kamu dan orang-orang yang diberi ilmu" (QS. Kelompok terakhir inilah yang disebut al-Qur'an. Al-Qur'an tak lain merupakan rangkaian ayat yang mengingatkan manusia untuk memenuhi janjinya itu. Obyek formal dari filsafat manusia ialah inti manusia. Karena itu. kewajiban manusia ialah memenangkan predisposisi positif. Secara konkrit kesetiaan ini diungkapkan dengan kepatuhan pada syari'at Islam yang dirancang sesuai amanah. Sedikit orang yang beriman. yakni sejauh mana ia mengembangkan iman dan ilmunya. sedikit orang yang berilmu." tulis Leahy (1985: 11) 2. Ada dua komponen esensial yang membentuk hakikat manusia yang membedakannya dari binatang.

Muhammad Mahmud. Tokyo Keio Institute of Cultural and Linguistic Studies. The Covenant in The Koran. Ahd al Karim. Boisard. Izutsu. 1968. Al-Faruqi. . 5:131). Lihat al-Syaukani (1964. Al-Syaukani. "Al-lnsan fil Qur'an" dalam Al-A'mal al-Kamilah. yang terdiri dari pihak pertama (Allah) pihak kedua (Manusia). 1964. Ali." al-Tawhid. 1964. 19:95) 7. pengetahuan tentang halal dan haram. Abu Ali Al-Fadhl. Al-Bayan ditafsirkan sebagai kemampuan berbicara. Biazar (1366) banyak memberikan contoh-contoh yang menarik. Beirut: Dar al-Kutub al-Lubuani. Uraian berbagai pendapat tersebut beserta kritiknya disajikan lengkap oleh Subhani (1400:75 106). 1978. Beirut: Dar el-fikr. Lalu ia menundukkan semuanya untuk berbakti memenuhi kehendak manusia. Yusuf 1977. tanda-tanda yang berjanji. L'humanisme de L'Islam. Qum: Al-Hauza al-Ilmiyah. jilid 7. Hijazi. 8. sumpah dengan ayat-ayat Allah. 1404. Fath al-Qadir Kairo: Mustafa Al-Babi al-Halbi.Qur'an. terjadi banyak ikhtilaf di kalangan mufassir. Marcel A. Abd al-Karim Biazar menulis tentang the Covenant in the Qur'an sebagai kunci yang mempersatukan ayat-ayat dalam setiap surat al-Qur'an. Al-Mizan fi 'l-Tafsir al-Qur'an. al-Thabathabai (TT. Al-Thabrasi. 1974. "Nazhriyat al-lnsan fi 'l. Dirk. ancaman. 1937. The Holy al-Qur'an American Trust Publication. Muhammad bin Ali. Man in The Qur'an. Sida: A1-Irfan Bakker. DAFTAR KEPUSTAKAAN Abd al Baqi. Al-Thabathabai. Al-Mu'jam al Mufahras Li al-Alfazh al Qur'an al-Karim. Tentang perjanjian manusia di alam dzarrah ini.sampai pada pengetahuan tentang rahasia alam semesta serta tabiat segala hal. Al-'Aqqad Abbas Mahmud. tahun 2. Amsterdam: Drukkerrij Holland NV: Biazard. God and Man in The Koran. Ismail. Muhammad Fuad. janji. Majma' al-Bayan. Surat-surat dalam al-Qur'an mengingatkan manusia pada perjanjian Allah. Tanpa tahun. 1966. Toshihiko. kemampuan mengembangkan ilmu." 6. nikmat Allah. Muhamad Hussein. Paris: Albin Michel. Penerbit tidak diketahui. Al-Tafsir al-Wadhih Kairo: A1-Istiqdal al-Kubra. 1356. saksi. no 9. dan pelajaran dari masa lalu. daftaer kondisi yang harus dipenuhi pihak kedua.

Bandung: Mizan. Akidah tentang Allah yang menciptakan alam semesta. memeliharanya dan menjaganya sehingga segala makhluk itu menjalani kehidupannya masing-masing dengan baik dan melakukan fungsinya masing-masing dengan tertib. 1980. and Man. dapat disaksikan betapa teraturnya alam raya ini. 7501983. March 1967. 1966. Manusia dan Agama. Yusuf. (021) 7507174 Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota Please direct any suggestion to Media Team Artikel Yayasan Paramadina Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota II. the universe. Islamic Studies. Leahy. ------. Ja'far. 1960. Tanpa tahun. Al-Iman wa 'l-Hayat. Louis. ------. 7507173 Fax. VI: 1.8. Kairo: Dar al-Maaref Qardhawi. 1977.------. Chicago: Bibliotheca Islamica Subhani. Ethico Religious Concepts in the Qur'an. ------. [1] Melalui suatu pengamatan yang cermat atas segala alam sekitar kita. Othman. Montreal: McGill University Press. UA 20-21 Jakarta Selatan Telp. 1986. 1973. Ali Issa. Fazlur. Jakarta: Gramedia. 1965. The Concept of Man in Islam in the writings of Al Ghazali. Hukum Allah meliputi segenap makhluk (alam semesta). KONSEP-KONSEP HUKUM (1/3) oleh KH. Al-Insan wa 'l-Iman Teheran: Muassasah al-Bi'tsah. Mutahhari. -------------------------------------------Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah Editor: Budhy Munawar-Rachman Penerbit Yayasan Paramadina Jln. tapi merupakan bagian integral dari akidah. Al-Khashaish al-Amimah li 'l-Islam. Qum: Antara lain Khayyam. Manusia: Sebuah Misteri. Ali Yafie Hukum yang diperkenalkan al-Qur'an bukanlah sesuatu yang berdiri sendiri. 1986. Betapa teraturnya gerakan bintang-bintang pada garis edarnya . (021) 7501969. Maktabah Wahbah Rahman. Murtadha. The Qur'anic Concept of God. 1400. Metro Pondok Indah Pondok Indah Plaza I Kav. mengaturnya. Ma'alim al-Tawhid fi 'l-Qur'an al-Karim. Major Themes of the Qur'an. Maktabah Wahbah.

Dan apakah mereka tidak memperhatikan kekuasaan langit dan bumi dan segala sesuatu yang diciptakan Allah . [5] . semuanya bergerak menurut ketentuan-ketentuan hukum alam yang mengaturnya. sangatlah jelas dan berulang-ulang kali disampaikan dalam sekian banyaknya ayat-ayat al-Qur'an. hukum konservasi. hukum gravitasi. Meskipun demikian fungsi-fungsi tubuh yang tidak tampak. pencernaan dan tugas-tugas lain yang tidak terbilang banyaknya. sampai kepada galaksi-galaksi yang tak terbayangkan besar dan luasnya. Misalnya . (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang Engkau menciptakan langit dan bumi (seraya berkata) ya Tuhan kami. Celakalah orang yang membaca ayat ini lalu tidak berfikir.. Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan) Kami segenap ufuk dan pada diri mereka sendiri. mengomentari ayat-ayat ini dengan sabdanya. maka peliharalah kami dari siksaan neraka. [4] . dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal. Pusat pengatur tubuh.. yakni otak memiliki kemampuan merekam dan menyimpan lebih banyak informasi dibandingkan dengan pesawat apapun. seperti hukum proporsi. Lewat ilmu pengetahuan alam kita diperkenalkan dengan hukum-hukum fisika dan kimia serta biologi. lebih mengesankan lagi.masing-masing. [7] Petunjuk-petunjuk al-Qur'an yang mengarahkan manusia untuk berfikir.. Tubuh manusia jauh lebih rumit dan menakjubkan daripada pesawat komputer. meneliti. Penemuan hukum-hukum alam (natuurwet) sebagaimana disinggung di atas. Dan yang lebih dekat kita renungkan ialah keadaan tubuh jasmani kita sendiri. tubuh manusia terdiri dari 50 juta sel.. hukum relativitas. jumlah panjang jaringan pembuluh darahnya sampai 100 ribu kilometer dan lebih dari 500 macam proses kimiawi terjadi di dalam hati. menalar.. dapat kita renungkan salah satu ayat al-Qur'an yang berbunyi. Bumi tempat kita hidup yang berputar pada sumbunya dan beredar pada orbitnya di sekeliling matahari dalam jangka waktu tertentu dan pasti menyebabkan silih bergantinya siang dan malam dan bertukarnya satu musim ke musim lain secara teratur. hukum reproduksi dan embriologi. tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia. kode genetik. hukum gerak. [6] Rasulullah saw. Ilmu pengetahuan mengungkapkan. [2] Dalam hubungan ini. Katakanlah! Perhatikanlah apa yang ada di langit dan di bumi.. memikirkan dan mempelajari alam semesta. [3] Pesan untuk mengamati. tekanan darah kita. sehingga jelaslah bagi mereka bakwa al-Qur'an itu adalah benar. dilengkapi dengan petunjuk-petunjuk lain yang bersifat detail dimana terbayang isyarat-isyarat yang mengacu pada pokok-pokok ilmu pengetahuan tentang alam dan hukum-hukum yang berlaku atasnya.Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi. Sedangkan ketangguhannya menunjukkan staminanya. mengamati dan meneliti sebagaimana disinggung di atas yang sifatnya global. Tanpa kita sadari. Tidaklah bermanfaat tanda kekuasaan Allah dan Rasul-rasul yang memberi peringatan bagi orang-orang yang tidak beriman. memberikan informasi yang jelas pada kita betapa alam raya ini mulai dari bagian-bagiannya yang terkecil seperti partikel-partikel dalam inti atom yang sukar dibayangkan kecilnya. tubuh mengatur suhu badan kita. hukum Pascal. Prestasi atletik seringkali memperlihatkan tenaga tubuh yang bersifat melar. Maha Suci Engkau.

[9] Kedua ayat ini cukup jelas isyarat-isyaratnya yang dapat ditangkap ilmu astronomi. dan tentang manusia sendiri dan kejadiannya serta segala macam permasalahannya. menurut ukuran.dianggap identik dengan determinisme.. di dalam bahasa al-Qur'an kadangkala disebut sunnatullah. dan sekali-kali tidak (pula) akan menemni penyimpangan dari sunnatullah itu. sehingga menghasilkan ilmuwan-ilmuwan besar seperti Ibn Sina. Adanya sejumlah ketentuan yang pasti dan berlaku sebagai hukum yang mengatur segala makhluk di alam raya ini. Dia menguraikan tanda-tanda (kekuasaannya) kepada orang-orang yang mengetahui (berilmu)" [8] . diantaranya. mendorong minat dan membangkitkan semangat kaum Muslim angkatan-angkatan pertama --yang dapat menghayati ayat-ayat al-Qur'an ini-.untuk terjun menggali ilmu pengetahuan yang luas dan khazanah ilmiah bangsa-bangsa Yunani. biasanya dalam bahasa ilmu-pengetahuan disebut natuurwet atau hukum alam. Demikian pula halnya dengan ilmu-ilmu lain yang dapat menangkap isyarat-isyarat berbagai ayat al-Qur'an yang berbicara tentang hewan. Ibn Rusyd. Sesungguhaya Kami menciptakan segala sesuatu dengan qadar. Upaya pengamatan. Benda-benda yang ada disekeliling kita. Allah tidak menciptakan yang demikian itu melainkan dengan hak. baik berupa benda mati maupun makhluk hidup.ayat yang berbunyi. India dan Cina di bidang pengetahuan filsafat dan alam. dan sering kali --secara kurang hati-hati-. berbunyi . Parsi. al-Ghazali dan serentetan nama besar yang tidak asing bagi dunia ilmu pengetahuan di Timur dan di Barat. al-Farabi. Maka sekali-kali kamu tidak akan mendapat pergantian bagi sunnatullah itu.Dan matahari itu berjalan di tempatnya. Dan masing-masing di dalam orbitnya pada beredar. telah mengungkapkan banyak penemuan yang memperkenalkan kepada kita hukum-hukum yang berlaku dengan pasti atas alam ini. yang merupakan . [10] Dalam terminologi teologis hal semacam itu termasuk dalam kategori qadar dan qadla. awan.. air. [11] Penjelasan lebih jauh tentang qadar itu dapat kita simak dari beberapa ayat. itulah ketentuan dari Yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui. penelitian dan penalaran lewat ilmu-ilmu yang mempelajari perilaku dan sifat-sifat makhluk-makhluk. namun istilah ini lebih mendominasi hal-hal yang bersangkut paut dengan perilaku manusia. tumbuh-tumbuhan. Ayat yang secara jelas merangkaikan sunnatullah itu dengan qadar. Salah satu ayatnya mengatakan. Tidaklah mungkin bagi matahari mencapai bulan dan malampun tidak dapat mendahului siang. [12] Kata bi qadar (dengan qadar) di sini ditafsirkan.(Allah telah menetaphan yang demikian) sebagai sunnatullah pada mereka yang telah berlaku dahulu. Dialah yang menjadikan matahari bersinar dan bulan bercahaya. kilat. Dan telah Kami tetapkan bagi bulan manzilah-manzilah perjalanan sehingga (setelah ia sampai ke manzilah terakhir) kembalilah ia sebagai bentuk tandan yang tua. Romawi. dan adalah ketetapan Allah itu suatu qadar yang pasti berlaku. Kehadiran ayat-ayat yang mengandung isyarat-isyarat yang mengacu pada pengungkapan misteri alam.. Isyarat yang ada dibalik kalimat ini dapat ditangkap lebih jelas dengan bantuan ilmu fisika yang membahas tentang materi dan unsur.. dan ditetapkan manzilah-manzilah (mansion) bagi peredarannya supaya kalian mengetahui bilangan tahun-tahun dan perhitungannya.

jumlah protonnya 47. Semuanya ini merupakan bagian dari hukum yang mengatur dan memelihara alam semesta. Unsur-unsur yang tergabung dalam suatu senyawa selalu mempunyai proporsi tertentu. tulisan tanpa aksara dan bunyi itu pasti tidak dapat diraih dengan mata telanjang. Tergabungnya dua unsur atau lebih melalui pola persenyawaan atau pola percampuran membentuk suatu materi tertentu. Sebahagian besar dari materi-materi yang kita kenal terdiri dari unsur-unsur. jumlah protonnya 78. memperlihatkan kepada kita adanya kadar ukuran tertentu yang menjadi ketentuan-ketentuan yang pasti yang dapat diamati dalam diri setiap makhluk.. jumlah proton yang terkandung di dalamnya 13.(bersambung 2/3) Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah Editor: Budhy Munawar-Rachman Penerbit Yayasan Paramadina Jln. jumlah protonnya 79. jumlah protonnya 26. unsur Hg (air raksa).bahan-bahan kebutuhan dalam hidup kita seperti kayu. dan disebut air. Dan Dia (Allah) telah menciptakan segala sesuatu dan Dia-lah yang menetapkan qadar/ukurannya secara pasti serapi-rapinya. tapi harus dengan mata hati. Air murni selalu mempunyai proporsi oksigen dan hidrogen yang sudah tertentu dan tetap. mengikuti suatu aturan yang dikenal hakam proporsi yang sudah tertentu. Misalnya unsur oksigen bergabung dengan hidrogen membentuk senyawa cair. unsur Ag (perak). Misalnya. emas. 7501983. unsur Cu (tembaga). air dan sebagainya. besi. hewan. Padahal ayat-ayat yang berbicara tentang qudrat-iradat Allah/kekuasaan dan keagungan Allah.". Metro Pondok Indah Pondok Indah Plaza I Kav. 7507173 Fax. Isyarat serupa yang kita peroleh dari informasi ilmu fisika sebagaimana disinggung di atas. jumlah protonnya 29. Dalam hubungan ini dapat kita hayati ungkapan sebuah ayat yang berbunyi. unsur Fe (besi). jumlah protonnya 28. perak. unsur Au (emas). .. tumbuh-tumbuhan. Mungkin itulah yang disindir Imam Ghazali dengan ungkapannya:. [13] Secara sepintas dari dua informasi yang disajikan di atas. (021) 7507174 Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan . [14] Pembahasan teologis dalam bidang qada dan qadar (masalah takdir) kurang menyentuh apa yang kami singgung di atas. (021) 7501969. demikian pula dengan proporsi nitrogen dan hidrogen dalam amoniak. unsur-unsur telah bergabung membentuk suatu senyawa.. seng. Dalam kasus-kasus seperti ini. unsur Ni (nikel). unsur Pt (platina). UA 20-21 Jakarta Selatan Telp. semuanya itu termasuk dalam kategori materi. mereka tidak mampu membaca tulisan Ilahi yang tergurat di atas lembaran-lembaran alam semesta. sebagian besar mengaitkan bermacam-macam fenomena alam yang dimintakan perhatian supaya manusia mengamatinya dan melakukan penalarannya untuk dapat membaca tulisan Ilahi yang tersirat di dalamnya. Juga untuk menemukan sunnatullah atau hukum-hukum kauniyah yang akan menopang tegaknya hukum-hukum syar'iyyah. unsur Al (aluminium). dan seterusnya. [15] -------------------------------------------. dapat pula kita temui dari informasi ilmu kimia yang membahas unsur-unsur itu. jumlah protonnya 80.

dan sebagainya. . Selain itu. Fathir. Jalut. Dalam rangka itu al-Qur'an memperkenalkan tokoh-tokoh sejarah zaman lampau seperti Fir'aun. asbab al-nuzul. asbab al-wurud dan status makkiyah atau madaniyah dari ayatayat. Sukses besar berupa keberhasilan membangun dan membina suatu umat teladan. tapi merupakan hasil kerja keras yang lama dan berkesinambungan. yang memeras golongan lemah. Uhud. Thur. Bagaimana pertarungan antara pahlawan-pahlawan kebenaran dan akibat-akibat apa yang dialami para penentang kebenaran yang melakukan kezaliman. dengan adanya hukum nasikh-mansukh. Demikian pula halnya dengan tempat-tempat bersejarah seperti Badr. semua itu tidaklah lahir dalam sehari dengan kilatan lampu aladin. Ghafir." Ayat-ayat di dalam surah-surah al-Isra'.ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota Please direct any suggestion to Media Team Artikel Yayasan Paramadina Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota II. dan memenangkan suatu perjuangan besar dalam menegakkan kebenaran dan keadilan serta mewujudkan kesejahteraan yang memberi arti bagi kemanusiaan. yang berbicara tentang sunnatullah dengan berbagai formulasi seperti sunnat alawwalin. al-Anfal. semuanya itu adalah untuk memperjelas proses terbentuknya suatu hukum dan latar belakang sejarah yang mendorong kehadiran hukum tersebut. dan sebagainya. Apa yang dikenal dalam ilmu hukum dengan historis-interpretasi cukup jelas padanannya dalam ilmu ushul fiqh yang lazim dipakai dalam mengolah hukum Islam. yang mengabaikan nilai-nilai moral. al-Nisa. direnungkan dan mengambil pelajaran daripadanya. apa faktor-faktor kemenangan dan apa faktor-faktor kegagalan dalam satu perjuangan. aspek kesejarahan mempunyai juga arti penting dalam hukum-hukum syar'iyyah. sunnata man arsalna qablak. Quraisy. yang diminta al-Qur'an supaya diamati. al-Tsamud.8. yang banyak dicatat dalam al-Qur'an menerjemahkan dengan jelas sunnatullah yang berlaku dalam sejarah. Ali Yafie Sunnatullah yang diperkenalkan al-Qur'an sebagaimana diuraikan di atas tidaklah terbatas pada ketentuan-ketentuan yang mengatur alam materi saja. KONSEP-KONSEP HUKUM (2/3) oleh KH. yang hidup bergelimang kemewahan. Hijr. Dari sejarah itu tergambar bagaimana proses kebangkitan suatu umat dan bagaimana proses kehancurannya. yang berlaku secara pasti. Hukum yang berlaku sepanjang sejarah kehidupan manusia. Tubba'. dan lain sebagainya. Saba'. merupakan sebagian dari sunnatullah. Haman. sunana al-ladzina min qablikum. al-Kahf. semuanya berkaitan dengan peristiwa sejarah yang dialami para Nabi/Rasul dengan umatnya masing-masing. bahkan dalam al-Qur'an. Sejarah mempunyai hukumnya sendiri dalam hal-hal tersebut di atas. tapi juga menjangkau alam nonmateri. Hunain. sebagaimana berlaku natuurwet. Ali 'Imran. al-Fath. Ahqaf. pemakaian kata sunnatullah lebih banyak mengacu pada apa yang disebut oleh ilmu pengetabuan sebagai "hukum sejarah. al-Ahzab. Sunnah Rasullullah saw yang menggambarkan perjuangannya selama dua dasawarsa lebih. dan seterusnya.

Sebab-sebab keberhasilan dan kemenangan dalam suatu perjuangan dapat dipelajari dari sejarah dan harus dipersiapkan dengan sebaik-baiknya. Keduanya mempunyai titik temu dalam hukum sebab-akibat. karena khawatir kalau-kalau upaya berobat untuk menghindarkan penyakit bertentangan dengan iman tauhudnya dan tidak menjadikan ia bertawakkal kepada Allah.yang didorong oleh rasa percaya diri dan semangat juang yang tinggi sebagai perwujudan iman dan taqwa. tidak menjadikan kekuatan/kekuasaan itu sebagai alat menindas dan merusak. Dianggapnya hukum tauhid itu cenderung memberikan cap syirik (mempersekutukan Allah) jika seseorang menganggap ada penyebab (faktor penentu) selain Allah. tapi hanya sebagai alat menciptakan kemakmuran dan untuk menegakkan hukum Allah dalam hal memerintahkan yang ma'ruf dan mencegah yang mungkar. Sikap yang demikian membuktikan bahwa mereka sudah memenuhi janjinya kepada Allah. Lebih lanjut beliau menjelaskan bahwa dalam al-Qur'an banyak ayat memuat janji Allah untuk membantu memenangkan perjuangan orang-orang mukmin. melihat adanya semacam kontradiksi antara hukum sebab-musabab (hukum kausal) dengan hukum teologis yang disebut tauhid. Pesan dan petunjuk yang diberikan al-Qur'an pada manusia. atau karena sudah memeluk agama Allah. demikian pula sunnah Rasulullah yang memberikan penjelasan praktis pada pesan al-Qur'an itu. Atau dianggapnya hukum tawakkal bertentangan dengan hukum sebab-musabab (kausal). mengungkapkan sesungguhnya Allah hanya memenangkan suatu perjuangan sesuai dengan ketentuan sunnahNya yang berlaku atas segenap mahluk-Nya. hanya karena mereka sudah mengaku beriman/percaya kepada Allah. Maka dengan adanya perjuangan antara kebenaran dengan kebatilan. lalu diluruskan oleh sunnah Rasulullah dalam praktek sebagaimana tercermin dengan jelas dalam cara-cara perjuangan Rasul saw. menyebarkan ketentraman. yang menempuh segala persyaratan dan mengkaitkan segala sebab dengan musababnya. Dalam hubungan . Hukum sejarah sejalan dengan hukum alam. Ada sebagian pendapat yang kurang memahami sunnatullah dalam bentuk hukum alam dan hukum sejarah. Siapa yang menolong/membela agama Allah dengan jalan menegakkan keadilan. yang menandai kehidupan sosial. ayat-ayat yang berbicara tentang perjuangan Rasulullah. Dan Allah pun mewujudkan janjinya pada mereka. [16] Ciri utama agama Islam. sebagai syarat bagi terjadinya. ialah ajarannya yang cukup praktis dan realistis menghadapi kenyataan sosial dengan langkah-langkah pemecahan yang praktis pula. Keraguan seperti itu sejak dini telah muncul. tapi dalam bentuk kesadaran keimanan yang menjadikan mereka menyadari kewajibannya dan melaksanakan perjuangan dengan gigih tanpa pamrih. atau hukum moral yang disebut tawakkal. Sunnah Rasulullah dalam perjuangan itu mendidik umatnya supaya memahami dan menghayati sunnatullah yang berlaku dalam sejarah. tapi tidak mewujudkan janji itu dalam bentuk suatu keajaiban yang langsung turun dari langit. memantapkan keamanan. maka keharusan memenuhi segala persyaratan-persyaratan itu adalah suatu hal yang mutlak. Dalam hubungan ini Syeikh Mahmud Syaltut mengomentari. disamping menjelaskan hal itu dalam petunjuk lisannya pada mereka yang segan berobat di kala ia sakit. membimbing kita supaya menyadari keterkaitan segala sesuatu dengan penyebabnya. Sebaliknya juga segala penyebab terjadinya suatu kegagalan atau kehancuran harus disadari dan dihindari.

diatur dalam hukum mu'amalat. hanya diarahkan supaya tidak melanggar rambu-rambu hukum. bidang mu'amalat. Bertobatlah kalian. Kepatuhan mentaati hukum menjadi kepatuhan yang semu dan bersifat lahiriah belaka. Pembinaan hukum di sini tidak diarahkan kepada pembinaan diri manusianya. Wahai orang-orang yang berilmu! jadilah kalian orang yang benar-benar penegak keadilan. Dalam penegakkan hukum menurut ajaran al-Qur'an selalu ditekankan suatu pesan sebagai berikut. . menjadi saksi karena Allah. [l7] Dalam sabdanya yang lain. [39] Penjabaran yang merinci hukum-hukum al-Qur'an yang dilakukan fiqh memperlihatkan adanya empat bidang utama yang menjadi sasaran dari hukum itu. Selain itu. Maka sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala apa yang kalian lakukan. hukum itu hanya sekedar mengurus dan mengatur hubungan antar sesama manusia. bidang munakahat dan bidang jinayat. sebab-musabab itu adalah sunnatullah dan penyimpangan dari sunnatullah bukanlah persyaratan dalam tawakkal bahkan ada kalanya merupakan kebodohan yang dicela agama. Ibadat tidak lain adalah perwujudan dari akidah yang diimani. Adanya hukum-ibadat dalam batang tubuh hukum Islam yang bersumber dari al-Qur'an itu merupakan ciri utama hukum Islam. dan terakhir tata hubungan keselamatan. Apa yang dimaksud dengan nilai moral dan akhlak tidaklah tergolong hukum. Di luar itu tidak diperlukan hukum. supaya kalian tidak menyimpang (dari kebenaran). Dengan demikian tidaklah mengherankan akibatnya dalam rangka pembinaan hukum. karena sesungguhnya Allah menciptakan penyakit dan menciptakan juga obat. kaya maupun miskin. Maka janganlah kalian mengikuti hawa nafsumu. Sebaliknya hukum menurut ajaran al-Qur'an penegakkannya berjalan sekaligus dengan penabinaan moral dan akhlak yang bersumber dari akidah/keimanan. masih ada perbedaan asasi antara kedua jenis hukum itu.itu Nabi saw. Karena itu penegakkan hukum menurut ilmu hukum selama tidak diawasi dan diketahui pejabat/aparat hukum selalu terjadi pelanggaran hukum. Hubungan antara makhluk (manusia) dengan Al-Khaliq. apakah itu bertentangan dengan qadar (taqdir)? Lalu Beliau menjawab. bersabda. Hubungan manusia sebagai makhluk dengan Khaliqnya (Allah) diatur penataannya melalui hukum ibadat. Menurut ilmu hukum. [20] Itulah pesan al-Qur'an. Allah jualah yang lebih tabu keadaannya. diatur melalui hukum munakahat. [18] Imam Ghazali menjelaskan. Dan jika kalian memutarbalikkan (kebenaran) atau enggan menjadi saksi. yakni bidang 'ibadat. diatur melalui hukum jinayat. Di sini pula tampak titik awal perbedaan antara pemahaman hukum menurut ilmu hukum dengan hukum Islam yang bersumber dari al-Qur'an. Tata hubungan antara manusia dengan sesamanya dalam lalulintas pergaulan dan hubungan sehari-hari untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. diatur secara pasti. memperlihatkan dengan jelas peran moral dalam hukum itu. Adanya hukum niat yang diberi peran menentukan nilai perilaku manusia. biarpun terhadap dirimu sendiri atau ibu bapak dan keluarga kerabatmu. Tata hubungan manusia dalam kehidupan berkeluarga dalam suatu lingkungan rumah tangga. hukum itu terdiri dari suruhan/perintah dan larangan serta hak dan kewajiban. Itu (pengobatan) adalah sebahagian dari qadar Allah. keamanan serta kesejahteraannya yang ditegakkan oleh pemegang kekuasaan umum atau badan peradilan. ketika Beliau ditanya tentang pengobatan. Di sinilah terlihat secara nyata keterkaitan hukum itu dengan akidah/keimanan. Demikian ulasan al-Ghazali dalam Kitab Tawhid dan Tawakkal. Menurut ilmu hukum.

(bersambung 3/3) Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah Editor: Budhy Munawar-Rachman Penerbit Yayasan Paramadina Jln. (021) 7507174 Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota Please direct any suggestion to Media Team Artikel Yayasan Paramadina Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota II. Metro Pondok Indah Pondok Indah Plaza I Kav. sunnah Rasulullah memperjelas sebagai berikut. 7507173 Fax. Di dalamnya terpadu antara sunnatullah dengan sunnah Rasulullah. [2l] Dalam hubungan adanya kemungkinan seseorang berlaku memperdayakan hakim. padahal kalian mengetahui. Sesungguhnya kalian mengajukan perkara-perkara kepadaku (untuk diputus). Ide hukum yang diajarkan al-Qur'an berkembang terus dari kurun ke kurun. Seandainya hukum yang diajarkan al-Qur'an itu tergantung . Maka barang siapa menerima putusan perkara (yang ia sendiri tahu) bahwa itu hak saudaranya (lawannya dalam perkara) maka janganlah ia mengambil (hak) itu. Ali Yafie Dengan demikian maka jelaslah. supaya kalian dapat memakan sebahagian harta benda orang lain itu dengan (jalan berbuat) dosa. yang pertama ialah dari dan terhadap dirinya sendiri. atau adanya aparat hukum yang menyalahgunakan kedudukannya. dengan hukum dalam rumusan yang diajarkan al-Qur'an. Kemungkinan seorang pencari keadilan berlaku memperdaya hakim. UA 20-21 Jakarta Selatan Telp. secara dini al-Qur'an memperingatkan. melalui jalur ilmu. (021) 7501969. maka hukum dari ajaran al-Qur'an itu mempunyai kekuatan sendiri yang tidak sepenuhnya tergantung pada adanya suatu kekuasaan sebagai kekuatan pemaksa dari luar hukum itu. Tidak dituntut dari dan terhadap orang lain saja. Mungkin sebahagian dari kalian lebih mampu dari yang lain (lawannya) mengemukakan alasan-alasan untuk memperkuat tuntutannya. 7501983. [22] -------------------------------------------. lalu aku memutus perkara itu atas dasar apa yang saya dengar (dari alasan/keterangan) itu. sebagaimana terpadunya antara aqidah/keimanan dan moral/ahklak. Dan janganlah sebagian dari kalian memakan harta benda sebagian yang lain dengan jalan batil dan jangan pula mempergunakan harta itu sebagai umpan (guna menyuap) para hakim.bagaimana seyogyanya seorang berbuat adil. KONSEP-KONSEP HUKUM (3/3) oleh KH.8. Karena sesungguhnya ia hanya mengambil (menerima dariku) sepotong api neraka. Demikian sabda Rasulullah. Dengan sifatnya yang demikian itu. al-Qur'an memperkenalkan satu konsepsi hukum yang bersifat integral.

Dua hal yang disinggung terakhir ini. Tapi ternyata hukum Islam dari ajaran al-Qur'an itu dapat memperlihatkan daya tahannya yang ampuh.pada suatu kekuasaan. sehingga perundang-undangan ini dapat memenuhi kebutuhan hidup modern. Selain itu. dari kongres ke kongres mulai terbuka pandangan terhadap Islam. penerapannya ternyata juga kurang terpadu antara hukum-hukumnya yang menyangkut segi sosial kemasyarakatan. pelaksanaan dan pengembangan wawasan hukum yang diperkenalkan al-Qur'an itu merupakan tantangan bagi para ulama dan para . Hukum yang diperkenalkan al-Qur'an hidup terus. karena memang demikianlah hukum sejarah dalam sunnatullah sendiri. sebagai ilmu. perundang-undangan Islam kaya dengan berbagai teori hukum dan teknik hukum yang indah. Sebagai kelanjutan dari pokok pikiran ini. perkembangan segi fiqhnya yang merumuskan hukum sosial kemasyarakatan itu. dengan hukum-hukumnya yang menyangkut sunnatullah yang berupa hukum alam dan hukum sejarah. yang sangat mendominasi bangsa-bangsa Barat. Salah satu gejala dari perkembangan tersebut adalah minat para ilmuwan Barat untuk mempelajari Islam/Qur'an. Disamping itu. [23] Dalam rangka pembangunan hukum di negara kita Republik Indonesia. perkembangan segi-seginya tidaklah seimbang. sangat berjasa dalam menumbuhkan kesadaran hukum dan sikap normatif dalam kehidupan umat Islam. maka sudah lama jenis hukum ini terkubur dalam perut sejarah atau sekurang-kurangnya menjadi barang pajangan di lemari-lemari museum. kurang mendapat perhatian dalam pengembangannya. Dalam rangka itu para ahli hukum dari mereka. Tetapi bagaimana pun juga. yang tidak lain wujud nyatanya dan terinci adalah fiqh (hukum Islam) itu sendiri. Karena kita semua cukup mengetahui betapa hebat upaya dari kekuasaan-kekuasaan yang mampu menaklukkan wilayah-wilayah Islam dan umatnya disertai upaya melikwidasi budaya dan hukumnya. Ia tetap bertahan bahkan berkembang dalam bentuk baru melalui proses taqnin (dirumuskan menjadi positif melalui yurisprudensi dan adakalanya melalui berbagai bentuk perundang-undangan). wawasan hukum yang diperkenalkan al-Qur'an. Maka Fiqh ini dijadikan agenda tetap dalam pengkajian-pengkajian mereka di bidang hukum. Sebagai contoh dapat kita lihat dari hasil Kongres Ahli-ahli Hukum Internasional yang berlangsung di London (2-7 Juli 1951) yang antara lain menetapkan. perkembangan ilmu pengetahuan yang sangat pesat. Seginya yang menyangkut hukum sosial kemasyarakatan (ahkam syar'iyah 'amaliyah/fiqh) lebih banyak mendominasi perkembangan itu. yakni keseimbangan dan keterpaduan dalam hal pemahaman. sejak 1978 sampai dengan 1983 telah dilaksanakan pengkajian hukum yang meliputi antara lain Hukum Islam. pembangunan dan pembinaan hukum nasional diarahkan kepada pembaharuan hukum yang sesuai dengan kesadaran hukum yang berkembang dalam masyarakat. adanya berbagai madrasah dan madzhab di dalamnya menunjukkan. Dan seginya yang menyangkut sunatullah berupa hukum alam dan sejarah. Namun harus diakui. pokok-pokok hukum (undang-undang) yang terdapat dalam agama Islam merupakan undang-undang yang bernilai tinggi dan sulit dibantah kebenarannya. Di lain pihak. sekali pun harus mengalami pasang surut dan pasang naik dan penerapannya. yang terjadi di negara-negara maju dapat pula mencari pandangan yang negatif terhadap Islam dan al-Qur'an. Terakhir kita mendengar selesainya upaya kompilasi Hukum Islam yang dilakukan Mahkamah Agung bersama Departemen Agama.

al-Nisa':68. 9) Jonathan Rutland. UA 20-21 Jakarta Selatan Telp. CATATAN 1) QS. Fusshilat:53. Grolier Internasional Inc. 15) QS. 12) QS.83. 20) Ilmu Pengetahuan Populer. Human Body. Al-Ra'd:15. al-A'raf:87. Yunus:101. 17) QS. 6) UUD 1945. 16) QS. 14 Tahun 1970 tentang Ketentuan Pokok Kekuasaan Kehakiman 8) QS. 7507173 Fax.272. al-Maidah:8. 4) QS. Yunus:15. I/440. 11) QS. 7501983. 3) QS. al-Mumtahanah:10. LV/89. Yasln:38/40. Fathir :43. -------------------------------------------Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah Editor: Budhy Munawar-Rachman Penerbit Yayasan Paramadina Jln. 10) QS. 19) QS. IV/146. 21) QS. (021) 7501969. 23) Min Taujuhat al-Islam. Metro Pondok Indah Pondok Indah Plaza I Kav. dan lain-lain. al-Maidah:43. al-Maidah:42 5) QS. al-Furqan:2 22) Ihya 'Ulum al-Din. al-Ghazali.cendekiawan Muslim. 'Ali 'Imran:190/191. 2) QS. Hud:45. 'Ali 'Imran. al-Qamar:49. 13) QS. h. al-A'raf: 185. 18) QS. 14) Taisir Ibn' Katsir. al-Ahzab:38. 7) UU No. Syaltut. Penjelasan Umum. (021) 7507174 Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan .

Kebahagiaan atau kesengsaraan itu dapat terjadi hanya di dunia ini saja seperti dalam Marxisme. kesengsaraan) dan yang bahagia (sa'id. Semua ajaran. Hud/11:105-108) Munculnya persoalan pengertian kebahagiaan dan kesengsaraan ini dalam Islam. selama langit dan bumi masih ada. selama langit dan bumi masih ada kecuali jika Tuharmu menghendaki hal berbeda. Kitab Suci al-Qur'an menyajikan banyak ilustrasi dan penegasan yang kuat tentang kebahagiaan dan kesengsaraan Dalam sebuah firman disebutkan tentang terbaginya manusia ke dalam dua kelompok: yang sengsara (syaqiy penyandang syaqawah. yakni. yang sengsara dan yang bahagia. Al-Qur'an melukiskan keadaan itu demikian. Jika Hari (Kiamat) itu telah tiba. Dalam agama-agama. kecuali jika Tuhanmu menghendaki hal berbeda. maka tiada seorang pun akan berbicara kecuali dengan izin-Nya Mereka manusia akan terbagi menjadi dua. kekal abadi di dalamnya. Kekal abadi di dalamnya. baik yang bersifat keagamaan maupun yang bersifat keduniaan semata (seperti Marxisme.namun semuanya menunjukkan adanya keyakinan yang pasti tentang pengalaman kebahagiaan atau kesengsaraan dalam hidup manusia. yakni kebahagiaan). maka akan berada dalam surga. atau di akhirat saja seperti dalam agama-agama other-wordly. penyandang sa'adah. atau di dunia dan akhirat seperti dalam Islam. sebagai anugerah yang tiada batasnya. misalnya) menjanjikan kebahagiaan bagi para pengikutnya dan mengancam para penentangnya dengan kesengsaraan. Ada pun mereka yang bahagia. . Ada pun mereka yang sengsara. Gambaran tentang wujud kebahagiaan atau kesengsaraan itu sangat beranekaragam. Sebab Tuhanmu pasti melaksanakan apa saja yang menjadi kehendak-Nya. (QS. maka akan tinggal dalam neraka di sana mereka akan berkeluh kesah semata. Meskipun ilustrasi tentang surga dan neraka itu berbeda-beda --dalam banyak hal perbedaan itu sangat radikal dan prinsipil-. gambaran tentang wujud kebahagiaan dan kesengsaraan itu dinyatakan dalam konsep-konsep tentang kehidupan di surga dan di neraka. KONSEP-KONSEP KEBAHAGIAAN DAN KESENGSARAAN (1/4) oleh Nurcholish Madjid Masalah kebahagiaan (sa'adah) dan kesengsaraan (syaqawah) adalah masalah kemanusiaan yang paling hakiki. patut kita bahas secara sungguh-sungguh. Namun semua ajaran dan ideologi selalu menegaskan bahwa kebahagiaan yang dijanjikannya atau kesengsaraan yang diancamkannya adalah jenis yang paling sejati dan abadi.ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota Please direct any suggestion to Media Team Artikel Yayasan Paramadina Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota II.10. Sebab tujuan hidup manusia tak lain ialah memperoleh kebahagiaan dan menghindari kesengsaraan.

Demikian itu masalah kebahagiaan. Marxisme. al-Qashash/28:77). karena sifatnya yang membelenggu sukma manusia. Islam mengajarkan kebahagiaan dan kesengsaraan jasmani dan rohani atau duniawi dan ukhrawi. demikian pula masalah . ataukah pengalaman rohani dan jasmani sekaligus. namun tetap membedakan keduanya. dan dia itu beriman maka pastilah akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik (di dunia). dalam orientasi hidup yang mengarah ke kehidupan rohani saja. Ini akan banyak menyangkut konsep-konsep kefilsafatan dan kesufian yang cukup rumit. al-Baqarah/2:200). mengajarkan tentang adanya kebahagiaan atau kesengsaraan yang hanya bersifat jasmani. Walaupun begitu. kehidupan jasmani adalah kesengsaraan. dan kematian adalah fase final hidup manusia. Perselisihan tentang wujud kebahagiaan atau kesengsaraan itu. sebagian agama mengajarkan adanya kebahagiaan dan kesengsaraan rohani semata. semua itu berlangsung hanya dalam hidup di dunia ini saja. Sebaliknya. al-Nahl/16:97). orang yang mengalami kebahagiaan duniawi belum tentu akan mendapatkan kebahagiaan di akhirat. Maka manusia didorong mengejar kedua bentuk kebahagiaan itu. serta berusaha menghindar dari penderitaan azab lahir dan batin (QS. Kebahagiaan hanya diperoleh dengan tindakan dan perilaku meninggalkan dunia. atau pengalaman jasmani semata. dari kalangan pria maupun wanita. banyak pula dijanjikan kehidupan yang bahagia sekaligus di dunia ini dan di akhirat kelak untuk mereka yang beriman dan berbuat baik. al-Jatsiyah/45:24). sesuai dengan sebaik-baik apa yang telah mereka kerjakan (QS.disebabkan adanya perbedaan interpretasi atas ayat-ayat suci yang menggambarkan kebahagiaan dan kesengsaraan itu. seseorang dianjurkan mengejar kebahagiaan di akhirat. namun dirasa perlu kita mulai membahasnya mengingat perkembangan keagamaan di negeri kita yang pesat dengan tuntutan-tuntutannya yang terus meningkat. Itu berarti memperoleh kebahagiaan akhirat belum tentu dan tidak dengan sendirinya memperoleh kebahagiaan di dunia. Dalam Islam. yaitu. dan pastilah akan Kami ganjarkan kepada mereka pahala mereka (di akhirat). KEBAHAGIAAN DAN KESENGSARAAN: JASMANI DAN ROHANI? Di atas telah disinggung. merupakan bagian dari dialog Islam sejak masa klasik. namun diingatkan agar jangan melupakan nasibnya dalam hidup di dunia ini (Lihat QS. Ateisme dengan sendirinya mengingkari kehidupan sesudah mati atau akhirat. yang hanya mempercayai kehidupan duniawi ini saja. Bagi agama-agama itu. dan dengan sendirinya. tentu saja. bukan fase peralihan seperti diyakini agama-agama (Lihat QS. Kehidupan yang bahagia di dunia menjadi semacam pendahuluan bagi kehidupan yang lebih bahagia di akhirat. Kaum Marxis yang ateis ini mirip dengan gambaran dalam al-Qur'an tentang golongan manusia pemuja waktu (al-Dahr). apakah berupa pengalaman kerohanian semata. Dalam tulisan ini kita akan membicarakan konsep kebahagiaan dan kesengsaraan sebagai pengalaman keagamaan (pribadi). Barangsiapa berbuat baik.

Setiap kali mereka hendak keluar dari sana. Sebab hampir seluruh keterangan dan pelukisan tentang surga dan neraka dalam Kitab dan Sunnah menggambarkan tentang pengalaman kebahagiaan atau kesengsaraan yang serba fisik. dan lain-lain adalah pekerti-pekerti yang dipujikan Allah sebagai ciri-ciri kaum beriman. maka pelukisan kebahagiaan dan kesengsaraan apa pun harus diterima sebagai sesuatu yang wujudi atau eksistensial. dapat dipercaya. perilaku lahir dan batin manusia yang membawa akibat pada adanya pengalaman kebahagiaan atau kesengsaruan duniawi dan ukhrawi sekaligus. pengertian tentang kebahagiaan dan kesengsaraan akan cenderung bersifat fisik. cinta kerja keras.kesengsaraan. Beberapa nilai akhlak luhur seperti jujur. mereka tetap berselisih tentang kebahagiaan dan kesengsaraan yang sejati dan abadi Pangkal perbedaan itu ialah adanya perbedaan dalam tafsiran atas berbagai keterangan suci tentang kebahagiaan dan kesengsaraan. hemat." Dan pastilah Kami (Tuhan) buat mereka merasakan azab yang lebih ringan (di dunia ini) sebelum azab yang lebih besar (di akhirat nanti) agar kiranya mereka mau kembali. dan bahwa tidak selamanya mengejar salah satu akan dengan sendirinya menghasilkan yang lain. mereka dikembalikan ke dalamnya. the . berkesungguhan dalam mencapai hasil kerja sebaik-baiknya (itqan). Orang yang ingkar kepada kebenaran dan berbuat jahat diancam baginya kesengsaraan dalam hidup di dunia ini sebelum kesengsaraan yang lebih besar kelak di akhirat. yang dahulu kamu dustakan. Ciri tersebut akan membawa mereka pada kebahagiaan duniawi dan ukhrawi sekaligus. melainkan rohani atau sekurang-kurangnya psikologis. maka tempat mereka adalah neraka. khususnya keterangan atau pelukisan tentang surga dan neraka Yaitu perbedaan antara mereka yang memahami teks-teks suci secara harfiah dan mereka yang melakukan interpretasi metaforis (ta'wil) Bagi mereka yang memahami teks-teks suci itu secara harfiah. tepat janji. yang melahirkan piramida eksistensial. Tapi memang ada dan banyak. dengan kebahagiaan di akhirat yang jauh lebih besar. Dalam kemungkinan tinjauan yang lebih menyeluruh. sambil dikatakan kepada mereka: "Sekarang rasakanlah azab neraka ini. yang dikaitkan dengan "kebijaksanaan" Tuhan sebagai yang Maha Kasih-Sayang dan Maha Adil. Kemudian ada beberapa keterangan. tulus. Adapun orang-orang yang jahat. (QS. manusia dengan kaum khawas (al-khawash atau orang-orang khusus. dan harus dipahami dalam konteks adres pembicaraan (al-mukhathab). MASALAH INTERPRETASI Meskipun para ulama sepakat tentang adanya kebahagiaan dan kesengsaraan dunia-akhirat itu. tabah. Ibn Rusyd mengaitkan perkara ini dengan kenyataan terbaginya manusia dalam susunan tinggi dan rendah. al-Sajdah/32:20-21) Penegasan-penegasan ini tidak perlu dipertentangkan dengan penegasan-penegasan terdahulu di atas bahwa ada perbedaan antara kebahagiaan duniawi dan kebahagiaan ukhrawi. baik dari al-Qur'an maupun Sunnnah. baik dalam Kitab maupun Sunnah yang memberi isyarat bahwa pengalaman kebahagiaan dan kesengsaraan itu tidak fisik.

Karena yang pokok ialah iman kepada Allah serta berbuat baik. Sebab dengan demikian berarti Tuhan menjanjikan kebahagiaan hanya kepada kelompok kecil manusia saja. adalah metafor-metafor atau makna-makna kiasan (majaz). 7507173 Fax. seluruh keterangan tentang kebahagiaan dan kesengsaraan.(bersambung 2/4) Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah Editor: Budhy Munawar-Rachman Penerbit Yayasan Paramadina Jln. namun dalam pandangan Ibn Rusyd tidaklah terhindarkan karena kenyataan dalam masyarakat menunjukkan adanya orang-orang tertentu yang jumlahnya tidak banyak.specials) menempati puncak piramida itu. dan kaum awam (al-awam orang-orang umum atau kebanyakan. Pemahaman me lalui metode i'tibar adalah interpretasi alegoris atau ta'wil. suatu hal yang jelas mustahil yang kualifikasi kelompok kecil itu ialah kesanggupan memahami hal-hal abstrak di balik ungkapan-ungkapan kiasan. Mereka yang mampu memahaminya dengan melakukan al-i'tibar. Fashl al-Maqa]). menurut Ibn Rusyd wajib melakukan pemahaman serupa itu. Kaum awam ini membentuk bagian terbesar struktur piramidal masyarakat manusia. UA 20-21 Jakarta Selatan Telp. maka pengertian tentang hakikat kebahagiaan dan kesengsaraan itu menjadi kurang relevan bagi kaum awam. the commons) menempati bagian-bagian bawah sampai ke dasar piramida. 7501983. jika mendapatkan bahwa pengertian harfiah pelukisan itu adalah mustahil atau absurd. Karena itu Tuhan juga mengarahkan sabda-Nya kepada khalayak umum. Metro Pondok Indah Pondok Indah Plaza I Kav. (Lihat Ibn Rusyd. Karena itu. Meskipun pendekatan ini mengesankan elitisme. yang sanggup memahami kebenarankebenaran hakiki lewat alegori-alegori dengan melakukan "penyeberangan" (al-i'tibar) ke pengertian-pengertian sebenarnya di balik alegori-alegori. dalam pandangan Ibn Rusyd dan para filsuf Muslim. sesuai dan setingkat dengan cara berfikir serta kemampuan mereka menangkap pesan dan memahami masalah. (021) 7501969. berbentuk pelukisan kehidupan di surga dan neraka dalam Kitab Suci dan Sabda Nabi. (021) 7507174 Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota Please direct any suggestion to Media Team . -------------------------------------------. sesuai dengan cara yang sekiranya akan mendorong mereka berbuat baik dan mencegah dari berbuat jahat. Dengan jalan itu kaum khawas dapat menerima agama dan rahmat yang dikandung agama itu pada dataran yang lebih tinggi daripada kaum awam. karena memang pelukisan yang bersifat fisik itulah yang dapat ditangkap dan dipahami umum. Tapi Tuhan Yang Maha Adil dan Maha Kasih-Sayang kepada sekalian umat manusia tentu mustahil mengalamatkan sabda-Nya hanya kepada orang-orang khusus yang jumlahnya sedikit itu. Bagi mereka ini. Mereka ini wajib menerima pelukisan tentang surga dan neraka apa adanya. pelukisan tentang kebahagiaan dan kesengsaraan dalam Kitab Suci dan Sunnah Nabi kebanyakan bersifat fisik.

Itulah tempat kesudahan bagi mereka yang bertaqwa. kecuali dengan sikap ingkar. Muhammad/47:15) Jadi karena pelukisan tentang surga dan neraka itu disebut sebagai tamsil-ibarat dalam al-Qur'an. sebagai ajaran "rahasia" bagi kaum khawas. yang minuman itu memotong-motong usus mereka. juga memperoleh ampunan dari Tuhan mereka. al-Zumar/39:27). termasuk penafsiran alegoris (tamtsili ataupun ta'wil). Bahwa banyak kandungan al-Qur'an yang bersifat tamsil-ibarat. yang murni-bersih. termasuk mengenai kebahagiaan dan kesengsaraan. Dan memang kenyataannya pendekatan esoterik senantiasa sulit dipahami kaum awam. baik di dunia maupun di akhirat. dapat dipahami dari firman berikut. seperti dapat diketahui dari firman berikut. yang tidak akan berubah cita-rasanya. Tamsil-ibarat surga (jannah: kebun) yang dijanjikan untuk mereka yang bertaqwa ialah. alegori atau metafor. di dalamnya ada sungai-sungai dari air. sepatutnya tidaklah dipahami menurut makna bunyi lafal lahiriahnya. yang diberi minum dengan air mendidih. sedangkan tempat kesudahan mereka yang menentang ialah api neraka. (QS. lihat juga QS. Al-Rad/13:35) Tamsil-ibarat surga yang dijanjikan untuk orang-orang yang bertaqwa ialah. Sebagaimana juga (tamsil-ibarat) orang yang kekal di dalam neraka.Artikel Yayasan Paramadina Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota II. al-Rum/30:58 dan QS.10. al-Isra'/17:89. dan sungai-sungai dari madu. KONSEP-KONSEP KEBAHAGIAAN DAN KESENGSARAAN (2/4) oleh Nurcholish Madjid Para filsuf menemukan dukungan bagi metodologi ta'wil mereka dalam berbagai penjelasan. demikian pula naungan rindang yang diberikannya. maka filsafat dan tasawuf acapkali sengaja dibuat tidak bisa diarah oleh orang umum. dan buah-buahannya tumbuh tanpa berhenti. yang tidak akan rusak. sungai-sungainya mengalir di bawahnya. namun "tamsil-ibarat" dan pelukisan mengenai hakikatnya dapat menerima penafsiran-penafsiran. adalah nyata dan tidak mungkin diingkari. sehingga banyak salah pengertian yang kemudian mengundang polemik dan . Inilah yang dicari dan dikejar para filsuf dan kaum sufi. yang segar melezatkan bagi yang meminumnya. (QS. dan sungai-sungai dari susu. dan sungai-sungai dari khamar. (QS. QS. Karena merupakan pemahaman keagamaan yang lebih batini (esoterik) daripada lahiri (eksoterik). Dan sungguh telah Kami (Tuhan) beberkan untuk manusia dalam al-Qur'an ini setiap bentuk tamsil-ibarat. bahwa dalam al-Qur'an Tuhan memang menyediakan berbagai "tamsil-ibarat". ada berbagai isyarat bahwa keterangan tentang surga dan neraka pun bersifat tamsil-ibarat. al-Kahf/16:54. Lebih jauh lagi. Di dalam surga itu mereka mendapatkan buah-buahan dari segala macam. dan disampaikan hanya kepada kalangan tertentu yang terbatas. Namun kebanyakan manusia tidak menerimanya. Maka sementara masalah adanya kebahagiaan dan kesengsaraan itu.

Allah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman. berkat kemajuan teknologi informasi dan transportasi. Dan di atas itu semua mereka akan mendapatkan sesuatu yang lebih besar dan lebih agung lagi. seperti Ibn 'Arabi. tingkat kecerdasan anggota masyarakat yang semakin tinggi menuntut pengertian-pengertian agama yang tidak konvensional atau. surga-surga yang di bawahnya mengalir sungai-sungai. yang tumbuh pesat tidak mungkin lagi dibendung. (dijanjikan pula) tempat-tempat tinggal yang indah. barangkali lebih psikologis daripada fisiologis. saat menyaksikan Keagungan-Nya. terwujud dalam ridla Allah. Sayyid Quthub mengatakan. akibat intrik-intrik politik yang menjerat mereka. Karena tidak jarang pendekatan esoterik memang menyegarkan. telah meninggalkan karya-karya besar yang sampai sekarang dipelajari orang dengan penuh minat. karena berbagai hal. dan ketokohannya disanjung dan dikecam secara sama. Dan keridlaan dari Allah itulah yang akbar. Dan keridlaan dari Allah adalah yang akbar. Kedua. Surga dengan segala kenikmatan yang ada di dalamnya tidaklah berarti apa-apa dan akan menjadi tidak seberapa di depan hebatnya keridlaan Allah yang Maha Pemurah. juga tempat-tempat tinggal yang indah. sebagai tempat kediaman yang tenang tenteram. Itulah sebenarnya kebahagiaan yang agung. apalagi. Kebahagiaan di surga menanti kaum beriman. namun tidak berarti tertutup rapat untuk setiap orang. Saat perjumpaan dengan Allah. kekal di sana selama-lamanya.. al-Tawbah/9:72) Dalam menafsirkan firman Allah ini. Beberapa pelopor pemahaman esoterik. malah dalam banyak hal merupakan kebutuhan. dalam surga-surga kebahagiaan abadi. Selain berdasarkan isyarat tentang banyaknya kandungan al-Qur'an yang disebut sebagai tamsil-ibarat di atas. BAHAGIA DAN SENGSARA: PANDANGAN KEFILSAFATAN DAN KESUFIAN Walaupun begitu dalam zaman sekarang pendekatan esoterik tidak lagi dapat dipertahankan sepenuhnya sebagai kerahasiaan.kontroversi. Bahkan kiranya memang tidak perlu dan tidak dibenarkan untuk dibendung. Sebagaimana telah diisyaratkan dalam pembahasan di atas. harus menemui kematian di tangan penguasa. Surga-surga yang di bawahnya mengalir sungai-sungai. termasuk di bidang kesufian atau mistisisme.. kekal di sana selama-lamanya. saat pencerahan ketika relung-relung sukma benderang dengan berkas . . Sebagian tokoh lagi. karena akses pada bahan bacaan. sulit dan ruwet... dalam surga-surga kebahagiaan abadi. pria maupun wanita. pandangan kefilsafatan dan kesufian tentang bahagia dan sengsara cenderung mengarah pada pengertian-pengertian yang lebih rohani daripada jasmani atau. Pertama. kaum sufi dan para filsuf juga mendapatkan banyaknya penegasan bahwa kebahagiaan tertinggi jika bukannya seluruh kebahagiaan itu sendiri. stereotipikal. Ketiga pergaulan kemanusiaan sejagad makin tidak terhindarkan. Sebuah firman mengatakan. Dan keridlaan dari Allah itulah yang akbar. saat pembebasan diri dari kungkungan jasad yang campur aduk ini serta dari beban bumi dan iming-iming jangka pendeknya. Walaupun pemahaman esoterik senantiasa rumit. saat dari lubuk hati manusia yang mendalam terpancar sinar dari Cahaya yang mata tidak mampu memandangNya. seperti al-Hallaj dan Suhrawardi. (QS.

juga tidak setiap harapan. Metodologi seperti itu dikembangkan dalam tasawuf. yakni. seperti yang diajarkan kaum sufi. yaitu sikap pengosongan diri dan pembebasannya dari setiap belenggu yang menghalangi jalan kepada Allah. yang dihadapan pengalaman kesaksian itu semua bentuk kebahagiaan menjadi tidak bermakna apa-apa adalah sebuah tafsiran kasyafi (theophanic. 7507173 Fax. maka yang dimaksudkan ialah kemestian kita tunduk pada Allah. -------------------------------------------. termasuk pembebasan dari belenggu budaya dan tradisi. KEBEBASAN DAN KEBAHAGIAAN Salah satu tema utama dalam metodologi kesufian ialah takhalli. Tuhan yang sebenarnya itu dan tidak kepada apa dan siapapun yang lain. 7501983. Fi Zhilal al-Qur'an. 254-5) Dengan tafsirnya itu. Metro Pondok Indah Pondok Indah Plaza I Kav. menjadi tujuan semua olah-rohani (riyadlah) dan perjuangan spiritual (mujahadah). (021) 7507174 Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota Please direct any suggestion to Media Team Artikel Yayasan Paramadina Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan . Jika kalimat persaksian dimulai dengan al-nafy atau peniadaan dalam fase negatif tiada Tuhan. termasuk dalam hidup sekarang ini jika mungkin. terbentuk dari kata-kata Illah dan artikel "al"-yakni.Ruh Allah. hal. jika menghalangi pada Kebenaran. Pembebasan adalah juga salah satu tema pokok seruan Nabi kepada umat manusia. Dan jika kalimat persaksian itu harus mutlak diteruskan dengan al-itsbat atau peneguhan dalam fase afirmatif "kecuali Allah" (al-Lah. bersifat penyingkapan dan pengalaman spiritual akan kehadiran Kebenaran Ilahi). yang menurut banyak ahli termasuk 'Ali ibn Abi Thalib dan Ja'far al-Shadiq. (Sayyid Quthub. sungguh dihadapan itu semua tidaklah bermakna lagi setiap kesenangan. Belenggu itu dilambangkan dalam konsep tentang "Tuhan" atau "Sesembahan".. yaitu setiap bentuk obyek ketundukan (Arab: Ilah).. epiphanic.(bersambung 3/4) Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah Editor: Budhy Munawar-Rachman Penerbit Yayasan Paramadina Jln. (021) 7501969. Sayyid Quthub telah melakukan pendekatan filosofis dan sufi pada masalah hakikat kebahagiaan. semuanya adalah satu momen dari momen-momen yang bertumpu pada kelangkaan amat sedikit bagi manusia dalam suasana kesucian total. jilid 10. Tafsiran bahwa kebahagiaan tertinggi dan paling agung. dan sukma-sukma itu tercekam di dalamnya tanpa kesudahan! "ltulah kebahagiaan sejati yang agung". UA 20-21 Jakarta Selatan Telp.. maka tujuannya ialah pembebasan diri dari setiap belenggu. Tercapainya pengalaman tersebut. Apalagi keridlaan Allah meliputi seluruh sukma.. sebagai keridlaan Allah --sebagai pengalaman kesaksian rohani akan Wujud Maha Benar itu. Tuhan atau Sesembahan yang sebenarnya).

