P. 1
Para Mad in A

Para Mad in A

|Views: 786|Likes:
Published by falaky 09

More info:

Published by: falaky 09 on Jun 06, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

07/20/2013

pdf

text

original

Artikel Yayasan Paramadina

Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota II.9. KONSEP-KONSEP KEADILAN oleh Abdurrahman Wahid Tidak dapat dipungkiri, al-Qur'an meningkatkan sisi keadilan dalam kehidupan manusia, baik secara kolektif maupun individual. Karenanya, dengan mudah kita lalu dihinggapi semacam rasa cepat puas diri sebagai pribadi-pribadi Muslim dengan temuan yang mudah diperoleh secara gamblang itu. Sebagai hasil lanjutan dari rasa puas diri itu, lalu muncul idealisme atas al-Qur'an sebagai sumber pemikiran paling baik tentang keadilan. Kebetulan persepsi semacam itu sejalan dengan doktrin keimanan Islam sendiri tentang Allah sebagai Tuhan Yang Maha Adil. Bukankah kalau Allah sebagai sumber keadilan itu sendiri, lalu sudah sepantasnya al-Qur'an yang menjadi firmanNya (kalamu 'l-Lah) juga menjadi sumber pemikiran tentang keadilan? Cara berfikir induktif seperti itu memang memuaskan bagi mereka yang biasa berpikir sederhana tentang kehidupan, dan cenderung menilai refleksi filosofis yang sangat kompleks dan rumit. Mengapakah kita harus sulit-sulit mencari pemikiran dengan kompleksitas sangat tinggi tentang keadilan? Bukankah lebih baik apa yang ada itu saja segera diwujudkan dalam kenyataan hidup kaum Muslimin secara tuntas? Bukankah refleksi yang lebih jauh hanya akan menimbulkan kesulitan belaka? "Kecenderungan praktis" tersebut, memang sudah kuat terasa dalam wawasan teologis kaum skolastik (mutakallimin) Muslim sejak delapan abad terakhir ini. Argumentasi seperti itu memang tampak menarik sepintas lalu. Dalam kecenderungan segera melihat hasil penerapan wawasan Islam tentang keadilan dalam hidup nyata. Apalagi dewasa ini justru bangsa-bangsa Muslim sedang dilanda masalah ketidakadilan dalam ukuran sangat massif. Demikian juga, persaingan ketat antara Islam sebagai sebuah paham tentang kehidupan, terlepas dari hakikatnya sebagai ideologi atau bukan, dan paham-paham besar lain di dunia ini, terutama ideologi-ideologi besar seperti Sosialisme, Komunisme, Nasionalisme dan Liberalisme. Namun, sebenarnya kecenderungan serba praktis seperti itu adalah sebuah pelarian yang tidak akan menyelesaikan masalah. Reduksi sebuah kerumitan menjadi masalah yang disederhanakan, justru akan menambah parah keadaan. Kaum Muslim akan semakin menjauhi keharusan mencari pemecahan yang hakiki dan berdayaguna penuh untuk jangka panjang, dan merasa puas dengan "pemecahan" sementara yang tidak akan berdayaguna efektif dalam jangka panjang. Ketika Marxisme dihadapkan kepada masalah penjagaan hak-hak perolehan warga masyarakat, dan dihadapkan demikian kuatnya wewenang masyarakat untuk memiliki alat-alat produksi, pembahasan masalah itu oleh pemikir Komunis diabaikan, dengan menekankan slogan "demokrasi sosial" sebagai pemecahan praktis yang menyederhanakan masalah. Memang berdayaguna besar dalam jangka pendek, terbukti dengan kemauan mendirikan negara-negara Komunis dalam kurun waktu enam dasawarsa terakhir ini. Namun, "pemecahan masalah" seperti itu ternyata

membawa hasil buruk, terbukti dengan "di bongkar pasangnya" Komunisme dewasa ini oleh para pemimpin mereka sendiri di mana-mana. Rendahnya produktivitas individual sebagai akibat langsung dari hilangnya kebebasan individual warga masyarakat yang sudah berwatak kronis, akhirnya memaksa parta-partai Komunis untuk melakukan perombakan total seperti diakibatkan oleh perestroika dan glasnost di Uni Soviet beberapa waktu lalu. Tilikan atas pengalaman orang lain itu mengharuskan kita untuk juga meninjau masalah keadilan dalam pandangan Islam secara lebih cermat dan mendasar. Kalaupun ada persoalan, bahkan yang paling rumit sekalipun, haruslah diangkat ke permukaan dan selanjutnya dijadikan bahan kajian mendalam untuk pengembangan wawasan kemasyarakatan Islam yang lebih relevan dengan perkembangan kehidupan umat manusia di masa-masa mendatang. Berbagai masalah dasar yang sama akan dihadapi juga oleh paham yang dikembangkan Islam, juga akan dihadapkan kepada nasib yang sama dengan yang menentang Komunisme, jika tidak dari sekarang dirumuskan pengembangannya secara baik dan tuntas, bukankah hanya melalui jalan pintas belaka. Pembahasan berikut akan mencoba mengenal (itemize) beberapa aspek yang harus dijawab oleh Islam tentang wawasan keadilan sebagaimana tertuang dalam al-Qur'an. Pertama-tama akan dicoba untuk mengenal wawasan yang ada, kemudian dicoba pula untuk menghadapkannya kepada keadaan dan kebutuhan nyata yang sedang dihadapi umat manusia. Jika dengan cara ini lalu menjadi jelas hal-hal pokok dan sosok kasar dari apa yang harus dilakukan selanjutnya, tercapailah sudah apa yang dikandung dalam hati. PENGERTIAN KEADILAN Al-Qur'an menggunakan pengertian yang berbeda-beda bagi kata atau istilah yang bersangkut-paut dengan keadilan. Bahkan kata yang digunakan untuk menampilkan sisi atau wawasan keadilan juga tidak selalu berasal dari akar kata 'adl. Kata-kata sinonim seperti qisth, hukm dan sebagainya digunakan oleh al-Qur'an dalam pengertian keadilan. Sedangkan kata 'adl dalam berbagai bentuk konjugatifnya bisa saja kehilangan kaitannya yang langsung dengan sisi keadilan itu (ta'dilu, dalam arti mempersekutukan Tuhan dan 'adl dalam arti tebusan). Kalau dikatagorikan, ada beberapa pengertian yang berkaitan dengan keadilan dalam al-Qur'an dari akar kata 'adl itu, yaitu sesuatu yang benar, sikap yang tidak memihak, penjagaan hak-hak seseorang dan cara yang tepat dalam mengambil keputusan ("Hendaknya kalian menghukumi atau mengambil keputusan atas dasar keadilan"). Secara keseluruhan, pengertian-pengertian di atas terkait langsung dengan sisi keadilan, yaitu sebagai penjabaran bentuk-bentuk keadilan dalam kehidupan. Dari terkaitnya beberapa pengertian kata 'adl dengan wawasan atau sisi keadilan secara langsung itu saja, sudah tampak dengan jelas betapa porsi "warna keadilan" mendapat tempat dalam al-Qur'an, sehingga dapat dimengerti sikap kelompok Mu'tazilah dan Syi'ah untuk menempatkan keadilan ('adalah) sebagai salah satu dari lima prinsip utama al-Mabdi al-Khamsah.) dalam keyakinan atau akidah mereka. Kesimpulan di atas juga diperkuat dengan pengertian dan dorongan al-Qur'an agar manusia memenuhi janji, tugas dan amanat yang dipikulnya, melindungi yang menderita, lemah dan

kekurangan, merasakan solidaritas secara konkrit dengan sesama warga masyarakat, jujur dalam bersikap, dan seterusnya. Hal-hal yang ditentukan sebagai capaian yang harus diraih kaum Muslim itu menunjukkan orientasi yang sangat kuat akar keadilan dalam al-Qur'an. Demikian pula, wawasan keadilan itu tidak hanya dibatasi hanya pada lingkup mikro dari kehidupan warga masyarakat secara perorangan, melainkan juga lingkup makro kehidupan masyarakat itu sendiri. Sikap adil tidak hanya dituntut bagi kaum Muslim saja tetapi juga mereka yang beragama lain. Itupun tidak hanya dibatasi sikap adil dalam urusan-urusan mereka belaka, melainkan juga dalam kebebasan mereka untuk mempertahankan keyakinan dan melaksanakan ajaran agama masing-masing. Yang cukup menarik adalah dituangkannya kaitan langsung antara wawasan atau sisi keadilan oleh al-Qur'an dengan upaya peningkatan kesejahteraan dan peningkatan taraf hidup warga masyarakat, terutama mereka yang menderita dan lemah posisinya dalam percaturan masyarakat, seperti yatim-piatu, kaum muskin, janda, wanita hamil atau yang baru saja mengalami perceraian. Juga sanak keluarga (dzawil qurba) yang memerlukan pertolongan sebagai pengejawantahan keadilan. Orientasi sekian banyak "wajah keadilan" dalam wujud konkrit itu ada yang berwatak karikatif maupun yang mengacu kepada transformasi sosial, dan dengan demikian sedikit banyak berwatak straktural. Fase terpenting dari wawasan keadilan yang dibawakan al-Qur'an itu adalah sifatnya sebagai perintah agama, bukan sekedar sebagai acuan etis atau dorongan moral belaka. Pelaksanaannya merupakan pemenuhan kewajiban agama, dan dengan demikian akan diperhitungkan dalam amal perbuatan seorang Muslim di hari perhitungan (yaum al-hisab) kelak. Dengan demikian, wawasan keadilan dalam al-Qur'an mudah sekali diterima sebagai sesuatu yang ideologis, sebagaimana terbukti dari revolusi yang dibawakan Ayatullah Khomeini di Iran. Sudah tentu dengan segenap bahaya-bahaya yang ditimbulkannya, karena ternyata dalam sejarah, keadilan ideologis cenderung membuahkan tirani yang mengingkari keadilan itu Sebab kenyataan penting juga harus dikemukakan dalam hal ini, bahwa sifat dasar wawasan keadilan yang dikembangkan al-Qur'an ternyata bercorak mekanistik, kurang bercorak reflektif. Ini mungkin karena "warna" dari bentuk konkrit wawasan keadilan itu adalah "warna" hukum agama, sesuatu yang katakanlah legal-formalistik. PERMASALAHAN Mengingat sifat dasar wawasan keadilan yang legal-formalistik dalam al-Qur'an itu, secara langsung kita dapat melihat adanya dua buah persoalan utama yaitu keterbatasan visi yang dimiliki wawasan keadilan itu sendiri, dan bentuk penuangannya yang terasa "sangat berbalasan" (talionis, kompensatoris). Keterbatasan visi itu tampak dari kenyataan, bahwa kalau suatu bentuk tindakan telah dilakukan, terpenuhilah sudah kewajiban berbuat adil, walaupun dalam sisi-sisi yang lain justru wawasan keadilan itu dilanggar. Dapat dikemukakan sebagai contoh, umpamanya, seorang suami telah "bertindak adil" jika "berbuat adil" dengan menjaga ketepatan bagian menggilir dan memberikan nafkah antara dua orang isteri, tanpa mempersoalkan apakah memiliki dua orang isteri itu sendiri adalah sebuah tindakan yang adil. Dengan demikian, pemenuhan tuntutan

keadilan yang seharusnya berwajah utuh, lalu menjadi sangat parsial dan tergantung kepada pelaksanaan di satu sisinya belaka. Warna kompensatoris dari wawasan keadilan yang dibawakan al-Qur'an itu juga terlihat dalam sederhananya perumusan apa yang dinamakan keadilan itu sendiri. Wanita yang diceraikan dalam keadaan hamil berhak memperoleh santunan hingga ia melahirkan anak yang dikandungnya, cukup dengan jumlah tertentu berupa uang atau bahan makanan. Sangat terasa watak berbalasan dari "pemenuhan keadilan" yang berbentuk seperti ini, karena ada "pertukaran jasa" antara mengandung anak (bagi suami) dan memberikan santunan material (bagi isteri). Dari pengamatan akan kedua hal di atas lalu menjadi jelas, bahwa permasalahan utama bagi wawasan keadilan dalam pandangan al-Qur'an itu masih memerlukan pengembangan lebih jauh, apalagi jika dikaitkan dengan perkembangan wawasa keadilan dalam kehidupan itu sendiri. Sampai sejauh manakah dapat dikembangkan wawasan demokrasi yang utuh bila dipandang dari sudut wawasan keadilan yang dimiliki al-Qur'an itu? Dapatkah kepada kelompok demokrasi yang utuh bila dipandang dari sudut wawasan keadilan yang dimiliki al-Qur'an itu? Dapatkah kepada kelompok minoritas agama diberikan hak yang sama untuk memegang tampuk kekuasaan? Dapatkah wawasan keadilan itu menampung kebutuhan akan persamaan derajat agama dikesampingkan oleh kebutuhan akan hukum yang mencerminkan kebutuhan akan persamaan perlakuan hukum secara mutlak bagi semua warga negara tanpa melihat asal-usul agama, etnis, bahasa dan budayanya? Dapatkah dikembangkan sikap untuk membatasi hak milik pribadi demi meratakan pemilikan sarana produksi dan konsumsi guna tegaknya demokrasi ekonomi? Deretan pertanyaan fundamental, yang jawaban-jawabannya akan menentukan mampukah atau tidak wawasan keadilan yang terkandung dalam al-Qur'an memenuhi kebutuhan sebuah masyarakat modern di masa datang. Diperlukan kajian-kajian lebih lanjut tentang peta permasalahan seperti dikemukakan di atas, namun jelas sekali bahwa visi keadilan yang ada dalam al-Qur'an dewasa ini harus direntang sedemikian jauh, kalau diinginkan relevansi berjangka panjang dari wawasan itu sendiri. Jelas, masalahnya lalu menjadi rumit dan memerlukan refleksi filosofis, di samping kejujuran intelektual yang tinggi untuk merampungkannya secara kolektif. Masalahnya, masih punyakah umat Islam kejujuran intelektual seperti itu, atau memang sudah tercebur semuanya dalam pelarian sloganistik dan "kerangka operasionalisasi" serba terbatas, sebagai pelarian yang manis? -------------------------------------------Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah Editor: Budhy Munawar-Rachman Penerbit Yayasan Paramadina Jln. Metro Pondok Indah Pondok Indah Plaza I Kav. UA 20-21 Jakarta Selatan Telp. (021) 7501969, 7501983, 7507173 Fax. (021) 7507174 Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan

ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota
Please direct any suggestion to Media Team

Artikel Yayasan Paramadina
Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota I.1. PERSOALAN PENAFSIRAN METAFORIS ATAS FAKTA-FAKTA TEKSTUAL oleh M. Quraish Shihab (1/2) Dalam kamus linguistik, "metafora" (metaphor) berarti pemakaian suatu kata atau ungkapan untuk suatu obyek atau konsep, berdasarkan kias atau persamaan." (1) Itu berarti suatu kosakata atau susunan kata yang pada mulanya digunakan untuk makna tertentu (secara literal atau harfiah) dialihkan kepada makna lain. Dalam disiplin ilmu al-Qur'an pengalihan arti itu disebut ta'wil, atau oleh ulama-ulama sesudah abad ke 3 H., diartikan sebagai "mengalihkan arti suatu kata atau kalimat dari makna asalnya yang hakiki ke makna lain berdasarkan indikator-indikator atau argumentasi-argumentasi yang menyertainya." (2) Salah satu cabang disiplin ilmu bahasa Arab yaitu ilmu al-bayan menggunakan istilah majaz untuk maksud di atas. Tak dapat disangkal, setiap bahasa mengenal kata atau ungkapan yang bersifat metaforis, termasuk bahasa yang digunakan al-Qur'an. Tapi bagaimana dengan al-Qur'an yang redaksi-redaksinya merupakan susunan Ilahi? Apakah mengenal pula metafora? Al-Qur'an menegaskan, Ia turun dalam bahasa Arab. Kosakata yang digunakan umumnya digunakan pula oleh masyarakat Arab pada masa turunnya, tapi gaya susunannya yang bukan prosa dan bukan pula puisi, serta keindahan nada yang dihasilkannya menjadikan pakar-pakar bahasa Arab ketika itu mengakui, mereka tak mampu menyusun semacam redaksi ayat-ayatnya. Hal ini memberi petunjuk atau kesan bahasa al-Qur'an berbeda dengan bahasa yang digunakan ketika itu. Tapi di sisi lain, para ahli dalam rangka memahami al-Qur'an menelusuri dan mempelajari penggunaan kosakata dan ungkapan-ungkapan yang digunakan khususnya oleh suku-suku Qais, Tamim dan Asad karena mereka dinilai masih bertahan dengan bahasa Arab asli. Mereka oleh pakar-pakar budaya dan bahasa dinilai belum atau tak tersentuh oleh akulturasi budaya atau bahasa. Berbeda dengan suku-suku Arab lain nya yang bertetangga dengan daerah-daerah yang tak berbahasa Arab ketika itu seperti, Lakhem dan Juzaam yang bertetangga dengan penduduk Coptik di Mesir atau Gassaan dan Qudha'ah yang bertetangga dengan penduduk Syam yang berbahasa Ibrani. Atau suku Abdi al-qais dan Azad, penduduk Bahrain (Emirat Arab) yang bergaul dengan orang-orang India dan Persia. Bahkan para pakar bahasa tersebut --tak merujuk dalam rangka memahami kosakata atau ungkapan-ungkapan al-Qur'an-- pada penduduk kota-kota Hijaz sekali pun, karena mereka menilai bahwa pergaulan mereka relatif luas sehingga mengakibatkan bahasa mereka tak "asli" lagi. Isi yang dikemukakan di atas, menjadi bukti bahwa pemahaman

al-Qur'an tak terlepas dari pemahaman kosakata atau ungkapan yang digunakan orang-orang Arab pada masa turunnya; dan apabila terbukti mereka menggunakan metafora dalam percakapan mereka maka tentunya dalam al-Qur'an hal yang demikian pasti ditemukan, karena ia diturunkan dengan bahasa Arab, agar dapat mereka pahami (QS. Fushshilat: 3). Penelitian-penelitian yang dilakukan pakar-pakar bahasa, seringkali menimbulkan perbedaan-perbedaan di antara mereka, khususnya ulama-ulama Kufah versus ulama-ulama Bashrah. Ini berarti sebagian hasil-hasil yang mereka peroleh belum mendapat kesepakatan semua pihak, yang berakibat membawa sebagian ulama pada sikap hati-hati dalam menolak pemahaman metaforis bagi teks-teks keagamaan. Paling tidak, jika tak memahaminya secara literal, mereka menyerahkan pengertian sekian banyak kosakata atau ungkapan al-Qur'an kepada Allah swt. Sikap semacam ini tentunya tak memuaskan banyak pihak dan dari hari ke hari pembahasan masalah-masalah metaforis dalam teks-teks keagamaan tumbuh dengan pesatnya. Agaknya al-Jahiz (w. 255 H/868 M) merupakan tokoh pertama yang menghasilkan pemikiran-pemikiran jernih menyangkut masalah tersebut. Walaupun harus diakni bahwa kitab tafsir pertama, karya Abu Ubaidah Mu'ammar bin Al-Mustana (w. 209 H) bernama Majazat al-Qur'an. Namun nama ini tak berkaitan dengan pengertian majaz atau metafora yang dimaksud di sini. Tokoh al-Mahiz adalah seorang penganut aliran rasional dalam bidang teologi (Mu'tazilah) dan dengan penafsiran-penafsirannya ia telah mampu menyelesaikan sekian banyak problema pemahaman keagamaan yang tadinya dihadapi sekian banyak ulama. Imam Malik (w. 795 M) misalnya, enggan membenarkan redaksi "langit menurunkan hujan," karena berkeyakinan bahwa yang menurunkan hujan adalah Allah swt. (3) Demikian juga ketika beliau ditanya tentang pengertian Firman Allah dalam QS. Thaha: 5, "Tuhan yang maha pemurah bersemayam di atas Arasy." Malik menjawab: Pertanyaan semacam ini merupakan bid'ah" (tercela dalam pandangan agama). Bahkan sebagaimana ditulis al-Jahiz dalam bukunya al-Hayawan (4) ada orang-orang yang menduga bahwa batu merupakan makhluk berakal, berdasarkan Firman Allah dalam QS. al-Baqarah: 74 "... dan diantaranya (diantara batu) sungguh ada yang meluncur karena takut kepada Allah ...," sebagaimana ada yang menduga bahwa ada nabi-nabi untuk lebah-lebah berdasarkan QS. al-Nahl: 68, "Dan Tuhanmu mewahyukan kepada lebah." Kemudian mereka berpaham demikian merangkai hikayat-hikayat yang tak mempunyai dasar sedikitpun. Al-Jahiz yang sangat rasional dan ahli dalam bidang kebahasaan itu membantah pendapat-pendapat semacam itu dengan menunjuk pada penggunaan kosakata atau ungkapan yang sama dan yang pernah digunakan orang-orang Arab menjelang dan pada masa turunnya al-Qur'an. Ibnu Qutaibah (w. 276 H/889 M), murid al-Jahid walau pun bukan penganut aliran Muitazilah bahkan dinilai sebagai "juru bicara Ahl-u'l-Sunnah" (5) melanjutkan dan mengembangkan usaha-usaha gurunya dalam memahami teks-teks keagamaan dengan berbagai

motif yang berkembang dengan sangat pesat; dan tentu menggunakan segala cara dan argumentasi, baik logika maupun kebahasaan. Mereka yang menolak pemahaman metaforis dalam teks-teks keagamaan, paling tidak menggunakan dua argumentasi berikut, pertama, Metafora sama dengan kebohongan, sedangkan al-Qur'an adalah firman-firman Allah yang suci dari hal tertentu. Kedua, Seorang pembicara tak menggunakan metafora kecuali jika ia tak mampu menemukan kosakata atau ungkapan yang bersifat hakiki, dan tentunya harus diyakini bahwa Allah maha mampu atas segala sesuatu. Kedua argumentasi di atas jelas sekali kekeliruannya, sehingga berbagai ahli menolaknya. Ibnu Qutaibah menolak dengan menyatakan, "Seandainya metafora atau majaz dinilai kebohongan, maka alangkah banyaknya ucapan-ucapan kita merupakan kebohongan." (6) Al-Sayuthi (w. 911 H/1505 M) menulis dalam bukunya al-Itqan, "Metafora adalah unsur keindahan bahasa dan jika ia ditolak keberadaannya dalam al-Qur'an, maka tentunya sebahagian unsur keindahan pun tak akan ada padanya." (7) Sebagaimana telah dikemukakan pada awal uraian metafora dalam istilah ilmu bahasa Arab dinamai majaz, atau dalam istilah ilmu-ilmu al-Qur'an disebut ta'wil. Majaz menurut kaidah kebahasaan dapat dilakukan akibat adanya satu dari dua hal berikut, pertama, terdapat persamaan antara makna yang dikandung kosakata atau ungkapan dalam arti literalnya dengan makna yang dikandung oleh pengertian metaforis yang ditetapkan. Kedua, adanya perkaitan atau hubungan antara dua hal dalam ungkapan, sehingga mengakibatkan terjadinya penisbahan satu kalimat kepada sesuatu yang seharusnya bukan kepadanya. Ia dinisbahkan, misalnya "langit menurunkan hujan." Di sini terdapat perkaitan antara langit dan hujan, karena langit atau awan adalah sumber kedatangannya dan dengan demikian kepadanya ia dinisbahkan. Disepakati oleh mereka yang berpendapat adanya metafora, bahwa dibutuhkan dukungan petunjuk atau argumen guna mengalihkan satu makna hakiki ke makna metaforis. Tanpa adanya petunjuk maka penta'wilan tak dapat dilakukan. Tapi bagaimana bentuk petunjuk atau argumen tersebut, diperselisihkan mereka. Pertama, Kelompok yang dikenal dengan "al-Dhahiriyah" yaitu pengikut-pengikut Daud al-Dhahiri (w. 270 H) tak membenarkan adanya penta'wilan atau pengertian metaforis dalam teks-teks keagamaan, kecuali bila pengertian yang ditetapkan itu telah populer di kalangan orang-orang Arab pada masa turunnya al-Qur'an, serta terdapat petunjuk yang jelas yang mendukung pengalihan makna atau penta'wilan tersebut. (8) Ibnu Hazem (w. 456 H/1064 M) menegaskan,"Selama arti yang dipilih bagi satu kosakata atau ungkapan telah dikenal di kalangan sahabat dan Tabi'in dan sejalan pula dengan bahasaArab klasik, maka arti tersebut harus diterima baik dalam pengertian majaz, maupun hakiki." (9) Hanya perlu dicatat, satu kosakata atau ungkapan, tak dialihkan ke makna metaforis kecuali setelah makna hakiki tak dapat digunakan. Kedua, al-Syathibi penta'wilan ayat-ayat mengemukakan dua syarat al-Qur'an" (10) Pertama, pokok makna bagi yang

dipilih sesuai dengan hakikat kebenaran yang diakui oleh mereka yang memiliki otoritas dalam bidangnya. Tidak tepat kata al-Syathibi, memahami kata khalila dalam QS. al-Nisa' 125: Allah menjadikan Ibrahim khalila sebagai seorang "fakir" karena pengertian tersebut bertentangan dengan nash al-Qur'an yang lain, yaitu bahwa "ia (Ibrahim) menjamu tamunya dengan daging anak sapi yang dipanggang" (QS. Hud:69), yang menunjukkan beliau bukan seorang fakir; di samping bahwa kenyatann sejarah membuktikan bahwa Ibrahim as. bukan seorang fakir. Kedua, arti yang dipilih tersebut telah dikenal oleh bahasa-bahasa Arab klasik. Dalam syarat ini terbaca bahwa syarat "popularitas" artinya kosakata tak disinggung lagi, bahkan lebih jauh al-Syathibi menegaskan bahwa satu kosakata yang bersifat ambigu atau musytarak (mempunyai lebih dari satu makna), maka kesemua maknanya dapat digunakan bagi pengertian teks tersebut selama tak bertentangan satu dengan lainnya. Contoh kata "hidup" dan "mati." Al-Qur'an menggunakan kata "hidup" dalam arti berpisahnya Ruh dari badan dan juga dalam arti "kosongnya jiwa dari nilai-nilai agama." Firman Allah dalam QS. al-Rum 19, "Dia Allah mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup" dapat diartikan dengan salah satu atau dengan kedua arti tersebut di atas, demikian pula sebaliknya kata mati. Dalam hal ini tentunya kita tak dapat menyalahkan mereka yang memahami Firman Allah dalam QS. al-Baqarah 243, "Apakah kamu tak mengetahui orang-orang yang keluar dari kampung halaman mereka yang jumlah mereka beribu-ribu (keluar) karena takut mati, maka Allah berfirman kepada mereka 'matilah kamu,' kemudian Allah menghidupkan mereka, sesungguhnya Allah mempunyai karunia terhadap manusia tetapi kebanyakan manusia tak bersyukur." -------------------------------------------Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah Editor: Budhy Munawar-Rachman Penerbit Yayasan Paramadina Jln. Metro Pondok Indah Pondok Indah Plaza I Kav. UA 20-21 Jakarta Selatan Telp. (021) 7501969, 7501983, 7507173 Fax. (021) 7507174 (bersambung 2/2)

Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang YayasanISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota
Please direct any suggestion to Media Team

Artikel Yayasan Paramadina
Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota I.1. PERSOALAN PENAFSIRAN METAFORIS ATAS FAKTA-FAKTA TEKSTUAL oleh M. Quraish Shihab (2/2) Kita tak mempermasalahkan walaupun seandainya kita tak

Hal ini tak dapat diingkari siapa pun yang berakal walau pun mereka tak beriman atau mengingkari bahwa hal tersebut dinamai malaikat. adalah gambaran tentang potensi manusia mengetahui serta mengolah dan mengambil manfaat segala yang terdapat di bumi ini. Abduh ketika menguraikan tentang "malaikat. agresi dan permusuhan di muka bumi ini. Keengganan Iblis sujud. Demikian pula halnya dengan manusia dan binatang. bahwa malaikat merupakan makhluk ghaib yang tak dapat diketahui hakikatnya namun harus dipercaya wujudnya. demikian pula sebaliknya hal tersebut tak diingkari oleh seseorang yang . menunjukkan kemampuan manusia memanfaatkan hukum-hukum alam. perpecahan. bahwa hakikat setiap ciptaan terdapat sesuatu yang menjadi sumber ketergantungannya serta sistem wujudnya. adalah bahwa "malaikat merupakan makhluk-makhluk Allah yang bertugas dalam pekerjaan-pekerjaan tertentu." Hal ini menurut Abduh.sependapat dengan orang-orang yang memahami kata "matilah kamu" dan "Allah menghidupkan mereka" dalam pengertian "kematian semangat jihad mereka" kemudian "kehidupan" semangat jihad tersebut sehingga kembali ke kampung halaman mereka untuk mengusir orang yang selama itu menganiaya mereka. adalah isyarat yang lebih jelas dari satu redaksi tentang satu ciri tertentu bahwa pertumbuhan dalam tumbuh-tumbuhan terjadi tak lain kecuali dengan adanya Ruh yang dihembuskan Allah Swt ke dalam benihnya. Muhammad Abduh (w. Satu hal yang pasti. Pertama. sehingga dengan demikian terjadilah kehidupan bagi tumbuhan tersebut. maka yang digunakan adalah riwayat-riwayat yang sangat lemah atau dibuat-buat. menandakan kelemahan manusia dan ketakmampuannya menghilangkan bisikan-bisikan negatif yang mengantar kepada perselisihan. 1906 M) dinilai sebagai salah seorang tokoh penganut aliran ini. Ayat-ayat yang menguraikan kisah kejadian Adam as. menunjukkan keterbatasan hukum-hukum alam. Pengajaran Tuhan kepada Adam tentang nama benda-benda. Yang demikian itu menurut Abduh dinamai. dalam istilah agama dengan "malaikat." Selanjutnya Abduh menulis. Pemaparan pertanyaan kepada malaikat dan ketakmampuan mereka menjawab. tetapi penyampaian Tuhan kepada malaikat tentang rencana-Nya menciptakan khalifah di bumi. Sementara penganut-penganut aliran Rasional dinilai sementara ahli melakukan ta'wil dengan menitik beratkan tolok ukurnya pada akal mereka dan kalau pun menggunakan argumentasi kebahasaan. pada surah al-Baqarah 30 dan seterusnya. Sedang pendapat yang kedua. Ketiga. "Bagi mereka yang tak mengindahkan penamaan yang ditetapkan agama. (11) sehingga tak ada dialog sebagaimana tersurat. hal tersebut mereka namakan natural power karena mereka tak mengenal dalam kehidupan ini kecuali apa yang tampak dan atau yang tampak bekasnya dalam alam nyata." mengemukakan dua pendapat. dipahami Abduh sebagai gambaran tentang potensi dalam diri manusia untuk melakukan kejahatan. kata Abduh selanjutnya. adalah pertanda kesiapan bumi untuk menyambut satu makhluk yang dapat mengolahnya sehingga tercapai kesempurnaan hidup di dunia. Sujudnya Malaikat kepada Adam. difahaminya atas dasar tamsil. Mereka juga dinilai sangat memperluas penggunaan metafora dengan menggunakan pemahaman tamsil atau perumpamaan bagi ayat-ayat al-Qur'an. seperti menumbuhkan tumbuh-tumbuhan memelihara manusia dan sebagainya. Pertanyaan malaikat kepada Tuhan tentang khalifah yang dapat merusak dan menumpahkan darah.

Kita dapat memahami motivasi Muhammad Abduh dan penganut-penganut alirannya dalam menggunakan akal seluas-luasnya ketika memahami teks-teks keagamaan sehingga merasionalkan ajaran-ajaran agama sambil mempersempit sedapat mungkin wilayah ghaib. Karena kalau hal tersebut harus dipaksakan maka tak jarang ditemukan pemahaman-pemahaman yang tak hanya bertentangan dengan kaidah-kaidah kebahasaan tetapi juga bertentangan dengan hakikat keagamaan. Proses demikian yang terdapat dalam jiwa setiap manusia. "Dan sesungguhnya Kami telah anugerahkan kepada Daud karunia dari Kami. atau membanding-bandingkan pikiran dan kehendaknya yang mempunyai dua sisi baik dan buruk. bumi dan semua yang ada di dalammya bertasbih . Dan yang lebih penting lagi bahwa Mufassir al-Maraghi telah berusaha memahami hakikat tasbih gunung. dengan jalan pandangan yang diarahkan Daud kepada keajaiban tersebut berfungsi mengingatkan sebagaimana seseorang mengingatkan yang lain. sebagaimana ditemukan kemudian dalam perkembangan pemikiran selanjutnya." (12) Pendapat di atas dinilai sementara ulama tak sejalan dengan teks ayat di mana yang diperintahkan adalah gunung-gunung. Tidak demikian! Apa yang dikemukakan di atas hanya berarti bahwa bila suatu redaksi sudah cukup jelas serta penafsirannya tak bertentangan dengan akal." demikian halnya sehingga pada akhirnya menanglah salah satu pilihan.beriman walaupun ia mengingkari "natural power" atau hukum alam." Al-Maraghi menulis bahwa pengertian ayat tersebut adalah bahwa "gunung mengantar Daud bertasbih mensucikan Allah. penamaan tersebut dengan Muhammad Abduh menambahkan. dapat mengantar pada pengingkaran hal-hal yang bersifat supra-rasional. yang kemudian diikuti oleh tak sedikit dari ulama-ulama sesudah masa beliau. sedang terdapat ayat yang lain yang menegaskan bahwa: "Langit yang tujuh. dirasakan oleh mereka yang mengamati dirinya. namun hal ini bila diturutkan tanpa batas yang jelas. seakan-akan apa yang terlintas dalam pikirannya itu sedang diajukan ke suatu sidang Majelis Permusyawaratan yang ini menerima dan yang itu menolak. bahwa dalam batinnya terjadi pergolakan. sejarah kemanusiaan dan hal-hal ghaib berarti menggunakan sesuatu yang terbatas terhadap perbuatan-perbuatan Tuhan (zat yang tak terbatas itu). bukannya Daud. yang ini berkata "Kerjakanlah" dan yang itu "Jangan. (Kami berfirman) Hai gunung-gunung bertasbihlah berulang-ulang bersama Daud. Ahmad Musthafa al-Maraghi salah seorang penganut aliran Abduh menulis dalam tafsirnya menyangkut ayat 10 surah Saba'. Menggunakan akal sebagai tolok ukur satu-satunya dalam memahami teks-teks keagamaan khususnya tentang peristiwa-peristiwa alam. tak mustahil dinamai Allah atau dinamai penyebab hal tersebut sebagai "malaikat. Tapi tentunya ini bukan pula berarti kita menerima begitu saja penafsiran-penafsiran yang tak logis. maka redaksi tersebut tak harus dita'wilkan lagi dengan memaksakan suatu penafsiran yang dianggap logis sehingga dipahami akal." Demikian antara lain penta'wilan yang dilakukan Muhammad Abduh. walaupun belum dipahaminya.

Mesir. tak sebagaimana dipahami oleh dr. membutuhkan. Kedua. CATATAN 1. tetap harus diakni bahwa pendapat tersebut dari sisi kebahasaan memiliki alasan-alasannya. (medis) Mustafa Mahmud memahami larangan Tuhan pada Adam dan Hawa "mendekati pohon" sebagai larangan mengadakan "hubungan sexual. tetapi setelah mereka mendekatinya (memakan buah terlarang) redaksi ayat berbentuk plural atau jama' "Turunlah kamu. 1955.S. Redaksi Firman Allah sebelum mereka mendekati pohon tersebut adalah dalam bentuk dual ("Janganlah kamu berdua mendekati pohon ini. di samping nalar. Pertama. Dar al-Kutub al-Haditsah. h. walau sekedar menyebutnya. Talkhis al-Bayan. ayat al-Qur'an menggambarkan bahwa keadaan tanpa busana terjadi setelah atau akibat dari memakan buah pohon terlarang bukan sebelumnya. sebahagian kamu menjadi musuh bagi yang lain" (Q. (13) Apa yang dikemukakan di atas hemat kita bertentangan dengan teks ayat-ayat al-Qur'an serta kaidah-kaidah kebahasaan. Cairo. dan anehnya "daun-daun surga" difahami secara hakiki. Contoh yang dikemukakan di atas menunjukkan betapa pemahaman ayat-ayat al-Qur'an. juga penguasaan bahasa Arab. 18. 1963." Bukti yang dijadikan dasar pertimbangannya adalah. ketika itu mereka merasa malu. apalagi penta'wilan ayat-ayatnya. Penta'wilan yang parah adalah yang semata-mata mengandalkan penalaran akal seseorang dengan mengabaikan pertimbanganpertimbangan kebahasaan. sebagaimana dipahami oleh Mustafa Mahmud. Hal ini menunjukkan bahwa ketika itu mereka yang tadinya hanya berdua (Adam dan Hawa) kini telah menjadi lebih dari dua orang dengan adanya janin yang dikandung oleh Hawa setelah hubungan sex tersebut. Jilid 1. Ketika mereka (Adam dan Hawa) telah memakan (buah) pohon tersebut (mengadakan hubungan sex) mereka tanpa busana dan berusaha menutupi auratnya dengan daun-daun surga. Perasaan malu akibat terlihatnya alat kelamin hanya dialami oleh mereka yang telah mengadakan hubungan sexual. Terbukti bahwa anak kecil tak merasakan hal tersebut. karena itu wanita hamil akan tetap diperlakukan oleh bahasa sebagai wujud tunggal. 106. h. Kosakata "pohon" dita'wilkan atau dipahami secara metaforis tanpa ada argumentasi pendukung. 3. 11. Mustafa Mahmud.kepada Allah dan tak sesuatu pun melainkan bertasbih memujiNya. al-Baqarah: 36). h. Ketiga. al-Baqarah: 35). Syarid Al-Radhy. Jakarta 1983. tapi kamu sekalian tak mengetahui (hakikat) tasbih mereka." QS. Gramedia. diedit oleh Abdulghani Hasan. Muhammad Husen al-Zahaby. Di sisi lain bahasa Arab tak menganggap wujud janin sebagai wujud yang penuh. Kamus linguistik. al-Tafsir Wa 'l-Mufassirun. Pertama. berbeda dengan orang dewasa yang merasa malu. Kedua. Al-Halaby. al-Isra' 44). Harimurti Kridalaksana. 2. Muhammad . Jika apa yang digambarkan tentang pendapat al-Maragi di atas tak disetujui. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penyantun lagi Maha Pengampun" (QS. Dr.

Abu Zahrah. UA 20-21 Jakarta Selatan Telp. 13. 6. h. Cairo. sebagaimana . Al Sayuthi. Ibid.2. 7507173 Fax. Al-Azhar. 12. 1967. hl. 5. Op. 92. Jilid 1. ialah pemahaman atau pemberian pengertian atas fakta-fakta tekstual dari sumber-sumber suci (al-Qur'an dan al-Sunnah) sedemikian rupa. hal.4. Dar Al-Fikr. 11. -------------------------------------------Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah Editor: Budhy Munawar-Rachman Penerbit Yayasan Paramadina Jln. diedit oleh Abdussalam Harun. h.. tapi pada "makna dalam" (bathin. Majma' al-Buhuts. diedit oleh Abdullah Darraz. 7. (021) 7507174 Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota Please direct any suggestion to Media Team Artikel Yayasan Paramadina Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota I. sendiri. Dar al-Itisham. Beirut. 119 dst. (021) 7501969. 7501983. Lihat Abu Ishaq al-Syathiby. Syarif AlRadhy. MASALAH TA'WIL SEBAGAI METODOLOGI PENAFSIRAN AL. Muhammad Rajab al-Bayyumy. 10. Metode pemahaman serupa itu (ta'wil) telah muncul sejak masa-masa dini sejarah Islam (jika tidak malah sejak masa Rasul Allah saw. Jilid 11. tp. 64. Juz 22.261 dst. h. Cairo. Lihat al-Jahiz dalam al-Hayawan. Lihat lebih jauh Abdul Muta'al Muhammad al-Jabri. Percetakan al-Manar. 9. h. Jilid. Jilid 111. sehingga yang diperlihatkan bukanlah makna lahiriyah kata-kata pada teks sumber suci itu. Cairo. 56. 128. Cit. h.. al-Itqan. Syathahat Musthafa Mahmud. Ibnu Hazem Hayatuha Wa Ashruhu. Tafsir Al-Maraghy. al-Muwafaqat.QUR'AN oleh Nurcholish Madjid (1/2) Interpretasi metaforis atau ta'wil. th.II. 36. 1971. al-Halaby. Cairo. Cairo 1367 H. Dr. Cairo. 1971. Ahmad Musthafa al-Maraghy. Khathawat al-Tafsir Al-Bayany. Dar al-Ma'rifah. 8. h. 99. 226. Cairo 1964 M. Tentang pendapat-pendapat Abduh lihat lebih jauh Muhammad Rasyid Ridha dalam Tafsir al-Manar. 1364 H. 1318 H. h. Metro Pondok Indah Pondok Indah Plaza I Kav. inward meaning) yang dikandungnya.

AYAT-AYAT MUHKAMAT DAN MUTASYABIHAT Salah satu pokok perselisihan di kalangan umat Islam yang terkait erat dengan masalah ta'wil ini ialah adanya ayat-ayat suci al-Qur'an yang "bermakna jelas atau pasti" (muhkamat) dan yang "bermakna samar atau tidak pasti" (mutasyabihat. dan mana pula yang mutasyabihat. Karena perselisihan ini maka ada ayat-ayat suci yang bagi suatu kelompok umat Islam bersifat . kemudian perpecahan. kita berharap dapat menempatkan diri lebih baik dalam memandang berbagai aliran dan madzhab di kalangan umat sendiri." Dan tidaklah akan dapat merenung (menangkap pesan) kecuali orang-orang yang berpengertian mendalam. mereka akan mengikuti bagian-bagian yang tersamar (mutasyabihat) daripadanya. "Kami percaya kepada Kitab Suci itu. Ada pun orang-orang yang dalam hatinya terdapat keserongan. yang interpretable). Dalam abad telekomunikasi mondial yang serba cepat dan luas.dikatakan kalangan Islam tertentu). Sedangkan orang-orang yang mendalam ilmunya maka akan menyatakan. telah melahirkan sejenis kesadaran baru di kalangan umat Islam dunia. Karena itu persoalan interpretasi metaforis ini mempunyai saham cukup besar dalam timbulnya perselisihan. termasuk informasi tentang adanya berbagai kelompok dan aliran pemikiran yang beraneka ragam Terlintas dalam pikiran. antara lain karena revolusi mereka di Iran 1979. untuk kalangan kaum Muslim. disebutkan dalam Kitab Suci sendiri sebagai berikut: Dia (Tuhan) yang telah menurunkan kepada engkau (Muhammad) Kitab Suci. Maka salah satu manfaat yang menjadi tujuan tulisan ini ialah tumbuhnya keinsafan lebih besar tentang bibit-bibit perselisihan paham dalam Islam. misalnya kesadaran hampir tiba-tiba kaum Muslim Indonesia tentang adanya golongan Syi'ah dan berbagai alirannya. Dari sekian banyak informasi itu. Lepas dari masalah revolusi itu sendiri (yang agaknya lebih baik dilihat sebagai gejala politik. yakni. perbedaan pandangan tentang mana saja ayat-ayat suci yang muhkamat. Maka dengan menengok masalah ta'wil ini. untuk kemudian sikap yang sama itu sedapat mungkin kita bawa pada persoalan masyarakat secara keseluruhan. Padahal tidak mengetahui ta'wil-nya kecuali Allah. kejadian di Iran pada penghujung dasawarsa lalu itu dalam suatu sentakan. Sikap dapat memahami persoalan berkenaan dengan perselisihan paham di kalangan umat itu semakin dirasa mendesak akhir-akhir ini. semuanya dari sisi Tuhan kami. serta bagaimana seharusnya kita menempatkan diri dalam kancah perselisihan itu secara adil. dan ayat-ayat lain yang mutasyabihat. dengan tujuan membuat fitnah (perpecahan) dan mencari ta'wil bagian-bagian tersamar itu. [1] Masalah muhkamat dan mutasyabihat itu setidak-tidaknya menimbulkan tiga jenis perbedaan pandangan: Pertama. seperti halnya dengan revolusi-revolusi lain). ialah yang berkenaan dengan keadaan umat Islam sendiri di seluruh dunia. yaitu kesadaran tentang pluralitas Islam dan potensi yang ada di balik setiap golongan. Adanya kedua jenis ayat itu. setiap pribadi orang modern mengalami bombardemen informasi yang seringkali menyangkut segi-segi kesadarannya yang mendalam. di kalangan kaum Muslim. yang didalamnya terdapat ayat-ayat muhkamat yang merupakan induk Kitab Suci (Umm al-Kitab).

muhkamat.'." "melihat. Termasuk dalam permasalahan ini ialah problema homonimi (Arab: ism musytarak." PANDANGAN PARA FILSUF Seperti dapat diduga. padahal kata-kata atau sifat-sifat itu juga dapat diberlakukan kepada makhluk. . kata-kata berserikat). khususnya manusia. bagi mereka yang membolehkan interpretasi. Maka pelukisan itu mengesankan bahwa Tuhan dan manusia "berserikat" dalam beberapa sifat dan kelengkapan. bagi kebanyakan kaum Muslim bersifat muhkamat. Mereka yang melakukan interpretasi (karena beranggapan bahwa Tuhan mustahil memiliki kualitas-kualitas yang sama dengan manusia) akan memandang ayat-ayat yang bersangkutan dengan itu sebagai metafor-metafor belaka. seperti golongan al-Bathiniyyun ("Kaum Kebatinan" . "tangan". Mereka dengan kuat memandang. "marah. seperti kata-kata "mendengar. Sebagian kelompok Islam membolehkannya. perbedaan pandangan tentang boleh atau tidaknya melakukan ta'wil terhadap ayat-ayat yang mutasyabihat itu. Jadi tidak dimaksudkan seperti apa adanya menurut arti lahiriah ungkapan-ungkapan itu. Sebagian lagi yang tidak membolehkannya. Untuk dapat menangkap arti sebenarnya dari ungkapan-ungkapan itu. maka sangat masuk akal bahwa hak untuk melakukannya harus dibatasi hanya pada lingkungan yang memenuhi syarat. diperlukan disiplin dan latihan berpikir yang tinggi. misalnya. dengan memberi penegasan bahwa Tuhan memiliki kualitas-kualitas itu "tanpa bagaimana. para filsuf adalah kalangan orang-orang Muslim yang paling banyak melakukan ta'wil. Kedua. tapi bagi sebagian mereka." "senang"' dan lain-lain yang dalam Kitab Suci disebutkan sebagai sifat-sifat Tuhan. Yang pertama adalah "kaum ahli. Karena interpretasi bukanlah pekerjaan yang gampang. masih terdapat perselisihan tentang siapa yang harus melakukan interpretasi itu. namun bagi kelompok lain bersifat mutasyabihat. al-'awam)." Ketiga. Mereka yang tidak membenarkan interpretasi akan melihat firman-firman itu seperti adanya. ungkapan-ungkapan kebahasaan dalam sumber-sumber ajaran agama. bersifat mutasyabihat sehingga pelukisan tentang surga dan neraka itu mereka pahami sebagai metafor-metafor atau kias-kias. Firman-firman berkenaan dengan surga dan neraka. disebabkan kuatnya pengakuan sebagai para pencari hakikat dan kebenaran demonstratif (yang terbuktikan secara tak terbantah). antara lain pengetahuan yang luas dan kemampuan berpikir yang mendalam. sedangkan kenyataan tidaklah seperti yang dikesankan pengertian lahir firman-firman itu. sehingga dalam memahami ayat-ayat mutasyabihat itu. Ini membawa konsekuensi terbaginya anggota masyarakat manusia kepada kelompok-kelompok khusus (khawas." dan yang kedua terdiri dari "orang-orang kebanyakan. al-khawash) dan kelompok-kelompok umum (awam. dan ini menimbulkan problema. harus dilakukan interpretasi di balik ungkapan-ungkapan lahiriah. yang tak mesti menunjuk pada hakikatnya. yang menurut mereka hanya diperoleh melalui pemikiran kefilsafatan. berpendapat dalam memahami ayat-ayat itu kita harus berhenti pada makna-makna seperti yang dibawakan ungkapan lahiriah lafal dan kalimatnya. baik Kitab Suci maupun Sunnah Nabi adalah ungkapan-ungkapan metaforis atau alegoris.lihat pembahasan di bawah)." "mengetahui.

Adanya bahaya ini (bahaya kekafiran. [2] Jadi para filsuf dengan kata lain. bahkan wajib. jadi tertolak). Yaitu dengan memindah tanda baca berhenti (waqaf:) sehingga terbaca. Tapi "kebohongan" Nabi bukanlah kejahatan. Dan sebaliknya. Spanyol. filsafat adalah kecintaan kepada kearifan (wisdom). seperti yang dituduhkan Ibn Taymiyyah. AL-BATHINIYYUN (KAUM KEBATINAN) . Nabi telah melakukan sejenis kebohongan: Mengungkapkan sesuatu tanpa memaksudkan makna lahiriah ungkapan itu. Para filsuf akan menjadi kafir jika tidak melakukan interpretasi (karena bagi mereka ajaran-ajaran agama tertentu seperti surga dan neraka dalam pengertian fisik itu tidak masuk akal. maka Ibn Rusyd berpendapat. menggunakan metode interpretasi metaforis terhadap teks-teks keagamaan. yaitu pendidikan orang banyak atau kaum awam. para filsuf menganut teori Nabi telah melakukan "kebohongan untuk kebaikan" (al-kidzb li al-mashlahah). para filsuf sendiri. Ibn Rusyd (Latin: Averroes). Filsuf Islam terkenal dari Cordova. Kadang-kadang juga disebut ahl al-burhan ("para penganut kebenaran demonstratif atau apodeiktik. karena bertujuan kebaikan. Jadi bagi Ibn Rusyd firman Tuhan itu harus dibaca kaum khawas sedemikian rupa sehingga "orang-orang yang mendalam ilmunya" termasuk ke dalam yang mengetahui ta'wil ayat-ayat mutasyabihat. baik dari pihak khawas maupun awam). memandang Nabi mengutarakan sesuatu dengan ungkapan-ungkapan metaforis dan alegoris. melainkan pada makna batinnya.. disebabkan sulitnya pemahaman interpretatif yang abstrak itu.. ta'wil harus disimpan dan dirahasiakan untuk kalangan kaum khawas saja. kemudian menjadi kearifan itu sendiri. Mereka ini berkata. [3] Karena itu para filsuf rawan terhadap tuduhan. maka kalangan khawas. Maka para filsuf Islam memandang diri mereka sebagai "penganut kearifan" (ahl al-hikmah) atau para orang arif-bijaksana (al-hukama). Padahal tidak mengetahui ta'wilnya kecuali Allah dan orang-orang yang mendalam ilmunya. yakni. misalnya berpandangan para filsuf selaku ahl al-burhan itulah yang dimaksudkan dalam firman Ilahi (dikutip di atas) sebagai "orang-orang yang mendalam ilmunya." karena mereka ini berhak atau wajib melakukan ta'wil terhadap bunyi teks-teks suci. Dengan kata lain.. mereka adalah golongan khawas di kalangan umat. Para flsuf harus melakukan ta'wil terhadap bunyi-bunyi teks suci baik Kitab maupun Sunnah (Hadits). yang tidak memaksudkan makna-makna lahir ungkapan-ungkapan itu. orang awam akan menjadi kafir jika melakukan interpretasi. mereka sebenarnya menganut teori.. [5] Sehingga sering dikatakan. [4] Karena "pendidikan" itu ditujukan pada kalangan awam." sebagai ganti cara baca kaum awam (lihat terjemah kutipan firman itu di atas). agar mereka berbuat baik dan meninggalkan keburukan. sehingga filsafat pun disebut al-hikmah. yakni kebenaran tak terbantah").Sesuai dengan makna asal katanya dalam bahasa Yunani. metode Ibn Rusyd yang membagi manusia dalam golongan khawas dan awam itu akan melahirkan semacam elitisme dalam kehidupan beragama. semuanya dari sisi Tuhan kami. sedangkan orang awam harus menerimanya menurut apa adanya sesuai dengan bunyi dan makna lahiriah lafalnya itu. ". yang tak terjangkau kemampuan akal mereka. dan mereka berhak. tak seharusnya mengikuti cara awam dalam memahami ajaran agama. Kelebihan mereka itu. "Kami beriman kepada Kitab Suci itu.

Mereka memang masih memiliki persamaan dengan orang-orang Muslim lain. menantu dan sahabat yang menjadi kepercayaan beliau. seperti juga menjadi pandangan kaum filsuf. Dalam gabungannya dengan semangat keagamaan mereka. tak mampu menangkap makna batin yang sulit itu. bagi mereka. Metro Pondok Indah Pondok Indah Plaza I Kav. yang dipercayai sekarang sedang bersembunyi dan akan kembali sebagai Imam Mahdi). terutama kaum Isma'ili. kadang-kadang juga Ahl al-Bawathin (Kaum Kebatinan) digunakan secara longgar untuk mengidentifikasi kelompok-kelompok Islam yang orientasinya berat ke arah paham keagamaan yang lebih mengutamakan usaha menangkap makna dalam (bathin) dari suatu teks atau ajaran agama. Oleh kaum Sunni istilah itu juga secara khusus digunakan untuk kelompok Islam tertentu. khususnya Neo-Platonisme. malah berbahaya bagi mereka. semua ajaran agama (Islam) selalu mengandung makna lahir dan makna batin. para pengikut Syi'ah Isma'iliyyah ini memang banyak sekali menggunakan sumber-sumber filsafat. Karena itu istilah tersebut berlaku untuk hampir semua kelompok esoteris Islam. memberi dukungan pada usaha pembuktian bahwa lembaga imamat (keimaman) adalah langsung dari Tuhan. sejak dari Hasan ibn 'Ali sebagai imam pertama. termasuk kaum Sufi. Dalam hal paham keimanan itu mereka berbeda dengan umumnya golongan Syi'ah Itsna 'Asy'ariyyah (Syi'ah Duabelas. kemenakan. Makna dan kebenaran agama. dan hanya mereka inilah yang dapat menangkap makna-makna batiniah agama. karena kepercayaan mereka pada imam-imam yang duabelas jumlahnya. Maka hanya mereka yang memiliki kemampuan spiritual yang tinggi sajalah yang mampu mengakui peranan khusus 'Ali. Sebab dalam melakukan ta'wil terhadap fakta-fakta tekstual agama. sistem filsafat itu menyediakan penyimpangan kandungan batin ajaran-ajaran agama yang antara lain. Tapi karena orang awam. khususnya kandungan al-Qur'an. yaitu suatu pecahan aliran Syi'ah yang muncul sesudah wafat Isma'il ibn Ja'far al-Shadiq sekitar 148 H (765 M). yang tersembunyi dan dirahasiakan itu hanya diberikan Nabi kepada 'Ali. melalui Ja'far al-Shadiq seperti kaum Isma'ili. maka makna batin itu ditujukan hanya pada orang-orang istimewa tertentu saja. seperti pandangan tentang kewajiban melakukan ibadat-ibadat tertentu. karena kepercayaan mereka pada imam-imam yang tujuh (yaitu sejak Hasan ibn 'Ali sampai Muhammad ibn Isma'il (ibn Ja'far al-Shadiq ibn Muhammad al-Baqir). Adalah al-Bathiniyyun ini yang menjadi salah satu sasaran karya-karya polemis pemikir Sunni al-Ghazali dalam rangka usahanya menghancurkan filsafat.Istilah al-Bathiniyyun. penganut aliran Isma'iliyyah. UA 20-21 Jakarta Selatan (bersambung 2/2) . Pembuktian itu diperoleh antara lain karena doktrin.kemudian berakhir dengan Muhammad al-Muntadhar. Tapi mereka juga berpegang pada paham tentang adanya ajaran-ajaran esoteris (bathin) yang membentuk sistem filsafat kaum Isma'ili. tapi menyimpang ke Musa al-Kadhim ibn Jafar --dan bukannya ke Muhammad ibn Isma'il-. Mereka juga dinamakan kaum Syi'ah Sab'iyyah (Syi'ah Tujuh). -------------------------------------------Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah Editor: Budhy Munawar-Rachman Penerbit Yayasan Paramadina Jln.

(021) 7501969. sebagai bentuk keterlibatan nyata mereka dalam sejarah kemanusiaan. MASALAH TA'WIL SEBAGAI METODOLOGI PENAFSIRAN AL. (021) 7507174 Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota Please direct any suggestion to Media Team Artikel Yayasan Paramadina Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota I. Mereka juga terdiri dari kaum bisnis dan wirausahawan yang sukses. suatu bentuk kegiatan yang dimungkinkan oleh minat mereka yang besar kepada usaha memelihara warisan sejarah Islam. Tapi lain dari Manucheanisme. Mereka tidak saja menjadi sponsor atas kegiatan kultural dan ilmiah yang antusias. 7501983. tapi juga banyak mendorong kemajuan masyarakat manusia pada umumnya.Telp. [6] Mereka itu kini dipimpin Aga Khan yang terkenal itu. (Sebagai misal. paham kebatinan ini juga menunjukkan tanda-tanda adanya pengarah Manicheanisme. 7507173 Fax. Jawa Tengah. Magelang. atas dasar konsep tentang arsitektur Islam masa depan yang cukup revolusioner. mereka memberi award bidang arsitektur Islam kepada Pesantren Pabelan. khususnya masyarakat Islam sendiri.Risalat Ikhwan al-Shafa. kebatinan kaum Isma'ili sangat menekankan pembangunan praktis susunan masyarakat dunia. Sedikit sekali kemungkinan orang luar lingkungan sendiri akan diberi pengakuan kemanusiann yang penuh. Diduga bahwa orang-orang Persi penganut Manicheanisme di zaman Abbasiyah secara rahasia masuk Islam dan memeluk paham kebatinan kalangan kaum Isma'ili. pertumbuhan historis paham Sunni merupakan . Mereka juga banyak mengadakan pameran benda-benda seni peninggalan Islam di kota-kota besar dunia (1983 di New York). yang menurut penilaian mereka diwakili rintisannya oleh pesantren itu).2. Pandangan hidup kaum Isma'ili yang sangat esoteris (bathini) itu telah membuat mereka sebagai salah satu kelompok yang paling eksklusifistik dalam Islam. Paham Sy'iah Isma'iliyyah bertemu dengan Manicheanisme dalam ajaran yang hendak memberi pada penganutnya "kearifan dan martabat kosmis" yang budi kasar orang umum tak mampu menggapainya.QUR'AN oleh Nurcholish Madjid (2/2) Unsur Neo-Platonis Kaum Kebatinan ini kemudian muncul dalam karya kefilsafatan besar --yang ditulis sekelompok sarjana yang menamakan diri mereka Ikhwan al-Shafa' (Persaudaraan Suci)-. PANDANGAN KAUM SUNNI Dari satu segi. Selain unsur Neo-Platonis. seperti tampak nyata di banyak kawasan Afrika Timur. yaitu suatu pecahan agama Majusi (Zoroastrianisme).

tapi dengan pembatasan-pembatasan begitu rupa sehingga masih bisa dikuasai. Berdasarkan firman Allah. Syria. [9] Masih dalam konteks paham Sunni tentang ta'wil ini. sehingga tidak ada lagi sisa yang bersifat pasti. [8] Mungkin disebabkan latar belakang pertumbuhan historisnya itu maka paham Sunni ditandai semangat umum moderasi dan akomodasi. dan tidak bisa disamakan dengan sesuatu apa pun juga. "Kitab Suci penuh berkah. wajah dan mata Tuhan itu tidak sama dengan yang ada pada makhluk seperti manusia. Paling jauh. maka bagaikan membuka Kotak Pandora. Khususnya yang terjadi pada tahun 41 H yang sering disebut para ahli sejarah sebagai "Tahun Persatuan" ('Am al-Jama'ah). Salah satu wujud semangat itu tampak dalam paham Sunni menghadapi masalah ta'wil itu. Interpretasi metaforis atau ta'wil tidak saja selalu bersifat abstrak dan intelektualistik --yang tak terjangkau masyarakat banyak-. Ibn Taymiyyah mengemukakan pandangan yang cukup menarik. namun tangan. Mereka ini dipelopori 'Abdullah ibn 'Umar. Inilah metode al-Asy'ari. menurut Ibn Taymiyyah. keterangan dalam al-Qur'an bahwa Tuhan mempunyai tangan. dan seterusnya). mata dan lain-lain. wajah. Bahkan. Usamah ibn Zayd. yang pertama komponen ideologis. Said ibn Abi Waqqash. sebaliknya. menyerupai manusia. Tapi. Kaum Sunni umumnya menerima adanya intepretasi metaforis. Abu Bakrah. wajah dan mata. jika mereka tidak melakukan interpretasi. mereka tetap menolak antropomorfisme. Sebab jika pintu interpretasi metaforis itu ditenggang dengan tidak hati-hati. dan "tanpa bagaimana" (bi-la kayfa). Kaum Sunni --yang secara garis besar perjalanan sejarahnya hampir selalu paralel dengan susunan mapan masyarakat Islam-sangat mengkhawatirkan. agar mereka (manusia) merenungkan ayat-ayatnya. pendekatan metaforis pada agama akan mempunyai efek melemahnya sendi-sendi dan kesadaran hukum masyarakat banyak. ialah sikap mendukung sebagian terbesar kaum Muslim kepada Mu'awiyah sebagai Khalifah yang sah berkedudukan di Damaskus. dengan mengatakan bahwa sekali pun disebutkan Tuhan itu mempunyai tangan. khususnya antara 'Ali dan Mu'awiyah beserta pengikut masing-masing. madzab Madinah itu juga didukung oleh sebagian besar "para pelopor pertama" (al-sabiqun al-awwalun). bahwa Dia bertahta di Singgasana. dan 'Imran ibn Hasyim. Yang ideologis ialah "Aliran Penduduk Madinah" (Madzhab Ahl al-Madinah) seperti dikemukakan mereka yang tak mau terlibat dalam pertikaian-pertikaian politik saat itu. merasa senang dan tidak senang. misalnya. [7] Yang politik pragmatis. Sebab pelukisan antropomorfis itu tidak sesuai dengan penegasan Kitab Suci sendiri bahwa Tuhan tidak sebanding. rujukan utama paham Sunni dalam ilmu Ketuhanan atau akidah. semua bagian dari ajaran agama akan habis diinterpretasikan. yang telah Kami turunkan kepada engkau (Muhammad). dan yang kedua komponen politik pragmatis. menutup samasekali kemungkinan mengadakan ta'wil akan menghadapkan orang-orang Muslim yang serius pada kesulitan mengartikan berbagai pelukisan tentang Tuhan yang antropomorfis (yakni.gabungan dua komponen. Muhammad ibn Maslamah.tapi juga senantiasa menyediakan "lubang pelarian" (loop hole) di bidang hukum bagi mereka yang kesadaran hukumnya lemah. dan agar mereka yang berpengetahuan mendalam menangkap pesannya" [10] Ibn Taymiyyah mengatakan .

inti atau dasar Kitab Suci. sifat alegoris atau metaforis keterangan-keterangan dalam Kitab Suci itu tak dapat tidak harus digunakan sebagai metodologi penyampaian pesan. namun kebanyakan justru firman-firman yang metaforis. kata Ibn Taymiyyah. Namun manusia. yang tidak diberikan secara terpisah. Dari uraian di atas diharapkan ada sedikit kejelasan bahwa masing-masing kelompok atau aliran dalam Islam memiliki reasoning mereka sendiri dalam memilih suatu pemahaman agama. Allah dan Rasul-Nya tidaklah mencela orang yang merenungkan makna di balik ungkapan-ungkapan ayat-ayat mutasyabihat dalam al-Qur'an kecuali jika dilakukan dengan maksud menimbulkan perpecahan dan mencari-cari interpretasinya yang tidak masuk akal. di seluruh Kitab Suci. Menurut sarjana ini. tak dibenarkan menganggap perolehannya sebagai mutlak dan final. sebab "tidak ada kesalahan yang lebih besar daripada berpikir bahwa "terjemahan-terjemahan" (yakni. ataukah sebenarnya hati mereka telah tersumbat?" [11] Karena itu." [14] PENUTUP Telah dikatakan. bagian yang bersifat figuratif. [13] Seorang sarjana Muslim modern penafsir al-Qur'an lain. bahwa tujuan kita membahas persoalan interpretasi metaforis ini antara lain ialah untuk mendapatkan kesadaran tentang suatu dimensi pemahaman keagamaan dalam Islam yang ikut memberi corak keanekaragaman kaum Muslim di dunia. tapi tumpang tindih. juga berpegang pada pandangan yang sama dalam masalah ta'wil ini. Secara garis besar al-Qur'an itu dapat dibagi ke dalam dua bagian. dan penafsir al-Qur'an terkemuka Terhadap firman Allah berkenaan dengan ayat-ayat muhkamat dan mutasyabihat yang dikutip di atas tadi. Kita harus mencoba memahaminya sebaik mungkin. dalam usahanya memahami keterangan-keterangan suci itu. tetapi tak boleh menyia-nyiakan energi kita dalam memperdebatkan sesuatu yang berada di luar kedalaman diri kita. Maka Allah memuji mereka yang merenungkan firman-firman-Nya. Abdullah Yusuf Ali memberi komentar sebagai berikut." dan kedua. yang tidak ada asosiasinya dengan apa yang sudah ada dalam alam pikirannya. Asad berpendapat bahwa al-Qur'an memang mengandung ayat-ayat yang pasti maknanya tanpa samar. [12] Pandangan hampir serupa dianut juga oleh Abdullah Yusuf Ali. sebagaimana perintah untuk itu dapat dipahami dari firman-Nya. Muhammad Asad. dan hal yang tak masuk akal itu tak ada dalam al-Qur'an. Tapi juga tidak sedikit daripadanya yang semata-mata merupakan hasil interaksi antara sesama . ungkapan-ungkapan dalam bahasa manusia) itu dapat memberi definisi pada sesuatu yang tak mungkin didefinisikan. baik yang muhkamat maupun yang mutasyabihat. Ayat ini memberi kita suatu kunci penting untuk interpretasi al-Qur'an. Hanya hal-hal yang maknanya tak masuk akal saja yang tidak direnungkan. secara harfiah "Induk Kitab Suci. Sebagian dari reasoning itu tentu saja. sebab manusia tidak akan dapat memahami sesuatu yang samasekali abstrak. "Apakah mereka (manusia) tidak merenungkan al-Qur'an. yaitu. bersumber pada atau bersifat murni keagamaan. pertama. sarjana Muslim di zaman modern ini. metaforis dikenakan kepada esensi itu.bahwa yang harus direnungkan itu ialah semua ayat-ayat al-Qur'an. baik yang muhkamat maupun mutasyabihat.

Al-Syaykh Muhammad al-Hudlari Bek. misalnya. atau malah secara logis diperlukan. Ibn Rusyd. janganlah ada suatu kaum di antara kamu yang memandang rendah kaum yang lain. Ma'arij al-Wushul fi Ma'rifat anna Ushul al-Din wa Furu'a-hu qad Bayyana-ha al-Rasul. 110. 7. misalnya. Dan sementara kita melihat orang lain demikian. 378-9. Abu al-Hasan al-Asy'ari. 10. cit. 1984]. kalau-kalau mereka yang dipandang rendah itu lebih baik daripada mereka yang memandang rendah. h. pengakuan itu mungkin dibenarkan saja. The Venture of Islam. jil. sebab --seperti kata Muhammad Asad tadi-kita sebenarnya hendak menggapai sesuatu (Kebenaran Mutlak) yang tidak bakal tergapai. atau memberi orang lain apa yang disebut "hikmah keraguan" (benefit of doubt) dalam pergaulan sesama manusia. khususnya. 9. 1974). dianut Ibn Sina (Avicenna). QS.. 4 jilid. khususnya sesama Muslim. 249). (Riyadl: Maktabat al-Riyadl al-Haditsah. h." [15] CATATAN 1. S. 1 h. Khazanah Intelektual Islam [Jakarta: Bulan Bintang. QS. Shad/38:29. 8-9. 5. (Chicago: The University of Chicago Press. Minhaj al-Sunnah al-Nabawiyyah fi Naqdl Kalam al-Syi'ah wa al-Qadariyyah. tt. 3. 'Wahai sekalian orang-orang yang beriman. Ini sejalan dengan yang dipesankan Tuhan sendiri dalam ajaran-Nya tentang prinsip persaudaraan di antara orang-orang beriman dan bagaimana memeliharanya. Itsbat al-Nubuwwat. Hodgson. Namun. h. al-Ibanah'an Ushul al-Diyanah (Idarat al-Thiba'at al-Muniriyyah. Ibn Taymiyyah. 230-1 6. Lihat dalam buku kami. 4. Dari sudut pandangan inilah absurd-nya pengakuan diri sendiri sebagai yang paling benar. Maka yang benar ialah menerapkan sikap "ragu yang sehat" (healthy scepticism). yang kami terjemahkan dalam buku kami. Pandangan seperti ini. hh. jil. (dalam Khazanah). --seperti dikatakan Abdullah Yusuf Ali yang telah dikutip-. 3 jilid. 1348 H). dalam buku kami. 193.orang-orang Muslim sendiri atau antara orang-orang Muslim dengan non-Muslim dalam sejarah. QS. 'All 'Imran 3:7. 11. 217-8). pada waktu yang sama kita harus menyadari bahwa orang lain pun melihat kita demikian. 1. Khazanah. keyakinan.). 2. Tuduhan Ibn Taymiyyah itu dinyatakan dalam risalahnya. . (Lihat terjemahnya. Khazanah. h. 1387 H 1967 M). Muhammad/47:24.seorang yang bijaksana tak boleh bersikap dogmatis. Fashl al-Maqal wa Taqrir Ma bayn al-Hikmah wa al-Syari'ah min al-Ittishal... Tarikh al-Tasyri' al-lslami (Beirut: Dar al-Fikr. op. Ibn Rusyd. Marshall G. hh. meskipun dari sudut pandangan lain. khususnya h. 8. 137-51. Lihat risalahnya.

al-Iklil fi al-Mutasyabih wa al-Ta'wil (Kairo: Dar al-Mathba'at al-Salafiyyah. (021) 7507174 Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota Please direct any suggestion to Media Team Artikel Yayasan Paramadina Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan . but intermingled. 123. UA 20-21 Jakarta Selatan Telp. Metro Pondok Indah Pondok Indah Plaza I Kav. h." and (2) the part which is figurative. we shall find that in a sense the whole of the Qur'an has both "established meaning" and allegorical meaning. The division is not between the verses. 14. appendix 1. Yusuf Ali. 1973). Al-Hujarat/49:11. Each verse is but a Sign or Symbol: what it presents is something immediately applicable. Muhammad Asad. literally "the mother of the Book. but between the meanings attached to them. 7507173 Fax. throughout the Book. viz. 8-9. Translation and Commentary. and though people of wisdom may get some light from it. It is very fascinating to take up the latter. catatan 347). QS. The wise man will understand that there is an "essence" and an illustrative clothing given to the essence. 15. h. and exercise our ingenuity about its inner meaning. This passage gives us an important clue to the interpretation of the Qur'an. (021) 7501969. But perhaps the meaning is wider: the "mother of the Book" must include the very foundation on which all Law rests. The Commentators usually understand the verses "of established meaning" (muhkam) to refer to the categarical orders of the Syari'at (or the Law). allegoric. which are plain to everyone's understanding. not given separately. allegorical. 13. as the final meaning is known to God alone. (1) the nucleus or foundation of the Book. 991. 7501983. We must try to understand it as best as we can but not waste our energies in disputing about matters beyond our dept (A. and something eternal and independent of time and space. The Holy Qur'an. h. and ordinance If we refer to xi-1 and xxxix-23. no one should be dogmatic. but it refers to such a profound spiritual matters that human language is inadequate to it.12. metaphorical. the essence of God's message. --the "Forms of Ideas" in Plato's Philosophy. [Jeddah: Dar al-Qiblah. Broadly speaking it may be divided into two portions. 1403 H]. as distinguished from the various illustrative parables. Ibn Taymiyyah. -------------------------------------------Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah Editor: Budhy Munawar-Rachman Penerbit Yayasan Paramadina Jln. The Message of the Qur'an.

sudah dikemukakan di atas. khususnya mengenai ayat-ayat hukum. Makna dan implikasi langsung dan segera terpahami (muhabir. dan lain-lain. Konsep ini muncul karena dalam kenyataan. nama Abu Lahab. Pengetahuan tentang asbab al-Nuzul akan membantu seseorang memahami konteks diturunkannya sebuah ayat suci. 4. MANFAAT PENGETAHUAN ASBAB AL-NUZUL Di antara hal-hal yang dapat dengan jelas menjadi petunjuk tentang sebab turunnya sebuah firman ialah jika dimulai dengan ungkapan dialogis. dari lafal dan konteksnya masing-masing dapat diketahui dengan jelas sebab-sebab turunnya surat Abasa al-Tahim. Ahmad von Denffer memberi rincian arti penting bagi pengetahuan tentang asbab al-nuzul. KONSEP ASBAB AL-NUZUL . yang bernama atau dipanggil Abu Lahab. Juga jika di situ disebutkan nama pribadi orang seperti. teori atau berita tentang adanya "sebab-sebab turun"-nya wahyu tertentu dari al-Qur'an kepada Nabi s. baik berupa satu ayat. lafal permulaan ayat pertama surat al-Anfal menunjukan dengan jelas bahwa firman itu diturunkan kepada Nabi untuk memberi petunjuk kepada beliau mengenai perkara yang ditanyakan orang tentang bagaimana membagi harta rampasan perang.3. Dengan mengutip berbagai sumber otoritas dalam bidang ini. "Katakan kepada Mereka". seperti diungkapkan para ahli biografi Nabi. sebagai berikut: 1. dan lain sebagainya.w. Beberapa di antaranya bahkan dapat langsung disimpulkan dari lafal teks firman bersangkutan. paman nabi sendiri. seperti "Mereka bertanya kepadamu (Nabi)". Menentukan apakah makna sebuah ayat mengandung terapan yang bersifat khusus atau bersifat umum. dan kalau demikian dalam keadaan bagaimana itu dapat atau harus diterapkan. sejarah al-Qur'an maupun sejarah Islam. 3. 5.a.ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota I. immediate) dari sebuah firman. adalah jelas turun dalam kaitannya dengan pengalaman Nabi yang menyangkut seorang tokoh kafir Quraisy. Mas'udi (1/3) Asbab al-Nuzul adalah konsep. ayat tentang perubahan bentuk rembulan (al-ahillah) dalam surat al-Baqarah/2:189. 2. misalnya. Demikian juga. Situasi historis pada zaman Nabi dan perkembangan komunitas muslim. Maksud asal sebuah ayat. maka kemanapun kamu menghadapkan .Relevansinya Bagi Pandangan Historisis Segi-Segi Tertentu Ajaran Keagamaan oleh Masdar F. "Kepunyaan Allah-lah timur dan barat. satu rangkaian ayat atau satu surat. Konteks itu akan memberi penjelasan tentang implikasi sebuah firman.. beserta istrinya. dan memberi bahan melakukan penafsiran dan pemikiran tentang bagaimana mengaplikasikan sebuah firman itu dalam situasi yang berbeda. Atau seperti surat al-Masad (Tabbat). sebagaimana hal tersebut dapat dilihat dari konteks aslinya. Alasan mula pertama yang mendasari suatu kepentingan hukum. diketahui dengan cukup pasti adanya situasi atau konteks tertentu diwahyukan suatu firman. Sebagai sebuah contoh ialah firman Allah. Seperti. dan juga Zayd (ibn Haritsah).

sekalipun dalam keadaan normal diwajibkan. Ia harus menghadap ke kiblat yang sah." Tetapi karena konteks turunnya firman itu bersangkutan dengan peristiwa tertentu diatas. serta otentik dan palsunya. Sebagai misal ialah berita tentang sebab turunnya firman yang dikutip di atas. Kemudian mereka bertanya kepada Nabi berkenaan dengan apa yang mereka alami itu. sehingga implikasinya juga dapat menyangkut beberapa situasi yang berbeda. tidaklah menyangkut sebenarnya nilai shalat itu. sehingga Tuhanpun "ada dimana-mana. di sanalah Wajah Allah. tidaklah menjadi persoalan. Kiblat itu hanya sebagai lambang orientasi hidup yang benar dan konsisten serta kesatuan orientasi itu antara seluruh umat Islam sedunia. karena Tuhan tidak terikat oleh ruang dan waktu. tidaklah berarti dalam sembahyang seorang muslim dapat menghadap kemanapun ia suka. ia sebenarnya juga menghadap Tuhan. Semua ini menjadi wewenang cabang ilmu kritik hadits (ilmu tajrih dan ta'dil) para ahli. melainkan sunnah. yaitu berita-berita Hadist. al-Wahidi al-Nisaburi menerangkan tentang adanya beberapa versi lain tentang sebab turunnya firman terrsebut. berdasarkan penuturan Abd 'l-Lah ibn 'Umar. seseorang boleh melakukan shalat sunnah kemanapun di atas kendaraannya.wajahmu. Kalangan bukan Islam biasanya merasa heran. apalagi jika sembahyang itu bukan sembahyang wajib. yaitu al-Masjid al-Haram di Makkah. dengan dampak kesamaan yang menakjubkan antara seluruh kaum muslim di muka bumi ini dalam hal peribadatan. (Dalam agama lain. Pertama. Dan seperti halnya persoalan hadits pada umumnya. yang menegaskan bahwa kemanapun seseorang menghadapkan wajahnya. timur ataupun barat. [1] SUMBER BERITA ASBAB AL-NUZUL Sumber pengetahuan tentang asbab al-nuzul diperoleh dari penuturan para Sahabat Nabi. Kita sendiri mengetahui betapa efektifnya simbolisasi kiblat ini. Tetapi ia dibenarkan menghadap mana saja dalam shalat jika ia tidak tahu arah yang benar. Pagi harinya mereka baru menyadari bahwa semalam mereka bersembahyang dengan menghadap ke arah yang salah. penuturan atau berita tentang suatu sebab turunnya wahyu tertentu juga dapat beraneka ragam. Maka turunlah ayat suci itu. Tapi firman itu juga menegaskan bahwa sembahyang menghadap kemanapun dalam keadaan darurat. shahih dan dha'if. Nilai berita itu sendiri sama dengan nilai berita-berita lain yang menyangkut Nabi dan Kerasulan Beliau. yaitu arah al-Masjid al-Haram di Makkah. Maka tidak perlu lagi ditegaskan bahwa informasi-informasi yang ada harus dipilih dengan sikap kritis. atau kalau karena kondisi tertentu tidak mungkin baginya menghadap ke arah yang benar. mungkin tidak akan dapat mengerti. Karena itu bersangkut pula persoalan kuat dan lemahnya berita itu. perbedaan sangat . Sesungguhnya Allah adalah Maha Meliputi dan Maha Tahu". Berdasarkan penuturan Jabil ibn 'Abd-Allah. Menghadap kiblat yang telah ditentukan. sejalan dengan keaneka ragaman sumber berita. (QS. tidak ke kiblat. al-Baqarah/2:115). mengapa terdapat kesamaan yang demikian besar dan jauh diantara seluruh umat Islam di dunia dalam hal shalat dan peribadatan lain. Firman ini turun kepada Nabi berkaitan dengan adanya peristiwa yang dialami sekelompok orang beriman yang mengadakan perjalanan di malam hari yang gelap gulita. Sebab yang penting ialah nilai shalat itu sendiri sebagai tindakan mendekatkan diri kepada Allah dan mengasah jiwa untuk lebih bertaqwa kepada-Nya.

Maka berlomba-lombalah kamu sekalian untuk berbagai kebaikan. kaum Yahudi bertanya-tanya. yang semasa hidupnya (sebagai seorang Kristen) bersembahyang menghadap kiblat yang berbeda dengan kiblat mereka sendiri. Ethiopia). namun berdasarkan firman Allah yang menegaskan bahwa kemanapun kita menghadapkan wajah kita maka di sanalah wajah Allah. Yang penting ialah sikap batin yang ada dalam dada. mengapa mereka diperintahkan untuk melakukan shalat jenazah bagi Raja Najasyi (Negus) dari Abessinia (Habasyah. mengingat jasa-jasanya yang besar itu.s. al-Baqarah/2:148). Menurut penuturan ibn Abi Thalhah. Allah akan mengumpulkan kamu semua. tanpa terlalu banyak mempersoalkan perbedaan antara mereka. setiap kelompok manusia mempunyai arah (wijhah) ke mana mereka menghadap atau berorientasi. namun Nabi memerintahkan mereka berdoa baginya. juga dari bangsa atau negeri ke bangsa atau negeri lain meskipun dari satu sekte). ketika Nabi dengan izin Allah mengubah kiblat sembahyang dari arah Yerusalem menjadi ke arah Makkah. namun dari ayat suci itu jelas sekali bahwa segi makna adalah lebih penting daripada segi lambang." (QS. kaum Muslim. menurut versi penuturan ashab al-nuzul ini. Dari balik pertanyaan sementara Sahabat di atas itu dapat diketahui dengan jelas bahwa sekalipun Najasyi adalah seorang Kristen. kaum muslim dan agama Islam. .terasa dari sekte ke sekte lain. Sebab. Dan Nabi dalam memerintahkan sahabat beliau untuk melakukan shalat jenazah bagi Najasyah menggambarkan raja Habasyah itu sebagai "saudara" kaum beriman. Di (kelompok) manapun kamu berada. Dan firman Allah yang terkait itu. sebab tekanan serupa itu akan membawa kepada sikap lebih mementingkan lambang atau simbol daripada isi atau makna. atas Versi ketiga tentang sebab turunnya firman itu menyangkut kaum Yahudi Madinah. Jadi firman Allah tentang "timur dan barat" tersebut di mempunyai kemungkinan implikasi dan aplikasi yang luas. "Kami adalah orang-orang Nasrani" (Q. terjemahnya. berdasarkan penuturan 'Abd 'l-Lah ibn 'Abbas. kurang lebih adalah demikian: Dan bagi setiap (kelompok manusia) ada arah (wijhah) yang kepadanya kelompok itu menghadap. yang menegaskan bahwa sedekat-dekat umat manusia dalam rasa cintanya kepada kaum muslim ialah "mereka yang berkata. Walaupun kiblat sebagai lambang persatuan dan kesamaan itu demikian pentingnya. Lengkapnya. firman Allah itu. Perlakuan yang amat simpatik kepada kaum muslim dan sikapnya yang penuh pengertian kepada ajaran Islam yang menyebabkan turunnya firman Allah yang lain. Seterusnya. Meskipun lambang dan makna harus ada secara serentak. pandangan lain. tidaklah dibenarkan adanya tekanan yang serba mutlak atas kewajiban menghadapkan wajah ke Makkah. Najasyi adalah raja Habasyah yang besar sekali jasanya kepada Nabi. ayat suci di atas itu turun berkenaan dengan adanya pertanyaan kepada Nabi. Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu. karena perlindungan yang diberikannya kepada para pengikut Nabi yang berhijrah ke negeri itu untuk menghindar dari penyiksaan kaum musyrik Makkah. seperti difirmankan di tempat lain. menegaskan bahwa masalah kemanapun orang menghadap dalam sembahyang bukanlah perkara penting. al-Maidah/6:82). Dan umat manusia dalam orientasi yang berbeda-beda itu hendaknya berlomba menuju kepada berbagai kebaikan.

orang-orang miskin. siapa ayah-ibu biologis anak tersebut). betapapun cintanya kepada harta itu. penghentian makna kehukuman (legal significance) praktek pengambilan anak angkat (tanpa memelihara atau mempertahankan adanya informasi tentang. juga jika orang menegakkan sembahyang dan mengeluarkan zakat. Lengkapnya. Pembatalan ini dipertegas . Tetapi mereka berselisih tentang batas terjauh dibenarkannya perubahan itu. untuk kaum kerabat. Hari Kemudian. firman berkenaan dengan masalah kiblat ini. Telah dikemukakan bahwa adanya nama pribadi Zayd yang tersebutkan dalam al-Qur'an. melainkan karena hal-hal yang lebih sejati seperti iman kepada Allah yang selalu hadir (omnipresent) dalam hidup manusia sehari-hari. ialah sejauh mana nilai atau ketetapan hukum dalam Islam ditentukan oleh keadaan ruang dan waktu. seperti barat dan timur. Suatu peristiwa pribadi. Nabi dan masyarakat Islam di zaman beliau. para Malaikat. Mereka itulah orang-orang yang benar (sejati dalam kebaikan). para peminta-minta. serta mereka yang menepati janji jika mereka berjanji. Para ahli fiqih sepakat bahwa dalam hukum berubah menurut peruhahan zaman dan tempat. yatim piatu. IMPLIKASI ASBAB AL-NUZUL Salah satu masalah yang banyak dibahas oleh para ahli agama. guna membebaskan budak. Asbab al-Nuzul menunjukkan banyaknya kasus suatu nilai ajaran atau hukum diwahyukan kepada Nabi dalam kaitannya dengan peristiwa nyata tertentu yang menyangkut. Tetapi kebaikan ialah jika orang beriman kepada Allah. [2] Berkenaan dengan masalah itu bahkan turun firman yang menegaskan bahwa kebaikan tidaklah diperoleh hanya menghadapkan muka ke arah timur ataupun barat. serta dalam masa-masa sulit. (QS. telah menjadi titik tolak ditetapkannya suatu hukum Tuhan tentang pembatalan atau. dan berbuat kepada sesama manusia dan makhluk untuk dibawa ke Hadirat Tuhan di Akhirat nanti. al-Baqarah/2:177). Sebab akhirnya semua penjuru angin. tanpa kelebihan nilai salah satu atas yang lain. Kitab Suci dan para Nabi. adalah milik Allah semata. Para ulama telah menuangkan masalah asbab al-nuzul ini dalam berbagai karya ilmiah yang kini menjadi rujukan para ahli. orang terlantar di perjalanan. dan jika orang mendermakan hartanya. Kaidah mereka mengatakan. dan tabah dalam menghadapi penderitaan dan kesusahan. terjemahnya adalah demikian: Bukanlah kebaikan itu bahwa kamu menghadapkan wajahmu ke arah timur atau barat. dan mereka itulah orang-orang yang bertaqwa.mengapa ada perubahan yang mengesankan sikap tidak teguh dalam beragama serupa itu?! Maka firman Allah tersebut dimaksudkan untuk menampik ejekan kaum Yahudi dan menegaskan bahwa perkara arah menghadap dalam sembahyang bukanlah sedemikian prinsipilnya sehingga harus dikaitkan dengan permasalahan nilai keagamaan yang lebih mendalam seperti keteguhan atau konsistensi (istiqamah) sebagai ukuran kesejatian dan kepalsuan. khususnya segi-segi tertentu ajaran agama di bidang hukum. percaya kepada adanya pertanggungjawaban pribadi mutlak di Hari Kemudian (Akhirat). Zaynab. "Taghayyur al-ahkam bi thagayyur al-zaman wa al-makan" (Perubahan hukum oleh perubahan zaman dan tempat). berupa perceraian Zayd ("ibn Muhamad") dari istrinya.

Dan perintah Allah haruslah terlaksana. yaitu "ibn Haritsah. yaitu dinikahkannya Nabi oleh Allah dengan Zainab. al-Ahzab/33:37-40). -------------------------------------------.dengan contoh nyata. KONSEP ASBAB AL-NUZUL . yaitu pembatalan makna legal praktek mengangkat anak. 7507173 Fax.s. Mas'udi (2/3) Jadi firman itu memang turun kepada Nabi berkenaan dengan suatu peristiwa konkret yang menyangkut sepasang suami-istri. dengan sebuah kasus jaz'i (partikular). melainkan dia adalah rasul Allah dan Penutup para Nabi. Mereka (yang telah lalu sebelumnya) itu adalah orang-orang yang menyampaikan risalat (pesan-pesan suci) Allah. dan engkau (Nabi) takut kepada sesama manusia padahal Allah lebih patut engkau takuti. 7501983. "Pertahankanlah istrimu (Zainab) dan bertaqwalah kepada Allah. Tidak sepatutnya bagi Nabi ada perasaan enggan mengenai apa yang diwajibkan Allah kepadanya. Zayd. Cukuplah Allah sebagai penghitung.3. maka setelah putus Zaid untuk bercerai dari dia (Zainab). Muhamad bukanlah ayah seseorang (tanpa keterkaitan keorangtuaan biologis) di antara kamu. setelah bercerai dari. (021) 7501969. Dapat dilihat bahwa dalam peristiwa Zaid dan Zainab dan yang "ditangani" langsung oleh kitab suci itu terdapat kaitan antara suatu nilai hukum kulli (universal). yaitu perceraian Zaid dari Zainab dan perkawinan . sesuai dengan sunnah (hukum) Allah pada mereka yang telah lewat sebelumnya. dan tidak takut kepada seorangpun selain Allah. jika mereka (anak-anak angkat) itu telah putus menceraikan istri-istri mereka. agar tidak lagi ada halangan bagi kaum beriman untuk (kawin dengan bekas) istri anak-anak angkat mereka.(bersambung 2/3) Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah Editor: Budhy Munawar-Rachman Penerbit Yayasan Paramadina Jln. Dan perintah Allah adalah sesuatu yang sangat pasti. (Q.Relevansinya Bagi Pandangan Historisis Segi-Segi Tertentu Ajaran Keagamaan oleh Masdar F. Allah Maha Tahu akan segala sesuatu. "namun engkau sendiri (Nabi) merahasiakan apa yang ada dalam dirimu yang Allah akan memperlihatkannya. Metro Pondok Indah Pondok Indah Plaza I Kav." Firman Allah yang menyangkut tentang Zaid dan Zainab itu demikian: Dan ingatlah tatkala engkau (Nabi) berkata kepada dia (Zaid) yang Allah telah karuniakan kebahagiaan dan engkaupun telah pula memberinya kebahagiaan. Kemudian Zayd-pun tidak lagi menyandang nama "ibn Muhamad" tapi dikembalikan kepada nama aslinya. bekas anak angkatnya. (021) 7507174 Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota Please direct any suggestion to Media Team Artikel Yayasan Paramadina Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota I. mereka takut kepada-Nya. UA 20-21 Jakarta Selatan Telp.

Penyebutan tentang dibolehkannya lelaki Muslim kawin dengan wanita Kristen atau Yahudi dalam al-Qur'an ada dalam rangkaian dengan penyebutan tentang dihalalkannya makanan kaum Ahl al-Kitab itu bagi kaum beriman. dan tanpa kamu memperlakukan mereka sebagai gundik. Masalah selanjutnya yang lebih esensial dari contoh di atas itu ialah. bagaimana suatu nilai dari sebuah kasus dapat ditarik dari dataran generasitas yang setinggi-tingginya. pada urutannya. yang pada lahirnya seperti meninggalkan atau menyimpang dari ketentuan Kitab Contoh klasik dari persoalan tersebut ialah tindakan Umar ibn al-Khaththab pada waktu menjabat sebagai khalifah. ketika Hudzaifah meminta pendapat. dengan kaidah mereka. tanpa kamu menjadikan mereka objek seksual semata (zina). la bi khushush al-sabab). Tetapi sebuah generalisasi hanya dapat dilakukan jika inti pesan suatu firman dapat ditangkap. tidak berpegang kepada makna lahiriah bunyi lafal firman itu. sebagimana makanan kaum beriman halal bagi mereka: Mereka bertanya kepada engkau (Nabi) tentang apa yang dihalalkannya untuk mereka. Dengan begitu nilai tersebut tidak lagi terikat oleh kekhususan peristiwa asal mulanya dan dapat diberlakukan pada kasus-kasus lain di semua tempat dan sepanjang masa (dan inilah makna universalitas suatu nilai). bagi kamu) para wanita merdeka dari kalangan wanita beriman. juga wanita merdeka dari kalangan mereka yang mendapat Kitab Suci sebelum kamu. juga (dihalalkan bagi kamu binatang yang ditangkap) oleh binatang-binatang berburu yang kamu latih dengan kamu biasakan menangkap binatang buruan dan kamu ajari binatang-binatang itu dengan sesuatu (ketrampilan) yang diajarkan Allah kepada kamu. yakni dibenarkan kawin. dan kamu nikahi mereka (secara sah). maka sungguh sia-sialah amal perbuatannya. Pada hari ini dihalalkan pada kamu perkara yang baik-baik. tidak berdasarkan partikularitas penyebab" (Al-Ibrah bi umum al-lafdh. bekas "menantu"-nya. Barangsiapa menolak untuk beriman. Maka ." (QS. Lalu. dan makanan kamu halal bagi mereka. Sesungguhnya Allah Maha Cepat dalam perhitungan.Nabi dengan Zainab. "Pengambilan makna dilakukan berdasarkan generalitas lafal. dan sebutlah nama Adlah atasnya. karena itu makanlah apa yang ditangkap oleh binatang berburu itu untuk kamu. jika kamu beri mereka mahar-mahar mereka. Komandan kaum beriman (Amir al-Mu'minin) itu tidak membenarkan seorang tokoh Sahabat Nabi kawin dengan wanita Ahl al-Kitab (Yahudi atau Kristen). Tapi Umar seperti dalam beberapa kasus lain. "Dihalalkannya bagi kamu apa saja yang baik. atau tindakan. yang isinya menceritakan bahwa ia telah kawin dengan seorang wanita Yahudi di kota al-Mada'in. Para ahli hukum Islam telah membuat patokan untuk masalah ini. serta bertaqwalah kepada Allah. Ini dengan sendirinya menyangkut masalah kemampuan pemahaman yang mendalam sedalam-dalamnya dan seluas-luasnya. atau bahkan mungkin ta'wil (interprestasi metaforis) yang tidak jarang menimbulkan kontroversi. Dan (halal. Jawablah. tersangkut pula masalah tafsir. dan ia di akhirat akan tergolong orang-orang yang merugi. Sebab dalam melakukannya selalu ada kemungkinan dicapai suatu pandangan. al-Maidah/5:4-5). padahal al-Qur'an jelas membolehkannya. Suatu ketika Umar menerima surat dari Hudzaifah ibn al-Yamman. Makanan mereka yang mendapat Kitab Suci (Ahl al-Kitab) adalah halal bagi kamu.

Muhamad ibn al-Husain. asal-usul agama-agama Asia itupun adalah paham Ketuhanan Yang Maha Esa atau Tauhid. yang beristrikan wanita Kristen Arab. ada beberapa tokoh Sahabat Nabi yang beristrikan wanita Ahl al-Kitab. misalnya. Utsman bin Affan. Sebab waktu itu kaum muslim itu hanya terbatas kepada minoritas kecil para penguasa politik dan militer dan hampir terdiri hanya dari bangsa Arab saja. Apabila kelak." Menurut julur penuturan lain. dan belum banyak kalangan dari bangsa lain yang memeluk Islam. antara lain dengan mengatakan: "Kuharap engkau tidak akan melepaskan surat ini sampai dia (wanita Yahudi) itu engkau lepaskan Sebab aku khawatir kaum Muslim akan mengikuti jejakmu." Kemudian rektor universitas al-Azhar. seperti. dan Thalhah ibn Ubaid-Allah yang . MASALAH KEPENTINGAN UMUM (AL-MASHLAHAT AL-AMMAH) Maka berdasarkan tindakan Umar itu. seperti dikatakan oleh Abd al-Hamid Hakim. Dr. setelah Persia dibebaskan (di zaman Umar sendiri) dan lembah Indus oleh Muhamad ibn Qasim (di zaman al-Walid ibn al-Malik). Karena itu banyak ahli fiqih yang berpandangan bahwa konsep Ahl al-Kitab tidak terbatas hanya kepada kaum Yahudi atau Kristen saja. maka kesempatan nikah dengan wanita Kristen dan Yahudi juga menjadi terbuka lebar. Sebab. selain Hudzaifah. seperti. namun kita tidak memandang perkara tersebut (lelaki muslim kawin dengan wanita Ahl al-Kitab) sebagai terlarang. misalnya. Umar menegaskan bahwa kaum lelaki muslim kawin dengan wanita Ahl alKitab tidaklah terlarang atau haram. [3] Maka apa yang dikuatirkan khalifah sungguh-sungguh dapat menjadi kenyataan. konsep tentang Ahl al-Kitab diperluas meliputi kaum Majusi dan Hindu-Buddha. Na'ilah al-Kalbiyah. dalam surat jawabannya memberi peringatan keras. dan kepada kaum Hindu. namun kebijakan khalifah kedua itu menjadi preseden dalam yurisprudensi Islam tentang kemungkinan dilakukannya kebijakan khusus sesuai dengan tuntutan ruang dan waktu. para ahli hukum Islam masa lalu. Konfusianis. Ia hanya mengkawatirkan terlantarnya wanita muslimah. Buddha. mengatakan. Kita hanya berpendapat hendaknya para wanita muslim diutamakan. dan itulah juga pendapat Abu Hanifah. seorang tokoh terkemuka pembaharuan Islam di Sumatra Barat. Sebab. Taois. mengatakan bahwa tindakan khalifah kedua itu menyalahi nas atau lafal Kitab Suci.Umar. Hal ini sudah cukup sebagai bencana bagi para wanita kaum muslim. Jadi ada timbangan sisi historis dan humanis dalam menetapkan suatu hukum. dan banyaknya bangsa-bangsa bukan muslim yang menjadi rakyat kekhalifahan itu. lalu mereka mengutamakan para wanita Ahl al-Dzimmah (Ahl al-Kitab yang dilindungi) karena kecantikan mereka. khalifah ketiga. Meskipun ternyata larangan (sementara) Umar itu lambat laun ditinggalkan (dan bangsa Arab umumnya melakukan integrasi total dengan penduduk di mana mereka hidup sehingga lebur dengan bangsa setempat). dan agama-agama itu mempunyai kitab suci. juga menyalahi apa yang dilakukan sebagian para Sahabat Nabi. yaitu terlantarnya kaum muslimah sendiri jika kaum muslim lelaki diizinkan dengan bebas menikah dengan wanita Ahl al-Kitab. Abd-al-Fattah Husaini al-Syaikh. tetapi dapat diperluas juga kepada kaum Majusi atau Zoroastri (sudah sejak Umar). Shinthois dll. Disebabkan oleh meluasnya daerah kekuasaan politik kekhalifahan Islam. sekalipun berada di negara Islam. "Kita ikuti pendapat Umar itu.

Mesir dan Persia. menerapkan prinsip penyamarataan antara semuanya).melainkan hanya sekedar menjalankan suatu patokan yang sudah tetap dikalangan para ahli. bahwa pemerintah boleh melarang sementara sesuatu yang sebenarnya halal jika ada faktor yang merugikan masyarakat. Semua tindakan tersebut tidaklah dilakukan khalifah menurut kehendak hatinya sendiri. yang dapat menjadi sumber krisis. sejalan dengan kepentingan umum (al-mashlahat al-ammah) dan sesuai dengan tanggungjawab seorang penguasa dan pelaksana hukum bersangkutan. Kekayaan yang melimpah ruah secara tiba-tiba akibat banyaknya harta rampasan perang. sebagai misal. pembagian tanah-tanah pertanian di Syria dan Irak kepada penduduk setempat (tidak kepada tentara Islam seperti sebagian besar Sahabat Nabi berpendapat demikian). termasuk juga wanita tawanan (yang menurut hukum perang di seluruh dunia pada waktu itu tawanan perang. Dan Umar tidaklah mengatakan sebagai haram --hal mana tentu akan berarti menentang hukum Allah-. membuat ibukota. [6] Dan meskipun. larangan berkumpul untuk selamanya bagi wanita dengan lelaki yang tidak dikawininya pada saat menunggu (iddah). pengefektifan hukum talak tiga (talak batin yang dilarang rujuk) bagi orang yang menyatakan talak tiga kali kepada istrinya meskipun pernyataan itu diucapkan sekaligus dan tanpa tenggang waktu. namun kedua-duanya bermaksud membela keadilan. Maka Umar dengan berbagai kebijakannya adalah seorang penguasa yang berusaha mengurangi sesedikit mungkin efek kritis perubahan sosial itu. yang timbul karena pertimbangan kemanfaatan (expediency) menurut tuntutan zaman dan tempat. adalah sepenuhnya berada dibawah kekuasaan dan menjadi "milik" perampasnya). maka dengan sendirinya lenyap pula alasan melarangnya. kata rektor al-Azhar lebih lanjut. Sebaliknya Umar justru berpendapat akan tidak adil jika masa lalu . tanpa memandang masa lampau mereka. pembagian tingkat penerimaan "ransum" (semacam gaji tetap) bagi tentara Islam berdasarkan seberapa jauh ia banyak atau kurang berjasa dalam sejarah Islam sejak zaman Nabi (padahal Abu Bakar. yang dalam hal ini adalah jauh lebih kaya daripada Hijaz di Jazirah Arabia. [4] Karena itu ada yang menyatakan bahwa tindakan khalifah kedua itu adalah sejenis tindakan politik (tasharuf siyasi). ratio legis) yang harus diperhatikan dalam pelaksanaannya. Dan Umar tidak hanya menerapkan kebijakan politik melarang sementara perkawinan dengan wanita Ahl al-Kitab. Tetapi. Khalifah dalam menetapkan kebijakan hukumnya menerapkan prinsip bahwa semua hukum agama mengandung alasan hukum (illah. Kekhalifahan Umar adalah masa permulaan pembebasan negeri-negeri sekitar Arabia. Umar tidak melakukan larangan itu kecuali setelah melihat adanya hal yang kurang menguntungkan bagi masyarakat Islam. lelaki maupun lebih-lebih lagi perempuan. Tetapi faktor itu lenyap.beristrikan seorang wanita Yahudi dari Syam (Syiria). Madinah. mengalami berbagai perubahan sosial yang besar. penghapusan perlakuan khusus pada para mu'allaf. Menurut Dr Abd-al-Fattah. Abu Bakar berpendapat bahwa keadilan terwujud dengan penyamarataan antara semua tentara Islam. khususnya Syria. Umar berbeda dengan Abu Bakar dalam kebijakannya tentang penyamarataan atau pembedaan besarnya jumlah ransum tentara. pendahulunya. Ia juga dicatat membuat deretan berbagai kebijaksanaan "kontroversial" seperti meniadakan hukum potong tangan bagi pencuri di masa sulit seperti paceklik.

Yang jelas ialah bahwa dalam kaitannya dengan konsep tentang asbab al-Nuzul. Yang jelas ialah. dengan perbedaan disana-sini dalam hal materi mana yang menghapus dan mana pula yang dihapus. menyangkut masalah adanya bagian tertentu dari al-Qur'an ataupun Hadits yang "dihapus" (mansukh) dan yang "menghapus" (nasikh).masing-masing tentara itu diabaikan. UA 20-21 Jakarta Selatan Telp. Konsep asbab al-Nuzul mempunyai kaitan yang erat dengan konsep lain yang juga amat penting. sementara formalitas dalam keadaan tertentu boleh ditinggalkan. maka hasilnya pun dapat berbeda-beda pula. konsep nasikh-mansukh juga mengandung kesadaran historis di kalangan ahli hukum Islam. 7507173 Fax. baik Kitab maupun Sunnah.(bersambung 3/3) Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah Editor: Budhy Munawar-Rachman Penerbit Yayasan Paramadina Jln. tidaklah dimaksudkan pada dirinya sendiri. Rasa keadilan mengatakan bahwa sebagian orang yang berbuat lebih banyak tentunya juga harus mendapatkan balas jasa dan penghargaan lebih banyak. Konsep itu. yang menjadi salah satu tumpuan harapan bahwa Islam akan mampu lebih baik dalam menjawab tantangan zaman di masa depan. yaitu bahwa masalah penarikan atau pengangkatan makna umum (generalisasi) suatu nilai hukum akan menyangkut masalah penafsiran dan kemampuan memahami lebih mendalam inti pesan yang dikandungnya. seperti yang pandangan teoretisnya dikembangkan oleh para ahli fiqih dengan kepeloporan Imam al-Syafi'i. maka makna tidak boleh ditinggalkan. 7501983. Kata Hodgson. (021) 7501969. (021) 7507174 Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota Please direct any suggestion to Media Team . Dan karena lebih penting daripada formalitas. yaitu nasikh-mansukh. [6] Ini membawa kita kembali pada polemik sekitar kiblat shalat yang telah dikemukakan di atas. MASALAH HISTORIS AJARAN KEAGAMAAN Itulah wujud contoh apa yang dikemukakan di atas. dalam arti wujud fisiknya yang menyangRut formalitas penghadapan wajah ke suatu arah tertentu. namun sebagian besar ulama menganutnya. Adalah kesadaran historis ini. pendirian Abu Bakar dan Umar membuktikan bahwa yang dituju oleh hukum ialah makna atau pesan yang dikandungnya (al-ahkam turadu li ma ani-ha). berkenaan dengan sumber-sumber pengambilan ajaran agama. padahal sebagian dari mereka benar-benar jauh lebih berjasa daripada sebagian yang lain. yang ikut berharap bahwa umat Islam akhirnya akan mampu menjawab tantangan zaman: -------------------------------------------. Yaitu bahwa kiblat. menurut Hodgson. seperti dikatakan rektor al-Azhar. [7] Meskipun teori "hapus-menghapuskan" ini tidak lepas dari kontroversi. Dan karena kemampuan tersebut dapat berbeda-beda antara berbagai pribadi. Metro Pondok Indah Pondok Indah Plaza I Kav. melainkan dimaksudkan maknanya.

lalu mengapa agama para Nabi itu berbeda-beda? Jawabnya ialah. yakni kesehatan. Jari-jari tersebut merupakan jalan-jalan yang berbeda-beda menurut perbedaan garis yang menghubungkan antara titik pusat lingkaran itu dengan setiap titik yang ditentukan pada garis lingkar luarnya. kesediaan mengikuti dengan sungguh-sungguh bahwa tradisi agama terbentuk dalam waktu. Fushush al-Hikam. Dalam kitab ini dijelaskan tentang adanya konteks sejarah bagi ajaran agama-agama sehingga menghasilkan manifestasi lahiriah yang berbeda-beda. [8] Sekarang bandingkan ungkapan Hodgson itu dengan yang dapat kita baca dalam sebuah kitab klasik. Padahal inti semua agama yang benar. dan semua cara pengobatan itu sebagai cara menyingkirkan penyakit dan mengembalikan kesehatan adalah satu. Ia (al-Syafi'i) melakukan hal ini memang tanpa ketepatan sejarah tertentu. yaitu kitab Muhyi al-Din ibn al-Arabi. tetapi itu bukanlah maksudnya yang semula dan meskipun oleh kaum muslim kemudian hari kajian yang jujur tentang kenyataan sejarah masa silam Islam ditukar dengan gambaran stereotipikal dan berang. Maka begitu pula cara turunnya ajaran kepada Para Nabi adalah satu. tujuan dan hakikat metode itu semuanya satu. membuat agama itu mampu menampung ilham baru apapun ke dalam realita dari warisan dan dari titik tolak mulanya yang kreatif. karena terdapat perbedaan kesiapan antara berbagai umat maka berbeda pula bentuk-bentuk jalan tauhid dan bagaimana jalan itu ditempuh. tetapi perbedaan kesiapan umat manusia mengakibatkan perbedaan agama dan aliran. dan tujuannya ialah hidayah ke arah kebenaran. yang sejak dari semula mempunyai tempat begitu besar dalam dialognya. dalam syarah al-Syaikh Abd-al-Razzaq al-Qasyani. KONSEP ASBAB AL-NUZUL . Al-Syafi'i membawa ke depan kecenderungan yang sudah ada secara laten dalam karya (Nabi) Muhamad sendiri ketika ia menekankan pemahaman al-Qur'an secara benar-benar konkret dalam interaksi historisnya dengan kehidupan Nabi Muhamad dan masyarakat beliau.3. Sama juga dengan cara pengobatan yang berbeda-beda.Artikel Yayasan Paramadina Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota I. namun mereka tidak pernah mengingkari prinsip bahwa ketepatan historis adalah fondasi semua pengetahuan keagamaan. Sebab. Mas'udi (3/3) Tetapi barangkali modal potensial terbesar Islam yang paling hebat ialah kesadaran historisnya yang jelas. Jadi jalan tauhid pun satu. sepanjang ajaran tentang pasrah kepada Allah (Islam) berdasarkan kepercayaan kepada Tuhan Yang Maha Esa (tawhid). sementara maksud. namun tujuannya adalah satu. dan selalu mempunyai dimensi historis. [9] Dalam syarah Fushush al-Hikam diuraikan sebagai berikut: Jika cara turunnya ajaran ke dalam jiwa para Nabi itulah yang dimaksud dengan kesatuan cara yang diturunkannya semua ajaran (dari Tuhan). Sebab perbaikan setiap umat adalah dengan menghilangkan keburukan . seperti jari-jari yang menghubungkan garis luar lingkaran dengan titik pusat lingkaran itu.Relevansinya Bagi Pandangan Historisis Segi-Segi Tertentu Ajaran Keagamaan oleh Masdar F. yang dapat terjadi lewat penelitian ilmiah atau pengalaman rohani baru.

Bahasa termasuk kategori historis. Dan jika masalah kebahasaan menyangkut pula segi kultural ini. terdapat kemungkinan bahwa "tujuh lapis langit" adalah bahasa kultural (yang historis). Tentang hal ini. juga tidak kepada suatu sebab khusus dari asbab al-Nuzul munculnya suatu ajaran atau hukum. yaitu Adam. dan hidayah mereka bersumber dari berbagai sentra dan martabat yang berbeda-beda menurut tabiat dan kejiwaan mereka. maka dapat disebut "tidak historis". Tetapi masalahnya tetap sama. sedemikian dekatnya sehingga kedua bahasa itu lebih dekat daripada bahasa bukan Arab (Ajam) satu dari yang lain. dan semuanya itu adalah sabda (Kalam) Allah. melainkan menyangkut seluruh Kitab Suci itu seutuhnya. [10] Pendekatan historis ini tidaklah berarti relativisasi total ajaran agama dan sifat yang memandang sebagai tidak lebih daripada produk pengalaman sejarah belaka. demikian: Jadi diketahui bahwa Tuhan mengajari jenis manusia agar mengungkapkan apa yang dikehendaki dan digambarkan dalam benaknya dengan bahasanya. dan dengan sabda itu Allah menjelaskan apa yang dikendaki dari mahlukNya dan apa perintahNya. Justru dalam penegasan tentang kesatuan agama para Nabi terkandung makna yang tegas bahwa ada sesuatu yang benar-benar universal dalam setiap agama dan menjadi titik pertemuan antara semua agama. al-Mulk/67:3). memang mengenal adanya konsep demikian. Misalnya. keterangan yang cukup baik diberikan oleh Ibn Taimiyah. Maka meskipun bahasa para Nabi itu bermacam-macam. tetapi juga kulturalnya. agar kita waspada agar jangan sampai kita terkungkung oleh lingkaran kebahasaan semata dan terjerumus ke dalam sikap mental seolah-olah suatu nilai akan hilang kebenarannya jika tidak dinyatakan dalam bahasa tertentu atau ungkapan kebahasaan tertentu yang dianggap suci. Allah telah memberi wahyu kepada Musa dalam bahasa Ibrani (Hebrew) serta kepada Muhamad dalam bahasa Arab. Dan karena yang universal ini tidak terikat oleh ruang dan waktu. meskipun bahasa mereka berbeda-beda. Hal yang sudah amat jelas ini perlu dipertegas. Ibrahim/14:4). Padahal bahasa Ibrani adalah paling dekat ke bahasa Arab. dan tidak hanya berkaitan dengan kasus spesifik . yaitu bagaimana menangkap pesan inti yang uraiversal itu. Dan yang pertama mengetahui hal itu ialah bapak mereka. maka konsep asbab al-nuzul dapat diperluas sehingga tidak hanya menyangkut sebuah ayat tertentu saja misalnya. penting sekali memahami penegasan dalam Kitab Suci bahwa Allah tidak mengutus seorang Rasulpun kecuali dengan bahasa kaumnnya (QS. dan kesadaran kebahasaan akan dengan sendirinya menyangkut kesadaran historis. Maka banyak para ahli yang akhirnya sampai kepada persoalan bahasa: bagaimana kita mempersepsi suatu ungkapan linguistik untuk dapat melakukan generallisasi tinggi dari makna immediate-nya ke makna universalnya.yang khusus ada padanya. karena kosmologi yang umum pada waktu itu. khususnya sekitar Timur Tengah. [11] Namun masalah kebahasaan mungkin akan ternyata tidak terbatas hanya kepada segi linguistiknya semata. dan umat manusiapun kemudian mengetahui seperti Adam mengetahui. meskipun bahasa itu berlainan. jika dalam al-Qur'an disebutkan bahwa Allah menciptakan tujuh lapis langit (QS. namun tujuan dan makna risalah mereka semua sama. yang tidak tergantung kepada konteks. Berkaitan dengan ini.

5. h. namun hukumnya masih berlaku. Ahmad Von Denffer. 4 jilid (Bukittinggi. tetapi maknanya sudah tidak berlaku. lebih khusus lagi Jazirah Arabia sebagai "situs" langsung wahyu Allah kepada Nabi Muhamad.. Tarikh al-Tasyri' al-Islami. Nusantara 1955 M/1374 H). cambuklah masing-masing seratus kali". [12] CATATAN 1. Dar al-Ittihad al-'Arabi. 1968. maka rajamlah mereka sama sekali.4. Asbab al-Nuzul. 6. seperti "ayat rajam" di atas.dalam kehidupan Nabi dan masyarakat beliau pada saat itu. bukan sekedar dicambuk seratus kali seperti yang ada dalam al-Qur'an sekarang ini. tetapi juga pengetahuan yang lebih menyeluruh tentang pola budaya Arabia dalam sejarahnya yang panjang. 1990. jil. Khalifah kedua bahwa ada firman bahwa hukuman orang yang sudah beristri atau bersuami kemudian berzina ialah dirajam sampai mati. dan (bagi kita sekarang) sesudah Islam. (Buku ini dapat diperoleh dalam terjemahan Indonesia. firman itu berbunyi: Lelaki maupun perempuan kawin jika berzina. Risalah). ada "penghapusan lafal tapi makna hukumnya tetap" . Termasuk masalah Nasikh-Mansukh atau "hapus menghapus" ini adalah keterangan Umar. Menurut Umar. Pembahasan panjang lebar diberikan Imam al-Syafi'i dalam kitabnya yang terkenal. 7. Kairo: Markaz al-Ahram. Terutama kegiatan arkeologis yang baru-baru ini secara spektakuler. sebagai kelanjutan dan pengembangan ide Imam al-Syafi'i.175. Q. Al-Risalah. h. al-Nur/4:24). Dr 'Abd al-Fattah. sebelum Islam.. Kairo. firman ini dalam isi hukum atau makna legalnya telah menghapus firman Allah: "Orang yang berzina. 177 dan 185. 3. Segi amat menarik dari masalah ini ialah adanya teori dalam nasikh-mansukh bahwa suatu firman mungkin saja masih tetap bertahan (tidak dihapus) dari segi bunyi lafalnya. hh. khususnya Timur Tengah. tetapi meliputi seluruh kondisi kultural dunia. Ibid. dari sudut pendekatan historis dan ilmiah kepada wahyu Tuhan. semasa Nabi. Jika benar temuan itu maka kita akan lebih mampu memahami penuturan al-Qur'an (al-Fajr/87:6-8) tentang kaum 'Ad dan pesan suci di balik penuturan itu. 4. perempuan dan lelaki. Karena itu. seperti "ayat cambuk" diatas: sebaliknya. h. Al-Mu'in al-Mubin. kita tidak hanya akan mendapat manfaat dari pengetahuan tentang asbab al-nuzul saja. 'Ulum al-Qur'an.s. 1988. hh. hh.48. an Introduction to the Sciences of the Qur'an (London: The Islamic Foundation. h. 2.177. Maka dari sudut ini sungguh besar harapan kita kepada kegiatan penelitian ilmiah di bidang kultural yang mulai tumbuh di Jazirah Arabia. berhasil menemukan kota kuna Ubar (Iram) yang didirikan oleh Syaddad ibn Ad hampir empat ribu tahun yang lalu. Dalam bahasa fiqhnya. Kairo. Menurut para ulama.92-93. berkat teknologi satelit. Ibid. ada kemungkinan suatu firman dihapus (terhapus?) dari segi lafalnya. 4. 'Abd al-Hamid Hakim. Al-Wahidi al-Nisaburi.1985).96-144 dan 170-176. 161.

7501983. Lihat berita arkeologis penting ini dalam Time. Kairo: Dar al-Thiba'ah al-Muhammadiyah. Kairo: Mushthafa al-Babi al-Halabi. 17 Peb. 12. yaitu tindakan kalbu dan anggota badan ") 10. op. 9. (Chicago. 3 jilid. UA 20-21 Jakarta Selatan Telp. The Venture of Islam. Hodgson. "Agama Islam" yang diridhai Allah dan dengan itu diutus-Nya pada Rasul ialah "istislam " (sikap tundukpatuh) kepada Allah semata. 82. Metro Pondok Indah Pondok Indah Plaza I Kav. bahkan besar kepala untuk menyembah-Nya. h. al-Iman. The University of Chicago Press. 30. "Islam" ialah "istislam" kepada Allah. 8. (021) 7501969. Ibn Taimiyah. 7507173 Fax. Marshall G. 1974). h. tanpa orang lain. -------------------------------------------Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah Editor: Budhy Munawar-Rachman Penerbit Yayasan Paramadina Jln. (021) 7507174 Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota Please direct any suggestion to Media Team . hh. 8. 223-4. Ibn Taimiyah antara lain mengatakan: [kalimat dalam huruf Arab] (Hakikat perbedaannya adalah bahwa arti "islam" ialah "din" dan "din" adalah masdar dari kata kerja "dana-yadinu" (yang menunjuk makna) jika (seseorang) tunduk dan patuh. yaitu tunduk dan penghambaan diri kepada-Nya. Dan orang yang tidak menyembah-Nya. Para ahli bahasa mengatakan begini: "Seseorang melakukan islam (aslama) jika ia melakukan istislam (istaslama). h. jld. Lihat penjelasan makna asal kata-kata Arab "islam" dalam kitab Ibn Taimiyah.. 11. Dalam pembahasannya. 437. dengan menyembah (beribadat) kepada-Nya semata. tt. Lihat [kalimat dengan huruf Arab] oleh [kalimat dengan huruf Arab]. h. 1992. seperti dapat dilihat dalam praktek di Kerajaan Saudi Arabia. "Jadi "islam" pada asalnya termasuk bab tindakan (bukan nama). Orang yang menyembah-Nya dan bersama Dia menyembah "tuhan" yang lain bukanlah seorang yang tunduk patuh (muslim). dapat dilihat dari kesepakatan hampir seluruh para ulama bahwa orang yang sudah kawin dan berzina memang harus dihukum rajam sampai mati.S. Pangkalnya pada kalbu ialah sikap tunduk kepada Allah semata. (1987).[kalimat dalam huruf Arab] atau sebaliknya "penghapusan hukum tapi lafalnya tetap" [kalimat dalam huruf Arab] Bagaimana umat Islam memperoleh teori yang "aneh" ini. bukanlah seorang muslim.. cit. 3.

Artikel Yayasan Paramadina
Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota I.4. NASIKH MANSUKH DALAM AL-QUR'AN (1/2) oleh KH Ali Yafie Dari awal hingga akhir, al-Qur'an merupakan kesatuan utuh. Tak ada pertentangan satu dengan lainnya. Masing-masing saling menjelaskan al-Qur'an yufassir-u ba'dhuhu ba'dha. [1] Dari segi kejelasan, ada empat tingkat pengertian. Pertama, cukup jelas bagi setiap orang. Kedua, cukup jelas bagi yang bisa berbahasa Arab. Ketiga, cukup jelas bagi ulama/para ahli, dan keempat, hanya Allah yang mengetahui maksudnya. [2] Dalam al-Qur'an dijelaskan tentang adanya induk pengertian hunna umm al-kitab [3] yang sudah mempunyai kekuatan hukum tetap. Ketentuan-ketentuan induk itulah yang senantiasa harus menjadi landasan pengertian dan pedoman pengembangan berbagai pengertian, sejalan dengan sistematisasi interpretasi dalam ilmu hukum -hubungan antara ketentuan undang-undang yang hendak ditafsirkan dengan ketentuan-ketentuan lainnya dari undang-undang tersebut maupun undang-undang lainnya yang sejenis, yang harus benar-benar diperhatikan supaya tidak ada kontradiksi antara satu ayat dengan ayat lainnya. Hal ini untuk menjamin kepastian hukum. Sementara, unsur-unsur bahasa, sistem dan teologi dari teori interpretasi hukum masih harus dilengkapi dengan satu unsur lain yang tidak kalah pentingnya. Itulah unsur sejarah yang melatarbelakangi terbentuknya suatu undang-undang, yang biasa dikenal "interpretasi historis." Dalam ilmu tafsir ada yang disebut asbab al-nuzul, yang mempunyai unsur historis cukup nyata. Dalam kaitan ini para mufassir memberi tempat yang cukup tinggi terhadap pengertian ayat al-Qur'an. Dalam konteks sejarah yang menyangkut interpretasi itulah kita membicarakan masalah nasikh-mansukh. Dalam hal ini masalah yang terpenting untuk kita soroti adalah masalah asas, pengertian/batasan, jenis-jenis, kedudukan, hirarki penggunaan, kawasan penggunaan dan hikmah kegunaannya. ASAS Andaikan al-Qur'an tidak diturunkan dari Allah, isinya pasti saling bertentangan. [4] Ungkapan ini sangat penting dalam rangka memahami dan menafsirkan ayat-ayat serta ketentuan-ketentuan yang ada dalam al-Qur'an. Kitab Suci yang terdiri dari 6000 ayat lebih dan terbagi dalam 114 kelompok surat, mengandung berbagai jenis pembicaraan dan persoalan. Didalamnya terkandung antara lain nasihat, sejarah, dasar-dasar ilmu pengetahuan, keimanan, ajaran budi luhur, perintah dan larangan. Masalah-masalah yang disebutkan terakhir ini, tampak jelas dengan adanya ciri-ciri hukum didalamnya. Semua jenis masalah ini terkait satu dengan lainnya dan saling menjelaskan. Dalam kaitan itu, Imam Suyuthi maupun Imam Syathibi banyak

mengulas prinsip tersebut. Mereka mencatat adanya pendapat yang memandang adanya tiap ayat atau kelompok ayat yang berdiri sendiri. Tapi semuanya berpendapat bahwa antara satu ayat dengan ayat lainnya dari al-Qur'an tidak ada kontradiksi (ta'arudl). Dari asas inilah lahir metode-metode penafsiran untuk meluruskan pengertian terhadap bagian-bagian yang sepintas lalu tampak saling bertentangan. Adanya gejala pertentangan (ta'arudl) yang demikian merupakan asas metode penafsiran dimana Nasikh-Mansukh merupakan salah satu bagiannya. [5] PENGERTIAN Nasikh-Mansukh berasal dari kata naskh. Dari segi etimologi, kata ini dipakai untuk beberapa pengertian: pembatalan, penghapusan, pemindahan dan pengubahan. Menurut Abu Hasyim, pengertian majazinya ialah pemindahan atau pengalihan. [6] Diantara pengertian etimologi itu ada yang dibakukan menjadi pengertian terminologis. Perbedaan terma yang ada antara ulama mutaqaddim dengan ulama mutaakhkhir terkait pada sudut pandangan masing-masing dari segi etimologis kata naskh itu. Ulama mutaqaddim memberi batasan naskh sebagai dalil syar'i yang ditetapkan kemudian, tidak hanya untuk ketentuan/hukum yang mencabut ketentuan/hukum yang sudah berlaku sebelumnya, atau mengubah ketentuan/hukum yang pertama yang dinyatakan berakhirnya masa pemberlakuannya, sejauh hukum tersebut tidak dinyatakan berlaku terus menerus, tapi juga mencakup pengertian pembatasan (qaid) bagi suatu pengertian bebas (muthlaq). Juga dapat mencakup pengertian pengkhususan (makhasshish) terhadap suatu pengertian umum ('am). Bahkan juga pengertian pengecualian (istitsna). Demikian pula pengertian syarat dan sifatnya. Sebaliknya ulama mutaakhkhir memperciut batasan-batasan pengertian tersebut untuk mempertajam perbedaan antara nasikh dan makhasshish atau muqayyid, dan lain sebagainya, sehingga pengertian naskh terbatas hanya untuk ketentuan hukum yang datang kemudian, untuk mencabut atau menyatakan berakhirnya masa pemberlakuan ketentuan hukum yang terdahulu, sehingga ketentuan yang diberlakukan ialah ketentuan yang ditetapkan terakhir dan menggantikan ketentuan yang mendahuluinya. Dengan demikian tergambarlah, di satu pihak naskh mengandung lebih dari satu pengertian, dan di lain pihak -dalam perkembangan selanjutnya- naskh membatasinya hanya pada satu pengertian. [7] JENIS-JENIS NASKH Masalah pertama yang ingin kami soroti dalam bagian ini ialah adanya naskh antara satu syari'at dengan syari'at lainnya. Ini terjadi sebagaimana dapat kita amati antara syari'at Nabi Isa as. dengan syari'at hukum agama Yahudi yang lebih dahulu ada. Dalam hubungan ini, dapat kita katakan bilamana kita mengikrarkan Islam sebagai syari'at, dengan sendirinya kita mengaku adanya naskh, karena syari'at-syari'at sebelumnya tidak akan kita anut lagi dan semua hukumnya pun tidak akan kita berlakukan, sepanjang tidak dikukuhkan kembali oleh syari'at Nabi Muhammad saw. Jadi, adanya nasikh-mansukh antar syari'at itu merupakan salah satu jenis naskh. Hal semacam ini jika ditinjau dari

segi pendekatan ilmu hukum, sangat jelas maksudnya, misalnya pengertian suatu pemerintahan/negara dengan pemerintahan/ negara lainnya. Contohnya, adanya pemerintahan/negara kolonial Hindia Belanda dengan pemerintahan/negara nasional Republik Indonesia. Dalam kaitan ini soal kedaulatan, hukum dasar dan hukum-hukum yang langsung berhubungan dengan kedaulatan, serta hukum-hukum lainnya semuanya dicabut dan tidak diberlakukan lagi sepanjang tidak dikukuhkan pemerintah/negara baru itu. Jika kita sudah melihat adanya nasikh-mansukh antar syari'at, apakah didalam satu syari'at terjadi juga nasikh-mansukh antara hukum yang satu dengan hukum yang lainnya? Jika kita kembali pada syari'at Islam sendiri, kita akan menemui beberapa kasus yang dapat memberikan jawaban atas masalah ini. 1. Sesudah hijrah ke Madinah, kaum Muslim masih berkiblat ke arah Bait al-Muqaddas. Sekitar enam bulan kemudian, Allah menetapkan ketentuan lain: keharusan berkiblat ke arah Bait al-Haram. [8] Ini berarti terjadi nasikh-mansukh dalam hukum kiblat. Kasus lain misalnya dalam hal shalat yang semula tidak diperintahkan lima waktu dengan 17 raka'at. Ini juga berarti telah terjadi nasikh-mansukh dalam hukum shalat. 2. Kasus-kasus yang digambarkan di atas, semuanya menyangkut bidang ibadat. Sedangkan di bidang mu'amalat, dapat pula kita catat beberapa kasus, misalnya hukum keluarga. Sebagai contoh, semula ditetapkan masa tenggang ('iddah) bagi seorang janda, lamanya 1 (satu) tahun. [9] Beberapa waktu kemudian ditetapkan ketentuan hukum lain bahwa masa tenggangnya 4 bulan 10 hari. [10] Di bidang lain ada pula perubahan-perubahan yang menyangkut ketentuan hukum pembelaan diri, tentang minuman keras dan sebagainya. Dari seluruh kasus-kasus tersebut dapat ditarik kesimpulan, memang terbukti adanya nasikh-mansukh yang sifatnya intern dalam syari'at Islam. Beberapa ketentuan hukum yang sudah berlaku, kemudian dicabut atau berakhir masa pemberlakuannya dan diganti dengan ketentuan hukum lain. Hal seperti ini, jika dilihat dari sudut pendekatan ilmu hukum adalah hal yang lumrah dan banyak terjadi. Bahwa suatu undang-undang atau peraturan hukum lainnya dicabut atau dinyatakan tidak berlaku lagi, kemudian diganti dengan menetapkan undang-undang atau peraturan lain. Persoalan lebih jauh dalam masalah nasikh-mansukh ini ialah soal nasikh-mansukh antara al-Qur'an dengan Sunnah. Adanya nasikh-mansukh antara satu ayat yang memuat ketentuan hukum dalam al-Qur'an dengan lain ayat yang juga memuat ketentuan hukum dalam soal yang sama, adalah satu hal yang tidak diperselisihkan lagi. Demikian pula adanya nasikh-mansukh antara satu hadits yang memuat ketentuan hukum dalam soal yang sama, merupakan satu hal yang tidak diperselisihkan lagi. Juga, adanya nasikh-mansukh antara satu hadits yang memuat ketentuan hukum dalam Sunnah dengan lain hadits yang juga memuat ketentuan hukum dalam soal yang sama, merupakan satu hal yang sudah tidak diperselisihkan lagi. Masalah yang menimbulkan perbedaan pendapat diantara para ulama ialah adanya nasikh-mansukh silang antara al-Qur'an dengan Hadits/Sunnah. Jika disimak alasan masing-masing pihak, mungkin dapat ditarik satu garis bahwa faktor utama terjadinya perbedaan pendapat ialah pandangan masing-masing

tentang kedudukan hirarki syari'at itu sendiri.

al-Qur'an

dan

Sunnah

dalam

(bersambung 2/2)

-------------------------------------------Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah Editor: Budhy Munawar-Rachman Penerbit Yayasan Paramadina Jln. Metro Pondok Indah Pondok Indah Plaza I Kav. UA 20-21 Jakarta Selatan Telp. (021) 7501969, 7501983, 7507173 Fax. (021) 7507174 Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota
Please direct any suggestion to Media Team

Artikel Yayasan Paramadina
Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota I.4. NASIKH MANSUKH DALAM AL-QUR'AN (2/2) oleh KH Ali Yafie Dalam kaitan hirarki al-Qur'an dan Sunnah, ada semacam kesepakatan bahwa dalam nasikh-mansukh kedua unsurnya harus sama tingkatnya dan sama nilai dan sifatnya. Lembaga tawatur dan ahad termasuk faktor yang dipertimbangkan. Jalan pikiran seperti ini terdapat juga di kalangan ahli hukum bahwa suatu peraturan hukum tidak dapat dicabut dengan peraturan hukum lainnya yang lebih rendah tingkatannya. Demikian pula lembaga yang mengeluarkan peraturan hukum menjadi faktor pertimbangan. Berdasarkan pemikiran ini, ada satu hal yang perlu kita catat bahwa setelah Rasulullah saw wafat maka tidak ada lagi nasikh-mansukh yang mungkin terjadi pada syari'at. Jenis nasikh-mansukh yang diuraikan diatas, menyangkut segi formalnya. Jenis lain yang menyangkut segi materialnya, ada yang bersifat eksklusif (sharih) dan inklusif (dlimni). Untuk yang bersifat sharih, nasikh itu langsung menjelaskan mansukhnya, misalnya hukum kiblat. Ketentuan yang nasikh (pengganti) ditetapkan secara jelas. [12] Ini contoh dari al-Qur'an. Sedangkan contoh lain dari Sunnah misalnya hukum ziarah kubur. Didalam hadits disebutkan, "Pernah aku melarang kalian melakukan ziarah kubur. Sekarang lakukanlah!". [12] Berbeda dengan hal tersebut diatas, nasikh yang bersifat dlimni tidak memuat penegasan didalamnya bahwa ketentuan yang mendahuluinya tercabut, tetapi isinya cukup jelas bertentangan dengan ketentuan yang mendahuluinya. Jenis seperti inilah yang banyak ditemukan dalam hukum syari'at. KEDUDUKAN NASKH Masalah naskh bukanlah sesuatu yang berdiri sendiri. Ia merupakan bagian yang berada dalam disiplin Ilmu Tafsir dan Ilmu Ushul Fiqh. Karena itu masalah naskh merupakan techniseterm dengan batasan pengertian yang baku. Dalam

kaitan ini Imam Subki menerangkan adanya perbedaan pendapat tentang kedudukan naskh: apakah ia berfungsi mencabut (raf) atau menjelaskan (bayan). [13] Ungkapan Imam Subki ini dapat dikaitkan dengan hal-hal yang menyangkut jenis-jenis naskh yang diuraikan di atas. Jika ditinjau dari segi formalnya maka fungsi pencabutan itu lebih nampak. Tapi bila ditinjau dari segi materinya, maka fungsi penjelasannya lebih menonjol. Meski demikian, pada akhirnya dapat dilihat adanya suatu fungsi pokok bahwa naskh merupakan salah satu interpretasi hukum. HIRARKI PENGGUNAAN NASKH Yang menjadi persoalan sekarang, apakah naskh menempati urutan pertama dalam interpretasi hukum-syari'at? Dalam upaya melakukan interpretasi suatu peraturan dalam syari'at, baik al-Qur'an maupun Hadits setiap ketentuan hukum itu harus jelas. Pengertiannya tidak boleh meragukan, supaya kepastian hukumnya terjamin. Semua segi yang dapat memperjelas kondisi sesungguhnya, maksud ketentuan hukum itu harus disoroti dan didalami. Misalnya, tentang segi bahasanya, proses terjadinya, hubungannya antara ketentuan hukum itu dengan ketentuan hukum yang lain. Dalam hal ini harus ada upaya mengawinkan kedua ketentuan hukum itu (jam') atau memperkuat salah satu diantaranya (tarjih). Baik upaya jam' maupun tarjih sudah mempunyai tata aturan yang sudah baku dalam disiplin ilmu Usul Fiqh. Jika tingkat interpretasi ini sudah ditempuh dan ternyata kontradiksi antara dua ketentuan hukum itu juga sudah teratasi, maka pada tingkat inilah dipersoalkan kemungkinan adanya nasikh-mansukh antara dua ketentuan hukum tersebut. Kuncinya terletak pada soal historis yang menyangkut kedua ketentuan hukum tersebut. Faktor asbab al-nuzul bagi ayat dan asbab al-wurud bagi Hadits, ada dalam tingkat ini. Maka setiap masalah nasikh-mansukh berada pada tingkat akhir dari suatu upaya interpretasi. [14] Kawasan Penggunaan Naskh Masalah yang tidak kurang pentingnya disoroti, sejauh mana jangkauan naskh itu? Apakah semua ketentuan hukum didalam syari'at ada kemungkinannya terjangkau naskh? Dalam hal ini Imam Subki menukil pendapat Imam Ghazali bahwa esensi taklif (beban tugas keagamaan) sebagai suatu kebulatan tidak mungkin terjangkau oleh naskh. Selanjutnya, Syekh Asshabuni mencuplik pendapat jumhur ulama bahwa naskh hanya menyangkut perintah dan larangan, tidak termasuk masalah berita, karena mustahil Allah berdusta. [16] Sejalan dengan ini Imam Thabari mempertegas, nasikh-mansukh yang terjadi antara ayat-ayat al-Qur'an yang mengubah halal menjadi haram, atau sebaliknya, itu semua hanya menyangkut perintah dan larangan, sedangkan dalam berita tidak terjadi nasikh-mansukh. Ungkapan ini cukup penting diperhatikan, karena soal naskh adalah semata-mata soal hukum, yang hanya menyangkut perintah dan larangan, dan merupakan dua unsur pokok hukum. Hal seperti yang diuraikan di atas, di bidang ilmu Hukum dapat kita lihat gambarnya pada Hukum Dasar, misalnya Undangundang Dasar Negara yang tidak dapat dijangkau pencabutan. Adanya pencabutan terhadap sesuatu peraturan

hukum dan penetapan peraturan lain untuk menggantikannya hanya berlaku pada undang-undang organik atau peraturan, kedudukan dan kawasan naskh. Dengan demikian, dengan mudah kita dapat mengenal beberapa persyaratan, yaitu: 1. Adanya ketentuan hukum yang dicabut (mansukh) dalam formulasinya tidak mengandung keterangan bahwa ketentuan itu berlaku untuk seterusnya atau selama-lamanya. 2. Ketentuan hukum tersebut bukan yang telah mencapai kesepakatan universal tentang kebaikan atau keburukannya, seperti kejujuran dan keadilan untuk pihak yang baik serta kebohongan dan ketidakadilan untuk yang buruk. 3. Ketentuan hukum yang mencabut (nasikh) ditetapkan kemudian, karena pada hakikatnya nasikh adalah untuk mengakhiri pemberlakuan ketentuan hukum yang sudah ada sebelumnya. 4. Gejala kontradiksi sudah tidak dapat diatasi lagi. HIKMAH ADANYA NASKH Adanya nasikh-mansukh tidak dapat dipisahkan dari sifat turunnya al-Qur'an itu sendiri dan tujuan yang ingin dicapainya. Turunnya Kitab Suci al-Qur'an tidak terjadi sekaligus, tapi berangsur-angsur dalam waktu 20 tahun lebih. Hal ini memang dipertanyakan orang ketika itu, lalu Qur'an sendiri menjawab, pentahapan itu untuk pemantapan, [17] khususnya di bidang hukum. Dalam hal ini Syekh al-Qasimi berkata, sesungguhnya al-Khalik Yang Maha Suci lagi Maha Tinggi mendidik bangsa Arab selama 23 tahun dalam proses tadarruj (bertahap) sehingga mencapai kesempurnaannya dengan perantaraan berbagai sarana sosial. Hukum-hukum itu mulanya bersifat kedaerahan, kemudian secara bertahap diganti Allah dengan yang lain, sehingga bersifat universal. Demikianlah Sunnah al-Khaliq diberlakukan terhadap perorangan dan bangsa-bangsa dengan sama. Jika engkau melayangkan pandanganmu ke alam yang hidup ini, engkau pasti akan mengetahui bahwa naskh (penghapusan) adalah undang-undang alami yang lazim, baik dalam bidang material maupun spiritual, seperti proses kejadian manusia dari unsur-unsur sperma dan telur kemudian menjadi janin, lalu berubah menjadi anak, kemudian tumbuh menjadi remaja, dewasa, kemudian orang tua dan seterusnya. Setiap proses peredaran (keadaan) itu merupakan bukti nyata, dalam alam ini selalu berjalan proses tersebut secara rutin. Dan kalau naskh yang terjadi pada alam raya ini tidak lagi diingkari terjadinya, mengapa kita mempersoalkan adanya penghapusan dan proses pengembangan serta tadarruj dari yang rendah ke yang lebih tinggi? Apakah seorang dengan penalarannya akan berpendapat bahwa yang bijaksana langsung membenahi bangsa Arab yang masih dalam proses permulaan itu, dengan beban-beban yang hanya patut bagi suatu bangsa yang telah mencapai kemajuan dan kesempurnaan dalam kebudayaan yang tinggi? Kalau pikiran seperti ini tidak akan diucapkan seorang yang berakal sehat, maka bagaimana mungkin hal semacam itu akan dilakukan Allah swt. Yang Maha Menentukan hukum, memberikan beban kepada suatu bangsa yang masih dalam proses pertumbuhannya dengan beban yang tidak akan bisa dilakukan melainkan oleh suatu bangsa yang telah menaiki jenjang kedewasaannya? Lalu, manakah yang lebih baik, apakah syari'at kita yang menurut sunnah Allah ditentukan hukum-hukumnya sendiri, kemudian di-nasakh-kan karena dipandang perlu atau disempurnakan hal-hal yang dipandang tidak mampu dilaksanakan manusia

dengan alasan kemanusiaan? Ataukah syari'at-syari'at agama lain yang diubah sendiri oleh para pemimpinnya sehingga sebagian hukum-hukumnya lenyap sama sekali? [18] Syari'at Allah adalah perwujudan dari rahmat-Nya. Dia-lah yang Maha Mengetahui kemaslahatan hidup hamba-Nya. Melalui sarana syari'at-Nya, Dia mendidik manusia hidup tertib dan adil untuk mencapai kehidupan yang aman, sejahtera dan bahagia di dunia dan di akhirat. CATATAN 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. 12. 13. 14. 15. 16. 17. 18. Jalaluddin al-Suyuthi, Al-Itqan Ibn Katsir, Tafsir-u 'l-Qur'an-i 'l-'Azhim QS. Ali 'Imran: 7 QS. Al-Nisa: 82 Imam Abu Zahrah, Ushul al-Fiqh Al-Thusi, Uddat al-Ushul 'Abbas Mutawalli Hamadah, Al-Sunnat al-Nabawiyyah QS. Al-Baqarah: 114 QS. Al-Baqarah: 240 QS. Al-Baqarah: 234 QS. Al-Baqarah: 142 Imam Muslim, Al-Jami' al-Shahih Imam Al-Subki, Jam' al-Jawami' Abdul Wahab Khallaf, Ilmu Ushul al-Fiqh Imam Al-Subki, Jam' al-Jawami Muhammad Ali Al-Shabuni, Rawai'al-Bayan QS. Al-Furqan: 32 Al-Qasimi, Mahasin al-Ta'wil.

