Artikel Yayasan Paramadina

Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota II.9. KONSEP-KONSEP KEADILAN oleh Abdurrahman Wahid Tidak dapat dipungkiri, al-Qur'an meningkatkan sisi keadilan dalam kehidupan manusia, baik secara kolektif maupun individual. Karenanya, dengan mudah kita lalu dihinggapi semacam rasa cepat puas diri sebagai pribadi-pribadi Muslim dengan temuan yang mudah diperoleh secara gamblang itu. Sebagai hasil lanjutan dari rasa puas diri itu, lalu muncul idealisme atas al-Qur'an sebagai sumber pemikiran paling baik tentang keadilan. Kebetulan persepsi semacam itu sejalan dengan doktrin keimanan Islam sendiri tentang Allah sebagai Tuhan Yang Maha Adil. Bukankah kalau Allah sebagai sumber keadilan itu sendiri, lalu sudah sepantasnya al-Qur'an yang menjadi firmanNya (kalamu 'l-Lah) juga menjadi sumber pemikiran tentang keadilan? Cara berfikir induktif seperti itu memang memuaskan bagi mereka yang biasa berpikir sederhana tentang kehidupan, dan cenderung menilai refleksi filosofis yang sangat kompleks dan rumit. Mengapakah kita harus sulit-sulit mencari pemikiran dengan kompleksitas sangat tinggi tentang keadilan? Bukankah lebih baik apa yang ada itu saja segera diwujudkan dalam kenyataan hidup kaum Muslimin secara tuntas? Bukankah refleksi yang lebih jauh hanya akan menimbulkan kesulitan belaka? "Kecenderungan praktis" tersebut, memang sudah kuat terasa dalam wawasan teologis kaum skolastik (mutakallimin) Muslim sejak delapan abad terakhir ini. Argumentasi seperti itu memang tampak menarik sepintas lalu. Dalam kecenderungan segera melihat hasil penerapan wawasan Islam tentang keadilan dalam hidup nyata. Apalagi dewasa ini justru bangsa-bangsa Muslim sedang dilanda masalah ketidakadilan dalam ukuran sangat massif. Demikian juga, persaingan ketat antara Islam sebagai sebuah paham tentang kehidupan, terlepas dari hakikatnya sebagai ideologi atau bukan, dan paham-paham besar lain di dunia ini, terutama ideologi-ideologi besar seperti Sosialisme, Komunisme, Nasionalisme dan Liberalisme. Namun, sebenarnya kecenderungan serba praktis seperti itu adalah sebuah pelarian yang tidak akan menyelesaikan masalah. Reduksi sebuah kerumitan menjadi masalah yang disederhanakan, justru akan menambah parah keadaan. Kaum Muslim akan semakin menjauhi keharusan mencari pemecahan yang hakiki dan berdayaguna penuh untuk jangka panjang, dan merasa puas dengan "pemecahan" sementara yang tidak akan berdayaguna efektif dalam jangka panjang. Ketika Marxisme dihadapkan kepada masalah penjagaan hak-hak perolehan warga masyarakat, dan dihadapkan demikian kuatnya wewenang masyarakat untuk memiliki alat-alat produksi, pembahasan masalah itu oleh pemikir Komunis diabaikan, dengan menekankan slogan "demokrasi sosial" sebagai pemecahan praktis yang menyederhanakan masalah. Memang berdayaguna besar dalam jangka pendek, terbukti dengan kemauan mendirikan negara-negara Komunis dalam kurun waktu enam dasawarsa terakhir ini. Namun, "pemecahan masalah" seperti itu ternyata

membawa hasil buruk, terbukti dengan "di bongkar pasangnya" Komunisme dewasa ini oleh para pemimpin mereka sendiri di mana-mana. Rendahnya produktivitas individual sebagai akibat langsung dari hilangnya kebebasan individual warga masyarakat yang sudah berwatak kronis, akhirnya memaksa parta-partai Komunis untuk melakukan perombakan total seperti diakibatkan oleh perestroika dan glasnost di Uni Soviet beberapa waktu lalu. Tilikan atas pengalaman orang lain itu mengharuskan kita untuk juga meninjau masalah keadilan dalam pandangan Islam secara lebih cermat dan mendasar. Kalaupun ada persoalan, bahkan yang paling rumit sekalipun, haruslah diangkat ke permukaan dan selanjutnya dijadikan bahan kajian mendalam untuk pengembangan wawasan kemasyarakatan Islam yang lebih relevan dengan perkembangan kehidupan umat manusia di masa-masa mendatang. Berbagai masalah dasar yang sama akan dihadapi juga oleh paham yang dikembangkan Islam, juga akan dihadapkan kepada nasib yang sama dengan yang menentang Komunisme, jika tidak dari sekarang dirumuskan pengembangannya secara baik dan tuntas, bukankah hanya melalui jalan pintas belaka. Pembahasan berikut akan mencoba mengenal (itemize) beberapa aspek yang harus dijawab oleh Islam tentang wawasan keadilan sebagaimana tertuang dalam al-Qur'an. Pertama-tama akan dicoba untuk mengenal wawasan yang ada, kemudian dicoba pula untuk menghadapkannya kepada keadaan dan kebutuhan nyata yang sedang dihadapi umat manusia. Jika dengan cara ini lalu menjadi jelas hal-hal pokok dan sosok kasar dari apa yang harus dilakukan selanjutnya, tercapailah sudah apa yang dikandung dalam hati. PENGERTIAN KEADILAN Al-Qur'an menggunakan pengertian yang berbeda-beda bagi kata atau istilah yang bersangkut-paut dengan keadilan. Bahkan kata yang digunakan untuk menampilkan sisi atau wawasan keadilan juga tidak selalu berasal dari akar kata 'adl. Kata-kata sinonim seperti qisth, hukm dan sebagainya digunakan oleh al-Qur'an dalam pengertian keadilan. Sedangkan kata 'adl dalam berbagai bentuk konjugatifnya bisa saja kehilangan kaitannya yang langsung dengan sisi keadilan itu (ta'dilu, dalam arti mempersekutukan Tuhan dan 'adl dalam arti tebusan). Kalau dikatagorikan, ada beberapa pengertian yang berkaitan dengan keadilan dalam al-Qur'an dari akar kata 'adl itu, yaitu sesuatu yang benar, sikap yang tidak memihak, penjagaan hak-hak seseorang dan cara yang tepat dalam mengambil keputusan ("Hendaknya kalian menghukumi atau mengambil keputusan atas dasar keadilan"). Secara keseluruhan, pengertian-pengertian di atas terkait langsung dengan sisi keadilan, yaitu sebagai penjabaran bentuk-bentuk keadilan dalam kehidupan. Dari terkaitnya beberapa pengertian kata 'adl dengan wawasan atau sisi keadilan secara langsung itu saja, sudah tampak dengan jelas betapa porsi "warna keadilan" mendapat tempat dalam al-Qur'an, sehingga dapat dimengerti sikap kelompok Mu'tazilah dan Syi'ah untuk menempatkan keadilan ('adalah) sebagai salah satu dari lima prinsip utama al-Mabdi al-Khamsah.) dalam keyakinan atau akidah mereka. Kesimpulan di atas juga diperkuat dengan pengertian dan dorongan al-Qur'an agar manusia memenuhi janji, tugas dan amanat yang dipikulnya, melindungi yang menderita, lemah dan

kekurangan, merasakan solidaritas secara konkrit dengan sesama warga masyarakat, jujur dalam bersikap, dan seterusnya. Hal-hal yang ditentukan sebagai capaian yang harus diraih kaum Muslim itu menunjukkan orientasi yang sangat kuat akar keadilan dalam al-Qur'an. Demikian pula, wawasan keadilan itu tidak hanya dibatasi hanya pada lingkup mikro dari kehidupan warga masyarakat secara perorangan, melainkan juga lingkup makro kehidupan masyarakat itu sendiri. Sikap adil tidak hanya dituntut bagi kaum Muslim saja tetapi juga mereka yang beragama lain. Itupun tidak hanya dibatasi sikap adil dalam urusan-urusan mereka belaka, melainkan juga dalam kebebasan mereka untuk mempertahankan keyakinan dan melaksanakan ajaran agama masing-masing. Yang cukup menarik adalah dituangkannya kaitan langsung antara wawasan atau sisi keadilan oleh al-Qur'an dengan upaya peningkatan kesejahteraan dan peningkatan taraf hidup warga masyarakat, terutama mereka yang menderita dan lemah posisinya dalam percaturan masyarakat, seperti yatim-piatu, kaum muskin, janda, wanita hamil atau yang baru saja mengalami perceraian. Juga sanak keluarga (dzawil qurba) yang memerlukan pertolongan sebagai pengejawantahan keadilan. Orientasi sekian banyak "wajah keadilan" dalam wujud konkrit itu ada yang berwatak karikatif maupun yang mengacu kepada transformasi sosial, dan dengan demikian sedikit banyak berwatak straktural. Fase terpenting dari wawasan keadilan yang dibawakan al-Qur'an itu adalah sifatnya sebagai perintah agama, bukan sekedar sebagai acuan etis atau dorongan moral belaka. Pelaksanaannya merupakan pemenuhan kewajiban agama, dan dengan demikian akan diperhitungkan dalam amal perbuatan seorang Muslim di hari perhitungan (yaum al-hisab) kelak. Dengan demikian, wawasan keadilan dalam al-Qur'an mudah sekali diterima sebagai sesuatu yang ideologis, sebagaimana terbukti dari revolusi yang dibawakan Ayatullah Khomeini di Iran. Sudah tentu dengan segenap bahaya-bahaya yang ditimbulkannya, karena ternyata dalam sejarah, keadilan ideologis cenderung membuahkan tirani yang mengingkari keadilan itu Sebab kenyataan penting juga harus dikemukakan dalam hal ini, bahwa sifat dasar wawasan keadilan yang dikembangkan al-Qur'an ternyata bercorak mekanistik, kurang bercorak reflektif. Ini mungkin karena "warna" dari bentuk konkrit wawasan keadilan itu adalah "warna" hukum agama, sesuatu yang katakanlah legal-formalistik. PERMASALAHAN Mengingat sifat dasar wawasan keadilan yang legal-formalistik dalam al-Qur'an itu, secara langsung kita dapat melihat adanya dua buah persoalan utama yaitu keterbatasan visi yang dimiliki wawasan keadilan itu sendiri, dan bentuk penuangannya yang terasa "sangat berbalasan" (talionis, kompensatoris). Keterbatasan visi itu tampak dari kenyataan, bahwa kalau suatu bentuk tindakan telah dilakukan, terpenuhilah sudah kewajiban berbuat adil, walaupun dalam sisi-sisi yang lain justru wawasan keadilan itu dilanggar. Dapat dikemukakan sebagai contoh, umpamanya, seorang suami telah "bertindak adil" jika "berbuat adil" dengan menjaga ketepatan bagian menggilir dan memberikan nafkah antara dua orang isteri, tanpa mempersoalkan apakah memiliki dua orang isteri itu sendiri adalah sebuah tindakan yang adil. Dengan demikian, pemenuhan tuntutan

keadilan yang seharusnya berwajah utuh, lalu menjadi sangat parsial dan tergantung kepada pelaksanaan di satu sisinya belaka. Warna kompensatoris dari wawasan keadilan yang dibawakan al-Qur'an itu juga terlihat dalam sederhananya perumusan apa yang dinamakan keadilan itu sendiri. Wanita yang diceraikan dalam keadaan hamil berhak memperoleh santunan hingga ia melahirkan anak yang dikandungnya, cukup dengan jumlah tertentu berupa uang atau bahan makanan. Sangat terasa watak berbalasan dari "pemenuhan keadilan" yang berbentuk seperti ini, karena ada "pertukaran jasa" antara mengandung anak (bagi suami) dan memberikan santunan material (bagi isteri). Dari pengamatan akan kedua hal di atas lalu menjadi jelas, bahwa permasalahan utama bagi wawasan keadilan dalam pandangan al-Qur'an itu masih memerlukan pengembangan lebih jauh, apalagi jika dikaitkan dengan perkembangan wawasa keadilan dalam kehidupan itu sendiri. Sampai sejauh manakah dapat dikembangkan wawasan demokrasi yang utuh bila dipandang dari sudut wawasan keadilan yang dimiliki al-Qur'an itu? Dapatkah kepada kelompok demokrasi yang utuh bila dipandang dari sudut wawasan keadilan yang dimiliki al-Qur'an itu? Dapatkah kepada kelompok minoritas agama diberikan hak yang sama untuk memegang tampuk kekuasaan? Dapatkah wawasan keadilan itu menampung kebutuhan akan persamaan derajat agama dikesampingkan oleh kebutuhan akan hukum yang mencerminkan kebutuhan akan persamaan perlakuan hukum secara mutlak bagi semua warga negara tanpa melihat asal-usul agama, etnis, bahasa dan budayanya? Dapatkah dikembangkan sikap untuk membatasi hak milik pribadi demi meratakan pemilikan sarana produksi dan konsumsi guna tegaknya demokrasi ekonomi? Deretan pertanyaan fundamental, yang jawaban-jawabannya akan menentukan mampukah atau tidak wawasan keadilan yang terkandung dalam al-Qur'an memenuhi kebutuhan sebuah masyarakat modern di masa datang. Diperlukan kajian-kajian lebih lanjut tentang peta permasalahan seperti dikemukakan di atas, namun jelas sekali bahwa visi keadilan yang ada dalam al-Qur'an dewasa ini harus direntang sedemikian jauh, kalau diinginkan relevansi berjangka panjang dari wawasan itu sendiri. Jelas, masalahnya lalu menjadi rumit dan memerlukan refleksi filosofis, di samping kejujuran intelektual yang tinggi untuk merampungkannya secara kolektif. Masalahnya, masih punyakah umat Islam kejujuran intelektual seperti itu, atau memang sudah tercebur semuanya dalam pelarian sloganistik dan "kerangka operasionalisasi" serba terbatas, sebagai pelarian yang manis? -------------------------------------------Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah Editor: Budhy Munawar-Rachman Penerbit Yayasan Paramadina Jln. Metro Pondok Indah Pondok Indah Plaza I Kav. UA 20-21 Jakarta Selatan Telp. (021) 7501969, 7501983, 7507173 Fax. (021) 7507174 Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan

ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota
Please direct any suggestion to Media Team

Artikel Yayasan Paramadina
Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota I.1. PERSOALAN PENAFSIRAN METAFORIS ATAS FAKTA-FAKTA TEKSTUAL oleh M. Quraish Shihab (1/2) Dalam kamus linguistik, "metafora" (metaphor) berarti pemakaian suatu kata atau ungkapan untuk suatu obyek atau konsep, berdasarkan kias atau persamaan." (1) Itu berarti suatu kosakata atau susunan kata yang pada mulanya digunakan untuk makna tertentu (secara literal atau harfiah) dialihkan kepada makna lain. Dalam disiplin ilmu al-Qur'an pengalihan arti itu disebut ta'wil, atau oleh ulama-ulama sesudah abad ke 3 H., diartikan sebagai "mengalihkan arti suatu kata atau kalimat dari makna asalnya yang hakiki ke makna lain berdasarkan indikator-indikator atau argumentasi-argumentasi yang menyertainya." (2) Salah satu cabang disiplin ilmu bahasa Arab yaitu ilmu al-bayan menggunakan istilah majaz untuk maksud di atas. Tak dapat disangkal, setiap bahasa mengenal kata atau ungkapan yang bersifat metaforis, termasuk bahasa yang digunakan al-Qur'an. Tapi bagaimana dengan al-Qur'an yang redaksi-redaksinya merupakan susunan Ilahi? Apakah mengenal pula metafora? Al-Qur'an menegaskan, Ia turun dalam bahasa Arab. Kosakata yang digunakan umumnya digunakan pula oleh masyarakat Arab pada masa turunnya, tapi gaya susunannya yang bukan prosa dan bukan pula puisi, serta keindahan nada yang dihasilkannya menjadikan pakar-pakar bahasa Arab ketika itu mengakui, mereka tak mampu menyusun semacam redaksi ayat-ayatnya. Hal ini memberi petunjuk atau kesan bahasa al-Qur'an berbeda dengan bahasa yang digunakan ketika itu. Tapi di sisi lain, para ahli dalam rangka memahami al-Qur'an menelusuri dan mempelajari penggunaan kosakata dan ungkapan-ungkapan yang digunakan khususnya oleh suku-suku Qais, Tamim dan Asad karena mereka dinilai masih bertahan dengan bahasa Arab asli. Mereka oleh pakar-pakar budaya dan bahasa dinilai belum atau tak tersentuh oleh akulturasi budaya atau bahasa. Berbeda dengan suku-suku Arab lain nya yang bertetangga dengan daerah-daerah yang tak berbahasa Arab ketika itu seperti, Lakhem dan Juzaam yang bertetangga dengan penduduk Coptik di Mesir atau Gassaan dan Qudha'ah yang bertetangga dengan penduduk Syam yang berbahasa Ibrani. Atau suku Abdi al-qais dan Azad, penduduk Bahrain (Emirat Arab) yang bergaul dengan orang-orang India dan Persia. Bahkan para pakar bahasa tersebut --tak merujuk dalam rangka memahami kosakata atau ungkapan-ungkapan al-Qur'an-- pada penduduk kota-kota Hijaz sekali pun, karena mereka menilai bahwa pergaulan mereka relatif luas sehingga mengakibatkan bahasa mereka tak "asli" lagi. Isi yang dikemukakan di atas, menjadi bukti bahwa pemahaman

al-Qur'an tak terlepas dari pemahaman kosakata atau ungkapan yang digunakan orang-orang Arab pada masa turunnya; dan apabila terbukti mereka menggunakan metafora dalam percakapan mereka maka tentunya dalam al-Qur'an hal yang demikian pasti ditemukan, karena ia diturunkan dengan bahasa Arab, agar dapat mereka pahami (QS. Fushshilat: 3). Penelitian-penelitian yang dilakukan pakar-pakar bahasa, seringkali menimbulkan perbedaan-perbedaan di antara mereka, khususnya ulama-ulama Kufah versus ulama-ulama Bashrah. Ini berarti sebagian hasil-hasil yang mereka peroleh belum mendapat kesepakatan semua pihak, yang berakibat membawa sebagian ulama pada sikap hati-hati dalam menolak pemahaman metaforis bagi teks-teks keagamaan. Paling tidak, jika tak memahaminya secara literal, mereka menyerahkan pengertian sekian banyak kosakata atau ungkapan al-Qur'an kepada Allah swt. Sikap semacam ini tentunya tak memuaskan banyak pihak dan dari hari ke hari pembahasan masalah-masalah metaforis dalam teks-teks keagamaan tumbuh dengan pesatnya. Agaknya al-Jahiz (w. 255 H/868 M) merupakan tokoh pertama yang menghasilkan pemikiran-pemikiran jernih menyangkut masalah tersebut. Walaupun harus diakni bahwa kitab tafsir pertama, karya Abu Ubaidah Mu'ammar bin Al-Mustana (w. 209 H) bernama Majazat al-Qur'an. Namun nama ini tak berkaitan dengan pengertian majaz atau metafora yang dimaksud di sini. Tokoh al-Mahiz adalah seorang penganut aliran rasional dalam bidang teologi (Mu'tazilah) dan dengan penafsiran-penafsirannya ia telah mampu menyelesaikan sekian banyak problema pemahaman keagamaan yang tadinya dihadapi sekian banyak ulama. Imam Malik (w. 795 M) misalnya, enggan membenarkan redaksi "langit menurunkan hujan," karena berkeyakinan bahwa yang menurunkan hujan adalah Allah swt. (3) Demikian juga ketika beliau ditanya tentang pengertian Firman Allah dalam QS. Thaha: 5, "Tuhan yang maha pemurah bersemayam di atas Arasy." Malik menjawab: Pertanyaan semacam ini merupakan bid'ah" (tercela dalam pandangan agama). Bahkan sebagaimana ditulis al-Jahiz dalam bukunya al-Hayawan (4) ada orang-orang yang menduga bahwa batu merupakan makhluk berakal, berdasarkan Firman Allah dalam QS. al-Baqarah: 74 "... dan diantaranya (diantara batu) sungguh ada yang meluncur karena takut kepada Allah ...," sebagaimana ada yang menduga bahwa ada nabi-nabi untuk lebah-lebah berdasarkan QS. al-Nahl: 68, "Dan Tuhanmu mewahyukan kepada lebah." Kemudian mereka berpaham demikian merangkai hikayat-hikayat yang tak mempunyai dasar sedikitpun. Al-Jahiz yang sangat rasional dan ahli dalam bidang kebahasaan itu membantah pendapat-pendapat semacam itu dengan menunjuk pada penggunaan kosakata atau ungkapan yang sama dan yang pernah digunakan orang-orang Arab menjelang dan pada masa turunnya al-Qur'an. Ibnu Qutaibah (w. 276 H/889 M), murid al-Jahid walau pun bukan penganut aliran Muitazilah bahkan dinilai sebagai "juru bicara Ahl-u'l-Sunnah" (5) melanjutkan dan mengembangkan usaha-usaha gurunya dalam memahami teks-teks keagamaan dengan berbagai

motif yang berkembang dengan sangat pesat; dan tentu menggunakan segala cara dan argumentasi, baik logika maupun kebahasaan. Mereka yang menolak pemahaman metaforis dalam teks-teks keagamaan, paling tidak menggunakan dua argumentasi berikut, pertama, Metafora sama dengan kebohongan, sedangkan al-Qur'an adalah firman-firman Allah yang suci dari hal tertentu. Kedua, Seorang pembicara tak menggunakan metafora kecuali jika ia tak mampu menemukan kosakata atau ungkapan yang bersifat hakiki, dan tentunya harus diyakini bahwa Allah maha mampu atas segala sesuatu. Kedua argumentasi di atas jelas sekali kekeliruannya, sehingga berbagai ahli menolaknya. Ibnu Qutaibah menolak dengan menyatakan, "Seandainya metafora atau majaz dinilai kebohongan, maka alangkah banyaknya ucapan-ucapan kita merupakan kebohongan." (6) Al-Sayuthi (w. 911 H/1505 M) menulis dalam bukunya al-Itqan, "Metafora adalah unsur keindahan bahasa dan jika ia ditolak keberadaannya dalam al-Qur'an, maka tentunya sebahagian unsur keindahan pun tak akan ada padanya." (7) Sebagaimana telah dikemukakan pada awal uraian metafora dalam istilah ilmu bahasa Arab dinamai majaz, atau dalam istilah ilmu-ilmu al-Qur'an disebut ta'wil. Majaz menurut kaidah kebahasaan dapat dilakukan akibat adanya satu dari dua hal berikut, pertama, terdapat persamaan antara makna yang dikandung kosakata atau ungkapan dalam arti literalnya dengan makna yang dikandung oleh pengertian metaforis yang ditetapkan. Kedua, adanya perkaitan atau hubungan antara dua hal dalam ungkapan, sehingga mengakibatkan terjadinya penisbahan satu kalimat kepada sesuatu yang seharusnya bukan kepadanya. Ia dinisbahkan, misalnya "langit menurunkan hujan." Di sini terdapat perkaitan antara langit dan hujan, karena langit atau awan adalah sumber kedatangannya dan dengan demikian kepadanya ia dinisbahkan. Disepakati oleh mereka yang berpendapat adanya metafora, bahwa dibutuhkan dukungan petunjuk atau argumen guna mengalihkan satu makna hakiki ke makna metaforis. Tanpa adanya petunjuk maka penta'wilan tak dapat dilakukan. Tapi bagaimana bentuk petunjuk atau argumen tersebut, diperselisihkan mereka. Pertama, Kelompok yang dikenal dengan "al-Dhahiriyah" yaitu pengikut-pengikut Daud al-Dhahiri (w. 270 H) tak membenarkan adanya penta'wilan atau pengertian metaforis dalam teks-teks keagamaan, kecuali bila pengertian yang ditetapkan itu telah populer di kalangan orang-orang Arab pada masa turunnya al-Qur'an, serta terdapat petunjuk yang jelas yang mendukung pengalihan makna atau penta'wilan tersebut. (8) Ibnu Hazem (w. 456 H/1064 M) menegaskan,"Selama arti yang dipilih bagi satu kosakata atau ungkapan telah dikenal di kalangan sahabat dan Tabi'in dan sejalan pula dengan bahasaArab klasik, maka arti tersebut harus diterima baik dalam pengertian majaz, maupun hakiki." (9) Hanya perlu dicatat, satu kosakata atau ungkapan, tak dialihkan ke makna metaforis kecuali setelah makna hakiki tak dapat digunakan. Kedua, al-Syathibi penta'wilan ayat-ayat mengemukakan dua syarat al-Qur'an" (10) Pertama, pokok makna bagi yang