" seperti dilambangkan dalam kalimat syahadat pertama. Tuhan yang sebenarnya-. Usaha mencari Kebenaran inilah sifat kehanifan (hanifiyyah) manusia atas dorongan fithrah atau kejadian asalnya sendiri yang suci. dan daripada perjuangan di jalan-Nya. maka sesungguhnya keyakinan atau klaim "mengetahui Tuhan" (yang diindikasikan oleh sikap "berhenti mencari") adalah suatu jenis pembelengguan diri. Dan . Inilah antara lain tafsir atas peringatan dalam Kitab Suci bahwa di antara manusia ada yang menjadikan hawa atau keinginan dirinya sendiri sebagai Tuhan (Lihat.10. keyakinan bahwa diri sendiri telah "mengetahui Tuhan akan berakhir dengan penuhanan keinginan diri sendiri. kerabat dan umat manusia pada umumnya. berupa usaha yang tulus dan murni untuk mencari. suatu proses "pembebasan dan ketundukan. (QS. yaitu Tuhan). serta tempat tinggal yang untukmu menyenangkan. karena al-Qur'an sarat dengan ajaran tentang kewajiban memelihara cinta kasih di antara keluarga. Maka tunduk secara benar --dalam bahasa Arab disebut Islam. serta tiada suatu apa pun yang sepadan dengan Dia (wa lam yakun lauu kufuw-an ahad-un. serta karib-kerabatmu. maka tunggulah sampai saat Allah melaksanakan keputusan-Nya Allah tidak akan memberi petunjuk kepada mereka yang bersemangat jahat". KONSEP-KONSEP KEBAHAGIAAN DAN KESENGSARAAN (3/4) oleh Nurcholish Madjid Karena Allah adalah Wujud yang tak dapat dibandingkan dengan sesuatu apapun (laysa ka-mitslihi syay-un. 25:43 dan 45:23). Jadi sesungguhnya kebahagiaan dimulai dengan "negasi dan afirmasi". Tuhan tidak mungkin diketahui manusia sebab tidak akan terjangkau oleh pikiran dan khayalnya. yaitu sikap pasrah yang tulus kepada Allah.salah satu yang patut sekali kita renungkan terbaca (terjemahnya) demikian. (jika itu semua) lebih kamu cintai daripada Allah dan Rasul-Nya. atau pembebasan yang membimbing kita kepada ketundukan dinamis tersebut --dari banyak penjelasan dalam kitab Suci tentang berbagai akibat dan implikasinya-. besar ataupun kecil. QS. Mengenai negasi atau peniadaan yang menghantarkan kita kepada afirmasi itu. QS. saudara-saudaramu. Padahal pikirin itu tak akan luput dari dorongan diri sendiri dan keinginannya. tapi juga akan berarti bahwa Tuhan telah disejajarkan dengan apa yang tercapai oleh pikirannya sendiri. atau sikap dan pandangan yang mengangkat keinginan diri sendiri itu sebagai Tuhan. Tidak saja karena hal ini akan merupakan contradiction in terms (berupa kemustahilan suatu wujud nisbi seperti manusia dapat menjangkau atau mengetahui Wujud Mutlak. jodoh-jodohmu. (dan jika) kekayaan yang telah berhasil kamu kumpulkan.al-Ikhlash/112:4) maka tunduk pada Tuhan berarti tunduk dalam maknanya yang dinamis. Juga tidak untuk mendoronng manusia agar meninggalkan kegiatan duniawi.justru akan secara langsung membawa pada kebebasan dan pembebasan diri dari setiap nilai dan pranata yang membelenggu sukma. anak-anakmu. perdagangan yang kerugiannya kamu kuatirkan. dan terus mencari Kebenaran. QS.ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota II. al-Tawbah/9:24) Firman Allah ini tidaklah dipahami bahwa Nabi D4uhammad datang untuk membawa pertentangan dalam keluarga. Dengan kata lain. Yang pertaa tidak benar. al-Syura 42:11). Katakan (wahai Muhammad): "Jika orang-orang tuamu.

Conn. The Holy Qur'an. Inilah Islam yaitu ketundukan kepada Yang Maha Benar (al-Haqq). New Haven. anak-anak. adalah ketundukan yang dinamis. (2) kekayaan dan kemakmuran. "TANYALAH JALAN" (SAL SABIL-AN) Setelah proses pembebasan.: Yale University Press. dan akhirnya "bertemu" (liqa) dengan Kebenaran. (4) gedung-gedung indah. "Karena aku datang untuk membuat manusia melawan ayahnya. suatu hal yang manusia dipesan jangan sampai melupakannya. atau karib kerabat. (A. Translation and Commentary. dan menjadi bebas sepenuhnya. yaitu kebahagiaan "bertemu" dengan Tuhan. sepanjang catatan dalam Perjanjian Baru. yang proses pembebasan itu merupakan konsistensi pernyataan negatif atau al-nafy pada bagian pertama kalimat syahadat. juga pernah menyatakan. Kita harus mencintai Allah. h. Hati manusia terikat kepada (1) sanak-kadangnya sendiri. baik untuk gengsi mau pun kesenangan. kita harus memilih mana yang lebih kita cintai. (3) perdagangan atau cara-cara memperoleh keuntungan dan penghasilan. Sang Kebenaran. suami atau isteri. (Erich Fromm. Nabi Isa al-Masih. Text. Yusuf Ali dalam menafsirkan firman ini. melainkan untuk menggambarkan dalam bentuk yang paling tegas dan drastis sebuah prinsip. Brentwood.orang tua. Firman Allah tersebut hanya menegaskan." Tetapi pembebasan dari belenggu-belenggu sosio-kultural dan sosio ekonomi hanyalah separuh jalan menuju kepada kebahagiaan sejati. dengan kemungkinan manusia memperoleh kebahagiaan di dunia ini. Yusuf Ali. h. dan tempat tinggal). yang merupakan konsistensi pertanyaan afirmatif atau al-itsbat pada bagian kedua kalimat syahadat. dan menantu perempuan melawan mertua perempuannya" (Matius 10:35). 78). agar ia menjadi manusia sejati. Telah dikemukakan bahwa ketundukan kepada Allah Sang Kebenaran Mutlak. catatan 1272). Psychoanalysis and Religion. "Tiada Tuhan. 445. yaitu "jalan Allah" (sabil al-Lah) dapat ditempuh baru setelah seseorang mampu membebaskan diri dari belenggu lingkungannya. artinya ketundukan dalam wujud usaha tak kenal henti secara tulus "mencari"' "mendekat" (taqarrub). kedudukan. saudara. Serupa dengan makna firman Allah itu. dan wujud nyata usaha tersebut pada pribadi yang bersangkutan ialah adanya kualitas . bahwa jalan menuju Kebenaran. separoh lagi jalan yang harus ditempuh ialah yang dilambangkan dalam pernyataan tekad untuk tunduk pada Sang Kebenaran itu sendiri. keluarga dan masyarakat) mau pun sosio-ekonomi dan fisik (pekerjaan. baik sosio-kultural (orang tua. anak perempuan melawan ibunya. Dalam melakukan pendekatan psikoanalitis terhadap agama dan gejala keagamaan. 1983. 1972. orang harus memutuskan hubungan kekeluargaan yang bersifat membelenggu. Usaha terus-menerus mencari Kebenaran itu disebut berjalan menempuh "Jalan Allah" (sabil al-Lah). Maryland: Amana Corp. Jika semuanya ini menjadi halangan dalam jalan Allah. biarpun harus mengorbankan itu semua. "kecuali Allah". Sebab seperti dikatakan A. Begitulah contoh implikasi proses pembebasan diri yang diterangkan dalam Kitab Suci. Erich Fromm mengatakan bahwa dengan pernyataannya itu Nabi Isa tidak bermaksud mengajarkan kebencian pada orang tua.yang kedua juga tidak benar karena al-Qur'an mengajarkan pandangan yang optimis-positif kepada kehidupan.

Al-Qur'an melukiskan bahwa dalam surga. Maka dalam perjalanan menempuh jalan yang lurus itu justru kita harus terus menerus bertanya dan bertanya. apa selanjutnya? Apakah tak ada kemungkinan sama sekali bahwa jalan yang telah kita tempuh apalagi yang masih akan kita tempuh. artinya. yaitu dalam tempat dan lingkungan pengalaman kebahagiaan sejati. Pertanyaan dan penanyaan itulah yang mendasari ketulusan hati dalam permohonan kepada Tuhan. juga yang akan kita tempuh. ijtihad (dalam dimensinya yang lebih intelektual). al-Fatihah/1:6). sebagai sumber kesadaran akan kebenaran). maka ia masih mendapatkan satu pahala (sebuah Hadist terkenal). lurus ke arah (sekali lagi ke arah) Kebenaran Mutlak. kemudian "diaminkan. dalam menempuh jalan lurus itu kita tidak boleh berhenti. mencari dan menemukan jalan ke arah Kebenaran itu sendiri. Akibatnya." Sebuah . Yang pertama banyak ditempuh oleh ahli perang dan para pahlawan. sore. karena tidak lurus lagi? Siapa Tahu? Pertanyaan dan penanyaan itu adalah eksistensial dan esensial sekali dalam mencari. karena jalan itu membentang langsung antara diri kita yang paling suci. ia akan mendapatkan pahala ganda. dan yang ketiga oleh kaum sufi dan ahli 'Irfan. siang. maka salah satu "pesan" yang dikandungnya ialah agar kita bertanya tentang jalan yang lurus itu setiap saat. Dan kalau shalat itu disebutkan dalam al-Qur'an sebagai kewajiban atas kaum beriman dengan dikaitkan pada pembagian waktu selama sehari-semalaman (pagi. Inilah makna penegasan Nabi bahwa barangsiapa berusaha dengan sungguh-sungguh. meskipun tidak sepenuhnya. bersifat terang. mendekat dan bertemu dengan Kebenaran. para penghuninya akan diberi minum yang sejuk dan amat menyegarkan yang airnya diambil dari mata air yang bernama "salsabil-an" atau "sal sabil-an. yaitu fitrah kita dalam hati nurani (nurani." baik secara sendirian maupun bersama orang lain. terutama dalam setiap kali shalat. Sesungguhnya dalam Al-Qur'an dilukiskan bahwa berusaha secara dinamis. Tunjukkanlah kami jalan yang lurus (QS. Jalan Allah yang harus ditempuh melalui ketiga fase itu juga disebut "jalan lurus" (al-shirath al-mustaqim). sehingga melahirkan sikap hidup jihad (dalam dimensinya yang lebih fisik). saat terbenam matahari dan malam) (QS. dan jika (ternyata) keliru. yang kedua oleh para pemikir baik dalam bidang fiqh maupun Kalam. Seorang yang memang tunduk patuh kepada Allah (muslim) akan terus menerus memohon petunjuk jalan yang lurus itu. lalu ia menempuh jalan yang (ternyata) benar. tak boleh dipastikan sebagai mutlak lurus. ijtihad dan mujahadah tersebut tadi. Tapi justru karena kemutlakanNya. karena kekeliruan pun. sebab perhentian berarti menyalahi seluruh prinsip tentang Kebenaran Mutlak. yaitu jihad. akan menyesatkan kita dari Kebenaran. tanpa henti-hentinya. asalkan tak disengaja. Dalam kesungguhan mencari dan menemukan jalan itu kita tidak perlu takut membuat kekeliruan. Ini berarti bahwa jalan yang telah kita tempuh. maka Sang Kebenaran itu sungguh mutlak dan tak akan terjangkau. masih akan memberi kebahagiaan."kesungguhan dalam berusaha" (dinyatakan dalam kata-kata Arab juha -usaha penuh kesungguhan). dan mujahadah (dalam dimensinya yang lebih spiritual). al-Nisa 4:103). yang toh tidak akan kita sadari pada saat mengalaminya sendiri. sudah merupakan sumber mata air pengalaman kebahagiaan yang tinggi. Justru amat berharga dalam menempuh jalan itu semangat mencari dan berusaha yang sungguh-sungguh.

"Carilah Jalan". h. karena perkataan Arab sal sabil-a itu tidak lain arti harfiahnya ialah "tanyalah jalan". Dan Yusuf Ali menafsirkan firman itu dengan mengatakan bahwa mata air salsabil (-an) ini membawa kita kepada ide metaforis yang lain. sebagaimana dikutip Zamakhsyari dan Razi. "salsabil-an" ("tanyalah [atau "carilah"] jalan"): yakni. 917. ibid. catatan 9). The Message of the Qur'an. agar supaya dalam menempuh jalan lurus mencari Kebenaran itu terjadi kemurnian sejati (ikhlash). Muhammad Asad. (QS. UA 20-21 Jakarta Selatan Telp. (Saya harus memberi catatan bahwa. asumsi-asumsi dan klaim-klaim tentang pengetahuan yang benar. Kenyataan bahwa al-Qur'an senantiasa menyerukan penggunaan akal untuk mencari dan menerima Kebenaran menunjukkan bahwa antara rasio dan pengalaman keagamaan tidaklah terdapat pertentangan. it represents". dari mata air yang ada. "carilah jalanmu ke surga dengan cara melakukan perbuatan baik"." (Erich Fromm. As Albert Schweitzer has put it: "Rational thinking which is free from assumptions ends in mysticism. Kata Erich Fromm: I should like to note that. metodologi itu mengharuskan adanya proses pengosongan diri dari anggapan-anggapan. quite in contrast to a populer sentiment that mysticism is an irrational type of religious experience. Mereka (yang bahagia) di sana disajikan minuman dalam piala yang ramuannya ialah zanjabil. menerangkan kata-kata salsabil-an jelas merupakan kata majemuk itu. The Holy Qur'an. yang dapat dibagi menjadi dua komponen.metafor. Muhammad Asad mengatakan bahwa begitulah Ali ibn Abi Thalib. alegori atau makna kiasan yang sungguh indah. Seperti dinyatakan oleh Albert Schweitzer: "Pemikiran rasional yang bebas dari asumsi-asumsi berakhir dalam mistisisme"). catatan 5850). A. adalah suatu bentuk perkembangan rasionalitas yang tertinggi... (Lihat. Perkataan itu secara harfiah berarti. maka dalam konteks pencarian Kebenaran sejati itu. the higgest development of rationality in religious thinking. Jika dalam konteks duniawi berpikir selalu menuntut adanya pra-asumsi atau premis. Tapi. 1658. ia justru mengetengahkan perkembangan tertinggi rasionalitas dalam pemikiran keagamaan. 7501983. yang disebut salsabil. pra-asumsi dan premis justru harus dilepaskan. Yusuf Ali. catatan 17). Justru tasawuf sebagai bidang yang menggarap segi esoterik keagamaan. Metro Pondok Indah Pondok Indah Plaza I Kav. (Lihat. h. 90. (021) 7501969. meskipun tanpa ada pra-asumsi atau premis. al-Insan/76:17-18) Menafsirkan metafor dalam firman ini. -------------------------------------------Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah Editor: Budhy Munawar-Rachman Penerbit Yayasan Paramadina Jln. Jalan itu sekarang terbuka menuju Hadirat Yang Maha Tinggi. telah kita bicarakan. 7507173 (bersambung 4/4) . berpikir dalam konteks kesufian tidaklah berarti tiadanya rasionalitas. h. Kembali kepada metodologi takhalli di kalangan kaum Sufi. sangat berlawanan dengan perasaan umum bahwa mistisisme adalah suatu jenis pengalaman keagamaan yang tidak rasional.

suatu proses "pembebasan dan ketundukan. serta karib-kerabatmu. dan terus mencari Kebenaran.justru akan secara langsung membawa pada kebebasan dan pembebasan diri dari setiap nilai dan pranata yang membelenggu sukma. Usaha mencari Kebenaran inilah sifat kehanifan (hanifiyyah) manusia atas dorongan fithrah atau kejadian asalnya sendiri yang suci. Tuhan yang sebenarnya-. maka sesungguhnya keyakinan atau klaim "mengetahui Tuhan" (yang diindikasikan oleh sikap "berhenti mencari") adalah suatu jenis pembelengguan diri. Tuhan tidak mungkin diketahui manusia sebab tidak akan terjangkau oleh pikiran dan khayalnya. Jadi sesungguhnya kebahagiaan dimulai dengan "negasi dan afirmasi". QS. atau sikap dan pandangan yang mengangkat keinginan diri sendiri itu sebagai Tuhan. KONSEP-KONSEP KEBAHAGIAAN DAN KESENGSARAAN (3/4) oleh Nurcholish Madjid Karena Allah adalah Wujud yang tak dapat dibandingkan dengan sesuatu apapun (laysa ka-mitslihi syay-un. QS. Inilah antara lain tafsir atas peringatan dalam Kitab Suci bahwa di antara manusia ada yang menjadikan hawa atau keinginan dirinya sendiri sebagai Tuhan (Lihat. serta tempat tinggal yang untukmu menyenangkan.salah satu yang patut sekali kita renungkan terbaca (terjemahnya) demikian. QS. yaitu sikap pasrah yang tulus kepada Allah. Padahal pikirin itu tak akan luput dari dorongan diri sendiri dan keinginannya. Dengan kata lain. anak-anakmu. (dan jika) kekayaan yang telah berhasil kamu kumpulkan. atau pembebasan yang membimbing kita kepada ketundukan dinamis tersebut --dari banyak penjelasan dalam kitab Suci tentang berbagai akibat dan implikasinya-. perdagangan yang kerugiannya kamu kuatirkan.10. berupa usaha yang tulus dan murni untuk mencari.Fax. Tidak saja karena hal ini akan merupakan contradiction in terms (berupa kemustahilan suatu wujud nisbi seperti manusia dapat menjangkau atau mengetahui Wujud Mutlak.al-Ikhlash/112:4) maka tunduk pada Tuhan berarti tunduk dalam maknanya yang dinamis. (021) 7507174 Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota Please direct any suggestion to Media Team Artikel Yayasan Paramadina Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota II. 25:43 dan 45:23). tapi juga akan berarti bahwa Tuhan telah disejajarkan dengan apa yang tercapai oleh pikirannya sendiri. jodoh-jodohmu. saudara-saudaramu. serta tiada suatu apa pun yang sepadan dengan Dia (wa lam yakun lauu kufuw-an ahad-un. al-Syura 42:11)." seperti dilambangkan dalam kalimat syahadat pertama. yaitu Tuhan). (jika itu semua) lebih kamu cintai daripada Allah dan Rasul-Nya. dan daripada . keyakinan bahwa diri sendiri telah "mengetahui Tuhan akan berakhir dengan penuhanan keinginan diri sendiri. Katakan (wahai Muhammad): "Jika orang-orang tuamu. Maka tunduk secara benar --dalam bahasa Arab disebut Islam. Mengenai negasi atau peniadaan yang menghantarkan kita kepada afirmasi itu.

(4) gedung-gedung indah. anak-anak. Yang pertaa tidak benar. juga pernah menyatakan. (2) kekayaan dan kemakmuran. "Karena aku datang untuk membuat manusia melawan ayahnya. Psychoanalysis and Religion. 78). yaitu kebahagiaan "bertemu" dengan Tuhan. melainkan untuk menggambarkan dalam bentuk yang paling tegas dan drastis sebuah prinsip. sepanjang catatan dalam Perjanjian Baru. Firman Allah tersebut hanya menegaskan.: Yale University Press. anak perempuan melawan ibunya. dengan kemungkinan manusia memperoleh kebahagiaan di dunia ini. atau karib kerabat. kita harus memilih mana yang lebih kita cintai. yang merupakan . h. Juga tidak untuk mendoronng manusia agar meninggalkan kegiatan duniawi. besar ataupun kecil. Translation and Commentary. agar ia menjadi manusia sejati. 1972. dan tempat tinggal). saudara.orang tua. karena al-Qur'an sarat dengan ajaran tentang kewajiban memelihara cinta kasih di antara keluarga. dan menantu perempuan melawan mertua perempuannya" (Matius 10:35). Nabi Isa al-Masih. Sang Kebenaran. Brentwood. baik untuk gengsi mau pun kesenangan. kerabat dan umat manusia pada umumnya. New Haven. Yusuf Ali dalam menafsirkan firman ini. "TANYALAH JALAN" (SAL SABIL-AN) Setelah proses pembebasan. biarpun harus mengorbankan itu semua. orang harus memutuskan hubungan kekeluargaan yang bersifat membelenggu. maka tunggulah sampai saat Allah melaksanakan keputusan-Nya Allah tidak akan memberi petunjuk kepada mereka yang bersemangat jahat". Dalam melakukan pendekatan psikoanalitis terhadap agama dan gejala keagamaan. (Erich Fromm. 445. Dan yang kedua juga tidak benar karena al-Qur'an mengajarkan pandangan yang optimis-positif kepada kehidupan. "Tiada Tuhan. h. Conn. suami atau isteri. Sebab seperti dikatakan A. Hati manusia terikat kepada (1) sanak-kadangnya sendiri. suatu hal yang manusia dipesan jangan sampai melupakannya. 1983. (3) perdagangan atau cara-cara memperoleh keuntungan dan penghasilan. Jika semuanya ini menjadi halangan dalam jalan Allah. baik sosio-kultural (orang tua." Tetapi pembebasan dari belenggu-belenggu sosio-kultural dan sosio ekonomi hanyalah separuh jalan menuju kepada kebahagiaan sejati.perjuangan di jalan-Nya. bahwa jalan menuju Kebenaran. keluarga dan masyarakat) mau pun sosio-ekonomi dan fisik (pekerjaan. yaitu "jalan Allah" (sabil al-Lah) dapat ditempuh baru setelah seseorang mampu membebaskan diri dari belenggu lingkungannya. Kita harus mencintai Allah. catatan 1272). Text. Serupa dengan makna firman Allah itu. separoh lagi jalan yang harus ditempuh ialah yang dilambangkan dalam pernyataan tekad untuk tunduk pada Sang Kebenaran itu sendiri. dan menjadi bebas sepenuhnya. Begitulah contoh implikasi proses pembebasan diri yang diterangkan dalam Kitab Suci. kedudukan. Erich Fromm mengatakan bahwa dengan pernyataannya itu Nabi Isa tidak bermaksud mengajarkan kebencian pada orang tua. (QS. Yusuf Ali. The Holy Qur'an. Maryland: Amana Corp. al-Tawbah/9:24) Firman Allah ini tidaklah dipahami bahwa Nabi D4uhammad datang untuk membawa pertentangan dalam keluarga. (A. yang proses pembebasan itu merupakan konsistensi pernyataan negatif atau al-nafy pada bagian pertama kalimat syahadat.

Maka dalam perjalanan menempuh jalan yang lurus itu justru kita harus terus menerus bertanya dan bertanya. Dan kalau shalat itu disebutkan dalam al-Qur'an sebagai kewajiban atas kaum beriman dengan dikaitkan pada pembagian waktu selama sehari-semalaman (pagi. Inilah makna penegasan Nabi bahwa barangsiapa berusaha dengan sungguh-sungguh. lurus ke arah (sekali lagi ke arah) Kebenaran Mutlak. Tapi justru karena kemutlakanNya. Telah dikemukakan bahwa ketundukan kepada Allah Sang Kebenaran Mutlak. Jalan Allah yang harus ditempuh melalui ketiga fase itu juga disebut "jalan lurus" (al-shirath al-mustaqim). akan menyesatkan kita dari Kebenaran. dan wujud nyata usaha tersebut pada pribadi yang bersangkutan ialah adanya kualitas "kesungguhan dalam berusaha" (dinyatakan dalam kata-kata Arab juha -usaha penuh kesungguhan). sehingga melahirkan sikap hidup jihad (dalam dimensinya yang lebih fisik). masih akan memberi kebahagiaan. Seorang yang memang tunduk patuh kepada Allah (muslim) akan terus menerus memohon petunjuk jalan yang lurus itu. sebab perhentian berarti menyalahi seluruh prinsip tentang Kebenaran Mutlak. "kecuali Allah". apa selanjutnya? Apakah tak ada kemungkinan sama sekali bahwa jalan yang telah kita tempuh apalagi yang masih akan kita tempuh. yang toh tidak akan kita sadari pada saat mengalaminya sendiri. karena tidak lurus lagi? Siapa Tahu? Pertanyaan dan penanyaan itu adalah eksistensial dan esensial sekali dalam mencari. artinya. dan mujahadah (dalam dimensinya yang lebih spiritual). adalah ketundukan yang dinamis. yaitu fitrah kita dalam hati nurani (nurani. dan yang ketiga oleh kaum sufi dan ahli 'Irfan. Pertanyaan dan penanyaan itulah yang mendasari ketulusan hati dalam permohonan kepada Tuhan. Usaha terus-menerus mencari Kebenaran itu disebut berjalan menempuh "Jalan Allah" (sabil al-Lah). lalu ia menempuh jalan yang (ternyata) benar. artinya ketundukan dalam wujud usaha tak kenal henti secara tulus "mencari"' "mendekat" (taqarrub). karena jalan itu membentang langsung antara diri kita yang paling suci. al-Fatihah/1:6). Inilah Islam yaitu ketundukan kepada Yang Maha Benar (al-Haqq). sebagai sumber kesadaran akan kebenaran)." baik secara sendirian maupun bersama orang lain. Tunjukkanlah kami jalan yang lurus (QS. meskipun tidak sepenuhnya. yang kedua oleh para pemikir baik dalam bidang fiqh maupun Kalam. tak boleh dipastikan sebagai mutlak lurus. bersifat terang. kemudian "diaminkan. Justru amat berharga dalam menempuh jalan itu semangat mencari dan berusaha yang sungguh-sungguh. siang. dan jika (ternyata) keliru. yaitu jihad. dan akhirnya "bertemu" (liqa) dengan Kebenaran. maka salah satu "pesan" yang dikandungnya ialah agar kita bertanya tentang jalan yang lurus itu setiap saat. Ini berarti bahwa jalan yang telah kita tempuh.konsistensi pertanyaan afirmatif atau al-itsbat pada bagian kedua kalimat syahadat. al-Nisa 4:103). maka ia masih mendapatkan satu . dalam menempuh jalan lurus itu kita tidak boleh berhenti. maka Sang Kebenaran itu sungguh mutlak dan tak akan terjangkau. sore. mendekat dan bertemu dengan Kebenaran. Dalam kesungguhan mencari dan menemukan jalan itu kita tidak perlu takut membuat kekeliruan. ijtihad dan mujahadah tersebut tadi. karena kekeliruan pun. Yang pertama banyak ditempuh oleh ahli perang dan para pahlawan. asalkan tak disengaja. ijtihad (dalam dimensinya yang lebih intelektual). terutama dalam setiap kali shalat. tanpa henti-hentinya. juga yang akan kita tempuh. Akibatnya. ia akan mendapatkan pahala ganda. saat terbenam matahari dan malam) (QS.

sangat berlawanan dengan perasaan umum bahwa mistisisme adalah suatu jenis pengalaman keagamaan yang tidak rasional. As Albert Schweitzer has put it: "Rational thinking which is free from assumptions ends in mysticism. catatan 17). alegori atau makna kiasan yang sungguh indah. telah kita bicarakan. The Message of the Qur'an. yang dapat dibagi menjadi dua komponen.pahala (sebuah Hadist terkenal). Jika dalam konteks duniawi berpikir selalu menuntut adanya pra-asumsi atau premis. pra-asumsi dan premis justru harus dilepaskan. Tapi. berpikir dalam konteks kesufian tidaklah berarti tiadanya rasionalitas. metodologi itu mengharuskan adanya proses pengosongan diri dari anggapan-anggapan. Al-Qur'an melukiskan bahwa dalam surga. it represents". asumsi-asumsi dan klaim-klaim tentang pengetahuan yang benar.. Kata Erich Fromm: I should like to note that. maka dalam konteks pencarian Kebenaran sejati itu. al-Insan/76:17-18) Menafsirkan metafor dalam firman ini. A." (Erich Fromm. para penghuninya akan diberi minum yang sejuk dan amat menyegarkan yang airnya diambil dari mata air yang bernama "salsabil-an" atau "sal sabil-an. sebagaimana dikutip Zamakhsyari dan Razi. Yusuf Ali. menerangkan kata-kata salsabil-an jelas merupakan kata majemuk itu. 90. Muhammad Asad mengatakan bahwa begitulah Ali ibn Abi Thalib. mencari dan menemukan jalan ke arah Kebenaran itu sendiri. Kembali kepada metodologi takhalli di kalangan kaum Sufi. the higgest development of rationality in religious thinking. h. ia justru mengetengahkan perkembangan tertinggi rasionalitas dalam pemikiran keagamaan. "salsabil-an" ("tanyalah [atau "carilah"] jalan"): yakni. h. Seperti dinyatakan oleh Albert Schweitzer: "Pemikiran rasional . meskipun tanpa ada pra-asumsi atau premis. Dan Yusuf Ali menafsirkan firman itu dengan mengatakan bahwa mata air salsabil (-an) ini membawa kita kepada ide metaforis yang lain. Mereka (yang bahagia) di sana disajikan minuman dalam piala yang ramuannya ialah zanjabil. yaitu dalam tempat dan lingkungan pengalaman kebahagiaan sejati. ibid." Sebuah metafor. quite in contrast to a populer sentiment that mysticism is an irrational type of religious experience. Kenyataan bahwa al-Qur'an senantiasa menyerukan penggunaan akal untuk mencari dan menerima Kebenaran menunjukkan bahwa antara rasio dan pengalaman keagamaan tidaklah terdapat pertentangan. (QS. catatan 9). "Carilah Jalan". (Saya harus memberi catatan bahwa. catatan 5850).. 917. (Lihat. karena perkataan Arab sal sabil-a itu tidak lain arti harfiahnya ialah "tanyalah jalan". (Lihat. dari mata air yang ada. yang disebut salsabil. h. Justru tasawuf sebagai bidang yang menggarap segi esoterik keagamaan. sudah merupakan sumber mata air pengalaman kebahagiaan yang tinggi. Sesungguhnya dalam Al-Qur'an dilukiskan bahwa berusaha secara dinamis. The Holy Qur'an. "carilah jalanmu ke surga dengan cara melakukan perbuatan baik". Jalan itu sekarang terbuka menuju Hadirat Yang Maha Tinggi. Perkataan itu secara harfiah berarti. adalah suatu bentuk perkembangan rasionalitas yang tertinggi. agar supaya dalam menempuh jalan lurus mencari Kebenaran itu terjadi kemurnian sejati (ikhlash). 1658. Muhammad Asad.

(bersambung 4/4) Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah Editor: Budhy Munawar-Rachman Penerbit Yayasan Paramadina Jln. Apalagi ada firman Allah "Tidak ada yang Kami lewatkan dalam Kitab ini sedikit pun.yang bebas dari asumsi-asumsi berakhir dalam mistisisme"). DARI SUNNAH KE HADITS ATAU SEBALIKNYA (1/3) oleh Jalaluddin Rakhmat Pada waktu Nabi saw sakit keras." Umar berkata. sehingga tidak perlu dipatuhi? Ataukah ia menyesalkan ucapan Umar bahwa al-Qur'an saja sudah cukup. Metro Pondok Indah Pondok Indah Plaza I Kav. Umar mengatakan Nabi saw. "Sesungguhnya Umar berpendapat seperti itu. Kata al-Qurthubi. tentu tak . "Cukuplah Kitab Allah bagi kita. Apakah ia menyesalkan pertikaian sahabat di hadapan Nabi saw." Kata al-Khithabi. Mereka tidak ingin membebani Nabi saw dengan sesuatu yang memberatkannya dalam keadaan (sakit) seperti itu. murka kepada mereka? Ataukah ia menyesalkan ucapan Umar yang menuduh perintah Nabi saw itu dilakukan tidak sadar (Dalam riwayat lain. (021) 7501969. beliau bersabda. Tapi Umar beserta kelompok sahabat lainnya melihat perintah itu bukan wajib. "Memang yang diperintah harus segera menjalankan perintah. yang sedang udzur." dan al-Qur'an itu menjelaskan segala sesuatu. Karena itu Umar berkata. "Enyahlah kalian dari sini. -------------------------------------------. UA 20-21 Jakarta Selatan Telp." Orang-orang pun bertikai dan ramailah pembicaraan. Nabi saw berkata. mengigau!). untuk menuliskan wasiatnya. menetapkan sesuatu yang menghilangkan ikhtilaf (di kalangan kaum muslim). Pada kita ada kitab Allah itu cukup buat kita. tidak perlu lagi ada petunjuk Rasulullah saw di luar itu? Ibnu Abbas sebagai ulama salaf boleh menyesalkan peristiwa itu. "Sakit keras menguasai diri. 7507173 Fax. Tidak pantas bertikai di hadapanku. Mereka bahkan memuji kebijakan Umar. Kita tidak tahu mengapa Ibnu Abbas menyebutkan sebagai tragedi. "Bawa kepadaku Kitab agar kalian tidak akan sesat sesudahku. hanya pengarahan pada cara yang terbaik. sehingga Ibnu Abbas yang meriwayatkan hadits di atas menyebutkannya sebagai tragedi hari Kamis. karena sekiranya Nabi saw. (021) 7507174 Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota Please direct any suggestion to Media Team Ilmu tradisional Artikel Yayasan Paramadina Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota III. sehingga Nabi saw." Peristiwa ini konon terjadi pada hari Kamis. "Alangkah tragisnya kejadian yang menghalangi Nabi saw.20." kata Ibnu Abbas. 7501983. yang mempunyai pandangan jauh ke depan. tapi para ulama salaf tidak.

"Bawa hadits-hadits itu kepadaku. sehingga kalian bertengkar. mula-mula umat Islam merujuk kepada sunnah. juga sebagian besar tokoh tabi'un seperti Sa'id ibn Jubair. Sa'id bin Abu 'Urwah di Basrah. kelak orang-orang munafik akan mencari jalan untuk mengecam apa yang dituliskan itu." Kemenakan Aisyah. Setelah hadits-hadits itu terkumpul. al-Hasan bin Abu al-Hasan. Janganlah kalian meriwayatkan hadits sedikit pun dari Rasulullah saw. mengisahkan satu peristiwa ketika Abu Bakar mengumpulkan orang banyak setelah Nabi saw wafat. ketika menulis biografi Abu Bakar. Selama rentang waktu yang cukup panjang itu. Nanti orang-orang sesudah kalian akan lebih keras lagi bertikai. kita harus kembali lagi kepada sunnah. Al-Dzahabi. Suatu pagi beliau datang kepadaku dan berkata. Al-Awza'i di Syria. Tidak heran bila sebagian besar sahabat. Situasi seperti ini berlangsung sampai paruh terakhir abad kedua Hijrah." Abu Bakar dan Umar adalah dua khalifah pertama yang termasuk al-Khulafa' al-Rasyidun. Bila ada orang yang meminta kalian (meriwayatkan hadits). Kemudian beliau memerintahkannya untuk dikumpulkan." telah memulai problematika sunnah atau hadits yang berada di luar al-Qur'an. tapi sesudah itu mereka melihat hadits. katakan di antara kita dan Anda ada Kitab Allah. halalkan apa yang dihalalkannya dan haramkan apa yang diharamkannya. "Umar kuatir sekiranya Nabi saw. berkata. "Ayahku telah menghimpun 500 hadits dari Nabi. . "Hadits-hadits makin bertambah banyak pada zaman Umar. ketika beberapa orang mulai merintis pengumpulan dan penulisan hadits.. Sa'id bin Musayyab tidak mau menuliskan hadits. menuliskan dalam keadaan sakit.. al-Nakha'i. kepada apa Umar merujuk selain al-Qur'an? Ketika mereka ingin mengetahui cara-cara shalat yang tidak diuraikan al-Qur'an atau menghadapi masalah-masalah baru yang timbul dalam perkembangan Islam. dan karena itu tidak mengikat? Sikap Umar terhadap hadist adalah sikap Abu Bakar juga. Saya melihat perkembangan sebaliknya: dari hadits ke sunnah. menegaskan sikap mereka dengan tindakan. Sekarang. Betulkah al-Qur'an saja sudah cukup? Atau bisakah kita menyimpulkan bahwa hanya al-Qur'an sajalah karya ilahi. Aisyah bercerita. Mu'ammar di Yaman. Qasim ibn Muhammad ibn Abi Bakar. apa yang mereka jadikan acuan? Fazlur Rahman menjawab. "Kitab Allah . Untuk membuka pintu ijtihad. Mereka adalah Ibnu Jurayj di Makkah. kita harus mulai dari peninjauan ulang kepada kedua konsep itu. Saya pun membawakan untukmu. dan Sofyan al-Tsawry di Kufah. sedangkan sunnah atau hadits adalah produk pemikiran manusia." Apapun komentar para ulama. dalam rangka membuka pintu ijtihad.. Abu Bakar berkata: "Kamu sekalian meriwayatkan hadits-hadits dari Rasulullah saw. perkataan Umar. Malik di Madinah." Baik Abu Bakar maupun Umar.ada gunanya lagi ulama dan ijtihad pun tidak perlu lagi. sembari berkata: Tidak boleh ada matsnat seperti matsnat Ahli Kitab. Umar meletakkannya di atas bara api. meninggalkan hadits-hadits itu kepadamu. Mereka melarang periwayatan hadits dengan keras." Kata Ibn al-Jawzi." Ia lalu membakarnya dan berkata: Aku takut setelah aku mati.

berkembang sunnah yang umumnya disepakati para ulama di daerah tersebut. sejak awal sejarah Islam hingga masa kini. TELADAN NABI SAW | PRAKTEK PARA SAHABAT | PENAFSIRAN INDIVIDUAL | OPINIO GENERALIS | OPINIO PUBLICA (SUNNAH) | FORMALISASI SUNNAH (HADITS) Jadi. dan yang terakhir sekali (6) Bahwa setelah gerakan pemurnian Hadits yang besar-besaran. sebagai teladan. Dalam "free market of ideas. ijtihad. Ketika gerakan hadits muncul pada Abad 3 Hijrah. sama luasnya dengan ijma' yang pada dasarnya merupakan sebuah proses yang semakin meluas secara terus-menerus. berkembang secara demokratis sunnah yang disepakati (amr al-majtama' 'alaih). dan Persia. Ketika timbul gerakan hadits pada paruh kedua Abad 2 Hijrah. Setelah Nabi saw. Sayangnya. dinisbahkan kepada Nabi saw. ada sunnah Kuffah. wafat." Fazlur Rahman menegaskan: mengkoreksi pandangan orientalis ini dengan Sekarang kami akan menunjukkan (1) Bahwa sementara kisah perkembangan Sunnah di atas hanya benar sehubungan dengan kandungannya. Sebagian lagi hanyalah interpretasi para ahli hukum Islam terhadap sunnah yang ada. hubungan organis di antara sunnah. pada daerah kekuasaan kaum muslim. sunnah adalah praktek kaum muslim pada zaman awal. Sebagian kandungan sunnah berasal dari kebiasaan Jahiliyah (pra-Islam) yang dilestarikan dalam Islam. formalisasi sunnah ke dalam hadits ini. Hadits adalah verbalisasi sunnah. dan disebut "Sunnah Nabi. telah memasung proses kreatif sunnah dan menjerat para ulama Islam pada rumus-rumus yang kaku. Secara berangsur-angsur. berkembanglah penafsiran individual terhadap teladan Nabi itu. di tambah unsur-unsur yang berasal dari kebudayaan Yahudi. . menurut Fazlur Rahman. Boleh jadi sebagian sahabat memandang perilaku tertentu sebagai sunnah. Kuffah. Mereka berusaha mempraktekkannya dalam kehidupan sehari-hari. tapi sahabat yang lain. Karena itu. seluruh sunnah yang ada. (4) Bahwa sunnah dalam pengertian terakhir ini. para sahabat memperhatikan perilaku Nabi saw. Ada sunnah Madinah. tidak menganggapnya sunnah. (2) Bahwa kandungan sunnah yang bersumber dari Nabi tidak banyak jumlahnya dan tidak dimaksudkan bersifat spesifik secara mutlak. tapi tidak benar sehubungan dengan konsepnya yang menyatakan sunnah Nabi tetap merupakan konsep yang memiliki validitas dan operatif." pada daerah tertentu seperti Madinah. (3) Bahwa konsep sunnah sesudah Nabi wafat tidak hanya mencakup sunnah Nabi tapi juga penafsiran-penafsiran terhadap sunnah Nabi tersebut. dan ijma' menjadi rusak. sunnah tidak lain daripada opinio publica. diekspresikan dalam hadits. Sunnah yang sudah disepakati kebanyakan orang ini. Romawi.DARI SUNNAH KE HADITS Beberapa orang orientalis berpendapat.

menegaskan. DARI HADITS KE SUNNAH Sepakat dengan Fazlur Rahman. perilakunya itu sunnah yang harus diikuti." Dalam hal haji. hadits adalah pembakuan yang kaku. Siapa yang berpaling dari sunnahku ia tidak termasuk golonganku. Secara lebih tepat hadits adalah komentar yang monumental mengenai Nabi oleh umat muslim di masa lampau. Kemudian." Sesekali Nabi saw. saya berpendapat bahwa yang pertama kali beredar di kalangan kaum muslim adalah . mereka merumuskan sunnah itu dalam bentuk verbal. saya juga berpendapat bahwa perilaku Nabi saw. (021) 7501969. berulangkali menyuruh sahabat menirunya. 7507173 Fax. UA 20-21 Jakarta Selatan Telp.-------------------------------------------. Metro Pondok Indah Pondok Indah Plaza I Kav. (021) 7507174 Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota Please direct any suggestion to Media Team Artikel Yayasan Paramadina Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota III. ijma' (yang merupakan opinio publica) dan ijtihad (yang merupakan proses interpretasi umat terhadap ajaran Islam) menjadi tersisihkan. Inilah yang disebut hadits. DARI SUNNAH KE HADITS ATAU SEBALIKNYA (2/3) oleh Jalaluddin Rakhmat Mungkin banyak ulama akan tercengang membaca pandangan Fazlur Rahman tentang hadits. "Shalatlah kalian seperti kalian melihat aku shalat. selama hidupnya terus-menerus menjadi perhatian para sahabat. berlawanan dengan tesis Fazlur Rahman.(bersambung 2/3) Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah Editor: Budhy Munawar-Rachman Penerbit Yayasan Paramadina Jln. oleh kaum muslimin sendiri." Namun. ia berkata "Ambillah dari aku manasik kalian. "Nikah itu sunnahku. seperti saya kutip di bawah ini: Berulang kali telah kami katakan --mungkin sampai membosankan sebagian pembaca-. Mereka dengan kadar yang bermacam-macam berusaha membentuk tingkah lakunya sesuai dengan Nabi saw. Bila sunnah adalah proses kreatif yang terus menerus. Hadits adalah keseluruhan aphorisme yang diformulasikan dan dikemukakan seolah-olah dari Nabi. Dalam hal shalat. mereka menisbatkan sunnah itu kepada Nabi saw. Nabi saw. Walhasil.20. berkata. Sifatnya yang aphoristik menunjukkan bahwa hadits tersebut tidak bersifat historis.bahwa walaupun landasannya yang utama adalah teladan Nabi. Ketika gerakan hadits unggul. hadits merupakan hasil karya dari generasi-generasi muslim. 7501983. setelah kaum muslim awal secara berangsur-angsur sepakat menerima sunnah. walaupun secara historis tidak terlepas dari Nabi. Nabi saw.

Sebagian orang menuding Umarlah yang bertanggung jawab atas kejadian ini." Ketiga. sunnah akan tercatat tidak lebih dari satu rantai saja (dalam penyampaian) antara Nabi saw dan umat sesudahnya. kita melihat 'Aisyah juga menyimpan catatan-catatan hadits (mungkin ditulis Abu Bakar). maka redaksi hadits berkembang sesuai dengan penafsiran orang yang meriwayatkannya. "Ketika hadits-hadits Nabi saw. Sebuah ra'yu menjadi dominan boleh jadi karena proses kreatif dan adanya demokrasi. Seandainya para sahabat menuliskan apa-apa yang pernah didengarnya dari Rasulullah saw. Abu al-Abbas al-Hanbaly menulis. karena para sahabat meminta izin untuk menulis hadits tapi Umar mencegahnya. Urwah bin Zubayr pernah berkata. hilangnya sejumlah besar hadits. redaksinya dapat berubah-ubah. lahirlah akibat yang kelima. Dalam pasar ra'yu yang "bebas" (dalam kenyataannya. Pertama. tidak adanya rujukan tertulis menyebabkan banyak orang secara bebas membuat hadits untuk kepentingan politis. menurut Rasm Ja'farian. "Dulu aku menulis sejumlah besar hadits. Banyak riwayat menunjukkan perhatian para sahabat untuk menghapal ucapan-ucapan Nabi atau menyampaikan apa yang dilakukan Nabi saw. Misalnya Ali. telah mengakibatkan hal-hal yang merugikan umat Islam. Tidak mungkin kita memberi contoh-contohnya secara terperinci disini. Umar sendiri pernah mengumpulkan catatan-catatan hadits yang berserakan dan membakarnya. yang mengandalkan ra'yu. pengaruh kedua sahabat besar ini terasa sampai lebih dari satu abad. ketika menyampaian hadits itu mereka hanya menyampaikan maknanya. "Salah satu penyebab timbulnya perbedaan pendapat di antara para ulama adalah hadits-hadits dan teks-teks yang kontradiktif. masalah penafsiran. tidak dituliskan dan para sahabat tidak berupaya . terjadilah perbedaan pendapat. Yang jelas. pasar gagasan umumnya tidak bebas) sebagian ra'yu menjadi dominan. seperti diriwayatkan Bukhari. Keempat. menurut Fazlur Rahman. Keengganan mencatat hadits. Aku bersedia memberikan seluruh anakku dan hartaku untuk memperolehnya kembali. Ra'yu dominan inilah. Karena orang hanya menerima hadits secara lisan. boleh jadi juga karena dipaksakan penguasa. Karena sejumlah hadits hilang. yang menghimpun keputusan-keputusan hukum yang pernah dibuat Rasulullah saw. Dalam peristiwa-peristiwa yang disebutkan dalam pengantar di atas. terbukanya peluang pada pemalsuan hadits. Dalam semua kejadian ini. Sekarang aku berpikir. atau sosiologis. Abu Rayyah menulis. Ada di antara mereka yang menuliskannya. Abdullah bin Amr bin Ash juga dilaporkan rajin mencatat apa yang didengarnya dari Nabi. orang-orang mencari petunjuk dari ra'yu-nya. Kita tidak akan mengupas mengapa dua khalifah pertama mengadakan gerakan "penghilangan" hadits. kemudian menjadi sunnah.hadits. kemudian aku hapuskan semuanya." Kedua. Dalam rangkaian periwayatan. dominasi ra'yu sangat ditopang oleh hilangnya catatan-catatan tertulis. Bersamaan dengan perbedaan pendapat ini. mempunyai mushaf di luar al-Qur'an. ekonomi. periwayatan dengan makna. alangkah baiknya kalau aku tidak menghancurkan hadits-hadist itu. Karena makna adalah masalah persepsi. Untuk memperparah keadaan.

kepada Marwan dan menyamarkan ucapan Abd-u 'l Rahman. dalam bentuk tertulis. Ia berkata. Sunnah pada gilirannya kelihatan sebagai produk para ahli hukum Islam: yang kemudian dinisbahkan kepada Nabi saw. Abd-u 'l-Rahman ibn Abu Bakar berkata. telah melaknat ayahmu ketika kamu masih berada di sulbinya. Marwan melanjutkan khotbahnya. pintu periwayatan hadits palsu terbuka baik untuk orang taat maupun orang sesat. terutama. Ketika hadits-hadits dihidupkan kembali. Tapi Rasulullah saw. Bila saya mendaftar kesulitan yang disebut terakhir. "Sesungguhuya Allah ta'ala telah memperlihatkan kepada Amir-u 'l-Mu'minin yakni Muawiyah pandangan yang baik tentang Yazid. Ia membuang laknat Rasulullah saw. daripada pada teks.mengumpulkannya. bukanlah ayat itu turun untuk dia. Tafsir Ibn Katsir 4:159. hilangnya catatan-catatan hadits telah menimbulkan dominasi ra'yu. Panjangnya rangkaian periwayatan hadits telah memungkinkan orang-orang menambahkan kesimpulan dan pendapatnya pada hadits-hadits. Sesungguhnya kamu adalah tetesan dari laknat Allah." Ucapan itu sampai kepada Aisyah. Jadi. yang kemudian disebut sunnah. "Ini sunnah Heraklius dan Kaisar. Demi Allah. orang berusaha menghambat periwayatan hadits. bila Fazlur Rahman sampai kepada kesimpulan." Hadits ini diriwayatkan al-Nasa'i. Bila aku mau. Jadi ia ingin melanjutkan sunnah Abubakar dan Umar. MENCARI DEFINISI HADITS DAN SUNNAH Pada suatu hari Marwan bin Hakam berkhotbah di Masjid Madinah. Abubakar tidak pernah menunjuk salah seorang anaknya atau salah seorang keluarganya untuk menjadi khalifah. aku dapat menyebutkan kepada siapa ayat ini turun. Waktu itu ia menjadi Gubernur Madinah yang ditunjuk oleh Mu'awiyah. Ia berkata. Ia berkhotbah dan menyebut Yazid ibn Muawiyah supaya ia dibaiat . Tidak mengherankan. Tafsir al-Qurthubi 16:197. Kemudian. saya hanya ingin mengajak pembaca merekonstruksi kembali pandangannya tentang hadits dan sunnah. hadits adalah produk pemikiran kaum muslim awal untuk memformulasikan sunnah. mula-mula muncul hadits. Ibn Mundzir." Marwan marah dan menyuruh agar Abd-u 'l-Rahman ditangkap. Tidak lain Muawiyah hanya ingin memberikan kasih-sayang dan kehormatan kepada anaknya. Tafsir al-dur al-Mansur 6:41 dan kitab-kitab tafsir lainnya). al-Hakim dan al-Hakim menshahihkannya (lihat Mustadrak al-Hakim 4:481. kesulitan menguji hadits menjadi sangat besar. Abd-u 'l-Rahman lari ke kamar saudaranya. "Tentang orang inilah turun ayat yang berkata pada orang tuanya 'cis' bagimu berdua. yang lebih merujuk pada tema perilaku yang hidup di tengah-tengah masyarakat. Tafsir Al-Fakhr al-Razi 7:491. Bukhari meriwayatkan hadits ini dengan singkat. Marwan berdusta. Marwan di Hijaz sebagai gubernur yang diangkat Muawiyah. Kesulitan bahkan muncul ketika kita mendefinisikan hadits dan sunnah. Timbullah sunnah. melalui kegiatan para pengumpul hadits. Demi Allah. Aisyah Ummu 'l-Mukminin. yang meriwayatkan apa saja yang mereka inginkan tanpa takut kepada siapapun. Ia ingin menunjuk orang sebagai khalifah. "Marwan berdusta. Ulum al-Hadits mungkin membantu kita mengatasi kesulitan ini dengan menambah kesulitan baru. Inilah riwayat Bukhari." Pendeknya. anaknya.

hadits No. karena ayat itu turun berkenaan dengan orang lain. Metro Pondok Indah Pondok Indah Plaza I Kav. Yang pertama menyebutkan. Sekedar memperjelas persoalan di sini. taqrir. 117 menceritakan tangkisan Abu Hurairah kepada orang-orang yang menyatakan Abu Hurairah terlalu banyak meriwayatkan hadits. DARI SUNNAH KE HADITS ATAU SEBALIKNYA (3/3) oleh Jalaluddin Rakhmat KERANCUAN PENGERTIAN HADITS Riwayat di atas disebut "hadits" padahal yang diceritakan adalah perilaku para sahabat. perbuatan. Ia menjelaskan bahwa ia tidak disibukkan .(bersambung 3/3) Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah Editor: Budhy Munawar-Rachman Penerbit Yayasan Paramadina Jln. halaman 26). Yang kedua menegaskan bahwa yang pertama berdusta. Riwayat di atas tidak menceritakan hal ihwal Nabi saw. dikutipkan beberapa saja diantaranya. tetapi "perang hadits" antara dua orang sahabat --Marwan ibn Hakam dan 'Aisyah. Bila kita membuka kitab-kitab hadits." Ia masuk ke rumah Aisyah dan mereka tidak berhasil menangkapnya Kemudian Marwan berkata. "Sesungguhnya dia inilah yang tentang dia Allah menurunkan ayat-ayat dan orang yang berkata kepada kedua orang tuanya 'cis' bagimu berdua. (021) 7501969. ia bercerita tentang perilaku para sahabatnya.sesudah bapakuya. 4826 dalam hitungan Ibnu Hajar al-Asqalani (lihat Fath al-Bari 8:576). 7501983. apakah kalian menjanjikan padaku dan seterusnya. -------------------------------------------. Nurrudin Atar. berbuatan atau taqrir Nabi saw. (021) 7507174 Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota Please direct any suggestion to Media Team Artikel Yayasan Paramadina Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota III. Aisyah berkata dari balik hijab: Allah tidak menurunkan ayat apapun tentang kami kecuali Allah menurunkan ayat untuk membersihkanku. berupa ucapan. Hadits ini adalah hadits No. 7507173 Fax. asbab al-nuzul ayat al-Ahqaf itu berkenaan dengan 'Abd-u 'l-Rahman ibn Abu Bakar. Manhaj al-Naqd fi Ulum al-Hadits. 'Aisyah malah menegaskan dengan hadits yang menyatakan bahwa Marwan adalah orang yang dilaknat Allah dan Rasul-Nya. UA 20-21 Jakarta Selatan Telp. Para ahli ilmu hadits mendefinisikan hadits sebagai "apa saja yang disandarkan (dinisbahkan) kepada Nabi saw.20. tidak berkenaan dengan ucapan. Pada Shahih Bukhari. Ia berkata. Maka Abdurrahman mengatakan sesuatu. Yang menarik kita bukanlah apa yang dibuang Bukhari. atau sifat-sifat atau akhlak (Lihat Dr. "Tangkaplah dia. segera kita menemukan banyak riwayat di dalamnya.

Atar. bertambah dan berkurang. dan sesungguhnya al-Qur'an itu adalah al-Qur'an ini. ia berkhotbah kepada orang banyak: Sesungguhnya Rasulullah saw. perbuatan. dan menghapal hadits yang tidak dihapal orang lain. Salah satu contohnya adalah hadits yang sering disampaikan kaum modernis untuk menolak tradisi slametan ("tahlilan") pada kematian. Mungkin bagi banyak orang. atau sifat fisik atau akhlak dan apa saja yang dinisbahkan kepada para sahabat. Demikian pula. Ketika Umar berkuasa. Ibnu Hajar dalam pengantarnya pada Syarh al-Bukhari menyebutkan secara terperinci hadits-hadits mawquf dalam Shahih Bukhari. Dalam Shahih Bukhari.dengan urusan ekonomi. definisi hadits yang paling tepat ialah "apa saja yang disandarkan (dinisbahkan) kepada Nabi saw." Sampai di sini kita bertanya apakah kita sepakat dengan definisi Dr. (lihat Nayl al-Awthar 4:148). perbuatan. Atar. karena bukan hadits bila tidak berkenaan dengan Nabi saw. berupa ucapan. Hadits itu berbunyi. Kembali kepada Rasulullah saw. Akhirnya. berupa ucapan. menghadiri majelis yang tidak dihadiri yang lain." Hadits ini merupakan ucapan 'Abd-u l-Lah al-Bajali. perbuatan atau taqrir Nabi saw. Dan pada zaman Abu Bakar ra. seperti sahabat-sahabat Anshar dan Muhajirin. Ada dua muth'ah yang ada pada zaman Rasulullah saw. atau sifat fisik atau akhlak dan apa saja yang dinisbahkan kepada para sahabat dan tabi'in. didasarkan kepada hadits yang menceritakan perilaku orang Islam di zaman Utsman ibn 'Affan. Bila ya. disebut hadits maqthu. ini adalah ucapan para ulama di berbagai negeri (lihat Fath-u 'l-Bari 1:47). Ia selalu menyertai Nabi saw. Menurut Bukhari. Boleh jadi banyak amal yang kita lakukan selama ini ternyata bersumber pada "hadits" yang bukan hadits (menurut definisi yang pertama). bukan ucapan Bani saw. Adalah Rasul ini. riwayat tentang para sahabat masih dapat dianggap hadits. ada hadits yang berbunyi "Iman itu perkataan dan perbuatan. harus mengubah anggapan kita selama ini." Ini bukan sabda Nabi saw. kebiasaan melakukan adzan awal pada shalat Jum'at di kalangan ulama tradisional. Perhatikan Bukhari memasukkan sebagai salah satu kitab haditsnya. Hadits yang menceritakan sahabat disebut hadits mawquf (istilah yang didalamnya terdapat kontradiksi. misalnya. Ternyata hadits itu tidak semuanya berkenaan dengan Nabi saw. perhatikanlah hadits ini: Dari Jabir ra: Sesungguhnya Ibnu Zubair melarang muth'ah tetapi Ibn Abbas memerintahkannya. padahal riwayat ini tidak menyangkut ucapan. Ia berkata: Padaku ada hadits. "Kami menganggap berkumpul pada ahli mayit dan menyediakan makanan sesudah penguburannya termasuk meratap. Tetapi aku melarangnya dan akan menghukum pelakunya. sehingga definisi hadits sekarang ialah "apa saja yang disandarkan (dinisbahkan) kepada Nabi saw.). Untuk mengenyangkan perutnya. Riwayat tentang para tabi'in yakni ulama yang berguru kepada para sahabat. taqrir. Yang paling menyusahkan kita ternyata tidak semua hadits walaupun shahih meriwayatkan sunnah Rasulullah saw. Yang pertama muth'ah . taqrir. Ucapan "al-shalat-u khair-un min al-nawm" dalam adzan Shubuh adalah tambahan yang dilakukan atas perintah Umar ibn Khatab." Namun jangan terkejut kalau ahli hadits bahkan menyebut riwayat. Kami melakukan muth'ah pada zaman Rasulullah saw. Karena itu menurut Dr. para ulama di luar para sahabat juga sebagai hadits.

Jumhur ulama termasuk Imam Syafi'i dan Malik menetapkan pembalikan atau pemindahan serban itu sebagai sunnah. yang tidak jarang bertentangan dengan sunnah Rasulullah saw. Ahli ushul fiqh mendefinisikan sunnah sebagai "apa saja yang keluar dari Nabi saw. Dalam riwayat lain. perbuatan. perbuatan dan taqrir Nabi saw. dan taqrir." Tidak semua ulama setuju dengan pernyataan Ahmad. Manakah yang harus kita pegang: hadits taqrir Nabi saw. "Aku mendengar Rasulullah saw. Yang membiarkan sahabatnya melakukan muth'ah atau hadits larangan Umar? Umumnya kita memilih yang kedua. "Nabi saw. yang dllaporkan dalam hadits. KERANCUAN PENGERTIAN SUNNAH Para ahli hadits. Masalahnya sekarang: kapan perkataan. Selain al-Qur'an berupa ucapan. al-Sunnah Qabl al-Tadwin. Batuk tidak bernilai syar'i. Hadits ini diriwayatkan dalam Sunnah Baihaqi 7:206. Abdullah bin Zaid bercerita tentang istisqa Nabi saw. memindahkan serbannya. Mungkin saja buat sebagian di antara mereka.perempuan." dapatkah kita menetapkan perilaku Nabi saw. Itu hanya kebetulan saja dan tidak mempunyai implikasi hukum. Membalikkan serbannya. menyebut sunnah pada semua perilaku Nabi saw. "Aku melihatnya menggerakkan telunjuknya sambil berdoa?" Tidakkah anda menyimpulkan bahwa gerakan telunjuk itu sama dengan batuk --yang hanya secara kebetulan tidak mempunyai implikasi hukum. Kata Syafi' i. Dalam hadits itu sebagai sunnah? Anda berkata tidak. Itu tepat disebut sunnah? Seandainya seorang sahabat berkata. karena perbuatan Nabi saw. dalam hadits hanya ada tiga sunnah. Nabi saw. sehingga ujung serban sebelah kanan disimpan pada bahu sebelah kiri dan ujung serban sebelah kiri disimpan pada bahu sebelah kanan. sehingga bagian dalam serban itu di luar dan sebalik. Imam Ahmad pernah diriwayatkan berkata. dan banyak di antara kita. fi hadza 'l-hadits khams-u sunnah. tidak semua hadits mengandung sunnah. Hadits ini menceritakan khotbah sahabat Umar yang mengharamkan muth'ah yang dilakukan para sahabat sejak zaman Rasulullah saw. kita mengamalkan juga sunnah para sahabat. Bukankah Ibnu Zubair melihat "Nabi saw. h. dikeluarkan juga oleh Muslim dalam shahihnya. Yang kedua muth'ah haji (haji tamattu'). Tidak pernah memindahkan serban kecuali kalau berat. Pada waktu khotbah istisqa Nabi saw. Tetapi bagaimana pendapat anda bila Wail bin Hajar melaporkan apa yang disaksikannya ketika Nabi saw. menyamakan hadits dengan sunnah. memberi isyarat dengan telunjuknya tapi tidak mengerakkannya?" (Nayl al-Awthar 2:318). yang tepat untuk dijadikan dalil hukum syar'i" (Muhammad Ajjaj al Khathib. Imam Hanafi dan ." Jadi pemindahan dalam khotbah istisqa itu tentu mempunyai implikasi syar'i. Kerancuan definisi hadits ini membawa kita kepada ikhtilaf mengenai apa yang disebut sunnah. Walhasil. "Dalam hadits ini ada lima sunnah.16) Jadi menurut ulama ushul fiqh. termasuk para ulama yang menyamakan hadits dengan sunnah. duduk tasyahhud. Bila ada seorang laki-laki menikahi perempuan sampai waktu tertentu. Banyak orang. dengan memperluas definisi hadits sehingga juga memasukkan perilaku para sahabat dan tabi'in. Batuk tiga kali setelah takbirat-u 'l-ihram. aku aakan melemparinya dengan batu. Sampai ke zaman Abu Bakar ra.

dengan membuang ribuan hadits yang dianggap dha'if (lemah). harus mengacu pada teks-teks yang menjadi landasan ajaran Islam. Pemindahan itu hanya kebetulan saja. Sunnah adalah perumusan para ulama mengenai kandungan hadits. kita tidak bisa tidak harus merujuk pada hadits dan sunnah (tentu saja sesudah al-Qur'an). Definisi sunnah seperti disebutkan di atas. Bila para pembaru Islam terdahulu memulai kiprahnya dari kritik terhadap hadits dan sunnah (Ingat bagaimana Muhammadiyah dan PERSIS "men-dha'if-kan" hadits-hadits yang dipergunakan orang-orang NU). pada kenyataannya tidak lagi dipakai. ia duduk di hadapan Rasulullah saw. hukum. Pembaruan pemikiran Islam atau reaktualisasi ajaran Islam. Bahkan ketika merujuk pada al-Qur'an pun. Anda melihat bagaimana para ulama berbeda dalam mengambil sunnah hanya dari satu hadits saja. Siapa yang ingin melanjutkan tradisi Imam Bukhari dewasa ini? -------------------------------------------Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah Editor: Budhy Munawar-Rachman Penerbit Yayasan Paramadina Jln. Pernyataan Fazlur Rahman ini bagi kebanyakan orang sangat mengejutkan. Bukanlah selama ini yang kita anggap benar secara mutlak adalah al Qur'an dan sunnah? Patut dicatat bahwa kesimpulan Fazlur Rahman itu didasarkan pada sunnah dalam pengertian sunnah Rasulullah saw. Konon Imam Bukhari bermimpi. apakah yang sunnah itu pemindahan atau pembalikkan. maka yang disebut sunnah adalah pendapat umum. Fazlur Rahman dalam Membuka Pintu Ijtihad menegaskan adanya unsur penafsiran manusia dalam sunnah. Semua orang sepakat pentingnya hadits dan sunnah dalam merealisasikan ajaran Islam. Metro Pondok Indah Pondok Indah Plaza I Kav. nilai sunnah tentu saja tidak bersifat mutlak seperti al-Qur'an. Ketika terjadi perbedaan paham. Para ulama juga ikhtilaf untuk menetapkan apakah pemindahan serban itu berlaku bagi imam atau berlaku bagi jemaah juga. ekonomi. kemusykilan tentang sunnah makin bertambah. PENUTUP. sehingga pada awalnya sunnah sama dengan ijma'." Inilah yang mendorong Bukhari mengumpulkan hadits-hadits yang sahih saja. Ketika ia bertanya kepada orang-orang pandai apa arti mimpi itu. "Anda akan membersihkan hadits Nabi saw. Yang sering kita lupakan adalah bersikap kritis terhadap keduanya. dari kebohongan. bahkan sunnah para tabi'in.sebagian pengikut Maliki menetapkan bukan sunnah. mereka berkata. Sikap kritis ini seringkali dicurigai akan menghilangkan hadits atau sunnah. mengapa kita tidak mau melanjutkannya. kita menemukan juga adanya sunnah para sahabat. dan masyarakat. Karena sunnah adalah hasil penafsiran. budaya. Dengan latar belakang uraian tentang hadits sebelumnya. Bila sunnah sudah mencakup juga perilaku sahabat. Kita lupa bahwa kritik terhadap keduanya telah diteladankan kepada kita oleh para ulama terdahulu. Karena itu. dan di tangannya ada kipas untuk mengusir lalat agar tidak mengenai tubuh Nabi saw. UA 20-21 Jakarta Selatan . Ketika kita sedang giat melakukan islamisasi ilmu. kita harus melihat hadits.

