Artikel Yayasan Paramadina

Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota II.9. KONSEP-KONSEP KEADILAN oleh Abdurrahman Wahid Tidak dapat dipungkiri, al-Qur'an meningkatkan sisi keadilan dalam kehidupan manusia, baik secara kolektif maupun individual. Karenanya, dengan mudah kita lalu dihinggapi semacam rasa cepat puas diri sebagai pribadi-pribadi Muslim dengan temuan yang mudah diperoleh secara gamblang itu. Sebagai hasil lanjutan dari rasa puas diri itu, lalu muncul idealisme atas al-Qur'an sebagai sumber pemikiran paling baik tentang keadilan. Kebetulan persepsi semacam itu sejalan dengan doktrin keimanan Islam sendiri tentang Allah sebagai Tuhan Yang Maha Adil. Bukankah kalau Allah sebagai sumber keadilan itu sendiri, lalu sudah sepantasnya al-Qur'an yang menjadi firmanNya (kalamu 'l-Lah) juga menjadi sumber pemikiran tentang keadilan? Cara berfikir induktif seperti itu memang memuaskan bagi mereka yang biasa berpikir sederhana tentang kehidupan, dan cenderung menilai refleksi filosofis yang sangat kompleks dan rumit. Mengapakah kita harus sulit-sulit mencari pemikiran dengan kompleksitas sangat tinggi tentang keadilan? Bukankah lebih baik apa yang ada itu saja segera diwujudkan dalam kenyataan hidup kaum Muslimin secara tuntas? Bukankah refleksi yang lebih jauh hanya akan menimbulkan kesulitan belaka? "Kecenderungan praktis" tersebut, memang sudah kuat terasa dalam wawasan teologis kaum skolastik (mutakallimin) Muslim sejak delapan abad terakhir ini. Argumentasi seperti itu memang tampak menarik sepintas lalu. Dalam kecenderungan segera melihat hasil penerapan wawasan Islam tentang keadilan dalam hidup nyata. Apalagi dewasa ini justru bangsa-bangsa Muslim sedang dilanda masalah ketidakadilan dalam ukuran sangat massif. Demikian juga, persaingan ketat antara Islam sebagai sebuah paham tentang kehidupan, terlepas dari hakikatnya sebagai ideologi atau bukan, dan paham-paham besar lain di dunia ini, terutama ideologi-ideologi besar seperti Sosialisme, Komunisme, Nasionalisme dan Liberalisme. Namun, sebenarnya kecenderungan serba praktis seperti itu adalah sebuah pelarian yang tidak akan menyelesaikan masalah. Reduksi sebuah kerumitan menjadi masalah yang disederhanakan, justru akan menambah parah keadaan. Kaum Muslim akan semakin menjauhi keharusan mencari pemecahan yang hakiki dan berdayaguna penuh untuk jangka panjang, dan merasa puas dengan "pemecahan" sementara yang tidak akan berdayaguna efektif dalam jangka panjang. Ketika Marxisme dihadapkan kepada masalah penjagaan hak-hak perolehan warga masyarakat, dan dihadapkan demikian kuatnya wewenang masyarakat untuk memiliki alat-alat produksi, pembahasan masalah itu oleh pemikir Komunis diabaikan, dengan menekankan slogan "demokrasi sosial" sebagai pemecahan praktis yang menyederhanakan masalah. Memang berdayaguna besar dalam jangka pendek, terbukti dengan kemauan mendirikan negara-negara Komunis dalam kurun waktu enam dasawarsa terakhir ini. Namun, "pemecahan masalah" seperti itu ternyata

membawa hasil buruk, terbukti dengan "di bongkar pasangnya" Komunisme dewasa ini oleh para pemimpin mereka sendiri di mana-mana. Rendahnya produktivitas individual sebagai akibat langsung dari hilangnya kebebasan individual warga masyarakat yang sudah berwatak kronis, akhirnya memaksa parta-partai Komunis untuk melakukan perombakan total seperti diakibatkan oleh perestroika dan glasnost di Uni Soviet beberapa waktu lalu. Tilikan atas pengalaman orang lain itu mengharuskan kita untuk juga meninjau masalah keadilan dalam pandangan Islam secara lebih cermat dan mendasar. Kalaupun ada persoalan, bahkan yang paling rumit sekalipun, haruslah diangkat ke permukaan dan selanjutnya dijadikan bahan kajian mendalam untuk pengembangan wawasan kemasyarakatan Islam yang lebih relevan dengan perkembangan kehidupan umat manusia di masa-masa mendatang. Berbagai masalah dasar yang sama akan dihadapi juga oleh paham yang dikembangkan Islam, juga akan dihadapkan kepada nasib yang sama dengan yang menentang Komunisme, jika tidak dari sekarang dirumuskan pengembangannya secara baik dan tuntas, bukankah hanya melalui jalan pintas belaka. Pembahasan berikut akan mencoba mengenal (itemize) beberapa aspek yang harus dijawab oleh Islam tentang wawasan keadilan sebagaimana tertuang dalam al-Qur'an. Pertama-tama akan dicoba untuk mengenal wawasan yang ada, kemudian dicoba pula untuk menghadapkannya kepada keadaan dan kebutuhan nyata yang sedang dihadapi umat manusia. Jika dengan cara ini lalu menjadi jelas hal-hal pokok dan sosok kasar dari apa yang harus dilakukan selanjutnya, tercapailah sudah apa yang dikandung dalam hati. PENGERTIAN KEADILAN Al-Qur'an menggunakan pengertian yang berbeda-beda bagi kata atau istilah yang bersangkut-paut dengan keadilan. Bahkan kata yang digunakan untuk menampilkan sisi atau wawasan keadilan juga tidak selalu berasal dari akar kata 'adl. Kata-kata sinonim seperti qisth, hukm dan sebagainya digunakan oleh al-Qur'an dalam pengertian keadilan. Sedangkan kata 'adl dalam berbagai bentuk konjugatifnya bisa saja kehilangan kaitannya yang langsung dengan sisi keadilan itu (ta'dilu, dalam arti mempersekutukan Tuhan dan 'adl dalam arti tebusan). Kalau dikatagorikan, ada beberapa pengertian yang berkaitan dengan keadilan dalam al-Qur'an dari akar kata 'adl itu, yaitu sesuatu yang benar, sikap yang tidak memihak, penjagaan hak-hak seseorang dan cara yang tepat dalam mengambil keputusan ("Hendaknya kalian menghukumi atau mengambil keputusan atas dasar keadilan"). Secara keseluruhan, pengertian-pengertian di atas terkait langsung dengan sisi keadilan, yaitu sebagai penjabaran bentuk-bentuk keadilan dalam kehidupan. Dari terkaitnya beberapa pengertian kata 'adl dengan wawasan atau sisi keadilan secara langsung itu saja, sudah tampak dengan jelas betapa porsi "warna keadilan" mendapat tempat dalam al-Qur'an, sehingga dapat dimengerti sikap kelompok Mu'tazilah dan Syi'ah untuk menempatkan keadilan ('adalah) sebagai salah satu dari lima prinsip utama al-Mabdi al-Khamsah.) dalam keyakinan atau akidah mereka. Kesimpulan di atas juga diperkuat dengan pengertian dan dorongan al-Qur'an agar manusia memenuhi janji, tugas dan amanat yang dipikulnya, melindungi yang menderita, lemah dan

kekurangan, merasakan solidaritas secara konkrit dengan sesama warga masyarakat, jujur dalam bersikap, dan seterusnya. Hal-hal yang ditentukan sebagai capaian yang harus diraih kaum Muslim itu menunjukkan orientasi yang sangat kuat akar keadilan dalam al-Qur'an. Demikian pula, wawasan keadilan itu tidak hanya dibatasi hanya pada lingkup mikro dari kehidupan warga masyarakat secara perorangan, melainkan juga lingkup makro kehidupan masyarakat itu sendiri. Sikap adil tidak hanya dituntut bagi kaum Muslim saja tetapi juga mereka yang beragama lain. Itupun tidak hanya dibatasi sikap adil dalam urusan-urusan mereka belaka, melainkan juga dalam kebebasan mereka untuk mempertahankan keyakinan dan melaksanakan ajaran agama masing-masing. Yang cukup menarik adalah dituangkannya kaitan langsung antara wawasan atau sisi keadilan oleh al-Qur'an dengan upaya peningkatan kesejahteraan dan peningkatan taraf hidup warga masyarakat, terutama mereka yang menderita dan lemah posisinya dalam percaturan masyarakat, seperti yatim-piatu, kaum muskin, janda, wanita hamil atau yang baru saja mengalami perceraian. Juga sanak keluarga (dzawil qurba) yang memerlukan pertolongan sebagai pengejawantahan keadilan. Orientasi sekian banyak "wajah keadilan" dalam wujud konkrit itu ada yang berwatak karikatif maupun yang mengacu kepada transformasi sosial, dan dengan demikian sedikit banyak berwatak straktural. Fase terpenting dari wawasan keadilan yang dibawakan al-Qur'an itu adalah sifatnya sebagai perintah agama, bukan sekedar sebagai acuan etis atau dorongan moral belaka. Pelaksanaannya merupakan pemenuhan kewajiban agama, dan dengan demikian akan diperhitungkan dalam amal perbuatan seorang Muslim di hari perhitungan (yaum al-hisab) kelak. Dengan demikian, wawasan keadilan dalam al-Qur'an mudah sekali diterima sebagai sesuatu yang ideologis, sebagaimana terbukti dari revolusi yang dibawakan Ayatullah Khomeini di Iran. Sudah tentu dengan segenap bahaya-bahaya yang ditimbulkannya, karena ternyata dalam sejarah, keadilan ideologis cenderung membuahkan tirani yang mengingkari keadilan itu Sebab kenyataan penting juga harus dikemukakan dalam hal ini, bahwa sifat dasar wawasan keadilan yang dikembangkan al-Qur'an ternyata bercorak mekanistik, kurang bercorak reflektif. Ini mungkin karena "warna" dari bentuk konkrit wawasan keadilan itu adalah "warna" hukum agama, sesuatu yang katakanlah legal-formalistik. PERMASALAHAN Mengingat sifat dasar wawasan keadilan yang legal-formalistik dalam al-Qur'an itu, secara langsung kita dapat melihat adanya dua buah persoalan utama yaitu keterbatasan visi yang dimiliki wawasan keadilan itu sendiri, dan bentuk penuangannya yang terasa "sangat berbalasan" (talionis, kompensatoris). Keterbatasan visi itu tampak dari kenyataan, bahwa kalau suatu bentuk tindakan telah dilakukan, terpenuhilah sudah kewajiban berbuat adil, walaupun dalam sisi-sisi yang lain justru wawasan keadilan itu dilanggar. Dapat dikemukakan sebagai contoh, umpamanya, seorang suami telah "bertindak adil" jika "berbuat adil" dengan menjaga ketepatan bagian menggilir dan memberikan nafkah antara dua orang isteri, tanpa mempersoalkan apakah memiliki dua orang isteri itu sendiri adalah sebuah tindakan yang adil. Dengan demikian, pemenuhan tuntutan

keadilan yang seharusnya berwajah utuh, lalu menjadi sangat parsial dan tergantung kepada pelaksanaan di satu sisinya belaka. Warna kompensatoris dari wawasan keadilan yang dibawakan al-Qur'an itu juga terlihat dalam sederhananya perumusan apa yang dinamakan keadilan itu sendiri. Wanita yang diceraikan dalam keadaan hamil berhak memperoleh santunan hingga ia melahirkan anak yang dikandungnya, cukup dengan jumlah tertentu berupa uang atau bahan makanan. Sangat terasa watak berbalasan dari "pemenuhan keadilan" yang berbentuk seperti ini, karena ada "pertukaran jasa" antara mengandung anak (bagi suami) dan memberikan santunan material (bagi isteri). Dari pengamatan akan kedua hal di atas lalu menjadi jelas, bahwa permasalahan utama bagi wawasan keadilan dalam pandangan al-Qur'an itu masih memerlukan pengembangan lebih jauh, apalagi jika dikaitkan dengan perkembangan wawasa keadilan dalam kehidupan itu sendiri. Sampai sejauh manakah dapat dikembangkan wawasan demokrasi yang utuh bila dipandang dari sudut wawasan keadilan yang dimiliki al-Qur'an itu? Dapatkah kepada kelompok demokrasi yang utuh bila dipandang dari sudut wawasan keadilan yang dimiliki al-Qur'an itu? Dapatkah kepada kelompok minoritas agama diberikan hak yang sama untuk memegang tampuk kekuasaan? Dapatkah wawasan keadilan itu menampung kebutuhan akan persamaan derajat agama dikesampingkan oleh kebutuhan akan hukum yang mencerminkan kebutuhan akan persamaan perlakuan hukum secara mutlak bagi semua warga negara tanpa melihat asal-usul agama, etnis, bahasa dan budayanya? Dapatkah dikembangkan sikap untuk membatasi hak milik pribadi demi meratakan pemilikan sarana produksi dan konsumsi guna tegaknya demokrasi ekonomi? Deretan pertanyaan fundamental, yang jawaban-jawabannya akan menentukan mampukah atau tidak wawasan keadilan yang terkandung dalam al-Qur'an memenuhi kebutuhan sebuah masyarakat modern di masa datang. Diperlukan kajian-kajian lebih lanjut tentang peta permasalahan seperti dikemukakan di atas, namun jelas sekali bahwa visi keadilan yang ada dalam al-Qur'an dewasa ini harus direntang sedemikian jauh, kalau diinginkan relevansi berjangka panjang dari wawasan itu sendiri. Jelas, masalahnya lalu menjadi rumit dan memerlukan refleksi filosofis, di samping kejujuran intelektual yang tinggi untuk merampungkannya secara kolektif. Masalahnya, masih punyakah umat Islam kejujuran intelektual seperti itu, atau memang sudah tercebur semuanya dalam pelarian sloganistik dan "kerangka operasionalisasi" serba terbatas, sebagai pelarian yang manis? -------------------------------------------Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah Editor: Budhy Munawar-Rachman Penerbit Yayasan Paramadina Jln. Metro Pondok Indah Pondok Indah Plaza I Kav. UA 20-21 Jakarta Selatan Telp. (021) 7501969, 7501983, 7507173 Fax. (021) 7507174 Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan

ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota
Please direct any suggestion to Media Team

Artikel Yayasan Paramadina
Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota I.1. PERSOALAN PENAFSIRAN METAFORIS ATAS FAKTA-FAKTA TEKSTUAL oleh M. Quraish Shihab (1/2) Dalam kamus linguistik, "metafora" (metaphor) berarti pemakaian suatu kata atau ungkapan untuk suatu obyek atau konsep, berdasarkan kias atau persamaan." (1) Itu berarti suatu kosakata atau susunan kata yang pada mulanya digunakan untuk makna tertentu (secara literal atau harfiah) dialihkan kepada makna lain. Dalam disiplin ilmu al-Qur'an pengalihan arti itu disebut ta'wil, atau oleh ulama-ulama sesudah abad ke 3 H., diartikan sebagai "mengalihkan arti suatu kata atau kalimat dari makna asalnya yang hakiki ke makna lain berdasarkan indikator-indikator atau argumentasi-argumentasi yang menyertainya." (2) Salah satu cabang disiplin ilmu bahasa Arab yaitu ilmu al-bayan menggunakan istilah majaz untuk maksud di atas. Tak dapat disangkal, setiap bahasa mengenal kata atau ungkapan yang bersifat metaforis, termasuk bahasa yang digunakan al-Qur'an. Tapi bagaimana dengan al-Qur'an yang redaksi-redaksinya merupakan susunan Ilahi? Apakah mengenal pula metafora? Al-Qur'an menegaskan, Ia turun dalam bahasa Arab. Kosakata yang digunakan umumnya digunakan pula oleh masyarakat Arab pada masa turunnya, tapi gaya susunannya yang bukan prosa dan bukan pula puisi, serta keindahan nada yang dihasilkannya menjadikan pakar-pakar bahasa Arab ketika itu mengakui, mereka tak mampu menyusun semacam redaksi ayat-ayatnya. Hal ini memberi petunjuk atau kesan bahasa al-Qur'an berbeda dengan bahasa yang digunakan ketika itu. Tapi di sisi lain, para ahli dalam rangka memahami al-Qur'an menelusuri dan mempelajari penggunaan kosakata dan ungkapan-ungkapan yang digunakan khususnya oleh suku-suku Qais, Tamim dan Asad karena mereka dinilai masih bertahan dengan bahasa Arab asli. Mereka oleh pakar-pakar budaya dan bahasa dinilai belum atau tak tersentuh oleh akulturasi budaya atau bahasa. Berbeda dengan suku-suku Arab lain nya yang bertetangga dengan daerah-daerah yang tak berbahasa Arab ketika itu seperti, Lakhem dan Juzaam yang bertetangga dengan penduduk Coptik di Mesir atau Gassaan dan Qudha'ah yang bertetangga dengan penduduk Syam yang berbahasa Ibrani. Atau suku Abdi al-qais dan Azad, penduduk Bahrain (Emirat Arab) yang bergaul dengan orang-orang India dan Persia. Bahkan para pakar bahasa tersebut --tak merujuk dalam rangka memahami kosakata atau ungkapan-ungkapan al-Qur'an-- pada penduduk kota-kota Hijaz sekali pun, karena mereka menilai bahwa pergaulan mereka relatif luas sehingga mengakibatkan bahasa mereka tak "asli" lagi. Isi yang dikemukakan di atas, menjadi bukti bahwa pemahaman

al-Qur'an tak terlepas dari pemahaman kosakata atau ungkapan yang digunakan orang-orang Arab pada masa turunnya; dan apabila terbukti mereka menggunakan metafora dalam percakapan mereka maka tentunya dalam al-Qur'an hal yang demikian pasti ditemukan, karena ia diturunkan dengan bahasa Arab, agar dapat mereka pahami (QS. Fushshilat: 3). Penelitian-penelitian yang dilakukan pakar-pakar bahasa, seringkali menimbulkan perbedaan-perbedaan di antara mereka, khususnya ulama-ulama Kufah versus ulama-ulama Bashrah. Ini berarti sebagian hasil-hasil yang mereka peroleh belum mendapat kesepakatan semua pihak, yang berakibat membawa sebagian ulama pada sikap hati-hati dalam menolak pemahaman metaforis bagi teks-teks keagamaan. Paling tidak, jika tak memahaminya secara literal, mereka menyerahkan pengertian sekian banyak kosakata atau ungkapan al-Qur'an kepada Allah swt. Sikap semacam ini tentunya tak memuaskan banyak pihak dan dari hari ke hari pembahasan masalah-masalah metaforis dalam teks-teks keagamaan tumbuh dengan pesatnya. Agaknya al-Jahiz (w. 255 H/868 M) merupakan tokoh pertama yang menghasilkan pemikiran-pemikiran jernih menyangkut masalah tersebut. Walaupun harus diakni bahwa kitab tafsir pertama, karya Abu Ubaidah Mu'ammar bin Al-Mustana (w. 209 H) bernama Majazat al-Qur'an. Namun nama ini tak berkaitan dengan pengertian majaz atau metafora yang dimaksud di sini. Tokoh al-Mahiz adalah seorang penganut aliran rasional dalam bidang teologi (Mu'tazilah) dan dengan penafsiran-penafsirannya ia telah mampu menyelesaikan sekian banyak problema pemahaman keagamaan yang tadinya dihadapi sekian banyak ulama. Imam Malik (w. 795 M) misalnya, enggan membenarkan redaksi "langit menurunkan hujan," karena berkeyakinan bahwa yang menurunkan hujan adalah Allah swt. (3) Demikian juga ketika beliau ditanya tentang pengertian Firman Allah dalam QS. Thaha: 5, "Tuhan yang maha pemurah bersemayam di atas Arasy." Malik menjawab: Pertanyaan semacam ini merupakan bid'ah" (tercela dalam pandangan agama). Bahkan sebagaimana ditulis al-Jahiz dalam bukunya al-Hayawan (4) ada orang-orang yang menduga bahwa batu merupakan makhluk berakal, berdasarkan Firman Allah dalam QS. al-Baqarah: 74 "... dan diantaranya (diantara batu) sungguh ada yang meluncur karena takut kepada Allah ...," sebagaimana ada yang menduga bahwa ada nabi-nabi untuk lebah-lebah berdasarkan QS. al-Nahl: 68, "Dan Tuhanmu mewahyukan kepada lebah." Kemudian mereka berpaham demikian merangkai hikayat-hikayat yang tak mempunyai dasar sedikitpun. Al-Jahiz yang sangat rasional dan ahli dalam bidang kebahasaan itu membantah pendapat-pendapat semacam itu dengan menunjuk pada penggunaan kosakata atau ungkapan yang sama dan yang pernah digunakan orang-orang Arab menjelang dan pada masa turunnya al-Qur'an. Ibnu Qutaibah (w. 276 H/889 M), murid al-Jahid walau pun bukan penganut aliran Muitazilah bahkan dinilai sebagai "juru bicara Ahl-u'l-Sunnah" (5) melanjutkan dan mengembangkan usaha-usaha gurunya dalam memahami teks-teks keagamaan dengan berbagai

motif yang berkembang dengan sangat pesat; dan tentu menggunakan segala cara dan argumentasi, baik logika maupun kebahasaan. Mereka yang menolak pemahaman metaforis dalam teks-teks keagamaan, paling tidak menggunakan dua argumentasi berikut, pertama, Metafora sama dengan kebohongan, sedangkan al-Qur'an adalah firman-firman Allah yang suci dari hal tertentu. Kedua, Seorang pembicara tak menggunakan metafora kecuali jika ia tak mampu menemukan kosakata atau ungkapan yang bersifat hakiki, dan tentunya harus diyakini bahwa Allah maha mampu atas segala sesuatu. Kedua argumentasi di atas jelas sekali kekeliruannya, sehingga berbagai ahli menolaknya. Ibnu Qutaibah menolak dengan menyatakan, "Seandainya metafora atau majaz dinilai kebohongan, maka alangkah banyaknya ucapan-ucapan kita merupakan kebohongan." (6) Al-Sayuthi (w. 911 H/1505 M) menulis dalam bukunya al-Itqan, "Metafora adalah unsur keindahan bahasa dan jika ia ditolak keberadaannya dalam al-Qur'an, maka tentunya sebahagian unsur keindahan pun tak akan ada padanya." (7) Sebagaimana telah dikemukakan pada awal uraian metafora dalam istilah ilmu bahasa Arab dinamai majaz, atau dalam istilah ilmu-ilmu al-Qur'an disebut ta'wil. Majaz menurut kaidah kebahasaan dapat dilakukan akibat adanya satu dari dua hal berikut, pertama, terdapat persamaan antara makna yang dikandung kosakata atau ungkapan dalam arti literalnya dengan makna yang dikandung oleh pengertian metaforis yang ditetapkan. Kedua, adanya perkaitan atau hubungan antara dua hal dalam ungkapan, sehingga mengakibatkan terjadinya penisbahan satu kalimat kepada sesuatu yang seharusnya bukan kepadanya. Ia dinisbahkan, misalnya "langit menurunkan hujan." Di sini terdapat perkaitan antara langit dan hujan, karena langit atau awan adalah sumber kedatangannya dan dengan demikian kepadanya ia dinisbahkan. Disepakati oleh mereka yang berpendapat adanya metafora, bahwa dibutuhkan dukungan petunjuk atau argumen guna mengalihkan satu makna hakiki ke makna metaforis. Tanpa adanya petunjuk maka penta'wilan tak dapat dilakukan. Tapi bagaimana bentuk petunjuk atau argumen tersebut, diperselisihkan mereka. Pertama, Kelompok yang dikenal dengan "al-Dhahiriyah" yaitu pengikut-pengikut Daud al-Dhahiri (w. 270 H) tak membenarkan adanya penta'wilan atau pengertian metaforis dalam teks-teks keagamaan, kecuali bila pengertian yang ditetapkan itu telah populer di kalangan orang-orang Arab pada masa turunnya al-Qur'an, serta terdapat petunjuk yang jelas yang mendukung pengalihan makna atau penta'wilan tersebut. (8) Ibnu Hazem (w. 456 H/1064 M) menegaskan,"Selama arti yang dipilih bagi satu kosakata atau ungkapan telah dikenal di kalangan sahabat dan Tabi'in dan sejalan pula dengan bahasaArab klasik, maka arti tersebut harus diterima baik dalam pengertian majaz, maupun hakiki." (9) Hanya perlu dicatat, satu kosakata atau ungkapan, tak dialihkan ke makna metaforis kecuali setelah makna hakiki tak dapat digunakan. Kedua, al-Syathibi penta'wilan ayat-ayat mengemukakan dua syarat al-Qur'an" (10) Pertama, pokok makna bagi yang

dipilih sesuai dengan hakikat kebenaran yang diakui oleh mereka yang memiliki otoritas dalam bidangnya. Tidak tepat kata al-Syathibi, memahami kata khalila dalam QS. al-Nisa' 125: Allah menjadikan Ibrahim khalila sebagai seorang "fakir" karena pengertian tersebut bertentangan dengan nash al-Qur'an yang lain, yaitu bahwa "ia (Ibrahim) menjamu tamunya dengan daging anak sapi yang dipanggang" (QS. Hud:69), yang menunjukkan beliau bukan seorang fakir; di samping bahwa kenyatann sejarah membuktikan bahwa Ibrahim as. bukan seorang fakir. Kedua, arti yang dipilih tersebut telah dikenal oleh bahasa-bahasa Arab klasik. Dalam syarat ini terbaca bahwa syarat "popularitas" artinya kosakata tak disinggung lagi, bahkan lebih jauh al-Syathibi menegaskan bahwa satu kosakata yang bersifat ambigu atau musytarak (mempunyai lebih dari satu makna), maka kesemua maknanya dapat digunakan bagi pengertian teks tersebut selama tak bertentangan satu dengan lainnya. Contoh kata "hidup" dan "mati." Al-Qur'an menggunakan kata "hidup" dalam arti berpisahnya Ruh dari badan dan juga dalam arti "kosongnya jiwa dari nilai-nilai agama." Firman Allah dalam QS. al-Rum 19, "Dia Allah mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup" dapat diartikan dengan salah satu atau dengan kedua arti tersebut di atas, demikian pula sebaliknya kata mati. Dalam hal ini tentunya kita tak dapat menyalahkan mereka yang memahami Firman Allah dalam QS. al-Baqarah 243, "Apakah kamu tak mengetahui orang-orang yang keluar dari kampung halaman mereka yang jumlah mereka beribu-ribu (keluar) karena takut mati, maka Allah berfirman kepada mereka 'matilah kamu,' kemudian Allah menghidupkan mereka, sesungguhnya Allah mempunyai karunia terhadap manusia tetapi kebanyakan manusia tak bersyukur." -------------------------------------------Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah Editor: Budhy Munawar-Rachman Penerbit Yayasan Paramadina Jln. Metro Pondok Indah Pondok Indah Plaza I Kav. UA 20-21 Jakarta Selatan Telp. (021) 7501969, 7501983, 7507173 Fax. (021) 7507174 (bersambung 2/2)

Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang YayasanISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota
Please direct any suggestion to Media Team

Artikel Yayasan Paramadina
Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota I.1. PERSOALAN PENAFSIRAN METAFORIS ATAS FAKTA-FAKTA TEKSTUAL oleh M. Quraish Shihab (2/2) Kita tak mempermasalahkan walaupun seandainya kita tak

bahwa hakikat setiap ciptaan terdapat sesuatu yang menjadi sumber ketergantungannya serta sistem wujudnya. Pemaparan pertanyaan kepada malaikat dan ketakmampuan mereka menjawab. Pengajaran Tuhan kepada Adam tentang nama benda-benda." Selanjutnya Abduh menulis. Mereka juga dinilai sangat memperluas penggunaan metafora dengan menggunakan pemahaman tamsil atau perumpamaan bagi ayat-ayat al-Qur'an. Muhammad Abduh (w. pada surah al-Baqarah 30 dan seterusnya. perpecahan. Keengganan Iblis sujud. kata Abduh selanjutnya. menunjukkan keterbatasan hukum-hukum alam. "Bagi mereka yang tak mengindahkan penamaan yang ditetapkan agama.sependapat dengan orang-orang yang memahami kata "matilah kamu" dan "Allah menghidupkan mereka" dalam pengertian "kematian semangat jihad mereka" kemudian "kehidupan" semangat jihad tersebut sehingga kembali ke kampung halaman mereka untuk mengusir orang yang selama itu menganiaya mereka. menandakan kelemahan manusia dan ketakmampuannya menghilangkan bisikan-bisikan negatif yang mengantar kepada perselisihan. Sedang pendapat yang kedua. Abduh ketika menguraikan tentang "malaikat. adalah bahwa "malaikat merupakan makhluk-makhluk Allah yang bertugas dalam pekerjaan-pekerjaan tertentu. Hal ini tak dapat diingkari siapa pun yang berakal walau pun mereka tak beriman atau mengingkari bahwa hal tersebut dinamai malaikat. adalah isyarat yang lebih jelas dari satu redaksi tentang satu ciri tertentu bahwa pertumbuhan dalam tumbuh-tumbuhan terjadi tak lain kecuali dengan adanya Ruh yang dihembuskan Allah Swt ke dalam benihnya. dipahami Abduh sebagai gambaran tentang potensi dalam diri manusia untuk melakukan kejahatan. Sementara penganut-penganut aliran Rasional dinilai sementara ahli melakukan ta'wil dengan menitik beratkan tolok ukurnya pada akal mereka dan kalau pun menggunakan argumentasi kebahasaan. Ketiga. Demikian pula halnya dengan manusia dan binatang. dalam istilah agama dengan "malaikat. Pertanyaan malaikat kepada Tuhan tentang khalifah yang dapat merusak dan menumpahkan darah. seperti menumbuhkan tumbuh-tumbuhan memelihara manusia dan sebagainya. menunjukkan kemampuan manusia memanfaatkan hukum-hukum alam. maka yang digunakan adalah riwayat-riwayat yang sangat lemah atau dibuat-buat. (11) sehingga tak ada dialog sebagaimana tersurat. sehingga dengan demikian terjadilah kehidupan bagi tumbuhan tersebut. difahaminya atas dasar tamsil. 1906 M) dinilai sebagai salah seorang tokoh penganut aliran ini." Hal ini menurut Abduh. agresi dan permusuhan di muka bumi ini. demikian pula sebaliknya hal tersebut tak diingkari oleh seseorang yang . tetapi penyampaian Tuhan kepada malaikat tentang rencana-Nya menciptakan khalifah di bumi. adalah pertanda kesiapan bumi untuk menyambut satu makhluk yang dapat mengolahnya sehingga tercapai kesempurnaan hidup di dunia. Yang demikian itu menurut Abduh dinamai. bahwa malaikat merupakan makhluk ghaib yang tak dapat diketahui hakikatnya namun harus dipercaya wujudnya. Satu hal yang pasti. hal tersebut mereka namakan natural power karena mereka tak mengenal dalam kehidupan ini kecuali apa yang tampak dan atau yang tampak bekasnya dalam alam nyata. Pertama. adalah gambaran tentang potensi manusia mengetahui serta mengolah dan mengambil manfaat segala yang terdapat di bumi ini. Sujudnya Malaikat kepada Adam. Ayat-ayat yang menguraikan kisah kejadian Adam as." mengemukakan dua pendapat.

dirasakan oleh mereka yang mengamati dirinya. seakan-akan apa yang terlintas dalam pikirannya itu sedang diajukan ke suatu sidang Majelis Permusyawaratan yang ini menerima dan yang itu menolak. dapat mengantar pada pengingkaran hal-hal yang bersifat supra-rasional. walaupun belum dipahaminya." Demikian antara lain penta'wilan yang dilakukan Muhammad Abduh. bukannya Daud. dengan jalan pandangan yang diarahkan Daud kepada keajaiban tersebut berfungsi mengingatkan sebagaimana seseorang mengingatkan yang lain. bahwa dalam batinnya terjadi pergolakan. Tapi tentunya ini bukan pula berarti kita menerima begitu saja penafsiran-penafsiran yang tak logis." (12) Pendapat di atas dinilai sementara ulama tak sejalan dengan teks ayat di mana yang diperintahkan adalah gunung-gunung. yang ini berkata "Kerjakanlah" dan yang itu "Jangan. penamaan tersebut dengan Muhammad Abduh menambahkan. Menggunakan akal sebagai tolok ukur satu-satunya dalam memahami teks-teks keagamaan khususnya tentang peristiwa-peristiwa alam." demikian halnya sehingga pada akhirnya menanglah salah satu pilihan. sebagaimana ditemukan kemudian dalam perkembangan pemikiran selanjutnya. Karena kalau hal tersebut harus dipaksakan maka tak jarang ditemukan pemahaman-pemahaman yang tak hanya bertentangan dengan kaidah-kaidah kebahasaan tetapi juga bertentangan dengan hakikat keagamaan. Ahmad Musthafa al-Maraghi salah seorang penganut aliran Abduh menulis dalam tafsirnya menyangkut ayat 10 surah Saba'. bumi dan semua yang ada di dalammya bertasbih . atau membanding-bandingkan pikiran dan kehendaknya yang mempunyai dua sisi baik dan buruk. Kita dapat memahami motivasi Muhammad Abduh dan penganut-penganut alirannya dalam menggunakan akal seluas-luasnya ketika memahami teks-teks keagamaan sehingga merasionalkan ajaran-ajaran agama sambil mempersempit sedapat mungkin wilayah ghaib. namun hal ini bila diturutkan tanpa batas yang jelas. maka redaksi tersebut tak harus dita'wilkan lagi dengan memaksakan suatu penafsiran yang dianggap logis sehingga dipahami akal. Proses demikian yang terdapat dalam jiwa setiap manusia. Tidak demikian! Apa yang dikemukakan di atas hanya berarti bahwa bila suatu redaksi sudah cukup jelas serta penafsirannya tak bertentangan dengan akal.beriman walaupun ia mengingkari "natural power" atau hukum alam. "Dan sesungguhnya Kami telah anugerahkan kepada Daud karunia dari Kami. tak mustahil dinamai Allah atau dinamai penyebab hal tersebut sebagai "malaikat. Dan yang lebih penting lagi bahwa Mufassir al-Maraghi telah berusaha memahami hakikat tasbih gunung. (Kami berfirman) Hai gunung-gunung bertasbihlah berulang-ulang bersama Daud. sejarah kemanusiaan dan hal-hal ghaib berarti menggunakan sesuatu yang terbatas terhadap perbuatan-perbuatan Tuhan (zat yang tak terbatas itu). sedang terdapat ayat yang lain yang menegaskan bahwa: "Langit yang tujuh." Al-Maraghi menulis bahwa pengertian ayat tersebut adalah bahwa "gunung mengantar Daud bertasbih mensucikan Allah. yang kemudian diikuti oleh tak sedikit dari ulama-ulama sesudah masa beliau.

ketika itu mereka merasa malu. Penta'wilan yang parah adalah yang semata-mata mengandalkan penalaran akal seseorang dengan mengabaikan pertimbanganpertimbangan kebahasaan. tetap harus diakni bahwa pendapat tersebut dari sisi kebahasaan memiliki alasan-alasannya. Pertama. 1955. Jilid 1. Ketika mereka (Adam dan Hawa) telah memakan (buah) pohon tersebut (mengadakan hubungan sex) mereka tanpa busana dan berusaha menutupi auratnya dengan daun-daun surga. Contoh yang dikemukakan di atas menunjukkan betapa pemahaman ayat-ayat al-Qur'an. al-Baqarah: 35). Ketiga. Kedua.S. 18. Hal ini menunjukkan bahwa ketika itu mereka yang tadinya hanya berdua (Adam dan Hawa) kini telah menjadi lebih dari dua orang dengan adanya janin yang dikandung oleh Hawa setelah hubungan sex tersebut. tak sebagaimana dipahami oleh dr. Mustafa Mahmud. walau sekedar menyebutnya. al-Tafsir Wa 'l-Mufassirun. 11. Harimurti Kridalaksana. h." Bukti yang dijadikan dasar pertimbangannya adalah. Dar al-Kutub al-Haditsah. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penyantun lagi Maha Pengampun" (QS. h. Redaksi Firman Allah sebelum mereka mendekati pohon tersebut adalah dalam bentuk dual ("Janganlah kamu berdua mendekati pohon ini. al-Isra' 44). berbeda dengan orang dewasa yang merasa malu. Kedua. ayat al-Qur'an menggambarkan bahwa keadaan tanpa busana terjadi setelah atau akibat dari memakan buah pohon terlarang bukan sebelumnya. dan anehnya "daun-daun surga" difahami secara hakiki. CATATAN 1." QS. Kamus linguistik. di samping nalar. 1963. tapi kamu sekalian tak mengetahui (hakikat) tasbih mereka. Al-Halaby. Jakarta 1983. (13) Apa yang dikemukakan di atas hemat kita bertentangan dengan teks ayat-ayat al-Qur'an serta kaidah-kaidah kebahasaan. Muhammad . 2. sebagaimana dipahami oleh Mustafa Mahmud. Dr. juga penguasaan bahasa Arab. Syarid Al-Radhy. Perasaan malu akibat terlihatnya alat kelamin hanya dialami oleh mereka yang telah mengadakan hubungan sexual. Cairo. Jika apa yang digambarkan tentang pendapat al-Maragi di atas tak disetujui. Pertama. tetapi setelah mereka mendekatinya (memakan buah terlarang) redaksi ayat berbentuk plural atau jama' "Turunlah kamu. Terbukti bahwa anak kecil tak merasakan hal tersebut. h.kepada Allah dan tak sesuatu pun melainkan bertasbih memujiNya. apalagi penta'wilan ayat-ayatnya. al-Baqarah: 36). 3. Mesir. 106. (medis) Mustafa Mahmud memahami larangan Tuhan pada Adam dan Hawa "mendekati pohon" sebagai larangan mengadakan "hubungan sexual. diedit oleh Abdulghani Hasan. Di sisi lain bahasa Arab tak menganggap wujud janin sebagai wujud yang penuh. Muhammad Husen al-Zahaby. karena itu wanita hamil akan tetap diperlakukan oleh bahasa sebagai wujud tunggal. Gramedia. sebahagian kamu menjadi musuh bagi yang lain" (Q. membutuhkan. Kosakata "pohon" dita'wilkan atau dipahami secara metaforis tanpa ada argumentasi pendukung. Talkhis al-Bayan.

hl. 6. 99. 12. 56. 7. Jilid 11.II.4. Lihat lebih jauh Abdul Muta'al Muhammad al-Jabri. h. Majma' al-Buhuts. 5. 128. 1364 H. tp. h. h. Cairo 1964 M. Cairo. Tentang pendapat-pendapat Abduh lihat lebih jauh Muhammad Rasyid Ridha dalam Tafsir al-Manar. Lihat Abu Ishaq al-Syathiby. diedit oleh Abdullah Darraz. Khathawat al-Tafsir Al-Bayany. Cairo 1367 H. h. h. ialah pemahaman atau pemberian pengertian atas fakta-fakta tekstual dari sumber-sumber suci (al-Qur'an dan al-Sunnah) sedemikian rupa. h. diedit oleh Abdussalam Harun. Op. 8. (021) 7507174 Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota Please direct any suggestion to Media Team Artikel Yayasan Paramadina Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota I. 10. sebagaimana .. sehingga yang diperlihatkan bukanlah makna lahiriyah kata-kata pada teks sumber suci itu. Jilid. hal. Juz 22. Muhammad Rajab al-Bayyumy. sendiri. Dr. Tafsir Al-Maraghy. Metro Pondok Indah Pondok Indah Plaza I Kav. Jilid 1. Syathahat Musthafa Mahmud. Cairo. Lihat al-Jahiz dalam al-Hayawan. Cairo. Jilid 111. 119 dst. MASALAH TA'WIL SEBAGAI METODOLOGI PENAFSIRAN AL. Dar Al-Fikr. Cairo. Dar al-Ma'rifah. th. Syarif AlRadhy.. Cit. Metode pemahaman serupa itu (ta'wil) telah muncul sejak masa-masa dini sejarah Islam (jika tidak malah sejak masa Rasul Allah saw. Ahmad Musthafa al-Maraghy. Al Sayuthi.QUR'AN oleh Nurcholish Madjid (1/2) Interpretasi metaforis atau ta'wil. al-Itqan. (021) 7501969. Dar al-Itisham. 1971. al-Halaby. 11. 7507173 Fax. Ibid. 13. inward meaning) yang dikandungnya. -------------------------------------------Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah Editor: Budhy Munawar-Rachman Penerbit Yayasan Paramadina Jln. 226. UA 20-21 Jakarta Selatan Telp. 92. 9. tapi pada "makna dalam" (bathin. Abu Zahrah. 1318 H. Beirut. al-Muwafaqat. h. 7501983.261 dst.2. Percetakan al-Manar. Al-Azhar. 36. 64. Cairo. 1971. Ibnu Hazem Hayatuha Wa Ashruhu. 1967.

Karena itu persoalan interpretasi metaforis ini mempunyai saham cukup besar dalam timbulnya perselisihan. ialah yang berkenaan dengan keadaan umat Islam sendiri di seluruh dunia.dikatakan kalangan Islam tertentu). Maka salah satu manfaat yang menjadi tujuan tulisan ini ialah tumbuhnya keinsafan lebih besar tentang bibit-bibit perselisihan paham dalam Islam. yang didalamnya terdapat ayat-ayat muhkamat yang merupakan induk Kitab Suci (Umm al-Kitab). [1] Masalah muhkamat dan mutasyabihat itu setidak-tidaknya menimbulkan tiga jenis perbedaan pandangan: Pertama. telah melahirkan sejenis kesadaran baru di kalangan umat Islam dunia. perbedaan pandangan tentang mana saja ayat-ayat suci yang muhkamat. AYAT-AYAT MUHKAMAT DAN MUTASYABIHAT Salah satu pokok perselisihan di kalangan umat Islam yang terkait erat dengan masalah ta'wil ini ialah adanya ayat-ayat suci al-Qur'an yang "bermakna jelas atau pasti" (muhkamat) dan yang "bermakna samar atau tidak pasti" (mutasyabihat. "Kami percaya kepada Kitab Suci itu. Sikap dapat memahami persoalan berkenaan dengan perselisihan paham di kalangan umat itu semakin dirasa mendesak akhir-akhir ini. serta bagaimana seharusnya kita menempatkan diri dalam kancah perselisihan itu secara adil. Karena perselisihan ini maka ada ayat-ayat suci yang bagi suatu kelompok umat Islam bersifat . Padahal tidak mengetahui ta'wil-nya kecuali Allah. mereka akan mengikuti bagian-bagian yang tersamar (mutasyabihat) daripadanya. kejadian di Iran pada penghujung dasawarsa lalu itu dalam suatu sentakan. dengan tujuan membuat fitnah (perpecahan) dan mencari ta'wil bagian-bagian tersamar itu. yang interpretable). Dalam abad telekomunikasi mondial yang serba cepat dan luas. Dari sekian banyak informasi itu. dan ayat-ayat lain yang mutasyabihat. setiap pribadi orang modern mengalami bombardemen informasi yang seringkali menyangkut segi-segi kesadarannya yang mendalam. kita berharap dapat menempatkan diri lebih baik dalam memandang berbagai aliran dan madzhab di kalangan umat sendiri." Dan tidaklah akan dapat merenung (menangkap pesan) kecuali orang-orang yang berpengertian mendalam. semuanya dari sisi Tuhan kami. yaitu kesadaran tentang pluralitas Islam dan potensi yang ada di balik setiap golongan. seperti halnya dengan revolusi-revolusi lain). Sedangkan orang-orang yang mendalam ilmunya maka akan menyatakan. kemudian perpecahan. misalnya kesadaran hampir tiba-tiba kaum Muslim Indonesia tentang adanya golongan Syi'ah dan berbagai alirannya. untuk kalangan kaum Muslim. Ada pun orang-orang yang dalam hatinya terdapat keserongan. dan mana pula yang mutasyabihat. untuk kemudian sikap yang sama itu sedapat mungkin kita bawa pada persoalan masyarakat secara keseluruhan. Adanya kedua jenis ayat itu. di kalangan kaum Muslim. yakni. termasuk informasi tentang adanya berbagai kelompok dan aliran pemikiran yang beraneka ragam Terlintas dalam pikiran. Lepas dari masalah revolusi itu sendiri (yang agaknya lebih baik dilihat sebagai gejala politik. antara lain karena revolusi mereka di Iran 1979. Maka dengan menengok masalah ta'wil ini. disebutkan dalam Kitab Suci sendiri sebagai berikut: Dia (Tuhan) yang telah menurunkan kepada engkau (Muhammad) Kitab Suci.

Ini membawa konsekuensi terbaginya anggota masyarakat manusia kepada kelompok-kelompok khusus (khawas. yang menurut mereka hanya diperoleh melalui pemikiran kefilsafatan. baik Kitab Suci maupun Sunnah Nabi adalah ungkapan-ungkapan metaforis atau alegoris." Ketiga. masih terdapat perselisihan tentang siapa yang harus melakukan interpretasi itu. Untuk dapat menangkap arti sebenarnya dari ungkapan-ungkapan itu.lihat pembahasan di bawah). namun bagi kelompok lain bersifat mutasyabihat. Mereka dengan kuat memandang. "tangan". Sebagian lagi yang tidak membolehkannya. Sebagian kelompok Islam membolehkannya. Firman-firman berkenaan dengan surga dan neraka. bersifat mutasyabihat sehingga pelukisan tentang surga dan neraka itu mereka pahami sebagai metafor-metafor atau kias-kias." "mengetahui. dan ini menimbulkan problema. antara lain pengetahuan yang luas dan kemampuan berpikir yang mendalam. berpendapat dalam memahami ayat-ayat itu kita harus berhenti pada makna-makna seperti yang dibawakan ungkapan lahiriah lafal dan kalimatnya. ungkapan-ungkapan kebahasaan dalam sumber-sumber ajaran agama. dengan memberi penegasan bahwa Tuhan memiliki kualitas-kualitas itu "tanpa bagaimana. kata-kata berserikat). Yang pertama adalah "kaum ahli. Mereka yang melakukan interpretasi (karena beranggapan bahwa Tuhan mustahil memiliki kualitas-kualitas yang sama dengan manusia) akan memandang ayat-ayat yang bersangkutan dengan itu sebagai metafor-metafor belaka. Jadi tidak dimaksudkan seperti apa adanya menurut arti lahiriah ungkapan-ungkapan itu. Karena interpretasi bukanlah pekerjaan yang gampang. Termasuk dalam permasalahan ini ialah problema homonimi (Arab: ism musytarak.muhkamat. . bagi mereka yang membolehkan interpretasi. "marah. seperti kata-kata "mendengar. harus dilakukan interpretasi di balik ungkapan-ungkapan lahiriah. disebabkan kuatnya pengakuan sebagai para pencari hakikat dan kebenaran demonstratif (yang terbuktikan secara tak terbantah)." PANDANGAN PARA FILSUF Seperti dapat diduga. Mereka yang tidak membenarkan interpretasi akan melihat firman-firman itu seperti adanya. khususnya manusia. bagi kebanyakan kaum Muslim bersifat muhkamat." "senang"' dan lain-lain yang dalam Kitab Suci disebutkan sebagai sifat-sifat Tuhan. padahal kata-kata atau sifat-sifat itu juga dapat diberlakukan kepada makhluk. perbedaan pandangan tentang boleh atau tidaknya melakukan ta'wil terhadap ayat-ayat yang mutasyabihat itu. al-'awam). misalnya. Maka pelukisan itu mengesankan bahwa Tuhan dan manusia "berserikat" dalam beberapa sifat dan kelengkapan. maka sangat masuk akal bahwa hak untuk melakukannya harus dibatasi hanya pada lingkungan yang memenuhi syarat.'. yang tak mesti menunjuk pada hakikatnya." dan yang kedua terdiri dari "orang-orang kebanyakan. seperti golongan al-Bathiniyyun ("Kaum Kebatinan" . para filsuf adalah kalangan orang-orang Muslim yang paling banyak melakukan ta'wil. diperlukan disiplin dan latihan berpikir yang tinggi. sehingga dalam memahami ayat-ayat mutasyabihat itu. al-khawash) dan kelompok-kelompok umum (awam." "melihat. sedangkan kenyataan tidaklah seperti yang dikesankan pengertian lahir firman-firman itu. Kedua. tapi bagi sebagian mereka.

baik dari pihak khawas maupun awam). disebabkan sulitnya pemahaman interpretatif yang abstrak itu. melainkan pada makna batinnya. seperti yang dituduhkan Ibn Taymiyyah. memandang Nabi mengutarakan sesuatu dengan ungkapan-ungkapan metaforis dan alegoris. sedangkan orang awam harus menerimanya menurut apa adanya sesuai dengan bunyi dan makna lahiriah lafalnya itu. Dengan kata lain. orang awam akan menjadi kafir jika melakukan interpretasi. yakni. dan mereka berhak. semuanya dari sisi Tuhan kami.Sesuai dengan makna asal katanya dalam bahasa Yunani. ta'wil harus disimpan dan dirahasiakan untuk kalangan kaum khawas saja.. [5] Sehingga sering dikatakan. [3] Karena itu para filsuf rawan terhadap tuduhan.. mereka sebenarnya menganut teori. Ibn Rusyd (Latin: Averroes). [4] Karena "pendidikan" itu ditujukan pada kalangan awam. Kadang-kadang juga disebut ahl al-burhan ("para penganut kebenaran demonstratif atau apodeiktik. Maka para filsuf Islam memandang diri mereka sebagai "penganut kearifan" (ahl al-hikmah) atau para orang arif-bijaksana (al-hukama). yang tidak memaksudkan makna-makna lahir ungkapan-ungkapan itu. bahkan wajib. Tapi "kebohongan" Nabi bukanlah kejahatan. para filsuf menganut teori Nabi telah melakukan "kebohongan untuk kebaikan" (al-kidzb li al-mashlahah). misalnya berpandangan para filsuf selaku ahl al-burhan itulah yang dimaksudkan dalam firman Ilahi (dikutip di atas) sebagai "orang-orang yang mendalam ilmunya. Adanya bahaya ini (bahaya kekafiran. Padahal tidak mengetahui ta'wilnya kecuali Allah dan orang-orang yang mendalam ilmunya. yaitu pendidikan orang banyak atau kaum awam... yang tak terjangkau kemampuan akal mereka. menggunakan metode interpretasi metaforis terhadap teks-teks keagamaan. sehingga filsafat pun disebut al-hikmah." sebagai ganti cara baca kaum awam (lihat terjemah kutipan firman itu di atas)." karena mereka ini berhak atau wajib melakukan ta'wil terhadap bunyi teks-teks suci. "Kami beriman kepada Kitab Suci itu. maka Ibn Rusyd berpendapat. Yaitu dengan memindah tanda baca berhenti (waqaf:) sehingga terbaca. AL-BATHINIYYUN (KAUM KEBATINAN) . Nabi telah melakukan sejenis kebohongan: Mengungkapkan sesuatu tanpa memaksudkan makna lahiriah ungkapan itu. [2] Jadi para filsuf dengan kata lain. tak seharusnya mengikuti cara awam dalam memahami ajaran agama. Para filsuf akan menjadi kafir jika tidak melakukan interpretasi (karena bagi mereka ajaran-ajaran agama tertentu seperti surga dan neraka dalam pengertian fisik itu tidak masuk akal. kemudian menjadi kearifan itu sendiri. maka kalangan khawas. Jadi bagi Ibn Rusyd firman Tuhan itu harus dibaca kaum khawas sedemikian rupa sehingga "orang-orang yang mendalam ilmunya" termasuk ke dalam yang mengetahui ta'wil ayat-ayat mutasyabihat. para filsuf sendiri. jadi tertolak). mereka adalah golongan khawas di kalangan umat. Filsuf Islam terkenal dari Cordova. karena bertujuan kebaikan. yakni kebenaran tak terbantah"). Spanyol. Mereka ini berkata. agar mereka berbuat baik dan meninggalkan keburukan. metode Ibn Rusyd yang membagi manusia dalam golongan khawas dan awam itu akan melahirkan semacam elitisme dalam kehidupan beragama. Kelebihan mereka itu. filsafat adalah kecintaan kepada kearifan (wisdom). Para flsuf harus melakukan ta'wil terhadap bunyi-bunyi teks suci baik Kitab maupun Sunnah (Hadits). ". Dan sebaliknya.

sejak dari Hasan ibn 'Ali sebagai imam pertama. Karena itu istilah tersebut berlaku untuk hampir semua kelompok esoteris Islam. bagi mereka. seperti pandangan tentang kewajiban melakukan ibadat-ibadat tertentu. terutama kaum Isma'ili. memberi dukungan pada usaha pembuktian bahwa lembaga imamat (keimaman) adalah langsung dari Tuhan. khususnya kandungan al-Qur'an. Adalah al-Bathiniyyun ini yang menjadi salah satu sasaran karya-karya polemis pemikir Sunni al-Ghazali dalam rangka usahanya menghancurkan filsafat. Tapi mereka juga berpegang pada paham tentang adanya ajaran-ajaran esoteris (bathin) yang membentuk sistem filsafat kaum Isma'ili. termasuk kaum Sufi. yang tersembunyi dan dirahasiakan itu hanya diberikan Nabi kepada 'Ali. kadang-kadang juga Ahl al-Bawathin (Kaum Kebatinan) digunakan secara longgar untuk mengidentifikasi kelompok-kelompok Islam yang orientasinya berat ke arah paham keagamaan yang lebih mengutamakan usaha menangkap makna dalam (bathin) dari suatu teks atau ajaran agama. semua ajaran agama (Islam) selalu mengandung makna lahir dan makna batin. Makna dan kebenaran agama. malah berbahaya bagi mereka. -------------------------------------------Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah Editor: Budhy Munawar-Rachman Penerbit Yayasan Paramadina Jln. tapi menyimpang ke Musa al-Kadhim ibn Jafar --dan bukannya ke Muhammad ibn Isma'il-. penganut aliran Isma'iliyyah. karena kepercayaan mereka pada imam-imam yang duabelas jumlahnya. seperti juga menjadi pandangan kaum filsuf. sistem filsafat itu menyediakan penyimpangan kandungan batin ajaran-ajaran agama yang antara lain. dan hanya mereka inilah yang dapat menangkap makna-makna batiniah agama. kemenakan. menantu dan sahabat yang menjadi kepercayaan beliau. maka makna batin itu ditujukan hanya pada orang-orang istimewa tertentu saja. Pembuktian itu diperoleh antara lain karena doktrin. Sebab dalam melakukan ta'wil terhadap fakta-fakta tekstual agama. khususnya Neo-Platonisme. Mereka juga dinamakan kaum Syi'ah Sab'iyyah (Syi'ah Tujuh). tak mampu menangkap makna batin yang sulit itu. karena kepercayaan mereka pada imam-imam yang tujuh (yaitu sejak Hasan ibn 'Ali sampai Muhammad ibn Isma'il (ibn Ja'far al-Shadiq ibn Muhammad al-Baqir). Maka hanya mereka yang memiliki kemampuan spiritual yang tinggi sajalah yang mampu mengakui peranan khusus 'Ali. yang dipercayai sekarang sedang bersembunyi dan akan kembali sebagai Imam Mahdi). Oleh kaum Sunni istilah itu juga secara khusus digunakan untuk kelompok Islam tertentu. melalui Ja'far al-Shadiq seperti kaum Isma'ili. yaitu suatu pecahan aliran Syi'ah yang muncul sesudah wafat Isma'il ibn Ja'far al-Shadiq sekitar 148 H (765 M). para pengikut Syi'ah Isma'iliyyah ini memang banyak sekali menggunakan sumber-sumber filsafat. Metro Pondok Indah Pondok Indah Plaza I Kav.Istilah al-Bathiniyyun.kemudian berakhir dengan Muhammad al-Muntadhar. Tapi karena orang awam. Dalam hal paham keimanan itu mereka berbeda dengan umumnya golongan Syi'ah Itsna 'Asy'ariyyah (Syi'ah Duabelas. Dalam gabungannya dengan semangat keagamaan mereka. UA 20-21 Jakarta Selatan (bersambung 2/2) . Mereka memang masih memiliki persamaan dengan orang-orang Muslim lain.

sebagai bentuk keterlibatan nyata mereka dalam sejarah kemanusiaan. seperti tampak nyata di banyak kawasan Afrika Timur. Paham Sy'iah Isma'iliyyah bertemu dengan Manicheanisme dalam ajaran yang hendak memberi pada penganutnya "kearifan dan martabat kosmis" yang budi kasar orang umum tak mampu menggapainya. Magelang. atas dasar konsep tentang arsitektur Islam masa depan yang cukup revolusioner. kebatinan kaum Isma'ili sangat menekankan pembangunan praktis susunan masyarakat dunia. (Sebagai misal. Mereka juga banyak mengadakan pameran benda-benda seni peninggalan Islam di kota-kota besar dunia (1983 di New York). tapi juga banyak mendorong kemajuan masyarakat manusia pada umumnya. MASALAH TA'WIL SEBAGAI METODOLOGI PENAFSIRAN AL. Tapi lain dari Manucheanisme.2.QUR'AN oleh Nurcholish Madjid (2/2) Unsur Neo-Platonis Kaum Kebatinan ini kemudian muncul dalam karya kefilsafatan besar --yang ditulis sekelompok sarjana yang menamakan diri mereka Ikhwan al-Shafa' (Persaudaraan Suci)-. mereka memberi award bidang arsitektur Islam kepada Pesantren Pabelan. pertumbuhan historis paham Sunni merupakan .Risalat Ikhwan al-Shafa. paham kebatinan ini juga menunjukkan tanda-tanda adanya pengarah Manicheanisme. PANDANGAN KAUM SUNNI Dari satu segi. Mereka juga terdiri dari kaum bisnis dan wirausahawan yang sukses. 7501983.Telp. (021) 7501969. Sedikit sekali kemungkinan orang luar lingkungan sendiri akan diberi pengakuan kemanusiann yang penuh. khususnya masyarakat Islam sendiri. Selain unsur Neo-Platonis. 7507173 Fax. suatu bentuk kegiatan yang dimungkinkan oleh minat mereka yang besar kepada usaha memelihara warisan sejarah Islam. [6] Mereka itu kini dipimpin Aga Khan yang terkenal itu. yaitu suatu pecahan agama Majusi (Zoroastrianisme). yang menurut penilaian mereka diwakili rintisannya oleh pesantren itu). Mereka tidak saja menjadi sponsor atas kegiatan kultural dan ilmiah yang antusias. Pandangan hidup kaum Isma'ili yang sangat esoteris (bathini) itu telah membuat mereka sebagai salah satu kelompok yang paling eksklusifistik dalam Islam. Diduga bahwa orang-orang Persi penganut Manicheanisme di zaman Abbasiyah secara rahasia masuk Islam dan memeluk paham kebatinan kalangan kaum Isma'ili. Jawa Tengah. (021) 7507174 Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota Please direct any suggestion to Media Team Artikel Yayasan Paramadina Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota I.

keterangan dalam al-Qur'an bahwa Tuhan mempunyai tangan. mereka tetap menolak antropomorfisme. Kaum Sunni umumnya menerima adanya intepretasi metaforis. Interpretasi metaforis atau ta'wil tidak saja selalu bersifat abstrak dan intelektualistik --yang tak terjangkau masyarakat banyak-. sehingga tidak ada lagi sisa yang bersifat pasti. Bahkan. Syria. Mereka ini dipelopori 'Abdullah ibn 'Umar. Tapi. Sebab jika pintu interpretasi metaforis itu ditenggang dengan tidak hati-hati. tapi dengan pembatasan-pembatasan begitu rupa sehingga masih bisa dikuasai. Abu Bakrah. bahwa Dia bertahta di Singgasana. menyerupai manusia. khususnya antara 'Ali dan Mu'awiyah beserta pengikut masing-masing. Usamah ibn Zayd. mata dan lain-lain. wajah. [9] Masih dalam konteks paham Sunni tentang ta'wil ini. madzab Madinah itu juga didukung oleh sebagian besar "para pelopor pertama" (al-sabiqun al-awwalun). Khususnya yang terjadi pada tahun 41 H yang sering disebut para ahli sejarah sebagai "Tahun Persatuan" ('Am al-Jama'ah). Muhammad ibn Maslamah. Kaum Sunni --yang secara garis besar perjalanan sejarahnya hampir selalu paralel dengan susunan mapan masyarakat Islam-sangat mengkhawatirkan. semua bagian dari ajaran agama akan habis diinterpretasikan. menurut Ibn Taymiyyah. Ibn Taymiyyah mengemukakan pandangan yang cukup menarik. yang pertama komponen ideologis. dan 'Imran ibn Hasyim. dan yang kedua komponen politik pragmatis. Said ibn Abi Waqqash. rujukan utama paham Sunni dalam ilmu Ketuhanan atau akidah.gabungan dua komponen. Inilah metode al-Asy'ari. dan tidak bisa disamakan dengan sesuatu apa pun juga. Berdasarkan firman Allah. "Kitab Suci penuh berkah. Yang ideologis ialah "Aliran Penduduk Madinah" (Madzhab Ahl al-Madinah) seperti dikemukakan mereka yang tak mau terlibat dalam pertikaian-pertikaian politik saat itu. [7] Yang politik pragmatis. dengan mengatakan bahwa sekali pun disebutkan Tuhan itu mempunyai tangan. dan seterusnya). Paling jauh. pendekatan metaforis pada agama akan mempunyai efek melemahnya sendi-sendi dan kesadaran hukum masyarakat banyak. ialah sikap mendukung sebagian terbesar kaum Muslim kepada Mu'awiyah sebagai Khalifah yang sah berkedudukan di Damaskus. Sebab pelukisan antropomorfis itu tidak sesuai dengan penegasan Kitab Suci sendiri bahwa Tuhan tidak sebanding. jika mereka tidak melakukan interpretasi.tapi juga senantiasa menyediakan "lubang pelarian" (loop hole) di bidang hukum bagi mereka yang kesadaran hukumnya lemah. yang telah Kami turunkan kepada engkau (Muhammad). misalnya. namun tangan. dan "tanpa bagaimana" (bi-la kayfa). menutup samasekali kemungkinan mengadakan ta'wil akan menghadapkan orang-orang Muslim yang serius pada kesulitan mengartikan berbagai pelukisan tentang Tuhan yang antropomorfis (yakni. wajah dan mata. [8] Mungkin disebabkan latar belakang pertumbuhan historisnya itu maka paham Sunni ditandai semangat umum moderasi dan akomodasi. merasa senang dan tidak senang. sebaliknya. maka bagaikan membuka Kotak Pandora. Salah satu wujud semangat itu tampak dalam paham Sunni menghadapi masalah ta'wil itu. agar mereka (manusia) merenungkan ayat-ayatnya. dan agar mereka yang berpengetahuan mendalam menangkap pesannya" [10] Ibn Taymiyyah mengatakan . wajah dan mata Tuhan itu tidak sama dengan yang ada pada makhluk seperti manusia.

ungkapan-ungkapan dalam bahasa manusia) itu dapat memberi definisi pada sesuatu yang tak mungkin didefinisikan. Ayat ini memberi kita suatu kunci penting untuk interpretasi al-Qur'an. bahwa tujuan kita membahas persoalan interpretasi metaforis ini antara lain ialah untuk mendapatkan kesadaran tentang suatu dimensi pemahaman keagamaan dalam Islam yang ikut memberi corak keanekaragaman kaum Muslim di dunia. Muhammad Asad. bagian yang bersifat figuratif. Hanya hal-hal yang maknanya tak masuk akal saja yang tidak direnungkan. metaforis dikenakan kepada esensi itu. Asad berpendapat bahwa al-Qur'an memang mengandung ayat-ayat yang pasti maknanya tanpa samar." dan kedua. Secara garis besar al-Qur'an itu dapat dibagi ke dalam dua bagian. Sebagian dari reasoning itu tentu saja. di seluruh Kitab Suci. Maka Allah memuji mereka yang merenungkan firman-firman-Nya. kata Ibn Taymiyyah. secara harfiah "Induk Kitab Suci." [14] PENUTUP Telah dikatakan. Abdullah Yusuf Ali memberi komentar sebagai berikut. ataukah sebenarnya hati mereka telah tersumbat?" [11] Karena itu.bahwa yang harus direnungkan itu ialah semua ayat-ayat al-Qur'an. inti atau dasar Kitab Suci. sebab "tidak ada kesalahan yang lebih besar daripada berpikir bahwa "terjemahan-terjemahan" (yakni. sarjana Muslim di zaman modern ini. tak dibenarkan menganggap perolehannya sebagai mutlak dan final. Menurut sarjana ini. juga berpegang pada pandangan yang sama dalam masalah ta'wil ini. baik yang muhkamat maupun yang mutasyabihat. [13] Seorang sarjana Muslim modern penafsir al-Qur'an lain. Dari uraian di atas diharapkan ada sedikit kejelasan bahwa masing-masing kelompok atau aliran dalam Islam memiliki reasoning mereka sendiri dalam memilih suatu pemahaman agama. sebab manusia tidak akan dapat memahami sesuatu yang samasekali abstrak. Tapi juga tidak sedikit daripadanya yang semata-mata merupakan hasil interaksi antara sesama . sebagaimana perintah untuk itu dapat dipahami dari firman-Nya. tapi tumpang tindih. tetapi tak boleh menyia-nyiakan energi kita dalam memperdebatkan sesuatu yang berada di luar kedalaman diri kita. yaitu. baik yang muhkamat maupun mutasyabihat. dan penafsir al-Qur'an terkemuka Terhadap firman Allah berkenaan dengan ayat-ayat muhkamat dan mutasyabihat yang dikutip di atas tadi. dalam usahanya memahami keterangan-keterangan suci itu. pertama. Kita harus mencoba memahaminya sebaik mungkin. yang tidak diberikan secara terpisah. dan hal yang tak masuk akal itu tak ada dalam al-Qur'an. Allah dan Rasul-Nya tidaklah mencela orang yang merenungkan makna di balik ungkapan-ungkapan ayat-ayat mutasyabihat dalam al-Qur'an kecuali jika dilakukan dengan maksud menimbulkan perpecahan dan mencari-cari interpretasinya yang tidak masuk akal. Namun manusia. yang tidak ada asosiasinya dengan apa yang sudah ada dalam alam pikirannya. "Apakah mereka (manusia) tidak merenungkan al-Qur'an. sifat alegoris atau metaforis keterangan-keterangan dalam Kitab Suci itu tak dapat tidak harus digunakan sebagai metodologi penyampaian pesan. bersumber pada atau bersifat murni keagamaan. [12] Pandangan hampir serupa dianut juga oleh Abdullah Yusuf Ali. namun kebanyakan justru firman-firman yang metaforis.

The Venture of Islam. Lihat risalahnya. keyakinan. dianut Ibn Sina (Avicenna). Pandangan seperti ini.. Ibn Taymiyyah. (Lihat terjemahnya. Muhammad/47:24. S. 193. 7. Ibn Rusyd. 230-1 6. 378-9.. 217-8). al-Ibanah'an Ushul al-Diyanah (Idarat al-Thiba'at al-Muniriyyah. 8-9. misalnya. cit. Dan sementara kita melihat orang lain demikian. meskipun dari sudut pandangan lain. kalau-kalau mereka yang dipandang rendah itu lebih baik daripada mereka yang memandang rendah. Abu al-Hasan al-Asy'ari. 9. atau memberi orang lain apa yang disebut "hikmah keraguan" (benefit of doubt) dalam pergaulan sesama manusia.). --seperti dikatakan Abdullah Yusuf Ali yang telah dikutip-. sebab --seperti kata Muhammad Asad tadi-kita sebenarnya hendak menggapai sesuatu (Kebenaran Mutlak) yang tidak bakal tergapai. Dari sudut pandangan inilah absurd-nya pengakuan diri sendiri sebagai yang paling benar. 4 jilid. 'All 'Imran 3:7. 3. 1974). 11. Hodgson. Fashl al-Maqal wa Taqrir Ma bayn al-Hikmah wa al-Syari'ah min al-Ittishal. Minhaj al-Sunnah al-Nabawiyyah fi Naqdl Kalam al-Syi'ah wa al-Qadariyyah. 1. Lihat dalam buku kami. Khazanah. 2. h. . Marshall G. 'Wahai sekalian orang-orang yang beriman. (Chicago: The University of Chicago Press. 110. QS. misalnya. Tarikh al-Tasyri' al-lslami (Beirut: Dar al-Fikr. Maka yang benar ialah menerapkan sikap "ragu yang sehat" (healthy scepticism).orang-orang Muslim sendiri atau antara orang-orang Muslim dengan non-Muslim dalam sejarah. (dalam Khazanah). Khazanah. 249). pada waktu yang sama kita harus menyadari bahwa orang lain pun melihat kita demikian. Shad/38:29. pengakuan itu mungkin dibenarkan saja. khususnya sesama Muslim. QS. h. h. Itsbat al-Nubuwwat. jil. atau malah secara logis diperlukan. janganlah ada suatu kaum di antara kamu yang memandang rendah kaum yang lain. Namun. tt. Ma'arij al-Wushul fi Ma'rifat anna Ushul al-Din wa Furu'a-hu qad Bayyana-ha al-Rasul. Ini sejalan dengan yang dipesankan Tuhan sendiri dalam ajaran-Nya tentang prinsip persaudaraan di antara orang-orang beriman dan bagaimana memeliharanya. 5. Khazanah Intelektual Islam [Jakarta: Bulan Bintang. 1984]. hh.seorang yang bijaksana tak boleh bersikap dogmatis. 137-51.. op." [15] CATATAN 1. khususnya h. 1348 H). 4. Al-Syaykh Muhammad al-Hudlari Bek. Tuduhan Ibn Taymiyyah itu dinyatakan dalam risalahnya. dalam buku kami. h. 10. 1387 H 1967 M). Ibn Rusyd. 1 h. yang kami terjemahkan dalam buku kami. 3 jilid. (Riyadl: Maktabat al-Riyadl al-Haditsah. jil. khususnya. QS. hh. 8.

no one should be dogmatic. 1403 H]. but it refers to such a profound spiritual matters that human language is inadequate to it. -------------------------------------------Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah Editor: Budhy Munawar-Rachman Penerbit Yayasan Paramadina Jln. But perhaps the meaning is wider: the "mother of the Book" must include the very foundation on which all Law rests. and ordinance If we refer to xi-1 and xxxix-23. 8-9. but between the meanings attached to them. Al-Hujarat/49:11. UA 20-21 Jakarta Selatan Telp. Each verse is but a Sign or Symbol: what it presents is something immediately applicable. 14. allegorical. 7501983. The Commentators usually understand the verses "of established meaning" (muhkam) to refer to the categarical orders of the Syari'at (or the Law). which are plain to everyone's understanding. The Message of the Qur'an. as the final meaning is known to God alone. It is very fascinating to take up the latter. literally "the mother of the Book.12. --the "Forms of Ideas" in Plato's Philosophy. h. we shall find that in a sense the whole of the Qur'an has both "established meaning" and allegorical meaning. The Holy Qur'an. the essence of God's message. viz. 13. (1) the nucleus or foundation of the Book. We must try to understand it as best as we can but not waste our energies in disputing about matters beyond our dept (A. (021) 7507174 Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota Please direct any suggestion to Media Team Artikel Yayasan Paramadina Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan . QS. and exercise our ingenuity about its inner meaning. [Jeddah: Dar al-Qiblah. This passage gives us an important clue to the interpretation of the Qur'an. The wise man will understand that there is an "essence" and an illustrative clothing given to the essence. Metro Pondok Indah Pondok Indah Plaza I Kav. 1973). Muhammad Asad. 15. catatan 347). appendix 1. h. metaphorical. Ibn Taymiyyah. and though people of wisdom may get some light from it. but intermingled. Broadly speaking it may be divided into two portions. 123. throughout the Book. 991. not given separately. Yusuf Ali. Translation and Commentary. al-Iklil fi al-Mutasyabih wa al-Ta'wil (Kairo: Dar al-Mathba'at al-Salafiyyah. as distinguished from the various illustrative parables. h." and (2) the part which is figurative. The division is not between the verses. (021) 7501969. 7507173 Fax. and something eternal and independent of time and space. allegoric.

3. dan lain-lain. 2. Konsep ini muncul karena dalam kenyataan. dari lafal dan konteksnya masing-masing dapat diketahui dengan jelas sebab-sebab turunnya surat Abasa al-Tahim. "Kepunyaan Allah-lah timur dan barat.ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota I. maka kemanapun kamu menghadapkan . Atau seperti surat al-Masad (Tabbat). sejarah al-Qur'an maupun sejarah Islam.Relevansinya Bagi Pandangan Historisis Segi-Segi Tertentu Ajaran Keagamaan oleh Masdar F. dan kalau demikian dalam keadaan bagaimana itu dapat atau harus diterapkan.3. misalnya. Alasan mula pertama yang mendasari suatu kepentingan hukum. Beberapa di antaranya bahkan dapat langsung disimpulkan dari lafal teks firman bersangkutan. sebagaimana hal tersebut dapat dilihat dari konteks aslinya. adalah jelas turun dalam kaitannya dengan pengalaman Nabi yang menyangkut seorang tokoh kafir Quraisy. teori atau berita tentang adanya "sebab-sebab turun"-nya wahyu tertentu dari al-Qur'an kepada Nabi s. Juga jika di situ disebutkan nama pribadi orang seperti. Maksud asal sebuah ayat. Demikian juga. yang bernama atau dipanggil Abu Lahab. Situasi historis pada zaman Nabi dan perkembangan komunitas muslim. nama Abu Lahab. satu rangkaian ayat atau satu surat. immediate) dari sebuah firman. beserta istrinya. dan juga Zayd (ibn Haritsah). diketahui dengan cukup pasti adanya situasi atau konteks tertentu diwahyukan suatu firman. ayat tentang perubahan bentuk rembulan (al-ahillah) dalam surat al-Baqarah/2:189. Mas'udi (1/3) Asbab al-Nuzul adalah konsep.. Makna dan implikasi langsung dan segera terpahami (muhabir. lafal permulaan ayat pertama surat al-Anfal menunjukan dengan jelas bahwa firman itu diturunkan kepada Nabi untuk memberi petunjuk kepada beliau mengenai perkara yang ditanyakan orang tentang bagaimana membagi harta rampasan perang. MANFAAT PENGETAHUAN ASBAB AL-NUZUL Di antara hal-hal yang dapat dengan jelas menjadi petunjuk tentang sebab turunnya sebuah firman ialah jika dimulai dengan ungkapan dialogis. Ahmad von Denffer memberi rincian arti penting bagi pengetahuan tentang asbab al-nuzul. Pengetahuan tentang asbab al-Nuzul akan membantu seseorang memahami konteks diturunkannya sebuah ayat suci. sudah dikemukakan di atas. Sebagai sebuah contoh ialah firman Allah. Dengan mengutip berbagai sumber otoritas dalam bidang ini. dan memberi bahan melakukan penafsiran dan pemikiran tentang bagaimana mengaplikasikan sebuah firman itu dalam situasi yang berbeda. paman nabi sendiri. seperti diungkapkan para ahli biografi Nabi. sebagai berikut: 1.a. 4.w. Menentukan apakah makna sebuah ayat mengandung terapan yang bersifat khusus atau bersifat umum. Seperti. seperti "Mereka bertanya kepadamu (Nabi)". 5. "Katakan kepada Mereka". Konteks itu akan memberi penjelasan tentang implikasi sebuah firman. baik berupa satu ayat. khususnya mengenai ayat-ayat hukum. dan lain sebagainya. KONSEP ASBAB AL-NUZUL .

Nilai berita itu sendiri sama dengan nilai berita-berita lain yang menyangkut Nabi dan Kerasulan Beliau. sekalipun dalam keadaan normal diwajibkan. Sebagai misal ialah berita tentang sebab turunnya firman yang dikutip di atas. ia sebenarnya juga menghadap Tuhan. yaitu al-Masjid al-Haram di Makkah. dengan dampak kesamaan yang menakjubkan antara seluruh kaum muslim di muka bumi ini dalam hal peribadatan. tidaklah menjadi persoalan. (QS. [1] SUMBER BERITA ASBAB AL-NUZUL Sumber pengetahuan tentang asbab al-nuzul diperoleh dari penuturan para Sahabat Nabi. karena Tuhan tidak terikat oleh ruang dan waktu. sehingga implikasinya juga dapat menyangkut beberapa situasi yang berbeda. mengapa terdapat kesamaan yang demikian besar dan jauh diantara seluruh umat Islam di dunia dalam hal shalat dan peribadatan lain. Kemudian mereka bertanya kepada Nabi berkenaan dengan apa yang mereka alami itu. Sesungguhnya Allah adalah Maha Meliputi dan Maha Tahu". tidak ke kiblat. Maka turunlah ayat suci itu. mungkin tidak akan dapat mengerti. atau kalau karena kondisi tertentu tidak mungkin baginya menghadap ke arah yang benar. timur ataupun barat. tidaklah berarti dalam sembahyang seorang muslim dapat menghadap kemanapun ia suka. serta otentik dan palsunya. penuturan atau berita tentang suatu sebab turunnya wahyu tertentu juga dapat beraneka ragam. perbedaan sangat . al-Wahidi al-Nisaburi menerangkan tentang adanya beberapa versi lain tentang sebab turunnya firman terrsebut. melainkan sunnah. apalagi jika sembahyang itu bukan sembahyang wajib. sejalan dengan keaneka ragaman sumber berita. Kita sendiri mengetahui betapa efektifnya simbolisasi kiblat ini. Firman ini turun kepada Nabi berkaitan dengan adanya peristiwa yang dialami sekelompok orang beriman yang mengadakan perjalanan di malam hari yang gelap gulita. di sanalah Wajah Allah. berdasarkan penuturan Abd 'l-Lah ibn 'Umar. Tetapi ia dibenarkan menghadap mana saja dalam shalat jika ia tidak tahu arah yang benar. Pertama.wajahmu. Ia harus menghadap ke kiblat yang sah. sehingga Tuhanpun "ada dimana-mana. yaitu arah al-Masjid al-Haram di Makkah. Dan seperti halnya persoalan hadits pada umumnya. Kiblat itu hanya sebagai lambang orientasi hidup yang benar dan konsisten serta kesatuan orientasi itu antara seluruh umat Islam sedunia. al-Baqarah/2:115). Kalangan bukan Islam biasanya merasa heran. (Dalam agama lain. Sebab yang penting ialah nilai shalat itu sendiri sebagai tindakan mendekatkan diri kepada Allah dan mengasah jiwa untuk lebih bertaqwa kepada-Nya. seseorang boleh melakukan shalat sunnah kemanapun di atas kendaraannya. tidaklah menyangkut sebenarnya nilai shalat itu." Tetapi karena konteks turunnya firman itu bersangkutan dengan peristiwa tertentu diatas. Menghadap kiblat yang telah ditentukan. Karena itu bersangkut pula persoalan kuat dan lemahnya berita itu. Semua ini menjadi wewenang cabang ilmu kritik hadits (ilmu tajrih dan ta'dil) para ahli. shahih dan dha'if. Pagi harinya mereka baru menyadari bahwa semalam mereka bersembahyang dengan menghadap ke arah yang salah. yaitu berita-berita Hadist. Maka tidak perlu lagi ditegaskan bahwa informasi-informasi yang ada harus dipilih dengan sikap kritis. Tapi firman itu juga menegaskan bahwa sembahyang menghadap kemanapun dalam keadaan darurat. yang menegaskan bahwa kemanapun seseorang menghadapkan wajahnya. Berdasarkan penuturan Jabil ibn 'Abd-Allah.

ayat suci di atas itu turun berkenaan dengan adanya pertanyaan kepada Nabi. tanpa terlalu banyak mempersoalkan perbedaan antara mereka." (QS. tidaklah dibenarkan adanya tekanan yang serba mutlak atas kewajiban menghadapkan wajah ke Makkah. menegaskan bahwa masalah kemanapun orang menghadap dalam sembahyang bukanlah perkara penting. setiap kelompok manusia mempunyai arah (wijhah) ke mana mereka menghadap atau berorientasi. Dari balik pertanyaan sementara Sahabat di atas itu dapat diketahui dengan jelas bahwa sekalipun Najasyi adalah seorang Kristen. kaum Muslim. terjemahnya. Dan Nabi dalam memerintahkan sahabat beliau untuk melakukan shalat jenazah bagi Najasyah menggambarkan raja Habasyah itu sebagai "saudara" kaum beriman. mengingat jasa-jasanya yang besar itu. Seterusnya. sebab tekanan serupa itu akan membawa kepada sikap lebih mementingkan lambang atau simbol daripada isi atau makna. Dan firman Allah yang terkait itu. atas Versi ketiga tentang sebab turunnya firman itu menyangkut kaum Yahudi Madinah. yang menegaskan bahwa sedekat-dekat umat manusia dalam rasa cintanya kepada kaum muslim ialah "mereka yang berkata. firman Allah itu. berdasarkan penuturan 'Abd 'l-Lah ibn 'Abbas. juga dari bangsa atau negeri ke bangsa atau negeri lain meskipun dari satu sekte).terasa dari sekte ke sekte lain. Allah akan mengumpulkan kamu semua. ketika Nabi dengan izin Allah mengubah kiblat sembahyang dari arah Yerusalem menjadi ke arah Makkah. namun berdasarkan firman Allah yang menegaskan bahwa kemanapun kita menghadapkan wajah kita maka di sanalah wajah Allah. "Kami adalah orang-orang Nasrani" (Q. Sebab. Lengkapnya. pandangan lain. Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu. Perlakuan yang amat simpatik kepada kaum muslim dan sikapnya yang penuh pengertian kepada ajaran Islam yang menyebabkan turunnya firman Allah yang lain. Di (kelompok) manapun kamu berada. Dan umat manusia dalam orientasi yang berbeda-beda itu hendaknya berlomba menuju kepada berbagai kebaikan. seperti difirmankan di tempat lain. namun Nabi memerintahkan mereka berdoa baginya. al-Maidah/6:82). Ethiopia). Maka berlomba-lombalah kamu sekalian untuk berbagai kebaikan. al-Baqarah/2:148). Jadi firman Allah tentang "timur dan barat" tersebut di mempunyai kemungkinan implikasi dan aplikasi yang luas. kaum muslim dan agama Islam. kurang lebih adalah demikian: Dan bagi setiap (kelompok manusia) ada arah (wijhah) yang kepadanya kelompok itu menghadap. Walaupun kiblat sebagai lambang persatuan dan kesamaan itu demikian pentingnya. mengapa mereka diperintahkan untuk melakukan shalat jenazah bagi Raja Najasyi (Negus) dari Abessinia (Habasyah. . Yang penting ialah sikap batin yang ada dalam dada. kaum Yahudi bertanya-tanya.s. yang semasa hidupnya (sebagai seorang Kristen) bersembahyang menghadap kiblat yang berbeda dengan kiblat mereka sendiri. menurut versi penuturan ashab al-nuzul ini. karena perlindungan yang diberikannya kepada para pengikut Nabi yang berhijrah ke negeri itu untuk menghindar dari penyiksaan kaum musyrik Makkah. Meskipun lambang dan makna harus ada secara serentak. Menurut penuturan ibn Abi Thalhah. Najasyi adalah raja Habasyah yang besar sekali jasanya kepada Nabi. namun dari ayat suci itu jelas sekali bahwa segi makna adalah lebih penting daripada segi lambang.

juga jika orang menegakkan sembahyang dan mengeluarkan zakat. para Malaikat. Tetapi mereka berselisih tentang batas terjauh dibenarkannya perubahan itu. penghentian makna kehukuman (legal significance) praktek pengambilan anak angkat (tanpa memelihara atau mempertahankan adanya informasi tentang.mengapa ada perubahan yang mengesankan sikap tidak teguh dalam beragama serupa itu?! Maka firman Allah tersebut dimaksudkan untuk menampik ejekan kaum Yahudi dan menegaskan bahwa perkara arah menghadap dalam sembahyang bukanlah sedemikian prinsipilnya sehingga harus dikaitkan dengan permasalahan nilai keagamaan yang lebih mendalam seperti keteguhan atau konsistensi (istiqamah) sebagai ukuran kesejatian dan kepalsuan. Kaidah mereka mengatakan. serta dalam masa-masa sulit. para peminta-minta. seperti barat dan timur. adalah milik Allah semata. guna membebaskan budak. serta mereka yang menepati janji jika mereka berjanji. Nabi dan masyarakat Islam di zaman beliau. Suatu peristiwa pribadi. dan berbuat kepada sesama manusia dan makhluk untuk dibawa ke Hadirat Tuhan di Akhirat nanti. Hari Kemudian. dan tabah dalam menghadapi penderitaan dan kesusahan. percaya kepada adanya pertanggungjawaban pribadi mutlak di Hari Kemudian (Akhirat). berupa perceraian Zayd ("ibn Muhamad") dari istrinya. Sebab akhirnya semua penjuru angin. Tetapi kebaikan ialah jika orang beriman kepada Allah. firman berkenaan dengan masalah kiblat ini. untuk kaum kerabat. Telah dikemukakan bahwa adanya nama pribadi Zayd yang tersebutkan dalam al-Qur'an. al-Baqarah/2:177). Para ulama telah menuangkan masalah asbab al-nuzul ini dalam berbagai karya ilmiah yang kini menjadi rujukan para ahli. Kitab Suci dan para Nabi. Para ahli fiqih sepakat bahwa dalam hukum berubah menurut peruhahan zaman dan tempat. orang-orang miskin. Zaynab. Asbab al-Nuzul menunjukkan banyaknya kasus suatu nilai ajaran atau hukum diwahyukan kepada Nabi dalam kaitannya dengan peristiwa nyata tertentu yang menyangkut. melainkan karena hal-hal yang lebih sejati seperti iman kepada Allah yang selalu hadir (omnipresent) dalam hidup manusia sehari-hari. siapa ayah-ibu biologis anak tersebut). IMPLIKASI ASBAB AL-NUZUL Salah satu masalah yang banyak dibahas oleh para ahli agama. telah menjadi titik tolak ditetapkannya suatu hukum Tuhan tentang pembatalan atau. dan mereka itulah orang-orang yang bertaqwa. betapapun cintanya kepada harta itu. khususnya segi-segi tertentu ajaran agama di bidang hukum. dan jika orang mendermakan hartanya. (QS. terjemahnya adalah demikian: Bukanlah kebaikan itu bahwa kamu menghadapkan wajahmu ke arah timur atau barat. tanpa kelebihan nilai salah satu atas yang lain. Mereka itulah orang-orang yang benar (sejati dalam kebaikan). Lengkapnya. "Taghayyur al-ahkam bi thagayyur al-zaman wa al-makan" (Perubahan hukum oleh perubahan zaman dan tempat). yatim piatu. orang terlantar di perjalanan. ialah sejauh mana nilai atau ketetapan hukum dalam Islam ditentukan oleh keadaan ruang dan waktu. [2] Berkenaan dengan masalah itu bahkan turun firman yang menegaskan bahwa kebaikan tidaklah diperoleh hanya menghadapkan muka ke arah timur ataupun barat. Pembatalan ini dipertegas .

(021) 7501969. sesuai dengan sunnah (hukum) Allah pada mereka yang telah lewat sebelumnya. Mereka (yang telah lalu sebelumnya) itu adalah orang-orang yang menyampaikan risalat (pesan-pesan suci) Allah. Cukuplah Allah sebagai penghitung. jika mereka (anak-anak angkat) itu telah putus menceraikan istri-istri mereka. 7507173 Fax. agar tidak lagi ada halangan bagi kaum beriman untuk (kawin dengan bekas) istri anak-anak angkat mereka. Dapat dilihat bahwa dalam peristiwa Zaid dan Zainab dan yang "ditangani" langsung oleh kitab suci itu terdapat kaitan antara suatu nilai hukum kulli (universal). Dan perintah Allah adalah sesuatu yang sangat pasti. Allah Maha Tahu akan segala sesuatu. Zayd. (021) 7507174 Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota Please direct any suggestion to Media Team Artikel Yayasan Paramadina Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota I. (Q. yaitu perceraian Zaid dari Zainab dan perkawinan ." Firman Allah yang menyangkut tentang Zaid dan Zainab itu demikian: Dan ingatlah tatkala engkau (Nabi) berkata kepada dia (Zaid) yang Allah telah karuniakan kebahagiaan dan engkaupun telah pula memberinya kebahagiaan. KONSEP ASBAB AL-NUZUL . Metro Pondok Indah Pondok Indah Plaza I Kav. Dan perintah Allah haruslah terlaksana.s. al-Ahzab/33:37-40). Tidak sepatutnya bagi Nabi ada perasaan enggan mengenai apa yang diwajibkan Allah kepadanya. maka setelah putus Zaid untuk bercerai dari dia (Zainab).dengan contoh nyata. 7501983. Mas'udi (2/3) Jadi firman itu memang turun kepada Nabi berkenaan dengan suatu peristiwa konkret yang menyangkut sepasang suami-istri. dan tidak takut kepada seorangpun selain Allah.3. yaitu pembatalan makna legal praktek mengangkat anak. Muhamad bukanlah ayah seseorang (tanpa keterkaitan keorangtuaan biologis) di antara kamu. -------------------------------------------. bekas anak angkatnya. yaitu "ibn Haritsah. UA 20-21 Jakarta Selatan Telp. yaitu dinikahkannya Nabi oleh Allah dengan Zainab. setelah bercerai dari. melainkan dia adalah rasul Allah dan Penutup para Nabi. dengan sebuah kasus jaz'i (partikular). "Pertahankanlah istrimu (Zainab) dan bertaqwalah kepada Allah.(bersambung 2/3) Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah Editor: Budhy Munawar-Rachman Penerbit Yayasan Paramadina Jln. mereka takut kepada-Nya. Kemudian Zayd-pun tidak lagi menyandang nama "ibn Muhamad" tapi dikembalikan kepada nama aslinya. "namun engkau sendiri (Nabi) merahasiakan apa yang ada dalam dirimu yang Allah akan memperlihatkannya. dan engkau (Nabi) takut kepada sesama manusia padahal Allah lebih patut engkau takuti.Relevansinya Bagi Pandangan Historisis Segi-Segi Tertentu Ajaran Keagamaan oleh Masdar F.

Barangsiapa menolak untuk beriman. Dan (halal. Pada hari ini dihalalkan pada kamu perkara yang baik-baik. bekas "menantu"-nya. juga wanita merdeka dari kalangan mereka yang mendapat Kitab Suci sebelum kamu. dan kamu nikahi mereka (secara sah). serta bertaqwalah kepada Allah. "Dihalalkannya bagi kamu apa saja yang baik. dan makanan kamu halal bagi mereka. "Pengambilan makna dilakukan berdasarkan generalitas lafal. atau bahkan mungkin ta'wil (interprestasi metaforis) yang tidak jarang menimbulkan kontroversi. Lalu. dan sebutlah nama Adlah atasnya. yang pada lahirnya seperti meninggalkan atau menyimpang dari ketentuan Kitab Contoh klasik dari persoalan tersebut ialah tindakan Umar ibn al-Khaththab pada waktu menjabat sebagai khalifah. dengan kaidah mereka. Tapi Umar seperti dalam beberapa kasus lain. tersangkut pula masalah tafsir. ketika Hudzaifah meminta pendapat. yakni dibenarkan kawin. Penyebutan tentang dibolehkannya lelaki Muslim kawin dengan wanita Kristen atau Yahudi dalam al-Qur'an ada dalam rangkaian dengan penyebutan tentang dihalalkannya makanan kaum Ahl al-Kitab itu bagi kaum beriman. Para ahli hukum Islam telah membuat patokan untuk masalah ini. Sebab dalam melakukannya selalu ada kemungkinan dicapai suatu pandangan. karena itu makanlah apa yang ditangkap oleh binatang berburu itu untuk kamu. bagi kamu) para wanita merdeka dari kalangan wanita beriman. al-Maidah/5:4-5). Masalah selanjutnya yang lebih esensial dari contoh di atas itu ialah. atau tindakan. la bi khushush al-sabab). yang isinya menceritakan bahwa ia telah kawin dengan seorang wanita Yahudi di kota al-Mada'in. Jawablah. padahal al-Qur'an jelas membolehkannya. Maka . dan ia di akhirat akan tergolong orang-orang yang merugi. Suatu ketika Umar menerima surat dari Hudzaifah ibn al-Yamman. Ini dengan sendirinya menyangkut masalah kemampuan pemahaman yang mendalam sedalam-dalamnya dan seluas-luasnya. tidak berdasarkan partikularitas penyebab" (Al-Ibrah bi umum al-lafdh. juga (dihalalkan bagi kamu binatang yang ditangkap) oleh binatang-binatang berburu yang kamu latih dengan kamu biasakan menangkap binatang buruan dan kamu ajari binatang-binatang itu dengan sesuatu (ketrampilan) yang diajarkan Allah kepada kamu.Nabi dengan Zainab. Sesungguhnya Allah Maha Cepat dalam perhitungan. tanpa kamu menjadikan mereka objek seksual semata (zina)." (QS. Dengan begitu nilai tersebut tidak lagi terikat oleh kekhususan peristiwa asal mulanya dan dapat diberlakukan pada kasus-kasus lain di semua tempat dan sepanjang masa (dan inilah makna universalitas suatu nilai). tidak berpegang kepada makna lahiriah bunyi lafal firman itu. jika kamu beri mereka mahar-mahar mereka. pada urutannya. Komandan kaum beriman (Amir al-Mu'minin) itu tidak membenarkan seorang tokoh Sahabat Nabi kawin dengan wanita Ahl al-Kitab (Yahudi atau Kristen). sebagimana makanan kaum beriman halal bagi mereka: Mereka bertanya kepada engkau (Nabi) tentang apa yang dihalalkannya untuk mereka. bagaimana suatu nilai dari sebuah kasus dapat ditarik dari dataran generasitas yang setinggi-tingginya. maka sungguh sia-sialah amal perbuatannya. Tetapi sebuah generalisasi hanya dapat dilakukan jika inti pesan suatu firman dapat ditangkap. dan tanpa kamu memperlakukan mereka sebagai gundik. Makanan mereka yang mendapat Kitab Suci (Ahl al-Kitab) adalah halal bagi kamu.

Dr. konsep tentang Ahl al-Kitab diperluas meliputi kaum Majusi dan Hindu-Buddha. Disebabkan oleh meluasnya daerah kekuasaan politik kekhalifahan Islam. dan itulah juga pendapat Abu Hanifah. Konfusianis. MASALAH KEPENTINGAN UMUM (AL-MASHLAHAT AL-AMMAH) Maka berdasarkan tindakan Umar itu. dalam surat jawabannya memberi peringatan keras. Sebab waktu itu kaum muslim itu hanya terbatas kepada minoritas kecil para penguasa politik dan militer dan hampir terdiri hanya dari bangsa Arab saja. Apabila kelak. lalu mereka mengutamakan para wanita Ahl al-Dzimmah (Ahl al-Kitab yang dilindungi) karena kecantikan mereka. Karena itu banyak ahli fiqih yang berpandangan bahwa konsep Ahl al-Kitab tidak terbatas hanya kepada kaum Yahudi atau Kristen saja. seperti. Jadi ada timbangan sisi historis dan humanis dalam menetapkan suatu hukum. yang beristrikan wanita Kristen Arab. seperti dikatakan oleh Abd al-Hamid Hakim. namun kita tidak memandang perkara tersebut (lelaki muslim kawin dengan wanita Ahl al-Kitab) sebagai terlarang." Menurut julur penuturan lain. mengatakan. antara lain dengan mengatakan: "Kuharap engkau tidak akan melepaskan surat ini sampai dia (wanita Yahudi) itu engkau lepaskan Sebab aku khawatir kaum Muslim akan mengikuti jejakmu. dan banyaknya bangsa-bangsa bukan muslim yang menjadi rakyat kekhalifahan itu. juga menyalahi apa yang dilakukan sebagian para Sahabat Nabi. ada beberapa tokoh Sahabat Nabi yang beristrikan wanita Ahl al-Kitab. yaitu terlantarnya kaum muslimah sendiri jika kaum muslim lelaki diizinkan dengan bebas menikah dengan wanita Ahl al-Kitab. misalnya. mengatakan bahwa tindakan khalifah kedua itu menyalahi nas atau lafal Kitab Suci. Abd-al-Fattah Husaini al-Syaikh. para ahli hukum Islam masa lalu. Sebab.Umar. Meskipun ternyata larangan (sementara) Umar itu lambat laun ditinggalkan (dan bangsa Arab umumnya melakukan integrasi total dengan penduduk di mana mereka hidup sehingga lebur dengan bangsa setempat). setelah Persia dibebaskan (di zaman Umar sendiri) dan lembah Indus oleh Muhamad ibn Qasim (di zaman al-Walid ibn al-Malik)." Kemudian rektor universitas al-Azhar. "Kita ikuti pendapat Umar itu. [3] Maka apa yang dikuatirkan khalifah sungguh-sungguh dapat menjadi kenyataan. maka kesempatan nikah dengan wanita Kristen dan Yahudi juga menjadi terbuka lebar. khalifah ketiga. namun kebijakan khalifah kedua itu menjadi preseden dalam yurisprudensi Islam tentang kemungkinan dilakukannya kebijakan khusus sesuai dengan tuntutan ruang dan waktu. dan kepada kaum Hindu. Utsman bin Affan. misalnya. tetapi dapat diperluas juga kepada kaum Majusi atau Zoroastri (sudah sejak Umar). Umar menegaskan bahwa kaum lelaki muslim kawin dengan wanita Ahl alKitab tidaklah terlarang atau haram. Muhamad ibn al-Husain. Na'ilah al-Kalbiyah. asal-usul agama-agama Asia itupun adalah paham Ketuhanan Yang Maha Esa atau Tauhid. dan agama-agama itu mempunyai kitab suci. Kita hanya berpendapat hendaknya para wanita muslim diutamakan. seorang tokoh terkemuka pembaharuan Islam di Sumatra Barat. seperti. dan belum banyak kalangan dari bangsa lain yang memeluk Islam. Sebab. Taois. Shinthois dll. Ia hanya mengkawatirkan terlantarnya wanita muslimah. Buddha. Hal ini sudah cukup sebagai bencana bagi para wanita kaum muslim. dan Thalhah ibn Ubaid-Allah yang . selain Hudzaifah. sekalipun berada di negara Islam.

pengefektifan hukum talak tiga (talak batin yang dilarang rujuk) bagi orang yang menyatakan talak tiga kali kepada istrinya meskipun pernyataan itu diucapkan sekaligus dan tanpa tenggang waktu. Mesir dan Persia. Tetapi. sebagai misal. tanpa memandang masa lampau mereka. Dan Umar tidak hanya menerapkan kebijakan politik melarang sementara perkawinan dengan wanita Ahl al-Kitab. sejalan dengan kepentingan umum (al-mashlahat al-ammah) dan sesuai dengan tanggungjawab seorang penguasa dan pelaksana hukum bersangkutan. [4] Karena itu ada yang menyatakan bahwa tindakan khalifah kedua itu adalah sejenis tindakan politik (tasharuf siyasi). Sebaliknya Umar justru berpendapat akan tidak adil jika masa lalu . yang dalam hal ini adalah jauh lebih kaya daripada Hijaz di Jazirah Arabia. Khalifah dalam menetapkan kebijakan hukumnya menerapkan prinsip bahwa semua hukum agama mengandung alasan hukum (illah. yang dapat menjadi sumber krisis. pembagian tanah-tanah pertanian di Syria dan Irak kepada penduduk setempat (tidak kepada tentara Islam seperti sebagian besar Sahabat Nabi berpendapat demikian).beristrikan seorang wanita Yahudi dari Syam (Syiria). maka dengan sendirinya lenyap pula alasan melarangnya. pembagian tingkat penerimaan "ransum" (semacam gaji tetap) bagi tentara Islam berdasarkan seberapa jauh ia banyak atau kurang berjasa dalam sejarah Islam sejak zaman Nabi (padahal Abu Bakar. termasuk juga wanita tawanan (yang menurut hukum perang di seluruh dunia pada waktu itu tawanan perang. ratio legis) yang harus diperhatikan dalam pelaksanaannya. namun kedua-duanya bermaksud membela keadilan. membuat ibukota. [6] Dan meskipun. Tetapi faktor itu lenyap. Umar tidak melakukan larangan itu kecuali setelah melihat adanya hal yang kurang menguntungkan bagi masyarakat Islam.melainkan hanya sekedar menjalankan suatu patokan yang sudah tetap dikalangan para ahli. mengalami berbagai perubahan sosial yang besar. bahwa pemerintah boleh melarang sementara sesuatu yang sebenarnya halal jika ada faktor yang merugikan masyarakat. menerapkan prinsip penyamarataan antara semuanya). Semua tindakan tersebut tidaklah dilakukan khalifah menurut kehendak hatinya sendiri. adalah sepenuhnya berada dibawah kekuasaan dan menjadi "milik" perampasnya). Menurut Dr Abd-al-Fattah. Kekayaan yang melimpah ruah secara tiba-tiba akibat banyaknya harta rampasan perang. Umar berbeda dengan Abu Bakar dalam kebijakannya tentang penyamarataan atau pembedaan besarnya jumlah ransum tentara. Ia juga dicatat membuat deretan berbagai kebijaksanaan "kontroversial" seperti meniadakan hukum potong tangan bagi pencuri di masa sulit seperti paceklik. kata rektor al-Azhar lebih lanjut. larangan berkumpul untuk selamanya bagi wanita dengan lelaki yang tidak dikawininya pada saat menunggu (iddah). penghapusan perlakuan khusus pada para mu'allaf. Dan Umar tidaklah mengatakan sebagai haram --hal mana tentu akan berarti menentang hukum Allah-. Kekhalifahan Umar adalah masa permulaan pembebasan negeri-negeri sekitar Arabia. khususnya Syria. pendahulunya. yang timbul karena pertimbangan kemanfaatan (expediency) menurut tuntutan zaman dan tempat. Maka Umar dengan berbagai kebijakannya adalah seorang penguasa yang berusaha mengurangi sesedikit mungkin efek kritis perubahan sosial itu. Madinah. Abu Bakar berpendapat bahwa keadilan terwujud dengan penyamarataan antara semua tentara Islam. lelaki maupun lebih-lebih lagi perempuan.

Dan karena lebih penting daripada formalitas. Dan karena kemampuan tersebut dapat berbeda-beda antara berbagai pribadi. 7501983.masing-masing tentara itu diabaikan. UA 20-21 Jakarta Selatan Telp. 7507173 Fax. menurut Hodgson. MASALAH HISTORIS AJARAN KEAGAMAAN Itulah wujud contoh apa yang dikemukakan di atas. dengan perbedaan disana-sini dalam hal materi mana yang menghapus dan mana pula yang dihapus. Rasa keadilan mengatakan bahwa sebagian orang yang berbuat lebih banyak tentunya juga harus mendapatkan balas jasa dan penghargaan lebih banyak. menyangkut masalah adanya bagian tertentu dari al-Qur'an ataupun Hadits yang "dihapus" (mansukh) dan yang "menghapus" (nasikh). Konsep asbab al-Nuzul mempunyai kaitan yang erat dengan konsep lain yang juga amat penting. (021) 7501969. Adalah kesadaran historis ini. Kata Hodgson. [6] Ini membawa kita kembali pada polemik sekitar kiblat shalat yang telah dikemukakan di atas. sementara formalitas dalam keadaan tertentu boleh ditinggalkan. melainkan dimaksudkan maknanya. (021) 7507174 Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota Please direct any suggestion to Media Team . pendirian Abu Bakar dan Umar membuktikan bahwa yang dituju oleh hukum ialah makna atau pesan yang dikandungnya (al-ahkam turadu li ma ani-ha). yaitu nasikh-mansukh. tidaklah dimaksudkan pada dirinya sendiri. yang ikut berharap bahwa umat Islam akhirnya akan mampu menjawab tantangan zaman: -------------------------------------------. maka makna tidak boleh ditinggalkan. Metro Pondok Indah Pondok Indah Plaza I Kav. seperti yang pandangan teoretisnya dikembangkan oleh para ahli fiqih dengan kepeloporan Imam al-Syafi'i. Yang jelas ialah. berkenaan dengan sumber-sumber pengambilan ajaran agama. baik Kitab maupun Sunnah. Yang jelas ialah bahwa dalam kaitannya dengan konsep tentang asbab al-Nuzul. maka hasilnya pun dapat berbeda-beda pula. Yaitu bahwa kiblat. seperti dikatakan rektor al-Azhar. dalam arti wujud fisiknya yang menyangRut formalitas penghadapan wajah ke suatu arah tertentu.(bersambung 3/3) Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah Editor: Budhy Munawar-Rachman Penerbit Yayasan Paramadina Jln. konsep nasikh-mansukh juga mengandung kesadaran historis di kalangan ahli hukum Islam. yaitu bahwa masalah penarikan atau pengangkatan makna umum (generalisasi) suatu nilai hukum akan menyangkut masalah penafsiran dan kemampuan memahami lebih mendalam inti pesan yang dikandungnya. padahal sebagian dari mereka benar-benar jauh lebih berjasa daripada sebagian yang lain. namun sebagian besar ulama menganutnya. yang menjadi salah satu tumpuan harapan bahwa Islam akan mampu lebih baik dalam menjawab tantangan zaman di masa depan. [7] Meskipun teori "hapus-menghapuskan" ini tidak lepas dari kontroversi. Konsep itu.

Relevansinya Bagi Pandangan Historisis Segi-Segi Tertentu Ajaran Keagamaan oleh Masdar F. yaitu kitab Muhyi al-Din ibn al-Arabi. Maka begitu pula cara turunnya ajaran kepada Para Nabi adalah satu. namun tujuannya adalah satu. Ia (al-Syafi'i) melakukan hal ini memang tanpa ketepatan sejarah tertentu. Mas'udi (3/3) Tetapi barangkali modal potensial terbesar Islam yang paling hebat ialah kesadaran historisnya yang jelas. sementara maksud. kesediaan mengikuti dengan sungguh-sungguh bahwa tradisi agama terbentuk dalam waktu. Jadi jalan tauhid pun satu. dan tujuannya ialah hidayah ke arah kebenaran. dan selalu mempunyai dimensi historis. yang dapat terjadi lewat penelitian ilmiah atau pengalaman rohani baru. dalam syarah al-Syaikh Abd-al-Razzaq al-Qasyani. tetapi perbedaan kesiapan umat manusia mengakibatkan perbedaan agama dan aliran. Sebab perbaikan setiap umat adalah dengan menghilangkan keburukan . karena terdapat perbedaan kesiapan antara berbagai umat maka berbeda pula bentuk-bentuk jalan tauhid dan bagaimana jalan itu ditempuh. Sama juga dengan cara pengobatan yang berbeda-beda. yang sejak dari semula mempunyai tempat begitu besar dalam dialognya. namun mereka tidak pernah mengingkari prinsip bahwa ketepatan historis adalah fondasi semua pengetahuan keagamaan. lalu mengapa agama para Nabi itu berbeda-beda? Jawabnya ialah. sepanjang ajaran tentang pasrah kepada Allah (Islam) berdasarkan kepercayaan kepada Tuhan Yang Maha Esa (tawhid). [8] Sekarang bandingkan ungkapan Hodgson itu dengan yang dapat kita baca dalam sebuah kitab klasik. seperti jari-jari yang menghubungkan garis luar lingkaran dengan titik pusat lingkaran itu. [9] Dalam syarah Fushush al-Hikam diuraikan sebagai berikut: Jika cara turunnya ajaran ke dalam jiwa para Nabi itulah yang dimaksud dengan kesatuan cara yang diturunkannya semua ajaran (dari Tuhan). Al-Syafi'i membawa ke depan kecenderungan yang sudah ada secara laten dalam karya (Nabi) Muhamad sendiri ketika ia menekankan pemahaman al-Qur'an secara benar-benar konkret dalam interaksi historisnya dengan kehidupan Nabi Muhamad dan masyarakat beliau. tetapi itu bukanlah maksudnya yang semula dan meskipun oleh kaum muslim kemudian hari kajian yang jujur tentang kenyataan sejarah masa silam Islam ditukar dengan gambaran stereotipikal dan berang. Sebab. yakni kesehatan. membuat agama itu mampu menampung ilham baru apapun ke dalam realita dari warisan dan dari titik tolak mulanya yang kreatif. dan semua cara pengobatan itu sebagai cara menyingkirkan penyakit dan mengembalikan kesehatan adalah satu. Dalam kitab ini dijelaskan tentang adanya konteks sejarah bagi ajaran agama-agama sehingga menghasilkan manifestasi lahiriah yang berbeda-beda. Jari-jari tersebut merupakan jalan-jalan yang berbeda-beda menurut perbedaan garis yang menghubungkan antara titik pusat lingkaran itu dengan setiap titik yang ditentukan pada garis lingkar luarnya. Padahal inti semua agama yang benar. tujuan dan hakikat metode itu semuanya satu. KONSEP ASBAB AL-NUZUL . Fushush al-Hikam.3.Artikel Yayasan Paramadina Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota I.

meskipun bahasa itu berlainan. dan kesadaran kebahasaan akan dengan sendirinya menyangkut kesadaran historis. Tetapi masalahnya tetap sama. dan dengan sabda itu Allah menjelaskan apa yang dikendaki dari mahlukNya dan apa perintahNya. dan tidak hanya berkaitan dengan kasus spesifik . Allah telah memberi wahyu kepada Musa dalam bahasa Ibrani (Hebrew) serta kepada Muhamad dalam bahasa Arab. [10] Pendekatan historis ini tidaklah berarti relativisasi total ajaran agama dan sifat yang memandang sebagai tidak lebih daripada produk pengalaman sejarah belaka. agar kita waspada agar jangan sampai kita terkungkung oleh lingkaran kebahasaan semata dan terjerumus ke dalam sikap mental seolah-olah suatu nilai akan hilang kebenarannya jika tidak dinyatakan dalam bahasa tertentu atau ungkapan kebahasaan tertentu yang dianggap suci. maka dapat disebut "tidak historis". namun tujuan dan makna risalah mereka semua sama. juga tidak kepada suatu sebab khusus dari asbab al-Nuzul munculnya suatu ajaran atau hukum. karena kosmologi yang umum pada waktu itu. memang mengenal adanya konsep demikian. Maka banyak para ahli yang akhirnya sampai kepada persoalan bahasa: bagaimana kita mempersepsi suatu ungkapan linguistik untuk dapat melakukan generallisasi tinggi dari makna immediate-nya ke makna universalnya. Tentang hal ini. Dan karena yang universal ini tidak terikat oleh ruang dan waktu. dan semuanya itu adalah sabda (Kalam) Allah. Bahasa termasuk kategori historis. Maka meskipun bahasa para Nabi itu bermacam-macam. penting sekali memahami penegasan dalam Kitab Suci bahwa Allah tidak mengutus seorang Rasulpun kecuali dengan bahasa kaumnnya (QS. dan umat manusiapun kemudian mengetahui seperti Adam mengetahui. dan hidayah mereka bersumber dari berbagai sentra dan martabat yang berbeda-beda menurut tabiat dan kejiwaan mereka. Misalnya. tetapi juga kulturalnya. yaitu Adam. Berkaitan dengan ini. Dan yang pertama mengetahui hal itu ialah bapak mereka. Padahal bahasa Ibrani adalah paling dekat ke bahasa Arab. Ibrahim/14:4). Dan jika masalah kebahasaan menyangkut pula segi kultural ini. demikian: Jadi diketahui bahwa Tuhan mengajari jenis manusia agar mengungkapkan apa yang dikehendaki dan digambarkan dalam benaknya dengan bahasanya. melainkan menyangkut seluruh Kitab Suci itu seutuhnya. maka konsep asbab al-nuzul dapat diperluas sehingga tidak hanya menyangkut sebuah ayat tertentu saja misalnya. terdapat kemungkinan bahwa "tujuh lapis langit" adalah bahasa kultural (yang historis). khususnya sekitar Timur Tengah. meskipun bahasa mereka berbeda-beda. Justru dalam penegasan tentang kesatuan agama para Nabi terkandung makna yang tegas bahwa ada sesuatu yang benar-benar universal dalam setiap agama dan menjadi titik pertemuan antara semua agama. Hal yang sudah amat jelas ini perlu dipertegas. yaitu bagaimana menangkap pesan inti yang uraiversal itu. sedemikian dekatnya sehingga kedua bahasa itu lebih dekat daripada bahasa bukan Arab (Ajam) satu dari yang lain. yang tidak tergantung kepada konteks. [11] Namun masalah kebahasaan mungkin akan ternyata tidak terbatas hanya kepada segi linguistiknya semata. jika dalam al-Qur'an disebutkan bahwa Allah menciptakan tujuh lapis langit (QS.yang khusus ada padanya. al-Mulk/67:3). keterangan yang cukup baik diberikan oleh Ibn Taimiyah.

Termasuk masalah Nasikh-Mansukh atau "hapus menghapus" ini adalah keterangan Umar. ada kemungkinan suatu firman dihapus (terhapus?) dari segi lafalnya. hh. 2. 'Abd al-Hamid Hakim. 5.s. Menurut Umar. dari sudut pendekatan historis dan ilmiah kepada wahyu Tuhan. semasa Nabi. Nusantara 1955 M/1374 H). Terutama kegiatan arkeologis yang baru-baru ini secara spektakuler.dalam kehidupan Nabi dan masyarakat beliau pada saat itu. h.177. seperti "ayat rajam" di atas. lebih khusus lagi Jazirah Arabia sebagai "situs" langsung wahyu Allah kepada Nabi Muhamad. Ibid. firman ini dalam isi hukum atau makna legalnya telah menghapus firman Allah: "Orang yang berzina. tetapi maknanya sudah tidak berlaku. perempuan dan lelaki. Jika benar temuan itu maka kita akan lebih mampu memahami penuturan al-Qur'an (al-Fajr/87:6-8) tentang kaum 'Ad dan pesan suci di balik penuturan itu. firman itu berbunyi: Lelaki maupun perempuan kawin jika berzina. (Buku ini dapat diperoleh dalam terjemahan Indonesia. 1968.96-144 dan 170-176.. Asbab al-Nuzul. Ibid.. 177 dan 185. Kairo. Segi amat menarik dari masalah ini ialah adanya teori dalam nasikh-mansukh bahwa suatu firman mungkin saja masih tetap bertahan (tidak dihapus) dari segi bunyi lafalnya. hh. sebelum Islam. khususnya Timur Tengah. 4 jilid (Bukittinggi. Tarikh al-Tasyri' al-Islami. al-Nur/4:24). 6.1985). seperti "ayat cambuk" diatas: sebaliknya. 4. 4. h. Khalifah kedua bahwa ada firman bahwa hukuman orang yang sudah beristri atau bersuami kemudian berzina ialah dirajam sampai mati. dan (bagi kita sekarang) sesudah Islam. berhasil menemukan kota kuna Ubar (Iram) yang didirikan oleh Syaddad ibn Ad hampir empat ribu tahun yang lalu. sebagai kelanjutan dan pengembangan ide Imam al-Syafi'i. [12] CATATAN 1. Pembahasan panjang lebar diberikan Imam al-Syafi'i dalam kitabnya yang terkenal. Menurut para ulama. Ahmad Von Denffer. Dr 'Abd al-Fattah. cambuklah masing-masing seratus kali". Al-Wahidi al-Nisaburi.48. Risalah). Q. 161. h. Al-Risalah. ada "penghapusan lafal tapi makna hukumnya tetap" . tetapi meliputi seluruh kondisi kultural dunia. 1988. Dar al-Ittihad al-'Arabi. Kairo: Markaz al-Ahram. Kairo. Dalam bahasa fiqhnya. kita tidak hanya akan mendapat manfaat dari pengetahuan tentang asbab al-nuzul saja. maka rajamlah mereka sama sekali. hh. namun hukumnya masih berlaku.92-93. jil. Karena itu. Maka dari sudut ini sungguh besar harapan kita kepada kegiatan penelitian ilmiah di bidang kultural yang mulai tumbuh di Jazirah Arabia. 'Ulum al-Qur'an. Al-Mu'in al-Mubin.175. h.4. 1990. tetapi juga pengetahuan yang lebih menyeluruh tentang pola budaya Arabia dalam sejarahnya yang panjang. 7. berkat teknologi satelit. 3. bukan sekedar dicambuk seratus kali seperti yang ada dalam al-Qur'an sekarang ini. an Introduction to the Sciences of the Qur'an (London: The Islamic Foundation.

Kairo: Mushthafa al-Babi al-Halabi. h. The University of Chicago Press. 1992. dapat dilihat dari kesepakatan hampir seluruh para ulama bahwa orang yang sudah kawin dan berzina memang harus dihukum rajam sampai mati. The Venture of Islam. seperti dapat dilihat dalam praktek di Kerajaan Saudi Arabia. cit. Orang yang menyembah-Nya dan bersama Dia menyembah "tuhan" yang lain bukanlah seorang yang tunduk patuh (muslim). Hodgson. Ibn Taimiyah antara lain mengatakan: [kalimat dalam huruf Arab] (Hakikat perbedaannya adalah bahwa arti "islam" ialah "din" dan "din" adalah masdar dari kata kerja "dana-yadinu" (yang menunjuk makna) jika (seseorang) tunduk dan patuh. (1987). dengan menyembah (beribadat) kepada-Nya semata. tt. 11.[kalimat dalam huruf Arab] atau sebaliknya "penghapusan hukum tapi lafalnya tetap" [kalimat dalam huruf Arab] Bagaimana umat Islam memperoleh teori yang "aneh" ini. Marshall G. "Islam" ialah "istislam" kepada Allah. op. 12. yaitu tindakan kalbu dan anggota badan ") 10. al-Iman. jld. 437. -------------------------------------------Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah Editor: Budhy Munawar-Rachman Penerbit Yayasan Paramadina Jln. (021) 7501969. 9. Lihat [kalimat dengan huruf Arab] oleh [kalimat dengan huruf Arab]. (Chicago. Ibn Taimiyah. yaitu tunduk dan penghambaan diri kepada-Nya. 8. 8. Lihat penjelasan makna asal kata-kata Arab "islam" dalam kitab Ibn Taimiyah. Kairo: Dar al-Thiba'ah al-Muhammadiyah. Pangkalnya pada kalbu ialah sikap tunduk kepada Allah semata. tanpa orang lain. Dan orang yang tidak menyembah-Nya. "Jadi "islam" pada asalnya termasuk bab tindakan (bukan nama). 3 jilid.. h. 1974).S. h. 7507173 Fax. UA 20-21 Jakarta Selatan Telp. 3. Dalam pembahasannya. h. Para ahli bahasa mengatakan begini: "Seseorang melakukan islam (aslama) jika ia melakukan istislam (istaslama). 30. 82. 223-4. Lihat berita arkeologis penting ini dalam Time. bukanlah seorang muslim. hh. bahkan besar kepala untuk menyembah-Nya.. 17 Peb. Metro Pondok Indah Pondok Indah Plaza I Kav. (021) 7507174 Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota Please direct any suggestion to Media Team . 7501983. "Agama Islam" yang diridhai Allah dan dengan itu diutus-Nya pada Rasul ialah "istislam " (sikap tundukpatuh) kepada Allah semata.

Artikel Yayasan Paramadina
Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota I.4. NASIKH MANSUKH DALAM AL-QUR'AN (1/2) oleh KH Ali Yafie Dari awal hingga akhir, al-Qur'an merupakan kesatuan utuh. Tak ada pertentangan satu dengan lainnya. Masing-masing saling menjelaskan al-Qur'an yufassir-u ba'dhuhu ba'dha. [1] Dari segi kejelasan, ada empat tingkat pengertian. Pertama, cukup jelas bagi setiap orang. Kedua, cukup jelas bagi yang bisa berbahasa Arab. Ketiga, cukup jelas bagi ulama/para ahli, dan keempat, hanya Allah yang mengetahui maksudnya. [2] Dalam al-Qur'an dijelaskan tentang adanya induk pengertian hunna umm al-kitab [3] yang sudah mempunyai kekuatan hukum tetap. Ketentuan-ketentuan induk itulah yang senantiasa harus menjadi landasan pengertian dan pedoman pengembangan berbagai pengertian, sejalan dengan sistematisasi interpretasi dalam ilmu hukum -hubungan antara ketentuan undang-undang yang hendak ditafsirkan dengan ketentuan-ketentuan lainnya dari undang-undang tersebut maupun undang-undang lainnya yang sejenis, yang harus benar-benar diperhatikan supaya tidak ada kontradiksi antara satu ayat dengan ayat lainnya. Hal ini untuk menjamin kepastian hukum. Sementara, unsur-unsur bahasa, sistem dan teologi dari teori interpretasi hukum masih harus dilengkapi dengan satu unsur lain yang tidak kalah pentingnya. Itulah unsur sejarah yang melatarbelakangi terbentuknya suatu undang-undang, yang biasa dikenal "interpretasi historis." Dalam ilmu tafsir ada yang disebut asbab al-nuzul, yang mempunyai unsur historis cukup nyata. Dalam kaitan ini para mufassir memberi tempat yang cukup tinggi terhadap pengertian ayat al-Qur'an. Dalam konteks sejarah yang menyangkut interpretasi itulah kita membicarakan masalah nasikh-mansukh. Dalam hal ini masalah yang terpenting untuk kita soroti adalah masalah asas, pengertian/batasan, jenis-jenis, kedudukan, hirarki penggunaan, kawasan penggunaan dan hikmah kegunaannya. ASAS Andaikan al-Qur'an tidak diturunkan dari Allah, isinya pasti saling bertentangan. [4] Ungkapan ini sangat penting dalam rangka memahami dan menafsirkan ayat-ayat serta ketentuan-ketentuan yang ada dalam al-Qur'an. Kitab Suci yang terdiri dari 6000 ayat lebih dan terbagi dalam 114 kelompok surat, mengandung berbagai jenis pembicaraan dan persoalan. Didalamnya terkandung antara lain nasihat, sejarah, dasar-dasar ilmu pengetahuan, keimanan, ajaran budi luhur, perintah dan larangan. Masalah-masalah yang disebutkan terakhir ini, tampak jelas dengan adanya ciri-ciri hukum didalamnya. Semua jenis masalah ini terkait satu dengan lainnya dan saling menjelaskan. Dalam kaitan itu, Imam Suyuthi maupun Imam Syathibi banyak

mengulas prinsip tersebut. Mereka mencatat adanya pendapat yang memandang adanya tiap ayat atau kelompok ayat yang berdiri sendiri. Tapi semuanya berpendapat bahwa antara satu ayat dengan ayat lainnya dari al-Qur'an tidak ada kontradiksi (ta'arudl). Dari asas inilah lahir metode-metode penafsiran untuk meluruskan pengertian terhadap bagian-bagian yang sepintas lalu tampak saling bertentangan. Adanya gejala pertentangan (ta'arudl) yang demikian merupakan asas metode penafsiran dimana Nasikh-Mansukh merupakan salah satu bagiannya. [5] PENGERTIAN Nasikh-Mansukh berasal dari kata naskh. Dari segi etimologi, kata ini dipakai untuk beberapa pengertian: pembatalan, penghapusan, pemindahan dan pengubahan. Menurut Abu Hasyim, pengertian majazinya ialah pemindahan atau pengalihan. [6] Diantara pengertian etimologi itu ada yang dibakukan menjadi pengertian terminologis. Perbedaan terma yang ada antara ulama mutaqaddim dengan ulama mutaakhkhir terkait pada sudut pandangan masing-masing dari segi etimologis kata naskh itu. Ulama mutaqaddim memberi batasan naskh sebagai dalil syar'i yang ditetapkan kemudian, tidak hanya untuk ketentuan/hukum yang mencabut ketentuan/hukum yang sudah berlaku sebelumnya, atau mengubah ketentuan/hukum yang pertama yang dinyatakan berakhirnya masa pemberlakuannya, sejauh hukum tersebut tidak dinyatakan berlaku terus menerus, tapi juga mencakup pengertian pembatasan (qaid) bagi suatu pengertian bebas (muthlaq). Juga dapat mencakup pengertian pengkhususan (makhasshish) terhadap suatu pengertian umum ('am). Bahkan juga pengertian pengecualian (istitsna). Demikian pula pengertian syarat dan sifatnya. Sebaliknya ulama mutaakhkhir memperciut batasan-batasan pengertian tersebut untuk mempertajam perbedaan antara nasikh dan makhasshish atau muqayyid, dan lain sebagainya, sehingga pengertian naskh terbatas hanya untuk ketentuan hukum yang datang kemudian, untuk mencabut atau menyatakan berakhirnya masa pemberlakuan ketentuan hukum yang terdahulu, sehingga ketentuan yang diberlakukan ialah ketentuan yang ditetapkan terakhir dan menggantikan ketentuan yang mendahuluinya. Dengan demikian tergambarlah, di satu pihak naskh mengandung lebih dari satu pengertian, dan di lain pihak -dalam perkembangan selanjutnya- naskh membatasinya hanya pada satu pengertian. [7] JENIS-JENIS NASKH Masalah pertama yang ingin kami soroti dalam bagian ini ialah adanya naskh antara satu syari'at dengan syari'at lainnya. Ini terjadi sebagaimana dapat kita amati antara syari'at Nabi Isa as. dengan syari'at hukum agama Yahudi yang lebih dahulu ada. Dalam hubungan ini, dapat kita katakan bilamana kita mengikrarkan Islam sebagai syari'at, dengan sendirinya kita mengaku adanya naskh, karena syari'at-syari'at sebelumnya tidak akan kita anut lagi dan semua hukumnya pun tidak akan kita berlakukan, sepanjang tidak dikukuhkan kembali oleh syari'at Nabi Muhammad saw. Jadi, adanya nasikh-mansukh antar syari'at itu merupakan salah satu jenis naskh. Hal semacam ini jika ditinjau dari

segi pendekatan ilmu hukum, sangat jelas maksudnya, misalnya pengertian suatu pemerintahan/negara dengan pemerintahan/ negara lainnya. Contohnya, adanya pemerintahan/negara kolonial Hindia Belanda dengan pemerintahan/negara nasional Republik Indonesia. Dalam kaitan ini soal kedaulatan, hukum dasar dan hukum-hukum yang langsung berhubungan dengan kedaulatan, serta hukum-hukum lainnya semuanya dicabut dan tidak diberlakukan lagi sepanjang tidak dikukuhkan pemerintah/negara baru itu. Jika kita sudah melihat adanya nasikh-mansukh antar syari'at, apakah didalam satu syari'at terjadi juga nasikh-mansukh antara hukum yang satu dengan hukum yang lainnya? Jika kita kembali pada syari'at Islam sendiri, kita akan menemui beberapa kasus yang dapat memberikan jawaban atas masalah ini. 1. Sesudah hijrah ke Madinah, kaum Muslim masih berkiblat ke arah Bait al-Muqaddas. Sekitar enam bulan kemudian, Allah menetapkan ketentuan lain: keharusan berkiblat ke arah Bait al-Haram. [8] Ini berarti terjadi nasikh-mansukh dalam hukum kiblat. Kasus lain misalnya dalam hal shalat yang semula tidak diperintahkan lima waktu dengan 17 raka'at. Ini juga berarti telah terjadi nasikh-mansukh dalam hukum shalat. 2. Kasus-kasus yang digambarkan di atas, semuanya menyangkut bidang ibadat. Sedangkan di bidang mu'amalat, dapat pula kita catat beberapa kasus, misalnya hukum keluarga. Sebagai contoh, semula ditetapkan masa tenggang ('iddah) bagi seorang janda, lamanya 1 (satu) tahun. [9] Beberapa waktu kemudian ditetapkan ketentuan hukum lain bahwa masa tenggangnya 4 bulan 10 hari. [10] Di bidang lain ada pula perubahan-perubahan yang menyangkut ketentuan hukum pembelaan diri, tentang minuman keras dan sebagainya. Dari seluruh kasus-kasus tersebut dapat ditarik kesimpulan, memang terbukti adanya nasikh-mansukh yang sifatnya intern dalam syari'at Islam. Beberapa ketentuan hukum yang sudah berlaku, kemudian dicabut atau berakhir masa pemberlakuannya dan diganti dengan ketentuan hukum lain. Hal seperti ini, jika dilihat dari sudut pendekatan ilmu hukum adalah hal yang lumrah dan banyak terjadi. Bahwa suatu undang-undang atau peraturan hukum lainnya dicabut atau dinyatakan tidak berlaku lagi, kemudian diganti dengan menetapkan undang-undang atau peraturan lain. Persoalan lebih jauh dalam masalah nasikh-mansukh ini ialah soal nasikh-mansukh antara al-Qur'an dengan Sunnah. Adanya nasikh-mansukh antara satu ayat yang memuat ketentuan hukum dalam al-Qur'an dengan lain ayat yang juga memuat ketentuan hukum dalam soal yang sama, adalah satu hal yang tidak diperselisihkan lagi. Demikian pula adanya nasikh-mansukh antara satu hadits yang memuat ketentuan hukum dalam soal yang sama, merupakan satu hal yang tidak diperselisihkan lagi. Juga, adanya nasikh-mansukh antara satu hadits yang memuat ketentuan hukum dalam Sunnah dengan lain hadits yang juga memuat ketentuan hukum dalam soal yang sama, merupakan satu hal yang sudah tidak diperselisihkan lagi. Masalah yang menimbulkan perbedaan pendapat diantara para ulama ialah adanya nasikh-mansukh silang antara al-Qur'an dengan Hadits/Sunnah. Jika disimak alasan masing-masing pihak, mungkin dapat ditarik satu garis bahwa faktor utama terjadinya perbedaan pendapat ialah pandangan masing-masing

tentang kedudukan hirarki syari'at itu sendiri.

al-Qur'an

dan

Sunnah

dalam

(bersambung 2/2)

-------------------------------------------Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah Editor: Budhy Munawar-Rachman Penerbit Yayasan Paramadina Jln. Metro Pondok Indah Pondok Indah Plaza I Kav. UA 20-21 Jakarta Selatan Telp. (021) 7501969, 7501983, 7507173 Fax. (021) 7507174 Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota
Please direct any suggestion to Media Team

Artikel Yayasan Paramadina
Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota I.4. NASIKH MANSUKH DALAM AL-QUR'AN (2/2) oleh KH Ali Yafie Dalam kaitan hirarki al-Qur'an dan Sunnah, ada semacam kesepakatan bahwa dalam nasikh-mansukh kedua unsurnya harus sama tingkatnya dan sama nilai dan sifatnya. Lembaga tawatur dan ahad termasuk faktor yang dipertimbangkan. Jalan pikiran seperti ini terdapat juga di kalangan ahli hukum bahwa suatu peraturan hukum tidak dapat dicabut dengan peraturan hukum lainnya yang lebih rendah tingkatannya. Demikian pula lembaga yang mengeluarkan peraturan hukum menjadi faktor pertimbangan. Berdasarkan pemikiran ini, ada satu hal yang perlu kita catat bahwa setelah Rasulullah saw wafat maka tidak ada lagi nasikh-mansukh yang mungkin terjadi pada syari'at. Jenis nasikh-mansukh yang diuraikan diatas, menyangkut segi formalnya. Jenis lain yang menyangkut segi materialnya, ada yang bersifat eksklusif (sharih) dan inklusif (dlimni). Untuk yang bersifat sharih, nasikh itu langsung menjelaskan mansukhnya, misalnya hukum kiblat. Ketentuan yang nasikh (pengganti) ditetapkan secara jelas. [12] Ini contoh dari al-Qur'an. Sedangkan contoh lain dari Sunnah misalnya hukum ziarah kubur. Didalam hadits disebutkan, "Pernah aku melarang kalian melakukan ziarah kubur. Sekarang lakukanlah!". [12] Berbeda dengan hal tersebut diatas, nasikh yang bersifat dlimni tidak memuat penegasan didalamnya bahwa ketentuan yang mendahuluinya tercabut, tetapi isinya cukup jelas bertentangan dengan ketentuan yang mendahuluinya. Jenis seperti inilah yang banyak ditemukan dalam hukum syari'at. KEDUDUKAN NASKH Masalah naskh bukanlah sesuatu yang berdiri sendiri. Ia merupakan bagian yang berada dalam disiplin Ilmu Tafsir dan Ilmu Ushul Fiqh. Karena itu masalah naskh merupakan techniseterm dengan batasan pengertian yang baku. Dalam

kaitan ini Imam Subki menerangkan adanya perbedaan pendapat tentang kedudukan naskh: apakah ia berfungsi mencabut (raf) atau menjelaskan (bayan). [13] Ungkapan Imam Subki ini dapat dikaitkan dengan hal-hal yang menyangkut jenis-jenis naskh yang diuraikan di atas. Jika ditinjau dari segi formalnya maka fungsi pencabutan itu lebih nampak. Tapi bila ditinjau dari segi materinya, maka fungsi penjelasannya lebih menonjol. Meski demikian, pada akhirnya dapat dilihat adanya suatu fungsi pokok bahwa naskh merupakan salah satu interpretasi hukum. HIRARKI PENGGUNAAN NASKH Yang menjadi persoalan sekarang, apakah naskh menempati urutan pertama dalam interpretasi hukum-syari'at? Dalam upaya melakukan interpretasi suatu peraturan dalam syari'at, baik al-Qur'an maupun Hadits setiap ketentuan hukum itu harus jelas. Pengertiannya tidak boleh meragukan, supaya kepastian hukumnya terjamin. Semua segi yang dapat memperjelas kondisi sesungguhnya, maksud ketentuan hukum itu harus disoroti dan didalami. Misalnya, tentang segi bahasanya, proses terjadinya, hubungannya antara ketentuan hukum itu dengan ketentuan hukum yang lain. Dalam hal ini harus ada upaya mengawinkan kedua ketentuan hukum itu (jam') atau memperkuat salah satu diantaranya (tarjih). Baik upaya jam' maupun tarjih sudah mempunyai tata aturan yang sudah baku dalam disiplin ilmu Usul Fiqh. Jika tingkat interpretasi ini sudah ditempuh dan ternyata kontradiksi antara dua ketentuan hukum itu juga sudah teratasi, maka pada tingkat inilah dipersoalkan kemungkinan adanya nasikh-mansukh antara dua ketentuan hukum tersebut. Kuncinya terletak pada soal historis yang menyangkut kedua ketentuan hukum tersebut. Faktor asbab al-nuzul bagi ayat dan asbab al-wurud bagi Hadits, ada dalam tingkat ini. Maka setiap masalah nasikh-mansukh berada pada tingkat akhir dari suatu upaya interpretasi. [14] Kawasan Penggunaan Naskh Masalah yang tidak kurang pentingnya disoroti, sejauh mana jangkauan naskh itu? Apakah semua ketentuan hukum didalam syari'at ada kemungkinannya terjangkau naskh? Dalam hal ini Imam Subki menukil pendapat Imam Ghazali bahwa esensi taklif (beban tugas keagamaan) sebagai suatu kebulatan tidak mungkin terjangkau oleh naskh. Selanjutnya, Syekh Asshabuni mencuplik pendapat jumhur ulama bahwa naskh hanya menyangkut perintah dan larangan, tidak termasuk masalah berita, karena mustahil Allah berdusta. [16] Sejalan dengan ini Imam Thabari mempertegas, nasikh-mansukh yang terjadi antara ayat-ayat al-Qur'an yang mengubah halal menjadi haram, atau sebaliknya, itu semua hanya menyangkut perintah dan larangan, sedangkan dalam berita tidak terjadi nasikh-mansukh. Ungkapan ini cukup penting diperhatikan, karena soal naskh adalah semata-mata soal hukum, yang hanya menyangkut perintah dan larangan, dan merupakan dua unsur pokok hukum. Hal seperti yang diuraikan di atas, di bidang ilmu Hukum dapat kita lihat gambarnya pada Hukum Dasar, misalnya Undangundang Dasar Negara yang tidak dapat dijangkau pencabutan. Adanya pencabutan terhadap sesuatu peraturan

hukum dan penetapan peraturan lain untuk menggantikannya hanya berlaku pada undang-undang organik atau peraturan, kedudukan dan kawasan naskh. Dengan demikian, dengan mudah kita dapat mengenal beberapa persyaratan, yaitu: 1. Adanya ketentuan hukum yang dicabut (mansukh) dalam formulasinya tidak mengandung keterangan bahwa ketentuan itu berlaku untuk seterusnya atau selama-lamanya. 2. Ketentuan hukum tersebut bukan yang telah mencapai kesepakatan universal tentang kebaikan atau keburukannya, seperti kejujuran dan keadilan untuk pihak yang baik serta kebohongan dan ketidakadilan untuk yang buruk. 3. Ketentuan hukum yang mencabut (nasikh) ditetapkan kemudian, karena pada hakikatnya nasikh adalah untuk mengakhiri pemberlakuan ketentuan hukum yang sudah ada sebelumnya. 4. Gejala kontradiksi sudah tidak dapat diatasi lagi. HIKMAH ADANYA NASKH Adanya nasikh-mansukh tidak dapat dipisahkan dari sifat turunnya al-Qur'an itu sendiri dan tujuan yang ingin dicapainya. Turunnya Kitab Suci al-Qur'an tidak terjadi sekaligus, tapi berangsur-angsur dalam waktu 20 tahun lebih. Hal ini memang dipertanyakan orang ketika itu, lalu Qur'an sendiri menjawab, pentahapan itu untuk pemantapan, [17] khususnya di bidang hukum. Dalam hal ini Syekh al-Qasimi berkata, sesungguhnya al-Khalik Yang Maha Suci lagi Maha Tinggi mendidik bangsa Arab selama 23 tahun dalam proses tadarruj (bertahap) sehingga mencapai kesempurnaannya dengan perantaraan berbagai sarana sosial. Hukum-hukum itu mulanya bersifat kedaerahan, kemudian secara bertahap diganti Allah dengan yang lain, sehingga bersifat universal. Demikianlah Sunnah al-Khaliq diberlakukan terhadap perorangan dan bangsa-bangsa dengan sama. Jika engkau melayangkan pandanganmu ke alam yang hidup ini, engkau pasti akan mengetahui bahwa naskh (penghapusan) adalah undang-undang alami yang lazim, baik dalam bidang material maupun spiritual, seperti proses kejadian manusia dari unsur-unsur sperma dan telur kemudian menjadi janin, lalu berubah menjadi anak, kemudian tumbuh menjadi remaja, dewasa, kemudian orang tua dan seterusnya. Setiap proses peredaran (keadaan) itu merupakan bukti nyata, dalam alam ini selalu berjalan proses tersebut secara rutin. Dan kalau naskh yang terjadi pada alam raya ini tidak lagi diingkari terjadinya, mengapa kita mempersoalkan adanya penghapusan dan proses pengembangan serta tadarruj dari yang rendah ke yang lebih tinggi? Apakah seorang dengan penalarannya akan berpendapat bahwa yang bijaksana langsung membenahi bangsa Arab yang masih dalam proses permulaan itu, dengan beban-beban yang hanya patut bagi suatu bangsa yang telah mencapai kemajuan dan kesempurnaan dalam kebudayaan yang tinggi? Kalau pikiran seperti ini tidak akan diucapkan seorang yang berakal sehat, maka bagaimana mungkin hal semacam itu akan dilakukan Allah swt. Yang Maha Menentukan hukum, memberikan beban kepada suatu bangsa yang masih dalam proses pertumbuhannya dengan beban yang tidak akan bisa dilakukan melainkan oleh suatu bangsa yang telah menaiki jenjang kedewasaannya? Lalu, manakah yang lebih baik, apakah syari'at kita yang menurut sunnah Allah ditentukan hukum-hukumnya sendiri, kemudian di-nasakh-kan karena dipandang perlu atau disempurnakan hal-hal yang dipandang tidak mampu dilaksanakan manusia

dengan alasan kemanusiaan? Ataukah syari'at-syari'at agama lain yang diubah sendiri oleh para pemimpinnya sehingga sebagian hukum-hukumnya lenyap sama sekali? [18] Syari'at Allah adalah perwujudan dari rahmat-Nya. Dia-lah yang Maha Mengetahui kemaslahatan hidup hamba-Nya. Melalui sarana syari'at-Nya, Dia mendidik manusia hidup tertib dan adil untuk mencapai kehidupan yang aman, sejahtera dan bahagia di dunia dan di akhirat. CATATAN 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. 12. 13. 14. 15. 16. 17. 18. Jalaluddin al-Suyuthi, Al-Itqan Ibn Katsir, Tafsir-u 'l-Qur'an-i 'l-'Azhim QS. Ali 'Imran: 7 QS. Al-Nisa: 82 Imam Abu Zahrah, Ushul al-Fiqh Al-Thusi, Uddat al-Ushul 'Abbas Mutawalli Hamadah, Al-Sunnat al-Nabawiyyah QS. Al-Baqarah: 114 QS. Al-Baqarah: 240 QS. Al-Baqarah: 234 QS. Al-Baqarah: 142 Imam Muslim, Al-Jami' al-Shahih Imam Al-Subki, Jam' al-Jawami' Abdul Wahab Khallaf, Ilmu Ushul al-Fiqh Imam Al-Subki, Jam' al-Jawami Muhammad Ali Al-Shabuni, Rawai'al-Bayan QS. Al-Furqan: 32 Al-Qasimi, Mahasin al-Ta'wil.