dipilih sesuai dengan hakikat kebenaran yang diakui oleh mereka yang memiliki otoritas dalam bidangnya. Tidak tepat kata al-Syathibi, memahami kata khalila dalam QS. al-Nisa' 125: Allah menjadikan Ibrahim khalila sebagai seorang "fakir" karena pengertian tersebut bertentangan dengan nash al-Qur'an yang lain, yaitu bahwa "ia (Ibrahim) menjamu tamunya dengan daging anak sapi yang dipanggang" (QS. Hud:69), yang menunjukkan beliau bukan seorang fakir; di samping bahwa kenyatann sejarah membuktikan bahwa Ibrahim as. bukan seorang fakir. Kedua, arti yang dipilih tersebut telah dikenal oleh bahasa-bahasa Arab klasik. Dalam syarat ini terbaca bahwa syarat "popularitas" artinya kosakata tak disinggung lagi, bahkan lebih jauh al-Syathibi menegaskan bahwa satu kosakata yang bersifat ambigu atau musytarak (mempunyai lebih dari satu makna), maka kesemua maknanya dapat digunakan bagi pengertian teks tersebut selama tak bertentangan satu dengan lainnya. Contoh kata "hidup" dan "mati." Al-Qur'an menggunakan kata "hidup" dalam arti berpisahnya Ruh dari badan dan juga dalam arti "kosongnya jiwa dari nilai-nilai agama." Firman Allah dalam QS. al-Rum 19, "Dia Allah mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup" dapat diartikan dengan salah satu atau dengan kedua arti tersebut di atas, demikian pula sebaliknya kata mati. Dalam hal ini tentunya kita tak dapat menyalahkan mereka yang memahami Firman Allah dalam QS. al-Baqarah 243, "Apakah kamu tak mengetahui orang-orang yang keluar dari kampung halaman mereka yang jumlah mereka beribu-ribu (keluar) karena takut mati, maka Allah berfirman kepada mereka 'matilah kamu,' kemudian Allah menghidupkan mereka, sesungguhnya Allah mempunyai karunia terhadap manusia tetapi kebanyakan manusia tak bersyukur." -------------------------------------------Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah Editor: Budhy Munawar-Rachman Penerbit Yayasan Paramadina Jln. Metro Pondok Indah Pondok Indah Plaza I Kav. UA 20-21 Jakarta Selatan Telp. (021) 7501969, 7501983, 7507173 Fax. (021) 7507174 (bersambung 2/2)

Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang YayasanISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota
Please direct any suggestion to Media Team

Artikel Yayasan Paramadina
Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota I.1. PERSOALAN PENAFSIRAN METAFORIS ATAS FAKTA-FAKTA TEKSTUAL oleh M. Quraish Shihab (2/2) Kita tak mempermasalahkan walaupun seandainya kita tak

Hal ini tak dapat diingkari siapa pun yang berakal walau pun mereka tak beriman atau mengingkari bahwa hal tersebut dinamai malaikat. adalah gambaran tentang potensi manusia mengetahui serta mengolah dan mengambil manfaat segala yang terdapat di bumi ini." mengemukakan dua pendapat. Pertama. dalam istilah agama dengan "malaikat." Selanjutnya Abduh menulis. demikian pula sebaliknya hal tersebut tak diingkari oleh seseorang yang . agresi dan permusuhan di muka bumi ini. sehingga dengan demikian terjadilah kehidupan bagi tumbuhan tersebut. bahwa malaikat merupakan makhluk ghaib yang tak dapat diketahui hakikatnya namun harus dipercaya wujudnya. bahwa hakikat setiap ciptaan terdapat sesuatu yang menjadi sumber ketergantungannya serta sistem wujudnya. Pemaparan pertanyaan kepada malaikat dan ketakmampuan mereka menjawab. Ayat-ayat yang menguraikan kisah kejadian Adam as. Yang demikian itu menurut Abduh dinamai. Sujudnya Malaikat kepada Adam. menunjukkan kemampuan manusia memanfaatkan hukum-hukum alam. Keengganan Iblis sujud. Sedang pendapat yang kedua. Pengajaran Tuhan kepada Adam tentang nama benda-benda. Pertanyaan malaikat kepada Tuhan tentang khalifah yang dapat merusak dan menumpahkan darah. Ketiga. Demikian pula halnya dengan manusia dan binatang. (11) sehingga tak ada dialog sebagaimana tersurat. tetapi penyampaian Tuhan kepada malaikat tentang rencana-Nya menciptakan khalifah di bumi. Satu hal yang pasti." Hal ini menurut Abduh. menandakan kelemahan manusia dan ketakmampuannya menghilangkan bisikan-bisikan negatif yang mengantar kepada perselisihan. dipahami Abduh sebagai gambaran tentang potensi dalam diri manusia untuk melakukan kejahatan. seperti menumbuhkan tumbuh-tumbuhan memelihara manusia dan sebagainya. difahaminya atas dasar tamsil. pada surah al-Baqarah 30 dan seterusnya. Mereka juga dinilai sangat memperluas penggunaan metafora dengan menggunakan pemahaman tamsil atau perumpamaan bagi ayat-ayat al-Qur'an.sependapat dengan orang-orang yang memahami kata "matilah kamu" dan "Allah menghidupkan mereka" dalam pengertian "kematian semangat jihad mereka" kemudian "kehidupan" semangat jihad tersebut sehingga kembali ke kampung halaman mereka untuk mengusir orang yang selama itu menganiaya mereka. Abduh ketika menguraikan tentang "malaikat. hal tersebut mereka namakan natural power karena mereka tak mengenal dalam kehidupan ini kecuali apa yang tampak dan atau yang tampak bekasnya dalam alam nyata. adalah bahwa "malaikat merupakan makhluk-makhluk Allah yang bertugas dalam pekerjaan-pekerjaan tertentu. kata Abduh selanjutnya. adalah isyarat yang lebih jelas dari satu redaksi tentang satu ciri tertentu bahwa pertumbuhan dalam tumbuh-tumbuhan terjadi tak lain kecuali dengan adanya Ruh yang dihembuskan Allah Swt ke dalam benihnya. adalah pertanda kesiapan bumi untuk menyambut satu makhluk yang dapat mengolahnya sehingga tercapai kesempurnaan hidup di dunia. Muhammad Abduh (w. maka yang digunakan adalah riwayat-riwayat yang sangat lemah atau dibuat-buat. Sementara penganut-penganut aliran Rasional dinilai sementara ahli melakukan ta'wil dengan menitik beratkan tolok ukurnya pada akal mereka dan kalau pun menggunakan argumentasi kebahasaan. perpecahan. menunjukkan keterbatasan hukum-hukum alam. 1906 M) dinilai sebagai salah seorang tokoh penganut aliran ini. "Bagi mereka yang tak mengindahkan penamaan yang ditetapkan agama.

yang kemudian diikuti oleh tak sedikit dari ulama-ulama sesudah masa beliau. sejarah kemanusiaan dan hal-hal ghaib berarti menggunakan sesuatu yang terbatas terhadap perbuatan-perbuatan Tuhan (zat yang tak terbatas itu). Dan yang lebih penting lagi bahwa Mufassir al-Maraghi telah berusaha memahami hakikat tasbih gunung. Proses demikian yang terdapat dalam jiwa setiap manusia. "Dan sesungguhnya Kami telah anugerahkan kepada Daud karunia dari Kami. penamaan tersebut dengan Muhammad Abduh menambahkan. dirasakan oleh mereka yang mengamati dirinya. sedang terdapat ayat yang lain yang menegaskan bahwa: "Langit yang tujuh. sebagaimana ditemukan kemudian dalam perkembangan pemikiran selanjutnya." Al-Maraghi menulis bahwa pengertian ayat tersebut adalah bahwa "gunung mengantar Daud bertasbih mensucikan Allah. (Kami berfirman) Hai gunung-gunung bertasbihlah berulang-ulang bersama Daud. Ahmad Musthafa al-Maraghi salah seorang penganut aliran Abduh menulis dalam tafsirnya menyangkut ayat 10 surah Saba'. bumi dan semua yang ada di dalammya bertasbih . Kita dapat memahami motivasi Muhammad Abduh dan penganut-penganut alirannya dalam menggunakan akal seluas-luasnya ketika memahami teks-teks keagamaan sehingga merasionalkan ajaran-ajaran agama sambil mempersempit sedapat mungkin wilayah ghaib.beriman walaupun ia mengingkari "natural power" atau hukum alam. dapat mengantar pada pengingkaran hal-hal yang bersifat supra-rasional. seakan-akan apa yang terlintas dalam pikirannya itu sedang diajukan ke suatu sidang Majelis Permusyawaratan yang ini menerima dan yang itu menolak. Tapi tentunya ini bukan pula berarti kita menerima begitu saja penafsiran-penafsiran yang tak logis. atau membanding-bandingkan pikiran dan kehendaknya yang mempunyai dua sisi baik dan buruk. yang ini berkata "Kerjakanlah" dan yang itu "Jangan." Demikian antara lain penta'wilan yang dilakukan Muhammad Abduh. tak mustahil dinamai Allah atau dinamai penyebab hal tersebut sebagai "malaikat." demikian halnya sehingga pada akhirnya menanglah salah satu pilihan." (12) Pendapat di atas dinilai sementara ulama tak sejalan dengan teks ayat di mana yang diperintahkan adalah gunung-gunung. Tidak demikian! Apa yang dikemukakan di atas hanya berarti bahwa bila suatu redaksi sudah cukup jelas serta penafsirannya tak bertentangan dengan akal. maka redaksi tersebut tak harus dita'wilkan lagi dengan memaksakan suatu penafsiran yang dianggap logis sehingga dipahami akal. namun hal ini bila diturutkan tanpa batas yang jelas. Menggunakan akal sebagai tolok ukur satu-satunya dalam memahami teks-teks keagamaan khususnya tentang peristiwa-peristiwa alam. bahwa dalam batinnya terjadi pergolakan. walaupun belum dipahaminya. dengan jalan pandangan yang diarahkan Daud kepada keajaiban tersebut berfungsi mengingatkan sebagaimana seseorang mengingatkan yang lain. Karena kalau hal tersebut harus dipaksakan maka tak jarang ditemukan pemahaman-pemahaman yang tak hanya bertentangan dengan kaidah-kaidah kebahasaan tetapi juga bertentangan dengan hakikat keagamaan. bukannya Daud.

Kedua. dan anehnya "daun-daun surga" difahami secara hakiki. 106. Muhammad . Ketiga.kepada Allah dan tak sesuatu pun melainkan bertasbih memujiNya. tetapi setelah mereka mendekatinya (memakan buah terlarang) redaksi ayat berbentuk plural atau jama' "Turunlah kamu. Pertama. Jilid 1. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penyantun lagi Maha Pengampun" (QS. 1963. Hal ini menunjukkan bahwa ketika itu mereka yang tadinya hanya berdua (Adam dan Hawa) kini telah menjadi lebih dari dua orang dengan adanya janin yang dikandung oleh Hawa setelah hubungan sex tersebut. membutuhkan. sebahagian kamu menjadi musuh bagi yang lain" (Q. Talkhis al-Bayan. al-Baqarah: 35). Jika apa yang digambarkan tentang pendapat al-Maragi di atas tak disetujui. Perasaan malu akibat terlihatnya alat kelamin hanya dialami oleh mereka yang telah mengadakan hubungan sexual. tetap harus diakni bahwa pendapat tersebut dari sisi kebahasaan memiliki alasan-alasannya. di samping nalar. Penta'wilan yang parah adalah yang semata-mata mengandalkan penalaran akal seseorang dengan mengabaikan pertimbanganpertimbangan kebahasaan. 11. Ketika mereka (Adam dan Hawa) telah memakan (buah) pohon tersebut (mengadakan hubungan sex) mereka tanpa busana dan berusaha menutupi auratnya dengan daun-daun surga. Al-Halaby. Kosakata "pohon" dita'wilkan atau dipahami secara metaforis tanpa ada argumentasi pendukung. CATATAN 1. diedit oleh Abdulghani Hasan. 1955. Redaksi Firman Allah sebelum mereka mendekati pohon tersebut adalah dalam bentuk dual ("Janganlah kamu berdua mendekati pohon ini. berbeda dengan orang dewasa yang merasa malu. h. ketika itu mereka merasa malu. Jakarta 1983. Gramedia. Pertama. Kedua. Mustafa Mahmud. Muhammad Husen al-Zahaby. Kamus linguistik." QS. Contoh yang dikemukakan di atas menunjukkan betapa pemahaman ayat-ayat al-Qur'an. 3. Di sisi lain bahasa Arab tak menganggap wujud janin sebagai wujud yang penuh. ayat al-Qur'an menggambarkan bahwa keadaan tanpa busana terjadi setelah atau akibat dari memakan buah pohon terlarang bukan sebelumnya. sebagaimana dipahami oleh Mustafa Mahmud. (medis) Mustafa Mahmud memahami larangan Tuhan pada Adam dan Hawa "mendekati pohon" sebagai larangan mengadakan "hubungan sexual. al-Isra' 44). (13) Apa yang dikemukakan di atas hemat kita bertentangan dengan teks ayat-ayat al-Qur'an serta kaidah-kaidah kebahasaan. karena itu wanita hamil akan tetap diperlakukan oleh bahasa sebagai wujud tunggal. Syarid Al-Radhy. Mesir. Dr. juga penguasaan bahasa Arab. h. walau sekedar menyebutnya. Cairo. tapi kamu sekalian tak mengetahui (hakikat) tasbih mereka. h. apalagi penta'wilan ayat-ayatnya." Bukti yang dijadikan dasar pertimbangannya adalah. al-Baqarah: 36). Terbukti bahwa anak kecil tak merasakan hal tersebut. 18. tak sebagaimana dipahami oleh dr.S. Harimurti Kridalaksana. Dar al-Kutub al-Haditsah. 2. al-Tafsir Wa 'l-Mufassirun.

inward meaning) yang dikandungnya.. Muhammad Rajab al-Bayyumy. 12. 11.4. 7. 1971. 1364 H. (021) 7501969. 1971. diedit oleh Abdullah Darraz. sendiri. h. Jilid 11. 1318 H.. 9. Jilid 111. tapi pada "makna dalam" (bathin. al-Halaby. Cairo. sehingga yang diperlihatkan bukanlah makna lahiriyah kata-kata pada teks sumber suci itu. Metode pemahaman serupa itu (ta'wil) telah muncul sejak masa-masa dini sejarah Islam (jika tidak malah sejak masa Rasul Allah saw. Dar al-Ma'rifah. h. al-Itqan. Beirut. 36. -------------------------------------------Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah Editor: Budhy Munawar-Rachman Penerbit Yayasan Paramadina Jln. Juz 22. 1967. Al Sayuthi. Ahmad Musthafa al-Maraghy. Percetakan al-Manar. 7507173 Fax. Ibid. Syarif AlRadhy. h. sebagaimana . Jilid. 5.II. Lihat lebih jauh Abdul Muta'al Muhammad al-Jabri. Op. Jilid 1. MASALAH TA'WIL SEBAGAI METODOLOGI PENAFSIRAN AL. Cairo 1367 H. Cit. Syathahat Musthafa Mahmud. Dar al-Itisham. UA 20-21 Jakarta Selatan Telp. 56.2. Majma' al-Buhuts. h. Cairo. (021) 7507174 Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota Please direct any suggestion to Media Team Artikel Yayasan Paramadina Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota I. diedit oleh Abdussalam Harun. Cairo. 64. Tafsir Al-Maraghy. Khathawat al-Tafsir Al-Bayany. tp. Dr. hal. h. Lihat al-Jahiz dalam al-Hayawan.QUR'AN oleh Nurcholish Madjid (1/2) Interpretasi metaforis atau ta'wil. al-Muwafaqat. Lihat Abu Ishaq al-Syathiby. 10. Cairo 1964 M.261 dst. 119 dst. 92. 128. 226. th. Dar Al-Fikr. 6. 7501983. hl. Tentang pendapat-pendapat Abduh lihat lebih jauh Muhammad Rasyid Ridha dalam Tafsir al-Manar. Metro Pondok Indah Pondok Indah Plaza I Kav. h. Cairo. Al-Azhar. ialah pemahaman atau pemberian pengertian atas fakta-fakta tekstual dari sumber-sumber suci (al-Qur'an dan al-Sunnah) sedemikian rupa. 8. 99. Abu Zahrah. h. Ibnu Hazem Hayatuha Wa Ashruhu. 13. Cairo.

perbedaan pandangan tentang mana saja ayat-ayat suci yang muhkamat.dikatakan kalangan Islam tertentu). dan ayat-ayat lain yang mutasyabihat. antara lain karena revolusi mereka di Iran 1979. semuanya dari sisi Tuhan kami. disebutkan dalam Kitab Suci sendiri sebagai berikut: Dia (Tuhan) yang telah menurunkan kepada engkau (Muhammad) Kitab Suci. telah melahirkan sejenis kesadaran baru di kalangan umat Islam dunia. Ada pun orang-orang yang dalam hatinya terdapat keserongan. Dari sekian banyak informasi itu. serta bagaimana seharusnya kita menempatkan diri dalam kancah perselisihan itu secara adil. Sikap dapat memahami persoalan berkenaan dengan perselisihan paham di kalangan umat itu semakin dirasa mendesak akhir-akhir ini. untuk kemudian sikap yang sama itu sedapat mungkin kita bawa pada persoalan masyarakat secara keseluruhan. untuk kalangan kaum Muslim. Adanya kedua jenis ayat itu. "Kami percaya kepada Kitab Suci itu. kemudian perpecahan. Dalam abad telekomunikasi mondial yang serba cepat dan luas. termasuk informasi tentang adanya berbagai kelompok dan aliran pemikiran yang beraneka ragam Terlintas dalam pikiran. yakni. yaitu kesadaran tentang pluralitas Islam dan potensi yang ada di balik setiap golongan. Karena itu persoalan interpretasi metaforis ini mempunyai saham cukup besar dalam timbulnya perselisihan. kita berharap dapat menempatkan diri lebih baik dalam memandang berbagai aliran dan madzhab di kalangan umat sendiri. Padahal tidak mengetahui ta'wil-nya kecuali Allah. Maka salah satu manfaat yang menjadi tujuan tulisan ini ialah tumbuhnya keinsafan lebih besar tentang bibit-bibit perselisihan paham dalam Islam. seperti halnya dengan revolusi-revolusi lain). Sedangkan orang-orang yang mendalam ilmunya maka akan menyatakan. AYAT-AYAT MUHKAMAT DAN MUTASYABIHAT Salah satu pokok perselisihan di kalangan umat Islam yang terkait erat dengan masalah ta'wil ini ialah adanya ayat-ayat suci al-Qur'an yang "bermakna jelas atau pasti" (muhkamat) dan yang "bermakna samar atau tidak pasti" (mutasyabihat. yang interpretable). Lepas dari masalah revolusi itu sendiri (yang agaknya lebih baik dilihat sebagai gejala politik." Dan tidaklah akan dapat merenung (menangkap pesan) kecuali orang-orang yang berpengertian mendalam. dengan tujuan membuat fitnah (perpecahan) dan mencari ta'wil bagian-bagian tersamar itu. setiap pribadi orang modern mengalami bombardemen informasi yang seringkali menyangkut segi-segi kesadarannya yang mendalam. yang didalamnya terdapat ayat-ayat muhkamat yang merupakan induk Kitab Suci (Umm al-Kitab). [1] Masalah muhkamat dan mutasyabihat itu setidak-tidaknya menimbulkan tiga jenis perbedaan pandangan: Pertama. Karena perselisihan ini maka ada ayat-ayat suci yang bagi suatu kelompok umat Islam bersifat . dan mana pula yang mutasyabihat. Maka dengan menengok masalah ta'wil ini. kejadian di Iran pada penghujung dasawarsa lalu itu dalam suatu sentakan. di kalangan kaum Muslim. misalnya kesadaran hampir tiba-tiba kaum Muslim Indonesia tentang adanya golongan Syi'ah dan berbagai alirannya. mereka akan mengikuti bagian-bagian yang tersamar (mutasyabihat) daripadanya. ialah yang berkenaan dengan keadaan umat Islam sendiri di seluruh dunia.