-------------------------------------------Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah Editor: Budhy Munawar-Rachman Penerbit Yayasan Paramadina Jln. Metro Pondok Indah Pondok Indah Plaza I Kav. UA 20-21 Jakarta Selatan Telp. (021) 7501969, 7501983, 7507173 Fax. (021) 7507174 Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota
Please direct any suggestion to Media Team

Artikel Yayasan Paramadina
Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota IV.29. PANDANGAN KONTEMPORER TENTANG FIQH (1/4) Telaah Problematika hukum Islam di Zaman Modern Oleh Nurcholish Madjid Salah satu kesibukan para intelektual Muslim di seluruh dunia saat ini ialah memikirkan bagaimana menerjemahkan nilai-nilai Islam ke dalam perangkat nyata kehidupan modern. Seorang Muslim yang serius tentu menyadari, betapa ia dihadapkan pada tantangan hidup dalam suatu masyarakat modern, yaitu suatu masyarakat yang notabene merupakan kelanjutan logis, meskipun

melalui proses transmutasi yang amat besar, dari berbagai unsur tatanan dan nilai hidup yang telah pernah berkembang sebelumnya, khusus di dunia Islam. Ilmu pengetahuan modern, misalnya, dengan mudah dapat ditelusuri asal-usulnya sebagai kelanjutan dunia keilmuan Islam yang pernah berkembang dalam masanya jayanya yang "liberal," ketika kaum Muslim terlatih menghargai suatu temuan pikiran dan keilmuan baru, dan ketika wawasan mereka terbentuk karena semangat kosmopolitanisme dan universalisme sejati. Namun pada saat yang sama, karena tuntutan imannya, seorang Muslim "modern" harus tetap berada dalam pangkuan agamanya dan dijiwai nilai-nilai asasinya. Zaman modern, atau yang menurut Marshall Hodgson lebih tepat dinamakan "Zaman Teknik" (Technical Age) adalah jelas berbeda secara mendasar dari zaman agraris sebelumnya. Padahal agama Islam, sebagaimana halnya dengan agama-agama besar lain, dilahirkan dalam zaman agraris. Seperti baru saja disebutkan di atas, ini tidaklah berarti zaman modern terputus samasekali dari zaman sebelumnya Justru unsur kontinuitasnya dengan masa lalu sedemikian rupa tidak mungkin diingkari, karena dasar-dasar zaman modern ini pun diletakkan masa sebelumnya, yaitu di zaman agraris. Suatu teori kesejarahan dunia malah menyebutkan, zaman agraris sebenarnya telah mengalami perkembangan menuju ke arah kompleksitas yang tinggi pada masa Axial Age ("Masa Aksial" atau "Sumbu"), yaitu masa yang terbentang selama enam abad sejak abad kedelapan sampai abad kedua sebelum Nabi 'Isa al-Masih as. Pada saat itu terjadi perubahan asasi di mana-mana, akibat lepasnya monopoli pengetahuan tulis baca dari tangan kelas pendeta, menjadi tersebar di antara berbagai kelompok borjuis, dan karenanya watak serta kecepatan perkembangan tradisi tulis-baca itu juga berubah. Pada waktu yang sama, keseluruhan tatanan geografis bagi kegiatan bermakna kesejarahan manusia juga mengalami transformasi, sebab saat itu mulai menyebar, meliputi hampir seluruh belahan bumi. [1] Pada masa itu dengan nyata budaya manusia mulai berkembang keluar dari inti kawasan Nil-Amudarya (Mesir-Transoxiana) yang menjadi inti kawasan bumi yang berpenghuni dan berperadaban (Arab: al-Da'irat al-Ma'murah; Yunani: Oikoumene, "Daerah Berpenduduk"). Zaman Islam adalah zaman "Pasca-Sumbu" (Post-Axial), dan masa kejayaan Islam merupakan puncak perkembangan "Zaman Agraria Berkota" (Agrariante Citied Society), yaitu masyarakat agraris dengan ciri kehidupan perkotaan (urbanity) yang menonjol. Adalah dalam urbanity itu --suatu pola kehidupan sosial-ekonomi yang ditandai tingginya kegiatan ekonomi urban dan penghargaan kepadanya, khususnya perdagangan, dan etos intelektual-- terletak benang merah kontinuitas antara zaman modern dengan zaman Islam. Tapi sekali pun zaman Islam masih sepenuhnya berada dalam rangkaian zaman agraris (jadi masih mempunyai kesinambungan dengan zaman sebelumnya), perubahan yang dibawanya sedemikian radikal dan eksplosif, sebanding dengan radikal dan eksklusif pembebasan (futuhat) yang dilakukan kaum Muslim, pertama-tama atas kawasan Nil-Amudarya, kemudian segera meliputi daerah yang lebih luas, yang kurang lebih waktu itu merupakan daerah paling maju di muka bumi. Dengan flashback di atas, kiranya menjadi jelas, sesungguhnya peralihan dari masa lalu yang agraris-urban itu, ke zaman modern sekarang, ini tidaklah terlalu unik dalam pandangan sejarah umat manusia. Dan disebabkan faktor peranan sejarahnya sendiri sebagai puncak zaman agraris urban, maka Islam

yang menyebabkan kebanyakan kaum Muslim mengalami kesulitan dalam menghadapi zaman modern. Apalagi bangsa-bangsa Barat itu. . tetap terdapat unsur-unsur persambungan tertentu dengan masa lalu. Betapa pun besarnya suatu perubahan. yaitu ilmu pengetahuan. Turki yang Muslim sampai sekarang masih menunjukkan ciri dunia ketiga yang non-industrial. khususnya pengalaman permusuhan (antara lain karena titik singgung keagamaan Islam-Kristen dan ketetanggaan geografis Timur Tengah-Eropa) justru nampak menjadi sumber problematik bangsa-bangsa Muslim menghadapi perubahan ke zaman modern. karena adanya asosiasi (yang tidak seluruhnya benar) antara modernisme dan westernisme. sementara Jepang yang Buddhis justru memperlihatkan tanda-tanda Barat dalam beberapa segi industrialnya. Sejarah membuktikan betapa problematiknya hubungan dogma Kristen dengan unsur pokok modernitas. situasi problematik itu dapat dikata tidak ada sama sekali. ketika melakukan penjajahan atas bangsa-bangsa Muslim. Inilah yang dalam jargon ilmu sosial mutakhir disebut "modernitas tradisi". Justru tidak jarang esensi nilai baru dalam suatu masyarakat yang berubah itu memperoleh pengukuhannya dan penguatan efektifitasnya karena mendapatkan tempat dalam sistem nilai lama yang lebih luas. misalnya. dan pelanjut serta pengembangnya di masa depan. Adalah beberapa pengalaman historis permusuhan ini. Jika kita ambil peristiwa Inkuisisi Kristen dalam menghadapi ilmu pengetahuan. karena unsur-unsur asasi zaman modern itu tidak asing bagi pandangan hidup kaum Muslim. atau dapat diterangkan dalam kerangka nilai lama yang lebih luas itu.memiliki potensi menjadi pewaris yang paling beruntung dari zaman modern ini." sebagai kelanjutan semangat permusuhan antara orang Spanyol Kristen dengan orang Spanyol Muslim yang mereka sebut "orang Moro"). dengan sesuatu yang lain dengan sendirinya selalu menimbulkan kesan pertentangan: Tapi. Berbagai pengalaman historis yang lebih spesifik pada bangsa-bangsa Muslim dalam interaksinya dengan bangsa-bangsa Barat. sebagaimana setiap "kesan" atau "dugaan" (dhan) tidak selamanya mengandung kebenaran. sebagaimana sedikit banyak ditunjukkan dalam pembicaraan di atas tadi. praktis tidak ada hal serupa dalam Islam. pengamatan lebih jauh atas berbagai peristiwa besar menyimpulkan tidak adanya kemestian pilihan hitam putih antara kontinuitas dan perubahan. Maka. bahkan sebaliknya sikap positif terhadap ilmu pengatahuan adalah sui generis atau tiada taranya dalam pandangan hubungan organiknya yang sejati dengan sistem keimanan. MASALAH KONTINUITAS DAN PERUBAHAN Kontinuitas yang mengisyaratkan pertahanan unsur-unsur masa lalu dan perubahan yang mengandung makna penggantian unsur-unsur masa lalu itu. dan betapa dalam Islam. Tapi sudah tentu faktor kontinuitas prinsipil bukanlah satu-satunya perkara yang membentuk dan menentukan sikap seseorang atau komunitas dalam menghadapi perubahan zaman. Kesulitan kaum Muslim ini di antaranya tercermin dalam bagaimana menangani masalah reinterpretasi hukum Islam untuk zaman modern. jelas-jelas membawa kenangan pengalaman historis masa lampau yang penuh permusuhan (antara lain dilambangkan dan dibuktikan dalam: bagaimana para penjajah Spanyol menamakan kaum Muslim Mindanao sebagai "orang-orang Moro. dan bukannya faktor kontinuitas kultural di atas.

bahkan sering dengan nada peneguhan dan apresiasi. Sementara Protestantisme Eropa hanya menyiapkan lahan untuk nasionalisme melalui perluasan melek-huruf..[2] Karena observasi dan kesimpulannya itu. yang mengatasi baik tradisi kecil maupun Tradisi Besar. skripturalisme. sehingga orang tidak lagi mudah mengatakan mana salah satu dari keduanya itu yang paling bermanfaat bagi yang lain. dan pelaksanaannya dapat disajikan. Tradisi Besarnya dapat dipermodern (modernisable). perluasan partisipasi dalam masyarakat suci yang meliputi semua anggotanya tanpa kecuali.sangat membantu adaptasi Islam ke dunia modern. dan dengan begitu maka cita-cita "protestan" agar semua yang beriman mempunyai akses yang sama (kepada kitab Suci-NM) akan terlaksana. jika dikenakan terhadap Islam dan kaum Muslim dalam menghadapi zaman modern. resmi dan "murni" Islam bersemangat egaliter dan keilmiahan --sementara hirarki dan ekstase (seperti dalam banyak praktek kesufian rakyat-NM berkaitan dengan bentuk-bentuknya yang bersifat pinggiran senantiasa meluas namun akhirnya ditampik. Versi kerakyatan lama (seperti praktek kesufian rakyat yang tidak sah atau mu'tabarah. Yaitu dipandang dari sudut semangat Islam tentang universalisme. purifikasi/modernisasi di satu pihak. tapi sebaliknya sebagai kelanjutan dan penyempurnaan dialog lama dalam Islam. dan hanya dalam Islam. Egalitarianisme modern terpenuhi. Jika hal ini dengan sendirinya menjadi keyakinan seorang Muslim.Garis argumen itu lebih-lebih tepat. dan penegahan apa yang dianggap suatu ciri lokal lama. Maka sosiolog terkenal Ernest Gellner. tidak sebagai inovasi ataupun konsesi kepala pihak luar. maka tidak heran menurut Ernest Gellner. Islam adalah agama yang paling dekat dengan modernitas dibanding agama Yahudi dan Kristen. Jadi dalam Islam.[3] Pendapat tentang tidak perlunya kaum Muslim menanggalkan . lapisan sarjana yang terbuka (dalam Islam) dapat berkembang sehingga meliputi seluruh masyarakat. yang pernah menjadi alas dangkal tradisi sentral sekarang menjadi kambing hitam yang dibuang. misalnya. Karena itu meskipun tidak merupakan sumber modernitas. para pengamat luar pun mengakui adanya hal yang sama. dan samasekali tidak perlu meninggalkannya. Islam mungkin akan ternyata merupakan penerima manfaat modernitas itu. memiliki pandangan tentang Islam dan kemodernan yang mungkin membuat seorang Muslim menjadi lebih percaya diri. Ia katakan: Hanya Islam yang mampu bertahan sebagai keimanan yang serius. dan sistematisasi rasional kehidupan sosial. sementara secara imperatif mesti menerima kehidupan modern (sebagaimana telah menjadi kenyataan. yang dipersalahkan menyebabkan kemunduran dan dominasi unsur asing.. betapapun ad hoc dan eclectic-nya sikap yang melatarbelakanginya) tapi dapat bertahan dengan nilai-nilai keislamannya. Dalam zaman cita-cita melek huruf universal. misalnya-NM). potensi Islam yang hangkit kembali untuk skripturalisme egaliter dapat secara aktual menyatu dengan nasionalisme. egalitarianisme spiritual. Yaitu bahwa mereka. Kenyataan bahwa varian sentral. dapat dilakukan dalam bahasa dan perangkat simbol yang satu dan sama.

bahwa tidaklah perlu meninggalkan sesuatu apapun yang secara esensial bersifat Islam. Dalam perkataan lain.29. UA 20-21 Jakarta Selatan Telp. Rodinson mempertanyakan. apalagi dituduh. 7501983. sebagai penyebab kemunduran negeri-negeri itu. maka jika kemajuan adalah suatu "Kapitalisme" (sebagaimana orang cenderung melihat buktinya melalui runtuhnya sistem sosialis atau komunis) maka Islam dapat saja bersatu dengan kapitalisme itu. Jawaban terhadap pertanyaan ini diberikan pada akhir bukunya. Dalam pembukaan sebuah bukunya. Tesis Rodinson ini terbuka untuk dipersoalkan. tanpa kehilangan sifatnya yang paling mendasar. "Sejauh mana orang (Muslim) harus pergi dalam proses mencapai kemakmuran yang menggiurkan dari negara-negara industri? Haruskah seseorang berjalan sedemikian jauhnya sehingga mengorbankan berbagai nilai yang secara khusus diyakini. karena Islam sesungguhnya tidak ada kaitannya dengan lingkungan ekonomi negeri-negeri Muslim. juga seorang sosiolog (Perancis) kontemporer.nilai-nilai dasar keislaman mereka untuk dapat masuk zaman modern itu juga dikemukakan Maxime Rodinson. (021) 7501969. kesimpulannya yang tegas bahwa kaum Muslim tidak meninggalkan hal-hal yang secara esensial bersifat namun perlu Islam . 7507173 Fax. yaitu yang membentuk ciri tertentu. PANDANGAN KONTEMPORER TENTANG FIQH (2/4) Telaah Problematika hukum Islam di Zaman Modern Oleh Nurcholish Madjid MASALAH PESAN DASAR ISLAM Ketika mengatakan Islam tidak mempunyai sangkut paut dengan milieu ekonomi negeri-negeri Muslim sehingga tidak dapat dipandang. kepribadian dan identitas kelompok orang bersangkutan?"4. seseorang dapat berjalan sejauh yang ia perlukan untuk dapat mengejar Barat tanpa mengorbankan apapun yang esensial bagi Islam dan yang menjadi bagian integral dari identitas kaum Muslim. Rodinson menunjuk kepada kenyataan betapa masyarakat-masyarakat Islam sepanjang sejarahnya menunjukkan gejala menganut pola ekonomi yang bermacam-macam dalam zaman yang berbeda atau tempat yang berbeda. (021) 7507174 Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota Please direct any suggestion to Media Team Artikel Yayasan Paramadina Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota IV. Karena itu Islam tidak dapat dipandang sebagai bertanggung jawab atas kemunduran kaum Muslim. Metro Pondok Indah Pondok Indah Plaza I Kav. yang oleh Leonard Binder diringkaskan. [5] -------------------------------------------(bersambung 2/4) Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah Editor: Budhy Munawar-Rachman Penerbit Yayasan Paramadina Jln.

Tapi sementara frase "pesan dasar" Islam terdengar familiar bagi setiap yang pernah membahas masalah-masalah keislaman. namun dalam kenyataan kita masih menemui diri kita. bukan substantif (orang tahu atau merasa tahu substansinya. namun kemudian Adam melupakannya dan tergoda setan. Sebuah firman suci menyebutkan adanya perjanjian primordial antara Tuhan dan manusia." [7] Perjanjian itu pula yang terjadi antara Tuhan dan Adam. demikian: Dan ingatlah ketika Tuhanmu mengambil (menciptakan) dari anak cucu Adam. Meskipun problem di sini agaknya lebih banyak berurusan dengan soal kemampuan ekspresif. agar Tuhan pun memenuhi perjanjian-Nya dengan manusia.[6]. jika menyalahi perjanjiannya dengan Allah setelah perjanjian itu menjadi kesepakatan. tapi gagal mengungkapkannya). Namun realita menunjukkan adanya kesulitan yang nyata. tidak bisa disangkal. hal-hal yang secara esensial bersifat Islam itu dengan sendirinya adalah "pesan dasar" (risalah asasiyyah) Islam itu sendiri. keturunan mereka dan Dia minta kesaksian mereka atau diri mereka sendiri: "Bukankah Aku ini Tuhanmu?" Mereka mergawab: "Benar. Dalam Kitab Suci al-Qur'an banyak diungkapkan tentang adanya perjanjian. manusia harus menempuh hidup bermoral. karena itu ada risiko abstraksi yang tinggi pula. kecenderungan banyak orang menilai kadar keimanan orang lain hanya dari segi hal-hal simbolik dan formal. dengan berbuat hal-hal tidak bermoral (fahsya'. Tanpa berarti dukungan untuk salah satu dari Ahl al-Dhawahir dan Ahl al-Bawathin yang buah pikiran mereka sempat ikut mewarnai polemik-polemik dalam khazanah literatur Islam klasik. dengan Allah dan tidak membatalkan kesepakatan antara dia dan Allah itu. demi perkenan Tuhan (ridha Allah). yang membuatnya diusir dari surga. maka dalam suatu masyarakat yang diliputi paham serba simbol (akibat pendidikan yang rata-rata rendah dan cara berpikir yang sederhana) "pesan dasar" itu sering terkacaukan dengan hal-hal simbolik dan formal yang mewadahinya. Artinya. Beragama bagi seseorang tentu tidak akan bermakna.[l0] Sebaliknya orang itu kafir. yang dinyatakan dalam kata-kata Arab sebagai abd.[9] Maka kaum beriman sejati ialah mereka yang memenuhi janjinya. bahwa manusia tidak akan menyembah setan dan harus hanya menyembah Allah semata. kami bersaksi!" (Demikian itu supaya kami tidak) berkata di hari Kiamat: "Sesungguhnya kami lupa akan hal itu. jika ia tidak mampu menangkap pesan dasar itu. dengan mengutip Zamakhsyari dalam tafsir .[8] Karena itu manusia diharapkan memenuhi perjanjiannya dengan Tuhan. merupakan indikasi kesulitan menangkap pesan dasar agama seperti sering dikuatirkan sementara Ahl al-Bawathin tentang orientasi keagamaan Ahl al-Dhawahir. dan harus menjauh dari penyembahan kepada setan. Perjanjian primordial itu juga diungkapkan dalam bahasa metaforik yang sangat ilustratif. yaitu dari tulang belakang mereka. namun wujud nyatanya sendiri sering masih merupakan problem. sering tidak begitu jelas mengenai pesan dasar itu. persetujuan dan kesepakatan antara Tuhan dan manusia.[11] Muhammad Asad. 'aqd dan mitsaq. munkar). Karena suatu "pesan dasar" mengacu pada suatu nilai yang amat tinggi.mendorong orang bertanya: Lalu apa wujud dari hal-hal yang secara esensial bersifat Islam itu? Jawabnya adalah.

[12]. sedangkan yang kedua (Nasrani) konon berdasarkan nama tempat (Nazaret). sepanjang penjelasan al-Qur'an. adalah suatu istilah umum yang mencakup kewajiban-kewajiban moral dan sosial yang timbul akibat iman itu. Ibrahim adalah seorang Muslim (yang pasrah dan damai kepada Allah). sebab dalam pandangan Kitab Suci al-Qur'an keyahudian dan kenasranian adalah bentuk-bentuk pelembagaan formal dan bahkan parokial dari suatu agama generik. Yang pertama (Yahudi) merupakan pelembagaan berdasarkan kebangsaan (atau malah kesukuan. Allah membimbing siapa saja yang mengikuti keridlaan-Nya ke berbagai jalan keselamatan. terhadap sesama manusia." [l7] Dengan al-Qur'an itu. dan telah Kami ambil dari mereka perjanjian yang berat.dalam suatu cara yang ditetapkan Ailah untuknya. dalam bahasa Arab. anak pertama Israil atau Ya'qub). sebagaimana telah disinggung. sebagai pesan Tuhan kepada semua Nabi dan Rasul --dan melalui mereka kepada seluruh ummat manusia membentuk makna "generik" agama. yaitu makna dasar dan universal sebelum suatu agama terlembagakan menjadi bentuk-bentuk formal dan parokial." [20] Pesan dasar itu. yang dalam bahasa Inggris secara konvensional diterjemahkan dengan God's covenant. yaitu seorang yang karena bimbingan kesucian dirinya sendiri (fithrah) memelihara kecenderungan dan pemihakan yang murni kepada yang benar dan baik secara generik.[22] . sebagai merujuk pada kewajiban moral manusia untuk menggunakan karunia bawaan lahirnya --intelektual dan fisik-.[13]. [16] Maka al-Qur'an pun disebutkan sebagai "petunjuk bagi orang-orang yang bertaqwa. Islam (Sikap Pasrah dan Damai kepada Allah)." [16] Pemenuhan perjanjian manusia dengan Tuhannya itu melahirkan sikap hidup bertaqwa. ditolak Kitab Suci. yang titik tolaknya ialah sikap pasrah dan berdamai dengan Allah (dalam bahasa Arab disebut Islam). Demikian pula bentuk-bentuk pelembagaan formal dan parokial lainnya. Asad juga memperjelas makna perjanjian dengan Allah (ahd Allah). yang sesungguhnya tidak memerlukannya. perjanjian (Inggris: covenant) antara Allah dan manusia itu. sebab agama yang benar secara asli haruslah tidak bernama kecuali dengan nama yang menggambarkan semangat makna generik kebenaran itu sendiri. Karena itu. Juga ditegaskan. misalnya. juga dari engkau (Muhammad) dan dari Nuh. asli dan sejati." [l9] Dan bahwa "Yang paling banyak menyebabkan manusia masuk surga ialah taqwa kepada Allah dan budi pekerti luhur.[21] Maka. Ibrahim adalah seorang hanif.[18] Dan Nabi saw pun bersabda bahwa "Tiada suatu apapun yang dalam timbangannya lebih berat daripada keluhuran budi. yaitu. bahwa Allah adalah Maha Hadir. yang selamanya menyertai dan mengawasi tingkah laku setiap orang. menerangkan. Kesadaran Ketuhanan (Rabbaniyyah) yang mendasari akhlaq mulia itulah inti pesan dasar agama lewat para Rasul. atas dasar keinsyafan mendalam. yang antara lain akan membawa manusia kepada kesadaran akan dirinya berhadapan dengan Sang Maha Pencipta. yaitu sikap hidup yang penuh pertimbangan moral. Musa dan Isa putera Maryam. yaitu suku keturunan Yehuda. Karena itu al-Qur'an menegaskan.[l4] dan pokok perjanjian Tuhan dengan semua Nabi: "Ingatlah ketika Kami (Tuhan) mengambil dari para Nabi perjanjian mereka. al-Qur'an menolak klaim kaum Yahudi atau Nasrani bahwa Nabi Ibrahim adalah seorang Yahudi atau Nasrani. Ibrahim. agama yang benar ialah agama yang memiliki makna generik itu.al-Kasysyaf.

yang meliputi perjanjian dengan Allah ('ahd.[26] Beberapa tafsir dan terjemah konvensional menerangkan. adalah universal. maka tidak ada manifestasinya yang lebih penting daripada nilai keadilan. dari sudut pandangan kosmologi al-Qur'an. Maka keadilan adalah aturan kosmis (cosmic order). semuanya adalah tokoh-tokoh yang muslim dan mengajarkan islam [23]. berlaku untuk semua ummat manusia. (sekalipun tidak berarti para Nabi itu secara harfiah menggunakan perkataan Arab yang berbunyi m-u-s-l-i-m dan i-s-l-a-m. dan dengan jalan menempuh hidup bermoral. yang pelanggaran terhadapnya dapat dilukiskan secara metaforik sebagai mengganggu atau "mengguncangkann tatanan jagad raya. Hendaknya kamu tidak melanggar (hukum) keseimbangan itu. mitsaq di atas). Sebagai hukum dasar dari Tuhan. Sesungguhnya. qisth. yang dalam firman ini dilambangkan sebagai penciptaan langit yang "ditinggikan" oleh-Nya. maka ditegaskan. aqd. yang dimaksud dengan mizan dalam firman itu ialah neraca yang dikenal. Ketika pesan dasar itu menuntut terjemahannya dalam tindakan sosial nyata. yaitu agar manusia tunduk patuh kepada-Nya melalui sikap pasrah dan berdamai. Tentu saja tidak terlalu salah. setelah lewat proses pengalihan nama itu dalam bahasa Yunani).[24] Dan sebagai wujud terpenting pemenuhan perjanjian dengan Allah dan pelaksanaan pesan dasar agama. rabbaniyyah). Inilah yang antara lain dapat kita ambil pengertiannya dari firman Allah: Dan langit pun ditinggikan oleh-Nya. semuanya bersikap pasrah dan berdamai dengan Allah dan membawa pesan dasar yang sama. wasth (semuanya memiliki makna dasar "tengah" atau "jujur") adalah wujud lain hukum keseimbangan (mizan) yang telah ditetapkan Allah untuk seluruh jagad raya. Mereka adalah muslim dan mengajarkan islam dalam arti.[25] Keadilan yang dalam bahasa Kitab Suci dinyatakan dalam kata-kata 'adl. menegakkan keadilan dalam masyarakat adalah amanat Allah kepada manusia. termasuk Musa dan Isa (Yesus. dan tidak terbatasi oleh pelembagaan formal agama-agama. Tapi dalam kaitannya dengan penciptaan Allah akan jagad raya. dan jangan kamu bertindak merugikan (hukum) keseimbangan. yaitu seluruh jagad raya ini berjalan mengikuti hukum keseimbangan. maka lebih tepat memandang perkataan mizan ini. dalam makna kosmologisnya. Dan tegakkanlah olehmu semua akan neraca dengan jujur.Demikianlah Nabi Ibrahim. dan demikian pula dengan semua Nabi. dan Dia tetapkan (hukum) keseimbangan. bahkan meliputi seluruh alam raya ciptaan-Nya ini. pesan dasar ini. sikap pasrah kepada-Nya (islam) dan kesadaran akan kehadiran-Nya dalam hidup (taqwa. PRINSIP KEADILAN (SOSIAL) Pada pokoknya pesan dasar ini. Bahkan neraca yang kita kenal dan tampak bekerja secara "sederhana" itu pun adalah . Karena itu tindakan menegakkan keadilan ditegaskan sebagai nilai yang paling mendekati taqwa. di mana manusia hanyalah salah satu bagian saja. keadilan adalah hukum primer seluruh jagad raya. yang menyangkut masalah pengaturan tata hidup manusia dalam hubungan mereka satu sama lain dalam masyarakat. karena justru kebanyakan para Nabi bukanlah orang-orang Arab).

sehingga tidak akan berubah (immutable)." dan "Dunia akan bertahan bersama keadilan dan kekafiran. didukung Allah. dan tidak akan bertahan lama bersama kezaliman dan Islamn" [27] Dengan pernyataannya yang tidak biasa itu. keadilan adalah "tatanan segala sesuatu" (nidham-u kull-i syay) [28].suatu gejala kosmis. -------------------------------------------(bersambung 3/4) Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah Editor: Budhy Munawar-Rachman Penerbit Yayasan Paramadina Jln. melalui hukum gravitasi. misalnya. yakni. Ibn Taymiyyah hanya bermaksud agar ummat Islam tidak taken for granted dalam hal keislaman. Metro Pondok Indah Pondok Indah Plaza I Kav. Sebaliknya. sehingga ia menguatkan pandangan bahwa "Sesungguhnya Allah akan menegakkan negeri yang adil meskipun kafir. Sebab. Keislaman yang formal saja tidak akan membawa keselamatan di dunia ini. 7507173 Fax. jika tidak disertai keadilan. 7501983. PANDANGAN KONTEMPORER TENTANG FIQH (3/4) Telaah Problematika hukum Islam di Zaman Modern Oleh Nurcholish Madjid BEBERAPA CONTOH PEMIKIRAN KONTEMPORER FIQH Kita telah pergi sejauh yang diperlukan. Berbagai pemikiran mutakhir tentang fiqh menegaskan perlunya kesadaran akan pesan dasar Islam sebelum . khususnya dalam arti sosial. dan tidak akan menegakkan negeri yang zalim meskipun Islam. maka masyarakat itu akan tegak. dalam hal ini khususnya Ibn Taymiyyah.29. untuk membahas masalah-masalah pokok yang mendasari pemikiran kontemporer tentang fiqh. karena keseimbangan dalam sebuah neraca adalah kelanjutan dari hukum keseimbangan yang lebih luas (yang menguasai seluruh alam). Dari sudut pandangan inilah kita memahami mengapa banyak para 'ulama'. (021) 7507174 Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota Please direct any suggestion to Media Team Artikel Yayasan Paramadina Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota IV. sedemikian tegas dan jauh berpegang pada prinsip keadilan itu sebagai ideatum tatanan sosial manusia yang akan menjamin kekokohan dan kelangsungannya. suatu cosmic order yang menjadi hukum Tuhan. (021) 7501969. meskipun suatu masyarakat adalah kafir namun menegakkan keadilan di dunia ini. UA 20-21 Jakarta Selatan Telp. sama dengan yang telah dijelaskan di atas. di segala tempat dan masa. Sedemikian rupa jauhnya pandangan Ibn Taymiyyah. atau Sunnatullah yang tidak tergantung kepada keinginan seseorang (obyektif) dan berlaku universal.

dan Ahmad Zaki Yamani (yang pernah menjabat Menteri Perminyakan Saudi Arabia dan tokoh OPEC yang amat terkenal). baik yang berasal dari lingkungan atau pun dari pribadi sendiri. dari tiga tokoh yang representatif. Wajar bahwa Islam menempuh jalan penetapan hukum-hukum setelah ditempuhnya jalan pengarahan pikiran melalui aqidah dan pendidikan tingkah laku melalui prinsip tabadul. maka itulah cara yang ideal yang kita wajib menggunakannya. sama dengan yang dikatakan Francis Aveling dalam bukunya ilmu Jiwa Klasik dan Modern. gambaran yang mengerikan tentang tangan-tangan buntung dan jasad-jasad berserakan. maka tujuan hukuman haruslah proteksi." Dalam praktek memang telah terjadi berbagai usaha ke arah ini melalui berbagai pengabdian sosial. dan lain-lainnya. Sedangkan yang sebenarnya ialah bahwa rahmat Allah untuk sekalian alam tidaklah menetapkan hukuman.suatu hukum atau hukuman dilaksanakan. "Kalau tujuan kita ialah kebaikan masyarakat. serta melarang khalwat (kencan seorang lelaki dan . Tapi penetapan hukum Islam tidak pernah disebut kecuali mesti timbul dalam pikiran orang. Dan ketika Islam menetapkan hukum rajam atau cambuk atas pezina. Allah menerangkan dalam Kitab-Nya berbagai hukuman kejahatan (had) seperti. Tapi kalau seandainya seluruh situasi yang berkaitan dengan lingkungan telah tersedia dengan sebaik-baiknya. kelompok atau perbedaan tingkat sosial. maka Islam tidaklah melakukan hal itu sebelum tegaknya hak-hak hidup pribadi dan mantapnya tanggung negara untuk menjamin hak-hak pribadi itu. Fatthi 'Utsman menegaskan. kecuali sesudah ditempuh jalan proteksi. Kami kutipkan dan terjemahkan sepenuhnya pendapat Fat'hi 'Utsman yang relevan. Kesadaran itu dapat disebut sebagai karakteristik pemikiran fiqh dan hukum Islam di zaman modern. maka tentulah yang tersisa bagi kita ialah memikirkan sebab-sebab individual yang mendorong orang untuk melakukan pelanggaran-pelanggaran. Muhammad Asad (salah seorang arsitek dan pemikir konstitusi Negara Islam Pakistan). potong tangan untuk pencurian. suatu hukum. Islam ketika menetapkan pelaksanaan qishash dalam kejahatan pembunuhan. termasuk yang ada dalam al-Qur'an dapat dilaksanakan hanya setelah ditegakkannya keadilan sosial dan tatanan kemasyarakatan yang menjamin anggotanya untuk tidak melanggar ketentuan yang ditetapkan. dari bukunya. ia bersama itu juga menetapkan langkah-langkah yang menjamin hilangnya dorongan-dorongan permusuhan golongan. hukum bunuh (qishash) untuk kejahatan pembunuhan. Jadi jika kita dapat mencegah sebab-sebab dan situasi yang mendorong kejahatan. maka sesungguhnya ia juga menetapkan kemudahan jalan perkawinan dan melindungi bagian-bagian privat dari tubuh dengan menutup aurat dan menjaga penglihatan mata. yaitu Fat'hi 'Utsman (pemimpin redaksi majalah Islam internasional Arabia yang terbit di London). al-Din li al-Waqi' (Agama untuk Realita): Keadilan Sosial sebelum hukuman. misalnya. Dan ketika menetapkan hukuman potong tangan pencuri. Dan cara apapun yang dapat merealisasikan tujuan ini harus dipandang sebagai wajar dari sudut pandangan sosial. Dari sini kita melihat. Di sini akan dikemukakan contoh pemikiran para intelektual Islam mutakhir.

Now. among the inalienable rights of every member of the Islamic society --Muslim and non-Muslim alike-. Islam envisages and demands a society that provides not only for the spiritual needs of man. Asad membuat uraian panjang lebar. no spiritual progress: for. although the Qur'an makes it clear that human life cannot be expressed in terms of physical existence alone --the ultimate values of life being spiritual in nature-. in the last resort.seorang perempuan yang bukan muhrim. threfore. every citizen is entitled to a share in the community's economic resources and thus. such shared privations may become a source of spiritual strength and. "Proverty may well . may enjoy that minimum of material well-being and security without which there can be no human dignity. in this context.a society (or a state) must be so constituted that every individual. there can be no real happiness and strength in a society that permits some of its members to suffer undeserved want while others have more than the need. to the enjoyment of social security: in other words. For. namun maaf tidak sempat menerjemahkan): The extreme severity of this Qur'anic punishment can be understood only if one bears in mind the fundamental principle of Islamic Law that no duty (taklif) is ever imposed on man without his being granted a coresponding right (haq). Dalam memberi penjelasan tentang makna yang lebih mendasar di balik hukuman yang amat keras bagi pencuri (potong tangan). liability to punishment. If the whole society suffers privations owing to circumstances beyond its control (as happened. It follows. an occasionally drives whole communities away from God-consciousness and into the arms of soul-destroying materialism. to the Muslim community in the early days of Islam). poverty becomes the most dangerous enemy of spiritual progress. In short. no real freedom and. for instance. (Di sini kami kutipkan seluruh uraian itu. he or she must be assured of an equitable standard of living commensurate with the resource at the disposal of the community. But if the available resources of a community are so unevenly distributed that certain groups within it live in affluence while the majority of the people are forced to use up all their energies in search of their daily bread. namun tanpa muhrim perempuan itu). of future greatness.[29] Lebih runtut lagi adalah jalan pikiran dan garis argumen Muhammad Asad. Jadi pengaturan sosial berjalan seiring atau mendahului penetapan hukuman kejahatan.is the right to protection (in every sense of the word) by the community as a whole. man and woman. but for his bodily and intellectual needs as well. that --in order to be truly Islamic-. It was undoubtedly this that the Prophet had in mind when he uttered the warning woeds (quoted by al-Suyuti in al-Jami al-Saghir). and the term "duty" also comprises. through it. As is evedent from innumerable Qur'anic ordinances as well as the Prophet's injuctions forthcoming from authentic Traditions.the believers are not entitled to look upon spiritual truths and values as something that could be divorced from the physical and social factors of human existence.

any attempt on the part of an individual to achieve an easy. the entire socioeconomic system of Islam is based on the faith of its adherents.turn into a denial of the truth (kafr). and (d) free medical care in health and sickness. always hear in mind the principle mentioned at the beginning of this note: namely. theft cannot and should not be punished as severely as it should be punished in a state in which social security is a reality in the full sense of the woed. its balance is extremely delicate and in need of constant. and has been amplified and explained by a great number of the Prophers commandments. A corollary of these rights is the right to productive and remunerative work while of working age and in good health. the temptation to enrich onself by illegal means often becomes irresistible --and. who began to translate these ordinances into a concrete administrative scheme (see Ibn Said. one may safely conclude that the cutting-off of a hand in punishment for theft is applicable only within the context of an already existing fully-functioning social security . In a community or state which neglects or is unable to provide complete social security for all its members. Umar ibn al-Khattab. it has not right to invoke the full sanction of criminal law (had) against the individual transgressor. Since. (b) an adequate home. but must confine itself to milder forms of administrative punishment. old age. etc. the social legislation of Islam aims at a state of affair in which every man. his successors had either the vision nor the statemanship to continue his unfinished work. (c) equal opportunities and facilities for education. woman and child has (a) enough to eat and wear. however. "temptation" cannot be admitted as a justifiable excuse. the above ordinance which lays down that the hand of the thief shall be cut off. in cases of disability resulting from illness. Tabagat. One must. the absolute interdependence between man's right and corresponding duties (including liability to punishment). (Its was in correct appreciation of this principle that the great Caliph Umar waived the had of handcutting in a period of famine which afflicted Arabia during his reign.) To sum up. 213-217). and must be punished as such: and. As already mentioned. enforeced enemployment. unjustified gain at the expense of other members of the community must be considered an attack against the system as a whole. It is against the background of this social security scheme envisaged by Islam that the Qur'an imposes the severe sentence of hand-cutting as a deterrent punishment for robbery. III/1. and since. under the circumstances outlined above. but after his premature death. and a provision (by the community or the state) of adequate nourishment." Consequently. shelter. or under-age. If the society is unable to fulfil its duties with regard to everyone of its memebers. therefore. consequently. widowhood. In a community in which everyone is assured of full security and social justice. It was the second Caliph. in the last resort. strictly enforced protection. the communal obligation to create such a comprehensive social security scheme has been laid down in many Qur'anic verses.

the Shari'a is confined to the undoubted principles of the Qur'an. the Shari'a has a binding authority on every Moslem. such as the Kingdom of Saudi Arabia. to what is true and valid of the Sunna. Viewed as such.. sekali lagi. Furthermore. hasil pemikiran ("fiqh" dalam arti asalnya) para ulama dalam kitab-kitab itu baginya tidaklah mengikat. because of certain inherent . and he is obligated to follow and employ it to solve his affairs . since within it one might find different. his era. The importance of differentiating between the wide and the narrow scope of Shari'a is evident in countries that fully implement the system. provided such consensus was possible.[30] Fiqh sangat erat kaitan dengan Syari'ah. Yet. as I said before in this wide sense. maaf tidak sempat menerjemahkannya): The Islamic Shari'a as a phrase has two scope of meanings. and surely we cannot maintain that previous Moslem Jurists have anticipated all our existing contemporary problems. jika bukannya malah identik (seperti menurut pengertian kebanyakan orang). Generally and widely construed. The jurists derived their principles from the Qur'an and the Sunnah (way of action and the opinions of the Prophet). one cannot deny the Shari'a scholastic value as an elaborate system of deduction which should be relied upon for future derivations of principles. and public interest considerations. whether it dealt with contemporaneous issues of the time or in anticipation of future ones. dalam sebuah risalahnya yang terkenal. As I explained earlier. As such the system has a tremendous scholastic value to the Moslem. Construed narrowly.scheme. di sini kami kutipkan sepenuhnya uraian Yamani (namun. Perhatikanlah bagaimana Yamani menegaskan. Ahmad Zaki Yamani. karena pemikiran itu tidak lepas dari tuntutan zaman dan tempat yang lebih spesifik. it denotes everything that has been written by Moslem jurists throughout the centuries. it has no binding authority. not all the principles of Shari'a in its wider sense are of a binding authority. however.. it cannot have a binding authority since circumstances that brought about a certain principle might not be in existence any more. constitutes a huge Juristic tradition the value of which depends on the individual jurist himself. and the consensus of the community represented by its sholars and learned men during a certain period and regarding a particular problem. memperjelas persoalan Syari'ah itu dalam kaitannya dengan hasil karya para ulama terdahulu yang secara keseluruhannya biasanya dipandang sebagai korpus Hukum Islam. The Shari'a. looked upon in this wide scope. or even the particular problem confronting him. and in no other circumstances. Sama dengan yang di atas. yang belum tentu cocok dengan tuntutan zaman kita sekarang. and sometimes contradictory principles resolving the same issues depending on the Juristic school that propagated the principle. and from the other sources of Shari'a such as Ijma' (the consensus of the community represented by its scholars and learned men).

Such countries could legislate new solutions for novel problems. one cannot choose one juristic school for implementation to the exclusion of all others. [31] -------------------------------------------(bersambung 4/4) Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah Editor: Budhy Munawar-Rachman Penerbit Yayasan Paramadina Jln. sedangkan ketentuan tekstual yang diwahyukan dan sumber-sumber lainnya hanyalah perantara . dengan implikasi sebuah dukungan. dan ketentuan tekstual atau nas di pihak lain. confined to the Qur'an. sekalipun dari al-Qur'an dan Sunnah. Ia berpandangan bahwa kepentingan umum itulah yang menjadi maksud dan tujuan Maha Hakim (Allah). but not the validity of that on which there is consensus. 7507173 Fax. which was done in the past. betapapun absahnya sebuah nas. Maka jika terdapat pertentangan pertimbangan kepentingan umum di satu pihak. pendapat yang ekstrim dari Imam al-Tuff yang diduga dari madzhab Hanbali (tapi juga ada yang menduganya bermadzhab Syi'ah). the criterion being what is more appropriate to the needs of that particular country. UA 20-21 Jakarta Selatan Telp.. PANDANGAN KONTEMPORER TENTANG FIQH (4/4) Telaah Problematika hukum Islam di Zaman Modern Oleh Nurcholish Madjid Bagi Yamani prinsip public interest atau kepentingan umum adalah sangat fundamental.difficulties in attempting to harmonize some of them. deriving such solutions from the general principles of the Shariia and considerations of public interest and communal welfare. dengan merujuk kepada kitab Thabaqat al-Hanabilah oleh Ibn Rajab. Furthermore. 7501983. then. are not worthy of being followed. al-Tufi berpendapat bahwa kepentingan umum itu harus dimenangkan. yang mengatakan bahwa kepentingan umum mengatasi dan mendahului ketentuan tekstual. to adopt the narrow meaning of Shari'a. select principles from the various juristic schools with no exceptions.29.. or at least." it becomes imperative . According to the well-known Shari'a principle "the validity of that on which there is a difference can be questioned. and consensus. (021) 7507174 Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota Please direct any suggestion to Media Team Artikel Yayasan Paramadina Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota IV. Yamani mengutip. the Sunna. since as a logical consiquence on would have to maintain the princiles of the other schools are not valid. Metro Pondok Indah Pondok Indah Plaza I Kav. (021) 7501969. Berkaitan dengan prinsip ini.

yaitu hukum-hukum keagaman ('ibadat) dan hukum-hukum kegiatan manusia dalam hidup keduniaan (mu'amalat): The religious essence and value of the Shari'a must never be overestimated. and the operation can be presented. mengembangkan pemikiran hukum yang akan menjawab tuntutan zaman dan tempat." [33] PENUTUP Dari seluruh uraian di atas dapatlah disimpulkan. yang kini masih banyak melanda kaum Muslim.untuk mencapai tujuan itu. can be done in one and the same language and set of symbols. Tetapi prasyaratnya ialah. once a shallow of the central tradition now becomes a repidiated scapegoat. The old folk version. 3 jilid (Chicago: The University of Chicago Press. Marshal G.. dan tujuan harus selalu mendahului perantaraan atau cara. whilst hierarchy and . 2.. the latter principles have to be viewed as a system of civil Iaw. The Prophet himself had set precedence for this religious-secular relationship when he said "I am only human. if I order something of my opinion consider it in the light that I am only human. Islam may yet turn out to be its beneficiary. based on public interest and utility. Many Western Orientalists who wrote about Shari'a failed to distinguish between what is purely religious and the principles of secular transactions.S. Halangan terbesar bagi kemungkinan itu datang dari sikap-sikap dogmatic dan literalis. 108. sehingga akan terbukti ramalan Gellner: Kaum Muslim adalah penarik manfaat yang sebenarnya dari modernitas. dan berdasarkan itu. jil. 1974). h. and only in Islam. . but rather as the continuation and completion of and old dialogue within Islam. and therefore always evolving to an ideal best. "You know better about your civil non-religious matters." Or when he said.[32] Lebih jauh. purification modernization on the one hand. The fact that its central. blamed for retardation and foreign domination. not as an innovation or concession to oursiders. The Venture of Islam.. and the reaffirmation of a putative old local identity on the other. Yamani mengritik sebagian kaum Orientalis yang tidak memahami Syari'ah dan mencampuradukkan dua unsurnya yang berbeda namun tidak terpisah. kaum Muslim harus mampu terlebih dahulu menangkap pesan dasar agamanya. fiqh dan sistem hukum Islam memiliki kesempatan besar untuk diterapkan dalam zaman modern. CATATAN 1. masa depan yang lebih baik tentu dapat diciptakan.. Hodgson. Hence. official.. Thus in Islam. Only Islam survives as a serious faith pervading both a folk and a Great Tradition. though not the source of modernity. 1. Though both are derived from the same source. if I order something pertaining to your religion comply.. "pure" variant was egalitarian and scholarly. Tapi dengan bekal inner dynamics Islam itu sendiri. Its great Tradition is modernisable.

5. so that one can hardly tell which one of the two is of most benefit to the other. (Gallner. Lihat QS. 1988). Lihat QS. the one closest to modernity. Thaha/20:115. al-Ma'idah/5:16. Modern egalitarianism is satisfied. 1981). al-Ra'd/13:25. of the three great Western monotheisms. 17. Muslim Society (Cambridge: Cambridge University Press. h. 3. 1551. Maxime Rodinson. The Message of the Qur'an (London: E. and thus the 'protestant' ideal of equal access for all believers can be implemented. scripturalism. QS. Islam and Capitalism. Lihat QS. 11. 20. 1561. 18. 8.Islam is.J. Brill. 10. By various obvious criteria --universalism. 16. 13. catatan 21. spiritual egalitarianism. peripheral forms. 6. Lihat QS. and the rational systematisation of social life-. Ali Imran 3:79. In an age of aspiration to universal literacy. 4.. the open class of scholars can expand towards embracing the entire community. 9. the extension of full participation in the sacred community not to one. hadits No. Lihat QS. but to all. 7). catatan 42.ecstaasy pertained to its expendable. al-Baqarah/2:2. Lihat QS. 1978).. 15. Whilst European Protestantism merely prepared the ground for nationalism by furthering literacy. (Ernest Gallner. Leonard Binder. al-Ra'd/13:20. 12. al-Ahzab/433:7. h. Bulugh al-Maram. 19.363. or some. QS. h. Lihat QS. 4-5). al-Baqarah/2:40. 14.Ibid. al-Hadid/57:4. . h. Ibid. 211.. Lihat QS. Islamic Liberalism (Chicago: The University of Chicago Press. hadits No. h. the reawakened Muslim potential for egalitarian scripturalism can actually fuse with nationalism. h. greatly aids its adaptation to the modern world. 7-8. Lihat QS. 1. terjemahan dari Perancis oleh Brian Peace (Austin: University of Texas Press. eventually disavowed. 1980). Muhammad Asad. al-A'raf/7:172. Yasin/36:60 7.

Apakah patut ia menyuruh kamu menjadi kafir sesudah kamu semua menjadi orang-orang yang pasrah (muslimun)?" (QS. . h. dan seorang muslim (pasrah kepada Tuhan)." (QS. al-Din li al Waqi' (Kuwait: al-Dar al-Kuwaytiyyah. 26. 1396 H/1976 M). Ali Imran/3:67-68). al-Ma'idah/5:8. Ali Imran 3:19 dan 85. melainkan seorang hanif (lurus kepada kebenaran). al-Baqarah 2:133). 30. Lihat QS. Allah adalah pembimbing kaum beriman itu. 29. ketika ia bertanya anak-anaknya: 'Apa yang kamu sembah sesudahku?' Mereka menjawab: 'Kami menyembah Tuhanmu dan Tuhan nenek moyangmu. Ibrahim. dan bersikap pasrah kepada-Nya (Islam). Sesungguhnya manusia yang paling dekat kepada Ibrahim ialah mereka yang benar-benar mengikutinya dan Nabi ini (Muhammad) serta mereka yang beriman. h. 23. Ibid. Fat'hi Utsman. 40. 24.'" (QS. Lihat QS. dan kami semua pasrah (muslimun) kepada-Nya. h. al-Nisa/4:58. yaitu Tuhan Yang Maha Esa. Ibn Taymiyyah. al-Amr bi al-Ma'ruf wa al-Nahy 'an al-Munkar (Beirut: Dar al-Kitab a-jadid. Muhammad Asad. Terdapat banyak penegasan. langsung dan tidak langsung.91-92.' Dan ia (Nabi itu) tidak menyuruh kamu agar kamu mengambil para malaikat dan para Nabi yang lain sebagai tuhan-tuhan. "Ibrahim itu bukanlah seorang Yahudi ataupun Nasrani. hanif) menyembah Tuhan yang sama. Ali Imran/3:79-80). berkenaan dengan keislaman para Nabi. ajaran kebenaran (hukum) dan kenabian kemudian berkata kepada orang banyak: 'Jadilah kamu semua hamba-hamba bagiku. bukan bagi Allah!' Melainkan (ia tentu berkata): 'Jadilah kamu orang-orang yang berkesadaran Ketuhanan (Rabbaniyyun) berdasarkan kitab suci yang kamu ajarkan dan berdasarkan yang kamu sendiri pelajari.21. yaitu Tuhan Yang Maha Esa. 25. al-Rahman/55:7-9. Setiap orang yang dikaruniai Allah pangkat kenabian pasti menyeru manusia agar berkesadaran Ketuhanan (Rabbaniyyun) dan tidak akan menyimpang dari garis lurus itu setelah para pengikutnya benar-benar menjadi kaum yang pasrah kepada-Nya (muslimun): "Tidak pernah terjadi pada seorang manusia yang kepadanya Allah mengaruniakan kitab suci. 22. tt. dan tidaklah dia termasuk mereka yang musyrik. Secara umum dapat disimpulkan dari firman Allah tentang sikap anak turun Ya'qub Israil): "Adakah kamu menjadi saksi ketika maut datang kepada Ya'qub. Isma'il dan Ishaq. catatan 48.). 149-150. 27. QS. 28. Suatu penegasan bahwa semua penganut agama (yang benar secara generik. Lihat QS. dalam risalahnya.

Istishlah dan Istishhab. -------------------------------------------Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah Editor: Budhy Munawar-Rachman Penerbit Yayasan Paramadina Jln. (021) 7501969. Ibid. yaitu: syariah terdahulu (syar' man qablana). yaitu kubu Irak dan kubu Hijaz. . Tapi penggunaannya sangat terbatas..31. Itulah yang berkembang menjadi ijtihad. mereka tidak mengakui keabsahan hadist itu. Biasanya para ulama pendukung kubu Irak dikenal sebagai ahl al-ra'y. ISTIHSAN Pada saat-saat awal terbentuknya pemikiran hukum Islam yang metodis (ilmu fiqh). dalam pengembangan pemikiran hukumnya (metoda ijtihadnya) volume penggunaan rasio lebih besar dari volume penggunaan hadist (sebagai salah satu sumber syari'ah). Ibid. Istihsan. h.. h. Metro Pondok Indah Pondok Indah Plaza I Kav. Selain dari sumber hukum primer tersebut. Tokoh utama kubu Irak ialah Imam Abu Hanifah. ISTISHLAH DAN MASHLAHAT AL-AMMAH Oleh KH Ali Yafie Dinamika hukum Islam dibentuk oleh adanya interaksi antara wahyu dan rasio. dan tokoh utama kubu Hijaz adalah Imam Malik. 32. Ini tidak berarti. Dengan demikian. UA 20-21 Jakarta Selatan Telp. Pendapat sahabat Nabi (qaul al-shahabi). 10-11. dikenal adanya dua kubu pengembangan pemikiran hukum Islam. Ahmad Zaki Yamani. 6-7). 7501983. upaya ilmiah menggali dan menemukan hukum bagi hal-hal yang tidak ditetapkan hukumnya secara tersurat (manshus) dalam syariah (al-kitab wa sunnah). 7507173 Fax. Sunnah. dan para ulama pendukung kubu Hijaz dikenal sebagai ahl al-hadits. kebiasaan/adat-istiadat (al'urf). Ijma' dan akal. 33. 13-14. Ahl al-ra'y sesuai dengan situasi lingkungannya. dikenal juga adanya sumber-sumber sekunder (al-mashadir al-tab'iyyah). atau sama sekali tidak menggunakan sumber hukum itu. sumber hukum Islam terdiri atas: al-Qur'an. Islamic Law and Contemporary Issues (Jeddah: The Saudi Publishing House 1388 H). h. (021) 7507174 Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota Please direct any suggestion to Media Team Artikel Yayasan Paramadina Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota KONSEP-KONSEP ISTIHSAN.

mereka yang menggunakan Istihsan sebagai sumber hukum tidak mempunyai kesepakatan atas suatu definisi tentang Istihsan itu. bukan saja tidak mencakup.Di pihak lain kita dapat mengamati. dibandingkan dengan qias yang jelas (jali). dan menurut Istihsan hukumnya begini. ahl al-hadits sesuai dengan situasi lingkungannya. Dalam hubungan inilah lahir konsep Istihsan. tidak segera dapat ditangkap. atau dharurah. Syekh Muhammad Zakariya al-Bardisi. menyebutkan Istihsan itu suatu qias yang lebih dalam (khafi). Menurut al-Bardisi definisi ini tidak mencakup (ghair jami'). bahkan kita menemukan dari mereka beberapa definisi yang kontradiktif. Mereka menggunakannya secara tersendiri atau menyebutnya berdampingan dengan kata/istilah qias. karena tidak dapat menampung Istihsan yang ditegakkan di luar landasan qias. Kedua kubu tersebut mengakui keabsahan sumber hukum qias. Kita menggunakan qias dalam masalah ini. apakah itu qias dalam arti technische-term. Definisi yang lain. atau sumber hukum yang . tapi mereka juga menggunakan analogi yang longgar dan lebih luas. istihsan itu ialah semua ketentuan syar'i (baik yang bersifat nash. atau ijma' atau dharurah. Ini tidak berarti mereka menolak penggunaan sumber rasio itu. Dengan kata lain mereka mengatakan. tapi apa yang dia maksud dengan qias di sini tidak begitu jelas. hukum dalam masalah ini bersumber dari Istihsan. ternyata tidak saja menggunakan qias yang merupakan bentuk penggunaan rasio dengan cara analogis ilmiah ketat. menurut qias hukumnya begini. Sepanjang penelitian guru besar ilmu-ilmu Syari'ah pada Fakultas Hukum Universitas Kairo. Definisi ini menurutnya. atau kita menggunakan istihsan dalam masalah ini. mereka dalam pengembangan pemikiran hukum (metode ijtihadnya) volume penggunaan sumber hukum hadits lebih besar dari volume penggunaan sumber rasio (dalam hal ini qias). atau dalam arti yang mencakup qias yang lebih luas yang dikaitkan dengan suatu ketentuan umum atau suatu kaidah-kaidah hukum yang baku. Definisi ini pun belum mencakup. ialah peralihan dari hasil sesuatu qias kepada qias yang lain yang lebih kuat. Mereka sering mengatakan. Kata ini kemudian digunakan sebagai suatu technische-term yang membentuk pengertian baru menggambarkan suatu konsep penalaran dalam rangka penggunaan rasio secara lebih luas untuk menggali dan menemukan hukum sesuatu kejadian yang tidak ditetapkan hukum dari sumber syari'ah yang tersurat. atau ijma'. atau qias yang lebih dalam) dibandingkan dengan qias yang jelas. seperti Istihsan yang ditegakkan di atas landasan nas. Ahl al-ra'y yang volume penggunaan rasionya lebih besar. Istilah "Istihsan" sebagai technische-term banyak beredar di kalangan tokoh-tokoh (ulama) dari aliran pemikiran hukum (mazhab) Hanafiyah. Sebagian lagi memberikan definisi. karena ada juga istihsan yang ditegakkan atas landasan 'urf atau mashlahah Secara harfiah Istihsan itu berarti menganggap baik akan sesuatu baik itu fisik maupun nilai. di antaranya adalah: Istihsan itu. dalam masalah ini.

pengecualian masalah tertentu dari suatu ketentuan pokok yang bersifat umum. Dari uraian ini dapat ditangkap. Tapi dapat kita catat. untuk menghasilkan suatu hukum bagi kejadian baru. atau kebiasaan. Konsep penalaran ini bermula dikembangkan dalam aliran pemikiran hukum Islam (madzhab) Malikiyah. masih ada upaya penalaran yang lain seperti Istihsan dan istislah dan seterusnya. semua itu merupakan elemen-elemen dalam hukum Istihsan. dalam hal tujuan dan sasaran ditetapkannya ketentuan tersebut. adalah Imam Syafi'i. kaidah-kaidah interpretasi atas ketentuan-ketentuan syari'ah (al-Qur'an dan Sunnah) ditambah dengan analogi qias. atau ijma'. atau dari suatu kaidah hukum. ada empat elemen dari analogi qias itu. Dalam analogi qias. Sebagian ahl al-ijtihad menganggap qias ini merupakan upaya final dalam penggalian dan penemuan hukum-hukum dari sumber syari'ah atau sumber yang dipersamakan (ijma'). atas pertimbangan sesuatu alasan yang lebih kuat. yakni kesepakatan para ahli yang berwenang (ahl al-ijtihad) di kalangan umat Islam. pada hakekatnya konsep ini telah dikenal dan digunakan oleh angkatan pertama ahl al-ijtihad di kalangan sahabat dan tabi'in. kejadian baru (far). Dalam bahasa tekniknya harus ada ashl dan harus ada 'illah. Analogi Istihsan tidak terikat pada keketatan analogi qias karena dimungkinkan adanya qias alternatif (qias kahfi) yang terlepas dari elemen 'illah (dalam analogi qias biasa). tapi sebagian yang lain beranggapan. Kemudian berkembang pula secara terbatas dalam aliran Malikiyah dan Hambaliyah. karena pengecualian itu didukung oleh suatu nash.dipersamakan dengan itu. Termasuk pula dalam kategori Istihsan. Yang dicatat sebagai seorang tokoh yang menolak menempatkan Istihsan itu sebagai suatu sumber hukum sekunder. Dalam perkembangan pemikiran hukum Islam. Karenanya juga konsep ini lebih dikenal dengan sebutan. atau mashlahah. yang perlu ditata dalam hukum Islam. untuk menampung segala perkembangan yang terjadi. di kalangan penganut aliran pemikiran hukum (madzhab) Hanafiyah. ketentuan yang dihasilkan dari pengaitan (ilhaq) tersebut di atas dan inilah yang disebut hukum qias. Dengan kata lain pertimbangan adanya ketentuan lain atau kesepakatan. karena beliau berpendapat. yakni ketentuan pokok (ashl). sudah cukup. dibutuhkan adanya suatu ketentuan pokok yang bersifat terinci (tafshili) untuk dijadikan landasan mengaitkan sesuatu yang ada persamaannya. al-mashlah al-mursalah atau al-mashalih al-mursalah. landasan penyamaan ('illah). Alasan itulah menjadikan qias jali (biasa) dialihkan kepada qias khafi (alternatif) dan hasilnya disebut Istihsan. atau 'urf atau dharurah. Dan ternyata kemudian diambil alih juga oleh Imam al-Ghazali dari aliran Syafi'iyah dengan beberapa . Istihsan ini ditempatkan sebagai sumber hukum sekunder. ISTISHLAH Istishlah merupakan suatu konsep dalam pemikiran hukum Islam yang menjadikan mashlahah (kepentingan/kebutuhan manusia) yang sifatnya tidak terikat (mursalah) menjadi suatu sumber hukum sekunder. atau keadaan darurat atau suatu kepentingan nyata. sekalipun dengan istilah-istilah yang berbeda.

bukan sekadar anggapan atau rekaan. Mashlahah itu tidak merupakan kepentingan pribadi atau segolongan kecil masyarakat. tapi harus bersifat umum dan menjadi kebutuhan umum. aliran Zhahiriyyah dan Syi'ah.Hajiyyah (kebutuhan pokok) untuk menghindarkan kesulitan dan kemelaratan dalam kehidupannya. konsep ini ditolak oleh Landasan pemikiran yang membentuk konsep ini ialah. Hasil penalaran mashlahah itu tidak berujung pada terabaikannya sesuatu prinsip yang ditetapkan oleh nash . 2.Mashlahah yang tidak terikat pada jenis pertama dan kedua.2. dan manusia tidak dicegah melakukan sesuatu. yang menjadi dasar mashlahah (kepentingan dan kebutuhan manusia). 2. dan tidak menjangkau bidang ibadat. 1. yaitu. Penempatan masalah ini sebagai suatu sumber hukum sekunder. Dalam kajian para ahl-ijtihad ada tiga jenis mashlahah. harta bendanya. yaitu kepentingan yang bertentangan dengan maslahah yang diakui terutama pada tingkat pertama. Maka. Para ahli yang mendukung konsep penalaran ini mencatat tiga persyaratan dalam penerapan hukum mashlahah ini. Kelima tersebut biasanya disebut al-kulliyyat al-khams atau al-dharuriyyat al-khams.Tahsiniyyah (kebutuhan pelengkap) dalam rangka memelihara sopan santun dan tata krama dalam kehidupan.Mashlahah yang diakui ajaran syari'ah. 3. yang terdiri dari tiga tingkat kebutuhan manusia.Dharuriyyah (bersifat mutlak) karena menyangkut komponen kehidupannya sendiri sebagai manusia. Maka tidak dituntut untuk dilakukan manusia untuk kepentingan hidupnya. Dan itulah sasaran utama dari hukum Islam.penyempurnaan. yakni hal-hal yang menyangkut terpelihara dirinya (jiwa. menjadikan hukum Islam itu luwes dan dapat diterapkan pada setiap kurun waktu di segala lingkungan sosial. upaya mewujudkan mashlahah dan mencegah mafsadah (hal-hal yang merusak) adalah sesuatu yang sangat nyata dibutuhkan setiap orang dan jelas dalam syari'ah yang diturunkan Allah kepada semua rasul-Nya. 3.3.1. kenyataan bahwa. Tapi perlu dicatat. nasab keturunannya dan kepercayaan keagamaannya.Mashlahah yang tidak diakui ajaran syari'ah. bahwa ia memang mewujudkan suatu manfaat atau mencegah terjadinya madharrah (bahaya atau kemelaratan). Namun perlu dicatat ruang lingkup penerapan hukum mashlahah ini adalah bidang mu'amalat. yaitu: 1. Mashlahah itu harus bersifat pasti. kecuali hal-hal yang pada galibnya membahayakan dan memelaratkan hidupnya. yaitu: 1. 1. raga dan kehormatannya) akal pikirannya. syari'ah Islam dalam berbagai pengaturan dan hukumnya mengarah kepada terwujudnya mashlahah (apa yang menjadi kepentingan dan apa yang dibutuhkan manusia dalam kehidupannya di permukaan bumi). karena ibadat itu adalah hak prerogatif Allah sendiri. 1.

jelas memperlihatkan keterkaitannya dengan kewajiban perorangan sebagai imbalan adanya pengakuan atas mashlahah dharuriyyah yang menimbulkan hak-hak mutlak perorangan bagi setiap manusia. Metro Pondok Indah Pondok Indah Plaza I Kav. mencerdaskan kehidupan masyarakat melalui pendidikan. (021) 7501969. Hikmatuttasyri'wa Falsafatih. bersangkutan dengan fardhu 'ain yang dijelaskan dalam hadits lain yang berbunyi (thalb-u 'l-'ilmi faridhatun 'ala kulli muslim). Di samping mashlahah tersebut di atas. Al-Mustashfa. Imam Suyuthi. 3. Seperti misalnya yang menyangkut mashlahah harta benda/kepentingan seorang manusia memiliki harta benda (untuk makan. Al-Umm. Madkhal al-Fiqh al-Islami. di antaranya adalah mencegah kemelaratan orang banyak (kaum Muslim). 2. Imam al-Syathibi. Ini menyangkut hak publik dan berkaitan dengan fardhu kifayah. Imam al-Ghazali. Al-Muwafaqat. Hal-hal ini terkait dengan taklif yang berbentuk fardhu 'ain. seperti yang digambarkan dalam uraian terdahulu tentang al-kulliyyat al-khams. bimbingan keagamaan (fatwa) dan penyebaran buku-buku. M. menegakkan kontrol sosial melalui amar ma'ruf nahi mungkar. UA 20-21 Jakarta Selatan Telp. 4. Imam al Syafi'i. hukum Islam juga mengenal mashlahah 'ammah yang menjadi kepentingan bersama masyarakat atau kepentingan umum (algemeen blang). Sallam Madkur. DAFTAR KEPUSTAKAAN 1. AL-MASHLAHAH AL-'AMMAH Hukum Islam mengenal mashlahah 'ainiyah (kepentingan perorang) dari setiap manusia. 7507173 Fax. -------------------------------------------Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah Editor: Budhy Munawar-Rachman Penerbit Yayasan Paramadina Jln. Seterusnya yang menyangkut mashlahah akal pikiran. 6. pakaian dan tempat tinggalnya) hal ini bersangkutan dengan fardhu 'ain yang dijelaskan dalam tuntunan Rasulullah saw (thalab-u 'l-halal faridhatun 'ala kulli muslim) yaitu kewajiban bekerja mencari rizki memenuhi kebutuhan hidupnya sehari-hari. (021) 7507174 .syari'ah atau ketetapan yang dipersamakan (ijma'). Begitu seterusnya menyangkut tiap mashlahah yang sifatnya dharuriyyah. Al-Asybah wa 'l-Nazhair: 5. yang sifatnya umum yakni yang merupakan kepentingan setiap manusia dalam hidupnya.fardhu kifayah itu adalah urusan umum yang menyangkut kepentingan-kepentingan (mashalih) tegaknya urusan agama dan dunia dalam kehidupan kita. menciptakan lapangan kerja untuk mewujudkan mata pencaharian bagi anggota-anggota masyarakat. Al-Mahmashani. 7501983. Imam Rafi'i menjelaskan.

apa yang tercakup dalam syari'at menjadi lebih luas. Sebagian menerimanya. dengan riba? Tanyalah ulama yang Anda kenal. verba non acta. Anehnya bila golongan yang ditanya --Muhammadiyah. Ulama yang ditanya itu memang mengalami kemusykilan. tentu saja bagi kepentingan umat Islam. bolehkah saya menerima bunga depositonya? Apakah bunga deposito itu sama. Ketika Islam bertemu dengan peradaban-peradaban lain. Syafi'i. menyerang istihsan dan menganggapnya sebagai usaha untuk membuat syari'at (man . Semua golongan itu sepakat (ijma') untuk menyimpan uangnya di bank dan memanfaatkan bunganya. Yang kita sebut syari'at pada mulanya hanya menyangkut masalah keluarga. Bila diminta fatwa lisan atau tulisan. Semua metode ini hanyalah upaya memecahkan persoalan. tapi mereka menganggap lembaga ini sangat bagus. Menurut al-Mawardi dalam al-Ahkam al-Sulthaniyah. Ada tiga kemungkinan jawaban: boleh. Di antara metode-metode itu adalah qiyas. Studi kritis terhadapnya akan segera membuktikan bahwa penggunaan metode-metode tersebut juga menimbulkan persoalan. Deposito dan bunganya tidak dikenal di zaman Rasulullah saw. Secara berangsur-angsur. dari golongan apa saja. Ada memang ketentuan tentang riba.26. para ulama mengembangkan metode istinbath (menarik kesimpulan hukum) baik berdasarkan kaidah-kaidah atau petunjuk umum dalam nash maupun dari penggunaan akal. tapi bahkan memelihara tujuan syar'i.yang menerangkan ketentuan hukum untuk deposito. Tidak ada kesepakatan ulama mengenai kebolehan menggunakan masing-masing di antara ketiga hal itu. istihsan dan istishlah. perdagangan yang sederhana dan hukum pidana.Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota Please direct any suggestion to Media Team Artikel Yayasan Paramadina Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota IV. Persis. Kemudian penguasa Umayyah mengukuhkan lembaga itu dan menamainya Dewan Mazhalim. Mereka tidak menemukan nash --teks al-Qur'an atau Hadits-. tidak tahu. sekali lagi jawabannya akan beragam. Lembaga ini tidak terdapat dalam al-Qur'an dan Sunnah. Mereka bukan saja menganggap dewan ini tidak bertentangan dengan syar'i. NU jawabannya satu. mereka menemukan lembaga yang menyelesaikan urusan orang-orang yang dizalimi. tapi apakah riba sama dengan bunga deposito? Kemusykilan seperti itu telah dihadapi para ulama sepanjang sejarah. misalnya. Tidak jarang perbedaan itu muncul karena perbedaan pemaknaan istilah-istilah itu. sebagian menolakaya. ketika dinasti Umayyah bertemu dengan kebudayaan Persia. PERANAN TUNTUTAN SITUASI DALAM MEMAHAMI HUKUM ISLAM oleh Jalaluddin Rakhmat Jika saya mendepositokan uang saya di bank. Kebanyakan di antara umat Islam masih belum mendapat jawaban yang tegas dan memuaskan. Para ulama merumuskan syari'at dalam bentuk fiqh yang mengatur bidang-bidang kehidupan yang lebih kompleks. tidak boleh.

Yang demikian itu disebut istihsan. para ulama yang mempertahankan istihsan mengambil dalil dari al-Qur'an dan Sunnah yang menyebutkan kata istihsan dalam pengertian denotatif ini (yaitu. artinya. Adapun cara menggunakan qiyas sebagai berikut: Seorang mujtahidin melakukan penelitian apakah ada dalil yang menunjukkan dalil tentang illat untuk menentukan hukum far'.istahsana fa qad syara'a). Kadang-kadang mujtahid meninggalkan satu dalil kepada dalil yang lebih kuat. harus dilakukan berdasarkan istihsan. atau meninggalkan qiyas kepada atsar. kita akan menemukan banyak sekali definisi istihsan --yang tidak selalu menunjukkan . Tapi ketika Syafi'i menyerang istihsan seperti yang dimaknakan olehnya. Sunnah. atau mashlahat. sebagai pengantar. atau qiyas. saya kutipkan penjelasan Sayyid Musa Tuwanat: [1] Bila mujtahid tidak menemukan hukum dalam al-Qur'an. Pendirian Dewan Madzalim dipandang baik. Imam Malik juga mengambil qiyas. istihsan artinya memandang baik terhadap sesuatu. Namun sebelum itu. ia tidak keluar dari upaya menjalankan nash. atau kepada ijma' atau kepada dharurat. Maliki dan Hanafi memandang istihsan bahkan harus didahulukan dari qiyas. walaupun ia berbeda dari mujtahidin lainnya dalam cara dan cakupan penggunaan qiyas. ijma' dan pendapat para sahabat. Dalam semua keadaan itu. Bila kita mengacu pada literatur. Inilah yang ditetapkan oleh Imam Syafi'i dan ditegaskan al-Syirazi dan al-Maqdisi. al-Zumar: 55. atau kepada maslahat. [2] Bila illat itu diketahui dengan menggunakan cara-cara yang dikenal dalam kitab ushul dan ada hubungan antara illat ini dengan kasus yang akan ditetapkan hukumnya. tapi sesudah mengambil mashalih mursalah dan istihsan. orang-orang yang mendengarkan kata dan diturutinya yang paling baik. yang tidak lain daripada istihsan menurut mazhab Hanafi. PENGERTIAN ISTIHSAN Secara denotatif. ia menggunakan metode qiyas khafi. "Apa yang dianggap kaum Muslim baik. menurut Allah baik juga." --Hadits menurut riwayat Abdullah bin Mas'ud. ia bersandar kepada qiyas. Tulisan ini akan dimulai dengan mencoba menyelesaikan kemelut makna istihsan dan istishlah dan diakhiri dengan petunjuk praktis penggunaannya dalam menjawab tuntutan situasi sekarang ini. Menarik sekali. Kadang-kadang qiyas ditinggalkan karena ada dalil yang kuat atsarnya. dan sudah ditegaskan hubungannya disamakanlah hukum yang asal dengan far' berdasarkan kesamaan illat seperti yang dipahaminya. Sunnah dan ijma. Imam Ahmad pun bersandar kepada qiyas dengan syarat sesudah meninjau hukum itu dalam al-Qur'an dan Hadits dalam maknanya yang lebih luas. Tidak ada madzhab yang menolak penggunaan istihsan kecuali madzhab Dzahiriyah dan Syi'ah. "Dan turutlah (pimpinan) yang sebaik-baiknya yang telah diturunkan kepadamu dari Tuhanmu". Begitu pula para pengikut Hanafi yang membahas qiyas sesudah al-Kitab.s al-Zumar: 18. Malik menyebut istihsan sebagai sembilan persepuluh ilmu (Al-istihsan tis'at a'syar al-'ilm). Q. atau tidak ada yang dapat dijadikan hujjah dari pendapat-pendapat mereka.

referensi yang sama. Ada definisi yang dibuat dengan memperhatikan segi-segi politis dan bukan segi-segi ilmiahnya. Untuk menunjukkan bagaimana definisi-definisi itu lebih banyak menyulitkan daripada membantu, kita lihat contoh di bawah ini: 1. Istihsan adalah meninggalkan qiyas untuk mengambil yang lebih sesuai dengan orang banyak. 2. Istihsan adalah mencari kemudahan dari hukum-hukum yang dihadapi orang banyak atau orang tertentu. 3. Istihsan adalah mengambil keluasan dan mencari kelegaan. 4. Istihsan adalah mengambil yang permisif dan memilih yang di dalamnya ada ketenangan (semuanya dari al-Sarkhashi). 5. Istihsan artinya meninggalkan kepastian qiyas kepada qiyas yang lebih kuat atau mentakhshiskan qiyas dengan dalil yang lebih kuat (al-Bazdawi dari madzhab Hanafi). 6. Istihsan artinya mengamalkan yang lebih kuat di antara dua dalil (al-Syathibi dari madzhab Maliki). 7. Istihsan artinya meninggalkan hukum masalah dari yang semacamnya karena dalil syara' yang tertentu (al-Thufi dari madzhab Hambali). 8. Istihsan adalah apa yang dipandang baik oleh mujtahid dengan akalnya. [3] Karena kita mengalami kesulitan memahami istihsan dari berbagai definisi itu, marilah kita ambil contoh kasus yang oleh para mujtahid disebut sebagai istihsan. Melihat aurat perempuan yang bukan muhrim haram, karena dapat menimbulkan "fitnah" (membawa orang kepada kemaksiatan). Yang dalam kurung itu disebut 'illat yang sangat jelas (kita sekarang sedang melakukan qiyas jaliy). Bagaimana hukumnya seorang dokter yang harus memeriksa pasien wanitanya? Bila ia tidak melihat auratnya, ia tak bisa menolong pasien itu dengan baik. Ia harus menolong pasien itu untuk mengembalikan kesehatannya, untuk kemaslahatan pasiennya. Tapi alasan ('illat) ini hanya dalam kasus pasien saja dan dianggap tegas (kita sedang melakukan qiyas khafiy). Bila kita meninggalkan qiyas jaliy dan mengambil qiyas khafiy, kita melakukan istihsan. Kadang-kadang seorang mujtahid meninggalkan qiyas karena menemukan hadits yang lebih kuat, atau karena memperhatikan kemaslahatan, atau karena 'urf (adat kebiasaan yang sudah lazim). Bila kita memperhatikan praktek-praktek yang disebut istihsan, kita menemukan istihsan dalam tiga pengertian: Pertama, istihsan berarti memilih yang lebih kuat di antara dua dalil yang bertentangan atau berbeda (berikhtilaf). Boleh jadi ikhtilaf di antara dua dalil lafzhi --yakni dalil yang diambil dari al-Qur'an dan Sunnah. Atau ikhtilaf di antara dua dalil ghair lafzhi; misalnya, antara qiyas jaliy dengan qiyas khafiy. Atau ikhtilaf di antara dalil lafzhi dan ghair lafzhi. Marilah kita mulai dengan ikhtilaf di antara dua dalil lafzhi. Dalam hal ini, ikhtilaf dapat berupa tazakam dan ta'arudh. Yang dimaksud dengan Tazabum adalah pembenaran dua hukum yang berasal dari syara', yang tidak mungkin digabungkan. Ta'arudh

artinya perbedaan hukum shawar al-masalah).

karena

perbedaan

kasus

(ikhtilaf

Kita melakukan istihsan bila kita mentarjih (menganggap lebih baik) salah satu di antaranya. Sambil memberikan contoh-contohnya, saya akan menunjukkan petunjuk-petunjuk praktis penggunaan istihsan pada tazahum dan ta'arudh. (1) Dulukan hukum yang mendesak (mudhiq) di atas hukum yang memberikan kelonggaran (musi'). Misalnya, antara menghilangkan najis di masjid dengan melakukan shalat pada awal waktunya, atau antara menolong orang yang celaka dengan melakukan shalat Jum'at. Pilihlah menghilangkan najis dan menolong orang yang celaka. (2) Dulukan yang tidak ada penggantinya dengan yang ada penggantinya. Misalnya, menggunakan air untuk memuaskan rasa haus atau untuk berwudhu'. Wudhu' itu ada penggantinya, yaitu tayammum. Tapi memuaskan haus tidak bisa diganti dengan batu. (3) Dulukan yang sudah tertentu (mu'ayyan) di atas urusan yang memberikan alternatif (mukhayyar). Misalnya memenuhi nadzar atau membayar kifarat. Anda bernadzar untuk memberikan makanan bagi orang miskin, tapi juga Anda harus membayar kifarat puasa. (4) Dulukan yang lebih penting dari pada yang penting. Anda wajib melakukan haji dan pada saat yang sama Anda harus membayar hutang. Bayarlah hutang Anda lebih dulu. Ta'arudh terjadi kalau ada dua dalil syara' yang bertentangan. Para ulama ushul mengusulkan beberapa cara, yang tidak dapat kita perinci satu per satu: mendulukan yang mutlak di atas yang muqayyad, takhshish di atas 'am, nasikh di atas mansukh, hakim di atas mahkum, al-Qur'an di atas Sunnah, yang disepakati di atas yang diikhtilafi. Kedua, istihsan berarti mengambil sesuatu yang sudah dipandang baik oleh 'urf atau akal. Misalnya, mencatat pernikahan di kantor departemen Agama. Istihsan dalam arti ini harus dilakukan dengan sangat hati-hati. Karena apa yang dipandang baik 'urf atau akal itu boleh jadi sangat subyektif, sehingga besar kemungkinan mengikuti bias-bias sosio-psikologis. Kita juga tidak cukup waktu membicarakan hal ini. Ketiga, istihsan berarti meninggalkan dalil-dalil tertentu untuk mendatangkan maslahat atau menegakkan hukum di atas pertimbangan maslahat yang lima: memelihara agama, jiwa, akal, keturunan dan harta. Istihsan jenis terakhir ini disebut juga istishan atau al-mashalih al-mursalah. PENUTUP Yang terakhir ini exercise. Apakah cara berpikir yang berikut ini termasuk istihsan atau bukan. Bunga deposito dapat dibenarkan karena beberapa pertimbangan. Pertama, uang yang disimpan mengalami penurunan nilai karena inflasi. Tingkat inflasi bisa jadi lebih tinggi dari bunga deposito. Kedua, dengan menyimpan, deposan harus membayar opportunity cost yang boleh jadi lebih mahal dari bunga deposito. Ketiga, mendepositokan uang juga siap memikul resiko, yang nilainya dapat dihitung (serta mungkin saja lebih besar dari bunga

deposito). Walhasil, bila Anda tidak mengambil deposito Anda, Anda akan menjadi pihak yang terzalimi atau teraniaya. Padahal, agama menyatakan "tidak boleh menindas dan tidak boleh ditindas"?? CATATAN 1. Al-Ijtihad wa Muda Hajatina ilaih fi Hadza al-'Ashr, Mesir: Dar al-Kutub al-Haditsah, hal. 324 - 325. 2. Ada empat rukun qiyas: (1) asalnya, yakni kasus yang ada dalam nas, misalnya minum khamar; (2) hukumnya, yakni haram; (3) far', kasus baru yang akan ditetapkan hukumnya, misalnya bir; (4) illat atau washf jami', yakni sebab yang menyamakan kedua kasus itu, misalnya memabukkan atau minuman keras. 3. Lihat, Muhammad Taqiy, Al-Ushul al-Ammah fi al-Ammah fi al-fiqh al-Muqaran, Beirut: Dar al-Andalus, 1979, hal. 361-362. -------------------------------------------Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah Editor: Budhy Munawar-Rachman Penerbit Yayasan Paramadina Jln. Metro Pondok Indah Pondok Indah Plaza I Kav. UA 20-21 Jakarta Selatan Telp. (021) 7501969, 7501983, 7507173 Fax. (021) 7507174 Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota
Please direct any suggestion to Media Team

Artikel Yayasan Paramadina
Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota IV.25. TAQLID DAN IJTIHAD (1/4) MASALAH KONTINUITAS DAN KREATIVITAS DALAM MEMAHAMI PESAN AGAMA oleh Nurcholish Madjid Jika masalah taqlid dan ijtihad harus ditelusuri ke belakang, barangkali yang paling tepat ialah kita menengok ke zaman 'Umar ibn al-Khathtab, Khalifah ke II. Bagi orang-orang muslim yang datang kemudian, khususnya kalangan kaum Sunni, berbagai tindakan 'Umar dipandang sebagai contoh klasik persoalan taqlid dan ijtihad. Salah satu hal yang memberi petunjuk kita tentang prinsip dasar 'Umar berkenaan dengan persoalan pokok ini ialah isi suratnya kepada Abu Musa al-Asy'ari, gubernur di Basrah, Irak: "Adapun sesudah itu, sesungguhnya menegakkan hukum (al qadla) adalah suatu kewajiban yang pasti dan tradisi (Sunnah) yang harus dipatuhi. Maka pahamilah jika sesuatu diajukan orang kepadamu. Sebab, tidaklah ada manfaatnya berbicara mengenai kebenaran jika tidak dapat dilaksanakan. Bersikaplah ramah antara sesama manusia dalam kepribadianmu, keadilanmu dan majlismu, sehingga seorang yang berkedudukan tinggi (syarif) tidak sempat berharap akan keadilanmu.

Memberi bukti adalah wajib atas orang yang menuduh, dan mengucapkan sumpah wajib bagi orang yang mengingkari (tuduhan). Sedangkan kompromi (ishlah, berdamai) diperbolehkan diantara sesama orang Muslim, kecuali kompromi yang menghalalkan hal yang haram dan mengharamkan hal yang halal. Dan janganlah engkau merasa terhalang untuk kembali pada yang benar berkenaan dengan perkara yang telah kau putuskan kemarin tetapi kemudian engkau memeriksa kembali jalan pikiranmu lalu engkau mendapat petunjuk kearah jalanmu yang benar; sebab kebenaran itu tetap abadi, dan kembali kepada yang benar adalah lebih baik daripada berketerusan dalam kebatilan. Pahamilah, sekali lagi, pahamilah, apa yang terlintas dalam dadamu yang tidak termaktub dalam Kitab dan Sunnah, kemudian temukanlah segi-segi kemiripan dan kesamaannya, dan selanjutnya buatlah analogi tentang berbagai perkara itu, lalu berpeganglah pada segi yang paling mirip dengan yang benar. Untuk orang yang mendakwahkan kebenaran atau bukti, berilah tenggang waktu yang harus ia gunakan dengan sebaik-baiknya. Jika ia berhasil datang membawa bukti itu, engkau harus mengambilnya untuk dia sesuai dengan haknya. Tetapi jika tidak, maka anggaplah benar keputusan (yang kau ambil) terhadapnya, sebab itulah yang lebih menjamin untuk menghindari keraguan, dan lebih jelas dari ketidakpastian (al-a'ma, kebutaan, kegelapan) ... Barang siapa telah benar niatnya kemudian teguh memegang pendiriannya, maka Allah akan melindunginya berkenaan dengan apa yang terjadi antara dia dan orang banyak. Dan barang siapa bertingkah laku terhadap sesama manusia dengan sesuatu yang Allah ketahui tidak berasal dari dirinya (tidak tulus), maka Allah akan menghinakannya ..." [1] Dari kutipan surat yang lebih panjang itu ada beberapa prinsip pokok yang dapat kita simpulkan berkenaan dengan masalah taqlid dan ijtihad. Prinsip-prinsip pokok itu ialah: Pertama, prinsip keotentikan (authenticity). Dalam surat 'Umar itu prinsip keotentikan tercermin dalam penegasannya bahwa keputusan apapun mengenai suatu perkara harus terlebih dahulu diusahakan menemukannya dalam Kitab dan Sunnah. Kedua, prinsip pengembangan. Yaitu, pengembangan asas-asas ajaran dari Kitab dan Sunnah untuk mencakup hal-hal yang tidak dengan jelas termaktub dalam sumber-sumber pokok itu. Metodologi pengembangan ini ialah penalaran melalui analogi. Pengembangan ini diperlukan, sebab suatu kebenaran akan membawa manfaat hanya kalau dapat terlaksana, dan syarat keterlaksanaan itu ialah relevansi dengan keadaan nyata. Ketiga, prinsip pembatalan suatu keputusan perkara yang telah terlanjur diambil tetapi kemudian ternyata salah, dan selanjutnya, pengambilan keputusan itu kepada yang benar. Ini bisa terjadi karena adanya bahan baru yang datang kemudian, yang sebelumnya tidak diketahui. Keempat, prinsip ketegasan dalam mengambil keputusan yang menyangkut perkara yang kurang jelas sumber pengambilannya (misalnya, tidak jelas tercantum dalam Kitab dan Sunnah), namun perkara itu amat penting dan mendesak. Ketegasan dalam hal ini bagaimanapun lebih baik daripada keraguan dan ketidakpastian.

Kelima, prinsip ketulusan dan niat baik, yaitu bahwa apapun yang dilakukan haruslah berdasarkan keikhlasan. Jika hal itu benar-benar ada, maka sesuatu yang menjadi akibatnya dalam hubungan dengan sesama manusia (seperti terjadinya kesalahpahaman), Tuhanlah yang akan memutuskan kelak (dalam bahasa 'Umar, Allah yang akan "mencukupkannya"). Dari prinsip-prinsip itu, prinsip keotentikan adalah yang pertama dan utama, disebabkan kedudukannya sebagai sumber keabsahan. Karena agama adalah sesuatu yang pada dasarnya hanya menjadi wewenang Tuhan, maka keotentikan suatu keputusan atau pikiran keagamaan diperoleh hanya jika ia jelas memiliki dasar referensial dalam sumber-sumber suci, yaitu Kitab dan Sunnah. Tanpa prinsip ini maka klaim keabsahan keagamaan akan menjadi mustahil. Justru suatu pemikiran disebut bernilai keagamaan karena ia merupakan segi derivatif semangat yang diambil dari sumber-sumber suci agama itu. TAQLID Prinsip keotentikan juga menyangkut masalah konsistensi ketaatan pada asas. Konsistensi itu, pada urutannya, akan menjadi batu penguji lebih lanjut tingkat keabsahan suatu pemikiran. Karena itu dalam pengembangan suatu pemikiran keagamaan tidak mungkin dihindari kewajiban memperhatikan hal-hal parametris dalam sistem ajaran sumber-sumber suci, sebab hal-hal parametris itulah yang menjadi tulang punggung kerangka ajarannya yang abadi (sesuai untuk segala zaman dan tempat). Hal-hal parametris itu dalam Kitab Suci disebut sebagai al-muhkamat (petunjuk-petunjuk dengan makna jelas), yang juga disebut sebagai prinsip dasar atau induk ajaran Kitab Suci (umm al-Kitab), kebalikan petunjuk-petunjuk metaforikal, alegoris dan interpretatif (mutasyabihat). [2] Karena keontentikan dan konsistensi mengimplikasikan penerimaan terhadap suatu postulat, premis atau formula dasar, dengan sendirinya ia juga mengandung makna taqlid menurut makna asli (generik) kata-kata itu, yakni, sebelum ia menjadi istilah teknis dengan makna sekunder seperti kini umum dipahami. Sebab, taqlid dalam arti generik merupakan unsur sikap menerima kebenaran suatu postulat berdasarkan pengakuan bahwa sumber atau pembuat postulat mempunyai wewenang penuh dan tinggi. Karena salah satu konsekuensi konsep tentang Tuhan ialah konsep tentang Dia Yang Maha Berwenang, maka menerima dengan penuh keyakinan terhadap kebenaran ajaran-Nya dengan sendirinya merupakan implikasi kepercayaan atau iman kepada Rasul dan ajaran-ajaran yang dibawa-Nya. [3] Iman yang sempurna dengan sendirinya mengandung semangat sikap pasrah sepenuhnya. Segi lain tentang makna penting taqlid ialah yang menyangkut masalah akumulasi informasi dan pengalaman. Taqlid sebagai pola penerimaan otoritas pendahulu dalam rentetan pengembangan ilmu dan pemikiran hampir tidak mungkin dihindari. Sebab, ekonomi pemikiran tidak mengizinkan terlalu banyak bersandar pada kemampuan pribadi secara terpisah dan atomistis, sehingga segala sesuatu akan menjadi tanggung jawab sendiri, dengan keharusan merintis setiap pengembangan dari titik nol (from the scratch). Pengetahuan

manusia seperti yang ada sekarang ini yang menandai zaman modern ("iptek") adalah hasil kumulatif penggalian informasi dan pengalaman yang melibatkan hampir seluruh ummat manusia sepanjang sejarah yang telah berjalan ribuan tahun. Deretan pengalaman dan pengawetan serta pelembagaan dalam karya-karya intelektual sepanjang masa itu menjadi pohon tradisi intelektual universal ummat manusia, yang tanpa itu kekayaan dan kesuburan seperti yang ada sekarang akan menjadi sama sekali mustahil. Memulai suatu pengembangan pemikiran dan dalam hal ini juga pengembangan bidang budaya manusia manapun dari titik nol akan hanya berakhir dengan kemiskinan (malah pemiskinan - improverishment) hasil usaha itu sendiri. Karena itu taqlid dalam makna generik yang positif merupakan dasar penumbuhan kekayaan intelektual yang integral, yakni integral dalam arti bahwa suatu bangunan tradisi intelektual memiliki akar-akar dalam sejarah. Jadi, keotentikan historis, yang keontentikan itu sendiri diperlukan jika diinginkan daya kembang dan kreativitas yang maksimal. Maka, untuk sekedar misal, seorang Albert Camus dalam tradisi intelektual Eropa (Barat) yang telah tampil dengan filsafat kontemporernya tentang eksistensialisme absurdity yang kontroversial itu pun harus dipahami sebagai bagian integral tradisi intelektual di sana yang akar-akarnya bisa ditelusuri jauh ke masa lalu, sampai ke masa Yunani kuno. Albert Camus, dalam jalan pikiran orang-orang Barat, tidak dapat dipahami tanpa melihat salah satu jalur konsistensi dan benang merah pemikiran Barat itu sendiri, melintasi zaman sampai ke masa lalu yang sangat jauh. Sekalipun konsep absurdity dapat dilihat sebagai Camus, namun sesungguhnya ia adalah salah satu hasil pertumbuhan kumulatif pemikiran Barat. [4] Ia memiliki keabsahan sebagai pemikiran Barat yang integral. Jadi keintegralan dan keotentikan diperkuat oleh adanya konstinuitas tradisi yang berkembang. Tetapi segi positff taqlid ini hanya terwujud jika ia tidak menjadi paham tersendiri yang tertutup, yang tumbuh menjadi "isme" terpisah. Sebab, taqlid seperti ini (yang barangkali lebih tepat disebut "taqlidisme") mengisyaratkan sikap penyucian masa lampau dan pemutlakan otoritas tokoh sejarah. Memang benar, masa lampau selalu mengandung otoritas. Tapi, justru demi pengembangan bidang yang menjadi otoritasnya, masa lampau beserta tokoh-tokohnya harus senantiasa terbuka untuk diuji dan diuji kembali. Pengujian itu dilakukan dengan pertama-tama, menemukan dan menginsafi segi-segi yang merupakan imperatif ruang dan waktu yang ikut membentuk suatu sosok pemikiran. Sebab, suatu sosok pemikiran tidak pernah muncul dan berkembang dari kevakuman. Ia selalu merupakan hasil interaksi berbagai faktor, dan faktor ruang dan waktu acap kali dominan. (bersambung 2/4) -------------------------------------------Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah Editor: Budhy Munawar-Rachman Penerbit Yayasan Paramadina Jln. Metro Pondok Indah Pondok Indah Plaza I Kav. UA 20-21 Jakarta Selatan Telp. (021) 7501969, 7501983, 7507173

Fax. (021) 7507174 Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota
Please direct any suggestion to Media Team

Artikel Yayasan Paramadina
Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota IV.25. TAQLID DAN IJTIHAD (2/4) MASALAH KONTINUITAS DAN KREATIVITAS DALAM MEMAHAMI PESAN AGAMA oleh Nurcholish Madjid Kedua, dengan menghadapkan sosok pemikiran itu pada kenyataan-kenyataan disini sekarang. Penghadapan ini diperlukan untuk melihat relevansi suatu sosok pemikiran historis, karena ia akan berguna untuk kita, disini dan kini. Seperti tubuh manusia yang memiliki mekanisme penolakan terhadap benda-benda asing yang tidak cocok dengan dirinya lewat gejala alergi, ruang dan waktu pun, yang mengejawantah dalam sistem sosial, memiliki mekanisme penolakan terhadap sesuatu yang tidak sesuai tanpa membiarkan diri secara pasif menjadi tawanan ruang dan waktu, kita tidak bisa dihadapkan pada kebutuhankebutuhan nyata yang didiktekan dan ditentukan oleh lingkungan kita. HIKMAH AGAMA Tujuan seorang Rasul diutus kepada umat manusia antara lain untuk mengajarkan Kitab Suci dan hikmah kepada mereka. Karena cakupan maknanya yang demikian luas, "hikmah" diterangkan kedalam berbagai pengertian dan konsep, diantaranya wisdom atau kewicaksanaan (dari bahasa Jawa, untuk membedakannya dari kata "kebijaksanaan"), ilmu pengetahuan, filsafat, malahan "blessing in disguise" (untuk menekankan segi kerahasiaan hikmah). [6] Mendasari konsep itu ialah kesadaran bahwa suatu "hikmah" selalu mengandung kemurahan dan rahmat Ilahi yang maha luas dan mendalam, yang tidak seluruhnya kita mampu menangkapnya. Maka disebutkan bahwa siapa dikaruniai hikmah, ia sungguh telah mendapatkan kebajikan yang berlimpah-ruah. [6] Jika "hikmah" itu kita hubungkan kembali pada istilah "muhkam" (kedua kata itu terambil dari akar kata yang sama, yaitu h-k-m), maka dalam menumbuhkan tradisi intelektual yang integral dan kreatif berdasarkan kaidah taqlid dan ijtihad itu memerlukan kemampuan menangkap hikmah pesan Ilahi seperti yang terlembagakan dalam ajaran-ajaran agama. Berkenaan dengan ini, dan dikaitkan pada keterangan dalam Kitab Suci tentang adanya ayat-ayat mahkam dan mutasyabih tersebut, menarik sekali kita mengangkat penafsiran A. Yusuf Ali atas makna muhkam itu: [7] ... The Commentators usually understand the verses "of established meaning" (muhkam) to refer to the categorical orders of the Shari'at (or the Law), which are plain to everyone's understanding. But perhaps the meaning is wider: "the mother of the Book" must include the very foundation on which all Law rests, the essence of God's Message, as

distinguished from the various allegories, and ordinances.

illustrative

parables,

If we refer to xi. 1 and xxxix. 23, [8] we shall find that in a sense the whole of the Qur'an has both "established meaning" and allegorical meaning. The division is not between the verses, but between the meanings to be attached to them. Each is but a Sign or Symbol: what it represents is something immediately applicable, and something eternal and independent of time and space, - the "Forms of Ideas" in Plato's Philosophy. The wise man will understand that there is an "essence" and an illustrative clothing given to the essence, throught the Book. We must try to understand it as best we can, but not waste our energies in disputing about matters beyond our depth.[9] Sesuatu dari ajaran Kitab Suci yang abadi dan tak terikat oleh waktu dan ruang (eternal and independent of time and space) dalam pengertian tentang muhkam itu tidak lain ialah makna, semangat, atau tujuan universal yang harus ditarik dari suatu materi ajaran agama yang bersifat spesifik, atau malah mungkin ad-hoc. Kadang-kadang makna dan tujuan universal dibalik suatu ketentuan spesifik itu sekaligus diterangkan langsung dalam rangkaian firman itu sendiri. Tapi, kadang-kadang makna itu harus ditarik melalui proses konseptualisasi atau ideasi (ideation). Contoh yang pertama ialah firman Ilahi yang mengurus perceraian Zaid (seorang bekas budak yang dimerdekakan dan diangkat anak oleh Nabi) dari istrinya, Zainab (seorang wanita bangsawan Quraisy dengan status sosial tinggi dan rupawan), dan perceraian itu kemudian diteruskan dengan dikawinkannya Nabi dengan Zainab oleh Tuhan. Maka terlaksanalah perkawinan seseorang -dalam hal ini Nabi menikahi bekas isteri anak angkatnya. Namun kejadian yang bagi orang-orang tertentu terdengar sebagai skandal ini justru -katakanlah- dirancang oleh Tuhan untuk suatu maksud yang mendukung nilai universal yang sejak semula menjadi klaim ajaran Islam, yaitu nilai sekitar konsep kealamian (naturalness) yang suci, yakni konsep fithrah. Dalam hal ini, anak angkat bukanlah anak alami seperti anak (biologis) sendiri, sehingga juga tidaklah alami dan tidak pula wajar jika hubungannya dengan ayah angkatnya dikenakan ketentuan yang sama dengan anak alami, termasuk dalam urusan nikah. Maka, kejadian ad-hoc yang menyangkut Zaid, Zainab dan Nabi itu langsung diterangkan tujuan universalnya, yaitu "agar tidak ada halangan bagi kaum beriman untuk mengawini (bekas) isteri-isteri anak-anak angkat mereka." [10] Tujuan ini jelas langsung terkait dengan segi universal yang lebih menyeluruh, yaitu konsep atau ajaran fithrah, yang mengimplikasikan bahwa segala sesuatu dalam tatanan hidup manusia ini hendaknya diatur dengan ketentuan yang sealami mungkin sesuai dengan hukum alam (Qadar) [11] dan hukum sejarah (Sunnat-u 'l-Lah) yang pasti dan tak berubah-ubah. [12] Pandangan bahwa segala sesuatu harus sealami mungkin adalah benar-benar sentral namun menuntut pemahaman mendalam yang disebut sebagai agama ftthrah yang hanif. Itulah hikmah pesan agama dalam arti yang seluas-luasnya dan secara global. Dalam arti yang lebih terinci, konsep hikmah agama dinyatakan dalam berbagai ungkapan, seperti telah menjadi tema dan judul sebuah buku yang cukup terkenal, Hikmat al-Tasyri' wa Falsafatuhu. [13] Hikmah pesan agama

jantung kawan (Oikoumene). Dalam sejarah masyarakat Muslim sempat tumbuh pandangan yang hampir menabukan ijtihad. namun ia dibuat dengan tujuan menjamin adanya kewenangan dan tanggung jawab. tapi justru karena itu menuntut persyaratan banyak dan berat. Kemudian sifat memabukkan itu sendiri dihukumnya sebagai tidak baik. dan meluas serta kompleks. mendalam. pelukisan tentang kegiatan ijtihad sebagai sesuatu yang amat eksklusif telah melahirkan persepsi salah. khususnya pembahasan bidang hukum (syari'ah -par excellence). yaitu kerusakan mental. Karena itu di kalangan ulama klasik ada pendapat hampir merata bahwa ijtihad adalah suatu tugas yang penuh gengsi. Sikap penabuan dengan sendirinya tidak dapat dibenarkan meskipun sesungguhnya ia muncul dari obsesi para ulama pada ketertiban dan ketenangan atau keamanan. karena selama paling kurang tujuh atau delapan abad. Contoh nyata penerapan konsep ini ialah yang dikenakan pada hukum khamr. justru merupakan salah satu ajaran sentral agama Islam. [14] IJTIHAD Uraian di atas dibuat dengan tujuan memberi gambaran bahwa masalah taqlid dan ijtihad. Dan selanjutnya. Tapi. yang juga sering disebut dengan manath al-hukm (sumbu perputaran hukum). orang-orang muslim terbiasa berpikir bahwa dunia ini milik mereka. Bahwa rationale diharamkannya minuman keras (alkoholik. sebagai salah satu akibat penguasaan mereka atas daerah-daerah sentral peradaban manusia. kerusakan mental itu -betapa pun jelas negatif. Padahal memelihara fithrah itulah. yaitu bahwa ia berarti hilangnya akal sehat yang menjadi bagian dari fithrah manusia. dalam perkembangan selanjutnya penabuan itu juga dapat dilihat sebagai kelanjutan masa kegelapan (obskurantisme) dalam pemikiran Islam. ijtihad itu diajukan orang sebagai salah satu tema pokok usaha reformasi atau penyegaran kembali pemahaman terhadap agama. dan hak mengatur dunia hanya ada pada mereka. ijtihad dikemukakan kembali sebagai metode terpenting menghilangkan situasi anomalous dunia Islam yang kalah dan dijajah oleh dunia Kristen Barat. Para pembaharu mendapati bahwa praktek taqlid yang umum . yaitu tema-tema teori politik Sunni. terutama daerah Nil sampai Ozus. Berkaitan dengan ini berbagai konsep yang telah mapan dalam pembahasan agama Islam. lebih dari pada yang dipahami umum. Melalui tokoh-tokoh pembaharu seperti Muhammad Abduh dan Sayid Ahmad Khan. Syarat-syarat itu sekarang boleh kedengaran kuno. seperti khamar) ialah sifatnya yang memabukkan. Konsep-konsep ini dibuat berkenaan dengan perlunya menemukan suatu rationale yang mendasari penetapan suatu hukum. Maka ijtihad bisa dilakukan hanya oleh orang-orang tertentu yang benar-benar telah memenuhi syarat itu. karena ia mengakibatkan suatu jenis kerusakan. (Disebut anomalous. Kini. seperti konsep sekitar 'illat al-hukm (Latin: ratio legis).ini juga dikenal dengan istilah lain sebagai maqashid al-syari'ah (maksud dan tujuan syari'ah). menyangkut hal-hal yang cukup rumit.masih bisa dilihat rationalenya sehingga ia negatif. Hanya saja. khususnya di masa-masa penuh kekacauan menjelang keruntuhan Baghdad.

malah juga Rasulullah sendiri! Menurut al-Makki.menguasai orang-orang muslim. selain . (021) 7501969. tetapi mengikuti berbagai pertimbangan kemaslahatan dan melihat makna-makna yang merupakan poros penetapan hukum (manath al-tasyri') yang diridlai Allah s.w." [18] (bersambung 3/4) -------------------------------------------Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah Editor: Budhy Munawar-Rachman Penerbit Yayasan Paramadina Jln. telah berkembang menjadi suatu sikap mental." [17] Pandangan 'Umar ini sejalan dengan. Ia melukiskan semangat kosmopolit zaman klasik Islam. devotional). 7507173 Fax. [15] Ini dengan mudah dilihat gejala xenophobia. 7501983. khususnya jika berbentuk unsur dari budaya asing. dan tidak memandang baik terhadap sikap jumud dalam hukum. dari kalangan generasi awal Islam. sungguh menarik pemaparan pemikiran al-Makki bahwa melakukan ijtihad. Sebab. paling untung chauvinisme. TAQLID DAN IJTIHAD (3/4) MASALAH KONTINUITAS DAN KREATIVITAS DALAM MEMAHAMI PESAN AGAMA oleh Nurcholish Madjid Agaknya jalan pikiran 'Umar dari zaman klasik (salaf) Islam itu muncul lagi pada orang-orang tertentu dari kalangan para pemikir Islam zaman modern. tidak hanya para Sahabat seperti 'Umar dll. sepanjang penuturannya." [19] Berkenaan dengan itu. [16] Bahkan 'Umar "tidak memandang semua perkara bersifat ta'abbudi (bernilai 'ubudiyyah. menurut kerangka aturan yang telah mapan tentang pengambilan hukum dan norma-norma moral Islam. dan tentang apa yang paling baik disini dan sekarang. jika bukan malah pandangan teologis. (021) 7507174 Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota Please direct any suggestion to Media Team Artikel Yayasan Paramadina Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota IV. Metro Pondok Indah Pondok Indah Plaza I Kav. khususnya zaman 'Umar. Gejala ini pula yang hari-hari ini dilihat al-Makki. dan merupakan konsekwensi dari. UA 20-21 Jakarta Selatan Telp. 'Umar adalah seorang yang "berpikiran luas.25. penegasannya bahwa "tidaklah ada gunanya berbicara tentang kebenaran namun tidak dapat dilaksanakan. meskipun umat itu kafir. khususnya Muhammad Abduh. paling celaka kecemasan dan rendah diri. yang meliputi penolakan secara sadar terhadap segala sesuatu yang baru. Xenophobia itu sendiri merupakan gejala. baik awam maupun ulama. Tokoh pembaharu modern paling berpengaruh ini "memahami ijtihad dalam pengertiannya yang luas sebagai penelitian bebas..t. yang tidak segan-segan mengambil apa saja yang baik dari umat-umat lain. seorang pemikir Makkah dari madzhab Maliki.

kiranya jelas bahwa taqlid dan ijtihad sama-sama diperlukan dalam masyarakat manapun. Tapi. para Sahabat Nabi dahulu. Hadlrat al-Syaikh K. namun tidak mustahil. sampai ia akhirnya bertemu (liqa. khususnya pemikiran. [23] Akhirnya. sebagai sama-sama kegiatan manusiawi yang serba terbatas. Nabi juga sering melakukan ijtihad dengan menggunakan metode analogi atau qiyas. dan saling menghargai pendapat yang ada di kalangan mereka. pemikiran yang dihayati secara ideologis-absolutistik) cenderung untuk selalu bakal ditinggalkan zaman. Al-Makki mengatakan bahwa dalam berijtihad Nabi selalu benar. Jika diluar itu Nabi bisa salah. yang menegaskan bahwa siapa yang berijtihad dan benar. meskipun amat jarang. namun tanpa menjadi satu) dengan Kebenaran. begitu pula para Imam madzhab sendiri. Inilah barangkali letak kebenaran ucapan Karl Mannheim bahwa setiap ideologi (yakni. Sesuatu dari kreasi manusiawi yang diabsolutkan akan secepat itu pula akan terobsolutkan. atau kalaupun salah beliau akan segera mendapat teguran Ilahi melalui wahyu yang suci sehingga kesalahan itu tidak melembaga dan menjadi satu dengan pola hidup orang banyak. [22] Dan karena banyaknya jalan menuju Kebenaran itu. dan siapa yang . [20] (Dalam hal ini al-Makki mirip dengan Ibn Taymiyyah yang berpendapat bahwa Nabi bersifat ma'shum hanya dalam tugas menyampaikan (al-balagh) wahyu. Maka problema yang dihadapkan kepada setiap orang ialah bagaimana ia teguh tanpa menjadi kemutlakan-kemutlakan. jalan itu sebanyak jumlah mereka yang mencarinya dengan sungguh-sungguh. dan ijtihad diperlukan justru untuk mengembangkan dan lebih memperkaya pengalaman itu. ia akan mendapat dua pahala. yaitu ijtihad dan mujahadah. menjadi kumulatif. sebagaimana tercermin dalam sabda Nabi yang amat terkenal. setiap bentuk absolutisme akan membuat suatu sistem pemikiran menjadi tertutup. sehingga harus senantiasa dibiarkan membuka diri bagi tinjauan dan pengujian. Bahkan. Sebab. selalu toleran satu sama lain. dari sudut pandangan esoterisnya. Muhammad Hasyim Asy'ari dan al-Sayyid Muhammad Ibn Alawi ibn "Abbas al-Maliki al-Hasani al-Makki. maka taqlid ataupun ijtihad selalu mengandung persoalan. dengan izin dan ridla dari Sang Kebenaran itu sendiri. yang menjadi alasan bagi Sang Kebenaran untuk menuntun seseorang ke berbagai jalan menuju kepada-Nya.H. dan selalu langsung dikoreksi Tuhan). maka seperti ditegaskan Ibn Taymiyyah. pasti memang hanya usaha yang penuh kesungguhan saja.selaku Utusan Tuhan yang menerima wahyu parametris. Jadi tidak dibenarkan adanya absolutisme di sini. dengan mekanisme penerimaan dan penganutan suatu otoritas (taqlid) kekayaan pengalaman kultural manusia. dan ketertutupan itu akan menjadi sumber absolutnya. Seluruh ide tentang mendekati (taqarrub) kepada Tuhan mengisyaratkan perlunya manusia berjalan tanpa jemu-jemunya meniti jalan lurus yang sulit itu. Jalan menuju kesana ternyata banyak. [21] NILAI SEBUAH IJTIHAD Dari uraian di atas. dan sekaligus berkembang dan kreatif tanpa kehilangan keotentikan dan keabsahan -suatu penitian jalan yang sulit. Sebab. Sebab.

Sedangkan orang-orang yang mendalam pengetahuannya akan berkata. ia masih mendapat satu pahala. melintasi zaman. QS. Sebab perkembangan dan pertumbuhan adalah tanda vitalitas. "hikmah" memang sering diartikan sebagai wisdom. [24] Dengan berbekal ketulusan. hal 1728. Amos. Dalam literatur klasik Arab. 5. Adapun mereka yang dalam hatinya terdapat kecenderungan kurang baik (serong). Eclesiastes. QS. 120-121.s. dan Zabur dalam Perjanjian Lama. 2." 4. yaitu sama dengan "filsafat" yang memang menyiratkan wisdom. 1964). 'Ali 'Imran 3:7. Micah. dan lainnya berupa ayat-ayat mutasyabihat (jamak dari mutasyabih). sejak zaman Nabi 'Isa a. (lihat Maurice Friedman. tapi ia juga benar. demi Tuhanmu. Berkenaan dengan "pohon" tradisi intelektual Barat cabang filsafat eksistensialisme ini. niat baik dan ketulusan hati adalah sumber perlindungan Ilahi dalam usaha kita mengembangkan masyarakat. kemudian mereka tidak mendapati dalam diri mereka keberatan terhadap apa yang telah kau putuskan. al-Nisa 4:65. Ini merupakan hal yang amat penting dalam perkembangan dan pertumbuhan. sampai kepada Heracleitus dari Ephesus di zaman Yunani kuno. Dan memang tidaklah menangkap pesan ini kecuali mereka yang berpengertian. Dinamika penting tidak saja karena merupakan unsur vitalitas. sedangkan seluruh wujud ini berjalan dan terus berubah. kemudian Job. Al-Sayyid Muhammad ibn Alawi ibn Abbas al-Maliki al-Hasani al-Makki. Diantara isinya ayat-ayat muhkamat (jamak dari muhkam) yang merupakan induk (ajaran) Kitab Suci itu. mereka tidaklah beriman sehingga mereka mengangkatmu sebagai hakim berkenaan dengan hal-hal yang diperselisihkan di antara mereka. Ini bisa dipahami dari firman. The Word of Existentialism: A Critical Reader (Chicago: The University of Chicago Press. termasuk sejarah manusia. sedangkan kemandekan berarti kematian. karena merupakan Sunnat Allah untuk seluruh ciptaannya. "Tidak. 1407 H/1986 M). [26] Dalam dinamika itu tidak perlu takut salah. maka akan (hanya) mencari yang mutasyabih saja dari Kitab Suci itu dengan tujuan menciptakan perpecahan dan mencari-cari maknanya yang tersembunyi (membuat-buat interpretasi). ed. karena takut salah itu sendiri adanya kesalahan yang paling fatal. "kami beriman dengan ayat-ayat itu. Seperti dikatakan 'Umar dalam suratnya di atas. h. sehingga para filsuf . CATATAN 1. sebab semuanya dari Tuhan kami. "Dia (Tuhan)-lah yang menurunkan kepadamu (Muhammad) Kitab Suci. (khutbahnya di atas bukit Moria (Zion) -yang kini berdiri Masjid 'Umar atau Qubbat al-Shakhrah dan Masjid al-Aqsha itu) sebagaimana dituturkan dalam Injil Matius 5 dari Perjanjian Baru. Hanya Dzat Allah yang kekal abadi.berijtihad dan salah. para penganjurnya mengklaim sebagai berakar pada masa lampau yang jauh. kita terus bergerak maju secara dinamis." 3. dan mereka pasrah sepasrah-pasrahnya. Padahal tidak ada yang mengetahui maknanya yang tersembunyi itu kecuali Allah. Karena itu tujuan hidup yang benar hanyalah Allah. Syarifat Allah al-Khalidah: Dirasat fi Tarikh Tasyri al-Ahkam wa Madzahib al-Fuqaha al-A'lam (Jeddah: Dar al-Syuruq. sebab Dia-lah Kebenaran Yang Pertama dan yang Akhir.

tanpa dogmatik dan tertutup. yang manusia sedapat mungkin berusaha keras menangkapnya.. konsisten) namun matsani (berulang-ulang. catatan 347. tt)." A Yusuf Ali mengartikan perkataan mutasyabih di sini berbeda dengan yang ada pada 3:7 di atas. TAQLID DAN IJTIHAD (4/4) MASALAH KONTINUITAS DAN KREATIVITAS DALAM MEMAHAMI PESAN AGAMA oleh Nurcholish Madjid 9. 7507173 Fax. hal. QS. mutasyabih di sini dikontraskan terhadap matsani.(al-falasifah) juga disebut al-hukama ("orang-orang bijaksana")." dan QS. Ayat-ayat muhkam itu disebut sebagai "mother of the Book. Namun. yaitu bahwa ajaran al-Qur'an membentuk suatu kesatuan yang utuh. (Inilah) Kitab yang ayat-ayatnya dibuat jelas maknanya (digunakan kata kerja pasif "uhkimat" yang sama artinya dengan kata sifat atau participte pasif "muhkam"). Yaitu QS. (bersambung 4/4) -------------------------------------------Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah Editor: Budhy Munawar-Rachman Penerbit Yayasan Paramadina Jln. sedangkan di 3:7 dengan muhkam.. The Holy Qur'an (Jeddah: Dar al-Qiblah for Islamic Literature. dari risalah Ibn Rusyd. kemudian dirinci. yakni dalam mengungkapkan ajaran-ajaran itu) . Metro Pondok Indah Pondok Indah Plaza I Kav. Ini dengan jelas tercermin. Hud 11:1.25. Yusuf Ali ini dianggap paling standar dan populer dalam . catatan 4276).Y. (Lihat A. "Dia (Tuhan) memberi hikmah kepada siapa saja yang dikehendaki-Nya. Dan barangsiapa diberi hikmah. 6. "Allah telah menurunkan sebaik-baik Firman dalam bentuk sebuah Kitab yang mutasyabih (serasi. Sebab. catatan 1493 dan hal. A. yakni serasi antara berbagai ajarannya. 514. UA 20-21 Jakarta Selatan Telp. (021) 7507174 Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota Please direct any suggestion to Media Team Artikel Yayasan Paramadina Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota IV. 8." Induk Kitab Suci" (Umm al-Kitab). Ali. misalnya. ide pokoknya atau "Form of Ideas"-nya sama. 123. al-Baqarah 2: 269. Al-Zumar 39:23. maka sungguh ia telah diberi kebaikan yang banyak. Fash al-Maqal wa Taqrir ma bain al-Hikmah wa al-Syari'ah min al-Ittishat (Kata Putus dan Kejelasan tentang Hubungan antara Filsafat dan Agama). (Patut diketahui bahwa terjemahan al-Qur'an dan tafsir ke dalam Bahasa Inggris oleh A." 7. 7501983. hal. (021) 7501969. 1243. Lihat catatan 2 di atas. "Alif Lam Ra. dari sisi Yang Maha Bijaksana dan Maha Teliti.Yusuf Ali.

Al-Furqan 25:2 "Dan Dia (Tuhan) menciptakan segala sesuatu kemudian ditetapkan kepastiannya sepasti-pastinya. dan bertaqwalah kepada Allah. yang setelah dimerdekakan diangkat Nabi sebagai anak angkat.. padahal Allah-lah yang lebih berhak kau takuti. dan sejak itu bernama lengkap Zaid ibn Muhammad. dengan hak hak pada anak angkat itu yang sama dengan anak biologis (alami). menegaskan tentang adanya hukum kepastian dari Allah (Qadar) yang menguasai dan mengatur alam raya ciptaan-Nya ini. Kami (Tuhan) kawinkan engkau (Muhammad) kepadanya (Zainab). QS. "Sesungguhnya Kami (Tuhan) telah menciptakan segala sesuatu dengan (hukum) kepastian (Qadar)." Dan QS." 11." Kedua ayat itu. tidak terkecuali Nabi sendiri. 12. termasuk yang menyangkut masalah kawin dan waris. yaitu Zaid ibn Haritsah. melainkan Rasul Allah dan Penutup Nabi. dan engkau takut kepada manusia. dan perintah Allah adalah kepastian yang sepasti-pastinya. "Ingatlah ketika engkau berkata kepada seseorang (Zaid) yang telah mendapatkan nikmat dari Allah dan mendapat nikmat (kasih sayang) darimu sendiri. Allah Maha Mengetahui atas segala sesuatu. agar tidak ada halangan bagi orang-orang beriman untuk mengawini isteri-isteri anak-anak angkat mereka jika memang mereka (anak-anak angkat) telah membatalkan (perkawinan) dari mereka (isteri-isteri mereka). Dan perintah Allah haruslah dilaksanakan. "Pertahankanlah untukmu isterimu (Zainab) itu. dan masih banyak lagi ayat-ayat yang lain. Salah satu edisinya dimaksudkan untuk hotel-hotel internasional. Firman yang dimaksud berkenaan dengan masalah ini ialah QS. telah lama mempraktekan pengangkatan anak atau apa yang disebut tabanni. dan cukuplah Allah sebagai yang membuat perhitungan Muhammad bukanlah ayah seseorang dari kaum lelaki diantara kamu. 10.. Fathir 36:43. Dan mengapa mereka tidak memperhatikan Sunnah yang terjadi pada orang-orang yang telah lalu? Engkau tidak akan mendapatkan peralihan dalam Sunnat Allah dan engkau tidak akan menemukan perubahan dalam . Itulan Sunnat Allah kepada mereka yang telah lewat sebelumnya. ". yang kemudian juga mendapat restu dan persetujuan Ri'asat Idarat al-Buhuts al-Ilmiyyah wa 'l-Ifta wa 'l-Da'wah wa 'I-Irsyad di Riyadh sebagai badan tertinggi urusan keagamaan Saudi Arabia. Al-Ahzab 33:37-40. Al-Qamar 54:49. QS. Penyebarannya di seluruh dunia banyak dibiayai oleh Pemerintah Saudi Arabia sejak 1384 H/1965 M dengan sponsor Rabithah Alam Islami yang diketuai Syeik Mohammed Sour as-Sabhan sampai saat ini dengan berbagai cetakan dan edisi. meniru penempatan Kitab Suci Kristen yang telah lama ada). Ini adalah "contoh klasik" metode pendekatan al-Qur'an terhadap masalah sosial kemanusiaan yang pelik dan peka. Orang-orang Arab. Zaid yang bekas budak (hitam) itu memang seorang pemuda yang saleh dan cerdas. dan mereka takut kepada-Nya. Maka setelah Zaid melaksanakan pembatalan (perkawinannya) dengan dia (Zainab) secara pasti (resmi). yaitu (Sunnat Allah) kepada mereka yang menyampaikan pesan-pesan Allah. Tetapi engkau menyimpan sesuatu dalam dirimu yang Allah hendak membukanya keluar. Tetapi dengan adanya pembatalan sistem anak angkat yang disamakan dengan anak kandung dan sejak itu bernama lengkap seperti semestinya. Tidak boleh ada kesulitan pada Nabi berkenaan dengan apa yang telah ditetapkan oleh Allah.dunia Islam internasional.

menjelaskan tentang adanya Sunnat Allah.Sunnat Allah. serta . cit. 14. (Beirut: Dar al-Fikr.) hal. Yaitu judul sebuah kitab yang cukup terkenal. alkohol dan pengaruh buruknya terhadap negeri-negeri panas. Lihat pembahasan panjang lebar tentang masalah ini dalam al-Jurjawi (op. bisnis asuransi jiwa." Firman ini. ajaran dan praktek keagamaan itu secara rinci. tt). yaitu filsafat at-tasyri' (filsafat penetapan hukum syari'at atau agama). yakni hukum-hukum kepastian dari Allah yang menguasai dan mengatur kehidupan manusia dalam sejarah. dan masih banyak lagi yang lain. oleh Ali Ahmad al-Jurjawi yang mencoba melihat hikmah setiap bentuk ibadat serta ajaran dan praktek keagamaan yang lain. Kita diwajibkan memeriksa dan meneliti kemudian menarik pelajaran daripadanya. Namun isinya masih jauh dari klaim judul buku itu sendiri. yang meliputi pula pembicaraan sekitar pengaruh alkohol kepada peminumnya. jumlah kematian karena alkoholisme. Pendekatannya kurang meyakinkan dan berbau apologetik. tetapi cukup mewakili suatu contoh pencarian makna umum ibadat. pengaruhnya terhadap kesehatan. 13. pada peredaran darahnya. 269-281.

274. op. The Venture of Islam. semuanya menunjukkan suatu yang dimaksudkan oleh al-Makki sebagai contoh ijtihad Nabi. 116. hal. Hal itu kemudian diketahui oleh Hafshah. Dari beberapa contoh yang dituturkan al-Makki. 48. 121. Al-Makki." Inipun. mempunyai naluri amat kuat untuk bersikap kasih kepada sesama hidup. menurut hukum Allah adalah halal. hal. 21. 274-275. 18. Pembahasan tentang ishamat atau ketidak-biasaan .w. Padahal Nabi s. Marshall G. 15. isteri Beliau yang berasal dari Mesir. Al-Tahrim 66:1. supaya musuh pun dapat pula memanfaatkannya. hal. Musuh dalam perang bukanlah orang yang harus dihormati sehingga tidak diperbolehkan dihalangi dari air. (Lihat. demi menyenangkan hati Hafshah (anak 'Umar ibn al-Khattab) Nabi berjanji dan mengharamkan berkumpul dengan Mariyah atas diri Beliau.S. 3 jilid (Chicago: The University of Chicago Press. Al-Makki op. Nashir al-Din Abi Said 'Abdullah ibn 'Umar ibn Muhammad al-Syirazi al-Baydlawi. sedangkan menyiksa binatang seperti itu tidaklah diperbolehkan. Kemudian al-Khabab membalas.a.hal. lalu Hafshah pun marah kepada Nabi. hal. Versi manapun yang benar. 5 jilid (Beirut: Muassasat Sya'ban. Juga.) jil.. Nabi berijitihad untuk tidak usah menguasai sumber air yang vital. maka datanglah al-Khabbab ibn al-Mundzir bertanya. 17. Jadi. 20. jil. Anwar al Tanzil wa Asrar al-Ta'wil al-ma'ruf bi tafsir al-Baydlawi. karena murka kepada Aisyah atau Hafshah. karena menghalangi mereka dari air termasuk taktik perang dan menjadi sebab kemenangan. termasuk pendekatan analogis. Ibid. 3. 19. Cit. "Ini dari wahyu atau dari pendapat (ijtihad)?" Nabi menjawab. 137). 16. yang pada waktu itu.. "Pendapat yang benar ialah kita harus menghalangi mereka (musuh) itu dari air yang vital ini. salah satu metode ijtihad yang amat penting. masih belum muslim. Lihat catatan 1 di atas. 1974). "Pendapat.. tentu saja. kata al-Makki. padahal Mariyah adalah isteri Beliau yang sah. hal. Hodgson. karena Beliau melakukan analogi bahwa menghalangi mereka (musuh) dari memperoleh air yang vital itu sama dengan menghalangi binatang dari air. ada versi lain berkenaan dengan kejadian yang terabaikan dalam firman ini." Yaitu. tt. "Wahai Nabi. mengapa engkau mengharamkan sesuatu yang dihalalkan Allah hanya untuk memperoleh kerelaan (kesenangan hati) isteri-isterimu?!" Para penafsir klasik menuturkan tentang suatu kejadian bahwa Nabi suatu hari tinggal di rumah Mariyah. cit. sehingga. salah satunya ialah ijtihad Nabi di waktu menyiapkan Perang Badar. Ide itu ditirunya dari orang-orang Persia. Sedangkan yang disebut-sebut ijtihad Nabi yang kemudian mendatangkan teguran Ilahi ialah yang terabadikan dalam QS. 5. Hodgson op.korelasi antara alkohol dan kejahatan.cit. Yang dimaksudkan al-Makki sebagai sesuatu yang diambil 'Umar dari orang-orang kafir ialah idenya membuat Bayt al-Mal dan kalender (Hijrah).

maka pastilah akan Kami tunjukkan kepada mereka berbagai jalan (subul) Kami. yang tentang hal itu kita bisa mempunyai berbagai pengertian. Jika berpikir tentang Tuhan yang impersonal. 24. 22..(infallibility) Nabi oleh Ibn Taymiyyah ini dapat kita jumpai dalam karya besarnya Minhaj al -Sunnat al-Nabawiyyah fi Naqdl Kalam al-Syi'ah wa al-Qadariyvah. Al-Hadid 57:3. suatu kekuatan kebaikan yang abstrak. Lihat. 25. al-Tanbihat. Ikhtilaf al-Ummah fi al-Ibadat. 1 di atas dan keterangan yang bersangkutan awal-awal tulisan ini. Al-Qashash 28:88. UA 20-21 Jakarta Selatan Telp. 4 jilid (Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiyyah. dan Dia Maha mengetahui atas segala sesuatu. cit. Seluruh jagad lahir dan tunduk kepada hukum peralihan dan perubahan fana akan sirna. Yang Lahir dan Yang Batin. 244 dan passim. Segala sesutu binasa kecuali Wajah-Nya. dan itu adalah Tuhan. Baginyalah ketentuan hukum. dan kepadanyalah kamu semua akan dikembalikan. kita tidak dapat menggabungkannya dengan Pribadi atau Wujud yang vital. Muh.H. namun Dia akan tetap abadi. op." A. hal. Ibn Taymiyyah. (021) 7507174 Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota Please direct any suggestion to Media Team . atau Wujud-Nya itulah yang harus kita cari. Hasyim Asy'ari. Kenyataan satu-satunya ialah Tuhan. tt)." 23. (021) 7501969. Inilah juga doktrin Advaita dan Shri Shankara dalam jabarannya terhadap Brihadaranyaka Upanishad dalam filsafat Hindu. Tiada suatu Tuhan melainkan Dia. hal. Pribadi. 130. "Wajah"-Nya atau Diri. 7501983. Yusuf Ali memberi komentar yang menarik tentang ayat terakhir Surah 28 ini: "Ini meringkaskan pelajaran seluruh Surah. Perlu diketahui. Metro Pondok Indah Pondok Indah Plaza I Kav.. Lihat juga QS. QS. QS. yang tentang Dia itu kita hanya mampu menangkap gaung samar-samar atau cerminan dalam momen yang paling intens dalam luapan spiritual. sebab hanya ada satu Diri yang benar. "Janganlah menyeru bersama Allah (Tuhan Yang Maha Esa) suatu Tuhan yang lain. "Dan barangsiapa berusaha sungguh-sungguh (mujahadah) di jalan Kami. Jadi kita tahu bahwa apa yang kita sebut diri kita sendiri tidaklah punya makna. jil. karya ini ditulis sebagai polemihya dengan golongan Syi'ah. Lihat catatan no. "Dia (Tuhan)-lah Yang Pertama dan yang Akhir. karena menyadari bahwa Dia-lah satu-satunya hal yang abadi. sebagaimana tereermin dari judulnya." -------------------------------------------Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah Editor: Budhy Munawar-Rachman Penerbit Yayasan Paramadina Jln. dan al-Makki. 7507173 Fax. al-Ankabut 29:69. 1. K.

Minimal ada tiga alasan kenapa lebih mendahulukan ijtihad daripada taqlid. Pengertian ijtihad menurut bahasa ini ada relevansinya dengan pengertian ijtihad menurut istilah. baru kemudian menyoroti masalah taqlid. atau yang terdekat itu diperoleh dari maksud dan tujuan umum dari hikmah syari'ah. Dan di sisi lain ada pengertian ijthad yang telah digunakan para sahabat Nabi. Mereka memberikan batasan bahwa ijtihad adalah "penelitian dan pemikiran untuk mendapatkan sesuatu yang terdekat pada Kitab-u 'l-Lah dan Sunnah Rasul. dimana untuk melakukannya diperlukan beberapa persyaratan yang karenanya tidak mungkin pekerjaan itu (ijtihad) dilakukan sembarang orang. dimana dalam buku-buku Ushul Fiqh. Menurut mereka. Taqlid tidak akan ada tanpa ijtihad. Dalam tulisan ini saya hanya akan bicara tentang beberapa aspek ijtihad dan taqlid yang dipandang penting. mengingat kedua masalah itu amat sering diperbincangkan. PENGERTIAN IJTIHAD Menurut bahasa. IJTIHAD Tulisan ini akan mendahulukan masalah ijtihad." Atas dasar ini maka tidak tepat apabila kata "ijtihad" dipergunakan untuk melakukan sesuatu yang mudah/ringan. Ibrahim Hosen 1. 1. disamping banyaknya buku yang mengupas masalah tersebut yang mudah kita temukan. 2. Dengan demikian seseorang hanya dibenarkan bertaqlid kepada mujtahid yang mu'tabar. ijtihad adalah pengerahan segenap ." Dalam kaitan pengertan ijtihad menurut istilah. ijtihad berarti "pengerahan segala kemampuan untuk mengerjakan sesuatu yang sulit.24.Artikel Yayasan Paramadina Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota IV. baik yang terdekat itu diperoleh dari nash -yang terkenal dengan qiyas (ma'qul nash). TAQLID DAN IJTIHAD (1/4) Beberapa Pengertian Dasar Oleh KH. ada dua kelompok ahli ushul flqh (ushuliyyin) -kelompok mayoritas dan kelompok minoritas. Dalam tulisan ini hanya akan diungkapkan pengertian ijtihad menurut rumusan ushuliyyin dari kelompok mayoritas. Sekedar mengikuti kelaziman.yang mengemukakan rumusan definisi. 3.yang terkenal dengan "mashlahat. masalah ijtihad selalu lebih dahulu dibicarakan sebelum masalah taqlid. Persoalan taqlid akan lebih mudah dipahami jika seseorang telah memahami persoalan ijtihad.

Dia mengatakan bahwa ijtihad juga berlaku di bidang aqidah. Masalah-masalah baru yang hukumnya belum ditegaskan oleh nash al-Qur'an atau Sunnah secara jelas. Hukum Islam yang ma'qulu 'l-ma'na/ta'aqquly (kausalitas . Pelaku utihad adalah seorang ahli fiqih/hukum Islam (faqih). 3. Masalah-masalah baru yang hukumnya belum diijma'i oleh ulama atau aimamatu 'l-mujtahidin. Dari definisi tersebut sebagai berikut: dapat ditarik beberapa kesimpulan 1. 379). 4. "yang dimaksud ijtihad adalah bila dimutlakkan maka ijtihad itu bidang hukum fiqih/hukum furu'. yaitu hukum Islam yang berhubungan dengan tingkah laku dan perbuatan orang-orang dewasa. Lantaran itulah Jumhur 'ulama' telah bersepakat bahwa ijtihad hanya berlaku di bidang hukum (hukum Islam) dengan ketentuan-ketentuan tertentu. (Jam'u 'l-Jawami'. Status hukum syar'i yang dihasilkan oleh ijtihad adalah dhanni. salah seorang tokoh mu'tazilah. Nash-nash Dhanny dan dalil-dalil hukum yang diperselisihkan. Dalam hubungan ini komentator Jam'u 'l-Jawami' (Jalaluddin al-Mahally) menegaskan. Pendapat ini bukan saja menunjukkan inkonsistensi terhadap suatu disiplin ilmu (ushul fiqh). Jadi apabila kita konsisten dengan definisi ijtihad diatas maka dapat kita tegaskan bahwa ijtihad sepanjang pengertian istilah hanyalah monopoli dunia hukum. Lalu. Atas dasar itu ada kekeliruan pendapat sementara pihak yang mengatakan bahwa ijtihad juga berlaku di bidang aqidah. bukan yang lain. 2. Juz II. hal. Lapangan atau medan dimana ijtihad dapat memainkan peranannya adalah: 1. Pendapat yang nyeleneh atau syadz ini dipelopori al-Jahidh. MEDAN IJTIHAD Di atas telah ditegaskan bahwa ijtihad hanya berlaku di bidang hukum. serta perbedaan yang terjadi sebagai akibat ijtihad ditolerir.kesanggupan dari seorang ahli fxqih atau mujtahid untuk memperoleh pengertian tingkat dhann terhadap sesuatu hukum syara' (hukum Islam). hukum Islam yang mana saja yang mungkin untuk di-ijtihad-i? Adakah hal itu berlaku di dunia hukum (hukum Islam) secara mutlak? Ulama telah bersepakat bahwa ijtihad dibenarkan. Yang ingin dicapai oleh ijtihad adalah hukum syar'i. 3. tetapi juga akan membawa konsekuensi pembenaran terhadap aqidah non Islam yang dlalal. dan akan membawa rahmat manakala ijtihad dilakukan oleh yang memenuhi persyaratan dan dilakukan di medannya (majalul ijtihad). 2. bukan hukum i'tiqadi atau hukum khuluqi.

Disamping ijtihad tidak berlaku atau tidak mungkin dilakukan pada ketiga macam hukum Islam di atas. 2." (Riwayat Bukhari Muslim). Hukum Islam yang bersifat ta'abbudy/ghairu ma'quli 'lma'na (yang kausalitas hukumnya/'illat-nya tidak dapat dicerna dan diketahui mujtahid). 7507173 ." PERBEDAAN YANG DITOLERIR Ijtihad dilegalisasi bahkan sangat dianjurkan oleh Islam. Jadi. Hukum Islam yang telah diijma'i ulama. kalau kita akan melakukan reaktualisasi hukum Islam. kaidah itulah yang menghambat aspirasi sementara kalangan yang hendak merombak hukum-hukum Islam qath'i seperti hukum kewarisan al-Qur'an. 3. "Apabila seorang hakim akan memutuskan perkara. Hal ini antara lain diketahui dari Hadits Nabi yang artinya. (bersambung 2/4) -------------------------------------------Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah Editor: Budhy Munawar-Rachman Penerbit Yayasan Paramadina Jln." Bila kita telaah. Banyak ayat al-Qur'an dan Hadits Nabi yang menyinggung masalah ini. kemudian hasil ijtihadnya salah. yang dalam istilah ushul fiqih dikenal dengan syari'ah atau "ma'ulima min al-din bi al-dlarurah. kemudian ijtihadnya benar." Atas dasar itu maka muncullah ketentuan. lalu ia melakukan ijtihad. UA 20-21 Jakarta Selatan Telp. Jika hakim akan memutuskan perkara. Sebaliknya ulama telah bersepakat berlaku atau tidak dibenarkan pada: bahwa ijtihad tidak 1.hukumnya/'illat-nya dapat diketahui mujtahid). akan tetapi juga mentolerir adanya perbedaan pendapat sebagai hasil ijtihad. Metro Pondok Indah Pondok Indah Plaza I Kav. Hal ini sejalan dengan kaidah. Hukum Islam yang telah ditegaskan nash al-Qur'an atau Sunnah yang statusnya qath'iy (ahkamun manshushah). Apabila ini yang kita lakukan dan kita memang telah memenuhi persyaratannya maka pantaslah kita dianggap sebagai mujtahid di abad modern ini yang akan didukung semua pihak. dan ia berijtihad. maka ia mendapat satu pahala (pahala ijtihadnya). demikian juga ijtihad akan gugur dengan sendirinya apabila hasil ijtihad itu berlawanan dengan nash. (021) 7501969. "Tidak ada ijtihad dalam melawan nash. 7501983. Islam bukan saja memberi legalitas ijtihad. disinilah seharusnya kita melakukan terobosan-terobosan baru. maka ia memperoleh dua pahala (pahala ijtihad dan pahala kebenarannya). "Tidak berlaku ijtihad pada masalah-masalah hukum yang ditentukan berdasarkan nash yang status dalalah-nya qath'i dan tegas.

"Pendapat kami benar. Perbedaan pendapat dalam hukum Islam sebagai hasil ijtihad inilah yang ditegaskan Nabi akan membawa rahmat (kelapangan bagi umat) sebagaimana diketahui ditegaskan dalam sebuah hadits. sehingga muncullah ucapan mereka yang sangat populer. Inilah yang ingin saya tegaskan dalam kesempatan ini mengingat adanya sementara pihak yang menggunakan hadits marfu' untuk membenarkan adanya perbedaan pendapat di bidang aqidah yang akan bermuara pada paham "pluralisme agama" -semua agama sama atau benar. ia benar tetapi mengandung kemungkinan salah. tetapi mengandung kemungkinan benar. menurut mujtahid.Fax. akan tetapi juga menunjukkan kepada kita bahwa adanya perbedaan pendapat sebagai hasil ijtihad ditolerir. yang artinya kebenarannya tidak bersifat absolut." Hal ini sejalan dengan status fiqih sebagai produk ijtihad yang statusnya dhanny. Hanya saja." (Abu Nashar Al-Muqaddasi). betapapun kuat dalilnya. Demikian juga al-Qur'an tidak perlu diturunkan. IJTIHAD TIDAK DAPAT DIGUGURKAN DENGAN IJTIHAD Di atas telah disinggung bahwa hukum yang dihasilkan oleh ijtihad statusnya dhanny. jihad dan sebagainya. amar ma'ruf nahi munkar. Ini jelas tidak dapat dibenarkan. (021) 7507174 Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota Please direct any suggestion to Media Team Artikel Yayasan Paramadina Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota IV. tetapi mengandung kemungkinan salah.24. sejalan dengan kaidah. Apabila hal ini dapat kita pegangi secara konsisten maka jiwa tasammuh dalam menanggapi aneka ragam pendapat di bidang fiqih sebagai akibat perbedaan dalam berijtihad akan tetap dapat ditumbuhkan. porsi kebenarannya lebih dominan/rajih. Prinsip ini dipegang teguh oleh para imam mujtahid. . Ibrahim Hosen Hadits di atas bukan saja memberi legalitas ijtihad. dan pendapat selain kami salah. ia tetap eksis. sehingga kita akan sanggup menjadikan perbedaan pendapat tersebut sebagai rahmat yang memporak-porandakan persatuan umat Islam. "Perbedaan pendapat di kalangan ulama akan membawa rahmat. tidak dapat begitu saja dilenyapkan oleh ijtihad yang lain. Apabila benar bahwa semua agama itu sama tentu tidak ada kewajiban berda'wah. Yang dimaksud dengan perbedaan di sini adalah perbedaan pendapat dalam hukum Islam ijtihady. Oleh sebab itu maka ijtihad yang satu tidak dapat membatalkan ijtihad yang lain. TAQLID DAN IJTIHAD (2/4) Beberapa Pengertian Dasar Oleh KH." Betapapun lemahnya suatu ijtihad. yakni fiqih. "Ijtihad yang satu tidak dapat digugurkan oleh ijtihad yang lain. ia salah tetapi mengandung kemungkinan benar.

4. Berilmu pengetahuan yang luas tentang hadits-hadits Rasul yang berhubungan dengan masalah hukum. 9. "Pendapat kami benar. Mengetahui secara mendalam tentang nasikh-mansukh dalam al-Qur'an dan Hadits. Sebab untuk menentukan derajad/nilai suatu Hadits sangat tergantung dengan ihwal perawi yang lazim disebut dengan istilah sanad Hadits. sehingga muncullah ucapan mereka yang sangat populer. tetapi mengandung kemungkinan benar. Mengetahui sejarah para periwayat hadits. apakah Hadits itu dapat diterima ataukah tidak. . Sebab al-Qur'an dan Sunnah sebagai sumber asasi hukum Islam tersusun dalam bahasa Arab yang sangat tinggi gaya bahasanya dan cukup unik dan ini merupakan kemu'jizatan al-Qur'an. agar dengan kaidah-kaidah ini ia mampu mengolah dan menganalisa dalil-dalil hukum untuk menghasilkan hukum suatu permasalahan yang akan diketahuinya. 2. Hal itu agar ia tidak mempergunakan ayat al-Qur'an atau Hadits Nabi yang telah dinasakh (mansukh) untuk menggali hukum. Mengetahui ilmu logika/mantiq agar ia dapat menghasilkan deduksi yang benar dalam menyatakan suatu pertimbangan hukum dan sanggup mempertahankannya." SYARAT-SYARAT IJTIHAD. 8. supaya ia dapat menilai sesuatu Hadist. Seseorang yang ingin mendudukkan dirinya sebagai mujtahid harus memenuhi beberapa persyaratan. tidak mungkin kita akan melakukan ta'dil tajrih (screening). Memiliki ilmu pengetahuan yang luas tentang ayat-ayat al-Qur'an yang berhubungan dengan masalah hukum. dengan pengertian ia mampu membahas ayat-ayat tersebut untuk menggali hukum. 7. Menguasai bahasa Arab secara mendalam. dan pendapat selain kami salah. 5. tapi mengandung kemungkinan salah. dengan arti ia sanggup untuk membahas hadits-hadits tersebut untuk menggali hukum. Mengetahui secara mendalam tentang masalah qiyas dan dapat mempergunakannya untuk menggali hukum. agar ia mampu melakukan istinbath hukum secara tepat. Menguasai kaidah-kaidah istinbath hukum/ushul fiqh. 6. 10.Prinsip tasammuh sebagai manifestasi dari status fiqih yang bersifat dhanny tersebut dipegang teguh oleh para Imam Mujtahid. Di antara sekian persyaratan itu yang terpenting ialah: 1. Mengetahui latar belakang turunnya ayat (asbab-u 'l-nuzul) dan latar belakang suatu Hadits (asbab-u 'l-wurud). Menguasai seluruh masalah yang hukumnya telah ditunjukkan oleh ijma' agar ia tidak berijtihad yang hasilnya bertentangan dengan ijma'. 3. Tanpa mengetahui sejarah perawi Hadits.

yaitu ijtihad yang dilakukan seorang mujtahid dengan mempergunakan norma-norma dan kaidah-kaidah istinbath imamnya (mujtahid muthlaq/Mustaqil). Ijtihad di bidang tarjih. Ijtihad mereka hanya berkisar pada masalah-masalah yang memang belum diijtihadi imamnya. yaitu: 1. mana yang shahih dan mana yang lemah. mereka memakai sistem atau metode yang telah dirumuskan imamnya. Ijtihad terdiri dari bermacam-macam tingkatan. 4. Dalam mazhab Syafi'i. 3. yaitu ijtihad yang dilakukan dengan cara mentarjih dari beberapa pendapat yang ada baik dalam satu lingkungan madzhab tertentu maupun dari berbagai mazhab yang ada dengan memilih mana diantara pendapat itu yang paling kuat dalilnya atau mana yang paling sesuai dengan kemaslahatan sesuai dengan tuntunan zaman. tidak menciptakan sendiri. Sebagian ulama berpendapat bahwa pintu ijtihad telah tertutup. BENARKAH PINTU IJTIHAD SUDAH DIKUNCI? Para ahli fiqih telah sepakat bahwa ijtihad dengan pengertian penyesuaian suatu perkara dengan sesuatu hukum yang sudah ada tetap terbuka. Contohnya seperti Imam Ghazali dan Juwaini dari madzhab Syafi'i. Gema ini digelorakan oleh ulama-ulama mutakhirin pada awal abad ke-IV Hijriah setelah dunia Islam diliputi kabut ta'ashub madzhab serta banyaknya man laisa . 2. yaitu ijtihad yang dilakukan seorang mujtahid dalam lingkungan madzhab tertentu. yaitu ijtihad yang dilakukan dengan cara menciptakan sendiri norma-norma dan kaidah istinbath yang dipergunakan sebagai sistem/metode bagi seorang mujtahid dalam menggali hukum. Mereka hanya berhak menafsirkan apa yang dimaksud dari norma-norma dan kaidah-kaidah tersebut. Jadi untuk menggali hukum dari sumbernya.MACAM-MACAM TINGKATAN IJTIHAD. Ijtihad kategori ini tidak termasuk ketentuan ijtihad menurut ketentuan ushul fiqih. Sebagian ulama menilai bahwa Abu Yusuf termasuk kelompok pertama/mujtahid muthalaq/mustaqil. Ijtihad mazhab atau fatwa yang pelakunya disebut mujtahid mazhab/fatwa. sehingga sangat sulit untuk dibedakan. Mujtahid dari tingkatan ini contohnya seperti Imam Hanafi. Norma-norma dan kaidah itu dapat diubahnya sendiri manakala dipandang perlu. Oleh karena itu mereka menjadikannya satu tingkatan. Imam Malik. Perbedaan pendapat terjadi pada ijtihad menurut definisi ushul fiqih. Ijtihad Muthlaq/Mustaqil. hal itu bisa kita lihat pada Imam Nawawi dan Imam Rafi'i. Contohnya. dari mazhab Syafi'i seperti Muzany dan Buwaithy. demikian juga mengenai hukum furu'/fiqih yang telah dihasilkan imamnya. Pada prinsipnya mereka mengikuti norma-norma/kaidah-kaidah istinbath imamnya. Dari madzhab Hanafi seperti Muhammad bin Hasan dan Abu Yusuf. Imam Syafi'i dan Imam Ahmad yang terkenal dengan sebutan Mazhab Empat. men-takhrij-kan pendapat imamnya dan menyeleksi beberapa pendapat yang dinukil dari imamnya. Sebagian ulama mengatakan bahwa antara kelompok ketiga dan keempat ini sedikit sekali perbedaannya. Ijtihad Muntasib.

Oleh karena itu tiap-tiap yang menganut madzhab Ahl al-Sunnah harus memilih salah-satu dari Madzhab Empat. Mayoritas Ahl al-Sunnah hanya mengakui Madzhab Empat. yang kebolehannya masih diperselisihkan kaum ushuliyyin. Dengan demikian maka hukum Islam akan selalu berkembang dan tumbuh subur serta sanggup menjawab tantangan zaman. Sebagian ulama yang lain berpendapat bahwa pintu ijtihad tetap terbuka dan dapat dimasuki oleh siapa saja yang memiliki kuncinya (memenuhi persyaratan). yaitu sejak wafatnya imam-imam mujtahid kenamaan. tidak dapat diketahui bagaimana status hukumnya. Hukum Islam baik dalam bidang 'ibadah. Sebab. akan dapat diketahui hukumnya. yang biasa kita kenal dengan istilah talfiq. 3. Mungkin berupa hukum yang telah dikeluarkan oleh salah satu Madzhab Empat. jinayah dan lain sebagainya seluruhnya sudah lengkap dan dibukukan secara terperinci dan rapi. Sedangkan golongan yang memandang bahwa ijtihad adalah kegiatan/pekerjaan mujtahid. 2. Karena itu kita tidak perlu melakukan ijtihad lagi. Golongan yang berpendapat bahwa pintu ijtihad telah tertutup antara lain beralasan: 1. b. mu'amalah. sehingga Islam akan ketinggalan zaman. mereka berpendapat bahwa pintu ijtihad telah tertutup. Rektor Universitas Al-Azhar pada waktu itu. Golongan yang memandang bahwa ijtihad adalah sumber hukum. kita perlu mengetahui argumentasi dari golongan yang berpendapat bahwa pintu ijtihad masih tetap terbuka. juga hasilnya akan berkisar: a. Membuka pintu ijtihad selain hal itu percuma dan membuang-buang waktu. yang kemudian di Mesir digalakkan oleh Syekh Al-Maraghy. yang berarti ijtihad yang dilakukan itu hanyalah tahsil al-hasil . Ia harus terikat tidak boleh pindah madzhab. yaitu: 1. 2. Menutup pintu ijtihad berarti menutup kesempatan ulama Islam untuk menciptakan pemikiran-pemikiran yang baik dalam memanfaatkan dan menggali sumber atau dalil hukum Islam 3. munakahah. Mungkin berupa hukum yang terdiri dari koleksi pendapat antara dua madzhab atau lebih. Pendapat ini antara lain diproklamirkan Imam al-Syaukani pada pertengahan abad ke-XIII Hijriah. akan banyak kasus baru yang hukumnya belum dijelaskan oleh al-Qur'an dan Sunnah serta belum dibahas oleh ulama-ulama terdahulu.lahu ahlu 'l-Ijtihad (mujtahid karbitan) yang tampil mengaku sebagai mujtahid. mereka berpendapat bahwa pintu ijtihad tetap terbuka. Dengan membuka pintu ijtihad maka setiap permasalahan baru yang dihadapi umat. Menutup pintu ijtihad berarti menjadikan hukum Islam yang semestinya lincah dan dinamis menjadi kaku dan beku. Kini.

Metro Pondok Indah Pondok Indah Plaza I Kav.c. Ibrahim Hosen Sebelum saya mengambil kesimpulan dengan mempertemukan kedua pendapat yang saling berbeda itu marilah kita ikuti hasil keputusan Lembaga Penelitian Islam al-Azhar Cairo yang bersidang pada bulan Maret 1964 M. (021) 7501969. hendaklah dipilih di antara hukum-hukum fiqih pada tiap-tiap mazhab suatu hukum yang memuaskan. 4. Hal semacam ini pada hakikatnya menentang ijma'. Jika tidak terdapat suatu hukum yang memuaskan dengan jalan tersebut. Padahal. (021) 7507174 Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota Please direct any suggestion to Media Team Artikel Yayasan Paramadina Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota IV. 7501983. menurut mayoritas ulama Ahl al-Sunnah. TAQLID DAN IJTIHAD (3/4) Beberapa Pengertian Dasar Oleh KH. maka berlakulah ijtihad bersama (kolektif) berdasarkan madzhab. Hal ini menunjukkan bahwa untuk memenuhi syarat-syarat ijtihad yang telah ditentukan itu memang sangat sulit kalau tidak dikatakan tidak mungkin lagi untuk saat seperti sekarang ini. dan bahwa berijtihad untuk mengambil hukum dari al-Qur'an dan Sunnah dibenarkan manakala ijtihad itu dilakukan pada tempatnya. Realitas sejarah menunjukkan bahwa sejak awal abad ke-IV Hijriah sampai detik ini tak seorangpun ulama berani menonjolkan diri atau ditonjolkan oleh pengikut-pengikutnya sebagai seorang mujtahid muthlaq/mustaqil. Mungkin berupa hukum yang sesuai dengan salah satu mazhab di luar Mazhab Empat.24. dan bahwa jalan untuk memelihara kemaslahatan dan untuk menghadapi peristiwa-peristiwa yang selalu timbul. selain Mazhab Empat tidaklah dianggap. Mungkin berupa hukum yang tidak seorangpun ulama Islam membenarkannya. d. UA 20-21 Jakarta Selatan Telp. sebagai berikut: "Mu'tamar mengambil keputusan bahwa al-Qur'an dan Sunnah Rasul merupakan sumber pokok hukum Islam. (bersambung 3/4) -------------------------------------------Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah Editor: Budhy Munawar-Rachman Penerbit Yayasan Paramadina Jln. dan jika tidak memuaskan maka berlakulah ijtihad bersama secara mutlaq. Lembaga penelitian akan mengatur usaha-usaha untuk mencapai ijtihad bersama baik secara mazhab maupun secara mutlaq untuk dapat dipergunakan dimana perlu." Dari Keputusan Lembaga Penelitian Islam al-Azhar tersebut . 7507173 Fax.