-------------------------------------------Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah Editor: Budhy Munawar-Rachman Penerbit Yayasan Paramadina Jln. Metro Pondok Indah Pondok Indah Plaza I Kav. UA 20-21 Jakarta Selatan Telp. (021) 7501969, 7501983, 7507173 Fax. (021) 7507174 Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota
Please direct any suggestion to Media Team

Artikel Yayasan Paramadina
Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota IV.29. PANDANGAN KONTEMPORER TENTANG FIQH (1/4) Telaah Problematika hukum Islam di Zaman Modern Oleh Nurcholish Madjid Salah satu kesibukan para intelektual Muslim di seluruh dunia saat ini ialah memikirkan bagaimana menerjemahkan nilai-nilai Islam ke dalam perangkat nyata kehidupan modern. Seorang Muslim yang serius tentu menyadari, betapa ia dihadapkan pada tantangan hidup dalam suatu masyarakat modern, yaitu suatu masyarakat yang notabene merupakan kelanjutan logis, meskipun

melalui proses transmutasi yang amat besar, dari berbagai unsur tatanan dan nilai hidup yang telah pernah berkembang sebelumnya, khusus di dunia Islam. Ilmu pengetahuan modern, misalnya, dengan mudah dapat ditelusuri asal-usulnya sebagai kelanjutan dunia keilmuan Islam yang pernah berkembang dalam masanya jayanya yang "liberal," ketika kaum Muslim terlatih menghargai suatu temuan pikiran dan keilmuan baru, dan ketika wawasan mereka terbentuk karena semangat kosmopolitanisme dan universalisme sejati. Namun pada saat yang sama, karena tuntutan imannya, seorang Muslim "modern" harus tetap berada dalam pangkuan agamanya dan dijiwai nilai-nilai asasinya. Zaman modern, atau yang menurut Marshall Hodgson lebih tepat dinamakan "Zaman Teknik" (Technical Age) adalah jelas berbeda secara mendasar dari zaman agraris sebelumnya. Padahal agama Islam, sebagaimana halnya dengan agama-agama besar lain, dilahirkan dalam zaman agraris. Seperti baru saja disebutkan di atas, ini tidaklah berarti zaman modern terputus samasekali dari zaman sebelumnya Justru unsur kontinuitasnya dengan masa lalu sedemikian rupa tidak mungkin diingkari, karena dasar-dasar zaman modern ini pun diletakkan masa sebelumnya, yaitu di zaman agraris. Suatu teori kesejarahan dunia malah menyebutkan, zaman agraris sebenarnya telah mengalami perkembangan menuju ke arah kompleksitas yang tinggi pada masa Axial Age ("Masa Aksial" atau "Sumbu"), yaitu masa yang terbentang selama enam abad sejak abad kedelapan sampai abad kedua sebelum Nabi 'Isa al-Masih as. Pada saat itu terjadi perubahan asasi di mana-mana, akibat lepasnya monopoli pengetahuan tulis baca dari tangan kelas pendeta, menjadi tersebar di antara berbagai kelompok borjuis, dan karenanya watak serta kecepatan perkembangan tradisi tulis-baca itu juga berubah. Pada waktu yang sama, keseluruhan tatanan geografis bagi kegiatan bermakna kesejarahan manusia juga mengalami transformasi, sebab saat itu mulai menyebar, meliputi hampir seluruh belahan bumi. [1] Pada masa itu dengan nyata budaya manusia mulai berkembang keluar dari inti kawasan Nil-Amudarya (Mesir-Transoxiana) yang menjadi inti kawasan bumi yang berpenghuni dan berperadaban (Arab: al-Da'irat al-Ma'murah; Yunani: Oikoumene, "Daerah Berpenduduk"). Zaman Islam adalah zaman "Pasca-Sumbu" (Post-Axial), dan masa kejayaan Islam merupakan puncak perkembangan "Zaman Agraria Berkota" (Agrariante Citied Society), yaitu masyarakat agraris dengan ciri kehidupan perkotaan (urbanity) yang menonjol. Adalah dalam urbanity itu --suatu pola kehidupan sosial-ekonomi yang ditandai tingginya kegiatan ekonomi urban dan penghargaan kepadanya, khususnya perdagangan, dan etos intelektual-- terletak benang merah kontinuitas antara zaman modern dengan zaman Islam. Tapi sekali pun zaman Islam masih sepenuhnya berada dalam rangkaian zaman agraris (jadi masih mempunyai kesinambungan dengan zaman sebelumnya), perubahan yang dibawanya sedemikian radikal dan eksplosif, sebanding dengan radikal dan eksklusif pembebasan (futuhat) yang dilakukan kaum Muslim, pertama-tama atas kawasan Nil-Amudarya, kemudian segera meliputi daerah yang lebih luas, yang kurang lebih waktu itu merupakan daerah paling maju di muka bumi. Dengan flashback di atas, kiranya menjadi jelas, sesungguhnya peralihan dari masa lalu yang agraris-urban itu, ke zaman modern sekarang, ini tidaklah terlalu unik dalam pandangan sejarah umat manusia. Dan disebabkan faktor peranan sejarahnya sendiri sebagai puncak zaman agraris urban, maka Islam

sebagaimana setiap "kesan" atau "dugaan" (dhan) tidak selamanya mengandung kebenaran. ketika melakukan penjajahan atas bangsa-bangsa Muslim. Tapi sudah tentu faktor kontinuitas prinsipil bukanlah satu-satunya perkara yang membentuk dan menentukan sikap seseorang atau komunitas dalam menghadapi perubahan zaman. Adalah beberapa pengalaman historis permusuhan ini. dan betapa dalam Islam. Turki yang Muslim sampai sekarang masih menunjukkan ciri dunia ketiga yang non-industrial. Apalagi bangsa-bangsa Barat itu. sementara Jepang yang Buddhis justru memperlihatkan tanda-tanda Barat dalam beberapa segi industrialnya. sebagaimana sedikit banyak ditunjukkan dalam pembicaraan di atas tadi.memiliki potensi menjadi pewaris yang paling beruntung dari zaman modern ini. yang menyebabkan kebanyakan kaum Muslim mengalami kesulitan dalam menghadapi zaman modern. dengan sesuatu yang lain dengan sendirinya selalu menimbulkan kesan pertentangan: Tapi. situasi problematik itu dapat dikata tidak ada sama sekali. Justru tidak jarang esensi nilai baru dalam suatu masyarakat yang berubah itu memperoleh pengukuhannya dan penguatan efektifitasnya karena mendapatkan tempat dalam sistem nilai lama yang lebih luas. bahkan sebaliknya sikap positif terhadap ilmu pengatahuan adalah sui generis atau tiada taranya dalam pandangan hubungan organiknya yang sejati dengan sistem keimanan. Berbagai pengalaman historis yang lebih spesifik pada bangsa-bangsa Muslim dalam interaksinya dengan bangsa-bangsa Barat. Inilah yang dalam jargon ilmu sosial mutakhir disebut "modernitas tradisi". atau dapat diterangkan dalam kerangka nilai lama yang lebih luas itu. Kesulitan kaum Muslim ini di antaranya tercermin dalam bagaimana menangani masalah reinterpretasi hukum Islam untuk zaman modern. . khususnya pengalaman permusuhan (antara lain karena titik singgung keagamaan Islam-Kristen dan ketetanggaan geografis Timur Tengah-Eropa) justru nampak menjadi sumber problematik bangsa-bangsa Muslim menghadapi perubahan ke zaman modern. dan pelanjut serta pengembangnya di masa depan. Sejarah membuktikan betapa problematiknya hubungan dogma Kristen dengan unsur pokok modernitas. Betapa pun besarnya suatu perubahan. misalnya. praktis tidak ada hal serupa dalam Islam." sebagai kelanjutan semangat permusuhan antara orang Spanyol Kristen dengan orang Spanyol Muslim yang mereka sebut "orang Moro"). dan bukannya faktor kontinuitas kultural di atas. Maka. jelas-jelas membawa kenangan pengalaman historis masa lampau yang penuh permusuhan (antara lain dilambangkan dan dibuktikan dalam: bagaimana para penjajah Spanyol menamakan kaum Muslim Mindanao sebagai "orang-orang Moro. pengamatan lebih jauh atas berbagai peristiwa besar menyimpulkan tidak adanya kemestian pilihan hitam putih antara kontinuitas dan perubahan. MASALAH KONTINUITAS DAN PERUBAHAN Kontinuitas yang mengisyaratkan pertahanan unsur-unsur masa lalu dan perubahan yang mengandung makna penggantian unsur-unsur masa lalu itu. karena unsur-unsur asasi zaman modern itu tidak asing bagi pandangan hidup kaum Muslim. yaitu ilmu pengetahuan. tetap terdapat unsur-unsur persambungan tertentu dengan masa lalu. karena adanya asosiasi (yang tidak seluruhnya benar) antara modernisme dan westernisme. Jika kita ambil peristiwa Inkuisisi Kristen dalam menghadapi ilmu pengetahuan.

perluasan partisipasi dalam masyarakat suci yang meliputi semua anggotanya tanpa kecuali. Dalam zaman cita-cita melek huruf universal. betapapun ad hoc dan eclectic-nya sikap yang melatarbelakanginya) tapi dapat bertahan dengan nilai-nilai keislamannya. Islam mungkin akan ternyata merupakan penerima manfaat modernitas itu. bahkan sering dengan nada peneguhan dan apresiasi. potensi Islam yang hangkit kembali untuk skripturalisme egaliter dapat secara aktual menyatu dengan nasionalisme. Egalitarianisme modern terpenuhi. Yaitu dipandang dari sudut semangat Islam tentang universalisme. Karena itu meskipun tidak merupakan sumber modernitas.Garis argumen itu lebih-lebih tepat. Tradisi Besarnya dapat dipermodern (modernisable). misalnya.[3] Pendapat tentang tidak perlunya kaum Muslim menanggalkan .sangat membantu adaptasi Islam ke dunia modern. memiliki pandangan tentang Islam dan kemodernan yang mungkin membuat seorang Muslim menjadi lebih percaya diri. misalnya-NM). sehingga orang tidak lagi mudah mengatakan mana salah satu dari keduanya itu yang paling bermanfaat bagi yang lain.. dapat dilakukan dalam bahasa dan perangkat simbol yang satu dan sama. Jadi dalam Islam. egalitarianisme spiritual. lapisan sarjana yang terbuka (dalam Islam) dapat berkembang sehingga meliputi seluruh masyarakat. dan pelaksanaannya dapat disajikan. purifikasi/modernisasi di satu pihak. tapi sebaliknya sebagai kelanjutan dan penyempurnaan dialog lama dalam Islam. Yaitu bahwa mereka. resmi dan "murni" Islam bersemangat egaliter dan keilmiahan --sementara hirarki dan ekstase (seperti dalam banyak praktek kesufian rakyat-NM berkaitan dengan bentuk-bentuknya yang bersifat pinggiran senantiasa meluas namun akhirnya ditampik. yang pernah menjadi alas dangkal tradisi sentral sekarang menjadi kambing hitam yang dibuang. Jika hal ini dengan sendirinya menjadi keyakinan seorang Muslim. Maka sosiolog terkenal Ernest Gellner. Kenyataan bahwa varian sentral. dan penegahan apa yang dianggap suatu ciri lokal lama. Islam adalah agama yang paling dekat dengan modernitas dibanding agama Yahudi dan Kristen.. Ia katakan: Hanya Islam yang mampu bertahan sebagai keimanan yang serius. skripturalisme. dan hanya dalam Islam. dan dengan begitu maka cita-cita "protestan" agar semua yang beriman mempunyai akses yang sama (kepada kitab Suci-NM) akan terlaksana. para pengamat luar pun mengakui adanya hal yang sama. Sementara Protestantisme Eropa hanya menyiapkan lahan untuk nasionalisme melalui perluasan melek-huruf. yang dipersalahkan menyebabkan kemunduran dan dominasi unsur asing. maka tidak heran menurut Ernest Gellner. sementara secara imperatif mesti menerima kehidupan modern (sebagaimana telah menjadi kenyataan. dan samasekali tidak perlu meninggalkannya. jika dikenakan terhadap Islam dan kaum Muslim dalam menghadapi zaman modern. yang mengatasi baik tradisi kecil maupun Tradisi Besar. Versi kerakyatan lama (seperti praktek kesufian rakyat yang tidak sah atau mu'tabarah. dan sistematisasi rasional kehidupan sosial.[2] Karena observasi dan kesimpulannya itu. tidak sebagai inovasi ataupun konsesi kepala pihak luar.

sebagai penyebab kemunduran negeri-negeri itu. PANDANGAN KONTEMPORER TENTANG FIQH (2/4) Telaah Problematika hukum Islam di Zaman Modern Oleh Nurcholish Madjid MASALAH PESAN DASAR ISLAM Ketika mengatakan Islam tidak mempunyai sangkut paut dengan milieu ekonomi negeri-negeri Muslim sehingga tidak dapat dipandang. (021) 7501969. [5] -------------------------------------------(bersambung 2/4) Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah Editor: Budhy Munawar-Rachman Penerbit Yayasan Paramadina Jln. Dalam pembukaan sebuah bukunya. tanpa kehilangan sifatnya yang paling mendasar. Karena itu Islam tidak dapat dipandang sebagai bertanggung jawab atas kemunduran kaum Muslim. (021) 7507174 Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota Please direct any suggestion to Media Team Artikel Yayasan Paramadina Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota IV. juga seorang sosiolog (Perancis) kontemporer. kesimpulannya yang tegas bahwa kaum Muslim tidak meninggalkan hal-hal yang secara esensial bersifat namun perlu Islam . karena Islam sesungguhnya tidak ada kaitannya dengan lingkungan ekonomi negeri-negeri Muslim. yang oleh Leonard Binder diringkaskan. Rodinson mempertanyakan. yaitu yang membentuk ciri tertentu. apalagi dituduh.nilai-nilai dasar keislaman mereka untuk dapat masuk zaman modern itu juga dikemukakan Maxime Rodinson. Metro Pondok Indah Pondok Indah Plaza I Kav. maka jika kemajuan adalah suatu "Kapitalisme" (sebagaimana orang cenderung melihat buktinya melalui runtuhnya sistem sosialis atau komunis) maka Islam dapat saja bersatu dengan kapitalisme itu. Rodinson menunjuk kepada kenyataan betapa masyarakat-masyarakat Islam sepanjang sejarahnya menunjukkan gejala menganut pola ekonomi yang bermacam-macam dalam zaman yang berbeda atau tempat yang berbeda. kepribadian dan identitas kelompok orang bersangkutan?"4. "Sejauh mana orang (Muslim) harus pergi dalam proses mencapai kemakmuran yang menggiurkan dari negara-negara industri? Haruskah seseorang berjalan sedemikian jauhnya sehingga mengorbankan berbagai nilai yang secara khusus diyakini. Dalam perkataan lain. 7507173 Fax. Tesis Rodinson ini terbuka untuk dipersoalkan. 7501983. bahwa tidaklah perlu meninggalkan sesuatu apapun yang secara esensial bersifat Islam.29. Jawaban terhadap pertanyaan ini diberikan pada akhir bukunya. seseorang dapat berjalan sejauh yang ia perlukan untuk dapat mengejar Barat tanpa mengorbankan apapun yang esensial bagi Islam dan yang menjadi bagian integral dari identitas kaum Muslim. UA 20-21 Jakarta Selatan Telp.

namun dalam kenyataan kita masih menemui diri kita. Karena suatu "pesan dasar" mengacu pada suatu nilai yang amat tinggi. Meskipun problem di sini agaknya lebih banyak berurusan dengan soal kemampuan ekspresif. jika menyalahi perjanjiannya dengan Allah setelah perjanjian itu menjadi kesepakatan. Perjanjian primordial itu juga diungkapkan dalam bahasa metaforik yang sangat ilustratif. dengan Allah dan tidak membatalkan kesepakatan antara dia dan Allah itu. yang dinyatakan dalam kata-kata Arab sebagai abd. 'aqd dan mitsaq. merupakan indikasi kesulitan menangkap pesan dasar agama seperti sering dikuatirkan sementara Ahl al-Bawathin tentang orientasi keagamaan Ahl al-Dhawahir. kecenderungan banyak orang menilai kadar keimanan orang lain hanya dari segi hal-hal simbolik dan formal. namun wujud nyatanya sendiri sering masih merupakan problem.mendorong orang bertanya: Lalu apa wujud dari hal-hal yang secara esensial bersifat Islam itu? Jawabnya adalah. kami bersaksi!" (Demikian itu supaya kami tidak) berkata di hari Kiamat: "Sesungguhnya kami lupa akan hal itu. Dalam Kitab Suci al-Qur'an banyak diungkapkan tentang adanya perjanjian. keturunan mereka dan Dia minta kesaksian mereka atau diri mereka sendiri: "Bukankah Aku ini Tuhanmu?" Mereka mergawab: "Benar. tapi gagal mengungkapkannya).[l0] Sebaliknya orang itu kafir. munkar).[6]. manusia harus menempuh hidup bermoral.[9] Maka kaum beriman sejati ialah mereka yang memenuhi janjinya. yaitu dari tulang belakang mereka.[11] Muhammad Asad. namun kemudian Adam melupakannya dan tergoda setan. demi perkenan Tuhan (ridha Allah). sering tidak begitu jelas mengenai pesan dasar itu. persetujuan dan kesepakatan antara Tuhan dan manusia. agar Tuhan pun memenuhi perjanjian-Nya dengan manusia.[8] Karena itu manusia diharapkan memenuhi perjanjiannya dengan Tuhan. jika ia tidak mampu menangkap pesan dasar itu. karena itu ada risiko abstraksi yang tinggi pula. demikian: Dan ingatlah ketika Tuhanmu mengambil (menciptakan) dari anak cucu Adam. yang membuatnya diusir dari surga. Namun realita menunjukkan adanya kesulitan yang nyata. Artinya." [7] Perjanjian itu pula yang terjadi antara Tuhan dan Adam. Beragama bagi seseorang tentu tidak akan bermakna. dengan mengutip Zamakhsyari dalam tafsir . tidak bisa disangkal. bukan substantif (orang tahu atau merasa tahu substansinya. Tapi sementara frase "pesan dasar" Islam terdengar familiar bagi setiap yang pernah membahas masalah-masalah keislaman. hal-hal yang secara esensial bersifat Islam itu dengan sendirinya adalah "pesan dasar" (risalah asasiyyah) Islam itu sendiri. dengan berbuat hal-hal tidak bermoral (fahsya'. Sebuah firman suci menyebutkan adanya perjanjian primordial antara Tuhan dan manusia. bahwa manusia tidak akan menyembah setan dan harus hanya menyembah Allah semata. Tanpa berarti dukungan untuk salah satu dari Ahl al-Dhawahir dan Ahl al-Bawathin yang buah pikiran mereka sempat ikut mewarnai polemik-polemik dalam khazanah literatur Islam klasik. dan harus menjauh dari penyembahan kepada setan. maka dalam suatu masyarakat yang diliputi paham serba simbol (akibat pendidikan yang rata-rata rendah dan cara berpikir yang sederhana) "pesan dasar" itu sering terkacaukan dengan hal-hal simbolik dan formal yang mewadahinya.

Islam (Sikap Pasrah dan Damai kepada Allah)." [20] Pesan dasar itu. adalah suatu istilah umum yang mencakup kewajiban-kewajiban moral dan sosial yang timbul akibat iman itu." [l7] Dengan al-Qur'an itu. yang sesungguhnya tidak memerlukannya. yaitu. yaitu seorang yang karena bimbingan kesucian dirinya sendiri (fithrah) memelihara kecenderungan dan pemihakan yang murni kepada yang benar dan baik secara generik.[13]. menerangkan. sepanjang penjelasan al-Qur'an. agama yang benar ialah agama yang memiliki makna generik itu. bahwa Allah adalah Maha Hadir.dalam suatu cara yang ditetapkan Ailah untuknya. yang dalam bahasa Inggris secara konvensional diterjemahkan dengan God's covenant. Ibrahim adalah seorang Muslim (yang pasrah dan damai kepada Allah). Demikian pula bentuk-bentuk pelembagaan formal dan parokial lainnya. Juga ditegaskan. anak pertama Israil atau Ya'qub). dan telah Kami ambil dari mereka perjanjian yang berat. [16] Maka al-Qur'an pun disebutkan sebagai "petunjuk bagi orang-orang yang bertaqwa. Allah membimbing siapa saja yang mengikuti keridlaan-Nya ke berbagai jalan keselamatan. Kesadaran Ketuhanan (Rabbaniyyah) yang mendasari akhlaq mulia itulah inti pesan dasar agama lewat para Rasul." [16] Pemenuhan perjanjian manusia dengan Tuhannya itu melahirkan sikap hidup bertaqwa.[l4] dan pokok perjanjian Tuhan dengan semua Nabi: "Ingatlah ketika Kami (Tuhan) mengambil dari para Nabi perjanjian mereka. sebagaimana telah disinggung. misalnya. ditolak Kitab Suci. [12]. sedangkan yang kedua (Nasrani) konon berdasarkan nama tempat (Nazaret). sebab agama yang benar secara asli haruslah tidak bernama kecuali dengan nama yang menggambarkan semangat makna generik kebenaran itu sendiri.al-Kasysyaf. Karena itu al-Qur'an menegaskan. terhadap sesama manusia. perjanjian (Inggris: covenant) antara Allah dan manusia itu. yang antara lain akan membawa manusia kepada kesadaran akan dirinya berhadapan dengan Sang Maha Pencipta.[18] Dan Nabi saw pun bersabda bahwa "Tiada suatu apapun yang dalam timbangannya lebih berat daripada keluhuran budi. yaitu suku keturunan Yehuda. Asad juga memperjelas makna perjanjian dengan Allah (ahd Allah). dalam bahasa Arab." [l9] Dan bahwa "Yang paling banyak menyebabkan manusia masuk surga ialah taqwa kepada Allah dan budi pekerti luhur. asli dan sejati. sebagai merujuk pada kewajiban moral manusia untuk menggunakan karunia bawaan lahirnya --intelektual dan fisik-. Yang pertama (Yahudi) merupakan pelembagaan berdasarkan kebangsaan (atau malah kesukuan. juga dari engkau (Muhammad) dan dari Nuh. yaitu makna dasar dan universal sebelum suatu agama terlembagakan menjadi bentuk-bentuk formal dan parokial.[22] . sebab dalam pandangan Kitab Suci al-Qur'an keyahudian dan kenasranian adalah bentuk-bentuk pelembagaan formal dan bahkan parokial dari suatu agama generik. Musa dan Isa putera Maryam. yang titik tolaknya ialah sikap pasrah dan berdamai dengan Allah (dalam bahasa Arab disebut Islam). al-Qur'an menolak klaim kaum Yahudi atau Nasrani bahwa Nabi Ibrahim adalah seorang Yahudi atau Nasrani. Ibrahim adalah seorang hanif. Ibrahim. sebagai pesan Tuhan kepada semua Nabi dan Rasul --dan melalui mereka kepada seluruh ummat manusia membentuk makna "generik" agama. yaitu sikap hidup yang penuh pertimbangan moral.[21] Maka. Karena itu. yang selamanya menyertai dan mengawasi tingkah laku setiap orang. atas dasar keinsyafan mendalam.

dalam makna kosmologisnya. PRINSIP KEADILAN (SOSIAL) Pada pokoknya pesan dasar ini.[25] Keadilan yang dalam bahasa Kitab Suci dinyatakan dalam kata-kata 'adl. Maka keadilan adalah aturan kosmis (cosmic order). setelah lewat proses pengalihan nama itu dalam bahasa Yunani). dan Dia tetapkan (hukum) keseimbangan. Karena itu tindakan menegakkan keadilan ditegaskan sebagai nilai yang paling mendekati taqwa. yang meliputi perjanjian dengan Allah ('ahd. keadilan adalah hukum primer seluruh jagad raya. sikap pasrah kepada-Nya (islam) dan kesadaran akan kehadiran-Nya dalam hidup (taqwa. aqd. menegakkan keadilan dalam masyarakat adalah amanat Allah kepada manusia. Inilah yang antara lain dapat kita ambil pengertiannya dari firman Allah: Dan langit pun ditinggikan oleh-Nya. Tentu saja tidak terlalu salah. yang dalam firman ini dilambangkan sebagai penciptaan langit yang "ditinggikan" oleh-Nya. Sebagai hukum dasar dari Tuhan. dan demikian pula dengan semua Nabi. Bahkan neraca yang kita kenal dan tampak bekerja secara "sederhana" itu pun adalah . semuanya adalah tokoh-tokoh yang muslim dan mengajarkan islam [23]. rabbaniyyah). maka ditegaskan. bahkan meliputi seluruh alam raya ciptaan-Nya ini.[24] Dan sebagai wujud terpenting pemenuhan perjanjian dengan Allah dan pelaksanaan pesan dasar agama. dari sudut pandangan kosmologi al-Qur'an. (sekalipun tidak berarti para Nabi itu secara harfiah menggunakan perkataan Arab yang berbunyi m-u-s-l-i-m dan i-s-l-a-m. pesan dasar ini. Mereka adalah muslim dan mengajarkan islam dalam arti. mitsaq di atas). yaitu seluruh jagad raya ini berjalan mengikuti hukum keseimbangan. maka lebih tepat memandang perkataan mizan ini.[26] Beberapa tafsir dan terjemah konvensional menerangkan. Tapi dalam kaitannya dengan penciptaan Allah akan jagad raya. Ketika pesan dasar itu menuntut terjemahannya dalam tindakan sosial nyata.Demikianlah Nabi Ibrahim. yang pelanggaran terhadapnya dapat dilukiskan secara metaforik sebagai mengganggu atau "mengguncangkann tatanan jagad raya. di mana manusia hanyalah salah satu bagian saja. Hendaknya kamu tidak melanggar (hukum) keseimbangan itu. Dan tegakkanlah olehmu semua akan neraca dengan jujur. yaitu agar manusia tunduk patuh kepada-Nya melalui sikap pasrah dan berdamai. berlaku untuk semua ummat manusia. karena justru kebanyakan para Nabi bukanlah orang-orang Arab). wasth (semuanya memiliki makna dasar "tengah" atau "jujur") adalah wujud lain hukum keseimbangan (mizan) yang telah ditetapkan Allah untuk seluruh jagad raya. qisth. dan jangan kamu bertindak merugikan (hukum) keseimbangan. yang dimaksud dengan mizan dalam firman itu ialah neraca yang dikenal. maka tidak ada manifestasinya yang lebih penting daripada nilai keadilan. termasuk Musa dan Isa (Yesus. adalah universal. dan dengan jalan menempuh hidup bermoral. yang menyangkut masalah pengaturan tata hidup manusia dalam hubungan mereka satu sama lain dalam masyarakat. Sesungguhnya. semuanya bersikap pasrah dan berdamai dengan Allah dan membawa pesan dasar yang sama. dan tidak terbatasi oleh pelembagaan formal agama-agama.

dan tidak akan bertahan lama bersama kezaliman dan Islamn" [27] Dengan pernyataannya yang tidak biasa itu. PANDANGAN KONTEMPORER TENTANG FIQH (3/4) Telaah Problematika hukum Islam di Zaman Modern Oleh Nurcholish Madjid BEBERAPA CONTOH PEMIKIRAN KONTEMPORER FIQH Kita telah pergi sejauh yang diperlukan. Sedemikian rupa jauhnya pandangan Ibn Taymiyyah. meskipun suatu masyarakat adalah kafir namun menegakkan keadilan di dunia ini. atau Sunnatullah yang tidak tergantung kepada keinginan seseorang (obyektif) dan berlaku universal. yakni. khususnya dalam arti sosial. -------------------------------------------(bersambung 3/4) Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah Editor: Budhy Munawar-Rachman Penerbit Yayasan Paramadina Jln." dan "Dunia akan bertahan bersama keadilan dan kekafiran. untuk membahas masalah-masalah pokok yang mendasari pemikiran kontemporer tentang fiqh. sehingga ia menguatkan pandangan bahwa "Sesungguhnya Allah akan menegakkan negeri yang adil meskipun kafir. dan tidak akan menegakkan negeri yang zalim meskipun Islam. UA 20-21 Jakarta Selatan Telp. sehingga tidak akan berubah (immutable). misalnya. Sebaliknya. karena keseimbangan dalam sebuah neraca adalah kelanjutan dari hukum keseimbangan yang lebih luas (yang menguasai seluruh alam). suatu cosmic order yang menjadi hukum Tuhan. maka masyarakat itu akan tegak. Metro Pondok Indah Pondok Indah Plaza I Kav. melalui hukum gravitasi. Ibn Taymiyyah hanya bermaksud agar ummat Islam tidak taken for granted dalam hal keislaman. Keislaman yang formal saja tidak akan membawa keselamatan di dunia ini. sama dengan yang telah dijelaskan di atas. 7507173 Fax. di segala tempat dan masa. jika tidak disertai keadilan. keadilan adalah "tatanan segala sesuatu" (nidham-u kull-i syay) [28]. 7501983. Sebab. (021) 7501969. sedemikian tegas dan jauh berpegang pada prinsip keadilan itu sebagai ideatum tatanan sosial manusia yang akan menjamin kekokohan dan kelangsungannya. Berbagai pemikiran mutakhir tentang fiqh menegaskan perlunya kesadaran akan pesan dasar Islam sebelum . (021) 7507174 Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota Please direct any suggestion to Media Team Artikel Yayasan Paramadina Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota IV. dalam hal ini khususnya Ibn Taymiyyah. Dari sudut pandangan inilah kita memahami mengapa banyak para 'ulama'.29. didukung Allah.suatu gejala kosmis.

Allah menerangkan dalam Kitab-Nya berbagai hukuman kejahatan (had) seperti. ia bersama itu juga menetapkan langkah-langkah yang menjamin hilangnya dorongan-dorongan permusuhan golongan. "Kalau tujuan kita ialah kebaikan masyarakat. Tapi penetapan hukum Islam tidak pernah disebut kecuali mesti timbul dalam pikiran orang. Tapi kalau seandainya seluruh situasi yang berkaitan dengan lingkungan telah tersedia dengan sebaik-baiknya. Kami kutipkan dan terjemahkan sepenuhnya pendapat Fat'hi 'Utsman yang relevan. Dan cara apapun yang dapat merealisasikan tujuan ini harus dipandang sebagai wajar dari sudut pandangan sosial. Sedangkan yang sebenarnya ialah bahwa rahmat Allah untuk sekalian alam tidaklah menetapkan hukuman. maka tujuan hukuman haruslah proteksi. potong tangan untuk pencurian. hukum bunuh (qishash) untuk kejahatan pembunuhan. misalnya. Dari sini kita melihat. Wajar bahwa Islam menempuh jalan penetapan hukum-hukum setelah ditempuhnya jalan pengarahan pikiran melalui aqidah dan pendidikan tingkah laku melalui prinsip tabadul. dari tiga tokoh yang representatif. maka itulah cara yang ideal yang kita wajib menggunakannya. Di sini akan dikemukakan contoh pemikiran para intelektual Islam mutakhir. maka sesungguhnya ia juga menetapkan kemudahan jalan perkawinan dan melindungi bagian-bagian privat dari tubuh dengan menutup aurat dan menjaga penglihatan mata. Dan ketika menetapkan hukuman potong tangan pencuri. Islam ketika menetapkan pelaksanaan qishash dalam kejahatan pembunuhan. dari bukunya. Kesadaran itu dapat disebut sebagai karakteristik pemikiran fiqh dan hukum Islam di zaman modern. sama dengan yang dikatakan Francis Aveling dalam bukunya ilmu Jiwa Klasik dan Modern. dan Ahmad Zaki Yamani (yang pernah menjabat Menteri Perminyakan Saudi Arabia dan tokoh OPEC yang amat terkenal). al-Din li al-Waqi' (Agama untuk Realita): Keadilan Sosial sebelum hukuman. dan lain-lainnya. baik yang berasal dari lingkungan atau pun dari pribadi sendiri. gambaran yang mengerikan tentang tangan-tangan buntung dan jasad-jasad berserakan." Dalam praktek memang telah terjadi berbagai usaha ke arah ini melalui berbagai pengabdian sosial. Jadi jika kita dapat mencegah sebab-sebab dan situasi yang mendorong kejahatan. serta melarang khalwat (kencan seorang lelaki dan . maka tentulah yang tersisa bagi kita ialah memikirkan sebab-sebab individual yang mendorong orang untuk melakukan pelanggaran-pelanggaran. Fatthi 'Utsman menegaskan. Dan ketika Islam menetapkan hukum rajam atau cambuk atas pezina. suatu hukum. yaitu Fat'hi 'Utsman (pemimpin redaksi majalah Islam internasional Arabia yang terbit di London). kecuali sesudah ditempuh jalan proteksi. maka Islam tidaklah melakukan hal itu sebelum tegaknya hak-hak hidup pribadi dan mantapnya tanggung negara untuk menjamin hak-hak pribadi itu. kelompok atau perbedaan tingkat sosial. Muhammad Asad (salah seorang arsitek dan pemikir konstitusi Negara Islam Pakistan).suatu hukum atau hukuman dilaksanakan. termasuk yang ada dalam al-Qur'an dapat dilaksanakan hanya setelah ditegakkannya keadilan sosial dan tatanan kemasyarakatan yang menjamin anggotanya untuk tidak melanggar ketentuan yang ditetapkan.

but for his bodily and intellectual needs as well.seorang perempuan yang bukan muhrim. there can be no real happiness and strength in a society that permits some of its members to suffer undeserved want while others have more than the need. that --in order to be truly Islamic-. in this context. Dalam memberi penjelasan tentang makna yang lebih mendasar di balik hukuman yang amat keras bagi pencuri (potong tangan). to the Muslim community in the early days of Islam).[29] Lebih runtut lagi adalah jalan pikiran dan garis argumen Muhammad Asad. man and woman. to the enjoyment of social security: in other words. namun tanpa muhrim perempuan itu). no real freedom and. It follows. Asad membuat uraian panjang lebar. among the inalienable rights of every member of the Islamic society --Muslim and non-Muslim alike-. such shared privations may become a source of spiritual strength and. he or she must be assured of an equitable standard of living commensurate with the resource at the disposal of the community. liability to punishment.the believers are not entitled to look upon spiritual truths and values as something that could be divorced from the physical and social factors of human existence. For. As is evedent from innumerable Qur'anic ordinances as well as the Prophet's injuctions forthcoming from authentic Traditions. (Di sini kami kutipkan seluruh uraian itu. Now.a society (or a state) must be so constituted that every individual.is the right to protection (in every sense of the word) by the community as a whole. poverty becomes the most dangerous enemy of spiritual progress. may enjoy that minimum of material well-being and security without which there can be no human dignity. If the whole society suffers privations owing to circumstances beyond its control (as happened. threfore. and the term "duty" also comprises. Islam envisages and demands a society that provides not only for the spiritual needs of man. an occasionally drives whole communities away from God-consciousness and into the arms of soul-destroying materialism. In short. "Proverty may well . every citizen is entitled to a share in the community's economic resources and thus. It was undoubtedly this that the Prophet had in mind when he uttered the warning woeds (quoted by al-Suyuti in al-Jami al-Saghir). through it. Jadi pengaturan sosial berjalan seiring atau mendahului penetapan hukuman kejahatan. of future greatness. for instance. no spiritual progress: for. although the Qur'an makes it clear that human life cannot be expressed in terms of physical existence alone --the ultimate values of life being spiritual in nature-. namun maaf tidak sempat menerjemahkan): The extreme severity of this Qur'anic punishment can be understood only if one bears in mind the fundamental principle of Islamic Law that no duty (taklif) is ever imposed on man without his being granted a coresponding right (haq). But if the available resources of a community are so unevenly distributed that certain groups within it live in affluence while the majority of the people are forced to use up all their energies in search of their daily bread. in the last resort.

always hear in mind the principle mentioned at the beginning of this note: namely. If the society is unable to fulfil its duties with regard to everyone of its memebers. As already mentioned. One must. his successors had either the vision nor the statemanship to continue his unfinished work." Consequently. theft cannot and should not be punished as severely as it should be punished in a state in which social security is a reality in the full sense of the woed. and must be punished as such: and. 213-217). woman and child has (a) enough to eat and wear. (c) equal opportunities and facilities for education. consequently. Umar ibn al-Khattab. therefore. any attempt on the part of an individual to achieve an easy. etc. Since. and (d) free medical care in health and sickness. the temptation to enrich onself by illegal means often becomes irresistible --and. old age. and a provision (by the community or the state) of adequate nourishment. its balance is extremely delicate and in need of constant. widowhood. in the last resort. It is against the background of this social security scheme envisaged by Islam that the Qur'an imposes the severe sentence of hand-cutting as a deterrent punishment for robbery. the entire socioeconomic system of Islam is based on the faith of its adherents. the absolute interdependence between man's right and corresponding duties (including liability to punishment). the communal obligation to create such a comprehensive social security scheme has been laid down in many Qur'anic verses. under the circumstances outlined above. unjustified gain at the expense of other members of the community must be considered an attack against the system as a whole. the above ordinance which lays down that the hand of the thief shall be cut off. and has been amplified and explained by a great number of the Prophers commandments. the social legislation of Islam aims at a state of affair in which every man.) To sum up. It was the second Caliph. III/1. it has not right to invoke the full sanction of criminal law (had) against the individual transgressor. shelter. and since. strictly enforced protection. in cases of disability resulting from illness. but must confine itself to milder forms of administrative punishment. "temptation" cannot be admitted as a justifiable excuse. (b) an adequate home.turn into a denial of the truth (kafr). In a community or state which neglects or is unable to provide complete social security for all its members. (Its was in correct appreciation of this principle that the great Caliph Umar waived the had of handcutting in a period of famine which afflicted Arabia during his reign. however. A corollary of these rights is the right to productive and remunerative work while of working age and in good health. who began to translate these ordinances into a concrete administrative scheme (see Ibn Said. In a community in which everyone is assured of full security and social justice. enforeced enemployment. Tabagat. or under-age. one may safely conclude that the cutting-off of a hand in punishment for theft is applicable only within the context of an already existing fully-functioning social security . but after his premature death.

Sama dengan yang di atas. jika bukannya malah identik (seperti menurut pengertian kebanyakan orang). such as the Kingdom of Saudi Arabia. constitutes a huge Juristic tradition the value of which depends on the individual jurist himself. the Shari'a has a binding authority on every Moslem. Perhatikanlah bagaimana Yamani menegaskan. and he is obligated to follow and employ it to solve his affairs . sekali lagi. the Shari'a is confined to the undoubted principles of the Qur'an. or even the particular problem confronting him. it denotes everything that has been written by Moslem jurists throughout the centuries. The Shari'a. looked upon in this wide scope. not all the principles of Shari'a in its wider sense are of a binding authority.scheme. memperjelas persoalan Syari'ah itu dalam kaitannya dengan hasil karya para ulama terdahulu yang secara keseluruhannya biasanya dipandang sebagai korpus Hukum Islam. Furthermore. Ahmad Zaki Yamani. The jurists derived their principles from the Qur'an and the Sunnah (way of action and the opinions of the Prophet). Generally and widely construed.. karena pemikiran itu tidak lepas dari tuntutan zaman dan tempat yang lebih spesifik. and in no other circumstances. and from the other sources of Shari'a such as Ijma' (the consensus of the community represented by its scholars and learned men). as I said before in this wide sense. provided such consensus was possible. one cannot deny the Shari'a scholastic value as an elaborate system of deduction which should be relied upon for future derivations of principles. The importance of differentiating between the wide and the narrow scope of Shari'a is evident in countries that fully implement the system. it cannot have a binding authority since circumstances that brought about a certain principle might not be in existence any more. because of certain inherent . his era. di sini kami kutipkan sepenuhnya uraian Yamani (namun. it has no binding authority. hasil pemikiran ("fiqh" dalam arti asalnya) para ulama dalam kitab-kitab itu baginya tidaklah mengikat. since within it one might find different. whether it dealt with contemporaneous issues of the time or in anticipation of future ones. and public interest considerations.. Construed narrowly. to what is true and valid of the Sunna. dalam sebuah risalahnya yang terkenal. and the consensus of the community represented by its sholars and learned men during a certain period and regarding a particular problem.[30] Fiqh sangat erat kaitan dengan Syari'ah. and surely we cannot maintain that previous Moslem Jurists have anticipated all our existing contemporary problems. however. and sometimes contradictory principles resolving the same issues depending on the Juristic school that propagated the principle. maaf tidak sempat menerjemahkannya): The Islamic Shari'a as a phrase has two scope of meanings. Viewed as such. Yet. yang belum tentu cocok dengan tuntutan zaman kita sekarang. As such the system has a tremendous scholastic value to the Moslem. As I explained earlier.

which was done in the past. 7501983. Such countries could legislate new solutions for novel problems. dengan implikasi sebuah dukungan. 7507173 Fax. and consensus. al-Tufi berpendapat bahwa kepentingan umum itu harus dimenangkan. then. but not the validity of that on which there is consensus. yang mengatakan bahwa kepentingan umum mengatasi dan mendahului ketentuan tekstual...29.difficulties in attempting to harmonize some of them. select principles from the various juristic schools with no exceptions. (021) 7501969. According to the well-known Shari'a principle "the validity of that on which there is a difference can be questioned. deriving such solutions from the general principles of the Shariia and considerations of public interest and communal welfare. since as a logical consiquence on would have to maintain the princiles of the other schools are not valid. UA 20-21 Jakarta Selatan Telp. the criterion being what is more appropriate to the needs of that particular country. sedangkan ketentuan tekstual yang diwahyukan dan sumber-sumber lainnya hanyalah perantara . Maka jika terdapat pertentangan pertimbangan kepentingan umum di satu pihak. dan ketentuan tekstual atau nas di pihak lain. (021) 7507174 Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota Please direct any suggestion to Media Team Artikel Yayasan Paramadina Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota IV. Metro Pondok Indah Pondok Indah Plaza I Kav. confined to the Qur'an. betapapun absahnya sebuah nas. sekalipun dari al-Qur'an dan Sunnah. dengan merujuk kepada kitab Thabaqat al-Hanabilah oleh Ibn Rajab. the Sunna. Berkaitan dengan prinsip ini." it becomes imperative . to adopt the narrow meaning of Shari'a. or at least. one cannot choose one juristic school for implementation to the exclusion of all others. Furthermore. pendapat yang ekstrim dari Imam al-Tuff yang diduga dari madzhab Hanbali (tapi juga ada yang menduganya bermadzhab Syi'ah). PANDANGAN KONTEMPORER TENTANG FIQH (4/4) Telaah Problematika hukum Islam di Zaman Modern Oleh Nurcholish Madjid Bagi Yamani prinsip public interest atau kepentingan umum adalah sangat fundamental. Yamani mengutip. are not worthy of being followed. Ia berpandangan bahwa kepentingan umum itulah yang menjadi maksud dan tujuan Maha Hakim (Allah). [31] -------------------------------------------(bersambung 4/4) Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah Editor: Budhy Munawar-Rachman Penerbit Yayasan Paramadina Jln.

and therefore always evolving to an ideal best. yaitu hukum-hukum keagaman ('ibadat) dan hukum-hukum kegiatan manusia dalam hidup keduniaan (mu'amalat): The religious essence and value of the Shari'a must never be overestimated.. mengembangkan pemikiran hukum yang akan menjawab tuntutan zaman dan tempat. Tapi dengan bekal inner dynamics Islam itu sendiri. Tetapi prasyaratnya ialah. sehingga akan terbukti ramalan Gellner: Kaum Muslim adalah penarik manfaat yang sebenarnya dari modernitas. CATATAN 1. whilst hierarchy and . Its great Tradition is modernisable. yang kini masih banyak melanda kaum Muslim. the latter principles have to be viewed as a system of civil Iaw. can be done in one and the same language and set of symbols.. if I order something pertaining to your religion comply. Islam may yet turn out to be its beneficiary. Thus in Islam. Hence. jil.. h. Halangan terbesar bagi kemungkinan itu datang dari sikap-sikap dogmatic dan literalis. and the operation can be presented.. Yamani mengritik sebagian kaum Orientalis yang tidak memahami Syari'ah dan mencampuradukkan dua unsurnya yang berbeda namun tidak terpisah. The Prophet himself had set precedence for this religious-secular relationship when he said "I am only human. The fact that its central. kaum Muslim harus mampu terlebih dahulu menangkap pesan dasar agamanya. though not the source of modernity.untuk mencapai tujuan itu. Marshal G. Many Western Orientalists who wrote about Shari'a failed to distinguish between what is purely religious and the principles of secular transactions. Though both are derived from the same source. blamed for retardation and foreign domination. 108. and the reaffirmation of a putative old local identity on the other. if I order something of my opinion consider it in the light that I am only human. Only Islam survives as a serious faith pervading both a folk and a Great Tradition. official. based on public interest and utility. 1974). purification modernization on the one hand. The old folk version. fiqh dan sistem hukum Islam memiliki kesempatan besar untuk diterapkan dalam zaman modern." [33] PENUTUP Dari seluruh uraian di atas dapatlah disimpulkan. dan tujuan harus selalu mendahului perantaraan atau cara.[32] Lebih jauh. once a shallow of the central tradition now becomes a repidiated scapegoat. The Venture of Islam. but rather as the continuation and completion of and old dialogue within Islam." Or when he said. and only in Islam. 1. "pure" variant was egalitarian and scholarly. dan berdasarkan itu.S. not as an innovation or concession to oursiders. "You know better about your civil non-religious matters. 2. masa depan yang lebih baik tentu dapat diciptakan. 3 jilid (Chicago: The University of Chicago Press.. Hodgson.. .

Yasin/36:60 7. 211. 17. greatly aids its adaptation to the modern world. Lihat QS. the reawakened Muslim potential for egalitarian scripturalism can actually fuse with nationalism. but to all. Islamic Liberalism (Chicago: The University of Chicago Press. Muslim Society (Cambridge: Cambridge University Press. 1981). hadits No.J. 18. or some. and thus the 'protestant' ideal of equal access for all believers can be implemented.. (Ernest Gallner. 10. The Message of the Qur'an (London: E. Muhammad Asad. 9. and the rational systematisation of social life-. 4-5). Ali Imran 3:79. Lihat QS. al-Ma'idah/5:16. Maxime Rodinson. 1978). al-Baqarah/2:2. 1980). Lihat QS. By various obvious criteria --universalism.ecstaasy pertained to its expendable.363. 15. Lihat QS. 7). . al-Ra'd/13:25.Ibid. Leonard Binder. Thaha/20:115. al-Hadid/57:4. 8. 16. 14. al-Ahzab/433:7. catatan 42. al-A'raf/7:172. so that one can hardly tell which one of the two is of most benefit to the other. 3. Lihat QS. h. al-Ra'd/13:20.. h. the one closest to modernity. (Gallner.. Islam and Capitalism. 7-8. Bulugh al-Maram. h. Lihat QS. eventually disavowed. QS. hadits No. the open class of scholars can expand towards embracing the entire community. Whilst European Protestantism merely prepared the ground for nationalism by furthering literacy. catatan 21. 6. 19. 4. the extension of full participation in the sacred community not to one. terjemahan dari Perancis oleh Brian Peace (Austin: University of Texas Press. al-Baqarah/2:40. Modern egalitarianism is satisfied. of the three great Western monotheisms. Lihat QS. 1561. h.Islam is. 1. Brill. spiritual egalitarianism. h. QS. 12. 20. In an age of aspiration to universal literacy. 1551. Lihat QS. Lihat QS. 13. 5. 11. h. Ibid. scripturalism. 1988). peripheral forms.

tt.91-92. dalam risalahnya.'" (QS. 26.' Dan ia (Nabi itu) tidak menyuruh kamu agar kamu mengambil para malaikat dan para Nabi yang lain sebagai tuhan-tuhan. hanif) menyembah Tuhan yang sama. ajaran kebenaran (hukum) dan kenabian kemudian berkata kepada orang banyak: 'Jadilah kamu semua hamba-hamba bagiku. Setiap orang yang dikaruniai Allah pangkat kenabian pasti menyeru manusia agar berkesadaran Ketuhanan (Rabbaniyyun) dan tidak akan menyimpang dari garis lurus itu setelah para pengikutnya benar-benar menjadi kaum yang pasrah kepada-Nya (muslimun): "Tidak pernah terjadi pada seorang manusia yang kepadanya Allah mengaruniakan kitab suci. dan tidaklah dia termasuk mereka yang musyrik. Isma'il dan Ishaq. dan kami semua pasrah (muslimun) kepada-Nya. Allah adalah pembimbing kaum beriman itu. 29." (QS. al-Ma'idah/5:8. Muhammad Asad. ketika ia bertanya anak-anaknya: 'Apa yang kamu sembah sesudahku?' Mereka menjawab: 'Kami menyembah Tuhanmu dan Tuhan nenek moyangmu. 149-150. 27. 23. dan seorang muslim (pasrah kepada Tuhan). 24. Suatu penegasan bahwa semua penganut agama (yang benar secara generik. yaitu Tuhan Yang Maha Esa. Terdapat banyak penegasan. Lihat QS. langsung dan tidak langsung. . melainkan seorang hanif (lurus kepada kebenaran). 30. Sesungguhnya manusia yang paling dekat kepada Ibrahim ialah mereka yang benar-benar mengikutinya dan Nabi ini (Muhammad) serta mereka yang beriman. 25. al-Rahman/55:7-9. Ali Imran/3:79-80). h. al-Din li al Waqi' (Kuwait: al-Dar al-Kuwaytiyyah. Apakah patut ia menyuruh kamu menjadi kafir sesudah kamu semua menjadi orang-orang yang pasrah (muslimun)?" (QS. QS. Fat'hi Utsman. berkenaan dengan keislaman para Nabi. Ibrahim. Ali Imran/3:67-68). Lihat QS. Ibid. 28. h. al-Nisa/4:58. 1396 H/1976 M).). 40. catatan 48. al-Baqarah 2:133). 22. bukan bagi Allah!' Melainkan (ia tentu berkata): 'Jadilah kamu orang-orang yang berkesadaran Ketuhanan (Rabbaniyyun) berdasarkan kitab suci yang kamu ajarkan dan berdasarkan yang kamu sendiri pelajari. Secara umum dapat disimpulkan dari firman Allah tentang sikap anak turun Ya'qub Israil): "Adakah kamu menjadi saksi ketika maut datang kepada Ya'qub.21. Lihat QS. h. "Ibrahim itu bukanlah seorang Yahudi ataupun Nasrani. Ibn Taymiyyah. yaitu Tuhan Yang Maha Esa. dan bersikap pasrah kepada-Nya (Islam). al-Amr bi al-Ma'ruf wa al-Nahy 'an al-Munkar (Beirut: Dar al-Kitab a-jadid. Ali Imran 3:19 dan 85.

10-11. ISTISHLAH DAN MASHLAHAT AL-AMMAH Oleh KH Ali Yafie Dinamika hukum Islam dibentuk oleh adanya interaksi antara wahyu dan rasio. -------------------------------------------Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah Editor: Budhy Munawar-Rachman Penerbit Yayasan Paramadina Jln. Metro Pondok Indah Pondok Indah Plaza I Kav. Itulah yang berkembang menjadi ijtihad. . yaitu: syariah terdahulu (syar' man qablana). Tapi penggunaannya sangat terbatas. Ahl al-ra'y sesuai dengan situasi lingkungannya. 13-14. 6-7). 7501983. (021) 7507174 Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota Please direct any suggestion to Media Team Artikel Yayasan Paramadina Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota KONSEP-KONSEP ISTIHSAN. yaitu kubu Irak dan kubu Hijaz.31. Ibid. Dengan demikian. mereka tidak mengakui keabsahan hadist itu. h.. ISTIHSAN Pada saat-saat awal terbentuknya pemikiran hukum Islam yang metodis (ilmu fiqh). Ijma' dan akal. dalam pengembangan pemikiran hukumnya (metoda ijtihadnya) volume penggunaan rasio lebih besar dari volume penggunaan hadist (sebagai salah satu sumber syari'ah). (021) 7501969. sumber hukum Islam terdiri atas: al-Qur'an. Sunnah. 32. Istishlah dan Istishhab. atau sama sekali tidak menggunakan sumber hukum itu. kebiasaan/adat-istiadat (al'urf). Istihsan. dikenal juga adanya sumber-sumber sekunder (al-mashadir al-tab'iyyah). upaya ilmiah menggali dan menemukan hukum bagi hal-hal yang tidak ditetapkan hukumnya secara tersurat (manshus) dalam syariah (al-kitab wa sunnah). Ini tidak berarti. h.. Tokoh utama kubu Irak ialah Imam Abu Hanifah. 7507173 Fax. 33. dan para ulama pendukung kubu Hijaz dikenal sebagai ahl al-hadits. Selain dari sumber hukum primer tersebut. dikenal adanya dua kubu pengembangan pemikiran hukum Islam. Ibid. Islamic Law and Contemporary Issues (Jeddah: The Saudi Publishing House 1388 H). UA 20-21 Jakarta Selatan Telp. h. Ahmad Zaki Yamani. dan tokoh utama kubu Hijaz adalah Imam Malik. Pendapat sahabat Nabi (qaul al-shahabi). Biasanya para ulama pendukung kubu Irak dikenal sebagai ahl al-ra'y.

menurut qias hukumnya begini. Ahl al-ra'y yang volume penggunaan rasionya lebih besar. karena tidak dapat menampung Istihsan yang ditegakkan di luar landasan qias. seperti Istihsan yang ditegakkan di atas landasan nas. hukum dalam masalah ini bersumber dari Istihsan. ternyata tidak saja menggunakan qias yang merupakan bentuk penggunaan rasio dengan cara analogis ilmiah ketat. Mereka sering mengatakan. Menurut al-Bardisi definisi ini tidak mencakup (ghair jami'). atau sumber hukum yang . dalam masalah ini. Definisi ini pun belum mencakup. atau dharurah. apakah itu qias dalam arti technische-term. tapi mereka juga menggunakan analogi yang longgar dan lebih luas. atau ijma' atau dharurah. karena ada juga istihsan yang ditegakkan atas landasan 'urf atau mashlahah Secara harfiah Istihsan itu berarti menganggap baik akan sesuatu baik itu fisik maupun nilai. Ini tidak berarti mereka menolak penggunaan sumber rasio itu. dibandingkan dengan qias yang jelas (jali). istihsan itu ialah semua ketentuan syar'i (baik yang bersifat nash. Kata ini kemudian digunakan sebagai suatu technische-term yang membentuk pengertian baru menggambarkan suatu konsep penalaran dalam rangka penggunaan rasio secara lebih luas untuk menggali dan menemukan hukum sesuatu kejadian yang tidak ditetapkan hukum dari sumber syari'ah yang tersurat. Definisi ini menurutnya. Kedua kubu tersebut mengakui keabsahan sumber hukum qias. Kita menggunakan qias dalam masalah ini. Syekh Muhammad Zakariya al-Bardisi. mereka dalam pengembangan pemikiran hukum (metode ijtihadnya) volume penggunaan sumber hukum hadits lebih besar dari volume penggunaan sumber rasio (dalam hal ini qias). tapi apa yang dia maksud dengan qias di sini tidak begitu jelas. Mereka menggunakannya secara tersendiri atau menyebutnya berdampingan dengan kata/istilah qias. Dengan kata lain mereka mengatakan. Istilah "Istihsan" sebagai technische-term banyak beredar di kalangan tokoh-tokoh (ulama) dari aliran pemikiran hukum (mazhab) Hanafiyah. Sebagian lagi memberikan definisi. dan menurut Istihsan hukumnya begini. ialah peralihan dari hasil sesuatu qias kepada qias yang lain yang lebih kuat. mereka yang menggunakan Istihsan sebagai sumber hukum tidak mempunyai kesepakatan atas suatu definisi tentang Istihsan itu. Definisi yang lain. atau kita menggunakan istihsan dalam masalah ini. atau ijma'. di antaranya adalah: Istihsan itu. menyebutkan Istihsan itu suatu qias yang lebih dalam (khafi). atau dalam arti yang mencakup qias yang lebih luas yang dikaitkan dengan suatu ketentuan umum atau suatu kaidah-kaidah hukum yang baku. Dalam hubungan inilah lahir konsep Istihsan. atau qias yang lebih dalam) dibandingkan dengan qias yang jelas.Di pihak lain kita dapat mengamati. tidak segera dapat ditangkap. ahl al-hadits sesuai dengan situasi lingkungannya. bahkan kita menemukan dari mereka beberapa definisi yang kontradiktif. Sepanjang penelitian guru besar ilmu-ilmu Syari'ah pada Fakultas Hukum Universitas Kairo. bukan saja tidak mencakup.

pengecualian masalah tertentu dari suatu ketentuan pokok yang bersifat umum. Kemudian berkembang pula secara terbatas dalam aliran Malikiyah dan Hambaliyah. landasan penyamaan ('illah). atau keadaan darurat atau suatu kepentingan nyata. Termasuk pula dalam kategori Istihsan. kejadian baru (far). Yang dicatat sebagai seorang tokoh yang menolak menempatkan Istihsan itu sebagai suatu sumber hukum sekunder. pada hakekatnya konsep ini telah dikenal dan digunakan oleh angkatan pertama ahl al-ijtihad di kalangan sahabat dan tabi'in. di kalangan penganut aliran pemikiran hukum (madzhab) Hanafiyah. Dengan kata lain pertimbangan adanya ketentuan lain atau kesepakatan. Karenanya juga konsep ini lebih dikenal dengan sebutan. karena beliau berpendapat. yakni ketentuan pokok (ashl). atas pertimbangan sesuatu alasan yang lebih kuat. untuk menghasilkan suatu hukum bagi kejadian baru. atau mashlahah. kaidah-kaidah interpretasi atas ketentuan-ketentuan syari'ah (al-Qur'an dan Sunnah) ditambah dengan analogi qias. al-mashlah al-mursalah atau al-mashalih al-mursalah. atau 'urf atau dharurah. ada empat elemen dari analogi qias itu. karena pengecualian itu didukung oleh suatu nash. Alasan itulah menjadikan qias jali (biasa) dialihkan kepada qias khafi (alternatif) dan hasilnya disebut Istihsan. Sebagian ahl al-ijtihad menganggap qias ini merupakan upaya final dalam penggalian dan penemuan hukum-hukum dari sumber syari'ah atau sumber yang dipersamakan (ijma'). Dalam perkembangan pemikiran hukum Islam. Konsep penalaran ini bermula dikembangkan dalam aliran pemikiran hukum Islam (madzhab) Malikiyah. Dari uraian ini dapat ditangkap. masih ada upaya penalaran yang lain seperti Istihsan dan istislah dan seterusnya. atau kebiasaan. atau dari suatu kaidah hukum. Dalam analogi qias. Dan ternyata kemudian diambil alih juga oleh Imam al-Ghazali dari aliran Syafi'iyah dengan beberapa . sekalipun dengan istilah-istilah yang berbeda. Tapi dapat kita catat. ISTISHLAH Istishlah merupakan suatu konsep dalam pemikiran hukum Islam yang menjadikan mashlahah (kepentingan/kebutuhan manusia) yang sifatnya tidak terikat (mursalah) menjadi suatu sumber hukum sekunder. yakni kesepakatan para ahli yang berwenang (ahl al-ijtihad) di kalangan umat Islam. yang perlu ditata dalam hukum Islam. ketentuan yang dihasilkan dari pengaitan (ilhaq) tersebut di atas dan inilah yang disebut hukum qias. atau ijma'. dibutuhkan adanya suatu ketentuan pokok yang bersifat terinci (tafshili) untuk dijadikan landasan mengaitkan sesuatu yang ada persamaannya. untuk menampung segala perkembangan yang terjadi. Analogi Istihsan tidak terikat pada keketatan analogi qias karena dimungkinkan adanya qias alternatif (qias kahfi) yang terlepas dari elemen 'illah (dalam analogi qias biasa). tapi sebagian yang lain beranggapan. dalam hal tujuan dan sasaran ditetapkannya ketentuan tersebut. sudah cukup. Istihsan ini ditempatkan sebagai sumber hukum sekunder. Dalam bahasa tekniknya harus ada ashl dan harus ada 'illah. adalah Imam Syafi'i.dipersamakan dengan itu. semua itu merupakan elemen-elemen dalam hukum Istihsan.

dan manusia tidak dicegah melakukan sesuatu. Namun perlu dicatat ruang lingkup penerapan hukum mashlahah ini adalah bidang mu'amalat.Mashlahah yang tidak diakui ajaran syari'ah. dan tidak menjangkau bidang ibadat. 2. Para ahli yang mendukung konsep penalaran ini mencatat tiga persyaratan dalam penerapan hukum mashlahah ini. tapi harus bersifat umum dan menjadi kebutuhan umum. yaitu.Mashlahah yang tidak terikat pada jenis pertama dan kedua. bahwa ia memang mewujudkan suatu manfaat atau mencegah terjadinya madharrah (bahaya atau kemelaratan). bukan sekadar anggapan atau rekaan. harta bendanya. yang terdiri dari tiga tingkat kebutuhan manusia.2. Maka. menjadikan hukum Islam itu luwes dan dapat diterapkan pada setiap kurun waktu di segala lingkungan sosial. yaitu: 1. Tapi perlu dicatat. karena ibadat itu adalah hak prerogatif Allah sendiri. 1. 2. Kelima tersebut biasanya disebut al-kulliyyat al-khams atau al-dharuriyyat al-khams. yang menjadi dasar mashlahah (kepentingan dan kebutuhan manusia). Penempatan masalah ini sebagai suatu sumber hukum sekunder.3. Dan itulah sasaran utama dari hukum Islam. yaitu kepentingan yang bertentangan dengan maslahah yang diakui terutama pada tingkat pertama. Mashlahah itu tidak merupakan kepentingan pribadi atau segolongan kecil masyarakat.penyempurnaan. 1.Tahsiniyyah (kebutuhan pelengkap) dalam rangka memelihara sopan santun dan tata krama dalam kehidupan. yakni hal-hal yang menyangkut terpelihara dirinya (jiwa. konsep ini ditolak oleh Landasan pemikiran yang membentuk konsep ini ialah. raga dan kehormatannya) akal pikirannya.Mashlahah yang diakui ajaran syari'ah. upaya mewujudkan mashlahah dan mencegah mafsadah (hal-hal yang merusak) adalah sesuatu yang sangat nyata dibutuhkan setiap orang dan jelas dalam syari'ah yang diturunkan Allah kepada semua rasul-Nya.1. kenyataan bahwa. Maka tidak dituntut untuk dilakukan manusia untuk kepentingan hidupnya.Hajiyyah (kebutuhan pokok) untuk menghindarkan kesulitan dan kemelaratan dalam kehidupannya.Dharuriyyah (bersifat mutlak) karena menyangkut komponen kehidupannya sendiri sebagai manusia. yaitu: 1. Mashlahah itu harus bersifat pasti. 3. nasab keturunannya dan kepercayaan keagamaannya. kecuali hal-hal yang pada galibnya membahayakan dan memelaratkan hidupnya. 1. Dalam kajian para ahl-ijtihad ada tiga jenis mashlahah. syari'ah Islam dalam berbagai pengaturan dan hukumnya mengarah kepada terwujudnya mashlahah (apa yang menjadi kepentingan dan apa yang dibutuhkan manusia dalam kehidupannya di permukaan bumi). Hasil penalaran mashlahah itu tidak berujung pada terabaikannya sesuatu prinsip yang ditetapkan oleh nash . aliran Zhahiriyyah dan Syi'ah. 3.

hukum Islam juga mengenal mashlahah 'ammah yang menjadi kepentingan bersama masyarakat atau kepentingan umum (algemeen blang). Hal-hal ini terkait dengan taklif yang berbentuk fardhu 'ain. bersangkutan dengan fardhu 'ain yang dijelaskan dalam hadits lain yang berbunyi (thalb-u 'l-'ilmi faridhatun 'ala kulli muslim). 3. bimbingan keagamaan (fatwa) dan penyebaran buku-buku. Sallam Madkur. 2. seperti yang digambarkan dalam uraian terdahulu tentang al-kulliyyat al-khams. (021) 7501969. yang sifatnya umum yakni yang merupakan kepentingan setiap manusia dalam hidupnya. (021) 7507174 . Al-Umm. menciptakan lapangan kerja untuk mewujudkan mata pencaharian bagi anggota-anggota masyarakat. Metro Pondok Indah Pondok Indah Plaza I Kav. 7507173 Fax. Seterusnya yang menyangkut mashlahah akal pikiran. Hikmatuttasyri'wa Falsafatih. Imam al-Ghazali. -------------------------------------------Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah Editor: Budhy Munawar-Rachman Penerbit Yayasan Paramadina Jln. Madkhal al-Fiqh al-Islami. AL-MASHLAHAH AL-'AMMAH Hukum Islam mengenal mashlahah 'ainiyah (kepentingan perorang) dari setiap manusia. 6. di antaranya adalah mencegah kemelaratan orang banyak (kaum Muslim). DAFTAR KEPUSTAKAAN 1. M. UA 20-21 Jakarta Selatan Telp. Ini menyangkut hak publik dan berkaitan dengan fardhu kifayah. pakaian dan tempat tinggalnya) hal ini bersangkutan dengan fardhu 'ain yang dijelaskan dalam tuntunan Rasulullah saw (thalab-u 'l-halal faridhatun 'ala kulli muslim) yaitu kewajiban bekerja mencari rizki memenuhi kebutuhan hidupnya sehari-hari. 4. jelas memperlihatkan keterkaitannya dengan kewajiban perorangan sebagai imbalan adanya pengakuan atas mashlahah dharuriyyah yang menimbulkan hak-hak mutlak perorangan bagi setiap manusia. Al-Mustashfa. Imam Rafi'i menjelaskan. Seperti misalnya yang menyangkut mashlahah harta benda/kepentingan seorang manusia memiliki harta benda (untuk makan. Imam al Syafi'i.syari'ah atau ketetapan yang dipersamakan (ijma'). Al-Mahmashani. mencerdaskan kehidupan masyarakat melalui pendidikan. Di samping mashlahah tersebut di atas. Al-Asybah wa 'l-Nazhair: 5. 7501983.fardhu kifayah itu adalah urusan umum yang menyangkut kepentingan-kepentingan (mashalih) tegaknya urusan agama dan dunia dalam kehidupan kita. menegakkan kontrol sosial melalui amar ma'ruf nahi mungkar. Al-Muwafaqat. Begitu seterusnya menyangkut tiap mashlahah yang sifatnya dharuriyyah. Imam Suyuthi. Imam al-Syathibi.

sebagian menolakaya. tapi apakah riba sama dengan bunga deposito? Kemusykilan seperti itu telah dihadapi para ulama sepanjang sejarah. Kemudian penguasa Umayyah mengukuhkan lembaga itu dan menamainya Dewan Mazhalim. menyerang istihsan dan menganggapnya sebagai usaha untuk membuat syari'at (man . bolehkah saya menerima bunga depositonya? Apakah bunga deposito itu sama. sekali lagi jawabannya akan beragam. Anehnya bila golongan yang ditanya --Muhammadiyah. Kebanyakan di antara umat Islam masih belum mendapat jawaban yang tegas dan memuaskan. dari golongan apa saja. Persis. Di antara metode-metode itu adalah qiyas. apa yang tercakup dalam syari'at menjadi lebih luas. verba non acta. Syafi'i. Ada tiga kemungkinan jawaban: boleh. tapi bahkan memelihara tujuan syar'i. tidak boleh. para ulama mengembangkan metode istinbath (menarik kesimpulan hukum) baik berdasarkan kaidah-kaidah atau petunjuk umum dalam nash maupun dari penggunaan akal. PERANAN TUNTUTAN SITUASI DALAM MEMAHAMI HUKUM ISLAM oleh Jalaluddin Rakhmat Jika saya mendepositokan uang saya di bank. mereka menemukan lembaga yang menyelesaikan urusan orang-orang yang dizalimi. Ulama yang ditanya itu memang mengalami kemusykilan.Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota Please direct any suggestion to Media Team Artikel Yayasan Paramadina Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota IV. perdagangan yang sederhana dan hukum pidana. ketika dinasti Umayyah bertemu dengan kebudayaan Persia. tidak tahu. Ketika Islam bertemu dengan peradaban-peradaban lain. Semua golongan itu sepakat (ijma') untuk menyimpan uangnya di bank dan memanfaatkan bunganya. Menurut al-Mawardi dalam al-Ahkam al-Sulthaniyah. istihsan dan istishlah.26. Mereka tidak menemukan nash --teks al-Qur'an atau Hadits-. Secara berangsur-angsur. NU jawabannya satu. Tidak jarang perbedaan itu muncul karena perbedaan pemaknaan istilah-istilah itu. Para ulama merumuskan syari'at dalam bentuk fiqh yang mengatur bidang-bidang kehidupan yang lebih kompleks.yang menerangkan ketentuan hukum untuk deposito. Mereka bukan saja menganggap dewan ini tidak bertentangan dengan syar'i. tentu saja bagi kepentingan umat Islam. Ada memang ketentuan tentang riba. Sebagian menerimanya. tapi mereka menganggap lembaga ini sangat bagus. dengan riba? Tanyalah ulama yang Anda kenal. Tidak ada kesepakatan ulama mengenai kebolehan menggunakan masing-masing di antara ketiga hal itu. Lembaga ini tidak terdapat dalam al-Qur'an dan Sunnah. Deposito dan bunganya tidak dikenal di zaman Rasulullah saw. misalnya. Yang kita sebut syari'at pada mulanya hanya menyangkut masalah keluarga. Semua metode ini hanyalah upaya memecahkan persoalan. Studi kritis terhadapnya akan segera membuktikan bahwa penggunaan metode-metode tersebut juga menimbulkan persoalan. Bila diminta fatwa lisan atau tulisan.

dan sudah ditegaskan hubungannya disamakanlah hukum yang asal dengan far' berdasarkan kesamaan illat seperti yang dipahaminya. atau qiyas. walaupun ia berbeda dari mujtahidin lainnya dalam cara dan cakupan penggunaan qiyas. "Apa yang dianggap kaum Muslim baik. Pendirian Dewan Madzalim dipandang baik. para ulama yang mempertahankan istihsan mengambil dalil dari al-Qur'an dan Sunnah yang menyebutkan kata istihsan dalam pengertian denotatif ini (yaitu. Yang demikian itu disebut istihsan. kita akan menemukan banyak sekali definisi istihsan --yang tidak selalu menunjukkan ." --Hadits menurut riwayat Abdullah bin Mas'ud. ia bersandar kepada qiyas. atau meninggalkan qiyas kepada atsar. Dalam semua keadaan itu. atau mashlahat. ia menggunakan metode qiyas khafi. orang-orang yang mendengarkan kata dan diturutinya yang paling baik. Bila kita mengacu pada literatur. Imam Ahmad pun bersandar kepada qiyas dengan syarat sesudah meninjau hukum itu dalam al-Qur'an dan Hadits dalam maknanya yang lebih luas. Begitu pula para pengikut Hanafi yang membahas qiyas sesudah al-Kitab. Imam Malik juga mengambil qiyas. Tidak ada madzhab yang menolak penggunaan istihsan kecuali madzhab Dzahiriyah dan Syi'ah. atau tidak ada yang dapat dijadikan hujjah dari pendapat-pendapat mereka. artinya. Sunnah dan ijma. tapi sesudah mengambil mashalih mursalah dan istihsan. Tulisan ini akan dimulai dengan mencoba menyelesaikan kemelut makna istihsan dan istishlah dan diakhiri dengan petunjuk praktis penggunaannya dalam menjawab tuntutan situasi sekarang ini. al-Zumar: 55. Menarik sekali. sebagai pengantar. Kadang-kadang qiyas ditinggalkan karena ada dalil yang kuat atsarnya. istihsan artinya memandang baik terhadap sesuatu. saya kutipkan penjelasan Sayyid Musa Tuwanat: [1] Bila mujtahid tidak menemukan hukum dalam al-Qur'an. Malik menyebut istihsan sebagai sembilan persepuluh ilmu (Al-istihsan tis'at a'syar al-'ilm).s al-Zumar: 18. [2] Bila illat itu diketahui dengan menggunakan cara-cara yang dikenal dalam kitab ushul dan ada hubungan antara illat ini dengan kasus yang akan ditetapkan hukumnya. PENGERTIAN ISTIHSAN Secara denotatif. atau kepada maslahat. yang tidak lain daripada istihsan menurut mazhab Hanafi. menurut Allah baik juga. "Dan turutlah (pimpinan) yang sebaik-baiknya yang telah diturunkan kepadamu dari Tuhanmu". Kadang-kadang mujtahid meninggalkan satu dalil kepada dalil yang lebih kuat.istahsana fa qad syara'a). ijma' dan pendapat para sahabat. atau kepada ijma' atau kepada dharurat. Inilah yang ditetapkan oleh Imam Syafi'i dan ditegaskan al-Syirazi dan al-Maqdisi. Sunnah. ia tidak keluar dari upaya menjalankan nash. Maliki dan Hanafi memandang istihsan bahkan harus didahulukan dari qiyas. Q. Adapun cara menggunakan qiyas sebagai berikut: Seorang mujtahidin melakukan penelitian apakah ada dalil yang menunjukkan dalil tentang illat untuk menentukan hukum far'. Namun sebelum itu. Tapi ketika Syafi'i menyerang istihsan seperti yang dimaknakan olehnya. harus dilakukan berdasarkan istihsan.

referensi yang sama. Ada definisi yang dibuat dengan memperhatikan segi-segi politis dan bukan segi-segi ilmiahnya. Untuk menunjukkan bagaimana definisi-definisi itu lebih banyak menyulitkan daripada membantu, kita lihat contoh di bawah ini: 1. Istihsan adalah meninggalkan qiyas untuk mengambil yang lebih sesuai dengan orang banyak. 2. Istihsan adalah mencari kemudahan dari hukum-hukum yang dihadapi orang banyak atau orang tertentu. 3. Istihsan adalah mengambil keluasan dan mencari kelegaan. 4. Istihsan adalah mengambil yang permisif dan memilih yang di dalamnya ada ketenangan (semuanya dari al-Sarkhashi). 5. Istihsan artinya meninggalkan kepastian qiyas kepada qiyas yang lebih kuat atau mentakhshiskan qiyas dengan dalil yang lebih kuat (al-Bazdawi dari madzhab Hanafi). 6. Istihsan artinya mengamalkan yang lebih kuat di antara dua dalil (al-Syathibi dari madzhab Maliki). 7. Istihsan artinya meninggalkan hukum masalah dari yang semacamnya karena dalil syara' yang tertentu (al-Thufi dari madzhab Hambali). 8. Istihsan adalah apa yang dipandang baik oleh mujtahid dengan akalnya. [3] Karena kita mengalami kesulitan memahami istihsan dari berbagai definisi itu, marilah kita ambil contoh kasus yang oleh para mujtahid disebut sebagai istihsan. Melihat aurat perempuan yang bukan muhrim haram, karena dapat menimbulkan "fitnah" (membawa orang kepada kemaksiatan). Yang dalam kurung itu disebut 'illat yang sangat jelas (kita sekarang sedang melakukan qiyas jaliy). Bagaimana hukumnya seorang dokter yang harus memeriksa pasien wanitanya? Bila ia tidak melihat auratnya, ia tak bisa menolong pasien itu dengan baik. Ia harus menolong pasien itu untuk mengembalikan kesehatannya, untuk kemaslahatan pasiennya. Tapi alasan ('illat) ini hanya dalam kasus pasien saja dan dianggap tegas (kita sedang melakukan qiyas khafiy). Bila kita meninggalkan qiyas jaliy dan mengambil qiyas khafiy, kita melakukan istihsan. Kadang-kadang seorang mujtahid meninggalkan qiyas karena menemukan hadits yang lebih kuat, atau karena memperhatikan kemaslahatan, atau karena 'urf (adat kebiasaan yang sudah lazim). Bila kita memperhatikan praktek-praktek yang disebut istihsan, kita menemukan istihsan dalam tiga pengertian: Pertama, istihsan berarti memilih yang lebih kuat di antara dua dalil yang bertentangan atau berbeda (berikhtilaf). Boleh jadi ikhtilaf di antara dua dalil lafzhi --yakni dalil yang diambil dari al-Qur'an dan Sunnah. Atau ikhtilaf di antara dua dalil ghair lafzhi; misalnya, antara qiyas jaliy dengan qiyas khafiy. Atau ikhtilaf di antara dalil lafzhi dan ghair lafzhi. Marilah kita mulai dengan ikhtilaf di antara dua dalil lafzhi. Dalam hal ini, ikhtilaf dapat berupa tazakam dan ta'arudh. Yang dimaksud dengan Tazabum adalah pembenaran dua hukum yang berasal dari syara', yang tidak mungkin digabungkan. Ta'arudh

artinya perbedaan hukum shawar al-masalah).

karena

perbedaan

kasus

(ikhtilaf

Kita melakukan istihsan bila kita mentarjih (menganggap lebih baik) salah satu di antaranya. Sambil memberikan contoh-contohnya, saya akan menunjukkan petunjuk-petunjuk praktis penggunaan istihsan pada tazahum dan ta'arudh. (1) Dulukan hukum yang mendesak (mudhiq) di atas hukum yang memberikan kelonggaran (musi'). Misalnya, antara menghilangkan najis di masjid dengan melakukan shalat pada awal waktunya, atau antara menolong orang yang celaka dengan melakukan shalat Jum'at. Pilihlah menghilangkan najis dan menolong orang yang celaka. (2) Dulukan yang tidak ada penggantinya dengan yang ada penggantinya. Misalnya, menggunakan air untuk memuaskan rasa haus atau untuk berwudhu'. Wudhu' itu ada penggantinya, yaitu tayammum. Tapi memuaskan haus tidak bisa diganti dengan batu. (3) Dulukan yang sudah tertentu (mu'ayyan) di atas urusan yang memberikan alternatif (mukhayyar). Misalnya memenuhi nadzar atau membayar kifarat. Anda bernadzar untuk memberikan makanan bagi orang miskin, tapi juga Anda harus membayar kifarat puasa. (4) Dulukan yang lebih penting dari pada yang penting. Anda wajib melakukan haji dan pada saat yang sama Anda harus membayar hutang. Bayarlah hutang Anda lebih dulu. Ta'arudh terjadi kalau ada dua dalil syara' yang bertentangan. Para ulama ushul mengusulkan beberapa cara, yang tidak dapat kita perinci satu per satu: mendulukan yang mutlak di atas yang muqayyad, takhshish di atas 'am, nasikh di atas mansukh, hakim di atas mahkum, al-Qur'an di atas Sunnah, yang disepakati di atas yang diikhtilafi. Kedua, istihsan berarti mengambil sesuatu yang sudah dipandang baik oleh 'urf atau akal. Misalnya, mencatat pernikahan di kantor departemen Agama. Istihsan dalam arti ini harus dilakukan dengan sangat hati-hati. Karena apa yang dipandang baik 'urf atau akal itu boleh jadi sangat subyektif, sehingga besar kemungkinan mengikuti bias-bias sosio-psikologis. Kita juga tidak cukup waktu membicarakan hal ini. Ketiga, istihsan berarti meninggalkan dalil-dalil tertentu untuk mendatangkan maslahat atau menegakkan hukum di atas pertimbangan maslahat yang lima: memelihara agama, jiwa, akal, keturunan dan harta. Istihsan jenis terakhir ini disebut juga istishan atau al-mashalih al-mursalah. PENUTUP Yang terakhir ini exercise. Apakah cara berpikir yang berikut ini termasuk istihsan atau bukan. Bunga deposito dapat dibenarkan karena beberapa pertimbangan. Pertama, uang yang disimpan mengalami penurunan nilai karena inflasi. Tingkat inflasi bisa jadi lebih tinggi dari bunga deposito. Kedua, dengan menyimpan, deposan harus membayar opportunity cost yang boleh jadi lebih mahal dari bunga deposito. Ketiga, mendepositokan uang juga siap memikul resiko, yang nilainya dapat dihitung (serta mungkin saja lebih besar dari bunga

deposito). Walhasil, bila Anda tidak mengambil deposito Anda, Anda akan menjadi pihak yang terzalimi atau teraniaya. Padahal, agama menyatakan "tidak boleh menindas dan tidak boleh ditindas"?? CATATAN 1. Al-Ijtihad wa Muda Hajatina ilaih fi Hadza al-'Ashr, Mesir: Dar al-Kutub al-Haditsah, hal. 324 - 325. 2. Ada empat rukun qiyas: (1) asalnya, yakni kasus yang ada dalam nas, misalnya minum khamar; (2) hukumnya, yakni haram; (3) far', kasus baru yang akan ditetapkan hukumnya, misalnya bir; (4) illat atau washf jami', yakni sebab yang menyamakan kedua kasus itu, misalnya memabukkan atau minuman keras. 3. Lihat, Muhammad Taqiy, Al-Ushul al-Ammah fi al-Ammah fi al-fiqh al-Muqaran, Beirut: Dar al-Andalus, 1979, hal. 361-362. -------------------------------------------Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah Editor: Budhy Munawar-Rachman Penerbit Yayasan Paramadina Jln. Metro Pondok Indah Pondok Indah Plaza I Kav. UA 20-21 Jakarta Selatan Telp. (021) 7501969, 7501983, 7507173 Fax. (021) 7507174 Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota
Please direct any suggestion to Media Team

Artikel Yayasan Paramadina
Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota IV.25. TAQLID DAN IJTIHAD (1/4) MASALAH KONTINUITAS DAN KREATIVITAS DALAM MEMAHAMI PESAN AGAMA oleh Nurcholish Madjid Jika masalah taqlid dan ijtihad harus ditelusuri ke belakang, barangkali yang paling tepat ialah kita menengok ke zaman 'Umar ibn al-Khathtab, Khalifah ke II. Bagi orang-orang muslim yang datang kemudian, khususnya kalangan kaum Sunni, berbagai tindakan 'Umar dipandang sebagai contoh klasik persoalan taqlid dan ijtihad. Salah satu hal yang memberi petunjuk kita tentang prinsip dasar 'Umar berkenaan dengan persoalan pokok ini ialah isi suratnya kepada Abu Musa al-Asy'ari, gubernur di Basrah, Irak: "Adapun sesudah itu, sesungguhnya menegakkan hukum (al qadla) adalah suatu kewajiban yang pasti dan tradisi (Sunnah) yang harus dipatuhi. Maka pahamilah jika sesuatu diajukan orang kepadamu. Sebab, tidaklah ada manfaatnya berbicara mengenai kebenaran jika tidak dapat dilaksanakan. Bersikaplah ramah antara sesama manusia dalam kepribadianmu, keadilanmu dan majlismu, sehingga seorang yang berkedudukan tinggi (syarif) tidak sempat berharap akan keadilanmu.

Memberi bukti adalah wajib atas orang yang menuduh, dan mengucapkan sumpah wajib bagi orang yang mengingkari (tuduhan). Sedangkan kompromi (ishlah, berdamai) diperbolehkan diantara sesama orang Muslim, kecuali kompromi yang menghalalkan hal yang haram dan mengharamkan hal yang halal. Dan janganlah engkau merasa terhalang untuk kembali pada yang benar berkenaan dengan perkara yang telah kau putuskan kemarin tetapi kemudian engkau memeriksa kembali jalan pikiranmu lalu engkau mendapat petunjuk kearah jalanmu yang benar; sebab kebenaran itu tetap abadi, dan kembali kepada yang benar adalah lebih baik daripada berketerusan dalam kebatilan. Pahamilah, sekali lagi, pahamilah, apa yang terlintas dalam dadamu yang tidak termaktub dalam Kitab dan Sunnah, kemudian temukanlah segi-segi kemiripan dan kesamaannya, dan selanjutnya buatlah analogi tentang berbagai perkara itu, lalu berpeganglah pada segi yang paling mirip dengan yang benar. Untuk orang yang mendakwahkan kebenaran atau bukti, berilah tenggang waktu yang harus ia gunakan dengan sebaik-baiknya. Jika ia berhasil datang membawa bukti itu, engkau harus mengambilnya untuk dia sesuai dengan haknya. Tetapi jika tidak, maka anggaplah benar keputusan (yang kau ambil) terhadapnya, sebab itulah yang lebih menjamin untuk menghindari keraguan, dan lebih jelas dari ketidakpastian (al-a'ma, kebutaan, kegelapan) ... Barang siapa telah benar niatnya kemudian teguh memegang pendiriannya, maka Allah akan melindunginya berkenaan dengan apa yang terjadi antara dia dan orang banyak. Dan barang siapa bertingkah laku terhadap sesama manusia dengan sesuatu yang Allah ketahui tidak berasal dari dirinya (tidak tulus), maka Allah akan menghinakannya ..." [1] Dari kutipan surat yang lebih panjang itu ada beberapa prinsip pokok yang dapat kita simpulkan berkenaan dengan masalah taqlid dan ijtihad. Prinsip-prinsip pokok itu ialah: Pertama, prinsip keotentikan (authenticity). Dalam surat 'Umar itu prinsip keotentikan tercermin dalam penegasannya bahwa keputusan apapun mengenai suatu perkara harus terlebih dahulu diusahakan menemukannya dalam Kitab dan Sunnah. Kedua, prinsip pengembangan. Yaitu, pengembangan asas-asas ajaran dari Kitab dan Sunnah untuk mencakup hal-hal yang tidak dengan jelas termaktub dalam sumber-sumber pokok itu. Metodologi pengembangan ini ialah penalaran melalui analogi. Pengembangan ini diperlukan, sebab suatu kebenaran akan membawa manfaat hanya kalau dapat terlaksana, dan syarat keterlaksanaan itu ialah relevansi dengan keadaan nyata. Ketiga, prinsip pembatalan suatu keputusan perkara yang telah terlanjur diambil tetapi kemudian ternyata salah, dan selanjutnya, pengambilan keputusan itu kepada yang benar. Ini bisa terjadi karena adanya bahan baru yang datang kemudian, yang sebelumnya tidak diketahui. Keempat, prinsip ketegasan dalam mengambil keputusan yang menyangkut perkara yang kurang jelas sumber pengambilannya (misalnya, tidak jelas tercantum dalam Kitab dan Sunnah), namun perkara itu amat penting dan mendesak. Ketegasan dalam hal ini bagaimanapun lebih baik daripada keraguan dan ketidakpastian.

Kelima, prinsip ketulusan dan niat baik, yaitu bahwa apapun yang dilakukan haruslah berdasarkan keikhlasan. Jika hal itu benar-benar ada, maka sesuatu yang menjadi akibatnya dalam hubungan dengan sesama manusia (seperti terjadinya kesalahpahaman), Tuhanlah yang akan memutuskan kelak (dalam bahasa 'Umar, Allah yang akan "mencukupkannya"). Dari prinsip-prinsip itu, prinsip keotentikan adalah yang pertama dan utama, disebabkan kedudukannya sebagai sumber keabsahan. Karena agama adalah sesuatu yang pada dasarnya hanya menjadi wewenang Tuhan, maka keotentikan suatu keputusan atau pikiran keagamaan diperoleh hanya jika ia jelas memiliki dasar referensial dalam sumber-sumber suci, yaitu Kitab dan Sunnah. Tanpa prinsip ini maka klaim keabsahan keagamaan akan menjadi mustahil. Justru suatu pemikiran disebut bernilai keagamaan karena ia merupakan segi derivatif semangat yang diambil dari sumber-sumber suci agama itu. TAQLID Prinsip keotentikan juga menyangkut masalah konsistensi ketaatan pada asas. Konsistensi itu, pada urutannya, akan menjadi batu penguji lebih lanjut tingkat keabsahan suatu pemikiran. Karena itu dalam pengembangan suatu pemikiran keagamaan tidak mungkin dihindari kewajiban memperhatikan hal-hal parametris dalam sistem ajaran sumber-sumber suci, sebab hal-hal parametris itulah yang menjadi tulang punggung kerangka ajarannya yang abadi (sesuai untuk segala zaman dan tempat). Hal-hal parametris itu dalam Kitab Suci disebut sebagai al-muhkamat (petunjuk-petunjuk dengan makna jelas), yang juga disebut sebagai prinsip dasar atau induk ajaran Kitab Suci (umm al-Kitab), kebalikan petunjuk-petunjuk metaforikal, alegoris dan interpretatif (mutasyabihat). [2] Karena keontentikan dan konsistensi mengimplikasikan penerimaan terhadap suatu postulat, premis atau formula dasar, dengan sendirinya ia juga mengandung makna taqlid menurut makna asli (generik) kata-kata itu, yakni, sebelum ia menjadi istilah teknis dengan makna sekunder seperti kini umum dipahami. Sebab, taqlid dalam arti generik merupakan unsur sikap menerima kebenaran suatu postulat berdasarkan pengakuan bahwa sumber atau pembuat postulat mempunyai wewenang penuh dan tinggi. Karena salah satu konsekuensi konsep tentang Tuhan ialah konsep tentang Dia Yang Maha Berwenang, maka menerima dengan penuh keyakinan terhadap kebenaran ajaran-Nya dengan sendirinya merupakan implikasi kepercayaan atau iman kepada Rasul dan ajaran-ajaran yang dibawa-Nya. [3] Iman yang sempurna dengan sendirinya mengandung semangat sikap pasrah sepenuhnya. Segi lain tentang makna penting taqlid ialah yang menyangkut masalah akumulasi informasi dan pengalaman. Taqlid sebagai pola penerimaan otoritas pendahulu dalam rentetan pengembangan ilmu dan pemikiran hampir tidak mungkin dihindari. Sebab, ekonomi pemikiran tidak mengizinkan terlalu banyak bersandar pada kemampuan pribadi secara terpisah dan atomistis, sehingga segala sesuatu akan menjadi tanggung jawab sendiri, dengan keharusan merintis setiap pengembangan dari titik nol (from the scratch). Pengetahuan

manusia seperti yang ada sekarang ini yang menandai zaman modern ("iptek") adalah hasil kumulatif penggalian informasi dan pengalaman yang melibatkan hampir seluruh ummat manusia sepanjang sejarah yang telah berjalan ribuan tahun. Deretan pengalaman dan pengawetan serta pelembagaan dalam karya-karya intelektual sepanjang masa itu menjadi pohon tradisi intelektual universal ummat manusia, yang tanpa itu kekayaan dan kesuburan seperti yang ada sekarang akan menjadi sama sekali mustahil. Memulai suatu pengembangan pemikiran dan dalam hal ini juga pengembangan bidang budaya manusia manapun dari titik nol akan hanya berakhir dengan kemiskinan (malah pemiskinan - improverishment) hasil usaha itu sendiri. Karena itu taqlid dalam makna generik yang positif merupakan dasar penumbuhan kekayaan intelektual yang integral, yakni integral dalam arti bahwa suatu bangunan tradisi intelektual memiliki akar-akar dalam sejarah. Jadi, keotentikan historis, yang keontentikan itu sendiri diperlukan jika diinginkan daya kembang dan kreativitas yang maksimal. Maka, untuk sekedar misal, seorang Albert Camus dalam tradisi intelektual Eropa (Barat) yang telah tampil dengan filsafat kontemporernya tentang eksistensialisme absurdity yang kontroversial itu pun harus dipahami sebagai bagian integral tradisi intelektual di sana yang akar-akarnya bisa ditelusuri jauh ke masa lalu, sampai ke masa Yunani kuno. Albert Camus, dalam jalan pikiran orang-orang Barat, tidak dapat dipahami tanpa melihat salah satu jalur konsistensi dan benang merah pemikiran Barat itu sendiri, melintasi zaman sampai ke masa lalu yang sangat jauh. Sekalipun konsep absurdity dapat dilihat sebagai Camus, namun sesungguhnya ia adalah salah satu hasil pertumbuhan kumulatif pemikiran Barat. [4] Ia memiliki keabsahan sebagai pemikiran Barat yang integral. Jadi keintegralan dan keotentikan diperkuat oleh adanya konstinuitas tradisi yang berkembang. Tetapi segi positff taqlid ini hanya terwujud jika ia tidak menjadi paham tersendiri yang tertutup, yang tumbuh menjadi "isme" terpisah. Sebab, taqlid seperti ini (yang barangkali lebih tepat disebut "taqlidisme") mengisyaratkan sikap penyucian masa lampau dan pemutlakan otoritas tokoh sejarah. Memang benar, masa lampau selalu mengandung otoritas. Tapi, justru demi pengembangan bidang yang menjadi otoritasnya, masa lampau beserta tokoh-tokohnya harus senantiasa terbuka untuk diuji dan diuji kembali. Pengujian itu dilakukan dengan pertama-tama, menemukan dan menginsafi segi-segi yang merupakan imperatif ruang dan waktu yang ikut membentuk suatu sosok pemikiran. Sebab, suatu sosok pemikiran tidak pernah muncul dan berkembang dari kevakuman. Ia selalu merupakan hasil interaksi berbagai faktor, dan faktor ruang dan waktu acap kali dominan. (bersambung 2/4) -------------------------------------------Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah Editor: Budhy Munawar-Rachman Penerbit Yayasan Paramadina Jln. Metro Pondok Indah Pondok Indah Plaza I Kav. UA 20-21 Jakarta Selatan Telp. (021) 7501969, 7501983, 7507173

Fax. (021) 7507174 Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota
Please direct any suggestion to Media Team

Artikel Yayasan Paramadina
Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota IV.25. TAQLID DAN IJTIHAD (2/4) MASALAH KONTINUITAS DAN KREATIVITAS DALAM MEMAHAMI PESAN AGAMA oleh Nurcholish Madjid Kedua, dengan menghadapkan sosok pemikiran itu pada kenyataan-kenyataan disini sekarang. Penghadapan ini diperlukan untuk melihat relevansi suatu sosok pemikiran historis, karena ia akan berguna untuk kita, disini dan kini. Seperti tubuh manusia yang memiliki mekanisme penolakan terhadap benda-benda asing yang tidak cocok dengan dirinya lewat gejala alergi, ruang dan waktu pun, yang mengejawantah dalam sistem sosial, memiliki mekanisme penolakan terhadap sesuatu yang tidak sesuai tanpa membiarkan diri secara pasif menjadi tawanan ruang dan waktu, kita tidak bisa dihadapkan pada kebutuhankebutuhan nyata yang didiktekan dan ditentukan oleh lingkungan kita. HIKMAH AGAMA Tujuan seorang Rasul diutus kepada umat manusia antara lain untuk mengajarkan Kitab Suci dan hikmah kepada mereka. Karena cakupan maknanya yang demikian luas, "hikmah" diterangkan kedalam berbagai pengertian dan konsep, diantaranya wisdom atau kewicaksanaan (dari bahasa Jawa, untuk membedakannya dari kata "kebijaksanaan"), ilmu pengetahuan, filsafat, malahan "blessing in disguise" (untuk menekankan segi kerahasiaan hikmah). [6] Mendasari konsep itu ialah kesadaran bahwa suatu "hikmah" selalu mengandung kemurahan dan rahmat Ilahi yang maha luas dan mendalam, yang tidak seluruhnya kita mampu menangkapnya. Maka disebutkan bahwa siapa dikaruniai hikmah, ia sungguh telah mendapatkan kebajikan yang berlimpah-ruah. [6] Jika "hikmah" itu kita hubungkan kembali pada istilah "muhkam" (kedua kata itu terambil dari akar kata yang sama, yaitu h-k-m), maka dalam menumbuhkan tradisi intelektual yang integral dan kreatif berdasarkan kaidah taqlid dan ijtihad itu memerlukan kemampuan menangkap hikmah pesan Ilahi seperti yang terlembagakan dalam ajaran-ajaran agama. Berkenaan dengan ini, dan dikaitkan pada keterangan dalam Kitab Suci tentang adanya ayat-ayat mahkam dan mutasyabih tersebut, menarik sekali kita mengangkat penafsiran A. Yusuf Ali atas makna muhkam itu: [7] ... The Commentators usually understand the verses "of established meaning" (muhkam) to refer to the categorical orders of the Shari'at (or the Law), which are plain to everyone's understanding. But perhaps the meaning is wider: "the mother of the Book" must include the very foundation on which all Law rests, the essence of God's Message, as

distinguished from the various allegories, and ordinances.

illustrative

parables,

If we refer to xi. 1 and xxxix. 23, [8] we shall find that in a sense the whole of the Qur'an has both "established meaning" and allegorical meaning. The division is not between the verses, but between the meanings to be attached to them. Each is but a Sign or Symbol: what it represents is something immediately applicable, and something eternal and independent of time and space, - the "Forms of Ideas" in Plato's Philosophy. The wise man will understand that there is an "essence" and an illustrative clothing given to the essence, throught the Book. We must try to understand it as best we can, but not waste our energies in disputing about matters beyond our depth.[9] Sesuatu dari ajaran Kitab Suci yang abadi dan tak terikat oleh waktu dan ruang (eternal and independent of time and space) dalam pengertian tentang muhkam itu tidak lain ialah makna, semangat, atau tujuan universal yang harus ditarik dari suatu materi ajaran agama yang bersifat spesifik, atau malah mungkin ad-hoc. Kadang-kadang makna dan tujuan universal dibalik suatu ketentuan spesifik itu sekaligus diterangkan langsung dalam rangkaian firman itu sendiri. Tapi, kadang-kadang makna itu harus ditarik melalui proses konseptualisasi atau ideasi (ideation). Contoh yang pertama ialah firman Ilahi yang mengurus perceraian Zaid (seorang bekas budak yang dimerdekakan dan diangkat anak oleh Nabi) dari istrinya, Zainab (seorang wanita bangsawan Quraisy dengan status sosial tinggi dan rupawan), dan perceraian itu kemudian diteruskan dengan dikawinkannya Nabi dengan Zainab oleh Tuhan. Maka terlaksanalah perkawinan seseorang -dalam hal ini Nabi menikahi bekas isteri anak angkatnya. Namun kejadian yang bagi orang-orang tertentu terdengar sebagai skandal ini justru -katakanlah- dirancang oleh Tuhan untuk suatu maksud yang mendukung nilai universal yang sejak semula menjadi klaim ajaran Islam, yaitu nilai sekitar konsep kealamian (naturalness) yang suci, yakni konsep fithrah. Dalam hal ini, anak angkat bukanlah anak alami seperti anak (biologis) sendiri, sehingga juga tidaklah alami dan tidak pula wajar jika hubungannya dengan ayah angkatnya dikenakan ketentuan yang sama dengan anak alami, termasuk dalam urusan nikah. Maka, kejadian ad-hoc yang menyangkut Zaid, Zainab dan Nabi itu langsung diterangkan tujuan universalnya, yaitu "agar tidak ada halangan bagi kaum beriman untuk mengawini (bekas) isteri-isteri anak-anak angkat mereka." [10] Tujuan ini jelas langsung terkait dengan segi universal yang lebih menyeluruh, yaitu konsep atau ajaran fithrah, yang mengimplikasikan bahwa segala sesuatu dalam tatanan hidup manusia ini hendaknya diatur dengan ketentuan yang sealami mungkin sesuai dengan hukum alam (Qadar) [11] dan hukum sejarah (Sunnat-u 'l-Lah) yang pasti dan tak berubah-ubah. [12] Pandangan bahwa segala sesuatu harus sealami mungkin adalah benar-benar sentral namun menuntut pemahaman mendalam yang disebut sebagai agama ftthrah yang hanif. Itulah hikmah pesan agama dalam arti yang seluas-luasnya dan secara global. Dalam arti yang lebih terinci, konsep hikmah agama dinyatakan dalam berbagai ungkapan, seperti telah menjadi tema dan judul sebuah buku yang cukup terkenal, Hikmat al-Tasyri' wa Falsafatuhu. [13] Hikmah pesan agama

kerusakan mental itu -betapa pun jelas negatif. Padahal memelihara fithrah itulah. tapi justru karena itu menuntut persyaratan banyak dan berat. yaitu tema-tema teori politik Sunni. orang-orang muslim terbiasa berpikir bahwa dunia ini milik mereka. Konsep-konsep ini dibuat berkenaan dengan perlunya menemukan suatu rationale yang mendasari penetapan suatu hukum. Contoh nyata penerapan konsep ini ialah yang dikenakan pada hukum khamr. lebih dari pada yang dipahami umum. Maka ijtihad bisa dilakukan hanya oleh orang-orang tertentu yang benar-benar telah memenuhi syarat itu. Para pembaharu mendapati bahwa praktek taqlid yang umum . khususnya pembahasan bidang hukum (syari'ah -par excellence). dan meluas serta kompleks. Syarat-syarat itu sekarang boleh kedengaran kuno. Dalam sejarah masyarakat Muslim sempat tumbuh pandangan yang hampir menabukan ijtihad. seperti khamar) ialah sifatnya yang memabukkan. yang juga sering disebut dengan manath al-hukm (sumbu perputaran hukum). Bahwa rationale diharamkannya minuman keras (alkoholik. Kini.ini juga dikenal dengan istilah lain sebagai maqashid al-syari'ah (maksud dan tujuan syari'ah). justru merupakan salah satu ajaran sentral agama Islam. Sikap penabuan dengan sendirinya tidak dapat dibenarkan meskipun sesungguhnya ia muncul dari obsesi para ulama pada ketertiban dan ketenangan atau keamanan. mendalam. (Disebut anomalous. yaitu bahwa ia berarti hilangnya akal sehat yang menjadi bagian dari fithrah manusia. Melalui tokoh-tokoh pembaharu seperti Muhammad Abduh dan Sayid Ahmad Khan. khususnya di masa-masa penuh kekacauan menjelang keruntuhan Baghdad. jantung kawan (Oikoumene). yaitu kerusakan mental. karena selama paling kurang tujuh atau delapan abad. namun ia dibuat dengan tujuan menjamin adanya kewenangan dan tanggung jawab. Kemudian sifat memabukkan itu sendiri dihukumnya sebagai tidak baik. Tapi. dan hak mengatur dunia hanya ada pada mereka. dalam perkembangan selanjutnya penabuan itu juga dapat dilihat sebagai kelanjutan masa kegelapan (obskurantisme) dalam pemikiran Islam.masih bisa dilihat rationalenya sehingga ia negatif. [14] IJTIHAD Uraian di atas dibuat dengan tujuan memberi gambaran bahwa masalah taqlid dan ijtihad. menyangkut hal-hal yang cukup rumit. pelukisan tentang kegiatan ijtihad sebagai sesuatu yang amat eksklusif telah melahirkan persepsi salah. karena ia mengakibatkan suatu jenis kerusakan. Karena itu di kalangan ulama klasik ada pendapat hampir merata bahwa ijtihad adalah suatu tugas yang penuh gengsi. Berkaitan dengan ini berbagai konsep yang telah mapan dalam pembahasan agama Islam. seperti konsep sekitar 'illat al-hukm (Latin: ratio legis). ijtihad dikemukakan kembali sebagai metode terpenting menghilangkan situasi anomalous dunia Islam yang kalah dan dijajah oleh dunia Kristen Barat. terutama daerah Nil sampai Ozus. Dan selanjutnya. sebagai salah satu akibat penguasaan mereka atas daerah-daerah sentral peradaban manusia. Hanya saja. ijtihad itu diajukan orang sebagai salah satu tema pokok usaha reformasi atau penyegaran kembali pemahaman terhadap agama.

khususnya zaman 'Umar. menurut kerangka aturan yang telah mapan tentang pengambilan hukum dan norma-norma moral Islam." [18] (bersambung 3/4) -------------------------------------------Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah Editor: Budhy Munawar-Rachman Penerbit Yayasan Paramadina Jln. Gejala ini pula yang hari-hari ini dilihat al-Makki. [16] Bahkan 'Umar "tidak memandang semua perkara bersifat ta'abbudi (bernilai 'ubudiyyah." [17] Pandangan 'Umar ini sejalan dengan. malah juga Rasulullah sendiri! Menurut al-Makki. meskipun umat itu kafir. 'Umar adalah seorang yang "berpikiran luas. dan tidak memandang baik terhadap sikap jumud dalam hukum. (021) 7507174 Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota Please direct any suggestion to Media Team Artikel Yayasan Paramadina Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota IV. tidak hanya para Sahabat seperti 'Umar dll. Tokoh pembaharu modern paling berpengaruh ini "memahami ijtihad dalam pengertiannya yang luas sebagai penelitian bebas. Metro Pondok Indah Pondok Indah Plaza I Kav. khususnya jika berbentuk unsur dari budaya asing. yang tidak segan-segan mengambil apa saja yang baik dari umat-umat lain.." [19] Berkenaan dengan itu. 7501983. devotional).menguasai orang-orang muslim.w. penegasannya bahwa "tidaklah ada gunanya berbicara tentang kebenaran namun tidak dapat dilaksanakan. Ia melukiskan semangat kosmopolit zaman klasik Islam.t. selain . paling celaka kecemasan dan rendah diri. (021) 7501969. Xenophobia itu sendiri merupakan gejala. TAQLID DAN IJTIHAD (3/4) MASALAH KONTINUITAS DAN KREATIVITAS DALAM MEMAHAMI PESAN AGAMA oleh Nurcholish Madjid Agaknya jalan pikiran 'Umar dari zaman klasik (salaf) Islam itu muncul lagi pada orang-orang tertentu dari kalangan para pemikir Islam zaman modern. sungguh menarik pemaparan pemikiran al-Makki bahwa melakukan ijtihad. tetapi mengikuti berbagai pertimbangan kemaslahatan dan melihat makna-makna yang merupakan poros penetapan hukum (manath al-tasyri') yang diridlai Allah s. dan tentang apa yang paling baik disini dan sekarang. [15] Ini dengan mudah dilihat gejala xenophobia. 7507173 Fax. khususnya Muhammad Abduh. telah berkembang menjadi suatu sikap mental. sepanjang penuturannya. yang meliputi penolakan secara sadar terhadap segala sesuatu yang baru. dari kalangan generasi awal Islam. Sebab. baik awam maupun ulama. paling untung chauvinisme. seorang pemikir Makkah dari madzhab Maliki. jika bukan malah pandangan teologis.25. dan merupakan konsekwensi dari. UA 20-21 Jakarta Selatan Telp.

selaku Utusan Tuhan yang menerima wahyu parametris. maka seperti ditegaskan Ibn Taymiyyah. Al-Makki mengatakan bahwa dalam berijtihad Nabi selalu benar. dari sudut pandangan esoterisnya. selalu toleran satu sama lain. namun tidak mustahil. Maka problema yang dihadapkan kepada setiap orang ialah bagaimana ia teguh tanpa menjadi kemutlakan-kemutlakan. Hadlrat al-Syaikh K. dan sekaligus berkembang dan kreatif tanpa kehilangan keotentikan dan keabsahan -suatu penitian jalan yang sulit. sampai ia akhirnya bertemu (liqa. Sebab. yang menegaskan bahwa siapa yang berijtihad dan benar. ia akan mendapat dua pahala. pasti memang hanya usaha yang penuh kesungguhan saja. Seluruh ide tentang mendekati (taqarrub) kepada Tuhan mengisyaratkan perlunya manusia berjalan tanpa jemu-jemunya meniti jalan lurus yang sulit itu. Inilah barangkali letak kebenaran ucapan Karl Mannheim bahwa setiap ideologi (yakni. dengan mekanisme penerimaan dan penganutan suatu otoritas (taqlid) kekayaan pengalaman kultural manusia. Jika diluar itu Nabi bisa salah.H. [21] NILAI SEBUAH IJTIHAD Dari uraian di atas. dan siapa yang . sebagaimana tercermin dalam sabda Nabi yang amat terkenal. menjadi kumulatif. sebagai sama-sama kegiatan manusiawi yang serba terbatas. jalan itu sebanyak jumlah mereka yang mencarinya dengan sungguh-sungguh. Tapi. yaitu ijtihad dan mujahadah. [22] Dan karena banyaknya jalan menuju Kebenaran itu. khususnya pemikiran. Sebab. Sesuatu dari kreasi manusiawi yang diabsolutkan akan secepat itu pula akan terobsolutkan. sehingga harus senantiasa dibiarkan membuka diri bagi tinjauan dan pengujian. namun tanpa menjadi satu) dengan Kebenaran. Jadi tidak dibenarkan adanya absolutisme di sini. dan ketertutupan itu akan menjadi sumber absolutnya. Jalan menuju kesana ternyata banyak. dan ijtihad diperlukan justru untuk mengembangkan dan lebih memperkaya pengalaman itu. begitu pula para Imam madzhab sendiri. [23] Akhirnya. maka taqlid ataupun ijtihad selalu mengandung persoalan. Bahkan. Muhammad Hasyim Asy'ari dan al-Sayyid Muhammad Ibn Alawi ibn "Abbas al-Maliki al-Hasani al-Makki. dengan izin dan ridla dari Sang Kebenaran itu sendiri. atau kalaupun salah beliau akan segera mendapat teguran Ilahi melalui wahyu yang suci sehingga kesalahan itu tidak melembaga dan menjadi satu dengan pola hidup orang banyak. meskipun amat jarang. setiap bentuk absolutisme akan membuat suatu sistem pemikiran menjadi tertutup. para Sahabat Nabi dahulu. yang menjadi alasan bagi Sang Kebenaran untuk menuntun seseorang ke berbagai jalan menuju kepada-Nya. dan saling menghargai pendapat yang ada di kalangan mereka. [20] (Dalam hal ini al-Makki mirip dengan Ibn Taymiyyah yang berpendapat bahwa Nabi bersifat ma'shum hanya dalam tugas menyampaikan (al-balagh) wahyu. Sebab. kiranya jelas bahwa taqlid dan ijtihad sama-sama diperlukan dalam masyarakat manapun. dan selalu langsung dikoreksi Tuhan). Nabi juga sering melakukan ijtihad dengan menggunakan metode analogi atau qiyas. pemikiran yang dihayati secara ideologis-absolutistik) cenderung untuk selalu bakal ditinggalkan zaman.

Diantara isinya ayat-ayat muhkamat (jamak dari muhkam) yang merupakan induk (ajaran) Kitab Suci itu. dan lainnya berupa ayat-ayat mutasyabihat (jamak dari mutasyabih). 2. tapi ia juga benar. kemudian mereka tidak mendapati dalam diri mereka keberatan terhadap apa yang telah kau putuskan. Adapun mereka yang dalam hatinya terdapat kecenderungan kurang baik (serong). karena merupakan Sunnat Allah untuk seluruh ciptaannya. 'Ali 'Imran 3:7. 1964). 120-121. kita terus bergerak maju secara dinamis. [24] Dengan berbekal ketulusan. (khutbahnya di atas bukit Moria (Zion) -yang kini berdiri Masjid 'Umar atau Qubbat al-Shakhrah dan Masjid al-Aqsha itu) sebagaimana dituturkan dalam Injil Matius 5 dari Perjanjian Baru. niat baik dan ketulusan hati adalah sumber perlindungan Ilahi dalam usaha kita mengembangkan masyarakat. termasuk sejarah manusia. sedangkan seluruh wujud ini berjalan dan terus berubah. ia masih mendapat satu pahala. Dan memang tidaklah menangkap pesan ini kecuali mereka yang berpengertian. kemudian Job. Ini merupakan hal yang amat penting dalam perkembangan dan pertumbuhan. sejak zaman Nabi 'Isa a. "Tidak. Padahal tidak ada yang mengetahui maknanya yang tersembunyi itu kecuali Allah. sedangkan kemandekan berarti kematian.berijtihad dan salah. melintasi zaman. Amos. maka akan (hanya) mencari yang mutasyabih saja dari Kitab Suci itu dengan tujuan menciptakan perpecahan dan mencari-cari maknanya yang tersembunyi (membuat-buat interpretasi). sebab Dia-lah Kebenaran Yang Pertama dan yang Akhir. Al-Sayyid Muhammad ibn Alawi ibn Abbas al-Maliki al-Hasani al-Makki. sehingga para filsuf . dan Zabur dalam Perjanjian Lama. Seperti dikatakan 'Umar dalam suratnya di atas. CATATAN 1." 3. 5. yaitu sama dengan "filsafat" yang memang menyiratkan wisdom. Dalam literatur klasik Arab. demi Tuhanmu. hal 1728. "kami beriman dengan ayat-ayat itu. Karena itu tujuan hidup yang benar hanyalah Allah. [26] Dalam dinamika itu tidak perlu takut salah." 4. 1407 H/1986 M). "Dia (Tuhan)-lah yang menurunkan kepadamu (Muhammad) Kitab Suci.s. dan mereka pasrah sepasrah-pasrahnya. Ini bisa dipahami dari firman. h. QS. sebab semuanya dari Tuhan kami. sampai kepada Heracleitus dari Ephesus di zaman Yunani kuno. Hanya Dzat Allah yang kekal abadi. Sebab perkembangan dan pertumbuhan adalah tanda vitalitas. Sedangkan orang-orang yang mendalam pengetahuannya akan berkata. para penganjurnya mengklaim sebagai berakar pada masa lampau yang jauh. Dinamika penting tidak saja karena merupakan unsur vitalitas. "hikmah" memang sering diartikan sebagai wisdom. QS. The Word of Existentialism: A Critical Reader (Chicago: The University of Chicago Press. Berkenaan dengan "pohon" tradisi intelektual Barat cabang filsafat eksistensialisme ini. Eclesiastes. Micah. mereka tidaklah beriman sehingga mereka mengangkatmu sebagai hakim berkenaan dengan hal-hal yang diperselisihkan di antara mereka. karena takut salah itu sendiri adanya kesalahan yang paling fatal. ed. al-Nisa 4:65. (lihat Maurice Friedman. Syarifat Allah al-Khalidah: Dirasat fi Tarikh Tasyri al-Ahkam wa Madzahib al-Fuqaha al-A'lam (Jeddah: Dar al-Syuruq.

Sebab. TAQLID DAN IJTIHAD (4/4) MASALAH KONTINUITAS DAN KREATIVITAS DALAM MEMAHAMI PESAN AGAMA oleh Nurcholish Madjid 9." dan QS.25. The Holy Qur'an (Jeddah: Dar al-Qiblah for Islamic Literature. catatan 4276). (Inilah) Kitab yang ayat-ayatnya dibuat jelas maknanya (digunakan kata kerja pasif "uhkimat" yang sama artinya dengan kata sifat atau participte pasif "muhkam"). 1243. (021) 7501969." 7. 514. Yaitu QS. QS. catatan 347. Dan barangsiapa diberi hikmah. hal. catatan 1493 dan hal. 123.Yusuf Ali. (Lihat A. Fash al-Maqal wa Taqrir ma bain al-Hikmah wa al-Syari'ah min al-Ittishat (Kata Putus dan Kejelasan tentang Hubungan antara Filsafat dan Agama). yakni serasi antara berbagai ajarannya. Ali. hal. (Patut diketahui bahwa terjemahan al-Qur'an dan tafsir ke dalam Bahasa Inggris oleh A. dari sisi Yang Maha Bijaksana dan Maha Teliti. (bersambung 4/4) -------------------------------------------Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah Editor: Budhy Munawar-Rachman Penerbit Yayasan Paramadina Jln. "Allah telah menurunkan sebaik-baik Firman dalam bentuk sebuah Kitab yang mutasyabih (serasi. Al-Zumar 39:23. Ayat-ayat muhkam itu disebut sebagai "mother of the Book. sedangkan di 3:7 dengan muhkam. (021) 7507174 Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota Please direct any suggestion to Media Team Artikel Yayasan Paramadina Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota IV. 7507173 Fax. Namun. yang manusia sedapat mungkin berusaha keras menangkapnya.. UA 20-21 Jakarta Selatan Telp. Lihat catatan 2 di atas. Metro Pondok Indah Pondok Indah Plaza I Kav. 6. dari risalah Ibn Rusyd. maka sungguh ia telah diberi kebaikan yang banyak.. 8. ide pokoknya atau "Form of Ideas"-nya sama. Hud 11:1." Induk Kitab Suci" (Umm al-Kitab). tanpa dogmatik dan tertutup. yakni dalam mengungkapkan ajaran-ajaran itu) . Yusuf Ali ini dianggap paling standar dan populer dalam . konsisten) namun matsani (berulang-ulang. mutasyabih di sini dikontraskan terhadap matsani. "Dia (Tuhan) memberi hikmah kepada siapa saja yang dikehendaki-Nya. Ini dengan jelas tercermin. A. al-Baqarah 2: 269.Y. misalnya.(al-falasifah) juga disebut al-hukama ("orang-orang bijaksana"). "Alif Lam Ra. kemudian dirinci. yaitu bahwa ajaran al-Qur'an membentuk suatu kesatuan yang utuh." A Yusuf Ali mengartikan perkataan mutasyabih di sini berbeda dengan yang ada pada 3:7 di atas. tt). 7501983.

QS." Kedua ayat itu. padahal Allah-lah yang lebih berhak kau takuti. Fathir 36:43." 11. yang setelah dimerdekakan diangkat Nabi sebagai anak angkat. dan mereka takut kepada-Nya. Maka setelah Zaid melaksanakan pembatalan (perkawinannya) dengan dia (Zainab) secara pasti (resmi).. dan cukuplah Allah sebagai yang membuat perhitungan Muhammad bukanlah ayah seseorang dari kaum lelaki diantara kamu. Itulan Sunnat Allah kepada mereka yang telah lewat sebelumnya. menegaskan tentang adanya hukum kepastian dari Allah (Qadar) yang menguasai dan mengatur alam raya ciptaan-Nya ini.." Dan QS. Ini adalah "contoh klasik" metode pendekatan al-Qur'an terhadap masalah sosial kemanusiaan yang pelik dan peka. tidak terkecuali Nabi sendiri. dan masih banyak lagi ayat-ayat yang lain. "Ingatlah ketika engkau berkata kepada seseorang (Zaid) yang telah mendapatkan nikmat dari Allah dan mendapat nikmat (kasih sayang) darimu sendiri. Tetapi dengan adanya pembatalan sistem anak angkat yang disamakan dengan anak kandung dan sejak itu bernama lengkap seperti semestinya. Firman yang dimaksud berkenaan dengan masalah ini ialah QS. Dan perintah Allah haruslah dilaksanakan. ". Dan mengapa mereka tidak memperhatikan Sunnah yang terjadi pada orang-orang yang telah lalu? Engkau tidak akan mendapatkan peralihan dalam Sunnat Allah dan engkau tidak akan menemukan perubahan dalam . dengan hak hak pada anak angkat itu yang sama dengan anak biologis (alami). dan engkau takut kepada manusia. 10. Tidak boleh ada kesulitan pada Nabi berkenaan dengan apa yang telah ditetapkan oleh Allah. Penyebarannya di seluruh dunia banyak dibiayai oleh Pemerintah Saudi Arabia sejak 1384 H/1965 M dengan sponsor Rabithah Alam Islami yang diketuai Syeik Mohammed Sour as-Sabhan sampai saat ini dengan berbagai cetakan dan edisi. telah lama mempraktekan pengangkatan anak atau apa yang disebut tabanni. yang kemudian juga mendapat restu dan persetujuan Ri'asat Idarat al-Buhuts al-Ilmiyyah wa 'l-Ifta wa 'l-Da'wah wa 'I-Irsyad di Riyadh sebagai badan tertinggi urusan keagamaan Saudi Arabia. Orang-orang Arab. Al-Furqan 25:2 "Dan Dia (Tuhan) menciptakan segala sesuatu kemudian ditetapkan kepastiannya sepasti-pastinya. "Sesungguhnya Kami (Tuhan) telah menciptakan segala sesuatu dengan (hukum) kepastian (Qadar). QS. Al-Qamar 54:49. yaitu Zaid ibn Haritsah. 12. meniru penempatan Kitab Suci Kristen yang telah lama ada). Zaid yang bekas budak (hitam) itu memang seorang pemuda yang saleh dan cerdas.dunia Islam internasional. Al-Ahzab 33:37-40. melainkan Rasul Allah dan Penutup Nabi. yaitu (Sunnat Allah) kepada mereka yang menyampaikan pesan-pesan Allah. "Pertahankanlah untukmu isterimu (Zainab) itu. Tetapi engkau menyimpan sesuatu dalam dirimu yang Allah hendak membukanya keluar. Kami (Tuhan) kawinkan engkau (Muhammad) kepadanya (Zainab). termasuk yang menyangkut masalah kawin dan waris. Allah Maha Mengetahui atas segala sesuatu. dan sejak itu bernama lengkap Zaid ibn Muhammad. Salah satu edisinya dimaksudkan untuk hotel-hotel internasional. dan bertaqwalah kepada Allah. agar tidak ada halangan bagi orang-orang beriman untuk mengawini isteri-isteri anak-anak angkat mereka jika memang mereka (anak-anak angkat) telah membatalkan (perkawinan) dari mereka (isteri-isteri mereka). dan perintah Allah adalah kepastian yang sepasti-pastinya.

) hal. tetapi cukup mewakili suatu contoh pencarian makna umum ibadat. alkohol dan pengaruh buruknya terhadap negeri-negeri panas. Yaitu judul sebuah kitab yang cukup terkenal. dan masih banyak lagi yang lain." Firman ini. yang meliputi pula pembicaraan sekitar pengaruh alkohol kepada peminumnya. 13. yakni hukum-hukum kepastian dari Allah yang menguasai dan mengatur kehidupan manusia dalam sejarah. Lihat pembahasan panjang lebar tentang masalah ini dalam al-Jurjawi (op. 14. Namun isinya masih jauh dari klaim judul buku itu sendiri. yaitu filsafat at-tasyri' (filsafat penetapan hukum syari'at atau agama). 269-281. ajaran dan praktek keagamaan itu secara rinci. (Beirut: Dar al-Fikr. tt). oleh Ali Ahmad al-Jurjawi yang mencoba melihat hikmah setiap bentuk ibadat serta ajaran dan praktek keagamaan yang lain. pada peredaran darahnya. Pendekatannya kurang meyakinkan dan berbau apologetik.Sunnat Allah. Kita diwajibkan memeriksa dan meneliti kemudian menarik pelajaran daripadanya. menjelaskan tentang adanya Sunnat Allah. jumlah kematian karena alkoholisme. cit. pengaruhnya terhadap kesehatan. bisnis asuransi jiwa. serta .

cit. Dari beberapa contoh yang dituturkan al-Makki.w. Ide itu ditirunya dari orang-orang Persia. isteri Beliau yang berasal dari Mesir. salah satunya ialah ijtihad Nabi di waktu menyiapkan Perang Badar. 17. 3. Juga. masih belum muslim. Pembahasan tentang ishamat atau ketidak-biasaan . Versi manapun yang benar. sehingga. 5 jilid (Beirut: Muassasat Sya'ban. 15. hal. semuanya menunjukkan suatu yang dimaksudkan oleh al-Makki sebagai contoh ijtihad Nabi. (Lihat. 137). Lihat catatan 1 di atas. 274. Al-Makki op. sedangkan menyiksa binatang seperti itu tidaklah diperbolehkan.hal. 116. Musuh dalam perang bukanlah orang yang harus dihormati sehingga tidak diperbolehkan dihalangi dari air. 48. padahal Mariyah adalah isteri Beliau yang sah. Cit. Hodgson. hal. "Ini dari wahyu atau dari pendapat (ijtihad)?" Nabi menjawab. Anwar al Tanzil wa Asrar al-Ta'wil al-ma'ruf bi tafsir al-Baydlawi. 1974). termasuk pendekatan analogis.) jil. Ibid. 19. 20. Hodgson op. salah satu metode ijtihad yang amat penting. 21. mempunyai naluri amat kuat untuk bersikap kasih kepada sesama hidup. Nashir al-Din Abi Said 'Abdullah ibn 'Umar ibn Muhammad al-Syirazi al-Baydlawi. Al-Tahrim 66:1. tentu saja. 5. 121. Nabi berijitihad untuk tidak usah menguasai sumber air yang vital. mengapa engkau mengharamkan sesuatu yang dihalalkan Allah hanya untuk memperoleh kerelaan (kesenangan hati) isteri-isterimu?!" Para penafsir klasik menuturkan tentang suatu kejadian bahwa Nabi suatu hari tinggal di rumah Mariyah. karena murka kepada Aisyah atau Hafshah. Sedangkan yang disebut-sebut ijtihad Nabi yang kemudian mendatangkan teguran Ilahi ialah yang terabadikan dalam QS. kata al-Makki.. karena Beliau melakukan analogi bahwa menghalangi mereka (musuh) dari memperoleh air yang vital itu sama dengan menghalangi binatang dari air. jil. Yang dimaksudkan al-Makki sebagai sesuatu yang diambil 'Umar dari orang-orang kafir ialah idenya membuat Bayt al-Mal dan kalender (Hijrah). 274-275. Hal itu kemudian diketahui oleh Hafshah. karena menghalangi mereka dari air termasuk taktik perang dan menjadi sebab kemenangan. cit. 3 jilid (Chicago: The University of Chicago Press. Kemudian al-Khabab membalas. Jadi. 18. 16.a. demi menyenangkan hati Hafshah (anak 'Umar ibn al-Khattab) Nabi berjanji dan mengharamkan berkumpul dengan Mariyah atas diri Beliau. "Pendapat yang benar ialah kita harus menghalangi mereka (musuh) itu dari air yang vital ini." Inipun. op. "Wahai Nabi. tt. ada versi lain berkenaan dengan kejadian yang terabaikan dalam firman ini.. "Pendapat.korelasi antara alkohol dan kejahatan. menurut hukum Allah adalah halal." Yaitu. hal. hal. hal. supaya musuh pun dapat pula memanfaatkannya. yang pada waktu itu.. The Venture of Islam. Padahal Nabi s.S. lalu Hafshah pun marah kepada Nabi. Al-Makki. Marshall G. maka datanglah al-Khabbab ibn al-Mundzir bertanya.

Lihat juga QS.. Seluruh jagad lahir dan tunduk kepada hukum peralihan dan perubahan fana akan sirna. 130. dan Dia Maha mengetahui atas segala sesuatu. hal. namun Dia akan tetap abadi. QS. Perlu diketahui. sebagaimana tereermin dari judulnya. (021) 7507174 Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota Please direct any suggestion to Media Team . Muh. Ikhtilaf al-Ummah fi al-Ibadat. al-Ankabut 29:69.H. tt). (021) 7501969. Baginyalah ketentuan hukum. yang tentang hal itu kita bisa mempunyai berbagai pengertian. jil.(infallibility) Nabi oleh Ibn Taymiyyah ini dapat kita jumpai dalam karya besarnya Minhaj al -Sunnat al-Nabawiyyah fi Naqdl Kalam al-Syi'ah wa al-Qadariyvah. Yang Lahir dan Yang Batin. cit." 23. Al-Hadid 57:3. QS. atau Wujud-Nya itulah yang harus kita cari." A. 1. "Wajah"-Nya atau Diri.. 7507173 Fax. maka pastilah akan Kami tunjukkan kepada mereka berbagai jalan (subul) Kami. 7501983. UA 20-21 Jakarta Selatan Telp. yang tentang Dia itu kita hanya mampu menangkap gaung samar-samar atau cerminan dalam momen yang paling intens dalam luapan spiritual. Al-Qashash 28:88. dan kepadanyalah kamu semua akan dikembalikan. "Janganlah menyeru bersama Allah (Tuhan Yang Maha Esa) suatu Tuhan yang lain. Tiada suatu Tuhan melainkan Dia. hal. kita tidak dapat menggabungkannya dengan Pribadi atau Wujud yang vital. Jadi kita tahu bahwa apa yang kita sebut diri kita sendiri tidaklah punya makna. 25. dan itu adalah Tuhan. Ibn Taymiyyah. 244 dan passim. 1 di atas dan keterangan yang bersangkutan awal-awal tulisan ini. op. "Dia (Tuhan)-lah Yang Pertama dan yang Akhir. Hasyim Asy'ari. Kenyataan satu-satunya ialah Tuhan. Pribadi. 24. karena menyadari bahwa Dia-lah satu-satunya hal yang abadi. al-Tanbihat. karya ini ditulis sebagai polemihya dengan golongan Syi'ah. Lihat catatan no. dan al-Makki. Yusuf Ali memberi komentar yang menarik tentang ayat terakhir Surah 28 ini: "Ini meringkaskan pelajaran seluruh Surah. 22." -------------------------------------------Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah Editor: Budhy Munawar-Rachman Penerbit Yayasan Paramadina Jln. Segala sesutu binasa kecuali Wajah-Nya. "Dan barangsiapa berusaha sungguh-sungguh (mujahadah) di jalan Kami. K. suatu kekuatan kebaikan yang abstrak. Jika berpikir tentang Tuhan yang impersonal. sebab hanya ada satu Diri yang benar. Metro Pondok Indah Pondok Indah Plaza I Kav. Lihat. Inilah juga doktrin Advaita dan Shri Shankara dalam jabarannya terhadap Brihadaranyaka Upanishad dalam filsafat Hindu. 4 jilid (Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiyyah.

Dengan demikian seseorang hanya dibenarkan bertaqlid kepada mujtahid yang mu'tabar. baru kemudian menyoroti masalah taqlid. 3. baik yang terdekat itu diperoleh dari nash -yang terkenal dengan qiyas (ma'qul nash)." Dalam kaitan pengertan ijtihad menurut istilah.24. Dan di sisi lain ada pengertian ijthad yang telah digunakan para sahabat Nabi. Taqlid tidak akan ada tanpa ijtihad.yang mengemukakan rumusan definisi. masalah ijtihad selalu lebih dahulu dibicarakan sebelum masalah taqlid.Artikel Yayasan Paramadina Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota IV. Menurut mereka. TAQLID DAN IJTIHAD (1/4) Beberapa Pengertian Dasar Oleh KH. ijtihad adalah pengerahan segenap . 2." Atas dasar ini maka tidak tepat apabila kata "ijtihad" dipergunakan untuk melakukan sesuatu yang mudah/ringan. atau yang terdekat itu diperoleh dari maksud dan tujuan umum dari hikmah syari'ah. dimana dalam buku-buku Ushul Fiqh. Pengertian ijtihad menurut bahasa ini ada relevansinya dengan pengertian ijtihad menurut istilah. 1. IJTIHAD Tulisan ini akan mendahulukan masalah ijtihad. PENGERTIAN IJTIHAD Menurut bahasa. Ibrahim Hosen 1. disamping banyaknya buku yang mengupas masalah tersebut yang mudah kita temukan. dimana untuk melakukannya diperlukan beberapa persyaratan yang karenanya tidak mungkin pekerjaan itu (ijtihad) dilakukan sembarang orang. Minimal ada tiga alasan kenapa lebih mendahulukan ijtihad daripada taqlid. ada dua kelompok ahli ushul flqh (ushuliyyin) -kelompok mayoritas dan kelompok minoritas. Dalam tulisan ini saya hanya akan bicara tentang beberapa aspek ijtihad dan taqlid yang dipandang penting. Sekedar mengikuti kelaziman. Persoalan taqlid akan lebih mudah dipahami jika seseorang telah memahami persoalan ijtihad. ijtihad berarti "pengerahan segala kemampuan untuk mengerjakan sesuatu yang sulit. Dalam tulisan ini hanya akan diungkapkan pengertian ijtihad menurut rumusan ushuliyyin dari kelompok mayoritas. mengingat kedua masalah itu amat sering diperbincangkan.yang terkenal dengan "mashlahat. Mereka memberikan batasan bahwa ijtihad adalah "penelitian dan pemikiran untuk mendapatkan sesuatu yang terdekat pada Kitab-u 'l-Lah dan Sunnah Rasul.

Dia mengatakan bahwa ijtihad juga berlaku di bidang aqidah. Lantaran itulah Jumhur 'ulama' telah bersepakat bahwa ijtihad hanya berlaku di bidang hukum (hukum Islam) dengan ketentuan-ketentuan tertentu. bukan yang lain. 2. Pendapat ini bukan saja menunjukkan inkonsistensi terhadap suatu disiplin ilmu (ushul fiqh). MEDAN IJTIHAD Di atas telah ditegaskan bahwa ijtihad hanya berlaku di bidang hukum. Status hukum syar'i yang dihasilkan oleh ijtihad adalah dhanni. Juz II. Masalah-masalah baru yang hukumnya belum ditegaskan oleh nash al-Qur'an atau Sunnah secara jelas. hukum Islam yang mana saja yang mungkin untuk di-ijtihad-i? Adakah hal itu berlaku di dunia hukum (hukum Islam) secara mutlak? Ulama telah bersepakat bahwa ijtihad dibenarkan. (Jam'u 'l-Jawami'. Lalu. Masalah-masalah baru yang hukumnya belum diijma'i oleh ulama atau aimamatu 'l-mujtahidin. 379). 4. Pelaku utihad adalah seorang ahli fiqih/hukum Islam (faqih). Yang ingin dicapai oleh ijtihad adalah hukum syar'i. bukan hukum i'tiqadi atau hukum khuluqi. dan akan membawa rahmat manakala ijtihad dilakukan oleh yang memenuhi persyaratan dan dilakukan di medannya (majalul ijtihad). 3. Dalam hubungan ini komentator Jam'u 'l-Jawami' (Jalaluddin al-Mahally) menegaskan. Atas dasar itu ada kekeliruan pendapat sementara pihak yang mengatakan bahwa ijtihad juga berlaku di bidang aqidah.kesanggupan dari seorang ahli fxqih atau mujtahid untuk memperoleh pengertian tingkat dhann terhadap sesuatu hukum syara' (hukum Islam). Lapangan atau medan dimana ijtihad dapat memainkan peranannya adalah: 1. yaitu hukum Islam yang berhubungan dengan tingkah laku dan perbuatan orang-orang dewasa. serta perbedaan yang terjadi sebagai akibat ijtihad ditolerir. "yang dimaksud ijtihad adalah bila dimutlakkan maka ijtihad itu bidang hukum fiqih/hukum furu'. 3. Hukum Islam yang ma'qulu 'l-ma'na/ta'aqquly (kausalitas . Jadi apabila kita konsisten dengan definisi ijtihad diatas maka dapat kita tegaskan bahwa ijtihad sepanjang pengertian istilah hanyalah monopoli dunia hukum. Dari definisi tersebut sebagai berikut: dapat ditarik beberapa kesimpulan 1. 2. salah seorang tokoh mu'tazilah. Pendapat yang nyeleneh atau syadz ini dipelopori al-Jahidh. tetapi juga akan membawa konsekuensi pembenaran terhadap aqidah non Islam yang dlalal. Nash-nash Dhanny dan dalil-dalil hukum yang diperselisihkan. hal.

akan tetapi juga mentolerir adanya perbedaan pendapat sebagai hasil ijtihad.hukumnya/'illat-nya dapat diketahui mujtahid). lalu ia melakukan ijtihad. maka ia memperoleh dua pahala (pahala ijtihad dan pahala kebenarannya)." Bila kita telaah. 7501983." (Riwayat Bukhari Muslim). disinilah seharusnya kita melakukan terobosan-terobosan baru. kaidah itulah yang menghambat aspirasi sementara kalangan yang hendak merombak hukum-hukum Islam qath'i seperti hukum kewarisan al-Qur'an." PERBEDAAN YANG DITOLERIR Ijtihad dilegalisasi bahkan sangat dianjurkan oleh Islam." Atas dasar itu maka muncullah ketentuan. yang dalam istilah ushul fiqih dikenal dengan syari'ah atau "ma'ulima min al-din bi al-dlarurah. Hal ini antara lain diketahui dari Hadits Nabi yang artinya. UA 20-21 Jakarta Selatan Telp. Apabila ini yang kita lakukan dan kita memang telah memenuhi persyaratannya maka pantaslah kita dianggap sebagai mujtahid di abad modern ini yang akan didukung semua pihak. kemudian hasil ijtihadnya salah. demikian juga ijtihad akan gugur dengan sendirinya apabila hasil ijtihad itu berlawanan dengan nash. Jika hakim akan memutuskan perkara. Hukum Islam yang telah ditegaskan nash al-Qur'an atau Sunnah yang statusnya qath'iy (ahkamun manshushah). Hukum Islam yang telah diijma'i ulama. 7507173 . kalau kita akan melakukan reaktualisasi hukum Islam. Banyak ayat al-Qur'an dan Hadits Nabi yang menyinggung masalah ini. (021) 7501969. Hal ini sejalan dengan kaidah. dan ia berijtihad. maka ia mendapat satu pahala (pahala ijtihadnya). "Tidak ada ijtihad dalam melawan nash. Jadi. Hukum Islam yang bersifat ta'abbudy/ghairu ma'quli 'lma'na (yang kausalitas hukumnya/'illat-nya tidak dapat dicerna dan diketahui mujtahid). (bersambung 2/4) -------------------------------------------Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah Editor: Budhy Munawar-Rachman Penerbit Yayasan Paramadina Jln. 3. kemudian ijtihadnya benar. Islam bukan saja memberi legalitas ijtihad. Sebaliknya ulama telah bersepakat berlaku atau tidak dibenarkan pada: bahwa ijtihad tidak 1. "Tidak berlaku ijtihad pada masalah-masalah hukum yang ditentukan berdasarkan nash yang status dalalah-nya qath'i dan tegas. Metro Pondok Indah Pondok Indah Plaza I Kav. Disamping ijtihad tidak berlaku atau tidak mungkin dilakukan pada ketiga macam hukum Islam di atas. "Apabila seorang hakim akan memutuskan perkara. 2.

tetapi mengandung kemungkinan salah. Apabila benar bahwa semua agama itu sama tentu tidak ada kewajiban berda'wah.24." Betapapun lemahnya suatu ijtihad. yang artinya kebenarannya tidak bersifat absolut. sehingga kita akan sanggup menjadikan perbedaan pendapat tersebut sebagai rahmat yang memporak-porandakan persatuan umat Islam. Prinsip ini dipegang teguh oleh para imam mujtahid. jihad dan sebagainya. dan pendapat selain kami salah. Ibrahim Hosen Hadits di atas bukan saja memberi legalitas ijtihad. Hanya saja. amar ma'ruf nahi munkar. . Oleh sebab itu maka ijtihad yang satu tidak dapat membatalkan ijtihad yang lain.Fax. TAQLID DAN IJTIHAD (2/4) Beberapa Pengertian Dasar Oleh KH. Demikian juga al-Qur'an tidak perlu diturunkan. Perbedaan pendapat dalam hukum Islam sebagai hasil ijtihad inilah yang ditegaskan Nabi akan membawa rahmat (kelapangan bagi umat) sebagaimana diketahui ditegaskan dalam sebuah hadits. IJTIHAD TIDAK DAPAT DIGUGURKAN DENGAN IJTIHAD Di atas telah disinggung bahwa hukum yang dihasilkan oleh ijtihad statusnya dhanny. tidak dapat begitu saja dilenyapkan oleh ijtihad yang lain. Ini jelas tidak dapat dibenarkan. menurut mujtahid. Inilah yang ingin saya tegaskan dalam kesempatan ini mengingat adanya sementara pihak yang menggunakan hadits marfu' untuk membenarkan adanya perbedaan pendapat di bidang aqidah yang akan bermuara pada paham "pluralisme agama" -semua agama sama atau benar. Apabila hal ini dapat kita pegangi secara konsisten maka jiwa tasammuh dalam menanggapi aneka ragam pendapat di bidang fiqih sebagai akibat perbedaan dalam berijtihad akan tetap dapat ditumbuhkan. ia tetap eksis." Hal ini sejalan dengan status fiqih sebagai produk ijtihad yang statusnya dhanny. sejalan dengan kaidah. ia salah tetapi mengandung kemungkinan benar. yakni fiqih. sehingga muncullah ucapan mereka yang sangat populer. "Ijtihad yang satu tidak dapat digugurkan oleh ijtihad yang lain. (021) 7507174 Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota Please direct any suggestion to Media Team Artikel Yayasan Paramadina Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota IV. akan tetapi juga menunjukkan kepada kita bahwa adanya perbedaan pendapat sebagai hasil ijtihad ditolerir. "Pendapat kami benar. betapapun kuat dalilnya. Yang dimaksud dengan perbedaan di sini adalah perbedaan pendapat dalam hukum Islam ijtihady. "Perbedaan pendapat di kalangan ulama akan membawa rahmat." (Abu Nashar Al-Muqaddasi). ia benar tetapi mengandung kemungkinan salah. tetapi mengandung kemungkinan benar. porsi kebenarannya lebih dominan/rajih.

Menguasai kaidah-kaidah istinbath hukum/ushul fiqh. Mengetahui sejarah para periwayat hadits. agar dengan kaidah-kaidah ini ia mampu mengolah dan menganalisa dalil-dalil hukum untuk menghasilkan hukum suatu permasalahan yang akan diketahuinya." SYARAT-SYARAT IJTIHAD. dengan pengertian ia mampu membahas ayat-ayat tersebut untuk menggali hukum. agar ia mampu melakukan istinbath hukum secara tepat. supaya ia dapat menilai sesuatu Hadist. 7. Di antara sekian persyaratan itu yang terpenting ialah: 1. sehingga muncullah ucapan mereka yang sangat populer. 2. tapi mengandung kemungkinan salah. apakah Hadits itu dapat diterima ataukah tidak.Prinsip tasammuh sebagai manifestasi dari status fiqih yang bersifat dhanny tersebut dipegang teguh oleh para Imam Mujtahid. tidak mungkin kita akan melakukan ta'dil tajrih (screening). 6. Mengetahui latar belakang turunnya ayat (asbab-u 'l-nuzul) dan latar belakang suatu Hadits (asbab-u 'l-wurud). 8. tetapi mengandung kemungkinan benar. Mengetahui secara mendalam tentang nasikh-mansukh dalam al-Qur'an dan Hadits. Mengetahui secara mendalam tentang masalah qiyas dan dapat mempergunakannya untuk menggali hukum. 10. Menguasai bahasa Arab secara mendalam. Memiliki ilmu pengetahuan yang luas tentang ayat-ayat al-Qur'an yang berhubungan dengan masalah hukum. dan pendapat selain kami salah. Menguasai seluruh masalah yang hukumnya telah ditunjukkan oleh ijma' agar ia tidak berijtihad yang hasilnya bertentangan dengan ijma'. 3. 5. Seseorang yang ingin mendudukkan dirinya sebagai mujtahid harus memenuhi beberapa persyaratan. "Pendapat kami benar. Mengetahui ilmu logika/mantiq agar ia dapat menghasilkan deduksi yang benar dalam menyatakan suatu pertimbangan hukum dan sanggup mempertahankannya. Berilmu pengetahuan yang luas tentang hadits-hadits Rasul yang berhubungan dengan masalah hukum. Tanpa mengetahui sejarah perawi Hadits. 4. Sebab al-Qur'an dan Sunnah sebagai sumber asasi hukum Islam tersusun dalam bahasa Arab yang sangat tinggi gaya bahasanya dan cukup unik dan ini merupakan kemu'jizatan al-Qur'an. . dengan arti ia sanggup untuk membahas hadits-hadits tersebut untuk menggali hukum. Hal itu agar ia tidak mempergunakan ayat al-Qur'an atau Hadits Nabi yang telah dinasakh (mansukh) untuk menggali hukum. 9. Sebab untuk menentukan derajad/nilai suatu Hadits sangat tergantung dengan ihwal perawi yang lazim disebut dengan istilah sanad Hadits.

Imam Malik. 3. Contohnya. mana yang shahih dan mana yang lemah. mereka memakai sistem atau metode yang telah dirumuskan imamnya. Contohnya seperti Imam Ghazali dan Juwaini dari madzhab Syafi'i. dari mazhab Syafi'i seperti Muzany dan Buwaithy. yaitu ijtihad yang dilakukan dengan cara menciptakan sendiri norma-norma dan kaidah istinbath yang dipergunakan sebagai sistem/metode bagi seorang mujtahid dalam menggali hukum. yaitu ijtihad yang dilakukan seorang mujtahid dalam lingkungan madzhab tertentu. Sebagian ulama berpendapat bahwa pintu ijtihad telah tertutup. sehingga sangat sulit untuk dibedakan. Dari madzhab Hanafi seperti Muhammad bin Hasan dan Abu Yusuf. Norma-norma dan kaidah itu dapat diubahnya sendiri manakala dipandang perlu. 2. Perbedaan pendapat terjadi pada ijtihad menurut definisi ushul fiqih. Ijtihad kategori ini tidak termasuk ketentuan ijtihad menurut ketentuan ushul fiqih. yaitu ijtihad yang dilakukan dengan cara mentarjih dari beberapa pendapat yang ada baik dalam satu lingkungan madzhab tertentu maupun dari berbagai mazhab yang ada dengan memilih mana diantara pendapat itu yang paling kuat dalilnya atau mana yang paling sesuai dengan kemaslahatan sesuai dengan tuntunan zaman. Jadi untuk menggali hukum dari sumbernya. Dalam mazhab Syafi'i. tidak menciptakan sendiri. Ijtihad di bidang tarjih.MACAM-MACAM TINGKATAN IJTIHAD. yaitu ijtihad yang dilakukan seorang mujtahid dengan mempergunakan norma-norma dan kaidah-kaidah istinbath imamnya (mujtahid muthlaq/Mustaqil). Gema ini digelorakan oleh ulama-ulama mutakhirin pada awal abad ke-IV Hijriah setelah dunia Islam diliputi kabut ta'ashub madzhab serta banyaknya man laisa . Mujtahid dari tingkatan ini contohnya seperti Imam Hanafi. BENARKAH PINTU IJTIHAD SUDAH DIKUNCI? Para ahli fiqih telah sepakat bahwa ijtihad dengan pengertian penyesuaian suatu perkara dengan sesuatu hukum yang sudah ada tetap terbuka. Ijtihad Muntasib. Mereka hanya berhak menafsirkan apa yang dimaksud dari norma-norma dan kaidah-kaidah tersebut. Imam Syafi'i dan Imam Ahmad yang terkenal dengan sebutan Mazhab Empat. 4. hal itu bisa kita lihat pada Imam Nawawi dan Imam Rafi'i. demikian juga mengenai hukum furu'/fiqih yang telah dihasilkan imamnya. Ijtihad Muthlaq/Mustaqil. men-takhrij-kan pendapat imamnya dan menyeleksi beberapa pendapat yang dinukil dari imamnya. Pada prinsipnya mereka mengikuti norma-norma/kaidah-kaidah istinbath imamnya. Ijtihad mazhab atau fatwa yang pelakunya disebut mujtahid mazhab/fatwa. Ijtihad terdiri dari bermacam-macam tingkatan. Ijtihad mereka hanya berkisar pada masalah-masalah yang memang belum diijtihadi imamnya. Sebagian ulama mengatakan bahwa antara kelompok ketiga dan keempat ini sedikit sekali perbedaannya. Sebagian ulama menilai bahwa Abu Yusuf termasuk kelompok pertama/mujtahid muthalaq/mustaqil. Oleh karena itu mereka menjadikannya satu tingkatan. yaitu: 1.

tidak dapat diketahui bagaimana status hukumnya. Mungkin berupa hukum yang telah dikeluarkan oleh salah satu Madzhab Empat. Mayoritas Ahl al-Sunnah hanya mengakui Madzhab Empat. yang kebolehannya masih diperselisihkan kaum ushuliyyin. jinayah dan lain sebagainya seluruhnya sudah lengkap dan dibukukan secara terperinci dan rapi. Mungkin berupa hukum yang terdiri dari koleksi pendapat antara dua madzhab atau lebih. yang berarti ijtihad yang dilakukan itu hanyalah tahsil al-hasil . Hukum Islam baik dalam bidang 'ibadah. munakahah. mu'amalah. akan banyak kasus baru yang hukumnya belum dijelaskan oleh al-Qur'an dan Sunnah serta belum dibahas oleh ulama-ulama terdahulu. juga hasilnya akan berkisar: a. Rektor Universitas Al-Azhar pada waktu itu. Kini. Oleh karena itu tiap-tiap yang menganut madzhab Ahl al-Sunnah harus memilih salah-satu dari Madzhab Empat. 2. sehingga Islam akan ketinggalan zaman. yaitu: 1. Menutup pintu ijtihad berarti menjadikan hukum Islam yang semestinya lincah dan dinamis menjadi kaku dan beku.lahu ahlu 'l-Ijtihad (mujtahid karbitan) yang tampil mengaku sebagai mujtahid. mereka berpendapat bahwa pintu ijtihad tetap terbuka. Karena itu kita tidak perlu melakukan ijtihad lagi. mereka berpendapat bahwa pintu ijtihad telah tertutup. yang biasa kita kenal dengan istilah talfiq. Sedangkan golongan yang memandang bahwa ijtihad adalah kegiatan/pekerjaan mujtahid. Menutup pintu ijtihad berarti menutup kesempatan ulama Islam untuk menciptakan pemikiran-pemikiran yang baik dalam memanfaatkan dan menggali sumber atau dalil hukum Islam 3. Golongan yang berpendapat bahwa pintu ijtihad telah tertutup antara lain beralasan: 1. Sebagian ulama yang lain berpendapat bahwa pintu ijtihad tetap terbuka dan dapat dimasuki oleh siapa saja yang memiliki kuncinya (memenuhi persyaratan). yaitu sejak wafatnya imam-imam mujtahid kenamaan. Dengan demikian maka hukum Islam akan selalu berkembang dan tumbuh subur serta sanggup menjawab tantangan zaman. Membuka pintu ijtihad selain hal itu percuma dan membuang-buang waktu. kita perlu mengetahui argumentasi dari golongan yang berpendapat bahwa pintu ijtihad masih tetap terbuka. b. 3. Pendapat ini antara lain diproklamirkan Imam al-Syaukani pada pertengahan abad ke-XIII Hijriah. Golongan yang memandang bahwa ijtihad adalah sumber hukum. Ia harus terikat tidak boleh pindah madzhab. yang kemudian di Mesir digalakkan oleh Syekh Al-Maraghy. Dengan membuka pintu ijtihad maka setiap permasalahan baru yang dihadapi umat. 2. Sebab. akan dapat diketahui hukumnya.

(021) 7507174 Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota Please direct any suggestion to Media Team Artikel Yayasan Paramadina Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota IV.24. UA 20-21 Jakarta Selatan Telp. 7501983. dan bahwa jalan untuk memelihara kemaslahatan dan untuk menghadapi peristiwa-peristiwa yang selalu timbul. Padahal. hendaklah dipilih di antara hukum-hukum fiqih pada tiap-tiap mazhab suatu hukum yang memuaskan. Hal semacam ini pada hakikatnya menentang ijma'. d. menurut mayoritas ulama Ahl al-Sunnah. Lembaga penelitian akan mengatur usaha-usaha untuk mencapai ijtihad bersama baik secara mazhab maupun secara mutlaq untuk dapat dipergunakan dimana perlu.c. maka berlakulah ijtihad bersama (kolektif) berdasarkan madzhab. sebagai berikut: "Mu'tamar mengambil keputusan bahwa al-Qur'an dan Sunnah Rasul merupakan sumber pokok hukum Islam. (021) 7501969. Mungkin berupa hukum yang tidak seorangpun ulama Islam membenarkannya. dan bahwa berijtihad untuk mengambil hukum dari al-Qur'an dan Sunnah dibenarkan manakala ijtihad itu dilakukan pada tempatnya. Realitas sejarah menunjukkan bahwa sejak awal abad ke-IV Hijriah sampai detik ini tak seorangpun ulama berani menonjolkan diri atau ditonjolkan oleh pengikut-pengikutnya sebagai seorang mujtahid muthlaq/mustaqil. 7507173 Fax. dan jika tidak memuaskan maka berlakulah ijtihad bersama secara mutlaq. Mungkin berupa hukum yang sesuai dengan salah satu mazhab di luar Mazhab Empat. Jika tidak terdapat suatu hukum yang memuaskan dengan jalan tersebut. Metro Pondok Indah Pondok Indah Plaza I Kav. 4. TAQLID DAN IJTIHAD (3/4) Beberapa Pengertian Dasar Oleh KH. selain Mazhab Empat tidaklah dianggap. Ibrahim Hosen Sebelum saya mengambil kesimpulan dengan mempertemukan kedua pendapat yang saling berbeda itu marilah kita ikuti hasil keputusan Lembaga Penelitian Islam al-Azhar Cairo yang bersidang pada bulan Maret 1964 M. (bersambung 3/4) -------------------------------------------Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah Editor: Budhy Munawar-Rachman Penerbit Yayasan Paramadina Jln. Hal ini menunjukkan bahwa untuk memenuhi syarat-syarat ijtihad yang telah ditentukan itu memang sangat sulit kalau tidak dikatakan tidak mungkin lagi untuk saat seperti sekarang ini." Dari Keputusan Lembaga Penelitian Islam al-Azhar tersebut .

pendapat yang mengatakan bahwa pintu ijtihad masih tetap terbuka haruslah diartikan untuk: 1. Ijtihad dibenarkan apabila dilakukan di tempat-tempat dimana ijtihad boleh dilakukan. Butir pertama hanya berlaku untuk: a. Bagi yang tidak. kalau secara mutlaq/tanpa batasan kita mengatakan bahwa pintu ijtihad telah tertutup. Jadi tidak tepat.dapat diambil kesimpulan bahwa: 1. b. Pintu ijtihad masih tetap terbuka bagi yang memenuhi persyaratan. mengingat sangat jarangnya faqih/ulama ahli hukum seperti saat sekarang ini. Dengan demikian. Dan harus kita sadari bahwa pintu ijtihad masih tetap terbuka dalam bidang-bidang tertentu tersebut adalah bagi yang memenuhi syarat. Poin kedua tidak berlaku untuk: a. Ijtihad di bidang tarjih baik secara perorangan maupun pintu ijtihad . Menurut saya. 2. Ijtihad muthlaq secara kolektif. karena keputusan itu telah mempertemukan antara dua pendapat yang saling berbeda. Ijtihad madzhab secara perorangan. maka yang masih benar-benar dapat dilakukan adalah: 1. 4. Ijtihad muthlaq secara perorangan (ijtihad muthlaq fardy). tentunya tertutup kemungkinan untuk membuka pintu ijtihad dengan segala macam bentuknya. Ijtihad mutlaq secara perorangan. Ijtihad madzhab secara perorangan (ijtihad madzhab fardy). c. Ijtihad muthlaq apabila dilakukan secara kolektif (ijtihad muthlaq jama'iy). Ijtihad di bidang madzhab apabila dilakukan secara kolektif (ijtihad madzhab jama'iy). Ijtihad di bidang tarjih baik bagi perorangan maupun kelompok secara kolektif. 2. Demikian juga pendapat yang mengatakan bahwa telah tertutup haruslah kita artikan untuk: 1. Dan sebaliknya. Ijtihad madzhab secara kolektif 3. c. tidak tepat kalau kita mengatakan secara mutlaq/tanpa batasan bahwa pintu ijtihad masih tetap terbuka. Ijtihad di bidang tarjih baik secara perorangan (ijtihad fardy) maupun secara kolektif (ijtihad Jama'iy). 2. 3. Keputusan Lembaga Penelitian Islam al-Azhar tersebut sangat bijaksana.