Maka pelukisan itu mengesankan bahwa Tuhan dan manusia "berserikat" dalam beberapa sifat dan kelengkapan. al-khawash) dan kelompok-kelompok umum (awam. ungkapan-ungkapan kebahasaan dalam sumber-sumber ajaran agama. Yang pertama adalah "kaum ahli. Mereka yang melakukan interpretasi (karena beranggapan bahwa Tuhan mustahil memiliki kualitas-kualitas yang sama dengan manusia) akan memandang ayat-ayat yang bersangkutan dengan itu sebagai metafor-metafor belaka. Ini membawa konsekuensi terbaginya anggota masyarakat manusia kepada kelompok-kelompok khusus (khawas. perbedaan pandangan tentang boleh atau tidaknya melakukan ta'wil terhadap ayat-ayat yang mutasyabihat itu. seperti kata-kata "mendengar. dengan memberi penegasan bahwa Tuhan memiliki kualitas-kualitas itu "tanpa bagaimana. Sebagian kelompok Islam membolehkannya." dan yang kedua terdiri dari "orang-orang kebanyakan. tapi bagi sebagian mereka. padahal kata-kata atau sifat-sifat itu juga dapat diberlakukan kepada makhluk. antara lain pengetahuan yang luas dan kemampuan berpikir yang mendalam. diperlukan disiplin dan latihan berpikir yang tinggi. "marah. bagi mereka yang membolehkan interpretasi. namun bagi kelompok lain bersifat mutasyabihat. bagi kebanyakan kaum Muslim bersifat muhkamat. Termasuk dalam permasalahan ini ialah problema homonimi (Arab: ism musytarak. yang menurut mereka hanya diperoleh melalui pemikiran kefilsafatan. Kedua. sehingga dalam memahami ayat-ayat mutasyabihat itu. Firman-firman berkenaan dengan surga dan neraka.lihat pembahasan di bawah). Untuk dapat menangkap arti sebenarnya dari ungkapan-ungkapan itu. Mereka dengan kuat memandang. dan ini menimbulkan problema. disebabkan kuatnya pengakuan sebagai para pencari hakikat dan kebenaran demonstratif (yang terbuktikan secara tak terbantah). al-'awam). bersifat mutasyabihat sehingga pelukisan tentang surga dan neraka itu mereka pahami sebagai metafor-metafor atau kias-kias." "senang"' dan lain-lain yang dalam Kitab Suci disebutkan sebagai sifat-sifat Tuhan." "mengetahui. "tangan". maka sangat masuk akal bahwa hak untuk melakukannya harus dibatasi hanya pada lingkungan yang memenuhi syarat. Karena interpretasi bukanlah pekerjaan yang gampang. masih terdapat perselisihan tentang siapa yang harus melakukan interpretasi itu.'. sedangkan kenyataan tidaklah seperti yang dikesankan pengertian lahir firman-firman itu. seperti golongan al-Bathiniyyun ("Kaum Kebatinan" ." PANDANGAN PARA FILSUF Seperti dapat diduga. Mereka yang tidak membenarkan interpretasi akan melihat firman-firman itu seperti adanya. khususnya manusia.muhkamat. baik Kitab Suci maupun Sunnah Nabi adalah ungkapan-ungkapan metaforis atau alegoris. kata-kata berserikat). berpendapat dalam memahami ayat-ayat itu kita harus berhenti pada makna-makna seperti yang dibawakan ungkapan lahiriah lafal dan kalimatnya. misalnya. Jadi tidak dimaksudkan seperti apa adanya menurut arti lahiriah ungkapan-ungkapan itu. yang tak mesti menunjuk pada hakikatnya. Sebagian lagi yang tidak membolehkannya." "melihat. para filsuf adalah kalangan orang-orang Muslim yang paling banyak melakukan ta'wil. ." Ketiga. harus dilakukan interpretasi di balik ungkapan-ungkapan lahiriah.

yaitu pendidikan orang banyak atau kaum awam. baik dari pihak khawas maupun awam). Kadang-kadang juga disebut ahl al-burhan ("para penganut kebenaran demonstratif atau apodeiktik. bahkan wajib. metode Ibn Rusyd yang membagi manusia dalam golongan khawas dan awam itu akan melahirkan semacam elitisme dalam kehidupan beragama. yakni. yakni kebenaran tak terbantah"). "Kami beriman kepada Kitab Suci itu. Jadi bagi Ibn Rusyd firman Tuhan itu harus dibaca kaum khawas sedemikian rupa sehingga "orang-orang yang mendalam ilmunya" termasuk ke dalam yang mengetahui ta'wil ayat-ayat mutasyabihat. Spanyol. maka kalangan khawas. [4] Karena "pendidikan" itu ditujukan pada kalangan awam. filsafat adalah kecintaan kepada kearifan (wisdom). seperti yang dituduhkan Ibn Taymiyyah. [3] Karena itu para filsuf rawan terhadap tuduhan. memandang Nabi mengutarakan sesuatu dengan ungkapan-ungkapan metaforis dan alegoris. Para flsuf harus melakukan ta'wil terhadap bunyi-bunyi teks suci baik Kitab maupun Sunnah (Hadits)." karena mereka ini berhak atau wajib melakukan ta'wil terhadap bunyi teks-teks suci. yang tak terjangkau kemampuan akal mereka. yang tidak memaksudkan makna-makna lahir ungkapan-ungkapan itu. melainkan pada makna batinnya. Yaitu dengan memindah tanda baca berhenti (waqaf:) sehingga terbaca. agar mereka berbuat baik dan meninggalkan keburukan. Adanya bahaya ini (bahaya kekafiran. para filsuf sendiri. [2] Jadi para filsuf dengan kata lain. Padahal tidak mengetahui ta'wilnya kecuali Allah dan orang-orang yang mendalam ilmunya. sehingga filsafat pun disebut al-hikmah. misalnya berpandangan para filsuf selaku ahl al-burhan itulah yang dimaksudkan dalam firman Ilahi (dikutip di atas) sebagai "orang-orang yang mendalam ilmunya. karena bertujuan kebaikan. ". ta'wil harus disimpan dan dirahasiakan untuk kalangan kaum khawas saja. jadi tertolak). para filsuf menganut teori Nabi telah melakukan "kebohongan untuk kebaikan" (al-kidzb li al-mashlahah). disebabkan sulitnya pemahaman interpretatif yang abstrak itu. Kelebihan mereka itu. maka Ibn Rusyd berpendapat. tak seharusnya mengikuti cara awam dalam memahami ajaran agama. mereka sebenarnya menganut teori. Tapi "kebohongan" Nabi bukanlah kejahatan. Mereka ini berkata. Filsuf Islam terkenal dari Cordova. mereka adalah golongan khawas di kalangan umat. Para filsuf akan menjadi kafir jika tidak melakukan interpretasi (karena bagi mereka ajaran-ajaran agama tertentu seperti surga dan neraka dalam pengertian fisik itu tidak masuk akal.. Nabi telah melakukan sejenis kebohongan: Mengungkapkan sesuatu tanpa memaksudkan makna lahiriah ungkapan itu. [5] Sehingga sering dikatakan. AL-BATHINIYYUN (KAUM KEBATINAN) ." sebagai ganti cara baca kaum awam (lihat terjemah kutipan firman itu di atas). Dan sebaliknya. sedangkan orang awam harus menerimanya menurut apa adanya sesuai dengan bunyi dan makna lahiriah lafalnya itu. semuanya dari sisi Tuhan kami. dan mereka berhak... Maka para filsuf Islam memandang diri mereka sebagai "penganut kearifan" (ahl al-hikmah) atau para orang arif-bijaksana (al-hukama). Ibn Rusyd (Latin: Averroes)..Sesuai dengan makna asal katanya dalam bahasa Yunani. orang awam akan menjadi kafir jika melakukan interpretasi. Dengan kata lain. menggunakan metode interpretasi metaforis terhadap teks-teks keagamaan. kemudian menjadi kearifan itu sendiri.

kemudian berakhir dengan Muhammad al-Muntadhar. Makna dan kebenaran agama. -------------------------------------------Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah Editor: Budhy Munawar-Rachman Penerbit Yayasan Paramadina Jln. Mereka memang masih memiliki persamaan dengan orang-orang Muslim lain. termasuk kaum Sufi. Tapi karena orang awam. Pembuktian itu diperoleh antara lain karena doktrin. Mereka juga dinamakan kaum Syi'ah Sab'iyyah (Syi'ah Tujuh). seperti juga menjadi pandangan kaum filsuf. maka makna batin itu ditujukan hanya pada orang-orang istimewa tertentu saja. kemenakan. terutama kaum Isma'ili. karena kepercayaan mereka pada imam-imam yang duabelas jumlahnya. dan hanya mereka inilah yang dapat menangkap makna-makna batiniah agama. melalui Ja'far al-Shadiq seperti kaum Isma'ili. tak mampu menangkap makna batin yang sulit itu. malah berbahaya bagi mereka. Tapi mereka juga berpegang pada paham tentang adanya ajaran-ajaran esoteris (bathin) yang membentuk sistem filsafat kaum Isma'ili. Metro Pondok Indah Pondok Indah Plaza I Kav. yang dipercayai sekarang sedang bersembunyi dan akan kembali sebagai Imam Mahdi). khususnya Neo-Platonisme. sejak dari Hasan ibn 'Ali sebagai imam pertama. yang tersembunyi dan dirahasiakan itu hanya diberikan Nabi kepada 'Ali. semua ajaran agama (Islam) selalu mengandung makna lahir dan makna batin. memberi dukungan pada usaha pembuktian bahwa lembaga imamat (keimaman) adalah langsung dari Tuhan. Karena itu istilah tersebut berlaku untuk hampir semua kelompok esoteris Islam. para pengikut Syi'ah Isma'iliyyah ini memang banyak sekali menggunakan sumber-sumber filsafat. sistem filsafat itu menyediakan penyimpangan kandungan batin ajaran-ajaran agama yang antara lain. UA 20-21 Jakarta Selatan (bersambung 2/2) . Adalah al-Bathiniyyun ini yang menjadi salah satu sasaran karya-karya polemis pemikir Sunni al-Ghazali dalam rangka usahanya menghancurkan filsafat. tapi menyimpang ke Musa al-Kadhim ibn Jafar --dan bukannya ke Muhammad ibn Isma'il-. Dalam hal paham keimanan itu mereka berbeda dengan umumnya golongan Syi'ah Itsna 'Asy'ariyyah (Syi'ah Duabelas. kadang-kadang juga Ahl al-Bawathin (Kaum Kebatinan) digunakan secara longgar untuk mengidentifikasi kelompok-kelompok Islam yang orientasinya berat ke arah paham keagamaan yang lebih mengutamakan usaha menangkap makna dalam (bathin) dari suatu teks atau ajaran agama. Oleh kaum Sunni istilah itu juga secara khusus digunakan untuk kelompok Islam tertentu. penganut aliran Isma'iliyyah. bagi mereka. seperti pandangan tentang kewajiban melakukan ibadat-ibadat tertentu. Sebab dalam melakukan ta'wil terhadap fakta-fakta tekstual agama. Maka hanya mereka yang memiliki kemampuan spiritual yang tinggi sajalah yang mampu mengakui peranan khusus 'Ali. menantu dan sahabat yang menjadi kepercayaan beliau.Istilah al-Bathiniyyun. karena kepercayaan mereka pada imam-imam yang tujuh (yaitu sejak Hasan ibn 'Ali sampai Muhammad ibn Isma'il (ibn Ja'far al-Shadiq ibn Muhammad al-Baqir). khususnya kandungan al-Qur'an. yaitu suatu pecahan aliran Syi'ah yang muncul sesudah wafat Isma'il ibn Ja'far al-Shadiq sekitar 148 H (765 M). Dalam gabungannya dengan semangat keagamaan mereka.

Mereka juga terdiri dari kaum bisnis dan wirausahawan yang sukses. Pandangan hidup kaum Isma'ili yang sangat esoteris (bathini) itu telah membuat mereka sebagai salah satu kelompok yang paling eksklusifistik dalam Islam. yaitu suatu pecahan agama Majusi (Zoroastrianisme). 7501983. khususnya masyarakat Islam sendiri. sebagai bentuk keterlibatan nyata mereka dalam sejarah kemanusiaan.2. Sedikit sekali kemungkinan orang luar lingkungan sendiri akan diberi pengakuan kemanusiann yang penuh. Diduga bahwa orang-orang Persi penganut Manicheanisme di zaman Abbasiyah secara rahasia masuk Islam dan memeluk paham kebatinan kalangan kaum Isma'ili. 7507173 Fax. PANDANGAN KAUM SUNNI Dari satu segi. Paham Sy'iah Isma'iliyyah bertemu dengan Manicheanisme dalam ajaran yang hendak memberi pada penganutnya "kearifan dan martabat kosmis" yang budi kasar orang umum tak mampu menggapainya.Telp. Mereka juga banyak mengadakan pameran benda-benda seni peninggalan Islam di kota-kota besar dunia (1983 di New York).QUR'AN oleh Nurcholish Madjid (2/2) Unsur Neo-Platonis Kaum Kebatinan ini kemudian muncul dalam karya kefilsafatan besar --yang ditulis sekelompok sarjana yang menamakan diri mereka Ikhwan al-Shafa' (Persaudaraan Suci)-. suatu bentuk kegiatan yang dimungkinkan oleh minat mereka yang besar kepada usaha memelihara warisan sejarah Islam.Risalat Ikhwan al-Shafa. Magelang. seperti tampak nyata di banyak kawasan Afrika Timur. (021) 7507174 Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota Please direct any suggestion to Media Team Artikel Yayasan Paramadina Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota I. Mereka tidak saja menjadi sponsor atas kegiatan kultural dan ilmiah yang antusias. yang menurut penilaian mereka diwakili rintisannya oleh pesantren itu). Jawa Tengah. pertumbuhan historis paham Sunni merupakan . (021) 7501969. tapi juga banyak mendorong kemajuan masyarakat manusia pada umumnya. Selain unsur Neo-Platonis. paham kebatinan ini juga menunjukkan tanda-tanda adanya pengarah Manicheanisme. (Sebagai misal. [6] Mereka itu kini dipimpin Aga Khan yang terkenal itu. kebatinan kaum Isma'ili sangat menekankan pembangunan praktis susunan masyarakat dunia. mereka memberi award bidang arsitektur Islam kepada Pesantren Pabelan. Tapi lain dari Manucheanisme. atas dasar konsep tentang arsitektur Islam masa depan yang cukup revolusioner. MASALAH TA'WIL SEBAGAI METODOLOGI PENAFSIRAN AL.

yang telah Kami turunkan kepada engkau (Muhammad). Salah satu wujud semangat itu tampak dalam paham Sunni menghadapi masalah ta'wil itu.gabungan dua komponen. Abu Bakrah. pendekatan metaforis pada agama akan mempunyai efek melemahnya sendi-sendi dan kesadaran hukum masyarakat banyak. sehingga tidak ada lagi sisa yang bersifat pasti. dan agar mereka yang berpengetahuan mendalam menangkap pesannya" [10] Ibn Taymiyyah mengatakan . tapi dengan pembatasan-pembatasan begitu rupa sehingga masih bisa dikuasai. madzab Madinah itu juga didukung oleh sebagian besar "para pelopor pertama" (al-sabiqun al-awwalun). mereka tetap menolak antropomorfisme. jika mereka tidak melakukan interpretasi. Inilah metode al-Asy'ari. dan yang kedua komponen politik pragmatis. yang pertama komponen ideologis. menutup samasekali kemungkinan mengadakan ta'wil akan menghadapkan orang-orang Muslim yang serius pada kesulitan mengartikan berbagai pelukisan tentang Tuhan yang antropomorfis (yakni. Sebab jika pintu interpretasi metaforis itu ditenggang dengan tidak hati-hati. namun tangan. menyerupai manusia. Kaum Sunni umumnya menerima adanya intepretasi metaforis. bahwa Dia bertahta di Singgasana. dengan mengatakan bahwa sekali pun disebutkan Tuhan itu mempunyai tangan. Muhammad ibn Maslamah. Said ibn Abi Waqqash. wajah dan mata. wajah dan mata Tuhan itu tidak sama dengan yang ada pada makhluk seperti manusia. sebaliknya. dan 'Imran ibn Hasyim. agar mereka (manusia) merenungkan ayat-ayatnya. menurut Ibn Taymiyyah. mata dan lain-lain. Khususnya yang terjadi pada tahun 41 H yang sering disebut para ahli sejarah sebagai "Tahun Persatuan" ('Am al-Jama'ah). Paling jauh. Interpretasi metaforis atau ta'wil tidak saja selalu bersifat abstrak dan intelektualistik --yang tak terjangkau masyarakat banyak-. Syria.tapi juga senantiasa menyediakan "lubang pelarian" (loop hole) di bidang hukum bagi mereka yang kesadaran hukumnya lemah. rujukan utama paham Sunni dalam ilmu Ketuhanan atau akidah. dan seterusnya). maka bagaikan membuka Kotak Pandora. keterangan dalam al-Qur'an bahwa Tuhan mempunyai tangan. Mereka ini dipelopori 'Abdullah ibn 'Umar. Ibn Taymiyyah mengemukakan pandangan yang cukup menarik. Bahkan. Kaum Sunni --yang secara garis besar perjalanan sejarahnya hampir selalu paralel dengan susunan mapan masyarakat Islam-sangat mengkhawatirkan. Sebab pelukisan antropomorfis itu tidak sesuai dengan penegasan Kitab Suci sendiri bahwa Tuhan tidak sebanding. Yang ideologis ialah "Aliran Penduduk Madinah" (Madzhab Ahl al-Madinah) seperti dikemukakan mereka yang tak mau terlibat dalam pertikaian-pertikaian politik saat itu. "Kitab Suci penuh berkah. misalnya. [8] Mungkin disebabkan latar belakang pertumbuhan historisnya itu maka paham Sunni ditandai semangat umum moderasi dan akomodasi. dan tidak bisa disamakan dengan sesuatu apa pun juga. Usamah ibn Zayd. ialah sikap mendukung sebagian terbesar kaum Muslim kepada Mu'awiyah sebagai Khalifah yang sah berkedudukan di Damaskus. Berdasarkan firman Allah. wajah. khususnya antara 'Ali dan Mu'awiyah beserta pengikut masing-masing. dan "tanpa bagaimana" (bi-la kayfa). semua bagian dari ajaran agama akan habis diinterpretasikan. merasa senang dan tidak senang. [9] Masih dalam konteks paham Sunni tentang ta'wil ini. Tapi. [7] Yang politik pragmatis.

Abdullah Yusuf Ali memberi komentar sebagai berikut. secara harfiah "Induk Kitab Suci. di seluruh Kitab Suci. ataukah sebenarnya hati mereka telah tersumbat?" [11] Karena itu. "Apakah mereka (manusia) tidak merenungkan al-Qur'an. sarjana Muslim di zaman modern ini. yang tidak diberikan secara terpisah. sebagaimana perintah untuk itu dapat dipahami dari firman-Nya. bagian yang bersifat figuratif. sebab manusia tidak akan dapat memahami sesuatu yang samasekali abstrak. Allah dan Rasul-Nya tidaklah mencela orang yang merenungkan makna di balik ungkapan-ungkapan ayat-ayat mutasyabihat dalam al-Qur'an kecuali jika dilakukan dengan maksud menimbulkan perpecahan dan mencari-cari interpretasinya yang tidak masuk akal. kata Ibn Taymiyyah. sebab "tidak ada kesalahan yang lebih besar daripada berpikir bahwa "terjemahan-terjemahan" (yakni. dan hal yang tak masuk akal itu tak ada dalam al-Qur'an. Tapi juga tidak sedikit daripadanya yang semata-mata merupakan hasil interaksi antara sesama .bahwa yang harus direnungkan itu ialah semua ayat-ayat al-Qur'an. Ayat ini memberi kita suatu kunci penting untuk interpretasi al-Qur'an." dan kedua. baik yang muhkamat maupun mutasyabihat. Dari uraian di atas diharapkan ada sedikit kejelasan bahwa masing-masing kelompok atau aliran dalam Islam memiliki reasoning mereka sendiri dalam memilih suatu pemahaman agama. tak dibenarkan menganggap perolehannya sebagai mutlak dan final. yang tidak ada asosiasinya dengan apa yang sudah ada dalam alam pikirannya. bahwa tujuan kita membahas persoalan interpretasi metaforis ini antara lain ialah untuk mendapatkan kesadaran tentang suatu dimensi pemahaman keagamaan dalam Islam yang ikut memberi corak keanekaragaman kaum Muslim di dunia. yaitu. Muhammad Asad. metaforis dikenakan kepada esensi itu. [13] Seorang sarjana Muslim modern penafsir al-Qur'an lain. Namun manusia. juga berpegang pada pandangan yang sama dalam masalah ta'wil ini. baik yang muhkamat maupun yang mutasyabihat. Maka Allah memuji mereka yang merenungkan firman-firman-Nya. namun kebanyakan justru firman-firman yang metaforis. Menurut sarjana ini. Kita harus mencoba memahaminya sebaik mungkin. tapi tumpang tindih. dan penafsir al-Qur'an terkemuka Terhadap firman Allah berkenaan dengan ayat-ayat muhkamat dan mutasyabihat yang dikutip di atas tadi. dalam usahanya memahami keterangan-keterangan suci itu. Hanya hal-hal yang maknanya tak masuk akal saja yang tidak direnungkan. [12] Pandangan hampir serupa dianut juga oleh Abdullah Yusuf Ali. Asad berpendapat bahwa al-Qur'an memang mengandung ayat-ayat yang pasti maknanya tanpa samar. Secara garis besar al-Qur'an itu dapat dibagi ke dalam dua bagian. pertama. tetapi tak boleh menyia-nyiakan energi kita dalam memperdebatkan sesuatu yang berada di luar kedalaman diri kita. ungkapan-ungkapan dalam bahasa manusia) itu dapat memberi definisi pada sesuatu yang tak mungkin didefinisikan. Sebagian dari reasoning itu tentu saja." [14] PENUTUP Telah dikatakan. bersumber pada atau bersifat murni keagamaan. sifat alegoris atau metaforis keterangan-keterangan dalam Kitab Suci itu tak dapat tidak harus digunakan sebagai metodologi penyampaian pesan. inti atau dasar Kitab Suci.

Ibn Taymiyyah. Dari sudut pandangan inilah absurd-nya pengakuan diri sendiri sebagai yang paling benar. janganlah ada suatu kaum di antara kamu yang memandang rendah kaum yang lain. QS. khususnya. 'Wahai sekalian orang-orang yang beriman. 1348 H). Tuduhan Ibn Taymiyyah itu dinyatakan dalam risalahnya.). 7. h.seorang yang bijaksana tak boleh bersikap dogmatis. 8. dianut Ibn Sina (Avicenna). Tarikh al-Tasyri' al-lslami (Beirut: Dar al-Fikr. Abu al-Hasan al-Asy'ari. dalam buku kami. hh. Dan sementara kita melihat orang lain demikian. Khazanah.. Lihat risalahnya. . 2. (Riyadl: Maktabat al-Riyadl al-Haditsah. QS. Khazanah Intelektual Islam [Jakarta: Bulan Bintang. 10. Fashl al-Maqal wa Taqrir Ma bayn al-Hikmah wa al-Syari'ah min al-Ittishal.. (dalam Khazanah). jil. (Lihat terjemahnya. 1. op. 110. 'All 'Imran 3:7. 4. misalnya. Marshall G. Namun. 5. pada waktu yang sama kita harus menyadari bahwa orang lain pun melihat kita demikian. Lihat dalam buku kami. S. h. 378-9. 9. Muhammad/47:24. Hodgson. Shad/38:29. Ibn Rusyd. Pandangan seperti ini. meskipun dari sudut pandangan lain. jil. Khazanah. khususnya sesama Muslim. Maka yang benar ialah menerapkan sikap "ragu yang sehat" (healthy scepticism). 4 jilid. h. misalnya. yang kami terjemahkan dalam buku kami. kalau-kalau mereka yang dipandang rendah itu lebih baik daripada mereka yang memandang rendah. 249). 217-8). 1387 H 1967 M). 1984]. atau malah secara logis diperlukan. Ini sejalan dengan yang dipesankan Tuhan sendiri dalam ajaran-Nya tentang prinsip persaudaraan di antara orang-orang beriman dan bagaimana memeliharanya. Al-Syaykh Muhammad al-Hudlari Bek. Minhaj al-Sunnah al-Nabawiyyah fi Naqdl Kalam al-Syi'ah wa al-Qadariyyah. khususnya h. The Venture of Islam. cit. 11." [15] CATATAN 1. hh. sebab --seperti kata Muhammad Asad tadi-kita sebenarnya hendak menggapai sesuatu (Kebenaran Mutlak) yang tidak bakal tergapai. Ibn Rusyd. h. Itsbat al-Nubuwwat. --seperti dikatakan Abdullah Yusuf Ali yang telah dikutip-. 3. 8-9. al-Ibanah'an Ushul al-Diyanah (Idarat al-Thiba'at al-Muniriyyah.orang-orang Muslim sendiri atau antara orang-orang Muslim dengan non-Muslim dalam sejarah. 193. 1974). 3 jilid. pengakuan itu mungkin dibenarkan saja. Ma'arij al-Wushul fi Ma'rifat anna Ushul al-Din wa Furu'a-hu qad Bayyana-ha al-Rasul. atau memberi orang lain apa yang disebut "hikmah keraguan" (benefit of doubt) dalam pergaulan sesama manusia. 1 h. tt. QS. 230-1 6.. (Chicago: The University of Chicago Press. keyakinan. 137-51.