Pintu ijtihad masih tetap terbuka bagi yang memenuhi persyaratan. Poin kedua tidak berlaku untuk: a. Bagi yang tidak. Ijtihad madzhab secara perorangan (ijtihad madzhab fardy). c. Ijtihad madzhab secara kolektif 3. Dan harus kita sadari bahwa pintu ijtihad masih tetap terbuka dalam bidang-bidang tertentu tersebut adalah bagi yang memenuhi syarat. Ijtihad mutlaq secara perorangan. Dan sebaliknya. karena keputusan itu telah mempertemukan antara dua pendapat yang saling berbeda. 4. pendapat yang mengatakan bahwa pintu ijtihad masih tetap terbuka haruslah diartikan untuk: 1. Ijtihad madzhab secara perorangan. mengingat sangat jarangnya faqih/ulama ahli hukum seperti saat sekarang ini. Butir pertama hanya berlaku untuk: a. Demikian juga pendapat yang mengatakan bahwa telah tertutup haruslah kita artikan untuk: 1. Ijtihad muthlaq secara kolektif. Ijtihad di bidang tarjih baik secara perorangan (ijtihad fardy) maupun secara kolektif (ijtihad Jama'iy). Ijtihad di bidang madzhab apabila dilakukan secara kolektif (ijtihad madzhab jama'iy). 2. tentunya tertutup kemungkinan untuk membuka pintu ijtihad dengan segala macam bentuknya. maka yang masih benar-benar dapat dilakukan adalah: 1. kalau secara mutlaq/tanpa batasan kita mengatakan bahwa pintu ijtihad telah tertutup. 3. b. Ijtihad muthlaq secara perorangan (ijtihad muthlaq fardy). 2. Ijtihad di bidang tarjih baik secara perorangan maupun pintu ijtihad . c. Ijtihad di bidang tarjih baik bagi perorangan maupun kelompok secara kolektif. Menurut saya. Ijtihad dibenarkan apabila dilakukan di tempat-tempat dimana ijtihad boleh dilakukan. 2. tidak tepat kalau kita mengatakan secara mutlaq/tanpa batasan bahwa pintu ijtihad masih tetap terbuka. Keputusan Lembaga Penelitian Islam al-Azhar tersebut sangat bijaksana.dapat diambil kesimpulan bahwa: 1. Dengan demikian. Jadi tidak tepat. Ijtihad muthlaq apabila dilakukan secara kolektif (ijtihad muthlaq jama'iy).

sekalipun imannya sah. 2. yang khusus untuk mencapai hukum furu'/fiqih dikenal dengan ijtihad. Mentaklif atau mewajibkan seluruh umat manusia untuk meraih rutbatu 'l-ijtihad jelas tidak mungkin. Ini jelas tidak rasionil. Mereka itulah para mujtahid dengan segala macam tingkatannya. Disamping tidak logis dan tidak realistis. mengingat kecerdasan. NU dengan Syuriyah dan Bahstul Matsailnya. Pesan saya dalam menutup uraian tentang ijtihad ini. Kelompok kedua. eksistensi taqlid memang tidak mungkin dihindarkan. MUI dengan Komisi Fatwanya. 2. janganlah sok berijtihad. tentu tidak akan sanggup mengetahui. pengkajian dan penelaahan secara mendalam. Karena itu pula pelaku taqlid berdosa. sayangnya belum banyak dipublikasikan. La taklifa fawqa 'l-istitha'a -manusia tidak akan ditaklif untuk melakukan sesuatu yang tidak mungkin dilaksanakan/diluar kemampuannya. Sebab. daya tangkap dan ilmu yang dimiliki seseorang bagaimanapun tidaklah sama. Dari sinilah muncul persoalan taqlid. Sebagai contoh untuk . Hal ini dapat dilakukan secara perorangan maupun secara kolektif. Memang harus kita sadari bahwa taqlid bukanlah merupakan sistem atau metode keilmuan yang baik yang digunakan seseorang untuk memperoleh ilmu. mengingat tingkatan manusia yang berbeda-beda. Kelompok pertama sudah banyak dilakukan oleh Muhammadiyah dengan Majelis Tarjihnya. karena waktu dan segala konsentrasi umat manusia hanya tercurah kearah ijtihad. Milikilah persyaratan dan berijtihadlah di tempat-tempat yang dibenarkan untuk melakukan ijtihad sesuai dengan ketentuan yang berlaku. alhamdulillah. sebab bisa berakibat fatal. kalau memang bukan faqih yang menguasai kaidah-kaidah istinbath. Oleh karena itu jumhur ulama telah mencapai konsensus bahwa taqlid tidak dapat dijadikan dasar atau metode keilmuan di bidang aqidah.secara kolektif. Bagi mereka yang tidak memiliki persyaratan ijtihad. Sedangkan penelitian. yakni mengetahui. tentu mereka harus lewat perantara. hal itu juga akan membawa akibat terbengkalainya urusan-urusan duniawi/kehidupan yang lain. TAQLID Tidak semua orang sanggup memahami hukum Islam secara langsung dari dalil atau sumbernya. memahami dan menggali hukum Islam dari sumber atau dalilnya secara langsung. Ijtihad untuk kasus-kasus tertentu yang memang belum pernah dibahas oleh aimmat al-mujtahidin terdahulu. Bagi mereka yang memenuhi persyaratan ijtihad sebagaimana telah disebutkan di atas. yaitu harus mengetahuinya melalui mujtahid. mereka akan sanggup melakukan hal tersebut. sistem dan metode yang baik yang seharusnya kita jadikan washilah/sarana mencapai atau memperoleh ilmu adalah nadhar. Untuk mengetahui hukum Islam yang akan diamalkannya. Kaidah Agama yang mengatakan. Secara faktual. sudah banyak dilakukan oleh Komisi Fatwa MUI. memahami dan menggali hukum Islam yang harus diamalkannya secara langsung dari dalil atau sumbernya.

al-Zuhruf Ayat 23.mengetahui bahwa Allah itu ada maka harus ditempuh lewat nadhar. Seseorang yang telah bertaqlid dengan seorang mujtahid/imam. Oleh karena itu ulama telah sepakat bahwa penetapan aqidah haruslah berdasarkan nash qath'iy al-dalalah yang tidak mengandung pen-takwil-an. Kami tidak mengutus sebelum kamu seorang Nabi/Rasul yang memberi peringatan pada suatu negeri. Hal inilah yang pernah melanda umat Islam termasuk umat Islam di Indonesia sampai berpuluh-puluh tahun lamanya. Sedangkan dalam masalah hukum ada yang bersifat qathi'iy dan ada yang bersifat dhanny. ia berdosa. Apabila hal itu diketahui lewat taqlid. Hal ini antara lain berkat digalakkannya studi fiqh perbandingan dan ushul fiqih perbandingan di . dimana lehernya diberi kalung sebagai tanda. Bahkan sebagian besar hukum taklifi dasarnya dhann. Kalaulah dalam masalah hukum ini semuanya harus berdasarkan dalil qath'iy. Disinilah antara lain perbedaan ajaran Islam yang berhubungan dengan masalah aqidah/keimanan dengan ajaran Islam yang berhubungan dengan masalah hukum. Analisa bahasa ini menunjukkan kepada kita seolah-olah seseorang yang telah bertaqlid kepada seorang mujtahid/imam telah memberi identitas diri dengan sebuah kalung di lehernya dan ia telah mengikat dirinya dengan pendapat mujtahid/imam tersebut. mengingat bahwa dalam masalah hukum taklifi seseorang dibenarkan melakukan sesuatu berdasarkan dhann-nya. agama membenarkan. "Sesungguhnya kami mendapati bapak-bapak (leluhur) kami menganut suatu agama dan sesungguhnya kami adalah pengikut jejak-jejak mereka. Taqlid di bidang aqidah inilah yang antara lain dicela al-Qur'an sebagaimana yang ditegaskan dalam QS. dan kini telah mulai memancar sinar itu ke ufuk penjuru dunia Islam termasuk Negeri Pancasila tercinta ini. meski imannya dianggap sah. khususnya fiqih. atau seperti kambing yang lehernya telah diikat dengan tali atau tambang yang dapat ditarik ke mana saja. PENGERTIAN TAQLID Menurut bahasa. Hanya saja tentunya kita jangan cukup puas mendudukkan diri kita pada kursi taqlid ini. Lantaran itulah maka taqlid di bidang hukum dibenarkan. Dalam praktek memang demikian. Dalam bidang aqidah/keimanan. yang artinya sbb: "Dan demikianlah. taqlid -bentuk masdar dari kata qallada berarti kalung yang dipakai/dikalungkan ke leher orang lain. Syukurlah setelah gelap kini terangpun datang. niscaya pen-taklid-an itu justru tidak jalan. untuk kemudian pindah ke pendapat selain imamnya/mujtahid yang diikuti. semuanya bersifat qath'iy atau pasti benarnya. sehingga umat Islam menjadi jumud dan Islam ketinggalan zaman. Taqlid di bidang hukum inilah yang kita maksud dan yang akan kita bicarakan dalam tulisan ini. atau seperti binatang yang akan dijadikan dam. melainkan orang-orang yang hidup mewah di negeri itu berkata. tanpa disadari oleh kambing yang bersangkutan." Mengenai taqlid di bidang hukum Islam. sehingga muncullah rasa ta'ashub madzhab/fanatik madzhab yang kadang sampai berlebih-lebihan. ia tidak akan begitu mudah melepaskan diri dari ikatan itu.

Jadi Ittiba' itu sendiri termasuk kategori taqlid. Beramal berdasarkan ijma' c. dan ini dilakukan tanpa berdasarkan dalil. Demikian menurut al-Kamal Ibn al-Hammam dalam al-Tahrir. Seorang hakim yang memutuskan perkara berdasarkan kesaksian saksi yang adil. 1. tapi hakikatnya sama. yaitu sama-sama mengikuti pendapat orang lain. Beramal berdasarkan ayat al-Qur'an atau Hadits Nabi. hanya istilah dan tingkatannya saja yang berbeda. Demukian menurut al-Syaukany dalam Irsyad al-Fukhul. 7501983. Beramal berdasarkan pendapat orang lain tanpa berdasarkan dalil. 7507173 Fax. Metro Pondok Indah Pondok Indah Plaza I Kav. (021) 7501969. Taqlid ialah mengamalkan pendapat orang lain tanpa mengetahui dalilnya. Beberapa hal itu ialah: a. UA 20-21 Jakarta Selatan Telp. harus terus kita kembangkan. Sesuai dengan pengertian taqlid di atas maka beberapa hal seperti di bawah ini tidaklah termasuk kategori taqlid. Sedangkan taqlid antara lain: menurut istilah Kondisi ada yang baik ini beberapa rumusan. sedangkan ittiba' adalah beramal atau mengamalkan pendapat orang lain dengan mengetahui dalilnya. Menurut hemat saya yang ada hanyalah ijtihad dan taqlid. (bersambung 4/4) -------------------------------------------Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah Editor: Budhy Munawar-Rachman Penerbit Yayasan Paramadina Jln. Demikian menurut al-Qaffal.perguruan-perguruan tinggi Islam. Sebagian ulama ada yang berpendapat bahwa beramal atau mengamalkan pendapat orang lain dengan mengetahui dalilnya adalah ijtihad. Sementara pihak ada yang membedakan antara taqlid dan ittiba'. b. Menerima pendapat orang lain dalam kondisi anda tidak mengetahui dari mana orang itu berpendapat. (021) 7507174 Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota Please direct any suggestion to Media Team Artikel Yayasan Paramadina Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota . 2. 3. Taqlid ialah beramal berdasarkan pendapat orang lain yang pendapatnya itu tidak merupakan salah satu dalil yang dibenarkan.

Bagi kita yang harus kita tempuh ialah mengusahakan bagaimana agar lahirnya ulama-ulama yang ahlu li 'l-ijtihad dapat diperbanyak. . yang artinya. Syafi'i dan lain-lain yang melarang taqlid. Dengan demikian tidak benar jika kita mengatakan bahwa ijtihad itu wajib dan taqlid itu haram secara mutlaq/tanpa ada batasan. Artinya. jangan sampai terjadi adanya "man laisa lahu ahlun li 'l-ijtihad" memberanikan diri untuk berijtihad. dimana dalam keseluruhan hukum Islam." Orang-orang yang tidak memenuhi persyaratan ijtihad semacam itu wajib mengikuti pendapat imam mujtahid yang mu'tabar atau istifta'/meminta penjelasan hukum kepada ahl al-dzikr. Kearah inilah harus kita fahami ucapan imam-imam mujtahid kenamaan seperti Hanafi." (QS. Dan Allah berfirman. Yang awam ini jelas tidak mungkin untuk dipaksakan harus mengupayakan dirinya menjadi mujtahid. tetapi nyatanya masih tetap menjadi muqallidin yang setia. mayoritas umat Islam dari kalangan awam. bagi yang mampu berijtihad sendiri karena telah memenuhi persyaratannya janganlah mengikuti atau bertaqlid kepada mujtahid yang lain. sejalan dengan firman-Nya. Taqlid secara total/murni (taqlid al-mahdli). Demikian juga harus kita usahakan. Tidak dibenarkan/haram baginya bertaqlid atau mengikuti pendapat mujtahid yang lain. "Bertanyalah kepada ulama apabila kamu tidak mengerti. demikian juga taqlid/muqallid yang terdiri dari beberapa tingkatan. Sebab ada beberapa ulama yang semestinya mereka mampu berijtihad. Ibrahim Hosen Bagi orang-orang yang tidak memenuhi persyaratan ijtihad baik mereka ulama maupun awam. Kenyataan menunjukkan bahwa sejak dahulu sampai saat sekarang dan akan berlanjut terus sampai akhir zaman nanti. TINGKATAN TAQLID/MUQALLID Sebagaimana halnya ijtihad/mujtahid yang bertingkat-tingkat. Sebab ijtihad yang dilakukannya justru akan membawa pada kesesatan. Sebab tidak realistis. "Allah tidak menaklif/memberi pembenahan kewajiban kepada seseorang kecuali sesuai dengan kemampuannya. seperti taqlid yang dilakukan oleh kebanyakan orang awam. mereka mengikuti pendapat imam mujtahid. yaitu: 1. haram bagi mereka berijtihad.24. tetapi wajib berijtihad sendiri. WAJIB IJTIHAD DAN HARAM TAQLID Bagi orang-orang yang memenuhi persyaratan ijtihad maka wajib bagi mereka berijtihad dan mengamalkan hasil ijtihadnya. TAQLID DAN IJTIHAD Beberapa Pengertian Dasar HARAM IJTIHAD DAN WAJIB TAQLID (4/4) Oleh KH. janganlah menduduki bangku taqlid. Ini sangat berbahaya. al-Nahl: 43).IV. Diantara ulama yang mengharamkan taqlid dan mewajibkan ijtihad tanpa ada batasan-batasan tertentu ialah Ibnu Hazm dan al-Syaukany. Kalau sudah pada tempatnya untuk duduk di kursi ijtihad.

Tidak ada larangan bagi seseorang untuk berpindah madzhab. Pendapat ini rupanya yang banyak memasyarakat di Indonesia. Pendapat ini tidak membenarkan talfiq. Pendapat pertama ini dipelopori oleh Imam Qaffal. rasanya tidak lengkap kalau kita tidak menyinggung masalah talfiq. Golongan ini dipelopori olah al-Qarafi. Taqlid dalam bidang-bidang hukum tertentu saja. seperti yang dilakukan oleh mujtahid muntasib. 3. Dari segi dalil maupun kemaslahatan diantara ketiga pendapat di atas menurut hemat saya yang paling kuat adalah pendapat Al-Kamal Ibnu Hammam dengan alasan antara lain: . dengan ketentuan tidak terjadi dalam kesatuan qadliyah yang menurut imam pertama dan imam kedua sama-sama dianggap batal. sekalipun dimaksudkan untuk mencari keringanan. mereka dianggap sebagai mujtahid. selama tidak terjadi dalam kasus hukum (dalam kesatuan qadliyah) dimana imam yang pertama dan imam yang kedua atau imam yang sekarang diikuti sama-sama menganggap batal. Ushuliyyin berbeda pendapat mengenai boleh dan tidaknya seseorang ber-talfiq. Pendapat ini memperbolehkan talfiq sekalipun dimaksudkan untuk tujuan mencari keringanan tersebut. sempat dipolitisir dan eksploitir. tetapi dilihat dari sisi lain. yang di zaman partai-partai Islam masih ada. Seorang yang telah memilih salah satu madzhab boleh saja pindah ke madzhab lain.2. Apabila seseorang telah mengikuti salah satu mazhab maka ia harus terikat dengan madzhab tersebut. bidang tarjih. Taqlid dalam hal kaidah-kaidah istinbath. talfiq ialah beramal dalam suatu masalah/qadliyah atas dasar hukum yang terdiri dari kumpulan/gabungan dua mazhab atau lebih. Menurut definisinya. Baginya tidak boleh pindah ke madzhab lain baik secara keseluruhan maupun sebagian (talfiq). Perbedaan ini bersumber dari masalah boleh dan tidaknya seseorang pindah mazhab. Artinya. apakah ia harus terikat dengan madzhab tersebut yang berarti ia tidak dibenarkan mengikuti atau pindah ke madzhab lain. 3. apabila seseorang telah mengikuti/bertaqlid dengan salah satu mazhab. MASALAH TALFIQ Berbicara masalah taqlid. dan bidang fatwa. seperti yang dilakukan para ulama yang mampu berijtihad dalam bidang madzhab. 2. Dengan demikian dilihat dari satu segi. Pendapat ketiga ini dipelopori oleh Al-Kamal Ibnu Hammam. mereka termasuk muqallid. Pendapat kedua ini membenarkan talfiq sekalipun dimaksudkan untuk mencari kemudahan. walaupun dengan motivasi mencari kemudahan. ataukah ia tidak terikat dengan arti boleh baginya mengikuti atau pindah ke madzhab lain? Dalam hal ini ada tiga pendapat: 1.

2. Ijtihad baru akan berfungsi dan berdayaguna sebagaimana . kemudian ia bersentuhan kulit dengan ajnabiyah. 2. Membuat undang-undang perkawinan dimana akad nikahnya harus dengan wali dan saksi karena mengikuti madzhab Syafi'i. Kaidah yang berbunyi. Hadits Nabi yang menyatakan bahwa Rasulullah tidak pernah disuruh memilih sesuatu kecuali akan memilih yang paling mudah. sebab Qadli tadi berpegang dengan pendapat madzhab Maliki dan Hanafi yang tidak memandang persoalan mathla'. "al-ami la madzhaba lahu" -orang awam tidak punya mazhab." Contoh Talfiq a. 2. Terjadi ru'yah yang mu'tabarah pada suatu tempat. Masalah Kemasyarakatan 1. Hal ini dimaksudkan untuk keseragaman dan menghindarkan adanya kesimpang-siuran. Tidak ada nash agama baik dari al-Qur'an maupun Sunnah yang mewajibkan seseorang harus terikat dengan salah satu mazhab saja. Kesimpulan Dari beberapa uraian di atas kesimpulan sebagai berikut: ingin saya ambil beberapa 1. Tidak punya mazhab artinya tidak terikat. ia terus bershalat dengan mengikuti madzhab Hanafi yang mengatakan bahwa sentuhan tersebut tidak membatalkan wudlu. Seseorang berwudlu mengikuti tata cara Syafi'i. Hal ini sejalan dengan kaidah.1. 3. al-Nahl: 43). mengenai sah jatuhnya thalaq raj'i mengikuti madzhab Hanafi yang memandang sah ruju' bi 'l-fi'li (langsung bersetubuh). selama tidak membawa ke dosa. kemudian ia bershalat dengan menghadap kiblat dengan posisi sebagaimana ditentukan oleh madzhab Hanafi. Ijtihad merupakan sarana yang paling efektif untuk mendukung tetap tegak dan eksisnya hukum Islam serta menjadikannya sebagai tatanan hidup yang up to date yang sanggup menjawab tantangan zaman (shalihun li kulli zaman wa makan). b. Yang ada adalah perintah untuk bertanya kepada ulama tanpa ditentukan ulama yang mana dan siapa orangnya (QS. 2. Hanya saja dalam hal-hal yang menyangkut kemasyarakatan maka yang berlaku adalah mazhab pemerintah atau pendapat yang diundangkan pemerintah lewat perundang-undangan. Seseorang berwudlu menurut madzhab Syafi'i yang menyapu kurang dari seperempat kepala. Dalam Ibadat. "Keputusan pemerintah mengikat atau wajib dipatuhi dan akan menyelesaikan persengketaan. 1. kemudian Qadli Syafi'i menetapkan bahwa ru'yah tersebut berlaku pada seluruh wilayah kekuasaannya.

khususnya perguruan tinggi. Nihayatu 'l-Sul Al-Subki. 4. Untuk menggalakkan ijtihad guna menjadikan hukum Islam ini dinamis dan lincah perlu digalakkan studi fiqih perbandingan dan ushul fiqih perbandingan di lembaga-lembaga pendidikan Islam. 4.Marilah kita menjadi mujtahid yang benar atau muqallid yang baik yang mempunyai komitmen yang utuh terhadap ajaran agama Islam. 18." Musallamu 'l-Tsubur . Badi'un-Nidham Shadrus-Syari'ah Al-Bukhari. 9. 7.disebutkan pada Butir pertama jika ijtihad dilakukan para ahlinya (mereka yang memenuhi persyaratan dan dilakukan pada tempatnya sesuai dengan ketentuan yang telah diakui kebenaran dan kesalahannya). 13. Jam'ul Jawami' Ushulus-Sarkhasi Ushulul-Bazdawi Al-Nasafi. 8. Minhaju 'l-Ushul Al-Asnawi. al-Musthafa Fakhruddin al-Razi. al-Mahshul Al-Amidi. al-Tahrõr Muhammad bin Amir al-Halabi. 9. Ijtihad akan membawa kejayaan bagi Islam dan umatnya. Na'udzu bi 'l-Lah. 10. al-Risalah Muhammad bin 'Ali al-Bashri. Al-Syafi'i. 6. Ijtihad sepanjang pengertian ushuliyyin hanyalah berlaku di dunia hukum. 8. 3. Ijtihad yang saat ini benar-benar masih dapat kita lakukan ialah ijtihad di bidang tarjih dan ijtihad dalam kasus-kasus tertentu yang belum pernah diijtihadi dibahas oleh imam-imam mujtahid terdahulu. Irsyadu 'l-Fukhul Muhibbu 'l-Lah "Abdus-Syakur. 5. Tanpa itu hanya omong kosong. DAFTAR KEPUSTAKAAN 1. Keduanya ini dapat kita lakukan secara perorangan (ijtihad fardy) atau secara kolektif (ijtihad jamma'iy). al-Burhan Al-Ghazali. Perbedaan yang ditolerir oleh Islam yang dinyatakan akan membawa rahmat/kelapangan adalah perbedaan di bidang hukum furu'/fiqih sebagai akibat dari adanya perbedaan ijtihad. Ijtihad yang dilakukan oleh yang bukan ahlinya/yang tidak memenuhi persyaratan atau dilakukan tidak pada tempatnya justru akan membawa kehancuran Islam dan bencana serta malapetaka bagi umatnya. 10. 17. 2. 16. 12. Ijtihad dapat kita jadikan alat untuk menjawab perlu dan tidaknya reaktualisasi hukum Islam dan hal itu hanya memenuhi persyaratan ijtihad. 14. al-Manar Al-Baghdadi. Ranqikhu 'l-Ushul Al-Kamal Ibnul-Hammam. 6. 11. al-Mu'tamad Al-Juwaini. apabila hal itu dilakukan oleh yang memenuhi persyaratan dan dilakukan di tempat-tempat yang diperbolehkan memainkan peranan ijtihad. 7. 3. 5. Inkamu 'l-Ihkam Al-Baidlawi. Taisirut-Tahrir Al-Syaukani. 15.

sehingga aku tidak bersalah. 'Umar tetap berpegang teguh pada pendapatnya -. "Wa hadza madzab masyhur 'an 'Umar. 7501983. Metro Pondok Indah Pondok Indah Plaza I Kav. Toh." kata Ibn Hajar. Al-Bukhari mencatat perdebatan Abdullah bin Mas'ud dengan Abu Musa al-Asy'ari tentang kasus ini pada hadits No. TINJAUAN KRITIS ATAS SEJARAH FIQH (1/10) Dari Fiqh Al-Khulafa' Al-Rasyidin Hingga Madzhab Liberalisme oleh Jalaluddin Rakhmat 1. jika engkau inginkan. cukuplah bagi kamu berbuat demikian. Semua sahabat menolak pendapat Umar. 247." Mendengar demikian Umar menegur 'Ammar: "Ya Ammar. bila tidak ada air. (021) 7501969. "Ya Amir al-Mu'minin. UA 20-21 Jakarta Selatan Telp.orang junub." Maksud kedatangannya untuk menanyakan apakah ia harus shalat atau tidak. 7507173 Fax. [2] "Aku melihat memang lebih baik tidak meriwayatkan hadits ini ketimbang meriwayatkannya Aku setuju denganmu.pernah berada dalam perjalanan. Ibnul Qayyim. "Jangan shalat sampai engkau mendapatkan air. al-Syathibi. Dulu --engkau dan aku-. A'lamu 'l-Muwaqq'in -------------------------------------------Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah Editor: Budhy Munawar-Rachman Penerbit Yayasan Paramadina Jln. Dan Nabi berkata. Menarik untuk dicatat bahwa kelak .22. Aku sampaikan kejadian ini kepada Rasulullah saw. Abu Musa menentang pendapat Abdullah --sekaligus madzhab Umar-. 'Umar menjawab.dengan mengutip ayat ("jika kalian tak mendapatkan air hendaklah tayamum dengan tanah yang baik")." 'Ammar bin Yasir berkata pada 'Umar bin Khathab: "Tidakkah Anda ingat." [1] "Yang dimaksud Ammar. Kata Ammar. aku tidak akan menceritakan hadits ini selama engkau hidup. takutlah pada Allah". kecuali Abdullah bin Mas'ud.19." Sejak itu. tidak perlu shalat. 'Ammar tidak meriwayatkan peristiwa itu lagi. al-Muwafaqat 20. FIQH AL-KHULAFA' AL-RASYIDIN: FIQH PENGUASA Seorang laki-laki datang menemui 'Umar bin Khathab: "Saya dalam keadaan junub dan tidak ada air. aku sudah menyampaikannya. Kita dalam keadaan junub. sedangkan aku berguling-guling di atas tanah. (021) 7507174 Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota Please direct any suggestion to Media Team Artikel Yayasan Paramadina Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota IV. dan menahan diriku." kata Ibn Hajar. Engkau tidak shalat.

dengan merujuk mazhab 'Umar. "Sunnah sahabat r. ayat yang sama. dan bentuk ra'yu-nya bermacam-macam. Ketiga. Dan para sahabat merespon situasi ini dengan mengembangkan fiqh (pemahaman) mereka. URGENSI FIQH SAHABAT Fiqh shahabi memperoleh kedudukan yang sangat penting dalam khazanah pemikiran Islam. saya akan menjelaskan sebab-musabab timbulnya ikhtilaf fiqh di antara para sahabat. ada pula yang berijtihad dengan ra'yu bila tidak ada nash.adalah orang yang berjumpa dengan Rasulullah saw dan meninggal dunia sebagai orang Islam. al-hukm. Pertama. ada yang berijtihad dengan qiyas seperti Abdullah bin Mas'ud.a. lewat kekuasaan. bila tidak ada nash. Kedua." Dalam perkembangan ilmu fiqh. [3] Dari makalah kita mengenal sunnah Rasulullah. sahabat --sebagaimana didefinisikan ahli hadits-. terlihat ada sikap hiperkritis dalam menerima atau menyampaikan riwayat Dan keempat. Dengan demikian.akhirnya menjadi salah satu sumber hukum Islam di samping istihsan. zaman sahabat juga melahirkan prinsip-prinsip umum dalam mengambil keputusan hukum (istinbath. Ketiga. Sebagian menganggaprlya sebagai hujjah mutlak. mashalih mursalah dan sebagainya. Madzhab sahabat pun menjadi hujjah. sebagian lainnya hanya . Al-Syathibi [5] menulis. Pertama. memang terjadi perbedaan paham di antara sahabat dalam masalah fiqhiyah Kedua. Sementara itu. yang nanti diformulasikan dalam kaidah-kaidah ushul fiqh. 'Umar menghendaki pembakuan paham dan mengeliminasi pendapat yang berlainan. Inilah embrio ilmu fiqh yang pertama. madzhab sahabat --sebagai ucapan dan perilaku yang keluar dari para sahabat-. pada zaman sahabat rujukan itu adalah diri sendiri. qiyas. ijtihad para sahabat menjadi rujukan yang harus diamalkan. Bila pada zaman tasyri' orang memverifikasi pemahaman agamanya atau mengakhiri perbedaan pendapat dengan merujuk pada Rasulullah. dan contoh-contoh fiqh al-khulafa al-rasyidin. Setelah itu. dan ada yang berijtihad dengan metode mashlahat. Abu Zahrah menulis: [4] Di antara sahabat ada yang berijtihad dalam batas-batas al-Kitab dan al-Sunnah. ulama berbeda pendapat.). Ketika menceritakan ijtihad pada zaman sahabat. perluasan kekuasaan Islam dan interaksi antara Islam dengan peradaban-peradaban lain menimbulkan masalah-masalah baru. Tentang hal ini. Saya akan memulai makalah ini dengan membahas urgensi fiqh sahabat dalam keseluruhan pemikiran fiqhiyah. dan tidak melewatinya. perbedaan di antara para sahabat berpengaruh besar pada ikhtilaf kaum Muslim pada abad-abad berikutnya Karena itu membicarakan fiqh para sahabat menjadi sangat penting sebagai pijakan bagi pembahasan masalah fiqh mutakhir. perilaku mereka menjadi sunnah yang diikuti. mazhab Hanafi melanjutkan Lebih menarik lagi untuk kita catat adalah beberapa pelajaran dari riwayat di atas. dari mereka juga kita mewarisi ikhtilaf di kalangan kaum Muslim. sebagian lagi sebagai hujjah bila bertentangan dengan qiyas. karena itu. zaman sahabat adalah zaman segera setelah berakhirnya masa tasyri'. adalah sunnah yang harus diamalkan dan dijadikan rujukan. karakteristik fiqh sahabat.

Tentu saja. berdasarkan hadits ("berpeganglah pada dua orang sesudahku. dusta.. dan sebagian yang lain. atau dinilai sebagaimana perawi hadits lain. setelah Rasulullah wafat. yang dipilih Allah untuk.menemani Nabi-Nya. keraguan kesombongan. berpendapat bahwa yang menjadi hujjah hanyalah kesepakatan khulafa' al-Rasyidin. Kelompok ini --kelak disebut Ahl al-Sunnah-ternyata tidak mudah mengambil hukum dari nash. mereka adalah orang-orang yang menyaksikan turunnya wahyu. Mereka tak boleh dikritik. mazhab sahabat menimbulkan kemusykilan yang sulit diatasi. putuslah masa tasyi'. kecuali Ali bin Abi Thalib. Semua Khalifah al-Rasyidin termasuk kelompok kedua. dan pembawa al-Qur'an dan al-'Sunnah.. Allah memuliakan mereka dengan karunia-Nya menempatkan kedudukan mereka pada tempat ikutan. menurut nash dari Rasul. Imam ahli jarh dan ta'dil. Mereka akhirnya menggunakan metode-metode ijtidah seperti qiyas atau istihsan. dan celaan. Allah menamai mereka sebagai 'udul al-ummah (umat yang paling bersih). di antara para sahabat itu yang paling penting adalah khulafa al-rasyidun. maka tidak mengherankan bila mazhab sahabat menjadi rujukan penting bagi perkembangan fiqh Islam sepanjang sejarah. [8] Kelompok pertama memandang bahwa otoritas untuk menetapkan hukum-hukum Tuhan dan menjelaskan makna al-Qur'an setelah Rasulullah wafat dipegang ahl al-Bait. muncul dua pandangan. Lalu mengapa mereka ikhtilaf? PENYEBAB IKHTILAF DI KALANGAN SAHABAT Salah satu sebab utama ikhtilaf di antara para sahabat adalah prosedur penetapan hukum untuk masalah-masalah baru yang tidak terjadi pada zaman Rasulullah saw. Kelompok ini tidak mengalami kesulitan dalam masa berhentinya wahyu. Bila mereka sepakat. karena banyak hal tak terjawab oleh nash. Kelompok kedua lebih banyak menggunakan . yang harus dirujuk untuk menyelesaikan masalah-masalah dan menetapkan hukum-hukum Allah. Kelompok kedua memandang tidak ada orang tertentu yang ditunjuk rasul untuk menafsirkan dan menetapkan perintah Ilahi. hujjah agama.. Mereka dibersikkan dari keraguan. ahl al-Sunnah sepakat menetapkan bahwa seluruh sallabat adalah baik (al-shahabiy kulluhum 'udul). menurut kesepakatan ahl al-sunnah. ini yang terpenting. Sementara itu. menegakkan agamanya.menganggap hujjah pada pendapat Abu Bakar dan Umar saja. dipersalahkan. Karena posisi sahabat begitu istimewa. bila mereka ikhtilaf. memenangkan ke benarannya. pemimpin-pemimpin hidayah. [6] Terakhir keempat.. Al-Qur'an dan al-Sunnah adalah sumber untuk menarik hukum-hukum berkenaan dengan masalah-masalah yang timbul di masyarakat. Abu Hatim al-Razi dalam pengantar kitabnya menulis: [7] Adapun sahabat Rasulullah saw. pendapat mereka dapat membantu memecahkan masalah fiqh. karena mereka tahu betul --tugas mereka adalah mengacu pada Ma'shumun. untuk menolongnya. Menghadapi masalah-masalah baru itu. yakni Abu Bakar dan Umar"). Merekalah 'udul al-ummah. Hanya merekalah. kekeliruan. mengetahui tafsir dar ta'wil.

Kata Utsman: Aku melarang manusia melakukan tamattu. Kata quru dalam wal muthalaqatu yatarabbashna bi anfusihim tsalatsatu quru' diartikan berbeda-beda. Utsman berkata: Sesungguhnya laranganku itu hanya ra'yuku saja. [9] Setelah perdebatan ini. [10] Contoh lainnya adalah hukuman dera bagi peminum khamr. Rasulullah saw. kelompok pertama dalil naqli. Tetapi Umar kemudian dikoreksi Ubayy bin Ka'ab. sesungguhnya Anda tahu. yang tidak hadir tentu tidak mengetahuinya. menetapkan thalaq tiga dalam satu majlis itu dihitung satu. Rasulullah saw. Engkau sendiri berada di pintu. yang mengambil sunnah dari Nabi dan meriwayatkannya.. siapa yang tak mau boleh meninggalkannya.. Utsman tampaknya sependapat dengan Ibn 'Abbas. Anda tidak. menderanya 40 kali. ketika saya diundang. ketika saya hadir Anda tidak ada. ditanya tentang suatu masalah.ra'yu. Ali kembali menderanya 40 kali. wanita Nashrani. Ali menjawab: Aku tak akan meninggalkan sunnah Rasulullah saw. Ibn 'Abbas menganggap ayat itu sebagai pengecualian (takhshish) dari ayat wa la tankihu al-musyrikat hatta yu'minna. Ketika Rasulullah saw. Kelompok kedua banyak menggunakan dalil aqly. melakukan atau tidak melakukan sesuatu. Ali membebaskan hukum itu berdasarkan hadits. wafat. [14] Ibn Umar menafsirkan "al-muhshanat dalam ayat wa al muhshanat min alladzina utu al-kitab sebagai wanita Muslim. Ali secara demonstratif melakukannya di depan Utsman. [15] Kadang-kadang ikhtilaf terjadi di antara para sahabat karena perbedaan pengetahuan yang mereka miiiki. hanya karena pendapat seseorang. Umar memutuskan hukuman rajam bagi orang gila yang berzina. misalnya. contoh-contoh berikut menunjukkan perbedaan memahami nash. Yang hadir waktu itu dapat menyimpan peristiwa itu. Umar pernah melarang hajji tamattu'. padahal al-Qur'an dan al-Sunnah sangat tegas menetapkannya. mengetahui nash tertentu. menurut riwayat lain dari Abdullah bin Zubair.. Kata Ubayy Anda tahu saya berada di dalam beserta Rasulullah saw. Umar pernah menegur orang yang dikiranya salah ketika membaca QS al-Fath: 26. [13] Bila contoh-contoh tadi berkenaan dengan perbedaan antara ketetapan nash dengan ra'yu. [12] Begitu pula Ali. karena itu Ibn Umar mengharamkan wanita ahli kitab dinikahi laki-laki Muslim. ketika ia membaca ayat itu. sebagian lain tidak mengetahuinya. [16] Al-Syaikh Muhammad Muhammad al-Madany menjelaskan sebab ikhtilaf yang berkenaan dengan sunnah: [17] salah satu Sahabat Rasulullah saw. bertebaranlah sahabat di . karena ia menikah dengan Nailah. dan kelompok pertama lebih banyak merujuk nash. Zaid ibn Tsabit mengartikannya masa bersuci di antara haidh dengan haidh lagi. Umar menetapkan thalaq tiga itu jatuh tiga sekaligus. berbeda-beda dalam kemampuan pengambilannya dan dalam menerima riwayatnya. [11] Umar --atas saran Abd al-Rahman bin Auf menderanya 80 kali. Ketika Utsman juga melarangnya. Ia menghukum dengan hukum tertentu memerintahkan atau melarang sesuatu. Siapa yang mau boleh menjalankannya. Abdullah bin Mas'ud dan Umar mengartikan "quru" itu haidh. Sebagian sahabat. Ia memarahi orang itu. Demi Allah Ya Umar. dan engkau sendiri melakukannya. Rasulullah saw. dan Thalhah menikahi wanita Yahudi dari Syam.

Aku tidak melakukan itu. orang Basrah menghadiri tempat yang tidak dihadiri orang Syam. Khalifah bahkan menetapkan sangsi bagi orang yang mempunyai pendapat berbeda. ikhtilaf ini adalah assets bagi perkembangan pemikiran. Buat orang yang berjiwa terbuka. Umar dan Ibn Mas'ud tidak mengetahuinya.negeri-negeri. walau pun tidak menemukan air selama dua bulan. Anak perempuan dari anak beserta anak perempuan mendapat waris diketahui Ibn Mas'ud tetapi tidak diketahui Abu Musa. ikhtilaf di antara para sahabat dapat diselesaikan oleh khalifah. Ibn 'Umar. lalu bermusyawarah. orang Syam hadir di tempat yang tidak dihadiri orang Basrah. Kata Umar: "Panggil Rafa'ah bin Rafi'. Ia mengutus orang bertanya pada Hafshah. ikhtilaf di antara para sahabat itu dibiarkan dan diwariskan kepada generasi berikutnya. kecuali Ali dan Mu'adz. Dalam kasus-kasus yang lain. aku dengar kau berfatwa pada manusia dengan ra'yumu sendiri? Kata Zaid: "Ya Amir al-Mu'minin. Marilah kita berikan satu contoh lagi yang lebih ilustratif. Hafshah tidak tahu." [18] Dalam kasus yang baru kita ceritakan.. Ketika orang sedang berkumpul di hadapan Umar bin Khathab. Tetapi aku mendengar hadits dari paman-pamanku. Buat orang-orang sektarian. Tidak turun ayat yang mengharamkan. Tidak juga ada larangan dari Rasulullah saw. Kata 'Aisyah: "Bila khitan sudah bertemu khitan." Lalu Umar mengumpulkan Muhajirin dan Anshar. dan setiap penduduk negeri mengambil dari sahabat yang ada di negeri mereka. 'Amar dan yang lain mengetahui tentang tayamum. aku akan pukul dia. sedangkan sebagian lagi hadir. ikhtilaf para sahabat ini menjadi sumber perpecahan." Kata Umar: "Bila ada lagi orang berfatwa bahwa tidak wajib mandi kalau tidak keluar. apalagi orang-orang setelah kalian!" Kata Ali." Kata Umar: "Kalian sahabat-sahabat yang ikut Badr sudah ikhtilaf." Kata Umar: "Apakah Rasulullah saw. wajib mandi. orang Basrah menghadiri yang tidak dihadiri orang Kufah. Padahal --seperti telah kita jelaskan--sebagian sahabat pada sebagian waktu tidak hadir di majelis Rasulullah saw. sehingga mereka berkata: Orang junub tidak tayamum. Berkata Ibn Hazm: "Orang Madinah hadir pada tempat yang tidak dihadiri orang Basrah." Kata Umar: "Panggil dia!" Zaid pun datang dan Umar berkata: "Hai musuh dirinya sendiri!. ini Zaid bin Tsabit berfatwa di masjid dengan ra'yunya berkenaan dengan mandi janabah." dari Rifa'ah bin Rafi'. 'Umar bin Abd . Ia berkata: "Apakah kalian berbuat demikian . Abu Hurairah tidak mengetahuinya walaupun mereka penduduk Madinah. wajib mandi.bila kalian bercampur dengan isteri kalian dan tidak keluar air mani kalian mandi?" Kata Rafa'ah: "Kami melakukan begitu pada zaman Rasulullah saw. Ya Amir al-Mu'minin: "tidak ada orang yang lebih tahu dalam hal ini kecuali isteri Rasulullah saw. orang Kufah hadir di tempat yang tidak dihadiri orang Madinah. dan tidak mengetahui apa yang tidak ia hadiri. Keduanya berkata: "Jika kedua khitan bertemu. Ini jelas menurut akal. Ali Hudzaifah al-Yamani dan lain-lain mengetahui hukum mengusap tetapi 'Aisyah. Semua orang berkata tidak perlu mandi. mengetahuinya?" Kata Rafa'ah: "Tidak tahu. lalu aku sampaikan -. Setiap orang hanya mcngetahui apa yang ia saksikan.dan Abi Ayyub dari Ubbay bin Ka'ab. Ini semua terjadi dalam hadits. dan pada saat kita memerlukan informasi. 'Aisyah ditanya. masuklah seorang laki-laki: "Ya Amir al-Mu'minin.

Para sahabat -seperti Miqdad. Seandainya pendapat mereka itu tunggal. b) qiyas pada nash atau pada ijma'. Dengan begitu. karena bila mereka tidak membukanya. Mereka boleh ikhtilaf.(bersambung 2/10) Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah Editor: Budhy Munawar-Rachman Penerbit Yayasan Paramadina Jln. saya tak akan membicarakan kelompok sahabat ini. 7501983. ijtihad mereka menggunakan tiga metode: a) menjelaskan dan menafsirkan nash. Mereka adalah teladan yang diikuti. pendapat seseorang menjadi hujjah bila orang itu ma'shum. Kedua cara ini melahirkan dua mazhab besar di kalangan sahabat -. Allah memberikan keluasan pada umat dengan adanya ikhtilaf furu'i di antara mereka. ia membuka umat untuk memasuki Rahmat-Nya. Hudzaifah dan sebagian besar Bani Hasyim -. [30] Pada bagian ini. TINJAUAN KRITIS ATAS SEJARAH FIQH (2/10) Dari Fiqh Al-Khulafa' Al-Rasyidin Hingga Madzhab Liberalisme oleh Jalaluddin Rakhmat KARAKTERISTIK FIQH SAHABAT Seperti telah disebutkan di muka. . dari segi prosedur penetapan hukum. Artinya. Abu Dzar. Muhammad Ali al-Sais menyebutkan bahwa ijtihad sahabat itu meliputi qiyas.Madzhab 'Alawi dan Madzhab 'Umari yang akhirnya mewariskan kepada kita sekarang sebagai Syi'ah dan ahli Sunnah. sempitlah manusia dibuatnya. menurut mereka. UA 20-21 Jakarta Selatan Telp. tokoh ukhuwah Islamiyah yang menghentikan kutukan pada Ali di mimbar. mereka membuka pintu ijtihad bagi manusia. (021) 7501969.merujuk pada ahl al-Bait dalam menghadapi masalah-masalah baru. Metro Pondok Indah Pondok Indah Plaza I Kav. Lagi pula. Menurut Muhammad Salim Madkur. para mujtahid berada dalam kesempitan. Ah al-Bait memiliki kema'shuman berdasarkan nash al-Qur'an dan al-Sunnah. fiqh mereka ini hanya terbatas pada qiyas.al-'Aziz. jadilah itu sunnah." [19] -------------------------------------------. ada dua cara yang dilakukan para sahabat. 'Ammar bin Yasir. berkata: "Aku tidak senang kalau sahabat Nabi tidak ikhtilaf. Mereka berpendapat bahwa ada dua nash yang dengan tegas menyuruh kaum Muslim berpegang teguh pada pimpinan ahl-al-Bait. (021) 7507174 Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota Please direct any suggestion to Media Team Artikel Yayasan Paramadina Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota IV. Jika kita mengambil dari siapa saja di antara mereka. dan ijtihad dengan ra'yu seperti al-Mashalih al-Mursalah dan istihsan. Menurut Muhammad al-Khudlari Bek. tapi akan memutuskan perhatian pada metode ijtihad kelompok sahabat yang tak merujuk ahl al-Bait.22. 7507173 Fax.

jawablah -. Cukuplah bagimu Kitab Allah. "Aku takut jika aku mati aku masih meninggalkan hadits-hadits ini bersamamu. berkata: "Pergilah kamu semua dari aku. ada tiga tahap dalam ijtihad para sahabat: a) merujuk pada nash al-Qur'an dan al-Sunnah b) menggunakan metode-metode ijtihad seperti qiyas. Mereka tenggelam dalam tulisan mereka dan meninggalkan Kitab Allah. di rumah Rasulullah saw. al-baraah al-ashliyah. Nabi berkata: "Bawalah ke sini./2 H. dan Abu Mas'ud al-Anshari. Umar ibn Abd al-Aziz (meninggal 719/101) adalah orang yang pertama menginstruksikan penulisan hadits. bila nash tidak ada atau tidak diketahui. Pada tahap pertama. Di bawah ini saya kutipkan berbagai riwayat berkenaan dengan sikap Khulafa al-Rasyidin pada Hadits (sunnah): 1) Dari Ibn Abbas: ketika Nabi menjelang wafat. halalkanlah apa yang dihalalkannya. Nabi saw. "Aku membawanya. Ia memikirkannya selama satu bulan.. walaupun ada nash sharih . "Kalian meriwayatkan hadits Rasulullah saw." [22] 2) 'Aisyah meriwayatkan: Ayahku telah mengumpulkan 500 hadits Rasulullah saw. Ketika terjadi banyak pertengkaran dan ikhtilaf." Terjadi ikhtilaf di antara orang-orang di rumah itu. Ia membakar dan berkata." Umar berkata: "Nabi sedang dikuasai penyakitnya. Jika ada yang bertanya kepada kalian.istihsan. bila tidak ada nash. menggunakan qiyas atau pertimbangan kepentingan umum. tampaknya lebih memusatkan perhatian pada ayat-ayat al-Qur'an (atau ruh ajaran al-Qur'an) dengan agak mengabaikan (kadang-kadang menafikan hadits). bahkan pertimbangan kepentingan umum (maslahat) didahulukan dari nash. Pada suatu pagi ia datang padaku dan berkata: "Bawalah hadits-hadits yang ada padamu itu. Nanti orang-orang setelah kalian akan lebih bertikai lagi. sehingga di kalangan ahl al-sunnah. yang kalian pertengkarkan. mengharapkan bimbingan Allah dalam hal ini. Pada suatu pagi. [25] Umar kemudian mengumpulkan hadits-hadits itu dan membakarnya. di antaranya Umar bin Khathab." [27] Tradisi pelarangan hadits ini dilanjutkan para tabi'in. ia memutuskan dan menyatakan: "Aku teringat orang-orang sebelum kalian. Di antara mereka ada yang mengikuti ucapan Umar. [28] Karakteristik kedua dari ijtihad sahabat. Tidak layak di hadapanku bertengkar. [26] Ia juga menetapkan tahanan rumah pada tiga sahabat yang banyak meriwayatkan hadits: Ibn Mas'ud. Dalam beberapa kasus. al-mashalih al-mursalah. dan c) mencapai kesepakatan lewat proses perkembangan opini publik yang alamiah. dan haramkanlah apa yang diharamkannya" [24] 3) Al-Zuhri meriwayatkan. Umar ingin menuliskan sunnah-sunnah Rasulullah saw. [21] Menurut pendapat saya. Menurut satu riwayat. Padamu ada Kitab Allah.Di antara Anda dan kami ada Kitab Allah. penulisan hadits terlambat sampai abad 8 M." [23] al-Dzahabi meriwayatkan bahwa Abu Bakar mengumpulkan orang setelah Nabi wafat dan berkata. para Khulafa al-Rasyidin selain Ali. Janganlah meriwayatkan satu Hadits pun dari Rasulullah saw. sadd al-dzara'i. aku tuliskan bagimu tulisan yang tidak akan menyesatkanmu selama-lamanya. berkumpul orang-orang. Abu Darda.

(tegas) yang bertentangan contoh-contohnya... "Kami tidak memerlukan kalian lagi. " Lalu berlalulah apa yang diputuskan Umar. [32] 5. al-Dawalibi menulis hal yang sama dalam 'Ilm Ushul al-Fiqh: "Di antara kreasi Umar r. Jika kamu Islam (baiklah itu). Amir al-Mu'minin Umar bin Khathab melihat orang telah melecehkan urusan thalaq. jika tidak pedanglah yang memutuskan antara kamu dan kami. [33] Utsman juga melakukan banyak "pembaharuan" dalam fiqh Islam: a) mengitmamkan shalat dalam keadaan safat di Mina. Berikut ini 1. Umar melarangnya. Abu Bakar menyuruh Tharifah bin Hajiz untuk membawanya ke Madinah. Mereka berpendapat. Utsman bin Affan membolehkan "menikahi" dua orang wanita bersaudara dari antara budak belian sekaligus. sehingga sahabat menahan dirinya untuk tidak mudah menjatuhkan thalaq. [38] f) mendahulukan khotbah sebelum shalat pada shalat 'id. serta Rasulullah dan Abu Bakar melakukannya. Al-Fujaah ternyata menggunakan fasilitas Abu Bakar ini untuk merampok.. Abu Bakar menghukumnya dengan membakarnya hidup-hidup. thalaq tiga pada sekali ucapan dijadikan satu seperti hadits shahih dari Ibn 'Abbas." [29] 2. dengan itu. [34] b) menambahkan adzan ketiga pada hari Jum'at . Ali bin Abi Thalib mengharamkannya. "Ia. Bila al-Qur'an menetapkan bagian muallaf dari zakat. Al-Fujaah pernah menyatakan diri ingin berjihad dan meminta perbekalan pada Abu Bakar. Abu Bakar memberinya bekal. sedangkan di zaman Nabi.. [35] c) melarang haji tamattu.a.. Allah sudah memenangkan Islam dan melepaskan dari kalian. setelah Rasulullah saw. insya Allah. Ini adalah prinsip taghayyarat bihi al-fatwa litaghayyur al-zaman. Umar melihat ini untuk kemashlahatan umat di zamannya." Ketika Rasul dan Abu Bakar membolehkan penjualan Ummahat al-Awlad." Kata Ibn Qayyim. [36] d) membolehkan tidak mandi bagi yang bercampur dengan isterinya tanpa mengeluarkan mani. Ketika kelompok muallaf datang menemui Abu Bakar untuk menuntut surat. mereka datang kepada Umar. Kata Umar: "Manusia terlalu terburu-buru di tempat yang seharusnya hati-hati. Umar datang dan berkata.. Dr. "Mereka kembali pada Abu Bakar dan berkata. Ketika talaq tiga dalam satu majelis dihitung satu menurut Sunnah dan ijma. Abu Bakar dan permulaan Khilafah Umar. [31] 4. [39] . "Kami tidak memberi kamu sedikit pun karena Islam. Khalid Muhammad Khalid menulis tentang ijtihad Umar dalam al-Dimuqrathiyyah: Umar bin Khattab telah meninggalkan nash-nash agama yang Suci dari al-Qur'an dan al-Sunnah ketika dituntut kemaslahatan untuk itu. [37] e) mengambil zakat dari kuda. [30] 3. Umar meninggalkan sunnah dan menyingkirkan ijma. Umar merobek surat itu dan berkata. tapi menyalurkan hak itu fi sabilillah.. khalifah yang berhak mengatur pembagian khumus. yang menunjang kaidah hukum berubah karena perubahan zaman ialah jatuhnya thalaq tiga dengan satu kalimat. Abu Bakar dan Umar tidak memberikan hak khumus dari keluarga Rasulullah saw. "Adakah khalifah itu atau dia? "Abu Bakar menjawab. Umar ingin menghukum keteledoran ini. wafat.

Adzan tetap seperti dulu. Al-Zarqani mengomentari hadits ini: Yang dimaksud "orang" adalah sahabat. Ia berkata: Aku tidak mengenal lagi apa-apa yang aku lihat dilakukan "orang" kecuali panggilan shalat. Al-Musayyab memuji Al-Barra bin 'Azib: "Beruntunglah Anda. "Semoga Allah meyampaikan kepadaku kesalahan-kesalahanku sebagai suatu bingkisan. Tidak berubah. lalu konsesnsus. al-Rasyidun-. engkau tidak tahu hal-hal baru yang kami adakan sepeninggal Rasulullah. mereka sahabatku. waktu itu yang disebut sunnah ialah apa yang disebut Imam Malik sebagai al-amr al-mujtama' 'alaih.Saya hentikan kutipan kasus-kasus ijtihad Khulafa' al-Rasyidin di sini. KESIMPULAN Fiqh para sahabat --khususnya seperti diwakili oleh al-Khulafa. Marilah kita lihat proses perkembangan pemikiran para sahabat sehubungan dengan sunnah.menyumbangkan khazanah yang kaya untuk memperluas pemikiran. Berkembanglah berbagai penafsiran. Anda menjadi sahabat Rasulullah saw. waktunya telah diakhirkan. Sebagian sahabat mulai mengeluhkan terjadinya perubahan ini. juga --seperti kata 'Umar ibn Abdul Aziz-. Sayang sekali. [44] Imam Syafi'i meriwayatkan dari Wahab bin Kaysan. kecuali dalam satu hal: Apa yang disepakati tidak selalu berkembang dari hasil persaingan pendapat yang demokratis. FIQH TABI'IN: FIQH USHUL Sejak zaman sahabat (dan ini diakui para sahabat sendiri) telah terjadi perubahan-perubahan dalam syari'at Islam. tidak berganti. selain mewariskan kemusykilan bagi kita sekarang." Al-Barra menjawab. 'Umar sendiri berkata. Ada dua sikap ekstrim terhadap sahabat yang harus dihindari: menghindari sikap kritis atau melakukan sikap hiperkritis." [41] 2. Saya hampir sependapat dengan Fazlur Rahman. dan perbuatan yang lain telah berubah. Hai anak saudaraku. sikap kritis ini telah "dimatikan" dengan vonnis zindiq oleh sebagian ahli hadits.adalah fondasi utama dari seluruh bangunan fiqh Islam sepanjang zaman. Fiqih shahabi memberikan dua macam pola pendekatan terhadap syari'ah yang kemudian melahirkan tradisi fiqh yang berbeda. [40] pada zaman para sahabat. [43] Bid'ah-bid'ah ini telah mengubah sunnah Rasulullah saw. Menurut Fazlur Rahman. dari bapaknya (seorang sahabat). Imam Malik meriwayatkan dari pamannya Abu Suhail bin Malik. pendapat-pendapat tertentu kemudian berkembang menjadi opini generalis. Anda berbaiat kepadanya di bawah pohon. Ada pun shalat. Tidak berlebih-lebihan kalau kita simpulkan bahwa fiqih al-Khulafa al-Rasyidin adalah fiqih penguasa. Dalam proses free market of ideas. Ia melihat Ibn . orang secara bebas memberikan tafsiran pada sunnah Rasulullah saw. [42] Kata ma ahdatsna (apa-apa yang kami adakan) menunjukkan pada perbuatan bid'ah yang dilakukan para sahabat Nabi. Suatu ketika seorang tabi'in. Ketika banyak orang marah karena 'Umar dikritik. Ikhtilaf di antara para sahabat. Diriwayatkan bahwa pada hari kiamat ada rombongan manusia yang pernah menyertai Nabi diusir dari al-haudh (telaga). lalu opini publik. Nabi saw: "Ya Rabbi. Dikatakan kepadanya: Engkau tak tahu apa-apa yang mereka ada-adakan sepeninggal kamu. Karena itu. Tentu saja. untuk itu diperlukan penelaahan kritis terhadapnya. Seringkali yang disebut ijma' adalah konsensus yang "ditetapkan" oleh penguasa politik waktu itu.

atau lagi-lagi pertimbangan politis. mungkin karena ketidaktahuan. Abu bakar meriwayatkan hanya 142 hadits. Ia memegang tangan Muthrif bin Abd Allah dan berkata: Ia telah shalat seperti shalatnya Muhammad saw. bahwa dalam khazanah fiqh ahl al-Sunnah para khalifah sedikit sekali memberi fatwa atau meriwayatkan al-hadits. penguasa politik kemudian melakukan manipulasi hadits dengan motif politik. menjaharkan basmalah. Menarik untuk dicatat. Jika semua hadits mereka disatukan hanya berjumlah 1411 hadits. Umar 537 hadits. kecuali shalat. Karena pertimbangan politik. sebagai upaya menghapus jejak Ali. Sebagian lagi banyak sekali memberi fatwa. selain mengambil hadits sebagai sumber hukum. kita lebih banyak menelaah ushul ketimbang fiqh.Zubair memulai shalatnya sebelum khutbah. Karena fiqh lebih banyak didasarkan pada al-hadits. Ia mengingatkan aku pada Shalat Muhammad saw. Anas menjawab. Ibn 'Umar. sunnah Nabi sudah banyak diubah. [47] 'Umran bin al Husain pernah shalat di belakang Ali. mereka tidak mengenal kamu (yang kamu amalkan) kecuali kiblat kamu". Dalam perkembangannya. Ibn 'Abbas berdoa: Ya Allah. [45] Kata Al-Zuhri: Aku menemui Anas bin Malik di Damaskus. [48] Jadi pada zaman sahabat pun. Ia sedang menangis. Fiqh Tab'in. Tidak semua sahabat menjawab pertanyaan mereka. kehatihatian. "Aku sudah tidak mengenal lagi apa yang aku lihat. orang-orang Islam bertanya pada sahabat dalam urusan hukum-hukum agama. [51] Contoh-contoh di atas menunjukkan bagaimana campur tangan kekuasaan politik membentuk fiqh. Jabir ibn Abdullah dan lain-lain. yang menjadi tradisi Rasulullah saw dan para sahabat Nabi seperti Abu Bakar. . kita juga akan mengupas kemusykilan ijtihad sahabat. sujud di atas kain menjadi syi'ar Ahl al-Sunnah. dan karenanya secara singkat ia disebut Fiqh al-ushul.kita akan membicarakan juga tradisi fiqh al-atsar dan fiqh al-ra'y. sampai shalat pun. juga mengambil ijtihad para sahabat. [46] Al-Hasan al-Bashri menegaskan: "Seandainya sahabat-sahabat Rasulullah saw lewat. Utsman 146 hadits. Karena pendapat-pendapat para sahabat terbagi dua --yang berpusat pada al-hadits dan al-ra'y-. Hal ini disebabkan ushul adalah sandaran para tabi'in. laknatlah mereka. atau karena posisinya memungkinkan untuk itu. khususnya yang dijalankan secara setia oleh Ali dan para pengikutnya. Salah satu sebab utama perubahan adalah campur tangan penguasa. [50] Contoh yang lain adalah sujud di atas tanah. [49] Contohnya. Ali 586 hadits. Ini pun sudah dilalaikan orang". marilah kita lihat sedikit latar belakang fiqh tabi'in. kurang dari 27% hadits yang diriwayatkan Abu Hurairah (Abu Huraiah meriwayatkan 5374 hadits). Sebagian sahabat sedikit sekali memberi fatwa. Bani Umayyah telah mengubah sunnah Nabi. APA YANG DIMAKSUD DENGAN FIQH TABI'IN Setelah Nabi Muhammad saw meninggal dunia. Mereka meninggalkan sunnah karena benci kepada Ali. Secara keseluruhan. Sebab itu. kemudian berkata: Semua sunnah Rasulullah saw sudah diubah. sedangkan sujud di atas tanah dianggap musyrik dan dihitung sebagai perbuatan zindiq". "Mengapa Anda menangis. Ibn Mas'ud. Sebelum membahas itu semua. mungkin karena pengetahuan mereka." tanya Al-Zuhri. dan mereka pun tidak bertanya pada semua sahabat.

(bersambung 3/10) Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah Editor: Budhy Munawar-Rachman Penerbit Yayasan Paramadina Jln. seperti Abdullah bin Mas'ud. kecuali yang diizinkan keluar oleh Umar. umumnya bukanlah murid al-Khulafa al-Rasyidin. Kedua. bahkan sedikit sekali sahabat yang keluar dari Madinah. ketika kekuasaan Islam meluas. Ka'ab al-Ahbar sering dimintai fatwa oleh Ibn Abbas. Metro Pondok Indah Pondok Indah Plaza I Kav. 7507173 Fax. 'Umar ingin mengambil manfaat dari pendapat mereka. baik secara politik maupun administratif dalam pemerintahan. dan lain-lain. Abdullah ibn 'Umar serta ayahnya Al-Faroq. mereka melakukan ijtihad seperti atau dengan metode yang dilakukan para sahabat. Umar bin Khatab menahan para sahabat senior di Madinah dan melarang mereka meninggalkan kota itu. Dalam kaitan ini. karena itu. (021) 7507174 Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota Please direct any suggestion to Media Team Artikel Yayasan Paramadina Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota IV. sebelum Dinasti Umayyah berkuasa. 'Alqamah dan Ka'ab keduanya tabi'in. Abu Musa al-Asy'ari. hanya sedikit para sahabat yang meninggalkan Madinah. Bila ada masalah baru yang tidak terdapat pada kedua hal tersebut. umumaya fiqh mawali. Ayahku menjawab Aku menemukan sahabat-sahabat Nabi bertanya kepada 'Alqamah dan meminta fatwanya. ia mempertimbangkan alasan-alasan. 7501983. Banyak diantara tabi'in yang mencapai faqahah (kefaqihan) begitu rupa sehingga sahabat (sic!) berguru pada mereka. para tabi'in mengumpulkan dua hal: Hadits-hadits Nabi saw dan pendapat-pendapat para sahabat (aqwal al-shahabat). yakni mereka yang berguru pada sahabat. . tidak banyak. Kebanyakan. Qabus ibn Abi Zhabiyan berkata: Aku tanya ayahku.Karena itu. Baru ketika Utsman memerintah. para tabi'in. Pertama. murid-murid sahabat itu para mawali (non Arab). Abu Zahrah menulis: [52] -------------------------------------------. Juga bukan sahabat senior. mengapa Anda tinggalkan sahabat dan mendatangi 'Alqamah. menurut Abu Zahrah. UA 20-21 Jakarta Selatan Telp. Yang keluar kebanyakan bukan fuqaha.22. TINJAUAN KRITIS ATAS SEJARAH FIQH (3/10) Dari Fiqh Al-Khulafa' Al-Rasyidin Hingga Madzhab Liberalisme oleh Jalaluddin Rakhmat Sebenarnya. Fiqh tabi'in. Sahabat yang terkenal punya banyak murid adalah Ibn Mas'ud di Iraq. mereka diizinkan keluar. Zaid ibn Tsabit dan lain-lain di Madinah. (021) 7501969. Dari sahabat. Abu Hurairah. dan Abdullah ibn Amr. Dalam pada itu.

Mu'awiyah pun mengakuinya. Hamad ibn Abu Sulayman Salim mawla Ibn Umar. Pertama. siapa yang aku laknat atau aku kecam. 'Urwah ibn al-Zubair (wafat 94 H). Tentu saja kata "washi"dan "khalifah" mempunyai konotasi yang sangat jelas. Al-Syu'bi. membuang seluruh berita tentang sahabat dengan petunjuk adanya penghilangan itu. [55] Ketiga. Al-Dzahabi ketika meriwayatkan biografi Al-Nasai menulis. Abidullah ibn Abdillah (wafat 99 H). Tetapi ia membuang semua isi surat itu dengan alasan "supaya orang banyak tidak resah mendengarkannya. Contoh-contoh yang diberikan di sini difokuskan pada manipulasi yang diduga beralasan politis. semoga Allah tidak mengenyangkan perut Mu'awiyah". BUKTI-BUKTI MANIPULASI HADITS Di sini tidak ditunjukkan manipulasi hadits kecuali seperti tampak pada kitab-kitab hadits yang ada sekarang. Al-Qasim ibn Muhammad ibn Abu Bakar (Wafat 108 H). "Kalian menginginkan kekuasaan ini seperti kekuasaan Heraclius!". Shahih Bukhari menghilangkan ucapan Abd al-Rahman dengan mengatakan faqaala 'Abd al-Rahman ibn 'Abi Bakar syai'an (Abd al-Rahman mengatakan sesuatu). Ada beberapa cara manipulasi hadits. Ibrahim al-Nakh'i. ketika al-Nasai diminta meriwayatkan keutamaan Mu'awiyah. Abu Bakar ibn 'Abid (wafat 94 H). [53] Dengan cara itu. 'Aisyah menolak asbab al-nuzul ini. Kata Al-Dzahabi: Barangkali yang dimaksudkan dengan keutamaan Mu'awiyah ini adalah ucapan Nabi saw: Ya Allah. ia meminta rakyat untuk membaiat Yazid. ia berkata. [56] Bagaimana mungkin laknat Nabi menjadi . Kehormatan Khalifah dan Gubernurnya terpelihara. Marwan marah dan menyuruh orang menangkap Abd al-Rahman. memberikan makna lain (ta'wil) pada hadits. membuang sebagian isi hadits dan menggantinya dengan kata-kata yang tidak jelas. jadikanlah laknat dan kecaman itu kesucian dan rahmat baginya. Isi surat ini secara lengkap dimuat dalam Kitab Shiffin dari Nashr bin Mazahim (wafat 212 H) dan Muruj al-Dzahab tulisan al-Mas'udi (wafat 246 H). "hadits apa yang harus aku keluarkan kecuali ucapan Nabi. Al-Thabari (wafat 310 H) melaporkan peristiwa itu dengan menunjuk kedua kitab di atas sebagai sumber. Ketika Marwan menjadi Gubernur Mu'awiyah di Hijaz. Kata-kata ini dalam Tafsir al-Thabari dan Ibn Katsir diganti dengan: wa kadza wa kadza (demikianlah-demikianlah). Muhammad ibn Abu Bakar menulis surat kepada Mu'awiyah menjelaskaan keutamaan Ali sebagai washi Nabi saw. Abd al-Rahman ibn Abu Bakar memprotes Marwan sambil berkata." Ibn Atsir dalam Al-Bidayah wa al-Nihayah juga menghilangkan kedua surat itu dengan mengemukakan alasan yang sama. Ia lari ke kamar 'Aisyah ra. kecaman kepada Mu'awiyah dan Marwan tidak diketahui. Dari situ paling tidak kita melihat petunjuk (indikator) manipulasi hadits pada zaman tabi'in. [54] Kedua. Sulayman ibn Yasar (wafat 100 H) dan Kharijah ibn Zaid ibn Tsabit (wafat?). Dalam tarikhnya. Marwan berkata: Ayat al-Qur'an: alladzi qala liwalidaihi uffin lakum turun tentang Abd al-Rahman. antara lain sebagai berikut. saudaranya. dan 'Ikrimah mawla Ibn Abbas. al-Thabari meriwayatkan ucapan Nabi saw tentang Ali: "Inilah washihu dan khalifahku untuk kamu".Ada tujuh orang faqih tabi'in yang terkenal (al-fuqaha al-sab'ah): Sa'id ibn Musayyab (wafat 93 H). Di samping mereka ada 'Atha ibn Abi Rabah.

dan bahwa Abu Bakar adalah orang yang pertama masuk Islam. Setelah berbicara panjang. yang dibuat-buat oleh orang Syi'ah. dalam Hayat Muhammad melakukan hal yang sama. Pada bukunya. Ibnu 'Asakir dan lain-lain. dan umat teradil. ia mengutip ucapan Nabi: Siapa yang akan membantuku dalam urusan ini supaya menjadi saudaraku. Anda lindungi orang yang lemah supaya tidak dimakan yang kuat. "Atas nama Allah . 3. "Tetapi aku tinggalkan sebagian riwayat Ibn Ishaq yang jelek bila disebut orang". aku tawassul padamu dengan Allah swt dan aku meminta tolong padamu dengan Muhammad saw dan dengan kekeluargaanmu padanya. Anda perangi musuh." "Aku maafkan Anda".kesucian dan rahmat. Al-Thabrani memberi komentar: Ia menjadikan washi untuk keluarganya. Kemudian ia melirik kepada Ibn Sam'an: "Bagaimana pendapat kamu?" Kata Ibn Sam'an: "Anda. Ibn Sam'an dan Ibn Abi Dzuaib. Ibn Hisyam mendasarkan tarikhnya pada tarikh Ibn Ishaq. Ibn Katsir mendha'ifkan riwayat Nabi tentang Ali sebagai Washi. ya Amir al-Mu'minin. Andalah tonggak agama. Al-Syuibi mengutamakan Abu Bakar. tetapi Bukhari dan Muslim memang meriwayatkan hadits ini. Abu Nu'aim al-Isbahani. orang terbaik. [57] Al-Thabrani dalam Majma' al-Zawaid meriwayatkan ucapan Rasulullah saw kepada Salman bahwa Ali adalah washi-nya. Al-Syu'bi mendustakan Al-Harits. atau orang-orang yang bodoh dalam ilmu hadits. Anda berhaji ke Baitullah. Berkenaan dengan ini bagian "Fiqh al-Khulafa' al-Rasyidin" di atas. Al-Thabari. "Bagaimana pendapat kalian tentang diriku? Apakah aku pemimpin adil atau zalim?" Malik bin Anas berkata: "Ya Amiral Mu'minin. melarang penulisan hadits Nabi saw. Al-Syu'bi meriwayatkan hadits dari Al-Harits al-Hamdani. Anda berikan keamanan di jalan." [58] Belakangan ini Muhammad Husayn Haykal. maafkanlah aku untuk tidak berbicara. mendha'ifkan hadits-hadits yang mengurangi kehormatan penguasa atau yang menunjang keutamaan lawan. kata Ibn Hisyam dalam pengantarnya. Kelima. bukan untuk Khalifah. membuang sebagian isi hadits tanpa menyebutkan petunjuk ke situ atau alasan. Khalifah bertanya. Ibn Abd al-Barr mengomentari ucapan al-Syu'bi: Ia tidak menjelaskan apa alasan dusta untuk Al-Harits. demi Allah. Ia menganggap riwayat itu sebagai dusta. Ia membenci Al-Harits karena kecintaannya yang berlebihan pada Ali dan mengutamakan Ali di atas sahabat yang lain. Al-Thabrani. Lahirnya Madzhab-madzhab Fiqh Ketika al-Manshur baru saja diangkat menjadi khalifah. "Inilah saudaraku. Di antara yang dibuang itu adalah kisah "wa andzir 'asyirataka al-aqrabin". salah seorang pendusta." Kemudian al-Manshur melirik Ibn Abi Dzuaib. [69] Ia lupa bahwa hadits ini diriwayatkan dari banyak sahabat Nabi oleh Imam Ahmad. Keempat. Ia dikawal para prajurit dengan pedang-pedang terhunus. cetakan kedua (Tahun 1354). Demi Allah. cetakan pertama. Ia berkata: menyampaikan padaku Al-Harits. washiku. Dalam Ibn Ishaq diriwayatkan Nabi saw berkata. Karena itu. washiku dan Khalifahku untuk kamu. Beberapa tabi'in juga melarang penulisan hadits. Keenam. wallahu a'lam. ucapan Nabi saw ini dihilangkan sama sekali. kata al-Manshur. Pada Hayat Muhammad. dan khalifahku untuk kamu. orang yang paling baik. ia mengundang Malik ibn Anas.

Apa alasanmu di hadapan Allah nanti?" "Celaka kamu. Tapi. Ja'far al-Shadiq. yang dikisahkan Ibn Qutaybah. sebetulnya banyak madzhab muncul. . demi Allah. Malik bin Anas kelak terkenal sebagai pendiri madzhab Maliki. ia bermusyawarah dengan Malik untuk menggantungkan al-Muwaththa pada Ka'bah dan memerintahkan orang untuk beramal menurut Kitab itu. Anda hancurkan yang lemah. al-Manshur berkata kepada Malik: "Saya punya rencana untuk memperbanyak kitab yang kau susun ini. madzhab-madzhab itu akhirnya hilang dari catatan sejarah. adalah seorang alim yang terkenal faqih dan wara. anak yatim. Menurut al-Dahlawi. zuhud. Seperti akan kita uraikan nanti. Aku tidak pernah melihatnya kecuali dalam salah satu di antara tiga keadaan: sedang shalat. dan kepada setiap wilayah kaum Muslim saya kirim satu naskah. atau sedang membaca al-Qur'an. Tidak pernah aku lihat ia meriwayatkan hadits dari Rasulullah kecuali dalam keadaan suci. tidakkah kamu lihat apa yang ada dihadapanmu?" kata al-Manshur. ketika Harun al-Rasyid berkuasa. dan bagian keluarga Rasul. Ibn Dzuaib adalah orang yang membukukan hadits di Madinah. Ibn Dzuaib. kita tahu bahwa Malik didukung para penguasa. Ibn Abi Dzuaib. dan boleh jadi lebih faqih dari Malik. tetapi karena tidak didukung penguasa.bagaimana pendapatmu tentang diriku?" Yang ditanya menjawab." Sifat terakhir ini justru menyebabkan Ja'far tidak disenangi penguasa. Walau Malik menolak rencana kedua khalifah itu. "Benar. "Menurut pendapatku. Malik berkata tentang Ja'far: "Aku pernah berguru pada Ja'far bin Muhammad beberapa waktu. serta saya instruksikan agar mereka mengamalkan isinya sehingga mereka tidak mengambil yang lain. Pada akhir bagian ini kita akan membicarakan "pokok dan tokoh" madzhab yang masih memiliki banyak pengikut sampai sekarang. aku lihat pedang dan itu berarti kematian. nama lengRapnya Abu al-Harit Muhammad ibn Abd al-Rahman ibn al-Mughirah ibn Dzuaib al-'Amiri. di samping Malik. Dalam tulisan ini kita akan mencatat beberapa orang tokoh madzhab yang terlupakan. yang hanya takut kepada Allah saja. Anda merampas harta Allah. Fiqhnya "dicurigai" dan para pengamalnya dianiaya. yaitu saya salin. dan orang miskin. kita akan meninjau latar belakang historis dari tumbuhnya madzhab-madzhab fiqh. Anda tahan harta mereka." Peristiwa di atas. Ia tak bicara sesuatu yang tak manfaat. dengan para pengikut yang tersebar di berbagai bagian dunia Islam. Tapi sebelum itu. Fame bestows no favors upon the losers. Ia pun hampir tidak dikenal kecuali pada kalangan pengikutnya saja. dan ia termasuk ulama yang taat beribadah. RasulNya. menunjukkan posisi Malik ibn Anas dibandingkan ulama yang sezaman dengannya. Ketika naik haji. Bagiku sama saja apakah mati itu dipercepat atau diperlambat. adalah faqih dari keluarga Rasulullah saw. Ia lebih berani. Sejarah memang hanya memihak yang menang. Masih sezaman dengan Malik dan bahkan Malik pernah berguru kepadanya." Begitu pula. Imam Malik menjadi terkemuka setelah al-Manshur memberikan segala kehormatan kepadanya. Namun sekarang hampir tidak ada orang yang mengenalnya. tentu saja tidak dikenal. Anda persulit orang yang kuat. sedang puasa. namanya hampir tidak pernah disebut dalam buku-buku tarikh. Anda manusia terjahat.

Ali dan sebagainya. al-Sunnah dan Ijtihad para sahabat.SEJARAH PEMBENTUKAN MADZHAB Kelima Madzhab yang akan kita bicarakan -Ja'fari. Pada zaman sebelum itu. Karena tekanan dan penindasan. melandaskan fiqhnya pada al-Qur'an. dan sedapat mungkin menghindari ra'yu dalam menetapkan hukum. membunuh para pengikut setianya. Umar." -------------------------------------------. Syafi'i. Maliki. "Tapi Abu Hanifah dan Ahmad berkata: "Menaikkan permukaan kubur (tasnim) lebih baik. Metro Pondok Indah . Abu Rafi Mawla Rasulullah. Ibn Abbas.tumbuh pada zaman kekuasaan dinasti Abbasiyah. dan Hanbali-. sedikit menggunakan hadits dan lebih banyak berpijak pada penalaran rasional dengan melihat sebab hukum (illat) dan tujuan syara' (maqashid syar'iyyah). Yang pertama. Miqdad. Sedangkan Abu Bakar. Hudzaifah. Para sahabat dapat dikelompokkan dalam dua besar. Murtadha al-'Askary menyebut dua madzhab awal ini sebagai Madrasah al-Khulafa dan Madrasah Ahl al-Bayt. Hanafi. Ibn Taymiyyah menulis perihal tasyabbuh dengan syiah: "Dari sinilah para fuqaha berpendapat untuk meninggalkan al-mustahabbat (yang sunat) bila sudah menjadi syiar orang-orang Syi'ah. Utsman. Karena walaupun meninggalkannya tidak wajib menampakkannya berarti menyerupai (tasyabbuh) mereka. masuk kelompok pertama. Madrasah ahl al-Bayt tumbuh "di bawah tanah" mengikuti para imam mereka. berpusat di Madinah. Pada zaman kekuasaan dinasti Umawiyyah. Ibn Qutaybah dalam Kitab al-Ikhtilaf menceritakan bagaimana raja-raja Umawiyyat berusaha menghapuskan tradisi ahl al-Bayt dengan mengutuk Ali bin Abi Thalib di mimbar-mimbar. maka yang dimaksud adalah madzhab di kalangan sahabat Nabi: Madzhab Umar. Aisyah. Tidak jarang sunnah Rasulullah yang sahih ditinggalkan karena sunnah itu dipertahankan dengan teguh oleh para pengikut ahl al-Bayt. Ali dan kedua puteranya. dan sebagainya. dan melakukan istinbath hukum. memandang sunnah Rasulullah. dan mengeluarkan fatwa yang bertentangan dengan ahl al-Bayt. Kemaslahatan berbeda dengan mereka dalam rangka menjauhi dan menentang mereka lebih besar dari kemaslahatan mengamalkan yang musthab itu. Ibn Umar. Yang kedua. sehingga sunni tidak berbeda dengan syi'ah. juga para sahabat di luar ahl al-Bayt. Yaitu ahl al-Bayt dan para pengikutnya. mereka mengembangkan esoterisme dan disimulasi untuk memelihara fiqh mereka. berpusat di Iraq. madrasah al-Khulafa bercabang lagi ke dalam dua cabang besar: Madrasah al-Hadits dan Madrasah al-Ra'y. karena tasthih sudah menjadi syi'ar sy'iah. Kedua madrasah ini berbeda dalam menafsirkan al-Qur'an. Abu Dzarr. Ummi Salamah. Inilah yang paling kuat menurut madzhab Syaf'i. Abu Hurairah dan lain-lain masuk kelompok kedua. Sementara itu." Salah satu contoh sunnah yang dijauhi orang adalah tasthih seperti diceritakan oleh Muhamamd bin 'Abd al-Rahma yang berkata: "Yang sunnah dalam membuat kubur adalah meratakan permukaan kubur (tasthith). 'Ammar bin Yasir.(bersambung 4/10) Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah Editor: Budhy Munawar-Rachman Penerbit Yayasan Paramadina Jln. Aisyah. bila orang berbicara tentang madzhab.

Madzhab Syafi'i membesar di Mesir ketika Shalahuddin al-Ayyubi merebut negeri itu. madrasah-madrasah itu tidak melahirkan pemikiran-pemikiran madzhab. Para khalifah banyak melakukan hal-hal yang melanggar sunnah Rasulullah saw b) Terputusnya hubungan antara pusat khilafah dengan pusat ilmiah. Dinasti Abbasiyah disambut dengan penuh antusias baik oleh mawali maupun pengikut ahl al-Bayt. Di Afrika. dan al-Rasyid. Karena itu pada permulaan pemerintahannya. Waktu itu al-Mutawakkil tidak mengangkat seorang qadhi kecuali dengan persetujuan Imam Ahmad ibn Hanbal. Madzhab Maliki berkembang di khilafah Timur atas dukungan al-Manshur dan di khilafah Barat atas dukungan Yahya bin Yahya ketika diangkat menjadi qadhi oleh para khalifah Andalusia. Di antara mawali itu adalah Abu Hanafi dan di antara imam ahl al-Bayt adalah Ja'far bin Muhammad. bahwa madzhab-madzhab besar yang kita kenal sekarang --kecuali mazhab Ja'fari-. Madzhab Hanbali menjadi kuat pada masa pemerintahan al-Mutawakkil. sedangkan pusat-pusat ilmiah berada di Iraq dan Hijaz. IMAM-IMAM MADZHAB YANG TERLUPAKAN Sudah disebutkan di muka. Waktu itu.22. al-Mu'iz Badis mewajibkan seluruh penduduk untuk mengikuti madzhab Maliki.yang justru lebih banyak pada daerah kekuasaan Islam. Keduanya mengembangkan ajaran mereka pada zaman Abbasiyah. murid Abu Hanifah. Al-Kharaj adalah Kitab yang disusun atas permintaan al-Rasyid. Dr. Banyak di antara mereka adalah para sarjana dalam berbagai disiplin ilmu. . TINJAUAN KRITIS ATAS SEJARAH FIQH (4/10) Dari Fiqh Al-Khulafa' Al-Rasyidin Hingga Madzhab Liberalisme oleh Jalaluddin Rakhmat Pada periode Umawiyyah. c) Politik diskriminasi yang mengistimewakan orang Arab di atas orang bukan Arab. diangkat menjadi qadhi dalam pemerintahan tiga khalifah Abbasiyah: al-Mahdi. al-Hadi. Banyak tokoh sahabat dan tabi'in yang menganggap daulat Umawiyyah ditegakkan di atas dasar yang batil. Madzhab Hanafi mulai berkembang ketika Abu Yusuf. Muhammad Farouq al-Nabhan menjelaskan sebab-sebab berikut: a) Hubungan yang buruk antara ulama dan khulafa. Kitab ini adalah rujukan utama madzhab Hanafi. Kebijakan ini menyebabkan timbulnya rasa tidak senang pada para mawali . (021) 7501969. pusat pemerintahan berada di Syam.Pondok Indah Plaza I Kav.membesar karena dukungan penguasa. (021) 7507174 Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota Please direct any suggestion to Media Team Artikel Yayasan Paramadina Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota IV. 7507173 Fax. 7501983. UA 20-21 Jakarta Selatan Telp. Dinasti Umawiyah memisahkan Arab dan mawali.

Tidak diketahui sampai kapan madzhabnya diikuti orang. mengetahui betul makna al-Qur'an. hilanglah ilmu Hijaz.Dalam menyimpulkan semua ini. Ia termasuk mujtahid ahl al sunnah yang tidak bertaklid kepada siapa pun. Dengan begitu. Madzhab al-Zhahiry. Ia sangat dekat dengan Bani Umayyah dan juga Bani Abbas. Madzhabnya diamalkan orang sampai abad IV. mengetahui sunnah dan jalan-jalannya. Berkali-kali al-Manshur mau membunuhnya. tetapi ia berhasil lolos." Beberapa madzhab sebagai berikut: yang hilang itu secara singkat diuraikan 1. 3. Pendirinya Abd al-Rahman bin Amr al-Awza'iy adalah imam penduduk Syam. ketika Ahmad menyebut dirinya hanya sebagai ahli hadits. Madzhab Ibn 'Uyaiynah. Salah seorang muridnya yang masyhur adalah Ibn Hazm. Abu Ishaq dan lain-lain. Madzhab al-Awza'iy." Mazhabnya diamalkan orang sampai tahun 302 H. Ia memberi komentar: "Seandainya tidak ada Malik dan Ibn 'Uyaiynah. tetapi setelah itu hilang karena tidak ada dukungan penguasa. al-Zuhry. Ibn Dinar. Ia berguru pada Ja'far al-Shadiq dan meriwayatkan banyak hadits. Di antara yang mengambil riwayat dari padanya adalah Syafi'i. Syah Wali al-Dahlawi menulis: "Bila pengikut suatu madzhab menjadi masyhur dan diberi wewenang untuk menetapkan keputusan hukum dan memberikan fatwa. Pahamnya diikuti orang sampai abad IV Hijrah. Lalu madzhab itu pun hilang setelah beberapa lama. yang nasikh dan yang mansukh dan paham akan pendapat para sahabat. Ia faqih. Madzhab al-Thabary. Nama lengkapnya Abu Muhammad Sufyan ibn 'Uyaiynah wafat tahun 198 H. Abu Sulayman Dawud ibn 'Ali dilahirkan di Kufah tahun 202 H dan hidup di Baghdad sampai tahun 270 H. 5. Ketika ia diminta menjadi qadhi. Abu Ja'far Muhammad ibn Jarir ibn Yazid ibn Khalid ibn Ghalib al-Thabary lahir di Thabaristan 224 H dan wafat di Baghdad 310 H. 2. Kata Ibn Khuzaymah: Ia hafal dan paham al-Qur'an. Madzhab al-Tsawri. dan tulisan mereka terkenal di masyarakat. tersebarlah madzhabnya di seluruh penjuru bumi. 4. al-Awza'iy. Imam Ahmad menyebutnya sebagai seorang faqih. Ia diberi gelar al-Zhahiry karena berpegang secara . ia melarikan diri dan meninggal di tempat pelarian. Ia mengambil ilmu dari Imam Ja'far. Bila para pengikut madzhab itu lemah dan tidak memperoleh posisi sebagai hakim dan tidak berwewenang memberi fatwa. maka orang tak ingin mempelajari madzhabnya. lalu orang mempelajari madzhab itu terang-terangan. Madzhabnya berkembang sampai abad VII. Ayahnya termasuk perawi hadits yang ditsiqatkan Ibn Ma'in. Malik dan al-Tsawry) yang paling benar? Malik berkata: "Al-Awza'iy. dapat membedakan yang sahih dan yang lemah. Lahir di Kufah tahun 65 H dan wafat di Bashrah tahun 161 H. Madzhabnya tersisihkan hanya ketika Muhammad bin Utsman dijadikan qadhi di Damaskus dan memutuskan hukum menurut Madzhab Syafi'i Ketika Malik ditanya tentang siapa di antara yang empat (Abu Hanifah. Tokoh madzhab ini adalah Abu Abd Allah Sufyan bin Masruq al-Tsawry.

Syu'bah ibn al-Hajjaj. Imam Ja'far memusatkan perhatiannya pada penyebaran sunnah Rasulullah dan peningkatan ilmu dan akhlak kaum Muslim." . dan ribuan para perawi." Ja'far bertanya kepada Abu Hanffah: "Siapa namamu?" "Nu'man. ia diasuh oleh ayahnya Muhammad al-Baqir dan hidup bersama selama sembilan belas tahun. mereka segera mengucilkannya atau membunuhnya. Ia juga menyaksikan bahwa para khalifah Abbasiyah tidak lebih baik dari para khalifah Umawiyah dalam kebenciannya kepada keluarga Rasul. Mereka selalu cemas menghadapi mereka. Fadhail ibn Iyadh. Di antara murid-muridnya adalah Imam Malik. Inilah sebagian di antara tokoh-tokoh madzhab yang tidak lagi dianut secara resmi sekarang ini. yang kemudian dijawab Ia orang pintar dan mengetahui agama. ketika Ya'qub ibn Yusuf ibn Abd al-Mu'min meninggalkan mazhab Maliki dan mengumumkan perpindahannya ke madzhab al-Zhahiry. al-Tsawry. Abu Hanifah. Ia juga menyaksikan naiknya al-Saffah dan al-Manshur dengan memanipulasikan kecintaan orang pada ahl al-Bayt. Mereka tak perduli membunuh orang tak berdosa karena dianggap mengancam pemerintahannya. dan penindasan terhadap para pengikut madrasah ahl al-Bayt. mereka segera menghukumnya. Kaum 'Alawi menunjukkan nasab seperti mereka dan memiliki kekerabatan dengan Rasulullah yang tidak dimililki 'Abbasiy. dan Ibn Abi Layla menghadap Imam Ja'far. Bila mereka melihat ada pejabat yang memuji Bani 'Ali. bila para penguasa 'Abbasiyah melihat ada dakwah 'Alawi. Untuk mengetahui pemikiran Imam Ja'far dalam hal fiqh. IMAM JA'FAR IBN MUHAMMAD AL-SHIDIQ (82-140 H) Ja'far ibn Muhammad ibn Ali ibn Husain (ibn Ali) ibn Fathimah binti Rasulullah saw lahir di Madinah tahun 82 H pada masa pemerintah Abd al-Malik ibn Marwan. Berikut adalah para pemuka madzhab yang terkenal. Karena itu. Ibn Syabramah. Ibn 'Uyaiynah. Ia berkembang di daerah Maroko. "Benar.harfiah pada teks-teks nash. Pokok-pokok pikirannya dalam fiqh akan kita perkenalkan secara singkat. pemberontakan Zaid ibn Ali. Dalam suasana seperti itulah. Ia menanyakan Ibn Abi Layla tentang kawannya. Ia sempat menyaksikan kekejaman al-Hajjaj. "Bukankah ia suka melakukan qiyas dalam urusan agama?. Selama lima belas tahun ia tinggal bersama kakeknya. Karena riwayat hidup mereka sudah disebutkan di atas --kecuali Imam Ja'far-.di sini hanya disebutkan beberapa catatan kecil saja. Orang-orang yang menentang mereka semuanya berasal dari 'Alawiyyin. Setelah Ali wafat. kita tuliskan percakapannya dengan muridnya selama dua tahun seperti diceritakan Abu Nu'aim: Abu Hanifah. Abu Zahrah menulis: Dinasti 'Abbasiyah selalu merasa terancam dalam kekuasaannya oleh para pengikut Ali." tanya Ja'far. Ali Zainal Abidin keturunan Rasul yang selamat dari pembantaian di Karbela.

Begitu pula. ketika Imam Zayd melawan penguasa. selain menolak qiyas adalah hal-hal berikut: a) Sumber-sumber syar'iy adalah al-Qur'an. ditambah hasutan Ibn Abi Layla."Aku tidak melihat Anda menguasai sedikit pun. ayahku memberitahukan kepadaku dari kakekku bahwa Nabi saw bersabda: Orang yang pertama menggunakan qiyas dalam agama adalah iblis. Karena Rasulullah dan para imam adalah orang yang mengetahui rahasia-rahasia al-Qur'an. . Yakni. Abu Hanifah mendukungnya. menulis: "Sesungguhnya Abu Hanifah itu Syi'ah dalam kecenderungan dan pendapatnya tentang penguasa di zamannya. Tugas mujtahid adalah mengeluarkan dari al-Qur'an jawaban-jawaban umum untuk masalah-masalah yang khusus. Barang siapa yang menggiyas dalam agama. Abu Zahrah. ia melihat bahwa khalifah haruslah diserahkan pada keturunan Ali dari Fathimah. Mereka tidak mau menjadikan hujjah hadits-hadits yang diriwayatkan para sahabat yang memusuhi ahl al-Bayt. Termasuk ke dalam sunnah adalah sunnah ahl al-Bayt: yakni para imam yang ma'shum. penafsiran al-Qur'an yang paling absah adalah yang berasal dari mereka. Allah akan menyertakannya bersama iblis. mengapa Allah hanya menuntut dua orang saksi untuk pembunuhan dan empat orang saksi untuk zinah." kata Ja'far sambil mengajukan berbagai pertanyaan yang tidak bisa dijawab Abu "Hai Nu'man. karena ia mengikutinya dengan qiyas. penulis biografi Abu Hanifah. al-Sunnah dan akal. Ketika Muhammad dan Ibrahim dari ahl al-Bayt memberontak. Qiyas hanya dipergunakan bila 'illat-nya manshush (terdapat dalam nash). b) Istihsan tidak boleh dipergunakan." "Mana yang lebih besar kewajibannya .membunuh atau berzinah? "Membunuh." Sikap Abu Hanifah itu. IMAM ABU HANIFAH Abu Hanifah terkenal sebagai alim yang teguh pendirian. Pada hal-hal yang tak terdapat ketentuan nashnya. Karena ketika Allah menyuruhnya bersujud kepada Adam ia berdalih: Aku lebih baik dari dia karena aku Kau buat dari api dan ia Kau buat dari tanah. Beberapa kali ia mengkritik al-Manshur secara terbuka. Bertaqwalah kepada Allah dan jangan melakukan qiyas dalam agama. c) Al-Qur'an dipandang telah lengkap menjawab seluruh persoalan agama. Di antara karakteristik khas dari madzhab Ja'fari. digunakan akal berdasarkan kaidah-kaidah tertentu. Ia menentang setiap kezaliman.shalat atau shawm (puasa)?" "Shalat" "Mengapa wanita yang haidh harus mengqadha shawmnya tetapi tidak harus mengqadha shalatnya." "Lalu. dan bahwa para khalifah yang sezaman dengan mereka telah merampas haknya dan karena itu mereka zalim. Manakah yang lebih besar dosanya . Abu Hanifah berbay'at kepadanya. Bagaimana kamu menggunakan qiyasmu." Dari percakapan di atas kita melihat perbedaan pendekatan hukum di antara dua pemuka madzhab.

aku ambil Sunnah Rasulullah dan hadits-hadits yang sahih. yaitu dengan menggunakan qiyas dan istihsan. Metro Pondok Indah Pondok Indah Plaza I Kav. Abu Hanifah meninggalkan banyak murid. -------------------------------------------. 7507173 Fax.22. aku mengambil pendapat para sahabat yang aku kehendaki dan meninggalkan yang tidak aku kehendaki. al-Manshur merasa bersalah. Abu Hanifah berkata. Bila sudah sampai pada tabi'in. (021) 7507174 Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota Please direct any suggestion to Media Team Artikel Yayasan Paramadina Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota IV. yakni adat kebiasaan yang tidak bertentangan dengan nash. terutama dalam masalah perdagangan. Setiap hari. Aku tidak keluar dari pendapat sahabat kepada pendapat yang lain. Tapi karena kedudukan Abu Hanifah di masyarakat. Ia mengakhiri hidupnya.(bersambung 5/10) Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah Editor: Budhy Munawar-Rachman Penerbit Yayasan Paramadina Jln. Ia --menurut satu riwayat-. yang disampaikan oleh orang-orang yang dapat dipercaya.menimbulkan kemarahan Al-Manshur. karena diberi makanan beracun. Di antaranya Abu Yusuf. c) Al-A'raf. Lalu ia menjebak Abu Hanifah dengan jabatan qadhi. TINJAUAN KRITIS ATAS SEJARAH FIQH (5/10) Dari Fiqh Al-Khulafa' Al-Rasyidin Hingga Madzhab Liberalisme oleh Jalaluddin Rakhmat IMAM MALIK Pada zaman kekuasaan Ja'far ibn Sulayman tahun 146 H Malik dihukum cambuk. 7501983. Setelah itu. yang kemudian menjadi qadhi dan banyak memasukkan hadits dalam kitab-kitabnya. dan pendapat para sahabat. mereka berijtihad dan aku pun berijtihad. dan Zafr ibn al-Hudzail. menurut satu riwayat. ia dicambuk sepuluh lecutan. Bila tidak. ijma. (021) 7501969. Abu Hanifah bahkan mengarqurkan beramal dengan 'urif. di samping ingin berusaha memanfaatkan alim besar ini. yang pernah berguru pada Malik dan kemudian menggabungkan madrasah hadits dengan madrasah Ra'y. yang meliputi al-Qur'an. Muhammad ibn Hasan al-Syaybany. ia dipenjarakan.mengeluarkan fatwa yang tidak dikehendaki penguasa. Jika tidak aku dapatkan dalam al-Kitab dan Sunnah Rasulullah. al-Sunnah. Ia tidak mungkin menarik Ja'far dan tidak berhasil . "Aku mengambil dari al-Kitab. b) Sumber-sumber ijtihadiyah. Al-Mansur tak dapat membunuhnya tanpa alasan. Ketika Abu Hanifah menolaknya. yang sangat ekstrem menggunakan qiyas. Pokok fiqih madzhab Hanafi bersumber pada tiga hal: a) Sumber-sumber naqliyah.". jika aku dapatkan di dalamnya. UA 20-21 Jakarta Selatan Telp.

" Seusai shalat. e) Qiyas. g) Mashalih mursalah. bunuh dia. "Mereka membawa agama baru yang bukan agama Muhammad saw. e) Qiyas. c) Ikhtilaf sahabat. i) Mura'at khilaf al-mujtahidin.mengambil hati Abu Hanifah. Ia juga boleh menghukum mati atau memenjarakan yang dipandangnya bersalah. Bila zhahirnya sunnah bertentangan dengan al-Qur'an. Tetapi shalat jamak ini terdapat dalam kitab hadits shahih Bukhari dan Muslim. Ia berkata bahwa itu termasuk salah satu bid'ah orang Syi'ah. Ketika ia membacanya. Madzhab Maliki mendasarkan fiqhnya pada 12 pokok: a) Al-Qur'an: zhahirnya. Orang-orang ketakutan berada di majlisnya. Ia mengembalikan kedua kitab itu sambil berkata. Mereka menyalahi al-Qur'an yang menyatakan bahwa shalat itu bagi kaum Mukmin kewajiban yang ditetapkan waktunya." Catatan kecil di atas menunjukkan kekuasaan Malik." kata sang imam. ijma' secara naql. Malik memukul orang itu dan memenjarakannya Ketika seorang bertanya: "Bagaimana pendapat Anda tentang orang yang berpendapat bahwa al-Qur'an itu makhluk?. Bila engkau sudah menjadi Rasul Allah bolehlah engkau melakukannya. seorang pemuda menanyakan lagi perihal shalat jamak. j) Istishhab." Orang itu berkata: "Bukan aku yang berkata begitu. Malik menjadi sangat berwibawa." Malik memanggil pengawalnya: "Ia zindiq. . Anas ibn Malik dan banyak sahabat lainnya melakukan shalat jamak (bukan karena bepergian). Ketika seorang murid membantah Malik perihal penguburan rambut dan kuku. c) Pendapat sahabat yang tidak ada yang menentangnya. ijma' mutaakhir: masing-masing dengan kekuatan hukum yang berbeda. kata pemuda itu. IMAM HANBALI Pokok-pokok fiqh madzhab Hanbali: a) Al-Nushush. meminta maaf kepada Malik atas perlakukan salah seorang penguasanya. e) Khabar Ahad dan Qiyas. f) Istihsan. b) al-Ijma'. Ini sangat berpengaruh pada penyebaran madzhabnya. d) Ikhtilaf sahabat Nabi. Muhammad al-Tijani al-Samawi bercerita tentang kisah fanatisme di kota Qafsah. Pemuda itu mengeluarkan kedua kitab shahih tersebut dan memintanya membaca hadits-hadits tentang shalat jamak. Ia memberikan wewenang besar pada Malik untuk mengangkat dan memberhentikan para pejabat yang dipandangnya tidak mampu. Seorang alim besar di kota itu mengecam orang-orang yang menjamak shalat Zhuhur dan Ashar. h) Sadd al-Dzara'i." Malik menukas: "Tapi aku hanya mendengarnya dari kamu. b) Al-Sunnah: al-mutawatirah dan al-masyhurah. hadirin tercengang mendengarnya. karena wibawa Malik. Al-Manshur pada musim haji 153 H. d) Hadits mursal dan dha'if. STAGNASI PEMIKIRAN FIQH: MASA KETERTUTUPAN Dr. dalil-nya. b) Fatwa sahabat. c) Ijma' penduduk Madinah. Karena wewenangnya ini. Tunisia. didahulukan al-sunnah. mafhum-nya dan illat-nya. k) Syar'man qablana. 4. Ijma' sebelum terbunuhnya Utsman. Aku hanya melaporkan ucapan orang lain. "Tidak benar. d) Fatwa sahabat. "Ini khusus untuk Rasulullah saw." Pemuda itu bermaksud menunjukkan bahwa Ibn Abbas. IMAM SYAFI'I Pokok-pokok fiqh Syafi'i ada lima: a) Al-Qur'an dan al-Sunnah.

Pada zaman inilah pemikiran taqlid mutlak dominan. dan para mujtahid. sesudah sebelumnya mempelajari al-Qur'an. dan fiqh para imam madzhab disusun dalam buku. Pada masa inilah berkembang al-tafsir bi al-ma'tsur. Mereka menulis buku-buku yang lebih merupakan ensiklopedia atau kamus dari pada analisis ilmiah. tapi di sisi lain menyebabkan para ulama merasa cukup dengan apa yang telah tersedia. al-masanid. walau selama masa itu muncul juga beberapa ulama fiqh dan ushul yang cemerlang. tarjih. Kita akan mengakhiri dengan melacak sebab-sebab timbulnya stagnasi pemikiran ini. serta menghimpun penafsiran para sahabat. dan tanzhim dalam madzhab fiqh. Berbagai ilmu Islam dibukukan dan tidak disampaikan secara lisan lagi. para ulama menghimpun hadits-hadits Nabi saw. dimulai kemandegan dan diakhiri kebekuan. di satu sisi menyimpan khazanah ilmu para ulama. Penafsiran al-Qur'an. KARAKTERISTIK ZAMAN STAGNASI: TRADISI MENSYARAH KITAB Setelah keempat imam madzhab ahl al-Sunnah meninggal dunia. Kedua peristiwa di atas terjadi dalam rentang waktu cukup lama -menurut sebagian penulis dari abad VI Hijrah sampai abad XIII. Peminat fiqh hanya mempelajari kitab yang ditulis seorang faqih tertentu di antara tokoh-tokoh madzhabnya Ia tidak melihat kepada syari'at dan fiqh kecuali melalui tulisan dalam kitab itu. al-Sunnah. Mereka tak merasa perlu melakukan penelitian ulang. Pasal ini akan memperlihatkan karakteristik zaman ini dari segi karya-karya ilmiah yang lahir waktu itu dan dari segi kecenderungan pemikiran. pokok-pokok dan maksud-maksud syara'. fiqh memasuki zaman tadwin (kodifikasi). ilmu ushul al-fiqh. tabi'in. Hadits-hadits dibukukan dalam bentuk al-jawami'.tetapi ia mengurungkan maksudnya. ia menjawab bahwa menggerakkan telunjuk dalam tasyahud adalah haram. al-ma'ajim. Gerakan tadwin. ke upaya menghapal yang sia-sia dan merasa cukup dengan menerima apa yang telah tertulis dalam kitab-kitab madzhab tanpa penelitian. Dalam penafsiran al-Qur'an misalnya. al-mustadrakat dan sebagainya. Dengan begitu. dibukukan pula riwayat para perawi hadits. Pemikiran bergeser dari upaya mencari sebab-sebab dan maksud syara' dalam memahami hukum. Kawan shalat di sampingnya memukulnya dengan keras sehingga telunjuk itu patah. Maksudnya untuk . Di Afghanistan seorang mushalli memberi isyarat dengan telunjuknya dan menggerak-gerakkannya. Para pengikut membukukan fatwa-fatwa dan hasil ijthad para mujtahid tersebut. hadits. menghilanglah kegiatan yang dulu merupakan gerakan takhrij. Al-Ustadz al-Zarqa melukiskan situasi umum pada waktu itu: Pada zaman tersebut pemikiran fiqh mengalami kemunduran. Sebuah rentang waktu yang oleh para Tarikh Tasyri' disebut sebagai zaman stagnasi pemikiran fiqh ('ashr al-rukud). Bersamaan dengan itu. Ketika ditanya mengapa itu terjadi. Apa dalilnya? Dalilnya terdapat dalam Kitab fiqh al-Syaikh al-Kaydani. ilmu jarh wa ta'dil dan riwayat para sahabat. Perlahan-lahan berkembanglah tradisi membuat syarah (komentar) dan matan. baik yang lemah maupun yang kuat.

Nabi Hidhir mohon agar ia diizinkan tetap berguru padanya di alam kubur. supaya ia dapat mengajarkan syari'at Islam secara lengkap. Tidak jarang syarah suatu kitab disyarahi dan disyarahi lagi. Atau sebaliknya. Konon Nabi Muhammad saw pernah berkata: "Semua nabi bangga denganku dan aku bangga dengan Abu Hanifah. Untuk mempertahankan keunggulan madzhabuya. Walau begitu. Ulama ahl al-Sunnah menulis kitab yang menyerang ajaran Syi'ah. Ketika Abu Hanifah wafat. Ibn Taymiyah menulis Minhaj al-Sunnah untuk menolak Minhaj al-Karamah. Ibn Rouzbahan menulis bantahan pada Minhaj al-Karamah. yang didhaifkan Ibn Taymiyah. Sekarang bantahan itu sudah menjadi 19 jilid Ihqaq al-Haq. Ia belajar pada Abu Hanifah setiap waktu Subuh selama lima puluh tahun. gejala fanatisme madzhab dapat dilacak sejak abad IV Hijrah.memudahkan pembaca memahami kitab-kitab rujukan. Sebagai jawaban terhadap serangan ahl al-Sunnah. Ulama Syi'ah membalasnya dengan menulis kitab lagi. Mereka menjelaskan kata-kata atau kalimat-kalimat secara sematik. juga berkembang tradisi munaqasyah madzhabiyah (diskusi madzhab). atau menambahkan penjelasan dengan mengutip ucapan para ulama lain. Polemik antar madzhab ini bukanlah sesuatu yang jelek dan telah berlangsung sejak zaman para imam madzhab. Argumentasi dikembangkan untuk membela madzhab masing masing. melakukan kritik terhadap beberapa pendapat Muhammad ibn al-Hasan al-Syaybany. FANATISME MADZHAB Asad Haydar menyebut tahun 645 Hijrah sebagai tahun ditetapkannya empat mazhab sebagai madzhab yang diakui khilafah Islam waktu itu. Kadang-kadang riwayat-riwayatnya dinisbahkan pada Nabi Muhammad saw. paling tidak ada tiga kitab syarah: Fath al-Bary. Allah mengizinkannya. Bantahan ini dibantah lagi oleh al-Mar'asyi al-Tustary. Seperti telah disampaikan pada tulisan terdahulu. Para ulama dari keempat madzhab diundang ke istana. Ia kemudian menyelesaikan kuliah dari Abu Hanifah selama 25 tahun lagi. harus dita'wilkan atau dimansukhkan. munaqasyah madzhabiyah telah menjadi benih yang menyuburkan fanatisme madzhab. "setiap ayat atau hadits yang bertentangan dengan apa yang ditetapkan madzhab kami. Imam Syafi'i. kekuasaan sangat berperan dalam menyuburkan fanatisme madzhab. Ada pula beberapa kitab yang mensyarah al-Muwatha susunan Imam Malik. Umdat al-Qary. siapa yang membenci Abu Hanifah ia membenciku. Sikap ini ditunjukkan jelas oleh al-Syaykh Abu al-Hasan Abdullah al-Karkhy ketika ia berkata. Diriwayatkan oleh para pengikut Maliki bahwa pada paham Imam Malik sudah tertulis Malik Hujatullah di bumi. Setiap madzhab membela pahamnya dengan tidak lagi mengindahkan adab diskusi ilmiah. Al-Amini menulis 11 jilid al-Ghadir hanya untuk membuktikan keshahihan hadits Ghadir Khum. Tapi pada zaman kemandegan. Tentang Imam . al-Hilly menulis Minhaj al-Karamah. yang setiap jilidnya seukuran satu jilid Encyclopedia Britannica. Siapa yang mencintai Abu Hanifah ia mencintaiku. Para ulama madzhab Syafi'i menyerang tulisan para ulama madzhab Hanbali atau sebaliknya. para pengikutnya meriwayatkan mitos di sekitar para imam madzhabnya. misalnya. Pada zaman ini. Di antara karamah Abu Hanifah ialah bergurunya Nabi Khidr kepadanya. Untuk Shahih al-Bukhari. Irsyad al-Sary. sepanjang saya ketahui.

dan tidak mengungkapkan kandungan fiqhnya. keduanya menjadi ikhwan yang saling berjauhan: mereka tak menampakkan sikap saling membantu dan menolong di jalan yang hak. yang patut kami ikuti di zaman kami?" Rasul Allah saw menjawab: "Aku tinggalkan bagimu Ahmad bin Hanbal. Mereka tidak memelihara matannya. yakni ahli fiqh dan fikir. Mengenai Imam Ahmad bin Hanbal Abdullah al-Sajastany berkata: "Aku pernah melihat Rasul Allah saw dalam mimpi. Aku bertanya: "Ya Rasul Allah. Abu Sulayman al-Khaththaby mengisahkan suasana zaman itu: Saya lihat ahli ilmu dewasa itu terbagi menjadi dua kelompok: pendukung hadits dan atsar dan ahli fiqh dan fikir. pengikutnya mensakralkan fatwa para mujtahid. mereka . Mereka sepakat menerima hadits dhaif dan munqathi' bila telah masyhur di kalangan mereka dan telah membibir dalam percakapan mereka. Kedua kelompok itu. Yang demikian adalah suatu kesesatan dan penipuan ra'yu. tidak menggali rahasianya. Itu karena hadits bagaikan fondasi. karena seorang alimnya akan memenuhi seluruh bumi dengan ilmunya. Mereka hampir tidak bisa membedakan hadits yang shahih dan hadits yang dhaif. padahal ulama dari madzhab mereka terdahulu tidak pernah mengamalkannya. Mereka tidak mau menerimanya bahkan tidak mau menelitinya. Fatwa mujtahid lebih didulukan dari ayat al-Qur'an dan al-Sunnah. Mereka tidak sadar bahwa kadar keilmuannya sendiri sangat dangkal dan mereka berdosa melemparkan kata-kata kotor pada para fuqaha. Namun. Padahal keduanya sama-sama dibutuhkan dan tidak bisa ditinggalkan dalam menuju cita-cita kehidupan." Orang alim itu adalah Imam Syafi'i. yang bagus dan yang buruk. Setiap fondasi tanpa bangunan. siapakah yang engkau tinggalkan. katanya. kelompok ahli hadits dan atsar rata-rata berambisi dalam periwayatan. Setiap bangunan yang fondasinya tidak kokoh. Sedangkan kelompok kedua. kebanyakan tidak memilih-milih hadits. Aku pernah menyaksikan sekelompok faqih yang taklid. pengumpulan sanad. maka akan sunyi dan lekas rusak. Saya lihat kedua kelompok ini saling berdekatan tempat tinggalnya dan sebetulnya saling membutuhkan. Mereka heran bagaimana mungkin mengamalkan zhahirnya ayat-ayat itu." Dengan berbagai "keutamaannya" itulah.Syafi'i. sedangkan fiqh bagaikan bangunannya. mencacad mereka dan menuduhnya menyalahi sunnah. kecuali sebagian kecil. Rasul Allah saw bersabda: "Ya Allah berilah petunjuk pada suku Quraiysy. dan pemisahan hadit-hadits gharib dan syadz --hadits-hadits yang kebanyakan mawadhu' dan maqlub. Mereka tidak mempedulikan hadits-hadits yang dikuasai dan yang digunakan untuk mempertahankan argumentasinya di hadapan lawan bila hadits-hadits tersebut telah sesuai dengan madzhab yang mereka ikuti dan pendapat yang mereka yakini. walau tidak didukung satu dalil pun atau tidak meyakinkan. Kadang-kadang mereka mencela para fuqaha. Al-Fakhr al-Razy menceritakan pengalamannya ketika ia menafsirkan: afala yatadabbarun al-Qur'an. maka akan cepat roboh. memandangku dengan heran bila aku bacakan ayat-ayat al-Qur'an tentang beberapa masalah yang bertentangan dengan madzhab mereka. pertama. karena rasa harga diri mereka yang sangat tajam. tidak memahami maknanya. Apabila diriwayatkan pada mereka madzhab mereka atau para ahli hasil ijtihad para tokoh dari aliran mereka.

7507173 Fax.segera mencari kepercayaan umat tidak ikut bertanggungjawab. TINJAUAN KRITIS ATAS SEJARAH FIQH (6/10) Dari Fiqh Al-Khulafa' Al-Rasyidin Hingga Madzhab Liberalisme oleh Jalaluddin Rakhmat Pada madrasah Nizhamiyah. (021) 7501969. Al-Qusyayry berkata: "Perdamaian macam apa yang harus ada diantara kami? Perdamaian . Maka pendapat yang datang dari Al-Hakam tidak memiliki keistimewaan di mata mereka. terjadilah pertumpahan darah antara kedua golongan. terhadapnya. Bila pendapat itu datang dari al-Hasan ibn Ziyad dan pendapatnya berbeda dengan riwayat yang melalui mereka. mereka tidak akan menerima. Lalu. Abd al-Khaliq ibn Isa. Demikianlah keumuman sikap setiap imam dan gurunya masing-masing. kelompok terhadap madzhab Fanatisme madzhab bukan saja telah menghambat pemikiran. Dengan bantuan penguasa ia menyerang pemimpin Hanbaly. Begitu juga para pengikut al-Syafi'i. UA 20-21 Jakarta Selatan Telp. dan para pendahulu yang setingkat dengan mereka. (021) 7507174 Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota Please direct any suggestion to Media Team Artikel Yayasan Paramadina Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota IV. al-Jiziy dan sebagainya. Pengikut al-Qusyayry menutup pintu-pintu pasar madrasah Nizhamiyah. Mereka mau menerima riwayat dari padanya kecuali yang melalui Abu Yusuf. Pemerintah kemudian mengumpulkan wakil kedua belah pihak dan meminta supaya mereka berdamai. mereka saling mengkafirkan yang kemudian memuncak pada peperangan antar sesama Muslim. Ibn al-Qusyayry al-Syafi'i memegang kekuasaan. Dalam sejarah. Muhammad ibn al-Hasan dan para tokoh sahabat serta murid-muridnya yang lain. mereka tak memperhatikan dan tak menganggapnya sebagai pendapat al-Syafi'i. Sebagai contoh adalah peristiwa yang terjadi di Baghdad. Mereka hanya menerima riwayat al-Muzany dan al-Raby ibn Sulayman al-Murady.(bersambung 6/10) Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah Editor: Budhy Munawar-Rachman Penerbit Yayasan Paramadina Jln. 7501983. tapi juga menimbulkan perpecahan di kalangan kaum Muslim. telah terjadi beberapa kali. -------------------------------------------.22. namun mereka Saya lihat para pendukung Malik tidak menerima riwayat dari padanya kecuali yang melalui Abu al-Qasim (Rasul Allah). 469 Hijrah. menghancurkan otak-otak cemerlang. Metro Pondok Indah Pondok Indah Plaza I Kav. ashhab (para sahabat). Ia selalu mengecam Ahmad ibn Hanbal dan para pengikutnya sebagai penganut antropomorfisme. Maka bila datang riwayat Harmalah.

Di sini mujtahid berpegang pada metode ijtihad imam mazhabnya. Maka ketika satu madzhab memperoleh kekuasaan. Yang dapat melakukan ijtihad jenis ini disebut mujtahid mustaqil (mujtahid independen). Kaum Muslim mundur karena meninggalkan ijtihad sehingga mereka menjadi seperti yang kita lihat sekarang ini. mungkin karena ia berijtihad dengan metode yang sama untuk menjawab masalah-masalah yang belum dipecahkan imam mazhabnya. Maka perdamaian macam apa yang bisa berlaku di antara kami. Menurut para pengikut madzhab Syafi'iy dan kebanyakan Hanafi. Sayyid Rasyid Ridha. Sedangkan kaum ini menganggap kami kafir dan kami menganggap orang-orang yang aqidahnya tidak sama dengan kami juga kafir. Dalam hal ini. SEBAB-SEBAB STAGNASI Dr. ijtihad mustaqil sudah tertutup. Namun kenyataannya. setiap zaman tak boleh kosong dari mujtahid mustaqil. tapi boleh saja menghasilkan kesimpulan furu'iyyah yang berbeda dari imam mazhabnya. Adapun ijtihad fi al-madzhab. di kalangan Syi'ah tidak pernah dikenal tertutupnya pintu ijtihad. mengecam penutupan pintu ijtihad yang mana pun: "Kita tidak menemukan manfaat apa pun dari penutupan pintu ijtihad". Walau tak diketahui secara pasti sejak kapan. Jika kita membaca kitab-kitab sejarah madzhab. Sementara itu menurut Maliky. kita dapat mengelompokkan dua macam ijtihad: ijtihad muthlaq dan ijtihad fi al-madzhab. mengikuti gurunya Syaikh Muhammad Abduh. Untuk yang pertama. terputusnya pengembangan ilmu dan terhalangnya kemajuan pemikiran. atau menafsirkan yang mujmal menjelaskan yang mubham dari ucapan imam. pemikiran yang bertentangan dengan madzhab itu ditindas. Demikian catatan Abu Zahrah tentang tertutupnya pintu ijtihad.terjadi di antara orang yang memperebutkan kekuasaan atau kerajaan. penutupan pintu ijtihad pada saat ini. terus berkembang. penutupan pintu ijtihad terjadi karena ada anggapan bahwa tidak ada ulama yang memenuhi persyaratan seperti keempat imam itu. Namun sebaliknya menurut kebanyakan Hanbaly. Karena itu. lebih ditujukan pada ijtihad muthlaq. campur tangan penguasa dalam kekuasaan kehakiman dan kelemahan posisi ulama dalam menghadapi umara. yang ditutup adalah ijtihad muthlaq. Sebalikaya. di zaman kemandegan pintu ijtihad. seorang mujtahid mengembangkan metode ijtihadnya secara mandiri dan mengeluarkan hukum-hukum berdasarkan metodenya itu. Bahayanya banyak --berakibat pada terbengkalainya akal." PENUTUPAN PINTU IJTIHAD Walau ada pembagian ijtihad yang bermacam-macam. tapi tak boleh tidak harus ada mujtahid fi al-madzhab. kita akan menemukan bagaimana seseorang yang . ia disebut mujtahid muntasib. meski pada tiap zaman boleh saja tak ada mujtahid mustaqil. ia tentu saja masih menggunakan fatwa imam mazhabnya sebagai rujukan. atau mentarjih (memilih yang terkuat) pendapat imam yang bermacam-macam itu. menurut Abu Zahrah. Pada ijtihad muthlaq. Sebenarnya. kita ingin menegaskan kembali bahwa madzhab berkembang karena dukungan politik. Muhammad Farouq al-Nabhan menyebut tiga sebab stagnasi pemikiran pada zaman ini: faktor-faktor politik.

Ulama sangat bergantung kepada umara. menyebarnya ulama mutathaffilin (ulama yang memberi fatwa berdasarkan petunjuk Bapak). karena ia dapat dikucilkan oleh masyarakat. dan bila benar dua. 5. Yaitu terpecahnya kekuasaan Islam menjadi negara-negara kecil hingga umat disibukkan dengan eksistensi politik.dengan anak saudara perempuannya Fathimah bint al-Walid bin 'Utbah bin Rabi'ah. para ulama yang sama menyatakan Saddam sebagai bughat dan pemimpin dhalim. yang ikut menyaksikan perang Badar-. posisi ulama yang lemah memperkuat fanatisme madzhab. Karena itu. sebagaimana Rasulullah saw. Itu lebih adil di sisi Allah. Sahlan binti Suhail --istri Hudzaifah dari Bani Amir-. Qadhi tidak ingin mengambil risiko berbeda pendapat dengan madzhabnya. Lebih-lebih bila berbeda pendapat dengan madzhab penguasa. Dalam posisi seperti itu. maka mereka adalah saudaramu dalam agama dan mawla-mawla kamu --maka dikembalikanlah setiap orang di antara mereka itu kepada bapaknya. ijtthadnya hanyalah dalam rangka memberikan legitimasi pada kebijakan penguasa. dan menyebarnya penyakit akhlak seperti hasud dan egoisme di kalangan ulama. Empat puluh tiga hari sebelum Saddam menyerbu Kuwait. Abd al-Wahhab Khalaf menyebutkan empat faktor yang menyebabkan kemandegan. Umara tentu saja selalu berusaha mempertahankan status quo. kami menganggap anak kepada Salim. Di samping itu. dikembalikan kepada mawlanya. Ketika Allah menurunkan ayat dalam Kitab-Nya tentang Zaid ibn Haritsah --panggillah mereka dengan nama bapak-bapak mereka. Jika kamu tidak mengetahui bapak-bapak mereka. Kami hanya mempunyai rumah satu. Setelah invasi. dan berkata: "Ya Rasul Allah. bagaimana menurut . Waktu itu ia termasuk wanita muhajirat yang awal dan gadis Quraysy yang utama. Bukankah ini ijtihad dan setiap ijtihad selalu mendapat pahala? Bila ijtihadnya salah. mengangkat Zaid ibn Haritsah sebagai anak. para ulama dari 70 negara Islam menyatakan bahwa Saddam sebagai mujahid Islam yang taat pada Allah dan al-Qur'an. para penguasa Muslim lebih sering menindas kebebasan pendapat dari pada mengembanghannya. didiskreditkan ulama dan diadukan pada penguasa. ia mendapat satu pahala. Contoh terakhir adalah pernyataan para ulama Rabithah yang mendukung kehadiran tentara Amerika di Jazirah Arab. demi "ketertiban dan keamanan". Abu Hudzaifah menikahkan Salim --yang dipandang sebagai anaknya itu-. Ia sering masuk ke rumahku dan aku dalam keadaan fudhul (memakai busana rumah yang tidak menutup aurat). Di sini harus dicatat: dalam sejarah. terbaginya para mujtahid berdasarkan madrasah tempat mereka belajar. Qadhi diangkat oleh penguasa. FIQH DITELAAH KEMBALI: FIQH KAUM PEMBARU "Yahya memberitakan kepadaku dari Malik dari Ibn Syihab. Bila tidak diketahui bapaknya. Ia ditanya tentang menyusui orang dewasa. Sehingga ia disebut Salim mawla Abu Hudzaifah. yang paling aman adalah mengikuti pendapat para imam mazhab yang sudah dibukukan. telah ditunjukkan bagaimana para ulama berebutan menjadi qadhi.datang menemui Rasulullah saw. kalau pun ulama berijtihad. Ia berkata: 'Urwah bin Zub air mengabarkan kepadaku bahwa Hudzaifah bin 'Utbah bin Rabi'ah --salah seorang sahabat Nabi saw.berbeda madzhab atau berganti madzhab menghadapi berbagai cobaan. Untuk sebab kedua.telah mengangkat Salim sebagai anaknya.

Yang dipersoalkan bukan hanya penafsiran nash-nash tetapi juga metode pengambilan keputusan. Yang kemudian menjadi persoalan adalah tindakan 'Umar. Bagaimana mungkin Nabi saw menghalalkan sesuatu dengan tindakan yang haram? (Bukankah bersentuhan dengan perempuan yang bukan muhrim itu haram. Dari fenomena tersebut. Mungkinkah ini hanya fiqhnya 'Aisyah. (Ia mabuk) dan 'Umar menetapkan hukum cambuk baginya. Orang A'raby itu berkata: Aku minum dari minumanmu. lalu mencampurkan air ke dalamnya. ternyata "Kembali kepada al-Qur'an dan al-Sunnah" tidak segampang seperti yang dibayangkan. Ibrahim al-Nakhti meriwayatkan hadits yang sama dari 'Umar dan berkata: 'Umar meminumnya setelah mencambuk orang A'raby itu. apalagi menyusu kepadanya?). kecuali bila laki-laki itu saudara sepesusuan. Dua peristiwa di atas diambil dari kitab-kitab yang menjadi rujukan dalam menjawab masalah-masalah fiqhiyah. Umu Kultsum binti Abu Bakar al-Shiddik dan anak-anak perempuan saudaranya untuk menyusukan laki-laki yang ingin masuk ke rumahnya. (3) Dianjurkan menyusukan orang yang sudah dewasa supaya ia halal masuk ke rumah seorang perempuan. Slogan yang di Indonesia didengungkan kaum modernis ini. Apakah perilaku 'Umar dapat dijadikan model dalam pengambilan kesimpulan hukum? Apakah pendapat para sahabat dapat dijadikan hujjah dalam agama? Apakah tindakan 'Umar itu suatu preseden bolehnya meninggalkan nash-nash syari'at bila kondisi berubah? Pertanyaan-pertanyaan tersebut merupakan problema yang dihadapi para pembaru Islam ketika mereka menelaah kembali fiqh yang ada. campurkan air ke dalamnya. Ia berkata: Siapa yang ragu untuk meminumnya. Mereka mempersoalkan cara menyusukan itu. Bukankah istri-istri Nabi saw yang lain menolaknya? Bukankah pada kitab hadits yang sama Umar ibn Khatab dan Abdullah ibn Mas'ud hanya membenarkan susuan pada waktu kecil saja? Peristiwa yang kedua dijadikan dalil oleh sebagian pengikut madzhab Hanafi untuk menghalalkan minuman keras (khususnya Nabi) bila dicampur dengan air. Dengan merujuk pada hadits yang mengharamkan minuman keras --baik sedikit maupun banyak mereka telah membenarkan halalnya minuman keras karena dicampur air. (2) Tidak boleh laki-laki yang bukan muhrim memasuki rumah seorang perempuan. berkata kepadanya: "Susukanlah dia lima kali susuan sehingga ia menjadi muhrim dengan susunya". kemudian meminumnya. Aisyah mengambil cara ini bila ada laki-laki yang ingin masuk ke rumahnya Ia menyuruh saudaranya. Dari peristiwa yang pertama para faqih menyimpulkan beberapa hukum: (1) Batas susuan yang menyebabkan seorang haram dinikahi adalah lima kali susuan. Al-Muwatha 2: 115-116) Contoh lain: "Seorang A'raby meminum minuman 'Umar. (Al-Jashash. yang harus ditinjau bukan saja al-adillat al-syar'iyat. Istri-istri Nabi saw yang lain menolak untuk mengizinkan laki-laki masuk ke rumah dengan susuan seperti itu. (Malik. tetapi juga ushul al-fiqh. Ahkam al-Qur'an 2:565). . 'Umar meminta minumannya itu. Setelah itu ia memandangnya sebagai anak susuan. Kesimpulan terakhir ini telah disepakati fuqaha.Anda? Rasulullah saw. Dalam istilah fiqh. Tentu saja fuqaha mazhab-mazhab yang lain menolaknya.

Berbagai upaya rekonstroksi fiqh di dunia Islam sekarang ini berangkat dari kedua aliran tersebut.C. dan yang ada hanya ijtihad. Dalam kalimat W. The Encyclopedia of Islam menyebut Ibn Taymiyah sebagai the bitter enemy of innovations. Mazhab-mazhab fiqh terletak di antara kedua ekstrim itu. Paham Ibn Taymiyah dihidupkan kembali oleh Muhammad ibn Abd al-Wahab lima abad kemudian. ketika menyampaikan khutbahnya di Makkah tahun 1355. dan terutama sekali pada Daud al-Zhahiri. Semuanya terjadi karena Ahmad mendasarkan mazhabnya pada hadits Rasulullah saw (meski lemah).. dan menolak qiyas kecuali dalam keadaan terpaksa. Yang pertama menekankan rasio dalam pengambilan keputusan. Muhammad ibn Abd al-Wahab menolak "the corruption and laxity of the contemporary decline. LATAR BELAKANG SKRIPTURALISME Seperti diketahui dalam fiqh tabi'in. Pada Ibn Hazm. tugas ahli fiqh hanyalah mencari nash yang relevan. 1968:42). Skripturalisme dan liberalisme keduanya berusaha mendobrak kebekuan pemikiran Islam. makna hakiki dari teks. filsuf dan sufi. . bila tidak ada. Karena itu. Ibn Taymiyah memperkuat gerakan anti rasionalisme ini dengan menolak setiap penggunaan logika dalam khazanah ilmu-ilmu Islam dan sekaligus menolak praktek-praktek yang tidak ada dasarnya dalam teks al-Qur'an dan hadits.the alien intellectualism not only of philosophy but also theology" (Smith. tema umum Islam.. dalam upaya menelaah kembali fiqh. 1987:95). Karena itu. Ibn Qutaybah memasukkan Ahmad di antara muhadditsin dan Ibn Jarir al-Thabari menolak Ahmad sebagai ahli fiqh. Yang paling dekat dengan ahl al-ra'y adalah madzhab Hanafi.. maqashid syar'iyah dan sebagainya. ia mencela kaum mutakallim. Arkoun menyebut aliran ini logosentrisme yang ia gambarkan sebagai berikut: Di samping aliran ini ada aliran yang sangat menekankan rasio (akal). fatwa para sahabat. berkata: "Madzhab kami mengikuti dalil. Imam Ahmad ibn Hanbal. Smith. kesetiaan pada teks sangat ekstrem. Yang kedua berdasarkan fiqh pada hadits walaupun lemah dan menolak penggunaan rasio. yang mengumpulkan ribuan hadits dalam musnadnya. dan yang paling dekat dengan ahl al-hadits adalah mazhab Hanbali. Makna ini dianggap sebagai ruh ajaran Islam. Mereka menolak ta'wil dan menerima hadits secara harfiyah. bila ada. memang lebih terkenal sebagai ahli hadits dari pada ahli fiqh. setelah orang merasa perlu membuka kembali pintu ijtihad. kita harus memulai dengan menyorot kedua aliran ini secara kritis dibahas skriptularisme. ada dua aliran besar dalam fiqh Islam: ahl al-Ra'y dan ahl al-Hadits. the introvert warmth and other wordly pety of the mystic way. Seperti Ibn Taymiyah. Jadi fiqhnya selalu merujuk pada nash-nash al-Qur'an atau hadits. Aliran ini tak lagi terikat dengan bunyi teks.sebetulnya hanyalah salah satu aliran peninjauan kembali fiqh. . Aliran tersebut sebenarnya adalah skripturalisme. tapi berusaha menangkap menurutnya. kami mengikuti ijtihad Ahmad ibn Hanbal: (Mughniyah. yaitu liberalisme. sekaligus merupakan fiqh baru yang dapat menjawab masalah-masalah baru akibat perubahan masyarakat. yaitu aliran yang berpegang kepada teks-teks syari'at secara kaku. Raja Malik ibn Abd al-Aziz.

membaca dzikir bersama. UA 20-21 Jakarta Selatan Telp. they inevitably took a negative attitude toward the intellectual and spiritual developments that had taken place in the intervening centuries" (Rahman. TINJAUAN KRITIS ATAS SEJARAH FIQH (7/10) Dari Fiqh Al-Khulafa' Al-Rasyidin Hingga Madzhab Liberalisme oleh Jalaluddin Rakhmat KEGAGALAN SKRIPTURALISME Keyakinan bahwa kesetiaan pada teks al-Qur'an dan hadits cukup untuk memecahkan persoalan ternyata hanya simplikasi. (021) 7507174 Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota Please direct any suggestion to Media Team Artikel Yayasan Paramadina Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota IV. (021) 7501969. tertawa dan sebagainya. Selanjutnya. tidak ada contohnya dari Nabi saw). Pada saat yang sama. -------------------------------------------.22. dalam aqidah. 1981:26). duduk di atas 'arasy. menurut Fazlur Rahman. Metro Pondok Indah Pondok Indah Plaza I Kav. Kedua. dan kembali kepada al-Qur'an dan hadits sebagai satu-satunya jalan untuk memecahkan segala persoalan Islam. mengucapkan doa yang tidak ma'tsur. dianggap sesat. skriptualisme menyingkirkan pengalaman mistikal dari kehidupan beragama. Karena skriptualisme menerima teks-teks al-Qur'an dan hadits dengan apa adanya. mereka menetapkan keharusan percaya bahwa Ia turun ke langit dunia. Mereka melihat masa Salaf sebagai model. dianggap bid'ah. Qunut pada shalat Subuh. Pertama. Ada beberara kegagalan skripturalisme. yang disebut bid'ah adalah apa saja yang tidak merujuk pada dalil yang telah dipilihnya. --dan di Indonesia-. Dengan menolak ta'wil. "since the leaders of these movements were interested in negating some of the influences of the medieval school of islamic thought and law.Paham ini. Kaum sufi. mengobrol dengan ahli surga. Wacana teologi menjadi gersang. Filsafat bukan saja dijauhi. mempengaruhi banyak aliran pembaharuan di seluruh dunia. membaca shalawat kepada Nabi saw. 7507173 Fax. 7501983. yang kemudian menjadi paham resmi Arab Saudi. tetapi juga dikafirkan.menyelenggarakan upacara tahlilan dan marhabanan dianggap tidak mengikuti sunnah Rasulullah saw (dalam bahasa orang awam. mereka telah mematikan telaah filosofis. yang mencoba menangkap makna batiniyah dari nash-nash. Praktek-praktek keagamaan yang tidak secara spesifik ditunjukkan dalam nash.(bersambung 7/10) Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah Editor: Budhy Munawar-Rachman Penerbit Yayasan Paramadina Jln. .

orang tidak memberikan solusi terhadap segala kemusykilan ini. Madzhab yang lain akan dianggap menyimpang dari al-Qur'an dan sunnah. menggunakannya dalam menjelaskan zakat profesi. kaum skripturalis telah menghilangkan pengalaman beragama (religious experiences) yang emosional. Muncullah para "mujtahid" yang tidak berkualifikasi. skripturalisme terbukti tidak menjawab berbagai masalah kontemporer. Mereka membentuk kelompok-kelompok. paham ini melahirkan orang-orang yang wawasannya sempit. Ada yang mengqiyaskan zakat profesi dengan zakat pertanian. Para pengikutnya tidak lagi "menikmati" agama dan sebagian mengalami ketidakpuasan rohaniah. Al-masail al-lafzhiyah --seperti makna lughawi. tapi merasa faqih.Padahal. Pada gilirannya. Mereka kembali secara ketat pada teks-teks al-Qur'an dan al-hadits atau mereka berusaha menemukan ruh atau semangat dari ajaran al-Qur'an dan al-hadits. mukhtalaf al-hadits. karena menolak wacana intelektual. kita sebut liberalisme. Dalam skala makroskopis. saya akan mengutip deskripsinya tentang kaum liberalis . Dengan menyingkirkan mistisisme. Sebagian kaum modernis di Indonesia. Keempat. tetapi tidak berdasarkan dalil yang disetujui mereka. bukan tidak mengikuti sunnah. Tidak ada maksud saya --dan bukan tempatnya di sini-. orang-orang awam tidak merasa perlu lagi dengan kehadiran fuqaha. 6. Kritik terhadap skripturalisme sama sekali tidak dimaksudkan untuk membela liberalisme. Walaupun saya tidak akan membahas pokok-pokok pikiran kaum liberal Islam seperti yang dipaparkan Leonard Binder. Bukankah segala persoalan dapat diselesaikan dengan merujuk pada dalil-dalil al-Qur'an dan hadits. karena berusaha secara bebas untuk menggunakan penalaran. dan zakat perdagangan. yang menolak qiyas. Sebagian di antara mereka akhirnya menggunakan qiyas juga. skripturalisme tidak dapat menyelesaikan kemusykilan-kemusykilan yang terjadi ketika melakukan istidlal (memberikan dalil-dalil hukum) dari nash-nash. makna haqiqi dan majazi. yang memuncak pada fragmentasi umat. FIQH KAUM PEMBARU: MADZHAB LIBERALISME Seperti telah disebut di atas. Melalui studi kritis terhadap keduanya. Terakhir. Tulisan ini hanya ingin mengingatkan kita akan pentingnya penilaian kritis terhadap pendekatan pada fiqh. tetapi tanpa aturan yang konsisten. Yang pertama kita sebut skripturalisme (sudah dibicarakan) dan kedua.untuk merinci dalil-dalil orang-orang yang mempraktekkan upacara-upacara agama tersebut. para pembaru mencoba mendobrak stagnasi dengan melakukan salah satu di antara dua pilihan. makna 'urfi (kebiasaan). Salah satu contoh adalah perbincangan tentang zakat profesi atau pekerjaan-pekerjaan yang tidak diwajibkan zakat padanya. Pada tahap institusional. kelima. penentuan keshahihan hadits. liberalisme juga sangat rentan terhadap berbagai problem. zakat emas dan perak. kita dapat merumuskan kaidah-kaidah baru dalam menegakkan fiqh yang lebih relevan dan signifikan. qawaid ushul al-fiqh dan masalah-masalah lain yang berkaitan dengan penafsiran nash tidak mendapat perhatian. skripturalisme. Akibat kegagalan skripturalisme tersebut. mudah mendorong orang ke arah fanatisme. saya kira. makna 'am dan khash dan sebagainya. Ketiga.

Karena itu. dan yang kedua secara ta'aqquli. Yaitu yang berhubungan dengan ibadah ritual (kelak disebut huquq Allah) dan yang berhubungan dengan masalah-masalah sosial (kelak disebut huquq al-'ibad). Karena itu. "Nabi saw dalam keadaan sakit parah. pada akhirnya saya akan mengajukan kritik. sedangkan 'Umar mengusulkan untuk membunuh mereka." Tampaknya Umar berpendapat bahwa kondisi sakit Nabi melahirkan ijtihad Nabi yang tidak perlu diikuti. Setelah itu. di sini para sahabat tidak merasa terikat dengan sunnah. Seperti biasa. SEJARAH MADZHAB LIBERALISME Fiqh kaum liberal dapat dilacak pada madzhab ahl al-ra'y di kalangan para sahabat Nabi. Cukuplah buat kita kitab Allah itu. but the content and the meaning of revelation is not essentially verbal.Islam. the language of the Qur'an is coordinate with the essence of revelation. wahyu . Umar berkata. "Dengan ini kalian tidak akan sesat selamanya"' kata Nabi. secara khusus kita akan mengambil contoh pemikiran Ibrahim Hosen dan Fazlur Rahman untuk menggambarkan pokok-pokok pemikiran kaum liberalis. Bukankah Nabi mengatakan. ijtihadnya boleh jadi benar atau salah. Since the words of the Qur'an do not exhaust the meaning of revelation. Para ahli hadits meriwayatkan berbagai peristiwa ketika ijtihad Nabi berbeda dengan ijtihad 'Umar. makna wahyu di luar arti lahiriah dari kata-kata. Fiqh al-ra'y sebenarnya sejajar dengan tafsir al-Qur'an bi al-dirayat. Jadi ciri khas kaum liberalis ialah upaya untuk menangkap esensi wahyu. Dalam kasus-kasus ini. Di bawah ini saya akan mengulangi lagi akar pemikiran kaum liberalis dengan mengutip apa yang pernah saya tulis pada pengantar buku Islam dan tantangan Modernitas. For Islamic liberals. Nabi hendak menshalatkan 'Abdullah ibn Ubayy. keduanya menggaungkan kembali perbedaan pendapat para sahabat tentang sunnah Rasullah saw. Mereka menerima yang pertama secara ta'abbudi. tapi Umar melarangnya. Rasulullah saw sering berijtihad. dan ketika Rahman mengulas pemikiran modernis dan fundamentalis. dan Allah membenarkan ijtihad 'Umar. there is a need for an effort at understanding which is based on the words. Nabi menginginkan agar para tawanan Badar dibebaskan dengan tebusan. but which goes beyond them. seeking that which is represented or revealed by language. Pada bagian kedua. Apakah Nabi Muhammad saw berijtihad? Banyak para sahabat membagi perintah-perintah Nabi ke dalam dua bagian. Mereka bersedia meninggalkan makna lahir dari teks untuk menemakan makna dalam dari konteks. Dalam keadaan sakit. "Kamu lebih tahu urusan duniamu?" Bukhari meriwayatkan peristiwa yang oleh Ibn 'Abbas disebut sebagai "tragedi hari Kamis". TRADISI IJTIHAD BI 'L-RA'Y Ketika [brahim Hosen berbicara tentang ta'aqquli dan ta'abbudi. Nabi menyuruh sahabatnya mengambil dawat dan pena untuk menuliskan wasiatnya. sesudah mengutip sejarah ijtihad bi al-ra'y saya akan mengutip juga perkembangan tafsir bi al-ma'tsur. tapi kaum liberalis modern justru mengambil inspirasi dari tafsir bi al-ma'tsur. Di tangan kalian ada kitab Allah.

ia berasal dari Allah dan bila salah ia berasal dari setan. tinggalkan saja. silakan ambil ra'yu-ku. Diriwayatkan bahwa Nabi saw. Allah dan Rasul-Nya terlepas darinya. Ketika Abu Bakar dan Umar meninggalkan pasukan Usamah. Utsman berkata: "Aku tidak melarangnya. yang berkata: "Barang siapa melakukan tamattu'. aku akan menangis. ia menegur Ali: "Kau lakukan itu padahal aku melarangnya?" Ali menjawab: "Aku tidak akan meninggalkan sunnah Rasulullah saw karena (ra'yu) salah seorang manusia. kemudian kita pun menyebut madzhab pemikiran mereka sebagai madzhab Umari." (QS 53:3). sebelum ia memindahkan ibu kota ke Kufah pada masa kekhalifahannya. "tidak akan ada yang selamat kecuali Umar ibn Khaththab. Tidak ada ijtihad Nabi. 'Aisyah melaporkan: "Ayahku telah mengumpulkan 500 hadits Nabi saw. Ibn Abi al-Hadid membenarkan kedua sahabat itu. Mereka tidak membedakan huquq al-'ibad dan huquq Allah dalam instruksi-instruksi Nabi yang bernilai tasyri'. 'Umar bertanya: "Apa yang menyebabkan Anda dan sahabat Anda menangis? Kalau ada sesuatu yang patut aku tangisi. dalam kitab tarikhnya. Bila benar.a.selalu turun membenarkan Umar. Fiqh al-ra'y makin diperteguh dengan kecenderungan umum madzhab Umari untuk mengabaikan penulisan hadits." Ketika Ali menegur Utsman yang melarang tamattu'. padahal Nabi memerintahkan mereka untuk berada di dalamnya. ia sudah menjalankan kitab Allah dan sunnah NabiNya. Kalau benar. Sebagai lawan mereka --dalam pemikiran-adalah madzhab Alawi. Ketika Umar dan Utsman --pada zamannya masing-masing melarang haji tamattu" Ali menentangnya. "Ia tidak berbicara berdasarkan hawa nafsunya." Para tabi'in dari Kufah kelak berguru kepada Abdullah ibn Mas'ud. yang terdiri atas sahabat-sahabat yang berkumpul di sekitar Ali ibn Abi Thalib. sehingga lahirlah mazhab Kufah yang menitik-beratkan Fiqh al-ra'y." Karena Umar adalah primadona dari kelompok pertama para sahabat ini." Abdullah ibn Mas'ud berkata seperti itu juga: "Aku mengatakan ini dengan ra'yuku. daerah Hijaz. dari Umar.merupakan justifikasi terhadap peluang menggunakan ra'yu dalam menghadapi sunnah (yang berasal dari Ijtihad Nabi)." Nabi kemudian menceritakan tentang wahyu yang membenarkan Umar dan menyalahkan Nabi. dari Allah dan kalau salah. Ali tetap tinggal di Madinah." Umar juga diriwayatkan berkata: "Inilah ra'yu Umar. Kalau tidak ada tangisan. Kalau tidak. menulis: "Para sahabat r. "Sesungguhnya Nabi saw mengirimkan pasukan itu berdasarkan Ijtihad dan bukan berdasarkan wahyu yang diharamkan membantahnya. "Seandainya azab turun. berkembanglah madzhab Hijaz. aku akan berupaya menangis seperti tangisan Anda." Kita pun kemudian mengetahui bahwa di Madinah." kata Nabi. Ketika Utsman melarang menggabungkan haji dengan 'umrah." Hadits-hadits di atas --walaupun keabsahannya harus kita teliti secara kritis-. Kalau orang mau. Pada suatu pagi. "ambilkan . Ini hanyalah ra'yu yang aku pegang. yang menekankan Fiqh al-atsar. disertai Abu Bakar pernah menangis terisak-isak menyesali kekeliruan ijtihadnya. Ibn Katsir. sangat takut kepada Umar dan tidak menemukan orang yang melawan pendapat Umar kecuali Ali ibn Abi Thalib. tetapi ia hanya berbicara berdasarkan wahyu yang diturunkan kepadanya. Sementera itu. ia datang menemuiku dan berkata.

Ibrahim al-Nakha'i. Hanya intensitas penggunaannya sangat sedikit. Bila ada yang bertanya kepada kalian. dan meninggalkan hadits-hadits itu padamu." Tradisi pengabaian penulisan hadits --dan sekaligus pembakarannya-. Rasul Ja'farian menyebutkan nama-nama ulama tabi'in yang melarang penulisan hadits. berdasarkan pemahaman yang benar akan maksud-maksud syara'. -------------------------------------------." Abu Bakar juga pernah mengumpulkan orang setelah Nabi wafat. Prinsip mereka dalam pengambilan hukum. Abu Sa'id. Walaupun begitu. halalkan yang halal dan haramkan yang haram. Umar menyuruh mengumpulkan hadits-hadits itu dan memerintahkan untuk membakarnya. Disadari atau tidak. khusus di kalangan ahl al-Sunnah. Madzhab-madzhab itu berbeda dalam intensitas penggunaan nash dan ra'yu. periwayatan hadits tetap berlangsung sampai zaman Umar. kecuali satu buku saja. Ali Yafie melukiskannya sebagai lingkaran-lingkaran: "Lingkaran paling dalam (pertama) merupakan kelompok yang paling sedikit menggunakan ra'yunya. yang pertama kali melakukan tadwin hadits adalah Ibn Syihab al-Zahri atas perintah Umar ibn Abd al-Aziz.(bersambung 8/10) Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah Editor: Budhy Munawar-Rachman Penerbit Yayasan Paramadina Jln.hadits-hadits yang ada padamu. Metro Pondok Indah . fiqh al-ra'y dan fiqh al-atsar ini tidak terpilah tegas. Sesungguhnya maslahat yang difatwakan sahabat tidak bertentangan dengan nash.kepada al-Qur'an. saya mati. Ashim. Ke dalamnya. madzhab ini sebenarnya juga menggunakan rasio. dan lain-lain. dan berkata: "Kalian meriwayatkan dari Rasulullah saw.memerintahkan pembantunya untuk menyalakan api pembakaran. "Hasbuna Kitab Allah. Untuk menangkis tuduhan bahwa Umar sering meninggalkan nash-nash al-Qur'an secara sengaja." Lalu saya berikan kepadanya. Abu Zahrah menulis: "Tidak seorang sahabat pun meninggalkan nash demi ra'yunya atau kemaslahatan yang dipandangnya. yaitu. Ia membakarnya dan berkata: "Saya khawatir.dilanjutkan oleh tabi'in. tetapi mengaplikasikan nash secara baik." kata Umar. tetapi membentuk kontinum. Konon. (2) madzhab ini mengutamakan ra'yu ketimbang al-Sunnah. dan (3) madzhab ini menekankan aspek maqashid syar'iyyah atau kemaslahatan umat untuk menetapkan hukum. Sejarah singkat madzhab 'Umari ini menunjukkan tiga ciri khasnya: (1) madzhab ini memusatkan perhatian utamanya --dan seringkali dengan mengabaikan yang lain-. Al-Hasan ibn Abi al-Hasan --menjelang kematiannya-. Alasan Umar: "Aku khawatir hadits-hadits itu akan memalingkan orang dari Kitab Allah. Janganlah meriwayatkan sesuatu pun dari Rasulullah saw. hadits-hadits yang kalian perselisihkan. Sa'id ibn Jubair. Di kalangan madzhab-madzhab ahl al-Sunnah. karena diprakarsai Dawud al-Zhahiri yang dilanjutkan Ibn Hazm dalam kitabnya al-Muhalla. dan kurang terikat pada zhawahir (makna tekstual) dan nash. jawablah: "Di antara Anda dan kami ada Kitab Allah. Abu Burdah. ia lemparkan semua tulisan. Kaidah mereka: la ra'yu fi al-din (tidak ada tempat rasio dalam agama). Nanti. manusia sesudahmu akan lebih daripada itu. Madzhab yang menggunakan kaidah semacam ini disebut madzhab al-Zhahiri. penulisan hadits terlambat sekitar dua abad. Akibatnya.". tak memperkenankan penggunaan akal.