Abu Dawud. "Dua Yang Sahih"). dan yang lengkapnya meliputi pula kitab-kitab koleksi oleh Ibn Majah. maka golongan ini menjadi sasaran kritik para ulama dan tokoh Islam. Tapi ingkar kepada hadits. 7501983. al-Turmudzi dan al-Nasa'i." Tapi sekarang ini sunnah memang tidak dapat dibedakan dari hadits. Sudah jelas. pada prinsipnya sikap ingkar pada sunnah tidak dapat dibenarkan. Oleh karena dampak masalah ini dalam usaha penetapan hukum (tasyri') sangat besar dan penting. Berdasarkan sabda Nabi tentang Kitab dan sunnah di atas. Sebab yang disebutkan sebagai sumber kedua sesudah Kitab Suci al-Qur'an ialah sunnah.) yang menghasilkan kitab hadits al-Muwaththa'. PERGESERAN PENGERTIAN "SUNNAH" KE "HADITS" (1/3) IMPLIKASINYA DALAM PENGEMBANGAN SYARI'AH oleh Nurcholish Madjid Dalam masyarakat Islam di beberapa negara terdapat kelompok-kelompok yang meragukan otoritas hadits sebagai sumber kedua penetapan hukum Islam. Yang paling terkenal di antaranya ialah dua kitab koleksi oleh al-Bukhari dan Muslim (disebut al-Shahihayn. (021) 7507174 Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota Please direct any suggestion to Media Team Artikel Yayasan Paramadina Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota III. ada suatu golongan yang menanamkan dirinya kaum "Inkar al-Sunnah".diharapkan akan dapat membantu memperjelas persoalan. Tapi sebelum mereka sudah ada seorang kolektor hadits yang amat kenamaan dan berpengaruh besar yaitu sarjana dan pemikir dari Madinah. wafat 179 H. namun sesungguhnya tidaklah identik. Di negara kita. Karena sikap mereka menolak perlunya kaum muslim berpegang pada sunnah. "Aku tinggalkan di antara kalian dua perkara. 7507173 Fax. (021) 7501969.19.Telp. sebagaimana sering dituturkan tentang adanya sabda Nabi saw. sekalipun jelas tidak dapat dilakukan secara umum tanpa penelitian tentang hadits tertentu mana yang dimaksud. maka kajian kesejarahan tentang evolusi pengertian sunnah --yang diungkapkan Nabi meski secara tersirat-. Pada banyak kasus mungkin terjadi semacam kekacauan akibat kecenderungan masyarakat untuk menyamakan begitu saja antara sunnah dan hadits. Bahkan dapat dikatakan bahwa sunnah mengandung makna yang lebih prinsipil daripada hadits. yang kamu tidak akan sesat selama berpegang kepada keduanya: Kitab Allah dan sunnah RasulNya. di antara keduanya terdapat jalinan yang erat. Jika seseorang menyebut "sunnah" maka dengan sendirinya akan terbayang padanya sejumlah kitab koleksi sabda Nabi. telah terjadi dalam kurun waktu yang panjang pada golongan-golongan tertentu Islam seperti kaum Mu'tazilah. bukan hadits. Yang pertama (sunnah) mengandung pengertian yang lebih luas daripada yang kedua (hadits). Perjalanan sejarah . Malik Ibn Anas (pendiri madzhab Maliki. demikian pula sebaliknya.

Sekalipun pengertian ini cukup jelas. baik sebagai pribadi maupun pemimpin. Sedangkan hadits merupakan bentuk reportase atau penuturan tentang apa yang disebabkan Nabi atau yang dijalankan dalam praktek tindakan orang lain yang "didiamkan" beliau (yang dapat dapat diartikan sebagai "pembenaran"). Dan ia telah mengumpulkan bahan untuk kitab sirah-nya beberapa lama sebelum usaha-usaha pengumpulkan hadits. kedua. yang sekarang ini definisinya makin luas batasannya dan komprehensif. dan tumbuh sebagai sarjana terkemuka di kota Nabi. telah muncul berbagai karya tulis tentang riwayat peperangan Nabi yang lazim disebut kitab-kitab al-Maghazi. Jika disebutkan oleh Nabi bahwa sunnah merupakan pedoman kedua setelah Kitab Suci bagi kaum muslim dalam memahami agama. Di antara kitab-kitab sirah. termasuk yang sahih. juga yang paling tahu bagaimana melaksanakannya. bersama dengan kitab-kitab biografi Nabi yang lain amat penting. Sebab.perkembangan dan perubahan itu sendiri cukup panjang dan rumit. namun mencampuradukkan antara keduanya tidak dapat dibenarkan. Jika sunnah merupakan keseluruhan perilaku Nabi. Tapi jika kita berhasil melepaskan diri dari dogmatisme yang menerima begitu saja pengertian-pengertian mapan tentang apa yang terjadi di masa lampau. Yaitu. Memang. Sebab. dalam memahami agama dan melaksanakannya. Berarti. Pemahaman Nabi terhadap pesan atau wahyu Allah itu teladan beliau dalam melaksanakannya membentuk "tradisi" atau "sunnah" kenabian (al-sunnah al-Nabawiyyah). Ibn Ishaq lahir di Madinah (pada tahun 85 H). Dalam kedudukan beliau sebagai pemimpin itulah Kitab-kitab sirah banyak memberi gambaran. Kitab-kitab itu. tidak berarti bahwa hadits dengan sendirinya mencakup seluruh sunnah.. termasuk yang sangat dini ditulis ialah Sirah Ibn Ishaq yang kemudian disunting oleh Ibn Hisyam (berturut-turut wafat pada tahun 151 dan 219 Hijri). Nabi-lah sebagai utusan Tuhan. Itulah makna asal kata hadits. maka kita dapat mengetahui dari sumber-sumber yang selama ini tidak dimasukkan sebagai hadits. orang Islam tentu pertama-tama harus melihat apa yang ada dalam Kitab Suci. kemudian. seperti kitab-kitab sirah atau biografi Nabi. maka sesungguhnya Nabi hanya menyatakan sesuatu yang amat logis. Pengertian lain yang menyalahi hal itu mustahil dapat diterima. Meskipun wafat di Baghdad. Sebelum Ishaq. harus mencari contoh bagaimana Nabi sendiri memahami dan melaksanakannya. antara sunnah dan hadits terbentang garis kontinuitas yang tidak terputus. Maka. yang secara logis paling paham akan apa yang dipesankan Tuhan pada manusia melalui beliau. namun masih juga sering mengundang kekaburan. dalam lingkup sunnah sebagai keseluruhan tingkah laku Nabi. sunnah tidak terbatas hanya pada hadits. Namun demikian. karena memuat gambaran tentang perjalanan hidup Nabi khususnya dalam kapasitas beliau sebagai pemimpin. kitab-kitab itu juga merupakan sumber . harus dimasukkan pula corak dan ragam tindakan beliau. PENGERTIAN SUNNAH Sunnah lebih luas daripada hadits. maka dari celah-celah sejarah itu kita akan dapat menarik "benang merah" yang memberikan kejelasan tentang perkembangan dan perubahan itu.

al-Ahzab 33:32). kemudian Dia membimbingmu?! Dan Dia mendapatimu miskin. Sebagai contoh. serta banyak ingat kepada Allah" (Q. yang dalam kepribadian dan akhlak beliau disebutkan dalam Kitab Suci sebagai teladan yang baik (uswah hasanah) bagi kita semua "yang benar-benar berharap pada Allah pada Hari Kemudian. baik yang menyenangkan atau tidak. yang keseluruhannya menampilkan sosok Nabi yang berkeprlbadian mulia. Dan beliau juga dilukiskan dalam Kitab Suci sebagai seorang yang berakhlak amat mulia (Q. Dari Kitab Suci kita mengetahui lebih banyak perkembangan kepribadian Nabi yang menggambarkan pengalaman Nabi. maka kamu akan lega. Dengan demikian Nabi. berhasil membangkitkan semangat perjuangan Islam. al-Qalam 68:4). sebagaimana dilukiskan A'isyah. yang ternyata berhasil gemilang. kerja keraslah! Dan kepada Tuhanmu. sehingga menimbulkan ejekan dan sinisme kaum . isteri beliau. jika yang dimaksud selain tindakan-tindakan Nabi atau sabda beliau yang bersifat terpisah dan ad hoc seperti umumnya tema catatan hadits. menjadi pedoman hidup kedua setelah Kitab Suci bagi seluruh kaum beriman. janganlah engkau menghardik! Dan kepada peminta-minta. janganlah kamu membentak! Sedangkan berkenaan dengan nikmat karunia Tuhanmu. Inilah "eksperimen" Sultan Shalah al-Din al-Ayyubi dalam menghadapi tentara Salib. Tidaklah Tuhanmu meninggalkan engkau (Muhammad). yaitu upacara memperingati kelahiran Nabi dengan membaca riwayat hidup beliau. Sebab sesungguhnya akhlak Nabi yang mulia itu tidak lain adalah semangat Kitab Suci al-Qur'an itu sendiri. yang memberati punggungmu?! Serta Kami muliakan namamu?! Sebab sesunggahnya bersama kesulitan tentu ada kemudahan! Maka jika engkau bebas. Dari pengamatan atas gambaran itu kita dapat memperoleh ilham tentang peneladanan pada beliau. Bukankah Dia mendapatimu yatim.yang baik untuk memahami sunnah. Tetapi justru karena itu maka memahami sunnah Nabi tidak dapat lepas dari memahami Kitab Suci sendiri. kemudian Dia melindungimu?! Dan Dia mendapatimu bingung. al-Dluha 93:1-11) Bukankah Kamu telah lapangkan dadamu?! Dan Kami bebaskan bebanmu. Sunnah Nabi harus pula dipahami sebagai keseluruhan kepribadian Nabi dan akhlak beliau. Dan dengan "eksperimen" itu pemimpin Islam dari Mesir yang kemudian terkenal dengan sebutan "Sultan Saladin" itu mewariskan pada Umat Islam seluruh dunia tradisi Maulid. dan keseluruhan sasaran peneladanan itu tidak lain ialah sunnah nabi. senantiasa berharaplah! (QS. dua surat yang termasuk paling banyak dibaca dalam sembahyang dapat kita renungkan maknanya di sini: Demi pagi yang cerah dan demi malam ketika telah kelam.S. Dalam sejarah terbukti bahwa pembacaan biografi Nabi. dan tidak pula murka. kemudian Dia memperkayamu?! Maka kepada anak yatim. Dan juga pastilah Tuhanmu akan menganugerahimu.S. khususnya yang berkaitan dengan riwayat peperangan beliau yang dikena sebagai al-Maghazi tersebut. karena ilham teladan baik dari beliau. al-Syarh 94:1-8) Para ahli hampir semuanya sepakat bahwa surat al-Dluha turun kepada Nabi berkenaan dengan peristiwa terputusnya wahyu yang relatif panjang. Dan pastilah kemudian hari lebih baik bagimu daripada yang sekarang ada. khususnya. dalam hal ini tingkah laku dan kepribadian beliau sebagai seorang yang berakhlak mulia. engkau harus nyatakan! (QS.

UA 20-21 Jakarta Selatan Telp. 7507173 Fax. Sebab. (021) 7507174 Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota Please direct any suggestion to Media Team Artikel Yayasan Paramadina Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota III.(bersambung 2/3) Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah Editor: Budhy Munawar-Rachman Penerbit Yayasan Paramadina Jln. . dan selalu ingat dengan penuh syukur akan nikmat karunia Tuhan. bahwa Allah samasekali tidak meninggalkan beliau dan tidak pula murka. (021) 7501969. dan beliau pun wafat memenuhi panggilan menghadap Allah dalam keadaan menang dan sukses luar biasa). dan bagaimana Allah telah menunjukkan kasih-Nya pada beliau dengan memberi kemampuan mengatasi kesusahan itu semua. Metro Pondok Indah Pondok Indah Plaza I Kav. (Janji Tuhan ini kelak ternyata terbukti dan terlaksana.19. Dan berdasarkan latar belakang itu maka Allah berpesan agar Nabi janganlah sampai menghardik anak-yatim. yang strategis lebih penting daripada pengalaman jangka pendek. -------------------------------------------. Oleh karena itu hendaknya Nabi tidak putus asa atau kecil hati oleh pengalaman kekecewaan jangka pendek. Allah menghibur beliau dan memberinya dorongan moril. dan miskin. atau membentak peminta-minta. selama perjuangan diteruskan dengan penuh kesabaran dan harapan. Dan dalam jangka panjang itulah. bingung tentang apa yang hendak dilakukan. perjuangan besar selalu memerlukan waktu untuk mencapai hasil dan semakin besar nilai suatu perjuangan maka semakin panjang pula dimensi waktu yang diperlukannya. Allah menjanjikan untuk memberi kemenangan yang bakal membuat beliau puas dan lega. 7501983. berupa kemenangan demi kemenangan yang diraih Nabi setelah hijrah ke Madinah. Dari latar belakang turunnya. Allah mengingatkan Nabi bahwa perjuangan jangka panjang. Serentak dengan itu semua Allah juga mengingatkan akan masa lampau Nabi yang penuh kesusahan seperti keadaan beliau yang yatim-piatu. surat ini juga menggambarkan tentang suatu dinamika pengalaman Nabi dalam perjuangan beliau. PERGESERAN PENGERTIAN "SUNNAH" KE "HADITS" (2/3) IMPLIKASINYA DALAM PENGEMBANGAN SYARI'AH oleh Nurcholish Madjid IMPLIKASI SUNNAH SEBAGAI KOREKSI HADITS DALAM PENGEMBANGAN SYARI'AH Allah juga mengingatkan Nabi bahwa masa mendatang lebih penting daripada masa sekarang. yang taktis. sehingga seperti dikatakan Sayyid Quthub. Dalam terjemah kontemporernya.musyrik Makkah bahwa Tuhan telah meninggalkan Nabi dan murka kepadanya.

Ingat akan latar belakang diri di masa lalu dan bagaimana semua kesulitan teratasi 5. 3. Oleh karena itu sikap-sikap yang telah ditunjukkan oleh Nabi sebagaimana tersimpul dari kedua surat pendek itu akan melengkapi kaum beriman dengan contoh nyata dalam menghadapi problema kehidupan. Juga diingatkan bahwa Allah telah membuat terhormat nama Nabi dan dijunjung tinggi. Dalam surat ini Allah menegaskan bagaimana Dia telah membuat Nabi sebagai seorang yang lapang dada (munsyarih al-shadr). Pengkajian terhadap firman-firman itu akan memberi gambaran yang utuh tentang siapa Nabi dan bagaimana garis besar sepak terjang . para ahli mengatakan bahwa wahyu itu turun kepada Nabi masih dalam kaitannya dengan surat al-Dluha.Tetap berorientasi kepada Allah. namun hasil perjuangan itu di kemudian hari tentu akan membawa kebahagiaan. 7.Tidak kecil hati karena kesulitan.Senantiasa bersyukur pada Allah atas segala nikmat karunia-Nya. berkat perjuangan beliau dan kebajikan yang ditegakkannya. Jadi. Jika kita renungkan lebih mendalam gambaran itu. asal dan tuduan semua yang Firman Allah yang memberi gambaran dinamika kepribadian Nabi sebagai uswah hasanah dalam al-Qur'an cukup banyak.Sadar akan perjuangan jangka panjang. dan membuat semua beban terasa ringan bagi beliau. bahwa amal usaha tentu mengandung kesulitan. dari kedua surat pendek yang banyak dibaca dalam shalat itu dapat disimpulkan gambaran dinamika kepribadian Nabi berhubung dengan pengalaman hidup perjuangan beliau.Bersikap lapang dada 8.Sikap senantiasa berpengharapan kepada Allah 2.Rasa kasih sayang kepada sesama manusia yang kurang beruntung 6.Berkenaan dengan surat al-Syarh. seperti telah diutarakan. sebab yakin akan masa datang yang lebih baik 10. dan dari situ pula kita mengerti suatu aspek makna firman Allah bahwa pada diri Rasulullah terdapat teladan yang baik bagi kaum beriman. Dari situ kita paham sebuah sunnah Nabi.Menggunakan setiap waktu luang untuk kerja-kerja produktif 11. sambil senantiasa mengarahkan diri kepada Allah. Maka dari itu setiap kesempatan harus digunakan untuk kerja keras. bahkan merupakan kelanjutannya.Yakin akan kemenangan akhir 4. Lalu Allah menegaskan bahwa setiap kesulitan tentu akan membawa kemudahan. dalam arti dapat terjadi dan dialami oleh siapa saja dari kalangan manusia yang mempunyai tekad atau komitmen pada cita-cita luhur.Memikul beban tanggungjawab dengan penuh kerelaan 9. yang dapat disimpulkan dari kedua surat itu adalah kurang lebih demikian: 1. maka sesungguhnya dinamika pengalaman hidup Nabi tersebut adalah universal. dengan penuh harapan kepadaNya. Akhlak serta kepribadian yang menjadi sunnah Nabi.

yang telah tampil membela Islam dengan cara yang mengagumkan. Tanpa menyebut namanya secara jelas. Menurut Dr.Allah telah menegaskan "Tidak ada satu perkarapun yang Kami abaikan dalam Kitab Suci (Q. sehingga tidak lagi ada peran bagi sunnah (hadits) untuk menatapkan hukum . dapat lebih banyak diketahui dari Kitab Suci daripada dari kumpulan kitab hadits. Sedangkan yang ada dalam al-Qur'an. Mereka mendasarkan pandangan itu pada hal-hal berikut: 1.S. al-Siba'i mengutip tokoh itu yang pandangannya pernah dimuat oleh majalah al-Manar pimipinan Sayyid Muhammad Rashyid Ridla. golongan Ingkar Hadits itu terdapat di mana-mana dalam dunia Islam. Tapi pandangannya yang menolak otoritas hadits telah menimbulkan heboh di kalangan para ulama al-Azhar. Sedangkan sunnah (yang dimaksud tentunya hadits) mengandung keraguan dalam keabsahannya sebagai sumber argumen (hujjah) karena terjadi penambahan-penambahan padanya. Jadi sunnah Nabi. dari dahulu sampai sekarang. Mushthafa al-Siba'i. menurut al-Siba'i. Sangat menarik jalan pikiran seorang tokoh yang ingkar hadits itu di zaman modern. Kita dapat mendekteksi dinamika kepribadian Nabi itu dari firman-frman yang ditunjukkan khusus kepada Nabi. Mereka sebenarnya tidak mengingkari sunnah. Karena itu sunnah Nabi sebenarnya tidak terbatas hanya pada hadits. Meskipun banyak laporan dalam kitab-kitab hadits yang juga memberi gambaran tentang tingkah laku atau kepribadian Nabi. serta seorang tokoh pembina gerakan al-Ikhwan al-Muslimun di Syiria. Tetapi mereka ini dapat disebut sebagai golongan "Ingkar Hadits" (sebutlah "Inkar al-Hadits"). pandangan mereka yang menolak hadits ialah bahwa Islam hanyalah al-Qur'an saja. Secara ringkas. dan yang dinilainya banyak membuka pintu bagi orang lain sesudahnya untuk juga bersikap ingkar pada hadits. seorang pembela paham Sunni yang bersemangat dan mantan dekan Fakultas Syari'ah Universitas Syiria. Tokoh itu sendiri. adalah seorang muslim yang bergairah. seperti diindikasikan oleh penggunaan kata pengganti nama "engkau" dalam suatu format dialog antara Tuhan dan Utusan-Nya. dan karena adanya banyak kontradiksi dalam sebagian cukup besar nash-nash-nya. sekalipun dituturkan dalam kaitan dengan ruang dan waktu atau pengalaman khusus Nabi. Al-An'am 6:38). yang disebutkan oleh al-Siba'i sebagai contoh. Ini menjelaskan bahwa Kitab Suci telah mencakup seluruh prinsip penetapan syari'ah. karena ingkar pada sunnah Nabi adalah mustahil bagi seorang muslim. PERGESERAN PENGERTIAN SUNNAH KE HADITS Di atas telah dikemukakan adanya kelompok-kelompok kaum muslim yang sangat meragukan otentisitas dan otoritas kumpulan hadits. menurut Mushthafa al-Siba'i. dengan demikian bernilai universal. namun umumnya bersifat ad hoc terkait erat dengan tuntutan khusus ruang dan waktu. khususnya segi-segi yang dinamik dan mendasar. meskipun hadits (yang sahih) memang termasuk sunnah. dan bahwa Kitab Suci merupakan satu-satunya sumber penetapan syari'ah disebabkan kepastian otentisitasnya. namun ajaran moral di balik cerita selalu bersifat dinamik sehingga dapat dengan mudah diangkat pada tingkat generalitas yang tinggi.beliau dalam hidup beliau baik sebagai pribadi maupun sebagai Utusan Ilahi.

ia berasal dari diriku.Terdapat penuturan dari Nabi saw. Kalau seandainya hadits termasuk sumber penetapan syari'ah. al-Najm 52:28). bahkan secara otentik diceritakan bahwa beliau melarang membukukannya. Tuhan tidak menjamin pemeliharaan sunnah (hadits). Khalifah ini terkenal dengan sebutan kehormatan. 124 H) untuk meneliti dan membuktikan tradisi yang hidup di kalangan penduduk Madinah. Ini adalah jangka waktu yang cukup panjang untuk menimbulkan keraguan tentang keabsahan teks-teks hadits.an. jika bukannya malah merupakan wujud historis yang kongkret dari "tradisi" atau "sunnah" Nabi sendiri. dan kebanyakan tokoh besar para sahabat Nabi serta para Tabi'un seperti 'Umar. tentulah Tuhan memeliharanya untuk kepentingan para hamba-Nya dari kemungkinan penyelewengan dan perubahan sebagaimana Dia telah memelihara Kitab Suci-Nya. Mungkin yang dimaksudkan ialah adanya dorongan pembukuan hadits oleh Khalifah 'Umar Ibn 'Abd al-'Aziz (w. al-Nakha'i. Abu Bakr. tindakan 'Umar II ini adalah untuk menemukan dan mengukuhkan landasan pembenaran bagi ideologi Jama'ah-nya. Umar II. 'Alqamah. 'Umar II memerintahkan seorang sarjana terkenal. menunjukkan sikap tidak suka pada usaha membukukannya. Syihab al-Din al-Zuhri (w. al-Sya'bi. 3. ia tidak berasal dariku.S. al-Qasim Ibn Muhammad. 102 H. Maka banyak kalangan kaum Muslim yang memandang 'Umar II sebagai anggota kelima dari al-Khulafa.Allah menjamin pemeliharaan al-Qur'an dari kesalahan. al-Rasyidun.dan membuat syari'ah... dan sesungguhnyalah Kami yang memelihara-Nya" (Q. al-Hijr 15:9).S. Apapun yang sampai kepadamu sekalian dan bersesuaian dengan al-Qur. bahwa beliau bersabda "Sesungguhnya hadits akan memancarkan dari diriku. sesudah 'Ali Ibn Abi Thalib. "Sesungguhnya dugaan tidak sedikit pun menghasilkan kebenaran" (Q. 4. dan selesai pengumpulan dan koreksinya pada pertengahan abad ketiga. dan hal itu dengan sendirinya menempatkan sunnah pada tingkat dugaan (martabat al-dhann) belaka. karena Allah berfirman. Kota Nabi.) dari Bani Umayyah. 2. karena keyakinan 'Umar II bahwa tradisi itu merupakan kelanjutan langsung pola kehidupan masyarakat Madinah di zaman Nabi. "Sesungguhnya Kami benar-benar telah menurunkan pelajaran. 'Ubaydah. sehingga masuk ke dalamnya penambahan dan pemalsuan. Pembukuan hadits baru dimulai pada akhir abad pertama.Sunnah (hadits) belum dibukukan di zaman Nabi saw. Dari sudut analisa politik. dan apapun yang sampai kepadamu dan menyalahi al-Qur'an. dll. yang mengisyaratkan pengakuan bahwa ia adalah pelanjut kekhalifahan 'Umar Ibn al-Khaththab yang bijakbestari." [1] Dalam kutipan al-Siba'i tentang argumen orang yang ingkar pada hadits itu disebutkan bahwa pembukaan hadits dimulai pada akhir abad pertama Hijri. sebagaimana difirmankan. Hadits juga belum dibukukan di zaman al-Khulafa al-Rasyidun. dan rampung pada pertengahan abad ketiga. sedangkan dugaan tidak dapat menghasilkan hukum syar'i. yang dengan ideologi itu ia ingin merangkul .

mereka akhirnya mampu meruntuhkan Dinasti Umayyah dan melaksanakan pembalasan dendam yang sangat kejam).(bersambung 3/3) Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah Editor: Budhy Munawar-Rachman Penerbit Yayasan Paramadina Jln. -------------------------------------------. sikap yang serba inklusifistik sesama kaum muslim itu merupakan "tradisi" atau "sunnah" historis penduduk Madinah.w. pembukuan hadits secara sistematis dan kritis dan dalam skala besar serta pada tingkat kesungguhan yang tinggi baru dimulai pada awal abad ketiga dengan tampilnya Iman al-Syafi'i (w. 303 H). Mushthafa al-Siba'i amat menghargai kebijakan 'Umar II berkenaan dengan pembukaan sunnah itu. sesungguhnya. pengertian "sunnah" pun kemudian menjadi hampir identik dengan koleksi hadits dalam "Kitab yang Enam" itu. 204 H). 261 H). dalam pandangan 'Umar II. Koleksi mereka berenam itulah yang kelak disebut "Kitab yang Enam" (al-Kutub al-Sittah). 279 H) dan terakhir. dalam pandangan al-Siba'i. 7501983. "sunnah" itu akan memberi landasan legitimasi bagi idenya tentang persatuan seluruh umat Islam dalam "Jama'ah" yang serba mencakup. Jadi. dan dengan begitu. UA 20-21 Jakarta Selatan Telp. sebelum masa 'Umar II pun sebetulnya sudah ada usaha-usaha pribadi untuk mencatat hadits. Abu Dawud (w. menurut al-Siba'i. dengan tampilnya al-Nasa'i (w.273 H). Berdasarkan latar belakang inilah maka ideologi 'Umar II kelak disebut sebagai paham "sunnah dan jama'ah" dan para pendukungnya disebut ahl al-sunnah wa al-Jama'ah (golongan sunnah dan jama'ah). 256 H). Dan. dalam kolaborasinya dengan kaum Abbasi. (021) 7507174 Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota . termasuk kaum Syi'ah dan Khawarij yang merupakan kaum oposan terhadap rezim Umayyah. Selanjutnya. (021) 7501969. [2] Tapi. Metro Pondok Indah Pondok Indah Plaza I Kav. 7507173 Fax. Ibn Majah (w. dan baru benar-benar rampung pada awal abad keempat Hijri. Teori dan metodenya kemudian diterapkan dengan setia oleh al-Bukhari (w.275 H). 303 H). al-Nasa'i (w. Imam al-Syafi'i adalah tokoh pemikir peletak sebenarnya teori ilmiah pengumpulan dan klasifikasi hadits. sekalipun ia menyesalkan sikap Khalifah yang baginya terlalu banyak memberi angin pada kaum Syi'ah dan Khawarij (karena. 'Umar II melihat bahwa sikap yang serba akomodatif pada semua kaum muslim tanpa memandang aliran politik atau paham keagamaan khasnya itu telah diberikan contohnya oleh penduduk Madinah. juga merupakan kelanjutan yang sah dari "tradisi" atau "sunnah" Nabi. lalu diteruskan berturut-turut oleh Muslim (w. Maka penelitian dan pembukaan tentang tradisi penduduk Madinah akan dengan sendirinya menghasilkan pembukaan "tradisi" atau "sunnah" Nabi. al-Turmudzi (. Akibatnya. golongan oposisi itu kemudian mampu memobilisasi diri sehingga. sebagaimana dilakukan oleh 'Abd Allah Ibn 'Amr Ibn al-'Ash. di bawah ke kepeloporan tokoh-tokohnya seperti 'Abd-Allah ibn 'Umar (Ibn al-Khaththab). 'Abd-Allah Ibn 'Abbas dan 'Abd-Allah Ibn Mas'ud.seluruh kaum Muslim tanpa memandang aliran politik atau pemahaman keagamaan mereka.

demikian pula para sahabat dan para Tabi'un terkenal.Allah menjamin terpeliharanya al-Qur'an.Please direct any suggestion to Media Team Artikel Yayasan Paramadina Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota III. tegar. Sunnah dan hadits tetap terpelihara. dan menolak yang lain. 4. Dr.Nabi melarang.masa kodifikasi dan seleksi hadits yang demikian lama sesudah masa Nabi dan yang memakan waktu demikian panjang merupakan dasar sikap mereka yang meragukan otoritas hadits. PERGESERAN PENGERTIAN "SUNNAH" KE "HADITS" (3/3) IMPLIKASINYA DALAM PENGEMBANGAN SYARI'AH oleh Nurcholish Madjid IMPLIKASI SUNNAH SEBAGAI KOREKSI HADITS DALAM PENGEMBANGAN SYARI'AH Fakta historis tersebut di atas menunjukkan bahwa proses pengumpulan hadits berlangsung selama satu abad atau lebih. 3.Yang disebut bakal dijamin terpelihara dari usaha pengubahan tidak hanya pada al-Qur'an tapi juga meliputi sunnah. penulisan hadits di masa beliau. 2. tapi hanya dalam garis besar saja. Selain dasar-dasar pertimbangan yang berasal dari al-Qur'an dan pesan Nabi sendiri --menurut pengertian yang dipegang oleh mereka yang ingkar hadits-. Sesudah masa itu memang masih terdapat usaha pengumpulan sisa-sisa hadits oleh beberapa pribadi. namun sudah tidak lagi banyak berarti. karena telah menegaskan bahwa Kitab Suci itu telah memuat segala sesuatu.Nabi menegaskan agar orang menerima hadits hanya yang benar-benar bersesuaian dengan al-Qur'an. . sekurangnya menghalangi. dimulai sejak sekitar dua abad setelah Nabi dan rampung sekitar tiga abad setelah Nabi.19. dasar-dasar argumen menolak otoritas hadits secara ringkasnya adalah sebagai berikut: 1. melalui sistem hafalan kaum muslim Arab yang memang terkenal memiliki kemampuan menghafal yang amat kuat (sebagai akibat pengembangan bahasa Arab yang amat tinggi namun tidak banyak bersandar pada penggunaan tulisan). Musthafa al-Siba'i. Dia 1.Memang benar Kitab Suci memuat segala sesuatu. 2. tapi tidak menjamin hal serupa untuk Hadits. dalam hal ini hadits. dengan tandas menyatakan: seorang pembela paham Sunni yang menolak argumen-argumen itu. Sebagaimana telah dikutip kembali dari keterangan (kutipan) Mushthafa al-Siba'i.Keseluruhan ajaran Islam cukup berdasarkan pada al-Qur'an saja.

3.Pencegahan Nabi dan para pembesar sahabat dan Tabi'un dari usaha membukukan hadits terjadi karena kekuatiran akan tercampur dengan teks-teks al-Qur'an yang saat itu kodifikasi resminya belum mapan di kalangan umat, disebabkan sedikitnya mereka yang ahli baca-tulis. Pencegahan itu hanya menyangkut usaha pembukuan resmi. Sedangkan yang tidak resmi dan sebagai catatan pribadi, beberapa sahabat telah melakukannya. 4.Keabsahan hadits yang menjadi landasan argumen keempat di atas diragukan oleh para ahli. Dan jika benar pun, maknanya adalah sangat wajar, yaitu bahwa kita harus menerima hadits hanya yang sejalan dengan al-Qur'an. Justru para ulama semuanya sepakat bahwa, Hadits yang sahih, meskipun menetapkan ajaran secara tersendiri, tidak ada yang bertentangan dengan al-Qur'an. Pembelaan al-Siba'i atas sunnah sebagai hadits itu mewakili pandangan yang sangat umum di kalangan para ulama. Namun ia tidak memberi kejelasan tentang bagaimana efek kenyataan sejarah bahwa untuk sampai pada koleksi dan kodifikasi hadits seperti sekarang ini proses-proses yang amat sulit harus dilewati, khususnya proses pemisahan mana dari laporan-laporan hadits itu otentik dan yang palsu. masih tetap diperlukan adanya argumen yang kukuh dan mendasar untuk pandangan bahwa klasifikasi yang ada sekarang adalah terpercaya, atau sudah tidak lagi memerlukan peninjauan kembali. Batu penarung bagi pandangan ini ialah kenyataan bahwa zaman sekarang ditandai dengan mudahnya diperoleh bahan bacaan di semua bidang, termasuk bidang-bidang yang dapat dijadikan landasan kajian perbandingan ilmu kritik hadits, baik dari segi metodologinya maupun dari segi hasil-hasil yang telah dicapai. Karena itu pada zaman sekarang akan lebih mudah bagi mereka yang berminat secara khusus untuk meneliti kembali hadits-hadits dan membuat klasifikasi baru tentang sahih-tidaknya matan-matan dan riwayat-riwayat yang ada. Sebenarnya hal ini dapat sekedar merupakan pengulangan atau penerapan kembali metodologi Imam al-Bukhari, tapi dengan dibantu oleh penggunaan kemudahan-kemudahan yang ditawarkan oleh zaman modern, baik dari segi perangkat kerasnya (material dan bahan bacaan yang tersedia) maupun perangkat lunaknya (metodologi kritiknya). Imam al-Bukhari sendiri sekedar meneruskan dan menerapkan dengan setia teori dan prinsip-prinsip riset hadits yang diletakkan oleh Imam al-Syafi'i. Dorongan untuk meletakkan teori dan metodologinya itu ialah keprihatinan al-Syafi'i oleh adanya kekacauan dan berkecamuknya usaha pemalsuan laporan-laporan hadits di zamannya, yang laporan-laporan itu sendiri semula dan kebanyakan bergaya anekdotal tentang generasi Islam yang telah lewat, mencakup tentang Nabi sendiri dan para sahabat. Karena itu hadits juga disebut Khabar, Akhbar, Riwayah, Atsar, dan lain-lain, yang kesemuanya menunjukkan sisa pengertiannya yang mula-mula, yaitu kabar, berita, penuturan, peninggalan, dan lain-lain. Maka yang dilakukan al-Syafi'i mempunyai nilai yang sungguh besar, dengan pengaruh yang sampai sekarang dirasakan oleh seluruh umat Islam. Tapi yang telah dilakukan banyak daripada sekedar penelitian hadits. Tokoh oleh imam al-Syafi'i jauh lebih meletakkan dasar-dasar metodologi pendiri madzhab yang penganutnya

banyak di negeri kita ini juga diakui jasanya sebagai yang meletakkan dasar-dasar metodologi penetapan syari'ah, yang justru terasa semakin relevan dengan keadaan zaman sekarang ini. Menurut Marshall Hodgson --yang dapat kita anggap sebagai seorang peninjau netral dan cukup jujur-- al-Syafi'i berjasa sebagai seorang sarjana yang dengan penuh kesadaran meletakkan prinsip adanya pertimbangan historis bagi penetapan syari'ah. Hal itu tercermin dalam konsepnya tentang nasikh-mansukh, yaitu konsep yang memandang kemungkinan suatu hukum dihapuskan oleh hukum yang lain dalam Islam, disebabkan adanya pertimbangan baru berkenaan dengan lingkungan (dharf), baik lingkungan ruang (dharf al-makan) maupun lingkungan waktu (dharf al-zaman). [3] Berdasarkan metodologid al-Syafi'i itu maka terkenal sekali rumus hukum Islam yang mengatakan bahwa hukum berubah oleh perubahan zaman dan tempat. Terutama perubahan zaman, semua ulama sepakat bahwa hal itu tidak dapat dielakkan akan membawa perubahan hukum. Prinsip ini tercermin dalam dua kalimat rumusannya dalam bahasa Arab, [Tulisan Arab] yang artinya, "Perubahan hukum oleh perubahan zaman. Tidak dapat diingkari perubahan hukum oleh perubahan zaman). [4] Untuk dapat melaksanakan prinsip amat penting itu tidaklah mudah. Salah satu yang mesti diperlukan ialah kemampuan menangkap "pesan zaman", sehingga suatu hukum dapat diterapkan secara efektif karena relevan dengan pesan zaman itu. Ini berarti juga menuntut kemampuan membuat generalisasi atau abstraksi dari hukum-hukum yang ada menjadi prinsip-prinsip umum yang berlaku untuk setiap zaman dan tempat. Dan berlakunya suatu prinsip untuk segala zaman dan tempat adalah berarti kemestian memberi peluang pada prinsip itu untuk dilaksanakan secara teknis dan kongkret menurut tuntutan ruang dan waktu. Karena ruang dan waktu berubah, maka tuntutan spesifiknya pun tentu berubah, dan ini membawa perubahan hukum. Maka yang berubah bukanlah prinsipnya, melainkan pelaksanaan teknis dan kongkret hukum itu dalam masyarakat tertentu dan masa tertentu. Iman al-Syafi'i khususnya, dan madzhab Syafi'i umumnya meletakkan dasar metodologi generalisasi dan abstraksi (ta'mim, istiqra, tajrid) tersebut dalam lima cara pendekatan pada setiap ketentuan hukum, yaitu: 1) semua perkara harus diperhatikan maksud dan tujuannya; 2) bahaya harus dihilangkan atau dihindari; 3) adat kebiasaan adalah sumber penetapan hukum; 4) hal mantap tidak boleh dihapus oleh hal yang meragukan; 5) kesulitan pelaksanaan harus menghasilkan kemudahan hukum. Dalam bahasa Arab, kelima prinsip itu diberi patokan rumusan baku sebagai berikut, [5] [Tulisan Arab] Kemudian, sesuai dengan kebiasaan klasik dalam budaya Islam, kelima prinsip itu oleh seorang penganut Syafi'i didendangkan dalam bentuk syair, demikian: [Tulisan Arab] Jika diperhatikan benar-benar metodologi Imam al-Syafi'i itu literer madzhab

maka sesungguhnya terdapat dorongan yang cukup kuat untuk mendekati suatu ketentuan tekstual, baik dalam Kitab Suci maupun dalam hadits tidak secara harfiah, melainkan dengan penarikan ide prinsipil atau fikrah mabda iyyah atau fikrah ushuliyyah yang dikandungnya, dan yang menjadi inti hikmah tasyri' dari ketentuan yang ada. Oleh karena tema-tema hadits umumnya bersifat ad hoc dan lepas dari keseluruhan kepribadian Nabi, maka abstraksi dan generalisasi dari hadits menghasilkan problema dan kesulitan yang tidak kecil. Padahal hanya dari abstraksi dan generalisasi itu kita dapat memahami sunnah Nabi, dan bukannya sekedar menyamakan begitu saja makna dan semangat sunnah dengan teks-teks laporan hadits. CATATAN 1.Dr. Mushthafa al-Siba'i, "Al-A'ashir fi wajh al-Sunnah Hadits-an" dalam majalah Al-Muslimin, Damaskus, No. 3 (Syawal 1374 H/Ayyar [Mei 1955]), hal. 24-26. Meskipun Al-Siba'i tidak menyebutkan nama tokoh Ingkar Hadits ini, namun dari bukunya. Al-Sunnah wa Makanatuha fi al-Tasyri' al-Islami, nama itu dapat diperkirakan sebagai Dr. Ahmad Amin, seorang penganut modernisme Islam yang terkenal. (Al-Siba'i, Al-Sunnah, Nurcholish Madjid (terj & ed) (Jakarta: Pustaka Firdaus, tt). 2.Ibid, hal. 27. 3.Marshall G.S. Hodgson, The Venture of Islam, 3 jilid (Chicago: The University of Chicago Press, 1974), jilid 33, hal.437. Menurut Hodgson, sesungguhnya yang dikembangkan oleh Imam al-Syafi'i adalah prinsip-prinsip yang tendensinya sudah terlihat di zaman Nabi sendiri, jadi memiliki tingkat otentisitas yang tinggi, dan Hodgson melihat pada metodologi itu sebagai salah satu sumber ketentuan dan kemampuan Islam menjawab tantangan zaman, khususnya zaman modern sekarang ini. Maka berkenaan dengan ini menarik sekali keputusan para ulama NU seluruh Indonesia di Tambakberas, Jombang, beberapa waktu yang lalu, yang menetapkan bahwa penganutan kepada madzhab Syafi'i seyogyanya tidak terbatas hanya kepada pendapat-pendapat spesifik (qawl) beliau saja, tetapi lebih penting lagi ialah kepada metodologi (manhaj, minhaj) yang dirintis dan dikembangkannya. 4.Mushthafa Ahmad al-Zarqa, "Taghayyur al-Ahkam bi Taghayyur al-Azman," dalam majalah Al-Muslimun, Damaskus, No. 8 (Syawal 1373 H/Juni 1954 M), hal. 34. 5."Tarikh al-Qawa'id al-Kulliyyah fi al-Syari'at al-Islamiyyah," dalam majalah Al-Muslimun Damaskus, No. 12 (Syawal 1373 H/Mei 1955 M), hal. 17. -------------------------------------------Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah Editor: Budhy Munawar-Rachman Penerbit Yayasan Paramadina Jln. Metro Pondok Indah Pondok Indah Plaza I Kav. UA 20-21 Jakarta Selatan

Telp. (021) 7501969, 7501983, 7507173 Fax. (021) 7507174 Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota
Please direct any suggestion to Media Team

Artikel Yayasan Paramadina
Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota III.8. ANTARA SUKMA NURANI DAN SUKMA DHULMANI oleh Jalaluddin Rakhmat Menurut para sufi, manusia adalah mahluk Allah yang paling sempurna di dinia ini. Hal ini, seperti yang dikatakan Ibnu'Arabi manusia bukan saja karena merupakan khalifah Allah di bumi yang dijadikan sesuai dengan citra-Nya, tetapi juga karena ia merupakan mazhaz (penampakan atau tempat kenyataan) asma dan sifat Allah yang paling lengkap dan menyeluruh. Allah menjadikan Adam (manusia) sesuai dengan citra-Nya. Setelah jasad Adam dijadikan dari alam jisim, kemudian Allah meniupkan ruh-Nya ke dalam jasad Adam. Allah berfirman: Maka apabila Aku telah menyempurnakan tiupkan kepadanya ruh-Ku (QS. 15: 29) kejadiannya dan Aku

Jadi jasad manusia, menurut para sufi, hanyalah alat, perkakas atau kendaraan bagi rohani dalam melakukan aktivitasnya. Manusia pada hakekatnya bukanlah jasad lahir yang diciptakan dari unsur-unsur materi, akan tetapi rohani yang berada dalam dirinya yang selalu mempergunakan tugasnya. Karena itu, pembahasan tentang jasad tidak banyak dilakukan para sufi dibandingkan pembahasan mereka tentang ruh (al-ruh), jiwa (al-nafs), akal (al-'aql) dan hati nurani atau jantung (al-qalb). RUH DAN JIWA (AL-RUH DAN AL-NAFS) Banyak ulama yang menyamakan pengertian antara ruh dan jasad. Ruh berasal dari alam arwah dan memerintah dan menggunakan jasad sebagai alatnya. Sedangkan jasad berasal dari alam ciptaan, yang dijadikan dari unsur materi. Tetapi para ahli sufi membedakan ruh dan jiwa. Ruh berasal dari tabiat Ilahi dan cenderung kembali ke asal semula. Ia selalu dinisbahkan kepada Allah dan tetap berada dalam keadaan suci. Karena ruh bersifat kerohanian dan selalu suci, maka setelah ditiup Allah dan berada dalam jasad, ia tetap suci. Ruh di dalam diri manusia berfungsi sebagai sumber moral yang baik dan mulia. Jika ruh merupakan sumber akhlak yang mulia dan terpuji, maka lain halaya dengan jiwa. Jiwa adalah sumber akhlak tercela, al-Farabi, Ibn Sina dan al-Ghazali membagi jiwa pada: jiwa nabati (tumbuh-tumbuhan), jiwa hewani (binatang) dan jiwa insani. Jiwa nabati adalah kesempurnaan awal bagi benda alami yang

organis dari segi makan, tumbuh dan melahirkan. Adapun jiwa hewani, disamping memiliki daya makan untuk tumbuh dan melahirkan, juga memiliki daya untuk mengetahui hal-hal yang kecil dan daya merasa, sedangkan jiwa insani mempunyai kelebihan dari segi daya berfikir (al-nafs-al-nathiqah). Daya jiwa yang berfikir (al-nafs-al-nathiqah atau al-nafs-al-insaniyah). Inilah, menurut para filsuf dan sufi, yang merupakan hakekat atau pribadi manusia. Sehingga dengan hakekat, ia dapat mengetahui hal-hal yang umum dan yang khusus, Dzatnya dan Penciptaannya. Karena pada diri manusia tidak hanya memiliki jiwa insani (berpikir), tetapi juga jiwa nabati dan hewani, maka jiwa (nafs) manusia mejadi pusat tempat tertumpuknya sifat-sifat yang tercela pada manusia. Itulah sebabnya jiwa manusia mempunyai sifat yang beraneka sesuai dengan keadaannya. Apabila jiwa menyerah dan patuh pada kemauan syahwat dan memperturutkan ajakan syaithan, yang memang pada jiwa itu sendiri ada sifat kebinatangan, maka ia disebut jiwa yang menyuruh berbuat jahat. Firman Allah, "Sesungguhnya jiwa yang demikian itu selalu menyuruh berbuat jahat." (QS. 12: 53) Apabila jiwa selalu dapat menentang dan melawan sifat-sifat tercela, maka ia disebut jiwa pencela, sebab ia selalu mencela manusia yang melakukan keburukan dan yang teledor dan lalai berbakti kepada Allah. Hal ini ditegaskan oleh-Nya, "Dan Aku bersumpah dengan jiwa yang selalu mencela." (QS. 75:2). Tetapi apabila jiwa dapat terhindar dari semua sifat-sifat yang tercela, maka ia berubah jadi jiwa yang tenang (al-nafs al-muthmainnah). Dalam hal ini Allah menegaskan, "Hai jiwa yang tenang, kembalilah kepada Tuhanmu dengan rasa puas lagi diridhoi, dan masuklah kepada hamba-hamba-Ku, dan masuklah ke dalam Surga-Ku." (QS. 89:27-30) Jadi, jiwa mempunyai tiga buah sifat, yaitu jiwa yang telah menjadi tumpukan sifat-sifat yang tercela, jiwa yang telah melakukan perlawanan pada sifat-sifat tercela, dan jiwa yang telah mencapai tingkat kesucian, ketenangan dan ketentraman, yaitu jiwa muthmainnah. Dan jiwa muthmainnah inilah yang telah dijamin Allah langsung masuk surga. Jiwa muthmainnah adalah jiwa yang selalu berhubungan dengan ruh. Ruh bersifat Ketuhanan sebagai sumber moral mulia dan terpuji, dan ia hanya mempunyai satu sifat, yaitu suci. Sedangkan jiwa mempunyai beberapa sifat yang ambivalen. Allah sampaikan, "Demi jiwa serta kesempurnaannya, Allah mengilhamkan jiwa pada keburukan dan ketaqwaan." (QS.91:7-8). Artinya, dalam jiwa terdapat potensi buruk dan baik, karena itu jiwa terletak pada perjuangan baik dan buruk. AKAL Akal yang dalam bahasa Yunani disebut nous atau logos atau intelek (intellect) dalam bahasa Inggris adalah daya berpikir yang terdapat dalam otak, sedangkan "hati" adalah daya jiwa (nafs nathiqah). Daya jiwa berpikir yang ada pada otak di kepala disebut akal. Sedangkan yang ada pada hati (jantung) di dada disebut rasa (dzauq). Karena itu ada dua sumber pengetahuan, yaitu pengetahuan akal (ma'rifat aqliyah) dan

pengetahuan hati (ma'rifat qalbiyah). Kalau para filsuf mengunggulkan pengetahuan akal, para sufi lebih mengunggulkan pengetahuan hati (rasa). Menurut para filsuf Islam, akal yang telah mencapai tingkatan tertinggi --akal perolehan (akal mustafad)-ia dapat mengetahui kebahagiaan dan berusaha memperolehnya. Akal yang demikian akan menjadikan jiwanya kekal dalam kebahagiaan (sorga). Namun, jika akal yang telah mengenal kebahagiaan itu berpaling, berarti ia tidak berusaha memperolehnya. Jiwa yang demikian akan kekal dalam kesengsaraan (neraka). Adapun akal yang tidak sempurna dan tidak mengenal kebahagiaan, maka menurut al-Farabi, jiwa yang demikian akan hancur. Sedangkan menurut para filsuf tidak hancur. Karena kesempurnaan manusia menurut para filsuf terletak pada kesempurnaan pengetahuan akal dalam mengetahui dan memperoleh kebahagiaan yang tertinggi, yaitu ketika akan sampai ke tingkat akal perolehan. HATI SUKMA (QALB) Hati atau sukma terjemahan dari kata bahasa Arab qalb. Sebenarnya terjemahan yang tepat dari qalb adalah jantung, bukan hati atau sukma. Tetapi, dalam pembahasan ini kita memakai kata hati sebagaimana yang sudah biasa. Hati adalah segumpal daging yang berbentuk bulat panjang dan terletak di dada sebelah kiri. Hati dalam pengertian ini bukanlah objek kajian kita di sini, karena hal itu termasuk bidang kedokteran yang cakupannya bisa lebih luas, misalnya hati binatang, bahkan bangkainya. Adapun yang dimaksud hati di sini adalah hati dalam arti yang halus, hati-nurani --daya pikir jiwa (daya nafs nathiqah) yang ada pada hati, di rongga dada. Dan daya berfikir itulah yang disebut dengan rasa (dzauq), yang memperoleh sumber pengetahuan hati (ma'rifat qalbiyah). Dalam kaitan ini Allah berfirman, "Mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakan memahaminya." (QS. 7:1-79). Dari uraian di atas, dapat kita ambil kesimpulan sementara, bahwa menurut para filsuf dan sufi Islam, hakekat manusia itu jiwa yang berfikir (nafs insaniyah), tetapi mereka berbeda pendapat pada cara mencapai kesempurnaan manusia. Bagi para filsuf, kesempurnaan manusia diperoleh melalui pengetahuan akal (ma'rifat aqliyah), sedangkan para sufi melalui pengetahuan hati (ma'rifat qalbiyah). Akal dan hati sama-sama merupakan daya berpikir. Menurut sufi, hati yang bersifat nurani itulah sebagai wadah atau sumber ma'rifat --suatu alat untuk mengetahui hal-hal yang Ilahi. Hal ini hanya dimungkinkan jika hati telah bersih dari pencemaran hawa nafsu dengan menempuh fase-fase moral dengan latihan jiwa, serta menggantikan moral yang tercela dengan moral yang terpuji, lewat hidup zuhud yang penuh taqwa, wara' serta dzikir yang kontinyu, ilmu ladunni (ilmu Allah) yang memancarkan sinarnya dalam hati, sehingga ia dapat menjadi Sumber atau wadah ma'rifat, dan akan mencapai pengenalan Allah Dengan demikian, poros jalan sufi ialah moralitas. Latihan-latihan ruhaniah yang sesuai dengan tabiat terpuji

adalah sebagai kesehatan hati dan hal ini yang lebih berarti ketimbang kesehatan jasmani sebab penyakit anggota tubuh luar hanya akan membuat hilangnya kehidupan di dunia ini saja, sementara penyakit hati nurani akan membuat hilangnya kehidupan yang abadi. Hati nurani ini tidak terlepas dari penyakit, yang kalau dibiarkan justru akan membuatnya berkembang banyak dan akan berubah menjadi hati dhulmani --hati yang kotor. Kesempurnaan hakikat manusia (nafs insaniyah) ditentukan oleh hasil perjuangan antara hati nurani dan hati dhulmani. Inilah yang dimaksud dengan firman Allah yang artinya, "Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang mensucikan jiwanya, dan rugilah orang yang mengotorinya." (QS. 91:8-9). Hati nurani bagaikan cermin, sementara pengetahuan adalah pantulan gambar realitas yang terdapat di dalamnya. Jika cermin hati nurani tidak bening, hawa nafsunya yang tumbuh. Sementara ketaatan kepada Allah serta keterpalingan dari tuntutan hawa nafsu itulah yang justru membuat hati-nurani bersih dan cemerlang serta mendapatkan limpahan cahaya dari Allah Swt. Bagi para sufi, kata al-Ghazali, Allah melimpahkan cahaya pada dada seseorang, tidaklah karena mempelajarinya, mengkajinya, ataupun menulis buku, tetapi dengan bersikap asketis terhadap dunia, menghindarkan diri dari hal-hal yang berkaitan dengannya, membebaskan hati nurani dari berbagai pesonanya, dan menerima Allah segenap hati. Dan barangsiapa memiliki Allah niscaya Allah adalah miliknya. Setiap hikmah muncul dari hati nurani, dengan keteguhan beribadat, tanpa belajar, tetapi lewat pancaran cahaya dari ilham Ilahi. Hati atau sukma dhulmani selalu mempunyai keterkaitan dengan nafs atau jiwa nabati dan hewani. Itulah sebabnya ia selalu menggoda manusia untuk mengikuti hawa nafsunya. Kesempurnaan manusia (nafs nathiqah), tergantung pada kemampuan hati-nurani dalam pengendalian dan pengontrolan hati dhulmani. DAFTAR KEPUSTAKAAN Abu al-Wafi aI-Taftazani, Maduhal ila al-Tashawwuf al-Islamiy, Kairo, 1983. Ahmad Dandy, Allah dan Manusia Dalam Konsepsi Syeikh Nurudin al-Raniry Jakarta, Rajawali, 1983. Al-Farabi, Kitab Ara Ahl al-Madinah al-Fadhilah, Kairo, 1906. Al-Ghazali, Ihya Ulum al-Din, Kairo, 1334 H. ------, Ma'arij al-Quds fi Madarij Ma'rifah al-Nafs, Kairo, 1327 H. ------, Asnan al-Qur'an fi Ihya 'Ulum al-Din, Kairo. Harun Nasution, Falsafah dan Mistisisme Islam, Bulan Bintang, Jakarta, 1978. Muhyiddin Ibnu Arabi, Fushush al-Hikam, Kairo, 1949. --------------------------------------------

Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah Editor: Budhy Munawar-Rachman Penerbit Yayasan Paramadina Jln. Metro Pondok Indah Pondok Indah Plaza I Kav. UA 20-21 Jakarta Selatan Telp. (021) 7501969, 7501983, 7507173 Fax. (021) 7507174 Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota
Please direct any suggestion to Media Team

Artikel Yayasan Paramadina
Indeks Islam | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota III.17. PANDANGAN KESUFIAN TENTANG DIRI MANUSIA oleh M. Bambang Pranowo Elingana yen ana timbalan Yen wis budal ora kena wakilan, Ora kena wakilan Timbalane kang Maha Kuasa Gelem ora gelem bakale lunga (Ingatlah jika telah datang panggilan Kau harus pergi dan tak bisa kau wakilkan, tak bisa kau wakilkan Panggilan dari Yang Maha Kuasa Mau tak mau kau harus pergi jua) Nyanyian puitis di atas adalah penggalan dari sebuah nyanyian keagamaan yang cukup panjang. Di Jawa, nyanyian itu disebut pujian atau erang-erangan. Pujian tersebut biasanya didendangkan bersama-sama oleh para jemaah di langgar atau mesjid menjelang shalat Subuh, Maghrib atau Isya, sembari menanti datangnya anggota masyarakat lain yang turut mendirikan salat berjamaah. Mungkin berkat susunannya yang ritmis dan mudah dihapal maka pujian tersebut seringkali menjadi "nyanyian" populer yang dilakukan bukan hanya di mesjid dan langgar, tapi juga di sawah dan ladang ketika seseorang menggembalakan ternaknya, atau di rumah-rumah ketika ibu-ibu berusaha menidurkan anaknya. Tidak jelas siapa pengarang pujian yang cukup populer tersebut, terutama di desa-desa bagian Jawa Tengah Selatan. Namun, orang mengenal bahwa pujian semacam itu disebarkan oleh kalangan pesantren. Perlu dicatat, para kyai pemimpin pesantren kebanyakan juga pemimpin tarekat, sehingga tidak mengherankan kalau pujian yang diciptakan sarat dengan pesan-pesan kesufian. Dan, dari pujian tersebut tercermin sebuah permintaan agar manusia menyadari bahwa suka atau tidak, ia harus memenuhi panggilan Tuhan Yang Maha Kuasa untuk kembali ke haribaannya. Panggilan Tuhan tersebut tidak dapat didelegasikan kepada siapapun juga. Memang, di antara pesan kesufian yang terpenting adalah ajakan agar manusia menyadari sepenuhnya sifat kefanaan dari kehidupan dunia ini. Oleh karena dunia bersifat fana dan yang kekal hanyalah Tuhan, maka dunia ini dipandang benar-benar

mengapa manusia seringkali lalai dan lupa kepada Tuhan dan detik-detik kehadirannya di dunia ini justru lebih banyak tersita untuk hal-hal yang bersifat jasadi atau lahiriah belaka? Imam Ghazali menjawab masalah ini dengan Teori Cermin (al-Mir'ah) dalam karyanya yang sangat terkenal itu --Ihya' 'ulum al-Din. 119-125). Contoh yang sangat tepat untuk kategori ini orang-orang kafir yang dengan sadar mengingkari keberadaan Tuhan. sedangkan petunjuk Tuhan bagaikan nur atau cahaya. cermin tersebut memang membelakangi sumber cahaya hingga memang tak dapat diharapkan dapat tersentuh oleh cahaya petunjuk Ilahi. Hamba-Ku adalah mereka yang mendekatkan dirinya kepada-Ku dan melakukan pula hal-hal sunnah yang Aku cintai. Ia lupa bahwa manusia disebut manusia tidak lain karena roh sukma yang ditiupkan Tuhan masih melekat di jasad atau raganya. orang-orang yang menjadikan harta. Begitu sukma meninggalkan raga. akan Kunyatakan perang. Ketiga. Lalai dari kesadaran berketuhanan berarti manusia telah terjerat oleh perangkat serba kefanaan. Kamis. sehingga Aku sayang kepadanya adalah menunaikan semua perintah yang telah Aku berikan.. vol. Dalam kenyataannya. puasa Senin. hati manusia ibarat cermin. Dalam "perangkap" seperti itu manusia cenderung berorientasi hanya kepada usaha mewujudkan kesenangan sementara yang segera dapat dinikmati kini dan di sini. di antara cermin dan sumber cahaya terdapat penghalang yang tidak memungkinkan cahaya Ilahi menerpa cermin tersebut. Yang termasuk dalam kategori ini adalah mereka yang dilumuri dengan perbuatan-perbuatan kotor dan aniaya.t. ia harus senantiasa berusaha memurnikan diri dengan jalan menguasai nafsu-nafsu rendah serta mengikuti perjalanan hidup para nabi melalui berbagai latihan kerohanian (riyadlah). Menurut Imam Ghazali. . tahta dan kesenangan lahir sebagai orientasi hidupnya. Agar hati manusia selalu dapat menjadi cermin yang bening. Melaksanakan secara intensif berbagai amalan sunnah tersebut tak lain merupakan usaha mengamalkan sebuah hadits Qudsi sebagai berikut: Kepada orang yang memusuhi Wali-Ku. TEORI CERMIN AL-GHAZALI Bagaimanapun roh atau sukma akan kembali kepada Tuhan. di dunia yang fana ini. riyadlah atau latihan kerohanian dalam berbagai bentuk amalan sunnah --salat sunnah. Sedangkan jika manusia tidak mampu menangkap sinyal-sinyal spiritual dari Tuhan. Ibadat yang paling mendekatkan Hamba-Ku. Dengan demikian jika hati manusia benar-benar bersih niscaya ia akan bisa menangkap cahaya petunjuk Ilahi dan memantulkan cahaya tersebut ke sekitarnya (lihat Ghazali. cerminnya terlalu kotor sehingga cahaya Ilahi yang seterang apapun tidak dapat ditangkap dengan cermin rohani yang dimilikinya. t. itu pada dasarnya disebabkan tiga kemungkinan. ia dianggap sudah tiada. Inilah yang menerangkan mengapa di lingkungan pesantren dan di kalangan para penganut tarekat.I: h. Yang termasuk dalam kategori ini. Pertama. Kedua. puasa Nabi Daud. dan lebih-lebih usaha senantiasa mempertautkan diri dengan Allah melalui dzikir merupakan hal yang sangat sentral dalam kehidupan sehari-hari mereka.bermakna hanya apabila ia senantiasa diorientasikan kepada Tuhan.