15. no one should be dogmatic. [Jeddah: Dar al-Qiblah. QS. Broadly speaking it may be divided into two portions. the essence of God's message. and ordinance If we refer to xi-1 and xxxix-23. The Holy Qur'an. but it refers to such a profound spiritual matters that human language is inadequate to it. Translation and Commentary. (1) the nucleus or foundation of the Book. Yusuf Ali. h. 14. not given separately. we shall find that in a sense the whole of the Qur'an has both "established meaning" and allegorical meaning. throughout the Book. This passage gives us an important clue to the interpretation of the Qur'an. literally "the mother of the Book. as distinguished from the various illustrative parables. UA 20-21 Jakarta Selatan Telp. catatan 347). metaphorical. 13. 7501983. and though people of wisdom may get some light from it. We must try to understand it as best as we can but not waste our energies in disputing about matters beyond our dept (A. 1403 H]. The wise man will understand that there is an "essence" and an illustrative clothing given to the essence. But perhaps the meaning is wider: the "mother of the Book" must include the very foundation on which all Law rests. 991. (021) 7501969. Ibn Taymiyyah. Al-Hujarat/49:11. --the "Forms of Ideas" in Plato's Philosophy. Metro Pondok Indah Pondok Indah Plaza I Kav. 7507173 Fax. Each verse is but a Sign or Symbol: what it presents is something immediately applicable. 1973). (021) 7507174 Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota Please direct any suggestion to Media Team Artikel Yayasan Paramadina Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan . allegorical. and exercise our ingenuity about its inner meaning. but between the meanings attached to them. as the final meaning is known to God alone. 123. h. The Message of the Qur'an.12. Muhammad Asad. The Commentators usually understand the verses "of established meaning" (muhkam) to refer to the categarical orders of the Syari'at (or the Law). allegoric. which are plain to everyone's understanding. The division is not between the verses. appendix 1. but intermingled." and (2) the part which is figurative. It is very fascinating to take up the latter. 8-9. viz. -------------------------------------------Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah Editor: Budhy Munawar-Rachman Penerbit Yayasan Paramadina Jln. al-Iklil fi al-Mutasyabih wa al-Ta'wil (Kairo: Dar al-Mathba'at al-Salafiyyah. h. and something eternal and independent of time and space.

sebagai berikut: 1. Ahmad von Denffer memberi rincian arti penting bagi pengetahuan tentang asbab al-nuzul.Relevansinya Bagi Pandangan Historisis Segi-Segi Tertentu Ajaran Keagamaan oleh Masdar F. sudah dikemukakan di atas. seperti "Mereka bertanya kepadamu (Nabi)". Situasi historis pada zaman Nabi dan perkembangan komunitas muslim. lafal permulaan ayat pertama surat al-Anfal menunjukan dengan jelas bahwa firman itu diturunkan kepada Nabi untuk memberi petunjuk kepada beliau mengenai perkara yang ditanyakan orang tentang bagaimana membagi harta rampasan perang. satu rangkaian ayat atau satu surat. dan juga Zayd (ibn Haritsah).. 4. Makna dan implikasi langsung dan segera terpahami (muhabir. Seperti. Beberapa di antaranya bahkan dapat langsung disimpulkan dari lafal teks firman bersangkutan. Demikian juga. yang bernama atau dipanggil Abu Lahab. 3. Juga jika di situ disebutkan nama pribadi orang seperti. immediate) dari sebuah firman. 2. baik berupa satu ayat. Alasan mula pertama yang mendasari suatu kepentingan hukum. diketahui dengan cukup pasti adanya situasi atau konteks tertentu diwahyukan suatu firman. sejarah al-Qur'an maupun sejarah Islam. seperti diungkapkan para ahli biografi Nabi.a. maka kemanapun kamu menghadapkan . ayat tentang perubahan bentuk rembulan (al-ahillah) dalam surat al-Baqarah/2:189. Mas'udi (1/3) Asbab al-Nuzul adalah konsep. nama Abu Lahab. Konteks itu akan memberi penjelasan tentang implikasi sebuah firman. dan lain sebagainya. Dengan mengutip berbagai sumber otoritas dalam bidang ini. dan lain-lain. paman nabi sendiri. "Katakan kepada Mereka". sebagaimana hal tersebut dapat dilihat dari konteks aslinya. dan memberi bahan melakukan penafsiran dan pemikiran tentang bagaimana mengaplikasikan sebuah firman itu dalam situasi yang berbeda. Atau seperti surat al-Masad (Tabbat). teori atau berita tentang adanya "sebab-sebab turun"-nya wahyu tertentu dari al-Qur'an kepada Nabi s. "Kepunyaan Allah-lah timur dan barat. khususnya mengenai ayat-ayat hukum. Konsep ini muncul karena dalam kenyataan. dan kalau demikian dalam keadaan bagaimana itu dapat atau harus diterapkan. KONSEP ASBAB AL-NUZUL .ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota I. Maksud asal sebuah ayat. 5. MANFAAT PENGETAHUAN ASBAB AL-NUZUL Di antara hal-hal yang dapat dengan jelas menjadi petunjuk tentang sebab turunnya sebuah firman ialah jika dimulai dengan ungkapan dialogis. misalnya. Menentukan apakah makna sebuah ayat mengandung terapan yang bersifat khusus atau bersifat umum. Sebagai sebuah contoh ialah firman Allah.3. Pengetahuan tentang asbab al-Nuzul akan membantu seseorang memahami konteks diturunkannya sebuah ayat suci. adalah jelas turun dalam kaitannya dengan pengalaman Nabi yang menyangkut seorang tokoh kafir Quraisy. beserta istrinya.w. dari lafal dan konteksnya masing-masing dapat diketahui dengan jelas sebab-sebab turunnya surat Abasa al-Tahim.

melainkan sunnah. Semua ini menjadi wewenang cabang ilmu kritik hadits (ilmu tajrih dan ta'dil) para ahli. mengapa terdapat kesamaan yang demikian besar dan jauh diantara seluruh umat Islam di dunia dalam hal shalat dan peribadatan lain. sehingga Tuhanpun "ada dimana-mana. ia sebenarnya juga menghadap Tuhan. mungkin tidak akan dapat mengerti.wajahmu. sekalipun dalam keadaan normal diwajibkan. Firman ini turun kepada Nabi berkaitan dengan adanya peristiwa yang dialami sekelompok orang beriman yang mengadakan perjalanan di malam hari yang gelap gulita. dengan dampak kesamaan yang menakjubkan antara seluruh kaum muslim di muka bumi ini dalam hal peribadatan. penuturan atau berita tentang suatu sebab turunnya wahyu tertentu juga dapat beraneka ragam. yaitu arah al-Masjid al-Haram di Makkah. Tetapi ia dibenarkan menghadap mana saja dalam shalat jika ia tidak tahu arah yang benar. Karena itu bersangkut pula persoalan kuat dan lemahnya berita itu. Tapi firman itu juga menegaskan bahwa sembahyang menghadap kemanapun dalam keadaan darurat. tidaklah menyangkut sebenarnya nilai shalat itu. Dan seperti halnya persoalan hadits pada umumnya. berdasarkan penuturan Abd 'l-Lah ibn 'Umar. Sebagai misal ialah berita tentang sebab turunnya firman yang dikutip di atas. (Dalam agama lain. Pagi harinya mereka baru menyadari bahwa semalam mereka bersembahyang dengan menghadap ke arah yang salah. sejalan dengan keaneka ragaman sumber berita. karena Tuhan tidak terikat oleh ruang dan waktu. yaitu berita-berita Hadist. tidaklah menjadi persoalan. [1] SUMBER BERITA ASBAB AL-NUZUL Sumber pengetahuan tentang asbab al-nuzul diperoleh dari penuturan para Sahabat Nabi. Kemudian mereka bertanya kepada Nabi berkenaan dengan apa yang mereka alami itu. Sebab yang penting ialah nilai shalat itu sendiri sebagai tindakan mendekatkan diri kepada Allah dan mengasah jiwa untuk lebih bertaqwa kepada-Nya. Kita sendiri mengetahui betapa efektifnya simbolisasi kiblat ini. yang menegaskan bahwa kemanapun seseorang menghadapkan wajahnya. Nilai berita itu sendiri sama dengan nilai berita-berita lain yang menyangkut Nabi dan Kerasulan Beliau. Maka turunlah ayat suci itu. yaitu al-Masjid al-Haram di Makkah. Ia harus menghadap ke kiblat yang sah. Kiblat itu hanya sebagai lambang orientasi hidup yang benar dan konsisten serta kesatuan orientasi itu antara seluruh umat Islam sedunia. atau kalau karena kondisi tertentu tidak mungkin baginya menghadap ke arah yang benar. al-Baqarah/2:115). Sesungguhnya Allah adalah Maha Meliputi dan Maha Tahu". Berdasarkan penuturan Jabil ibn 'Abd-Allah." Tetapi karena konteks turunnya firman itu bersangkutan dengan peristiwa tertentu diatas. tidak ke kiblat. Kalangan bukan Islam biasanya merasa heran. perbedaan sangat . timur ataupun barat. di sanalah Wajah Allah. serta otentik dan palsunya. al-Wahidi al-Nisaburi menerangkan tentang adanya beberapa versi lain tentang sebab turunnya firman terrsebut. shahih dan dha'if. tidaklah berarti dalam sembahyang seorang muslim dapat menghadap kemanapun ia suka. seseorang boleh melakukan shalat sunnah kemanapun di atas kendaraannya. Menghadap kiblat yang telah ditentukan. Maka tidak perlu lagi ditegaskan bahwa informasi-informasi yang ada harus dipilih dengan sikap kritis. sehingga implikasinya juga dapat menyangkut beberapa situasi yang berbeda. (QS. apalagi jika sembahyang itu bukan sembahyang wajib. Pertama.

juga dari bangsa atau negeri ke bangsa atau negeri lain meskipun dari satu sekte). Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu. tidaklah dibenarkan adanya tekanan yang serba mutlak atas kewajiban menghadapkan wajah ke Makkah. Seterusnya. Maka berlomba-lombalah kamu sekalian untuk berbagai kebaikan. berdasarkan penuturan 'Abd 'l-Lah ibn 'Abbas. Dari balik pertanyaan sementara Sahabat di atas itu dapat diketahui dengan jelas bahwa sekalipun Najasyi adalah seorang Kristen. karena perlindungan yang diberikannya kepada para pengikut Nabi yang berhijrah ke negeri itu untuk menghindar dari penyiksaan kaum musyrik Makkah. yang menegaskan bahwa sedekat-dekat umat manusia dalam rasa cintanya kepada kaum muslim ialah "mereka yang berkata. .s. Perlakuan yang amat simpatik kepada kaum muslim dan sikapnya yang penuh pengertian kepada ajaran Islam yang menyebabkan turunnya firman Allah yang lain. namun berdasarkan firman Allah yang menegaskan bahwa kemanapun kita menghadapkan wajah kita maka di sanalah wajah Allah. seperti difirmankan di tempat lain. Dan Nabi dalam memerintahkan sahabat beliau untuk melakukan shalat jenazah bagi Najasyah menggambarkan raja Habasyah itu sebagai "saudara" kaum beriman. "Kami adalah orang-orang Nasrani" (Q. mengingat jasa-jasanya yang besar itu. namun dari ayat suci itu jelas sekali bahwa segi makna adalah lebih penting daripada segi lambang. al-Baqarah/2:148)." (QS. ketika Nabi dengan izin Allah mengubah kiblat sembahyang dari arah Yerusalem menjadi ke arah Makkah. Dan firman Allah yang terkait itu. menegaskan bahwa masalah kemanapun orang menghadap dalam sembahyang bukanlah perkara penting. menurut versi penuturan ashab al-nuzul ini. atas Versi ketiga tentang sebab turunnya firman itu menyangkut kaum Yahudi Madinah. Sebab. firman Allah itu. setiap kelompok manusia mempunyai arah (wijhah) ke mana mereka menghadap atau berorientasi. kurang lebih adalah demikian: Dan bagi setiap (kelompok manusia) ada arah (wijhah) yang kepadanya kelompok itu menghadap. yang semasa hidupnya (sebagai seorang Kristen) bersembahyang menghadap kiblat yang berbeda dengan kiblat mereka sendiri. tanpa terlalu banyak mempersoalkan perbedaan antara mereka. Menurut penuturan ibn Abi Thalhah. namun Nabi memerintahkan mereka berdoa baginya. al-Maidah/6:82). sebab tekanan serupa itu akan membawa kepada sikap lebih mementingkan lambang atau simbol daripada isi atau makna.terasa dari sekte ke sekte lain. ayat suci di atas itu turun berkenaan dengan adanya pertanyaan kepada Nabi. Najasyi adalah raja Habasyah yang besar sekali jasanya kepada Nabi. terjemahnya. kaum muslim dan agama Islam. Yang penting ialah sikap batin yang ada dalam dada. Dan umat manusia dalam orientasi yang berbeda-beda itu hendaknya berlomba menuju kepada berbagai kebaikan. kaum Yahudi bertanya-tanya. Meskipun lambang dan makna harus ada secara serentak. pandangan lain. Di (kelompok) manapun kamu berada. Allah akan mengumpulkan kamu semua. Walaupun kiblat sebagai lambang persatuan dan kesamaan itu demikian pentingnya. kaum Muslim. Lengkapnya. Jadi firman Allah tentang "timur dan barat" tersebut di mempunyai kemungkinan implikasi dan aplikasi yang luas. mengapa mereka diperintahkan untuk melakukan shalat jenazah bagi Raja Najasyi (Negus) dari Abessinia (Habasyah. Ethiopia).

yatim piatu. para Malaikat. "Taghayyur al-ahkam bi thagayyur al-zaman wa al-makan" (Perubahan hukum oleh perubahan zaman dan tempat). dan berbuat kepada sesama manusia dan makhluk untuk dibawa ke Hadirat Tuhan di Akhirat nanti. betapapun cintanya kepada harta itu. seperti barat dan timur. Mereka itulah orang-orang yang benar (sejati dalam kebaikan). Suatu peristiwa pribadi. firman berkenaan dengan masalah kiblat ini. dan mereka itulah orang-orang yang bertaqwa. Telah dikemukakan bahwa adanya nama pribadi Zayd yang tersebutkan dalam al-Qur'an. IMPLIKASI ASBAB AL-NUZUL Salah satu masalah yang banyak dibahas oleh para ahli agama. dan tabah dalam menghadapi penderitaan dan kesusahan. dan jika orang mendermakan hartanya. percaya kepada adanya pertanggungjawaban pribadi mutlak di Hari Kemudian (Akhirat). terjemahnya adalah demikian: Bukanlah kebaikan itu bahwa kamu menghadapkan wajahmu ke arah timur atau barat. (QS. ialah sejauh mana nilai atau ketetapan hukum dalam Islam ditentukan oleh keadaan ruang dan waktu. guna membebaskan budak. berupa perceraian Zayd ("ibn Muhamad") dari istrinya. Kaidah mereka mengatakan. serta dalam masa-masa sulit. tanpa kelebihan nilai salah satu atas yang lain. telah menjadi titik tolak ditetapkannya suatu hukum Tuhan tentang pembatalan atau. orang-orang miskin. Kitab Suci dan para Nabi. Zaynab. Lengkapnya. Asbab al-Nuzul menunjukkan banyaknya kasus suatu nilai ajaran atau hukum diwahyukan kepada Nabi dalam kaitannya dengan peristiwa nyata tertentu yang menyangkut. Nabi dan masyarakat Islam di zaman beliau. penghentian makna kehukuman (legal significance) praktek pengambilan anak angkat (tanpa memelihara atau mempertahankan adanya informasi tentang. serta mereka yang menepati janji jika mereka berjanji. [2] Berkenaan dengan masalah itu bahkan turun firman yang menegaskan bahwa kebaikan tidaklah diperoleh hanya menghadapkan muka ke arah timur ataupun barat. juga jika orang menegakkan sembahyang dan mengeluarkan zakat. Para ulama telah menuangkan masalah asbab al-nuzul ini dalam berbagai karya ilmiah yang kini menjadi rujukan para ahli. melainkan karena hal-hal yang lebih sejati seperti iman kepada Allah yang selalu hadir (omnipresent) dalam hidup manusia sehari-hari. para peminta-minta. orang terlantar di perjalanan. siapa ayah-ibu biologis anak tersebut). al-Baqarah/2:177). Hari Kemudian. khususnya segi-segi tertentu ajaran agama di bidang hukum. Tetapi kebaikan ialah jika orang beriman kepada Allah. adalah milik Allah semata. untuk kaum kerabat. Para ahli fiqih sepakat bahwa dalam hukum berubah menurut peruhahan zaman dan tempat. Pembatalan ini dipertegas .mengapa ada perubahan yang mengesankan sikap tidak teguh dalam beragama serupa itu?! Maka firman Allah tersebut dimaksudkan untuk menampik ejekan kaum Yahudi dan menegaskan bahwa perkara arah menghadap dalam sembahyang bukanlah sedemikian prinsipilnya sehingga harus dikaitkan dengan permasalahan nilai keagamaan yang lebih mendalam seperti keteguhan atau konsistensi (istiqamah) sebagai ukuran kesejatian dan kepalsuan. Sebab akhirnya semua penjuru angin. Tetapi mereka berselisih tentang batas terjauh dibenarkannya perubahan itu.

(021) 7507174 Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota Please direct any suggestion to Media Team Artikel Yayasan Paramadina Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota I.Relevansinya Bagi Pandangan Historisis Segi-Segi Tertentu Ajaran Keagamaan oleh Masdar F. (Q. Dan perintah Allah adalah sesuatu yang sangat pasti. -------------------------------------------.3.(bersambung 2/3) Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah Editor: Budhy Munawar-Rachman Penerbit Yayasan Paramadina Jln. Kemudian Zayd-pun tidak lagi menyandang nama "ibn Muhamad" tapi dikembalikan kepada nama aslinya. 7501983. melainkan dia adalah rasul Allah dan Penutup para Nabi. Tidak sepatutnya bagi Nabi ada perasaan enggan mengenai apa yang diwajibkan Allah kepadanya. sesuai dengan sunnah (hukum) Allah pada mereka yang telah lewat sebelumnya. Zayd. mereka takut kepada-Nya. maka setelah putus Zaid untuk bercerai dari dia (Zainab). Muhamad bukanlah ayah seseorang (tanpa keterkaitan keorangtuaan biologis) di antara kamu. jika mereka (anak-anak angkat) itu telah putus menceraikan istri-istri mereka. agar tidak lagi ada halangan bagi kaum beriman untuk (kawin dengan bekas) istri anak-anak angkat mereka. al-Ahzab/33:37-40). Dapat dilihat bahwa dalam peristiwa Zaid dan Zainab dan yang "ditangani" langsung oleh kitab suci itu terdapat kaitan antara suatu nilai hukum kulli (universal). yaitu dinikahkannya Nabi oleh Allah dengan Zainab. Mas'udi (2/3) Jadi firman itu memang turun kepada Nabi berkenaan dengan suatu peristiwa konkret yang menyangkut sepasang suami-istri. yaitu perceraian Zaid dari Zainab dan perkawinan . setelah bercerai dari. yaitu "ibn Haritsah. dengan sebuah kasus jaz'i (partikular). (021) 7501969. bekas anak angkatnya. 7507173 Fax. Metro Pondok Indah Pondok Indah Plaza I Kav.s.dengan contoh nyata. "namun engkau sendiri (Nabi) merahasiakan apa yang ada dalam dirimu yang Allah akan memperlihatkannya. Allah Maha Tahu akan segala sesuatu." Firman Allah yang menyangkut tentang Zaid dan Zainab itu demikian: Dan ingatlah tatkala engkau (Nabi) berkata kepada dia (Zaid) yang Allah telah karuniakan kebahagiaan dan engkaupun telah pula memberinya kebahagiaan. dan engkau (Nabi) takut kepada sesama manusia padahal Allah lebih patut engkau takuti. Cukuplah Allah sebagai penghitung. UA 20-21 Jakarta Selatan Telp. "Pertahankanlah istrimu (Zainab) dan bertaqwalah kepada Allah. Dan perintah Allah haruslah terlaksana. KONSEP ASBAB AL-NUZUL . yaitu pembatalan makna legal praktek mengangkat anak. dan tidak takut kepada seorangpun selain Allah. Mereka (yang telah lalu sebelumnya) itu adalah orang-orang yang menyampaikan risalat (pesan-pesan suci) Allah.