" Yang dimaksud dengan apa yang sudah terjadi adalah hadits-hadits Nabi. Ahmad Amin. "Lingkaran keempat adalah madzhab Syafi'i yang dipelopori Imam Syafi'i. (021) 7507174 Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota Please direct any suggestion to Media Team Artikel Yayasan Paramadina Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota IV. Ali Hasan Abd al-Qadir: "Musuh-musuh Abu Hanifah menuduhnya tidak memberikan perhatian besar pada hadits. 7507173 Fax. UA 20-21 Jakarta Selatan Telp. Doktrin mereka menyatakan bahwa hadits dha'if harus lebih diprioritaskan daripada akal. kelompok yang disebut madzhab Maliki yang dipelopori Imam Malik.22. (021) 7501969. "Sedangkan kelompok kelima. merupakan madzhab yang menggunakan rasio agak lebih intens daripada kelompok pertama tadi. Abu Hanifah memang hanya sedikit meriwayatkan hadits. Kaidah mereka adalah al-Mashalih al-Mursalah. hal itu dikarenakan Abu Hanifah sangat memperketat syarat-syarat penerimaan hadits. Apa yang belum terjadi adalah ketetapan hukum berdasarkan qiyas. Madzhab ini banyak dilaksanakan di Saudi Arabia. Abu Hanifah pernah dilaporkan berkata: "Seandainya Rasulullah berjumpa denganku. Dalam proses pengambilan hukum. Kata Ibn Khaldun. Akal lebih dipentingkan dalam proses pengambilan hukum daripada hadits. 7501983. Bukankah agama itu ra'yu yang baik?" Barangkali ini penegasannya tentang keharusan nash tunduk pada analisis rasional. terakhir." Untuk memberikan contoh madzhab yang paling "Umari". "Lingkaran ketiga. ia menjawab: "Abu Hanifah adalah orang paling pandai tentang apa yang sudah terjadi. ia akan mengambil banyak pendapatku. Simaklah riwayat yang diceritakan Dr. marilah kita melihat madzhab Hanafi. kurangnya hadits pada Abu Hanifah menunjukkan bahwa ia tidak merasa puas dengan menyampaikan hadits saja.Pondok Indah Plaza I Kav. Doktrinnya menyatakan bahwa rasio harus diperhatikan guna pertimbangan kemaslahatan. Mazhab ini disebut mazhab Hanbali yang dipelopori Imam Ahmad ibn Hanbal. Kata Dr. madzhab ini lebih banyak menggunakan analogi atau qiyas. adalah mazhab yang frekuensi penggunaan akalnya lebih banyak. Ketika Raqabah ibn Musqilah ditanya tentang Abu Hanifah. Ia memprioritaskan ra'yu dalam mengeluarkan keputusan . TINJAUAN KRITIS ATAS SEJARAH FIQH (8/10) Dari Fiqh Al-Khulafa' Al-Rasyidin Hingga Madzhab Liberalisme oleh Jalaluddin Rakhmat "Lingkaran yang kedua. Madzhab ini dipelopori oleh Imam Hanafi. ia menguji hadits dengan pertimbangan psikologis dan konteks sosial.

menerima hadits dengan sikap kritis." Katanya: "Rasulullah berkata. Tafsir --menurut Muhammad Ali al-Shabuni-adalah ilmu untuk memahami Kitab Allah yang diturunkan kepada .fiqh. kita akan terkejut menemukan bahwa klaim orisinalitas pembaruan Rahman --yang berulangkali disebut Taufik Adnan Amal dalam bukunya. sebagaimana fiqh al-ra'y mempunyai persamaannya dalam tafsir bi 'l-dirayat. Kata Abu Hanifah: "Undian itu judi. pada bab khusus. menyebut hadist-hadist yang ditolak Abu Hanifah dan mencapai 150 hadits. ketika merumuskan metodologi ijtihadnya. Cukuplah dikatakan bahwa dengan mempelajari fiqh-fiqh klasik. dan menetapkan "sunnah yang dikenal baik" sebagai kriteria terhadap "semangat dan sikap kolektif" dari hadits. ada empat orang sahabat." Nabi bersabda: "Dua jual beli dengan khiyar sebelum keduanya berpisah. Kata Abu Hanifah: "Isy'ar adalah penganiayaan. Kita tidak akan membicarakan pengaruh Abu Yusuf terhadap metodologi Rahman (dan juga Hosen). Uraian di atas diberikan untuk menjelaskan dasar-dasar pemikiran Rahman pada perkembangan pemikiran Islam klasik. Ia memegang jabatan qadhi pada masa-masa kekhalifahan 'Abbasiyyah. antara lain pada masa al-Mahdi. Kita akan membicarakan kritik pembaruan Rahman di akhir tulisan ini. Kataku: "Berikan sebagian contohnya. al-Hadi dan al-Rasyid. TAFSIR BI 'L-RIWAYAT DAN TAFSIR BI 'L-DIRAYAT Fiqh al-atsar mempunyai tandingan dalam tafsir bi al-riwayat. Ia memuji Abu Yusuf karena memberikan penafsiran yang situasional kepada hadits yang "berdiri sendiri". "aku mendengar Yusuf ibn Asbath berkata. Di Mesir. tidak ada khiyar." Ibn Abu Syaibah dalam bukunya." Kata Abu Hanifah: "Bila jual beli wajib. . kuda mendapat dua bagian. Fazlur Rahman dilahirkan. sebagai latar belakang teoretis dalam memahami penafsiran al-Qur'an yang dirumuskan oleh Rahman. Abu Hanifah tidak tertarik untuk menemui mereka.hanya dapat diterima oleh orang yang tidak mempunyai dasar dalam pemikiran Islam tradisional. Sebelum sampai ke situ." Rasulullah melakukan isy'ar (melukai punggung unta) sebelum menyembelih hewan kurbannya. Tidak heran kalau Fazlur Rahman sering --bahkan paling sering-menyebut Abu Yusuf. Karena itu." Nabi mengundi istri-istrinya kalau mau bepergian. bagi madzhab Hanafi. Di Pakistan. Abu Shalih al-Fura menuturkan. prajurit mendapat satu bagian. (Untuk menggembirakan kita semua kedua-duanya berhak disebut Syaikh al-Islam). madzhab Hanafi tersebar ke seluruh kekuasaan Islam. Daerah-daerah madzhab Hanafi antara lain Mesir dan Pakistan. kritik terhadap Rahman juga dapat dilacak pada kritik fuqaha al-atsar terhadap fuqaha al-ra'y.. tidak berbeda dari Ibn Taimiyah bagi madzhab Hanbali. sebagaimana kritik Rahman terhadap hadits (sunnah) dapat ditelusuri pada kritik fuqaha al-ra'y terhadap fuqaha al-atsar.. Abu Hanifah menolak 400 atau lebih hadits Nabi saw. ada baiknya kita juga meninjau perkembangan metodologi penafsiran al-Qur'an. Lewat tangan-tangan kekuasaan. Tafsir Kontekstual-. Rahman. Ia menolak banyak hadits demi ra'yu. Ibrahim Hosen mereguk ilmunya. Salah satu murid terkemuka dari Abu Hanifah adalah Abu Yusuf. Kata Abu Hanifah: "Aku tidak akan menjadikan bagian binatang lebih banyak daripada bagian seorang Mukmin." Kata mereka: "Pada zaman Abu Hanifah.

tafsir al-Qur'an dengan al-Qur'an adalah yang paling baik. dalam Tafsir al-Mizan. Rahman hampir sepenuhnya berpijak pada tafsir bi 'l-dirayat. al-Hadits. para mufasir menganggap taisir bi 'l-riwayat adalah yang paling dapat dipercaya. Tradisi Nabi ini dilanjutkan oleh para sahabat. Selanjutnya. Banyak kitab tafsir mengaku menggunakan metoda ini. Nabi saw. Bila tafsir itu berpijak pada ijtihad mufasir --dengan mengerahkan kemampuan nalar dan/atau intuisinya-. membedakan ketetapan legal dari sasaran dan tujuan al-Qur'an. Rupanya. dan menjelaskan maknanya serta menggali hukum-hukum dari hikmahnya. Paling tidak. Pertama kali. kita uraikan jalan yang ditempuh oleh al-Thabathaba'i. 7:52. baru tafsir al-Qur'an dengan al-Sunnah (misalnya. Tafsir al-Qur'an dengan al-Qur'an mempunyai basis dalam petunjuk-petunjuk al-Qur'an sendiri (QS 11:1. 2:185) dan al-Sunnah. dari penafsiran QS 31:14 dengan QS 46:15. serta menggali prinsip-prinsip universal ajaran Islam. Untuk yang terakhir ini. lewat asbab al-nuzul). Di antara kedua jenis tafsir itu. yang menjadi pijakan Rahman. kita akan melihat problematik al-Qur'an yufassir ba'dhuhu bad'dhan. Sesudah itu. kita akan menelusuri akar-akar penafsiran Rahman pada tafsir bi 'l-dirayat. tafsir bi 'l-riwayat seperti ini diambil Rahman ketika berbicara tentang hukum Islam dan ditinggalkan Rahman ketika membahas aspek teologis dan eskatologis ajaran Islam. Muhammad saw. Untuk mengapresiasi metode penafsiran Rahman. Anehnya. Semula manusia mati. maka tafsir itu disebut tafsir bi 'l-riwayat atau tafsir bi 'l-ma'tsur. yang --menurut Rahman-dapat mengungkapkan latar belakang situasional. Bila kita teliti kitab-kitab itu. ketika berada dalam tulang sulbi orang tua mereka. menafsirkan kata zhulm dalam.Nabi-Nya. Ibn Abbas menafsirkan dua kematian dan dua kehidupan dalam surah Ghafir ayat 11 dengan merujuk kepada surah al-Baqarah ayat 28. Setelah itu Allah mematikan mereka dan menghidupkan mereka kembali pada Hari Kiamat. kita dapat membaginya ke dalam kelompok: tafsir Qur'ani yang murattab (berdasarkan urutan ayat dari al-Fatihah sampai al-Nas) dan tafsir Qur'ani maudhu'i (berdasarkan tema-tema atau topik-topik tertentu) Untuk mengetahui prosedur penafsiran qurani yang murattab. Abd al-Karim al-Khathib al-Mishri bahkan menamai kitab tafsirnya al-Tafsir al-Qur'ani li al-Qur'an. kita akan melacak kemusykilan asbab al-nuzul. Kemudian Allah menghidupkan mereka di dunia. kita akan menemukan prosedur penafsiran Qur'ani yang bermacam-macam. kemusykilan kedua penafsiran ini akan kita lihat. pendapat sahabat dan tabi'in. Di antara jenis-jenis tafsir bi 'l-riwayat. Bila tafsir itu diperoleh dengan menukil penjelasan dari al-Qur'an lagi.maka kita menyebutnya tafsir bi al-dirayah atau tafsir bi 'l-ra'y. . Akhirnya. Ali ibn Abi Thalib menyimpulkan bahwa waktu minimal kehamilan adalah enam bulan. wa lam yalbisu imanabum bi zhulm (QS 6:82) sebagai syirk berdasarkan ayat inn al-syirk la-zhulm 'azhim (QS 31:13). dari sinilah Rahman mengajak kita untuk menafsirkan al-Qur'an dengan melihat al-Qur'an secara keseluruhan dan dengan melihat "sebab-sebab pewahyuan".

atau menjelaskan istilah-istilah yang dipergunakan dalam al-Qur'an. Pengantar pada tafsir ini --sepanjang pengetahuan saya dari kalangan kaum Muslim-. Seringkali kita mengalami kesulitan untuk memahami ayat atau mengetahui tujuannya karena jarak kita yang jauh dari zaman wahyu. baik yang bersifat lafdziyah." Yang dimaksud dengan "khalifah" dalam surah al-Baqarah ayat 30 tidak terbatas pada Adam. "ayat-ayat lain dipergunakan untuk memahami ayat-ayat yang mujmal atau sama. Mengumpulkan ayat-ayat dalam hubungannya satu sama lain. Ayat-ayat itu kemudian disusun dan dirangkai begitu rupa sehingga dihasilkan kesatuan pandangan yang lengkap dan kesatuan pemikiran yang menghimpun dan meliputi seluruh ayat tersebut. seperti kata-kata yang membentuk kalimat tunggal yang berkaitan dengan lafadz yang ingin kita pahami.. Bahwa "apa yang kamu perbuat" adalah berhala-berhala itu. dan karena kita tidak mengetahui konteks turunnya ayat itu atau petunjuk-petunjuk situasional yang berlaku pada masyarakat Islam saat itu. ayat "Dan Allah menciptakan kamu serta apa yang kamu perbuat" (QS 37:96). dan al-Naml ayat 62. atau bersifat haliyah. dalam satu tempat. mempermudah makna yang sulit. Ketua Komisi Fatwa Majelis Ulama . "maka ayat-ayat al-Qur'an dilihat dari konteks ayat-ayat itu" (siyaq al-ayat). Apakah kamu menyembah barang yang kamu pahat. dapat membantu kita dalam menghilangkan kekaburan dan ketidakjelasan. dan menjelaskan metodenya sebagai berikut: ". dengan melihat surah al-A'raf ayat 69. Al-Qur'an menunjukkan dalam setiap surah atau setiap tempat. Yunus ayat 14. Tafsir maudhu'i dimulai dari topik. padahal Allah menciptakan kamu serta apa yang kamu perbuat (QS 37:96). al-Najm ayat 42.. (Kita) kumpulkan setiap ayat yang berkaitan dengan pengertian tertentu dan topik tertentu.. ". Perbedaan antara tafsir maudhu'i dengan tafsir murattab mirip dengan perbedaan antara thesaurus dengan dictionary. Kadang-kadang ayat-ayat yang berkaitan dengan topik tertentu tersebar pada surah-surah yang berbeda atau pada tempat-tempat yang berbeda dalam surah yang sama. 26. Ja'far Subhani menulis serial mafahim al-Qur'an (sampai sekarang sudah selesai lima jilid). al-'Alaq ayat 8. Ibrahim Hosen. Yang dimaksud dengan kata al-mustaqar dalam surah al-Qiyamah ayat 12 adalah "tempat kembali" dengan melihat surah al-Insyiqaq ayat 6. Tafsir maudhu'i baru muncul belakangan.ditulis oleh Muhammad al-Baqir al-Abthahi. tetapi meliputi anak-cucunya. kita akan terjatuh ke dalam paham Jabbariyah. Kita memperoleh manfaat lain dari pengumpulan ayat-ayat yang berkaitan dengan topik tertentu dengan tetap berpijak pada pandangan Qur'ani yang utuh tentang topik tersebut.Pertama. (QS 37:95)." Misalnya. Kedua. kemudian dikumpulkan ayat-ayat yang berkenaan dengan topik tersebut. Tanpa melihat konteks ayat. Yang dimaksud dengan konteks adalah "semua yang mengungkapkan ( makna) lafadz yang ingin kita pahami dari petunjuk-petunjuk yang lain.. seperti kasus-kasus atau fenomena yang menjadi petunjuk bagi topik yang dibicarakan. dan al-Qhashash ayat 88." POKOK-POKOK PEMIKIRAN MADZHAB LIBERALISME Pendapat Prof. Ayat ini terdapat dalam kisah ucapan Ibrahim kepada para penyembah berhala. Jadi jelas. salah satu aspek dari topik tertentu itu.

7501983. Kelima. Ketiga. -------------------------------------------.(bersambung 9/10) Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah Editor: Budhy Munawar-Rachman Penerbit Yayasan Paramadina Jln. ketiga.22. 7507173 Fax. Dari ketiga langkah tersebut di atas. Metro Pondok Indah Pondok Indah Plaza I Kav. kita harus mendukung hak pemerintah untuk mentakhshish umumnya nash dan membatasi muthlaqnya. bergerak dari yang khusus kepada yang umum. prinsip-prinsip umum ini kita aplikasikan untuk memecahkan masalah-masalah konkret dewasa ini. kita harus mengambil sunnah Rasul dari segi jiwanya untuk tasyri al-ahkam dan memberikan keleluasaan sepenuhnya untuk mengembangkan teknik dan pelaksanaan masalah-masalah keduniawian. Pertama. Secara operasional. Amal dan Pangabean memperincinya dalam Tafsir Kontekstual al-Qur'an. Keempat.Indonesia ini pernah mengajukan saran-saran bagi pembaruan pemikiran keagamaan di Indonesia. (021) 7507174 Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota Please direct any suggestion to Media Team Artikel Yayasan Paramadina Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota IV. Kita tidak perlu terikat pada teks-teks . kita harus mengganti pendekatan ta'abbudi terhadap nash-nash dengan pendekatan ta'aqquli. kedua. Terakhir. pembedaan antara ketetapan legal dengan sasaran dan tujuan al-Qur'an. Nanti. Pertama. TINJAUAN KRITIS ATAS SEJARAH FIQH (9/10) Dari Fiqh Al-Khulafa' Al-Rasyidin Hingga Madzhab Liberalisme oleh Jalaluddin Rakhmat KRITIK PADA FIQH IBRAHIM HOSEN Esensi dari pemikiran Hosen ialah jiwa atau semangat dari al-Qur'an dan Sunnah. kita harus meninggalkan pemahaman harfiah terhadap al-Qur'an dan menggantinya dengan pemahaman berdasarkan semangat dan jiwa al-Qur'an. TAFSIR KONTEKSTUAL FAZLUR RAHMAN Rahman dalam Tema Pokok al-Qur'an memperinci metodologi penafsiran al-Qur'an dalam tiga langkah. pemahaman sasaran al-Qur'an dengan memperhatikan latar belakang sosiologisnya. yaitu. ketiga langkah ini merupakan langkah pertama dalam perumusan prinsip-prinsip hukum Islam. (021) 7501969. Kedua. kita harus sanggup menyimpulkan prinsip-prinsip umum ajaran al-Qur'an. pendekatan historis untuk menemukan makna teks. kita harus menggeser perhatian dari masalah pidana yang ditetapkan oleh nash kepada tujuan pemidanaan. UA 20-21 Jakarta Selatan Telp. Dalam perkembangan pemikirannya yang kemudian. kita harus melepaskan diri dari masalikul'illah gaya lama dan mengembangkan perumusan 'illat hukum yang baru. Ia mengusulkan enam hal.

Kita harus menggunakan akal (ta'aqquli). berdasarkan pada 'illat baru. Perintah ini harus dipahami sebagai perintah untuk menahan diri dari perbuatan-perbuatan yang mendorong orang ke arah pemuasaan nafsu. yang dimaksud ialah hendaknya wanita memelihara kesucian dirinya dengan menutup diri dari perbuatan-perbuatan yang tercela. Semangat ajaran Islam itu kesucian diri. ketika kita meninggalkan makna lahir teks dan mencari jiwa atau semangat teks. fiqh akan lebih berfungsi sebagai pemberi justifikasi daripada jurisprudensi. Misal. Kedua. Sekarang. Dalam situasi seperti itu puasa boleh ditinggalkan. Pertama. karena . Islam akan dipandang hanya sebagai suplemen dan bukan sebagai alternatif. Dengan cara ini terbukalah peluang untuk memasukkan pikiran-pikiran non-islami ke dalam struktur syari'at Islam. qashar tidak lagi berlaku dalam perjalanan tetapi dalam situasi apapun yang membuat orang payah. Apakah perempuan tidak perlu memakai kerudung bila ia sudah pandai menjaga diri tidak melakukan tindakan yang "merangsang"? Kita memerlukan kriteria kapan teks harus ditinggalkan demi makna yang lebih dalam dan kapan makna yang lebih dalam itu harus diperlakukan sebagai pengayaan makna lahiriah dan bukan pengabaiannya. Kita tidak perlu mengeluarkan zakat bila pemerintah sudah melakukan kebijakan pemerataan pendapatan dan memberikan santunan pada fakir miskin. Bukan semangat dari ajaran zakat ialah pemerataan pendapatan dan pengurangan kemiskinan? Ketika para sahabat bersiap diri menghadapi perang di bulan Ramadlan. Tanpa kriteria ini kaum liberalis dapat membawa kita ke arah tadhyi (pengabaian nash) dan tahrif (penyimpangan makna). hukum-hukum syari'at dapat berubah. Ketiga. Makna lahiriah dari teks. Kita dapat menggashar shalat hanya karena kita baru saja menyelenggarakan seminar yang menguras energi. pemikiran seperti ini tidak memerlukan usaha yang sungguh yang menjadi makna ijtihad. Kata sebagian orang. ketika kita harus meninggalkan produktivitas. Tetapi yang menjadi persoalan ialah apakah berpegang pada semangat al-Qur'an atau al-Sunnah itu berarti tidak usah setia lagi pada makna lahiriahnya. bukan menutupkan kerudung. Mereka memerlukan tenaga dan kekuatan. dahulu wanita-wanita Arab itu senang membuka dadanya untuk merangsang kaum pria. Rasulullah menyuruh mereka berbuka. Kita harus mencari semangat atau ruh perintah ini. apakah kita juga harus meninggalkan puasa. al-Nur: 31) jelas menunjukkan perintah memakai kerudung sampai menutup dada. Saya yakin. "Dan hendaklah mereka menutupkan kerudungnya sampai menutupi dada mereka" (QS. Kita masih dapat mengumpulkan pendapat-pendapat lain. dengan mengganti 'illat qashar pada masyaqqah (kepayahan). Apa semangat dari larangan ini? Umat Islam sedang menghadapi tugas yang berat. Kata sebagian orang. Sekarang kita abaikan makna lahiriah ini. Fiqh menjadi alat status quo dan bukan sebagai korektor. kepastian hukum menjadi kabur.lahir al-Qur'an dan Sunnah. ketika kita memerlukan tenaga untuk membangun. Dengan kebebasan mencari 'illat baru. Dalam istilah sebagian orang. dengan menetapkan pemerintah sebagai pentakhshish dan pengtaqyid nash. Kata "menutupkan kerudung" harus dipahami sebagai kata kiasan. Pandangan ini menimbulkan beberapa kemusykilan. Kita tidak boleh menerima teks-teks itu begitu saja (secara ta'abbudi). kita meninggalkan makna obyektif yang sudah jelas dan memasuki makna subyektif yang tidak jelas kriterianya.

Apalagi. meminta agar beliau memohon ampun kepada Allah untuk orang itu. Dalam kalimat Shadr. yang terbukti seringkali ditulis oleh orang-orang yang tidak mempunyai pengetahuan historiografi. Di antara yang sedikit itu. Seperti dikatakan Subhani. Apalagi --sebagai pelanjut mazhab Umari-Rahman seringkali tidak ragu-ragu menanggap hadist-hadist sebagai "fiksi yang dirumuskan belakangan saja". 224).berkenaan dengan hubungan antara dengan asbab al-nuzul. Tuhan dapat membuat sejarah. datanglah . Kedua. ketika nash-nash itu dijadikan rujukan. Yang paling musykil --dan justru di sini Rahman berpijak-adalah menetapkan apakah asbab al-nuzul itu hanya berkenaan dengan peristiwa atau orang yang spesifik atau dapat digeneralisasikan. Apakah meminta doa kepada Rasul itu hanya berlaku pada waktu Rasul masih hidup atau juga berlaku sekarang? Bukankah dari ayat ini dapat disimpulkan suatu prinsip umum: Bila berbuat dosa."menilai bahwa literatur asbab al-nuzul itu seringkali sangat bertentangan dengan kacau-balau" (h. 158). sangat sukar kita memperoleh gambaran utuh mengenai situasi sosial waktu itu. "terdapat jarak yang sangat jauh antara situasi sosial ketika nash-nash itu dilahirkan dengan situasi sosial dewasa ini. para orientalis --lewat "analisis sosiologi" mereka-. tetapi --pada saut yang sama-.dapat "membuktikan" pengaruh-pengaruh Kristen dan Yahudi dalam al-Qur'an. Kadang-kadang sebab yang sama berkaitan dengan ayat-ayat yang berlainan (ta'addud al-nazil wa 'l-sabab wahid). Lebih dari itu. seperti kata sebagian orang. Rahman menyadari pentingnya asbab al-nuzul. kita merumuskan situasi di zaman Nabi itu dari asbab al-nuzul. dari buku-buku tarikh. sebagian besar tidak tahan kritik --bahkan pada tingkat kritik rawi atau sanad." Dari mana kita memperoleh informasi tentang situasi masa lalu itu? Pertama. Karena itu. Terdapat juga kemusykilan dalam menentukan apakah dalam situasi tertentu. seperti yang dilukiskan oleh Taufik dalam buku ini (h.justifikasi tidak memerlukan pemikiran yang mendalam. sedang dalam situasi lain sebabnya khusus tetapi efek legalnya umum. Di kalangan para mufassirin terjadi ikhtilaf apakah pelajaran (al-'ibrah) itu bersifat spesifik (bi khushush al-sabab) atau umum (bi 'umum al-lafazh). karena jarak kita yang jauh dari masa wahyu. Pernah orang datang kepada Rasulullah saw. bila bertentangan dengan apa yang telah dipandangnya sebagai prinsip-prinsip umum ajaran al-Qur'an. tetapi mempunyai motif-motif yang patut dicurigai. Kemusykilan lainnya --yang terlalu panjang bila diuraikan di sini-. sebab itu khusus dan efek legalnya juga khusus. sebagaimana yang telah banyak diketahui oleh para peneliti ulum al-Qur'an. Kadang-kadang ayat yang sama dijelaskan dengan asbab al-nuzul yang berlainan (ta'addud al-asbab wa al-nazil wahid). Kemudian turun surah al-Nisa ayat 64. KRITIK PADA FAZLUR RAHMAN Metodologi Rahman --seperti telah disebutkan di atas-bersandar sepenuhnya pada pendekatan historis untuk memperoleh makna teks dari analisis latar sosiologis untuk memahami sasaran al-Qur'an. hadist-hadist tentang asbab al-nuzul itu sangat sedikit. tetapi hanya ahli sejarah yang dapat mengubah sejarah.

kepada Rasulullah --baik dalam keadaan hidup atau mati dan mintakan agar beliau memohonkan ampunan buat kita? Kaum Wahhabi berpendapat bahwa tawassul itu syirik dan karena itu menganggap ayat ini hanya berlaku ketika Rasulullah masih hidup. Setiap orang akan setuju bahwa konteks historis sangat diperlukan untuk memahami al-Qur'an. Dalam urutan pengharaman khamr. Muhammad mengharamkan khamr. ketika Abu Jahal masih hidup. bagaimana kita dapat memastikan situasi sosial dari tarikh yang dapat kita akses. jika kita menyimpulkan --dari kesimpulannya-bahwa pengkonsumsian alkohol secara individual dalam komunitas informal tidak haram. juga. Peristiwa ini terjadi di Makkah. Yang ingin diketahui orang ialah bagaimana Rahman menarik kesimpulan dari ayat-ayat yang tidak ada asbab al-nuzul-nya. Yang pertama mengharamkan khamr sebenarnya adalah surah . khamr diharamkan. maka pengharaman ditegaskan berkali-kali --dari tahrim 'am sampai tahrim khash bi tasydid al-baligh (pengharaman khusus yang sangat keras). di tengah jalan ia dicegat Abu Sufyan.. ketika manusia menjadi sebuah masyarakat (society). Setiap orang juga tahu bahwa asbab al-nuzul dan tarikh sangat penting. Setelah umat Islam terbentuk sebagai masyarakat.. karena mereka menganggap enteng larangan ilahi ini. Ketika ia bermaksud menyatakan Islamnya di depan Rasulullah saw. Dalam hadist yang dikeluarkan oleh Thabrani dari Mu'adz ibn Jabal disebutkan bahwa di antara yang pertama kali diharamkan pada permulaan kenabian adalah minuman khamr. Mereka berpegang pada sebab yang khusus (bi khushush al-sabab). para ahli tafsir sepakat menyebutkan surah al-Maidah ayat 90 sebagai ayat yang terakhir. alkohol menjadi membahayakan sehingga pengkonsumsiannya tidak diperkenankan. Dengan menggunakan metodologi Rahman. Muhammad mengharamkan zina." "Abu Bashir. Menurut Rahman --juga kebanyakan ulama-. Mula-mula khamr dipandang sebagai rahmat Tuhan (QS 16:66-69). "Tidak turun ayat al-Ma'idah. Kita tidak tahu apakah Rahman setuju. tetapi akhirnya dianggap sebagai perbuatan setan (QS 5:90-91). Di sini tampak bahwa prinsip umum yang diyakini oleh mufasir menentukan spesifikasi atau generalisasi asbab al-nuzul. di Makkah. Kata A'sya. Marilah kita ambil kasus khamr. Kedua-duanya sangat dihajatkan terutama sekali untuk menetapkan tujuan atau sasaran yang ingin dicapai al-Qur'an ("ideal moral" al-Qur'an) atau sebab berlakunya hukum (ratio legis). Tetapi karena sahabat terus-menerus melakukan pelanggaran. Abu Jahal. jauh sebelum turun surah al-Maidah. kecuali untuk mempertegas (keharaman khamr) bagi menusia." kata mereka.pengharaman khamr ini berlangsung secara gradual.. ketika umat Islam belum merupakan suatu masyarakat (society). Rahman menunjukkan evolusi "sikap" al-Qur'an terhadap khamr." kata mereka lagi. Apa prinsip umum yang dapat ditarik dari latar sosiologis ini? Kata Rahman. Khamr sudah diharamkan sejak awal kenabian. "." Inilah ratio legis haramnya alkohol. tetapi hanya merupakan komunitas informal. Abu Jahal terbunuh dalam perang Badar. Dan seterusnya. Khamr tidak diharamkan. penelitian saya tentang pengharaman menghasilkan kesimpulan yang berbeda. "Hai Abu Bashir. "Aku tidak keberatan." Bahwa khamr telah diharamkan sejak awal bi'tsah dapat dilihat pada peristiwa masuk-Islamnya A'sya ibn Qais. dan orang-orang Quraisy lainnya. Menurut Thabathaba'i.

al-A'raf ayat 33. sebagaimana ditegaskan dalam surah al-Baqarah ayat 214. yang harus lebih dahulu dirumuskan adalah kritik keduanya (yang kurang diperhatikan Rahman). tetapi (untuk khamr) mempertegasnya dengan menyebutkan dosa besar. Karena Allah berfirman. Ahmad Abu Dawud. Al-A'raf termasuk surah yang turun dalam periode Makkiyah awal. "Kami berhenti. Ibn Hajar .. cukuplah ayat ini saja. UA 20-21 Jakarta Selatan Telp. Katakan Tuhanku hanya mengharamkan kekejian --baik yang tampak maupun yang tersembunyi-.al-Jashash menjelaskan: "Ayat ini menetapkan haramnya khamr. Karena basis metodologi Rahman adalah tarikh dan asbab al-nuzul. Al-Itsm dalam ayat itu adalah khamr. Mereka bertanya kepadamu tentang khmr dan judi.Riwayat ini dihimpun berdasarkan hadits Bukhari. Katakanlah di dalamnya ada dosa besar (itsm kabir). ------------------------------------------. Umar menjawabnya. 7507173 Fax. dan dosa. Menurut riwayat. Allah tidak saja menjelaskan bahwa dosa itu haram." Walhasil. (021) 7507174 Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota Please direct any suggestion to Media Team Artikel Yayasan Paramadina Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota IV. Adapun kata manfaat bagi manusia tidaklah berarti menghalalkannya. TINJAUAN KRITIS ATAS SEJARAH FIQH (10/10) Dari Fiqh Al-Khulafa' Al-Rasyidin Hingga Madzhab Liberalisme oleh Jalaluddin Rakhmat CATATAN 1. Kami berhenti!" Ini hanyalah sebuah contoh penggunaan metodologi Rahman dengan hasil yang sama sekali berbeda dari konklusi Rahman. Muslim. karena yang dimaksud manfaat itu manfaat dunia dan semua yang diharamkan ada manfaat duniawi bagi pelanggarnya.karena sahabat masih tetap melakukannya. Ibn Majah. al-Nasai. Dosa semuanya diharamkan dengan firman Allah. Metro Pondok Indah Pondok Indah Plaza I Kav. di dalamnya dosa besar. Seandainya tidak turun ayat lain yang mengharamkan. Karena itu surah al-Ma'idah 90 diakhiri dengan kata Mengapa kalian belum berhenti juga. pengharaman khamr diulang-ulang --makin lama makin keras-. sebagai penegas akan bahayanya.22.. 7501983. Tentang surah al-Baqarah ayat 219 --yang dianggap Rahman dan kebanyakan mufassirin belum mengharamkan khamr-. (021) 7501969.(bersambung 10/10) Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah Editor: Budhy Munawar-Rachman Penerbit Yayasan Paramadina Jln. Tuhanku hanya mengharamkan kekejian.dan dosa (al-itsm) dan pembangkangan tak benar serta menyekutukan Allah. al-A'raf:33). (QS.

1:443 al-Maktabah al-Salafiyah. padahal sahabat sepakat bolehnya bertentangan dengan sahabat yang lain? Abu Bakar dan Umar tidak mengingkari orang yang berbeda ijtihadnya dengan mereka. Ibn Hajar berkata. Mesir: Mustafa Muhammad. "Sahabat sama seperti perawi hadits yang lain kecuali satu hal --pada mereka tidak berlaku jarh dan ta'dil. "Siapa saja yang mungkin salah atau lupa dan tidak tegas 'ishmahnya tidak boleh pembicaraannya menjadi hujjah.al-Asqalani. tidak dikenai celaan. Bagaimana mungkin berhujjah dengan ucapan mereka dengan kemungkinan mereka salah. al-Ishahah fi Tamyiz al-Shahabah. "Seluruh sahabat itu mukmin yang saleh.Abu Zahrah." Lihat Al-Ishabah 1:10. Heiderabad. 2. "Siapa yang mengkritik salah seorang di antara sahabat Rasulullah saw.Fath al-Bari. sebab mereka semna 'udul. Pada halaman yang sama. menurut Ibn Hazm. . Bagaimana mungkin menetapkan ishmah mereka tanpa hujjah yang mutawatir? Bagaimana dapat dibayangkan adanya 'ishmah.Abu Ishaq al-Syatiby. tanpa tahun. 1:135. beriman kepadanya dan meninggal dalam Islam. yang melihatnya tetapi tidak menghadiri majelisnya. 1974:133-143. tanpa kota. 1:10 4.Ibn Hajar mendefinisikan sahahat sebagai "orang yang berjumpa dengan Nabi saw. 250. yang berperang besertanya atau tidak.Lihat al-Ghazali. Ibn Al-Atsir dalam Usud al-Ghabah fi Ma'rifat al-Shahabah. Ibn Hajar mengemukakan dalil-dalil tentang 'udul-nya sahabat secara rinci dalam kitab ini juga). Dar al-Fikr. Al-Syatibi mengutip ayat-ayat al-Qur'an dan hadits-hadits untuk menunjang pendapatnya. 6. 1:457 3. Tarikh al-Madhahib al-Islamiyah. menulis. semuanya mati dalam iman. Muhammad Taqiy al-hakim mengkritik kelemahan argumentasi al-Syatibi secara rinci. Mengenai 'Udul-nya sahabat. 1:3. 4:74.agar setiap mujtahid mengikuti ijtihadnya masing-masing. atau yang tidak melihatnya seperti orang buta". Al-Muwafaqat fi Ushul al-Syari'at. 7-9." 7. hal. 1371.. bahkan mereka mewajibkan --dalam masalah ijtihad-. Dar al-Andalus. Beirut. Mathba'ah al-Maktabah al-Tijariyah.T Al-Hakim Al-Ushul al-'Ammah fi al-Fiqh al-Muqaran. tak ada yang menentang hal ini kecuali orang-orang bid'ah yang menyirnpang" (Al-Ishabah 1:9. tanpa tahun. 5. ketahuilah bahwa dia itu zindiq (atheis). padahal mereka boleh ikhtilaf? Mungkinkah dua orang ma'shum ikhtilaf? Bagaimana mungkin.Taqdimah al-Ma'rifah li Kitab al-Jarh wa al-Ta'dil. Beirut. hal. Mereka yang termasuk jumpa ini orang yang lama bergaul dengan Nabi atau yang sebentar. al-Mustasyfa. Pembaca yang tertarik dapat melihat M. Kecuali untuk sahabat yang masuk Islam sesudah Bai'at al-Ridwan (sambil mereka pun tidak boleh disebut kecuali kebaikan). Lihat: Fath al-Bari. al-Ghazali menolak semua pendapat itu dan berkata." Begitu "sucinya" para sahabat itu sehingga Abu Zar'ah menulis. "Sepakat semua Ahl Sunnah bahwa sahabat seluruhnya 'udul.

Abu Dawud 2:242. hal. 9. Mesir: Mathba'ah Sa'adah. 11. 8. Zad al-Ma'ad 1:177-225. semuanya masuk surga. "I'lam al-Muqi'in. Tarikh al-Madzahib. 17. Kanz al-Ummal 3:102. Diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris oleh Mahliqa Qara'i. Al-Ijtihad: wa Mada Hajatina ilaih fi Hadza al-Ashar. 4:352 dan 5:22. Sunan al-Nasa'i. 3:69. Fath al-Bari 12:101. 20.Kupasan tentang perdebatan ini.Dr. al-Dar al-Mantsur 1:279. Sunan al-Baihaqi. 252. V NO. yang jika kamu berpegang teguh. Al-Ahzab 33 (tentang 'ishmah ahli bait). hal. Bukhari meriwayatkan hadits ini tetapi dengan tidak lengkap.Asbab al-Ikhtilaf bain Aimmah al-Madzahib al-Islamiyah". pada Kitab Al-Muharibin. Al-Sunnah qabl al-Tadwin.Abu Dawud 2:227. hal. hal. vol. 57-58. 395-396). Sunan al-Baihaqi 7:336. "Al-'Itisham. Kairo. 13. dan kebajikan. Tafsir al-Darr al-Mantsur 6:74. Musnad Ahmad 1:314. kamu tidak akan sesat selama-lamanya Kitab Allah den Ahli Baitku (hadits-hadits yang semakna dengan ini diriwayatkan oleh Shaih Muslim dalam Kitab Fadhail al-Shahabat". lihat juga Shahih Muslim. Musnad Ahmad 4:366. turun berkenaan dengan Ali bin Abi Thalib)." (Saya kutip lagi dari Muhammad 'Ajal al-Khatib. 1963.Shahih Muslim 1:574.Di antara ayat-ayat yang menunjukkan keharusan mengikuti ahli bait adalah Al-Maidah 55 (Menurut banyak ahli tafsir. 32-33. hal. 255. 227-228. Shahih Muslim 2:52. 19. 12. Musa Towana. tanpa tahun. Tarikh al-Madzahib. 10. 2. 14.Shahih al-Bukhari. Saya kutip lagi dari Abu Zahrah. 1:349. Teheran: Sepahar. 18. Taysir al-Wushul 2:5.petunjuk.Ibn Qayyim al-Jawziyyah. dalam Al-Tawhid. Ibn Majah 2:227. 16. 15. lihat Ibn Qayyim. Al-Baihaqi . Al-Baihaqi dalam Sunan al-Kubra 8:318. tt 1:63-64.Tafsir Ibn Katsir 4:194.Abu Zahrah. Al-Syura 23 (tentang keharusan mencintai ahli waris). Kanz al-Ummal 1:185. dalam Kayhan-e Andisheh NO. Maktabah Wahdah. Umdat al-Qari 11:151.Muhammad Ibrahim Jannati. Irsayad al-Sari 10:9. "Ra'y Gera'i Dar Ijtihad". 1404. tidak seorangpun masuk neraka. al-Baihaqi dalam Sunan al-Kubra 8:264. 9. 1408. 5:148. al-hakim 2:196. dalam Hawl al-Wahdah al-Islamiyah. Kairo: Dar al-Kutub al-Haditsah. "Ijtihad and the Practise of Ra'y". al-Hakim dalam al-Mubarak 2:59 dan 4:389. Di antara hadist-hadits tentang hal yang sama adalah hadits Tsaqalain: Aku tinggalkan bagimu dua hal.Al-Syatibi.

Al-Thabaqat al-Kubra. 11:257..Lihat "Kontroversi sekitar Ijtihad 'Umar r. Shahih al-Turmudzi 1:68. Shahih Muslim Bab "Tark al-Wasyiyyah" Musnad Ahmad. Al-Kamil ibn al-Katsir 2:146. Kanz al-'Ummal. tetapi kemudian meng-itmam-kannya. Tafsir al-Syawkani 1:418. Abu Bakar shalat di Mina dua rakaat. 22. hadits NO. Lihat juga Shahih al-Bukhari 2:154. Sunan Ibnu Majah 1:348.Al-Thabaqat al-Kubra. 1:7. Riwayat pelarangan bagian muallaf. 39-40. 138. lihat Tafsir al-Manar 10:297. Sunan al-Baihaqi 6:342-343. dalam Limadza Ikhtartu Madzhab Ahl al-Bait. Al-Muhalla' 9:622. 1:5. 2:10. Al-Ijtihad. al-Baihaqi 7:164. dan hadits: "Ahli baitku adalah tempat yang aman dari ikhtilaf bagi umatku" (Mustadrak al-Shahihain 3:348). 24. Musnad Ahmad 2:148 Sunan al-Baihaqi 3:126. Kanz al-'Umal 1:47 dan lain-lain). 1:174. Sunan al-Muslim 2:260. tarjamah Abu Bakr. Tafsir al-Qurthubi 6:117. Polemik Reaktualisasi Ajaran Islam. 23. 44. tarjamah 'Umar 28. Tarikh al-Khulafa. Umar shalat di Mina dua rakaat.Tadzkirat al-Huffazh.Tadzkirat al-Huffazh. Ahkam al-Qur'an dari Al-Jahshash 3:60 62. 10404 H. 1935.Shahih al-Bukhari 3:69. hal. menyimpulkan dalil-dalil itu. hal. Qum Abu Mujtaba.a".Al-Jawharah al-Nayyirah. Usman mula-mula shalat dua rakaat.Tarikh al-Thabari 3:234. 25.Al-Thabaqat al-Kubra. Thabaqat ibn Sa'ad 2:244. "Kitab al-'Ilam". dikutip lagi dari al-Nash wa al-Ijtihad. 1:2-3. 27.Shaih al-Bukhari. 32. hal. 36. 26. "Kitab al-Jihad". Sunan al-nasai 2:179. Sunan Abu Dawud 1:171. 29. Il-Ishabah 2:322. bukan tempatnya di sini menuliskan semua riwayat yang dijadikan dalil oleh kelompok pertama. Gubahan syair dari Al-Amini al-Inhaqi dari Syiria. 7:447. Tarikh Thabari 3:193.Diriwayatkan oleh Imam Malik dalam Al-Muwaththa' 1:282 dari Urwah: Rasulullah shalat dua rakaat di Mina pada shalat-shalat yang empat rakaat. 30. Sunan . Ahkam al-Qur'an dari Al-Jahshash 2:168.2:148. ed. 1:22. 31.Kitab al-Kharraj 24-25. Mustadrak al-Shahihain 3:109. Al-Durr al-Mantsur 3:252. 33. 21.Al-Muwaththa'. Al-Durr al-Mautsir 2:136. dalam Iqbal Abdurrauf Saimima. Musa Towana. Taisir al-Khazim 1:356. Jakarta: Pustaka Panjimas. 34. Lihat juga Shahih Bukhari. 7:188. Tarikh Ibn Katsir 6:319. dan Kitab al-Jizyah". Tafsir al-Zamahsyari 1:359. Shahih al-Turmudzi 2:308.Tadzkirat al-Huffadz. 1988. 50. Tafsir al-Thabari 10:6.Lihat Dr.

(4) bahwa kandungan sunnah atau sunnah dengan pengertian sebagai praktek yang disepakati secara bersama adalah identik dengan ijma'. Lihat Fath al-Bari. 49. 1:93-94. 1983. 3:192. 1:365.Jami'Bayan Al-' Ilm.Jami' Bayan Al-'Ilm.Syarh Al-Muwaththa'.Shahih Muslim 1:142. Al-Umm. Kitab al-Umm 1:173. 2:244. 38. 37. Tasyir al-Wushul 1:282. 152. "Utsman melihat kemaslahatan jamaah supaya dapat mengejar shalat.Abu Zahrah. (2) bahwa meskipun demikian. 267.Shahih Bukhari. Bandung: Pustaka. Musnad Ahmad 1:61.. 45. Kitab Al-Riqaq.Syibli Nu'mani. Fath al-bari 7:449-450. lihat juga Dhuha Al-Islam. 42. 1:208. Shahih al-Muslim 1:349.Ibn Hazm dalam Al-Muhalla 5:227. Kitab Al-Fadhail. Lihat juga Sunan al-Baihaqi . "Bab Itsbat".Al-Imam Al-Syafi'i. juga Al-Baladzuri dalam al-Anshab 5:26." 40. lihat Al-Syawkani dalam Al-Awthar 3:374. Sunan al-Baihaqi 1:429.Shahih al-Bukhari 3:69. 47.al-Nasai 3:100. 48.Shahih Bukhari. 46.Ansab Al-Asyraf. hal. (3) bahwa unsur kreatif dari kandungan ini adalah ijtihad personal yang mengalami kristalisasi menjadi ijma' berdasarkan petunjuk pokok dari sunnah nabi yang tidak dianggap sebagai sesuatu yang sangat bersifat spesifik. "Bab Ghazwat Al-Hudaibiyah. Tarikh Al-Madzahib Al-Islamiyah. Umar Yang Agung. Sunan al-Nasai 5:148.Fazlur Rahman. 2:244. "Bab I: Al-Hawah". Tanwir Al-Hawalik. 37. Fath al-Bari 2:361. 1404. Dar Al-Fikr Al-Araby. hadits ke 4170. Ibn Hajar memberikan komentar. Membuka Pintu Ijtihad. 2:401. 2:180. 26 menulis: Kami telah menyatakan (1) bahwa sunnah dari kaum muslim di masa lampau secara konsepsional dan kurang lebih secara garis besarnya berhubungan erat dengan sunnah Nabi dan pendapat yang menyatakan bahwa praktek-praktek muslim di masa lampau terpisah dari konsep sunnah Nabi adalah salah sekali. 43. 41. 532. 1:221. hal. Mustadrak al-hakim 1:472. sedangkan Marwan supaya orang mendengarkan khutbahnya. hal. Shahih al-Bukhari 1:109. 205. Shahih Muslim. 44. Bandung: Pustaka.Ibn Hajar. 11:463-476. 39." Kitab Al-Maghazi. kandungan yang khusus dan aktual dari sunnah kaum muslim di masa lampau tersebut sebagian besarnya adalah produk dari kaum muslim sendiri. tt. Sunan al-Baihaqi 1:472. Turmudzi 3:302.95.

Abu Zahrah. 14.Shahih Muslim. pada hamisy kitab Tafsir Al Thabari. 50. 58.Shahih Al-Bukhari. "Para fuqaha menyebut peristiwa ini berkenaan dengan sujud. Dar Al Tarqib. 8:889. Al-Sujud 'ala al-A'rdh.Tafsir Al-Nisabury. (021) 7501969. Tarikh al-Madzahib al-Islamiyyah. Kanz al-'Ummal. Kitab ini menunjukkan. Al-Ishabah. 51. ketika menjelaskan hadits ini.Ibn Katsir. "Bab Walladzi Qala li Walidaihi". Nabi saw. 54. 52. lihat juga biografi Abdurrahman bin Abi Bakr dalam Ibn Asakir. 5:263. Fath Al-Bari. Jabir bin Abdillah dan lain-lain melarang sujud selain di atas tanah.2:68.Tafsir Al-Thabari. Ketika mereka mengadukan apa yang mereka alami. juz I.Catatan kaki pada hamisy kitab Sunan Al-Nasai. sahabat-sahabat seperti Abu Bakar. 3:40. Dar Ihya' Al-Turats Al-'Arabiy.. Tarikh Ibn Katsir. Ali bin Abi Thalib. hal. Beirut.Kata Al-Dzhabi dalam Tadzkirat Al-Huffadz. 56. Tidak mungkin kita menurunkan semua hadits itu di sini Cukuplah kita kutip hadits Muslim dari Khabab bin Al-Arat. Ibn Katsir. Tetapi. tetapi mereka dilarang berbuat begitu. 10:197-198. (021) 7507174 Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan . 7501983. 8:143. Al-Bidayah wa Al-Nihayah. berkata. ibid. 55.. 7507173 Fax. Usud Al-Ghabab. "Kami mengeluoh kepada Rasulullah tentang udara yang sangat panas sehingga tanah menjadi sangat panas pada dahi-dahi kami. Metro Pondok Indah Pondok Indah Plaza I Kav. hal. Kitab Al-Birr wa Al-Shilah. Nabi saw. 1:79. Ibn Al-Atsir.Lihat Ali Al-Hamady. Tarikh Dimasq. 698-701. 19:72-75. 4:481. tidak mengizinkan kami (sujud selain di atas tanah). Abdullah bin Mas'ud. mengizinkan mereka sujud di atas pakaian mereka itu. bab "Man La Ha'arahun Naby". 53. Waktu itu para sahabat meletakkan ujung baju mereka dilarang ketika akan sujud untuk menghindarkan panas yang sangat. 7:214 57. Mustadrak Al-Hakim. 257.Al-Sirah Al-Nabawiyyah. 59. dalam Al-Nihayah. 3:124. UA 20-21 Jakarta Selatan Telp. Lihat juga biografi Al-Haban bin Al-'Ash pada Al-'Isti'ab. -------------------------------------------Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah Editor: Budhy Munawar-Rachman Penerbit Yayasan Paramadina Jln. 1978. berdasarkan hadit-hadits yang diriwayatkan Ahl Sunnah bahwa disamping Rasulullah saw.

serta antara Imam al-Syafi'i dan gurunya. dan tidak seorang pun dari mereka menisbatkan yang lain kepada kesalahan dan cacat. Imam al-Syafi'i. Sampai dengan masa itu. juga tidak seorang pun dari mereka yang menyakiti yang lain. dan saling menolong. namun tidak seorang pun dari mereka yang menyakiti yang lain. kemudian para Tabi'in dan pengikut mereka. yaitu mulai sekitar abad keempat Hijri. demikian pula antara Imam Ahmad ibn Hanbal dan gurunya. tidak seorang pun dari mereka mendengki yang lain. namun tidak seorang pun dari mereka memusuhi yang lain. dan masing-masing berdoa untuk segala kebaikan mereka itu. Demikian pula telah terjadi perbedaan dalam furu' antara Imam Abu Hanifah dan Imam Malik (semoga Allah meridlai keduanya) dalam banyak masalah yang jumlahnya mencapai sekitar empatbelas ribu dalam bab-bab ibadat dan mu'amalah. Muhammad Hasyim Asy'ari dari Tebuireng: Telah diketahui bahwa sesungguhnya telah terjadi perbedaan dalam furu' (makalah rincian) antara para Sahabat Rasulullah saw (semoga Allah meridlai mereka semua). berpersaudaraan. Jalan pikiran para imam itu menjadi titik tolak. dan akhirnya pertumbuhannya di masa para imam madzhab. yang senantiasa disertai dengan kegaduhan polemik dan kontroversi. TRADISI SYARAH DAN HASYIYAH DALAM FIQH DAN MASALAH STAGNASI PEMIKIRAN HUKUM ISLAM (1/2) oleh Nurcholish Madjid Kita telah membicarakan garis perkembangan pemikiran sistem hukum Islam --yang kemudian dikenal dengan (ilmu) fiqh-. tapi kemudian dikembangkan begitu rupa sehingga yang terwujud ialah sebuah aliran yang meluas dan . terjadi banyak perbedaan pendapat antara para tokoh intern madzhab sendiri pada saat-saat permulaan perkembangannya. tidak seorang pun dari mereka mencerca yang lain. Sebaliknya mereka tetap saling mencintai.H. tidak seorang pun dari mereka menyakiti yang lain. namun "tidak seorang pun dari mereka memusuhi yang lain. namun dalam suasana saling menghargai dan tenggang rasa yang besar. Hasyim Asy'ari juga menyebut.ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota Please direct any suggestion to Media Team Artikel Yayasan Paramadina Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota IV. (semoga Allah meridlai keduanya) dalam banyak masalah yang jumlahnya mencapai sekitar enam ribu. dalam banyak masalah. Imam Malik. maka yang terjadi ialah pertumbuhan dan perkembangan madzhab itu sendiri. dan tidak saling menisbatkan lainnya kepada kesalahan ataupun cacat.23.H. yang kita saksikan dalam sejarah perkembangan fiqh ialah dinamika dan kreativitas.[1] K. Keadaan demikian itu dilukiskan K. dan tidak seorang pun dari mereka menisbatkan yang lain kepada kesalahan dan cacat.sejak dari pertumbuhannya di masa para Sahabat. saling mendukung sesama saudara mereka." [2] Setelah masa-masa para imam madzhab lewat. juga antara Imam Ahmad ibn Hajar dan Imam al-Ramli dan para pengikut mereka. seperti antara Imam al-Rafi'i dan Imam al-Nawawi. bahkan sebaliknya mereka selalu saling mencintai.

Karena orisinalitas pemikiran tidak berkembang lagi. melainkan pemikiran yang meskipun tetap berwatak "kesyafi'ian" namun dalam banyak hal Imam al-Syafi'i sendiri mungkin tidak lagi tersangkut paut. Dan karena pemikiran kritis juga terkekang. yang kemudian kelak. menjadi kenyataan. al-Rabi'. berakhir dengan kekalahan mereka oleh ummat-ummat lain. Sebab ketenangan dan ketenteraman itu mereka "beli" dengan menutup dan mengekang kreativitas intelektual dan penjelasan. al-Buwaythi. Demikian pula tokoh-tokoh dari madzhab-madzhab yang lain. sehingga yang muncul sebagai dambaan atau obsesi utama masyarakat. misalnya. Inilah yang dimaksudkan dengan istilah "madzhab.mendalam dan cukup pada dirinya sendiri (self-sufficient). Jadi tidak berlebihan jika masa itu sering ditunjuk sebagai permulaan kemunduran peradaban Islam. dan lain-lain dari kalangan para penganut madzhab Syafi'i. yang serba berkecukupan. yaitu stagnasi atau kemandekan. Tetapi masa itu segera diikuti oleh masa dengan tingkat kreativitas dan orisinalitas intelektual yang lebih rendah. maka dambaan kepada ketenangan dan ketenteraman menjadi semakin beralasan. Pertumbuhan madzhab itu dengan sendirinya terjadi melalui para pengikut tokoh yang kelak disebut "imam madzhab" tersebut. khususnya bangsa-bangsa Eropa. seperti yang banyak dilakukan oleh misalnya. . Mula-mula masih terdapat sisa-sisa kreativitas dan keberanian intelektual yang menghasilkan karya-karya tersendiri dengan tingkat orisinalitas yang memadai. al-Karabisi. Maka dari titik tolak pemikiran Imam al-Syafi'i. Ketidakberanian mengambil risiko salah dalam penelitian dan penjelajahan itu kemudian dirasionalisasikan dengan argumen: Apa yang telah dihasilkan para imam madzhab dan pendukung-pendukung mereka itu seolah-olah sudah "final. karena para tokoh pemikir yang menjadi pangkal pengembangan madzhab tersebut semasa hidupnya sendiri sering mengisyaratkan keengganan menjadi pusat pengikutan. Ciri umum masyarakat Muslim saat itu ialah suasana traumatis terhadap perpecahan dan perselisihan. tapi dengan ongkos yang amat mahal. tumbuh dan berkembang pemikiran yang lebih meluas dan mendalam. al-Za'farani. al-Muzni. setelah dia sendiri lama tiada. Karena itu yang ada bukanlah pemikiran Imam al-Syafi'i itu an sich. maka yang terjadi ialah pengulangan dan penghafalan yang sudah ada. yaitu setelah fakta perkembangan pemikiran yang bertitik tolak dari dia itu. maka tercipta suasana bagi tumbuhnya mitos-mitos. yang kemudian lambat laun berkembang menjadi semacam etos di kalangan kaum Muslim di seluruh dunia. ialah ketenangan dan ketenteraman. atas nama doktrin taqlid dan tertutupnya ijtihad. Penilaian ini lebih-lebih beralasan." dan apapun produk pemikiran mereka harus diterima sebagai berlaku "sekali dan untuk selamanya". bertitik tolak dari produk intelektual satu orang. Ditambah lagi dengan keadaan politik negeri-negeri Muslim yang telah mulai kehilangan "elan vital"-nya antara lain karena banyaknya serbuan-serbuan militer dari Asia Tengah seperti dari kalangan bangsa-bangsa Turki dan Mongol. namun belum tentu orang tersebut sepenuhnya dapat dipandang sebagai ikut bertanggungjawab. Agaknya dambaan mereka tercapai. Inilah masa syarah (penjabaran) dan hasyiyah (penjabaran atas syarah)." yaitu suatu kesatuan pemikiran yang tumbuh dan berkembang. Jadi sesungguhnya seorang pemikir seperti al-Syafi'i menjadi imam madzhab adalah secara post factum.

dan terutama. keharusan memilih suatu madzhab seperti itu dapat dibenarkan. (021) 7501969. dan yang terakhir ini tentu berakibat kepada masalah istiqamah atau keteguhan dan keikhlasan dalam beragama. Dari beberapa sudut pandang tertentu.secara tersirat mengandung doktrin bahwa suatu pemikiran madzhab adalah suatu kesatuan organik yang tidak boleh dipisah-pisah. (021) 7507174 Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota Please direct any suggestion to Media Team Artikel Yayasan Paramadina . ialah karya-karya syarah. juga sangat dicela.hilangnya kreativitas dan orisinalis intelektual. yang taqlid itu. sebagaimana telah disinggung. 7501983. mengenai suatu hukum tertentu seseorang cenderung mencari yang mudah dan ringan dari berbagai madzhab. dan bersamaan dengan itu hilang pula kemampuan memberi responsi pada keadaan masyarakat nyata (historis) yang senantiasa berkembang dan berubah. yang dipandang sebagai matan (teks inti).SYARAH DAN HASYIYAH Mulai saat itulah kurang lebih muncul ide tentang keharusan seorang Muslim memilih salah satu dari madzhab-madzhab yang ada sebagai anutan. tanpa kesungguhan meneliti bagaimana pangkal sebenarnya hukum itu)." yang biasanya disebut hasyiyah. sehingga merupakan "elaborasi atas elaborasi. Metro Pondok Indah Pondok Indah Plaza I Kav. merupakan dinamik dambaan kepada ketenteraman. Logika keharusan ini ialah ide tentang taqlid. Pada saat itulah sejauh mengenai kegiatan intelektual yang muncul. tetapi sesungguhnya juga merambah ke berbagai cabang ilmu keislaman yang lain. yang kemudian dikenal sebagai talfiq. seperti. Tapi syarah bukanlah akhir perjalanan tradisi pseudo-ilmiah dalam masa kemandekan intelektual ini. Sebuah karya sparah membuka peluang kepada bentuk elaborasi lebih lanjut. UA 20-21 Jakarta Selatan Telp. Pemisahan itu akan menghasilkan inkonsistensi. Begitu pula larangan mencampuradukkan lebih dari satu madzhab. Ilmu Kalam. karena dalam praktek serupa itu mudah sekali masuk unsur oportunisme dalam paham (seperti. misalnya. seperti dari sudut keprihatinan karena situasi politik yang tidak mantap. Kegiatan pseudo-ilmiah serupa ini paling banyak terjadi dalam pemikiran judisial. Tapi konsekuensi yang lebih jauh ialah --sebagaimana telah disinggung tadi-. Keharusan memilih salah satu madzhab sekaligus larangan mencampur lebih dari satu madzhab --betapapun tulusnya hal itu dilakukan-. yaitu karya tulis berupa kitab yang mengelaborasi karya lain yang lebih orisinal. (bersambung 2/2) -------------------------------------------Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah Editor: Budhy Munawar-Rachman Penerbit Yayasan Paramadina Jln. 7507173 Fax.

Dan keadaan menurut aslinya itu dapat memberi gambaran tentang ungkapan "ilmiah" masa kemunduran itu yang tidak dapat disebut mengagumkan. air laut. Matan itu kemudian diberi syarah dalam kitab Fat'h al-Qarib. maka ia mencakup Nil dan Furat dan sebagainya. yaitu sebuah kitab fiqh yang paling standar. [4] Syarah ini kemudian diberi hasyiyah. menurut keadaan aslinya dalam kitab. Ibn Rusyd. dan akhirnya diberi hasyiyah dalam kitab al-Bajuri. Maksudnya ialah agar kita dapat merasakan kesulitan yang dihadapi oleh mereka yang membaca "kitab gundul. maka demi kepraktisan kita akan mengutip hasyiyah yang menyangkut salah satu dari air yang tujuh itu. di pesantren-pesantren. al-Ghazali. Berikut ini adalah contoh hasyiyah-nya (tapi karena hasyiyah yang bersangkutan itu panjang sekali. dan asalnya dari surga sebagaimana hal itu disebutkan dalam nas mengenainya sebab sesungguhnya diturunkan dari surga Nil Mesir dan Sihun sungai India dan Jihun sungai Balkh dan keduanya itu bukanlah Sihan dan Jiham menurut yang unggul berlainan dengan orang yang menyangka keduanya itu sinonim sebab Sihan adalah sungai Arnah dan Jihan adalah sungai al-Mashishah dan Dajlah dan Furat adalah dua sungai di Irak dari asal Sidrat al-Muntaha dan itulah makna firman Dia Yang Maha Tinggi "Dan Kami turunkan dari langit air dengan takaran tertentu" maka pada waktu keluarnya Ya'juj dan Ma'juj sungai-sungai itu diangkat dan itulah makna firman Dia Yang Maha Tinggi "Dan sesungguhnya Kami tentulah berkuasa untuk menghilangkannya. yaitu penjabaran atau elaborasi lebih lanjut. juga sangat standar di pesantren-pesantren.Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota IV. air salju dan air embun) dan tujuh air itu tercakup dalam ungkapan Anda "Apa yang turun dari langit dan apa yang menyembul dari bumi dalam keadaan bagaimanapun adalah termasuk pokok penciptann. air sungai. sebuah kitab yang boleh dipandang cukup tinggi: Matan: Air yang boleh untuk menyucikan ada tujuh air: air langit. [3] Syarah: (Air yang boleh) artinya sah (untuk menyucikan ada tujuh: air langit) artinya yang terjun dari langit. yaitu hujan (air laut) artinya yang asin (air sungai) artinya yang tawar (air sumur. jauh di bawah ukuran masa kejayaan intelektual sebelumnya seperti diwakili karya-karya Ibn Sina. air salju." [5] Kutipan di atas itu sengaja dibuat dalam bentuk terjemahan harfiah tanpa memberi tanda-tanda baca sesuai konteks. Ibn Arabi. dan . air sumber. yaitu "air sungai" saja): Hasyiyah: (Perkataannya dan air sungai) rangkaian dalam pengertian di. berikut ini adalah contoh kutipan dari matan kitab Taqrib. TRADISI SYARAH DAN HASYIYAH DALAM FIQH DAN MASALAH STAGNASI PEMIKIRAN HUKUM ISLAM (2/2) oleh Nurcholish Madjid Untuk memperoleh gambaran apa yang dinamakan syarah dan hasyiyah itu. Ibn Taymiyyah. air sumber. air sumur. artinya air yang mengalir di sungai (nahr) dengan fa'thah ha' dan matinya dan yang pertama lebih fasih dan al di situ adalah untuk jenis." jika mereka tidak terlatih membaca dalam konteks. dan air embun.23.

Batas atau limit ilmu hanya ada pada Allah. sehingga mewarnai sikap intelektual sebagian besar kaum Muslim. setidaknya lebih baik daripada sekarang. Barat Laut. bangsa-bangsa pelopor umat manusia masuk Zaman Modern. atau lebih persisnya. sampai akhirnya mereka terhentak dan kalah oleh bangkitnya bangsa-bangsa yang selama ini mereka remehkan.sebagainya." dan yang tersisa ialah mencerna apa saja yang diwariskan dari generasi sebelumnya. apalagi daripada masa obskurantisme tersebut di atas itu. Banyak ahli yang mengatakan. yang berarti empat kali lebih panjang daripada masa dominasi Eropa Barat yang sudah berlangsung selama dua abad ini). seperti bahwa sungai Nil berasal dari surga dan sungai Dajlah (Tigris) dan Furat (Eufrat) di Irak berasal dari Sidrat al-Muntaha! Juga ada mitos lain yang tercampur dengan pandangan keagamaan tertentu seperti cerita tentang datangnya Ya'juj dan Ma'juj (Gog dan Mogog) yang tersebut dalam Kitab Suci al-Qur'an [6]. Dan ketika mereka dikejutkan oleh datangnya tentara Perancis ke Mesir di bawah Napoleon yang dengan amat mudah mengalahkan mereka itu. karena itu harus selalu diusahakan untuk . jelas bahwa yang membuat baik mereka generasi Islam klasik itu ialah apa yang dalam ungkapan kontemporer dinamakan "Etos Ilmiah". Tapi tentu saja umat Islam masih tetap mempunyai kesempatan yang baik." namun dari pembacaan kepada sejarah peradaban Islam. Bahkan dalam kutipan itu dapat dilihat munculnya beberapa dongeng dan mitologi." [8] Sementara banyak tafsiran yang berbeda-beda tentang apa "yang membuat baik umat terdabulu. semua ini diawali karena umat Islam terkena penyakit "puas diri". Stagnasi ini tidak dirasakan oleh kaum Muslim. etos ilmiah yang benar harus memandang ilmu tidak mempunyai batas (limit). dapat diacu sebagai petunjuk adanya masa depan yang baik. seolah-olah segala sesuatu terjadi secara wajar saja. Furat dan Dajlah itu ke langit sebagai tafsir atas ayat suci al-Qur'an pula. yaitu bangsa-bangsa Eropa Barat. karena itu tak terjangkau. Berbagai gejala masa-masa terakhir ini. sehingga dorongan ke arah kebangkitan kembali yang muncul sejak itu sampai sekarang belum mencapai tujuan yang dimaksud. yang dirangkaikan dengan paham keagamaan. Dan dalam pandangan mereka. keadaan sudah sangat terlambat. ilmu pengetahuan telah "habis. [7] KESIMPULAN Semangat obskurantisme atau kemasabodohan intelektual akibat berbagai faktor ekstern dalam proses-proses dan struktur-struktur politik masa itu sedemikian mencekam. yang pada saat itu akan diangkat sungai-sungai Nil. Sebuah adagium mungkin relevan dengan masalah ini yaitu yang berbunyi: "Tidak akan menjadi baik umat ini kecuali dengan sesuatu yang telah membuat baiknya umat terdahulu. Berbeda dengan obskurantisme. yaitu ujung terakhir perkembangan pemikiran ilmiah. akibat dominasi mereka atas kehidupan di muka bumi selama berabad-abad (dalam perhitungan konservatif setidaknya selama delapan abad. khususnya sejarah pemikirannya. yang biasanya diletakkan dalam bracket "kebangkitan Islam". melainkan ilmu hanya mempunyai perbatasan (frontier). Tapi perbatasan atau frontier ilmu hanyalah produk kemampuan manusia sendiri yang tidak sempurna.

5. Fat'h al-Qarib (Semarang: Maktabah wa Mathba'ah Usaha Keluarga. Ibid. ialah toleransi dan saling menghargai dalam perbedaan. 2-3. etos ilmiah yang ada mengajarkan agar setiap bertemu dengan perbatasan hendaknya kembali ke semula..). 3. Muhammad ibn Qasim al-Ghazzi.ditembus dengan keberanian intelektual serta kreativitas dan orisinalitasnya. h. (Semarang: Pustaka al-'Alawiyyah. jadi tidak mungkin dicapai manusia. sementara dalam zaman obskurantisme. Al-Syaykh Ibrahim al-Hajuri. Muhammad Hasyim Asy'ari. tt. tt). Seperti halnya dengan Zaman Modern.). al-Tibyan fi al-Nahy 'an Muqata'at al-Arham wa al-Aqarib wa al-Ikhwan (Surabaya: Mathba'at Nahdlat al-'Ulama. 4. 6. 12. 3. al-Ghayah wa al Taqrib. h. Hasyiyat al-Hajuri (Semarang: Maktabah wa Mathba'ah Usaha Keluarga." 9. (021) 7507174 Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota Please direct any suggestion to Media Team Artikel Yayasan Paramadina Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan . 'Kalau seandainya seluruh lautan ini tinta untuk Kalimat Tuhanku. -------------------------------------------Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah Editor: Budhy Munawar-Rachman Penerbit Yayasan Paramadina Jln. 7501983. seperti dikemukakan KH.. apalagi ditembus. maka lautan itu akan habis sebelum Kalimat Tuhanku habis.s. al Kahf/18:109). h. (Risalah ini ditulis pada 1360 H atau 1941 M). tt). s. Lihat Q. etos ilmiah Zaman Klasik Islam memandang perbatasan ilmu harus selalu ditebus. "Katakan. Abu Syuja' Ahmad Ibn al-Husayn al-Ishfahani. 8. s. 27. Dan suasana itu tidak lain. tt. CATATAN 1. [9] Semuanya itu memerlukan suasana yang bersifat kondusif. 2. h. Hasyim Asy'ari di atas." (Q. al Mu'minun/23:18. Lihat Q. "La tashluhu hadzihi al-Umah illa bi ma shaluha bihi awwaluha. Metro Pondok Indah Pondok Indah Plaza I Kav. dan ini menghasilkan praktek menghafal. (021) 7501969. UA 20-21 Jakarta Selatan Telp. Batas atau limit ilmu hanya ada pada Allah swt.. h. 11. al-Kahf/18:94 (dalam cerita tentang Dzu al Qarnayan) 7. meski kami datangkan tinta sebanyak itu pula. 7507173 Fax.

Walaupun begitu tidaklah berarti masa generasi kedua ini bebas dari persoalan dan kerumitan.21. wafat dan Mu'awiyah habis masa kekhilafahannya (juga wafat) anggota rumah tangga Nabi (Ahl al-Bayt) bersama sekelompok orang-orang Muslim menuntut hak mereka akan kekhalifahan. Khalifah III. SEJARAH AWAL PENYUSUNAN (1/3) DAN PEMBAKUAN HUKUM ISLAM oleh Nurcholish Madjid Dalam bidang fiqh seperti juga dalam bidang-bidang yang lain masa Tabi'in adalah masa peralihan dari masa sahabat Nabi dan masa tampilnya imam-imam madzhab. dengan penampilan kesarjanaan di bidang keahlian yang lebih mengarah pada spesialisasi. dan ditambah-tambahnya Sunnah itu serta digunakannya sebagai alat melayani berbagai kepentingan politik dan perpecahan internal Islam. Setelah 'Ali r. dan ketiga masa itu sebagai kesatuan suasana yang disebut salaf (Klasik). seperti Khawarij. Umawiyyah. Dalam pandangan keagamaan banyak ulama masa Tabi'in itu. Melukiskan keadaan yang ruwet itu Musthafa al-Siba'i mengetengahkan keterangan di bawah ini. Begitulah. serta setelah orang-orang Muslim terpecah-pecah menjadi berbagai kelompok. Justru sifat transisional masa ini ditandai berbagai gejala kekacauan pemahaman keagamaan tertentu. yang bersumber dari sisa dan kelanjutan berbagai konflik politik. peristiwa-peristiwa politik menjadi sebab terpecahnya kaum Muslim dalam berbagai golongan dan partai. Sebagian besar orang-orang Muslim memihak 'Ali dalam perselisihannya dengan Mu'awiyah. terutama yang terjadi sejak peristiwa pembunuhan 'Utsman. dan sebagainya. Yang disebut "para pengikut" (makna kata Tabi'in) ialah kaum Muslim generasi kedua (mereka menjadi Muslim ditangan para Sahabat Nabi). sedangkan kaum Khawarij menaruh dendam terhadap 'Ali dan Mu'awiyah sekaligus setelah mereka itu sendiri sebelumnya merupakan pendukung 'Ali yang bersemangat. pertentangan ini kemudian mengambil bentuk sifat . serta meninggalkan keharusan taat pada Dinasti Umayyah. Tahun empat puluh Hijriah adalah batas pemisah antara kemurnian Sunnah dan kebebasannya dari kebohongan dan pemalsuan di satu pihak. Di satu pihak masa itu bisa disebut sebagai kelanjutan wajar masa sahabat Nabi.ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota VI. dianggap sebagai masa-masa paling otentik dalam sejarah Islam. Tumbuhnya partisan-partisan politik yang berjuang keras memperoleh pengakuan dan legitimasi bagi klaim-klaim mereka. kaum Muslim generasi ketiga). di lain pihak pada masa itu juga mulai disaksikan munculnya tokoh-tokoh dengan sikap yang secara nisbi lebih mandiri. telah mendorong berbagai pertikaian paham. Dan pertikaian itu antara lain menjadi sebab bagi berkecamuknya praktek pemalsuan hadits atau penuturan dan cerita tentang Nabi dan para sahabat. Khususnya setelah perselisihan antara 'Ali dan Mu'awiyah berubah menjadi peperangan dan yang banyak menumpahkan darah dan mengorbankan jiwa. Syi'ah.a. bersama dengan masa para Sahabat sebelumnya dan masa Tabi'in al-Tabi'in ("para pengikut dari para pengikut" yakni. Disesalkan.

Setiap partai berusaha menguatkan posisinya dengan al-Qur'an dan Sunnah. sekalipun keadaan di Makkah belum mengizinkan bagi Nabi untuk melaksanakannya. perlindungan terhadap kaum wanita dan janda. [1] Dihadapkan keruwetan itu. Dari situlah mulai pemalsuan Hadits dan pencampuradukan yang sahih dengan yang palsu. Dasar-dasar itu memang tidak semuanya langsung bersifat kehukuman atau legalistik. Sasaran pertama yang dituju para pemalsu hadits itu ialah sifat-sifat utama para tokoh. Pada masa para sahabat yang kemudian disusul masa para Tabi'in. namun ketentuan-ketentuan yang bersifat kehukuman telah ada sejak di Makkah.keagamaan. keharusan menghormati hak milik sah orang lain." Tapi kemudian diimbangi orang-orang bodoh dari kalangan Ahl al-Sunnah dengan perbuatan pemalsuan juga. Maka mereka palsukanlah banyak hadits tentang kelebihan imam-imam mereka dan para tokoh kelompok mereka. Itu semua tidak akan tidak melahirkan sistem hukum. Daerah-daerah . kewajiban mengurus harta anak yatim secara benar. Ada yang mengatakan bahwa yang pertama melakukan hal itu ialah kaum Syi'ah -dengan perbedaan berbagai kelompok mereka. WAWASAN HUKUM ZAMAN TABI'IN Antara Islam sebagai agama dan Hukum terdapat kaitan langsung yang tidak mungkin diingkari. yang kelak mempunyai pengaruh yang lebih jauh bagi tumbuhnya aliran-aliran keagamaan dalam Islam. menopang ditegakkannya kekuasaan politik Imperium Islam yang meliputi daerah antara Nil sampai Amudarya. dan wajarlah bahwa al-Qur'an dan Sunnah itu untuk setiap kelompok tidak selalu mendukung klaim-klaim mereka..sebagaimana dituturkan Ibn Abi al-Hadid dalam Syarh Nahj al-Balaghah. prinsip-prinsip yang diwariskan Nabi itu berhasil digunakan. melakukan kegiatan legislasi. dan kemudian segera melebar dan meluas sehingga membentang dari semenanjung Iberia sampai lembah sungai Indus.. Maka sebagian golongan itu melakukan interpretasi al-Qur'an tidak menurut hakikatnya dan membawa nash-nash Sunnah pada makna yang tidak dikandungnya. bahkan justru dasar-dasarnya telah diletakkan dengan kokoh dalam periode pertama itu. Maka sejak di Makkah Nabi mengajarkan tentang cita-cita keadilan sosial yang antara lain mendasari konsep-konsep tentang harta yang halal dan yang haram (semua harta yang diperoleh melalui penindasan adalah haram). Maka tindakan Nabi dan kebijaksanaannya di Madinah adalah kelanjutan yang sangat wajar dari apa yang telah dirintis pada periode Makkah itu. "Ketahuilah bahwa pangkal kebohongan dalam hadits-hadits tentang keunggulan (tokoh-tokoh) muncul dari arah kaum Syi'ah. Sebagian lagi meletakkan pada lisan Rasul hadits-hadits yang menguatkan klaim mereka. Meskipun baru setelah tinggal menetap di Madinah Nabi saw. setelah hal itu tidak mungkin mereka lakukan terhadap al-Qur'an karena ia sangat terlindung (terpelihara) dan banyaknya orang Muslim yang meriwayatkan dan membacanya. dan seterusnya. para Tabi'in -dengan dipimpin tokoh-tokoh yang mulai tumbuh dengan penampilan kesarjanaanmencoba melakukan sesuatu yang amat berat namun kemudian membuahkan hasil yang agung. sebab selalu dikaitkan dengan ajaran moral dan etika. yaitu penyusunan dan pembakuan Hukum Islam melalui fiqh atau "proses pemahaman" yang sistimatis.

Dan Nabi pernah mempunyai suatu pendapat. khususnya masyarakat Madinah.Bahwa hal-hal yang tidak berkembang menurut perkembangan zaman dan tempat. tidak pernah timbul kecuali dari wahyu Allah kepada Nabi-Nya s. agar bersesuaian dengan kepentingan manusia di semua zaman dan agar dapat dipedomani oleh para pemegang wewenang (ulu al-amr) dalam menegakkan keadilan dan kebenaran." (QS. termasuk tradisi kehukumannya. Dan tugas Rasul tidak keluar dari lingkaran tugas menyampaikan (tabligh) dan menjelaskan (tabyin). atau dengan suatu ijtihad yang disetujuinya. diberikan secara sepenuhnya terperinci. diberikan secara garis besar. urusan politik dan peperangan. dengan dijelaskan oleh nash-nash yang bersangkutan. seperti 'aqa'id dan 'ibadat. Karena itu mudah dipahami jika timbul semacam tuntutan intelektual untuk berbagai segi kehidupan masyarakat yang harus dijawab para penguasa yang terdiri dari kaum Muslim Arab itu. tidak lain itu adalah wahyu yang diwahyukan kepadanya. dan dengan melakukan rujukan pada Tradisi Nabi dan para Sahabat serta masyarakat lingkungan mereka yang secara ideal terdekat. Tuntutan intelektual itu mendorong tumbuhnya suatu genre kegiatan ilmiah yang sangat khas Islam. bahkan Arab. politik dan perang.. seperti hukum-hukum ibadat. baik dari Kitab ataupun Sunnah. maka Rasul saw. Pendekatan ini dimungkinkan karena watak dasar Hukum Islam yang lapang dan luwes. . seperti berbagai kepentingan kemasyarakatan (al-mashalih al-madaniyyah). Tapi sebelum ilmu itu tumbuh secara utuh. sebagaimana terjadi pada . Untuk mengerti masalah ini sangat menarik mengutip lebih lanjut keterangan al-Sayyid Sabiq. Penetapan hukum keagamaan murni. dengan menggunakan prinsip-prinsip umum yang ada dalam Kitab Suci. yang dalam wawasan geopolitik Yunani kuno dianggap sebagai heatland Oikoumene (Daerah Berperadaban -Arab: al-Da'irat al-Ma'murah) telah mempunyai tradisi sosial-politik yang sangat mapan dan tinggi.a. sehingga mampu menampung setiap perkembangan yang terjadi. Penetapan Hukum (al-tasyri') Islam merupakan salah satu dari berbagai segi yang amat penting yang disusun oleh tugas suci Islam dan yang memberi gambaran segi ilmiah dari tugas suci itu. agaknya yang telah terjadi pada masa tabi'in itu ialah semacam pendekatan ad hoc dan praktis-pragmatis terhadap persoalan-persoalan hukum..w. tapi ditinggalkannya dan menerima pendapat para sahabat. yaitu Ilmu Fiqh. Berkenaan dengan hal ini al-Sayyid Sabiq menjelaskan.itu. Di sebelah Barat tradisi itu merupakan warisan Yunani-Romawi.. Adapun penetapan hukum yang berkaitan dengan perkara duniawi bersifat kehakiman. Tetapi yang berkembang menurut perkembangan zaman dan tempat. "Tidaklah ia (Nabi) berbicara atas kemauan sendiri. diperintahkan bermusyawarah mengenai itu semua. al-Najm/53:34).[2] Para ahli hukum Islam sudah terbiasa mengatakan secara benar bahwa letak kekuatan Islam ialah sifatnya yang akomodatif terhadap setiap perkembangan zaman dan peralihan tempat (shalih li kull zaman wa makan. maka tidak seorang pun dibenarkan menambah atau mengurangi.sesuai untuk setiap zaman dan tempat). dan Indo-Iran umumnya.

dengan otoritas yang diakui semua. DUA KUBU ORIENTASI FIQH: HIJAZ DAN IRAK Di bawah pimpinan Khalifah Mu'awiyah (yang masa kekhalifahannya disebut Ibn Taymiyyah sebagai permulaan masa "kerajaan dengan rahmat" -al-mulk bi al-rahmah) kaum Muslim dapat dikatakan kembali pada keadaan seperti zaman Abu Bakar dan 'Umar (zaman al-Syaykhani. Tapi sejak pertikaian politik pada paroh kedua kekhalifahan 'Utsman. Dan para Sahabat ra. (021) 7501969. tempat rujukan itu sudah mulai nampak. dan meminta tafsiran tentang makna-makna berbagai nash yang tidak jelas bagi mereka. dan bertahan. melewati zaman Nabi sendiri. 7501983. Tapi jika pada zaman Nabi tempat rujukannya ialah Nabi sendiri. ketika banyak partisan mulai berusaha keras memperebutkan legitimasi untuk klaim-klaim mereka. 7507173 Fax. (021) 7507174 Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota Please direct any suggestion to Media Team Artikel Yayasan Paramadina Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota VI. guna menanyakan apa yang tidak mereka ketahui.21. dan diteruskan ke zaman para Tabi'in. Mereka juga mengemukakan kepada Nabi pemahaman mereka tentang nash-nash itu.. kemudian zaman para Sahabat. SEJARAH AWAL PENYUSUNAN (2/3) DAN PEMBAKUAN HUKUM ISLAM oleh Nurcholish Madjid Sudah tentu keluasan dan fleksibilitas semangat umum Hukum Islam itu dipertahankan. sebab "persatuan" dan "solidaritas" itu agaknya hanya terbatas pada kenyataan kembalinya kesatuan politik (formal) umat Islam di bawah Khalifah Mu'awiyah ibn Abi Sufyan di Damaskus.[3] (bersambung 2/3) -------------------------------------------Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah Editor: Budhy Munawar-Rachman Penerbit Yayasan Paramadina Jln. dan kemudian berselisihnya. yang kemudian bertindak sebagai tempat rujukan. tanda-tanda menyebarnya.waktu perang Badar dan Uhud. sehingga Nabi kadang-kadang membenarkan pemahaman mereka itu. Seperti dilukiskan Siba'i yang telah dikutip di atas. Metro Pondok Indah Pondok Indah Plaza I Kav. dan kadang-kadang beliau menerangkan letak kesalahan dalam pendapat mereka itu. Pada zaman para sahabat Nabi itu diwarisi banyak tokoh. Ini terjadi tanpa peduli dengan sambutan sebagian besar umat Islam kepada tahun 41 Hijri sebagai "Tahun Persatuan" atau "Tahun Solidaritas" ('Am al-Jama'ah). "Dua Tokoh") yang amat . pun selalu meruduk kepada Nabi saw. penyebaran dan perselisihan otoritas itu memuncak pada sekitar sesudah 40 H. UA 20-21 Jakarta Selatan Telp.

Sedangkan Irak telah mempunyai peradabannya sendiri. Penjelasan menarik tentang hal ini diberikan oleh Syaykh 'Ali al-Khafif. disebabkan masa lampaunya." yakni. Padahal peristiwa-peristiwa (hukum) di Irak itu. Karena itu ada semacam "koalisi" antara Damaskus dan Madinah (tapi suatu koalisi yang tak pernah sepenuh hati. yaitu kaum Tabi'in yang bersemangat untuk tinggal di sana.dirindukan orang banyak. Irak dengan kota-kota Kufah dan Basrah adalah kawasan yang selalu potensial menentang Damaskus secara efektif. akibat masalah keabsahan kekuasaan Bani Umayyah itu). Tapi "koalisi" itu mempunyai akibat cukup penting dalam bidang fiqh. dan penggunaannya juga lebih banyak. Apa pun kualitas kekhalifahan Mu'awiyah itu. dan hanya bersandar kepada bukti-bukti atsar (peninggalan atau "petilasan. Dan (Hijaz) tetap menjadi tempat tinggal banyak dari mereka (para Sahabat) yang datang kemudian sampai beliau wafat.. Adanya dua aliran itu merupakan akibat yang wajar dari situasi masing-masing Hijaz dan Irak. dan tidak mendapatkan bagian dari Sunnah kecuali melalui para Sahabat dan Tabi'in yang pindah kesana. Karena itulah keperluan mereka kepada penalaran lebih kuat terasa. Tempatnya ialah Hijaz. menyampaikan seruannya. dalam ifta' (pemberian fatwa) ada dua aliran: aliran yang cenderung pada kelonggaran dan bersandar atas penalaran. mengingat sedikitnya Sunnah pada mereka itu tidak memadai untuk semua tuntutan mereka. begitu pula kebudayaan penduduknya dan terlatihnya mereka itu kepada penalaran. khususnya tradisi 'Umar. kemudian para Sahabat beliau menyambut. Hijaz adalah tempat tinggal kenabian. penelitian tentang tujuan-tujuan hukum dan alasan-alasannya. adalah lebih luas dan lebih banyak. tradisi atau Sunnah) dan nash-nash. Dan aliran yang cenderung tidak kepada kelonggaran dalam hal tersebut. Penyandaran diri kepadanya juga lebih jelas nampak. Pada zaman itu (zaman Tabi'in). Tempatnya ialah Irak. Ini masih ditambah dengan kecenderungan mereka untuk banyak membuat asumsi-asumsi dan perincian karena keinginan mendapatkan tambahan pengetahuan. dan Irak (Kufah-Basrah) dengan orientasi penalaran pribadi (ra'y)-nya. mendengarkan. sebagai dasar ijtihad. termasuk para "aktivis militan" yang membunuh 'Utsman (dan yang kemudian [ikut] mensponsori pengangkatan 'Ali namun akhirnya berpisah dan menjadi golongan Khawarij). namun dalam hal masalah penegakan hukum mereka tetap sedapat mungkin berpegang dan meneruskan tradisi para Khalifah di Madinah dahulu. Dan yang dibawa pindah oleh mereka itu pun masih lebih sedikit daripada yang ada di Hijaz. Kemudian mereka ini mewariskan apa saja yang mereka ketahui kepada penduduk (berikut)-nya. adalah lebih banyak daripada yang ada di Hijaz. yaitu tumbuhnya orientasi kehukuman (Islam) kepada Hadits atau Tradisi (dengan "T" besar) yang berpusat di Madinah dan Makkah serta mendapat dukungan langsung atau tak langsung dari rezim Damaskus.. Sementara banyak tokoh Madinah sendiri tetap mempertanyakan keabsahan rezim Umayyah itu. . sistem pemerintahannya. Ini kemudian berdampak tumbuhnya dua orientasi dengan perbedaan yang cukup penting: Hijaz (Makkah-Madinah) dengan orientasi Haditsnya. kompleksitas kehidupannya. kias. Di situ Rasul menetap. memelihara sabda-sabda beliau dan menerapkannya.

telah membawa perubahan penting dalam sikap keagamaan.[4] Jika dikatakan bahwa orang-orang Hijaz adalah Ahl al-Riwayah ("Kelompok Riwayat. Yaitu ijtihad yang dilakukan tanpa ikatan pendapat seorang mujtahid yang terlebih dahulu. dan dihadapkan kepada oposisi kaum Syi'ah dan Khawarij). perubahan situasi politik. Ini semakin memperkaya pemikiran hukum zaman Tabi'in. Sedangkan pada peringkat individu. berkenaan dengan hukum. IJTIHAD TABI'IN SEBAGAI PENDAHULU MADZHAB-MADZHAB Menurut 'Ali al-Khafifi. maupun yang lain. Ikatan hanya terjadi jika ditemukan sebuah pendapat seorang Sahabat Nabi. Terdapat persilangan antara keduanya. tampil seorang penganut dan pembela "Kelompok Riwayat" yang sangat tegar. Kini usaha ini memperoleh dorongan baru. dengan isyarat tidak banyak mementingkan "riwayat"). lebih-lebih zaman Tabi'in al-Tabi'in. Usaha secara resmi pembakuan Sunnah (yang kemudian menjadi sejajar dengan Hadits) telah mulai tumbuh sejak jaman 'Umar ibn 'Abd-al'Aziz menjelang akhir kekuasaan Umawi. banyak berorientasi kepada preseden-preseden para khalifah Madinah. meskipun masing-masing tetap dapat dikenali ciri utamanya dari kedua katagori tersebut. apakah itu penalaran atau penuturan riwayat. kemudian pada zaman Tabi'in itu. [5] . yang diduga bersandar kepada Sunnah yang karena beberapa sebab Sunnah itu tidak muncul sebelumnya.penalaran mendalam dan pelaksanaan yang banyak." dan di kalangan para sarjana Irak. meneliti dan memahami yang benar. Disamping itu. seperti Hadits. sebagai pedoman) dan orang-orang Irak adalah Ahl al-Ra'y ("Kelompok Penalaran". dan merangsang tumbuhnya berbagai aliran pemikiran keagamaan. membuat generalisasi bahwa sesuatu kelompok hanya melakukan satu metode penetapan hukum atau tasry'. adalah tidak tepat. Ijtihad yang terjadi di zaman Tabi'in adalah ijtihad mutlak. Meskipun sesungguhnya kaum 'Abbasi akhirnya banyak meneruskan wawasan hukum keagamaan kaum Umawi sebagai pendukung Ahl al-Sunnah wa al-Jama'ah (yang sebagaimana telah disinggung. dengan perpindahan kekuasaan dari kaum Umawi ke kaum 'Abbasi. Misalnya. cukup banyak dari masing-masing daerah yang tidak mengikuti karakteristik umum itu. suasana lebih mengizinkan untuk muncul. sesungguhnya itu hanya karakteristik gaya intelektual masing-masing daerah itu. kelak. dan yang secara langsung diarahkan membahas. teologi dan hukum. termasuk menuturkan riwayat dan Hadits. Sikap berpegang kepada syari'ah ini bagi kaum 'Abbasi berarti pengukuhan legitimasi politik dan kekuasaan mereka (dibandingkan dengan kedudukan kaum Umawi." karena mereka banyak berpegang kepada penuturan masa lampau. baik yang bersangkutan dengan bidang politik. yaitu Ahmad ibn Hanbal. khususnya Umar). seorang anggota Majma' al-Buhuts al-Islamiyyah (Badan Riset Islam) Universitas al-Azhar. Maka di kalangan orang-orang Hijaz terdapat seorang sarjana bernama Rabi'ah yang tergolong "Kelompok Penalaran. Tapi disamping itu. dan ini pada urutannya memberi peluang lebih baik pada para sarjana untuk menyatakan pendapatnya. Kairo. kaum 'Abbasi lebih banyak dan lebih tulus perhatian mereka kepada masalah-masalah keagamaan dari pada kaum Umawi. sikap tersebut menciptakan suasana yang lebih mendukung bagi perkembangan kajian agama.

Al-Hasan al-Bashri banyak berkonsultasi dengannya. madzhab. ibn 'Abbas. (bersambung 3/3) -------------------------------------------Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah Editor: Budhy Munawar-Rachman Penerbit Yayasan Paramadina Jln. UA 20-21 Jakarta Selatan Telp. 2. dan sebagainya) yang masuk Islam. berupa semakin beragamnya latar belakang etnis. Wafat pada 94 H. 3. Ia terkenal sangat 'alim (terpelajar). Merekalah para pendahulu imam-imam madzhab. Namun diantara keduanya. khususnya. Wafat pada 94 H. Suatu hal yang amat penting diperhatikan ialah adanya kaitan suatu aliran pikiran (yakni. Di Madinah tampil cukup banyak sarjana. disebabkan banyaknya orang-orang bukan Arab (Syiria. Telah disebutkan adanya dua aliran pokok: Irak dan Hijaz. Persi. tapi tidak banyak meriwayatkan Hadits.'Urwah ibn al-Zubayr ibn al-'Awwam. 'Aisyah. Lahir di masa kekhalifahan 'Umar.Semua kegiatan itu juga terpengaruh kenyataan sosial-politik. Tarikh al-Tasyri' al-Islami. [6] Maka zaman itu kita menyaksikan tampilnya tokoh-tokoh kesarjanaan dengan bidang kajian ilmu yang lebih terspesialisasi. (021) 7501969. Nuansa-nuansa itu tercermin dalam ketokohan sarjana atau 'ulama' yang mendominasi suasana intelektual suatu tempat. (021) 7507174 Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota Please direct any suggestion to Media Team . terdapat nuansa yang cukup berarti. 7501983. Wafat pada 94 H. Lahir dua tahun kekhalifahan 'Umar. seperti dituturkan al-Syaykh Muhammad al-Hudlari Beg dalam kitabnya.Sa'id ibn al Musayyib al-Makhzumi. dan cukup penting diperhatikan. Metro Pondok Indah Pondok Indah Plaza I Kav.'Ali ibn al-Husayn ibn 'Ali ibn Abi Thalib al-Hasyimi. school of thought) dengan tempat. Banyak belajar dari bibinya. Banyak meriwayatkan Hadist yang bersambung dengan Abu Hurayrah. antara lain: 1. al-Hasan ibn 'Ali. 4. dan lain-lain. Mesir. istri Nabi saw. wafat pada 94 H. Ia belajar dari ayahnya dan dari pamannya. bidang kajian hukum Islam atau fiqh. 7507173 Fax. Aisyah. Dia adalah imam keempat kaum Syi'ah Imamiyyah. Terkenal sangat saleh sehingga digelari "pendeta Quraysy" (rahib Quraysy). dan dikenal dengan Zayn al-'Abidin. dan sempat belajar dari para pembesar Sahabat Nabi.Abu Bakr ibn 'Abd-al-Rahman ibn al-Harits ibn Hisyam al-Makhzumi. bahkan guru-guru para calon imam madzhab itu. dan dalam diri masing-masing aliran besar itu. Lahir dimasa kekhalifahan 'Utsman. kultural dan geografis anggota masyarakat Islam.

Annas ibn Malik. Belajar dari ayahandanya sendiri. Selain kepemimpinannya dalam fiqh dan Hadits. dan lainnya. Belajar dari Sa'd. Belajar dari patronnya sendiri. dan belajar dari 'Abd-Allah ibn 'Umar. dan lain-lain. juga dari A'isyah.Salim ibn 'Abd-Allah ibn 'Umar. Belajar dari Ibn 'Abbas. yang dikenal dengan sebutan al-Baqir. juga dari Jabir dan 'Abd-Allah Ibn 'Umar. Di Makkah beberapa sarjana terkenal juga tampil: 1. Diutus oleh 'Umar ibn 'Abd-al-Aziz ke Mesir. 'A'isyah. Dikenal sebagai "Kepala Bani Hasyim" di zamannya. Zayd ibn Tsabit. dan lain-lain. dia adalah guru Khalifah 'Umar ibn 'Abd al-'Aziz.. Beliau diajar tentang ta'wil. dan sebagainya. dan sebagainya. Belajar dari ayahnya sendiri. dan sebagainya.Artikel Yayasan Paramadina Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota VI. dan sebagainya. klien 'Abd-Allah ibn 'Umar. Wafat pada 98 H. dan lain-lain. Pernah menyatakan ia sependapat . Mendapat pendidikan dari 'A'isyah (bibinya sendiri). Klien Bani Makhzum. Ibn 'Abbas.Abu Ja'far ibn Muhammad ibn 'Ali ibn al-Husayn.21. Abu Hurayrah. SEJARAH AWAL PENYUSUNAN (3/3) DAN PEMBAKUAN HUKUM ISLAM oleh Nurcholish Madjid 5. Wafat pada 117 H. Wafat pada 107 H. Dianggap Bapak Ilmu tafsir al-Qur'an. mengajar Sunnah. Belajar dari 'Aisyah. Wafat di Thaif pada 68 H. Abu Hurayrah. Lahir 50 H. Sa'id ibn al-Musayyaib. klien Maymunah (istri Nabi saw.Sulayman ibn Yasar. 3. Dia adalah imam kelima kaum Syi'ah. dan pernah dibacakan do'a oleh Nabi agar mempunyai pemahaman mendalam (tafaqquh) dalam agama. klien Ibn 'Abbas. 2. Abu Hurayrah. Belajar banyak dari 'Umar. Abu Hurayrah.'Abd-Allah ibn. Wafat pada 106 H. Wafat pada 114 H.Qasim ibn Muhammad ibn Abi Bakr.'Ikrimah. 6. 11. Ibn Abbas.Mujahid ibn Jabr. Ibn 'Umar. Ibn 'Abbas. dan dari 'A'isyah. ia juga terkenal sebagai penyair. 7. 8.'Ubayd-Allah ibn 'Abd-Allah ibn 'Utbah ibn Mas'ud. Sa'id ibn al-Musyyaib. dan dari 'A'isyah. 'A'isyah.Nafi'. Wafat pada 103 H.Muhammad ibn Muslim. 'Abbas ibn 'Abd-Muthalib. Lahir dua tahun sebelum Hijrah. Mendapat perintah dari 'Umar ibn 'Abd-al-Aziz untuk mencatat Sunnah penduduk Madinah sebagai rintisan resmi pertama pembukuan Hadits. Berasal dari Daylam (daerah Iran). Ibn Abbas. 'Ali dan Ubay ibn Ka'b.) Belajar dari patronnya sendiri. Wafat pada 106 H. dll. yang terkenal dengan Ibn Syihab al-Zuhri. 9. Abd Hurayrah. Abu Hurayrah. 10.

Ibn 'Abbas. Dari daerah Syam (Syria) beberapa tokoh ahli hukum tampil. Belajar dari 'Ali. Selain belajar dari Nabi juga banyak belajar dari Abu Bakr. 5. Ibn 'Abbas dan Ibn 'Umar. seperti 'Abd-al-rahman ibn Gahnim al-Asy'ari. Ibn 'Abbas. Wafat pada 93 H. Sarjana Tabi'in yang paling terkemuka.Al-Aswab ibn Yazid al-Nakha'i. Seorang pejuang yang terkenal berani. tampil tokoh-tokoh. Selain ahli hukum Islam. Qabishah ibn Dzu'ayb. dan lain-lain. 'Ali. dan lainnya. Belajar dari 'A'isyah. klien Anas ibn Malik. Dari kalangan warga Kufah yang tampil antara lain ialah: 1.Abu al-Syaitsa'. Ibn 'Umar. dan sebagainya.'Alqamah ibn Qays al-Nakha'i.'Atha ibn Rabbah. Cukup menarik bahwa al-Sya'bi tidak suka kepada metode qiyas (analogi) yang menjadi ciri Ahl al-Ra'y yang dikembangkan muridnya. Namun yang paling . Wafat pada 62 H. Wafat pada 63 H.Anas ibn Malik al-Anshari. Jabir ibn Zayd. dan belajar dari 'Umar. dan sebagainya.Muhammad ibn Sirin. Makhul ibn Abi Muslim. Karena penampilannya sebagai sarjana dan peranannya dalam mendidik para Tabi'in maka ia termasukkan dalam daftar ini. dan sebagainya. Murid terkemuka Ibn Mas'ud. klien Zayd ibn Tsabit. Lahir 17 H. Keduanya bersaudara. 5. Ibn Mas'ud.Abu al-'Aliyah Rafi' ibn Mahran al-Riyahi. 3. Belajar dari 'Umar. Ibn Mas'ud. Sangat banyak mendapat pujian dari para 'ulama' yang lain. Abu Hurayrah. Seorang khadam. 'Utsman. termasuk mereka yang hidup sezaman. Wafat pada 110 H.Qatadah ibn Da'aman al-Dusi. dll. 'A'isyah. Lahir di masa Nabi masih hidup. Ubbay. sejarah dan geneologi (al-nasab).Ibrahim ibn Yazid al-Nakha'i. Wafat pada 110 H. Wafat pada 90 H. Wafat pada 90 H. 4. ia juga ahli bahasa. 4. kawan Ibn 'Abbas. antara lain: 1. 'Ali dan 'A'isyah. karena ia Sahabat Nabi sejak Hijrah sampai wafat.'Amir ibn Syarahil al-Sya'bi. Abu Hurayrah. Wafat pada 118 H. Kedua-duanya wafat pada 95 H.Al-Hasan ibn Abi al-Hasan Yassar. Wafat pada 107 H.dengan kaum Khawarij. Abu Idris al-Khulani. Belajar dari 'Umar. Belajar dari patronnya. Raja ibn Hayah al-Kindi. 'Ali. Banyak belajar dari kawannya sendiri itu. 2. 6. Dibesarkan di Madinah dan menghafal al-Qur'an di zaman 'Utsman. Kemudian dari Basrah. Ibn Mas'ud. 2. yang fasih dan luas pengetahuan. dan sama-sama tampil sebagai sarjana terkemuka.Masruq ibn al-Ajda' al-Hamdani. Wafat pada 114 H. 'Utsman. Disebutkan berkulit hitam kelam. dan 4. kemudian dari Abu Hurayrah. 'Umar. Guru utama Imam Abu Hanifah. 3. Abu Hanifah. di samping seorang sarjana terkemuka.

2. 224-5. 'Umar. terkenal sebagai 'Umar II dan banyak dipandang sebagai yang kelima dari al-Khulafa' al-Rasyidin. Mereka itu. yang belajar dari Ibn 'Umar. (Riyadl: Jami'at al-Imam Muhammad ibn Su'ud al-lslamiyyah. Dialah yang mengukuhkan tarbi. 1949).Musthafa al-Siba'i. Abu Hurayrah. jil. 1387/1968). h. Kota Kairo belum ada (baru didirikan oleh Dinasti Fathimiyah kelak.). dan lainnya. 7. 5. 'Utsman dan 'Ali) dan mensponsori secara resmi (kenegaraan) usaha penulisan Sunnah atau Hadits.Ibid.Ibid. Malik. Jabir. 1404/1984).penting dari para sarjana Syam itu ialah Khalifah 'Umar ibn 'Abd-al-'Aziz. CATATAN 1. [7] Para tokoh ahli hukum itu dan kegiatan ilmiah serta pengajarannya telah mendorong tumbuhnya para spesialis hukum angkatan berikutnya. 223. dan lainnya. al-Syafi'i. h. 'Abd-al-Khayr ibn 'Abd-allah al-Yazani (wafat pada 90 H. dan lainnya.Al-Sayyid Sabiq. 'A'isyah.Ibid. Fiqh al -Sunnah.). (mengakui empat Khalifah pertama: Abu Bakr. juga banyak muncul sarjana-sarjana dengan pengaruh yang jauh keluar dari batasan daerahnya sendiri.). al-Layts ibn Sa'd.Al-Syaykh 'Ali al-Khafifi. 4. 13. seperti 'Abd-Allah ibn al-'Ash (wafat pada 65 H. Thawus ibn Kaysan al-Jundi (wafat pada 106 H. Mereka ini. 7fe7). Di Jazirah Arabia sebelah selatan. seperti al-Awza'i. hh.. (Kuwait: Dar al-Bayan 1968/1388).. "Al-Ijtihad fi 'Ashr al-Tabi'in wa Tabi'i 'l-Tabi'in.Untuk keterangan lebih lengkap tentang tokoh-tokoh ini. 3.) yang belajar dari Zayd ibn Tsabit. Kemudian Wahb ibn Munabbin al-Shan'ani. 222. Selanjutnya ialah Yahya ibn Abi Katsir yang menurut sementara 'ulama' yang lain seperti Syu'bah dianggap lebih ahli tentang Hadits daripada al-Zuhri tersebut. dan Ahmad ibn Hanbal. . Yazid ibn Abi Habib yang disebut-sebut sebagai pelopor ilmu pengetahuan di Mesir dan ahli masalah halal dan haram (wafat pada 128 H. bersama Masjid-Universitas al-Azharnya). Sufyan al-Tsawri. yaitu Yaman. dan ibukota Mesir ialah Fusthath yang perkembangannya tidak terlalu pesat seperti lain-lain. Al-Sunnah wa Makanatuha fi al-Tasyri' al-Islami (Kairo: al-Dar al-Qawmiyyah. h. Mesir saat itu belum menjadi tandingan tempat-tempat yang tersebut di atas. telah melapangkan jalan bagi tampilnya para imam madzhab yang sampai saat ini pengaruhnya masih amat kukuh seperti Abu Hanifah. 126-41. Dia wafat pada 101 H. 17. hh. Walaupun begitu telah tampil pula di kalangan Mesir beberapa sarjana terkemuka. 6. pada gilirannya. Tarikh al-Tasyri' al-Islami (Beirut: Dar al-Fikr. antara lain. I h. Wafat pada 114 H. Ibn 'Abbas." dalam Al-Ijtihad fi al-Syari'at al-Islamiyyah. lihat al-Syaykh Muhammad al-Hudlari Beg. h.

(021) 7501969. beberapa buku fiqh tertentu telah diperlakukan sebagai kitab undang-undang. Kitab-kitab fiqh ketika ditulis juga tidak dimaksudkan. sifatnya adalah kasuistik karena merupakan respon atau jawaban terhadap pertanyaan yang diajukan peminta fatwa. tapi juga para politisi dan cendekiawan lainnya. fatwa-fatwa ulama.-------------------------------------------Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah Editor: Budhy Munawar-Rachman Penerbit Yayasan Paramadina Jln. dan sampai tingkat tertentu juga bersifat dinamis karena merupakan usaha memberi jawaban atau menyelesaikan masalah yang diajukan ke pengadilan pada suatu titik waktu tertentu. yaitu: kitab-kitab fiqh. dan peraturan perundangan di negeri-negeri Muslim. dalam arti si peminta fatwa tidak harus mengikuti isi/hukum fatwa yang diberikan kepadanya. Ini juga bersifat mengikat atau mempunyai daya ikat yang lebih luas. Orang yang terlibat dalam perumusannya juga tidak terbatas pada para fuqaha atau ulama. Metro Pondok Indah Pondok Indah Plaza I Kav. Masing-masing produk pemikiran hukum itu mempunyai ciri khasnya tersendiri. UA 20-21 Jakarta Selatan Telp. untuk . Jenis produk pemikiran hukum ketiga. (021) 7507174 Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota Please direct any suggestion to Media Team Artikel Yayasan Paramadina Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota IV. meskipun dalam sejarah kita mengetahui. keputusan-keputusan pengadilan agama ini sifatnya mengikat kepada pihak-pihak yang berperkara. 7501983. ialah kitab-kitab fiqh yang pada saat di tulis pengarangnya. FIQH DAN REAKTUALISASI AJARAN ISLAM Oleh Atho' Mudzhar Sedikitnya ada empat macam produk pemikiran hukum Islam yang kita kenal dalam perjalanan sejarah Islam. adalah keputusan-keputusan pengadilan agama. karena itu memerlukan perhatian tersendiri pula. kitab-kitab itu tidak dimaksudkan untuk diberlakukan secara umum di suatu negeri. Berbeda dengan fatwa. keputusan-keputusan pengadilan agama. Jenis produk pemikiran hukum keempat. yaitu peraturan perundangan di negeri Muslim. Fatwa tidak mempunyai daya ikat. tapi fatwa biasanya cenderung bersifat dinamis karena merupakan respon terhadap perkembangan baru yang sedang dihadapi masyarakat si peminta fatwa. tapi sifat responsifnya itu yang sekurang-kurangaya dapat dikatakan dinamis. 7507173 Fax.28. Isi fatwa itu sendiri belum tentu dinamis. Fatwa-fatwa ulama atau mufti. Jenis produk pemikiran Islam yang kedua.

karena sifatnya sebagai produk pemikiran. tapi sebagai buku agama itu sendiri.digunakan pada masa atau periode tertentu. keputusan pengadilan agama. Pada umumnya masyarakat Islam. Akibatnya. maka kitab-kitab fiqh cenderung dianggap harus berlaku untuk semua masa. Inilah kedudukan kitab fiqh sebagai salah satu bentuk produk pemikiran hukum Islam dan karakteristik serta kecenderungan-kecenderungannya dibanding dengan produk-produk pemikiran hukum lainnya: fatwa. sebelum kita mencoba memberi analisa lebih jauh tentang mekanisme kerja fiqh. fiqh cenderung dianggap sebagai aturan Tuhan itu sendiri. atau akan mengganggu keutuhan isi keseluruhannya. maka orang yang menguasai fiqh yang biasanya disebut fugaha. bukan saja sebagai orang yang memaklumi produk pemikiran keagamaan tapi sebagai penjaga hukum agama itu sendiri. maka perbaikan atau revisi terhadap sebagian isi kitab fiqh dianggap dapat. dalam rangka reaktualisasi ajaran Islam. Kalau fatwa dan keputusan pengadilan agama sifatnya kasuistik --yaitu membahas masalah tertentu-. Ketika seorang faqih dari suatu masa menuliskan tintanya menjadi kitab fiqh. juga mempunyai kedudukan tinggi. Dengan cara meletakkan fiqh pada proporsinya yang demikian itu maka diharapkan kita akan memperlakukannya secara proporsional pula. masyarakat memandang fiqh. yang oleh sebagian orang lalu dianggap sebagai jumud atau beku alias tidak berkembang. Secara sosiologis kedudukan demikian itu memberi hak-hak istimewa dan peranan tertentu kepada fuqaha pada lapisan sosial tertentu. maka sebenarnya itu . Sebagai salah satu akibat dari sifatnya yang menyeluruh ini. Akibat lebih lanjut dari kedudukan fiqh yang diidentikkan dengan agama itu. Sebagai akibatnya. Selain itu kitab-kitab fiqh juga mempunyai karakteristik lain.maka kitab-kitab fiqh sifatnya menyeluruh dan meliputi semua aspek bahasan hukum Islam. SIKAP MUSLIM TERHADAP FIQH Setelah kita melihat bagaimana seharusnya memandang fiqh. Kedua. sekarang kita lihat bagaimana dalam kenyataan. dan karena hukum Tuhan adalah hukum yang paling benar dan tidak bisa dirubah maka kitab-kitab fiqh bukan saja dipandang sebagai produk keagamaan. dan hukum Islam dipandang identik dengan aturan Tuhan. membiarkan fiqh sebagai kumpulan aturan yang tidak mempunyai batasan masa lakunya. Dan ketiga. maka fiqh sebenarnya tidak boleh resisten terhadap pemikiran baru yang muncul kemudian. fiqh hanyalah salah satu dari beberapa bentuk produk pemikiran hukum Islam. Dengan cara pandang itu. Dengan tidak adanya masa laku ini. memandang fiqh identik dengan hukum Islam. seperti pertama. selama berabad-abad fiqh menduduki tempat yang amat terpandang sebagai bagian dari agama itu sendiri. dan peraturan perundangan negeri Muslim. dan bukan bagian dari produk pemikiran keagamaan. adalah sama dengan menghalalkan produk pemikiran manusia yang semestinya temporal. maka kitab-kitab fiqh dipandang sebagai kumpulan hukum Tuhan. yang pada gilirannya akan mempengarahi cara pandang dan cara pikir fuqaha itu sendiri. Karena itu kitab-kitab fiqh cenderung menjadi resisten terhadap perubahan. Gambaran ini diperlukan. khususnya masyarakat Islam Indonesia. dan saran-saran pemecahan masalahnya.

tapi pandangan ini telah mempunyai pengaruh dalam memberikan label bahwa produk pemikiran fiqh itupun merupakan upaya menafsirkan kehendak Tuhan yang bersifat abadi dalam bidang hukum. Ironisnya. Kadang-kadang fiqh yang dipeliharanya itu adalah produk para pendahulunya. dalam memandang fiqh. tapi kadang-kadang juga produksinya sendiri. adalah mereka yang mengutamakan penggunaan akal. dalam hal porsi penggunaan akal. Kekeliruan ini rasanya perlu diperbarui dan dibetulkan. maka para fuqaha memerlukan kehidupan fiqh yang tinggi. produk-produk pemikiran fiqh itu dianggap sebagai identik dengan hukum Tuhan itu sendiri.tidak terlepas sebagian atau tadi. tidak terkecuali di Indonesia. empat diantaranya akan disebutkan dan diuraikan di sini. dan untuk itu terlebih dahulu perlu dipahami faktor-faktor apa sebenarnya mengakibatkan kekeliruan tersebut. jumlah ayat al-Qur'an mengenai hukum itu hanya sedikit sekali (kurang lebih 276-500 ayat). sebagaimana telah disebutkan di muka. dan dipelopori Imam Malik bin Anas dan kelompok kedua berkembang di Kufah dan Baghdad. tapi tidak sepenuhnya berhasil. dalam mencoba memahami dan menjabarkan ajaran Islam tentang hukum. Keempat pasangan pilihan tersebut ialah sebagai berikut: 1. sedangkan kelompok kedua menghasilkan kitab-kitab fiqh yang bersifat rasional. Inilah yang menyebabkan lahirnya pandangan yang telah membiarkan fiqh sebagai kumpulan aturan yang tidak mempunyai batasan masa lalu . Pilihan Wahyu dan Akal Dalam sejarah pertumbuhan hukum Islam kita mengetahui. Kelompok pertama adalah mereka yang mengutamakan penggunaan hadits dalam memahami ayat-ayat Qur'an dan kelompok kedua. Kitab-kitab fiqh hasil kelompok pertama lebih memberi tempat kepada hadits-hadits meskipun lemah. Meskipun pandangan ini bersifat utopis karena kenyataan. dan untuk memelihara status diri mereka. dipelopori Imam Abu Hanifah. dan karenanya tidak meliput semua aspek kehidupan manusia. Kelompok pertama kemudian dikenal dengan ahl al-hadith dan kelompok kedua disebut ahl al-ra'yi. aturan yang disebut hukum Islam itu tidak boleh terkena intervensi akal manusia karena hukum Islam itu adalah kebenarannya mutlak yang hanya diatur dengan wahyu. fiqh memerlukan penjaga yang disebut faqih atau fuqaha. Jadi sejak awal pertumbuhannya telah ada pihak-pihak yang berpendirian. Imam Syafi'i sebenarnya telah berusaha menjembatani kedua kelompok itu. dari cara seluruhuya pandang dan cara pikirnya yang diwarnai oleh kedudukan sosialnya Di sini. Kedua aliran ini telah menghasilkan kitab-kitab fiqh yang berbeda. Demikian kesalahpahaman yang terjadi di kalangan sementara orang Islam. terdapat dua aliran besar di kalangan para pendiri madzhab. karena beliau sendiri pada akhirnya lebih memihak pada kelompok pertama. EMPAT PASANGAN PILIHAN Terdapat sejumlah pasangan pilihan yang dapat mempengaruhi pandangan seseorang tentang fiqh. apalagi aspek-aspek kehidupan yang merupakan produk perkembangan zaman modern. Kelompok pertama terutama berkembang di Madinah. sebenarnya terjadi siklus yang menarik diamati: bahwa untuk menjaga dan memeliharanya.

jurist. Hukum Islam sebagai kesatuan artinya. telah mengakibatkan mandeknya perkembangan fiqh. Kesalahan dalam melakukan pilihan antara wahyu dan akal. Orang harus melakukan pilihan antara pandangan yang mengatakan hukum Islam itu universal. sementara wahyu yang mendasarinya hanya beberapa ratus ayat saja. Kita mengetahui terdapat berbagai madzhab dalam fiqh. mengidentikkan fiqh dengan hukum Islam yang universal. adalah kitab-kitab fiqh yang ditulis lima atau enam abad yang lalu. Kitab-kitab fiqh yang kita pelajari sekarang di Indonesia ini. Bagi kita kaum Muslim Indonesia. Bahkan kita mengetahui banyak fuqaha menolak jabatan qadi atau hakim. dan bukan oleh para hakim di pengadilan agama. dan merupakan ekspresi dari kultur tertentu di sekitar Timur Tengah. Kita mengetahui dalam sejarah. atau para ahli hukum. Pilihan Idealisme dan Realisme Pasangan pilihan ketiga yang telah mempengaruhi perkembangan fiqh adalah pilihan antara idealisme dan realisme. dan sebagian diterjemahkan atau disadur dalam bahasa Indonesia. seperti yang kita saksikan selama ini. kitab-kitab fiqh yang kita pelajari itu mengandung ekspresi lokal di Timur Tengah sana. Tentu saja selebihnya adalah produk penafsiran dan pemikiran manusia. dan sebagai hasilnya fiqh selalu resisten terhadap perubahan. Demikianlah perkembangan hukum Islam. antara hukum Islam sebagai kesatuan dan hukum Islam sebagai keragaman. Ini berarti --sejarah telah membuktikannya-. Pilihan Kesatuan dan Keragaman Pasangan pilihan kedua adalah. 2.dan cenderung mengekalkan produk pemikiran manusia yang semestinya temporal dan liable terhadap perubahan. maka kitab fiqh yang berpuluh-puluh jilid itupun menjadi tabu mendapatkan revisi. dan dari suatu masa tertentu di masa silam. meskipun untuk itu mereka harus masuk penjara. Begitulah. 3. bahwa kitab-kitab fiqh itu pada umumnya ditulis para fuqaha. karena hukum Islam itu adalah hukum Tuhan maka semestinya hukum Islam itu hanya ada satu macam saja untuk seluruh umat manusia.fiqh pada umumnya dirumuskan para teoritisi belakang meja daripada . dengan pandangan yang mengatakan hukum Islam itu partikular . Jadi. Sekarang kita melihat madzhab-madzhab itu sebagai aliran-aliran dalam hukum Islam. Tapi justru kitab-kitab yang dipandang sebagai hukum Islam itu di Indonesia dipandang universal tadi. Jadi. tapi dulunya lebih merupakan ekspresi lokal. Artinya kitab-kitab fiqh itu partikularistik. atau lebih tepatnya kesalahan dalam memberikan porsi peranan wahyu dan akal ternyata telah membawa pada kejumudan fiqh itu sendiri yang justru meliputi sebagian terbesar dari aturan hukum Islam yang ada. selain sudah tua. Tapi pada kenyataan kita melihat. antara cita-cita dan kenyataan. Satu kitab fiqh dapat ditulis dalam berpuluh-puluh jilid. untuk seluruh umat Islam di dunia. bahwa pandangan pertama telah mendominasi benak kaum Muslim selama berabad-abad. lebih ironis lagi. Tapi karena hukum Islam dipandang identik dengan fiqh. Kita mengetahui dari sejarah. kesalahan dalam melakukan pilihan yang tepat antara porsi peranan wahyu dan akal telah mempunyai dampak yang serius dalam sejarah perkembangan --atau lebih tepatnya ketidak-berkembangan fiqh. fiqh yang dipandang identik dengan hukum Islam itu bermacam-macam. Hukum Islam yang dianggap universal itu sebenarnya adalah produk fuqaha dari suatu lingkungan kultur tertentu.

Fiqh telah mewakili hukum dalam bentuk cita-cita daripada sebagai respon atau refleksi kenyataan yang ada secara realis. Bahkan Saudi Arabia pun dalam banyak hal telah mulai melakukan suplemen terhadap hukum-hukum fiqh Hambali yang umumnya terlalu literalis. dan tidak boleh mengalami perubahan. maka secara konseptual hukum Islam tidak menerima adanya variasi. Sebagai akibatnya kitab-kitab fiqh menjadi beku. Fiqh telah dipandang sebagai ekspresi kesatuan hukum Islam yang universal daripada sebagai ekspresi keragaman partikular. telah mengakibatkan kemandekan pemikiran fiqh di dunia Islam selama ini. 4. khususnya dalam bidang hukum. mulai mencoba melakukan revisi terhadap fiqhnya. ini berarti hukum Islam itu harus stabil. Pasangan pilihan ini sebenarnya tidak sepenuhnya berdiri sendiri. fiqh harus dilihat sebagai mata rantai perubahan yang tak henti-hentinya tanpa harus dipersoalkan keabsahannya karena toh pada akhirnya fiqh itu hanya menyangkut soal cabang . statis. atau sekurang-kurangnya kekeliruan dalam menentukan bobot masing-masing pilihan itu. Sebagai akibatnya. dan karenanya boleh diotak-atik. dan Irak. lebih menekankan segala sesuatunya pada hal-hal yang maksimal daripada minimal. sebagaimana disebutkan di muka. Kebekuan fiqh itu. Fiqh juga telah memilih stabilitas daripada perubahan. telah berlangsung selama berabad-abad. dengan mengintrodusir dan memperbaharui peraturan perundangan.praktisi di lapangan. Kita harus memandang fiqh sebagai produk dominan akal ketimbang wahyu. fiqh yang dihasilkannya lebih mengekspresikan hal-hal yang ideal daripada real. Karena hukum Islam harus hanya ada satu. Fiqh harus dipandang sebagai varian suatu keragaman yang bersifat partikularistik yang terkait dengan tempat dan waktu. ialah: fiqh semakin hari semakin jauh dari kenyataan masyarakat. dirubah atau bahkan dibuang pada setiap saat. Jika kita hendak mereaktualisasikan ajaran-ajaran Islam. Pilihan Stabilitas dan Perubahan Pasangan pilihan keempat adalah pilihan stabilitas dan perubahan. Mesir. Hal ini terjadi di Tunisia. baik remote waktu maupun tempat. dan resisten terhadap perubahan. apalagi ketika kitab-kitab fiqh itu menjadi remote dari masyarakat yang mengamalkannya. maka kita harus membalik pilihan-pilihan tersebut di atas. khususnya dalam hal hukum keluarga. Dari dimensi waktu. melainkan akibat lanjutan dari pilihan pada pasangan-pasangan sebelumnya. LANGKAH-LANGKAH REAKTUALISASI Uraian di atas dapat disimpulkan: Kemandekan pemikiran fiqh di dunia Islam selama ini adalah karena kekeliruan menetapkan pilihan dari pasangan-pasangan pilihan tersebut di atas. Pendek kata. Ini telah terjadi pada saat kitab fiqh itu dituliskan. Fiqh harus dikembangkan dari yurisprudensi pengadilan yang bertumpu pada realisme. dan lebih khusus lagi dalam bidang fiqh. Baru pada abad ke-19 terdengar suara-suara untuk melakukan perubahan terhadap fiqh yang ada. Beberapa negeri Muslim setelah pertemuan yang pahit dengan peradaban Barat. Akibat lain dari pilihan atas idealisme daripada realisme itu. Siria. Semua itu.

Coulson. sampai dengan tampilnya Kyai Dahlan dengan Muhammadiyahnya. Dengan demikian dinamika hukum Islam dapat terus dijaga dan dikembangkan. beliau memperkenalkan dan mempropagandakan sebuah surat pendek al-Qur'an dari Juz 'Amma. -------------------------------------------Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah Editor: Budhy Munawar-Rachman Penerbit Yayasan Paramadina Jln. dan tidak pula menyadari betapa surat pendek itu dapat menjadi pangkal gerakan kemanusiaan yang besar dan mendalam seperti . adanya tingkat pendidikan dan tingkat keterbukaan yang tinggi dari masyarakat Muslim. (021) 7501969. jika di tempat lain atau pada waktu lain ditemukan unsur-unsur partikularisme yang berbeda. Muhammad Muslehuddin. khususnya para imam shalat. Surat itu sendiri sudah merupakan bagian dari hafalan baku para santri. Tetapi. 1977). yaitu surat al-Ma'un (QS 107). adanya keberanian di kalangan umat Islam untuk mengambil pilihan-pilihan yang tidak konvensional dari pasangan-pasangan pilihan tersebut di atas. dan termasuk yang sering dibaca dalam shalat itu. maka produk pemikiran hukum itu dengan sendirinya harus dirubah.dari agama.. Conflicts and Tensions in Islamic Law (The University of Chicago Press. IAIN Jakarta. kaum muslim Indonesia seperti tidak pernah tersentuh oleh makna dan semangat firman Allah itu. agar dapat memahami partikularisme dari produk pemikiran hukum itu. 1969). Dengan demikian. 7507173 Fax. 1990/1991. Metro Pondok Indah Pondok Indah Plaza I Kav. Pakistan. Philosophy of Islamic Law and the Orientalists (Islamic Publications Ltd. 7501983. memahami faktor-faktor sosiokultural dan politik yang melatarbelakangi lahirnya suatu produk pemikiran fiqhiyah tertentu. DAFTAR KEPUSTAKAAN Atho' Mudzhar. Tapi untuk melakukan pilihan-pilihan yang tepat diperlukan beberapa syarat. Noel J. sedikitnya ada tiga syarat yang harus dipenuhi yaitu: Pertama.35. Dan ketiga. Chicago. MASALAH SIMBOL DAN SIMBOLISME DALAM EKSPRESI KEAGAMAAN (1/2) Oleh Nurcholish Madjid Ketika Kyai Ahmad Dahlan mulai menapak jalan menuju cita-cita reformasi Islam di Indonesia. Kedua. (021) 7507174 Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota Please direct any suggestion to Media Team Artikel Yayasan Paramadina Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota V. UA 20-21 Jakarta Selatan Telp. Catatan-catatan kuliah Sejarah Sosial Hukum Islam pada Fakultas Pasca Sarjana.

Sebuah Hadits yang amat terkenal mengisyaratkan bahwa tujuan tugas suci atau risalah dibangkitkannya Nabi s. Anak yatim dan orang miskin mewakili seluruh anggota masyarakat yang tidak beruntung oleh berbagai sebab dan cara. orang yang mendustakan agama? Itulah orang yang menghardik anak yatim dan tidak berjuang untuk memberi makan orang miskin. sementara kita mungkin rajin menjalankan ibadat-ibadat formal seperti shalat. misalnya. yaitu budi pekerti yang luhur. dan bungkus itu dengan sendirinya akan mempunyai dampak penipuan. Keagamaan yang sejati menuntut adanya wujud nyata konsekuensi ibadat. [3] AGAMA DAN AKHLAQ Surat al-Ma'un memperingatkan kita bahwa beragama dengan tulus tidaklah cukup hanya dengan mengerjakan segi-segi formal keagamaan seperti shalat. Disebutkannya anak yatim dan orang miskin. Penilaian diri kita sebagai pendusta agama atau beragama secara palsu karena tidak memiliki komitmen sosial yang makin diperburuk oleh tingkah laku lahiriah kita sendiri yang nampak seperti menjalankan ibadat formal. dan yang enggan memberi pertolongan. menegaskan keadilan sosial. namun tidak menghayati dan tidak mewujud-nyatakan hikmahnya. [5] Lalu beliau gambarkan bahwa yang paling banyak menyebabkan manusia . biarpun sedikit. yang tingkah laku itu bakal membentuk budi pekerti luhur [2]. Karena itulah Allah mengutuk orang yang menjalankan ibadat formal serupa itu namun ia lupa atau lalai akan ibadat mereka sendiri. seperti kemestian yang ada pada pola pergaulan dalam suatu kelompok. [1] Jelas sekali firman Allah itu menegaskan bahwa kepalsuan dapat terjadi dalam sikap keagamaan kita jika kita tidak memiliki komitmen batin kepada usaha-usaha. Seperti kita ketahui. Jadi sesungguhnya kita menjalankan ibadat itu karena pamrih atau riya'. "kelompok orang-orang Islam.w. dll. kita melakukan ibadat karena menghayati bahwa shalat adalah perintah Allah lalu tidak menghayati apa makna shalat itu yang lebih mendalam dan luas. adalah untuk menyempurnakan berbagai keluhuran budi. surat al-Ma'un itu terjemahnya. tidak ada yang timbangan atau bobot nilai kebaikannya lebih erat daripada budi pekerti luhur.Muhammadiyah dengan amal-amal sosialnya. Indikasinya ialah keseganan untuk berkorban guna memberi pertolongan kepada orang yang perlu. [4] Sejalan dengan ini Nabi juga menggambarkan bahwa diantara semua kualitas manusia. Artinya. Dikatakan semakin diperburuk karena kepalsuan kita dalam beragama memperoleh bungkus kebajikan berupa amalan ibadat lahiriah. yang menurut istilah sekarang. puasa. kurang lebih adalah: Pernahkah engkau lihat (hai Muhammad)." Artinya.a. yang dibidikkan oleh ibadat itu. namun ibadat itu tidak mempengaruhi tingkah laku kita yang lebih mendalam. yaitu mereka yang akan shalat tetapi lalai. haji. Maka celakalah untuk orang-orang yang shalat. Sebab mungkin kita sendiri tidak merasa. adalah karena mereka merupakan kelompok-kelompok sosial yang paling memerlukan usaha bersama untuk memperbaiki nasib mereka. kita menjalankan ibadat-ibadat hanyalah untuk memenuhi kemestian-kemestian sosial kultural semata. sekurang-kurangnya mungkin sekali kita sekedar pamrih kepada sesama anggota kelompok Islam. yaitu mereka yang suka pamrih kepada sesama.

sebab kita melihat Hari Kemudian seolah-olah terjadi sekarang ini. Tindakan-tindakan derma yang praktis mempunyai nilai hanya jika keluar dari rasa cinta dan tidak dari motif-motif yang lain.masuk surga ialah taqwa kepada Allah dan keluhuran budi. Mereka itulah orang-orang benar (tulus). kitab-kitab suci dan para nabi. hal-hal besar menjadi kecil di depan mata kita segala kepalsuan dan sifat sementara dunia ini akan tidak lagi memperbudak kita. anak-anak yatim (termasuk siapa saja yang tidak punya topangan hidup atau bantuan). orang-orang miskin. Keempat pokok itu saling berkaitan. kita diberi gambaran yang indah tentang orang yang salih dan takut kepada Tuhan. Kita juga melihat karya Ilahi dalam alam ciptaan-Nya. sanak keluarga kita. serta mereka yang tabah dalam kesulitan. Hari kemudian. Kita diberi empat pokok: (1) iman kita harus sejati dan tulus. kewajiban kita dapat berbentuk berbagai macam. menegaskan "Kamu sekalian tidak akan memperoleh kebajikan sebelum kamu mendermakan sebagian dari (harta) yang kamu cintai. tapi ia harus memusatkan pandangannya kepada cinta Tuhan dan cinta sesama manusia. dan orang yang menepati janji jika membuat janji. dan ajaran-ajaran-Nya yang tidak lagi berada jauh dari kita. berujud jenjang yang wajar. Allah swt. Iman bukanlah semata-mata perkara ucapan. juga. peminta-minta. yang mendukung organisasi-organisasi sosial. tapi masih dapat dipandang secara terpisah. Jika kita sadari itu. dan (4) jiwa pribadi kita sendiri harus teguh dan tidak goyah dalam segala keadaan. Dalam hal ini. Kita harus menyadari kehadiran Tuhan dan kebaikan-Nya. melainkan datang dalam pengalaman kita sendiri. dan orang yang mendermakan hartanya. para malaikat. (3) kita harus menjadi warga masyarakat yang baik. [6] Penegasan-penegasan Nabi itu merupakan kelanjutan dari ajaran al-Qur'an tentang apa yang dinamakan nilai kebajikan (al-birr atau 'amal shalih). yang lebih terinci: Bukanlah kebajikan itu bahwa kamu menghadapkan mukamu ke timur dan ke barat. [8] Dalam kaitan itu menarik sekali memperhatikan komentar Yusuf Ali atas firman yang amat penting ini. betapapun cinta orang itu kepada harta tersebut. Untuk kerabat. Orang itu harus mentaati aturan-aturan yang membawa kebaikan. dan mereka didahulukan sebelum orang yang meminta. anak-anak yatim.Tetapi kebajikan ialah (jika) orang yang beriman kepada Allah. dan mereka itulah orang-orang yang berbakti (bertaqwa). Dikatakannya: Seakan untuk menekankan lagi peringatan melawan formalisme yang mematikan. . orang terlantar di perjalanan. orang yang benar-benar memerlukan pertolongan tetapi tidak pernah meminta (kewajiban kita menemukan mereka itu). dan untuk membebaskan para budak. dan memang berhak untuk meminta. bukan sekedar pengemis yang malas tetapi orang A. (2) kita harus memperlihatkannya dalam tindakan-tindakan kebaikan kepada sesama kita." [7] Dan penegasan-Nya lagi. kesusahan dan masa perang. yakni.

"Tempat dia di neraka!. Maka Rasul saw bersabda. dan di situ nampak bahwa Nabi saw justru lebih peka pada masalah-masalah sosial yang lebih substantif daripada masalah-masalah formal keagamaan semata yang simbolik. Mukti Ali itu. Yang dimaksud ialah. [9] Dalam menafsir firman itu. namun reaksi kepada masalah-masalah kepincangan sosial seperti kemiskinan dan kezaliman masih lemah. TAUHID ESENSI. tetapi lidahnya selalu menyakiti sanak keluarganya. Seseorang yang datang kepada Nabi dan menceritakan tentang seorang wanita yang rajin mengerjakan shalat. dan budak-budak (kita harus melakukan apa saja yang dapat kita lakukan untuk memberi atau membeli kemerdekaan mereka). Perbudakan mengandung berbagai bentuk yang tersembunyi dan berbahaya dan semuanya tercakup di situ. Maka Hadits di atas dapat dirujuk sebagai sebuah ilustrasi tentang apa yang dikatakan Prof. "Tempat dia di surga. sebelum kita mengisinya dengan hal-hal yang lebih esensial. dan tidak pernah menyakiti hati sanak keluarganya. Muhammad Asad menegaskan bahwa al-Qur'an menekankan prinsip yang semata-mata mengikuti bentuk-bentuk lahiriah tidaklah memenuhi persyaratan kebajikan." Kemudian orang itu menceritakan tentang seorang wanita yang kedengarannya jelek. Disebutnya masalah menghadapkan wajah ke arah ini atau itu dalam sembahyang adalah kelanjutan dari pembahasan tentang kiblat dalam urutan ayat-ayat sebelumnya. yang memberi peringatan keras kepada orang yang suka pamer kebajikan palsu dan kemunafikan dalam menekuni segi-segi forma keagamaan. pernah mengatakan bahwa orang-orang Muslim banyak yang lebih peka kepada masalah-masalah keagamaan daripada masalah-masalah sosial. namun ia rajin memberi pertolongan kepada orang-orang sengsara. karena ia melalaikan shalat dan puasa." Seorang tokoh Islam Indonesia. Jadi. BUKAN TAUHID NAMA . Maka Nabi saw bersabda. agama kita mengajarkan bahwa formalitas ritual belaka tidaklah cukup sebagai wujud keagamaan yang benar. puasa dan zakat. sehingga tidak seharusnya dipandang dalam kerangka sebagai tujuan dalam dirinya sendiri sementara tujuan yang sebenarnya terlupakan. Mukti Ali. Justru sikap-sikap membatasi diri hanya kepada hal-hal ritualistik dan formal akan sama dengan peniadaan tujuan agama yang hakiki. banyak orang Islam yang lebih cepat bereaksi kepada gejala-gejala yang dinilai menyimpang dari ketentuan lahiriah keagamaan.yang memerlukan bantuan kita dalam bentuk tertentu (kewajiban kita untuk tanggap kepada mereka). Karena itu juga tidak pula segi-segi lahiriah itu akan menghantarkan kita menuju kebahagiaan. A. Prinsip ini dipertegas oleh Nabi saw dalam sebuah Hadits mengenai dua wanita: Abu Hurayrah meriwayatkan prinsip penting yang diajarkan Nabi ini. seperti soal pakaian atau tingkah "tidak sopan" dan "tidak bermoral" tertentu. Prof.[l0] Dan memang menghadapkan muka ke arah tertentu dalam ibadat hanyalah bentuk formal lahiriah semata dari sebuah amalan.