Apabila Aku telah mencintainya. Pada suatu pagi ia pun pergi menuju pasar di seberang desa. Aku-lah tangannya untuk bekerja. kini aku beribadah bukan karena manusia. maka di kalangan kaum sufi ibadah ritual selalu dibarengi bahkan didahului oleh penggeledahan dan interogasi diri: apakah ibadah yang kita lakukan sudah benar-benar karena Allah dan bukannya karena yang lain? Dalam kaitannya dengan upaya rohani seperti itulah kisah sufistik yang dicatat dari pesantren --Tarekat Qadariah-Naqshabandiyah di Jawa Timur-. keberanian untuk melakukan penggeledahan dan interogasi diri merupakan inti keberagamaan dan sekaligus bagaikan tangga naik yang akan mengantarkan diri seseorang kepada derajat yang terus meningkat dari suatu tingkat (maqam) tertentu ke tingkat rohani berikutnya yang lebih tinggi. Agar ibadah ritual benar-benar dapat bermakna dan tak jatuh ke nilai seremonial yang tanpa isi. Sesampainya di pasar secara demonstratif ia sengaja mencuri ayam yang sedang diperjualbelikan. Ibadah ritual akan jatuh nilainya menjadi seremonial tanpa isi jika ibadah tersebut dilaksanakan tanpa sikap batin yang dipimpin semata-mata oleh harapan memperoleh ridha Allah. yang menjurus kapada zindiq (penyelewengan). hal itu dalam pandangan kesufian tidak secara otomatis merupakan jaminan bahwa orang tersebut akan sampai pada tujuan hakiki dari ibadah yakni terjalinnya hubungan konstan dengan Allah. salah seorang pendiri mazhab fiqih yang terkenal. Jangan-jangan dirinya rajin beribadah itu bukan karena Allah melainkan justru karena orang memujinya sebagai orang alim. (Riwayat Bukhari dan Abi Hurairah) Apabila seseorang telah melaksanakan berbagai ibadah secara intensif. dan apabila ia meminta perlindungan akan Aku beri. ia zindiq dan siapa yang mengamalkan fiqh tanpa bertasawuf. Dengan demikian. Aku-lah matanya untuk melihat. tetapi insya Allah benar-benar karena Engkau semata. maka Aku-lah yang menjadi telinganya yang dipakai untuk mendengar. ia fasiq (tak bermoral). Apabila dia meminta kepada-Ku akan Aku beri. ya Allah. Orang sepasar akhirnya bergumam: "Oh. Segala pujian dilimpahkan orang kepada si Alim atas kesalehan dan kealimannya. dipandang sebagai kesombongan spiritual. Karena tertangkap basah maka iapun dipukuli banyak orang. Setibanya di rumah ia langsung sujud syukur "Alkhamdulillah. Sebaliknya sikap batin yang tidak diaktualisasikan dalam bentuk pelaksanann ibadah sebagaimana yang dituntunkan syariat dan dicontohkan oleh Nabi." Demikianlah. mengatakan bahwa siapa yang bertasawuf tanpa mengamalkan fiqh. Mendengar berbagai pujian tersebut si Alim jadi gelisah. ternyata ia hanya pura-pura alim. Di sebuah desa hidup seorang yang dikenal oleh kalangan luas sebagai orang yang sangat alim. dan Aku-lah kakinya untuk berjalan. Ayam dikembalikannya dan ia pun pulang dalam keadaan babak belur. Dalam kaitan ini Imam Malik. padahal sebenarnya ia tak lebih dari seorang maling!" Mendengar omongan seperti itu ia bukannya sedih melainkan bersyukur kepada Allah.merupakan ilustrasi relatif menarik. dari sudut pandang kesufian. hidup ini merupakan pergulatan terus-menerus dengan diri sendiri. Maqam-maqam tersebut dari .

melalui sudut pandang kesufian kiranya kehidupan beragama akan marnpu mewujudkan pribadi-pribadi yang seimbang seperti itu.yang terendah hingga yang tertinggi dikenal di kalangan kaum sufi dengan istilah-istilah sebagai berikut: (1) Maqam Tawbat. yakni hati yang diliputi rasa gembira karena mengetahui kemurahan dari Allah yang menjadi tumpuan harapannya. yaitu menyadari bahwa segala kenikmatan itu datangnya dari Allah semata. Namun. ialah ketabahan dalam menghadapi dan mendorong hawa nafsu. ialah rasa ngeri dalam menghadapi siksa Allah atau tidak tercapainya kenikmatan dari Allah. (10)Maqam Ridla. (6) Maqam Syukur. (9) Maqam Tawakkal. (3) Maqam Zuhud. (7) Maqam Khauf. maka maqam-maqam tersebut adalah acuan yang memang harus dimiliki mereka yan benar-benar merindukan leburnya diri kembali kepada Yan Maha Hakiki. diharapkan. yaitu menahan diri untuk tidak melakukan sesuatu dalam rangka menjunjung tinggi perintah-Nya. (8) Maqam Raja'. semua itu mengantarkan kita pada kesimpulan bahwa pola kehidupan yang semata-mata dipimpin oleh otak (head) dan ketrampilan teknologis (hand) itu perlu diimbangi dan dikendalikan dengan kebeningan hati (heart). yaitu tenang serta tabah sewaktu melarat dan mengutamakan orang lain di kala berada. dibenci. (5) Maqam Faqir. semua itu terpulang kepada manusia sendri apakah ia akan menundukkan sukmanya kepada kehidupan yang berorientasi pada kebutuhan jasadi yang bersifat kini dan di sini (sukma dhulmani. Akhirnya. maupun ditakuti. Dan. Menengok pada luka menganga yang menjangkiti dunia modern seperti konsumerisme yang seolah tak mengenal kata puas. Mengenal selintas maqam-maqam tersebut seolah-olah mustahil nilai-nilai kesufian tersebut dapat diwujudkan dalan kehidupan yang sudah serba modern ini. serta materialisme yang cenderung mencekal nilai-nilai spiritual. (4) Maqam Shabar. ataukah ia akan mengarahkan sukmanya sehingga sang sukmalah yang memimpin kebutuhan jasadi agar senantiasa berada dalam terpaan cahaya . yakni lepasnya pandangan keduniaan dan usaha memperolehnya dari diri orang yang sebetulnya mampu untuk memperolehnya. ialah rasa puas di hati sekalipun menerima nasib pahit. sukma yang berada dalam kegelapan). hedonisme yang telah menyebabkan merajalelanya AIDS. yaitu sikap hati yang bergantung hanya kepada Allah dalam menghadapi segala sesuatu baik yang disukai. (2) Maqam Wara'. yakni meninggalkan dan tidak mengulangi lagi perbuatan dosa yang pernah dilakukan dan dosa-dosa sepadannya demi menjunjung tinggi ajaran Allah dan mengingkari murka-Nya. jika maqam-maqam tersebut dipandang sebagai tidak lain dari upaya pendakian rohani menuju ridla Allah.

Namun begitu Allah juga memperingatkan bahwa kualitas kemanusiaannya. 7507173 Fax.16.) Pesantren dan Pembaharuan. (021) 7501969. Jadi. Al-Ghazali. Berjan. Metro Pondok Indah Pondok Indah Plaza I Kav. Jakarta. UA 20-21 Jakarta Selatan Telp.I. 91:7-10). (021) 7507174 Indeks Islam | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota Please direct any suggestion to Media Team Artikel Yayasan Paramadina Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota III. DAFTAR KEPUSTAKAAN Firdaus A. 1985.N. Yayasan Kesejahteraan Bersama.. Zarkasyi. Johns. Nurcholish. 10-23.. "Sufism As a Category in Indonesian Literature And History. Lebih dari itu bagi seorang mukmin petunjuk primordial ini masih ditambah lagi dengan datangnya Rasul Tuhan pembawa kitab suci sebagai petunjuk hidupnya (QS. masih belum selesai atau setengah jadi. "Ihya' 'Ulum al-Din". Madjid. (dengan terjemahan Jiwa oleh Misbah Zaini Mustofa). hanif dan berakal.. hal. vol. tanpa tahun. Raja Murah. MANUSIA DAN PROSES PENYEMPURNAAN DIRI oleh Komaruddin Hidayat Secara tegas Allah menyatakan bahwa manusia merupakan puncak ciptaan-Nya dengan tingkat kesempurnaan dan keunikan-Nya yang prima dibanding makhluk lainnya (QS. 95:4)." dalam Journal of Southeast Asian History. Pesantren Raudlatul Thulab. Di dalam tradisi kaum sufi terdapat postulat yang berbunyi: Man 'arafa nafsahu faqad 'arafa rabbabu --Siapa yang telah mengenal dirinya maka ia (akan mudah) mengenal Tuhannya. "Soal-Jawab Thoriqiyah". "Jalan ke Surga" (Kumpulan 772 Hadist Qudsi).H. 1981. dalam M. pengenalan diri adalah tangga yang harus dilewati seseorang untuk mendaki ke jenjang yang lebih tinggi dalam rangka . 7501983. A. 4:174). Imam. Proses penyempurnaan ini amat dimungkinkan karena pada naturnya manusia itu fithri. "Tasauf dan Pesantren".Ilahi. sehingga masih harus berjuang untuk menyempurnakan dirinya (QS. 2 (1961). vol. 1977. Pekalongan. Purwokerto. Dawam Rahardjo (ed. Muhamad Nawawi Shidiq. -------------------------------------------Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah Editor: Budhy Munawar-Rachman Penerbit Yayasan Paramadina Jln. LP3ES.

semakin jauh pula ia terkurung dalam bilik lorong yang ia masuki. Demikianlah manusia senantiasa mengandung sebuah misteri yang melekat pada dirinya dan misteri ini telah mengandung sebuah misteri yang melekat pada dirinya dan misteri ini telah mengundang kegelisahan intelektual pare ahli pikir untuk mencoba berlomba menjawabnya. sementara manusia adalah subyek-subyek yang cenderung membangkang dan harus siap menerima vonis-vonis dari kemurkaan Tuhan Sang Maha Hakim atau. sosiologi. (Ernst Cassier. Marx enthrones the economic instinct. 1978. Sederet disiplin ilmu seperti psikologi. Persoalan serius yang menghadang adalah. Each theory becomes a Procrustean bed in which the empirical facts are stretched to fit a preconceived pattern. ekonomi. sebaliknya. bila ilmu fiqih cenderung mengenalkan Tuhan sebagai Maha Hakim. filsuf. bila langkah pertama untuk mengenal Tuhan adalah mengenal diri sendiri terlebih dahulu secara benar.mengenal Tuhan. biologi. meskipun obyek materialnya sama-sama manusia. antropologi. misalnya. secara tak langsung ilmu ini cenderung menghadirkan wajah Tuhan sebagai Yang Maha Hakim. maka .21) Krisis pengenalan diri sesungguhnya tidak hanya dirasakan kalangan ahli pikir Barat modern. kedokteran. We acquired instead a complete anarchy of thought. Demikianlah. sementara ilmu tasawuf memproyeksikan Tuhan sebagai Sang Kekasih. p. Semakin seorang ahli pikir mendalami satu sudut kajian tentang manusia. melainkan juga di kalangan Islam. telah menghantarkan pada persepsi yang terpecah dalam melihat manusia dan hubungannya dengan Tuhan. Perbedaan-perbedaan ini muncul dalam benak manusia karena pada dasarnya yang bertuhan adalah manusia. tetapi masing-masing memiliki metode dan tujuan yang berbeda. teologi dan lainnya semuanya menjadikan manusia sebagai obyek kajian materialnya. akan melahirkan kesimpulan yang berbeda pula mengenai siapa dan apa hakikat manusia itu. Krisis pengenalan jati diri manusia ini secara eksplisit dikemukakan. sebagaimana diakui kalangan psikolog. katanya: Nietzsche proclaims the will to power. Freud signalizes the sexual instinct. maka ilmu kalam lebih menggarisbawahi gambaran Tuhan sebagai Maha Akal. di mana manusia itu lahir. secara sadar atau tidak. dan ahli pikir pada umumnya. Dalam tradisi ilmu fiqih misalnya. tumbuh dan berkembang dibentuk dan dipengaruhi oleh berbagai faktor yang dijumpai dalam realitas sejarah hidupnya. yang berarti semakin terputus dari pemahaman komprehensif tentang manusia. kini manusia semakin mendapatkan kesulitan untuk mengenali jati diri dan hakikat kemanusiaannya Dengan majunya spesialisasi dalam dunia ilmu pengetahuan dan berkembangnya differensiasi dalam profesi kehidupan maka protret atau konsep tentang realitas manusia semakin terpecah meniadi kepingan-kepingan kecil sehingga keutuhan sosok manusia semakin sulit dihadirkan secara utuh. oleh Ernst Cassirer. Owing to this development our modern theory of man lost its intellectual center. manusia pada akhirnya akan menuntut imbalan pahala atas ketaatannya melaksanakan dekrit-Nya. Jadi. Differensiasi metodologis setiap ilmu. politik. Terjadinya ideologisasi terhadap ilmu-ilmu agama.

secara sederhana kita bisa membedakan dua paradigma pemahaman terhadap manusia. Allah menyatakan bahwa dalam diri manusia memang terdapat unsur Ilahi yang dalam al-Qur'an beristilah "min ruhi. hal. yaitu paradigma materialisme-atheistik dan spiritualisme-theistik. Dari jenjang pertama sampai ke tiga aktivitas dan daya jangkau manusia masih berada dalam lingkup dunia materi dan dunia materi selalu menghadirkan polaritas atau fragmentasi yang saling berlawanan (the primordial pair). Dalam QS. pada umumnya orang sufi menerima hadits tersebut. only electrical charges. mereka cenderung sepakat bahwa manusia adalah microcosmos yang memiliki sifat-sifat yang menyerupai Tuhan dan paling potensial mendekati Tuhan (Bandingkan QS. dan akan mudah dijumpai pada berbagai bidang studi keilmuan Barat kontemporer dengan dalih. the art object or act of love is only a flow of electricity. Kuciptakanlah makhluk maka melalui Aku mereka kenal Aku. Dalam konteks inilah . 1962. 2:3). (Ralph ross. Ralph Ross. 8). Yang pertama berkeyakinan pada teori bahwa semua realitas materi (downward causation). tempuh ialah bagaimana Meskipun Cassirer secara gamblang menunjukkan krisis pengenalan diri." Pendek kata. Bila diurut dari bawah unsurnya ialah minerality. Pandangan yang begitu dangkal tentang manusia secara tegas dikritik oleh al-Qur'an. faham ini telah mereduksi keagungan manusia yang dinyatakan Tuhan sebagai moral and religious being. Bagi mereka yang berpandangan atau terbiasa dengan metode berpikir empirisme-materialistik akan sulit diajak untuk menghayati makna penyempurnaan kualitas insani sebagaimana yang lazim diyakini di kalangan pare sufi. kemudian Aku ingin dikenal. 41:53). vegetality. An art object is only mass and light waves. Lebih dari itu dalam tradisi sufi terdapat keyakinan yang begitu populer bahwa manusia sengaja diciptakan Tuhan karena dengan penciptaan itu Tuhan akan melihat dan menampakkan kebesaran diri-Nya. Progressive reductionism works as follows. therefore. manusia adalah wakil Tuhan di muka bumi untuk melaksanakan 'blueprint'-Nya membangun bayang-bayang surga di bumi ini (QS. Terlepas apakah riwayatnya sahih ataukah lemah. memberikan contoh yang amat sederhana tetapi gamblang betapa miskinnya penganut materialisme dalam memahami kehidupan yang penuh nuansa ini. Meski demikian. namun dengan beberapa penafsiran yang berbeda. realitas manusia memiliki jenjang-jenjang dan mata rantai eksistensi. misalnya. misalnya. dan humanity. antara lain. 15:29. sebaliknya yang kedua berkeyakinan bahwa dunia materi ini hakikatnya berasal dari realitas yang bersifat imateri (upward causation). an act of love only chemiphysical. Kritik terhadap aliran materialisme akhir-akhir ini semakin gencar. Menurut doktrin al-Qur'an. Kuntu kanzan makhfiyyan fa ahbabtu an u'rafa fa khalaqtu al-khalqa fabi 'arafu-ni --Aku pada mulanya adalah harta yang tersembunyi. animality.langkah pertama yang harus kita mengenal diri kita secara benar.

Di manapun seorang mukmin berada. Secara garis besar tahapan seorang mukmin untuk meningkatkan kualitas jiwanya terdiri dari tiga maqam. berusaha mengingat dan mengikatkan kesadaran hati dan pikiran kita kepada Allah. selalu ingin dekat kepada Yang Maha Suci dan Abstrak. Dengan kiasan lain. dzikir atau ta'alluq pada Tuhan. Seperti dikemukakan Carel Alexis bahwa man has gained the mistery of the material world before knowing himself. 89:27). jiwa yang tadinya duduk dan memerintah dari atas singgasana "imateri" dengan sifat-sifatnya yang mulia seperti: cinta kasih. yaitu dataran: minerality. "Takhallaqu bi akhlaq-i Allah. dahaga dan kerinduan mendekati Tuhan ini bukanlah hasil rekayasa pendidikan (kultur) melainkan merupakan natur manusia yang paling dalam. namun para sarjana muslim sepakat bahwa inti tasawuf adalah ajaran yang menyatakan bahwa hakekat keluhuran nilai seseorang bukanlah terletak pada wujud fisiknya melainkan pada kesucian dan kemuliaan hatinya. Dari kenyataan ini maka tidak terlalu salah bila ada yang berpendapat bahwa sesungguhnya potensi dan kecenderungan kehidupan batin manusia ke arah kehidupan mistik bersifat natural dan universal. sehingga ia bisa sedekat mungkin dengan Tuhan yang Maha Suci. Artinya. Makin berkembang ilmu pengetahuan. dia tidak boleh lepas dari berfikir dan berdzikir untuk Tuhannya (QS. "Keakuan" orang bukan lagi difokuskan pada kesucian jiwa tetapi pada prestasi akumulasi dan konsumsi materi. Yaitu. pada nurani manusia yang terdapat dalam cahaya suci yang senantiasa ingin menatap Yang Maha Cahaya (Tuhan) karena dalam kontak dan kedekatan antara nurani dan Tuhan itulah muncul kedamaian dan kebahagiaan yang paling prima. dan animality.yang dimaksud bahwa realitas yang kita tangkap tentang dunia materi adalah realitas yang terpecah berkeping-keping. Jadi. Ajaran spiritualitas seperti ini tidak hanya terdapat pada Islam melainkan pada agama lain. lalu turunlah tahtanya ke level yang lebih rendah. tujuan utama ajaran tasawuf adalah membantu seseorang bagaimana caranya seseorang bisa memelihara dan meningkatkan kesucian jiwanya sehingga dengan begitu ia merasa damai dan juga kembali ke tempat asal muasalnya dengan damai pula (QS. yang pertumbuhannya sering terhalangi oleh pertumbuhan dan naluri jiwa nabati dan hewani yang melekat pada manusia. secara sadar meniru sifat-sifat Tuhan sehingga seorang mukmin memiliki sifat-sifat mulia sebagaimana sifat-Nya. tradisi tasawuf belum mempunyai definisi tunggal. senang kesucian. Kalangan sufi yakin. Dalam konteks ini kalangan sufi biasanya menyandarkan Hadits Nabi yang berbunyi. Proses ini bisa juga disebut sebagai proses internalisasi sifat Tuhan ke dalam diri manusia. Yaitu. Pendeknya. 3:191). makin bertambah kepingan gambaran realitas dunia. Dari dzikir ini meningkat sampai maqam kedua -takhalluq. penuh damai. vegetality. Bila hal ini terjadi maka terjadilah kerancuan standar nilai. bahkan dalam tradisi pemikiran filsafat akan mudah pula dijumpai. Yaitu. roh Ilahi yang bersifat imateri dan berperan sebagai "sopir" bagi kendaraan "jasad" kita ini seringkali lupa diri sehingga ia kehilangan otonominya sebagai master." Maqam ketiga tahaqquq. Dalam kaitan definisi. suatu mengaktualisasikan kesadaran dan kapasitas kemampuan untuk dirinya sebagai . dan makin jauh pula manusia untuk mampu mengenal dirinya secara utuh. Pertama.

menurut Ibn 'Arabi. melainkan Tuhan dalam sifat-Nya yang Dhahir. Dan dari sekian makhluk Tuhan. adalah seiring dengan tajalli-nya Tuhan. p. Seorang 'abd-u 'l-Lah (budak Allah) yang saleh adalah sekaligus juga wakil-Nya untuk membangun bayang-bayang surga di muka bumi ini. bukannya Yang Bathin. Dalam konteks inilah. kata qalb senantiasa berasosiasi dengan kata taqallub yang bergerak atau berubah secara konstan. seorang sufi kontemporer adalah mereka yang tidak asing berdzikir dan berfikir tentang Tuhan sekalipun di hotel mewah dan datang dengan kendaraan yang mewah pula. KHALIFAH ALLAH: MANUSIA SUCI NAN PERKASA Bila upaya penyucian jiwa merupakan inti tasawuf. Maqam tahaqquq ini sejalan dengan Hadits Qudsi yang digemari kalangan sufi yang menyatakan bahwa bagi seorang mukmin yang telah mencapai martabat yang sedemikian dekat dan intimnya dengan Tuhan maka Tuhan akan melihat kedekatan hamba-Nya. 1977. Pandangan semacam itu tentu saja kurang populer dan sulit diterima oleh kalangan terdekat. Kebaikan dan kejahatan kerajaan itu akan tergantung bagaimana perilaku sang raja. Menurut Ibn 'Arabi. Tajalli berarti penampakan diri Tuhan ke dalam makhluk-Nya dalam pengertian metafisik. ia akan mengetahui Tuhannya karena manusia adalah "microcosmos" atau jagad cilik dimana 'arsy Tuhan berada di situ. Dalam tradisi tasawuf yang menjadi fokus kajiannya ialah apa yang disebut gaib atau hati dalam pengertiannya yang metafisis. takhalluq. tetapi Tuhan bukan pengertian huwiyah-Nya atau "ke-Dia-annya" yang Maha Absolut dan Maha Esa. Taqallub-nya hati sang sufi. . maka tasawuf bisa dikatakan sebagai inti keberagaman dan karenanya setiap muslim semestinya berusaha untuk menjadi sufi. sementara badan dan anggotanya bagai istana dan para abdi dalem-nya.138). maka seorang mukmin akan mencapai derajat khalifah Allah dengan kapasitasnya yang perkasa tetapi sekaligus penuh kasih dan damai. bukankah cukup tegas isyarat al-Qur'an maupun Hadits yang menyatakan bahwa kewajiban setiap muslim adalah mensucikan jiwanya sehingga kesuciannya termanifestasikan dalam perilaku insaniyahnya? Melalui tahapan ta'alluq. yang dimaksudkan dengan ungkapan siapa yang mengetahui jiwanya. secara karikatural. hanya hati seorang Insan Kamil-lah yang paling mampu menangkap lalu memancarkan tajalli-Nya dalam perilaku kemanusiaan (Fushushul Hikam. Dalam sebuah hadits Qudsi disebutkan bahwa meskipun secara fisik hati itu kecil dan mengambil tempat pada jasad manusia. namun luasnya hati Insan Kamil (qalb al-'arif) melebihi luasnya langit dan bumi karena ia sanggup menerima 'arsy Tuhan. Bukankah Allah punya blue-print dan proyek untuk memakmurkan bumi. Beberapa ayat al-Qur'an dan Hadits menegaskan bahwa hati seseorang bagaikan raja. kata 'Arabi. sementara bumi langit tidak sanggup. XII. Hossein Nasr. dan bukankah hamba-hamba-Nya yang saleh telah dinyatakan sebagai mandataris-Nya? Jadi. dan itu dilakukan dalam upaya mendekati dan menggapai kasih Tuhan. Namun begitu.seorang mukmin yang dirinya sudah "didominasi" sifat-sifat Tuhan sehingga tercermin dalam perilakunya yang serba suci dan mulia. dan tahaqquq.

Sedangkan tiga kata lainnya menjadi terma yang terkenal dalam tasawuf. Ibn. New York.. Prof. Jakarta. 1973 Ross. New York. UA 20-21 Jakarta Selatan Telp. 7507173 Fax. HAQIQAH DAN MA'RIFAH (hal. Fushush al-Hikam (The Bezels of Wisdom). The Passion of al-Hallaj. Massiggnon. 181) oleh KH Ali Yafie Kata syari'ah telah beredar luas di kalangan umat muslim. Jilid II dan III. 1982. The Qur'anic Sufism. Lahore. Nasution. Teheran. 1938 Cassirer.. AE. Dr. Valiuddin. Izutsu. 1962. Bahkan. SYARI'AH. mereka . Karena itu ada baiknya kita lebih dahulu berbicara tentang tasawuf itu sendiri. London. -------------------------------------------Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah Editor: Budhy Munawar-Rachman Penerbit Yayasan Paramadina Jln. THARIQAH. Annemarie. Dr.DAFTAR KEPUSTAKAAN Arabi. Lahore. 1980. dalam al-Qur'an sendiri. 1978. Schimmel. Toshihiko. Dalam perkembangan Islam munculnya tiga kata thariqah. The Concept of Perpetual Creation in Islamic Mysticism and Zen Buddhism.15. Mir. Metro Pondok Indah Pondok Indah Plaza I Kav. Pertama. haqiqah dan ma'rifah. Pemakaian kata tersebut mengacu kepada makna ajaran dan norma agama itu sendiri. kata tersebut telah dipakai antara lain pada Surah al-Jatsiyah: 18. The Mystical Philosophy of Muhyi al-Din Ibnul 'Arabi.. telah mengakibatkan terbatasnya pengertian syari'ah sehingga lebih banyak mengacu pada norma hukum. An Essay on Man. (021) 7501969. Dimensi Mistik Dalam Islam. Raiph. Afifi. Ernst.. Harun. Symbols and Civilization. 1977. 1978. (021) 7507174 Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota Please direct any suggestion to Media Team Artikel Yayasan Paramadina Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota III. Princeton. Mengenai kelompok tasawuf ada dua pendapat. Falsafat dan Mistisisme Dalam Islam. 1976. 7501983. Louis.

sehingga di kalangan atas dan menengah terdapat pola kehidupan mewah. tapi mulai ditandai juga dengan berkembangnya suatu cara penjelasan teoritis yang kelak menjadi suatu disiplin ilmu yang disebut ilmu Tasawuf. pola dasar tasawuf adalah kedisiplinan beribadah.adalah kelompok spiritual dalam umat Islam yang berada di tengah-tengah dua kelompok lainnya yang disebut kelompok formal dan kelompok Intelektual. Kelompok intelektual ini terdiri dari ulama-ulama mutakallim (ahli teologi). Ajaran ini tak ubahnya merupakan upaya mendidik diri dan keluarga untuk hidup bersih dan sederhana. sehingga tidak diperbudak harta atau tahta. Kedua. seperti kita dapat simak dalam karya sastra "cerita seribu satu malam" dimasa kejayaan kekhalifahan Abbasiyah. konsentrasi tujuan hidup menuju Allah (untuk mendapatkan ridla-Nya). Ajaran Tasawuf pada dasarnya merupakan bagian dari prinsip-prinsip Islam sejak awal. Pada tingkat perkembangan inilah muncul beberapa terma yang dulunya tidak lazim dipakai dalam ilmu-ilmu keislaman. secara berangsur-angsur pola pikir dan pola hubungan antara ahli syari'ah dan ahli haqiqah makin berbeda. Sehingga seharusnya kita katakan seorang muhaddttsin sekaligus juga ulama sufiyah. Selanjutnya para fuqaha pun disebut ahli syari'ah dan para ulama tasawuf disebut ahli haqiqah. dan produk penalaran ulama tasawuf yang disebut haqiqah. Perbedaan tersebut ditandai dengan beberapa hal berikut: 1. yaitu produk penalaran ulama muhaddits dan fuqaha yang disebut syari'ah. Ketika itulah angkatan pertama kaum muslim yang mempertahankan pola hidup sederhananya lebih dikenal sebagai kaum sufiyah. Ibnu Khaldun mengungkapkan. Keadaan tersebut berkelanjutan hingga mencapai puncak perkembangannya pada akhir abad 4 H. Dalam masa tiga abad itu dunia Islam mencapai kemakmuran yang melimpah. Pada tahap perkembangannya. dan upaya membebaskan diri dari keterikatan mutlak pada kehidupan duniawi. bahwa tasawuf itu hanyalah suatu kecenderungan spiritual yang membentuk etika moral dan lingkungan sosial khusus. Sedang dilain pihak. Pada masa itu gerakan tasawuf juga mengalami perkembangan yang tidak terbatas hanya pada praktek hidup bersahaja saja. serta patuh melaksanakan ajaran-ajaran agama dalam kehidupannya sehari-hari.soal pengalaman agama dalam bentuk yang formalistik (syi'ar-syi'ar lahiriah). atau kesenangan duniawi lainnya. Upaya penalaran para ulama muhaddits dan fuqaha dalam menjabarkan prinsip-prinsip ajaran Islam mengenai penataan kehidupan pribadi dan masyarakat yang sudah berkembang selama tiga abad -dengan munculnya disiplin ilmu Tasawuf. . Ahli syari'ah menonjolkan -kadang-kadang secara berlebih-lebihan.terjadilah pemisahan antara dua pola penalaran. Kecenderungan seperti ini secara umum terjadi pada kalangan kaum muslim angkatan pertama. Dan ini menimbulkan banyak pertentangan antara kedua kelompok tersebut. begitu pula seorang mutakallimin sekaligus juga ulama sufiyah. secara berangsur-angsur terjadi pergeseran nilai sehingga orientasi kehidupan duniawi menjadi lebih berat. sedangkan kelompok formal terdiri dari ulama-ulama muhaddits dan fuqaha. Pada angkatan berikutnya (abad 2 H) dan seterusnya.

dia sudah bebas dari ikatan-ikatan formal. para pendahulu mereka sangat disiplin dalam pengalaman syari'ah. kita melihat adanya langkah lebih maju dalam perkembangan tarekat-tarekat tersebut dengan adanya koordinasi antara berbagai macam tarekat itu lewat ikatan yang dikenal dengan nama Jam'iyah Ahl al-Thariqah al-Mu'tabarah. 3. Syadziliyah. Semua itu dianggap sebagai ajaran aneh oleh para ahli syari'ah. maka dia akan mampu menaklukkan alam dan melakukan hal-hal yang luar biasa (keramat). Dan tempat ketiga diduduki tarekat ulama penyair kenamaan Parsi. Untuk lebih mengenal adanya tarekat itu. 2. Tijaniyah dan Sanusiyah. 561 H/1166 M) di Baghdad. disamping Tarekat Naqsyabandiyah. kalau seseorang sudah mencapai derajat wali. tarekat yang banyak pengikutnya Tarekat Rifa'iyyah yang dibangun Sayid Ahmad al-Rifa'i. yang mendapat sambutan luas di Aljazair. siapa yang telah sampai perjalanan rohaniahnya kepada Allah dan sudah terlebur dirinya dalam diri Allah. Sedangkan di Mesir. yang berhak mendapatkan perlindungan dalam rangka tertib kemasyarakatan suatu negara. 4. bagaimanapun keberadaan penganut-penganut tarekat itu merupakan bagian dari potensi bangsa/umat. Mereka berkata. Ahli haqiqah mengklaim. Dalam buku ini beliau mempertemukan teori-teori syari'ah dengan teori-teori haqiqah Ternyata upaya al-Ghazali ini sangat membantu dalam merukunkan kembali antara para ahli syari'ah dengan ahli haqiqah. Jurang pemisah yang makin hari makin melebar antara ahli syari'ah dan ahli haqiqah makin menjadi-jadi pada sekitar akhir abad kelima Hijrah. Dalam satu dasawarsa terakhir ini. pemerintah Mesir menempatkan pembinaan dan koordinasi tarekat-terekat tersebut di bawah Departemen Bimbingan Nasional (Wizarah al-Irsyad al-Qaumi).para ahli haqiqah menonjolkan aspek-aspek batiniah ajaran Islam. Sebagian ahli haqigah tidak merasa terikat dengan syi'ar-syi'ar agama yang ritual-formalistis. Padahal. Adanya teori-teori ahli haqiqah yang menggusarkan para ahli syari'ah. tokoh pertama yang memperkenalkan sistem thariqah (tarekat) itu Syekh Abdul Qadir al-Jilani (w. Pertimbangannya ialah. misalnya teori al-fana fi 'l-Lah (peleburan diri dalam Allah) yang dikemukakan Abu Yazid al-Busthami dan teori Hub al-Lah (cinta Allah) hasil pemikiran Rabi'ah al-'Adawiyah serta teori Maqamat-Ahwal (terminal-terminal dan situasi-situasi) ciptaan Dzunn-un al-Mishri. dan Imam Ghazali berupaya memulihkannya. ada baiknya kita mempertanyakan kapankah munculnya tarekat (al-thuruq al-shufiyah) itu dalam sejarah perkembangan gerakan tasawuf Dr. Kamil Musthafa al-Syibi dalam tesisnya tentang gerakan tasawuf dan gerakan syi'ah mengungkapkan. Ghinia dan Jawa. Dalam kaitan inilah beliau tampil dengan karya besarnya Ihya 'Ulum al-Din. Di Indonesia kita lebih banyak mengenal ajaran tasawuf lewat lembaga keagamaan non-formal yang namanya "tarekat" asal kata thariqah. Ajaran tarekatnya menyebar ke seluruh penjuru dunia Islam. Jalal . kita jumpai Tarekat Qadiriyah yang cukup dikenal. Pada tahun lima puluhan. Di Jawa Timur misalnya.

dan akhirnya membebaskan wilayah Libya. tekun beribadah kepada Allah. Penghormatan dan penyerahan total kepada Syeikh atau pembantunya yang tidak bisa dibantah Dari sistem dan metode tersebut Nicholson menyimpulkan. Menekuni pembacaan dzikir tertentu (awrad) dalam waktu-waktu tertentu setiap hari. 672 H/1273 M). Beliau membuat tradisi baru dengan menggunakan alat-alat musik sebagai sarana dzikir. dan dunia Islam bagian Timur pada umumnya. Kemudian sistem ini berkembang terus dan meluas. bahwa sistem hidup bersih dan bersahaja (zuhd) adalah dasar semua tarekat yang berbeda-beda itu. bersahaja. Ada upacara khusus ketika seseorang diterima menjadi penganut (murid). Apa yang dimaksud dengan kata ma'rifah dalam terma mereka ialah penghayatan puncak pengenalan keesaan Allah dalam wujud semesta dan wujud dirinya sendiri. Menyepi dan berkonsentrasi dengan shalat dan puasa selama beberapa hari (kadang-kadang sampai 40 hari). Sayyid Ahmad al-Syarif al-Sanusi berhasil menggalang satu kekuatan perlawanan rakyat yang mampu memerangi kolonialis Italia. dan pada umumnya tarekat-tarekat tersebut walaupun beragam namanya dan metodenya. Pada titik pengenalan ini akan terpadu makna tawakkal dalam tawhid. sehingga dapat berbuat hal-hal yang berlaku di luar kebiasaan. Menjalani riyadlah (latihan dasar) berkhalwat. 2. tapi ada beberapa ciri yang menyamakan: 1. . dengan jalan pengamalan syari'ah dan penghayatan haqiqah dalam sistem/metode thariqah untuk mencapai ma'rifah. Memakai pakaian khusus (sedikitnya ada tanda pengenal) 3. membimbing masyarakat ke arah yang diridlai Allah. Di bawah syeikhnya yang terakhir. Nicholson mengungkapkan hasil penelitiannya. ada kalanya dengan alat-alat bantu seperti musik dan gerak badan yang dapat membina konsentrasi ingatan. 5. Perancis dan Inggris secara berturut-turut. 6. Dalam periode berikutnya muncul tarekat al-Syadziliyah yang mendapat sambutan luas di Maroko dan Tunisia khususnya. Sasaran akhir dari pembinaan pribadi dalam pola hidup bertasawuf adalah hidup bersih. 4. Yang juga perlu dicatat di sini ialah munculnya Tarekat Sanusiyah yang mempunyai disiplin tinggi mirip disiplin militer. Mungkin sifat keras dari iklim yang dibentuk Tarekat Sanusiyah inilah yang mewarnai Mu'ammar al-Qadafi mengambil alih kekuasaan dan berkuasa sampai saat ini sebagai Kepala Negara tersebut.al-Din al-Rumi (w. Semua pengikutnya dididik dalam disiplin itu. Adakalanya sebelum yang bersangkutan diterima menjadi penganut. dia harus terlebih dahulu menjalani masa persiapan yang berat. Mempercayai adanya kekuatan gaib/tenaga dalam pada mereka yang sudah terlatih. bahwa tarekat-tarekat sufi merupakan bentuk kelembagaan yang terorganisasi untuk membina suatu pendidikan moral dan solidaritas sosial.

-------------------------------------------Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah Editor: Budhy Munawar-Rachman Penerbit Yayasan Paramadina Jln. Filsafat yang menjadi dasar pendekatan diri itu adalah. Dan memang. maka yang dapat diterima Tuhan untuk mendekatiNya adalah roh yang suci.yang melahirkan sikap pasrah total kepada Allah. bukan jasadnya. kaum sufi banyak berusaha menyucikan diri mereka melalui banyak melaksanakan ibadat. 2. 7501983. Safa dalam arti suci dan sufi adalah orang yang disucikan. 7507173 Fax. Rijal al-fikri wa 'l-Da'wah fi 'l-lslam. Ahmad Amin. maka bagian yang dapat mendekatkan diri dengan Tuhan adalah roh. Kamil Mushthafa al-Syibli. Yang dimaksud saf di sini ialah baris pertama dalam salat di mesjid. Ihya 'Ulum al-Din Irnam Ibn Khaldun. Kedua. ASAL KATA SUFI Tidak mengherankan kalau kata sufi dan tasawuf dikaitkan dengan kata-kata Arab yang mengandung arti suci. al-Muqaddimah. (021) 7501969. Tasawuf adalah ilmu yang membahas masalah pendekatan diri manusia kepada Tuhan melalui penyucian rohnya. 42) oleh Harun Nasution (1/4) Tujuan tasawuf adalah mendekatkan diri sedekat mungkin dengan Tuhan sehingga ia dapat melihat-Nya dengan mata hati bahkan rohnya dapat bersatu dengan Roh Tuhan.14. Saf pertama ditempati oleh orang-orang yang cepat datang ke mesjid dan banyak membaca . Penulis-penulis banyak mengaitkannya dengan kata: 1. Dhuha al-Islam dan Zhuhur al-Islam Imam al Ghazali. UA 20-21 Jakarta Selatan Telp. Metro Pondok Indah Pondok Indah Plaza I Kav. al-Shilah bain al-Tashawwuf wa 'l-Tasyayyu'. TASAWUF (hal. Tuhan bersifat rohani. (021) 7507174 Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota Please direct any suggestion to Media Team Artikel Yayasan Paramadina Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota III. pertama. DAFTAR KEPUSTAKAAN Abu 'l-Hasan al-Nadawi. terutama salat dan puasa. Saf (baris). Tuhan adalah Maha Suci. dan melepaskan dirinya dari ketergantungan mutlak kepada sesuatu selain Allah.

Sufi juga mengasingkan diri dari dunia ramai. muncullah anggapan bahwa aliran tasawuf lahir dalam Islam atas pengaruh dari luar. Orang-orang seperti ini adalah yang berusaha membersihkan diri dan dekat dengan Tuhan. Di Madinah mereka hidup sebagai orang miskin. Suf (kain wol). sufi adalah orang yang memakai wol kasar untuk menjauhkan diri dari dunia materi dan memusatkan perhatian pada alam rohani. Diantara semua pendapat itu. Rahib-rahib itu berhati baik. Ahl al-Suffah. Pengaruh filsafat Yunani dikatakan berasal dari pemikiran mistik Pythagoras. Pakaian ini melambangkan kesederhanaan serta kemiskinan dan kejauhan dari dunia. filsafat Yunani dan agama Hindu dan Buddha. ASAL-USUL TASAWUF Karena tasawuf timbul dalam Islam sesudah umat Islam mempunyai kontak dengan agama Kristen. Tempat mereka menjadi tujuan orang yang perlu bantuan di padang yang gersang. Roh yang masuk ke dalam janin di kandungan ibu berasal dari alam rohani yang . kemudian turun ke dunia materi dan masuk ke dalam tubuh manusia yang bernafsu. kemah mereka menjadi tempat berteduh bagi orang yang kepanasan. tinggal di Mesjid Nabi dan tidur di atas bangku batu dengan memakai suffah.150 H). karena kata sophos telah masuk kedalam kata falsafat dalam bahasa Arab. 3. dan pemurah dan suka menolong. Untuk itu ia harus menyucikan diri dengan memusatkan perhatian pada fllsafat serta ilmu pengetahuan dan melakukan beberapa pantangan. Ahl al-Suffah. dan di malam hari lampu mereka menjadi petunjuk jalan bagi musafir. Dalam filsafatnya. (pelana) sebagai bantal. Jadi. walaupun untuk sementara. yaitu para sahabat yang hijrah bersama Nabi ke Madinah dengan meninggalkan harta kekayaannya di Mekkah. Ada yang mengatakan bahwa pengaruhnya datang dari rahib-rahib Kristen yang mengasingkan diri untuk beribadat dan mendekatkan diri kepada Tuhan di gurun pasir Arabia. Di siang hari. kalau seseorang ingin memasuki jalan tasawuf. berhati baik. pendapat terakhir inilah yang banyak diterima sebagai asal kata sufi. dan ditulis dengan sin dan bukan dengan shad seperti yang terdapat dalam kata tasawuf. Sophos (bahasa Yunani yang masuk kedalam filsafat Islam) yang berarti hikmat. Roh yang pada mulanya suci itu menjadi tidak suci dan karena itu tidak dapat kembali ke tempatnya semula yang suci.ayat-ayat al-Qur'an dan berdzikir sebelum waktu salat datang. pemurah dan suka menolong. 4. ia meninggalkan pakaian mewah yang biasa dipakainya dan diganti dengan kain wol kasar yang ditenun secara sederhana dari bulu domba. Pendapat ini memang banyak yang menolak. Inilah pula sifat-sifat kaum sufi. berhati baik serta mulia dan tidak mementingkan dunia. Dalam sejarah tasawuf. Filsafat sufi juga demikian. Orang yang pertama memakai kata sufi kelihatannya Abu Hasyim al-Kufi di Irak (w. sungguhpun tak mempunyai apa-apa. 5. dan kaum sufi pula yang tahu hikmat. roh manusia adalah suci dan berasal dari tempat suci.

memang terdapat dalam tasawuf Islam. maka Aku dekat dan mengabulkan seruan orang yang memanggil jika Aku dipanggil. Sedangkan pengaruh dari agama Hindu dikatakan datang dari ajaran bersatunya Atman dengan Brahman melalui kontemplasi dan menjauhi dunia materi. roh yang telah kotor itu dibersihkan dulu melalui ibadat yang banyak. dan tak dapat kembali ke Tuhan. tetapi berseru. Roh memancar dari diri Tuhan dan akan kembali ke Tuhan. sama dengan Pythagoras. "Telah Kami ciptakan manusia dan Kami . Dekatnya Tuhan kepada manusia disebut al-Qur'an dan Hadits. "Jika hambaKu bertanya kepadamu tentang Aku. Kita perlu mencatat. tapi kemudian dipengaruhi oleh hawa nafsu yang terdapat dalam tubuh manusia. Nirwana dapat dicapai dengan meninggalkan dunia. Paham itu memang bertentangan dengan ajaran al-Qur'an bahwa roh. Bahwa yang kemudian datang dipengaruhi oleh yang datang terdahulu adalah suatu kemungkinan. Tapi. pengaruh itu dikaitkan dengan filsafat emanasi Plotinus. Ajaran menghancurkan diri untuk bersatu dengan Tuhan juga terdapat dalam Islam. Ayat ini mengandung arti bahwa dimana saja Tuhan dapat dijumpai. Selama masih kotor. Kalau sudah bersih. Tuhan memang dekat sekali dengan manusia. ia dapat mendekatkan diri dengan Tuhan sampai ke tingkat bersatu dengan Dia di bumi ini. Dalam tasawuf terdapat pengalaman ittihad. tidakkah mungkin tasawuf timbul dari dalam diri Islam sendiri? Hakekat tasawuf kita adalah mendekatkan diri kepada Tuhan. maka kemana saja kamu berpaling di situ ada wajah Tuhan" (QS. Tentang dekatnya Tuhan. dia berpendapat bahwa roh yang masuk ke dalam tubuh manusia juga kotor. Dengan kata lain. Paham penyucian diri melalui reinkarnasi tak terdapat dalam ajaran tasawuf. Sesudah bercerai dengan tubuh. Tuhan dekat dan sufi tak perlu pergi jauh. filsafat Yunani dan agama Kristen datang lama sebelum Islam. yaitu persatuan roh manusia dengan roh Tuhan. ia berseru agar Tuhan membuka hijab dan menampakkan diri-Nya kepada yang berseru. al-Baqarah 115). Tapi. "Timur dan Barat kepunyaan Tuhan. Dalam kaitan ini timbul pertanyaan: sekiranya ajaran-ajaran tersebut diatas tidak ada. agama Hindu dan Buddha. roh pergi ke alam barzah menunggu datangnya hari perhitungan. Ayat berikut menggambarkan lebih lanjut betapa dekatnya Tuhan dengan manusia. digambarkan oleh ayat berikut. sesudah tubuh mati tidak akan kembali ke hidup serupa di bumi. Maka untuk dapat bertemu dengan Tuhan Yang Maha Suci. Dari agama Buddha. Masih dari filsafat Yunani. Dalam ajaran Islam." Kaum sufi mengartikan do'a disini bukan berdo'a. ia akan tetap tinggal di bumi berusaha membersihkan diri melalui reinkarnasi. Ayat 186 dari surat al-Baqarah mengatakan. Tapi pendapat serupa ini memerlukan bukti-bukti historis. memasuki hidup kontemplasi dan menghancurkan diri. pengaruhnya dikatakan dari konsep Nirwana. agar Tuhan mengabulkan seruannya untuk melihat Tuhan dan berada dekat kepada-Nya.suci. konsep Plotinus tentang bersatunya roh dengan Tuhan di dunia ini. untuk menjumpainya.

"Bukanlah kamu yang membunuh mereka. seorang calon sufi banyak melaksanakan ibadat. Tujuan semua ibadat dalam Islam ialah mendekatkan diri itu. Dengan khusuk dan banyak beribadat ia akan merasakan kedekatan Tuhan. "Siapa yang mengetahui dirinya mengetahui Tuhannya. Perbuatan manusia adalah perbuatan Tuhan." Disini terdapat paham bahwa Tuhan dan makhluk bersatu. lalu melihat Tuhan dengan mata hatinya dan akhirnya mengalami persatuan rohnya dengan roh Tuhan." Untuk mencari Tuhan. dan melalui mereka Aku-pun dikenal. Qaf 16). tetapi di dalam diri manusia sendiri. kesatuan wujud makhluk dengan Tuhan. Maka. dibagi kaum sufi ke dalam stasion-stasion yang dalam bahasa Arab disebut maqamat -tempat seorang calon sufi menunggu sambil berusaha keras untuk membersihkan diri agar dapat melanjutkan perjalanan ke stasion berikutnya. Kalau ayat-ayat diatas mengandung arti ittihad. Disini.tahu apa yang dibisikkan dirinya kepadanya. Sebagaimana telah di sebut diatas penyucian diri diusahakan melalui ibadat. cukup ia masuk kedalam dirinya dan Tuhan yang dicarinya akan ia jumpai dalam dirinya sendiri. stasion pertama dalam tasawuf . yang intinya adalah penyucian diri. terjadilah penyucian diri calon sufi secara berangsur. sufi tak perlu pergi jauh. membaca al-Qur'an dan dzikir. langkah pertama yang harus dilakukan seseorang adalah tobat dari dosa-dosanya. Karena itu hanya sedikit sekali orang yang bisa sampai puncak tujuan tasawuf. "Pada mulanya Aku adalah harta yang tersembunyi. Ayat ini menggambarkan Tuhan berada bukan diluar diri manusia. dan bukan manusia saja yang bersatu dengan Tuhan. Karena itu. Demikianlah ayat-ayat al-Qur'an dan Hadits Nabi menggambarkan betapa dekatnya Tuhan kepada manusia dan juga kepada makhluk-Nya yang lain. persatuan manusia dengan Tuhan. JALAN PENDEKATAN DIRI KEPADA TUHAN Jalan yang ditempuh seseorang untuk sampai ke tingkat melihat Tuhan dengan mata hati dan akhirnya bersatu dengan Tuhan demikian panjang dan penuh duri. hadits terakhir ini mengandung konsep wahdat al-wujud. Jalan itu. Bahwa Tuhan dekat bukan hanya kepada manusia. shalat. dan inilah hakikat tasawuf. Dan Kami lebih dekat dengan manusia daripada pembuluh darah yang ada di lehernya (QS. kemudian Aku ingin dikenal. Bertahun-tahun orang harus menempuh jalan yang sulit itu. terutama puasa. al-Anfal 17). Gambaran serupa ini tidak memerlukan pengaruh dari luar agar seorang muslim dapat merasakan kedekatan Tuhan itu. dan dari sinilah berasal kata tarekat dalam bahasa Indonesia. sufi melihat persatuan manusia dengan Tuhan. tapi juga kepada makhluk lain sebagaimana dijelaskan hadis berikut. Karena itu hadis mengatakan. tapi Allah-lah yang membunuh dan bukanlah engkau yang melontarkan ketika engkau lontarkan (pasir) tapi Allah-lah yang melontarkannya (QS. Maka Kuciptakan makhluk. Jalan itu disebut tariqah (bahasa Arab). Jelas kiranya bahwa usaha penyucian diri. Dalam konteks inilah ayat berikut dipahami kaum sufi.

Ia terus banyak berpuasa. melakukan shalat. melakukan shalat. ia keluar dari pengasingannya masuk kembali ke dunianya semula. membaca al-Qur'an dan dzikir. Yang dicarinya ialah kebahagiaan rohani. Pada mulanya seorang calon sufi harus tobat dari dosa-dosa besar yang dilakukannya Kalau ia telah berhasil dalam hal ini. karena di dalamnya terdapat syubhat. membaca al-Qur'an dan berdzikir. yaitu tobat yang membuat orangnya menyesal atas dosa-dosanya yang lampau dan betul-betul tidak berbuat dosa lagi walau sekecil apapun. dan membuat ia tahan lapar dan dahaga. Pakaiannyapun sederhana.14. Ia makan dan minum hanya untuk mempertahankan kelanjutan hidup. shalat. Ia mengasingkan diri ke tempat terpencil untuk beribadat. dan itu diperolehnya dalam berpuasa. (021) 7501969. Kebutuhan hidupnya hanya sedikit dan ia tidak meminta kecuali hanya untuk dapat . 7501983. Ia menjadi orang zahid dari dunia. Dalam literatur tasawuf disebut bahwa al-Muhasibi menolak makanan. membaca al-Qur'an dan berdzikir. Puasanya yang banyak membuat hawa nafsunya lemah. kemudian dari perbuatan makruh dan selanjutnya dari perbuatan syubhat. 42) oleh Harun Nasution (2/4) Untuk memantapkan tobatnya ia pindah ke stasion kedua. Di stasion ini ia dijauhkan Tuhan dari perbuatan-perbuatan syubhat. (021) 7507174 Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota Please direct any suggestion to Media Team Artikel Yayasan Paramadina Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota III. Kalau kesenangan dunia dan kelezatan materi tak bisa menggodanya lagi. Ia juga akan selalu naik haji. Jelaslah bahwa usaha ini memakan waktu panjang. orang yang tidak bisa lagi digoda oleh kesenangan dunia dan kelezatan materi. Bisyr al-Hafi tidak bisa mengulurkan tangan ke arah makanan yang berisi syubhat. 7507173 Fax. Ia sedikit tidur dan banyak beribadat. ia pindah ke stasion faqr. (bersambung 2/4) -------------------------------------------Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah Editor: Budhy Munawar-Rachman Penerbit Yayasan Paramadina Jln. TASAWUF (hal. Tobat yang dimaksud adalah taubah nasuha. ia akan tobat dari dosa-dosa kecil. UA 20-21 Jakarta Selatan Telp. Sampailah ia ke stasion wara'. Metro Pondok Indah Pondok Indah Plaza I Kav.adalah tobat. puasa. Di stasion ini ia menjalani hidup kefakiran. yaitu zuhud. Di stasion ini ia menjauhkan diri dari dunia materi dan dunia ramai. Dari stasion wara'.

menjalankan kewajiban-kewajiban agamanya. Ia tidak memikirkan hari esok. Selanjutnya ia pindah ke stasion tawakkal. Ia tidak minta masuk surga dan dijauhkan dari neraka. memeluk kepatuhan kepada Tuhan dan membenci sikap melawan kepada-Nya. Di dalam hatinya tidak ada perasaan benci. ia tidak mau makan. PENGALAMAN SUFI Di masa awal perjalanannya. ia meningkat ke stasion ridla. Ia menyerahkan diri sebulat-bulatnya kepada kehendak Tuhan. Mencintai Tuhan tidaklah dilarang dalam Islam. Lambat laun ia rasakan bahwa Tuhan bukanlah zat yang suka murka. Ia tidak meminta tapi tidak menolak pemberian Tuhan. hatinya merasa senang dan di dalamnya bergelora rasa cinta kepada Tuhan. Bahkan. Ia sabar menderita. cinta Ilahi." Selanjutnya ayat . Kendatipun ada padanya. Ia sabar bukan hanya dalam menjalankan perintah-perintah Tuhan yang berat dan menjauhi larangan-larangan Tuhan yang penuh godaan. Di sini ia telah dekat sekali dengan Tuhan dan iapun sampai ke ambang pintu melihat Tuhan dengan hati nurani untuk selanjutnya bersatu dengan Tuhan. sungguhpun tak ada padanya. Dari stasion tawakkal. ia selamanya merasa tenteram. Ia menjadi sufi setelah sampai ke stasion berikutnya dan memperoleh pengalaman-pengalaman tasawuf. Rasa takut hilang dan timbullah sebagai gantinya rasa cinta kepada Tuhan. Bahkan ia tidak meminta sungguhpun ia tidak punya. Ketika malapetaka turun. bahkan ia tidak menunggu-nunggu datangnya pertolongan. Ia bukan hanya tidak meminta pertolongan dari Tuhan. Pada stasion ridla. Rasa takut itu kemudian berubah menjadi rasa waswas apakah tobatnya diterima Tuhan sehingga ia dapat meneruskan perjalanannya mendekati Tuhan. Sufi memberikan arti mahabbah sebagai berikut. ia sebenarnya belumlah menjadi sufi. Maka ia pun sampai ke stasion mahabbah. kecuali dari Diri Yang Dikasihi. Mengosongkan hati dari segala-galanya. tetapi juga sabar dalam menerima percobaan-percobaan berat yang ditimpakan Tuhan kepadanya. tapi zat yang sayang dan kasih kepada hamba-Nya. Ayat 54 dari surat al-Maidah. baginya cukup apa yang ada untuk hari ini. yang ada hanyalah perasaan senang. bahkan dalam al-Qur'an terdapat ayat-ayat yang menggambarkan cinta Tuhan kepada hamba dan cinta hamba kepada Tuhan. karena ada orang yang lebih berhajat pada makanan dari padanya. tapi baru menjadi zahid atau calon sufi. Ia bersikap seperti telah mati. Karena stasion-stasion tersebut di atas baru merupakan tempat penyucian diri bagi orang yang memasuki jalan tasawuf. Ketiga. Setelah menjalani hidup kefakiran ia sampai ke stasion sabar. calon sufi dalam hubungannya dengan Tuhan dipengaruhi rasa takut atas dosa-dosa yang dilakukannya. rasa cinta kepada Tuhan bergelora dalam hatinya. pertama. Kedua. Menyerahkan seluruh diri kepada Yang Dikasihi. "Allah akan mendatangkan suatu umat yang dicintai-Nya dan orang yang mencintai-Nya. Dari stasion ini ia tidak menentang percobaan dari Tuhan bahkan ia menerima dengan senang hati.

"Tuhanku. pintu-pintu istana telah dikunci. Bagi-Mu-lah puji dan untuk itu semua. telah sampai ke stasion sesudah mahabbah. seperti yang berikut. jika kupuja Engkau karena takut kepada neraka. "Katakanlah. ia tidak meminta dijauhkan dari neraka dan pula tidak meminta dimasukkan ke surga. Cintanya yang dalam kepada Tuhan memalingkannya dari segala yang lain dari Tuhan. Ia telah melihat Tuhan dengan hati nuraninya. Dengan kata lain. Aku menjadi pendengaran." Ia bermunajat. aku tidak akan bergerak. bakarlah mataku karena Engkau. penglihatan dan tangannya. tiap pecinta telah berduaan dengan yang dicintainya. hanya Engkaulah yang kukasihi.30 dari surat 'Ali Imran menyebutkan. "Cintaku kepada Tuhan tidak meninggalkan ruang kosong di dalam hatiku untuk benci setan. sehingga ketika orang bertanya kepadanya. ataukah Engkau tolak sehingga aku merasa sedih. kebahagiaan dari kesenanganku. tetapi aku mengabdi karena cintaku kepada-Nya. Cinta karena diriku dan cinta karena diri-Mu." Hadits juga menggambarkan cinta itu. Tiada puji bagiku untuk ini dan itu. jika kamu cinta kepada Tuhan. yaitu ma'rifah. "Senantiasa hamba-Ku mendekatkan diri kepada-Ku melalui ibadat sehingga Aku cinta kepadanya. karena cintaku kepada-Mu telah memenuhi hatiku. bukan pula karena ingin masuk surga. dan Allah akan mencintai kamu. apakah Engkau terima aku sehingga aku bahagia. Cinta kepada diri-Mu. akhirnya dibalas Tuhan. Aku gelisah. "Aku mengabdi kepada Tuhan bukan karena takut kepada neraka. Demi keMahakuasaan-Mu inilah yang akan kulakukan selama Engkau beri hajat kepadaku. Beri ampunlah pembuat dosa yang datang ke hadiratMu." Ketika fajar menyingsing ia dengan rasa cemas mengucapkan. Orang yang Ku-cintai. janganlah sembunyikan keindahan-Mu yang kekal itu dari pandanganku. Rabi'ah al-'Adawiah telah benar-benar menjadi sufi." Sewaktu malam telah sunyi ia berkata." Sufi yang masyhur dalam sejarah tasawuf dengan pengalaman cinta adalah seorang wanita bernama Rabi'ah al-'Adawiah (713-801 M) di Basrah. Rabi'ah al-'Adawiah. Engkau harapanku. Membuat aku melihat Engkau karena Engkau bukakan hijab. Ia mengatakan. bintang di langit telah gemerlapan. Sekiranya Engkau usir aku dari depan pintuMu." Pernah pula ia berkata. "Tuhanku. ia menjawab." Begitu penuh hatinya dengan rasa cinta kepada Tuhan. "Buah hatiku. mata-mata telah bertiduran. Cinta karena diriku Membuat aku lupa yang lain dan senantiasa menyebut nama-Mu. Ia telah sampai ke stasion yang menjadi idaman kaum sufi. malam telah berlalu dan siang segera akan menampakkan diri. Hatiku telah enggan mencintai selain Engkau. dan ini tertera dari syairnya yang berikut: Kucintai Engkau dengan dua cinta. apakah ia benci kepada setan. Yang ia pinta adalah dekat kepada Tuhan. . Dalam doanya." Cinta tulus Rabi'ah al-'Adawiah kepada Tuhan. dan inilah aku berada di hadirat-Mu. "Tuhanku. maka turutlah Aku.

lebih benar dari pengetahuan yang diperoleh melalui akal." Kata ma'rifat memang mengandung arti pengetahuan. Kalau sufi melihat ke cermin itu yang akan dilihatnya hanyalah Allah. tapi qalb atau kalbu (jantung) yang berpusat di dada. Kedua. mata kepalanya akan tertutup dan ketika itu yang dilihatnya hanya Allah. Demikian juga jiwa. sufi memakai alat bukan akal yang berpusat di kepala. Sekiranya Tuhan tidak membukakan tabir dari mata hatinya. cahaya yang disinarkannya gelap. pengetahuan yang diperoleh melalui kalbu. yaitu ma'rifah. Kedua.860 M). Ma'rifah adalah anugerah Tuhan kepada sufi yang dengan ikhlas dan sungguh-sungguh mencintai Tuhan. Maka. Kalbu mempunyai tiga daya. 'Ilm ini diperoleh melalui akal. yang kalau senantiasa dibersihkan dan digosok akan mempunyai daya tangkap yang besar. makin suci ia dan makin besar daya tangkapnya. Dalam hubungan dengan Tuhan. pertama. sehingga akhirnya dapat menangkap daya cemerlang yang dipancarkan Tuhan. ia tidak akan dapat melihat Tuhan. Karena itu al-Ghazali mengartikan ma'rifat. Lebih jauh mengenai ma'rifah dalam literatur tasawuf dijumpai ungkapan berikut. Sebagaimana disebut dalam literatur tasawuf. Karena cinta ikhlas dan suci itulah Tuhan mengungkapkan tabir dari pandangan sufi dan dengan terbukanya tabir itu sufi pun dapat menerima cahaya yang dipancarkan Tuhan dan sufi pun melihat keindahan-Nya yang abadi. keyakinannya untuk memperoleh kebenaran ternyata melalui tasawuf. yang dilihat orang 'arif. Juga dikatakan bahwa ma'rifah datang ketika cinta sufi dari bawah dibalas Tuhan dari atas. Sebelum menempuh jalan tasawuf al-Ghazali diserang penyakit syak. Dalam bahasa sufi. jiwa tak ubahnya sebagai kaca. setelah mencapai ma'rifah. makin lama ia disucikan dengan ibadat yang banyak. Ketiga daya untuk melihat Tuhan yang disebut sirr. pertama. bukan filsafat. Ma'rifah berbeda dengan 'ilm. Dalam pendapat al-Ghazali. sufi berusaha keras mendekatkan diri dari bawah dan Tuhan menurunkan rahmat-Nya dari atas.Pengalaman ma'rifah. "Aku melihat dan mengetahui Tuhan dengan Tuhan dan sekiranya tidak karena Tuhan aku tidak melihat dan tidak tahu Tuhan. "Melihat rahasia-rahasia Tuhan dan mengetahui peraturan-peraturan Tuhan tentang segala yang ada. daya untuk mencintai Tuhan yang disebut ruh. ma'rifah adalah cermin." Yang dimaksud Zunnun ialah bahwa ia memperoleh ma'rifah karena kemurahan hati Tuhan. Ketiga. ma'rifat dalam tasawuf berarti pengetahuan yang diperoleh langsung dari Tuhan melalui kalbu. kalau mata yang terdapat di dalam hati sanubari manusia terbuka. Tapi. Ketika Zunnun ditanya. menurut al-Ghazali. Sirr adalah daya terpeka dari kalbu dan daya ini keluar setelah sufi berhasil menyucikan jiwanya sesuci-sucinya. Semua orang yang . daya untuk-mengetahui sifat-sifat Tuhan yang disebut qalb. bagaimana ia memperoleh ma'rifah. Keempat. ditonjolkan oleh Zunnun al-Misri (w. yaitu 'ilm. Pengetahuan ini disebut ilm ladunni. sekiranya ma'rifah mengambil bentuk materi. ia menjawab. baik sewaktu tidur maupun sewaktu bangun hanyalah Allah. Ketika itu sufi pun bergemilang dalam cahaya Tuhan dan dapat melihat rahasia-rahasia Tuhan.