TAQLID Tidak semua orang sanggup memahami hukum Islam secara langsung dari dalil atau sumbernya. tentu tidak akan sanggup mengetahui. NU dengan Syuriyah dan Bahstul Matsailnya. Kelompok pertama sudah banyak dilakukan oleh Muhammadiyah dengan Majelis Tarjihnya. Oleh karena itu jumhur ulama telah mencapai konsensus bahwa taqlid tidak dapat dijadikan dasar atau metode keilmuan di bidang aqidah. Ijtihad untuk kasus-kasus tertentu yang memang belum pernah dibahas oleh aimmat al-mujtahidin terdahulu. Bagi mereka yang memenuhi persyaratan ijtihad sebagaimana telah disebutkan di atas. Ini jelas tidak rasionil. Memang harus kita sadari bahwa taqlid bukanlah merupakan sistem atau metode keilmuan yang baik yang digunakan seseorang untuk memperoleh ilmu. Hal ini dapat dilakukan secara perorangan maupun secara kolektif. Dari sinilah muncul persoalan taqlid. MUI dengan Komisi Fatwanya. yaitu harus mengetahuinya melalui mujtahid. Secara faktual. Disamping tidak logis dan tidak realistis. memahami dan menggali hukum Islam dari sumber atau dalilnya secara langsung. pengkajian dan penelaahan secara mendalam. sistem dan metode yang baik yang seharusnya kita jadikan washilah/sarana mencapai atau memperoleh ilmu adalah nadhar. 2. karena waktu dan segala konsentrasi umat manusia hanya tercurah kearah ijtihad. Sebab. tentu mereka harus lewat perantara. kalau memang bukan faqih yang menguasai kaidah-kaidah istinbath. yakni mengetahui. sekalipun imannya sah. memahami dan menggali hukum Islam yang harus diamalkannya secara langsung dari dalil atau sumbernya. daya tangkap dan ilmu yang dimiliki seseorang bagaimanapun tidaklah sama. La taklifa fawqa 'l-istitha'a -manusia tidak akan ditaklif untuk melakukan sesuatu yang tidak mungkin dilaksanakan/diluar kemampuannya. Milikilah persyaratan dan berijtihadlah di tempat-tempat yang dibenarkan untuk melakukan ijtihad sesuai dengan ketentuan yang berlaku. sudah banyak dilakukan oleh Komisi Fatwa MUI. Mentaklif atau mewajibkan seluruh umat manusia untuk meraih rutbatu 'l-ijtihad jelas tidak mungkin. Sebagai contoh untuk . Karena itu pula pelaku taqlid berdosa. Bagi mereka yang tidak memiliki persyaratan ijtihad. 2. alhamdulillah. sayangnya belum banyak dipublikasikan. mereka akan sanggup melakukan hal tersebut. yang khusus untuk mencapai hukum furu'/fiqih dikenal dengan ijtihad. janganlah sok berijtihad. Pesan saya dalam menutup uraian tentang ijtihad ini. mengingat tingkatan manusia yang berbeda-beda. sebab bisa berakibat fatal.secara kolektif. Untuk mengetahui hukum Islam yang akan diamalkannya. hal itu juga akan membawa akibat terbengkalainya urusan-urusan duniawi/kehidupan yang lain. Kaidah Agama yang mengatakan. mengingat kecerdasan. Kelompok kedua. eksistensi taqlid memang tidak mungkin dihindarkan. Mereka itulah para mujtahid dengan segala macam tingkatannya. Sedangkan penelitian.

agama membenarkan. "Sesungguhnya kami mendapati bapak-bapak (leluhur) kami menganut suatu agama dan sesungguhnya kami adalah pengikut jejak-jejak mereka. Taqlid di bidang hukum inilah yang kita maksud dan yang akan kita bicarakan dalam tulisan ini. al-Zuhruf Ayat 23. yang artinya sbb: "Dan demikianlah. dimana lehernya diberi kalung sebagai tanda. Oleh karena itu ulama telah sepakat bahwa penetapan aqidah haruslah berdasarkan nash qath'iy al-dalalah yang tidak mengandung pen-takwil-an. untuk kemudian pindah ke pendapat selain imamnya/mujtahid yang diikuti. melainkan orang-orang yang hidup mewah di negeri itu berkata. Taqlid di bidang aqidah inilah yang antara lain dicela al-Qur'an sebagaimana yang ditegaskan dalam QS. Kami tidak mengutus sebelum kamu seorang Nabi/Rasul yang memberi peringatan pada suatu negeri. ia tidak akan begitu mudah melepaskan diri dari ikatan itu. sehingga muncullah rasa ta'ashub madzhab/fanatik madzhab yang kadang sampai berlebih-lebihan. Seseorang yang telah bertaqlid dengan seorang mujtahid/imam. Kalaulah dalam masalah hukum ini semuanya harus berdasarkan dalil qath'iy. semuanya bersifat qath'iy atau pasti benarnya.mengetahui bahwa Allah itu ada maka harus ditempuh lewat nadhar. Bahkan sebagian besar hukum taklifi dasarnya dhann. ia berdosa. Disinilah antara lain perbedaan ajaran Islam yang berhubungan dengan masalah aqidah/keimanan dengan ajaran Islam yang berhubungan dengan masalah hukum. taqlid -bentuk masdar dari kata qallada berarti kalung yang dipakai/dikalungkan ke leher orang lain. mengingat bahwa dalam masalah hukum taklifi seseorang dibenarkan melakukan sesuatu berdasarkan dhann-nya. Dalam bidang aqidah/keimanan. Sedangkan dalam masalah hukum ada yang bersifat qathi'iy dan ada yang bersifat dhanny. Apabila hal itu diketahui lewat taqlid. Hanya saja tentunya kita jangan cukup puas mendudukkan diri kita pada kursi taqlid ini. PENGERTIAN TAQLID Menurut bahasa. meski imannya dianggap sah. dan kini telah mulai memancar sinar itu ke ufuk penjuru dunia Islam termasuk Negeri Pancasila tercinta ini." Mengenai taqlid di bidang hukum Islam. tanpa disadari oleh kambing yang bersangkutan. Hal inilah yang pernah melanda umat Islam termasuk umat Islam di Indonesia sampai berpuluh-puluh tahun lamanya. Hal ini antara lain berkat digalakkannya studi fiqh perbandingan dan ushul fiqih perbandingan di . atau seperti binatang yang akan dijadikan dam. Syukurlah setelah gelap kini terangpun datang. Dalam praktek memang demikian. atau seperti kambing yang lehernya telah diikat dengan tali atau tambang yang dapat ditarik ke mana saja. Analisa bahasa ini menunjukkan kepada kita seolah-olah seseorang yang telah bertaqlid kepada seorang mujtahid/imam telah memberi identitas diri dengan sebuah kalung di lehernya dan ia telah mengikat dirinya dengan pendapat mujtahid/imam tersebut. khususnya fiqih. niscaya pen-taklid-an itu justru tidak jalan. Lantaran itulah maka taqlid di bidang hukum dibenarkan. sehingga umat Islam menjadi jumud dan Islam ketinggalan zaman.

Beramal berdasarkan pendapat orang lain tanpa berdasarkan dalil. 3. Jadi Ittiba' itu sendiri termasuk kategori taqlid. Sementara pihak ada yang membedakan antara taqlid dan ittiba'. Metro Pondok Indah Pondok Indah Plaza I Kav. hanya istilah dan tingkatannya saja yang berbeda. (bersambung 4/4) -------------------------------------------Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah Editor: Budhy Munawar-Rachman Penerbit Yayasan Paramadina Jln. Beramal berdasarkan ijma' c. 7501983. sedangkan ittiba' adalah beramal atau mengamalkan pendapat orang lain dengan mengetahui dalilnya. 2. Sebagian ulama ada yang berpendapat bahwa beramal atau mengamalkan pendapat orang lain dengan mengetahui dalilnya adalah ijtihad. Beberapa hal itu ialah: a. 1. Sedangkan taqlid antara lain: menurut istilah Kondisi ada yang baik ini beberapa rumusan. (021) 7501969.perguruan-perguruan tinggi Islam. dan ini dilakukan tanpa berdasarkan dalil. Taqlid ialah mengamalkan pendapat orang lain tanpa mengetahui dalilnya. UA 20-21 Jakarta Selatan Telp. tapi hakikatnya sama. yaitu sama-sama mengikuti pendapat orang lain. Menurut hemat saya yang ada hanyalah ijtihad dan taqlid. Demikian menurut al-Qaffal. (021) 7507174 Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota Please direct any suggestion to Media Team Artikel Yayasan Paramadina Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota . harus terus kita kembangkan. Taqlid ialah beramal berdasarkan pendapat orang lain yang pendapatnya itu tidak merupakan salah satu dalil yang dibenarkan. Demikian menurut al-Kamal Ibn al-Hammam dalam al-Tahrir. Sesuai dengan pengertian taqlid di atas maka beberapa hal seperti di bawah ini tidaklah termasuk kategori taqlid. Beramal berdasarkan ayat al-Qur'an atau Hadits Nabi. b. Menerima pendapat orang lain dalam kondisi anda tidak mengetahui dari mana orang itu berpendapat. Seorang hakim yang memutuskan perkara berdasarkan kesaksian saksi yang adil. 7507173 Fax. Demukian menurut al-Syaukany dalam Irsyad al-Fukhul.

" Orang-orang yang tidak memenuhi persyaratan ijtihad semacam itu wajib mengikuti pendapat imam mujtahid yang mu'tabar atau istifta'/meminta penjelasan hukum kepada ahl al-dzikr. Dan Allah berfirman.24. Tidak dibenarkan/haram baginya bertaqlid atau mengikuti pendapat mujtahid yang lain. Ini sangat berbahaya. jangan sampai terjadi adanya "man laisa lahu ahlun li 'l-ijtihad" memberanikan diri untuk berijtihad. yaitu: 1. Taqlid secara total/murni (taqlid al-mahdli). TINGKATAN TAQLID/MUQALLID Sebagaimana halnya ijtihad/mujtahid yang bertingkat-tingkat. Ibrahim Hosen Bagi orang-orang yang tidak memenuhi persyaratan ijtihad baik mereka ulama maupun awam. dimana dalam keseluruhan hukum Islam. TAQLID DAN IJTIHAD Beberapa Pengertian Dasar HARAM IJTIHAD DAN WAJIB TAQLID (4/4) Oleh KH. mayoritas umat Islam dari kalangan awam. tetapi wajib berijtihad sendiri. "Bertanyalah kepada ulama apabila kamu tidak mengerti. al-Nahl: 43). . Diantara ulama yang mengharamkan taqlid dan mewajibkan ijtihad tanpa ada batasan-batasan tertentu ialah Ibnu Hazm dan al-Syaukany. bagi yang mampu berijtihad sendiri karena telah memenuhi persyaratannya janganlah mengikuti atau bertaqlid kepada mujtahid yang lain. Sebab ada beberapa ulama yang semestinya mereka mampu berijtihad. sejalan dengan firman-Nya. Demikian juga harus kita usahakan. Dengan demikian tidak benar jika kita mengatakan bahwa ijtihad itu wajib dan taqlid itu haram secara mutlaq/tanpa ada batasan. Sebab tidak realistis. Syafi'i dan lain-lain yang melarang taqlid. Kearah inilah harus kita fahami ucapan imam-imam mujtahid kenamaan seperti Hanafi. "Allah tidak menaklif/memberi pembenahan kewajiban kepada seseorang kecuali sesuai dengan kemampuannya. Yang awam ini jelas tidak mungkin untuk dipaksakan harus mengupayakan dirinya menjadi mujtahid. Kalau sudah pada tempatnya untuk duduk di kursi ijtihad. WAJIB IJTIHAD DAN HARAM TAQLID Bagi orang-orang yang memenuhi persyaratan ijtihad maka wajib bagi mereka berijtihad dan mengamalkan hasil ijtihadnya. yang artinya. Sebab ijtihad yang dilakukannya justru akan membawa pada kesesatan. mereka mengikuti pendapat imam mujtahid. seperti taqlid yang dilakukan oleh kebanyakan orang awam. haram bagi mereka berijtihad." (QS. Artinya. Bagi kita yang harus kita tempuh ialah mengusahakan bagaimana agar lahirnya ulama-ulama yang ahlu li 'l-ijtihad dapat diperbanyak.IV. demikian juga taqlid/muqallid yang terdiri dari beberapa tingkatan. Kenyataan menunjukkan bahwa sejak dahulu sampai saat sekarang dan akan berlanjut terus sampai akhir zaman nanti. tetapi nyatanya masih tetap menjadi muqallidin yang setia. janganlah menduduki bangku taqlid.

2. yang di zaman partai-partai Islam masih ada. Pendapat ketiga ini dipelopori oleh Al-Kamal Ibnu Hammam. sekalipun dimaksudkan untuk mencari keringanan. dan bidang fatwa. Apabila seseorang telah mengikuti salah satu mazhab maka ia harus terikat dengan madzhab tersebut. Pendapat ini rupanya yang banyak memasyarakat di Indonesia. walaupun dengan motivasi mencari kemudahan. 3. Baginya tidak boleh pindah ke madzhab lain baik secara keseluruhan maupun sebagian (talfiq). seperti yang dilakukan oleh mujtahid muntasib. Artinya. seperti yang dilakukan para ulama yang mampu berijtihad dalam bidang madzhab. Tidak ada larangan bagi seseorang untuk berpindah madzhab. Dengan demikian dilihat dari satu segi. Perbedaan ini bersumber dari masalah boleh dan tidaknya seseorang pindah mazhab. apakah ia harus terikat dengan madzhab tersebut yang berarti ia tidak dibenarkan mengikuti atau pindah ke madzhab lain. Seorang yang telah memilih salah satu madzhab boleh saja pindah ke madzhab lain. MASALAH TALFIQ Berbicara masalah taqlid. Dari segi dalil maupun kemaslahatan diantara ketiga pendapat di atas menurut hemat saya yang paling kuat adalah pendapat Al-Kamal Ibnu Hammam dengan alasan antara lain: . rasanya tidak lengkap kalau kita tidak menyinggung masalah talfiq. selama tidak terjadi dalam kasus hukum (dalam kesatuan qadliyah) dimana imam yang pertama dan imam yang kedua atau imam yang sekarang diikuti sama-sama menganggap batal. 2. 3. tetapi dilihat dari sisi lain. Ushuliyyin berbeda pendapat mengenai boleh dan tidaknya seseorang ber-talfiq. Taqlid dalam bidang-bidang hukum tertentu saja. Pendapat kedua ini membenarkan talfiq sekalipun dimaksudkan untuk mencari kemudahan. Menurut definisinya. Golongan ini dipelopori olah al-Qarafi. Pendapat ini memperbolehkan talfiq sekalipun dimaksudkan untuk tujuan mencari keringanan tersebut. mereka dianggap sebagai mujtahid. ataukah ia tidak terikat dengan arti boleh baginya mengikuti atau pindah ke madzhab lain? Dalam hal ini ada tiga pendapat: 1. bidang tarjih. Pendapat ini tidak membenarkan talfiq. Pendapat pertama ini dipelopori oleh Imam Qaffal. Taqlid dalam hal kaidah-kaidah istinbath. mereka termasuk muqallid. apabila seseorang telah mengikuti/bertaqlid dengan salah satu mazhab. talfiq ialah beramal dalam suatu masalah/qadliyah atas dasar hukum yang terdiri dari kumpulan/gabungan dua mazhab atau lebih. dengan ketentuan tidak terjadi dalam kesatuan qadliyah yang menurut imam pertama dan imam kedua sama-sama dianggap batal. sempat dipolitisir dan eksploitir.

3. Membuat undang-undang perkawinan dimana akad nikahnya harus dengan wali dan saksi karena mengikuti madzhab Syafi'i. selama tidak membawa ke dosa. Dalam Ibadat. mengenai sah jatuhnya thalaq raj'i mengikuti madzhab Hanafi yang memandang sah ruju' bi 'l-fi'li (langsung bersetubuh). Tidak punya mazhab artinya tidak terikat. Hanya saja dalam hal-hal yang menyangkut kemasyarakatan maka yang berlaku adalah mazhab pemerintah atau pendapat yang diundangkan pemerintah lewat perundang-undangan.1. kemudian ia bersentuhan kulit dengan ajnabiyah. "Keputusan pemerintah mengikat atau wajib dipatuhi dan akan menyelesaikan persengketaan. Seseorang berwudlu menurut madzhab Syafi'i yang menyapu kurang dari seperempat kepala. 2. kemudian ia bershalat dengan menghadap kiblat dengan posisi sebagaimana ditentukan oleh madzhab Hanafi. b. 2. al-Nahl: 43). Seseorang berwudlu mengikuti tata cara Syafi'i. 2. Hadits Nabi yang menyatakan bahwa Rasulullah tidak pernah disuruh memilih sesuatu kecuali akan memilih yang paling mudah. kemudian Qadli Syafi'i menetapkan bahwa ru'yah tersebut berlaku pada seluruh wilayah kekuasaannya. Yang ada adalah perintah untuk bertanya kepada ulama tanpa ditentukan ulama yang mana dan siapa orangnya (QS. Terjadi ru'yah yang mu'tabarah pada suatu tempat. ia terus bershalat dengan mengikuti madzhab Hanafi yang mengatakan bahwa sentuhan tersebut tidak membatalkan wudlu. 2. "al-ami la madzhaba lahu" -orang awam tidak punya mazhab. Tidak ada nash agama baik dari al-Qur'an maupun Sunnah yang mewajibkan seseorang harus terikat dengan salah satu mazhab saja." Contoh Talfiq a. Kesimpulan Dari beberapa uraian di atas kesimpulan sebagai berikut: ingin saya ambil beberapa 1. Ijtihad merupakan sarana yang paling efektif untuk mendukung tetap tegak dan eksisnya hukum Islam serta menjadikannya sebagai tatanan hidup yang up to date yang sanggup menjawab tantangan zaman (shalihun li kulli zaman wa makan). Masalah Kemasyarakatan 1. 1. Kaidah yang berbunyi. sebab Qadli tadi berpegang dengan pendapat madzhab Maliki dan Hanafi yang tidak memandang persoalan mathla'. Ijtihad baru akan berfungsi dan berdayaguna sebagaimana . Hal ini sejalan dengan kaidah. Hal ini dimaksudkan untuk keseragaman dan menghindarkan adanya kesimpang-siuran.

14. 4. 17. 13. Al-Syafi'i. 6. al-Musthafa Fakhruddin al-Razi. 18. 16." Musallamu 'l-Tsubur . al-Burhan Al-Ghazali. Ijtihad yang dilakukan oleh yang bukan ahlinya/yang tidak memenuhi persyaratan atau dilakukan tidak pada tempatnya justru akan membawa kehancuran Islam dan bencana serta malapetaka bagi umatnya. Irsyadu 'l-Fukhul Muhibbu 'l-Lah "Abdus-Syakur. al-Risalah Muhammad bin 'Ali al-Bashri. 9. 6. Ranqikhu 'l-Ushul Al-Kamal Ibnul-Hammam. khususnya perguruan tinggi. Keduanya ini dapat kita lakukan secara perorangan (ijtihad fardy) atau secara kolektif (ijtihad jamma'iy). Inkamu 'l-Ihkam Al-Baidlawi. al-Mu'tamad Al-Juwaini. 8. al-Mahshul Al-Amidi. 4. Nihayatu 'l-Sul Al-Subki. Untuk menggalakkan ijtihad guna menjadikan hukum Islam ini dinamis dan lincah perlu digalakkan studi fiqih perbandingan dan ushul fiqih perbandingan di lembaga-lembaga pendidikan Islam. DAFTAR KEPUSTAKAAN 1. 8. al-Tahrõr Muhammad bin Amir al-Halabi. 15. Ijtihad dapat kita jadikan alat untuk menjawab perlu dan tidaknya reaktualisasi hukum Islam dan hal itu hanya memenuhi persyaratan ijtihad. 3. 11. 5. 10.disebutkan pada Butir pertama jika ijtihad dilakukan para ahlinya (mereka yang memenuhi persyaratan dan dilakukan pada tempatnya sesuai dengan ketentuan yang telah diakui kebenaran dan kesalahannya). Ijtihad akan membawa kejayaan bagi Islam dan umatnya. 7. Taisirut-Tahrir Al-Syaukani. apabila hal itu dilakukan oleh yang memenuhi persyaratan dan dilakukan di tempat-tempat yang diperbolehkan memainkan peranan ijtihad. 12. Minhaju 'l-Ushul Al-Asnawi. 3. Perbedaan yang ditolerir oleh Islam yang dinyatakan akan membawa rahmat/kelapangan adalah perbedaan di bidang hukum furu'/fiqih sebagai akibat dari adanya perbedaan ijtihad. 10. 2. 5. Na'udzu bi 'l-Lah. Ijtihad yang saat ini benar-benar masih dapat kita lakukan ialah ijtihad di bidang tarjih dan ijtihad dalam kasus-kasus tertentu yang belum pernah diijtihadi dibahas oleh imam-imam mujtahid terdahulu. Tanpa itu hanya omong kosong. Badi'un-Nidham Shadrus-Syari'ah Al-Bukhari.Marilah kita menjadi mujtahid yang benar atau muqallid yang baik yang mempunyai komitmen yang utuh terhadap ajaran agama Islam. Ijtihad sepanjang pengertian ushuliyyin hanyalah berlaku di dunia hukum. 7. Jam'ul Jawami' Ushulus-Sarkhasi Ushulul-Bazdawi Al-Nasafi. al-Manar Al-Baghdadi. 9.

19. bila tidak ada air." Mendengar demikian Umar menegur 'Ammar: "Ya Ammar. Kita dalam keadaan junub. Metro Pondok Indah Pondok Indah Plaza I Kav. al-Syathibi. UA 20-21 Jakarta Selatan Telp. 247. Dulu --engkau dan aku-. tidak perlu shalat. 'Umar tetap berpegang teguh pada pendapatnya -. Aku sampaikan kejadian ini kepada Rasulullah saw. 7501983." Maksud kedatangannya untuk menanyakan apakah ia harus shalat atau tidak. FIQH AL-KHULAFA' AL-RASYIDIN: FIQH PENGUASA Seorang laki-laki datang menemui 'Umar bin Khathab: "Saya dalam keadaan junub dan tidak ada air. TINJAUAN KRITIS ATAS SEJARAH FIQH (1/10) Dari Fiqh Al-Khulafa' Al-Rasyidin Hingga Madzhab Liberalisme oleh Jalaluddin Rakhmat 1. Toh. sehingga aku tidak bersalah. jika engkau inginkan. Dan Nabi berkata. 'Ammar tidak meriwayatkan peristiwa itu lagi." kata Ibn Hajar." 'Ammar bin Yasir berkata pada 'Umar bin Khathab: "Tidakkah Anda ingat. aku sudah menyampaikannya. Engkau tidak shalat. A'lamu 'l-Muwaqq'in -------------------------------------------Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah Editor: Budhy Munawar-Rachman Penerbit Yayasan Paramadina Jln. 'Umar menjawab." kata Ibn Hajar. Abu Musa menentang pendapat Abdullah --sekaligus madzhab Umar-. Kata Ammar.orang junub. Menarik untuk dicatat bahwa kelak ." Sejak itu. "Wa hadza madzab masyhur 'an 'Umar. cukuplah bagi kamu berbuat demikian.pernah berada dalam perjalanan.22. 7507173 Fax. al-Muwafaqat 20. sedangkan aku berguling-guling di atas tanah. Ibnul Qayyim. dan menahan diriku. "Ya Amir al-Mu'minin. Al-Bukhari mencatat perdebatan Abdullah bin Mas'ud dengan Abu Musa al-Asy'ari tentang kasus ini pada hadits No. aku tidak akan menceritakan hadits ini selama engkau hidup." [1] "Yang dimaksud Ammar. takutlah pada Allah". (021) 7507174 Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota Please direct any suggestion to Media Team Artikel Yayasan Paramadina Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota IV. "Jangan shalat sampai engkau mendapatkan air. kecuali Abdullah bin Mas'ud.dengan mengutip ayat ("jika kalian tak mendapatkan air hendaklah tayamum dengan tanah yang baik"). [2] "Aku melihat memang lebih baik tidak meriwayatkan hadits ini ketimbang meriwayatkannya Aku setuju denganmu. Semua sahabat menolak pendapat Umar. (021) 7501969.

perbedaan di antara para sahabat berpengaruh besar pada ikhtilaf kaum Muslim pada abad-abad berikutnya Karena itu membicarakan fiqh para sahabat menjadi sangat penting sebagai pijakan bagi pembahasan masalah fiqh mutakhir. ada yang berijtihad dengan qiyas seperti Abdullah bin Mas'ud. Sebagian menganggaprlya sebagai hujjah mutlak. saya akan menjelaskan sebab-musabab timbulnya ikhtilaf fiqh di antara para sahabat. Inilah embrio ilmu fiqh yang pertama. Ketiga. ijtihad para sahabat menjadi rujukan yang harus diamalkan. perluasan kekuasaan Islam dan interaksi antara Islam dengan peradaban-peradaban lain menimbulkan masalah-masalah baru.adalah orang yang berjumpa dengan Rasulullah saw dan meninggal dunia sebagai orang Islam. Ketiga. Dan para sahabat merespon situasi ini dengan mengembangkan fiqh (pemahaman) mereka.a. sahabat --sebagaimana didefinisikan ahli hadits-. dan bentuk ra'yu-nya bermacam-macam." Dalam perkembangan ilmu fiqh. karena itu. lewat kekuasaan. dan ada yang berijtihad dengan metode mashlahat.akhirnya menjadi salah satu sumber hukum Islam di samping istihsan. "Sunnah sahabat r. Sementara itu. mazhab Hanafi melanjutkan Lebih menarik lagi untuk kita catat adalah beberapa pelajaran dari riwayat di atas. Madzhab sahabat pun menjadi hujjah. qiyas. perilaku mereka menjadi sunnah yang diikuti. zaman sahabat juga melahirkan prinsip-prinsip umum dalam mengambil keputusan hukum (istinbath. sebagian lagi sebagai hujjah bila bertentangan dengan qiyas. Abu Zahrah menulis: [4] Di antara sahabat ada yang berijtihad dalam batas-batas al-Kitab dan al-Sunnah. sebagian lainnya hanya . madzhab sahabat --sebagai ucapan dan perilaku yang keluar dari para sahabat-. adalah sunnah yang harus diamalkan dan dijadikan rujukan.dengan merujuk mazhab 'Umar. ada pula yang berijtihad dengan ra'yu bila tidak ada nash. Saya akan memulai makalah ini dengan membahas urgensi fiqh sahabat dalam keseluruhan pemikiran fiqhiyah. [3] Dari makalah kita mengenal sunnah Rasulullah. Kedua. Ketika menceritakan ijtihad pada zaman sahabat. dan contoh-contoh fiqh al-khulafa al-rasyidin. ayat yang sama. ulama berbeda pendapat. dari mereka juga kita mewarisi ikhtilaf di kalangan kaum Muslim. Tentang hal ini. dan tidak melewatinya. al-hukm. Bila pada zaman tasyri' orang memverifikasi pemahaman agamanya atau mengakhiri perbedaan pendapat dengan merujuk pada Rasulullah. bila tidak ada nash. zaman sahabat adalah zaman segera setelah berakhirnya masa tasyri'. Pertama. terlihat ada sikap hiperkritis dalam menerima atau menyampaikan riwayat Dan keempat. yang nanti diformulasikan dalam kaidah-kaidah ushul fiqh. mashalih mursalah dan sebagainya.). Setelah itu. Dengan demikian. memang terjadi perbedaan paham di antara sahabat dalam masalah fiqhiyah Kedua. URGENSI FIQH SAHABAT Fiqh shahabi memperoleh kedudukan yang sangat penting dalam khazanah pemikiran Islam. pada zaman sahabat rujukan itu adalah diri sendiri. karakteristik fiqh sahabat. 'Umar menghendaki pembakuan paham dan mengeliminasi pendapat yang berlainan. Pertama. Al-Syathibi [5] menulis.

mazhab sahabat menimbulkan kemusykilan yang sulit diatasi. berdasarkan hadits ("berpeganglah pada dua orang sesudahku.menemani Nabi-Nya. berpendapat bahwa yang menjadi hujjah hanyalah kesepakatan khulafa' al-Rasyidin. Karena posisi sahabat begitu istimewa. menurut nash dari Rasul. yang dipilih Allah untuk. dipersalahkan. ini yang terpenting. hujjah agama. menurut kesepakatan ahl al-sunnah. dusta. memenangkan ke benarannya. yang harus dirujuk untuk menyelesaikan masalah-masalah dan menetapkan hukum-hukum Allah. Imam ahli jarh dan ta'dil. bila mereka ikhtilaf. atau dinilai sebagaimana perawi hadits lain. dan sebagian yang lain.. Semua Khalifah al-Rasyidin termasuk kelompok kedua. Abu Hatim al-Razi dalam pengantar kitabnya menulis: [7] Adapun sahabat Rasulullah saw. karena banyak hal tak terjawab oleh nash. Mereka tak boleh dikritik. Kelompok ini --kelak disebut Ahl al-Sunnah-ternyata tidak mudah mengambil hukum dari nash. dan pembawa al-Qur'an dan al-'Sunnah.. Allah memuliakan mereka dengan karunia-Nya menempatkan kedudukan mereka pada tempat ikutan. yakni Abu Bakar dan Umar"). Kelompok kedua memandang tidak ada orang tertentu yang ditunjuk rasul untuk menafsirkan dan menetapkan perintah Ilahi. muncul dua pandangan. maka tidak mengherankan bila mazhab sahabat menjadi rujukan penting bagi perkembangan fiqh Islam sepanjang sejarah. mereka adalah orang-orang yang menyaksikan turunnya wahyu. karena mereka tahu betul --tugas mereka adalah mengacu pada Ma'shumun. Merekalah 'udul al-ummah.. [8] Kelompok pertama memandang bahwa otoritas untuk menetapkan hukum-hukum Tuhan dan menjelaskan makna al-Qur'an setelah Rasulullah wafat dipegang ahl al-Bait. Mereka akhirnya menggunakan metode-metode ijtidah seperti qiyas atau istihsan. Hanya merekalah.menganggap hujjah pada pendapat Abu Bakar dan Umar saja. mengetahui tafsir dar ta'wil. di antara para sahabat itu yang paling penting adalah khulafa al-rasyidun. kekeliruan.. Bila mereka sepakat. dan celaan. putuslah masa tasyi'. setelah Rasulullah wafat. pemimpin-pemimpin hidayah. ahl al-Sunnah sepakat menetapkan bahwa seluruh sallabat adalah baik (al-shahabiy kulluhum 'udul). pendapat mereka dapat membantu memecahkan masalah fiqh. kecuali Ali bin Abi Thalib. Al-Qur'an dan al-Sunnah adalah sumber untuk menarik hukum-hukum berkenaan dengan masalah-masalah yang timbul di masyarakat. Kelompok ini tidak mengalami kesulitan dalam masa berhentinya wahyu. Kelompok kedua lebih banyak menggunakan . Mereka dibersikkan dari keraguan. untuk menolongnya. Menghadapi masalah-masalah baru itu. Allah menamai mereka sebagai 'udul al-ummah (umat yang paling bersih). [6] Terakhir keempat. Tentu saja. Sementara itu. Lalu mengapa mereka ikhtilaf? PENYEBAB IKHTILAF DI KALANGAN SAHABAT Salah satu sebab utama ikhtilaf di antara para sahabat adalah prosedur penetapan hukum untuk masalah-masalah baru yang tidak terjadi pada zaman Rasulullah saw. menegakkan agamanya. keraguan kesombongan.

ra'yu. Ibn 'Abbas menganggap ayat itu sebagai pengecualian (takhshish) dari ayat wa la tankihu al-musyrikat hatta yu'minna. dan kelompok pertama lebih banyak merujuk nash. Ali secara demonstratif melakukannya di depan Utsman. Yang hadir waktu itu dapat menyimpan peristiwa itu. [13] Bila contoh-contoh tadi berkenaan dengan perbedaan antara ketetapan nash dengan ra'yu. ketika saya diundang. Anda tidak. Kata Utsman: Aku melarang manusia melakukan tamattu. Ali membebaskan hukum itu berdasarkan hadits. Umar pernah menegur orang yang dikiranya salah ketika membaca QS al-Fath: 26. dan Thalhah menikahi wanita Yahudi dari Syam. ketika ia membaca ayat itu. Ali kembali menderanya 40 kali. Siapa yang mau boleh menjalankannya. dan engkau sendiri melakukannya. Utsman tampaknya sependapat dengan Ibn 'Abbas. sebagian lain tidak mengetahuinya. Kata Ubayy Anda tahu saya berada di dalam beserta Rasulullah saw. Ketika Rasulullah saw. mengetahui nash tertentu. misalnya. [10] Contoh lainnya adalah hukuman dera bagi peminum khamr. melakukan atau tidak melakukan sesuatu. Kata quru dalam wal muthalaqatu yatarabbashna bi anfusihim tsalatsatu quru' diartikan berbeda-beda. siapa yang tak mau boleh meninggalkannya. contoh-contoh berikut menunjukkan perbedaan memahami nash. Umar pernah melarang hajji tamattu'.. ketika saya hadir Anda tidak ada. padahal al-Qur'an dan al-Sunnah sangat tegas menetapkannya. sesungguhnya Anda tahu. Sebagian sahabat. berbeda-beda dalam kemampuan pengambilannya dan dalam menerima riwayatnya. [16] Al-Syaikh Muhammad Muhammad al-Madany menjelaskan sebab ikhtilaf yang berkenaan dengan sunnah: [17] salah satu Sahabat Rasulullah saw. Zaid ibn Tsabit mengartikannya masa bersuci di antara haidh dengan haidh lagi. [9] Setelah perdebatan ini. Kelompok kedua banyak menggunakan dalil aqly. [14] Ibn Umar menafsirkan "al-muhshanat dalam ayat wa al muhshanat min alladzina utu al-kitab sebagai wanita Muslim. Umar menetapkan thalaq tiga itu jatuh tiga sekaligus. yang tidak hadir tentu tidak mengetahuinya. wanita Nashrani. kelompok pertama dalil naqli. Umar memutuskan hukuman rajam bagi orang gila yang berzina. karena itu Ibn Umar mengharamkan wanita ahli kitab dinikahi laki-laki Muslim. Rasulullah saw. hanya karena pendapat seseorang. [12] Begitu pula Ali. menderanya 40 kali. Abdullah bin Mas'ud dan Umar mengartikan "quru" itu haidh. Demi Allah Ya Umar. [11] Umar --atas saran Abd al-Rahman bin Auf menderanya 80 kali. wafat. ditanya tentang suatu masalah. menurut riwayat lain dari Abdullah bin Zubair. Ali menjawab: Aku tak akan meninggalkan sunnah Rasulullah saw. karena ia menikah dengan Nailah.. bertebaranlah sahabat di . Engkau sendiri berada di pintu. Rasulullah saw. Ia memarahi orang itu. Tetapi Umar kemudian dikoreksi Ubayy bin Ka'ab. [15] Kadang-kadang ikhtilaf terjadi di antara para sahabat karena perbedaan pengetahuan yang mereka miiiki. menetapkan thalaq tiga dalam satu majlis itu dihitung satu. Rasulullah saw.. yang mengambil sunnah dari Nabi dan meriwayatkannya. Utsman berkata: Sesungguhnya laranganku itu hanya ra'yuku saja. Ketika Utsman juga melarangnya. Ia menghukum dengan hukum tertentu memerintahkan atau melarang sesuatu.

negeri-negeri. Keduanya berkata: "Jika kedua khitan bertemu. 'Aisyah ditanya. orang Kufah hadir di tempat yang tidak dihadiri orang Madinah. Hafshah tidak tahu. Abu Hurairah tidak mengetahuinya walaupun mereka penduduk Madinah. 'Amar dan yang lain mengetahui tentang tayamum. lalu bermusyawarah. sedangkan sebagian lagi hadir." Kata Umar: "Apakah Rasulullah saw. aku dengar kau berfatwa pada manusia dengan ra'yumu sendiri? Kata Zaid: "Ya Amir al-Mu'minin. Ia berkata: "Apakah kalian berbuat demikian . Marilah kita berikan satu contoh lagi yang lebih ilustratif. Tidak turun ayat yang mengharamkan. kecuali Ali dan Mu'adz." Kata Umar: "Kalian sahabat-sahabat yang ikut Badr sudah ikhtilaf. wajib mandi.bila kalian bercampur dengan isteri kalian dan tidak keluar air mani kalian mandi?" Kata Rafa'ah: "Kami melakukan begitu pada zaman Rasulullah saw. Kata Umar: "Panggil Rafa'ah bin Rafi'. Kata 'Aisyah: "Bila khitan sudah bertemu khitan.. Tetapi aku mendengar hadits dari paman-pamanku. orang Basrah menghadiri tempat yang tidak dihadiri orang Syam. Khalifah bahkan menetapkan sangsi bagi orang yang mempunyai pendapat berbeda. ikhtilaf di antara para sahabat dapat diselesaikan oleh khalifah. ini Zaid bin Tsabit berfatwa di masjid dengan ra'yunya berkenaan dengan mandi janabah. mengetahuinya?" Kata Rafa'ah: "Tidak tahu. orang Basrah menghadiri yang tidak dihadiri orang Kufah. Berkata Ibn Hazm: "Orang Madinah hadir pada tempat yang tidak dihadiri orang Basrah. Umar dan Ibn Mas'ud tidak mengetahuinya." Kata Umar: "Panggil dia!" Zaid pun datang dan Umar berkata: "Hai musuh dirinya sendiri!. masuklah seorang laki-laki: "Ya Amir al-Mu'minin. ikhtilaf para sahabat ini menjadi sumber perpecahan. Ali Hudzaifah al-Yamani dan lain-lain mengetahui hukum mengusap tetapi 'Aisyah. lalu aku sampaikan -. 'Umar bin Abd . ikhtilaf ini adalah assets bagi perkembangan pemikiran. Buat orang yang berjiwa terbuka. Dalam kasus-kasus yang lain. Ia mengutus orang bertanya pada Hafshah. dan pada saat kita memerlukan informasi." Kata Umar: "Bila ada lagi orang berfatwa bahwa tidak wajib mandi kalau tidak keluar." Lalu Umar mengumpulkan Muhajirin dan Anshar. Ini jelas menurut akal." dari Rifa'ah bin Rafi'." [18] Dalam kasus yang baru kita ceritakan. Buat orang-orang sektarian. aku akan pukul dia. dan tidak mengetahui apa yang tidak ia hadiri. ikhtilaf di antara para sahabat itu dibiarkan dan diwariskan kepada generasi berikutnya. sehingga mereka berkata: Orang junub tidak tayamum. Ini semua terjadi dalam hadits. Setiap orang hanya mcngetahui apa yang ia saksikan. dan setiap penduduk negeri mengambil dari sahabat yang ada di negeri mereka. Ibn 'Umar. wajib mandi. walau pun tidak menemukan air selama dua bulan. apalagi orang-orang setelah kalian!" Kata Ali. orang Syam hadir di tempat yang tidak dihadiri orang Basrah. Ketika orang sedang berkumpul di hadapan Umar bin Khathab. Anak perempuan dari anak beserta anak perempuan mendapat waris diketahui Ibn Mas'ud tetapi tidak diketahui Abu Musa.dan Abi Ayyub dari Ubbay bin Ka'ab. Ya Amir al-Mu'minin: "tidak ada orang yang lebih tahu dalam hal ini kecuali isteri Rasulullah saw. Tidak juga ada larangan dari Rasulullah saw. Semua orang berkata tidak perlu mandi. Aku tidak melakukan itu. Padahal --seperti telah kita jelaskan--sebagian sahabat pada sebagian waktu tidak hadir di majelis Rasulullah saw.

Metro Pondok Indah Pondok Indah Plaza I Kav. b) qiyas pada nash atau pada ijma'. Mereka adalah teladan yang diikuti. [30] Pada bagian ini. Abu Dzar. menurut mereka. 'Ammar bin Yasir. TINJAUAN KRITIS ATAS SEJARAH FIQH (2/10) Dari Fiqh Al-Khulafa' Al-Rasyidin Hingga Madzhab Liberalisme oleh Jalaluddin Rakhmat KARAKTERISTIK FIQH SAHABAT Seperti telah disebutkan di muka. Menurut Muhammad al-Khudlari Bek. Seandainya pendapat mereka itu tunggal. (021) 7501969.al-'Aziz. Allah memberikan keluasan pada umat dengan adanya ikhtilaf furu'i di antara mereka. Hudzaifah dan sebagian besar Bani Hasyim -. berkata: "Aku tidak senang kalau sahabat Nabi tidak ikhtilaf. Jika kita mengambil dari siapa saja di antara mereka. . jadilah itu sunnah. Menurut Muhammad Salim Madkur. mereka membuka pintu ijtihad bagi manusia. dari segi prosedur penetapan hukum.merujuk pada ahl al-Bait dalam menghadapi masalah-masalah baru. tokoh ukhuwah Islamiyah yang menghentikan kutukan pada Ali di mimbar. tapi akan memutuskan perhatian pada metode ijtihad kelompok sahabat yang tak merujuk ahl al-Bait. Mereka berpendapat bahwa ada dua nash yang dengan tegas menyuruh kaum Muslim berpegang teguh pada pimpinan ahl-al-Bait. Para sahabat -seperti Miqdad. saya tak akan membicarakan kelompok sahabat ini.(bersambung 2/10) Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah Editor: Budhy Munawar-Rachman Penerbit Yayasan Paramadina Jln. Mereka boleh ikhtilaf. Dengan begitu. Kedua cara ini melahirkan dua mazhab besar di kalangan sahabat -. Muhammad Ali al-Sais menyebutkan bahwa ijtihad sahabat itu meliputi qiyas. para mujtahid berada dalam kesempitan. ada dua cara yang dilakukan para sahabat. UA 20-21 Jakarta Selatan Telp. pendapat seseorang menjadi hujjah bila orang itu ma'shum. sempitlah manusia dibuatnya. Lagi pula. Artinya.22.Madzhab 'Alawi dan Madzhab 'Umari yang akhirnya mewariskan kepada kita sekarang sebagai Syi'ah dan ahli Sunnah. ia membuka umat untuk memasuki Rahmat-Nya. ijtihad mereka menggunakan tiga metode: a) menjelaskan dan menafsirkan nash." [19] -------------------------------------------. fiqh mereka ini hanya terbatas pada qiyas. (021) 7507174 Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota Please direct any suggestion to Media Team Artikel Yayasan Paramadina Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota IV. 7507173 Fax. karena bila mereka tidak membukanya. Ah al-Bait memiliki kema'shuman berdasarkan nash al-Qur'an dan al-Sunnah. dan ijtihad dengan ra'yu seperti al-Mashalih al-Mursalah dan istihsan. 7501983.

Abu Darda. bila nash tidak ada atau tidak diketahui. di rumah Rasulullah saw. Nabi berkata: "Bawalah ke sini. Janganlah meriwayatkan satu Hadits pun dari Rasulullah saw. Nanti orang-orang setelah kalian akan lebih bertikai lagi. aku tuliskan bagimu tulisan yang tidak akan menyesatkanmu selama-lamanya. halalkanlah apa yang dihalalkannya." [22] 2) 'Aisyah meriwayatkan: Ayahku telah mengumpulkan 500 hadits Rasulullah saw.Di antara Anda dan kami ada Kitab Allah. [25] Umar kemudian mengumpulkan hadits-hadits itu dan membakarnya. Umar ingin menuliskan sunnah-sunnah Rasulullah saw. dan c) mencapai kesepakatan lewat proses perkembangan opini publik yang alamiah. sehingga di kalangan ahl al-sunnah. menggunakan qiyas atau pertimbangan kepentingan umum. para Khulafa al-Rasyidin selain Ali. Jika ada yang bertanya kepada kalian. berkumpul orang-orang." [23] al-Dzahabi meriwayatkan bahwa Abu Bakar mengumpulkan orang setelah Nabi wafat dan berkata." [27] Tradisi pelarangan hadits ini dilanjutkan para tabi'in. Ketika terjadi banyak pertengkaran dan ikhtilaf. ia memutuskan dan menyatakan: "Aku teringat orang-orang sebelum kalian. dan Abu Mas'ud al-Anshari. jawablah -./2 H. Pada suatu pagi ia datang padaku dan berkata: "Bawalah hadits-hadits yang ada padamu itu." Terjadi ikhtilaf di antara orang-orang di rumah itu. Pada suatu pagi. "Aku membawanya. Di bawah ini saya kutipkan berbagai riwayat berkenaan dengan sikap Khulafa al-Rasyidin pada Hadits (sunnah): 1) Dari Ibn Abbas: ketika Nabi menjelang wafat. tampaknya lebih memusatkan perhatian pada ayat-ayat al-Qur'an (atau ruh ajaran al-Qur'an) dengan agak mengabaikan (kadang-kadang menafikan hadits). "Kalian meriwayatkan hadits Rasulullah saw. Menurut satu riwayat. Nabi saw. Ia memikirkannya selama satu bulan. bila tidak ada nash. Cukuplah bagimu Kitab Allah.." Umar berkata: "Nabi sedang dikuasai penyakitnya. Di antara mereka ada yang mengikuti ucapan Umar. di antaranya Umar bin Khathab. dan haramkanlah apa yang diharamkannya" [24] 3) Al-Zuhri meriwayatkan. Tidak layak di hadapanku bertengkar. Padamu ada Kitab Allah. mengharapkan bimbingan Allah dalam hal ini.istihsan. bahkan pertimbangan kepentingan umum (maslahat) didahulukan dari nash. [28] Karakteristik kedua dari ijtihad sahabat. Pada tahap pertama. Ia membakar dan berkata. Mereka tenggelam dalam tulisan mereka dan meninggalkan Kitab Allah. ada tiga tahap dalam ijtihad para sahabat: a) merujuk pada nash al-Qur'an dan al-Sunnah b) menggunakan metode-metode ijtihad seperti qiyas. yang kalian pertengkarkan. al-baraah al-ashliyah. Umar ibn Abd al-Aziz (meninggal 719/101) adalah orang yang pertama menginstruksikan penulisan hadits. Dalam beberapa kasus. sadd al-dzara'i. [26] Ia juga menetapkan tahanan rumah pada tiga sahabat yang banyak meriwayatkan hadits: Ibn Mas'ud. "Aku takut jika aku mati aku masih meninggalkan hadits-hadits ini bersamamu. walaupun ada nash sharih . berkata: "Pergilah kamu semua dari aku. al-mashalih al-mursalah. [21] Menurut pendapat saya. penulisan hadits terlambat sampai abad 8 M.

[39] .. Abu Bakar dan Umar tidak memberikan hak khumus dari keluarga Rasulullah saw. "Mereka kembali pada Abu Bakar dan berkata. [30] 3. Amir al-Mu'minin Umar bin Khathab melihat orang telah melecehkan urusan thalaq. Ini adalah prinsip taghayyarat bihi al-fatwa litaghayyur al-zaman. Abu Bakar menghukumnya dengan membakarnya hidup-hidup. "Adakah khalifah itu atau dia? "Abu Bakar menjawab." Ketika Rasul dan Abu Bakar membolehkan penjualan Ummahat al-Awlad. [38] f) mendahulukan khotbah sebelum shalat pada shalat 'id.. khalifah yang berhak mengatur pembagian khumus. "Kami tidak memerlukan kalian lagi. Umar merobek surat itu dan berkata. [37] e) mengambil zakat dari kuda. dengan itu. al-Dawalibi menulis hal yang sama dalam 'Ilm Ushul al-Fiqh: "Di antara kreasi Umar r. Abu Bakar memberinya bekal.. Dr.. sehingga sahabat menahan dirinya untuk tidak mudah menjatuhkan thalaq. [32] 5. Kata Umar: "Manusia terlalu terburu-buru di tempat yang seharusnya hati-hati. Abu Bakar dan permulaan Khilafah Umar. mereka datang kepada Umar. Umar ingin menghukum keteledoran ini. " Lalu berlalulah apa yang diputuskan Umar." [29] 2.. Umar datang dan berkata. Umar melihat ini untuk kemashlahatan umat di zamannya. yang menunjang kaidah hukum berubah karena perubahan zaman ialah jatuhnya thalaq tiga dengan satu kalimat." Kata Ibn Qayyim. setelah Rasulullah saw. "Ia. Al-Fujaah pernah menyatakan diri ingin berjihad dan meminta perbekalan pada Abu Bakar. [33] Utsman juga melakukan banyak "pembaharuan" dalam fiqh Islam: a) mengitmamkan shalat dalam keadaan safat di Mina.a... [36] d) membolehkan tidak mandi bagi yang bercampur dengan isterinya tanpa mengeluarkan mani. Ali bin Abi Thalib mengharamkannya. [34] b) menambahkan adzan ketiga pada hari Jum'at . Berikut ini 1. Ketika talaq tiga dalam satu majelis dihitung satu menurut Sunnah dan ijma. Allah sudah memenangkan Islam dan melepaskan dari kalian. Khalid Muhammad Khalid menulis tentang ijtihad Umar dalam al-Dimuqrathiyyah: Umar bin Khattab telah meninggalkan nash-nash agama yang Suci dari al-Qur'an dan al-Sunnah ketika dituntut kemaslahatan untuk itu. jika tidak pedanglah yang memutuskan antara kamu dan kami. Mereka berpendapat. Abu Bakar menyuruh Tharifah bin Hajiz untuk membawanya ke Madinah. Utsman bin Affan membolehkan "menikahi" dua orang wanita bersaudara dari antara budak belian sekaligus. Jika kamu Islam (baiklah itu). "Kami tidak memberi kamu sedikit pun karena Islam. insya Allah. thalaq tiga pada sekali ucapan dijadikan satu seperti hadits shahih dari Ibn 'Abbas. tapi menyalurkan hak itu fi sabilillah. Umar meninggalkan sunnah dan menyingkirkan ijma. [35] c) melarang haji tamattu.(tegas) yang bertentangan contoh-contohnya. [31] 4. serta Rasulullah dan Abu Bakar melakukannya. sedangkan di zaman Nabi. wafat. Al-Fujaah ternyata menggunakan fasilitas Abu Bakar ini untuk merampok. Ketika kelompok muallaf datang menemui Abu Bakar untuk menuntut surat. Umar melarangnya. Bila al-Qur'an menetapkan bagian muallaf dari zakat.

FIQH TABI'IN: FIQH USHUL Sejak zaman sahabat (dan ini diakui para sahabat sendiri) telah terjadi perubahan-perubahan dalam syari'at Islam. Ada pun shalat. Marilah kita lihat proses perkembangan pemikiran para sahabat sehubungan dengan sunnah. Tentu saja. Ketika banyak orang marah karena 'Umar dikritik. waktunya telah diakhirkan. [43] Bid'ah-bid'ah ini telah mengubah sunnah Rasulullah saw. [40] pada zaman para sahabat. [42] Kata ma ahdatsna (apa-apa yang kami adakan) menunjukkan pada perbuatan bid'ah yang dilakukan para sahabat Nabi. [44] Imam Syafi'i meriwayatkan dari Wahab bin Kaysan. tidak berganti. pendapat-pendapat tertentu kemudian berkembang menjadi opini generalis. selain mewariskan kemusykilan bagi kita sekarang. al-Rasyidun-. Adzan tetap seperti dulu. Anda menjadi sahabat Rasulullah saw. untuk itu diperlukan penelaahan kritis terhadapnya. Karena itu. Suatu ketika seorang tabi'in.Saya hentikan kutipan kasus-kasus ijtihad Khulafa' al-Rasyidin di sini.adalah fondasi utama dari seluruh bangunan fiqh Islam sepanjang zaman. waktu itu yang disebut sunnah ialah apa yang disebut Imam Malik sebagai al-amr al-mujtama' 'alaih. Imam Malik meriwayatkan dari pamannya Abu Suhail bin Malik. Menurut Fazlur Rahman. Al-Musayyab memuji Al-Barra bin 'Azib: "Beruntunglah Anda. Ada dua sikap ekstrim terhadap sahabat yang harus dihindari: menghindari sikap kritis atau melakukan sikap hiperkritis. KESIMPULAN Fiqh para sahabat --khususnya seperti diwakili oleh al-Khulafa." [41] 2. Tidak berubah. Ikhtilaf di antara para sahabat. Fiqih shahabi memberikan dua macam pola pendekatan terhadap syari'ah yang kemudian melahirkan tradisi fiqh yang berbeda. Nabi saw: "Ya Rabbi. Dikatakan kepadanya: Engkau tak tahu apa-apa yang mereka ada-adakan sepeninggal kamu. mereka sahabatku. kecuali dalam satu hal: Apa yang disepakati tidak selalu berkembang dari hasil persaingan pendapat yang demokratis. "Semoga Allah meyampaikan kepadaku kesalahan-kesalahanku sebagai suatu bingkisan. Ia berkata: Aku tidak mengenal lagi apa-apa yang aku lihat dilakukan "orang" kecuali panggilan shalat. Dalam proses free market of ideas. Anda berbaiat kepadanya di bawah pohon. 'Umar sendiri berkata. Tidak berlebih-lebihan kalau kita simpulkan bahwa fiqih al-Khulafa al-Rasyidin adalah fiqih penguasa. engkau tidak tahu hal-hal baru yang kami adakan sepeninggal Rasulullah. Berkembanglah berbagai penafsiran. Hai anak saudaraku. Sebagian sahabat mulai mengeluhkan terjadinya perubahan ini. Saya hampir sependapat dengan Fazlur Rahman. dan perbuatan yang lain telah berubah. Al-Zarqani mengomentari hadits ini: Yang dimaksud "orang" adalah sahabat. juga --seperti kata 'Umar ibn Abdul Aziz-. lalu opini publik. dari bapaknya (seorang sahabat). Ia melihat Ibn . orang secara bebas memberikan tafsiran pada sunnah Rasulullah saw.menyumbangkan khazanah yang kaya untuk memperluas pemikiran. sikap kritis ini telah "dimatikan" dengan vonnis zindiq oleh sebagian ahli hadits. Sayang sekali. Seringkali yang disebut ijma' adalah konsensus yang "ditetapkan" oleh penguasa politik waktu itu." Al-Barra menjawab. Diriwayatkan bahwa pada hari kiamat ada rombongan manusia yang pernah menyertai Nabi diusir dari al-haudh (telaga). lalu konsesnsus.

juga mengambil ijtihad para sahabat. sampai shalat pun. Utsman 146 hadits. mereka tidak mengenal kamu (yang kamu amalkan) kecuali kiblat kamu". Ia sedang menangis. Anas menjawab. kurang dari 27% hadits yang diriwayatkan Abu Hurairah (Abu Huraiah meriwayatkan 5374 hadits). [47] 'Umran bin al Husain pernah shalat di belakang Ali. penguasa politik kemudian melakukan manipulasi hadits dengan motif politik. Ia memegang tangan Muthrif bin Abd Allah dan berkata: Ia telah shalat seperti shalatnya Muhammad saw. menjaharkan basmalah. atau karena posisinya memungkinkan untuk itu. dan karenanya secara singkat ia disebut Fiqh al-ushul. khususnya yang dijalankan secara setia oleh Ali dan para pengikutnya. APA YANG DIMAKSUD DENGAN FIQH TABI'IN Setelah Nabi Muhammad saw meninggal dunia. Ibn 'Umar. Ia mengingatkan aku pada Shalat Muhammad saw. Ibn Mas'ud. [50] Contoh yang lain adalah sujud di atas tanah. Karena fiqh lebih banyak didasarkan pada al-hadits. Secara keseluruhan. Karena pendapat-pendapat para sahabat terbagi dua --yang berpusat pada al-hadits dan al-ra'y-. sebagai upaya menghapus jejak Ali. "Aku sudah tidak mengenal lagi apa yang aku lihat. Sebagian lagi banyak sekali memberi fatwa. kemudian berkata: Semua sunnah Rasulullah saw sudah diubah. Mereka meninggalkan sunnah karena benci kepada Ali. Ali 586 hadits. Salah satu sebab utama perubahan adalah campur tangan penguasa. Ini pun sudah dilalaikan orang".Zubair memulai shalatnya sebelum khutbah. bahwa dalam khazanah fiqh ahl al-Sunnah para khalifah sedikit sekali memberi fatwa atau meriwayatkan al-hadits. mungkin karena pengetahuan mereka. sedangkan sujud di atas tanah dianggap musyrik dan dihitung sebagai perbuatan zindiq".kita akan membicarakan juga tradisi fiqh al-atsar dan fiqh al-ra'y. Tidak semua sahabat menjawab pertanyaan mereka. kita juga akan mengupas kemusykilan ijtihad sahabat. sunnah Nabi sudah banyak diubah. mungkin karena ketidaktahuan. dan mereka pun tidak bertanya pada semua sahabat. [49] Contohnya. Umar 537 hadits. Karena pertimbangan politik. selain mengambil hadits sebagai sumber hukum. Hal ini disebabkan ushul adalah sandaran para tabi'in. [46] Al-Hasan al-Bashri menegaskan: "Seandainya sahabat-sahabat Rasulullah saw lewat. Sebab itu. Ibn 'Abbas berdoa: Ya Allah. Jabir ibn Abdullah dan lain-lain. Dalam perkembangannya. yang menjadi tradisi Rasulullah saw dan para sahabat Nabi seperti Abu Bakar. Bani Umayyah telah mengubah sunnah Nabi. "Mengapa Anda menangis. Sebagian sahabat sedikit sekali memberi fatwa. kita lebih banyak menelaah ushul ketimbang fiqh. Abu bakar meriwayatkan hanya 142 hadits. Jika semua hadits mereka disatukan hanya berjumlah 1411 hadits. [45] Kata Al-Zuhri: Aku menemui Anas bin Malik di Damaskus. sujud di atas kain menjadi syi'ar Ahl al-Sunnah. [51] Contoh-contoh di atas menunjukkan bagaimana campur tangan kekuasaan politik membentuk fiqh. kehatihatian. orang-orang Islam bertanya pada sahabat dalam urusan hukum-hukum agama. Fiqh Tab'in. Menarik untuk dicatat. . laknatlah mereka. [48] Jadi pada zaman sahabat pun." tanya Al-Zuhri. marilah kita lihat sedikit latar belakang fiqh tabi'in. Sebelum membahas itu semua. kecuali shalat. atau lagi-lagi pertimbangan politis.

UA 20-21 Jakarta Selatan Telp. Bila ada masalah baru yang tidak terdapat pada kedua hal tersebut. bahkan sedikit sekali sahabat yang keluar dari Madinah. TINJAUAN KRITIS ATAS SEJARAH FIQH (3/10) Dari Fiqh Al-Khulafa' Al-Rasyidin Hingga Madzhab Liberalisme oleh Jalaluddin Rakhmat Sebenarnya.Karena itu. Qabus ibn Abi Zhabiyan berkata: Aku tanya ayahku. karena itu. baik secara politik maupun administratif dalam pemerintahan. 7501983.22. umumaya fiqh mawali. Abu Zahrah menulis: [52] -------------------------------------------. yakni mereka yang berguru pada sahabat. Dalam kaitan ini. murid-murid sahabat itu para mawali (non Arab). umumnya bukanlah murid al-Khulafa al-Rasyidin. para tabi'in mengumpulkan dua hal: Hadits-hadits Nabi saw dan pendapat-pendapat para sahabat (aqwal al-shahabat). 'Alqamah dan Ka'ab keduanya tabi'in. Abu Musa al-Asy'ari. para tabi'in. ia mempertimbangkan alasan-alasan. mereka diizinkan keluar. Zaid ibn Tsabit dan lain-lain di Madinah. tidak banyak. . seperti Abdullah bin Mas'ud. 7507173 Fax. menurut Abu Zahrah. Sahabat yang terkenal punya banyak murid adalah Ibn Mas'ud di Iraq. 'Umar ingin mengambil manfaat dari pendapat mereka. Umar bin Khatab menahan para sahabat senior di Madinah dan melarang mereka meninggalkan kota itu. Juga bukan sahabat senior. (021) 7501969. Baru ketika Utsman memerintah. Ayahku menjawab Aku menemukan sahabat-sahabat Nabi bertanya kepada 'Alqamah dan meminta fatwanya. hanya sedikit para sahabat yang meninggalkan Madinah. Pertama. sebelum Dinasti Umayyah berkuasa. ketika kekuasaan Islam meluas. Metro Pondok Indah Pondok Indah Plaza I Kav. mengapa Anda tinggalkan sahabat dan mendatangi 'Alqamah. Dari sahabat. (021) 7507174 Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota Please direct any suggestion to Media Team Artikel Yayasan Paramadina Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota IV. Ka'ab al-Ahbar sering dimintai fatwa oleh Ibn Abbas. Kebanyakan. Dalam pada itu. Yang keluar kebanyakan bukan fuqaha. dan Abdullah ibn Amr. Abdullah ibn 'Umar serta ayahnya Al-Faroq. Abu Hurairah. Fiqh tabi'in.(bersambung 3/10) Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah Editor: Budhy Munawar-Rachman Penerbit Yayasan Paramadina Jln. dan lain-lain. Kedua. mereka melakukan ijtihad seperti atau dengan metode yang dilakukan para sahabat. Banyak diantara tabi'in yang mencapai faqahah (kefaqihan) begitu rupa sehingga sahabat (sic!) berguru pada mereka. kecuali yang diizinkan keluar oleh Umar.

Mu'awiyah pun mengakuinya. Al-Dzahabi ketika meriwayatkan biografi Al-Nasai menulis. antara lain sebagai berikut. Kehormatan Khalifah dan Gubernurnya terpelihara. [55] Ketiga. Al-Thabari (wafat 310 H) melaporkan peristiwa itu dengan menunjuk kedua kitab di atas sebagai sumber. ia berkata. Abu Bakar ibn 'Abid (wafat 94 H). 'Aisyah menolak asbab al-nuzul ini. Tentu saja kata "washi"dan "khalifah" mempunyai konotasi yang sangat jelas. ia meminta rakyat untuk membaiat Yazid. Contoh-contoh yang diberikan di sini difokuskan pada manipulasi yang diduga beralasan politis. [53] Dengan cara itu. BUKTI-BUKTI MANIPULASI HADITS Di sini tidak ditunjukkan manipulasi hadits kecuali seperti tampak pada kitab-kitab hadits yang ada sekarang. Hamad ibn Abu Sulayman Salim mawla Ibn Umar. Abd al-Rahman ibn Abu Bakar memprotes Marwan sambil berkata. Kata Al-Dzahabi: Barangkali yang dimaksudkan dengan keutamaan Mu'awiyah ini adalah ucapan Nabi saw: Ya Allah. Dari situ paling tidak kita melihat petunjuk (indikator) manipulasi hadits pada zaman tabi'in. Ketika Marwan menjadi Gubernur Mu'awiyah di Hijaz. Pertama. kecaman kepada Mu'awiyah dan Marwan tidak diketahui. membuang seluruh berita tentang sahabat dengan petunjuk adanya penghilangan itu. "hadits apa yang harus aku keluarkan kecuali ucapan Nabi. [56] Bagaimana mungkin laknat Nabi menjadi . Isi surat ini secara lengkap dimuat dalam Kitab Shiffin dari Nashr bin Mazahim (wafat 212 H) dan Muruj al-Dzahab tulisan al-Mas'udi (wafat 246 H). Marwan berkata: Ayat al-Qur'an: alladzi qala liwalidaihi uffin lakum turun tentang Abd al-Rahman. Tetapi ia membuang semua isi surat itu dengan alasan "supaya orang banyak tidak resah mendengarkannya. Abidullah ibn Abdillah (wafat 99 H). Al-Qasim ibn Muhammad ibn Abu Bakar (Wafat 108 H). Ada beberapa cara manipulasi hadits. dan 'Ikrimah mawla Ibn Abbas. jadikanlah laknat dan kecaman itu kesucian dan rahmat baginya. Shahih Bukhari menghilangkan ucapan Abd al-Rahman dengan mengatakan faqaala 'Abd al-Rahman ibn 'Abi Bakar syai'an (Abd al-Rahman mengatakan sesuatu). 'Urwah ibn al-Zubair (wafat 94 H)." Ibn Atsir dalam Al-Bidayah wa al-Nihayah juga menghilangkan kedua surat itu dengan mengemukakan alasan yang sama. Di samping mereka ada 'Atha ibn Abi Rabah. Marwan marah dan menyuruh orang menangkap Abd al-Rahman. saudaranya. siapa yang aku laknat atau aku kecam. Sulayman ibn Yasar (wafat 100 H) dan Kharijah ibn Zaid ibn Tsabit (wafat?). membuang sebagian isi hadits dan menggantinya dengan kata-kata yang tidak jelas. Dalam tarikhnya. ketika al-Nasai diminta meriwayatkan keutamaan Mu'awiyah.Ada tujuh orang faqih tabi'in yang terkenal (al-fuqaha al-sab'ah): Sa'id ibn Musayyab (wafat 93 H). Ibrahim al-Nakh'i. Al-Syu'bi. al-Thabari meriwayatkan ucapan Nabi saw tentang Ali: "Inilah washihu dan khalifahku untuk kamu". "Kalian menginginkan kekuasaan ini seperti kekuasaan Heraclius!". Muhammad ibn Abu Bakar menulis surat kepada Mu'awiyah menjelaskaan keutamaan Ali sebagai washi Nabi saw. semoga Allah tidak mengenyangkan perut Mu'awiyah". [54] Kedua. memberikan makna lain (ta'wil) pada hadits. Kata-kata ini dalam Tafsir al-Thabari dan Ibn Katsir diganti dengan: wa kadza wa kadza (demikianlah-demikianlah). Ia lari ke kamar 'Aisyah ra.

mendha'ifkan hadits-hadits yang mengurangi kehormatan penguasa atau yang menunjang keutamaan lawan. Ibnu 'Asakir dan lain-lain. ya Amir al-Mu'minin. Anda berikan keamanan di jalan. Al-Syu'bi meriwayatkan hadits dari Al-Harits al-Hamdani. Kemudian ia melirik kepada Ibn Sam'an: "Bagaimana pendapat kamu?" Kata Ibn Sam'an: "Anda. ia mengutip ucapan Nabi: Siapa yang akan membantuku dalam urusan ini supaya menjadi saudaraku. Ia berkata: menyampaikan padaku Al-Harits. Al-Thabrani. Setelah berbicara panjang. demi Allah. cetakan pertama. Anda berhaji ke Baitullah. yang dibuat-buat oleh orang Syi'ah. Di antara yang dibuang itu adalah kisah "wa andzir 'asyirataka al-aqrabin". Ia dikawal para prajurit dengan pedang-pedang terhunus. salah seorang pendusta. dan umat teradil. Khalifah bertanya. 3. Ia membenci Al-Harits karena kecintaannya yang berlebihan pada Ali dan mengutamakan Ali di atas sahabat yang lain. atau orang-orang yang bodoh dalam ilmu hadits. ia mengundang Malik ibn Anas. Al-Syu'bi mendustakan Al-Harits. "Bagaimana pendapat kalian tentang diriku? Apakah aku pemimpin adil atau zalim?" Malik bin Anas berkata: "Ya Amiral Mu'minin. wallahu a'lam. orang terbaik. Ibn Katsir mendha'ifkan riwayat Nabi tentang Ali sebagai Washi. Dalam Ibn Ishaq diriwayatkan Nabi saw berkata. ucapan Nabi saw ini dihilangkan sama sekali." "Aku maafkan Anda". dalam Hayat Muhammad melakukan hal yang sama. aku tawassul padamu dengan Allah swt dan aku meminta tolong padamu dengan Muhammad saw dan dengan kekeluargaanmu padanya. membuang sebagian isi hadits tanpa menyebutkan petunjuk ke situ atau alasan. Ibn Hisyam mendasarkan tarikhnya pada tarikh Ibn Ishaq. Kelima. tetapi Bukhari dan Muslim memang meriwayatkan hadits ini. kata Ibn Hisyam dalam pengantarnya." [58] Belakangan ini Muhammad Husayn Haykal. washiku dan Khalifahku untuk kamu. Ibn Sam'an dan Ibn Abi Dzuaib. Pada Hayat Muhammad. Anda perangi musuh. [69] Ia lupa bahwa hadits ini diriwayatkan dari banyak sahabat Nabi oleh Imam Ahmad. Keenam. bukan untuk Khalifah." Kemudian al-Manshur melirik Ibn Abi Dzuaib. "Atas nama Allah . Ia menganggap riwayat itu sebagai dusta. Berkenaan dengan ini bagian "Fiqh al-Khulafa' al-Rasyidin" di atas. Ibn Abd al-Barr mengomentari ucapan al-Syu'bi: Ia tidak menjelaskan apa alasan dusta untuk Al-Harits. maafkanlah aku untuk tidak berbicara. Pada bukunya. kata al-Manshur. Demi Allah. melarang penulisan hadits Nabi saw. Al-Thabrani memberi komentar: Ia menjadikan washi untuk keluarganya. Al-Thabari.kesucian dan rahmat. Anda lindungi orang yang lemah supaya tidak dimakan yang kuat. [57] Al-Thabrani dalam Majma' al-Zawaid meriwayatkan ucapan Rasulullah saw kepada Salman bahwa Ali adalah washi-nya. dan khalifahku untuk kamu. cetakan kedua (Tahun 1354). Keempat. dan bahwa Abu Bakar adalah orang yang pertama masuk Islam. "Inilah saudaraku. Andalah tonggak agama. "Tetapi aku tinggalkan sebagian riwayat Ibn Ishaq yang jelek bila disebut orang". Karena itu. orang yang paling baik. Lahirnya Madzhab-madzhab Fiqh Ketika al-Manshur baru saja diangkat menjadi khalifah. Al-Syuibi mengutamakan Abu Bakar. Abu Nu'aim al-Isbahani. washiku. Beberapa tabi'in juga melarang penulisan hadits.

atau sedang membaca al-Qur'an. Anda hancurkan yang lemah. Walau Malik menolak rencana kedua khalifah itu. ketika Harun al-Rasyid berkuasa. . Bagiku sama saja apakah mati itu dipercepat atau diperlambat. RasulNya. zuhud." Peristiwa di atas. Anda tahan harta mereka. yaitu saya salin. Dalam tulisan ini kita akan mencatat beberapa orang tokoh madzhab yang terlupakan. Namun sekarang hampir tidak ada orang yang mengenalnya. namanya hampir tidak pernah disebut dalam buku-buku tarikh. dan boleh jadi lebih faqih dari Malik. dan bagian keluarga Rasul. Imam Malik menjadi terkemuka setelah al-Manshur memberikan segala kehormatan kepadanya. tentu saja tidak dikenal. Tidak pernah aku lihat ia meriwayatkan hadits dari Rasulullah kecuali dalam keadaan suci. Tapi sebelum itu. sedang puasa. aku lihat pedang dan itu berarti kematian. Ia tak bicara sesuatu yang tak manfaat. Ibn Dzuaib. Ibn Dzuaib adalah orang yang membukukan hadits di Madinah. Tapi. ia bermusyawarah dengan Malik untuk menggantungkan al-Muwaththa pada Ka'bah dan memerintahkan orang untuk beramal menurut Kitab itu. adalah seorang alim yang terkenal faqih dan wara. Anda persulit orang yang kuat. Anda merampas harta Allah. nama lengRapnya Abu al-Harit Muhammad ibn Abd al-Rahman ibn al-Mughirah ibn Dzuaib al-'Amiri. Ibn Abi Dzuaib. adalah faqih dari keluarga Rasulullah saw. yang hanya takut kepada Allah saja.bagaimana pendapatmu tentang diriku?" Yang ditanya menjawab." Sifat terakhir ini justru menyebabkan Ja'far tidak disenangi penguasa. Malik berkata tentang Ja'far: "Aku pernah berguru pada Ja'far bin Muhammad beberapa waktu. dengan para pengikut yang tersebar di berbagai bagian dunia Islam. al-Manshur berkata kepada Malik: "Saya punya rencana untuk memperbanyak kitab yang kau susun ini. demi Allah. Apa alasanmu di hadapan Allah nanti?" "Celaka kamu. kita tahu bahwa Malik didukung para penguasa. tetapi karena tidak didukung penguasa. madzhab-madzhab itu akhirnya hilang dari catatan sejarah." Begitu pula. Ketika naik haji. Menurut al-Dahlawi. serta saya instruksikan agar mereka mengamalkan isinya sehingga mereka tidak mengambil yang lain. sebetulnya banyak madzhab muncul. Ia pun hampir tidak dikenal kecuali pada kalangan pengikutnya saja. Sejarah memang hanya memihak yang menang. Aku tidak pernah melihatnya kecuali dalam salah satu di antara tiga keadaan: sedang shalat. Anda manusia terjahat. Ia lebih berani. Ja'far al-Shadiq. dan ia termasuk ulama yang taat beribadah. menunjukkan posisi Malik ibn Anas dibandingkan ulama yang sezaman dengannya. kita akan meninjau latar belakang historis dari tumbuhnya madzhab-madzhab fiqh. tidakkah kamu lihat apa yang ada dihadapanmu?" kata al-Manshur. Seperti akan kita uraikan nanti. "Benar. Masih sezaman dengan Malik dan bahkan Malik pernah berguru kepadanya. dan orang miskin. anak yatim. Fame bestows no favors upon the losers. di samping Malik. yang dikisahkan Ibn Qutaybah. Pada akhir bagian ini kita akan membicarakan "pokok dan tokoh" madzhab yang masih memiliki banyak pengikut sampai sekarang. "Menurut pendapatku. dan kepada setiap wilayah kaum Muslim saya kirim satu naskah. Malik bin Anas kelak terkenal sebagai pendiri madzhab Maliki. Fiqhnya "dicurigai" dan para pengamalnya dianiaya.

Hudzaifah. sehingga sunni tidak berbeda dengan syi'ah. Inilah yang paling kuat menurut madzhab Syaf'i. Abu Hurairah dan lain-lain masuk kelompok kedua. Pada zaman sebelum itu. Ali dan sebagainya.(bersambung 4/10) Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah Editor: Budhy Munawar-Rachman Penerbit Yayasan Paramadina Jln. Pada zaman kekuasaan dinasti Umawiyyah. Yang kedua. dan sebagainya. memandang sunnah Rasulullah. Syafi'i. "Tapi Abu Hanifah dan Ahmad berkata: "Menaikkan permukaan kubur (tasnim) lebih baik. Para sahabat dapat dikelompokkan dalam dua besar. Ibn Qutaybah dalam Kitab al-Ikhtilaf menceritakan bagaimana raja-raja Umawiyyat berusaha menghapuskan tradisi ahl al-Bayt dengan mengutuk Ali bin Abi Thalib di mimbar-mimbar. Umar. Abu Rafi Mawla Rasulullah. Utsman. Madrasah ahl al-Bayt tumbuh "di bawah tanah" mengikuti para imam mereka. Ummi Salamah. dan mengeluarkan fatwa yang bertentangan dengan ahl al-Bayt. 'Ammar bin Yasir. Kemaslahatan berbeda dengan mereka dalam rangka menjauhi dan menentang mereka lebih besar dari kemaslahatan mengamalkan yang musthab itu. juga para sahabat di luar ahl al-Bayt. Abu Dzarr. karena tasthih sudah menjadi syi'ar sy'iah. berpusat di Iraq. Aisyah. Tidak jarang sunnah Rasulullah yang sahih ditinggalkan karena sunnah itu dipertahankan dengan teguh oleh para pengikut ahl al-Bayt. maka yang dimaksud adalah madzhab di kalangan sahabat Nabi: Madzhab Umar. madrasah al-Khulafa bercabang lagi ke dalam dua cabang besar: Madrasah al-Hadits dan Madrasah al-Ra'y.SEJARAH PEMBENTUKAN MADZHAB Kelima Madzhab yang akan kita bicarakan -Ja'fari. masuk kelompok pertama. Ibn Umar. melandaskan fiqhnya pada al-Qur'an. sedikit menggunakan hadits dan lebih banyak berpijak pada penalaran rasional dengan melihat sebab hukum (illat) dan tujuan syara' (maqashid syar'iyyah). Ibn Abbas." Salah satu contoh sunnah yang dijauhi orang adalah tasthih seperti diceritakan oleh Muhamamd bin 'Abd al-Rahma yang berkata: "Yang sunnah dalam membuat kubur adalah meratakan permukaan kubur (tasthith). Ibn Taymiyyah menulis perihal tasyabbuh dengan syiah: "Dari sinilah para fuqaha berpendapat untuk meninggalkan al-mustahabbat (yang sunat) bila sudah menjadi syiar orang-orang Syi'ah. mereka mengembangkan esoterisme dan disimulasi untuk memelihara fiqh mereka. Yaitu ahl al-Bayt dan para pengikutnya. al-Sunnah dan Ijtihad para sahabat. Kedua madrasah ini berbeda dalam menafsirkan al-Qur'an. Metro Pondok Indah .tumbuh pada zaman kekuasaan dinasti Abbasiyah. Murtadha al-'Askary menyebut dua madzhab awal ini sebagai Madrasah al-Khulafa dan Madrasah Ahl al-Bayt. Ali dan kedua puteranya. Karena tekanan dan penindasan. Miqdad. bila orang berbicara tentang madzhab. Sedangkan Abu Bakar. membunuh para pengikut setianya. Sementara itu. Aisyah." -------------------------------------------. Maliki. dan Hanbali-. dan melakukan istinbath hukum. Hanafi. Karena walaupun meninggalkannya tidak wajib menampakkannya berarti menyerupai (tasyabbuh) mereka. berpusat di Madinah. Yang pertama. dan sedapat mungkin menghindari ra'yu dalam menetapkan hukum.

Dr.22. Madzhab Hanbali menjadi kuat pada masa pemerintahan al-Mutawakkil. al-Hadi. 7501983. diangkat menjadi qadhi dalam pemerintahan tiga khalifah Abbasiyah: al-Mahdi. Banyak di antara mereka adalah para sarjana dalam berbagai disiplin ilmu. 7507173 Fax. al-Mu'iz Badis mewajibkan seluruh penduduk untuk mengikuti madzhab Maliki.yang justru lebih banyak pada daerah kekuasaan Islam. UA 20-21 Jakarta Selatan Telp. Karena itu pada permulaan pemerintahannya. Keduanya mengembangkan ajaran mereka pada zaman Abbasiyah. Di Afrika.Pondok Indah Plaza I Kav. Madzhab Hanafi mulai berkembang ketika Abu Yusuf. Muhammad Farouq al-Nabhan menjelaskan sebab-sebab berikut: a) Hubungan yang buruk antara ulama dan khulafa. madrasah-madrasah itu tidak melahirkan pemikiran-pemikiran madzhab. c) Politik diskriminasi yang mengistimewakan orang Arab di atas orang bukan Arab. Di antara mawali itu adalah Abu Hanafi dan di antara imam ahl al-Bayt adalah Ja'far bin Muhammad. Banyak tokoh sahabat dan tabi'in yang menganggap daulat Umawiyyah ditegakkan di atas dasar yang batil. dan al-Rasyid. IMAM-IMAM MADZHAB YANG TERLUPAKAN Sudah disebutkan di muka. pusat pemerintahan berada di Syam. (021) 7501969. Waktu itu al-Mutawakkil tidak mengangkat seorang qadhi kecuali dengan persetujuan Imam Ahmad ibn Hanbal. Kitab ini adalah rujukan utama madzhab Hanafi. Dinasti Abbasiyah disambut dengan penuh antusias baik oleh mawali maupun pengikut ahl al-Bayt. Madzhab Syafi'i membesar di Mesir ketika Shalahuddin al-Ayyubi merebut negeri itu. . Madzhab Maliki berkembang di khilafah Timur atas dukungan al-Manshur dan di khilafah Barat atas dukungan Yahya bin Yahya ketika diangkat menjadi qadhi oleh para khalifah Andalusia. Al-Kharaj adalah Kitab yang disusun atas permintaan al-Rasyid. Dinasti Umawiyah memisahkan Arab dan mawali. murid Abu Hanifah. Waktu itu. Para khalifah banyak melakukan hal-hal yang melanggar sunnah Rasulullah saw b) Terputusnya hubungan antara pusat khilafah dengan pusat ilmiah. Kebijakan ini menyebabkan timbulnya rasa tidak senang pada para mawali . (021) 7507174 Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota Please direct any suggestion to Media Team Artikel Yayasan Paramadina Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota IV. bahwa madzhab-madzhab besar yang kita kenal sekarang --kecuali mazhab Ja'fari-.membesar karena dukungan penguasa. TINJAUAN KRITIS ATAS SEJARAH FIQH (4/10) Dari Fiqh Al-Khulafa' Al-Rasyidin Hingga Madzhab Liberalisme oleh Jalaluddin Rakhmat Pada periode Umawiyyah. sedangkan pusat-pusat ilmiah berada di Iraq dan Hijaz.

Ia memberi komentar: "Seandainya tidak ada Malik dan Ibn 'Uyaiynah. Madzhabnya diamalkan orang sampai abad IV. Lahir di Kufah tahun 65 H dan wafat di Bashrah tahun 161 H. 2. Ia berguru pada Ja'far al-Shadiq dan meriwayatkan banyak hadits. al-Zuhry. Tidak diketahui sampai kapan madzhabnya diikuti orang." Mazhabnya diamalkan orang sampai tahun 302 H.Dalam menyimpulkan semua ini. Malik dan al-Tsawry) yang paling benar? Malik berkata: "Al-Awza'iy. Dengan begitu. Ibn Dinar. Madzhab al-Awza'iy. Ia termasuk mujtahid ahl al sunnah yang tidak bertaklid kepada siapa pun. Ayahnya termasuk perawi hadits yang ditsiqatkan Ibn Ma'in. lalu orang mempelajari madzhab itu terang-terangan. Salah seorang muridnya yang masyhur adalah Ibn Hazm. 3. yang nasikh dan yang mansukh dan paham akan pendapat para sahabat. ketika Ahmad menyebut dirinya hanya sebagai ahli hadits. Pahamnya diikuti orang sampai abad IV Hijrah. Syah Wali al-Dahlawi menulis: "Bila pengikut suatu madzhab menjadi masyhur dan diberi wewenang untuk menetapkan keputusan hukum dan memberikan fatwa. mengetahui sunnah dan jalan-jalannya. Abu Ishaq dan lain-lain. Ia mengambil ilmu dari Imam Ja'far. dapat membedakan yang sahih dan yang lemah. Ia faqih. Madzhab al-Tsawri. Madzhab al-Zhahiry. mengetahui betul makna al-Qur'an. 5. Tokoh madzhab ini adalah Abu Abd Allah Sufyan bin Masruq al-Tsawry. Abu Ja'far Muhammad ibn Jarir ibn Yazid ibn Khalid ibn Ghalib al-Thabary lahir di Thabaristan 224 H dan wafat di Baghdad 310 H. Madzhab Ibn 'Uyaiynah. Madzhabnya berkembang sampai abad VII. Ketika ia diminta menjadi qadhi. 4. ia melarikan diri dan meninggal di tempat pelarian. Abu Sulayman Dawud ibn 'Ali dilahirkan di Kufah tahun 202 H dan hidup di Baghdad sampai tahun 270 H. Madzhabnya tersisihkan hanya ketika Muhammad bin Utsman dijadikan qadhi di Damaskus dan memutuskan hukum menurut Madzhab Syafi'i Ketika Malik ditanya tentang siapa di antara yang empat (Abu Hanifah. Imam Ahmad menyebutnya sebagai seorang faqih. Kata Ibn Khuzaymah: Ia hafal dan paham al-Qur'an. tersebarlah madzhabnya di seluruh penjuru bumi. Di antara yang mengambil riwayat dari padanya adalah Syafi'i. Madzhab al-Thabary. hilanglah ilmu Hijaz. dan tulisan mereka terkenal di masyarakat. Bila para pengikut madzhab itu lemah dan tidak memperoleh posisi sebagai hakim dan tidak berwewenang memberi fatwa." Beberapa madzhab sebagai berikut: yang hilang itu secara singkat diuraikan 1. Ia diberi gelar al-Zhahiry karena berpegang secara . tetapi setelah itu hilang karena tidak ada dukungan penguasa. al-Awza'iy. maka orang tak ingin mempelajari madzhabnya. Nama lengkapnya Abu Muhammad Sufyan ibn 'Uyaiynah wafat tahun 198 H. Berkali-kali al-Manshur mau membunuhnya. Lalu madzhab itu pun hilang setelah beberapa lama. tetapi ia berhasil lolos. Pendirinya Abd al-Rahman bin Amr al-Awza'iy adalah imam penduduk Syam. Ia sangat dekat dengan Bani Umayyah dan juga Bani Abbas.

Inilah sebagian di antara tokoh-tokoh madzhab yang tidak lagi dianut secara resmi sekarang ini. pemberontakan Zaid ibn Ali. Pokok-pokok pikirannya dalam fiqh akan kita perkenalkan secara singkat. Untuk mengetahui pemikiran Imam Ja'far dalam hal fiqh. Karena riwayat hidup mereka sudah disebutkan di atas --kecuali Imam Ja'far-. ia diasuh oleh ayahnya Muhammad al-Baqir dan hidup bersama selama sembilan belas tahun. IMAM JA'FAR IBN MUHAMMAD AL-SHIDIQ (82-140 H) Ja'far ibn Muhammad ibn Ali ibn Husain (ibn Ali) ibn Fathimah binti Rasulullah saw lahir di Madinah tahun 82 H pada masa pemerintah Abd al-Malik ibn Marwan. Ia juga menyaksikan naiknya al-Saffah dan al-Manshur dengan memanipulasikan kecintaan orang pada ahl al-Bayt." . yang kemudian dijawab Ia orang pintar dan mengetahui agama. Orang-orang yang menentang mereka semuanya berasal dari 'Alawiyyin. Ibn 'Uyaiynah. Ia sempat menyaksikan kekejaman al-Hajjaj. Mereka tak perduli membunuh orang tak berdosa karena dianggap mengancam pemerintahannya. Karena itu. mereka segera menghukumnya. al-Tsawry. Abu Zahrah menulis: Dinasti 'Abbasiyah selalu merasa terancam dalam kekuasaannya oleh para pengikut Ali. Dalam suasana seperti itulah. Imam Ja'far memusatkan perhatiannya pada penyebaran sunnah Rasulullah dan peningkatan ilmu dan akhlak kaum Muslim. "Bukankah ia suka melakukan qiyas dalam urusan agama?. "Benar.harfiah pada teks-teks nash." Ja'far bertanya kepada Abu Hanffah: "Siapa namamu?" "Nu'man. bila para penguasa 'Abbasiyah melihat ada dakwah 'Alawi. Kaum 'Alawi menunjukkan nasab seperti mereka dan memiliki kekerabatan dengan Rasulullah yang tidak dimililki 'Abbasiy.di sini hanya disebutkan beberapa catatan kecil saja. Abu Hanifah. Mereka selalu cemas menghadapi mereka. Syu'bah ibn al-Hajjaj. ketika Ya'qub ibn Yusuf ibn Abd al-Mu'min meninggalkan mazhab Maliki dan mengumumkan perpindahannya ke madzhab al-Zhahiry. dan ribuan para perawi. Berikut adalah para pemuka madzhab yang terkenal. Fadhail ibn Iyadh. Setelah Ali wafat. Selama lima belas tahun ia tinggal bersama kakeknya. dan Ibn Abi Layla menghadap Imam Ja'far. Ia menanyakan Ibn Abi Layla tentang kawannya. mereka segera mengucilkannya atau membunuhnya. kita tuliskan percakapannya dengan muridnya selama dua tahun seperti diceritakan Abu Nu'aim: Abu Hanifah. Di antara murid-muridnya adalah Imam Malik. Ali Zainal Abidin keturunan Rasul yang selamat dari pembantaian di Karbela. Ibn Syabramah." tanya Ja'far. Bila mereka melihat ada pejabat yang memuji Bani 'Ali. dan penindasan terhadap para pengikut madrasah ahl al-Bayt. Ia juga menyaksikan bahwa para khalifah Abbasiyah tidak lebih baik dari para khalifah Umawiyah dalam kebenciannya kepada keluarga Rasul. Ia berkembang di daerah Maroko.

shalat atau shawm (puasa)?" "Shalat" "Mengapa wanita yang haidh harus mengqadha shawmnya tetapi tidak harus mengqadha shalatnya. karena ia mengikutinya dengan qiyas. ditambah hasutan Ibn Abi Layla. Barang siapa yang menggiyas dalam agama. b) Istihsan tidak boleh dipergunakan. Allah akan menyertakannya bersama iblis. Termasuk ke dalam sunnah adalah sunnah ahl al-Bayt: yakni para imam yang ma'shum. Mereka tidak mau menjadikan hujjah hadits-hadits yang diriwayatkan para sahabat yang memusuhi ahl al-Bayt." Dari percakapan di atas kita melihat perbedaan pendekatan hukum di antara dua pemuka madzhab." "Lalu. Manakah yang lebih besar dosanya . Yakni. Karena Rasulullah dan para imam adalah orang yang mengetahui rahasia-rahasia al-Qur'an. ia melihat bahwa khalifah haruslah diserahkan pada keturunan Ali dari Fathimah. digunakan akal berdasarkan kaidah-kaidah tertentu. . Bertaqwalah kepada Allah dan jangan melakukan qiyas dalam agama. selain menolak qiyas adalah hal-hal berikut: a) Sumber-sumber syar'iy adalah al-Qur'an." kata Ja'far sambil mengajukan berbagai pertanyaan yang tidak bisa dijawab Abu "Hai Nu'man. mengapa Allah hanya menuntut dua orang saksi untuk pembunuhan dan empat orang saksi untuk zinah. menulis: "Sesungguhnya Abu Hanifah itu Syi'ah dalam kecenderungan dan pendapatnya tentang penguasa di zamannya. Karena ketika Allah menyuruhnya bersujud kepada Adam ia berdalih: Aku lebih baik dari dia karena aku Kau buat dari api dan ia Kau buat dari tanah. IMAM ABU HANIFAH Abu Hanifah terkenal sebagai alim yang teguh pendirian. Ketika Muhammad dan Ibrahim dari ahl al-Bayt memberontak." Sikap Abu Hanifah itu. Abu Hanifah mendukungnya. dan bahwa para khalifah yang sezaman dengan mereka telah merampas haknya dan karena itu mereka zalim." "Mana yang lebih besar kewajibannya . Pada hal-hal yang tak terdapat ketentuan nashnya. ayahku memberitahukan kepadaku dari kakekku bahwa Nabi saw bersabda: Orang yang pertama menggunakan qiyas dalam agama adalah iblis. Bagaimana kamu menggunakan qiyasmu. penulis biografi Abu Hanifah. c) Al-Qur'an dipandang telah lengkap menjawab seluruh persoalan agama.membunuh atau berzinah? "Membunuh. Tugas mujtahid adalah mengeluarkan dari al-Qur'an jawaban-jawaban umum untuk masalah-masalah yang khusus. ketika Imam Zayd melawan penguasa. Abu Zahrah. Beberapa kali ia mengkritik al-Manshur secara terbuka. Di antara karakteristik khas dari madzhab Ja'fari. Begitu pula. Qiyas hanya dipergunakan bila 'illat-nya manshush (terdapat dalam nash). penafsiran al-Qur'an yang paling absah adalah yang berasal dari mereka."Aku tidak melihat Anda menguasai sedikit pun. Ia menentang setiap kezaliman. al-Sunnah dan akal. Abu Hanifah berbay'at kepadanya.

ia dipenjarakan. ia dicambuk sepuluh lecutan. Tapi karena kedudukan Abu Hanifah di masyarakat. 7507173 Fax. Ia tidak mungkin menarik Ja'far dan tidak berhasil . Lalu ia menjebak Abu Hanifah dengan jabatan qadhi. Setelah itu. Muhammad ibn Hasan al-Syaybany.mengeluarkan fatwa yang tidak dikehendaki penguasa. Metro Pondok Indah Pondok Indah Plaza I Kav. yang pernah berguru pada Malik dan kemudian menggabungkan madrasah hadits dengan madrasah Ra'y. Abu Hanifah berkata. aku ambil Sunnah Rasulullah dan hadits-hadits yang sahih. Bila sudah sampai pada tabi'in. yaitu dengan menggunakan qiyas dan istihsan. TINJAUAN KRITIS ATAS SEJARAH FIQH (5/10) Dari Fiqh Al-Khulafa' Al-Rasyidin Hingga Madzhab Liberalisme oleh Jalaluddin Rakhmat IMAM MALIK Pada zaman kekuasaan Ja'far ibn Sulayman tahun 146 H Malik dihukum cambuk. aku mengambil pendapat para sahabat yang aku kehendaki dan meninggalkan yang tidak aku kehendaki. dan Zafr ibn al-Hudzail. mereka berijtihad dan aku pun berijtihad.". al-Manshur merasa bersalah. Bila tidak. dan pendapat para sahabat. 7501983. yang kemudian menjadi qadhi dan banyak memasukkan hadits dalam kitab-kitabnya.(bersambung 5/10) Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah Editor: Budhy Munawar-Rachman Penerbit Yayasan Paramadina Jln. menurut satu riwayat. Ketika Abu Hanifah menolaknya. yang meliputi al-Qur'an. ijma. Ia mengakhiri hidupnya. yang disampaikan oleh orang-orang yang dapat dipercaya. di samping ingin berusaha memanfaatkan alim besar ini. Di antaranya Abu Yusuf. "Aku mengambil dari al-Kitab. Ia --menurut satu riwayat-. c) Al-A'raf. b) Sumber-sumber ijtihadiyah. Abu Hanifah meninggalkan banyak murid.22. Al-Mansur tak dapat membunuhnya tanpa alasan. yang sangat ekstrem menggunakan qiyas.menimbulkan kemarahan Al-Manshur. terutama dalam masalah perdagangan. Setiap hari. yakni adat kebiasaan yang tidak bertentangan dengan nash. UA 20-21 Jakarta Selatan Telp. Aku tidak keluar dari pendapat sahabat kepada pendapat yang lain. al-Sunnah. (021) 7507174 Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota Please direct any suggestion to Media Team Artikel Yayasan Paramadina Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota IV. -------------------------------------------. Jika tidak aku dapatkan dalam al-Kitab dan Sunnah Rasulullah. Abu Hanifah bahkan mengarqurkan beramal dengan 'urif. karena diberi makanan beracun. Pokok fiqih madzhab Hanafi bersumber pada tiga hal: a) Sumber-sumber naqliyah. (021) 7501969. jika aku dapatkan di dalamnya.

mengambil hati Abu Hanifah. Bila engkau sudah menjadi Rasul Allah bolehlah engkau melakukannya. c) Ikhtilaf sahabat." Seusai shalat. i) Mura'at khilaf al-mujtahidin. Malik menjadi sangat berwibawa. didahulukan al-sunnah. . ijma' secara naql." Malik menukas: "Tapi aku hanya mendengarnya dari kamu. STAGNASI PEMIKIRAN FIQH: MASA KETERTUTUPAN Dr. g) Mashalih mursalah. f) Istihsan. Muhammad al-Tijani al-Samawi bercerita tentang kisah fanatisme di kota Qafsah. d) Ikhtilaf sahabat Nabi. Malik memukul orang itu dan memenjarakannya Ketika seorang bertanya: "Bagaimana pendapat Anda tentang orang yang berpendapat bahwa al-Qur'an itu makhluk?. c) Pendapat sahabat yang tidak ada yang menentangnya. Ia memberikan wewenang besar pada Malik untuk mengangkat dan memberhentikan para pejabat yang dipandangnya tidak mampu. meminta maaf kepada Malik atas perlakukan salah seorang penguasanya. Al-Manshur pada musim haji 153 H. Aku hanya melaporkan ucapan orang lain. "Mereka membawa agama baru yang bukan agama Muhammad saw. b) Al-Sunnah: al-mutawatirah dan al-masyhurah. Karena wewenangnya ini. d) Fatwa sahabat. Ia mengembalikan kedua kitab itu sambil berkata." Catatan kecil di atas menunjukkan kekuasaan Malik. e) Khabar Ahad dan Qiyas. Orang-orang ketakutan berada di majlisnya. e) Qiyas. IMAM SYAFI'I Pokok-pokok fiqh Syafi'i ada lima: a) Al-Qur'an dan al-Sunnah. bunuh dia. Tunisia. d) Hadits mursal dan dha'if. Mereka menyalahi al-Qur'an yang menyatakan bahwa shalat itu bagi kaum Mukmin kewajiban yang ditetapkan waktunya. h) Sadd al-Dzara'i. IMAM HANBALI Pokok-pokok fiqh madzhab Hanbali: a) Al-Nushush. Ia berkata bahwa itu termasuk salah satu bid'ah orang Syi'ah. Tetapi shalat jamak ini terdapat dalam kitab hadits shahih Bukhari dan Muslim. Ini sangat berpengaruh pada penyebaran madzhabnya. b) al-Ijma'." Malik memanggil pengawalnya: "Ia zindiq." Pemuda itu bermaksud menunjukkan bahwa Ibn Abbas. Bila zhahirnya sunnah bertentangan dengan al-Qur'an. Pemuda itu mengeluarkan kedua kitab shahih tersebut dan memintanya membaca hadits-hadits tentang shalat jamak. hadirin tercengang mendengarnya. Ijma' sebelum terbunuhnya Utsman. Ketika ia membacanya. "Ini khusus untuk Rasulullah saw. mafhum-nya dan illat-nya." Orang itu berkata: "Bukan aku yang berkata begitu. 4. Seorang alim besar di kota itu mengecam orang-orang yang menjamak shalat Zhuhur dan Ashar. kata pemuda itu. j) Istishhab. "Tidak benar. e) Qiyas. Anas ibn Malik dan banyak sahabat lainnya melakukan shalat jamak (bukan karena bepergian). c) Ijma' penduduk Madinah. Ia juga boleh menghukum mati atau memenjarakan yang dipandangnya bersalah. b) Fatwa sahabat. Madzhab Maliki mendasarkan fiqhnya pada 12 pokok: a) Al-Qur'an: zhahirnya." kata sang imam. k) Syar'man qablana. Ketika seorang murid membantah Malik perihal penguburan rambut dan kuku. ijma' mutaakhir: masing-masing dengan kekuatan hukum yang berbeda. seorang pemuda menanyakan lagi perihal shalat jamak. karena wibawa Malik. dalil-nya.

Kawan shalat di sampingnya memukulnya dengan keras sehingga telunjuk itu patah. Apa dalilnya? Dalilnya terdapat dalam Kitab fiqh al-Syaikh al-Kaydani. Dalam penafsiran al-Qur'an misalnya. Pada zaman inilah pemikiran taqlid mutlak dominan. Al-Ustadz al-Zarqa melukiskan situasi umum pada waktu itu: Pada zaman tersebut pemikiran fiqh mengalami kemunduran. Maksudnya untuk . Di Afghanistan seorang mushalli memberi isyarat dengan telunjuknya dan menggerak-gerakkannya. dan tanzhim dalam madzhab fiqh. Hadits-hadits dibukukan dalam bentuk al-jawami'. hadits. serta menghimpun penafsiran para sahabat. pokok-pokok dan maksud-maksud syara'. dan fiqh para imam madzhab disusun dalam buku. walau selama masa itu muncul juga beberapa ulama fiqh dan ushul yang cemerlang. dan para mujtahid. ke upaya menghapal yang sia-sia dan merasa cukup dengan menerima apa yang telah tertulis dalam kitab-kitab madzhab tanpa penelitian. Perlahan-lahan berkembanglah tradisi membuat syarah (komentar) dan matan. Para pengikut membukukan fatwa-fatwa dan hasil ijthad para mujtahid tersebut. para ulama menghimpun hadits-hadits Nabi saw. tarjih. di satu sisi menyimpan khazanah ilmu para ulama. Pada masa inilah berkembang al-tafsir bi al-ma'tsur. Pemikiran bergeser dari upaya mencari sebab-sebab dan maksud syara' dalam memahami hukum. al-masanid. tabi'in. al-ma'ajim. Mereka tak merasa perlu melakukan penelitian ulang. Kedua peristiwa di atas terjadi dalam rentang waktu cukup lama -menurut sebagian penulis dari abad VI Hijrah sampai abad XIII. ia menjawab bahwa menggerakkan telunjuk dalam tasyahud adalah haram. Dengan begitu. al-Sunnah. dibukukan pula riwayat para perawi hadits. Gerakan tadwin. al-mustadrakat dan sebagainya. ilmu jarh wa ta'dil dan riwayat para sahabat. Penafsiran al-Qur'an. sesudah sebelumnya mempelajari al-Qur'an. Sebuah rentang waktu yang oleh para Tarikh Tasyri' disebut sebagai zaman stagnasi pemikiran fiqh ('ashr al-rukud). menghilanglah kegiatan yang dulu merupakan gerakan takhrij. baik yang lemah maupun yang kuat. Bersamaan dengan itu. tapi di sisi lain menyebabkan para ulama merasa cukup dengan apa yang telah tersedia. Kita akan mengakhiri dengan melacak sebab-sebab timbulnya stagnasi pemikiran ini. Berbagai ilmu Islam dibukukan dan tidak disampaikan secara lisan lagi. ilmu ushul al-fiqh. fiqh memasuki zaman tadwin (kodifikasi).tetapi ia mengurungkan maksudnya. Peminat fiqh hanya mempelajari kitab yang ditulis seorang faqih tertentu di antara tokoh-tokoh madzhabnya Ia tidak melihat kepada syari'at dan fiqh kecuali melalui tulisan dalam kitab itu. dimulai kemandegan dan diakhiri kebekuan. Ketika ditanya mengapa itu terjadi. Pasal ini akan memperlihatkan karakteristik zaman ini dari segi karya-karya ilmiah yang lahir waktu itu dan dari segi kecenderungan pemikiran. KARAKTERISTIK ZAMAN STAGNASI: TRADISI MENSYARAH KITAB Setelah keempat imam madzhab ahl al-Sunnah meninggal dunia. Mereka menulis buku-buku yang lebih merupakan ensiklopedia atau kamus dari pada analisis ilmiah.

yang setiap jilidnya seukuran satu jilid Encyclopedia Britannica. Irsyad al-Sary.memudahkan pembaca memahami kitab-kitab rujukan. Nabi Hidhir mohon agar ia diizinkan tetap berguru padanya di alam kubur. Tidak jarang syarah suatu kitab disyarahi dan disyarahi lagi. melakukan kritik terhadap beberapa pendapat Muhammad ibn al-Hasan al-Syaybany. Ada pula beberapa kitab yang mensyarah al-Muwatha susunan Imam Malik. Umdat al-Qary. Para ulama dari keempat madzhab diundang ke istana. Allah mengizinkannya. Walau begitu. juga berkembang tradisi munaqasyah madzhabiyah (diskusi madzhab). Untuk Shahih al-Bukhari. kekuasaan sangat berperan dalam menyuburkan fanatisme madzhab. Di antara karamah Abu Hanifah ialah bergurunya Nabi Khidr kepadanya. Sikap ini ditunjukkan jelas oleh al-Syaykh Abu al-Hasan Abdullah al-Karkhy ketika ia berkata. yang didhaifkan Ibn Taymiyah. supaya ia dapat mengajarkan syari'at Islam secara lengkap. Pada zaman ini. Imam Syafi'i. al-Hilly menulis Minhaj al-Karamah. Al-Amini menulis 11 jilid al-Ghadir hanya untuk membuktikan keshahihan hadits Ghadir Khum. Argumentasi dikembangkan untuk membela madzhab masing masing. atau menambahkan penjelasan dengan mengutip ucapan para ulama lain. munaqasyah madzhabiyah telah menjadi benih yang menyuburkan fanatisme madzhab. misalnya. Polemik antar madzhab ini bukanlah sesuatu yang jelek dan telah berlangsung sejak zaman para imam madzhab. Ibn Taymiyah menulis Minhaj al-Sunnah untuk menolak Minhaj al-Karamah. Para ulama madzhab Syafi'i menyerang tulisan para ulama madzhab Hanbali atau sebaliknya. Tentang Imam . gejala fanatisme madzhab dapat dilacak sejak abad IV Hijrah. Diriwayatkan oleh para pengikut Maliki bahwa pada paham Imam Malik sudah tertulis Malik Hujatullah di bumi. Sekarang bantahan itu sudah menjadi 19 jilid Ihqaq al-Haq. Untuk mempertahankan keunggulan madzhabuya. sepanjang saya ketahui. para pengikutnya meriwayatkan mitos di sekitar para imam madzhabnya. Mereka menjelaskan kata-kata atau kalimat-kalimat secara sematik. Ia kemudian menyelesaikan kuliah dari Abu Hanifah selama 25 tahun lagi. Konon Nabi Muhammad saw pernah berkata: "Semua nabi bangga denganku dan aku bangga dengan Abu Hanifah. Seperti telah disampaikan pada tulisan terdahulu. Tapi pada zaman kemandegan. Ulama Syi'ah membalasnya dengan menulis kitab lagi. Bantahan ini dibantah lagi oleh al-Mar'asyi al-Tustary. siapa yang membenci Abu Hanifah ia membenciku. Atau sebaliknya. harus dita'wilkan atau dimansukhkan. paling tidak ada tiga kitab syarah: Fath al-Bary. Ulama ahl al-Sunnah menulis kitab yang menyerang ajaran Syi'ah. Ketika Abu Hanifah wafat. Ia belajar pada Abu Hanifah setiap waktu Subuh selama lima puluh tahun. Siapa yang mencintai Abu Hanifah ia mencintaiku. FANATISME MADZHAB Asad Haydar menyebut tahun 645 Hijrah sebagai tahun ditetapkannya empat mazhab sebagai madzhab yang diakui khilafah Islam waktu itu. Kadang-kadang riwayat-riwayatnya dinisbahkan pada Nabi Muhammad saw. Ibn Rouzbahan menulis bantahan pada Minhaj al-Karamah. Setiap madzhab membela pahamnya dengan tidak lagi mengindahkan adab diskusi ilmiah. "setiap ayat atau hadits yang bertentangan dengan apa yang ditetapkan madzhab kami. Sebagai jawaban terhadap serangan ahl al-Sunnah.

Sedangkan kelompok kedua. karena rasa harga diri mereka yang sangat tajam. karena seorang alimnya akan memenuhi seluruh bumi dengan ilmunya.Syafi'i. yang patut kami ikuti di zaman kami?" Rasul Allah saw menjawab: "Aku tinggalkan bagimu Ahmad bin Hanbal. Al-Fakhr al-Razy menceritakan pengalamannya ketika ia menafsirkan: afala yatadabbarun al-Qur'an. Kadang-kadang mereka mencela para fuqaha. Saya lihat kedua kelompok ini saling berdekatan tempat tinggalnya dan sebetulnya saling membutuhkan. Mengenai Imam Ahmad bin Hanbal Abdullah al-Sajastany berkata: "Aku pernah melihat Rasul Allah saw dalam mimpi. Yang demikian adalah suatu kesesatan dan penipuan ra'yu. yakni ahli fiqh dan fikir. Mereka tidak mau menerimanya bahkan tidak mau menelitinya. Rasul Allah saw bersabda: "Ya Allah berilah petunjuk pada suku Quraiysy. tidak memahami maknanya. Mereka sepakat menerima hadits dhaif dan munqathi' bila telah masyhur di kalangan mereka dan telah membibir dalam percakapan mereka. Apabila diriwayatkan pada mereka madzhab mereka atau para ahli hasil ijtihad para tokoh dari aliran mereka. kecuali sebagian kecil. Aku bertanya: "Ya Rasul Allah. Mereka heran bagaimana mungkin mengamalkan zhahirnya ayat-ayat itu. tidak menggali rahasianya. maka akan cepat roboh. keduanya menjadi ikhwan yang saling berjauhan: mereka tak menampakkan sikap saling membantu dan menolong di jalan yang hak. kebanyakan tidak memilih-milih hadits. pengumpulan sanad. sedangkan fiqh bagaikan bangunannya. pertama. Itu karena hadits bagaikan fondasi. maka akan sunyi dan lekas rusak. Setiap fondasi tanpa bangunan. Padahal keduanya sama-sama dibutuhkan dan tidak bisa ditinggalkan dalam menuju cita-cita kehidupan. Mereka hampir tidak bisa membedakan hadits yang shahih dan hadits yang dhaif. Mereka tidak mempedulikan hadits-hadits yang dikuasai dan yang digunakan untuk mempertahankan argumentasinya di hadapan lawan bila hadits-hadits tersebut telah sesuai dengan madzhab yang mereka ikuti dan pendapat yang mereka yakini. mereka ." Dengan berbagai "keutamaannya" itulah. Aku pernah menyaksikan sekelompok faqih yang taklid." Orang alim itu adalah Imam Syafi'i. walau tidak didukung satu dalil pun atau tidak meyakinkan. pengikutnya mensakralkan fatwa para mujtahid. Namun. yang bagus dan yang buruk. dan tidak mengungkapkan kandungan fiqhnya. memandangku dengan heran bila aku bacakan ayat-ayat al-Qur'an tentang beberapa masalah yang bertentangan dengan madzhab mereka. dan pemisahan hadit-hadits gharib dan syadz --hadits-hadits yang kebanyakan mawadhu' dan maqlub. padahal ulama dari madzhab mereka terdahulu tidak pernah mengamalkannya. Abu Sulayman al-Khaththaby mengisahkan suasana zaman itu: Saya lihat ahli ilmu dewasa itu terbagi menjadi dua kelompok: pendukung hadits dan atsar dan ahli fiqh dan fikir. Kedua kelompok itu. Mereka tidak sadar bahwa kadar keilmuannya sendiri sangat dangkal dan mereka berdosa melemparkan kata-kata kotor pada para fuqaha. katanya. Fatwa mujtahid lebih didulukan dari ayat al-Qur'an dan al-Sunnah. kelompok ahli hadits dan atsar rata-rata berambisi dalam periwayatan. Mereka tidak memelihara matannya. Setiap bangunan yang fondasinya tidak kokoh. mencacad mereka dan menuduhnya menyalahi sunnah. siapakah yang engkau tinggalkan.

22. Dengan bantuan penguasa ia menyerang pemimpin Hanbaly. ashhab (para sahabat). dan para pendahulu yang setingkat dengan mereka. Sebagai contoh adalah peristiwa yang terjadi di Baghdad. Mereka mau menerima riwayat dari padanya kecuali yang melalui Abu Yusuf. Al-Qusyayry berkata: "Perdamaian macam apa yang harus ada diantara kami? Perdamaian . terhadapnya. Mereka hanya menerima riwayat al-Muzany dan al-Raby ibn Sulayman al-Murady. Ia selalu mengecam Ahmad ibn Hanbal dan para pengikutnya sebagai penganut antropomorfisme.segera mencari kepercayaan umat tidak ikut bertanggungjawab. Lalu. -------------------------------------------. Maka bila datang riwayat Harmalah. Dalam sejarah. Pemerintah kemudian mengumpulkan wakil kedua belah pihak dan meminta supaya mereka berdamai. mereka tidak akan menerima. menghancurkan otak-otak cemerlang. (021) 7501969. (021) 7507174 Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota Please direct any suggestion to Media Team Artikel Yayasan Paramadina Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota IV. telah terjadi beberapa kali. Begitu juga para pengikut al-Syafi'i. mereka saling mengkafirkan yang kemudian memuncak pada peperangan antar sesama Muslim. Abd al-Khaliq ibn Isa. Ibn al-Qusyayry al-Syafi'i memegang kekuasaan. UA 20-21 Jakarta Selatan Telp. mereka tak memperhatikan dan tak menganggapnya sebagai pendapat al-Syafi'i. Bila pendapat itu datang dari al-Hasan ibn Ziyad dan pendapatnya berbeda dengan riwayat yang melalui mereka. 7507173 Fax. 469 Hijrah. Demikianlah keumuman sikap setiap imam dan gurunya masing-masing. namun mereka Saya lihat para pendukung Malik tidak menerima riwayat dari padanya kecuali yang melalui Abu al-Qasim (Rasul Allah). al-Jiziy dan sebagainya. 7501983. Pengikut al-Qusyayry menutup pintu-pintu pasar madrasah Nizhamiyah. Metro Pondok Indah Pondok Indah Plaza I Kav.(bersambung 6/10) Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah Editor: Budhy Munawar-Rachman Penerbit Yayasan Paramadina Jln. tapi juga menimbulkan perpecahan di kalangan kaum Muslim. terjadilah pertumpahan darah antara kedua golongan. Muhammad ibn al-Hasan dan para tokoh sahabat serta murid-muridnya yang lain. kelompok terhadap madzhab Fanatisme madzhab bukan saja telah menghambat pemikiran. Maka pendapat yang datang dari Al-Hakam tidak memiliki keistimewaan di mata mereka. TINJAUAN KRITIS ATAS SEJARAH FIQH (6/10) Dari Fiqh Al-Khulafa' Al-Rasyidin Hingga Madzhab Liberalisme oleh Jalaluddin Rakhmat Pada madrasah Nizhamiyah.

Menurut para pengikut madzhab Syafi'iy dan kebanyakan Hanafi. mengikuti gurunya Syaikh Muhammad Abduh. Jika kita membaca kitab-kitab sejarah madzhab. Sedangkan kaum ini menganggap kami kafir dan kami menganggap orang-orang yang aqidahnya tidak sama dengan kami juga kafir. tapi tak boleh tidak harus ada mujtahid fi al-madzhab. Muhammad Farouq al-Nabhan menyebut tiga sebab stagnasi pemikiran pada zaman ini: faktor-faktor politik. penutupan pintu ijtihad terjadi karena ada anggapan bahwa tidak ada ulama yang memenuhi persyaratan seperti keempat imam itu. Namun sebaliknya menurut kebanyakan Hanbaly. Bahayanya banyak --berakibat pada terbengkalainya akal. Sebalikaya. Pada ijtihad muthlaq. Adapun ijtihad fi al-madzhab. Sebenarnya. Namun kenyataannya. mungkin karena ia berijtihad dengan metode yang sama untuk menjawab masalah-masalah yang belum dipecahkan imam mazhabnya. ijtihad mustaqil sudah tertutup. pemikiran yang bertentangan dengan madzhab itu ditindas. di kalangan Syi'ah tidak pernah dikenal tertutupnya pintu ijtihad. SEBAB-SEBAB STAGNASI Dr. Yang dapat melakukan ijtihad jenis ini disebut mujtahid mustaqil (mujtahid independen). Karena itu. ia tentu saja masih menggunakan fatwa imam mazhabnya sebagai rujukan. penutupan pintu ijtihad pada saat ini. Kaum Muslim mundur karena meninggalkan ijtihad sehingga mereka menjadi seperti yang kita lihat sekarang ini. lebih ditujukan pada ijtihad muthlaq.terjadi di antara orang yang memperebutkan kekuasaan atau kerajaan. kita akan menemukan bagaimana seseorang yang ." PENUTUPAN PINTU IJTIHAD Walau ada pembagian ijtihad yang bermacam-macam. Demikian catatan Abu Zahrah tentang tertutupnya pintu ijtihad. campur tangan penguasa dalam kekuasaan kehakiman dan kelemahan posisi ulama dalam menghadapi umara. tapi boleh saja menghasilkan kesimpulan furu'iyyah yang berbeda dari imam mazhabnya. setiap zaman tak boleh kosong dari mujtahid mustaqil. mengecam penutupan pintu ijtihad yang mana pun: "Kita tidak menemukan manfaat apa pun dari penutupan pintu ijtihad". yang ditutup adalah ijtihad muthlaq. atau mentarjih (memilih yang terkuat) pendapat imam yang bermacam-macam itu. meski pada tiap zaman boleh saja tak ada mujtahid mustaqil. Sementara itu menurut Maliky. kita dapat mengelompokkan dua macam ijtihad: ijtihad muthlaq dan ijtihad fi al-madzhab. menurut Abu Zahrah. Sayyid Rasyid Ridha. terputusnya pengembangan ilmu dan terhalangnya kemajuan pemikiran. Maka perdamaian macam apa yang bisa berlaku di antara kami. terus berkembang. ia disebut mujtahid muntasib. Walau tak diketahui secara pasti sejak kapan. Untuk yang pertama. di zaman kemandegan pintu ijtihad. Maka ketika satu madzhab memperoleh kekuasaan. Dalam hal ini. atau menafsirkan yang mujmal menjelaskan yang mubham dari ucapan imam. seorang mujtahid mengembangkan metode ijtihadnya secara mandiri dan mengeluarkan hukum-hukum berdasarkan metodenya itu. kita ingin menegaskan kembali bahwa madzhab berkembang karena dukungan politik. Di sini mujtahid berpegang pada metode ijtihad imam mazhabnya.

Abu Hudzaifah menikahkan Salim --yang dipandang sebagai anaknya itu-. dikembalikan kepada mawlanya. terbaginya para mujtahid berdasarkan madrasah tempat mereka belajar. dan bila benar dua. Di samping itu. karena ia dapat dikucilkan oleh masyarakat. Ia sering masuk ke rumahku dan aku dalam keadaan fudhul (memakai busana rumah yang tidak menutup aurat). kalau pun ulama berijtihad. Umara tentu saja selalu berusaha mempertahankan status quo. FIQH DITELAAH KEMBALI: FIQH KAUM PEMBARU "Yahya memberitakan kepadaku dari Malik dari Ibn Syihab.berbeda madzhab atau berganti madzhab menghadapi berbagai cobaan. para penguasa Muslim lebih sering menindas kebebasan pendapat dari pada mengembanghannya. Sehingga ia disebut Salim mawla Abu Hudzaifah. dan menyebarnya penyakit akhlak seperti hasud dan egoisme di kalangan ulama. Setelah invasi. Ulama sangat bergantung kepada umara. Abd al-Wahhab Khalaf menyebutkan empat faktor yang menyebabkan kemandegan. demi "ketertiban dan keamanan". Bukankah ini ijtihad dan setiap ijtihad selalu mendapat pahala? Bila ijtihadnya salah. Qadhi diangkat oleh penguasa. posisi ulama yang lemah memperkuat fanatisme madzhab. yang paling aman adalah mengikuti pendapat para imam mazhab yang sudah dibukukan. yang ikut menyaksikan perang Badar-. Yaitu terpecahnya kekuasaan Islam menjadi negara-negara kecil hingga umat disibukkan dengan eksistensi politik. Ia ditanya tentang menyusui orang dewasa. menyebarnya ulama mutathaffilin (ulama yang memberi fatwa berdasarkan petunjuk Bapak). Ia berkata: 'Urwah bin Zub air mengabarkan kepadaku bahwa Hudzaifah bin 'Utbah bin Rabi'ah --salah seorang sahabat Nabi saw. Bila tidak diketahui bapaknya. Karena itu. maka mereka adalah saudaramu dalam agama dan mawla-mawla kamu --maka dikembalikanlah setiap orang di antara mereka itu kepada bapaknya. sebagaimana Rasulullah saw.datang menemui Rasulullah saw. ia mendapat satu pahala. para ulama dari 70 negara Islam menyatakan bahwa Saddam sebagai mujahid Islam yang taat pada Allah dan al-Qur'an. bagaimana menurut . dan berkata: "Ya Rasul Allah. didiskreditkan ulama dan diadukan pada penguasa. Kami hanya mempunyai rumah satu. Itu lebih adil di sisi Allah. mengangkat Zaid ibn Haritsah sebagai anak. Dalam posisi seperti itu. Lebih-lebih bila berbeda pendapat dengan madzhab penguasa.dengan anak saudara perempuannya Fathimah bint al-Walid bin 'Utbah bin Rabi'ah. Waktu itu ia termasuk wanita muhajirat yang awal dan gadis Quraysy yang utama. telah ditunjukkan bagaimana para ulama berebutan menjadi qadhi. Ketika Allah menurunkan ayat dalam Kitab-Nya tentang Zaid ibn Haritsah --panggillah mereka dengan nama bapak-bapak mereka. Di sini harus dicatat: dalam sejarah.telah mengangkat Salim sebagai anaknya. para ulama yang sama menyatakan Saddam sebagai bughat dan pemimpin dhalim. Untuk sebab kedua. Contoh terakhir adalah pernyataan para ulama Rabithah yang mendukung kehadiran tentara Amerika di Jazirah Arab. 5. ijtthadnya hanyalah dalam rangka memberikan legitimasi pada kebijakan penguasa. Sahlan binti Suhail --istri Hudzaifah dari Bani Amir-. kami menganggap anak kepada Salim. Qadhi tidak ingin mengambil risiko berbeda pendapat dengan madzhabnya. Empat puluh tiga hari sebelum Saddam menyerbu Kuwait. Jika kamu tidak mengetahui bapak-bapak mereka.

(Ia mabuk) dan 'Umar menetapkan hukum cambuk baginya. campurkan air ke dalamnya. Umu Kultsum binti Abu Bakar al-Shiddik dan anak-anak perempuan saudaranya untuk menyusukan laki-laki yang ingin masuk ke rumahnya.Anda? Rasulullah saw. Dengan merujuk pada hadits yang mengharamkan minuman keras --baik sedikit maupun banyak mereka telah membenarkan halalnya minuman keras karena dicampur air. Dari fenomena tersebut. Yang dipersoalkan bukan hanya penafsiran nash-nash tetapi juga metode pengambilan keputusan. Apakah perilaku 'Umar dapat dijadikan model dalam pengambilan kesimpulan hukum? Apakah pendapat para sahabat dapat dijadikan hujjah dalam agama? Apakah tindakan 'Umar itu suatu preseden bolehnya meninggalkan nash-nash syari'at bila kondisi berubah? Pertanyaan-pertanyaan tersebut merupakan problema yang dihadapi para pembaru Islam ketika mereka menelaah kembali fiqh yang ada. Setelah itu ia memandangnya sebagai anak susuan. apalagi menyusu kepadanya?). Mereka mempersoalkan cara menyusukan itu. Bagaimana mungkin Nabi saw menghalalkan sesuatu dengan tindakan yang haram? (Bukankah bersentuhan dengan perempuan yang bukan muhrim itu haram. Dalam istilah fiqh. ternyata "Kembali kepada al-Qur'an dan al-Sunnah" tidak segampang seperti yang dibayangkan. Kesimpulan terakhir ini telah disepakati fuqaha. Ahkam al-Qur'an 2:565). Al-Muwatha 2: 115-116) Contoh lain: "Seorang A'raby meminum minuman 'Umar. Dari peristiwa yang pertama para faqih menyimpulkan beberapa hukum: (1) Batas susuan yang menyebabkan seorang haram dinikahi adalah lima kali susuan. Bukankah istri-istri Nabi saw yang lain menolaknya? Bukankah pada kitab hadits yang sama Umar ibn Khatab dan Abdullah ibn Mas'ud hanya membenarkan susuan pada waktu kecil saja? Peristiwa yang kedua dijadikan dalil oleh sebagian pengikut madzhab Hanafi untuk menghalalkan minuman keras (khususnya Nabi) bila dicampur dengan air. Ia berkata: Siapa yang ragu untuk meminumnya. Orang A'raby itu berkata: Aku minum dari minumanmu. (3) Dianjurkan menyusukan orang yang sudah dewasa supaya ia halal masuk ke rumah seorang perempuan. Dua peristiwa di atas diambil dari kitab-kitab yang menjadi rujukan dalam menjawab masalah-masalah fiqhiyah. (Malik. Istri-istri Nabi saw yang lain menolak untuk mengizinkan laki-laki masuk ke rumah dengan susuan seperti itu. yang harus ditinjau bukan saja al-adillat al-syar'iyat. (2) Tidak boleh laki-laki yang bukan muhrim memasuki rumah seorang perempuan. berkata kepadanya: "Susukanlah dia lima kali susuan sehingga ia menjadi muhrim dengan susunya". lalu mencampurkan air ke dalamnya. Ibrahim al-Nakhti meriwayatkan hadits yang sama dari 'Umar dan berkata: 'Umar meminumnya setelah mencambuk orang A'raby itu. tetapi juga ushul al-fiqh. kecuali bila laki-laki itu saudara sepesusuan. kemudian meminumnya. 'Umar meminta minumannya itu. . (Al-Jashash. Tentu saja fuqaha mazhab-mazhab yang lain menolaknya. Mungkinkah ini hanya fiqhnya 'Aisyah. Slogan yang di Indonesia didengungkan kaum modernis ini. Aisyah mengambil cara ini bila ada laki-laki yang ingin masuk ke rumahnya Ia menyuruh saudaranya. Yang kemudian menjadi persoalan adalah tindakan 'Umar.

dan terutama sekali pada Daud al-Zhahiri. Seperti Ibn Taymiyah. tapi berusaha menangkap menurutnya.. Jadi fiqhnya selalu merujuk pada nash-nash al-Qur'an atau hadits. yaitu aliran yang berpegang kepada teks-teks syari'at secara kaku. ketika menyampaikan khutbahnya di Makkah tahun 1355.sebetulnya hanyalah salah satu aliran peninjauan kembali fiqh. . yaitu liberalisme. dan yang paling dekat dengan ahl al-hadits adalah mazhab Hanbali. makna hakiki dari teks. ada dua aliran besar dalam fiqh Islam: ahl al-Ra'y dan ahl al-Hadits. Skripturalisme dan liberalisme keduanya berusaha mendobrak kebekuan pemikiran Islam. Aliran ini tak lagi terikat dengan bunyi teks.. kami mengikuti ijtihad Ahmad ibn Hanbal: (Mughniyah. LATAR BELAKANG SKRIPTURALISME Seperti diketahui dalam fiqh tabi'in. Imam Ahmad ibn Hanbal. Semuanya terjadi karena Ahmad mendasarkan mazhabnya pada hadits Rasulullah saw (meski lemah). kita harus memulai dengan menyorot kedua aliran ini secara kritis dibahas skriptularisme. kesetiaan pada teks sangat ekstrem. Dalam kalimat W. Smith. 1987:95). maqashid syar'iyah dan sebagainya. ia mencela kaum mutakallim. Paham Ibn Taymiyah dihidupkan kembali oleh Muhammad ibn Abd al-Wahab lima abad kemudian. Karena itu.C. berkata: "Madzhab kami mengikuti dalil. Yang paling dekat dengan ahl al-ra'y adalah madzhab Hanafi. tugas ahli fiqh hanyalah mencari nash yang relevan. sekaligus merupakan fiqh baru yang dapat menjawab masalah-masalah baru akibat perubahan masyarakat. Ibn Qutaybah memasukkan Ahmad di antara muhadditsin dan Ibn Jarir al-Thabari menolak Ahmad sebagai ahli fiqh. The Encyclopedia of Islam menyebut Ibn Taymiyah sebagai the bitter enemy of innovations. filsuf dan sufi. Muhammad ibn Abd al-Wahab menolak "the corruption and laxity of the contemporary decline. Aliran tersebut sebenarnya adalah skripturalisme. Raja Malik ibn Abd al-Aziz. dan menolak qiyas kecuali dalam keadaan terpaksa. memang lebih terkenal sebagai ahli hadits dari pada ahli fiqh. Yang kedua berdasarkan fiqh pada hadits walaupun lemah dan menolak penggunaan rasio. Mereka menolak ta'wil dan menerima hadits secara harfiyah.. Ibn Taymiyah memperkuat gerakan anti rasionalisme ini dengan menolak setiap penggunaan logika dalam khazanah ilmu-ilmu Islam dan sekaligus menolak praktek-praktek yang tidak ada dasarnya dalam teks al-Qur'an dan hadits. tema umum Islam. Makna ini dianggap sebagai ruh ajaran Islam. dalam upaya menelaah kembali fiqh. bila tidak ada. Berbagai upaya rekonstroksi fiqh di dunia Islam sekarang ini berangkat dari kedua aliran tersebut. setelah orang merasa perlu membuka kembali pintu ijtihad. bila ada. fatwa para sahabat. .the alien intellectualism not only of philosophy but also theology" (Smith. 1968:42). Yang pertama menekankan rasio dalam pengambilan keputusan. yang mengumpulkan ribuan hadits dalam musnadnya. Karena itu. dan yang ada hanya ijtihad. the introvert warmth and other wordly pety of the mystic way. Arkoun menyebut aliran ini logosentrisme yang ia gambarkan sebagai berikut: Di samping aliran ini ada aliran yang sangat menekankan rasio (akal). Mazhab-mazhab fiqh terletak di antara kedua ekstrim itu. Pada Ibn Hazm.

(021) 7501969. mengucapkan doa yang tidak ma'tsur. membaca shalawat kepada Nabi saw. 7501983. Praktek-praktek keagamaan yang tidak secara spesifik ditunjukkan dalam nash. 1981:26). mereka menetapkan keharusan percaya bahwa Ia turun ke langit dunia. tidak ada contohnya dari Nabi saw).Paham ini. skriptualisme menyingkirkan pengalaman mistikal dari kehidupan beragama. 7507173 Fax.22. menurut Fazlur Rahman. Pertama. tetapi juga dikafirkan. Kaum sufi. Mereka melihat masa Salaf sebagai model. Pada saat yang sama. mereka telah mematikan telaah filosofis. dan kembali kepada al-Qur'an dan hadits sebagai satu-satunya jalan untuk memecahkan segala persoalan Islam. "since the leaders of these movements were interested in negating some of the influences of the medieval school of islamic thought and law. yang kemudian menjadi paham resmi Arab Saudi. Metro Pondok Indah Pondok Indah Plaza I Kav. --dan di Indonesia-. Filsafat bukan saja dijauhi. Karena skriptualisme menerima teks-teks al-Qur'an dan hadits dengan apa adanya. duduk di atas 'arasy. membaca dzikir bersama. dalam aqidah. yang mencoba menangkap makna batiniyah dari nash-nash. Qunut pada shalat Subuh. Dengan menolak ta'wil. tertawa dan sebagainya. yang disebut bid'ah adalah apa saja yang tidak merujuk pada dalil yang telah dipilihnya. they inevitably took a negative attitude toward the intellectual and spiritual developments that had taken place in the intervening centuries" (Rahman. Selanjutnya. mengobrol dengan ahli surga. . Kedua. UA 20-21 Jakarta Selatan Telp. Ada beberara kegagalan skripturalisme. dianggap bid'ah. (021) 7507174 Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota Please direct any suggestion to Media Team Artikel Yayasan Paramadina Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota IV.(bersambung 7/10) Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah Editor: Budhy Munawar-Rachman Penerbit Yayasan Paramadina Jln. -------------------------------------------. Wacana teologi menjadi gersang. dianggap sesat. mempengaruhi banyak aliran pembaharuan di seluruh dunia. TINJAUAN KRITIS ATAS SEJARAH FIQH (7/10) Dari Fiqh Al-Khulafa' Al-Rasyidin Hingga Madzhab Liberalisme oleh Jalaluddin Rakhmat KEGAGALAN SKRIPTURALISME Keyakinan bahwa kesetiaan pada teks al-Qur'an dan hadits cukup untuk memecahkan persoalan ternyata hanya simplikasi.menyelenggarakan upacara tahlilan dan marhabanan dianggap tidak mengikuti sunnah Rasulullah saw (dalam bahasa orang awam.

karena menolak wacana intelektual. tetapi tanpa aturan yang konsisten. mukhtalaf al-hadits. para pembaru mencoba mendobrak stagnasi dengan melakukan salah satu di antara dua pilihan. Para pengikutnya tidak lagi "menikmati" agama dan sebagian mengalami ketidakpuasan rohaniah. tetapi tidak berdasarkan dalil yang disetujui mereka. menggunakannya dalam menjelaskan zakat profesi. Keempat. Muncullah para "mujtahid" yang tidak berkualifikasi. saya akan mengutip deskripsinya tentang kaum liberalis . Al-masail al-lafzhiyah --seperti makna lughawi. makna haqiqi dan majazi.Padahal. kelima. kita sebut liberalisme. Ketiga. Mereka kembali secara ketat pada teks-teks al-Qur'an dan al-hadits atau mereka berusaha menemukan ruh atau semangat dari ajaran al-Qur'an dan al-hadits. saya kira. skripturalisme terbukti tidak menjawab berbagai masalah kontemporer. Akibat kegagalan skripturalisme tersebut. kita dapat merumuskan kaidah-kaidah baru dalam menegakkan fiqh yang lebih relevan dan signifikan. Walaupun saya tidak akan membahas pokok-pokok pikiran kaum liberal Islam seperti yang dipaparkan Leonard Binder. penentuan keshahihan hadits. skripturalisme. liberalisme juga sangat rentan terhadap berbagai problem. Kritik terhadap skripturalisme sama sekali tidak dimaksudkan untuk membela liberalisme. Bukankah segala persoalan dapat diselesaikan dengan merujuk pada dalil-dalil al-Qur'an dan hadits.untuk merinci dalil-dalil orang-orang yang mempraktekkan upacara-upacara agama tersebut. mudah mendorong orang ke arah fanatisme. qawaid ushul al-fiqh dan masalah-masalah lain yang berkaitan dengan penafsiran nash tidak mendapat perhatian. Pada tahap institusional. tapi merasa faqih. Melalui studi kritis terhadap keduanya. Dalam skala makroskopis. Pada gilirannya. yang menolak qiyas. orang-orang awam tidak merasa perlu lagi dengan kehadiran fuqaha. 6. orang tidak memberikan solusi terhadap segala kemusykilan ini. kaum skripturalis telah menghilangkan pengalaman beragama (religious experiences) yang emosional. yang memuncak pada fragmentasi umat. bukan tidak mengikuti sunnah. Mereka membentuk kelompok-kelompok. Yang pertama kita sebut skripturalisme (sudah dibicarakan) dan kedua. makna 'am dan khash dan sebagainya. Tulisan ini hanya ingin mengingatkan kita akan pentingnya penilaian kritis terhadap pendekatan pada fiqh. makna 'urfi (kebiasaan). Madzhab yang lain akan dianggap menyimpang dari al-Qur'an dan sunnah. zakat emas dan perak. dan zakat perdagangan. Sebagian kaum modernis di Indonesia. Ada yang mengqiyaskan zakat profesi dengan zakat pertanian. Terakhir. Salah satu contoh adalah perbincangan tentang zakat profesi atau pekerjaan-pekerjaan yang tidak diwajibkan zakat padanya. karena berusaha secara bebas untuk menggunakan penalaran. FIQH KAUM PEMBARU: MADZHAB LIBERALISME Seperti telah disebut di atas. skripturalisme tidak dapat menyelesaikan kemusykilan-kemusykilan yang terjadi ketika melakukan istidlal (memberikan dalil-dalil hukum) dari nash-nash. Dengan menyingkirkan mistisisme. Tidak ada maksud saya --dan bukan tempatnya di sini-. paham ini melahirkan orang-orang yang wawasannya sempit. Sebagian di antara mereka akhirnya menggunakan qiyas juga.

sesudah mengutip sejarah ijtihad bi al-ra'y saya akan mengutip juga perkembangan tafsir bi al-ma'tsur. Umar berkata. tapi Umar melarangnya. seeking that which is represented or revealed by language. makna wahyu di luar arti lahiriah dari kata-kata. Mereka bersedia meninggalkan makna lahir dari teks untuk menemakan makna dalam dari konteks. secara khusus kita akan mengambil contoh pemikiran Ibrahim Hosen dan Fazlur Rahman untuk menggambarkan pokok-pokok pemikiran kaum liberalis. Nabi menginginkan agar para tawanan Badar dibebaskan dengan tebusan. Fiqh al-ra'y sebenarnya sejajar dengan tafsir al-Qur'an bi al-dirayat. but which goes beyond them. Pada bagian kedua. Karena itu. wahyu . Yaitu yang berhubungan dengan ibadah ritual (kelak disebut huquq Allah) dan yang berhubungan dengan masalah-masalah sosial (kelak disebut huquq al-'ibad). TRADISI IJTIHAD BI 'L-RA'Y Ketika [brahim Hosen berbicara tentang ta'aqquli dan ta'abbudi. dan Allah membenarkan ijtihad 'Umar. SEJARAH MADZHAB LIBERALISME Fiqh kaum liberal dapat dilacak pada madzhab ahl al-ra'y di kalangan para sahabat Nabi. Rasulullah saw sering berijtihad. Nabi menyuruh sahabatnya mengambil dawat dan pena untuk menuliskan wasiatnya. Para ahli hadits meriwayatkan berbagai peristiwa ketika ijtihad Nabi berbeda dengan ijtihad 'Umar. Karena itu. Jadi ciri khas kaum liberalis ialah upaya untuk menangkap esensi wahyu. Bukankah Nabi mengatakan.Islam. keduanya menggaungkan kembali perbedaan pendapat para sahabat tentang sunnah Rasullah saw. "Dengan ini kalian tidak akan sesat selamanya"' kata Nabi. Seperti biasa. Di bawah ini saya akan mengulangi lagi akar pemikiran kaum liberalis dengan mengutip apa yang pernah saya tulis pada pengantar buku Islam dan tantangan Modernitas. Since the words of the Qur'an do not exhaust the meaning of revelation. but the content and the meaning of revelation is not essentially verbal. pada akhirnya saya akan mengajukan kritik. there is a need for an effort at understanding which is based on the words. tapi kaum liberalis modern justru mengambil inspirasi dari tafsir bi al-ma'tsur. Di tangan kalian ada kitab Allah. the language of the Qur'an is coordinate with the essence of revelation. dan yang kedua secara ta'aqquli. Dalam kasus-kasus ini. Mereka menerima yang pertama secara ta'abbudi." Tampaknya Umar berpendapat bahwa kondisi sakit Nabi melahirkan ijtihad Nabi yang tidak perlu diikuti. sedangkan 'Umar mengusulkan untuk membunuh mereka. "Nabi saw dalam keadaan sakit parah. Cukuplah buat kita kitab Allah itu. Nabi hendak menshalatkan 'Abdullah ibn Ubayy. Dalam keadaan sakit. ijtihadnya boleh jadi benar atau salah. For Islamic liberals. di sini para sahabat tidak merasa terikat dengan sunnah. dan ketika Rahman mengulas pemikiran modernis dan fundamentalis. Apakah Nabi Muhammad saw berijtihad? Banyak para sahabat membagi perintah-perintah Nabi ke dalam dua bagian. "Kamu lebih tahu urusan duniamu?" Bukhari meriwayatkan peristiwa yang oleh Ibn 'Abbas disebut sebagai "tragedi hari Kamis". Setelah itu.

"Sesungguhnya Nabi saw mengirimkan pasukan itu berdasarkan Ijtihad dan bukan berdasarkan wahyu yang diharamkan membantahnya." (QS 53:3). Ini hanyalah ra'yu yang aku pegang.merupakan justifikasi terhadap peluang menggunakan ra'yu dalam menghadapi sunnah (yang berasal dari Ijtihad Nabi). padahal Nabi memerintahkan mereka untuk berada di dalamnya. "Ia tidak berbicara berdasarkan hawa nafsunya. berkembanglah madzhab Hijaz. Allah dan Rasul-Nya terlepas darinya. Ibn Katsir. 'Aisyah melaporkan: "Ayahku telah mengumpulkan 500 hadits Nabi saw. yang menekankan Fiqh al-atsar. "Seandainya azab turun. Kalau tidak. Sebagai lawan mereka --dalam pemikiran-adalah madzhab Alawi. Bila benar. 'Umar bertanya: "Apa yang menyebabkan Anda dan sahabat Anda menangis? Kalau ada sesuatu yang patut aku tangisi. dari Allah dan kalau salah. ia menegur Ali: "Kau lakukan itu padahal aku melarangnya?" Ali menjawab: "Aku tidak akan meninggalkan sunnah Rasulullah saw karena (ra'yu) salah seorang manusia. ia berasal dari Allah dan bila salah ia berasal dari setan. "ambilkan ." Nabi kemudian menceritakan tentang wahyu yang membenarkan Umar dan menyalahkan Nabi. sehingga lahirlah mazhab Kufah yang menitik-beratkan Fiqh al-ra'y. aku akan menangis. menulis: "Para sahabat r. disertai Abu Bakar pernah menangis terisak-isak menyesali kekeliruan ijtihadnya. Kalau tidak ada tangisan. silakan ambil ra'yu-ku. aku akan berupaya menangis seperti tangisan Anda. kemudian kita pun menyebut madzhab pemikiran mereka sebagai madzhab Umari. sebelum ia memindahkan ibu kota ke Kufah pada masa kekhalifahannya. dari Umar.a. dalam kitab tarikhnya." Para tabi'in dari Kufah kelak berguru kepada Abdullah ibn Mas'ud. Kalau orang mau. tinggalkan saja." Karena Umar adalah primadona dari kelompok pertama para sahabat ini. Ketika Abu Bakar dan Umar meninggalkan pasukan Usamah. Kalau benar. yang terdiri atas sahabat-sahabat yang berkumpul di sekitar Ali ibn Abi Thalib. Diriwayatkan bahwa Nabi saw." kata Nabi. yang berkata: "Barang siapa melakukan tamattu'. Ketika Utsman melarang menggabungkan haji dengan 'umrah. ia datang menemuiku dan berkata. ia sudah menjalankan kitab Allah dan sunnah NabiNya. Fiqh al-ra'y makin diperteguh dengan kecenderungan umum madzhab Umari untuk mengabaikan penulisan hadits." Kita pun kemudian mengetahui bahwa di Madinah. Pada suatu pagi. Utsman berkata: "Aku tidak melarangnya.selalu turun membenarkan Umar. daerah Hijaz." Umar juga diriwayatkan berkata: "Inilah ra'yu Umar." Ketika Ali menegur Utsman yang melarang tamattu'. tetapi ia hanya berbicara berdasarkan wahyu yang diturunkan kepadanya. sangat takut kepada Umar dan tidak menemukan orang yang melawan pendapat Umar kecuali Ali ibn Abi Thalib." Abdullah ibn Mas'ud berkata seperti itu juga: "Aku mengatakan ini dengan ra'yuku." Hadits-hadits di atas --walaupun keabsahannya harus kita teliti secara kritis-. Ketika Umar dan Utsman --pada zamannya masing-masing melarang haji tamattu" Ali menentangnya. Sementera itu. Ali tetap tinggal di Madinah. Tidak ada ijtihad Nabi. Ibn Abi al-Hadid membenarkan kedua sahabat itu. Mereka tidak membedakan huquq al-'ibad dan huquq Allah dalam instruksi-instruksi Nabi yang bernilai tasyri'. "tidak akan ada yang selamat kecuali Umar ibn Khaththab.

saya mati. halalkan yang halal dan haramkan yang haram. dan kurang terikat pada zhawahir (makna tekstual) dan nash. ia lemparkan semua tulisan. -------------------------------------------. madzhab ini sebenarnya juga menggunakan rasio. periwayatan hadits tetap berlangsung sampai zaman Umar.kepada al-Qur'an. tetapi membentuk kontinum." Lalu saya berikan kepadanya. Ibrahim al-Nakha'i. tak memperkenankan penggunaan akal. berdasarkan pemahaman yang benar akan maksud-maksud syara'. Sesungguhnya maslahat yang difatwakan sahabat tidak bertentangan dengan nash. Konon. khusus di kalangan ahl al-Sunnah. dan berkata: "Kalian meriwayatkan dari Rasulullah saw. Nanti. Sejarah singkat madzhab 'Umari ini menunjukkan tiga ciri khasnya: (1) madzhab ini memusatkan perhatian utamanya --dan seringkali dengan mengabaikan yang lain-. (2) madzhab ini mengutamakan ra'yu ketimbang al-Sunnah. Umar menyuruh mengumpulkan hadits-hadits itu dan memerintahkan untuk membakarnya. Walaupun begitu. dan lain-lain. yang pertama kali melakukan tadwin hadits adalah Ibn Syihab al-Zahri atas perintah Umar ibn Abd al-Aziz. Al-Hasan ibn Abi al-Hasan --menjelang kematiannya-. hadits-hadits yang kalian perselisihkan. Ia membakarnya dan berkata: "Saya khawatir. manusia sesudahmu akan lebih daripada itu." Tradisi pengabaian penulisan hadits --dan sekaligus pembakarannya-. Rasul Ja'farian menyebutkan nama-nama ulama tabi'in yang melarang penulisan hadits. Akibatnya. Ali Yafie melukiskannya sebagai lingkaran-lingkaran: "Lingkaran paling dalam (pertama) merupakan kelompok yang paling sedikit menggunakan ra'yunya. Kaidah mereka: la ra'yu fi al-din (tidak ada tempat rasio dalam agama). Untuk menangkis tuduhan bahwa Umar sering meninggalkan nash-nash al-Qur'an secara sengaja. Sa'id ibn Jubair. Bila ada yang bertanya kepada kalian. kecuali satu buku saja. Janganlah meriwayatkan sesuatu pun dari Rasulullah saw. yaitu. Ashim. fiqh al-ra'y dan fiqh al-atsar ini tidak terpilah tegas."." Abu Bakar juga pernah mengumpulkan orang setelah Nabi wafat.dilanjutkan oleh tabi'in. Abu Burdah. Prinsip mereka dalam pengambilan hukum. Madzhab yang menggunakan kaidah semacam ini disebut madzhab al-Zhahiri. Metro Pondok Indah . Disadari atau tidak. karena diprakarsai Dawud al-Zhahiri yang dilanjutkan Ibn Hazm dalam kitabnya al-Muhalla. "Hasbuna Kitab Allah. dan (3) madzhab ini menekankan aspek maqashid syar'iyyah atau kemaslahatan umat untuk menetapkan hukum. Di kalangan madzhab-madzhab ahl al-Sunnah. Ke dalamnya. Hanya intensitas penggunaannya sangat sedikit.(bersambung 8/10) Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah Editor: Budhy Munawar-Rachman Penerbit Yayasan Paramadina Jln. penulisan hadits terlambat sekitar dua abad. jawablah: "Di antara Anda dan kami ada Kitab Allah.memerintahkan pembantunya untuk menyalakan api pembakaran. Abu Zahrah menulis: "Tidak seorang sahabat pun meninggalkan nash demi ra'yunya atau kemaslahatan yang dipandangnya." kata Umar. Alasan Umar: "Aku khawatir hadits-hadits itu akan memalingkan orang dari Kitab Allah. dan meninggalkan hadits-hadits itu padamu.hadits-hadits yang ada padamu. Abu Sa'id. Madzhab-madzhab itu berbeda dalam intensitas penggunaan nash dan ra'yu. tetapi mengaplikasikan nash secara baik.