7501983.35." [12] -------------------------------------------. Metro Pondok Indah Pondok Indah Plaza I Kav.Dzikr atau ingat kepada Tuhan adalah salah satu bentuk ritus yang amat penting dalam agama Islam. UA 20-21 Jakarta Selatan Telp. (021) 7507174 Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota Please direct any suggestion to Media Team Artikel Yayasan Paramadina Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota V. nama manapun yang kamu serukan. dan carilah jalan tengah antara keduanya. memberi petunjuk kepada Nabi dalam menghadapi mereka: "Katakan (hai Muhammad). yang selama ini tidak dikenal orang Arab yang selama ini menggunakan nama Allah (al-Lah). maka bagi Dia adalah nama-nama yang terbaik". Karena salah paham. MASALAH SIMBOL DAN SIMBOLISME DALAM EKSPRESI KEAGAMAAN (2/2) Oleh Nurcholish Madjid Menurut Sayyid Quthub.(bersambung 2/2) Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah Editor: Budhy Munawar-Rachman Penerbit Yayasan Paramadina Jln. al-Ghaffar. dll. firman Allah itu mengandung makna bahwa . dari antara nama-nama terbaik (al-asma al-husna) Tuhan. Sebetulnya dzikir adalah lebih banyak sikap hati (dzat al-shadr). Selain lafal "Allah" sebagai lafal keagungan (lafzh al-jalalah) karena merupakan nama Wujud Maha Tinggi yang utama juga terdapat lafal-lafal lain yang merupakan nama-nama Wujud Maha Tinggi itu. "Serulah olehmu sekalian (nama) Allah atau serulah olehmu sekalian (nama) al-Rahman. kaum musyrik Arab mengira bahwa Nabi tidak konsisten dalam mengajarkan paham Ketuhanan Yang Maha Esa. yang secara langsung atau tidak. (021) 7501969. jangan pula kau lirihkan. seperti al-Rahman. Dalam Kitab Suci al-Qur'an terdapat sebuah firman yang isinya petunjuk kepada Nabi saw menghadapi orang-orang musyrik Arab yang menolak adanya nama lain. jika Dzat Yang Mutlak itu mempunyai nama lain. Maka turunlah firman Allah. al-Razzaq. khususnya kata-kata atau lafal yang berkaitan dengan Tuhan seperti "Allah" dan "La ilaha illa 'l-lah". selain nama "Allah" untuk Wujud Maha Tinggi. berarti Ia tidak Maha Esa. al-Rahim. Dalam pandangan mereka yang keliru itu. seperti pengucapan atau pembacaan kata-kata atau lafal-lafal tertentu dari perbendaharaan keagamaan. dapat dipahami dari berbagai sumber suci dalam al-Qur'an dan Sunnah. Namun dzikr juga dapat melahirkan gejala formal. 7507173 Fax. melainkan berbilang sebanyak nama yang digunakan. Sebab pada saat itu al-Qur'an mulai banyak menggunakan nama al-Rahman. Dan janganlah engkau (Muhammad) mengeraskan shalatmu.

dan nama (ism) tidaklah sama dengan yang dinamai (al-musamma). ia berkata: "Dia (Muhammad) melarang kita menyembah dua Tuhan.. selain nama "Allah". Firman itu juga merupakan sanggahan terhadap kaum Jahiliah yang mengingkari nama "al-Rahman". ia sungguh telah kafir dan tidak menyembah apa-apa. Karena itu al-Baidlawi menegaskan bahwa pahan Tauhid bukanlah ditujukan kepada nama. melainkan kepada sesuatu yang dinamai.manusia dibenarkan memanggil atau menyeru dan menamakan Tuhan mereka sekehendak mereka sesuai dengan nama-nama-Nya yang paling baik (al-asma al-husna). melainkan Dzat atau Esensi-Nya." Ada juga penuturan bahwa ayat itu turun kepada Nabi karena kaum Ahl al-Kitab pernah mengatakan kepada beliau. Maka barangsiapa menyembah nama tanpa makna. guru dari para imam dan tokoh keagamaan besar dalam sejarah Islam. dan keduanya menunjuk kepada Hakikat. "Al-Lah") berasal "ilah" dan "ilah" mengandung makna "ma'luh'. melainkan kepada esensi. bukan Tauhid Nama). baik untuk kalangan Ahl al-Sunnah maupun Syi'ah. ya Rahman". Ja'far al-Shadiq menyambung. "Tambahilah aku (ilmu)"." Maka turunnya ayat itu tidak lain ialah untuk menegaskan bahwa kedua nama itu sama saja. Dzat Yang Maha Esa itulah yang bernama "Allah" dan atau "al-Rahman" serta nama-nama terbaik lainnya. dan dalam bersujud beliau mengucapkan: "Ya Allah. maka setiap nama itu adalah suatu Tuhan. Barangsiapa menyembah nama dan makna (sekaligus). [l4] Pandangan Ketuhanan yang amat mendasar ini diterangkan dengan jelas sekali oleh Ja'far al-Shadiq.. bukannya "Allah" bernama "al -Rahman" atau "al-Rahim". Tetapi Allah Yang Maha Mulia dan Maha Agung adalah suatu Makna (Esensi) yang diacu oleh nama-nama itu. tokoh musyrik Makkah yang sangat memusuhi kaum beriman. dan sekarang ia sendiri menyembah Tuhan yang lain lagi. "Bagi Allah Yang Maha Mulia dan Maha Agung ada sembilanpuluh sembilan nama. Ketika Abu Jahal. Zamakhsyari. Dzat atau Wujud yang satu dan sama. sebab Dia mempunyai banyak nama. Engkau mengerti. sedangkan nama-nama itu sendiri seluruhnya tidaklah sama dengan Dia . tafsir-tafsir klasik menuturkan adanya Hadits dari Ibn Abbas. Jadi yang bersifat Maha Esa itu bukanlah Nama-Nya. (yang disembah). wahai Hisyam?" Hisyam mengatakan lagi. mendengar tentang ucapan Nabi dalam sujud itu. maka ia sungguh telah musyrik dan menyembah dua hal. Dalam sebuah penuturan. padahal Allah banyak menggunakan nama itu dalam Taurat. Dan barangsiapa menyembah makna tanpa nama maka itulah Tawhid. al-Baidlawi dan al-Nasafi menegaskan bahwa kata ganti nama "Dia" dalam kalimat "maka bagi Dia adalah nama-nama yang terbaik" dalam ayat itu mengacu tidak kepada nama "Allah" atau "al-Rahman". ia menjelaskan nama "Allah" dan bagaimana menyembah-Nya secara benar sebagai jawaban atas pertanyaan Hisyam: "Allah" (kadang-kadang dieja. "Engkau (Muhammad) jarang menyebut nama al-Rahman. Jadi. yaitu Dzat (Esensi) Wujud Yang Maha Mutlak itu. Sebab suatu nama tidaklah diberikan kepada nama yang lain. bahwa di suatu malam nabi beribadat. [l3] Berkenaan dengan alasan turunnya firman itu." [15] . Maka Tauhid yang benar ialah "Tawhid al-Dzat" bukan "Tawhid al-Ism" (Tauhid Esensi. Kalau seandainya nama itu sama dengan yang dinamai. tetapi kepada suatu dzat atau esensi.

dan tidak intrinsik (dalam arti tidak menjadi tujuan dalam dirinya sendiri. CATATAN . seperti ditegaskan oleh Ja'far al-Shadiq yang dikutip di atas. "Allah" maknanya "Yang Disembah" yang agar makhluk (aliha. Justru segi ini harus ditumbuhkan lebih kuat dalam masyarakat. yang justru mempunyai nilai intrinsik. Orang Arab mengatakan "Seseorang tercekam (aliha) jika ia merasa bingung (tahayyara) atas sesuatu yang tidak dapat dipahaminya. menurut Hadits-hadits di atas. Sebab. menyembah Tuhan sebagai maknanya berarti menyembah Wujud yang tak terjangkau dan tak terhingga. 'Ali Ibn Abi Thalib ra. betapapun. Maka sebenarnya yang boleh dikatakan "ideal" dalam kehidupan keagamaan ialah jika ada keseimbangan antara simbolisasi dan substansiasi. dan tidak sebanding dengan apapun.") pada penutupannya. dalam makna takbir (ucapan "Allah-u Akbar") pada pembukaan dan dalam makna taslim (ucapan. melainkan menuju kepada suatu nilai yang tinggi). muspra dan malah berbahaya. namun tetap ada kesadaran bahwa suatu simbol hanya mempunyai nilai instrumental.Kalau kita harus menyembah Makna atau Esensi. sambil melupakan Makna dan Esensi di balik Nama itu. yang mengenai Dia itu makhluk merasa tercekam (ya'lahu) dan dicekam (yu'lahu) oleh-Nya. Bersamaan dengan penggunaan simbol-simbol diperlukan adanya kesadaran tentang hal-hal yang lebih substantif. Jadi "al-Lah" ialah Dia yang tertutup dari indera makhluk.. jangankan sekedar simbol dan ritus. mewariskan penjelasan yang amat berharga kepada kita Dia mengatakan. dan orang itu terpukau (walaha) jika ia merasa takut (fazi'a) kepada sesuatu yang ia takuti atau kuatiri. Nama Tuhan pun. Berkenaan dengan ini. jika terdapat kewajaran dalam penggunaan simbol-simbol sedemikian rupa sehingga agama memiliki daya cekam kepada masyarakat luas (umum). betapapun nama-nama itu nama-nama utama (al-Asma al-Husna). tidak benar untuk dijadikan tujuan penyembahan. Jadi. Artinya. yang Hakikatnya tidak dibatasi oleh nama-nama-Nya. Agama tidak mungkin tanpa simbolisasi.'assalamu'alaikum . Maka agama ialah pendekatan diri kepada Allah dan perbuatan baik kepada sesama manusia. [17] Jadi. dan yang terdinding dari dugaan dan benih pikiran. Allah adalah Wujud dan tertutup dari kemampuan penglihatan.. "Allah" artinya "Yang Disembah" (al-Ma'bud). tidak mampu atau bingung) mengetahui Esensi-Nya (Mahiyyah) dan memahami Kualitas-Nya (Kaifiyyah). antara nama (ism) dan yang dinamakan (musamma) tidak identik. namun simbol tanpa makna adalah absurd. dan bukan menyembah Nama seperti yang diperingatkan dengan keras sebagai suatu bentuk kemusyrikan oleh Ja'far al-Shadiq itu. menerangkan. [16] Dan Muhammad al-Baqir ra. berarti kita harus menunjukkan penyembahan kita kepada Dia yang menurut al-Qur'an memang tidak tergambarkan. sebagaimana keduanya itu dipesankan kepada kita melalui shalat kita.

it denotes "aid" or "assistance" in any difficulty" (. juga perbuatan kebaikan kala-kala berupa pemberian bantuan kepada sesama manusia dalam hal-hal kecil tersebut. perkataan "yahudldlu" menunjuk pada adanya komitmen batin yang tinggi." 5. Maktabat al-Riyadl al-Haditsah. Yang dimaksud dalam firman ini bukanlah mereka itu dikutuk Allah karena lupa mengerjakan shalat yang disebabkan. misalnya. kata-kata itu berarti "bantuan" atau "pertolongan" dalam setiap kesulitan) -The Message of the Qur'an. dalam arti bahwa shalat mereka tidak mempunyai pengarah apa-apa kepada pendidikan akhlaknya. A. hal. Kata-kata Arab "al-ma'un" yang merupakan ujung surat dan menjadi nama suratnya dijelaskan oleh Muhammad asad. 2. kata-kata "al-ma'un" mencakup hal-hal kecil yang diperlukan orang dalam penggunaan sehari-hari. dalam The Message of the Qur'an. Riyadl. sehingga mereka yang menjalankan shalat itu dengan mereka yang tidak menjalankannya sama saja. [tulisan Arab] "Innama bu'its-tu li-utammim-a makarim-a 'l-akhlaq-iSesungguhnya aku diutus hanyalah untuk menyempurnakan berbagai keluhuran budi. Sebab lupa dan alpa serupa itu justru dimaafkan oleh Allah. 46). terlalu sibuk bekerja. Dalam maknanya yang lebih luas. Yaitu sabda Nabi saw. QS. Yaitu sabda nabi yang amat terkenal. Minhaj al-Sunnah. Apalagi jika lebih buruk! 3. Ibn Taymiyyah. tt. . tidak peduli kepada orang lain sekitar.. Dan Muhammad Asad.. menerjemahkannya dalam bahasa Inggeris dengan "feels no urge" (tidak merasakan adanya dorongan). Jilid 3. (Lihat. Hassan dalam Al-Furqan. Jadi bergaya hidup egoistis. Tapi yang dimaksud dalam firman itu ialah mereka yang menjalankan shalat itu lupa akan shalat mereka sendiri.("Tiada sesuatu apapun yang dalam timbangan (nilainya) lebih berat daripada keluhuran budi"). sebagai "comprises the small items needed for one's daily use. as well as the occasional acts of kindness consisting in helping out one's fellow-men with such item. khususnya mereka yang memerlukan pertolongan. Perkataan "yahudldlu" yang diterjemahkan dengan "berjuang" di sini mempunyai asal arti "menganjurkan dengan kuat". berdasarkan berbagai tafsir klasik. Yang diterjemahkan dengan "lupa" atau "lalai" dalam firman itu ialah kata-kata yang dalam bahasa aslinya (Arab) "sahun". 4. yakni usaha mengangkat dan menolong nasib kaum miskin. 979.1. al Ma'un/107:1-7. hal. 4 jilid." Departemen Agama menerjemahkan dengan "menganjurkan" sedangkan Mahmud Yunus dalam tafsir Qur'an Karim menggunakan perkataan "menyuruh". karena baginya perkataan "yahudldlu" mempunyai makna "mendorong diri sendiri" (sebelum mendorong orang lain).. menerjemahkan perkataan itu dengan "menggemarkan. Berarti bahwa indikasi ketulusan dan kesejatian dalam beragama ialah adanya komitmen sosial yang tinggi dan mendalam kepada orang bersangkutan. In its wider sense. [tulisan Arab] "ma min syay-in fi 'il-mizan-i atsqal-u min husn-i 'l-khulaq-i. Jadi. tidak dikutuk.

al-Baqarah 2:177. (021) 7501969. 7501983. Metro Pondok Indah Pondok Indah Plaza I Kav. riwayat itu dalam bahasa aslinya (Arab) adalah demikian. dalam Integrismes.32. UA 20-21 Jakarta Selatan Telp. Sebuah Hadits otentik. hal. dll. Madarik al-Tanzil wa Haqaiq al-Ta'wil oleh al-Nasafi. 7. 11. 13. 36. Sayyid Quthub. al-Kasysyaf al-Zamaksyari. 73. Lengkapnya. Juz 15. Jil. Dikutip oleh Roger Garaudy. [tulisan Arab]. terjemah bahasa Arab oleh Dr. al-Isra'/17:110. 93: 12. Tafsir al-Khazin oleh al-Baghdadi.'Ali 'Imran 3:93. menurut sebuah penuturan. Fi Zhilal al-Qur'an. 15. 8. Untuk pembahasan ini. 9. 14. 5. Translation and Commentery (Jeddah: Dar al-Qiblah 1403 H). (021) 7507174 Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota Please direct any suggestion to Media Team Artikel Yayasan Paramadina Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota V. ZAKAT KONSEP HARTA YANG BERSIH .a. 7507173 Fax. 16. hal. Yaitu keterangan dari Ali ibn Abi Thalib r. [tulisan Arab]. lihat tafsir ayat bersangkutan dalam kitab-kitab tafsir klasik: Anwar al-Tanzil wa Asrar al-Ta'wil oleh al-Baidlawi. The Holy Qur'an. AlUshuliyyat al-Mu'ashirah: Asbabuha wa Mazhahiruha (Paris: Dar Am Alfayn. Khalil A. 1992).6. Yaitu sebuah penuturan atau riwayat yang berasal dari Muhammad al-Baqir. QS. Yusuf Ali. A. Khalil.. hal. 69. 10. QS. [tulisan Arab]. QS. Muhammad Asad. -------------------------------------------Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah Editor: Budhy Munawar-Rachman Penerbit Yayasan Paramadina Jln. 17. "Aktsar-u ma yudkhil-u 'l-jannat-a taqwa 'l-Lah-i wa husn-u 'l-khuluq-i "Yang paling banyak memasukan orang ke dalam surga ialah taqwa kepada Allah dan keluhuran budi". hal. [tulisan Arab].

bisa meng-iblis tapi juga bisa menjadi laiknya malaikat. Mas'udi Bicara soal zakat dikaitkan dengan pemerataan ada kesan memaksakan diri. Misalnya karena kekhusyukannya dalam menunaikan shalat. shalat. seseorang boleh tak punya apa-apa. bahkan keadilan sekaligus. logika kesejarahan hadir dalam ujud hal yang bersifat empirik. kehebatan dan mukjizatnya diperlihatkan juga. Manusia yang bisa salah bisa benar. manusia yang dengan hak prerogatif Tuhan hanya memiliki kemungkinan baik. dikontrol dan bisa diukur. mangada-ada!. Ini berarti bahwa yang ma'qul belum tentu matmul. suatu saat nanti. Tapi. Ibarat figur. yang tersimpan dalam kata-kata "zakat" itu sendiri.Oleh Masdar F. tapi yang ma'mul secara implisit haruslah ma'qul. Kembali pada pokok soal. seseorang yang kebetulan kaya raya tiba-tiba terpanggil menginfakkan seluruh hartanya untuk menghidupi orang-orang miskin. Karena Islam datang sebagai petunjuk untuk manusia dan diterapkan oleh manusia dalam kapasitas kodratinya yang wajar-wajar saja. Sesungguhnyalah. magic. tapi dalam hati tetap bercokol keyakinan. harus bisa dijabarkan dalam kerangka kerja sistem yang bisa dirancang. dengan konsep zakat bukan merupakan hal yang tak masuk akal. Seolah-olah yang penting bukan kesepadanan konsep zakat dengan pemerataan. Sementara untuk manusia yang luar biasa. Logika pemikiran hadir dalam ujud rnaqal yang bersifat teoritis. Ma'qul artinya bisa dicerna logika penalaran.Islam tak punya urusan. puasa. Islam bukanlah sejenis halte tempat orang menunggu dengan kepasifan. anehnya orang tak kunjung kapok menjadikannya sebagai tema. Tapi adanya kekuatan ghaib. mengkaitkan soal pemerataan. Masalahnya. Sebagai agama yang datang untuk kehidupan manusia dalam ukuran yang normal atau yang wajar. Tapi dari semua yang ma'qul itu. atau hanya pas-pasan saja. tentang "pemerataaan" atau lebih mendasar lagi soal "keadilan sosial. lambat atau cepat. Berbeda dengan logika teoritis yang bersifat abstrak dan subyektif. juga haji) bukan merupakan perkara mustahil. kekuatan maupun kelemahan. tapi sekaligus juga ma'mul (applicable). Suatu ajaran untuk bisa disebut ma'mul. bagaimanapun hal ini memang tak mustahil. atau hanya memiliki potensi buruk --kalau saja yang demikian itu ada dalam kenyataan Islam-. sedang ma'mul artinya bisa dicerna logika kesejarahan. kata-kata zakat diyakini sebagai tokoh imam mahdi atau ratu adil yang meski pun sangat sulit orang mencernanya. Tanpa diduga-duga orang ini tiba-tiba tersadarkan bahwa di alam dunia ini. di mana akan munculnya momen-momen ajaib yang lahir atas campur tangan langsung Tuhan seperti digambarkan di atas. logika empiris bersifat konkrit dan obyektif. bisa baik bisa jahat. Islam tak saja harus ma'qul (sensible). Bahkan mengkaitkannya dengan rukun Islam yang lain (syahadat. Yakni manusia sebagai makhluk Tuhan yang memiliki segala kemungkinan dan potensi kebaikan maupun keburukan." orang bisa saja mengatakan bahwa semua rukun Islam yang lima cukup ma'qul untuk memecahkannya. yang penting adalah keterpautan hati secara terus menerus untuk menyebut nama-nama Nya. dengan segala ajarannya. . orang ini terbuka tabir kerohaniannya. Ajaib! Tapi.

Sasarannya bukan agar semua orang memiliki bagian secara sama rata. maka kehadiran lembaga yang memiliki kewenangan memaksa untuk melakukan pengalihan itu pun menjadi tak terelakkan. ketimpangan di bidang yang lain (politik dan budaya) hampir pasti selalu saja membuntuti. Sebab bermula dari ketimpangan dalam hal materi (ekonomi). Maka konsep dasar zakat sebagai mekanisme redistribusi kekayaan (materi) adalah pengalihan sebagian aset materi yang dimiliki kalangan kaya (yang memiliki lebih dari yang diperlukan) untuk kemudian didistribusikan pada mereka yang tak punya (fakir miskin dan sejenisnya) dan kepentingan bersama. dalam sejarahnya justru cenderung memainkan peran terbalik. Bahkan dengan tarif begitu tinggi yang disebut dengan pajak progresif. dari sudut moral memang merupakan anomali. Karena seperti halnya tema pemerataan. lembaga negara yang secara moral hanya bisa dijustified sepanjang berfungsi sebagai racun penawar terhadap kerakusan duniawi masyarakat manusia (yang kuat). rata sedikitnya atau banyaknya. Ajaran Nabi Isa secara implisit ingin sekali mengingkari keberadaannya. yakni zakat.bahkan meletakkannya sebagai sesuatu yang harus diatur sedemikian rupa agar kemungkinannya untuk menumpuk hanya pada kalangan tertentu (aghniya) bisa dihindarkan. zakat adalah satu-satunya rukun Islam yang berkaitan langsung dengan persoalan materi itu. Seyogyanyalah pengalihan itu dilaksanakan kalangan berada atas kesadaran mereka sendiri. yang dalam realitas sosiologis memuncak pada apa yang dikenal dengan negara (state). siapa yang sebenarnya paling . 18 abad kemudian secara eksplisit mengidealkan kepunahannya. Syahdan. Lebih dari sekedar meletakkan soal penguasaan sumber daya materi sebagai subyeknya. Benar bahwa haji pun bersentuhan dengan soal materi. Tapi karena manusia mengidap nafsu "cinta harta" (hub-u 'l-dunya).satu-satunya yang sekaligus ma'mul adalah rukun yang ketiga. Tapi disinilah persoalannya. apakah memang kemudian ditasarufkan untuk mengangkat kehidupan mereka yang tak punya dan untuk kemaslahatan semua pihak? Inilah persoalan dasar. zakat --berbeda dengan haji-. yang titik berangkatnya adalah pada pemerataan akses sumber daya materi. Zaman idaman baginya adalah zaman ketika lembaga negara telah lenyap berikut seluruh akar-akarnya. konsep pajak sedikit banyak sudah mulai diberi fungsi redistribusi kekayaan seperti tersebut di atas. atau ditekan serendah-rendahnya. setelah pajak yang tinggi itu ditarik dari masyarakat wajib pajak. tapi hanya sebagai sarana yang tetap ada di luar zat-Nya. atau keadilan sosial. Juga ajaran Karl Marx. dalam sejarah politik kenegaraan modern. Lembaga itu. Maka bisa dimengerti apabila pernah muncul suatu obsesi dalam sejarah pemikiran manusia yang mengimpikan suatu zaman dimana apa yang disebut lembaga negara itu tak usah ada lagi. yakni nafsu gila harta (keduniaan) tadi. dimana sebagian yang lain hampir-hampir tak memiliki sama sekali. Tapi agar tak terjadi suasana ketimpangan. Ia dengan segala perangkat lunaknya (seperti sistem hukum dan perundang-undangan) maupun yang keras (seperti satelit pengintai dan senjata rudalnya) seringkali menjadi alat bagi kepentingan "penyakit keduniaan" yang seharusnya dinetralisir oleh keberadaannya. Tapi lembaga anomali tersebut perlu justru untuk menjadi penawar bagi anomali lain yang ada pada diri manusia. Tapi persoalannya.

seperti yang terjadi di banyak bumi belahan Timur. Tapi juga belum berarti telah kembali pada pemiliknya yang sah. Penjelasannya sederhana. Bahwa di negara-negara Eropa dan Amerika yang pendapatan perkapitanya telah mencapai angka 8 ribu sampai 11 ribu dollar pertahun masih banyak warga negara yang tuna wisma (homeless) adalah bukti yang sangat cukup bahwa rakyat jelata di sana memang belum bisa disebut ikut memiliki negara. sudah berada di tangan rakyat. atau semi otoriter. keberadaan lembaga perwakilan rakyat umumnya hanya merupakan permainan politik kalangan elite penguasa. negara monarki absolut memandang kewenangan pengalokasian uang pajak (upeti/tax) sepenuhnya di tangan sang raja saja.diuntungkan oleh pranata pajak yang ditangani lembaga negara. di Barat negara memang sudah tak lagi sepenuhuya milik penguasa (kaum bangsawan. Lembaga Perwakilan Rakyat di negara-negara Timur yang paternalistik. Di Barat negara dengan seluruh soko gurunya (eksekutif. . adalah negara-negara monarki absolut zaman dulu. Hal tersebut dapat dilihat dengan jelas. Di negara-negara Barat yang liberal-kapitalistik. sama sekali tak berarti. Dimulai dari pembebasan di bidang ekonomi. legislatif maupun judikatif). yang justru merupakan pemilik utama sebutan "rakyat" kapan saja ia diucapkan. masih jauh dari dapat disebut memiliki negara. dengan peranan lembaga perwakilan rakyat dalam tata kenegaraan modern belum menjadi jaminan bahwa uang pajak akan ditasarufkan dengan prioritas utama bagi pembebasan rakyat lemah. pada hakekatnya adalah lembaga Perwakilan Penguasa. Tapi ya itu tadi. di negara-negara Timur yang paternalistik. tapi juga terhadap negara-negara lain yang mengaku berjalan secara demokratis. baik secara keturunan maupun SK jabatan seperti di Timur). Mereka yang ada di lapisan bawah. Lembaga Perwakilan Rakyat hanyalah sekedar "nama dan proforma". aristokrat. kemudian menyusul bidang-bidang kehidupan lain yang lebih sublim. atau oleh hampir semua negara di atas bumi ini? Pertanyaan tersebut mengena bukan saja terhadap lembaga negara yang dikelola secara otoriter. seperti Amerika dan negara-negara Barat. Apabila negara di zaman modern sudah mulai melibatkan rakyat melalui wakil-wakilnya dalam menentukan penggunaan uang pajaknya melalui undang-undang. Berapa anggaran belanja yang diperuntukkan bagi pembebasan rakyat (jelata). Apakah melalui sektor pertahanan dalam pengertian yang luas dengan dalih demi kepentingan nasional mereka. Kesadaran dan perilaku mereka tetaplah untuk mengelabui rakyat bagi kepentingan para penguasa yang mengatur keberadaan mereka. Bagian yang paling besar dari dana itu diperuntukkan untuk melindungi atau melayani kepentingan kelas menengah ke atas. Tapi hal itu tetap bukan (belum?) dalam rangka penegakkan kontrol atas lembaga negara bagi kepentingan rakyat. independensi lembaga perwakilan rakyat dengan penguasa (baca: eksekutif) memang cukup kuat. lebih-lebih rakyat pada lapisannya yang paling jelata. Memang lebih gila lagi. secara lahir batin. atau melalui sektor pembangunan sarana-sarana mana yang diperuntukkan utamanya bagi kalangan masyarakat kelas menengah ke atas. yaitu rakyat keseluruhan yang dimulai dari lapisannya yang paling jelata. tapi baru yang ada di lapisan menengah dan terutama lapisan atas. dalam alokasi penggunaan dana pajak dalam APBN mereka. politik dan budaya. Berbeda dengan di Timur. misalnya.

akan segera tampak pada kita bahwa apa yang diperbuat negara-negara Barat tetaplah demi kepentingan mereka sendiri. Sementara di Barat yang liberal-kapitalistik. jika dilihat sedikit lebih kritis. Tapi fakta bahwa dalam kerakusannya mereka bisa diikat komitmennya untuk menyisihkan sebagian dari kekayaannya (berupa pajak) adalah bukti bahwa persoalan pokok tak lagi sepenuhnya di tangan mereka. kaum lemah dan melarat. Padahal. sekurang-kurangnya dalam tingkat verbal. bahkan dalam tarif yang begitu tinggi. jelas merupakan persoalan yang tetap serius bagi ide pemerataan dan keadilan. Persoalan pokok itu kini jelas terutama ada di pihak apa yang kita sebut lembaga negara. Drama itu pementasannya di masyarakat bangsa negara-negara Timur yang umumnya miskin dan lemah. what?! Menuruti obsesi Marx bahwa lembaga negara mesti dienyahkan . bahwa beban yang ditimpakan kepada mereka yang punya. Dengan kata lain persoalan pokok dalam topik redistribusi kekayaan (asset) untuk pemerataan. Baik yang berupa hibah (grant) maupun yang berupa pinjaman (loan). Di dunia Timur yang feodalistik. dana pajak yang dikenakan atas orang-orang kaya dibelokkan pentasarufannya untuk kepentingan para penguasa untuk mempertahankan kekuasaannya. yakni beban pajak. sama sekali bukan demi kepentingan rakyat dan bangsa negara-negara Timur. Setiap kali bencana dan musibah terjadi di masyarakat dunia Timur. So. yakni kaum kapitalis dan tentu saja para elite politik sebagai pengawal kepentingan-kepentingannya. Karena dia (lembaga negara)-lah yang berbuat selingkuh. sistem kenegaraan/pemerintahan yang liberal-kapitalistik memang merupakan pilihan sejarah terbaik dan terakhir. banyak orang terhegemoni untuk meyakini bahwa Barat memang teladan dunia. negara-negara Barat segera menunjukkan kedermawanannya (charity). Akibat permainan drama kolosal ini. Dengan pranata pajaknya ide zakat (bahwa yang kuat harus menanggung beban) sudah banyak dilaksanakan oleh hampir semua negara di jaman ini. Sampai titik ini sebenarnya telah jelas bagi kita bahwa. selaku cukongnya. dan bisa mengelabui banyak orang. yakni kelompok orang-orang yang secara politik mengendalikan jalannya pemerintahan itu sendiri dan kalangan para kaya kapitalis. dana pajak yang semestinya diprioritaskan pentasarufannya untuk memperkuat yang lemah. lebih-lebih kenegaraan modern. ternyata digelapkan oleh negara sehingga tak sampai ke alamat (mustahiq) yang semestinya. diputarkan kembali untuk melipat gandakan kekuatan mereka yang sudah kuat.Memang ada drama yang menarik. agaknya tak lagi terutama terletak pada kalangan kaya. mereka siap menawarkan bantuannya. apabila negara-negara Timur yang miskin itu memerlukan perbaikan ekonomi. Memang di sana bukan tak ada masalah sama sekali. ide dasar dari zakat bukan sesuatu yang sama sekali asing dalam struktur pemikiran kenegaraan. dan kemudian keadilan sosial dalam tatarannya yang lebih luas. Nafsu kerakusan mereka untuk mengakumulasikan kekayaan lebih banyak dan lebih banyak lagi. seperti disebutkan di atas adalah kepentingan kelompok yang mengontrol roda kenegaraan atau pemerintahan. Hanya masalahnya. Lebih dari itu. seolah negara-negara liberal kapitalis Barat itu telah menempatkan dirinya di bawah kepentingan rakyat sejati. Dan kepentingan mereka (negara-negara Barat).

tak lebih hanyalah mitos belaka.an( rasif) ." Demikianlah Muhammad Rasulullah sebagai teladan umat manusia tak perlu menyatakan penolakan terhadap keberadaan lembaga negara." Tapi tanpa keberanian moral dan intelektual untuk melakukan perubahan itu. dengan sadar telah membangun lembaga itu. Metro Pondok Indah Pondok Indah Plaza I Kav. -------------------------------------------Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah Editor: Budhy Munawar-Rachman Penerbit Yayasan Paramadina Jln. Negara. dengan meyakinkan masyarakat akan pentingnya kontrol sosial (amar ma'ruf nahi munkar) secara terus menerus. (021) 7501969. Seperti halnya badan (kecil). Pekerjaan ini berat dan memakan waktu. apalagi keadilan. apalagi dalam pengertian yang lebih luas sebagai lembaga permufakatan kolektif. (021) 7507174 Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota Please direct any suggestion to Media Team Konsep dasar dalam al qur. negara sebagai badan besar pun mengidap nafsu-nafsu (interests) negatif duniawi yang selalu cenderung memperalat dirinya. dengan membebaskan kemaslahatan (keadilan dan kesejahteraan) bagi semuanya. harus ditransformasikan terlebih dahulu. kalau pun ada-. UA 20-21 Jakarta Selatan Telp. Tapi dengan pengawasan atau kontrol yang terus menerus jangan sampai jatuh dan diperalat oleh nafsu-nafsu jahat yang mengitarinya. maka pengkaitan ajaran Zakat dengan cita pemerataan. melainkan bagi kepentingan seluruh rakyat yang ada dalam otoritasnya. kedudukan negara atau kekuasaan pemerintahan adalah amil yang harus melayani kepentingan segenap rakyat. lembaga kenegaraan itu beliau bangun dengan kewaspadaan penuh. Bahkan beliau sendiri dengan komunitasnya. Sebagian orang mungkin merasa lebih aman dalam dekapan dogma lama ketimbang harus berspekulasi dengan pamahaman ajaran yang "baru. Tapi inilah kuncinya. Tapi dengan bercokolnya nafsu-nafsu itu pada badan. Memang untuk menegakkan keadilan sosial dalam semangat dan kerangka zakat. terhadap lembaga itu rasa-rasanya tak realistik. tak seorang pun --kecuali langka. Konsepsi tentang ajaran zakat (dan pada akhirnya tentang bangunan fiqh secara keseluruhan) yang sudah terlanjur mendogma di kalangan umat selama lebih dari sepuluh abad. Dari sudut konsepsi zakat. betapa pun konyolnya tidaklah mungkin dihindari. agar keberadaan lembaga negara itu tetap sebagai alat. ada pekerjaan rumah (PR) yang harus diselesaikan lebih dahulu. bukan bagi kepentingan penguasa atau kalangan kaya.yang pernah menyarankan jalan keluar agar badan itu dimusnahkan saja daripada diperalat oleh nafsu-nafsu negatif yang melekat padanya Yang paling sehat dan fitri (Islami) tentulah pendirian yang mengatakan. 7501983. "Biarlah badan itu tetap ada dan tumbuh dengan kewajarannya. Mengingkari lembaga negara untuk semangat (ruh) kolektivitas manusia hukumnya sama belaka dengan mengingkari badan bagi ruh individualitas manusia. 7507173 Fax.atau pengingkaran Isa as.

Pertanyaan yang perlu kita munculkan. sifat-sifat yang mustahil maupun sifat-sifat yang harus. Pijakan tulisan ini tentang teologi al-Qur'an. apalagi jika istilah tersebut bisa memperkaya khazanah dan membantu mensistematisasikan pemahaman kita tentang Islam. Biasanya. Ia istilah yang diambil dari agama lain. yaitu dari khazanah dan tradisi Gereja Kristiani. menulis buku al-fiqh-u 'l-akbar yang isinya bukan tentang ilmu fiqih. tapi justru tentang aqidah yang menjadi obyek bahasan ilmu kalam atau tauhid." Dalam pengertian ini agaknya perkataan teologi lebih tepat dipadankan dengan istilah fiqih.5. Sebab pemungutan suatu istilah dari khazanah dan tradisi agama lain tidaklah harus dipandang sebagai sesuatu yang negatif. namun seringkali diperluas mencakup keseluruhan bidang agama. ilmu fiqih seperti yang berkembang sekarang ini dalam kerangka pemikiran Imam Abu Hanifah adalah al-fiqh-u 'l-ashghar. Akan tetapi perjalanan sejarah dan tradisi keilmuan Islam telah menyingkirkan pengertian fiqih sebagaimana dipergunakan Imam Abu Hanifah. Imam Abu Hanifah." Hal ini bisa kita baca dalam buku-buku ilmu tauhid. Sebab. mustahil dan harus. baik yang dikategorikan sebagai sifat-sifat yang wajib. sebab ia membantu kita memahami Islam secara lebih utuh dan lebih terpadu. Maka kita pun mengetahui sifat-sifat Tuhan dan Nabi-nabi. Kita tentu sepakat bahwa ide sentral dalam teologi al-Qur'an adalah ide tauhid. dalam mempelajari ilmu tersebut. Istilah fiqih di sini bukan dimaksudkan ilmu fiqih sebagaimana kita pahami selama ini.Artikel Yayasan Paramadina Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota II. Bapak ilmu fiqih.mengenal atau pernah diberi pelajaran ilmu tauhid. dari yang sangat tradisional hingga yang termasuk modern seperti buku Risalah Tawhid karya Muhammad Abduh. Yang pertama. Melalui kategori-kategori yang dirumuskan sebagai hukum akal itu. keduanya baik ilmu kalam atau ilmu tauhid maupun ilmu fiqih pada dasarnya adalah fiqih atau pemahaman yang tersistematisasikan. Masalah-masalah lain seperti kepercayaan tentang . dan bukan hanya dengan ilmu kalam atau ilmu tauhid. pertama-tama kita diperkenalkan dengan apa yang disebut sebagai "hukum akal. sedangkan yang kedua meyangkut bidang furu'iyah (detail atau cabang). Hal ini tidaklah dimaksudkan untuk menolak pemakaian kata teologi itu. menyangkut bidang ushuliyah (tentang yang prinsip atau yang pokok). bagaimana sebaiknya kita memahami dan kemudian menghayati ide tauhid itu dalam kehidupan kita sebagai muslim? Dalam pengalaman kita --sekurang-kurangnya sebagian dari kita-. hanya ingin dikatakan bahwa pemakaian istilah teologi mempunyai alasan cukup kuat. melainkan istilah fiqih seperti yang pernah digunakan sebelum ilmu fiqih lahir. Kata teologi sebagaimana dijelaskan dalam Encyclopaedia of Religion and Religions berarti "ilmu yang membicarakan tentang Tuhan dan hubungan-Nya dengan alam semesta. misalnya. Boleh jadi. Dengan menyinggung masalah ini. yakni: wajib. kita diajak memahami tentang konsep ketuhanan dan kenabian. KONSEP-KONSEP TEOLOGIS oleh Djohan Effendi Perkataan teologi tidak berasal dari khazanah dan tradisi agama Islam.

19:82-92. Juga disinggung adanya penyembahan makhluk halus seperti jin (QS. 17:40 dan 37:49). 6:101) atau tokoh-tokoh yang dipertuhan atau dianggap mempunyai unsur-unsur ketuhanan (QS. ta'alluq shuluhi qadim. ta'alluq ta'tsir. Akan tetapi masalah . bulan dan bintang (QS. Selain berhala al-Qur'an juga mengemukakan hal-hal lain yang bisa dijadikan obyek sesembahan selain Tuhan. ta'alluq tanjizi hadits. ta'allaq tanjizi qadim. BENTUK-BENTUK KEMUSYRIKAN Dalam memahami ide tauhid. Kalau kita mendengar perkataan syirik atau kemusyrikan yang segera terbayang dalam angan-angan kita biasanya penyembahan berhala. Pembahasan tentang dan di sekitar hal-hal inilah yang selama ini disebut sebagai ilmu tauhid. Salbiyah. 21:52). menganggap Tuhan mempunyai andad atau saingan. kitab-kitab wahyu. Dengan mengemukakan hal itu ingin diturunkkan betapa jauhnya teologi yang dibahas dalam buku-buku ilmu tauhid dengan dunia praktis. Juga dikemukakan pembahasan tentang kaitan atau ta'alluq sifat-sifat Tuhan dengan alam ini. ta'alluq hukmiyah. bukanlah persoalan yang masih memerlukan perhatian lebih banyak." Dalam membahas sifat dua puluh itu. muncul berbagai konsep seperti sifat nafsiyah. Kedua ciri utama itu wujud dalam berbagai bentuk manifestasi. terutama ketika membicarakan sifat-sifat Tuhan. yakni. ta'alluq bi 'l-quwwah. Masalahnya sangat jelas dan karena itu menghindarinya pun sangat mudah. ma'ani dan sifat ma'nawiyah. 5:116. yang membuat kita bergairah dalam aksi untuk membebaskan diri kita dan masyarakat sekitar kita dari segala bentuk kemusyrikan. 41:37) atau benda-benda mati lainnya (QS. ada baiknya bila kita memahami apa-apa yang oleh al-Qur'an dianggap sebagai syirik atau kemusyrikan. atau penyembahan makhluk halus atau manusia yang dipertuhan. 6:102. 7:138. kiranya dari segi keberagamaan kita sebagai muslim. Al-Qur'an mengemukakan dua ciri utama dari kemusyrikan. misalnya penyembahan benda-benda langit seperti matahari. 4:117). 6:74." Dan memang al-Qur'an sendiri menyinggung bahkan mengecam orang-orang yang menjadikan berhala sebagai ilah atau sesembahan (QS. Teologi semacam itu tidaklah membuahkan elan vital (gairah hidup). Ia tidak mempunyai relevansi dengan realitas kehidupan kita. benda-benda langit atau benda-benda mati lainnya. hari akhirat maupun qadla dan qadar. moral maupun spiritual. Teologi semacam itu adalah teologi yang steril dan mandul. dengan problematika kemanusiaan. yang selama ini dikenal sebagai "sifat dua puluh. pertama. seperti dilakukan para penganut agama-agama "pagan. dan muncullah konsep-konsep tentang ta'alluq ma'iyah. Berkenaan dengan penyembahan berhala. Lebih-lebih kalau kita memasuki pembahasan yang lebih rumit. menganggap Tuhan mempunyai syarik atau sekutu. Ia tidak melahirkan innerforce (kekuatan batin).malaikat. Kebanyakan dari kita tentu tidak akrab dengan istilah-istilah atau konsep -konsep tersebut. 16:57. dan kedua. 4:171. adalah kelanjutan atau pelengkap dari kepercayaan terhadap Tuhan dan Kenabian tersebut. Jelas sekali pembahasan tentang teologi sebagaimana terdapat dalam ilmu tauhid sangat intelektualistik sifatnya.

30:31-32). Di sini hanya diambil 12 surah paling awal saja. tahap Mekkah pertengahan (616-617) dan tahap Mekkah akhir (618-622 M. Pada masa periode Mekkah awal terdapat 48 surah yang diwahyukan kepada Nabi Muhammad saw. Seperti kita ketahui masa turunnya al-Qur'an dibagi dalam dua priode: periode Mekkah (610-622 M. Ia sangat terkait dengan hal-hal yang sangat praktis. (8) Surah al-Takatsur. Yang ada malah kecaman terhadap keserakahan dan ketidakpedulian sosial.). (3) Surah al-Lahab. baik pandangan maupun sikapnya. 9:31) atau sikap fanatisme golongan. usaha atau bussiness kita. Khususnya berkaitan dengan kekayaan. (11) Surah al-Balad.25:43). bukan dalam bentuk penyembahan melainkan dalam bentuk kecintaan (QS. yang lebih halus sifatnya. Beberapa mufassir menceriterakan bahwa Surah al-Dhuha turun sesudah Nabi mengalami masa jeda di mana wahyu . terutama berkaitan dengan ciri kemusyrikan yang menempatkan adanya andad atau saingan terhadap Tuhan.) dan periode Madinah (622-632 M. 9:24). Hal ini menarik dan perlu untuk dikaji lebih jauh.kemusyrikan tidak berhenti sampai di situ saja. KESERAKAHAN DAN KETIDAKPEDULIAN SOSIAL Berangkat dari berbagai bentuk manifestasi kemusyrikan yang disebutkan al-Qur'an di atas. (10) Surah al-Layli. Kebertauhidan tidak hanya menyangkut kepercayaan kita terhadap Tuhan Yang Maha Esa tetapi juga menyangkut pandangan dan sikap kita terhadap manusia. Suatu hal yang sangat menggoda untuk direnungkan adalah. justru pada surat-surat atau ayat-ayat yang diwahyukan di masa-masa permulaan kenabian Muhammad saw tidak terdapat kecaman terhadap penyembahan berhala. kekayaan. Al-Qur'an masih mengemukakan hal-hal lain yang berkaitan dengan masalah kemusyrikan. Dalam kategori ini bisa dimasukkan juga sikap ketaatan yang sama sekali tanpa reserve terhadap ulama (QS. dan (12) Surah al-Insyirah. Periode Mekkah sendiri juga dibagi dalam tiga tahap. sebab surah yang ke-13 adalah Surah al-Dhuha. mendapat sorotan yang sangat tajam dalam al-Qur'an. (2) Surah al-Mudatstsir. kita bisa sampai pada kesimpulan bahwa teologi al-Qur'an tidak sekedar terbatas pada aspek kepercayaan saja. tahap Mekkah awal (610-615 M. Sengaja hanya diambil 12 surah di atas. sebagaimana dikemakakan al-Qur'an. dan rumah-rumah mewah kita (QS. benda dan lembaga. aliran atau juga organisasi yang berlebih-lebihan (QS. (7) Surah al-Ma'un. (4) Surah al-Quraysy. 23:52-53. Selain itu masih ada satu hal lagi yang oleh al-Qur'an disebutkan sebagai "sesuatu yang bisa menjadi ilah atau sesembahan kita. Berbagai bentuk manifestasi kemusyrikan tersebut. Hubungan manusia dengan benda.). karena itu usaha kita menjadi orang yang benar-benar bertauhid bukanlah masalah yang mudah. (9) Surah al-Fil. Hal-hal lain yang oleh al-Qur'an dijadikan contoh sebagai saingan Tuhan dalam kaitannya dengan kecintaan kita adalah keluarga dan kerabat dekat kita. (5) Surah al-Kawtsar. 2:165). yakni: (1) Surah al-'Alaq. menunjukkan bahwa masalah kemusyrikan bukanlah sesuatu yang sederhana." yaitu hawa nafsu kita sendiri (QS. Untuk memperjelas hal ini ada baiknya bila lebih dahulu dikemukakan tentang periodisasi turunnya al-Qur'an. (6) Surah al-Humazah.).

dengan keras mengingatkan akan nasib celaka bagi mereka yang dengan serakah menumpuk-numpuk kekayaan dan menganggap kekayaannya itu bisa mengabadikannya. Tidak berguna baginya kekayaannya. Dan tidak menganjurkan memberi makan orang-orang miskin. Surah al-Takatsur. Yang terakhir Surah al-Balad yang diwahyukan dalam urutan ke-11. Tahukah engkau orang yang membohongkan agama Itulah dia yang mengusir anak yatim. Dan Kami tunjuki ia dua jalan. Surah al-Ma'un. Dan mendustakan nilai kebaikan Kami akan mudahkan baginya jalan kesengsaraan. Kalian menjadi lalai karena perlombaan mencari kekayaan. Ia menyangka harta kekayaannya bisa mengekalkannya. Pada anak yatim yang punya tali kekerabatan. Yang menumpuk-numpuk harta kekayaan dan menghitung-hitungnya.terhenti beberapa lama. . Celaka amat si pengumpat si pemfitnah. orang-orang yang tidak mempedulikan penderitaan anak-anak yatim dan orang-orang miskin dikualifikasikan sebagai orang-orang yang membohongkan agama. Atau memberi makanan di masa kelaparan. Karena itu ke-12 surah di atas turun atau diwahyukan kepada Nabi pada masa-masa sangat awal dari kenabian. disinggung bahwa harta kekayaan dan usaha seseorang sama sekali tidak akan menyelamatkannya dari hukuman di Hari Akhirat. kemegahan dan Dalam Surah al-Layli yang diwahyukan dalam urutan ke-10 diberikan kabar baik terhadap mereka yang suka memberi dan sebaliknya kabar buruk bagi mereka yang kikir dan bakhil. Tapi tak mau ia menempuh jalan mendaki. dan apa yang dikerjakannya! Akan dibakar ia dalam api menyala Surah al-Humazah. atau dari sejarah Islam. menyinggung keengganan manusia memberikan bantuan kepada sesamanya yang hidup dalam penderitaan dan kesengsaraan. Dan membenarkan nilai kebaikan Kami akan memudahkan baginya jalan kebahagiaan. Hingga kalian masuk ke pekuburan. Surah berikutnya yang turun dalam urutan ke-8. Dan tiada berguna baginya kekayaannya ketika ia binasa. Ke-12 surah tersebut sama sekali tidak menyinggung masalah penyembahan berhala. Memerdekakan budak sahaya. Maka siapa yang suka memberi dan bertaqwa. yang turun dalam urutan ke-6. Dalam surah yang turun berikutnya. Dalam Surah al-Lahab. memberikan peringatan keras terhadap orang-orang yang asyik berlomba-lomba dalam kemewahan dan kekayaan. Dan siapa yang kikir dan menyombongkan kekayaan. Atau orang papa yang terlunta-lunta. yang turun dalam urutan ke-3. Tahukah engkau jalan mendaki itu. Enam surah di antaranya justru menyinggung masalah keserakahan terhadap kekayaan dan ketidakpedulian terhadap orang-orang yang menderita.

Itulah prioritas utama yang digumuli Nabi dalam usaha mewujudkan reformasi sosial. Karena itu reformasi sosial mestilah ditandai. (021) 7501969. Pertanyaan yang mungkin timbul. (021) 7507174 Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota Please direct any suggestion to Media Team Artikel Yayasan Paramadina Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota II. memberikan suatu isyarat kepada kita agar kita menjadikan diri kita sebagai perwujudan dari nilai-nilai rahmah itu bagi sesama makhluk Tuhan. UA 20-21 Jakarta Selatan Telp. Dengan perkataan lain apapun profesi kita. 7501983. Ia langsung menyangkut kebertauhidan kita. yang diwahyukan justru di masa yang sangat awal dari kenabian. misi utama Nabi Muhammad saw adalah membantu manusia mewujudkan tata kehidupan yang disemangati nilai-nilai rahmah. keserakahan dan ketidakpedulian sosial mendapat sorotan tajam pada masa yang sangat awal dari kenabian Muhammad. 7507173 Fax. Anjuran Nabi agar kita selalu memulai kegiatan dan kerja kita dengan ucapan "Bismillahirrahmanirrahim" (bism-i 'l-Lah-i 'l-rahman-i 'l-rahim). Ia memperlihatkan betapa. motivasi dan orientasi kita tidak boleh bergeser dari ide untuk menciptakan --atau setidak-tidaknya menjadi bagian dari proses menciptakan-suatu tata kehidupan yang dilandasi nilai-nilai rahmah itu. Metro Pondok Indah Pondok Indah Plaza I Kav. keserakahan dan ketidakpedulian sosial dengan cita-cita tentang reformasi sosial yang dilandasi semangat mewujudkan kehidupan yang penuh rahmah itu? Kaitannya sangat jelas. Dengan perkataan lain. bagaimana kaitan antara sorotan tajam terhadap kekayaan. Hal ini bisa kita kaitkan dengan penegasan al-Qur'an yang mengatakan bahwa Muhammmad diutus tidak lain kecuali dalam rangka membawa rahmat bagi seluruh alam (QS. dalam al-Qur'an masalah kekayaan.6. REFORMASI SOSIAL Kalau kita renungkan mengapa masalah kekayaan. Ia tidak sekedar masalah etik dan moral. pertama-tama oleh distribusi kekayaan yang adil. -------------------------------------------Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah Editor: Budhy Munawar-Rachman Penerbit Yayasan Paramadina Jln.Pesan-pesan al-Qur'an di atas. KONSEP-KONSEP KOSMOLOGIS (1/2) . 21:107). keserakahan dan ketidakpedulian sosial mempunyai perspektif teologis. bahwa keserakahan dan ketidakpedulian sosial adalah yang menimbulkan suatu kehidupan yang tidak disemangati nilai-nilai rahmah. sangat jelas dan sama sekali tidak memerlukan penafsiran. mungkin kita bisa menarik kesimpulan bahwa Risalah Nabi kita terutama untuk mengadakan reformasi sosial.

Dan itu tidaklah benar. al-Anbiya': 30. ciptaan Tuhan di seluruh jagad raya ini secara jelas disebutkan sebagai "ayat-ayat Allah". tidak ada lagi sesuatu yang lebih besar daripadanya. sebagai bandingan. kapan pun juga. Bola ini dikatakan mewadahi seluruh ruang alam dan segala sesuatu yang berada di dalamnya. tergantung pada pengetahuan mufassir tentang alam semesta itu sendiri. Karenanya. al-Dzariyat: 47). Namun. Bintang-bintang tampak tidak berubah posisinya yang satu terhadap yang lain. yang berputar mengelilingi sumbunya. Ia merasa yakin bahwa persepsinya mengenai langit itulah yang sesuai dengan apa yang dapat diamati setiap hari. Sesungguhnya dalam ciptaan langit dan bumi. dan seluruh langit itu berputar-putar dalam satu hari (siang dan malam). Dan pada dindingnya tampak menempel bintang-bintang yang gemerlapan di malam hari. Sebuah langit yang berbentuk bola dengan jari-jari tertentu bukanlah langit yang bertambah luas. yang dikemukakan orang itu sangatlah sederhana. Dan mungkin sekali ia akan mengatakan bahwa ayat 30 surah al-Anbiya' itu melukiskan peristiwa ketika Tuhan menyebutkan langit menjadi bola. dalam al-Qur'an sendiri. karena konsepsinya tidak mampu mengakomodasikan gejala yang dinyatakan ayat 4 surah al-Dzariyat. Mengingat hal-hal tersebut di atas. Dan sama' itu kami bangun dengan kekuatan dan sesungguhnya kamilah yang meluaskannya (QS. kita dapat menelaah ayat-ayat berikut.oleh Achmad Baiquni Telah banyak kitab yang ditulis ulama masyhur untuk menafsirkan ayat-ayat suci al-Qur'an --yang merupakan garis-garis besar ajaran Islam itu-. Apa yang kiranya dapat kita harapkan dari orang ini andaikata ia diminta memberikan penafsiran (bukan sekadar salinan kata-kata) ayat-ayat tersebut? Tentu saja ia akan memberikan interpretasi yang sesuai dengan persepsinya tentang langit. dan dengan Sunnah Rasul sebagai penjelasan. sesuatu konsepsi mengenai alam semesta yang benar harus dapat . Pada hemat saya. Untuk memberikan contoh yang nyata. [1] dan ardh [2] itu dahulu sesuatu yang padu. pengertiannya ialah bahwa langit itu adalah sebuah bola super raksasa yang panjang radiusnya tertentu. Dapat kita lihat dalam kasus ini bahwa konsep kosmologis dalam al-Qur'an. kemudian kami pisahkan keduanya (QS. misalnya dalam surah 'Ali Imran 190 disebut. terdapat ayat-ayat Allah bagi orang-orang yang berakal (dapat menalar). maka tidaklah mengherankan apabila ketetapan dalam penafsiran ayat-ayat al-Qur'an yang berisi konsep-konsep Kauniyah sangat bervariasi. Dan tidakkah orang-orang kafir itu mengetahui bahwa agama sama. maka sebagai padanan untuk mendapatkan arti ayat-ayat al-Qur'an yang menyangkut al-Kaun dapat digunakan juga ayat-ayat Allah yang berada di dalam alam semesta ini. setelah ia sekian lama terhampar di permukaan bumi seperti layaknya sebuah tenda yang belum dipasang. Seseorang yang hidup dalam abad 9 M akan mengatakan bahwa kata sama' artinya langit.dengan menggunakan ayat-ayat lain di dalam kitab suci tersebut. serta ardh yaitu bumi yang datar yang dikurung oleh bola langit. mengenai penciptaan alam semesta. Apalagi kalau ia melingkupi seluruh ruang kosmos beserta isinya. serta silih bergantinya malam dan siang.

yang bersama-sama astronomi membentuk konsep-konsep kosmologi. Dan sama'. dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah. dan pikirkan tentang penciptaan sama' dan ardh.dipergunakan untuk menerangkan semua peristiwa yang dilukiskan ayat-ayat dalam kitab suci. kiranya perlu kita pertanyakan apakah benar konsep kosmologi yang berkembang dalam sains itu sejalan dengan apa yang terdapat dalam al-Qur'an. Dengan diikutinya perintah dan petunjuk ini. wahai Tuhan kami. (QS. bagaimana ia diciptakan. sedangkan dalam fase-fase lain menghasilkan kesimpulan yang sehaluan dengannya. tapi mempunyai ciri empiris sehingga tersusunlah dasar-dasar sains. [3] Dia mengajar manusia apa yang tidak diketahuinya. Penerapan metode ilmiah ini. maka peliharalah kami dari siksa azab neraka. sejalan dengan kecanggihan instrumentasi yang dipergunakan dalam observasi dan matematika sebagai sarana komputasi. Ali Imran: 190 dan 191). maka muncullah di lingkungan umat Islam suatu kegiatan observasional yang disertai dengan pengukuran. Karena telah menjadi kebiasaan para pakar menulis hasil penelitian orang lain. 4 dan 5 surah al-'Alaq. Mari kita kaji sambil menelusuri perkembangan ilmu kealaman sejak akhir abad 19 hingga akhir abad 20. Jelaslah di sini bahwa sains adalah hasil konsensus di antara para pakar. atau dalam keadaan berbaring. (QS. Bacalah. ketika ia berjalan sangat cepat. menyebabkan timbulnya cabang baru dalam sains yang dinamakan astrofisika. bagaimana ia ditinggikan. Katakanlah (wahai Muhammad). Maka apakah mereka itu tak memperhatikan onta-dalam intighon. jauh melampaui kelajuannya dalam abad-abad sebelumnya. telah mengubah astrologi menjadi astronomi. seperti yang berkembang di lingkungan Yunani. tiadalah Engkau ciptakan ini dengan sia-sia. Maha suci Engkau. sehingga ilmu tidak lagi bersifat kontemplatif belaka. Dalam teguran ayat 1 dan 18 dalam surah al-Ghasyiyah. Sebab obor pengembangan ilmu telah mulai berpindah tangan dari umat Islam kepada para cendekiawan bukan Islam sejak pertengahan abad ke 13 sampai selesai dalam abad 17. serta silih bergantinya siang dan malam. Kita akan menemukan bahwa pada tahap-tahap tertentu ia tampak tidak sesuai dengan ajaran agama kita. ia harus sesuai dengan konsep-konsep kosmologis dalam al-Qur'an. yang terdiri atas pengukuran teliti pada observasi dan penggunaan pertimbangan yang rasional. yang menyangkut proses-proses alamiah di langit itu. . mental dan spiritual yang bukan Islam. terdapat ayat-ayat bagi orang-orang yang berakal (dapat menalar). sehingga sejak itu sains tumbuh dalam kerangka acuan budaya. Kita ingat ayat 3. Serta dalam ayat 190 dan 191 surah Ali Imran. Penalaran tentang "bagaimana" dan "mengapa". Meskipun ilmu pengetahuan keislaman ini tumbuh sebagai akibat dari pelaksanaan salah satu perintah agama. Yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk. Untuk mendapatkan konsepsi yang benar itu pada hakekatnya telah diberikan petunjuk sang pencipta misalnya dalam ayat 101 surah Yunus. dan yang memiliki nilai-nilai tak Islami. maka tersusunlah himpunan rasionalitas kolektif insani yang kita kenal sebagai sains. yang mengajar dengan qalam. Yunus: 101). Sesungguhnya dalam penciptaan sama' dan ardh. al-Ghasyiyah: 1 dan 18). Perhatikanlah dalam intighon apa yang ada di sama' dan di ardh (QS.

dan Dia mewahyukan kepada tiap sama' peraturannya masing-masing. (QS. ada sejak dulu dan akan ada seterusnya. yang telah mengetahui melalui kegiatan sainsnya. bahwa bintang-bintang di langit jaraknya dari bumi tidak sama. Kita dapat juga mengemukakan beberapa ayat lainnya sebagai berikut. (Karena itu. al-Thalaq: 12) Allah-lah yang menciptakan sama' dan ardh dan apa yang ada di antara keduanya dalam enam hari. dan ada bintang-bintang kembar dan gerombolan-gerombolan bintang dalam galaksi kita yang disebut Bimasakti. langit itu sebuah bola super raksasa. sebab alam semesta yang tak terbatas dan tak berhingga besarnya. ada pun Arsy-Nya telah tegak pada ma' [6] untuk menguji siapakah di antara kalian yang lebih baik amalnya (QS. Hud: 7) Sesungguhnya Allah menahan sama' dan ardh agar jangan lenyap. dan bahkan mampu mengukur jarak itu dan mengatakan berapa massanya. Dalam pada itu Dia mengarah pada penciptaan sama'. lalu Dia berkata kepadanya dan kepada ardh. langit adalah ruang jagad-raya. Karena konsep kosmologi yang berlaku waktu itu berasal dari Newton. dan pada waktu itu pula bersemayam di arsy-Nya [5] (QS. sehingga sains kembali dapat berkembang dalam kerangka sistem nilai yang Islami).Seseorang yang hidup pada akhir abad 19. Dari uraian di atas bahwa konsep kosmologi sains pada abad ke 19 gagal total dan sama sekali tak mampu menerangkan apa yang terkandung dalam dua ayat tersebut di atas. demikianlah ketentuan Yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui. sebagian diikuti satelitnya. tak lagi akan mengatakan. Datanglah kalian mematuhi-Ku dengan suka atau terpaksa. al-Sajadah:4) Dan Dialah yang telah menciptakan sama' dan ardh dalam enam hari. Ia akan mengatakan. dan kami hiasi langit dunia dengan pelita-pelita. Sudah tentu konsep kosmologi sains abad yang lalu ini tidak sesuai dengan konsep al-Qur'an. maka saya selalu menganjurkan agar umat Islam yang ingin mengejar ketinggalan mereka dalam sains dan teknologi akhir-akhir ini bersiap-siap mengadakan langkah-langkah pengamanan dengan meng-Islamkan sains. dan Kami memeliharanya. dianggap tak berawal dan tidak berakhir. ia akan mengatakan juga bahwa bola super besar yang mewadahi seluruh ruang kosmos itu tidak ada sebab baginya ruang jagad-raya ini tak berhingga besarnya dan tidak mempunyai batas. Dan kita akan melihat sepanjang pertumbuhan sains selanjutnya bahwa ide-ide semacam ini. dan sungguh jika keduanya akan lenyap dan tak ada siapa pun . dan ia penuh dukhon [4]. Padahal mereka baru merupakan sebagian saja dari ayat-ayat al-Qur'an yang berisi konsep-konsep kosmologi. selalu timbul-tenggelam. Fushshilat: 12) Allah-lah yang telah menciptakan tujuh sama' dan ardh seperti itu pula (QS. karena tak dapat mengakomodasi peristiwa yang: dilukiskan ayat 30 surah al-Anbiya' dan ayat 47 surah al-Dzariyat. yang di dalamnya terdapat bintang-bintang. yang mengandung konsepsi tentang alam yang langgeng. keduanya menjawab: kami datang dengan taat (QS. Lebih dari itu bahkan bertentangan dengan ajaran agama kita. Fushshilat: 11) Maka Dia menjadikannya tujuh sama' dalam dua hari.

Lebih kecil dari bintang pulsar yang jari-jarinya hanya sebesar 2 sampai 3 kilometer dan massanya kira-kira 2 sampai 3 kali massa sang surya. sebab gaya gravitasi gumpalan itu akan begitu besar sehingga ia akan teremas menjadi sangat kecil. peristiwa inilah yang kemudian terkenal sebagai "dentuman besar" (big bang). Hal ini mengingatkan orang pada pacuan kuda. Karena kelajuan dan jarak masing-masing galaksi dari bumi diketahui. sekitar 15 milyar tahun yang lalu. Sebab konsepsinya tentang alam semesta memang salah hingga tidak cocok dengan apa yang ada dalam al-Qur'an.yang dapat menahan keduanya itu selain Allah. Materi yang sekian banyaknya itu terkumpul sebagai suatu gumpalan yang terdiri dari neotron. Fathir: 41) Pada hari Kami gulung sama' seperti menggulung lembaran tulis. begitulah Kami akan mengembalikannya. al-Anbiya': 104) Sekarang mari kira cari pengertian yang terdapat dalam ayat itu. yang lebih jauh kecepatannya lebih besar. dan bahkan lebih kecil dari lobang hitam (black hole) yang massanya jauh melebihi pulsar dan jari-jarinya menyusut mendekati ukuran titik. jika ia ditanya tentang konsep kosmologi sains yang mutakhir yang dihasilkan penelitian para pakar? Secara garis besar. berapa besar kepadatan materi dalam titik yang volumenya nol itu jika seluruh massa 100 milyar kali 100 milyar bintang sebesar matahari dipaksakan masuk di dalamnya! Inilah yang biasa disebut sebagai singularitas. Pada tahun 1952 Gamow berkesimpulan bahwa galaksi-galaksi di seluruh jagad-raya yang cacahnya kira-kira 100 milyar dan masing-masing rata-rata berisi 100 milyar bintang itu pada mulanya berada di satu tempat bersama-sama dengan bumi. Kita telah melihat dari contoh-contoh yang diberikan. itulah janji yang akan kami tepati. sesungguhnya Kamilah yang akan melaksanakannya (QS. jawabnya kira-kira sebagai berikut: Konsepsi mengenai alam semesta ini sebenarnya mulai mengalami perubahan sejak tahun 1929 ketika Hubble melihat dan yakin bahwa galaksi-galaksi di sekitar Bimasakti menjauhi kita dengan kelajuan yang sebanding dengan jarak dari bumi. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penyantun dan Maha Pengampun (QS. Jadi konsep dentuman besar terpaksa dikoreksi yaitu bahwa keberadaan alam semesta ini diawali oleh ledakan maha dahsyat ketika tercipta ruang-waktu dan energi yang keluar dari singularitas dengan suhu yang tak terkirakan tingginya. Gumpalan ini berada dalam ruang alam dan tanpa diketahui sebab musababnya meledak dengan sangat dahsyat sehingga terhamburlah materi itu ke seluruh ruang jagad-raya. meski ia seorang pakar yang ulung sekali pun. Apa yang akan dikatakan oleh seorang kosmolog atau seorang fisikawan abad 20. . sehingga dalam sains terdapat istilah alam yang mengembang (expanding universe). sebagaimana Kami telah mulai awal penciptaan. kuda yang paling laju akan berlari paling depan. tidak sulit untuk menghitung kapan mereka itu mulai berlari. Sudah barang tentu gumpalan sebesar itu tak pernah bergelimpangan di ruang kosmos. Gambarkan saja dalam angan-angan. sebab elektron-elektron yang berasal dari masing-masing atom telah menyatu dengan protonnya dan membentuk neotron sehingga tak ada gaya tolak listrik antara masing-masing elektron dan antara masing-masing proton. bahwa dengan bekal pengetahuan abad 19 saja seseorang tak mungkin memahaminya.

Ekspansi yang luar biasa cepataya ini menimbulkan kesan-kesan alam kita digelembungkan dengan tiupan dahsyat sehingga ia dikenal sebagai gejala inflasi. Tatkala alam mendingin. Baru setelah umur alam mencapai 700. Pada saat pengembunan tersentak. (021) 7501969.000 tahun elektron-elektron masuk dalam orbit mereka sekitar inti dan membentuk atom sambil melepaskan radiasi. pada saat itu . (021) 7507174 Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota Please direct any suggestion to Media Team Artikel Yayasan Paramadina Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota II. 7507173 Fax. Selama proses inflasi ini.000 trilyun-trilyun derajat. berapa? duakah? tigakah? atau berapa? para ilmuwan tidak tahu. UA 20-21 Jakarta Selatan Telp. KONSEP-KONSEP KOSMOLOGIS (2/2) oleh Achmad Baiquni Para pakar berpendapat bahwa alam semesta tercipta dari ketiadaan sebagai goncangan vakum yang membuatnya mengandung energi yang sangat tinggi dalam singularitas yang tekanannya menjadi negatif. maka di lokasi-lokasi tertentu terdapat konsentrasi materi yang merupakan benih galaksi-galaksi yang tersebar di seluruh kosmos. dalam periode ini atom-atom ringan terbentuk sebagai hasil reaksi fusi-nuklir. isinya terdiri atas radiasi dan partikel-partikel sub-nuklir. Karena materialisasi dari energi yang tersedia. tidak terjadi secara serentak. dan selurnh kosmos terdorong membesar dengan kecepatan luar biasa selama waktu 10-32 sekon. keluarlah energi yang memanaskan kosmos kembali menjadi 1.000 trilyun-trilyun derajat.(bersambung 2/2) Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah Editor: Budhy Munawar-Rachman Penerbit Yayasan Paramadina Jln. Vakum yang mempunyai kandungan energi yang luarbiasa besarnya serta tekanan gravitasi yang negatif ini menimbulkan suatu dorongan eksplosif keluar dari singularitas. Pada saat itu suhu kosmos adalah sekitar 100 milyar derajat dan campuran partikel dan radiasi yang sangat rapat tetapi bersuhu sangat tinggi itu lebih menyerupai zat-alir daripada zat padat sehingga para ilmuwan memberikan nama "sop kosmos" kepadanya Antara umur satu sekon dan tiga menit terjadi proses yang dinamakan nukleosintesis. sehingga suhunya merendah melewati 1. pada umur 10-35 sekon.-------------------------------------------. Dan masing-masing alam dapat mempunyai hukum-hukumnya sendiri. Jenis materi apa yang muncul pertama-tama di alam ini tidak seorang pun tahu. 7501983. tidak perlu aturannya sama dengan apa yang ada di alam kita ini. yang berakibat terhentinya inflasi. namun tatkala umur alam mendekati seper-seratus sekon. ada kemungkinan bahwa tidak hanya satu alam saja yang muncul. karena ekspansinya. terjadilah gejala "lewat dingin". Metro Pondok Indah Pondok Indah Plaza I Kav. tetapi beberapa alam.6.

Kalau semua yang telah dirintis secara matematis ini mendapatkan pembenaran dari eksprimen atau observasi di alam luas. beberapa ilmuwan mencoba mengembalikan keabadian kosmos dengan mengatakan. sebagai contoh. . yang dirumuskan untuk melukiskan alam semesta. tapi tak dapat kita lihat. tapi berekspansi. ia hanya dapat kita hubungi lewat medan gaya gravitasi sedangkan hukum alamnya tidak perlu sama dengan yang berlaku di dunia ini. yaitu kosmos yang statis. karena Hubble mengobservasi justeru jagad-raya ini berekspansi. oleh Wilson dan Penzias pada 1964. Dengan demikian maka konsepsi yang berawal lebih dikukuhkan. Begitulah kira-kira uraian fisikawan itu. ketika gagasan Gamow tentang dentuman besar yang menjurus pada konsep alam semesta yang berawal dikumandangkan beberapa kosmolog yang dipelopori Hoyle mengajukan tandingan yang dikenal sebagai kosmos yang mantap (steady state universe) yang menyatakan bahwa alam semesta ajeg sejak dulu sampai sekarang dan hingga nanti tanpa awal dan tanpa akhir. ketika persamaan matematis Einstein. entropinya besarnya tidak terhingga. Selama perjalanan mencari kebenaran itu. Saya akan mengungkapkan beberapa saja yang relevan. karena tak sesuai dengan kenyataan yang terobservasi. Tapi langkah pembetulan itu mendapat tamparan. dinyatakan oleh Friedman bahwa ia memberi gambaran kosmos yang mengembang. dan 6 lainnya yang tidak kita sadari. karena "tergulung" dengan jarij-ari 10-32 sentimeter yang bermanifestasi sebagai muatan listrik dan muatan nuklir. meledak dan masuk kembali tak henti-hentinya tak berawal dan tak berakhir. dan mendapatkan pembetulan. Einstein mengalah dan kembali ke perumusannya yang semula yang melukiskan alam yang tak statis. ketika dentuman besar tak dapat disangkal. katakan saja. Kita lihat bahwa hasrat mempertahankan konsepsi alam semesta yang tak berawal (tak diciptakan) selalu menemui kegagalan. ia segera diubah oleh si-perumus agar sesuai dengan konsep kosmologi pada waktu itu. "terbentang" dan mengejawantah sebagai ruang-waktu. Menurut perhitungan kami. Dimensi yang kita hayati adalah dimensi yang. sebenarnya sains telah mengalami penyelewengan-penyelewengan yang akhirnya terbongkar kesalahannya. Sudah tentu apa yang dikatakan itu adalah hasil mutakhir kegiatan penelitian dan saling kaji antara para pakar dan merupakan konsensus. alam semesta mempunyai dimensi 10. suatu asumsi yang konsekuensinya tak didukung kenyataan. maka ada kemungkinan bahwa alam yang kita huni ini mempunyai kembaran (shadow world) yang sebenarnya berada di sekeliling kita. alam semesta ini berkembang-kempis (oscillating universe). Namun Weinberg menunjukkan kepalsuannya. yaitu 4 buah dimensi ruang-waktu yang kita hayati. Kedua. Sebab alam yang berkelakuan seperti itu. karena tak cocok dengan kenyataan. telah mendorong para pakar mengakuinya sebagai kilatan dalam alam semesta yang tersisa dari peristiwa dentuman besar.seluruh langit bercahaya terang benderang dan hingga kini "cahaya" ini masih dapat diobservasi sebagai radiasi gelombang mikro. Pertama. Ketiga. Namun terungkapnya keberadaan gelombang mikro yang mendatangi bumi dari segala penjuru alam secara uniform.

sebagai berikut. Sedangkan qaul yang kedua mendasari pernyataannya dengan adanya neutrinoneutrino yang mereka percayai membawa sebagian besar dari massa alam ini sehingga sebagai totalitas kekuatan gaya kritis itu akan terlampaui. maka para pakar. Apakah para fisikawan-kosmolog mengetahui nasib alam itu pada akhirnya? Ada dua pandangan yang dianut dalam sains yaitu. Sebab mereka tak mempunyai informasi berapa sebenarnya massa yang terkandung dalam alam ini. Sekarang marilah kita gali konsep-konsep kosmologi dalam al-Qur'an." sehingga pada suatu saat ekspansinya akan berhenti dan alam kembali mengecil untuk akhirnya seluruhnya mencebur kembali dalam singularitas. sekali-kali kamu tak akan menemukan perubahan pada sunnatullah itu. tempat ia keluar dulu kala. al-Anbiya': 30) Dan ruang waktu itu Kami bangun dengan kekuatan (ketika dentuman besar dan inflasi melandanya sehingga beberapa dari dimensinya menjadi terbentang) dan sesungguhnya Kamilah yang m eluaskannya (sebagai kosmos yang berekspansi) (QS. di samping menggunakan pertimbanganpertimbangan rasional. sebagai sunnat-u 'l-lah yang berlaku sejak dulu. Kapan? Mereka tak tahu. karena bintang-bintang yang bercahaya dan materi antar bintang. sebagian massa itu bercahaya. pertama. dan kedua jagad raya ini "tertutup." sehingga ia akan berekspansi selamanya. alam semesta ini "terbuka. yang terobservasi pengaruhnya. hanya dapat menyajikan sekitar 20 persen saja dari gaya yang diperlukan. yang mereka pergunakan untuk menelusuri kembali peristiwanya yang terjadi sekitar 15 milyar tahun lalu. kemudian kami pisahkan keduanya itu (QS. yang dalam ayat 23 surah al-Fath dinyatakan memiliki stabilitas. harus melandasinya juga dengan pengetahuan sunnatullah. yaitu ekspansi alam semesta dan radiasi gelombang mikro. lalu Dia berkata kepadanya dan kepada materi: Datanglah kalian mematuhi . segenap peraturan Allah swt yang mengendalikan tingkah laku alam. Saya akan menafsirkan ayat-ayat yang telah dicantumkan di atas. sebagian gelap. dan yang saya pilih di antara sekian banyak ayat yang mengandung konsep.konsep tersebut. Dan tidakkah orang yang kafir itu mengetahui bahwa ruang waktu dan energi-materi itu dulu sesuatu yang padu (dalam singularitas). Qaul yang pertama didasarkan pada kenyataan bahwa masa seluruh alam ini tak cukup besar untuk menarik kembali semua galaksi yang bertebaran. yaitu yang dinamakan gaya kritis. seperti layaknya tim detektif yang ingin memecahkan sebuah misteri dengan menggunakan sekelumit abu rokok dan pecahan-pecahan gelas yang berserakan di sekitar tempat kejadian.Bagaimana para fisikawan-kosmolog dapat mengatakan semuanya itu tanpa melihat sendiri kejadiannya? Sebenarnya mereka melihat dua gejala. Kalau para detektif itu cukup memakai penalaran logis saja. sedangkan sebagian lagi dibawa zarah-zarah yang disebut neutrino. tidak dengan pengetahuan orang abad ke 9 atau ke 19 melainkan dengan pengetahuan seseorang dari abad 20. al-Dzariyat: 47) Dalam pada itu Dia mengarah pada penciptaan ruang-waktu dan ia penuh "embunan" (dari materialisasi energi).

sedang pemerintahan-Nya telah tegak pada fase zat alir (yaitu sop kosmos) untuk menguji siapakah di antara kalian yang lebih baik amalannya (QS. dan sungguh jika keduanya akan lenyap tiada siapa pun yang dapat menahan keduanya selain Allah. dan pada saat itu pula menegakkan pemerintahan-Nya (yang seluruh perangkat peraturannya ditaati oleh segenap mahluk-Nya dengan suka hati) (QS. al-Sajadah: 4) Dan Dia-lah yang telah menciptakan ruang-waktu dan materi dalam enam hari. Hud: 7) Sesungguhnya Allah menahan ruang-waktu (alam semesta) dan materi di dalamnya agar jangan lenyap (sebagai jagad-raya yang terbuka). dan Kami memeliharanya. begitulah Kami akan mengembalikannya. (QS. sesungguhnya Kamilah yang akan melaksanakannya (QS. Dalam awal uraian saya telah dikatakan bahwa penggalian konsep-konsep kosmologi dalam al-Qur'an merupakan pekerjaan . al-Anbiya': 104). sesungguhnya Dia adalah Maha Penyantun dan Maha Pengampun (QS. Mengatakan bahwa apa yang telah saya lakukan ini sebagai usaha menarik-narik al-Qur'an agar sejalan atau cocok dengan sains. karena ada beberapa konsepsi sains yang telah saya tolak. adalah suatu tuduhan yang tak berdasar. karena tidak sesuai dengan al-Qur'an. yang salaf. Apa yang telah saya lakukan di sini bukanlah pembenaran (justification) sains dengan al-Qur'an. (QS. keduanya menjawab: Kami datang dengan kepatuhan. Fushshilat: 11). demikianlah ketentuan Yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui (QS. Fushshilat: 12) Allah-lah yang menciptakan tujuh ruang-waktu (alam semesta). dan apa yang bertentangan dengannya saya tolak. al-Fathir: 41) Pada hari Kami gulung ruang-waktu (alam semesta) laksana menggulung lembaran tulis. hasil karya pikir manusia. Dan bukankah justeru Allah swt sendiri yang mengungkapkan adanya gejala ekspansi kosmos dan radiasi gelombang mikro kepada para ilmuwan. memeriksa ruang-waktu (alam semesta) serta materi di dalamnya sesuai dengan perintah-Nya dalam surah Yunus 101 itu mendapatkan petunjuk ke arah yang benar seperti tercantum dalam surah Fushshilat 53. Patokan saya adalah kebenaran kitab suci umat Islam. Maka dia menjadikannya tujuh ruang-waktu (alam semesta) dalam dua hari. Dan tidak pula saya menarik al-Qur'an agar sesuai dengan sains.(peraturan)-Ku dengan suka atau terpaksa. Demikian konsep-konsep kosmologi yang dapat digali dari al-Qur'an sebagaimana saya melihatnya selaku orang yang berkecimpung dalam bidang sains. Akan Kami perlihatkan kepada mereka ayat-ayat Kami di segenap penjuru dan dalam diri mereka sendiri sehingga jelaslah bagi mereka itu bahwa ia (al-Qur'an) adalah yang benar. al-Thalaq: 12) Allah-lah yang menciptakan ruang-waktu dan materi dan apa yang ada di antara keduanya dalam enam hari. dan Dia mewahyukan kepada tiap alam itu peraturan (hukum alam)-nya masing-masing. itulah janji yang akan kami tepati. dan materinya seperti itu pula. dan kami hiasi ruang-waktu (alam) dunia dengan pelita-pelita. hingga para ilmuwan yang setia kepada tradisi umat Islam. sebagaimana Kami telah mulai awal penciptaan. untuk membimbing mereka dari kesesatan dalam memahami ciptaanNya.

yang sudah ada sesaat setelah Allah menciptakan jagad-raya. Arsy. Qalam. 6. melainkan ruang alam yang di dalamnya terdapat bintang-bintang.5 milyar tahun lalu di sekitar matahari. dengan kuas. maka saya memilih maknanya sebagai zat alir. dengan vulpen. yang kecuali terkandung dalam asap dan uap juga lebih mengena bila dipergunakan melukiskan gejala yang ditemukan pada suatu sistem yang mendingin dari suhu yang sangat tinggi (dalam kasus ini bertrilyun-trilyun derajat). dengan pangkal bulu. melainkan pemerintah Indonesia yang bertindak. 5. karena melukiskan Tuhan duduk di singgasana adalah syirik. maka saya akan mencakup keduanya dalam istilah energi-materi. dengan bolpen. 1. 3. atom-atom yang belum berbentuk karena suhu alam masih sangat tinggi dan elektron-elektron belum dapat ditangkap oleh inti-inti atom. Dukhan asap atau uap. dengan mesin ketik dan lain-lain sebagainya. CATATAN Di bawah ini disajikan pertimbangan yang saya pergunakan untuk memilih kata-kata dalam penafsiran. Sama'. karena bumi baru terbentuk sekitar 4." yakni bakal-bumi. Dan karena pada saat itu isi alam semesta yakni radiasi dan materi pada suhu yang sangat tinggi itu wujudnya lain daripada yang kita dapat temui di dunia sekarang ini. kini tak lagi diartikan sebagai bola super-raksasa yang dindingnya ditempeli bintang-bintang. bumi atau tanah. maka saya condong menggunakan istilah embunan. karena dalam fase penciptaan alam itu air yang terdiri dari atom oksigen dan atom-atom hidrogen belum dapat berbentuk. pena. Memang begitulah karena sains akan berkembang dan akan senantiasa menemukan hal-hal yang yang dapat lebih melengkapi pengetahuan manusia hingga lebih memahami ayat-ayat Allah. Maka saya condong mengartikan kata-kata ardh dengan istilah "materi. hal ini tidak berarti bahwa gedung itulah yang mengambil keputusan. saya condong untuk menafsirkan sebagai pemerintahan lengkap dengan sarana. singgasana atau tahta. Dan karena telah terbukti bahwa materi dan energi setara dan dapat berubah dari yang satu menjadi yang lain. maka saya gunakan istilah ruang-waktu sebagai ganti "ruang". misalnya dengan lidi-aren. galaksi-galaksi dan lain-lainnya. air atau zat alir. Ma'. maka penggunaan istilah "sop kosmos" sebagai keterangan melukiskan . 2. karena orang dapat menulis sesuatu tak hanya dengan pena. Sebab jika kita mengatakan: itu keputusan Bina Graha. Karenanya. Karena secara eksprimental dapat dibuktikan bahwa ruang serta waktu merupakan satu kesatuan. Ardh. bahkan inti atom pun pada saat itu belum terbentuk! Oleh karenanya. maka saya condong untuk menggunakan istilah sarana tulis sebagai ganti "pena". pada saat awal penciptaan.yang terus baru dapat tak kunjung henti. maka saya lebih suka mempergunakan katakata "Pemerintahan" (Allah) untuk mengartikan kata-kata arsy. dan tanah di bumi kita ini baru terjadi sekitar 3 milyar tahun lalu sebagai kerak di atas magma. Malahan saya lebih suka mengartikan sebagai "karya tulis". 4. aparatur dan peraturannya.

I origine et le fin de la destine e humaine. ia kemudian menyebutkan bahwa al-Qur'an diwahyukan untuk memperkenalkan Tuhan kepada manusia. a la fois. tacitement on explicitement. Karena al-Qur'an seluruhnya berbicara untuk manusia atau berbicara tentang manusia. yang secara khusus menjelaskan principe d'entre manusia ini. Agak terperinci. yaitu Islam. Boisard (1979: 84). 7507173 Fax. Tuhan. yang menjelaskan realitas dalam perspektif tertentu. tidaklah terlalu aneh. Metro Pondok Indah Pondok Indah Plaza I Kav. walaupun Boisard mengakui pentingnya filsafat antropologis dalam Islam. mengulas manusia dari segi penciptaannya. bukan untuk menjelaskan manusia -non pour expliquer l'humain (Boisard. Yusuf Qardhawi (1977: 33) Masyarakat Islam dibentuk karena ideologinya. Dr. Ideologi adalah cara memandang realitas.zat yang sangat rapat tapi dapat mengalir pada suhu yang amat tinggi. tulis Marcel A. la nature de l'individu et la place qui lui est assignee daus la groupe.7. dan fungsi manusia sebagai hamba Tuhan. hubungannya dengan dunia. seperti lazimnya filsafat manusia (philosophic de l'homme). (021) 7501969. ketika mengantarkan tulisannya tentang pandangan Qur'ani mengenai manusia dalam bab Les Fils d'Adam. en fonction de l'objektif social poursuiri. [1] Dirk Bakker (1965) dalam bukunya Man in the Qur'an. (021) 7507174 Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota Please direct any suggestion to Media Team Artikel Yayasan Paramadina Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota II. tapi tidak membahas principe d'entre manusia. 7501983. UA 20-21 Jakarta Selatan Telp. 1979: 84). KONSEP-KONSEP ANTROPOLOGIS (1/2) oleh Jalaluddin Rakhmat Al-Qur'an adalah kitab manusia. Adalah Rahman (1980). Ideologi adalah Weltanchauung. kata Fazlur Rahman (1980: 43). dieu sera la reference primordial et unique puisqu'll est. Karena itu dalam seluruh bukunya. Semuanya dapat disimpulkan dalam kalimatnya. Di antara realitas penting yang diulas ideologi adalah manusia. ia menjelaskan perbedaan manusia dengan makhluk lain. Boisard hampir tidak pernah membahas karakteristik manusia menurut al-Qur'an. Agak mengherankan. . Toute ideologie precise d'emblee. sesama manusia. -------------------------------------------Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah Editor: Budhy Munawar-Rachman Penerbit Yayasan Paramadina Jln. Pour une religion eschatologique comme l'Islam.

kemudian mengenal bidang semantik setiap istilah itu. Pertama.uraian Rahman tidak berbeda dengan pembahasan al-Ghazali yang lebih klasik (Lihat Othman. Ia mengambil konsep Allah sebagai istilah kunci dan menjelaskan hubungan konsep itu dengan manusia. Pertama. Izutsu sendiri berkata. Ia tidak memulai dari konsep dasar yang digunakan al-Qur'an untuk mengabsorbsikan manusia. It is extremely difficult. kita menentukan makna pokok (basic meaning) dan makna nasabi (relational meaning). Saya sangat terkesan dengan Izutsu (1964. sebetulnya menemukan bagaimana al-Qur'an memberi makna tentang konsep-konsep dasar manusia. 1967) --yang membahas amanah sebagai inti kodrat manusia-. Dalam tulisan tersebut. . dan hubungan komunikasi linguistik. for an outsider even to get a general idea of what it is like (Izutsu. juga dalam tulisan lain (Rahman. Malangnya di samping makalah ini tidak dimaksudkan untuk itu. Tidak mungkin dalam makalah ini. Ia menyebutkan tiga hubungan ontologis. ia menyebut pembahasannya sebagai semantics of the Koranic weltanschauung. sebagaimana digunakan dalam al-Qur'an. yang kita anggap merupakan unsur konseptual dasar dari Weltanschauung Qur'ani ini. Ketiga. Dengan kata lain. akan dibahas istilah-istilah kunci manusia dan bidang semantiknya. saya menguraikannya secara terperinci. penulis makalah ini juga outsider. kita menyimpulkan weltanschauung yang menyajikan konsep-konsep itu dalam satu kesatuan. 1965) yang memperkenalkan metodologi semantik [2] dalam memahami konsep-konsep dasar al-Qur'an. dengan resiko salah beberapa langkah. Kedua. kita memilih istilah-istilah kunci (key-terms) dari vocabulary al-Qur'an. Makna nasabi adalah makna tambahan yang terjadi karena istilah itu dihubungkan dengan konteks di mana istilah itu berada. this tranformation of the is into ought is both fhe unique privelege and the unique risk of man (Rahman. Makna pokok yang berkenaan dengan constant semantic element which remains attached to the word whereever it goes and however it is used (Izutsu. man ought to follow his nature. Ketika Izutsu membahas kosep Tuhan dan manusia dalam al-Qur'an. 1986) membahas karakteristik khas manusia yang lebih "maju" dari al-Ghazali. juga walaupun pendek tulisan al-Faruqi (1404: 332). what is called semantics today is so bewilderingly complicated. 1964: 19). 1960). Kedua. akan dibahas implikasi dari bidang semantik tersebut untuk memperoleh gambaran tentang Weltanschauung Qur'ani. Tulisan ini mengambil jalan lain. Yang kita perlukan di sini. Sayangnya. Unfortunately. seperti Fazlur Rahman.The only different is that while every other creature follows its nature automatically. Mungkin tulisan Mutahhari (tanpa tahun) dan beberapa tulisan lainnya (Lihat Mutahhari. if not absolutely impossible. 1980: 24) Rahman mengulas manusia dengan mengulas pandangan al-Qur'an tentang kedudukan manusia sebagai individu dan anggota masyarakat. kita mengidentifikasikan istilah-istilah al-Qur'an tentang manusia. lalu menyimpulkan secara induktif. 1964: 10). hubungan komunikasi nonlinguistik. Ia sama sekali tidak menyebut berbagai konsep yang digunakan al-Qur'an untuk merujuk manusia. Jadi. mereka meneliti ayat-ayat al-Qur'an yang berkenaan dengan manusia.

unas. 1937). ia seperti manusia yang lain. Sama tidak tepatnya untuk tidak menafsirkan Sesungguhnya telah kami jadikan insan dalam bentuk yang sebaik-baiknya (95: 4) dengan menunjukkan karakteristik fisiologi manusia. INSAN. Tentang para Nabi. Ayat ini ditegaskan dalam QS. ins. hanya saja aku diberi wahyu bahwa Tuhanmu ialah Tuhan yang satu (18:110. 17:88. tapi sifat-sifat psikologis (atau spiritual). Basyar disebut 27 kali. insan. ada tiga istilah kunci yang mengacu kepada makna pokok manusia: basyar. misalnya. seks. ia makan apa yang kamu makan. bagaimana mungkin aku mempunyai anak. anasiy. dan al-Nas. Ya Allah. 56. 7:38. Tapi Ibn 'Arabi . Tuhanku. unas digunakan untuk menunjukkan 12 golongan dalam Bani Israil. Surat 17:21 dengan jelas menunjukkan makna ini pada hari kami memanggil setiap unas dengan imam mereka. Nabi Muhammad saw. DAN AL-NAS Dalam al-Qur'an. Dalam QS. insiy. and man's duty is to preserve the pattern on which God has made him (QS 30:30).BASYAR. 6). 41:25. 130. 74. 51:56. 72:5. 39. 46:18. tapi ini tidak lain kecuali malaikat yang mulia (12:31). karena nabi hanyalah basyar --manusia biasa yang "seperti kita. menjadi karasiy (Lihat al-Thabrasi. disuruh Allah menegaskan bahwa secara biologis. 29. Marilah kita kembali kepada ketiga istilah kunci tadi. 55:33. padahal aku tidak disentuh basyar (3:47). atau bagaimana kaum yang diseru para nabi menolak ajarannya. 25: 20. Mereka berkata. Basyar. Dari segi inilah. Lihatlah bagaimana Maryam berkata. Yusuf Ali (1977: 1759) dengan tepat menafsirkan ayat ini to man God gave the purest and the best nature. Anasiy hanya disebut satu kali (25:49). dan selalu dihubungkan dengan jinn sebagai pasangan makhluk manusia yang mukallaf (6:112. Kata Basyar dihubungkan dengan mitslukum (tujuh kali) dan mitsluna (enam kali) diantara ayat-ayat tersebut di muka." bukan superman. 17:71. dengan mengganti nun atau ya atau boleh juga bentuk jamak dari insiy. Anasiy dalam bentuk jamak dari insan. Bukankah ia Basyar seperti kamu. 41:6). Unas disebut lima kali dalam al-Qur'an (2:60. Al-Syaukani (1964. Ada konsep-konsep lain yang jarang dipergunakan dalam al-Qur'an dan dapat dilacak pada salah satu di antara tiga istilah kunci di atas. 27:17. 7:82. dan makan dengan menggunakan tangan. Dan tidak Kami utus sebelummu para utusan kecuali mereka itu memakan makanan dan berjalan-jalan di pasar. 27:56) dan menunjukkan kelompok atau golongan manusia. berjalan di pasar. orang-orang kafir selalu berkata. dan QS. aku ini manusia biasa (basyar) seperti kamu. minum. 179. 25: 7. yang merupakan bentuk lain dari insan. 128. 70:160. mereka berkata. 5: 465) menyebutkan umumnya para mufasir mengartikan ayat ini untuk menunjukkan kelebihan manusia secara fisiologis: berjalan tegak. Ketika wanita-wanita Mesir takjub melihat ketampanan Yusuf as. Secara singkat konsep basyar selalu dihubungkan dengan sifat-sifat biologis manusia: makan. Katakanlah. kita tidak tepat menafsirkan basyarun mitslukum sebagai manusia seperti kita dalam hal berbuat dosa.. [3] Dalam seluruh ayat tersebut. Bukankah Rasul itu memakan makanan dan berjalan-jalan di pasar. Kecenderungan para Rasul untuk tidak patuh pada dosa dan kesalahan bukan sifat-sifat biologis. 2:60. Ins disebut 18 kali dalam al-Qur'an. basyar memberikan referensi pada manusia sebagai makhluk biologis. seperti kursiy. dan ia minum apa yang kamu minum (33:33). ini bukan basyar.

mendengar. Karena itu juga. kekeliruan penafsiran. (Al-Thabathabai. ia cenderung menyembah Allah dengan ikhlas. Yang mengajar dengan pena. 41:49. karena manusia memikul amanah. 89:23). 17:83. tt. mengamati) perbuatannya (79: 35). melihat. maka insan dalam al-Qur'an juga dihubungkan dengan konsep tanggung jawab (75: 36. berkuasa. Akan Kami perlihatkan kepada mereka (insan) tanda-tanda Kami di alam semesta ini dan pada diri mereka sendiri sehingga jelas baginya bahwa ia itu al-Haq (41: 53). 75:3. Di dalamnya terkandung makna khilafah. 39:8. manusia sebagai pemikul al wilayah al-ilahiyyah. . menganalisis. 59:16) dan ditentukan nasibnya di hari Qiyamat (75:10. 'isr). 5). 13. 14. insan sangat dipengaruhi lingkungannya. Karena itu. [4] Kita dapat mengelompokkan konteks insan dalam tiga kategori. Kecuali kategori ketiga yang akan kita jelaskan kemudian. 46:15). Allah berfirman. 79:35. Kedua. mengajar insan apa yang tidak diketahuinya. insanlah yang dimusuhi setan (17:53. berbicara. umumnya para mufassir bermula dari salah paham tentang semantic field istilah insan. memikirkan. 80:17. kedua. 31:14. 49. Sekali lagi. untuk menciptakan tatanan dunia yang baik. Bila ia ditimpa musibah. dan bahkan musyrik (10:12. [5] (96: 4. Keempat. dan ini adalah sifat-sifat rabbaniyah. manusia adalah makhluk yang diberi ilmu. semua konteks insan menunjuk pada sifat-sifat psikologis atau spiritual. 51. bila ia mendapat keberuntungan. Allah membuatnya hidup. amalnya dicatat dengan cermat untuk diberi balasan sesuai dengan apa yang dikerjakannya (53: 39). Insan disuruh menazhar (merenungkan. menguasainya atau dalam istilah al-Qur'an "mengetahui nama-nama semuanya" dan kemudian menggunakannya. Tak ada makhluk Allah yang lebih bagus daripada manusia. 89:15). Dalam hubungan inilah. 351-352) mengutip berbagai pendapat para mufassir tentang makna amanah dan memilih makna amanah sebagai predisposisi (isti'dad) untuk beriman dan mentaati Allah. dengan inisiatif moral insani. setelah Allah menjelaskan sifat insan yang tidak labil. ia cenderung sombong. Dan ketiga Insan dihubungkan dengan proses penciptaan manusia. Pada kategori pertama. Amanah inilah yang dalam ayat-ayat lain disebutkan sebagai perjanjian (ahd. dan penciptaannya (86: 5). berkehendak. mengetahui. Menurut al-Qur'an. "Ia mengajarkan (insan) al-bayan" [6] (55: 3). Insan dihubungkan dengan keistimewaannya sebagai khalifah atau pemikul amanah. Manusia diberi kemampuan mengembangkan ilmu dan daya nalarnya. dalam menyembah Allah. proses terbentuknya makanan dari siraman air hujan hingga terbentuknya buah-buahan (80: 24-36). Insan dihubungkan dengan predisposisi negatif diri manusia. takabur. mitsaq. dan memutuskan. 42:48. kita melihat keistimewaan manusia sebagai wujud yang berbeda dengan hewani. 11:9. Insan disebut 65 kali dalam al-Qur'an. Insan. yang berbeda dengan basyar. kata insan berkali-kali dihubungkan dengan kata nazhar. Ketiga.berkata. Ia diwasiatkan untuk berbuat baik (29:8. Menurut Fazlur Rahman (1967: 9). 17:67. 50:16). amanah adalah menemukan hukum alam. manusia adalah makhluk yang memikul amanah (33: 72). Pertama. [7] Predisposisi untuk beriman inilah yang digambarkan secara metaforis [8] dalam surat 7:172.

pada kata al-Nas). bakhil (17:100). Menurut Qardhawi (1973: 76). manusia adalah gabungan kekuatan tanah dan hembusan Ilahi (bain qabdhat al-thin wa nafkhat al-ruh). ditakdirkan untuk bersusah payah dan menderita (84:6. Menurut al-Qur'an. yang berjuang mengatasi konflik dua kekuatan yang saling bertentangan: kekuatan mengikuti fitrah (memikul amanat Allah) dan kekuatan mengikuti predisposisi negatif. Sebagai insan manusia diciptakan dari tanah liat. 16:4. Inilah manusia yang paling banyak disebut al-Qur'an (240 kali. meragukan hari akhirat (19:66).(bersambung 2/2) Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah Editor: Budhy Munawar-Rachman Penerbit Yayasan Paramadina Jln. saripati tanah. (021) 7501969. 38:71.-------------------------------------------. kata insan dihubungkan dengan predisposisi negatif pada diri manusia. tidak berterima kasih (100:6).21). 32:7). unsur material dan yang kedua unsur ruhani. bodoh (33:72). tanah (15:28. 43:15). 7507173 Fax. Demikian pula basyar berasal dari tanah liat. "Tidak boleh (seorang mukmin) mengurangi hak-hak tubuh untuk memenuhi hak ruh." kata Abbas Mahmud al-'Aqqad (1974. 75:5). 21:37). tanah (15:26. banyak membantah atau mendebat (18:54. insan menjadi makhluk paradoksal. 30:20) dan air (25:54).7. Al-Nas. Tak mungkin dalam makalah . Yang pertama. 7501983. yang kedua unsur insani. berbuat dosa (96:6. Yang pertama unsur basyari. (021) 7507174 Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota Please direct any suggestion to Media Team Artikel Yayasan Paramadina Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota II. resah. Ini mendorong saya untuk menyimpulkan bahwa proses penciptaan manusia menggambarkan secara simbolis karakteristik basyari dan karakteristik insani. Konsep kunci ketiga ialah al-Nas yang mengacu pada manusia sebagai makhluk sosial. KONSEP-KONSEP ANTROPOLOGIS (2/2) oleh Jalaluddin Rakhmat Pada kategori kedua. Metro Pondok Indah Pondok Indah Plaza I Kav. dan segan membantu (70:19. lihat 'Abd al-Baqi. UA 20-21 Jakarta Selatan Telp. gelisah. Kedua kekuatan ini digambarkan dengan kategori ayat-ayat ketiga. 7:381). Secara menarik proses penciptaan manusia atau asal kejadian manusia dinisbahkan pada konsep insan dan basyar sekaligus. 55:14. dan tidak boleh ia mengurangi hak-hak ruh untuk memenuhi hak tubuh. Keduanya harus tergabung dalam keseimbangan. 20. 23:12. al-Mu'jam. 90:4). 36:77). tergesa-gesa (17:11. Bila dihubungkan dengan sifat-sifat manusia pada kategori pertama. manusia itu cenderung zalim dan kafir (14:34. 22:66.

24:35. melalaikan ayat-ayat Allah (10:92). yang berdebat dengan Allah tanpa ilmu. Namun manusia sebagai insan dan al-Nas bertalian dengan unsur hembusan Ilahi. Pada keadaan itu. 69:42). 25:50). Menurut al-Qur'an sebagian manusia itu tidak berilmu (7:187. yang dilambangkan manusia dengan unsur tanah. sebagian besar manusia mempunyai kwalitas rendah. Ayat-ayat itu lazimnya dikenal dengan ungkapan wa min al-Nas (dan diantara sebagian manusia). Banyak ayat yang menunjukkan kelompok-kelompok sosial dengan karakteristiknya. dan sebagainya). maka ada juga hukum-hukum yang mengendalikan manusia sebagai makhluk psikologis dan makhluk sosial. yang tidak diperdayakan syetan (4:83). 7:3. 29:10). Ia dengan sendirinya musayyar. bashar. dan kebanyakan harus menanggung azab (22:18). Surat 6116 menyimpulkan bukti kedua ini. yang mempesonakan orang dalam pembicaraan tentang kehidupan dunia. 13:1). 28. yang hanya memikirkan kehidupan dunia (2:200). mereka akan menyesatkanmu dari jolan Allah. Dengan memperhatikan ungkapan ini. 4:155). kafir (17:89. 2:88. fasiq (5:49). yang selamat dari azab Allah (11:116). manusia secara otomatis tunduk kepada takdir Allah di alam semesta. 40:58. 12:21. 31:20). 67:23. al-Qur'an menegaskan bahwa petunjuk al-Qur'an bukanlah hanya dimaksudkan pada manusia secara individual. 38:24. Pertama. baik dari segi ilmu maupun dari segi iman. 32:9). kalam. tidak bersyukur (40:61. 45:26. hewan dan tumbuh-tumbuhan. 27:62. psikologis dan sosial. yang berilmu atau dapat mengambil pelajaran (18:22. Cukuplah di sini ditunjukkan beberapa hal yang memperkuat pertanyaan pada awal paragraf ini --yakni. Al-Nas sering dihubungkan al-Qur'an dengan petunjuk atau al-Kitab (57:25. Kepadanya dikenakan aturan-aturan. yang menyembah Allah dengan iman yang lemah (22:11. 40:57). tetapi memusuhi kebenaran (2:204).36. 4:46. 14:1. 34:28. kita dapat menyimpulkan. 30:6. Kedua. 12:103. 23:78. Ia menyerap sifat-sifat rabbaniah menurut ungkapan Ibn Arabi. yang menjual pembicaraan yang menyesatkan (31:6).8. seperti sama'. Jika kamu ikuti kebanyakan yang ada di bumi. yang bersyukur (34:13. sama taatnya seperti matahari. 7:10. Ia mengemban wilayah Ilahiyah. 2:243. Manusia sebagai basyar berkaitan dengan unsur material. qadar. dengan memperhatikan ungkapan aktsar al-Nas. yang mengambil sekutu terhadap Allah (2:165). kita menemukan kelompok manusia yang menyatakan beriman. seperti kata .68. Ia menjadi mahkluk yang mukhayyar. kita menjelaskan seluruh bidang semantik istilah al-Nas.singkat ini. dan al-Kitab (22:3. tidak beriman (11:17. WELTANSCHAUUNG QUR'ANI TENTANG MANUSIA Dari uraian di muka tampak al-Qur'an memandang manusia sebagai makhluk biologis. 30. 39:27. Ketiga. di samping ada sebagian orang yang rela mengorbankan dirinya untuk mencari kerelaan Allah. 12:38). tapi ia diberikan kekuatan untuk tunduk atau melepaskan diri daripadanya. tapi sebetulnya tidak beriman (2:8). petunjuk. 4:170. al-Nas menunjuk pada manusia sebagai makhluk sosial. tapi juga manusia secara sosial. Ayat-ayat ini dipertegas dengan ayat-ayat yang menunjukkan sedikitnya kelompok manusia yang beriman (4:66. Sebagaimana ada hukum-hukum yang berkenaan dengan karakteristik biologis manusia.

"Karenanya. yakni sejauh mana ia mengembangkan iman dan ilmunya. Makna hidup manusia diukur sejauh mana ia berhasil beramal sebaik-baiknya. Bila Sartre mengatakan hidup ini absurd. dan lebih sedikit lagi orang yang beriman dan berilmu. sedikit orang yang berilmu. alam kodratnya strukturnya yang fundamental. Sesungguhnya kami jadikan apa yang ada dipermukaan bumi sebagai perhiasan untuk menguji mereka. jawab. kewajiban manusia ialah memenangkan predisposisi positif. Dalam pandangan al-Qur'an. sesuatu yang olehnya ia merupakan sebuah nilai yang unik. kita menyimpulkannya bahwa ilmu dan iman adalah dasar yang membedakan manusia dari makhluk lainnya.: 17). Ia lah yang menciptakan kehidupan dan kematian untuk menguji kamu siapa diantara kamu yang paling baik amalnya (QS. al-Mu'jam. Mu'jam. 4. yaitu potensi mengembangkan iman dan ilmu." tulis Leahy (1985: 11) 2. 58:11). 67:2). Lihat al-Baqi. Ini terjadi bila manusia tetap setia pada amanah yang dipikulnya. Karena itu. Sedikit orang yang beriman. al-Qur'an menyatakan hidup ini medan untuk membuktikan 'amal shalih. CATATAN 1. Ada dua komponen esensial yang membentuk hakikat manusia yang membedakannya dari binatang. "Allah mengangkat derajat orang-orang yang beriman diantara kamu dan orang-orang yang diberi ilmu" (QS. Kelompok terakhir inilah yang disebut al-Qur'an. siapa diantara mereka yang paling baik amalannya (18:7). ia dituntut untuk bertanggung Karena pada manusia ada predisposisi negatif dan positif sekaligus. sesuatu yang olehnya manusia mempunyai karakteristik yang khas. menurut al-Qur'an. of conceptualizing and interpreting the world that surround them (Izutsu. "Apa yang ingin ditelaah bukanlah suatu makhluk." tulis Mutahhari (tt. Karena banyak. tapi suatu prinsip adanya (principe d'etre).al-Thabathabai. Dr Muhammad Mahmud Hijazi (1968. "Allah telah memberi manusia gairah dan kemampuan untuk meneliti dan menyelidiki untuk mengadakan percobaan sehingga . 5. Inilah hakikat kemanusiaannya. Secara konkrit kesetiaan ini diungkapkan dengan kepatuhan pada syari'at Islam yang dirancang sesuai amanah. but.30:65) menjelaskan ayat ini. 1964:11) 3. sedikit sekali orang yang dapat mengembangkan ilmu dan iman ini sekaligus. more important still. Obyek formal dari filsafat manusia ialah inti manusia. Al-Qur'an tak lain merupakan rangkaian ayat yang mengingatkan manusia untuk memenuhi janjinya itu. sebuah benda. Metodologi semantik didefinisikan sebagai an analytic study of the key-terms of language with a view to arriving eventually at a conceptual grasp of the Weltanschauung or world-view of the people who use that language as tool not only of speaking and thinking. Sesuatu yang olehnya manusia menjadi apa yang terwujud. pembaca dianjurkan melihat sendiri dalam Al-Baqi. Usaha untuk mengembangkan keduanya disebut 'amal shalih. Keduanya harus dikembangkan secara seimbang.

kemampuan mengembangkan ilmu. tahun 2. Al-Faruqi. Ismail. 19:95) 7. 1968. 1937. 1978. 1974. jilid 7. Biazar (1366) banyak memberikan contoh-contoh yang menarik. Sida: A1-Irfan Bakker. dan pelajaran dari masa lalu. DAFTAR KEPUSTAKAAN Abd al Baqi. 1356. Dirk. The Covenant in The Koran. ancaman. Tentang perjanjian manusia di alam dzarrah ini. Tanpa tahun. Beirut: Dar el-fikr. Al-Tafsir al-Wadhih Kairo: A1-Istiqdal al-Kubra. Marcel A. sumpah dengan ayat-ayat Allah. Man in The Qur'an. Al-Mu'jam al Mufahras Li al-Alfazh al Qur'an al-Karim. Yusuf 1977. nikmat Allah. 5:131). Beirut: Dar al-Kutub al-Lubuani. Ali. 8. Lalu ia menundukkan semuanya untuk berbakti memenuhi kehendak manusia. Ahd al Karim. Muhammad Fuad. . yang terdiri dari pihak pertama (Allah) pihak kedua (Manusia). Majma' al-Bayan. Muhamad Hussein." al-Tawhid. Boisard. "Nazhriyat al-lnsan fi 'l. God and Man in The Koran. 1404. no 9.Qur'an. janji." 6. pengetahuan tentang halal dan haram. saksi. Al-Thabrasi. Izutsu. Al-Mizan fi 'l-Tafsir al-Qur'an. Toshihiko. Al-'Aqqad Abbas Mahmud. Tokyo Keio Institute of Cultural and Linguistic Studies.sampai pada pengetahuan tentang rahasia alam semesta serta tabiat segala hal. Muhammad Mahmud. L'humanisme de L'Islam. Fath al-Qadir Kairo: Mustafa Al-Babi al-Halbi. Al-Bayan ditafsirkan sebagai kemampuan berbicara. Penerbit tidak diketahui. The Holy al-Qur'an American Trust Publication. al-Thabathabai (TT. Hijazi. Abd al-Karim Biazar menulis tentang the Covenant in the Qur'an sebagai kunci yang mempersatukan ayat-ayat dalam setiap surat al-Qur'an. Uraian berbagai pendapat tersebut beserta kritiknya disajikan lengkap oleh Subhani (1400:75 106). Lihat al-Syaukani (1964. terjadi banyak ikhtilaf di kalangan mufassir. tanda-tanda yang berjanji. daftaer kondisi yang harus dipenuhi pihak kedua. Paris: Albin Michel. Al-Syaukani. Al-Thabathabai. 1966. 1964. Muhammad bin Ali. Amsterdam: Drukkerrij Holland NV: Biazard. Abu Ali Al-Fadhl. Qum: Al-Hauza al-Ilmiyah. "Al-lnsan fil Qur'an" dalam Al-A'mal al-Kamilah. 1964. Surat-surat dalam al-Qur'an mengingatkan manusia pada perjanjian Allah.

-------------------------------------------Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah Editor: Budhy Munawar-Rachman Penerbit Yayasan Paramadina Jln. ------. ------. The Qur'anic Concept of God. UA 20-21 Jakarta Selatan Telp. Akidah tentang Allah yang menciptakan alam semesta. mengaturnya. Betapa teraturnya gerakan bintang-bintang pada garis edarnya . 7507173 Fax. Jakarta: Gramedia. Al-Insan wa 'l-Iman Teheran: Muassasah al-Bi'tsah. Kairo: Dar al-Maaref Qardhawi. The Concept of Man in Islam in the writings of Al Ghazali. Leahy. Islamic Studies. 1977. Bandung: Mizan. 1980. [1] Melalui suatu pengamatan yang cermat atas segala alam sekitar kita.------. Mutahhari. Al-Iman wa 'l-Hayat. Metro Pondok Indah Pondok Indah Plaza I Kav. Othman. Manusia dan Agama. ------. Fazlur. memeliharanya dan menjaganya sehingga segala makhluk itu menjalani kehidupannya masing-masing dengan baik dan melakukan fungsinya masing-masing dengan tertib. Maktabah Wahbah Rahman. Montreal: McGill University Press. 1986. Hukum Allah meliputi segenap makhluk (alam semesta). (021) 7501969. 1973. Qum: Antara lain Khayyam. tapi merupakan bagian integral dari akidah. Ali Yafie Hukum yang diperkenalkan al-Qur'an bukanlah sesuatu yang berdiri sendiri. and Man. KONSEP-KONSEP HUKUM (1/3) oleh KH. Maktabah Wahbah. Ja'far. Manusia: Sebuah Misteri. 7501983. Louis. the universe. Murtadha. 1986. Ethico Religious Concepts in the Qur'an. dapat disaksikan betapa teraturnya alam raya ini. 1400. Al-Khashaish al-Amimah li 'l-Islam. Tanpa tahun. (021) 7507174 Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota Please direct any suggestion to Media Team Artikel Yayasan Paramadina Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota II. 1960. Ali Issa.8. VI: 1. Chicago: Bibliotheca Islamica Subhani. March 1967. Yusuf. Major Themes of the Qur'an. Ma'alim al-Tawhid fi 'l-Qur'an al-Karim. 1966. 1965.

hukum Pascal. dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal. sampai kepada galaksi-galaksi yang tak terbayangkan besar dan luasnya. [5] . mengamati dan meneliti sebagaimana disinggung di atas yang sifatnya global.. Tubuh manusia jauh lebih rumit dan menakjubkan daripada pesawat komputer.masing-masing. hukum gravitasi. Celakalah orang yang membaca ayat ini lalu tidak berfikir. semuanya bergerak menurut ketentuan-ketentuan hukum alam yang mengaturnya. Penemuan hukum-hukum alam (natuurwet) sebagaimana disinggung di atas. Misalnya . Tanpa kita sadari.. sehingga jelaslah bagi mereka bakwa al-Qur'an itu adalah benar. jumlah panjang jaringan pembuluh darahnya sampai 100 ribu kilometer dan lebih dari 500 macam proses kimiawi terjadi di dalam hati. [2] Dalam hubungan ini. memberikan informasi yang jelas pada kita betapa alam raya ini mulai dari bagian-bagiannya yang terkecil seperti partikel-partikel dalam inti atom yang sukar dibayangkan kecilnya. tekanan darah kita. meneliti.. Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan) Kami segenap ufuk dan pada diri mereka sendiri. maka peliharalah kami dari siksaan neraka. kode genetik. Meskipun demikian fungsi-fungsi tubuh yang tidak tampak. pencernaan dan tugas-tugas lain yang tidak terbilang banyaknya. seperti hukum proporsi. (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang Engkau menciptakan langit dan bumi (seraya berkata) ya Tuhan kami. Bumi tempat kita hidup yang berputar pada sumbunya dan beredar pada orbitnya di sekeliling matahari dalam jangka waktu tertentu dan pasti menyebabkan silih bergantinya siang dan malam dan bertukarnya satu musim ke musim lain secara teratur. Ilmu pengetahuan mengungkapkan. dapat kita renungkan salah satu ayat al-Qur'an yang berbunyi. [6] Rasulullah saw. Lewat ilmu pengetahuan alam kita diperkenalkan dengan hukum-hukum fisika dan kimia serta biologi. Maha Suci Engkau. [7] Petunjuk-petunjuk al-Qur'an yang mengarahkan manusia untuk berfikir. mengomentari ayat-ayat ini dengan sabdanya.. tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia. hukum reproduksi dan embriologi. hukum relativitas. Dan yang lebih dekat kita renungkan ialah keadaan tubuh jasmani kita sendiri.Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi. Pusat pengatur tubuh. menalar. Dan apakah mereka tidak memperhatikan kekuasaan langit dan bumi dan segala sesuatu yang diciptakan Allah . Prestasi atletik seringkali memperlihatkan tenaga tubuh yang bersifat melar. Tidaklah bermanfaat tanda kekuasaan Allah dan Rasul-rasul yang memberi peringatan bagi orang-orang yang tidak beriman. tubuh mengatur suhu badan kita. Sedangkan ketangguhannya menunjukkan staminanya.. [3] Pesan untuk mengamati. [4] . sangatlah jelas dan berulang-ulang kali disampaikan dalam sekian banyaknya ayat-ayat al-Qur'an. dilengkapi dengan petunjuk-petunjuk lain yang bersifat detail dimana terbayang isyarat-isyarat yang mengacu pada pokok-pokok ilmu pengetahuan tentang alam dan hukum-hukum yang berlaku atasnya. Katakanlah! Perhatikanlah apa yang ada di langit dan di bumi. hukum konservasi. lebih mengesankan lagi. memikirkan dan mempelajari alam semesta. hukum gerak.. yakni otak memiliki kemampuan merekam dan menyimpan lebih banyak informasi dibandingkan dengan pesawat apapun. tubuh manusia terdiri dari 50 juta sel.

berbunyi . Dia menguraikan tanda-tanda (kekuasaannya) kepada orang-orang yang mengetahui (berilmu)" [8] . yang merupakan . dan adalah ketetapan Allah itu suatu qadar yang pasti berlaku. kilat. dan sekali-kali tidak (pula) akan menemni penyimpangan dari sunnatullah itu.. [10] Dalam terminologi teologis hal semacam itu termasuk dalam kategori qadar dan qadla. baik berupa benda mati maupun makhluk hidup.Dan matahari itu berjalan di tempatnya. Dialah yang menjadikan matahari bersinar dan bulan bercahaya.(Allah telah menetaphan yang demikian) sebagai sunnatullah pada mereka yang telah berlaku dahulu. di dalam bahasa al-Qur'an kadangkala disebut sunnatullah. Ayat yang secara jelas merangkaikan sunnatullah itu dengan qadar. Tidaklah mungkin bagi matahari mencapai bulan dan malampun tidak dapat mendahului siang. Salah satu ayatnya mengatakan. al-Ghazali dan serentetan nama besar yang tidak asing bagi dunia ilmu pengetahuan di Timur dan di Barat. telah mengungkapkan banyak penemuan yang memperkenalkan kepada kita hukum-hukum yang berlaku dengan pasti atas alam ini. awan. Maka sekali-kali kamu tidak akan mendapat pergantian bagi sunnatullah itu. Sesungguhaya Kami menciptakan segala sesuatu dengan qadar.dianggap identik dengan determinisme.. penelitian dan penalaran lewat ilmu-ilmu yang mempelajari perilaku dan sifat-sifat makhluk-makhluk. [11] Penjelasan lebih jauh tentang qadar itu dapat kita simak dari beberapa ayat.ayat yang berbunyi. dan sering kali --secara kurang hati-hati-. Kehadiran ayat-ayat yang mengandung isyarat-isyarat yang mengacu pada pengungkapan misteri alam. namun istilah ini lebih mendominasi hal-hal yang bersangkut paut dengan perilaku manusia. Benda-benda yang ada disekeliling kita... Romawi. India dan Cina di bidang pengetahuan filsafat dan alam. al-Farabi. Demikian pula halnya dengan ilmu-ilmu lain yang dapat menangkap isyarat-isyarat berbagai ayat al-Qur'an yang berbicara tentang hewan.untuk terjun menggali ilmu pengetahuan yang luas dan khazanah ilmiah bangsa-bangsa Yunani. dan ditetapkan manzilah-manzilah (mansion) bagi peredarannya supaya kalian mengetahui bilangan tahun-tahun dan perhitungannya. Parsi. diantaranya. biasanya dalam bahasa ilmu-pengetahuan disebut natuurwet atau hukum alam. air. [12] Kata bi qadar (dengan qadar) di sini ditafsirkan. Isyarat yang ada dibalik kalimat ini dapat ditangkap lebih jelas dengan bantuan ilmu fisika yang membahas tentang materi dan unsur. menurut ukuran. Ibn Rusyd. Dan masing-masing di dalam orbitnya pada beredar. [9] Kedua ayat ini cukup jelas isyarat-isyaratnya yang dapat ditangkap ilmu astronomi. Upaya pengamatan. Dan telah Kami tetapkan bagi bulan manzilah-manzilah perjalanan sehingga (setelah ia sampai ke manzilah terakhir) kembalilah ia sebagai bentuk tandan yang tua. itulah ketentuan dari Yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui. tumbuh-tumbuhan. Adanya sejumlah ketentuan yang pasti dan berlaku sebagai hukum yang mengatur segala makhluk di alam raya ini. Allah tidak menciptakan yang demikian itu melainkan dengan hak. dan tentang manusia sendiri dan kejadiannya serta segala macam permasalahannya. sehingga menghasilkan ilmuwan-ilmuwan besar seperti Ibn Sina. mendorong minat dan membangkitkan semangat kaum Muslim angkatan-angkatan pertama --yang dapat menghayati ayat-ayat al-Qur'an ini-.

unsur Pt (platina). dan seterusnya.. Juga untuk menemukan sunnatullah atau hukum-hukum kauniyah yang akan menopang tegaknya hukum-hukum syar'iyyah. Misalnya unsur oksigen bergabung dengan hidrogen membentuk senyawa cair. Dalam hubungan ini dapat kita hayati ungkapan sebuah ayat yang berbunyi. mengikuti suatu aturan yang dikenal hakam proporsi yang sudah tertentu. unsur-unsur telah bergabung membentuk suatu senyawa.. tumbuh-tumbuhan. jumlah protonnya 78. jumlah protonnya 80. Mungkin itulah yang disindir Imam Ghazali dengan ungkapannya:. hewan. jumlah protonnya 26. unsur Cu (tembaga). unsur Hg (air raksa). tapi harus dengan mata hati. seng. dapat pula kita temui dari informasi ilmu kimia yang membahas unsur-unsur itu. jumlah proton yang terkandung di dalamnya 13. mereka tidak mampu membaca tulisan Ilahi yang tergurat di atas lembaran-lembaran alam semesta. demikian pula dengan proporsi nitrogen dan hidrogen dalam amoniak. Metro Pondok Indah Pondok Indah Plaza I Kav. Semuanya ini merupakan bagian dari hukum yang mengatur dan memelihara alam semesta. tulisan tanpa aksara dan bunyi itu pasti tidak dapat diraih dengan mata telanjang. Air murni selalu mempunyai proporsi oksigen dan hidrogen yang sudah tertentu dan tetap. 7501983. memperlihatkan kepada kita adanya kadar ukuran tertentu yang menjadi ketentuan-ketentuan yang pasti yang dapat diamati dalam diri setiap makhluk. jumlah protonnya 47. unsur Ag (perak). (021) 7507174 Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan . unsur Fe (besi). unsur Al (aluminium). Dalam kasus-kasus seperti ini. (021) 7501969. UA 20-21 Jakarta Selatan Telp. Dan Dia (Allah) telah menciptakan segala sesuatu dan Dia-lah yang menetapkan qadar/ukurannya secara pasti serapi-rapinya. besi.(bersambung 2/3) Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah Editor: Budhy Munawar-Rachman Penerbit Yayasan Paramadina Jln. 7507173 Fax. Isyarat serupa yang kita peroleh dari informasi ilmu fisika sebagaimana disinggung di atas. emas. [14] Pembahasan teologis dalam bidang qada dan qadar (masalah takdir) kurang menyentuh apa yang kami singgung di atas. Tergabungnya dua unsur atau lebih melalui pola persenyawaan atau pola percampuran membentuk suatu materi tertentu. semuanya itu termasuk dalam kategori materi. perak. Padahal ayat-ayat yang berbicara tentang qudrat-iradat Allah/kekuasaan dan keagungan Allah. . dan disebut air. air dan sebagainya. jumlah protonnya 28. [15] -------------------------------------------.". Unsur-unsur yang tergabung dalam suatu senyawa selalu mempunyai proporsi tertentu. jumlah protonnya 29. [13] Secara sepintas dari dua informasi yang disajikan di atas. unsur Au (emas). sebagian besar mengaitkan bermacam-macam fenomena alam yang dimintakan perhatian supaya manusia mengamatinya dan melakukan penalarannya untuk dapat membaca tulisan Ilahi yang tersirat di dalamnya. jumlah protonnya 79. Sebahagian besar dari materi-materi yang kita kenal terdiri dari unsur-unsur. Misalnya.. unsur Ni (nikel).bahan-bahan kebutuhan dalam hidup kita seperti kayu.

semuanya berkaitan dengan peristiwa sejarah yang dialami para Nabi/Rasul dengan umatnya masing-masing. Sukses besar berupa keberhasilan membangun dan membina suatu umat teladan. al-Ahzab. semua itu tidaklah lahir dalam sehari dengan kilatan lampu aladin. Apa yang dikenal dalam ilmu hukum dengan historis-interpretasi cukup jelas padanannya dalam ilmu ushul fiqh yang lazim dipakai dalam mengolah hukum Islam. al-Kahf. dengan adanya hukum nasikh-mansukh. pemakaian kata sunnatullah lebih banyak mengacu pada apa yang disebut oleh ilmu pengetabuan sebagai "hukum sejarah. Uhud. al-Tsamud. semuanya itu adalah untuk memperjelas proses terbentuknya suatu hukum dan latar belakang sejarah yang mendorong kehadiran hukum tersebut. Ghafir. Fathir. Selain itu. yang berlaku secara pasti. Sunnah Rasullullah saw yang menggambarkan perjuangannya selama dua dasawarsa lebih. yang berbicara tentang sunnatullah dengan berbagai formulasi seperti sunnat alawwalin. Demikian pula halnya dengan tempat-tempat bersejarah seperti Badr.ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota Please direct any suggestion to Media Team Artikel Yayasan Paramadina Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota II. dan sebagainya. merupakan sebagian dari sunnatullah. Quraisy. yang hidup bergelimang kemewahan. bahkan dalam al-Qur'an. sunnata man arsalna qablak. Dalam rangka itu al-Qur'an memperkenalkan tokoh-tokoh sejarah zaman lampau seperti Fir'aun. Ahqaf. Jalut. Bagaimana pertarungan antara pahlawan-pahlawan kebenaran dan akibat-akibat apa yang dialami para penentang kebenaran yang melakukan kezaliman. Sejarah mempunyai hukumnya sendiri dalam hal-hal tersebut di atas. Hunain.8. yang banyak dicatat dalam al-Qur'an menerjemahkan dengan jelas sunnatullah yang berlaku dalam sejarah. Saba'. apa faktor-faktor kemenangan dan apa faktor-faktor kegagalan dalam satu perjuangan. al-Anfal. al-Fath. aspek kesejarahan mempunyai juga arti penting dalam hukum-hukum syar'iyyah. dan lain sebagainya. dan sebagainya. Hukum yang berlaku sepanjang sejarah kehidupan manusia. dan memenangkan suatu perjuangan besar dalam menegakkan kebenaran dan keadilan serta mewujudkan kesejahteraan yang memberi arti bagi kemanusiaan. yang diminta al-Qur'an supaya diamati. tapi juga menjangkau alam nonmateri. asbab al-nuzul. yang mengabaikan nilai-nilai moral." Ayat-ayat di dalam surah-surah al-Isra'. Tubba'. al-Nisa. asbab al-wurud dan status makkiyah atau madaniyah dari ayatayat. sunana al-ladzina min qablikum. direnungkan dan mengambil pelajaran daripadanya. Dari sejarah itu tergambar bagaimana proses kebangkitan suatu umat dan bagaimana proses kehancurannya. Ali 'Imran. . KONSEP-KONSEP HUKUM (2/3) oleh KH. tapi merupakan hasil kerja keras yang lama dan berkesinambungan. Haman. yang memeras golongan lemah. dan seterusnya. Thur. sebagaimana berlaku natuurwet. Hijr. Ali Yafie Sunnatullah yang diperkenalkan al-Qur'an sebagaimana diuraikan di atas tidaklah terbatas pada ketentuan-ketentuan yang mengatur alam materi saja.

Dan Allah pun mewujudkan janjinya pada mereka. Sunnah Rasulullah dalam perjuangan itu mendidik umatnya supaya memahami dan menghayati sunnatullah yang berlaku dalam sejarah. Siapa yang menolong/membela agama Allah dengan jalan menegakkan keadilan. Atau dianggapnya hukum tawakkal bertentangan dengan hukum sebab-musabab (kausal). disamping menjelaskan hal itu dalam petunjuk lisannya pada mereka yang segan berobat di kala ia sakit.yang didorong oleh rasa percaya diri dan semangat juang yang tinggi sebagai perwujudan iman dan taqwa. membimbing kita supaya menyadari keterkaitan segala sesuatu dengan penyebabnya. tapi dalam bentuk kesadaran keimanan yang menjadikan mereka menyadari kewajibannya dan melaksanakan perjuangan dengan gigih tanpa pamrih. atau karena sudah memeluk agama Allah. tapi hanya sebagai alat menciptakan kemakmuran dan untuk menegakkan hukum Allah dalam hal memerintahkan yang ma'ruf dan mencegah yang mungkar. Sebab-sebab keberhasilan dan kemenangan dalam suatu perjuangan dapat dipelajari dari sejarah dan harus dipersiapkan dengan sebaik-baiknya. memantapkan keamanan. Keraguan seperti itu sejak dini telah muncul. melihat adanya semacam kontradiksi antara hukum sebab-musabab (hukum kausal) dengan hukum teologis yang disebut tauhid. Dalam hubungan ini Syeikh Mahmud Syaltut mengomentari. [16] Ciri utama agama Islam. Keduanya mempunyai titik temu dalam hukum sebab-akibat. karena khawatir kalau-kalau upaya berobat untuk menghindarkan penyakit bertentangan dengan iman tauhudnya dan tidak menjadikan ia bertawakkal kepada Allah. ialah ajarannya yang cukup praktis dan realistis menghadapi kenyataan sosial dengan langkah-langkah pemecahan yang praktis pula. ayat-ayat yang berbicara tentang perjuangan Rasulullah. yang menandai kehidupan sosial. Sebaliknya juga segala penyebab terjadinya suatu kegagalan atau kehancuran harus disadari dan dihindari. sebagai syarat bagi terjadinya. yang menempuh segala persyaratan dan mengkaitkan segala sebab dengan musababnya. menyebarkan ketentraman. Dianggapnya hukum tauhid itu cenderung memberikan cap syirik (mempersekutukan Allah) jika seseorang menganggap ada penyebab (faktor penentu) selain Allah. hanya karena mereka sudah mengaku beriman/percaya kepada Allah. Maka dengan adanya perjuangan antara kebenaran dengan kebatilan. Lebih lanjut beliau menjelaskan bahwa dalam al-Qur'an banyak ayat memuat janji Allah untuk membantu memenangkan perjuangan orang-orang mukmin. tapi tidak mewujudkan janji itu dalam bentuk suatu keajaiban yang langsung turun dari langit. demikian pula sunnah Rasulullah yang memberikan penjelasan praktis pada pesan al-Qur'an itu. mengungkapkan sesungguhnya Allah hanya memenangkan suatu perjuangan sesuai dengan ketentuan sunnahNya yang berlaku atas segenap mahluk-Nya. Pesan dan petunjuk yang diberikan al-Qur'an pada manusia. lalu diluruskan oleh sunnah Rasulullah dalam praktek sebagaimana tercermin dengan jelas dalam cara-cara perjuangan Rasul saw. Dalam hubungan . Sikap yang demikian membuktikan bahwa mereka sudah memenuhi janjinya kepada Allah. atau hukum moral yang disebut tawakkal. Ada sebagian pendapat yang kurang memahami sunnatullah dalam bentuk hukum alam dan hukum sejarah. maka keharusan memenuhi segala persyaratan-persyaratan itu adalah suatu hal yang mutlak. tidak menjadikan kekuatan/kekuasaan itu sebagai alat menindas dan merusak. Hukum sejarah sejalan dengan hukum alam.

[l7] Dalam sabdanya yang lain. Di luar itu tidak diperlukan hukum. Allah jualah yang lebih tabu keadaannya. Tata hubungan antara manusia dengan sesamanya dalam lalulintas pergaulan dan hubungan sehari-hari untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. diatur melalui hukum munakahat. ketika Beliau ditanya tentang pengobatan. Hubungan antara makhluk (manusia) dengan Al-Khaliq. Bertobatlah kalian. .itu Nabi saw. hukum itu hanya sekedar mengurus dan mengatur hubungan antar sesama manusia. diatur secara pasti. Sebaliknya hukum menurut ajaran al-Qur'an penegakkannya berjalan sekaligus dengan penabinaan moral dan akhlak yang bersumber dari akidah/keimanan. Maka sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala apa yang kalian lakukan. Hubungan manusia sebagai makhluk dengan Khaliqnya (Allah) diatur penataannya melalui hukum ibadat. yakni bidang 'ibadat. Menurut ilmu hukum. kaya maupun miskin. Wahai orang-orang yang berilmu! jadilah kalian orang yang benar-benar penegak keadilan. apakah itu bertentangan dengan qadar (taqdir)? Lalu Beliau menjawab. memperlihatkan dengan jelas peran moral dalam hukum itu. [20] Itulah pesan al-Qur'an. biarpun terhadap dirimu sendiri atau ibu bapak dan keluarga kerabatmu. Adanya hukum-ibadat dalam batang tubuh hukum Islam yang bersumber dari al-Qur'an itu merupakan ciri utama hukum Islam. supaya kalian tidak menyimpang (dari kebenaran). Pembinaan hukum di sini tidak diarahkan kepada pembinaan diri manusianya. Dan jika kalian memutarbalikkan (kebenaran) atau enggan menjadi saksi. bidang munakahat dan bidang jinayat. menjadi saksi karena Allah. Apa yang dimaksud dengan nilai moral dan akhlak tidaklah tergolong hukum. karena sesungguhnya Allah menciptakan penyakit dan menciptakan juga obat. hukum itu terdiri dari suruhan/perintah dan larangan serta hak dan kewajiban. diatur dalam hukum mu'amalat. Karena itu penegakkan hukum menurut ilmu hukum selama tidak diawasi dan diketahui pejabat/aparat hukum selalu terjadi pelanggaran hukum. Demikian ulasan al-Ghazali dalam Kitab Tawhid dan Tawakkal. masih ada perbedaan asasi antara kedua jenis hukum itu. Dalam penegakkan hukum menurut ajaran al-Qur'an selalu ditekankan suatu pesan sebagai berikut. Tata hubungan manusia dalam kehidupan berkeluarga dalam suatu lingkungan rumah tangga. dan terakhir tata hubungan keselamatan. sebab-musabab itu adalah sunnatullah dan penyimpangan dari sunnatullah bukanlah persyaratan dalam tawakkal bahkan ada kalanya merupakan kebodohan yang dicela agama. Itu (pengobatan) adalah sebahagian dari qadar Allah. Maka janganlah kalian mengikuti hawa nafsumu. Di sinilah terlihat secara nyata keterkaitan hukum itu dengan akidah/keimanan. [39] Penjabaran yang merinci hukum-hukum al-Qur'an yang dilakukan fiqh memperlihatkan adanya empat bidang utama yang menjadi sasaran dari hukum itu. Dengan demikian tidaklah mengherankan akibatnya dalam rangka pembinaan hukum. Selain itu. bidang mu'amalat. Di sini pula tampak titik awal perbedaan antara pemahaman hukum menurut ilmu hukum dengan hukum Islam yang bersumber dari al-Qur'an. Menurut ilmu hukum. Ibadat tidak lain adalah perwujudan dari akidah yang diimani. hanya diarahkan supaya tidak melanggar rambu-rambu hukum. [18] Imam Ghazali menjelaskan. diatur melalui hukum jinayat. keamanan serta kesejahteraannya yang ditegakkan oleh pemegang kekuasaan umum atau badan peradilan. bersabda. Adanya hukum niat yang diberi peran menentukan nilai perilaku manusia. Kepatuhan mentaati hukum menjadi kepatuhan yang semu dan bersifat lahiriah belaka.

maka hukum dari ajaran al-Qur'an itu mempunyai kekuatan sendiri yang tidak sepenuhnya tergantung pada adanya suatu kekuasaan sebagai kekuatan pemaksa dari luar hukum itu. Metro Pondok Indah Pondok Indah Plaza I Kav. (021) 7501969. lalu aku memutus perkara itu atas dasar apa yang saya dengar (dari alasan/keterangan) itu. UA 20-21 Jakarta Selatan Telp. secara dini al-Qur'an memperingatkan. Maka barang siapa menerima putusan perkara (yang ia sendiri tahu) bahwa itu hak saudaranya (lawannya dalam perkara) maka janganlah ia mengambil (hak) itu. Seandainya hukum yang diajarkan al-Qur'an itu tergantung .(bersambung 3/3) Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah Editor: Budhy Munawar-Rachman Penerbit Yayasan Paramadina Jln. 7507173 Fax. Dengan sifatnya yang demikian itu. [2l] Dalam hubungan adanya kemungkinan seseorang berlaku memperdayakan hakim. [22] -------------------------------------------. dengan hukum dalam rumusan yang diajarkan al-Qur'an. al-Qur'an memperkenalkan satu konsepsi hukum yang bersifat integral. Karena sesungguhnya ia hanya mengambil (menerima dariku) sepotong api neraka.bagaimana seyogyanya seorang berbuat adil. yang pertama ialah dari dan terhadap dirinya sendiri. (021) 7507174 Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota Please direct any suggestion to Media Team Artikel Yayasan Paramadina Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota II. supaya kalian dapat memakan sebahagian harta benda orang lain itu dengan (jalan berbuat) dosa.8. Mungkin sebahagian dari kalian lebih mampu dari yang lain (lawannya) mengemukakan alasan-alasan untuk memperkuat tuntutannya. Ide hukum yang diajarkan al-Qur'an berkembang terus dari kurun ke kurun. padahal kalian mengetahui. sunnah Rasulullah memperjelas sebagai berikut. Ali Yafie Dengan demikian maka jelaslah. KONSEP-KONSEP HUKUM (3/3) oleh KH. Di dalamnya terpadu antara sunnatullah dengan sunnah Rasulullah. atau adanya aparat hukum yang menyalahgunakan kedudukannya. Sesungguhnya kalian mengajukan perkara-perkara kepadaku (untuk diputus). Tidak dituntut dari dan terhadap orang lain saja. 7501983. sebagaimana terpadunya antara aqidah/keimanan dan moral/ahklak. Dan janganlah sebagian dari kalian memakan harta benda sebagian yang lain dengan jalan batil dan jangan pula mempergunakan harta itu sebagai umpan (guna menyuap) para hakim. Kemungkinan seorang pencari keadilan berlaku memperdaya hakim. melalui jalur ilmu. Demikian sabda Rasulullah.

Namun harus diakui. Disamping itu. Di lain pihak. Dan seginya yang menyangkut sunatullah berupa hukum alam dan sejarah. sangat berjasa dalam menumbuhkan kesadaran hukum dan sikap normatif dalam kehidupan umat Islam. perundang-undangan Islam kaya dengan berbagai teori hukum dan teknik hukum yang indah. dengan hukum-hukumnya yang menyangkut sunnatullah yang berupa hukum alam dan hukum sejarah. sejak 1978 sampai dengan 1983 telah dilaksanakan pengkajian hukum yang meliputi antara lain Hukum Islam. perkembangan segi-seginya tidaklah seimbang. perkembangan segi fiqhnya yang merumuskan hukum sosial kemasyarakatan itu. dari kongres ke kongres mulai terbuka pandangan terhadap Islam. Hukum yang diperkenalkan al-Qur'an hidup terus. yang terjadi di negara-negara maju dapat pula mencari pandangan yang negatif terhadap Islam dan al-Qur'an. Sebagai kelanjutan dari pokok pikiran ini. Karena kita semua cukup mengetahui betapa hebat upaya dari kekuasaan-kekuasaan yang mampu menaklukkan wilayah-wilayah Islam dan umatnya disertai upaya melikwidasi budaya dan hukumnya. Salah satu gejala dari perkembangan tersebut adalah minat para ilmuwan Barat untuk mempelajari Islam/Qur'an. Sebagai contoh dapat kita lihat dari hasil Kongres Ahli-ahli Hukum Internasional yang berlangsung di London (2-7 Juli 1951) yang antara lain menetapkan. pembangunan dan pembinaan hukum nasional diarahkan kepada pembaharuan hukum yang sesuai dengan kesadaran hukum yang berkembang dalam masyarakat.pada suatu kekuasaan. kurang mendapat perhatian dalam pengembangannya. Terakhir kita mendengar selesainya upaya kompilasi Hukum Islam yang dilakukan Mahkamah Agung bersama Departemen Agama. pelaksanaan dan pengembangan wawasan hukum yang diperkenalkan al-Qur'an itu merupakan tantangan bagi para ulama dan para . penerapannya ternyata juga kurang terpadu antara hukum-hukumnya yang menyangkut segi sosial kemasyarakatan. perkembangan ilmu pengetahuan yang sangat pesat. yang sangat mendominasi bangsa-bangsa Barat. Dua hal yang disinggung terakhir ini. pokok-pokok hukum (undang-undang) yang terdapat dalam agama Islam merupakan undang-undang yang bernilai tinggi dan sulit dibantah kebenarannya. Seginya yang menyangkut hukum sosial kemasyarakatan (ahkam syar'iyah 'amaliyah/fiqh) lebih banyak mendominasi perkembangan itu. sebagai ilmu. Tetapi bagaimana pun juga. [23] Dalam rangka pembangunan hukum di negara kita Republik Indonesia. yang tidak lain wujud nyatanya dan terinci adalah fiqh (hukum Islam) itu sendiri. wawasan hukum yang diperkenalkan al-Qur'an. yakni keseimbangan dan keterpaduan dalam hal pemahaman. Dalam rangka itu para ahli hukum dari mereka. Tapi ternyata hukum Islam dari ajaran al-Qur'an itu dapat memperlihatkan daya tahannya yang ampuh. Maka Fiqh ini dijadikan agenda tetap dalam pengkajian-pengkajian mereka di bidang hukum. sehingga perundang-undangan ini dapat memenuhi kebutuhan hidup modern. karena memang demikianlah hukum sejarah dalam sunnatullah sendiri. maka sudah lama jenis hukum ini terkubur dalam perut sejarah atau sekurang-kurangnya menjadi barang pajangan di lemari-lemari museum. adanya berbagai madrasah dan madzhab di dalamnya menunjukkan. Selain itu. sekali pun harus mengalami pasang surut dan pasang naik dan penerapannya. Ia tetap bertahan bahkan berkembang dalam bentuk baru melalui proses taqnin (dirumuskan menjadi positif melalui yurisprudensi dan adakalanya melalui berbagai bentuk perundang-undangan).

7) UU No. 9) Jonathan Rutland. 2) QS. 21) QS. Penjelasan Umum. h. 6) UUD 1945. CATATAN 1) QS. Yunus:15. al-Qamar:49. (021) 7507174 Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan . Syaltut. al-Furqan:2 22) Ihya 'Ulum al-Din. 'Ali 'Imran. I/440. al-Maidah:8. 4) QS. 18) QS. 3) QS. Hud:45. LV/89. al-Ahzab:38. UA 20-21 Jakarta Selatan Telp. al-A'raf: 185. al-Mumtahanah:10. 16) QS. (021) 7501969. 12) QS. 17) QS. IV/146. 10) QS. Fusshilat:53. Fathir :43. al-Maidah:42 5) QS. 7507173 Fax. al-Maidah:43. 20) Ilmu Pengetahuan Populer. -------------------------------------------Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah Editor: Budhy Munawar-Rachman Penerbit Yayasan Paramadina Jln. 15) QS. Yasln:38/40. 14) Taisir Ibn' Katsir. 23) Min Taujuhat al-Islam. 19) QS. Al-Ra'd:15. 11) QS.83. 14 Tahun 1970 tentang Ketentuan Pokok Kekuasaan Kehakiman 8) QS. Human Body. 'Ali 'Imran:190/191. Metro Pondok Indah Pondok Indah Plaza I Kav. Yunus:101. al-A'raf:87. 7501983. al-Nisa':68.272. dan lain-lain.cendekiawan Muslim. al-Ghazali. Grolier Internasional Inc. 13) QS.

(QS. Hud/11:105-108) Munculnya persoalan pengertian kebahagiaan dan kesengsaraan ini dalam Islam. yang sengsara dan yang bahagia. Sebab tujuan hidup manusia tak lain ialah memperoleh kebahagiaan dan menghindari kesengsaraan.ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota Please direct any suggestion to Media Team Artikel Yayasan Paramadina Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota II. Namun semua ajaran dan ideologi selalu menegaskan bahwa kebahagiaan yang dijanjikannya atau kesengsaraan yang diancamkannya adalah jenis yang paling sejati dan abadi. atau di dunia dan akhirat seperti dalam Islam. selama langit dan bumi masih ada. yakni kebahagiaan). misalnya) menjanjikan kebahagiaan bagi para pengikutnya dan mengancam para penentangnya dengan kesengsaraan. Sebab Tuhanmu pasti melaksanakan apa saja yang menjadi kehendak-Nya. yakni. Dalam agama-agama. Kekal abadi di dalamnya. Meskipun ilustrasi tentang surga dan neraka itu berbeda-beda --dalam banyak hal perbedaan itu sangat radikal dan prinsipil-. Semua ajaran. Gambaran tentang wujud kebahagiaan atau kesengsaraan itu sangat beranekaragam. maka akan berada dalam surga. baik yang bersifat keagamaan maupun yang bersifat keduniaan semata (seperti Marxisme. Kitab Suci al-Qur'an menyajikan banyak ilustrasi dan penegasan yang kuat tentang kebahagiaan dan kesengsaraan Dalam sebuah firman disebutkan tentang terbaginya manusia ke dalam dua kelompok: yang sengsara (syaqiy penyandang syaqawah. kesengsaraan) dan yang bahagia (sa'id. sebagai anugerah yang tiada batasnya. Al-Qur'an melukiskan keadaan itu demikian.namun semuanya menunjukkan adanya keyakinan yang pasti tentang pengalaman kebahagiaan atau kesengsaraan dalam hidup manusia. gambaran tentang wujud kebahagiaan dan kesengsaraan itu dinyatakan dalam konsep-konsep tentang kehidupan di surga dan di neraka. Ada pun mereka yang sengsara. Kebahagiaan atau kesengsaraan itu dapat terjadi hanya di dunia ini saja seperti dalam Marxisme. kekal abadi di dalamnya. . Jika Hari (Kiamat) itu telah tiba. patut kita bahas secara sungguh-sungguh. penyandang sa'adah.10. selama langit dan bumi masih ada kecuali jika Tuharmu menghendaki hal berbeda. atau di akhirat saja seperti dalam agama-agama other-wordly. KONSEP-KONSEP KEBAHAGIAAN DAN KESENGSARAAN (1/4) oleh Nurcholish Madjid Masalah kebahagiaan (sa'adah) dan kesengsaraan (syaqawah) adalah masalah kemanusiaan yang paling hakiki. kecuali jika Tuhanmu menghendaki hal berbeda. maka tiada seorang pun akan berbicara kecuali dengan izin-Nya Mereka manusia akan terbagi menjadi dua. Ada pun mereka yang bahagia. maka akan tinggal dalam neraka di sana mereka akan berkeluh kesah semata.

apakah berupa pengalaman kerohanian semata. al-Nahl/16:97). mengajarkan tentang adanya kebahagiaan atau kesengsaraan yang hanya bersifat jasmani. banyak pula dijanjikan kehidupan yang bahagia sekaligus di dunia ini dan di akhirat kelak untuk mereka yang beriman dan berbuat baik. Kebahagiaan hanya diperoleh dengan tindakan dan perilaku meninggalkan dunia. karena sifatnya yang membelenggu sukma manusia. orang yang mengalami kebahagiaan duniawi belum tentu akan mendapatkan kebahagiaan di akhirat. Kehidupan yang bahagia di dunia menjadi semacam pendahuluan bagi kehidupan yang lebih bahagia di akhirat. dari kalangan pria maupun wanita. Barangsiapa berbuat baik. bukan fase peralihan seperti diyakini agama-agama (Lihat QS. seseorang dianjurkan mengejar kebahagiaan di akhirat. Sebaliknya. yang hanya mempercayai kehidupan duniawi ini saja. KEBAHAGIAAN DAN KESENGSARAAN: JASMANI DAN ROHANI? Di atas telah disinggung. demikian pula masalah . sesuai dengan sebaik-baik apa yang telah mereka kerjakan (QS. Demikian itu masalah kebahagiaan. Maka manusia didorong mengejar kedua bentuk kebahagiaan itu. namun diingatkan agar jangan melupakan nasibnya dalam hidup di dunia ini (Lihat QS. Bagi agama-agama itu. yaitu. merupakan bagian dari dialog Islam sejak masa klasik. Marxisme. sebagian agama mengajarkan adanya kebahagiaan dan kesengsaraan rohani semata. Ini akan banyak menyangkut konsep-konsep kefilsafatan dan kesufian yang cukup rumit. dan kematian adalah fase final hidup manusia. namun tetap membedakan keduanya. Ateisme dengan sendirinya mengingkari kehidupan sesudah mati atau akhirat. semua itu berlangsung hanya dalam hidup di dunia ini saja. Walaupun begitu. Dalam Islam. namun dirasa perlu kita mulai membahasnya mengingat perkembangan keagamaan di negeri kita yang pesat dengan tuntutan-tuntutannya yang terus meningkat. al-Qashash/28:77). al-Baqarah/2:200). Perselisihan tentang wujud kebahagiaan atau kesengsaraan itu. dalam orientasi hidup yang mengarah ke kehidupan rohani saja.disebabkan adanya perbedaan interpretasi atas ayat-ayat suci yang menggambarkan kebahagiaan dan kesengsaraan itu. kehidupan jasmani adalah kesengsaraan. al-Jatsiyah/45:24). ataukah pengalaman rohani dan jasmani sekaligus. Kaum Marxis yang ateis ini mirip dengan gambaran dalam al-Qur'an tentang golongan manusia pemuja waktu (al-Dahr). Islam mengajarkan kebahagiaan dan kesengsaraan jasmani dan rohani atau duniawi dan ukhrawi. dan pastilah akan Kami ganjarkan kepada mereka pahala mereka (di akhirat). Itu berarti memperoleh kebahagiaan akhirat belum tentu dan tidak dengan sendirinya memperoleh kebahagiaan di dunia. Dalam tulisan ini kita akan membicarakan konsep kebahagiaan dan kesengsaraan sebagai pengalaman keagamaan (pribadi). atau pengalaman jasmani semata. dan dengan sendirinya. serta berusaha menghindar dari penderitaan azab lahir dan batin (QS. tentu saja. dan dia itu beriman maka pastilah akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik (di dunia).

dan harus dipahami dalam konteks adres pembicaraan (al-mukhathab). mereka dikembalikan ke dalamnya. hemat. khususnya keterangan atau pelukisan tentang surga dan neraka Yaitu perbedaan antara mereka yang memahami teks-teks suci secara harfiah dan mereka yang melakukan interpretasi metaforis (ta'wil) Bagi mereka yang memahami teks-teks suci itu secara harfiah. dapat dipercaya. Adapun orang-orang yang jahat. al-Sajdah/32:20-21) Penegasan-penegasan ini tidak perlu dipertentangkan dengan penegasan-penegasan terdahulu di atas bahwa ada perbedaan antara kebahagiaan duniawi dan kebahagiaan ukhrawi. the . perilaku lahir dan batin manusia yang membawa akibat pada adanya pengalaman kebahagiaan atau kesengsaruan duniawi dan ukhrawi sekaligus. MASALAH INTERPRETASI Meskipun para ulama sepakat tentang adanya kebahagiaan dan kesengsaraan dunia-akhirat itu. Ciri tersebut akan membawa mereka pada kebahagiaan duniawi dan ukhrawi sekaligus. tulus." Dan pastilah Kami (Tuhan) buat mereka merasakan azab yang lebih ringan (di dunia ini) sebelum azab yang lebih besar (di akhirat nanti) agar kiranya mereka mau kembali. dan lain-lain adalah pekerti-pekerti yang dipujikan Allah sebagai ciri-ciri kaum beriman. berkesungguhan dalam mencapai hasil kerja sebaik-baiknya (itqan). tabah. yang dikaitkan dengan "kebijaksanaan" Tuhan sebagai yang Maha Kasih-Sayang dan Maha Adil. yang melahirkan piramida eksistensial. tepat janji. baik dalam Kitab maupun Sunnah yang memberi isyarat bahwa pengalaman kebahagiaan dan kesengsaraan itu tidak fisik. Kemudian ada beberapa keterangan. Orang yang ingkar kepada kebenaran dan berbuat jahat diancam baginya kesengsaraan dalam hidup di dunia ini sebelum kesengsaraan yang lebih besar kelak di akhirat. sambil dikatakan kepada mereka: "Sekarang rasakanlah azab neraka ini. yang dahulu kamu dustakan.kesengsaraan. cinta kerja keras. (QS. manusia dengan kaum khawas (al-khawash atau orang-orang khusus. Sebab hampir seluruh keterangan dan pelukisan tentang surga dan neraka dalam Kitab dan Sunnah menggambarkan tentang pengalaman kebahagiaan atau kesengsaraan yang serba fisik. Setiap kali mereka hendak keluar dari sana. Beberapa nilai akhlak luhur seperti jujur. dengan kebahagiaan di akhirat yang jauh lebih besar. Ibn Rusyd mengaitkan perkara ini dengan kenyataan terbaginya manusia dalam susunan tinggi dan rendah. pengertian tentang kebahagiaan dan kesengsaraan akan cenderung bersifat fisik. baik dari al-Qur'an maupun Sunnnah. dan bahwa tidak selamanya mengejar salah satu akan dengan sendirinya menghasilkan yang lain. maka pelukisan kebahagiaan dan kesengsaraan apa pun harus diterima sebagai sesuatu yang wujudi atau eksistensial. maka tempat mereka adalah neraka. Tapi memang ada dan banyak. Dalam kemungkinan tinjauan yang lebih menyeluruh. melainkan rohani atau sekurang-kurangnya psikologis. mereka tetap berselisih tentang kebahagiaan dan kesengsaraan yang sejati dan abadi Pangkal perbedaan itu ialah adanya perbedaan dalam tafsiran atas berbagai keterangan suci tentang kebahagiaan dan kesengsaraan.