874 M). Metro Pondok Indah Pondok Indah Plaza I Kav. 7501983. Ia ingin mengalami persatuan dengan Tuhan. Ucapan-ucapan yang ditinggalkannya menunjukkan bahwa untuk mencapai ittihad diperlukan usaha yang keras dan waktu yang lama. Hilang kejahilan akan timbul ilmu. UA 20-21 Jakarta Selatan Telp. Ia ingin mengatakan bahwa dalam usia tujuh puluh tahunlah ia baru sampai ke stasion ittihad. Sesuatu didalam diri sufi akan fana atau hancur dan sesuatu yang lain akan baqa atau tinggal. . orang yang fana dari maksiat akan baqa (tinggal) takwa dalam dirinya. Ia ingin berada lebih dekat lagi dengan Tuhan." sedang umurnya waktu itu telah lebih dari tujuh puluh tahun. Dalam literatur tasawuf disebutkan. (021) 7507174 Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota Please direct any suggestion to Media Team Artikel Yayasan Paramadina Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota III. Sebelum sampai ke ittihad. seorang sufi harus terlebih dahulu mengalami fana' dan baqa'. TASAWUF (hal. Hilang sifat buruk akan timbul sifat baik. Dengan demikian. dalam arti lafdzi kehancuran jiwa. Sesuatu hilang dari diri sufi dan sesuatu yang lain akan timbul sebagai gantinya. 7507173 Fax. Hilang maksiat akan timbul takwa. Ia menjawab. (021) 7501969. tak tahan melihat Tetapi sufi yang dapat menangkap cahaya ma'rifah dengan mata hatinya akan dipenuhi kalbunya dengan rasa cinta yang mendalam kepada Tuhan. Yang dimaksud bukan hancurnya jiwa sufi menjadi tiada. Seseorang pernah bertanya kepada Abu Yazid tentang perjuangannya untuk mencapai ittihad. sufi harus terlebih dahulu mengalami al-fana' 'an al-nafs. orang yang fana dari kejahatan akan baqa (tinggal) ilmu dalam dirinya. Untuk sampai ke ittihad. Tidak mengherankan kalau sufi merasa tidak puas dengan stasion ma'rifah saja. yang tinggal dalam dirinya sifat-sifat yang baik. "Tiga tahun. yang di dalam istilah tasawuf disebut ittihad.memandangnya akan mati karena kecemerlangan dan keindahannya.14. (bersambung 3/4) -------------------------------------------Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah Editor: Budhy Munawar-Rachman Penerbit Yayasan Paramadina Jln. Yang dimaksud dengan fana' adalah hancur sedangkan baqa' berarti tinggal. 42) oleh Harun Nasution (3/4) Pengalaman ittihad ini ditonjolkan oleh Abu Yazid al Bustami (w.

Hiasilah aku dengan keesaan-Mu. Abu Yazid mengatakan. Kesadaran sufi tentang dirinya dan makhluk lain lenyap dan pergi ke dalam diri Tuhan dan terjadilah ittihad." Dalam menjelaskan pengertian fana'. "Aku tidak meminta dari Tuhan kecuali Tuhan. karena Engkau adalah Raja Maha Kuasa." Abu Yazid tobat dengan lafadz syahadat demikian." Ketika sampai ke ambang pintu ittihad dari sufi keluar ungkapan-ungkapan ganjil yang dalam istilah sufi disebut syatahat (ucapan teopatis). "Ia membuat aku gila pada diriku hingga aku mati. Abu Yazid menggambarkan dengan kata-kata berikut ini. Tetapi jika itu kehendak-Mu. Di sini terjadilah ittihad. dengan arti kesadaran tentang diri sendiri hancur dan timbullah kesadaran diri Tuhan." Kara-kata ini menggambarkan bahwa cinta mendalam Abu Yazid telah dibalas Tuhan. demikian pula makhluk lain. Inilah yang disebut kaum sufi al-fana' 'an al-nafs wa al-baqa." Akhirnya Abu Yazid dengan meninggalkan dirinya mengalami fana. antara lain. kemudian aku mengetahui-Nya melalui diri-Nya dan akupun hidup.tapi kehancurannya akan menimbulkan kesadaran sufi terhadap diri-Nya. Dia juga mengucapkan. aku tak ingin melihat mereka." Lalu. "Apa jalannya untuk sampai kepadaMu?" Tuhan menjawab. diapun berkata lagi. Syatahat yang diucapkan Abu Yazid. Sedangkan mengenai fana dan baqa'. "Pada suatu ketika aku dinaikkan kehadirat Tuhan dan Ia berkata. Masalah ittihad. tetapi aku tidak. tetapi ia tak sadar lagi pada diri mereka dan pada dirinya. Sebenarnya dirinya tetap ada. "Fananya seseorang dari dirinya dan dari makhluk lain terjadi dengan hilangnya kesadaran tentang dirinya dan makhluk lain. "Gila pada diriku adalah fana' dan gila pada diri-Mu adalah baqa' (kelanjutan hidup). karena aku hanyalah hamba yang hina. sebagai berikut. tiada Tuhan selain Allah. sehingga jika . berhadapan langsung dengan Tuhan dan mengatakan kepadaNya: Tiada Tuhan selain Engkau. Mengenai fana'. karena lafadz itu menggambarkan Tuhan masih jauh dari sufi dan berada di belakang tabir. Abu Yazid ingin berada di hadirat Tuhan. Dalam mimpi ia bertanya. al-Qusyairi menulis. "Manusia tobat dari dosanya. Aku menjawab. Lalu. dia berkata lagi. aku tak berdaya menentang-Mu. "Tinggalkan dirimu dan datanglah. kekasih-Ku. dan akupun hidup. bi 'l-Lah. Kemudian Ia membuat aku gila kepada diri-Nya. makhluk-Ku ingin melihat engkau. "Aku mengetahui Tuhan melalui diriku hingga aku hancur." Seperti halnya Rabi'ah yang tidak meminta surga dari Tuhan dan pula tidak meminta dijauhkan dari neraka dan yang dikehendakinya hanyalah berada dekat dan bersatu dengan Tuhan. "Aku tidak heran melihat cintaku pada-Mu. baqa' dan ittihad. persatuan atau manunggal dengan Tuhan. Abu Yazid. Tetapi aku heran melihat cinta-Mu padaku. ia mengungkapkan lagi. Aku hanya mengucapkan.

Sufi lain yang mengalami persatuan dengan Tuhan adalah Husain Ibn Mansur al-Hallaj (858-922 M). yang satu memanggil yang lain dengan kata-kata: Ya ana (Hai aku)." Dalam istilah sufi. Dengan kata lain. "Engkaulah Yang Satu. Tiada Allah selain Aku. semuanya kecuali engkau adalah makhluk-Ku. Godaan Tuhan untuk mengalihkan perhatian Abu Yazid ke makhluk-Nya ditolak Abu Yazid." Ia berkata kepadaku. seusai sembahyang subuh. mereka akan berkata. Maka yang mengatakan "Hai Aku Yang Satu" bukan Abu Yazid. Ia tidak ada lagi." Akupun berkata. maka sembahlah Aku." Aku menjawab: "Aku adalah Aku. Maka dosa terbesar tersebut diatas akan membuat Abu Yazid jauh dari Tuhan dan tak dapat bersatu dengan Dia. "Maha Suci Aku. agar dapat dekat kepada Tuhan. yang berlainan . rohnya telah melebur dalam diri Tuhan. "Dialog pun terputus. Tetapi yang mereka lihat sebenarnya adalah Engkau. Engkau adalah aku dan aku adalah Engkau. karena ketika itu aku tak ada di sana. "Abu Yazid. "Engkau adalah Engkau. Maha Besar Aku." Dalam literatur tasawuf disebut bahwa dalam ittihad. "Hai Engkau.menggambarkan bersatunya Abu Yazid dengan Tuhan.makhluk-Mu melihat aku. kata-kata diatas betul keluar dari mulut Abu Yazid. tetapi itu tidak mengandung pengakuan Abu Yazid bahwa ia adalah Tuhan. yang ada hanyalah Tuhan. Dalam arti serupa inilah harus diartikan kata-kata yang diucapkan lidah sufi ketika berada dalam ittihad yaitu kata-kata yang pada lahirnya mengandung pengakuan sufi seolah-olah ia adalah Tuhan. Tuhanlah yang mengaku diri-Nya Allah melalui lidah Abu Yazid. Hal ini juga dialami Abu Yazid." Ia berkata lagi. Karena itu dia pun mengatakan." Aku menjawab. Di dalam jubah ini tidak ada selain Allah." Dialog antara Abu Yazid dengan Tuhan ini menggambarkan bahwa ia dekat sekali dengan Tuhan. Mengakui dirinya Tuhan adalah dosa terbesar. Maka Ia pun berkata kepadaku. tetapi Tuhan melalui Abu Yazid. aku adalah Engkau." Permintaan Abu Yazid dikabulkan Tuhan dan terjadilah persatuan. aku menjawab melalui diri-Nya "Hai Aku. sufi haruslah bersih bukan dari dosa saja. Maka dalam pengertian sufi. Maha Suci Aku. seperti kelihatan dalam ungkapan selanjutnya. kata-kata tersebut memang diucapkan lidah Abu Yazid. Ia tetap meminta bersatu dengan Tuhan. dan sebagaimana dilihat pada permulaan makalah ini. bahkan seluruhnya menjadi satu." Yang mengucapkan kata-kata itu memang lidah Abu Yazid. "Hiasilah aku dengan keesaan-Mu. mengeluarkan kata-kata. sebagaimana terungkap dari kata-kata berikut ini. tidak ada di rumah ini selain Allah Yang Maha Kuasa. Abu Yazid. "Pergilah. "Akulah Yang Satu. Kata-kata bihi -melalui diri-Nya." Yang penting diperhatikan dalam ungkapan diatas adalah kata-kata Abu Yazid "Aku menjawab melalui diriNya" (Fa qultu bihi). telah kami lihat Engkau. tetapi juga dari syubhat. kata menjadi satu. Ini kelihatan dari kata-katanya. tetapi itu tidak berarti bahwa ia mengakui dirinya Tuhan. Aku adalah Allah. Itu adalah kata-kata Tuhan yang diucapkan melalui lidah Abu Yazid.

nasibnya dengan Abu Yazid. "Ana 'l-Haqq" (Akulah Yang Maha Benar). Nasibnya malang karena dijatuhi hukuman bunuh. 7501983. Landasan bahwa Tuhan dan manusia sama-sama mempunyai sifat diambil dari hadits yang menegaskan bahwa Tuhan menciptakan Adam sesuai dengan bentuk-Nya. Hal itu digambarkan al-Hallaj dalam syair berikut ini: Jiwa-Mu disatukan dengan jiwaku Sebagaimana anggur disatukan dengan air suci Jika Engkau disentuh. 7507173 Fax. tetapi hulul. Tuhan memilih tubuh-tubuh manusia tertentu untuk bersemayam didalamnya dengan sifat-sifat ketuhanannya. Menurut al-Hallaj. ketika itu -dalam tiap hal. Metro Pondok Indah Pondok Indah Plaza I Kav. setelah sifat-sifat kemanusiaan yang ada dalam tubuh itu dihancurkan. yang dialami Abu Yazid dalam ittihad sebelum tercapai hulul. lahut (ketuhanan) dan nasut (kemanusiaan). Hadits ini mengandung arti bahwa didalam diri Adam ada bentuk Tuhan dan itulah yang disebut lahut manusia. UA 20-21 Jakarta Selatan Telp. Sebaliknya didalam diri Tuhan terdapat bentuk Adam dan itulah yang disebut nasut Tuhan. Di sini terdapat juga konsep fana. al-Hallaj mengalami persatuannya dengan Tuhan turun ke bumi. aku disentuhnya pula Maka. manusia mempunyai dua sifat dasar: nasut (kemanusiaan) dan lahut (ketuhanan). Hal ini karena dia mengatakan. Kalau Abu Yazid mengalami naik ke langit untuk bersatu dengan Tuhan. mayatnya dibakar dan debunya dibuang ke sungai Tigris. Pengalaman persatuannya dengan Tuhan tidak disebut ittihad. nasut manusia lenyap dan muncullah lahut-nya dan ketika itulah nasut Tuhan turun bersemayam dalam diri sufi dan terjadilah hulul. Hal ini terlihat jelas pada syair al-Hallaj sebagai berikut: Maha Suci Diri Yang Sifat kemanusiaan-Nya Membukakan rahasia cahaya ketuhanan-Nya yang gemilang Kemudian kelihatan bagi makhluk-Nya dengan nyata Dalam bentuk manusia yang makan dan minum Dengan membersihkan diri malalui ibadat yang banyak dilakukan. (021) 7507174 Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota Please direct any suggestion to Media Team .Engkau adalah aku. (021) 7501969. Demikian juga Tuhan mempunyai dua sifat dasar. (bersambung 4/4) -------------------------------------------Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah Editor: Budhy Munawar-Rachman Penerbit Yayasan Paramadina Jln. Dalam literatur tasawuf hulul diartikan.

42) oleh Harun Nasution (4/4) Hulul juga digambarkan dalam syair berikut: Aku adalah Dia yang kucintai Dan Dia yang kucintai adalah aku. Yang Maha Benar bukanlah Aku. Ketika mengalami hulul yang digambarkan diatas itulah lidah al-Hallaj mengucapkan. Aspek batin yang merupakan . baqa. sungguhpun ia tidak mengharamkan tingkat fana'. tapi mengkafirkan al-Farabi dan Ibn Sina. tidak berkembang lagi di dunia Islam Sunni. ucapan itu tidak mengandung arti pengakuan al-Hallaj dirinya menjadi Tuhan. Pertentangan ini mereda setelah al-Ghazali datang dengan pengalamannya bahwa jalan sufilah yang dapat membawa orang kepada kebenaran yang menyakinkan. Kaum syari'at yang banyak terikat kepada formalitas ibadat. Dalam sejarah Islam memang terkenal adanya pertentangan keras antara kaum syari'at dan kaum hakekat. Muhy al-Din Ibn 'Arabi (1165-1240) membawa ajaran kesatuan wujud makhluk dengan Tuhan dalam wahdat al-wujud. gelar yang diberikan kepada kaum sufi.14. Jika Engkau lihat aku. Ia tidak mengkafirkan Abu Yazid dan al-Hallaj. TASAWUF (hal. Sufi yang bernasib malang ini mengatakan. "Ana 'l-Haqq" (Akulah Yang Maha Benar). Al-Ghazali menghalalkan tasawuf sampai tingkat ma'rifah. Kami adalah dua jiwa yang menempati satu tubuh. ia satukan menjadi dua aspek. yang bagi al-Hallaj merupakan dua hal yang berbeda. Kata-kata itu adalah kata-kata Tuhan yang Ia ucapkan melalui lidah al-Hallaj. Dan jika engkau lihat Dia. engkau lihat Kami. tasawuf sebaliknya banyak diamalkan. yaitu mendekatkan diri sedekat mungkin kepada Tuhan. dan ittihad. setelah kritik al-Ghazali dalam bukunya Tahafut al-Falasifah. tiap makhluk mempunyai dua aspek. engkau lihat Dia. "Aku adalah rahasia Yang Maha Benar. Aku hanya satu dari yang benar. Kalau filsafat. tidak menangkap pengalaman sufi yang mementingkan hakekat dan tujuan ibadat.Artikel Yayasan Paramadina Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota III. Lahut dan nasut. bahkan oleh syariat sendiri. Maka bedakanlah antara kami. setelah pengalaman persatuan manusia dengan Tuhan yang dibawa al-Bustami dalam ittihad dan al-Hallaj dalam hulul. Dalam pengalamannya." Syatahat atau kata-kata teofani sufi seperti itu membuat kaum syari'at menuduh sufi telah menyeleweng dari ajaran Islam dan menganggap tasawuf bertentangan dengan Islam. Tetapi sebagaimana halnya dengan Abu Yazid. Dalam perkembangan selanjutnya.

tetapi masih dalam bentuk potensial. adalah penampakan diri atau tajalli dari Tuhan. dan aspek luar yang merupakan aksiden disebut al-khalq. tetapi dalam aspek batinnya satu. sufi mesti mengadakan taraqqi (pendakian) melalui tiga tingkatan: bidayah. Di antara semua makhluk-Nya. tajalli-Nya tidak sama pada semua manusia. Penyayang dan sebagainya (tajalli fi al-asma). ia lihat dirinya. Tuhan menampakkan diri dalam nama-nama-Nya. Jelas bahwa Ibn Arabi tidak mengidentikkan alam dengan Tuhan. yaitu al-haqq. Wujud semuanya satu. kemudian Ia ingin dikenal maka diciptakan-Nya makhluk. Dalam pengalaman al-Jilli. Keadaan ini tak ubahnya sebagai orang yang melihat dirinya dalam beberapa cermin yang diletakkan di sekelilingnya. disebut al-haqq. alam sebagai makhluk. sufi disinari oleh nama-nama Tuhan. Tuhan. Oleh karena itu ada orang yang mengidentikkan ajaran wahdat al-wujud Ibn Arabi dengan panteisme dalam arti bahwa yang disebut Tuhan adalah alam semesta. Dengan kata lain.esensi. Semua makhluk dalam aspek luarnya berbeda. Sebagai bayangan. Tuhan adalah transendental dan bukan imanen. Tuhan dalam keabsolutannya baru keluar dari al-'ama. Maka. Pada tingkat tawassut. alam adalah bayangan Tuhan. Wujud alam tergantung pada wujud Tuhan. Alam hanya merupakan penampakan diri atau tajalli dari Tuhan. yaitu wujud al-haqq. dan melalui makhluklah Ia dikenal. Alam sebagai cermin yang didalamnya terdapat gambar Tuhan. dengan kata lain. ilmu. Yang ada dalam alam ini kelihatannya banyak tetapi pada hakekatnya satu. Pada tahap ahadiah. Pada tahap aniah. Tuhan berada di luar dan bukan di dalam alam. Yang lain dan yang banyak adalah bayangannya. Tajalli Tuhan yang sempurna terdapat dalam Insan Kamil. sufi disinari oleh sifat-sifat Tuhan. pada awalnya adalah "harta" tersembunyi. Di dalam cermin. sebagaimana halnya dengan sufi-sufi lainnya. Pada tahap hawiah nama dan sifat Tuhan telah muncul. tajalli atau penampakan diri Tuhan mengambil tiga tahap tanazul (turun). dirinya kelihatan banyak. wujud alam bersatu dengan wujud Tuhan dalam ajaran wahdat al-wujud. Tuhan menampakkan diri dengan nama-nama dan sifat-sifat-Nya pada makhluk-Nya. pada sufi yang demikian. Sungguhpun manusia merupakan tajalli atau penampakan diri Tuhan yang paling sempurna diantara semua makhluk-Nya. qudrat dll. kabut kegelapan. seperti hayat. Sebagai bayangan. Dan Tuhan ber-tajalli pada sufi demikian dengan . Untuk mencapai tingkat Insan Kamil. tetapi pada hakekatnya dirinya hanya satu. seperti Pengasih. tawassut dan khitam. Huwiah dan Aniyah. ahadiah. Di dalam tiap cermin. pada diri manusia Ia menampakkan diri-Nya dengan segala sifat-Nya. tanpa nama dan sifat. Ajaran wahdat al-wujud dengan tajalli Tuhan ini selanjutnya membawa pada ajaran al-Insan al-Kamil yang dikembangkan terutama oleh Abd al-Karim al-Jilli (1366-1428). sebagaimana disebut dalam Hadits yang telah dikutip pada permulaan. Pada tingkat bidayah. Bagi Ibn Arabi. wujud alam tak akan ada tanpa wujud Tuhan.

Syadziliah di Marokko. Pada tingkat ini sufi pun menjadi Insan Kamil. Di antara semuanya. dan Rifa'iah di Irak. mereka mendapat sokongan dari tarekat Bekhtasyi dan para ulama Turki. Muhammad Abduh. Mesir dan Suria. ajaran-ajaran sufi besar tersebut terkadang diselewengkan. Karena pengaruh besar dalam masyarakat itu orientasi akhirat dan sikap tawakal berkembang di kalangan umat Islam yang bekas-bekasnya masih ada pada kita sampai sekarang. Sementara itu tasawuf pada masa awal sejarahnya mengambil bentuk tarekat. Di Turki Usmani. Karena pengaruh besar itu. dan Tijaniah yang muncul pada abad ke-19 di Marokko dan Aljazair. Pada tingkat khitam. Insan Kamil terdapat dalam diri para Nabi dan para wali. Mawlawiah (Jalaluddin Rumi) di Turki. Dalam tarekat. 1415 M). Dengan kata lain. orang-orang yang ingin mendapat dukungan dari masyarakat menjadi anggota tarekat. sehingga mengabaikan usaha. 1415 M). dalam arti organisasi tasawuf. sehingga timbullah pertentangan antara kaum syari'at dan kaum tarekat. sufi disinari dzat Tuhan yang dengan demikian sufi tersebut ber-tajalli dengan dzat-Nya. Untuk itu tidak mengherankan kalau pemimpin-pemimpin pembaharuan dalam Islam seperti Jamaluddin Afghani. Tarekat-tarekat besar lain diantaranya adalah Bekhtasyiah di Turki. sehingga tarekat menyimpang dari tujuan sebenarnya dari sufi untuk menyucikan diri dan berada dekat dengan Tuhan. Rasyid Ridha dan terutama Kamal Ataturk memandang tarekat sebagai salah satu faktor yang membawa kepada kemunduran . Dialah bayangan Tuhan yang sempurna. muncul pada abad ke-14 bagi pengikut Bahauddin Naqsyabandi (w. Sementara itu ada pula tarekat yang menekankan pentingnya kehidupan rohani dan mengabaikan kehidupan duniawi. Naqsyabandiah. Tarekat ada yang telah menyalahi ajaran dasar sufi dan syari'at Islam. Ia menjadi manusia sempurna. yang dikembangkan tarekat adalah orientasi akhirat dan sikap tawakal. yang dibentuk oleh murid-murid atau pengikut-pengikut sufi besar untuk melestarikan ajaran gurunya. dan disamping itu menekankan ajaran tawakal sufi. 1166 M). Demikianlah. Di antara tarekat-tarekat besar yang terdapat di Indonesia adalah Qadiriah yang muncul pada abad ke-13 Masehi untuk melestarikan ajaran Syekh Abdul Qadir Jailani (w. tujuan sufi untuk berada sedekat mungkin dengan Tuhan akhirnya tercapai malalui ittihad serta hulul yang mengandung pengalaman persatuan roh manusia dengan roh Tuhan dan melalui wahdat al-wujud yang mengandung arti penampakan diri atau tajalli Tuhan yang sempurna dalam diri Insan Kamil.sifat-sifat-Nya. tentara menjadi anggota tarekat Bekhtasyi dan dalam perlawanan mereka terhadap pembaharuan yang diadakan sultan-sultan. Perlu ditegaskan bahwa sampai permulaan abad ke-20. mempunyai sifat ketuhanan dan dalam dirinya terdapat bentuk (shurah) Allah. Suria dan Mesir. Dan dialah yang menjadi perantara antara manusia dan Tuhan. Insan Kamil yang tersempurna terdapat dalam diri Nabi Muhammad. tarekat mempunyai pengaruh besar dalam masyarakat Islam. pengikut Abdullah Syattar (w. Syattariah. Sanusiah di Libia.

perlu dihidupkan kembali spiritualisme. Banyak orang mengatakan bahwa dalam menghadapi meterialisme yang melanda dunia sekarang. 1964. umpamanya aliran Subud di Jakarta. Oleh karena itu bukanlah tidak pada tempatnya bagi seorang Kristen untuk mempelajari ajaran-ajaran sufi yang telah meninggalkan pengaruh besar dalam kehidupan umat Islam dan bersama-sama dengan orang Islam menggali kembali ajaran-ajaran sufi yang akan dapat memenuhi kebutuhan orang yang mencari nilai-nilai kerohanian dan moral zaman yang penuh kegelapan dan tantangan seperti sekarang. DAFTAR KEPUSTAKAAN Arberry. 7507173 Fax.13. A. Gallimard. Corbin. Badawi. London.. al-Nahdah al-Misriah. Dalam hubungan itu kira-kira 30 tahun lalu.J. Ada yang pergi ke kerohanian dalam agama Buddha. UA 20-21 Jakarta Selatan Telp. -------------------------------------------Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah Editor: Budhy Munawar-Rachman Penerbit Yayasan Paramadina Jln. Sufism. Histoire de la Philosophie Islamique. Pada akhir-akhir ini memang kelihatan gejala orang-orang di Barat yang bosan hidup kematerian lalu mencari hidup kerohanian di Timur. Paris. Cairo. Dalam pada itu dunia dewasa ini dilanda oleh materialisme yang menimbulkan berbagai masalah sosial yang pelik.R.. 1963. Metro Pondok Indah Pondok Indah Plaza I Kav. FILSAFAT ISLAM (1/3) oleh Harun Nasution .. (021) 7501969. H. Tetapi untuk itu yang perlu ditekankan tarekat dalam diri para pengikutnya adalah penyucian diri dan pembentukan akhlak mulia disamping kerohanian dengan tidak mengabaikan kehidupan keduniaan. George Allan and Unwin Ltd. ada ke kerohanian dalam agama Hindu dan tak sedikit pula yang mengikuti kerohanian dalam agama Islam.J.. (021) 7507174 Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota Please direct any suggestion to Media Team Artikel Yayasan Paramadina Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota III. Syatahat al-Sufiah. A.umat Islam. A. Disini tasawuf dengan ajaran kerohanian dan akhlak mulianya dapat memainkan peranan penting. 7501983. 1949. Arberry dalam bukunya Sufism menulis bahwa Muslim dan bukan Muslim adalah makhluk Tuhan yang satu.

Kedudukan akal yang tinggi dalam pemikiran Yunani mereka jumpai sejalan dengan kedudukan akal yang tinggi dalam al-Qur'an dan Sunnah Nabi.Ketika datang ke Timur Tengah pada abad IV SM. jatuh ke bawah kekuasaan Islam. Dari warga negara non Islam ini timbul satu golongan yang tidak senang dengan kekuasaan Islam dan oleh karena itu ingin menjatuhkan Islam. dengan menangnya kekuatan Islam dalam peperangan tersebut. Untuk itu ia adakan pembauran antara orang-orang Yunani yang dibawanya. Karena itu aliran ini menganut faham qadariah. Mereka tetap memeluk agama mereka semula terutama yang menganut agama Nasrani dan Yahudi. Selopsia serta Jundisyapur di Irak dan Baktra (sekarang Balkh) di Iran. yang di Barat dikenal dengan istilah free-will and free-act. tidak dipaksa para sahabat untuk masuk-Islam. dengan penduduk setempat. Untuk itu mereka pelajari filsafat dan ilmu pengetahuan Yunani. Akal menunjukkan kekuatan manusia. Dari pihak umat Islam timbul satu golongan yang melihat bahwa serangan itu tidak dapat ditangkis kecuali dengan memakai argumen-argumen filosofis pula. berlainan dengan anak kecil. Ketika para Sahabat Nabi Muhammad menyampaikan dakwah Islam ke daerah-daerah tersebut terjadi peperangan antara kekuatan Islam dan kekuatan Kerajaan Bizantium di Mesir. dengan lain kata mereka tinggalkan arti tersurat dari nash wahyu dan mengambil arti tersiratnya. Tetapi penduduknya. dan mampu berfikir secara mendalam. Tujuannya bukanlah hanya meluaskan daerah kekuasaannya ke luar Macedonia. mempunyai kebebasan dalam kemauan serta perbuatan. Dengan jalan demikian berkembanglah falsafat dan ilmu pengetahuan Yunani di Timur Tengah. maka akal yang kuat menggambarkan manusia yang kuat. dan kekuatan Kerajaan Persia di Iran. 3. yang membawa kepada konsep manusia yang penuh dinamika. bahwa tidak ada paksaan dalam agama dan bahwa kewajiban orang Islam hanya menyampaikan ajaran-ajaran yang dibawa Nabi. Suria serta Irak. Kedudukan akal tinggi di dalamnya. 2. Manusia dewasa. Antakia di Suria. tapi juga menanamkan kebudayaan Yunani di daerah-daerah yang dimasukinya. sehingga mereka tidak mau tunduk kepada arti harfiah dari teks wahyu yang tidak sejalan dengan pemikiran filosofis dan ilmiah. Pemikiran filosofis mereka membawa kepada penekanan . Mereka dikenal banyak memakai ta'wil dalam memahami wahyu. sesuai dengan ajaran al-Qur'an. Daerah-daerah ini. Ciri-ciri dari teologi rasional ini ialah: 1. yaitu manusia dewasa. Aleksander Yang Agung membawa bukan hanya kaum militer tetapi juga kaum sipil. dan timbullah pusat-pusat peradaban Yunani seperti Iskandariah (dari nama Aleksander) di Mesir. Mereka tinggalkan arti harfiah teks dan ambil arti majazinya. mampu berdiri sendiri. baik dalam perbuatan maupun pemikiran. Mereka pun menyerang agama Islam dengan memajukan argumen-argumen berdasarkan falsafat yang mereka peroleh dari Yunani. Dengan demikian timbullah di panggung sejarah pemikiran Islam teologi rasional yang dipelopori kaum Mu'tazilah.

tetapi juga sains. tetapi yang penting adalah hakikat dari juz'iat itu sendiri. Ia dengan tegas mengatakan bahwa antara filsafat dan agama tak ada pertentangan. dan peraturan itu perlu dicari untuk kepentingan hidup manusia di dunia ini. Agama dalam pada itu juga menjelaskan yang benar. yaitu hakikat yang bersifat universal dalam bentuk jenis. Filsafat yang termulia dalam pendapat Al-Kindi adalah filsafat ketuhanan atau teologi. berhubungan langsung dengan ciptaannya yang tak dapat dihitung banyaknya itu. particulars). universals). Teologi rasional Mu'tazilah inilah. Benda-benda yang ada di luar akal merupakan juz'iat (kekhususan. Pencipta alam semesta. Yang Benar Pertama itu dalam penjelasan Al-Kindi adalah Tuhan. Yang penting bagi filsafat bukanlah benda-benda atau juz'iat itu sendiri. (haqiqah kulliah) yang disebut mahiah. Dalam pemikirannya. Memurnikan tauhid memang masalah penting dalam teologi dan filsafat Islam. dan berfalsafat tidaklah haram dan tidak dilarang. Yang Maha Esa. Maka keadilan Tuhanlah yang menjadi titik tolak pemikiran teologi mereka. Tiap-tiap benda mempunyai hakikat sebagai juz'i (haqiqah jaz'iah) yang disebut aniah dan hakikat sebagai kulli. dalam al-Qur'an disebut Sunnatullah. dan pemikiran merupakan daya atau energi. Filsafat dengan demikian membahas soal Tuhan dan agama. Zat. Yang Maha Esa berfikir tentang diriNya yang esa. kalau Tuhan. yang di dalam diriNya terdapat arti banyak. dengan keyakinan akan kedudukan akal yang tinggi. Alam ini berjalan menurut peraturan tertentu. Dengan filsafat "al-Haqq al-Awwal"nya. Karena itu mempelajari filsafat. tetapi wajib. pancaran) dari al-Farabi. Mempelajari teologi adalah wajib dalam Islam. Maka kedua-duanya membahas yang benar. Al-haqiqah atau kebenaran. tidaklah sebenarnya esa.konsep Tuhan Yang Maha Adil. yaitu sesuainya konsep dalam akal dengan benda bersangkutan yang berada di luar akal. Hakikat yang ada dalam benda-benda itu disebut kulliat (keumuman. adalah sesuainya apa yang ada di dalam akal dengan apa yang ada diluarnya. yang membawa pada perkembangan Islam. Filsuf besar pertama yang dikenal adalah al-Kindi. (796-873M) satu-satunya filsuf Arab dalam Islam. Karena pemikiran Tuhan tentang diriNya merupakan daya . hanya berhubungan dengan yang esa. al-Kindi. berusaha memurnikan keesaan Tuhan dari arti banyak. yang mengatur perjalanan apa yang ada di alam ini. dan dalam penjelasan tentang yang benar juga memakai argumen-argumen rasional. Dalam hal ini al-Farabi (870-950 M) memberi konsep yang lebih murni lagi. bukan hanya filsafat. agar menjadi esa. Menurut pemikiran filsafat kalau ada yang benar maka mesti ada "Yang Benar Pertama" (al-Haqq al-Awwal). di dalam diri Tuhan terdapat arti banyak. Filsafat ia artikan sebagai pembahasan tentang yang benar (al-bahs'an al-haqq). kebebasan manusia dalam berfikir serta berbuat dan adanya hukum alam ciptaan Tuhan. pada masa antara abad ke VIII dan ke XIII M. Pemurnian tauhid inilah yang menimbulkan filsafat emanasi (al-faid. Keadilan Tuhan membawa mereka selanjutnya kepada keyakinan adanya hukum alam ciptaan Tuhan. menurut pendapatnya. Selanjutnya filsafat dalam pembahasannya memakai akal dan agama.

air dan tanah. dalam arti tidak mempunyai permulaan dalam zaman. udara. maka daya itu menciptakan sesuatu.yang dahsyat. yaitu Tuhan dan dirinya sendiri. Yang diciptakan pemikiran Tuhan tentang diriNya itu adalah Akal I. Jadi. Dalam diri Tuhan tidak terdapat arti banyak. karena tidak ada lagi planet yang akan diurusnya. tetapi melalui Akal atau malaikat. dan Akal I melalui Akal II. Akal II juga mempunyai obyek pemikiran. tetapi melalui Akal I yang esa. Dengan demikian diperolehlah gambaran berikut: Akal III menghasilkan Akal IV dan Saturnus. Begitulah Akal selanjutnya berfikir tentang Tuhan dan menghasilkan Akal dan berpikir tentang dirinya sendiri dan menghasilkan planet-planet. udara. cukup kuat lagi untuk menghasilkan Demikianlah gambaran alam dalam astronomi yang diketahui di zaman Aristoteles dan zaman al-Farabi. apa yang dipancarkan pemikiran Tuhan itu mestilah pula qadim. Obyek pemikiran Akal I adalah Tuhan dan dirinya sendiri. Akal II dan seterusnya serta materi asal yang empat api. Tuhan tidak langsung menciptakan yang banyak ini. Tuhan tidak langsung berhubungan dengan yang banyak. tetapi dari materi asal yaitu api. yaitu zaman tak bermula. Dari sinilah timbul pengertian alam qadim. Pemikiran Akal X tentang Tuhan tidak lagi menghasilkan Akal. Dengan lain kata Akal I. Pemikiran Akal X tidak Akal. Akal dalam pendapat filsuf Islam adalah malaikat. dan inilah tauhid yang murni dalam pendapat al-Farabi. Ibn Sina dan filsuf-filsuf Islam yang menganut paham emanasi. yang dikritik al-Ghazali. air dan tanah adalah pula qadim. Akal IX menghasilkan Akal X dan Bulan. Pemikirannya tentang Tuhan menghasilkan Akal II dan pemikirannya tentang dirinya menghasilkan Langit Pertama. Dalam diri yang esa atau Akal I inilah mulai terdapat arti banyak. Sesuatu mesti diciptakan dari suatu yang telah ada. Maka materi asal timbul bukan dari tiada. Yang Maha Esa menciptakan yang esa. Akal VI menghasilkan Akal VII dan Matahari. Akal II melalui Akal III dan demikianlah seterusnya sampai ke penciptaan Bumi melalui Akal X. Memang tiap-tiap Akal itu mengurus planet yang diwujudkannya. Dalam pendapat falsafat dari nihil tak dapat diciptakan sesuatu. yaitu alam yang terdiri atas sepuluh falak. Akal V menghasilkan Akal VI dan Mars. Akal X menghasilkan hanya Bumi. Akal VII menghasilkan Akal VIII dan Venus. tetapi dari sesuatu yang dipancarkan pemikiran Tuhan. Karena Tuhan beffikir semenjak qidam. Begitulah Tuhan menciptakan alam semesta dalam falsafat emanasi al-Farabi. Alam dalam filsafat Islam diciptakan bukan dari tiada atau nihil. . Akal IV menghasilkan Akal V dan Yupiter. Pemikirannya tentang Tuhan menghasilkan Akal III dan pemikirannya tentang dirinya sendiri menghasilkan Alam Bintang. Ak al VIII menghasilkan Akal IX dan Merkuri.

Indra penggambar yang melepaskan gambar-gambar dari materi. Akal praktis. tumbuh dan berkembang biak. 2. Akal teoritis.(bersambung 2/3) Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah Editor: Budhy Munawar-Rachman Penerbit Yayasan Paramadina Jln. Akal terbagi dua: a. Indra bersama yang menerima kesan-kesan yang diperoleh pancaindra.Indra pereka yang mengatur gambar-gambar ini. yang menerima arti-arti yang berasal dari materi melalui indra pengingat yang ada dalam jiwa binatang. yang mempunyai hanya satu daya. 7507173 Fax. v. iv. yaitu berfikir yang disebut akal. Metro Pondok Indah Pondok Indah Plaza I Kav.13. Dan (b) Indra dalam yang berada di otak dan terdiri dari: i. . Sama dengan al-Farabi ia membagi jiwa kepada tiga bagian: 1. yang terbagi dua: (a) Indra luar. iii. Jiwa manusia. yang tak pernah ada dalam materi seperti Tuhan. yang dibahas filsuf-filsuf Islam ada pula soal jiwa manusia yang dalam falsafat Islam disebut al-nafs. FILSAFAT ISLAM (2/3) oleh Harun Nasution Selain kemahaesaan Tuhan. dan daya menangkap dengan pancaindra. (021) 7507174 Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota Please direct any suggestion to Media Team Artikel Yayasan Paramadina Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota III. Filsafat yang terbaik mengenai ini adalah pemikiran yang diberikan Ibn Sina (980-1037M). Jiwa binatang yang mempunyai daya gerak. yaitu pendengaran. Indra penganggap yang menangkap arti-arti yang terlindung dalam gambar-gambar tersebut. (021) 7501969. Indra pengingat yang menyimpan arti-arti itu. roh dan malaikat. ii. UA 20-21 Jakarta Selatan Telp. penglihatan.-------------------------------------------. Jiwa tumbuh-tumbuhan yang mempunyai daya makan. b. rasa dan raba. pindah dari satu tempat ke tempat. 3. 7501983. yang menangkap arti-arti murni.

Akal aktual. ke akal teoritis. 4. Dalam diri manusia terdapat tiga macam jiwa ini. jiwa manusia adalah . Dan dalam hal ini akal praktis mempunyai malaikat. Akal inilah yang mengontrol badan manusia.Akal praktis memusatkan perhatian kepada alam materi. Akal teoritis mempunyai empat tingkatan: 1. Tetapi kalau ia teruskan akal teoritis akan berkembang dengan baik. Makin banyak arti yang diteruskan otak kepadanya makin kuat daya akal untuk menangkap arti-arti murni. tetapi di akhirat. sebagaimana dilihat di atas. Jiwa manusia mempunyai wujud tersendiri. yang akan tinggal menghadapi perhitungan di depan Tuhan adalah jiwa manusia. Jiwa manusia. karena otaklah. yang diciptakan Tuhan setiap ada janin yang siap untuk menerima jiwa. yang diterimanya dari indra pengingat dalam jiwa binatang. Akal inilah yang dapat menangkap arti-arti murni yang dipancarkan Tuhan melalui Akal X ke Bumi. sehingga hawa nafsu yang terdapat di dalamnya tidak menjadi halangan bagi akal praktis untuk membawa manusia kepada kesempurnaan. yang telah mudah dan lebih banyak menangkap arti-arti murni. Jiwa tumbuh-tumbuhan dan jiwa binatang akan lenyap dengan hancurnya tubuh kembali menjadi tanah. Akal perolehan yang telah sempurna kesanggupannya menangkap arti-arti murni. Sifat seseorang banyak bergantung pada jiwa mana dari tiga yang tersebut di atas berpengaruh pada dirinya. 2. yang telah mulai dapat menangkap arti-arti murni. Kalau jiwa tumbuh tumbuhan dan binatang tidak kekal. Kalau akal sudah sampai kepada kesempurnaan. 3. dan jelas bahwa yang terpenting diantaranya adalah jiwa berpikir manusia yang disebut akal itu Akal praktis. Karena itu balasan yang akan diterimanya bukan di dunia. Akal tingkat keempat inilah yang tertinggi dan dimiliki filsuf-filsuf. orang itu dekat menyerupai binatang. yang pada mulanya menolong akal untuk menangkap arti-arti. Setelah tubuh manusia mati. Akal potensial dalam arti akal yang mempunyai potensi untuk menangkap arti-arti murni. berlainan dengan kedua jiwa di atas fungsinya tidak berkaitan dengan yang bersifat fisik tetapi yang bersifat abstrak dan rohani. Jiwa tumbuh-tumbuhan dan binatang lenyap dengan matinya tubuh karena keduanya hanya mempunyai fungsi-fungsi fisik seperti dijelaskan sebelumnya. Tetapi jika jiwa manusia yang berpengaruh terhadap dirinya maka ia dekat menyerupai malaikat. Jika jiwa tumbuh-tumbuhan dan binatang yang berpengaruh. jiwa tak berhajat lagi pada badan. kalau terpengaruh oleh materi. Jiwa berhajat kepada badan manusia. Akal bakat. Kedua jiwa ini. karena telah memperoleh balasan di dunia ini tidak akan dihidupkan kembal di akhirat. sedang akal teoritis kepada alam metafisik. bahkan badan bisa menjadi penghalang baginya dalam menangkap arti-arti murni. tidak meneruskan arti-arti.

illallah. Tiga. Sebagai orang yang banyak berkecimpung dalam bidang sains para filsuf percaya pula kepada tidak berubahnya hukum alam. II dan seterusnyalah yang mengatur planet-planet maka Akal I. yang ada hanyalah semata-mata zat. tidak ada yang qadim selain Allah. Alam qadim dalam arti tak bermula dalam zaman 2. Karena akal I. Tetapi kalau ia berpisah dari badan dalam keadaan belum sempurna ia akan mengalami kesengsaraan kelak. Tuhan mengetahui hanya yang bersifat universal. Dari paham bahwa jiwa manusialah yang akan menghadapi perhitungan kelak timbul faham tidak adanya pembangkitan jasmani yang juga dikritik al-Ghazali. tak mempunyai akhir dalam zaman. Pemurnian itu membawa al-Farabi pula kepada falsafat emanasi yang di dalamnya terkandung pemikiran alam qadim. Inilah yang mendorong al-Ghazali untuk mencap kafir filsuf yang percaya bahwa alam ini qadim. Tuhan tidak mengetahui perincian yang terjadi di alam. Pembangkitan jasmani tak ada 3. Demikianlah beberapa aspek penting dari falsafat Islam. Ini membawa pula kepada ateisme. diantara sepuluh itu. . Kalau alam qadim. menurut al-Ghazali membawa mereka kepada kekufuran. yaitu: 1. Dan ini berarti tidak diciptakan. pembangkitan jasmani tak ada. Pemurnian konsep tauhid membawa al-Kindi kepada pemikiran Tuhan tidak mempunyai hakikat dan tak dapat diberi sifat jenis (al-jins) serta diferensiasi (al-fasl). Inilah sepuluh dari duapuluh kritikan yang dimajukan al-Ghazali (1058-1111 M) terhadap pemikiran para filsuf Islam. dosa besar yang dalam al-Qur'an disebut tak dapat diampuni Tuhan. Karena inti manusia adalah jiwa berfikir untuk memperoleh kesempurnaan. Maka syahadat dalam teologi Islam adalah: la qadima. yaitu perincian yang ada dalam alam ini. II dan seterusnya itulah yang mengetahui juz'iat atau kekhususan yang terjadi di alam ini. Karena Tuhan dalam filsafat emanasi tak boleh berhubungan langsung dengan yang banyak dan hanya berfikir tentang diriNya Yang Maha Esa. Tidak diciptakan bisa pula berarti tidak perlu adanya Pencipta yaitu Tuhan. Sebagai seorang Mu'tazilah al-Kindi juga tidak percaya pada adanya sifat-sifat Tuhan. Yang tidak diciptakan adalah Tuhan. Politeisme dan ateisme jelas bertentangan sekali dengan ajaran dasar Islam tauhid yang sebagaimana dilihat di atas para filsuf mengusahakan Islam memberikan arti semurni-murninya. Jika ia telah mencapai kesempurnaan sebelum berpisah dengan badan ia akan mengalami kebahagiaan di akhirat. tak bermula dalam zaman dan baqin. timbul pendapat bahwa Tuhan tidak mengetahui juz'iat. maka alam adalah pula Tuhan dan terdapatlah dua Tuhan. Konsep alam qadim membawa kepada kekufuran dalam pendapat al-Ghazali karena qadim dalam filsafat berarti sesuatu yang wujudnya tidak mempunyai permulaan dalam zaman yaitu tidak pernah tidak ada di zaman lampau. Ini membawa kepada paham syirk atau politeisme.kekal.

teologi tradisional inilah yang berkembang di dunia Islam bagian Timur. Manusia di sini bersikap statis. Sesudah al-Ghazali. Dalam teologi ini akal mempunyai kedudukan rendah sehingga kaum Asy'ari banyak terikat kepada arti lafzi dari teks wahyu. Pengkafiran al-Ghazali ini membuat orang di dunia Islam bagian timur dengan Baghdad sebagai pusat pemikiran menjauhi falsafat. berlawanan dengan teks ayat dalam al-Qur'an. yang ada ialah kebiasaan alam. Teologi ini mengajarkan paham jabariah atau fatalisme yaitu percaya kepada kada dan kadar Tuhan. 3. Jelas teologi tradisional al-Asy'ari ini tidak mendorong pada berkembangnya pemikiran ilmiah dan filosofis sebagaimana halnya dengan teologi rasional Mu'tazilah. Corak tradisionalnya dilihat dari hal-hal 1. Teologi baru itu dibawa oleh al-Asy'ari (873-935) yang pada mulanya adalah salah satu tokoh teologi rasional. Pemikiran teologi al-Asy'ari bertitik tolak dari paham kehendak mutlak Tuhan. Katakanlah: Yang menghidupkan adalah Yang Menciptakannya pertama kali. 2." Maka pengkafiran di sini berdasar atas berlawanannya falsafat tidak adanya pembangkitan jasmani dengan teks al-Qur'an yang adalah wahyu dari Tuhan. sedangkan teks ayat-ayat dalam al-Qur'an menggambarkan adanya pembangkitan jasmani itu. Apalagi di samping pengkafiran itu al-Ghazali mengeluarkan pendapat bahwa jalan sebenarnya untuk mencapai hakikat bukanlah filsafat tetapi tasawuf. Dengan demikian bagi mereka api tidak sesuai dengan hukum alam selamanya membakar tetapi biasanya membakar sesuai dengan kehendak mutlak Tuhan. Pengkafiran tentang masalah ketiga. Sebagai umpama dapat disebut ayat 59 dari surat al-An'am: Tiada daun yang jatuh yang tidak diketahui-Nya. Karena akal lemah manusia dalam teologi ini merupakan manusia lemah dekat menyerupai anak yang belum dewasa yang belum bisa berdiri sendiri tetapi masih banyak bergantung pada orang lain untuk membantunya dalam hidupnya. Karena itu hukum alam dalam teologi ini. Dalam pada itu sebelum zaman al-Ghazali telah muncul teologi baru yang menentang teologi rasional Mu'tazilah. Tuhan tidak mengetahui perincian yang ada di alam juga didasarkan atas keadaan falsafat itu. Manusia dan alam ini diatur Tuhan menurut kehendak mutlakNya dan bukan menurut peraturan yang dibuatnya. Umpamanya ayat 78/9 dari surat Yasin "Siapa yang menghidupkan tulang-tulang yang telah rapuh ini?. Oleh sebab-sebab yang belum begitu jelas ia meninggalkan paham Mu'tazilahnya dan munculkan sebagai lawan dari teologi Mu'tazilah teologi baru yang kemudian dikenal dengan nama teologi al-Asy'ari. Tidak mengherankan kalau sesudah zaman . Mereka tidak mengambil arti tersurat dari wahyu untuk menyesuaikannya dengan pemikiran ilmiah dan filosofis. tak terdapat. Sebagai lawan dari teologi rasional Mu'tazilah teologi Asy'ari bercorak tradisional.Mengenai masalah kedua pembangkitan jasmani tak ada.

Tapi Ibn Rusyd-lah (1126-1198 M) yang mengarang buku Tahafut al-Tahafut sebagai jawaban terhadap kritik-kritik Al-Ghazali yang ia uraikan dalam Tahafut al-Falasifah. di ketika itu berada dalam kesendirianNya. Tuhan. dengan kata lain. Dalam hal-hal ini wahyu datang untuk memperkuat akal.13. Ibn Tufail (w. UA 20-21 Jakarta Selatan Telp. -------------------------------------------. tidak sesuai dengan kandungan al-Qur'an. tidak ada sesuatu di samping Tuhan. . Ibn Bajjah (1082-1138) dalam bukunya Risalah al-Wida'. 7507173 Fax. Metro Pondok Indah Pondok Indah Plaza I Kav.al-Ghazali ilmu dan falsafat tak berkembang lagi di Baghdad sebagaimana sebelumnya di zaman Mu'tazilah dan filsuf-filsuf Islam. jauh dari masyarakat manusia. Ayat 7 dari surat Hud umpamanya mengatakan. kelihatannya mencela al-Ghazali yang berpendapat bahwa bukanlah akal tetapi al-dzauq dan ma'rifat sufilah yang membawa orang kepada kebenaran yang meyakinkan. Konsep serupa ini. konsep al-Ghazali bahwa alam hadis. kata Ibn Rusyd. Tuhan menciptakan alam dari tiada atau nihil. (021) 7501969. seperti yang terdapat dalam falsafat emanasi Al-Farabi dan Ibn Sina.(bersambung 3/3) Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah Editor: Budhy Munawar-Rachman Penerbit Yayasan Paramadina Jln. Didalam al-Qur'an digambarkan bahwa sebelum alam diciptakan Tuhan. telah ada sesuatu di sampingNya. Dan akal orang yang terpencil di suatu pulau. 1185 M) dalam bukunya Hayy Ibn Yaqzan malahan menghidupkan pendapat Mu'tazilah bahwa akal manusia begitu kuatnya sehingga ia dapat mengetahui masalah-masalah keagamaan seperti adanya Tuhan. wajibnya manusia berterimakasih kepada Tuhan. sebaliknya pemikiran filsafat masih berkembang sesudah serangan al-Ghazali tersebut. Mengenai masalah pertama qidam al-alam. alam mempunyai permulaan dalam zaman. (021) 7507174 Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota Please direct any suggestion to Media Team Artikel Yayasan Paramadina Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota III. alam tidak mempunyai permulaan dalam zaman. kebaikan serta kejahatan dan kewajiban manusia berbuat baik dan menjauhi perbuatan jahat. dapat mencapai kesempurnaan sehingga ia sanggup menerima pancaran ilmu dari Tuhan. FILSAFAT ISLAM (3/3) oleh Harun Nasution Di dunia Islam bagian Barat yaitu di Andalus atau Spanyol Islam. 7501983. menurut Ibn Rusyd mengandung arti bahwa ketika Tuhan menciptakan alam.

" seperti yang dikatakan al-Ghazali. tetapi adalah Pencipta dan alam qadim berarti alam diciptakan dalam keadaan terus menerus dari zaman tak bermula ke zaman tak berakhir." kata Ibn Rusyd tidak bisa berubah menjadi "ada. tetapi adalah ciptaan Tuhan. Ayat 12 dari surat al-Mu'minun. Dan yang qadim adalah materi asal. menjelaskan. Jadi Tuhan qadim berarti Tuhan tidak diciptakan. Ayat 47/8 dari surat Ibrahim menyebut: Janganlah sangka bahwa Allah akan menyalahi janji bagi rasul-rasulNya. Filsafat memang tidak menerima konsep penciptann dari tiada (creatio ex nihilo)." seperti yang dikatakan para filsuf. "ada" dalam bentuk materi asal yang empat dirubah Tuhan menjadi "ada" dalam bentuk bumi. "Tiada. Kemudian Ia pun naik ke langit sewaktu ia masih merupakan uap.Dan Dia-lah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam hari dan takhtaNya (pada waktu itu) berada di atas air. Kami jadikan segala yang hidup dari air. kata Ibn Rusyd. mulai dari zaman tak bermula di masa lampau sampai ke zaman tak berakhir di masa mendatang. Ayat ini mengandung arti bahwa langit dan bumi pada mulanya berasal dari unsur yang satu dan kemudian menjadi dua benda yang berlainan. Selanjutnya ayat 30 dari surat al-Anbia' mengatakan pula. kata khalaqa di dalam al-Qur'an. Dalam hal bumi. dan air serta uap adalah satu. Di samping itu. Ayat 11 dari Ha Mim menyebut pula. Ibn Sina dan filsuf-filsuf lain. menggambarkan penciptaan bukan dari "tiada." yang terjadi ialah "ada" berubah menjadi "ada" dalam bentuk lain. Kami ciptakan manusia dari inti sari tanah. Dengan ayat-ayat serupa inilah Ibn Rusyd menentang pendapat al-Ghazali bahwa alam diciptakan Tuhan dari tiada dan bersifat hadis dan menegaskan bahwa pendapat itu tidak sesuai dengan kandungan al-Qur'an. Adapun langit dan bumi susunannya adalah baru (hadis). karena qadim dalam pemikiran filsafat bukan hanya berarti sesuatu yang tidak diciptakan. menurut penjelasan Ibn Rusyd tidak membawa kepada politeisme atau ateisme. bahwa ketika Tuhan menciptakan langit dan bumi telah ada di samping Tuhan." yaitu intisari tanah seperti disebut oleh ayat di atas. tetapi dari "ada. Bahwa alam yang terus menerus dalam keadaan diciptakan ini tetap akan ada dan baqin digambarkan juga oleh al-Qur'an. Qadimnya alam. tetapi juga berarti sesuatu yang diciptakan dalam keadaan terus menerus. Apakah orang-orang yang tak percaya tidak melihat bahwa langit dan bumi (pada mulanya) adalah satu dan kemudian Kami pisahkan. Sesungguhnya Allah Maha Kuasa dan Maha Pemberi balasan di hari bumi ditukar dengan bumi yang lain dan . Jelas disebut dalam ayat ini. air. Dengan demikian sungguhpun alam qadim. alam bukan Tuhan. Manusia di dalam al-Qur'an diciptakan bukan dari "tiada" tetapi dari sesuatu yang "ada. Demikian pula langit. Yang sesuai dengan kandungan al-Qur'an sebenarnya adalah konsep al-Farabi. Di sini yang ada di samping Tuhan adalah uap.