Pada hari ini dihalalkan pada kamu perkara yang baik-baik. Maka . Makanan mereka yang mendapat Kitab Suci (Ahl al-Kitab) adalah halal bagi kamu. Ini dengan sendirinya menyangkut masalah kemampuan pemahaman yang mendalam sedalam-dalamnya dan seluas-luasnya. yang isinya menceritakan bahwa ia telah kawin dengan seorang wanita Yahudi di kota al-Mada'in. tidak berpegang kepada makna lahiriah bunyi lafal firman itu. dan kamu nikahi mereka (secara sah). atau bahkan mungkin ta'wil (interprestasi metaforis) yang tidak jarang menimbulkan kontroversi. Komandan kaum beriman (Amir al-Mu'minin) itu tidak membenarkan seorang tokoh Sahabat Nabi kawin dengan wanita Ahl al-Kitab (Yahudi atau Kristen). Jawablah. juga wanita merdeka dari kalangan mereka yang mendapat Kitab Suci sebelum kamu. Suatu ketika Umar menerima surat dari Hudzaifah ibn al-Yamman. serta bertaqwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Cepat dalam perhitungan. Para ahli hukum Islam telah membuat patokan untuk masalah ini. pada urutannya. maka sungguh sia-sialah amal perbuatannya. Tapi Umar seperti dalam beberapa kasus lain. "Pengambilan makna dilakukan berdasarkan generalitas lafal. tidak berdasarkan partikularitas penyebab" (Al-Ibrah bi umum al-lafdh. padahal al-Qur'an jelas membolehkannya. Sebab dalam melakukannya selalu ada kemungkinan dicapai suatu pandangan. karena itu makanlah apa yang ditangkap oleh binatang berburu itu untuk kamu. bekas "menantu"-nya. ketika Hudzaifah meminta pendapat. bagaimana suatu nilai dari sebuah kasus dapat ditarik dari dataran generasitas yang setinggi-tingginya. Dengan begitu nilai tersebut tidak lagi terikat oleh kekhususan peristiwa asal mulanya dan dapat diberlakukan pada kasus-kasus lain di semua tempat dan sepanjang masa (dan inilah makna universalitas suatu nilai). jika kamu beri mereka mahar-mahar mereka. Masalah selanjutnya yang lebih esensial dari contoh di atas itu ialah. la bi khushush al-sabab). dan tanpa kamu memperlakukan mereka sebagai gundik. "Dihalalkannya bagi kamu apa saja yang baik. tanpa kamu menjadikan mereka objek seksual semata (zina). dengan kaidah mereka. bagi kamu) para wanita merdeka dari kalangan wanita beriman. Dan (halal. yang pada lahirnya seperti meninggalkan atau menyimpang dari ketentuan Kitab Contoh klasik dari persoalan tersebut ialah tindakan Umar ibn al-Khaththab pada waktu menjabat sebagai khalifah. Lalu. al-Maidah/5:4-5). dan sebutlah nama Adlah atasnya.Nabi dengan Zainab. atau tindakan. dan makanan kamu halal bagi mereka. tersangkut pula masalah tafsir. dan ia di akhirat akan tergolong orang-orang yang merugi. sebagimana makanan kaum beriman halal bagi mereka: Mereka bertanya kepada engkau (Nabi) tentang apa yang dihalalkannya untuk mereka. juga (dihalalkan bagi kamu binatang yang ditangkap) oleh binatang-binatang berburu yang kamu latih dengan kamu biasakan menangkap binatang buruan dan kamu ajari binatang-binatang itu dengan sesuatu (ketrampilan) yang diajarkan Allah kepada kamu." (QS. Barangsiapa menolak untuk beriman. Penyebutan tentang dibolehkannya lelaki Muslim kawin dengan wanita Kristen atau Yahudi dalam al-Qur'an ada dalam rangkaian dengan penyebutan tentang dihalalkannya makanan kaum Ahl al-Kitab itu bagi kaum beriman. yakni dibenarkan kawin. Tetapi sebuah generalisasi hanya dapat dilakukan jika inti pesan suatu firman dapat ditangkap.

Dr. Karena itu banyak ahli fiqih yang berpandangan bahwa konsep Ahl al-Kitab tidak terbatas hanya kepada kaum Yahudi atau Kristen saja. Sebab. seperti dikatakan oleh Abd al-Hamid Hakim. seperti. mengatakan. misalnya. Apabila kelak. Konfusianis. yaitu terlantarnya kaum muslimah sendiri jika kaum muslim lelaki diizinkan dengan bebas menikah dengan wanita Ahl al-Kitab. Na'ilah al-Kalbiyah. tetapi dapat diperluas juga kepada kaum Majusi atau Zoroastri (sudah sejak Umar). Disebabkan oleh meluasnya daerah kekuasaan politik kekhalifahan Islam. dan banyaknya bangsa-bangsa bukan muslim yang menjadi rakyat kekhalifahan itu. dalam surat jawabannya memberi peringatan keras." Kemudian rektor universitas al-Azhar. setelah Persia dibebaskan (di zaman Umar sendiri) dan lembah Indus oleh Muhamad ibn Qasim (di zaman al-Walid ibn al-Malik). dan agama-agama itu mempunyai kitab suci. konsep tentang Ahl al-Kitab diperluas meliputi kaum Majusi dan Hindu-Buddha. Sebab. "Kita ikuti pendapat Umar itu. seorang tokoh terkemuka pembaharuan Islam di Sumatra Barat. Meskipun ternyata larangan (sementara) Umar itu lambat laun ditinggalkan (dan bangsa Arab umumnya melakukan integrasi total dengan penduduk di mana mereka hidup sehingga lebur dengan bangsa setempat). asal-usul agama-agama Asia itupun adalah paham Ketuhanan Yang Maha Esa atau Tauhid. Shinthois dll. Kita hanya berpendapat hendaknya para wanita muslim diutamakan." Menurut julur penuturan lain.Umar. Muhamad ibn al-Husain. misalnya. selain Hudzaifah. MASALAH KEPENTINGAN UMUM (AL-MASHLAHAT AL-AMMAH) Maka berdasarkan tindakan Umar itu. seperti. namun kebijakan khalifah kedua itu menjadi preseden dalam yurisprudensi Islam tentang kemungkinan dilakukannya kebijakan khusus sesuai dengan tuntutan ruang dan waktu. ada beberapa tokoh Sahabat Nabi yang beristrikan wanita Ahl al-Kitab. Buddha. mengatakan bahwa tindakan khalifah kedua itu menyalahi nas atau lafal Kitab Suci. Utsman bin Affan. dan itulah juga pendapat Abu Hanifah. Taois. maka kesempatan nikah dengan wanita Kristen dan Yahudi juga menjadi terbuka lebar. sekalipun berada di negara Islam. Sebab waktu itu kaum muslim itu hanya terbatas kepada minoritas kecil para penguasa politik dan militer dan hampir terdiri hanya dari bangsa Arab saja. Abd-al-Fattah Husaini al-Syaikh. dan kepada kaum Hindu. dan Thalhah ibn Ubaid-Allah yang . khalifah ketiga. lalu mereka mengutamakan para wanita Ahl al-Dzimmah (Ahl al-Kitab yang dilindungi) karena kecantikan mereka. namun kita tidak memandang perkara tersebut (lelaki muslim kawin dengan wanita Ahl al-Kitab) sebagai terlarang. dan belum banyak kalangan dari bangsa lain yang memeluk Islam. Hal ini sudah cukup sebagai bencana bagi para wanita kaum muslim. Jadi ada timbangan sisi historis dan humanis dalam menetapkan suatu hukum. juga menyalahi apa yang dilakukan sebagian para Sahabat Nabi. yang beristrikan wanita Kristen Arab. [3] Maka apa yang dikuatirkan khalifah sungguh-sungguh dapat menjadi kenyataan. para ahli hukum Islam masa lalu. Umar menegaskan bahwa kaum lelaki muslim kawin dengan wanita Ahl alKitab tidaklah terlarang atau haram. Ia hanya mengkawatirkan terlantarnya wanita muslimah. antara lain dengan mengatakan: "Kuharap engkau tidak akan melepaskan surat ini sampai dia (wanita Yahudi) itu engkau lepaskan Sebab aku khawatir kaum Muslim akan mengikuti jejakmu.

Dan Umar tidak hanya menerapkan kebijakan politik melarang sementara perkawinan dengan wanita Ahl al-Kitab. maka dengan sendirinya lenyap pula alasan melarangnya. tanpa memandang masa lampau mereka. membuat ibukota. lelaki maupun lebih-lebih lagi perempuan. Tetapi faktor itu lenyap. ratio legis) yang harus diperhatikan dalam pelaksanaannya. Sebaliknya Umar justru berpendapat akan tidak adil jika masa lalu . Umar berbeda dengan Abu Bakar dalam kebijakannya tentang penyamarataan atau pembedaan besarnya jumlah ransum tentara. Mesir dan Persia. mengalami berbagai perubahan sosial yang besar. khususnya Syria. sebagai misal. Khalifah dalam menetapkan kebijakan hukumnya menerapkan prinsip bahwa semua hukum agama mengandung alasan hukum (illah. Umar tidak melakukan larangan itu kecuali setelah melihat adanya hal yang kurang menguntungkan bagi masyarakat Islam. pengefektifan hukum talak tiga (talak batin yang dilarang rujuk) bagi orang yang menyatakan talak tiga kali kepada istrinya meskipun pernyataan itu diucapkan sekaligus dan tanpa tenggang waktu. Tetapi. kata rektor al-Azhar lebih lanjut. [4] Karena itu ada yang menyatakan bahwa tindakan khalifah kedua itu adalah sejenis tindakan politik (tasharuf siyasi). Madinah. sejalan dengan kepentingan umum (al-mashlahat al-ammah) dan sesuai dengan tanggungjawab seorang penguasa dan pelaksana hukum bersangkutan. termasuk juga wanita tawanan (yang menurut hukum perang di seluruh dunia pada waktu itu tawanan perang. Maka Umar dengan berbagai kebijakannya adalah seorang penguasa yang berusaha mengurangi sesedikit mungkin efek kritis perubahan sosial itu. pendahulunya. pembagian tingkat penerimaan "ransum" (semacam gaji tetap) bagi tentara Islam berdasarkan seberapa jauh ia banyak atau kurang berjasa dalam sejarah Islam sejak zaman Nabi (padahal Abu Bakar. yang dapat menjadi sumber krisis. Semua tindakan tersebut tidaklah dilakukan khalifah menurut kehendak hatinya sendiri. namun kedua-duanya bermaksud membela keadilan. pembagian tanah-tanah pertanian di Syria dan Irak kepada penduduk setempat (tidak kepada tentara Islam seperti sebagian besar Sahabat Nabi berpendapat demikian).beristrikan seorang wanita Yahudi dari Syam (Syiria).melainkan hanya sekedar menjalankan suatu patokan yang sudah tetap dikalangan para ahli. Abu Bakar berpendapat bahwa keadilan terwujud dengan penyamarataan antara semua tentara Islam. penghapusan perlakuan khusus pada para mu'allaf. yang timbul karena pertimbangan kemanfaatan (expediency) menurut tuntutan zaman dan tempat. Kekhalifahan Umar adalah masa permulaan pembebasan negeri-negeri sekitar Arabia. bahwa pemerintah boleh melarang sementara sesuatu yang sebenarnya halal jika ada faktor yang merugikan masyarakat. yang dalam hal ini adalah jauh lebih kaya daripada Hijaz di Jazirah Arabia. Dan Umar tidaklah mengatakan sebagai haram --hal mana tentu akan berarti menentang hukum Allah-. menerapkan prinsip penyamarataan antara semuanya). Kekayaan yang melimpah ruah secara tiba-tiba akibat banyaknya harta rampasan perang. [6] Dan meskipun. larangan berkumpul untuk selamanya bagi wanita dengan lelaki yang tidak dikawininya pada saat menunggu (iddah). adalah sepenuhnya berada dibawah kekuasaan dan menjadi "milik" perampasnya). Ia juga dicatat membuat deretan berbagai kebijaksanaan "kontroversial" seperti meniadakan hukum potong tangan bagi pencuri di masa sulit seperti paceklik. Menurut Dr Abd-al-Fattah.

sementara formalitas dalam keadaan tertentu boleh ditinggalkan. namun sebagian besar ulama menganutnya. Dan karena kemampuan tersebut dapat berbeda-beda antara berbagai pribadi. Konsep asbab al-Nuzul mempunyai kaitan yang erat dengan konsep lain yang juga amat penting. [6] Ini membawa kita kembali pada polemik sekitar kiblat shalat yang telah dikemukakan di atas. melainkan dimaksudkan maknanya. Rasa keadilan mengatakan bahwa sebagian orang yang berbuat lebih banyak tentunya juga harus mendapatkan balas jasa dan penghargaan lebih banyak. Dan karena lebih penting daripada formalitas.(bersambung 3/3) Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah Editor: Budhy Munawar-Rachman Penerbit Yayasan Paramadina Jln. yang menjadi salah satu tumpuan harapan bahwa Islam akan mampu lebih baik dalam menjawab tantangan zaman di masa depan. [7] Meskipun teori "hapus-menghapuskan" ini tidak lepas dari kontroversi. menyangkut masalah adanya bagian tertentu dari al-Qur'an ataupun Hadits yang "dihapus" (mansukh) dan yang "menghapus" (nasikh). dengan perbedaan disana-sini dalam hal materi mana yang menghapus dan mana pula yang dihapus. dalam arti wujud fisiknya yang menyangRut formalitas penghadapan wajah ke suatu arah tertentu. baik Kitab maupun Sunnah. maka hasilnya pun dapat berbeda-beda pula. pendirian Abu Bakar dan Umar membuktikan bahwa yang dituju oleh hukum ialah makna atau pesan yang dikandungnya (al-ahkam turadu li ma ani-ha). (021) 7507174 Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota Please direct any suggestion to Media Team . Yang jelas ialah bahwa dalam kaitannya dengan konsep tentang asbab al-Nuzul. yaitu bahwa masalah penarikan atau pengangkatan makna umum (generalisasi) suatu nilai hukum akan menyangkut masalah penafsiran dan kemampuan memahami lebih mendalam inti pesan yang dikandungnya. 7501983. seperti yang pandangan teoretisnya dikembangkan oleh para ahli fiqih dengan kepeloporan Imam al-Syafi'i. yang ikut berharap bahwa umat Islam akhirnya akan mampu menjawab tantangan zaman: -------------------------------------------. berkenaan dengan sumber-sumber pengambilan ajaran agama. yaitu nasikh-mansukh. Yaitu bahwa kiblat. Kata Hodgson. tidaklah dimaksudkan pada dirinya sendiri. MASALAH HISTORIS AJARAN KEAGAMAAN Itulah wujud contoh apa yang dikemukakan di atas. 7507173 Fax. menurut Hodgson. konsep nasikh-mansukh juga mengandung kesadaran historis di kalangan ahli hukum Islam. seperti dikatakan rektor al-Azhar. padahal sebagian dari mereka benar-benar jauh lebih berjasa daripada sebagian yang lain. UA 20-21 Jakarta Selatan Telp. (021) 7501969.masing-masing tentara itu diabaikan. maka makna tidak boleh ditinggalkan. Konsep itu. Adalah kesadaran historis ini. Metro Pondok Indah Pondok Indah Plaza I Kav. Yang jelas ialah.

tetapi perbedaan kesiapan umat manusia mengakibatkan perbedaan agama dan aliran. Mas'udi (3/3) Tetapi barangkali modal potensial terbesar Islam yang paling hebat ialah kesadaran historisnya yang jelas. Jadi jalan tauhid pun satu. dan selalu mempunyai dimensi historis. Al-Syafi'i membawa ke depan kecenderungan yang sudah ada secara laten dalam karya (Nabi) Muhamad sendiri ketika ia menekankan pemahaman al-Qur'an secara benar-benar konkret dalam interaksi historisnya dengan kehidupan Nabi Muhamad dan masyarakat beliau. Dalam kitab ini dijelaskan tentang adanya konteks sejarah bagi ajaran agama-agama sehingga menghasilkan manifestasi lahiriah yang berbeda-beda.Artikel Yayasan Paramadina Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota I. seperti jari-jari yang menghubungkan garis luar lingkaran dengan titik pusat lingkaran itu. dalam syarah al-Syaikh Abd-al-Razzaq al-Qasyani. yakni kesehatan. Sebab. Jari-jari tersebut merupakan jalan-jalan yang berbeda-beda menurut perbedaan garis yang menghubungkan antara titik pusat lingkaran itu dengan setiap titik yang ditentukan pada garis lingkar luarnya. namun tujuannya adalah satu. lalu mengapa agama para Nabi itu berbeda-beda? Jawabnya ialah. yaitu kitab Muhyi al-Din ibn al-Arabi. Padahal inti semua agama yang benar. Fushush al-Hikam.3. [8] Sekarang bandingkan ungkapan Hodgson itu dengan yang dapat kita baca dalam sebuah kitab klasik. Maka begitu pula cara turunnya ajaran kepada Para Nabi adalah satu. dan tujuannya ialah hidayah ke arah kebenaran. Sebab perbaikan setiap umat adalah dengan menghilangkan keburukan . [9] Dalam syarah Fushush al-Hikam diuraikan sebagai berikut: Jika cara turunnya ajaran ke dalam jiwa para Nabi itulah yang dimaksud dengan kesatuan cara yang diturunkannya semua ajaran (dari Tuhan). sepanjang ajaran tentang pasrah kepada Allah (Islam) berdasarkan kepercayaan kepada Tuhan Yang Maha Esa (tawhid). Sama juga dengan cara pengobatan yang berbeda-beda. namun mereka tidak pernah mengingkari prinsip bahwa ketepatan historis adalah fondasi semua pengetahuan keagamaan. KONSEP ASBAB AL-NUZUL . kesediaan mengikuti dengan sungguh-sungguh bahwa tradisi agama terbentuk dalam waktu. tujuan dan hakikat metode itu semuanya satu. membuat agama itu mampu menampung ilham baru apapun ke dalam realita dari warisan dan dari titik tolak mulanya yang kreatif. Ia (al-Syafi'i) melakukan hal ini memang tanpa ketepatan sejarah tertentu. dan semua cara pengobatan itu sebagai cara menyingkirkan penyakit dan mengembalikan kesehatan adalah satu. sementara maksud. yang dapat terjadi lewat penelitian ilmiah atau pengalaman rohani baru. karena terdapat perbedaan kesiapan antara berbagai umat maka berbeda pula bentuk-bentuk jalan tauhid dan bagaimana jalan itu ditempuh. yang sejak dari semula mempunyai tempat begitu besar dalam dialognya.Relevansinya Bagi Pandangan Historisis Segi-Segi Tertentu Ajaran Keagamaan oleh Masdar F. tetapi itu bukanlah maksudnya yang semula dan meskipun oleh kaum muslim kemudian hari kajian yang jujur tentang kenyataan sejarah masa silam Islam ditukar dengan gambaran stereotipikal dan berang.

Dan jika masalah kebahasaan menyangkut pula segi kultural ini. [11] Namun masalah kebahasaan mungkin akan ternyata tidak terbatas hanya kepada segi linguistiknya semata. khususnya sekitar Timur Tengah. Justru dalam penegasan tentang kesatuan agama para Nabi terkandung makna yang tegas bahwa ada sesuatu yang benar-benar universal dalam setiap agama dan menjadi titik pertemuan antara semua agama. penting sekali memahami penegasan dalam Kitab Suci bahwa Allah tidak mengutus seorang Rasulpun kecuali dengan bahasa kaumnnya (QS. dan umat manusiapun kemudian mengetahui seperti Adam mengetahui. Hal yang sudah amat jelas ini perlu dipertegas. Ibrahim/14:4). dan tidak hanya berkaitan dengan kasus spesifik . keterangan yang cukup baik diberikan oleh Ibn Taimiyah. Maka meskipun bahasa para Nabi itu bermacam-macam. Misalnya. dan dengan sabda itu Allah menjelaskan apa yang dikendaki dari mahlukNya dan apa perintahNya. yaitu Adam. maka dapat disebut "tidak historis". tetapi juga kulturalnya. namun tujuan dan makna risalah mereka semua sama. dan hidayah mereka bersumber dari berbagai sentra dan martabat yang berbeda-beda menurut tabiat dan kejiwaan mereka. jika dalam al-Qur'an disebutkan bahwa Allah menciptakan tujuh lapis langit (QS. Allah telah memberi wahyu kepada Musa dalam bahasa Ibrani (Hebrew) serta kepada Muhamad dalam bahasa Arab. maka konsep asbab al-nuzul dapat diperluas sehingga tidak hanya menyangkut sebuah ayat tertentu saja misalnya. karena kosmologi yang umum pada waktu itu. demikian: Jadi diketahui bahwa Tuhan mengajari jenis manusia agar mengungkapkan apa yang dikehendaki dan digambarkan dalam benaknya dengan bahasanya. melainkan menyangkut seluruh Kitab Suci itu seutuhnya. meskipun bahasa mereka berbeda-beda. [10] Pendekatan historis ini tidaklah berarti relativisasi total ajaran agama dan sifat yang memandang sebagai tidak lebih daripada produk pengalaman sejarah belaka. meskipun bahasa itu berlainan. Bahasa termasuk kategori historis. dan kesadaran kebahasaan akan dengan sendirinya menyangkut kesadaran historis. Dan yang pertama mengetahui hal itu ialah bapak mereka. juga tidak kepada suatu sebab khusus dari asbab al-Nuzul munculnya suatu ajaran atau hukum. dan semuanya itu adalah sabda (Kalam) Allah. al-Mulk/67:3). sedemikian dekatnya sehingga kedua bahasa itu lebih dekat daripada bahasa bukan Arab (Ajam) satu dari yang lain. Berkaitan dengan ini. memang mengenal adanya konsep demikian. Tetapi masalahnya tetap sama. Padahal bahasa Ibrani adalah paling dekat ke bahasa Arab. agar kita waspada agar jangan sampai kita terkungkung oleh lingkaran kebahasaan semata dan terjerumus ke dalam sikap mental seolah-olah suatu nilai akan hilang kebenarannya jika tidak dinyatakan dalam bahasa tertentu atau ungkapan kebahasaan tertentu yang dianggap suci.yang khusus ada padanya. Maka banyak para ahli yang akhirnya sampai kepada persoalan bahasa: bagaimana kita mempersepsi suatu ungkapan linguistik untuk dapat melakukan generallisasi tinggi dari makna immediate-nya ke makna universalnya. terdapat kemungkinan bahwa "tujuh lapis langit" adalah bahasa kultural (yang historis). yaitu bagaimana menangkap pesan inti yang uraiversal itu. Dan karena yang universal ini tidak terikat oleh ruang dan waktu. Tentang hal ini. yang tidak tergantung kepada konteks.

berhasil menemukan kota kuna Ubar (Iram) yang didirikan oleh Syaddad ibn Ad hampir empat ribu tahun yang lalu. 5. Termasuk masalah Nasikh-Mansukh atau "hapus menghapus" ini adalah keterangan Umar. Kairo: Markaz al-Ahram. h. lebih khusus lagi Jazirah Arabia sebagai "situs" langsung wahyu Allah kepada Nabi Muhamad. seperti "ayat rajam" di atas. 177 dan 185.dalam kehidupan Nabi dan masyarakat beliau pada saat itu. [12] CATATAN 1. Khalifah kedua bahwa ada firman bahwa hukuman orang yang sudah beristri atau bersuami kemudian berzina ialah dirajam sampai mati.. 1988. 'Ulum al-Qur'an. 1968. (Buku ini dapat diperoleh dalam terjemahan Indonesia.177. h. 1990. Segi amat menarik dari masalah ini ialah adanya teori dalam nasikh-mansukh bahwa suatu firman mungkin saja masih tetap bertahan (tidak dihapus) dari segi bunyi lafalnya. Terutama kegiatan arkeologis yang baru-baru ini secara spektakuler. khususnya Timur Tengah. Nusantara 1955 M/1374 H). sebelum Islam. tetapi maknanya sudah tidak berlaku. sebagai kelanjutan dan pengembangan ide Imam al-Syafi'i. 'Abd al-Hamid Hakim. 7. Ahmad Von Denffer. semasa Nabi. Jika benar temuan itu maka kita akan lebih mampu memahami penuturan al-Qur'an (al-Fajr/87:6-8) tentang kaum 'Ad dan pesan suci di balik penuturan itu. perempuan dan lelaki.s. dan (bagi kita sekarang) sesudah Islam.48. maka rajamlah mereka sama sekali. h. Tarikh al-Tasyri' al-Islami. 161. bukan sekedar dicambuk seratus kali seperti yang ada dalam al-Qur'an sekarang ini.1985). Risalah). ada kemungkinan suatu firman dihapus (terhapus?) dari segi lafalnya. Maka dari sudut ini sungguh besar harapan kita kepada kegiatan penelitian ilmiah di bidang kultural yang mulai tumbuh di Jazirah Arabia. Menurut Umar. Ibid. Dar al-Ittihad al-'Arabi. Al-Mu'in al-Mubin.92-93.. kita tidak hanya akan mendapat manfaat dari pengetahuan tentang asbab al-nuzul saja.96-144 dan 170-176. seperti "ayat cambuk" diatas: sebaliknya. ada "penghapusan lafal tapi makna hukumnya tetap" . hh. 4. hh. Al-Wahidi al-Nisaburi. 4. Menurut para ulama. berkat teknologi satelit. Dr 'Abd al-Fattah. tetapi juga pengetahuan yang lebih menyeluruh tentang pola budaya Arabia dalam sejarahnya yang panjang. al-Nur/4:24). Pembahasan panjang lebar diberikan Imam al-Syafi'i dalam kitabnya yang terkenal.4. Al-Risalah. Kairo. Dalam bahasa fiqhnya. an Introduction to the Sciences of the Qur'an (London: The Islamic Foundation. cambuklah masing-masing seratus kali". firman ini dalam isi hukum atau makna legalnya telah menghapus firman Allah: "Orang yang berzina. jil. h. namun hukumnya masih berlaku. Asbab al-Nuzul. 4 jilid (Bukittinggi. Karena itu. dari sudut pendekatan historis dan ilmiah kepada wahyu Tuhan. Q. 2. hh. 3. 6. firman itu berbunyi: Lelaki maupun perempuan kawin jika berzina. Kairo. tetapi meliputi seluruh kondisi kultural dunia.175. Ibid.