(021) 7507174 Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota Please direct any suggestion to Media Team . jika mendapatkan bahwa pengertian harfiah pelukisan itu adalah mustahil atau absurd. namun dalam pandangan Ibn Rusyd tidaklah terhindarkan karena kenyataan dalam masyarakat menunjukkan adanya orang-orang tertentu yang jumlahnya tidak banyak. sesuai dengan cara yang sekiranya akan mendorong mereka berbuat baik dan mencegah dari berbuat jahat. suatu hal yang jelas mustahil yang kualifikasi kelompok kecil itu ialah kesanggupan memahami hal-hal abstrak di balik ungkapan-ungkapan kiasan. Pemahaman me lalui metode i'tibar adalah interpretasi alegoris atau ta'wil. Mereka yang mampu memahaminya dengan melakukan al-i'tibar. Karena itu Tuhan juga mengarahkan sabda-Nya kepada khalayak umum. Fashl al-Maqa]). berbentuk pelukisan kehidupan di surga dan neraka dalam Kitab Suci dan Sabda Nabi. Tapi Tuhan Yang Maha Adil dan Maha Kasih-Sayang kepada sekalian umat manusia tentu mustahil mengalamatkan sabda-Nya hanya kepada orang-orang khusus yang jumlahnya sedikit itu. Bagi mereka ini.specials) menempati puncak piramida itu. 7507173 Fax. maka pengertian tentang hakikat kebahagiaan dan kesengsaraan itu menjadi kurang relevan bagi kaum awam. -------------------------------------------. menurut Ibn Rusyd wajib melakukan pemahaman serupa itu. 7501983. Karena yang pokok ialah iman kepada Allah serta berbuat baik. Sebab dengan demikian berarti Tuhan menjanjikan kebahagiaan hanya kepada kelompok kecil manusia saja. (Lihat Ibn Rusyd. adalah metafor-metafor atau makna-makna kiasan (majaz). Karena itu. Dengan jalan itu kaum khawas dapat menerima agama dan rahmat yang dikandung agama itu pada dataran yang lebih tinggi daripada kaum awam. the commons) menempati bagian-bagian bawah sampai ke dasar piramida. Metro Pondok Indah Pondok Indah Plaza I Kav. seluruh keterangan tentang kebahagiaan dan kesengsaraan. Kaum awam ini membentuk bagian terbesar struktur piramidal masyarakat manusia. (021) 7501969. pelukisan tentang kebahagiaan dan kesengsaraan dalam Kitab Suci dan Sunnah Nabi kebanyakan bersifat fisik. Meskipun pendekatan ini mengesankan elitisme. Mereka ini wajib menerima pelukisan tentang surga dan neraka apa adanya. UA 20-21 Jakarta Selatan Telp. dalam pandangan Ibn Rusyd dan para filsuf Muslim. yang sanggup memahami kebenarankebenaran hakiki lewat alegori-alegori dengan melakukan "penyeberangan" (al-i'tibar) ke pengertian-pengertian sebenarnya di balik alegori-alegori. dan kaum awam (al-awam orang-orang umum atau kebanyakan. karena memang pelukisan yang bersifat fisik itulah yang dapat ditangkap dan dipahami umum. sesuai dan setingkat dengan cara berfikir serta kemampuan mereka menangkap pesan dan memahami masalah.(bersambung 2/4) Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah Editor: Budhy Munawar-Rachman Penerbit Yayasan Paramadina Jln.

baik di dunia maupun di akhirat. sungai-sungainya mengalir di bawahnya. seperti dapat diketahui dari firman berikut. Bahwa banyak kandungan al-Qur'an yang bersifat tamsil-ibarat. yang tidak akan berubah cita-rasanya. dapat dipahami dari firman berikut. Itulah tempat kesudahan bagi mereka yang bertaqwa. Dan sungguh telah Kami (Tuhan) beberkan untuk manusia dalam al-Qur'an ini setiap bentuk tamsil-ibarat. Maka sementara masalah adanya kebahagiaan dan kesengsaraan itu. (QS.Artikel Yayasan Paramadina Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota II. Di dalam surga itu mereka mendapatkan buah-buahan dari segala macam. yang diberi minum dengan air mendidih. bahwa dalam al-Qur'an Tuhan memang menyediakan berbagai "tamsil-ibarat". lihat juga QS. al-Rum/30:58 dan QS. Sebagaimana juga (tamsil-ibarat) orang yang kekal di dalam neraka. dan disampaikan hanya kepada kalangan tertentu yang terbatas. Namun kebanyakan manusia tidak menerimanya. ada berbagai isyarat bahwa keterangan tentang surga dan neraka pun bersifat tamsil-ibarat. Tamsil-ibarat surga (jannah: kebun) yang dijanjikan untuk mereka yang bertaqwa ialah. sepatutnya tidaklah dipahami menurut makna bunyi lafal lahiriahnya. maka filsafat dan tasawuf acapkali sengaja dibuat tidak bisa diarah oleh orang umum. dan sungai-sungai dari susu. sedangkan tempat kesudahan mereka yang menentang ialah api neraka. Inilah yang dicari dan dikejar para filsuf dan kaum sufi. adalah nyata dan tidak mungkin diingkari. dan buah-buahannya tumbuh tanpa berhenti. sehingga banyak salah pengertian yang kemudian mengundang polemik dan . termasuk penafsiran alegoris (tamtsili ataupun ta'wil). al-Kahf/16:54. (QS. juga memperoleh ampunan dari Tuhan mereka. QS. demikian pula naungan rindang yang diberikannya. (QS. alegori atau metafor. yang tidak akan rusak. al-Isra'/17:89. yang segar melezatkan bagi yang meminumnya. yang minuman itu memotong-motong usus mereka. Karena merupakan pemahaman keagamaan yang lebih batini (esoterik) daripada lahiri (eksoterik). Al-Rad/13:35) Tamsil-ibarat surga yang dijanjikan untuk orang-orang yang bertaqwa ialah. termasuk mengenai kebahagiaan dan kesengsaraan. sebagai ajaran "rahasia" bagi kaum khawas. dan sungai-sungai dari khamar. Muhammad/47:15) Jadi karena pelukisan tentang surga dan neraka itu disebut sebagai tamsil-ibarat dalam al-Qur'an. namun "tamsil-ibarat" dan pelukisan mengenai hakikatnya dapat menerima penafsiran-penafsiran. di dalamnya ada sungai-sungai dari air. kecuali dengan sikap ingkar.10. al-Zumar/39:27). KONSEP-KONSEP KEBAHAGIAAN DAN KESENGSARAAN (2/4) oleh Nurcholish Madjid Para filsuf menemukan dukungan bagi metodologi ta'wil mereka dalam berbagai penjelasan. yang murni-bersih. Dan memang kenyataannya pendekatan esoterik senantiasa sulit dipahami kaum awam. dan sungai-sungai dari madu. Lebih jauh lagi.

harus menemui kematian di tangan penguasa. akibat intrik-intrik politik yang menjerat mereka. Dan di atas itu semua mereka akan mendapatkan sesuatu yang lebih besar dan lebih agung lagi.kontroversi. saat menyaksikan Keagungan-Nya. malah dalam banyak hal merupakan kebutuhan. Kedua. karena berbagai hal. stereotipikal. Dan keridlaan dari Allah itulah yang akbar. Beberapa pelopor pemahaman esoterik. Walaupun pemahaman esoterik senantiasa rumit. Surga-surga yang di bawahnya mengalir sungai-sungai. Dan keridlaan dari Allah adalah yang akbar. Sebuah firman mengatakan. saat dari lubuk hati manusia yang mendalam terpancar sinar dari Cahaya yang mata tidak mampu memandangNya. Itulah sebenarnya kebahagiaan yang agung.. barangkali lebih psikologis daripada fisiologis. . Pertama. seperti Ibn 'Arabi. kekal di sana selama-lamanya. saat pembebasan diri dari kungkungan jasad yang campur aduk ini serta dari beban bumi dan iming-iming jangka pendeknya. namun tidak berarti tertutup rapat untuk setiap orang.. pria maupun wanita. Surga dengan segala kenikmatan yang ada di dalamnya tidaklah berarti apa-apa dan akan menjadi tidak seberapa di depan hebatnya keridlaan Allah yang Maha Pemurah. apalagi. sebagai tempat kediaman yang tenang tenteram. termasuk di bidang kesufian atau mistisisme. Sebagian tokoh lagi. tingkat kecerdasan anggota masyarakat yang semakin tinggi menuntut pengertian-pengertian agama yang tidak konvensional atau. Sayyid Quthub mengatakan. Dan keridlaan dari Allah itulah yang akbar. pandangan kefilsafatan dan kesufian tentang bahagia dan sengsara cenderung mengarah pada pengertian-pengertian yang lebih rohani daripada jasmani atau. Selain berdasarkan isyarat tentang banyaknya kandungan al-Qur'an yang disebut sebagai tamsil-ibarat di atas. karena akses pada bahan bacaan. Kebahagiaan di surga menanti kaum beriman. kekal di sana selama-lamanya. juga tempat-tempat tinggal yang indah. telah meninggalkan karya-karya besar yang sampai sekarang dipelajari orang dengan penuh minat. kaum sufi dan para filsuf juga mendapatkan banyaknya penegasan bahwa kebahagiaan tertinggi jika bukannya seluruh kebahagiaan itu sendiri. dalam surga-surga kebahagiaan abadi. saat pencerahan ketika relung-relung sukma benderang dengan berkas . sulit dan ruwet.. Allah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman. Bahkan kiranya memang tidak perlu dan tidak dibenarkan untuk dibendung. Saat perjumpaan dengan Allah. Karena tidak jarang pendekatan esoterik memang menyegarkan. terwujud dalam ridla Allah.. Sebagaimana telah diisyaratkan dalam pembahasan di atas. surga-surga yang di bawahnya mengalir sungai-sungai. yang tumbuh pesat tidak mungkin lagi dibendung. Ketiga pergaulan kemanusiaan sejagad makin tidak terhindarkan. al-Tawbah/9:72) Dalam menafsirkan firman Allah ini. (dijanjikan pula) tempat-tempat tinggal yang indah. dan ketokohannya disanjung dan dikecam secara sama. berkat kemajuan teknologi informasi dan transportasi. seperti al-Hallaj dan Suhrawardi. BAHAGIA DAN SENGSARA: PANDANGAN KEFILSAFATAN DAN KESUFIAN Walaupun begitu dalam zaman sekarang pendekatan esoterik tidak lagi dapat dipertahankan sepenuhnya sebagai kerahasiaan. dalam surga-surga kebahagiaan abadi. (QS.

termasuk dalam hidup sekarang ini jika mungkin. sungguh dihadapan itu semua tidaklah bermakna lagi setiap kesenangan. Tafsiran bahwa kebahagiaan tertinggi dan paling agung. semuanya adalah satu momen dari momen-momen yang bertumpu pada kelangkaan amat sedikit bagi manusia dalam suasana kesucian total. maka yang dimaksudkan ialah kemestian kita tunduk pada Allah.. dan sukma-sukma itu tercekam di dalamnya tanpa kesudahan! "ltulah kebahagiaan sejati yang agung". Tuhan yang sebenarnya itu dan tidak kepada apa dan siapapun yang lain. Jika kalimat persaksian dimulai dengan al-nafy atau peniadaan dalam fase negatif tiada Tuhan. (Sayyid Quthub. termasuk pembebasan dari belenggu budaya dan tradisi.Ruh Allah. (021) 7501969. Metodologi seperti itu dikembangkan dalam tasawuf. 7507173 Fax. bersifat penyingkapan dan pengalaman spiritual akan kehadiran Kebenaran Ilahi). Sayyid Quthub telah melakukan pendekatan filosofis dan sufi pada masalah hakikat kebahagiaan. Fi Zhilal al-Qur'an. jilid 10. KEBEBASAN DAN KEBAHAGIAAN Salah satu tema utama dalam metodologi kesufian ialah takhalli. Tercapainya pengalaman tersebut. yang dihadapan pengalaman kesaksian itu semua bentuk kebahagiaan menjadi tidak bermakna apa-apa adalah sebuah tafsiran kasyafi (theophanic. juga tidak setiap harapan. hal. epiphanic. yang menurut banyak ahli termasuk 'Ali ibn Abi Thalib dan Ja'far al-Shadiq. maka tujuannya ialah pembebasan diri dari setiap belenggu. jika menghalangi pada Kebenaran. Pembebasan adalah juga salah satu tema pokok seruan Nabi kepada umat manusia. Metro Pondok Indah Pondok Indah Plaza I Kav.. terbentuk dari kata-kata Illah dan artikel "al"-yakni. yaitu setiap bentuk obyek ketundukan (Arab: Ilah). UA 20-21 Jakarta Selatan Telp. Dan jika kalimat persaksian itu harus mutlak diteruskan dengan al-itsbat atau peneguhan dalam fase afirmatif "kecuali Allah" (al-Lah. yaitu sikap pengosongan diri dan pembebasannya dari setiap belenggu yang menghalangi jalan kepada Allah. (021) 7507174 Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota Please direct any suggestion to Media Team Artikel Yayasan Paramadina Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan . yakni. Belenggu itu dilambangkan dalam konsep tentang "Tuhan" atau "Sesembahan". Tuhan atau Sesembahan yang sebenarnya). 7501983. menjadi tujuan semua olah-rohani (riyadlah) dan perjuangan spiritual (mujahadah).(bersambung 3/4) Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah Editor: Budhy Munawar-Rachman Penerbit Yayasan Paramadina Jln. -------------------------------------------. sebagai keridlaan Allah --sebagai pengalaman kesaksian rohani akan Wujud Maha Benar itu. Apalagi keridlaan Allah meliputi seluruh sukma.. 254-5) Dengan tafsirnya itu. seperti yang diajarkan kaum sufi..

QS. (jika itu semua) lebih kamu cintai daripada Allah dan Rasul-Nya.salah satu yang patut sekali kita renungkan terbaca (terjemahnya) demikian. Tuhan tidak mungkin diketahui manusia sebab tidak akan terjangkau oleh pikiran dan khayalnya. Inilah antara lain tafsir atas peringatan dalam Kitab Suci bahwa di antara manusia ada yang menjadikan hawa atau keinginan dirinya sendiri sebagai Tuhan (Lihat. keyakinan bahwa diri sendiri telah "mengetahui Tuhan akan berakhir dengan penuhanan keinginan diri sendiri. dan terus mencari Kebenaran.10. Usaha mencari Kebenaran inilah sifat kehanifan (hanifiyyah) manusia atas dorongan fithrah atau kejadian asalnya sendiri yang suci. tapi juga akan berarti bahwa Tuhan telah disejajarkan dengan apa yang tercapai oleh pikirannya sendiri. suatu proses "pembebasan dan ketundukan. atau pembebasan yang membimbing kita kepada ketundukan dinamis tersebut --dari banyak penjelasan dalam kitab Suci tentang berbagai akibat dan implikasinya-. KONSEP-KONSEP KEBAHAGIAAN DAN KESENGSARAAN (3/4) oleh Nurcholish Madjid Karena Allah adalah Wujud yang tak dapat dibandingkan dengan sesuatu apapun (laysa ka-mitslihi syay-un.ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota II. QS. serta tiada suatu apa pun yang sepadan dengan Dia (wa lam yakun lauu kufuw-an ahad-un. maka tunggulah sampai saat Allah melaksanakan keputusan-Nya Allah tidak akan memberi petunjuk kepada mereka yang bersemangat jahat". Juga tidak untuk mendoronng manusia agar meninggalkan kegiatan duniawi. Tuhan yang sebenarnya-. Yang pertaa tidak benar. QS. Padahal pikirin itu tak akan luput dari dorongan diri sendiri dan keinginannya. berupa usaha yang tulus dan murni untuk mencari.justru akan secara langsung membawa pada kebebasan dan pembebasan diri dari setiap nilai dan pranata yang membelenggu sukma. al-Syura 42:11). besar ataupun kecil. 25:43 dan 45:23)." seperti dilambangkan dalam kalimat syahadat pertama. serta tempat tinggal yang untukmu menyenangkan. karena al-Qur'an sarat dengan ajaran tentang kewajiban memelihara cinta kasih di antara keluarga. kerabat dan umat manusia pada umumnya. Mengenai negasi atau peniadaan yang menghantarkan kita kepada afirmasi itu. yaitu Tuhan). atau sikap dan pandangan yang mengangkat keinginan diri sendiri itu sebagai Tuhan. Dengan kata lain. (dan jika) kekayaan yang telah berhasil kamu kumpulkan. yaitu sikap pasrah yang tulus kepada Allah. anak-anakmu. perdagangan yang kerugiannya kamu kuatirkan. Dan . maka sesungguhnya keyakinan atau klaim "mengetahui Tuhan" (yang diindikasikan oleh sikap "berhenti mencari") adalah suatu jenis pembelengguan diri. Katakan (wahai Muhammad): "Jika orang-orang tuamu. Tidak saja karena hal ini akan merupakan contradiction in terms (berupa kemustahilan suatu wujud nisbi seperti manusia dapat menjangkau atau mengetahui Wujud Mutlak. Jadi sesungguhnya kebahagiaan dimulai dengan "negasi dan afirmasi". dan daripada perjuangan di jalan-Nya.al-Ikhlash/112:4) maka tunduk pada Tuhan berarti tunduk dalam maknanya yang dinamis. saudara-saudaramu. (QS. serta karib-kerabatmu. jodoh-jodohmu. Maka tunduk secara benar --dalam bahasa Arab disebut Islam. al-Tawbah/9:24) Firman Allah ini tidaklah dipahami bahwa Nabi D4uhammad datang untuk membawa pertentangan dalam keluarga.

suami atau isteri. 78). Hati manusia terikat kepada (1) sanak-kadangnya sendiri. catatan 1272). dan menjadi bebas sepenuhnya. anak perempuan melawan ibunya. baik untuk gengsi mau pun kesenangan.orang tua. Maryland: Amana Corp. melainkan untuk menggambarkan dalam bentuk yang paling tegas dan drastis sebuah prinsip. yang merupakan konsistensi pertanyaan afirmatif atau al-itsbat pada bagian kedua kalimat syahadat. Telah dikemukakan bahwa ketundukan kepada Allah Sang Kebenaran Mutlak. 1983." Tetapi pembebasan dari belenggu-belenggu sosio-kultural dan sosio ekonomi hanyalah separuh jalan menuju kepada kebahagiaan sejati. yang proses pembebasan itu merupakan konsistensi pernyataan negatif atau al-nafy pada bagian pertama kalimat syahadat. suatu hal yang manusia dipesan jangan sampai melupakannya. yaitu "jalan Allah" (sabil al-Lah) dapat ditempuh baru setelah seseorang mampu membebaskan diri dari belenggu lingkungannya. baik sosio-kultural (orang tua. Psychoanalysis and Religion. (Erich Fromm. dan wujud nyata usaha tersebut pada pribadi yang bersangkutan ialah adanya kualitas . 1972.: Yale University Press. bahwa jalan menuju Kebenaran. dan akhirnya "bertemu" (liqa) dengan Kebenaran. New Haven. separoh lagi jalan yang harus ditempuh ialah yang dilambangkan dalam pernyataan tekad untuk tunduk pada Sang Kebenaran itu sendiri. agar ia menjadi manusia sejati. (A. Begitulah contoh implikasi proses pembebasan diri yang diterangkan dalam Kitab Suci. Dalam melakukan pendekatan psikoanalitis terhadap agama dan gejala keagamaan. Yusuf Ali dalam menafsirkan firman ini. dan tempat tinggal). Yusuf Ali. kedudukan. "Karena aku datang untuk membuat manusia melawan ayahnya. 445.yang kedua juga tidak benar karena al-Qur'an mengajarkan pandangan yang optimis-positif kepada kehidupan. h. atau karib kerabat. yaitu kebahagiaan "bertemu" dengan Tuhan. Conn. kita harus memilih mana yang lebih kita cintai. Usaha terus-menerus mencari Kebenaran itu disebut berjalan menempuh "Jalan Allah" (sabil al-Lah). keluarga dan masyarakat) mau pun sosio-ekonomi dan fisik (pekerjaan. "TANYALAH JALAN" (SAL SABIL-AN) Setelah proses pembebasan. h. (4) gedung-gedung indah. Sang Kebenaran. anak-anak. (3) perdagangan atau cara-cara memperoleh keuntungan dan penghasilan. "kecuali Allah". Nabi Isa al-Masih. Brentwood. (2) kekayaan dan kemakmuran. "Tiada Tuhan. Erich Fromm mengatakan bahwa dengan pernyataannya itu Nabi Isa tidak bermaksud mengajarkan kebencian pada orang tua. artinya ketundukan dalam wujud usaha tak kenal henti secara tulus "mencari"' "mendekat" (taqarrub). Inilah Islam yaitu ketundukan kepada Yang Maha Benar (al-Haqq). Text. sepanjang catatan dalam Perjanjian Baru. Sebab seperti dikatakan A. orang harus memutuskan hubungan kekeluargaan yang bersifat membelenggu. Kita harus mencintai Allah. dan menantu perempuan melawan mertua perempuannya" (Matius 10:35). biarpun harus mengorbankan itu semua. Serupa dengan makna firman Allah itu. Translation and Commentary. dengan kemungkinan manusia memperoleh kebahagiaan di dunia ini. juga pernah menyatakan. The Holy Qur'an. Jika semuanya ini menjadi halangan dalam jalan Allah. saudara. adalah ketundukan yang dinamis. Firman Allah tersebut hanya menegaskan.

"kesungguhan dalam berusaha" (dinyatakan dalam kata-kata Arab juha -usaha penuh kesungguhan). juga yang akan kita tempuh. karena jalan itu membentang langsung antara diri kita yang paling suci." baik secara sendirian maupun bersama orang lain. sehingga melahirkan sikap hidup jihad (dalam dimensinya yang lebih fisik). sudah merupakan sumber mata air pengalaman kebahagiaan yang tinggi. artinya. akan menyesatkan kita dari Kebenaran. siang. Justru amat berharga dalam menempuh jalan itu semangat mencari dan berusaha yang sungguh-sungguh. mencari dan menemukan jalan ke arah Kebenaran itu sendiri. maka ia masih mendapatkan satu pahala (sebuah Hadist terkenal). Ini berarti bahwa jalan yang telah kita tempuh. bersifat terang. Akibatnya. yaitu jihad. yang toh tidak akan kita sadari pada saat mengalaminya sendiri. sore. masih akan memberi kebahagiaan. sebagai sumber kesadaran akan kebenaran). para penghuninya akan diberi minum yang sejuk dan amat menyegarkan yang airnya diambil dari mata air yang bernama "salsabil-an" atau "sal sabil-an. tanpa henti-hentinya. Pertanyaan dan penanyaan itulah yang mendasari ketulusan hati dalam permohonan kepada Tuhan. dan yang ketiga oleh kaum sufi dan ahli 'Irfan. Tapi justru karena kemutlakanNya. meskipun tidak sepenuhnya. Tunjukkanlah kami jalan yang lurus (QS. Dalam kesungguhan mencari dan menemukan jalan itu kita tidak perlu takut membuat kekeliruan. lalu ia menempuh jalan yang (ternyata) benar. Yang pertama banyak ditempuh oleh ahli perang dan para pahlawan. asalkan tak disengaja. Maka dalam perjalanan menempuh jalan yang lurus itu justru kita harus terus menerus bertanya dan bertanya. kemudian "diaminkan. maka Sang Kebenaran itu sungguh mutlak dan tak akan terjangkau. apa selanjutnya? Apakah tak ada kemungkinan sama sekali bahwa jalan yang telah kita tempuh apalagi yang masih akan kita tempuh. dalam menempuh jalan lurus itu kita tidak boleh berhenti. tak boleh dipastikan sebagai mutlak lurus. dan jika (ternyata) keliru. sebab perhentian berarti menyalahi seluruh prinsip tentang Kebenaran Mutlak. yaitu fitrah kita dalam hati nurani (nurani. saat terbenam matahari dan malam) (QS. lurus ke arah (sekali lagi ke arah) Kebenaran Mutlak. ia akan mendapatkan pahala ganda. yang kedua oleh para pemikir baik dalam bidang fiqh maupun Kalam. al-Fatihah/1:6). yaitu dalam tempat dan lingkungan pengalaman kebahagiaan sejati. Al-Qur'an melukiskan bahwa dalam surga. mendekat dan bertemu dengan Kebenaran. maka salah satu "pesan" yang dikandungnya ialah agar kita bertanya tentang jalan yang lurus itu setiap saat. ijtihad dan mujahadah tersebut tadi. Seorang yang memang tunduk patuh kepada Allah (muslim) akan terus menerus memohon petunjuk jalan yang lurus itu. terutama dalam setiap kali shalat. Dan kalau shalat itu disebutkan dalam al-Qur'an sebagai kewajiban atas kaum beriman dengan dikaitkan pada pembagian waktu selama sehari-semalaman (pagi. Inilah makna penegasan Nabi bahwa barangsiapa berusaha dengan sungguh-sungguh. Sesungguhnya dalam Al-Qur'an dilukiskan bahwa berusaha secara dinamis. karena tidak lurus lagi? Siapa Tahu? Pertanyaan dan penanyaan itu adalah eksistensial dan esensial sekali dalam mencari. Jalan Allah yang harus ditempuh melalui ketiga fase itu juga disebut "jalan lurus" (al-shirath al-mustaqim). ijtihad (dalam dimensinya yang lebih intelektual). al-Nisa 4:103). karena kekeliruan pun." Sebuah . dan mujahadah (dalam dimensinya yang lebih spiritual).

Perkataan itu secara harfiah berarti. Tapi. The Holy Qur'an. yang dapat dibagi menjadi dua komponen. h. 1658. berpikir dalam konteks kesufian tidaklah berarti tiadanya rasionalitas.metafor. telah kita bicarakan. alegori atau makna kiasan yang sungguh indah. Kembali kepada metodologi takhalli di kalangan kaum Sufi. Jika dalam konteks duniawi berpikir selalu menuntut adanya pra-asumsi atau premis. "salsabil-an" ("tanyalah [atau "carilah"] jalan"): yakni. 7501983. h. catatan 5850). Justru tasawuf sebagai bidang yang menggarap segi esoterik keagamaan. sangat berlawanan dengan perasaan umum bahwa mistisisme adalah suatu jenis pengalaman keagamaan yang tidak rasional. (QS. Muhammad Asad. Dan Yusuf Ali menafsirkan firman itu dengan mengatakan bahwa mata air salsabil (-an) ini membawa kita kepada ide metaforis yang lain. asumsi-asumsi dan klaim-klaim tentang pengetahuan yang benar. Yusuf Ali. adalah suatu bentuk perkembangan rasionalitas yang tertinggi. karena perkataan Arab sal sabil-a itu tidak lain arti harfiahnya ialah "tanyalah jalan". catatan 9). quite in contrast to a populer sentiment that mysticism is an irrational type of religious experience. UA 20-21 Jakarta Selatan Telp. h. metodologi itu mengharuskan adanya proses pengosongan diri dari anggapan-anggapan. catatan 17). the higgest development of rationality in religious thinking. meskipun tanpa ada pra-asumsi atau premis. The Message of the Qur'an. ibid. dari mata air yang ada. A. menerangkan kata-kata salsabil-an jelas merupakan kata majemuk itu. "Carilah Jalan". (Lihat. Jalan itu sekarang terbuka menuju Hadirat Yang Maha Tinggi. -------------------------------------------Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah Editor: Budhy Munawar-Rachman Penerbit Yayasan Paramadina Jln. Metro Pondok Indah Pondok Indah Plaza I Kav.. ia justru mengetengahkan perkembangan tertinggi rasionalitas dalam pemikiran keagamaan. Muhammad Asad mengatakan bahwa begitulah Ali ibn Abi Thalib. Seperti dinyatakan oleh Albert Schweitzer: "Pemikiran rasional yang bebas dari asumsi-asumsi berakhir dalam mistisisme"). pra-asumsi dan premis justru harus dilepaskan. Mereka (yang bahagia) di sana disajikan minuman dalam piala yang ramuannya ialah zanjabil. 90. 7507173 (bersambung 4/4) . it represents". Kata Erich Fromm: I should like to note that. (Lihat." (Erich Fromm. maka dalam konteks pencarian Kebenaran sejati itu. sebagaimana dikutip Zamakhsyari dan Razi. "carilah jalanmu ke surga dengan cara melakukan perbuatan baik". yang disebut salsabil. (021) 7501969. As Albert Schweitzer has put it: "Rational thinking which is free from assumptions ends in mysticism. (Saya harus memberi catatan bahwa.. agar supaya dalam menempuh jalan lurus mencari Kebenaran itu terjadi kemurnian sejati (ikhlash). al-Insan/76:17-18) Menafsirkan metafor dalam firman ini. 917. Kenyataan bahwa al-Qur'an senantiasa menyerukan penggunaan akal untuk mencari dan menerima Kebenaran menunjukkan bahwa antara rasio dan pengalaman keagamaan tidaklah terdapat pertentangan.

Maka tunduk secara benar --dalam bahasa Arab disebut Islam. perdagangan yang kerugiannya kamu kuatirkan.Fax. Jadi sesungguhnya kebahagiaan dimulai dengan "negasi dan afirmasi". Dengan kata lain. Tidak saja karena hal ini akan merupakan contradiction in terms (berupa kemustahilan suatu wujud nisbi seperti manusia dapat menjangkau atau mengetahui Wujud Mutlak." seperti dilambangkan dalam kalimat syahadat pertama. dan daripada . yaitu Tuhan). serta tempat tinggal yang untukmu menyenangkan. yaitu sikap pasrah yang tulus kepada Allah. Katakan (wahai Muhammad): "Jika orang-orang tuamu. (dan jika) kekayaan yang telah berhasil kamu kumpulkan.justru akan secara langsung membawa pada kebebasan dan pembebasan diri dari setiap nilai dan pranata yang membelenggu sukma. atau pembebasan yang membimbing kita kepada ketundukan dinamis tersebut --dari banyak penjelasan dalam kitab Suci tentang berbagai akibat dan implikasinya-. KONSEP-KONSEP KEBAHAGIAAN DAN KESENGSARAAN (3/4) oleh Nurcholish Madjid Karena Allah adalah Wujud yang tak dapat dibandingkan dengan sesuatu apapun (laysa ka-mitslihi syay-un. Mengenai negasi atau peniadaan yang menghantarkan kita kepada afirmasi itu. Tuhan yang sebenarnya-. al-Syura 42:11). Usaha mencari Kebenaran inilah sifat kehanifan (hanifiyyah) manusia atas dorongan fithrah atau kejadian asalnya sendiri yang suci.salah satu yang patut sekali kita renungkan terbaca (terjemahnya) demikian. serta tiada suatu apa pun yang sepadan dengan Dia (wa lam yakun lauu kufuw-an ahad-un. atau sikap dan pandangan yang mengangkat keinginan diri sendiri itu sebagai Tuhan. jodoh-jodohmu. QS. saudara-saudaramu. Tuhan tidak mungkin diketahui manusia sebab tidak akan terjangkau oleh pikiran dan khayalnya. anak-anakmu.10. keyakinan bahwa diri sendiri telah "mengetahui Tuhan akan berakhir dengan penuhanan keinginan diri sendiri. (jika itu semua) lebih kamu cintai daripada Allah dan Rasul-Nya. (021) 7507174 Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota Please direct any suggestion to Media Team Artikel Yayasan Paramadina Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota II. suatu proses "pembebasan dan ketundukan. 25:43 dan 45:23). QS. maka sesungguhnya keyakinan atau klaim "mengetahui Tuhan" (yang diindikasikan oleh sikap "berhenti mencari") adalah suatu jenis pembelengguan diri. tapi juga akan berarti bahwa Tuhan telah disejajarkan dengan apa yang tercapai oleh pikirannya sendiri. dan terus mencari Kebenaran. serta karib-kerabatmu.al-Ikhlash/112:4) maka tunduk pada Tuhan berarti tunduk dalam maknanya yang dinamis. Inilah antara lain tafsir atas peringatan dalam Kitab Suci bahwa di antara manusia ada yang menjadikan hawa atau keinginan dirinya sendiri sebagai Tuhan (Lihat. Padahal pikirin itu tak akan luput dari dorongan diri sendiri dan keinginannya. berupa usaha yang tulus dan murni untuk mencari. QS.

bahwa jalan menuju Kebenaran. melainkan untuk menggambarkan dalam bentuk yang paling tegas dan drastis sebuah prinsip. New Haven. catatan 1272). kita harus memilih mana yang lebih kita cintai. anak-anak. Text. Jika semuanya ini menjadi halangan dalam jalan Allah. 1972.perjuangan di jalan-Nya. Dan yang kedua juga tidak benar karena al-Qur'an mengajarkan pandangan yang optimis-positif kepada kehidupan. Translation and Commentary. saudara. (2) kekayaan dan kemakmuran. Kita harus mencintai Allah. "Karena aku datang untuk membuat manusia melawan ayahnya. kedudukan. yang merupakan . dan menjadi bebas sepenuhnya. biarpun harus mengorbankan itu semua. al-Tawbah/9:24) Firman Allah ini tidaklah dipahami bahwa Nabi D4uhammad datang untuk membawa pertentangan dalam keluarga. The Holy Qur'an. karena al-Qur'an sarat dengan ajaran tentang kewajiban memelihara cinta kasih di antara keluarga. 445. suami atau isteri. (A. atau karib kerabat. Begitulah contoh implikasi proses pembebasan diri yang diterangkan dalam Kitab Suci. keluarga dan masyarakat) mau pun sosio-ekonomi dan fisik (pekerjaan. Maryland: Amana Corp. Erich Fromm mengatakan bahwa dengan pernyataannya itu Nabi Isa tidak bermaksud mengajarkan kebencian pada orang tua. Juga tidak untuk mendoronng manusia agar meninggalkan kegiatan duniawi. orang harus memutuskan hubungan kekeluargaan yang bersifat membelenggu. Yang pertaa tidak benar. Sebab seperti dikatakan A. Yusuf Ali. maka tunggulah sampai saat Allah melaksanakan keputusan-Nya Allah tidak akan memberi petunjuk kepada mereka yang bersemangat jahat". baik sosio-kultural (orang tua. Sang Kebenaran. besar ataupun kecil. yaitu "jalan Allah" (sabil al-Lah) dapat ditempuh baru setelah seseorang mampu membebaskan diri dari belenggu lingkungannya. (Erich Fromm. dan tempat tinggal). Dalam melakukan pendekatan psikoanalitis terhadap agama dan gejala keagamaan. Psychoanalysis and Religion. Nabi Isa al-Masih.: Yale University Press. baik untuk gengsi mau pun kesenangan. Conn. "Tiada Tuhan. sepanjang catatan dalam Perjanjian Baru.orang tua. Brentwood. (3) perdagangan atau cara-cara memperoleh keuntungan dan penghasilan. anak perempuan melawan ibunya. juga pernah menyatakan. dan menantu perempuan melawan mertua perempuannya" (Matius 10:35). yang proses pembebasan itu merupakan konsistensi pernyataan negatif atau al-nafy pada bagian pertama kalimat syahadat. Hati manusia terikat kepada (1) sanak-kadangnya sendiri. (4) gedung-gedung indah. h. h. separoh lagi jalan yang harus ditempuh ialah yang dilambangkan dalam pernyataan tekad untuk tunduk pada Sang Kebenaran itu sendiri. agar ia menjadi manusia sejati. kerabat dan umat manusia pada umumnya. 1983. "TANYALAH JALAN" (SAL SABIL-AN) Setelah proses pembebasan. suatu hal yang manusia dipesan jangan sampai melupakannya. (QS. dengan kemungkinan manusia memperoleh kebahagiaan di dunia ini. 78). Yusuf Ali dalam menafsirkan firman ini. Serupa dengan makna firman Allah itu. yaitu kebahagiaan "bertemu" dengan Tuhan. Firman Allah tersebut hanya menegaskan." Tetapi pembebasan dari belenggu-belenggu sosio-kultural dan sosio ekonomi hanyalah separuh jalan menuju kepada kebahagiaan sejati.

Justru amat berharga dalam menempuh jalan itu semangat mencari dan berusaha yang sungguh-sungguh. Yang pertama banyak ditempuh oleh ahli perang dan para pahlawan. Pertanyaan dan penanyaan itulah yang mendasari ketulusan hati dalam permohonan kepada Tuhan. dan yang ketiga oleh kaum sufi dan ahli 'Irfan. bersifat terang. tak boleh dipastikan sebagai mutlak lurus. artinya. apa selanjutnya? Apakah tak ada kemungkinan sama sekali bahwa jalan yang telah kita tempuh apalagi yang masih akan kita tempuh. Tapi justru karena kemutlakanNya. ia akan mendapatkan pahala ganda. lurus ke arah (sekali lagi ke arah) Kebenaran Mutlak. artinya ketundukan dalam wujud usaha tak kenal henti secara tulus "mencari"' "mendekat" (taqarrub). saat terbenam matahari dan malam) (QS. adalah ketundukan yang dinamis. yaitu jihad. Akibatnya. sore. dan jika (ternyata) keliru. mendekat dan bertemu dengan Kebenaran. Dalam kesungguhan mencari dan menemukan jalan itu kita tidak perlu takut membuat kekeliruan. karena tidak lurus lagi? Siapa Tahu? Pertanyaan dan penanyaan itu adalah eksistensial dan esensial sekali dalam mencari. Usaha terus-menerus mencari Kebenaran itu disebut berjalan menempuh "Jalan Allah" (sabil al-Lah). dan akhirnya "bertemu" (liqa) dengan Kebenaran. yang kedua oleh para pemikir baik dalam bidang fiqh maupun Kalam. meskipun tidak sepenuhnya. akan menyesatkan kita dari Kebenaran. Inilah Islam yaitu ketundukan kepada Yang Maha Benar (al-Haqq). sebagai sumber kesadaran akan kebenaran). ijtihad (dalam dimensinya yang lebih intelektual). siang. Telah dikemukakan bahwa ketundukan kepada Allah Sang Kebenaran Mutlak. Ini berarti bahwa jalan yang telah kita tempuh. Dan kalau shalat itu disebutkan dalam al-Qur'an sebagai kewajiban atas kaum beriman dengan dikaitkan pada pembagian waktu selama sehari-semalaman (pagi. maka salah satu "pesan" yang dikandungnya ialah agar kita bertanya tentang jalan yang lurus itu setiap saat. lalu ia menempuh jalan yang (ternyata) benar. tanpa henti-hentinya. dan wujud nyata usaha tersebut pada pribadi yang bersangkutan ialah adanya kualitas "kesungguhan dalam berusaha" (dinyatakan dalam kata-kata Arab juha -usaha penuh kesungguhan)." baik secara sendirian maupun bersama orang lain. Seorang yang memang tunduk patuh kepada Allah (muslim) akan terus menerus memohon petunjuk jalan yang lurus itu. karena jalan itu membentang langsung antara diri kita yang paling suci. juga yang akan kita tempuh. asalkan tak disengaja. al-Nisa 4:103). al-Fatihah/1:6). Tunjukkanlah kami jalan yang lurus (QS. maka Sang Kebenaran itu sungguh mutlak dan tak akan terjangkau. Jalan Allah yang harus ditempuh melalui ketiga fase itu juga disebut "jalan lurus" (al-shirath al-mustaqim).konsistensi pertanyaan afirmatif atau al-itsbat pada bagian kedua kalimat syahadat. kemudian "diaminkan. maka ia masih mendapatkan satu . dalam menempuh jalan lurus itu kita tidak boleh berhenti. karena kekeliruan pun. sebab perhentian berarti menyalahi seluruh prinsip tentang Kebenaran Mutlak. yaitu fitrah kita dalam hati nurani (nurani. yang toh tidak akan kita sadari pada saat mengalaminya sendiri. Maka dalam perjalanan menempuh jalan yang lurus itu justru kita harus terus menerus bertanya dan bertanya. ijtihad dan mujahadah tersebut tadi. terutama dalam setiap kali shalat. Inilah makna penegasan Nabi bahwa barangsiapa berusaha dengan sungguh-sungguh. dan mujahadah (dalam dimensinya yang lebih spiritual). sehingga melahirkan sikap hidup jihad (dalam dimensinya yang lebih fisik). masih akan memberi kebahagiaan. "kecuali Allah".

sebagaimana dikutip Zamakhsyari dan Razi. Seperti dinyatakan oleh Albert Schweitzer: "Pemikiran rasional . Kenyataan bahwa al-Qur'an senantiasa menyerukan penggunaan akal untuk mencari dan menerima Kebenaran menunjukkan bahwa antara rasio dan pengalaman keagamaan tidaklah terdapat pertentangan. h. "carilah jalanmu ke surga dengan cara melakukan perbuatan baik". Tapi. The Holy Qur'an. catatan 9). telah kita bicarakan. ia justru mengetengahkan perkembangan tertinggi rasionalitas dalam pemikiran keagamaan. the higgest development of rationality in religious thinking. Mereka (yang bahagia) di sana disajikan minuman dalam piala yang ramuannya ialah zanjabil. "salsabil-an" ("tanyalah [atau "carilah"] jalan"): yakni. asumsi-asumsi dan klaim-klaim tentang pengetahuan yang benar. adalah suatu bentuk perkembangan rasionalitas yang tertinggi. Muhammad Asad." (Erich Fromm. mencari dan menemukan jalan ke arah Kebenaran itu sendiri. quite in contrast to a populer sentiment that mysticism is an irrational type of religious experience." Sebuah metafor. yang dapat dibagi menjadi dua komponen. 90. "Carilah Jalan". h. A. it represents". alegori atau makna kiasan yang sungguh indah. karena perkataan Arab sal sabil-a itu tidak lain arti harfiahnya ialah "tanyalah jalan". (Saya harus memberi catatan bahwa. 1658. metodologi itu mengharuskan adanya proses pengosongan diri dari anggapan-anggapan. The Message of the Qur'an. Justru tasawuf sebagai bidang yang menggarap segi esoterik keagamaan. Dan Yusuf Ali menafsirkan firman itu dengan mengatakan bahwa mata air salsabil (-an) ini membawa kita kepada ide metaforis yang lain. agar supaya dalam menempuh jalan lurus mencari Kebenaran itu terjadi kemurnian sejati (ikhlash). Jalan itu sekarang terbuka menuju Hadirat Yang Maha Tinggi. catatan 17). Kembali kepada metodologi takhalli di kalangan kaum Sufi. yang disebut salsabil. (Lihat. Al-Qur'an melukiskan bahwa dalam surga. Kata Erich Fromm: I should like to note that. al-Insan/76:17-18) Menafsirkan metafor dalam firman ini. ibid. (QS.. (Lihat. h. berpikir dalam konteks kesufian tidaklah berarti tiadanya rasionalitas. dari mata air yang ada. catatan 5850). para penghuninya akan diberi minum yang sejuk dan amat menyegarkan yang airnya diambil dari mata air yang bernama "salsabil-an" atau "sal sabil-an. sudah merupakan sumber mata air pengalaman kebahagiaan yang tinggi. yaitu dalam tempat dan lingkungan pengalaman kebahagiaan sejati.pahala (sebuah Hadist terkenal). Muhammad Asad mengatakan bahwa begitulah Ali ibn Abi Thalib. pra-asumsi dan premis justru harus dilepaskan. 917. Yusuf Ali. Sesungguhnya dalam Al-Qur'an dilukiskan bahwa berusaha secara dinamis. meskipun tanpa ada pra-asumsi atau premis. Jika dalam konteks duniawi berpikir selalu menuntut adanya pra-asumsi atau premis. menerangkan kata-kata salsabil-an jelas merupakan kata majemuk itu. Perkataan itu secara harfiah berarti.. As Albert Schweitzer has put it: "Rational thinking which is free from assumptions ends in mysticism. maka dalam konteks pencarian Kebenaran sejati itu. sangat berlawanan dengan perasaan umum bahwa mistisisme adalah suatu jenis pengalaman keagamaan yang tidak rasional.

murka kepada mereka? Ataukah ia menyesalkan ucapan Umar yang menuduh perintah Nabi saw itu dilakukan tidak sadar (Dalam riwayat lain." kata Ibnu Abbas. tidak perlu lagi ada petunjuk Rasulullah saw di luar itu? Ibnu Abbas sebagai ulama salaf boleh menyesalkan peristiwa itu. "Alangkah tragisnya kejadian yang menghalangi Nabi saw. Nabi saw berkata. yang sedang udzur. Umar mengatakan Nabi saw. Kata al-Qurthubi. yang mempunyai pandangan jauh ke depan.yang bebas dari asumsi-asumsi berakhir dalam mistisisme")." Peristiwa ini konon terjadi pada hari Kamis. beliau bersabda. mengigau!). Tapi Umar beserta kelompok sahabat lainnya melihat perintah itu bukan wajib. karena sekiranya Nabi saw. sehingga Ibnu Abbas yang meriwayatkan hadits di atas menyebutkannya sebagai tragedi hari Kamis. Metro Pondok Indah Pondok Indah Plaza I Kav. "Bawa kepadaku Kitab agar kalian tidak akan sesat sesudahku. Apakah ia menyesalkan pertikaian sahabat di hadapan Nabi saw. hanya pengarahan pada cara yang terbaik. Karena itu Umar berkata. (021) 7507174 Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota Please direct any suggestion to Media Team Ilmu tradisional Artikel Yayasan Paramadina Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota III. menetapkan sesuatu yang menghilangkan ikhtilaf (di kalangan kaum muslim). Kita tidak tahu mengapa Ibnu Abbas menyebutkan sebagai tragedi. sehingga Nabi saw. Pada kita ada kitab Allah itu cukup buat kita." dan al-Qur'an itu menjelaskan segala sesuatu. untuk menuliskan wasiatnya. 7501983." Kata al-Khithabi. "Enyahlah kalian dari sini. tapi para ulama salaf tidak. UA 20-21 Jakarta Selatan Telp." Orang-orang pun bertikai dan ramailah pembicaraan. Mereka tidak ingin membebani Nabi saw dengan sesuatu yang memberatkannya dalam keadaan (sakit) seperti itu. "Cukuplah Kitab Allah bagi kita. (021) 7501969. Apalagi ada firman Allah "Tidak ada yang Kami lewatkan dalam Kitab ini sedikit pun. DARI SUNNAH KE HADITS ATAU SEBALIKNYA (1/3) oleh Jalaluddin Rakhmat Pada waktu Nabi saw sakit keras. Mereka bahkan memuji kebijakan Umar.20. "Sesungguhnya Umar berpendapat seperti itu. Tidak pantas bertikai di hadapanku. sehingga tidak perlu dipatuhi? Ataukah ia menyesalkan ucapan Umar bahwa al-Qur'an saja sudah cukup.(bersambung 4/4) Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah Editor: Budhy Munawar-Rachman Penerbit Yayasan Paramadina Jln. "Memang yang diperintah harus segera menjalankan perintah. 7507173 Fax. -------------------------------------------. "Sakit keras menguasai diri." Umar berkata. tentu tak .

" Baik Abu Bakar maupun Umar. Selama rentang waktu yang cukup panjang itu." Abu Bakar dan Umar adalah dua khalifah pertama yang termasuk al-Khulafa' al-Rasyidun. Betulkah al-Qur'an saja sudah cukup? Atau bisakah kita menyimpulkan bahwa hanya al-Qur'an sajalah karya ilahi. Abu Bakar berkata: "Kamu sekalian meriwayatkan hadits-hadits dari Rasulullah saw." Kemenakan Aisyah. Suatu pagi beliau datang kepadaku dan berkata. Umar meletakkannya di atas bara api. Sa'id bin Abu 'Urwah di Basrah." Apapun komentar para ulama. Nanti orang-orang sesudah kalian akan lebih keras lagi bertikai. dan karena itu tidak mengikat? Sikap Umar terhadap hadist adalah sikap Abu Bakar juga. Tidak heran bila sebagian besar sahabat. menuliskan dalam keadaan sakit. "Kitab Allah . Al-Awza'i di Syria. "Bawa hadits-hadits itu kepadaku. Mu'ammar di Yaman. meninggalkan hadits-hadits itu kepadamu.. mula-mula umat Islam merujuk kepada sunnah. Kemudian beliau memerintahkannya untuk dikumpulkan. Situasi seperti ini berlangsung sampai paruh terakhir abad kedua Hijrah. Mereka melarang periwayatan hadits dengan keras.. Sa'id bin Musayyab tidak mau menuliskan hadits. ketika beberapa orang mulai merintis pengumpulan dan penulisan hadits. Saya melihat perkembangan sebaliknya: dari hadits ke sunnah. apa yang mereka jadikan acuan? Fazlur Rahman menjawab. tapi sesudah itu mereka melihat hadits. berkata. katakan di antara kita dan Anda ada Kitab Allah. mengisahkan satu peristiwa ketika Abu Bakar mengumpulkan orang banyak setelah Nabi saw wafat. . sembari berkata: Tidak boleh ada matsnat seperti matsnat Ahli Kitab. perkataan Umar. Janganlah kalian meriwayatkan hadits sedikit pun dari Rasulullah saw. kita harus kembali lagi kepada sunnah. dalam rangka membuka pintu ijtihad. "Hadits-hadits makin bertambah banyak pada zaman Umar. al-Nakha'i. Al-Dzahabi. Saya pun membawakan untukmu. "Ayahku telah menghimpun 500 hadits dari Nabi. dan Sofyan al-Tsawry di Kufah." Ia lalu membakarnya dan berkata: Aku takut setelah aku mati. kita harus mulai dari peninjauan ulang kepada kedua konsep itu. sedangkan sunnah atau hadits adalah produk pemikiran manusia. Malik di Madinah. sehingga kalian bertengkar. Bila ada orang yang meminta kalian (meriwayatkan hadits).. Setelah hadits-hadits itu terkumpul. kelak orang-orang munafik akan mencari jalan untuk mengecam apa yang dituliskan itu.ada gunanya lagi ulama dan ijtihad pun tidak perlu lagi. Sekarang. Qasim ibn Muhammad ibn Abi Bakar. "Umar kuatir sekiranya Nabi saw. menegaskan sikap mereka dengan tindakan." Kata Ibn al-Jawzi. ketika menulis biografi Abu Bakar. juga sebagian besar tokoh tabi'un seperti Sa'id ibn Jubair. al-Hasan bin Abu al-Hasan. Mereka adalah Ibnu Jurayj di Makkah. halalkan apa yang dihalalkannya dan haramkan apa yang diharamkannya. kepada apa Umar merujuk selain al-Qur'an? Ketika mereka ingin mengetahui cara-cara shalat yang tidak diuraikan al-Qur'an atau menghadapi masalah-masalah baru yang timbul dalam perkembangan Islam." telah memulai problematika sunnah atau hadits yang berada di luar al-Qur'an. Untuk membuka pintu ijtihad. Aisyah bercerita.

Sunnah yang sudah disepakati kebanyakan orang ini. tapi sahabat yang lain. dan ijma' menjadi rusak. Boleh jadi sebagian sahabat memandang perilaku tertentu sebagai sunnah. sunnah adalah praktek kaum muslim pada zaman awal. di tambah unsur-unsur yang berasal dari kebudayaan Yahudi. sama luasnya dengan ijma' yang pada dasarnya merupakan sebuah proses yang semakin meluas secara terus-menerus. Hadits adalah verbalisasi sunnah. Setelah Nabi saw. .DARI SUNNAH KE HADITS Beberapa orang orientalis berpendapat. (3) Bahwa konsep sunnah sesudah Nabi wafat tidak hanya mencakup sunnah Nabi tapi juga penafsiran-penafsiran terhadap sunnah Nabi tersebut. Mereka berusaha mempraktekkannya dalam kehidupan sehari-hari. menurut Fazlur Rahman." pada daerah tertentu seperti Madinah. dan disebut "Sunnah Nabi. diekspresikan dalam hadits. Sebagian lagi hanyalah interpretasi para ahli hukum Islam terhadap sunnah yang ada. sejak awal sejarah Islam hingga masa kini. para sahabat memperhatikan perilaku Nabi saw." Fazlur Rahman menegaskan: mengkoreksi pandangan orientalis ini dengan Sekarang kami akan menunjukkan (1) Bahwa sementara kisah perkembangan Sunnah di atas hanya benar sehubungan dengan kandungannya. Dalam "free market of ideas. Kuffah. Secara berangsur-angsur. Ketika gerakan hadits muncul pada Abad 3 Hijrah. formalisasi sunnah ke dalam hadits ini. dan Persia. hubungan organis di antara sunnah. ada sunnah Kuffah. berkembang secara demokratis sunnah yang disepakati (amr al-majtama' 'alaih). Karena itu. Ketika timbul gerakan hadits pada paruh kedua Abad 2 Hijrah. berkembanglah penafsiran individual terhadap teladan Nabi itu. (2) Bahwa kandungan sunnah yang bersumber dari Nabi tidak banyak jumlahnya dan tidak dimaksudkan bersifat spesifik secara mutlak. Romawi. (4) Bahwa sunnah dalam pengertian terakhir ini. TELADAN NABI SAW | PRAKTEK PARA SAHABAT | PENAFSIRAN INDIVIDUAL | OPINIO GENERALIS | OPINIO PUBLICA (SUNNAH) | FORMALISASI SUNNAH (HADITS) Jadi. sebagai teladan. telah memasung proses kreatif sunnah dan menjerat para ulama Islam pada rumus-rumus yang kaku. Sebagian kandungan sunnah berasal dari kebiasaan Jahiliyah (pra-Islam) yang dilestarikan dalam Islam. dinisbahkan kepada Nabi saw. pada daerah kekuasaan kaum muslim. sunnah tidak lain daripada opinio publica. tapi tidak benar sehubungan dengan konsepnya yang menyatakan sunnah Nabi tetap merupakan konsep yang memiliki validitas dan operatif. tidak menganggapnya sunnah. Sayangnya. wafat. ijtihad. berkembang sunnah yang umumnya disepakati para ulama di daerah tersebut. Ada sunnah Madinah. seluruh sunnah yang ada. dan yang terakhir sekali (6) Bahwa setelah gerakan pemurnian Hadits yang besar-besaran.

mereka menisbatkan sunnah itu kepada Nabi saw. Dalam hal shalat. DARI HADITS KE SUNNAH Sepakat dengan Fazlur Rahman. (021) 7501969. DARI SUNNAH KE HADITS ATAU SEBALIKNYA (2/3) oleh Jalaluddin Rakhmat Mungkin banyak ulama akan tercengang membaca pandangan Fazlur Rahman tentang hadits. ia berkata "Ambillah dari aku manasik kalian. Secara lebih tepat hadits adalah komentar yang monumental mengenai Nabi oleh umat muslim di masa lampau." Sesekali Nabi saw. Siapa yang berpaling dari sunnahku ia tidak termasuk golonganku. walaupun secara historis tidak terlepas dari Nabi. 7501983.bahwa walaupun landasannya yang utama adalah teladan Nabi. Mereka dengan kadar yang bermacam-macam berusaha membentuk tingkah lakunya sesuai dengan Nabi saw." Namun. seperti saya kutip di bawah ini: Berulang kali telah kami katakan --mungkin sampai membosankan sebagian pembaca-. setelah kaum muslim awal secara berangsur-angsur sepakat menerima sunnah. Sifatnya yang aphoristik menunjukkan bahwa hadits tersebut tidak bersifat historis. perilakunya itu sunnah yang harus diikuti. Ketika gerakan hadits unggul. menegaskan. Nabi saw. saya juga berpendapat bahwa perilaku Nabi saw. mereka merumuskan sunnah itu dalam bentuk verbal. Hadits adalah keseluruhan aphorisme yang diformulasikan dan dikemukakan seolah-olah dari Nabi. Kemudian. berkata." Dalam hal haji. (021) 7507174 Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota Please direct any suggestion to Media Team Artikel Yayasan Paramadina Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota III. oleh kaum muslimin sendiri. UA 20-21 Jakarta Selatan Telp. berlawanan dengan tesis Fazlur Rahman.20. Walhasil.-------------------------------------------. berulangkali menyuruh sahabat menirunya. ijma' (yang merupakan opinio publica) dan ijtihad (yang merupakan proses interpretasi umat terhadap ajaran Islam) menjadi tersisihkan. hadits merupakan hasil karya dari generasi-generasi muslim. 7507173 Fax. hadits adalah pembakuan yang kaku. Bila sunnah adalah proses kreatif yang terus menerus. Inilah yang disebut hadits.(bersambung 2/3) Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah Editor: Budhy Munawar-Rachman Penerbit Yayasan Paramadina Jln. saya berpendapat bahwa yang pertama kali beredar di kalangan kaum muslim adalah . Metro Pondok Indah Pondok Indah Plaza I Kav. "Nikah itu sunnahku. selama hidupnya terus-menerus menjadi perhatian para sahabat. Nabi saw. "Shalatlah kalian seperti kalian melihat aku shalat.

Dalam peristiwa-peristiwa yang disebutkan dalam pengantar di atas. orang-orang mencari petunjuk dari ra'yu-nya. seperti diriwayatkan Bukhari. atau sosiologis. Keempat. yang menghimpun keputusan-keputusan hukum yang pernah dibuat Rasulullah saw. pasar gagasan umumnya tidak bebas) sebagian ra'yu menjadi dominan. Ada di antara mereka yang menuliskannya. Karena orang hanya menerima hadits secara lisan. Dalam pasar ra'yu yang "bebas" (dalam kenyataannya. Sebuah ra'yu menjadi dominan boleh jadi karena proses kreatif dan adanya demokrasi. "Dulu aku menulis sejumlah besar hadits. Misalnya Ali. Dalam semua kejadian ini. dominasi ra'yu sangat ditopang oleh hilangnya catatan-catatan tertulis. tidak adanya rujukan tertulis menyebabkan banyak orang secara bebas membuat hadits untuk kepentingan politis. lahirlah akibat yang kelima. Karena makna adalah masalah persepsi. kita melihat 'Aisyah juga menyimpan catatan-catatan hadits (mungkin ditulis Abu Bakar). tidak dituliskan dan para sahabat tidak berupaya . Abdullah bin Amr bin Ash juga dilaporkan rajin mencatat apa yang didengarnya dari Nabi. Urwah bin Zubayr pernah berkata. "Ketika hadits-hadits Nabi saw. maka redaksi hadits berkembang sesuai dengan penafsiran orang yang meriwayatkannya. ketika menyampaian hadits itu mereka hanya menyampaikan maknanya. terjadilah perbedaan pendapat. Sekarang aku berpikir. boleh jadi juga karena dipaksakan penguasa. masalah penafsiran." Kedua. Tidak mungkin kita memberi contoh-contohnya secara terperinci disini. Untuk memperparah keadaan. Abu Rayyah menulis. terbukanya peluang pada pemalsuan hadits. menurut Fazlur Rahman. Dalam rangkaian periwayatan. Seandainya para sahabat menuliskan apa-apa yang pernah didengarnya dari Rasulullah saw. karena para sahabat meminta izin untuk menulis hadits tapi Umar mencegahnya. Umar sendiri pernah mengumpulkan catatan-catatan hadits yang berserakan dan membakarnya. "Salah satu penyebab timbulnya perbedaan pendapat di antara para ulama adalah hadits-hadits dan teks-teks yang kontradiktif. Keengganan mencatat hadits. kemudian aku hapuskan semuanya. pengaruh kedua sahabat besar ini terasa sampai lebih dari satu abad. mempunyai mushaf di luar al-Qur'an. Ra'yu dominan inilah. Kita tidak akan mengupas mengapa dua khalifah pertama mengadakan gerakan "penghilangan" hadits. periwayatan dengan makna. Banyak riwayat menunjukkan perhatian para sahabat untuk menghapal ucapan-ucapan Nabi atau menyampaikan apa yang dilakukan Nabi saw. alangkah baiknya kalau aku tidak menghancurkan hadits-hadist itu. kemudian menjadi sunnah. Yang jelas. Bersamaan dengan perbedaan pendapat ini. Sebagian orang menuding Umarlah yang bertanggung jawab atas kejadian ini. yang mengandalkan ra'yu.hadits. ekonomi." Ketiga. sunnah akan tercatat tidak lebih dari satu rantai saja (dalam penyampaian) antara Nabi saw dan umat sesudahnya. Aku bersedia memberikan seluruh anakku dan hartaku untuk memperolehnya kembali. Abu al-Abbas al-Hanbaly menulis. Pertama. telah mengakibatkan hal-hal yang merugikan umat Islam. redaksinya dapat berubah-ubah. Karena sejumlah hadits hilang. menurut Rasm Ja'farian. hilangnya sejumlah besar hadits.

bukanlah ayat itu turun untuk dia. daripada pada teks. Abubakar tidak pernah menunjuk salah seorang anaknya atau salah seorang keluarganya untuk menjadi khalifah. saya hanya ingin mengajak pembaca merekonstruksi kembali pandangannya tentang hadits dan sunnah. melalui kegiatan para pengumpul hadits." Marwan marah dan menyuruh agar Abd-u 'l-Rahman ditangkap. pintu periwayatan hadits palsu terbuka baik untuk orang taat maupun orang sesat. yang lebih merujuk pada tema perilaku yang hidup di tengah-tengah masyarakat. terutama. telah melaknat ayahmu ketika kamu masih berada di sulbinya. Sesungguhnya kamu adalah tetesan dari laknat Allah. Sunnah pada gilirannya kelihatan sebagai produk para ahli hukum Islam: yang kemudian dinisbahkan kepada Nabi saw. yang meriwayatkan apa saja yang mereka inginkan tanpa takut kepada siapapun. Ia berkata. Panjangnya rangkaian periwayatan hadits telah memungkinkan orang-orang menambahkan kesimpulan dan pendapatnya pada hadits-hadits. "Sesungguhuya Allah ta'ala telah memperlihatkan kepada Amir-u 'l-Mu'minin yakni Muawiyah pandangan yang baik tentang Yazid. Abd-u 'l-Rahman ibn Abu Bakar berkata. Tidak mengherankan. Bila saya mendaftar kesulitan yang disebut terakhir. Ia berkata. MENCARI DEFINISI HADITS DAN SUNNAH Pada suatu hari Marwan bin Hakam berkhotbah di Masjid Madinah.mengumpulkannya. aku dapat menyebutkan kepada siapa ayat ini turun. mula-mula muncul hadits. hilangnya catatan-catatan hadits telah menimbulkan dominasi ra'yu. Ulum al-Hadits mungkin membantu kita mengatasi kesulitan ini dengan menambah kesulitan baru. bila Fazlur Rahman sampai kepada kesimpulan. "Tentang orang inilah turun ayat yang berkata pada orang tuanya 'cis' bagimu berdua. Tapi Rasulullah saw. al-Hakim dan al-Hakim menshahihkannya (lihat Mustadrak al-Hakim 4:481. Kemudian." Pendeknya. Bukhari meriwayatkan hadits ini dengan singkat. Ia membuang laknat Rasulullah saw. Waktu itu ia menjadi Gubernur Madinah yang ditunjuk oleh Mu'awiyah. hadits adalah produk pemikiran kaum muslim awal untuk memformulasikan sunnah. Ia ingin menunjuk orang sebagai khalifah. Inilah riwayat Bukhari. Tidak lain Muawiyah hanya ingin memberikan kasih-sayang dan kehormatan kepada anaknya. Kesulitan bahkan muncul ketika kita mendefinisikan hadits dan sunnah. Ibn Mundzir. Tafsir al-dur al-Mansur 6:41 dan kitab-kitab tafsir lainnya). Abd-u 'l-Rahman lari ke kamar saudaranya. Tafsir Ibn Katsir 4:159. anaknya. Jadi ia ingin melanjutkan sunnah Abubakar dan Umar. orang berusaha menghambat periwayatan hadits. Ia berkhotbah dan menyebut Yazid ibn Muawiyah supaya ia dibaiat ." Hadits ini diriwayatkan al-Nasa'i. Marwan di Hijaz sebagai gubernur yang diangkat Muawiyah. dalam bentuk tertulis. Ketika hadits-hadits dihidupkan kembali. kepada Marwan dan menyamarkan ucapan Abd-u 'l Rahman. "Ini sunnah Heraklius dan Kaisar. Bila aku mau. Marwan berdusta. yang kemudian disebut sunnah. Demi Allah. Timbullah sunnah. "Marwan berdusta. Tafsir Al-Fakhr al-Razi 7:491. kesulitan menguji hadits menjadi sangat besar. Aisyah Ummu 'l-Mukminin. Tafsir al-Qurthubi 16:197. Jadi. Demi Allah. Marwan melanjutkan khotbahnya." Ucapan itu sampai kepada Aisyah.

Ia berkata. Nurrudin Atar. (021) 7501969. apakah kalian menjanjikan padaku dan seterusnya. UA 20-21 Jakarta Selatan Telp. Yang pertama menyebutkan. Sekedar memperjelas persoalan di sini. tetapi "perang hadits" antara dua orang sahabat --Marwan ibn Hakam dan 'Aisyah. 117 menceritakan tangkisan Abu Hurairah kepada orang-orang yang menyatakan Abu Hurairah terlalu banyak meriwayatkan hadits. dikutipkan beberapa saja diantaranya.20. tidak berkenaan dengan ucapan. karena ayat itu turun berkenaan dengan orang lain. Para ahli ilmu hadits mendefinisikan hadits sebagai "apa saja yang disandarkan (dinisbahkan) kepada Nabi saw. 7501983. 7507173 Fax. 4826 dalam hitungan Ibnu Hajar al-Asqalani (lihat Fath al-Bari 8:576). "Tangkaplah dia. berbuatan atau taqrir Nabi saw. Ia menjelaskan bahwa ia tidak disibukkan . Bila kita membuka kitab-kitab hadits. Hadits ini adalah hadits No. Manhaj al-Naqd fi Ulum al-Hadits. Metro Pondok Indah Pondok Indah Plaza I Kav. berupa ucapan. 'Aisyah malah menegaskan dengan hadits yang menyatakan bahwa Marwan adalah orang yang dilaknat Allah dan Rasul-Nya. taqrir. asbab al-nuzul ayat al-Ahqaf itu berkenaan dengan 'Abd-u 'l-Rahman ibn Abu Bakar. Riwayat di atas tidak menceritakan hal ihwal Nabi saw. -------------------------------------------. hadits No. ia bercerita tentang perilaku para sahabatnya. Yang menarik kita bukanlah apa yang dibuang Bukhari. perbuatan. Yang kedua menegaskan bahwa yang pertama berdusta. atau sifat-sifat atau akhlak (Lihat Dr. halaman 26). Maka Abdurrahman mengatakan sesuatu. DARI SUNNAH KE HADITS ATAU SEBALIKNYA (3/3) oleh Jalaluddin Rakhmat KERANCUAN PENGERTIAN HADITS Riwayat di atas disebut "hadits" padahal yang diceritakan adalah perilaku para sahabat." Ia masuk ke rumah Aisyah dan mereka tidak berhasil menangkapnya Kemudian Marwan berkata. Aisyah berkata dari balik hijab: Allah tidak menurunkan ayat apapun tentang kami kecuali Allah menurunkan ayat untuk membersihkanku.(bersambung 3/3) Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah Editor: Budhy Munawar-Rachman Penerbit Yayasan Paramadina Jln. "Sesungguhnya dia inilah yang tentang dia Allah menurunkan ayat-ayat dan orang yang berkata kepada kedua orang tuanya 'cis' bagimu berdua. segera kita menemukan banyak riwayat di dalamnya. (021) 7507174 Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota Please direct any suggestion to Media Team Artikel Yayasan Paramadina Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota III.sesudah bapakuya. Pada Shahih Bukhari.

perhatikanlah hadits ini: Dari Jabir ra: Sesungguhnya Ibnu Zubair melarang muth'ah tetapi Ibn Abbas memerintahkannya. berupa ucapan. menghadiri majelis yang tidak dihadiri yang lain. misalnya. Dalam Shahih Bukhari. Untuk mengenyangkan perutnya." Namun jangan terkejut kalau ahli hadits bahkan menyebut riwayat. Bila ya. Kami melakukan muth'ah pada zaman Rasulullah saw. Hadits itu berbunyi. ia berkhotbah kepada orang banyak: Sesungguhnya Rasulullah saw. Perhatikan Bukhari memasukkan sebagai salah satu kitab haditsnya. Ucapan "al-shalat-u khair-un min al-nawm" dalam adzan Shubuh adalah tambahan yang dilakukan atas perintah Umar ibn Khatab. kebiasaan melakukan adzan awal pada shalat Jum'at di kalangan ulama tradisional. Yang pertama muth'ah . Ternyata hadits itu tidak semuanya berkenaan dengan Nabi saw. ada hadits yang berbunyi "Iman itu perkataan dan perbuatan. taqrir. Atar. Riwayat tentang para tabi'in yakni ulama yang berguru kepada para sahabat. dan sesungguhnya al-Qur'an itu adalah al-Qur'an ini. disebut hadits maqthu." Sampai di sini kita bertanya apakah kita sepakat dengan definisi Dr. perbuatan. Salah satu contohnya adalah hadits yang sering disampaikan kaum modernis untuk menolak tradisi slametan ("tahlilan") pada kematian. perbuatan atau taqrir Nabi saw. para ulama di luar para sahabat juga sebagai hadits. berupa ucapan. harus mengubah anggapan kita selama ini. Yang paling menyusahkan kita ternyata tidak semua hadits walaupun shahih meriwayatkan sunnah Rasulullah saw. (lihat Nayl al-Awthar 4:148). Atar. taqrir." Hadits ini merupakan ucapan 'Abd-u l-Lah al-Bajali. definisi hadits yang paling tepat ialah "apa saja yang disandarkan (dinisbahkan) kepada Nabi saw. Dan pada zaman Abu Bakar ra. Adalah Rasul ini. padahal riwayat ini tidak menyangkut ucapan. Menurut Bukhari. riwayat tentang para sahabat masih dapat dianggap hadits. perbuatan. ini adalah ucapan para ulama di berbagai negeri (lihat Fath-u 'l-Bari 1:47). Hadits yang menceritakan sahabat disebut hadits mawquf (istilah yang didalamnya terdapat kontradiksi.). Karena itu menurut Dr. Mungkin bagi banyak orang. Ada dua muth'ah yang ada pada zaman Rasulullah saw. bertambah dan berkurang. Boleh jadi banyak amal yang kita lakukan selama ini ternyata bersumber pada "hadits" yang bukan hadits (menurut definisi yang pertama). Ibnu Hajar dalam pengantarnya pada Syarh al-Bukhari menyebutkan secara terperinci hadits-hadits mawquf dalam Shahih Bukhari. Demikian pula. Akhirnya. Ia berkata: Padaku ada hadits.dengan urusan ekonomi. Ketika Umar berkuasa. dan menghapal hadits yang tidak dihapal orang lain. seperti sahabat-sahabat Anshar dan Muhajirin. atau sifat fisik atau akhlak dan apa saja yang dinisbahkan kepada para sahabat dan tabi'in. bukan ucapan Bani saw. Kembali kepada Rasulullah saw. Ia selalu menyertai Nabi saw. Tetapi aku melarangnya dan akan menghukum pelakunya. atau sifat fisik atau akhlak dan apa saja yang dinisbahkan kepada para sahabat. sehingga definisi hadits sekarang ialah "apa saja yang disandarkan (dinisbahkan) kepada Nabi saw." Ini bukan sabda Nabi saw. "Kami menganggap berkumpul pada ahli mayit dan menyediakan makanan sesudah penguburannya termasuk meratap. didasarkan kepada hadits yang menceritakan perilaku orang Islam di zaman Utsman ibn 'Affan. karena bukan hadits bila tidak berkenaan dengan Nabi saw.

Nabi saw. dengan memperluas definisi hadits sehingga juga memasukkan perilaku para sahabat dan tabi'in." dapatkah kita menetapkan perilaku Nabi saw. Batuk tidak bernilai syar'i. Bila ada seorang laki-laki menikahi perempuan sampai waktu tertentu. Banyak orang. karena perbuatan Nabi saw. al-Sunnah Qabl al-Tadwin. Selain al-Qur'an berupa ucapan. sehingga bagian dalam serban itu di luar dan sebalik." Jadi pemindahan dalam khotbah istisqa itu tentu mempunyai implikasi syar'i. Walhasil. "Aku mendengar Rasulullah saw. "Aku melihatnya menggerakkan telunjuknya sambil berdoa?" Tidakkah anda menyimpulkan bahwa gerakan telunjuk itu sama dengan batuk --yang hanya secara kebetulan tidak mempunyai implikasi hukum. Kerancuan definisi hadits ini membawa kita kepada ikhtilaf mengenai apa yang disebut sunnah. Yang membiarkan sahabatnya melakukan muth'ah atau hadits larangan Umar? Umumnya kita memilih yang kedua. Abdullah bin Zaid bercerita tentang istisqa Nabi saw. kita mengamalkan juga sunnah para sahabat.16) Jadi menurut ulama ushul fiqh. "Dalam hadits ini ada lima sunnah. yang tidak jarang bertentangan dengan sunnah Rasulullah saw. memindahkan serbannya. Imam Ahmad pernah diriwayatkan berkata. Imam Hanafi dan . aku aakan melemparinya dengan batu. Hadits ini menceritakan khotbah sahabat Umar yang mengharamkan muth'ah yang dilakukan para sahabat sejak zaman Rasulullah saw. Batuk tiga kali setelah takbirat-u 'l-ihram. "Nabi saw. Manakah yang harus kita pegang: hadits taqrir Nabi saw. Bukankah Ibnu Zubair melihat "Nabi saw. menyamakan hadits dengan sunnah." Tidak semua ulama setuju dengan pernyataan Ahmad. Kata Syafi' i. Jumhur ulama termasuk Imam Syafi'i dan Malik menetapkan pembalikan atau pemindahan serban itu sebagai sunnah. Sampai ke zaman Abu Bakar ra. Masalahnya sekarang: kapan perkataan. dalam hadits hanya ada tiga sunnah. Itu hanya kebetulan saja dan tidak mempunyai implikasi hukum. Dalam riwayat lain. sehingga ujung serban sebelah kanan disimpan pada bahu sebelah kiri dan ujung serban sebelah kiri disimpan pada bahu sebelah kanan. termasuk para ulama yang menyamakan hadits dengan sunnah. dan taqrir. Tetapi bagaimana pendapat anda bila Wail bin Hajar melaporkan apa yang disaksikannya ketika Nabi saw. memberi isyarat dengan telunjuknya tapi tidak mengerakkannya?" (Nayl al-Awthar 2:318). Ahli ushul fiqh mendefinisikan sunnah sebagai "apa saja yang keluar dari Nabi saw. Yang kedua muth'ah haji (haji tamattu'). h. tidak semua hadits mengandung sunnah. Tidak pernah memindahkan serban kecuali kalau berat. Itu tepat disebut sunnah? Seandainya seorang sahabat berkata. yang dllaporkan dalam hadits. Pada waktu khotbah istisqa Nabi saw. Mungkin saja buat sebagian di antara mereka. Membalikkan serbannya. dikeluarkan juga oleh Muslim dalam shahihnya. duduk tasyahhud. Hadits ini diriwayatkan dalam Sunnah Baihaqi 7:206. dan banyak di antara kita. menyebut sunnah pada semua perilaku Nabi saw. Dalam hadits itu sebagai sunnah? Anda berkata tidak. perbuatan. perbuatan dan taqrir Nabi saw.perempuan. fi hadza 'l-hadits khams-u sunnah. KERANCUAN PENGERTIAN SUNNAH Para ahli hadits. yang tepat untuk dijadikan dalil hukum syar'i" (Muhammad Ajjaj al Khathib.

maka yang disebut sunnah adalah pendapat umum.sebagian pengikut Maliki menetapkan bukan sunnah. kita tidak bisa tidak harus merujuk pada hadits dan sunnah (tentu saja sesudah al-Qur'an). Sunnah adalah perumusan para ulama mengenai kandungan hadits. Karena sunnah adalah hasil penafsiran. Anda melihat bagaimana para ulama berbeda dalam mengambil sunnah hanya dari satu hadits saja. Bila sunnah sudah mencakup juga perilaku sahabat. Ketika kita sedang giat melakukan islamisasi ilmu. Dengan latar belakang uraian tentang hadits sebelumnya. Metro Pondok Indah Pondok Indah Plaza I Kav. Pembaruan pemikiran Islam atau reaktualisasi ajaran Islam. Para ulama juga ikhtilaf untuk menetapkan apakah pemindahan serban itu berlaku bagi imam atau berlaku bagi jemaah juga. Ketika ia bertanya kepada orang-orang pandai apa arti mimpi itu. Ketika terjadi perbedaan paham. ekonomi. sehingga pada awalnya sunnah sama dengan ijma'. nilai sunnah tentu saja tidak bersifat mutlak seperti al-Qur'an. ia duduk di hadapan Rasulullah saw. Bila para pembaru Islam terdahulu memulai kiprahnya dari kritik terhadap hadits dan sunnah (Ingat bagaimana Muhammadiyah dan PERSIS "men-dha'if-kan" hadits-hadits yang dipergunakan orang-orang NU). kemusykilan tentang sunnah makin bertambah. pada kenyataannya tidak lagi dipakai." Inilah yang mendorong Bukhari mengumpulkan hadits-hadits yang sahih saja. Definisi sunnah seperti disebutkan di atas. dan di tangannya ada kipas untuk mengusir lalat agar tidak mengenai tubuh Nabi saw. dan masyarakat. Karena itu. harus mengacu pada teks-teks yang menjadi landasan ajaran Islam. Fazlur Rahman dalam Membuka Pintu Ijtihad menegaskan adanya unsur penafsiran manusia dalam sunnah. Siapa yang ingin melanjutkan tradisi Imam Bukhari dewasa ini? -------------------------------------------Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah Editor: Budhy Munawar-Rachman Penerbit Yayasan Paramadina Jln. "Anda akan membersihkan hadits Nabi saw. Konon Imam Bukhari bermimpi. Kita lupa bahwa kritik terhadap keduanya telah diteladankan kepada kita oleh para ulama terdahulu. budaya. hukum. dengan membuang ribuan hadits yang dianggap dha'if (lemah). Bukanlah selama ini yang kita anggap benar secara mutlak adalah al Qur'an dan sunnah? Patut dicatat bahwa kesimpulan Fazlur Rahman itu didasarkan pada sunnah dalam pengertian sunnah Rasulullah saw. Pemindahan itu hanya kebetulan saja. apakah yang sunnah itu pemindahan atau pembalikkan. Bahkan ketika merujuk pada al-Qur'an pun. Sikap kritis ini seringkali dicurigai akan menghilangkan hadits atau sunnah. Yang sering kita lupakan adalah bersikap kritis terhadap keduanya. kita menemukan juga adanya sunnah para sahabat. dari kebohongan. Pernyataan Fazlur Rahman ini bagi kebanyakan orang sangat mengejutkan. kita harus melihat hadits. bahkan sunnah para tabi'in. UA 20-21 Jakarta Selatan . PENUTUP. Semua orang sepakat pentingnya hadits dan sunnah dalam merealisasikan ajaran Islam. mengapa kita tidak mau melanjutkannya. mereka berkata.

Abu Dawud. Berdasarkan sabda Nabi tentang Kitab dan sunnah di atas. di antara keduanya terdapat jalinan yang erat. Malik Ibn Anas (pendiri madzhab Maliki. Jika seseorang menyebut "sunnah" maka dengan sendirinya akan terbayang padanya sejumlah kitab koleksi sabda Nabi. Tapi ingkar kepada hadits. ada suatu golongan yang menanamkan dirinya kaum "Inkar al-Sunnah". telah terjadi dalam kurun waktu yang panjang pada golongan-golongan tertentu Islam seperti kaum Mu'tazilah. Tapi sebelum mereka sudah ada seorang kolektor hadits yang amat kenamaan dan berpengaruh besar yaitu sarjana dan pemikir dari Madinah. Sudah jelas. "Dua Yang Sahih"). Yang paling terkenal di antaranya ialah dua kitab koleksi oleh al-Bukhari dan Muslim (disebut al-Shahihayn. PERGESERAN PENGERTIAN "SUNNAH" KE "HADITS" (1/3) IMPLIKASINYA DALAM PENGEMBANGAN SYARI'AH oleh Nurcholish Madjid Dalam masyarakat Islam di beberapa negara terdapat kelompok-kelompok yang meragukan otoritas hadits sebagai sumber kedua penetapan hukum Islam. maka kajian kesejarahan tentang evolusi pengertian sunnah --yang diungkapkan Nabi meski secara tersirat-. (021) 7501969.19. bukan hadits. (021) 7507174 Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota Please direct any suggestion to Media Team Artikel Yayasan Paramadina Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota III. 7507173 Fax. al-Turmudzi dan al-Nasa'i. Di negara kita. "Aku tinggalkan di antara kalian dua perkara. Perjalanan sejarah . demikian pula sebaliknya. maka golongan ini menjadi sasaran kritik para ulama dan tokoh Islam. wafat 179 H.diharapkan akan dapat membantu memperjelas persoalan. Bahkan dapat dikatakan bahwa sunnah mengandung makna yang lebih prinsipil daripada hadits." Tapi sekarang ini sunnah memang tidak dapat dibedakan dari hadits. Yang pertama (sunnah) mengandung pengertian yang lebih luas daripada yang kedua (hadits).) yang menghasilkan kitab hadits al-Muwaththa'.Telp. sebagaimana sering dituturkan tentang adanya sabda Nabi saw. sekalipun jelas tidak dapat dilakukan secara umum tanpa penelitian tentang hadits tertentu mana yang dimaksud. Karena sikap mereka menolak perlunya kaum muslim berpegang pada sunnah. Oleh karena dampak masalah ini dalam usaha penetapan hukum (tasyri') sangat besar dan penting. pada prinsipnya sikap ingkar pada sunnah tidak dapat dibenarkan. yang kamu tidak akan sesat selama berpegang kepada keduanya: Kitab Allah dan sunnah RasulNya. Pada banyak kasus mungkin terjadi semacam kekacauan akibat kecenderungan masyarakat untuk menyamakan begitu saja antara sunnah dan hadits. namun sesungguhnya tidaklah identik. 7501983. dan yang lengkapnya meliputi pula kitab-kitab koleksi oleh Ibn Majah. Sebab yang disebutkan sebagai sumber kedua sesudah Kitab Suci al-Qur'an ialah sunnah.

Berarti. maka sesungguhnya Nabi hanya menyatakan sesuatu yang amat logis. juga yang paling tahu bagaimana melaksanakannya. yang sekarang ini definisinya makin luas batasannya dan komprehensif. Jika sunnah merupakan keseluruhan perilaku Nabi. kitab-kitab itu juga merupakan sumber . Tapi jika kita berhasil melepaskan diri dari dogmatisme yang menerima begitu saja pengertian-pengertian mapan tentang apa yang terjadi di masa lampau.. Kitab-kitab itu. maka dari celah-celah sejarah itu kita akan dapat menarik "benang merah" yang memberikan kejelasan tentang perkembangan dan perubahan itu. Pemahaman Nabi terhadap pesan atau wahyu Allah itu teladan beliau dalam melaksanakannya membentuk "tradisi" atau "sunnah" kenabian (al-sunnah al-Nabawiyyah). Sebab. tidak berarti bahwa hadits dengan sendirinya mencakup seluruh sunnah.perkembangan dan perubahan itu sendiri cukup panjang dan rumit. Itulah makna asal kata hadits. Sekalipun pengertian ini cukup jelas. kedua. kemudian. Sebelum Ishaq. yang secara logis paling paham akan apa yang dipesankan Tuhan pada manusia melalui beliau. Di antara kitab-kitab sirah. namun masih juga sering mengundang kekaburan. Memang. sunnah tidak terbatas hanya pada hadits. termasuk yang sahih. Maka. harus mencari contoh bagaimana Nabi sendiri memahami dan melaksanakannya. Yaitu. Dan ia telah mengumpulkan bahan untuk kitab sirah-nya beberapa lama sebelum usaha-usaha pengumpulkan hadits. Meskipun wafat di Baghdad. dalam memahami agama dan melaksanakannya. Sebab. karena memuat gambaran tentang perjalanan hidup Nabi khususnya dalam kapasitas beliau sebagai pemimpin. antara sunnah dan hadits terbentang garis kontinuitas yang tidak terputus. Namun demikian. Jika disebutkan oleh Nabi bahwa sunnah merupakan pedoman kedua setelah Kitab Suci bagi kaum muslim dalam memahami agama. Pengertian lain yang menyalahi hal itu mustahil dapat diterima. telah muncul berbagai karya tulis tentang riwayat peperangan Nabi yang lazim disebut kitab-kitab al-Maghazi. maka kita dapat mengetahui dari sumber-sumber yang selama ini tidak dimasukkan sebagai hadits. bersama dengan kitab-kitab biografi Nabi yang lain amat penting. harus dimasukkan pula corak dan ragam tindakan beliau. Sedangkan hadits merupakan bentuk reportase atau penuturan tentang apa yang disebabkan Nabi atau yang dijalankan dalam praktek tindakan orang lain yang "didiamkan" beliau (yang dapat dapat diartikan sebagai "pembenaran"). orang Islam tentu pertama-tama harus melihat apa yang ada dalam Kitab Suci. seperti kitab-kitab sirah atau biografi Nabi. dalam lingkup sunnah sebagai keseluruhan tingkah laku Nabi. Nabi-lah sebagai utusan Tuhan. namun mencampuradukkan antara keduanya tidak dapat dibenarkan. termasuk yang sangat dini ditulis ialah Sirah Ibn Ishaq yang kemudian disunting oleh Ibn Hisyam (berturut-turut wafat pada tahun 151 dan 219 Hijri). Ibn Ishaq lahir di Madinah (pada tahun 85 H). PENGERTIAN SUNNAH Sunnah lebih luas daripada hadits. Dalam kedudukan beliau sebagai pemimpin itulah Kitab-kitab sirah banyak memberi gambaran. dan tumbuh sebagai sarjana terkemuka di kota Nabi. baik sebagai pribadi maupun pemimpin.

kemudian Dia membimbingmu?! Dan Dia mendapatimu miskin. Tidaklah Tuhanmu meninggalkan engkau (Muhammad). Sunnah Nabi harus pula dipahami sebagai keseluruhan kepribadian Nabi dan akhlak beliau. kemudian Dia memperkayamu?! Maka kepada anak yatim. isteri beliau. Sebagai contoh. jika yang dimaksud selain tindakan-tindakan Nabi atau sabda beliau yang bersifat terpisah dan ad hoc seperti umumnya tema catatan hadits. al-Dluha 93:1-11) Bukankah Kamu telah lapangkan dadamu?! Dan Kami bebaskan bebanmu. dan keseluruhan sasaran peneladanan itu tidak lain ialah sunnah nabi. khususnya.S. kemudian Dia melindungimu?! Dan Dia mendapatimu bingung.yang baik untuk memahami sunnah. sehingga menimbulkan ejekan dan sinisme kaum . Dari pengamatan atas gambaran itu kita dapat memperoleh ilham tentang peneladanan pada beliau. engkau harus nyatakan! (QS. Dalam sejarah terbukti bahwa pembacaan biografi Nabi.S. berhasil membangkitkan semangat perjuangan Islam. maka kamu akan lega. al-Qalam 68:4). menjadi pedoman hidup kedua setelah Kitab Suci bagi seluruh kaum beriman. yang ternyata berhasil gemilang. yang keseluruhannya menampilkan sosok Nabi yang berkeprlbadian mulia. Bukankah Dia mendapatimu yatim. dua surat yang termasuk paling banyak dibaca dalam sembahyang dapat kita renungkan maknanya di sini: Demi pagi yang cerah dan demi malam ketika telah kelam. Tetapi justru karena itu maka memahami sunnah Nabi tidak dapat lepas dari memahami Kitab Suci sendiri. dan tidak pula murka. karena ilham teladan baik dari beliau. khususnya yang berkaitan dengan riwayat peperangan beliau yang dikena sebagai al-Maghazi tersebut. Sebab sesungguhnya akhlak Nabi yang mulia itu tidak lain adalah semangat Kitab Suci al-Qur'an itu sendiri. Dari Kitab Suci kita mengetahui lebih banyak perkembangan kepribadian Nabi yang menggambarkan pengalaman Nabi. yang dalam kepribadian dan akhlak beliau disebutkan dalam Kitab Suci sebagai teladan yang baik (uswah hasanah) bagi kita semua "yang benar-benar berharap pada Allah pada Hari Kemudian. dalam hal ini tingkah laku dan kepribadian beliau sebagai seorang yang berakhlak mulia. Dan juga pastilah Tuhanmu akan menganugerahimu. al-Syarh 94:1-8) Para ahli hampir semuanya sepakat bahwa surat al-Dluha turun kepada Nabi berkenaan dengan peristiwa terputusnya wahyu yang relatif panjang. kerja keraslah! Dan kepada Tuhanmu. janganlah kamu membentak! Sedangkan berkenaan dengan nikmat karunia Tuhanmu. al-Ahzab 33:32). senantiasa berharaplah! (QS. Dengan demikian Nabi. yang memberati punggungmu?! Serta Kami muliakan namamu?! Sebab sesunggahnya bersama kesulitan tentu ada kemudahan! Maka jika engkau bebas. janganlah engkau menghardik! Dan kepada peminta-minta. Dan pastilah kemudian hari lebih baik bagimu daripada yang sekarang ada. yaitu upacara memperingati kelahiran Nabi dengan membaca riwayat hidup beliau. baik yang menyenangkan atau tidak. Dan dengan "eksperimen" itu pemimpin Islam dari Mesir yang kemudian terkenal dengan sebutan "Sultan Saladin" itu mewariskan pada Umat Islam seluruh dunia tradisi Maulid. Dan beliau juga dilukiskan dalam Kitab Suci sebagai seorang yang berakhlak amat mulia (Q. serta banyak ingat kepada Allah" (Q. Inilah "eksperimen" Sultan Shalah al-Din al-Ayyubi dalam menghadapi tentara Salib. sebagaimana dilukiskan A'isyah.

perjuangan besar selalu memerlukan waktu untuk mencapai hasil dan semakin besar nilai suatu perjuangan maka semakin panjang pula dimensi waktu yang diperlukannya. Dalam terjemah kontemporernya. Dari latar belakang turunnya. Dan berdasarkan latar belakang itu maka Allah berpesan agar Nabi janganlah sampai menghardik anak-yatim. bingung tentang apa yang hendak dilakukan.musyrik Makkah bahwa Tuhan telah meninggalkan Nabi dan murka kepadanya. PERGESERAN PENGERTIAN "SUNNAH" KE "HADITS" (2/3) IMPLIKASINYA DALAM PENGEMBANGAN SYARI'AH oleh Nurcholish Madjid IMPLIKASI SUNNAH SEBAGAI KOREKSI HADITS DALAM PENGEMBANGAN SYARI'AH Allah juga mengingatkan Nabi bahwa masa mendatang lebih penting daripada masa sekarang. Allah menjanjikan untuk memberi kemenangan yang bakal membuat beliau puas dan lega. dan beliau pun wafat memenuhi panggilan menghadap Allah dalam keadaan menang dan sukses luar biasa). Oleh karena itu hendaknya Nabi tidak putus asa atau kecil hati oleh pengalaman kekecewaan jangka pendek. dan selalu ingat dengan penuh syukur akan nikmat karunia Tuhan. sehingga seperti dikatakan Sayyid Quthub. (021) 7507174 Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota Please direct any suggestion to Media Team Artikel Yayasan Paramadina Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota III. Sebab. -------------------------------------------. 7507173 Fax. UA 20-21 Jakarta Selatan Telp. selama perjuangan diteruskan dengan penuh kesabaran dan harapan. (021) 7501969. Dan dalam jangka panjang itulah. surat ini juga menggambarkan tentang suatu dinamika pengalaman Nabi dalam perjuangan beliau. . 7501983. Allah menghibur beliau dan memberinya dorongan moril. (Janji Tuhan ini kelak ternyata terbukti dan terlaksana. Serentak dengan itu semua Allah juga mengingatkan akan masa lampau Nabi yang penuh kesusahan seperti keadaan beliau yang yatim-piatu. dan bagaimana Allah telah menunjukkan kasih-Nya pada beliau dengan memberi kemampuan mengatasi kesusahan itu semua. yang taktis. yang strategis lebih penting daripada pengalaman jangka pendek. Allah mengingatkan Nabi bahwa perjuangan jangka panjang. dan miskin. atau membentak peminta-minta.(bersambung 2/3) Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah Editor: Budhy Munawar-Rachman Penerbit Yayasan Paramadina Jln. berupa kemenangan demi kemenangan yang diraih Nabi setelah hijrah ke Madinah. Metro Pondok Indah Pondok Indah Plaza I Kav. bahwa Allah samasekali tidak meninggalkan beliau dan tidak pula murka.19.

Akhlak serta kepribadian yang menjadi sunnah Nabi.Tetap berorientasi kepada Allah. sebab yakin akan masa datang yang lebih baik 10.Menggunakan setiap waktu luang untuk kerja-kerja produktif 11. dari kedua surat pendek yang banyak dibaca dalam shalat itu dapat disimpulkan gambaran dinamika kepribadian Nabi berhubung dengan pengalaman hidup perjuangan beliau. dalam arti dapat terjadi dan dialami oleh siapa saja dari kalangan manusia yang mempunyai tekad atau komitmen pada cita-cita luhur. 3. dengan penuh harapan kepadaNya. asal dan tuduan semua yang Firman Allah yang memberi gambaran dinamika kepribadian Nabi sebagai uswah hasanah dalam al-Qur'an cukup banyak. bahkan merupakan kelanjutannya.Bersikap lapang dada 8. Lalu Allah menegaskan bahwa setiap kesulitan tentu akan membawa kemudahan.Sadar akan perjuangan jangka panjang. Maka dari itu setiap kesempatan harus digunakan untuk kerja keras. Jika kita renungkan lebih mendalam gambaran itu. dan dari situ pula kita mengerti suatu aspek makna firman Allah bahwa pada diri Rasulullah terdapat teladan yang baik bagi kaum beriman. berkat perjuangan beliau dan kebajikan yang ditegakkannya.Tidak kecil hati karena kesulitan.Ingat akan latar belakang diri di masa lalu dan bagaimana semua kesulitan teratasi 5. Juga diingatkan bahwa Allah telah membuat terhormat nama Nabi dan dijunjung tinggi.Senantiasa bersyukur pada Allah atas segala nikmat karunia-Nya.Berkenaan dengan surat al-Syarh.Sikap senantiasa berpengharapan kepada Allah 2. Jadi. seperti telah diutarakan. Dari situ kita paham sebuah sunnah Nabi. Oleh karena itu sikap-sikap yang telah ditunjukkan oleh Nabi sebagaimana tersimpul dari kedua surat pendek itu akan melengkapi kaum beriman dengan contoh nyata dalam menghadapi problema kehidupan. 7. bahwa amal usaha tentu mengandung kesulitan. dan membuat semua beban terasa ringan bagi beliau. yang dapat disimpulkan dari kedua surat itu adalah kurang lebih demikian: 1. sambil senantiasa mengarahkan diri kepada Allah. namun hasil perjuangan itu di kemudian hari tentu akan membawa kebahagiaan.Memikul beban tanggungjawab dengan penuh kerelaan 9. Dalam surat ini Allah menegaskan bagaimana Dia telah membuat Nabi sebagai seorang yang lapang dada (munsyarih al-shadr). para ahli mengatakan bahwa wahyu itu turun kepada Nabi masih dalam kaitannya dengan surat al-Dluha.Rasa kasih sayang kepada sesama manusia yang kurang beruntung 6.Yakin akan kemenangan akhir 4. maka sesungguhnya dinamika pengalaman hidup Nabi tersebut adalah universal. Pengkajian terhadap firman-firman itu akan memberi gambaran yang utuh tentang siapa Nabi dan bagaimana garis besar sepak terjang .

adalah seorang muslim yang bergairah. sekalipun dituturkan dalam kaitan dengan ruang dan waktu atau pengalaman khusus Nabi. Mushthafa al-Siba'i. dan karena adanya banyak kontradiksi dalam sebagian cukup besar nash-nash-nya. namun umumnya bersifat ad hoc terkait erat dengan tuntutan khusus ruang dan waktu. yang telah tampil membela Islam dengan cara yang mengagumkan.Allah telah menegaskan "Tidak ada satu perkarapun yang Kami abaikan dalam Kitab Suci (Q. khususnya segi-segi yang dinamik dan mendasar.S. Tokoh itu sendiri. Tapi pandangannya yang menolak otoritas hadits telah menimbulkan heboh di kalangan para ulama al-Azhar. seorang pembela paham Sunni yang bersemangat dan mantan dekan Fakultas Syari'ah Universitas Syiria. al-Siba'i mengutip tokoh itu yang pandangannya pernah dimuat oleh majalah al-Manar pimipinan Sayyid Muhammad Rashyid Ridla. Menurut Dr. Meskipun banyak laporan dalam kitab-kitab hadits yang juga memberi gambaran tentang tingkah laku atau kepribadian Nabi. Sedangkan yang ada dalam al-Qur'an. Tanpa menyebut namanya secara jelas. dan bahwa Kitab Suci merupakan satu-satunya sumber penetapan syari'ah disebabkan kepastian otentisitasnya. Sangat menarik jalan pikiran seorang tokoh yang ingkar hadits itu di zaman modern. Secara ringkas.beliau dalam hidup beliau baik sebagai pribadi maupun sebagai Utusan Ilahi. golongan Ingkar Hadits itu terdapat di mana-mana dalam dunia Islam. serta seorang tokoh pembina gerakan al-Ikhwan al-Muslimun di Syiria. Tetapi mereka ini dapat disebut sebagai golongan "Ingkar Hadits" (sebutlah "Inkar al-Hadits"). menurut Mushthafa al-Siba'i. Ini menjelaskan bahwa Kitab Suci telah mencakup seluruh prinsip penetapan syari'ah. yang disebutkan oleh al-Siba'i sebagai contoh. dan yang dinilainya banyak membuka pintu bagi orang lain sesudahnya untuk juga bersikap ingkar pada hadits. dengan demikian bernilai universal. Sedangkan sunnah (yang dimaksud tentunya hadits) mengandung keraguan dalam keabsahannya sebagai sumber argumen (hujjah) karena terjadi penambahan-penambahan padanya. Kita dapat mendekteksi dinamika kepribadian Nabi itu dari firman-frman yang ditunjukkan khusus kepada Nabi. dapat lebih banyak diketahui dari Kitab Suci daripada dari kumpulan kitab hadits. seperti diindikasikan oleh penggunaan kata pengganti nama "engkau" dalam suatu format dialog antara Tuhan dan Utusan-Nya. namun ajaran moral di balik cerita selalu bersifat dinamik sehingga dapat dengan mudah diangkat pada tingkat generalitas yang tinggi. Mereka sebenarnya tidak mengingkari sunnah. Al-An'am 6:38). Karena itu sunnah Nabi sebenarnya tidak terbatas hanya pada hadits. menurut al-Siba'i. Jadi sunnah Nabi. PERGESERAN PENGERTIAN SUNNAH KE HADITS Di atas telah dikemukakan adanya kelompok-kelompok kaum muslim yang sangat meragukan otentisitas dan otoritas kumpulan hadits. dari dahulu sampai sekarang. Mereka mendasarkan pandangan itu pada hal-hal berikut: 1. pandangan mereka yang menolak hadits ialah bahwa Islam hanyalah al-Qur'an saja. meskipun hadits (yang sahih) memang termasuk sunnah. sehingga tidak lagi ada peran bagi sunnah (hadits) untuk menatapkan hukum . karena ingkar pada sunnah Nabi adalah mustahil bagi seorang muslim.

Maka banyak kalangan kaum Muslim yang memandang 'Umar II sebagai anggota kelima dari al-Khulafa. 102 H. Apapun yang sampai kepadamu sekalian dan bersesuaian dengan al-Qur. karena Allah berfirman. dan kebanyakan tokoh besar para sahabat Nabi serta para Tabi'un seperti 'Umar. 3. Mungkin yang dimaksudkan ialah adanya dorongan pembukuan hadits oleh Khalifah 'Umar Ibn 'Abd al-'Aziz (w." [1] Dalam kutipan al-Siba'i tentang argumen orang yang ingkar pada hadits itu disebutkan bahwa pembukaan hadits dimulai pada akhir abad pertama Hijri. dan apapun yang sampai kepadamu dan menyalahi al-Qur'an.Allah menjamin pemeliharaan al-Qur'an dari kesalahan. 2. Dari sudut analisa politik. sehingga masuk ke dalamnya penambahan dan pemalsuan. Hadits juga belum dibukukan di zaman al-Khulafa al-Rasyidun. Kota Nabi.an. Kalau seandainya hadits termasuk sumber penetapan syari'ah. dan selesai pengumpulan dan koreksinya pada pertengahan abad ketiga. tentulah Tuhan memeliharanya untuk kepentingan para hamba-Nya dari kemungkinan penyelewengan dan perubahan sebagaimana Dia telah memelihara Kitab Suci-Nya. al-Najm 52:28). Pembukuan hadits baru dimulai pada akhir abad pertama. Tuhan tidak menjamin pemeliharaan sunnah (hadits). dan sesungguhnyalah Kami yang memelihara-Nya" (Q. al-Qasim Ibn Muhammad. ia tidak berasal dariku. Khalifah ini terkenal dengan sebutan kehormatan. dll. al-Sya'bi. "Sesungguhnya Kami benar-benar telah menurunkan pelajaran. Abu Bakr.) dari Bani Umayyah.dan membuat syari'ah. dan hal itu dengan sendirinya menempatkan sunnah pada tingkat dugaan (martabat al-dhann) belaka. sedangkan dugaan tidak dapat menghasilkan hukum syar'i. jika bukannya malah merupakan wujud historis yang kongkret dari "tradisi" atau "sunnah" Nabi sendiri. yang dengan ideologi itu ia ingin merangkul . 'Ubaydah. menunjukkan sikap tidak suka pada usaha membukukannya. "Sesungguhnya dugaan tidak sedikit pun menghasilkan kebenaran" (Q. Umar II. al-Rasyidun. al-Hijr 15:9). ia berasal dari diriku. bahwa beliau bersabda "Sesungguhnya hadits akan memancarkan dari diriku. 'Umar II memerintahkan seorang sarjana terkenal.S.. tindakan 'Umar II ini adalah untuk menemukan dan mengukuhkan landasan pembenaran bagi ideologi Jama'ah-nya.Terdapat penuturan dari Nabi saw. 124 H) untuk meneliti dan membuktikan tradisi yang hidup di kalangan penduduk Madinah.Sunnah (hadits) belum dibukukan di zaman Nabi saw. 4.. bahkan secara otentik diceritakan bahwa beliau melarang membukukannya. yang mengisyaratkan pengakuan bahwa ia adalah pelanjut kekhalifahan 'Umar Ibn al-Khaththab yang bijakbestari. karena keyakinan 'Umar II bahwa tradisi itu merupakan kelanjutan langsung pola kehidupan masyarakat Madinah di zaman Nabi. Ini adalah jangka waktu yang cukup panjang untuk menimbulkan keraguan tentang keabsahan teks-teks hadits. sebagaimana difirmankan. al-Nakha'i. dan rampung pada pertengahan abad ketiga. Syihab al-Din al-Zuhri (w. sesudah 'Ali Ibn Abi Thalib. 'Alqamah.S.

sebagaimana dilakukan oleh 'Abd Allah Ibn 'Amr Ibn al-'Ash. di bawah ke kepeloporan tokoh-tokohnya seperti 'Abd-Allah ibn 'Umar (Ibn al-Khaththab). 256 H). -------------------------------------------. dengan tampilnya al-Nasa'i (w. Metro Pondok Indah Pondok Indah Plaza I Kav. Koleksi mereka berenam itulah yang kelak disebut "Kitab yang Enam" (al-Kutub al-Sittah). (021) 7501969. Dan. 303 H). dan baru benar-benar rampung pada awal abad keempat Hijri. 7507173 Fax. UA 20-21 Jakarta Selatan Telp. sekalipun ia menyesalkan sikap Khalifah yang baginya terlalu banyak memberi angin pada kaum Syi'ah dan Khawarij (karena. (021) 7507174 Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota . mereka akhirnya mampu meruntuhkan Dinasti Umayyah dan melaksanakan pembalasan dendam yang sangat kejam). 'Abd-Allah Ibn 'Abbas dan 'Abd-Allah Ibn Mas'ud. [2] Tapi. Jadi. sikap yang serba inklusifistik sesama kaum muslim itu merupakan "tradisi" atau "sunnah" historis penduduk Madinah. al-Nasa'i (w. juga merupakan kelanjutan yang sah dari "tradisi" atau "sunnah" Nabi. menurut al-Siba'i. dalam pandangan 'Umar II. sebelum masa 'Umar II pun sebetulnya sudah ada usaha-usaha pribadi untuk mencatat hadits. dalam kolaborasinya dengan kaum Abbasi. 303 H). al-Turmudzi (. 279 H) dan terakhir. Akibatnya.(bersambung 3/3) Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah Editor: Budhy Munawar-Rachman Penerbit Yayasan Paramadina Jln. Ibn Majah (w. Abu Dawud (w. "sunnah" itu akan memberi landasan legitimasi bagi idenya tentang persatuan seluruh umat Islam dalam "Jama'ah" yang serba mencakup. sesungguhnya. dalam pandangan al-Siba'i. Berdasarkan latar belakang inilah maka ideologi 'Umar II kelak disebut sebagai paham "sunnah dan jama'ah" dan para pendukungnya disebut ahl al-sunnah wa al-Jama'ah (golongan sunnah dan jama'ah). Imam al-Syafi'i adalah tokoh pemikir peletak sebenarnya teori ilmiah pengumpulan dan klasifikasi hadits.273 H). 7501983. pengertian "sunnah" pun kemudian menjadi hampir identik dengan koleksi hadits dalam "Kitab yang Enam" itu. 'Umar II melihat bahwa sikap yang serba akomodatif pada semua kaum muslim tanpa memandang aliran politik atau paham keagamaan khasnya itu telah diberikan contohnya oleh penduduk Madinah. 261 H). lalu diteruskan berturut-turut oleh Muslim (w. termasuk kaum Syi'ah dan Khawarij yang merupakan kaum oposan terhadap rezim Umayyah. Maka penelitian dan pembukaan tentang tradisi penduduk Madinah akan dengan sendirinya menghasilkan pembukaan "tradisi" atau "sunnah" Nabi.275 H). Mushthafa al-Siba'i amat menghargai kebijakan 'Umar II berkenaan dengan pembukaan sunnah itu.w.seluruh kaum Muslim tanpa memandang aliran politik atau pemahaman keagamaan mereka. dan dengan begitu. 204 H). Selanjutnya. Teori dan metodenya kemudian diterapkan dengan setia oleh al-Bukhari (w. pembukuan hadits secara sistematis dan kritis dan dalam skala besar serta pada tingkat kesungguhan yang tinggi baru dimulai pada awal abad ketiga dengan tampilnya Iman al-Syafi'i (w. golongan oposisi itu kemudian mampu memobilisasi diri sehingga.

dimulai sejak sekitar dua abad setelah Nabi dan rampung sekitar tiga abad setelah Nabi. namun sudah tidak lagi banyak berarti. penulisan hadits di masa beliau. dengan tandas menyatakan: seorang pembela paham Sunni yang menolak argumen-argumen itu. karena telah menegaskan bahwa Kitab Suci itu telah memuat segala sesuatu.Please direct any suggestion to Media Team Artikel Yayasan Paramadina Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota III.Keseluruhan ajaran Islam cukup berdasarkan pada al-Qur'an saja.Yang disebut bakal dijamin terpelihara dari usaha pengubahan tidak hanya pada al-Qur'an tapi juga meliputi sunnah. dan menolak yang lain. . PERGESERAN PENGERTIAN "SUNNAH" KE "HADITS" (3/3) IMPLIKASINYA DALAM PENGEMBANGAN SYARI'AH oleh Nurcholish Madjid IMPLIKASI SUNNAH SEBAGAI KOREKSI HADITS DALAM PENGEMBANGAN SYARI'AH Fakta historis tersebut di atas menunjukkan bahwa proses pengumpulan hadits berlangsung selama satu abad atau lebih. Selain dasar-dasar pertimbangan yang berasal dari al-Qur'an dan pesan Nabi sendiri --menurut pengertian yang dipegang oleh mereka yang ingkar hadits-. 3.19. Sunnah dan hadits tetap terpelihara. melalui sistem hafalan kaum muslim Arab yang memang terkenal memiliki kemampuan menghafal yang amat kuat (sebagai akibat pengembangan bahasa Arab yang amat tinggi namun tidak banyak bersandar pada penggunaan tulisan). sekurangnya menghalangi. 2. dasar-dasar argumen menolak otoritas hadits secara ringkasnya adalah sebagai berikut: 1. Dia 1. dalam hal ini hadits.Nabi melarang. Sesudah masa itu memang masih terdapat usaha pengumpulan sisa-sisa hadits oleh beberapa pribadi.Memang benar Kitab Suci memuat segala sesuatu. demikian pula para sahabat dan para Tabi'un terkenal. Dr. 4. tapi hanya dalam garis besar saja. tapi tidak menjamin hal serupa untuk Hadits. 2.Allah menjamin terpeliharanya al-Qur'an. tegar.masa kodifikasi dan seleksi hadits yang demikian lama sesudah masa Nabi dan yang memakan waktu demikian panjang merupakan dasar sikap mereka yang meragukan otoritas hadits. Musthafa al-Siba'i. Sebagaimana telah dikutip kembali dari keterangan (kutipan) Mushthafa al-Siba'i.Nabi menegaskan agar orang menerima hadits hanya yang benar-benar bersesuaian dengan al-Qur'an.

3.Pencegahan Nabi dan para pembesar sahabat dan Tabi'un dari usaha membukukan hadits terjadi karena kekuatiran akan tercampur dengan teks-teks al-Qur'an yang saat itu kodifikasi resminya belum mapan di kalangan umat, disebabkan sedikitnya mereka yang ahli baca-tulis. Pencegahan itu hanya menyangkut usaha pembukuan resmi. Sedangkan yang tidak resmi dan sebagai catatan pribadi, beberapa sahabat telah melakukannya. 4.Keabsahan hadits yang menjadi landasan argumen keempat di atas diragukan oleh para ahli. Dan jika benar pun, maknanya adalah sangat wajar, yaitu bahwa kita harus menerima hadits hanya yang sejalan dengan al-Qur'an. Justru para ulama semuanya sepakat bahwa, Hadits yang sahih, meskipun menetapkan ajaran secara tersendiri, tidak ada yang bertentangan dengan al-Qur'an. Pembelaan al-Siba'i atas sunnah sebagai hadits itu mewakili pandangan yang sangat umum di kalangan para ulama. Namun ia tidak memberi kejelasan tentang bagaimana efek kenyataan sejarah bahwa untuk sampai pada koleksi dan kodifikasi hadits seperti sekarang ini proses-proses yang amat sulit harus dilewati, khususnya proses pemisahan mana dari laporan-laporan hadits itu otentik dan yang palsu. masih tetap diperlukan adanya argumen yang kukuh dan mendasar untuk pandangan bahwa klasifikasi yang ada sekarang adalah terpercaya, atau sudah tidak lagi memerlukan peninjauan kembali. Batu penarung bagi pandangan ini ialah kenyataan bahwa zaman sekarang ditandai dengan mudahnya diperoleh bahan bacaan di semua bidang, termasuk bidang-bidang yang dapat dijadikan landasan kajian perbandingan ilmu kritik hadits, baik dari segi metodologinya maupun dari segi hasil-hasil yang telah dicapai. Karena itu pada zaman sekarang akan lebih mudah bagi mereka yang berminat secara khusus untuk meneliti kembali hadits-hadits dan membuat klasifikasi baru tentang sahih-tidaknya matan-matan dan riwayat-riwayat yang ada. Sebenarnya hal ini dapat sekedar merupakan pengulangan atau penerapan kembali metodologi Imam al-Bukhari, tapi dengan dibantu oleh penggunaan kemudahan-kemudahan yang ditawarkan oleh zaman modern, baik dari segi perangkat kerasnya (material dan bahan bacaan yang tersedia) maupun perangkat lunaknya (metodologi kritiknya). Imam al-Bukhari sendiri sekedar meneruskan dan menerapkan dengan setia teori dan prinsip-prinsip riset hadits yang diletakkan oleh Imam al-Syafi'i. Dorongan untuk meletakkan teori dan metodologinya itu ialah keprihatinan al-Syafi'i oleh adanya kekacauan dan berkecamuknya usaha pemalsuan laporan-laporan hadits di zamannya, yang laporan-laporan itu sendiri semula dan kebanyakan bergaya anekdotal tentang generasi Islam yang telah lewat, mencakup tentang Nabi sendiri dan para sahabat. Karena itu hadits juga disebut Khabar, Akhbar, Riwayah, Atsar, dan lain-lain, yang kesemuanya menunjukkan sisa pengertiannya yang mula-mula, yaitu kabar, berita, penuturan, peninggalan, dan lain-lain. Maka yang dilakukan al-Syafi'i mempunyai nilai yang sungguh besar, dengan pengaruh yang sampai sekarang dirasakan oleh seluruh umat Islam. Tapi yang telah dilakukan banyak daripada sekedar penelitian hadits. Tokoh oleh imam al-Syafi'i jauh lebih meletakkan dasar-dasar metodologi pendiri madzhab yang penganutnya

banyak di negeri kita ini juga diakui jasanya sebagai yang meletakkan dasar-dasar metodologi penetapan syari'ah, yang justru terasa semakin relevan dengan keadaan zaman sekarang ini. Menurut Marshall Hodgson --yang dapat kita anggap sebagai seorang peninjau netral dan cukup jujur-- al-Syafi'i berjasa sebagai seorang sarjana yang dengan penuh kesadaran meletakkan prinsip adanya pertimbangan historis bagi penetapan syari'ah. Hal itu tercermin dalam konsepnya tentang nasikh-mansukh, yaitu konsep yang memandang kemungkinan suatu hukum dihapuskan oleh hukum yang lain dalam Islam, disebabkan adanya pertimbangan baru berkenaan dengan lingkungan (dharf), baik lingkungan ruang (dharf al-makan) maupun lingkungan waktu (dharf al-zaman). [3] Berdasarkan metodologid al-Syafi'i itu maka terkenal sekali rumus hukum Islam yang mengatakan bahwa hukum berubah oleh perubahan zaman dan tempat. Terutama perubahan zaman, semua ulama sepakat bahwa hal itu tidak dapat dielakkan akan membawa perubahan hukum. Prinsip ini tercermin dalam dua kalimat rumusannya dalam bahasa Arab, [Tulisan Arab] yang artinya, "Perubahan hukum oleh perubahan zaman. Tidak dapat diingkari perubahan hukum oleh perubahan zaman). [4] Untuk dapat melaksanakan prinsip amat penting itu tidaklah mudah. Salah satu yang mesti diperlukan ialah kemampuan menangkap "pesan zaman", sehingga suatu hukum dapat diterapkan secara efektif karena relevan dengan pesan zaman itu. Ini berarti juga menuntut kemampuan membuat generalisasi atau abstraksi dari hukum-hukum yang ada menjadi prinsip-prinsip umum yang berlaku untuk setiap zaman dan tempat. Dan berlakunya suatu prinsip untuk segala zaman dan tempat adalah berarti kemestian memberi peluang pada prinsip itu untuk dilaksanakan secara teknis dan kongkret menurut tuntutan ruang dan waktu. Karena ruang dan waktu berubah, maka tuntutan spesifiknya pun tentu berubah, dan ini membawa perubahan hukum. Maka yang berubah bukanlah prinsipnya, melainkan pelaksanaan teknis dan kongkret hukum itu dalam masyarakat tertentu dan masa tertentu. Iman al-Syafi'i khususnya, dan madzhab Syafi'i umumnya meletakkan dasar metodologi generalisasi dan abstraksi (ta'mim, istiqra, tajrid) tersebut dalam lima cara pendekatan pada setiap ketentuan hukum, yaitu: 1) semua perkara harus diperhatikan maksud dan tujuannya; 2) bahaya harus dihilangkan atau dihindari; 3) adat kebiasaan adalah sumber penetapan hukum; 4) hal mantap tidak boleh dihapus oleh hal yang meragukan; 5) kesulitan pelaksanaan harus menghasilkan kemudahan hukum. Dalam bahasa Arab, kelima prinsip itu diberi patokan rumusan baku sebagai berikut, [5] [Tulisan Arab] Kemudian, sesuai dengan kebiasaan klasik dalam budaya Islam, kelima prinsip itu oleh seorang penganut Syafi'i didendangkan dalam bentuk syair, demikian: [Tulisan Arab] Jika diperhatikan benar-benar metodologi Imam al-Syafi'i itu literer madzhab

maka sesungguhnya terdapat dorongan yang cukup kuat untuk mendekati suatu ketentuan tekstual, baik dalam Kitab Suci maupun dalam hadits tidak secara harfiah, melainkan dengan penarikan ide prinsipil atau fikrah mabda iyyah atau fikrah ushuliyyah yang dikandungnya, dan yang menjadi inti hikmah tasyri' dari ketentuan yang ada. Oleh karena tema-tema hadits umumnya bersifat ad hoc dan lepas dari keseluruhan kepribadian Nabi, maka abstraksi dan generalisasi dari hadits menghasilkan problema dan kesulitan yang tidak kecil. Padahal hanya dari abstraksi dan generalisasi itu kita dapat memahami sunnah Nabi, dan bukannya sekedar menyamakan begitu saja makna dan semangat sunnah dengan teks-teks laporan hadits. CATATAN 1.Dr. Mushthafa al-Siba'i, "Al-A'ashir fi wajh al-Sunnah Hadits-an" dalam majalah Al-Muslimin, Damaskus, No. 3 (Syawal 1374 H/Ayyar [Mei 1955]), hal. 24-26. Meskipun Al-Siba'i tidak menyebutkan nama tokoh Ingkar Hadits ini, namun dari bukunya. Al-Sunnah wa Makanatuha fi al-Tasyri' al-Islami, nama itu dapat diperkirakan sebagai Dr. Ahmad Amin, seorang penganut modernisme Islam yang terkenal. (Al-Siba'i, Al-Sunnah, Nurcholish Madjid (terj & ed) (Jakarta: Pustaka Firdaus, tt). 2.Ibid, hal. 27. 3.Marshall G.S. Hodgson, The Venture of Islam, 3 jilid (Chicago: The University of Chicago Press, 1974), jilid 33, hal.437. Menurut Hodgson, sesungguhnya yang dikembangkan oleh Imam al-Syafi'i adalah prinsip-prinsip yang tendensinya sudah terlihat di zaman Nabi sendiri, jadi memiliki tingkat otentisitas yang tinggi, dan Hodgson melihat pada metodologi itu sebagai salah satu sumber ketentuan dan kemampuan Islam menjawab tantangan zaman, khususnya zaman modern sekarang ini. Maka berkenaan dengan ini menarik sekali keputusan para ulama NU seluruh Indonesia di Tambakberas, Jombang, beberapa waktu yang lalu, yang menetapkan bahwa penganutan kepada madzhab Syafi'i seyogyanya tidak terbatas hanya kepada pendapat-pendapat spesifik (qawl) beliau saja, tetapi lebih penting lagi ialah kepada metodologi (manhaj, minhaj) yang dirintis dan dikembangkannya. 4.Mushthafa Ahmad al-Zarqa, "Taghayyur al-Ahkam bi Taghayyur al-Azman," dalam majalah Al-Muslimun, Damaskus, No. 8 (Syawal 1373 H/Juni 1954 M), hal. 34. 5."Tarikh al-Qawa'id al-Kulliyyah fi al-Syari'at al-Islamiyyah," dalam majalah Al-Muslimun Damaskus, No. 12 (Syawal 1373 H/Mei 1955 M), hal. 17. -------------------------------------------Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah Editor: Budhy Munawar-Rachman Penerbit Yayasan Paramadina Jln. Metro Pondok Indah Pondok Indah Plaza I Kav. UA 20-21 Jakarta Selatan

Telp. (021) 7501969, 7501983, 7507173 Fax. (021) 7507174 Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota
Please direct any suggestion to Media Team

Artikel Yayasan Paramadina
Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota III.8. ANTARA SUKMA NURANI DAN SUKMA DHULMANI oleh Jalaluddin Rakhmat Menurut para sufi, manusia adalah mahluk Allah yang paling sempurna di dinia ini. Hal ini, seperti yang dikatakan Ibnu'Arabi manusia bukan saja karena merupakan khalifah Allah di bumi yang dijadikan sesuai dengan citra-Nya, tetapi juga karena ia merupakan mazhaz (penampakan atau tempat kenyataan) asma dan sifat Allah yang paling lengkap dan menyeluruh. Allah menjadikan Adam (manusia) sesuai dengan citra-Nya. Setelah jasad Adam dijadikan dari alam jisim, kemudian Allah meniupkan ruh-Nya ke dalam jasad Adam. Allah berfirman: Maka apabila Aku telah menyempurnakan tiupkan kepadanya ruh-Ku (QS. 15: 29) kejadiannya dan Aku

Jadi jasad manusia, menurut para sufi, hanyalah alat, perkakas atau kendaraan bagi rohani dalam melakukan aktivitasnya. Manusia pada hakekatnya bukanlah jasad lahir yang diciptakan dari unsur-unsur materi, akan tetapi rohani yang berada dalam dirinya yang selalu mempergunakan tugasnya. Karena itu, pembahasan tentang jasad tidak banyak dilakukan para sufi dibandingkan pembahasan mereka tentang ruh (al-ruh), jiwa (al-nafs), akal (al-'aql) dan hati nurani atau jantung (al-qalb). RUH DAN JIWA (AL-RUH DAN AL-NAFS) Banyak ulama yang menyamakan pengertian antara ruh dan jasad. Ruh berasal dari alam arwah dan memerintah dan menggunakan jasad sebagai alatnya. Sedangkan jasad berasal dari alam ciptaan, yang dijadikan dari unsur materi. Tetapi para ahli sufi membedakan ruh dan jiwa. Ruh berasal dari tabiat Ilahi dan cenderung kembali ke asal semula. Ia selalu dinisbahkan kepada Allah dan tetap berada dalam keadaan suci. Karena ruh bersifat kerohanian dan selalu suci, maka setelah ditiup Allah dan berada dalam jasad, ia tetap suci. Ruh di dalam diri manusia berfungsi sebagai sumber moral yang baik dan mulia. Jika ruh merupakan sumber akhlak yang mulia dan terpuji, maka lain halaya dengan jiwa. Jiwa adalah sumber akhlak tercela, al-Farabi, Ibn Sina dan al-Ghazali membagi jiwa pada: jiwa nabati (tumbuh-tumbuhan), jiwa hewani (binatang) dan jiwa insani. Jiwa nabati adalah kesempurnaan awal bagi benda alami yang

organis dari segi makan, tumbuh dan melahirkan. Adapun jiwa hewani, disamping memiliki daya makan untuk tumbuh dan melahirkan, juga memiliki daya untuk mengetahui hal-hal yang kecil dan daya merasa, sedangkan jiwa insani mempunyai kelebihan dari segi daya berfikir (al-nafs-al-nathiqah). Daya jiwa yang berfikir (al-nafs-al-nathiqah atau al-nafs-al-insaniyah). Inilah, menurut para filsuf dan sufi, yang merupakan hakekat atau pribadi manusia. Sehingga dengan hakekat, ia dapat mengetahui hal-hal yang umum dan yang khusus, Dzatnya dan Penciptaannya. Karena pada diri manusia tidak hanya memiliki jiwa insani (berpikir), tetapi juga jiwa nabati dan hewani, maka jiwa (nafs) manusia mejadi pusat tempat tertumpuknya sifat-sifat yang tercela pada manusia. Itulah sebabnya jiwa manusia mempunyai sifat yang beraneka sesuai dengan keadaannya. Apabila jiwa menyerah dan patuh pada kemauan syahwat dan memperturutkan ajakan syaithan, yang memang pada jiwa itu sendiri ada sifat kebinatangan, maka ia disebut jiwa yang menyuruh berbuat jahat. Firman Allah, "Sesungguhnya jiwa yang demikian itu selalu menyuruh berbuat jahat." (QS. 12: 53) Apabila jiwa selalu dapat menentang dan melawan sifat-sifat tercela, maka ia disebut jiwa pencela, sebab ia selalu mencela manusia yang melakukan keburukan dan yang teledor dan lalai berbakti kepada Allah. Hal ini ditegaskan oleh-Nya, "Dan Aku bersumpah dengan jiwa yang selalu mencela." (QS. 75:2). Tetapi apabila jiwa dapat terhindar dari semua sifat-sifat yang tercela, maka ia berubah jadi jiwa yang tenang (al-nafs al-muthmainnah). Dalam hal ini Allah menegaskan, "Hai jiwa yang tenang, kembalilah kepada Tuhanmu dengan rasa puas lagi diridhoi, dan masuklah kepada hamba-hamba-Ku, dan masuklah ke dalam Surga-Ku." (QS. 89:27-30) Jadi, jiwa mempunyai tiga buah sifat, yaitu jiwa yang telah menjadi tumpukan sifat-sifat yang tercela, jiwa yang telah melakukan perlawanan pada sifat-sifat tercela, dan jiwa yang telah mencapai tingkat kesucian, ketenangan dan ketentraman, yaitu jiwa muthmainnah. Dan jiwa muthmainnah inilah yang telah dijamin Allah langsung masuk surga. Jiwa muthmainnah adalah jiwa yang selalu berhubungan dengan ruh. Ruh bersifat Ketuhanan sebagai sumber moral mulia dan terpuji, dan ia hanya mempunyai satu sifat, yaitu suci. Sedangkan jiwa mempunyai beberapa sifat yang ambivalen. Allah sampaikan, "Demi jiwa serta kesempurnaannya, Allah mengilhamkan jiwa pada keburukan dan ketaqwaan." (QS.91:7-8). Artinya, dalam jiwa terdapat potensi buruk dan baik, karena itu jiwa terletak pada perjuangan baik dan buruk. AKAL Akal yang dalam bahasa Yunani disebut nous atau logos atau intelek (intellect) dalam bahasa Inggris adalah daya berpikir yang terdapat dalam otak, sedangkan "hati" adalah daya jiwa (nafs nathiqah). Daya jiwa berpikir yang ada pada otak di kepala disebut akal. Sedangkan yang ada pada hati (jantung) di dada disebut rasa (dzauq). Karena itu ada dua sumber pengetahuan, yaitu pengetahuan akal (ma'rifat aqliyah) dan

pengetahuan hati (ma'rifat qalbiyah). Kalau para filsuf mengunggulkan pengetahuan akal, para sufi lebih mengunggulkan pengetahuan hati (rasa). Menurut para filsuf Islam, akal yang telah mencapai tingkatan tertinggi --akal perolehan (akal mustafad)-ia dapat mengetahui kebahagiaan dan berusaha memperolehnya. Akal yang demikian akan menjadikan jiwanya kekal dalam kebahagiaan (sorga). Namun, jika akal yang telah mengenal kebahagiaan itu berpaling, berarti ia tidak berusaha memperolehnya. Jiwa yang demikian akan kekal dalam kesengsaraan (neraka). Adapun akal yang tidak sempurna dan tidak mengenal kebahagiaan, maka menurut al-Farabi, jiwa yang demikian akan hancur. Sedangkan menurut para filsuf tidak hancur. Karena kesempurnaan manusia menurut para filsuf terletak pada kesempurnaan pengetahuan akal dalam mengetahui dan memperoleh kebahagiaan yang tertinggi, yaitu ketika akan sampai ke tingkat akal perolehan. HATI SUKMA (QALB) Hati atau sukma terjemahan dari kata bahasa Arab qalb. Sebenarnya terjemahan yang tepat dari qalb adalah jantung, bukan hati atau sukma. Tetapi, dalam pembahasan ini kita memakai kata hati sebagaimana yang sudah biasa. Hati adalah segumpal daging yang berbentuk bulat panjang dan terletak di dada sebelah kiri. Hati dalam pengertian ini bukanlah objek kajian kita di sini, karena hal itu termasuk bidang kedokteran yang cakupannya bisa lebih luas, misalnya hati binatang, bahkan bangkainya. Adapun yang dimaksud hati di sini adalah hati dalam arti yang halus, hati-nurani --daya pikir jiwa (daya nafs nathiqah) yang ada pada hati, di rongga dada. Dan daya berfikir itulah yang disebut dengan rasa (dzauq), yang memperoleh sumber pengetahuan hati (ma'rifat qalbiyah). Dalam kaitan ini Allah berfirman, "Mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakan memahaminya." (QS. 7:1-79). Dari uraian di atas, dapat kita ambil kesimpulan sementara, bahwa menurut para filsuf dan sufi Islam, hakekat manusia itu jiwa yang berfikir (nafs insaniyah), tetapi mereka berbeda pendapat pada cara mencapai kesempurnaan manusia. Bagi para filsuf, kesempurnaan manusia diperoleh melalui pengetahuan akal (ma'rifat aqliyah), sedangkan para sufi melalui pengetahuan hati (ma'rifat qalbiyah). Akal dan hati sama-sama merupakan daya berpikir. Menurut sufi, hati yang bersifat nurani itulah sebagai wadah atau sumber ma'rifat --suatu alat untuk mengetahui hal-hal yang Ilahi. Hal ini hanya dimungkinkan jika hati telah bersih dari pencemaran hawa nafsu dengan menempuh fase-fase moral dengan latihan jiwa, serta menggantikan moral yang tercela dengan moral yang terpuji, lewat hidup zuhud yang penuh taqwa, wara' serta dzikir yang kontinyu, ilmu ladunni (ilmu Allah) yang memancarkan sinarnya dalam hati, sehingga ia dapat menjadi Sumber atau wadah ma'rifat, dan akan mencapai pengenalan Allah Dengan demikian, poros jalan sufi ialah moralitas. Latihan-latihan ruhaniah yang sesuai dengan tabiat terpuji

adalah sebagai kesehatan hati dan hal ini yang lebih berarti ketimbang kesehatan jasmani sebab penyakit anggota tubuh luar hanya akan membuat hilangnya kehidupan di dunia ini saja, sementara penyakit hati nurani akan membuat hilangnya kehidupan yang abadi. Hati nurani ini tidak terlepas dari penyakit, yang kalau dibiarkan justru akan membuatnya berkembang banyak dan akan berubah menjadi hati dhulmani --hati yang kotor. Kesempurnaan hakikat manusia (nafs insaniyah) ditentukan oleh hasil perjuangan antara hati nurani dan hati dhulmani. Inilah yang dimaksud dengan firman Allah yang artinya, "Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang mensucikan jiwanya, dan rugilah orang yang mengotorinya." (QS. 91:8-9). Hati nurani bagaikan cermin, sementara pengetahuan adalah pantulan gambar realitas yang terdapat di dalamnya. Jika cermin hati nurani tidak bening, hawa nafsunya yang tumbuh. Sementara ketaatan kepada Allah serta keterpalingan dari tuntutan hawa nafsu itulah yang justru membuat hati-nurani bersih dan cemerlang serta mendapatkan limpahan cahaya dari Allah Swt. Bagi para sufi, kata al-Ghazali, Allah melimpahkan cahaya pada dada seseorang, tidaklah karena mempelajarinya, mengkajinya, ataupun menulis buku, tetapi dengan bersikap asketis terhadap dunia, menghindarkan diri dari hal-hal yang berkaitan dengannya, membebaskan hati nurani dari berbagai pesonanya, dan menerima Allah segenap hati. Dan barangsiapa memiliki Allah niscaya Allah adalah miliknya. Setiap hikmah muncul dari hati nurani, dengan keteguhan beribadat, tanpa belajar, tetapi lewat pancaran cahaya dari ilham Ilahi. Hati atau sukma dhulmani selalu mempunyai keterkaitan dengan nafs atau jiwa nabati dan hewani. Itulah sebabnya ia selalu menggoda manusia untuk mengikuti hawa nafsunya. Kesempurnaan manusia (nafs nathiqah), tergantung pada kemampuan hati-nurani dalam pengendalian dan pengontrolan hati dhulmani. DAFTAR KEPUSTAKAAN Abu al-Wafi aI-Taftazani, Maduhal ila al-Tashawwuf al-Islamiy, Kairo, 1983. Ahmad Dandy, Allah dan Manusia Dalam Konsepsi Syeikh Nurudin al-Raniry Jakarta, Rajawali, 1983. Al-Farabi, Kitab Ara Ahl al-Madinah al-Fadhilah, Kairo, 1906. Al-Ghazali, Ihya Ulum al-Din, Kairo, 1334 H. ------, Ma'arij al-Quds fi Madarij Ma'rifah al-Nafs, Kairo, 1327 H. ------, Asnan al-Qur'an fi Ihya 'Ulum al-Din, Kairo. Harun Nasution, Falsafah dan Mistisisme Islam, Bulan Bintang, Jakarta, 1978. Muhyiddin Ibnu Arabi, Fushush al-Hikam, Kairo, 1949. --------------------------------------------

Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah Editor: Budhy Munawar-Rachman Penerbit Yayasan Paramadina Jln. Metro Pondok Indah Pondok Indah Plaza I Kav. UA 20-21 Jakarta Selatan Telp. (021) 7501969, 7501983, 7507173 Fax. (021) 7507174 Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota
Please direct any suggestion to Media Team

Artikel Yayasan Paramadina
Indeks Islam | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota III.17. PANDANGAN KESUFIAN TENTANG DIRI MANUSIA oleh M. Bambang Pranowo Elingana yen ana timbalan Yen wis budal ora kena wakilan, Ora kena wakilan Timbalane kang Maha Kuasa Gelem ora gelem bakale lunga (Ingatlah jika telah datang panggilan Kau harus pergi dan tak bisa kau wakilkan, tak bisa kau wakilkan Panggilan dari Yang Maha Kuasa Mau tak mau kau harus pergi jua) Nyanyian puitis di atas adalah penggalan dari sebuah nyanyian keagamaan yang cukup panjang. Di Jawa, nyanyian itu disebut pujian atau erang-erangan. Pujian tersebut biasanya didendangkan bersama-sama oleh para jemaah di langgar atau mesjid menjelang shalat Subuh, Maghrib atau Isya, sembari menanti datangnya anggota masyarakat lain yang turut mendirikan salat berjamaah. Mungkin berkat susunannya yang ritmis dan mudah dihapal maka pujian tersebut seringkali menjadi "nyanyian" populer yang dilakukan bukan hanya di mesjid dan langgar, tapi juga di sawah dan ladang ketika seseorang menggembalakan ternaknya, atau di rumah-rumah ketika ibu-ibu berusaha menidurkan anaknya. Tidak jelas siapa pengarang pujian yang cukup populer tersebut, terutama di desa-desa bagian Jawa Tengah Selatan. Namun, orang mengenal bahwa pujian semacam itu disebarkan oleh kalangan pesantren. Perlu dicatat, para kyai pemimpin pesantren kebanyakan juga pemimpin tarekat, sehingga tidak mengherankan kalau pujian yang diciptakan sarat dengan pesan-pesan kesufian. Dan, dari pujian tersebut tercermin sebuah permintaan agar manusia menyadari bahwa suka atau tidak, ia harus memenuhi panggilan Tuhan Yang Maha Kuasa untuk kembali ke haribaannya. Panggilan Tuhan tersebut tidak dapat didelegasikan kepada siapapun juga. Memang, di antara pesan kesufian yang terpenting adalah ajakan agar manusia menyadari sepenuhnya sifat kefanaan dari kehidupan dunia ini. Oleh karena dunia bersifat fana dan yang kekal hanyalah Tuhan, maka dunia ini dipandang benar-benar

Hamba-Ku adalah mereka yang mendekatkan dirinya kepada-Ku dan melakukan pula hal-hal sunnah yang Aku cintai. vol. TEORI CERMIN AL-GHAZALI Bagaimanapun roh atau sukma akan kembali kepada Tuhan. tahta dan kesenangan lahir sebagai orientasi hidupnya. Ibadat yang paling mendekatkan Hamba-Ku. puasa Nabi Daud. akan Kunyatakan perang..bermakna hanya apabila ia senantiasa diorientasikan kepada Tuhan. .t. Begitu sukma meninggalkan raga. sedangkan petunjuk Tuhan bagaikan nur atau cahaya. Kamis.I: h. cerminnya terlalu kotor sehingga cahaya Ilahi yang seterang apapun tidak dapat ditangkap dengan cermin rohani yang dimilikinya. Yang termasuk dalam kategori ini. Sedangkan jika manusia tidak mampu menangkap sinyal-sinyal spiritual dari Tuhan. riyadlah atau latihan kerohanian dalam berbagai bentuk amalan sunnah --salat sunnah. ia harus senantiasa berusaha memurnikan diri dengan jalan menguasai nafsu-nafsu rendah serta mengikuti perjalanan hidup para nabi melalui berbagai latihan kerohanian (riyadlah). Agar hati manusia selalu dapat menjadi cermin yang bening. sehingga Aku sayang kepadanya adalah menunaikan semua perintah yang telah Aku berikan. Ketiga. orang-orang yang menjadikan harta. mengapa manusia seringkali lalai dan lupa kepada Tuhan dan detik-detik kehadirannya di dunia ini justru lebih banyak tersita untuk hal-hal yang bersifat jasadi atau lahiriah belaka? Imam Ghazali menjawab masalah ini dengan Teori Cermin (al-Mir'ah) dalam karyanya yang sangat terkenal itu --Ihya' 'ulum al-Din. Dalam "perangkap" seperti itu manusia cenderung berorientasi hanya kepada usaha mewujudkan kesenangan sementara yang segera dapat dinikmati kini dan di sini. Melaksanakan secara intensif berbagai amalan sunnah tersebut tak lain merupakan usaha mengamalkan sebuah hadits Qudsi sebagai berikut: Kepada orang yang memusuhi Wali-Ku. Pertama. puasa Senin. di antara cermin dan sumber cahaya terdapat penghalang yang tidak memungkinkan cahaya Ilahi menerpa cermin tersebut. cermin tersebut memang membelakangi sumber cahaya hingga memang tak dapat diharapkan dapat tersentuh oleh cahaya petunjuk Ilahi. ia dianggap sudah tiada. Menurut Imam Ghazali. Lalai dari kesadaran berketuhanan berarti manusia telah terjerat oleh perangkat serba kefanaan. dan lebih-lebih usaha senantiasa mempertautkan diri dengan Allah melalui dzikir merupakan hal yang sangat sentral dalam kehidupan sehari-hari mereka. di dunia yang fana ini. Ia lupa bahwa manusia disebut manusia tidak lain karena roh sukma yang ditiupkan Tuhan masih melekat di jasad atau raganya. Contoh yang sangat tepat untuk kategori ini orang-orang kafir yang dengan sadar mengingkari keberadaan Tuhan. t. itu pada dasarnya disebabkan tiga kemungkinan. Inilah yang menerangkan mengapa di lingkungan pesantren dan di kalangan para penganut tarekat. Yang termasuk dalam kategori ini adalah mereka yang dilumuri dengan perbuatan-perbuatan kotor dan aniaya. hati manusia ibarat cermin. Kedua. 119-125). Dalam kenyataannya. Dengan demikian jika hati manusia benar-benar bersih niscaya ia akan bisa menangkap cahaya petunjuk Ilahi dan memantulkan cahaya tersebut ke sekitarnya (lihat Ghazali.

Di sebuah desa hidup seorang yang dikenal oleh kalangan luas sebagai orang yang sangat alim. ternyata ia hanya pura-pura alim. Karena tertangkap basah maka iapun dipukuli banyak orang. Ibadah ritual akan jatuh nilainya menjadi seremonial tanpa isi jika ibadah tersebut dilaksanakan tanpa sikap batin yang dipimpin semata-mata oleh harapan memperoleh ridha Allah.merupakan ilustrasi relatif menarik. ya Allah. Mendengar berbagai pujian tersebut si Alim jadi gelisah. Setibanya di rumah ia langsung sujud syukur "Alkhamdulillah. Segala pujian dilimpahkan orang kepada si Alim atas kesalehan dan kealimannya. salah seorang pendiri mazhab fiqih yang terkenal. maka di kalangan kaum sufi ibadah ritual selalu dibarengi bahkan didahului oleh penggeledahan dan interogasi diri: apakah ibadah yang kita lakukan sudah benar-benar karena Allah dan bukannya karena yang lain? Dalam kaitannya dengan upaya rohani seperti itulah kisah sufistik yang dicatat dari pesantren --Tarekat Qadariah-Naqshabandiyah di Jawa Timur-. Jangan-jangan dirinya rajin beribadah itu bukan karena Allah melainkan justru karena orang memujinya sebagai orang alim. tetapi insya Allah benar-benar karena Engkau semata. kini aku beribadah bukan karena manusia. hidup ini merupakan pergulatan terus-menerus dengan diri sendiri. Dalam kaitan ini Imam Malik. dan Aku-lah kakinya untuk berjalan. dipandang sebagai kesombongan spiritual. Aku-lah tangannya untuk bekerja. Aku-lah matanya untuk melihat. Maqam-maqam tersebut dari . maka Aku-lah yang menjadi telinganya yang dipakai untuk mendengar. padahal sebenarnya ia tak lebih dari seorang maling!" Mendengar omongan seperti itu ia bukannya sedih melainkan bersyukur kepada Allah.Apabila Aku telah mencintainya." Demikianlah. dari sudut pandang kesufian. ia zindiq dan siapa yang mengamalkan fiqh tanpa bertasawuf. hal itu dalam pandangan kesufian tidak secara otomatis merupakan jaminan bahwa orang tersebut akan sampai pada tujuan hakiki dari ibadah yakni terjalinnya hubungan konstan dengan Allah. dan apabila ia meminta perlindungan akan Aku beri. Pada suatu pagi ia pun pergi menuju pasar di seberang desa. (Riwayat Bukhari dan Abi Hurairah) Apabila seseorang telah melaksanakan berbagai ibadah secara intensif. Agar ibadah ritual benar-benar dapat bermakna dan tak jatuh ke nilai seremonial yang tanpa isi. Dengan demikian. keberanian untuk melakukan penggeledahan dan interogasi diri merupakan inti keberagamaan dan sekaligus bagaikan tangga naik yang akan mengantarkan diri seseorang kepada derajat yang terus meningkat dari suatu tingkat (maqam) tertentu ke tingkat rohani berikutnya yang lebih tinggi. Orang sepasar akhirnya bergumam: "Oh. Ayam dikembalikannya dan ia pun pulang dalam keadaan babak belur. Sebaliknya sikap batin yang tidak diaktualisasikan dalam bentuk pelaksanann ibadah sebagaimana yang dituntunkan syariat dan dicontohkan oleh Nabi. ia fasiq (tak bermoral). Apabila dia meminta kepada-Ku akan Aku beri. yang menjurus kapada zindiq (penyelewengan). mengatakan bahwa siapa yang bertasawuf tanpa mengamalkan fiqh. Sesampainya di pasar secara demonstratif ia sengaja mencuri ayam yang sedang diperjualbelikan.

yakni hati yang diliputi rasa gembira karena mengetahui kemurahan dari Allah yang menjadi tumpuan harapannya. ialah rasa puas di hati sekalipun menerima nasib pahit. Dan. (8) Maqam Raja'. Menengok pada luka menganga yang menjangkiti dunia modern seperti konsumerisme yang seolah tak mengenal kata puas. diharapkan. maupun ditakuti. (9) Maqam Tawakkal. dibenci. yaitu tenang serta tabah sewaktu melarat dan mengutamakan orang lain di kala berada. sukma yang berada dalam kegelapan). (5) Maqam Faqir. Namun. yaitu menyadari bahwa segala kenikmatan itu datangnya dari Allah semata. maka maqam-maqam tersebut adalah acuan yang memang harus dimiliki mereka yan benar-benar merindukan leburnya diri kembali kepada Yan Maha Hakiki. serta materialisme yang cenderung mencekal nilai-nilai spiritual. yaitu sikap hati yang bergantung hanya kepada Allah dalam menghadapi segala sesuatu baik yang disukai. (4) Maqam Shabar. yaitu menahan diri untuk tidak melakukan sesuatu dalam rangka menjunjung tinggi perintah-Nya. yakni lepasnya pandangan keduniaan dan usaha memperolehnya dari diri orang yang sebetulnya mampu untuk memperolehnya.yang terendah hingga yang tertinggi dikenal di kalangan kaum sufi dengan istilah-istilah sebagai berikut: (1) Maqam Tawbat. yakni meninggalkan dan tidak mengulangi lagi perbuatan dosa yang pernah dilakukan dan dosa-dosa sepadannya demi menjunjung tinggi ajaran Allah dan mengingkari murka-Nya. semua itu mengantarkan kita pada kesimpulan bahwa pola kehidupan yang semata-mata dipimpin oleh otak (head) dan ketrampilan teknologis (hand) itu perlu diimbangi dan dikendalikan dengan kebeningan hati (heart). semua itu terpulang kepada manusia sendri apakah ia akan menundukkan sukmanya kepada kehidupan yang berorientasi pada kebutuhan jasadi yang bersifat kini dan di sini (sukma dhulmani. jika maqam-maqam tersebut dipandang sebagai tidak lain dari upaya pendakian rohani menuju ridla Allah. hedonisme yang telah menyebabkan merajalelanya AIDS. melalui sudut pandang kesufian kiranya kehidupan beragama akan marnpu mewujudkan pribadi-pribadi yang seimbang seperti itu. (6) Maqam Syukur. Mengenal selintas maqam-maqam tersebut seolah-olah mustahil nilai-nilai kesufian tersebut dapat diwujudkan dalan kehidupan yang sudah serba modern ini. (2) Maqam Wara'. (3) Maqam Zuhud. ialah rasa ngeri dalam menghadapi siksa Allah atau tidak tercapainya kenikmatan dari Allah. ialah ketabahan dalam menghadapi dan mendorong hawa nafsu. (10)Maqam Ridla. Akhirnya. ataukah ia akan mengarahkan sukmanya sehingga sang sukmalah yang memimpin kebutuhan jasadi agar senantiasa berada dalam terpaan cahaya . (7) Maqam Khauf.

tanpa tahun.) Pesantren dan Pembaharuan. Zarkasyi. Nurcholish. 7501983. "Soal-Jawab Thoriqiyah". Lebih dari itu bagi seorang mukmin petunjuk primordial ini masih ditambah lagi dengan datangnya Rasul Tuhan pembawa kitab suci sebagai petunjuk hidupnya (QS. Pekalongan. 7507173 Fax. Imam. (021) 7501969. 95:4).16. 10-23.N.I. Berjan. Madjid. Dawam Rahardjo (ed. vol. -------------------------------------------Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah Editor: Budhy Munawar-Rachman Penerbit Yayasan Paramadina Jln.Ilahi. MANUSIA DAN PROSES PENYEMPURNAAN DIRI oleh Komaruddin Hidayat Secara tegas Allah menyatakan bahwa manusia merupakan puncak ciptaan-Nya dengan tingkat kesempurnaan dan keunikan-Nya yang prima dibanding makhluk lainnya (QS. vol. Muhamad Nawawi Shidiq. "Ihya' 'Ulum al-Din". "Tasauf dan Pesantren". Al-Ghazali. Jakarta. LP3ES. 1985. 1981.. Yayasan Kesejahteraan Bersama. Metro Pondok Indah Pondok Indah Plaza I Kav. "Jalan ke Surga" (Kumpulan 772 Hadist Qudsi). masih belum selesai atau setengah jadi. hanif dan berakal. 4:174). 1977. DAFTAR KEPUSTAKAAN Firdaus A. Johns. UA 20-21 Jakarta Selatan Telp. (021) 7507174 Indeks Islam | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota Please direct any suggestion to Media Team Artikel Yayasan Paramadina Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota III. sehingga masih harus berjuang untuk menyempurnakan dirinya (QS. Raja Murah." dalam Journal of Southeast Asian History. hal. "Sufism As a Category in Indonesian Literature And History. Purwokerto. Pesantren Raudlatul Thulab.. pengenalan diri adalah tangga yang harus dilewati seseorang untuk mendaki ke jenjang yang lebih tinggi dalam rangka . Namun begitu Allah juga memperingatkan bahwa kualitas kemanusiaannya. dalam M. (dengan terjemahan Jiwa oleh Misbah Zaini Mustofa). 91:7-10). Di dalam tradisi kaum sufi terdapat postulat yang berbunyi: Man 'arafa nafsahu faqad 'arafa rabbabu --Siapa yang telah mengenal dirinya maka ia (akan mudah) mengenal Tuhannya.H. Proses penyempurnaan ini amat dimungkinkan karena pada naturnya manusia itu fithri.. A. 2 (1961). Jadi.

teologi dan lainnya semuanya menjadikan manusia sebagai obyek kajian materialnya. p. We acquired instead a complete anarchy of thought. kedokteran. kini manusia semakin mendapatkan kesulitan untuk mengenali jati diri dan hakikat kemanusiaannya Dengan majunya spesialisasi dalam dunia ilmu pengetahuan dan berkembangnya differensiasi dalam profesi kehidupan maka protret atau konsep tentang realitas manusia semakin terpecah meniadi kepingan-kepingan kecil sehingga keutuhan sosok manusia semakin sulit dihadirkan secara utuh. antropologi. maka . melainkan juga di kalangan Islam. yang berarti semakin terputus dari pemahaman komprehensif tentang manusia. ekonomi. sementara ilmu tasawuf memproyeksikan Tuhan sebagai Sang Kekasih. biologi. maka ilmu kalam lebih menggarisbawahi gambaran Tuhan sebagai Maha Akal. Dalam tradisi ilmu fiqih misalnya. sosiologi. Krisis pengenalan jati diri manusia ini secara eksplisit dikemukakan. semakin jauh pula ia terkurung dalam bilik lorong yang ia masuki. Demikianlah. misalnya. bila langkah pertama untuk mengenal Tuhan adalah mengenal diri sendiri terlebih dahulu secara benar. (Ernst Cassier. manusia pada akhirnya akan menuntut imbalan pahala atas ketaatannya melaksanakan dekrit-Nya. sementara manusia adalah subyek-subyek yang cenderung membangkang dan harus siap menerima vonis-vonis dari kemurkaan Tuhan Sang Maha Hakim atau. filsuf. Owing to this development our modern theory of man lost its intellectual center. telah menghantarkan pada persepsi yang terpecah dalam melihat manusia dan hubungannya dengan Tuhan. meskipun obyek materialnya sama-sama manusia. tetapi masing-masing memiliki metode dan tujuan yang berbeda. Freud signalizes the sexual instinct. oleh Ernst Cassirer. tumbuh dan berkembang dibentuk dan dipengaruhi oleh berbagai faktor yang dijumpai dalam realitas sejarah hidupnya. bila ilmu fiqih cenderung mengenalkan Tuhan sebagai Maha Hakim. secara tak langsung ilmu ini cenderung menghadirkan wajah Tuhan sebagai Yang Maha Hakim. sebagaimana diakui kalangan psikolog. Marx enthrones the economic instinct. Semakin seorang ahli pikir mendalami satu sudut kajian tentang manusia. politik. katanya: Nietzsche proclaims the will to power. akan melahirkan kesimpulan yang berbeda pula mengenai siapa dan apa hakikat manusia itu. Sederet disiplin ilmu seperti psikologi.mengenal Tuhan. Differensiasi metodologis setiap ilmu. Terjadinya ideologisasi terhadap ilmu-ilmu agama. Jadi. dan ahli pikir pada umumnya. sebaliknya. Each theory becomes a Procrustean bed in which the empirical facts are stretched to fit a preconceived pattern. 1978. Persoalan serius yang menghadang adalah.21) Krisis pengenalan diri sesungguhnya tidak hanya dirasakan kalangan ahli pikir Barat modern. Demikianlah manusia senantiasa mengandung sebuah misteri yang melekat pada dirinya dan misteri ini telah mengandung sebuah misteri yang melekat pada dirinya dan misteri ini telah mengundang kegelisahan intelektual pare ahli pikir untuk mencoba berlomba menjawabnya. secara sadar atau tidak. Perbedaan-perbedaan ini muncul dalam benak manusia karena pada dasarnya yang bertuhan adalah manusia. di mana manusia itu lahir.

sebaliknya yang kedua berkeyakinan bahwa dunia materi ini hakikatnya berasal dari realitas yang bersifat imateri (upward causation). misalnya. dan humanity. dan akan mudah dijumpai pada berbagai bidang studi keilmuan Barat kontemporer dengan dalih. 8). therefore. Ralph Ross. secara sederhana kita bisa membedakan dua paradigma pemahaman terhadap manusia. tempuh ialah bagaimana Meskipun Cassirer secara gamblang menunjukkan krisis pengenalan diri. antara lain. mereka cenderung sepakat bahwa manusia adalah microcosmos yang memiliki sifat-sifat yang menyerupai Tuhan dan paling potensial mendekati Tuhan (Bandingkan QS. namun dengan beberapa penafsiran yang berbeda. realitas manusia memiliki jenjang-jenjang dan mata rantai eksistensi.langkah pertama yang harus kita mengenal diri kita secara benar. Meski demikian. Kritik terhadap aliran materialisme akhir-akhir ini semakin gencar. manusia adalah wakil Tuhan di muka bumi untuk melaksanakan 'blueprint'-Nya membangun bayang-bayang surga di bumi ini (QS. Menurut doktrin al-Qur'an. Kuntu kanzan makhfiyyan fa ahbabtu an u'rafa fa khalaqtu al-khalqa fabi 'arafu-ni --Aku pada mulanya adalah harta yang tersembunyi. 15:29. 1962. Terlepas apakah riwayatnya sahih ataukah lemah. (Ralph ross. Dalam konteks inilah . yaitu paradigma materialisme-atheistik dan spiritualisme-theistik. Bila diurut dari bawah unsurnya ialah minerality. only electrical charges. Lebih dari itu dalam tradisi sufi terdapat keyakinan yang begitu populer bahwa manusia sengaja diciptakan Tuhan karena dengan penciptaan itu Tuhan akan melihat dan menampakkan kebesaran diri-Nya. Dalam QS. hal. an act of love only chemiphysical. Kuciptakanlah makhluk maka melalui Aku mereka kenal Aku. kemudian Aku ingin dikenal. faham ini telah mereduksi keagungan manusia yang dinyatakan Tuhan sebagai moral and religious being. memberikan contoh yang amat sederhana tetapi gamblang betapa miskinnya penganut materialisme dalam memahami kehidupan yang penuh nuansa ini. Dari jenjang pertama sampai ke tiga aktivitas dan daya jangkau manusia masih berada dalam lingkup dunia materi dan dunia materi selalu menghadirkan polaritas atau fragmentasi yang saling berlawanan (the primordial pair). pada umumnya orang sufi menerima hadits tersebut. Bagi mereka yang berpandangan atau terbiasa dengan metode berpikir empirisme-materialistik akan sulit diajak untuk menghayati makna penyempurnaan kualitas insani sebagaimana yang lazim diyakini di kalangan pare sufi. 2:3)." Pendek kata. Progressive reductionism works as follows. animality. An art object is only mass and light waves. misalnya. 41:53). Pandangan yang begitu dangkal tentang manusia secara tegas dikritik oleh al-Qur'an. Allah menyatakan bahwa dalam diri manusia memang terdapat unsur Ilahi yang dalam al-Qur'an beristilah "min ruhi. vegetality. Yang pertama berkeyakinan pada teori bahwa semua realitas materi (downward causation). the art object or act of love is only a flow of electricity.