Abu Hanifah pernah dilaporkan berkata: "Seandainya Rasulullah berjumpa denganku. Bukankah agama itu ra'yu yang baik?" Barangkali ini penegasannya tentang keharusan nash tunduk pada analisis rasional. (021) 7501969. Kaidah mereka adalah al-Mashalih al-Mursalah. "Lingkaran keempat adalah madzhab Syafi'i yang dipelopori Imam Syafi'i. 7501983. adalah mazhab yang frekuensi penggunaan akalnya lebih banyak. Abu Hanifah memang hanya sedikit meriwayatkan hadits. marilah kita melihat madzhab Hanafi. ia akan mengambil banyak pendapatku. merupakan madzhab yang menggunakan rasio agak lebih intens daripada kelompok pertama tadi. ia menguji hadits dengan pertimbangan psikologis dan konteks sosial.22. "Sedangkan kelompok kelima. "Lingkaran ketiga. terakhir. Simaklah riwayat yang diceritakan Dr. Madzhab ini banyak dilaksanakan di Saudi Arabia. Ketika Raqabah ibn Musqilah ditanya tentang Abu Hanifah.Pondok Indah Plaza I Kav. Kata Dr. (021) 7507174 Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota Please direct any suggestion to Media Team Artikel Yayasan Paramadina Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota IV. Apa yang belum terjadi adalah ketetapan hukum berdasarkan qiyas. Akal lebih dipentingkan dalam proses pengambilan hukum daripada hadits. kurangnya hadits pada Abu Hanifah menunjukkan bahwa ia tidak merasa puas dengan menyampaikan hadits saja. ia menjawab: "Abu Hanifah adalah orang paling pandai tentang apa yang sudah terjadi. 7507173 Fax. Ali Hasan Abd al-Qadir: "Musuh-musuh Abu Hanifah menuduhnya tidak memberikan perhatian besar pada hadits. Dalam proses pengambilan hukum. hal itu dikarenakan Abu Hanifah sangat memperketat syarat-syarat penerimaan hadits. madzhab ini lebih banyak menggunakan analogi atau qiyas. Kata Ibn Khaldun. Ahmad Amin." Yang dimaksud dengan apa yang sudah terjadi adalah hadits-hadits Nabi." Untuk memberikan contoh madzhab yang paling "Umari". UA 20-21 Jakarta Selatan Telp. Madzhab ini dipelopori oleh Imam Hanafi. Ia memprioritaskan ra'yu dalam mengeluarkan keputusan . kelompok yang disebut madzhab Maliki yang dipelopori Imam Malik. TINJAUAN KRITIS ATAS SEJARAH FIQH (8/10) Dari Fiqh Al-Khulafa' Al-Rasyidin Hingga Madzhab Liberalisme oleh Jalaluddin Rakhmat "Lingkaran yang kedua. Doktrin mereka menyatakan bahwa hadits dha'if harus lebih diprioritaskan daripada akal. Doktrinnya menyatakan bahwa rasio harus diperhatikan guna pertimbangan kemaslahatan. Mazhab ini disebut mazhab Hanbali yang dipelopori Imam Ahmad ibn Hanbal.

Kita akan membicarakan kritik pembaruan Rahman di akhir tulisan ini. Di Pakistan. Lewat tangan-tangan kekuasaan. Kata Abu Hanifah: "Undian itu judi. bagi madzhab Hanafi. Salah satu murid terkemuka dari Abu Hanifah adalah Abu Yusuf. pada bab khusus." Nabi mengundi istri-istrinya kalau mau bepergian. tidak berbeda dari Ibn Taimiyah bagi madzhab Hanbali. antara lain pada masa al-Mahdi. Sebelum sampai ke situ." Ibn Abu Syaibah dalam bukunya. ketika merumuskan metodologi ijtihadnya." Katanya: "Rasulullah berkata. menyebut hadist-hadist yang ditolak Abu Hanifah dan mencapai 150 hadits. Kata Abu Hanifah: "Aku tidak akan menjadikan bagian binatang lebih banyak daripada bagian seorang Mukmin. kritik terhadap Rahman juga dapat dilacak pada kritik fuqaha al-atsar terhadap fuqaha al-ra'y. ada baiknya kita juga meninjau perkembangan metodologi penafsiran al-Qur'an. sebagaimana kritik Rahman terhadap hadits (sunnah) dapat ditelusuri pada kritik fuqaha al-ra'y terhadap fuqaha al-atsar. sebagaimana fiqh al-ra'y mempunyai persamaannya dalam tafsir bi 'l-dirayat. al-Hadi dan al-Rasyid. Kata Abu Hanifah: "Isy'ar adalah penganiayaan. .." Kata Abu Hanifah: "Bila jual beli wajib." Rasulullah melakukan isy'ar (melukai punggung unta) sebelum menyembelih hewan kurbannya. sebagai latar belakang teoretis dalam memahami penafsiran al-Qur'an yang dirumuskan oleh Rahman.fiqh. Tidak heran kalau Fazlur Rahman sering --bahkan paling sering-menyebut Abu Yusuf. Tafsir Kontekstual-. Ia memuji Abu Yusuf karena memberikan penafsiran yang situasional kepada hadits yang "berdiri sendiri". Cukuplah dikatakan bahwa dengan mempelajari fiqh-fiqh klasik. "aku mendengar Yusuf ibn Asbath berkata. prajurit mendapat satu bagian. ada empat orang sahabat. Fazlur Rahman dilahirkan. Ia memegang jabatan qadhi pada masa-masa kekhalifahan 'Abbasiyyah. menerima hadits dengan sikap kritis. Abu Shalih al-Fura menuturkan. madzhab Hanafi tersebar ke seluruh kekuasaan Islam. Daerah-daerah madzhab Hanafi antara lain Mesir dan Pakistan. TAFSIR BI 'L-RIWAYAT DAN TAFSIR BI 'L-DIRAYAT Fiqh al-atsar mempunyai tandingan dalam tafsir bi al-riwayat. Karena itu. Abu Hanifah menolak 400 atau lebih hadits Nabi saw. Kita tidak akan membicarakan pengaruh Abu Yusuf terhadap metodologi Rahman (dan juga Hosen)." Kata mereka: "Pada zaman Abu Hanifah. dan menetapkan "sunnah yang dikenal baik" sebagai kriteria terhadap "semangat dan sikap kolektif" dari hadits. kuda mendapat dua bagian. kita akan terkejut menemukan bahwa klaim orisinalitas pembaruan Rahman --yang berulangkali disebut Taufik Adnan Amal dalam bukunya. (Untuk menggembirakan kita semua kedua-duanya berhak disebut Syaikh al-Islam). Ia menolak banyak hadits demi ra'yu." Nabi bersabda: "Dua jual beli dengan khiyar sebelum keduanya berpisah. Abu Hanifah tidak tertarik untuk menemui mereka. Di Mesir. Kataku: "Berikan sebagian contohnya.. Tafsir --menurut Muhammad Ali al-Shabuni-adalah ilmu untuk memahami Kitab Allah yang diturunkan kepada . Uraian di atas diberikan untuk menjelaskan dasar-dasar pemikiran Rahman pada perkembangan pemikiran Islam klasik.hanya dapat diterima oleh orang yang tidak mempunyai dasar dalam pemikiran Islam tradisional. Rahman. Ibrahim Hosen mereguk ilmunya. tidak ada khiyar.

Setelah itu Allah mematikan mereka dan menghidupkan mereka kembali pada Hari Kiamat. Sesudah itu. Muhammad saw. Kemudian Allah menghidupkan mereka di dunia. kita akan menelusuri akar-akar penafsiran Rahman pada tafsir bi 'l-dirayat. Di antara jenis-jenis tafsir bi 'l-riwayat. Untuk mengapresiasi metode penafsiran Rahman. baru tafsir al-Qur'an dengan al-Sunnah (misalnya. tafsir al-Qur'an dengan al-Qur'an adalah yang paling baik. kita uraikan jalan yang ditempuh oleh al-Thabathaba'i. Nabi saw. Tafsir al-Qur'an dengan al-Qur'an mempunyai basis dalam petunjuk-petunjuk al-Qur'an sendiri (QS 11:1. Paling tidak. dan menjelaskan maknanya serta menggali hukum-hukum dari hikmahnya. Abd al-Karim al-Khathib al-Mishri bahkan menamai kitab tafsirnya al-Tafsir al-Qur'ani li al-Qur'an. Untuk yang terakhir ini. Selanjutnya. kita akan melihat problematik al-Qur'an yufassir ba'dhuhu bad'dhan. yang menjadi pijakan Rahman. tafsir bi 'l-riwayat seperti ini diambil Rahman ketika berbicara tentang hukum Islam dan ditinggalkan Rahman ketika membahas aspek teologis dan eskatologis ajaran Islam. dalam Tafsir al-Mizan. Tradisi Nabi ini dilanjutkan oleh para sahabat. Semula manusia mati. dari penafsiran QS 31:14 dengan QS 46:15. para mufasir menganggap taisir bi 'l-riwayat adalah yang paling dapat dipercaya. kita akan menemukan prosedur penafsiran Qur'ani yang bermacam-macam. lewat asbab al-nuzul).Nabi-Nya. kita akan melacak kemusykilan asbab al-nuzul. Akhirnya. ketika berada dalam tulang sulbi orang tua mereka. 7:52.maka kita menyebutnya tafsir bi al-dirayah atau tafsir bi 'l-ra'y. Bila tafsir itu diperoleh dengan menukil penjelasan dari al-Qur'an lagi. Rahman hampir sepenuhnya berpijak pada tafsir bi 'l-dirayat. kemusykilan kedua penafsiran ini akan kita lihat. Anehnya. Banyak kitab tafsir mengaku menggunakan metoda ini. yang --menurut Rahman-dapat mengungkapkan latar belakang situasional. Pertama kali. wa lam yalbisu imanabum bi zhulm (QS 6:82) sebagai syirk berdasarkan ayat inn al-syirk la-zhulm 'azhim (QS 31:13). kita dapat membaginya ke dalam kelompok: tafsir Qur'ani yang murattab (berdasarkan urutan ayat dari al-Fatihah sampai al-Nas) dan tafsir Qur'ani maudhu'i (berdasarkan tema-tema atau topik-topik tertentu) Untuk mengetahui prosedur penafsiran qurani yang murattab. Bila tafsir itu berpijak pada ijtihad mufasir --dengan mengerahkan kemampuan nalar dan/atau intuisinya-. 2:185) dan al-Sunnah. membedakan ketetapan legal dari sasaran dan tujuan al-Qur'an. al-Hadits. Bila kita teliti kitab-kitab itu. pendapat sahabat dan tabi'in. maka tafsir itu disebut tafsir bi 'l-riwayat atau tafsir bi 'l-ma'tsur. menafsirkan kata zhulm dalam. Ibn Abbas menafsirkan dua kematian dan dua kehidupan dalam surah Ghafir ayat 11 dengan merujuk kepada surah al-Baqarah ayat 28. Di antara kedua jenis tafsir itu. dari sinilah Rahman mengajak kita untuk menafsirkan al-Qur'an dengan melihat al-Qur'an secara keseluruhan dan dengan melihat "sebab-sebab pewahyuan". . serta menggali prinsip-prinsip universal ajaran Islam. Rupanya. Ali ibn Abi Thalib menyimpulkan bahwa waktu minimal kehamilan adalah enam bulan.

Ja'far Subhani menulis serial mafahim al-Qur'an (sampai sekarang sudah selesai lima jilid). baik yang bersifat lafdziyah.Pertama. tetapi meliputi anak-cucunya. Yang dimaksud dengan kata al-mustaqar dalam surah al-Qiyamah ayat 12 adalah "tempat kembali" dengan melihat surah al-Insyiqaq ayat 6..ditulis oleh Muhammad al-Baqir al-Abthahi. dapat membantu kita dalam menghilangkan kekaburan dan ketidakjelasan. kemudian dikumpulkan ayat-ayat yang berkenaan dengan topik tersebut. padahal Allah menciptakan kamu serta apa yang kamu perbuat (QS 37:96). mempermudah makna yang sulit. "ayat-ayat lain dipergunakan untuk memahami ayat-ayat yang mujmal atau sama. dan menjelaskan metodenya sebagai berikut: ". Perbedaan antara tafsir maudhu'i dengan tafsir murattab mirip dengan perbedaan antara thesaurus dengan dictionary. Kedua. Kita memperoleh manfaat lain dari pengumpulan ayat-ayat yang berkaitan dengan topik tertentu dengan tetap berpijak pada pandangan Qur'ani yang utuh tentang topik tersebut. atau bersifat haliyah. Ibrahim Hosen. Yang dimaksud dengan konteks adalah "semua yang mengungkapkan ( makna) lafadz yang ingin kita pahami dari petunjuk-petunjuk yang lain. ayat "Dan Allah menciptakan kamu serta apa yang kamu perbuat" (QS 37:96)." Yang dimaksud dengan "khalifah" dalam surah al-Baqarah ayat 30 tidak terbatas pada Adam. (QS 37:95). dalam satu tempat.. "maka ayat-ayat al-Qur'an dilihat dari konteks ayat-ayat itu" (siyaq al-ayat). seperti kasus-kasus atau fenomena yang menjadi petunjuk bagi topik yang dibicarakan. seperti kata-kata yang membentuk kalimat tunggal yang berkaitan dengan lafadz yang ingin kita pahami. Ketua Komisi Fatwa Majelis Ulama . salah satu aspek dari topik tertentu itu. Bahwa "apa yang kamu perbuat" adalah berhala-berhala itu. dan al-Naml ayat 62. dan karena kita tidak mengetahui konteks turunnya ayat itu atau petunjuk-petunjuk situasional yang berlaku pada masyarakat Islam saat itu. Al-Qur'an menunjukkan dalam setiap surah atau setiap tempat.. al-'Alaq ayat 8. atau menjelaskan istilah-istilah yang dipergunakan dalam al-Qur'an. Tanpa melihat konteks ayat. (Kita) kumpulkan setiap ayat yang berkaitan dengan pengertian tertentu dan topik tertentu. Seringkali kita mengalami kesulitan untuk memahami ayat atau mengetahui tujuannya karena jarak kita yang jauh dari zaman wahyu. Tafsir maudhu'i baru muncul belakangan. Mengumpulkan ayat-ayat dalam hubungannya satu sama lain. dan al-Qhashash ayat 88. Tafsir maudhu'i dimulai dari topik. kita akan terjatuh ke dalam paham Jabbariyah." Misalnya. 26. al-Najm ayat 42. ". dengan melihat surah al-A'raf ayat 69. Kadang-kadang ayat-ayat yang berkaitan dengan topik tertentu tersebar pada surah-surah yang berbeda atau pada tempat-tempat yang berbeda dalam surah yang sama. Yunus ayat 14. Pengantar pada tafsir ini --sepanjang pengetahuan saya dari kalangan kaum Muslim-." POKOK-POKOK PEMIKIRAN MADZHAB LIBERALISME Pendapat Prof. Ayat ini terdapat dalam kisah ucapan Ibrahim kepada para penyembah berhala. Jadi jelas. Ayat-ayat itu kemudian disusun dan dirangkai begitu rupa sehingga dihasilkan kesatuan pandangan yang lengkap dan kesatuan pemikiran yang menghimpun dan meliputi seluruh ayat tersebut.. Apakah kamu menyembah barang yang kamu pahat.

Ia mengusulkan enam hal. UA 20-21 Jakarta Selatan Telp. Ketiga. Kita tidak perlu terikat pada teks-teks . Pertama. Kelima.Indonesia ini pernah mengajukan saran-saran bagi pembaruan pemikiran keagamaan di Indonesia. 7507173 Fax. kita harus mengambil sunnah Rasul dari segi jiwanya untuk tasyri al-ahkam dan memberikan keleluasaan sepenuhnya untuk mengembangkan teknik dan pelaksanaan masalah-masalah keduniawian. pendekatan historis untuk menemukan makna teks. (021) 7507174 Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota Please direct any suggestion to Media Team Artikel Yayasan Paramadina Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota IV. kedua. kita harus melepaskan diri dari masalikul'illah gaya lama dan mengembangkan perumusan 'illat hukum yang baru. kita harus mengganti pendekatan ta'abbudi terhadap nash-nash dengan pendekatan ta'aqquli. Terakhir. yaitu. TAFSIR KONTEKSTUAL FAZLUR RAHMAN Rahman dalam Tema Pokok al-Qur'an memperinci metodologi penafsiran al-Qur'an dalam tiga langkah. Dari ketiga langkah tersebut di atas. Metro Pondok Indah Pondok Indah Plaza I Kav. pemahaman sasaran al-Qur'an dengan memperhatikan latar belakang sosiologisnya. Dalam perkembangan pemikirannya yang kemudian. pembedaan antara ketetapan legal dengan sasaran dan tujuan al-Qur'an. TINJAUAN KRITIS ATAS SEJARAH FIQH (9/10) Dari Fiqh Al-Khulafa' Al-Rasyidin Hingga Madzhab Liberalisme oleh Jalaluddin Rakhmat KRITIK PADA FIQH IBRAHIM HOSEN Esensi dari pemikiran Hosen ialah jiwa atau semangat dari al-Qur'an dan Sunnah. -------------------------------------------. (021) 7501969. ketiga langkah ini merupakan langkah pertama dalam perumusan prinsip-prinsip hukum Islam. 7501983.(bersambung 9/10) Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah Editor: Budhy Munawar-Rachman Penerbit Yayasan Paramadina Jln. prinsip-prinsip umum ini kita aplikasikan untuk memecahkan masalah-masalah konkret dewasa ini. Keempat. Amal dan Pangabean memperincinya dalam Tafsir Kontekstual al-Qur'an. bergerak dari yang khusus kepada yang umum. ketiga. Pertama. kita harus sanggup menyimpulkan prinsip-prinsip umum ajaran al-Qur'an. Kedua.22. Nanti. kita harus meninggalkan pemahaman harfiah terhadap al-Qur'an dan menggantinya dengan pemahaman berdasarkan semangat dan jiwa al-Qur'an. kita harus mendukung hak pemerintah untuk mentakhshish umumnya nash dan membatasi muthlaqnya. Secara operasional. kita harus menggeser perhatian dari masalah pidana yang ditetapkan oleh nash kepada tujuan pemidanaan.

karena . Mereka memerlukan tenaga dan kekuatan. fiqh akan lebih berfungsi sebagai pemberi justifikasi daripada jurisprudensi. yang dimaksud ialah hendaknya wanita memelihara kesucian dirinya dengan menutup diri dari perbuatan-perbuatan yang tercela. Bukan semangat dari ajaran zakat ialah pemerataan pendapatan dan pengurangan kemiskinan? Ketika para sahabat bersiap diri menghadapi perang di bulan Ramadlan. bukan menutupkan kerudung. ketika kita memerlukan tenaga untuk membangun. Dengan cara ini terbukalah peluang untuk memasukkan pikiran-pikiran non-islami ke dalam struktur syari'at Islam. dahulu wanita-wanita Arab itu senang membuka dadanya untuk merangsang kaum pria. Islam akan dipandang hanya sebagai suplemen dan bukan sebagai alternatif. Saya yakin. dengan mengganti 'illat qashar pada masyaqqah (kepayahan). al-Nur: 31) jelas menunjukkan perintah memakai kerudung sampai menutup dada. Kedua. dengan menetapkan pemerintah sebagai pentakhshish dan pengtaqyid nash. Kita dapat menggashar shalat hanya karena kita baru saja menyelenggarakan seminar yang menguras energi. hukum-hukum syari'at dapat berubah. apakah kita juga harus meninggalkan puasa. Makna lahiriah dari teks. Kata sebagian orang. Kita tidak perlu mengeluarkan zakat bila pemerintah sudah melakukan kebijakan pemerataan pendapatan dan memberikan santunan pada fakir miskin. Ketiga. Sekarang kita abaikan makna lahiriah ini. "Dan hendaklah mereka menutupkan kerudungnya sampai menutupi dada mereka" (QS. pemikiran seperti ini tidak memerlukan usaha yang sungguh yang menjadi makna ijtihad. Misal. Apa semangat dari larangan ini? Umat Islam sedang menghadapi tugas yang berat. Dalam istilah sebagian orang. Perintah ini harus dipahami sebagai perintah untuk menahan diri dari perbuatan-perbuatan yang mendorong orang ke arah pemuasaan nafsu. Dengan kebebasan mencari 'illat baru. Sekarang. Kita harus menggunakan akal (ta'aqquli). Tetapi yang menjadi persoalan ialah apakah berpegang pada semangat al-Qur'an atau al-Sunnah itu berarti tidak usah setia lagi pada makna lahiriahnya. Kita masih dapat mengumpulkan pendapat-pendapat lain. Semangat ajaran Islam itu kesucian diri. Apakah perempuan tidak perlu memakai kerudung bila ia sudah pandai menjaga diri tidak melakukan tindakan yang "merangsang"? Kita memerlukan kriteria kapan teks harus ditinggalkan demi makna yang lebih dalam dan kapan makna yang lebih dalam itu harus diperlakukan sebagai pengayaan makna lahiriah dan bukan pengabaiannya. Fiqh menjadi alat status quo dan bukan sebagai korektor. kita meninggalkan makna obyektif yang sudah jelas dan memasuki makna subyektif yang tidak jelas kriterianya. qashar tidak lagi berlaku dalam perjalanan tetapi dalam situasi apapun yang membuat orang payah. Rasulullah menyuruh mereka berbuka. Kita harus mencari semangat atau ruh perintah ini. Pandangan ini menimbulkan beberapa kemusykilan. ketika kita meninggalkan makna lahir teks dan mencari jiwa atau semangat teks. Kita tidak boleh menerima teks-teks itu begitu saja (secara ta'abbudi).lahir al-Qur'an dan Sunnah. Pertama. Tanpa kriteria ini kaum liberalis dapat membawa kita ke arah tadhyi (pengabaian nash) dan tahrif (penyimpangan makna). ketika kita harus meninggalkan produktivitas. Kata sebagian orang. kepastian hukum menjadi kabur. berdasarkan pada 'illat baru. Kata "menutupkan kerudung" harus dipahami sebagai kata kiasan. Dalam situasi seperti itu puasa boleh ditinggalkan.

meminta agar beliau memohon ampun kepada Allah untuk orang itu. kita merumuskan situasi di zaman Nabi itu dari asbab al-nuzul. Kadang-kadang ayat yang sama dijelaskan dengan asbab al-nuzul yang berlainan (ta'addud al-asbab wa al-nazil wahid). Tuhan dapat membuat sejarah. sedang dalam situasi lain sebabnya khusus tetapi efek legalnya umum."menilai bahwa literatur asbab al-nuzul itu seringkali sangat bertentangan dengan kacau-balau" (h. Di antara yang sedikit itu. datanglah . Kadang-kadang sebab yang sama berkaitan dengan ayat-ayat yang berlainan (ta'addud al-nazil wa 'l-sabab wahid). sebab itu khusus dan efek legalnya juga khusus. Pernah orang datang kepada Rasulullah saw. Di kalangan para mufassirin terjadi ikhtilaf apakah pelajaran (al-'ibrah) itu bersifat spesifik (bi khushush al-sabab) atau umum (bi 'umum al-lafazh). Dalam kalimat Shadr. para orientalis --lewat "analisis sosiologi" mereka-. KRITIK PADA FAZLUR RAHMAN Metodologi Rahman --seperti telah disebutkan di atas-bersandar sepenuhnya pada pendekatan historis untuk memperoleh makna teks dari analisis latar sosiologis untuk memahami sasaran al-Qur'an. bila bertentangan dengan apa yang telah dipandangnya sebagai prinsip-prinsip umum ajaran al-Qur'an.dapat "membuktikan" pengaruh-pengaruh Kristen dan Yahudi dalam al-Qur'an. sebagaimana yang telah banyak diketahui oleh para peneliti ulum al-Qur'an. tetapi --pada saut yang sama-. seperti kata sebagian orang. Apalagi. Seperti dikatakan Subhani. Lebih dari itu. Kemudian turun surah al-Nisa ayat 64. hadist-hadist tentang asbab al-nuzul itu sangat sedikit.justifikasi tidak memerlukan pemikiran yang mendalam. Rahman menyadari pentingnya asbab al-nuzul. dari buku-buku tarikh. Terdapat juga kemusykilan dalam menentukan apakah dalam situasi tertentu. tetapi mempunyai motif-motif yang patut dicurigai. yang terbukti seringkali ditulis oleh orang-orang yang tidak mempunyai pengetahuan historiografi. Apakah meminta doa kepada Rasul itu hanya berlaku pada waktu Rasul masih hidup atau juga berlaku sekarang? Bukankah dari ayat ini dapat disimpulkan suatu prinsip umum: Bila berbuat dosa. karena jarak kita yang jauh dari masa wahyu. Apalagi --sebagai pelanjut mazhab Umari-Rahman seringkali tidak ragu-ragu menanggap hadist-hadist sebagai "fiksi yang dirumuskan belakangan saja". Kedua.berkenaan dengan hubungan antara dengan asbab al-nuzul. 224). sebagian besar tidak tahan kritik --bahkan pada tingkat kritik rawi atau sanad." Dari mana kita memperoleh informasi tentang situasi masa lalu itu? Pertama. "terdapat jarak yang sangat jauh antara situasi sosial ketika nash-nash itu dilahirkan dengan situasi sosial dewasa ini. tetapi hanya ahli sejarah yang dapat mengubah sejarah. Kemusykilan lainnya --yang terlalu panjang bila diuraikan di sini-. sangat sukar kita memperoleh gambaran utuh mengenai situasi sosial waktu itu. Karena itu. seperti yang dilukiskan oleh Taufik dalam buku ini (h. ketika nash-nash itu dijadikan rujukan. Yang paling musykil --dan justru di sini Rahman berpijak-adalah menetapkan apakah asbab al-nuzul itu hanya berkenaan dengan peristiwa atau orang yang spesifik atau dapat digeneralisasikan. 158).

ketika umat Islam belum merupakan suatu masyarakat (society). Dalam urutan pengharaman khamr. ". Tetapi karena sahabat terus-menerus melakukan pelanggaran. Yang ingin diketahui orang ialah bagaimana Rahman menarik kesimpulan dari ayat-ayat yang tidak ada asbab al-nuzul-nya. "Tidak turun ayat al-Ma'idah. Menurut Thabathaba'i. Abu Jahal. karena mereka menganggap enteng larangan ilahi ini.." Bahwa khamr telah diharamkan sejak awal bi'tsah dapat dilihat pada peristiwa masuk-Islamnya A'sya ibn Qais. di Makkah. penelitian saya tentang pengharaman menghasilkan kesimpulan yang berbeda. tetapi hanya merupakan komunitas informal. Khamr tidak diharamkan. Setiap orang akan setuju bahwa konteks historis sangat diperlukan untuk memahami al-Qur'an. Abu Jahal terbunuh dalam perang Badar.pengharaman khamr ini berlangsung secara gradual. Mula-mula khamr dipandang sebagai rahmat Tuhan (QS 16:66-69). ketika Abu Jahal masih hidup. Khamr sudah diharamkan sejak awal kenabian. kecuali untuk mempertegas (keharaman khamr) bagi menusia. Dalam hadist yang dikeluarkan oleh Thabrani dari Mu'adz ibn Jabal disebutkan bahwa di antara yang pertama kali diharamkan pada permulaan kenabian adalah minuman khamr. jauh sebelum turun surah al-Maidah." Inilah ratio legis haramnya alkohol. Dan seterusnya. khamr diharamkan. Rahman menunjukkan evolusi "sikap" al-Qur'an terhadap khamr. Di sini tampak bahwa prinsip umum yang diyakini oleh mufasir menentukan spesifikasi atau generalisasi asbab al-nuzul. dan orang-orang Quraisy lainnya." kata mereka lagi. ketika manusia menjadi sebuah masyarakat (society). "Aku tidak keberatan.kepada Rasulullah --baik dalam keadaan hidup atau mati dan mintakan agar beliau memohonkan ampunan buat kita? Kaum Wahhabi berpendapat bahwa tawassul itu syirik dan karena itu menganggap ayat ini hanya berlaku ketika Rasulullah masih hidup." "Abu Bashir.. Kita tidak tahu apakah Rahman setuju. Menurut Rahman --juga kebanyakan ulama-. di tengah jalan ia dicegat Abu Sufyan. Peristiwa ini terjadi di Makkah. Setelah umat Islam terbentuk sebagai masyarakat. Dengan menggunakan metodologi Rahman. Setiap orang juga tahu bahwa asbab al-nuzul dan tarikh sangat penting. para ahli tafsir sepakat menyebutkan surah al-Maidah ayat 90 sebagai ayat yang terakhir. Marilah kita ambil kasus khamr. juga. "Hai Abu Bashir. Kedua-duanya sangat dihajatkan terutama sekali untuk menetapkan tujuan atau sasaran yang ingin dicapai al-Qur'an ("ideal moral" al-Qur'an) atau sebab berlakunya hukum (ratio legis). Apa prinsip umum yang dapat ditarik dari latar sosiologis ini? Kata Rahman. bagaimana kita dapat memastikan situasi sosial dari tarikh yang dapat kita akses. tetapi akhirnya dianggap sebagai perbuatan setan (QS 5:90-91). jika kita menyimpulkan --dari kesimpulannya-bahwa pengkonsumsian alkohol secara individual dalam komunitas informal tidak haram. Muhammad mengharamkan zina. Kata A'sya.." kata mereka. alkohol menjadi membahayakan sehingga pengkonsumsiannya tidak diperkenankan. Muhammad mengharamkan khamr. Yang pertama mengharamkan khamr sebenarnya adalah surah . Ketika ia bermaksud menyatakan Islamnya di depan Rasulullah saw. Mereka berpegang pada sebab yang khusus (bi khushush al-sabab). maka pengharaman ditegaskan berkali-kali --dari tahrim 'am sampai tahrim khash bi tasydid al-baligh (pengharaman khusus yang sangat keras).

" Walhasil. Adapun kata manfaat bagi manusia tidaklah berarti menghalalkannya. Muslim. "Kami berhenti. Tentang surah al-Baqarah ayat 219 --yang dianggap Rahman dan kebanyakan mufassirin belum mengharamkan khamr-. al-Nasai. yang harus lebih dahulu dirumuskan adalah kritik keduanya (yang kurang diperhatikan Rahman).. Mereka bertanya kepadamu tentang khmr dan judi. Dosa semuanya diharamkan dengan firman Allah. UA 20-21 Jakarta Selatan Telp. (021) 7501969. Ahmad Abu Dawud.al-A'raf ayat 33. Al-Itsm dalam ayat itu adalah khamr. (021) 7507174 Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota Please direct any suggestion to Media Team Artikel Yayasan Paramadina Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota IV. TINJAUAN KRITIS ATAS SEJARAH FIQH (10/10) Dari Fiqh Al-Khulafa' Al-Rasyidin Hingga Madzhab Liberalisme oleh Jalaluddin Rakhmat CATATAN 1. pengharaman khamr diulang-ulang --makin lama makin keras-.dan dosa (al-itsm) dan pembangkangan tak benar serta menyekutukan Allah.Riwayat ini dihimpun berdasarkan hadits Bukhari.. (QS. Katakan Tuhanku hanya mengharamkan kekejian --baik yang tampak maupun yang tersembunyi-. Kami berhenti!" Ini hanyalah sebuah contoh penggunaan metodologi Rahman dengan hasil yang sama sekali berbeda dari konklusi Rahman. Umar menjawabnya. karena yang dimaksud manfaat itu manfaat dunia dan semua yang diharamkan ada manfaat duniawi bagi pelanggarnya. Al-A'raf termasuk surah yang turun dalam periode Makkiyah awal. Menurut riwayat. cukuplah ayat ini saja. Karena Allah berfirman. dan dosa. Katakanlah di dalamnya ada dosa besar (itsm kabir). sebagaimana ditegaskan dalam surah al-Baqarah ayat 214. 7507173 Fax. 7501983. Allah tidak saja menjelaskan bahwa dosa itu haram.karena sahabat masih tetap melakukannya. Metro Pondok Indah Pondok Indah Plaza I Kav. di dalamnya dosa besar. Ibn Hajar . ------------------------------------------. sebagai penegas akan bahayanya. tetapi (untuk khamr) mempertegasnya dengan menyebutkan dosa besar. al-A'raf:33). Tuhanku hanya mengharamkan kekejian. Karena itu surah al-Ma'idah 90 diakhiri dengan kata Mengapa kalian belum berhenti juga.(bersambung 10/10) Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah Editor: Budhy Munawar-Rachman Penerbit Yayasan Paramadina Jln.22. Ibn Majah.al-Jashash menjelaskan: "Ayat ini menetapkan haramnya khamr. Karena basis metodologi Rahman adalah tarikh dan asbab al-nuzul. Seandainya tidak turun ayat lain yang mengharamkan.

al-Ghazali menolak semua pendapat itu dan berkata. Dar al-Andalus. Lihat: Fath al-Bari. yang berperang besertanya atau tidak. 1:443 al-Maktabah al-Salafiyah." Begitu "sucinya" para sahabat itu sehingga Abu Zar'ah menulis.Lihat al-Ghazali. hal. Mesir: Mustafa Muhammad. 1371. Dar al-Fikr.Taqdimah al-Ma'rifah li Kitab al-Jarh wa al-Ta'dil. padahal mereka boleh ikhtilaf? Mungkinkah dua orang ma'shum ikhtilaf? Bagaimana mungkin.Abu Zahrah.al-Asqalani. Ibn Al-Atsir dalam Usud al-Ghabah fi Ma'rifat al-Shahabah. atau yang tidak melihatnya seperti orang buta".. tanpa tahun. 1974:133-143.Abu Ishaq al-Syatiby. menurut Ibn Hazm. Mereka yang termasuk jumpa ini orang yang lama bergaul dengan Nabi atau yang sebentar. tidak dikenai celaan. ketahuilah bahwa dia itu zindiq (atheis). 1:3. beriman kepadanya dan meninggal dalam Islam. 2. 5. al-Mustasyfa. tak ada yang menentang hal ini kecuali orang-orang bid'ah yang menyirnpang" (Al-Ishabah 1:9. Mathba'ah al-Maktabah al-Tijariyah. Bagaimana mungkin berhujjah dengan ucapan mereka dengan kemungkinan mereka salah. "Sahabat sama seperti perawi hadits yang lain kecuali satu hal --pada mereka tidak berlaku jarh dan ta'dil. menulis. "Siapa yang mengkritik salah seorang di antara sahabat Rasulullah saw. Tarikh al-Madhahib al-Islamiyah. al-Ishahah fi Tamyiz al-Shahabah. sebab mereka semna 'udul." Lihat Al-Ishabah 1:10. Ibn Hajar berkata. 6.Ibn Hajar mendefinisikan sahahat sebagai "orang yang berjumpa dengan Nabi saw. Mengenai 'Udul-nya sahabat. 7-9.T Al-Hakim Al-Ushul al-'Ammah fi al-Fiqh al-Muqaran. Kecuali untuk sahabat yang masuk Islam sesudah Bai'at al-Ridwan (sambil mereka pun tidak boleh disebut kecuali kebaikan). bahkan mereka mewajibkan --dalam masalah ijtihad-. Muhammad Taqiy al-hakim mengkritik kelemahan argumentasi al-Syatibi secara rinci. tanpa tahun. "Sepakat semua Ahl Sunnah bahwa sahabat seluruhnya 'udul. semuanya mati dalam iman. 1:135. Al-Muwafaqat fi Ushul al-Syari'at. padahal sahabat sepakat bolehnya bertentangan dengan sahabat yang lain? Abu Bakar dan Umar tidak mengingkari orang yang berbeda ijtihadnya dengan mereka. Beirut. . yang melihatnya tetapi tidak menghadiri majelisnya. Al-Syatibi mengutip ayat-ayat al-Qur'an dan hadits-hadits untuk menunjang pendapatnya. Heiderabad. Pada halaman yang sama." 7. tanpa kota. 1:457 3.Fath al-Bari. Bagaimana mungkin menetapkan ishmah mereka tanpa hujjah yang mutawatir? Bagaimana dapat dibayangkan adanya 'ishmah. 250. hal.agar setiap mujtahid mengikuti ijtihadnya masing-masing. 4:74. Beirut. Ibn Hajar mengemukakan dalil-dalil tentang 'udul-nya sahabat secara rinci dalam kitab ini juga). Pembaca yang tertarik dapat melihat M. "Seluruh sahabat itu mukmin yang saleh. 1:10 4. "Siapa saja yang mungkin salah atau lupa dan tidak tegas 'ishmahnya tidak boleh pembicaraannya menjadi hujjah.

Al-Sunnah qabl al-Tadwin. al-Hakim dalam al-Mubarak 2:59 dan 4:389. Kanz al-Ummal 3:102. 8.Di antara ayat-ayat yang menunjukkan keharusan mengikuti ahli bait adalah Al-Maidah 55 (Menurut banyak ahli tafsir. Mesir: Mathba'ah Sa'adah. Saya kutip lagi dari Abu Zahrah. tt 1:63-64. Taysir al-Wushul 2:5. dalam Al-Tawhid. hal. al-Dar al-Mantsur 1:279. 14. al-Baihaqi dalam Sunan al-Kubra 8:264. 9. 57-58.Abu Dawud 2:227. lihat juga Shahih Muslim. 252. Irsayad al-Sari 10:9. Maktabah Wahdah. 1404. lihat Ibn Qayyim. Diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris oleh Mahliqa Qara'i. Kairo: Dar al-Kutub al-Haditsah. 9. 2. dalam Hawl al-Wahdah al-Islamiyah.Muhammad Ibrahim Jannati. Al-Baihaqi . 4:352 dan 5:22. 18. 15. 32-33.Kupasan tentang perdebatan ini. 19. Tarikh al-Madzahib.Shahih al-Bukhari. al-hakim 2:196. 3:69. Fath al-Bari 12:101. 255. V NO." (Saya kutip lagi dari Muhammad 'Ajal al-Khatib. turun berkenaan dengan Ali bin Abi Thalib). 395-396). Tarikh al-Madzahib. Bukhari meriwayatkan hadits ini tetapi dengan tidak lengkap. 20. 16.Dr.Abu Zahrah.Asbab al-Ikhtilaf bain Aimmah al-Madzahib al-Islamiyah".Ibn Qayyim al-Jawziyyah. 1408. 1963. hal. Musnad Ahmad 1:314.Al-Syatibi. pada Kitab Al-Muharibin. "Ra'y Gera'i Dar Ijtihad". hal. dalam Kayhan-e Andisheh NO. Ibn Majah 2:227.Shahih Muslim 1:574. Di antara hadist-hadits tentang hal yang sama adalah hadits Tsaqalain: Aku tinggalkan bagimu dua hal. 11. Al-Syura 23 (tentang keharusan mencintai ahli waris). kamu tidak akan sesat selama-lamanya Kitab Allah den Ahli Baitku (hadits-hadits yang semakna dengan ini diriwayatkan oleh Shaih Muslim dalam Kitab Fadhail al-Shahabat". Tafsir al-Darr al-Mantsur 6:74. hal. 1:349. 10. "Al-'Itisham. Sunan al-Baihaqi. "I'lam al-Muqi'in. 5:148. Teheran: Sepahar. vol. Al-Baihaqi dalam Sunan al-Kubra 8:318. Zad al-Ma'ad 1:177-225. 227-228. Umdat al-Qari 11:151. tanpa tahun. 17. tidak seorangpun masuk neraka. Al-Ahzab 33 (tentang 'ishmah ahli bait). hal. Sunan al-Baihaqi 7:336. Kairo.Abu Dawud 2:242. Musa Towana.petunjuk. Kanz al-Ummal 1:185. yang jika kamu berpegang teguh. 13. Sunan al-Nasa'i. semuanya masuk surga. 12. Musnad Ahmad 4:366. "Ijtihad and the Practise of Ra'y".Tafsir Ibn Katsir 4:194. Al-Ijtihad: wa Mada Hajatina ilaih fi Hadza al-Ashar. Shahih Muslim 2:52. dan kebajikan.

26. Umar shalat di Mina dua rakaat. Gubahan syair dari Al-Amini al-Inhaqi dari Syiria. Tafsir al-Thabari 10:6. 32. 31. 34. Musnad Ahmad 2:148 Sunan al-Baihaqi 3:126.Shaih al-Bukhari. Shahih Muslim Bab "Tark al-Wasyiyyah" Musnad Ahmad. Mustadrak al-Shahihain 3:109. "Kitab al-Jihad". 33. Al-Ijtihad. hal. tarjamah Abu Bakr. Qum Abu Mujtaba.Kitab al-Kharraj 24-25. Lihat juga Shahih Bukhari.Al-Muwaththa'. Ahkam al-Qur'an dari Al-Jahshash 2:168. tetapi kemudian meng-itmam-kannya. Polemik Reaktualisasi Ajaran Islam. lihat Tafsir al-Manar 10:297.Shahih al-Bukhari 3:69. Usman mula-mula shalat dua rakaat. ed. menyimpulkan dalil-dalil itu.Diriwayatkan oleh Imam Malik dalam Al-Muwaththa' 1:282 dari Urwah: Rasulullah shalat dua rakaat di Mina pada shalat-shalat yang empat rakaat. Ahkam al-Qur'an dari Al-Jahshash 3:60 62. Kanz al-'Ummal. "Kitab al-'Ilam". dan Kitab al-Jizyah". Tarikh Thabari 3:193.2:148. 138.Tarikh al-Thabari 3:234. Shahih al-Turmudzi 1:68. hal. 22. Abu Bakar shalat di Mina dua rakaat.Tadzkirat al-Huffazh. Kanz al-'Umal 1:47 dan lain-lain). Sunan al-nasai 2:179.Al-Jawharah al-Nayyirah. 27.Tadzkirat al-Huffadz. Tarikh Ibn Katsir 6:319. 7:188. Musa Towana. 1935. 44. Sunan al-Baihaqi 6:342-343. 7:447. 39-40. 36. 1:5. 1988. 23. Riwayat pelarangan bagian muallaf. 29. dikutip lagi dari al-Nash wa al-Ijtihad.Al-Thabaqat al-Kubra. 50. Sunan al-Muslim 2:260.Lihat "Kontroversi sekitar Ijtihad 'Umar r. al-Baihaqi 7:164. Al-Muhalla' 9:622. dan hadits: "Ahli baitku adalah tempat yang aman dari ikhtilaf bagi umatku" (Mustadrak al-Shahihain 3:348). 24. hadits NO. tarjamah 'Umar 28..a". 21. 1:22. Al-Durr al-Mautsir 2:136. Lihat juga Shahih al-Bukhari 2:154.Al-Thabaqat al-Kubra. 2:10. Al-Durr al-Mantsur 3:252. Tarikh al-Khulafa. Tafsir al-Qurthubi 6:117. 1:2-3. Thabaqat ibn Sa'ad 2:244. 1:174. Tafsir al-Syawkani 1:418. Tafsir al-Zamahsyari 1:359. 10404 H.Al-Thabaqat al-Kubra. bukan tempatnya di sini menuliskan semua riwayat yang dijadikan dalil oleh kelompok pertama. dalam Limadza Ikhtartu Madzhab Ahl al-Bait.Tadzkirat al-Huffazh. 30. Sunan Ibnu Majah 1:348. 11:257. Taisir al-Khazim 1:356. Sunan .Lihat Dr. hal. 25. dalam Iqbal Abdurrauf Saimima. Al-Kamil ibn al-Katsir 2:146. Shahih al-Turmudzi 2:308. 1:7. Jakarta: Pustaka Panjimas. Il-Ishabah 2:322. Sunan Abu Dawud 1:171.

1404.Al-Imam Al-Syafi'i.Syarh Al-Muwaththa'. 44. Shahih al-Bukhari 1:109. 2:401. Fath al-Bari 2:361. 267. 2:244. 1983.Ibn Hajar. 2:180. 48. Al-Umm. Dar Al-Fikr Al-Araby. hal. Shahih Muslim. 39. juga Al-Baladzuri dalam al-Anshab 5:26.Ansab Al-Asyraf.Shahih al-Bukhari 3:69. 38. lihat juga Dhuha Al-Islam.Jami' Bayan Al-'Ilm. 205. "Bab I: Al-Hawah". Membuka Pintu Ijtihad. 37. Kitab Al-Riqaq.Ibn Hazm dalam Al-Muhalla 5:227.95. 43.Abu Zahrah. 42. 532. Sunan al-Baihaqi 1:429. "Bab Ghazwat Al-Hudaibiyah. Sunan al-Nasai 5:148. Bandung: Pustaka. (2) bahwa meskipun demikian. "Utsman melihat kemaslahatan jamaah supaya dapat mengejar shalat.al-Nasai 3:100.Fazlur Rahman. 152. 41. sedangkan Marwan supaya orang mendengarkan khutbahnya.Jami'Bayan Al-' Ilm. 1:365. kandungan yang khusus dan aktual dari sunnah kaum muslim di masa lampau tersebut sebagian besarnya adalah produk dari kaum muslim sendiri. 1:208.Shahih Muslim 1:142. Fath al-bari 7:449-450. Kitab al-Umm 1:173." 40. Sunan al-Baihaqi 1:472. 49. hal. 37.. (3) bahwa unsur kreatif dari kandungan ini adalah ijtihad personal yang mengalami kristalisasi menjadi ijma' berdasarkan petunjuk pokok dari sunnah nabi yang tidak dianggap sebagai sesuatu yang sangat bersifat spesifik. Shahih al-Muslim 1:349.Syibli Nu'mani. Kitab Al-Fadhail.Shahih Bukhari. 1:221." Kitab Al-Maghazi. Umar Yang Agung. 11:463-476. Turmudzi 3:302. Lihat juga Sunan al-Baihaqi . Ibn Hajar memberikan komentar. Tasyir al-Wushul 1:282. tt. "Bab Itsbat". Tarikh Al-Madzahib Al-Islamiyah. 1:93-94. Lihat Fath al-Bari. Tanwir Al-Hawalik. lihat Al-Syawkani dalam Al-Awthar 3:374. 2:244. Musnad Ahmad 1:61. 46. Mustadrak al-hakim 1:472. 26 menulis: Kami telah menyatakan (1) bahwa sunnah dari kaum muslim di masa lampau secara konsepsional dan kurang lebih secara garis besarnya berhubungan erat dengan sunnah Nabi dan pendapat yang menyatakan bahwa praktek-praktek muslim di masa lampau terpisah dari konsep sunnah Nabi adalah salah sekali. 45. 47.Shahih Bukhari. Bandung: Pustaka. (4) bahwa kandungan sunnah atau sunnah dengan pengertian sebagai praktek yang disepakati secara bersama adalah identik dengan ijma'. 3:192. hadits ke 4170. hal.

Tetapi. Beirut. 14. Tarikh Ibn Katsir. hal. Dar Al Tarqib. berkata. Tarikh al-Madzahib al-Islamiyyah. Nabi saw. Ibn Al-Atsir. Tidak mungkin kita menurunkan semua hadits itu di sini Cukuplah kita kutip hadits Muslim dari Khabab bin Al-Arat. 698-701. 59.2:68. UA 20-21 Jakarta Selatan Telp. berdasarkan hadit-hadits yang diriwayatkan Ahl Sunnah bahwa disamping Rasulullah saw. Abdullah bin Mas'ud.Al-Sirah Al-Nabawiyyah. pada hamisy kitab Tafsir Al Thabari. 8:143. 4:481. 7501983.Abu Zahrah. 3:124. juz I. bab "Man La Ha'arahun Naby". Tarikh Dimasq. Fath Al-Bari. 53.Shahih Muslim. 58. Lihat juga biografi Al-Haban bin Al-'Ash pada Al-'Isti'ab. (021) 7501969. Kanz al-'Ummal. 19:72-75. Kitab ini menunjukkan. "Kami mengeluoh kepada Rasulullah tentang udara yang sangat panas sehingga tanah menjadi sangat panas pada dahi-dahi kami.. 10:197-198. Al-Ishabah. 7:214 57. Metro Pondok Indah Pondok Indah Plaza I Kav.Ibn Katsir.Tafsir Al-Nisabury.Kata Al-Dzhabi dalam Tadzkirat Al-Huffadz. "Bab Walladzi Qala li Walidaihi".Shahih Al-Bukhari.Catatan kaki pada hamisy kitab Sunan Al-Nasai. lihat juga biografi Abdurrahman bin Abi Bakr dalam Ibn Asakir. dalam Al-Nihayah. 1978.. hal. -------------------------------------------Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah Editor: Budhy Munawar-Rachman Penerbit Yayasan Paramadina Jln. 55. ibid. Usud Al-Ghabab. ketika menjelaskan hadits ini. 51. Jabir bin Abdillah dan lain-lain melarang sujud selain di atas tanah. Ali bin Abi Thalib. Al-Bidayah wa Al-Nihayah. 50. (021) 7507174 Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan . Ketika mereka mengadukan apa yang mereka alami. Al-Sujud 'ala al-A'rdh. 52. 3:40.Lihat Ali Al-Hamady.Tafsir Al-Thabari. 257. mengizinkan mereka sujud di atas pakaian mereka itu. 5:263. "Para fuqaha menyebut peristiwa ini berkenaan dengan sujud. tidak mengizinkan kami (sujud selain di atas tanah). Ibn Katsir. 54. 56. 7507173 Fax. Dar Ihya' Al-Turats Al-'Arabiy. Mustadrak Al-Hakim. Waktu itu para sahabat meletakkan ujung baju mereka dilarang ketika akan sujud untuk menghindarkan panas yang sangat. sahabat-sahabat seperti Abu Bakar. tetapi mereka dilarang berbuat begitu. 8:889. Kitab Al-Birr wa Al-Shilah. Nabi saw. 1:79.

TRADISI SYARAH DAN HASYIYAH DALAM FIQH DAN MASALAH STAGNASI PEMIKIRAN HUKUM ISLAM (1/2) oleh Nurcholish Madjid Kita telah membicarakan garis perkembangan pemikiran sistem hukum Islam --yang kemudian dikenal dengan (ilmu) fiqh-. Hasyim Asy'ari juga menyebut. Imam al-Syafi'i. yaitu mulai sekitar abad keempat Hijri. namun tidak seorang pun dari mereka memusuhi yang lain. terjadi banyak perbedaan pendapat antara para tokoh intern madzhab sendiri pada saat-saat permulaan perkembangannya. (semoga Allah meridlai keduanya) dalam banyak masalah yang jumlahnya mencapai sekitar enam ribu. dan akhirnya pertumbuhannya di masa para imam madzhab. Muhammad Hasyim Asy'ari dari Tebuireng: Telah diketahui bahwa sesungguhnya telah terjadi perbedaan dalam furu' (makalah rincian) antara para Sahabat Rasulullah saw (semoga Allah meridlai mereka semua).H. tidak seorang pun dari mereka menyakiti yang lain. tapi kemudian dikembangkan begitu rupa sehingga yang terwujud ialah sebuah aliran yang meluas dan . seperti antara Imam al-Rafi'i dan Imam al-Nawawi. namun tidak seorang pun dari mereka yang menyakiti yang lain." [2] Setelah masa-masa para imam madzhab lewat.sejak dari pertumbuhannya di masa para Sahabat. Demikian pula telah terjadi perbedaan dalam furu' antara Imam Abu Hanifah dan Imam Malik (semoga Allah meridlai keduanya) dalam banyak masalah yang jumlahnya mencapai sekitar empatbelas ribu dalam bab-bab ibadat dan mu'amalah. Sampai dengan masa itu.ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota Please direct any suggestion to Media Team Artikel Yayasan Paramadina Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota IV. bahkan sebaliknya mereka selalu saling mencintai. dan tidak seorang pun dari mereka menisbatkan yang lain kepada kesalahan dan cacat. dan tidak saling menisbatkan lainnya kepada kesalahan ataupun cacat. Sebaliknya mereka tetap saling mencintai. Imam Malik. dan tidak seorang pun dari mereka menisbatkan yang lain kepada kesalahan dan cacat. dalam banyak masalah. kemudian para Tabi'in dan pengikut mereka. dan saling menolong. Keadaan demikian itu dilukiskan K. tidak seorang pun dari mereka mendengki yang lain. tidak seorang pun dari mereka mencerca yang lain. juga tidak seorang pun dari mereka yang menyakiti yang lain. serta antara Imam al-Syafi'i dan gurunya. juga antara Imam Ahmad ibn Hajar dan Imam al-Ramli dan para pengikut mereka. saling mendukung sesama saudara mereka.[1] K.H. yang kita saksikan dalam sejarah perkembangan fiqh ialah dinamika dan kreativitas. namun "tidak seorang pun dari mereka memusuhi yang lain. namun dalam suasana saling menghargai dan tenggang rasa yang besar. demikian pula antara Imam Ahmad ibn Hanbal dan gurunya. dan masing-masing berdoa untuk segala kebaikan mereka itu. maka yang terjadi ialah pertumbuhan dan perkembangan madzhab itu sendiri. yang senantiasa disertai dengan kegaduhan polemik dan kontroversi.23. berpersaudaraan. Jalan pikiran para imam itu menjadi titik tolak.

namun belum tentu orang tersebut sepenuhnya dapat dipandang sebagai ikut bertanggungjawab. tapi dengan ongkos yang amat mahal. berakhir dengan kekalahan mereka oleh ummat-ummat lain. yaitu setelah fakta perkembangan pemikiran yang bertitik tolak dari dia itu. yang kemudian kelak. Inilah masa syarah (penjabaran) dan hasyiyah (penjabaran atas syarah). karena para tokoh pemikir yang menjadi pangkal pengembangan madzhab tersebut semasa hidupnya sendiri sering mengisyaratkan keengganan menjadi pusat pengikutan. Ciri umum masyarakat Muslim saat itu ialah suasana traumatis terhadap perpecahan dan perselisihan. dan lain-lain dari kalangan para penganut madzhab Syafi'i. Karena itu yang ada bukanlah pemikiran Imam al-Syafi'i itu an sich. ialah ketenangan dan ketenteraman.mendalam dan cukup pada dirinya sendiri (self-sufficient). al-Karabisi. menjadi kenyataan. yang serba berkecukupan." yaitu suatu kesatuan pemikiran yang tumbuh dan berkembang. Ketidakberanian mengambil risiko salah dalam penelitian dan penjelajahan itu kemudian dirasionalisasikan dengan argumen: Apa yang telah dihasilkan para imam madzhab dan pendukung-pendukung mereka itu seolah-olah sudah "final. al-Rabi'. Dan karena pemikiran kritis juga terkekang. khususnya bangsa-bangsa Eropa. melainkan pemikiran yang meskipun tetap berwatak "kesyafi'ian" namun dalam banyak hal Imam al-Syafi'i sendiri mungkin tidak lagi tersangkut paut. Demikian pula tokoh-tokoh dari madzhab-madzhab yang lain. Agaknya dambaan mereka tercapai. atas nama doktrin taqlid dan tertutupnya ijtihad. tumbuh dan berkembang pemikiran yang lebih meluas dan mendalam. al-Buwaythi. Maka dari titik tolak pemikiran Imam al-Syafi'i. Tetapi masa itu segera diikuti oleh masa dengan tingkat kreativitas dan orisinalitas intelektual yang lebih rendah. sehingga yang muncul sebagai dambaan atau obsesi utama masyarakat. Ditambah lagi dengan keadaan politik negeri-negeri Muslim yang telah mulai kehilangan "elan vital"-nya antara lain karena banyaknya serbuan-serbuan militer dari Asia Tengah seperti dari kalangan bangsa-bangsa Turki dan Mongol. yang kemudian lambat laun berkembang menjadi semacam etos di kalangan kaum Muslim di seluruh dunia. setelah dia sendiri lama tiada. seperti yang banyak dilakukan oleh misalnya. Sebab ketenangan dan ketenteraman itu mereka "beli" dengan menutup dan mengekang kreativitas intelektual dan penjelasan. . yaitu stagnasi atau kemandekan. bertitik tolak dari produk intelektual satu orang. Jadi tidak berlebihan jika masa itu sering ditunjuk sebagai permulaan kemunduran peradaban Islam." dan apapun produk pemikiran mereka harus diterima sebagai berlaku "sekali dan untuk selamanya". Karena orisinalitas pemikiran tidak berkembang lagi. Penilaian ini lebih-lebih beralasan. Mula-mula masih terdapat sisa-sisa kreativitas dan keberanian intelektual yang menghasilkan karya-karya tersendiri dengan tingkat orisinalitas yang memadai. maka yang terjadi ialah pengulangan dan penghafalan yang sudah ada. maka dambaan kepada ketenangan dan ketenteraman menjadi semakin beralasan. misalnya. al-Muzni. Inilah yang dimaksudkan dengan istilah "madzhab. al-Za'farani. Jadi sesungguhnya seorang pemikir seperti al-Syafi'i menjadi imam madzhab adalah secara post factum. maka tercipta suasana bagi tumbuhnya mitos-mitos. Pertumbuhan madzhab itu dengan sendirinya terjadi melalui para pengikut tokoh yang kelak disebut "imam madzhab" tersebut.

7501983. seperti. ialah karya-karya syarah. (bersambung 2/2) -------------------------------------------Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah Editor: Budhy Munawar-Rachman Penerbit Yayasan Paramadina Jln. tetapi sesungguhnya juga merambah ke berbagai cabang ilmu keislaman yang lain. dan yang terakhir ini tentu berakibat kepada masalah istiqamah atau keteguhan dan keikhlasan dalam beragama. mengenai suatu hukum tertentu seseorang cenderung mencari yang mudah dan ringan dari berbagai madzhab. tanpa kesungguhan meneliti bagaimana pangkal sebenarnya hukum itu).hilangnya kreativitas dan orisinalis intelektual. merupakan dinamik dambaan kepada ketenteraman. keharusan memilih suatu madzhab seperti itu dapat dibenarkan. 7507173 Fax. sehingga merupakan "elaborasi atas elaborasi. Keharusan memilih salah satu madzhab sekaligus larangan mencampur lebih dari satu madzhab --betapapun tulusnya hal itu dilakukan-. Ilmu Kalam. Sebuah karya sparah membuka peluang kepada bentuk elaborasi lebih lanjut. karena dalam praktek serupa itu mudah sekali masuk unsur oportunisme dalam paham (seperti. juga sangat dicela. yang taqlid itu. misalnya.SYARAH DAN HASYIYAH Mulai saat itulah kurang lebih muncul ide tentang keharusan seorang Muslim memilih salah satu dari madzhab-madzhab yang ada sebagai anutan. dan bersamaan dengan itu hilang pula kemampuan memberi responsi pada keadaan masyarakat nyata (historis) yang senantiasa berkembang dan berubah. Begitu pula larangan mencampuradukkan lebih dari satu madzhab. dan terutama. Dari beberapa sudut pandang tertentu. sebagaimana telah disinggung. yang dipandang sebagai matan (teks inti). (021) 7507174 Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota Please direct any suggestion to Media Team Artikel Yayasan Paramadina . Logika keharusan ini ialah ide tentang taqlid. Tapi syarah bukanlah akhir perjalanan tradisi pseudo-ilmiah dalam masa kemandekan intelektual ini. Tapi konsekuensi yang lebih jauh ialah --sebagaimana telah disinggung tadi-." yang biasanya disebut hasyiyah. yang kemudian dikenal sebagai talfiq. (021) 7501969. yaitu karya tulis berupa kitab yang mengelaborasi karya lain yang lebih orisinal. Kegiatan pseudo-ilmiah serupa ini paling banyak terjadi dalam pemikiran judisial. Metro Pondok Indah Pondok Indah Plaza I Kav.secara tersirat mengandung doktrin bahwa suatu pemikiran madzhab adalah suatu kesatuan organik yang tidak boleh dipisah-pisah. seperti dari sudut keprihatinan karena situasi politik yang tidak mantap. Pemisahan itu akan menghasilkan inkonsistensi. Pada saat itulah sejauh mengenai kegiatan intelektual yang muncul. UA 20-21 Jakarta Selatan Telp.

air sumber. dan akhirnya diberi hasyiyah dalam kitab al-Bajuri.23. Matan itu kemudian diberi syarah dalam kitab Fat'h al-Qarib. air salju dan air embun) dan tujuh air itu tercakup dalam ungkapan Anda "Apa yang turun dari langit dan apa yang menyembul dari bumi dalam keadaan bagaimanapun adalah termasuk pokok penciptann. artinya air yang mengalir di sungai (nahr) dengan fa'thah ha' dan matinya dan yang pertama lebih fasih dan al di situ adalah untuk jenis. maka ia mencakup Nil dan Furat dan sebagainya. dan asalnya dari surga sebagaimana hal itu disebutkan dalam nas mengenainya sebab sesungguhnya diturunkan dari surga Nil Mesir dan Sihun sungai India dan Jihun sungai Balkh dan keduanya itu bukanlah Sihan dan Jiham menurut yang unggul berlainan dengan orang yang menyangka keduanya itu sinonim sebab Sihan adalah sungai Arnah dan Jihan adalah sungai al-Mashishah dan Dajlah dan Furat adalah dua sungai di Irak dari asal Sidrat al-Muntaha dan itulah makna firman Dia Yang Maha Tinggi "Dan Kami turunkan dari langit air dengan takaran tertentu" maka pada waktu keluarnya Ya'juj dan Ma'juj sungai-sungai itu diangkat dan itulah makna firman Dia Yang Maha Tinggi "Dan sesungguhnya Kami tentulah berkuasa untuk menghilangkannya. TRADISI SYARAH DAN HASYIYAH DALAM FIQH DAN MASALAH STAGNASI PEMIKIRAN HUKUM ISLAM (2/2) oleh Nurcholish Madjid Untuk memperoleh gambaran apa yang dinamakan syarah dan hasyiyah itu. sebuah kitab yang boleh dipandang cukup tinggi: Matan: Air yang boleh untuk menyucikan ada tujuh air: air langit. Ibn Arabi. [4] Syarah ini kemudian diberi hasyiyah.Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota IV. air salju. jauh di bawah ukuran masa kejayaan intelektual sebelumnya seperti diwakili karya-karya Ibn Sina. yaitu sebuah kitab fiqh yang paling standar." [5] Kutipan di atas itu sengaja dibuat dalam bentuk terjemahan harfiah tanpa memberi tanda-tanda baca sesuai konteks. al-Ghazali. yaitu "air sungai" saja): Hasyiyah: (Perkataannya dan air sungai) rangkaian dalam pengertian di. maka demi kepraktisan kita akan mengutip hasyiyah yang menyangkut salah satu dari air yang tujuh itu. air sumur. menurut keadaan aslinya dalam kitab. juga sangat standar di pesantren-pesantren. yaitu penjabaran atau elaborasi lebih lanjut. dan air embun. dan . air sumber. yaitu hujan (air laut) artinya yang asin (air sungai) artinya yang tawar (air sumur. berikut ini adalah contoh kutipan dari matan kitab Taqrib. Ibn Rusyd. di pesantren-pesantren. Dan keadaan menurut aslinya itu dapat memberi gambaran tentang ungkapan "ilmiah" masa kemunduran itu yang tidak dapat disebut mengagumkan. [3] Syarah: (Air yang boleh) artinya sah (untuk menyucikan ada tujuh: air langit) artinya yang terjun dari langit. air sungai." jika mereka tidak terlatih membaca dalam konteks. Berikut ini adalah contoh hasyiyah-nya (tapi karena hasyiyah yang bersangkutan itu panjang sekali. air laut. Ibn Taymiyyah. Maksudnya ialah agar kita dapat merasakan kesulitan yang dihadapi oleh mereka yang membaca "kitab gundul.

atau lebih persisnya. dapat diacu sebagai petunjuk adanya masa depan yang baik. yang biasanya diletakkan dalam bracket "kebangkitan Islam". Berbagai gejala masa-masa terakhir ini. Stagnasi ini tidak dirasakan oleh kaum Muslim. yang berarti empat kali lebih panjang daripada masa dominasi Eropa Barat yang sudah berlangsung selama dua abad ini). Dan dalam pandangan mereka. jelas bahwa yang membuat baik mereka generasi Islam klasik itu ialah apa yang dalam ungkapan kontemporer dinamakan "Etos Ilmiah". Bahkan dalam kutipan itu dapat dilihat munculnya beberapa dongeng dan mitologi. Tapi tentu saja umat Islam masih tetap mempunyai kesempatan yang baik. karena itu harus selalu diusahakan untuk . Banyak ahli yang mengatakan. Dan ketika mereka dikejutkan oleh datangnya tentara Perancis ke Mesir di bawah Napoleon yang dengan amat mudah mengalahkan mereka itu. bangsa-bangsa pelopor umat manusia masuk Zaman Modern. sehingga mewarnai sikap intelektual sebagian besar kaum Muslim. sehingga dorongan ke arah kebangkitan kembali yang muncul sejak itu sampai sekarang belum mencapai tujuan yang dimaksud. Furat dan Dajlah itu ke langit sebagai tafsir atas ayat suci al-Qur'an pula." namun dari pembacaan kepada sejarah peradaban Islam. seolah-olah segala sesuatu terjadi secara wajar saja. ilmu pengetahuan telah "habis. sampai akhirnya mereka terhentak dan kalah oleh bangkitnya bangsa-bangsa yang selama ini mereka remehkan. seperti bahwa sungai Nil berasal dari surga dan sungai Dajlah (Tigris) dan Furat (Eufrat) di Irak berasal dari Sidrat al-Muntaha! Juga ada mitos lain yang tercampur dengan pandangan keagamaan tertentu seperti cerita tentang datangnya Ya'juj dan Ma'juj (Gog dan Mogog) yang tersebut dalam Kitab Suci al-Qur'an [6]. melainkan ilmu hanya mempunyai perbatasan (frontier). semua ini diawali karena umat Islam terkena penyakit "puas diri". yang dirangkaikan dengan paham keagamaan. [7] KESIMPULAN Semangat obskurantisme atau kemasabodohan intelektual akibat berbagai faktor ekstern dalam proses-proses dan struktur-struktur politik masa itu sedemikian mencekam. setidaknya lebih baik daripada sekarang. keadaan sudah sangat terlambat." dan yang tersisa ialah mencerna apa saja yang diwariskan dari generasi sebelumnya. Barat Laut. karena itu tak terjangkau. Berbeda dengan obskurantisme. etos ilmiah yang benar harus memandang ilmu tidak mempunyai batas (limit).sebagainya. Tapi perbatasan atau frontier ilmu hanyalah produk kemampuan manusia sendiri yang tidak sempurna. yang pada saat itu akan diangkat sungai-sungai Nil. Batas atau limit ilmu hanya ada pada Allah. Sebuah adagium mungkin relevan dengan masalah ini yaitu yang berbunyi: "Tidak akan menjadi baik umat ini kecuali dengan sesuatu yang telah membuat baiknya umat terdahulu. apalagi daripada masa obskurantisme tersebut di atas itu. yaitu bangsa-bangsa Eropa Barat. khususnya sejarah pemikirannya." [8] Sementara banyak tafsiran yang berbeda-beda tentang apa "yang membuat baik umat terdabulu. yaitu ujung terakhir perkembangan pemikiran ilmiah. akibat dominasi mereka atas kehidupan di muka bumi selama berabad-abad (dalam perhitungan konservatif setidaknya selama delapan abad.

maka lautan itu akan habis sebelum Kalimat Tuhanku habis. 3. tt).). ialah toleransi dan saling menghargai dalam perbedaan. -------------------------------------------Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah Editor: Budhy Munawar-Rachman Penerbit Yayasan Paramadina Jln. 3. etos ilmiah Zaman Klasik Islam memandang perbatasan ilmu harus selalu ditebus. Batas atau limit ilmu hanya ada pada Allah swt. Hasyim Asy'ari di atas. Ibid. "La tashluhu hadzihi al-Umah illa bi ma shaluha bihi awwaluha. sementara dalam zaman obskurantisme. h. al-Ghayah wa al Taqrib. h. dan ini menghasilkan praktek menghafal. tt. CATATAN 1." 9. etos ilmiah yang ada mengajarkan agar setiap bertemu dengan perbatasan hendaknya kembali ke semula. (021) 7501969. 27. seperti dikemukakan KH. 4. Fat'h al-Qarib (Semarang: Maktabah wa Mathba'ah Usaha Keluarga. al Mu'minun/23:18. s. tt. 2. [9] Semuanya itu memerlukan suasana yang bersifat kondusif. apalagi ditembus. Al-Syaykh Ibrahim al-Hajuri. al-Kahf/18:94 (dalam cerita tentang Dzu al Qarnayan) 7. Hasyiyat al-Hajuri (Semarang: Maktabah wa Mathba'ah Usaha Keluarga. (Semarang: Pustaka al-'Alawiyyah. (021) 7507174 Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota Please direct any suggestion to Media Team Artikel Yayasan Paramadina Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan . 8. Lihat Q.. 7507173 Fax. tt). jadi tidak mungkin dicapai manusia.ditembus dengan keberanian intelektual serta kreativitas dan orisinalitasnya. h. meski kami datangkan tinta sebanyak itu pula.. Abu Syuja' Ahmad Ibn al-Husayn al-Ishfahani. (Risalah ini ditulis pada 1360 H atau 1941 M). UA 20-21 Jakarta Selatan Telp.. Metro Pondok Indah Pondok Indah Plaza I Kav. Muhammad Hasyim Asy'ari. Seperti halnya dengan Zaman Modern. h.). al-Tibyan fi al-Nahy 'an Muqata'at al-Arham wa al-Aqarib wa al-Ikhwan (Surabaya: Mathba'at Nahdlat al-'Ulama. 2-3. al Kahf/18:109). "Katakan. 12. 'Kalau seandainya seluruh lautan ini tinta untuk Kalimat Tuhanku. 11. s. Muhammad ibn Qasim al-Ghazzi. Dan suasana itu tidak lain.s. 5. h. 6. Lihat Q. 7501983." (Q.

ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota VI. sedangkan kaum Khawarij menaruh dendam terhadap 'Ali dan Mu'awiyah sekaligus setelah mereka itu sendiri sebelumnya merupakan pendukung 'Ali yang bersemangat. Khalifah III. di lain pihak pada masa itu juga mulai disaksikan munculnya tokoh-tokoh dengan sikap yang secara nisbi lebih mandiri. Yang disebut "para pengikut" (makna kata Tabi'in) ialah kaum Muslim generasi kedua (mereka menjadi Muslim ditangan para Sahabat Nabi). Setelah 'Ali r. Umawiyyah. terutama yang terjadi sejak peristiwa pembunuhan 'Utsman. Di satu pihak masa itu bisa disebut sebagai kelanjutan wajar masa sahabat Nabi. pertentangan ini kemudian mengambil bentuk sifat . seperti Khawarij. Sebagian besar orang-orang Muslim memihak 'Ali dalam perselisihannya dengan Mu'awiyah. serta setelah orang-orang Muslim terpecah-pecah menjadi berbagai kelompok. serta meninggalkan keharusan taat pada Dinasti Umayyah. yang bersumber dari sisa dan kelanjutan berbagai konflik politik. Melukiskan keadaan yang ruwet itu Musthafa al-Siba'i mengetengahkan keterangan di bawah ini. dan sebagainya. Dan pertikaian itu antara lain menjadi sebab bagi berkecamuknya praktek pemalsuan hadits atau penuturan dan cerita tentang Nabi dan para sahabat. bersama dengan masa para Sahabat sebelumnya dan masa Tabi'in al-Tabi'in ("para pengikut dari para pengikut" yakni. wafat dan Mu'awiyah habis masa kekhilafahannya (juga wafat) anggota rumah tangga Nabi (Ahl al-Bayt) bersama sekelompok orang-orang Muslim menuntut hak mereka akan kekhalifahan. dianggap sebagai masa-masa paling otentik dalam sejarah Islam.21. telah mendorong berbagai pertikaian paham. dan ditambah-tambahnya Sunnah itu serta digunakannya sebagai alat melayani berbagai kepentingan politik dan perpecahan internal Islam. Justru sifat transisional masa ini ditandai berbagai gejala kekacauan pemahaman keagamaan tertentu. Khususnya setelah perselisihan antara 'Ali dan Mu'awiyah berubah menjadi peperangan dan yang banyak menumpahkan darah dan mengorbankan jiwa. SEJARAH AWAL PENYUSUNAN (1/3) DAN PEMBAKUAN HUKUM ISLAM oleh Nurcholish Madjid Dalam bidang fiqh seperti juga dalam bidang-bidang yang lain masa Tabi'in adalah masa peralihan dari masa sahabat Nabi dan masa tampilnya imam-imam madzhab.a. Begitulah. Tahun empat puluh Hijriah adalah batas pemisah antara kemurnian Sunnah dan kebebasannya dari kebohongan dan pemalsuan di satu pihak. Disesalkan. Tumbuhnya partisan-partisan politik yang berjuang keras memperoleh pengakuan dan legitimasi bagi klaim-klaim mereka. dengan penampilan kesarjanaan di bidang keahlian yang lebih mengarah pada spesialisasi. Syi'ah. Walaupun begitu tidaklah berarti masa generasi kedua ini bebas dari persoalan dan kerumitan. kaum Muslim generasi ketiga). peristiwa-peristiwa politik menjadi sebab terpecahnya kaum Muslim dalam berbagai golongan dan partai. Dalam pandangan keagamaan banyak ulama masa Tabi'in itu. dan ketiga masa itu sebagai kesatuan suasana yang disebut salaf (Klasik).

yaitu penyusunan dan pembakuan Hukum Islam melalui fiqh atau "proses pemahaman" yang sistimatis. sebab selalu dikaitkan dengan ajaran moral dan etika. kewajiban mengurus harta anak yatim secara benar. Maka sejak di Makkah Nabi mengajarkan tentang cita-cita keadilan sosial yang antara lain mendasari konsep-konsep tentang harta yang halal dan yang haram (semua harta yang diperoleh melalui penindasan adalah haram). "Ketahuilah bahwa pangkal kebohongan dalam hadits-hadits tentang keunggulan (tokoh-tokoh) muncul dari arah kaum Syi'ah. Itu semua tidak akan tidak melahirkan sistem hukum.. Meskipun baru setelah tinggal menetap di Madinah Nabi saw. Daerah-daerah .. dan seterusnya. Dari situlah mulai pemalsuan Hadits dan pencampuradukan yang sahih dengan yang palsu. para Tabi'in -dengan dipimpin tokoh-tokoh yang mulai tumbuh dengan penampilan kesarjanaanmencoba melakukan sesuatu yang amat berat namun kemudian membuahkan hasil yang agung. prinsip-prinsip yang diwariskan Nabi itu berhasil digunakan.sebagaimana dituturkan Ibn Abi al-Hadid dalam Syarh Nahj al-Balaghah. dan kemudian segera melebar dan meluas sehingga membentang dari semenanjung Iberia sampai lembah sungai Indus." Tapi kemudian diimbangi orang-orang bodoh dari kalangan Ahl al-Sunnah dengan perbuatan pemalsuan juga. Setiap partai berusaha menguatkan posisinya dengan al-Qur'an dan Sunnah. Maka mereka palsukanlah banyak hadits tentang kelebihan imam-imam mereka dan para tokoh kelompok mereka. Sebagian lagi meletakkan pada lisan Rasul hadits-hadits yang menguatkan klaim mereka. setelah hal itu tidak mungkin mereka lakukan terhadap al-Qur'an karena ia sangat terlindung (terpelihara) dan banyaknya orang Muslim yang meriwayatkan dan membacanya. Pada masa para sahabat yang kemudian disusul masa para Tabi'in. sekalipun keadaan di Makkah belum mengizinkan bagi Nabi untuk melaksanakannya. Dasar-dasar itu memang tidak semuanya langsung bersifat kehukuman atau legalistik. yang kelak mempunyai pengaruh yang lebih jauh bagi tumbuhnya aliran-aliran keagamaan dalam Islam. keharusan menghormati hak milik sah orang lain. Sasaran pertama yang dituju para pemalsu hadits itu ialah sifat-sifat utama para tokoh. Maka tindakan Nabi dan kebijaksanaannya di Madinah adalah kelanjutan yang sangat wajar dari apa yang telah dirintis pada periode Makkah itu.keagamaan. [1] Dihadapkan keruwetan itu. Maka sebagian golongan itu melakukan interpretasi al-Qur'an tidak menurut hakikatnya dan membawa nash-nash Sunnah pada makna yang tidak dikandungnya. Ada yang mengatakan bahwa yang pertama melakukan hal itu ialah kaum Syi'ah -dengan perbedaan berbagai kelompok mereka. WAWASAN HUKUM ZAMAN TABI'IN Antara Islam sebagai agama dan Hukum terdapat kaitan langsung yang tidak mungkin diingkari. namun ketentuan-ketentuan yang bersifat kehukuman telah ada sejak di Makkah. perlindungan terhadap kaum wanita dan janda. melakukan kegiatan legislasi. dan wajarlah bahwa al-Qur'an dan Sunnah itu untuk setiap kelompok tidak selalu mendukung klaim-klaim mereka. menopang ditegakkannya kekuasaan politik Imperium Islam yang meliputi daerah antara Nil sampai Amudarya. bahkan justru dasar-dasarnya telah diletakkan dengan kokoh dalam periode pertama itu.

Di sebelah Barat tradisi itu merupakan warisan Yunani-Romawi. sebagaimana terjadi pada . seperti berbagai kepentingan kemasyarakatan (al-mashalih al-madaniyyah). agar bersesuaian dengan kepentingan manusia di semua zaman dan agar dapat dipedomani oleh para pemegang wewenang (ulu al-amr) dalam menegakkan keadilan dan kebenaran. dengan menggunakan prinsip-prinsip umum yang ada dalam Kitab Suci. bahkan Arab." (QS. tidak pernah timbul kecuali dari wahyu Allah kepada Nabi-Nya s. Dan tugas Rasul tidak keluar dari lingkaran tugas menyampaikan (tabligh) dan menjelaskan (tabyin).sesuai untuk setiap zaman dan tempat). Penetapan hukum keagamaan murni. Tuntutan intelektual itu mendorong tumbuhnya suatu genre kegiatan ilmiah yang sangat khas Islam..Bahwa hal-hal yang tidak berkembang menurut perkembangan zaman dan tempat. agaknya yang telah terjadi pada masa tabi'in itu ialah semacam pendekatan ad hoc dan praktis-pragmatis terhadap persoalan-persoalan hukum. termasuk tradisi kehukumannya.. Untuk mengerti masalah ini sangat menarik mengutip lebih lanjut keterangan al-Sayyid Sabiq. Penetapan Hukum (al-tasyri') Islam merupakan salah satu dari berbagai segi yang amat penting yang disusun oleh tugas suci Islam dan yang memberi gambaran segi ilmiah dari tugas suci itu. al-Najm/53:34).. diberikan secara sepenuhnya terperinci. atau dengan suatu ijtihad yang disetujuinya. khususnya masyarakat Madinah. . baik dari Kitab ataupun Sunnah. "Tidaklah ia (Nabi) berbicara atas kemauan sendiri. Karena itu mudah dipahami jika timbul semacam tuntutan intelektual untuk berbagai segi kehidupan masyarakat yang harus dijawab para penguasa yang terdiri dari kaum Muslim Arab itu. maka Rasul saw. tapi ditinggalkannya dan menerima pendapat para sahabat.itu. Adapun penetapan hukum yang berkaitan dengan perkara duniawi bersifat kehakiman. yang dalam wawasan geopolitik Yunani kuno dianggap sebagai heatland Oikoumene (Daerah Berperadaban -Arab: al-Da'irat al-Ma'murah) telah mempunyai tradisi sosial-politik yang sangat mapan dan tinggi. dan Indo-Iran umumnya. Pendekatan ini dimungkinkan karena watak dasar Hukum Islam yang lapang dan luwes.a. maka tidak seorang pun dibenarkan menambah atau mengurangi. seperti hukum-hukum ibadat. tidak lain itu adalah wahyu yang diwahyukan kepadanya. sehingga mampu menampung setiap perkembangan yang terjadi. dengan dijelaskan oleh nash-nash yang bersangkutan. Tapi sebelum ilmu itu tumbuh secara utuh. Tetapi yang berkembang menurut perkembangan zaman dan tempat. seperti 'aqa'id dan 'ibadat. diperintahkan bermusyawarah mengenai itu semua.[2] Para ahli hukum Islam sudah terbiasa mengatakan secara benar bahwa letak kekuatan Islam ialah sifatnya yang akomodatif terhadap setiap perkembangan zaman dan peralihan tempat (shalih li kull zaman wa makan. urusan politik dan peperangan. politik dan perang. dan dengan melakukan rujukan pada Tradisi Nabi dan para Sahabat serta masyarakat lingkungan mereka yang secara ideal terdekat. yaitu Ilmu Fiqh. diberikan secara garis besar.w. Dan Nabi pernah mempunyai suatu pendapat. Berkenaan dengan hal ini al-Sayyid Sabiq menjelaskan.

Mereka juga mengemukakan kepada Nabi pemahaman mereka tentang nash-nash itu. Dan para Sahabat ra. dan meminta tafsiran tentang makna-makna berbagai nash yang tidak jelas bagi mereka. Ini terjadi tanpa peduli dengan sambutan sebagian besar umat Islam kepada tahun 41 Hijri sebagai "Tahun Persatuan" atau "Tahun Solidaritas" ('Am al-Jama'ah). Seperti dilukiskan Siba'i yang telah dikutip di atas.21. (021) 7501969. melewati zaman Nabi sendiri. Tapi jika pada zaman Nabi tempat rujukannya ialah Nabi sendiri. "Dua Tokoh") yang amat . Pada zaman para sahabat Nabi itu diwarisi banyak tokoh. sehingga Nabi kadang-kadang membenarkan pemahaman mereka itu.waktu perang Badar dan Uhud. DUA KUBU ORIENTASI FIQH: HIJAZ DAN IRAK Di bawah pimpinan Khalifah Mu'awiyah (yang masa kekhalifahannya disebut Ibn Taymiyyah sebagai permulaan masa "kerajaan dengan rahmat" -al-mulk bi al-rahmah) kaum Muslim dapat dikatakan kembali pada keadaan seperti zaman Abu Bakar dan 'Umar (zaman al-Syaykhani. 7501983. dan diteruskan ke zaman para Tabi'in. (021) 7507174 Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota Please direct any suggestion to Media Team Artikel Yayasan Paramadina Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota VI. kemudian zaman para Sahabat. Metro Pondok Indah Pondok Indah Plaza I Kav..[3] (bersambung 2/3) -------------------------------------------Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah Editor: Budhy Munawar-Rachman Penerbit Yayasan Paramadina Jln. UA 20-21 Jakarta Selatan Telp. tempat rujukan itu sudah mulai nampak. pun selalu meruduk kepada Nabi saw. sebab "persatuan" dan "solidaritas" itu agaknya hanya terbatas pada kenyataan kembalinya kesatuan politik (formal) umat Islam di bawah Khalifah Mu'awiyah ibn Abi Sufyan di Damaskus. dengan otoritas yang diakui semua. yang kemudian bertindak sebagai tempat rujukan. penyebaran dan perselisihan otoritas itu memuncak pada sekitar sesudah 40 H. Tapi sejak pertikaian politik pada paroh kedua kekhalifahan 'Utsman. ketika banyak partisan mulai berusaha keras memperebutkan legitimasi untuk klaim-klaim mereka. 7507173 Fax. SEJARAH AWAL PENYUSUNAN (2/3) DAN PEMBAKUAN HUKUM ISLAM oleh Nurcholish Madjid Sudah tentu keluasan dan fleksibilitas semangat umum Hukum Islam itu dipertahankan. dan bertahan. tanda-tanda menyebarnya. guna menanyakan apa yang tidak mereka ketahui. dan kadang-kadang beliau menerangkan letak kesalahan dalam pendapat mereka itu. dan kemudian berselisihnya.

Ini kemudian berdampak tumbuhnya dua orientasi dengan perbedaan yang cukup penting: Hijaz (Makkah-Madinah) dengan orientasi Haditsnya. namun dalam hal masalah penegakan hukum mereka tetap sedapat mungkin berpegang dan meneruskan tradisi para Khalifah di Madinah dahulu. penelitian tentang tujuan-tujuan hukum dan alasan-alasannya. kompleksitas kehidupannya.. yaitu tumbuhnya orientasi kehukuman (Islam) kepada Hadits atau Tradisi (dengan "T" besar) yang berpusat di Madinah dan Makkah serta mendapat dukungan langsung atau tak langsung dari rezim Damaskus. Tempatnya ialah Hijaz. Penjelasan menarik tentang hal ini diberikan oleh Syaykh 'Ali al-Khafif. adalah lebih banyak daripada yang ada di Hijaz. Sementara banyak tokoh Madinah sendiri tetap mempertanyakan keabsahan rezim Umayyah itu. akibat masalah keabsahan kekuasaan Bani Umayyah itu). . Sedangkan Irak telah mempunyai peradabannya sendiri. memelihara sabda-sabda beliau dan menerapkannya. kias. sebagai dasar ijtihad. dan penggunaannya juga lebih banyak. Pada zaman itu (zaman Tabi'in). begitu pula kebudayaan penduduknya dan terlatihnya mereka itu kepada penalaran. Dan yang dibawa pindah oleh mereka itu pun masih lebih sedikit daripada yang ada di Hijaz. Tempatnya ialah Irak. Hijaz adalah tempat tinggal kenabian. tradisi atau Sunnah) dan nash-nash. yaitu kaum Tabi'in yang bersemangat untuk tinggal di sana. sistem pemerintahannya. mendengarkan. Penyandaran diri kepadanya juga lebih jelas nampak. adalah lebih luas dan lebih banyak. dalam ifta' (pemberian fatwa) ada dua aliran: aliran yang cenderung pada kelonggaran dan bersandar atas penalaran." yakni. Adanya dua aliran itu merupakan akibat yang wajar dari situasi masing-masing Hijaz dan Irak. mengingat sedikitnya Sunnah pada mereka itu tidak memadai untuk semua tuntutan mereka. Karena itu ada semacam "koalisi" antara Damaskus dan Madinah (tapi suatu koalisi yang tak pernah sepenuh hati. Irak dengan kota-kota Kufah dan Basrah adalah kawasan yang selalu potensial menentang Damaskus secara efektif. Di situ Rasul menetap. Padahal peristiwa-peristiwa (hukum) di Irak itu. dan Irak (Kufah-Basrah) dengan orientasi penalaran pribadi (ra'y)-nya. dan tidak mendapatkan bagian dari Sunnah kecuali melalui para Sahabat dan Tabi'in yang pindah kesana. Kemudian mereka ini mewariskan apa saja yang mereka ketahui kepada penduduk (berikut)-nya. menyampaikan seruannya..dirindukan orang banyak. Karena itulah keperluan mereka kepada penalaran lebih kuat terasa. Dan (Hijaz) tetap menjadi tempat tinggal banyak dari mereka (para Sahabat) yang datang kemudian sampai beliau wafat. Tapi "koalisi" itu mempunyai akibat cukup penting dalam bidang fiqh. khususnya tradisi 'Umar. Apa pun kualitas kekhalifahan Mu'awiyah itu. disebabkan masa lampaunya. termasuk para "aktivis militan" yang membunuh 'Utsman (dan yang kemudian [ikut] mensponsori pengangkatan 'Ali namun akhirnya berpisah dan menjadi golongan Khawarij). dan hanya bersandar kepada bukti-bukti atsar (peninggalan atau "petilasan. Ini masih ditambah dengan kecenderungan mereka untuk banyak membuat asumsi-asumsi dan perincian karena keinginan mendapatkan tambahan pengetahuan. kemudian para Sahabat beliau menyambut. Dan aliran yang cenderung tidak kepada kelonggaran dalam hal tersebut.

maupun yang lain. banyak berorientasi kepada preseden-preseden para khalifah Madinah. sikap tersebut menciptakan suasana yang lebih mendukung bagi perkembangan kajian agama. Misalnya. termasuk menuturkan riwayat dan Hadits. Maka di kalangan orang-orang Hijaz terdapat seorang sarjana bernama Rabi'ah yang tergolong "Kelompok Penalaran. Sikap berpegang kepada syari'ah ini bagi kaum 'Abbasi berarti pengukuhan legitimasi politik dan kekuasaan mereka (dibandingkan dengan kedudukan kaum Umawi. dengan isyarat tidak banyak mementingkan "riwayat"). kemudian pada zaman Tabi'in itu. yaitu Ahmad ibn Hanbal. apakah itu penalaran atau penuturan riwayat. telah membawa perubahan penting dalam sikap keagamaan. lebih-lebih zaman Tabi'in al-Tabi'in." dan di kalangan para sarjana Irak. seorang anggota Majma' al-Buhuts al-Islamiyyah (Badan Riset Islam) Universitas al-Azhar. Ikatan hanya terjadi jika ditemukan sebuah pendapat seorang Sahabat Nabi. dan merangsang tumbuhnya berbagai aliran pemikiran keagamaan. dan ini pada urutannya memberi peluang lebih baik pada para sarjana untuk menyatakan pendapatnya. sebagai pedoman) dan orang-orang Irak adalah Ahl al-Ra'y ("Kelompok Penalaran". sesungguhnya itu hanya karakteristik gaya intelektual masing-masing daerah itu. Disamping itu. dan yang secara langsung diarahkan membahas. Meskipun sesungguhnya kaum 'Abbasi akhirnya banyak meneruskan wawasan hukum keagamaan kaum Umawi sebagai pendukung Ahl al-Sunnah wa al-Jama'ah (yang sebagaimana telah disinggung. Kini usaha ini memperoleh dorongan baru. dan dihadapkan kepada oposisi kaum Syi'ah dan Khawarij). tampil seorang penganut dan pembela "Kelompok Riwayat" yang sangat tegar. berkenaan dengan hukum. meneliti dan memahami yang benar. khususnya Umar). Ini semakin memperkaya pemikiran hukum zaman Tabi'in. yang diduga bersandar kepada Sunnah yang karena beberapa sebab Sunnah itu tidak muncul sebelumnya. teologi dan hukum. kelak. Sedangkan pada peringkat individu. membuat generalisasi bahwa sesuatu kelompok hanya melakukan satu metode penetapan hukum atau tasry'. Tapi disamping itu.[4] Jika dikatakan bahwa orang-orang Hijaz adalah Ahl al-Riwayah ("Kelompok Riwayat. suasana lebih mengizinkan untuk muncul." karena mereka banyak berpegang kepada penuturan masa lampau. baik yang bersangkutan dengan bidang politik. kaum 'Abbasi lebih banyak dan lebih tulus perhatian mereka kepada masalah-masalah keagamaan dari pada kaum Umawi.penalaran mendalam dan pelaksanaan yang banyak. adalah tidak tepat. Ijtihad yang terjadi di zaman Tabi'in adalah ijtihad mutlak. meskipun masing-masing tetap dapat dikenali ciri utamanya dari kedua katagori tersebut. cukup banyak dari masing-masing daerah yang tidak mengikuti karakteristik umum itu. perubahan situasi politik. seperti Hadits. Usaha secara resmi pembakuan Sunnah (yang kemudian menjadi sejajar dengan Hadits) telah mulai tumbuh sejak jaman 'Umar ibn 'Abd-al'Aziz menjelang akhir kekuasaan Umawi. [5] . dengan perpindahan kekuasaan dari kaum Umawi ke kaum 'Abbasi. Yaitu ijtihad yang dilakukan tanpa ikatan pendapat seorang mujtahid yang terlebih dahulu. Kairo. Terdapat persilangan antara keduanya. IJTIHAD TABI'IN SEBAGAI PENDAHULU MADZHAB-MADZHAB Menurut 'Ali al-Khafifi.

Aisyah. istri Nabi saw. Namun diantara keduanya. Banyak belajar dari bibinya. Wafat pada 94 H. antara lain: 1.Sa'id ibn al Musayyib al-Makhzumi.Abu Bakr ibn 'Abd-al-Rahman ibn al-Harits ibn Hisyam al-Makhzumi. Ia terkenal sangat 'alim (terpelajar). dan dikenal dengan Zayn al-'Abidin. Al-Hasan al-Bashri banyak berkonsultasi dengannya. (021) 7501969. dan cukup penting diperhatikan. [6] Maka zaman itu kita menyaksikan tampilnya tokoh-tokoh kesarjanaan dengan bidang kajian ilmu yang lebih terspesialisasi. Lahir di masa kekhalifahan 'Umar.Semua kegiatan itu juga terpengaruh kenyataan sosial-politik. Nuansa-nuansa itu tercermin dalam ketokohan sarjana atau 'ulama' yang mendominasi suasana intelektual suatu tempat. Persi. khususnya. 'Aisyah. disebabkan banyaknya orang-orang bukan Arab (Syiria. Banyak meriwayatkan Hadist yang bersambung dengan Abu Hurayrah. Suatu hal yang amat penting diperhatikan ialah adanya kaitan suatu aliran pikiran (yakni. 4. madzhab. tapi tidak banyak meriwayatkan Hadits. Dia adalah imam keempat kaum Syi'ah Imamiyyah. berupa semakin beragamnya latar belakang etnis. (021) 7507174 Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota Please direct any suggestion to Media Team . kultural dan geografis anggota masyarakat Islam. Lahir dua tahun kekhalifahan 'Umar. Mesir. bahkan guru-guru para calon imam madzhab itu. dan sempat belajar dari para pembesar Sahabat Nabi. Wafat pada 94 H.'Ali ibn al-Husayn ibn 'Ali ibn Abi Thalib al-Hasyimi. dan lain-lain. 2. wafat pada 94 H. 3. ibn 'Abbas. dan sebagainya) yang masuk Islam. seperti dituturkan al-Syaykh Muhammad al-Hudlari Beg dalam kitabnya. Merekalah para pendahulu imam-imam madzhab. Wafat pada 94 H. bidang kajian hukum Islam atau fiqh. 7501983. Ia belajar dari ayahnya dan dari pamannya. al-Hasan ibn 'Ali. terdapat nuansa yang cukup berarti. school of thought) dengan tempat. UA 20-21 Jakarta Selatan Telp. dan dalam diri masing-masing aliran besar itu. Metro Pondok Indah Pondok Indah Plaza I Kav. Tarikh al-Tasyri' al-Islami. Lahir dimasa kekhalifahan 'Utsman. Telah disebutkan adanya dua aliran pokok: Irak dan Hijaz. 7507173 Fax. Terkenal sangat saleh sehingga digelari "pendeta Quraysy" (rahib Quraysy). Di Madinah tampil cukup banyak sarjana. (bersambung 3/3) -------------------------------------------Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah Editor: Budhy Munawar-Rachman Penerbit Yayasan Paramadina Jln.'Urwah ibn al-Zubayr ibn al-'Awwam.

dan lain-lain. dan sebagainya. yang dikenal dengan sebutan al-Baqir. 'Abbas ibn 'Abd-Muthalib.Sulayman ibn Yasar. dan belajar dari 'Abd-Allah ibn 'Umar. Ibn Abbas. Ibn 'Umar. Mendapat pendidikan dari 'A'isyah (bibinya sendiri). 3. Wafat pada 117 H.'Abd-Allah ibn. Belajar dari Ibn 'Abbas. 7. Wafat pada 103 H. mengajar Sunnah. Wafat pada 107 H. Belajar dari ayahandanya sendiri. Lahir 50 H. Belajar dari Sa'd. Sa'id ibn al-Musayyaib. klien Ibn 'Abbas. Sa'id ibn al-Musyyaib.Abu Ja'far ibn Muhammad ibn 'Ali ibn al-Husayn. Dikenal sebagai "Kepala Bani Hasyim" di zamannya. dan dari 'A'isyah. dan sebagainya. Wafat pada 106 H. klien Maymunah (istri Nabi saw.Nafi'. Abu Hurayrah. Dianggap Bapak Ilmu tafsir al-Qur'an. Belajar dari ayahnya sendiri. Dia adalah imam kelima kaum Syi'ah. Ibn Abbas.. Wafat pada 106 H. Belajar dari patronnya sendiri.'Ubayd-Allah ibn 'Abd-Allah ibn 'Utbah ibn Mas'ud.) Belajar dari patronnya sendiri. SEJARAH AWAL PENYUSUNAN (3/3) DAN PEMBAKUAN HUKUM ISLAM oleh Nurcholish Madjid 5. Abu Hurayrah.Muhammad ibn Muslim. dia adalah guru Khalifah 'Umar ibn 'Abd al-'Aziz. yang terkenal dengan Ibn Syihab al-Zuhri. Lahir dua tahun sebelum Hijrah. Diutus oleh 'Umar ibn 'Abd-al-Aziz ke Mesir. Ibn 'Abbas. Pernah menyatakan ia sependapat . dan sebagainya. 9. juga dari A'isyah. Wafat pada 98 H. 8. Annas ibn Malik. Beliau diajar tentang ta'wil.21. 'A'isyah. ia juga terkenal sebagai penyair. Abd Hurayrah.Salim ibn 'Abd-Allah ibn 'Umar. dan dari 'A'isyah. Abu Hurayrah. Selain kepemimpinannya dalam fiqh dan Hadits. Abu Hurayrah. Klien Bani Makhzum. Belajar dari 'Aisyah. dan lainnya. dan lain-lain. Di Makkah beberapa sarjana terkenal juga tampil: 1. klien 'Abd-Allah ibn 'Umar. 'Ali dan Ubay ibn Ka'b. Belajar banyak dari 'Umar. dan lain-lain.Artikel Yayasan Paramadina Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota VI. 'A'isyah. dan sebagainya.Mujahid ibn Jabr. 6.Qasim ibn Muhammad ibn Abi Bakr. Berasal dari Daylam (daerah Iran). juga dari Jabir dan 'Abd-Allah Ibn 'Umar. Abu Hurayrah. Wafat pada 114 H. 2. 10. Zayd ibn Tsabit. dll. Ibn 'Abbas. dan pernah dibacakan do'a oleh Nabi agar mempunyai pemahaman mendalam (tafaqquh) dalam agama. Wafat di Thaif pada 68 H.'Ikrimah. 11. Mendapat perintah dari 'Umar ibn 'Abd-al-Aziz untuk mencatat Sunnah penduduk Madinah sebagai rintisan resmi pertama pembukuan Hadits.

Masruq ibn al-Ajda' al-Hamdani. dan sebagainya. Wafat pada 62 H. klien Zayd ibn Tsabit. 3. Dibesarkan di Madinah dan menghafal al-Qur'an di zaman 'Utsman. 2. Wafat pada 110 H. Sangat banyak mendapat pujian dari para 'ulama' yang lain. 'Utsman.Muhammad ibn Sirin.dengan kaum Khawarij. Lahir 17 H. Abu Hurayrah. Dari kalangan warga Kufah yang tampil antara lain ialah: 1.Qatadah ibn Da'aman al-Dusi. 2. 4. Ibn 'Umar. Ibn 'Abbas. Ubbay. 'Utsman. seperti 'Abd-al-rahman ibn Gahnim al-Asy'ari. Karena penampilannya sebagai sarjana dan peranannya dalam mendidik para Tabi'in maka ia termasukkan dalam daftar ini. 4. Keduanya bersaudara. Wafat pada 90 H. tampil tokoh-tokoh. klien Anas ibn Malik. Wafat pada 90 H. Disebutkan berkulit hitam kelam. yang fasih dan luas pengetahuan. Jabir ibn Zayd. karena ia Sahabat Nabi sejak Hijrah sampai wafat.Al-Aswab ibn Yazid al-Nakha'i. 'Umar. Banyak belajar dari kawannya sendiri itu. dan 4. Belajar dari 'Ali. dan sebagainya. 'Ali. kawan Ibn 'Abbas. antara lain: 1. Selain belajar dari Nabi juga banyak belajar dari Abu Bakr. 3. Belajar dari 'Umar. Wafat pada 63 H.Al-Hasan ibn Abi al-Hasan Yassar. 5. di samping seorang sarjana terkemuka. Guru utama Imam Abu Hanifah. Wafat pada 107 H. Wafat pada 110 H. termasuk mereka yang hidup sezaman. Seorang khadam. Abu Hanifah. dan lain-lain. Namun yang paling . Wafat pada 114 H.'Alqamah ibn Qays al-Nakha'i. dan sebagainya. Sarjana Tabi'in yang paling terkemuka.'Amir ibn Syarahil al-Sya'bi. Cukup menarik bahwa al-Sya'bi tidak suka kepada metode qiyas (analogi) yang menjadi ciri Ahl al-Ra'y yang dikembangkan muridnya. Ibn Mas'ud. dan sama-sama tampil sebagai sarjana terkemuka. Kedua-duanya wafat pada 95 H. Kemudian dari Basrah. dan lainnya. Dari daerah Syam (Syria) beberapa tokoh ahli hukum tampil. dll. Makhul ibn Abi Muslim. Ibn Mas'ud. 'Ali.Abu al-'Aliyah Rafi' ibn Mahran al-Riyahi. 5.'Atha ibn Rabbah. Belajar dari 'Umar. Belajar dari patronnya. 'A'isyah. Wafat pada 118 H. sejarah dan geneologi (al-nasab). dan belajar dari 'Umar. Lahir di masa Nabi masih hidup. Belajar dari 'A'isyah. 6. Ibn 'Abbas. Ibn 'Abbas dan Ibn 'Umar. Qabishah ibn Dzu'ayb. Ibn Mas'ud. 'Ali dan 'A'isyah. Murid terkemuka Ibn Mas'ud. Abu Hurayrah.Abu al-Syaitsa'. kemudian dari Abu Hurayrah. Abu Idris al-Khulani. Selain ahli hukum Islam. Seorang pejuang yang terkenal berani.Anas ibn Malik al-Anshari. ia juga ahli bahasa. Wafat pada 93 H.Ibrahim ibn Yazid al-Nakha'i. Raja ibn Hayah al-Kindi.

al-Syafi'i. Thawus ibn Kaysan al-Jundi (wafat pada 106 H.. seperti 'Abd-Allah ibn al-'Ash (wafat pada 65 H. terkenal sebagai 'Umar II dan banyak dipandang sebagai yang kelima dari al-Khulafa' al-Rasyidin. 'Umar.) yang belajar dari Zayd ibn Tsabit. Mereka ini. dan lainnya. Di Jazirah Arabia sebelah selatan. 6. 7fe7).Musthafa al-Siba'i. [7] Para tokoh ahli hukum itu dan kegiatan ilmiah serta pengajarannya telah mendorong tumbuhnya para spesialis hukum angkatan berikutnya. 1387/1968). bersama Masjid-Universitas al-Azharnya). jil. dan lainnya.penting dari para sarjana Syam itu ialah Khalifah 'Umar ibn 'Abd-al-'Aziz.Al-Syaykh 'Ali al-Khafifi.Untuk keterangan lebih lengkap tentang tokoh-tokoh ini. Tarikh al-Tasyri' al-Islami (Beirut: Dar al-Fikr. h. Selanjutnya ialah Yahya ibn Abi Katsir yang menurut sementara 'ulama' yang lain seperti Syu'bah dianggap lebih ahli tentang Hadits daripada al-Zuhri tersebut. Ibn 'Abbas. (Kuwait: Dar al-Bayan 1968/1388). antara lain. 'Utsman dan 'Ali) dan mensponsori secara resmi (kenegaraan) usaha penulisan Sunnah atau Hadits. dan ibukota Mesir ialah Fusthath yang perkembangannya tidak terlalu pesat seperti lain-lain. .. Abu Hurayrah. Dialah yang mengukuhkan tarbi. Wafat pada 114 H. 2. dan lainnya." dalam Al-Ijtihad fi al-Syari'at al-Islamiyyah. Al-Sunnah wa Makanatuha fi al-Tasyri' al-Islami (Kairo: al-Dar al-Qawmiyyah. 5. Mereka itu. Yazid ibn Abi Habib yang disebut-sebut sebagai pelopor ilmu pengetahuan di Mesir dan ahli masalah halal dan haram (wafat pada 128 H. lihat al-Syaykh Muhammad al-Hudlari Beg. Kota Kairo belum ada (baru didirikan oleh Dinasti Fathimiyah kelak. hh. 126-41. al-Layts ibn Sa'd. 223. 4. Dia wafat pada 101 H. yang belajar dari Ibn 'Umar. seperti al-Awza'i. Jabir.Ibid. 1949). 3.). 13.Al-Sayyid Sabiq. Walaupun begitu telah tampil pula di kalangan Mesir beberapa sarjana terkemuka. 222.Ibid. 'A'isyah. Mesir saat itu belum menjadi tandingan tempat-tempat yang tersebut di atas. pada gilirannya. Fiqh al -Sunnah. Kemudian Wahb ibn Munabbin al-Shan'ani.Ibid. Malik. dan Ahmad ibn Hanbal. 1404/1984). CATATAN 1. "Al-Ijtihad fi 'Ashr al-Tabi'in wa Tabi'i 'l-Tabi'in. Sufyan al-Tsawri. 17. 7. (mengakui empat Khalifah pertama: Abu Bakr. juga banyak muncul sarjana-sarjana dengan pengaruh yang jauh keluar dari batasan daerahnya sendiri. h. 'Abd-al-Khayr ibn 'Abd-allah al-Yazani (wafat pada 90 H. 224-5. I h. h.). h. hh. yaitu Yaman. telah melapangkan jalan bagi tampilnya para imam madzhab yang sampai saat ini pengaruhnya masih amat kukuh seperti Abu Hanifah. (Riyadl: Jami'at al-Imam Muhammad ibn Su'ud al-lslamiyyah.).

-------------------------------------------Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah Editor: Budhy Munawar-Rachman Penerbit Yayasan Paramadina Jln. karena itu memerlukan perhatian tersendiri pula. untuk . kitab-kitab itu tidak dimaksudkan untuk diberlakukan secara umum di suatu negeri. Kitab-kitab fiqh ketika ditulis juga tidak dimaksudkan. Fatwa tidak mempunyai daya ikat. tapi sifat responsifnya itu yang sekurang-kurangaya dapat dikatakan dinamis.28. Ini juga bersifat mengikat atau mempunyai daya ikat yang lebih luas. keputusan-keputusan pengadilan agama ini sifatnya mengikat kepada pihak-pihak yang berperkara. sifatnya adalah kasuistik karena merupakan respon atau jawaban terhadap pertanyaan yang diajukan peminta fatwa. Masing-masing produk pemikiran hukum itu mempunyai ciri khasnya tersendiri. 7507173 Fax. dan sampai tingkat tertentu juga bersifat dinamis karena merupakan usaha memberi jawaban atau menyelesaikan masalah yang diajukan ke pengadilan pada suatu titik waktu tertentu. Jenis produk pemikiran hukum keempat. Jenis produk pemikiran Islam yang kedua. yaitu peraturan perundangan di negeri Muslim. beberapa buku fiqh tertentu telah diperlakukan sebagai kitab undang-undang. Orang yang terlibat dalam perumusannya juga tidak terbatas pada para fuqaha atau ulama. 7501983. meskipun dalam sejarah kita mengetahui. (021) 7507174 Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota Please direct any suggestion to Media Team Artikel Yayasan Paramadina Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota IV. adalah keputusan-keputusan pengadilan agama. dalam arti si peminta fatwa tidak harus mengikuti isi/hukum fatwa yang diberikan kepadanya. tapi juga para politisi dan cendekiawan lainnya. dan peraturan perundangan di negeri-negeri Muslim. Jenis produk pemikiran hukum ketiga. Fatwa-fatwa ulama atau mufti. ialah kitab-kitab fiqh yang pada saat di tulis pengarangnya. (021) 7501969. keputusan-keputusan pengadilan agama. UA 20-21 Jakarta Selatan Telp. yaitu: kitab-kitab fiqh. fatwa-fatwa ulama. Isi fatwa itu sendiri belum tentu dinamis. Berbeda dengan fatwa. FIQH DAN REAKTUALISASI AJARAN ISLAM Oleh Atho' Mudzhar Sedikitnya ada empat macam produk pemikiran hukum Islam yang kita kenal dalam perjalanan sejarah Islam. Metro Pondok Indah Pondok Indah Plaza I Kav. tapi fatwa biasanya cenderung bersifat dinamis karena merupakan respon terhadap perkembangan baru yang sedang dihadapi masyarakat si peminta fatwa.

Dengan tidak adanya masa laku ini. tapi sebagai buku agama itu sendiri. yang pada gilirannya akan mempengarahi cara pandang dan cara pikir fuqaha itu sendiri. Sebagai akibatnya. karena sifatnya sebagai produk pemikiran. Inilah kedudukan kitab fiqh sebagai salah satu bentuk produk pemikiran hukum Islam dan karakteristik serta kecenderungan-kecenderungannya dibanding dengan produk-produk pemikiran hukum lainnya: fatwa. adalah sama dengan menghalalkan produk pemikiran manusia yang semestinya temporal. maka orang yang menguasai fiqh yang biasanya disebut fugaha. Akibat lebih lanjut dari kedudukan fiqh yang diidentikkan dengan agama itu. maka sebenarnya itu . maka kitab-kitab fiqh cenderung dianggap harus berlaku untuk semua masa. memandang fiqh identik dengan hukum Islam. maka perbaikan atau revisi terhadap sebagian isi kitab fiqh dianggap dapat. fiqh hanyalah salah satu dari beberapa bentuk produk pemikiran hukum Islam. dan peraturan perundangan negeri Muslim. SIKAP MUSLIM TERHADAP FIQH Setelah kita melihat bagaimana seharusnya memandang fiqh. seperti pertama. atau akan mengganggu keutuhan isi keseluruhannya. Akibatnya. masyarakat memandang fiqh. Selain itu kitab-kitab fiqh juga mempunyai karakteristik lain. Kedua. dan saran-saran pemecahan masalahnya. dan hukum Islam dipandang identik dengan aturan Tuhan. dalam rangka reaktualisasi ajaran Islam. juga mempunyai kedudukan tinggi. selama berabad-abad fiqh menduduki tempat yang amat terpandang sebagai bagian dari agama itu sendiri. maka fiqh sebenarnya tidak boleh resisten terhadap pemikiran baru yang muncul kemudian. keputusan pengadilan agama.digunakan pada masa atau periode tertentu. Sebagai salah satu akibat dari sifatnya yang menyeluruh ini. Pada umumnya masyarakat Islam. dan karena hukum Tuhan adalah hukum yang paling benar dan tidak bisa dirubah maka kitab-kitab fiqh bukan saja dipandang sebagai produk keagamaan. bukan saja sebagai orang yang memaklumi produk pemikiran keagamaan tapi sebagai penjaga hukum agama itu sendiri. membiarkan fiqh sebagai kumpulan aturan yang tidak mempunyai batasan masa lakunya. Kalau fatwa dan keputusan pengadilan agama sifatnya kasuistik --yaitu membahas masalah tertentu-. Dan ketiga. Secara sosiologis kedudukan demikian itu memberi hak-hak istimewa dan peranan tertentu kepada fuqaha pada lapisan sosial tertentu. dan bukan bagian dari produk pemikiran keagamaan. Gambaran ini diperlukan. Dengan cara meletakkan fiqh pada proporsinya yang demikian itu maka diharapkan kita akan memperlakukannya secara proporsional pula. khususnya masyarakat Islam Indonesia. sekarang kita lihat bagaimana dalam kenyataan.maka kitab-kitab fiqh sifatnya menyeluruh dan meliputi semua aspek bahasan hukum Islam. Karena itu kitab-kitab fiqh cenderung menjadi resisten terhadap perubahan. yang oleh sebagian orang lalu dianggap sebagai jumud atau beku alias tidak berkembang. sebelum kita mencoba memberi analisa lebih jauh tentang mekanisme kerja fiqh. Dengan cara pandang itu. fiqh cenderung dianggap sebagai aturan Tuhan itu sendiri. Ketika seorang faqih dari suatu masa menuliskan tintanya menjadi kitab fiqh. maka kitab-kitab fiqh dipandang sebagai kumpulan hukum Tuhan.

produk-produk pemikiran fiqh itu dianggap sebagai identik dengan hukum Tuhan itu sendiri. EMPAT PASANGAN PILIHAN Terdapat sejumlah pasangan pilihan yang dapat mempengaruhi pandangan seseorang tentang fiqh. maka para fuqaha memerlukan kehidupan fiqh yang tinggi. sebagaimana telah disebutkan di muka. Imam Syafi'i sebenarnya telah berusaha menjembatani kedua kelompok itu. sedangkan kelompok kedua menghasilkan kitab-kitab fiqh yang bersifat rasional. tapi tidak sepenuhnya berhasil. Kadang-kadang fiqh yang dipeliharanya itu adalah produk para pendahulunya. sebenarnya terjadi siklus yang menarik diamati: bahwa untuk menjaga dan memeliharanya. Kelompok pertama adalah mereka yang mengutamakan penggunaan hadits dalam memahami ayat-ayat Qur'an dan kelompok kedua. Kedua aliran ini telah menghasilkan kitab-kitab fiqh yang berbeda. Inilah yang menyebabkan lahirnya pandangan yang telah membiarkan fiqh sebagai kumpulan aturan yang tidak mempunyai batasan masa lalu . tapi pandangan ini telah mempunyai pengaruh dalam memberikan label bahwa produk pemikiran fiqh itupun merupakan upaya menafsirkan kehendak Tuhan yang bersifat abadi dalam bidang hukum. dalam mencoba memahami dan menjabarkan ajaran Islam tentang hukum. Demikian kesalahpahaman yang terjadi di kalangan sementara orang Islam. Kitab-kitab fiqh hasil kelompok pertama lebih memberi tempat kepada hadits-hadits meskipun lemah. dipelopori Imam Abu Hanifah. aturan yang disebut hukum Islam itu tidak boleh terkena intervensi akal manusia karena hukum Islam itu adalah kebenarannya mutlak yang hanya diatur dengan wahyu. karena beliau sendiri pada akhirnya lebih memihak pada kelompok pertama.tidak terlepas sebagian atau tadi. tapi kadang-kadang juga produksinya sendiri. Kelompok pertama terutama berkembang di Madinah. dan untuk itu terlebih dahulu perlu dipahami faktor-faktor apa sebenarnya mengakibatkan kekeliruan tersebut. Kelompok pertama kemudian dikenal dengan ahl al-hadith dan kelompok kedua disebut ahl al-ra'yi. dalam hal porsi penggunaan akal. jumlah ayat al-Qur'an mengenai hukum itu hanya sedikit sekali (kurang lebih 276-500 ayat). dan untuk memelihara status diri mereka. dari cara seluruhuya pandang dan cara pikirnya yang diwarnai oleh kedudukan sosialnya Di sini. apalagi aspek-aspek kehidupan yang merupakan produk perkembangan zaman modern. Meskipun pandangan ini bersifat utopis karena kenyataan. adalah mereka yang mengutamakan penggunaan akal. Pilihan Wahyu dan Akal Dalam sejarah pertumbuhan hukum Islam kita mengetahui. fiqh memerlukan penjaga yang disebut faqih atau fuqaha. dan karenanya tidak meliput semua aspek kehidupan manusia. terdapat dua aliran besar di kalangan para pendiri madzhab. empat diantaranya akan disebutkan dan diuraikan di sini. tidak terkecuali di Indonesia. Jadi sejak awal pertumbuhannya telah ada pihak-pihak yang berpendirian. Ironisnya. Keempat pasangan pilihan tersebut ialah sebagai berikut: 1. Kekeliruan ini rasanya perlu diperbarui dan dibetulkan. dan dipelopori Imam Malik bin Anas dan kelompok kedua berkembang di Kufah dan Baghdad. dalam memandang fiqh.

Tentu saja selebihnya adalah produk penafsiran dan pemikiran manusia. Jadi. dan bukan oleh para hakim di pengadilan agama. fiqh yang dipandang identik dengan hukum Islam itu bermacam-macam. dan sebagai hasilnya fiqh selalu resisten terhadap perubahan. Tapi karena hukum Islam dipandang identik dengan fiqh. dengan pandangan yang mengatakan hukum Islam itu partikular . kesalahan dalam melakukan pilihan yang tepat antara porsi peranan wahyu dan akal telah mempunyai dampak yang serius dalam sejarah perkembangan --atau lebih tepatnya ketidak-berkembangan fiqh. meskipun untuk itu mereka harus masuk penjara.fiqh pada umumnya dirumuskan para teoritisi belakang meja daripada . Bahkan kita mengetahui banyak fuqaha menolak jabatan qadi atau hakim. Demikianlah perkembangan hukum Islam. 2. Begitulah. Pilihan Kesatuan dan Keragaman Pasangan pilihan kedua adalah. Sekarang kita melihat madzhab-madzhab itu sebagai aliran-aliran dalam hukum Islam. Hukum Islam yang dianggap universal itu sebenarnya adalah produk fuqaha dari suatu lingkungan kultur tertentu. selain sudah tua. Hukum Islam sebagai kesatuan artinya. bahwa pandangan pertama telah mendominasi benak kaum Muslim selama berabad-abad. Ini berarti --sejarah telah membuktikannya-. telah mengakibatkan mandeknya perkembangan fiqh. seperti yang kita saksikan selama ini. karena hukum Islam itu adalah hukum Tuhan maka semestinya hukum Islam itu hanya ada satu macam saja untuk seluruh umat manusia. kitab-kitab fiqh yang kita pelajari itu mengandung ekspresi lokal di Timur Tengah sana. mengidentikkan fiqh dengan hukum Islam yang universal. adalah kitab-kitab fiqh yang ditulis lima atau enam abad yang lalu. Pilihan Idealisme dan Realisme Pasangan pilihan ketiga yang telah mempengaruhi perkembangan fiqh adalah pilihan antara idealisme dan realisme. tapi dulunya lebih merupakan ekspresi lokal. dan merupakan ekspresi dari kultur tertentu di sekitar Timur Tengah. Kitab-kitab fiqh yang kita pelajari sekarang di Indonesia ini. Orang harus melakukan pilihan antara pandangan yang mengatakan hukum Islam itu universal. antara cita-cita dan kenyataan. Satu kitab fiqh dapat ditulis dalam berpuluh-puluh jilid. Jadi. bahwa kitab-kitab fiqh itu pada umumnya ditulis para fuqaha. Kesalahan dalam melakukan pilihan antara wahyu dan akal. Artinya kitab-kitab fiqh itu partikularistik.dan cenderung mengekalkan produk pemikiran manusia yang semestinya temporal dan liable terhadap perubahan. antara hukum Islam sebagai kesatuan dan hukum Islam sebagai keragaman. maka kitab fiqh yang berpuluh-puluh jilid itupun menjadi tabu mendapatkan revisi. untuk seluruh umat Islam di dunia. atau lebih tepatnya kesalahan dalam memberikan porsi peranan wahyu dan akal ternyata telah membawa pada kejumudan fiqh itu sendiri yang justru meliputi sebagian terbesar dari aturan hukum Islam yang ada. sementara wahyu yang mendasarinya hanya beberapa ratus ayat saja. dan sebagian diterjemahkan atau disadur dalam bahasa Indonesia. Tapi justru kitab-kitab yang dipandang sebagai hukum Islam itu di Indonesia dipandang universal tadi. 3. dan dari suatu masa tertentu di masa silam. lebih ironis lagi. jurist. Kita mengetahui dalam sejarah. Bagi kita kaum Muslim Indonesia. Kita mengetahui dari sejarah. atau para ahli hukum. Tapi pada kenyataan kita melihat. Kita mengetahui terdapat berbagai madzhab dalam fiqh.

Akibat lain dari pilihan atas idealisme daripada realisme itu. Bahkan Saudi Arabia pun dalam banyak hal telah mulai melakukan suplemen terhadap hukum-hukum fiqh Hambali yang umumnya terlalu literalis. telah mengakibatkan kemandekan pemikiran fiqh di dunia Islam selama ini. dan Irak. ialah: fiqh semakin hari semakin jauh dari kenyataan masyarakat. lebih menekankan segala sesuatunya pada hal-hal yang maksimal daripada minimal. ini berarti hukum Islam itu harus stabil.praktisi di lapangan. Sebagai akibatnya. dan tidak boleh mengalami perubahan. dan resisten terhadap perubahan. Jika kita hendak mereaktualisasikan ajaran-ajaran Islam. Fiqh juga telah memilih stabilitas daripada perubahan. fiqh harus dilihat sebagai mata rantai perubahan yang tak henti-hentinya tanpa harus dipersoalkan keabsahannya karena toh pada akhirnya fiqh itu hanya menyangkut soal cabang . Semua itu. Ini telah terjadi pada saat kitab fiqh itu dituliskan. Hal ini terjadi di Tunisia. telah berlangsung selama berabad-abad. khususnya dalam bidang hukum. 4. dirubah atau bahkan dibuang pada setiap saat. baik remote waktu maupun tempat. atau sekurang-kurangnya kekeliruan dalam menentukan bobot masing-masing pilihan itu. apalagi ketika kitab-kitab fiqh itu menjadi remote dari masyarakat yang mengamalkannya. mulai mencoba melakukan revisi terhadap fiqhnya. dengan mengintrodusir dan memperbaharui peraturan perundangan. Fiqh harus dikembangkan dari yurisprudensi pengadilan yang bertumpu pada realisme. Pasangan pilihan ini sebenarnya tidak sepenuhnya berdiri sendiri. Pendek kata. Dari dimensi waktu. Fiqh telah mewakili hukum dalam bentuk cita-cita daripada sebagai respon atau refleksi kenyataan yang ada secara realis. sebagaimana disebutkan di muka. khususnya dalam hal hukum keluarga. Kebekuan fiqh itu. fiqh yang dihasilkannya lebih mengekspresikan hal-hal yang ideal daripada real. Beberapa negeri Muslim setelah pertemuan yang pahit dengan peradaban Barat. dan lebih khusus lagi dalam bidang fiqh. melainkan akibat lanjutan dari pilihan pada pasangan-pasangan sebelumnya. Fiqh telah dipandang sebagai ekspresi kesatuan hukum Islam yang universal daripada sebagai ekspresi keragaman partikular. Fiqh harus dipandang sebagai varian suatu keragaman yang bersifat partikularistik yang terkait dengan tempat dan waktu. Sebagai akibatnya kitab-kitab fiqh menjadi beku. Kita harus memandang fiqh sebagai produk dominan akal ketimbang wahyu. LANGKAH-LANGKAH REAKTUALISASI Uraian di atas dapat disimpulkan: Kemandekan pemikiran fiqh di dunia Islam selama ini adalah karena kekeliruan menetapkan pilihan dari pasangan-pasangan pilihan tersebut di atas. Baru pada abad ke-19 terdengar suara-suara untuk melakukan perubahan terhadap fiqh yang ada. Pilihan Stabilitas dan Perubahan Pasangan pilihan keempat adalah pilihan stabilitas dan perubahan. maka kita harus membalik pilihan-pilihan tersebut di atas. Mesir. maka secara konseptual hukum Islam tidak menerima adanya variasi. Siria. dan karenanya boleh diotak-atik. Karena hukum Islam harus hanya ada satu. statis.

Coulson. Dengan demikian. Pakistan. IAIN Jakarta.. Kedua. Metro Pondok Indah Pondok Indah Plaza I Kav.dari agama. 1969). adanya tingkat pendidikan dan tingkat keterbukaan yang tinggi dari masyarakat Muslim. yaitu surat al-Ma'un (QS 107). dan tidak pula menyadari betapa surat pendek itu dapat menjadi pangkal gerakan kemanusiaan yang besar dan mendalam seperti . (021) 7501969. adanya keberanian di kalangan umat Islam untuk mengambil pilihan-pilihan yang tidak konvensional dari pasangan-pasangan pilihan tersebut di atas. Muhammad Muslehuddin. Dengan demikian dinamika hukum Islam dapat terus dijaga dan dikembangkan. jika di tempat lain atau pada waktu lain ditemukan unsur-unsur partikularisme yang berbeda. 1990/1991. Surat itu sendiri sudah merupakan bagian dari hafalan baku para santri. Tetapi. khususnya para imam shalat. sedikitnya ada tiga syarat yang harus dipenuhi yaitu: Pertama. Noel J. (021) 7507174 Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota Please direct any suggestion to Media Team Artikel Yayasan Paramadina Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota V. Conflicts and Tensions in Islamic Law (The University of Chicago Press. dan termasuk yang sering dibaca dalam shalat itu. maka produk pemikiran hukum itu dengan sendirinya harus dirubah. memahami faktor-faktor sosiokultural dan politik yang melatarbelakangi lahirnya suatu produk pemikiran fiqhiyah tertentu. Chicago. UA 20-21 Jakarta Selatan Telp. 1977).35. Tapi untuk melakukan pilihan-pilihan yang tepat diperlukan beberapa syarat. Catatan-catatan kuliah Sejarah Sosial Hukum Islam pada Fakultas Pasca Sarjana. -------------------------------------------Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah Editor: Budhy Munawar-Rachman Penerbit Yayasan Paramadina Jln. beliau memperkenalkan dan mempropagandakan sebuah surat pendek al-Qur'an dari Juz 'Amma. kaum muslim Indonesia seperti tidak pernah tersentuh oleh makna dan semangat firman Allah itu. sampai dengan tampilnya Kyai Dahlan dengan Muhammadiyahnya. Dan ketiga. 7501983. agar dapat memahami partikularisme dari produk pemikiran hukum itu. MASALAH SIMBOL DAN SIMBOLISME DALAM EKSPRESI KEAGAMAAN (1/2) Oleh Nurcholish Madjid Ketika Kyai Ahmad Dahlan mulai menapak jalan menuju cita-cita reformasi Islam di Indonesia. 7507173 Fax. DAFTAR KEPUSTAKAAN Atho' Mudzhar. Philosophy of Islamic Law and the Orientalists (Islamic Publications Ltd.

seperti kemestian yang ada pada pola pergaulan dalam suatu kelompok. "kelompok orang-orang Islam. sekurang-kurangnya mungkin sekali kita sekedar pamrih kepada sesama anggota kelompok Islam." Artinya. sementara kita mungkin rajin menjalankan ibadat-ibadat formal seperti shalat. Disebutkannya anak yatim dan orang miskin. [1] Jelas sekali firman Allah itu menegaskan bahwa kepalsuan dapat terjadi dalam sikap keagamaan kita jika kita tidak memiliki komitmen batin kepada usaha-usaha. yaitu mereka yang akan shalat tetapi lalai. misalnya. yaitu budi pekerti yang luhur. kurang lebih adalah: Pernahkah engkau lihat (hai Muhammad).w.Muhammadiyah dengan amal-amal sosialnya. namun ibadat itu tidak mempengaruhi tingkah laku kita yang lebih mendalam. menegaskan keadilan sosial. adalah untuk menyempurnakan berbagai keluhuran budi. [3] AGAMA DAN AKHLAQ Surat al-Ma'un memperingatkan kita bahwa beragama dengan tulus tidaklah cukup hanya dengan mengerjakan segi-segi formal keagamaan seperti shalat. Dikatakan semakin diperburuk karena kepalsuan kita dalam beragama memperoleh bungkus kebajikan berupa amalan ibadat lahiriah. dan yang enggan memberi pertolongan. Penilaian diri kita sebagai pendusta agama atau beragama secara palsu karena tidak memiliki komitmen sosial yang makin diperburuk oleh tingkah laku lahiriah kita sendiri yang nampak seperti menjalankan ibadat formal. adalah karena mereka merupakan kelompok-kelompok sosial yang paling memerlukan usaha bersama untuk memperbaiki nasib mereka. haji. [4] Sejalan dengan ini Nabi juga menggambarkan bahwa diantara semua kualitas manusia. Keagamaan yang sejati menuntut adanya wujud nyata konsekuensi ibadat. Karena itulah Allah mengutuk orang yang menjalankan ibadat formal serupa itu namun ia lupa atau lalai akan ibadat mereka sendiri. dan bungkus itu dengan sendirinya akan mempunyai dampak penipuan. orang yang mendustakan agama? Itulah orang yang menghardik anak yatim dan tidak berjuang untuk memberi makan orang miskin. yang menurut istilah sekarang. kita melakukan ibadat karena menghayati bahwa shalat adalah perintah Allah lalu tidak menghayati apa makna shalat itu yang lebih mendalam dan luas.a. Indikasinya ialah keseganan untuk berkorban guna memberi pertolongan kepada orang yang perlu. Anak yatim dan orang miskin mewakili seluruh anggota masyarakat yang tidak beruntung oleh berbagai sebab dan cara. namun tidak menghayati dan tidak mewujud-nyatakan hikmahnya. Sebab mungkin kita sendiri tidak merasa. Maka celakalah untuk orang-orang yang shalat. Jadi sesungguhnya kita menjalankan ibadat itu karena pamrih atau riya'. tidak ada yang timbangan atau bobot nilai kebaikannya lebih erat daripada budi pekerti luhur. dll. [5] Lalu beliau gambarkan bahwa yang paling banyak menyebabkan manusia . yaitu mereka yang suka pamrih kepada sesama. Sebuah Hadits yang amat terkenal mengisyaratkan bahwa tujuan tugas suci atau risalah dibangkitkannya Nabi s. surat al-Ma'un itu terjemahnya. yang dibidikkan oleh ibadat itu. puasa. biarpun sedikit. Seperti kita ketahui. yang tingkah laku itu bakal membentuk budi pekerti luhur [2]. kita menjalankan ibadat-ibadat hanyalah untuk memenuhi kemestian-kemestian sosial kultural semata. Artinya.

masuk surga ialah taqwa kepada Allah dan keluhuran budi. Orang itu harus mentaati aturan-aturan yang membawa kebaikan. menegaskan "Kamu sekalian tidak akan memperoleh kebajikan sebelum kamu mendermakan sebagian dari (harta) yang kamu cintai. orang-orang miskin. orang terlantar di perjalanan. Dikatakannya: Seakan untuk menekankan lagi peringatan melawan formalisme yang mematikan. [8] Dalam kaitan itu menarik sekali memperhatikan komentar Yusuf Ali atas firman yang amat penting ini. hal-hal besar menjadi kecil di depan mata kita segala kepalsuan dan sifat sementara dunia ini akan tidak lagi memperbudak kita. melainkan datang dalam pengalaman kita sendiri. anak-anak yatim (termasuk siapa saja yang tidak punya topangan hidup atau bantuan). . kewajiban kita dapat berbentuk berbagai macam. dan orang yang menepati janji jika membuat janji. kita diberi gambaran yang indah tentang orang yang salih dan takut kepada Tuhan. kesusahan dan masa perang.Tetapi kebajikan ialah (jika) orang yang beriman kepada Allah. bukan sekedar pengemis yang malas tetapi orang A. Mereka itulah orang-orang benar (tulus). juga. dan (4) jiwa pribadi kita sendiri harus teguh dan tidak goyah dalam segala keadaan. Kita diberi empat pokok: (1) iman kita harus sejati dan tulus. para malaikat. Allah swt. tapi masih dapat dipandang secara terpisah. Hari kemudian. betapapun cinta orang itu kepada harta tersebut. (2) kita harus memperlihatkannya dalam tindakan-tindakan kebaikan kepada sesama kita. Kita harus menyadari kehadiran Tuhan dan kebaikan-Nya. dan ajaran-ajaran-Nya yang tidak lagi berada jauh dari kita. dan memang berhak untuk meminta. yang lebih terinci: Bukanlah kebajikan itu bahwa kamu menghadapkan mukamu ke timur dan ke barat. (3) kita harus menjadi warga masyarakat yang baik. sanak keluarga kita. Iman bukanlah semata-mata perkara ucapan. serta mereka yang tabah dalam kesulitan. Keempat pokok itu saling berkaitan. yang mendukung organisasi-organisasi sosial. Untuk kerabat. Tindakan-tindakan derma yang praktis mempunyai nilai hanya jika keluar dari rasa cinta dan tidak dari motif-motif yang lain. Dalam hal ini. orang yang benar-benar memerlukan pertolongan tetapi tidak pernah meminta (kewajiban kita menemukan mereka itu). kitab-kitab suci dan para nabi. yakni. anak-anak yatim. dan untuk membebaskan para budak. peminta-minta. Jika kita sadari itu. tapi ia harus memusatkan pandangannya kepada cinta Tuhan dan cinta sesama manusia. dan orang yang mendermakan hartanya. sebab kita melihat Hari Kemudian seolah-olah terjadi sekarang ini. dan mereka itulah orang-orang yang berbakti (bertaqwa). [6] Penegasan-penegasan Nabi itu merupakan kelanjutan dari ajaran al-Qur'an tentang apa yang dinamakan nilai kebajikan (al-birr atau 'amal shalih). Kita juga melihat karya Ilahi dalam alam ciptaan-Nya. dan mereka didahulukan sebelum orang yang meminta. berujud jenjang yang wajar." [7] Dan penegasan-Nya lagi.

"Tempat dia di surga. Muhammad Asad menegaskan bahwa al-Qur'an menekankan prinsip yang semata-mata mengikuti bentuk-bentuk lahiriah tidaklah memenuhi persyaratan kebajikan. Justru sikap-sikap membatasi diri hanya kepada hal-hal ritualistik dan formal akan sama dengan peniadaan tujuan agama yang hakiki. A. TAUHID ESENSI. Prof." Kemudian orang itu menceritakan tentang seorang wanita yang kedengarannya jelek. Perbudakan mengandung berbagai bentuk yang tersembunyi dan berbahaya dan semuanya tercakup di situ. Disebutnya masalah menghadapkan wajah ke arah ini atau itu dalam sembahyang adalah kelanjutan dari pembahasan tentang kiblat dalam urutan ayat-ayat sebelumnya.yang memerlukan bantuan kita dalam bentuk tertentu (kewajiban kita untuk tanggap kepada mereka). Mukti Ali itu. banyak orang Islam yang lebih cepat bereaksi kepada gejala-gejala yang dinilai menyimpang dari ketentuan lahiriah keagamaan. pernah mengatakan bahwa orang-orang Muslim banyak yang lebih peka kepada masalah-masalah keagamaan daripada masalah-masalah sosial. dan tidak pernah menyakiti hati sanak keluarganya. [9] Dalam menafsir firman itu. Maka Rasul saw bersabda. Karena itu juga tidak pula segi-segi lahiriah itu akan menghantarkan kita menuju kebahagiaan. Jadi. BUKAN TAUHID NAMA . Mukti Ali. Maka Hadits di atas dapat dirujuk sebagai sebuah ilustrasi tentang apa yang dikatakan Prof. dan di situ nampak bahwa Nabi saw justru lebih peka pada masalah-masalah sosial yang lebih substantif daripada masalah-masalah formal keagamaan semata yang simbolik. "Tempat dia di neraka!. sehingga tidak seharusnya dipandang dalam kerangka sebagai tujuan dalam dirinya sendiri sementara tujuan yang sebenarnya terlupakan. Prinsip ini dipertegas oleh Nabi saw dalam sebuah Hadits mengenai dua wanita: Abu Hurayrah meriwayatkan prinsip penting yang diajarkan Nabi ini. namun reaksi kepada masalah-masalah kepincangan sosial seperti kemiskinan dan kezaliman masih lemah. puasa dan zakat. sebelum kita mengisinya dengan hal-hal yang lebih esensial. tetapi lidahnya selalu menyakiti sanak keluarganya. Maka Nabi saw bersabda. seperti soal pakaian atau tingkah "tidak sopan" dan "tidak bermoral" tertentu. yang memberi peringatan keras kepada orang yang suka pamer kebajikan palsu dan kemunafikan dalam menekuni segi-segi forma keagamaan. namun ia rajin memberi pertolongan kepada orang-orang sengsara.[l0] Dan memang menghadapkan muka ke arah tertentu dalam ibadat hanyalah bentuk formal lahiriah semata dari sebuah amalan. karena ia melalaikan shalat dan puasa. agama kita mengajarkan bahwa formalitas ritual belaka tidaklah cukup sebagai wujud keagamaan yang benar. Yang dimaksud ialah. dan budak-budak (kita harus melakukan apa saja yang dapat kita lakukan untuk memberi atau membeli kemerdekaan mereka). Seseorang yang datang kepada Nabi dan menceritakan tentang seorang wanita yang rajin mengerjakan shalat." Seorang tokoh Islam Indonesia.

Sebetulnya dzikir adalah lebih banyak sikap hati (dzat al-shadr). khususnya kata-kata atau lafal yang berkaitan dengan Tuhan seperti "Allah" dan "La ilaha illa 'l-lah"." [12] -------------------------------------------. yang secara langsung atau tidak. (021) 7507174 Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota Please direct any suggestion to Media Team Artikel Yayasan Paramadina Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota V. melainkan berbilang sebanyak nama yang digunakan. Karena salah paham. dapat dipahami dari berbagai sumber suci dalam al-Qur'an dan Sunnah. Maka turunlah firman Allah. Namun dzikr juga dapat melahirkan gejala formal. selain nama "Allah" untuk Wujud Maha Tinggi. seperti pengucapan atau pembacaan kata-kata atau lafal-lafal tertentu dari perbendaharaan keagamaan. 7507173 Fax. maka bagi Dia adalah nama-nama yang terbaik". dan carilah jalan tengah antara keduanya. nama manapun yang kamu serukan. Selain lafal "Allah" sebagai lafal keagungan (lafzh al-jalalah) karena merupakan nama Wujud Maha Tinggi yang utama juga terdapat lafal-lafal lain yang merupakan nama-nama Wujud Maha Tinggi itu. al-Rahim. seperti al-Rahman. dll. firman Allah itu mengandung makna bahwa .Dzikr atau ingat kepada Tuhan adalah salah satu bentuk ritus yang amat penting dalam agama Islam. jika Dzat Yang Mutlak itu mempunyai nama lain. Dalam pandangan mereka yang keliru itu. 7501983. al-Ghaffar. kaum musyrik Arab mengira bahwa Nabi tidak konsisten dalam mengajarkan paham Ketuhanan Yang Maha Esa. memberi petunjuk kepada Nabi dalam menghadapi mereka: "Katakan (hai Muhammad).35. al-Razzaq. jangan pula kau lirihkan. UA 20-21 Jakarta Selatan Telp. Metro Pondok Indah Pondok Indah Plaza I Kav. MASALAH SIMBOL DAN SIMBOLISME DALAM EKSPRESI KEAGAMAAN (2/2) Oleh Nurcholish Madjid Menurut Sayyid Quthub. berarti Ia tidak Maha Esa. Sebab pada saat itu al-Qur'an mulai banyak menggunakan nama al-Rahman.(bersambung 2/2) Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah Editor: Budhy Munawar-Rachman Penerbit Yayasan Paramadina Jln. dari antara nama-nama terbaik (al-asma al-husna) Tuhan. yang selama ini tidak dikenal orang Arab yang selama ini menggunakan nama Allah (al-Lah). "Serulah olehmu sekalian (nama) Allah atau serulah olehmu sekalian (nama) al-Rahman. Dan janganlah engkau (Muhammad) mengeraskan shalatmu. Dalam Kitab Suci al-Qur'an terdapat sebuah firman yang isinya petunjuk kepada Nabi saw menghadapi orang-orang musyrik Arab yang menolak adanya nama lain. (021) 7501969.

"Tambahilah aku (ilmu)". Kalau seandainya nama itu sama dengan yang dinamai. yaitu Dzat (Esensi) Wujud Yang Maha Mutlak itu. melainkan kepada sesuatu yang dinamai. Jadi yang bersifat Maha Esa itu bukanlah Nama-Nya. sebab Dia mempunyai banyak nama." [15] . Ketika Abu Jahal. dan nama (ism) tidaklah sama dengan yang dinamai (al-musamma).manusia dibenarkan memanggil atau menyeru dan menamakan Tuhan mereka sekehendak mereka sesuai dengan nama-nama-Nya yang paling baik (al-asma al-husna). wahai Hisyam?" Hisyam mengatakan lagi. tokoh musyrik Makkah yang sangat memusuhi kaum beriman. maka ia sungguh telah musyrik dan menyembah dua hal. Maka barangsiapa menyembah nama tanpa makna. ia menjelaskan nama "Allah" dan bagaimana menyembah-Nya secara benar sebagai jawaban atas pertanyaan Hisyam: "Allah" (kadang-kadang dieja. Barangsiapa menyembah nama dan makna (sekaligus). "Al-Lah") berasal "ilah" dan "ilah" mengandung makna "ma'luh'. dan dalam bersujud beliau mengucapkan: "Ya Allah. Maka Tauhid yang benar ialah "Tawhid al-Dzat" bukan "Tawhid al-Ism" (Tauhid Esensi. Ja'far al-Shadiq menyambung. dan sekarang ia sendiri menyembah Tuhan yang lain lagi. ya Rahman". sedangkan nama-nama itu sendiri seluruhnya tidaklah sama dengan Dia . al-Baidlawi dan al-Nasafi menegaskan bahwa kata ganti nama "Dia" dalam kalimat "maka bagi Dia adalah nama-nama yang terbaik" dalam ayat itu mengacu tidak kepada nama "Allah" atau "al-Rahman". Zamakhsyari. ia sungguh telah kafir dan tidak menyembah apa-apa. dan keduanya menunjuk kepada Hakikat. "Engkau (Muhammad) jarang menyebut nama al-Rahman. melainkan Dzat atau Esensi-Nya. Tetapi Allah Yang Maha Mulia dan Maha Agung adalah suatu Makna (Esensi) yang diacu oleh nama-nama itu. Dzat Yang Maha Esa itulah yang bernama "Allah" dan atau "al-Rahman" serta nama-nama terbaik lainnya. "Bagi Allah Yang Maha Mulia dan Maha Agung ada sembilanpuluh sembilan nama. Dan barangsiapa menyembah makna tanpa nama maka itulah Tawhid. baik untuk kalangan Ahl al-Sunnah maupun Syi'ah." Maka turunnya ayat itu tidak lain ialah untuk menegaskan bahwa kedua nama itu sama saja. ia berkata: "Dia (Muhammad) melarang kita menyembah dua Tuhan. Engkau mengerti. tafsir-tafsir klasik menuturkan adanya Hadits dari Ibn Abbas. maka setiap nama itu adalah suatu Tuhan. selain nama "Allah". Firman itu juga merupakan sanggahan terhadap kaum Jahiliah yang mengingkari nama "al-Rahman". [l4] Pandangan Ketuhanan yang amat mendasar ini diterangkan dengan jelas sekali oleh Ja'far al-Shadiq. melainkan kepada esensi. Jadi. Sebab suatu nama tidaklah diberikan kepada nama yang lain. mendengar tentang ucapan Nabi dalam sujud itu.. bukannya "Allah" bernama "al -Rahman" atau "al-Rahim". tetapi kepada suatu dzat atau esensi. (yang disembah). guru dari para imam dan tokoh keagamaan besar dalam sejarah Islam.. [l3] Berkenaan dengan alasan turunnya firman itu. padahal Allah banyak menggunakan nama itu dalam Taurat. Dzat atau Wujud yang satu dan sama. Dalam sebuah penuturan. bukan Tauhid Nama)." Ada juga penuturan bahwa ayat itu turun kepada Nabi karena kaum Ahl al-Kitab pernah mengatakan kepada beliau. bahwa di suatu malam nabi beribadat. Karena itu al-Baidlawi menegaskan bahwa pahan Tauhid bukanlah ditujukan kepada nama.

namun tetap ada kesadaran bahwa suatu simbol hanya mempunyai nilai instrumental. dan yang terdinding dari dugaan dan benih pikiran. menerangkan. Bersamaan dengan penggunaan simbol-simbol diperlukan adanya kesadaran tentang hal-hal yang lebih substantif. yang Hakikatnya tidak dibatasi oleh nama-nama-Nya.. CATATAN . muspra dan malah berbahaya. Orang Arab mengatakan "Seseorang tercekam (aliha) jika ia merasa bingung (tahayyara) atas sesuatu yang tidak dapat dipahaminya. sambil melupakan Makna dan Esensi di balik Nama itu. dan orang itu terpukau (walaha) jika ia merasa takut (fazi'a) kepada sesuatu yang ia takuti atau kuatiri. antara nama (ism) dan yang dinamakan (musamma) tidak identik. seperti ditegaskan oleh Ja'far al-Shadiq yang dikutip di atas. Nama Tuhan pun. [16] Dan Muhammad al-Baqir ra. Jadi. mewariskan penjelasan yang amat berharga kepada kita Dia mengatakan. jangankan sekedar simbol dan ritus.'assalamu'alaikum . menyembah Tuhan sebagai maknanya berarti menyembah Wujud yang tak terjangkau dan tak terhingga. Maka agama ialah pendekatan diri kepada Allah dan perbuatan baik kepada sesama manusia. Artinya. yang justru mempunyai nilai intrinsik.. dan tidak sebanding dengan apapun. dan bukan menyembah Nama seperti yang diperingatkan dengan keras sebagai suatu bentuk kemusyrikan oleh Ja'far al-Shadiq itu. 'Ali Ibn Abi Thalib ra.Kalau kita harus menyembah Makna atau Esensi. tidak benar untuk dijadikan tujuan penyembahan. Justru segi ini harus ditumbuhkan lebih kuat dalam masyarakat. betapapun nama-nama itu nama-nama utama (al-Asma al-Husna). Jadi "al-Lah" ialah Dia yang tertutup dari indera makhluk.") pada penutupannya. dan tidak intrinsik (dalam arti tidak menjadi tujuan dalam dirinya sendiri. Maka sebenarnya yang boleh dikatakan "ideal" dalam kehidupan keagamaan ialah jika ada keseimbangan antara simbolisasi dan substansiasi. Allah adalah Wujud dan tertutup dari kemampuan penglihatan. sebagaimana keduanya itu dipesankan kepada kita melalui shalat kita. melainkan menuju kepada suatu nilai yang tinggi). Berkenaan dengan ini. betapapun. "Allah" maknanya "Yang Disembah" yang agar makhluk (aliha. jika terdapat kewajaran dalam penggunaan simbol-simbol sedemikian rupa sehingga agama memiliki daya cekam kepada masyarakat luas (umum). tidak mampu atau bingung) mengetahui Esensi-Nya (Mahiyyah) dan memahami Kualitas-Nya (Kaifiyyah). yang mengenai Dia itu makhluk merasa tercekam (ya'lahu) dan dicekam (yu'lahu) oleh-Nya. Sebab. "Allah" artinya "Yang Disembah" (al-Ma'bud). berarti kita harus menunjukkan penyembahan kita kepada Dia yang menurut al-Qur'an memang tidak tergambarkan. dalam makna takbir (ucapan "Allah-u Akbar") pada pembukaan dan dalam makna taslim (ucapan. [17] Jadi. namun simbol tanpa makna adalah absurd. Agama tidak mungkin tanpa simbolisasi. menurut Hadits-hadits di atas.

tt.. Yang diterjemahkan dengan "lupa" atau "lalai" dalam firman itu ialah kata-kata yang dalam bahasa aslinya (Arab) "sahun". Dan Muhammad Asad. A. tidak dikutuk. [tulisan Arab] "ma min syay-in fi 'il-mizan-i atsqal-u min husn-i 'l-khulaq-i. Yaitu sabda Nabi saw. tidak peduli kepada orang lain sekitar. Dalam maknanya yang lebih luas. khususnya mereka yang memerlukan pertolongan. Ibn Taymiyyah. Apalagi jika lebih buruk! 3. 4. Sebab lupa dan alpa serupa itu justru dimaafkan oleh Allah. Kata-kata Arab "al-ma'un" yang merupakan ujung surat dan menjadi nama suratnya dijelaskan oleh Muhammad asad.("Tiada sesuatu apapun yang dalam timbangan (nilainya) lebih berat daripada keluhuran budi"). dalam The Message of the Qur'an. menerjemahkannya dalam bahasa Inggeris dengan "feels no urge" (tidak merasakan adanya dorongan).1. karena baginya perkataan "yahudldlu" mempunyai makna "mendorong diri sendiri" (sebelum mendorong orang lain). juga perbuatan kebaikan kala-kala berupa pemberian bantuan kepada sesama manusia dalam hal-hal kecil tersebut. 46). Perkataan "yahudldlu" yang diterjemahkan dengan "berjuang" di sini mempunyai asal arti "menganjurkan dengan kuat".. Maktabat al-Riyadl al-Haditsah. Jadi. hal. sehingga mereka yang menjalankan shalat itu dengan mereka yang tidak menjalankannya sama saja. al Ma'un/107:1-7. berdasarkan berbagai tafsir klasik. sebagai "comprises the small items needed for one's daily use. Yaitu sabda nabi yang amat terkenal." Departemen Agama menerjemahkan dengan "menganjurkan" sedangkan Mahmud Yunus dalam tafsir Qur'an Karim menggunakan perkataan "menyuruh". 4 jilid. as well as the occasional acts of kindness consisting in helping out one's fellow-men with such item. menerjemahkan perkataan itu dengan "menggemarkan. hal. In its wider sense.. QS. Jilid 3. yakni usaha mengangkat dan menolong nasib kaum miskin." 5. Yang dimaksud dalam firman ini bukanlah mereka itu dikutuk Allah karena lupa mengerjakan shalat yang disebabkan. [tulisan Arab] "Innama bu'its-tu li-utammim-a makarim-a 'l-akhlaq-iSesungguhnya aku diutus hanyalah untuk menyempurnakan berbagai keluhuran budi. it denotes "aid" or "assistance" in any difficulty" (. dalam arti bahwa shalat mereka tidak mempunyai pengarah apa-apa kepada pendidikan akhlaknya. 2. terlalu sibuk bekerja. Hassan dalam Al-Furqan. kata-kata "al-ma'un" mencakup hal-hal kecil yang diperlukan orang dalam penggunaan sehari-hari. perkataan "yahudldlu" menunjuk pada adanya komitmen batin yang tinggi. Tapi yang dimaksud dalam firman itu ialah mereka yang menjalankan shalat itu lupa akan shalat mereka sendiri. misalnya. Riyadl. 979. Berarti bahwa indikasi ketulusan dan kesejatian dalam beragama ialah adanya komitmen sosial yang tinggi dan mendalam kepada orang bersangkutan. . Minhaj al-Sunnah. Jadi bergaya hidup egoistis. kata-kata itu berarti "bantuan" atau "pertolongan" dalam setiap kesulitan) -The Message of the Qur'an. (Lihat.