(demikian pula) langit. Di hari perhitungan atau pembalasan nanti, tegasnya di hari kiamat, Tuhan akan menukar bumi ini dengan bumi yang lain dan demikian pula langit sekarang akan ditukar dengan langit yang lain. Konsep ini mengandung arti bahwa pada hari kiamat bumi dan langit sekarang akan hancur susunannya dan menjadi materi asal api, udara, air dan tanah kembali; dari keempat unsur ini Tuhan akan menciptakan bumi dan langit yang lain lagi. Bumi dan langit ini akan hancur pula, dan dari materi asalnya akan diciptakan pula bumi dan langit yang lain dan demikianlah seterusnya tanpa kesudahan. Jadi pengertian qadim sebagai sesuatu yang berada dalam kejadian terus menerus adalah sesuai dengan kandungan al-Qur'an. Dengan demikian al-Ghazali tidak mempunyai argumen kuat untuk mengkafirkan filsuf dalam filsafat mereka tentang qadimnya alam. Kedua-duanya, kata Ibn Rusyd, yaitu pihak al-Farabi dan pihak al-Ghazali sama-sama memberi tafsiran masing-masing tentang ayat-ayat al-Qur'an mengenai penciptaan alam. Yang bertentangan bukanlah pendapat filsuf dengan al-Qur'an, tetapi pendapat filsuf dengan pendapat al-Ghazali. Mengenai masalah kedua, Tuhan tidak mengetahui perincian yang terjadi di alam, Ibn Rusyd menjelaskan bahwa para filosof tak pernah mengatakan demikian. Menurut mereka Tuhan mengetahui perinciannya; yang mereka persoalkan ialah bagaimana Tuhan mengetahui perincian itu. Perincian berbentuk materi dan materi dapat ditangkap pancaindra, sedang Tuhan bersifat immateri dan tak mempunyai pancaindra. Dalam hal pembangkitan jasmani, Ibn Rusyd menulis dalam Tahafut al-Tahafut bahwa filsuf-filsuf Islam tak menyebut hal itu. Dalam pada itu ia melihat adanya pertentangan dalam ucapan-ucapan al-Ghazali. Di dalam Tahajut al-Falasifah ia menulis bahwa dalam Islam tidak ada orang yang berpendapat adanya pembangkitan rohani saja, tetapi di dalam buku lain ia mengatakan, menurut kaum sufi, yang ada nanti ialah pembangkitan rohani dan pembangkitan jasmani tidak ada. Dengan demikian al-Ghazali juga tak mempunyai argumen kuat untuk mengkafirkan kaum filsuf dalam pemikiran tentang tidak tahunya Tuhan tentang perincian di alam dan tidak adanya pembangkitan jasmani. Ini bukanlah pendapat filsuf, dan kelihatannya adalah kesimpulan yang ditarik al-Ghazali dari filsafat mereka. Dalam pada itu Ibn Rusyd, sebagaimana para filsuf Islam lain, menegaskan bahwa antara agama dan falsafat tidak ada pertentangan, karena keduanya membicarakan kebenaran, dan kebenaran tak berlawanan dengan kebenaran. Kalau penelitian akal bertentangan dengan teks wahyu dalam al-Qur'an maka dipakai ta'wil; wahyu diberi arti majazi. Arti ta'wil adalah meningga]kan arti lafzi untuk pergi ke arti majazi. Dengan kata lain, meninggalkan arti tersurat dan mengambil arti tersirat. Tetapi arti tersirat tidak boleh disampaikan kepada kaum awam, karena mereka tak dapat memahaminya. Antara filsafat dan agama Ibn Rusyd mengadakan harmoni. Dan dalam harmoni ini akal mempunyai kedudukan tinggi. Pengharmonian akal dan wahyu ini sampai ke Eropa dan di sana dikenal dengan averroisme. Salah satu ajaran averroisme ialah

kebenaran ganda, yang mengatakan bahwa pendapat filsafat benar, sungguhpun menurut agama salah. Agama mempunyai kebenarannya sendiri. Dan averroisme inilah yang menimbulkan pemikiran rasional dan ilmiah di Eropa. Tak lama sesudah zaman Ibn Rusyd umat Islam di Spanyol mengalami kemunduran besar dan kekuasaan luas Islam sebelumnya hanya tinggal di sekitar Granada di tangan Banu Nasr. Pada 1492 dinasti ini terpaksa menyerah kepada Raja Ferdinand dari Castilia. Dengan hilangnya Islam dari Andalus atau di Spanyol, hilang pulalah pemikiran rasional dan ilmiah dari dunia Islam bagian barat. Di dunia Islam bagian timur, kecuali di kalangan Syi'ah, teologi tradisional al-Asy'ari dan pendapat al-Ghazali bahwa jalan tasawuf untuk mencapai kebenaran adalah lebih meyakinkan dari pada jalan filsafat. Hilanglah pemikiran rasional, filosofis dan ilmiah dari dunia Islam sunni sehingga datang abad XIX dan umat Islam dikejutkan oleh kemajuan Eropa dalam bidang pemikiran, filsafat dan sains, sebagaimana disebut di atas, berkembang di Barat atas pengaruh metode berpikir Ibn Rusyd yang disebut averroisme. Semenjak itu pemikiran rasional mulai ditimbulkan oleh pemikir-pemikir pembaruan seperti al-Afghani, Muhammad Abduh, Sayyid Ahmad Khan, dan lain-lain. DAFTAR KEPUSTAKAAN De Boer, TJ., History of Philosophy in Islam, Tranl. E.R. Jones, London, Luzac & Co., 1970. Al-Farabi, Rasail, Hyderabad, t.t. Al-Ghazali, Tahafut al-Falasifah, Kairo, Dar al-Ma'arif, 1966. Al-Ghazali, Al-Munqiz min al-Dalal, Cairo, al-Maktab al-Fanni, 1961. Harun Nasution, Falsafah dan Mistisisme dalam Islam, Jakarta, Bulan Bintang, 1983. Ibn Rusyd, Tahafut al-Tahafut, Kairo, Dar al-Ma'arif, 1964. Ibn Rusyd, Fals al-Maqal, London, J.E. Brill, 1969. Ibn Sina, Al-Najah, Kairo, M.B. al-Halabi, 1938. O. Leary, De Lacy, How Greek Science Passed to The Arabs, London, Routledge & Kegan Paul, 1964. Sharif M.M., ed., A History of Muslim Philosophy, Weisbaden, 1963. -------------------------------------------Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah Editor: Budhy Munawar-Rachman Penerbit Yayasan Paramadina Jln. Metro Pondok Indah Pondok Indah Plaza I Kav. UA 20-21 Jakarta Selatan Telp. (021) 7501969, 7501983, 7507173 Fax. (021) 7507174 Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan

ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota
Please direct any suggestion to Media Team

Artikel Yayasan Paramadina
Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota III.12. KEKUATAN DAN KELEMAHAN PAHAM ASY'ARI (1/3) SEBAGAI DOKTRIN AKIDAH oleh Zainun Kamal Paham teologi Asy'ari termasuk paham teologi tradisional, yang mengambil posisi antara ekstrim rasionalis yang menggunakan metafor dan golongan ekstrim tekstualis yang leterlek. Ia mengambil posisi di antara aliran Mu'tazilah dan Salafiyah, tetapi "benang merah" sebagai jalan tengah yang diambilnya tidak begitu jelas. Suatu kali ia memihak Mu'tazilah, lain kali cenderung ke Salafiyah, dan lain kali lagi, mengambil kedua pendapat dari kedua aliran yang bertentangan itu lalu mengkompromikannya menjadi satu. [1] Untuk meninjau pemikiran-pemikiran al-Asy'ari lebih baik memaparkan lebih dulu sejarah hidupnya meski secara ringkas. Dengan pemaparan ini akan terlihat gambaran latar belakang pemikirannya. Sebab suatu pemikiran merupakan hasil refleksi zaman dan kondisi dari suatu masyarakat. Dan al-Asy'ari juga tidak lepas dari konteks zaman dan maksyarakatnya sendiri. Sebenarnya, nama asli Imam Asy'ari adalah Ali Ibn Ismail [2] -keluarga Abu Musa al-Asy'ari. [3] Panggilan akrabnya Abu al-Hasan [4]. Dia dilahirkan di Bashrah pada 260 H./875 M [5] -saat wafatnya filsuf Arab muslim al-Kindi. [6] Ia wafat di Baghdad pada tahun 324 H./935 M. Abu al-Hasan al-Asy'ari pada mulanya belajar membaca, menulis dan menghafal al-Qur'an dalam asuhan orang tuanya, yang kebetulan meninggal dunia ketika ia masih kecil. Selanjutnya dia belajar kepada ulama Hadits, Fiqh, Tafsir dan bahasa antara lain kepada al-Saji, Abu Khalifah al-Jumhi, Sahal Ibn Nuh, Muhammad Ibn Ya'kub, Abdur Rahman Ibn Khalf dan lain-lain. [7] Demikian juga ia belajar Fiqih Syafi'i kepada seorang faqih: Abu Ishak al-Maruzi (w. 340 H./951 M.) -seorang tokoh Mu'tazilah di Bashrah. Sampai umur empat puluh tahun ia selalu bersama ustaz al-Juba'i, serta ikut berpartisipasi dalam mempertahankan ajaran-ajaran Mu'tazilah. [9] Pada tahun 300 H./915 M dalam usia 40 tahun, Abu al-Hasan al-Asy'ari meninggalkan ajaran-ajaran Mu'tazilah. Untuk hal ini terdapat beberapa pendapat mengenai sebab-sebab meninggalkan atau keluar dari Mu'tazilah. Sebab klasik yang biasa disebut perpisahan dia dengan gurunya karena terjadinya dialog antara keduanya tentang salah satu ajaran pokok Mu'tazilah, yaitu masalah "keadilan Tuhan." Mu'tazilah berpendapat, "semua perbuatan Tuhan tidak kosong dari manfaat dan kemashlahatan. Tuhan tidak menghendaki sesuatu, kecuali bermanfaat bagi manusia, bahkan Dia mesti menghendaki yang baik dan terbaik untuk kemashlahatan manusia. Paham ini di sebut al-Shalah wa 'l-Ashlah. [10]

Dialog tersebut berlangsung sebagai berikut: Al-Asy'ari (A) - Bagaimana pendapat tuan tentang nasib tiga orang bersaudara setelah wafat; yang tua mati dalam bertaqwa; yang kedua mati kafir; dan yang ketiga mati dalam keadaan masih kecil. Aldubba'i (J) - yang taqwa mendapat terbaik; yang kafir masuk neraka; dan yang kecil selamat dari bahaya neraka. A - Kalau yang kecil ingin mendapatkan tempat yang lebih baik di Sorga, mungkinkah? J - Tidak, karena tempat itu hanya dapat dicapai dengan jalan ibadat dan kepatuhan kepada Tuhan. Adapun anak kecil belum mempunyai ibadat dan kepatuhan kepada-Nya. A- Kalau anak kecil itu mengatakan kepada Tuhan: itu bukan salahku. Sekiranya Engkau bolehkan aku terus hidup, aku akan mengerjakan perbuatan baik seperti yang dilakukan oleh yang taqwa itu. J - Allah akan menjawab kepada anak kecil itu, Aku tahu, jika engkau terus hidup, engkau akan berbuat maksiat dan engkau akan mendapat siksa; maka Saya (Allah - Red) matikan engkau adalah untuk kemaslahatanmu. A - Sekiranya saudaranya yang kafir mengatakan, "Ya Tuhanku Engkau ketahui masa depanku sebagaimana Engkau ketahui masa depannya, mengapa Engkau tidak jaga kepentinganku? Al-Jubba'i menjawab, "Engkau gila, (dalam riwayat lain dikatakan, bahwa Al-Jubba'i hanya terdiam dan tidak menjawab). [11] Dalam percakapan di atas, al-Jubba'i, jagoan Mu'tazilah itu, tampaknya dengan mudah saja dapat ditumbangkan oleh al-Asy'ari. Tetapi dialog ini kelihatannya hanyalah sebuah ilustrasi yang dibuat para pengikut al-Asy'ari sendiri untuk memperlihatkan perbedaan logikanya dengan logika orang-orang Mu'tazilah. Bagi Mu'tazilah, si anak kecil tentu tidak akan mengajukan protes kepada Allah, karena dia sendiri tahu, bahwa sesuai dengan keadilan Tuhan, tempat yang cocok untuknya memang di sana. Kalau Tuhan menempatkan anak kecil sederajat dengan tempat orang yang taqwa, tentu dia sendiri akan merasakan bahwa Tuhan sudah tidak adil lagi terhadap dirinya. Sebab, tempatnya memang bukanlah seharusnya sederajat dengan orang-orang yang taqwa. Di alam akhirat, menurut Mu'tazilah, tidak ada lagi perdebatan tentang keadilan Tuhan. Di sana, manusia sudah mendapati al-Wa'ad wa al-Wa'id. Dia sudah menepati janji. Yang taqwa mendapat sorga, yang kafir mendapat neraka, dan jika di sana terdapat yang meninggal dunia dalam keadaan masih kecil, baik anak-anak orang mukmin atau kafir, maka bagi mereka tidak ada alasan untuk disiksa, karena Tuhan Maha Suci dari penganiayaan. [12] Bagi yang kafir lebih tidak punya alasan lagi. Sebab, Tuhan

lebih memperhatikan kemaslahatannya di dunia. Tuhan tidak menghendaki kekafirannya. Berarti, jika ia kafir sama artinya dengan kehendak diri sendiri. Sementara, dia sendiri sudah tahu akibat kekafirannya, karena ia diberi akal dan petunjuk. [13] Jadi, kalau yang kafir harus menyalahkan Tuhan atas kehendak dan perbuatannya sendiri, maka ia dianggap oleh Memorandum suatu pemikiran yang tidak rasional. Sebab lain yang biasa disebutkan adalah meninggalkan ajaran-ajaran Mu'tazilah karena pernah bermimpi melihat Rasulullah saw sebanyak tiga kali. Mimpi itu terjadi pada bulan Ramadhan. Mimpi pertama terjadi pada tanggal 10; mimpi kedua pada tanggal duapuluh, dan mimpi ketiga pada tanggal tigapuluh. [14] Dalam mimpi yang terjadi pada bulan Ramadlan itu Rasulullah menyampaikan bahwa madzhab ahli haditslah yang benar, karena itulah madzhabnya yang berasal dari saya. [15] Diriwayatkan bahwa al-Asy'ari sebelum mengambil keputusan untuk keluar dari Mu'tazilah, ia mengisolir diri di rumahnya selama limabelas hari. Sesudah itu ia pergi ke mesjid lalu naik mimbar dan menyampaikan: "Saya dulu mengatakan, bahwa al-Qur'an adalah makhluk; Allah swt. tidak dapat dilihat dengan pandangan mata orang mukmin di akhirat dan perbuatan jahat adalah perbuatan saya sendiri. Sekarang saya taubat dari semuanya itu. Saya lemparkan keyakinan-keyakinan lama saya, sebagaimana saya lemparkan baju ini (isyarat pada jubahnya). Dan saya keluar dari kekejian dan skandal Mu'tazilah." [16] Terlepas dari soal sesuai atau tidaknya uraian di atas dengan fakta sejarah; maka dari sisi lain dapat pula kita ungkapkan sebab yang mendorong al-Asy'ari meninggalkan faham Mu'tazilah. Sebab itu ialah rasa skeptis dan ketidakpercayaannya lagi terhadap kemampuan akal, sebagaimana yang pernah pula dialami oleh al-Ghazali di kemudian hari. Pada kedua tokoh ini terdapat suatu indikasi kesamaan yang sangat mirip. Al-Asy'ari, sebagai contoh pendiri aliran, setelah belajar pada Mu'tazilah, kemudian merasa tidak puas, lantas menyerangnya. Demikian juga halnya dengan al-Ghazali, sebagai benteng pertahanan yang kokoh terhadap aliran al-Asy'ari, setelah ia belajar filsafat, kemudian merasa tidak puas, lalu menyerang pula. Al-Asy'ari memakai ungkapan-ungkapan yang pedas sekali dalam menyerang Mu'tazilah, dengan tuduhan sebagai golongan sesat, penyeleweng, dan majusinya umat. Begitu pula al-Ghazali menyerang para filsuf, dengan tuduhan sebagai golongan bid'ah dan kufur. Al-Asy'ari melakukan sanggahan terhadap Mu'tazilah setelah ia mengetahui benar akan aliran Mu'tazilah itu. Setelah itu ia menulis sebuah buku yang bernama Maqalat al-Islamiyyin yang berisikan kepercayaan aliran-aliran. Dan untuk bantahannya ia menulis lagi sebuah buku yang bernama al-Ibanah. Demikian juga halnya dengan al-Ghazali, setelah mengkaji filsafat secara mendalam, kemudian ia tulis pemikiran-pemikiran filsuf itu dalam sebuah buku yang bernama Maqasid al-Falsafah. Setelah itu, baru ia melakukan bantahan-bantahan terhadap para filsuf dengan mengarang sebuah buku yang bernama Tahafut

al-Falasifah (kesalahan para filsuf). Sebagaimana diketahui, pemegang janji rasional pada masa al-Asy'ari adalah para tokoh Mu'tazilah, karena itu sanggahannya tertuju langsung pada Mu'tazilah. Sementara para filsuf yang dinilai sebagai pewaris pemikiran rasional Mu'tazilah, maka al-Ghazali sebagai pembela ikhlas terhadap aliran al-Asy'ari harus dengan tegas pula melakukan sanggahan terhadap filsuf. Pemikiran al-Asy'ari yang asli baru dapat diketahui setelah ia menyatakan pemisahan dirinya dari Mu'tazilah dan pengakuannya menganut paham aqidah salafiyah aliran Ahmad bin Hambal. [17] Yaitu keimanan yang tidak didasari penyelaman persoalan gaib yang mendalam. Di sisi lain, ia hanya percaya pada akidah dengan dalil yang ditunjuk oleh nash, dan dipahami secara tekstual sebagaimana yang tertulis dalam Kitab suci dan sunnah Rasul. Fungsi akal hanyalah sebagai saksi pembenar dan penjelas dalil-dalil al-Qur'an. [18] Jadi akal terletak di belakang nash-nash agama yang tidak boleh berdiri sendiri. Ia bukanlah hakim yang akan mengadili. Spekulasi apapun terhadap segala sesuatu yang sakral dianggap suatu bid'ah. Setiap dogma harus dipercayai tanpa mengajukan pertanyaan bagaimana dan mengapa. Sekarang permasalahannya ialah, sampai seberapa jauh al-Asy'ari meninggalkan ajaran-ajaran Mu'tazilah dan keikhlasannya terhadap ajaran Salafiyah. Untuk mengetahui ajaran-ajaran al-Asy'ari, kita dapat melihat pada kitab-kitab yang ditulisnya, terutama: 1.Maqalat al-Islamiyyin, merupakan karangan yang pertama dalam soal-soal kepercayaan Islam. Buku ini menjadi sumber yang penting, karena ketelitian dan kejujuran pengarangnya. Buku ini terdiri -dari tiga bagian: a.Tinjauan tentang golongan-golongan dalam Islam b.Aqidah aliran Ashhab al-Hadits dan Ahl al-Sunnah, dan c.Beberapa persoalan ilmu Kalam. 2.Al-Ibanah 'an Ushul al-Diyanah, berisikan uraian tentang kepercayaan Ahl al-Sunnah dan pernyataan penghargaannya terhadap persoalan-persoalan yang banyak dan penting. Dalam buku ini ia menyerang dengan pedas aliran Mu'tazilah. 3.Kitab al-Luma' fi al-Radd 'ala ahl al-Zaigh wa al-bida', berisikan sorotan terhadap lawan-lawannya dalam beberapa persoalan ilmu Kalam. Para ahli mempertanyakan tentang perbedaan kandungan yang terdapat pada kedua kitabnya al-Ibanah dan al-Luma'. Yang pertama, peranan naql lebih tinggi ketimbang akal. Dalam arti, Salafiahnya lebih dominan dibandingkan Mu'tazilah. Sedangkan buku kedua (al-Luma'), peranan akal lebih tinggi dalam memahami nash-nash. Di sini terlihat adanya anjuran kembali untuk memahami nash-nash agama dengan metode ilmu kalam. [19] Perbedaan ini bisa terjadi, karena al-Asy'ari pada kitabnya al-Ibanah ditulisnya langsung setelah pernyataannya keluar dari Mu'tazilah. Jadi, secara psikologis, bukunya dalam rangka menonjolkan sikap loyalnya terhadap kaum Salafi,

sebagai rekan barunya. Dan sikap kebenciannya terhadap Mu'tazilah karena penilaiannya sebagai musuh yang sedang dihadapinya, meski dulu teman akrabnya. Sebenarnya, ini dapat dipahami. Sebab, seseorang yang selama ini dijadikan teman baik, oleh karena suatu hal berubah menjadi musuh, maka ia akan memperlihatkan sikap bencinya terhadap musuh itu. Dan sebaliknya akan memperlihatkan sikap loyalnya terhadap teman baru. Karena itu, kitab al-Ibanah mencerminkan tingkat kesunyian secara penuh. Sebaliknya, menampakkan sikap bencinya terhadap Mu'tazilah lebih nyata. Karena itu, kitab al-Ibanah menurut para ahli ditulis langsung setelah al-Asy'ari meninggalkan faham Mu'tazilah. (bersambung 2/3) -------------------------------------------Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah Editor: Budhy Munawar-Rachman Penerbit Yayasan Paramadina Jln. Metro Pondok Indah Pondok Indah Plaza I Kav. UA 20-21 Jakarta Selatan Telp. (021) 7501969, 7501983, 7507173 Fax. (021) 7507174 Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota
Please direct any suggestion to Media Team

Artikel Yayasan Paramadina
Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang YayasanISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota III.12. KEKUATAN DAN KELEMAHAN PAHAM ASY'ARI (2/3) SEBAGAI DOKTRIN AKIDAH oleh Zainun Kamal Lain halnya dengan kitabnya al-Luma', yang ditulis setelah kitab al-Ibanah. Ia sudah mesti mengambil sikap yang jelas. Maka di sini terlihat kembali kajian keagamaan al-Asy'ari dengan dalil-dalil rasional dan membangun ilmu kalamnya sendiri. Dengan demikian, ketika menulis kitab al-Luma', argumentasi rasional al-Asy'ari menonjol kembali dalam memahami nash-nash agama dan terlihat interpretasi metaforisnya (ta'wil). Kecenderungannya pada metode kaum Mu'tazilah inilah yang menyebabkan kaum Hambali menolak paham teologi al-Asy'ari. Hal itu memperlihatkan gambaran yang agak mirip dengan sikap al-Ghazali yang mencoba menyerang para filsuf, tetapi kenyataannya ia tetap mempergunakan metode falsafah dalam kajian keislaman, khususnya logika Aristoteles. Inilah yang dikatakan oleh Ibn Taimiyyah bahwa al-Ghazali telah masuk ke dalam kandang falsafah, kemudian berusaha keluar, dan berputar-putar mencari pintunya, tetapi sudah tidak berdaya lagi untuk keluar. Sebagai penentang Mu'tazilah, sudah barang tentu al-Asy'ari berpendapat, bahwa Tuhan mempunyai sifat. Mustahil Tuhan sendiri merupakan pengetahuan ('Ilm). Yang benar, Tuhan itu

mengetahui (Alim). Tuhan mengetahui dengan pengetahuanNya, bukanlah dengan Zat-Nya. Demikian pula bukan dengan sifat-sifat seperti, sifat hidup, berkuasa, mendengar dan melihat. [20] Disini terlihat, al-Asy'ari menetapkan sifat kepada Tuhan seperti halnya kaum Salafi. Namun cara penafsirannya cukup berbeda. Kaum Salafi hanya menetapkan sifat kepada Allah, sebagaimana teks ayat, tanpa melakukan pembahasan mendalam. Mereka hanya menerima arti dengan jalan kepercayaan, bahwa sifat-sifat Allah berbeda dengan sifat makhluk-Nya. Begitu hati-hatinya mereka dalam menjaga persamaan Allah dengan makhluk-Nya, sehingga mereka mengatakan, "Siapa yang tergerak tangannya, lalu ketika membaca ayat yang berbunyi "Aku (Allah) ciptakan dengan tangan-Ku," lalu ia langsung mengatakan, wajib dipotong tangannya." [21] Lain halnya dengan al-Asy'ari, baginya arti sifat tidak berbeda dengan pengertian sifat bagi Muitazilah. al-Asy'ari, sifat berada pada Zat, tetapi sifat bukan dan bukan pula lain dari Zat. Ungkapan al-Asy'ari seperti ini, kata Dr. Ibrahim Madkour, tidak terlepas paradoks. [22] jauh Bagi Zat, yang dari

Bagi Mu'tazilah, sifat sama dengan Zat. Sifat tidak mempunyai pengertian yang sebenarnya. Jika dikatakan, yang mengetahui ('Alim), maka artinya menetapkan pengetahuan ('Ilm) bagi Allah, dan yang mengetahui itu adalah Zat-Nya sendiri. Dalam hal ini, menetapkan sifat hanya sekedar untuk memahami bahwa Allah bukanlah jahil. Seperti juga mengatakan yang berkuasa (qadir) adalah menetapkan kekuasaan (qudrah) bagi Allah. Kekuasaan itu adalah Zat-Nya sendiri. Artinya, menafsirkan kelemahan Allah. [23] Masih berbicara tentang tauhid, pemikiran al-Asy'ari yang lain ialah, bahwa Tuhan dapat dilihat di akhirat. Untuk itu, al-Asy'ari membawakan argumen rasio dan nash. Yang tidak dapat dilihat, kata al-Asy'ari, hanyalah yang tak punya wujud. Setiap wujud mesti dapat dilihat, Tuhan berwujud, dan oleh karena itu dapat dilihat. [24] Argumen al-Qur'an yang dimajukannya antara lain, "Wajah-wajah yang ketika itu berseri-seri memandang kepada Allah" (QS. al-Qiyamah: 22-23). Menurut al-Asy'ari kata nazirah dalam ayat itu tak bisa berarti memikirkan seperti pendapat Mu'tazilah, karena akhirat bukanlah tempat berfikir; juga tak bisa berarti menunggu, karena wajah atau muka tidak dapat menunggu, yang menunggu adalah manusia. Lagi pula, di sorga tidak ada penungguan, karena menunggu mengandung arti dan membuat kejengkelan dan kebosanan. Oleh karena itu, nazirah mesti berarti melihat dengan mata kepala. [25] Sungguhpun al-Asy'ari berpendapat, bahwa orang-orang mukmin nanti dapat melihat Tuhan di Akhirat dengan mata kepala, namun pemahamannya bukanlah bersifat harfiyah. Tetapi menghendaki suatu penafsiran lagi yaitu, bahwa melihat Tuhan itu tidak mesti mempunyai tempat dan terarah pada tujuan, tetapi hanya merupakan suatu penglihatan pengetahuan dan kesadaran, dengan mempergunakan mata, yang belum terfikirkan bagi kita sekarang, bagaimana bentuk mata itu nantinya. [26]

bahwa Tuhan dapat dilihat nanti di akhirat. jika Ia memasukkan seluruh manusia ke dalam neraka. [31] Oleh karena itu." (al-An'am: 103) Ayat tersebut di atas diartikan oleh al-Asy'ari." yaitu seseorang mempunyai kekuasaan mutlak atas harta yang dimilikinya serta mempergunakannya sesuai dengan pengetahuan pemilik. menjatuhkan hukuman bagi orang mukmim. kata al-Asy'ari. artinya. [32] Upah yang diberikan Tuhan hanyalah merupakan rahmat dan hukuman tetap merupakan keadilan Tuhan. kata al-Asy'ari. meyakini bahwa Allah adalah Maha Adil. Sengaja dirangkaikan keadilan dengan tauhid. memiliki hal penuh untuk membunuh atau menghidupkan rakyatnya. Kemudian digambarkan. dalam arti. termasuk orang-orang kafir. bebas memperbuat apa yang kehendaki-Nya. dan juga tidak dapat dikatakan Tuhan bersifat dzalim. Dan juga diartikan tidak dapat melihat Tuhan di akhirat bagi orang kafir. karena pembahasan tentang tauhid hanyalah merupakan filsafat ketuhanan semata. Karena undang-undang dan hukum itu adalah bikinannya sendiri. [30] Karena perbuatan salah dan tidak adil menurut pendapatnya adalah perbuatan yang melanggar hukum. Tuhan wajib mewujudkan yang baik. Al-Asy'ari. [28] Al-Asy'ari meninjau keadilan Tuhan dari sudut kekuasaan dan kehendak mutlak Tuhan. dan karena di atas Tuhan tidak ada undang-undang atau hukum. Dan juga menolak faham al-Shalah wa al-Ashlah Mu'tazilah. sedangkan keadilan adalah merupakan filsafat hubungan khaliq dengan makhluknya. Tetapi seperti kaum Salafi. Sang raja yang absolut diktator itu. Keadilan diartikannya "menempatkan sesuatu pada tempat yang sebenarnya. untuk dapat menerima. [29] Tidak dapat dikatakan salah. seperti Mu'tazilah. Tuhan masih tetap bersifat adil. maka perbuatan Tuhan tidak pernah bertentangan dengan hukum. kalau Tuhan memasukkan seluruh umat manusia ke dalam sorga. bahwa yang dimaksud tidak dapat melihat Tuhan adalah di dunia ini. Allah. Jika Tuhan menyakiti anak-anak kecil di hari kiamat. bahwa sang raja itu diatas dari undang-undang dan hukum. adalah merupakan sebagian dari pemikiran al-Asy'ari tentang tauhid. kemudian al-Asy'ari menganalogikan bahwa . dapat berbuat apa saja yang dikehendaki-Nya terhadap makhluk-Nya.Namun demikian. dan bukan di akhirat. maka al-Asy'ari memerlukan pula untuk menafsirkan atau menta'wilkan ayat yang berikut ini: Artinya: "Penglihatan tak dapat menangkap-Nya tetapi ia dapat mengangkat penglihatannya. Sekarang kita berpindah kepada pemikirannya tentang keadilan. ia menolak bahwa kita mewajibkan sesuatu kepada Allah. bahkan yang terbaik untuk kemaslahatan manusia. [27] Apa yang telah kita ungkapkan di atas. Paham keadilan al-Asy'ari ini mirip dengan paham sebagian umat yang merestui seorang raja yang absolut diktator. atau memasukkan orang kafir ke dalam sorga. maka Tuhan tidaklah berbuat salah dan dzalim. dia tidak perlu patuh dan tunduk kepada undang-undang dan hukum. Tuhan sebagai pemilik yang berkuasa mutlak. Dari asumsi itu.

[36] Melihat kepada pengertian. dan jika Tuhan tidak menghendakinya niscaya ia tiada. Untuk menggambarkan hubungan perbuatan dengan kemauan dan kekuasaan mutlak Tuhan al-Asyari memakai istilah al-kasb (acquisition. kecuali jika Allah menghendaki manusia . menurut al-Asy'ari. kalau ia menganiaya seluruh rakyatnya. Manusia dalam kelemahannya banyak tergantung kepada kehendak dan kekuasaan Tuhan. Maka tidak seorangpun yang dapat mewajibkan sesuatu kepada Allah mengenai kemaslahatan umat manusia. [37] Dan tidak ada pembuat (agent) bagi kasb kecuali Allah. [35] Kasb. perbuatan-perbuatan manusia adalah diciptakan Tuhan. Ayat ini diartikan oleh al-Asy'ari bahwa manusia tak bisa menghendaki sesuatu. Di satu pihak ia ingin melukiskan peran manusia dalam perbuatannya. perolehan). sebenarnya adalah Tuhan sendiri. Al-Asy'ari menegaskan bahwa Tuhan menghendaki segala apa yang mungkin dikehendaki. bagi al-Asy'ari. Tetapi keterangan bahwa "kasb itu adalah ciptaan Tuhan" menghilangkan arti keaktifan itu. dalam teori kasb manusia tidak mempunyai pengaruh efektif dalam perbuatannya. maka tidak seorangpun yang akan sanggup mempersalahkan dan menuntut-Nya. kata al-Asy'ari. [34] Karena manusia dipandang lemah. [38] Dengan perkataan lain. [33] Kalau Allah menganiaya seluruh umat manusia. Bahwa perbuatan manusia sebenarnya adalah perbuatan Tuhan. selalu digambarkan sebagai seorang yang lemah. Argumen yang dimajukan oleh al-Asy'ari tentang diciptakannya kasb oleh Tuhan adalah ayat: "Allah menciptakan kamu dan perbuatan-perbuatan kamu. Tentang faham kasb ini. Jadi dalam paham al-Asy'ari. baik di dunia ini. maka tak seorangpun yang sanggup menentangnya. maupun di akhirat. ia pasti ada. adalah sesuatu yang timbul dari yang berbuat (al-muhtasib) dengan perantaraan daya yang diciptakan." al-Shaffat 37:96) (QS. baik di dunia atau di akhirat. yang mewujudkan kasb atau perbuatan manusia. Persis seperti seorang raja yang absolut diktator. sehingga akhirnya manusia bersifat pasif dalam perbuatan-perbuatannya. Jadi.Allah adalah memiliki kemerdekaan mutlak. Dia memperbuat sekehendak-Nya terhadap milik-Nya. kecuali Allah menghendaki" (QS. "sesuatu yang timbul dari yang berbuat" mengandung atas perbuatannya. Namun dalam penjelasannya tertangkap bahwa kasb itu pada hakekatnya adalah ciptaan Tuhan. tidak mempunyai daya dan kekuatan apa-apa disaat berhadapan dengan kekuasaan absolut mutlak. Tidak satupun didalam ini terwujud lepas dari kekuasaan dan kehendak Tuhan. al-Asy'ari memberi penjelasan yang sulit ditangkap. [39] Firman Tuhan: "Kamu tidak menghendaki al-Insan 76:30). Jika Tuhan menghendaki sesuatu. Al-Kasb dapat diartikan sebagai suatu perbuatan yang timbul dari manusia dengan perantaraan daya yang diciptakan oleh Allah. Karena manusia. maka paham al-Asy'ari dalam hal ini lebih dekat kepada faham Jabariyah (fatalisme) dari faham Qadariyah (Free Will). dapat dilihat dari pendapat al-Asy'ari tentang kehendak dan daya yang menyebabkan perbuatan menjadi wujud.

Perbuatan pada hakekatnya terjadi dengan perantaraannya daya Tuhan. daya Tuhan dan daya manusia. [43] (bersambung 3/3) -------------------------------------------Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah Editor: Budhy Munawar-Rachman Penerbit Yayasan Paramadina Jln. [46] . yang seorang mampu mengangkatnya sendirian. yaitu perbuatan Tuhan dan perbuatah manusia. Tuhan dan manusia dalam suatu perbuatan adalah seperti dua orang yang mengangkat batu b esar . Al-Baghdadi mencoba menjelaskan kepada kita sebagai berikut. 7507173 Fax. Tetapi daya yang berpengaruh dan efektif pada akhirnya dalam perwujudan perbuatan ialah daya Tuhan.12. namun tidak berarti bahwa orang yang tidak sanggup itu tidak turut mengangkat. dan perbuatan itu sendiri adalah perbuatan Tuhan dan bukan perbuatan manusia. 728 H) menilai. bahkan Ibn Hazm (w. UA 20-21 Jakarta Selatan Telp. untuk terwujudnya suatu perbuatan dalam perbuatan manusia. 456 H) dan Ibn Taimiyyah (w. Metro Pondok Indah Pondok Indah Plaza I Kav. (021) 7507174 Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang YayasanISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota Please direct any suggestion to Media Team Artikel Yayasan Paramadina Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota III. sebagai jabariyah murni. KEKUATAN DAN KELEMAHAN PAHAM ASY'ARI (3/3) SEBAGAI DOKTRIN AKIDAH oleh Zainun Kamal Buat sementara dapat kita simpulkan bahwa dalam paham al-Asy'ari. Demikian pulalah perbuatan manusia. Perbuatan Tuhan adalah hakiki dan perbuatan manusia adalah majazi (sebagai lambang). sedangkan yang seorang lagi tidak mampu. maka terangkatnya batu itu adalah oleh yang kuat tadi. [44] Harun Nasution juga berpendapat demikian. tetapi manusia dalam pada itu tidak kehilangan sifat sebagai pembuat. maka banyak para ahli menilai bahwa kasb adalah sebagai jabariyah moderat. [40] Ini mengandung arti bahwa kehendak manusia adalah satu dengan kehendak Tuhan. sedangkan daya manusia tidaklah efektif kalau tidak disokong oleh daya Tuhan. 7501983. dan kehendak yang ada dalam diri manusia. Dalam teori kasb. terdapat dua perbuatan. sebenarnya tidak lain dari kehendak Tuhan. untuk terwujudnya perbuatan perlu ada dua daya. Karena manusia dalam teori kasb al-Asy'ari tidak mempunyai pengaruh efektif dalam perbuatannya.supaya menghendaki sesuatu itu. Alasannya karena menurut al-Asy'ari kemauan dan daya untuk berbuat adalah kemauan dan daya Tuhan. Kalau kedua orang tersebut sama-sama mengangkat batu besar itu. (021) 7501969.

yaitu ia dengan mudah dapat diterima oleh umumnya umat Islam yang bersifat sederhana dalam pemikiran. Dengan demikian. sebagai konsekuensi logis dari paham manusia lemah dan patuh kepada penguasa. Kemudian setelah wafatnya al-Asy'ari pada tahun 935M. Sejarah menunjukkan. Salah satu faktor penting bagi tersebarnya teologi al-Asy'ariyah di dunia Islam adalah sifat akomodatifnya terhadap Dinasti yang berkuasa. ia sering mendapat dukungan. al-Asy'ari menegaskan bahwa kasb manusia itu tidak mempunyai efek nyata dalam mewujudkan perbuatan manusia itu. Sebab undang-undang dan hukum itu adalah bikinannya sendiri. al-Juwaini dan al-Ghazali. al-Baqillani. apalagi berhadapan dengan kekuasaan mutlak Allah.Ibn Taimiyyah menilai al-Asy'ari telah gagal dengan konsep kasb-nya yang hendak menengahi antara Qaddariyyah dengan Jabbariyah. seperti yang sudah kita uraikan di atas. Mereka adalah orang-orang yang tidak setuju dengan ajaran-ajaran Mu'tazilah. maka disinilah letak kekuatan teologi itu. Ibn Taimiyyah menilai konsep kasb yang ditetapkan al-Asy'ari itu tidak masuk akal. aliran itu mengalami kemajuan besar sekali. paham al-Asy'ari ini juga telah membawa dampak dan pengaruh negatif. ketika yang terakhir ini membatalkan aliran Mu'tazilah sebagai paham resmi pada waktu itu. . Ia telah menghilangkan kesadaran pemikiran rasionalisme di dunia Islam. menurut Ibn Taimiyyah. bahwa aliran al-Asy'ari telah berhasil menarik rakyat banyak di bawah naungannya berkat campur tangan khalifah al-Mutawakkil. Ajarannya dikembangkan oleh para pengikutnya. bahwa dalam faham teologi al-Asy'ari manusia selalu digambarkan sebagai seorang yang lemah. yang tidak mempunyai daya dan kekuatan apa-apa disaat berhadapan dengan kekuasaan yang absolut. Karena teologi al-Asy'ari didirikan atas kerangka landasan yang menganggap bahwa akal manusia mempunyai daya yang lemah. Oleh karena itu. Hilangnya pemikiran rasionalisme tersebut telah menyebabkan kemunduran umat Islam selama berabad-abad. Kunci keberhasilan teologi al-Asy'ari ialah karena sejak awal berdirinya ia telah berpihak kepada awwamnya . Sungguhpun demikian. [47] dimana raja-raja selalu berkuasa dengan diktator dan mempunyai hak penuh untuk menghukum siapa saja yang diinginkannya. Kasb-nya al-Asy'ari itu telah membawa para pengikutnya berfaham Jabariyah murni. bahkan menjadi aliran dari Dinasti yang berkuasa. Memang. [46] PENGARUH KALAM AL-ASY'ARI Seperti telah disebutkan di atas. sehingga mayoritas umat Islam menganutnya sampai detik ini. yaitu keadaan masyarakat Islam pada abad ke-9 M. yang jumlahnya selalu mayoritas di dunia Sunni.umat Islam. sang raja tidak perlu patuh dan tunduk kepada undang-undang dan hukum. Akhirnya. yang mengingkari sama sekali adanya kemampuan pada manusia untuk berbuat. Teologi ini timbul merupakan refleksi dari status sosial dan kultural masyarakat pada masanya. Sebab. antara lain.

. Fauqiyah Husein Mahmud. 46 2. Mesir. Dan ia selalu mempersalahkan takdir atas kemiskinan. lihat Hamudah Guramah. Fauqiyah. Dengan dalih peristiwa itu terjadi atas kehendak Tuhan semata. h. menjadikan manusia-manusia yang enggan merubah nasibnya sendiri dan merubah struktur masyarakat. Mesir.Abu Musa al-Asy'ari adalah salah seorang sahabat Rasul-Allah saw. 60 4. Paham fatalisme yang berkembang dalam masyarakat.Fauqiyah. Ed. suatu kesimpulan dapat diambil bahwa faham teologi al-Asy'ari mempunyai basis yang kuat pada suatu masyarakat yang bersifat sederhana dalam cara hidup dan berpikir. Tetapi teologi ini akan menjadi lemah disaat berhadapan perkembangan ilmu pengetahuan dan penemuan teknologi baru. dan lebih dari itu. jodoh dan maut adalah di tangan Tuhan. kebodohan dan kematian massal yang terjadi. Dengan demikian para penganutnya teologi ini sukar dapat mengikuti dan mentolerir perubahan dan perkembangan yang terjadi dalam masyarakat modern. Fi al-Falsafah al-Islamiyyah II.Ali Ibn Ismail Ibn Abi Basyar Ishak Ibn Salim Ibn Ismail Ibn Abdullah Ibn Musa Ibn Bilal Ibn Abi Burdah Ibn Musa al-Asy'ari (Lihat Abu al-Hasan al-Asy'ari. karena terikat tidak saja pada dogma-dogma. Al-Ibanah. Al-lbanah 'an Ushul al-Dinyanah. 1969. adalah atas kehendak Tuhan menghilangkan makna pertanggungjawaban manusia atas segala perbuatannya. 3 3. al-lbanah). Lihat juga Abu al-Hasan al-Asy'ari. Dr. Mesir. sehingga tidak ada yang mau bertanggungjawab atasnya. termasuk perbuatan manusia. tahun 1976. lebih tegas lagi.Karena akal manusia. akibatnya. h. 9 (Selanjutnya disebut. Untuk menutup tulisan ini. tetapi juga pada ayat-ayat yang mengandung arti dzanni. menjadikan penganutnya kurang mempunyai ruang gerak. Abu al-Hasan al-Asy'ari. ed. maqalat al-Islamiyyin wa Ikhtilaf al-Mushallin. Mahyudin Abdul Hamid. 1973 h. Mesir. serta jauh dari pengetahuan. [49] Paham bahwa semua peristiwa yang terjadi. tetapi mereka artikan secara letterlek. dan salah seorang hakim yang mewakili Ali Ibn Abi Thalib waktu terjadinya arbitrase antara Ali dan Muawiyah. yaitu ayat-ayat yang sebenarnya boleh mengandung arti lain dari arti letterlek. M. Selain itu. h. Bahkan. Peristiwa terowongan Mina adalah salah satu bukti nyata dari faham Fatalisme. CATATAN 1. h. menjadikan manusia-manusia yang tidak mau bertanggungjawab atas kesalahan-kesalahannya. 10 . seperti rezeki. mempunyai daya yang lemah. ia dapat merupakan salah satu dari faktor-faktor yang memperlambat kemajuan dan pembangunan. 1977.Ibrahim Madkour. menurut al-Asy'ari. Sayeed Ameer Ali mengatakan bahwa kemerosotan bangsa-bangsa Islam sekarang ini salah satu sebabnya karena formalisme al-Asy'ari.

30 21. H.Al-Syahrastani. 312 Gardet & Anawati. h. h. Mesir. 159. h. (lihat M. h. h. h 93 10. Anawati. h.Lihat Rayyan. 100 . Ed.Subhi. h. al-Milal wa al-Nihal I. Al-Asy'ari. Kitab al-Luma' Fi al-Rad'ala ahl al-Zaigh wa al-Bida'. Dirasat Fi al-Falsafah al-Islamiyyah. Fi Ilm al-Kalam II.1397 H. 41 17. 17. Al-Syahrastani. h. h. Aziz M. 164-165 14. h. Al-Mihal I. Madkour. h. h. Iskandariyah. Ibn Atsir. 310 6./885 M. 73. 1973 h. 13. dan lihat juga Subhi. 13 Penulis lebih cenderung menetapkan sejarah lahirnya pada ketika memisahkan diri dari Mu'tazilah adalah pada tahun 300 H. Dan Hamudah. 1974. h.Ibid.) Bairut. 51 24. Iskandiyah.Fauqiyah. Dirasat Arabiyah wa Islamiyah I. al-Asy'ari. Iskandiyah.65 12.A. 102 11. h. 35 19. 36 9. Mesir. Al-Ibanah. Al-Makrizi. Falsafat al-Fikrial-Dini Bain al-Islam wa al-Masihiyah I (terj. hal.. dalam.Fauqiyah.Al-Asy'ari. 303 (dikutip dari Fanqiyah. 1976./881 M. 50 23. 94. Kairo. 31 15. h. Abd. 34 16. Fi Ilm al-Kalam II. 1980. Fi Ilm al-Kalam II. Tarikh. Al-Ibanah.8 18. Lihat juga. Mahmud Subhi.Zuhdi Jar Allah. 116. 1982 h. Kairo. 29 8..Terdapat beberapa variasi pendapat dalam menetapkan tahun lahirnya: 270 H. dalam al-Lubab I. 104 22. Al-Ibanah. hal.Faiqiyah. h. Al-Mu'tazilah. Sedangkan usianya waktu itu sudah umum diketahui empat puluh tahun.Abu al-Hasan al-Asy'ari. h. Al-Ibanah. Mahmud Subhi.Bahwa manusia harus bertanggung jawab atas kehendak dan perbuatannya sendiri menurut pendapat Mu'tazilah. h. Subhi Fi Ilm al-Kalam II. h. h. Dar el Ulum. 60 7. dalam al-Khutbath III. Falsafah. 1982. Wakil.M.. Mahmud Kasim. Tarikh al-Fikri al-Falsafi Fi al-lslam.A. Al-Ibanah'an Ushul al-Dinayah.Madkour. 1968.Hasan Mahmud al-Asy'ari. Kairo. 38 20. Fi Ilm al-Kalam II. 1985.Abu al-Hasan al-Asy'ari. h. Iskandiyah. Ibid. Ali Abu Rayyan. Fi al-Falsafah.Hamuddh.5. h. Fi al-Fasafah II. dapat dilihat pada. 52 270 H. 1965. Iskandiyah.Ibid. Bairut.Louis Gardet & J.

. 472 473. Delhi. 102. h.Al-Asy'ari.Harun Nasution. 562 43. 76 37. UA 20-21 Jakarta Selatan Telp. h. Al-Milal I. h.. 41 42. UI-Press. h. 100.Ibn Taimiyyah.Al-Asy'ari.Abu Zahrah. 72 39. 167 33.Abd al-Rahman Badawi. 13 26. h. 1971. lihat juga Mahmud Kasim.. h.Sayeed Ameer Alim. h.Al-Sahrastani. 133-134 44. Al-Ibanah. h. 34 48. Dirasat. 1983 h. h. Minhaj al-Sunnah II. 71 32.Ibid. 70 38. h. h. h. Kairo. h. 7507173 Fax. Lihat juga Madkour. 205 45.Mahmud Kasim.Al-Asy'ari. 113 29.Al-Asy'ari. Kitab Ushul al Din. 57 41.Ibid... Al-Luma'. Jakarta.Abd al-Qahir al-Baghdadi. -------------------------------------------Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah Editor: Budhy Munawar-Rachman Penerbit Yayasan Paramadina Jln.Ibid. Bairut. 168 34. h. Ibid.Al-Asy'ari. 112 46.. Al-Milal I.Ibid. Dirasat. h. 27.25. h. Teologi Islam. tt. Metro Pondok Indah Pondok Indah Plaza I Kav.Ibid. (021) 7501969. h. h. Al-Ibanah. (021) 7507174 . tt. 16-17 47.Ibid 31.Al-Asy'ari. h. Madzahib al-Islamiyin.Muhammad Abu Zahrah. h. 101 30. h.205 36.Al-Syahrastani.Mahmud Kasim. The Spirit Of Islam. al-Luma'. 1981. 35.Ibid. Bairut. 51 40. Tarikh al-Madzahib. 16 28. Al-Luma'. Tarikh al-Madzahib al-Islamiyah. 7501983.

Dan hanya dalam kaitan sebab akibat itulah suatu amal bisa dinilai. dievaluasi. kritik amal atas dasar niat yang bersifat kedalam sama sekali bukan urusan kita. sebagai makhluk sosial. maka sesungguhnya Nabi Muhammad saw sedang berteori bagaimana suatu amal. bobot dan relevansi suatu amal (dalam hal ini amal pemikiran) pada dasarnya adalah relatif dan bisa berubah. bukan di sini. Tak ada suatu amal yang muncul begitu saja lepas dari kaitan sebab akibat yang melingkupinya. dan kedua yang bersifat keluar dan sosial. Itu adalah urusan Tuhan dan pribadi yang bersangkutan." yaitu mengapa dan dalam konteks sosial yang bagaimana suatu amal telah dilakukan." sedang tujuan yang bersifat "ke luar" landasannya adalah "realitas kehidupan." Syahdan. karena setiap amal adalah respons terhadap realitas yang didefinisikannya. dikritik atau dievaluasi. semakin tinggi pula bobot dan relevansi pemikiran yang diresponinya. dapat kita kelompokkan dalam dua katagori. Dan amal berdimensi ganda. Sedang yang kedua adalah realitas yang ada dalam dunia kenyataan yang . dalam bahasa manajemennya. di dunia ini. tapi di sana. Mas'udi Dengan mengatakan innama 'l-a'malu bi 'l-niyyat (amal ditentukan niyatnya). pertama yang bersifat ke dalam dan personal. adalah kritik atau evaluasi amal dari sudut niat (tujuan)nya yang bersifat "keluar. harus dikritik atau. seperti diketahui.11. TELAAH KRITIS ATAS TEOLOGI MU'TAZILAH (1/2) oleh Masdar F. Kedua. melainkan lebih pada kenyataan sejauh mana ia mengena pada realitas yang diresponsnya. adalah kesadaran tentang tujuan suatu amal dilakukan. Niat. dan waktunya. Sementara itu. Dalam hubungan ini innama 'l-a'malu bi 'l-niyyat akan berarti. di alam akhirat nanti. menurut agama. Yang pertama adalah realitas yang terdapat dalam dunia ide yang dipikirkan. bobot dan relevansi suatu amal pemikiran pertama-tama tidak ditentukan penilaian benar tidaknya dari sudut doktrin.Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota Please direct any suggestion to Media Team Artikel Yayasan Paramadina Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota III. Pertama. realitas yang menjadi pijakan amal pemikiran. Tujuan amal yang bersifat "kedalam" landasannya adalah "iman. Dengan menerima dasar penilaian atau kritik yang demikian ini. amal itu diikat dan ditentukan oleh konteksnya. Maka bobot dan relevansinya juga tergantung pada sejauh mana definisi atas realitas itu memiliki ketepatan. Semakin tepat definisi realitas yang ditangkap. Yang ada pada wewenang kita. oleh realitas kehidupan yang mendorong kehadirannya. yaitu realitas teoritik dan realitas empirik. justru lantaran konteks yang melahirkannya adalah juga bersifat relatif dan berubah. Ketiga. maka bisa dikemukakan beberapa acuan sebagai berikut.

sebagian amal pemikiran benar-benar lahir dengan titik tolak keprihatinan pada realitas teoritis (baru kemudian. akan cenderung bercorak elitis. dari keprihatinan atas pertanyaan-pertanyaan inilah . Perkembangan yang tragis ini yang terjadi dua kali. tapi semata-mata atas dasar "rahmat" yang disediakan melalui pintu tunggalnya: Yesus. dikenal dengan sebutan fitnah kubra. tapi telah saling membunuh. Pertanyaan ini muncul -besar kemungkinan karena menurut doktrin Kristiani yang ketika itu juga sudah dibawa masuk dalam lingkungan umat Islam. sedang sebagian amal pemikiran yang lain. pemikiran katagori pertama. Pemikiran kategori pertama. Sebaliknya. bahwa pada paroh kedua abad pertama Hijriah. ada dua jenis balasan sejati di akhirat nanti. dimana satu kelompok bukan saja telah mengutuk kelompok yang lain. dan dalam kontrol siapakah ia. PEMIKIRAN TEOLOGI MU'TAZILAH Fakta sejarah. Memang. maka dampak sosialnya pun cenderung abstrak dan terbatas pada kalangan tertentu saja. karena titik tolak keprihatinannya pada realitas abstrak dan umumnya terbatas hanya pada concern kalangan tertentu."penyelamatan Tuhan" itu tak ada sangkut pautnya dengan amal perbuatan manusia. Tapi yang saya maksudkan adalah. apakah faktor itu adalah "amal perbuatannya" ataukah "rahmat Tuhan" semata yang diberikan kepada siapa saja yang dikehendaki-Nya. Siapakah yang sesungguhnya bertanggungjawab atas tindakan manusia: dirinyakah. dengan sendirinya. Demikianlah." Perkembangan kedua adalah masuknya bangsa Parsi dan sekitarnya kedalam Islam berikut pemikiran dan keyakinan-keyakinan lamanya yang sudah terbentuk kuat dalam benak masing-masing. Pertama. faktor apakah yang memastikan orang memperoleh penyelamatan Tuhan dengan masuk sorga. bergerak ke realitas empiris). jika dirasa perlu. yang satu terhadap yang lain bisa saling pengaruh mempengaruhi. bahwa pemikiran-pemikiran keagamaan (fiqh atau teologi) sebagai amal yang ditawarkan para pemikir Muslim sejak abad pertengahan adalah lahir dari suatu pola keprihatinan yang serupa. sedang yang kedua akan bercorak populis. Seperti selalu diulang-ulang para sejarawan. yaitu balasan sorga dan balasan neraka. telah terjadi dua perkembangan yang sangat signifikan dalam sejarah umat Islam. kenyataan bahwa di kalangan umat terjadi konflik internal yang boleh jadi tidak pernah diinginkan oleh mereka sendiri. (Suatu pemikiran yang jelas berangkat dari keprihatinan teoritik). Bagaimana hukumnya orang Islam yang melakukan dosa besar (seperti membunuh sesama Muslim tanpa hak). "cobaan besar. yaitu bagaimana ajaran agama bisa dipahami umat secara benar. atau kekuatan-kekuatan itu. keduanya tak harus selalu terpisah. Syahdan. pemikiran yang lahir dari keprihatinan pada realitas riil yang dirasakan orang banyak. titik tolaknya adalah keprihatinan terhadap realitas empiris (baru kemudian realitas yang bersifat teoritis). Menurut ajaran Islam.dirasakan. Dengan kedua perkembangan itulah muncul pertanyaan-pertanyaan teologis. juga akan cenderung pada hal-hal yang konkrit yang bisa mengena pada kepentingan orang banyak. Berkaitan dengan tanggungjawab perbuatan manusia tadi.

di kemudian hari nama-nama: Khawarij." Baginya. Asy'ariyah. dan bagaimana dengan dosa yang dilakukannya itu terserah Tuhan di hari akhirat nanti. 110 H/ 728 M). Maturidiya. Tersebutlah. Berbeda dengan aliran teologi lainnya. Saya kira. Tapi kalau pertanyaan tentang "status pendosa besar" ini banyak diselimuti latar belakang politis.halal ditumpahkan darahnya. orang akan selalu merujuk pada episoda diskusi Hasan al-Bashri (w. maka jawaban pun hadir dalam corak dan pendekatan yang demikian berbeda-beda. Pertama. Jawaban ini diajukan kelompok yang terkenal dengan sebutan Khawarij. mengaku sebagai satu-satunya yang benar. sangat menekankan perlunya seseorang dapat memperjelas (diperjelas) kedudukannya apakah termasuk orang dalam (in group. Khasywiyah dan sebagainya. . Hasan Basri selaku pemimpin dan tokoh yang merasa harus menjaga keutuhan umat berada dalam arus kecenderungan umum ini. Karuan saja. manusia secara moral dapat dituntut pertanggungjawaban di kemudian hari. dengan melakukan dosa besar. Mu'tazilah. Jabariyah." terasa lebih bersifat murni teologis. dengan para muridnya diseputar tema Muslim yes. Kata i'tazala (hengkang) yang jadi sebutan Mu'tazilah (yang hengkang dari arus umum) itu pun kemudian ditempelkan kepada Washil bin Atha dan segenap pengikutnya. Yang menarik adalah bahwa masing-masing aliran ini. karena merasa berpedoman pada pegangan mutlak yang ada di tangan. minhum). Dan sebaliknya. Prinsip "janji dan ancaman" (al-wa'du wa 'l wa'id) yang akan dilaksanakan di hari kemudian tak bisa dipahami tanpa adanya prinsip "kebebasan" tadi. Maka terhadap pertanyaan yang terlontar dalam diskusi Hasan tadi. Berbicara tentang awal mula sejarah Muitazilah. seorang ulama terkemuka pada zamannya. hanya dengan prinsip kebebasan inilah.para pemikir Islam ketika itu merasa ditantang merumuskan jawabannya yang benar sesuai dengan ajaran-ajaran Islam yang shahih. prinsip kebebasan juga hanya akan berarti kalau ada "janji dan ancaman" yang setimpal di hari kemudian. yaitu bahwa identitas seseorang apakah ada "di dalam" (minna) atau "di luar" (minhum) harus benar-benar jelas. Dan sebenarnya pada kisaran inilah Mu'tazilah benar-benar tumbuh sebagai aliran teologi yang tersendiri diantara aliran-aliran teologi yang lain. Qadariyah. Jawaban kedua mengatakan bahwa Muslim yang melakukan dosa besar masih tetap tergolong Muslim. I'tazala'anna!. karena ajaran-ajaran Islam itu pun harus diolah terlebih dahulu melalui subyektifitas masing-masing pemikir. Murjiah. seorang Muslim telah terpental dari kelompok (komunitas) alias menjadi "kafir" dan karena itu -sesuai dengan hukum riddah. dengan nada menyesal Hasan berkomentar: Ia telah keluar dari kita. Mu'tazilah secara tegas mengatakan bahwa "manusia sepenuhnya memiliki kebebasannya sendiri bertindak. Masing-masing jawaban tumbuh sebagai aliran pemikiran yang berdiri sendiri. Muslim no yang baru pada taraf pembentukan diri. Itulah sebabnya ketika Washil melontarkan pendapatnya yang melawan arus tadi. yang berkembang saat itu adalah jawaban-jawaban berikut. minna) atau termasuk orang luar (out group. yang lainnya adalah salah. Jawaban inilah yang agaknya dicondongi mayoritas umat Islam yang disebut sebagai kelompok Murji'ah (artinya: menangguhkan). maka pertanyaan tentang "kebebasan manusia.