" Maqam ketiga tahaqquq. dan makin jauh pula manusia untuk mampu mengenal dirinya secara utuh. Bila hal ini terjadi maka terjadilah kerancuan standar nilai. dzikir atau ta'alluq pada Tuhan. suatu mengaktualisasikan kesadaran dan kapasitas kemampuan untuk dirinya sebagai . vegetality. Dalam kaitan definisi. dia tidak boleh lepas dari berfikir dan berdzikir untuk Tuhannya (QS. Pertama. Dalam konteks ini kalangan sufi biasanya menyandarkan Hadits Nabi yang berbunyi. "Keakuan" orang bukan lagi difokuskan pada kesucian jiwa tetapi pada prestasi akumulasi dan konsumsi materi. Pendeknya. bahkan dalam tradisi pemikiran filsafat akan mudah pula dijumpai. Dengan kiasan lain. dan animality.yang dimaksud bahwa realitas yang kita tangkap tentang dunia materi adalah realitas yang terpecah berkeping-keping. Jadi. secara sadar meniru sifat-sifat Tuhan sehingga seorang mukmin memiliki sifat-sifat mulia sebagaimana sifat-Nya. Kalangan sufi yakin. tradisi tasawuf belum mempunyai definisi tunggal. selalu ingin dekat kepada Yang Maha Suci dan Abstrak. "Takhallaqu bi akhlaq-i Allah. Proses ini bisa juga disebut sebagai proses internalisasi sifat Tuhan ke dalam diri manusia. Makin berkembang ilmu pengetahuan. yaitu dataran: minerality. lalu turunlah tahtanya ke level yang lebih rendah. roh Ilahi yang bersifat imateri dan berperan sebagai "sopir" bagi kendaraan "jasad" kita ini seringkali lupa diri sehingga ia kehilangan otonominya sebagai master. Yaitu. tujuan utama ajaran tasawuf adalah membantu seseorang bagaimana caranya seseorang bisa memelihara dan meningkatkan kesucian jiwanya sehingga dengan begitu ia merasa damai dan juga kembali ke tempat asal muasalnya dengan damai pula (QS. pada nurani manusia yang terdapat dalam cahaya suci yang senantiasa ingin menatap Yang Maha Cahaya (Tuhan) karena dalam kontak dan kedekatan antara nurani dan Tuhan itulah muncul kedamaian dan kebahagiaan yang paling prima. Di manapun seorang mukmin berada. Dari dzikir ini meningkat sampai maqam kedua -takhalluq. Artinya. Yaitu. dahaga dan kerinduan mendekati Tuhan ini bukanlah hasil rekayasa pendidikan (kultur) melainkan merupakan natur manusia yang paling dalam. namun para sarjana muslim sepakat bahwa inti tasawuf adalah ajaran yang menyatakan bahwa hakekat keluhuran nilai seseorang bukanlah terletak pada wujud fisiknya melainkan pada kesucian dan kemuliaan hatinya. penuh damai. Yaitu. sehingga ia bisa sedekat mungkin dengan Tuhan yang Maha Suci. yang pertumbuhannya sering terhalangi oleh pertumbuhan dan naluri jiwa nabati dan hewani yang melekat pada manusia. 89:27). Seperti dikemukakan Carel Alexis bahwa man has gained the mistery of the material world before knowing himself. berusaha mengingat dan mengikatkan kesadaran hati dan pikiran kita kepada Allah. Secara garis besar tahapan seorang mukmin untuk meningkatkan kualitas jiwanya terdiri dari tiga maqam. makin bertambah kepingan gambaran realitas dunia. senang kesucian. Ajaran spiritualitas seperti ini tidak hanya terdapat pada Islam melainkan pada agama lain. Dari kenyataan ini maka tidak terlalu salah bila ada yang berpendapat bahwa sesungguhnya potensi dan kecenderungan kehidupan batin manusia ke arah kehidupan mistik bersifat natural dan universal. 3:191). jiwa yang tadinya duduk dan memerintah dari atas singgasana "imateri" dengan sifat-sifatnya yang mulia seperti: cinta kasih.

Hossein Nasr. dan bukankah hamba-hamba-Nya yang saleh telah dinyatakan sebagai mandataris-Nya? Jadi. KHALIFAH ALLAH: MANUSIA SUCI NAN PERKASA Bila upaya penyucian jiwa merupakan inti tasawuf. Dalam tradisi tasawuf yang menjadi fokus kajiannya ialah apa yang disebut gaib atau hati dalam pengertiannya yang metafisis. seorang sufi kontemporer adalah mereka yang tidak asing berdzikir dan berfikir tentang Tuhan sekalipun di hotel mewah dan datang dengan kendaraan yang mewah pula. 1977. melainkan Tuhan dalam sifat-Nya yang Dhahir.seorang mukmin yang dirinya sudah "didominasi" sifat-sifat Tuhan sehingga tercermin dalam perilakunya yang serba suci dan mulia. yang dimaksudkan dengan ungkapan siapa yang mengetahui jiwanya. p. namun luasnya hati Insan Kamil (qalb al-'arif) melebihi luasnya langit dan bumi karena ia sanggup menerima 'arsy Tuhan. Bukankah Allah punya blue-print dan proyek untuk memakmurkan bumi. Dan dari sekian makhluk Tuhan. Namun begitu. Menurut Ibn 'Arabi. Beberapa ayat al-Qur'an dan Hadits menegaskan bahwa hati seseorang bagaikan raja. Pandangan semacam itu tentu saja kurang populer dan sulit diterima oleh kalangan terdekat. XII. bukankah cukup tegas isyarat al-Qur'an maupun Hadits yang menyatakan bahwa kewajiban setiap muslim adalah mensucikan jiwanya sehingga kesuciannya termanifestasikan dalam perilaku insaniyahnya? Melalui tahapan ta'alluq. ia akan mengetahui Tuhannya karena manusia adalah "microcosmos" atau jagad cilik dimana 'arsy Tuhan berada di situ. Dalam sebuah hadits Qudsi disebutkan bahwa meskipun secara fisik hati itu kecil dan mengambil tempat pada jasad manusia. kata qalb senantiasa berasosiasi dengan kata taqallub yang bergerak atau berubah secara konstan. . Tajalli berarti penampakan diri Tuhan ke dalam makhluk-Nya dalam pengertian metafisik. tetapi Tuhan bukan pengertian huwiyah-Nya atau "ke-Dia-annya" yang Maha Absolut dan Maha Esa. dan itu dilakukan dalam upaya mendekati dan menggapai kasih Tuhan. sementara badan dan anggotanya bagai istana dan para abdi dalem-nya. Dalam konteks inilah. secara karikatural. menurut Ibn 'Arabi. maka tasawuf bisa dikatakan sebagai inti keberagaman dan karenanya setiap muslim semestinya berusaha untuk menjadi sufi. takhalluq. dan tahaqquq. Seorang 'abd-u 'l-Lah (budak Allah) yang saleh adalah sekaligus juga wakil-Nya untuk membangun bayang-bayang surga di muka bumi ini. Maqam tahaqquq ini sejalan dengan Hadits Qudsi yang digemari kalangan sufi yang menyatakan bahwa bagi seorang mukmin yang telah mencapai martabat yang sedemikian dekat dan intimnya dengan Tuhan maka Tuhan akan melihat kedekatan hamba-Nya. adalah seiring dengan tajalli-nya Tuhan. Taqallub-nya hati sang sufi. kata 'Arabi. bukannya Yang Bathin. hanya hati seorang Insan Kamil-lah yang paling mampu menangkap lalu memancarkan tajalli-Nya dalam perilaku kemanusiaan (Fushushul Hikam. Kebaikan dan kejahatan kerajaan itu akan tergantung bagaimana perilaku sang raja. sementara bumi langit tidak sanggup. maka seorang mukmin akan mencapai derajat khalifah Allah dengan kapasitasnya yang perkasa tetapi sekaligus penuh kasih dan damai.138).

Toshihiko. THARIQAH. 7501983. 1982. Ibn. Dr. An Essay on Man. Annemarie. AE. Fushush al-Hikam (The Bezels of Wisdom). 181) oleh KH Ali Yafie Kata syari'ah telah beredar luas di kalangan umat muslim. Harun. Princeton. The Passion of al-Hallaj.. Louis. Falsafat dan Mistisisme Dalam Islam. Mengenai kelompok tasawuf ada dua pendapat. Dimensi Mistik Dalam Islam. 1962. 1976. Valiuddin. Symbols and Civilization. dalam al-Qur'an sendiri. UA 20-21 Jakarta Selatan Telp. Sedangkan tiga kata lainnya menjadi terma yang terkenal dalam tasawuf. 7507173 Fax. Massiggnon. Pemakaian kata tersebut mengacu kepada makna ajaran dan norma agama itu sendiri.. Schimmel. Dr. Afifi. haqiqah dan ma'rifah. Pertama. 1980. Teheran. Jakarta. 1977. SYARI'AH. mereka . New York. Ernst. 1978.DAFTAR KEPUSTAKAAN Arabi.15. London. Jilid II dan III. 1938 Cassirer. -------------------------------------------Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah Editor: Budhy Munawar-Rachman Penerbit Yayasan Paramadina Jln. The Concept of Perpetual Creation in Islamic Mysticism and Zen Buddhism. HAQIQAH DAN MA'RIFAH (hal.. The Qur'anic Sufism. 1973 Ross.. The Mystical Philosophy of Muhyi al-Din Ibnul 'Arabi. Dalam perkembangan Islam munculnya tiga kata thariqah. Bahkan. (021) 7507174 Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota Please direct any suggestion to Media Team Artikel Yayasan Paramadina Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota III. Lahore. (021) 7501969. Mir. New York. Nasution. Prof. Raiph. Lahore. 1978. telah mengakibatkan terbatasnya pengertian syari'ah sehingga lebih banyak mengacu pada norma hukum. Karena itu ada baiknya kita lebih dahulu berbicara tentang tasawuf itu sendiri. Metro Pondok Indah Pondok Indah Plaza I Kav. kata tersebut telah dipakai antara lain pada Surah al-Jatsiyah: 18. Izutsu.

Selanjutnya para fuqaha pun disebut ahli syari'ah dan para ulama tasawuf disebut ahli haqiqah. Pada tingkat perkembangan inilah muncul beberapa terma yang dulunya tidak lazim dipakai dalam ilmu-ilmu keislaman. Upaya penalaran para ulama muhaddits dan fuqaha dalam menjabarkan prinsip-prinsip ajaran Islam mengenai penataan kehidupan pribadi dan masyarakat yang sudah berkembang selama tiga abad -dengan munculnya disiplin ilmu Tasawuf. Pada angkatan berikutnya (abad 2 H) dan seterusnya. Perbedaan tersebut ditandai dengan beberapa hal berikut: 1. Kecenderungan seperti ini secara umum terjadi pada kalangan kaum muslim angkatan pertama.soal pengalaman agama dalam bentuk yang formalistik (syi'ar-syi'ar lahiriah). serta patuh melaksanakan ajaran-ajaran agama dalam kehidupannya sehari-hari. seperti kita dapat simak dalam karya sastra "cerita seribu satu malam" dimasa kejayaan kekhalifahan Abbasiyah. . Ajaran Tasawuf pada dasarnya merupakan bagian dari prinsip-prinsip Islam sejak awal. Dalam masa tiga abad itu dunia Islam mencapai kemakmuran yang melimpah. secara berangsur-angsur terjadi pergeseran nilai sehingga orientasi kehidupan duniawi menjadi lebih berat. yaitu produk penalaran ulama muhaddits dan fuqaha yang disebut syari'ah. Ketika itulah angkatan pertama kaum muslim yang mempertahankan pola hidup sederhananya lebih dikenal sebagai kaum sufiyah. sehingga tidak diperbudak harta atau tahta. tapi mulai ditandai juga dengan berkembangnya suatu cara penjelasan teoritis yang kelak menjadi suatu disiplin ilmu yang disebut ilmu Tasawuf. Kedua. begitu pula seorang mutakallimin sekaligus juga ulama sufiyah. Kelompok intelektual ini terdiri dari ulama-ulama mutakallim (ahli teologi). Ibnu Khaldun mengungkapkan. dan produk penalaran ulama tasawuf yang disebut haqiqah.adalah kelompok spiritual dalam umat Islam yang berada di tengah-tengah dua kelompok lainnya yang disebut kelompok formal dan kelompok Intelektual. Ajaran ini tak ubahnya merupakan upaya mendidik diri dan keluarga untuk hidup bersih dan sederhana. konsentrasi tujuan hidup menuju Allah (untuk mendapatkan ridla-Nya). dan upaya membebaskan diri dari keterikatan mutlak pada kehidupan duniawi. Sedang dilain pihak. pola dasar tasawuf adalah kedisiplinan beribadah. atau kesenangan duniawi lainnya. Dan ini menimbulkan banyak pertentangan antara kedua kelompok tersebut. secara berangsur-angsur pola pikir dan pola hubungan antara ahli syari'ah dan ahli haqiqah makin berbeda. sedangkan kelompok formal terdiri dari ulama-ulama muhaddits dan fuqaha. Pada masa itu gerakan tasawuf juga mengalami perkembangan yang tidak terbatas hanya pada praktek hidup bersahaja saja.terjadilah pemisahan antara dua pola penalaran. bahwa tasawuf itu hanyalah suatu kecenderungan spiritual yang membentuk etika moral dan lingkungan sosial khusus. Ahli syari'ah menonjolkan -kadang-kadang secara berlebih-lebihan. Sehingga seharusnya kita katakan seorang muhaddttsin sekaligus juga ulama sufiyah. Keadaan tersebut berkelanjutan hingga mencapai puncak perkembangannya pada akhir abad 4 H. sehingga di kalangan atas dan menengah terdapat pola kehidupan mewah. Pada tahap perkembangannya.

Tijaniyah dan Sanusiyah. dia sudah bebas dari ikatan-ikatan formal.para ahli haqiqah menonjolkan aspek-aspek batiniah ajaran Islam. kita melihat adanya langkah lebih maju dalam perkembangan tarekat-tarekat tersebut dengan adanya koordinasi antara berbagai macam tarekat itu lewat ikatan yang dikenal dengan nama Jam'iyah Ahl al-Thariqah al-Mu'tabarah. Semua itu dianggap sebagai ajaran aneh oleh para ahli syari'ah. kita jumpai Tarekat Qadiriyah yang cukup dikenal. Di Jawa Timur misalnya. pemerintah Mesir menempatkan pembinaan dan koordinasi tarekat-terekat tersebut di bawah Departemen Bimbingan Nasional (Wizarah al-Irsyad al-Qaumi). Mereka berkata. Pada tahun lima puluhan. Dalam buku ini beliau mempertemukan teori-teori syari'ah dengan teori-teori haqiqah Ternyata upaya al-Ghazali ini sangat membantu dalam merukunkan kembali antara para ahli syari'ah dengan ahli haqiqah. yang berhak mendapatkan perlindungan dalam rangka tertib kemasyarakatan suatu negara. Pertimbangannya ialah. 4. Sebagian ahli haqigah tidak merasa terikat dengan syi'ar-syi'ar agama yang ritual-formalistis. bagaimanapun keberadaan penganut-penganut tarekat itu merupakan bagian dari potensi bangsa/umat. Syadziliyah. Ajaran tarekatnya menyebar ke seluruh penjuru dunia Islam. Padahal. Ahli haqiqah mengklaim. maka dia akan mampu menaklukkan alam dan melakukan hal-hal yang luar biasa (keramat). Kamil Musthafa al-Syibi dalam tesisnya tentang gerakan tasawuf dan gerakan syi'ah mengungkapkan. Jurang pemisah yang makin hari makin melebar antara ahli syari'ah dan ahli haqiqah makin menjadi-jadi pada sekitar akhir abad kelima Hijrah. para pendahulu mereka sangat disiplin dalam pengalaman syari'ah. yang mendapat sambutan luas di Aljazair. Sedangkan di Mesir. ada baiknya kita mempertanyakan kapankah munculnya tarekat (al-thuruq al-shufiyah) itu dalam sejarah perkembangan gerakan tasawuf Dr. dan Imam Ghazali berupaya memulihkannya. siapa yang telah sampai perjalanan rohaniahnya kepada Allah dan sudah terlebur dirinya dalam diri Allah. tokoh pertama yang memperkenalkan sistem thariqah (tarekat) itu Syekh Abdul Qadir al-Jilani (w. Jalal . disamping Tarekat Naqsyabandiyah. misalnya teori al-fana fi 'l-Lah (peleburan diri dalam Allah) yang dikemukakan Abu Yazid al-Busthami dan teori Hub al-Lah (cinta Allah) hasil pemikiran Rabi'ah al-'Adawiyah serta teori Maqamat-Ahwal (terminal-terminal dan situasi-situasi) ciptaan Dzunn-un al-Mishri. Dalam kaitan inilah beliau tampil dengan karya besarnya Ihya 'Ulum al-Din. Dalam satu dasawarsa terakhir ini. 3. Di Indonesia kita lebih banyak mengenal ajaran tasawuf lewat lembaga keagamaan non-formal yang namanya "tarekat" asal kata thariqah. Adanya teori-teori ahli haqiqah yang menggusarkan para ahli syari'ah. tarekat yang banyak pengikutnya Tarekat Rifa'iyyah yang dibangun Sayid Ahmad al-Rifa'i. kalau seseorang sudah mencapai derajat wali. Ghinia dan Jawa. Untuk lebih mengenal adanya tarekat itu. 2. Dan tempat ketiga diduduki tarekat ulama penyair kenamaan Parsi. 561 H/1166 M) di Baghdad.

Sayyid Ahmad al-Syarif al-Sanusi berhasil menggalang satu kekuatan perlawanan rakyat yang mampu memerangi kolonialis Italia. sehingga dapat berbuat hal-hal yang berlaku di luar kebiasaan. Yang juga perlu dicatat di sini ialah munculnya Tarekat Sanusiyah yang mempunyai disiplin tinggi mirip disiplin militer. bahwa sistem hidup bersih dan bersahaja (zuhd) adalah dasar semua tarekat yang berbeda-beda itu. Sasaran akhir dari pembinaan pribadi dalam pola hidup bertasawuf adalah hidup bersih. 6. Dalam periode berikutnya muncul tarekat al-Syadziliyah yang mendapat sambutan luas di Maroko dan Tunisia khususnya. Menjalani riyadlah (latihan dasar) berkhalwat.al-Din al-Rumi (w. Beliau membuat tradisi baru dengan menggunakan alat-alat musik sebagai sarana dzikir. 2. tekun beribadah kepada Allah. dan dunia Islam bagian Timur pada umumnya. Nicholson mengungkapkan hasil penelitiannya. Ada upacara khusus ketika seseorang diterima menjadi penganut (murid). dan pada umumnya tarekat-tarekat tersebut walaupun beragam namanya dan metodenya. Mempercayai adanya kekuatan gaib/tenaga dalam pada mereka yang sudah terlatih. Kemudian sistem ini berkembang terus dan meluas. Penghormatan dan penyerahan total kepada Syeikh atau pembantunya yang tidak bisa dibantah Dari sistem dan metode tersebut Nicholson menyimpulkan. Di bawah syeikhnya yang terakhir. dia harus terlebih dahulu menjalani masa persiapan yang berat. dan akhirnya membebaskan wilayah Libya. Pada titik pengenalan ini akan terpadu makna tawakkal dalam tawhid. Adakalanya sebelum yang bersangkutan diterima menjadi penganut. Mungkin sifat keras dari iklim yang dibentuk Tarekat Sanusiyah inilah yang mewarnai Mu'ammar al-Qadafi mengambil alih kekuasaan dan berkuasa sampai saat ini sebagai Kepala Negara tersebut. Menekuni pembacaan dzikir tertentu (awrad) dalam waktu-waktu tertentu setiap hari. . ada kalanya dengan alat-alat bantu seperti musik dan gerak badan yang dapat membina konsentrasi ingatan. 5. tapi ada beberapa ciri yang menyamakan: 1. 4. dengan jalan pengamalan syari'ah dan penghayatan haqiqah dalam sistem/metode thariqah untuk mencapai ma'rifah. Menyepi dan berkonsentrasi dengan shalat dan puasa selama beberapa hari (kadang-kadang sampai 40 hari). Apa yang dimaksud dengan kata ma'rifah dalam terma mereka ialah penghayatan puncak pengenalan keesaan Allah dalam wujud semesta dan wujud dirinya sendiri. bahwa tarekat-tarekat sufi merupakan bentuk kelembagaan yang terorganisasi untuk membina suatu pendidikan moral dan solidaritas sosial. Memakai pakaian khusus (sedikitnya ada tanda pengenal) 3. Perancis dan Inggris secara berturut-turut. membimbing masyarakat ke arah yang diridlai Allah. Semua pengikutnya dididik dalam disiplin itu. bersahaja. 672 H/1273 M).

Ihya 'Ulum al-Din Irnam Ibn Khaldun. terutama salat dan puasa. Yang dimaksud saf di sini ialah baris pertama dalam salat di mesjid. Tuhan bersifat rohani. Dan memang. UA 20-21 Jakarta Selatan Telp. TASAWUF (hal. bukan jasadnya. Ahmad Amin. DAFTAR KEPUSTAKAAN Abu 'l-Hasan al-Nadawi. 42) oleh Harun Nasution (1/4) Tujuan tasawuf adalah mendekatkan diri sedekat mungkin dengan Tuhan sehingga ia dapat melihat-Nya dengan mata hati bahkan rohnya dapat bersatu dengan Roh Tuhan. -------------------------------------------Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah Editor: Budhy Munawar-Rachman Penerbit Yayasan Paramadina Jln. pertama. (021) 7501969. Saf pertama ditempati oleh orang-orang yang cepat datang ke mesjid dan banyak membaca . Tasawuf adalah ilmu yang membahas masalah pendekatan diri manusia kepada Tuhan melalui penyucian rohnya. dan melepaskan dirinya dari ketergantungan mutlak kepada sesuatu selain Allah. Metro Pondok Indah Pondok Indah Plaza I Kav. al-Shilah bain al-Tashawwuf wa 'l-Tasyayyu'. Dhuha al-Islam dan Zhuhur al-Islam Imam al Ghazali. kaum sufi banyak berusaha menyucikan diri mereka melalui banyak melaksanakan ibadat. Rijal al-fikri wa 'l-Da'wah fi 'l-lslam. Kamil Mushthafa al-Syibli. Penulis-penulis banyak mengaitkannya dengan kata: 1. maka bagian yang dapat mendekatkan diri dengan Tuhan adalah roh. (021) 7507174 Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota Please direct any suggestion to Media Team Artikel Yayasan Paramadina Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota III. maka yang dapat diterima Tuhan untuk mendekatiNya adalah roh yang suci. ASAL KATA SUFI Tidak mengherankan kalau kata sufi dan tasawuf dikaitkan dengan kata-kata Arab yang mengandung arti suci. al-Muqaddimah.yang melahirkan sikap pasrah total kepada Allah. Tuhan adalah Maha Suci. 2. 7507173 Fax. Filsafat yang menjadi dasar pendekatan diri itu adalah. Safa dalam arti suci dan sufi adalah orang yang disucikan. Kedua. 7501983. Saf (baris).14.

filsafat Yunani dan agama Hindu dan Buddha. ASAL-USUL TASAWUF Karena tasawuf timbul dalam Islam sesudah umat Islam mempunyai kontak dengan agama Kristen. Orang yang pertama memakai kata sufi kelihatannya Abu Hasyim al-Kufi di Irak (w. kalau seseorang ingin memasuki jalan tasawuf. Jadi. Inilah pula sifat-sifat kaum sufi. dan di malam hari lampu mereka menjadi petunjuk jalan bagi musafir. Dalam sejarah tasawuf. dan kaum sufi pula yang tahu hikmat. Rahib-rahib itu berhati baik. dan pemurah dan suka menolong. Tempat mereka menjadi tujuan orang yang perlu bantuan di padang yang gersang. muncullah anggapan bahwa aliran tasawuf lahir dalam Islam atas pengaruh dari luar. karena kata sophos telah masuk kedalam kata falsafat dalam bahasa Arab. Pengaruh filsafat Yunani dikatakan berasal dari pemikiran mistik Pythagoras. Ahl al-Suffah. pendapat terakhir inilah yang banyak diterima sebagai asal kata sufi. Dalam filsafatnya. berhati baik serta mulia dan tidak mementingkan dunia. 4. tinggal di Mesjid Nabi dan tidur di atas bangku batu dengan memakai suffah. sufi adalah orang yang memakai wol kasar untuk menjauhkan diri dari dunia materi dan memusatkan perhatian pada alam rohani. 3. roh manusia adalah suci dan berasal dari tempat suci. Roh yang pada mulanya suci itu menjadi tidak suci dan karena itu tidak dapat kembali ke tempatnya semula yang suci. Pakaian ini melambangkan kesederhanaan serta kemiskinan dan kejauhan dari dunia. Pendapat ini memang banyak yang menolak. Di Madinah mereka hidup sebagai orang miskin. Ahl al-Suffah. Suf (kain wol). Untuk itu ia harus menyucikan diri dengan memusatkan perhatian pada fllsafat serta ilmu pengetahuan dan melakukan beberapa pantangan. Sophos (bahasa Yunani yang masuk kedalam filsafat Islam) yang berarti hikmat. dan ditulis dengan sin dan bukan dengan shad seperti yang terdapat dalam kata tasawuf.150 H). Di siang hari. sungguhpun tak mempunyai apa-apa. Roh yang masuk ke dalam janin di kandungan ibu berasal dari alam rohani yang . berhati baik. ia meninggalkan pakaian mewah yang biasa dipakainya dan diganti dengan kain wol kasar yang ditenun secara sederhana dari bulu domba. kemah mereka menjadi tempat berteduh bagi orang yang kepanasan. (pelana) sebagai bantal. kemudian turun ke dunia materi dan masuk ke dalam tubuh manusia yang bernafsu. pemurah dan suka menolong. walaupun untuk sementara. Diantara semua pendapat itu. Sufi juga mengasingkan diri dari dunia ramai. 5. Orang-orang seperti ini adalah yang berusaha membersihkan diri dan dekat dengan Tuhan. Filsafat sufi juga demikian.ayat-ayat al-Qur'an dan berdzikir sebelum waktu salat datang. yaitu para sahabat yang hijrah bersama Nabi ke Madinah dengan meninggalkan harta kekayaannya di Mekkah. Ada yang mengatakan bahwa pengaruhnya datang dari rahib-rahib Kristen yang mengasingkan diri untuk beribadat dan mendekatkan diri kepada Tuhan di gurun pasir Arabia.

pengaruhnya dikatakan dari konsep Nirwana. agar Tuhan mengabulkan seruannya untuk melihat Tuhan dan berada dekat kepada-Nya. ia akan tetap tinggal di bumi berusaha membersihkan diri melalui reinkarnasi. "Jika hambaKu bertanya kepadamu tentang Aku. maka Aku dekat dan mengabulkan seruan orang yang memanggil jika Aku dipanggil. Sesudah bercerai dengan tubuh. Maka untuk dapat bertemu dengan Tuhan Yang Maha Suci. Tuhan dekat dan sufi tak perlu pergi jauh. pengaruh itu dikaitkan dengan filsafat emanasi Plotinus. Sedangkan pengaruh dari agama Hindu dikatakan datang dari ajaran bersatunya Atman dengan Brahman melalui kontemplasi dan menjauhi dunia materi. yaitu persatuan roh manusia dengan roh Tuhan. Ayat berikut menggambarkan lebih lanjut betapa dekatnya Tuhan dengan manusia. Tuhan memang dekat sekali dengan manusia." Kaum sufi mengartikan do'a disini bukan berdo'a. "Timur dan Barat kepunyaan Tuhan. ia dapat mendekatkan diri dengan Tuhan sampai ke tingkat bersatu dengan Dia di bumi ini. sama dengan Pythagoras. Paham penyucian diri melalui reinkarnasi tak terdapat dalam ajaran tasawuf. Bahwa yang kemudian datang dipengaruhi oleh yang datang terdahulu adalah suatu kemungkinan. Paham itu memang bertentangan dengan ajaran al-Qur'an bahwa roh. konsep Plotinus tentang bersatunya roh dengan Tuhan di dunia ini. Kita perlu mencatat. memasuki hidup kontemplasi dan menghancurkan diri. sesudah tubuh mati tidak akan kembali ke hidup serupa di bumi. memang terdapat dalam tasawuf Islam. Dalam kaitan ini timbul pertanyaan: sekiranya ajaran-ajaran tersebut diatas tidak ada. digambarkan oleh ayat berikut. Nirwana dapat dicapai dengan meninggalkan dunia. dan tak dapat kembali ke Tuhan. Masih dari filsafat Yunani. agama Hindu dan Buddha. tidakkah mungkin tasawuf timbul dari dalam diri Islam sendiri? Hakekat tasawuf kita adalah mendekatkan diri kepada Tuhan. untuk menjumpainya. Ajaran menghancurkan diri untuk bersatu dengan Tuhan juga terdapat dalam Islam. Ayat 186 dari surat al-Baqarah mengatakan. tapi kemudian dipengaruhi oleh hawa nafsu yang terdapat dalam tubuh manusia.suci. Tentang dekatnya Tuhan. "Telah Kami ciptakan manusia dan Kami . filsafat Yunani dan agama Kristen datang lama sebelum Islam. maka kemana saja kamu berpaling di situ ada wajah Tuhan" (QS. dia berpendapat bahwa roh yang masuk ke dalam tubuh manusia juga kotor. Tapi. roh pergi ke alam barzah menunggu datangnya hari perhitungan. Kalau sudah bersih. Dari agama Buddha. roh yang telah kotor itu dibersihkan dulu melalui ibadat yang banyak. Tapi. Dengan kata lain. Dekatnya Tuhan kepada manusia disebut al-Qur'an dan Hadits. al-Baqarah 115). Dalam tasawuf terdapat pengalaman ittihad. ia berseru agar Tuhan membuka hijab dan menampakkan diri-Nya kepada yang berseru. Selama masih kotor. Ayat ini mengandung arti bahwa dimana saja Tuhan dapat dijumpai. Tapi pendapat serupa ini memerlukan bukti-bukti historis. Dalam ajaran Islam. tetapi berseru. Roh memancar dari diri Tuhan dan akan kembali ke Tuhan.

Tujuan semua ibadat dalam Islam ialah mendekatkan diri itu. Maka. Ayat ini menggambarkan Tuhan berada bukan diluar diri manusia. Dan Kami lebih dekat dengan manusia daripada pembuluh darah yang ada di lehernya (QS. Bertahun-tahun orang harus menempuh jalan yang sulit itu. kesatuan wujud makhluk dengan Tuhan. Sebagaimana telah di sebut diatas penyucian diri diusahakan melalui ibadat. hadits terakhir ini mengandung konsep wahdat al-wujud. dan bukan manusia saja yang bersatu dengan Tuhan. persatuan manusia dengan Tuhan. shalat. terutama puasa. tapi Allah-lah yang membunuh dan bukanlah engkau yang melontarkan ketika engkau lontarkan (pasir) tapi Allah-lah yang melontarkannya (QS. kemudian Aku ingin dikenal. dan melalui mereka Aku-pun dikenal. Demikianlah ayat-ayat al-Qur'an dan Hadits Nabi menggambarkan betapa dekatnya Tuhan kepada manusia dan juga kepada makhluk-Nya yang lain. Karena itu hanya sedikit sekali orang yang bisa sampai puncak tujuan tasawuf. Jalan itu." Untuk mencari Tuhan. "Pada mulanya Aku adalah harta yang tersembunyi. Karena itu hadis mengatakan. stasion pertama dalam tasawuf . Bahwa Tuhan dekat bukan hanya kepada manusia. Disini. membaca al-Qur'an dan dzikir. seorang calon sufi banyak melaksanakan ibadat. "Siapa yang mengetahui dirinya mengetahui Tuhannya. Kalau ayat-ayat diatas mengandung arti ittihad. Perbuatan manusia adalah perbuatan Tuhan.tahu apa yang dibisikkan dirinya kepadanya. Qaf 16). Dengan khusuk dan banyak beribadat ia akan merasakan kedekatan Tuhan. Gambaran serupa ini tidak memerlukan pengaruh dari luar agar seorang muslim dapat merasakan kedekatan Tuhan itu. dibagi kaum sufi ke dalam stasion-stasion yang dalam bahasa Arab disebut maqamat -tempat seorang calon sufi menunggu sambil berusaha keras untuk membersihkan diri agar dapat melanjutkan perjalanan ke stasion berikutnya. tetapi di dalam diri manusia sendiri. dan inilah hakikat tasawuf. sufi tak perlu pergi jauh. sufi melihat persatuan manusia dengan Tuhan. tapi juga kepada makhluk lain sebagaimana dijelaskan hadis berikut. cukup ia masuk kedalam dirinya dan Tuhan yang dicarinya akan ia jumpai dalam dirinya sendiri. terjadilah penyucian diri calon sufi secara berangsur. dan dari sinilah berasal kata tarekat dalam bahasa Indonesia. "Bukanlah kamu yang membunuh mereka. Karena itu. lalu melihat Tuhan dengan mata hatinya dan akhirnya mengalami persatuan rohnya dengan roh Tuhan. al-Anfal 17). JALAN PENDEKATAN DIRI KEPADA TUHAN Jalan yang ditempuh seseorang untuk sampai ke tingkat melihat Tuhan dengan mata hati dan akhirnya bersatu dengan Tuhan demikian panjang dan penuh duri. Jelas kiranya bahwa usaha penyucian diri. yang intinya adalah penyucian diri. langkah pertama yang harus dilakukan seseorang adalah tobat dari dosa-dosanya. Dalam konteks inilah ayat berikut dipahami kaum sufi. Jalan itu disebut tariqah (bahasa Arab)." Disini terdapat paham bahwa Tuhan dan makhluk bersatu. Maka Kuciptakan makhluk.

Pakaiannyapun sederhana. Di stasion ini ia dijauhkan Tuhan dari perbuatan-perbuatan syubhat. Ia menjadi orang zahid dari dunia. 7507173 Fax.14. (021) 7501969. Ia sedikit tidur dan banyak beribadat. TASAWUF (hal. Pada mulanya seorang calon sufi harus tobat dari dosa-dosa besar yang dilakukannya Kalau ia telah berhasil dalam hal ini. Tobat yang dimaksud adalah taubah nasuha. membaca al-Qur'an dan berdzikir. Ia makan dan minum hanya untuk mempertahankan kelanjutan hidup. melakukan shalat. ia pindah ke stasion faqr. kemudian dari perbuatan makruh dan selanjutnya dari perbuatan syubhat. yaitu zuhud. Kebutuhan hidupnya hanya sedikit dan ia tidak meminta kecuali hanya untuk dapat . ia keluar dari pengasingannya masuk kembali ke dunianya semula. 42) oleh Harun Nasution (2/4) Untuk memantapkan tobatnya ia pindah ke stasion kedua. Ia mengasingkan diri ke tempat terpencil untuk beribadat. Dalam literatur tasawuf disebut bahwa al-Muhasibi menolak makanan. Jelaslah bahwa usaha ini memakan waktu panjang. melakukan shalat. Yang dicarinya ialah kebahagiaan rohani. shalat. yaitu tobat yang membuat orangnya menyesal atas dosa-dosanya yang lampau dan betul-betul tidak berbuat dosa lagi walau sekecil apapun. membaca al-Qur'an dan dzikir. Di stasion ini ia menjalani hidup kefakiran. Di stasion ini ia menjauhkan diri dari dunia materi dan dunia ramai. Puasanya yang banyak membuat hawa nafsunya lemah. Ia juga akan selalu naik haji. dan membuat ia tahan lapar dan dahaga. dan itu diperolehnya dalam berpuasa. membaca al-Qur'an dan berdzikir. Metro Pondok Indah Pondok Indah Plaza I Kav.adalah tobat. Dari stasion wara'. ia akan tobat dari dosa-dosa kecil. (bersambung 2/4) -------------------------------------------Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah Editor: Budhy Munawar-Rachman Penerbit Yayasan Paramadina Jln. Sampailah ia ke stasion wara'. orang yang tidak bisa lagi digoda oleh kesenangan dunia dan kelezatan materi. Kalau kesenangan dunia dan kelezatan materi tak bisa menggodanya lagi. UA 20-21 Jakarta Selatan Telp. 7501983. Bisyr al-Hafi tidak bisa mengulurkan tangan ke arah makanan yang berisi syubhat. puasa. Ia terus banyak berpuasa. karena di dalamnya terdapat syubhat. (021) 7507174 Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota Please direct any suggestion to Media Team Artikel Yayasan Paramadina Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota III.

Selanjutnya ia pindah ke stasion tawakkal. Ketika malapetaka turun. Dari stasion ini ia tidak menentang percobaan dari Tuhan bahkan ia menerima dengan senang hati. karena ada orang yang lebih berhajat pada makanan dari padanya. Di dalam hatinya tidak ada perasaan benci. Bahkan. ia tidak mau makan. calon sufi dalam hubungannya dengan Tuhan dipengaruhi rasa takut atas dosa-dosa yang dilakukannya. Kedua. kecuali dari Diri Yang Dikasihi. PENGALAMAN SUFI Di masa awal perjalanannya. ia sebenarnya belumlah menjadi sufi. memeluk kepatuhan kepada Tuhan dan membenci sikap melawan kepada-Nya.menjalankan kewajiban-kewajiban agamanya. tapi zat yang sayang dan kasih kepada hamba-Nya. Ia bukan hanya tidak meminta pertolongan dari Tuhan. Bahkan ia tidak meminta sungguhpun ia tidak punya. ia meningkat ke stasion ridla. baginya cukup apa yang ada untuk hari ini. pertama. Menyerahkan seluruh diri kepada Yang Dikasihi. Mencintai Tuhan tidaklah dilarang dalam Islam. Ia tidak memikirkan hari esok. sungguhpun tak ada padanya. Ia tidak meminta tapi tidak menolak pemberian Tuhan. hatinya merasa senang dan di dalamnya bergelora rasa cinta kepada Tuhan. yang ada hanyalah perasaan senang. Pada stasion ridla. Di sini ia telah dekat sekali dengan Tuhan dan iapun sampai ke ambang pintu melihat Tuhan dengan hati nurani untuk selanjutnya bersatu dengan Tuhan. Ia menjadi sufi setelah sampai ke stasion berikutnya dan memperoleh pengalaman-pengalaman tasawuf. Rasa takut itu kemudian berubah menjadi rasa waswas apakah tobatnya diterima Tuhan sehingga ia dapat meneruskan perjalanannya mendekati Tuhan. Maka ia pun sampai ke stasion mahabbah. Sufi memberikan arti mahabbah sebagai berikut. Ketiga. Setelah menjalani hidup kefakiran ia sampai ke stasion sabar. cinta Ilahi. Lambat laun ia rasakan bahwa Tuhan bukanlah zat yang suka murka. bahkan ia tidak menunggu-nunggu datangnya pertolongan. Ia menyerahkan diri sebulat-bulatnya kepada kehendak Tuhan. Ia bersikap seperti telah mati. Dari stasion tawakkal. Kendatipun ada padanya. tetapi juga sabar dalam menerima percobaan-percobaan berat yang ditimpakan Tuhan kepadanya. Karena stasion-stasion tersebut di atas baru merupakan tempat penyucian diri bagi orang yang memasuki jalan tasawuf. bahkan dalam al-Qur'an terdapat ayat-ayat yang menggambarkan cinta Tuhan kepada hamba dan cinta hamba kepada Tuhan. tapi baru menjadi zahid atau calon sufi. Ayat 54 dari surat al-Maidah. Mengosongkan hati dari segala-galanya. "Allah akan mendatangkan suatu umat yang dicintai-Nya dan orang yang mencintai-Nya. ia selamanya merasa tenteram. Ia tidak minta masuk surga dan dijauhkan dari neraka. Ia sabar bukan hanya dalam menjalankan perintah-perintah Tuhan yang berat dan menjauhi larangan-larangan Tuhan yang penuh godaan." Selanjutnya ayat . rasa cinta kepada Tuhan bergelora dalam hatinya. Ia sabar menderita. Rasa takut hilang dan timbullah sebagai gantinya rasa cinta kepada Tuhan.

Hatiku telah enggan mencintai selain Engkau. Sekiranya Engkau usir aku dari depan pintuMu. ia tidak meminta dijauhkan dari neraka dan pula tidak meminta dimasukkan ke surga. karena cintaku kepada-Mu telah memenuhi hatiku. apakah Engkau terima aku sehingga aku bahagia. maka turutlah Aku." Sufi yang masyhur dalam sejarah tasawuf dengan pengalaman cinta adalah seorang wanita bernama Rabi'ah al-'Adawiah (713-801 M) di Basrah. apakah ia benci kepada setan.30 dari surat 'Ali Imran menyebutkan. bintang di langit telah gemerlapan." Pernah pula ia berkata. "Tuhanku. aku tidak akan bergerak. . Rabi'ah al-'Adawiah. "Aku mengabdi kepada Tuhan bukan karena takut kepada neraka. yaitu ma'rifah. Ia mengatakan. "Tuhanku. Membuat aku melihat Engkau karena Engkau bukakan hijab. Yang ia pinta adalah dekat kepada Tuhan. Engkau harapanku. janganlah sembunyikan keindahan-Mu yang kekal itu dari pandanganku. Demi keMahakuasaan-Mu inilah yang akan kulakukan selama Engkau beri hajat kepadaku. Cinta karena diriku dan cinta karena diri-Mu. seperti yang berikut." Hadits juga menggambarkan cinta itu. malam telah berlalu dan siang segera akan menampakkan diri. Rabi'ah al-'Adawiah telah benar-benar menjadi sufi. jika kamu cinta kepada Tuhan. Cinta kepada diri-Mu." Ketika fajar menyingsing ia dengan rasa cemas mengucapkan. dan inilah aku berada di hadirat-Mu." Ia bermunajat. akhirnya dibalas Tuhan. jika kupuja Engkau karena takut kepada neraka. sehingga ketika orang bertanya kepadanya. "Buah hatiku. telah sampai ke stasion sesudah mahabbah. Bagi-Mu-lah puji dan untuk itu semua. "Cintaku kepada Tuhan tidak meninggalkan ruang kosong di dalam hatiku untuk benci setan. Dalam doanya. tetapi aku mengabdi karena cintaku kepada-Nya. mata-mata telah bertiduran. hanya Engkaulah yang kukasihi. Tiada puji bagiku untuk ini dan itu. kebahagiaan dari kesenanganku." Sewaktu malam telah sunyi ia berkata. bukan pula karena ingin masuk surga. "Katakanlah. Orang yang Ku-cintai. pintu-pintu istana telah dikunci. penglihatan dan tangannya. Cintanya yang dalam kepada Tuhan memalingkannya dari segala yang lain dari Tuhan. dan ini tertera dari syairnya yang berikut: Kucintai Engkau dengan dua cinta. ataukah Engkau tolak sehingga aku merasa sedih. Aku menjadi pendengaran. dan Allah akan mencintai kamu. Dengan kata lain. Aku gelisah." Begitu penuh hatinya dengan rasa cinta kepada Tuhan." Cinta tulus Rabi'ah al-'Adawiah kepada Tuhan. bakarlah mataku karena Engkau. Beri ampunlah pembuat dosa yang datang ke hadiratMu. ia menjawab. "Senantiasa hamba-Ku mendekatkan diri kepada-Ku melalui ibadat sehingga Aku cinta kepadanya. Cinta karena diriku Membuat aku lupa yang lain dan senantiasa menyebut nama-Mu. "Tuhanku. tiap pecinta telah berduaan dengan yang dicintainya. Ia telah melihat Tuhan dengan hati nuraninya. Ia telah sampai ke stasion yang menjadi idaman kaum sufi.

Kalbu mempunyai tiga daya. Karena itu al-Ghazali mengartikan ma'rifat. Sirr adalah daya terpeka dari kalbu dan daya ini keluar setelah sufi berhasil menyucikan jiwanya sesuci-sucinya. Dalam bahasa sufi. Karena cinta ikhlas dan suci itulah Tuhan mengungkapkan tabir dari pandangan sufi dan dengan terbukanya tabir itu sufi pun dapat menerima cahaya yang dipancarkan Tuhan dan sufi pun melihat keindahan-Nya yang abadi. yang kalau senantiasa dibersihkan dan digosok akan mempunyai daya tangkap yang besar. Sekiranya Tuhan tidak membukakan tabir dari mata hatinya. Pengetahuan ini disebut ilm ladunni. sufi memakai alat bukan akal yang berpusat di kepala. yaitu 'ilm. tapi qalb atau kalbu (jantung) yang berpusat di dada. keyakinannya untuk memperoleh kebenaran ternyata melalui tasawuf. 'Ilm ini diperoleh melalui akal. Ketika Zunnun ditanya. pertama." Kata ma'rifat memang mengandung arti pengetahuan. baik sewaktu tidur maupun sewaktu bangun hanyalah Allah.860 M). yaitu ma'rifah. ia menjawab. Maka. ma'rifat dalam tasawuf berarti pengetahuan yang diperoleh langsung dari Tuhan melalui kalbu. Juga dikatakan bahwa ma'rifah datang ketika cinta sufi dari bawah dibalas Tuhan dari atas. Ketika itu sufi pun bergemilang dalam cahaya Tuhan dan dapat melihat rahasia-rahasia Tuhan. Ketiga daya untuk melihat Tuhan yang disebut sirr. ditonjolkan oleh Zunnun al-Misri (w. Semua orang yang . yang dilihat orang 'arif. "Aku melihat dan mengetahui Tuhan dengan Tuhan dan sekiranya tidak karena Tuhan aku tidak melihat dan tidak tahu Tuhan. makin lama ia disucikan dengan ibadat yang banyak. makin suci ia dan makin besar daya tangkapnya. ma'rifah adalah cermin. Ma'rifah adalah anugerah Tuhan kepada sufi yang dengan ikhlas dan sungguh-sungguh mencintai Tuhan. cahaya yang disinarkannya gelap." Yang dimaksud Zunnun ialah bahwa ia memperoleh ma'rifah karena kemurahan hati Tuhan. Kedua. lebih benar dari pengetahuan yang diperoleh melalui akal. pengetahuan yang diperoleh melalui kalbu. kalau mata yang terdapat di dalam hati sanubari manusia terbuka. Ma'rifah berbeda dengan 'ilm. sehingga akhirnya dapat menangkap daya cemerlang yang dipancarkan Tuhan. Sebagaimana disebut dalam literatur tasawuf. Dalam pendapat al-Ghazali. ia tidak akan dapat melihat Tuhan. Demikian juga jiwa. "Melihat rahasia-rahasia Tuhan dan mengetahui peraturan-peraturan Tuhan tentang segala yang ada. setelah mencapai ma'rifah. mata kepalanya akan tertutup dan ketika itu yang dilihatnya hanya Allah. daya untuk-mengetahui sifat-sifat Tuhan yang disebut qalb. Kalau sufi melihat ke cermin itu yang akan dilihatnya hanyalah Allah. jiwa tak ubahnya sebagai kaca. Lebih jauh mengenai ma'rifah dalam literatur tasawuf dijumpai ungkapan berikut. bagaimana ia memperoleh ma'rifah. Tapi. pertama. Dalam hubungan dengan Tuhan. Kedua. bukan filsafat. sekiranya ma'rifah mengambil bentuk materi.Pengalaman ma'rifah. Sebelum menempuh jalan tasawuf al-Ghazali diserang penyakit syak. Keempat. Ketiga. daya untuk mencintai Tuhan yang disebut ruh. sufi berusaha keras mendekatkan diri dari bawah dan Tuhan menurunkan rahmat-Nya dari atas. menurut al-Ghazali.

Yang dimaksud bukan hancurnya jiwa sufi menjadi tiada. 874 M). orang yang fana dari maksiat akan baqa (tinggal) takwa dalam dirinya. dalam arti lafdzi kehancuran jiwa. sufi harus terlebih dahulu mengalami al-fana' 'an al-nafs. Dalam literatur tasawuf disebutkan. (021) 7501969. (bersambung 3/4) -------------------------------------------Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah Editor: Budhy Munawar-Rachman Penerbit Yayasan Paramadina Jln. Hilang sifat buruk akan timbul sifat baik. Sesuatu didalam diri sufi akan fana atau hancur dan sesuatu yang lain akan baqa atau tinggal. Hilang maksiat akan timbul takwa. "Tiga tahun. UA 20-21 Jakarta Selatan Telp. Yang dimaksud dengan fana' adalah hancur sedangkan baqa' berarti tinggal. orang yang fana dari kejahatan akan baqa (tinggal) ilmu dalam dirinya.14. 42) oleh Harun Nasution (3/4) Pengalaman ittihad ini ditonjolkan oleh Abu Yazid al Bustami (w. Ia menjawab. Hilang kejahilan akan timbul ilmu. . yang tinggal dalam dirinya sifat-sifat yang baik. Untuk sampai ke ittihad. Sesuatu hilang dari diri sufi dan sesuatu yang lain akan timbul sebagai gantinya. Seseorang pernah bertanya kepada Abu Yazid tentang perjuangannya untuk mencapai ittihad. Tidak mengherankan kalau sufi merasa tidak puas dengan stasion ma'rifah saja. yang di dalam istilah tasawuf disebut ittihad. TASAWUF (hal. Ia ingin mengatakan bahwa dalam usia tujuh puluh tahunlah ia baru sampai ke stasion ittihad. Ia ingin mengalami persatuan dengan Tuhan. 7507173 Fax. (021) 7507174 Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota Please direct any suggestion to Media Team Artikel Yayasan Paramadina Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota III. Dengan demikian. seorang sufi harus terlebih dahulu mengalami fana' dan baqa'.memandangnya akan mati karena kecemerlangan dan keindahannya. Metro Pondok Indah Pondok Indah Plaza I Kav. Ia ingin berada lebih dekat lagi dengan Tuhan. Ucapan-ucapan yang ditinggalkannya menunjukkan bahwa untuk mencapai ittihad diperlukan usaha yang keras dan waktu yang lama. tak tahan melihat Tetapi sufi yang dapat menangkap cahaya ma'rifah dengan mata hatinya akan dipenuhi kalbunya dengan rasa cinta yang mendalam kepada Tuhan." sedang umurnya waktu itu telah lebih dari tujuh puluh tahun. Sebelum sampai ke ittihad. 7501983.

Aku hanya mengucapkan. aku tak ingin melihat mereka. demikian pula makhluk lain. karena Engkau adalah Raja Maha Kuasa. Tetapi aku heran melihat cinta-Mu padaku. diapun berkata lagi. Abu Yazid ingin berada di hadirat Tuhan. "Aku tidak heran melihat cintaku pada-Mu. dan akupun hidup. makhluk-Ku ingin melihat engkau. berhadapan langsung dengan Tuhan dan mengatakan kepadaNya: Tiada Tuhan selain Engkau." Akhirnya Abu Yazid dengan meninggalkan dirinya mengalami fana. sebagai berikut. Abu Yazid mengatakan. dengan arti kesadaran tentang diri sendiri hancur dan timbullah kesadaran diri Tuhan. Dia juga mengucapkan. antara lain. karena aku hanyalah hamba yang hina." Dalam menjelaskan pengertian fana'. Abu Yazid menggambarkan dengan kata-kata berikut ini. persatuan atau manunggal dengan Tuhan.tapi kehancurannya akan menimbulkan kesadaran sufi terhadap diri-Nya. "Gila pada diriku adalah fana' dan gila pada diri-Mu adalah baqa' (kelanjutan hidup). tiada Tuhan selain Allah. al-Qusyairi menulis. Syatahat yang diucapkan Abu Yazid. Kesadaran sufi tentang dirinya dan makhluk lain lenyap dan pergi ke dalam diri Tuhan dan terjadilah ittihad. Inilah yang disebut kaum sufi al-fana' 'an al-nafs wa al-baqa. Lalu. "Ia membuat aku gila pada diriku hingga aku mati. "Manusia tobat dari dosanya. Mengenai fana'." Seperti halnya Rabi'ah yang tidak meminta surga dari Tuhan dan pula tidak meminta dijauhkan dari neraka dan yang dikehendakinya hanyalah berada dekat dan bersatu dengan Tuhan. dia berkata lagi. "Apa jalannya untuk sampai kepadaMu?" Tuhan menjawab. Sedangkan mengenai fana dan baqa'." Ketika sampai ke ambang pintu ittihad dari sufi keluar ungkapan-ungkapan ganjil yang dalam istilah sufi disebut syatahat (ucapan teopatis). Aku menjawab. Dalam mimpi ia bertanya. "Fananya seseorang dari dirinya dan dari makhluk lain terjadi dengan hilangnya kesadaran tentang dirinya dan makhluk lain. kemudian aku mengetahui-Nya melalui diri-Nya dan akupun hidup. Tetapi jika itu kehendak-Mu. "Pada suatu ketika aku dinaikkan kehadirat Tuhan dan Ia berkata. Kemudian Ia membuat aku gila kepada diri-Nya. "Tinggalkan dirimu dan datanglah. Masalah ittihad. bi 'l-Lah. "Aku tidak meminta dari Tuhan kecuali Tuhan. karena lafadz itu menggambarkan Tuhan masih jauh dari sufi dan berada di belakang tabir. ia mengungkapkan lagi. Abu Yazid. Sebenarnya dirinya tetap ada. aku tak berdaya menentang-Mu." Lalu. "Aku mengetahui Tuhan melalui diriku hingga aku hancur. tetapi aku tidak. Hiasilah aku dengan keesaan-Mu." Kara-kata ini menggambarkan bahwa cinta mendalam Abu Yazid telah dibalas Tuhan. Di sini terjadilah ittihad. tetapi ia tak sadar lagi pada diri mereka dan pada dirinya. sehingga jika ." Abu Yazid tobat dengan lafadz syahadat demikian. baqa' dan ittihad. kekasih-Ku.

"Pergilah. telah kami lihat Engkau. maka sembahlah Aku. Maka dalam pengertian sufi. seperti kelihatan dalam ungkapan selanjutnya. agar dapat dekat kepada Tuhan. Tetapi yang mereka lihat sebenarnya adalah Engkau. kata menjadi satu. bahkan seluruhnya menjadi satu. yang ada hanyalah Tuhan. dan sebagaimana dilihat pada permulaan makalah ini." Dialog antara Abu Yazid dengan Tuhan ini menggambarkan bahwa ia dekat sekali dengan Tuhan. "Hiasilah aku dengan keesaan-Mu.makhluk-Mu melihat aku. Dengan kata lain. tidak ada di rumah ini selain Allah Yang Maha Kuasa." Dalam istilah sufi." Aku menjawab: "Aku adalah Aku." Yang penting diperhatikan dalam ungkapan diatas adalah kata-kata Abu Yazid "Aku menjawab melalui diriNya" (Fa qultu bihi). "Dialog pun terputus. tetapi itu tidak berarti bahwa ia mengakui dirinya Tuhan. tetapi Tuhan melalui Abu Yazid. Maha Suci Aku." Permintaan Abu Yazid dikabulkan Tuhan dan terjadilah persatuan. kata-kata diatas betul keluar dari mulut Abu Yazid. seusai sembahyang subuh. semuanya kecuali engkau adalah makhluk-Ku. Maka Ia pun berkata kepadaku." Aku menjawab. tetapi itu tidak mengandung pengakuan Abu Yazid bahwa ia adalah Tuhan. Ia tidak ada lagi. Dalam arti serupa inilah harus diartikan kata-kata yang diucapkan lidah sufi ketika berada dalam ittihad yaitu kata-kata yang pada lahirnya mengandung pengakuan sufi seolah-olah ia adalah Tuhan. aku adalah Engkau. Hal ini juga dialami Abu Yazid. Godaan Tuhan untuk mengalihkan perhatian Abu Yazid ke makhluk-Nya ditolak Abu Yazid. Abu Yazid. "Engkau adalah Engkau. yang berlainan .menggambarkan bersatunya Abu Yazid dengan Tuhan." Akupun berkata. "Hai Engkau. "Akulah Yang Satu." Yang mengucapkan kata-kata itu memang lidah Abu Yazid. Mengakui dirinya Tuhan adalah dosa terbesar. tetapi juga dari syubhat. "Engkaulah Yang Satu. mereka akan berkata. rohnya telah melebur dalam diri Tuhan. sebagaimana terungkap dari kata-kata berikut ini." Dalam literatur tasawuf disebut bahwa dalam ittihad. Maka yang mengatakan "Hai Aku Yang Satu" bukan Abu Yazid. Karena itu dia pun mengatakan. Engkau adalah aku dan aku adalah Engkau. karena ketika itu aku tak ada di sana. aku menjawab melalui diri-Nya "Hai Aku." Ia berkata kepadaku." Ia berkata lagi. Tuhanlah yang mengaku diri-Nya Allah melalui lidah Abu Yazid. Ini kelihatan dari kata-katanya. "Maha Suci Aku. Maha Besar Aku. Maka dosa terbesar tersebut diatas akan membuat Abu Yazid jauh dari Tuhan dan tak dapat bersatu dengan Dia. Sufi lain yang mengalami persatuan dengan Tuhan adalah Husain Ibn Mansur al-Hallaj (858-922 M). Itu adalah kata-kata Tuhan yang diucapkan melalui lidah Abu Yazid. mengeluarkan kata-kata. sufi haruslah bersih bukan dari dosa saja. Di dalam jubah ini tidak ada selain Allah. Tiada Allah selain Aku. kata-kata tersebut memang diucapkan lidah Abu Yazid. Ia tetap meminta bersatu dengan Tuhan. yang satu memanggil yang lain dengan kata-kata: Ya ana (Hai aku). Aku adalah Allah. "Abu Yazid. Kata-kata bihi -melalui diri-Nya.

Landasan bahwa Tuhan dan manusia sama-sama mempunyai sifat diambil dari hadits yang menegaskan bahwa Tuhan menciptakan Adam sesuai dengan bentuk-Nya. Nasibnya malang karena dijatuhi hukuman bunuh. nasut manusia lenyap dan muncullah lahut-nya dan ketika itulah nasut Tuhan turun bersemayam dalam diri sufi dan terjadilah hulul. 7507173 Fax. Di sini terdapat juga konsep fana. Tuhan memilih tubuh-tubuh manusia tertentu untuk bersemayam didalamnya dengan sifat-sifat ketuhanannya. Menurut al-Hallaj. Pengalaman persatuannya dengan Tuhan tidak disebut ittihad. setelah sifat-sifat kemanusiaan yang ada dalam tubuh itu dihancurkan. Demikian juga Tuhan mempunyai dua sifat dasar. Hal itu digambarkan al-Hallaj dalam syair berikut ini: Jiwa-Mu disatukan dengan jiwaku Sebagaimana anggur disatukan dengan air suci Jika Engkau disentuh. Hal ini karena dia mengatakan. tetapi hulul. (bersambung 4/4) -------------------------------------------Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah Editor: Budhy Munawar-Rachman Penerbit Yayasan Paramadina Jln. (021) 7507174 Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota Please direct any suggestion to Media Team . Hal ini terlihat jelas pada syair al-Hallaj sebagai berikut: Maha Suci Diri Yang Sifat kemanusiaan-Nya Membukakan rahasia cahaya ketuhanan-Nya yang gemilang Kemudian kelihatan bagi makhluk-Nya dengan nyata Dalam bentuk manusia yang makan dan minum Dengan membersihkan diri malalui ibadat yang banyak dilakukan. manusia mempunyai dua sifat dasar: nasut (kemanusiaan) dan lahut (ketuhanan).nasibnya dengan Abu Yazid. Dalam literatur tasawuf hulul diartikan. lahut (ketuhanan) dan nasut (kemanusiaan). 7501983. yang dialami Abu Yazid dalam ittihad sebelum tercapai hulul. UA 20-21 Jakarta Selatan Telp. al-Hallaj mengalami persatuannya dengan Tuhan turun ke bumi.Engkau adalah aku. "Ana 'l-Haqq" (Akulah Yang Maha Benar). Kalau Abu Yazid mengalami naik ke langit untuk bersatu dengan Tuhan. ketika itu -dalam tiap hal. aku disentuhnya pula Maka. Sebaliknya didalam diri Tuhan terdapat bentuk Adam dan itulah yang disebut nasut Tuhan. Hadits ini mengandung arti bahwa didalam diri Adam ada bentuk Tuhan dan itulah yang disebut lahut manusia. mayatnya dibakar dan debunya dibuang ke sungai Tigris. (021) 7501969. Metro Pondok Indah Pondok Indah Plaza I Kav.

Sufi yang bernasib malang ini mengatakan. "Aku adalah rahasia Yang Maha Benar. baqa. Kami adalah dua jiwa yang menempati satu tubuh. yang bagi al-Hallaj merupakan dua hal yang berbeda." Syatahat atau kata-kata teofani sufi seperti itu membuat kaum syari'at menuduh sufi telah menyeleweng dari ajaran Islam dan menganggap tasawuf bertentangan dengan Islam. engkau lihat Kami. Muhy al-Din Ibn 'Arabi (1165-1240) membawa ajaran kesatuan wujud makhluk dengan Tuhan dalam wahdat al-wujud. Ketika mengalami hulul yang digambarkan diatas itulah lidah al-Hallaj mengucapkan.14. Ia tidak mengkafirkan Abu Yazid dan al-Hallaj. gelar yang diberikan kepada kaum sufi. sungguhpun ia tidak mengharamkan tingkat fana'. Dalam perkembangan selanjutnya. Dan jika engkau lihat Dia. tasawuf sebaliknya banyak diamalkan. engkau lihat Dia. tapi mengkafirkan al-Farabi dan Ibn Sina. Al-Ghazali menghalalkan tasawuf sampai tingkat ma'rifah. Maka bedakanlah antara kami. Pertentangan ini mereda setelah al-Ghazali datang dengan pengalamannya bahwa jalan sufilah yang dapat membawa orang kepada kebenaran yang menyakinkan. setelah pengalaman persatuan manusia dengan Tuhan yang dibawa al-Bustami dalam ittihad dan al-Hallaj dalam hulul. Kalau filsafat. tidak menangkap pengalaman sufi yang mementingkan hakekat dan tujuan ibadat. dan ittihad. tiap makhluk mempunyai dua aspek.Artikel Yayasan Paramadina Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota III. yaitu mendekatkan diri sedekat mungkin kepada Tuhan. setelah kritik al-Ghazali dalam bukunya Tahafut al-Falasifah. Lahut dan nasut. ucapan itu tidak mengandung arti pengakuan al-Hallaj dirinya menjadi Tuhan. bahkan oleh syariat sendiri. 42) oleh Harun Nasution (4/4) Hulul juga digambarkan dalam syair berikut: Aku adalah Dia yang kucintai Dan Dia yang kucintai adalah aku. Aspek batin yang merupakan . Dalam sejarah Islam memang terkenal adanya pertentangan keras antara kaum syari'at dan kaum hakekat. Dalam pengalamannya. ia satukan menjadi dua aspek. TASAWUF (hal. Kaum syari'at yang banyak terikat kepada formalitas ibadat. Kata-kata itu adalah kata-kata Tuhan yang Ia ucapkan melalui lidah al-Hallaj. Yang Maha Benar bukanlah Aku. tidak berkembang lagi di dunia Islam Sunni. Aku hanya satu dari yang benar. Tetapi sebagaimana halnya dengan Abu Yazid. "Ana 'l-Haqq" (Akulah Yang Maha Benar). Jika Engkau lihat aku.

dan melalui makhluklah Ia dikenal. sebagaimana disebut dalam Hadits yang telah dikutip pada permulaan. Tuhan dalam keabsolutannya baru keluar dari al-'ama. Wujud semuanya satu. Yang ada dalam alam ini kelihatannya banyak tetapi pada hakekatnya satu. dirinya kelihatan banyak. Pada tingkat bidayah. Maka. dan aspek luar yang merupakan aksiden disebut al-khalq. Di dalam cermin. seperti hayat. Tuhan adalah transendental dan bukan imanen. tanpa nama dan sifat. Yang lain dan yang banyak adalah bayangannya. ahadiah. tawassut dan khitam. Wujud alam tergantung pada wujud Tuhan. ilmu. kabut kegelapan. seperti Pengasih. Sungguhpun manusia merupakan tajalli atau penampakan diri Tuhan yang paling sempurna diantara semua makhluk-Nya. Tuhan. Pada tahap ahadiah. adalah penampakan diri atau tajalli dari Tuhan. wujud alam tak akan ada tanpa wujud Tuhan. yaitu wujud al-haqq. disebut al-haqq. Alam sebagai cermin yang didalamnya terdapat gambar Tuhan. sufi disinari oleh sifat-sifat Tuhan. alam adalah bayangan Tuhan. Pada tahap hawiah nama dan sifat Tuhan telah muncul. Tuhan menampakkan diri dengan nama-nama dan sifat-sifat-Nya pada makhluk-Nya. qudrat dll. Penyayang dan sebagainya (tajalli fi al-asma). Di antara semua makhluk-Nya. tetapi dalam aspek batinnya satu. Tuhan menampakkan diri dalam nama-nama-Nya. Di dalam tiap cermin. Ajaran wahdat al-wujud dengan tajalli Tuhan ini selanjutnya membawa pada ajaran al-Insan al-Kamil yang dikembangkan terutama oleh Abd al-Karim al-Jilli (1366-1428). Bagi Ibn Arabi. tajalli atau penampakan diri Tuhan mengambil tiga tahap tanazul (turun). Sebagai bayangan. Jelas bahwa Ibn Arabi tidak mengidentikkan alam dengan Tuhan.esensi. kemudian Ia ingin dikenal maka diciptakan-Nya makhluk. Dan Tuhan ber-tajalli pada sufi demikian dengan . Huwiah dan Aniyah. Sebagai bayangan. Pada tahap aniah. pada diri manusia Ia menampakkan diri-Nya dengan segala sifat-Nya. alam sebagai makhluk. Keadaan ini tak ubahnya sebagai orang yang melihat dirinya dalam beberapa cermin yang diletakkan di sekelilingnya. Dengan kata lain. tetapi pada hakekatnya dirinya hanya satu. tajalli-Nya tidak sama pada semua manusia. Tajalli Tuhan yang sempurna terdapat dalam Insan Kamil. Oleh karena itu ada orang yang mengidentikkan ajaran wahdat al-wujud Ibn Arabi dengan panteisme dalam arti bahwa yang disebut Tuhan adalah alam semesta. sufi mesti mengadakan taraqqi (pendakian) melalui tiga tingkatan: bidayah. pada awalnya adalah "harta" tersembunyi. Tuhan berada di luar dan bukan di dalam alam. Untuk mencapai tingkat Insan Kamil. pada sufi yang demikian. Pada tingkat tawassut. Semua makhluk dalam aspek luarnya berbeda. Dalam pengalaman al-Jilli. yaitu al-haqq. wujud alam bersatu dengan wujud Tuhan dalam ajaran wahdat al-wujud. ia lihat dirinya. Alam hanya merupakan penampakan diri atau tajalli dari Tuhan. dengan kata lain. sebagaimana halnya dengan sufi-sufi lainnya. tetapi masih dalam bentuk potensial. sufi disinari oleh nama-nama Tuhan.

sehingga mengabaikan usaha. Pada tingkat khitam. Perlu ditegaskan bahwa sampai permulaan abad ke-20. Mesir dan Suria. Sementara itu tasawuf pada masa awal sejarahnya mengambil bentuk tarekat. Dialah bayangan Tuhan yang sempurna. pengikut Abdullah Syattar (w. Di antara semuanya. Syattariah. 1415 M). 1415 M). sehingga tarekat menyimpang dari tujuan sebenarnya dari sufi untuk menyucikan diri dan berada dekat dengan Tuhan. sehingga timbullah pertentangan antara kaum syari'at dan kaum tarekat. Dan dialah yang menjadi perantara antara manusia dan Tuhan. Sementara itu ada pula tarekat yang menekankan pentingnya kehidupan rohani dan mengabaikan kehidupan duniawi. Suria dan Mesir. orang-orang yang ingin mendapat dukungan dari masyarakat menjadi anggota tarekat. Karena pengaruh besar itu. Tarekat ada yang telah menyalahi ajaran dasar sufi dan syari'at Islam. Naqsyabandiah. Sanusiah di Libia. Di Turki Usmani. tentara menjadi anggota tarekat Bekhtasyi dan dalam perlawanan mereka terhadap pembaharuan yang diadakan sultan-sultan. Pada tingkat ini sufi pun menjadi Insan Kamil. tujuan sufi untuk berada sedekat mungkin dengan Tuhan akhirnya tercapai malalui ittihad serta hulul yang mengandung pengalaman persatuan roh manusia dengan roh Tuhan dan melalui wahdat al-wujud yang mengandung arti penampakan diri atau tajalli Tuhan yang sempurna dalam diri Insan Kamil. Mawlawiah (Jalaluddin Rumi) di Turki. Karena pengaruh besar dalam masyarakat itu orientasi akhirat dan sikap tawakal berkembang di kalangan umat Islam yang bekas-bekasnya masih ada pada kita sampai sekarang. 1166 M). dan Tijaniah yang muncul pada abad ke-19 di Marokko dan Aljazair. Dengan kata lain. Ia menjadi manusia sempurna. Dalam tarekat. tarekat mempunyai pengaruh besar dalam masyarakat Islam. sufi disinari dzat Tuhan yang dengan demikian sufi tersebut ber-tajalli dengan dzat-Nya. Muhammad Abduh. Di antara tarekat-tarekat besar yang terdapat di Indonesia adalah Qadiriah yang muncul pada abad ke-13 Masehi untuk melestarikan ajaran Syekh Abdul Qadir Jailani (w. Demikianlah. Insan Kamil yang tersempurna terdapat dalam diri Nabi Muhammad. dalam arti organisasi tasawuf. Rasyid Ridha dan terutama Kamal Ataturk memandang tarekat sebagai salah satu faktor yang membawa kepada kemunduran . ajaran-ajaran sufi besar tersebut terkadang diselewengkan. Insan Kamil terdapat dalam diri para Nabi dan para wali.sifat-sifat-Nya. mereka mendapat sokongan dari tarekat Bekhtasyi dan para ulama Turki. yang dibentuk oleh murid-murid atau pengikut-pengikut sufi besar untuk melestarikan ajaran gurunya. muncul pada abad ke-14 bagi pengikut Bahauddin Naqsyabandi (w. Untuk itu tidak mengherankan kalau pemimpin-pemimpin pembaharuan dalam Islam seperti Jamaluddin Afghani. dan disamping itu menekankan ajaran tawakal sufi. Tarekat-tarekat besar lain diantaranya adalah Bekhtasyiah di Turki. Syadziliah di Marokko. mempunyai sifat ketuhanan dan dalam dirinya terdapat bentuk (shurah) Allah. dan Rifa'iah di Irak. yang dikembangkan tarekat adalah orientasi akhirat dan sikap tawakal.

Ada yang pergi ke kerohanian dalam agama Buddha. London.. FILSAFAT ISLAM (1/3) oleh Harun Nasution . Dalam pada itu dunia dewasa ini dilanda oleh materialisme yang menimbulkan berbagai masalah sosial yang pelik. -------------------------------------------Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah Editor: Budhy Munawar-Rachman Penerbit Yayasan Paramadina Jln. Sufism. Arberry dalam bukunya Sufism menulis bahwa Muslim dan bukan Muslim adalah makhluk Tuhan yang satu. 7507173 Fax. Corbin. A. Tetapi untuk itu yang perlu ditekankan tarekat dalam diri para pengikutnya adalah penyucian diri dan pembentukan akhlak mulia disamping kerohanian dengan tidak mengabaikan kehidupan keduniaan. Paris.. H. Gallimard. Oleh karena itu bukanlah tidak pada tempatnya bagi seorang Kristen untuk mempelajari ajaran-ajaran sufi yang telah meninggalkan pengaruh besar dalam kehidupan umat Islam dan bersama-sama dengan orang Islam menggali kembali ajaran-ajaran sufi yang akan dapat memenuhi kebutuhan orang yang mencari nilai-nilai kerohanian dan moral zaman yang penuh kegelapan dan tantangan seperti sekarang. DAFTAR KEPUSTAKAAN Arberry. Badawi.umat Islam. Syatahat al-Sufiah. A. George Allan and Unwin Ltd.R.J. Histoire de la Philosophie Islamique.. umpamanya aliran Subud di Jakarta.13. Banyak orang mengatakan bahwa dalam menghadapi meterialisme yang melanda dunia sekarang. perlu dihidupkan kembali spiritualisme. Cairo. Dalam hubungan itu kira-kira 30 tahun lalu.. 1964. Metro Pondok Indah Pondok Indah Plaza I Kav. (021) 7507174 Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota Please direct any suggestion to Media Team Artikel Yayasan Paramadina Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota III. 1949. 7501983. A. UA 20-21 Jakarta Selatan Telp. ada ke kerohanian dalam agama Hindu dan tak sedikit pula yang mengikuti kerohanian dalam agama Islam. Disini tasawuf dengan ajaran kerohanian dan akhlak mulianya dapat memainkan peranan penting. 1963. al-Nahdah al-Misriah.J. Pada akhir-akhir ini memang kelihatan gejala orang-orang di Barat yang bosan hidup kematerian lalu mencari hidup kerohanian di Timur. (021) 7501969.

dengan menangnya kekuatan Islam dalam peperangan tersebut. Manusia dewasa. yang di Barat dikenal dengan istilah free-will and free-act. Suria serta Irak. yang membawa kepada konsep manusia yang penuh dinamika. dengan penduduk setempat. Untuk itu ia adakan pembauran antara orang-orang Yunani yang dibawanya. Kedudukan akal yang tinggi dalam pemikiran Yunani mereka jumpai sejalan dengan kedudukan akal yang tinggi dalam al-Qur'an dan Sunnah Nabi. Dengan demikian timbullah di panggung sejarah pemikiran Islam teologi rasional yang dipelopori kaum Mu'tazilah. sehingga mereka tidak mau tunduk kepada arti harfiah dari teks wahyu yang tidak sejalan dengan pemikiran filosofis dan ilmiah.Ketika datang ke Timur Tengah pada abad IV SM. Dari warga negara non Islam ini timbul satu golongan yang tidak senang dengan kekuasaan Islam dan oleh karena itu ingin menjatuhkan Islam. dan timbullah pusat-pusat peradaban Yunani seperti Iskandariah (dari nama Aleksander) di Mesir. Untuk itu mereka pelajari filsafat dan ilmu pengetahuan Yunani. Tujuannya bukanlah hanya meluaskan daerah kekuasaannya ke luar Macedonia. Dari pihak umat Islam timbul satu golongan yang melihat bahwa serangan itu tidak dapat ditangkis kecuali dengan memakai argumen-argumen filosofis pula. Ciri-ciri dari teologi rasional ini ialah: 1. Mereka tinggalkan arti harfiah teks dan ambil arti majazinya. Antakia di Suria. Ketika para Sahabat Nabi Muhammad menyampaikan dakwah Islam ke daerah-daerah tersebut terjadi peperangan antara kekuatan Islam dan kekuatan Kerajaan Bizantium di Mesir. 2. Mereka dikenal banyak memakai ta'wil dalam memahami wahyu. tapi juga menanamkan kebudayaan Yunani di daerah-daerah yang dimasukinya. Mereka tetap memeluk agama mereka semula terutama yang menganut agama Nasrani dan Yahudi. Dengan jalan demikian berkembanglah falsafat dan ilmu pengetahuan Yunani di Timur Tengah. Tetapi penduduknya. bahwa tidak ada paksaan dalam agama dan bahwa kewajiban orang Islam hanya menyampaikan ajaran-ajaran yang dibawa Nabi. Daerah-daerah ini. Selopsia serta Jundisyapur di Irak dan Baktra (sekarang Balkh) di Iran. Aleksander Yang Agung membawa bukan hanya kaum militer tetapi juga kaum sipil. dan mampu berfikir secara mendalam. Akal menunjukkan kekuatan manusia. dan kekuatan Kerajaan Persia di Iran. Mereka pun menyerang agama Islam dengan memajukan argumen-argumen berdasarkan falsafat yang mereka peroleh dari Yunani. tidak dipaksa para sahabat untuk masuk-Islam. Pemikiran filosofis mereka membawa kepada penekanan . jatuh ke bawah kekuasaan Islam. yaitu manusia dewasa. 3. Kedudukan akal tinggi di dalamnya. sesuai dengan ajaran al-Qur'an. mempunyai kebebasan dalam kemauan serta perbuatan. maka akal yang kuat menggambarkan manusia yang kuat. Karena itu aliran ini menganut faham qadariah. baik dalam perbuatan maupun pemikiran. berlainan dengan anak kecil. mampu berdiri sendiri. dengan lain kata mereka tinggalkan arti tersurat dari nash wahyu dan mengambil arti tersiratnya.

Filsafat ia artikan sebagai pembahasan tentang yang benar (al-bahs'an al-haqq). yang di dalam diriNya terdapat arti banyak. Pencipta alam semesta. Dalam pemikirannya. Dengan filsafat "al-Haqq al-Awwal"nya. pancaran) dari al-Farabi. pada masa antara abad ke VIII dan ke XIII M. dengan keyakinan akan kedudukan akal yang tinggi. Ia dengan tegas mengatakan bahwa antara filsafat dan agama tak ada pertentangan. Filsafat yang termulia dalam pendapat Al-Kindi adalah filsafat ketuhanan atau teologi. tidaklah sebenarnya esa. dan pemikiran merupakan daya atau energi. Memurnikan tauhid memang masalah penting dalam teologi dan filsafat Islam. Alam ini berjalan menurut peraturan tertentu. yaitu sesuainya konsep dalam akal dengan benda bersangkutan yang berada di luar akal. Filsafat dengan demikian membahas soal Tuhan dan agama. di dalam diri Tuhan terdapat arti banyak.konsep Tuhan Yang Maha Adil. Agama dalam pada itu juga menjelaskan yang benar. Maka kedua-duanya membahas yang benar. yaitu hakikat yang bersifat universal dalam bentuk jenis. yang mengatur perjalanan apa yang ada di alam ini. Benda-benda yang ada di luar akal merupakan juz'iat (kekhususan. particulars). al-Kindi. Karena pemikiran Tuhan tentang diriNya merupakan daya . Mempelajari teologi adalah wajib dalam Islam. Filsuf besar pertama yang dikenal adalah al-Kindi. tetapi yang penting adalah hakikat dari juz'iat itu sendiri. tetapi juga sains. Yang Maha Esa berfikir tentang diriNya yang esa. tetapi wajib. bukan hanya filsafat. Zat. berhubungan langsung dengan ciptaannya yang tak dapat dihitung banyaknya itu. agar menjadi esa. berusaha memurnikan keesaan Tuhan dari arti banyak. dan peraturan itu perlu dicari untuk kepentingan hidup manusia di dunia ini. dan berfalsafat tidaklah haram dan tidak dilarang. Menurut pemikiran filsafat kalau ada yang benar maka mesti ada "Yang Benar Pertama" (al-Haqq al-Awwal). Maka keadilan Tuhanlah yang menjadi titik tolak pemikiran teologi mereka. dalam al-Qur'an disebut Sunnatullah. Teologi rasional Mu'tazilah inilah. universals). Keadilan Tuhan membawa mereka selanjutnya kepada keyakinan adanya hukum alam ciptaan Tuhan. (796-873M) satu-satunya filsuf Arab dalam Islam. Yang penting bagi filsafat bukanlah benda-benda atau juz'iat itu sendiri. Karena itu mempelajari filsafat. Pemurnian tauhid inilah yang menimbulkan filsafat emanasi (al-faid. (haqiqah kulliah) yang disebut mahiah. kebebasan manusia dalam berfikir serta berbuat dan adanya hukum alam ciptaan Tuhan. Yang Maha Esa. Dalam hal ini al-Farabi (870-950 M) memberi konsep yang lebih murni lagi. yang membawa pada perkembangan Islam. Hakikat yang ada dalam benda-benda itu disebut kulliat (keumuman. adalah sesuainya apa yang ada di dalam akal dengan apa yang ada diluarnya. Selanjutnya filsafat dalam pembahasannya memakai akal dan agama. Tiap-tiap benda mempunyai hakikat sebagai juz'i (haqiqah jaz'iah) yang disebut aniah dan hakikat sebagai kulli. menurut pendapatnya. kalau Tuhan. hanya berhubungan dengan yang esa. Yang Benar Pertama itu dalam penjelasan Al-Kindi adalah Tuhan. dan dalam penjelasan tentang yang benar juga memakai argumen-argumen rasional. Al-haqiqah atau kebenaran.

Pemikiran Akal X tidak Akal. Ak al VIII menghasilkan Akal IX dan Merkuri. Akal II dan seterusnya serta materi asal yang empat api. Pemikiran Akal X tentang Tuhan tidak lagi menghasilkan Akal. Akal dalam pendapat filsuf Islam adalah malaikat. Akal X menghasilkan hanya Bumi. tetapi dari sesuatu yang dipancarkan pemikiran Tuhan. udara. karena tidak ada lagi planet yang akan diurusnya. Yang diciptakan pemikiran Tuhan tentang diriNya itu adalah Akal I. Akal II juga mempunyai obyek pemikiran. Akal VI menghasilkan Akal VII dan Matahari. Obyek pemikiran Akal I adalah Tuhan dan dirinya sendiri. Yang Maha Esa menciptakan yang esa. tetapi dari materi asal yaitu api. Memang tiap-tiap Akal itu mengurus planet yang diwujudkannya. Ibn Sina dan filsuf-filsuf Islam yang menganut paham emanasi. yaitu alam yang terdiri atas sepuluh falak. Jadi. yaitu Tuhan dan dirinya sendiri. Akal IX menghasilkan Akal X dan Bulan. Dalam diri yang esa atau Akal I inilah mulai terdapat arti banyak. yang dikritik al-Ghazali. Pemikirannya tentang Tuhan menghasilkan Akal II dan pemikirannya tentang dirinya menghasilkan Langit Pertama. Alam dalam filsafat Islam diciptakan bukan dari tiada atau nihil. udara. Akal IV menghasilkan Akal V dan Yupiter. Tuhan tidak langsung menciptakan yang banyak ini. Karena Tuhan beffikir semenjak qidam. maka daya itu menciptakan sesuatu. yaitu zaman tak bermula. dan inilah tauhid yang murni dalam pendapat al-Farabi. air dan tanah adalah pula qadim. Begitulah Akal selanjutnya berfikir tentang Tuhan dan menghasilkan Akal dan berpikir tentang dirinya sendiri dan menghasilkan planet-planet. apa yang dipancarkan pemikiran Tuhan itu mestilah pula qadim. Dalam diri Tuhan tidak terdapat arti banyak. dalam arti tidak mempunyai permulaan dalam zaman.yang dahsyat. Pemikirannya tentang Tuhan menghasilkan Akal III dan pemikirannya tentang dirinya sendiri menghasilkan Alam Bintang. Akal II melalui Akal III dan demikianlah seterusnya sampai ke penciptaan Bumi melalui Akal X. Tuhan tidak langsung berhubungan dengan yang banyak. Maka materi asal timbul bukan dari tiada. Akal VII menghasilkan Akal VIII dan Venus. tetapi melalui Akal atau malaikat. air dan tanah. Dalam pendapat falsafat dari nihil tak dapat diciptakan sesuatu. tetapi melalui Akal I yang esa. Dengan lain kata Akal I. Dengan demikian diperolehlah gambaran berikut: Akal III menghasilkan Akal IV dan Saturnus. Dari sinilah timbul pengertian alam qadim. Begitulah Tuhan menciptakan alam semesta dalam falsafat emanasi al-Farabi. dan Akal I melalui Akal II. cukup kuat lagi untuk menghasilkan Demikianlah gambaran alam dalam astronomi yang diketahui di zaman Aristoteles dan zaman al-Farabi. Akal V menghasilkan Akal VI dan Mars. . Sesuatu mesti diciptakan dari suatu yang telah ada.

yaitu berfikir yang disebut akal. Jiwa binatang yang mempunyai daya gerak. iii. 3. .13. b. Jiwa manusia. yang mempunyai hanya satu daya. Jiwa tumbuh-tumbuhan yang mempunyai daya makan. Indra penggambar yang melepaskan gambar-gambar dari materi.Indra pereka yang mengatur gambar-gambar ini. Akal teoritis. v. roh dan malaikat. Dan (b) Indra dalam yang berada di otak dan terdiri dari: i. 7507173 Fax.(bersambung 2/3) Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah Editor: Budhy Munawar-Rachman Penerbit Yayasan Paramadina Jln. FILSAFAT ISLAM (2/3) oleh Harun Nasution Selain kemahaesaan Tuhan. yang menerima arti-arti yang berasal dari materi melalui indra pengingat yang ada dalam jiwa binatang. (021) 7501969. pindah dari satu tempat ke tempat. 7501983. Filsafat yang terbaik mengenai ini adalah pemikiran yang diberikan Ibn Sina (980-1037M). yang dibahas filsuf-filsuf Islam ada pula soal jiwa manusia yang dalam falsafat Islam disebut al-nafs. UA 20-21 Jakarta Selatan Telp. Metro Pondok Indah Pondok Indah Plaza I Kav. Indra penganggap yang menangkap arti-arti yang terlindung dalam gambar-gambar tersebut. Indra pengingat yang menyimpan arti-arti itu. (021) 7507174 Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota Please direct any suggestion to Media Team Artikel Yayasan Paramadina Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota III. penglihatan. yaitu pendengaran. dan daya menangkap dengan pancaindra. Sama dengan al-Farabi ia membagi jiwa kepada tiga bagian: 1. rasa dan raba. yang terbagi dua: (a) Indra luar.-------------------------------------------. Akal terbagi dua: a. yang tak pernah ada dalam materi seperti Tuhan. Indra bersama yang menerima kesan-kesan yang diperoleh pancaindra. ii. 2. iv. tumbuh dan berkembang biak. yang menangkap arti-arti murni. Akal praktis.

sehingga hawa nafsu yang terdapat di dalamnya tidak menjadi halangan bagi akal praktis untuk membawa manusia kepada kesempurnaan. 4. Dalam diri manusia terdapat tiga macam jiwa ini. Makin banyak arti yang diteruskan otak kepadanya makin kuat daya akal untuk menangkap arti-arti murni. Akal potensial dalam arti akal yang mempunyai potensi untuk menangkap arti-arti murni. Jika jiwa tumbuh-tumbuhan dan binatang yang berpengaruh. ke akal teoritis. Kedua jiwa ini. Tetapi jika jiwa manusia yang berpengaruh terhadap dirinya maka ia dekat menyerupai malaikat. Jiwa manusia mempunyai wujud tersendiri. Tetapi kalau ia teruskan akal teoritis akan berkembang dengan baik. Akal perolehan yang telah sempurna kesanggupannya menangkap arti-arti murni. bahkan badan bisa menjadi penghalang baginya dalam menangkap arti-arti murni. Jiwa tumbuh-tumbuhan dan binatang lenyap dengan matinya tubuh karena keduanya hanya mempunyai fungsi-fungsi fisik seperti dijelaskan sebelumnya. yang pada mulanya menolong akal untuk menangkap arti-arti. Jiwa berhajat kepada badan manusia. Akal inilah yang dapat menangkap arti-arti murni yang dipancarkan Tuhan melalui Akal X ke Bumi. Akal teoritis mempunyai empat tingkatan: 1. sebagaimana dilihat di atas. Akal bakat. orang itu dekat menyerupai binatang. sedang akal teoritis kepada alam metafisik. yang telah mulai dapat menangkap arti-arti murni. Kalau jiwa tumbuh tumbuhan dan binatang tidak kekal. Jiwa manusia. berlainan dengan kedua jiwa di atas fungsinya tidak berkaitan dengan yang bersifat fisik tetapi yang bersifat abstrak dan rohani. Setelah tubuh manusia mati. yang telah mudah dan lebih banyak menangkap arti-arti murni. tidak meneruskan arti-arti. karena otaklah. karena telah memperoleh balasan di dunia ini tidak akan dihidupkan kembal di akhirat. yang akan tinggal menghadapi perhitungan di depan Tuhan adalah jiwa manusia. Karena itu balasan yang akan diterimanya bukan di dunia. 3. Akal inilah yang mengontrol badan manusia. jiwa manusia adalah . 2. dan jelas bahwa yang terpenting diantaranya adalah jiwa berpikir manusia yang disebut akal itu Akal praktis. yang diterimanya dari indra pengingat dalam jiwa binatang. Sifat seseorang banyak bergantung pada jiwa mana dari tiga yang tersebut di atas berpengaruh pada dirinya.Akal praktis memusatkan perhatian kepada alam materi. Dan dalam hal ini akal praktis mempunyai malaikat. yang diciptakan Tuhan setiap ada janin yang siap untuk menerima jiwa. jiwa tak berhajat lagi pada badan. Kalau akal sudah sampai kepada kesempurnaan. kalau terpengaruh oleh materi. Akal tingkat keempat inilah yang tertinggi dan dimiliki filsuf-filsuf. Jiwa tumbuh-tumbuhan dan jiwa binatang akan lenyap dengan hancurnya tubuh kembali menjadi tanah. tetapi di akhirat. Akal aktual.

Karena akal I. II dan seterusnyalah yang mengatur planet-planet maka Akal I. Kalau alam qadim. Karena Tuhan dalam filsafat emanasi tak boleh berhubungan langsung dengan yang banyak dan hanya berfikir tentang diriNya Yang Maha Esa. Politeisme dan ateisme jelas bertentangan sekali dengan ajaran dasar Islam tauhid yang sebagaimana dilihat di atas para filsuf mengusahakan Islam memberikan arti semurni-murninya. Tetapi kalau ia berpisah dari badan dalam keadaan belum sempurna ia akan mengalami kesengsaraan kelak. Tidak diciptakan bisa pula berarti tidak perlu adanya Pencipta yaitu Tuhan. diantara sepuluh itu. Inilah sepuluh dari duapuluh kritikan yang dimajukan al-Ghazali (1058-1111 M) terhadap pemikiran para filsuf Islam. dosa besar yang dalam al-Qur'an disebut tak dapat diampuni Tuhan. tidak ada yang qadim selain Allah. Pembangkitan jasmani tak ada 3. Sebagai orang yang banyak berkecimpung dalam bidang sains para filsuf percaya pula kepada tidak berubahnya hukum alam. illallah. yang ada hanyalah semata-mata zat. yaitu perincian yang ada dalam alam ini. Tuhan tidak mengetahui perincian yang terjadi di alam. Jika ia telah mencapai kesempurnaan sebelum berpisah dengan badan ia akan mengalami kebahagiaan di akhirat. Karena inti manusia adalah jiwa berfikir untuk memperoleh kesempurnaan. pembangkitan jasmani tak ada. Dari paham bahwa jiwa manusialah yang akan menghadapi perhitungan kelak timbul faham tidak adanya pembangkitan jasmani yang juga dikritik al-Ghazali. II dan seterusnya itulah yang mengetahui juz'iat atau kekhususan yang terjadi di alam ini. Ini membawa pula kepada ateisme. tak mempunyai akhir dalam zaman. .kekal. timbul pendapat bahwa Tuhan tidak mengetahui juz'iat. Maka syahadat dalam teologi Islam adalah: la qadima. Demikianlah beberapa aspek penting dari falsafat Islam. Pemurnian itu membawa al-Farabi pula kepada falsafat emanasi yang di dalamnya terkandung pemikiran alam qadim. Sebagai seorang Mu'tazilah al-Kindi juga tidak percaya pada adanya sifat-sifat Tuhan. menurut al-Ghazali membawa mereka kepada kekufuran. Ini membawa kepada paham syirk atau politeisme. Tuhan mengetahui hanya yang bersifat universal. Yang tidak diciptakan adalah Tuhan. Inilah yang mendorong al-Ghazali untuk mencap kafir filsuf yang percaya bahwa alam ini qadim. Alam qadim dalam arti tak bermula dalam zaman 2. Konsep alam qadim membawa kepada kekufuran dalam pendapat al-Ghazali karena qadim dalam filsafat berarti sesuatu yang wujudnya tidak mempunyai permulaan dalam zaman yaitu tidak pernah tidak ada di zaman lampau. maka alam adalah pula Tuhan dan terdapatlah dua Tuhan. Pemurnian konsep tauhid membawa al-Kindi kepada pemikiran Tuhan tidak mempunyai hakikat dan tak dapat diberi sifat jenis (al-jins) serta diferensiasi (al-fasl). Tiga. yaitu: 1. Dan ini berarti tidak diciptakan. tak bermula dalam zaman dan baqin.

Tidak mengherankan kalau sesudah zaman ." Maka pengkafiran di sini berdasar atas berlawanannya falsafat tidak adanya pembangkitan jasmani dengan teks al-Qur'an yang adalah wahyu dari Tuhan. Corak tradisionalnya dilihat dari hal-hal 1. Pengkafiran tentang masalah ketiga. Manusia di sini bersikap statis. Dalam pada itu sebelum zaman al-Ghazali telah muncul teologi baru yang menentang teologi rasional Mu'tazilah. yang ada ialah kebiasaan alam. Apalagi di samping pengkafiran itu al-Ghazali mengeluarkan pendapat bahwa jalan sebenarnya untuk mencapai hakikat bukanlah filsafat tetapi tasawuf. teologi tradisional inilah yang berkembang di dunia Islam bagian Timur. Karena akal lemah manusia dalam teologi ini merupakan manusia lemah dekat menyerupai anak yang belum dewasa yang belum bisa berdiri sendiri tetapi masih banyak bergantung pada orang lain untuk membantunya dalam hidupnya. Pengkafiran al-Ghazali ini membuat orang di dunia Islam bagian timur dengan Baghdad sebagai pusat pemikiran menjauhi falsafat. Mereka tidak mengambil arti tersurat dari wahyu untuk menyesuaikannya dengan pemikiran ilmiah dan filosofis. Sebagai umpama dapat disebut ayat 59 dari surat al-An'am: Tiada daun yang jatuh yang tidak diketahui-Nya. Dalam teologi ini akal mempunyai kedudukan rendah sehingga kaum Asy'ari banyak terikat kepada arti lafzi dari teks wahyu. 2. Sebagai lawan dari teologi rasional Mu'tazilah teologi Asy'ari bercorak tradisional. Pemikiran teologi al-Asy'ari bertitik tolak dari paham kehendak mutlak Tuhan.Mengenai masalah kedua pembangkitan jasmani tak ada. tak terdapat. Jelas teologi tradisional al-Asy'ari ini tidak mendorong pada berkembangnya pemikiran ilmiah dan filosofis sebagaimana halnya dengan teologi rasional Mu'tazilah. Dengan demikian bagi mereka api tidak sesuai dengan hukum alam selamanya membakar tetapi biasanya membakar sesuai dengan kehendak mutlak Tuhan. sedangkan teks ayat-ayat dalam al-Qur'an menggambarkan adanya pembangkitan jasmani itu. Tuhan tidak mengetahui perincian yang ada di alam juga didasarkan atas keadaan falsafat itu. 3. Umpamanya ayat 78/9 dari surat Yasin "Siapa yang menghidupkan tulang-tulang yang telah rapuh ini?. Teologi baru itu dibawa oleh al-Asy'ari (873-935) yang pada mulanya adalah salah satu tokoh teologi rasional. Teologi ini mengajarkan paham jabariah atau fatalisme yaitu percaya kepada kada dan kadar Tuhan. berlawanan dengan teks ayat dalam al-Qur'an. Oleh sebab-sebab yang belum begitu jelas ia meninggalkan paham Mu'tazilahnya dan munculkan sebagai lawan dari teologi Mu'tazilah teologi baru yang kemudian dikenal dengan nama teologi al-Asy'ari. Sesudah al-Ghazali. Manusia dan alam ini diatur Tuhan menurut kehendak mutlakNya dan bukan menurut peraturan yang dibuatnya. Karena itu hukum alam dalam teologi ini. Katakanlah: Yang menghidupkan adalah Yang Menciptakannya pertama kali.

(021) 7501969. 7507173 Fax. alam tidak mempunyai permulaan dalam zaman. kata Ibn Rusyd.al-Ghazali ilmu dan falsafat tak berkembang lagi di Baghdad sebagaimana sebelumnya di zaman Mu'tazilah dan filsuf-filsuf Islam. Ibn Tufail (w. kelihatannya mencela al-Ghazali yang berpendapat bahwa bukanlah akal tetapi al-dzauq dan ma'rifat sufilah yang membawa orang kepada kebenaran yang meyakinkan.(bersambung 3/3) Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah Editor: Budhy Munawar-Rachman Penerbit Yayasan Paramadina Jln. dengan kata lain. jauh dari masyarakat manusia. (021) 7507174 Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota Please direct any suggestion to Media Team Artikel Yayasan Paramadina Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota III. FILSAFAT ISLAM (3/3) oleh Harun Nasution Di dunia Islam bagian Barat yaitu di Andalus atau Spanyol Islam. 1185 M) dalam bukunya Hayy Ibn Yaqzan malahan menghidupkan pendapat Mu'tazilah bahwa akal manusia begitu kuatnya sehingga ia dapat mengetahui masalah-masalah keagamaan seperti adanya Tuhan. Tuhan. Mengenai masalah pertama qidam al-alam. Dan akal orang yang terpencil di suatu pulau. dapat mencapai kesempurnaan sehingga ia sanggup menerima pancaran ilmu dari Tuhan. Ibn Bajjah (1082-1138) dalam bukunya Risalah al-Wida'. -------------------------------------------.13. wajibnya manusia berterimakasih kepada Tuhan. Metro Pondok Indah Pondok Indah Plaza I Kav. Tuhan menciptakan alam dari tiada atau nihil. alam mempunyai permulaan dalam zaman. di ketika itu berada dalam kesendirianNya. Tapi Ibn Rusyd-lah (1126-1198 M) yang mengarang buku Tahafut al-Tahafut sebagai jawaban terhadap kritik-kritik Al-Ghazali yang ia uraikan dalam Tahafut al-Falasifah. konsep al-Ghazali bahwa alam hadis. 7501983. Ayat 7 dari surat Hud umpamanya mengatakan. Dalam hal-hal ini wahyu datang untuk memperkuat akal. menurut Ibn Rusyd mengandung arti bahwa ketika Tuhan menciptakan alam. Konsep serupa ini. sebaliknya pemikiran filsafat masih berkembang sesudah serangan al-Ghazali tersebut. kebaikan serta kejahatan dan kewajiban manusia berbuat baik dan menjauhi perbuatan jahat. telah ada sesuatu di sampingNya. . Didalam al-Qur'an digambarkan bahwa sebelum alam diciptakan Tuhan. tidak ada sesuatu di samping Tuhan. tidak sesuai dengan kandungan al-Qur'an. UA 20-21 Jakarta Selatan Telp. seperti yang terdapat dalam falsafat emanasi Al-Farabi dan Ibn Sina.

Kemudian Ia pun naik ke langit sewaktu ia masih merupakan uap. dan air serta uap adalah satu. bahwa ketika Tuhan menciptakan langit dan bumi telah ada di samping Tuhan. Adapun langit dan bumi susunannya adalah baru (hadis). Kami jadikan segala yang hidup dari air." seperti yang dikatakan para filsuf. air. Jelas disebut dalam ayat ini. Yang sesuai dengan kandungan al-Qur'an sebenarnya adalah konsep al-Farabi. Dengan ayat-ayat serupa inilah Ibn Rusyd menentang pendapat al-Ghazali bahwa alam diciptakan Tuhan dari tiada dan bersifat hadis dan menegaskan bahwa pendapat itu tidak sesuai dengan kandungan al-Qur'an. kata khalaqa di dalam al-Qur'an. Ayat ini mengandung arti bahwa langit dan bumi pada mulanya berasal dari unsur yang satu dan kemudian menjadi dua benda yang berlainan. Bahwa alam yang terus menerus dalam keadaan diciptakan ini tetap akan ada dan baqin digambarkan juga oleh al-Qur'an. Jadi Tuhan qadim berarti Tuhan tidak diciptakan. "Tiada. mulai dari zaman tak bermula di masa lampau sampai ke zaman tak berakhir di masa mendatang. Dengan demikian sungguhpun alam qadim. Qadimnya alam. tetapi adalah Pencipta dan alam qadim berarti alam diciptakan dalam keadaan terus menerus dari zaman tak bermula ke zaman tak berakhir." yaitu intisari tanah seperti disebut oleh ayat di atas. Ayat 47/8 dari surat Ibrahim menyebut: Janganlah sangka bahwa Allah akan menyalahi janji bagi rasul-rasulNya." seperti yang dikatakan al-Ghazali. tetapi adalah ciptaan Tuhan. Di sini yang ada di samping Tuhan adalah uap. Kami ciptakan manusia dari inti sari tanah. Di samping itu. Selanjutnya ayat 30 dari surat al-Anbia' mengatakan pula." kata Ibn Rusyd tidak bisa berubah menjadi "ada. tetapi juga berarti sesuatu yang diciptakan dalam keadaan terus menerus. Dalam hal bumi. Ayat 12 dari surat al-Mu'minun. menggambarkan penciptaan bukan dari "tiada. kata Ibn Rusyd. Ayat 11 dari Ha Mim menyebut pula. karena qadim dalam pemikiran filsafat bukan hanya berarti sesuatu yang tidak diciptakan. Sesungguhnya Allah Maha Kuasa dan Maha Pemberi balasan di hari bumi ditukar dengan bumi yang lain dan .Dan Dia-lah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam hari dan takhtaNya (pada waktu itu) berada di atas air. "ada" dalam bentuk materi asal yang empat dirubah Tuhan menjadi "ada" dalam bentuk bumi. Demikian pula langit." yang terjadi ialah "ada" berubah menjadi "ada" dalam bentuk lain. Filsafat memang tidak menerima konsep penciptann dari tiada (creatio ex nihilo). Dan yang qadim adalah materi asal. tetapi dari "ada. menurut penjelasan Ibn Rusyd tidak membawa kepada politeisme atau ateisme. Ibn Sina dan filsuf-filsuf lain. Manusia di dalam al-Qur'an diciptakan bukan dari "tiada" tetapi dari sesuatu yang "ada. Apakah orang-orang yang tak percaya tidak melihat bahwa langit dan bumi (pada mulanya) adalah satu dan kemudian Kami pisahkan. menjelaskan. alam bukan Tuhan.

(demikian pula) langit. Di hari perhitungan atau pembalasan nanti, tegasnya di hari kiamat, Tuhan akan menukar bumi ini dengan bumi yang lain dan demikian pula langit sekarang akan ditukar dengan langit yang lain. Konsep ini mengandung arti bahwa pada hari kiamat bumi dan langit sekarang akan hancur susunannya dan menjadi materi asal api, udara, air dan tanah kembali; dari keempat unsur ini Tuhan akan menciptakan bumi dan langit yang lain lagi. Bumi dan langit ini akan hancur pula, dan dari materi asalnya akan diciptakan pula bumi dan langit yang lain dan demikianlah seterusnya tanpa kesudahan. Jadi pengertian qadim sebagai sesuatu yang berada dalam kejadian terus menerus adalah sesuai dengan kandungan al-Qur'an. Dengan demikian al-Ghazali tidak mempunyai argumen kuat untuk mengkafirkan filsuf dalam filsafat mereka tentang qadimnya alam. Kedua-duanya, kata Ibn Rusyd, yaitu pihak al-Farabi dan pihak al-Ghazali sama-sama memberi tafsiran masing-masing tentang ayat-ayat al-Qur'an mengenai penciptaan alam. Yang bertentangan bukanlah pendapat filsuf dengan al-Qur'an, tetapi pendapat filsuf dengan pendapat al-Ghazali. Mengenai masalah kedua, Tuhan tidak mengetahui perincian yang terjadi di alam, Ibn Rusyd menjelaskan bahwa para filosof tak pernah mengatakan demikian. Menurut mereka Tuhan mengetahui perinciannya; yang mereka persoalkan ialah bagaimana Tuhan mengetahui perincian itu. Perincian berbentuk materi dan materi dapat ditangkap pancaindra, sedang Tuhan bersifat immateri dan tak mempunyai pancaindra. Dalam hal pembangkitan jasmani, Ibn Rusyd menulis dalam Tahafut al-Tahafut bahwa filsuf-filsuf Islam tak menyebut hal itu. Dalam pada itu ia melihat adanya pertentangan dalam ucapan-ucapan al-Ghazali. Di dalam Tahajut al-Falasifah ia menulis bahwa dalam Islam tidak ada orang yang berpendapat adanya pembangkitan rohani saja, tetapi di dalam buku lain ia mengatakan, menurut kaum sufi, yang ada nanti ialah pembangkitan rohani dan pembangkitan jasmani tidak ada. Dengan demikian al-Ghazali juga tak mempunyai argumen kuat untuk mengkafirkan kaum filsuf dalam pemikiran tentang tidak tahunya Tuhan tentang perincian di alam dan tidak adanya pembangkitan jasmani. Ini bukanlah pendapat filsuf, dan kelihatannya adalah kesimpulan yang ditarik al-Ghazali dari filsafat mereka. Dalam pada itu Ibn Rusyd, sebagaimana para filsuf Islam lain, menegaskan bahwa antara agama dan falsafat tidak ada pertentangan, karena keduanya membicarakan kebenaran, dan kebenaran tak berlawanan dengan kebenaran. Kalau penelitian akal bertentangan dengan teks wahyu dalam al-Qur'an maka dipakai ta'wil; wahyu diberi arti majazi. Arti ta'wil adalah meningga]kan arti lafzi untuk pergi ke arti majazi. Dengan kata lain, meninggalkan arti tersurat dan mengambil arti tersirat. Tetapi arti tersirat tidak boleh disampaikan kepada kaum awam, karena mereka tak dapat memahaminya. Antara filsafat dan agama Ibn Rusyd mengadakan harmoni. Dan dalam harmoni ini akal mempunyai kedudukan tinggi. Pengharmonian akal dan wahyu ini sampai ke Eropa dan di sana dikenal dengan averroisme. Salah satu ajaran averroisme ialah

kebenaran ganda, yang mengatakan bahwa pendapat filsafat benar, sungguhpun menurut agama salah. Agama mempunyai kebenarannya sendiri. Dan averroisme inilah yang menimbulkan pemikiran rasional dan ilmiah di Eropa. Tak lama sesudah zaman Ibn Rusyd umat Islam di Spanyol mengalami kemunduran besar dan kekuasaan luas Islam sebelumnya hanya tinggal di sekitar Granada di tangan Banu Nasr. Pada 1492 dinasti ini terpaksa menyerah kepada Raja Ferdinand dari Castilia. Dengan hilangnya Islam dari Andalus atau di Spanyol, hilang pulalah pemikiran rasional dan ilmiah dari dunia Islam bagian barat. Di dunia Islam bagian timur, kecuali di kalangan Syi'ah, teologi tradisional al-Asy'ari dan pendapat al-Ghazali bahwa jalan tasawuf untuk mencapai kebenaran adalah lebih meyakinkan dari pada jalan filsafat. Hilanglah pemikiran rasional, filosofis dan ilmiah dari dunia Islam sunni sehingga datang abad XIX dan umat Islam dikejutkan oleh kemajuan Eropa dalam bidang pemikiran, filsafat dan sains, sebagaimana disebut di atas, berkembang di Barat atas pengaruh metode berpikir Ibn Rusyd yang disebut averroisme. Semenjak itu pemikiran rasional mulai ditimbulkan oleh pemikir-pemikir pembaruan seperti al-Afghani, Muhammad Abduh, Sayyid Ahmad Khan, dan lain-lain. DAFTAR KEPUSTAKAAN De Boer, TJ., History of Philosophy in Islam, Tranl. E.R. Jones, London, Luzac & Co., 1970. Al-Farabi, Rasail, Hyderabad, t.t. Al-Ghazali, Tahafut al-Falasifah, Kairo, Dar al-Ma'arif, 1966. Al-Ghazali, Al-Munqiz min al-Dalal, Cairo, al-Maktab al-Fanni, 1961. Harun Nasution, Falsafah dan Mistisisme dalam Islam, Jakarta, Bulan Bintang, 1983. Ibn Rusyd, Tahafut al-Tahafut, Kairo, Dar al-Ma'arif, 1964. Ibn Rusyd, Fals al-Maqal, London, J.E. Brill, 1969. Ibn Sina, Al-Najah, Kairo, M.B. al-Halabi, 1938. O. Leary, De Lacy, How Greek Science Passed to The Arabs, London, Routledge & Kegan Paul, 1964. Sharif M.M., ed., A History of Muslim Philosophy, Weisbaden, 1963. -------------------------------------------Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah Editor: Budhy Munawar-Rachman Penerbit Yayasan Paramadina Jln. Metro Pondok Indah Pondok Indah Plaza I Kav. UA 20-21 Jakarta Selatan Telp. (021) 7501969, 7501983, 7507173 Fax. (021) 7507174 Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan

ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota
Please direct any suggestion to Media Team

Artikel Yayasan Paramadina
Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota III.12. KEKUATAN DAN KELEMAHAN PAHAM ASY'ARI (1/3) SEBAGAI DOKTRIN AKIDAH oleh Zainun Kamal Paham teologi Asy'ari termasuk paham teologi tradisional, yang mengambil posisi antara ekstrim rasionalis yang menggunakan metafor dan golongan ekstrim tekstualis yang leterlek. Ia mengambil posisi di antara aliran Mu'tazilah dan Salafiyah, tetapi "benang merah" sebagai jalan tengah yang diambilnya tidak begitu jelas. Suatu kali ia memihak Mu'tazilah, lain kali cenderung ke Salafiyah, dan lain kali lagi, mengambil kedua pendapat dari kedua aliran yang bertentangan itu lalu mengkompromikannya menjadi satu. [1] Untuk meninjau pemikiran-pemikiran al-Asy'ari lebih baik memaparkan lebih dulu sejarah hidupnya meski secara ringkas. Dengan pemaparan ini akan terlihat gambaran latar belakang pemikirannya. Sebab suatu pemikiran merupakan hasil refleksi zaman dan kondisi dari suatu masyarakat. Dan al-Asy'ari juga tidak lepas dari konteks zaman dan maksyarakatnya sendiri. Sebenarnya, nama asli Imam Asy'ari adalah Ali Ibn Ismail [2] -keluarga Abu Musa al-Asy'ari. [3] Panggilan akrabnya Abu al-Hasan [4]. Dia dilahirkan di Bashrah pada 260 H./875 M [5] -saat wafatnya filsuf Arab muslim al-Kindi. [6] Ia wafat di Baghdad pada tahun 324 H./935 M. Abu al-Hasan al-Asy'ari pada mulanya belajar membaca, menulis dan menghafal al-Qur'an dalam asuhan orang tuanya, yang kebetulan meninggal dunia ketika ia masih kecil. Selanjutnya dia belajar kepada ulama Hadits, Fiqh, Tafsir dan bahasa antara lain kepada al-Saji, Abu Khalifah al-Jumhi, Sahal Ibn Nuh, Muhammad Ibn Ya'kub, Abdur Rahman Ibn Khalf dan lain-lain. [7] Demikian juga ia belajar Fiqih Syafi'i kepada seorang faqih: Abu Ishak al-Maruzi (w. 340 H./951 M.) -seorang tokoh Mu'tazilah di Bashrah. Sampai umur empat puluh tahun ia selalu bersama ustaz al-Juba'i, serta ikut berpartisipasi dalam mempertahankan ajaran-ajaran Mu'tazilah. [9] Pada tahun 300 H./915 M dalam usia 40 tahun, Abu al-Hasan al-Asy'ari meninggalkan ajaran-ajaran Mu'tazilah. Untuk hal ini terdapat beberapa pendapat mengenai sebab-sebab meninggalkan atau keluar dari Mu'tazilah. Sebab klasik yang biasa disebut perpisahan dia dengan gurunya karena terjadinya dialog antara keduanya tentang salah satu ajaran pokok Mu'tazilah, yaitu masalah "keadilan Tuhan." Mu'tazilah berpendapat, "semua perbuatan Tuhan tidak kosong dari manfaat dan kemashlahatan. Tuhan tidak menghendaki sesuatu, kecuali bermanfaat bagi manusia, bahkan Dia mesti menghendaki yang baik dan terbaik untuk kemashlahatan manusia. Paham ini di sebut al-Shalah wa 'l-Ashlah. [10]

Dialog tersebut berlangsung sebagai berikut: Al-Asy'ari (A) - Bagaimana pendapat tuan tentang nasib tiga orang bersaudara setelah wafat; yang tua mati dalam bertaqwa; yang kedua mati kafir; dan yang ketiga mati dalam keadaan masih kecil. Aldubba'i (J) - yang taqwa mendapat terbaik; yang kafir masuk neraka; dan yang kecil selamat dari bahaya neraka. A - Kalau yang kecil ingin mendapatkan tempat yang lebih baik di Sorga, mungkinkah? J - Tidak, karena tempat itu hanya dapat dicapai dengan jalan ibadat dan kepatuhan kepada Tuhan. Adapun anak kecil belum mempunyai ibadat dan kepatuhan kepada-Nya. A- Kalau anak kecil itu mengatakan kepada Tuhan: itu bukan salahku. Sekiranya Engkau bolehkan aku terus hidup, aku akan mengerjakan perbuatan baik seperti yang dilakukan oleh yang taqwa itu. J - Allah akan menjawab kepada anak kecil itu, Aku tahu, jika engkau terus hidup, engkau akan berbuat maksiat dan engkau akan mendapat siksa; maka Saya (Allah - Red) matikan engkau adalah untuk kemaslahatanmu. A - Sekiranya saudaranya yang kafir mengatakan, "Ya Tuhanku Engkau ketahui masa depanku sebagaimana Engkau ketahui masa depannya, mengapa Engkau tidak jaga kepentinganku? Al-Jubba'i menjawab, "Engkau gila, (dalam riwayat lain dikatakan, bahwa Al-Jubba'i hanya terdiam dan tidak menjawab). [11] Dalam percakapan di atas, al-Jubba'i, jagoan Mu'tazilah itu, tampaknya dengan mudah saja dapat ditumbangkan oleh al-Asy'ari. Tetapi dialog ini kelihatannya hanyalah sebuah ilustrasi yang dibuat para pengikut al-Asy'ari sendiri untuk memperlihatkan perbedaan logikanya dengan logika orang-orang Mu'tazilah. Bagi Mu'tazilah, si anak kecil tentu tidak akan mengajukan protes kepada Allah, karena dia sendiri tahu, bahwa sesuai dengan keadilan Tuhan, tempat yang cocok untuknya memang di sana. Kalau Tuhan menempatkan anak kecil sederajat dengan tempat orang yang taqwa, tentu dia sendiri akan merasakan bahwa Tuhan sudah tidak adil lagi terhadap dirinya. Sebab, tempatnya memang bukanlah seharusnya sederajat dengan orang-orang yang taqwa. Di alam akhirat, menurut Mu'tazilah, tidak ada lagi perdebatan tentang keadilan Tuhan. Di sana, manusia sudah mendapati al-Wa'ad wa al-Wa'id. Dia sudah menepati janji. Yang taqwa mendapat sorga, yang kafir mendapat neraka, dan jika di sana terdapat yang meninggal dunia dalam keadaan masih kecil, baik anak-anak orang mukmin atau kafir, maka bagi mereka tidak ada alasan untuk disiksa, karena Tuhan Maha Suci dari penganiayaan. [12] Bagi yang kafir lebih tidak punya alasan lagi. Sebab, Tuhan

lebih memperhatikan kemaslahatannya di dunia. Tuhan tidak menghendaki kekafirannya. Berarti, jika ia kafir sama artinya dengan kehendak diri sendiri. Sementara, dia sendiri sudah tahu akibat kekafirannya, karena ia diberi akal dan petunjuk. [13] Jadi, kalau yang kafir harus menyalahkan Tuhan atas kehendak dan perbuatannya sendiri, maka ia dianggap oleh Memorandum suatu pemikiran yang tidak rasional. Sebab lain yang biasa disebutkan adalah meninggalkan ajaran-ajaran Mu'tazilah karena pernah bermimpi melihat Rasulullah saw sebanyak tiga kali. Mimpi itu terjadi pada bulan Ramadhan. Mimpi pertama terjadi pada tanggal 10; mimpi kedua pada tanggal duapuluh, dan mimpi ketiga pada tanggal tigapuluh. [14] Dalam mimpi yang terjadi pada bulan Ramadlan itu Rasulullah menyampaikan bahwa madzhab ahli haditslah yang benar, karena itulah madzhabnya yang berasal dari saya. [15] Diriwayatkan bahwa al-Asy'ari sebelum mengambil keputusan untuk keluar dari Mu'tazilah, ia mengisolir diri di rumahnya selama limabelas hari. Sesudah itu ia pergi ke mesjid lalu naik mimbar dan menyampaikan: "Saya dulu mengatakan, bahwa al-Qur'an adalah makhluk; Allah swt. tidak dapat dilihat dengan pandangan mata orang mukmin di akhirat dan perbuatan jahat adalah perbuatan saya sendiri. Sekarang saya taubat dari semuanya itu. Saya lemparkan keyakinan-keyakinan lama saya, sebagaimana saya lemparkan baju ini (isyarat pada jubahnya). Dan saya keluar dari kekejian dan skandal Mu'tazilah." [16] Terlepas dari soal sesuai atau tidaknya uraian di atas dengan fakta sejarah; maka dari sisi lain dapat pula kita ungkapkan sebab yang mendorong al-Asy'ari meninggalkan faham Mu'tazilah. Sebab itu ialah rasa skeptis dan ketidakpercayaannya lagi terhadap kemampuan akal, sebagaimana yang pernah pula dialami oleh al-Ghazali di kemudian hari. Pada kedua tokoh ini terdapat suatu indikasi kesamaan yang sangat mirip. Al-Asy'ari, sebagai contoh pendiri aliran, setelah belajar pada Mu'tazilah, kemudian merasa tidak puas, lantas menyerangnya. Demikian juga halnya dengan al-Ghazali, sebagai benteng pertahanan yang kokoh terhadap aliran al-Asy'ari, setelah ia belajar filsafat, kemudian merasa tidak puas, lalu menyerang pula. Al-Asy'ari memakai ungkapan-ungkapan yang pedas sekali dalam menyerang Mu'tazilah, dengan tuduhan sebagai golongan sesat, penyeleweng, dan majusinya umat. Begitu pula al-Ghazali menyerang para filsuf, dengan tuduhan sebagai golongan bid'ah dan kufur. Al-Asy'ari melakukan sanggahan terhadap Mu'tazilah setelah ia mengetahui benar akan aliran Mu'tazilah itu. Setelah itu ia menulis sebuah buku yang bernama Maqalat al-Islamiyyin yang berisikan kepercayaan aliran-aliran. Dan untuk bantahannya ia menulis lagi sebuah buku yang bernama al-Ibanah. Demikian juga halnya dengan al-Ghazali, setelah mengkaji filsafat secara mendalam, kemudian ia tulis pemikiran-pemikiran filsuf itu dalam sebuah buku yang bernama Maqasid al-Falsafah. Setelah itu, baru ia melakukan bantahan-bantahan terhadap para filsuf dengan mengarang sebuah buku yang bernama Tahafut

al-Falasifah (kesalahan para filsuf). Sebagaimana diketahui, pemegang janji rasional pada masa al-Asy'ari adalah para tokoh Mu'tazilah, karena itu sanggahannya tertuju langsung pada Mu'tazilah. Sementara para filsuf yang dinilai sebagai pewaris pemikiran rasional Mu'tazilah, maka al-Ghazali sebagai pembela ikhlas terhadap aliran al-Asy'ari harus dengan tegas pula melakukan sanggahan terhadap filsuf. Pemikiran al-Asy'ari yang asli baru dapat diketahui setelah ia menyatakan pemisahan dirinya dari Mu'tazilah dan pengakuannya menganut paham aqidah salafiyah aliran Ahmad bin Hambal. [17] Yaitu keimanan yang tidak didasari penyelaman persoalan gaib yang mendalam. Di sisi lain, ia hanya percaya pada akidah dengan dalil yang ditunjuk oleh nash, dan dipahami secara tekstual sebagaimana yang tertulis dalam Kitab suci dan sunnah Rasul. Fungsi akal hanyalah sebagai saksi pembenar dan penjelas dalil-dalil al-Qur'an. [18] Jadi akal terletak di belakang nash-nash agama yang tidak boleh berdiri sendiri. Ia bukanlah hakim yang akan mengadili. Spekulasi apapun terhadap segala sesuatu yang sakral dianggap suatu bid'ah. Setiap dogma harus dipercayai tanpa mengajukan pertanyaan bagaimana dan mengapa. Sekarang permasalahannya ialah, sampai seberapa jauh al-Asy'ari meninggalkan ajaran-ajaran Mu'tazilah dan keikhlasannya terhadap ajaran Salafiyah. Untuk mengetahui ajaran-ajaran al-Asy'ari, kita dapat melihat pada kitab-kitab yang ditulisnya, terutama: 1.Maqalat al-Islamiyyin, merupakan karangan yang pertama dalam soal-soal kepercayaan Islam. Buku ini menjadi sumber yang penting, karena ketelitian dan kejujuran pengarangnya. Buku ini terdiri -dari tiga bagian: a.Tinjauan tentang golongan-golongan dalam Islam b.Aqidah aliran Ashhab al-Hadits dan Ahl al-Sunnah, dan c.Beberapa persoalan ilmu Kalam. 2.Al-Ibanah 'an Ushul al-Diyanah, berisikan uraian tentang kepercayaan Ahl al-Sunnah dan pernyataan penghargaannya terhadap persoalan-persoalan yang banyak dan penting. Dalam buku ini ia menyerang dengan pedas aliran Mu'tazilah. 3.Kitab al-Luma' fi al-Radd 'ala ahl al-Zaigh wa al-bida', berisikan sorotan terhadap lawan-lawannya dalam beberapa persoalan ilmu Kalam. Para ahli mempertanyakan tentang perbedaan kandungan yang terdapat pada kedua kitabnya al-Ibanah dan al-Luma'. Yang pertama, peranan naql lebih tinggi ketimbang akal. Dalam arti, Salafiahnya lebih dominan dibandingkan Mu'tazilah. Sedangkan buku kedua (al-Luma'), peranan akal lebih tinggi dalam memahami nash-nash. Di sini terlihat adanya anjuran kembali untuk memahami nash-nash agama dengan metode ilmu kalam. [19] Perbedaan ini bisa terjadi, karena al-Asy'ari pada kitabnya al-Ibanah ditulisnya langsung setelah pernyataannya keluar dari Mu'tazilah. Jadi, secara psikologis, bukunya dalam rangka menonjolkan sikap loyalnya terhadap kaum Salafi,

sebagai rekan barunya. Dan sikap kebenciannya terhadap Mu'tazilah karena penilaiannya sebagai musuh yang sedang dihadapinya, meski dulu teman akrabnya. Sebenarnya, ini dapat dipahami. Sebab, seseorang yang selama ini dijadikan teman baik, oleh karena suatu hal berubah menjadi musuh, maka ia akan memperlihatkan sikap bencinya terhadap musuh itu. Dan sebaliknya akan memperlihatkan sikap loyalnya terhadap teman baru. Karena itu, kitab al-Ibanah mencerminkan tingkat kesunyian secara penuh. Sebaliknya, menampakkan sikap bencinya terhadap Mu'tazilah lebih nyata. Karena itu, kitab al-Ibanah menurut para ahli ditulis langsung setelah al-Asy'ari meninggalkan faham Mu'tazilah. (bersambung 2/3) -------------------------------------------Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah Editor: Budhy Munawar-Rachman Penerbit Yayasan Paramadina Jln. Metro Pondok Indah Pondok Indah Plaza I Kav. UA 20-21 Jakarta Selatan Telp. (021) 7501969, 7501983, 7507173 Fax. (021) 7507174 Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota
Please direct any suggestion to Media Team

Artikel Yayasan Paramadina
Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang YayasanISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota III.12. KEKUATAN DAN KELEMAHAN PAHAM ASY'ARI (2/3) SEBAGAI DOKTRIN AKIDAH oleh Zainun Kamal Lain halnya dengan kitabnya al-Luma', yang ditulis setelah kitab al-Ibanah. Ia sudah mesti mengambil sikap yang jelas. Maka di sini terlihat kembali kajian keagamaan al-Asy'ari dengan dalil-dalil rasional dan membangun ilmu kalamnya sendiri. Dengan demikian, ketika menulis kitab al-Luma', argumentasi rasional al-Asy'ari menonjol kembali dalam memahami nash-nash agama dan terlihat interpretasi metaforisnya (ta'wil). Kecenderungannya pada metode kaum Mu'tazilah inilah yang menyebabkan kaum Hambali menolak paham teologi al-Asy'ari. Hal itu memperlihatkan gambaran yang agak mirip dengan sikap al-Ghazali yang mencoba menyerang para filsuf, tetapi kenyataannya ia tetap mempergunakan metode falsafah dalam kajian keislaman, khususnya logika Aristoteles. Inilah yang dikatakan oleh Ibn Taimiyyah bahwa al-Ghazali telah masuk ke dalam kandang falsafah, kemudian berusaha keluar, dan berputar-putar mencari pintunya, tetapi sudah tidak berdaya lagi untuk keluar. Sebagai penentang Mu'tazilah, sudah barang tentu al-Asy'ari berpendapat, bahwa Tuhan mempunyai sifat. Mustahil Tuhan sendiri merupakan pengetahuan ('Ilm). Yang benar, Tuhan itu

mengetahui (Alim). Tuhan mengetahui dengan pengetahuanNya, bukanlah dengan Zat-Nya. Demikian pula bukan dengan sifat-sifat seperti, sifat hidup, berkuasa, mendengar dan melihat. [20] Disini terlihat, al-Asy'ari menetapkan sifat kepada Tuhan seperti halnya kaum Salafi. Namun cara penafsirannya cukup berbeda. Kaum Salafi hanya menetapkan sifat kepada Allah, sebagaimana teks ayat, tanpa melakukan pembahasan mendalam. Mereka hanya menerima arti dengan jalan kepercayaan, bahwa sifat-sifat Allah berbeda dengan sifat makhluk-Nya. Begitu hati-hatinya mereka dalam menjaga persamaan Allah dengan makhluk-Nya, sehingga mereka mengatakan, "Siapa yang tergerak tangannya, lalu ketika membaca ayat yang berbunyi "Aku (Allah) ciptakan dengan tangan-Ku," lalu ia langsung mengatakan, wajib dipotong tangannya." [21] Lain halnya dengan al-Asy'ari, baginya arti sifat tidak berbeda dengan pengertian sifat bagi Muitazilah. al-Asy'ari, sifat berada pada Zat, tetapi sifat bukan dan bukan pula lain dari Zat. Ungkapan al-Asy'ari seperti ini, kata Dr. Ibrahim Madkour, tidak terlepas paradoks. [22] jauh Bagi Zat, yang dari

Bagi Mu'tazilah, sifat sama dengan Zat. Sifat tidak mempunyai pengertian yang sebenarnya. Jika dikatakan, yang mengetahui ('Alim), maka artinya menetapkan pengetahuan ('Ilm) bagi Allah, dan yang mengetahui itu adalah Zat-Nya sendiri. Dalam hal ini, menetapkan sifat hanya sekedar untuk memahami bahwa Allah bukanlah jahil. Seperti juga mengatakan yang berkuasa (qadir) adalah menetapkan kekuasaan (qudrah) bagi Allah. Kekuasaan itu adalah Zat-Nya sendiri. Artinya, menafsirkan kelemahan Allah. [23] Masih berbicara tentang tauhid, pemikiran al-Asy'ari yang lain ialah, bahwa Tuhan dapat dilihat di akhirat. Untuk itu, al-Asy'ari membawakan argumen rasio dan nash. Yang tidak dapat dilihat, kata al-Asy'ari, hanyalah yang tak punya wujud. Setiap wujud mesti dapat dilihat, Tuhan berwujud, dan oleh karena itu dapat dilihat. [24] Argumen al-Qur'an yang dimajukannya antara lain, "Wajah-wajah yang ketika itu berseri-seri memandang kepada Allah" (QS. al-Qiyamah: 22-23). Menurut al-Asy'ari kata nazirah dalam ayat itu tak bisa berarti memikirkan seperti pendapat Mu'tazilah, karena akhirat bukanlah tempat berfikir; juga tak bisa berarti menunggu, karena wajah atau muka tidak dapat menunggu, yang menunggu adalah manusia. Lagi pula, di sorga tidak ada penungguan, karena menunggu mengandung arti dan membuat kejengkelan dan kebosanan. Oleh karena itu, nazirah mesti berarti melihat dengan mata kepala. [25] Sungguhpun al-Asy'ari berpendapat, bahwa orang-orang mukmin nanti dapat melihat Tuhan di Akhirat dengan mata kepala, namun pemahamannya bukanlah bersifat harfiyah. Tetapi menghendaki suatu penafsiran lagi yaitu, bahwa melihat Tuhan itu tidak mesti mempunyai tempat dan terarah pada tujuan, tetapi hanya merupakan suatu penglihatan pengetahuan dan kesadaran, dengan mempergunakan mata, yang belum terfikirkan bagi kita sekarang, bagaimana bentuk mata itu nantinya. [26]

bahkan yang terbaik untuk kemaslahatan manusia. termasuk orang-orang kafir. dan juga tidak dapat dikatakan Tuhan bersifat dzalim. dan bukan di akhirat. Karena undang-undang dan hukum itu adalah bikinannya sendiri. atau memasukkan orang kafir ke dalam sorga. karena pembahasan tentang tauhid hanyalah merupakan filsafat ketuhanan semata. kalau Tuhan memasukkan seluruh umat manusia ke dalam sorga. maka perbuatan Tuhan tidak pernah bertentangan dengan hukum. Dari asumsi itu. [28] Al-Asy'ari meninjau keadilan Tuhan dari sudut kekuasaan dan kehendak mutlak Tuhan. Dan juga diartikan tidak dapat melihat Tuhan di akhirat bagi orang kafir. Dan juga menolak faham al-Shalah wa al-Ashlah Mu'tazilah. Tetapi seperti kaum Salafi. [31] Oleh karena itu. meyakini bahwa Allah adalah Maha Adil. bebas memperbuat apa yang kehendaki-Nya. Al-Asy'ari. Tuhan sebagai pemilik yang berkuasa mutlak. Sang raja yang absolut diktator itu. [27] Apa yang telah kita ungkapkan di atas. dia tidak perlu patuh dan tunduk kepada undang-undang dan hukum. kata al-Asy'ari. [30] Karena perbuatan salah dan tidak adil menurut pendapatnya adalah perbuatan yang melanggar hukum. Allah. bahwa sang raja itu diatas dari undang-undang dan hukum. maka al-Asy'ari memerlukan pula untuk menafsirkan atau menta'wilkan ayat yang berikut ini: Artinya: "Penglihatan tak dapat menangkap-Nya tetapi ia dapat mengangkat penglihatannya. dalam arti. jika Ia memasukkan seluruh manusia ke dalam neraka. Tuhan wajib mewujudkan yang baik.Namun demikian. Paham keadilan al-Asy'ari ini mirip dengan paham sebagian umat yang merestui seorang raja yang absolut diktator. Tuhan masih tetap bersifat adil. dan karena di atas Tuhan tidak ada undang-undang atau hukum. memiliki hal penuh untuk membunuh atau menghidupkan rakyatnya. artinya. Kemudian digambarkan. kata al-Asy'ari. untuk dapat menerima. adalah merupakan sebagian dari pemikiran al-Asy'ari tentang tauhid. Jika Tuhan menyakiti anak-anak kecil di hari kiamat. [29] Tidak dapat dikatakan salah." yaitu seseorang mempunyai kekuasaan mutlak atas harta yang dimilikinya serta mempergunakannya sesuai dengan pengetahuan pemilik." (al-An'am: 103) Ayat tersebut di atas diartikan oleh al-Asy'ari. [32] Upah yang diberikan Tuhan hanyalah merupakan rahmat dan hukuman tetap merupakan keadilan Tuhan. bahwa Tuhan dapat dilihat nanti di akhirat. menjatuhkan hukuman bagi orang mukmim. Sengaja dirangkaikan keadilan dengan tauhid. bahwa yang dimaksud tidak dapat melihat Tuhan adalah di dunia ini. Sekarang kita berpindah kepada pemikirannya tentang keadilan. dapat berbuat apa saja yang dikehendaki-Nya terhadap makhluk-Nya. sedangkan keadilan adalah merupakan filsafat hubungan khaliq dengan makhluknya. Keadilan diartikannya "menempatkan sesuatu pada tempat yang sebenarnya. seperti Mu'tazilah. ia menolak bahwa kita mewajibkan sesuatu kepada Allah. kemudian al-Asy'ari menganalogikan bahwa . maka Tuhan tidaklah berbuat salah dan dzalim.