7507173 Fax. 93: 12. 14. Khalil A. The Holy Qur'an. Metro Pondok Indah Pondok Indah Plaza I Kav. Madarik al-Tanzil wa Haqaiq al-Ta'wil oleh al-Nasafi. Muhammad Asad. hal. dll. 11. al-Kasysyaf al-Zamaksyari. 13.. AlUshuliyyat al-Mu'ashirah: Asbabuha wa Mazhahiruha (Paris: Dar Am Alfayn. 15. Jil.32. QS. 16. Sayyid Quthub. [tulisan Arab]. Yusuf Ali. 69. 5.'Ali 'Imran 3:93. Yaitu sebuah penuturan atau riwayat yang berasal dari Muhammad al-Baqir.a. lihat tafsir ayat bersangkutan dalam kitab-kitab tafsir klasik: Anwar al-Tanzil wa Asrar al-Ta'wil oleh al-Baidlawi. al-Baqarah 2:177. dalam Integrismes. [tulisan Arab]. 8. 36. A. -------------------------------------------Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah Editor: Budhy Munawar-Rachman Penerbit Yayasan Paramadina Jln. 7. Translation and Commentery (Jeddah: Dar al-Qiblah 1403 H). [tulisan Arab]. Fi Zhilal al-Qur'an. hal. Untuk pembahasan ini. UA 20-21 Jakarta Selatan Telp. 17. Khalil. 10. menurut sebuah penuturan. 73. Yaitu keterangan dari Ali ibn Abi Thalib r. QS. Lengkapnya. riwayat itu dalam bahasa aslinya (Arab) adalah demikian. Juz 15. 1992). Dikutip oleh Roger Garaudy. (021) 7507174 Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota Please direct any suggestion to Media Team Artikel Yayasan Paramadina Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota V.6. al-Isra'/17:110. [tulisan Arab]. hal. terjemah bahasa Arab oleh Dr. 9. hal. QS. (021) 7501969. ZAKAT KONSEP HARTA YANG BERSIH . 7501983. Tafsir al-Khazin oleh al-Baghdadi. Sebuah Hadits otentik. "Aktsar-u ma yudkhil-u 'l-jannat-a taqwa 'l-Lah-i wa husn-u 'l-khuluq-i "Yang paling banyak memasukan orang ke dalam surga ialah taqwa kepada Allah dan keluhuran budi".

Sementara untuk manusia yang luar biasa. Ma'qul artinya bisa dicerna logika penalaran. kata-kata zakat diyakini sebagai tokoh imam mahdi atau ratu adil yang meski pun sangat sulit orang mencernanya. bisa meng-iblis tapi juga bisa menjadi laiknya malaikat. juga haji) bukan merupakan perkara mustahil. bahkan keadilan sekaligus. kehebatan dan mukjizatnya diperlihatkan juga. logika kesejarahan hadir dalam ujud hal yang bersifat empirik. Logika pemikiran hadir dalam ujud rnaqal yang bersifat teoritis. Karena Islam datang sebagai petunjuk untuk manusia dan diterapkan oleh manusia dalam kapasitas kodratinya yang wajar-wajar saja. Tanpa diduga-duga orang ini tiba-tiba tersadarkan bahwa di alam dunia ini. tentang "pemerataaan" atau lebih mendasar lagi soal "keadilan sosial. suatu saat nanti.Oleh Masdar F. dengan segala ajarannya. Ini berarti bahwa yang ma'qul belum tentu matmul." orang bisa saja mengatakan bahwa semua rukun Islam yang lima cukup ma'qul untuk memecahkannya. Misalnya karena kekhusyukannya dalam menunaikan shalat. Suatu ajaran untuk bisa disebut ma'mul. Mas'udi Bicara soal zakat dikaitkan dengan pemerataan ada kesan memaksakan diri. tapi yang ma'mul secara implisit haruslah ma'qul. magic. kekuatan maupun kelemahan. Islam tak saja harus ma'qul (sensible). Islam bukanlah sejenis halte tempat orang menunggu dengan kepasifan. yang tersimpan dalam kata-kata "zakat" itu sendiri.Islam tak punya urusan. Berbeda dengan logika teoritis yang bersifat abstrak dan subyektif. Masalahnya. mangada-ada!. mengkaitkan soal pemerataan. bisa baik bisa jahat. Tapi. shalat. Tapi adanya kekuatan ghaib. logika empiris bersifat konkrit dan obyektif. lambat atau cepat. bagaimanapun hal ini memang tak mustahil. tapi sekaligus juga ma'mul (applicable). Kembali pada pokok soal. puasa. Seolah-olah yang penting bukan kesepadanan konsep zakat dengan pemerataan. Sebagai agama yang datang untuk kehidupan manusia dalam ukuran yang normal atau yang wajar. Ajaib! Tapi. di mana akan munculnya momen-momen ajaib yang lahir atas campur tangan langsung Tuhan seperti digambarkan di atas. Sesungguhnyalah. Bahkan mengkaitkannya dengan rukun Islam yang lain (syahadat. atau hanya pas-pasan saja. Tapi dari semua yang ma'qul itu. seseorang boleh tak punya apa-apa. anehnya orang tak kunjung kapok menjadikannya sebagai tema. yang penting adalah keterpautan hati secara terus menerus untuk menyebut nama-nama Nya. Yakni manusia sebagai makhluk Tuhan yang memiliki segala kemungkinan dan potensi kebaikan maupun keburukan. dikontrol dan bisa diukur. sedang ma'mul artinya bisa dicerna logika kesejarahan. Ibarat figur. atau hanya memiliki potensi buruk --kalau saja yang demikian itu ada dalam kenyataan Islam-. orang ini terbuka tabir kerohaniannya. Manusia yang bisa salah bisa benar. seseorang yang kebetulan kaya raya tiba-tiba terpanggil menginfakkan seluruh hartanya untuk menghidupi orang-orang miskin. harus bisa dijabarkan dalam kerangka kerja sistem yang bisa dirancang. dengan konsep zakat bukan merupakan hal yang tak masuk akal. . tapi dalam hati tetap bercokol keyakinan. manusia yang dengan hak prerogatif Tuhan hanya memiliki kemungkinan baik.

Lembaga itu. Maka konsep dasar zakat sebagai mekanisme redistribusi kekayaan (materi) adalah pengalihan sebagian aset materi yang dimiliki kalangan kaya (yang memiliki lebih dari yang diperlukan) untuk kemudian didistribusikan pada mereka yang tak punya (fakir miskin dan sejenisnya) dan kepentingan bersama. atau ditekan serendah-rendahnya. Seyogyanyalah pengalihan itu dilaksanakan kalangan berada atas kesadaran mereka sendiri. rata sedikitnya atau banyaknya. Lebih dari sekedar meletakkan soal penguasaan sumber daya materi sebagai subyeknya. yakni nafsu gila harta (keduniaan) tadi. zakat --berbeda dengan haji-. lembaga negara yang secara moral hanya bisa dijustified sepanjang berfungsi sebagai racun penawar terhadap kerakusan duniawi masyarakat manusia (yang kuat). siapa yang sebenarnya paling .bahkan meletakkannya sebagai sesuatu yang harus diatur sedemikian rupa agar kemungkinannya untuk menumpuk hanya pada kalangan tertentu (aghniya) bisa dihindarkan. Tapi agar tak terjadi suasana ketimpangan. Ia dengan segala perangkat lunaknya (seperti sistem hukum dan perundang-undangan) maupun yang keras (seperti satelit pengintai dan senjata rudalnya) seringkali menjadi alat bagi kepentingan "penyakit keduniaan" yang seharusnya dinetralisir oleh keberadaannya. ketimpangan di bidang yang lain (politik dan budaya) hampir pasti selalu saja membuntuti. atau keadilan sosial. dalam sejarah politik kenegaraan modern. Syahdan. Tapi karena manusia mengidap nafsu "cinta harta" (hub-u 'l-dunya).satu-satunya yang sekaligus ma'mul adalah rukun yang ketiga. Juga ajaran Karl Marx. Tapi persoalannya. setelah pajak yang tinggi itu ditarik dari masyarakat wajib pajak. maka kehadiran lembaga yang memiliki kewenangan memaksa untuk melakukan pengalihan itu pun menjadi tak terelakkan. yakni zakat. Benar bahwa haji pun bersentuhan dengan soal materi. tapi hanya sebagai sarana yang tetap ada di luar zat-Nya. Sasarannya bukan agar semua orang memiliki bagian secara sama rata. 18 abad kemudian secara eksplisit mengidealkan kepunahannya. yang titik berangkatnya adalah pada pemerataan akses sumber daya materi. yang dalam realitas sosiologis memuncak pada apa yang dikenal dengan negara (state). Bahkan dengan tarif begitu tinggi yang disebut dengan pajak progresif. Sebab bermula dari ketimpangan dalam hal materi (ekonomi). Tapi lembaga anomali tersebut perlu justru untuk menjadi penawar bagi anomali lain yang ada pada diri manusia. konsep pajak sedikit banyak sudah mulai diberi fungsi redistribusi kekayaan seperti tersebut di atas. zakat adalah satu-satunya rukun Islam yang berkaitan langsung dengan persoalan materi itu. dimana sebagian yang lain hampir-hampir tak memiliki sama sekali. dari sudut moral memang merupakan anomali. apakah memang kemudian ditasarufkan untuk mengangkat kehidupan mereka yang tak punya dan untuk kemaslahatan semua pihak? Inilah persoalan dasar. Tapi disinilah persoalannya. Karena seperti halnya tema pemerataan. Zaman idaman baginya adalah zaman ketika lembaga negara telah lenyap berikut seluruh akar-akarnya. Maka bisa dimengerti apabila pernah muncul suatu obsesi dalam sejarah pemikiran manusia yang mengimpikan suatu zaman dimana apa yang disebut lembaga negara itu tak usah ada lagi. Ajaran Nabi Isa secara implisit ingin sekali mengingkari keberadaannya. dalam sejarahnya justru cenderung memainkan peran terbalik.

independensi lembaga perwakilan rakyat dengan penguasa (baca: eksekutif) memang cukup kuat. Berbeda dengan di Timur. yaitu rakyat keseluruhan yang dimulai dari lapisannya yang paling jelata. Penjelasannya sederhana. Apabila negara di zaman modern sudah mulai melibatkan rakyat melalui wakil-wakilnya dalam menentukan penggunaan uang pajaknya melalui undang-undang. negara monarki absolut memandang kewenangan pengalokasian uang pajak (upeti/tax) sepenuhnya di tangan sang raja saja. Hal tersebut dapat dilihat dengan jelas. seperti yang terjadi di banyak bumi belahan Timur. sudah berada di tangan rakyat. legislatif maupun judikatif). baik secara keturunan maupun SK jabatan seperti di Timur). masih jauh dari dapat disebut memiliki negara. tapi baru yang ada di lapisan menengah dan terutama lapisan atas. sama sekali tak berarti. dalam alokasi penggunaan dana pajak dalam APBN mereka. Di negara-negara Barat yang liberal-kapitalistik. di Barat negara memang sudah tak lagi sepenuhuya milik penguasa (kaum bangsawan. Lembaga Perwakilan Rakyat di negara-negara Timur yang paternalistik. dengan peranan lembaga perwakilan rakyat dalam tata kenegaraan modern belum menjadi jaminan bahwa uang pajak akan ditasarufkan dengan prioritas utama bagi pembebasan rakyat lemah. . keberadaan lembaga perwakilan rakyat umumnya hanya merupakan permainan politik kalangan elite penguasa. atau oleh hampir semua negara di atas bumi ini? Pertanyaan tersebut mengena bukan saja terhadap lembaga negara yang dikelola secara otoriter. Memang lebih gila lagi. secara lahir batin. atau semi otoriter. Bahwa di negara-negara Eropa dan Amerika yang pendapatan perkapitanya telah mencapai angka 8 ribu sampai 11 ribu dollar pertahun masih banyak warga negara yang tuna wisma (homeless) adalah bukti yang sangat cukup bahwa rakyat jelata di sana memang belum bisa disebut ikut memiliki negara. yang justru merupakan pemilik utama sebutan "rakyat" kapan saja ia diucapkan. Mereka yang ada di lapisan bawah. seperti Amerika dan negara-negara Barat. Berapa anggaran belanja yang diperuntukkan bagi pembebasan rakyat (jelata). Apakah melalui sektor pertahanan dalam pengertian yang luas dengan dalih demi kepentingan nasional mereka. tapi juga terhadap negara-negara lain yang mengaku berjalan secara demokratis. Tapi ya itu tadi. di negara-negara Timur yang paternalistik. Di Barat negara dengan seluruh soko gurunya (eksekutif. pada hakekatnya adalah lembaga Perwakilan Penguasa. Kesadaran dan perilaku mereka tetaplah untuk mengelabui rakyat bagi kepentingan para penguasa yang mengatur keberadaan mereka. lebih-lebih rakyat pada lapisannya yang paling jelata. atau melalui sektor pembangunan sarana-sarana mana yang diperuntukkan utamanya bagi kalangan masyarakat kelas menengah ke atas. misalnya. aristokrat. Tapi hal itu tetap bukan (belum?) dalam rangka penegakkan kontrol atas lembaga negara bagi kepentingan rakyat.diuntungkan oleh pranata pajak yang ditangani lembaga negara. Lembaga Perwakilan Rakyat hanyalah sekedar "nama dan proforma". Bagian yang paling besar dari dana itu diperuntukkan untuk melindungi atau melayani kepentingan kelas menengah ke atas. kemudian menyusul bidang-bidang kehidupan lain yang lebih sublim. adalah negara-negara monarki absolut zaman dulu. Tapi juga belum berarti telah kembali pada pemiliknya yang sah. Dimulai dari pembebasan di bidang ekonomi. politik dan budaya.

Tapi fakta bahwa dalam kerakusannya mereka bisa diikat komitmennya untuk menyisihkan sebagian dari kekayaannya (berupa pajak) adalah bukti bahwa persoalan pokok tak lagi sepenuhnya di tangan mereka. jika dilihat sedikit lebih kritis. mereka siap menawarkan bantuannya. Lebih dari itu. seperti disebutkan di atas adalah kepentingan kelompok yang mengontrol roda kenegaraan atau pemerintahan. Hanya masalahnya. lebih-lebih kenegaraan modern. Dan kepentingan mereka (negara-negara Barat). yakni kaum kapitalis dan tentu saja para elite politik sebagai pengawal kepentingan-kepentingannya. seolah negara-negara liberal kapitalis Barat itu telah menempatkan dirinya di bawah kepentingan rakyat sejati. ternyata digelapkan oleh negara sehingga tak sampai ke alamat (mustahiq) yang semestinya. Memang di sana bukan tak ada masalah sama sekali. selaku cukongnya. sistem kenegaraan/pemerintahan yang liberal-kapitalistik memang merupakan pilihan sejarah terbaik dan terakhir. So. Drama itu pementasannya di masyarakat bangsa negara-negara Timur yang umumnya miskin dan lemah. Padahal. yakni kelompok orang-orang yang secara politik mengendalikan jalannya pemerintahan itu sendiri dan kalangan para kaya kapitalis. bahkan dalam tarif yang begitu tinggi. sekurang-kurangnya dalam tingkat verbal. negara-negara Barat segera menunjukkan kedermawanannya (charity). diputarkan kembali untuk melipat gandakan kekuatan mereka yang sudah kuat. dana pajak yang dikenakan atas orang-orang kaya dibelokkan pentasarufannya untuk kepentingan para penguasa untuk mempertahankan kekuasaannya.Memang ada drama yang menarik. what?! Menuruti obsesi Marx bahwa lembaga negara mesti dienyahkan . bahwa beban yang ditimpakan kepada mereka yang punya. Sampai titik ini sebenarnya telah jelas bagi kita bahwa. dana pajak yang semestinya diprioritaskan pentasarufannya untuk memperkuat yang lemah. Akibat permainan drama kolosal ini. Dengan kata lain persoalan pokok dalam topik redistribusi kekayaan (asset) untuk pemerataan. jelas merupakan persoalan yang tetap serius bagi ide pemerataan dan keadilan. Dengan pranata pajaknya ide zakat (bahwa yang kuat harus menanggung beban) sudah banyak dilaksanakan oleh hampir semua negara di jaman ini. Karena dia (lembaga negara)-lah yang berbuat selingkuh. kaum lemah dan melarat. Baik yang berupa hibah (grant) maupun yang berupa pinjaman (loan). dan bisa mengelabui banyak orang. dan kemudian keadilan sosial dalam tatarannya yang lebih luas. Di dunia Timur yang feodalistik. sama sekali bukan demi kepentingan rakyat dan bangsa negara-negara Timur. akan segera tampak pada kita bahwa apa yang diperbuat negara-negara Barat tetaplah demi kepentingan mereka sendiri. banyak orang terhegemoni untuk meyakini bahwa Barat memang teladan dunia. Setiap kali bencana dan musibah terjadi di masyarakat dunia Timur. apabila negara-negara Timur yang miskin itu memerlukan perbaikan ekonomi. Nafsu kerakusan mereka untuk mengakumulasikan kekayaan lebih banyak dan lebih banyak lagi. Persoalan pokok itu kini jelas terutama ada di pihak apa yang kita sebut lembaga negara. ide dasar dari zakat bukan sesuatu yang sama sekali asing dalam struktur pemikiran kenegaraan. yakni beban pajak. Sementara di Barat yang liberal-kapitalistik. agaknya tak lagi terutama terletak pada kalangan kaya.

(021) 7501969. Seperti halnya badan (kecil). Dari sudut konsepsi zakat. (021) 7507174 Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota Please direct any suggestion to Media Team Konsep dasar dalam al qur. Tapi dengan bercokolnya nafsu-nafsu itu pada badan. kedudukan negara atau kekuasaan pemerintahan adalah amil yang harus melayani kepentingan segenap rakyat. dengan sadar telah membangun lembaga itu. Pekerjaan ini berat dan memakan waktu. tak lebih hanyalah mitos belaka. Memang untuk menegakkan keadilan sosial dalam semangat dan kerangka zakat. Tapi inilah kuncinya. melainkan bagi kepentingan seluruh rakyat yang ada dalam otoritasnya." Demikianlah Muhammad Rasulullah sebagai teladan umat manusia tak perlu menyatakan penolakan terhadap keberadaan lembaga negara. apalagi keadilan. lembaga kenegaraan itu beliau bangun dengan kewaspadaan penuh. negara sebagai badan besar pun mengidap nafsu-nafsu (interests) negatif duniawi yang selalu cenderung memperalat dirinya. maka pengkaitan ajaran Zakat dengan cita pemerataan. Bahkan beliau sendiri dengan komunitasnya. dengan meyakinkan masyarakat akan pentingnya kontrol sosial (amar ma'ruf nahi munkar) secara terus menerus. terhadap lembaga itu rasa-rasanya tak realistik. Negara. Mengingkari lembaga negara untuk semangat (ruh) kolektivitas manusia hukumnya sama belaka dengan mengingkari badan bagi ruh individualitas manusia. apalagi dalam pengertian yang lebih luas sebagai lembaga permufakatan kolektif. 7501983. -------------------------------------------Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah Editor: Budhy Munawar-Rachman Penerbit Yayasan Paramadina Jln.yang pernah menyarankan jalan keluar agar badan itu dimusnahkan saja daripada diperalat oleh nafsu-nafsu negatif yang melekat padanya Yang paling sehat dan fitri (Islami) tentulah pendirian yang mengatakan. agar keberadaan lembaga negara itu tetap sebagai alat. 7507173 Fax. kalau pun ada-. harus ditransformasikan terlebih dahulu.atau pengingkaran Isa as. dengan membebaskan kemaslahatan (keadilan dan kesejahteraan) bagi semuanya. Metro Pondok Indah Pondok Indah Plaza I Kav." Tapi tanpa keberanian moral dan intelektual untuk melakukan perubahan itu. bukan bagi kepentingan penguasa atau kalangan kaya. ada pekerjaan rumah (PR) yang harus diselesaikan lebih dahulu. "Biarlah badan itu tetap ada dan tumbuh dengan kewajarannya. Tapi dengan pengawasan atau kontrol yang terus menerus jangan sampai jatuh dan diperalat oleh nafsu-nafsu jahat yang mengitarinya. Sebagian orang mungkin merasa lebih aman dalam dekapan dogma lama ketimbang harus berspekulasi dengan pamahaman ajaran yang "baru. tak seorang pun --kecuali langka. betapa pun konyolnya tidaklah mungkin dihindari. UA 20-21 Jakarta Selatan Telp. Konsepsi tentang ajaran zakat (dan pada akhirnya tentang bangunan fiqh secara keseluruhan) yang sudah terlanjur mendogma di kalangan umat selama lebih dari sepuluh abad.an( rasif) .

mengenal atau pernah diberi pelajaran ilmu tauhid. Melalui kategori-kategori yang dirumuskan sebagai hukum akal itu. Sebab. mustahil dan harus. dari yang sangat tradisional hingga yang termasuk modern seperti buku Risalah Tawhid karya Muhammad Abduh. menulis buku al-fiqh-u 'l-akbar yang isinya bukan tentang ilmu fiqih. namun seringkali diperluas mencakup keseluruhan bidang agama. apalagi jika istilah tersebut bisa memperkaya khazanah dan membantu mensistematisasikan pemahaman kita tentang Islam.5. Maka kita pun mengetahui sifat-sifat Tuhan dan Nabi-nabi. Boleh jadi. Masalah-masalah lain seperti kepercayaan tentang . pertama-tama kita diperkenalkan dengan apa yang disebut sebagai "hukum akal. tapi justru tentang aqidah yang menjadi obyek bahasan ilmu kalam atau tauhid. Bapak ilmu fiqih. Imam Abu Hanifah. Istilah fiqih di sini bukan dimaksudkan ilmu fiqih sebagaimana kita pahami selama ini. Kata teologi sebagaimana dijelaskan dalam Encyclopaedia of Religion and Religions berarti "ilmu yang membicarakan tentang Tuhan dan hubungan-Nya dengan alam semesta. yakni: wajib. Pijakan tulisan ini tentang teologi al-Qur'an. melainkan istilah fiqih seperti yang pernah digunakan sebelum ilmu fiqih lahir. yaitu dari khazanah dan tradisi Gereja Kristiani." Hal ini bisa kita baca dalam buku-buku ilmu tauhid. sedangkan yang kedua meyangkut bidang furu'iyah (detail atau cabang). hanya ingin dikatakan bahwa pemakaian istilah teologi mempunyai alasan cukup kuat. bagaimana sebaiknya kita memahami dan kemudian menghayati ide tauhid itu dalam kehidupan kita sebagai muslim? Dalam pengalaman kita --sekurang-kurangnya sebagian dari kita-. Biasanya. Sebab pemungutan suatu istilah dari khazanah dan tradisi agama lain tidaklah harus dipandang sebagai sesuatu yang negatif." Dalam pengertian ini agaknya perkataan teologi lebih tepat dipadankan dengan istilah fiqih. kita diajak memahami tentang konsep ketuhanan dan kenabian. keduanya baik ilmu kalam atau ilmu tauhid maupun ilmu fiqih pada dasarnya adalah fiqih atau pemahaman yang tersistematisasikan. Akan tetapi perjalanan sejarah dan tradisi keilmuan Islam telah menyingkirkan pengertian fiqih sebagaimana dipergunakan Imam Abu Hanifah. Ia istilah yang diambil dari agama lain. KONSEP-KONSEP TEOLOGIS oleh Djohan Effendi Perkataan teologi tidak berasal dari khazanah dan tradisi agama Islam. Kita tentu sepakat bahwa ide sentral dalam teologi al-Qur'an adalah ide tauhid. dalam mempelajari ilmu tersebut. Yang pertama. ilmu fiqih seperti yang berkembang sekarang ini dalam kerangka pemikiran Imam Abu Hanifah adalah al-fiqh-u 'l-ashghar.Artikel Yayasan Paramadina Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota II. dan bukan hanya dengan ilmu kalam atau ilmu tauhid. sebab ia membantu kita memahami Islam secara lebih utuh dan lebih terpadu. Dengan menyinggung masalah ini. misalnya. Hal ini tidaklah dimaksudkan untuk menolak pemakaian kata teologi itu. baik yang dikategorikan sebagai sifat-sifat yang wajib. sifat-sifat yang mustahil maupun sifat-sifat yang harus. Pertanyaan yang perlu kita munculkan. menyangkut bidang ushuliyah (tentang yang prinsip atau yang pokok).

ada baiknya bila kita memahami apa-apa yang oleh al-Qur'an dianggap sebagai syirik atau kemusyrikan. pertama. seperti dilakukan para penganut agama-agama "pagan. dengan problematika kemanusiaan. Selain berhala al-Qur'an juga mengemukakan hal-hal lain yang bisa dijadikan obyek sesembahan selain Tuhan. atau penyembahan makhluk halus atau manusia yang dipertuhan.malaikat." Dalam membahas sifat dua puluh itu. Teologi semacam itu adalah teologi yang steril dan mandul. 17:40 dan 37:49). 4:171. ta'alluq tanjizi hadits. kitab-kitab wahyu. benda-benda langit atau benda-benda mati lainnya. Kalau kita mendengar perkataan syirik atau kemusyrikan yang segera terbayang dalam angan-angan kita biasanya penyembahan berhala. dan kedua. Juga dikemukakan pembahasan tentang kaitan atau ta'alluq sifat-sifat Tuhan dengan alam ini. Berkenaan dengan penyembahan berhala. adalah kelanjutan atau pelengkap dari kepercayaan terhadap Tuhan dan Kenabian tersebut. 41:37) atau benda-benda mati lainnya (QS. Masalahnya sangat jelas dan karena itu menghindarinya pun sangat mudah. Juga disinggung adanya penyembahan makhluk halus seperti jin (QS. ma'ani dan sifat ma'nawiyah. 19:82-92. ta'alluq bi 'l-quwwah. muncul berbagai konsep seperti sifat nafsiyah. 7:138. 16:57." Dan memang al-Qur'an sendiri menyinggung bahkan mengecam orang-orang yang menjadikan berhala sebagai ilah atau sesembahan (QS. BENTUK-BENTUK KEMUSYRIKAN Dalam memahami ide tauhid. Lebih-lebih kalau kita memasuki pembahasan yang lebih rumit. 6:74. yang selama ini dikenal sebagai "sifat dua puluh. 5:116. bulan dan bintang (QS. misalnya penyembahan benda-benda langit seperti matahari. Salbiyah. Dengan mengemukakan hal itu ingin diturunkkan betapa jauhnya teologi yang dibahas dalam buku-buku ilmu tauhid dengan dunia praktis. Kedua ciri utama itu wujud dalam berbagai bentuk manifestasi. Ia tidak melahirkan innerforce (kekuatan batin). bukanlah persoalan yang masih memerlukan perhatian lebih banyak. terutama ketika membicarakan sifat-sifat Tuhan. 21:52). Kebanyakan dari kita tentu tidak akrab dengan istilah-istilah atau konsep -konsep tersebut. Akan tetapi masalah . ta'alluq ta'tsir. 6:101) atau tokoh-tokoh yang dipertuhan atau dianggap mempunyai unsur-unsur ketuhanan (QS. 4:117). Teologi semacam itu tidaklah membuahkan elan vital (gairah hidup). moral maupun spiritual. Al-Qur'an mengemukakan dua ciri utama dari kemusyrikan. yakni. ta'allaq tanjizi qadim. 6:102. hari akhirat maupun qadla dan qadar. dan muncullah konsep-konsep tentang ta'alluq ma'iyah. Jelas sekali pembahasan tentang teologi sebagaimana terdapat dalam ilmu tauhid sangat intelektualistik sifatnya. menganggap Tuhan mempunyai andad atau saingan. ta'alluq hukmiyah. yang membuat kita bergairah dalam aksi untuk membebaskan diri kita dan masyarakat sekitar kita dari segala bentuk kemusyrikan. Pembahasan tentang dan di sekitar hal-hal inilah yang selama ini disebut sebagai ilmu tauhid. menganggap Tuhan mempunyai syarik atau sekutu. ta'alluq shuluhi qadim. Ia tidak mempunyai relevansi dengan realitas kehidupan kita. kiranya dari segi keberagamaan kita sebagai muslim.

(8) Surah al-Takatsur. menunjukkan bahwa masalah kemusyrikan bukanlah sesuatu yang sederhana. 9:31) atau sikap fanatisme golongan. Beberapa mufassir menceriterakan bahwa Surah al-Dhuha turun sesudah Nabi mengalami masa jeda di mana wahyu .). karena itu usaha kita menjadi orang yang benar-benar bertauhid bukanlah masalah yang mudah. sebab surah yang ke-13 adalah Surah al-Dhuha. benda dan lembaga. Kebertauhidan tidak hanya menyangkut kepercayaan kita terhadap Tuhan Yang Maha Esa tetapi juga menyangkut pandangan dan sikap kita terhadap manusia. Selain itu masih ada satu hal lagi yang oleh al-Qur'an disebutkan sebagai "sesuatu yang bisa menjadi ilah atau sesembahan kita. Al-Qur'an masih mengemukakan hal-hal lain yang berkaitan dengan masalah kemusyrikan. Berbagai bentuk manifestasi kemusyrikan tersebut. Ia sangat terkait dengan hal-hal yang sangat praktis. baik pandangan maupun sikapnya. bukan dalam bentuk penyembahan melainkan dalam bentuk kecintaan (QS.25:43). (10) Surah al-Layli. Di sini hanya diambil 12 surah paling awal saja. yang lebih halus sifatnya. dan rumah-rumah mewah kita (QS. Yang ada malah kecaman terhadap keserakahan dan ketidakpedulian sosial. Periode Mekkah sendiri juga dibagi dalam tiga tahap. Dalam kategori ini bisa dimasukkan juga sikap ketaatan yang sama sekali tanpa reserve terhadap ulama (QS. Hubungan manusia dengan benda. Sengaja hanya diambil 12 surah di atas. sebagaimana dikemakakan al-Qur'an.). Hal ini menarik dan perlu untuk dikaji lebih jauh. Suatu hal yang sangat menggoda untuk direnungkan adalah.) dan periode Madinah (622-632 M. (11) Surah al-Balad. 9:24). mendapat sorotan yang sangat tajam dalam al-Qur'an. Hal-hal lain yang oleh al-Qur'an dijadikan contoh sebagai saingan Tuhan dalam kaitannya dengan kecintaan kita adalah keluarga dan kerabat dekat kita. kekayaan. (4) Surah al-Quraysy. terutama berkaitan dengan ciri kemusyrikan yang menempatkan adanya andad atau saingan terhadap Tuhan. (5) Surah al-Kawtsar. (3) Surah al-Lahab. KESERAKAHAN DAN KETIDAKPEDULIAN SOSIAL Berangkat dari berbagai bentuk manifestasi kemusyrikan yang disebutkan al-Qur'an di atas. usaha atau bussiness kita. dan (12) Surah al-Insyirah. 30:31-32). 2:165). justru pada surat-surat atau ayat-ayat yang diwahyukan di masa-masa permulaan kenabian Muhammad saw tidak terdapat kecaman terhadap penyembahan berhala. Seperti kita ketahui masa turunnya al-Qur'an dibagi dalam dua priode: periode Mekkah (610-622 M.kemusyrikan tidak berhenti sampai di situ saja." yaitu hawa nafsu kita sendiri (QS. (6) Surah al-Humazah. (2) Surah al-Mudatstsir. Khususnya berkaitan dengan kekayaan. 23:52-53. kita bisa sampai pada kesimpulan bahwa teologi al-Qur'an tidak sekedar terbatas pada aspek kepercayaan saja. yakni: (1) Surah al-'Alaq. (9) Surah al-Fil. aliran atau juga organisasi yang berlebih-lebihan (QS. tahap Mekkah awal (610-615 M. Untuk memperjelas hal ini ada baiknya bila lebih dahulu dikemukakan tentang periodisasi turunnya al-Qur'an. (7) Surah al-Ma'un. Pada masa periode Mekkah awal terdapat 48 surah yang diwahyukan kepada Nabi Muhammad saw. tahap Mekkah pertengahan (616-617) dan tahap Mekkah akhir (618-622 M.).

dengan keras mengingatkan akan nasib celaka bagi mereka yang dengan serakah menumpuk-numpuk kekayaan dan menganggap kekayaannya itu bisa mengabadikannya. Atau orang papa yang terlunta-lunta. kemegahan dan Dalam Surah al-Layli yang diwahyukan dalam urutan ke-10 diberikan kabar baik terhadap mereka yang suka memberi dan sebaliknya kabar buruk bagi mereka yang kikir dan bakhil. Maka siapa yang suka memberi dan bertaqwa. Atau memberi makanan di masa kelaparan. Dalam surah yang turun berikutnya. dan apa yang dikerjakannya! Akan dibakar ia dalam api menyala Surah al-Humazah. Dan tiada berguna baginya kekayaannya ketika ia binasa. Surah berikutnya yang turun dalam urutan ke-8. disinggung bahwa harta kekayaan dan usaha seseorang sama sekali tidak akan menyelamatkannya dari hukuman di Hari Akhirat. Tapi tak mau ia menempuh jalan mendaki. Dan tidak menganjurkan memberi makan orang-orang miskin. Enam surah di antaranya justru menyinggung masalah keserakahan terhadap kekayaan dan ketidakpedulian terhadap orang-orang yang menderita. Surah al-Ma'un. Celaka amat si pengumpat si pemfitnah. Tahukah engkau jalan mendaki itu. Hingga kalian masuk ke pekuburan. orang-orang yang tidak mempedulikan penderitaan anak-anak yatim dan orang-orang miskin dikualifikasikan sebagai orang-orang yang membohongkan agama. Dan membenarkan nilai kebaikan Kami akan memudahkan baginya jalan kebahagiaan. Pada anak yatim yang punya tali kekerabatan. yang turun dalam urutan ke-3.terhenti beberapa lama. atau dari sejarah Islam. Yang menumpuk-numpuk harta kekayaan dan menghitung-hitungnya. Kalian menjadi lalai karena perlombaan mencari kekayaan. memberikan peringatan keras terhadap orang-orang yang asyik berlomba-lomba dalam kemewahan dan kekayaan. Dan Kami tunjuki ia dua jalan. menyinggung keengganan manusia memberikan bantuan kepada sesamanya yang hidup dalam penderitaan dan kesengsaraan. Tidak berguna baginya kekayaannya. Tahukah engkau orang yang membohongkan agama Itulah dia yang mengusir anak yatim. Surah al-Takatsur. Yang terakhir Surah al-Balad yang diwahyukan dalam urutan ke-11. Dan siapa yang kikir dan menyombongkan kekayaan. Dan mendustakan nilai kebaikan Kami akan mudahkan baginya jalan kesengsaraan. Ia menyangka harta kekayaannya bisa mengekalkannya. Ke-12 surah tersebut sama sekali tidak menyinggung masalah penyembahan berhala. yang turun dalam urutan ke-6. Memerdekakan budak sahaya. . Dalam Surah al-Lahab. Karena itu ke-12 surah di atas turun atau diwahyukan kepada Nabi pada masa-masa sangat awal dari kenabian.

7501983. keserakahan dan ketidakpedulian sosial mendapat sorotan tajam pada masa yang sangat awal dari kenabian Muhammad. memberikan suatu isyarat kepada kita agar kita menjadikan diri kita sebagai perwujudan dari nilai-nilai rahmah itu bagi sesama makhluk Tuhan.6. mungkin kita bisa menarik kesimpulan bahwa Risalah Nabi kita terutama untuk mengadakan reformasi sosial. Karena itu reformasi sosial mestilah ditandai. Itulah prioritas utama yang digumuli Nabi dalam usaha mewujudkan reformasi sosial. yang diwahyukan justru di masa yang sangat awal dari kenabian. misi utama Nabi Muhammad saw adalah membantu manusia mewujudkan tata kehidupan yang disemangati nilai-nilai rahmah. -------------------------------------------Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah Editor: Budhy Munawar-Rachman Penerbit Yayasan Paramadina Jln. Dengan perkataan lain apapun profesi kita. bahwa keserakahan dan ketidakpedulian sosial adalah yang menimbulkan suatu kehidupan yang tidak disemangati nilai-nilai rahmah. 7507173 Fax. Ia memperlihatkan betapa. motivasi dan orientasi kita tidak boleh bergeser dari ide untuk menciptakan --atau setidak-tidaknya menjadi bagian dari proses menciptakan-suatu tata kehidupan yang dilandasi nilai-nilai rahmah itu. Hal ini bisa kita kaitkan dengan penegasan al-Qur'an yang mengatakan bahwa Muhammmad diutus tidak lain kecuali dalam rangka membawa rahmat bagi seluruh alam (QS. REFORMASI SOSIAL Kalau kita renungkan mengapa masalah kekayaan. UA 20-21 Jakarta Selatan Telp.Pesan-pesan al-Qur'an di atas. Ia langsung menyangkut kebertauhidan kita. (021) 7507174 Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota Please direct any suggestion to Media Team Artikel Yayasan Paramadina Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota II. 21:107). Pertanyaan yang mungkin timbul. sangat jelas dan sama sekali tidak memerlukan penafsiran. (021) 7501969. KONSEP-KONSEP KOSMOLOGIS (1/2) . Anjuran Nabi agar kita selalu memulai kegiatan dan kerja kita dengan ucapan "Bismillahirrahmanirrahim" (bism-i 'l-Lah-i 'l-rahman-i 'l-rahim). keserakahan dan ketidakpedulian sosial dengan cita-cita tentang reformasi sosial yang dilandasi semangat mewujudkan kehidupan yang penuh rahmah itu? Kaitannya sangat jelas. keserakahan dan ketidakpedulian sosial mempunyai perspektif teologis. pertama-tama oleh distribusi kekayaan yang adil. Metro Pondok Indah Pondok Indah Plaza I Kav. Ia tidak sekedar masalah etik dan moral. Dengan perkataan lain. dalam al-Qur'an masalah kekayaan. bagaimana kaitan antara sorotan tajam terhadap kekayaan.

Sesungguhnya dalam ciptaan langit dan bumi. pengertiannya ialah bahwa langit itu adalah sebuah bola super raksasa yang panjang radiusnya tertentu. maka sebagai padanan untuk mendapatkan arti ayat-ayat al-Qur'an yang menyangkut al-Kaun dapat digunakan juga ayat-ayat Allah yang berada di dalam alam semesta ini. yang berputar mengelilingi sumbunya. Ia merasa yakin bahwa persepsinya mengenai langit itulah yang sesuai dengan apa yang dapat diamati setiap hari. karena konsepsinya tidak mampu mengakomodasikan gejala yang dinyatakan ayat 4 surah al-Dzariyat. Dan sama' itu kami bangun dengan kekuatan dan sesungguhnya kamilah yang meluaskannya (QS. misalnya dalam surah 'Ali Imran 190 disebut. dan dengan Sunnah Rasul sebagai penjelasan. mengenai penciptaan alam semesta. [1] dan ardh [2] itu dahulu sesuatu yang padu. maka tidaklah mengherankan apabila ketetapan dalam penafsiran ayat-ayat al-Qur'an yang berisi konsep-konsep Kauniyah sangat bervariasi. tergantung pada pengetahuan mufassir tentang alam semesta itu sendiri. Dan pada dindingnya tampak menempel bintang-bintang yang gemerlapan di malam hari. serta silih bergantinya malam dan siang. Dan itu tidaklah benar. Dan mungkin sekali ia akan mengatakan bahwa ayat 30 surah al-Anbiya' itu melukiskan peristiwa ketika Tuhan menyebutkan langit menjadi bola. Pada hemat saya. Apalagi kalau ia melingkupi seluruh ruang kosmos beserta isinya. ciptaan Tuhan di seluruh jagad raya ini secara jelas disebutkan sebagai "ayat-ayat Allah". kita dapat menelaah ayat-ayat berikut. Mengingat hal-hal tersebut di atas. Karenanya. kapan pun juga. Apa yang kiranya dapat kita harapkan dari orang ini andaikata ia diminta memberikan penafsiran (bukan sekadar salinan kata-kata) ayat-ayat tersebut? Tentu saja ia akan memberikan interpretasi yang sesuai dengan persepsinya tentang langit.oleh Achmad Baiquni Telah banyak kitab yang ditulis ulama masyhur untuk menafsirkan ayat-ayat suci al-Qur'an --yang merupakan garis-garis besar ajaran Islam itu-. serta ardh yaitu bumi yang datar yang dikurung oleh bola langit. Dapat kita lihat dalam kasus ini bahwa konsep kosmologis dalam al-Qur'an. Bola ini dikatakan mewadahi seluruh ruang alam dan segala sesuatu yang berada di dalamnya. kemudian kami pisahkan keduanya (QS. Sebuah langit yang berbentuk bola dengan jari-jari tertentu bukanlah langit yang bertambah luas. terdapat ayat-ayat Allah bagi orang-orang yang berakal (dapat menalar). sesuatu konsepsi mengenai alam semesta yang benar harus dapat .dengan menggunakan ayat-ayat lain di dalam kitab suci tersebut. yang dikemukakan orang itu sangatlah sederhana. tidak ada lagi sesuatu yang lebih besar daripadanya. al-Anbiya': 30. sebagai bandingan. al-Dzariyat: 47). Bintang-bintang tampak tidak berubah posisinya yang satu terhadap yang lain. dan seluruh langit itu berputar-putar dalam satu hari (siang dan malam). Namun. Seseorang yang hidup dalam abad 9 M akan mengatakan bahwa kata sama' artinya langit. setelah ia sekian lama terhampar di permukaan bumi seperti layaknya sebuah tenda yang belum dipasang. dalam al-Qur'an sendiri. Untuk memberikan contoh yang nyata. Dan tidakkah orang-orang kafir itu mengetahui bahwa agama sama.

Meskipun ilmu pengetahuan keislaman ini tumbuh sebagai akibat dari pelaksanaan salah satu perintah agama. sehingga sejak itu sains tumbuh dalam kerangka acuan budaya. Dan sama'. Perhatikanlah dalam intighon apa yang ada di sama' dan di ardh (QS. Penalaran tentang "bagaimana" dan "mengapa". ia harus sesuai dengan konsep-konsep kosmologis dalam al-Qur'an. wahai Tuhan kami. Serta dalam ayat 190 dan 191 surah Ali Imran. tiadalah Engkau ciptakan ini dengan sia-sia. Sesungguhnya dalam penciptaan sama' dan ardh. bagaimana ia ditinggikan. menyebabkan timbulnya cabang baru dalam sains yang dinamakan astrofisika. atau dalam keadaan berbaring. terdapat ayat-ayat bagi orang-orang yang berakal (dapat menalar). Karena telah menjadi kebiasaan para pakar menulis hasil penelitian orang lain. Jelaslah di sini bahwa sains adalah hasil konsensus di antara para pakar. Kita ingat ayat 3. Mari kita kaji sambil menelusuri perkembangan ilmu kealaman sejak akhir abad 19 hingga akhir abad 20. sedangkan dalam fase-fase lain menghasilkan kesimpulan yang sehaluan dengannya. bagaimana ia diciptakan. Yunus: 101). maka peliharalah kami dari siksa azab neraka. serta silih bergantinya siang dan malam. maka muncullah di lingkungan umat Islam suatu kegiatan observasional yang disertai dengan pengukuran. Ali Imran: 190 dan 191). sehingga ilmu tidak lagi bersifat kontemplatif belaka. Dalam teguran ayat 1 dan 18 dalam surah al-Ghasyiyah. mental dan spiritual yang bukan Islam. ketika ia berjalan sangat cepat. dan yang memiliki nilai-nilai tak Islami. yang mengajar dengan qalam. Kita akan menemukan bahwa pada tahap-tahap tertentu ia tampak tidak sesuai dengan ajaran agama kita. seperti yang berkembang di lingkungan Yunani. Dengan diikutinya perintah dan petunjuk ini. yang menyangkut proses-proses alamiah di langit itu. Bacalah. kiranya perlu kita pertanyakan apakah benar konsep kosmologi yang berkembang dalam sains itu sejalan dengan apa yang terdapat dalam al-Qur'an. Maka apakah mereka itu tak memperhatikan onta-dalam intighon. [3] Dia mengajar manusia apa yang tidak diketahuinya. Sebab obor pengembangan ilmu telah mulai berpindah tangan dari umat Islam kepada para cendekiawan bukan Islam sejak pertengahan abad ke 13 sampai selesai dalam abad 17. (QS. yang bersama-sama astronomi membentuk konsep-konsep kosmologi. Untuk mendapatkan konsepsi yang benar itu pada hakekatnya telah diberikan petunjuk sang pencipta misalnya dalam ayat 101 surah Yunus. Yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk.dipergunakan untuk menerangkan semua peristiwa yang dilukiskan ayat-ayat dalam kitab suci. 4 dan 5 surah al-'Alaq. . telah mengubah astrologi menjadi astronomi. Katakanlah (wahai Muhammad). maka tersusunlah himpunan rasionalitas kolektif insani yang kita kenal sebagai sains. Penerapan metode ilmiah ini. al-Ghasyiyah: 1 dan 18). dan pikirkan tentang penciptaan sama' dan ardh. jauh melampaui kelajuannya dalam abad-abad sebelumnya. Maha suci Engkau. (QS. yang terdiri atas pengukuran teliti pada observasi dan penggunaan pertimbangan yang rasional. dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah. sejalan dengan kecanggihan instrumentasi yang dipergunakan dalam observasi dan matematika sebagai sarana komputasi. tapi mempunyai ciri empiris sehingga tersusunlah dasar-dasar sains.

yang di dalamnya terdapat bintang-bintang. dan bahkan mampu mengukur jarak itu dan mengatakan berapa massanya. Kita dapat juga mengemukakan beberapa ayat lainnya sebagai berikut. ia akan mengatakan juga bahwa bola super besar yang mewadahi seluruh ruang kosmos itu tidak ada sebab baginya ruang jagad-raya ini tak berhingga besarnya dan tidak mempunyai batas. dan kami hiasi langit dunia dengan pelita-pelita. Fushshilat: 12) Allah-lah yang telah menciptakan tujuh sama' dan ardh seperti itu pula (QS. sebagian diikuti satelitnya. keduanya menjawab: kami datang dengan taat (QS. demikianlah ketentuan Yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui. selalu timbul-tenggelam. Dan kita akan melihat sepanjang pertumbuhan sains selanjutnya bahwa ide-ide semacam ini. dan ada bintang-bintang kembar dan gerombolan-gerombolan bintang dalam galaksi kita yang disebut Bimasakti. dianggap tak berawal dan tidak berakhir. Dalam pada itu Dia mengarah pada penciptaan sama'. langit itu sebuah bola super raksasa. dan ia penuh dukhon [4]. dan Kami memeliharanya. bahwa bintang-bintang di langit jaraknya dari bumi tidak sama. langit adalah ruang jagad-raya. Padahal mereka baru merupakan sebagian saja dari ayat-ayat al-Qur'an yang berisi konsep-konsep kosmologi. Hud: 7) Sesungguhnya Allah menahan sama' dan ardh agar jangan lenyap. dan sungguh jika keduanya akan lenyap dan tak ada siapa pun . (QS. Karena konsep kosmologi yang berlaku waktu itu berasal dari Newton. al-Sajadah:4) Dan Dialah yang telah menciptakan sama' dan ardh dalam enam hari. Datanglah kalian mematuhi-Ku dengan suka atau terpaksa. ada sejak dulu dan akan ada seterusnya. sehingga sains kembali dapat berkembang dalam kerangka sistem nilai yang Islami). lalu Dia berkata kepadanya dan kepada ardh. dan pada waktu itu pula bersemayam di arsy-Nya [5] (QS. Dari uraian di atas bahwa konsep kosmologi sains pada abad ke 19 gagal total dan sama sekali tak mampu menerangkan apa yang terkandung dalam dua ayat tersebut di atas. karena tak dapat mengakomodasi peristiwa yang: dilukiskan ayat 30 surah al-Anbiya' dan ayat 47 surah al-Dzariyat. Fushshilat: 11) Maka Dia menjadikannya tujuh sama' dalam dua hari. maka saya selalu menganjurkan agar umat Islam yang ingin mengejar ketinggalan mereka dalam sains dan teknologi akhir-akhir ini bersiap-siap mengadakan langkah-langkah pengamanan dengan meng-Islamkan sains. yang telah mengetahui melalui kegiatan sainsnya. tak lagi akan mengatakan. al-Thalaq: 12) Allah-lah yang menciptakan sama' dan ardh dan apa yang ada di antara keduanya dalam enam hari. sebab alam semesta yang tak terbatas dan tak berhingga besarnya. Sudah tentu konsep kosmologi sains abad yang lalu ini tidak sesuai dengan konsep al-Qur'an. Lebih dari itu bahkan bertentangan dengan ajaran agama kita. Ia akan mengatakan. ada pun Arsy-Nya telah tegak pada ma' [6] untuk menguji siapakah di antara kalian yang lebih baik amalnya (QS.Seseorang yang hidup pada akhir abad 19. dan Dia mewahyukan kepada tiap sama' peraturannya masing-masing. yang mengandung konsepsi tentang alam yang langgeng. (Karena itu.

sebab gaya gravitasi gumpalan itu akan begitu besar sehingga ia akan teremas menjadi sangat kecil. Sebab konsepsinya tentang alam semesta memang salah hingga tidak cocok dengan apa yang ada dalam al-Qur'an. Kita telah melihat dari contoh-contoh yang diberikan. sebagaimana Kami telah mulai awal penciptaan. peristiwa inilah yang kemudian terkenal sebagai "dentuman besar" (big bang). Apa yang akan dikatakan oleh seorang kosmolog atau seorang fisikawan abad 20. itulah janji yang akan kami tepati. Pada tahun 1952 Gamow berkesimpulan bahwa galaksi-galaksi di seluruh jagad-raya yang cacahnya kira-kira 100 milyar dan masing-masing rata-rata berisi 100 milyar bintang itu pada mulanya berada di satu tempat bersama-sama dengan bumi. sesungguhnya Kamilah yang akan melaksanakannya (QS.yang dapat menahan keduanya itu selain Allah. Lebih kecil dari bintang pulsar yang jari-jarinya hanya sebesar 2 sampai 3 kilometer dan massanya kira-kira 2 sampai 3 kali massa sang surya. Fathir: 41) Pada hari Kami gulung sama' seperti menggulung lembaran tulis. Sudah barang tentu gumpalan sebesar itu tak pernah bergelimpangan di ruang kosmos. Karena kelajuan dan jarak masing-masing galaksi dari bumi diketahui. jawabnya kira-kira sebagai berikut: Konsepsi mengenai alam semesta ini sebenarnya mulai mengalami perubahan sejak tahun 1929 ketika Hubble melihat dan yakin bahwa galaksi-galaksi di sekitar Bimasakti menjauhi kita dengan kelajuan yang sebanding dengan jarak dari bumi. bahwa dengan bekal pengetahuan abad 19 saja seseorang tak mungkin memahaminya. meski ia seorang pakar yang ulung sekali pun. al-Anbiya': 104) Sekarang mari kira cari pengertian yang terdapat dalam ayat itu. tidak sulit untuk menghitung kapan mereka itu mulai berlari. sehingga dalam sains terdapat istilah alam yang mengembang (expanding universe). yang lebih jauh kecepatannya lebih besar. Gumpalan ini berada dalam ruang alam dan tanpa diketahui sebab musababnya meledak dengan sangat dahsyat sehingga terhamburlah materi itu ke seluruh ruang jagad-raya. dan bahkan lebih kecil dari lobang hitam (black hole) yang massanya jauh melebihi pulsar dan jari-jarinya menyusut mendekati ukuran titik. . jika ia ditanya tentang konsep kosmologi sains yang mutakhir yang dihasilkan penelitian para pakar? Secara garis besar. Materi yang sekian banyaknya itu terkumpul sebagai suatu gumpalan yang terdiri dari neotron. Hal ini mengingatkan orang pada pacuan kuda. kuda yang paling laju akan berlari paling depan. sekitar 15 milyar tahun yang lalu. begitulah Kami akan mengembalikannya. berapa besar kepadatan materi dalam titik yang volumenya nol itu jika seluruh massa 100 milyar kali 100 milyar bintang sebesar matahari dipaksakan masuk di dalamnya! Inilah yang biasa disebut sebagai singularitas. sebab elektron-elektron yang berasal dari masing-masing atom telah menyatu dengan protonnya dan membentuk neotron sehingga tak ada gaya tolak listrik antara masing-masing elektron dan antara masing-masing proton. Jadi konsep dentuman besar terpaksa dikoreksi yaitu bahwa keberadaan alam semesta ini diawali oleh ledakan maha dahsyat ketika tercipta ruang-waktu dan energi yang keluar dari singularitas dengan suhu yang tak terkirakan tingginya. Gambarkan saja dalam angan-angan. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penyantun dan Maha Pengampun (QS.

000 trilyun-trilyun derajat. isinya terdiri atas radiasi dan partikel-partikel sub-nuklir. Jenis materi apa yang muncul pertama-tama di alam ini tidak seorang pun tahu. Pada saat pengembunan tersentak. karena ekspansinya.(bersambung 2/2) Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah Editor: Budhy Munawar-Rachman Penerbit Yayasan Paramadina Jln. 7507173 Fax. UA 20-21 Jakarta Selatan Telp. keluarlah energi yang memanaskan kosmos kembali menjadi 1. Dan masing-masing alam dapat mempunyai hukum-hukumnya sendiri. Tatkala alam mendingin. Pada saat itu suhu kosmos adalah sekitar 100 milyar derajat dan campuran partikel dan radiasi yang sangat rapat tetapi bersuhu sangat tinggi itu lebih menyerupai zat-alir daripada zat padat sehingga para ilmuwan memberikan nama "sop kosmos" kepadanya Antara umur satu sekon dan tiga menit terjadi proses yang dinamakan nukleosintesis. pada saat itu . Ekspansi yang luar biasa cepataya ini menimbulkan kesan-kesan alam kita digelembungkan dengan tiupan dahsyat sehingga ia dikenal sebagai gejala inflasi. berapa? duakah? tigakah? atau berapa? para ilmuwan tidak tahu.6. (021) 7501969. tidak perlu aturannya sama dengan apa yang ada di alam kita ini.-------------------------------------------. terjadilah gejala "lewat dingin". tidak terjadi secara serentak. namun tatkala umur alam mendekati seper-seratus sekon. KONSEP-KONSEP KOSMOLOGIS (2/2) oleh Achmad Baiquni Para pakar berpendapat bahwa alam semesta tercipta dari ketiadaan sebagai goncangan vakum yang membuatnya mengandung energi yang sangat tinggi dalam singularitas yang tekanannya menjadi negatif. 7501983. dan selurnh kosmos terdorong membesar dengan kecepatan luar biasa selama waktu 10-32 sekon. maka di lokasi-lokasi tertentu terdapat konsentrasi materi yang merupakan benih galaksi-galaksi yang tersebar di seluruh kosmos. sehingga suhunya merendah melewati 1. pada umur 10-35 sekon. dalam periode ini atom-atom ringan terbentuk sebagai hasil reaksi fusi-nuklir.000 tahun elektron-elektron masuk dalam orbit mereka sekitar inti dan membentuk atom sambil melepaskan radiasi. (021) 7507174 Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota Please direct any suggestion to Media Team Artikel Yayasan Paramadina Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota II. tetapi beberapa alam.000 trilyun-trilyun derajat. Vakum yang mempunyai kandungan energi yang luarbiasa besarnya serta tekanan gravitasi yang negatif ini menimbulkan suatu dorongan eksplosif keluar dari singularitas. Metro Pondok Indah Pondok Indah Plaza I Kav. Selama proses inflasi ini. ada kemungkinan bahwa tidak hanya satu alam saja yang muncul. Baru setelah umur alam mencapai 700. Karena materialisasi dari energi yang tersedia. yang berakibat terhentinya inflasi.

katakan saja. . Dimensi yang kita hayati adalah dimensi yang. ketika persamaan matematis Einstein. entropinya besarnya tidak terhingga. Pertama. Selama perjalanan mencari kebenaran itu. Einstein mengalah dan kembali ke perumusannya yang semula yang melukiskan alam yang tak statis. Dengan demikian maka konsepsi yang berawal lebih dikukuhkan. tapi berekspansi. suatu asumsi yang konsekuensinya tak didukung kenyataan. Menurut perhitungan kami.seluruh langit bercahaya terang benderang dan hingga kini "cahaya" ini masih dapat diobservasi sebagai radiasi gelombang mikro. ia hanya dapat kita hubungi lewat medan gaya gravitasi sedangkan hukum alamnya tidak perlu sama dengan yang berlaku di dunia ini. Begitulah kira-kira uraian fisikawan itu. karena "tergulung" dengan jarij-ari 10-32 sentimeter yang bermanifestasi sebagai muatan listrik dan muatan nuklir. ia segera diubah oleh si-perumus agar sesuai dengan konsep kosmologi pada waktu itu. karena Hubble mengobservasi justeru jagad-raya ini berekspansi. tapi tak dapat kita lihat. telah mendorong para pakar mengakuinya sebagai kilatan dalam alam semesta yang tersisa dari peristiwa dentuman besar. alam semesta mempunyai dimensi 10. dinyatakan oleh Friedman bahwa ia memberi gambaran kosmos yang mengembang. karena tak cocok dengan kenyataan. alam semesta ini berkembang-kempis (oscillating universe). dan mendapatkan pembetulan. maka ada kemungkinan bahwa alam yang kita huni ini mempunyai kembaran (shadow world) yang sebenarnya berada di sekeliling kita. sebagai contoh. sebenarnya sains telah mengalami penyelewengan-penyelewengan yang akhirnya terbongkar kesalahannya. Tapi langkah pembetulan itu mendapat tamparan. Ketiga. ketika gagasan Gamow tentang dentuman besar yang menjurus pada konsep alam semesta yang berawal dikumandangkan beberapa kosmolog yang dipelopori Hoyle mengajukan tandingan yang dikenal sebagai kosmos yang mantap (steady state universe) yang menyatakan bahwa alam semesta ajeg sejak dulu sampai sekarang dan hingga nanti tanpa awal dan tanpa akhir. Saya akan mengungkapkan beberapa saja yang relevan. beberapa ilmuwan mencoba mengembalikan keabadian kosmos dengan mengatakan. karena tak sesuai dengan kenyataan yang terobservasi. ketika dentuman besar tak dapat disangkal. Sebab alam yang berkelakuan seperti itu. Kalau semua yang telah dirintis secara matematis ini mendapatkan pembenaran dari eksprimen atau observasi di alam luas. dan 6 lainnya yang tidak kita sadari. Kedua. yang dirumuskan untuk melukiskan alam semesta. meledak dan masuk kembali tak henti-hentinya tak berawal dan tak berakhir. Sudah tentu apa yang dikatakan itu adalah hasil mutakhir kegiatan penelitian dan saling kaji antara para pakar dan merupakan konsensus. Kita lihat bahwa hasrat mempertahankan konsepsi alam semesta yang tak berawal (tak diciptakan) selalu menemui kegagalan. Namun Weinberg menunjukkan kepalsuannya. yaitu 4 buah dimensi ruang-waktu yang kita hayati. "terbentang" dan mengejawantah sebagai ruang-waktu. Namun terungkapnya keberadaan gelombang mikro yang mendatangi bumi dari segala penjuru alam secara uniform. oleh Wilson dan Penzias pada 1964. yaitu kosmos yang statis.

sekali-kali kamu tak akan menemukan perubahan pada sunnatullah itu. Sedangkan qaul yang kedua mendasari pernyataannya dengan adanya neutrinoneutrino yang mereka percayai membawa sebagian besar dari massa alam ini sehingga sebagai totalitas kekuatan gaya kritis itu akan terlampaui. karena bintang-bintang yang bercahaya dan materi antar bintang. yang mereka pergunakan untuk menelusuri kembali peristiwanya yang terjadi sekitar 15 milyar tahun lalu. pertama. lalu Dia berkata kepadanya dan kepada materi: Datanglah kalian mematuhi . alam semesta ini "terbuka.Bagaimana para fisikawan-kosmolog dapat mengatakan semuanya itu tanpa melihat sendiri kejadiannya? Sebenarnya mereka melihat dua gejala. maka para pakar." sehingga pada suatu saat ekspansinya akan berhenti dan alam kembali mengecil untuk akhirnya seluruhnya mencebur kembali dalam singularitas. di samping menggunakan pertimbanganpertimbangan rasional. Sebab mereka tak mempunyai informasi berapa sebenarnya massa yang terkandung dalam alam ini. dan kedua jagad raya ini "tertutup. tidak dengan pengetahuan orang abad ke 9 atau ke 19 melainkan dengan pengetahuan seseorang dari abad 20. Saya akan menafsirkan ayat-ayat yang telah dicantumkan di atas. Kalau para detektif itu cukup memakai penalaran logis saja. Sekarang marilah kita gali konsep-konsep kosmologi dalam al-Qur'an. dan yang saya pilih di antara sekian banyak ayat yang mengandung konsep. Qaul yang pertama didasarkan pada kenyataan bahwa masa seluruh alam ini tak cukup besar untuk menarik kembali semua galaksi yang bertebaran. yaitu yang dinamakan gaya kritis." sehingga ia akan berekspansi selamanya. al-Anbiya': 30) Dan ruang waktu itu Kami bangun dengan kekuatan (ketika dentuman besar dan inflasi melandanya sehingga beberapa dari dimensinya menjadi terbentang) dan sesungguhnya Kamilah yang m eluaskannya (sebagai kosmos yang berekspansi) (QS. sedangkan sebagian lagi dibawa zarah-zarah yang disebut neutrino. Kapan? Mereka tak tahu. yaitu ekspansi alam semesta dan radiasi gelombang mikro. Dan tidakkah orang yang kafir itu mengetahui bahwa ruang waktu dan energi-materi itu dulu sesuatu yang padu (dalam singularitas). seperti layaknya tim detektif yang ingin memecahkan sebuah misteri dengan menggunakan sekelumit abu rokok dan pecahan-pecahan gelas yang berserakan di sekitar tempat kejadian. al-Dzariyat: 47) Dalam pada itu Dia mengarah pada penciptaan ruang-waktu dan ia penuh "embunan" (dari materialisasi energi). sebagian gelap. kemudian kami pisahkan keduanya itu (QS. Apakah para fisikawan-kosmolog mengetahui nasib alam itu pada akhirnya? Ada dua pandangan yang dianut dalam sains yaitu. segenap peraturan Allah swt yang mengendalikan tingkah laku alam. sebagai sunnat-u 'l-lah yang berlaku sejak dulu. sebagai berikut. tempat ia keluar dulu kala. harus melandasinya juga dengan pengetahuan sunnatullah. yang dalam ayat 23 surah al-Fath dinyatakan memiliki stabilitas. sebagian massa itu bercahaya. hanya dapat menyajikan sekitar 20 persen saja dari gaya yang diperlukan. yang terobservasi pengaruhnya.konsep tersebut.

untuk membimbing mereka dari kesesatan dalam memahami ciptaanNya. Demikian konsep-konsep kosmologi yang dapat digali dari al-Qur'an sebagaimana saya melihatnya selaku orang yang berkecimpung dalam bidang sains. Mengatakan bahwa apa yang telah saya lakukan ini sebagai usaha menarik-narik al-Qur'an agar sejalan atau cocok dengan sains. hingga para ilmuwan yang setia kepada tradisi umat Islam. dan Kami memeliharanya.(peraturan)-Ku dengan suka atau terpaksa. keduanya menjawab: Kami datang dengan kepatuhan. al-Sajadah: 4) Dan Dia-lah yang telah menciptakan ruang-waktu dan materi dalam enam hari. karena tidak sesuai dengan al-Qur'an. sesungguhnya Kamilah yang akan melaksanakannya (QS. Apa yang telah saya lakukan di sini bukanlah pembenaran (justification) sains dengan al-Qur'an. sebagaimana Kami telah mulai awal penciptaan. dan pada saat itu pula menegakkan pemerintahan-Nya (yang seluruh perangkat peraturannya ditaati oleh segenap mahluk-Nya dengan suka hati) (QS. Fushshilat: 11). al-Fathir: 41) Pada hari Kami gulung ruang-waktu (alam semesta) laksana menggulung lembaran tulis. Dalam awal uraian saya telah dikatakan bahwa penggalian konsep-konsep kosmologi dalam al-Qur'an merupakan pekerjaan . Patokan saya adalah kebenaran kitab suci umat Islam. al-Thalaq: 12) Allah-lah yang menciptakan ruang-waktu dan materi dan apa yang ada di antara keduanya dalam enam hari. sesungguhnya Dia adalah Maha Penyantun dan Maha Pengampun (QS. dan materinya seperti itu pula. demikianlah ketentuan Yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui (QS. begitulah Kami akan mengembalikannya. dan kami hiasi ruang-waktu (alam) dunia dengan pelita-pelita. dan sungguh jika keduanya akan lenyap tiada siapa pun yang dapat menahan keduanya selain Allah. Hud: 7) Sesungguhnya Allah menahan ruang-waktu (alam semesta) dan materi di dalamnya agar jangan lenyap (sebagai jagad-raya yang terbuka). hasil karya pikir manusia. Dan tidak pula saya menarik al-Qur'an agar sesuai dengan sains. memeriksa ruang-waktu (alam semesta) serta materi di dalamnya sesuai dengan perintah-Nya dalam surah Yunus 101 itu mendapatkan petunjuk ke arah yang benar seperti tercantum dalam surah Fushshilat 53. yang salaf. Dan bukankah justeru Allah swt sendiri yang mengungkapkan adanya gejala ekspansi kosmos dan radiasi gelombang mikro kepada para ilmuwan. Fushshilat: 12) Allah-lah yang menciptakan tujuh ruang-waktu (alam semesta). karena ada beberapa konsepsi sains yang telah saya tolak. itulah janji yang akan kami tepati. dan Dia mewahyukan kepada tiap alam itu peraturan (hukum alam)-nya masing-masing. Akan Kami perlihatkan kepada mereka ayat-ayat Kami di segenap penjuru dan dalam diri mereka sendiri sehingga jelaslah bagi mereka itu bahwa ia (al-Qur'an) adalah yang benar. Maka dia menjadikannya tujuh ruang-waktu (alam semesta) dalam dua hari. (QS. al-Anbiya': 104). (QS. adalah suatu tuduhan yang tak berdasar. sedang pemerintahan-Nya telah tegak pada fase zat alir (yaitu sop kosmos) untuk menguji siapakah di antara kalian yang lebih baik amalannya (QS. dan apa yang bertentangan dengannya saya tolak.

4. maka saya memilih maknanya sebagai zat alir. Karenanya. Sama'. dengan mesin ketik dan lain-lain sebagainya. pena. melainkan pemerintah Indonesia yang bertindak. misalnya dengan lidi-aren. melainkan ruang alam yang di dalamnya terdapat bintang-bintang. bumi atau tanah. 3. Ma'. dengan bolpen. atom-atom yang belum berbentuk karena suhu alam masih sangat tinggi dan elektron-elektron belum dapat ditangkap oleh inti-inti atom. Ardh. 5." yakni bakal-bumi. maka penggunaan istilah "sop kosmos" sebagai keterangan melukiskan . Arsy. karena melukiskan Tuhan duduk di singgasana adalah syirik. karena orang dapat menulis sesuatu tak hanya dengan pena. maka saya akan mencakup keduanya dalam istilah energi-materi. Qalam. singgasana atau tahta.5 milyar tahun lalu di sekitar matahari. maka saya lebih suka mempergunakan katakata "Pemerintahan" (Allah) untuk mengartikan kata-kata arsy. dengan vulpen. Dan karena telah terbukti bahwa materi dan energi setara dan dapat berubah dari yang satu menjadi yang lain. karena dalam fase penciptaan alam itu air yang terdiri dari atom oksigen dan atom-atom hidrogen belum dapat berbentuk. air atau zat alir. Dukhan asap atau uap. galaksi-galaksi dan lain-lainnya. saya condong untuk menafsirkan sebagai pemerintahan lengkap dengan sarana. kini tak lagi diartikan sebagai bola super-raksasa yang dindingnya ditempeli bintang-bintang. hal ini tidak berarti bahwa gedung itulah yang mengambil keputusan. yang kecuali terkandung dalam asap dan uap juga lebih mengena bila dipergunakan melukiskan gejala yang ditemukan pada suatu sistem yang mendingin dari suhu yang sangat tinggi (dalam kasus ini bertrilyun-trilyun derajat). yang sudah ada sesaat setelah Allah menciptakan jagad-raya. 6. Karena secara eksprimental dapat dibuktikan bahwa ruang serta waktu merupakan satu kesatuan. aparatur dan peraturannya. 2. Maka saya condong mengartikan kata-kata ardh dengan istilah "materi. 1. Dan karena pada saat itu isi alam semesta yakni radiasi dan materi pada suhu yang sangat tinggi itu wujudnya lain daripada yang kita dapat temui di dunia sekarang ini. dan tanah di bumi kita ini baru terjadi sekitar 3 milyar tahun lalu sebagai kerak di atas magma. Memang begitulah karena sains akan berkembang dan akan senantiasa menemukan hal-hal yang yang dapat lebih melengkapi pengetahuan manusia hingga lebih memahami ayat-ayat Allah. dengan pangkal bulu. Sebab jika kita mengatakan: itu keputusan Bina Graha.yang terus baru dapat tak kunjung henti. maka saya condong untuk menggunakan istilah sarana tulis sebagai ganti "pena". CATATAN Di bawah ini disajikan pertimbangan yang saya pergunakan untuk memilih kata-kata dalam penafsiran. bahkan inti atom pun pada saat itu belum terbentuk! Oleh karenanya. dengan kuas. Malahan saya lebih suka mengartikan sebagai "karya tulis". pada saat awal penciptaan. maka saya gunakan istilah ruang-waktu sebagai ganti "ruang". karena bumi baru terbentuk sekitar 4. maka saya condong menggunakan istilah embunan.

a la fois. Ideologi adalah Weltanchauung. sesama manusia. Boisard hampir tidak pernah membahas karakteristik manusia menurut al-Qur'an. kata Fazlur Rahman (1980: 43). 7507173 Fax. ia kemudian menyebutkan bahwa al-Qur'an diwahyukan untuk memperkenalkan Tuhan kepada manusia. tacitement on explicitement. seperti lazimnya filsafat manusia (philosophic de l'homme). Karena itu dalam seluruh bukunya. KONSEP-KONSEP ANTROPOLOGIS (1/2) oleh Jalaluddin Rakhmat Al-Qur'an adalah kitab manusia. bukan untuk menjelaskan manusia -non pour expliquer l'humain (Boisard. ia menjelaskan perbedaan manusia dengan makhluk lain. ketika mengantarkan tulisannya tentang pandangan Qur'ani mengenai manusia dalam bab Les Fils d'Adam. yaitu Islam. Karena al-Qur'an seluruhnya berbicara untuk manusia atau berbicara tentang manusia. yang secara khusus menjelaskan principe d'entre manusia ini. Tuhan. 7501983. (021) 7507174 Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota Please direct any suggestion to Media Team Artikel Yayasan Paramadina Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota II. hubungannya dengan dunia. tidaklah terlalu aneh. Boisard (1979: 84). en fonction de l'objektif social poursuiri. la nature de l'individu et la place qui lui est assignee daus la groupe. UA 20-21 Jakarta Selatan Telp. Agak terperinci. dan fungsi manusia sebagai hamba Tuhan. tulis Marcel A. Semuanya dapat disimpulkan dalam kalimatnya. Ideologi adalah cara memandang realitas. mengulas manusia dari segi penciptaannya. I origine et le fin de la destine e humaine. walaupun Boisard mengakui pentingnya filsafat antropologis dalam Islam. . tapi tidak membahas principe d'entre manusia. yang menjelaskan realitas dalam perspektif tertentu. Metro Pondok Indah Pondok Indah Plaza I Kav. Yusuf Qardhawi (1977: 33) Masyarakat Islam dibentuk karena ideologinya. Dr.zat yang sangat rapat tapi dapat mengalir pada suhu yang amat tinggi. -------------------------------------------Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah Editor: Budhy Munawar-Rachman Penerbit Yayasan Paramadina Jln. [1] Dirk Bakker (1965) dalam bukunya Man in the Qur'an. Toute ideologie precise d'emblee. Di antara realitas penting yang diulas ideologi adalah manusia. Pour une religion eschatologique comme l'Islam. Adalah Rahman (1980). 1979: 84). dieu sera la reference primordial et unique puisqu'll est. Agak mengherankan.7. (021) 7501969.

what is called semantics today is so bewilderingly complicated. 1967) --yang membahas amanah sebagai inti kodrat manusia-. Ketika Izutsu membahas kosep Tuhan dan manusia dalam al-Qur'an. Kedua. 1980: 24) Rahman mengulas manusia dengan mengulas pandangan al-Qur'an tentang kedudukan manusia sebagai individu dan anggota masyarakat. 1964: 10). akan dibahas implikasi dari bidang semantik tersebut untuk memperoleh gambaran tentang Weltanschauung Qur'ani. sebetulnya menemukan bagaimana al-Qur'an memberi makna tentang konsep-konsep dasar manusia. Pertama. 1965) yang memperkenalkan metodologi semantik [2] dalam memahami konsep-konsep dasar al-Qur'an. penulis makalah ini juga outsider. 1964: 19). sebagaimana digunakan dalam al-Qur'an. saya menguraikannya secara terperinci. man ought to follow his nature. Makna pokok yang berkenaan dengan constant semantic element which remains attached to the word whereever it goes and however it is used (Izutsu. mereka meneliti ayat-ayat al-Qur'an yang berkenaan dengan manusia. Unfortunately. kita memilih istilah-istilah kunci (key-terms) dari vocabulary al-Qur'an. Sayangnya. hubungan komunikasi nonlinguistik. if not absolutely impossible. Ia menyebutkan tiga hubungan ontologis. Dengan kata lain. Jadi. Pertama. . kemudian mengenal bidang semantik setiap istilah itu. this tranformation of the is into ought is both fhe unique privelege and the unique risk of man (Rahman. dengan resiko salah beberapa langkah. for an outsider even to get a general idea of what it is like (Izutsu. Mungkin tulisan Mutahhari (tanpa tahun) dan beberapa tulisan lainnya (Lihat Mutahhari. kita menentukan makna pokok (basic meaning) dan makna nasabi (relational meaning). Malangnya di samping makalah ini tidak dimaksudkan untuk itu. 1986) membahas karakteristik khas manusia yang lebih "maju" dari al-Ghazali. yang kita anggap merupakan unsur konseptual dasar dari Weltanschauung Qur'ani ini. Dalam tulisan tersebut. Ia mengambil konsep Allah sebagai istilah kunci dan menjelaskan hubungan konsep itu dengan manusia. seperti Fazlur Rahman. juga dalam tulisan lain (Rahman. lalu menyimpulkan secara induktif. kita menyimpulkan weltanschauung yang menyajikan konsep-konsep itu dalam satu kesatuan. Tidak mungkin dalam makalah ini. kita mengidentifikasikan istilah-istilah al-Qur'an tentang manusia. Makna nasabi adalah makna tambahan yang terjadi karena istilah itu dihubungkan dengan konteks di mana istilah itu berada. dan hubungan komunikasi linguistik. Saya sangat terkesan dengan Izutsu (1964. Kedua. Tulisan ini mengambil jalan lain. Ketiga. Izutsu sendiri berkata. Ia sama sekali tidak menyebut berbagai konsep yang digunakan al-Qur'an untuk merujuk manusia.The only different is that while every other creature follows its nature automatically. juga walaupun pendek tulisan al-Faruqi (1404: 332). ia menyebut pembahasannya sebagai semantics of the Koranic weltanschauung.uraian Rahman tidak berbeda dengan pembahasan al-Ghazali yang lebih klasik (Lihat Othman. akan dibahas istilah-istilah kunci manusia dan bidang semantiknya. Ia tidak memulai dari konsep dasar yang digunakan al-Qur'an untuk mengabsorbsikan manusia. It is extremely difficult. Yang kita perlukan di sini. 1960).

ini bukan basyar. 1937). seks. Nabi Muhammad saw. 2:60. ia makan apa yang kamu makan. 7:38. 41:25. [3] Dalam seluruh ayat tersebut. anasiy. padahal aku tidak disentuh basyar (3:47). Mereka berkata. insiy. ia seperti manusia yang lain. 39. tapi sifat-sifat psikologis (atau spiritual). ins. mereka berkata. bagaimana mungkin aku mempunyai anak. atau bagaimana kaum yang diseru para nabi menolak ajarannya. 128. misalnya. Anasiy dalam bentuk jamak dari insan. Katakanlah. Al-Syaukani (1964. dengan mengganti nun atau ya atau boleh juga bentuk jamak dari insiy. menjadi karasiy (Lihat al-Thabrasi. ada tiga istilah kunci yang mengacu kepada makna pokok manusia: basyar. Kata Basyar dihubungkan dengan mitslukum (tujuh kali) dan mitsluna (enam kali) diantara ayat-ayat tersebut di muka. Lihatlah bagaimana Maryam berkata. Bukankah ia Basyar seperti kamu.BASYAR. Sama tidak tepatnya untuk tidak menafsirkan Sesungguhnya telah kami jadikan insan dalam bentuk yang sebaik-baiknya (95: 4) dengan menunjukkan karakteristik fisiologi manusia. yang merupakan bentuk lain dari insan. 25: 20. orang-orang kafir selalu berkata. 27:56) dan menunjukkan kelompok atau golongan manusia. Bukankah Rasul itu memakan makanan dan berjalan-jalan di pasar. 55:33. 41:6). 25: 7." bukan superman. Basyar disebut 27 kali. dan ia minum apa yang kamu minum (33:33). Ada konsep-konsep lain yang jarang dipergunakan dalam al-Qur'an dan dapat dilacak pada salah satu di antara tiga istilah kunci di atas. DAN AL-NAS Dalam al-Qur'an. 17:88. dan al-Nas. Dan tidak Kami utus sebelummu para utusan kecuali mereka itu memakan makanan dan berjalan-jalan di pasar. hanya saja aku diberi wahyu bahwa Tuhanmu ialah Tuhan yang satu (18:110. Kecenderungan para Rasul untuk tidak patuh pada dosa dan kesalahan bukan sifat-sifat biologis. unas. dan QS. unas digunakan untuk menunjukkan 12 golongan dalam Bani Israil. 56. Anasiy hanya disebut satu kali (25:49). Marilah kita kembali kepada ketiga istilah kunci tadi. Unas disebut lima kali dalam al-Qur'an (2:60. 46:18. Ayat ini ditegaskan dalam QS. Ketika wanita-wanita Mesir takjub melihat ketampanan Yusuf as. Dalam QS. Basyar. INSAN. basyar memberikan referensi pada manusia sebagai makhluk biologis. Surat 17:21 dengan jelas menunjukkan makna ini pada hari kami memanggil setiap unas dengan imam mereka. insan. 7:82. Secara singkat konsep basyar selalu dihubungkan dengan sifat-sifat biologis manusia: makan. 29. Tentang para Nabi. 130. kita tidak tepat menafsirkan basyarun mitslukum sebagai manusia seperti kita dalam hal berbuat dosa. 70:160. 17:71. 5: 465) menyebutkan umumnya para mufasir mengartikan ayat ini untuk menunjukkan kelebihan manusia secara fisiologis: berjalan tegak. minum. 51:56. Yusuf Ali (1977: 1759) dengan tepat menafsirkan ayat ini to man God gave the purest and the best nature.. berjalan di pasar. karena nabi hanyalah basyar --manusia biasa yang "seperti kita. and man's duty is to preserve the pattern on which God has made him (QS 30:30). 6). dan selalu dihubungkan dengan jinn sebagai pasangan makhluk manusia yang mukallaf (6:112. Ins disebut 18 kali dalam al-Qur'an. Ya Allah. aku ini manusia biasa (basyar) seperti kamu. 74. disuruh Allah menegaskan bahwa secara biologis. Dari segi inilah. 72:5. 179. seperti kursiy. dan makan dengan menggunakan tangan. Tapi Ibn 'Arabi . tapi ini tidak lain kecuali malaikat yang mulia (12:31). 27:17. Tuhanku.

Manusia diberi kemampuan mengembangkan ilmu dan daya nalarnya. 'isr). "Ia mengajarkan (insan) al-bayan" [6] (55: 3). dan bahkan musyrik (10:12. . setelah Allah menjelaskan sifat insan yang tidak labil. 14. [4] Kita dapat mengelompokkan konteks insan dalam tiga kategori. Insan disebut 65 kali dalam al-Qur'an. 42:48. menganalisis. untuk menciptakan tatanan dunia yang baik. memikirkan. Allah berfirman. Yang mengajar dengan pena. Dalam hubungan inilah. 46:15). semua konteks insan menunjuk pada sifat-sifat psikologis atau spiritual. Dan ketiga Insan dihubungkan dengan proses penciptaan manusia. 49. umumnya para mufassir bermula dari salah paham tentang semantic field istilah insan. 11:9. Tak ada makhluk Allah yang lebih bagus daripada manusia. kekeliruan penafsiran. kita melihat keistimewaan manusia sebagai wujud yang berbeda dengan hewani. 5). 51. bila ia mendapat keberuntungan. Amanah inilah yang dalam ayat-ayat lain disebutkan sebagai perjanjian (ahd. kedua. Sekali lagi. berkuasa. amanah adalah menemukan hukum alam. mengetahui. 31:14. dalam menyembah Allah. dan ini adalah sifat-sifat rabbaniyah. Ketiga. 50:16). dengan inisiatif moral insani. Kecuali kategori ketiga yang akan kita jelaskan kemudian. Di dalamnya terkandung makna khilafah. 80:17. yang berbeda dengan basyar. Insan dihubungkan dengan predisposisi negatif diri manusia. Bila ia ditimpa musibah. [7] Predisposisi untuk beriman inilah yang digambarkan secara metaforis [8] dalam surat 7:172. berbicara. Ia diwasiatkan untuk berbuat baik (29:8. kata insan berkali-kali dihubungkan dengan kata nazhar. Karena itu juga. karena manusia memikul amanah.berkata. amalnya dicatat dengan cermat untuk diberi balasan sesuai dengan apa yang dikerjakannya (53: 39). dan memutuskan. takabur. Keempat. Insan dihubungkan dengan keistimewaannya sebagai khalifah atau pemikul amanah. manusia sebagai pemikul al wilayah al-ilahiyyah. 41:49. tt. berkehendak. 39:8. 89:15). insan sangat dipengaruhi lingkungannya. Pertama. dan penciptaannya (86: 5). Menurut Fazlur Rahman (1967: 9). 89:23). mitsaq. mendengar. ia cenderung menyembah Allah dengan ikhlas. [5] (96: 4. maka insan dalam al-Qur'an juga dihubungkan dengan konsep tanggung jawab (75: 36. Akan Kami perlihatkan kepada mereka (insan) tanda-tanda Kami di alam semesta ini dan pada diri mereka sendiri sehingga jelas baginya bahwa ia itu al-Haq (41: 53). Karena itu. Kedua. proses terbentuknya makanan dari siraman air hujan hingga terbentuknya buah-buahan (80: 24-36). manusia adalah makhluk yang memikul amanah (33: 72). 17:83. Menurut al-Qur'an. mengajar insan apa yang tidak diketahuinya. menguasainya atau dalam istilah al-Qur'an "mengetahui nama-nama semuanya" dan kemudian menggunakannya. melihat. Insan. insanlah yang dimusuhi setan (17:53. Pada kategori pertama. 59:16) dan ditentukan nasibnya di hari Qiyamat (75:10. Allah membuatnya hidup. mengamati) perbuatannya (79: 35). (Al-Thabathabai. ia cenderung sombong. 13. 351-352) mengutip berbagai pendapat para mufassir tentang makna amanah dan memilih makna amanah sebagai predisposisi (isti'dad) untuk beriman dan mentaati Allah. 79:35. 75:3. 17:67. manusia adalah makhluk yang diberi ilmu. Insan disuruh menazhar (merenungkan.

gelisah. Yang pertama. Tak mungkin dalam makalah . 7501983.21).-------------------------------------------.(bersambung 2/2) Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah Editor: Budhy Munawar-Rachman Penerbit Yayasan Paramadina Jln. bodoh (33:72). "Tidak boleh (seorang mukmin) mengurangi hak-hak tubuh untuk memenuhi hak ruh. pada kata al-Nas). 7:381). banyak membantah atau mendebat (18:54. kata insan dihubungkan dengan predisposisi negatif pada diri manusia. 20. Sebagai insan manusia diciptakan dari tanah liat. manusia adalah gabungan kekuatan tanah dan hembusan Ilahi (bain qabdhat al-thin wa nafkhat al-ruh). (021) 7501969. meragukan hari akhirat (19:66). yang kedua unsur insani. dan tidak boleh ia mengurangi hak-hak ruh untuk memenuhi hak tubuh. 32:7). dan segan membantu (70:19. Demikian pula basyar berasal dari tanah liat. al-Mu'jam. 22:66. (021) 7507174 Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota Please direct any suggestion to Media Team Artikel Yayasan Paramadina Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota II. Konsep kunci ketiga ialah al-Nas yang mengacu pada manusia sebagai makhluk sosial. 43:15). Metro Pondok Indah Pondok Indah Plaza I Kav. manusia itu cenderung zalim dan kafir (14:34. ditakdirkan untuk bersusah payah dan menderita (84:6. tidak berterima kasih (100:6). Yang pertama unsur basyari.7. insan menjadi makhluk paradoksal. unsur material dan yang kedua unsur ruhani. Bila dihubungkan dengan sifat-sifat manusia pada kategori pertama. bakhil (17:100). tanah (15:28. lihat 'Abd al-Baqi. saripati tanah." kata Abbas Mahmud al-'Aqqad (1974. Kedua kekuatan ini digambarkan dengan kategori ayat-ayat ketiga. Keduanya harus tergabung dalam keseimbangan. tergesa-gesa (17:11. tanah (15:26. 23:12. resah. Menurut al-Qur'an. yang berjuang mengatasi konflik dua kekuatan yang saling bertentangan: kekuatan mengikuti fitrah (memikul amanat Allah) dan kekuatan mengikuti predisposisi negatif. Menurut Qardhawi (1973: 76). UA 20-21 Jakarta Selatan Telp. KONSEP-KONSEP ANTROPOLOGIS (2/2) oleh Jalaluddin Rakhmat Pada kategori kedua. Ini mendorong saya untuk menyimpulkan bahwa proses penciptaan manusia menggambarkan secara simbolis karakteristik basyari dan karakteristik insani. 21:37). berbuat dosa (96:6. Inilah manusia yang paling banyak disebut al-Qur'an (240 kali. 38:71. 16:4. Secara menarik proses penciptaan manusia atau asal kejadian manusia dinisbahkan pada konsep insan dan basyar sekaligus. 90:4). 36:77). 7507173 Fax. Al-Nas. 30:20) dan air (25:54). 75:5). 55:14.

Al-Nas sering dihubungkan al-Qur'an dengan petunjuk atau al-Kitab (57:25. dengan memperhatikan ungkapan aktsar al-Nas. 2:243. kita menemukan kelompok manusia yang menyatakan beriman. melalaikan ayat-ayat Allah (10:92). Ia menyerap sifat-sifat rabbaniah menurut ungkapan Ibn Arabi. kita menjelaskan seluruh bidang semantik istilah al-Nas. seperti sama'. Cukuplah di sini ditunjukkan beberapa hal yang memperkuat pertanyaan pada awal paragraf ini --yakni. mereka akan menyesatkanmu dari jolan Allah. 29:10). dan sebagainya). fasiq (5:49). Pada keadaan itu.36.68. 12:38). yang mempesonakan orang dalam pembicaraan tentang kehidupan dunia. yang berilmu atau dapat mengambil pelajaran (18:22. 30:6. 14:1. Ia dengan sendirinya musayyar. yang tidak diperdayakan syetan (4:83). 12:103. Jika kamu ikuti kebanyakan yang ada di bumi. kalam. tapi sebetulnya tidak beriman (2:8). 13:1). 38:24. al-Qur'an menegaskan bahwa petunjuk al-Qur'an bukanlah hanya dimaksudkan pada manusia secara individual. Namun manusia sebagai insan dan al-Nas bertalian dengan unsur hembusan Ilahi. tapi ia diberikan kekuatan untuk tunduk atau melepaskan diri daripadanya. bashar. 4:155). tidak bersyukur (40:61. 12:21. yang selamat dari azab Allah (11:116). 32:9). 69:42). 40:58. Kepadanya dikenakan aturan-aturan. Ia mengemban wilayah Ilahiyah. Manusia sebagai basyar berkaitan dengan unsur material. 2:88. Surat 6116 menyimpulkan bukti kedua ini. baik dari segi ilmu maupun dari segi iman. yang hanya memikirkan kehidupan dunia (2:200). yang dilambangkan manusia dengan unsur tanah. Dengan memperhatikan ungkapan ini. 27:62. 23:78. hewan dan tumbuh-tumbuhan. maka ada juga hukum-hukum yang mengendalikan manusia sebagai makhluk psikologis dan makhluk sosial. 24:35. yang mengambil sekutu terhadap Allah (2:165). kita dapat menyimpulkan. 40:57). Ayat-ayat ini dipertegas dengan ayat-ayat yang menunjukkan sedikitnya kelompok manusia yang beriman (4:66. Kedua. Ayat-ayat itu lazimnya dikenal dengan ungkapan wa min al-Nas (dan diantara sebagian manusia). tetapi memusuhi kebenaran (2:204). qadar. yang bersyukur (34:13. petunjuk. Menurut al-Qur'an sebagian manusia itu tidak berilmu (7:187. 67:23. WELTANSCHAUUNG QUR'ANI TENTANG MANUSIA Dari uraian di muka tampak al-Qur'an memandang manusia sebagai makhluk biologis. 30. seperti kata . 39:27. tidak beriman (11:17. psikologis dan sosial. Pertama. Sebagaimana ada hukum-hukum yang berkenaan dengan karakteristik biologis manusia. dan al-Kitab (22:3. tapi juga manusia secara sosial. 4:46. Banyak ayat yang menunjukkan kelompok-kelompok sosial dengan karakteristiknya. 28. kafir (17:89. al-Nas menunjuk pada manusia sebagai makhluk sosial. sebagian besar manusia mempunyai kwalitas rendah. Ia menjadi mahkluk yang mukhayyar.8. manusia secara otomatis tunduk kepada takdir Allah di alam semesta. 7:10. yang menjual pembicaraan yang menyesatkan (31:6).singkat ini. 45:26. sama taatnya seperti matahari. 25:50). 34:28. Ketiga. 7:3. dan kebanyakan harus menanggung azab (22:18). di samping ada sebagian orang yang rela mengorbankan dirinya untuk mencari kerelaan Allah. yang berdebat dengan Allah tanpa ilmu. 4:170. 31:20). yang menyembah Allah dengan iman yang lemah (22:11.

al-Mu'jam.30:65) menjelaskan ayat ini. "Allah mengangkat derajat orang-orang yang beriman diantara kamu dan orang-orang yang diberi ilmu" (QS. 58:11). Karena banyak. Dalam pandangan al-Qur'an. jawab. 5. Karena itu. Sesungguhnya kami jadikan apa yang ada dipermukaan bumi sebagai perhiasan untuk menguji mereka. tapi suatu prinsip adanya (principe d'etre)." tulis Leahy (1985: 11) 2. Ada dua komponen esensial yang membentuk hakikat manusia yang membedakannya dari binatang. Sesuatu yang olehnya manusia menjadi apa yang terwujud. Keduanya harus dikembangkan secara seimbang. 67:2). pembaca dianjurkan melihat sendiri dalam Al-Baqi." tulis Mutahhari (tt. Obyek formal dari filsafat manusia ialah inti manusia. Ini terjadi bila manusia tetap setia pada amanah yang dipikulnya. but. Al-Qur'an tak lain merupakan rangkaian ayat yang mengingatkan manusia untuk memenuhi janjinya itu. 1964:11) 3. menurut al-Qur'an. dan lebih sedikit lagi orang yang beriman dan berilmu. yaitu potensi mengembangkan iman dan ilmu. kewajiban manusia ialah memenangkan predisposisi positif. 4. Dr Muhammad Mahmud Hijazi (1968. Mu'jam. al-Qur'an menyatakan hidup ini medan untuk membuktikan 'amal shalih. Kelompok terakhir inilah yang disebut al-Qur'an. sesuatu yang olehnya ia merupakan sebuah nilai yang unik. Metodologi semantik didefinisikan sebagai an analytic study of the key-terms of language with a view to arriving eventually at a conceptual grasp of the Weltanschauung or world-view of the people who use that language as tool not only of speaking and thinking. yakni sejauh mana ia mengembangkan iman dan ilmunya. siapa diantara mereka yang paling baik amalannya (18:7). Makna hidup manusia diukur sejauh mana ia berhasil beramal sebaik-baiknya. ia dituntut untuk bertanggung Karena pada manusia ada predisposisi negatif dan positif sekaligus.al-Thabathabai. sebuah benda. Lihat al-Baqi. Inilah hakikat kemanusiaannya. "Karenanya. CATATAN 1. sedikit orang yang berilmu. of conceptualizing and interpreting the world that surround them (Izutsu. sesuatu yang olehnya manusia mempunyai karakteristik yang khas. Ia lah yang menciptakan kehidupan dan kematian untuk menguji kamu siapa diantara kamu yang paling baik amalnya (QS. Usaha untuk mengembangkan keduanya disebut 'amal shalih. Sedikit orang yang beriman. Secara konkrit kesetiaan ini diungkapkan dengan kepatuhan pada syari'at Islam yang dirancang sesuai amanah. sedikit sekali orang yang dapat mengembangkan ilmu dan iman ini sekaligus. "Allah telah memberi manusia gairah dan kemampuan untuk meneliti dan menyelidiki untuk mengadakan percobaan sehingga . Bila Sartre mengatakan hidup ini absurd. "Apa yang ingin ditelaah bukanlah suatu makhluk.: 17). kita menyimpulkannya bahwa ilmu dan iman adalah dasar yang membedakan manusia dari makhluk lainnya. alam kodratnya strukturnya yang fundamental. more important still.

The Covenant in The Koran. 1964. kemampuan mengembangkan ilmu. Beirut: Dar el-fikr. Yusuf 1977. Muhamad Hussein. ancaman. janji. Muhammad Mahmud. 8. 1978. Lalu ia menundukkan semuanya untuk berbakti memenuhi kehendak manusia. "Nazhriyat al-lnsan fi 'l. Biazar (1366) banyak memberikan contoh-contoh yang menarik. Marcel A. Lihat al-Syaukani (1964. 1937. sumpah dengan ayat-ayat Allah. tanda-tanda yang berjanji. 5:131). 1356. Surat-surat dalam al-Qur'an mengingatkan manusia pada perjanjian Allah. Al-Bayan ditafsirkan sebagai kemampuan berbicara. Izutsu. Al-Syaukani. Qum: Al-Hauza al-Ilmiyah.sampai pada pengetahuan tentang rahasia alam semesta serta tabiat segala hal. saksi. Beirut: Dar al-Kutub al-Lubuani. Fath al-Qadir Kairo: Mustafa Al-Babi al-Halbi. Boisard." 6. Toshihiko. terjadi banyak ikhtilaf di kalangan mufassir. DAFTAR KEPUSTAKAAN Abd al Baqi. 1968. 1966. Al-Faruqi. pengetahuan tentang halal dan haram. Al-Thabrasi. dan pelajaran dari masa lalu. Muhammad bin Ali. "Al-lnsan fil Qur'an" dalam Al-A'mal al-Kamilah. Al-Mu'jam al Mufahras Li al-Alfazh al Qur'an al-Karim. Penerbit tidak diketahui. Al-'Aqqad Abbas Mahmud. Muhammad Fuad. Tanpa tahun. 1974. Man in The Qur'an. The Holy al-Qur'an American Trust Publication. yang terdiri dari pihak pertama (Allah) pihak kedua (Manusia).Qur'an. Al-Mizan fi 'l-Tafsir al-Qur'an. Abd al-Karim Biazar menulis tentang the Covenant in the Qur'an sebagai kunci yang mempersatukan ayat-ayat dalam setiap surat al-Qur'an. 1404. Ali. Ismail. 19:95) 7. Tokyo Keio Institute of Cultural and Linguistic Studies. jilid 7. 1964. Paris: Albin Michel. Ahd al Karim. no 9. Al-Thabathabai. nikmat Allah. Uraian berbagai pendapat tersebut beserta kritiknya disajikan lengkap oleh Subhani (1400:75 106). Abu Ali Al-Fadhl. Dirk. al-Thabathabai (TT." al-Tawhid. tahun 2. Amsterdam: Drukkerrij Holland NV: Biazard. Al-Tafsir al-Wadhih Kairo: A1-Istiqdal al-Kubra. Tentang perjanjian manusia di alam dzarrah ini. . daftaer kondisi yang harus dipenuhi pihak kedua. God and Man in The Koran. Hijazi. Sida: A1-Irfan Bakker. L'humanisme de L'Islam. Majma' al-Bayan.

The Qur'anic Concept of God. Ja'far. and Man. ------. mengaturnya. 1973. March 1967. 1977. Ethico Religious Concepts in the Qur'an. Tanpa tahun. (021) 7501969. Ali Yafie Hukum yang diperkenalkan al-Qur'an bukanlah sesuatu yang berdiri sendiri. Montreal: McGill University Press. dapat disaksikan betapa teraturnya alam raya ini. 7507173 Fax. memeliharanya dan menjaganya sehingga segala makhluk itu menjalani kehidupannya masing-masing dengan baik dan melakukan fungsinya masing-masing dengan tertib. 1966. Maktabah Wahbah. VI: 1. Qum: Antara lain Khayyam. 7501983. Akidah tentang Allah yang menciptakan alam semesta. 1960. Chicago: Bibliotheca Islamica Subhani. Murtadha. Bandung: Mizan. Leahy. Othman. Al-Insan wa 'l-Iman Teheran: Muassasah al-Bi'tsah. Al-Khashaish al-Amimah li 'l-Islam. tapi merupakan bagian integral dari akidah. Major Themes of the Qur'an. Islamic Studies. Betapa teraturnya gerakan bintang-bintang pada garis edarnya . 1980. Manusia: Sebuah Misteri. Kairo: Dar al-Maaref Qardhawi. the universe. UA 20-21 Jakarta Selatan Telp. -------------------------------------------Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah Editor: Budhy Munawar-Rachman Penerbit Yayasan Paramadina Jln. Louis. Hukum Allah meliputi segenap makhluk (alam semesta). 1400. KONSEP-KONSEP HUKUM (1/3) oleh KH. Fazlur. Ali Issa. [1] Melalui suatu pengamatan yang cermat atas segala alam sekitar kita. 1986.8.------. ------. 1965. Jakarta: Gramedia. The Concept of Man in Islam in the writings of Al Ghazali. Metro Pondok Indah Pondok Indah Plaza I Kav. 1986. ------. Maktabah Wahbah Rahman. Mutahhari. Manusia dan Agama. Yusuf. Ma'alim al-Tawhid fi 'l-Qur'an al-Karim. Al-Iman wa 'l-Hayat. (021) 7507174 Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota Please direct any suggestion to Media Team Artikel Yayasan Paramadina Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota II.

sangatlah jelas dan berulang-ulang kali disampaikan dalam sekian banyaknya ayat-ayat al-Qur'an.Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi. maka peliharalah kami dari siksaan neraka. semuanya bergerak menurut ketentuan-ketentuan hukum alam yang mengaturnya. memberikan informasi yang jelas pada kita betapa alam raya ini mulai dari bagian-bagiannya yang terkecil seperti partikel-partikel dalam inti atom yang sukar dibayangkan kecilnya. menalar.. [7] Petunjuk-petunjuk al-Qur'an yang mengarahkan manusia untuk berfikir.. Lewat ilmu pengetahuan alam kita diperkenalkan dengan hukum-hukum fisika dan kimia serta biologi. hukum konservasi. mengomentari ayat-ayat ini dengan sabdanya. hukum reproduksi dan embriologi. dapat kita renungkan salah satu ayat al-Qur'an yang berbunyi. hukum relativitas. [3] Pesan untuk mengamati.masing-masing. sehingga jelaslah bagi mereka bakwa al-Qur'an itu adalah benar. Pusat pengatur tubuh. Ilmu pengetahuan mengungkapkan. pencernaan dan tugas-tugas lain yang tidak terbilang banyaknya. Penemuan hukum-hukum alam (natuurwet) sebagaimana disinggung di atas. sampai kepada galaksi-galaksi yang tak terbayangkan besar dan luasnya. meneliti. lebih mengesankan lagi. Maha Suci Engkau. hukum gravitasi. [2] Dalam hubungan ini. dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal. [4] . Katakanlah! Perhatikanlah apa yang ada di langit dan di bumi. Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan) Kami segenap ufuk dan pada diri mereka sendiri. tekanan darah kita. dilengkapi dengan petunjuk-petunjuk lain yang bersifat detail dimana terbayang isyarat-isyarat yang mengacu pada pokok-pokok ilmu pengetahuan tentang alam dan hukum-hukum yang berlaku atasnya. Tidaklah bermanfaat tanda kekuasaan Allah dan Rasul-rasul yang memberi peringatan bagi orang-orang yang tidak beriman. Meskipun demikian fungsi-fungsi tubuh yang tidak tampak. Dan yang lebih dekat kita renungkan ialah keadaan tubuh jasmani kita sendiri. yakni otak memiliki kemampuan merekam dan menyimpan lebih banyak informasi dibandingkan dengan pesawat apapun. mengamati dan meneliti sebagaimana disinggung di atas yang sifatnya global.. kode genetik. Dan apakah mereka tidak memperhatikan kekuasaan langit dan bumi dan segala sesuatu yang diciptakan Allah . hukum gerak. memikirkan dan mempelajari alam semesta. jumlah panjang jaringan pembuluh darahnya sampai 100 ribu kilometer dan lebih dari 500 macam proses kimiawi terjadi di dalam hati. [6] Rasulullah saw. Tubuh manusia jauh lebih rumit dan menakjubkan daripada pesawat komputer. Bumi tempat kita hidup yang berputar pada sumbunya dan beredar pada orbitnya di sekeliling matahari dalam jangka waktu tertentu dan pasti menyebabkan silih bergantinya siang dan malam dan bertukarnya satu musim ke musim lain secara teratur. tubuh mengatur suhu badan kita. hukum Pascal. Sedangkan ketangguhannya menunjukkan staminanya. tubuh manusia terdiri dari 50 juta sel.. tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia. seperti hukum proporsi. Prestasi atletik seringkali memperlihatkan tenaga tubuh yang bersifat melar. [5] .. (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang Engkau menciptakan langit dan bumi (seraya berkata) ya Tuhan kami. Misalnya .. Tanpa kita sadari. Celakalah orang yang membaca ayat ini lalu tidak berfikir.

air. dan sekali-kali tidak (pula) akan menemni penyimpangan dari sunnatullah itu.Dan matahari itu berjalan di tempatnya.untuk terjun menggali ilmu pengetahuan yang luas dan khazanah ilmiah bangsa-bangsa Yunani. penelitian dan penalaran lewat ilmu-ilmu yang mempelajari perilaku dan sifat-sifat makhluk-makhluk. al-Ghazali dan serentetan nama besar yang tidak asing bagi dunia ilmu pengetahuan di Timur dan di Barat.(Allah telah menetaphan yang demikian) sebagai sunnatullah pada mereka yang telah berlaku dahulu. tumbuh-tumbuhan.. dan ditetapkan manzilah-manzilah (mansion) bagi peredarannya supaya kalian mengetahui bilangan tahun-tahun dan perhitungannya. sehingga menghasilkan ilmuwan-ilmuwan besar seperti Ibn Sina. dan tentang manusia sendiri dan kejadiannya serta segala macam permasalahannya. Ibn Rusyd. Dan telah Kami tetapkan bagi bulan manzilah-manzilah perjalanan sehingga (setelah ia sampai ke manzilah terakhir) kembalilah ia sebagai bentuk tandan yang tua. [10] Dalam terminologi teologis hal semacam itu termasuk dalam kategori qadar dan qadla. kilat. Sesungguhaya Kami menciptakan segala sesuatu dengan qadar. biasanya dalam bahasa ilmu-pengetahuan disebut natuurwet atau hukum alam. dan adalah ketetapan Allah itu suatu qadar yang pasti berlaku. menurut ukuran. mendorong minat dan membangkitkan semangat kaum Muslim angkatan-angkatan pertama --yang dapat menghayati ayat-ayat al-Qur'an ini-. Parsi. Kehadiran ayat-ayat yang mengandung isyarat-isyarat yang mengacu pada pengungkapan misteri alam. al-Farabi. Ayat yang secara jelas merangkaikan sunnatullah itu dengan qadar. telah mengungkapkan banyak penemuan yang memperkenalkan kepada kita hukum-hukum yang berlaku dengan pasti atas alam ini. [11] Penjelasan lebih jauh tentang qadar itu dapat kita simak dari beberapa ayat. namun istilah ini lebih mendominasi hal-hal yang bersangkut paut dengan perilaku manusia. Isyarat yang ada dibalik kalimat ini dapat ditangkap lebih jelas dengan bantuan ilmu fisika yang membahas tentang materi dan unsur. berbunyi . Adanya sejumlah ketentuan yang pasti dan berlaku sebagai hukum yang mengatur segala makhluk di alam raya ini. Benda-benda yang ada disekeliling kita.. Salah satu ayatnya mengatakan. Allah tidak menciptakan yang demikian itu melainkan dengan hak. Maka sekali-kali kamu tidak akan mendapat pergantian bagi sunnatullah itu. [9] Kedua ayat ini cukup jelas isyarat-isyaratnya yang dapat ditangkap ilmu astronomi. India dan Cina di bidang pengetahuan filsafat dan alam. [12] Kata bi qadar (dengan qadar) di sini ditafsirkan.dianggap identik dengan determinisme.ayat yang berbunyi. itulah ketentuan dari Yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui. Tidaklah mungkin bagi matahari mencapai bulan dan malampun tidak dapat mendahului siang. Dan masing-masing di dalam orbitnya pada beredar.. dan sering kali --secara kurang hati-hati-. awan. di dalam bahasa al-Qur'an kadangkala disebut sunnatullah. Romawi. diantaranya. Dialah yang menjadikan matahari bersinar dan bulan bercahaya. Upaya pengamatan. Dia menguraikan tanda-tanda (kekuasaannya) kepada orang-orang yang mengetahui (berilmu)" [8] . Demikian pula halnya dengan ilmu-ilmu lain yang dapat menangkap isyarat-isyarat berbagai ayat al-Qur'an yang berbicara tentang hewan. baik berupa benda mati maupun makhluk hidup.. yang merupakan .

unsur-unsur telah bergabung membentuk suatu senyawa. sebagian besar mengaitkan bermacam-macam fenomena alam yang dimintakan perhatian supaya manusia mengamatinya dan melakukan penalarannya untuk dapat membaca tulisan Ilahi yang tersirat di dalamnya. Dan Dia (Allah) telah menciptakan segala sesuatu dan Dia-lah yang menetapkan qadar/ukurannya secara pasti serapi-rapinya. [15] -------------------------------------------. emas. memperlihatkan kepada kita adanya kadar ukuran tertentu yang menjadi ketentuan-ketentuan yang pasti yang dapat diamati dalam diri setiap makhluk. jumlah protonnya 78. demikian pula dengan proporsi nitrogen dan hidrogen dalam amoniak. 7507173 Fax. Misalnya. mereka tidak mampu membaca tulisan Ilahi yang tergurat di atas lembaran-lembaran alam semesta.bahan-bahan kebutuhan dalam hidup kita seperti kayu. hewan. mengikuti suatu aturan yang dikenal hakam proporsi yang sudah tertentu. Air murni selalu mempunyai proporsi oksigen dan hidrogen yang sudah tertentu dan tetap.. air dan sebagainya. (021) 7501969. Isyarat serupa yang kita peroleh dari informasi ilmu fisika sebagaimana disinggung di atas. Misalnya unsur oksigen bergabung dengan hidrogen membentuk senyawa cair. (021) 7507174 Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan . Unsur-unsur yang tergabung dalam suatu senyawa selalu mempunyai proporsi tertentu. unsur Ni (nikel). 7501983. unsur Fe (besi). jumlah protonnya 80. . Mungkin itulah yang disindir Imam Ghazali dengan ungkapannya:. Padahal ayat-ayat yang berbicara tentang qudrat-iradat Allah/kekuasaan dan keagungan Allah. tulisan tanpa aksara dan bunyi itu pasti tidak dapat diraih dengan mata telanjang. jumlah protonnya 26. [13] Secara sepintas dari dua informasi yang disajikan di atas. jumlah protonnya 29. dan disebut air. Tergabungnya dua unsur atau lebih melalui pola persenyawaan atau pola percampuran membentuk suatu materi tertentu. Sebahagian besar dari materi-materi yang kita kenal terdiri dari unsur-unsur. perak. besi. unsur Au (emas). Metro Pondok Indah Pondok Indah Plaza I Kav. unsur Pt (platina).. jumlah protonnya 28. UA 20-21 Jakarta Selatan Telp. jumlah proton yang terkandung di dalamnya 13. jumlah protonnya 79. unsur Hg (air raksa). tapi harus dengan mata hati. semuanya itu termasuk dalam kategori materi. Semuanya ini merupakan bagian dari hukum yang mengatur dan memelihara alam semesta. [14] Pembahasan teologis dalam bidang qada dan qadar (masalah takdir) kurang menyentuh apa yang kami singgung di atas.(bersambung 2/3) Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah Editor: Budhy Munawar-Rachman Penerbit Yayasan Paramadina Jln.". tumbuh-tumbuhan. jumlah protonnya 47. unsur Cu (tembaga). Dalam hubungan ini dapat kita hayati ungkapan sebuah ayat yang berbunyi. dan seterusnya. seng.. Juga untuk menemukan sunnatullah atau hukum-hukum kauniyah yang akan menopang tegaknya hukum-hukum syar'iyyah. unsur Al (aluminium). dapat pula kita temui dari informasi ilmu kimia yang membahas unsur-unsur itu. Dalam kasus-kasus seperti ini. unsur Ag (perak).

Fathir. KONSEP-KONSEP HUKUM (2/3) oleh KH. yang diminta al-Qur'an supaya diamati. Ali 'Imran. sunana al-ladzina min qablikum. sebagaimana berlaku natuurwet.8. Hijr. Selain itu. dan sebagainya." Ayat-ayat di dalam surah-surah al-Isra'. Demikian pula halnya dengan tempat-tempat bersejarah seperti Badr. al-Fath. . al-Anfal. dan seterusnya. aspek kesejarahan mempunyai juga arti penting dalam hukum-hukum syar'iyyah. Jalut. Hukum yang berlaku sepanjang sejarah kehidupan manusia. Apa yang dikenal dalam ilmu hukum dengan historis-interpretasi cukup jelas padanannya dalam ilmu ushul fiqh yang lazim dipakai dalam mengolah hukum Islam. al-Tsamud. al-Ahzab. Hunain. dan lain sebagainya. tapi merupakan hasil kerja keras yang lama dan berkesinambungan. Sunnah Rasullullah saw yang menggambarkan perjuangannya selama dua dasawarsa lebih. Ali Yafie Sunnatullah yang diperkenalkan al-Qur'an sebagaimana diuraikan di atas tidaklah terbatas pada ketentuan-ketentuan yang mengatur alam materi saja. direnungkan dan mengambil pelajaran daripadanya. asbab al-nuzul. yang berbicara tentang sunnatullah dengan berbagai formulasi seperti sunnat alawwalin. merupakan sebagian dari sunnatullah. yang banyak dicatat dalam al-Qur'an menerjemahkan dengan jelas sunnatullah yang berlaku dalam sejarah. yang berlaku secara pasti. Uhud. Dalam rangka itu al-Qur'an memperkenalkan tokoh-tokoh sejarah zaman lampau seperti Fir'aun. Dari sejarah itu tergambar bagaimana proses kebangkitan suatu umat dan bagaimana proses kehancurannya. Thur. Sejarah mempunyai hukumnya sendiri dalam hal-hal tersebut di atas. Ahqaf. Haman. semuanya berkaitan dengan peristiwa sejarah yang dialami para Nabi/Rasul dengan umatnya masing-masing. bahkan dalam al-Qur'an. semuanya itu adalah untuk memperjelas proses terbentuknya suatu hukum dan latar belakang sejarah yang mendorong kehadiran hukum tersebut. Ghafir.ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota Please direct any suggestion to Media Team Artikel Yayasan Paramadina Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota II. yang mengabaikan nilai-nilai moral. al-Kahf. al-Nisa. yang hidup bergelimang kemewahan. Sukses besar berupa keberhasilan membangun dan membina suatu umat teladan. semua itu tidaklah lahir dalam sehari dengan kilatan lampu aladin. Tubba'. apa faktor-faktor kemenangan dan apa faktor-faktor kegagalan dalam satu perjuangan. Saba'. dengan adanya hukum nasikh-mansukh. Quraisy. yang memeras golongan lemah. asbab al-wurud dan status makkiyah atau madaniyah dari ayatayat. tapi juga menjangkau alam nonmateri. sunnata man arsalna qablak. pemakaian kata sunnatullah lebih banyak mengacu pada apa yang disebut oleh ilmu pengetabuan sebagai "hukum sejarah. dan memenangkan suatu perjuangan besar dalam menegakkan kebenaran dan keadilan serta mewujudkan kesejahteraan yang memberi arti bagi kemanusiaan. Bagaimana pertarungan antara pahlawan-pahlawan kebenaran dan akibat-akibat apa yang dialami para penentang kebenaran yang melakukan kezaliman. dan sebagainya.

atau karena sudah memeluk agama Allah. tapi hanya sebagai alat menciptakan kemakmuran dan untuk menegakkan hukum Allah dalam hal memerintahkan yang ma'ruf dan mencegah yang mungkar. Keduanya mempunyai titik temu dalam hukum sebab-akibat. Ada sebagian pendapat yang kurang memahami sunnatullah dalam bentuk hukum alam dan hukum sejarah. karena khawatir kalau-kalau upaya berobat untuk menghindarkan penyakit bertentangan dengan iman tauhudnya dan tidak menjadikan ia bertawakkal kepada Allah. sebagai syarat bagi terjadinya. yang menempuh segala persyaratan dan mengkaitkan segala sebab dengan musababnya.yang didorong oleh rasa percaya diri dan semangat juang yang tinggi sebagai perwujudan iman dan taqwa. Hukum sejarah sejalan dengan hukum alam. menyebarkan ketentraman. Pesan dan petunjuk yang diberikan al-Qur'an pada manusia. memantapkan keamanan. Atau dianggapnya hukum tawakkal bertentangan dengan hukum sebab-musabab (kausal). Sunnah Rasulullah dalam perjuangan itu mendidik umatnya supaya memahami dan menghayati sunnatullah yang berlaku dalam sejarah. Dianggapnya hukum tauhid itu cenderung memberikan cap syirik (mempersekutukan Allah) jika seseorang menganggap ada penyebab (faktor penentu) selain Allah. ayat-ayat yang berbicara tentang perjuangan Rasulullah. lalu diluruskan oleh sunnah Rasulullah dalam praktek sebagaimana tercermin dengan jelas dalam cara-cara perjuangan Rasul saw. atau hukum moral yang disebut tawakkal. mengungkapkan sesungguhnya Allah hanya memenangkan suatu perjuangan sesuai dengan ketentuan sunnahNya yang berlaku atas segenap mahluk-Nya. Dan Allah pun mewujudkan janjinya pada mereka. Dalam hubungan ini Syeikh Mahmud Syaltut mengomentari. tidak menjadikan kekuatan/kekuasaan itu sebagai alat menindas dan merusak. Sikap yang demikian membuktikan bahwa mereka sudah memenuhi janjinya kepada Allah. demikian pula sunnah Rasulullah yang memberikan penjelasan praktis pada pesan al-Qur'an itu. melihat adanya semacam kontradiksi antara hukum sebab-musabab (hukum kausal) dengan hukum teologis yang disebut tauhid. ialah ajarannya yang cukup praktis dan realistis menghadapi kenyataan sosial dengan langkah-langkah pemecahan yang praktis pula. yang menandai kehidupan sosial. Sebab-sebab keberhasilan dan kemenangan dalam suatu perjuangan dapat dipelajari dari sejarah dan harus dipersiapkan dengan sebaik-baiknya. Dalam hubungan . Maka dengan adanya perjuangan antara kebenaran dengan kebatilan. membimbing kita supaya menyadari keterkaitan segala sesuatu dengan penyebabnya. [16] Ciri utama agama Islam. disamping menjelaskan hal itu dalam petunjuk lisannya pada mereka yang segan berobat di kala ia sakit. hanya karena mereka sudah mengaku beriman/percaya kepada Allah. Keraguan seperti itu sejak dini telah muncul. Lebih lanjut beliau menjelaskan bahwa dalam al-Qur'an banyak ayat memuat janji Allah untuk membantu memenangkan perjuangan orang-orang mukmin. Siapa yang menolong/membela agama Allah dengan jalan menegakkan keadilan. maka keharusan memenuhi segala persyaratan-persyaratan itu adalah suatu hal yang mutlak. tapi dalam bentuk kesadaran keimanan yang menjadikan mereka menyadari kewajibannya dan melaksanakan perjuangan dengan gigih tanpa pamrih. Sebaliknya juga segala penyebab terjadinya suatu kegagalan atau kehancuran harus disadari dan dihindari. tapi tidak mewujudkan janji itu dalam bentuk suatu keajaiban yang langsung turun dari langit.

karena sesungguhnya Allah menciptakan penyakit dan menciptakan juga obat. Tata hubungan antara manusia dengan sesamanya dalam lalulintas pergaulan dan hubungan sehari-hari untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Menurut ilmu hukum. Di sinilah terlihat secara nyata keterkaitan hukum itu dengan akidah/keimanan. biarpun terhadap dirimu sendiri atau ibu bapak dan keluarga kerabatmu. dan terakhir tata hubungan keselamatan. diatur melalui hukum jinayat. yakni bidang 'ibadat. hukum itu terdiri dari suruhan/perintah dan larangan serta hak dan kewajiban. Hubungan manusia sebagai makhluk dengan Khaliqnya (Allah) diatur penataannya melalui hukum ibadat. Pembinaan hukum di sini tidak diarahkan kepada pembinaan diri manusianya. Selain itu. [18] Imam Ghazali menjelaskan. kaya maupun miskin. bersabda. Kepatuhan mentaati hukum menjadi kepatuhan yang semu dan bersifat lahiriah belaka. Karena itu penegakkan hukum menurut ilmu hukum selama tidak diawasi dan diketahui pejabat/aparat hukum selalu terjadi pelanggaran hukum. Itu (pengobatan) adalah sebahagian dari qadar Allah. Bertobatlah kalian. apakah itu bertentangan dengan qadar (taqdir)? Lalu Beliau menjawab. menjadi saksi karena Allah. Adanya hukum niat yang diberi peran menentukan nilai perilaku manusia. [39] Penjabaran yang merinci hukum-hukum al-Qur'an yang dilakukan fiqh memperlihatkan adanya empat bidang utama yang menjadi sasaran dari hukum itu. hanya diarahkan supaya tidak melanggar rambu-rambu hukum. Menurut ilmu hukum. Dengan demikian tidaklah mengherankan akibatnya dalam rangka pembinaan hukum. hukum itu hanya sekedar mengurus dan mengatur hubungan antar sesama manusia. bidang mu'amalat. masih ada perbedaan asasi antara kedua jenis hukum itu. Wahai orang-orang yang berilmu! jadilah kalian orang yang benar-benar penegak keadilan. Tata hubungan manusia dalam kehidupan berkeluarga dalam suatu lingkungan rumah tangga. . Ibadat tidak lain adalah perwujudan dari akidah yang diimani. memperlihatkan dengan jelas peran moral dalam hukum itu. Dan jika kalian memutarbalikkan (kebenaran) atau enggan menjadi saksi. Maka sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala apa yang kalian lakukan. diatur dalam hukum mu'amalat. Allah jualah yang lebih tabu keadaannya. Sebaliknya hukum menurut ajaran al-Qur'an penegakkannya berjalan sekaligus dengan penabinaan moral dan akhlak yang bersumber dari akidah/keimanan.itu Nabi saw. Di luar itu tidak diperlukan hukum. bidang munakahat dan bidang jinayat. diatur melalui hukum munakahat. Maka janganlah kalian mengikuti hawa nafsumu. Hubungan antara makhluk (manusia) dengan Al-Khaliq. Di sini pula tampak titik awal perbedaan antara pemahaman hukum menurut ilmu hukum dengan hukum Islam yang bersumber dari al-Qur'an. sebab-musabab itu adalah sunnatullah dan penyimpangan dari sunnatullah bukanlah persyaratan dalam tawakkal bahkan ada kalanya merupakan kebodohan yang dicela agama. [l7] Dalam sabdanya yang lain. ketika Beliau ditanya tentang pengobatan. diatur secara pasti. Dalam penegakkan hukum menurut ajaran al-Qur'an selalu ditekankan suatu pesan sebagai berikut. Demikian ulasan al-Ghazali dalam Kitab Tawhid dan Tawakkal. keamanan serta kesejahteraannya yang ditegakkan oleh pemegang kekuasaan umum atau badan peradilan. supaya kalian tidak menyimpang (dari kebenaran). Adanya hukum-ibadat dalam batang tubuh hukum Islam yang bersumber dari al-Qur'an itu merupakan ciri utama hukum Islam. Apa yang dimaksud dengan nilai moral dan akhlak tidaklah tergolong hukum. [20] Itulah pesan al-Qur'an.

atau adanya aparat hukum yang menyalahgunakan kedudukannya. 7507173 Fax. Ide hukum yang diajarkan al-Qur'an berkembang terus dari kurun ke kurun. Demikian sabda Rasulullah. [2l] Dalam hubungan adanya kemungkinan seseorang berlaku memperdayakan hakim. Dan janganlah sebagian dari kalian memakan harta benda sebagian yang lain dengan jalan batil dan jangan pula mempergunakan harta itu sebagai umpan (guna menyuap) para hakim. Maka barang siapa menerima putusan perkara (yang ia sendiri tahu) bahwa itu hak saudaranya (lawannya dalam perkara) maka janganlah ia mengambil (hak) itu. secara dini al-Qur'an memperingatkan. Sesungguhnya kalian mengajukan perkara-perkara kepadaku (untuk diputus). 7501983. Ali Yafie Dengan demikian maka jelaslah. Mungkin sebahagian dari kalian lebih mampu dari yang lain (lawannya) mengemukakan alasan-alasan untuk memperkuat tuntutannya. Seandainya hukum yang diajarkan al-Qur'an itu tergantung . UA 20-21 Jakarta Selatan Telp. Tidak dituntut dari dan terhadap orang lain saja.bagaimana seyogyanya seorang berbuat adil. supaya kalian dapat memakan sebahagian harta benda orang lain itu dengan (jalan berbuat) dosa. Di dalamnya terpadu antara sunnatullah dengan sunnah Rasulullah. yang pertama ialah dari dan terhadap dirinya sendiri. padahal kalian mengetahui. sebagaimana terpadunya antara aqidah/keimanan dan moral/ahklak.(bersambung 3/3) Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah Editor: Budhy Munawar-Rachman Penerbit Yayasan Paramadina Jln. dengan hukum dalam rumusan yang diajarkan al-Qur'an. melalui jalur ilmu. Metro Pondok Indah Pondok Indah Plaza I Kav. maka hukum dari ajaran al-Qur'an itu mempunyai kekuatan sendiri yang tidak sepenuhnya tergantung pada adanya suatu kekuasaan sebagai kekuatan pemaksa dari luar hukum itu. Dengan sifatnya yang demikian itu. Karena sesungguhnya ia hanya mengambil (menerima dariku) sepotong api neraka. sunnah Rasulullah memperjelas sebagai berikut. KONSEP-KONSEP HUKUM (3/3) oleh KH. (021) 7501969. [22] -------------------------------------------. lalu aku memutus perkara itu atas dasar apa yang saya dengar (dari alasan/keterangan) itu.8. Kemungkinan seorang pencari keadilan berlaku memperdaya hakim. (021) 7507174 Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota Please direct any suggestion to Media Team Artikel Yayasan Paramadina Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota II. al-Qur'an memperkenalkan satu konsepsi hukum yang bersifat integral.

sekali pun harus mengalami pasang surut dan pasang naik dan penerapannya. Namun harus diakui. pelaksanaan dan pengembangan wawasan hukum yang diperkenalkan al-Qur'an itu merupakan tantangan bagi para ulama dan para . Dalam rangka itu para ahli hukum dari mereka. Tapi ternyata hukum Islam dari ajaran al-Qur'an itu dapat memperlihatkan daya tahannya yang ampuh. Disamping itu. Tetapi bagaimana pun juga. Di lain pihak. perundang-undangan Islam kaya dengan berbagai teori hukum dan teknik hukum yang indah. Dua hal yang disinggung terakhir ini. yang terjadi di negara-negara maju dapat pula mencari pandangan yang negatif terhadap Islam dan al-Qur'an. karena memang demikianlah hukum sejarah dalam sunnatullah sendiri. pokok-pokok hukum (undang-undang) yang terdapat dalam agama Islam merupakan undang-undang yang bernilai tinggi dan sulit dibantah kebenarannya. yang tidak lain wujud nyatanya dan terinci adalah fiqh (hukum Islam) itu sendiri. perkembangan segi-seginya tidaklah seimbang. yakni keseimbangan dan keterpaduan dalam hal pemahaman. yang sangat mendominasi bangsa-bangsa Barat. Terakhir kita mendengar selesainya upaya kompilasi Hukum Islam yang dilakukan Mahkamah Agung bersama Departemen Agama. Salah satu gejala dari perkembangan tersebut adalah minat para ilmuwan Barat untuk mempelajari Islam/Qur'an. Karena kita semua cukup mengetahui betapa hebat upaya dari kekuasaan-kekuasaan yang mampu menaklukkan wilayah-wilayah Islam dan umatnya disertai upaya melikwidasi budaya dan hukumnya. Ia tetap bertahan bahkan berkembang dalam bentuk baru melalui proses taqnin (dirumuskan menjadi positif melalui yurisprudensi dan adakalanya melalui berbagai bentuk perundang-undangan). Selain itu. sebagai ilmu. adanya berbagai madrasah dan madzhab di dalamnya menunjukkan. pembangunan dan pembinaan hukum nasional diarahkan kepada pembaharuan hukum yang sesuai dengan kesadaran hukum yang berkembang dalam masyarakat. [23] Dalam rangka pembangunan hukum di negara kita Republik Indonesia. Maka Fiqh ini dijadikan agenda tetap dalam pengkajian-pengkajian mereka di bidang hukum. penerapannya ternyata juga kurang terpadu antara hukum-hukumnya yang menyangkut segi sosial kemasyarakatan. dengan hukum-hukumnya yang menyangkut sunnatullah yang berupa hukum alam dan hukum sejarah. dari kongres ke kongres mulai terbuka pandangan terhadap Islam. perkembangan segi fiqhnya yang merumuskan hukum sosial kemasyarakatan itu. perkembangan ilmu pengetahuan yang sangat pesat. Hukum yang diperkenalkan al-Qur'an hidup terus. Sebagai contoh dapat kita lihat dari hasil Kongres Ahli-ahli Hukum Internasional yang berlangsung di London (2-7 Juli 1951) yang antara lain menetapkan. Seginya yang menyangkut hukum sosial kemasyarakatan (ahkam syar'iyah 'amaliyah/fiqh) lebih banyak mendominasi perkembangan itu. kurang mendapat perhatian dalam pengembangannya. sehingga perundang-undangan ini dapat memenuhi kebutuhan hidup modern. sejak 1978 sampai dengan 1983 telah dilaksanakan pengkajian hukum yang meliputi antara lain Hukum Islam. maka sudah lama jenis hukum ini terkubur dalam perut sejarah atau sekurang-kurangnya menjadi barang pajangan di lemari-lemari museum. sangat berjasa dalam menumbuhkan kesadaran hukum dan sikap normatif dalam kehidupan umat Islam. Dan seginya yang menyangkut sunatullah berupa hukum alam dan sejarah. wawasan hukum yang diperkenalkan al-Qur'an.pada suatu kekuasaan. Sebagai kelanjutan dari pokok pikiran ini.

Yunus:15. al-Qamar:49. I/440. 13) QS. 21) QS. al-Ghazali. dan lain-lain. 19) QS. 6) UUD 1945. al-Maidah:42 5) QS. 7507173 Fax. 10) QS. LV/89. al-Maidah:8. 18) QS. Grolier Internasional Inc. Yunus:101. 17) QS. 9) Jonathan Rutland. al-Nisa':68. (021) 7501969. al-A'raf: 185. Al-Ra'd:15. Fathir :43. Hud:45. 7501983. UA 20-21 Jakarta Selatan Telp. al-Furqan:2 22) Ihya 'Ulum al-Din. 3) QS.83. Human Body. IV/146.cendekiawan Muslim. Syaltut. 7) UU No. -------------------------------------------Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah Editor: Budhy Munawar-Rachman Penerbit Yayasan Paramadina Jln. al-Mumtahanah:10. 11) QS. 12) QS. Penjelasan Umum. Metro Pondok Indah Pondok Indah Plaza I Kav.272. 14) Taisir Ibn' Katsir. 'Ali 'Imran:190/191. 14 Tahun 1970 tentang Ketentuan Pokok Kekuasaan Kehakiman 8) QS. CATATAN 1) QS. 23) Min Taujuhat al-Islam. 2) QS. 'Ali 'Imran. (021) 7507174 Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan . Fusshilat:53. 15) QS. Yasln:38/40. al-Maidah:43. 4) QS. h. al-Ahzab:38. 20) Ilmu Pengetahuan Populer. 16) QS. al-A'raf:87.

Sebab tujuan hidup manusia tak lain ialah memperoleh kebahagiaan dan menghindari kesengsaraan. Sebab Tuhanmu pasti melaksanakan apa saja yang menjadi kehendak-Nya. kekal abadi di dalamnya. Ada pun mereka yang bahagia. baik yang bersifat keagamaan maupun yang bersifat keduniaan semata (seperti Marxisme. (QS. selama langit dan bumi masih ada kecuali jika Tuharmu menghendaki hal berbeda. maka tiada seorang pun akan berbicara kecuali dengan izin-Nya Mereka manusia akan terbagi menjadi dua. penyandang sa'adah. Kitab Suci al-Qur'an menyajikan banyak ilustrasi dan penegasan yang kuat tentang kebahagiaan dan kesengsaraan Dalam sebuah firman disebutkan tentang terbaginya manusia ke dalam dua kelompok: yang sengsara (syaqiy penyandang syaqawah. misalnya) menjanjikan kebahagiaan bagi para pengikutnya dan mengancam para penentangnya dengan kesengsaraan. Ada pun mereka yang sengsara. Gambaran tentang wujud kebahagiaan atau kesengsaraan itu sangat beranekaragam. yang sengsara dan yang bahagia.ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota Please direct any suggestion to Media Team Artikel Yayasan Paramadina Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota II.10. sebagai anugerah yang tiada batasnya. kesengsaraan) dan yang bahagia (sa'id. . Namun semua ajaran dan ideologi selalu menegaskan bahwa kebahagiaan yang dijanjikannya atau kesengsaraan yang diancamkannya adalah jenis yang paling sejati dan abadi. Jika Hari (Kiamat) itu telah tiba. selama langit dan bumi masih ada. maka akan tinggal dalam neraka di sana mereka akan berkeluh kesah semata. Kekal abadi di dalamnya. yakni kebahagiaan). atau di akhirat saja seperti dalam agama-agama other-wordly. Dalam agama-agama. Semua ajaran. Kebahagiaan atau kesengsaraan itu dapat terjadi hanya di dunia ini saja seperti dalam Marxisme. kecuali jika Tuhanmu menghendaki hal berbeda. Al-Qur'an melukiskan keadaan itu demikian. Hud/11:105-108) Munculnya persoalan pengertian kebahagiaan dan kesengsaraan ini dalam Islam. gambaran tentang wujud kebahagiaan dan kesengsaraan itu dinyatakan dalam konsep-konsep tentang kehidupan di surga dan di neraka.namun semuanya menunjukkan adanya keyakinan yang pasti tentang pengalaman kebahagiaan atau kesengsaraan dalam hidup manusia. yakni. maka akan berada dalam surga. atau di dunia dan akhirat seperti dalam Islam. Meskipun ilustrasi tentang surga dan neraka itu berbeda-beda --dalam banyak hal perbedaan itu sangat radikal dan prinsipil-. KONSEP-KONSEP KEBAHAGIAAN DAN KESENGSARAAN (1/4) oleh Nurcholish Madjid Masalah kebahagiaan (sa'adah) dan kesengsaraan (syaqawah) adalah masalah kemanusiaan yang paling hakiki. patut kita bahas secara sungguh-sungguh.

al-Baqarah/2:200). seseorang dianjurkan mengejar kebahagiaan di akhirat. al-Jatsiyah/45:24). apakah berupa pengalaman kerohanian semata. mengajarkan tentang adanya kebahagiaan atau kesengsaraan yang hanya bersifat jasmani. al-Nahl/16:97). atau pengalaman jasmani semata. dan pastilah akan Kami ganjarkan kepada mereka pahala mereka (di akhirat). namun dirasa perlu kita mulai membahasnya mengingat perkembangan keagamaan di negeri kita yang pesat dengan tuntutan-tuntutannya yang terus meningkat. sebagian agama mengajarkan adanya kebahagiaan dan kesengsaraan rohani semata. bukan fase peralihan seperti diyakini agama-agama (Lihat QS. Marxisme. Kebahagiaan hanya diperoleh dengan tindakan dan perilaku meninggalkan dunia. dari kalangan pria maupun wanita. ataukah pengalaman rohani dan jasmani sekaligus. Kehidupan yang bahagia di dunia menjadi semacam pendahuluan bagi kehidupan yang lebih bahagia di akhirat. Perselisihan tentang wujud kebahagiaan atau kesengsaraan itu. Dalam Islam. Bagi agama-agama itu. Islam mengajarkan kebahagiaan dan kesengsaraan jasmani dan rohani atau duniawi dan ukhrawi. Itu berarti memperoleh kebahagiaan akhirat belum tentu dan tidak dengan sendirinya memperoleh kebahagiaan di dunia. Sebaliknya. tentu saja. karena sifatnya yang membelenggu sukma manusia. namun diingatkan agar jangan melupakan nasibnya dalam hidup di dunia ini (Lihat QS. Ateisme dengan sendirinya mengingkari kehidupan sesudah mati atau akhirat. yaitu. Barangsiapa berbuat baik. banyak pula dijanjikan kehidupan yang bahagia sekaligus di dunia ini dan di akhirat kelak untuk mereka yang beriman dan berbuat baik. kehidupan jasmani adalah kesengsaraan. dan kematian adalah fase final hidup manusia. KEBAHAGIAAN DAN KESENGSARAAN: JASMANI DAN ROHANI? Di atas telah disinggung. sesuai dengan sebaik-baik apa yang telah mereka kerjakan (QS. orang yang mengalami kebahagiaan duniawi belum tentu akan mendapatkan kebahagiaan di akhirat. dan dia itu beriman maka pastilah akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik (di dunia). merupakan bagian dari dialog Islam sejak masa klasik. Demikian itu masalah kebahagiaan. serta berusaha menghindar dari penderitaan azab lahir dan batin (QS. Dalam tulisan ini kita akan membicarakan konsep kebahagiaan dan kesengsaraan sebagai pengalaman keagamaan (pribadi). Kaum Marxis yang ateis ini mirip dengan gambaran dalam al-Qur'an tentang golongan manusia pemuja waktu (al-Dahr). Maka manusia didorong mengejar kedua bentuk kebahagiaan itu. Ini akan banyak menyangkut konsep-konsep kefilsafatan dan kesufian yang cukup rumit. namun tetap membedakan keduanya.disebabkan adanya perbedaan interpretasi atas ayat-ayat suci yang menggambarkan kebahagiaan dan kesengsaraan itu. al-Qashash/28:77). Walaupun begitu. yang hanya mempercayai kehidupan duniawi ini saja. semua itu berlangsung hanya dalam hidup di dunia ini saja. dan dengan sendirinya. demikian pula masalah . dalam orientasi hidup yang mengarah ke kehidupan rohani saja.

Adapun orang-orang yang jahat. mereka tetap berselisih tentang kebahagiaan dan kesengsaraan yang sejati dan abadi Pangkal perbedaan itu ialah adanya perbedaan dalam tafsiran atas berbagai keterangan suci tentang kebahagiaan dan kesengsaraan. dan bahwa tidak selamanya mengejar salah satu akan dengan sendirinya menghasilkan yang lain. tepat janji. melainkan rohani atau sekurang-kurangnya psikologis. khususnya keterangan atau pelukisan tentang surga dan neraka Yaitu perbedaan antara mereka yang memahami teks-teks suci secara harfiah dan mereka yang melakukan interpretasi metaforis (ta'wil) Bagi mereka yang memahami teks-teks suci itu secara harfiah. yang melahirkan piramida eksistensial. (QS. Orang yang ingkar kepada kebenaran dan berbuat jahat diancam baginya kesengsaraan dalam hidup di dunia ini sebelum kesengsaraan yang lebih besar kelak di akhirat. hemat. MASALAH INTERPRETASI Meskipun para ulama sepakat tentang adanya kebahagiaan dan kesengsaraan dunia-akhirat itu. tulus. al-Sajdah/32:20-21) Penegasan-penegasan ini tidak perlu dipertentangkan dengan penegasan-penegasan terdahulu di atas bahwa ada perbedaan antara kebahagiaan duniawi dan kebahagiaan ukhrawi. Sebab hampir seluruh keterangan dan pelukisan tentang surga dan neraka dalam Kitab dan Sunnah menggambarkan tentang pengalaman kebahagiaan atau kesengsaraan yang serba fisik. Kemudian ada beberapa keterangan. baik dalam Kitab maupun Sunnah yang memberi isyarat bahwa pengalaman kebahagiaan dan kesengsaraan itu tidak fisik. yang dahulu kamu dustakan. Setiap kali mereka hendak keluar dari sana. pengertian tentang kebahagiaan dan kesengsaraan akan cenderung bersifat fisik. the . dan harus dipahami dalam konteks adres pembicaraan (al-mukhathab). yang dikaitkan dengan "kebijaksanaan" Tuhan sebagai yang Maha Kasih-Sayang dan Maha Adil. dapat dipercaya. Beberapa nilai akhlak luhur seperti jujur. sambil dikatakan kepada mereka: "Sekarang rasakanlah azab neraka ini. baik dari al-Qur'an maupun Sunnnah. dengan kebahagiaan di akhirat yang jauh lebih besar. Ibn Rusyd mengaitkan perkara ini dengan kenyataan terbaginya manusia dalam susunan tinggi dan rendah. mereka dikembalikan ke dalamnya. Tapi memang ada dan banyak." Dan pastilah Kami (Tuhan) buat mereka merasakan azab yang lebih ringan (di dunia ini) sebelum azab yang lebih besar (di akhirat nanti) agar kiranya mereka mau kembali. cinta kerja keras.kesengsaraan. manusia dengan kaum khawas (al-khawash atau orang-orang khusus. Dalam kemungkinan tinjauan yang lebih menyeluruh. dan lain-lain adalah pekerti-pekerti yang dipujikan Allah sebagai ciri-ciri kaum beriman. tabah. perilaku lahir dan batin manusia yang membawa akibat pada adanya pengalaman kebahagiaan atau kesengsaruan duniawi dan ukhrawi sekaligus. berkesungguhan dalam mencapai hasil kerja sebaik-baiknya (itqan). maka tempat mereka adalah neraka. maka pelukisan kebahagiaan dan kesengsaraan apa pun harus diterima sebagai sesuatu yang wujudi atau eksistensial. Ciri tersebut akan membawa mereka pada kebahagiaan duniawi dan ukhrawi sekaligus.

pelukisan tentang kebahagiaan dan kesengsaraan dalam Kitab Suci dan Sunnah Nabi kebanyakan bersifat fisik. Metro Pondok Indah Pondok Indah Plaza I Kav. Mereka ini wajib menerima pelukisan tentang surga dan neraka apa adanya. Bagi mereka ini. jika mendapatkan bahwa pengertian harfiah pelukisan itu adalah mustahil atau absurd. sesuai dan setingkat dengan cara berfikir serta kemampuan mereka menangkap pesan dan memahami masalah. Tapi Tuhan Yang Maha Adil dan Maha Kasih-Sayang kepada sekalian umat manusia tentu mustahil mengalamatkan sabda-Nya hanya kepada orang-orang khusus yang jumlahnya sedikit itu. Pemahaman me lalui metode i'tibar adalah interpretasi alegoris atau ta'wil. maka pengertian tentang hakikat kebahagiaan dan kesengsaraan itu menjadi kurang relevan bagi kaum awam.(bersambung 2/4) Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah Editor: Budhy Munawar-Rachman Penerbit Yayasan Paramadina Jln. UA 20-21 Jakarta Selatan Telp. 7507173 Fax. karena memang pelukisan yang bersifat fisik itulah yang dapat ditangkap dan dipahami umum. Karena itu. seluruh keterangan tentang kebahagiaan dan kesengsaraan. adalah metafor-metafor atau makna-makna kiasan (majaz). (Lihat Ibn Rusyd. Kaum awam ini membentuk bagian terbesar struktur piramidal masyarakat manusia. yang sanggup memahami kebenarankebenaran hakiki lewat alegori-alegori dengan melakukan "penyeberangan" (al-i'tibar) ke pengertian-pengertian sebenarnya di balik alegori-alegori. Dengan jalan itu kaum khawas dapat menerima agama dan rahmat yang dikandung agama itu pada dataran yang lebih tinggi daripada kaum awam. namun dalam pandangan Ibn Rusyd tidaklah terhindarkan karena kenyataan dalam masyarakat menunjukkan adanya orang-orang tertentu yang jumlahnya tidak banyak. suatu hal yang jelas mustahil yang kualifikasi kelompok kecil itu ialah kesanggupan memahami hal-hal abstrak di balik ungkapan-ungkapan kiasan. the commons) menempati bagian-bagian bawah sampai ke dasar piramida. -------------------------------------------. 7501983. Sebab dengan demikian berarti Tuhan menjanjikan kebahagiaan hanya kepada kelompok kecil manusia saja. Meskipun pendekatan ini mengesankan elitisme. berbentuk pelukisan kehidupan di surga dan neraka dalam Kitab Suci dan Sabda Nabi.specials) menempati puncak piramida itu. menurut Ibn Rusyd wajib melakukan pemahaman serupa itu. Karena itu Tuhan juga mengarahkan sabda-Nya kepada khalayak umum. (021) 7507174 Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota Please direct any suggestion to Media Team . Fashl al-Maqa]). Mereka yang mampu memahaminya dengan melakukan al-i'tibar. dalam pandangan Ibn Rusyd dan para filsuf Muslim. sesuai dengan cara yang sekiranya akan mendorong mereka berbuat baik dan mencegah dari berbuat jahat. dan kaum awam (al-awam orang-orang umum atau kebanyakan. Karena yang pokok ialah iman kepada Allah serta berbuat baik. (021) 7501969.