Dalam pembahasannya. -------------------------------------------Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah Editor: Budhy Munawar-Rachman Penerbit Yayasan Paramadina Jln. "Jadi "islam" pada asalnya termasuk bab tindakan (bukan nama). Lihat [kalimat dengan huruf Arab] oleh [kalimat dengan huruf Arab]. The University of Chicago Press. Metro Pondok Indah Pondok Indah Plaza I Kav.. dapat dilihat dari kesepakatan hampir seluruh para ulama bahwa orang yang sudah kawin dan berzina memang harus dihukum rajam sampai mati. tanpa orang lain. 82. h. yaitu tunduk dan penghambaan diri kepada-Nya. Kairo: Mushthafa al-Babi al-Halabi.S. 9. tt. 437. bukanlah seorang muslim. h. jld. (021) 7507174 Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota Please direct any suggestion to Media Team . Kairo: Dar al-Thiba'ah al-Muhammadiyah. 1974). Ibn Taimiyah antara lain mengatakan: [kalimat dalam huruf Arab] (Hakikat perbedaannya adalah bahwa arti "islam" ialah "din" dan "din" adalah masdar dari kata kerja "dana-yadinu" (yang menunjuk makna) jika (seseorang) tunduk dan patuh. yaitu tindakan kalbu dan anggota badan ") 10. bahkan besar kepala untuk menyembah-Nya. op.. 11. 8. seperti dapat dilihat dalam praktek di Kerajaan Saudi Arabia. Ibn Taimiyah. Orang yang menyembah-Nya dan bersama Dia menyembah "tuhan" yang lain bukanlah seorang yang tunduk patuh (muslim). 30. "Agama Islam" yang diridhai Allah dan dengan itu diutus-Nya pada Rasul ialah "istislam " (sikap tundukpatuh) kepada Allah semata. 7501983. (1987). hh. "Islam" ialah "istislam" kepada Allah. Lihat penjelasan makna asal kata-kata Arab "islam" dalam kitab Ibn Taimiyah. h. 8. 223-4. Lihat berita arkeologis penting ini dalam Time. dengan menyembah (beribadat) kepada-Nya semata. (Chicago. h. 1992. 3 jilid. Hodgson. UA 20-21 Jakarta Selatan Telp. Para ahli bahasa mengatakan begini: "Seseorang melakukan islam (aslama) jika ia melakukan istislam (istaslama). al-Iman. Marshall G. 17 Peb. The Venture of Islam.[kalimat dalam huruf Arab] atau sebaliknya "penghapusan hukum tapi lafalnya tetap" [kalimat dalam huruf Arab] Bagaimana umat Islam memperoleh teori yang "aneh" ini. (021) 7501969. 7507173 Fax. 12. 3. Dan orang yang tidak menyembah-Nya. Pangkalnya pada kalbu ialah sikap tunduk kepada Allah semata. cit.

Artikel Yayasan Paramadina
Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota I.4. NASIKH MANSUKH DALAM AL-QUR'AN (1/2) oleh KH Ali Yafie Dari awal hingga akhir, al-Qur'an merupakan kesatuan utuh. Tak ada pertentangan satu dengan lainnya. Masing-masing saling menjelaskan al-Qur'an yufassir-u ba'dhuhu ba'dha. [1] Dari segi kejelasan, ada empat tingkat pengertian. Pertama, cukup jelas bagi setiap orang. Kedua, cukup jelas bagi yang bisa berbahasa Arab. Ketiga, cukup jelas bagi ulama/para ahli, dan keempat, hanya Allah yang mengetahui maksudnya. [2] Dalam al-Qur'an dijelaskan tentang adanya induk pengertian hunna umm al-kitab [3] yang sudah mempunyai kekuatan hukum tetap. Ketentuan-ketentuan induk itulah yang senantiasa harus menjadi landasan pengertian dan pedoman pengembangan berbagai pengertian, sejalan dengan sistematisasi interpretasi dalam ilmu hukum -hubungan antara ketentuan undang-undang yang hendak ditafsirkan dengan ketentuan-ketentuan lainnya dari undang-undang tersebut maupun undang-undang lainnya yang sejenis, yang harus benar-benar diperhatikan supaya tidak ada kontradiksi antara satu ayat dengan ayat lainnya. Hal ini untuk menjamin kepastian hukum. Sementara, unsur-unsur bahasa, sistem dan teologi dari teori interpretasi hukum masih harus dilengkapi dengan satu unsur lain yang tidak kalah pentingnya. Itulah unsur sejarah yang melatarbelakangi terbentuknya suatu undang-undang, yang biasa dikenal "interpretasi historis." Dalam ilmu tafsir ada yang disebut asbab al-nuzul, yang mempunyai unsur historis cukup nyata. Dalam kaitan ini para mufassir memberi tempat yang cukup tinggi terhadap pengertian ayat al-Qur'an. Dalam konteks sejarah yang menyangkut interpretasi itulah kita membicarakan masalah nasikh-mansukh. Dalam hal ini masalah yang terpenting untuk kita soroti adalah masalah asas, pengertian/batasan, jenis-jenis, kedudukan, hirarki penggunaan, kawasan penggunaan dan hikmah kegunaannya. ASAS Andaikan al-Qur'an tidak diturunkan dari Allah, isinya pasti saling bertentangan. [4] Ungkapan ini sangat penting dalam rangka memahami dan menafsirkan ayat-ayat serta ketentuan-ketentuan yang ada dalam al-Qur'an. Kitab Suci yang terdiri dari 6000 ayat lebih dan terbagi dalam 114 kelompok surat, mengandung berbagai jenis pembicaraan dan persoalan. Didalamnya terkandung antara lain nasihat, sejarah, dasar-dasar ilmu pengetahuan, keimanan, ajaran budi luhur, perintah dan larangan. Masalah-masalah yang disebutkan terakhir ini, tampak jelas dengan adanya ciri-ciri hukum didalamnya. Semua jenis masalah ini terkait satu dengan lainnya dan saling menjelaskan. Dalam kaitan itu, Imam Suyuthi maupun Imam Syathibi banyak

mengulas prinsip tersebut. Mereka mencatat adanya pendapat yang memandang adanya tiap ayat atau kelompok ayat yang berdiri sendiri. Tapi semuanya berpendapat bahwa antara satu ayat dengan ayat lainnya dari al-Qur'an tidak ada kontradiksi (ta'arudl). Dari asas inilah lahir metode-metode penafsiran untuk meluruskan pengertian terhadap bagian-bagian yang sepintas lalu tampak saling bertentangan. Adanya gejala pertentangan (ta'arudl) yang demikian merupakan asas metode penafsiran dimana Nasikh-Mansukh merupakan salah satu bagiannya. [5] PENGERTIAN Nasikh-Mansukh berasal dari kata naskh. Dari segi etimologi, kata ini dipakai untuk beberapa pengertian: pembatalan, penghapusan, pemindahan dan pengubahan. Menurut Abu Hasyim, pengertian majazinya ialah pemindahan atau pengalihan. [6] Diantara pengertian etimologi itu ada yang dibakukan menjadi pengertian terminologis. Perbedaan terma yang ada antara ulama mutaqaddim dengan ulama mutaakhkhir terkait pada sudut pandangan masing-masing dari segi etimologis kata naskh itu. Ulama mutaqaddim memberi batasan naskh sebagai dalil syar'i yang ditetapkan kemudian, tidak hanya untuk ketentuan/hukum yang mencabut ketentuan/hukum yang sudah berlaku sebelumnya, atau mengubah ketentuan/hukum yang pertama yang dinyatakan berakhirnya masa pemberlakuannya, sejauh hukum tersebut tidak dinyatakan berlaku terus menerus, tapi juga mencakup pengertian pembatasan (qaid) bagi suatu pengertian bebas (muthlaq). Juga dapat mencakup pengertian pengkhususan (makhasshish) terhadap suatu pengertian umum ('am). Bahkan juga pengertian pengecualian (istitsna). Demikian pula pengertian syarat dan sifatnya. Sebaliknya ulama mutaakhkhir memperciut batasan-batasan pengertian tersebut untuk mempertajam perbedaan antara nasikh dan makhasshish atau muqayyid, dan lain sebagainya, sehingga pengertian naskh terbatas hanya untuk ketentuan hukum yang datang kemudian, untuk mencabut atau menyatakan berakhirnya masa pemberlakuan ketentuan hukum yang terdahulu, sehingga ketentuan yang diberlakukan ialah ketentuan yang ditetapkan terakhir dan menggantikan ketentuan yang mendahuluinya. Dengan demikian tergambarlah, di satu pihak naskh mengandung lebih dari satu pengertian, dan di lain pihak -dalam perkembangan selanjutnya- naskh membatasinya hanya pada satu pengertian. [7] JENIS-JENIS NASKH Masalah pertama yang ingin kami soroti dalam bagian ini ialah adanya naskh antara satu syari'at dengan syari'at lainnya. Ini terjadi sebagaimana dapat kita amati antara syari'at Nabi Isa as. dengan syari'at hukum agama Yahudi yang lebih dahulu ada. Dalam hubungan ini, dapat kita katakan bilamana kita mengikrarkan Islam sebagai syari'at, dengan sendirinya kita mengaku adanya naskh, karena syari'at-syari'at sebelumnya tidak akan kita anut lagi dan semua hukumnya pun tidak akan kita berlakukan, sepanjang tidak dikukuhkan kembali oleh syari'at Nabi Muhammad saw. Jadi, adanya nasikh-mansukh antar syari'at itu merupakan salah satu jenis naskh. Hal semacam ini jika ditinjau dari

segi pendekatan ilmu hukum, sangat jelas maksudnya, misalnya pengertian suatu pemerintahan/negara dengan pemerintahan/ negara lainnya. Contohnya, adanya pemerintahan/negara kolonial Hindia Belanda dengan pemerintahan/negara nasional Republik Indonesia. Dalam kaitan ini soal kedaulatan, hukum dasar dan hukum-hukum yang langsung berhubungan dengan kedaulatan, serta hukum-hukum lainnya semuanya dicabut dan tidak diberlakukan lagi sepanjang tidak dikukuhkan pemerintah/negara baru itu. Jika kita sudah melihat adanya nasikh-mansukh antar syari'at, apakah didalam satu syari'at terjadi juga nasikh-mansukh antara hukum yang satu dengan hukum yang lainnya? Jika kita kembali pada syari'at Islam sendiri, kita akan menemui beberapa kasus yang dapat memberikan jawaban atas masalah ini. 1. Sesudah hijrah ke Madinah, kaum Muslim masih berkiblat ke arah Bait al-Muqaddas. Sekitar enam bulan kemudian, Allah menetapkan ketentuan lain: keharusan berkiblat ke arah Bait al-Haram. [8] Ini berarti terjadi nasikh-mansukh dalam hukum kiblat. Kasus lain misalnya dalam hal shalat yang semula tidak diperintahkan lima waktu dengan 17 raka'at. Ini juga berarti telah terjadi nasikh-mansukh dalam hukum shalat. 2. Kasus-kasus yang digambarkan di atas, semuanya menyangkut bidang ibadat. Sedangkan di bidang mu'amalat, dapat pula kita catat beberapa kasus, misalnya hukum keluarga. Sebagai contoh, semula ditetapkan masa tenggang ('iddah) bagi seorang janda, lamanya 1 (satu) tahun. [9] Beberapa waktu kemudian ditetapkan ketentuan hukum lain bahwa masa tenggangnya 4 bulan 10 hari. [10] Di bidang lain ada pula perubahan-perubahan yang menyangkut ketentuan hukum pembelaan diri, tentang minuman keras dan sebagainya. Dari seluruh kasus-kasus tersebut dapat ditarik kesimpulan, memang terbukti adanya nasikh-mansukh yang sifatnya intern dalam syari'at Islam. Beberapa ketentuan hukum yang sudah berlaku, kemudian dicabut atau berakhir masa pemberlakuannya dan diganti dengan ketentuan hukum lain. Hal seperti ini, jika dilihat dari sudut pendekatan ilmu hukum adalah hal yang lumrah dan banyak terjadi. Bahwa suatu undang-undang atau peraturan hukum lainnya dicabut atau dinyatakan tidak berlaku lagi, kemudian diganti dengan menetapkan undang-undang atau peraturan lain. Persoalan lebih jauh dalam masalah nasikh-mansukh ini ialah soal nasikh-mansukh antara al-Qur'an dengan Sunnah. Adanya nasikh-mansukh antara satu ayat yang memuat ketentuan hukum dalam al-Qur'an dengan lain ayat yang juga memuat ketentuan hukum dalam soal yang sama, adalah satu hal yang tidak diperselisihkan lagi. Demikian pula adanya nasikh-mansukh antara satu hadits yang memuat ketentuan hukum dalam soal yang sama, merupakan satu hal yang tidak diperselisihkan lagi. Juga, adanya nasikh-mansukh antara satu hadits yang memuat ketentuan hukum dalam Sunnah dengan lain hadits yang juga memuat ketentuan hukum dalam soal yang sama, merupakan satu hal yang sudah tidak diperselisihkan lagi. Masalah yang menimbulkan perbedaan pendapat diantara para ulama ialah adanya nasikh-mansukh silang antara al-Qur'an dengan Hadits/Sunnah. Jika disimak alasan masing-masing pihak, mungkin dapat ditarik satu garis bahwa faktor utama terjadinya perbedaan pendapat ialah pandangan masing-masing

tentang kedudukan hirarki syari'at itu sendiri.

al-Qur'an

dan

Sunnah

dalam

(bersambung 2/2)

-------------------------------------------Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah Editor: Budhy Munawar-Rachman Penerbit Yayasan Paramadina Jln. Metro Pondok Indah Pondok Indah Plaza I Kav. UA 20-21 Jakarta Selatan Telp. (021) 7501969, 7501983, 7507173 Fax. (021) 7507174 Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota
Please direct any suggestion to Media Team

Artikel Yayasan Paramadina
Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota I.4. NASIKH MANSUKH DALAM AL-QUR'AN (2/2) oleh KH Ali Yafie Dalam kaitan hirarki al-Qur'an dan Sunnah, ada semacam kesepakatan bahwa dalam nasikh-mansukh kedua unsurnya harus sama tingkatnya dan sama nilai dan sifatnya. Lembaga tawatur dan ahad termasuk faktor yang dipertimbangkan. Jalan pikiran seperti ini terdapat juga di kalangan ahli hukum bahwa suatu peraturan hukum tidak dapat dicabut dengan peraturan hukum lainnya yang lebih rendah tingkatannya. Demikian pula lembaga yang mengeluarkan peraturan hukum menjadi faktor pertimbangan. Berdasarkan pemikiran ini, ada satu hal yang perlu kita catat bahwa setelah Rasulullah saw wafat maka tidak ada lagi nasikh-mansukh yang mungkin terjadi pada syari'at. Jenis nasikh-mansukh yang diuraikan diatas, menyangkut segi formalnya. Jenis lain yang menyangkut segi materialnya, ada yang bersifat eksklusif (sharih) dan inklusif (dlimni). Untuk yang bersifat sharih, nasikh itu langsung menjelaskan mansukhnya, misalnya hukum kiblat. Ketentuan yang nasikh (pengganti) ditetapkan secara jelas. [12] Ini contoh dari al-Qur'an. Sedangkan contoh lain dari Sunnah misalnya hukum ziarah kubur. Didalam hadits disebutkan, "Pernah aku melarang kalian melakukan ziarah kubur. Sekarang lakukanlah!". [12] Berbeda dengan hal tersebut diatas, nasikh yang bersifat dlimni tidak memuat penegasan didalamnya bahwa ketentuan yang mendahuluinya tercabut, tetapi isinya cukup jelas bertentangan dengan ketentuan yang mendahuluinya. Jenis seperti inilah yang banyak ditemukan dalam hukum syari'at. KEDUDUKAN NASKH Masalah naskh bukanlah sesuatu yang berdiri sendiri. Ia merupakan bagian yang berada dalam disiplin Ilmu Tafsir dan Ilmu Ushul Fiqh. Karena itu masalah naskh merupakan techniseterm dengan batasan pengertian yang baku. Dalam

kaitan ini Imam Subki menerangkan adanya perbedaan pendapat tentang kedudukan naskh: apakah ia berfungsi mencabut (raf) atau menjelaskan (bayan). [13] Ungkapan Imam Subki ini dapat dikaitkan dengan hal-hal yang menyangkut jenis-jenis naskh yang diuraikan di atas. Jika ditinjau dari segi formalnya maka fungsi pencabutan itu lebih nampak. Tapi bila ditinjau dari segi materinya, maka fungsi penjelasannya lebih menonjol. Meski demikian, pada akhirnya dapat dilihat adanya suatu fungsi pokok bahwa naskh merupakan salah satu interpretasi hukum. HIRARKI PENGGUNAAN NASKH Yang menjadi persoalan sekarang, apakah naskh menempati urutan pertama dalam interpretasi hukum-syari'at? Dalam upaya melakukan interpretasi suatu peraturan dalam syari'at, baik al-Qur'an maupun Hadits setiap ketentuan hukum itu harus jelas. Pengertiannya tidak boleh meragukan, supaya kepastian hukumnya terjamin. Semua segi yang dapat memperjelas kondisi sesungguhnya, maksud ketentuan hukum itu harus disoroti dan didalami. Misalnya, tentang segi bahasanya, proses terjadinya, hubungannya antara ketentuan hukum itu dengan ketentuan hukum yang lain. Dalam hal ini harus ada upaya mengawinkan kedua ketentuan hukum itu (jam') atau memperkuat salah satu diantaranya (tarjih). Baik upaya jam' maupun tarjih sudah mempunyai tata aturan yang sudah baku dalam disiplin ilmu Usul Fiqh. Jika tingkat interpretasi ini sudah ditempuh dan ternyata kontradiksi antara dua ketentuan hukum itu juga sudah teratasi, maka pada tingkat inilah dipersoalkan kemungkinan adanya nasikh-mansukh antara dua ketentuan hukum tersebut. Kuncinya terletak pada soal historis yang menyangkut kedua ketentuan hukum tersebut. Faktor asbab al-nuzul bagi ayat dan asbab al-wurud bagi Hadits, ada dalam tingkat ini. Maka setiap masalah nasikh-mansukh berada pada tingkat akhir dari suatu upaya interpretasi. [14] Kawasan Penggunaan Naskh Masalah yang tidak kurang pentingnya disoroti, sejauh mana jangkauan naskh itu? Apakah semua ketentuan hukum didalam syari'at ada kemungkinannya terjangkau naskh? Dalam hal ini Imam Subki menukil pendapat Imam Ghazali bahwa esensi taklif (beban tugas keagamaan) sebagai suatu kebulatan tidak mungkin terjangkau oleh naskh. Selanjutnya, Syekh Asshabuni mencuplik pendapat jumhur ulama bahwa naskh hanya menyangkut perintah dan larangan, tidak termasuk masalah berita, karena mustahil Allah berdusta. [16] Sejalan dengan ini Imam Thabari mempertegas, nasikh-mansukh yang terjadi antara ayat-ayat al-Qur'an yang mengubah halal menjadi haram, atau sebaliknya, itu semua hanya menyangkut perintah dan larangan, sedangkan dalam berita tidak terjadi nasikh-mansukh. Ungkapan ini cukup penting diperhatikan, karena soal naskh adalah semata-mata soal hukum, yang hanya menyangkut perintah dan larangan, dan merupakan dua unsur pokok hukum. Hal seperti yang diuraikan di atas, di bidang ilmu Hukum dapat kita lihat gambarnya pada Hukum Dasar, misalnya Undangundang Dasar Negara yang tidak dapat dijangkau pencabutan. Adanya pencabutan terhadap sesuatu peraturan