[36] Melihat kepada pengertian. Persis seperti seorang raja yang absolut diktator. [37] Dan tidak ada pembuat (agent) bagi kasb kecuali Allah. selalu digambarkan sebagai seorang yang lemah. [35] Kasb. kecuali Allah menghendaki" (QS. Al-Kasb dapat diartikan sebagai suatu perbuatan yang timbul dari manusia dengan perantaraan daya yang diciptakan oleh Allah. [34] Karena manusia dipandang lemah. bagi al-Asy'ari. Untuk menggambarkan hubungan perbuatan dengan kemauan dan kekuasaan mutlak Tuhan al-Asyari memakai istilah al-kasb (acquisition. Namun dalam penjelasannya tertangkap bahwa kasb itu pada hakekatnya adalah ciptaan Tuhan. ia pasti ada. al-Asy'ari memberi penjelasan yang sulit ditangkap. Al-Asy'ari menegaskan bahwa Tuhan menghendaki segala apa yang mungkin dikehendaki. Karena manusia. Ayat ini diartikan oleh al-Asy'ari bahwa manusia tak bisa menghendaki sesuatu. Bahwa perbuatan manusia sebenarnya adalah perbuatan Tuhan. yang mewujudkan kasb atau perbuatan manusia. "sesuatu yang timbul dari yang berbuat" mengandung atas perbuatannya. perolehan). kalau ia menganiaya seluruh rakyatnya. [38] Dengan perkataan lain. Argumen yang dimajukan oleh al-Asy'ari tentang diciptakannya kasb oleh Tuhan adalah ayat: "Allah menciptakan kamu dan perbuatan-perbuatan kamu. Dia memperbuat sekehendak-Nya terhadap milik-Nya. Tetapi keterangan bahwa "kasb itu adalah ciptaan Tuhan" menghilangkan arti keaktifan itu." al-Shaffat 37:96) (QS. dalam teori kasb manusia tidak mempunyai pengaruh efektif dalam perbuatannya. kata al-Asy'ari. menurut al-Asy'ari. perbuatan-perbuatan manusia adalah diciptakan Tuhan. [39] Firman Tuhan: "Kamu tidak menghendaki al-Insan 76:30). kecuali jika Allah menghendaki manusia . Jadi. maka paham al-Asy'ari dalam hal ini lebih dekat kepada faham Jabariyah (fatalisme) dari faham Qadariyah (Free Will). adalah sesuatu yang timbul dari yang berbuat (al-muhtasib) dengan perantaraan daya yang diciptakan. Di satu pihak ia ingin melukiskan peran manusia dalam perbuatannya. Manusia dalam kelemahannya banyak tergantung kepada kehendak dan kekuasaan Tuhan. sebenarnya adalah Tuhan sendiri. maka tidak seorangpun yang akan sanggup mempersalahkan dan menuntut-Nya. Tentang faham kasb ini. Jadi dalam paham al-Asy'ari. Maka tidak seorangpun yang dapat mewajibkan sesuatu kepada Allah mengenai kemaslahatan umat manusia. maupun di akhirat. baik di dunia atau di akhirat.Allah adalah memiliki kemerdekaan mutlak. dan jika Tuhan tidak menghendakinya niscaya ia tiada. dapat dilihat dari pendapat al-Asy'ari tentang kehendak dan daya yang menyebabkan perbuatan menjadi wujud. tidak mempunyai daya dan kekuatan apa-apa disaat berhadapan dengan kekuasaan absolut mutlak. Jika Tuhan menghendaki sesuatu. sehingga akhirnya manusia bersifat pasif dalam perbuatan-perbuatannya. Tidak satupun didalam ini terwujud lepas dari kekuasaan dan kehendak Tuhan. baik di dunia ini. maka tak seorangpun yang sanggup menentangnya. [33] Kalau Allah menganiaya seluruh umat manusia.

dan perbuatan itu sendiri adalah perbuatan Tuhan dan bukan perbuatan manusia. 7501983. (021) 7507174 Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang YayasanISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota Please direct any suggestion to Media Team Artikel Yayasan Paramadina Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota III. dan kehendak yang ada dalam diri manusia. yang seorang mampu mengangkatnya sendirian. [43] (bersambung 3/3) -------------------------------------------Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah Editor: Budhy Munawar-Rachman Penerbit Yayasan Paramadina Jln. Kalau kedua orang tersebut sama-sama mengangkat batu besar itu. Dalam teori kasb. untuk terwujudnya suatu perbuatan dalam perbuatan manusia. 7507173 Fax. maka terangkatnya batu itu adalah oleh yang kuat tadi. KEKUATAN DAN KELEMAHAN PAHAM ASY'ARI (3/3) SEBAGAI DOKTRIN AKIDAH oleh Zainun Kamal Buat sementara dapat kita simpulkan bahwa dalam paham al-Asy'ari. Alasannya karena menurut al-Asy'ari kemauan dan daya untuk berbuat adalah kemauan dan daya Tuhan. 728 H) menilai. Karena manusia dalam teori kasb al-Asy'ari tidak mempunyai pengaruh efektif dalam perbuatannya. [46] . maka banyak para ahli menilai bahwa kasb adalah sebagai jabariyah moderat. (021) 7501969. yaitu perbuatan Tuhan dan perbuatah manusia. [44] Harun Nasution juga berpendapat demikian. namun tidak berarti bahwa orang yang tidak sanggup itu tidak turut mengangkat.supaya menghendaki sesuatu itu. untuk terwujudnya perbuatan perlu ada dua daya. Metro Pondok Indah Pondok Indah Plaza I Kav. Al-Baghdadi mencoba menjelaskan kepada kita sebagai berikut. Tetapi daya yang berpengaruh dan efektif pada akhirnya dalam perwujudan perbuatan ialah daya Tuhan. tetapi manusia dalam pada itu tidak kehilangan sifat sebagai pembuat. Perbuatan Tuhan adalah hakiki dan perbuatan manusia adalah majazi (sebagai lambang). Perbuatan pada hakekatnya terjadi dengan perantaraannya daya Tuhan. Demikian pulalah perbuatan manusia. sedangkan yang seorang lagi tidak mampu. sebagai jabariyah murni. Tuhan dan manusia dalam suatu perbuatan adalah seperti dua orang yang mengangkat batu b esar . UA 20-21 Jakarta Selatan Telp. terdapat dua perbuatan. bahkan Ibn Hazm (w. daya Tuhan dan daya manusia. sebenarnya tidak lain dari kehendak Tuhan.12. 456 H) dan Ibn Taimiyyah (w. sedangkan daya manusia tidaklah efektif kalau tidak disokong oleh daya Tuhan. [40] Ini mengandung arti bahwa kehendak manusia adalah satu dengan kehendak Tuhan.

bahwa aliran al-Asy'ari telah berhasil menarik rakyat banyak di bawah naungannya berkat campur tangan khalifah al-Mutawakkil. sehingga mayoritas umat Islam menganutnya sampai detik ini. aliran itu mengalami kemajuan besar sekali. Ia telah menghilangkan kesadaran pemikiran rasionalisme di dunia Islam. yang jumlahnya selalu mayoritas di dunia Sunni. yang mengingkari sama sekali adanya kemampuan pada manusia untuk berbuat.Ibn Taimiyyah menilai al-Asy'ari telah gagal dengan konsep kasb-nya yang hendak menengahi antara Qaddariyyah dengan Jabbariyah. yaitu ia dengan mudah dapat diterima oleh umumnya umat Islam yang bersifat sederhana dalam pemikiran. Kasb-nya al-Asy'ari itu telah membawa para pengikutnya berfaham Jabariyah murni. bahkan menjadi aliran dari Dinasti yang berkuasa. Akhirnya. Teologi ini timbul merupakan refleksi dari status sosial dan kultural masyarakat pada masanya. maka disinilah letak kekuatan teologi itu. Oleh karena itu. Mereka adalah orang-orang yang tidak setuju dengan ajaran-ajaran Mu'tazilah. Karena teologi al-Asy'ari didirikan atas kerangka landasan yang menganggap bahwa akal manusia mempunyai daya yang lemah. paham al-Asy'ari ini juga telah membawa dampak dan pengaruh negatif. Kemudian setelah wafatnya al-Asy'ari pada tahun 935M. al-Baqillani. Ajarannya dikembangkan oleh para pengikutnya. ketika yang terakhir ini membatalkan aliran Mu'tazilah sebagai paham resmi pada waktu itu. Sebab. apalagi berhadapan dengan kekuasaan mutlak Allah. menurut Ibn Taimiyyah. yaitu keadaan masyarakat Islam pada abad ke-9 M. Dengan demikian. sebagai konsekuensi logis dari paham manusia lemah dan patuh kepada penguasa. Sungguhpun demikian. yang tidak mempunyai daya dan kekuatan apa-apa disaat berhadapan dengan kekuasaan yang absolut. . al-Asy'ari menegaskan bahwa kasb manusia itu tidak mempunyai efek nyata dalam mewujudkan perbuatan manusia itu. antara lain. [46] PENGARUH KALAM AL-ASY'ARI Seperti telah disebutkan di atas. bahwa dalam faham teologi al-Asy'ari manusia selalu digambarkan sebagai seorang yang lemah. seperti yang sudah kita uraikan di atas. ia sering mendapat dukungan. Kunci keberhasilan teologi al-Asy'ari ialah karena sejak awal berdirinya ia telah berpihak kepada awwamnya . sang raja tidak perlu patuh dan tunduk kepada undang-undang dan hukum. Memang. Hilangnya pemikiran rasionalisme tersebut telah menyebabkan kemunduran umat Islam selama berabad-abad. Salah satu faktor penting bagi tersebarnya teologi al-Asy'ariyah di dunia Islam adalah sifat akomodatifnya terhadap Dinasti yang berkuasa. al-Juwaini dan al-Ghazali. Sejarah menunjukkan.umat Islam. [47] dimana raja-raja selalu berkuasa dengan diktator dan mempunyai hak penuh untuk menghukum siapa saja yang diinginkannya. Sebab undang-undang dan hukum itu adalah bikinannya sendiri. Ibn Taimiyyah menilai konsep kasb yang ditetapkan al-Asy'ari itu tidak masuk akal.

akibatnya. dan salah seorang hakim yang mewakili Ali Ibn Abi Thalib waktu terjadinya arbitrase antara Ali dan Muawiyah. Fauqiyah. menurut al-Asy'ari.. Al-lbanah 'an Ushul al-Dinyanah. mempunyai daya yang lemah. [49] Paham bahwa semua peristiwa yang terjadi. Sayeed Ameer Ali mengatakan bahwa kemerosotan bangsa-bangsa Islam sekarang ini salah satu sebabnya karena formalisme al-Asy'ari. Al-Ibanah. Selain itu. Fi al-Falsafah al-Islamiyyah II. Mesir. Lihat juga Abu al-Hasan al-Asy'ari. Paham fatalisme yang berkembang dalam masyarakat. 1973 h. karena terikat tidak saja pada dogma-dogma. 1977. 46 2. h. termasuk perbuatan manusia. Untuk menutup tulisan ini. Peristiwa terowongan Mina adalah salah satu bukti nyata dari faham Fatalisme. Dr. Dengan dalih peristiwa itu terjadi atas kehendak Tuhan semata. CATATAN 1. h. maqalat al-Islamiyyin wa Ikhtilaf al-Mushallin. Mesir. tetapi juga pada ayat-ayat yang mengandung arti dzanni. h. adalah atas kehendak Tuhan menghilangkan makna pertanggungjawaban manusia atas segala perbuatannya. Dan ia selalu mempersalahkan takdir atas kemiskinan. 10 . h.Fauqiyah.Ali Ibn Ismail Ibn Abi Basyar Ishak Ibn Salim Ibn Ismail Ibn Abdullah Ibn Musa Ibn Bilal Ibn Abi Burdah Ibn Musa al-Asy'ari (Lihat Abu al-Hasan al-Asy'ari. Mahyudin Abdul Hamid. Tetapi teologi ini akan menjadi lemah disaat berhadapan perkembangan ilmu pengetahuan dan penemuan teknologi baru. lihat Hamudah Guramah. kebodohan dan kematian massal yang terjadi. menjadikan manusia-manusia yang enggan merubah nasibnya sendiri dan merubah struktur masyarakat.Ibrahim Madkour. lebih tegas lagi. Mesir. serta jauh dari pengetahuan. Fauqiyah Husein Mahmud. ia dapat merupakan salah satu dari faktor-faktor yang memperlambat kemajuan dan pembangunan. menjadikan manusia-manusia yang tidak mau bertanggungjawab atas kesalahan-kesalahannya. M. tetapi mereka artikan secara letterlek. menjadikan penganutnya kurang mempunyai ruang gerak. dan lebih dari itu. 60 4. Ed. yaitu ayat-ayat yang sebenarnya boleh mengandung arti lain dari arti letterlek. 3 3. 9 (Selanjutnya disebut. jodoh dan maut adalah di tangan Tuhan.Abu Musa al-Asy'ari adalah salah seorang sahabat Rasul-Allah saw. Dengan demikian para penganutnya teologi ini sukar dapat mengikuti dan mentolerir perubahan dan perkembangan yang terjadi dalam masyarakat modern. seperti rezeki. 1969. al-lbanah). suatu kesimpulan dapat diambil bahwa faham teologi al-Asy'ari mempunyai basis yang kuat pada suatu masyarakat yang bersifat sederhana dalam cara hidup dan berpikir. Mesir. Abu al-Hasan al-Asy'ari.Karena akal manusia. tahun 1976. sehingga tidak ada yang mau bertanggungjawab atasnya. Bahkan. ed.

hal. 1980. h.Hasan Mahmud al-Asy'ari. Wakil. Bairut./885 M. Falsafah. Fi al-Falsafah.Ibid. Anawati.A. 1976. h.Subhi.. h 93 10. Falsafat al-Fikrial-Dini Bain al-Islam wa al-Masihiyah I (terj.Fauqiyah.Louis Gardet & J. 310 6. 36 9. h. h. Kairo. 102 11. h. 38 20. h.. Al-Ibanah. Iskandiyah. dalam al-Lubab I. Fi Ilm al-Kalam II. 1974. 1985. Fi al-Fasafah II. Abd. Al-Mihal I. h. 159. Iskandiyah. dan lihat juga Subhi.1397 H. (lihat M.Al-Asy'ari. h. Al-Ibanah.) Bairut. h. Al-Ibanah.Faiqiyah. 51 24. Al-Ibanah'an Ushul al-Dinayah. Ed. h. Iskandiyah. 52 270 H. Al-Asy'ari.65 12. al-Asy'ari./881 M. 100 . Dan Hamudah. 13. 41 17. Subhi Fi Ilm al-Kalam II. dalam al-Khutbath III..5. Al-Ibanah. 164-165 14. 94. Iskandariyah. Sedangkan usianya waktu itu sudah umum diketahui empat puluh tahun. 1982. h. Kairo.Fauqiyah. h. h. h. Ibid.Lihat Rayyan. Fi Ilm al-Kalam II. Kairo. 116. Madkour. 104 22. dapat dilihat pada.Abu al-Hasan al-Asy'ari. Lihat juga. 1965. Fi Ilm al-Kalam II.A. h. h. 35 19. dalam. Dar el Ulum. Dirasat Fi al-Falsafah al-Islamiyyah. 29 8. 13 Penulis lebih cenderung menetapkan sejarah lahirnya pada ketika memisahkan diri dari Mu'tazilah adalah pada tahun 300 H. 50 23. 60 7. h. Mesir. h. Dirasat Arabiyah wa Islamiyah I. Al-Makrizi.Madkour. Mahmud Kasim.Hamuddh.Ibid. Aziz M. Kitab al-Luma' Fi al-Rad'ala ahl al-Zaigh wa al-Bida'. Iskandiyah. al-Milal wa al-Nihal I. 34 16. h. Mesir. Tarikh al-Fikri al-Falsafi Fi al-lslam.Abu al-Hasan al-Asy'ari. 31 15.8 18.Bahwa manusia harus bertanggung jawab atas kehendak dan perbuatannya sendiri menurut pendapat Mu'tazilah.Terdapat beberapa variasi pendapat dalam menetapkan tahun lahirnya: 270 H. Mahmud Subhi. Fi Ilm al-Kalam II. 1968. 1982 h. Ibn Atsir. 303 (dikutip dari Fanqiyah. h. Ali Abu Rayyan. h. 1973 h. 30 21. Al-Syahrastani. Tarikh. Al-Mu'tazilah. h. Mahmud Subhi.Zuhdi Jar Allah.M. 73.Al-Syahrastani. 17. H. 312 Gardet & Anawati. hal.

h. 1981. Al-Milal I. Tarikh al-Madzahib al-Islamiyah. h. (021) 7501969. h. UI-Press. Jakarta. Teologi Islam. 205 45. 57 41. h. al-Luma'. tt. 71 32. h. 112 46. h.Abd al-Rahman Badawi.25. h. 35. h. Kitab Ushul al Din. Kairo. Dirasat. 76 37.Ibid.Ibid 31. 102. 51 40. (021) 7507174 . lihat juga Mahmud Kasim. Madzahib al-Islamiyin. 133-134 44.Al-Asy'ari. h. 100. 41 42. 7507173 Fax. tt.Abu Zahrah.. 168 34..Abd al-Qahir al-Baghdadi. h.. 16 28. 562 43. 113 29.Ibn Taimiyyah.Al-Asy'ari. UA 20-21 Jakarta Selatan Telp. 34 48.Al-Asy'ari. The Spirit Of Islam. 7501983. 167 33.Ibid.Ibid. h. 101 30..Mahmud Kasim.Ibid. h.Al-Sahrastani. h. Bairut.Ibid. Al-Ibanah. Al-Luma'. 16-17 47.Al-Asy'ari. h. Lihat juga Madkour..Muhammad Abu Zahrah. h. Al-Milal I. 13 26. Metro Pondok Indah Pondok Indah Plaza I Kav. Minhaj al-Sunnah II.Al-Asy'ari.205 36. 72 39. h.Mahmud Kasim. Ibid. 472 473. h. Dirasat. -------------------------------------------Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah Editor: Budhy Munawar-Rachman Penerbit Yayasan Paramadina Jln. Tarikh al-Madzahib.. 1971. h.Al-Asy'ari. Al-Luma'. h.Ibid. Bairut. 70 38.Harun Nasution. Delhi. 27.Al-Syahrastani. 1983 h. Al-Ibanah.Sayeed Ameer Alim. h. h.

Sedang yang kedua adalah realitas yang ada dalam dunia kenyataan yang . Pertama. bobot dan relevansi suatu amal pemikiran pertama-tama tidak ditentukan penilaian benar tidaknya dari sudut doktrin. Tak ada suatu amal yang muncul begitu saja lepas dari kaitan sebab akibat yang melingkupinya. Semakin tepat definisi realitas yang ditangkap. Ketiga. Sementara itu." yaitu mengapa dan dalam konteks sosial yang bagaimana suatu amal telah dilakukan. maka bisa dikemukakan beberapa acuan sebagai berikut. Maka bobot dan relevansinya juga tergantung pada sejauh mana definisi atas realitas itu memiliki ketepatan. kritik amal atas dasar niat yang bersifat kedalam sama sekali bukan urusan kita. Yang pertama adalah realitas yang terdapat dalam dunia ide yang dipikirkan. melainkan lebih pada kenyataan sejauh mana ia mengena pada realitas yang diresponsnya. Dalam hubungan ini innama 'l-a'malu bi 'l-niyyat akan berarti. Niat. dikritik atau dievaluasi. seperti diketahui. bobot dan relevansi suatu amal (dalam hal ini amal pemikiran) pada dasarnya adalah relatif dan bisa berubah. TELAAH KRITIS ATAS TEOLOGI MU'TAZILAH (1/2) oleh Masdar F.Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota Please direct any suggestion to Media Team Artikel Yayasan Paramadina Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota III. dan kedua yang bersifat keluar dan sosial. maka sesungguhnya Nabi Muhammad saw sedang berteori bagaimana suatu amal. Kedua. tapi di sana." Syahdan. karena setiap amal adalah respons terhadap realitas yang didefinisikannya. harus dikritik atau. Dengan menerima dasar penilaian atau kritik yang demikian ini. realitas yang menjadi pijakan amal pemikiran. menurut agama. Tujuan amal yang bersifat "kedalam" landasannya adalah "iman. sebagai makhluk sosial. di dunia ini. Dan hanya dalam kaitan sebab akibat itulah suatu amal bisa dinilai. semakin tinggi pula bobot dan relevansi pemikiran yang diresponinya. amal itu diikat dan ditentukan oleh konteksnya. justru lantaran konteks yang melahirkannya adalah juga bersifat relatif dan berubah. Dan amal berdimensi ganda. Mas'udi Dengan mengatakan innama 'l-a'malu bi 'l-niyyat (amal ditentukan niyatnya). adalah kritik atau evaluasi amal dari sudut niat (tujuan)nya yang bersifat "keluar. yaitu realitas teoritik dan realitas empirik. adalah kesadaran tentang tujuan suatu amal dilakukan. Itu adalah urusan Tuhan dan pribadi yang bersangkutan. Yang ada pada wewenang kita. bukan di sini. oleh realitas kehidupan yang mendorong kehadirannya. dapat kita kelompokkan dalam dua katagori." sedang tujuan yang bersifat "ke luar" landasannya adalah "realitas kehidupan. dan waktunya. dievaluasi. dalam bahasa manajemennya. pertama yang bersifat ke dalam dan personal.11. di alam akhirat nanti.

Pemikiran kategori pertama.dirasakan. karena titik tolak keprihatinannya pada realitas abstrak dan umumnya terbatas hanya pada concern kalangan tertentu. sedang yang kedua akan bercorak populis. Bagaimana hukumnya orang Islam yang melakukan dosa besar (seperti membunuh sesama Muslim tanpa hak). dari keprihatinan atas pertanyaan-pertanyaan inilah . ada dua jenis balasan sejati di akhirat nanti. sedang sebagian amal pemikiran yang lain. Tapi yang saya maksudkan adalah. bergerak ke realitas empiris). yaitu bagaimana ajaran agama bisa dipahami umat secara benar. Seperti selalu diulang-ulang para sejarawan. Syahdan. juga akan cenderung pada hal-hal yang konkrit yang bisa mengena pada kepentingan orang banyak. Dengan kedua perkembangan itulah muncul pertanyaan-pertanyaan teologis. (Suatu pemikiran yang jelas berangkat dari keprihatinan teoritik). bahwa pada paroh kedua abad pertama Hijriah. dengan sendirinya. Pertama. bahwa pemikiran-pemikiran keagamaan (fiqh atau teologi) sebagai amal yang ditawarkan para pemikir Muslim sejak abad pertengahan adalah lahir dari suatu pola keprihatinan yang serupa. pemikiran yang lahir dari keprihatinan pada realitas riil yang dirasakan orang banyak. telah terjadi dua perkembangan yang sangat signifikan dalam sejarah umat Islam. dimana satu kelompok bukan saja telah mengutuk kelompok yang lain." Perkembangan kedua adalah masuknya bangsa Parsi dan sekitarnya kedalam Islam berikut pemikiran dan keyakinan-keyakinan lamanya yang sudah terbentuk kuat dalam benak masing-masing. Demikianlah. kenyataan bahwa di kalangan umat terjadi konflik internal yang boleh jadi tidak pernah diinginkan oleh mereka sendiri. titik tolaknya adalah keprihatinan terhadap realitas empiris (baru kemudian realitas yang bersifat teoritis). "cobaan besar. maka dampak sosialnya pun cenderung abstrak dan terbatas pada kalangan tertentu saja. pemikiran katagori pertama. jika dirasa perlu. atau kekuatan-kekuatan itu. Pertanyaan ini muncul -besar kemungkinan karena menurut doktrin Kristiani yang ketika itu juga sudah dibawa masuk dalam lingkungan umat Islam. dan dalam kontrol siapakah ia."penyelamatan Tuhan" itu tak ada sangkut pautnya dengan amal perbuatan manusia. yaitu balasan sorga dan balasan neraka. tapi semata-mata atas dasar "rahmat" yang disediakan melalui pintu tunggalnya: Yesus. akan cenderung bercorak elitis. Memang. apakah faktor itu adalah "amal perbuatannya" ataukah "rahmat Tuhan" semata yang diberikan kepada siapa saja yang dikehendaki-Nya. tapi telah saling membunuh. dikenal dengan sebutan fitnah kubra. Perkembangan yang tragis ini yang terjadi dua kali. sebagian amal pemikiran benar-benar lahir dengan titik tolak keprihatinan pada realitas teoritis (baru kemudian. Menurut ajaran Islam. faktor apakah yang memastikan orang memperoleh penyelamatan Tuhan dengan masuk sorga. Siapakah yang sesungguhnya bertanggungjawab atas tindakan manusia: dirinyakah. keduanya tak harus selalu terpisah. Berkaitan dengan tanggungjawab perbuatan manusia tadi. PEMIKIRAN TEOLOGI MU'TAZILAH Fakta sejarah. yang satu terhadap yang lain bisa saling pengaruh mempengaruhi. Sebaliknya.

Yang menarik adalah bahwa masing-masing aliran ini. karena ajaran-ajaran Islam itu pun harus diolah terlebih dahulu melalui subyektifitas masing-masing pemikir. sangat menekankan perlunya seseorang dapat memperjelas (diperjelas) kedudukannya apakah termasuk orang dalam (in group. . Pertama. dengan melakukan dosa besar. dengan nada menyesal Hasan berkomentar: Ia telah keluar dari kita. Asy'ariyah. maka pertanyaan tentang "kebebasan manusia. mengaku sebagai satu-satunya yang benar. Jawaban kedua mengatakan bahwa Muslim yang melakukan dosa besar masih tetap tergolong Muslim. Muslim no yang baru pada taraf pembentukan diri. manusia secara moral dapat dituntut pertanggungjawaban di kemudian hari. I'tazala'anna!. Masing-masing jawaban tumbuh sebagai aliran pemikiran yang berdiri sendiri." Baginya. Khasywiyah dan sebagainya. yang lainnya adalah salah. Mu'tazilah. seorang Muslim telah terpental dari kelompok (komunitas) alias menjadi "kafir" dan karena itu -sesuai dengan hukum riddah. dengan para muridnya diseputar tema Muslim yes. prinsip kebebasan juga hanya akan berarti kalau ada "janji dan ancaman" yang setimpal di hari kemudian. Maka terhadap pertanyaan yang terlontar dalam diskusi Hasan tadi.para pemikir Islam ketika itu merasa ditantang merumuskan jawabannya yang benar sesuai dengan ajaran-ajaran Islam yang shahih. Maturidiya. Qadariyah. hanya dengan prinsip kebebasan inilah. karena merasa berpedoman pada pegangan mutlak yang ada di tangan. yang berkembang saat itu adalah jawaban-jawaban berikut. Itulah sebabnya ketika Washil melontarkan pendapatnya yang melawan arus tadi. orang akan selalu merujuk pada episoda diskusi Hasan al-Bashri (w. Jawaban ini diajukan kelompok yang terkenal dengan sebutan Khawarij. Tersebutlah.halal ditumpahkan darahnya. Tapi kalau pertanyaan tentang "status pendosa besar" ini banyak diselimuti latar belakang politis. Kata i'tazala (hengkang) yang jadi sebutan Mu'tazilah (yang hengkang dari arus umum) itu pun kemudian ditempelkan kepada Washil bin Atha dan segenap pengikutnya. Dan sebaliknya. Jabariyah. seorang ulama terkemuka pada zamannya. 110 H/ 728 M). Dan sebenarnya pada kisaran inilah Mu'tazilah benar-benar tumbuh sebagai aliran teologi yang tersendiri diantara aliran-aliran teologi yang lain. Mu'tazilah secara tegas mengatakan bahwa "manusia sepenuhnya memiliki kebebasannya sendiri bertindak. di kemudian hari nama-nama: Khawarij. Hasan Basri selaku pemimpin dan tokoh yang merasa harus menjaga keutuhan umat berada dalam arus kecenderungan umum ini. Berbicara tentang awal mula sejarah Muitazilah. dan bagaimana dengan dosa yang dilakukannya itu terserah Tuhan di hari akhirat nanti. Jawaban inilah yang agaknya dicondongi mayoritas umat Islam yang disebut sebagai kelompok Murji'ah (artinya: menangguhkan). minhum). yaitu bahwa identitas seseorang apakah ada "di dalam" (minna) atau "di luar" (minhum) harus benar-benar jelas. Saya kira. Berbeda dengan aliran teologi lainnya. Karuan saja. maka jawaban pun hadir dalam corak dan pendekatan yang demikian berbeda-beda. Prinsip "janji dan ancaman" (al-wa'du wa 'l wa'id) yang akan dilaksanakan di hari kemudian tak bisa dipahami tanpa adanya prinsip "kebebasan" tadi." terasa lebih bersifat murni teologis. minna) atau termasuk orang luar (out group. Murjiah.

tesis tentang Qur'an tersebut erat kaitannya dengan tesisnya yang lain tentang "Keesaan Tuhan" yang dibangunnya dengan pendekatan murni filosofis. bahkan juga sebelumnya. UA 20-21 Jakarta Selatan Telp. Dia tak bisa tidak kecuali harus bertindak yang terbaik bagi manusia. Mas'udi Mu'tazilah yakin bahwa pembalasan di akhirat semata-mata ditentukan oleh "amal perbuatan manusia" yang diambilnya sendiri secara bebas merdeka. diluar diri manusia sendiri.(bersambung 2/2) -------------------------------------------Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah Editor: Budhy Munawar-Rachman Penerbit Yayasan Paramadina Jln. Secara harfiyah prinsip yang tersebut terakhir ini bukan barang baru bagi umat Islam pada jamannya. berupa akal yang lebih dipahami sebagai rasio atau nalar. yang cenderung mengunggulkan otoritas "akal" (nalar) atas "naqal. pastilah manusia yang memiliki kemampuan yang memungkinkan dirinya menentukan mana yang baik dan mana yang buruk. al-Qur'an (wahyu) tidak memiliki otoritas yang dapat mendikte manusia. 7507173 Fax.11. Dan sebagai yang Maha adil. maka sebenarnya Mu'tazilah sudah berketetapan hati bahwa sebagai sesama makhluk. Seperti diketahui. manusia yang bebas dan bertanggungjawab itu. manusia tumbuh sebagai makhluk yang mandiri dan tidak lagi tergantung pada pihak lain dalam menentukan jalan hidupnya. Dengan nalarnya. Kemampuan itu menurut keyakinan Mu'tazilah sudah diberikan Tuhan. Baik atau buruk (al-hasan wa 'l-qabh) bukanlah sesuatu yang harus didiktekan siapa pun juga. Tapi. 7501983. Metro Pondok Indah Pondok Indah Plaza I Kav. Sementara itu. Apakah dengan begitu. (021) 7501969." suatu pendirian yang oleh mayoritas Muslim dipandang sangat membahayakan keutuhan doktrin. (021) 7507174 Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota Please direct any suggestion to Media Team Artikel Yayasan Paramadina Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota III. dengan tesisnya bahwa al-Qur'an itu makhluk. TELAAH KRITIS ATAS TEOLOGI MU'TAZILAH (2/2) oleh Masdar F. Sebagai yang Maha adil Tuhan harus membalas keburukan atas setiap tindakan buruk dan harus membalas kebaikan atas semua tindakan yang baik. Mu'tazilah tak lagi perlu? Tak ada penegasan eksplisit tentang itu. Tapi "keesaan Tuhan" dalam teori Mu'tazilah ini menjadi baru karena yang ia maksudkan rupanya adalah pembebasan (tanzih) . Pada poin inilah Mu'tazilah dimasyhurkan sebagai aliran pemikiran yang rasionalistik.

. Sifat-sifat atau atribut yang dikenakan kepada Tuhan bukanlah sesuatu yang sebangun dengan hakikat-Nya. Kenapa harus terjadi si anak tidak diberi usia yang cukup agar ia bisa berbuat kebaikan seperti temannya yang dewasa? Kejar Asy'ari. Asy'ari pun juga menggunakan akal (logika) untuk mendukung argumentasinya. jika hakikat Tuhan itu qadim. murtad dan sejenisnya hanya lantaran pendapat yang berbeda. tapi juga pada semua aliran teologi yang tumbuh pada masa-masa itu karena klaim yang sama. sedang Asy'ari. al-Asy'ari bertanya kepada guru besarnya. sedang lawan-lawannya mengaku menemukan kebenaran mutlak itu melalui huruf-huruf naqal. kejar Asy'ari lebih lanjut. 330 H/942 M). ia akan tumbuh menjadi manusia durhaka. maka kritik kita yang kedua adalah pada klaimnya sebagai telah menemukan kebenaran tunggal yang harus diterima semua pihak. tentang nasib seorang anak dan seorang dewasa yang sama-sama masuk sorga karena imannya. kenapa mereka tidak dimatikan saja ketika masih muda. yang adalah teolog Mu'tazilah terkemuka pada zamannya. TIGA KRITIK Adalah al-Asy'ari (w. maka Qur'an sebagai ekspresi salah satu sifat-Nya (al-kalam) yang hadits dengan demikian juga berkapasitas hadits. termasuk sifat-sifat yang dikenakan kepadaNya. Sementara Tuhan harus berbuat yang terbaik untuk manusia. menurut catatan sejarah yang pertama kali menyatakan kekecewaannya terhadap konsep teologi Mu'tazilah yang rasionalistik itu. maka segala sesuatu selainnya. jika si anak dibiarkan hidup. Konon. kilah Jubbaiy. orang yang mati dewasa itu menempati kedudukan lebih tinggi dibanding kedudukan si anak. maka diciptakan (makhluq). juga dengan logika akalnya. syirk. adalah hadits. Tapi.Tuhan dari seluruh "sifat" bahkan yang secara eksplisit tersebut dalam ajaran-ajaran wahyu (Qur'an). Tuhan tahu. al-Jubba'iy. Karena yang dewasa telah sempat beramal kebaikan. justru ingin membebaskan-Nya tetap berada di atas batas-batas manusia tadi. jawab Jubbaiy. bagaimana jika orang-orang yang dijebloskan dalam neraka protes. sedang si anak belum. Yang tersebut terakhir ini dengan sangat militan diwakili oleh golongan Khasywiyah yang mengaku menjadi pengikut Imam Ahmad bin Hambal (w. Keduanya memiliki perbedaan yang substansial. Yakni. Bedanya adalah bahwa Jubbaiy (Mu'tazilah) dengan logika akalnya bersikeras untuk mendefinisikan Tuhan menurut batas-batas manusia. sesuai dengan keadilan Tuhan dalam persepsi Mu'tazilah. bahwa Mu'tazilah mengaku telah menemukan kebenaran tunggal dan mutlak itu melalui logika akal. salah satu ciri yang menonjol dari sejarah pemikiran keagamaan saat itu adalah kesembronoannya yang benar-benar diyakini dalam menuduh orang atau pihak lain sebagai kafir. Kalau kritik al-Asy'ari itu adalah juga kritik kita kepada Mu'tazilah. Hanya bedanya. Mengapa harus begitu? Tanya Asy'ari. hingga tak sempat tumbuh jadi manusia durhaka? Yang menarik dari diskusi ini bukan saja al-Jubbaiy kehabisan akal menjawabnya. pada suatu ketika. 241 H/855 M). Sesungguhnyalah kritik ini tidak saja mengena pada Mu'tazilah. Kalau begitu. Dengan menarik postulat ini lebih jauh. tapi seperti halnya Jubbaiy. Itulah sebabnya.

sedang yang tersebut terakhir concernnya pada kesesuaian antara realitas kehidupan dengan semangat doktrin yang dinamis. kelompok Mu'tazilah ini justru bergandengan-tangan dengan rejim yang berkuasa untuk melakukan tindak sewenang-wenang terhadap siapa saja yang tidak disukainya. maka sebutan yang sama pun bisa juga dikenakan pada teologi yang perlu kita kembangkan ini. dengan dalih itu. Tapi kalau dialektika teologi yang mengabdi doktrin itu berwatak retorik (dialektika yang terjadi dalam proses penghadapan antagonis antara satu doktrin dengan doktrin yang lain).Untuk kasus Mu'tazilah sikap intoleransi ini ditindak lanjuti dengan prinsip amar ma'ruf nahi munkarnya yang merisaukan banyak pihak yang menjadi lawan polemiknya. maka bagi saya. ia bisa disebut misalnya "teologi populis. Yang pertama berwatak formal dengan orientasi pada bentuk ." tapi keadilan yang menjadi tanggung jawab manusia dalam kehidupan di "sini. Mu'tazilah telah melancarkan intrik terhadap orang lain untuk menerima doktrin-doktrin teologinya dan menimpakan hukuman atas siapa saja yang mencoba menolaknya. karena pada dasarnya Mu'tazilah lahir dari keprihatinan pada realitas teoritis bahkan yang berdimensi metafisik. Dilihat dari sudut muaranya. Seperti telah disinggung di atas. adalah yang benar-benar berangkat dari lapisannya paling bawah. Dan dalam kaitannya dengan persoalan keadilan yang dirasakan umat. (Dari dasar keprihatinannya ini. maka dialektika teologi baru itu bersifat empiris (dialektika yang terjadi dari proses penghadapan kritis antara realitas kehidupan dengan pesan-pesan universal). terutama jika diingat praktek kesewenang-wenangan yang dilakukan kalangan penguasa. lantaran dasar keprihatinannya yang elitis tadi. kritik yang ketiga. salah satu prinsip ajaran yang dipropagandakan Mu'tazilah adalah tentang "keadilan" suatu isu yang sebenarnya sangat relevan pada saat itu. Seperti diketahui. Tapi. beda antara teologi dialektika retorik di satu pihak dengan dialektika empiris di lain pihak. Tragedi teologis ini dikenal dengan mihnah. sistem pemikiran teologis atau apa saja atributnya yang relevan untuk dibangun." Saya pikir. Sementara itu. karena dasar keprihatinannya yang serupa). maka rupanya keadilan yang dimaksudkan adalah keadilan lain (yang bersifat eskatologis) yang berkaitan dengan "peranan" Tuhan di hari kemudian. TAWARAN ALTERNATIF Mencoba konsisten dengan kerangka teori "niat" seperti tersebut di atas. kalau teologi abad pertengahan (seperti Mu'tazilah maupun lawan-lawannya) yang mengabdi kepada kepentingan doktrin disebut teologi dialektik. maka keadilan yang dimaksud bukanlah keadilan Tuhan yang harus ditegakkan di "sana. (Kritik ini pun mengena pada aliran teologi lainnya. maka isu-isu yang digelutinya pun hampir tak punya sentuhan yang bermakna bagi umat pada umumnya. adalah yang tersebut pertama muaranya adalah pada terbangunnya kesesuaian realitas pemahaman dengan bunyi doktrin yang statis. atau inquition yang dilakukannya dengan dukungan tangan-tangan kekuasaan dan birokrasi pemerintahan yang karena alasan politik tertentu dapat dipengaruhinya." atau "teologi kerakyatan"). Sehingga kalau realitas yang menggugah keprihatinannya adalah soal keadilan.

-------------------------------------------Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah Editor: Budhy Munawar-Rachman Penerbit Yayasan Paramadina Jln. mereka mengangkat Robert dari Genewa dengan gelar Clement VII. Sebagai balasan. Menurut laporan Will Durant (Durant). Paus St. Pernikahan dilarang bagi pastor Romawi. sedang secara horizontal berwatak demokratis. 7507173 Fax. SKISME DALAM ISLAM SEBUAH TELAAH ULANG (1/3) oleh Jalaluddin Rakhmat Ketika matahari Islam sedang naik di sebelah Timur. Peristiwa ini disebut sebagai skisma besar Gereja Timur. a synagogne of Satan. Leo mengekskomunikasikan Cerularius dan menggelari pengikut-pengikutnya sebagai "an assembly of heretics. "Kiai" Yunani memelihara janggut. di Barat Kristianitas terbelah dua pola: Gereja Romawi dan Gereja Yunani." (Durant.52. Dengan watak keterbukaannya. maka kemungkinan menemukan pilihan "yang terbaik" menjadi tersedia. kardinal-kardinal Perancis berkumpul di Anagui. Metro Pondok Indah Pondok Indah Plaza I Kav. mengeluarkan manifesto yang mengatakan pemilihan Paus Urbanus VI tidak sah. a conventicle of schismatics. Pertentangan keduanya dan pengikutnya sampai kepada tingkat saling mengkafirkan. Terakhir. tetapi diperbolehkan bagi pastor Yunani. teologi dialektika empiris ini akan menerima perbedaan pendapat sebagai realitas kehidupan yang wajar. teologi dialektika empiris ini secara vertikal berwatak populis.dan cenderung tertutup. Pastor Romawi ahli politik. (021) 7501969. Lebih dari tiga abad kemudian. Dengan demikian. . Kristen Romawi sembahyang sambil berlutut. Dua Paus bertahta." Kristen Yunani berdoa sambil berdiri. Pembaptisan di Yunani dilakukan dengan penyelaman. dua sisi yang selama ini seperti cenderung terpisah. Mereka berpisah seperti "a biological species divided in space and diversified in time. menyebarkan tulisan yang mengkritik keras Paus di Roma. 7501983. Justru dengan pendapat yang berbeda-beda itu. Michael Cerularius. UA 20-21 Jakarta Selatan Telp. 1950:544). Patriarch Konstantinopel. pastor Yunani ahli teologi. sedangkan rekannya dari Roma mencukurnya. Pada tahun 1043. teolog Yunani menolak tambahan filioque pada syahadat sex patre filioque procedit hasil perumusan Gereja Romawi. masing-masing menyebut yang lain sebagai Judas. Sebagai gantinya. (021) 7507174 Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota Please direct any suggestion to Media Team Dimensi sosial Artikel Yayasan Paramadina Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota VI. di Romawi dengan pemercikan. sedang yang kedua berwatak substansial yang berorientasi pada substansi dan bersifat terbuka.

R. atau seperti tubuh yang satu. "Ya Rasullah. Ada tiga kesamaan antara skisma Kristiani dengan perpecahan dalam Islam. ia menulis. kamu pun akan mengikutinya. Pertama. remained in a state of mortal sin. Kedua. 23:53." Tetapi. sehingga bila mereka memasuki gua serigala. mengapa kita tiba-tiba bicara tentang skisme dalam Islam. ada-ada saja!. yang semula bersifat politis.K. 1054... (Gr. Tidak jarang. Will Durant melukiskan skisme besar tahun 1054." Secara singkat. 21:92)? Bukanlah mereka seperti bangunan yang kokoh. Nabi Muhammad berkata. Al-Syahrastani dalam al-Milal wa al-Nihal menulis. 1950:544). "Tidak pernah darah di tumpahkan dan pedang dihunus dalam Islam kecuali karena pertikaian masalah imamah (kepemimpinan). and not the slight diversities of creed. de sheuring in de. de afscheiding van een deel van de Gr." Peristiwa ini pun disebut sebagai Skisma Besar." [1] Kata skisme tidak mengada-ada. ". Katholieke kerk van Rome.= shedding). setelah saya merenungkan pertanyaan-pertanyaan di atas? terlintas dalam ingatan saya sebuah hadits. baik skisme dalam Kristen maupun skisme dalam Islam lebih banyak dilandasi pertikaian kepentingan politik daripada karena pertikaian aqidah. "Kalian akan mengikuti tradisi umat sebelum kalian. Pernahkan Islam mempunyai Paus dua dan di antara keduanya ada tuduhan saling mengkafirkan? Bukankah umat Islam adalah "ummatan wahidatan" (QS. 1378-1407. yang saling menguatkan satu same lain. di dunia Katolik pernah muncul gerakan konsiliasi (cinciliar movement) yang dipelopori oleh kaum cendekiawan. and that the children so baptized. severed Christendom into East and West" (Durant. "Ah. Ketiga. sehingga begitu saja mendengarnya. toen er verschillende pausaen tegelijk waren. tradisi yang same telah diikuti umat Islam juga.these galling political events. Walaupun skisme berasal dari dunia kristen. dalam Islam pun kaum politisi memperbesar perbedaan doktrinal yang kecil untuk menyuburkan fanatisme --saling mengkafirkan dan saling membid'ahkan. Encyclopedisch Woordenbock voor Groot-Nederland (Ter laan. Seperti dalam dunia Kristiani. the dying so anointed. the penitents so shriven. William Occam menentang identifikasi Kristianitas dalam gereja . dalam Islam. doomed to hell or limbo if death should supervene. sesiku demi sesiku. kemudian diperluas ke dalam bidang liturgi dan doktrin: begitu pula. sehingga kalau satu anggota sakit. saya segera berkomentar. Sebuah kamus klasik. legitimasi ini diperoleh dengan memalsukan sumber-sumber ajaran agama atau memberikan penatsiran yang diselewengkan. Pertikaian dalam gereja Katolik. 1937:648) menjelaskan makna skisme: Schisma. Sahabat bertanya. "Siapa lagi. apakah mereka itu Yahudi dan Nashara." Nabi menjawab. pertikaian politik sering dicarikan legitimasinya dengan pengembangan teologi yang berlainan. Bila skisme adalah istilah Kristiani. kerk.1953:362) "Each side claimed the sacraments administered by priests of the opposite obedience are invalid. Skisma memang bukan istilah Islam. anggota-anggota lainnya ikut demam dan panas? Mula-mula saya menganggap istilah skisme dalam Islam sebagai mengada-ada.

menggalakkan upaya-upaya taqrib. Dalam Islam. dan lain-lain. yang baru saja dihapuskan tiga hari sebelumnya. imamah. Al-Mawardi dalam Al-Ahkam al-Sulthaniyah (450 H) dan Abu Ya'la dalam Al-Ahkam al-Sulthaniyah (458 H) semuanya menulis. atau penobatan Abdullah bin Zubair (681-692) sebagai Khalifah bersamaan dengan masa Khalifah Yazid. Ada beberapa kali terjadi skisme politik besar dalam sejarah Islam: pemberontakan 'Aisyah terhadap Khalifah Ali bin Abi Thalib. tetapi -anehnya menyebut kepemimpinan dengan istilah imamah). tujuan akhirnya adalah menumbuhkan sikap persatuan --sikap nonskismatik. Heinrich von Langenstein. Kasyif Githa (dari Syi'ah). abstraksi pandangan politik ahl al-Sunnah dapat disimpulkan hanya pada perbedaan konsep imamah dan khilafah yang dianut Syi'ah. walaupun membicarakan skisme. ingin mengikuti suara cendekiawan dan mengesampingkan suara politisi. ijma' dan bay'ah. Sementara itu. tokoh-tokoh cendekia seperti Syaikh Syaltut (dari ahl al-Sunnah). Ketiga konsep kunci untuk pandangan politik Syi'ah . dan bagian kedua skisme intelektual. [2] Al-Syahrustani membedakan di antara kedua madzhab ini dalam hal kepemimpinan politik. pemilihan Ahl al-Hal wa al-'Aqd. Wilayah dan 'ishmah merupakan karakteristik tak terpisahkan dari imamah. Di antara semua skisme tersebut. dalam Islam pun umat terbanyak lebih banyak mendengar suara politisi ketimbang cendekiawan. wilayat. dan Jamaluddin al-Afgani (tidak jelas dari Sunnah atau Syi'ah). Bagian pertama makalah ini akan membicarakan skisme politik. seperti dalam dunia Kristiani. pertentangan khalifah antara Mu'awiyah dan Ali bin Abi Thalib setelah perjanjian Shiffin.Islam tidak memisahkan aspek politik dan aspek intelektual. terus terang saja. Ahl al-Sunnah menetapkan pemimpin melalui kesepakatan (al-ittifaq) dan pemilihan (al-ikhtiyar). penunjukan imam sebelumnya" (Perlu dicatat di sini bahwa penulis-penulis di atas adalah ulama ahl al-Sunnah. Jadi. "Kepemimpinan ditetapkan dengan dua cara: pertama. Karena itu. di sini kita akan meneliti perbedaan konsep politik di antara kedua madzhab besar itu dan melacak penyebab-penyebabnya. untuk mudahnya saja. Ijma' dan bay'ah diterima juga dalam Syi'ah walaupun dalam arti yang terbatas. menulis buku Concilium Pacis (1381). atau penobatan Syarif al-Husain sebagai Khalifah tandingan khalifah Utsmaniyah. Syi'ah menetapkan pemimpin lewat keterangan agama (nash) dan penunjukan (ta'yin). Tulisan ini. ANTARA KHALIFAH DAN IMAMAH Hamid Enayat menyebutkan tiga konsep kunci untuk pandangan politik Ahl al-Sunnah .yakni Khalifah. teolog dari Universitas Paris.yakni. Pada bagian akhir. di sini kedua aspek itu dipisahkan. perlawanan Husayn bin Ali terhadap Yazid. makalah ini akan mengajukan rekomendasi apa yang seharusnya kita lakukan. sikap nonsektarian. Karena itu. Sayang.tertentu. Ahl al-Sunnah berpegang pada ketentuan syura sebagai landasan .Syi'ah (yaitu tiga skisme yang pertama). dan kedua. dan 'ishmah. skisme yang tetap berpengaruh sampai sekarang adalah skisme-skisme yang melahirkan polarisasi Sunnah . Walaupun --karena sifat ajarannya-.

Al-Ahkam al-Sulthaniyah 6-7. during the first days of his activity. syura. siapa yang memilih. Mereka beryakinan bahwa Rasulullah SA. seperti ketika 'Abbas mendatangi Ali untuk membai'atnya. "Sejak pertama kali ia mengajak orang pada Islam. Abu 'Ubaidah bin al-Jarah. Begitu pula Umar mempercayakan Dewan Formatur yang terdiri dari enam orang untuk memilih satu di antaranya sebagai khalifah.: 39) menulis: From the Shi'ite point of view it appears as unlikely that the leader of a movement. and refuse to make any distinctions. Empat imam mazhab Ahl al-Sunnah sepakat bahwa pemimpin sah dengan salah satu di antara empat cara (al-Yahfufi.. Menurut fuqaha Kufah. syura dan ittifaq cukup dilakukan oleh seorang saja (sic!).W. menunjuk pengganti-pengganti sesudahnya untuk memimpin umat Islam. Nor does it appear likely that such a leader should accept someone as his deputy and successor and introduce him to others as such. Pengangkatan Abu Bakar dipilih oleh Umar bin Khathab. pemimpin bahkan dapat disahkan tidak lewat ittifaq tetapi lewat al-ghalabah (kemenangan perang). 1406: 234-256). al-Syura 38 dan Ali Imran 164 sebagai dalil.t. Bukankah aqad nikah sah dengan dua saksi dan satu wali? Kata kelompok yang lain. "Ia telah memikirkan dan merencanakan pelanjutnya . Ini pendapat fuqaha Bashrah. dan berapa jumlah orang yang sepakat. syura cukup tiga orang dan satu di antara mereka disepakati oleh dua orang yang lain. dan Salim Mawla Abi Hudzaifah. should introduce to strangers one of his associates as his successor and deputy. but not introduce him to his completely loyal and devout aides and friends. Umat boleh memiliki (ikhtiyar) pemimpin yang disepakatinya (ittifaq) Dalam kenyataan. menurut Ahl al-Sunnah. Mawardi dalam bukunya. Ahl al-Sunnah tidak mempunyai konsepsi yang jelas tentang ketentuan-ketentuan syura. Basyir bin Sa'ad." Sayyid Muhammad Husayn Tabatabai (t.. Jadi karena pemimpin adalah hasil syura. disregard the respect due to his position as successor. pemimpin tidak perlu ditunjuk oleh nash. boleh dilakukan dalam jumlah terbatas dan ittifaq paling sedikit dilakukan lima orang. but then throughout his life and religious call deprive his deputy of his duties as deputy. -------------------------------------------Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah Editor: Budhy Munawar-Rachman (bersambung 2/3) . Akhirnya. 1406:147. untuk menegakkan masyarakat Islam.kepemimpinan dan menunjuk QS. Usaid bin Hudhair." kata Al-Askari (1406:202). dikutip lagi dari Al-Askari. Menurut Al-Mawardi. yaitu: (1) sistem syura yang terbatas (seperti pemilihan Abu Bakar) (2) sistem istikhlaf (penunjukan pengganti seperti yang dilakukan Abu Bakar terhadap 'Umar (3) sistem syura dari dewan formatur yang ditunjuk khalifah sebelumnya (seperti pengangkatan Utsman bin Affan) (4) sistem al-ghalabah bi al-saif (penaklukan dengan kekuatan militer seperti yang dilakukan Mu'awiyah) Syi'ah berpendapat bahwa imamah hanya sah bila ditegaskan dalam nash.

" Kontroversi selanjutnya adalah tindakan untuk menjawab pertanyaan manakah yang lebih utama. UA 20-21 Jakarta Selatan Telp. Sudah jelas sekali hadits-hadits yang menunjukkan pengertian yang saya sebut. "Keluar memerangi mereka haram berdasarkan ijma' kaum muslimin. Bagaimana kalian menetapkan keputusan?. Syi'ah melarang dan Ahl al-Sunnah mengharuskan petaatan pada penguasa yang zalim." Sebelum itu ia menulis (Syarh Muslim 12: 229). Ahl al-Sunnah ijma' bahwa sulthan tidak boleh dimakzulkan karena kefasikan. Al-Qur'an menentang hal itu dengan berkata. SKISME DALAM ISLAM SEBUAH TELAAH ULANG (2/3) oleh Jalaluddin Rakhmat Walhasil. Al-Jumhur (yakni. penguasa muslim yang dzalim atau penguasa kafir yang adil. Wajib bagi rakyat menasihati dan memperingatkannya. . Syi'ah Jawad Mughnuyah (1406: 26) berpendapat." Karena Syi'ah menetapkan al-fadhil dan Ahl al-Sunnah membolehkan al-mafdhul sebagai imam. Ia tidak boleh diturunkan dan tidak boleh orang keluar menentangnya. dan Syi'ah mengikuti yang kedua. (021) 7507174 Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota Please direct any suggestion to Media Team Artikel Yayasan Paramadina Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota VI. "Ketika Syi'ah menegaskan bahwa khilafah adalah hak ilahi bagi Ali dan keturunannya. dan kedzaliman. walaupun mereka fasik dan zalim. terjadilah kontroversi berikutnya. (021) 7501969. bahkan terpelihara dari dosa. Ahl al-Sunnah) membolehkan mendahulukan al-mafdhul di atas al-fadhil. Al-Hilli (dalam Al-Hasan. Al-Nawawi berkata dalam Syarh Muslim-nya.Penerbit Yayasan Paramadina Jln. 7501983. Ahl al-Sunnah memilih yang pertama. Metro Pondok Indah Pondok Indah Plaza I Kav. dan mutakallimun bahwa imam tidak boleh di dimakzulkan karena kefasikan. "Berkata jumhur ahl al-Sunnah dari kalangan fuqaha. 1396: 27) menulis: Imam mesti yang paling utama dari rakyatnya. Akan menganggap tidak baik mendahulukan al-mafdhul dan menghinakan al-fadhil. bahkan harus diberi petunjuk. 7507173 Fax. Mazhab Imamiyah sepakat tentang hal itu. [3] Karena imam itu ditunjuk oleh nash. menurut Syi'ah. atau pelanggaran hak.52. maka tentu imam adalah orang yang terbaik. "Apakah orang yang memberi petunjuk kepada yang benar lebih berhak diikuti ataukah orang yang tidak dapat memberi petunjuk. Dengan begitu mereka menyalahi akal dan nash al-Kitab. Ini melahirkan kontroversi al-fadhil dan al-mafdhul. mahaddtsin. ada nash-nash yang jelas dari Rasulullah saw. yang menunjukkan Ali sebagai penggantinya dan sebelas orang imam dari keturunannya.

Karena itu. Kita hanya akan mengulas dua teori saja: teori sosioantropologis Bangsa Arab dan teori pendekatan doktrinal. Perilaku yang menjadi tradisi suatu kabilah. Di antara . perbedaan kualifikasi pemimpin (al-fadhil atau al-mafdhul). Sementara itu. lahirlah skisme politik besar Islam yang berlangsung sampai kini. (2) Bangsa Arab yang membentuk umat Islam permulaan terdiri dari dua subkultur-subkultur Arab Selatan dan subkultur Arab Tengah-Utara. orang mengikuti Imam Malik. Mereka mengutamakan non-muslim jika ia adil daripada seorang penguasa Muslim yang dzalim. dan pada bidang politis. karakteristik perilaku juga herediter. dan secara terperinci dijelaskan kembali oleh Jafri (1967). Pada bidang religius. yang sama? Ada beberapa teori yang menjawab pertanyaan ini. saya menguraikan teori ini secara lengkap. ahl al-Sunnah memisahkan kedua kepemimpinan itu. kafir yang adil lebih baik dari Muslim yang dzalim. padahal kedua mazhab ini lahir dari Islam yang sama dan pengikut Nabi saw. kehormatan seseorang dalam bahasa Arab disebut hasab (dari akar kata hasiba yang berarti menghitung). misalnya. Orang Arab percaya bahwa selain karateristik fisikal. Setiap anggota marga bangsa dalam menghitung-hitung prestasi nenek moyangnya.adalah hubungan antara kepemimpinan relegius dengan kepemimpinan politis. Orang Syi'ah sering mendefinisikan diri mereka sebagai madzhab ahl al-bayt. Ibn Thawus yang masyhur menegaskan. Teori ini dikemukakan oleh Nicholson (1969). Secara politis. Bagi orang Syi'ah. ahl al-Sunnah berpegang pada kaidah yang diberikan Ibn Umar pada waktu ada pertikaian antara Ali dan para penentangnya. Tidak mungkin dalam makalah ini. mereka mengikuti khalifah al-Manshur. Goldziher (1967). Wellhausen (1927). Menarik untuk dicatat bahwa khalq (karakteristik fisik) dan khuluq (perilaku) ditulis sama dalam bahasa Arab. Nahnu ma'aman ghalab" (Kami bersama orang yang berkuasa). pada kata imamah (yang secara khusus berarti kepemimpinan ruhaniah) juga terkandung makna wilayah (secara khusus berarti kepemimpinan politis).mereka telah bersikap ekstrem dalam toleransinya terhadap penguasa yang adil. sejak berakhirnya Khulafa al-Rasyidun. perbedaan preferensi penguasa (kafir yang adil atau muslim yang dzalim). Dari perbedaan pengangkatan pemimpin (ikhtiyar atau ta'yin). dan perbedaan dalam memandang hubungan kekuasann politis dengan kekuasaan religius (digabungkan atau dipisahkan). dan menjadi kebanggaan anggota kabilah. Dengan demikian. kesetiaan pada suku dan ketergantungan kehormatan pada sukunya menjadi sangat penting. teori ini berpijak pada dua asumsi: (1) Bangsa Arab adalah bangsa yang terorganisasi atas dasar kesukuan. Asumsi pertama menunjukkan bahwa status sosial seseorang sangat ditentukan oleh status marganya. lazim disebut Sunnah. Kontroversi lain --yang justru sangat esensial-. Secara singkat. ahl al-bayt --di samping memegang hak kepemimpinan politis-juga menjadi rujukan dalam masalah-masalah keagamaan. Mengapa terjadi perbedaan itu. TEORI SOSIO-ANTROPOLOGIS BANGSA ARAB.

Bagi bangsa Arab. Dari kedua subkultur inilah. Bila inskripsi pada monumen di Arab Utara memuja keberanian dan kepahlawanan. pada Arab Selatan. Inilah. Kepemimpinan ahl al-bayt menggabungkan dimensi temporal dan sakral sekaligus. Bani Abd al-Syams perlahan-lahan muncul sebagai kekuatan politik dan bani Hasyim mulai melemah. berkembang skisme Sunnah-Syi'ah. Ketika Nabi hijrah ke Madinah. pengurusan rumah suci (bayt) dan kehormatan (hasab) tidak dapat dipisahkan. argumentasi yang dikemukakan Umar bin Khathab kepada 'Abbas ketika bertengkar masalah kepemimpinan 'Ali. muncullah Muhammad bin Abdullah bin Abd al-Muthalib. karena itu. Ali pernah memindahkan ibu kota pemerintahan Islam dari Madinah --yang sudah dikuasai Bani Ummayah-. Bani Hasyim menang dan menyisihkan lawannya dari Bani Abd al-Syams. Karena itu. Karena itu Bani Hasyim dikenal bangsa Arab sebagai Ahl al-Bayt. khususnya Arab Selatan. menemoi suku Aws dan Khazraj yang berasal dari Arab Selatan. penguasa-penguasa yang bukan ahl al-bayt tidak menafikan kehormatan itu. Pada suku-suku Arab Utara.ke Kufah. pemimpin dipilih berdasarkan kesucian keturunan (hereditary sanctity). of power" dari Bani Hasyim. sejak zaman jahiliyah orang Arab tidak mengenal pemisahan antara kepemimpinan temporal dan kepemimpinan sakral. [4] TEORI PENDEKATAN DOKTRINAL Sayyid Baqr Shadr (1982:73-96) mengemukakan apa sebut sebagai teori pendekatan doktrinal. pemimpin umumnya dipilih berdasarkan usia atau senioritas. sejak Mu'awiyah merebut kekuasaan berupaya untuk menekan konsepsi kepemimpinan ahl al-bayt. kepemimpinan Arab dipegang oleh keturunan Qushayy. Perlawanan terhadap Islam. misalnya. Ahl al-Sunnah. Ia mengembalikan lagi wibawa kepemimpinan Bani Hasyim sebagai Ahl al-Bayt. Kabilah yang mendapat tugas secara turun temurun memelihara Ka'bah disebut sebagai "keluarga al-bayt" atau ahl al-bayt. Mereka adalah suku Arab yang memiliki sensitivitas religius yang tinggi. Ketika keturunan "Umayyah merasakan ada angin baru yang menguntungkan mereka. Islam menyuruh menghormatiahl al-bayt (yang sekarang didefinisikan lebih terbatas lagi sebagai keturunan Rasulullah saw). Nabi saw menyadari betul aspek-aspek kultural dari kepemimpinan ahl al-bayt.sunnah yang paling dihargai adalah mengurus dan memelihara tempat-tempat suci. menerjemahkan sebagian argumentasi Shadr ini tanpa komentar sedikitpun: yang kita Saya akan memberikan . Tema ahl al-bayt memiliki "appeal" yang kuat bagi bangsa Arab. Sejak awal. karena itu pula. Bani "Umayyah tentu tidak rela dengan "return. Karena secara doktrinal. datang paling banyak dari Bani Umayyah. Yang tidak mereka inginkan adalah gabungan antara kehormatan religius dengan kehormatan politik. Dalam pertentangan memperebutkan kedudukan ahl al-bayt. "Orang banyak tidak menginginkan nubuwwah dan khalifah bergabung pada Bani Hasyim" (Tarikh Thabari 1: 2769). Ka'bah adalah rumah suci yang dihormati semua kabilah Arab. inskripsi pada monumen Arab Selatan menunjukkan perasaan syukur dan penyerahan diri pada Tuhan. Mungkin. Pada masa Abu Thalib.

Cukuplah bagi kita Kitab Allah. Bukhari meriwayatkan dalam shahihnya dari Ibn 'Abbas. ada juga sahabat yang bertahkim dan bertaslim sepenuhnya pada nash-nash agama di semua bidang kehidupan. sesuai dengan kemaslahatan masyarakat. di rumahnya ada banyak orang. Berkata Umar: Nabi saw sedang dicengkram sakit. benih yang paling utama pada saat pertumbuhan risalah. Sahabat adalah kelompok Mukmin yang cemerlang. kita temukan dua aliran utama yang berbeda. sehingga sejarah manusia tidak pernah menyaksikan generasi aqidah yang lebih mulia. Penghuni rumah itu pun bertikai. membolehkan memalingkan nash agama pada bidang-bidang kehidupan di luar bidang-bidang kehidupan di atas. tampaknya lebih menyebar di kalangan kaum muslimin karena kecenderungan manusia untuk tunduk pada kemaslahatan yang dapat difahami dan diperkirakannya. Perbedaan di antara kedua aliran ini telah menimbulkan perbedaan doktrinal sesudah wafat Rasulullah saw. sejak dini. Di samping itu. sampai pada saat menjelang kematiannya (yang akan diuraikan nanti). aliran ijtihadi. dan tinggi dari generasi yang dilahirkan Rasulullah. Ia berkata: "Menjelang Rasulullah saw wafat. Rasul telah bertahan berkali-kali menghadapi aliran ini. Minoritas ini adalah Syi'ah. Salah satu kelompok berhasil berkuasa dan sanggup berkembang sehingga mencakup mayoritas kaum muslimin. Kelompok yang lain tidak berhasil memperoleh kekuasann dan berkembang sebagai kelompok minoritas menghadapi lingkungan Islam yang umum. yang menyertai perkembangan umat dalam permulaan eksperimen Islam. memisahkan umat dua kelompok besar. para sahabat cenderung mendahulukan ijtihad untuk memperkirakan dan memperoleh maslahat daripada ta'abbud secara harfiyah pada nash-nash agama. lebih suci. yang bertentangan dengan nash. Nabi berkata: Mari aku tuliskan untuk kamu tulisan sehingga kamu tidak sesat sesudahnya. dengan meyakini bahwa apa yang dilakukannya benar. Aliran ini meyakini kemungkinan ijtihad.Bila kita mengikuti periode permulaan dari kehidupan umat Islam di zaman Nabi saw. dengan peralihan atau perubahan. serta meninggalkan kecenderungan mengikuti kemaslahatan yang tidak dapat difahami tujuannya. karena harus tunduk pada adanya aliran yang luas pada bidang kehidupan. Aliran kedua. (2) Aliran yang hanya merasa tunduk pada agama pada bidang-bidang khusus seperti ibadah dan hal-hal yang ghaib. Sebagian berkata: Dekatkan supaya Nabi menulis . Dua aliran utama yang menyertai zaman Nabi sejak awal adalah: pertumbuhan umat Islam di (1) Aliran yang beriman sepenuhnya pada ta'abbud bi 'l-din berhukum dan berserah mutlak pada nash-nash agama dalam seluruh bidang kehidupan. Walaupun demikian. Keduanya hidup bersama dalam lingkungan umat yang dilahirkan oleh Rasul sang Pemimpin. Pernah kedua aliran ini bertentangan di hadapan Rasul pada hari-hari terakhir kehidupannya. Umar bin Khathab pernah melawan Rasulullah saw dan berijtihad pada banyak kejadian. Di hadapan kalian ada al-Qur'an. di antaranya Umar bin Khathab. Yang mengikuti aliran ini terdiri dari sahabat-sahabat besar.

Lihatlah perbedaan pemahaman ayat tayamum ini. (021) 7507174 Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota Please direct any suggestion to Media Team pertikaian dan Artikel Yayasan Paramadina Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan . Ketika sudah ramai perbincangan dan pertikaian di hadapan Nabi. Saya tidak akan memperinci kedua ikhtilaf ini. tetapi hanya akan menunjukkan penyebab timbulnya ikhtilaf tersebut. dan ada air. SKISME INTELEKTUAL Dari kedua aliran ini kemudian berkembang aliran-aliran lainnya. "Dan jika kamu sakit atau sedang bepergian." (al-Qur'an 5: 6). atau sakit.(bersambung 3/3) Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah Editor: Budhy Munawar-Rachman Penerbit Yayasan Paramadina Jln. Sebagian lagi berkata seperti kata Umar. Abu Zuhrah (1987) menyebut yang pertama ikhtilaf 'aqaidi dan yang kedua ikhtilaf fiqhi. Pertikaian justru terjadi ketika kaum Muslim berusaha memahami al-Qur'an dan al-Sunnah. UA 20-21 Jakarta Selatan Telp. 7507173 Fax. dan sapulah muka kamu dan tangan kamu itu. ketika para politisi mulai masuk. atau jika salah seorang di antara kamu datang dari jamban. Ayat tersebut hanya mewajibkan tayammum bila tidak ada air khusus pada yang sakit atau musafir. Madzhab yang lain berpendapat bahwa syarat sah tayammum adalah salah satu di antara tiga kondisi: tidak ada air. Skisme ini dapat terjadi pacla bidang ilmu kalam atau bidang fiqh. atau setelah kamu menjamah wanita. maka bertayamumlah dengan debu yang suci. Di dalam kedua sumber tasyri' ini terdapat kata-kata atau kalimat yang musytarak (mengandung makna ganda). 7501983. tidak berlaku tayammum baginya. Metro Pondok Indah Pondok Indah Plaza I Kav. lafazh yang 'am (berlaku umum) dan khash (berlaku khusus). Skisme intelektual (mungkin malah tidak tepat disebut skisme) memang bisa menjadi solid.(wasiat) kitab sehingga kamu tidak sesat sesudahnya. -------------------------------------------. yang tidak mungkin semuanya dibahas di sini. ia berkata: Pergilah kalian. dan tidak wajib shalat. Kebanyakan aliran-aliran itu muncul sebagai hasil refleksi intelektual. yang muthlaq dan yang muqayyad (bersyarat). Banyak orang berpikir sederhana: pertikaian akan segera selesai bila kita kembali kepada al-Qur'an dan al-Sunnah. tidak sakit. atau kamu tak menemukan air. (021) 7501969. Kalimat ini dipahami Abu Hanifah sebagai berikut: Orang yang tidak bepergian. Sebab-sebab yang berkaitan dengan pemahaman al-Qur'an dan al-Sunnah." Peristiwa ini cukup menunjukkan dalamnya pertentangan di antara kedua aliran ini. atau bepergian.

sebagian wajah oleh Ja'fari (al-Jaziri. Manakah yang sunnah.ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota VI. teologi Islam. Kemusykilan kedua adalah sampai atau tidak sampainya hadits. pasir. Nabi berkata. dan sebagainya. kata Syafi'i. Ketika Ibnu Umar melaporkan lagi hadits dari ayahnya. kata Hambali. SEBAB-SEBAB YANG BERKENAAN DENGAN SUNNAH Masalah-masalah yang berkenaan dengan sunnah lebih musykil lagi. 24:4) mengandung tiga kalimah: (1) "Deralah mereka 80 deraan. kemana pengecualian itu berlaku? Kepada semua kalimat atau kepada kalimat yang terakhir. yang mempunyai lingkup pengalaman yang berlainan bersama Rasulullah saw. Maliki. batuan. ia mencambuki orang yang menangisi mayat. Ada yang menyertai Nabi hampir setiap saat. Yang pertama dipilih oleh Syafi'i. Perbedaan ini akan makin melebar. kalian menangis. Hambali. Umar melaporkan bahwa mayit akan disiksa karena tangisan keluarganya." (2) "Jangan terima kesaksian mereka selama-lamanya." dan (3) "Mereka itulah orang-orang fasik. "Semoga Allah meyayangi Abu Abd al-Rahman (yakni. Yang terakhir diambil oleh Hanafi. dan batuan. tanah." [5] SEBAB-SEBAB BERKENAAN DENGAN PERBEDAAN KAIDAH USHUL FIQH Apabila ada rangkaian kalimat majemuk. air teh). Ia mendengar sesuatu tetapi tidak menghafalnya. kata Hanafi dan Hambali. tanah. tanah saja. 1986. Jamaat Tabligh berpendapat makan di bawah. ketika kita memasuki pengkajian-pengkajian Islam yang lebih operasional seperti epistimologi Islam. Kata mazhab yang lain. Mereka menangisi jenazah itu. apakah kesaksian penuduh dapat diterima bila orang itu telah bertaubat? Semua mazhah --selain Hanafi-memilih rnenjawab "ya" untuk pertanyaan-pertanyaan di atas. Apakah deraan harus dihilangkan bila orang taubat. Ibn Umar). air itu termasuk air mutlak (H2O). sehingga kita mengenal Jabbariyah dan Qadariyah. 1960). pada Fath Makkah) atau membunuhnya (seperti yang dilakukan Nabi pada perang Khandaq). salju dan logam. umat Islam yang lainnya tidak beranggapan begitu. . juga air mudhaf (seperti air jeruk.52. "Debu" meliputi pasir dan tanah. Pernah lewat jenazah Yahudi di depan Rasulullah saw. dan menggunakan siwak adalah sunnah." Istitsna datang sesudah kalimat-kalimat itu. menjilati jari setelah makan. Hadits dilaporkan oleh para sahabat. dan ada yang berjumpa dengan Nabi sesaat saja. lalu di ujunguya ada kata yang mengecualikan (istitsna). 'Aisyah menolak hadits 'Umar ini. pasir. al-Mughniyah. Karena itu. kata Maliki. Kemusykilan pertama terjadi ketika kita mengambil pelajaran dari hadits: apakah yang diberitakan hadits itu Sunnah atau bukan. 'Aisyah berkata. Dalam bidang ilmu kalam terjadi perbedaan pemahaman nash-nash yang berkenaan dengan qadha dan qadar. padahal ia sedang disiksa. Ayat yang berkenaan dengan tuduhan berzinah (QS. SKISME DALAM ISLAM SEBUAH TELAAH ULANG (3/3) oleh Jalaluddin Rakhmat Apa yang dimaksud "air"? Kata mazhab Hanafi. mengampuni para tawanan (seperti yang dilakukan Rasulullah saw. air mutlak saja.

1986: 99-103). Kedua. Demikian pula halnya dengan keberatan sementara orang terhadap hadits-hadits tentang Imam Mahdi. Seorang tidak dikatakan Muslim lagi bila berbeda pada bagian fiqh yang pertama. Berpikir dengan prinsip tarjih. siap berbeda pada yang dzhann-i: Kita dapat membagi hukum-hukum fiqh ke dalam dua bagian besar. apa pun mazhabnya. istishlah. Ukuran aqli --yang saya definisikan sebagai metode dialektik untuk menguji konsistensi logis suatu proposisi-. berkenaan dengan pokok-pokok akidah. Dalam hal akidah --semuanya percaya kepada Allah yang Esa. APA YANG HARUS DILAKUKAN? Saya ingin mengakhiri makalah ini dengan menuliskan kembali apa yang saya sampaikan pada tempat lain (Rahmat.hanya boleh dilakukan setelah pengujian naqli. dan bagian-bagian shalat yang penting lainnya. Pertama. Ini cara untuk menghindarkan "terburu-buru" menangkap ruh dari suatu nash. Mencurigai hadits-hadits tentang wasiat Nabi kepada keluarganya. Adalah kenyataan yang menakjubkan walaupun sering lolos dari perhatian kita bahwa dalam bagian pertama seluruh mazhab mencapai kesepakatan. dan sebagainya. dan muamalah yang disetujui bersama. jumlah ruku' dan sujud. Di samping itu. Perbedaan mulai terjadi pada rincian dari pokok-pokok itu. kita harus menguji perbedaan paham itu lewat ukuran-ukuran naqli dan aqli. mereka berbeda dalam cara mengangkat tangan dalam takbir.Inilah salah satu contoh perbedaan penggunaan kaidah Ushul Fiqh. Misalnya. Sepakat pada yang qath'i. Tetapi betapapun kuatnya. pendapat itu tetap dzhanni. 1. terdapat juga beberapa metode ijtihad yang tidak disepakati. Kita akan segera menemukan bahwa bagian pertama berdasarkan dalil-dalil qath'i dan bagian kedua berdasarkan dalil-dalil dzanni. bila dalil-dalil yang dipergunakan sama-sama kuat. Tentang shalat. qaul shahabat. Misalnya. Dengan ukuran naqli. betapapun banyak dan sahihnya. Semua sepakat shalat dimulai dengan takbir. qiyas. jumlah shalat wajib. terjebak dalam keterburu--buruan. Muhammad Rasulullah. Pada bagian yang kedua sepatutnya kita saling menghargai dan menggunakan perbedaan pendapat untuk pengembangan wawasan tentang Islam. Di tengah-tengah umat. dan Hari Kebangkitan. sebagai pertentangan dengan prinsip egalitarian al-Qur'an [6] adalah mendahulukan kritik 'aqli daripada kritik naqli. saya maksudkan. . 2. misalnya. bertalian dengan cabang-cabang (furu') dari pokok-pokok di atas yang memungkinkan terjadinya perbedaan. tidak ada perbedaan antara Ahl al-Sunnah dan Syi'ah dalam hal bilangan rakaat. Orang yang menganggap bahwa setiap orang berhak ijtihad dan menafsirkan al-Qur'an karena ruh ajaran Islam itu egalitarian. beramal dengan prinsip silaturahim: Bila terjadi perbedaan paham atau penafsiran pada hal-hal yang dzanni. Memilih pendapat yang paling kuat inilah tarjih. istihsan. mencari dalil-dalil yang paling kuat lewat kritik hadits (yang secara konvensional telah disepakati oleh ulama ahli hadits) dan ilmu-ilmu al-Qur'an (kalau berkenaan dengan penafsiran al-Qur'an). keyakinan kita harus diamalkan sejauh tidak merusak keutuhan umat atau tidak mendatangkan mudharat.

al-Ra'd:16). "Katakan. Ijtihad sebetulnya secara inheren melibatkan banyak ilmu.Ini saya sebut prinsip shilaturrahim. Al-Mujadilah: 11). Dan seterusnya sehingga terbentuk lingkaran setan yang tidak berujung. Ijtihad memerlukan pengetahuan yang komprehensif tentang Islam. Salah satu penyebab perpecahan ialah pendekatan parsial yang pada gilirannya disebabkan kekurangan pengetahuan. "Katakan. dan ini berarti anarkhi. mengkritik hadits. Beirut: Dar al-Turats al-Islami. apakah sama orang vang berpengetahuan dengan yang tidak berpengetahuan" (QS. Ijtihad bagi Ulama dan taqlid bagi orang awam: Membedakan mana yang qath'i dan dzanni. 2) Al-Sayyid Murtadha al-'Askari menulis studi perbandingan antara Sunnah dan Syi'ah dalam Ma'alim al-Madrasatain (Teheran: Al-Bi'tsah. CATATAN 1) Hadits ini diriwayatkan oleh Al-Bukhari. Ia menyebut Ahl al Sunnah sebagai madrasah al-khilafah dan Syi'ah sebagai madrasah al-imamah. Ibnu Umar shalat empat rakaat. di samping membuat kendala-kendala yang berbentuk kriteria. Ini mempertebal ketergantungan kepada paham fiqh kita. hanya sekelompok kecil orang yang dapat melakukannya. Ilmu mengurangi perbedaan. apakah sama orang yang buta dengan orang yang melihat. Ibnu Mas'ud berpendapat shalat Dzuhur dan 'Ashar di Mina harus di qashar. Ibn Majah. Tidakkah kalian pikirkan itu?" (QS. al-Bazzar. Ketika ditegur ia menjawab. melakukan tarjih bukanlah pekerjaan yang bisa dilakukan setiap orang. dan ini berarti. banyak paham timbul --barangkali setelah melakukan taryih. Khamsun wa Mi-ah Shahabi Mukhtalaq. Ahmad. kita cenderung menerima informasi hanya lewat sumber-sumber yang kita setujui dan menutup diri dari informasi yang datang dari sumber lain. al-Thabrani. al-Zumar:9) "Allah mengangkat derajat orang yang beriman dan memiliki ilmu pengetahuan" (QS. 3. Bukan ijtihad bila dilakukan tanpa ilmu. Seperti sangat beragamnya kemampuan dan pengetahuan orang. Akibatnya. karena ilmu meletakkan konvensi-konvensi yang disetujui bersama. "Perselisihan itu semua jelek" -(al-khilaf syarr kullah). Sayang sekali. Imam Syafi'i tidak membaca qunut pada shalat Shubuh karena menghormati makam Abu Hanifah yang tidak jauh dari situ. Ibnu Mas'ud shalat juga empat rakaat. al-Turmidzi al-Hakim. Berbagai matan hadits ini dan penjelasannya dapat dibaca pada Al-Sayyid Murtadha al-Askari. tetapi mengulang lagi shalatnya di rumah (para ulama menyebutnya ihtiyath). keyakinan kita terhadap paham kita terlalu tinggi sehingga kita cenderung eksklusivistis dan meninggalkan prinsip silaturrahim. 1974. seperti itu pula beragamnya perbedaan pendapat. Ketika Utsman shalat empat rakaat. 1406).dapat menimbulkan chaos. "Tidak sama orang buta dan orang yang melihat. . Tidak sama kegelapan dan cahaya" (QS. Al-Qur'an yang mengajarkan persamaan dengan tegas mengatakan. Mengizinkan setiap orang berijtihad --tanpa mempedulikan perbedaan mereka dalam pengetahuan agama-. tetapi ia menahan diri karena memikirkan kemaslahatan umat. "Berijtihad" tanpa ilmu berarti membuang seluruh konvensi dan kriteria. Di Indonesia. Fathir:19). Ali yakin ia paling berhak menjadi khalifah.

6) Padahal dalam banyak ayat al-Qur'an. 2:124. Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiyah. Teheran: Wizarat al-Irsyad al-Islamiyah. 1953. Kita hanya ingin menunjukkan bahwa prinsip egalitarian hendaknya ditafsirkan dengan merujuk pada dalil-dalil yang sahih. Shahih al-Turmudzi 2: 35: Mustadrak al-Shakihain 4: 501. Muhammad. Orang-orang Yaman adalah para pendukung Syi'ah. Jawad. Tarikh al-Madzahib al-Islamiyah. 1950. Dalam sunan al-Nasai dan Al-Turmudzi ada bab yang berjudul: Bab bolehnya menangisi mayit. -------------. 4) Mayoritas penduduk Kufah adalah orang Yaman dari Arab Selatan. Durant. 1406. 1405. Shahih Muslim. The story of Civilization. Musnad Ahmad 5:89. Lihat Shahih al-Bukhari. prinsip pewarisan kepemimpinan pada keturunan atau keluarga nabi-nabi sering ditegaskan. Kanz al-Ummal 6: 201. 1396. 6:84. Abd al-Rahman. Mobtadiyah: Dar al-Mu'alim Al-Jaziri. 5) Hadits ini diriwayatkan Muslim dalam Kitab al-Jana-iz. Nabi menangisi putranya (Ibrahim). Vol. Al-fiqh 'ala al-Madzahib al-Khaumsah. Beirut: Dar al-Fikr al-Arabi. Muslim Studies. 1986. pamannya (Hamzah). sehingga Syi'ah sering disebut sebagai Sabaiyyah. S. Vol.3) Hadits tentang dua belas imam ini diriwayatkan juga dalam kitab-kitab shahih di kalangan Ahl al-Sunnah. 20:30. Musthafa. The story of Civilization. Teheran: Bittsah. London. Kitab al-Ahkam.V. Lihat 3:33.R. DAFTAR PUSTAKA Abu Zuhrah. Beirut: Dar al-Jawad. Al-Yahfufi. Kitab al-Imarah. 1987.M. 19:6.IV. Will. dan ibunya (Aminah). . 27:16. -------------. 4:54. Al-Hasan. Ma'alim at-Madrasatain. mereka kemudian dikenal sebagai Sabaiyyah. 14:37. Barber. Stern dan C. Terjemahan Inggris oleh S. Muhammedanische Studien. Karena mereka berasal dari kerajaan Saba. New York: Simon and Schuster. Hadits-hadits yang melaporkan bolehnya menangisi mayat cukup banyak. Dalail al-Shidq. Goldziher. New York: Simon and Schuster. 1405. 1982. Al-Askari. tidak diketahui penerbitnya. Murtadha." dalam Al-Maqalat wa al-Dirasat. 1967-1972. Al-Syi'ah wa al-Hakimun. Al-Mughniyah. Al-fiqh 'ala al-Madzahib al-Arba'ah. 19:58. Begitu banyaknya Sabaiyyah yang mendukung Syi'ah. I. "Ulu al-Amr 'inda Madzahib al-Islamiyah. Kita tidak bermaksud menunjukkan bahwa pendapat wasiat Nabi pada Ali adalah satu-satunya paham yang benar.

A Literary History of The Arabs. Tanpa Tahun. Tarikh al-Umam wa al-Muluk. Tabatabai. S.. 1956. Husayn. Julius. (021) 7501969. -------------------------------------------Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah Editor: Budhy Munawar-Rachman Penerbit Yayasan Paramadina Jln. Tidak diketahui penerbitnya. Kesadaran akan adanya skisme itu akhir-akhir ini. Sebuah Dilemma. 1982. SKISME DALAM ISLAM (1/4) Tinjauan Singkat Secara Kritis-Historis Proses Dini Perpecahan Sosial-Keagamaan Islam oleh Nurcholish Madjid Pembicaraan tentang Agama Islam kecuali jika dibatasi hanya kepada hal-hal yang sama sekali normatif belaka dengan tingkat idealisasi sejarah Islam yang tinggi pasti melibatkan pembicaraan tentang berbagai skisme atau perpecahan dalam agama itu. Metro Pondok Indah Pondok Indah Plaza I Kav. The Origins and Early Development of Shi'a Islam. UA 20-21 Jakarta Selatan Telp. Calcutta. Weir. Revolusi Iran bagi sebagian orang-orang muslim menawarkan semacam "hikmah . M. Baths Hawl al-Wilayah. Ibn Jarir. Thabari. The Arab Kingdom and Its Fall. Cambridge.. "Ukhuwah Islamiyah: Perspektif al-Qur'an dan Sejarah" dalam Haidar Bagir (ed. muncul dengan kuat di kalangan kaum muslimin Indonesia khususnya dan dunia umumnya karena adanya Revolusi Iran pada 1979. 7501983. Beirut: American University.). 7507173 Fax. Shadr. Dengan mengesampingkan beberapa perorangan atau kelompok yang agaknya mengalami kesulitan besar untuk "mengakomodasi" kenyataan baru berupa peranan amat mengesankan dari kaum Syi'ah dalam percaturan keislaman internasional sekarang ini. Baqr. Bandung: Mizan.M. 1976. sebagaimana telah sering dibicarakan. RA. Teheran: Maktabah al-Najah. Shi'a.51. Trans.H. Wellhausen. Beirut: Dar al-Fikr. S. Satu Islam. 1979. 1986. 1927. Nicholson.Jafri. Rahmat. J. (021) 7507174 Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota Please direct any suggestion to Media Team Artikel Yayasan Paramadina Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota VI.

agar waspada terhadap bahaya perpecahan dan pertentangan. Tetapi berbagai pengalaman menunjukkan bahwa keadaan itu tidak akan tercipta jika kita tidak memiliki cukup kedewasann dalam sikap keberagamaan kita. maka bertaqwalah kamu sekalian kepada-Ku. ialah kesediaan dan kemampuan untuk melihat berbagai kenyataan sejarah secara proporsional. Namun justru secara historis masalah kesatuan itulah di antara hal-hal yang amat sulit dicapai oleh manusia. dengan mengakui dan memasukkannya ke dalam hitungan berbagai faktor sejarah sebagai ikut menentukan apa yang telah terjadi. Seorang muslim yang serius dan prihatin tentu merasakan adanya semacam anomali dalam kenyataan sejarah itu. Karena itu jika harus disebutkan kegunaan utama pembahasan kita sekarang ini. Salah satu firman suci dalam al-Qur'an yang relevan dengan masalah ini terbaca: Wahai para Rasul.terselubung" (blessing in disguise) berupa cakrawala pandangan keagamaan (Islam) yang lebih meluas. Berdasarkan itu semua. Lebih menarik lagi sebagai bahan kajian bahwa manusia cenderung berpecah-belah justru setelah mereka menerima ajaran Tuhan yang dibawa oleh para Utusan-Nya. dan apa yang sedang dan bakal terjadi. umat yang tunggal. Ini menjadi dasar pandangan tentang Kesatuan Kenabian (Wahdat al-Nubuwwah) dan Kesatuan Risalah atau pesan suci (Wahdat al-Risalah). Dan inilah pula dasar pandangan tentang Kesatuan Kemanusiaan (al-Wahdat al-Insaniyyah). sebab Pesan Suci mereka pun tunggal. Apalagi al-Qur'an sendiri sejak dari semula menyatakan dan memperingatkan. Keadaan yang menyimpang dari seharusnya ini tidak saja karena berbagai usaha mereka memahami ajaran Tuhan dan menerapkannya dalam kehidupan nyata . Dan ini adalah umatmu semua. dan berbuatlah kebajikan. makanlah dari yang baik-baik. maka pembahasan kita dalam makalah ini insya Allah akan kita lakukan dalam semangat tinjauan kritis berdasarkan pandangan yang memperhitungkan berbagai faktor sejarah. UMAT YANG TUNGGAL Kenyataan historis pertama tentang agama Islam ialah bahwa umatnya telah terpecah dan bahkan saling menumpahkan darah sejak masa-masa amat dini perjalanan sejarahnya. tidak saja kepada kaum muslim tetapi juga kepada para penganut agama para Nabi dan Rasul Allah keseluruhannya. yaitu mengabdi kepada Tuhan Yang Maha Esa yang mencintai dan melindungi mereka. Termasuk ke dalam makna kedewasaan itu. [1] Tafsir atas firman itu tidak bisa lain daripada penegasan bahwa semua Nabi dan Utusan Tuhan itu membentuk persaudaraan umat yang tunggal. dan dalam memandang keberagamaan "orang lain" (dalam pengertian yang seluas-luasnya). Dengan begitu diharap bahwa secara berangsur kita dapat mewujudkan dalam kenyataan berbagai angan-angan mengenai umat atau masyarakat Islam yang mendekati gambaran dalam Kitab suci sebagai "ruhama baynahum" (saling cinta kasih antara sesamanya). sedangkan Aku adalah Pelindungmu semua. yaitu pesan suci keprasahan yang tulus kepada kehendak Ilahi (al-islam dalam makna generiknya). Sesungguhnya Kami (Tuhan) maha mengetahui akan segala sesuatu yang kamu kerjakan. maka kegunaan itu ialah sebagai bagian dari usaha bersama untuk mendorong lebih jauh kecenderungan positif tersebut. kiranya.

kemudian mereka berselisih. Dan mereka yang menerima Kitab Suci itu tidaklah berselisih mcngenai sesuatu (masalah Kebenaran) kecuali setelah datang berbagai penjelasan. diselesaikan dengan pertumpahan darah dan penindasan.(jadi tentunya tumbuh dari niat yang baik dan ketulusan hati). tidak ada yang lebih absurd daripada penyelesaian perselisihan faham keagamaan melalui penindasan dan penumpahan darah. Firman itu ialah. acapkali malah menjuruskan orang banyak kepada perpecahan dan pertentangan. maka tentunya Dia jadikan manusia umat yang tunggal. maka barangkali kita hanya harus menyebutkan kenyataan tentang semua agama. yang melengkapi firman-firman terkutip di atas sehingga menjadi pandangan dan pengertian yang bulat. karena rasa permusuhan antara sesama mereka. memberi petunjuk tentang kebenaran yang mereka perselisihkan itu kepada mereka yang beriman. yang jelas tanpa kecuali terbagi-bagi dan terpecah-pecah menjadi berbagai golongan dan sekte. meskipun disertai dengan penuh niat baik dan tulus. kerapkali persengketaan di antara sesama mereka. yang dikehendaki-Nya). Tetapi mereka itu akan tetap selalu berselisih. Barangkali. dan untuk itulah Dia menciptakan mereka. dari perspektif pesan suci semula agama bersangkutan sendiri. Namun inilah yang sebenarnya terjadi dalam pengalaman hidup umat manusia. Jika seandainya tidak karena adanya "Sabda" (Kalimah) yang telah lewat dari Tuhanmu. dan Dia menurunkan bersama para Nabi itu Kitab Suci dengan sebenarnya untuk memutuskan perkara antara umat manusia berkenaan dengan masalah yang mereka perselisihkan. kecuali mereka yang mendapatkan rahmat dari Tuhanmu. Maka dalam gabungannya dengan naf:su benar sendiri dan sektarianisme yang jelas selalu mengancam setiap orang atau golongan tanpa kecuali variasi pendekatan dan interpretasi itu. Allah memberi petunjuk ke arah jalan yang lurus kepada siapa yang menghendakinya (atau. maka tentulah diputuskan (sekarang juga) antara mereka berkenaan dengan perkara yang mereka perselisihkan itu. termasuk yang ada dalam satu agama pun. [3] Juga firman Allah: Manusia itu tidak lain kecuali umat yang tunggal. misalnya: Kalau seandainya Tuhanmu menghendaki. [4] Firman-firman itu membuka kemungkinan berbagai interpretasi . [2] Jika harus menyebutkan bukti kebenaran firman itu. Keadaan menyedihkan ini pun secara ringkas digambarkan dalam Kitab Suci: Pada mulanya manusia adalah umat yang tunggal. Lebih dari itu." Mungkin keterangan itu dapat diperoleh dari beberapa firman Ilahi juga. Maka Allah pun. tapi juga karena variasi cara pendekatan kepada ajaran itu membuahkan variasi dalam interpretasi. Tapi mungkin kita harus mencoba mencari keterangan lain untuk membuat semuanya itu "make sense. dengan izin-Nya. Perpecahan dan pertentangan itu semakin destruktif sifatnya karena pembawaannya yang sering bergaya absolutistik dan tak kenal kompromi akibat watak dasar suatu keyakinan keagamaan. Kemudian Allah mengutus para Nabi untuk membawa berita gembira dan peringatan.

emulation in virtue and piety). Maka dengan sedikit melawan semacam "konsensus" di kalangan kaum Sunni untuk menghindari pembicaraan tentang tingkah laku historis para Sahabat yang kurang mencocoki beberapa ketentuan normatif."Word" is the Decree of God. God made their very differences subserve the higher ends by increasing emulation in virtue and piety. dan adanya Kehendak agar dengan perbedaan itu manusia berlomba-lomba ke arah berbagai kebaikan (istibaq al-khayrat. the expression of His Universal Will or Wisdom in a particular case. namun pembicaraan tentang pembunuhan khalifah ketiga. TENTANG "AL-FITNAT AL-KUBRA" Mungkin bagi banyak orang cukup membosankan. When men began to deverge from one another. and thus pointing back to the ultimate Unity and Reality. maka pastilah Dia menjadikan kamu sekalian umat yang tunggal. Tetapi (Dia tidak menghendakinya) karena Dia hendak menguji kamu semua berkenaan dengan sesuatu (kelebihan.. [5] Di sini (dalam ayat ini) kita mendapatkan lagi doktrin kesufian tentang "Sabda. Utsman ibn Affan. kemudian Dia akan menerangkan kepada kamu tentang segala sesuatu yang pernah kamu perselisihkan.. Karena itu berlomba-lombalah kamu semua (dengan menggunakan kelebihan itu) untuk berbagai kebaikan. Kepada Allah-lah tempat kembalimu semua. ditafsirkan sebagai berarti "Keputusan" Tuhan. yaitu faktor terpenting yang membuat manusia berbeda-beda -NM) yang diberikan-Nya kepadamu. [8] kita akan melakukan tahap pembahasan ini dengan pembicaraan singkat tentang peristiwa menyedihkan yang kemudian dikenal sebagai al-fitnat al-kubra . [6] Dan ayat suci itu bersesuaian dengan ayat suci yang lain. pernyataan Iradat atau Hikmat-Nya yang universal dalam suatu masalah tertentu.. yang merupakan ekspresi Iradat dan Hikmat-Nya yang universal dalam peristiwa tertentu. misalnya. Ketika manusia telah bersimpangan jalan satu dari yang lain..tentang apa yang ada dalam ajaran Kitab Suci mengenai hakikat manusia sebagai makhluk sejarah berkenaan dengan perkara persatuan dan perpecahan. Here we have again the mystic doctrine of "the Word. yaitu tinjauan ulang secara kritis-historis terhadap perpecahan sosial keagamaan yang terjadi dalam Islam dalam perjalanan perkembangannya yang amat dini.. Mengenai "Sabda" (Kalimah) dalam firman yang dikutip terakhir itu.". Tuhan membuat justru berbagai perbedaan mereka itu membantu mengarahkan manusia kepada tercapainya tujuan-tujuan yang lebih tinggi dengan meningkatnya perlombaan dalam kebaikan den kesalahan. Ayat suci itu ialah firman-Nya: Jika seandainya Allah menghendaki." "Sabda" adalah Keputusan Tuhan. yang menyebutkan adanya Kehendak Ilahi tentang perbedaan antara sesama manusia. [7] Dari perspektif inilah kita akan memasuki bidang yang sebenarnya dari pembahasan makalah ini. dan dengan mengarah kembali kepada Kesatuan den Wujud yang mutlak Ayat suci dan tafsirnya itu mengingatkan kita kepada sebuah hadits yang sering dikutip orang bahwa perselisihan di antara orang yang beriman adalah suatu rahmat. sebagai fitnah besar yang mengawali skisme dalam Islam tidak mungkin dihindarkan.

Pembunuhan terhadap khalifah ketiga terjadi duapuluh empat tahun setelah wafat Nabi. Metro Pondok Indah Pondok Indah Plaza I Kav. Sekelompok tentara (Arab Islam) dari Mesir datang Ke Madinah untuk mengajukan klaim kepada Khalifah tentang apa yang menjadi hak mereka.51. juga Ali sesudahnya.(bersambung 2/4) Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah Editor: Budhy Munawar-Rachman Penerbit Yayasan Paramadina Jln. tersedia tidak hanya satu keterangan.("ujian besar") itu. delegasi tentera itu menyerbu Utsman di rumahnya. (021) 7507174 Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota Please direct any suggestion to Media Team Artikel Yayasan Paramadina Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota VI. Namun setelah mereka mendapat berita yang benar bahwa ketua utusan mereka itu malah telah dibunuh. 7507173 Fax. (021) 7501969. Meskipun akhirnya Abu Sufyan masuk Islam. misalnya. tanpa pengawal. melainkan banyak dan cukup kompleks. -------------------------------------------. namun dia adalah seorang anggota klan Umayyah yang berkuasa di kota itu. sebagaimana layaknya adat kebiasaan para sesepuh (al-syaykh) suku-suku Arab menjalankan kepemimpinan mereka. Kebiasaan itu membantu memudahkan usaha membunuhnya. bahkan sikap permusuhan mereka itu berlangsung terus sampai boleh dikata detik-detik terakhir sebelum Nabi wafat. UA 20-21 Jakarta Selatan Telp. dan membunuhnya. juga anaknya Mu'awiyah yang sedikit terlebih dahulu berbuat serupa. Abu Sufyan. sampai dengan saat Nabi menaklukkan Makkah. Utsman memerintah hanya dengan mengandalkan reputasi dan nama baik pribadi. namun hal itu terjadi lebih banyak hanya berkat kebijaksanaan diplomatik Nabi yang memberi dan mengakui hak istimewa dan kehormatan mereka. bahwa meskipun Utsman termasuk perintis pertama orang-orang Arab Makkah masuk Islam. 7501983. mereka kembali ke Madinah untuk mengajukan tuntutan. karena telah diberi tahu (secara palsu) bahwa persoalan mereka telah diselesaikan dengan baik oleh Khalifah melalui perundingan dengan ketua utusan mereka. Setelah beberapa saat perundingan dan musyawarah. adalah seorang penguasa Makkah yang mengorganisasi dan memobilisasi orang-orang Quraisy melawan Nabi di Mekkah. (Seperti halnya dengan Umar sebelumnya. sebagaimana telah terjadi pada Umar sebelumnya dan kelak terjadi pula pada Ali). Pertama ialah. Tapi mereka segera kembali pulang ke Mesir. SKISME DALAM ISLAM (2/4) Tinjauan Singkat Secara Kritis-Historis Proses Dini . yang klan itu menjadi musuh utama Nabi. yang di situ kaum bukan-Umawi di Madinah menunjukkan sikap netral. [9] Tentang mengapa delegasi tentara itu tidak puas terhadap Utsman dalam menjalankan tugas kekhalifahannya.

Mereka memegang pemerintahan menghadapi kecenderungan kesukuan dan semangat kedaerahan orang-orang Arab. Sebagian dari hadirnya para penasehat dan tenaga ahli Umawi itu sebenarnya merupakan lanjutan kebijaksanaan Umar sebelumnya. ke Lembah Mesopotamia). seperti Kufah. Tetapi tanpa keteguhan kepribadian Umar. dan meneruskan usaha perdagangan mereka di sana. Sebenarnya Utsman melanjutkan kebijakan Umar. Tetapi kebijaksanaan Utsman yang yang menghambat emigrasi dari Hijaz itu membuatnya tidak populer di kalangan orang-orang Makkah.Perpecahan Sosial-Keagamaan Islam oleh Nurcholish Madjid Sebagai klan dengan tradisi kekuasaan yang mapan. khususnya orang-orang Arab setempat. dan ia pun terjerumus kedalam praktek-praktek nepotistik yang mengundang berbagai reaksi keras banyak kalangan. Utsman menjadi tidak banyak berdaya menghadapi klannya sendiri. Mereka mengelilingi Utsman dengan penasehat-penasehat dan tenaga-tenaga ahli. ke daerah pegunungan Anatolia sebelah selatan membentang ke timur dan kembali ke selatan. Apalagi setelah ekspedisi menaklukkan Iran telah . Ini acapkali menimbulkan rasa keberatan dari pihak orang-orang Arab yang kurang mampu. seperti seorang "aktivis" Umawi. dan kekuasaan mereka itu diawasi oleh semangat ajaran umum Islam yang saat itu Islam telah menjadi ciri utama sifat ke-Arab-an mereka. Ini tumbuh menjadi faktor penunjang bagi protes-protes yang mulai dilancarkan para tentara. Para tentera ini hidup menetap di tempat-tempat tersebut. daerah subur yang membentuk konfigurasi bulan sabit dari pantai timur Laut Tengah naik ke utara. Sudah sejak masa Umar banyak orang Arab Quraisy yang kaya. tapi tanpa mempunyai wibawa hebat seorang Umar. dalam suasana terpisah dari penduduk bukan-Arab sekelilingnya. (Harus diingat bahwa pada saat itu semua orang muslim adalah warga negara dan sekaligus tentara). yakni para pedagang Mekkah. berbentuk proyek-proyek irigasi di berbagai oase. Bertindak sebagai penguasa pada kota-kota perbatasan itu ialah para gubernur (bekas) pedagang kaya yang cakap memerintah dari keluarga-keluarga Quraisy dan sekutu mereka dari Taif (klan Tsaqif). kaum Umawi segera melihat pada kekhalifahan Utsman suatu kesempatan untuk mengembalikan kedudukan mereka yang baru saja hilang. yang menjadi alasan penempatan itu. Kebijaksanaan itu juga mengurangi ancaman bahwa budaya Arab akan terserap ke dalam budaya daerah-daerah Bulan Sabit Subur (Fertile Crescent. Para tentera suku Arab (al-muqatilah) yang oleh Umar ditempatkan di berbagai kota garnizun di daerah-daerah taklukan dipertahankan oleh Utsman seperti keadaan mereka semasa Umar. terutama Mesopotamia di Irak. Kebijaksanaan Utsman itu membantu mengurangi kecenderungan emigrasi ke luar Hijaz dan memperkuat kekuasaan pusat di Madinah secara fisik (sumber daya manusia). yang pergi ke daerah-daerah taklukan. Marwan ibn al-Hakam. meskipun sebenarnya ia berhasil sedikit mengubah keadaan dengan mengarahkan sebagian investasi dari Lembah Mesopotamia ke Hijaz. telah menjadi peristiwa sesekali saja. karena Umar melihat pada kaum Umawi itu kecakapan pemerintahan yang bisa dimanfaatkan. Utsman pun tidak bisa mengatasi situasi warisan pendahulunya itu. sementara perang sendiri. yang kebanyakan mereka itu terdiri dari kaum Umawi.

Tetapi gubernur yang ditempatkan di Mesir (di kota Fusthath. Kebijaksanaan Utsman berkenaan dengan Kitab Suci itu sungguh patut dipuji. sekalipun mereka agaknya juga mempunyai jalur penuturan dari Ali ibn Abi Thalib. (Bahkan kaum Syi'ah yang dikenal sangat anti Utsman itupun akhirnya juga mengakui jasa khalifah ketiga ini. dengan menyesuaikan dan mengikuti cara penulisan Kitab Suci menurut ejaan Utsman. karena tidak lagi bisa dialih-arahkan kepada kegiatan-kegiatan ekspedisi militer. tindakannya untuk menyatukan sistem penulisan al-Qur'an itu pun dapat dikatakan sebagai kelanjutan kebijakan Umar sebelumnya. Maka untuk menunjang sistemnya inilah antara lain Umar tidak mengizinkan tentera memiliki . Suatu kerusuhan muncul di Kufah. karena dipandang kurang menunjukkan ukuran moral yang tinggi (konon suka minuman keras dan mabuk). bahkan gubernurnya pun ditolak orang. Namun. tidak ada kebijakannya yang dapat diterima di sana. Demikian pula Kufah. berkedudukan di Kufah. Ibn Mas'ud. Kairo lama). Para gubernur yang melanjutkan tugas mereka semenjak diangkat oleh Umar banyak yang cakap dan sebagian dari mereka diterima baik oleh penduduk setempat. Penyatuan ejaan al-Qur'an itu amat prinsipiil sebagai dasar penyatuan orang-orang Arab Muslim khususnya dan semua orang Muslim umumnya. handalan utama mereka dalam masalah periwayatan). khususnya lembaga atau sistem penggajian tentera dengan besar dan kecilnya gaji (sesungguhnya lebih tepat disebut lumpsum) itu menurut tingkat kepeloporan seseorang dan jasanya dalam agama Islam. Menurut para ahli akhirnya ia patuh juga kepada keputusan Khalifah. Maka penduduk Syria puas dengan Mu'awiyah. (Pengumpul al al-Qur'an). ketidakpuasan di kalangan tentara terhadap kebijakan Utsman semakin keras dinyatakan orang. sempat menunjukkan perasaan tidak sukanya kepada kebijakan Utsman. Basrah dengan Ibn Amir (yang di waktu damai giat berdagang untuk mengumpulkan kekayaan tapi bertindak cukup adil karena ia menganjurkan orang lain agar berbuat serupa pula). Salah satu kebijakan lagi dari Umar yang dilanjutkan atau diwarisi oleh Utsman ialah yang berkenaan dengan sistem keuangan negara. sekalipun akhirnya dapat dinetralisasikan melalui usaha akomodasi berbagai versi bacaan Kitab Suci dalam bentuk pengakuan keabsahan "bacaan tujuh" Al-qira'at al-sab'ah.rampung dan tuntas. maka sebagian besar keberuntungan itu adalah berkat jasa Utsman ibn Affan yang bergelar Jami' al-Qur'an. [10] Dan seperti hampir semua kebijaksanaan Utsman yang lain. Dan jika ummat Islam sesudah itu menikmati kesatuan penulisan dan pembukuan Kitab Suci-nya yang tidak ada bandingnya dalam sistim kepercayaan atau faham lainnya mana pun juga. sesungguhnya. salah seorang ahli membaca al-Qur'an yang amat terkenal dan disegani. Tetapi kejadian itu tetap meninggalkan bekas. sebuah kota garnizun yang didirikan Umar dan kerusuhan itu harus ditindas dengan penumpahan darah. tidak pernah memuaskan orang-orang setempat. Umar disebut sebagai "yang pertama menciptakan lembaga-lembaga" (Arab: awwal man dawwana al-dawawin). Utsman dikenal sebagai amat berjasa menyatukan ejaan penulisan al-Qur'an dengan memerintahkan untuk membakar semua versi ejaan yang lain (sehingga sampai sekarang ejaan standar Kitab Suci agama Islam itu disebut ejaan atau "rasm Utsmani"). usaha Utsman itu tidak berjalan tanpa tantangan.

tidak hanya sekarang sesudah Utsman. hanya selang sekitar seperempat abad sejak wafat Nabi. ahli perang (warrior) yang tangkas. Maka. Kebetulan Ali yang adalah kemenakan dan menantu Nabi. khususnya dalam shalat berjama'ah) ummat Islam di Madinah itu. tentu saja. seorang Sahabat Nabi yang amat dekat dan senior. adalah bahan kontroversi yang serius. dengan pensponsoran kuat dari Umar. lebih mirip tindakan darurat (emergency). maka. Baru di masa Umar sifat kedaruratan itu mulai hilang. Tetapi agaknya penunjukan Abu Bakr. tercermin dari penggunaan istilah Khalifah (pengganti) olehnya untuk tugasnya itu. Ketidakpuasan ini masih harus ditambah. sama dengan harta rampasan perang mana pun juga. ketokohan Ali membuatnya paling tepat sebagai pengganti (khalifah) Nabi. memimpin. Segera setelah Utsman terbunuh. (Juga Umarlah yang memprakarsai pendirian lembaga keuangan yang dikenal dengan bayt al-mal --harfiah berarti "rumah harta"). serta mertua beliau (ayahanda A'isyah. salah seorang isteri beliau yang amat dicintainya) sebagai imam (imam. ternyata sedikit demi sedikit sistem Umar itu mulai menunjukkan segi-segi kelemahannya. dan hanyalah salah satu. GOLONGAN-GOLONGAN KHAWARIJ. Akumulasi dari semua ketidakpuasan terhadap Utsman itu yang jelas sebagian bukan karena kesalahan Utsman sendiri berakhir dengan pembunuhan Khalifah. Dan dengan begitu dimulailah perang saudara selama lima tahun. SYI'AH DAN SUNNAH Kejadian pembunuhan Utsman hanyalah permulaan. dengan gejala-gejala nepotisme Umawi yang semakin terasa pada masa Utsman. Jadi berbeda dengan pandangan Umar yang tidak melihatnya demikian. Bagi banyak pihak di Madinah. Tapi ketika Utsman mewarisinya. Tentang mengapa yang terjadi ialah pengangkatan Abu Bakr. artinya orang yang berdiri di depan. Mereka menginginkan untuk secara langsung mengontrol dan menguasai penghasilan daerahnya masing-masing itu. kalangan Sunni) dan diakui oleh para ahli bukan-Muslim sebagai suatu tindakan seorang genius dan bijak. serta pelopor mula pertama dalam Islam. [11] para tentera menghendaki agar tanah-tanah produktif itu langsung dibagikan kepada tentera penakluk bersangkutan. Ditambah lagi. tapi sejak wafat Nabi sendiri. yakni. seperti telah disinggung. dengan sikap hidup yang penuh kesalihan dan hikmah (wisdom) yang luas dan mendalam. menggantikan Utsman. dan dilepaskan dari pengawasan Madinah. Kebijakan Umar di bidang ini dan di bidang finansial pada umumnya sangat dihargai oleh para ahli sejarah Islam (khususnya. sebagaimana telah dikemukakan. telah tumbuh sejak zaman Nabi sendiri sebagai seorang pahlawan. dan tumbuh . yang sampai sekarang masih menjadi bahan pembicaraan. meskipun tidak disepakati oleh semua orang. dari deretan fitnah yang amat besar pengaruhnya kepada terjadinya skisme dalam Islam. Utsman tidak memiliki wibawa dan kecakapan seperti pendahulunya itu. khususnya di kawasan Bulan Sabit Subur. khususnya dalam bidang-bidang keuangan ini. Tentera di berbagai kota garnizun mulai merasakan tidak adilnya penghasilan daerah mereka dikontrol dan dibawa ke Madinah sebagai fay' (milik negara). menurut sementara ahli sejarah Islam. mengulangi perdebatan di masa Umar sekitar masalah tanah-tanah pertanian daerah taklukan itu. para bekas pembunuh itu atau simpatisan mereka mensponsori pengangkatan Ali (ibn Abi Thalib) sebagai khalifah.tanah-tanah produktif (pertanian) di daerah-daerah yang telah mereka bebaskan.

seorang anggota keluarga Abu Bakr. tidak saja dari kalangan yang secara langsung mempunyai hubungan darah dengan Utsman. dengan korban jiwa yang tidak sedikit. Akibatnya ialah bahwa ia justru . Berbagai reaksi kurang menguntungkan terhadap 'Ali itu tidak saja membuat situasi masyarakat Islam yang masih muda dilanda suasana tak menentu dan sedikit chaotik. Maka kekhalifahan sebagai saat itu telah menjadi terlalu amat penting untuk dilewatkan begitu saja. Kecurigaan itu mewujudkan diri dalam reaksi-reaksi tidak setuju kepada pengangkatan Ali sebagai khalifah. yakni. tuntutan untuk pengusutan pembunuhan Utsman sangat keras. Ali secara iktikad baik dan "polos" menerima usul arbitrasi di Shiffin. Program itu sendiri konon sebagai kelanjutan rintisan dan pelaksanaan pesan Nabi menjelang wafat. Perkembangan pranata politik Islam pada saat pengangkatan Ali ialah bahwa sistem kekhalifahan telah berjalan dan tumbuh selama hampir seperempat abad. dibawa oleh sikapnya yang salih dan populis. Sedangkan dari kalangan kaum Umawi. dan dibantu oleh 'Amr ibn al-'Ash.kesadaran padanya akan sifat kepermanenan jabatan pemimpin ummat Islam. Khalifah terbunuh. karena memang program utama masyarakat Islam waktu itu ialah melancarkan ekspedisi-ekspedisi militer ke luar Jazirah Arabia. Maka suasana curiga kepada Ali dari banyak pihak menjadi tak terhindarkan. Tetapi mungkin sebagai gabungan antara kesalihan yang lebih mementingkan perdamaian dan sikap meremehkan kepintaran. seperti dapat diduga. puteri Abu Bakr dan isteri Nabi yang sangat dicintainya. jika tidak bisa disebut kelicikan. musuh utama Nabi sampai penaklukan Mekkah). diplomatik Mu'awiyah dan para pendukungnya. untuk sebutan resmi jabatannya itu. meskipun jelas mustahil mendukung pembunuhannya. dipelopori oleh politikus dan gubernur yang cakap. Mu'awiyah (anak abu Sufyan. Juga disebabkan oleh kecakapan militernya. Maka Umar. Tetapi peristiwa itu sendiri menimbulkan luka sosial-keagamaan pada ummat Islam yang sampai sekarang belum seluruhnya tersembuhkan." Telah disebutkan bahwa Ali sebenarnya adalah tokoh yang amat tepat menghadapi situasi kritis itu. menunjukkan simpati kepada para pemrotes kebijaksanaan Utsman. Reaksi-reaksi itu segera menyeret masyarakat Islam ke dalam kancah peperangan sesama mereka. dengan akibat yang amat jauh dalam bidang sosial-keagamaan. 'Ali yang seorang ahli perang (warrior) yang cakap dan berani agaknya dengan mudah mengalahkan A'isyah dan al-Zubayr di pertempuran dekat Basrah yang kemudian dikenal sebagai "Peristiwa Onta" (karena A'isyah memimpin pasukan dengan menunggang onta. memilih nama atau gelar Amir al-Mu'minin. juga al-Zubayr ibn al-Awwam. ialah permusuhan antara Ali dan Mu'awiyah. Yang lebih parah. anak cucu Umayyah ibn 'Abd Syams. diletakkan oleh Umar. lengkap dengan berbagai pelembagaannya yang sebagian besar sebagaimana telah disinggung. gubernur dan komandan militer yang menaklukkan Mesir. yaitu kalangan kaum Umawi (Umawi. dan onta itu terbunuh dalam pertempuran). Tetapi ketokohannya itu menjadi problem karena kenyataan bahwa sejak semula ia. Ali agaknya akan akhirnya memenangkan pertempurannya melawan Mu'awiyah. ayah dari pada kakek Mu'awiyah) tetapi juga dari tokoh-tokoh seperti A'isyah. dan di hadapan berbagai kritis yang mulai mengancam ummat Islam lembaga itu menjadi rebutan dalam tema-tema "to be or not to be. Komandan Orang-orang Beriman.

UA 20-21 Jakarta Selatan Telp. maka konsep-konsep itu yang antara lain melahirkan doktrin hijrah.kehilangan dukungan dari para sponsornya yang gigih dan militan. untuk akhirnya melenyapkan diri mereka sendiri." dengan secara total menyerahkan dan mengorbankan diri untuk agama yang benar. Dan Allah itu Maha Penyantun kepada para hamba-Nya. 7507173 Fax. . (021) 7507174 Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota Please direct any suggestion to Media Team Artikel Yayasan Paramadina Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota VI. Egalitarianisme radikal kelompok ini membawa mereka kepada konsep-konsep sosialpolitik yang sesungguhnya lebih dekat kepada cita-cita Islam seperti diletakkan oleh Nabi dan merupakan kelanjutan cita-cita universal dalam tradisi bangsa-bangsa Irano-Semitik sejak ratusan tahun. Karena kegiatan mereka yang selalu merongrong tatanan mapan. yang kemudian secara tak terhindarkan membawa mereka kepada situasi mudah sekali terpecah-belah dan saling bermusuhan. yakni.(bersambung 3/4) Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah Editor: Budhy Munawar-Rachman Penerbit Yayasan Paramadina Jln. (021) 7501969. dan yang dengan kuat sekali mewarnai pandangan-pandangan hidup di daerah Bulan Sabit Subur. SKISME DALAM ISLAM (3/4) Tinjauan Singkat Secara Kritis-Historis Proses Dini Perpecahan Sosial-Keagamaan Islam oleh Nurcholish Madjid Maka sebutan al-Syurat itu sekaligus memberi gambaran tentang hakikat dan sifat gerakan mereka. "orang-orang yang menjual diri (kepada Allah). yaitu gerakan dengan semangat sendirinya mereka berkembang menjadi kelompok dengan tingkat ekstremisme yang amat tinggi. "Dan di antara manusia ada yang 'menjual' dirinya demi memperoleh ridla Allah. (Sebutan ini merujuk kepada firman Allah. 7501983. namun akhirnya mereka habisi dalam suatu pembunuhan politik. yaitu semua orang harus menyingkir dari tatanan mapan dan bergabung dengan mereka demi iman yang benar telah menjerumuskan masyarakat Islam kepada suasana "semua lawan semua. Korban yang paling tragis dari ekstremisme mereka ialah Ali sendiri. dan menamakan diri mereka kaum al-Syurat. yang sejak semula menginginkan penyelesaian militer terhadap Mu'awiyah. Tetapi karena dibawakan dengan militansi yang hampir tak terkendalikan. Mereka ini kemudian membentuk kelompok ketiga. seorang tokoh yang pernah mereka unggulkan dengan penuh antusiasme." tanpa ada pihak yang benar-benar diuntungkan. Metro Pondok Indah Pondok Indah Plaza I Kav.51." [12] -------------------------------------------.

anak sendiri. tempat mereka berpangkalan). Ini. nisbat kepada oase al-Harura dekat Kufah. dalam pandangan Ibn Taymiyyah. yakni. Terutama pada tahun 41 Hijri. Bahkan ada tanda-tanda bahwa problematika kaum Khawarij itu.mereka kemudian lebih dikenal sebagai kaum Khawarij (pemberontak). Perkembangan lebih lanjut masyarakat Islam setelah terbunuhuya Ali oleh kaum Khawarij ialah pengakuan dan dukungan hampir universal masyarakat kepada kekuasaan Mu'awiyah di Damaskus. Tetapi sebenarnya hanya secara fisik mereka boleh dikata terhapus dari sejarah. sebagaimana dahulu muncul dalam sistem kalam kaum Mu'tazilah. sepeninggal Ali. (Mereka juga dinamakan kaum al-Haruriyyun. (Mu'awiyah ternyata menunjukkan kecakapan memerintah yang mengesankan. sekurang-kurangnya secara de facto. Tetapi kekhalifahan Yazid yang memang tidak banyak memenuhi gambaran ideal seorang penguasa Muslim itu segera mengundang munculnya kembali pertentangan-pertentangan laten. masih sempat menunjuk kepada kenyataan bahwa sementara Ali mendapat dukungan bagi kekhalifahannya hanya dari sebagian umat Islam. sudah sejak semula dalam kekhalifahannya Mu'awiyah meminta agar masyarakat menyetujui untuk mengangkat Yazid. mereka ini kemudian mengalami penghancuran diri sendiri (self annihilation) justru karena watak mereka yang sangat akstrem. Bahkan cukup menarik bahwa ibn Taymiyyah. (Sesungguhnya mereka berharap. Tantangan terhadap Yazid mula-mula datang dari para pendukung Ali yang memang nampak selalu siap menggunakan setiap kesempatan. [13] Dengan modal persatuan itu Mu'awiyah dapat melanjutkan program-program ekspansi militer dan politik yang sempat tertunda beberapa lama oleh adanya fitnah. mempertahankan klaim kekhalifahan. meskipun ia tetap secara keseluruhan mengunggulkan Ali atas lawannya itu). anaknya. menunjukkan segi tertentu kelebihan Mu'awiyah atas Ali. sehingga para ahli sejarah ada yang mengatakan sebagai Khalifah Islam yang kedua terbesar. dan orang dengan penuh harapan menyebut tahun itu sebagai "Tahun Persatuan" (Amal-Jama'ah). keadaan kembali kepada kekacauannya yang semula. Mu'awiyah mendapat dukungan yang boleh dikata universal. Akibatnya ialah bahwa mereka hampir-hampir praktis tidak tertahan untuk menyaksikan zaman modern sekarang ini. ummat Islam di bawah Mu'awiyah dapat dikatakan kembali kepada keutuhannya yang semula. [14] Tetapi setelah Mu'awiyah meninggal. dalam polemiknya dengan kaum Syi'ah. sesudah Umar ibn al-Khaththab. Dengan maksud untuk tidak mengambil risiko yang dapat mengganggu "keseimbangan rawan" (delicate balance) susunan masyarakat Islam yang ada dan yang diperoleh dengan banyak pengorbanan itu. kini menunjukkan daya tarik dan vitalitasnya di kalangan sebagian kaum Muslim "liberal" (dalam arti lebih banyak menunjukkan sikap kritis dan mungkin ingin lepas dari kukungan tatanan mapan sosial-keagamaan yang ada). Sebagian besar masyarakat Islam menyetujui ide itu. Sedangkan secara doktrinal. justru banyak sekali faham-faham keagamaan yang kini berkembang dan mapan di kalangan kaum Muslimin dapat ditelusuri kembali sebagai asal dari problematika kaum Khawarij. . agar Hasan. Seperti telah dikatakan tadi. dan Yazid pun dinyatakan sebagai Khalifah. sebagai penggantinya.

Tetapi Hasan mengecewakan mereka dengan sikapnya yang lebih senang turun dari klaim itu dan hidup hampir menyendiri secara damai di Madinah. Yazid tidak bisa mengatasinya. putera Ali dan Fathimah. Tetapi. dan setelah penguasa Damaskus ini meninggal sesudah menjabat sebagai khalifah selama sekitar tiga tahun saja. Abdullah oleh sebagian besar umat diakui sebagai khalifah yang sah. khususnya faham persamaan umat manusia. Di luar kota Makkah sendiri. dengan Makkah sebagai ibukota. tidak pernah efektif. seperti terbunuhnya Utsman sebelumnya. kaum Syi'ah perlahan-lahan mengkonsolidasikan diri dan mengembangkan pandangan-pandangan sosial-politik keagamaan yang kelak menjadi dasar sistem doktrinal Syi'isme. Tetapi kaum Khawarij gagal memperoleh dukungan dari kalangan Muslim yang lebih terorganisir di kota-kota. merupakan peristiwa terpenting dalam fitnah kedua. meliputi sebagian besar pedalaman Jazirah Arabia. Ini membuat kekuasaan kaum Khawarij. meskipun selama fitnah kedua ini menguasai teritorial yang paling luas. telah membuat kaum Khawarij cukup favorable di mata kaum non-muslim. Maka harapan para pendukung Ali kini ditujukan kepada Husayn. Terbunuhnya Husayn. kekuasaan berada di tangan kaum Khawarij yang seperti selama ini melancarkan perang "hit and run" terhadap Abdullah ibn al-Zubayr. setelah berhasil dibujuk oleh gubernur Syria. Tetapi Abdullah tidak menikmati kekuasaan yang mantap. Dan politik mereka yang menerapkan prinsip nonintervensi terhadap kelompok-kelompok bukan-Muslim. Dengan menggunakan sentimen umum terhadap kematian tragis Husayn. Irak. banyak kalangan penduduk Kufah sendiri yang menarik dukungannya kepada Husayn. setelah secaara singkat menjadi pendukung Abdullah ibn al-Zubayr pada saat permulaan penampilan khalifah Makkah . terbunuh secara amat kejam dan tragis. "Partai Ali"). Di Makkah bangkit Abdullah ibn al-Zubayr (ibn al-Awwam) yang ayahnya dahulu pernah menentang Ali bersama A'isyah dan kalah kini bangkit menentang Yazid dengan cukup efektif. sebelum tentera Syria datang menyerbu. dan Husayn. dengan membiarkan mereka dalam otonomi penuh mengurus kepentingan mereka sendiri. dan mereka ini terkucilkan di padang pasir Karbala. Kebiasaan mereka untuk melakukan gerilya dalam kelompok-kelompok penyerang yang disusun seperti sistem kabilah sebelum Islam (masa Jahiliyah) telah mengundang antipati orang-orang kota. khususnya di daerah pedesaan atau badawah. Sebenarnya kaum Khawarij ini hampir berhasil menghidupkan beberapa nilai yang diajarkan oleh Nabi. dekat Kufah. Husayn dengan kekuatan tenteranya yang kecil menolak untuk menyerah. Adalah sejak peristiwa Karabala itu para pendukung setia Ali dan keturunannya dikenal dengan sebutan kaum Syi'ah (yang sebetulnya lengkapnya ialah syi'ah Ali. saudara Hasan. Apalagi. Tentera Yazid menghancurkan mereka. Egalitarianisme mereka telah membuat mereka termasuk yang pertama dalam sejarah Islam yang tidak membeda bedakan antara Muslim Arab dan Muslim bukan-Arab.menghadapi Mu'awiyah di Damaskus. yang mereka undang untuk memberontak di Kufah. cucu Nabi. Tetapi Yazid tidak hanya menghadapi tantangan dari kaum Syi'ah. yang mempunyai dampak amat luas dan mendalam pada sistem sosial-keagamaan Islam sampai sekarang.

dengan melakukan berbagai akomodasi. Keberhasilan Ibn al-Zubayr mematahkan kaum Khawarij dan Syi'ah tidak berarti bahwa mereka benar-benar bebas dari oposisi. sama halnya dengan kaum Khawarij. Sementara itu. (Adalah Marwan ini yang dahulu bertindak sebagai penasehat utama Khalifah Utsman ibn Affan dan didakwa sebagai dalang pembunuhan pemimpin delegasi Mesir yang datang ke Madinah untuk mengadukan perkara mereka. Pemberontakan kaum Syi'ah ini dipimpin oleh Mukhtar ibn Abi Ubayd. dan di situ Khalifah Abdullah ibn al-Zubayr (ibn al-Awwam) terbunuh. Abd al-Malik. sepupu Mu'awiyah. juga ingin menegakkan prinsip persamaan manusia. Dengan cepat kekuatan kaum Umawi di Syria sebagai salah satu kontestan untuk kekhalifahan tumbuh dan berkembang. Hingga akhirnya kaum Umawi berhasil merebut Makkah sendiri (Ka'bah sempat hancur dan harus dibangun kembali karena pertempuran memperebutkan kota suci itu). Dengan tegas Abd al-Malik mendasarkan sistemnya di atas konsep kekuatan (force). menganggap siapa saja yang tidak bergabung dengan mereka sebagai murtad. Segi kebenaran Abd al-Malik ialah bahwa ia berhasil mengakhiri fitnah (kedua). kekuatan-kekuatan oposisi kelanjutan kaum Umawi berhasil mengkonsolidasi diri. Irak juga jatuh ke tangan kaum Umawi. yang kemudian berpaling melawan mereka. Setelah mengalami kekalahan yang tragis oleh Yazid di padang Karbala. namun dengan cara-cara yang lebih moderat. yang dikenal sehagai kaum Azariqah. Irak. Abd al-Malik (692-705). Selain menghadapi kaum Khawarij. sebagai Khalifah. yang berbasiskan Iran. yang berarti hilangnya basis dukungan bagi Ibn al-Zubayr di Mekkah. Kota-kota garnizun di bawah kepemimpinan kaum Umawi yang tegar kini lebih efektif dalam melawan gerilya kaum Khawarij dari pedalaman dibanding keadaan mereka dibawah kepemimpinan Ibn al-Zubayr yang lunak.itu. yang oleh Hodgson disebut sebagai khalifah Islam terbesar ketiga setelah Umar dan Mu'awiyah. dalam bentuk suksesi melalui penunjukan oleh khalifah yang . dan yang kemudian membangkitkan amarah mereka dengan akibat pembunuhan khalifah). Tantangan orang Kufah ini mempermudah pemberontakan kaum Syi'ah untuk dipatahkan oleh Ibn al-Zubayr dengan menggunakan kekuatan tentara dari Basrah yang saat itu telah bebas dari tugas menghadapi kaum Khawarij. Kini kekhalifahan sepenuhnya pindah ke tangan anak Marwan. yaitu Ibn al-Hanafiyyah. Kaum Syi'ah. dan faham keagamaan diperhitungkan hanya setelah jelas siapa yang unggul melalui kekuatan itu. Setelah menyusul Irak. dengan akibat hukum bunuh yang mereka laksanakan secara konsekuen. Tetapi egalitarianisme mereka ini justru membuat marah orang-orang Muslim Arab Kufah. sehingga Mesir pun tidak lama jatuh ke tangan Marwan dan anaknya. Ibn al-Zubayr masih harus menyelesaikan masalah Syi'ah. Kaum Khawarij dan Syi'ah itu tetap merupakan ancaman yang laten. Maka negara menjadi negara kekuasan (macht staat). Kaum Umawi yang berkoalisi dengan kaum Banu Kalb (sandaran utama kekuatan Arab Syria bagi kaum Umawi sejak masa Mu'awiyah) mengangkat Marwan ibn al-Hakam. Juga penggantian kekhalifahan dengan tegas didasarkan kepada pewarisan. kaum Khawarij terpecah menjadi dua. di utara. Mereka dengan tegas mengambil sikap yang menyamakan status antara orang-orang Muslim bukan-Arab dengan Muslim Arab. di Syria. kaum Syi'ah sekali lagi mencoba memobilisasi diri dan menemukan figur sentral mereka pada putera Ali yang lain. Mereka ini akhirnya dikalahkan oleh tentara Ibn al-Zubayr yang berpangkalan di Basrah.

yaitu sebagai lambang persatuan dan kesatuan (Jama'ah) yang tak tergugat. Sebagai dukungan asasi bagi konsep Jama'ah-Nya itu. sudah tentu. suatu konsep atau idiologi yang meletakkan nilai-nilai persatuan dan kesatuan di atas semangat kesukuan dan bahkan di atas faham-faham keagamaan faksional. terlebih lagi para penguasa Umawi. Karena itu ketika para qadli sebagai pemegang semacam kekuasaan yudikatif di daerah-daerah (Abd al-Malik adalah orang pertama melembagakan jabatan qadli itu). maka efeknya ialah penegasan kedaulatan Islam. Solidaritas Arab berdasarkan Islam melawan kecenderungan kesukuan lama (Jahiliyah) ini kemudian menjadi dasar ide tentang Jama'ah. Berbeda dengan pandangan keagamaan kaum Khawarij dan Syi'ah pandangan keagamaan kaum Umawi memang sangat berat berwarna ke-Arab-an. sepanjang mengenai pelaksanaan pemerintahan sehari-hari. banyak referensi dilakukan kepada preseden yang ada dalam sejarah Islam. dan menghancurkan Ka'bah serta membangunnya kembali). bekas guru madrasah di Thaif. jika pemerintahan itu harus dijalankan dengan norma-norma keislaman. [15] Dampak amat penting tindakan ini ialah penyatuan yang lebih meyakinkan seluruh kekuatan Islam (dan Arab). Abd al-Malik meneruskan usaha mempersatukan ummat Islam berkenaan dengan Kitab Suci mereka. Kebesaran Abd al-Malik ibn Marwan yang lain terletak dalam kegairahannya untuk menegaskan supremasi Islam terhadap yang lain. banyak melanjutkan rintisan dan percontohan Umar ibn al-Khathab. Kemudian dorongan untuk memahami lebih baik dan melaksanakan ajarannya secara lebih tepat tumbuh dengan pesat di kalangan umum. pada kalangan Banu Tsaqif (yang sebelumnya telah membantu menaklukkan Mekkah. Maka dengan begitu secara berangsur tumbuhlah . ialah masa Nabi sendiri. kaum Muslimin. dengan memperbaiki cara penulisannya dan memastikan harakat bacaannya melalui penambahan beberapa diakritik dan vokalisasi (harakat). semakin banyak merasakan perlunya bahan rujukan dari kebiasaan mapan (sunnah) masa lalu Islam. Tetapi ketika Abd al-Malik mengganti mata uang logam Yunani yang bergambar kepala raja mereka dengan mata uang logam khas Arab dan Islam dengan simbol kalimah syahadat. dan berfungsi terutama sebagai kode etik dan ajaran disiplin bagi kekuatan elite penakluk dan penguasa. Tetapi. dengan berbagai modifikasi dan penyesuaian. dalam masalah pemerintahan menurut pengertian seluas-luasnya. dengan dibantu oleh keahlian dan kesarjanaan al-Hajjaj ibn Yusuf. Di sisi lain tindakannya bisa disebut sebagai sejenis nasionalisme Arab. Nampaknya masa lalu Islam itu yang paling otoritatif. membunuh Ibn al-Zubayr. Melalui kebijaksanaan Abd al-Malik ibn Marwan ini maka al-Qur'an mempunyai fungsi lain. sebagaimana sebutan pilihan sementara ahli sejarah Islam). Marwani. Maka kaum Umawi di Damaskus itu. Bagi mereka Islam adalah lambang Arabisme yang dipersatukan. yang menjadi dasar kebesaran kekuasaan Umawi (lebih tepat. Maka dalam usaha memahami lebih baik Kitab Suci itu dan melaksanakannya dalam kehidupan nyata. masa Umar ibn al-Khathab nampak paling banyak dijadikan rujukan.terdahulu. yang sebenarnya belum lama berselang itu. Berdasarkan pandangannya itu Abd al-Malik melihat pentingnya usaha lebih lanjut mempersatukan orang-orang Arab di bawah bendera Islam melawan kecenderungan kesukuan yang sampai saat itu masih menunjukkan potensi latennya.

Tapi sejarah mencatat bahwa dorongan paling kuat ke arah sana itu dimulai oleh Khalifah Umar ibn Abd al-Aziz (ibn Marwan) yang dikenal sebagai Umar II (memerintah 717-720) karena mengingatkan orang kepada Khalifah Umar ibn al-Khaththab. khususnya sejak kekhalifahan Abd al-Malik ibn Marwan. Dorongan yang amat kuat untuk menyudahi berbagai fitnah yang telah meninggalkan kesan-kesan penuh trauma itu telah mengharuskan kaum Marwani atau Umawi untuk menunjukkan sikap-sikap yang lebih akomodatif dan kompromistis. tetap lebih unggul daripada Ali. Ini semua kelak disistematisasi dan dikritik. dan menjadi dasar . oleh para sarjana hadits seperti al-Bukhari. 7501983. tapi juga tentang tokoh-tokoh generasi ketiga umat Islam. dan penuturan tentang para tokoh masa lalu itu. anggota-anggota klan mereka. khususnya tentang Nabi sendiri dan para Sahabat. Dalam rangka ini. (021) 7507174 Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota Please direct any suggestion to Media Team Artikel Yayasan Paramadina Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota VI. yang kelak melahirkan disiplin terpisah dalam ilmu-ilmu keagamaan Islam. Utsman. untuk selanjutnya dikodifikasi.yurisprudensi Islam. (021) 7501969. SKISME DALAM ISLAM (4/4) Tinjauan Singkat Secara Kritis-Historis Proses Dini Perpecahan Sosial-Keagamaan Islam oleh Nurcholish Madjid Keperluan kepada bahan rujukan dari masa lalu (preseden) untuk menetapkan hukum lambat-laun tumbuh manjadi kesadaran tentang otoritas tradisi (sunnah) yang sah (valid). pada urutan keempat (artinya. Umar II sebenarnya hanya melanjutkan kecenderungan yang sudah ada pada kaum Marwani atau Umawi. 7507173 Fax. tindakan terpenting ialah mengakui Ali sebagai khalifah yang sah. yaitu ilmu fiqh. Para ahli mengatakan bahwa gerakan perorangan untuk mencatat hadits telah terjadi sejak masa sangat awal sejarah Islam. dll. [16] -------------------------------------------. rupanya malah sejak masa nabi sendiri. Tradisi ini berkembang dan tumbuh kuat. juga anggota klan mereka tapi menjadi musuh Ali). Maka perhatian kepada cerita.51.(bersambung 4/4) Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah Editor: Budhy Munawar-Rachman Penerbit Yayasan Paramadina Jln. Muslim. namun Ali lebih unggul daripada Mu'awiyah. Metro Pondok Indah Pondok Indah Plaza I Kav. UA 20-21 Jakarta Selatan Telp. yang di situ setiap kelompok memperoleh kehormatannya. anekdot. Dengan begitu kaum Marwani atau Umawi meletakkan landasan dialog intern Islam yang meliputi semua. sedikit atau pun banyak. menjadi semakin besar.

Umar. Juga bisa dilihat. kemudian dibarengi atau disusul oleh munculnya berbagai pecahan yang lain lagi. kaum Khawarij hanya Abu Bakr dan Umar. Maka dengan jelas dapat dilihat betapa absurd-nya memutlakkan kebenaran suatu aliran paham dalam agama (Islam).faham yang kini merupakan anutan terbesar kaum Muslim di dunia." [19] Agaknya kita semua ditantang untuk memerangi sektarianisme yang kini masih menggejala. [17] Sebenarnya semangat non-sektarianisme inilah salah satu pandangan dasar Islam yang dibawa Nabi. kaum Umawi lama hanya Abu Bakr. "Sesungguhnya mereka yang memecah belah agama mereka kemudian menjadi bersekte-sekte. sebagai tercermin dalam peringatan yang lain. antara lain. Utsman. QS. sebagai jawab kecenderungan alami manusia untuk memihak yang baik dan benar: "Maka ikutilah olehmu semua agama Ibrahim." [18] Semangat non-sektarianis itulah salah satu makna yang dimaksud bahwa agama Tawhid Nabi Ibrahim adalah hanif. karena mengambil pelajaran dari pengalaman agama-agama sebelumnya. . yaitu Khawarij. setiap golongan membanggakan apa yang ada pada mereka" (yakni. betapa kaum Syi'ah cenderung hanya mengakui Ali. mengakui semuanya namun dengan mengunggulkan Utsman atas Ali dan Ali atas Mu'awiyah. al-Mu'minun/23:51-52. Masing-masing pecahan itu sesungguhnya pecah lagi ke dalam berbagai kelompok. yaitu mereka yang memecah belah agama mereka kemudian menjadi bersekte-sekte. 2. biasa disingkat dengan Ahl al-Sunnah. (Patut diperhatikan. mempunyai sistem dan teori pembenaran bagi pandangan masing-masing. QS. "Dan janganlah kamu termasuk orang-orang musyrik. secara hanif. lebih-lebih lagi jika kita perhitungkan pandangan semua kelompok mengenai masalah kekhalifahan itu. mungkin yang diperlukan sekarang ialah mengembangkan dasar fikiran nonsektarianisme. sama dengan golongan Sunni. maka disebut Ahl al-Sunnah wa 'l-Jama'ah. al-Baqarah/2:213. sesuai dengan peringatan. PENUTUP Dikarenakan terbatasaya ruang dan sifat pembahasan. Uraian di atas. tidak jarang dinyatakan dalam gaya-gaya absolutistik dan "pasti benar"). CATATAN 1. dan melihat sektarianisme sebagai jenis kemusyrikan. Maka kesimpulannya. engkau (Muhammad) tidak sedikit pun termasuk mereka. kaum Marwani atau Umawi. lebih singkat lagi. yang dapat dikemukakan di atas hanyalah masalah-masalah mendasar tentang faham-faham pecahan dini Islam. diharap dapat memberi gambaran (dan kesadaran) betapa relatifnya pangkal skisme dalam Islam (karena berakar dalam pertikaian sosial-politik yang sama sekali tidak mungkin lepas dari konteks ruang dan waktu dalam pengertian yang seluas-luasnya). Syi'ah dan Sunnah. mengaku benar sendiri). dengan sendirinya. yakni. yaitu faham yang menggabungkan antara ideologi Jama'ah (persatuan dan kesatuan) dan ideologi Sunnah (faham yang memandang otoritas masa lalu dan tradisi yang sah sebagai bahan rujukan). Dan setiap kelompok itu. plus Mu'awiyah. meskipun jauh dari sempurna dan lengkap. golongan Sunni. betapa problematisnya kekhalifahan dan kedudukan seorang khalifah.

1405 Hijri qamari (lunar) atau 1363 Hijri Syamsi (solar). 488. 1. Muhammad Shalih ibn Umar Samarani. The Venture of Islam./1965 M. Salah satunya ialah Tarikh at-Thabari yang terkenal.3. seperti . hh. misalnya. The University of Chicago Press. (Cairo: Mathba'at al-Manar. namun kenyataannya ia persis sama dengan mushaf ejaan Utsmani). jil. tiga jilid (Chicago. 7. h.). Ikhtilaf al-a'immah rahmah li al-ummah (Perbedaan pendapat para imam adalah rahmat untuk ummat). Sabda Nabi yang terbaca. Khilaf al-Ummah fi al-Ibadat wa Madzhab Ahl al-Sunnah wa al-Jama'ah (Perselisihan umat dalam ibadat dan Madzhab Ahl al-Sunnah wa al-Jama'ah). 983) ditegaskan oleh penerbit bahwa mushaf itu menggunakan ejaan yang paling asli dan paling aktual. Yunus/10:19.. Lafal lain terbaca. misalnya.S. The Holy Qur'an. Bahkan al-Qur'an kaum Syi'i pun ditulis dengan mengikuti ejaan atau rasm Utsmani. 6.tb5 5. Banyak bahan rujuknya dari literatur klasik untuk pembahasan sekitar perkembangan dini sejarah Islam yang menyangkut fitnah besar ini. salah satu unsur dalam faham Sunni ialah semacam konsensus untuk tidak membicarakan peristiwa-peristiwa menyedihkan yang menyangkut peperangan dan perebutan posisi politik yang terjadi antara para Sahabat Nabi sekitar seperempat abad sesudah wafat beliau. (Lihat. misalnya. Tapi uraian berikut hanyak dibuat dengan bersandar kepada kepada Marshall G. 4. H. passim. Mungkin bisa dikatakan sebagai suatu bentuk penghindaran dari kenyataan pahit dalam sejarah Islam. 10. Hodgson. Hud/11:118-119. yang meskipun ditulis di bawah bayangan kuat idiologi Sunni namun sampai batas yang cukup jauh tidak kehilangan sifat ilmiahnya. QS. A. Cukup ironis bahwa justru hadits ini pun diperselisihkan.241-242). (Meskipun tidak disebutkan dalam pengantar atau lainnya bahwa mushaf itu ditulis dengan ejaan Utsmani. Translation and Commentary (Jeddah: Dar al Qibla. Yang pertama diwakili oleh mushaf terbitan Mu'assasat Intisyarat Amir Kabir. Terdapat pandangan bahwa kalangan "awam" sebaiknya tidak membicarakan hal itu." Bahkan qira'at atau bacaannya disebutkan. Teheran. 1403 H). Rasyid Ridla. yang dikenal dcngall "rasm al-mushaf" atau "rasm Utsmani. 1326 H. Bukan saja samasekali tidak ada perbedaan antara al-Qur'an pada kaum Sunni dan al-Qur'an pada kaum Syi'i. Dalam kata penutup terbitan mushaf ini (h. baik dari kesahihan sanadnya maupun dari segi lafalnya yang lebih persis. 8. Tapi betapa pun diperselisihkan hadits itu nampaknya banyak dipercayai para ahli. Tarjamah Sabil al-Abid ala Jawharat al-Tauhid [tanpa data penerbitan]. 1343 H. 1974). catatan 1407.tb5. QS. Yusuf Ali. 9. Yang kedua diwakili oleh mushaf terbitan Mu'assasat Intisyarat Shabirin. QS. memberi pengantar dengan semangat hadits itu untuk penerbitan risalah Ibn Taymiyyah. Ikhtilaf ummati rahmah (Perbedaan pendapat ummatku adalah rahmat). Teheran. baik yang diterbitkan pada masa pemerintahan Syah Reza Pahlewi maupun yang diterbitkan pada masa pemerintahan Islam revolusioner (Khumaini). al-Ma'idah 5:51.

beliau (Nabi) bersabda. serta kamu mengutuk mereka dan mereka mengutuk kamu. sama dengan huruf-hurut Semitik yang lain.a. 189). h. h. bahwa beliau bersabda.'" (ibid.. Kitab al-Kharaj. (Lihat. 14.mushaf Sunni.. 57 (antara hh. Sebaliknya tentang Ali. Tarikh al-Tasri al-Islami. 87). kecuali mereka yang benar-benar mengenal bahasa Arab karena dibesarkan sebagai orang Arab. tidak akan berkumpul menjadi satu anak perempuan Rasulullah dengan anak perempuan musuh Allah pada satu orang lelaki. sebagai berasal dari riwayat Hafsh dari Ashim. 13. Perlu diingat bahwa meskipun al-Qur'an telah dipersatukan kodifikasinya oleh Utsman namun orang masih mengalami kesulitan untuk memastikan pembacaannya. Perdebatan itu terekam dalam karya seorang murid Imam Abu Hanifah. QS. 3.. sekali lagi tidak akan mengizinkan! Kecuali jika anak Abu Thalib itu menceraikan anak perempuanku (Fathimah) dan kemudian kawin dengan anak perempuan mereka. mengatakan. 194). Ibn Taymiyyah masih sempat mencatat demikian. Karena hampir semua kelompok Islam mengakui kekuasaan de facto Mu'awiyah. 1389 H/1969). 1387 H/1967]. 15. 'Sebaik-baik para pemimpinmu ialah yang kamu cinta kepada mereka dan mereka cinta kepada kamu dan berdo'a untuk kebaikanmu. maka tahun 41 Hijri disebut "Tahun Persatuan" ('Am al Jama'ah). Dan kemudian konsep Jama'ah itu dikembangkan sebagai idiologi. jil. 12. Sangat menarik sebagai bahan studi lebih mendalam mempelajari berbagai polemik sekitar Ali dan Mu'awiyah ini. Abu Ya'quh Yusuf. h. "yang dari jalur lain dari Imam Ali ibn Abi Thalib. Bani al-Mughirah meminta izin kepadaku untuk mengawinkan anak perempuan mereka kepada Ali. juga h. al-Syaykh Muhammad al-Hudlari Bek." (Minhaj al-Sunnah. Ibn Taymiyyah. al-Baqarah 2:207. dan rakyatnya mencintainya. Sebagai contoh tulisan Arab tingkat awal itu berikut ini adalah (foto) kopi surat Rasulullah kepada al-Mundzir ibn Sawi. salah seorang pemikir Sunni mazhab Hanbali yang sangat polemis terhadap golongan Syi'ah.pada mushaf. Misalnya. dan dalam kutipan kedua ia mau memperlihatkan betapa Ali pernah membuat hal yang menyakiti hati Nabi. Dan sungguh aku tidak akan mengizinkan. Padahal telah mantap dalam al-Shahihayn (Bukhari-Muslim) dari Nabi s. yang hanya mengenal konsonan. sekali lagi tidak akan mengizinkan. Zeltschrift der Deutschen Morgenlandischen dalam Majmu'at al-Watsa'iq al-Siyasiyyah li al-Ahd al-Nabawi wa Khilaafat al-Rasyidah (Beirut: Dar al-Irsyad. ". Sedangkan mereka yang tidak demikian keadaannya akan terbentur kepada sistem huruf Arab. dokumen No. Muhammad Hamidullah dengan izin majalah orientalisme Jerman. Dan tatkala dia (Ali) melamar anak perempuan Abu Jahl. Sedangkan seburuk-buruk pemimpinmu ialah yang kamu benci kepada mereka dan mereka benci kepadamu. "Perilaku Mu'awiyah terhadap rakyatnya adalah termasuk sebaik-baik perilaku para penguasa." 11.w. [Beirut. 114 dan 115): Tulisan seperti di masa Rasulullah itulah yang juga digunakan . 110. Dar al-Fikr. yang diturun oleh Dr. tanpa huruf hidup. Demi Allah. Jadi dalam kutipan pertama Ibn Taymiyyah ingin mengesankan bahwa Mu'awiyah bertingkah laku sesuai dengan Sunnah.

sampai sekarang. maka segi hukum dari agama juga amat dominan dan supreme. (021) 7501969.. "Katakan Muhammad." (QS. antara fa' dan qaf. antara lain. Keadaan serupa itu bertahan hampir sepanjang sejarah Islam sesudah masa Marwani. sehingga pengetahuan mengenai masalah-masalah hukum pun dianggap fiqh par excellence. Maka penambahan beberapa diakritik. antara lain. antara dal dan dzal.. dan. Tapi karena dominasi dan supremasi persoalan penataan kembali masyarakat saat-saat dini sejarah Islam. QS. khususnya pada masa dinasti Marwani itu (antara lain karena urgensi mengatasi dan menyudahi fitnah yang berkelarutan). seperti untuk bunyi-bunyi ba'. seperti satu. tsa nun dan ya'. QS.untuk kodifikasi al-Qur'an oleh Utsman dan menghasilkan mushaf rasmUtsmani. Bahwa agama yang dibawa Nabi Muhammad adalah juga agama Ibrahim ditegaskan dalam cukup banyak ayat-ayat suci. ha' dan kha'. 18. tiga titik." (QS. UA 20-21 Jakarta Selatan Telp. (021) 7507174 Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota Please direct any suggestion to Media Team Artikel Yayasan Paramadina Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan . Ali 'Imran/3:95. al-Rum/30:32. 19. Perhatikan bahwa untuk perkembangan tulisan Arab saat itu. yaitu agama yang teguh (konsisten). antara ra' dan za' antara sin dan syin. dua. di bawah dan di atas oleh al-Hajjaj merupakan fase amat penting dalam sejarah metode penulisan al-Qur'an. 16. antara shad dan dlal. al-Tawbah/9:122. 'Sesungguhnya aku diberi petunjuk oleh Tuhanku ke arah jalan yang lurus. 17. al-An'am 6:98). antara 'ayn dan ghayn. kesulitan masih harus ditambah dengan tidak adanya perbedaan simbol untuk cukup banyak bunyi. Perkataan Arab "fiqh" sendiri berarti "faham" (dalam makna "mengerti"). antara tha' dan dha'. al-An'am/6:161). akhirnya.. "Kami (Tuhan) telah merinci berbagai ayat untuk kaum yang mengerti" (ber-fiqh) (QS. QS. ta'. Metro Pondok Indah Pondok Indah Plaza I Kav. Maka hendaklah dari setiap golongan ada satu kelompok orang yang pergi (mencurahkan perhatian) untuk memahami agama secara mendalam (ber-tafaqquh) . ". al-An'am/6:169. dan antara bunyi-bunyi jim. Penggunaan perkataan "fiqh" sebenarnya merujuk kepada beberapa firman Allah. 7501983. -------------------------------------------Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah Editor: Budhy Munawar-Rachman Penerbit Yayasan Paramadina Jln. Ini tercermin dalam bagaimana sebagian besar kaum Muslim mempersepsi agamanya sebagai terutama sistem hukum. agama (Nabi) Ibrahim yang hanif . 7507173 Fax.. Jadi yang dimaksudkan dengan perkataan fiqh dalam firman-firman itu pendalaman ajaran keagamaan secara menyeluruh.

power. tentang kata-kata "wali" dan "amr. daerah yurisdiksi. juga berarti: urusan. loyalitas. kepala pemerintahan (seperti wali kota. kata "wilayah" yang berarti kekuasaan. 47. pemilik atau penguasa sesuatu barang. timbul bentuk-bentuk kata "amir. Dalam bahasa asalnya.ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota VI. petugas. Hal itu jelas memperlihatkan keterkaitan Pemerintah dengan urusan keagamaan (pelaksanaan ajaran agama). "amiralay (brigadier general). otoritas. teman atau sahabat. Mengamarkan: memerintahkan. atau wilayahnya). masalah penting. amirul mu'minin (khalifah). Kata "wali al-amr" (dalam sebutan Indonesia) berasal dari "waliy-u 'l-amr" (bahasa Arab)." "amiral" (admiral). selain berarti: order. atau markasnya. ingin kita melihat kaitan pengertian kata ini dengan persoalan hukum dalam rangka kajian fiqh. Dalam persoalan ini tentunya pada tingkat pertama kita ." cukup beralasan dilihat dari segi pemakaian bahasa. kewenangan. Dalam kaitan masalah-masalah tersebut di atas terkait permasalahan wali al-amr. kata ini berarti juga: penolong. Dari akar kata "amr" ini. yaitu orang suci dan keramat (seperti Wali Songo). pengasuh pengantin perempuan ketika nikah yaitu keluarga dekatnya yang melakukan janji atau akad nikah dengan pengantin laki-laki (dalam urusan nikah ini dikenal juga adanya wali hakim yaitu pejabat urusan agama yang bertindak sebagai wali). suruhan. Dari akar kata ini berkembang bentuk-bentuk kata: wala yang berarti: cinta. pemelihara. wali Allah atau waliullah. persahabatan. yaitu kata "amr" biasa dibunyikan "amar" yang berarti: perintah atau suruhan (misalnya: dengan amar raja diartikan: atas perintah raja)." Kedua bagian kata majemuk ini sudah lazim dipakai dalam bahasa Indonesia. Sesudah itu. Kalau ditambah dengan akhiran "an" maka menjadi "amaran" yang berarti: perintah. Itulah pembahasan sepintas dari segi etimologis dan lexicologis. wali negara). Maka dalam rangka urusan tersebut kita dapat memahami kehadiran Undang-undang Perkawinan dan Undang-undang Peradilan Agama (yang belum lama ini sudah diundangkan). PENGERTIAN WALI AL-AMR DAN PROBLEMATIKA (1/2) HUBUNGAN ULAMA DAN UMARA oleh Ali Yafie Pemerintah memandang perlu untuk mengeluarkan sebuah keputusan dalam kaitan hari libur Idul Fithri sebagai hari libur nasional." Maka kata "waliy-u 'l-amr