Tamsil-ibarat surga (jannah: kebun) yang dijanjikan untuk mereka yang bertaqwa ialah. alegori atau metafor. Al-Rad/13:35) Tamsil-ibarat surga yang dijanjikan untuk orang-orang yang bertaqwa ialah. termasuk penafsiran alegoris (tamtsili ataupun ta'wil). yang tidak akan rusak. Karena merupakan pemahaman keagamaan yang lebih batini (esoterik) daripada lahiri (eksoterik). juga memperoleh ampunan dari Tuhan mereka. QS. Lebih jauh lagi. (QS. dan sungai-sungai dari madu. sedangkan tempat kesudahan mereka yang menentang ialah api neraka. sepatutnya tidaklah dipahami menurut makna bunyi lafal lahiriahnya. KONSEP-KONSEP KEBAHAGIAAN DAN KESENGSARAAN (2/4) oleh Nurcholish Madjid Para filsuf menemukan dukungan bagi metodologi ta'wil mereka dalam berbagai penjelasan. yang tidak akan berubah cita-rasanya. ada berbagai isyarat bahwa keterangan tentang surga dan neraka pun bersifat tamsil-ibarat. Dan memang kenyataannya pendekatan esoterik senantiasa sulit dipahami kaum awam. termasuk mengenai kebahagiaan dan kesengsaraan. Maka sementara masalah adanya kebahagiaan dan kesengsaraan itu. dan buah-buahannya tumbuh tanpa berhenti. al-Zumar/39:27). sehingga banyak salah pengertian yang kemudian mengundang polemik dan . demikian pula naungan rindang yang diberikannya. Inilah yang dicari dan dikejar para filsuf dan kaum sufi.Artikel Yayasan Paramadina Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota II. Namun kebanyakan manusia tidak menerimanya. yang segar melezatkan bagi yang meminumnya. maka filsafat dan tasawuf acapkali sengaja dibuat tidak bisa diarah oleh orang umum. dan sungai-sungai dari susu. baik di dunia maupun di akhirat. Sebagaimana juga (tamsil-ibarat) orang yang kekal di dalam neraka. Muhammad/47:15) Jadi karena pelukisan tentang surga dan neraka itu disebut sebagai tamsil-ibarat dalam al-Qur'an. yang murni-bersih. sebagai ajaran "rahasia" bagi kaum khawas. al-Isra'/17:89. yang diberi minum dengan air mendidih. dan sungai-sungai dari khamar. Bahwa banyak kandungan al-Qur'an yang bersifat tamsil-ibarat. Di dalam surga itu mereka mendapatkan buah-buahan dari segala macam. namun "tamsil-ibarat" dan pelukisan mengenai hakikatnya dapat menerima penafsiran-penafsiran. dapat dipahami dari firman berikut. Itulah tempat kesudahan bagi mereka yang bertaqwa. lihat juga QS. adalah nyata dan tidak mungkin diingkari.10. al-Kahf/16:54. yang minuman itu memotong-motong usus mereka. Dan sungguh telah Kami (Tuhan) beberkan untuk manusia dalam al-Qur'an ini setiap bentuk tamsil-ibarat. bahwa dalam al-Qur'an Tuhan memang menyediakan berbagai "tamsil-ibarat". (QS. sungai-sungainya mengalir di bawahnya. di dalamnya ada sungai-sungai dari air. al-Rum/30:58 dan QS. seperti dapat diketahui dari firman berikut. dan disampaikan hanya kepada kalangan tertentu yang terbatas. kecuali dengan sikap ingkar. (QS.

yang tumbuh pesat tidak mungkin lagi dibendung. kaum sufi dan para filsuf juga mendapatkan banyaknya penegasan bahwa kebahagiaan tertinggi jika bukannya seluruh kebahagiaan itu sendiri. terwujud dalam ridla Allah. Karena tidak jarang pendekatan esoterik memang menyegarkan. Sebagaimana telah diisyaratkan dalam pembahasan di atas. Itulah sebenarnya kebahagiaan yang agung. apalagi. seperti al-Hallaj dan Suhrawardi. karena akses pada bahan bacaan. Bahkan kiranya memang tidak perlu dan tidak dibenarkan untuk dibendung. al-Tawbah/9:72) Dalam menafsirkan firman Allah ini. (dijanjikan pula) tempat-tempat tinggal yang indah. saat pencerahan ketika relung-relung sukma benderang dengan berkas . Saat perjumpaan dengan Allah. berkat kemajuan teknologi informasi dan transportasi. Surga-surga yang di bawahnya mengalir sungai-sungai. dan ketokohannya disanjung dan dikecam secara sama. termasuk di bidang kesufian atau mistisisme. tingkat kecerdasan anggota masyarakat yang semakin tinggi menuntut pengertian-pengertian agama yang tidak konvensional atau. akibat intrik-intrik politik yang menjerat mereka.. (QS. saat pembebasan diri dari kungkungan jasad yang campur aduk ini serta dari beban bumi dan iming-iming jangka pendeknya. Walaupun pemahaman esoterik senantiasa rumit. pandangan kefilsafatan dan kesufian tentang bahagia dan sengsara cenderung mengarah pada pengertian-pengertian yang lebih rohani daripada jasmani atau. pria maupun wanita. namun tidak berarti tertutup rapat untuk setiap orang. Dan keridlaan dari Allah adalah yang akbar. seperti Ibn 'Arabi. malah dalam banyak hal merupakan kebutuhan.. harus menemui kematian di tangan penguasa. BAHAGIA DAN SENGSARA: PANDANGAN KEFILSAFATAN DAN KESUFIAN Walaupun begitu dalam zaman sekarang pendekatan esoterik tidak lagi dapat dipertahankan sepenuhnya sebagai kerahasiaan. Sebuah firman mengatakan. karena berbagai hal. saat dari lubuk hati manusia yang mendalam terpancar sinar dari Cahaya yang mata tidak mampu memandangNya. sulit dan ruwet. Pertama. .kontroversi. Dan keridlaan dari Allah itulah yang akbar. dalam surga-surga kebahagiaan abadi. kekal di sana selama-lamanya. juga tempat-tempat tinggal yang indah. Ketiga pergaulan kemanusiaan sejagad makin tidak terhindarkan. Beberapa pelopor pemahaman esoterik. Selain berdasarkan isyarat tentang banyaknya kandungan al-Qur'an yang disebut sebagai tamsil-ibarat di atas. surga-surga yang di bawahnya mengalir sungai-sungai. barangkali lebih psikologis daripada fisiologis. stereotipikal. telah meninggalkan karya-karya besar yang sampai sekarang dipelajari orang dengan penuh minat. Kebahagiaan di surga menanti kaum beriman. Surga dengan segala kenikmatan yang ada di dalamnya tidaklah berarti apa-apa dan akan menjadi tidak seberapa di depan hebatnya keridlaan Allah yang Maha Pemurah. Dan keridlaan dari Allah itulah yang akbar. Allah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman. saat menyaksikan Keagungan-Nya. sebagai tempat kediaman yang tenang tenteram. dalam surga-surga kebahagiaan abadi. Dan di atas itu semua mereka akan mendapatkan sesuatu yang lebih besar dan lebih agung lagi. kekal di sana selama-lamanya.. Sebagian tokoh lagi. Sayyid Quthub mengatakan. Kedua..

Belenggu itu dilambangkan dalam konsep tentang "Tuhan" atau "Sesembahan".. KEBEBASAN DAN KEBAHAGIAAN Salah satu tema utama dalam metodologi kesufian ialah takhalli. Tercapainya pengalaman tersebut... (021) 7501969. terbentuk dari kata-kata Illah dan artikel "al"-yakni. -------------------------------------------. Metro Pondok Indah Pondok Indah Plaza I Kav. seperti yang diajarkan kaum sufi. UA 20-21 Jakarta Selatan Telp. 7501983. semuanya adalah satu momen dari momen-momen yang bertumpu pada kelangkaan amat sedikit bagi manusia dalam suasana kesucian total. yang menurut banyak ahli termasuk 'Ali ibn Abi Thalib dan Ja'far al-Shadiq. maka tujuannya ialah pembebasan diri dari setiap belenggu. Tuhan yang sebenarnya itu dan tidak kepada apa dan siapapun yang lain. Sayyid Quthub telah melakukan pendekatan filosofis dan sufi pada masalah hakikat kebahagiaan. yaitu setiap bentuk obyek ketundukan (Arab: Ilah). Metodologi seperti itu dikembangkan dalam tasawuf. Dan jika kalimat persaksian itu harus mutlak diteruskan dengan al-itsbat atau peneguhan dalam fase afirmatif "kecuali Allah" (al-Lah. sungguh dihadapan itu semua tidaklah bermakna lagi setiap kesenangan. Pembebasan adalah juga salah satu tema pokok seruan Nabi kepada umat manusia. bersifat penyingkapan dan pengalaman spiritual akan kehadiran Kebenaran Ilahi). dan sukma-sukma itu tercekam di dalamnya tanpa kesudahan! "ltulah kebahagiaan sejati yang agung". (021) 7507174 Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota Please direct any suggestion to Media Team Artikel Yayasan Paramadina Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan . Fi Zhilal al-Qur'an. jilid 10. Tuhan atau Sesembahan yang sebenarnya). termasuk dalam hidup sekarang ini jika mungkin. 7507173 Fax. menjadi tujuan semua olah-rohani (riyadlah) dan perjuangan spiritual (mujahadah). Apalagi keridlaan Allah meliputi seluruh sukma.. termasuk pembebasan dari belenggu budaya dan tradisi. sebagai keridlaan Allah --sebagai pengalaman kesaksian rohani akan Wujud Maha Benar itu. jika menghalangi pada Kebenaran. yakni. Jika kalimat persaksian dimulai dengan al-nafy atau peniadaan dalam fase negatif tiada Tuhan. maka yang dimaksudkan ialah kemestian kita tunduk pada Allah.(bersambung 3/4) Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah Editor: Budhy Munawar-Rachman Penerbit Yayasan Paramadina Jln. juga tidak setiap harapan. 254-5) Dengan tafsirnya itu. yang dihadapan pengalaman kesaksian itu semua bentuk kebahagiaan menjadi tidak bermakna apa-apa adalah sebuah tafsiran kasyafi (theophanic. yaitu sikap pengosongan diri dan pembebasannya dari setiap belenggu yang menghalangi jalan kepada Allah. Tafsiran bahwa kebahagiaan tertinggi dan paling agung. (Sayyid Quthub.Ruh Allah. hal. epiphanic.

maka tunggulah sampai saat Allah melaksanakan keputusan-Nya Allah tidak akan memberi petunjuk kepada mereka yang bersemangat jahat". serta tempat tinggal yang untukmu menyenangkan.ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota II. Mengenai negasi atau peniadaan yang menghantarkan kita kepada afirmasi itu. tapi juga akan berarti bahwa Tuhan telah disejajarkan dengan apa yang tercapai oleh pikirannya sendiri. dan daripada perjuangan di jalan-Nya. saudara-saudaramu. suatu proses "pembebasan dan ketundukan. maka sesungguhnya keyakinan atau klaim "mengetahui Tuhan" (yang diindikasikan oleh sikap "berhenti mencari") adalah suatu jenis pembelengguan diri. Dengan kata lain. karena al-Qur'an sarat dengan ajaran tentang kewajiban memelihara cinta kasih di antara keluarga. yaitu Tuhan). al-Tawbah/9:24) Firman Allah ini tidaklah dipahami bahwa Nabi D4uhammad datang untuk membawa pertentangan dalam keluarga. Katakan (wahai Muhammad): "Jika orang-orang tuamu. keyakinan bahwa diri sendiri telah "mengetahui Tuhan akan berakhir dengan penuhanan keinginan diri sendiri. (dan jika) kekayaan yang telah berhasil kamu kumpulkan.salah satu yang patut sekali kita renungkan terbaca (terjemahnya) demikian. Yang pertaa tidak benar. (QS. serta karib-kerabatmu.justru akan secara langsung membawa pada kebebasan dan pembebasan diri dari setiap nilai dan pranata yang membelenggu sukma. Tidak saja karena hal ini akan merupakan contradiction in terms (berupa kemustahilan suatu wujud nisbi seperti manusia dapat menjangkau atau mengetahui Wujud Mutlak. dan terus mencari Kebenaran. KONSEP-KONSEP KEBAHAGIAAN DAN KESENGSARAAN (3/4) oleh Nurcholish Madjid Karena Allah adalah Wujud yang tak dapat dibandingkan dengan sesuatu apapun (laysa ka-mitslihi syay-un.al-Ikhlash/112:4) maka tunduk pada Tuhan berarti tunduk dalam maknanya yang dinamis. atau pembebasan yang membimbing kita kepada ketundukan dinamis tersebut --dari banyak penjelasan dalam kitab Suci tentang berbagai akibat dan implikasinya-. QS. Dan . Tuhan yang sebenarnya-.10. (jika itu semua) lebih kamu cintai daripada Allah dan Rasul-Nya. Tuhan tidak mungkin diketahui manusia sebab tidak akan terjangkau oleh pikiran dan khayalnya. QS. besar ataupun kecil. jodoh-jodohmu. QS. Jadi sesungguhnya kebahagiaan dimulai dengan "negasi dan afirmasi". yaitu sikap pasrah yang tulus kepada Allah. Maka tunduk secara benar --dalam bahasa Arab disebut Islam. berupa usaha yang tulus dan murni untuk mencari. kerabat dan umat manusia pada umumnya. Inilah antara lain tafsir atas peringatan dalam Kitab Suci bahwa di antara manusia ada yang menjadikan hawa atau keinginan dirinya sendiri sebagai Tuhan (Lihat. perdagangan yang kerugiannya kamu kuatirkan. al-Syura 42:11). Padahal pikirin itu tak akan luput dari dorongan diri sendiri dan keinginannya. anak-anakmu. serta tiada suatu apa pun yang sepadan dengan Dia (wa lam yakun lauu kufuw-an ahad-un. Usaha mencari Kebenaran inilah sifat kehanifan (hanifiyyah) manusia atas dorongan fithrah atau kejadian asalnya sendiri yang suci." seperti dilambangkan dalam kalimat syahadat pertama. atau sikap dan pandangan yang mengangkat keinginan diri sendiri itu sebagai Tuhan. 25:43 dan 45:23). Juga tidak untuk mendoronng manusia agar meninggalkan kegiatan duniawi.

dan menantu perempuan melawan mertua perempuannya" (Matius 10:35). (3) perdagangan atau cara-cara memperoleh keuntungan dan penghasilan. saudara. dan wujud nyata usaha tersebut pada pribadi yang bersangkutan ialah adanya kualitas . catatan 1272). Yusuf Ali dalam menafsirkan firman ini. Usaha terus-menerus mencari Kebenaran itu disebut berjalan menempuh "Jalan Allah" (sabil al-Lah). Serupa dengan makna firman Allah itu. Erich Fromm mengatakan bahwa dengan pernyataannya itu Nabi Isa tidak bermaksud mengajarkan kebencian pada orang tua. 1972. sepanjang catatan dalam Perjanjian Baru. Yusuf Ali. dan menjadi bebas sepenuhnya. 78). The Holy Qur'an. "TANYALAH JALAN" (SAL SABIL-AN) Setelah proses pembebasan. melainkan untuk menggambarkan dalam bentuk yang paling tegas dan drastis sebuah prinsip. baik sosio-kultural (orang tua. h. Inilah Islam yaitu ketundukan kepada Yang Maha Benar (al-Haqq). h. atau karib kerabat. baik untuk gengsi mau pun kesenangan. Jika semuanya ini menjadi halangan dalam jalan Allah. suatu hal yang manusia dipesan jangan sampai melupakannya. Begitulah contoh implikasi proses pembebasan diri yang diterangkan dalam Kitab Suci. (2) kekayaan dan kemakmuran. yang merupakan konsistensi pertanyaan afirmatif atau al-itsbat pada bagian kedua kalimat syahadat. keluarga dan masyarakat) mau pun sosio-ekonomi dan fisik (pekerjaan. orang harus memutuskan hubungan kekeluargaan yang bersifat membelenggu. Psychoanalysis and Religion.yang kedua juga tidak benar karena al-Qur'an mengajarkan pandangan yang optimis-positif kepada kehidupan. Hati manusia terikat kepada (1) sanak-kadangnya sendiri. adalah ketundukan yang dinamis. biarpun harus mengorbankan itu semua. anak perempuan melawan ibunya. (Erich Fromm. Kita harus mencintai Allah. Nabi Isa al-Masih. anak-anak." Tetapi pembebasan dari belenggu-belenggu sosio-kultural dan sosio ekonomi hanyalah separuh jalan menuju kepada kebahagiaan sejati. 445. bahwa jalan menuju Kebenaran. Brentwood.orang tua. yaitu kebahagiaan "bertemu" dengan Tuhan. "Karena aku datang untuk membuat manusia melawan ayahnya. 1983. Dalam melakukan pendekatan psikoanalitis terhadap agama dan gejala keagamaan. Telah dikemukakan bahwa ketundukan kepada Allah Sang Kebenaran Mutlak. Translation and Commentary. New Haven. (4) gedung-gedung indah. Maryland: Amana Corp.: Yale University Press. yaitu "jalan Allah" (sabil al-Lah) dapat ditempuh baru setelah seseorang mampu membebaskan diri dari belenggu lingkungannya. dan tempat tinggal). Sebab seperti dikatakan A. yang proses pembebasan itu merupakan konsistensi pernyataan negatif atau al-nafy pada bagian pertama kalimat syahadat. Conn. "kecuali Allah". dan akhirnya "bertemu" (liqa) dengan Kebenaran. Firman Allah tersebut hanya menegaskan. agar ia menjadi manusia sejati. kita harus memilih mana yang lebih kita cintai. "Tiada Tuhan. (A. artinya ketundukan dalam wujud usaha tak kenal henti secara tulus "mencari"' "mendekat" (taqarrub). kedudukan. juga pernah menyatakan. separoh lagi jalan yang harus ditempuh ialah yang dilambangkan dalam pernyataan tekad untuk tunduk pada Sang Kebenaran itu sendiri. Sang Kebenaran. suami atau isteri. Text. dengan kemungkinan manusia memperoleh kebahagiaan di dunia ini.

yaitu jihad. bersifat terang." Sebuah . maka Sang Kebenaran itu sungguh mutlak dan tak akan terjangkau. dan mujahadah (dalam dimensinya yang lebih spiritual). Dalam kesungguhan mencari dan menemukan jalan itu kita tidak perlu takut membuat kekeliruan. dan yang ketiga oleh kaum sufi dan ahli 'Irfan. ia akan mendapatkan pahala ganda. yaitu fitrah kita dalam hati nurani (nurani. Seorang yang memang tunduk patuh kepada Allah (muslim) akan terus menerus memohon petunjuk jalan yang lurus itu. artinya. Al-Qur'an melukiskan bahwa dalam surga." baik secara sendirian maupun bersama orang lain. ijtihad (dalam dimensinya yang lebih intelektual). Jalan Allah yang harus ditempuh melalui ketiga fase itu juga disebut "jalan lurus" (al-shirath al-mustaqim). terutama dalam setiap kali shalat. asalkan tak disengaja. sehingga melahirkan sikap hidup jihad (dalam dimensinya yang lebih fisik). Tunjukkanlah kami jalan yang lurus (QS. mencari dan menemukan jalan ke arah Kebenaran itu sendiri. maka salah satu "pesan" yang dikandungnya ialah agar kita bertanya tentang jalan yang lurus itu setiap saat. Dan kalau shalat itu disebutkan dalam al-Qur'an sebagai kewajiban atas kaum beriman dengan dikaitkan pada pembagian waktu selama sehari-semalaman (pagi. Justru amat berharga dalam menempuh jalan itu semangat mencari dan berusaha yang sungguh-sungguh. karena jalan itu membentang langsung antara diri kita yang paling suci. tanpa henti-hentinya. sore. Maka dalam perjalanan menempuh jalan yang lurus itu justru kita harus terus menerus bertanya dan bertanya. apa selanjutnya? Apakah tak ada kemungkinan sama sekali bahwa jalan yang telah kita tempuh apalagi yang masih akan kita tempuh."kesungguhan dalam berusaha" (dinyatakan dalam kata-kata Arab juha -usaha penuh kesungguhan). sudah merupakan sumber mata air pengalaman kebahagiaan yang tinggi. siang. kemudian "diaminkan. mendekat dan bertemu dengan Kebenaran. sebab perhentian berarti menyalahi seluruh prinsip tentang Kebenaran Mutlak. juga yang akan kita tempuh. Pertanyaan dan penanyaan itulah yang mendasari ketulusan hati dalam permohonan kepada Tuhan. saat terbenam matahari dan malam) (QS. lalu ia menempuh jalan yang (ternyata) benar. dalam menempuh jalan lurus itu kita tidak boleh berhenti. Ini berarti bahwa jalan yang telah kita tempuh. lurus ke arah (sekali lagi ke arah) Kebenaran Mutlak. yang kedua oleh para pemikir baik dalam bidang fiqh maupun Kalam. al-Fatihah/1:6). Sesungguhnya dalam Al-Qur'an dilukiskan bahwa berusaha secara dinamis. tak boleh dipastikan sebagai mutlak lurus. dan jika (ternyata) keliru. meskipun tidak sepenuhnya. maka ia masih mendapatkan satu pahala (sebuah Hadist terkenal). karena tidak lurus lagi? Siapa Tahu? Pertanyaan dan penanyaan itu adalah eksistensial dan esensial sekali dalam mencari. karena kekeliruan pun. yaitu dalam tempat dan lingkungan pengalaman kebahagiaan sejati. sebagai sumber kesadaran akan kebenaran). Yang pertama banyak ditempuh oleh ahli perang dan para pahlawan. al-Nisa 4:103). Tapi justru karena kemutlakanNya. masih akan memberi kebahagiaan. yang toh tidak akan kita sadari pada saat mengalaminya sendiri. Akibatnya. para penghuninya akan diberi minum yang sejuk dan amat menyegarkan yang airnya diambil dari mata air yang bernama "salsabil-an" atau "sal sabil-an. akan menyesatkan kita dari Kebenaran. ijtihad dan mujahadah tersebut tadi. Inilah makna penegasan Nabi bahwa barangsiapa berusaha dengan sungguh-sungguh.

h. meskipun tanpa ada pra-asumsi atau premis. yang disebut salsabil. 7507173 (bersambung 4/4) . quite in contrast to a populer sentiment that mysticism is an irrational type of religious experience. h. agar supaya dalam menempuh jalan lurus mencari Kebenaran itu terjadi kemurnian sejati (ikhlash). -------------------------------------------Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah Editor: Budhy Munawar-Rachman Penerbit Yayasan Paramadina Jln. (Lihat. dari mata air yang ada. 90. UA 20-21 Jakarta Selatan Telp..metafor. the higgest development of rationality in religious thinking. al-Insan/76:17-18) Menafsirkan metafor dalam firman ini. adalah suatu bentuk perkembangan rasionalitas yang tertinggi. Jika dalam konteks duniawi berpikir selalu menuntut adanya pra-asumsi atau premis. berpikir dalam konteks kesufian tidaklah berarti tiadanya rasionalitas. ibid. Tapi. sebagaimana dikutip Zamakhsyari dan Razi. "carilah jalanmu ke surga dengan cara melakukan perbuatan baik". catatan 9). Dan Yusuf Ali menafsirkan firman itu dengan mengatakan bahwa mata air salsabil (-an) ini membawa kita kepada ide metaforis yang lain. The Message of the Qur'an. 917. sangat berlawanan dengan perasaan umum bahwa mistisisme adalah suatu jenis pengalaman keagamaan yang tidak rasional. 1658. The Holy Qur'an. 7501983. h. As Albert Schweitzer has put it: "Rational thinking which is free from assumptions ends in mysticism. Metro Pondok Indah Pondok Indah Plaza I Kav. Kembali kepada metodologi takhalli di kalangan kaum Sufi. Muhammad Asad. karena perkataan Arab sal sabil-a itu tidak lain arti harfiahnya ialah "tanyalah jalan". "salsabil-an" ("tanyalah [atau "carilah"] jalan"): yakni. Muhammad Asad mengatakan bahwa begitulah Ali ibn Abi Thalib. Jalan itu sekarang terbuka menuju Hadirat Yang Maha Tinggi. maka dalam konteks pencarian Kebenaran sejati itu. A. telah kita bicarakan. Mereka (yang bahagia) di sana disajikan minuman dalam piala yang ramuannya ialah zanjabil. (Saya harus memberi catatan bahwa. catatan 5850). it represents". menerangkan kata-kata salsabil-an jelas merupakan kata majemuk itu. catatan 17). pra-asumsi dan premis justru harus dilepaskan. Justru tasawuf sebagai bidang yang menggarap segi esoterik keagamaan. yang dapat dibagi menjadi dua komponen. (QS. metodologi itu mengharuskan adanya proses pengosongan diri dari anggapan-anggapan. (Lihat." (Erich Fromm. "Carilah Jalan". ia justru mengetengahkan perkembangan tertinggi rasionalitas dalam pemikiran keagamaan. Seperti dinyatakan oleh Albert Schweitzer: "Pemikiran rasional yang bebas dari asumsi-asumsi berakhir dalam mistisisme"). (021) 7501969. Kata Erich Fromm: I should like to note that. asumsi-asumsi dan klaim-klaim tentang pengetahuan yang benar.. Kenyataan bahwa al-Qur'an senantiasa menyerukan penggunaan akal untuk mencari dan menerima Kebenaran menunjukkan bahwa antara rasio dan pengalaman keagamaan tidaklah terdapat pertentangan. Perkataan itu secara harfiah berarti. Yusuf Ali. alegori atau makna kiasan yang sungguh indah.

Fax. Mengenai negasi atau peniadaan yang menghantarkan kita kepada afirmasi itu. maka sesungguhnya keyakinan atau klaim "mengetahui Tuhan" (yang diindikasikan oleh sikap "berhenti mencari") adalah suatu jenis pembelengguan diri. yaitu Tuhan). al-Syura 42:11). atau pembebasan yang membimbing kita kepada ketundukan dinamis tersebut --dari banyak penjelasan dalam kitab Suci tentang berbagai akibat dan implikasinya-. Usaha mencari Kebenaran inilah sifat kehanifan (hanifiyyah) manusia atas dorongan fithrah atau kejadian asalnya sendiri yang suci. perdagangan yang kerugiannya kamu kuatirkan." seperti dilambangkan dalam kalimat syahadat pertama.salah satu yang patut sekali kita renungkan terbaca (terjemahnya) demikian. serta tiada suatu apa pun yang sepadan dengan Dia (wa lam yakun lauu kufuw-an ahad-un. Tuhan tidak mungkin diketahui manusia sebab tidak akan terjangkau oleh pikiran dan khayalnya. anak-anakmu. Dengan kata lain. Maka tunduk secara benar --dalam bahasa Arab disebut Islam. (jika itu semua) lebih kamu cintai daripada Allah dan Rasul-Nya. QS. KONSEP-KONSEP KEBAHAGIAAN DAN KESENGSARAAN (3/4) oleh Nurcholish Madjid Karena Allah adalah Wujud yang tak dapat dibandingkan dengan sesuatu apapun (laysa ka-mitslihi syay-un. serta tempat tinggal yang untukmu menyenangkan. saudara-saudaramu. Inilah antara lain tafsir atas peringatan dalam Kitab Suci bahwa di antara manusia ada yang menjadikan hawa atau keinginan dirinya sendiri sebagai Tuhan (Lihat. keyakinan bahwa diri sendiri telah "mengetahui Tuhan akan berakhir dengan penuhanan keinginan diri sendiri. Katakan (wahai Muhammad): "Jika orang-orang tuamu.10.justru akan secara langsung membawa pada kebebasan dan pembebasan diri dari setiap nilai dan pranata yang membelenggu sukma. suatu proses "pembebasan dan ketundukan. Jadi sesungguhnya kebahagiaan dimulai dengan "negasi dan afirmasi". QS. serta karib-kerabatmu. tapi juga akan berarti bahwa Tuhan telah disejajarkan dengan apa yang tercapai oleh pikirannya sendiri. (021) 7507174 Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota Please direct any suggestion to Media Team Artikel Yayasan Paramadina Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota II. yaitu sikap pasrah yang tulus kepada Allah. jodoh-jodohmu. atau sikap dan pandangan yang mengangkat keinginan diri sendiri itu sebagai Tuhan. berupa usaha yang tulus dan murni untuk mencari. dan terus mencari Kebenaran. Padahal pikirin itu tak akan luput dari dorongan diri sendiri dan keinginannya.al-Ikhlash/112:4) maka tunduk pada Tuhan berarti tunduk dalam maknanya yang dinamis. 25:43 dan 45:23). dan daripada . Tidak saja karena hal ini akan merupakan contradiction in terms (berupa kemustahilan suatu wujud nisbi seperti manusia dapat menjangkau atau mengetahui Wujud Mutlak. Tuhan yang sebenarnya-. QS. (dan jika) kekayaan yang telah berhasil kamu kumpulkan.

h. Firman Allah tersebut hanya menegaskan. Brentwood. (QS. New Haven. juga pernah menyatakan. baik untuk gengsi mau pun kesenangan. Begitulah contoh implikasi proses pembebasan diri yang diterangkan dalam Kitab Suci. Yusuf Ali dalam menafsirkan firman ini. besar ataupun kecil. kerabat dan umat manusia pada umumnya. Yang pertaa tidak benar. anak-anak. al-Tawbah/9:24) Firman Allah ini tidaklah dipahami bahwa Nabi D4uhammad datang untuk membawa pertentangan dalam keluarga. atau karib kerabat. 445. suatu hal yang manusia dipesan jangan sampai melupakannya. separoh lagi jalan yang harus ditempuh ialah yang dilambangkan dalam pernyataan tekad untuk tunduk pada Sang Kebenaran itu sendiri. Sang Kebenaran. Hati manusia terikat kepada (1) sanak-kadangnya sendiri. dan menjadi bebas sepenuhnya. "Tiada Tuhan.orang tua. anak perempuan melawan ibunya. (Erich Fromm. "TANYALAH JALAN" (SAL SABIL-AN) Setelah proses pembebasan. Maryland: Amana Corp. The Holy Qur'an. "Karena aku datang untuk membuat manusia melawan ayahnya. Psychoanalysis and Religion. Conn. Juga tidak untuk mendoronng manusia agar meninggalkan kegiatan duniawi. dengan kemungkinan manusia memperoleh kebahagiaan di dunia ini. Yusuf Ali. bahwa jalan menuju Kebenaran. Dalam melakukan pendekatan psikoanalitis terhadap agama dan gejala keagamaan. kita harus memilih mana yang lebih kita cintai. yang merupakan . catatan 1272). Erich Fromm mengatakan bahwa dengan pernyataannya itu Nabi Isa tidak bermaksud mengajarkan kebencian pada orang tua. yaitu kebahagiaan "bertemu" dengan Tuhan. suami atau isteri. karena al-Qur'an sarat dengan ajaran tentang kewajiban memelihara cinta kasih di antara keluarga. Sebab seperti dikatakan A. sepanjang catatan dalam Perjanjian Baru. saudara. (2) kekayaan dan kemakmuran. 78). melainkan untuk menggambarkan dalam bentuk yang paling tegas dan drastis sebuah prinsip. Translation and Commentary. (3) perdagangan atau cara-cara memperoleh keuntungan dan penghasilan. maka tunggulah sampai saat Allah melaksanakan keputusan-Nya Allah tidak akan memberi petunjuk kepada mereka yang bersemangat jahat". kedudukan. 1983. biarpun harus mengorbankan itu semua. dan tempat tinggal). Nabi Isa al-Masih.: Yale University Press. keluarga dan masyarakat) mau pun sosio-ekonomi dan fisik (pekerjaan. Serupa dengan makna firman Allah itu. yaitu "jalan Allah" (sabil al-Lah) dapat ditempuh baru setelah seseorang mampu membebaskan diri dari belenggu lingkungannya. Kita harus mencintai Allah. 1972. Jika semuanya ini menjadi halangan dalam jalan Allah. Text. yang proses pembebasan itu merupakan konsistensi pernyataan negatif atau al-nafy pada bagian pertama kalimat syahadat. agar ia menjadi manusia sejati. dan menantu perempuan melawan mertua perempuannya" (Matius 10:35). baik sosio-kultural (orang tua. Dan yang kedua juga tidak benar karena al-Qur'an mengajarkan pandangan yang optimis-positif kepada kehidupan. (4) gedung-gedung indah.perjuangan di jalan-Nya. (A." Tetapi pembebasan dari belenggu-belenggu sosio-kultural dan sosio ekonomi hanyalah separuh jalan menuju kepada kebahagiaan sejati. orang harus memutuskan hubungan kekeluargaan yang bersifat membelenggu. h.

Akibatnya. artinya. Telah dikemukakan bahwa ketundukan kepada Allah Sang Kebenaran Mutlak. karena jalan itu membentang langsung antara diri kita yang paling suci.konsistensi pertanyaan afirmatif atau al-itsbat pada bagian kedua kalimat syahadat. tak boleh dipastikan sebagai mutlak lurus. meskipun tidak sepenuhnya. yang kedua oleh para pemikir baik dalam bidang fiqh maupun Kalam. karena tidak lurus lagi? Siapa Tahu? Pertanyaan dan penanyaan itu adalah eksistensial dan esensial sekali dalam mencari. mendekat dan bertemu dengan Kebenaran. al-Fatihah/1:6). sebab perhentian berarti menyalahi seluruh prinsip tentang Kebenaran Mutlak. Ini berarti bahwa jalan yang telah kita tempuh. Yang pertama banyak ditempuh oleh ahli perang dan para pahlawan. Tunjukkanlah kami jalan yang lurus (QS. karena kekeliruan pun. "kecuali Allah". juga yang akan kita tempuh. Jalan Allah yang harus ditempuh melalui ketiga fase itu juga disebut "jalan lurus" (al-shirath al-mustaqim). masih akan memberi kebahagiaan. saat terbenam matahari dan malam) (QS. Inilah makna penegasan Nabi bahwa barangsiapa berusaha dengan sungguh-sungguh. sehingga melahirkan sikap hidup jihad (dalam dimensinya yang lebih fisik). dan wujud nyata usaha tersebut pada pribadi yang bersangkutan ialah adanya kualitas "kesungguhan dalam berusaha" (dinyatakan dalam kata-kata Arab juha -usaha penuh kesungguhan). tanpa henti-hentinya. adalah ketundukan yang dinamis. sebagai sumber kesadaran akan kebenaran). kemudian "diaminkan. dalam menempuh jalan lurus itu kita tidak boleh berhenti. dan yang ketiga oleh kaum sufi dan ahli 'Irfan. lalu ia menempuh jalan yang (ternyata) benar. yaitu fitrah kita dalam hati nurani (nurani. ia akan mendapatkan pahala ganda. asalkan tak disengaja. artinya ketundukan dalam wujud usaha tak kenal henti secara tulus "mencari"' "mendekat" (taqarrub). ijtihad dan mujahadah tersebut tadi. Justru amat berharga dalam menempuh jalan itu semangat mencari dan berusaha yang sungguh-sungguh. apa selanjutnya? Apakah tak ada kemungkinan sama sekali bahwa jalan yang telah kita tempuh apalagi yang masih akan kita tempuh. Pertanyaan dan penanyaan itulah yang mendasari ketulusan hati dalam permohonan kepada Tuhan. Dan kalau shalat itu disebutkan dalam al-Qur'an sebagai kewajiban atas kaum beriman dengan dikaitkan pada pembagian waktu selama sehari-semalaman (pagi. Inilah Islam yaitu ketundukan kepada Yang Maha Benar (al-Haqq). Seorang yang memang tunduk patuh kepada Allah (muslim) akan terus menerus memohon petunjuk jalan yang lurus itu. maka ia masih mendapatkan satu . terutama dalam setiap kali shalat. al-Nisa 4:103). bersifat terang. sore. yang toh tidak akan kita sadari pada saat mengalaminya sendiri. Dalam kesungguhan mencari dan menemukan jalan itu kita tidak perlu takut membuat kekeliruan. akan menyesatkan kita dari Kebenaran. maka salah satu "pesan" yang dikandungnya ialah agar kita bertanya tentang jalan yang lurus itu setiap saat. Tapi justru karena kemutlakanNya. dan jika (ternyata) keliru. Maka dalam perjalanan menempuh jalan yang lurus itu justru kita harus terus menerus bertanya dan bertanya. dan akhirnya "bertemu" (liqa) dengan Kebenaran. ijtihad (dalam dimensinya yang lebih intelektual)." baik secara sendirian maupun bersama orang lain. maka Sang Kebenaran itu sungguh mutlak dan tak akan terjangkau. yaitu jihad. siang. dan mujahadah (dalam dimensinya yang lebih spiritual). lurus ke arah (sekali lagi ke arah) Kebenaran Mutlak. Usaha terus-menerus mencari Kebenaran itu disebut berjalan menempuh "Jalan Allah" (sabil al-Lah).

metodologi itu mengharuskan adanya proses pengosongan diri dari anggapan-anggapan. pra-asumsi dan premis justru harus dilepaskan. alegori atau makna kiasan yang sungguh indah.. h. (QS. karena perkataan Arab sal sabil-a itu tidak lain arti harfiahnya ialah "tanyalah jalan". catatan 5850). Al-Qur'an melukiskan bahwa dalam surga. "salsabil-an" ("tanyalah [atau "carilah"] jalan"): yakni. asumsi-asumsi dan klaim-klaim tentang pengetahuan yang benar. dari mata air yang ada. maka dalam konteks pencarian Kebenaran sejati itu. (Lihat. Jika dalam konteks duniawi berpikir selalu menuntut adanya pra-asumsi atau premis. "Carilah Jalan". adalah suatu bentuk perkembangan rasionalitas yang tertinggi. Kembali kepada metodologi takhalli di kalangan kaum Sufi. A.pahala (sebuah Hadist terkenal). ia justru mengetengahkan perkembangan tertinggi rasionalitas dalam pemikiran keagamaan. Muhammad Asad mengatakan bahwa begitulah Ali ibn Abi Thalib. h. catatan 9). Yusuf Ali. (Lihat. The Message of the Qur'an. agar supaya dalam menempuh jalan lurus mencari Kebenaran itu terjadi kemurnian sejati (ikhlash). 917. telah kita bicarakan. Jalan itu sekarang terbuka menuju Hadirat Yang Maha Tinggi. meskipun tanpa ada pra-asumsi atau premis. quite in contrast to a populer sentiment that mysticism is an irrational type of religious experience." (Erich Fromm. Kenyataan bahwa al-Qur'an senantiasa menyerukan penggunaan akal untuk mencari dan menerima Kebenaran menunjukkan bahwa antara rasio dan pengalaman keagamaan tidaklah terdapat pertentangan. Mereka (yang bahagia) di sana disajikan minuman dalam piala yang ramuannya ialah zanjabil. 1658. yaitu dalam tempat dan lingkungan pengalaman kebahagiaan sejati. ibid. 90. Tapi.. The Holy Qur'an. para penghuninya akan diberi minum yang sejuk dan amat menyegarkan yang airnya diambil dari mata air yang bernama "salsabil-an" atau "sal sabil-an." Sebuah metafor. catatan 17). mencari dan menemukan jalan ke arah Kebenaran itu sendiri. Dan Yusuf Ali menafsirkan firman itu dengan mengatakan bahwa mata air salsabil (-an) ini membawa kita kepada ide metaforis yang lain. Muhammad Asad. (Saya harus memberi catatan bahwa. sudah merupakan sumber mata air pengalaman kebahagiaan yang tinggi. Justru tasawuf sebagai bidang yang menggarap segi esoterik keagamaan. Perkataan itu secara harfiah berarti. menerangkan kata-kata salsabil-an jelas merupakan kata majemuk itu. sebagaimana dikutip Zamakhsyari dan Razi. sangat berlawanan dengan perasaan umum bahwa mistisisme adalah suatu jenis pengalaman keagamaan yang tidak rasional. yang dapat dibagi menjadi dua komponen. the higgest development of rationality in religious thinking. al-Insan/76:17-18) Menafsirkan metafor dalam firman ini. h. yang disebut salsabil. it represents". "carilah jalanmu ke surga dengan cara melakukan perbuatan baik". Sesungguhnya dalam Al-Qur'an dilukiskan bahwa berusaha secara dinamis. Seperti dinyatakan oleh Albert Schweitzer: "Pemikiran rasional . berpikir dalam konteks kesufian tidaklah berarti tiadanya rasionalitas. Kata Erich Fromm: I should like to note that. As Albert Schweitzer has put it: "Rational thinking which is free from assumptions ends in mysticism.

sehingga tidak perlu dipatuhi? Ataukah ia menyesalkan ucapan Umar bahwa al-Qur'an saja sudah cukup. Kita tidak tahu mengapa Ibnu Abbas menyebutkan sebagai tragedi. tapi para ulama salaf tidak. Tapi Umar beserta kelompok sahabat lainnya melihat perintah itu bukan wajib. UA 20-21 Jakarta Selatan Telp. "Cukuplah Kitab Allah bagi kita. hanya pengarahan pada cara yang terbaik. tentu tak ." Orang-orang pun bertikai dan ramailah pembicaraan. beliau bersabda." Umar berkata.(bersambung 4/4) Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah Editor: Budhy Munawar-Rachman Penerbit Yayasan Paramadina Jln. Metro Pondok Indah Pondok Indah Plaza I Kav. Kata al-Qurthubi. Apalagi ada firman Allah "Tidak ada yang Kami lewatkan dalam Kitab ini sedikit pun. sehingga Nabi saw. Mereka bahkan memuji kebijakan Umar." dan al-Qur'an itu menjelaskan segala sesuatu. Pada kita ada kitab Allah itu cukup buat kita." Peristiwa ini konon terjadi pada hari Kamis. 7501983. (021) 7507174 Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota Please direct any suggestion to Media Team Ilmu tradisional Artikel Yayasan Paramadina Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota III. "Sakit keras menguasai diri. Karena itu Umar berkata. yang mempunyai pandangan jauh ke depan. sehingga Ibnu Abbas yang meriwayatkan hadits di atas menyebutkannya sebagai tragedi hari Kamis. Apakah ia menyesalkan pertikaian sahabat di hadapan Nabi saw. mengigau!). tidak perlu lagi ada petunjuk Rasulullah saw di luar itu? Ibnu Abbas sebagai ulama salaf boleh menyesalkan peristiwa itu. -------------------------------------------. untuk menuliskan wasiatnya." kata Ibnu Abbas." Kata al-Khithabi. "Bawa kepadaku Kitab agar kalian tidak akan sesat sesudahku. karena sekiranya Nabi saw. Tidak pantas bertikai di hadapanku. Umar mengatakan Nabi saw. murka kepada mereka? Ataukah ia menyesalkan ucapan Umar yang menuduh perintah Nabi saw itu dilakukan tidak sadar (Dalam riwayat lain.yang bebas dari asumsi-asumsi berakhir dalam mistisisme"). "Memang yang diperintah harus segera menjalankan perintah.20. "Sesungguhnya Umar berpendapat seperti itu. Nabi saw berkata. (021) 7501969. 7507173 Fax. DARI SUNNAH KE HADITS ATAU SEBALIKNYA (1/3) oleh Jalaluddin Rakhmat Pada waktu Nabi saw sakit keras. menetapkan sesuatu yang menghilangkan ikhtilaf (di kalangan kaum muslim). "Enyahlah kalian dari sini. yang sedang udzur. Mereka tidak ingin membebani Nabi saw dengan sesuatu yang memberatkannya dalam keadaan (sakit) seperti itu. "Alangkah tragisnya kejadian yang menghalangi Nabi saw.

menegaskan sikap mereka dengan tindakan. Umar meletakkannya di atas bara api. Untuk membuka pintu ijtihad. sehingga kalian bertengkar. Setelah hadits-hadits itu terkumpul." Ia lalu membakarnya dan berkata: Aku takut setelah aku mati. katakan di antara kita dan Anda ada Kitab Allah. sembari berkata: Tidak boleh ada matsnat seperti matsnat Ahli Kitab. kita harus kembali lagi kepada sunnah. al-Nakha'i.. "Bawa hadits-hadits itu kepadaku. Al-Dzahabi. sedangkan sunnah atau hadits adalah produk pemikiran manusia. Janganlah kalian meriwayatkan hadits sedikit pun dari Rasulullah saw. Saya melihat perkembangan sebaliknya: dari hadits ke sunnah. ketika beberapa orang mulai merintis pengumpulan dan penulisan hadits. Abu Bakar berkata: "Kamu sekalian meriwayatkan hadits-hadits dari Rasulullah saw. Selama rentang waktu yang cukup panjang itu.. "Ayahku telah menghimpun 500 hadits dari Nabi. juga sebagian besar tokoh tabi'un seperti Sa'id ibn Jubair. berkata.. dan Sofyan al-Tsawry di Kufah. Mereka adalah Ibnu Jurayj di Makkah." Apapun komentar para ulama. dan karena itu tidak mengikat? Sikap Umar terhadap hadist adalah sikap Abu Bakar juga. kita harus mulai dari peninjauan ulang kepada kedua konsep itu. Tidak heran bila sebagian besar sahabat. al-Hasan bin Abu al-Hasan. kepada apa Umar merujuk selain al-Qur'an? Ketika mereka ingin mengetahui cara-cara shalat yang tidak diuraikan al-Qur'an atau menghadapi masalah-masalah baru yang timbul dalam perkembangan Islam." Abu Bakar dan Umar adalah dua khalifah pertama yang termasuk al-Khulafa' al-Rasyidun. kelak orang-orang munafik akan mencari jalan untuk mengecam apa yang dituliskan itu. "Kitab Allah . Sekarang." Kata Ibn al-Jawzi. Mereka melarang periwayatan hadits dengan keras. Qasim ibn Muhammad ibn Abi Bakar. Sa'id bin Musayyab tidak mau menuliskan hadits. Bila ada orang yang meminta kalian (meriwayatkan hadits). Mu'ammar di Yaman.ada gunanya lagi ulama dan ijtihad pun tidak perlu lagi." Baik Abu Bakar maupun Umar. Sa'id bin Abu 'Urwah di Basrah. Saya pun membawakan untukmu. Kemudian beliau memerintahkannya untuk dikumpulkan. Nanti orang-orang sesudah kalian akan lebih keras lagi bertikai. Suatu pagi beliau datang kepadaku dan berkata. menuliskan dalam keadaan sakit. . dalam rangka membuka pintu ijtihad. mengisahkan satu peristiwa ketika Abu Bakar mengumpulkan orang banyak setelah Nabi saw wafat. apa yang mereka jadikan acuan? Fazlur Rahman menjawab." telah memulai problematika sunnah atau hadits yang berada di luar al-Qur'an. perkataan Umar. ketika menulis biografi Abu Bakar. Aisyah bercerita. meninggalkan hadits-hadits itu kepadamu. "Umar kuatir sekiranya Nabi saw. tapi sesudah itu mereka melihat hadits. Betulkah al-Qur'an saja sudah cukup? Atau bisakah kita menyimpulkan bahwa hanya al-Qur'an sajalah karya ilahi. halalkan apa yang dihalalkannya dan haramkan apa yang diharamkannya. Al-Awza'i di Syria. Malik di Madinah." Kemenakan Aisyah. mula-mula umat Islam merujuk kepada sunnah. "Hadits-hadits makin bertambah banyak pada zaman Umar. Situasi seperti ini berlangsung sampai paruh terakhir abad kedua Hijrah.

Setelah Nabi saw. formalisasi sunnah ke dalam hadits ini. Mereka berusaha mempraktekkannya dalam kehidupan sehari-hari. berkembanglah penafsiran individual terhadap teladan Nabi itu. Ketika gerakan hadits muncul pada Abad 3 Hijrah. telah memasung proses kreatif sunnah dan menjerat para ulama Islam pada rumus-rumus yang kaku. Sunnah yang sudah disepakati kebanyakan orang ini. wafat. (3) Bahwa konsep sunnah sesudah Nabi wafat tidak hanya mencakup sunnah Nabi tapi juga penafsiran-penafsiran terhadap sunnah Nabi tersebut. sejak awal sejarah Islam hingga masa kini. diekspresikan dalam hadits. TELADAN NABI SAW | PRAKTEK PARA SAHABAT | PENAFSIRAN INDIVIDUAL | OPINIO GENERALIS | OPINIO PUBLICA (SUNNAH) | FORMALISASI SUNNAH (HADITS) Jadi. Sebagian kandungan sunnah berasal dari kebiasaan Jahiliyah (pra-Islam) yang dilestarikan dalam Islam. Secara berangsur-angsur. Dalam "free market of ideas. Ada sunnah Madinah. dan ijma' menjadi rusak. sebagai teladan. Kuffah. (2) Bahwa kandungan sunnah yang bersumber dari Nabi tidak banyak jumlahnya dan tidak dimaksudkan bersifat spesifik secara mutlak. Sayangnya. tapi sahabat yang lain. sunnah tidak lain daripada opinio publica. (4) Bahwa sunnah dalam pengertian terakhir ini. tapi tidak benar sehubungan dengan konsepnya yang menyatakan sunnah Nabi tetap merupakan konsep yang memiliki validitas dan operatif." pada daerah tertentu seperti Madinah. Sebagian lagi hanyalah interpretasi para ahli hukum Islam terhadap sunnah yang ada. ijtihad. seluruh sunnah yang ada. Boleh jadi sebagian sahabat memandang perilaku tertentu sebagai sunnah." Fazlur Rahman menegaskan: mengkoreksi pandangan orientalis ini dengan Sekarang kami akan menunjukkan (1) Bahwa sementara kisah perkembangan Sunnah di atas hanya benar sehubungan dengan kandungannya. Romawi. hubungan organis di antara sunnah. sama luasnya dengan ijma' yang pada dasarnya merupakan sebuah proses yang semakin meluas secara terus-menerus. sunnah adalah praktek kaum muslim pada zaman awal. berkembang sunnah yang umumnya disepakati para ulama di daerah tersebut. tidak menganggapnya sunnah. para sahabat memperhatikan perilaku Nabi saw. dan Persia. berkembang secara demokratis sunnah yang disepakati (amr al-majtama' 'alaih). menurut Fazlur Rahman. dan disebut "Sunnah Nabi. di tambah unsur-unsur yang berasal dari kebudayaan Yahudi. Hadits adalah verbalisasi sunnah. ada sunnah Kuffah.DARI SUNNAH KE HADITS Beberapa orang orientalis berpendapat. pada daerah kekuasaan kaum muslim. . dan yang terakhir sekali (6) Bahwa setelah gerakan pemurnian Hadits yang besar-besaran. dinisbahkan kepada Nabi saw. Ketika timbul gerakan hadits pada paruh kedua Abad 2 Hijrah. Karena itu.

" Namun. walaupun secara historis tidak terlepas dari Nabi. ia berkata "Ambillah dari aku manasik kalian. oleh kaum muslimin sendiri. berkata. Mereka dengan kadar yang bermacam-macam berusaha membentuk tingkah lakunya sesuai dengan Nabi saw. berlawanan dengan tesis Fazlur Rahman. Walhasil.bahwa walaupun landasannya yang utama adalah teladan Nabi. mereka merumuskan sunnah itu dalam bentuk verbal. (021) 7501969. menegaskan. Inilah yang disebut hadits. Siapa yang berpaling dari sunnahku ia tidak termasuk golonganku. 7501983. hadits merupakan hasil karya dari generasi-generasi muslim. berulangkali menyuruh sahabat menirunya." Dalam hal haji. ijma' (yang merupakan opinio publica) dan ijtihad (yang merupakan proses interpretasi umat terhadap ajaran Islam) menjadi tersisihkan. (021) 7507174 Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota Please direct any suggestion to Media Team Artikel Yayasan Paramadina Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota III. Ketika gerakan hadits unggul. setelah kaum muslim awal secara berangsur-angsur sepakat menerima sunnah. hadits adalah pembakuan yang kaku. Nabi saw. selama hidupnya terus-menerus menjadi perhatian para sahabat. "Nikah itu sunnahku. UA 20-21 Jakarta Selatan Telp. DARI HADITS KE SUNNAH Sepakat dengan Fazlur Rahman. Nabi saw. 7507173 Fax.-------------------------------------------. seperti saya kutip di bawah ini: Berulang kali telah kami katakan --mungkin sampai membosankan sebagian pembaca-. "Shalatlah kalian seperti kalian melihat aku shalat. Dalam hal shalat.20. Bila sunnah adalah proses kreatif yang terus menerus. Kemudian. Secara lebih tepat hadits adalah komentar yang monumental mengenai Nabi oleh umat muslim di masa lampau. perilakunya itu sunnah yang harus diikuti. Hadits adalah keseluruhan aphorisme yang diformulasikan dan dikemukakan seolah-olah dari Nabi. saya berpendapat bahwa yang pertama kali beredar di kalangan kaum muslim adalah . mereka menisbatkan sunnah itu kepada Nabi saw.(bersambung 2/3) Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah Editor: Budhy Munawar-Rachman Penerbit Yayasan Paramadina Jln. Sifatnya yang aphoristik menunjukkan bahwa hadits tersebut tidak bersifat historis. saya juga berpendapat bahwa perilaku Nabi saw. DARI SUNNAH KE HADITS ATAU SEBALIKNYA (2/3) oleh Jalaluddin Rakhmat Mungkin banyak ulama akan tercengang membaca pandangan Fazlur Rahman tentang hadits. Metro Pondok Indah Pondok Indah Plaza I Kav." Sesekali Nabi saw.

Tidak mungkin kita memberi contoh-contohnya secara terperinci disini. Urwah bin Zubayr pernah berkata. Umar sendiri pernah mengumpulkan catatan-catatan hadits yang berserakan dan membakarnya. ekonomi. atau sosiologis. kemudian menjadi sunnah. masalah penafsiran. lahirlah akibat yang kelima. "Dulu aku menulis sejumlah besar hadits. seperti diriwayatkan Bukhari. Sekarang aku berpikir." Ketiga. Abu Rayyah menulis. Bersamaan dengan perbedaan pendapat ini. Aku bersedia memberikan seluruh anakku dan hartaku untuk memperolehnya kembali. maka redaksi hadits berkembang sesuai dengan penafsiran orang yang meriwayatkannya. Sebuah ra'yu menjadi dominan boleh jadi karena proses kreatif dan adanya demokrasi. telah mengakibatkan hal-hal yang merugikan umat Islam. mempunyai mushaf di luar al-Qur'an. Untuk memperparah keadaan. Dalam peristiwa-peristiwa yang disebutkan dalam pengantar di atas. redaksinya dapat berubah-ubah. terjadilah perbedaan pendapat. menurut Fazlur Rahman. boleh jadi juga karena dipaksakan penguasa. hilangnya sejumlah besar hadits. Ada di antara mereka yang menuliskannya. orang-orang mencari petunjuk dari ra'yu-nya. Karena sejumlah hadits hilang. ketika menyampaian hadits itu mereka hanya menyampaikan maknanya. tidak dituliskan dan para sahabat tidak berupaya . tidak adanya rujukan tertulis menyebabkan banyak orang secara bebas membuat hadits untuk kepentingan politis. Misalnya Ali. menurut Rasm Ja'farian. periwayatan dengan makna. yang menghimpun keputusan-keputusan hukum yang pernah dibuat Rasulullah saw. Dalam pasar ra'yu yang "bebas" (dalam kenyataannya. terbukanya peluang pada pemalsuan hadits.hadits. "Salah satu penyebab timbulnya perbedaan pendapat di antara para ulama adalah hadits-hadits dan teks-teks yang kontradiktif. Kita tidak akan mengupas mengapa dua khalifah pertama mengadakan gerakan "penghilangan" hadits. Banyak riwayat menunjukkan perhatian para sahabat untuk menghapal ucapan-ucapan Nabi atau menyampaikan apa yang dilakukan Nabi saw. Keempat. Keengganan mencatat hadits. Sebagian orang menuding Umarlah yang bertanggung jawab atas kejadian ini. pengaruh kedua sahabat besar ini terasa sampai lebih dari satu abad. Abdullah bin Amr bin Ash juga dilaporkan rajin mencatat apa yang didengarnya dari Nabi. kemudian aku hapuskan semuanya. Ra'yu dominan inilah. karena para sahabat meminta izin untuk menulis hadits tapi Umar mencegahnya. Dalam rangkaian periwayatan. yang mengandalkan ra'yu. Abu al-Abbas al-Hanbaly menulis." Kedua. Seandainya para sahabat menuliskan apa-apa yang pernah didengarnya dari Rasulullah saw. dominasi ra'yu sangat ditopang oleh hilangnya catatan-catatan tertulis. alangkah baiknya kalau aku tidak menghancurkan hadits-hadist itu. sunnah akan tercatat tidak lebih dari satu rantai saja (dalam penyampaian) antara Nabi saw dan umat sesudahnya. Karena orang hanya menerima hadits secara lisan. "Ketika hadits-hadits Nabi saw. Dalam semua kejadian ini. pasar gagasan umumnya tidak bebas) sebagian ra'yu menjadi dominan. kita melihat 'Aisyah juga menyimpan catatan-catatan hadits (mungkin ditulis Abu Bakar). Yang jelas. Pertama. Karena makna adalah masalah persepsi.

terutama. melalui kegiatan para pengumpul hadits. Tidak lain Muawiyah hanya ingin memberikan kasih-sayang dan kehormatan kepada anaknya. pintu periwayatan hadits palsu terbuka baik untuk orang taat maupun orang sesat." Ucapan itu sampai kepada Aisyah." Marwan marah dan menyuruh agar Abd-u 'l-Rahman ditangkap. telah melaknat ayahmu ketika kamu masih berada di sulbinya. kesulitan menguji hadits menjadi sangat besar. Tafsir al-dur al-Mansur 6:41 dan kitab-kitab tafsir lainnya). Tafsir Al-Fakhr al-Razi 7:491. Tidak mengherankan. hilangnya catatan-catatan hadits telah menimbulkan dominasi ra'yu. Jadi. Kemudian. Kesulitan bahkan muncul ketika kita mendefinisikan hadits dan sunnah." Pendeknya. Abubakar tidak pernah menunjuk salah seorang anaknya atau salah seorang keluarganya untuk menjadi khalifah. dalam bentuk tertulis. Abd-u 'l-Rahman lari ke kamar saudaranya. Sesungguhnya kamu adalah tetesan dari laknat Allah. Timbullah sunnah.mengumpulkannya. mula-mula muncul hadits. Abd-u 'l-Rahman ibn Abu Bakar berkata. Inilah riwayat Bukhari. "Sesungguhuya Allah ta'ala telah memperlihatkan kepada Amir-u 'l-Mu'minin yakni Muawiyah pandangan yang baik tentang Yazid." Hadits ini diriwayatkan al-Nasa'i. "Tentang orang inilah turun ayat yang berkata pada orang tuanya 'cis' bagimu berdua. bukanlah ayat itu turun untuk dia. yang lebih merujuk pada tema perilaku yang hidup di tengah-tengah masyarakat. Bila aku mau. Waktu itu ia menjadi Gubernur Madinah yang ditunjuk oleh Mu'awiyah. "Marwan berdusta. yang meriwayatkan apa saja yang mereka inginkan tanpa takut kepada siapapun. Ia ingin menunjuk orang sebagai khalifah. aku dapat menyebutkan kepada siapa ayat ini turun. "Ini sunnah Heraklius dan Kaisar. Demi Allah. yang kemudian disebut sunnah. Ia berkata. Ia berkata. Ia membuang laknat Rasulullah saw. Marwan melanjutkan khotbahnya. hadits adalah produk pemikiran kaum muslim awal untuk memformulasikan sunnah. Ia berkhotbah dan menyebut Yazid ibn Muawiyah supaya ia dibaiat . Tafsir Ibn Katsir 4:159. Bukhari meriwayatkan hadits ini dengan singkat. Panjangnya rangkaian periwayatan hadits telah memungkinkan orang-orang menambahkan kesimpulan dan pendapatnya pada hadits-hadits. Tafsir al-Qurthubi 16:197. daripada pada teks. MENCARI DEFINISI HADITS DAN SUNNAH Pada suatu hari Marwan bin Hakam berkhotbah di Masjid Madinah. Ketika hadits-hadits dihidupkan kembali. Tapi Rasulullah saw. saya hanya ingin mengajak pembaca merekonstruksi kembali pandangannya tentang hadits dan sunnah. Jadi ia ingin melanjutkan sunnah Abubakar dan Umar. bila Fazlur Rahman sampai kepada kesimpulan. Demi Allah. Aisyah Ummu 'l-Mukminin. anaknya. al-Hakim dan al-Hakim menshahihkannya (lihat Mustadrak al-Hakim 4:481. Ulum al-Hadits mungkin membantu kita mengatasi kesulitan ini dengan menambah kesulitan baru. Sunnah pada gilirannya kelihatan sebagai produk para ahli hukum Islam: yang kemudian dinisbahkan kepada Nabi saw. Marwan berdusta. kepada Marwan dan menyamarkan ucapan Abd-u 'l Rahman. Bila saya mendaftar kesulitan yang disebut terakhir. orang berusaha menghambat periwayatan hadits. Marwan di Hijaz sebagai gubernur yang diangkat Muawiyah. Ibn Mundzir.

apakah kalian menjanjikan padaku dan seterusnya. Aisyah berkata dari balik hijab: Allah tidak menurunkan ayat apapun tentang kami kecuali Allah menurunkan ayat untuk membersihkanku. Yang menarik kita bukanlah apa yang dibuang Bukhari. Nurrudin Atar. segera kita menemukan banyak riwayat di dalamnya. Ia menjelaskan bahwa ia tidak disibukkan . 117 menceritakan tangkisan Abu Hurairah kepada orang-orang yang menyatakan Abu Hurairah terlalu banyak meriwayatkan hadits. "Sesungguhnya dia inilah yang tentang dia Allah menurunkan ayat-ayat dan orang yang berkata kepada kedua orang tuanya 'cis' bagimu berdua. -------------------------------------------. ia bercerita tentang perilaku para sahabatnya. halaman 26). berbuatan atau taqrir Nabi saw. Pada Shahih Bukhari. (021) 7507174 Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota Please direct any suggestion to Media Team Artikel Yayasan Paramadina Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota III.(bersambung 3/3) Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah Editor: Budhy Munawar-Rachman Penerbit Yayasan Paramadina Jln. Yang kedua menegaskan bahwa yang pertama berdusta. atau sifat-sifat atau akhlak (Lihat Dr. UA 20-21 Jakarta Selatan Telp. Sekedar memperjelas persoalan di sini. 7501983. (021) 7501969. DARI SUNNAH KE HADITS ATAU SEBALIKNYA (3/3) oleh Jalaluddin Rakhmat KERANCUAN PENGERTIAN HADITS Riwayat di atas disebut "hadits" padahal yang diceritakan adalah perilaku para sahabat. 'Aisyah malah menegaskan dengan hadits yang menyatakan bahwa Marwan adalah orang yang dilaknat Allah dan Rasul-Nya. Maka Abdurrahman mengatakan sesuatu. Bila kita membuka kitab-kitab hadits. Metro Pondok Indah Pondok Indah Plaza I Kav. 4826 dalam hitungan Ibnu Hajar al-Asqalani (lihat Fath al-Bari 8:576)." Ia masuk ke rumah Aisyah dan mereka tidak berhasil menangkapnya Kemudian Marwan berkata. Yang pertama menyebutkan. Manhaj al-Naqd fi Ulum al-Hadits. berupa ucapan. 7507173 Fax. tetapi "perang hadits" antara dua orang sahabat --Marwan ibn Hakam dan 'Aisyah. Riwayat di atas tidak menceritakan hal ihwal Nabi saw. Ia berkata. Para ahli ilmu hadits mendefinisikan hadits sebagai "apa saja yang disandarkan (dinisbahkan) kepada Nabi saw. hadits No. Hadits ini adalah hadits No. dikutipkan beberapa saja diantaranya. asbab al-nuzul ayat al-Ahqaf itu berkenaan dengan 'Abd-u 'l-Rahman ibn Abu Bakar.20. taqrir.sesudah bapakuya. perbuatan. karena ayat itu turun berkenaan dengan orang lain. "Tangkaplah dia. tidak berkenaan dengan ucapan.

ada hadits yang berbunyi "Iman itu perkataan dan perbuatan. Karena itu menurut Dr. Atar. dan sesungguhnya al-Qur'an itu adalah al-Qur'an ini. ini adalah ucapan para ulama di berbagai negeri (lihat Fath-u 'l-Bari 1:47). Ia selalu menyertai Nabi saw. menghadiri majelis yang tidak dihadiri yang lain. Atar. Ibnu Hajar dalam pengantarnya pada Syarh al-Bukhari menyebutkan secara terperinci hadits-hadits mawquf dalam Shahih Bukhari. atau sifat fisik atau akhlak dan apa saja yang dinisbahkan kepada para sahabat. Boleh jadi banyak amal yang kita lakukan selama ini ternyata bersumber pada "hadits" yang bukan hadits (menurut definisi yang pertama). perhatikanlah hadits ini: Dari Jabir ra: Sesungguhnya Ibnu Zubair melarang muth'ah tetapi Ibn Abbas memerintahkannya. (lihat Nayl al-Awthar 4:148). ia berkhotbah kepada orang banyak: Sesungguhnya Rasulullah saw. kebiasaan melakukan adzan awal pada shalat Jum'at di kalangan ulama tradisional. Perhatikan Bukhari memasukkan sebagai salah satu kitab haditsnya. para ulama di luar para sahabat juga sebagai hadits." Sampai di sini kita bertanya apakah kita sepakat dengan definisi Dr. harus mengubah anggapan kita selama ini. riwayat tentang para sahabat masih dapat dianggap hadits. Ia berkata: Padaku ada hadits. Yang pertama muth'ah . Mungkin bagi banyak orang. disebut hadits maqthu." Ini bukan sabda Nabi saw." Namun jangan terkejut kalau ahli hadits bahkan menyebut riwayat. bertambah dan berkurang. perbuatan. Kami melakukan muth'ah pada zaman Rasulullah saw. padahal riwayat ini tidak menyangkut ucapan. atau sifat fisik atau akhlak dan apa saja yang dinisbahkan kepada para sahabat dan tabi'in. Demikian pula. "Kami menganggap berkumpul pada ahli mayit dan menyediakan makanan sesudah penguburannya termasuk meratap. berupa ucapan. Hadits itu berbunyi. perbuatan. Dalam Shahih Bukhari. Adalah Rasul ini." Hadits ini merupakan ucapan 'Abd-u l-Lah al-Bajali. Salah satu contohnya adalah hadits yang sering disampaikan kaum modernis untuk menolak tradisi slametan ("tahlilan") pada kematian. Ketika Umar berkuasa. bukan ucapan Bani saw. Ada dua muth'ah yang ada pada zaman Rasulullah saw.dengan urusan ekonomi. seperti sahabat-sahabat Anshar dan Muhajirin. Ucapan "al-shalat-u khair-un min al-nawm" dalam adzan Shubuh adalah tambahan yang dilakukan atas perintah Umar ibn Khatab. definisi hadits yang paling tepat ialah "apa saja yang disandarkan (dinisbahkan) kepada Nabi saw. Akhirnya. Hadits yang menceritakan sahabat disebut hadits mawquf (istilah yang didalamnya terdapat kontradiksi. berupa ucapan. misalnya. dan menghapal hadits yang tidak dihapal orang lain. perbuatan atau taqrir Nabi saw. Yang paling menyusahkan kita ternyata tidak semua hadits walaupun shahih meriwayatkan sunnah Rasulullah saw. Menurut Bukhari. sehingga definisi hadits sekarang ialah "apa saja yang disandarkan (dinisbahkan) kepada Nabi saw. Bila ya. karena bukan hadits bila tidak berkenaan dengan Nabi saw.). Dan pada zaman Abu Bakar ra. taqrir. Riwayat tentang para tabi'in yakni ulama yang berguru kepada para sahabat. Ternyata hadits itu tidak semuanya berkenaan dengan Nabi saw. taqrir. didasarkan kepada hadits yang menceritakan perilaku orang Islam di zaman Utsman ibn 'Affan. Kembali kepada Rasulullah saw. Tetapi aku melarangnya dan akan menghukum pelakunya. Untuk mengenyangkan perutnya.

Manakah yang harus kita pegang: hadits taqrir Nabi saw. memindahkan serbannya. Itu hanya kebetulan saja dan tidak mempunyai implikasi hukum. fi hadza 'l-hadits khams-u sunnah. yang tepat untuk dijadikan dalil hukum syar'i" (Muhammad Ajjaj al Khathib. termasuk para ulama yang menyamakan hadits dengan sunnah. Imam Hanafi dan .16) Jadi menurut ulama ushul fiqh.perempuan. Yang membiarkan sahabatnya melakukan muth'ah atau hadits larangan Umar? Umumnya kita memilih yang kedua. Yang kedua muth'ah haji (haji tamattu'). KERANCUAN PENGERTIAN SUNNAH Para ahli hadits. dalam hadits hanya ada tiga sunnah. Pada waktu khotbah istisqa Nabi saw. dan taqrir. dikeluarkan juga oleh Muslim dalam shahihnya." Jadi pemindahan dalam khotbah istisqa itu tentu mempunyai implikasi syar'i. Abdullah bin Zaid bercerita tentang istisqa Nabi saw. Hadits ini diriwayatkan dalam Sunnah Baihaqi 7:206. Ahli ushul fiqh mendefinisikan sunnah sebagai "apa saja yang keluar dari Nabi saw. karena perbuatan Nabi saw. duduk tasyahhud. perbuatan dan taqrir Nabi saw. aku aakan melemparinya dengan batu. Batuk tidak bernilai syar'i. Sampai ke zaman Abu Bakar ra. Tetapi bagaimana pendapat anda bila Wail bin Hajar melaporkan apa yang disaksikannya ketika Nabi saw. Nabi saw. "Aku mendengar Rasulullah saw. Masalahnya sekarang: kapan perkataan. Kata Syafi' i. al-Sunnah Qabl al-Tadwin. dan banyak di antara kita. "Dalam hadits ini ada lima sunnah. Tidak pernah memindahkan serban kecuali kalau berat. Banyak orang. perbuatan." dapatkah kita menetapkan perilaku Nabi saw. Batuk tiga kali setelah takbirat-u 'l-ihram. sehingga bagian dalam serban itu di luar dan sebalik. "Aku melihatnya menggerakkan telunjuknya sambil berdoa?" Tidakkah anda menyimpulkan bahwa gerakan telunjuk itu sama dengan batuk --yang hanya secara kebetulan tidak mempunyai implikasi hukum. Selain al-Qur'an berupa ucapan. Bukankah Ibnu Zubair melihat "Nabi saw. h. Bila ada seorang laki-laki menikahi perempuan sampai waktu tertentu. Dalam riwayat lain. Itu tepat disebut sunnah? Seandainya seorang sahabat berkata. sehingga ujung serban sebelah kanan disimpan pada bahu sebelah kiri dan ujung serban sebelah kiri disimpan pada bahu sebelah kanan. menyebut sunnah pada semua perilaku Nabi saw. Kerancuan definisi hadits ini membawa kita kepada ikhtilaf mengenai apa yang disebut sunnah. Imam Ahmad pernah diriwayatkan berkata. yang dllaporkan dalam hadits. Walhasil. Mungkin saja buat sebagian di antara mereka. memberi isyarat dengan telunjuknya tapi tidak mengerakkannya?" (Nayl al-Awthar 2:318). yang tidak jarang bertentangan dengan sunnah Rasulullah saw." Tidak semua ulama setuju dengan pernyataan Ahmad. "Nabi saw. Jumhur ulama termasuk Imam Syafi'i dan Malik menetapkan pembalikan atau pemindahan serban itu sebagai sunnah. tidak semua hadits mengandung sunnah. menyamakan hadits dengan sunnah. Hadits ini menceritakan khotbah sahabat Umar yang mengharamkan muth'ah yang dilakukan para sahabat sejak zaman Rasulullah saw. Dalam hadits itu sebagai sunnah? Anda berkata tidak. kita mengamalkan juga sunnah para sahabat. dengan memperluas definisi hadits sehingga juga memasukkan perilaku para sahabat dan tabi'in. Membalikkan serbannya.

kemusykilan tentang sunnah makin bertambah. Semua orang sepakat pentingnya hadits dan sunnah dalam merealisasikan ajaran Islam. "Anda akan membersihkan hadits Nabi saw. kita menemukan juga adanya sunnah para sahabat. dengan membuang ribuan hadits yang dianggap dha'if (lemah). Siapa yang ingin melanjutkan tradisi Imam Bukhari dewasa ini? -------------------------------------------Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah Editor: Budhy Munawar-Rachman Penerbit Yayasan Paramadina Jln. nilai sunnah tentu saja tidak bersifat mutlak seperti al-Qur'an. Dengan latar belakang uraian tentang hadits sebelumnya. Fazlur Rahman dalam Membuka Pintu Ijtihad menegaskan adanya unsur penafsiran manusia dalam sunnah. ekonomi. harus mengacu pada teks-teks yang menjadi landasan ajaran Islam. hukum. Anda melihat bagaimana para ulama berbeda dalam mengambil sunnah hanya dari satu hadits saja. Para ulama juga ikhtilaf untuk menetapkan apakah pemindahan serban itu berlaku bagi imam atau berlaku bagi jemaah juga. mengapa kita tidak mau melanjutkannya. Sikap kritis ini seringkali dicurigai akan menghilangkan hadits atau sunnah. Bila para pembaru Islam terdahulu memulai kiprahnya dari kritik terhadap hadits dan sunnah (Ingat bagaimana Muhammadiyah dan PERSIS "men-dha'if-kan" hadits-hadits yang dipergunakan orang-orang NU). mereka berkata." Inilah yang mendorong Bukhari mengumpulkan hadits-hadits yang sahih saja. Ketika terjadi perbedaan paham. apakah yang sunnah itu pemindahan atau pembalikkan. Pernyataan Fazlur Rahman ini bagi kebanyakan orang sangat mengejutkan. Bahkan ketika merujuk pada al-Qur'an pun. sehingga pada awalnya sunnah sama dengan ijma'. PENUTUP. Metro Pondok Indah Pondok Indah Plaza I Kav. budaya. bahkan sunnah para tabi'in. ia duduk di hadapan Rasulullah saw. Definisi sunnah seperti disebutkan di atas. Kita lupa bahwa kritik terhadap keduanya telah diteladankan kepada kita oleh para ulama terdahulu.sebagian pengikut Maliki menetapkan bukan sunnah. kita harus melihat hadits. Konon Imam Bukhari bermimpi. kita tidak bisa tidak harus merujuk pada hadits dan sunnah (tentu saja sesudah al-Qur'an). Bukanlah selama ini yang kita anggap benar secara mutlak adalah al Qur'an dan sunnah? Patut dicatat bahwa kesimpulan Fazlur Rahman itu didasarkan pada sunnah dalam pengertian sunnah Rasulullah saw. dari kebohongan. Pemindahan itu hanya kebetulan saja. dan di tangannya ada kipas untuk mengusir lalat agar tidak mengenai tubuh Nabi saw. Sunnah adalah perumusan para ulama mengenai kandungan hadits. Pembaruan pemikiran Islam atau reaktualisasi ajaran Islam. Karena sunnah adalah hasil penafsiran. Ketika ia bertanya kepada orang-orang pandai apa arti mimpi itu. dan masyarakat. Bila sunnah sudah mencakup juga perilaku sahabat. maka yang disebut sunnah adalah pendapat umum. UA 20-21 Jakarta Selatan . Karena itu. Ketika kita sedang giat melakukan islamisasi ilmu. pada kenyataannya tidak lagi dipakai. Yang sering kita lupakan adalah bersikap kritis terhadap keduanya.

Tapi ingkar kepada hadits. di antara keduanya terdapat jalinan yang erat." Tapi sekarang ini sunnah memang tidak dapat dibedakan dari hadits.diharapkan akan dapat membantu memperjelas persoalan. Abu Dawud. Sudah jelas. maka kajian kesejarahan tentang evolusi pengertian sunnah --yang diungkapkan Nabi meski secara tersirat-. Tapi sebelum mereka sudah ada seorang kolektor hadits yang amat kenamaan dan berpengaruh besar yaitu sarjana dan pemikir dari Madinah. PERGESERAN PENGERTIAN "SUNNAH" KE "HADITS" (1/3) IMPLIKASINYA DALAM PENGEMBANGAN SYARI'AH oleh Nurcholish Madjid Dalam masyarakat Islam di beberapa negara terdapat kelompok-kelompok yang meragukan otoritas hadits sebagai sumber kedua penetapan hukum Islam. Pada banyak kasus mungkin terjadi semacam kekacauan akibat kecenderungan masyarakat untuk menyamakan begitu saja antara sunnah dan hadits.19. 7507173 Fax.) yang menghasilkan kitab hadits al-Muwaththa'. ada suatu golongan yang menanamkan dirinya kaum "Inkar al-Sunnah". (021) 7501969. Di negara kita. pada prinsipnya sikap ingkar pada sunnah tidak dapat dibenarkan. namun sesungguhnya tidaklah identik. Sebab yang disebutkan sebagai sumber kedua sesudah Kitab Suci al-Qur'an ialah sunnah. sebagaimana sering dituturkan tentang adanya sabda Nabi saw. "Dua Yang Sahih"). Berdasarkan sabda Nabi tentang Kitab dan sunnah di atas. wafat 179 H. (021) 7507174 Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota Please direct any suggestion to Media Team Artikel Yayasan Paramadina Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota III. Karena sikap mereka menolak perlunya kaum muslim berpegang pada sunnah. Yang pertama (sunnah) mengandung pengertian yang lebih luas daripada yang kedua (hadits). yang kamu tidak akan sesat selama berpegang kepada keduanya: Kitab Allah dan sunnah RasulNya. dan yang lengkapnya meliputi pula kitab-kitab koleksi oleh Ibn Majah. sekalipun jelas tidak dapat dilakukan secara umum tanpa penelitian tentang hadits tertentu mana yang dimaksud.Telp. 7501983. Jika seseorang menyebut "sunnah" maka dengan sendirinya akan terbayang padanya sejumlah kitab koleksi sabda Nabi. bukan hadits. maka golongan ini menjadi sasaran kritik para ulama dan tokoh Islam. Perjalanan sejarah . al-Turmudzi dan al-Nasa'i. Oleh karena dampak masalah ini dalam usaha penetapan hukum (tasyri') sangat besar dan penting. Malik Ibn Anas (pendiri madzhab Maliki. "Aku tinggalkan di antara kalian dua perkara. Bahkan dapat dikatakan bahwa sunnah mengandung makna yang lebih prinsipil daripada hadits. demikian pula sebaliknya. telah terjadi dalam kurun waktu yang panjang pada golongan-golongan tertentu Islam seperti kaum Mu'tazilah. Yang paling terkenal di antaranya ialah dua kitab koleksi oleh al-Bukhari dan Muslim (disebut al-Shahihayn.

PENGERTIAN SUNNAH Sunnah lebih luas daripada hadits. Berarti. orang Islam tentu pertama-tama harus melihat apa yang ada dalam Kitab Suci. Ibn Ishaq lahir di Madinah (pada tahun 85 H). harus dimasukkan pula corak dan ragam tindakan beliau. kedua. namun mencampuradukkan antara keduanya tidak dapat dibenarkan. termasuk yang sahih.perkembangan dan perubahan itu sendiri cukup panjang dan rumit. yang secara logis paling paham akan apa yang dipesankan Tuhan pada manusia melalui beliau. harus mencari contoh bagaimana Nabi sendiri memahami dan melaksanakannya. Sekalipun pengertian ini cukup jelas. termasuk yang sangat dini ditulis ialah Sirah Ibn Ishaq yang kemudian disunting oleh Ibn Hisyam (berturut-turut wafat pada tahun 151 dan 219 Hijri). Pemahaman Nabi terhadap pesan atau wahyu Allah itu teladan beliau dalam melaksanakannya membentuk "tradisi" atau "sunnah" kenabian (al-sunnah al-Nabawiyyah). Sebab. dalam memahami agama dan melaksanakannya. bersama dengan kitab-kitab biografi Nabi yang lain amat penting. Jika disebutkan oleh Nabi bahwa sunnah merupakan pedoman kedua setelah Kitab Suci bagi kaum muslim dalam memahami agama. maka dari celah-celah sejarah itu kita akan dapat menarik "benang merah" yang memberikan kejelasan tentang perkembangan dan perubahan itu. baik sebagai pribadi maupun pemimpin. kemudian. Yaitu. tidak berarti bahwa hadits dengan sendirinya mencakup seluruh sunnah. seperti kitab-kitab sirah atau biografi Nabi. yang sekarang ini definisinya makin luas batasannya dan komprehensif. Namun demikian. Dan ia telah mengumpulkan bahan untuk kitab sirah-nya beberapa lama sebelum usaha-usaha pengumpulkan hadits. dalam lingkup sunnah sebagai keseluruhan tingkah laku Nabi. Meskipun wafat di Baghdad. antara sunnah dan hadits terbentang garis kontinuitas yang tidak terputus. juga yang paling tahu bagaimana melaksanakannya. Nabi-lah sebagai utusan Tuhan. karena memuat gambaran tentang perjalanan hidup Nabi khususnya dalam kapasitas beliau sebagai pemimpin. Jika sunnah merupakan keseluruhan perilaku Nabi. Sebab. Sebelum Ishaq. Di antara kitab-kitab sirah. dan tumbuh sebagai sarjana terkemuka di kota Nabi. kitab-kitab itu juga merupakan sumber . maka kita dapat mengetahui dari sumber-sumber yang selama ini tidak dimasukkan sebagai hadits. Sedangkan hadits merupakan bentuk reportase atau penuturan tentang apa yang disebabkan Nabi atau yang dijalankan dalam praktek tindakan orang lain yang "didiamkan" beliau (yang dapat dapat diartikan sebagai "pembenaran"). Memang. Pengertian lain yang menyalahi hal itu mustahil dapat diterima. sunnah tidak terbatas hanya pada hadits.. maka sesungguhnya Nabi hanya menyatakan sesuatu yang amat logis. Dalam kedudukan beliau sebagai pemimpin itulah Kitab-kitab sirah banyak memberi gambaran. Kitab-kitab itu. namun masih juga sering mengundang kekaburan. Itulah makna asal kata hadits. telah muncul berbagai karya tulis tentang riwayat peperangan Nabi yang lazim disebut kitab-kitab al-Maghazi. Tapi jika kita berhasil melepaskan diri dari dogmatisme yang menerima begitu saja pengertian-pengertian mapan tentang apa yang terjadi di masa lampau. Maka.

yang keseluruhannya menampilkan sosok Nabi yang berkeprlbadian mulia. al-Qalam 68:4). yang ternyata berhasil gemilang. Dan pastilah kemudian hari lebih baik bagimu daripada yang sekarang ada. sehingga menimbulkan ejekan dan sinisme kaum . janganlah kamu membentak! Sedangkan berkenaan dengan nikmat karunia Tuhanmu. Dan beliau juga dilukiskan dalam Kitab Suci sebagai seorang yang berakhlak amat mulia (Q.yang baik untuk memahami sunnah. karena ilham teladan baik dari beliau. al-Ahzab 33:32).S. Dalam sejarah terbukti bahwa pembacaan biografi Nabi. Sunnah Nabi harus pula dipahami sebagai keseluruhan kepribadian Nabi dan akhlak beliau. Tidaklah Tuhanmu meninggalkan engkau (Muhammad). al-Dluha 93:1-11) Bukankah Kamu telah lapangkan dadamu?! Dan Kami bebaskan bebanmu. Dan juga pastilah Tuhanmu akan menganugerahimu. Bukankah Dia mendapatimu yatim. yang dalam kepribadian dan akhlak beliau disebutkan dalam Kitab Suci sebagai teladan yang baik (uswah hasanah) bagi kita semua "yang benar-benar berharap pada Allah pada Hari Kemudian. Sebab sesungguhnya akhlak Nabi yang mulia itu tidak lain adalah semangat Kitab Suci al-Qur'an itu sendiri. kerja keraslah! Dan kepada Tuhanmu. yaitu upacara memperingati kelahiran Nabi dengan membaca riwayat hidup beliau. jika yang dimaksud selain tindakan-tindakan Nabi atau sabda beliau yang bersifat terpisah dan ad hoc seperti umumnya tema catatan hadits. janganlah engkau menghardik! Dan kepada peminta-minta. Sebagai contoh. isteri beliau. dalam hal ini tingkah laku dan kepribadian beliau sebagai seorang yang berakhlak mulia.S. dan tidak pula murka. berhasil membangkitkan semangat perjuangan Islam. senantiasa berharaplah! (QS. Dengan demikian Nabi. Tetapi justru karena itu maka memahami sunnah Nabi tidak dapat lepas dari memahami Kitab Suci sendiri. Dan dengan "eksperimen" itu pemimpin Islam dari Mesir yang kemudian terkenal dengan sebutan "Sultan Saladin" itu mewariskan pada Umat Islam seluruh dunia tradisi Maulid. serta banyak ingat kepada Allah" (Q. dua surat yang termasuk paling banyak dibaca dalam sembahyang dapat kita renungkan maknanya di sini: Demi pagi yang cerah dan demi malam ketika telah kelam. dan keseluruhan sasaran peneladanan itu tidak lain ialah sunnah nabi. kemudian Dia memperkayamu?! Maka kepada anak yatim. Inilah "eksperimen" Sultan Shalah al-Din al-Ayyubi dalam menghadapi tentara Salib. baik yang menyenangkan atau tidak. engkau harus nyatakan! (QS. Dari Kitab Suci kita mengetahui lebih banyak perkembangan kepribadian Nabi yang menggambarkan pengalaman Nabi. khususnya yang berkaitan dengan riwayat peperangan beliau yang dikena sebagai al-Maghazi tersebut. kemudian Dia melindungimu?! Dan Dia mendapatimu bingung. yang memberati punggungmu?! Serta Kami muliakan namamu?! Sebab sesunggahnya bersama kesulitan tentu ada kemudahan! Maka jika engkau bebas. menjadi pedoman hidup kedua setelah Kitab Suci bagi seluruh kaum beriman. khususnya. Dari pengamatan atas gambaran itu kita dapat memperoleh ilham tentang peneladanan pada beliau. al-Syarh 94:1-8) Para ahli hampir semuanya sepakat bahwa surat al-Dluha turun kepada Nabi berkenaan dengan peristiwa terputusnya wahyu yang relatif panjang. maka kamu akan lega. sebagaimana dilukiskan A'isyah. kemudian Dia membimbingmu?! Dan Dia mendapatimu miskin.

Allah mengingatkan Nabi bahwa perjuangan jangka panjang.(bersambung 2/3) Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah Editor: Budhy Munawar-Rachman Penerbit Yayasan Paramadina Jln. Dan dalam jangka panjang itulah. . bingung tentang apa yang hendak dilakukan. 7501983. Dan berdasarkan latar belakang itu maka Allah berpesan agar Nabi janganlah sampai menghardik anak-yatim. Allah menghibur beliau dan memberinya dorongan moril. (021) 7507174 Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota Please direct any suggestion to Media Team Artikel Yayasan Paramadina Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota III. Metro Pondok Indah Pondok Indah Plaza I Kav. 7507173 Fax. surat ini juga menggambarkan tentang suatu dinamika pengalaman Nabi dalam perjuangan beliau. berupa kemenangan demi kemenangan yang diraih Nabi setelah hijrah ke Madinah. PERGESERAN PENGERTIAN "SUNNAH" KE "HADITS" (2/3) IMPLIKASINYA DALAM PENGEMBANGAN SYARI'AH oleh Nurcholish Madjid IMPLIKASI SUNNAH SEBAGAI KOREKSI HADITS DALAM PENGEMBANGAN SYARI'AH Allah juga mengingatkan Nabi bahwa masa mendatang lebih penting daripada masa sekarang. bahwa Allah samasekali tidak meninggalkan beliau dan tidak pula murka. Dalam terjemah kontemporernya. sehingga seperti dikatakan Sayyid Quthub. (021) 7501969. dan bagaimana Allah telah menunjukkan kasih-Nya pada beliau dengan memberi kemampuan mengatasi kesusahan itu semua. dan miskin. perjuangan besar selalu memerlukan waktu untuk mencapai hasil dan semakin besar nilai suatu perjuangan maka semakin panjang pula dimensi waktu yang diperlukannya. dan beliau pun wafat memenuhi panggilan menghadap Allah dalam keadaan menang dan sukses luar biasa). selama perjuangan diteruskan dengan penuh kesabaran dan harapan.musyrik Makkah bahwa Tuhan telah meninggalkan Nabi dan murka kepadanya. Serentak dengan itu semua Allah juga mengingatkan akan masa lampau Nabi yang penuh kesusahan seperti keadaan beliau yang yatim-piatu. (Janji Tuhan ini kelak ternyata terbukti dan terlaksana. yang taktis. atau membentak peminta-minta. -------------------------------------------. Allah menjanjikan untuk memberi kemenangan yang bakal membuat beliau puas dan lega. Dari latar belakang turunnya. Oleh karena itu hendaknya Nabi tidak putus asa atau kecil hati oleh pengalaman kekecewaan jangka pendek. dan selalu ingat dengan penuh syukur akan nikmat karunia Tuhan. yang strategis lebih penting daripada pengalaman jangka pendek. Sebab. UA 20-21 Jakarta Selatan Telp.19.

Dari situ kita paham sebuah sunnah Nabi.Sadar akan perjuangan jangka panjang. dari kedua surat pendek yang banyak dibaca dalam shalat itu dapat disimpulkan gambaran dinamika kepribadian Nabi berhubung dengan pengalaman hidup perjuangan beliau. seperti telah diutarakan.Tidak kecil hati karena kesulitan. bahwa amal usaha tentu mengandung kesulitan. Pengkajian terhadap firman-firman itu akan memberi gambaran yang utuh tentang siapa Nabi dan bagaimana garis besar sepak terjang . Juga diingatkan bahwa Allah telah membuat terhormat nama Nabi dan dijunjung tinggi. Maka dari itu setiap kesempatan harus digunakan untuk kerja keras. 7. dalam arti dapat terjadi dan dialami oleh siapa saja dari kalangan manusia yang mempunyai tekad atau komitmen pada cita-cita luhur.Menggunakan setiap waktu luang untuk kerja-kerja produktif 11. 3. dengan penuh harapan kepadaNya. Dalam surat ini Allah menegaskan bagaimana Dia telah membuat Nabi sebagai seorang yang lapang dada (munsyarih al-shadr). Jika kita renungkan lebih mendalam gambaran itu. dan membuat semua beban terasa ringan bagi beliau. berkat perjuangan beliau dan kebajikan yang ditegakkannya.Rasa kasih sayang kepada sesama manusia yang kurang beruntung 6. Akhlak serta kepribadian yang menjadi sunnah Nabi. bahkan merupakan kelanjutannya. namun hasil perjuangan itu di kemudian hari tentu akan membawa kebahagiaan. sambil senantiasa mengarahkan diri kepada Allah. dan dari situ pula kita mengerti suatu aspek makna firman Allah bahwa pada diri Rasulullah terdapat teladan yang baik bagi kaum beriman.Bersikap lapang dada 8.Senantiasa bersyukur pada Allah atas segala nikmat karunia-Nya.Sikap senantiasa berpengharapan kepada Allah 2. maka sesungguhnya dinamika pengalaman hidup Nabi tersebut adalah universal. para ahli mengatakan bahwa wahyu itu turun kepada Nabi masih dalam kaitannya dengan surat al-Dluha. Jadi. Lalu Allah menegaskan bahwa setiap kesulitan tentu akan membawa kemudahan. sebab yakin akan masa datang yang lebih baik 10.Tetap berorientasi kepada Allah. asal dan tuduan semua yang Firman Allah yang memberi gambaran dinamika kepribadian Nabi sebagai uswah hasanah dalam al-Qur'an cukup banyak.Memikul beban tanggungjawab dengan penuh kerelaan 9.Ingat akan latar belakang diri di masa lalu dan bagaimana semua kesulitan teratasi 5.Yakin akan kemenangan akhir 4. Oleh karena itu sikap-sikap yang telah ditunjukkan oleh Nabi sebagaimana tersimpul dari kedua surat pendek itu akan melengkapi kaum beriman dengan contoh nyata dalam menghadapi problema kehidupan. yang dapat disimpulkan dari kedua surat itu adalah kurang lebih demikian: 1.Berkenaan dengan surat al-Syarh.

dari dahulu sampai sekarang. dan yang dinilainya banyak membuka pintu bagi orang lain sesudahnya untuk juga bersikap ingkar pada hadits. PERGESERAN PENGERTIAN SUNNAH KE HADITS Di atas telah dikemukakan adanya kelompok-kelompok kaum muslim yang sangat meragukan otentisitas dan otoritas kumpulan hadits. pandangan mereka yang menolak hadits ialah bahwa Islam hanyalah al-Qur'an saja. Tanpa menyebut namanya secara jelas.Allah telah menegaskan "Tidak ada satu perkarapun yang Kami abaikan dalam Kitab Suci (Q. Karena itu sunnah Nabi sebenarnya tidak terbatas hanya pada hadits. Secara ringkas. Menurut Dr. golongan Ingkar Hadits itu terdapat di mana-mana dalam dunia Islam.beliau dalam hidup beliau baik sebagai pribadi maupun sebagai Utusan Ilahi. Tokoh itu sendiri. dan bahwa Kitab Suci merupakan satu-satunya sumber penetapan syari'ah disebabkan kepastian otentisitasnya.S. sekalipun dituturkan dalam kaitan dengan ruang dan waktu atau pengalaman khusus Nabi. seorang pembela paham Sunni yang bersemangat dan mantan dekan Fakultas Syari'ah Universitas Syiria. serta seorang tokoh pembina gerakan al-Ikhwan al-Muslimun di Syiria. yang disebutkan oleh al-Siba'i sebagai contoh. seperti diindikasikan oleh penggunaan kata pengganti nama "engkau" dalam suatu format dialog antara Tuhan dan Utusan-Nya. namun ajaran moral di balik cerita selalu bersifat dinamik sehingga dapat dengan mudah diangkat pada tingkat generalitas yang tinggi. dengan demikian bernilai universal. menurut Mushthafa al-Siba'i. Tapi pandangannya yang menolak otoritas hadits telah menimbulkan heboh di kalangan para ulama al-Azhar. Jadi sunnah Nabi. Mushthafa al-Siba'i. Mereka sebenarnya tidak mengingkari sunnah. dan karena adanya banyak kontradiksi dalam sebagian cukup besar nash-nash-nya. Sangat menarik jalan pikiran seorang tokoh yang ingkar hadits itu di zaman modern. al-Siba'i mengutip tokoh itu yang pandangannya pernah dimuat oleh majalah al-Manar pimipinan Sayyid Muhammad Rashyid Ridla. adalah seorang muslim yang bergairah. Sedangkan yang ada dalam al-Qur'an. dapat lebih banyak diketahui dari Kitab Suci daripada dari kumpulan kitab hadits. Sedangkan sunnah (yang dimaksud tentunya hadits) mengandung keraguan dalam keabsahannya sebagai sumber argumen (hujjah) karena terjadi penambahan-penambahan padanya. karena ingkar pada sunnah Nabi adalah mustahil bagi seorang muslim. meskipun hadits (yang sahih) memang termasuk sunnah. menurut al-Siba'i. sehingga tidak lagi ada peran bagi sunnah (hadits) untuk menatapkan hukum . namun umumnya bersifat ad hoc terkait erat dengan tuntutan khusus ruang dan waktu. Mereka mendasarkan pandangan itu pada hal-hal berikut: 1. Al-An'am 6:38). Ini menjelaskan bahwa Kitab Suci telah mencakup seluruh prinsip penetapan syari'ah. Meskipun banyak laporan dalam kitab-kitab hadits yang juga memberi gambaran tentang tingkah laku atau kepribadian Nabi. Tetapi mereka ini dapat disebut sebagai golongan "Ingkar Hadits" (sebutlah "Inkar al-Hadits"). khususnya segi-segi yang dinamik dan mendasar. yang telah tampil membela Islam dengan cara yang mengagumkan. Kita dapat mendekteksi dinamika kepribadian Nabi itu dari firman-frman yang ditunjukkan khusus kepada Nabi.

dan apapun yang sampai kepadamu dan menyalahi al-Qur'an. sebagaimana difirmankan. sedangkan dugaan tidak dapat menghasilkan hukum syar'i. dan sesungguhnyalah Kami yang memelihara-Nya" (Q. Abu Bakr." [1] Dalam kutipan al-Siba'i tentang argumen orang yang ingkar pada hadits itu disebutkan bahwa pembukaan hadits dimulai pada akhir abad pertama Hijri. bahkan secara otentik diceritakan bahwa beliau melarang membukukannya. 124 H) untuk meneliti dan membuktikan tradisi yang hidup di kalangan penduduk Madinah. dll. Mungkin yang dimaksudkan ialah adanya dorongan pembukuan hadits oleh Khalifah 'Umar Ibn 'Abd al-'Aziz (w. bahwa beliau bersabda "Sesungguhnya hadits akan memancarkan dari diriku. jika bukannya malah merupakan wujud historis yang kongkret dari "tradisi" atau "sunnah" Nabi sendiri.an.dan membuat syari'ah. Kalau seandainya hadits termasuk sumber penetapan syari'ah. Apapun yang sampai kepadamu sekalian dan bersesuaian dengan al-Qur. Hadits juga belum dibukukan di zaman al-Khulafa al-Rasyidun. "Sesungguhnya Kami benar-benar telah menurunkan pelajaran. Ini adalah jangka waktu yang cukup panjang untuk menimbulkan keraguan tentang keabsahan teks-teks hadits. ia berasal dari diriku. dan kebanyakan tokoh besar para sahabat Nabi serta para Tabi'un seperti 'Umar. al-Najm 52:28). al-Rasyidun. tindakan 'Umar II ini adalah untuk menemukan dan mengukuhkan landasan pembenaran bagi ideologi Jama'ah-nya. yang mengisyaratkan pengakuan bahwa ia adalah pelanjut kekhalifahan 'Umar Ibn al-Khaththab yang bijakbestari.S. 'Alqamah. al-Qasim Ibn Muhammad. karena Allah berfirman. menunjukkan sikap tidak suka pada usaha membukukannya.Sunnah (hadits) belum dibukukan di zaman Nabi saw. Kota Nabi. "Sesungguhnya dugaan tidak sedikit pun menghasilkan kebenaran" (Q. Syihab al-Din al-Zuhri (w. 3.Allah menjamin pemeliharaan al-Qur'an dari kesalahan. dan selesai pengumpulan dan koreksinya pada pertengahan abad ketiga. 'Ubaydah. Umar II.S. Maka banyak kalangan kaum Muslim yang memandang 'Umar II sebagai anggota kelima dari al-Khulafa. al-Nakha'i. al-Sya'bi. al-Hijr 15:9). Khalifah ini terkenal dengan sebutan kehormatan.. dan rampung pada pertengahan abad ketiga. 2. sesudah 'Ali Ibn Abi Thalib. ia tidak berasal dariku. Pembukuan hadits baru dimulai pada akhir abad pertama. 4. karena keyakinan 'Umar II bahwa tradisi itu merupakan kelanjutan langsung pola kehidupan masyarakat Madinah di zaman Nabi.Terdapat penuturan dari Nabi saw. Dari sudut analisa politik. tentulah Tuhan memeliharanya untuk kepentingan para hamba-Nya dari kemungkinan penyelewengan dan perubahan sebagaimana Dia telah memelihara Kitab Suci-Nya.) dari Bani Umayyah.. yang dengan ideologi itu ia ingin merangkul . 102 H. sehingga masuk ke dalamnya penambahan dan pemalsuan. dan hal itu dengan sendirinya menempatkan sunnah pada tingkat dugaan (martabat al-dhann) belaka. Tuhan tidak menjamin pemeliharaan sunnah (hadits). 'Umar II memerintahkan seorang sarjana terkenal.

303 H). Koleksi mereka berenam itulah yang kelak disebut "Kitab yang Enam" (al-Kutub al-Sittah). Akibatnya. Metro Pondok Indah Pondok Indah Plaza I Kav. pengertian "sunnah" pun kemudian menjadi hampir identik dengan koleksi hadits dalam "Kitab yang Enam" itu. Dan. dan dengan begitu. mereka akhirnya mampu meruntuhkan Dinasti Umayyah dan melaksanakan pembalasan dendam yang sangat kejam). golongan oposisi itu kemudian mampu memobilisasi diri sehingga. al-Turmudzi (. al-Nasa'i (w. Maka penelitian dan pembukaan tentang tradisi penduduk Madinah akan dengan sendirinya menghasilkan pembukaan "tradisi" atau "sunnah" Nabi. 7501983. Berdasarkan latar belakang inilah maka ideologi 'Umar II kelak disebut sebagai paham "sunnah dan jama'ah" dan para pendukungnya disebut ahl al-sunnah wa al-Jama'ah (golongan sunnah dan jama'ah). 'Abd-Allah Ibn 'Abbas dan 'Abd-Allah Ibn Mas'ud. 7507173 Fax. UA 20-21 Jakarta Selatan Telp. sekalipun ia menyesalkan sikap Khalifah yang baginya terlalu banyak memberi angin pada kaum Syi'ah dan Khawarij (karena. 261 H). menurut al-Siba'i. sesungguhnya. [2] Tapi. sebelum masa 'Umar II pun sebetulnya sudah ada usaha-usaha pribadi untuk mencatat hadits. pembukuan hadits secara sistematis dan kritis dan dalam skala besar serta pada tingkat kesungguhan yang tinggi baru dimulai pada awal abad ketiga dengan tampilnya Iman al-Syafi'i (w. dan baru benar-benar rampung pada awal abad keempat Hijri. lalu diteruskan berturut-turut oleh Muslim (w. 204 H). Selanjutnya.seluruh kaum Muslim tanpa memandang aliran politik atau pemahaman keagamaan mereka. Mushthafa al-Siba'i amat menghargai kebijakan 'Umar II berkenaan dengan pembukaan sunnah itu. 303 H). di bawah ke kepeloporan tokoh-tokohnya seperti 'Abd-Allah ibn 'Umar (Ibn al-Khaththab).273 H). juga merupakan kelanjutan yang sah dari "tradisi" atau "sunnah" Nabi. 256 H). -------------------------------------------. Jadi. sikap yang serba inklusifistik sesama kaum muslim itu merupakan "tradisi" atau "sunnah" historis penduduk Madinah. termasuk kaum Syi'ah dan Khawarij yang merupakan kaum oposan terhadap rezim Umayyah. Teori dan metodenya kemudian diterapkan dengan setia oleh al-Bukhari (w. sebagaimana dilakukan oleh 'Abd Allah Ibn 'Amr Ibn al-'Ash.w.(bersambung 3/3) Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah Editor: Budhy Munawar-Rachman Penerbit Yayasan Paramadina Jln. (021) 7507174 Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota . dengan tampilnya al-Nasa'i (w. Imam al-Syafi'i adalah tokoh pemikir peletak sebenarnya teori ilmiah pengumpulan dan klasifikasi hadits. dalam pandangan al-Siba'i. 'Umar II melihat bahwa sikap yang serba akomodatif pada semua kaum muslim tanpa memandang aliran politik atau paham keagamaan khasnya itu telah diberikan contohnya oleh penduduk Madinah. 279 H) dan terakhir. "sunnah" itu akan memberi landasan legitimasi bagi idenya tentang persatuan seluruh umat Islam dalam "Jama'ah" yang serba mencakup. Abu Dawud (w. (021) 7501969. Ibn Majah (w.275 H). dalam pandangan 'Umar II. dalam kolaborasinya dengan kaum Abbasi.

sekurangnya menghalangi.Nabi menegaskan agar orang menerima hadits hanya yang benar-benar bersesuaian dengan al-Qur'an.19. dalam hal ini hadits. namun sudah tidak lagi banyak berarti. Dia 1. Sebagaimana telah dikutip kembali dari keterangan (kutipan) Mushthafa al-Siba'i. dengan tandas menyatakan: seorang pembela paham Sunni yang menolak argumen-argumen itu. tapi hanya dalam garis besar saja.Keseluruhan ajaran Islam cukup berdasarkan pada al-Qur'an saja.Please direct any suggestion to Media Team Artikel Yayasan Paramadina Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota III. 4.Yang disebut bakal dijamin terpelihara dari usaha pengubahan tidak hanya pada al-Qur'an tapi juga meliputi sunnah. penulisan hadits di masa beliau. tegar.masa kodifikasi dan seleksi hadits yang demikian lama sesudah masa Nabi dan yang memakan waktu demikian panjang merupakan dasar sikap mereka yang meragukan otoritas hadits. . 2. demikian pula para sahabat dan para Tabi'un terkenal. melalui sistem hafalan kaum muslim Arab yang memang terkenal memiliki kemampuan menghafal yang amat kuat (sebagai akibat pengembangan bahasa Arab yang amat tinggi namun tidak banyak bersandar pada penggunaan tulisan).Allah menjamin terpeliharanya al-Qur'an. Musthafa al-Siba'i. Sesudah masa itu memang masih terdapat usaha pengumpulan sisa-sisa hadits oleh beberapa pribadi. Selain dasar-dasar pertimbangan yang berasal dari al-Qur'an dan pesan Nabi sendiri --menurut pengertian yang dipegang oleh mereka yang ingkar hadits-. tapi tidak menjamin hal serupa untuk Hadits. dimulai sejak sekitar dua abad setelah Nabi dan rampung sekitar tiga abad setelah Nabi. 2. dan menolak yang lain. Sunnah dan hadits tetap terpelihara. karena telah menegaskan bahwa Kitab Suci itu telah memuat segala sesuatu. dasar-dasar argumen menolak otoritas hadits secara ringkasnya adalah sebagai berikut: 1. PERGESERAN PENGERTIAN "SUNNAH" KE "HADITS" (3/3) IMPLIKASINYA DALAM PENGEMBANGAN SYARI'AH oleh Nurcholish Madjid IMPLIKASI SUNNAH SEBAGAI KOREKSI HADITS DALAM PENGEMBANGAN SYARI'AH Fakta historis tersebut di atas menunjukkan bahwa proses pengumpulan hadits berlangsung selama satu abad atau lebih.Nabi melarang. Dr.Memang benar Kitab Suci memuat segala sesuatu. 3.

3.Pencegahan Nabi dan para pembesar sahabat dan Tabi'un dari usaha membukukan hadits terjadi karena kekuatiran akan tercampur dengan teks-teks al-Qur'an yang saat itu kodifikasi resminya belum mapan di kalangan umat, disebabkan sedikitnya mereka yang ahli baca-tulis. Pencegahan itu hanya menyangkut usaha pembukuan resmi. Sedangkan yang tidak resmi dan sebagai catatan pribadi, beberapa sahabat telah melakukannya. 4.Keabsahan hadits yang menjadi landasan argumen keempat di atas diragukan oleh para ahli. Dan jika benar pun, maknanya adalah sangat wajar, yaitu bahwa kita harus menerima hadits hanya yang sejalan dengan al-Qur'an. Justru para ulama semuanya sepakat bahwa, Hadits yang sahih, meskipun menetapkan ajaran secara tersendiri, tidak ada yang bertentangan dengan al-Qur'an. Pembelaan al-Siba'i atas sunnah sebagai hadits itu mewakili pandangan yang sangat umum di kalangan para ulama. Namun ia tidak memberi kejelasan tentang bagaimana efek kenyataan sejarah bahwa untuk sampai pada koleksi dan kodifikasi hadits seperti sekarang ini proses-proses yang amat sulit harus dilewati, khususnya proses pemisahan mana dari laporan-laporan hadits itu otentik dan yang palsu. masih tetap diperlukan adanya argumen yang kukuh dan mendasar untuk pandangan bahwa klasifikasi yang ada sekarang adalah terpercaya, atau sudah tidak lagi memerlukan peninjauan kembali. Batu penarung bagi pandangan ini ialah kenyataan bahwa zaman sekarang ditandai dengan mudahnya diperoleh bahan bacaan di semua bidang, termasuk bidang-bidang yang dapat dijadikan landasan kajian perbandingan ilmu kritik hadits, baik dari segi metodologinya maupun dari segi hasil-hasil yang telah dicapai. Karena itu pada zaman sekarang akan lebih mudah bagi mereka yang berminat secara khusus untuk meneliti kembali hadits-hadits dan membuat klasifikasi baru tentang sahih-tidaknya matan-matan dan riwayat-riwayat yang ada. Sebenarnya hal ini dapat sekedar merupakan pengulangan atau penerapan kembali metodologi Imam al-Bukhari, tapi dengan dibantu oleh penggunaan kemudahan-kemudahan yang ditawarkan oleh zaman modern, baik dari segi perangkat kerasnya (material dan bahan bacaan yang tersedia) maupun perangkat lunaknya (metodologi kritiknya). Imam al-Bukhari sendiri sekedar meneruskan dan menerapkan dengan setia teori dan prinsip-prinsip riset hadits yang diletakkan oleh Imam al-Syafi'i. Dorongan untuk meletakkan teori dan metodologinya itu ialah keprihatinan al-Syafi'i oleh adanya kekacauan dan berkecamuknya usaha pemalsuan laporan-laporan hadits di zamannya, yang laporan-laporan itu sendiri semula dan kebanyakan bergaya anekdotal tentang generasi Islam yang telah lewat, mencakup tentang Nabi sendiri dan para sahabat. Karena itu hadits juga disebut Khabar, Akhbar, Riwayah, Atsar, dan lain-lain, yang kesemuanya menunjukkan sisa pengertiannya yang mula-mula, yaitu kabar, berita, penuturan, peninggalan, dan lain-lain. Maka yang dilakukan al-Syafi'i mempunyai nilai yang sungguh besar, dengan pengaruh yang sampai sekarang dirasakan oleh seluruh umat Islam. Tapi yang telah dilakukan banyak daripada sekedar penelitian hadits. Tokoh oleh imam al-Syafi'i jauh lebih meletakkan dasar-dasar metodologi pendiri madzhab yang penganutnya

banyak di negeri kita ini juga diakui jasanya sebagai yang meletakkan dasar-dasar metodologi penetapan syari'ah, yang justru terasa semakin relevan dengan keadaan zaman sekarang ini. Menurut Marshall Hodgson --yang dapat kita anggap sebagai seorang peninjau netral dan cukup jujur-- al-Syafi'i berjasa sebagai seorang sarjana yang dengan penuh kesadaran meletakkan prinsip adanya pertimbangan historis bagi penetapan syari'ah. Hal itu tercermin dalam konsepnya tentang nasikh-mansukh, yaitu konsep yang memandang kemungkinan suatu hukum dihapuskan oleh hukum yang lain dalam Islam, disebabkan adanya pertimbangan baru berkenaan dengan lingkungan (dharf), baik lingkungan ruang (dharf al-makan) maupun lingkungan waktu (dharf al-zaman). [3] Berdasarkan metodologid al-Syafi'i itu maka terkenal sekali rumus hukum Islam yang mengatakan bahwa hukum berubah oleh perubahan zaman dan tempat. Terutama perubahan zaman, semua ulama sepakat bahwa hal itu tidak dapat dielakkan akan membawa perubahan hukum. Prinsip ini tercermin dalam dua kalimat rumusannya dalam bahasa Arab, [Tulisan Arab] yang artinya, "Perubahan hukum oleh perubahan zaman. Tidak dapat diingkari perubahan hukum oleh perubahan zaman). [4] Untuk dapat melaksanakan prinsip amat penting itu tidaklah mudah. Salah satu yang mesti diperlukan ialah kemampuan menangkap "pesan zaman", sehingga suatu hukum dapat diterapkan secara efektif karena relevan dengan pesan zaman itu. Ini berarti juga menuntut kemampuan membuat generalisasi atau abstraksi dari hukum-hukum yang ada menjadi prinsip-prinsip umum yang berlaku untuk setiap zaman dan tempat. Dan berlakunya suatu prinsip untuk segala zaman dan tempat adalah berarti kemestian memberi peluang pada prinsip itu untuk dilaksanakan secara teknis dan kongkret menurut tuntutan ruang dan waktu. Karena ruang dan waktu berubah, maka tuntutan spesifiknya pun tentu berubah, dan ini membawa perubahan hukum. Maka yang berubah bukanlah prinsipnya, melainkan pelaksanaan teknis dan kongkret hukum itu dalam masyarakat tertentu dan masa tertentu. Iman al-Syafi'i khususnya, dan madzhab Syafi'i umumnya meletakkan dasar metodologi generalisasi dan abstraksi (ta'mim, istiqra, tajrid) tersebut dalam lima cara pendekatan pada setiap ketentuan hukum, yaitu: 1) semua perkara harus diperhatikan maksud dan tujuannya; 2) bahaya harus dihilangkan atau dihindari; 3) adat kebiasaan adalah sumber penetapan hukum; 4) hal mantap tidak boleh dihapus oleh hal yang meragukan; 5) kesulitan pelaksanaan harus menghasilkan kemudahan hukum. Dalam bahasa Arab, kelima prinsip itu diberi patokan rumusan baku sebagai berikut, [5] [Tulisan Arab] Kemudian, sesuai dengan kebiasaan klasik dalam budaya Islam, kelima prinsip itu oleh seorang penganut Syafi'i didendangkan dalam bentuk syair, demikian: [Tulisan Arab] Jika diperhatikan benar-benar metodologi Imam al-Syafi'i itu literer madzhab

maka sesungguhnya terdapat dorongan yang cukup kuat untuk mendekati suatu ketentuan tekstual, baik dalam Kitab Suci maupun dalam hadits tidak secara harfiah, melainkan dengan penarikan ide prinsipil atau fikrah mabda iyyah atau fikrah ushuliyyah yang dikandungnya, dan yang menjadi inti hikmah tasyri' dari ketentuan yang ada. Oleh karena tema-tema hadits umumnya bersifat ad hoc dan lepas dari keseluruhan kepribadian Nabi, maka abstraksi dan generalisasi dari hadits menghasilkan problema dan kesulitan yang tidak kecil. Padahal hanya dari abstraksi dan generalisasi itu kita dapat memahami sunnah Nabi, dan bukannya sekedar menyamakan begitu saja makna dan semangat sunnah dengan teks-teks laporan hadits. CATATAN 1.Dr. Mushthafa al-Siba'i, "Al-A'ashir fi wajh al-Sunnah Hadits-an" dalam majalah Al-Muslimin, Damaskus, No. 3 (Syawal 1374 H/Ayyar [Mei 1955]), hal. 24-26. Meskipun Al-Siba'i tidak menyebutkan nama tokoh Ingkar Hadits ini, namun dari bukunya. Al-Sunnah wa Makanatuha fi al-Tasyri' al-Islami, nama itu dapat diperkirakan sebagai Dr. Ahmad Amin, seorang penganut modernisme Islam yang terkenal. (Al-Siba'i, Al-Sunnah, Nurcholish Madjid (terj & ed) (Jakarta: Pustaka Firdaus, tt). 2.Ibid, hal. 27. 3.Marshall G.S. Hodgson, The Venture of Islam, 3 jilid (Chicago: The University of Chicago Press, 1974), jilid 33, hal.437. Menurut Hodgson, sesungguhnya yang dikembangkan oleh Imam al-Syafi'i adalah prinsip-prinsip yang tendensinya sudah terlihat di zaman Nabi sendiri, jadi memiliki tingkat otentisitas yang tinggi, dan Hodgson melihat pada metodologi itu sebagai salah satu sumber ketentuan dan kemampuan Islam menjawab tantangan zaman, khususnya zaman modern sekarang ini. Maka berkenaan dengan ini menarik sekali keputusan para ulama NU seluruh Indonesia di Tambakberas, Jombang, beberapa waktu yang lalu, yang menetapkan bahwa penganutan kepada madzhab Syafi'i seyogyanya tidak terbatas hanya kepada pendapat-pendapat spesifik (qawl) beliau saja, tetapi lebih penting lagi ialah kepada metodologi (manhaj, minhaj) yang dirintis dan dikembangkannya. 4.Mushthafa Ahmad al-Zarqa, "Taghayyur al-Ahkam bi Taghayyur al-Azman," dalam majalah Al-Muslimun, Damaskus, No. 8 (Syawal 1373 H/Juni 1954 M), hal. 34. 5."Tarikh al-Qawa'id al-Kulliyyah fi al-Syari'at al-Islamiyyah," dalam majalah Al-Muslimun Damaskus, No. 12 (Syawal 1373 H/Mei 1955 M), hal. 17. -------------------------------------------Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah Editor: Budhy Munawar-Rachman Penerbit Yayasan Paramadina Jln. Metro Pondok Indah Pondok Indah Plaza I Kav. UA 20-21 Jakarta Selatan

Telp. (021) 7501969, 7501983, 7507173 Fax. (021) 7507174 Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota
Please direct any suggestion to Media Team

Artikel Yayasan Paramadina
Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota III.8. ANTARA SUKMA NURANI DAN SUKMA DHULMANI oleh Jalaluddin Rakhmat Menurut para sufi, manusia adalah mahluk Allah yang paling sempurna di dinia ini. Hal ini, seperti yang dikatakan Ibnu'Arabi manusia bukan saja karena merupakan khalifah Allah di bumi yang dijadikan sesuai dengan citra-Nya, tetapi juga karena ia merupakan mazhaz (penampakan atau tempat kenyataan) asma dan sifat Allah yang paling lengkap dan menyeluruh. Allah menjadikan Adam (manusia) sesuai dengan citra-Nya. Setelah jasad Adam dijadikan dari alam jisim, kemudian Allah meniupkan ruh-Nya ke dalam jasad Adam. Allah berfirman: Maka apabila Aku telah menyempurnakan tiupkan kepadanya ruh-Ku (QS. 15: 29) kejadiannya dan Aku

Jadi jasad manusia, menurut para sufi, hanyalah alat, perkakas atau kendaraan bagi rohani dalam melakukan aktivitasnya. Manusia pada hakekatnya bukanlah jasad lahir yang diciptakan dari unsur-unsur materi, akan tetapi rohani yang berada dalam dirinya yang selalu mempergunakan tugasnya. Karena itu, pembahasan tentang jasad tidak banyak dilakukan para sufi dibandingkan pembahasan mereka tentang ruh (al-ruh), jiwa (al-nafs), akal (al-'aql) dan hati nurani atau jantung (al-qalb). RUH DAN JIWA (AL-RUH DAN AL-NAFS) Banyak ulama yang menyamakan pengertian antara ruh dan jasad. Ruh berasal dari alam arwah dan memerintah dan menggunakan jasad sebagai alatnya. Sedangkan jasad berasal dari alam ciptaan, yang dijadikan dari unsur materi. Tetapi para ahli sufi membedakan ruh dan jiwa. Ruh berasal dari tabiat Ilahi dan cenderung kembali ke asal semula. Ia selalu dinisbahkan kepada Allah dan tetap berada dalam keadaan suci. Karena ruh bersifat kerohanian dan selalu suci, maka setelah ditiup Allah dan berada dalam jasad, ia tetap suci. Ruh di dalam diri manusia berfungsi sebagai sumber moral yang baik dan mulia. Jika ruh merupakan sumber akhlak yang mulia dan terpuji, maka lain halaya dengan jiwa. Jiwa adalah sumber akhlak tercela, al-Farabi, Ibn Sina dan al-Ghazali membagi jiwa pada: jiwa nabati (tumbuh-tumbuhan), jiwa hewani (binatang) dan jiwa insani. Jiwa nabati adalah kesempurnaan awal bagi benda alami yang

organis dari segi makan, tumbuh dan melahirkan. Adapun jiwa hewani, disamping memiliki daya makan untuk tumbuh dan melahirkan, juga memiliki daya untuk mengetahui hal-hal yang kecil dan daya merasa, sedangkan jiwa insani mempunyai kelebihan dari segi daya berfikir (al-nafs-al-nathiqah). Daya jiwa yang berfikir (al-nafs-al-nathiqah atau al-nafs-al-insaniyah). Inilah, menurut para filsuf dan sufi, yang merupakan hakekat atau pribadi manusia. Sehingga dengan hakekat, ia dapat mengetahui hal-hal yang umum dan yang khusus, Dzatnya dan Penciptaannya. Karena pada diri manusia tidak hanya memiliki jiwa insani (berpikir), tetapi juga jiwa nabati dan hewani, maka jiwa (nafs) manusia mejadi pusat tempat tertumpuknya sifat-sifat yang tercela pada manusia. Itulah sebabnya jiwa manusia mempunyai sifat yang beraneka sesuai dengan keadaannya. Apabila jiwa menyerah dan patuh pada kemauan syahwat dan memperturutkan ajakan syaithan, yang memang pada jiwa itu sendiri ada sifat kebinatangan, maka ia disebut jiwa yang menyuruh berbuat jahat. Firman Allah, "Sesungguhnya jiwa yang demikian itu selalu menyuruh berbuat jahat." (QS. 12: 53) Apabila jiwa selalu dapat menentang dan melawan sifat-sifat tercela, maka ia disebut jiwa pencela, sebab ia selalu mencela manusia yang melakukan keburukan dan yang teledor dan lalai berbakti kepada Allah. Hal ini ditegaskan oleh-Nya, "Dan Aku bersumpah dengan jiwa yang selalu mencela." (QS. 75:2). Tetapi apabila jiwa dapat terhindar dari semua sifat-sifat yang tercela, maka ia berubah jadi jiwa yang tenang (al-nafs al-muthmainnah). Dalam hal ini Allah menegaskan, "Hai jiwa yang tenang, kembalilah kepada Tuhanmu dengan rasa puas lagi diridhoi, dan masuklah kepada hamba-hamba-Ku, dan masuklah ke dalam Surga-Ku." (QS. 89:27-30) Jadi, jiwa mempunyai tiga buah sifat, yaitu jiwa yang telah menjadi tumpukan sifat-sifat yang tercela, jiwa yang telah melakukan perlawanan pada sifat-sifat tercela, dan jiwa yang telah mencapai tingkat kesucian, ketenangan dan ketentraman, yaitu jiwa muthmainnah. Dan jiwa muthmainnah inilah yang telah dijamin Allah langsung masuk surga. Jiwa muthmainnah adalah jiwa yang selalu berhubungan dengan ruh. Ruh bersifat Ketuhanan sebagai sumber moral mulia dan terpuji, dan ia hanya mempunyai satu sifat, yaitu suci. Sedangkan jiwa mempunyai beberapa sifat yang ambivalen. Allah sampaikan, "Demi jiwa serta kesempurnaannya, Allah mengilhamkan jiwa pada keburukan dan ketaqwaan." (QS.91:7-8). Artinya, dalam jiwa terdapat potensi buruk dan baik, karena itu jiwa terletak pada perjuangan baik dan buruk. AKAL Akal yang dalam bahasa Yunani disebut nous atau logos atau intelek (intellect) dalam bahasa Inggris adalah daya berpikir yang terdapat dalam otak, sedangkan "hati" adalah daya jiwa (nafs nathiqah). Daya jiwa berpikir yang ada pada otak di kepala disebut akal. Sedangkan yang ada pada hati (jantung) di dada disebut rasa (dzauq). Karena itu ada dua sumber pengetahuan, yaitu pengetahuan akal (ma'rifat aqliyah) dan

pengetahuan hati (ma'rifat qalbiyah). Kalau para filsuf mengunggulkan pengetahuan akal, para sufi lebih mengunggulkan pengetahuan hati (rasa). Menurut para filsuf Islam, akal yang telah mencapai tingkatan tertinggi --akal perolehan (akal mustafad)-ia dapat mengetahui kebahagiaan dan berusaha memperolehnya. Akal yang demikian akan menjadikan jiwanya kekal dalam kebahagiaan (sorga). Namun, jika akal yang telah mengenal kebahagiaan itu berpaling, berarti ia tidak berusaha memperolehnya. Jiwa yang demikian akan kekal dalam kesengsaraan (neraka). Adapun akal yang tidak sempurna dan tidak mengenal kebahagiaan, maka menurut al-Farabi, jiwa yang demikian akan hancur. Sedangkan menurut para filsuf tidak hancur. Karena kesempurnaan manusia menurut para filsuf terletak pada kesempurnaan pengetahuan akal dalam mengetahui dan memperoleh kebahagiaan yang tertinggi, yaitu ketika akan sampai ke tingkat akal perolehan. HATI SUKMA (QALB) Hati atau sukma terjemahan dari kata bahasa Arab qalb. Sebenarnya terjemahan yang tepat dari qalb adalah jantung, bukan hati atau sukma. Tetapi, dalam pembahasan ini kita memakai kata hati sebagaimana yang sudah biasa. Hati adalah segumpal daging yang berbentuk bulat panjang dan terletak di dada sebelah kiri. Hati dalam pengertian ini bukanlah objek kajian kita di sini, karena hal itu termasuk bidang kedokteran yang cakupannya bisa lebih luas, misalnya hati binatang, bahkan bangkainya. Adapun yang dimaksud hati di sini adalah hati dalam arti yang halus, hati-nurani --daya pikir jiwa (daya nafs nathiqah) yang ada pada hati, di rongga dada. Dan daya berfikir itulah yang disebut dengan rasa (dzauq), yang memperoleh sumber pengetahuan hati (ma'rifat qalbiyah). Dalam kaitan ini Allah berfirman, "Mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakan memahaminya." (QS. 7:1-79). Dari uraian di atas, dapat kita ambil kesimpulan sementara, bahwa menurut para filsuf dan sufi Islam, hakekat manusia itu jiwa yang berfikir (nafs insaniyah), tetapi mereka berbeda pendapat pada cara mencapai kesempurnaan manusia. Bagi para filsuf, kesempurnaan manusia diperoleh melalui pengetahuan akal (ma'rifat aqliyah), sedangkan para sufi melalui pengetahuan hati (ma'rifat qalbiyah). Akal dan hati sama-sama merupakan daya berpikir. Menurut sufi, hati yang bersifat nurani itulah sebagai wadah atau sumber ma'rifat --suatu alat untuk mengetahui hal-hal yang Ilahi. Hal ini hanya dimungkinkan jika hati telah bersih dari pencemaran hawa nafsu dengan menempuh fase-fase moral dengan latihan jiwa, serta menggantikan moral yang tercela dengan moral yang terpuji, lewat hidup zuhud yang penuh taqwa, wara' serta dzikir yang kontinyu, ilmu ladunni (ilmu Allah) yang memancarkan sinarnya dalam hati, sehingga ia dapat menjadi Sumber atau wadah ma'rifat, dan akan mencapai pengenalan Allah Dengan demikian, poros jalan sufi ialah moralitas. Latihan-latihan ruhaniah yang sesuai dengan tabiat terpuji

adalah sebagai kesehatan hati dan hal ini yang lebih berarti ketimbang kesehatan jasmani sebab penyakit anggota tubuh luar hanya akan membuat hilangnya kehidupan di dunia ini saja, sementara penyakit hati nurani akan membuat hilangnya kehidupan yang abadi. Hati nurani ini tidak terlepas dari penyakit, yang kalau dibiarkan justru akan membuatnya berkembang banyak dan akan berubah menjadi hati dhulmani --hati yang kotor. Kesempurnaan hakikat manusia (nafs insaniyah) ditentukan oleh hasil perjuangan antara hati nurani dan hati dhulmani. Inilah yang dimaksud dengan firman Allah yang artinya, "Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang mensucikan jiwanya, dan rugilah orang yang mengotorinya." (QS. 91:8-9). Hati nurani bagaikan cermin, sementara pengetahuan adalah pantulan gambar realitas yang terdapat di dalamnya. Jika cermin hati nurani tidak bening, hawa nafsunya yang tumbuh. Sementara ketaatan kepada Allah serta keterpalingan dari tuntutan hawa nafsu itulah yang justru membuat hati-nurani bersih dan cemerlang serta mendapatkan limpahan cahaya dari Allah Swt. Bagi para sufi, kata al-Ghazali, Allah melimpahkan cahaya pada dada seseorang, tidaklah karena mempelajarinya, mengkajinya, ataupun menulis buku, tetapi dengan bersikap asketis terhadap dunia, menghindarkan diri dari hal-hal yang berkaitan dengannya, membebaskan hati nurani dari berbagai pesonanya, dan menerima Allah segenap hati. Dan barangsiapa memiliki Allah niscaya Allah adalah miliknya. Setiap hikmah muncul dari hati nurani, dengan keteguhan beribadat, tanpa belajar, tetapi lewat pancaran cahaya dari ilham Ilahi. Hati atau sukma dhulmani selalu mempunyai keterkaitan dengan nafs atau jiwa nabati dan hewani. Itulah sebabnya ia selalu menggoda manusia untuk mengikuti hawa nafsunya. Kesempurnaan manusia (nafs nathiqah), tergantung pada kemampuan hati-nurani dalam pengendalian dan pengontrolan hati dhulmani. DAFTAR KEPUSTAKAAN Abu al-Wafi aI-Taftazani, Maduhal ila al-Tashawwuf al-Islamiy, Kairo, 1983. Ahmad Dandy, Allah dan Manusia Dalam Konsepsi Syeikh Nurudin al-Raniry Jakarta, Rajawali, 1983. Al-Farabi, Kitab Ara Ahl al-Madinah al-Fadhilah, Kairo, 1906. Al-Ghazali, Ihya Ulum al-Din, Kairo, 1334 H. ------, Ma'arij al-Quds fi Madarij Ma'rifah al-Nafs, Kairo, 1327 H. ------, Asnan al-Qur'an fi Ihya 'Ulum al-Din, Kairo. Harun Nasution, Falsafah dan Mistisisme Islam, Bulan Bintang, Jakarta, 1978. Muhyiddin Ibnu Arabi, Fushush al-Hikam, Kairo, 1949. --------------------------------------------

Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah Editor: Budhy Munawar-Rachman Penerbit Yayasan Paramadina Jln. Metro Pondok Indah Pondok Indah Plaza I Kav. UA 20-21 Jakarta Selatan Telp. (021) 7501969, 7501983, 7507173 Fax. (021) 7507174 Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota
Please direct any suggestion to Media Team

Artikel Yayasan Paramadina
Indeks Islam | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota III.17. PANDANGAN KESUFIAN TENTANG DIRI MANUSIA oleh M. Bambang Pranowo Elingana yen ana timbalan Yen wis budal ora kena wakilan, Ora kena wakilan Timbalane kang Maha Kuasa Gelem ora gelem bakale lunga (Ingatlah jika telah datang panggilan Kau harus pergi dan tak bisa kau wakilkan, tak bisa kau wakilkan Panggilan dari Yang Maha Kuasa Mau tak mau kau harus pergi jua) Nyanyian puitis di atas adalah penggalan dari sebuah nyanyian keagamaan yang cukup panjang. Di Jawa, nyanyian itu disebut pujian atau erang-erangan. Pujian tersebut biasanya didendangkan bersama-sama oleh para jemaah di langgar atau mesjid menjelang shalat Subuh, Maghrib atau Isya, sembari menanti datangnya anggota masyarakat lain yang turut mendirikan salat berjamaah. Mungkin berkat susunannya yang ritmis dan mudah dihapal maka pujian tersebut seringkali menjadi "nyanyian" populer yang dilakukan bukan hanya di mesjid dan langgar, tapi juga di sawah dan ladang ketika seseorang menggembalakan ternaknya, atau di rumah-rumah ketika ibu-ibu berusaha menidurkan anaknya. Tidak jelas siapa pengarang pujian yang cukup populer tersebut, terutama di desa-desa bagian Jawa Tengah Selatan. Namun, orang mengenal bahwa pujian semacam itu disebarkan oleh kalangan pesantren. Perlu dicatat, para kyai pemimpin pesantren kebanyakan juga pemimpin tarekat, sehingga tidak mengherankan kalau pujian yang diciptakan sarat dengan pesan-pesan kesufian. Dan, dari pujian tersebut tercermin sebuah permintaan agar manusia menyadari bahwa suka atau tidak, ia harus memenuhi panggilan Tuhan Yang Maha Kuasa untuk kembali ke haribaannya. Panggilan Tuhan tersebut tidak dapat didelegasikan kepada siapapun juga. Memang, di antara pesan kesufian yang terpenting adalah ajakan agar manusia menyadari sepenuhnya sifat kefanaan dari kehidupan dunia ini. Oleh karena dunia bersifat fana dan yang kekal hanyalah Tuhan, maka dunia ini dipandang benar-benar

t.I: h. Pertama.bermakna hanya apabila ia senantiasa diorientasikan kepada Tuhan. Lalai dari kesadaran berketuhanan berarti manusia telah terjerat oleh perangkat serba kefanaan.t. Ketiga. puasa Senin. vol. cermin tersebut memang membelakangi sumber cahaya hingga memang tak dapat diharapkan dapat tersentuh oleh cahaya petunjuk Ilahi. dan lebih-lebih usaha senantiasa mempertautkan diri dengan Allah melalui dzikir merupakan hal yang sangat sentral dalam kehidupan sehari-hari mereka. Yang termasuk dalam kategori ini adalah mereka yang dilumuri dengan perbuatan-perbuatan kotor dan aniaya. . ia dianggap sudah tiada. di dunia yang fana ini. sedangkan petunjuk Tuhan bagaikan nur atau cahaya. Hamba-Ku adalah mereka yang mendekatkan dirinya kepada-Ku dan melakukan pula hal-hal sunnah yang Aku cintai. Sedangkan jika manusia tidak mampu menangkap sinyal-sinyal spiritual dari Tuhan.. TEORI CERMIN AL-GHAZALI Bagaimanapun roh atau sukma akan kembali kepada Tuhan. cerminnya terlalu kotor sehingga cahaya Ilahi yang seterang apapun tidak dapat ditangkap dengan cermin rohani yang dimilikinya. Melaksanakan secara intensif berbagai amalan sunnah tersebut tak lain merupakan usaha mengamalkan sebuah hadits Qudsi sebagai berikut: Kepada orang yang memusuhi Wali-Ku. Kamis. sehingga Aku sayang kepadanya adalah menunaikan semua perintah yang telah Aku berikan. Ia lupa bahwa manusia disebut manusia tidak lain karena roh sukma yang ditiupkan Tuhan masih melekat di jasad atau raganya. tahta dan kesenangan lahir sebagai orientasi hidupnya. di antara cermin dan sumber cahaya terdapat penghalang yang tidak memungkinkan cahaya Ilahi menerpa cermin tersebut. riyadlah atau latihan kerohanian dalam berbagai bentuk amalan sunnah --salat sunnah. Ibadat yang paling mendekatkan Hamba-Ku. Yang termasuk dalam kategori ini. Dalam kenyataannya. hati manusia ibarat cermin. itu pada dasarnya disebabkan tiga kemungkinan. akan Kunyatakan perang. puasa Nabi Daud. Kedua. ia harus senantiasa berusaha memurnikan diri dengan jalan menguasai nafsu-nafsu rendah serta mengikuti perjalanan hidup para nabi melalui berbagai latihan kerohanian (riyadlah). Inilah yang menerangkan mengapa di lingkungan pesantren dan di kalangan para penganut tarekat. Contoh yang sangat tepat untuk kategori ini orang-orang kafir yang dengan sadar mengingkari keberadaan Tuhan. Dalam "perangkap" seperti itu manusia cenderung berorientasi hanya kepada usaha mewujudkan kesenangan sementara yang segera dapat dinikmati kini dan di sini. orang-orang yang menjadikan harta. Agar hati manusia selalu dapat menjadi cermin yang bening. Dengan demikian jika hati manusia benar-benar bersih niscaya ia akan bisa menangkap cahaya petunjuk Ilahi dan memantulkan cahaya tersebut ke sekitarnya (lihat Ghazali. Begitu sukma meninggalkan raga. mengapa manusia seringkali lalai dan lupa kepada Tuhan dan detik-detik kehadirannya di dunia ini justru lebih banyak tersita untuk hal-hal yang bersifat jasadi atau lahiriah belaka? Imam Ghazali menjawab masalah ini dengan Teori Cermin (al-Mir'ah) dalam karyanya yang sangat terkenal itu --Ihya' 'ulum al-Din. Menurut Imam Ghazali. 119-125).

ia fasiq (tak bermoral). maka di kalangan kaum sufi ibadah ritual selalu dibarengi bahkan didahului oleh penggeledahan dan interogasi diri: apakah ibadah yang kita lakukan sudah benar-benar karena Allah dan bukannya karena yang lain? Dalam kaitannya dengan upaya rohani seperti itulah kisah sufistik yang dicatat dari pesantren --Tarekat Qadariah-Naqshabandiyah di Jawa Timur-. yang menjurus kapada zindiq (penyelewengan). Orang sepasar akhirnya bergumam: "Oh. Setibanya di rumah ia langsung sujud syukur "Alkhamdulillah. Aku-lah matanya untuk melihat. Jangan-jangan dirinya rajin beribadah itu bukan karena Allah melainkan justru karena orang memujinya sebagai orang alim. Sesampainya di pasar secara demonstratif ia sengaja mencuri ayam yang sedang diperjualbelikan.Apabila Aku telah mencintainya. hidup ini merupakan pergulatan terus-menerus dengan diri sendiri. ya Allah. ternyata ia hanya pura-pura alim. Ibadah ritual akan jatuh nilainya menjadi seremonial tanpa isi jika ibadah tersebut dilaksanakan tanpa sikap batin yang dipimpin semata-mata oleh harapan memperoleh ridha Allah. Ayam dikembalikannya dan ia pun pulang dalam keadaan babak belur. hal itu dalam pandangan kesufian tidak secara otomatis merupakan jaminan bahwa orang tersebut akan sampai pada tujuan hakiki dari ibadah yakni terjalinnya hubungan konstan dengan Allah. Pada suatu pagi ia pun pergi menuju pasar di seberang desa. tetapi insya Allah benar-benar karena Engkau semata. dan Aku-lah kakinya untuk berjalan. Maqam-maqam tersebut dari . dan apabila ia meminta perlindungan akan Aku beri. dari sudut pandang kesufian. mengatakan bahwa siapa yang bertasawuf tanpa mengamalkan fiqh. kini aku beribadah bukan karena manusia. (Riwayat Bukhari dan Abi Hurairah) Apabila seseorang telah melaksanakan berbagai ibadah secara intensif.merupakan ilustrasi relatif menarik. salah seorang pendiri mazhab fiqih yang terkenal. Sebaliknya sikap batin yang tidak diaktualisasikan dalam bentuk pelaksanann ibadah sebagaimana yang dituntunkan syariat dan dicontohkan oleh Nabi. keberanian untuk melakukan penggeledahan dan interogasi diri merupakan inti keberagamaan dan sekaligus bagaikan tangga naik yang akan mengantarkan diri seseorang kepada derajat yang terus meningkat dari suatu tingkat (maqam) tertentu ke tingkat rohani berikutnya yang lebih tinggi." Demikianlah. Dalam kaitan ini Imam Malik. Dengan demikian. Aku-lah tangannya untuk bekerja. padahal sebenarnya ia tak lebih dari seorang maling!" Mendengar omongan seperti itu ia bukannya sedih melainkan bersyukur kepada Allah. Karena tertangkap basah maka iapun dipukuli banyak orang. Segala pujian dilimpahkan orang kepada si Alim atas kesalehan dan kealimannya. ia zindiq dan siapa yang mengamalkan fiqh tanpa bertasawuf. Mendengar berbagai pujian tersebut si Alim jadi gelisah. Agar ibadah ritual benar-benar dapat bermakna dan tak jatuh ke nilai seremonial yang tanpa isi. maka Aku-lah yang menjadi telinganya yang dipakai untuk mendengar. dipandang sebagai kesombongan spiritual. Di sebuah desa hidup seorang yang dikenal oleh kalangan luas sebagai orang yang sangat alim. Apabila dia meminta kepada-Ku akan Aku beri.

(10)Maqam Ridla. ialah rasa puas di hati sekalipun menerima nasib pahit. ialah ketabahan dalam menghadapi dan mendorong hawa nafsu. (3) Maqam Zuhud. (7) Maqam Khauf. ataukah ia akan mengarahkan sukmanya sehingga sang sukmalah yang memimpin kebutuhan jasadi agar senantiasa berada dalam terpaan cahaya . Menengok pada luka menganga yang menjangkiti dunia modern seperti konsumerisme yang seolah tak mengenal kata puas. yakni lepasnya pandangan keduniaan dan usaha memperolehnya dari diri orang yang sebetulnya mampu untuk memperolehnya. yakni meninggalkan dan tidak mengulangi lagi perbuatan dosa yang pernah dilakukan dan dosa-dosa sepadannya demi menjunjung tinggi ajaran Allah dan mengingkari murka-Nya. yaitu tenang serta tabah sewaktu melarat dan mengutamakan orang lain di kala berada. hedonisme yang telah menyebabkan merajalelanya AIDS. jika maqam-maqam tersebut dipandang sebagai tidak lain dari upaya pendakian rohani menuju ridla Allah. semua itu mengantarkan kita pada kesimpulan bahwa pola kehidupan yang semata-mata dipimpin oleh otak (head) dan ketrampilan teknologis (hand) itu perlu diimbangi dan dikendalikan dengan kebeningan hati (heart). maka maqam-maqam tersebut adalah acuan yang memang harus dimiliki mereka yan benar-benar merindukan leburnya diri kembali kepada Yan Maha Hakiki. maupun ditakuti. semua itu terpulang kepada manusia sendri apakah ia akan menundukkan sukmanya kepada kehidupan yang berorientasi pada kebutuhan jasadi yang bersifat kini dan di sini (sukma dhulmani. (8) Maqam Raja'. sukma yang berada dalam kegelapan).yang terendah hingga yang tertinggi dikenal di kalangan kaum sufi dengan istilah-istilah sebagai berikut: (1) Maqam Tawbat. yaitu menahan diri untuk tidak melakukan sesuatu dalam rangka menjunjung tinggi perintah-Nya. (4) Maqam Shabar. yakni hati yang diliputi rasa gembira karena mengetahui kemurahan dari Allah yang menjadi tumpuan harapannya. (5) Maqam Faqir. (2) Maqam Wara'. (9) Maqam Tawakkal. Dan. dibenci. Namun. diharapkan. ialah rasa ngeri dalam menghadapi siksa Allah atau tidak tercapainya kenikmatan dari Allah. Mengenal selintas maqam-maqam tersebut seolah-olah mustahil nilai-nilai kesufian tersebut dapat diwujudkan dalan kehidupan yang sudah serba modern ini. Akhirnya. (6) Maqam Syukur. melalui sudut pandang kesufian kiranya kehidupan beragama akan marnpu mewujudkan pribadi-pribadi yang seimbang seperti itu. yaitu sikap hati yang bergantung hanya kepada Allah dalam menghadapi segala sesuatu baik yang disukai. yaitu menyadari bahwa segala kenikmatan itu datangnya dari Allah semata. serta materialisme yang cenderung mencekal nilai-nilai spiritual.

UA 20-21 Jakarta Selatan Telp. 91:7-10).I. Pekalongan. 4:174). (dengan terjemahan Jiwa oleh Misbah Zaini Mustofa). Di dalam tradisi kaum sufi terdapat postulat yang berbunyi: Man 'arafa nafsahu faqad 'arafa rabbabu --Siapa yang telah mengenal dirinya maka ia (akan mudah) mengenal Tuhannya. Muhamad Nawawi Shidiq. 7507173 Fax. Zarkasyi. vol. LP3ES. "Soal-Jawab Thoriqiyah". 1977. 1981. Lebih dari itu bagi seorang mukmin petunjuk primordial ini masih ditambah lagi dengan datangnya Rasul Tuhan pembawa kitab suci sebagai petunjuk hidupnya (QS. dalam M. hal. Metro Pondok Indah Pondok Indah Plaza I Kav. Nurcholish. 1985. Jakarta. Madjid. 10-23.H. Namun begitu Allah juga memperingatkan bahwa kualitas kemanusiaannya. Imam.) Pesantren dan Pembaharuan. DAFTAR KEPUSTAKAAN Firdaus A." dalam Journal of Southeast Asian History. A. "Jalan ke Surga" (Kumpulan 772 Hadist Qudsi).. Pesantren Raudlatul Thulab.N.. MANUSIA DAN PROSES PENYEMPURNAAN DIRI oleh Komaruddin Hidayat Secara tegas Allah menyatakan bahwa manusia merupakan puncak ciptaan-Nya dengan tingkat kesempurnaan dan keunikan-Nya yang prima dibanding makhluk lainnya (QS. -------------------------------------------Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah Editor: Budhy Munawar-Rachman Penerbit Yayasan Paramadina Jln.Ilahi. sehingga masih harus berjuang untuk menyempurnakan dirinya (QS. Al-Ghazali. (021) 7507174 Indeks Islam | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota Please direct any suggestion to Media Team Artikel Yayasan Paramadina Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota III. Dawam Rahardjo (ed. Berjan. Yayasan Kesejahteraan Bersama.16. Jadi. Purwokerto. "Ihya' 'Ulum al-Din". Raja Murah. 2 (1961). hanif dan berakal. pengenalan diri adalah tangga yang harus dilewati seseorang untuk mendaki ke jenjang yang lebih tinggi dalam rangka . Johns. tanpa tahun. vol. 95:4). 7501983. masih belum selesai atau setengah jadi. "Tasauf dan Pesantren". Proses penyempurnaan ini amat dimungkinkan karena pada naturnya manusia itu fithri. (021) 7501969.. "Sufism As a Category in Indonesian Literature And History.

teologi dan lainnya semuanya menjadikan manusia sebagai obyek kajian materialnya. Sederet disiplin ilmu seperti psikologi. kedokteran. filsuf. politik. Semakin seorang ahli pikir mendalami satu sudut kajian tentang manusia. Jadi. ekonomi. Demikianlah manusia senantiasa mengandung sebuah misteri yang melekat pada dirinya dan misteri ini telah mengandung sebuah misteri yang melekat pada dirinya dan misteri ini telah mengundang kegelisahan intelektual pare ahli pikir untuk mencoba berlomba menjawabnya. sementara manusia adalah subyek-subyek yang cenderung membangkang dan harus siap menerima vonis-vonis dari kemurkaan Tuhan Sang Maha Hakim atau. maka ilmu kalam lebih menggarisbawahi gambaran Tuhan sebagai Maha Akal. Krisis pengenalan jati diri manusia ini secara eksplisit dikemukakan. Demikianlah. (Ernst Cassier. Freud signalizes the sexual instinct. semakin jauh pula ia terkurung dalam bilik lorong yang ia masuki. Each theory becomes a Procrustean bed in which the empirical facts are stretched to fit a preconceived pattern. secara sadar atau tidak. sementara ilmu tasawuf memproyeksikan Tuhan sebagai Sang Kekasih. dan ahli pikir pada umumnya. sebaliknya. bila langkah pertama untuk mengenal Tuhan adalah mengenal diri sendiri terlebih dahulu secara benar. secara tak langsung ilmu ini cenderung menghadirkan wajah Tuhan sebagai Yang Maha Hakim. maka . 1978. meskipun obyek materialnya sama-sama manusia. Persoalan serius yang menghadang adalah. oleh Ernst Cassirer. biologi. yang berarti semakin terputus dari pemahaman komprehensif tentang manusia. tumbuh dan berkembang dibentuk dan dipengaruhi oleh berbagai faktor yang dijumpai dalam realitas sejarah hidupnya. tetapi masing-masing memiliki metode dan tujuan yang berbeda. bila ilmu fiqih cenderung mengenalkan Tuhan sebagai Maha Hakim. telah menghantarkan pada persepsi yang terpecah dalam melihat manusia dan hubungannya dengan Tuhan. Perbedaan-perbedaan ini muncul dalam benak manusia karena pada dasarnya yang bertuhan adalah manusia.mengenal Tuhan. Marx enthrones the economic instinct. sebagaimana diakui kalangan psikolog. We acquired instead a complete anarchy of thought. kini manusia semakin mendapatkan kesulitan untuk mengenali jati diri dan hakikat kemanusiaannya Dengan majunya spesialisasi dalam dunia ilmu pengetahuan dan berkembangnya differensiasi dalam profesi kehidupan maka protret atau konsep tentang realitas manusia semakin terpecah meniadi kepingan-kepingan kecil sehingga keutuhan sosok manusia semakin sulit dihadirkan secara utuh.21) Krisis pengenalan diri sesungguhnya tidak hanya dirasakan kalangan ahli pikir Barat modern. Differensiasi metodologis setiap ilmu. katanya: Nietzsche proclaims the will to power. Terjadinya ideologisasi terhadap ilmu-ilmu agama. p. melainkan juga di kalangan Islam. misalnya. Dalam tradisi ilmu fiqih misalnya. Owing to this development our modern theory of man lost its intellectual center. antropologi. akan melahirkan kesimpulan yang berbeda pula mengenai siapa dan apa hakikat manusia itu. sosiologi. di mana manusia itu lahir. manusia pada akhirnya akan menuntut imbalan pahala atas ketaatannya melaksanakan dekrit-Nya.