hukum dan penetapan peraturan lain untuk menggantikannya hanya berlaku pada undang-undang organik atau peraturan, kedudukan dan kawasan naskh. Dengan demikian, dengan mudah kita dapat mengenal beberapa persyaratan, yaitu: 1. Adanya ketentuan hukum yang dicabut (mansukh) dalam formulasinya tidak mengandung keterangan bahwa ketentuan itu berlaku untuk seterusnya atau selama-lamanya. 2. Ketentuan hukum tersebut bukan yang telah mencapai kesepakatan universal tentang kebaikan atau keburukannya, seperti kejujuran dan keadilan untuk pihak yang baik serta kebohongan dan ketidakadilan untuk yang buruk. 3. Ketentuan hukum yang mencabut (nasikh) ditetapkan kemudian, karena pada hakikatnya nasikh adalah untuk mengakhiri pemberlakuan ketentuan hukum yang sudah ada sebelumnya. 4. Gejala kontradiksi sudah tidak dapat diatasi lagi. HIKMAH ADANYA NASKH Adanya nasikh-mansukh tidak dapat dipisahkan dari sifat turunnya al-Qur'an itu sendiri dan tujuan yang ingin dicapainya. Turunnya Kitab Suci al-Qur'an tidak terjadi sekaligus, tapi berangsur-angsur dalam waktu 20 tahun lebih. Hal ini memang dipertanyakan orang ketika itu, lalu Qur'an sendiri menjawab, pentahapan itu untuk pemantapan, [17] khususnya di bidang hukum. Dalam hal ini Syekh al-Qasimi berkata, sesungguhnya al-Khalik Yang Maha Suci lagi Maha Tinggi mendidik bangsa Arab selama 23 tahun dalam proses tadarruj (bertahap) sehingga mencapai kesempurnaannya dengan perantaraan berbagai sarana sosial. Hukum-hukum itu mulanya bersifat kedaerahan, kemudian secara bertahap diganti Allah dengan yang lain, sehingga bersifat universal. Demikianlah Sunnah al-Khaliq diberlakukan terhadap perorangan dan bangsa-bangsa dengan sama. Jika engkau melayangkan pandanganmu ke alam yang hidup ini, engkau pasti akan mengetahui bahwa naskh (penghapusan) adalah undang-undang alami yang lazim, baik dalam bidang material maupun spiritual, seperti proses kejadian manusia dari unsur-unsur sperma dan telur kemudian menjadi janin, lalu berubah menjadi anak, kemudian tumbuh menjadi remaja, dewasa, kemudian orang tua dan seterusnya. Setiap proses peredaran (keadaan) itu merupakan bukti nyata, dalam alam ini selalu berjalan proses tersebut secara rutin. Dan kalau naskh yang terjadi pada alam raya ini tidak lagi diingkari terjadinya, mengapa kita mempersoalkan adanya penghapusan dan proses pengembangan serta tadarruj dari yang rendah ke yang lebih tinggi? Apakah seorang dengan penalarannya akan berpendapat bahwa yang bijaksana langsung membenahi bangsa Arab yang masih dalam proses permulaan itu, dengan beban-beban yang hanya patut bagi suatu bangsa yang telah mencapai kemajuan dan kesempurnaan dalam kebudayaan yang tinggi? Kalau pikiran seperti ini tidak akan diucapkan seorang yang berakal sehat, maka bagaimana mungkin hal semacam itu akan dilakukan Allah swt. Yang Maha Menentukan hukum, memberikan beban kepada suatu bangsa yang masih dalam proses pertumbuhannya dengan beban yang tidak akan bisa dilakukan melainkan oleh suatu bangsa yang telah menaiki jenjang kedewasaannya? Lalu, manakah yang lebih baik, apakah syari'at kita yang menurut sunnah Allah ditentukan hukum-hukumnya sendiri, kemudian di-nasakh-kan karena dipandang perlu atau disempurnakan hal-hal yang dipandang tidak mampu dilaksanakan manusia

dengan alasan kemanusiaan? Ataukah syari'at-syari'at agama lain yang diubah sendiri oleh para pemimpinnya sehingga sebagian hukum-hukumnya lenyap sama sekali? [18] Syari'at Allah adalah perwujudan dari rahmat-Nya. Dia-lah yang Maha Mengetahui kemaslahatan hidup hamba-Nya. Melalui sarana syari'at-Nya, Dia mendidik manusia hidup tertib dan adil untuk mencapai kehidupan yang aman, sejahtera dan bahagia di dunia dan di akhirat. CATATAN 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. 12. 13. 14. 15. 16. 17. 18. Jalaluddin al-Suyuthi, Al-Itqan Ibn Katsir, Tafsir-u 'l-Qur'an-i 'l-'Azhim QS. Ali 'Imran: 7 QS. Al-Nisa: 82 Imam Abu Zahrah, Ushul al-Fiqh Al-Thusi, Uddat al-Ushul 'Abbas Mutawalli Hamadah, Al-Sunnat al-Nabawiyyah QS. Al-Baqarah: 114 QS. Al-Baqarah: 240 QS. Al-Baqarah: 234 QS. Al-Baqarah: 142 Imam Muslim, Al-Jami' al-Shahih Imam Al-Subki, Jam' al-Jawami' Abdul Wahab Khallaf, Ilmu Ushul al-Fiqh Imam Al-Subki, Jam' al-Jawami Muhammad Ali Al-Shabuni, Rawai'al-Bayan QS. Al-Furqan: 32 Al-Qasimi, Mahasin al-Ta'wil.

-------------------------------------------Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah Editor: Budhy Munawar-Rachman Penerbit Yayasan Paramadina Jln. Metro Pondok Indah Pondok Indah Plaza I Kav. UA 20-21 Jakarta Selatan Telp. (021) 7501969, 7501983, 7507173 Fax. (021) 7507174 Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota
Please direct any suggestion to Media Team

Artikel Yayasan Paramadina
Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota IV.29. PANDANGAN KONTEMPORER TENTANG FIQH (1/4) Telaah Problematika hukum Islam di Zaman Modern Oleh Nurcholish Madjid Salah satu kesibukan para intelektual Muslim di seluruh dunia saat ini ialah memikirkan bagaimana menerjemahkan nilai-nilai Islam ke dalam perangkat nyata kehidupan modern. Seorang Muslim yang serius tentu menyadari, betapa ia dihadapkan pada tantangan hidup dalam suatu masyarakat modern, yaitu suatu masyarakat yang notabene merupakan kelanjutan logis, meskipun

melalui proses transmutasi yang amat besar, dari berbagai unsur tatanan dan nilai hidup yang telah pernah berkembang sebelumnya, khusus di dunia Islam. Ilmu pengetahuan modern, misalnya, dengan mudah dapat ditelusuri asal-usulnya sebagai kelanjutan dunia keilmuan Islam yang pernah berkembang dalam masanya jayanya yang "liberal," ketika kaum Muslim terlatih menghargai suatu temuan pikiran dan keilmuan baru, dan ketika wawasan mereka terbentuk karena semangat kosmopolitanisme dan universalisme sejati. Namun pada saat yang sama, karena tuntutan imannya, seorang Muslim "modern" harus tetap berada dalam pangkuan agamanya dan dijiwai nilai-nilai asasinya. Zaman modern, atau yang menurut Marshall Hodgson lebih tepat dinamakan "Zaman Teknik" (Technical Age) adalah jelas berbeda secara mendasar dari zaman agraris sebelumnya. Padahal agama Islam, sebagaimana halnya dengan agama-agama besar lain, dilahirkan dalam zaman agraris. Seperti baru saja disebutkan di atas, ini tidaklah berarti zaman modern terputus samasekali dari zaman sebelumnya Justru unsur kontinuitasnya dengan masa lalu sedemikian rupa tidak mungkin diingkari, karena dasar-dasar zaman modern ini pun diletakkan masa sebelumnya, yaitu di zaman agraris. Suatu teori kesejarahan dunia malah menyebutkan, zaman agraris sebenarnya telah mengalami perkembangan menuju ke arah kompleksitas yang tinggi pada masa Axial Age ("Masa Aksial" atau "Sumbu"), yaitu masa yang terbentang selama enam abad sejak abad kedelapan sampai abad kedua sebelum Nabi 'Isa al-Masih as. Pada saat itu terjadi perubahan asasi di mana-mana, akibat lepasnya monopoli pengetahuan tulis baca dari tangan kelas pendeta, menjadi tersebar di antara berbagai kelompok borjuis, dan karenanya watak serta kecepatan perkembangan tradisi tulis-baca itu juga berubah. Pada waktu yang sama, keseluruhan tatanan geografis bagi kegiatan bermakna kesejarahan manusia juga mengalami transformasi, sebab saat itu mulai menyebar, meliputi hampir seluruh belahan bumi. [1] Pada masa itu dengan nyata budaya manusia mulai berkembang keluar dari inti kawasan Nil-Amudarya (Mesir-Transoxiana) yang menjadi inti kawasan bumi yang berpenghuni dan berperadaban (Arab: al-Da'irat al-Ma'murah; Yunani: Oikoumene, "Daerah Berpenduduk"). Zaman Islam adalah zaman "Pasca-Sumbu" (Post-Axial), dan masa kejayaan Islam merupakan puncak perkembangan "Zaman Agraria Berkota" (Agrariante Citied Society), yaitu masyarakat agraris dengan ciri kehidupan perkotaan (urbanity) yang menonjol. Adalah dalam urbanity itu --suatu pola kehidupan sosial-ekonomi yang ditandai tingginya kegiatan ekonomi urban dan penghargaan kepadanya, khususnya perdagangan, dan etos intelektual-- terletak benang merah kontinuitas antara zaman modern dengan zaman Islam. Tapi sekali pun zaman Islam masih sepenuhnya berada dalam rangkaian zaman agraris (jadi masih mempunyai kesinambungan dengan zaman sebelumnya), perubahan yang dibawanya sedemikian radikal dan eksplosif, sebanding dengan radikal dan eksklusif pembebasan (futuhat) yang dilakukan kaum Muslim, pertama-tama atas kawasan Nil-Amudarya, kemudian segera meliputi daerah yang lebih luas, yang kurang lebih waktu itu merupakan daerah paling maju di muka bumi. Dengan flashback di atas, kiranya menjadi jelas, sesungguhnya peralihan dari masa lalu yang agraris-urban itu, ke zaman modern sekarang, ini tidaklah terlalu unik dalam pandangan sejarah umat manusia. Dan disebabkan faktor peranan sejarahnya sendiri sebagai puncak zaman agraris urban, maka Islam

Sejarah membuktikan betapa problematiknya hubungan dogma Kristen dengan unsur pokok modernitas. . pengamatan lebih jauh atas berbagai peristiwa besar menyimpulkan tidak adanya kemestian pilihan hitam putih antara kontinuitas dan perubahan. jelas-jelas membawa kenangan pengalaman historis masa lampau yang penuh permusuhan (antara lain dilambangkan dan dibuktikan dalam: bagaimana para penjajah Spanyol menamakan kaum Muslim Mindanao sebagai "orang-orang Moro. misalnya. atau dapat diterangkan dalam kerangka nilai lama yang lebih luas itu. dan bukannya faktor kontinuitas kultural di atas. Justru tidak jarang esensi nilai baru dalam suatu masyarakat yang berubah itu memperoleh pengukuhannya dan penguatan efektifitasnya karena mendapatkan tempat dalam sistem nilai lama yang lebih luas.memiliki potensi menjadi pewaris yang paling beruntung dari zaman modern ini. Kesulitan kaum Muslim ini di antaranya tercermin dalam bagaimana menangani masalah reinterpretasi hukum Islam untuk zaman modern. Inilah yang dalam jargon ilmu sosial mutakhir disebut "modernitas tradisi". Betapa pun besarnya suatu perubahan. Turki yang Muslim sampai sekarang masih menunjukkan ciri dunia ketiga yang non-industrial. praktis tidak ada hal serupa dalam Islam. tetap terdapat unsur-unsur persambungan tertentu dengan masa lalu. sementara Jepang yang Buddhis justru memperlihatkan tanda-tanda Barat dalam beberapa segi industrialnya. dan betapa dalam Islam. ketika melakukan penjajahan atas bangsa-bangsa Muslim. sebagaimana sedikit banyak ditunjukkan dalam pembicaraan di atas tadi. bahkan sebaliknya sikap positif terhadap ilmu pengatahuan adalah sui generis atau tiada taranya dalam pandangan hubungan organiknya yang sejati dengan sistem keimanan. situasi problematik itu dapat dikata tidak ada sama sekali. Adalah beberapa pengalaman historis permusuhan ini. Maka. khususnya pengalaman permusuhan (antara lain karena titik singgung keagamaan Islam-Kristen dan ketetanggaan geografis Timur Tengah-Eropa) justru nampak menjadi sumber problematik bangsa-bangsa Muslim menghadapi perubahan ke zaman modern. Berbagai pengalaman historis yang lebih spesifik pada bangsa-bangsa Muslim dalam interaksinya dengan bangsa-bangsa Barat." sebagai kelanjutan semangat permusuhan antara orang Spanyol Kristen dengan orang Spanyol Muslim yang mereka sebut "orang Moro"). sebagaimana setiap "kesan" atau "dugaan" (dhan) tidak selamanya mengandung kebenaran. Apalagi bangsa-bangsa Barat itu. MASALAH KONTINUITAS DAN PERUBAHAN Kontinuitas yang mengisyaratkan pertahanan unsur-unsur masa lalu dan perubahan yang mengandung makna penggantian unsur-unsur masa lalu itu. Tapi sudah tentu faktor kontinuitas prinsipil bukanlah satu-satunya perkara yang membentuk dan menentukan sikap seseorang atau komunitas dalam menghadapi perubahan zaman. dengan sesuatu yang lain dengan sendirinya selalu menimbulkan kesan pertentangan: Tapi. Jika kita ambil peristiwa Inkuisisi Kristen dalam menghadapi ilmu pengetahuan. dan pelanjut serta pengembangnya di masa depan. karena adanya asosiasi (yang tidak seluruhnya benar) antara modernisme dan westernisme. karena unsur-unsur asasi zaman modern itu tidak asing bagi pandangan hidup kaum Muslim. yaitu ilmu pengetahuan. yang menyebabkan kebanyakan kaum Muslim mengalami kesulitan dalam menghadapi zaman modern.

Sementara Protestantisme Eropa hanya menyiapkan lahan untuk nasionalisme melalui perluasan melek-huruf. Dalam zaman cita-cita melek huruf universal. skripturalisme. resmi dan "murni" Islam bersemangat egaliter dan keilmiahan --sementara hirarki dan ekstase (seperti dalam banyak praktek kesufian rakyat-NM berkaitan dengan bentuk-bentuknya yang bersifat pinggiran senantiasa meluas namun akhirnya ditampik. yang mengatasi baik tradisi kecil maupun Tradisi Besar.Garis argumen itu lebih-lebih tepat. dan pelaksanaannya dapat disajikan.. yang dipersalahkan menyebabkan kemunduran dan dominasi unsur asing. yang pernah menjadi alas dangkal tradisi sentral sekarang menjadi kambing hitam yang dibuang. perluasan partisipasi dalam masyarakat suci yang meliputi semua anggotanya tanpa kecuali. jika dikenakan terhadap Islam dan kaum Muslim dalam menghadapi zaman modern. bahkan sering dengan nada peneguhan dan apresiasi.[3] Pendapat tentang tidak perlunya kaum Muslim menanggalkan . para pengamat luar pun mengakui adanya hal yang sama.sangat membantu adaptasi Islam ke dunia modern. Kenyataan bahwa varian sentral. purifikasi/modernisasi di satu pihak. Karena itu meskipun tidak merupakan sumber modernitas. Yaitu dipandang dari sudut semangat Islam tentang universalisme. Islam mungkin akan ternyata merupakan penerima manfaat modernitas itu. betapapun ad hoc dan eclectic-nya sikap yang melatarbelakanginya) tapi dapat bertahan dengan nilai-nilai keislamannya. potensi Islam yang hangkit kembali untuk skripturalisme egaliter dapat secara aktual menyatu dengan nasionalisme. Ia katakan: Hanya Islam yang mampu bertahan sebagai keimanan yang serius. egalitarianisme spiritual. Tradisi Besarnya dapat dipermodern (modernisable). lapisan sarjana yang terbuka (dalam Islam) dapat berkembang sehingga meliputi seluruh masyarakat.. misalnya-NM). Jika hal ini dengan sendirinya menjadi keyakinan seorang Muslim. dan samasekali tidak perlu meninggalkannya. misalnya.[2] Karena observasi dan kesimpulannya itu. tapi sebaliknya sebagai kelanjutan dan penyempurnaan dialog lama dalam Islam. Maka sosiolog terkenal Ernest Gellner. Egalitarianisme modern terpenuhi. Islam adalah agama yang paling dekat dengan modernitas dibanding agama Yahudi dan Kristen. Versi kerakyatan lama (seperti praktek kesufian rakyat yang tidak sah atau mu'tabarah. dapat dilakukan dalam bahasa dan perangkat simbol yang satu dan sama. maka tidak heran menurut Ernest Gellner. dan dengan begitu maka cita-cita "protestan" agar semua yang beriman mempunyai akses yang sama (kepada kitab Suci-NM) akan terlaksana. sementara secara imperatif mesti menerima kehidupan modern (sebagaimana telah menjadi kenyataan. memiliki pandangan tentang Islam dan kemodernan yang mungkin membuat seorang Muslim menjadi lebih percaya diri. tidak sebagai inovasi ataupun konsesi kepala pihak luar. dan sistematisasi rasional kehidupan sosial. sehingga orang tidak lagi mudah mengatakan mana salah satu dari keduanya itu yang paling bermanfaat bagi yang lain. dan hanya dalam Islam. Yaitu bahwa mereka. dan penegahan apa yang dianggap suatu ciri lokal lama. Jadi dalam Islam.

karena Islam sesungguhnya tidak ada kaitannya dengan lingkungan ekonomi negeri-negeri Muslim. "Sejauh mana orang (Muslim) harus pergi dalam proses mencapai kemakmuran yang menggiurkan dari negara-negara industri? Haruskah seseorang berjalan sedemikian jauhnya sehingga mengorbankan berbagai nilai yang secara khusus diyakini. kepribadian dan identitas kelompok orang bersangkutan?"4. 7507173 Fax. kesimpulannya yang tegas bahwa kaum Muslim tidak meninggalkan hal-hal yang secara esensial bersifat namun perlu Islam . yang oleh Leonard Binder diringkaskan. (021) 7507174 Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota Please direct any suggestion to Media Team Artikel Yayasan Paramadina Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota IV. Rodinson menunjuk kepada kenyataan betapa masyarakat-masyarakat Islam sepanjang sejarahnya menunjukkan gejala menganut pola ekonomi yang bermacam-macam dalam zaman yang berbeda atau tempat yang berbeda.nilai-nilai dasar keislaman mereka untuk dapat masuk zaman modern itu juga dikemukakan Maxime Rodinson. PANDANGAN KONTEMPORER TENTANG FIQH (2/4) Telaah Problematika hukum Islam di Zaman Modern Oleh Nurcholish Madjid MASALAH PESAN DASAR ISLAM Ketika mengatakan Islam tidak mempunyai sangkut paut dengan milieu ekonomi negeri-negeri Muslim sehingga tidak dapat dipandang. apalagi dituduh. Karena itu Islam tidak dapat dipandang sebagai bertanggung jawab atas kemunduran kaum Muslim. seseorang dapat berjalan sejauh yang ia perlukan untuk dapat mengejar Barat tanpa mengorbankan apapun yang esensial bagi Islam dan yang menjadi bagian integral dari identitas kaum Muslim. Dalam perkataan lain. UA 20-21 Jakarta Selatan Telp.29. maka jika kemajuan adalah suatu "Kapitalisme" (sebagaimana orang cenderung melihat buktinya melalui runtuhnya sistem sosialis atau komunis) maka Islam dapat saja bersatu dengan kapitalisme itu. Metro Pondok Indah Pondok Indah Plaza I Kav. yaitu yang membentuk ciri tertentu. bahwa tidaklah perlu meninggalkan sesuatu apapun yang secara esensial bersifat Islam. Dalam pembukaan sebuah bukunya. Jawaban terhadap pertanyaan ini diberikan pada akhir bukunya. tanpa kehilangan sifatnya yang paling mendasar. juga seorang sosiolog (Perancis) kontemporer. 7501983. (021) 7501969. Tesis Rodinson ini terbuka untuk dipersoalkan. sebagai penyebab kemunduran negeri-negeri itu. [5] -------------------------------------------(bersambung 2/4) Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah Editor: Budhy Munawar-Rachman Penerbit Yayasan Paramadina Jln. Rodinson mempertanyakan.

bahwa manusia tidak akan menyembah setan dan harus hanya menyembah Allah semata. manusia harus menempuh hidup bermoral. maka dalam suatu masyarakat yang diliputi paham serba simbol (akibat pendidikan yang rata-rata rendah dan cara berpikir yang sederhana) "pesan dasar" itu sering terkacaukan dengan hal-hal simbolik dan formal yang mewadahinya. 'aqd dan mitsaq. Sebuah firman suci menyebutkan adanya perjanjian primordial antara Tuhan dan manusia. merupakan indikasi kesulitan menangkap pesan dasar agama seperti sering dikuatirkan sementara Ahl al-Bawathin tentang orientasi keagamaan Ahl al-Dhawahir. Tanpa berarti dukungan untuk salah satu dari Ahl al-Dhawahir dan Ahl al-Bawathin yang buah pikiran mereka sempat ikut mewarnai polemik-polemik dalam khazanah literatur Islam klasik. kecenderungan banyak orang menilai kadar keimanan orang lain hanya dari segi hal-hal simbolik dan formal. munkar).mendorong orang bertanya: Lalu apa wujud dari hal-hal yang secara esensial bersifat Islam itu? Jawabnya adalah. yang membuatnya diusir dari surga. sering tidak begitu jelas mengenai pesan dasar itu.[8] Karena itu manusia diharapkan memenuhi perjanjiannya dengan Tuhan. Dalam Kitab Suci al-Qur'an banyak diungkapkan tentang adanya perjanjian. demi perkenan Tuhan (ridha Allah). bukan substantif (orang tahu atau merasa tahu substansinya. dengan berbuat hal-hal tidak bermoral (fahsya'. dan harus menjauh dari penyembahan kepada setan. agar Tuhan pun memenuhi perjanjian-Nya dengan manusia. dengan Allah dan tidak membatalkan kesepakatan antara dia dan Allah itu. yang dinyatakan dalam kata-kata Arab sebagai abd. Tapi sementara frase "pesan dasar" Islam terdengar familiar bagi setiap yang pernah membahas masalah-masalah keislaman. Perjanjian primordial itu juga diungkapkan dalam bahasa metaforik yang sangat ilustratif. karena itu ada risiko abstraksi yang tinggi pula. Karena suatu "pesan dasar" mengacu pada suatu nilai yang amat tinggi. namun wujud nyatanya sendiri sering masih merupakan problem. jika menyalahi perjanjiannya dengan Allah setelah perjanjian itu menjadi kesepakatan. Beragama bagi seseorang tentu tidak akan bermakna. keturunan mereka dan Dia minta kesaksian mereka atau diri mereka sendiri: "Bukankah Aku ini Tuhanmu?" Mereka mergawab: "Benar. Artinya. Meskipun problem di sini agaknya lebih banyak berurusan dengan soal kemampuan ekspresif. dengan mengutip Zamakhsyari dalam tafsir . demikian: Dan ingatlah ketika Tuhanmu mengambil (menciptakan) dari anak cucu Adam. namun dalam kenyataan kita masih menemui diri kita. yaitu dari tulang belakang mereka." [7] Perjanjian itu pula yang terjadi antara Tuhan dan Adam. jika ia tidak mampu menangkap pesan dasar itu. tapi gagal mengungkapkannya).[6]. Namun realita menunjukkan adanya kesulitan yang nyata. namun kemudian Adam melupakannya dan tergoda setan.[11] Muhammad Asad. tidak bisa disangkal.[l0] Sebaliknya orang itu kafir. persetujuan dan kesepakatan antara Tuhan dan manusia.[9] Maka kaum beriman sejati ialah mereka yang memenuhi janjinya. kami bersaksi!" (Demikian itu supaya kami tidak) berkata di hari Kiamat: "Sesungguhnya kami lupa akan hal itu. hal-hal yang secara esensial bersifat Islam itu dengan sendirinya adalah "pesan dasar" (risalah asasiyyah) Islam itu sendiri.