11. yang cenderung mengunggulkan otoritas "akal" (nalar) atas "naqal. manusia tumbuh sebagai makhluk yang mandiri dan tidak lagi tergantung pada pihak lain dalam menentukan jalan hidupnya. Mu'tazilah tak lagi perlu? Tak ada penegasan eksplisit tentang itu. Metro Pondok Indah Pondok Indah Plaza I Kav. Baik atau buruk (al-hasan wa 'l-qabh) bukanlah sesuatu yang harus didiktekan siapa pun juga. Dan sebagai yang Maha adil. Sementara itu. manusia yang bebas dan bertanggungjawab itu. TELAAH KRITIS ATAS TEOLOGI MU'TAZILAH (2/2) oleh Masdar F. Secara harfiyah prinsip yang tersebut terakhir ini bukan barang baru bagi umat Islam pada jamannya. maka sebenarnya Mu'tazilah sudah berketetapan hati bahwa sebagai sesama makhluk. 7507173 Fax. Apakah dengan begitu. (021) 7501969. berupa akal yang lebih dipahami sebagai rasio atau nalar. UA 20-21 Jakarta Selatan Telp." suatu pendirian yang oleh mayoritas Muslim dipandang sangat membahayakan keutuhan doktrin. (021) 7507174 Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota Please direct any suggestion to Media Team Artikel Yayasan Paramadina Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota III. pastilah manusia yang memiliki kemampuan yang memungkinkan dirinya menentukan mana yang baik dan mana yang buruk. bahkan juga sebelumnya. Mas'udi Mu'tazilah yakin bahwa pembalasan di akhirat semata-mata ditentukan oleh "amal perbuatan manusia" yang diambilnya sendiri secara bebas merdeka. Tapi "keesaan Tuhan" dalam teori Mu'tazilah ini menjadi baru karena yang ia maksudkan rupanya adalah pembebasan (tanzih) . al-Qur'an (wahyu) tidak memiliki otoritas yang dapat mendikte manusia. Pada poin inilah Mu'tazilah dimasyhurkan sebagai aliran pemikiran yang rasionalistik. tesis tentang Qur'an tersebut erat kaitannya dengan tesisnya yang lain tentang "Keesaan Tuhan" yang dibangunnya dengan pendekatan murni filosofis. 7501983. Dengan nalarnya. Sebagai yang Maha adil Tuhan harus membalas keburukan atas setiap tindakan buruk dan harus membalas kebaikan atas semua tindakan yang baik. Kemampuan itu menurut keyakinan Mu'tazilah sudah diberikan Tuhan. diluar diri manusia sendiri.(bersambung 2/2) -------------------------------------------Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah Editor: Budhy Munawar-Rachman Penerbit Yayasan Paramadina Jln. Dia tak bisa tidak kecuali harus bertindak yang terbaik bagi manusia. dengan tesisnya bahwa al-Qur'an itu makhluk. Seperti diketahui. Tapi.

jawab Jubbaiy. TIGA KRITIK Adalah al-Asy'ari (w. sedang si anak belum. maka Qur'an sebagai ekspresi salah satu sifat-Nya (al-kalam) yang hadits dengan demikian juga berkapasitas hadits. Mengapa harus begitu? Tanya Asy'ari. 241 H/855 M). menurut catatan sejarah yang pertama kali menyatakan kekecewaannya terhadap konsep teologi Mu'tazilah yang rasionalistik itu. Bedanya adalah bahwa Jubbaiy (Mu'tazilah) dengan logika akalnya bersikeras untuk mendefinisikan Tuhan menurut batas-batas manusia. kejar Asy'ari lebih lanjut. orang yang mati dewasa itu menempati kedudukan lebih tinggi dibanding kedudukan si anak. 330 H/942 M). hingga tak sempat tumbuh jadi manusia durhaka? Yang menarik dari diskusi ini bukan saja al-Jubbaiy kehabisan akal menjawabnya. Konon. Kalau kritik al-Asy'ari itu adalah juga kritik kita kepada Mu'tazilah. Tapi. Kenapa harus terjadi si anak tidak diberi usia yang cukup agar ia bisa berbuat kebaikan seperti temannya yang dewasa? Kejar Asy'ari. bagaimana jika orang-orang yang dijebloskan dalam neraka protes. Kalau begitu. sesuai dengan keadilan Tuhan dalam persepsi Mu'tazilah. al-Asy'ari bertanya kepada guru besarnya. Karena yang dewasa telah sempat beramal kebaikan. maka diciptakan (makhluq). Hanya bedanya. ia akan tumbuh menjadi manusia durhaka. sedang lawan-lawannya mengaku menemukan kebenaran mutlak itu melalui huruf-huruf naqal. Tuhan tahu. kilah Jubbaiy. al-Jubba'iy. Yakni. tapi seperti halnya Jubbaiy. bahwa Mu'tazilah mengaku telah menemukan kebenaran tunggal dan mutlak itu melalui logika akal.Tuhan dari seluruh "sifat" bahkan yang secara eksplisit tersebut dalam ajaran-ajaran wahyu (Qur'an). Sesungguhnyalah kritik ini tidak saja mengena pada Mu'tazilah. Keduanya memiliki perbedaan yang substansial. Asy'ari pun juga menggunakan akal (logika) untuk mendukung argumentasinya. termasuk sifat-sifat yang dikenakan kepadaNya. tentang nasib seorang anak dan seorang dewasa yang sama-sama masuk sorga karena imannya. Itulah sebabnya. juga dengan logika akalnya. pada suatu ketika. yang adalah teolog Mu'tazilah terkemuka pada zamannya. Sifat-sifat atau atribut yang dikenakan kepada Tuhan bukanlah sesuatu yang sebangun dengan hakikat-Nya. justru ingin membebaskan-Nya tetap berada di atas batas-batas manusia tadi. sedang Asy'ari. syirk. . Yang tersebut terakhir ini dengan sangat militan diwakili oleh golongan Khasywiyah yang mengaku menjadi pengikut Imam Ahmad bin Hambal (w. Sementara Tuhan harus berbuat yang terbaik untuk manusia. adalah hadits. maka kritik kita yang kedua adalah pada klaimnya sebagai telah menemukan kebenaran tunggal yang harus diterima semua pihak. salah satu ciri yang menonjol dari sejarah pemikiran keagamaan saat itu adalah kesembronoannya yang benar-benar diyakini dalam menuduh orang atau pihak lain sebagai kafir. Dengan menarik postulat ini lebih jauh. kenapa mereka tidak dimatikan saja ketika masih muda. maka segala sesuatu selainnya. jika hakikat Tuhan itu qadim. tapi juga pada semua aliran teologi yang tumbuh pada masa-masa itu karena klaim yang sama. murtad dan sejenisnya hanya lantaran pendapat yang berbeda. jika si anak dibiarkan hidup.

beda antara teologi dialektika retorik di satu pihak dengan dialektika empiris di lain pihak. Yang pertama berwatak formal dengan orientasi pada bentuk . Sementara itu. dengan dalih itu." tapi keadilan yang menjadi tanggung jawab manusia dalam kehidupan di "sini. Tapi kalau dialektika teologi yang mengabdi doktrin itu berwatak retorik (dialektika yang terjadi dalam proses penghadapan antagonis antara satu doktrin dengan doktrin yang lain)." Saya pikir. Sehingga kalau realitas yang menggugah keprihatinannya adalah soal keadilan. kelompok Mu'tazilah ini justru bergandengan-tangan dengan rejim yang berkuasa untuk melakukan tindak sewenang-wenang terhadap siapa saja yang tidak disukainya. sistem pemikiran teologis atau apa saja atributnya yang relevan untuk dibangun. maka bagi saya. kritik yang ketiga. ia bisa disebut misalnya "teologi populis. maka rupanya keadilan yang dimaksudkan adalah keadilan lain (yang bersifat eskatologis) yang berkaitan dengan "peranan" Tuhan di hari kemudian. adalah yang tersebut pertama muaranya adalah pada terbangunnya kesesuaian realitas pemahaman dengan bunyi doktrin yang statis. (Kritik ini pun mengena pada aliran teologi lainnya. Tapi. terutama jika diingat praktek kesewenang-wenangan yang dilakukan kalangan penguasa. karena dasar keprihatinannya yang serupa). lantaran dasar keprihatinannya yang elitis tadi. (Dari dasar keprihatinannya ini. maka keadilan yang dimaksud bukanlah keadilan Tuhan yang harus ditegakkan di "sana. Dilihat dari sudut muaranya. kalau teologi abad pertengahan (seperti Mu'tazilah maupun lawan-lawannya) yang mengabdi kepada kepentingan doktrin disebut teologi dialektik. salah satu prinsip ajaran yang dipropagandakan Mu'tazilah adalah tentang "keadilan" suatu isu yang sebenarnya sangat relevan pada saat itu. karena pada dasarnya Mu'tazilah lahir dari keprihatinan pada realitas teoritis bahkan yang berdimensi metafisik.Untuk kasus Mu'tazilah sikap intoleransi ini ditindak lanjuti dengan prinsip amar ma'ruf nahi munkarnya yang merisaukan banyak pihak yang menjadi lawan polemiknya. atau inquition yang dilakukannya dengan dukungan tangan-tangan kekuasaan dan birokrasi pemerintahan yang karena alasan politik tertentu dapat dipengaruhinya. maka dialektika teologi baru itu bersifat empiris (dialektika yang terjadi dari proses penghadapan kritis antara realitas kehidupan dengan pesan-pesan universal). Mu'tazilah telah melancarkan intrik terhadap orang lain untuk menerima doktrin-doktrin teologinya dan menimpakan hukuman atas siapa saja yang mencoba menolaknya. maka sebutan yang sama pun bisa juga dikenakan pada teologi yang perlu kita kembangkan ini. TAWARAN ALTERNATIF Mencoba konsisten dengan kerangka teori "niat" seperti tersebut di atas. maka isu-isu yang digelutinya pun hampir tak punya sentuhan yang bermakna bagi umat pada umumnya. adalah yang benar-benar berangkat dari lapisannya paling bawah. Tragedi teologis ini dikenal dengan mihnah. Seperti telah disinggung di atas. sedang yang tersebut terakhir concernnya pada kesesuaian antara realitas kehidupan dengan semangat doktrin yang dinamis." atau "teologi kerakyatan"). Dan dalam kaitannya dengan persoalan keadilan yang dirasakan umat. Seperti diketahui.

teolog Yunani menolak tambahan filioque pada syahadat sex patre filioque procedit hasil perumusan Gereja Romawi. Sebagai gantinya. di Romawi dengan pemercikan.dan cenderung tertutup. Peristiwa ini disebut sebagai skisma besar Gereja Timur. Patriarch Konstantinopel.52. ." (Durant. Terakhir. Dengan watak keterbukaannya. UA 20-21 Jakarta Selatan Telp. Leo mengekskomunikasikan Cerularius dan menggelari pengikut-pengikutnya sebagai "an assembly of heretics. a synagogne of Satan. di Barat Kristianitas terbelah dua pola: Gereja Romawi dan Gereja Yunani. mengeluarkan manifesto yang mengatakan pemilihan Paus Urbanus VI tidak sah. Pastor Romawi ahli politik. SKISME DALAM ISLAM SEBUAH TELAAH ULANG (1/3) oleh Jalaluddin Rakhmat Ketika matahari Islam sedang naik di sebelah Timur. Kristen Romawi sembahyang sambil berlutut. maka kemungkinan menemukan pilihan "yang terbaik" menjadi tersedia. Pernikahan dilarang bagi pastor Romawi. dua sisi yang selama ini seperti cenderung terpisah. 1950:544). (021) 7507174 Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota Please direct any suggestion to Media Team Dimensi sosial Artikel Yayasan Paramadina Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota VI. masing-masing menyebut yang lain sebagai Judas. sedang secara horizontal berwatak demokratis. Sebagai balasan. menyebarkan tulisan yang mengkritik keras Paus di Roma. Dengan demikian. kardinal-kardinal Perancis berkumpul di Anagui. sedang yang kedua berwatak substansial yang berorientasi pada substansi dan bersifat terbuka. (021) 7501969. Menurut laporan Will Durant (Durant). a conventicle of schismatics. "Kiai" Yunani memelihara janggut. tetapi diperbolehkan bagi pastor Yunani. -------------------------------------------Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah Editor: Budhy Munawar-Rachman Penerbit Yayasan Paramadina Jln. Paus St." Kristen Yunani berdoa sambil berdiri. mereka mengangkat Robert dari Genewa dengan gelar Clement VII. Michael Cerularius. Pertentangan keduanya dan pengikutnya sampai kepada tingkat saling mengkafirkan. Justru dengan pendapat yang berbeda-beda itu. Metro Pondok Indah Pondok Indah Plaza I Kav. 7507173 Fax. Pembaptisan di Yunani dilakukan dengan penyelaman. 7501983. Lebih dari tiga abad kemudian. sedangkan rekannya dari Roma mencukurnya. teologi dialektika empiris ini akan menerima perbedaan pendapat sebagai realitas kehidupan yang wajar. teologi dialektika empiris ini secara vertikal berwatak populis. Mereka berpisah seperti "a biological species divided in space and diversified in time. Dua Paus bertahta. pastor Yunani ahli teologi. Pada tahun 1043.

setelah saya merenungkan pertanyaan-pertanyaan di atas? terlintas dalam ingatan saya sebuah hadits. Pertikaian dalam gereja Katolik. atau seperti tubuh yang satu. legitimasi ini diperoleh dengan memalsukan sumber-sumber ajaran agama atau memberikan penatsiran yang diselewengkan. dalam Islam pun kaum politisi memperbesar perbedaan doktrinal yang kecil untuk menyuburkan fanatisme --saling mengkafirkan dan saling membid'ahkan. baik skisme dalam Kristen maupun skisme dalam Islam lebih banyak dilandasi pertikaian kepentingan politik daripada karena pertikaian aqidah. and that the children so baptized. Katholieke kerk van Rome. "Siapa lagi. Sebuah kamus klasik. Ada tiga kesamaan antara skisma Kristiani dengan perpecahan dalam Islam. pertikaian politik sering dicarikan legitimasinya dengan pengembangan teologi yang berlainan. Walaupun skisme berasal dari dunia kristen. tradisi yang same telah diikuti umat Islam juga. Al-Syahrastani dalam al-Milal wa al-Nihal menulis. severed Christendom into East and West" (Durant. 1950:544). Bila skisme adalah istilah Kristiani.. Encyclopedisch Woordenbock voor Groot-Nederland (Ter laan. 1937:648) menjelaskan makna skisme: Schisma. the dying so anointed. William Occam menentang identifikasi Kristianitas dalam gereja . and not the slight diversities of creed. sehingga bila mereka memasuki gua serigala. Ketiga.1953:362) "Each side claimed the sacraments administered by priests of the opposite obedience are invalid.these galling political events. Tidak jarang." [1] Kata skisme tidak mengada-ada. sehingga kalau satu anggota sakit. mengapa kita tiba-tiba bicara tentang skisme dalam Islam.= shedding). "Ya Rasullah. dalam Islam. Sahabat bertanya. doomed to hell or limbo if death should supervene. anggota-anggota lainnya ikut demam dan panas? Mula-mula saya menganggap istilah skisme dalam Islam sebagai mengada-ada. ". the penitents so shriven. saya segera berkomentar. (Gr. Pernahkan Islam mempunyai Paus dua dan di antara keduanya ada tuduhan saling mengkafirkan? Bukankah umat Islam adalah "ummatan wahidatan" (QS." Peristiwa ini pun disebut sebagai Skisma Besar. de sheuring in de. "Kalian akan mengikuti tradisi umat sebelum kalian. Will Durant melukiskan skisme besar tahun 1054. R. Nabi Muhammad berkata. toen er verschillende pausaen tegelijk waren. Pertama. de afscheiding van een deel van de Gr. 21:92)? Bukanlah mereka seperti bangunan yang kokoh." Secara singkat. Seperti dalam dunia Kristiani. sesiku demi sesiku. "Tidak pernah darah di tumpahkan dan pedang dihunus dalam Islam kecuali karena pertikaian masalah imamah (kepemimpinan). kamu pun akan mengikutinya. di dunia Katolik pernah muncul gerakan konsiliasi (cinciliar movement) yang dipelopori oleh kaum cendekiawan. Skisma memang bukan istilah Islam. ada-ada saja!. yang semula bersifat politis. kemudian diperluas ke dalam bidang liturgi dan doktrin: begitu pula. kerk." Nabi menjawab. "Ah." Tetapi. 1054. apakah mereka itu Yahudi dan Nashara. remained in a state of mortal sin. Kedua.K. 23:53. sehingga begitu saja mendengarnya. 1378-1407.. ia menulis. yang saling menguatkan satu same lain.

Bagian pertama makalah ini akan membicarakan skisme politik. [2] Al-Syahrustani membedakan di antara kedua madzhab ini dalam hal kepemimpinan politik. ijma' dan bay'ah. yang baru saja dihapuskan tiga hari sebelumnya. Ahl al-Sunnah menetapkan pemimpin melalui kesepakatan (al-ittifaq) dan pemilihan (al-ikhtiyar). Di antara semua skisme tersebut. perlawanan Husayn bin Ali terhadap Yazid.tertentu.yakni Khalifah. penunjukan imam sebelumnya" (Perlu dicatat di sini bahwa penulis-penulis di atas adalah ulama ahl al-Sunnah.yakni. Ada beberapa kali terjadi skisme politik besar dalam sejarah Islam: pemberontakan 'Aisyah terhadap Khalifah Ali bin Abi Thalib. untuk mudahnya saja. ingin mengikuti suara cendekiawan dan mengesampingkan suara politisi. dan lain-lain. Walaupun --karena sifat ajarannya-. atau penobatan Syarif al-Husain sebagai Khalifah tandingan khalifah Utsmaniyah. atau penobatan Abdullah bin Zubair (681-692) sebagai Khalifah bersamaan dengan masa Khalifah Yazid. dan bagian kedua skisme intelektual. makalah ini akan mengajukan rekomendasi apa yang seharusnya kita lakukan. pertentangan khalifah antara Mu'awiyah dan Ali bin Abi Thalib setelah perjanjian Shiffin. abstraksi pandangan politik ahl al-Sunnah dapat disimpulkan hanya pada perbedaan konsep imamah dan khilafah yang dianut Syi'ah. Sayang.Syi'ah (yaitu tiga skisme yang pertama). di sini kedua aspek itu dipisahkan. Karena itu. wilayat. di sini kita akan meneliti perbedaan konsep politik di antara kedua madzhab besar itu dan melacak penyebab-penyebabnya. seperti dalam dunia Kristiani. menulis buku Concilium Pacis (1381). Jadi. Sementara itu. dalam Islam pun umat terbanyak lebih banyak mendengar suara politisi ketimbang cendekiawan. Tulisan ini. dan Jamaluddin al-Afgani (tidak jelas dari Sunnah atau Syi'ah). terus terang saja. ANTARA KHALIFAH DAN IMAMAH Hamid Enayat menyebutkan tiga konsep kunci untuk pandangan politik Ahl al-Sunnah . pemilihan Ahl al-Hal wa al-'Aqd. sikap nonsektarian. tetapi -anehnya menyebut kepemimpinan dengan istilah imamah). Wilayah dan 'ishmah merupakan karakteristik tak terpisahkan dari imamah. Ketiga konsep kunci untuk pandangan politik Syi'ah . tujuan akhirnya adalah menumbuhkan sikap persatuan --sikap nonskismatik. Kasyif Githa (dari Syi'ah). imamah. skisme yang tetap berpengaruh sampai sekarang adalah skisme-skisme yang melahirkan polarisasi Sunnah . Syi'ah menetapkan pemimpin lewat keterangan agama (nash) dan penunjukan (ta'yin). Karena itu. menggalakkan upaya-upaya taqrib. dan 'ishmah. dan kedua. Ijma' dan bay'ah diterima juga dalam Syi'ah walaupun dalam arti yang terbatas. Ahl al-Sunnah berpegang pada ketentuan syura sebagai landasan . Al-Mawardi dalam Al-Ahkam al-Sulthaniyah (450 H) dan Abu Ya'la dalam Al-Ahkam al-Sulthaniyah (458 H) semuanya menulis. walaupun membicarakan skisme. Dalam Islam. "Kepemimpinan ditetapkan dengan dua cara: pertama. Heinrich von Langenstein.Islam tidak memisahkan aspek politik dan aspek intelektual. tokoh-tokoh cendekia seperti Syaikh Syaltut (dari ahl al-Sunnah). Pada bagian akhir. teolog dari Universitas Paris.

siapa yang memilih. dikutip lagi dari Al-Askari. dan berapa jumlah orang yang sepakat. "Ia telah memikirkan dan merencanakan pelanjutnya . al-Syura 38 dan Ali Imran 164 sebagai dalil. Usaid bin Hudhair. disregard the respect due to his position as successor. Mereka beryakinan bahwa Rasulullah SA. Nor does it appear likely that such a leader should accept someone as his deputy and successor and introduce him to others as such." Sayyid Muhammad Husayn Tabatabai (t.: 39) menulis: From the Shi'ite point of view it appears as unlikely that the leader of a movement.t.kepemimpinan dan menunjuk QS." kata Al-Askari (1406:202). Abu 'Ubaidah bin al-Jarah.. -------------------------------------------Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah Editor: Budhy Munawar-Rachman (bersambung 2/3) . Empat imam mazhab Ahl al-Sunnah sepakat bahwa pemimpin sah dengan salah satu di antara empat cara (al-Yahfufi.W. Bukankah aqad nikah sah dengan dua saksi dan satu wali? Kata kelompok yang lain. 1406: 234-256).. menurut Ahl al-Sunnah. Akhirnya. should introduce to strangers one of his associates as his successor and deputy. seperti ketika 'Abbas mendatangi Ali untuk membai'atnya. Menurut fuqaha Kufah. 1406:147. Mawardi dalam bukunya. Basyir bin Sa'ad. untuk menegakkan masyarakat Islam. menunjuk pengganti-pengganti sesudahnya untuk memimpin umat Islam. Ini pendapat fuqaha Bashrah. Pengangkatan Abu Bakar dipilih oleh Umar bin Khathab. pemimpin bahkan dapat disahkan tidak lewat ittifaq tetapi lewat al-ghalabah (kemenangan perang). Menurut Al-Mawardi. Begitu pula Umar mempercayakan Dewan Formatur yang terdiri dari enam orang untuk memilih satu di antaranya sebagai khalifah. syura dan ittifaq cukup dilakukan oleh seorang saja (sic!). "Sejak pertama kali ia mengajak orang pada Islam. during the first days of his activity. Umat boleh memiliki (ikhtiyar) pemimpin yang disepakatinya (ittifaq) Dalam kenyataan. boleh dilakukan dalam jumlah terbatas dan ittifaq paling sedikit dilakukan lima orang. pemimpin tidak perlu ditunjuk oleh nash. syura cukup tiga orang dan satu di antara mereka disepakati oleh dua orang yang lain. but not introduce him to his completely loyal and devout aides and friends. Jadi karena pemimpin adalah hasil syura. Al-Ahkam al-Sulthaniyah 6-7. but then throughout his life and religious call deprive his deputy of his duties as deputy. syura. Ahl al-Sunnah tidak mempunyai konsepsi yang jelas tentang ketentuan-ketentuan syura. yaitu: (1) sistem syura yang terbatas (seperti pemilihan Abu Bakar) (2) sistem istikhlaf (penunjukan pengganti seperti yang dilakukan Abu Bakar terhadap 'Umar (3) sistem syura dari dewan formatur yang ditunjuk khalifah sebelumnya (seperti pengangkatan Utsman bin Affan) (4) sistem al-ghalabah bi al-saif (penaklukan dengan kekuatan militer seperti yang dilakukan Mu'awiyah) Syi'ah berpendapat bahwa imamah hanya sah bila ditegaskan dalam nash. dan Salim Mawla Abi Hudzaifah. and refuse to make any distinctions.

SKISME DALAM ISLAM SEBUAH TELAAH ULANG (2/3) oleh Jalaluddin Rakhmat Walhasil. UA 20-21 Jakarta Selatan Telp. penguasa muslim yang dzalim atau penguasa kafir yang adil. "Ketika Syi'ah menegaskan bahwa khilafah adalah hak ilahi bagi Ali dan keturunannya. (021) 7501969." Sebelum itu ia menulis (Syarh Muslim 12: 229). Syi'ah melarang dan Ahl al-Sunnah mengharuskan petaatan pada penguasa yang zalim. Metro Pondok Indah Pondok Indah Plaza I Kav. 7501983. bahkan terpelihara dari dosa." Karena Syi'ah menetapkan al-fadhil dan Ahl al-Sunnah membolehkan al-mafdhul sebagai imam. Al-Qur'an menentang hal itu dengan berkata. dan Syi'ah mengikuti yang kedua. Ini melahirkan kontroversi al-fadhil dan al-mafdhul. 7507173 Fax. "Berkata jumhur ahl al-Sunnah dari kalangan fuqaha. (021) 7507174 Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota Please direct any suggestion to Media Team Artikel Yayasan Paramadina Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota VI. atau pelanggaran hak. Ahl al-Sunnah ijma' bahwa sulthan tidak boleh dimakzulkan karena kefasikan. mahaddtsin. "Apakah orang yang memberi petunjuk kepada yang benar lebih berhak diikuti ataukah orang yang tidak dapat memberi petunjuk.52. Dengan begitu mereka menyalahi akal dan nash al-Kitab. Wajib bagi rakyat menasihati dan memperingatkannya. Sudah jelas sekali hadits-hadits yang menunjukkan pengertian yang saya sebut. maka tentu imam adalah orang yang terbaik. . 1396: 27) menulis: Imam mesti yang paling utama dari rakyatnya. Ia tidak boleh diturunkan dan tidak boleh orang keluar menentangnya. Ahl al-Sunnah) membolehkan mendahulukan al-mafdhul di atas al-fadhil.Penerbit Yayasan Paramadina Jln. ada nash-nash yang jelas dari Rasulullah saw. Syi'ah Jawad Mughnuyah (1406: 26) berpendapat. Ahl al-Sunnah memilih yang pertama. menurut Syi'ah. bahkan harus diberi petunjuk. yang menunjukkan Ali sebagai penggantinya dan sebelas orang imam dari keturunannya. dan kedzaliman. Mazhab Imamiyah sepakat tentang hal itu. Akan menganggap tidak baik mendahulukan al-mafdhul dan menghinakan al-fadhil. dan mutakallimun bahwa imam tidak boleh di dimakzulkan karena kefasikan. [3] Karena imam itu ditunjuk oleh nash. Al-Nawawi berkata dalam Syarh Muslim-nya. "Keluar memerangi mereka haram berdasarkan ijma' kaum muslimin. walaupun mereka fasik dan zalim. Bagaimana kalian menetapkan keputusan?. Al-Hilli (dalam Al-Hasan. Al-Jumhur (yakni." Kontroversi selanjutnya adalah tindakan untuk menjawab pertanyaan manakah yang lebih utama. terjadilah kontroversi berikutnya.

Kontroversi lain --yang justru sangat esensial-. mereka mengikuti khalifah al-Manshur. Goldziher (1967). Kita hanya akan mengulas dua teori saja: teori sosioantropologis Bangsa Arab dan teori pendekatan doktrinal. ahl al-bayt --di samping memegang hak kepemimpinan politis-juga menjadi rujukan dalam masalah-masalah keagamaan. orang mengikuti Imam Malik. Pada bidang religius. misalnya. kesetiaan pada suku dan ketergantungan kehormatan pada sukunya menjadi sangat penting. Tidak mungkin dalam makalah ini. ahl al-Sunnah berpegang pada kaidah yang diberikan Ibn Umar pada waktu ada pertikaian antara Ali dan para penentangnya. dan menjadi kebanggaan anggota kabilah. Karena itu. perbedaan preferensi penguasa (kafir yang adil atau muslim yang dzalim). pada kata imamah (yang secara khusus berarti kepemimpinan ruhaniah) juga terkandung makna wilayah (secara khusus berarti kepemimpinan politis). teori ini berpijak pada dua asumsi: (1) Bangsa Arab adalah bangsa yang terorganisasi atas dasar kesukuan. dan perbedaan dalam memandang hubungan kekuasann politis dengan kekuasaan religius (digabungkan atau dipisahkan). Secara politis. Mengapa terjadi perbedaan itu. Teori ini dikemukakan oleh Nicholson (1969). dan pada bidang politis. Mereka mengutamakan non-muslim jika ia adil daripada seorang penguasa Muslim yang dzalim. kehormatan seseorang dalam bahasa Arab disebut hasab (dari akar kata hasiba yang berarti menghitung). Menarik untuk dicatat bahwa khalq (karakteristik fisik) dan khuluq (perilaku) ditulis sama dalam bahasa Arab. Perilaku yang menjadi tradisi suatu kabilah. Asumsi pertama menunjukkan bahwa status sosial seseorang sangat ditentukan oleh status marganya.mereka telah bersikap ekstrem dalam toleransinya terhadap penguasa yang adil. Secara singkat. sejak berakhirnya Khulafa al-Rasyidun.adalah hubungan antara kepemimpinan relegius dengan kepemimpinan politis. (2) Bangsa Arab yang membentuk umat Islam permulaan terdiri dari dua subkultur-subkultur Arab Selatan dan subkultur Arab Tengah-Utara. Orang Arab percaya bahwa selain karateristik fisikal. dan secara terperinci dijelaskan kembali oleh Jafri (1967). Wellhausen (1927). ahl al-Sunnah memisahkan kedua kepemimpinan itu. Bagi orang Syi'ah. karakteristik perilaku juga herediter. saya menguraikan teori ini secara lengkap. Dengan demikian. Orang Syi'ah sering mendefinisikan diri mereka sebagai madzhab ahl al-bayt. TEORI SOSIO-ANTROPOLOGIS BANGSA ARAB. Sementara itu. lazim disebut Sunnah. Dari perbedaan pengangkatan pemimpin (ikhtiyar atau ta'yin). yang sama? Ada beberapa teori yang menjawab pertanyaan ini. lahirlah skisme politik besar Islam yang berlangsung sampai kini. Setiap anggota marga bangsa dalam menghitung-hitung prestasi nenek moyangnya. Nahnu ma'aman ghalab" (Kami bersama orang yang berkuasa). Ibn Thawus yang masyhur menegaskan. Di antara . perbedaan kualifikasi pemimpin (al-fadhil atau al-mafdhul). kafir yang adil lebih baik dari Muslim yang dzalim. padahal kedua mazhab ini lahir dari Islam yang sama dan pengikut Nabi saw.

Karena secara doktrinal. Kepemimpinan ahl al-bayt menggabungkan dimensi temporal dan sakral sekaligus. Ahl al-Sunnah. Mungkin. Kabilah yang mendapat tugas secara turun temurun memelihara Ka'bah disebut sebagai "keluarga al-bayt" atau ahl al-bayt. "Orang banyak tidak menginginkan nubuwwah dan khalifah bergabung pada Bani Hasyim" (Tarikh Thabari 1: 2769).sunnah yang paling dihargai adalah mengurus dan memelihara tempat-tempat suci. menerjemahkan sebagian argumentasi Shadr ini tanpa komentar sedikitpun: yang kita Saya akan memberikan . Bani "Umayyah tentu tidak rela dengan "return. Sejak awal. Nabi saw menyadari betul aspek-aspek kultural dari kepemimpinan ahl al-bayt. pada Arab Selatan. Yang tidak mereka inginkan adalah gabungan antara kehormatan religius dengan kehormatan politik. Perlawanan terhadap Islam. karena itu pula. sejak Mu'awiyah merebut kekuasaan berupaya untuk menekan konsepsi kepemimpinan ahl al-bayt. Ia mengembalikan lagi wibawa kepemimpinan Bani Hasyim sebagai Ahl al-Bayt. Tema ahl al-bayt memiliki "appeal" yang kuat bagi bangsa Arab. [4] TEORI PENDEKATAN DOKTRINAL Sayyid Baqr Shadr (1982:73-96) mengemukakan apa sebut sebagai teori pendekatan doktrinal. Ketika Nabi hijrah ke Madinah. pengurusan rumah suci (bayt) dan kehormatan (hasab) tidak dapat dipisahkan. inskripsi pada monumen Arab Selatan menunjukkan perasaan syukur dan penyerahan diri pada Tuhan. Islam menyuruh menghormatiahl al-bayt (yang sekarang didefinisikan lebih terbatas lagi sebagai keturunan Rasulullah saw). Inilah. Pada suku-suku Arab Utara. pemimpin umumnya dipilih berdasarkan usia atau senioritas. of power" dari Bani Hasyim. berkembang skisme Sunnah-Syi'ah. argumentasi yang dikemukakan Umar bin Khathab kepada 'Abbas ketika bertengkar masalah kepemimpinan 'Ali. sejak zaman jahiliyah orang Arab tidak mengenal pemisahan antara kepemimpinan temporal dan kepemimpinan sakral. khususnya Arab Selatan. Bani Abd al-Syams perlahan-lahan muncul sebagai kekuatan politik dan bani Hasyim mulai melemah. Ali pernah memindahkan ibu kota pemerintahan Islam dari Madinah --yang sudah dikuasai Bani Ummayah-. kepemimpinan Arab dipegang oleh keturunan Qushayy. misalnya. Pada masa Abu Thalib. Bila inskripsi pada monumen di Arab Utara memuja keberanian dan kepahlawanan. datang paling banyak dari Bani Umayyah. Dari kedua subkultur inilah.ke Kufah. Karena itu Bani Hasyim dikenal bangsa Arab sebagai Ahl al-Bayt. Bagi bangsa Arab. penguasa-penguasa yang bukan ahl al-bayt tidak menafikan kehormatan itu. Ka'bah adalah rumah suci yang dihormati semua kabilah Arab. Karena itu. muncullah Muhammad bin Abdullah bin Abd al-Muthalib. menemoi suku Aws dan Khazraj yang berasal dari Arab Selatan. Ketika keturunan "Umayyah merasakan ada angin baru yang menguntungkan mereka. Bani Hasyim menang dan menyisihkan lawannya dari Bani Abd al-Syams. Dalam pertentangan memperebutkan kedudukan ahl al-bayt. pemimpin dipilih berdasarkan kesucian keturunan (hereditary sanctity). karena itu. Mereka adalah suku Arab yang memiliki sensitivitas religius yang tinggi.

dengan meyakini bahwa apa yang dilakukannya benar. (2) Aliran yang hanya merasa tunduk pada agama pada bidang-bidang khusus seperti ibadah dan hal-hal yang ghaib. Bukhari meriwayatkan dalam shahihnya dari Ibn 'Abbas. Nabi berkata: Mari aku tuliskan untuk kamu tulisan sehingga kamu tidak sesat sesudahnya. serta meninggalkan kecenderungan mengikuti kemaslahatan yang tidak dapat difahami tujuannya. kita temukan dua aliran utama yang berbeda. sejak dini. Aliran ini meyakini kemungkinan ijtihad. Perbedaan di antara kedua aliran ini telah menimbulkan perbedaan doktrinal sesudah wafat Rasulullah saw. yang menyertai perkembangan umat dalam permulaan eksperimen Islam. para sahabat cenderung mendahulukan ijtihad untuk memperkirakan dan memperoleh maslahat daripada ta'abbud secara harfiyah pada nash-nash agama. sampai pada saat menjelang kematiannya (yang akan diuraikan nanti). Di samping itu. dan tinggi dari generasi yang dilahirkan Rasulullah. Berkata Umar: Nabi saw sedang dicengkram sakit. benih yang paling utama pada saat pertumbuhan risalah. Aliran kedua. Cukuplah bagi kita Kitab Allah. Salah satu kelompok berhasil berkuasa dan sanggup berkembang sehingga mencakup mayoritas kaum muslimin. Keduanya hidup bersama dalam lingkungan umat yang dilahirkan oleh Rasul sang Pemimpin. memisahkan umat dua kelompok besar. Di hadapan kalian ada al-Qur'an. Ia berkata: "Menjelang Rasulullah saw wafat. Sahabat adalah kelompok Mukmin yang cemerlang. tampaknya lebih menyebar di kalangan kaum muslimin karena kecenderungan manusia untuk tunduk pada kemaslahatan yang dapat difahami dan diperkirakannya. Penghuni rumah itu pun bertikai. sesuai dengan kemaslahatan masyarakat. Yang mengikuti aliran ini terdiri dari sahabat-sahabat besar. Umar bin Khathab pernah melawan Rasulullah saw dan berijtihad pada banyak kejadian. karena harus tunduk pada adanya aliran yang luas pada bidang kehidupan. sehingga sejarah manusia tidak pernah menyaksikan generasi aqidah yang lebih mulia. dengan peralihan atau perubahan. di rumahnya ada banyak orang. Rasul telah bertahan berkali-kali menghadapi aliran ini.Bila kita mengikuti periode permulaan dari kehidupan umat Islam di zaman Nabi saw. Pernah kedua aliran ini bertentangan di hadapan Rasul pada hari-hari terakhir kehidupannya. aliran ijtihadi. lebih suci. ada juga sahabat yang bertahkim dan bertaslim sepenuhnya pada nash-nash agama di semua bidang kehidupan. Kelompok yang lain tidak berhasil memperoleh kekuasann dan berkembang sebagai kelompok minoritas menghadapi lingkungan Islam yang umum. Sebagian berkata: Dekatkan supaya Nabi menulis . yang bertentangan dengan nash. Walaupun demikian. di antaranya Umar bin Khathab. membolehkan memalingkan nash agama pada bidang-bidang kehidupan di luar bidang-bidang kehidupan di atas. Dua aliran utama yang menyertai zaman Nabi sejak awal adalah: pertumbuhan umat Islam di (1) Aliran yang beriman sepenuhnya pada ta'abbud bi 'l-din berhukum dan berserah mutlak pada nash-nash agama dalam seluruh bidang kehidupan. Minoritas ini adalah Syi'ah.

Ayat tersebut hanya mewajibkan tayammum bila tidak ada air khusus pada yang sakit atau musafir.(wasiat) kitab sehingga kamu tidak sesat sesudahnya. Kalimat ini dipahami Abu Hanifah sebagai berikut: Orang yang tidak bepergian. dan tidak wajib shalat. "Dan jika kamu sakit atau sedang bepergian. Pertikaian justru terjadi ketika kaum Muslim berusaha memahami al-Qur'an dan al-Sunnah. Saya tidak akan memperinci kedua ikhtilaf ini. ketika para politisi mulai masuk. Madzhab yang lain berpendapat bahwa syarat sah tayammum adalah salah satu di antara tiga kondisi: tidak ada air. ia berkata: Pergilah kalian. yang muthlaq dan yang muqayyad (bersyarat). Sebab-sebab yang berkaitan dengan pemahaman al-Qur'an dan al-Sunnah. Kebanyakan aliran-aliran itu muncul sebagai hasil refleksi intelektual. atau kamu tak menemukan air. Lihatlah perbedaan pemahaman ayat tayamum ini. yang tidak mungkin semuanya dibahas di sini. -------------------------------------------. Abu Zuhrah (1987) menyebut yang pertama ikhtilaf 'aqaidi dan yang kedua ikhtilaf fiqhi. atau bepergian. lafazh yang 'am (berlaku umum) dan khash (berlaku khusus). atau setelah kamu menjamah wanita. (021) 7501969. Di dalam kedua sumber tasyri' ini terdapat kata-kata atau kalimat yang musytarak (mengandung makna ganda).(bersambung 3/3) Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah Editor: Budhy Munawar-Rachman Penerbit Yayasan Paramadina Jln. maka bertayamumlah dengan debu yang suci. Sebagian lagi berkata seperti kata Umar. tidak berlaku tayammum baginya. UA 20-21 Jakarta Selatan Telp. dan sapulah muka kamu dan tangan kamu itu. 7507173 Fax." (al-Qur'an 5: 6). 7501983. dan ada air. Ketika sudah ramai perbincangan dan pertikaian di hadapan Nabi. Skisme ini dapat terjadi pacla bidang ilmu kalam atau bidang fiqh. atau jika salah seorang di antara kamu datang dari jamban. tetapi hanya akan menunjukkan penyebab timbulnya ikhtilaf tersebut. tidak sakit. Banyak orang berpikir sederhana: pertikaian akan segera selesai bila kita kembali kepada al-Qur'an dan al-Sunnah. (021) 7507174 Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota Please direct any suggestion to Media Team pertikaian dan Artikel Yayasan Paramadina Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan . Skisme intelektual (mungkin malah tidak tepat disebut skisme) memang bisa menjadi solid. SKISME INTELEKTUAL Dari kedua aliran ini kemudian berkembang aliran-aliran lainnya. Metro Pondok Indah Pondok Indah Plaza I Kav. atau sakit." Peristiwa ini cukup menunjukkan dalamnya pertentangan di antara kedua aliran ini.

ketika kita memasuki pengkajian-pengkajian Islam yang lebih operasional seperti epistimologi Islam. 1960). padahal ia sedang disiksa. 24:4) mengandung tiga kalimah: (1) "Deralah mereka 80 deraan. air itu termasuk air mutlak (H2O). tanah. sehingga kita mengenal Jabbariyah dan Qadariyah. Kemusykilan kedua adalah sampai atau tidak sampainya hadits. Karena itu. kata Maliki.ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota VI. SEBAB-SEBAB YANG BERKENAAN DENGAN SUNNAH Masalah-masalah yang berkenaan dengan sunnah lebih musykil lagi. Kemusykilan pertama terjadi ketika kita mengambil pelajaran dari hadits: apakah yang diberitakan hadits itu Sunnah atau bukan. mengampuni para tawanan (seperti yang dilakukan Rasulullah saw. Maliki. batuan.52. Ada yang menyertai Nabi hampir setiap saat. pasir. teologi Islam. 'Aisyah berkata. juga air mudhaf (seperti air jeruk. salju dan logam. . dan batuan. pasir. 1986." (2) "Jangan terima kesaksian mereka selama-lamanya." Istitsna datang sesudah kalimat-kalimat itu. apakah kesaksian penuduh dapat diterima bila orang itu telah bertaubat? Semua mazhah --selain Hanafi-memilih rnenjawab "ya" untuk pertanyaan-pertanyaan di atas. Ayat yang berkenaan dengan tuduhan berzinah (QS. Dalam bidang ilmu kalam terjadi perbedaan pemahaman nash-nash yang berkenaan dengan qadha dan qadar. sebagian wajah oleh Ja'fari (al-Jaziri. Nabi berkata. kata Syafi'i. Mereka menangisi jenazah itu. "Semoga Allah meyayangi Abu Abd al-Rahman (yakni. kata Hambali. air teh)." dan (3) "Mereka itulah orang-orang fasik. al-Mughniyah. kemana pengecualian itu berlaku? Kepada semua kalimat atau kepada kalimat yang terakhir. tanah. dan sebagainya. Jamaat Tabligh berpendapat makan di bawah. Umar melaporkan bahwa mayit akan disiksa karena tangisan keluarganya. pada Fath Makkah) atau membunuhnya (seperti yang dilakukan Nabi pada perang Khandaq). ia mencambuki orang yang menangisi mayat. Perbedaan ini akan makin melebar. Hambali. Kata mazhab yang lain. Ketika Ibnu Umar melaporkan lagi hadits dari ayahnya. yang mempunyai lingkup pengalaman yang berlainan bersama Rasulullah saw. Apakah deraan harus dihilangkan bila orang taubat. tanah saja. Hadits dilaporkan oleh para sahabat. Pernah lewat jenazah Yahudi di depan Rasulullah saw. kalian menangis. Ibn Umar). menjilati jari setelah makan. umat Islam yang lainnya tidak beranggapan begitu. Manakah yang sunnah. Ia mendengar sesuatu tetapi tidak menghafalnya. air mutlak saja. Yang terakhir diambil oleh Hanafi. 'Aisyah menolak hadits 'Umar ini. kata Hanafi dan Hambali." [5] SEBAB-SEBAB BERKENAAN DENGAN PERBEDAAN KAIDAH USHUL FIQH Apabila ada rangkaian kalimat majemuk. "Debu" meliputi pasir dan tanah. lalu di ujunguya ada kata yang mengecualikan (istitsna). Yang pertama dipilih oleh Syafi'i. dan ada yang berjumpa dengan Nabi sesaat saja. SKISME DALAM ISLAM SEBUAH TELAAH ULANG (3/3) oleh Jalaluddin Rakhmat Apa yang dimaksud "air"? Kata mazhab Hanafi. dan menggunakan siwak adalah sunnah.

apa pun mazhabnya. sebagai pertentangan dengan prinsip egalitarian al-Qur'an [6] adalah mendahulukan kritik 'aqli daripada kritik naqli. Pada bagian yang kedua sepatutnya kita saling menghargai dan menggunakan perbedaan pendapat untuk pengembangan wawasan tentang Islam. Semua sepakat shalat dimulai dengan takbir. Kedua. Perbedaan mulai terjadi pada rincian dari pokok-pokok itu.hanya boleh dilakukan setelah pengujian naqli. APA YANG HARUS DILAKUKAN? Saya ingin mengakhiri makalah ini dengan menuliskan kembali apa yang saya sampaikan pada tempat lain (Rahmat. istihsan. Memilih pendapat yang paling kuat inilah tarjih. qiyas. bertalian dengan cabang-cabang (furu') dari pokok-pokok di atas yang memungkinkan terjadinya perbedaan. . Di tengah-tengah umat.Inilah salah satu contoh perbedaan penggunaan kaidah Ushul Fiqh. Kita akan segera menemukan bahwa bagian pertama berdasarkan dalil-dalil qath'i dan bagian kedua berdasarkan dalil-dalil dzanni. Misalnya. 2. Dalam hal akidah --semuanya percaya kepada Allah yang Esa. Seorang tidak dikatakan Muslim lagi bila berbeda pada bagian fiqh yang pertama. dan sebagainya. Demikian pula halnya dengan keberatan sementara orang terhadap hadits-hadits tentang Imam Mahdi. dan muamalah yang disetujui bersama. saya maksudkan. kita harus menguji perbedaan paham itu lewat ukuran-ukuran naqli dan aqli. Tetapi betapapun kuatnya. pendapat itu tetap dzhanni. dan Hari Kebangkitan. mereka berbeda dalam cara mengangkat tangan dalam takbir. terjebak dalam keterburu--buruan. misalnya. betapapun banyak dan sahihnya. siap berbeda pada yang dzhann-i: Kita dapat membagi hukum-hukum fiqh ke dalam dua bagian besar. Sepakat pada yang qath'i. Mencurigai hadits-hadits tentang wasiat Nabi kepada keluarganya. berkenaan dengan pokok-pokok akidah. qaul shahabat. Muhammad Rasulullah. Ini cara untuk menghindarkan "terburu-buru" menangkap ruh dari suatu nash. keyakinan kita harus diamalkan sejauh tidak merusak keutuhan umat atau tidak mendatangkan mudharat. jumlah shalat wajib. 1986: 99-103). Misalnya. bila dalil-dalil yang dipergunakan sama-sama kuat. tidak ada perbedaan antara Ahl al-Sunnah dan Syi'ah dalam hal bilangan rakaat. jumlah ruku' dan sujud. mencari dalil-dalil yang paling kuat lewat kritik hadits (yang secara konvensional telah disepakati oleh ulama ahli hadits) dan ilmu-ilmu al-Qur'an (kalau berkenaan dengan penafsiran al-Qur'an). Pertama. Ukuran aqli --yang saya definisikan sebagai metode dialektik untuk menguji konsistensi logis suatu proposisi-. 1. Dengan ukuran naqli. Tentang shalat. Orang yang menganggap bahwa setiap orang berhak ijtihad dan menafsirkan al-Qur'an karena ruh ajaran Islam itu egalitarian. istishlah. beramal dengan prinsip silaturahim: Bila terjadi perbedaan paham atau penafsiran pada hal-hal yang dzanni. Adalah kenyataan yang menakjubkan walaupun sering lolos dari perhatian kita bahwa dalam bagian pertama seluruh mazhab mencapai kesepakatan. Di samping itu. dan bagian-bagian shalat yang penting lainnya. terdapat juga beberapa metode ijtihad yang tidak disepakati. Berpikir dengan prinsip tarjih.

Ia menyebut Ahl al Sunnah sebagai madrasah al-khilafah dan Syi'ah sebagai madrasah al-imamah. Imam Syafi'i tidak membaca qunut pada shalat Shubuh karena menghormati makam Abu Hanifah yang tidak jauh dari situ. al-Ra'd:16). CATATAN 1) Hadits ini diriwayatkan oleh Al-Bukhari. Ali yakin ia paling berhak menjadi khalifah. Ilmu mengurangi perbedaan. "Perselisihan itu semua jelek" -(al-khilaf syarr kullah). 2) Al-Sayyid Murtadha al-'Askari menulis studi perbandingan antara Sunnah dan Syi'ah dalam Ma'alim al-Madrasatain (Teheran: Al-Bi'tsah. di samping membuat kendala-kendala yang berbentuk kriteria. Berbagai matan hadits ini dan penjelasannya dapat dibaca pada Al-Sayyid Murtadha al-Askari. mengkritik hadits. Tidakkah kalian pikirkan itu?" (QS. al-Turmidzi al-Hakim. 1406). tetapi ia menahan diri karena memikirkan kemaslahatan umat.Ini saya sebut prinsip shilaturrahim. Mengizinkan setiap orang berijtihad --tanpa mempedulikan perbedaan mereka dalam pengetahuan agama-. al-Zumar:9) "Allah mengangkat derajat orang yang beriman dan memiliki ilmu pengetahuan" (QS. Ketika Utsman shalat empat rakaat. Ini mempertebal ketergantungan kepada paham fiqh kita. 3. Ahmad. apakah sama orang vang berpengetahuan dengan yang tidak berpengetahuan" (QS. Ijtihad memerlukan pengetahuan yang komprehensif tentang Islam. Bukan ijtihad bila dilakukan tanpa ilmu. Di Indonesia. Salah satu penyebab perpecahan ialah pendekatan parsial yang pada gilirannya disebabkan kekurangan pengetahuan. Beirut: Dar al-Turats al-Islami. Ijtihad sebetulnya secara inheren melibatkan banyak ilmu. Ibn Majah. 1974. al-Bazzar. Akibatnya. keyakinan kita terhadap paham kita terlalu tinggi sehingga kita cenderung eksklusivistis dan meninggalkan prinsip silaturrahim. Ibnu Mas'ud shalat juga empat rakaat.dapat menimbulkan chaos. "Katakan. Fathir:19). Ketika ditegur ia menjawab. apakah sama orang yang buta dengan orang yang melihat. . karena ilmu meletakkan konvensi-konvensi yang disetujui bersama. "Berijtihad" tanpa ilmu berarti membuang seluruh konvensi dan kriteria. Seperti sangat beragamnya kemampuan dan pengetahuan orang. banyak paham timbul --barangkali setelah melakukan taryih. hanya sekelompok kecil orang yang dapat melakukannya. kita cenderung menerima informasi hanya lewat sumber-sumber yang kita setujui dan menutup diri dari informasi yang datang dari sumber lain. Ibnu Umar shalat empat rakaat. al-Thabrani. "Tidak sama orang buta dan orang yang melihat. Al-Mujadilah: 11). melakukan tarjih bukanlah pekerjaan yang bisa dilakukan setiap orang. dan ini berarti anarkhi. seperti itu pula beragamnya perbedaan pendapat. Tidak sama kegelapan dan cahaya" (QS. Ijtihad bagi Ulama dan taqlid bagi orang awam: Membedakan mana yang qath'i dan dzanni. "Katakan. Ibnu Mas'ud berpendapat shalat Dzuhur dan 'Ashar di Mina harus di qashar. dan ini berarti. Sayang sekali. Dan seterusnya sehingga terbentuk lingkaran setan yang tidak berujung. Khamsun wa Mi-ah Shahabi Mukhtalaq. Al-Qur'an yang mengajarkan persamaan dengan tegas mengatakan. tetapi mengulang lagi shalatnya di rumah (para ulama menyebutnya ihtiyath).

Teheran: Bittsah. . 1396. 1405. Muhammad. Abd al-Rahman. I. mereka kemudian dikenal sebagai Sabaiyyah. Al-Syi'ah wa al-Hakimun. 1986." dalam Al-Maqalat wa al-Dirasat. Musnad Ahmad 5:89. Al-Mughniyah.R. "Ulu al-Amr 'inda Madzahib al-Islamiyah. 1405. -------------. The story of Civilization. Al-Yahfufi. Al-fiqh 'ala al-Madzahib al-Arba'ah. Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiyah. Shahih Muslim. The story of Civilization. Muslim Studies. Al-Hasan. Muhammedanische Studien. 19:58. Dalail al-Shidq. Kitab al-Ahkam. Jawad. Vol. DAFTAR PUSTAKA Abu Zuhrah. 4) Mayoritas penduduk Kufah adalah orang Yaman dari Arab Selatan. sehingga Syi'ah sering disebut sebagai Sabaiyyah. Al-fiqh 'ala al-Madzahib al-Khaumsah. Begitu banyaknya Sabaiyyah yang mendukung Syi'ah. Will. Nabi menangisi putranya (Ibrahim). Beirut: Dar al-Jawad. 1406. Beirut: Dar al-Fikr al-Arabi. Lihat Shahih al-Bukhari. 2:124. Kita hanya ingin menunjukkan bahwa prinsip egalitarian hendaknya ditafsirkan dengan merujuk pada dalil-dalil yang sahih. New York: Simon and Schuster.M.3) Hadits tentang dua belas imam ini diriwayatkan juga dalam kitab-kitab shahih di kalangan Ahl al-Sunnah. New York: Simon and Schuster. Kita tidak bermaksud menunjukkan bahwa pendapat wasiat Nabi pada Ali adalah satu-satunya paham yang benar. Ma'alim at-Madrasatain. Karena mereka berasal dari kerajaan Saba. Vol. Shahih al-Turmudzi 2: 35: Mustadrak al-Shakihain 4: 501. 27:16. 1950. -------------. 1982. London. Terjemahan Inggris oleh S. 1967-1972. Barber. S. Hadits-hadits yang melaporkan bolehnya menangisi mayat cukup banyak.IV. Orang-orang Yaman adalah para pendukung Syi'ah.V. 1987. 5) Hadits ini diriwayatkan Muslim dalam Kitab al-Jana-iz. 6) Padahal dalam banyak ayat al-Qur'an. Murtadha. Goldziher. Tarikh al-Madzahib al-Islamiyah. Al-Askari. Mobtadiyah: Dar al-Mu'alim Al-Jaziri. Teheran: Wizarat al-Irsyad al-Islamiyah. Musthafa. dan ibunya (Aminah). Dalam sunan al-Nasai dan Al-Turmudzi ada bab yang berjudul: Bab bolehnya menangisi mayit. 19:6. Lihat 3:33. 14:37. pamannya (Hamzah). Stern dan C. Kanz al-Ummal 6: 201. 20:30. tidak diketahui penerbitnya. Durant. 4:54. 1953. prinsip pewarisan kepemimpinan pada keturunan atau keluarga nabi-nabi sering ditegaskan. Kitab al-Imarah. 6:84.

Revolusi Iran bagi sebagian orang-orang muslim menawarkan semacam "hikmah .. M. Thabari. Baths Hawl al-Wilayah. Calcutta.). 1979. Metro Pondok Indah Pondok Indah Plaza I Kav. 1982. Kesadaran akan adanya skisme itu akhir-akhir ini. Cambridge. -------------------------------------------Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah Editor: Budhy Munawar-Rachman Penerbit Yayasan Paramadina Jln. 1976. Ibn Jarir.. Tarikh al-Umam wa al-Muluk. Beirut: American University. Julius. S. A Literary History of The Arabs.H. Nicholson. Dengan mengesampingkan beberapa perorangan atau kelompok yang agaknya mengalami kesulitan besar untuk "mengakomodasi" kenyataan baru berupa peranan amat mengesankan dari kaum Syi'ah dalam percaturan keislaman internasional sekarang ini. 7501983. Husayn. (021) 7507174 Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota Please direct any suggestion to Media Team Artikel Yayasan Paramadina Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota VI. RA. SKISME DALAM ISLAM (1/4) Tinjauan Singkat Secara Kritis-Historis Proses Dini Perpecahan Sosial-Keagamaan Islam oleh Nurcholish Madjid Pembicaraan tentang Agama Islam kecuali jika dibatasi hanya kepada hal-hal yang sama sekali normatif belaka dengan tingkat idealisasi sejarah Islam yang tinggi pasti melibatkan pembicaraan tentang berbagai skisme atau perpecahan dalam agama itu. J. Rahmat. Beirut: Dar al-Fikr. The Arab Kingdom and Its Fall. Bandung: Mizan. 1956.51. S.Jafri. Tabatabai. sebagaimana telah sering dibicarakan. Tanpa Tahun. Sebuah Dilemma. Shi'a. Baqr. Satu Islam. (021) 7501969. UA 20-21 Jakarta Selatan Telp. "Ukhuwah Islamiyah: Perspektif al-Qur'an dan Sejarah" dalam Haidar Bagir (ed. 7507173 Fax. 1927. muncul dengan kuat di kalangan kaum muslimin Indonesia khususnya dan dunia umumnya karena adanya Revolusi Iran pada 1979. Wellhausen. Weir. Shadr. Tidak diketahui penerbitnya. Teheran: Maktabah al-Najah. Trans.M. 1986. The Origins and Early Development of Shi'a Islam.

yaitu mengabdi kepada Tuhan Yang Maha Esa yang mencintai dan melindungi mereka. Termasuk ke dalam makna kedewasaan itu. yaitu pesan suci keprasahan yang tulus kepada kehendak Ilahi (al-islam dalam makna generiknya). Seorang muslim yang serius dan prihatin tentu merasakan adanya semacam anomali dalam kenyataan sejarah itu. dan apa yang sedang dan bakal terjadi. sebab Pesan Suci mereka pun tunggal. Ini menjadi dasar pandangan tentang Kesatuan Kenabian (Wahdat al-Nubuwwah) dan Kesatuan Risalah atau pesan suci (Wahdat al-Risalah). makanlah dari yang baik-baik. Lebih menarik lagi sebagai bahan kajian bahwa manusia cenderung berpecah-belah justru setelah mereka menerima ajaran Tuhan yang dibawa oleh para Utusan-Nya. maka kegunaan itu ialah sebagai bagian dari usaha bersama untuk mendorong lebih jauh kecenderungan positif tersebut. agar waspada terhadap bahaya perpecahan dan pertentangan. Apalagi al-Qur'an sendiri sejak dari semula menyatakan dan memperingatkan. UMAT YANG TUNGGAL Kenyataan historis pertama tentang agama Islam ialah bahwa umatnya telah terpecah dan bahkan saling menumpahkan darah sejak masa-masa amat dini perjalanan sejarahnya. Dengan begitu diharap bahwa secara berangsur kita dapat mewujudkan dalam kenyataan berbagai angan-angan mengenai umat atau masyarakat Islam yang mendekati gambaran dalam Kitab suci sebagai "ruhama baynahum" (saling cinta kasih antara sesamanya). [1] Tafsir atas firman itu tidak bisa lain daripada penegasan bahwa semua Nabi dan Utusan Tuhan itu membentuk persaudaraan umat yang tunggal. Dan inilah pula dasar pandangan tentang Kesatuan Kemanusiaan (al-Wahdat al-Insaniyyah).terselubung" (blessing in disguise) berupa cakrawala pandangan keagamaan (Islam) yang lebih meluas. maka bertaqwalah kamu sekalian kepada-Ku. ialah kesediaan dan kemampuan untuk melihat berbagai kenyataan sejarah secara proporsional. sedangkan Aku adalah Pelindungmu semua. dengan mengakui dan memasukkannya ke dalam hitungan berbagai faktor sejarah sebagai ikut menentukan apa yang telah terjadi. Sesungguhnya Kami (Tuhan) maha mengetahui akan segala sesuatu yang kamu kerjakan. Dan ini adalah umatmu semua. dan dalam memandang keberagamaan "orang lain" (dalam pengertian yang seluas-luasnya). maka pembahasan kita dalam makalah ini insya Allah akan kita lakukan dalam semangat tinjauan kritis berdasarkan pandangan yang memperhitungkan berbagai faktor sejarah. dan berbuatlah kebajikan. Namun justru secara historis masalah kesatuan itulah di antara hal-hal yang amat sulit dicapai oleh manusia. umat yang tunggal. Keadaan yang menyimpang dari seharusnya ini tidak saja karena berbagai usaha mereka memahami ajaran Tuhan dan menerapkannya dalam kehidupan nyata . Tetapi berbagai pengalaman menunjukkan bahwa keadaan itu tidak akan tercipta jika kita tidak memiliki cukup kedewasann dalam sikap keberagamaan kita. Karena itu jika harus disebutkan kegunaan utama pembahasan kita sekarang ini. Berdasarkan itu semua. tidak saja kepada kaum muslim tetapi juga kepada para penganut agama para Nabi dan Rasul Allah keseluruhannya. Salah satu firman suci dalam al-Qur'an yang relevan dengan masalah ini terbaca: Wahai para Rasul. kiranya.