8). memberikan contoh yang amat sederhana tetapi gamblang betapa miskinnya penganut materialisme dalam memahami kehidupan yang penuh nuansa ini. the art object or act of love is only a flow of electricity. Terlepas apakah riwayatnya sahih ataukah lemah." Pendek kata. vegetality. Bila diurut dari bawah unsurnya ialah minerality. Allah menyatakan bahwa dalam diri manusia memang terdapat unsur Ilahi yang dalam al-Qur'an beristilah "min ruhi. dan humanity. namun dengan beberapa penafsiran yang berbeda. dan akan mudah dijumpai pada berbagai bidang studi keilmuan Barat kontemporer dengan dalih.langkah pertama yang harus kita mengenal diri kita secara benar. mereka cenderung sepakat bahwa manusia adalah microcosmos yang memiliki sifat-sifat yang menyerupai Tuhan dan paling potensial mendekati Tuhan (Bandingkan QS. (Ralph ross. hal. Meski demikian. Kuciptakanlah makhluk maka melalui Aku mereka kenal Aku. misalnya. tempuh ialah bagaimana Meskipun Cassirer secara gamblang menunjukkan krisis pengenalan diri. manusia adalah wakil Tuhan di muka bumi untuk melaksanakan 'blueprint'-Nya membangun bayang-bayang surga di bumi ini (QS. Menurut doktrin al-Qur'an. Bagi mereka yang berpandangan atau terbiasa dengan metode berpikir empirisme-materialistik akan sulit diajak untuk menghayati makna penyempurnaan kualitas insani sebagaimana yang lazim diyakini di kalangan pare sufi. kemudian Aku ingin dikenal. an act of love only chemiphysical. only electrical charges. 41:53). Dalam konteks inilah . Progressive reductionism works as follows. Ralph Ross. yaitu paradigma materialisme-atheistik dan spiritualisme-theistik. Kritik terhadap aliran materialisme akhir-akhir ini semakin gencar. Dalam QS. Dari jenjang pertama sampai ke tiga aktivitas dan daya jangkau manusia masih berada dalam lingkup dunia materi dan dunia materi selalu menghadirkan polaritas atau fragmentasi yang saling berlawanan (the primordial pair). Yang pertama berkeyakinan pada teori bahwa semua realitas materi (downward causation). secara sederhana kita bisa membedakan dua paradigma pemahaman terhadap manusia. An art object is only mass and light waves. Kuntu kanzan makhfiyyan fa ahbabtu an u'rafa fa khalaqtu al-khalqa fabi 'arafu-ni --Aku pada mulanya adalah harta yang tersembunyi. faham ini telah mereduksi keagungan manusia yang dinyatakan Tuhan sebagai moral and religious being. misalnya. sebaliknya yang kedua berkeyakinan bahwa dunia materi ini hakikatnya berasal dari realitas yang bersifat imateri (upward causation). Lebih dari itu dalam tradisi sufi terdapat keyakinan yang begitu populer bahwa manusia sengaja diciptakan Tuhan karena dengan penciptaan itu Tuhan akan melihat dan menampakkan kebesaran diri-Nya. Pandangan yang begitu dangkal tentang manusia secara tegas dikritik oleh al-Qur'an. realitas manusia memiliki jenjang-jenjang dan mata rantai eksistensi. 1962. therefore. 15:29. pada umumnya orang sufi menerima hadits tersebut. animality. 2:3). antara lain.

Bila hal ini terjadi maka terjadilah kerancuan standar nilai. Secara garis besar tahapan seorang mukmin untuk meningkatkan kualitas jiwanya terdiri dari tiga maqam. pada nurani manusia yang terdapat dalam cahaya suci yang senantiasa ingin menatap Yang Maha Cahaya (Tuhan) karena dalam kontak dan kedekatan antara nurani dan Tuhan itulah muncul kedamaian dan kebahagiaan yang paling prima. penuh damai. Dari kenyataan ini maka tidak terlalu salah bila ada yang berpendapat bahwa sesungguhnya potensi dan kecenderungan kehidupan batin manusia ke arah kehidupan mistik bersifat natural dan universal." Maqam ketiga tahaqquq. berusaha mengingat dan mengikatkan kesadaran hati dan pikiran kita kepada Allah. Dalam konteks ini kalangan sufi biasanya menyandarkan Hadits Nabi yang berbunyi. namun para sarjana muslim sepakat bahwa inti tasawuf adalah ajaran yang menyatakan bahwa hakekat keluhuran nilai seseorang bukanlah terletak pada wujud fisiknya melainkan pada kesucian dan kemuliaan hatinya. tradisi tasawuf belum mempunyai definisi tunggal. 3:191). yaitu dataran: minerality. roh Ilahi yang bersifat imateri dan berperan sebagai "sopir" bagi kendaraan "jasad" kita ini seringkali lupa diri sehingga ia kehilangan otonominya sebagai master. tujuan utama ajaran tasawuf adalah membantu seseorang bagaimana caranya seseorang bisa memelihara dan meningkatkan kesucian jiwanya sehingga dengan begitu ia merasa damai dan juga kembali ke tempat asal muasalnya dengan damai pula (QS.yang dimaksud bahwa realitas yang kita tangkap tentang dunia materi adalah realitas yang terpecah berkeping-keping. 89:27). Yaitu. Pertama. dahaga dan kerinduan mendekati Tuhan ini bukanlah hasil rekayasa pendidikan (kultur) melainkan merupakan natur manusia yang paling dalam. Yaitu. "Keakuan" orang bukan lagi difokuskan pada kesucian jiwa tetapi pada prestasi akumulasi dan konsumsi materi. selalu ingin dekat kepada Yang Maha Suci dan Abstrak. dzikir atau ta'alluq pada Tuhan. "Takhallaqu bi akhlaq-i Allah. Dari dzikir ini meningkat sampai maqam kedua -takhalluq. dia tidak boleh lepas dari berfikir dan berdzikir untuk Tuhannya (QS. secara sadar meniru sifat-sifat Tuhan sehingga seorang mukmin memiliki sifat-sifat mulia sebagaimana sifat-Nya. dan makin jauh pula manusia untuk mampu mengenal dirinya secara utuh. Artinya. yang pertumbuhannya sering terhalangi oleh pertumbuhan dan naluri jiwa nabati dan hewani yang melekat pada manusia. Jadi. jiwa yang tadinya duduk dan memerintah dari atas singgasana "imateri" dengan sifat-sifatnya yang mulia seperti: cinta kasih. vegetality. makin bertambah kepingan gambaran realitas dunia. Seperti dikemukakan Carel Alexis bahwa man has gained the mistery of the material world before knowing himself. Yaitu. bahkan dalam tradisi pemikiran filsafat akan mudah pula dijumpai. Pendeknya. lalu turunlah tahtanya ke level yang lebih rendah. Proses ini bisa juga disebut sebagai proses internalisasi sifat Tuhan ke dalam diri manusia. Dalam kaitan definisi. senang kesucian. Kalangan sufi yakin. dan animality. Ajaran spiritualitas seperti ini tidak hanya terdapat pada Islam melainkan pada agama lain. sehingga ia bisa sedekat mungkin dengan Tuhan yang Maha Suci. Di manapun seorang mukmin berada. Dengan kiasan lain. Makin berkembang ilmu pengetahuan. suatu mengaktualisasikan kesadaran dan kapasitas kemampuan untuk dirinya sebagai .

Pandangan semacam itu tentu saja kurang populer dan sulit diterima oleh kalangan terdekat. Taqallub-nya hati sang sufi. 1977. XII.seorang mukmin yang dirinya sudah "didominasi" sifat-sifat Tuhan sehingga tercermin dalam perilakunya yang serba suci dan mulia. Namun begitu. Hossein Nasr. seorang sufi kontemporer adalah mereka yang tidak asing berdzikir dan berfikir tentang Tuhan sekalipun di hotel mewah dan datang dengan kendaraan yang mewah pula. Dalam sebuah hadits Qudsi disebutkan bahwa meskipun secara fisik hati itu kecil dan mengambil tempat pada jasad manusia. maka seorang mukmin akan mencapai derajat khalifah Allah dengan kapasitasnya yang perkasa tetapi sekaligus penuh kasih dan damai. maka tasawuf bisa dikatakan sebagai inti keberagaman dan karenanya setiap muslim semestinya berusaha untuk menjadi sufi. ia akan mengetahui Tuhannya karena manusia adalah "microcosmos" atau jagad cilik dimana 'arsy Tuhan berada di situ. sementara bumi langit tidak sanggup. secara karikatural. Maqam tahaqquq ini sejalan dengan Hadits Qudsi yang digemari kalangan sufi yang menyatakan bahwa bagi seorang mukmin yang telah mencapai martabat yang sedemikian dekat dan intimnya dengan Tuhan maka Tuhan akan melihat kedekatan hamba-Nya. sementara badan dan anggotanya bagai istana dan para abdi dalem-nya. KHALIFAH ALLAH: MANUSIA SUCI NAN PERKASA Bila upaya penyucian jiwa merupakan inti tasawuf. Tajalli berarti penampakan diri Tuhan ke dalam makhluk-Nya dalam pengertian metafisik. melainkan Tuhan dalam sifat-Nya yang Dhahir. bukannya Yang Bathin. tetapi Tuhan bukan pengertian huwiyah-Nya atau "ke-Dia-annya" yang Maha Absolut dan Maha Esa. dan bukankah hamba-hamba-Nya yang saleh telah dinyatakan sebagai mandataris-Nya? Jadi. yang dimaksudkan dengan ungkapan siapa yang mengetahui jiwanya. Dan dari sekian makhluk Tuhan.138). Beberapa ayat al-Qur'an dan Hadits menegaskan bahwa hati seseorang bagaikan raja. kata qalb senantiasa berasosiasi dengan kata taqallub yang bergerak atau berubah secara konstan. Menurut Ibn 'Arabi. adalah seiring dengan tajalli-nya Tuhan. dan itu dilakukan dalam upaya mendekati dan menggapai kasih Tuhan. Bukankah Allah punya blue-print dan proyek untuk memakmurkan bumi. Dalam tradisi tasawuf yang menjadi fokus kajiannya ialah apa yang disebut gaib atau hati dalam pengertiannya yang metafisis. . menurut Ibn 'Arabi. namun luasnya hati Insan Kamil (qalb al-'arif) melebihi luasnya langit dan bumi karena ia sanggup menerima 'arsy Tuhan. Kebaikan dan kejahatan kerajaan itu akan tergantung bagaimana perilaku sang raja. Seorang 'abd-u 'l-Lah (budak Allah) yang saleh adalah sekaligus juga wakil-Nya untuk membangun bayang-bayang surga di muka bumi ini. p. takhalluq. kata 'Arabi. hanya hati seorang Insan Kamil-lah yang paling mampu menangkap lalu memancarkan tajalli-Nya dalam perilaku kemanusiaan (Fushushul Hikam. dan tahaqquq. bukankah cukup tegas isyarat al-Qur'an maupun Hadits yang menyatakan bahwa kewajiban setiap muslim adalah mensucikan jiwanya sehingga kesuciannya termanifestasikan dalam perilaku insaniyahnya? Melalui tahapan ta'alluq. Dalam konteks inilah.

Metro Pondok Indah Pondok Indah Plaza I Kav. Pemakaian kata tersebut mengacu kepada makna ajaran dan norma agama itu sendiri. Afifi. Fushush al-Hikam (The Bezels of Wisdom). Toshihiko. Annemarie. Raiph. Karena itu ada baiknya kita lebih dahulu berbicara tentang tasawuf itu sendiri. Jakarta. SYARI'AH. dalam al-Qur'an sendiri. New York. Ibn. 1976. Lahore. Jilid II dan III. kata tersebut telah dipakai antara lain pada Surah al-Jatsiyah: 18. 1977. telah mengakibatkan terbatasnya pengertian syari'ah sehingga lebih banyak mengacu pada norma hukum. London. The Qur'anic Sufism. 181) oleh KH Ali Yafie Kata syari'ah telah beredar luas di kalangan umat muslim. Mir. Massiggnon. Dimensi Mistik Dalam Islam. 7507173 Fax. Symbols and Civilization. Ernst. Harun. 1938 Cassirer. AE. (021) 7501969. 1980. Prof. An Essay on Man.. Falsafat dan Mistisisme Dalam Islam. Schimmel. -------------------------------------------Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah Editor: Budhy Munawar-Rachman Penerbit Yayasan Paramadina Jln.15. haqiqah dan ma'rifah. Princeton. Dr. 1978. HAQIQAH DAN MA'RIFAH (hal. New York. THARIQAH.. 1982. 7501983. Valiuddin.. Dr. Sedangkan tiga kata lainnya menjadi terma yang terkenal dalam tasawuf. Louis. 1978. The Concept of Perpetual Creation in Islamic Mysticism and Zen Buddhism. 1962. Lahore. The Mystical Philosophy of Muhyi al-Din Ibnul 'Arabi. Teheran. (021) 7507174 Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota Please direct any suggestion to Media Team Artikel Yayasan Paramadina Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota III.DAFTAR KEPUSTAKAAN Arabi. Mengenai kelompok tasawuf ada dua pendapat. UA 20-21 Jakarta Selatan Telp. Izutsu. 1973 Ross.. The Passion of al-Hallaj. Pertama. Bahkan. Dalam perkembangan Islam munculnya tiga kata thariqah. Nasution. mereka .

yaitu produk penalaran ulama muhaddits dan fuqaha yang disebut syari'ah. Keadaan tersebut berkelanjutan hingga mencapai puncak perkembangannya pada akhir abad 4 H. dan produk penalaran ulama tasawuf yang disebut haqiqah. . sedangkan kelompok formal terdiri dari ulama-ulama muhaddits dan fuqaha. secara berangsur-angsur pola pikir dan pola hubungan antara ahli syari'ah dan ahli haqiqah makin berbeda. Kecenderungan seperti ini secara umum terjadi pada kalangan kaum muslim angkatan pertama. Ahli syari'ah menonjolkan -kadang-kadang secara berlebih-lebihan. Pada tingkat perkembangan inilah muncul beberapa terma yang dulunya tidak lazim dipakai dalam ilmu-ilmu keislaman. Pada angkatan berikutnya (abad 2 H) dan seterusnya. Ibnu Khaldun mengungkapkan. konsentrasi tujuan hidup menuju Allah (untuk mendapatkan ridla-Nya). Sehingga seharusnya kita katakan seorang muhaddttsin sekaligus juga ulama sufiyah. Pada masa itu gerakan tasawuf juga mengalami perkembangan yang tidak terbatas hanya pada praktek hidup bersahaja saja. bahwa tasawuf itu hanyalah suatu kecenderungan spiritual yang membentuk etika moral dan lingkungan sosial khusus. Dan ini menimbulkan banyak pertentangan antara kedua kelompok tersebut. Ajaran Tasawuf pada dasarnya merupakan bagian dari prinsip-prinsip Islam sejak awal. Selanjutnya para fuqaha pun disebut ahli syari'ah dan para ulama tasawuf disebut ahli haqiqah. serta patuh melaksanakan ajaran-ajaran agama dalam kehidupannya sehari-hari. pola dasar tasawuf adalah kedisiplinan beribadah. Kedua. Kelompok intelektual ini terdiri dari ulama-ulama mutakallim (ahli teologi). Ajaran ini tak ubahnya merupakan upaya mendidik diri dan keluarga untuk hidup bersih dan sederhana. dan upaya membebaskan diri dari keterikatan mutlak pada kehidupan duniawi. begitu pula seorang mutakallimin sekaligus juga ulama sufiyah. tapi mulai ditandai juga dengan berkembangnya suatu cara penjelasan teoritis yang kelak menjadi suatu disiplin ilmu yang disebut ilmu Tasawuf.adalah kelompok spiritual dalam umat Islam yang berada di tengah-tengah dua kelompok lainnya yang disebut kelompok formal dan kelompok Intelektual. Upaya penalaran para ulama muhaddits dan fuqaha dalam menjabarkan prinsip-prinsip ajaran Islam mengenai penataan kehidupan pribadi dan masyarakat yang sudah berkembang selama tiga abad -dengan munculnya disiplin ilmu Tasawuf. Sedang dilain pihak. Dalam masa tiga abad itu dunia Islam mencapai kemakmuran yang melimpah. Perbedaan tersebut ditandai dengan beberapa hal berikut: 1. Pada tahap perkembangannya. sehingga tidak diperbudak harta atau tahta. seperti kita dapat simak dalam karya sastra "cerita seribu satu malam" dimasa kejayaan kekhalifahan Abbasiyah. atau kesenangan duniawi lainnya. secara berangsur-angsur terjadi pergeseran nilai sehingga orientasi kehidupan duniawi menjadi lebih berat. sehingga di kalangan atas dan menengah terdapat pola kehidupan mewah.terjadilah pemisahan antara dua pola penalaran. Ketika itulah angkatan pertama kaum muslim yang mempertahankan pola hidup sederhananya lebih dikenal sebagai kaum sufiyah.soal pengalaman agama dalam bentuk yang formalistik (syi'ar-syi'ar lahiriah).

Ghinia dan Jawa. Sebagian ahli haqigah tidak merasa terikat dengan syi'ar-syi'ar agama yang ritual-formalistis. dan Imam Ghazali berupaya memulihkannya. dia sudah bebas dari ikatan-ikatan formal. 561 H/1166 M) di Baghdad. tokoh pertama yang memperkenalkan sistem thariqah (tarekat) itu Syekh Abdul Qadir al-Jilani (w. tarekat yang banyak pengikutnya Tarekat Rifa'iyyah yang dibangun Sayid Ahmad al-Rifa'i. Adanya teori-teori ahli haqiqah yang menggusarkan para ahli syari'ah. 4. Padahal. para pendahulu mereka sangat disiplin dalam pengalaman syari'ah. Dalam satu dasawarsa terakhir ini. Jalal . yang berhak mendapatkan perlindungan dalam rangka tertib kemasyarakatan suatu negara. misalnya teori al-fana fi 'l-Lah (peleburan diri dalam Allah) yang dikemukakan Abu Yazid al-Busthami dan teori Hub al-Lah (cinta Allah) hasil pemikiran Rabi'ah al-'Adawiyah serta teori Maqamat-Ahwal (terminal-terminal dan situasi-situasi) ciptaan Dzunn-un al-Mishri. Ahli haqiqah mengklaim. Pertimbangannya ialah. yang mendapat sambutan luas di Aljazair. 3. Tijaniyah dan Sanusiyah. pemerintah Mesir menempatkan pembinaan dan koordinasi tarekat-terekat tersebut di bawah Departemen Bimbingan Nasional (Wizarah al-Irsyad al-Qaumi). Sedangkan di Mesir. Di Jawa Timur misalnya. Dalam buku ini beliau mempertemukan teori-teori syari'ah dengan teori-teori haqiqah Ternyata upaya al-Ghazali ini sangat membantu dalam merukunkan kembali antara para ahli syari'ah dengan ahli haqiqah. Kamil Musthafa al-Syibi dalam tesisnya tentang gerakan tasawuf dan gerakan syi'ah mengungkapkan. kita jumpai Tarekat Qadiriyah yang cukup dikenal. Mereka berkata. Di Indonesia kita lebih banyak mengenal ajaran tasawuf lewat lembaga keagamaan non-formal yang namanya "tarekat" asal kata thariqah. maka dia akan mampu menaklukkan alam dan melakukan hal-hal yang luar biasa (keramat). 2. Jurang pemisah yang makin hari makin melebar antara ahli syari'ah dan ahli haqiqah makin menjadi-jadi pada sekitar akhir abad kelima Hijrah.para ahli haqiqah menonjolkan aspek-aspek batiniah ajaran Islam. Ajaran tarekatnya menyebar ke seluruh penjuru dunia Islam. kalau seseorang sudah mencapai derajat wali. bagaimanapun keberadaan penganut-penganut tarekat itu merupakan bagian dari potensi bangsa/umat. disamping Tarekat Naqsyabandiyah. siapa yang telah sampai perjalanan rohaniahnya kepada Allah dan sudah terlebur dirinya dalam diri Allah. Pada tahun lima puluhan. kita melihat adanya langkah lebih maju dalam perkembangan tarekat-tarekat tersebut dengan adanya koordinasi antara berbagai macam tarekat itu lewat ikatan yang dikenal dengan nama Jam'iyah Ahl al-Thariqah al-Mu'tabarah. Dan tempat ketiga diduduki tarekat ulama penyair kenamaan Parsi. Semua itu dianggap sebagai ajaran aneh oleh para ahli syari'ah. Dalam kaitan inilah beliau tampil dengan karya besarnya Ihya 'Ulum al-Din. Untuk lebih mengenal adanya tarekat itu. ada baiknya kita mempertanyakan kapankah munculnya tarekat (al-thuruq al-shufiyah) itu dalam sejarah perkembangan gerakan tasawuf Dr. Syadziliyah.

Apa yang dimaksud dengan kata ma'rifah dalam terma mereka ialah penghayatan puncak pengenalan keesaan Allah dalam wujud semesta dan wujud dirinya sendiri. 672 H/1273 M). . 2. Pada titik pengenalan ini akan terpadu makna tawakkal dalam tawhid. bahwa sistem hidup bersih dan bersahaja (zuhd) adalah dasar semua tarekat yang berbeda-beda itu. Memakai pakaian khusus (sedikitnya ada tanda pengenal) 3. 6. Mungkin sifat keras dari iklim yang dibentuk Tarekat Sanusiyah inilah yang mewarnai Mu'ammar al-Qadafi mengambil alih kekuasaan dan berkuasa sampai saat ini sebagai Kepala Negara tersebut. Di bawah syeikhnya yang terakhir. ada kalanya dengan alat-alat bantu seperti musik dan gerak badan yang dapat membina konsentrasi ingatan. Mempercayai adanya kekuatan gaib/tenaga dalam pada mereka yang sudah terlatih. Ada upacara khusus ketika seseorang diterima menjadi penganut (murid). Adakalanya sebelum yang bersangkutan diterima menjadi penganut. Menjalani riyadlah (latihan dasar) berkhalwat. Sayyid Ahmad al-Syarif al-Sanusi berhasil menggalang satu kekuatan perlawanan rakyat yang mampu memerangi kolonialis Italia. bersahaja. Menekuni pembacaan dzikir tertentu (awrad) dalam waktu-waktu tertentu setiap hari. membimbing masyarakat ke arah yang diridlai Allah. Dalam periode berikutnya muncul tarekat al-Syadziliyah yang mendapat sambutan luas di Maroko dan Tunisia khususnya. 5. Beliau membuat tradisi baru dengan menggunakan alat-alat musik sebagai sarana dzikir. Sasaran akhir dari pembinaan pribadi dalam pola hidup bertasawuf adalah hidup bersih. dan akhirnya membebaskan wilayah Libya. tapi ada beberapa ciri yang menyamakan: 1. bahwa tarekat-tarekat sufi merupakan bentuk kelembagaan yang terorganisasi untuk membina suatu pendidikan moral dan solidaritas sosial. sehingga dapat berbuat hal-hal yang berlaku di luar kebiasaan. Perancis dan Inggris secara berturut-turut. dengan jalan pengamalan syari'ah dan penghayatan haqiqah dalam sistem/metode thariqah untuk mencapai ma'rifah. Penghormatan dan penyerahan total kepada Syeikh atau pembantunya yang tidak bisa dibantah Dari sistem dan metode tersebut Nicholson menyimpulkan. dia harus terlebih dahulu menjalani masa persiapan yang berat. 4. Menyepi dan berkonsentrasi dengan shalat dan puasa selama beberapa hari (kadang-kadang sampai 40 hari). Kemudian sistem ini berkembang terus dan meluas. tekun beribadah kepada Allah. dan pada umumnya tarekat-tarekat tersebut walaupun beragam namanya dan metodenya. Semua pengikutnya dididik dalam disiplin itu. dan dunia Islam bagian Timur pada umumnya. Nicholson mengungkapkan hasil penelitiannya.al-Din al-Rumi (w. Yang juga perlu dicatat di sini ialah munculnya Tarekat Sanusiyah yang mempunyai disiplin tinggi mirip disiplin militer.

Rijal al-fikri wa 'l-Da'wah fi 'l-lslam. maka yang dapat diterima Tuhan untuk mendekatiNya adalah roh yang suci. Ahmad Amin. Saf (baris). UA 20-21 Jakarta Selatan Telp. TASAWUF (hal. dan melepaskan dirinya dari ketergantungan mutlak kepada sesuatu selain Allah. pertama. Penulis-penulis banyak mengaitkannya dengan kata: 1.yang melahirkan sikap pasrah total kepada Allah. -------------------------------------------Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah Editor: Budhy Munawar-Rachman Penerbit Yayasan Paramadina Jln. ASAL KATA SUFI Tidak mengherankan kalau kata sufi dan tasawuf dikaitkan dengan kata-kata Arab yang mengandung arti suci. (021) 7501969.14. Kedua. Kamil Mushthafa al-Syibli. Dan memang. (021) 7507174 Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota Please direct any suggestion to Media Team Artikel Yayasan Paramadina Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota III. al-Shilah bain al-Tashawwuf wa 'l-Tasyayyu'. 2. bukan jasadnya. Yang dimaksud saf di sini ialah baris pertama dalam salat di mesjid. Tuhan bersifat rohani. maka bagian yang dapat mendekatkan diri dengan Tuhan adalah roh. terutama salat dan puasa. 7501983. al-Muqaddimah. 7507173 Fax. Safa dalam arti suci dan sufi adalah orang yang disucikan. Tuhan adalah Maha Suci. 42) oleh Harun Nasution (1/4) Tujuan tasawuf adalah mendekatkan diri sedekat mungkin dengan Tuhan sehingga ia dapat melihat-Nya dengan mata hati bahkan rohnya dapat bersatu dengan Roh Tuhan. Metro Pondok Indah Pondok Indah Plaza I Kav. kaum sufi banyak berusaha menyucikan diri mereka melalui banyak melaksanakan ibadat. Filsafat yang menjadi dasar pendekatan diri itu adalah. Dhuha al-Islam dan Zhuhur al-Islam Imam al Ghazali. Saf pertama ditempati oleh orang-orang yang cepat datang ke mesjid dan banyak membaca . Ihya 'Ulum al-Din Irnam Ibn Khaldun. DAFTAR KEPUSTAKAAN Abu 'l-Hasan al-Nadawi. Tasawuf adalah ilmu yang membahas masalah pendekatan diri manusia kepada Tuhan melalui penyucian rohnya.

ayat-ayat al-Qur'an dan berdzikir sebelum waktu salat datang. tinggal di Mesjid Nabi dan tidur di atas bangku batu dengan memakai suffah. Pengaruh filsafat Yunani dikatakan berasal dari pemikiran mistik Pythagoras. Orang-orang seperti ini adalah yang berusaha membersihkan diri dan dekat dengan Tuhan. kalau seseorang ingin memasuki jalan tasawuf. 4. muncullah anggapan bahwa aliran tasawuf lahir dalam Islam atas pengaruh dari luar. roh manusia adalah suci dan berasal dari tempat suci. Roh yang pada mulanya suci itu menjadi tidak suci dan karena itu tidak dapat kembali ke tempatnya semula yang suci. kemah mereka menjadi tempat berteduh bagi orang yang kepanasan. pemurah dan suka menolong. Suf (kain wol). 5. Diantara semua pendapat itu. ASAL-USUL TASAWUF Karena tasawuf timbul dalam Islam sesudah umat Islam mempunyai kontak dengan agama Kristen. dan pemurah dan suka menolong. kemudian turun ke dunia materi dan masuk ke dalam tubuh manusia yang bernafsu. filsafat Yunani dan agama Hindu dan Buddha. Sufi juga mengasingkan diri dari dunia ramai. dan kaum sufi pula yang tahu hikmat. Filsafat sufi juga demikian. Inilah pula sifat-sifat kaum sufi. pendapat terakhir inilah yang banyak diterima sebagai asal kata sufi. sungguhpun tak mempunyai apa-apa.150 H). dan di malam hari lampu mereka menjadi petunjuk jalan bagi musafir. Sophos (bahasa Yunani yang masuk kedalam filsafat Islam) yang berarti hikmat. yaitu para sahabat yang hijrah bersama Nabi ke Madinah dengan meninggalkan harta kekayaannya di Mekkah. Ahl al-Suffah. Dalam sejarah tasawuf. walaupun untuk sementara. karena kata sophos telah masuk kedalam kata falsafat dalam bahasa Arab. berhati baik serta mulia dan tidak mementingkan dunia. 3. Pakaian ini melambangkan kesederhanaan serta kemiskinan dan kejauhan dari dunia. Pendapat ini memang banyak yang menolak. Untuk itu ia harus menyucikan diri dengan memusatkan perhatian pada fllsafat serta ilmu pengetahuan dan melakukan beberapa pantangan. Di Madinah mereka hidup sebagai orang miskin. ia meninggalkan pakaian mewah yang biasa dipakainya dan diganti dengan kain wol kasar yang ditenun secara sederhana dari bulu domba. Tempat mereka menjadi tujuan orang yang perlu bantuan di padang yang gersang. Ahl al-Suffah. Di siang hari. Orang yang pertama memakai kata sufi kelihatannya Abu Hasyim al-Kufi di Irak (w. Ada yang mengatakan bahwa pengaruhnya datang dari rahib-rahib Kristen yang mengasingkan diri untuk beribadat dan mendekatkan diri kepada Tuhan di gurun pasir Arabia. (pelana) sebagai bantal. Roh yang masuk ke dalam janin di kandungan ibu berasal dari alam rohani yang . berhati baik. Jadi. Rahib-rahib itu berhati baik. Dalam filsafatnya. dan ditulis dengan sin dan bukan dengan shad seperti yang terdapat dalam kata tasawuf. sufi adalah orang yang memakai wol kasar untuk menjauhkan diri dari dunia materi dan memusatkan perhatian pada alam rohani.

ia berseru agar Tuhan membuka hijab dan menampakkan diri-Nya kepada yang berseru. sama dengan Pythagoras. Dengan kata lain. pengaruhnya dikatakan dari konsep Nirwana. Tapi. Dari agama Buddha. "Timur dan Barat kepunyaan Tuhan. maka kemana saja kamu berpaling di situ ada wajah Tuhan" (QS. Ayat berikut menggambarkan lebih lanjut betapa dekatnya Tuhan dengan manusia. dia berpendapat bahwa roh yang masuk ke dalam tubuh manusia juga kotor. Sedangkan pengaruh dari agama Hindu dikatakan datang dari ajaran bersatunya Atman dengan Brahman melalui kontemplasi dan menjauhi dunia materi. tapi kemudian dipengaruhi oleh hawa nafsu yang terdapat dalam tubuh manusia. filsafat Yunani dan agama Kristen datang lama sebelum Islam. Dekatnya Tuhan kepada manusia disebut al-Qur'an dan Hadits. tetapi berseru. Dalam ajaran Islam. roh pergi ke alam barzah menunggu datangnya hari perhitungan. memang terdapat dalam tasawuf Islam. Masih dari filsafat Yunani. Sesudah bercerai dengan tubuh. roh yang telah kotor itu dibersihkan dulu melalui ibadat yang banyak. Ajaran menghancurkan diri untuk bersatu dengan Tuhan juga terdapat dalam Islam. sesudah tubuh mati tidak akan kembali ke hidup serupa di bumi. Kalau sudah bersih. Paham penyucian diri melalui reinkarnasi tak terdapat dalam ajaran tasawuf. agar Tuhan mengabulkan seruannya untuk melihat Tuhan dan berada dekat kepada-Nya. Tentang dekatnya Tuhan. Tuhan memang dekat sekali dengan manusia. agama Hindu dan Buddha. konsep Plotinus tentang bersatunya roh dengan Tuhan di dunia ini. Maka untuk dapat bertemu dengan Tuhan Yang Maha Suci. al-Baqarah 115). Tapi pendapat serupa ini memerlukan bukti-bukti historis." Kaum sufi mengartikan do'a disini bukan berdo'a. Ayat ini mengandung arti bahwa dimana saja Tuhan dapat dijumpai. Selama masih kotor. Ayat 186 dari surat al-Baqarah mengatakan. maka Aku dekat dan mengabulkan seruan orang yang memanggil jika Aku dipanggil. memasuki hidup kontemplasi dan menghancurkan diri. Kita perlu mencatat.suci. digambarkan oleh ayat berikut. Roh memancar dari diri Tuhan dan akan kembali ke Tuhan. yaitu persatuan roh manusia dengan roh Tuhan. pengaruh itu dikaitkan dengan filsafat emanasi Plotinus. "Telah Kami ciptakan manusia dan Kami . ia dapat mendekatkan diri dengan Tuhan sampai ke tingkat bersatu dengan Dia di bumi ini. untuk menjumpainya. Nirwana dapat dicapai dengan meninggalkan dunia. "Jika hambaKu bertanya kepadamu tentang Aku. Tapi. ia akan tetap tinggal di bumi berusaha membersihkan diri melalui reinkarnasi. dan tak dapat kembali ke Tuhan. Dalam tasawuf terdapat pengalaman ittihad. Tuhan dekat dan sufi tak perlu pergi jauh. Dalam kaitan ini timbul pertanyaan: sekiranya ajaran-ajaran tersebut diatas tidak ada. Bahwa yang kemudian datang dipengaruhi oleh yang datang terdahulu adalah suatu kemungkinan. tidakkah mungkin tasawuf timbul dari dalam diri Islam sendiri? Hakekat tasawuf kita adalah mendekatkan diri kepada Tuhan. Paham itu memang bertentangan dengan ajaran al-Qur'an bahwa roh.

Kalau ayat-ayat diatas mengandung arti ittihad. Jelas kiranya bahwa usaha penyucian diri. Qaf 16). terjadilah penyucian diri calon sufi secara berangsur. Dan Kami lebih dekat dengan manusia daripada pembuluh darah yang ada di lehernya (QS. "Bukanlah kamu yang membunuh mereka. JALAN PENDEKATAN DIRI KEPADA TUHAN Jalan yang ditempuh seseorang untuk sampai ke tingkat melihat Tuhan dengan mata hati dan akhirnya bersatu dengan Tuhan demikian panjang dan penuh duri. al-Anfal 17). Ayat ini menggambarkan Tuhan berada bukan diluar diri manusia. hadits terakhir ini mengandung konsep wahdat al-wujud. tetapi di dalam diri manusia sendiri. Karena itu hanya sedikit sekali orang yang bisa sampai puncak tujuan tasawuf. Tujuan semua ibadat dalam Islam ialah mendekatkan diri itu. Bahwa Tuhan dekat bukan hanya kepada manusia. cukup ia masuk kedalam dirinya dan Tuhan yang dicarinya akan ia jumpai dalam dirinya sendiri. langkah pertama yang harus dilakukan seseorang adalah tobat dari dosa-dosanya. shalat. Perbuatan manusia adalah perbuatan Tuhan. dan dari sinilah berasal kata tarekat dalam bahasa Indonesia. dan bukan manusia saja yang bersatu dengan Tuhan. sufi tak perlu pergi jauh. Karena itu.tahu apa yang dibisikkan dirinya kepadanya. Dalam konteks inilah ayat berikut dipahami kaum sufi. membaca al-Qur'an dan dzikir. sufi melihat persatuan manusia dengan Tuhan. Dengan khusuk dan banyak beribadat ia akan merasakan kedekatan Tuhan. "Siapa yang mengetahui dirinya mengetahui Tuhannya. kemudian Aku ingin dikenal. Jalan itu. Demikianlah ayat-ayat al-Qur'an dan Hadits Nabi menggambarkan betapa dekatnya Tuhan kepada manusia dan juga kepada makhluk-Nya yang lain. tapi juga kepada makhluk lain sebagaimana dijelaskan hadis berikut." Disini terdapat paham bahwa Tuhan dan makhluk bersatu. "Pada mulanya Aku adalah harta yang tersembunyi. dan melalui mereka Aku-pun dikenal. Sebagaimana telah di sebut diatas penyucian diri diusahakan melalui ibadat. dibagi kaum sufi ke dalam stasion-stasion yang dalam bahasa Arab disebut maqamat -tempat seorang calon sufi menunggu sambil berusaha keras untuk membersihkan diri agar dapat melanjutkan perjalanan ke stasion berikutnya. Maka Kuciptakan makhluk. persatuan manusia dengan Tuhan. dan inilah hakikat tasawuf. yang intinya adalah penyucian diri. Disini. Maka. tapi Allah-lah yang membunuh dan bukanlah engkau yang melontarkan ketika engkau lontarkan (pasir) tapi Allah-lah yang melontarkannya (QS. terutama puasa. lalu melihat Tuhan dengan mata hatinya dan akhirnya mengalami persatuan rohnya dengan roh Tuhan. Karena itu hadis mengatakan. stasion pertama dalam tasawuf . Jalan itu disebut tariqah (bahasa Arab). Bertahun-tahun orang harus menempuh jalan yang sulit itu. Gambaran serupa ini tidak memerlukan pengaruh dari luar agar seorang muslim dapat merasakan kedekatan Tuhan itu. kesatuan wujud makhluk dengan Tuhan. seorang calon sufi banyak melaksanakan ibadat." Untuk mencari Tuhan.

14. orang yang tidak bisa lagi digoda oleh kesenangan dunia dan kelezatan materi. Jelaslah bahwa usaha ini memakan waktu panjang. Puasanya yang banyak membuat hawa nafsunya lemah. shalat. Sampailah ia ke stasion wara'. yaitu tobat yang membuat orangnya menyesal atas dosa-dosanya yang lampau dan betul-betul tidak berbuat dosa lagi walau sekecil apapun. Metro Pondok Indah Pondok Indah Plaza I Kav. melakukan shalat. dan itu diperolehnya dalam berpuasa. karena di dalamnya terdapat syubhat. membaca al-Qur'an dan berdzikir. puasa. Ia menjadi orang zahid dari dunia. ia pindah ke stasion faqr. (021) 7501969. Ia sedikit tidur dan banyak beribadat. UA 20-21 Jakarta Selatan Telp. 7507173 Fax. Dalam literatur tasawuf disebut bahwa al-Muhasibi menolak makanan. Yang dicarinya ialah kebahagiaan rohani. ia keluar dari pengasingannya masuk kembali ke dunianya semula. (021) 7507174 Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota Please direct any suggestion to Media Team Artikel Yayasan Paramadina Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota III. Ia terus banyak berpuasa. Pakaiannyapun sederhana. Ia juga akan selalu naik haji. Pada mulanya seorang calon sufi harus tobat dari dosa-dosa besar yang dilakukannya Kalau ia telah berhasil dalam hal ini.adalah tobat. Tobat yang dimaksud adalah taubah nasuha. Bisyr al-Hafi tidak bisa mengulurkan tangan ke arah makanan yang berisi syubhat. 42) oleh Harun Nasution (2/4) Untuk memantapkan tobatnya ia pindah ke stasion kedua. melakukan shalat. membaca al-Qur'an dan berdzikir. Di stasion ini ia dijauhkan Tuhan dari perbuatan-perbuatan syubhat. TASAWUF (hal. (bersambung 2/4) -------------------------------------------Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah Editor: Budhy Munawar-Rachman Penerbit Yayasan Paramadina Jln. kemudian dari perbuatan makruh dan selanjutnya dari perbuatan syubhat. 7501983. membaca al-Qur'an dan dzikir. Di stasion ini ia menjauhkan diri dari dunia materi dan dunia ramai. Ia mengasingkan diri ke tempat terpencil untuk beribadat. Ia makan dan minum hanya untuk mempertahankan kelanjutan hidup. yaitu zuhud. Kalau kesenangan dunia dan kelezatan materi tak bisa menggodanya lagi. Di stasion ini ia menjalani hidup kefakiran. dan membuat ia tahan lapar dan dahaga. ia akan tobat dari dosa-dosa kecil. Dari stasion wara'. Kebutuhan hidupnya hanya sedikit dan ia tidak meminta kecuali hanya untuk dapat .

Karena stasion-stasion tersebut di atas baru merupakan tempat penyucian diri bagi orang yang memasuki jalan tasawuf. Ayat 54 dari surat al-Maidah. rasa cinta kepada Tuhan bergelora dalam hatinya. tapi baru menjadi zahid atau calon sufi. Ia tidak memikirkan hari esok. memeluk kepatuhan kepada Tuhan dan membenci sikap melawan kepada-Nya. karena ada orang yang lebih berhajat pada makanan dari padanya. pertama. kecuali dari Diri Yang Dikasihi. PENGALAMAN SUFI Di masa awal perjalanannya. "Allah akan mendatangkan suatu umat yang dicintai-Nya dan orang yang mencintai-Nya. Ia menyerahkan diri sebulat-bulatnya kepada kehendak Tuhan. Ia sabar menderita. Maka ia pun sampai ke stasion mahabbah. Kedua. tapi zat yang sayang dan kasih kepada hamba-Nya. sungguhpun tak ada padanya. baginya cukup apa yang ada untuk hari ini. ia selamanya merasa tenteram. bahkan ia tidak menunggu-nunggu datangnya pertolongan. Rasa takut hilang dan timbullah sebagai gantinya rasa cinta kepada Tuhan. Menyerahkan seluruh diri kepada Yang Dikasihi. ia meningkat ke stasion ridla. Ia tidak meminta tapi tidak menolak pemberian Tuhan. Di dalam hatinya tidak ada perasaan benci. Dari stasion tawakkal. Mengosongkan hati dari segala-galanya. Dari stasion ini ia tidak menentang percobaan dari Tuhan bahkan ia menerima dengan senang hati. Ia tidak minta masuk surga dan dijauhkan dari neraka. Sufi memberikan arti mahabbah sebagai berikut.menjalankan kewajiban-kewajiban agamanya. cinta Ilahi. tetapi juga sabar dalam menerima percobaan-percobaan berat yang ditimpakan Tuhan kepadanya. yang ada hanyalah perasaan senang. Ia bersikap seperti telah mati. Di sini ia telah dekat sekali dengan Tuhan dan iapun sampai ke ambang pintu melihat Tuhan dengan hati nurani untuk selanjutnya bersatu dengan Tuhan. Ia menjadi sufi setelah sampai ke stasion berikutnya dan memperoleh pengalaman-pengalaman tasawuf. Rasa takut itu kemudian berubah menjadi rasa waswas apakah tobatnya diterima Tuhan sehingga ia dapat meneruskan perjalanannya mendekati Tuhan. Mencintai Tuhan tidaklah dilarang dalam Islam. ia sebenarnya belumlah menjadi sufi. Bahkan ia tidak meminta sungguhpun ia tidak punya. Selanjutnya ia pindah ke stasion tawakkal." Selanjutnya ayat . Ketiga. Pada stasion ridla. ia tidak mau makan. Ia bukan hanya tidak meminta pertolongan dari Tuhan. calon sufi dalam hubungannya dengan Tuhan dipengaruhi rasa takut atas dosa-dosa yang dilakukannya. hatinya merasa senang dan di dalamnya bergelora rasa cinta kepada Tuhan. bahkan dalam al-Qur'an terdapat ayat-ayat yang menggambarkan cinta Tuhan kepada hamba dan cinta hamba kepada Tuhan. Kendatipun ada padanya. Lambat laun ia rasakan bahwa Tuhan bukanlah zat yang suka murka. Ia sabar bukan hanya dalam menjalankan perintah-perintah Tuhan yang berat dan menjauhi larangan-larangan Tuhan yang penuh godaan. Setelah menjalani hidup kefakiran ia sampai ke stasion sabar. Bahkan. Ketika malapetaka turun.

Aku menjadi pendengaran. Dengan kata lain." Pernah pula ia berkata. ia tidak meminta dijauhkan dari neraka dan pula tidak meminta dimasukkan ke surga. jika kamu cinta kepada Tuhan. dan ini tertera dari syairnya yang berikut: Kucintai Engkau dengan dua cinta. jika kupuja Engkau karena takut kepada neraka. Yang ia pinta adalah dekat kepada Tuhan." Sufi yang masyhur dalam sejarah tasawuf dengan pengalaman cinta adalah seorang wanita bernama Rabi'ah al-'Adawiah (713-801 M) di Basrah. Rabi'ah al-'Adawiah. "Katakanlah. maka turutlah Aku. . "Senantiasa hamba-Ku mendekatkan diri kepada-Ku melalui ibadat sehingga Aku cinta kepadanya. "Tuhanku. Aku gelisah. apakah ia benci kepada setan. tiap pecinta telah berduaan dengan yang dicintainya. bintang di langit telah gemerlapan." Begitu penuh hatinya dengan rasa cinta kepada Tuhan. kebahagiaan dari kesenanganku. hanya Engkaulah yang kukasihi. "Cintaku kepada Tuhan tidak meninggalkan ruang kosong di dalam hatiku untuk benci setan. akhirnya dibalas Tuhan. malam telah berlalu dan siang segera akan menampakkan diri. pintu-pintu istana telah dikunci. apakah Engkau terima aku sehingga aku bahagia." Cinta tulus Rabi'ah al-'Adawiah kepada Tuhan. mata-mata telah bertiduran.30 dari surat 'Ali Imran menyebutkan. karena cintaku kepada-Mu telah memenuhi hatiku. ia menjawab. yaitu ma'rifah. bukan pula karena ingin masuk surga. Cinta karena diriku dan cinta karena diri-Mu. seperti yang berikut. sehingga ketika orang bertanya kepadanya. Orang yang Ku-cintai. Ia mengatakan. "Buah hatiku. Cintanya yang dalam kepada Tuhan memalingkannya dari segala yang lain dari Tuhan. tetapi aku mengabdi karena cintaku kepada-Nya." Hadits juga menggambarkan cinta itu. Bagi-Mu-lah puji dan untuk itu semua. Beri ampunlah pembuat dosa yang datang ke hadiratMu. penglihatan dan tangannya." Ia bermunajat." Ketika fajar menyingsing ia dengan rasa cemas mengucapkan. bakarlah mataku karena Engkau. Engkau harapanku. aku tidak akan bergerak. janganlah sembunyikan keindahan-Mu yang kekal itu dari pandanganku. Ia telah melihat Tuhan dengan hati nuraninya. Tiada puji bagiku untuk ini dan itu. Membuat aku melihat Engkau karena Engkau bukakan hijab. Demi keMahakuasaan-Mu inilah yang akan kulakukan selama Engkau beri hajat kepadaku. dan inilah aku berada di hadirat-Mu. "Aku mengabdi kepada Tuhan bukan karena takut kepada neraka. Rabi'ah al-'Adawiah telah benar-benar menjadi sufi. "Tuhanku. Ia telah sampai ke stasion yang menjadi idaman kaum sufi. "Tuhanku. telah sampai ke stasion sesudah mahabbah. Dalam doanya. dan Allah akan mencintai kamu. Cinta karena diriku Membuat aku lupa yang lain dan senantiasa menyebut nama-Mu. Hatiku telah enggan mencintai selain Engkau. ataukah Engkau tolak sehingga aku merasa sedih." Sewaktu malam telah sunyi ia berkata. Cinta kepada diri-Mu. Sekiranya Engkau usir aku dari depan pintuMu.

Karena itu al-Ghazali mengartikan ma'rifat." Yang dimaksud Zunnun ialah bahwa ia memperoleh ma'rifah karena kemurahan hati Tuhan. yang kalau senantiasa dibersihkan dan digosok akan mempunyai daya tangkap yang besar. Ketika itu sufi pun bergemilang dalam cahaya Tuhan dan dapat melihat rahasia-rahasia Tuhan. Kedua. ia tidak akan dapat melihat Tuhan. Karena cinta ikhlas dan suci itulah Tuhan mengungkapkan tabir dari pandangan sufi dan dengan terbukanya tabir itu sufi pun dapat menerima cahaya yang dipancarkan Tuhan dan sufi pun melihat keindahan-Nya yang abadi. baik sewaktu tidur maupun sewaktu bangun hanyalah Allah. lebih benar dari pengetahuan yang diperoleh melalui akal. menurut al-Ghazali. kalau mata yang terdapat di dalam hati sanubari manusia terbuka. yaitu 'ilm. mata kepalanya akan tertutup dan ketika itu yang dilihatnya hanya Allah. Kalbu mempunyai tiga daya.860 M). pertama. Dalam bahasa sufi. Semua orang yang . Ma'rifah adalah anugerah Tuhan kepada sufi yang dengan ikhlas dan sungguh-sungguh mencintai Tuhan. Demikian juga jiwa. Ma'rifah berbeda dengan 'ilm. keyakinannya untuk memperoleh kebenaran ternyata melalui tasawuf. Ketika Zunnun ditanya. Kalau sufi melihat ke cermin itu yang akan dilihatnya hanyalah Allah. Sirr adalah daya terpeka dari kalbu dan daya ini keluar setelah sufi berhasil menyucikan jiwanya sesuci-sucinya. Juga dikatakan bahwa ma'rifah datang ketika cinta sufi dari bawah dibalas Tuhan dari atas. "Melihat rahasia-rahasia Tuhan dan mengetahui peraturan-peraturan Tuhan tentang segala yang ada. ia menjawab. Maka. sufi berusaha keras mendekatkan diri dari bawah dan Tuhan menurunkan rahmat-Nya dari atas. sekiranya ma'rifah mengambil bentuk materi. sufi memakai alat bukan akal yang berpusat di kepala. Lebih jauh mengenai ma'rifah dalam literatur tasawuf dijumpai ungkapan berikut. yang dilihat orang 'arif.Pengalaman ma'rifah." Kata ma'rifat memang mengandung arti pengetahuan. Tapi. Dalam hubungan dengan Tuhan. yaitu ma'rifah. tapi qalb atau kalbu (jantung) yang berpusat di dada. Ketiga. Sebelum menempuh jalan tasawuf al-Ghazali diserang penyakit syak. Kedua. Keempat. jiwa tak ubahnya sebagai kaca. ditonjolkan oleh Zunnun al-Misri (w. bukan filsafat. daya untuk mencintai Tuhan yang disebut ruh. makin lama ia disucikan dengan ibadat yang banyak. 'Ilm ini diperoleh melalui akal. Sekiranya Tuhan tidak membukakan tabir dari mata hatinya. ma'rifat dalam tasawuf berarti pengetahuan yang diperoleh langsung dari Tuhan melalui kalbu. setelah mencapai ma'rifah. Ketiga daya untuk melihat Tuhan yang disebut sirr. Sebagaimana disebut dalam literatur tasawuf. daya untuk-mengetahui sifat-sifat Tuhan yang disebut qalb. makin suci ia dan makin besar daya tangkapnya. ma'rifah adalah cermin. cahaya yang disinarkannya gelap. Pengetahuan ini disebut ilm ladunni. Dalam pendapat al-Ghazali. sehingga akhirnya dapat menangkap daya cemerlang yang dipancarkan Tuhan. bagaimana ia memperoleh ma'rifah. pengetahuan yang diperoleh melalui kalbu. pertama. "Aku melihat dan mengetahui Tuhan dengan Tuhan dan sekiranya tidak karena Tuhan aku tidak melihat dan tidak tahu Tuhan.

seorang sufi harus terlebih dahulu mengalami fana' dan baqa'. Yang dimaksud dengan fana' adalah hancur sedangkan baqa' berarti tinggal. Dalam literatur tasawuf disebutkan. (bersambung 3/4) -------------------------------------------Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah Editor: Budhy Munawar-Rachman Penerbit Yayasan Paramadina Jln. TASAWUF (hal. Ucapan-ucapan yang ditinggalkannya menunjukkan bahwa untuk mencapai ittihad diperlukan usaha yang keras dan waktu yang lama. Ia menjawab. tak tahan melihat Tetapi sufi yang dapat menangkap cahaya ma'rifah dengan mata hatinya akan dipenuhi kalbunya dengan rasa cinta yang mendalam kepada Tuhan. 7501983. Sesuatu hilang dari diri sufi dan sesuatu yang lain akan timbul sebagai gantinya. (021) 7507174 Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota Please direct any suggestion to Media Team Artikel Yayasan Paramadina Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota III. . 7507173 Fax. 874 M)." sedang umurnya waktu itu telah lebih dari tujuh puluh tahun. (021) 7501969. Seseorang pernah bertanya kepada Abu Yazid tentang perjuangannya untuk mencapai ittihad. Hilang maksiat akan timbul takwa. Sesuatu didalam diri sufi akan fana atau hancur dan sesuatu yang lain akan baqa atau tinggal. UA 20-21 Jakarta Selatan Telp. orang yang fana dari kejahatan akan baqa (tinggal) ilmu dalam dirinya. Hilang sifat buruk akan timbul sifat baik.14. Untuk sampai ke ittihad. Dengan demikian. Sebelum sampai ke ittihad. Yang dimaksud bukan hancurnya jiwa sufi menjadi tiada. "Tiga tahun.memandangnya akan mati karena kecemerlangan dan keindahannya. Metro Pondok Indah Pondok Indah Plaza I Kav. yang di dalam istilah tasawuf disebut ittihad. dalam arti lafdzi kehancuran jiwa. Ia ingin berada lebih dekat lagi dengan Tuhan. 42) oleh Harun Nasution (3/4) Pengalaman ittihad ini ditonjolkan oleh Abu Yazid al Bustami (w. Hilang kejahilan akan timbul ilmu. yang tinggal dalam dirinya sifat-sifat yang baik. Ia ingin mengatakan bahwa dalam usia tujuh puluh tahunlah ia baru sampai ke stasion ittihad. Ia ingin mengalami persatuan dengan Tuhan. orang yang fana dari maksiat akan baqa (tinggal) takwa dalam dirinya. sufi harus terlebih dahulu mengalami al-fana' 'an al-nafs. Tidak mengherankan kalau sufi merasa tidak puas dengan stasion ma'rifah saja.

Abu Yazid mengatakan. "Aku tidak heran melihat cintaku pada-Mu. dengan arti kesadaran tentang diri sendiri hancur dan timbullah kesadaran diri Tuhan." Lalu. "Gila pada diriku adalah fana' dan gila pada diri-Mu adalah baqa' (kelanjutan hidup). Masalah ittihad. aku tak berdaya menentang-Mu. "Fananya seseorang dari dirinya dan dari makhluk lain terjadi dengan hilangnya kesadaran tentang dirinya dan makhluk lain.tapi kehancurannya akan menimbulkan kesadaran sufi terhadap diri-Nya. "Aku mengetahui Tuhan melalui diriku hingga aku hancur." Akhirnya Abu Yazid dengan meninggalkan dirinya mengalami fana. Syatahat yang diucapkan Abu Yazid. "Manusia tobat dari dosanya. aku tak ingin melihat mereka. Kemudian Ia membuat aku gila kepada diri-Nya. Inilah yang disebut kaum sufi al-fana' 'an al-nafs wa al-baqa. al-Qusyairi menulis. Abu Yazid. karena Engkau adalah Raja Maha Kuasa. sebagai berikut. "Pada suatu ketika aku dinaikkan kehadirat Tuhan dan Ia berkata." Dalam menjelaskan pengertian fana'. Abu Yazid ingin berada di hadirat Tuhan. dan akupun hidup. "Apa jalannya untuk sampai kepadaMu?" Tuhan menjawab." Abu Yazid tobat dengan lafadz syahadat demikian. bi 'l-Lah. tiada Tuhan selain Allah. Dalam mimpi ia bertanya. karena lafadz itu menggambarkan Tuhan masih jauh dari sufi dan berada di belakang tabir." Ketika sampai ke ambang pintu ittihad dari sufi keluar ungkapan-ungkapan ganjil yang dalam istilah sufi disebut syatahat (ucapan teopatis). Tetapi aku heran melihat cinta-Mu padaku. ia mengungkapkan lagi. dia berkata lagi. Tetapi jika itu kehendak-Mu. Sebenarnya dirinya tetap ada. Dia juga mengucapkan. antara lain. Hiasilah aku dengan keesaan-Mu." Seperti halnya Rabi'ah yang tidak meminta surga dari Tuhan dan pula tidak meminta dijauhkan dari neraka dan yang dikehendakinya hanyalah berada dekat dan bersatu dengan Tuhan. makhluk-Ku ingin melihat engkau. tetapi ia tak sadar lagi pada diri mereka dan pada dirinya. "Aku tidak meminta dari Tuhan kecuali Tuhan. baqa' dan ittihad. kemudian aku mengetahui-Nya melalui diri-Nya dan akupun hidup. demikian pula makhluk lain. diapun berkata lagi. tetapi aku tidak. Sedangkan mengenai fana dan baqa'. Abu Yazid menggambarkan dengan kata-kata berikut ini. Di sini terjadilah ittihad. Lalu. persatuan atau manunggal dengan Tuhan. sehingga jika ." Kara-kata ini menggambarkan bahwa cinta mendalam Abu Yazid telah dibalas Tuhan. Kesadaran sufi tentang dirinya dan makhluk lain lenyap dan pergi ke dalam diri Tuhan dan terjadilah ittihad. Aku menjawab. Aku hanya mengucapkan. "Ia membuat aku gila pada diriku hingga aku mati. "Tinggalkan dirimu dan datanglah. kekasih-Ku. Mengenai fana'. karena aku hanyalah hamba yang hina. berhadapan langsung dengan Tuhan dan mengatakan kepadaNya: Tiada Tuhan selain Engkau.

Maka yang mengatakan "Hai Aku Yang Satu" bukan Abu Yazid. "Hai Engkau. "Pergilah. semuanya kecuali engkau adalah makhluk-Ku. Karena itu dia pun mengatakan." Yang penting diperhatikan dalam ungkapan diatas adalah kata-kata Abu Yazid "Aku menjawab melalui diriNya" (Fa qultu bihi). bahkan seluruhnya menjadi satu." Yang mengucapkan kata-kata itu memang lidah Abu Yazid. seperti kelihatan dalam ungkapan selanjutnya. Maha Besar Aku.makhluk-Mu melihat aku. Maka dosa terbesar tersebut diatas akan membuat Abu Yazid jauh dari Tuhan dan tak dapat bersatu dengan Dia." Dialog antara Abu Yazid dengan Tuhan ini menggambarkan bahwa ia dekat sekali dengan Tuhan. Sufi lain yang mengalami persatuan dengan Tuhan adalah Husain Ibn Mansur al-Hallaj (858-922 M)." Permintaan Abu Yazid dikabulkan Tuhan dan terjadilah persatuan." Akupun berkata. "Akulah Yang Satu. "Engkau adalah Engkau. Ini kelihatan dari kata-katanya. Maka Ia pun berkata kepadaku. Maka dalam pengertian sufi. rohnya telah melebur dalam diri Tuhan. dan sebagaimana dilihat pada permulaan makalah ini. Dalam arti serupa inilah harus diartikan kata-kata yang diucapkan lidah sufi ketika berada dalam ittihad yaitu kata-kata yang pada lahirnya mengandung pengakuan sufi seolah-olah ia adalah Tuhan. Kata-kata bihi -melalui diri-Nya. "Hiasilah aku dengan keesaan-Mu. Mengakui dirinya Tuhan adalah dosa terbesar. telah kami lihat Engkau. Abu Yazid. Dengan kata lain. Ia tetap meminta bersatu dengan Tuhan. yang berlainan . Di dalam jubah ini tidak ada selain Allah." Ia berkata kepadaku." Ia berkata lagi.menggambarkan bersatunya Abu Yazid dengan Tuhan. tetapi itu tidak mengandung pengakuan Abu Yazid bahwa ia adalah Tuhan. aku adalah Engkau." Dalam istilah sufi." Aku menjawab: "Aku adalah Aku." Aku menjawab. mereka akan berkata. tetapi juga dari syubhat. kata menjadi satu. tidak ada di rumah ini selain Allah Yang Maha Kuasa. Tetapi yang mereka lihat sebenarnya adalah Engkau. sebagaimana terungkap dari kata-kata berikut ini. Tiada Allah selain Aku. yang satu memanggil yang lain dengan kata-kata: Ya ana (Hai aku). kata-kata diatas betul keluar dari mulut Abu Yazid. Engkau adalah aku dan aku adalah Engkau. mengeluarkan kata-kata." Dalam literatur tasawuf disebut bahwa dalam ittihad. Maha Suci Aku. Aku adalah Allah. agar dapat dekat kepada Tuhan. sufi haruslah bersih bukan dari dosa saja. maka sembahlah Aku. Godaan Tuhan untuk mengalihkan perhatian Abu Yazid ke makhluk-Nya ditolak Abu Yazid. "Engkaulah Yang Satu. yang ada hanyalah Tuhan. karena ketika itu aku tak ada di sana. Ia tidak ada lagi. "Dialog pun terputus. "Abu Yazid. tetapi itu tidak berarti bahwa ia mengakui dirinya Tuhan. "Maha Suci Aku. tetapi Tuhan melalui Abu Yazid. kata-kata tersebut memang diucapkan lidah Abu Yazid. Itu adalah kata-kata Tuhan yang diucapkan melalui lidah Abu Yazid. seusai sembahyang subuh. Hal ini juga dialami Abu Yazid. aku menjawab melalui diri-Nya "Hai Aku. Tuhanlah yang mengaku diri-Nya Allah melalui lidah Abu Yazid.

Di sini terdapat juga konsep fana. Sebaliknya didalam diri Tuhan terdapat bentuk Adam dan itulah yang disebut nasut Tuhan. mayatnya dibakar dan debunya dibuang ke sungai Tigris. Demikian juga Tuhan mempunyai dua sifat dasar. Nasibnya malang karena dijatuhi hukuman bunuh. Hal itu digambarkan al-Hallaj dalam syair berikut ini: Jiwa-Mu disatukan dengan jiwaku Sebagaimana anggur disatukan dengan air suci Jika Engkau disentuh. ketika itu -dalam tiap hal. manusia mempunyai dua sifat dasar: nasut (kemanusiaan) dan lahut (ketuhanan). aku disentuhnya pula Maka. Dalam literatur tasawuf hulul diartikan. Hal ini karena dia mengatakan. Hadits ini mengandung arti bahwa didalam diri Adam ada bentuk Tuhan dan itulah yang disebut lahut manusia. lahut (ketuhanan) dan nasut (kemanusiaan). Tuhan memilih tubuh-tubuh manusia tertentu untuk bersemayam didalamnya dengan sifat-sifat ketuhanannya. setelah sifat-sifat kemanusiaan yang ada dalam tubuh itu dihancurkan.nasibnya dengan Abu Yazid.Engkau adalah aku. 7507173 Fax. yang dialami Abu Yazid dalam ittihad sebelum tercapai hulul. Pengalaman persatuannya dengan Tuhan tidak disebut ittihad. (bersambung 4/4) -------------------------------------------Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah Editor: Budhy Munawar-Rachman Penerbit Yayasan Paramadina Jln. nasut manusia lenyap dan muncullah lahut-nya dan ketika itulah nasut Tuhan turun bersemayam dalam diri sufi dan terjadilah hulul. tetapi hulul. 7501983. Kalau Abu Yazid mengalami naik ke langit untuk bersatu dengan Tuhan. (021) 7501969. Landasan bahwa Tuhan dan manusia sama-sama mempunyai sifat diambil dari hadits yang menegaskan bahwa Tuhan menciptakan Adam sesuai dengan bentuk-Nya. UA 20-21 Jakarta Selatan Telp. al-Hallaj mengalami persatuannya dengan Tuhan turun ke bumi. Menurut al-Hallaj. (021) 7507174 Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota Please direct any suggestion to Media Team . Metro Pondok Indah Pondok Indah Plaza I Kav. Hal ini terlihat jelas pada syair al-Hallaj sebagai berikut: Maha Suci Diri Yang Sifat kemanusiaan-Nya Membukakan rahasia cahaya ketuhanan-Nya yang gemilang Kemudian kelihatan bagi makhluk-Nya dengan nyata Dalam bentuk manusia yang makan dan minum Dengan membersihkan diri malalui ibadat yang banyak dilakukan. "Ana 'l-Haqq" (Akulah Yang Maha Benar).

Kami adalah dua jiwa yang menempati satu tubuh. dan ittihad. Dalam pengalamannya. Ia tidak mengkafirkan Abu Yazid dan al-Hallaj. setelah pengalaman persatuan manusia dengan Tuhan yang dibawa al-Bustami dalam ittihad dan al-Hallaj dalam hulul. TASAWUF (hal. Lahut dan nasut. Jika Engkau lihat aku. Dalam perkembangan selanjutnya. Pertentangan ini mereda setelah al-Ghazali datang dengan pengalamannya bahwa jalan sufilah yang dapat membawa orang kepada kebenaran yang menyakinkan. Sufi yang bernasib malang ini mengatakan.14. Dan jika engkau lihat Dia. bahkan oleh syariat sendiri. "Aku adalah rahasia Yang Maha Benar. tidak menangkap pengalaman sufi yang mementingkan hakekat dan tujuan ibadat. tiap makhluk mempunyai dua aspek. gelar yang diberikan kepada kaum sufi. engkau lihat Kami. yang bagi al-Hallaj merupakan dua hal yang berbeda. engkau lihat Dia. Al-Ghazali menghalalkan tasawuf sampai tingkat ma'rifah. sungguhpun ia tidak mengharamkan tingkat fana'. "Ana 'l-Haqq" (Akulah Yang Maha Benar). Muhy al-Din Ibn 'Arabi (1165-1240) membawa ajaran kesatuan wujud makhluk dengan Tuhan dalam wahdat al-wujud. Ketika mengalami hulul yang digambarkan diatas itulah lidah al-Hallaj mengucapkan. ia satukan menjadi dua aspek. ucapan itu tidak mengandung arti pengakuan al-Hallaj dirinya menjadi Tuhan.Artikel Yayasan Paramadina Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota III. Maka bedakanlah antara kami." Syatahat atau kata-kata teofani sufi seperti itu membuat kaum syari'at menuduh sufi telah menyeleweng dari ajaran Islam dan menganggap tasawuf bertentangan dengan Islam. Tetapi sebagaimana halnya dengan Abu Yazid. Aku hanya satu dari yang benar. Dalam sejarah Islam memang terkenal adanya pertentangan keras antara kaum syari'at dan kaum hakekat. tidak berkembang lagi di dunia Islam Sunni. tapi mengkafirkan al-Farabi dan Ibn Sina. Aspek batin yang merupakan . Kalau filsafat. 42) oleh Harun Nasution (4/4) Hulul juga digambarkan dalam syair berikut: Aku adalah Dia yang kucintai Dan Dia yang kucintai adalah aku. baqa. tasawuf sebaliknya banyak diamalkan. yaitu mendekatkan diri sedekat mungkin kepada Tuhan. Kaum syari'at yang banyak terikat kepada formalitas ibadat. Yang Maha Benar bukanlah Aku. Kata-kata itu adalah kata-kata Tuhan yang Ia ucapkan melalui lidah al-Hallaj. setelah kritik al-Ghazali dalam bukunya Tahafut al-Falasifah.

tajalli-Nya tidak sama pada semua manusia. yaitu al-haqq. sufi disinari oleh nama-nama Tuhan. Sebagai bayangan. Yang ada dalam alam ini kelihatannya banyak tetapi pada hakekatnya satu. kabut kegelapan. tetapi masih dalam bentuk potensial. Alam hanya merupakan penampakan diri atau tajalli dari Tuhan. disebut al-haqq. pada sufi yang demikian. Ajaran wahdat al-wujud dengan tajalli Tuhan ini selanjutnya membawa pada ajaran al-Insan al-Kamil yang dikembangkan terutama oleh Abd al-Karim al-Jilli (1366-1428). dengan kata lain. Dengan kata lain. ahadiah. Pada tingkat tawassut. yaitu wujud al-haqq. Huwiah dan Aniyah. Sungguhpun manusia merupakan tajalli atau penampakan diri Tuhan yang paling sempurna diantara semua makhluk-Nya. ilmu. tanpa nama dan sifat. Bagi Ibn Arabi. dan aspek luar yang merupakan aksiden disebut al-khalq. wujud alam bersatu dengan wujud Tuhan dalam ajaran wahdat al-wujud. pada awalnya adalah "harta" tersembunyi. tajalli atau penampakan diri Tuhan mengambil tiga tahap tanazul (turun). seperti hayat. seperti Pengasih. Di dalam tiap cermin. Jelas bahwa Ibn Arabi tidak mengidentikkan alam dengan Tuhan. Dalam pengalaman al-Jilli. Wujud alam tergantung pada wujud Tuhan. alam sebagai makhluk. adalah penampakan diri atau tajalli dari Tuhan. tetapi pada hakekatnya dirinya hanya satu. wujud alam tak akan ada tanpa wujud Tuhan. Pada tingkat bidayah. tetapi dalam aspek batinnya satu.esensi. sufi mesti mengadakan taraqqi (pendakian) melalui tiga tingkatan: bidayah. alam adalah bayangan Tuhan. Di antara semua makhluk-Nya. pada diri manusia Ia menampakkan diri-Nya dengan segala sifat-Nya. dirinya kelihatan banyak. Tuhan berada di luar dan bukan di dalam alam. Yang lain dan yang banyak adalah bayangannya. Penyayang dan sebagainya (tajalli fi al-asma). Di dalam cermin. sebagaimana disebut dalam Hadits yang telah dikutip pada permulaan. Alam sebagai cermin yang didalamnya terdapat gambar Tuhan. Tuhan adalah transendental dan bukan imanen. qudrat dll. Pada tahap ahadiah. Sebagai bayangan. Maka. ia lihat dirinya. Tuhan menampakkan diri dengan nama-nama dan sifat-sifat-Nya pada makhluk-Nya. Semua makhluk dalam aspek luarnya berbeda. Tajalli Tuhan yang sempurna terdapat dalam Insan Kamil. dan melalui makhluklah Ia dikenal. Wujud semuanya satu. Pada tahap aniah. Tuhan. sufi disinari oleh sifat-sifat Tuhan. Tuhan menampakkan diri dalam nama-nama-Nya. Untuk mencapai tingkat Insan Kamil. Tuhan dalam keabsolutannya baru keluar dari al-'ama. Pada tahap hawiah nama dan sifat Tuhan telah muncul. Dan Tuhan ber-tajalli pada sufi demikian dengan . kemudian Ia ingin dikenal maka diciptakan-Nya makhluk. tawassut dan khitam. Oleh karena itu ada orang yang mengidentikkan ajaran wahdat al-wujud Ibn Arabi dengan panteisme dalam arti bahwa yang disebut Tuhan adalah alam semesta. sebagaimana halnya dengan sufi-sufi lainnya. Keadaan ini tak ubahnya sebagai orang yang melihat dirinya dalam beberapa cermin yang diletakkan di sekelilingnya.

1415 M). Tarekat-tarekat besar lain diantaranya adalah Bekhtasyiah di Turki. dalam arti organisasi tasawuf. Dalam tarekat. Perlu ditegaskan bahwa sampai permulaan abad ke-20. Dan dialah yang menjadi perantara antara manusia dan Tuhan. ajaran-ajaran sufi besar tersebut terkadang diselewengkan. dan disamping itu menekankan ajaran tawakal sufi. yang dikembangkan tarekat adalah orientasi akhirat dan sikap tawakal. Insan Kamil yang tersempurna terdapat dalam diri Nabi Muhammad. Dengan kata lain. Demikianlah. sehingga timbullah pertentangan antara kaum syari'at dan kaum tarekat. Ia menjadi manusia sempurna. Sementara itu ada pula tarekat yang menekankan pentingnya kehidupan rohani dan mengabaikan kehidupan duniawi. Mesir dan Suria. mereka mendapat sokongan dari tarekat Bekhtasyi dan para ulama Turki. Mawlawiah (Jalaluddin Rumi) di Turki. Muhammad Abduh. Naqsyabandiah. sufi disinari dzat Tuhan yang dengan demikian sufi tersebut ber-tajalli dengan dzat-Nya. tentara menjadi anggota tarekat Bekhtasyi dan dalam perlawanan mereka terhadap pembaharuan yang diadakan sultan-sultan. Syadziliah di Marokko. orang-orang yang ingin mendapat dukungan dari masyarakat menjadi anggota tarekat. Suria dan Mesir. Rasyid Ridha dan terutama Kamal Ataturk memandang tarekat sebagai salah satu faktor yang membawa kepada kemunduran . sehingga tarekat menyimpang dari tujuan sebenarnya dari sufi untuk menyucikan diri dan berada dekat dengan Tuhan. yang dibentuk oleh murid-murid atau pengikut-pengikut sufi besar untuk melestarikan ajaran gurunya. Karena pengaruh besar dalam masyarakat itu orientasi akhirat dan sikap tawakal berkembang di kalangan umat Islam yang bekas-bekasnya masih ada pada kita sampai sekarang. Sementara itu tasawuf pada masa awal sejarahnya mengambil bentuk tarekat. tarekat mempunyai pengaruh besar dalam masyarakat Islam. Sanusiah di Libia. mempunyai sifat ketuhanan dan dalam dirinya terdapat bentuk (shurah) Allah. sehingga mengabaikan usaha. Pada tingkat ini sufi pun menjadi Insan Kamil. Karena pengaruh besar itu. pengikut Abdullah Syattar (w. Syattariah. Dialah bayangan Tuhan yang sempurna. Di antara tarekat-tarekat besar yang terdapat di Indonesia adalah Qadiriah yang muncul pada abad ke-13 Masehi untuk melestarikan ajaran Syekh Abdul Qadir Jailani (w. dan Tijaniah yang muncul pada abad ke-19 di Marokko dan Aljazair. Pada tingkat khitam. Tarekat ada yang telah menyalahi ajaran dasar sufi dan syari'at Islam. 1415 M). Di antara semuanya. Di Turki Usmani. dan Rifa'iah di Irak. 1166 M). Untuk itu tidak mengherankan kalau pemimpin-pemimpin pembaharuan dalam Islam seperti Jamaluddin Afghani. Insan Kamil terdapat dalam diri para Nabi dan para wali. tujuan sufi untuk berada sedekat mungkin dengan Tuhan akhirnya tercapai malalui ittihad serta hulul yang mengandung pengalaman persatuan roh manusia dengan roh Tuhan dan melalui wahdat al-wujud yang mengandung arti penampakan diri atau tajalli Tuhan yang sempurna dalam diri Insan Kamil.sifat-sifat-Nya. muncul pada abad ke-14 bagi pengikut Bahauddin Naqsyabandi (w.

Banyak orang mengatakan bahwa dalam menghadapi meterialisme yang melanda dunia sekarang. Metro Pondok Indah Pondok Indah Plaza I Kav.J. Dalam pada itu dunia dewasa ini dilanda oleh materialisme yang menimbulkan berbagai masalah sosial yang pelik. Ada yang pergi ke kerohanian dalam agama Buddha.J. Disini tasawuf dengan ajaran kerohanian dan akhlak mulianya dapat memainkan peranan penting. Gallimard. Oleh karena itu bukanlah tidak pada tempatnya bagi seorang Kristen untuk mempelajari ajaran-ajaran sufi yang telah meninggalkan pengaruh besar dalam kehidupan umat Islam dan bersama-sama dengan orang Islam menggali kembali ajaran-ajaran sufi yang akan dapat memenuhi kebutuhan orang yang mencari nilai-nilai kerohanian dan moral zaman yang penuh kegelapan dan tantangan seperti sekarang. Badawi. 1963.umat Islam. A. ada ke kerohanian dalam agama Hindu dan tak sedikit pula yang mengikuti kerohanian dalam agama Islam. Tetapi untuk itu yang perlu ditekankan tarekat dalam diri para pengikutnya adalah penyucian diri dan pembentukan akhlak mulia disamping kerohanian dengan tidak mengabaikan kehidupan keduniaan.. Sufism. George Allan and Unwin Ltd.R. Syatahat al-Sufiah. (021) 7507174 Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota Please direct any suggestion to Media Team Artikel Yayasan Paramadina Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota III. A. 1949. FILSAFAT ISLAM (1/3) oleh Harun Nasution . umpamanya aliran Subud di Jakarta. Paris. Dalam hubungan itu kira-kira 30 tahun lalu. Histoire de la Philosophie Islamique. (021) 7501969.. al-Nahdah al-Misriah.13. Pada akhir-akhir ini memang kelihatan gejala orang-orang di Barat yang bosan hidup kematerian lalu mencari hidup kerohanian di Timur. Cairo. Arberry dalam bukunya Sufism menulis bahwa Muslim dan bukan Muslim adalah makhluk Tuhan yang satu. London. A. UA 20-21 Jakarta Selatan Telp. Corbin.. 7501983. 1964. perlu dihidupkan kembali spiritualisme.. H. -------------------------------------------Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah Editor: Budhy Munawar-Rachman Penerbit Yayasan Paramadina Jln. DAFTAR KEPUSTAKAAN Arberry. 7507173 Fax.

Antakia di Suria. bahwa tidak ada paksaan dalam agama dan bahwa kewajiban orang Islam hanya menyampaikan ajaran-ajaran yang dibawa Nabi. baik dalam perbuatan maupun pemikiran. Akal menunjukkan kekuatan manusia. Ciri-ciri dari teologi rasional ini ialah: 1. Mereka tetap memeluk agama mereka semula terutama yang menganut agama Nasrani dan Yahudi. Untuk itu ia adakan pembauran antara orang-orang Yunani yang dibawanya. Dari pihak umat Islam timbul satu golongan yang melihat bahwa serangan itu tidak dapat ditangkis kecuali dengan memakai argumen-argumen filosofis pula. Daerah-daerah ini. maka akal yang kuat menggambarkan manusia yang kuat. yaitu manusia dewasa. jatuh ke bawah kekuasaan Islam. yang di Barat dikenal dengan istilah free-will and free-act. sehingga mereka tidak mau tunduk kepada arti harfiah dari teks wahyu yang tidak sejalan dengan pemikiran filosofis dan ilmiah. yang membawa kepada konsep manusia yang penuh dinamika. sesuai dengan ajaran al-Qur'an. Kedudukan akal yang tinggi dalam pemikiran Yunani mereka jumpai sejalan dengan kedudukan akal yang tinggi dalam al-Qur'an dan Sunnah Nabi. 3. Dari warga negara non Islam ini timbul satu golongan yang tidak senang dengan kekuasaan Islam dan oleh karena itu ingin menjatuhkan Islam. mempunyai kebebasan dalam kemauan serta perbuatan. 2. berlainan dengan anak kecil. dan timbullah pusat-pusat peradaban Yunani seperti Iskandariah (dari nama Aleksander) di Mesir. Selopsia serta Jundisyapur di Irak dan Baktra (sekarang Balkh) di Iran. Tetapi penduduknya. dengan lain kata mereka tinggalkan arti tersurat dari nash wahyu dan mengambil arti tersiratnya. Karena itu aliran ini menganut faham qadariah. Dengan demikian timbullah di panggung sejarah pemikiran Islam teologi rasional yang dipelopori kaum Mu'tazilah. Ketika para Sahabat Nabi Muhammad menyampaikan dakwah Islam ke daerah-daerah tersebut terjadi peperangan antara kekuatan Islam dan kekuatan Kerajaan Bizantium di Mesir. Dengan jalan demikian berkembanglah falsafat dan ilmu pengetahuan Yunani di Timur Tengah. Mereka tinggalkan arti harfiah teks dan ambil arti majazinya. Untuk itu mereka pelajari filsafat dan ilmu pengetahuan Yunani. Manusia dewasa. dengan penduduk setempat. dan mampu berfikir secara mendalam. Kedudukan akal tinggi di dalamnya. Mereka dikenal banyak memakai ta'wil dalam memahami wahyu. dengan menangnya kekuatan Islam dalam peperangan tersebut. Tujuannya bukanlah hanya meluaskan daerah kekuasaannya ke luar Macedonia. mampu berdiri sendiri. Suria serta Irak.Ketika datang ke Timur Tengah pada abad IV SM. Pemikiran filosofis mereka membawa kepada penekanan . Mereka pun menyerang agama Islam dengan memajukan argumen-argumen berdasarkan falsafat yang mereka peroleh dari Yunani. dan kekuatan Kerajaan Persia di Iran. tidak dipaksa para sahabat untuk masuk-Islam. Aleksander Yang Agung membawa bukan hanya kaum militer tetapi juga kaum sipil. tapi juga menanamkan kebudayaan Yunani di daerah-daerah yang dimasukinya.

Menurut pemikiran filsafat kalau ada yang benar maka mesti ada "Yang Benar Pertama" (al-Haqq al-Awwal). hanya berhubungan dengan yang esa. bukan hanya filsafat. Maka kedua-duanya membahas yang benar. Hakikat yang ada dalam benda-benda itu disebut kulliat (keumuman. Teologi rasional Mu'tazilah inilah. di dalam diri Tuhan terdapat arti banyak. particulars). dan peraturan itu perlu dicari untuk kepentingan hidup manusia di dunia ini. tetapi wajib. kalau Tuhan. pada masa antara abad ke VIII dan ke XIII M. Zat. yaitu sesuainya konsep dalam akal dengan benda bersangkutan yang berada di luar akal. Dalam hal ini al-Farabi (870-950 M) memberi konsep yang lebih murni lagi. Alam ini berjalan menurut peraturan tertentu. Yang Benar Pertama itu dalam penjelasan Al-Kindi adalah Tuhan. Karena itu mempelajari filsafat. yaitu hakikat yang bersifat universal dalam bentuk jenis. Yang Maha Esa. Pencipta alam semesta. dan dalam penjelasan tentang yang benar juga memakai argumen-argumen rasional. yang di dalam diriNya terdapat arti banyak. al-Kindi. Maka keadilan Tuhanlah yang menjadi titik tolak pemikiran teologi mereka. dalam al-Qur'an disebut Sunnatullah. Dengan filsafat "al-Haqq al-Awwal"nya. dengan keyakinan akan kedudukan akal yang tinggi. dan berfalsafat tidaklah haram dan tidak dilarang. berhubungan langsung dengan ciptaannya yang tak dapat dihitung banyaknya itu. Yang penting bagi filsafat bukanlah benda-benda atau juz'iat itu sendiri. Filsafat yang termulia dalam pendapat Al-Kindi adalah filsafat ketuhanan atau teologi. Yang Maha Esa berfikir tentang diriNya yang esa. pancaran) dari al-Farabi. kebebasan manusia dalam berfikir serta berbuat dan adanya hukum alam ciptaan Tuhan. Filsafat dengan demikian membahas soal Tuhan dan agama. Benda-benda yang ada di luar akal merupakan juz'iat (kekhususan. Filsafat ia artikan sebagai pembahasan tentang yang benar (al-bahs'an al-haqq). adalah sesuainya apa yang ada di dalam akal dengan apa yang ada diluarnya. universals). Karena pemikiran Tuhan tentang diriNya merupakan daya . Tiap-tiap benda mempunyai hakikat sebagai juz'i (haqiqah jaz'iah) yang disebut aniah dan hakikat sebagai kulli. Mempelajari teologi adalah wajib dalam Islam. tidaklah sebenarnya esa. Agama dalam pada itu juga menjelaskan yang benar. tetapi juga sains. Selanjutnya filsafat dalam pembahasannya memakai akal dan agama. Ia dengan tegas mengatakan bahwa antara filsafat dan agama tak ada pertentangan. agar menjadi esa. yang mengatur perjalanan apa yang ada di alam ini. Pemurnian tauhid inilah yang menimbulkan filsafat emanasi (al-faid. Filsuf besar pertama yang dikenal adalah al-Kindi. berusaha memurnikan keesaan Tuhan dari arti banyak. (796-873M) satu-satunya filsuf Arab dalam Islam. Memurnikan tauhid memang masalah penting dalam teologi dan filsafat Islam. (haqiqah kulliah) yang disebut mahiah. Al-haqiqah atau kebenaran. tetapi yang penting adalah hakikat dari juz'iat itu sendiri. menurut pendapatnya. yang membawa pada perkembangan Islam. Dalam pemikirannya. Keadilan Tuhan membawa mereka selanjutnya kepada keyakinan adanya hukum alam ciptaan Tuhan.konsep Tuhan Yang Maha Adil. dan pemikiran merupakan daya atau energi.

yang dikritik al-Ghazali. Tuhan tidak langsung berhubungan dengan yang banyak. yaitu Tuhan dan dirinya sendiri. apa yang dipancarkan pemikiran Tuhan itu mestilah pula qadim. Begitulah Tuhan menciptakan alam semesta dalam falsafat emanasi al-Farabi. tetapi dari sesuatu yang dipancarkan pemikiran Tuhan. yaitu alam yang terdiri atas sepuluh falak. Dalam pendapat falsafat dari nihil tak dapat diciptakan sesuatu. tetapi dari materi asal yaitu api. Alam dalam filsafat Islam diciptakan bukan dari tiada atau nihil.yang dahsyat. Akal X menghasilkan hanya Bumi. Akal VI menghasilkan Akal VII dan Matahari. yaitu zaman tak bermula. Ibn Sina dan filsuf-filsuf Islam yang menganut paham emanasi. Akal II melalui Akal III dan demikianlah seterusnya sampai ke penciptaan Bumi melalui Akal X. dalam arti tidak mempunyai permulaan dalam zaman. air dan tanah adalah pula qadim. dan inilah tauhid yang murni dalam pendapat al-Farabi. Begitulah Akal selanjutnya berfikir tentang Tuhan dan menghasilkan Akal dan berpikir tentang dirinya sendiri dan menghasilkan planet-planet. Karena Tuhan beffikir semenjak qidam. . Pemikiran Akal X tentang Tuhan tidak lagi menghasilkan Akal. Akal IX menghasilkan Akal X dan Bulan. Dalam diri Tuhan tidak terdapat arti banyak. Pemikirannya tentang Tuhan menghasilkan Akal II dan pemikirannya tentang dirinya menghasilkan Langit Pertama. Dengan demikian diperolehlah gambaran berikut: Akal III menghasilkan Akal IV dan Saturnus. tetapi melalui Akal I yang esa. Akal V menghasilkan Akal VI dan Mars. Dengan lain kata Akal I. maka daya itu menciptakan sesuatu. Memang tiap-tiap Akal itu mengurus planet yang diwujudkannya. Akal VII menghasilkan Akal VIII dan Venus. cukup kuat lagi untuk menghasilkan Demikianlah gambaran alam dalam astronomi yang diketahui di zaman Aristoteles dan zaman al-Farabi. Obyek pemikiran Akal I adalah Tuhan dan dirinya sendiri. air dan tanah. Sesuatu mesti diciptakan dari suatu yang telah ada. dan Akal I melalui Akal II. Dari sinilah timbul pengertian alam qadim. Maka materi asal timbul bukan dari tiada. Pemikiran Akal X tidak Akal. Ak al VIII menghasilkan Akal IX dan Merkuri. udara. karena tidak ada lagi planet yang akan diurusnya. Jadi. Yang diciptakan pemikiran Tuhan tentang diriNya itu adalah Akal I. Tuhan tidak langsung menciptakan yang banyak ini. udara. Akal IV menghasilkan Akal V dan Yupiter. Yang Maha Esa menciptakan yang esa. Dalam diri yang esa atau Akal I inilah mulai terdapat arti banyak. Akal dalam pendapat filsuf Islam adalah malaikat. Akal II dan seterusnya serta materi asal yang empat api. Pemikirannya tentang Tuhan menghasilkan Akal III dan pemikirannya tentang dirinya sendiri menghasilkan Alam Bintang. Akal II juga mempunyai obyek pemikiran. tetapi melalui Akal atau malaikat.

dan daya menangkap dengan pancaindra. Sama dengan al-Farabi ia membagi jiwa kepada tiga bagian: 1. v. 2. Jiwa manusia. Jiwa binatang yang mempunyai daya gerak.(bersambung 2/3) Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah Editor: Budhy Munawar-Rachman Penerbit Yayasan Paramadina Jln. Akal teoritis. Akal terbagi dua: a. . Jiwa tumbuh-tumbuhan yang mempunyai daya makan. Akal praktis. Dan (b) Indra dalam yang berada di otak dan terdiri dari: i.13. pindah dari satu tempat ke tempat. roh dan malaikat. Indra penganggap yang menangkap arti-arti yang terlindung dalam gambar-gambar tersebut. Indra bersama yang menerima kesan-kesan yang diperoleh pancaindra. (021) 7501969. tumbuh dan berkembang biak.Indra pereka yang mengatur gambar-gambar ini. yaitu pendengaran. rasa dan raba. yang tak pernah ada dalam materi seperti Tuhan. 7501983. penglihatan. yang menangkap arti-arti murni. FILSAFAT ISLAM (2/3) oleh Harun Nasution Selain kemahaesaan Tuhan. yang terbagi dua: (a) Indra luar. ii. UA 20-21 Jakarta Selatan Telp. yang menerima arti-arti yang berasal dari materi melalui indra pengingat yang ada dalam jiwa binatang. Metro Pondok Indah Pondok Indah Plaza I Kav. Indra penggambar yang melepaskan gambar-gambar dari materi. yaitu berfikir yang disebut akal. yang dibahas filsuf-filsuf Islam ada pula soal jiwa manusia yang dalam falsafat Islam disebut al-nafs. Indra pengingat yang menyimpan arti-arti itu.-------------------------------------------. iii. Filsafat yang terbaik mengenai ini adalah pemikiran yang diberikan Ibn Sina (980-1037M). 3. 7507173 Fax. (021) 7507174 Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota Please direct any suggestion to Media Team Artikel Yayasan Paramadina Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota III. yang mempunyai hanya satu daya. iv. b.

orang itu dekat menyerupai binatang. Akal aktual. Kedua jiwa ini. bahkan badan bisa menjadi penghalang baginya dalam menangkap arti-arti murni.Akal praktis memusatkan perhatian kepada alam materi. Akal bakat. Karena itu balasan yang akan diterimanya bukan di dunia. Dan dalam hal ini akal praktis mempunyai malaikat. Makin banyak arti yang diteruskan otak kepadanya makin kuat daya akal untuk menangkap arti-arti murni. yang telah mulai dapat menangkap arti-arti murni. karena otaklah. Tetapi kalau ia teruskan akal teoritis akan berkembang dengan baik. yang telah mudah dan lebih banyak menangkap arti-arti murni. dan jelas bahwa yang terpenting diantaranya adalah jiwa berpikir manusia yang disebut akal itu Akal praktis. sebagaimana dilihat di atas. Kalau akal sudah sampai kepada kesempurnaan. Akal inilah yang mengontrol badan manusia. Tetapi jika jiwa manusia yang berpengaruh terhadap dirinya maka ia dekat menyerupai malaikat. Jiwa tumbuh-tumbuhan dan binatang lenyap dengan matinya tubuh karena keduanya hanya mempunyai fungsi-fungsi fisik seperti dijelaskan sebelumnya. berlainan dengan kedua jiwa di atas fungsinya tidak berkaitan dengan yang bersifat fisik tetapi yang bersifat abstrak dan rohani. kalau terpengaruh oleh materi. jiwa manusia adalah . tidak meneruskan arti-arti. Sifat seseorang banyak bergantung pada jiwa mana dari tiga yang tersebut di atas berpengaruh pada dirinya. tetapi di akhirat. sedang akal teoritis kepada alam metafisik. yang diciptakan Tuhan setiap ada janin yang siap untuk menerima jiwa. yang pada mulanya menolong akal untuk menangkap arti-arti. Jika jiwa tumbuh-tumbuhan dan binatang yang berpengaruh. karena telah memperoleh balasan di dunia ini tidak akan dihidupkan kembal di akhirat. yang diterimanya dari indra pengingat dalam jiwa binatang. Akal potensial dalam arti akal yang mempunyai potensi untuk menangkap arti-arti murni. sehingga hawa nafsu yang terdapat di dalamnya tidak menjadi halangan bagi akal praktis untuk membawa manusia kepada kesempurnaan. Akal perolehan yang telah sempurna kesanggupannya menangkap arti-arti murni. Setelah tubuh manusia mati. jiwa tak berhajat lagi pada badan. Jiwa manusia. Akal inilah yang dapat menangkap arti-arti murni yang dipancarkan Tuhan melalui Akal X ke Bumi. Akal tingkat keempat inilah yang tertinggi dan dimiliki filsuf-filsuf. 2. Jiwa tumbuh-tumbuhan dan jiwa binatang akan lenyap dengan hancurnya tubuh kembali menjadi tanah. Kalau jiwa tumbuh tumbuhan dan binatang tidak kekal. Akal teoritis mempunyai empat tingkatan: 1. Jiwa manusia mempunyai wujud tersendiri. yang akan tinggal menghadapi perhitungan di depan Tuhan adalah jiwa manusia. 3. ke akal teoritis. 4. Jiwa berhajat kepada badan manusia. Dalam diri manusia terdapat tiga macam jiwa ini.

Inilah yang mendorong al-Ghazali untuk mencap kafir filsuf yang percaya bahwa alam ini qadim. Dan ini berarti tidak diciptakan. Inilah sepuluh dari duapuluh kritikan yang dimajukan al-Ghazali (1058-1111 M) terhadap pemikiran para filsuf Islam. Ini membawa pula kepada ateisme. dosa besar yang dalam al-Qur'an disebut tak dapat diampuni Tuhan.kekal. Karena Tuhan dalam filsafat emanasi tak boleh berhubungan langsung dengan yang banyak dan hanya berfikir tentang diriNya Yang Maha Esa. menurut al-Ghazali membawa mereka kepada kekufuran. Politeisme dan ateisme jelas bertentangan sekali dengan ajaran dasar Islam tauhid yang sebagaimana dilihat di atas para filsuf mengusahakan Islam memberikan arti semurni-murninya. illallah. pembangkitan jasmani tak ada. Demikianlah beberapa aspek penting dari falsafat Islam. Tiga. Alam qadim dalam arti tak bermula dalam zaman 2. Konsep alam qadim membawa kepada kekufuran dalam pendapat al-Ghazali karena qadim dalam filsafat berarti sesuatu yang wujudnya tidak mempunyai permulaan dalam zaman yaitu tidak pernah tidak ada di zaman lampau. tak bermula dalam zaman dan baqin. Ini membawa kepada paham syirk atau politeisme. Karena akal I. II dan seterusnya itulah yang mengetahui juz'iat atau kekhususan yang terjadi di alam ini. Jika ia telah mencapai kesempurnaan sebelum berpisah dengan badan ia akan mengalami kebahagiaan di akhirat. Tidak diciptakan bisa pula berarti tidak perlu adanya Pencipta yaitu Tuhan. timbul pendapat bahwa Tuhan tidak mengetahui juz'iat. Pembangkitan jasmani tak ada 3. Sebagai orang yang banyak berkecimpung dalam bidang sains para filsuf percaya pula kepada tidak berubahnya hukum alam. . Tetapi kalau ia berpisah dari badan dalam keadaan belum sempurna ia akan mengalami kesengsaraan kelak. diantara sepuluh itu. Karena inti manusia adalah jiwa berfikir untuk memperoleh kesempurnaan. Tuhan tidak mengetahui perincian yang terjadi di alam. Kalau alam qadim. yaitu: 1. Sebagai seorang Mu'tazilah al-Kindi juga tidak percaya pada adanya sifat-sifat Tuhan. tak mempunyai akhir dalam zaman. maka alam adalah pula Tuhan dan terdapatlah dua Tuhan. yaitu perincian yang ada dalam alam ini. Maka syahadat dalam teologi Islam adalah: la qadima. tidak ada yang qadim selain Allah. II dan seterusnyalah yang mengatur planet-planet maka Akal I. Pemurnian itu membawa al-Farabi pula kepada falsafat emanasi yang di dalamnya terkandung pemikiran alam qadim. Yang tidak diciptakan adalah Tuhan. Dari paham bahwa jiwa manusialah yang akan menghadapi perhitungan kelak timbul faham tidak adanya pembangkitan jasmani yang juga dikritik al-Ghazali. Tuhan mengetahui hanya yang bersifat universal. Pemurnian konsep tauhid membawa al-Kindi kepada pemikiran Tuhan tidak mempunyai hakikat dan tak dapat diberi sifat jenis (al-jins) serta diferensiasi (al-fasl). yang ada hanyalah semata-mata zat.

3. Teologi baru itu dibawa oleh al-Asy'ari (873-935) yang pada mulanya adalah salah satu tokoh teologi rasional. Sesudah al-Ghazali." Maka pengkafiran di sini berdasar atas berlawanannya falsafat tidak adanya pembangkitan jasmani dengan teks al-Qur'an yang adalah wahyu dari Tuhan. Pengkafiran al-Ghazali ini membuat orang di dunia Islam bagian timur dengan Baghdad sebagai pusat pemikiran menjauhi falsafat. Sebagai umpama dapat disebut ayat 59 dari surat al-An'am: Tiada daun yang jatuh yang tidak diketahui-Nya. Oleh sebab-sebab yang belum begitu jelas ia meninggalkan paham Mu'tazilahnya dan munculkan sebagai lawan dari teologi Mu'tazilah teologi baru yang kemudian dikenal dengan nama teologi al-Asy'ari. Karena itu hukum alam dalam teologi ini. Dengan demikian bagi mereka api tidak sesuai dengan hukum alam selamanya membakar tetapi biasanya membakar sesuai dengan kehendak mutlak Tuhan. Mereka tidak mengambil arti tersurat dari wahyu untuk menyesuaikannya dengan pemikiran ilmiah dan filosofis. yang ada ialah kebiasaan alam. Jelas teologi tradisional al-Asy'ari ini tidak mendorong pada berkembangnya pemikiran ilmiah dan filosofis sebagaimana halnya dengan teologi rasional Mu'tazilah. Manusia di sini bersikap statis. tak terdapat.Mengenai masalah kedua pembangkitan jasmani tak ada. Katakanlah: Yang menghidupkan adalah Yang Menciptakannya pertama kali. Pemikiran teologi al-Asy'ari bertitik tolak dari paham kehendak mutlak Tuhan. Sebagai lawan dari teologi rasional Mu'tazilah teologi Asy'ari bercorak tradisional. Tidak mengherankan kalau sesudah zaman . Tuhan tidak mengetahui perincian yang ada di alam juga didasarkan atas keadaan falsafat itu. Karena akal lemah manusia dalam teologi ini merupakan manusia lemah dekat menyerupai anak yang belum dewasa yang belum bisa berdiri sendiri tetapi masih banyak bergantung pada orang lain untuk membantunya dalam hidupnya. berlawanan dengan teks ayat dalam al-Qur'an. 2. Manusia dan alam ini diatur Tuhan menurut kehendak mutlakNya dan bukan menurut peraturan yang dibuatnya. Dalam teologi ini akal mempunyai kedudukan rendah sehingga kaum Asy'ari banyak terikat kepada arti lafzi dari teks wahyu. teologi tradisional inilah yang berkembang di dunia Islam bagian Timur. sedangkan teks ayat-ayat dalam al-Qur'an menggambarkan adanya pembangkitan jasmani itu. Teologi ini mengajarkan paham jabariah atau fatalisme yaitu percaya kepada kada dan kadar Tuhan. Apalagi di samping pengkafiran itu al-Ghazali mengeluarkan pendapat bahwa jalan sebenarnya untuk mencapai hakikat bukanlah filsafat tetapi tasawuf. Corak tradisionalnya dilihat dari hal-hal 1. Umpamanya ayat 78/9 dari surat Yasin "Siapa yang menghidupkan tulang-tulang yang telah rapuh ini?. Dalam pada itu sebelum zaman al-Ghazali telah muncul teologi baru yang menentang teologi rasional Mu'tazilah. Pengkafiran tentang masalah ketiga.

telah ada sesuatu di sampingNya. konsep al-Ghazali bahwa alam hadis. Tapi Ibn Rusyd-lah (1126-1198 M) yang mengarang buku Tahafut al-Tahafut sebagai jawaban terhadap kritik-kritik Al-Ghazali yang ia uraikan dalam Tahafut al-Falasifah. 1185 M) dalam bukunya Hayy Ibn Yaqzan malahan menghidupkan pendapat Mu'tazilah bahwa akal manusia begitu kuatnya sehingga ia dapat mengetahui masalah-masalah keagamaan seperti adanya Tuhan. seperti yang terdapat dalam falsafat emanasi Al-Farabi dan Ibn Sina. FILSAFAT ISLAM (3/3) oleh Harun Nasution Di dunia Islam bagian Barat yaitu di Andalus atau Spanyol Islam. Ibn Bajjah (1082-1138) dalam bukunya Risalah al-Wida'. (021) 7501969.13. Dan akal orang yang terpencil di suatu pulau. kebaikan serta kejahatan dan kewajiban manusia berbuat baik dan menjauhi perbuatan jahat. tidak ada sesuatu di samping Tuhan. 7501983. alam tidak mempunyai permulaan dalam zaman. alam mempunyai permulaan dalam zaman. wajibnya manusia berterimakasih kepada Tuhan. Ayat 7 dari surat Hud umpamanya mengatakan. Tuhan menciptakan alam dari tiada atau nihil. Konsep serupa ini. sebaliknya pemikiran filsafat masih berkembang sesudah serangan al-Ghazali tersebut. menurut Ibn Rusyd mengandung arti bahwa ketika Tuhan menciptakan alam. tidak sesuai dengan kandungan al-Qur'an. kelihatannya mencela al-Ghazali yang berpendapat bahwa bukanlah akal tetapi al-dzauq dan ma'rifat sufilah yang membawa orang kepada kebenaran yang meyakinkan. dengan kata lain. UA 20-21 Jakarta Selatan Telp. Metro Pondok Indah Pondok Indah Plaza I Kav. 7507173 Fax. Didalam al-Qur'an digambarkan bahwa sebelum alam diciptakan Tuhan. Mengenai masalah pertama qidam al-alam.al-Ghazali ilmu dan falsafat tak berkembang lagi di Baghdad sebagaimana sebelumnya di zaman Mu'tazilah dan filsuf-filsuf Islam. kata Ibn Rusyd. . Ibn Tufail (w. di ketika itu berada dalam kesendirianNya. dapat mencapai kesempurnaan sehingga ia sanggup menerima pancaran ilmu dari Tuhan.(bersambung 3/3) Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah Editor: Budhy Munawar-Rachman Penerbit Yayasan Paramadina Jln. jauh dari masyarakat manusia. Dalam hal-hal ini wahyu datang untuk memperkuat akal. -------------------------------------------. (021) 7507174 Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota Please direct any suggestion to Media Team Artikel Yayasan Paramadina Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota III. Tuhan.

dan air serta uap adalah satu. Apakah orang-orang yang tak percaya tidak melihat bahwa langit dan bumi (pada mulanya) adalah satu dan kemudian Kami pisahkan. Sesungguhnya Allah Maha Kuasa dan Maha Pemberi balasan di hari bumi ditukar dengan bumi yang lain dan . Demikian pula langit. Kami ciptakan manusia dari inti sari tanah. tetapi juga berarti sesuatu yang diciptakan dalam keadaan terus menerus. Dan yang qadim adalah materi asal. Ibn Sina dan filsuf-filsuf lain. karena qadim dalam pemikiran filsafat bukan hanya berarti sesuatu yang tidak diciptakan. menurut penjelasan Ibn Rusyd tidak membawa kepada politeisme atau ateisme. Di sini yang ada di samping Tuhan adalah uap. Yang sesuai dengan kandungan al-Qur'an sebenarnya adalah konsep al-Farabi. Dengan demikian sungguhpun alam qadim." yang terjadi ialah "ada" berubah menjadi "ada" dalam bentuk lain. Dengan ayat-ayat serupa inilah Ibn Rusyd menentang pendapat al-Ghazali bahwa alam diciptakan Tuhan dari tiada dan bersifat hadis dan menegaskan bahwa pendapat itu tidak sesuai dengan kandungan al-Qur'an. Jelas disebut dalam ayat ini. alam bukan Tuhan. bahwa ketika Tuhan menciptakan langit dan bumi telah ada di samping Tuhan." kata Ibn Rusyd tidak bisa berubah menjadi "ada. tetapi dari "ada. kata Ibn Rusyd. Manusia di dalam al-Qur'an diciptakan bukan dari "tiada" tetapi dari sesuatu yang "ada. Qadimnya alam." seperti yang dikatakan para filsuf. kata khalaqa di dalam al-Qur'an. Filsafat memang tidak menerima konsep penciptann dari tiada (creatio ex nihilo). "ada" dalam bentuk materi asal yang empat dirubah Tuhan menjadi "ada" dalam bentuk bumi. Adapun langit dan bumi susunannya adalah baru (hadis).Dan Dia-lah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam hari dan takhtaNya (pada waktu itu) berada di atas air. Di samping itu. Kami jadikan segala yang hidup dari air." seperti yang dikatakan al-Ghazali." yaitu intisari tanah seperti disebut oleh ayat di atas. mulai dari zaman tak bermula di masa lampau sampai ke zaman tak berakhir di masa mendatang. menjelaskan. air. Kemudian Ia pun naik ke langit sewaktu ia masih merupakan uap. Selanjutnya ayat 30 dari surat al-Anbia' mengatakan pula. Ayat 47/8 dari surat Ibrahim menyebut: Janganlah sangka bahwa Allah akan menyalahi janji bagi rasul-rasulNya. tetapi adalah Pencipta dan alam qadim berarti alam diciptakan dalam keadaan terus menerus dari zaman tak bermula ke zaman tak berakhir. "Tiada. Jadi Tuhan qadim berarti Tuhan tidak diciptakan. Bahwa alam yang terus menerus dalam keadaan diciptakan ini tetap akan ada dan baqin digambarkan juga oleh al-Qur'an. Dalam hal bumi. tetapi adalah ciptaan Tuhan. menggambarkan penciptaan bukan dari "tiada. Ayat 11 dari Ha Mim menyebut pula. Ayat 12 dari surat al-Mu'minun. Ayat ini mengandung arti bahwa langit dan bumi pada mulanya berasal dari unsur yang satu dan kemudian menjadi dua benda yang berlainan.

(demikian pula) langit. Di hari perhitungan atau pembalasan nanti, tegasnya di hari kiamat, Tuhan akan menukar bumi ini dengan bumi yang lain dan demikian pula langit sekarang akan ditukar dengan langit yang lain. Konsep ini mengandung arti bahwa pada hari kiamat bumi dan langit sekarang akan hancur susunannya dan menjadi materi asal api, udara, air dan tanah kembali; dari keempat unsur ini Tuhan akan menciptakan bumi dan langit yang lain lagi. Bumi dan langit ini akan hancur pula, dan dari materi asalnya akan diciptakan pula bumi dan langit yang lain dan demikianlah seterusnya tanpa kesudahan. Jadi pengertian qadim sebagai sesuatu yang berada dalam kejadian terus menerus adalah sesuai dengan kandungan al-Qur'an. Dengan demikian al-Ghazali tidak mempunyai argumen kuat untuk mengkafirkan filsuf dalam filsafat mereka tentang qadimnya alam. Kedua-duanya, kata Ibn Rusyd, yaitu pihak al-Farabi dan pihak al-Ghazali sama-sama memberi tafsiran masing-masing tentang ayat-ayat al-Qur'an mengenai penciptaan alam. Yang bertentangan bukanlah pendapat filsuf dengan al-Qur'an, tetapi pendapat filsuf dengan pendapat al-Ghazali. Mengenai masalah kedua, Tuhan tidak mengetahui perincian yang terjadi di alam, Ibn Rusyd menjelaskan bahwa para filosof tak pernah mengatakan demikian. Menurut mereka Tuhan mengetahui perinciannya; yang mereka persoalkan ialah bagaimana Tuhan mengetahui perincian itu. Perincian berbentuk materi dan materi dapat ditangkap pancaindra, sedang Tuhan bersifat immateri dan tak mempunyai pancaindra. Dalam hal pembangkitan jasmani, Ibn Rusyd menulis dalam Tahafut al-Tahafut bahwa filsuf-filsuf Islam tak menyebut hal itu. Dalam pada itu ia melihat adanya pertentangan dalam ucapan-ucapan al-Ghazali. Di dalam Tahajut al-Falasifah ia menulis bahwa dalam Islam tidak ada orang yang berpendapat adanya pembangkitan rohani saja, tetapi di dalam buku lain ia mengatakan, menurut kaum sufi, yang ada nanti ialah pembangkitan rohani dan pembangkitan jasmani tidak ada. Dengan demikian al-Ghazali juga tak mempunyai argumen kuat untuk mengkafirkan kaum filsuf dalam pemikiran tentang tidak tahunya Tuhan tentang perincian di alam dan tidak adanya pembangkitan jasmani. Ini bukanlah pendapat filsuf, dan kelihatannya adalah kesimpulan yang ditarik al-Ghazali dari filsafat mereka. Dalam pada itu Ibn Rusyd, sebagaimana para filsuf Islam lain, menegaskan bahwa antara agama dan falsafat tidak ada pertentangan, karena keduanya membicarakan kebenaran, dan kebenaran tak berlawanan dengan kebenaran. Kalau penelitian akal bertentangan dengan teks wahyu dalam al-Qur'an maka dipakai ta'wil; wahyu diberi arti majazi. Arti ta'wil adalah meningga]kan arti lafzi untuk pergi ke arti majazi. Dengan kata lain, meninggalkan arti tersurat dan mengambil arti tersirat. Tetapi arti tersirat tidak boleh disampaikan kepada kaum awam, karena mereka tak dapat memahaminya. Antara filsafat dan agama Ibn Rusyd mengadakan harmoni. Dan dalam harmoni ini akal mempunyai kedudukan tinggi. Pengharmonian akal dan wahyu ini sampai ke Eropa dan di sana dikenal dengan averroisme. Salah satu ajaran averroisme ialah

kebenaran ganda, yang mengatakan bahwa pendapat filsafat benar, sungguhpun menurut agama salah. Agama mempunyai kebenarannya sendiri. Dan averroisme inilah yang menimbulkan pemikiran rasional dan ilmiah di Eropa. Tak lama sesudah zaman Ibn Rusyd umat Islam di Spanyol mengalami kemunduran besar dan kekuasaan luas Islam sebelumnya hanya tinggal di sekitar Granada di tangan Banu Nasr. Pada 1492 dinasti ini terpaksa menyerah kepada Raja Ferdinand dari Castilia. Dengan hilangnya Islam dari Andalus atau di Spanyol, hilang pulalah pemikiran rasional dan ilmiah dari dunia Islam bagian barat. Di dunia Islam bagian timur, kecuali di kalangan Syi'ah, teologi tradisional al-Asy'ari dan pendapat al-Ghazali bahwa jalan tasawuf untuk mencapai kebenaran adalah lebih meyakinkan dari pada jalan filsafat. Hilanglah pemikiran rasional, filosofis dan ilmiah dari dunia Islam sunni sehingga datang abad XIX dan umat Islam dikejutkan oleh kemajuan Eropa dalam bidang pemikiran, filsafat dan sains, sebagaimana disebut di atas, berkembang di Barat atas pengaruh metode berpikir Ibn Rusyd yang disebut averroisme. Semenjak itu pemikiran rasional mulai ditimbulkan oleh pemikir-pemikir pembaruan seperti al-Afghani, Muhammad Abduh, Sayyid Ahmad Khan, dan lain-lain. DAFTAR KEPUSTAKAAN De Boer, TJ., History of Philosophy in Islam, Tranl. E.R. Jones, London, Luzac & Co., 1970. Al-Farabi, Rasail, Hyderabad, t.t. Al-Ghazali, Tahafut al-Falasifah, Kairo, Dar al-Ma'arif, 1966. Al-Ghazali, Al-Munqiz min al-Dalal, Cairo, al-Maktab al-Fanni, 1961. Harun Nasution, Falsafah dan Mistisisme dalam Islam, Jakarta, Bulan Bintang, 1983. Ibn Rusyd, Tahafut al-Tahafut, Kairo, Dar al-Ma'arif, 1964. Ibn Rusyd, Fals al-Maqal, London, J.E. Brill, 1969. Ibn Sina, Al-Najah, Kairo, M.B. al-Halabi, 1938. O. Leary, De Lacy, How Greek Science Passed to The Arabs, London, Routledge & Kegan Paul, 1964. Sharif M.M., ed., A History of Muslim Philosophy, Weisbaden, 1963. -------------------------------------------Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah Editor: Budhy Munawar-Rachman Penerbit Yayasan Paramadina Jln. Metro Pondok Indah Pondok Indah Plaza I Kav. UA 20-21 Jakarta Selatan Telp. (021) 7501969, 7501983, 7507173 Fax. (021) 7507174 Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan

ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota
Please direct any suggestion to Media Team

Artikel Yayasan Paramadina
Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota III.12. KEKUATAN DAN KELEMAHAN PAHAM ASY'ARI (1/3) SEBAGAI DOKTRIN AKIDAH oleh Zainun Kamal Paham teologi Asy'ari termasuk paham teologi tradisional, yang mengambil posisi antara ekstrim rasionalis yang menggunakan metafor dan golongan ekstrim tekstualis yang leterlek. Ia mengambil posisi di antara aliran Mu'tazilah dan Salafiyah, tetapi "benang merah" sebagai jalan tengah yang diambilnya tidak begitu jelas. Suatu kali ia memihak Mu'tazilah, lain kali cenderung ke Salafiyah, dan lain kali lagi, mengambil kedua pendapat dari kedua aliran yang bertentangan itu lalu mengkompromikannya menjadi satu. [1] Untuk meninjau pemikiran-pemikiran al-Asy'ari lebih baik memaparkan lebih dulu sejarah hidupnya meski secara ringkas. Dengan pemaparan ini akan terlihat gambaran latar belakang pemikirannya. Sebab suatu pemikiran merupakan hasil refleksi zaman dan kondisi dari suatu masyarakat. Dan al-Asy'ari juga tidak lepas dari konteks zaman dan maksyarakatnya sendiri. Sebenarnya, nama asli Imam Asy'ari adalah Ali Ibn Ismail [2] -keluarga Abu Musa al-Asy'ari. [3] Panggilan akrabnya Abu al-Hasan [4]. Dia dilahirkan di Bashrah pada 260 H./875 M [5] -saat wafatnya filsuf Arab muslim al-Kindi. [6] Ia wafat di Baghdad pada tahun 324 H./935 M. Abu al-Hasan al-Asy'ari pada mulanya belajar membaca, menulis dan menghafal al-Qur'an dalam asuhan orang tuanya, yang kebetulan meninggal dunia ketika ia masih kecil. Selanjutnya dia belajar kepada ulama Hadits, Fiqh, Tafsir dan bahasa antara lain kepada al-Saji, Abu Khalifah al-Jumhi, Sahal Ibn Nuh, Muhammad Ibn Ya'kub, Abdur Rahman Ibn Khalf dan lain-lain. [7] Demikian juga ia belajar Fiqih Syafi'i kepada seorang faqih: Abu Ishak al-Maruzi (w. 340 H./951 M.) -seorang tokoh Mu'tazilah di Bashrah. Sampai umur empat puluh tahun ia selalu bersama ustaz al-Juba'i, serta ikut berpartisipasi dalam mempertahankan ajaran-ajaran Mu'tazilah. [9] Pada tahun 300 H./915 M dalam usia 40 tahun, Abu al-Hasan al-Asy'ari meninggalkan ajaran-ajaran Mu'tazilah. Untuk hal ini terdapat beberapa pendapat mengenai sebab-sebab meninggalkan atau keluar dari Mu'tazilah. Sebab klasik yang biasa disebut perpisahan dia dengan gurunya karena terjadinya dialog antara keduanya tentang salah satu ajaran pokok Mu'tazilah, yaitu masalah "keadilan Tuhan." Mu'tazilah berpendapat, "semua perbuatan Tuhan tidak kosong dari manfaat dan kemashlahatan. Tuhan tidak menghendaki sesuatu, kecuali bermanfaat bagi manusia, bahkan Dia mesti menghendaki yang baik dan terbaik untuk kemashlahatan manusia. Paham ini di sebut al-Shalah wa 'l-Ashlah. [10]

Dialog tersebut berlangsung sebagai berikut: Al-Asy'ari (A) - Bagaimana pendapat tuan tentang nasib tiga orang bersaudara setelah wafat; yang tua mati dalam bertaqwa; yang kedua mati kafir; dan yang ketiga mati dalam keadaan masih kecil. Aldubba'i (J) - yang taqwa mendapat terbaik; yang kafir masuk neraka; dan yang kecil selamat dari bahaya neraka. A - Kalau yang kecil ingin mendapatkan tempat yang lebih baik di Sorga, mungkinkah? J - Tidak, karena tempat itu hanya dapat dicapai dengan jalan ibadat dan kepatuhan kepada Tuhan. Adapun anak kecil belum mempunyai ibadat dan kepatuhan kepada-Nya. A- Kalau anak kecil itu mengatakan kepada Tuhan: itu bukan salahku. Sekiranya Engkau bolehkan aku terus hidup, aku akan mengerjakan perbuatan baik seperti yang dilakukan oleh yang taqwa itu. J - Allah akan menjawab kepada anak kecil itu, Aku tahu, jika engkau terus hidup, engkau akan berbuat maksiat dan engkau akan mendapat siksa; maka Saya (Allah - Red) matikan engkau adalah untuk kemaslahatanmu. A - Sekiranya saudaranya yang kafir mengatakan, "Ya Tuhanku Engkau ketahui masa depanku sebagaimana Engkau ketahui masa depannya, mengapa Engkau tidak jaga kepentinganku? Al-Jubba'i menjawab, "Engkau gila, (dalam riwayat lain dikatakan, bahwa Al-Jubba'i hanya terdiam dan tidak menjawab). [11] Dalam percakapan di atas, al-Jubba'i, jagoan Mu'tazilah itu, tampaknya dengan mudah saja dapat ditumbangkan oleh al-Asy'ari. Tetapi dialog ini kelihatannya hanyalah sebuah ilustrasi yang dibuat para pengikut al-Asy'ari sendiri untuk memperlihatkan perbedaan logikanya dengan logika orang-orang Mu'tazilah. Bagi Mu'tazilah, si anak kecil tentu tidak akan mengajukan protes kepada Allah, karena dia sendiri tahu, bahwa sesuai dengan keadilan Tuhan, tempat yang cocok untuknya memang di sana. Kalau Tuhan menempatkan anak kecil sederajat dengan tempat orang yang taqwa, tentu dia sendiri akan merasakan bahwa Tuhan sudah tidak adil lagi terhadap dirinya. Sebab, tempatnya memang bukanlah seharusnya sederajat dengan orang-orang yang taqwa. Di alam akhirat, menurut Mu'tazilah, tidak ada lagi perdebatan tentang keadilan Tuhan. Di sana, manusia sudah mendapati al-Wa'ad wa al-Wa'id. Dia sudah menepati janji. Yang taqwa mendapat sorga, yang kafir mendapat neraka, dan jika di sana terdapat yang meninggal dunia dalam keadaan masih kecil, baik anak-anak orang mukmin atau kafir, maka bagi mereka tidak ada alasan untuk disiksa, karena Tuhan Maha Suci dari penganiayaan. [12] Bagi yang kafir lebih tidak punya alasan lagi. Sebab, Tuhan

lebih memperhatikan kemaslahatannya di dunia. Tuhan tidak menghendaki kekafirannya. Berarti, jika ia kafir sama artinya dengan kehendak diri sendiri. Sementara, dia sendiri sudah tahu akibat kekafirannya, karena ia diberi akal dan petunjuk. [13] Jadi, kalau yang kafir harus menyalahkan Tuhan atas kehendak dan perbuatannya sendiri, maka ia dianggap oleh Memorandum suatu pemikiran yang tidak rasional. Sebab lain yang biasa disebutkan adalah meninggalkan ajaran-ajaran Mu'tazilah karena pernah bermimpi melihat Rasulullah saw sebanyak tiga kali. Mimpi itu terjadi pada bulan Ramadhan. Mimpi pertama terjadi pada tanggal 10; mimpi kedua pada tanggal duapuluh, dan mimpi ketiga pada tanggal tigapuluh. [14] Dalam mimpi yang terjadi pada bulan Ramadlan itu Rasulullah menyampaikan bahwa madzhab ahli haditslah yang benar, karena itulah madzhabnya yang berasal dari saya. [15] Diriwayatkan bahwa al-Asy'ari sebelum mengambil keputusan untuk keluar dari Mu'tazilah, ia mengisolir diri di rumahnya selama limabelas hari. Sesudah itu ia pergi ke mesjid lalu naik mimbar dan menyampaikan: "Saya dulu mengatakan, bahwa al-Qur'an adalah makhluk; Allah swt. tidak dapat dilihat dengan pandangan mata orang mukmin di akhirat dan perbuatan jahat adalah perbuatan saya sendiri. Sekarang saya taubat dari semuanya itu. Saya lemparkan keyakinan-keyakinan lama saya, sebagaimana saya lemparkan baju ini (isyarat pada jubahnya). Dan saya keluar dari kekejian dan skandal Mu'tazilah." [16] Terlepas dari soal sesuai atau tidaknya uraian di atas dengan fakta sejarah; maka dari sisi lain dapat pula kita ungkapkan sebab yang mendorong al-Asy'ari meninggalkan faham Mu'tazilah. Sebab itu ialah rasa skeptis dan ketidakpercayaannya lagi terhadap kemampuan akal, sebagaimana yang pernah pula dialami oleh al-Ghazali di kemudian hari. Pada kedua tokoh ini terdapat suatu indikasi kesamaan yang sangat mirip. Al-Asy'ari, sebagai contoh pendiri aliran, setelah belajar pada Mu'tazilah, kemudian merasa tidak puas, lantas menyerangnya. Demikian juga halnya dengan al-Ghazali, sebagai benteng pertahanan yang kokoh terhadap aliran al-Asy'ari, setelah ia belajar filsafat, kemudian merasa tidak puas, lalu menyerang pula. Al-Asy'ari memakai ungkapan-ungkapan yang pedas sekali dalam menyerang Mu'tazilah, dengan tuduhan sebagai golongan sesat, penyeleweng, dan majusinya umat. Begitu pula al-Ghazali menyerang para filsuf, dengan tuduhan sebagai golongan bid'ah dan kufur. Al-Asy'ari melakukan sanggahan terhadap Mu'tazilah setelah ia mengetahui benar akan aliran Mu'tazilah itu. Setelah itu ia menulis sebuah buku yang bernama Maqalat al-Islamiyyin yang berisikan kepercayaan aliran-aliran. Dan untuk bantahannya ia menulis lagi sebuah buku yang bernama al-Ibanah. Demikian juga halnya dengan al-Ghazali, setelah mengkaji filsafat secara mendalam, kemudian ia tulis pemikiran-pemikiran filsuf itu dalam sebuah buku yang bernama Maqasid al-Falsafah. Setelah itu, baru ia melakukan bantahan-bantahan terhadap para filsuf dengan mengarang sebuah buku yang bernama Tahafut

al-Falasifah (kesalahan para filsuf). Sebagaimana diketahui, pemegang janji rasional pada masa al-Asy'ari adalah para tokoh Mu'tazilah, karena itu sanggahannya tertuju langsung pada Mu'tazilah. Sementara para filsuf yang dinilai sebagai pewaris pemikiran rasional Mu'tazilah, maka al-Ghazali sebagai pembela ikhlas terhadap aliran al-Asy'ari harus dengan tegas pula melakukan sanggahan terhadap filsuf. Pemikiran al-Asy'ari yang asli baru dapat diketahui setelah ia menyatakan pemisahan dirinya dari Mu'tazilah dan pengakuannya menganut paham aqidah salafiyah aliran Ahmad bin Hambal. [17] Yaitu keimanan yang tidak didasari penyelaman persoalan gaib yang mendalam. Di sisi lain, ia hanya percaya pada akidah dengan dalil yang ditunjuk oleh nash, dan dipahami secara tekstual sebagaimana yang tertulis dalam Kitab suci dan sunnah Rasul. Fungsi akal hanyalah sebagai saksi pembenar dan penjelas dalil-dalil al-Qur'an. [18] Jadi akal terletak di belakang nash-nash agama yang tidak boleh berdiri sendiri. Ia bukanlah hakim yang akan mengadili. Spekulasi apapun terhadap segala sesuatu yang sakral dianggap suatu bid'ah. Setiap dogma harus dipercayai tanpa mengajukan pertanyaan bagaimana dan mengapa. Sekarang permasalahannya ialah, sampai seberapa jauh al-Asy'ari meninggalkan ajaran-ajaran Mu'tazilah dan keikhlasannya terhadap ajaran Salafiyah. Untuk mengetahui ajaran-ajaran al-Asy'ari, kita dapat melihat pada kitab-kitab yang ditulisnya, terutama: 1.Maqalat al-Islamiyyin, merupakan karangan yang pertama dalam soal-soal kepercayaan Islam. Buku ini menjadi sumber yang penting, karena ketelitian dan kejujuran pengarangnya. Buku ini terdiri -dari tiga bagian: a.Tinjauan tentang golongan-golongan dalam Islam b.Aqidah aliran Ashhab al-Hadits dan Ahl al-Sunnah, dan c.Beberapa persoalan ilmu Kalam. 2.Al-Ibanah 'an Ushul al-Diyanah, berisikan uraian tentang kepercayaan Ahl al-Sunnah dan pernyataan penghargaannya terhadap persoalan-persoalan yang banyak dan penting. Dalam buku ini ia menyerang dengan pedas aliran Mu'tazilah. 3.Kitab al-Luma' fi al-Radd 'ala ahl al-Zaigh wa al-bida', berisikan sorotan terhadap lawan-lawannya dalam beberapa persoalan ilmu Kalam. Para ahli mempertanyakan tentang perbedaan kandungan yang terdapat pada kedua kitabnya al-Ibanah dan al-Luma'. Yang pertama, peranan naql lebih tinggi ketimbang akal. Dalam arti, Salafiahnya lebih dominan dibandingkan Mu'tazilah. Sedangkan buku kedua (al-Luma'), peranan akal lebih tinggi dalam memahami nash-nash. Di sini terlihat adanya anjuran kembali untuk memahami nash-nash agama dengan metode ilmu kalam. [19] Perbedaan ini bisa terjadi, karena al-Asy'ari pada kitabnya al-Ibanah ditulisnya langsung setelah pernyataannya keluar dari Mu'tazilah. Jadi, secara psikologis, bukunya dalam rangka menonjolkan sikap loyalnya terhadap kaum Salafi,

sebagai rekan barunya. Dan sikap kebenciannya terhadap Mu'tazilah karena penilaiannya sebagai musuh yang sedang dihadapinya, meski dulu teman akrabnya. Sebenarnya, ini dapat dipahami. Sebab, seseorang yang selama ini dijadikan teman baik, oleh karena suatu hal berubah menjadi musuh, maka ia akan memperlihatkan sikap bencinya terhadap musuh itu. Dan sebaliknya akan memperlihatkan sikap loyalnya terhadap teman baru. Karena itu, kitab al-Ibanah mencerminkan tingkat kesunyian secara penuh. Sebaliknya, menampakkan sikap bencinya terhadap Mu'tazilah lebih nyata. Karena itu, kitab al-Ibanah menurut para ahli ditulis langsung setelah al-Asy'ari meninggalkan faham Mu'tazilah. (bersambung 2/3) -------------------------------------------Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah Editor: Budhy Munawar-Rachman Penerbit Yayasan Paramadina Jln. Metro Pondok Indah Pondok Indah Plaza I Kav. UA 20-21 Jakarta Selatan Telp. (021) 7501969, 7501983, 7507173 Fax. (021) 7507174 Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota
Please direct any suggestion to Media Team

Artikel Yayasan Paramadina
Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang YayasanISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota III.12. KEKUATAN DAN KELEMAHAN PAHAM ASY'ARI (2/3) SEBAGAI DOKTRIN AKIDAH oleh Zainun Kamal Lain halnya dengan kitabnya al-Luma', yang ditulis setelah kitab al-Ibanah. Ia sudah mesti mengambil sikap yang jelas. Maka di sini terlihat kembali kajian keagamaan al-Asy'ari dengan dalil-dalil rasional dan membangun ilmu kalamnya sendiri. Dengan demikian, ketika menulis kitab al-Luma', argumentasi rasional al-Asy'ari menonjol kembali dalam memahami nash-nash agama dan terlihat interpretasi metaforisnya (ta'wil). Kecenderungannya pada metode kaum Mu'tazilah inilah yang menyebabkan kaum Hambali menolak paham teologi al-Asy'ari. Hal itu memperlihatkan gambaran yang agak mirip dengan sikap al-Ghazali yang mencoba menyerang para filsuf, tetapi kenyataannya ia tetap mempergunakan metode falsafah dalam kajian keislaman, khususnya logika Aristoteles. Inilah yang dikatakan oleh Ibn Taimiyyah bahwa al-Ghazali telah masuk ke dalam kandang falsafah, kemudian berusaha keluar, dan berputar-putar mencari pintunya, tetapi sudah tidak berdaya lagi untuk keluar. Sebagai penentang Mu'tazilah, sudah barang tentu al-Asy'ari berpendapat, bahwa Tuhan mempunyai sifat. Mustahil Tuhan sendiri merupakan pengetahuan ('Ilm). Yang benar, Tuhan itu

mengetahui (Alim). Tuhan mengetahui dengan pengetahuanNya, bukanlah dengan Zat-Nya. Demikian pula bukan dengan sifat-sifat seperti, sifat hidup, berkuasa, mendengar dan melihat. [20] Disini terlihat, al-Asy'ari menetapkan sifat kepada Tuhan seperti halnya kaum Salafi. Namun cara penafsirannya cukup berbeda. Kaum Salafi hanya menetapkan sifat kepada Allah, sebagaimana teks ayat, tanpa melakukan pembahasan mendalam. Mereka hanya menerima arti dengan jalan kepercayaan, bahwa sifat-sifat Allah berbeda dengan sifat makhluk-Nya. Begitu hati-hatinya mereka dalam menjaga persamaan Allah dengan makhluk-Nya, sehingga mereka mengatakan, "Siapa yang tergerak tangannya, lalu ketika membaca ayat yang berbunyi "Aku (Allah) ciptakan dengan tangan-Ku," lalu ia langsung mengatakan, wajib dipotong tangannya." [21] Lain halnya dengan al-Asy'ari, baginya arti sifat tidak berbeda dengan pengertian sifat bagi Muitazilah. al-Asy'ari, sifat berada pada Zat, tetapi sifat bukan dan bukan pula lain dari Zat. Ungkapan al-Asy'ari seperti ini, kata Dr. Ibrahim Madkour, tidak terlepas paradoks. [22] jauh Bagi Zat, yang dari

Bagi Mu'tazilah, sifat sama dengan Zat. Sifat tidak mempunyai pengertian yang sebenarnya. Jika dikatakan, yang mengetahui ('Alim), maka artinya menetapkan pengetahuan ('Ilm) bagi Allah, dan yang mengetahui itu adalah Zat-Nya sendiri. Dalam hal ini, menetapkan sifat hanya sekedar untuk memahami bahwa Allah bukanlah jahil. Seperti juga mengatakan yang berkuasa (qadir) adalah menetapkan kekuasaan (qudrah) bagi Allah. Kekuasaan itu adalah Zat-Nya sendiri. Artinya, menafsirkan kelemahan Allah. [23] Masih berbicara tentang tauhid, pemikiran al-Asy'ari yang lain ialah, bahwa Tuhan dapat dilihat di akhirat. Untuk itu, al-Asy'ari membawakan argumen rasio dan nash. Yang tidak dapat dilihat, kata al-Asy'ari, hanyalah yang tak punya wujud. Setiap wujud mesti dapat dilihat, Tuhan berwujud, dan oleh karena itu dapat dilihat. [24] Argumen al-Qur'an yang dimajukannya antara lain, "Wajah-wajah yang ketika itu berseri-seri memandang kepada Allah" (QS. al-Qiyamah: 22-23). Menurut al-Asy'ari kata nazirah dalam ayat itu tak bisa berarti memikirkan seperti pendapat Mu'tazilah, karena akhirat bukanlah tempat berfikir; juga tak bisa berarti menunggu, karena wajah atau muka tidak dapat menunggu, yang menunggu adalah manusia. Lagi pula, di sorga tidak ada penungguan, karena menunggu mengandung arti dan membuat kejengkelan dan kebosanan. Oleh karena itu, nazirah mesti berarti melihat dengan mata kepala. [25] Sungguhpun al-Asy'ari berpendapat, bahwa orang-orang mukmin nanti dapat melihat Tuhan di Akhirat dengan mata kepala, namun pemahamannya bukanlah bersifat harfiyah. Tetapi menghendaki suatu penafsiran lagi yaitu, bahwa melihat Tuhan itu tidak mesti mempunyai tempat dan terarah pada tujuan, tetapi hanya merupakan suatu penglihatan pengetahuan dan kesadaran, dengan mempergunakan mata, yang belum terfikirkan bagi kita sekarang, bagaimana bentuk mata itu nantinya. [26]

Tuhan wajib mewujudkan yang baik. [30] Karena perbuatan salah dan tidak adil menurut pendapatnya adalah perbuatan yang melanggar hukum. kata al-Asy'ari. bahwa Tuhan dapat dilihat nanti di akhirat. Jika Tuhan menyakiti anak-anak kecil di hari kiamat. kalau Tuhan memasukkan seluruh umat manusia ke dalam sorga. bahwa yang dimaksud tidak dapat melihat Tuhan adalah di dunia ini." yaitu seseorang mempunyai kekuasaan mutlak atas harta yang dimilikinya serta mempergunakannya sesuai dengan pengetahuan pemilik. sedangkan keadilan adalah merupakan filsafat hubungan khaliq dengan makhluknya. adalah merupakan sebagian dari pemikiran al-Asy'ari tentang tauhid. bahwa sang raja itu diatas dari undang-undang dan hukum. Keadilan diartikannya "menempatkan sesuatu pada tempat yang sebenarnya. Dan juga diartikan tidak dapat melihat Tuhan di akhirat bagi orang kafir. dan bukan di akhirat. Paham keadilan al-Asy'ari ini mirip dengan paham sebagian umat yang merestui seorang raja yang absolut diktator." (al-An'am: 103) Ayat tersebut di atas diartikan oleh al-Asy'ari. bebas memperbuat apa yang kehendaki-Nya. termasuk orang-orang kafir. maka Tuhan tidaklah berbuat salah dan dzalim. Tuhan sebagai pemilik yang berkuasa mutlak. [31] Oleh karena itu. Sekarang kita berpindah kepada pemikirannya tentang keadilan. seperti Mu'tazilah. untuk dapat menerima. kemudian al-Asy'ari menganalogikan bahwa . [29] Tidak dapat dikatakan salah. Sang raja yang absolut diktator itu. [27] Apa yang telah kita ungkapkan di atas. Kemudian digambarkan.Namun demikian. jika Ia memasukkan seluruh manusia ke dalam neraka. dia tidak perlu patuh dan tunduk kepada undang-undang dan hukum. meyakini bahwa Allah adalah Maha Adil. atau memasukkan orang kafir ke dalam sorga. Karena undang-undang dan hukum itu adalah bikinannya sendiri. dan karena di atas Tuhan tidak ada undang-undang atau hukum. artinya. Dari asumsi itu. memiliki hal penuh untuk membunuh atau menghidupkan rakyatnya. ia menolak bahwa kita mewajibkan sesuatu kepada Allah. Tetapi seperti kaum Salafi. [32] Upah yang diberikan Tuhan hanyalah merupakan rahmat dan hukuman tetap merupakan keadilan Tuhan. [28] Al-Asy'ari meninjau keadilan Tuhan dari sudut kekuasaan dan kehendak mutlak Tuhan. Tuhan masih tetap bersifat adil. dan juga tidak dapat dikatakan Tuhan bersifat dzalim. karena pembahasan tentang tauhid hanyalah merupakan filsafat ketuhanan semata. menjatuhkan hukuman bagi orang mukmim. bahkan yang terbaik untuk kemaslahatan manusia. kata al-Asy'ari. Sengaja dirangkaikan keadilan dengan tauhid. maka perbuatan Tuhan tidak pernah bertentangan dengan hukum. maka al-Asy'ari memerlukan pula untuk menafsirkan atau menta'wilkan ayat yang berikut ini: Artinya: "Penglihatan tak dapat menangkap-Nya tetapi ia dapat mengangkat penglihatannya. dalam arti. Allah. Al-Asy'ari. dapat berbuat apa saja yang dikehendaki-Nya terhadap makhluk-Nya. Dan juga menolak faham al-Shalah wa al-Ashlah Mu'tazilah.

Jadi dalam paham al-Asy'ari. Ayat ini diartikan oleh al-Asy'ari bahwa manusia tak bisa menghendaki sesuatu. [35] Kasb.Allah adalah memiliki kemerdekaan mutlak. Manusia dalam kelemahannya banyak tergantung kepada kehendak dan kekuasaan Tuhan. tidak mempunyai daya dan kekuatan apa-apa disaat berhadapan dengan kekuasaan absolut mutlak. Tetapi keterangan bahwa "kasb itu adalah ciptaan Tuhan" menghilangkan arti keaktifan itu. al-Asy'ari memberi penjelasan yang sulit ditangkap. [36] Melihat kepada pengertian. sebenarnya adalah Tuhan sendiri. maupun di akhirat. kata al-Asy'ari. Al-Kasb dapat diartikan sebagai suatu perbuatan yang timbul dari manusia dengan perantaraan daya yang diciptakan oleh Allah. adalah sesuatu yang timbul dari yang berbuat (al-muhtasib) dengan perantaraan daya yang diciptakan. maka paham al-Asy'ari dalam hal ini lebih dekat kepada faham Jabariyah (fatalisme) dari faham Qadariyah (Free Will). perbuatan-perbuatan manusia adalah diciptakan Tuhan. perolehan). [37] Dan tidak ada pembuat (agent) bagi kasb kecuali Allah. baik di dunia ini. Argumen yang dimajukan oleh al-Asy'ari tentang diciptakannya kasb oleh Tuhan adalah ayat: "Allah menciptakan kamu dan perbuatan-perbuatan kamu. selalu digambarkan sebagai seorang yang lemah. Al-Asy'ari menegaskan bahwa Tuhan menghendaki segala apa yang mungkin dikehendaki. maka tak seorangpun yang sanggup menentangnya. Di satu pihak ia ingin melukiskan peran manusia dalam perbuatannya. maka tidak seorangpun yang akan sanggup mempersalahkan dan menuntut-Nya. Jadi. Tentang faham kasb ini. kecuali jika Allah menghendaki manusia . Persis seperti seorang raja yang absolut diktator. Untuk menggambarkan hubungan perbuatan dengan kemauan dan kekuasaan mutlak Tuhan al-Asyari memakai istilah al-kasb (acquisition. "sesuatu yang timbul dari yang berbuat" mengandung atas perbuatannya. menurut al-Asy'ari. [34] Karena manusia dipandang lemah. Namun dalam penjelasannya tertangkap bahwa kasb itu pada hakekatnya adalah ciptaan Tuhan. Jika Tuhan menghendaki sesuatu. Tidak satupun didalam ini terwujud lepas dari kekuasaan dan kehendak Tuhan. bagi al-Asy'ari. ia pasti ada. Maka tidak seorangpun yang dapat mewajibkan sesuatu kepada Allah mengenai kemaslahatan umat manusia. kalau ia menganiaya seluruh rakyatnya. baik di dunia atau di akhirat. kecuali Allah menghendaki" (QS. Bahwa perbuatan manusia sebenarnya adalah perbuatan Tuhan. dalam teori kasb manusia tidak mempunyai pengaruh efektif dalam perbuatannya. yang mewujudkan kasb atau perbuatan manusia. dapat dilihat dari pendapat al-Asy'ari tentang kehendak dan daya yang menyebabkan perbuatan menjadi wujud. [39] Firman Tuhan: "Kamu tidak menghendaki al-Insan 76:30). [33] Kalau Allah menganiaya seluruh umat manusia. Karena manusia. sehingga akhirnya manusia bersifat pasif dalam perbuatan-perbuatannya. Dia memperbuat sekehendak-Nya terhadap milik-Nya." al-Shaffat 37:96) (QS. [38] Dengan perkataan lain. dan jika Tuhan tidak menghendakinya niscaya ia tiada.

yang seorang mampu mengangkatnya sendirian. 7507173 Fax. Tuhan dan manusia dalam suatu perbuatan adalah seperti dua orang yang mengangkat batu b esar . Metro Pondok Indah Pondok Indah Plaza I Kav. bahkan Ibn Hazm (w. (021) 7501969. 7501983. sebenarnya tidak lain dari kehendak Tuhan. namun tidak berarti bahwa orang yang tidak sanggup itu tidak turut mengangkat. Demikian pulalah perbuatan manusia. Perbuatan pada hakekatnya terjadi dengan perantaraannya daya Tuhan. dan perbuatan itu sendiri adalah perbuatan Tuhan dan bukan perbuatan manusia. maka terangkatnya batu itu adalah oleh yang kuat tadi. [40] Ini mengandung arti bahwa kehendak manusia adalah satu dengan kehendak Tuhan. Perbuatan Tuhan adalah hakiki dan perbuatan manusia adalah majazi (sebagai lambang). yaitu perbuatan Tuhan dan perbuatah manusia. 728 H) menilai. Dalam teori kasb. sedangkan daya manusia tidaklah efektif kalau tidak disokong oleh daya Tuhan. Al-Baghdadi mencoba menjelaskan kepada kita sebagai berikut. (021) 7507174 Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang YayasanISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota Please direct any suggestion to Media Team Artikel Yayasan Paramadina Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota III. Karena manusia dalam teori kasb al-Asy'ari tidak mempunyai pengaruh efektif dalam perbuatannya. tetapi manusia dalam pada itu tidak kehilangan sifat sebagai pembuat. sebagai jabariyah murni. KEKUATAN DAN KELEMAHAN PAHAM ASY'ARI (3/3) SEBAGAI DOKTRIN AKIDAH oleh Zainun Kamal Buat sementara dapat kita simpulkan bahwa dalam paham al-Asy'ari. 456 H) dan Ibn Taimiyyah (w.12.supaya menghendaki sesuatu itu. dan kehendak yang ada dalam diri manusia. [46] . UA 20-21 Jakarta Selatan Telp. Kalau kedua orang tersebut sama-sama mengangkat batu besar itu. Alasannya karena menurut al-Asy'ari kemauan dan daya untuk berbuat adalah kemauan dan daya Tuhan. untuk terwujudnya suatu perbuatan dalam perbuatan manusia. Tetapi daya yang berpengaruh dan efektif pada akhirnya dalam perwujudan perbuatan ialah daya Tuhan. untuk terwujudnya perbuatan perlu ada dua daya. daya Tuhan dan daya manusia. terdapat dua perbuatan. maka banyak para ahli menilai bahwa kasb adalah sebagai jabariyah moderat. [44] Harun Nasution juga berpendapat demikian. [43] (bersambung 3/3) -------------------------------------------Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah Editor: Budhy Munawar-Rachman Penerbit Yayasan Paramadina Jln. sedangkan yang seorang lagi tidak mampu.

al-Baqillani. Sungguhpun demikian. Kunci keberhasilan teologi al-Asy'ari ialah karena sejak awal berdirinya ia telah berpihak kepada awwamnya . antara lain. [46] PENGARUH KALAM AL-ASY'ARI Seperti telah disebutkan di atas. al-Asy'ari menegaskan bahwa kasb manusia itu tidak mempunyai efek nyata dalam mewujudkan perbuatan manusia itu. Sebab undang-undang dan hukum itu adalah bikinannya sendiri. paham al-Asy'ari ini juga telah membawa dampak dan pengaruh negatif. sang raja tidak perlu patuh dan tunduk kepada undang-undang dan hukum. al-Juwaini dan al-Ghazali. yang jumlahnya selalu mayoritas di dunia Sunni. Teologi ini timbul merupakan refleksi dari status sosial dan kultural masyarakat pada masanya. Kasb-nya al-Asy'ari itu telah membawa para pengikutnya berfaham Jabariyah murni. yang tidak mempunyai daya dan kekuatan apa-apa disaat berhadapan dengan kekuasaan yang absolut. yaitu keadaan masyarakat Islam pada abad ke-9 M. Sebab. Ibn Taimiyyah menilai konsep kasb yang ditetapkan al-Asy'ari itu tidak masuk akal.umat Islam.Ibn Taimiyyah menilai al-Asy'ari telah gagal dengan konsep kasb-nya yang hendak menengahi antara Qaddariyyah dengan Jabbariyah. seperti yang sudah kita uraikan di atas. Ajarannya dikembangkan oleh para pengikutnya. sehingga mayoritas umat Islam menganutnya sampai detik ini. Sejarah menunjukkan. Salah satu faktor penting bagi tersebarnya teologi al-Asy'ariyah di dunia Islam adalah sifat akomodatifnya terhadap Dinasti yang berkuasa. . Ia telah menghilangkan kesadaran pemikiran rasionalisme di dunia Islam. bahwa aliran al-Asy'ari telah berhasil menarik rakyat banyak di bawah naungannya berkat campur tangan khalifah al-Mutawakkil. ketika yang terakhir ini membatalkan aliran Mu'tazilah sebagai paham resmi pada waktu itu. Mereka adalah orang-orang yang tidak setuju dengan ajaran-ajaran Mu'tazilah. Akhirnya. maka disinilah letak kekuatan teologi itu. apalagi berhadapan dengan kekuasaan mutlak Allah. Hilangnya pemikiran rasionalisme tersebut telah menyebabkan kemunduran umat Islam selama berabad-abad. Dengan demikian. menurut Ibn Taimiyyah. ia sering mendapat dukungan. yang mengingkari sama sekali adanya kemampuan pada manusia untuk berbuat. Memang. bahwa dalam faham teologi al-Asy'ari manusia selalu digambarkan sebagai seorang yang lemah. bahkan menjadi aliran dari Dinasti yang berkuasa. Kemudian setelah wafatnya al-Asy'ari pada tahun 935M. Karena teologi al-Asy'ari didirikan atas kerangka landasan yang menganggap bahwa akal manusia mempunyai daya yang lemah. sebagai konsekuensi logis dari paham manusia lemah dan patuh kepada penguasa. [47] dimana raja-raja selalu berkuasa dengan diktator dan mempunyai hak penuh untuk menghukum siapa saja yang diinginkannya. yaitu ia dengan mudah dapat diterima oleh umumnya umat Islam yang bersifat sederhana dalam pemikiran. Oleh karena itu. aliran itu mengalami kemajuan besar sekali.

[49] Paham bahwa semua peristiwa yang terjadi. 1969. lihat Hamudah Guramah. Dengan dalih peristiwa itu terjadi atas kehendak Tuhan semata. sehingga tidak ada yang mau bertanggungjawab atasnya. M. 10 . menurut al-Asy'ari. Peristiwa terowongan Mina adalah salah satu bukti nyata dari faham Fatalisme. maqalat al-Islamiyyin wa Ikhtilaf al-Mushallin. Fauqiyah. Selain itu. al-lbanah). Dr. Dengan demikian para penganutnya teologi ini sukar dapat mengikuti dan mentolerir perubahan dan perkembangan yang terjadi dalam masyarakat modern. Fauqiyah Husein Mahmud. dan salah seorang hakim yang mewakili Ali Ibn Abi Thalib waktu terjadinya arbitrase antara Ali dan Muawiyah. Mesir. Abu al-Hasan al-Asy'ari. tetapi mereka artikan secara letterlek. 1973 h. Fi al-Falsafah al-Islamiyyah II. karena terikat tidak saja pada dogma-dogma. Mesir. CATATAN 1. menjadikan manusia-manusia yang enggan merubah nasibnya sendiri dan merubah struktur masyarakat. Mesir. Bahkan. mempunyai daya yang lemah. tahun 1976. 46 2. h. termasuk perbuatan manusia. menjadikan manusia-manusia yang tidak mau bertanggungjawab atas kesalahan-kesalahannya. Al-lbanah 'an Ushul al-Dinyanah. 3 3.Ali Ibn Ismail Ibn Abi Basyar Ishak Ibn Salim Ibn Ismail Ibn Abdullah Ibn Musa Ibn Bilal Ibn Abi Burdah Ibn Musa al-Asy'ari (Lihat Abu al-Hasan al-Asy'ari. Mesir. yaitu ayat-ayat yang sebenarnya boleh mengandung arti lain dari arti letterlek. h. tetapi juga pada ayat-ayat yang mengandung arti dzanni. ed.. Lihat juga Abu al-Hasan al-Asy'ari. Tetapi teologi ini akan menjadi lemah disaat berhadapan perkembangan ilmu pengetahuan dan penemuan teknologi baru. kebodohan dan kematian massal yang terjadi. dan lebih dari itu. h.Abu Musa al-Asy'ari adalah salah seorang sahabat Rasul-Allah saw. adalah atas kehendak Tuhan menghilangkan makna pertanggungjawaban manusia atas segala perbuatannya. seperti rezeki. Mahyudin Abdul Hamid. suatu kesimpulan dapat diambil bahwa faham teologi al-Asy'ari mempunyai basis yang kuat pada suatu masyarakat yang bersifat sederhana dalam cara hidup dan berpikir. 60 4. Ed. jodoh dan maut adalah di tangan Tuhan. 1977. lebih tegas lagi.Ibrahim Madkour. Al-Ibanah. menjadikan penganutnya kurang mempunyai ruang gerak. serta jauh dari pengetahuan. akibatnya.Fauqiyah. Paham fatalisme yang berkembang dalam masyarakat. Sayeed Ameer Ali mengatakan bahwa kemerosotan bangsa-bangsa Islam sekarang ini salah satu sebabnya karena formalisme al-Asy'ari. 9 (Selanjutnya disebut. ia dapat merupakan salah satu dari faktor-faktor yang memperlambat kemajuan dan pembangunan. Dan ia selalu mempersalahkan takdir atas kemiskinan. h.Karena akal manusia. Untuk menutup tulisan ini.