Barangkali. Maka Allah pun. maka tentunya Dia jadikan manusia umat yang tunggal. Firman itu ialah.(jadi tentunya tumbuh dari niat yang baik dan ketulusan hati). Kemudian Allah mengutus para Nabi untuk membawa berita gembira dan peringatan. tapi juga karena variasi cara pendekatan kepada ajaran itu membuahkan variasi dalam interpretasi. kemudian mereka berselisih. [4] Firman-firman itu membuka kemungkinan berbagai interpretasi . [2] Jika harus menyebutkan bukti kebenaran firman itu." Mungkin keterangan itu dapat diperoleh dari beberapa firman Ilahi juga. diselesaikan dengan pertumpahan darah dan penindasan. acapkali malah menjuruskan orang banyak kepada perpecahan dan pertentangan. Allah memberi petunjuk ke arah jalan yang lurus kepada siapa yang menghendakinya (atau. Tapi mungkin kita harus mencoba mencari keterangan lain untuk membuat semuanya itu "make sense. Lebih dari itu. Perpecahan dan pertentangan itu semakin destruktif sifatnya karena pembawaannya yang sering bergaya absolutistik dan tak kenal kompromi akibat watak dasar suatu keyakinan keagamaan. termasuk yang ada dalam satu agama pun. Keadaan menyedihkan ini pun secara ringkas digambarkan dalam Kitab Suci: Pada mulanya manusia adalah umat yang tunggal. Tetapi mereka itu akan tetap selalu berselisih. yang dikehendaki-Nya). kerapkali persengketaan di antara sesama mereka. kecuali mereka yang mendapatkan rahmat dari Tuhanmu. Maka dalam gabungannya dengan naf:su benar sendiri dan sektarianisme yang jelas selalu mengancam setiap orang atau golongan tanpa kecuali variasi pendekatan dan interpretasi itu. tidak ada yang lebih absurd daripada penyelesaian perselisihan faham keagamaan melalui penindasan dan penumpahan darah. dengan izin-Nya. maka barangkali kita hanya harus menyebutkan kenyataan tentang semua agama. [3] Juga firman Allah: Manusia itu tidak lain kecuali umat yang tunggal. memberi petunjuk tentang kebenaran yang mereka perselisihkan itu kepada mereka yang beriman. maka tentulah diputuskan (sekarang juga) antara mereka berkenaan dengan perkara yang mereka perselisihkan itu. dan Dia menurunkan bersama para Nabi itu Kitab Suci dengan sebenarnya untuk memutuskan perkara antara umat manusia berkenaan dengan masalah yang mereka perselisihkan. Dan mereka yang menerima Kitab Suci itu tidaklah berselisih mcngenai sesuatu (masalah Kebenaran) kecuali setelah datang berbagai penjelasan. yang melengkapi firman-firman terkutip di atas sehingga menjadi pandangan dan pengertian yang bulat. dari perspektif pesan suci semula agama bersangkutan sendiri. karena rasa permusuhan antara sesama mereka. misalnya: Kalau seandainya Tuhanmu menghendaki. Jika seandainya tidak karena adanya "Sabda" (Kalimah) yang telah lewat dari Tuhanmu. dan untuk itulah Dia menciptakan mereka. Namun inilah yang sebenarnya terjadi dalam pengalaman hidup umat manusia. yang jelas tanpa kecuali terbagi-bagi dan terpecah-pecah menjadi berbagai golongan dan sekte. meskipun disertai dengan penuh niat baik dan tulus.

yaitu faktor terpenting yang membuat manusia berbeda-beda -NM) yang diberikan-Nya kepadamu. God made their very differences subserve the higher ends by increasing emulation in virtue and piety. Kepada Allah-lah tempat kembalimu semua. maka pastilah Dia menjadikan kamu sekalian umat yang tunggal. sebagai fitnah besar yang mengawali skisme dalam Islam tidak mungkin dihindarkan. namun pembicaraan tentang pembunuhan khalifah ketiga. dan adanya Kehendak agar dengan perbedaan itu manusia berlomba-lomba ke arah berbagai kebaikan (istibaq al-khayrat. Ketika manusia telah bersimpangan jalan satu dari yang lain. Ayat suci itu ialah firman-Nya: Jika seandainya Allah menghendaki."Word" is the Decree of God.tentang apa yang ada dalam ajaran Kitab Suci mengenai hakikat manusia sebagai makhluk sejarah berkenaan dengan perkara persatuan dan perpecahan. [8] kita akan melakukan tahap pembahasan ini dengan pembicaraan singkat tentang peristiwa menyedihkan yang kemudian dikenal sebagai al-fitnat al-kubra . kemudian Dia akan menerangkan kepada kamu tentang segala sesuatu yang pernah kamu perselisihkan. [5] Di sini (dalam ayat ini) kita mendapatkan lagi doktrin kesufian tentang "Sabda.". yaitu tinjauan ulang secara kritis-historis terhadap perpecahan sosial keagamaan yang terjadi dalam Islam dalam perjalanan perkembangannya yang amat dini.. [7] Dari perspektif inilah kita akan memasuki bidang yang sebenarnya dari pembahasan makalah ini. dan dengan mengarah kembali kepada Kesatuan den Wujud yang mutlak Ayat suci dan tafsirnya itu mengingatkan kita kepada sebuah hadits yang sering dikutip orang bahwa perselisihan di antara orang yang beriman adalah suatu rahmat. pernyataan Iradat atau Hikmat-Nya yang universal dalam suatu masalah tertentu. and thus pointing back to the ultimate Unity and Reality. yang menyebutkan adanya Kehendak Ilahi tentang perbedaan antara sesama manusia. Mengenai "Sabda" (Kalimah) dalam firman yang dikutip terakhir itu. Maka dengan sedikit melawan semacam "konsensus" di kalangan kaum Sunni untuk menghindari pembicaraan tentang tingkah laku historis para Sahabat yang kurang mencocoki beberapa ketentuan normatif... Tetapi (Dia tidak menghendakinya) karena Dia hendak menguji kamu semua berkenaan dengan sesuatu (kelebihan. Tuhan membuat justru berbagai perbedaan mereka itu membantu mengarahkan manusia kepada tercapainya tujuan-tujuan yang lebih tinggi dengan meningkatnya perlombaan dalam kebaikan den kesalahan. ditafsirkan sebagai berarti "Keputusan" Tuhan. the expression of His Universal Will or Wisdom in a particular case." "Sabda" adalah Keputusan Tuhan. misalnya. Karena itu berlomba-lombalah kamu semua (dengan menggunakan kelebihan itu) untuk berbagai kebaikan. Utsman ibn Affan. yang merupakan ekspresi Iradat dan Hikmat-Nya yang universal dalam peristiwa tertentu. [6] Dan ayat suci itu bersesuaian dengan ayat suci yang lain. emulation in virtue and piety). Here we have again the mystic doctrine of "the Word. TENTANG "AL-FITNAT AL-KUBRA" Mungkin bagi banyak orang cukup membosankan.. When men began to deverge from one another..

sampai dengan saat Nabi menaklukkan Makkah. yang klan itu menjadi musuh utama Nabi. bahwa meskipun Utsman termasuk perintis pertama orang-orang Arab Makkah masuk Islam. dan membunuhnya. UA 20-21 Jakarta Selatan Telp. Kebiasaan itu membantu memudahkan usaha membunuhnya. mereka kembali ke Madinah untuk mengajukan tuntutan. (Seperti halnya dengan Umar sebelumnya. Utsman memerintah hanya dengan mengandalkan reputasi dan nama baik pribadi.51. (021) 7501969. Sekelompok tentara (Arab Islam) dari Mesir datang Ke Madinah untuk mengajukan klaim kepada Khalifah tentang apa yang menjadi hak mereka. karena telah diberi tahu (secara palsu) bahwa persoalan mereka telah diselesaikan dengan baik oleh Khalifah melalui perundingan dengan ketua utusan mereka. misalnya. 7507173 Fax. Namun setelah mereka mendapat berita yang benar bahwa ketua utusan mereka itu malah telah dibunuh. Tapi mereka segera kembali pulang ke Mesir.("ujian besar") itu. (021) 7507174 Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota Please direct any suggestion to Media Team Artikel Yayasan Paramadina Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota VI. Meskipun akhirnya Abu Sufyan masuk Islam. tersedia tidak hanya satu keterangan. -------------------------------------------. delegasi tentera itu menyerbu Utsman di rumahnya. [9] Tentang mengapa delegasi tentara itu tidak puas terhadap Utsman dalam menjalankan tugas kekhalifahannya. Abu Sufyan. yang di situ kaum bukan-Umawi di Madinah menunjukkan sikap netral. SKISME DALAM ISLAM (2/4) Tinjauan Singkat Secara Kritis-Historis Proses Dini . 7501983. adalah seorang penguasa Makkah yang mengorganisasi dan memobilisasi orang-orang Quraisy melawan Nabi di Mekkah. Pertama ialah. Setelah beberapa saat perundingan dan musyawarah. juga anaknya Mu'awiyah yang sedikit terlebih dahulu berbuat serupa. Metro Pondok Indah Pondok Indah Plaza I Kav. sebagaimana telah terjadi pada Umar sebelumnya dan kelak terjadi pula pada Ali). bahkan sikap permusuhan mereka itu berlangsung terus sampai boleh dikata detik-detik terakhir sebelum Nabi wafat. melainkan banyak dan cukup kompleks. namun hal itu terjadi lebih banyak hanya berkat kebijaksanaan diplomatik Nabi yang memberi dan mengakui hak istimewa dan kehormatan mereka. sebagaimana layaknya adat kebiasaan para sesepuh (al-syaykh) suku-suku Arab menjalankan kepemimpinan mereka. tanpa pengawal.(bersambung 2/4) Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah Editor: Budhy Munawar-Rachman Penerbit Yayasan Paramadina Jln. Pembunuhan terhadap khalifah ketiga terjadi duapuluh empat tahun setelah wafat Nabi. juga Ali sesudahnya. namun dia adalah seorang anggota klan Umayyah yang berkuasa di kota itu.

yang menjadi alasan penempatan itu. Mereka mengelilingi Utsman dengan penasehat-penasehat dan tenaga-tenaga ahli. dan meneruskan usaha perdagangan mereka di sana. yang pergi ke daerah-daerah taklukan. khususnya orang-orang Arab setempat. daerah subur yang membentuk konfigurasi bulan sabit dari pantai timur Laut Tengah naik ke utara. seperti seorang "aktivis" Umawi. Sebenarnya Utsman melanjutkan kebijakan Umar. dalam suasana terpisah dari penduduk bukan-Arab sekelilingnya. tapi tanpa mempunyai wibawa hebat seorang Umar. Tetapi kebijaksanaan Utsman yang yang menghambat emigrasi dari Hijaz itu membuatnya tidak populer di kalangan orang-orang Makkah. kaum Umawi segera melihat pada kekhalifahan Utsman suatu kesempatan untuk mengembalikan kedudukan mereka yang baru saja hilang. dan ia pun terjerumus kedalam praktek-praktek nepotistik yang mengundang berbagai reaksi keras banyak kalangan. sementara perang sendiri. seperti Kufah. Para tentera suku Arab (al-muqatilah) yang oleh Umar ditempatkan di berbagai kota garnizun di daerah-daerah taklukan dipertahankan oleh Utsman seperti keadaan mereka semasa Umar. Kebijaksanaan Utsman itu membantu mengurangi kecenderungan emigrasi ke luar Hijaz dan memperkuat kekuasaan pusat di Madinah secara fisik (sumber daya manusia). Kebijaksanaan itu juga mengurangi ancaman bahwa budaya Arab akan terserap ke dalam budaya daerah-daerah Bulan Sabit Subur (Fertile Crescent. Ini tumbuh menjadi faktor penunjang bagi protes-protes yang mulai dilancarkan para tentara. Para tentera ini hidup menetap di tempat-tempat tersebut. karena Umar melihat pada kaum Umawi itu kecakapan pemerintahan yang bisa dimanfaatkan. meskipun sebenarnya ia berhasil sedikit mengubah keadaan dengan mengarahkan sebagian investasi dari Lembah Mesopotamia ke Hijaz. yang kebanyakan mereka itu terdiri dari kaum Umawi. Ini acapkali menimbulkan rasa keberatan dari pihak orang-orang Arab yang kurang mampu. Sudah sejak masa Umar banyak orang Arab Quraisy yang kaya. ke daerah pegunungan Anatolia sebelah selatan membentang ke timur dan kembali ke selatan. telah menjadi peristiwa sesekali saja. berbentuk proyek-proyek irigasi di berbagai oase. Marwan ibn al-Hakam. Tetapi tanpa keteguhan kepribadian Umar. Apalagi setelah ekspedisi menaklukkan Iran telah .Perpecahan Sosial-Keagamaan Islam oleh Nurcholish Madjid Sebagai klan dengan tradisi kekuasaan yang mapan. Bertindak sebagai penguasa pada kota-kota perbatasan itu ialah para gubernur (bekas) pedagang kaya yang cakap memerintah dari keluarga-keluarga Quraisy dan sekutu mereka dari Taif (klan Tsaqif). Mereka memegang pemerintahan menghadapi kecenderungan kesukuan dan semangat kedaerahan orang-orang Arab. Utsman pun tidak bisa mengatasi situasi warisan pendahulunya itu. dan kekuasaan mereka itu diawasi oleh semangat ajaran umum Islam yang saat itu Islam telah menjadi ciri utama sifat ke-Arab-an mereka. ke Lembah Mesopotamia). Utsman menjadi tidak banyak berdaya menghadapi klannya sendiri. terutama Mesopotamia di Irak. (Harus diingat bahwa pada saat itu semua orang muslim adalah warga negara dan sekaligus tentara). yakni para pedagang Mekkah. Sebagian dari hadirnya para penasehat dan tenaga ahli Umawi itu sebenarnya merupakan lanjutan kebijaksanaan Umar sebelumnya.

karena dipandang kurang menunjukkan ukuran moral yang tinggi (konon suka minuman keras dan mabuk). sebuah kota garnizun yang didirikan Umar dan kerusuhan itu harus ditindas dengan penumpahan darah. Salah satu kebijakan lagi dari Umar yang dilanjutkan atau diwarisi oleh Utsman ialah yang berkenaan dengan sistem keuangan negara. ketidakpuasan di kalangan tentara terhadap kebijakan Utsman semakin keras dinyatakan orang. handalan utama mereka dalam masalah periwayatan). Maka penduduk Syria puas dengan Mu'awiyah. sesungguhnya. Namun. bahkan gubernurnya pun ditolak orang. sekalipun mereka agaknya juga mempunyai jalur penuturan dari Ali ibn Abi Thalib. Utsman dikenal sebagai amat berjasa menyatukan ejaan penulisan al-Qur'an dengan memerintahkan untuk membakar semua versi ejaan yang lain (sehingga sampai sekarang ejaan standar Kitab Suci agama Islam itu disebut ejaan atau "rasm Utsmani"). Dan jika ummat Islam sesudah itu menikmati kesatuan penulisan dan pembukuan Kitab Suci-nya yang tidak ada bandingnya dalam sistim kepercayaan atau faham lainnya mana pun juga. Kairo lama). Menurut para ahli akhirnya ia patuh juga kepada keputusan Khalifah. Ibn Mas'ud. Penyatuan ejaan al-Qur'an itu amat prinsipiil sebagai dasar penyatuan orang-orang Arab Muslim khususnya dan semua orang Muslim umumnya. Demikian pula Kufah. tidak ada kebijakannya yang dapat diterima di sana. Umar disebut sebagai "yang pertama menciptakan lembaga-lembaga" (Arab: awwal man dawwana al-dawawin). (Pengumpul al al-Qur'an). salah seorang ahli membaca al-Qur'an yang amat terkenal dan disegani. (Bahkan kaum Syi'ah yang dikenal sangat anti Utsman itupun akhirnya juga mengakui jasa khalifah ketiga ini. Maka untuk menunjang sistemnya inilah antara lain Umar tidak mengizinkan tentera memiliki . sempat menunjukkan perasaan tidak sukanya kepada kebijakan Utsman. maka sebagian besar keberuntungan itu adalah berkat jasa Utsman ibn Affan yang bergelar Jami' al-Qur'an. Para gubernur yang melanjutkan tugas mereka semenjak diangkat oleh Umar banyak yang cakap dan sebagian dari mereka diterima baik oleh penduduk setempat. karena tidak lagi bisa dialih-arahkan kepada kegiatan-kegiatan ekspedisi militer. Tetapi gubernur yang ditempatkan di Mesir (di kota Fusthath. Kebijaksanaan Utsman berkenaan dengan Kitab Suci itu sungguh patut dipuji. [10] Dan seperti hampir semua kebijaksanaan Utsman yang lain. Tetapi kejadian itu tetap meninggalkan bekas. sekalipun akhirnya dapat dinetralisasikan melalui usaha akomodasi berbagai versi bacaan Kitab Suci dalam bentuk pengakuan keabsahan "bacaan tujuh" Al-qira'at al-sab'ah. Suatu kerusuhan muncul di Kufah. usaha Utsman itu tidak berjalan tanpa tantangan. Basrah dengan Ibn Amir (yang di waktu damai giat berdagang untuk mengumpulkan kekayaan tapi bertindak cukup adil karena ia menganjurkan orang lain agar berbuat serupa pula). dengan menyesuaikan dan mengikuti cara penulisan Kitab Suci menurut ejaan Utsman. tindakannya untuk menyatukan sistem penulisan al-Qur'an itu pun dapat dikatakan sebagai kelanjutan kebijakan Umar sebelumnya. tidak pernah memuaskan orang-orang setempat. khususnya lembaga atau sistem penggajian tentera dengan besar dan kecilnya gaji (sesungguhnya lebih tepat disebut lumpsum) itu menurut tingkat kepeloporan seseorang dan jasanya dalam agama Islam. berkedudukan di Kufah.rampung dan tuntas.

dengan sikap hidup yang penuh kesalihan dan hikmah (wisdom) yang luas dan mendalam. dengan gejala-gejala nepotisme Umawi yang semakin terasa pada masa Utsman. memimpin. Kebijakan Umar di bidang ini dan di bidang finansial pada umumnya sangat dihargai oleh para ahli sejarah Islam (khususnya. dengan pensponsoran kuat dari Umar. khususnya di kawasan Bulan Sabit Subur. sama dengan harta rampasan perang mana pun juga. hanya selang sekitar seperempat abad sejak wafat Nabi. Maka. maka. Tentera di berbagai kota garnizun mulai merasakan tidak adilnya penghasilan daerah mereka dikontrol dan dibawa ke Madinah sebagai fay' (milik negara). sebagaimana telah dikemukakan. Segera setelah Utsman terbunuh. ketokohan Ali membuatnya paling tepat sebagai pengganti (khalifah) Nabi. SYI'AH DAN SUNNAH Kejadian pembunuhan Utsman hanyalah permulaan. dan hanyalah salah satu. Tapi ketika Utsman mewarisinya. tapi sejak wafat Nabi sendiri. ternyata sedikit demi sedikit sistem Umar itu mulai menunjukkan segi-segi kelemahannya. lebih mirip tindakan darurat (emergency). Tetapi agaknya penunjukan Abu Bakr. Jadi berbeda dengan pandangan Umar yang tidak melihatnya demikian. dan dilepaskan dari pengawasan Madinah. khususnya dalam shalat berjama'ah) ummat Islam di Madinah itu. Tentang mengapa yang terjadi ialah pengangkatan Abu Bakr. Akumulasi dari semua ketidakpuasan terhadap Utsman itu yang jelas sebagian bukan karena kesalahan Utsman sendiri berakhir dengan pembunuhan Khalifah. Bagi banyak pihak di Madinah. dan tumbuh . serta mertua beliau (ayahanda A'isyah. para bekas pembunuh itu atau simpatisan mereka mensponsori pengangkatan Ali (ibn Abi Thalib) sebagai khalifah. khususnya dalam bidang-bidang keuangan ini. mengulangi perdebatan di masa Umar sekitar masalah tanah-tanah pertanian daerah taklukan itu. telah tumbuh sejak zaman Nabi sendiri sebagai seorang pahlawan. kalangan Sunni) dan diakui oleh para ahli bukan-Muslim sebagai suatu tindakan seorang genius dan bijak. tentu saja. Kebetulan Ali yang adalah kemenakan dan menantu Nabi. menggantikan Utsman. [11] para tentera menghendaki agar tanah-tanah produktif itu langsung dibagikan kepada tentera penakluk bersangkutan. Utsman tidak memiliki wibawa dan kecakapan seperti pendahulunya itu. salah seorang isteri beliau yang amat dicintainya) sebagai imam (imam. seorang Sahabat Nabi yang amat dekat dan senior. Ditambah lagi. dari deretan fitnah yang amat besar pengaruhnya kepada terjadinya skisme dalam Islam. Mereka menginginkan untuk secara langsung mengontrol dan menguasai penghasilan daerahnya masing-masing itu. menurut sementara ahli sejarah Islam. GOLONGAN-GOLONGAN KHAWARIJ. artinya orang yang berdiri di depan.tanah-tanah produktif (pertanian) di daerah-daerah yang telah mereka bebaskan. yakni. yang sampai sekarang masih menjadi bahan pembicaraan. seperti telah disinggung. serta pelopor mula pertama dalam Islam. tidak hanya sekarang sesudah Utsman. ahli perang (warrior) yang tangkas. Baru di masa Umar sifat kedaruratan itu mulai hilang. meskipun tidak disepakati oleh semua orang. Dan dengan begitu dimulailah perang saudara selama lima tahun. tercermin dari penggunaan istilah Khalifah (pengganti) olehnya untuk tugasnya itu. adalah bahan kontroversi yang serius. Ketidakpuasan ini masih harus ditambah. (Juga Umarlah yang memprakarsai pendirian lembaga keuangan yang dikenal dengan bayt al-mal --harfiah berarti "rumah harta").

Akibatnya ialah bahwa ia justru . dan dibantu oleh 'Amr ibn al-'Ash. untuk sebutan resmi jabatannya itu. Maka Umar. Tetapi peristiwa itu sendiri menimbulkan luka sosial-keagamaan pada ummat Islam yang sampai sekarang belum seluruhnya tersembuhkan. tuntutan untuk pengusutan pembunuhan Utsman sangat keras. diplomatik Mu'awiyah dan para pendukungnya. seorang anggota keluarga Abu Bakr.kesadaran padanya akan sifat kepermanenan jabatan pemimpin ummat Islam. dan di hadapan berbagai kritis yang mulai mengancam ummat Islam lembaga itu menjadi rebutan dalam tema-tema "to be or not to be. 'Ali yang seorang ahli perang (warrior) yang cakap dan berani agaknya dengan mudah mengalahkan A'isyah dan al-Zubayr di pertempuran dekat Basrah yang kemudian dikenal sebagai "Peristiwa Onta" (karena A'isyah memimpin pasukan dengan menunggang onta. Juga disebabkan oleh kecakapan militernya. Berbagai reaksi kurang menguntungkan terhadap 'Ali itu tidak saja membuat situasi masyarakat Islam yang masih muda dilanda suasana tak menentu dan sedikit chaotik. Tetapi mungkin sebagai gabungan antara kesalihan yang lebih mementingkan perdamaian dan sikap meremehkan kepintaran. jika tidak bisa disebut kelicikan. anak cucu Umayyah ibn 'Abd Syams." Telah disebutkan bahwa Ali sebenarnya adalah tokoh yang amat tepat menghadapi situasi kritis itu. Program itu sendiri konon sebagai kelanjutan rintisan dan pelaksanaan pesan Nabi menjelang wafat. Ali agaknya akan akhirnya memenangkan pertempurannya melawan Mu'awiyah. Mu'awiyah (anak abu Sufyan. dengan korban jiwa yang tidak sedikit. Maka suasana curiga kepada Ali dari banyak pihak menjadi tak terhindarkan. meskipun jelas mustahil mendukung pembunuhannya. Tetapi ketokohannya itu menjadi problem karena kenyataan bahwa sejak semula ia. Perkembangan pranata politik Islam pada saat pengangkatan Ali ialah bahwa sistem kekhalifahan telah berjalan dan tumbuh selama hampir seperempat abad. tidak saja dari kalangan yang secara langsung mempunyai hubungan darah dengan Utsman. seperti dapat diduga. ialah permusuhan antara Ali dan Mu'awiyah. menunjukkan simpati kepada para pemrotes kebijaksanaan Utsman. memilih nama atau gelar Amir al-Mu'minin. Maka kekhalifahan sebagai saat itu telah menjadi terlalu amat penting untuk dilewatkan begitu saja. dan onta itu terbunuh dalam pertempuran). juga al-Zubayr ibn al-Awwam. lengkap dengan berbagai pelembagaannya yang sebagian besar sebagaimana telah disinggung. Yang lebih parah. karena memang program utama masyarakat Islam waktu itu ialah melancarkan ekspedisi-ekspedisi militer ke luar Jazirah Arabia. diletakkan oleh Umar. Komandan Orang-orang Beriman. yaitu kalangan kaum Umawi (Umawi. Reaksi-reaksi itu segera menyeret masyarakat Islam ke dalam kancah peperangan sesama mereka. ayah dari pada kakek Mu'awiyah) tetapi juga dari tokoh-tokoh seperti A'isyah. Khalifah terbunuh. dipelopori oleh politikus dan gubernur yang cakap. yakni. dengan akibat yang amat jauh dalam bidang sosial-keagamaan. Ali secara iktikad baik dan "polos" menerima usul arbitrasi di Shiffin. Kecurigaan itu mewujudkan diri dalam reaksi-reaksi tidak setuju kepada pengangkatan Ali sebagai khalifah. puteri Abu Bakr dan isteri Nabi yang sangat dicintainya. musuh utama Nabi sampai penaklukan Mekkah). dibawa oleh sikapnya yang salih dan populis. Sedangkan dari kalangan kaum Umawi. gubernur dan komandan militer yang menaklukkan Mesir.

seorang tokoh yang pernah mereka unggulkan dengan penuh antusiasme. 7507173 Fax. (Sebutan ini merujuk kepada firman Allah. untuk akhirnya melenyapkan diri mereka sendiri. "Dan di antara manusia ada yang 'menjual' dirinya demi memperoleh ridla Allah. Dan Allah itu Maha Penyantun kepada para hamba-Nya. namun akhirnya mereka habisi dalam suatu pembunuhan politik. Metro Pondok Indah Pondok Indah Plaza I Kav. SKISME DALAM ISLAM (3/4) Tinjauan Singkat Secara Kritis-Historis Proses Dini Perpecahan Sosial-Keagamaan Islam oleh Nurcholish Madjid Maka sebutan al-Syurat itu sekaligus memberi gambaran tentang hakikat dan sifat gerakan mereka. yaitu semua orang harus menyingkir dari tatanan mapan dan bergabung dengan mereka demi iman yang benar telah menjerumuskan masyarakat Islam kepada suasana "semua lawan semua." dengan secara total menyerahkan dan mengorbankan diri untuk agama yang benar. maka konsep-konsep itu yang antara lain melahirkan doktrin hijrah. .51. yang kemudian secara tak terhindarkan membawa mereka kepada situasi mudah sekali terpecah-belah dan saling bermusuhan. "orang-orang yang menjual diri (kepada Allah)." [12] -------------------------------------------. Tetapi karena dibawakan dengan militansi yang hampir tak terkendalikan. UA 20-21 Jakarta Selatan Telp. yaitu gerakan dengan semangat sendirinya mereka berkembang menjadi kelompok dengan tingkat ekstremisme yang amat tinggi.(bersambung 3/4) Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah Editor: Budhy Munawar-Rachman Penerbit Yayasan Paramadina Jln.kehilangan dukungan dari para sponsornya yang gigih dan militan. (021) 7501969. 7501983. dan menamakan diri mereka kaum al-Syurat. Karena kegiatan mereka yang selalu merongrong tatanan mapan. Egalitarianisme radikal kelompok ini membawa mereka kepada konsep-konsep sosialpolitik yang sesungguhnya lebih dekat kepada cita-cita Islam seperti diletakkan oleh Nabi dan merupakan kelanjutan cita-cita universal dalam tradisi bangsa-bangsa Irano-Semitik sejak ratusan tahun. dan yang dengan kuat sekali mewarnai pandangan-pandangan hidup di daerah Bulan Sabit Subur. yakni." tanpa ada pihak yang benar-benar diuntungkan. (021) 7507174 Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota Please direct any suggestion to Media Team Artikel Yayasan Paramadina Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota VI. yang sejak semula menginginkan penyelesaian militer terhadap Mu'awiyah. Korban yang paling tragis dari ekstremisme mereka ialah Ali sendiri. Mereka ini kemudian membentuk kelompok ketiga.

meskipun ia tetap secara keseluruhan mengunggulkan Ali atas lawannya itu). kini menunjukkan daya tarik dan vitalitasnya di kalangan sebagian kaum Muslim "liberal" (dalam arti lebih banyak menunjukkan sikap kritis dan mungkin ingin lepas dari kukungan tatanan mapan sosial-keagamaan yang ada). menunjukkan segi tertentu kelebihan Mu'awiyah atas Ali. Terutama pada tahun 41 Hijri. dan orang dengan penuh harapan menyebut tahun itu sebagai "Tahun Persatuan" (Amal-Jama'ah). anaknya. Dengan maksud untuk tidak mengambil risiko yang dapat mengganggu "keseimbangan rawan" (delicate balance) susunan masyarakat Islam yang ada dan yang diperoleh dengan banyak pengorbanan itu. mempertahankan klaim kekhalifahan. sepeninggal Ali. sekurang-kurangnya secara de facto. ummat Islam di bawah Mu'awiyah dapat dikatakan kembali kepada keutuhannya yang semula. sesudah Umar ibn al-Khaththab. Perkembangan lebih lanjut masyarakat Islam setelah terbunuhuya Ali oleh kaum Khawarij ialah pengakuan dan dukungan hampir universal masyarakat kepada kekuasaan Mu'awiyah di Damaskus. nisbat kepada oase al-Harura dekat Kufah. keadaan kembali kepada kekacauannya yang semula. sehingga para ahli sejarah ada yang mengatakan sebagai Khalifah Islam yang kedua terbesar. dalam polemiknya dengan kaum Syi'ah. Bahkan ada tanda-tanda bahwa problematika kaum Khawarij itu. Bahkan cukup menarik bahwa ibn Taymiyyah. Ini. [13] Dengan modal persatuan itu Mu'awiyah dapat melanjutkan program-program ekspansi militer dan politik yang sempat tertunda beberapa lama oleh adanya fitnah. Tetapi kekhalifahan Yazid yang memang tidak banyak memenuhi gambaran ideal seorang penguasa Muslim itu segera mengundang munculnya kembali pertentangan-pertentangan laten. [14] Tetapi setelah Mu'awiyah meninggal. (Sesungguhnya mereka berharap. (Mereka juga dinamakan kaum al-Haruriyyun. yakni. Mu'awiyah mendapat dukungan yang boleh dikata universal. sudah sejak semula dalam kekhalifahannya Mu'awiyah meminta agar masyarakat menyetujui untuk mengangkat Yazid. Seperti telah dikatakan tadi. Sebagian besar masyarakat Islam menyetujui ide itu. Tetapi sebenarnya hanya secara fisik mereka boleh dikata terhapus dari sejarah. mereka ini kemudian mengalami penghancuran diri sendiri (self annihilation) justru karena watak mereka yang sangat akstrem. (Mu'awiyah ternyata menunjukkan kecakapan memerintah yang mengesankan.mereka kemudian lebih dikenal sebagai kaum Khawarij (pemberontak). dalam pandangan Ibn Taymiyyah. . sebagai penggantinya. masih sempat menunjuk kepada kenyataan bahwa sementara Ali mendapat dukungan bagi kekhalifahannya hanya dari sebagian umat Islam. Sedangkan secara doktrinal. sebagaimana dahulu muncul dalam sistem kalam kaum Mu'tazilah. justru banyak sekali faham-faham keagamaan yang kini berkembang dan mapan di kalangan kaum Muslimin dapat ditelusuri kembali sebagai asal dari problematika kaum Khawarij. Tantangan terhadap Yazid mula-mula datang dari para pendukung Ali yang memang nampak selalu siap menggunakan setiap kesempatan. Akibatnya ialah bahwa mereka hampir-hampir praktis tidak tertahan untuk menyaksikan zaman modern sekarang ini. agar Hasan. tempat mereka berpangkalan). dan Yazid pun dinyatakan sebagai Khalifah. anak sendiri.

setelah secaara singkat menjadi pendukung Abdullah ibn al-Zubayr pada saat permulaan penampilan khalifah Makkah . khususnya faham persamaan umat manusia. Di Makkah bangkit Abdullah ibn al-Zubayr (ibn al-Awwam) yang ayahnya dahulu pernah menentang Ali bersama A'isyah dan kalah kini bangkit menentang Yazid dengan cukup efektif. cucu Nabi. Tentera Yazid menghancurkan mereka. Yazid tidak bisa mengatasinya. Kebiasaan mereka untuk melakukan gerilya dalam kelompok-kelompok penyerang yang disusun seperti sistem kabilah sebelum Islam (masa Jahiliyah) telah mengundang antipati orang-orang kota. Sebenarnya kaum Khawarij ini hampir berhasil menghidupkan beberapa nilai yang diajarkan oleh Nabi. Abdullah oleh sebagian besar umat diakui sebagai khalifah yang sah. terbunuh secara amat kejam dan tragis. Dengan menggunakan sentimen umum terhadap kematian tragis Husayn. dengan Makkah sebagai ibukota. dan Husayn. Apalagi. meskipun selama fitnah kedua ini menguasai teritorial yang paling luas. dan mereka ini terkucilkan di padang pasir Karbala. Tetapi kaum Khawarij gagal memperoleh dukungan dari kalangan Muslim yang lebih terorganisir di kota-kota. seperti terbunuhnya Utsman sebelumnya. "Partai Ali"). banyak kalangan penduduk Kufah sendiri yang menarik dukungannya kepada Husayn. tidak pernah efektif. Adalah sejak peristiwa Karabala itu para pendukung setia Ali dan keturunannya dikenal dengan sebutan kaum Syi'ah (yang sebetulnya lengkapnya ialah syi'ah Ali. Husayn dengan kekuatan tenteranya yang kecil menolak untuk menyerah. kaum Syi'ah perlahan-lahan mengkonsolidasikan diri dan mengembangkan pandangan-pandangan sosial-politik keagamaan yang kelak menjadi dasar sistem doktrinal Syi'isme. telah membuat kaum Khawarij cukup favorable di mata kaum non-muslim. sebelum tentera Syria datang menyerbu. Dan politik mereka yang menerapkan prinsip nonintervensi terhadap kelompok-kelompok bukan-Muslim. dengan membiarkan mereka dalam otonomi penuh mengurus kepentingan mereka sendiri. Irak. Ini membuat kekuasaan kaum Khawarij. khususnya di daerah pedesaan atau badawah. Maka harapan para pendukung Ali kini ditujukan kepada Husayn. yang mereka undang untuk memberontak di Kufah. Tetapi. Terbunuhnya Husayn. dekat Kufah. setelah berhasil dibujuk oleh gubernur Syria. yang mempunyai dampak amat luas dan mendalam pada sistem sosial-keagamaan Islam sampai sekarang.menghadapi Mu'awiyah di Damaskus. merupakan peristiwa terpenting dalam fitnah kedua. kekuasaan berada di tangan kaum Khawarij yang seperti selama ini melancarkan perang "hit and run" terhadap Abdullah ibn al-Zubayr. Tetapi Abdullah tidak menikmati kekuasaan yang mantap. Tetapi Hasan mengecewakan mereka dengan sikapnya yang lebih senang turun dari klaim itu dan hidup hampir menyendiri secara damai di Madinah. Tetapi Yazid tidak hanya menghadapi tantangan dari kaum Syi'ah. meliputi sebagian besar pedalaman Jazirah Arabia. Di luar kota Makkah sendiri. saudara Hasan. Egalitarianisme mereka telah membuat mereka termasuk yang pertama dalam sejarah Islam yang tidak membeda bedakan antara Muslim Arab dan Muslim bukan-Arab. putera Ali dan Fathimah. dan setelah penguasa Damaskus ini meninggal sesudah menjabat sebagai khalifah selama sekitar tiga tahun saja.

dengan akibat hukum bunuh yang mereka laksanakan secara konsekuen. juga ingin menegakkan prinsip persamaan manusia. kekuatan-kekuatan oposisi kelanjutan kaum Umawi berhasil mengkonsolidasi diri. yang dikenal sehagai kaum Azariqah. dengan melakukan berbagai akomodasi. kaum Khawarij terpecah menjadi dua. di utara. sehingga Mesir pun tidak lama jatuh ke tangan Marwan dan anaknya. Keberhasilan Ibn al-Zubayr mematahkan kaum Khawarij dan Syi'ah tidak berarti bahwa mereka benar-benar bebas dari oposisi. Irak. Segi kebenaran Abd al-Malik ialah bahwa ia berhasil mengakhiri fitnah (kedua). Kaum Syi'ah.itu. (Adalah Marwan ini yang dahulu bertindak sebagai penasehat utama Khalifah Utsman ibn Affan dan didakwa sebagai dalang pembunuhan pemimpin delegasi Mesir yang datang ke Madinah untuk mengadukan perkara mereka. yaitu Ibn al-Hanafiyyah. Irak juga jatuh ke tangan kaum Umawi. Ibn al-Zubayr masih harus menyelesaikan masalah Syi'ah. namun dengan cara-cara yang lebih moderat. Mereka dengan tegas mengambil sikap yang menyamakan status antara orang-orang Muslim bukan-Arab dengan Muslim Arab. Tantangan orang Kufah ini mempermudah pemberontakan kaum Syi'ah untuk dipatahkan oleh Ibn al-Zubayr dengan menggunakan kekuatan tentara dari Basrah yang saat itu telah bebas dari tugas menghadapi kaum Khawarij. Tetapi egalitarianisme mereka ini justru membuat marah orang-orang Muslim Arab Kufah. yang berarti hilangnya basis dukungan bagi Ibn al-Zubayr di Mekkah. Sementara itu. Mereka ini akhirnya dikalahkan oleh tentara Ibn al-Zubayr yang berpangkalan di Basrah. di Syria. Kaum Umawi yang berkoalisi dengan kaum Banu Kalb (sandaran utama kekuatan Arab Syria bagi kaum Umawi sejak masa Mu'awiyah) mengangkat Marwan ibn al-Hakam. dan di situ Khalifah Abdullah ibn al-Zubayr (ibn al-Awwam) terbunuh. sepupu Mu'awiyah. Abd al-Malik (692-705). Kini kekhalifahan sepenuhnya pindah ke tangan anak Marwan. Pemberontakan kaum Syi'ah ini dipimpin oleh Mukhtar ibn Abi Ubayd. kaum Syi'ah sekali lagi mencoba memobilisasi diri dan menemukan figur sentral mereka pada putera Ali yang lain. Selain menghadapi kaum Khawarij. Abd al-Malik. sebagai Khalifah. Kaum Khawarij dan Syi'ah itu tetap merupakan ancaman yang laten. Hingga akhirnya kaum Umawi berhasil merebut Makkah sendiri (Ka'bah sempat hancur dan harus dibangun kembali karena pertempuran memperebutkan kota suci itu). Maka negara menjadi negara kekuasan (macht staat). Dengan tegas Abd al-Malik mendasarkan sistemnya di atas konsep kekuatan (force). Dengan cepat kekuatan kaum Umawi di Syria sebagai salah satu kontestan untuk kekhalifahan tumbuh dan berkembang. Setelah mengalami kekalahan yang tragis oleh Yazid di padang Karbala. yang kemudian berpaling melawan mereka. Kota-kota garnizun di bawah kepemimpinan kaum Umawi yang tegar kini lebih efektif dalam melawan gerilya kaum Khawarij dari pedalaman dibanding keadaan mereka dibawah kepemimpinan Ibn al-Zubayr yang lunak. sama halnya dengan kaum Khawarij. menganggap siapa saja yang tidak bergabung dengan mereka sebagai murtad. yang berbasiskan Iran. dan faham keagamaan diperhitungkan hanya setelah jelas siapa yang unggul melalui kekuatan itu. dalam bentuk suksesi melalui penunjukan oleh khalifah yang . Setelah menyusul Irak. dan yang kemudian membangkitkan amarah mereka dengan akibat pembunuhan khalifah). Juga penggantian kekhalifahan dengan tegas didasarkan kepada pewarisan. yang oleh Hodgson disebut sebagai khalifah Islam terbesar ketiga setelah Umar dan Mu'awiyah.

Marwani. Maka dalam usaha memahami lebih baik Kitab Suci itu dan melaksanakannya dalam kehidupan nyata. masa Umar ibn al-Khathab nampak paling banyak dijadikan rujukan. [15] Dampak amat penting tindakan ini ialah penyatuan yang lebih meyakinkan seluruh kekuatan Islam (dan Arab). Solidaritas Arab berdasarkan Islam melawan kecenderungan kesukuan lama (Jahiliyah) ini kemudian menjadi dasar ide tentang Jama'ah. Berbeda dengan pandangan keagamaan kaum Khawarij dan Syi'ah pandangan keagamaan kaum Umawi memang sangat berat berwarna ke-Arab-an. dengan memperbaiki cara penulisannya dan memastikan harakat bacaannya melalui penambahan beberapa diakritik dan vokalisasi (harakat). semakin banyak merasakan perlunya bahan rujukan dari kebiasaan mapan (sunnah) masa lalu Islam. bekas guru madrasah di Thaif. dalam masalah pemerintahan menurut pengertian seluas-luasnya. Melalui kebijaksanaan Abd al-Malik ibn Marwan ini maka al-Qur'an mempunyai fungsi lain. Maka kaum Umawi di Damaskus itu. terlebih lagi para penguasa Umawi. banyak referensi dilakukan kepada preseden yang ada dalam sejarah Islam. sudah tentu. sebagaimana sebutan pilihan sementara ahli sejarah Islam). pada kalangan Banu Tsaqif (yang sebelumnya telah membantu menaklukkan Mekkah. membunuh Ibn al-Zubayr. dan berfungsi terutama sebagai kode etik dan ajaran disiplin bagi kekuatan elite penakluk dan penguasa. Tetapi. Kebesaran Abd al-Malik ibn Marwan yang lain terletak dalam kegairahannya untuk menegaskan supremasi Islam terhadap yang lain. kaum Muslimin. Maka dengan begitu secara berangsur tumbuhlah . dengan dibantu oleh keahlian dan kesarjanaan al-Hajjaj ibn Yusuf. ialah masa Nabi sendiri. banyak melanjutkan rintisan dan percontohan Umar ibn al-Khathab. yang sebenarnya belum lama berselang itu.terdahulu. Di sisi lain tindakannya bisa disebut sebagai sejenis nasionalisme Arab. Sebagai dukungan asasi bagi konsep Jama'ah-Nya itu. suatu konsep atau idiologi yang meletakkan nilai-nilai persatuan dan kesatuan di atas semangat kesukuan dan bahkan di atas faham-faham keagamaan faksional. Kemudian dorongan untuk memahami lebih baik dan melaksanakan ajarannya secara lebih tepat tumbuh dengan pesat di kalangan umum. Nampaknya masa lalu Islam itu yang paling otoritatif. Abd al-Malik meneruskan usaha mempersatukan ummat Islam berkenaan dengan Kitab Suci mereka. maka efeknya ialah penegasan kedaulatan Islam. Berdasarkan pandangannya itu Abd al-Malik melihat pentingnya usaha lebih lanjut mempersatukan orang-orang Arab di bawah bendera Islam melawan kecenderungan kesukuan yang sampai saat itu masih menunjukkan potensi latennya. dan menghancurkan Ka'bah serta membangunnya kembali). dengan berbagai modifikasi dan penyesuaian. Bagi mereka Islam adalah lambang Arabisme yang dipersatukan. yang menjadi dasar kebesaran kekuasaan Umawi (lebih tepat. Tetapi ketika Abd al-Malik mengganti mata uang logam Yunani yang bergambar kepala raja mereka dengan mata uang logam khas Arab dan Islam dengan simbol kalimah syahadat. jika pemerintahan itu harus dijalankan dengan norma-norma keislaman. yaitu sebagai lambang persatuan dan kesatuan (Jama'ah) yang tak tergugat. Karena itu ketika para qadli sebagai pemegang semacam kekuasaan yudikatif di daerah-daerah (Abd al-Malik adalah orang pertama melembagakan jabatan qadli itu). sepanjang mengenai pelaksanaan pemerintahan sehari-hari.

Utsman.yurisprudensi Islam. namun Ali lebih unggul daripada Mu'awiyah. UA 20-21 Jakarta Selatan Telp. dan menjadi dasar . Tapi sejarah mencatat bahwa dorongan paling kuat ke arah sana itu dimulai oleh Khalifah Umar ibn Abd al-Aziz (ibn Marwan) yang dikenal sebagai Umar II (memerintah 717-720) karena mengingatkan orang kepada Khalifah Umar ibn al-Khaththab. oleh para sarjana hadits seperti al-Bukhari. juga anggota klan mereka tapi menjadi musuh Ali). tindakan terpenting ialah mengakui Ali sebagai khalifah yang sah. yang kelak melahirkan disiplin terpisah dalam ilmu-ilmu keagamaan Islam.(bersambung 4/4) Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah Editor: Budhy Munawar-Rachman Penerbit Yayasan Paramadina Jln. menjadi semakin besar. Muslim. tapi juga tentang tokoh-tokoh generasi ketiga umat Islam. yaitu ilmu fiqh. Umar II sebenarnya hanya melanjutkan kecenderungan yang sudah ada pada kaum Marwani atau Umawi. untuk selanjutnya dikodifikasi. Para ahli mengatakan bahwa gerakan perorangan untuk mencatat hadits telah terjadi sejak masa sangat awal sejarah Islam. Dengan begitu kaum Marwani atau Umawi meletakkan landasan dialog intern Islam yang meliputi semua. yang di situ setiap kelompok memperoleh kehormatannya. 7507173 Fax. tetap lebih unggul daripada Ali. dan penuturan tentang para tokoh masa lalu itu. SKISME DALAM ISLAM (4/4) Tinjauan Singkat Secara Kritis-Historis Proses Dini Perpecahan Sosial-Keagamaan Islam oleh Nurcholish Madjid Keperluan kepada bahan rujukan dari masa lalu (preseden) untuk menetapkan hukum lambat-laun tumbuh manjadi kesadaran tentang otoritas tradisi (sunnah) yang sah (valid). khususnya tentang Nabi sendiri dan para Sahabat. Maka perhatian kepada cerita. Tradisi ini berkembang dan tumbuh kuat. pada urutan keempat (artinya. Ini semua kelak disistematisasi dan dikritik. Dorongan yang amat kuat untuk menyudahi berbagai fitnah yang telah meninggalkan kesan-kesan penuh trauma itu telah mengharuskan kaum Marwani atau Umawi untuk menunjukkan sikap-sikap yang lebih akomodatif dan kompromistis. rupanya malah sejak masa nabi sendiri. dll. 7501983. khususnya sejak kekhalifahan Abd al-Malik ibn Marwan. anekdot. (021) 7501969. Metro Pondok Indah Pondok Indah Plaza I Kav.51. [16] -------------------------------------------. sedikit atau pun banyak. (021) 7507174 Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota Please direct any suggestion to Media Team Artikel Yayasan Paramadina Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota VI. Dalam rangka ini. anggota-anggota klan mereka.

mengakui semuanya namun dengan mengunggulkan Utsman atas Ali dan Ali atas Mu'awiyah. kaum Umawi lama hanya Abu Bakr." [18] Semangat non-sektarianis itulah salah satu makna yang dimaksud bahwa agama Tawhid Nabi Ibrahim adalah hanif. tidak jarang dinyatakan dalam gaya-gaya absolutistik dan "pasti benar"). Juga bisa dilihat. Uraian di atas. Dan setiap kelompok itu.faham yang kini merupakan anutan terbesar kaum Muslim di dunia. yaitu mereka yang memecah belah agama mereka kemudian menjadi bersekte-sekte. PENUTUP Dikarenakan terbatasaya ruang dan sifat pembahasan. al-Baqarah/2:213. betapa problematisnya kekhalifahan dan kedudukan seorang khalifah. antara lain. yaitu faham yang menggabungkan antara ideologi Jama'ah (persatuan dan kesatuan) dan ideologi Sunnah (faham yang memandang otoritas masa lalu dan tradisi yang sah sebagai bahan rujukan). betapa kaum Syi'ah cenderung hanya mengakui Ali. 2. maka disebut Ahl al-Sunnah wa 'l-Jama'ah. yaitu Khawarij. (Patut diperhatikan. Umar. yang dapat dikemukakan di atas hanyalah masalah-masalah mendasar tentang faham-faham pecahan dini Islam. mempunyai sistem dan teori pembenaran bagi pandangan masing-masing. meskipun jauh dari sempurna dan lengkap. diharap dapat memberi gambaran (dan kesadaran) betapa relatifnya pangkal skisme dalam Islam (karena berakar dalam pertikaian sosial-politik yang sama sekali tidak mungkin lepas dari konteks ruang dan waktu dalam pengertian yang seluas-luasnya). dengan sendirinya. "Sesungguhnya mereka yang memecah belah agama mereka kemudian menjadi bersekte-sekte. [17] Sebenarnya semangat non-sektarianisme inilah salah satu pandangan dasar Islam yang dibawa Nabi. kaum Khawarij hanya Abu Bakr dan Umar. CATATAN 1. . Maka kesimpulannya. golongan Sunni. karena mengambil pelajaran dari pengalaman agama-agama sebelumnya. QS. sama dengan golongan Sunni. lebih-lebih lagi jika kita perhitungkan pandangan semua kelompok mengenai masalah kekhalifahan itu. Maka dengan jelas dapat dilihat betapa absurd-nya memutlakkan kebenaran suatu aliran paham dalam agama (Islam). lebih singkat lagi. secara hanif. sebagai tercermin dalam peringatan yang lain." [19] Agaknya kita semua ditantang untuk memerangi sektarianisme yang kini masih menggejala. dan melihat sektarianisme sebagai jenis kemusyrikan. sebagai jawab kecenderungan alami manusia untuk memihak yang baik dan benar: "Maka ikutilah olehmu semua agama Ibrahim. Utsman. biasa disingkat dengan Ahl al-Sunnah. sesuai dengan peringatan. kemudian dibarengi atau disusul oleh munculnya berbagai pecahan yang lain lagi. al-Mu'minun/23:51-52. Masing-masing pecahan itu sesungguhnya pecah lagi ke dalam berbagai kelompok. Syi'ah dan Sunnah. kaum Marwani atau Umawi. mengaku benar sendiri). QS. mungkin yang diperlukan sekarang ialah mengembangkan dasar fikiran nonsektarianisme. "Dan janganlah kamu termasuk orang-orang musyrik. yakni. setiap golongan membanggakan apa yang ada pada mereka" (yakni. plus Mu'awiyah. engkau (Muhammad) tidak sedikit pun termasuk mereka.

Lafal lain terbaca. yang dikenal dcngall "rasm al-mushaf" atau "rasm Utsmani. Muhammad Shalih ibn Umar Samarani.tb5. misalnya. Ikhtilaf al-a'immah rahmah li al-ummah (Perbedaan pendapat para imam adalah rahmat untuk ummat). 9. Teheran.241-242). Salah satunya ialah Tarikh at-Thabari yang terkenal. QS." Bahkan qira'at atau bacaannya disebutkan. Bahkan al-Qur'an kaum Syi'i pun ditulis dengan mengikuti ejaan atau rasm Utsmani./1965 M. passim. baik dari kesahihan sanadnya maupun dari segi lafalnya yang lebih persis. 983) ditegaskan oleh penerbit bahwa mushaf itu menggunakan ejaan yang paling asli dan paling aktual. The Venture of Islam. seperti . jil. (Lihat. Tapi betapa pun diperselisihkan hadits itu nampaknya banyak dipercayai para ahli. QS. Hud/11:118-119. namun kenyataannya ia persis sama dengan mushaf ejaan Utsmani). (Meskipun tidak disebutkan dalam pengantar atau lainnya bahwa mushaf itu ditulis dengan ejaan Utsmani. Yang kedua diwakili oleh mushaf terbitan Mu'assasat Intisyarat Shabirin. The Holy Qur'an. Cukup ironis bahwa justru hadits ini pun diperselisihkan.tb5 5. memberi pengantar dengan semangat hadits itu untuk penerbitan risalah Ibn Taymiyyah. al-Ma'idah 5:51. A. 1405 Hijri qamari (lunar) atau 1363 Hijri Syamsi (solar). baik yang diterbitkan pada masa pemerintahan Syah Reza Pahlewi maupun yang diterbitkan pada masa pemerintahan Islam revolusioner (Khumaini). Sabda Nabi yang terbaca.). misalnya.. Ikhtilaf ummati rahmah (Perbedaan pendapat ummatku adalah rahmat). 1403 H). Teheran. 1343 H. Dalam kata penutup terbitan mushaf ini (h. H. 10. yang meskipun ditulis di bawah bayangan kuat idiologi Sunni namun sampai batas yang cukup jauh tidak kehilangan sifat ilmiahnya. Mungkin bisa dikatakan sebagai suatu bentuk penghindaran dari kenyataan pahit dalam sejarah Islam. salah satu unsur dalam faham Sunni ialah semacam konsensus untuk tidak membicarakan peristiwa-peristiwa menyedihkan yang menyangkut peperangan dan perebutan posisi politik yang terjadi antara para Sahabat Nabi sekitar seperempat abad sesudah wafat beliau. hh. Yusuf Ali. Yunus/10:19. Hodgson. 488. The University of Chicago Press. Translation and Commentary (Jeddah: Dar al Qibla. Yang pertama diwakili oleh mushaf terbitan Mu'assasat Intisyarat Amir Kabir. 1326 H. misalnya. 1. Terdapat pandangan bahwa kalangan "awam" sebaiknya tidak membicarakan hal itu. catatan 1407. QS. tiga jilid (Chicago. Banyak bahan rujuknya dari literatur klasik untuk pembahasan sekitar perkembangan dini sejarah Islam yang menyangkut fitnah besar ini. Khilaf al-Ummah fi al-Ibadat wa Madzhab Ahl al-Sunnah wa al-Jama'ah (Perselisihan umat dalam ibadat dan Madzhab Ahl al-Sunnah wa al-Jama'ah). Tarjamah Sabil al-Abid ala Jawharat al-Tauhid [tanpa data penerbitan]. 8. 1974). Tapi uraian berikut hanyak dibuat dengan bersandar kepada kepada Marshall G. 4. 6. Rasyid Ridla.3. Bukan saja samasekali tidak ada perbedaan antara al-Qur'an pada kaum Sunni dan al-Qur'an pada kaum Syi'i. 7. (Cairo: Mathba'at al-Manar.S. h.

. 189). QS. 'Sebaik-baik para pemimpinmu ialah yang kamu cinta kepada mereka dan mereka cinta kepada kamu dan berdo'a untuk kebaikanmu. "Perilaku Mu'awiyah terhadap rakyatnya adalah termasuk sebaik-baik perilaku para penguasa. tanpa huruf hidup. 87)." 11. Sebagai contoh tulisan Arab tingkat awal itu berikut ini adalah (foto) kopi surat Rasulullah kepada al-Mundzir ibn Sawi. 14. Perdebatan itu terekam dalam karya seorang murid Imam Abu Hanifah. sekali lagi tidak akan mengizinkan.. dan rakyatnya mencintainya. Sangat menarik sebagai bahan studi lebih mendalam mempelajari berbagai polemik sekitar Ali dan Mu'awiyah ini. Kitab al-Kharaj. Jadi dalam kutipan pertama Ibn Taymiyyah ingin mengesankan bahwa Mu'awiyah bertingkah laku sesuai dengan Sunnah. sekali lagi tidak akan mengizinkan! Kecuali jika anak Abu Thalib itu menceraikan anak perempuanku (Fathimah) dan kemudian kawin dengan anak perempuan mereka. 1389 H/1969). Padahal telah mantap dalam al-Shahihayn (Bukhari-Muslim) dari Nabi s. kecuali mereka yang benar-benar mengenal bahasa Arab karena dibesarkan sebagai orang Arab. serta kamu mengutuk mereka dan mereka mengutuk kamu. salah seorang pemikir Sunni mazhab Hanbali yang sangat polemis terhadap golongan Syi'ah. tidak akan berkumpul menjadi satu anak perempuan Rasulullah dengan anak perempuan musuh Allah pada satu orang lelaki. Dan kemudian konsep Jama'ah itu dikembangkan sebagai idiologi. ". "yang dari jalur lain dari Imam Ali ibn Abi Thalib. maka tahun 41 Hijri disebut "Tahun Persatuan" ('Am al Jama'ah). 15. yang diturun oleh Dr. sama dengan huruf-hurut Semitik yang lain. juga h. Abu Ya'quh Yusuf. 3. 110. Bani al-Mughirah meminta izin kepadaku untuk mengawinkan anak perempuan mereka kepada Ali. al-Syaykh Muhammad al-Hudlari Bek.w. Tarikh al-Tasri al-Islami. Dan sungguh aku tidak akan mengizinkan. 13. 12. Karena hampir semua kelompok Islam mengakui kekuasaan de facto Mu'awiyah. Muhammad Hamidullah dengan izin majalah orientalisme Jerman. h. Zeltschrift der Deutschen Morgenlandischen dalam Majmu'at al-Watsa'iq al-Siyasiyyah li al-Ahd al-Nabawi wa Khilaafat al-Rasyidah (Beirut: Dar al-Irsyad.pada mushaf. [Beirut. Dan tatkala dia (Ali) melamar anak perempuan Abu Jahl. sebagai berasal dari riwayat Hafsh dari Ashim. Sedangkan seburuk-buruk pemimpinmu ialah yang kamu benci kepada mereka dan mereka benci kepadamu." (Minhaj al-Sunnah. Ibn Taymiyyah masih sempat mencatat demikian. 194). h. jil.. dan dalam kutipan kedua ia mau memperlihatkan betapa Ali pernah membuat hal yang menyakiti hati Nabi. h. Demi Allah. Perlu diingat bahwa meskipun al-Qur'an telah dipersatukan kodifikasinya oleh Utsman namun orang masih mengalami kesulitan untuk memastikan pembacaannya. 114 dan 115): Tulisan seperti di masa Rasulullah itulah yang juga digunakan . Ibn Taymiyyah. dokumen No. 1387 H/1967]. mengatakan.'" (ibid.mushaf Sunni. yang hanya mengenal konsonan. bahwa beliau bersabda. 57 (antara hh. Dar al-Fikr. Sedangkan mereka yang tidak demikian keadaannya akan terbentur kepada sistem huruf Arab.a. al-Baqarah 2:207. Misalnya. Sebaliknya tentang Ali. (Lihat. beliau (Nabi) bersabda.

(021) 7507174 Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota Please direct any suggestion to Media Team Artikel Yayasan Paramadina Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan . seperti untuk bunyi-bunyi ba'. yaitu agama yang teguh (konsisten). tsa nun dan ya'. "Katakan Muhammad. Maka hendaklah dari setiap golongan ada satu kelompok orang yang pergi (mencurahkan perhatian) untuk memahami agama secara mendalam (ber-tafaqquh) ." (QS. Perkataan Arab "fiqh" sendiri berarti "faham" (dalam makna "mengerti"). di bawah dan di atas oleh al-Hajjaj merupakan fase amat penting dalam sejarah metode penulisan al-Qur'an. "Kami (Tuhan) telah merinci berbagai ayat untuk kaum yang mengerti" (ber-fiqh) (QS. Penggunaan perkataan "fiqh" sebenarnya merujuk kepada beberapa firman Allah. ta'. 7507173 Fax. al-An'am 6:98)." (QS. Jadi yang dimaksudkan dengan perkataan fiqh dalam firman-firman itu pendalaman ajaran keagamaan secara menyeluruh. sehingga pengetahuan mengenai masalah-masalah hukum pun dianggap fiqh par excellence. antara shad dan dlal. al-Tawbah/9:122. antara fa' dan qaf. QS. akhirnya. QS. 19.. maka segi hukum dari agama juga amat dominan dan supreme. UA 20-21 Jakarta Selatan Telp.untuk kodifikasi al-Qur'an oleh Utsman dan menghasilkan mushaf rasmUtsmani. 16. tiga titik. ha' dan kha'. khususnya pada masa dinasti Marwani itu (antara lain karena urgensi mengatasi dan menyudahi fitnah yang berkelarutan). Keadaan serupa itu bertahan hampir sepanjang sejarah Islam sesudah masa Marwani. QS. agama (Nabi) Ibrahim yang hanif . al-Rum/30:32. antara dal dan dzal. -------------------------------------------Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah Editor: Budhy Munawar-Rachman Penerbit Yayasan Paramadina Jln.. dan antara bunyi-bunyi jim. Tapi karena dominasi dan supremasi persoalan penataan kembali masyarakat saat-saat dini sejarah Islam. 'Sesungguhnya aku diberi petunjuk oleh Tuhanku ke arah jalan yang lurus. antara tha' dan dha'. ".. Perhatikan bahwa untuk perkembangan tulisan Arab saat itu.. sampai sekarang. Ini tercermin dalam bagaimana sebagian besar kaum Muslim mempersepsi agamanya sebagai terutama sistem hukum. dan. seperti satu. 18. dua. Metro Pondok Indah Pondok Indah Plaza I Kav. Maka penambahan beberapa diakritik. antara lain. (021) 7501969. antara ra' dan za' antara sin dan syin. al-An'am/6:161). 7501983. 17. antara lain. kesulitan masih harus ditambah dengan tidak adanya perbedaan simbol untuk cukup banyak bunyi. Bahwa agama yang dibawa Nabi Muhammad adalah juga agama Ibrahim ditegaskan dalam cukup banyak ayat-ayat suci. antara 'ayn dan ghayn. Ali 'Imran/3:95. al-An'am/6:169.

ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota VI. Kata "wali al-amr" (dalam sebutan Indonesia) berasal dari "waliy-u 'l-amr" (bahasa Arab). "imarah" (sifat keamiran. atau wilayahnya). Dalam kaitan masalah-masalah tersebut di atas terkait permasalahan wali al-amr. persahabatan. teman atau sahabat. pengasuh pengantin perempuan ketika nikah yaitu keluarga dekatnya yang melakukan janji atau akad nikah dengan pengantin laki-laki (dalam urusan nikah ini dikenal juga adanya wali hakim yaitu pejabat urusan agama yang bertindak sebagai wali). amirul mu'minin (khalifah). Mengamarkan: memerintahkan. menyuruh melakukan. loyalitas." Kedua bagian kata majemuk ini sudah lazim dipakai dalam bahasa Indonesia. 47. Kata ini biasa diartikan "penguasa. wali negara). yang berarti: orang yang menurut hukum diserahi kewajiban mengurus anak yatim serta hartanya selama anak itu belum dewasa. yaitu kata "amr" biasa dibunyikan "amar" yang berarti: perintah atau suruhan (misalnya: dengan amar raja diartikan: atas perintah raja). Dari akar kata "amr" ini. masalah penting. tentang kata-kata "wali" dan "amr. persoalan atau perkara. PENGERTIAN WALI AL-AMR DAN PROBLEMATIKA (1/2) HUBUNGAN ULAMA DAN UMARA oleh Ali Yafie Pemerintah memandang perlu untuk mengeluarkan sebuah keputusan dalam kaitan hari libur Idul Fithri sebagai hari libur nasional. timbul bentuk-bentuk kata "amir. ia mempunyai arti yang lebih luas. otoritas. Dari akar kata ini berkembang bentuk-bentuk kata: wala yang berarti: cinta. Dan itu terlansir dalam sebuah Keputusan Presiden dan diperkuat Keputusan Menteri Agama. Tetapi dalam kata asalnya. Maka dalam rangka urusan tersebut kita dapat memahami kehadiran Undang-undang Perkawinan dan Undang-undang Peradilan Agama (yang belum lama ini sudah diundangkan). suruhan. Itulah pembahasan sepintas dari segi etimologis dan lexicologis." Maka kata "waliy-u 'l-amr" dengan pengertian "penguasa" atau "pemerintah. tugas (yang harus dilakukan). Dalam persoalan ini tentunya pada tingkat pertama kita . kata "wilayah" yang berarti kekuasaan. Adapun kata "wali" juga sudah lazim dipakai dalam bahasa Indonesia. atau markasnya." cukup beralasan dilihat dari segi pemakaian bahasa. daerah yurisdiksi. power. Hal itu jelas memperlihatkan keterkaitan Pemerintah dengan urusan keagamaan (pelaksanaan ajaran agama). kata ini berarti juga: penolong. pemilik atau penguasa sesuatu barang. kekeluargaan. Dalam bahasa asalnya. juga berarti: urusan. yaitu orang suci dan keramat (seperti Wali Songo). Lebih lanjut kita melihat hal seperti itu dalam masalah perkawinan dan peradilan khusus yang menyangkut penyelesaian sengketa urusan kekeluargaan di kalangan kaum muslimin bangsa Indonesia. kewenangan. "amiralay (brigadier general). wali Allah atau waliullah. pelindung." "amiral" (admiral). Kalau ditambah dengan akhiran "an" maka menjadi "amaran" yang berarti: perintah. petugas. komando. selain berarti: order. ingin kita melihat kaitan pengertian kata ini dengan persoalan hukum dalam rangka kajian fiqh. Sesudah itu. pemelihara. kepala pemerintahan (seperti wali kota.

Pertama. Pengertian ini diperkuat oleh ayat 63 surah al-Maidah dan ayat 43 surah an-Nahl. dan ini pendapat Ibn Abbas r. Pendapat kedua. lalu mereka menyiarkannya. yang semuanya mengacu kepada keharusan mentaati amir-amir (para petugas atau penguasa yang diangkat Nabi dalam berbagai urusan yang ditempatkan di berbagai daerah (yang telah dibebaskan ketika itu). bahwa yang dimaksud dengan kata ini ialah para ulama.). "yakni ahl-u 'l fiqh-i wa 'l-din" (yang dimaksud dengan uli 'l-amr yaitu ahli dalam masalah-masalah agama).. atau suatu daerah kekuasaan tertentu.w. bahwa yang dimaksud dengan kata itu. Mufassir kenamaan yakni Imam 'Imaduddin Ibn Katsir menukilkan keterangan Ibn 'Abbas (Sahabat Nabi) r. Teori Wilayah (Kekuasaan atau Kewenangan) Di dalam Fiqh (Ilmu Hukum Islam) ditemukan adanya dua jenis kekuasaan (wilayah) yang dikaitkan dengan sumbernya. pada dua tempat.517 Juz I Tafsir Ibn Katsir).). lalu beliau menjelaskan bahwa didalam pengertian "uli. yaitu pada ayat 59 surah an-Nisa. Ahli fiqh kenamaan yakni Imam Abul Hasan 'Ali al-Mawardi ketika mengulas jenis-jenis kewenangan yang disebut "imarah" yang pejabatnya disebut "amir" beliau mensitir juga ayat 59 surah an-Nisa tersebut di atas.a. (Lihat h. Seandainya mereka mengembalikan persoalan itu kepada Rasul dan kepada "uli 'l-amri" dari mereka. niscaya orang-orang yang meneliti diantara mereka mengetahui hal itu . [2] ditambah dengan penjelasan hadits shahih yang diriwayatkan Abu Hurairah r.. [3] Maka semua penjelasan ini merupakan perintah untuk mentaati para ulama dan umara. Sama dengan itu. atau dalam urusan-urusan yang diserahkan pengelolanya kepada mereka.berupaya mencari pokok persoalannya dalam al-Qur'an. [1] Yang pertama berbunyi (terjemahnya): Hai orang-orang yang beriman! Taatilah Allah dan taatilah rasulNya dan "ulil amri" dari kalian. 'Atha.'l-amr" ada dua pendapat. Demikian pendapat Jabir. dan pada ayat 83 dari surah yang sama. Maka disana kita akan menemukan pemakaian kata "uli 'l-amr" (yang artinya dengan "waliy-u 'l-amr").a.a. al-Hasan dan 'Atha. Beberapa hadits lainnya dari berbagai sumber berita dari sejumlah sahabat Nabi telah dipaparkan oleh Ibn Katsir. dan dua .a. ialah amir-amir. Bahkan Imam al-Mawardi ini ketika membahas masalah Imamah atau Kekhalifahan (Bab Pertama dari bukunya yang berjudul al-Ahkam al-Shulthaniyah). dari sabda Rasulullah s.: Barangsiapa mendurhakai aku berarti dia sudah taat kepada Allah dan barangsiapa mendurhakai amir yang saya angkat berarti dia telah mendurhakai aku. beliau juga berpatokan dari ayat 59 (surah an-Nisa) tersebut. Dan yang kedua berbunyi (Terjemahnya): Apabila mereka ditimpa sesuatu peristiwa keamanan atau ketakutan.. Al Hasan Al Bashri dan Abul 'Aliyah (semuanya ulama Tabi'in) yakni al-'ulama" (yang dimaksud dengan uli 'l-amr adalah ulama). Ibn Katsir melanjutkan keterangannya bahwa yang jelas (wa 'l-Lah-u a'lam). Dari ulasan beliau dapat ditarik pengertian bahwa didalam kata "uli 'l-amr" termasuk penguasa atau pemimpin tertinggi pemerintahan sampai kepada pejabat-pejabat yang berwenang di daerah-daerah. pendapat Mujahid.. Mereka itu disebut "wulat" (mufradnya wali sebagai singkatan dari waliy-u 'l-amr) dan umara (tunggalnya amir) yaitu penguasa