Al-Ibanah. Ibn Atsir. h. Al-Ibanah'an Ushul al-Dinayah. Kairo. 1976.Subhi. Aziz M. 31 15.. 41 17. Fi Ilm al-Kalam II. 100 . Fi al-Falsafah. Falsafah.Lihat Rayyan. Tarikh al-Fikri al-Falsafi Fi al-lslam. Ed. Al-Syahrastani. 310 6. Ali Abu Rayyan. h. h. 60 7. Dan Hamudah.1397 H. 1980. 1965.Al-Asy'ari. Al-Ibanah. Wakil.Bahwa manusia harus bertanggung jawab atas kehendak dan perbuatannya sendiri menurut pendapat Mu'tazilah.M. 13. 17. dalam al-Khutbath III. Iskandiyah. Iskandiyah. Al-Mu'tazilah. 116./885 M. 36 9. Dar el Ulum.Madkour. 38 20.Abu al-Hasan al-Asy'ari. al-Milal wa al-Nihal I. 312 Gardet & Anawati. Al-Ibanah. Ibid. Kairo. Mesir. h.Hamuddh. h. Dirasat Fi al-Falsafah al-Islamiyyah. 13 Penulis lebih cenderung menetapkan sejarah lahirnya pada ketika memisahkan diri dari Mu'tazilah adalah pada tahun 300 H. Dirasat Arabiyah wa Islamiyah I. h./881 M. 104 22. 1968. Anawati. h.Ibid.A. (lihat M. 1982 h..Al-Syahrastani. Kairo. Iskandiyah. Sedangkan usianya waktu itu sudah umum diketahui empat puluh tahun. Fi al-Fasafah II.Zuhdi Jar Allah. 159.Fauqiyah. Fi Ilm al-Kalam II. h. 50 23. H. h. Bairut. 35 19..) Bairut. 73. Al-Mihal I. Mahmud Subhi. Falsafat al-Fikrial-Dini Bain al-Islam wa al-Masihiyah I (terj. h 93 10. Mesir. 1974. Mahmud Kasim. 1973 h. h. dalam.8 18. h. 164-165 14.Terdapat beberapa variasi pendapat dalam menetapkan tahun lahirnya: 270 H. Lihat juga. Madkour.Abu al-Hasan al-Asy'ari. 1982. 29 8.A.Ibid. h. Iskandiyah. h. 102 11. Mahmud Subhi. dapat dilihat pada. Fi Ilm al-Kalam II. Abd. h. Kitab al-Luma' Fi al-Rad'ala ahl al-Zaigh wa al-Bida'. hal. 34 16. dan lihat juga Subhi. h. Iskandariyah. 303 (dikutip dari Fanqiyah. Fi Ilm al-Kalam II. h.Hasan Mahmud al-Asy'ari. Al-Makrizi. 94. h. Al-Asy'ari. Subhi Fi Ilm al-Kalam II. h. h.Faiqiyah. 51 24. 1985.5.Louis Gardet & J. h. dalam al-Lubab I. h.Fauqiyah.65 12. al-Asy'ari. hal. 30 21. h. 52 270 H. Tarikh. Al-Ibanah.

h.Abd al-Qahir al-Baghdadi. Jakarta. Delhi. Ibid. UI-Press. Lihat juga Madkour. 1971.Al-Asy'ari.Ibid.Mahmud Kasim. tt. 7501983. h. Al-Luma'.Al-Asy'ari. UA 20-21 Jakarta Selatan Telp..Harun Nasution. h. h. 70 38. 16-17 47. Al-Ibanah.. Teologi Islam. Metro Pondok Indah Pondok Indah Plaza I Kav. Al-Ibanah. h. 205 45. Tarikh al-Madzahib. Dirasat.205 36. h. tt. (021) 7501969. 34 48. al-Luma'. -------------------------------------------Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah Editor: Budhy Munawar-Rachman Penerbit Yayasan Paramadina Jln. 112 46. 7507173 Fax. Minhaj al-Sunnah II. 72 39. 101 30.. Bairut. lihat juga Mahmud Kasim. Kairo.Ibn Taimiyyah. 16 28.Ibid. Bairut. Madzahib al-Islamiyin.Abd al-Rahman Badawi.Ibid. h. 100. 41 42. 167 33. h.Muhammad Abu Zahrah. h. 57 41. h. h. 133-134 44. 35. h..Al-Sahrastani. h. 1983 h.Al-Asy'ari. h. h. 13 26. 51 40.Ibid.. The Spirit Of Islam. 27. Al-Milal I. 472 473. (021) 7507174 .Mahmud Kasim.Ibid. h.Ibid. 76 37.Al-Syahrastani.Al-Asy'ari. h. h. 168 34. Al-Luma'.Ibid 31.. 113 29. 1981. h.25.Al-Asy'ari. h.Abu Zahrah.Sayeed Ameer Alim.Al-Asy'ari. Al-Milal I. 102. Kitab Ushul al Din. Tarikh al-Madzahib al-Islamiyah. Dirasat. 562 43. 71 32. h.

11. dalam bahasa manajemennya. adalah kritik atau evaluasi amal dari sudut niat (tujuan)nya yang bersifat "keluar. dan kedua yang bersifat keluar dan sosial. Tujuan amal yang bersifat "kedalam" landasannya adalah "iman. Ketiga. Itu adalah urusan Tuhan dan pribadi yang bersangkutan. maka sesungguhnya Nabi Muhammad saw sedang berteori bagaimana suatu amal. tapi di sana. semakin tinggi pula bobot dan relevansi pemikiran yang diresponinya. TELAAH KRITIS ATAS TEOLOGI MU'TAZILAH (1/2) oleh Masdar F. di alam akhirat nanti. Sedang yang kedua adalah realitas yang ada dalam dunia kenyataan yang . seperti diketahui. dikritik atau dievaluasi. yaitu realitas teoritik dan realitas empirik. Maka bobot dan relevansinya juga tergantung pada sejauh mana definisi atas realitas itu memiliki ketepatan. bobot dan relevansi suatu amal (dalam hal ini amal pemikiran) pada dasarnya adalah relatif dan bisa berubah. Pertama. Dan amal berdimensi ganda. oleh realitas kehidupan yang mendorong kehadirannya." sedang tujuan yang bersifat "ke luar" landasannya adalah "realitas kehidupan. harus dikritik atau. bukan di sini. melainkan lebih pada kenyataan sejauh mana ia mengena pada realitas yang diresponsnya. karena setiap amal adalah respons terhadap realitas yang didefinisikannya. pertama yang bersifat ke dalam dan personal. Niat. Yang ada pada wewenang kita. Dan hanya dalam kaitan sebab akibat itulah suatu amal bisa dinilai.Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota Please direct any suggestion to Media Team Artikel Yayasan Paramadina Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota III. bobot dan relevansi suatu amal pemikiran pertama-tama tidak ditentukan penilaian benar tidaknya dari sudut doktrin. Kedua." yaitu mengapa dan dalam konteks sosial yang bagaimana suatu amal telah dilakukan." Syahdan. Sementara itu. amal itu diikat dan ditentukan oleh konteksnya. Semakin tepat definisi realitas yang ditangkap. maka bisa dikemukakan beberapa acuan sebagai berikut. dapat kita kelompokkan dalam dua katagori. Dalam hubungan ini innama 'l-a'malu bi 'l-niyyat akan berarti. Mas'udi Dengan mengatakan innama 'l-a'malu bi 'l-niyyat (amal ditentukan niyatnya). adalah kesadaran tentang tujuan suatu amal dilakukan. dan waktunya. realitas yang menjadi pijakan amal pemikiran. di dunia ini. kritik amal atas dasar niat yang bersifat kedalam sama sekali bukan urusan kita. Dengan menerima dasar penilaian atau kritik yang demikian ini. Tak ada suatu amal yang muncul begitu saja lepas dari kaitan sebab akibat yang melingkupinya. Yang pertama adalah realitas yang terdapat dalam dunia ide yang dipikirkan. menurut agama. sebagai makhluk sosial. justru lantaran konteks yang melahirkannya adalah juga bersifat relatif dan berubah. dievaluasi.

dari keprihatinan atas pertanyaan-pertanyaan inilah . Pertama. tapi semata-mata atas dasar "rahmat" yang disediakan melalui pintu tunggalnya: Yesus. Syahdan. tapi telah saling membunuh. Pemikiran kategori pertama. Demikianlah. sedang sebagian amal pemikiran yang lain. Bagaimana hukumnya orang Islam yang melakukan dosa besar (seperti membunuh sesama Muslim tanpa hak). Menurut ajaran Islam. Dengan kedua perkembangan itulah muncul pertanyaan-pertanyaan teologis. sebagian amal pemikiran benar-benar lahir dengan titik tolak keprihatinan pada realitas teoritis (baru kemudian. dan dalam kontrol siapakah ia. kenyataan bahwa di kalangan umat terjadi konflik internal yang boleh jadi tidak pernah diinginkan oleh mereka sendiri. bergerak ke realitas empiris). Pertanyaan ini muncul -besar kemungkinan karena menurut doktrin Kristiani yang ketika itu juga sudah dibawa masuk dalam lingkungan umat Islam. pemikiran yang lahir dari keprihatinan pada realitas riil yang dirasakan orang banyak. Tapi yang saya maksudkan adalah." Perkembangan kedua adalah masuknya bangsa Parsi dan sekitarnya kedalam Islam berikut pemikiran dan keyakinan-keyakinan lamanya yang sudah terbentuk kuat dalam benak masing-masing. PEMIKIRAN TEOLOGI MU'TAZILAH Fakta sejarah. Seperti selalu diulang-ulang para sejarawan. titik tolaknya adalah keprihatinan terhadap realitas empiris (baru kemudian realitas yang bersifat teoritis). "cobaan besar. dikenal dengan sebutan fitnah kubra.dirasakan. Memang. sedang yang kedua akan bercorak populis. yang satu terhadap yang lain bisa saling pengaruh mempengaruhi. juga akan cenderung pada hal-hal yang konkrit yang bisa mengena pada kepentingan orang banyak. Siapakah yang sesungguhnya bertanggungjawab atas tindakan manusia: dirinyakah. telah terjadi dua perkembangan yang sangat signifikan dalam sejarah umat Islam. ada dua jenis balasan sejati di akhirat nanti. Perkembangan yang tragis ini yang terjadi dua kali. (Suatu pemikiran yang jelas berangkat dari keprihatinan teoritik)."penyelamatan Tuhan" itu tak ada sangkut pautnya dengan amal perbuatan manusia. pemikiran katagori pertama. jika dirasa perlu. faktor apakah yang memastikan orang memperoleh penyelamatan Tuhan dengan masuk sorga. bahwa pada paroh kedua abad pertama Hijriah. karena titik tolak keprihatinannya pada realitas abstrak dan umumnya terbatas hanya pada concern kalangan tertentu. Berkaitan dengan tanggungjawab perbuatan manusia tadi. keduanya tak harus selalu terpisah. atau kekuatan-kekuatan itu. yaitu bagaimana ajaran agama bisa dipahami umat secara benar. dimana satu kelompok bukan saja telah mengutuk kelompok yang lain. bahwa pemikiran-pemikiran keagamaan (fiqh atau teologi) sebagai amal yang ditawarkan para pemikir Muslim sejak abad pertengahan adalah lahir dari suatu pola keprihatinan yang serupa. akan cenderung bercorak elitis. maka dampak sosialnya pun cenderung abstrak dan terbatas pada kalangan tertentu saja. Sebaliknya. dengan sendirinya. apakah faktor itu adalah "amal perbuatannya" ataukah "rahmat Tuhan" semata yang diberikan kepada siapa saja yang dikehendaki-Nya. yaitu balasan sorga dan balasan neraka.

Pertama. dengan nada menyesal Hasan berkomentar: Ia telah keluar dari kita. dengan para muridnya diseputar tema Muslim yes. Khasywiyah dan sebagainya. . yang berkembang saat itu adalah jawaban-jawaban berikut. karena merasa berpedoman pada pegangan mutlak yang ada di tangan. di kemudian hari nama-nama: Khawarij. Murjiah. Prinsip "janji dan ancaman" (al-wa'du wa 'l wa'id) yang akan dilaksanakan di hari kemudian tak bisa dipahami tanpa adanya prinsip "kebebasan" tadi. I'tazala'anna!. minna) atau termasuk orang luar (out group. maka jawaban pun hadir dalam corak dan pendekatan yang demikian berbeda-beda. Jawaban inilah yang agaknya dicondongi mayoritas umat Islam yang disebut sebagai kelompok Murji'ah (artinya: menangguhkan).para pemikir Islam ketika itu merasa ditantang merumuskan jawabannya yang benar sesuai dengan ajaran-ajaran Islam yang shahih. Masing-masing jawaban tumbuh sebagai aliran pemikiran yang berdiri sendiri. orang akan selalu merujuk pada episoda diskusi Hasan al-Bashri (w. mengaku sebagai satu-satunya yang benar. yang lainnya adalah salah. prinsip kebebasan juga hanya akan berarti kalau ada "janji dan ancaman" yang setimpal di hari kemudian. Saya kira. Kata i'tazala (hengkang) yang jadi sebutan Mu'tazilah (yang hengkang dari arus umum) itu pun kemudian ditempelkan kepada Washil bin Atha dan segenap pengikutnya. hanya dengan prinsip kebebasan inilah. Muslim no yang baru pada taraf pembentukan diri. Tapi kalau pertanyaan tentang "status pendosa besar" ini banyak diselimuti latar belakang politis. dan bagaimana dengan dosa yang dilakukannya itu terserah Tuhan di hari akhirat nanti. maka pertanyaan tentang "kebebasan manusia. Asy'ariyah. sangat menekankan perlunya seseorang dapat memperjelas (diperjelas) kedudukannya apakah termasuk orang dalam (in group. Maka terhadap pertanyaan yang terlontar dalam diskusi Hasan tadi. minhum). Yang menarik adalah bahwa masing-masing aliran ini. Maturidiya. Karuan saja. seorang Muslim telah terpental dari kelompok (komunitas) alias menjadi "kafir" dan karena itu -sesuai dengan hukum riddah." terasa lebih bersifat murni teologis. yaitu bahwa identitas seseorang apakah ada "di dalam" (minna) atau "di luar" (minhum) harus benar-benar jelas. Mu'tazilah secara tegas mengatakan bahwa "manusia sepenuhnya memiliki kebebasannya sendiri bertindak. Dan sebenarnya pada kisaran inilah Mu'tazilah benar-benar tumbuh sebagai aliran teologi yang tersendiri diantara aliran-aliran teologi yang lain. manusia secara moral dapat dituntut pertanggungjawaban di kemudian hari. Itulah sebabnya ketika Washil melontarkan pendapatnya yang melawan arus tadi.halal ditumpahkan darahnya. Mu'tazilah. Berbicara tentang awal mula sejarah Muitazilah. dengan melakukan dosa besar. karena ajaran-ajaran Islam itu pun harus diolah terlebih dahulu melalui subyektifitas masing-masing pemikir. Dan sebaliknya. Berbeda dengan aliran teologi lainnya. Jabariyah. Jawaban kedua mengatakan bahwa Muslim yang melakukan dosa besar masih tetap tergolong Muslim. Jawaban ini diajukan kelompok yang terkenal dengan sebutan Khawarij. Tersebutlah. 110 H/ 728 M). seorang ulama terkemuka pada zamannya." Baginya. Hasan Basri selaku pemimpin dan tokoh yang merasa harus menjaga keutuhan umat berada dalam arus kecenderungan umum ini. Qadariyah.

Pada poin inilah Mu'tazilah dimasyhurkan sebagai aliran pemikiran yang rasionalistik. Tapi. dengan tesisnya bahwa al-Qur'an itu makhluk. berupa akal yang lebih dipahami sebagai rasio atau nalar." suatu pendirian yang oleh mayoritas Muslim dipandang sangat membahayakan keutuhan doktrin. tesis tentang Qur'an tersebut erat kaitannya dengan tesisnya yang lain tentang "Keesaan Tuhan" yang dibangunnya dengan pendekatan murni filosofis. pastilah manusia yang memiliki kemampuan yang memungkinkan dirinya menentukan mana yang baik dan mana yang buruk. Metro Pondok Indah Pondok Indah Plaza I Kav. 7507173 Fax. Seperti diketahui.(bersambung 2/2) -------------------------------------------Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah Editor: Budhy Munawar-Rachman Penerbit Yayasan Paramadina Jln. Sebagai yang Maha adil Tuhan harus membalas keburukan atas setiap tindakan buruk dan harus membalas kebaikan atas semua tindakan yang baik. Dia tak bisa tidak kecuali harus bertindak yang terbaik bagi manusia. Dengan nalarnya. Mu'tazilah tak lagi perlu? Tak ada penegasan eksplisit tentang itu. maka sebenarnya Mu'tazilah sudah berketetapan hati bahwa sebagai sesama makhluk. al-Qur'an (wahyu) tidak memiliki otoritas yang dapat mendikte manusia. manusia yang bebas dan bertanggungjawab itu. diluar diri manusia sendiri.11. bahkan juga sebelumnya. (021) 7507174 Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota Please direct any suggestion to Media Team Artikel Yayasan Paramadina Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota III. Baik atau buruk (al-hasan wa 'l-qabh) bukanlah sesuatu yang harus didiktekan siapa pun juga. Kemampuan itu menurut keyakinan Mu'tazilah sudah diberikan Tuhan. Mas'udi Mu'tazilah yakin bahwa pembalasan di akhirat semata-mata ditentukan oleh "amal perbuatan manusia" yang diambilnya sendiri secara bebas merdeka. Secara harfiyah prinsip yang tersebut terakhir ini bukan barang baru bagi umat Islam pada jamannya. TELAAH KRITIS ATAS TEOLOGI MU'TAZILAH (2/2) oleh Masdar F. yang cenderung mengunggulkan otoritas "akal" (nalar) atas "naqal. Tapi "keesaan Tuhan" dalam teori Mu'tazilah ini menjadi baru karena yang ia maksudkan rupanya adalah pembebasan (tanzih) . 7501983. Sementara itu. Dan sebagai yang Maha adil. UA 20-21 Jakarta Selatan Telp. Apakah dengan begitu. manusia tumbuh sebagai makhluk yang mandiri dan tidak lagi tergantung pada pihak lain dalam menentukan jalan hidupnya. (021) 7501969.

Bedanya adalah bahwa Jubbaiy (Mu'tazilah) dengan logika akalnya bersikeras untuk mendefinisikan Tuhan menurut batas-batas manusia. Dengan menarik postulat ini lebih jauh. 241 H/855 M). jika si anak dibiarkan hidup. Kalau kritik al-Asy'ari itu adalah juga kritik kita kepada Mu'tazilah. menurut catatan sejarah yang pertama kali menyatakan kekecewaannya terhadap konsep teologi Mu'tazilah yang rasionalistik itu. al-Jubba'iy. Itulah sebabnya. justru ingin membebaskan-Nya tetap berada di atas batas-batas manusia tadi. Hanya bedanya. hingga tak sempat tumbuh jadi manusia durhaka? Yang menarik dari diskusi ini bukan saja al-Jubbaiy kehabisan akal menjawabnya. orang yang mati dewasa itu menempati kedudukan lebih tinggi dibanding kedudukan si anak. Konon. Asy'ari pun juga menggunakan akal (logika) untuk mendukung argumentasinya. tentang nasib seorang anak dan seorang dewasa yang sama-sama masuk sorga karena imannya. Kalau begitu. maka diciptakan (makhluq). pada suatu ketika. Mengapa harus begitu? Tanya Asy'ari. Tuhan tahu. sesuai dengan keadilan Tuhan dalam persepsi Mu'tazilah. tapi seperti halnya Jubbaiy. ia akan tumbuh menjadi manusia durhaka. kejar Asy'ari lebih lanjut. al-Asy'ari bertanya kepada guru besarnya. bagaimana jika orang-orang yang dijebloskan dalam neraka protes. murtad dan sejenisnya hanya lantaran pendapat yang berbeda. yang adalah teolog Mu'tazilah terkemuka pada zamannya. juga dengan logika akalnya. adalah hadits. salah satu ciri yang menonjol dari sejarah pemikiran keagamaan saat itu adalah kesembronoannya yang benar-benar diyakini dalam menuduh orang atau pihak lain sebagai kafir. Yakni. syirk. Yang tersebut terakhir ini dengan sangat militan diwakili oleh golongan Khasywiyah yang mengaku menjadi pengikut Imam Ahmad bin Hambal (w. bahwa Mu'tazilah mengaku telah menemukan kebenaran tunggal dan mutlak itu melalui logika akal. Karena yang dewasa telah sempat beramal kebaikan. kenapa mereka tidak dimatikan saja ketika masih muda. jika hakikat Tuhan itu qadim. sedang Asy'ari. Sesungguhnyalah kritik ini tidak saja mengena pada Mu'tazilah. termasuk sifat-sifat yang dikenakan kepadaNya. kilah Jubbaiy. Sementara Tuhan harus berbuat yang terbaik untuk manusia. Sifat-sifat atau atribut yang dikenakan kepada Tuhan bukanlah sesuatu yang sebangun dengan hakikat-Nya. . TIGA KRITIK Adalah al-Asy'ari (w. maka kritik kita yang kedua adalah pada klaimnya sebagai telah menemukan kebenaran tunggal yang harus diterima semua pihak. maka Qur'an sebagai ekspresi salah satu sifat-Nya (al-kalam) yang hadits dengan demikian juga berkapasitas hadits. maka segala sesuatu selainnya. tapi juga pada semua aliran teologi yang tumbuh pada masa-masa itu karena klaim yang sama.Tuhan dari seluruh "sifat" bahkan yang secara eksplisit tersebut dalam ajaran-ajaran wahyu (Qur'an). jawab Jubbaiy. Kenapa harus terjadi si anak tidak diberi usia yang cukup agar ia bisa berbuat kebaikan seperti temannya yang dewasa? Kejar Asy'ari. sedang si anak belum. Keduanya memiliki perbedaan yang substansial. sedang lawan-lawannya mengaku menemukan kebenaran mutlak itu melalui huruf-huruf naqal. 330 H/942 M). Tapi.

kalau teologi abad pertengahan (seperti Mu'tazilah maupun lawan-lawannya) yang mengabdi kepada kepentingan doktrin disebut teologi dialektik. TAWARAN ALTERNATIF Mencoba konsisten dengan kerangka teori "niat" seperti tersebut di atas. terutama jika diingat praktek kesewenang-wenangan yang dilakukan kalangan penguasa. (Dari dasar keprihatinannya ini. maka keadilan yang dimaksud bukanlah keadilan Tuhan yang harus ditegakkan di "sana. karena dasar keprihatinannya yang serupa). Seperti diketahui. (Kritik ini pun mengena pada aliran teologi lainnya. maka dialektika teologi baru itu bersifat empiris (dialektika yang terjadi dari proses penghadapan kritis antara realitas kehidupan dengan pesan-pesan universal). ia bisa disebut misalnya "teologi populis." Saya pikir. Mu'tazilah telah melancarkan intrik terhadap orang lain untuk menerima doktrin-doktrin teologinya dan menimpakan hukuman atas siapa saja yang mencoba menolaknya. sedang yang tersebut terakhir concernnya pada kesesuaian antara realitas kehidupan dengan semangat doktrin yang dinamis. Tapi kalau dialektika teologi yang mengabdi doktrin itu berwatak retorik (dialektika yang terjadi dalam proses penghadapan antagonis antara satu doktrin dengan doktrin yang lain). beda antara teologi dialektika retorik di satu pihak dengan dialektika empiris di lain pihak. Dan dalam kaitannya dengan persoalan keadilan yang dirasakan umat. kritik yang ketiga. Tapi. kelompok Mu'tazilah ini justru bergandengan-tangan dengan rejim yang berkuasa untuk melakukan tindak sewenang-wenang terhadap siapa saja yang tidak disukainya. Yang pertama berwatak formal dengan orientasi pada bentuk . maka rupanya keadilan yang dimaksudkan adalah keadilan lain (yang bersifat eskatologis) yang berkaitan dengan "peranan" Tuhan di hari kemudian. Sehingga kalau realitas yang menggugah keprihatinannya adalah soal keadilan. maka sebutan yang sama pun bisa juga dikenakan pada teologi yang perlu kita kembangkan ini. atau inquition yang dilakukannya dengan dukungan tangan-tangan kekuasaan dan birokrasi pemerintahan yang karena alasan politik tertentu dapat dipengaruhinya." tapi keadilan yang menjadi tanggung jawab manusia dalam kehidupan di "sini. Dilihat dari sudut muaranya.Untuk kasus Mu'tazilah sikap intoleransi ini ditindak lanjuti dengan prinsip amar ma'ruf nahi munkarnya yang merisaukan banyak pihak yang menjadi lawan polemiknya. sistem pemikiran teologis atau apa saja atributnya yang relevan untuk dibangun. salah satu prinsip ajaran yang dipropagandakan Mu'tazilah adalah tentang "keadilan" suatu isu yang sebenarnya sangat relevan pada saat itu." atau "teologi kerakyatan"). lantaran dasar keprihatinannya yang elitis tadi. karena pada dasarnya Mu'tazilah lahir dari keprihatinan pada realitas teoritis bahkan yang berdimensi metafisik. Sementara itu. Tragedi teologis ini dikenal dengan mihnah. maka bagi saya. maka isu-isu yang digelutinya pun hampir tak punya sentuhan yang bermakna bagi umat pada umumnya. adalah yang benar-benar berangkat dari lapisannya paling bawah. dengan dalih itu. Seperti telah disinggung di atas. adalah yang tersebut pertama muaranya adalah pada terbangunnya kesesuaian realitas pemahaman dengan bunyi doktrin yang statis.

(021) 7507174 Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota Please direct any suggestion to Media Team Dimensi sosial Artikel Yayasan Paramadina Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota VI. menyebarkan tulisan yang mengkritik keras Paus di Roma. Leo mengekskomunikasikan Cerularius dan menggelari pengikut-pengikutnya sebagai "an assembly of heretics. teolog Yunani menolak tambahan filioque pada syahadat sex patre filioque procedit hasil perumusan Gereja Romawi. pastor Yunani ahli teologi. di Barat Kristianitas terbelah dua pola: Gereja Romawi dan Gereja Yunani. teologi dialektika empiris ini akan menerima perbedaan pendapat sebagai realitas kehidupan yang wajar. Pertentangan keduanya dan pengikutnya sampai kepada tingkat saling mengkafirkan. Pernikahan dilarang bagi pastor Romawi. Dengan demikian. .52. Pastor Romawi ahli politik." (Durant. Peristiwa ini disebut sebagai skisma besar Gereja Timur. sedangkan rekannya dari Roma mencukurnya. Sebagai gantinya. Sebagai balasan. mengeluarkan manifesto yang mengatakan pemilihan Paus Urbanus VI tidak sah. Dengan watak keterbukaannya. Patriarch Konstantinopel. -------------------------------------------Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah Editor: Budhy Munawar-Rachman Penerbit Yayasan Paramadina Jln. Mereka berpisah seperti "a biological species divided in space and diversified in time. a synagogne of Satan. Dua Paus bertahta. sedang yang kedua berwatak substansial yang berorientasi pada substansi dan bersifat terbuka. "Kiai" Yunani memelihara janggut. Lebih dari tiga abad kemudian. SKISME DALAM ISLAM SEBUAH TELAAH ULANG (1/3) oleh Jalaluddin Rakhmat Ketika matahari Islam sedang naik di sebelah Timur. 7507173 Fax. Menurut laporan Will Durant (Durant). (021) 7501969. masing-masing menyebut yang lain sebagai Judas. a conventicle of schismatics. Pada tahun 1043. 1950:544). dua sisi yang selama ini seperti cenderung terpisah. tetapi diperbolehkan bagi pastor Yunani. Justru dengan pendapat yang berbeda-beda itu. kardinal-kardinal Perancis berkumpul di Anagui.dan cenderung tertutup. Metro Pondok Indah Pondok Indah Plaza I Kav. di Romawi dengan pemercikan. Terakhir. teologi dialektika empiris ini secara vertikal berwatak populis. UA 20-21 Jakarta Selatan Telp. Paus St. sedang secara horizontal berwatak demokratis. mereka mengangkat Robert dari Genewa dengan gelar Clement VII. Michael Cerularius." Kristen Yunani berdoa sambil berdiri. Pembaptisan di Yunani dilakukan dengan penyelaman. Kristen Romawi sembahyang sambil berlutut. maka kemungkinan menemukan pilihan "yang terbaik" menjadi tersedia. 7501983.

Katholieke kerk van Rome. "Kalian akan mengikuti tradisi umat sebelum kalian. (Gr. sehingga begitu saja mendengarnya. Walaupun skisme berasal dari dunia kristen. Kedua. mengapa kita tiba-tiba bicara tentang skisme dalam Islam. 1937:648) menjelaskan makna skisme: Schisma. 1378-1407. R. and not the slight diversities of creed. yang semula bersifat politis. Tidak jarang. dalam Islam. setelah saya merenungkan pertanyaan-pertanyaan di atas? terlintas dalam ingatan saya sebuah hadits. "Tidak pernah darah di tumpahkan dan pedang dihunus dalam Islam kecuali karena pertikaian masalah imamah (kepemimpinan).. Bila skisme adalah istilah Kristiani. legitimasi ini diperoleh dengan memalsukan sumber-sumber ajaran agama atau memberikan penatsiran yang diselewengkan. Will Durant melukiskan skisme besar tahun 1054." [1] Kata skisme tidak mengada-ada.= shedding). remained in a state of mortal sin. Sahabat bertanya. "Ah. severed Christendom into East and West" (Durant. the dying so anointed. Nabi Muhammad berkata. apakah mereka itu Yahudi dan Nashara. toen er verschillende pausaen tegelijk waren." Nabi menjawab. Pernahkan Islam mempunyai Paus dua dan di antara keduanya ada tuduhan saling mengkafirkan? Bukankah umat Islam adalah "ummatan wahidatan" (QS. kamu pun akan mengikutinya. Pertikaian dalam gereja Katolik. Seperti dalam dunia Kristiani. kemudian diperluas ke dalam bidang liturgi dan doktrin: begitu pula. "Siapa lagi.these galling political events. 1054. Al-Syahrastani dalam al-Milal wa al-Nihal menulis. baik skisme dalam Kristen maupun skisme dalam Islam lebih banyak dilandasi pertikaian kepentingan politik daripada karena pertikaian aqidah. William Occam menentang identifikasi Kristianitas dalam gereja . atau seperti tubuh yang satu. Pertama. sehingga kalau satu anggota sakit. 1950:544). ". doomed to hell or limbo if death should supervene. ada-ada saja!. yang saling menguatkan satu same lain. kerk.. tradisi yang same telah diikuti umat Islam juga.K. Encyclopedisch Woordenbock voor Groot-Nederland (Ter laan. 23:53. saya segera berkomentar. "Ya Rasullah. sehingga bila mereka memasuki gua serigala. Skisma memang bukan istilah Islam. Ada tiga kesamaan antara skisma Kristiani dengan perpecahan dalam Islam. ia menulis. de afscheiding van een deel van de Gr. the penitents so shriven. and that the children so baptized." Secara singkat. pertikaian politik sering dicarikan legitimasinya dengan pengembangan teologi yang berlainan. di dunia Katolik pernah muncul gerakan konsiliasi (cinciliar movement) yang dipelopori oleh kaum cendekiawan. anggota-anggota lainnya ikut demam dan panas? Mula-mula saya menganggap istilah skisme dalam Islam sebagai mengada-ada. 21:92)? Bukanlah mereka seperti bangunan yang kokoh. sesiku demi sesiku." Tetapi. Sebuah kamus klasik.1953:362) "Each side claimed the sacraments administered by priests of the opposite obedience are invalid." Peristiwa ini pun disebut sebagai Skisma Besar. de sheuring in de. dalam Islam pun kaum politisi memperbesar perbedaan doktrinal yang kecil untuk menyuburkan fanatisme --saling mengkafirkan dan saling membid'ahkan. Ketiga.

Sayang. Pada bagian akhir. atau penobatan Abdullah bin Zubair (681-692) sebagai Khalifah bersamaan dengan masa Khalifah Yazid. abstraksi pandangan politik ahl al-Sunnah dapat disimpulkan hanya pada perbedaan konsep imamah dan khilafah yang dianut Syi'ah. terus terang saja. menggalakkan upaya-upaya taqrib. pertentangan khalifah antara Mu'awiyah dan Ali bin Abi Thalib setelah perjanjian Shiffin. Ada beberapa kali terjadi skisme politik besar dalam sejarah Islam: pemberontakan 'Aisyah terhadap Khalifah Ali bin Abi Thalib. seperti dalam dunia Kristiani. Sementara itu. walaupun membicarakan skisme. dan Jamaluddin al-Afgani (tidak jelas dari Sunnah atau Syi'ah). wilayat. dalam Islam pun umat terbanyak lebih banyak mendengar suara politisi ketimbang cendekiawan.yakni. Karena itu.tertentu. Heinrich von Langenstein.Syi'ah (yaitu tiga skisme yang pertama). ingin mengikuti suara cendekiawan dan mengesampingkan suara politisi. yang baru saja dihapuskan tiga hari sebelumnya.yakni Khalifah. sikap nonsektarian. tujuan akhirnya adalah menumbuhkan sikap persatuan --sikap nonskismatik. Ahl al-Sunnah menetapkan pemimpin melalui kesepakatan (al-ittifaq) dan pemilihan (al-ikhtiyar). teolog dari Universitas Paris. Tulisan ini. dan lain-lain. Jadi. pemilihan Ahl al-Hal wa al-'Aqd. dan kedua. ANTARA KHALIFAH DAN IMAMAH Hamid Enayat menyebutkan tiga konsep kunci untuk pandangan politik Ahl al-Sunnah . "Kepemimpinan ditetapkan dengan dua cara: pertama. Dalam Islam. Al-Mawardi dalam Al-Ahkam al-Sulthaniyah (450 H) dan Abu Ya'la dalam Al-Ahkam al-Sulthaniyah (458 H) semuanya menulis. imamah. dan 'ishmah. Bagian pertama makalah ini akan membicarakan skisme politik. tokoh-tokoh cendekia seperti Syaikh Syaltut (dari ahl al-Sunnah). skisme yang tetap berpengaruh sampai sekarang adalah skisme-skisme yang melahirkan polarisasi Sunnah . Wilayah dan 'ishmah merupakan karakteristik tak terpisahkan dari imamah. [2] Al-Syahrustani membedakan di antara kedua madzhab ini dalam hal kepemimpinan politik. penunjukan imam sebelumnya" (Perlu dicatat di sini bahwa penulis-penulis di atas adalah ulama ahl al-Sunnah. untuk mudahnya saja. Karena itu. dan bagian kedua skisme intelektual. Walaupun --karena sifat ajarannya-. Kasyif Githa (dari Syi'ah). di sini kita akan meneliti perbedaan konsep politik di antara kedua madzhab besar itu dan melacak penyebab-penyebabnya. Ijma' dan bay'ah diterima juga dalam Syi'ah walaupun dalam arti yang terbatas. Ahl al-Sunnah berpegang pada ketentuan syura sebagai landasan . makalah ini akan mengajukan rekomendasi apa yang seharusnya kita lakukan. perlawanan Husayn bin Ali terhadap Yazid. di sini kedua aspek itu dipisahkan.Islam tidak memisahkan aspek politik dan aspek intelektual. ijma' dan bay'ah. atau penobatan Syarif al-Husain sebagai Khalifah tandingan khalifah Utsmaniyah. Ketiga konsep kunci untuk pandangan politik Syi'ah . menulis buku Concilium Pacis (1381). Syi'ah menetapkan pemimpin lewat keterangan agama (nash) dan penunjukan (ta'yin). tetapi -anehnya menyebut kepemimpinan dengan istilah imamah). Di antara semua skisme tersebut.

syura dan ittifaq cukup dilakukan oleh seorang saja (sic!). Mereka beryakinan bahwa Rasulullah SA. Pengangkatan Abu Bakar dipilih oleh Umar bin Khathab. Basyir bin Sa'ad. 1406: 234-256). disregard the respect due to his position as successor. Jadi karena pemimpin adalah hasil syura. syura cukup tiga orang dan satu di antara mereka disepakati oleh dua orang yang lain. menurut Ahl al-Sunnah.kepemimpinan dan menunjuk QS. Menurut Al-Mawardi. Ini pendapat fuqaha Bashrah. during the first days of his activity. Nor does it appear likely that such a leader should accept someone as his deputy and successor and introduce him to others as such. Umat boleh memiliki (ikhtiyar) pemimpin yang disepakatinya (ittifaq) Dalam kenyataan. siapa yang memilih. boleh dilakukan dalam jumlah terbatas dan ittifaq paling sedikit dilakukan lima orang. Al-Ahkam al-Sulthaniyah 6-7. 1406:147. "Sejak pertama kali ia mengajak orang pada Islam. dan berapa jumlah orang yang sepakat. dan Salim Mawla Abi Hudzaifah. seperti ketika 'Abbas mendatangi Ali untuk membai'atnya.t. pemimpin tidak perlu ditunjuk oleh nash. Bukankah aqad nikah sah dengan dua saksi dan satu wali? Kata kelompok yang lain.." Sayyid Muhammad Husayn Tabatabai (t. untuk menegakkan masyarakat Islam. Abu 'Ubaidah bin al-Jarah. and refuse to make any distinctions. dikutip lagi dari Al-Askari. Empat imam mazhab Ahl al-Sunnah sepakat bahwa pemimpin sah dengan salah satu di antara empat cara (al-Yahfufi. Menurut fuqaha Kufah. Begitu pula Umar mempercayakan Dewan Formatur yang terdiri dari enam orang untuk memilih satu di antaranya sebagai khalifah. Usaid bin Hudhair. but then throughout his life and religious call deprive his deputy of his duties as deputy. menunjuk pengganti-pengganti sesudahnya untuk memimpin umat Islam.." kata Al-Askari (1406:202). al-Syura 38 dan Ali Imran 164 sebagai dalil. pemimpin bahkan dapat disahkan tidak lewat ittifaq tetapi lewat al-ghalabah (kemenangan perang). Ahl al-Sunnah tidak mempunyai konsepsi yang jelas tentang ketentuan-ketentuan syura. but not introduce him to his completely loyal and devout aides and friends.W. "Ia telah memikirkan dan merencanakan pelanjutnya .: 39) menulis: From the Shi'ite point of view it appears as unlikely that the leader of a movement. should introduce to strangers one of his associates as his successor and deputy. -------------------------------------------Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah Editor: Budhy Munawar-Rachman (bersambung 2/3) . Akhirnya. Mawardi dalam bukunya. yaitu: (1) sistem syura yang terbatas (seperti pemilihan Abu Bakar) (2) sistem istikhlaf (penunjukan pengganti seperti yang dilakukan Abu Bakar terhadap 'Umar (3) sistem syura dari dewan formatur yang ditunjuk khalifah sebelumnya (seperti pengangkatan Utsman bin Affan) (4) sistem al-ghalabah bi al-saif (penaklukan dengan kekuatan militer seperti yang dilakukan Mu'awiyah) Syi'ah berpendapat bahwa imamah hanya sah bila ditegaskan dalam nash. syura.

Mazhab Imamiyah sepakat tentang hal itu. maka tentu imam adalah orang yang terbaik. 7501983. mahaddtsin.Penerbit Yayasan Paramadina Jln." Sebelum itu ia menulis (Syarh Muslim 12: 229).52. walaupun mereka fasik dan zalim. Al-Qur'an menentang hal itu dengan berkata. UA 20-21 Jakarta Selatan Telp. [3] Karena imam itu ditunjuk oleh nash. Ahl al-Sunnah memilih yang pertama. "Ketika Syi'ah menegaskan bahwa khilafah adalah hak ilahi bagi Ali dan keturunannya. 7507173 Fax. dan Syi'ah mengikuti yang kedua." Karena Syi'ah menetapkan al-fadhil dan Ahl al-Sunnah membolehkan al-mafdhul sebagai imam. penguasa muslim yang dzalim atau penguasa kafir yang adil. Ini melahirkan kontroversi al-fadhil dan al-mafdhul. Syi'ah Jawad Mughnuyah (1406: 26) berpendapat. Sudah jelas sekali hadits-hadits yang menunjukkan pengertian yang saya sebut. Ahl al-Sunnah ijma' bahwa sulthan tidak boleh dimakzulkan karena kefasikan. Bagaimana kalian menetapkan keputusan?. 1396: 27) menulis: Imam mesti yang paling utama dari rakyatnya. ada nash-nash yang jelas dari Rasulullah saw. yang menunjukkan Ali sebagai penggantinya dan sebelas orang imam dari keturunannya. "Apakah orang yang memberi petunjuk kepada yang benar lebih berhak diikuti ataukah orang yang tidak dapat memberi petunjuk. atau pelanggaran hak. bahkan harus diberi petunjuk. Al-Jumhur (yakni. bahkan terpelihara dari dosa. Wajib bagi rakyat menasihati dan memperingatkannya." Kontroversi selanjutnya adalah tindakan untuk menjawab pertanyaan manakah yang lebih utama. . Akan menganggap tidak baik mendahulukan al-mafdhul dan menghinakan al-fadhil. dan mutakallimun bahwa imam tidak boleh di dimakzulkan karena kefasikan. (021) 7507174 Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota Please direct any suggestion to Media Team Artikel Yayasan Paramadina Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota VI. "Berkata jumhur ahl al-Sunnah dari kalangan fuqaha. Al-Nawawi berkata dalam Syarh Muslim-nya. Ahl al-Sunnah) membolehkan mendahulukan al-mafdhul di atas al-fadhil. dan kedzaliman. Al-Hilli (dalam Al-Hasan. SKISME DALAM ISLAM SEBUAH TELAAH ULANG (2/3) oleh Jalaluddin Rakhmat Walhasil. "Keluar memerangi mereka haram berdasarkan ijma' kaum muslimin. Syi'ah melarang dan Ahl al-Sunnah mengharuskan petaatan pada penguasa yang zalim. Dengan begitu mereka menyalahi akal dan nash al-Kitab. Ia tidak boleh diturunkan dan tidak boleh orang keluar menentangnya. menurut Syi'ah. Metro Pondok Indah Pondok Indah Plaza I Kav. terjadilah kontroversi berikutnya. (021) 7501969.

Pada bidang religius. ahl al-bayt --di samping memegang hak kepemimpinan politis-juga menjadi rujukan dalam masalah-masalah keagamaan. Mengapa terjadi perbedaan itu. teori ini berpijak pada dua asumsi: (1) Bangsa Arab adalah bangsa yang terorganisasi atas dasar kesukuan. padahal kedua mazhab ini lahir dari Islam yang sama dan pengikut Nabi saw. Teori ini dikemukakan oleh Nicholson (1969). orang mengikuti Imam Malik. ahl al-Sunnah memisahkan kedua kepemimpinan itu. Bagi orang Syi'ah. Perilaku yang menjadi tradisi suatu kabilah. Asumsi pertama menunjukkan bahwa status sosial seseorang sangat ditentukan oleh status marganya. dan secara terperinci dijelaskan kembali oleh Jafri (1967). sejak berakhirnya Khulafa al-Rasyidun. mereka mengikuti khalifah al-Manshur. lahirlah skisme politik besar Islam yang berlangsung sampai kini. Orang Arab percaya bahwa selain karateristik fisikal. Kita hanya akan mengulas dua teori saja: teori sosioantropologis Bangsa Arab dan teori pendekatan doktrinal. lazim disebut Sunnah. Nahnu ma'aman ghalab" (Kami bersama orang yang berkuasa). Kontroversi lain --yang justru sangat esensial-. kafir yang adil lebih baik dari Muslim yang dzalim. Sementara itu. kehormatan seseorang dalam bahasa Arab disebut hasab (dari akar kata hasiba yang berarti menghitung). pada kata imamah (yang secara khusus berarti kepemimpinan ruhaniah) juga terkandung makna wilayah (secara khusus berarti kepemimpinan politis). Mereka mengutamakan non-muslim jika ia adil daripada seorang penguasa Muslim yang dzalim. dan pada bidang politis. Dengan demikian. Karena itu. misalnya. Di antara . Wellhausen (1927). dan perbedaan dalam memandang hubungan kekuasann politis dengan kekuasaan religius (digabungkan atau dipisahkan).adalah hubungan antara kepemimpinan relegius dengan kepemimpinan politis. Goldziher (1967). Secara singkat. Ibn Thawus yang masyhur menegaskan. saya menguraikan teori ini secara lengkap. Tidak mungkin dalam makalah ini. (2) Bangsa Arab yang membentuk umat Islam permulaan terdiri dari dua subkultur-subkultur Arab Selatan dan subkultur Arab Tengah-Utara. yang sama? Ada beberapa teori yang menjawab pertanyaan ini. Secara politis. ahl al-Sunnah berpegang pada kaidah yang diberikan Ibn Umar pada waktu ada pertikaian antara Ali dan para penentangnya. kesetiaan pada suku dan ketergantungan kehormatan pada sukunya menjadi sangat penting. Menarik untuk dicatat bahwa khalq (karakteristik fisik) dan khuluq (perilaku) ditulis sama dalam bahasa Arab. Orang Syi'ah sering mendefinisikan diri mereka sebagai madzhab ahl al-bayt. karakteristik perilaku juga herediter.mereka telah bersikap ekstrem dalam toleransinya terhadap penguasa yang adil. dan menjadi kebanggaan anggota kabilah. Dari perbedaan pengangkatan pemimpin (ikhtiyar atau ta'yin). perbedaan kualifikasi pemimpin (al-fadhil atau al-mafdhul). TEORI SOSIO-ANTROPOLOGIS BANGSA ARAB. Setiap anggota marga bangsa dalam menghitung-hitung prestasi nenek moyangnya. perbedaan preferensi penguasa (kafir yang adil atau muslim yang dzalim).

Ketika keturunan "Umayyah merasakan ada angin baru yang menguntungkan mereka. Tema ahl al-bayt memiliki "appeal" yang kuat bagi bangsa Arab. Ketika Nabi hijrah ke Madinah. Ali pernah memindahkan ibu kota pemerintahan Islam dari Madinah --yang sudah dikuasai Bani Ummayah-. Mungkin. penguasa-penguasa yang bukan ahl al-bayt tidak menafikan kehormatan itu. Nabi saw menyadari betul aspek-aspek kultural dari kepemimpinan ahl al-bayt. pemimpin umumnya dipilih berdasarkan usia atau senioritas. pengurusan rumah suci (bayt) dan kehormatan (hasab) tidak dapat dipisahkan. Pada suku-suku Arab Utara. "Orang banyak tidak menginginkan nubuwwah dan khalifah bergabung pada Bani Hasyim" (Tarikh Thabari 1: 2769). [4] TEORI PENDEKATAN DOKTRINAL Sayyid Baqr Shadr (1982:73-96) mengemukakan apa sebut sebagai teori pendekatan doktrinal. Bani Abd al-Syams perlahan-lahan muncul sebagai kekuatan politik dan bani Hasyim mulai melemah. Karena itu. Dari kedua subkultur inilah. Ahl al-Sunnah. menemoi suku Aws dan Khazraj yang berasal dari Arab Selatan. Bagi bangsa Arab. pada Arab Selatan. Kepemimpinan ahl al-bayt menggabungkan dimensi temporal dan sakral sekaligus. Bani Hasyim menang dan menyisihkan lawannya dari Bani Abd al-Syams. kepemimpinan Arab dipegang oleh keturunan Qushayy. of power" dari Bani Hasyim. karena itu. khususnya Arab Selatan. sejak Mu'awiyah merebut kekuasaan berupaya untuk menekan konsepsi kepemimpinan ahl al-bayt. Karena secara doktrinal. Dalam pertentangan memperebutkan kedudukan ahl al-bayt. Ka'bah adalah rumah suci yang dihormati semua kabilah Arab. Mereka adalah suku Arab yang memiliki sensitivitas religius yang tinggi. karena itu pula. sejak zaman jahiliyah orang Arab tidak mengenal pemisahan antara kepemimpinan temporal dan kepemimpinan sakral. inskripsi pada monumen Arab Selatan menunjukkan perasaan syukur dan penyerahan diri pada Tuhan.sunnah yang paling dihargai adalah mengurus dan memelihara tempat-tempat suci. Ia mengembalikan lagi wibawa kepemimpinan Bani Hasyim sebagai Ahl al-Bayt.ke Kufah. Bani "Umayyah tentu tidak rela dengan "return. pemimpin dipilih berdasarkan kesucian keturunan (hereditary sanctity). Pada masa Abu Thalib. Bila inskripsi pada monumen di Arab Utara memuja keberanian dan kepahlawanan. misalnya. datang paling banyak dari Bani Umayyah. Inilah. muncullah Muhammad bin Abdullah bin Abd al-Muthalib. Karena itu Bani Hasyim dikenal bangsa Arab sebagai Ahl al-Bayt. argumentasi yang dikemukakan Umar bin Khathab kepada 'Abbas ketika bertengkar masalah kepemimpinan 'Ali. Kabilah yang mendapat tugas secara turun temurun memelihara Ka'bah disebut sebagai "keluarga al-bayt" atau ahl al-bayt. berkembang skisme Sunnah-Syi'ah. Sejak awal. Islam menyuruh menghormatiahl al-bayt (yang sekarang didefinisikan lebih terbatas lagi sebagai keturunan Rasulullah saw). Perlawanan terhadap Islam. menerjemahkan sebagian argumentasi Shadr ini tanpa komentar sedikitpun: yang kita Saya akan memberikan . Yang tidak mereka inginkan adalah gabungan antara kehormatan religius dengan kehormatan politik.

Rasul telah bertahan berkali-kali menghadapi aliran ini. Yang mengikuti aliran ini terdiri dari sahabat-sahabat besar. lebih suci. Sahabat adalah kelompok Mukmin yang cemerlang. yang menyertai perkembangan umat dalam permulaan eksperimen Islam. sampai pada saat menjelang kematiannya (yang akan diuraikan nanti).Bila kita mengikuti periode permulaan dari kehidupan umat Islam di zaman Nabi saw. Cukuplah bagi kita Kitab Allah. di rumahnya ada banyak orang. Minoritas ini adalah Syi'ah. ada juga sahabat yang bertahkim dan bertaslim sepenuhnya pada nash-nash agama di semua bidang kehidupan. Perbedaan di antara kedua aliran ini telah menimbulkan perbedaan doktrinal sesudah wafat Rasulullah saw. Aliran kedua. Sebagian berkata: Dekatkan supaya Nabi menulis . Di hadapan kalian ada al-Qur'an. Penghuni rumah itu pun bertikai. sesuai dengan kemaslahatan masyarakat. Ia berkata: "Menjelang Rasulullah saw wafat. benih yang paling utama pada saat pertumbuhan risalah. Keduanya hidup bersama dalam lingkungan umat yang dilahirkan oleh Rasul sang Pemimpin. Dua aliran utama yang menyertai zaman Nabi sejak awal adalah: pertumbuhan umat Islam di (1) Aliran yang beriman sepenuhnya pada ta'abbud bi 'l-din berhukum dan berserah mutlak pada nash-nash agama dalam seluruh bidang kehidupan. para sahabat cenderung mendahulukan ijtihad untuk memperkirakan dan memperoleh maslahat daripada ta'abbud secara harfiyah pada nash-nash agama. tampaknya lebih menyebar di kalangan kaum muslimin karena kecenderungan manusia untuk tunduk pada kemaslahatan yang dapat difahami dan diperkirakannya. Salah satu kelompok berhasil berkuasa dan sanggup berkembang sehingga mencakup mayoritas kaum muslimin. (2) Aliran yang hanya merasa tunduk pada agama pada bidang-bidang khusus seperti ibadah dan hal-hal yang ghaib. Umar bin Khathab pernah melawan Rasulullah saw dan berijtihad pada banyak kejadian. karena harus tunduk pada adanya aliran yang luas pada bidang kehidupan. Berkata Umar: Nabi saw sedang dicengkram sakit. Aliran ini meyakini kemungkinan ijtihad. sejak dini. dan tinggi dari generasi yang dilahirkan Rasulullah. Nabi berkata: Mari aku tuliskan untuk kamu tulisan sehingga kamu tidak sesat sesudahnya. membolehkan memalingkan nash agama pada bidang-bidang kehidupan di luar bidang-bidang kehidupan di atas. aliran ijtihadi. Bukhari meriwayatkan dalam shahihnya dari Ibn 'Abbas. dengan meyakini bahwa apa yang dilakukannya benar. dengan peralihan atau perubahan. Di samping itu. Walaupun demikian. yang bertentangan dengan nash. kita temukan dua aliran utama yang berbeda. memisahkan umat dua kelompok besar. di antaranya Umar bin Khathab. sehingga sejarah manusia tidak pernah menyaksikan generasi aqidah yang lebih mulia. Pernah kedua aliran ini bertentangan di hadapan Rasul pada hari-hari terakhir kehidupannya. Kelompok yang lain tidak berhasil memperoleh kekuasann dan berkembang sebagai kelompok minoritas menghadapi lingkungan Islam yang umum. serta meninggalkan kecenderungan mengikuti kemaslahatan yang tidak dapat difahami tujuannya.

lafazh yang 'am (berlaku umum) dan khash (berlaku khusus). (021) 7507174 Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota Please direct any suggestion to Media Team pertikaian dan Artikel Yayasan Paramadina Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan . dan sapulah muka kamu dan tangan kamu itu. Kebanyakan aliran-aliran itu muncul sebagai hasil refleksi intelektual. tetapi hanya akan menunjukkan penyebab timbulnya ikhtilaf tersebut. ketika para politisi mulai masuk. dan tidak wajib shalat. yang muthlaq dan yang muqayyad (bersyarat). Skisme ini dapat terjadi pacla bidang ilmu kalam atau bidang fiqh. Lihatlah perbedaan pemahaman ayat tayamum ini. Madzhab yang lain berpendapat bahwa syarat sah tayammum adalah salah satu di antara tiga kondisi: tidak ada air.(bersambung 3/3) Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah Editor: Budhy Munawar-Rachman Penerbit Yayasan Paramadina Jln. Sebab-sebab yang berkaitan dengan pemahaman al-Qur'an dan al-Sunnah. Saya tidak akan memperinci kedua ikhtilaf ini. UA 20-21 Jakarta Selatan Telp. Skisme intelektual (mungkin malah tidak tepat disebut skisme) memang bisa menjadi solid. Banyak orang berpikir sederhana: pertikaian akan segera selesai bila kita kembali kepada al-Qur'an dan al-Sunnah. Metro Pondok Indah Pondok Indah Plaza I Kav. maka bertayamumlah dengan debu yang suci. tidak sakit. ia berkata: Pergilah kalian. atau setelah kamu menjamah wanita. yang tidak mungkin semuanya dibahas di sini." (al-Qur'an 5: 6). 7501983. tidak berlaku tayammum baginya. "Dan jika kamu sakit atau sedang bepergian. -------------------------------------------. Di dalam kedua sumber tasyri' ini terdapat kata-kata atau kalimat yang musytarak (mengandung makna ganda). Kalimat ini dipahami Abu Hanifah sebagai berikut: Orang yang tidak bepergian.(wasiat) kitab sehingga kamu tidak sesat sesudahnya. dan ada air." Peristiwa ini cukup menunjukkan dalamnya pertentangan di antara kedua aliran ini. atau bepergian. Ketika sudah ramai perbincangan dan pertikaian di hadapan Nabi. atau kamu tak menemukan air. atau sakit. 7507173 Fax. (021) 7501969. Sebagian lagi berkata seperti kata Umar. SKISME INTELEKTUAL Dari kedua aliran ini kemudian berkembang aliran-aliran lainnya. Ayat tersebut hanya mewajibkan tayammum bila tidak ada air khusus pada yang sakit atau musafir. atau jika salah seorang di antara kamu datang dari jamban. Abu Zuhrah (1987) menyebut yang pertama ikhtilaf 'aqaidi dan yang kedua ikhtilaf fiqhi. Pertikaian justru terjadi ketika kaum Muslim berusaha memahami al-Qur'an dan al-Sunnah.

Kemusykilan kedua adalah sampai atau tidak sampainya hadits. menjilati jari setelah makan. kemana pengecualian itu berlaku? Kepada semua kalimat atau kepada kalimat yang terakhir." dan (3) "Mereka itulah orang-orang fasik. tanah saja. Ketika Ibnu Umar melaporkan lagi hadits dari ayahnya. pasir.ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota VI. al-Mughniyah. 1986. Mereka menangisi jenazah itu. Umar melaporkan bahwa mayit akan disiksa karena tangisan keluarganya. kata Maliki. pada Fath Makkah) atau membunuhnya (seperti yang dilakukan Nabi pada perang Khandaq). Yang terakhir diambil oleh Hanafi. ia mencambuki orang yang menangisi mayat. Ada yang menyertai Nabi hampir setiap saat. 1960). Manakah yang sunnah. mengampuni para tawanan (seperti yang dilakukan Rasulullah saw. lalu di ujunguya ada kata yang mengecualikan (istitsna). air teh). kalian menangis. Ia mendengar sesuatu tetapi tidak menghafalnya. Dalam bidang ilmu kalam terjadi perbedaan pemahaman nash-nash yang berkenaan dengan qadha dan qadar. tanah. Apakah deraan harus dihilangkan bila orang taubat. dan sebagainya. dan batuan. 'Aisyah berkata. apakah kesaksian penuduh dapat diterima bila orang itu telah bertaubat? Semua mazhah --selain Hanafi-memilih rnenjawab "ya" untuk pertanyaan-pertanyaan di atas. ketika kita memasuki pengkajian-pengkajian Islam yang lebih operasional seperti epistimologi Islam. SKISME DALAM ISLAM SEBUAH TELAAH ULANG (3/3) oleh Jalaluddin Rakhmat Apa yang dimaksud "air"? Kata mazhab Hanafi. dan menggunakan siwak adalah sunnah. Kata mazhab yang lain. Ayat yang berkenaan dengan tuduhan berzinah (QS. padahal ia sedang disiksa. 24:4) mengandung tiga kalimah: (1) "Deralah mereka 80 deraan. Pernah lewat jenazah Yahudi di depan Rasulullah saw. Hambali. kata Hanafi dan Hambali. batuan. Yang pertama dipilih oleh Syafi'i. Nabi berkata. juga air mudhaf (seperti air jeruk. pasir. sehingga kita mengenal Jabbariyah dan Qadariyah." [5] SEBAB-SEBAB BERKENAAN DENGAN PERBEDAAN KAIDAH USHUL FIQH Apabila ada rangkaian kalimat majemuk. air itu termasuk air mutlak (H2O). SEBAB-SEBAB YANG BERKENAAN DENGAN SUNNAH Masalah-masalah yang berkenaan dengan sunnah lebih musykil lagi. yang mempunyai lingkup pengalaman yang berlainan bersama Rasulullah saw. tanah. "Debu" meliputi pasir dan tanah. Kemusykilan pertama terjadi ketika kita mengambil pelajaran dari hadits: apakah yang diberitakan hadits itu Sunnah atau bukan. dan ada yang berjumpa dengan Nabi sesaat saja. Karena itu. umat Islam yang lainnya tidak beranggapan begitu.52. Jamaat Tabligh berpendapat makan di bawah. sebagian wajah oleh Ja'fari (al-Jaziri. kata Hambali. teologi Islam. . Maliki. salju dan logam." (2) "Jangan terima kesaksian mereka selama-lamanya. air mutlak saja. Perbedaan ini akan makin melebar. Ibn Umar). "Semoga Allah meyayangi Abu Abd al-Rahman (yakni. kata Syafi'i. 'Aisyah menolak hadits 'Umar ini." Istitsna datang sesudah kalimat-kalimat itu. Hadits dilaporkan oleh para sahabat.

tidak ada perbedaan antara Ahl al-Sunnah dan Syi'ah dalam hal bilangan rakaat. betapapun banyak dan sahihnya. Perbedaan mulai terjadi pada rincian dari pokok-pokok itu. jumlah shalat wajib. sebagai pertentangan dengan prinsip egalitarian al-Qur'an [6] adalah mendahulukan kritik 'aqli daripada kritik naqli. istishlah. Mencurigai hadits-hadits tentang wasiat Nabi kepada keluarganya. misalnya. dan sebagainya. Memilih pendapat yang paling kuat inilah tarjih. Orang yang menganggap bahwa setiap orang berhak ijtihad dan menafsirkan al-Qur'an karena ruh ajaran Islam itu egalitarian. Misalnya. Dalam hal akidah --semuanya percaya kepada Allah yang Esa. siap berbeda pada yang dzhann-i: Kita dapat membagi hukum-hukum fiqh ke dalam dua bagian besar. Tentang shalat. qiyas. Di samping itu. Semua sepakat shalat dimulai dengan takbir. terdapat juga beberapa metode ijtihad yang tidak disepakati. 1986: 99-103). saya maksudkan. pendapat itu tetap dzhanni. Kedua. Seorang tidak dikatakan Muslim lagi bila berbeda pada bagian fiqh yang pertama. Kita akan segera menemukan bahwa bagian pertama berdasarkan dalil-dalil qath'i dan bagian kedua berdasarkan dalil-dalil dzanni. Demikian pula halnya dengan keberatan sementara orang terhadap hadits-hadits tentang Imam Mahdi. Muhammad Rasulullah. qaul shahabat. jumlah ruku' dan sujud. mereka berbeda dalam cara mengangkat tangan dalam takbir. keyakinan kita harus diamalkan sejauh tidak merusak keutuhan umat atau tidak mendatangkan mudharat. Ini cara untuk menghindarkan "terburu-buru" menangkap ruh dari suatu nash. bila dalil-dalil yang dipergunakan sama-sama kuat. terjebak dalam keterburu--buruan. dan bagian-bagian shalat yang penting lainnya. . Pada bagian yang kedua sepatutnya kita saling menghargai dan menggunakan perbedaan pendapat untuk pengembangan wawasan tentang Islam. kita harus menguji perbedaan paham itu lewat ukuran-ukuran naqli dan aqli. Tetapi betapapun kuatnya. 1. dan muamalah yang disetujui bersama. Misalnya. Sepakat pada yang qath'i.hanya boleh dilakukan setelah pengujian naqli. beramal dengan prinsip silaturahim: Bila terjadi perbedaan paham atau penafsiran pada hal-hal yang dzanni. bertalian dengan cabang-cabang (furu') dari pokok-pokok di atas yang memungkinkan terjadinya perbedaan. Berpikir dengan prinsip tarjih. Pertama. Adalah kenyataan yang menakjubkan walaupun sering lolos dari perhatian kita bahwa dalam bagian pertama seluruh mazhab mencapai kesepakatan. Ukuran aqli --yang saya definisikan sebagai metode dialektik untuk menguji konsistensi logis suatu proposisi-. berkenaan dengan pokok-pokok akidah. apa pun mazhabnya. mencari dalil-dalil yang paling kuat lewat kritik hadits (yang secara konvensional telah disepakati oleh ulama ahli hadits) dan ilmu-ilmu al-Qur'an (kalau berkenaan dengan penafsiran al-Qur'an). dan Hari Kebangkitan.Inilah salah satu contoh perbedaan penggunaan kaidah Ushul Fiqh. APA YANG HARUS DILAKUKAN? Saya ingin mengakhiri makalah ini dengan menuliskan kembali apa yang saya sampaikan pada tempat lain (Rahmat. Dengan ukuran naqli. 2. istihsan. Di tengah-tengah umat.

Beirut: Dar al-Turats al-Islami. Al-Mujadilah: 11). Al-Qur'an yang mengajarkan persamaan dengan tegas mengatakan. 1974. al-Zumar:9) "Allah mengangkat derajat orang yang beriman dan memiliki ilmu pengetahuan" (QS. Fathir:19). Tidak sama kegelapan dan cahaya" (QS. Mengizinkan setiap orang berijtihad --tanpa mempedulikan perbedaan mereka dalam pengetahuan agama-. seperti itu pula beragamnya perbedaan pendapat. 3. . tetapi mengulang lagi shalatnya di rumah (para ulama menyebutnya ihtiyath). al-Thabrani. Ia menyebut Ahl al Sunnah sebagai madrasah al-khilafah dan Syi'ah sebagai madrasah al-imamah. tetapi ia menahan diri karena memikirkan kemaslahatan umat. Ketika ditegur ia menjawab. Di Indonesia. Bukan ijtihad bila dilakukan tanpa ilmu. "Katakan. Ini mempertebal ketergantungan kepada paham fiqh kita. Ibnu Mas'ud shalat juga empat rakaat. Ijtihad memerlukan pengetahuan yang komprehensif tentang Islam. Akibatnya. Ilmu mengurangi perbedaan. "Berijtihad" tanpa ilmu berarti membuang seluruh konvensi dan kriteria. al-Turmidzi al-Hakim.Ini saya sebut prinsip shilaturrahim. mengkritik hadits. Ahmad. Ijtihad sebetulnya secara inheren melibatkan banyak ilmu. Salah satu penyebab perpecahan ialah pendekatan parsial yang pada gilirannya disebabkan kekurangan pengetahuan. "Perselisihan itu semua jelek" -(al-khilaf syarr kullah). Ibnu Mas'ud berpendapat shalat Dzuhur dan 'Ashar di Mina harus di qashar.dapat menimbulkan chaos. Ali yakin ia paling berhak menjadi khalifah. Dan seterusnya sehingga terbentuk lingkaran setan yang tidak berujung. melakukan tarjih bukanlah pekerjaan yang bisa dilakukan setiap orang. Ibnu Umar shalat empat rakaat. dan ini berarti anarkhi. kita cenderung menerima informasi hanya lewat sumber-sumber yang kita setujui dan menutup diri dari informasi yang datang dari sumber lain. "Tidak sama orang buta dan orang yang melihat. keyakinan kita terhadap paham kita terlalu tinggi sehingga kita cenderung eksklusivistis dan meninggalkan prinsip silaturrahim. Seperti sangat beragamnya kemampuan dan pengetahuan orang. "Katakan. Sayang sekali. karena ilmu meletakkan konvensi-konvensi yang disetujui bersama. CATATAN 1) Hadits ini diriwayatkan oleh Al-Bukhari. Berbagai matan hadits ini dan penjelasannya dapat dibaca pada Al-Sayyid Murtadha al-Askari. 1406). Imam Syafi'i tidak membaca qunut pada shalat Shubuh karena menghormati makam Abu Hanifah yang tidak jauh dari situ. 2) Al-Sayyid Murtadha al-'Askari menulis studi perbandingan antara Sunnah dan Syi'ah dalam Ma'alim al-Madrasatain (Teheran: Al-Bi'tsah. Khamsun wa Mi-ah Shahabi Mukhtalaq. di samping membuat kendala-kendala yang berbentuk kriteria. al-Bazzar. Tidakkah kalian pikirkan itu?" (QS. Ibn Majah. al-Ra'd:16). apakah sama orang yang buta dengan orang yang melihat. Ketika Utsman shalat empat rakaat. dan ini berarti. banyak paham timbul --barangkali setelah melakukan taryih. hanya sekelompok kecil orang yang dapat melakukannya. apakah sama orang vang berpengetahuan dengan yang tidak berpengetahuan" (QS. Ijtihad bagi Ulama dan taqlid bagi orang awam: Membedakan mana yang qath'i dan dzanni.

The story of Civilization. Al-fiqh 'ala al-Madzahib al-Arba'ah. Muslim Studies. Dalail al-Shidq. Orang-orang Yaman adalah para pendukung Syi'ah. Dalam sunan al-Nasai dan Al-Turmudzi ada bab yang berjudul: Bab bolehnya menangisi mayit. Beirut: Dar al-Jawad. dan ibunya (Aminah). 1982. Teheran: Bittsah. Terjemahan Inggris oleh S. Begitu banyaknya Sabaiyyah yang mendukung Syi'ah. 1953. Al-Askari. Beirut: Dar al-Fikr al-Arabi. -------------. -------------. 6:84. Al-Hasan.V. Vol. Nabi menangisi putranya (Ibrahim). Murtadha.3) Hadits tentang dua belas imam ini diriwayatkan juga dalam kitab-kitab shahih di kalangan Ahl al-Sunnah.IV. Al-Yahfufi. 1967-1972. Ma'alim at-Madrasatain. New York: Simon and Schuster. Mobtadiyah: Dar al-Mu'alim Al-Jaziri. 1405. 27:16. 1406. 5) Hadits ini diriwayatkan Muslim dalam Kitab al-Jana-iz. Al-Mughniyah. Kitab al-Ahkam. 6) Padahal dalam banyak ayat al-Qur'an. Muhammedanische Studien. Abd al-Rahman. Vol. The story of Civilization. Shahih al-Turmudzi 2: 35: Mustadrak al-Shakihain 4: 501. 1396. 20:30. tidak diketahui penerbitnya. 2:124. "Ulu al-Amr 'inda Madzahib al-Islamiyah. Al-fiqh 'ala al-Madzahib al-Khaumsah. Durant. Kanz al-Ummal 6: 201. Lihat Shahih al-Bukhari. prinsip pewarisan kepemimpinan pada keturunan atau keluarga nabi-nabi sering ditegaskan. Musnad Ahmad 5:89. New York: Simon and Schuster.R. Al-Syi'ah wa al-Hakimun. Barber.M. Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiyah. 19:58. mereka kemudian dikenal sebagai Sabaiyyah. DAFTAR PUSTAKA Abu Zuhrah. Kitab al-Imarah. London. 1986. Teheran: Wizarat al-Irsyad al-Islamiyah." dalam Al-Maqalat wa al-Dirasat. Kita hanya ingin menunjukkan bahwa prinsip egalitarian hendaknya ditafsirkan dengan merujuk pada dalil-dalil yang sahih. Kita tidak bermaksud menunjukkan bahwa pendapat wasiat Nabi pada Ali adalah satu-satunya paham yang benar. Tarikh al-Madzahib al-Islamiyah. Goldziher. Stern dan C. Lihat 3:33. Hadits-hadits yang melaporkan bolehnya menangisi mayat cukup banyak. Shahih Muslim. sehingga Syi'ah sering disebut sebagai Sabaiyyah. pamannya (Hamzah). 4:54. 1950. Jawad. S. 4) Mayoritas penduduk Kufah adalah orang Yaman dari Arab Selatan. Will. 14:37. 1987. 19:6. Musthafa. I. Muhammad. . Karena mereka berasal dari kerajaan Saba. 1405.

Tabatabai. Baqr. 1956. S. Beirut: Dar al-Fikr. Shadr. 1927. J. SKISME DALAM ISLAM (1/4) Tinjauan Singkat Secara Kritis-Historis Proses Dini Perpecahan Sosial-Keagamaan Islam oleh Nurcholish Madjid Pembicaraan tentang Agama Islam kecuali jika dibatasi hanya kepada hal-hal yang sama sekali normatif belaka dengan tingkat idealisasi sejarah Islam yang tinggi pasti melibatkan pembicaraan tentang berbagai skisme atau perpecahan dalam agama itu.Jafri. A Literary History of The Arabs. Husayn. 1986. Dengan mengesampingkan beberapa perorangan atau kelompok yang agaknya mengalami kesulitan besar untuk "mengakomodasi" kenyataan baru berupa peranan amat mengesankan dari kaum Syi'ah dalam percaturan keislaman internasional sekarang ini. Satu Islam. Tarikh al-Umam wa al-Muluk. 1979. RA. 7507173 Fax. 1976. (021) 7507174 Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota Please direct any suggestion to Media Team Artikel Yayasan Paramadina Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota VI. S. Wellhausen.51. Julius. Revolusi Iran bagi sebagian orang-orang muslim menawarkan semacam "hikmah . The Origins and Early Development of Shi'a Islam. -------------------------------------------Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah Editor: Budhy Munawar-Rachman Penerbit Yayasan Paramadina Jln.H. 7501983. Weir.. Thabari. (021) 7501969. muncul dengan kuat di kalangan kaum muslimin Indonesia khususnya dan dunia umumnya karena adanya Revolusi Iran pada 1979. Beirut: American University.). Tidak diketahui penerbitnya. Tanpa Tahun. Rahmat. Nicholson.. Shi'a. Metro Pondok Indah Pondok Indah Plaza I Kav. sebagaimana telah sering dibicarakan. 1982. The Arab Kingdom and Its Fall. M. Ibn Jarir. "Ukhuwah Islamiyah: Perspektif al-Qur'an dan Sejarah" dalam Haidar Bagir (ed. Sebuah Dilemma. Teheran: Maktabah al-Najah. Kesadaran akan adanya skisme itu akhir-akhir ini. Cambridge. Baths Hawl al-Wilayah. Bandung: Mizan. UA 20-21 Jakarta Selatan Telp. Trans. Calcutta.M.

Namun justru secara historis masalah kesatuan itulah di antara hal-hal yang amat sulit dicapai oleh manusia. makanlah dari yang baik-baik. yaitu mengabdi kepada Tuhan Yang Maha Esa yang mencintai dan melindungi mereka. Salah satu firman suci dalam al-Qur'an yang relevan dengan masalah ini terbaca: Wahai para Rasul. umat yang tunggal. Lebih menarik lagi sebagai bahan kajian bahwa manusia cenderung berpecah-belah justru setelah mereka menerima ajaran Tuhan yang dibawa oleh para Utusan-Nya. dengan mengakui dan memasukkannya ke dalam hitungan berbagai faktor sejarah sebagai ikut menentukan apa yang telah terjadi. maka bertaqwalah kamu sekalian kepada-Ku. [1] Tafsir atas firman itu tidak bisa lain daripada penegasan bahwa semua Nabi dan Utusan Tuhan itu membentuk persaudaraan umat yang tunggal. agar waspada terhadap bahaya perpecahan dan pertentangan. sebab Pesan Suci mereka pun tunggal. kiranya. dan dalam memandang keberagamaan "orang lain" (dalam pengertian yang seluas-luasnya). Karena itu jika harus disebutkan kegunaan utama pembahasan kita sekarang ini. dan apa yang sedang dan bakal terjadi. ialah kesediaan dan kemampuan untuk melihat berbagai kenyataan sejarah secara proporsional. maka pembahasan kita dalam makalah ini insya Allah akan kita lakukan dalam semangat tinjauan kritis berdasarkan pandangan yang memperhitungkan berbagai faktor sejarah. Sesungguhnya Kami (Tuhan) maha mengetahui akan segala sesuatu yang kamu kerjakan. Berdasarkan itu semua. Termasuk ke dalam makna kedewasaan itu. tidak saja kepada kaum muslim tetapi juga kepada para penganut agama para Nabi dan Rasul Allah keseluruhannya. Dengan begitu diharap bahwa secara berangsur kita dapat mewujudkan dalam kenyataan berbagai angan-angan mengenai umat atau masyarakat Islam yang mendekati gambaran dalam Kitab suci sebagai "ruhama baynahum" (saling cinta kasih antara sesamanya). Keadaan yang menyimpang dari seharusnya ini tidak saja karena berbagai usaha mereka memahami ajaran Tuhan dan menerapkannya dalam kehidupan nyata . UMAT YANG TUNGGAL Kenyataan historis pertama tentang agama Islam ialah bahwa umatnya telah terpecah dan bahkan saling menumpahkan darah sejak masa-masa amat dini perjalanan sejarahnya. sedangkan Aku adalah Pelindungmu semua. yaitu pesan suci keprasahan yang tulus kepada kehendak Ilahi (al-islam dalam makna generiknya). Seorang muslim yang serius dan prihatin tentu merasakan adanya semacam anomali dalam kenyataan sejarah itu. dan berbuatlah kebajikan.terselubung" (blessing in disguise) berupa cakrawala pandangan keagamaan (Islam) yang lebih meluas. Dan inilah pula dasar pandangan tentang Kesatuan Kemanusiaan (al-Wahdat al-Insaniyyah). Tetapi berbagai pengalaman menunjukkan bahwa keadaan itu tidak akan tercipta jika kita tidak memiliki cukup kedewasann dalam sikap keberagamaan kita. Apalagi al-Qur'an sendiri sejak dari semula menyatakan dan memperingatkan. maka kegunaan itu ialah sebagai bagian dari usaha bersama untuk mendorong lebih jauh kecenderungan positif tersebut. Dan ini adalah umatmu semua. Ini menjadi dasar pandangan tentang Kesatuan Kenabian (Wahdat al-Nubuwwah) dan Kesatuan Risalah atau pesan suci (Wahdat al-Risalah).

karena rasa permusuhan antara sesama mereka. [4] Firman-firman itu membuka kemungkinan berbagai interpretasi . Perpecahan dan pertentangan itu semakin destruktif sifatnya karena pembawaannya yang sering bergaya absolutistik dan tak kenal kompromi akibat watak dasar suatu keyakinan keagamaan. yang dikehendaki-Nya). Lebih dari itu. Dan mereka yang menerima Kitab Suci itu tidaklah berselisih mcngenai sesuatu (masalah Kebenaran) kecuali setelah datang berbagai penjelasan. tidak ada yang lebih absurd daripada penyelesaian perselisihan faham keagamaan melalui penindasan dan penumpahan darah. Namun inilah yang sebenarnya terjadi dalam pengalaman hidup umat manusia. [3] Juga firman Allah: Manusia itu tidak lain kecuali umat yang tunggal. yang jelas tanpa kecuali terbagi-bagi dan terpecah-pecah menjadi berbagai golongan dan sekte. maka tentunya Dia jadikan manusia umat yang tunggal. Barangkali. diselesaikan dengan pertumpahan darah dan penindasan. tapi juga karena variasi cara pendekatan kepada ajaran itu membuahkan variasi dalam interpretasi. kemudian mereka berselisih. Keadaan menyedihkan ini pun secara ringkas digambarkan dalam Kitab Suci: Pada mulanya manusia adalah umat yang tunggal. Tapi mungkin kita harus mencoba mencari keterangan lain untuk membuat semuanya itu "make sense. dengan izin-Nya. Allah memberi petunjuk ke arah jalan yang lurus kepada siapa yang menghendakinya (atau. maka tentulah diputuskan (sekarang juga) antara mereka berkenaan dengan perkara yang mereka perselisihkan itu. Kemudian Allah mengutus para Nabi untuk membawa berita gembira dan peringatan. [2] Jika harus menyebutkan bukti kebenaran firman itu. kecuali mereka yang mendapatkan rahmat dari Tuhanmu.(jadi tentunya tumbuh dari niat yang baik dan ketulusan hati). dan Dia menurunkan bersama para Nabi itu Kitab Suci dengan sebenarnya untuk memutuskan perkara antara umat manusia berkenaan dengan masalah yang mereka perselisihkan. Tetapi mereka itu akan tetap selalu berselisih. memberi petunjuk tentang kebenaran yang mereka perselisihkan itu kepada mereka yang beriman." Mungkin keterangan itu dapat diperoleh dari beberapa firman Ilahi juga. acapkali malah menjuruskan orang banyak kepada perpecahan dan pertentangan. termasuk yang ada dalam satu agama pun. dan untuk itulah Dia menciptakan mereka. Firman itu ialah. misalnya: Kalau seandainya Tuhanmu menghendaki. dari perspektif pesan suci semula agama bersangkutan sendiri. yang melengkapi firman-firman terkutip di atas sehingga menjadi pandangan dan pengertian yang bulat. maka barangkali kita hanya harus menyebutkan kenyataan tentang semua agama. Maka Allah pun. Maka dalam gabungannya dengan naf:su benar sendiri dan sektarianisme yang jelas selalu mengancam setiap orang atau golongan tanpa kecuali variasi pendekatan dan interpretasi itu. kerapkali persengketaan di antara sesama mereka. Jika seandainya tidak karena adanya "Sabda" (Kalimah) yang telah lewat dari Tuhanmu. meskipun disertai dengan penuh niat baik dan tulus.

and thus pointing back to the ultimate Unity and Reality. [8] kita akan melakukan tahap pembahasan ini dengan pembicaraan singkat tentang peristiwa menyedihkan yang kemudian dikenal sebagai al-fitnat al-kubra ... Tuhan membuat justru berbagai perbedaan mereka itu membantu mengarahkan manusia kepada tercapainya tujuan-tujuan yang lebih tinggi dengan meningkatnya perlombaan dalam kebaikan den kesalahan.. Karena itu berlomba-lombalah kamu semua (dengan menggunakan kelebihan itu) untuk berbagai kebaikan. kemudian Dia akan menerangkan kepada kamu tentang segala sesuatu yang pernah kamu perselisihkan.. When men began to deverge from one another. Mengenai "Sabda" (Kalimah) dalam firman yang dikutip terakhir itu. [5] Di sini (dalam ayat ini) kita mendapatkan lagi doktrin kesufian tentang "Sabda. sebagai fitnah besar yang mengawali skisme dalam Islam tidak mungkin dihindarkan. yaitu tinjauan ulang secara kritis-historis terhadap perpecahan sosial keagamaan yang terjadi dalam Islam dalam perjalanan perkembangannya yang amat dini. maka pastilah Dia menjadikan kamu sekalian umat yang tunggal. God made their very differences subserve the higher ends by increasing emulation in virtue and piety." "Sabda" adalah Keputusan Tuhan.. TENTANG "AL-FITNAT AL-KUBRA" Mungkin bagi banyak orang cukup membosankan. Tetapi (Dia tidak menghendakinya) karena Dia hendak menguji kamu semua berkenaan dengan sesuatu (kelebihan. namun pembicaraan tentang pembunuhan khalifah ketiga. Utsman ibn Affan. Maka dengan sedikit melawan semacam "konsensus" di kalangan kaum Sunni untuk menghindari pembicaraan tentang tingkah laku historis para Sahabat yang kurang mencocoki beberapa ketentuan normatif. ditafsirkan sebagai berarti "Keputusan" Tuhan. dan dengan mengarah kembali kepada Kesatuan den Wujud yang mutlak Ayat suci dan tafsirnya itu mengingatkan kita kepada sebuah hadits yang sering dikutip orang bahwa perselisihan di antara orang yang beriman adalah suatu rahmat. Ayat suci itu ialah firman-Nya: Jika seandainya Allah menghendaki. yang merupakan ekspresi Iradat dan Hikmat-Nya yang universal dalam peristiwa tertentu."Word" is the Decree of God. dan adanya Kehendak agar dengan perbedaan itu manusia berlomba-lomba ke arah berbagai kebaikan (istibaq al-khayrat. Here we have again the mystic doctrine of "the Word. the expression of His Universal Will or Wisdom in a particular case. [7] Dari perspektif inilah kita akan memasuki bidang yang sebenarnya dari pembahasan makalah ini. emulation in virtue and piety). misalnya. Kepada Allah-lah tempat kembalimu semua. Ketika manusia telah bersimpangan jalan satu dari yang lain. yaitu faktor terpenting yang membuat manusia berbeda-beda -NM) yang diberikan-Nya kepadamu. [6] Dan ayat suci itu bersesuaian dengan ayat suci yang lain.tentang apa yang ada dalam ajaran Kitab Suci mengenai hakikat manusia sebagai makhluk sejarah berkenaan dengan perkara persatuan dan perpecahan.". yang menyebutkan adanya Kehendak Ilahi tentang perbedaan antara sesama manusia. pernyataan Iradat atau Hikmat-Nya yang universal dalam suatu masalah tertentu.

7507173 Fax. (Seperti halnya dengan Umar sebelumnya. namun dia adalah seorang anggota klan Umayyah yang berkuasa di kota itu. tanpa pengawal. Setelah beberapa saat perundingan dan musyawarah. juga anaknya Mu'awiyah yang sedikit terlebih dahulu berbuat serupa. yang di situ kaum bukan-Umawi di Madinah menunjukkan sikap netral. dan membunuhnya. (021) 7501969. delegasi tentera itu menyerbu Utsman di rumahnya.51. melainkan banyak dan cukup kompleks. Sekelompok tentara (Arab Islam) dari Mesir datang Ke Madinah untuk mengajukan klaim kepada Khalifah tentang apa yang menjadi hak mereka. Utsman memerintah hanya dengan mengandalkan reputasi dan nama baik pribadi. Tapi mereka segera kembali pulang ke Mesir. [9] Tentang mengapa delegasi tentara itu tidak puas terhadap Utsman dalam menjalankan tugas kekhalifahannya. juga Ali sesudahnya. Metro Pondok Indah Pondok Indah Plaza I Kav. mereka kembali ke Madinah untuk mengajukan tuntutan. Pembunuhan terhadap khalifah ketiga terjadi duapuluh empat tahun setelah wafat Nabi. SKISME DALAM ISLAM (2/4) Tinjauan Singkat Secara Kritis-Historis Proses Dini . karena telah diberi tahu (secara palsu) bahwa persoalan mereka telah diselesaikan dengan baik oleh Khalifah melalui perundingan dengan ketua utusan mereka. Kebiasaan itu membantu memudahkan usaha membunuhnya. 7501983. bahwa meskipun Utsman termasuk perintis pertama orang-orang Arab Makkah masuk Islam. Namun setelah mereka mendapat berita yang benar bahwa ketua utusan mereka itu malah telah dibunuh. tersedia tidak hanya satu keterangan. Meskipun akhirnya Abu Sufyan masuk Islam. sebagaimana telah terjadi pada Umar sebelumnya dan kelak terjadi pula pada Ali). yang klan itu menjadi musuh utama Nabi. adalah seorang penguasa Makkah yang mengorganisasi dan memobilisasi orang-orang Quraisy melawan Nabi di Mekkah. sampai dengan saat Nabi menaklukkan Makkah. (021) 7507174 Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota Please direct any suggestion to Media Team Artikel Yayasan Paramadina Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota VI. sebagaimana layaknya adat kebiasaan para sesepuh (al-syaykh) suku-suku Arab menjalankan kepemimpinan mereka. -------------------------------------------. UA 20-21 Jakarta Selatan Telp. bahkan sikap permusuhan mereka itu berlangsung terus sampai boleh dikata detik-detik terakhir sebelum Nabi wafat.("ujian besar") itu. misalnya. namun hal itu terjadi lebih banyak hanya berkat kebijaksanaan diplomatik Nabi yang memberi dan mengakui hak istimewa dan kehormatan mereka. Abu Sufyan. Pertama ialah.(bersambung 2/4) Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah Editor: Budhy Munawar-Rachman Penerbit Yayasan Paramadina Jln.

Sebagian dari hadirnya para penasehat dan tenaga ahli Umawi itu sebenarnya merupakan lanjutan kebijaksanaan Umar sebelumnya. Sudah sejak masa Umar banyak orang Arab Quraisy yang kaya. seperti Kufah. Sebenarnya Utsman melanjutkan kebijakan Umar. telah menjadi peristiwa sesekali saja. Apalagi setelah ekspedisi menaklukkan Iran telah . kaum Umawi segera melihat pada kekhalifahan Utsman suatu kesempatan untuk mengembalikan kedudukan mereka yang baru saja hilang. Mereka mengelilingi Utsman dengan penasehat-penasehat dan tenaga-tenaga ahli. Utsman menjadi tidak banyak berdaya menghadapi klannya sendiri. karena Umar melihat pada kaum Umawi itu kecakapan pemerintahan yang bisa dimanfaatkan. Mereka memegang pemerintahan menghadapi kecenderungan kesukuan dan semangat kedaerahan orang-orang Arab. Tetapi tanpa keteguhan kepribadian Umar. Utsman pun tidak bisa mengatasi situasi warisan pendahulunya itu. Kebijaksanaan Utsman itu membantu mengurangi kecenderungan emigrasi ke luar Hijaz dan memperkuat kekuasaan pusat di Madinah secara fisik (sumber daya manusia). ke Lembah Mesopotamia). sementara perang sendiri. berbentuk proyek-proyek irigasi di berbagai oase. Marwan ibn al-Hakam. terutama Mesopotamia di Irak. meskipun sebenarnya ia berhasil sedikit mengubah keadaan dengan mengarahkan sebagian investasi dari Lembah Mesopotamia ke Hijaz. dalam suasana terpisah dari penduduk bukan-Arab sekelilingnya. tapi tanpa mempunyai wibawa hebat seorang Umar. yang menjadi alasan penempatan itu. dan kekuasaan mereka itu diawasi oleh semangat ajaran umum Islam yang saat itu Islam telah menjadi ciri utama sifat ke-Arab-an mereka.Perpecahan Sosial-Keagamaan Islam oleh Nurcholish Madjid Sebagai klan dengan tradisi kekuasaan yang mapan. khususnya orang-orang Arab setempat. Bertindak sebagai penguasa pada kota-kota perbatasan itu ialah para gubernur (bekas) pedagang kaya yang cakap memerintah dari keluarga-keluarga Quraisy dan sekutu mereka dari Taif (klan Tsaqif). ke daerah pegunungan Anatolia sebelah selatan membentang ke timur dan kembali ke selatan. yakni para pedagang Mekkah. yang kebanyakan mereka itu terdiri dari kaum Umawi. Ini tumbuh menjadi faktor penunjang bagi protes-protes yang mulai dilancarkan para tentara. dan meneruskan usaha perdagangan mereka di sana. daerah subur yang membentuk konfigurasi bulan sabit dari pantai timur Laut Tengah naik ke utara. Para tentera suku Arab (al-muqatilah) yang oleh Umar ditempatkan di berbagai kota garnizun di daerah-daerah taklukan dipertahankan oleh Utsman seperti keadaan mereka semasa Umar. Ini acapkali menimbulkan rasa keberatan dari pihak orang-orang Arab yang kurang mampu. seperti seorang "aktivis" Umawi. Kebijaksanaan itu juga mengurangi ancaman bahwa budaya Arab akan terserap ke dalam budaya daerah-daerah Bulan Sabit Subur (Fertile Crescent. Tetapi kebijaksanaan Utsman yang yang menghambat emigrasi dari Hijaz itu membuatnya tidak populer di kalangan orang-orang Makkah. Para tentera ini hidup menetap di tempat-tempat tersebut. (Harus diingat bahwa pada saat itu semua orang muslim adalah warga negara dan sekaligus tentara). dan ia pun terjerumus kedalam praktek-praktek nepotistik yang mengundang berbagai reaksi keras banyak kalangan. yang pergi ke daerah-daerah taklukan.

rampung dan tuntas. maka sebagian besar keberuntungan itu adalah berkat jasa Utsman ibn Affan yang bergelar Jami' al-Qur'an. ketidakpuasan di kalangan tentara terhadap kebijakan Utsman semakin keras dinyatakan orang. salah seorang ahli membaca al-Qur'an yang amat terkenal dan disegani. Kebijaksanaan Utsman berkenaan dengan Kitab Suci itu sungguh patut dipuji. karena tidak lagi bisa dialih-arahkan kepada kegiatan-kegiatan ekspedisi militer. (Bahkan kaum Syi'ah yang dikenal sangat anti Utsman itupun akhirnya juga mengakui jasa khalifah ketiga ini. Demikian pula Kufah. Namun. Maka untuk menunjang sistemnya inilah antara lain Umar tidak mengizinkan tentera memiliki . sekalipun mereka agaknya juga mempunyai jalur penuturan dari Ali ibn Abi Thalib. Utsman dikenal sebagai amat berjasa menyatukan ejaan penulisan al-Qur'an dengan memerintahkan untuk membakar semua versi ejaan yang lain (sehingga sampai sekarang ejaan standar Kitab Suci agama Islam itu disebut ejaan atau "rasm Utsmani"). Menurut para ahli akhirnya ia patuh juga kepada keputusan Khalifah. sesungguhnya. tidak pernah memuaskan orang-orang setempat. Umar disebut sebagai "yang pertama menciptakan lembaga-lembaga" (Arab: awwal man dawwana al-dawawin). (Pengumpul al al-Qur'an). sekalipun akhirnya dapat dinetralisasikan melalui usaha akomodasi berbagai versi bacaan Kitab Suci dalam bentuk pengakuan keabsahan "bacaan tujuh" Al-qira'at al-sab'ah. Maka penduduk Syria puas dengan Mu'awiyah. Para gubernur yang melanjutkan tugas mereka semenjak diangkat oleh Umar banyak yang cakap dan sebagian dari mereka diterima baik oleh penduduk setempat. Penyatuan ejaan al-Qur'an itu amat prinsipiil sebagai dasar penyatuan orang-orang Arab Muslim khususnya dan semua orang Muslim umumnya. dengan menyesuaikan dan mengikuti cara penulisan Kitab Suci menurut ejaan Utsman. tidak ada kebijakannya yang dapat diterima di sana. sebuah kota garnizun yang didirikan Umar dan kerusuhan itu harus ditindas dengan penumpahan darah. handalan utama mereka dalam masalah periwayatan). sempat menunjukkan perasaan tidak sukanya kepada kebijakan Utsman. Basrah dengan Ibn Amir (yang di waktu damai giat berdagang untuk mengumpulkan kekayaan tapi bertindak cukup adil karena ia menganjurkan orang lain agar berbuat serupa pula). Tetapi kejadian itu tetap meninggalkan bekas. Ibn Mas'ud. usaha Utsman itu tidak berjalan tanpa tantangan. Salah satu kebijakan lagi dari Umar yang dilanjutkan atau diwarisi oleh Utsman ialah yang berkenaan dengan sistem keuangan negara. karena dipandang kurang menunjukkan ukuran moral yang tinggi (konon suka minuman keras dan mabuk). berkedudukan di Kufah. khususnya lembaga atau sistem penggajian tentera dengan besar dan kecilnya gaji (sesungguhnya lebih tepat disebut lumpsum) itu menurut tingkat kepeloporan seseorang dan jasanya dalam agama Islam. [10] Dan seperti hampir semua kebijaksanaan Utsman yang lain. Dan jika ummat Islam sesudah itu menikmati kesatuan penulisan dan pembukuan Kitab Suci-nya yang tidak ada bandingnya dalam sistim kepercayaan atau faham lainnya mana pun juga. Suatu kerusuhan muncul di Kufah. bahkan gubernurnya pun ditolak orang. tindakannya untuk menyatukan sistem penulisan al-Qur'an itu pun dapat dikatakan sebagai kelanjutan kebijakan Umar sebelumnya. Kairo lama). Tetapi gubernur yang ditempatkan di Mesir (di kota Fusthath.

adalah bahan kontroversi yang serius. serta pelopor mula pertama dalam Islam. SYI'AH DAN SUNNAH Kejadian pembunuhan Utsman hanyalah permulaan. kalangan Sunni) dan diakui oleh para ahli bukan-Muslim sebagai suatu tindakan seorang genius dan bijak. [11] para tentera menghendaki agar tanah-tanah produktif itu langsung dibagikan kepada tentera penakluk bersangkutan. menurut sementara ahli sejarah Islam. dan tumbuh . Tentera di berbagai kota garnizun mulai merasakan tidak adilnya penghasilan daerah mereka dikontrol dan dibawa ke Madinah sebagai fay' (milik negara). ketokohan Ali membuatnya paling tepat sebagai pengganti (khalifah) Nabi. maka. seorang Sahabat Nabi yang amat dekat dan senior. Utsman tidak memiliki wibawa dan kecakapan seperti pendahulunya itu. artinya orang yang berdiri di depan. Tentang mengapa yang terjadi ialah pengangkatan Abu Bakr. seperti telah disinggung. Tetapi agaknya penunjukan Abu Bakr. Ketidakpuasan ini masih harus ditambah. (Juga Umarlah yang memprakarsai pendirian lembaga keuangan yang dikenal dengan bayt al-mal --harfiah berarti "rumah harta"). Baru di masa Umar sifat kedaruratan itu mulai hilang. yang sampai sekarang masih menjadi bahan pembicaraan. tentu saja. dan hanyalah salah satu. GOLONGAN-GOLONGAN KHAWARIJ. hanya selang sekitar seperempat abad sejak wafat Nabi. tapi sejak wafat Nabi sendiri. tercermin dari penggunaan istilah Khalifah (pengganti) olehnya untuk tugasnya itu. Maka. Bagi banyak pihak di Madinah. Kebijakan Umar di bidang ini dan di bidang finansial pada umumnya sangat dihargai oleh para ahli sejarah Islam (khususnya. Akumulasi dari semua ketidakpuasan terhadap Utsman itu yang jelas sebagian bukan karena kesalahan Utsman sendiri berakhir dengan pembunuhan Khalifah. khususnya dalam bidang-bidang keuangan ini. Segera setelah Utsman terbunuh. para bekas pembunuh itu atau simpatisan mereka mensponsori pengangkatan Ali (ibn Abi Thalib) sebagai khalifah. dengan sikap hidup yang penuh kesalihan dan hikmah (wisdom) yang luas dan mendalam. Jadi berbeda dengan pandangan Umar yang tidak melihatnya demikian. Ditambah lagi. sebagaimana telah dikemukakan. mengulangi perdebatan di masa Umar sekitar masalah tanah-tanah pertanian daerah taklukan itu. dari deretan fitnah yang amat besar pengaruhnya kepada terjadinya skisme dalam Islam. menggantikan Utsman. dengan gejala-gejala nepotisme Umawi yang semakin terasa pada masa Utsman.tanah-tanah produktif (pertanian) di daerah-daerah yang telah mereka bebaskan. serta mertua beliau (ayahanda A'isyah. tidak hanya sekarang sesudah Utsman. Mereka menginginkan untuk secara langsung mengontrol dan menguasai penghasilan daerahnya masing-masing itu. lebih mirip tindakan darurat (emergency). ahli perang (warrior) yang tangkas. sama dengan harta rampasan perang mana pun juga. telah tumbuh sejak zaman Nabi sendiri sebagai seorang pahlawan. memimpin. Kebetulan Ali yang adalah kemenakan dan menantu Nabi. dengan pensponsoran kuat dari Umar. Tapi ketika Utsman mewarisinya. ternyata sedikit demi sedikit sistem Umar itu mulai menunjukkan segi-segi kelemahannya. yakni. dan dilepaskan dari pengawasan Madinah. Dan dengan begitu dimulailah perang saudara selama lima tahun. meskipun tidak disepakati oleh semua orang. khususnya dalam shalat berjama'ah) ummat Islam di Madinah itu. khususnya di kawasan Bulan Sabit Subur. salah seorang isteri beliau yang amat dicintainya) sebagai imam (imam.

dan di hadapan berbagai kritis yang mulai mengancam ummat Islam lembaga itu menjadi rebutan dalam tema-tema "to be or not to be. Yang lebih parah. Kecurigaan itu mewujudkan diri dalam reaksi-reaksi tidak setuju kepada pengangkatan Ali sebagai khalifah. dengan akibat yang amat jauh dalam bidang sosial-keagamaan. jika tidak bisa disebut kelicikan. juga al-Zubayr ibn al-Awwam. Berbagai reaksi kurang menguntungkan terhadap 'Ali itu tidak saja membuat situasi masyarakat Islam yang masih muda dilanda suasana tak menentu dan sedikit chaotik. untuk sebutan resmi jabatannya itu. Khalifah terbunuh. ayah dari pada kakek Mu'awiyah) tetapi juga dari tokoh-tokoh seperti A'isyah. 'Ali yang seorang ahli perang (warrior) yang cakap dan berani agaknya dengan mudah mengalahkan A'isyah dan al-Zubayr di pertempuran dekat Basrah yang kemudian dikenal sebagai "Peristiwa Onta" (karena A'isyah memimpin pasukan dengan menunggang onta. Tetapi ketokohannya itu menjadi problem karena kenyataan bahwa sejak semula ia. karena memang program utama masyarakat Islam waktu itu ialah melancarkan ekspedisi-ekspedisi militer ke luar Jazirah Arabia.kesadaran padanya akan sifat kepermanenan jabatan pemimpin ummat Islam." Telah disebutkan bahwa Ali sebenarnya adalah tokoh yang amat tepat menghadapi situasi kritis itu. Maka Umar. Perkembangan pranata politik Islam pada saat pengangkatan Ali ialah bahwa sistem kekhalifahan telah berjalan dan tumbuh selama hampir seperempat abad. musuh utama Nabi sampai penaklukan Mekkah). anak cucu Umayyah ibn 'Abd Syams. Mu'awiyah (anak abu Sufyan. dan onta itu terbunuh dalam pertempuran). diplomatik Mu'awiyah dan para pendukungnya. Akibatnya ialah bahwa ia justru . Tetapi peristiwa itu sendiri menimbulkan luka sosial-keagamaan pada ummat Islam yang sampai sekarang belum seluruhnya tersembuhkan. dengan korban jiwa yang tidak sedikit. Tetapi mungkin sebagai gabungan antara kesalihan yang lebih mementingkan perdamaian dan sikap meremehkan kepintaran. seorang anggota keluarga Abu Bakr. memilih nama atau gelar Amir al-Mu'minin. Juga disebabkan oleh kecakapan militernya. dan dibantu oleh 'Amr ibn al-'Ash. dipelopori oleh politikus dan gubernur yang cakap. Reaksi-reaksi itu segera menyeret masyarakat Islam ke dalam kancah peperangan sesama mereka. gubernur dan komandan militer yang menaklukkan Mesir. tidak saja dari kalangan yang secara langsung mempunyai hubungan darah dengan Utsman. dibawa oleh sikapnya yang salih dan populis. seperti dapat diduga. Maka kekhalifahan sebagai saat itu telah menjadi terlalu amat penting untuk dilewatkan begitu saja. Maka suasana curiga kepada Ali dari banyak pihak menjadi tak terhindarkan. Ali agaknya akan akhirnya memenangkan pertempurannya melawan Mu'awiyah. yaitu kalangan kaum Umawi (Umawi. diletakkan oleh Umar. Program itu sendiri konon sebagai kelanjutan rintisan dan pelaksanaan pesan Nabi menjelang wafat. puteri Abu Bakr dan isteri Nabi yang sangat dicintainya. Ali secara iktikad baik dan "polos" menerima usul arbitrasi di Shiffin. Sedangkan dari kalangan kaum Umawi. ialah permusuhan antara Ali dan Mu'awiyah. Komandan Orang-orang Beriman. lengkap dengan berbagai pelembagaannya yang sebagian besar sebagaimana telah disinggung. tuntutan untuk pengusutan pembunuhan Utsman sangat keras. menunjukkan simpati kepada para pemrotes kebijaksanaan Utsman. meskipun jelas mustahil mendukung pembunuhannya. yakni.

namun akhirnya mereka habisi dalam suatu pembunuhan politik. Karena kegiatan mereka yang selalu merongrong tatanan mapan.kehilangan dukungan dari para sponsornya yang gigih dan militan. dan yang dengan kuat sekali mewarnai pandangan-pandangan hidup di daerah Bulan Sabit Subur." dengan secara total menyerahkan dan mengorbankan diri untuk agama yang benar." [12] -------------------------------------------. maka konsep-konsep itu yang antara lain melahirkan doktrin hijrah. (Sebutan ini merujuk kepada firman Allah. SKISME DALAM ISLAM (3/4) Tinjauan Singkat Secara Kritis-Historis Proses Dini Perpecahan Sosial-Keagamaan Islam oleh Nurcholish Madjid Maka sebutan al-Syurat itu sekaligus memberi gambaran tentang hakikat dan sifat gerakan mereka. yakni. "Dan di antara manusia ada yang 'menjual' dirinya demi memperoleh ridla Allah. yaitu semua orang harus menyingkir dari tatanan mapan dan bergabung dengan mereka demi iman yang benar telah menjerumuskan masyarakat Islam kepada suasana "semua lawan semua. 7507173 Fax. seorang tokoh yang pernah mereka unggulkan dengan penuh antusiasme. Dan Allah itu Maha Penyantun kepada para hamba-Nya. dan menamakan diri mereka kaum al-Syurat. . 7501983. yang kemudian secara tak terhindarkan membawa mereka kepada situasi mudah sekali terpecah-belah dan saling bermusuhan. Mereka ini kemudian membentuk kelompok ketiga. (021) 7507174 Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota Please direct any suggestion to Media Team Artikel Yayasan Paramadina Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota VI. Metro Pondok Indah Pondok Indah Plaza I Kav. Korban yang paling tragis dari ekstremisme mereka ialah Ali sendiri.51. UA 20-21 Jakarta Selatan Telp. Tetapi karena dibawakan dengan militansi yang hampir tak terkendalikan." tanpa ada pihak yang benar-benar diuntungkan. untuk akhirnya melenyapkan diri mereka sendiri. yaitu gerakan dengan semangat sendirinya mereka berkembang menjadi kelompok dengan tingkat ekstremisme yang amat tinggi. (021) 7501969. yang sejak semula menginginkan penyelesaian militer terhadap Mu'awiyah. Egalitarianisme radikal kelompok ini membawa mereka kepada konsep-konsep sosialpolitik yang sesungguhnya lebih dekat kepada cita-cita Islam seperti diletakkan oleh Nabi dan merupakan kelanjutan cita-cita universal dalam tradisi bangsa-bangsa Irano-Semitik sejak ratusan tahun. "orang-orang yang menjual diri (kepada Allah).(bersambung 3/4) Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah Editor: Budhy Munawar-Rachman Penerbit Yayasan Paramadina Jln.

justru banyak sekali faham-faham keagamaan yang kini berkembang dan mapan di kalangan kaum Muslimin dapat ditelusuri kembali sebagai asal dari problematika kaum Khawarij. (Mu'awiyah ternyata menunjukkan kecakapan memerintah yang mengesankan. mereka ini kemudian mengalami penghancuran diri sendiri (self annihilation) justru karena watak mereka yang sangat akstrem. dan Yazid pun dinyatakan sebagai Khalifah. sepeninggal Ali. menunjukkan segi tertentu kelebihan Mu'awiyah atas Ali. ummat Islam di bawah Mu'awiyah dapat dikatakan kembali kepada keutuhannya yang semula. keadaan kembali kepada kekacauannya yang semula. Sedangkan secara doktrinal. (Sesungguhnya mereka berharap. Tetapi kekhalifahan Yazid yang memang tidak banyak memenuhi gambaran ideal seorang penguasa Muslim itu segera mengundang munculnya kembali pertentangan-pertentangan laten. Ini. dan orang dengan penuh harapan menyebut tahun itu sebagai "Tahun Persatuan" (Amal-Jama'ah). Sebagian besar masyarakat Islam menyetujui ide itu. Seperti telah dikatakan tadi. Tantangan terhadap Yazid mula-mula datang dari para pendukung Ali yang memang nampak selalu siap menggunakan setiap kesempatan. sekurang-kurangnya secara de facto. Dengan maksud untuk tidak mengambil risiko yang dapat mengganggu "keseimbangan rawan" (delicate balance) susunan masyarakat Islam yang ada dan yang diperoleh dengan banyak pengorbanan itu. Terutama pada tahun 41 Hijri. anak sendiri. Bahkan ada tanda-tanda bahwa problematika kaum Khawarij itu. [14] Tetapi setelah Mu'awiyah meninggal. nisbat kepada oase al-Harura dekat Kufah. [13] Dengan modal persatuan itu Mu'awiyah dapat melanjutkan program-program ekspansi militer dan politik yang sempat tertunda beberapa lama oleh adanya fitnah. masih sempat menunjuk kepada kenyataan bahwa sementara Ali mendapat dukungan bagi kekhalifahannya hanya dari sebagian umat Islam. yakni. sebagai penggantinya. kini menunjukkan daya tarik dan vitalitasnya di kalangan sebagian kaum Muslim "liberal" (dalam arti lebih banyak menunjukkan sikap kritis dan mungkin ingin lepas dari kukungan tatanan mapan sosial-keagamaan yang ada). agar Hasan. dalam pandangan Ibn Taymiyyah. meskipun ia tetap secara keseluruhan mengunggulkan Ali atas lawannya itu). anaknya. sebagaimana dahulu muncul dalam sistem kalam kaum Mu'tazilah. (Mereka juga dinamakan kaum al-Haruriyyun. Tetapi sebenarnya hanya secara fisik mereka boleh dikata terhapus dari sejarah.mereka kemudian lebih dikenal sebagai kaum Khawarij (pemberontak). . sehingga para ahli sejarah ada yang mengatakan sebagai Khalifah Islam yang kedua terbesar. sudah sejak semula dalam kekhalifahannya Mu'awiyah meminta agar masyarakat menyetujui untuk mengangkat Yazid. Akibatnya ialah bahwa mereka hampir-hampir praktis tidak tertahan untuk menyaksikan zaman modern sekarang ini. dalam polemiknya dengan kaum Syi'ah. mempertahankan klaim kekhalifahan. Bahkan cukup menarik bahwa ibn Taymiyyah. Perkembangan lebih lanjut masyarakat Islam setelah terbunuhuya Ali oleh kaum Khawarij ialah pengakuan dan dukungan hampir universal masyarakat kepada kekuasaan Mu'awiyah di Damaskus. tempat mereka berpangkalan). Mu'awiyah mendapat dukungan yang boleh dikata universal. sesudah Umar ibn al-Khaththab.

banyak kalangan penduduk Kufah sendiri yang menarik dukungannya kepada Husayn. dan Husayn. Tetapi Abdullah tidak menikmati kekuasaan yang mantap. Ini membuat kekuasaan kaum Khawarij. Husayn dengan kekuatan tenteranya yang kecil menolak untuk menyerah. Tetapi kaum Khawarij gagal memperoleh dukungan dari kalangan Muslim yang lebih terorganisir di kota-kota. khususnya faham persamaan umat manusia. Tetapi Hasan mengecewakan mereka dengan sikapnya yang lebih senang turun dari klaim itu dan hidup hampir menyendiri secara damai di Madinah. kaum Syi'ah perlahan-lahan mengkonsolidasikan diri dan mengembangkan pandangan-pandangan sosial-politik keagamaan yang kelak menjadi dasar sistem doktrinal Syi'isme. Abdullah oleh sebagian besar umat diakui sebagai khalifah yang sah. meskipun selama fitnah kedua ini menguasai teritorial yang paling luas.menghadapi Mu'awiyah di Damaskus. terbunuh secara amat kejam dan tragis. saudara Hasan. yang mereka undang untuk memberontak di Kufah. Tetapi Yazid tidak hanya menghadapi tantangan dari kaum Syi'ah. cucu Nabi. Kebiasaan mereka untuk melakukan gerilya dalam kelompok-kelompok penyerang yang disusun seperti sistem kabilah sebelum Islam (masa Jahiliyah) telah mengundang antipati orang-orang kota. sebelum tentera Syria datang menyerbu. Di luar kota Makkah sendiri. dengan Makkah sebagai ibukota. Tetapi. Dan politik mereka yang menerapkan prinsip nonintervensi terhadap kelompok-kelompok bukan-Muslim. Sebenarnya kaum Khawarij ini hampir berhasil menghidupkan beberapa nilai yang diajarkan oleh Nabi. Maka harapan para pendukung Ali kini ditujukan kepada Husayn. Irak. tidak pernah efektif. setelah berhasil dibujuk oleh gubernur Syria. seperti terbunuhnya Utsman sebelumnya. khususnya di daerah pedesaan atau badawah. dekat Kufah. yang mempunyai dampak amat luas dan mendalam pada sistem sosial-keagamaan Islam sampai sekarang. kekuasaan berada di tangan kaum Khawarij yang seperti selama ini melancarkan perang "hit and run" terhadap Abdullah ibn al-Zubayr. dengan membiarkan mereka dalam otonomi penuh mengurus kepentingan mereka sendiri. dan mereka ini terkucilkan di padang pasir Karbala. Egalitarianisme mereka telah membuat mereka termasuk yang pertama dalam sejarah Islam yang tidak membeda bedakan antara Muslim Arab dan Muslim bukan-Arab. Tentera Yazid menghancurkan mereka. Dengan menggunakan sentimen umum terhadap kematian tragis Husayn. setelah secaara singkat menjadi pendukung Abdullah ibn al-Zubayr pada saat permulaan penampilan khalifah Makkah . telah membuat kaum Khawarij cukup favorable di mata kaum non-muslim. Yazid tidak bisa mengatasinya. Di Makkah bangkit Abdullah ibn al-Zubayr (ibn al-Awwam) yang ayahnya dahulu pernah menentang Ali bersama A'isyah dan kalah kini bangkit menentang Yazid dengan cukup efektif. Terbunuhnya Husayn. dan setelah penguasa Damaskus ini meninggal sesudah menjabat sebagai khalifah selama sekitar tiga tahun saja. Apalagi. meliputi sebagian besar pedalaman Jazirah Arabia. Adalah sejak peristiwa Karabala itu para pendukung setia Ali dan keturunannya dikenal dengan sebutan kaum Syi'ah (yang sebetulnya lengkapnya ialah syi'ah Ali. putera Ali dan Fathimah. merupakan peristiwa terpenting dalam fitnah kedua. "Partai Ali").

Irak. dengan akibat hukum bunuh yang mereka laksanakan secara konsekuen. sepupu Mu'awiyah. dan faham keagamaan diperhitungkan hanya setelah jelas siapa yang unggul melalui kekuatan itu. dalam bentuk suksesi melalui penunjukan oleh khalifah yang . Abd al-Malik (692-705). di utara. Tetapi egalitarianisme mereka ini justru membuat marah orang-orang Muslim Arab Kufah. Mereka ini akhirnya dikalahkan oleh tentara Ibn al-Zubayr yang berpangkalan di Basrah. Mereka dengan tegas mengambil sikap yang menyamakan status antara orang-orang Muslim bukan-Arab dengan Muslim Arab. Selain menghadapi kaum Khawarij. Hingga akhirnya kaum Umawi berhasil merebut Makkah sendiri (Ka'bah sempat hancur dan harus dibangun kembali karena pertempuran memperebutkan kota suci itu). Irak juga jatuh ke tangan kaum Umawi. kaum Khawarij terpecah menjadi dua. menganggap siapa saja yang tidak bergabung dengan mereka sebagai murtad. Ibn al-Zubayr masih harus menyelesaikan masalah Syi'ah. Pemberontakan kaum Syi'ah ini dipimpin oleh Mukhtar ibn Abi Ubayd. yang oleh Hodgson disebut sebagai khalifah Islam terbesar ketiga setelah Umar dan Mu'awiyah. Kaum Umawi yang berkoalisi dengan kaum Banu Kalb (sandaran utama kekuatan Arab Syria bagi kaum Umawi sejak masa Mu'awiyah) mengangkat Marwan ibn al-Hakam. Maka negara menjadi negara kekuasan (macht staat). kekuatan-kekuatan oposisi kelanjutan kaum Umawi berhasil mengkonsolidasi diri. Dengan tegas Abd al-Malik mendasarkan sistemnya di atas konsep kekuatan (force). juga ingin menegakkan prinsip persamaan manusia. (Adalah Marwan ini yang dahulu bertindak sebagai penasehat utama Khalifah Utsman ibn Affan dan didakwa sebagai dalang pembunuhan pemimpin delegasi Mesir yang datang ke Madinah untuk mengadukan perkara mereka. Juga penggantian kekhalifahan dengan tegas didasarkan kepada pewarisan. dan di situ Khalifah Abdullah ibn al-Zubayr (ibn al-Awwam) terbunuh. Kota-kota garnizun di bawah kepemimpinan kaum Umawi yang tegar kini lebih efektif dalam melawan gerilya kaum Khawarij dari pedalaman dibanding keadaan mereka dibawah kepemimpinan Ibn al-Zubayr yang lunak.itu. Kaum Khawarij dan Syi'ah itu tetap merupakan ancaman yang laten. sama halnya dengan kaum Khawarij. yang dikenal sehagai kaum Azariqah. Tantangan orang Kufah ini mempermudah pemberontakan kaum Syi'ah untuk dipatahkan oleh Ibn al-Zubayr dengan menggunakan kekuatan tentara dari Basrah yang saat itu telah bebas dari tugas menghadapi kaum Khawarij. namun dengan cara-cara yang lebih moderat. sebagai Khalifah. Segi kebenaran Abd al-Malik ialah bahwa ia berhasil mengakhiri fitnah (kedua). yaitu Ibn al-Hanafiyyah. yang berbasiskan Iran. yang berarti hilangnya basis dukungan bagi Ibn al-Zubayr di Mekkah. di Syria. Kini kekhalifahan sepenuhnya pindah ke tangan anak Marwan. Setelah mengalami kekalahan yang tragis oleh Yazid di padang Karbala. yang kemudian berpaling melawan mereka. dan yang kemudian membangkitkan amarah mereka dengan akibat pembunuhan khalifah). Dengan cepat kekuatan kaum Umawi di Syria sebagai salah satu kontestan untuk kekhalifahan tumbuh dan berkembang. dengan melakukan berbagai akomodasi. Sementara itu. Abd al-Malik. sehingga Mesir pun tidak lama jatuh ke tangan Marwan dan anaknya. Kaum Syi'ah. Keberhasilan Ibn al-Zubayr mematahkan kaum Khawarij dan Syi'ah tidak berarti bahwa mereka benar-benar bebas dari oposisi. kaum Syi'ah sekali lagi mencoba memobilisasi diri dan menemukan figur sentral mereka pada putera Ali yang lain. Setelah menyusul Irak.

jika pemerintahan itu harus dijalankan dengan norma-norma keislaman. masa Umar ibn al-Khathab nampak paling banyak dijadikan rujukan. kaum Muslimin. banyak melanjutkan rintisan dan percontohan Umar ibn al-Khathab. Maka dalam usaha memahami lebih baik Kitab Suci itu dan melaksanakannya dalam kehidupan nyata. bekas guru madrasah di Thaif. Melalui kebijaksanaan Abd al-Malik ibn Marwan ini maka al-Qur'an mempunyai fungsi lain. pada kalangan Banu Tsaqif (yang sebelumnya telah membantu menaklukkan Mekkah. dalam masalah pemerintahan menurut pengertian seluas-luasnya. Bagi mereka Islam adalah lambang Arabisme yang dipersatukan. dengan dibantu oleh keahlian dan kesarjanaan al-Hajjaj ibn Yusuf. Maka kaum Umawi di Damaskus itu. terlebih lagi para penguasa Umawi. dengan berbagai modifikasi dan penyesuaian. Berbeda dengan pandangan keagamaan kaum Khawarij dan Syi'ah pandangan keagamaan kaum Umawi memang sangat berat berwarna ke-Arab-an. Sebagai dukungan asasi bagi konsep Jama'ah-Nya itu. Marwani. sebagaimana sebutan pilihan sementara ahli sejarah Islam). Kebesaran Abd al-Malik ibn Marwan yang lain terletak dalam kegairahannya untuk menegaskan supremasi Islam terhadap yang lain. yang sebenarnya belum lama berselang itu. sepanjang mengenai pelaksanaan pemerintahan sehari-hari. dan menghancurkan Ka'bah serta membangunnya kembali). semakin banyak merasakan perlunya bahan rujukan dari kebiasaan mapan (sunnah) masa lalu Islam. sudah tentu. Di sisi lain tindakannya bisa disebut sebagai sejenis nasionalisme Arab. dan berfungsi terutama sebagai kode etik dan ajaran disiplin bagi kekuatan elite penakluk dan penguasa. Abd al-Malik meneruskan usaha mempersatukan ummat Islam berkenaan dengan Kitab Suci mereka. yaitu sebagai lambang persatuan dan kesatuan (Jama'ah) yang tak tergugat. membunuh Ibn al-Zubayr. dengan memperbaiki cara penulisannya dan memastikan harakat bacaannya melalui penambahan beberapa diakritik dan vokalisasi (harakat). Kemudian dorongan untuk memahami lebih baik dan melaksanakan ajarannya secara lebih tepat tumbuh dengan pesat di kalangan umum. ialah masa Nabi sendiri. Berdasarkan pandangannya itu Abd al-Malik melihat pentingnya usaha lebih lanjut mempersatukan orang-orang Arab di bawah bendera Islam melawan kecenderungan kesukuan yang sampai saat itu masih menunjukkan potensi latennya. yang menjadi dasar kebesaran kekuasaan Umawi (lebih tepat. Tetapi ketika Abd al-Malik mengganti mata uang logam Yunani yang bergambar kepala raja mereka dengan mata uang logam khas Arab dan Islam dengan simbol kalimah syahadat. suatu konsep atau idiologi yang meletakkan nilai-nilai persatuan dan kesatuan di atas semangat kesukuan dan bahkan di atas faham-faham keagamaan faksional. Maka dengan begitu secara berangsur tumbuhlah . banyak referensi dilakukan kepada preseden yang ada dalam sejarah Islam.terdahulu. Karena itu ketika para qadli sebagai pemegang semacam kekuasaan yudikatif di daerah-daerah (Abd al-Malik adalah orang pertama melembagakan jabatan qadli itu). maka efeknya ialah penegasan kedaulatan Islam. Solidaritas Arab berdasarkan Islam melawan kecenderungan kesukuan lama (Jahiliyah) ini kemudian menjadi dasar ide tentang Jama'ah. Nampaknya masa lalu Islam itu yang paling otoritatif. Tetapi. [15] Dampak amat penting tindakan ini ialah penyatuan yang lebih meyakinkan seluruh kekuatan Islam (dan Arab).

Dalam rangka ini. rupanya malah sejak masa nabi sendiri. (021) 7507174 Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota Please direct any suggestion to Media Team Artikel Yayasan Paramadina Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota VI. untuk selanjutnya dikodifikasi. UA 20-21 Jakarta Selatan Telp. tapi juga tentang tokoh-tokoh generasi ketiga umat Islam. dan penuturan tentang para tokoh masa lalu itu. Tradisi ini berkembang dan tumbuh kuat. Metro Pondok Indah Pondok Indah Plaza I Kav. pada urutan keempat (artinya. anekdot. Ini semua kelak disistematisasi dan dikritik. tindakan terpenting ialah mengakui Ali sebagai khalifah yang sah. [16] -------------------------------------------. dll. Dengan begitu kaum Marwani atau Umawi meletakkan landasan dialog intern Islam yang meliputi semua. menjadi semakin besar. Muslim.(bersambung 4/4) Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah Editor: Budhy Munawar-Rachman Penerbit Yayasan Paramadina Jln. namun Ali lebih unggul daripada Mu'awiyah. dan menjadi dasar . Para ahli mengatakan bahwa gerakan perorangan untuk mencatat hadits telah terjadi sejak masa sangat awal sejarah Islam. khususnya sejak kekhalifahan Abd al-Malik ibn Marwan. Utsman. Tapi sejarah mencatat bahwa dorongan paling kuat ke arah sana itu dimulai oleh Khalifah Umar ibn Abd al-Aziz (ibn Marwan) yang dikenal sebagai Umar II (memerintah 717-720) karena mengingatkan orang kepada Khalifah Umar ibn al-Khaththab. sedikit atau pun banyak. Dorongan yang amat kuat untuk menyudahi berbagai fitnah yang telah meninggalkan kesan-kesan penuh trauma itu telah mengharuskan kaum Marwani atau Umawi untuk menunjukkan sikap-sikap yang lebih akomodatif dan kompromistis. SKISME DALAM ISLAM (4/4) Tinjauan Singkat Secara Kritis-Historis Proses Dini Perpecahan Sosial-Keagamaan Islam oleh Nurcholish Madjid Keperluan kepada bahan rujukan dari masa lalu (preseden) untuk menetapkan hukum lambat-laun tumbuh manjadi kesadaran tentang otoritas tradisi (sunnah) yang sah (valid). yaitu ilmu fiqh.yurisprudensi Islam. yang kelak melahirkan disiplin terpisah dalam ilmu-ilmu keagamaan Islam. 7507173 Fax. juga anggota klan mereka tapi menjadi musuh Ali). tetap lebih unggul daripada Ali. oleh para sarjana hadits seperti al-Bukhari. (021) 7501969. yang di situ setiap kelompok memperoleh kehormatannya. 7501983. Maka perhatian kepada cerita. Umar II sebenarnya hanya melanjutkan kecenderungan yang sudah ada pada kaum Marwani atau Umawi. khususnya tentang Nabi sendiri dan para Sahabat. anggota-anggota klan mereka.51.

sesuai dengan peringatan. mempunyai sistem dan teori pembenaran bagi pandangan masing-masing. mungkin yang diperlukan sekarang ialah mengembangkan dasar fikiran nonsektarianisme. mengaku benar sendiri). yaitu mereka yang memecah belah agama mereka kemudian menjadi bersekte-sekte. Maka dengan jelas dapat dilihat betapa absurd-nya memutlakkan kebenaran suatu aliran paham dalam agama (Islam). setiap golongan membanggakan apa yang ada pada mereka" (yakni." [18] Semangat non-sektarianis itulah salah satu makna yang dimaksud bahwa agama Tawhid Nabi Ibrahim adalah hanif. meskipun jauh dari sempurna dan lengkap. kaum Khawarij hanya Abu Bakr dan Umar. CATATAN 1. sebagai jawab kecenderungan alami manusia untuk memihak yang baik dan benar: "Maka ikutilah olehmu semua agama Ibrahim. Dan setiap kelompok itu. engkau (Muhammad) tidak sedikit pun termasuk mereka. betapa kaum Syi'ah cenderung hanya mengakui Ali. al-Baqarah/2:213. biasa disingkat dengan Ahl al-Sunnah. mengakui semuanya namun dengan mengunggulkan Utsman atas Ali dan Ali atas Mu'awiyah. QS. secara hanif. [17] Sebenarnya semangat non-sektarianisme inilah salah satu pandangan dasar Islam yang dibawa Nabi. plus Mu'awiyah. Juga bisa dilihat. antara lain. yang dapat dikemukakan di atas hanyalah masalah-masalah mendasar tentang faham-faham pecahan dini Islam. kemudian dibarengi atau disusul oleh munculnya berbagai pecahan yang lain lagi. 2. "Sesungguhnya mereka yang memecah belah agama mereka kemudian menjadi bersekte-sekte. Syi'ah dan Sunnah. golongan Sunni. lebih singkat lagi. diharap dapat memberi gambaran (dan kesadaran) betapa relatifnya pangkal skisme dalam Islam (karena berakar dalam pertikaian sosial-politik yang sama sekali tidak mungkin lepas dari konteks ruang dan waktu dalam pengertian yang seluas-luasnya). (Patut diperhatikan. Masing-masing pecahan itu sesungguhnya pecah lagi ke dalam berbagai kelompok." [19] Agaknya kita semua ditantang untuk memerangi sektarianisme yang kini masih menggejala. sama dengan golongan Sunni. betapa problematisnya kekhalifahan dan kedudukan seorang khalifah. Uraian di atas. Maka kesimpulannya. yaitu Khawarij. "Dan janganlah kamu termasuk orang-orang musyrik. . PENUTUP Dikarenakan terbatasaya ruang dan sifat pembahasan. kaum Marwani atau Umawi. maka disebut Ahl al-Sunnah wa 'l-Jama'ah. Utsman. sebagai tercermin dalam peringatan yang lain. yakni. dengan sendirinya. dan melihat sektarianisme sebagai jenis kemusyrikan. QS. tidak jarang dinyatakan dalam gaya-gaya absolutistik dan "pasti benar"). kaum Umawi lama hanya Abu Bakr. Umar.faham yang kini merupakan anutan terbesar kaum Muslim di dunia. al-Mu'minun/23:51-52. karena mengambil pelajaran dari pengalaman agama-agama sebelumnya. lebih-lebih lagi jika kita perhitungkan pandangan semua kelompok mengenai masalah kekhalifahan itu. yaitu faham yang menggabungkan antara ideologi Jama'ah (persatuan dan kesatuan) dan ideologi Sunnah (faham yang memandang otoritas masa lalu dan tradisi yang sah sebagai bahan rujukan).

Mungkin bisa dikatakan sebagai suatu bentuk penghindaran dari kenyataan pahit dalam sejarah Islam. baik dari kesahihan sanadnya maupun dari segi lafalnya yang lebih persis. The University of Chicago Press. catatan 1407. Khilaf al-Ummah fi al-Ibadat wa Madzhab Ahl al-Sunnah wa al-Jama'ah (Perselisihan umat dalam ibadat dan Madzhab Ahl al-Sunnah wa al-Jama'ah). 1403 H). Terdapat pandangan bahwa kalangan "awam" sebaiknya tidak membicarakan hal itu. Hud/11:118-119.S.3. memberi pengantar dengan semangat hadits itu untuk penerbitan risalah Ibn Taymiyyah. Translation and Commentary (Jeddah: Dar al Qibla. Dalam kata penutup terbitan mushaf ini (h. QS. namun kenyataannya ia persis sama dengan mushaf ejaan Utsmani). Lafal lain terbaca. Banyak bahan rujuknya dari literatur klasik untuk pembahasan sekitar perkembangan dini sejarah Islam yang menyangkut fitnah besar ini. 1. Rasyid Ridla. Yang pertama diwakili oleh mushaf terbitan Mu'assasat Intisyarat Amir Kabir. h. misalnya. Hodgson. baik yang diterbitkan pada masa pemerintahan Syah Reza Pahlewi maupun yang diterbitkan pada masa pemerintahan Islam revolusioner (Khumaini). tiga jilid (Chicago. Bukan saja samasekali tidak ada perbedaan antara al-Qur'an pada kaum Sunni dan al-Qur'an pada kaum Syi'i. Tapi uraian berikut hanyak dibuat dengan bersandar kepada kepada Marshall G. The Venture of Islam. seperti . 1326 H. al-Ma'idah 5:51. QS. Muhammad Shalih ibn Umar Samarani. Sabda Nabi yang terbaca. 6. 983) ditegaskan oleh penerbit bahwa mushaf itu menggunakan ejaan yang paling asli dan paling aktual. misalnya. Teheran.). Teheran. Bahkan al-Qur'an kaum Syi'i pun ditulis dengan mengikuti ejaan atau rasm Utsmani. yang meskipun ditulis di bawah bayangan kuat idiologi Sunni namun sampai batas yang cukup jauh tidak kehilangan sifat ilmiahnya. 4./1965 M. Ikhtilaf ummati rahmah (Perbedaan pendapat ummatku adalah rahmat). Tapi betapa pun diperselisihkan hadits itu nampaknya banyak dipercayai para ahli. Yunus/10:19. (Cairo: Mathba'at al-Manar. misalnya.tb5 5. Yusuf Ali." Bahkan qira'at atau bacaannya disebutkan. jil.241-242). 10. 1405 Hijri qamari (lunar) atau 1363 Hijri Syamsi (solar). QS. Ikhtilaf al-a'immah rahmah li al-ummah (Perbedaan pendapat para imam adalah rahmat untuk ummat). Cukup ironis bahwa justru hadits ini pun diperselisihkan. A. 8. (Lihat. 7. 1343 H. salah satu unsur dalam faham Sunni ialah semacam konsensus untuk tidak membicarakan peristiwa-peristiwa menyedihkan yang menyangkut peperangan dan perebutan posisi politik yang terjadi antara para Sahabat Nabi sekitar seperempat abad sesudah wafat beliau.. 488. hh. 1974). Yang kedua diwakili oleh mushaf terbitan Mu'assasat Intisyarat Shabirin. Tarjamah Sabil al-Abid ala Jawharat al-Tauhid [tanpa data penerbitan]. Salah satunya ialah Tarikh at-Thabari yang terkenal.tb5. The Holy Qur'an. yang dikenal dcngall "rasm al-mushaf" atau "rasm Utsmani. H. passim. 9. (Meskipun tidak disebutkan dalam pengantar atau lainnya bahwa mushaf itu ditulis dengan ejaan Utsmani.

Jadi dalam kutipan pertama Ibn Taymiyyah ingin mengesankan bahwa Mu'awiyah bertingkah laku sesuai dengan Sunnah. Dan tatkala dia (Ali) melamar anak perempuan Abu Jahl. Ibn Taymiyyah. 1389 H/1969). Tarikh al-Tasri al-Islami. 57 (antara hh. jil. Padahal telah mantap dalam al-Shahihayn (Bukhari-Muslim) dari Nabi s. 1387 H/1967]. Sangat menarik sebagai bahan studi lebih mendalam mempelajari berbagai polemik sekitar Ali dan Mu'awiyah ini. Muhammad Hamidullah dengan izin majalah orientalisme Jerman. serta kamu mengutuk mereka dan mereka mengutuk kamu. mengatakan. Sebaliknya tentang Ali. 'Sebaik-baik para pemimpinmu ialah yang kamu cinta kepada mereka dan mereka cinta kepada kamu dan berdo'a untuk kebaikanmu. Perlu diingat bahwa meskipun al-Qur'an telah dipersatukan kodifikasinya oleh Utsman namun orang masih mengalami kesulitan untuk memastikan pembacaannya. Dar al-Fikr. 3. h. h. dokumen No. al-Syaykh Muhammad al-Hudlari Bek. Sedangkan seburuk-buruk pemimpinmu ialah yang kamu benci kepada mereka dan mereka benci kepadamu.. Ibn Taymiyyah masih sempat mencatat demikian." 11. maka tahun 41 Hijri disebut "Tahun Persatuan" ('Am al Jama'ah). 87). 12. 114 dan 115): Tulisan seperti di masa Rasulullah itulah yang juga digunakan . ". al-Baqarah 2:207." (Minhaj al-Sunnah.a. sekali lagi tidak akan mengizinkan! Kecuali jika anak Abu Thalib itu menceraikan anak perempuanku (Fathimah) dan kemudian kawin dengan anak perempuan mereka.w.mushaf Sunni.. yang diturun oleh Dr. salah seorang pemikir Sunni mazhab Hanbali yang sangat polemis terhadap golongan Syi'ah. 15. tanpa huruf hidup. Misalnya. Bani al-Mughirah meminta izin kepadaku untuk mengawinkan anak perempuan mereka kepada Ali. h. yang hanya mengenal konsonan. dan rakyatnya mencintainya. juga h. 14.pada mushaf. dan dalam kutipan kedua ia mau memperlihatkan betapa Ali pernah membuat hal yang menyakiti hati Nabi. Zeltschrift der Deutschen Morgenlandischen dalam Majmu'at al-Watsa'iq al-Siyasiyyah li al-Ahd al-Nabawi wa Khilaafat al-Rasyidah (Beirut: Dar al-Irsyad. sama dengan huruf-hurut Semitik yang lain. beliau (Nabi) bersabda. sekali lagi tidak akan mengizinkan.'" (ibid. kecuali mereka yang benar-benar mengenal bahasa Arab karena dibesarkan sebagai orang Arab.. 189). "yang dari jalur lain dari Imam Ali ibn Abi Thalib. Abu Ya'quh Yusuf. Demi Allah. 194). [Beirut. Karena hampir semua kelompok Islam mengakui kekuasaan de facto Mu'awiyah. 13. Sebagai contoh tulisan Arab tingkat awal itu berikut ini adalah (foto) kopi surat Rasulullah kepada al-Mundzir ibn Sawi. Sedangkan mereka yang tidak demikian keadaannya akan terbentur kepada sistem huruf Arab. Dan sungguh aku tidak akan mengizinkan. sebagai berasal dari riwayat Hafsh dari Ashim. Perdebatan itu terekam dalam karya seorang murid Imam Abu Hanifah. tidak akan berkumpul menjadi satu anak perempuan Rasulullah dengan anak perempuan musuh Allah pada satu orang lelaki. "Perilaku Mu'awiyah terhadap rakyatnya adalah termasuk sebaik-baik perilaku para penguasa. QS. bahwa beliau bersabda. Kitab al-Kharaj. (Lihat. Dan kemudian konsep Jama'ah itu dikembangkan sebagai idiologi. 110.

17. agama (Nabi) Ibrahim yang hanif . antara lain." (QS. Ali 'Imran/3:95. al-An'am 6:98). Bahwa agama yang dibawa Nabi Muhammad adalah juga agama Ibrahim ditegaskan dalam cukup banyak ayat-ayat suci. Perhatikan bahwa untuk perkembangan tulisan Arab saat itu. 16. "Katakan Muhammad. Jadi yang dimaksudkan dengan perkataan fiqh dalam firman-firman itu pendalaman ajaran keagamaan secara menyeluruh." (QS. QS. al-An'am/6:161). QS. kesulitan masih harus ditambah dengan tidak adanya perbedaan simbol untuk cukup banyak bunyi. tsa nun dan ya'.. antara lain. ". antara tha' dan dha'. UA 20-21 Jakarta Selatan Telp. 18. antara fa' dan qaf. khususnya pada masa dinasti Marwani itu (antara lain karena urgensi mengatasi dan menyudahi fitnah yang berkelarutan). Ini tercermin dalam bagaimana sebagian besar kaum Muslim mempersepsi agamanya sebagai terutama sistem hukum. Perkataan Arab "fiqh" sendiri berarti "faham" (dalam makna "mengerti").untuk kodifikasi al-Qur'an oleh Utsman dan menghasilkan mushaf rasmUtsmani. 19.. dan. Keadaan serupa itu bertahan hampir sepanjang sejarah Islam sesudah masa Marwani. Maka hendaklah dari setiap golongan ada satu kelompok orang yang pergi (mencurahkan perhatian) untuk memahami agama secara mendalam (ber-tafaqquh) . 'Sesungguhnya aku diberi petunjuk oleh Tuhanku ke arah jalan yang lurus. 7507173 Fax. QS. ta'. ha' dan kha'. al-Rum/30:32. sampai sekarang. 7501983. (021) 7501969. Metro Pondok Indah Pondok Indah Plaza I Kav. dua. antara 'ayn dan ghayn. sehingga pengetahuan mengenai masalah-masalah hukum pun dianggap fiqh par excellence. -------------------------------------------Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah Editor: Budhy Munawar-Rachman Penerbit Yayasan Paramadina Jln. tiga titik. seperti untuk bunyi-bunyi ba'. al-An'am/6:169. Tapi karena dominasi dan supremasi persoalan penataan kembali masyarakat saat-saat dini sejarah Islam. "Kami (Tuhan) telah merinci berbagai ayat untuk kaum yang mengerti" (ber-fiqh) (QS. di bawah dan di atas oleh al-Hajjaj merupakan fase amat penting dalam sejarah metode penulisan al-Qur'an.. (021) 7507174 Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota Please direct any suggestion to Media Team Artikel Yayasan Paramadina Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan .. seperti satu. antara shad dan dlal. antara dal dan dzal. antara ra' dan za' antara sin dan syin. Penggunaan perkataan "fiqh" sebenarnya merujuk kepada beberapa firman Allah. maka segi hukum dari agama juga amat dominan dan supreme. yaitu agama yang teguh (konsisten). al-Tawbah/9:122. Maka penambahan beberapa diakritik. dan antara bunyi-bunyi jim. akhirnya.

Hal itu jelas memperlihatkan keterkaitan Pemerintah dengan urusan keagamaan (pelaksanaan ajaran agama). masalah penting." Kedua bagian kata majemuk ini sudah lazim dipakai dalam bahasa Indonesia. kekeluargaan. komando. kewenangan. pemilik atau penguasa sesuatu barang. atau markasnya. PENGERTIAN WALI AL-AMR DAN PROBLEMATIKA (1/2) HUBUNGAN ULAMA DAN UMARA oleh Ali Yafie Pemerintah memandang perlu untuk mengeluarkan sebuah keputusan dalam kaitan hari libur Idul Fithri sebagai hari libur nasional. amirul mu'minin (khalifah).ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota VI. Dalam kaitan masalah-masalah tersebut di atas terkait permasalahan wali al-amr. tentang kata-kata "wali" dan "amr. atau wilayahnya)." "amiral" (admiral). Dari akar kata ini berkembang bentuk-bentuk kata: wala yang berarti: cinta. kata "wilayah" yang berarti kekuasaan. Dalam bahasa asalnya. kepala pemerintahan (seperti wali kota. wali Allah atau waliullah. kata ini berarti juga: penolong. yaitu kata "amr" biasa dibunyikan "amar" yang berarti: perintah atau suruhan (misalnya: dengan amar raja diartikan: atas perintah raja). Kata ini biasa diartikan "penguasa. ia mempunyai arti yang lebih luas. tugas (yang harus dilakukan). petugas. yaitu orang suci dan keramat (seperti Wali Songo)." cukup beralasan dilihat dari segi pemakaian bahasa. pemelihara. Dari akar kata "amr" ini. menyuruh melakukan. Tetapi dalam kata asalnya. Sesudah itu. Itulah pembahasan sepintas dari segi etimologis dan lexicologis. Maka dalam rangka urusan tersebut kita dapat memahami kehadiran Undang-undang Perkawinan dan Undang-undang Peradilan Agama (yang belum lama ini sudah diundangkan). Kata "wali al-amr" (dalam sebutan Indonesia) berasal dari "waliy-u 'l-amr" (bahasa Arab). Lebih lanjut kita melihat hal seperti itu dalam masalah perkawinan dan peradilan khusus yang menyangkut penyelesaian sengketa urusan kekeluargaan di kalangan kaum muslimin bangsa Indonesia. pengasuh pengantin perempuan ketika nikah yaitu keluarga dekatnya yang melakukan janji atau akad nikah dengan pengantin laki-laki (dalam urusan nikah ini dikenal juga adanya wali hakim yaitu pejabat urusan agama yang bertindak sebagai wali). "imarah" (sifat keamiran. loyalitas. persahabatan. "amiralay (brigadier general). wali negara). otoritas. Dan itu terlansir dalam sebuah Keputusan Presiden dan diperkuat Keputusan Menteri Agama. yang berarti: orang yang menurut hukum diserahi kewajiban mengurus anak yatim serta hartanya selama anak itu belum dewasa. ingin kita melihat kaitan pengertian kata ini dengan persoalan hukum dalam rangka kajian fiqh. suruhan. 47. selain berarti: order. Mengamarkan: memerintahkan. Dalam persoalan ini tentunya pada tingkat pertama kita ." Maka kata "waliy-u 'l-amr" dengan pengertian "penguasa" atau "pemerintah. power. persoalan atau perkara. Adapun kata "wali" juga sudah lazim dipakai dalam bahasa Indonesia. juga berarti: urusan. daerah yurisdiksi. Kalau ditambah dengan akhiran "an" maka menjadi "amaran" yang berarti: perintah. timbul bentuk-bentuk kata "amir. teman atau sahabat. pelindung.

a. Dan yang kedua berbunyi (Terjemahnya): Apabila mereka ditimpa sesuatu peristiwa keamanan atau ketakutan. lalu mereka menyiarkannya. yaitu pada ayat 59 surah an-Nisa. bahwa yang dimaksud dengan kata itu. [3] Maka semua penjelasan ini merupakan perintah untuk mentaati para ulama dan umara. Al Hasan Al Bashri dan Abul 'Aliyah (semuanya ulama Tabi'in) yakni al-'ulama" (yang dimaksud dengan uli 'l-amr adalah ulama). "yakni ahl-u 'l fiqh-i wa 'l-din" (yang dimaksud dengan uli 'l-amr yaitu ahli dalam masalah-masalah agama).a. Pengertian ini diperkuat oleh ayat 63 surah al-Maidah dan ayat 43 surah an-Nahl. Bahkan Imam al-Mawardi ini ketika membahas masalah Imamah atau Kekhalifahan (Bab Pertama dari bukunya yang berjudul al-Ahkam al-Shulthaniyah). pendapat Mujahid..'l-amr" ada dua pendapat.berupaya mencari pokok persoalannya dalam al-Qur'an. 'Atha. dan ini pendapat Ibn Abbas r. atau dalam urusan-urusan yang diserahkan pengelolanya kepada mereka.a. Ahli fiqh kenamaan yakni Imam Abul Hasan 'Ali al-Mawardi ketika mengulas jenis-jenis kewenangan yang disebut "imarah" yang pejabatnya disebut "amir" beliau mensitir juga ayat 59 surah an-Nisa tersebut di atas.a.: Barangsiapa mendurhakai aku berarti dia sudah taat kepada Allah dan barangsiapa mendurhakai amir yang saya angkat berarti dia telah mendurhakai aku. [1] Yang pertama berbunyi (terjemahnya): Hai orang-orang yang beriman! Taatilah Allah dan taatilah rasulNya dan "ulil amri" dari kalian.517 Juz I Tafsir Ibn Katsir). bahwa yang dimaksud dengan kata ini ialah para ulama. Mereka itu disebut "wulat" (mufradnya wali sebagai singkatan dari waliy-u 'l-amr) dan umara (tunggalnya amir) yaitu penguasa yang diberi kewenangan dalam satu urusan tertentu. Seandainya mereka mengembalikan persoalan itu kepada Rasul dan kepada "uli 'l-amri" dari mereka. pada dua tempat. dari sabda Rasulullah s.. Pendapat kedua. (Lihat h. Maka disana kita akan menemukan pemakaian kata "uli 'l-amr" (yang artinya dengan "waliy-u 'l-amr"). yang semuanya mengacu kepada keharusan mentaati amir-amir (para petugas atau penguasa yang diangkat Nabi dalam berbagai urusan yang ditempatkan di berbagai daerah (yang telah dibebaskan ketika itu). Pertama. Dari ulasan beliau dapat ditarik pengertian bahwa didalam kata "uli 'l-amr" termasuk penguasa atau pemimpin tertinggi pemerintahan sampai kepada pejabat-pejabat yang berwenang di daerah-daerah. ialah amir-amir... [2] ditambah dengan penjelasan hadits shahih yang diriwayatkan Abu Hurairah r. beliau juga berpatokan dari ayat 59 (surah an-Nisa) tersebut. al-Hasan dan 'Atha. Demikian pendapat Jabir. Ibn Katsir melanjutkan keterangannya bahwa yang jelas (wa 'l-Lah-u a'lam). lalu beliau menjelaskan bahwa didalam pengertian "uli.). kata ini pengertian umumnya mencakup para amir (umara) ulama. dan dua . Sama dengan itu. Beberapa hadits lainnya dari berbagai sumber berita dari sejumlah sahabat Nabi telah dipaparkan oleh Ibn Katsir.w. Mufassir kenamaan yakni Imam 'Imaduddin Ibn Katsir menukilkan keterangan Ibn 'Abbas (Sahabat Nabi) r. Teori Wilayah (Kekuasaan atau Kewenangan) Di dalam Fiqh (Ilmu Hukum Islam) ditemukan adanya dua jenis kekuasaan (wilayah) yang dikaitkan dengan sumbernya. atau suatu daerah kekuasaan tertentu. dan pada ayat 83 dari surah yang sama.). niscaya orang-orang yang meneliti diantara mereka mengetahui hal itu .

Pemegang kekuasaan perwalian atau mereka yang disebut wali. seperti anak-anak yang belum dewasa (akil baligh). al-Imarah 'ala 'l-Jihad (Kekuasaan Pertahanan atau Keamanan). pendidikan. Kewenangan wali tersebut diatas hanya menyangkut hal-hal yang bersifat perdata. telah dirinci dalam 20 macam kewenangan. kelima. pemberian nafkah. yaitu: wilayah