Ibrahim adalah seorang Muslim (yang pasrah dan damai kepada Allah). Allah membimbing siapa saja yang mengikuti keridlaan-Nya ke berbagai jalan keselamatan. dan telah Kami ambil dari mereka perjanjian yang berat.dalam suatu cara yang ditetapkan Ailah untuknya. Kesadaran Ketuhanan (Rabbaniyyah) yang mendasari akhlaq mulia itulah inti pesan dasar agama lewat para Rasul. yang sesungguhnya tidak memerlukannya. yang selamanya menyertai dan mengawasi tingkah laku setiap orang. dalam bahasa Arab. sebagai merujuk pada kewajiban moral manusia untuk menggunakan karunia bawaan lahirnya --intelektual dan fisik-. Islam (Sikap Pasrah dan Damai kepada Allah). ditolak Kitab Suci. sepanjang penjelasan al-Qur'an. agama yang benar ialah agama yang memiliki makna generik itu.[18] Dan Nabi saw pun bersabda bahwa "Tiada suatu apapun yang dalam timbangannya lebih berat daripada keluhuran budi. Ibrahim. sebagai pesan Tuhan kepada semua Nabi dan Rasul --dan melalui mereka kepada seluruh ummat manusia membentuk makna "generik" agama.al-Kasysyaf. yaitu sikap hidup yang penuh pertimbangan moral. al-Qur'an menolak klaim kaum Yahudi atau Nasrani bahwa Nabi Ibrahim adalah seorang Yahudi atau Nasrani. yang titik tolaknya ialah sikap pasrah dan berdamai dengan Allah (dalam bahasa Arab disebut Islam). yang dalam bahasa Inggris secara konvensional diterjemahkan dengan God's covenant." [20] Pesan dasar itu.[21] Maka. menerangkan.[l4] dan pokok perjanjian Tuhan dengan semua Nabi: "Ingatlah ketika Kami (Tuhan) mengambil dari para Nabi perjanjian mereka. terhadap sesama manusia. yang antara lain akan membawa manusia kepada kesadaran akan dirinya berhadapan dengan Sang Maha Pencipta. anak pertama Israil atau Ya'qub). Musa dan Isa putera Maryam. yaitu suku keturunan Yehuda.[22] . perjanjian (Inggris: covenant) antara Allah dan manusia itu." [16] Pemenuhan perjanjian manusia dengan Tuhannya itu melahirkan sikap hidup bertaqwa. sebab agama yang benar secara asli haruslah tidak bernama kecuali dengan nama yang menggambarkan semangat makna generik kebenaran itu sendiri. Juga ditegaskan.[13]. misalnya. Karena itu. Demikian pula bentuk-bentuk pelembagaan formal dan parokial lainnya. asli dan sejati. yaitu makna dasar dan universal sebelum suatu agama terlembagakan menjadi bentuk-bentuk formal dan parokial. juga dari engkau (Muhammad) dan dari Nuh. Yang pertama (Yahudi) merupakan pelembagaan berdasarkan kebangsaan (atau malah kesukuan." [l9] Dan bahwa "Yang paling banyak menyebabkan manusia masuk surga ialah taqwa kepada Allah dan budi pekerti luhur. sebab dalam pandangan Kitab Suci al-Qur'an keyahudian dan kenasranian adalah bentuk-bentuk pelembagaan formal dan bahkan parokial dari suatu agama generik. bahwa Allah adalah Maha Hadir. Asad juga memperjelas makna perjanjian dengan Allah (ahd Allah). yaitu. sedangkan yang kedua (Nasrani) konon berdasarkan nama tempat (Nazaret)." [l7] Dengan al-Qur'an itu. Ibrahim adalah seorang hanif. Karena itu al-Qur'an menegaskan. [16] Maka al-Qur'an pun disebutkan sebagai "petunjuk bagi orang-orang yang bertaqwa. sebagaimana telah disinggung. [12]. atas dasar keinsyafan mendalam. adalah suatu istilah umum yang mencakup kewajiban-kewajiban moral dan sosial yang timbul akibat iman itu. yaitu seorang yang karena bimbingan kesucian dirinya sendiri (fithrah) memelihara kecenderungan dan pemihakan yang murni kepada yang benar dan baik secara generik.

pesan dasar ini. yang menyangkut masalah pengaturan tata hidup manusia dalam hubungan mereka satu sama lain dalam masyarakat. yaitu seluruh jagad raya ini berjalan mengikuti hukum keseimbangan. yaitu agar manusia tunduk patuh kepada-Nya melalui sikap pasrah dan berdamai. yang pelanggaran terhadapnya dapat dilukiskan secara metaforik sebagai mengganggu atau "mengguncangkann tatanan jagad raya. termasuk Musa dan Isa (Yesus. yang dimaksud dengan mizan dalam firman itu ialah neraca yang dikenal.[25] Keadilan yang dalam bahasa Kitab Suci dinyatakan dalam kata-kata 'adl. Maka keadilan adalah aturan kosmis (cosmic order). Dan tegakkanlah olehmu semua akan neraca dengan jujur. dan dengan jalan menempuh hidup bermoral. semuanya adalah tokoh-tokoh yang muslim dan mengajarkan islam [23]. menegakkan keadilan dalam masyarakat adalah amanat Allah kepada manusia. keadilan adalah hukum primer seluruh jagad raya. dan tidak terbatasi oleh pelembagaan formal agama-agama.Demikianlah Nabi Ibrahim. dan demikian pula dengan semua Nabi. semuanya bersikap pasrah dan berdamai dengan Allah dan membawa pesan dasar yang sama. maka ditegaskan. Tentu saja tidak terlalu salah. aqd. karena justru kebanyakan para Nabi bukanlah orang-orang Arab). maka lebih tepat memandang perkataan mizan ini. Mereka adalah muslim dan mengajarkan islam dalam arti.[26] Beberapa tafsir dan terjemah konvensional menerangkan. Karena itu tindakan menegakkan keadilan ditegaskan sebagai nilai yang paling mendekati taqwa. dan Dia tetapkan (hukum) keseimbangan. maka tidak ada manifestasinya yang lebih penting daripada nilai keadilan. dan jangan kamu bertindak merugikan (hukum) keseimbangan. bahkan meliputi seluruh alam raya ciptaan-Nya ini. Sebagai hukum dasar dari Tuhan. setelah lewat proses pengalihan nama itu dalam bahasa Yunani). (sekalipun tidak berarti para Nabi itu secara harfiah menggunakan perkataan Arab yang berbunyi m-u-s-l-i-m dan i-s-l-a-m. qisth. yang meliputi perjanjian dengan Allah ('ahd. Inilah yang antara lain dapat kita ambil pengertiannya dari firman Allah: Dan langit pun ditinggikan oleh-Nya. rabbaniyyah). yang dalam firman ini dilambangkan sebagai penciptaan langit yang "ditinggikan" oleh-Nya. Tapi dalam kaitannya dengan penciptaan Allah akan jagad raya. Hendaknya kamu tidak melanggar (hukum) keseimbangan itu. PRINSIP KEADILAN (SOSIAL) Pada pokoknya pesan dasar ini.[24] Dan sebagai wujud terpenting pemenuhan perjanjian dengan Allah dan pelaksanaan pesan dasar agama. dari sudut pandangan kosmologi al-Qur'an. di mana manusia hanyalah salah satu bagian saja. berlaku untuk semua ummat manusia. adalah universal. mitsaq di atas). sikap pasrah kepada-Nya (islam) dan kesadaran akan kehadiran-Nya dalam hidup (taqwa. Sesungguhnya. wasth (semuanya memiliki makna dasar "tengah" atau "jujur") adalah wujud lain hukum keseimbangan (mizan) yang telah ditetapkan Allah untuk seluruh jagad raya. dalam makna kosmologisnya. Ketika pesan dasar itu menuntut terjemahannya dalam tindakan sosial nyata. Bahkan neraca yang kita kenal dan tampak bekerja secara "sederhana" itu pun adalah .

29. untuk membahas masalah-masalah pokok yang mendasari pemikiran kontemporer tentang fiqh. 7501983. 7507173 Fax. dan tidak akan bertahan lama bersama kezaliman dan Islamn" [27] Dengan pernyataannya yang tidak biasa itu. suatu cosmic order yang menjadi hukum Tuhan. di segala tempat dan masa. jika tidak disertai keadilan. Keislaman yang formal saja tidak akan membawa keselamatan di dunia ini. dan tidak akan menegakkan negeri yang zalim meskipun Islam. melalui hukum gravitasi.suatu gejala kosmis. misalnya. Dari sudut pandangan inilah kita memahami mengapa banyak para 'ulama'. Metro Pondok Indah Pondok Indah Plaza I Kav. dalam hal ini khususnya Ibn Taymiyyah. keadilan adalah "tatanan segala sesuatu" (nidham-u kull-i syay) [28]. atau Sunnatullah yang tidak tergantung kepada keinginan seseorang (obyektif) dan berlaku universal. -------------------------------------------(bersambung 3/4) Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah Editor: Budhy Munawar-Rachman Penerbit Yayasan Paramadina Jln. sehingga ia menguatkan pandangan bahwa "Sesungguhnya Allah akan menegakkan negeri yang adil meskipun kafir. karena keseimbangan dalam sebuah neraca adalah kelanjutan dari hukum keseimbangan yang lebih luas (yang menguasai seluruh alam). (021) 7501969. sama dengan yang telah dijelaskan di atas. (021) 7507174 Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota Please direct any suggestion to Media Team Artikel Yayasan Paramadina Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota IV. sehingga tidak akan berubah (immutable)." dan "Dunia akan bertahan bersama keadilan dan kekafiran. khususnya dalam arti sosial. maka masyarakat itu akan tegak. Sedemikian rupa jauhnya pandangan Ibn Taymiyyah. meskipun suatu masyarakat adalah kafir namun menegakkan keadilan di dunia ini. didukung Allah. yakni. UA 20-21 Jakarta Selatan Telp. Ibn Taymiyyah hanya bermaksud agar ummat Islam tidak taken for granted dalam hal keislaman. sedemikian tegas dan jauh berpegang pada prinsip keadilan itu sebagai ideatum tatanan sosial manusia yang akan menjamin kekokohan dan kelangsungannya. Sebaliknya. PANDANGAN KONTEMPORER TENTANG FIQH (3/4) Telaah Problematika hukum Islam di Zaman Modern Oleh Nurcholish Madjid BEBERAPA CONTOH PEMIKIRAN KONTEMPORER FIQH Kita telah pergi sejauh yang diperlukan. Sebab. Berbagai pemikiran mutakhir tentang fiqh menegaskan perlunya kesadaran akan pesan dasar Islam sebelum .

Fatthi 'Utsman menegaskan. Dan cara apapun yang dapat merealisasikan tujuan ini harus dipandang sebagai wajar dari sudut pandangan sosial. Dan ketika menetapkan hukuman potong tangan pencuri. kecuali sesudah ditempuh jalan proteksi. dari bukunya. maka tujuan hukuman haruslah proteksi. Jadi jika kita dapat mencegah sebab-sebab dan situasi yang mendorong kejahatan. kelompok atau perbedaan tingkat sosial. dan Ahmad Zaki Yamani (yang pernah menjabat Menteri Perminyakan Saudi Arabia dan tokoh OPEC yang amat terkenal). Wajar bahwa Islam menempuh jalan penetapan hukum-hukum setelah ditempuhnya jalan pengarahan pikiran melalui aqidah dan pendidikan tingkah laku melalui prinsip tabadul. "Kalau tujuan kita ialah kebaikan masyarakat. Muhammad Asad (salah seorang arsitek dan pemikir konstitusi Negara Islam Pakistan). ia bersama itu juga menetapkan langkah-langkah yang menjamin hilangnya dorongan-dorongan permusuhan golongan. potong tangan untuk pencurian.suatu hukum atau hukuman dilaksanakan. maka sesungguhnya ia juga menetapkan kemudahan jalan perkawinan dan melindungi bagian-bagian privat dari tubuh dengan menutup aurat dan menjaga penglihatan mata. dari tiga tokoh yang representatif. suatu hukum. Tapi penetapan hukum Islam tidak pernah disebut kecuali mesti timbul dalam pikiran orang. Dari sini kita melihat. maka itulah cara yang ideal yang kita wajib menggunakannya. Dan ketika Islam menetapkan hukum rajam atau cambuk atas pezina. yaitu Fat'hi 'Utsman (pemimpin redaksi majalah Islam internasional Arabia yang terbit di London). sama dengan yang dikatakan Francis Aveling dalam bukunya ilmu Jiwa Klasik dan Modern. serta melarang khalwat (kencan seorang lelaki dan . maka tentulah yang tersisa bagi kita ialah memikirkan sebab-sebab individual yang mendorong orang untuk melakukan pelanggaran-pelanggaran." Dalam praktek memang telah terjadi berbagai usaha ke arah ini melalui berbagai pengabdian sosial. Kesadaran itu dapat disebut sebagai karakteristik pemikiran fiqh dan hukum Islam di zaman modern. Sedangkan yang sebenarnya ialah bahwa rahmat Allah untuk sekalian alam tidaklah menetapkan hukuman. Tapi kalau seandainya seluruh situasi yang berkaitan dengan lingkungan telah tersedia dengan sebaik-baiknya. dan lain-lainnya. Di sini akan dikemukakan contoh pemikiran para intelektual Islam mutakhir. Allah menerangkan dalam Kitab-Nya berbagai hukuman kejahatan (had) seperti. baik yang berasal dari lingkungan atau pun dari pribadi sendiri. misalnya. Islam ketika menetapkan pelaksanaan qishash dalam kejahatan pembunuhan. hukum bunuh (qishash) untuk kejahatan pembunuhan. gambaran yang mengerikan tentang tangan-tangan buntung dan jasad-jasad berserakan. termasuk yang ada dalam al-Qur'an dapat dilaksanakan hanya setelah ditegakkannya keadilan sosial dan tatanan kemasyarakatan yang menjamin anggotanya untuk tidak melanggar ketentuan yang ditetapkan. al-Din li al-Waqi' (Agama untuk Realita): Keadilan Sosial sebelum hukuman. maka Islam tidaklah melakukan hal itu sebelum tegaknya hak-hak hidup pribadi dan mantapnya tanggung negara untuk menjamin hak-hak pribadi itu. Kami kutipkan dan terjemahkan sepenuhnya pendapat Fat'hi 'Utsman yang relevan.

is the right to protection (in every sense of the word) by the community as a whole. to the enjoyment of social security: in other words. In short. (Di sini kami kutipkan seluruh uraian itu. but for his bodily and intellectual needs as well. no spiritual progress: for.[29] Lebih runtut lagi adalah jalan pikiran dan garis argumen Muhammad Asad. among the inalienable rights of every member of the Islamic society --Muslim and non-Muslim alike-. But if the available resources of a community are so unevenly distributed that certain groups within it live in affluence while the majority of the people are forced to use up all their energies in search of their daily bread. every citizen is entitled to a share in the community's economic resources and thus. and the term "duty" also comprises. through it. that --in order to be truly Islamic-. Islam envisages and demands a society that provides not only for the spiritual needs of man. namun maaf tidak sempat menerjemahkan): The extreme severity of this Qur'anic punishment can be understood only if one bears in mind the fundamental principle of Islamic Law that no duty (taklif) is ever imposed on man without his being granted a coresponding right (haq). for instance. namun tanpa muhrim perempuan itu). As is evedent from innumerable Qur'anic ordinances as well as the Prophet's injuctions forthcoming from authentic Traditions. Jadi pengaturan sosial berjalan seiring atau mendahului penetapan hukuman kejahatan. threfore. Asad membuat uraian panjang lebar.seorang perempuan yang bukan muhrim. he or she must be assured of an equitable standard of living commensurate with the resource at the disposal of the community. may enjoy that minimum of material well-being and security without which there can be no human dignity. to the Muslim community in the early days of Islam). For. If the whole society suffers privations owing to circumstances beyond its control (as happened. of future greatness. in the last resort. such shared privations may become a source of spiritual strength and.the believers are not entitled to look upon spiritual truths and values as something that could be divorced from the physical and social factors of human existence.a society (or a state) must be so constituted that every individual. there can be no real happiness and strength in a society that permits some of its members to suffer undeserved want while others have more than the need. Now. although the Qur'an makes it clear that human life cannot be expressed in terms of physical existence alone --the ultimate values of life being spiritual in nature-. an occasionally drives whole communities away from God-consciousness and into the arms of soul-destroying materialism. man and woman. It was undoubtedly this that the Prophet had in mind when he uttered the warning woeds (quoted by al-Suyuti in al-Jami al-Saghir). no real freedom and. poverty becomes the most dangerous enemy of spiritual progress. liability to punishment. It follows. Dalam memberi penjelasan tentang makna yang lebih mendasar di balik hukuman yang amat keras bagi pencuri (potong tangan). in this context. "Proverty may well .

strictly enforced protection. III/1. old age. in the last resort. woman and child has (a) enough to eat and wear. "temptation" cannot be admitted as a justifiable excuse. In a community in which everyone is assured of full security and social justice. the social legislation of Islam aims at a state of affair in which every man. If the society is unable to fulfil its duties with regard to everyone of its memebers. and has been amplified and explained by a great number of the Prophers commandments. but after his premature death. unjustified gain at the expense of other members of the community must be considered an attack against the system as a whole. and must be punished as such: and. therefore.turn into a denial of the truth (kafr). It was the second Caliph.) To sum up. As already mentioned. the absolute interdependence between man's right and corresponding duties (including liability to punishment). (Its was in correct appreciation of this principle that the great Caliph Umar waived the had of handcutting in a period of famine which afflicted Arabia during his reign. the communal obligation to create such a comprehensive social security scheme has been laid down in many Qur'anic verses. A corollary of these rights is the right to productive and remunerative work while of working age and in good health. and (d) free medical care in health and sickness." Consequently. the above ordinance which lays down that the hand of the thief shall be cut off. etc. It is against the background of this social security scheme envisaged by Islam that the Qur'an imposes the severe sentence of hand-cutting as a deterrent punishment for robbery. always hear in mind the principle mentioned at the beginning of this note: namely. or under-age. and a provision (by the community or the state) of adequate nourishment. in cases of disability resulting from illness. shelter. consequently. it has not right to invoke the full sanction of criminal law (had) against the individual transgressor. under the circumstances outlined above. theft cannot and should not be punished as severely as it should be punished in a state in which social security is a reality in the full sense of the woed. widowhood. the entire socioeconomic system of Islam is based on the faith of its adherents. Umar ibn al-Khattab. one may safely conclude that the cutting-off of a hand in punishment for theft is applicable only within the context of an already existing fully-functioning social security . but must confine itself to milder forms of administrative punishment. Since. One must. any attempt on the part of an individual to achieve an easy. (b) an adequate home. however. In a community or state which neglects or is unable to provide complete social security for all its members. enforeced enemployment. 213-217). the temptation to enrich onself by illegal means often becomes irresistible --and. Tabagat. who began to translate these ordinances into a concrete administrative scheme (see Ibn Said. its balance is extremely delicate and in need of constant. (c) equal opportunities and facilities for education. and since. his successors had either the vision nor the statemanship to continue his unfinished work.

Generally and widely construed. as I said before in this wide sense. such as the Kingdom of Saudi Arabia. di sini kami kutipkan sepenuhnya uraian Yamani (namun. and the consensus of the community represented by its sholars and learned men during a certain period and regarding a particular problem. jika bukannya malah identik (seperti menurut pengertian kebanyakan orang). or even the particular problem confronting him. sekali lagi. Perhatikanlah bagaimana Yamani menegaskan. hasil pemikiran ("fiqh" dalam arti asalnya) para ulama dalam kitab-kitab itu baginya tidaklah mengikat. since within it one might find different. dalam sebuah risalahnya yang terkenal. memperjelas persoalan Syari'ah itu dalam kaitannya dengan hasil karya para ulama terdahulu yang secara keseluruhannya biasanya dipandang sebagai korpus Hukum Islam. the Shari'a has a binding authority on every Moslem. The jurists derived their principles from the Qur'an and the Sunnah (way of action and the opinions of the Prophet). it denotes everything that has been written by Moslem jurists throughout the centuries. constitutes a huge Juristic tradition the value of which depends on the individual jurist himself. and in no other circumstances. whether it dealt with contemporaneous issues of the time or in anticipation of future ones. because of certain inherent . Yet.. Ahmad Zaki Yamani. it has no binding authority. one cannot deny the Shari'a scholastic value as an elaborate system of deduction which should be relied upon for future derivations of principles.[30] Fiqh sangat erat kaitan dengan Syari'ah. Furthermore. karena pemikiran itu tidak lepas dari tuntutan zaman dan tempat yang lebih spesifik. it cannot have a binding authority since circumstances that brought about a certain principle might not be in existence any more. As I explained earlier. Construed narrowly. and he is obligated to follow and employ it to solve his affairs . yang belum tentu cocok dengan tuntutan zaman kita sekarang. and public interest considerations. provided such consensus was possible. As such the system has a tremendous scholastic value to the Moslem. and surely we cannot maintain that previous Moslem Jurists have anticipated all our existing contemporary problems. the Shari'a is confined to the undoubted principles of the Qur'an. The Shari'a. and from the other sources of Shari'a such as Ijma' (the consensus of the community represented by its scholars and learned men). and sometimes contradictory principles resolving the same issues depending on the Juristic school that propagated the principle. maaf tidak sempat menerjemahkannya): The Islamic Shari'a as a phrase has two scope of meanings. looked upon in this wide scope. Sama dengan yang di atas.. to what is true and valid of the Sunna. his era. The importance of differentiating between the wide and the narrow scope of Shari'a is evident in countries that fully implement the system. Viewed as such. not all the principles of Shari'a in its wider sense are of a binding authority.scheme. however.

. dan ketentuan tekstual atau nas di pihak lain. to adopt the narrow meaning of Shari'a.29. dengan merujuk kepada kitab Thabaqat al-Hanabilah oleh Ibn Rajab. sekalipun dari al-Qur'an dan Sunnah. select principles from the various juristic schools with no exceptions. [31] -------------------------------------------(bersambung 4/4) Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah Editor: Budhy Munawar-Rachman Penerbit Yayasan Paramadina Jln. Furthermore.. the Sunna. and consensus. Ia berpandangan bahwa kepentingan umum itulah yang menjadi maksud dan tujuan Maha Hakim (Allah). pendapat yang ekstrim dari Imam al-Tuff yang diduga dari madzhab Hanbali (tapi juga ada yang menduganya bermadzhab Syi'ah)." it becomes imperative . (021) 7501969.difficulties in attempting to harmonize some of them. or at least. UA 20-21 Jakarta Selatan Telp. confined to the Qur'an. sedangkan ketentuan tekstual yang diwahyukan dan sumber-sumber lainnya hanyalah perantara . Berkaitan dengan prinsip ini. dengan implikasi sebuah dukungan. but not the validity of that on which there is consensus. Metro Pondok Indah Pondok Indah Plaza I Kav. betapapun absahnya sebuah nas. deriving such solutions from the general principles of the Shariia and considerations of public interest and communal welfare. (021) 7507174 Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota Please direct any suggestion to Media Team Artikel Yayasan Paramadina Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota IV. PANDANGAN KONTEMPORER TENTANG FIQH (4/4) Telaah Problematika hukum Islam di Zaman Modern Oleh Nurcholish Madjid Bagi Yamani prinsip public interest atau kepentingan umum adalah sangat fundamental. Yamani mengutip. 7507173 Fax. yang mengatakan bahwa kepentingan umum mengatasi dan mendahului ketentuan tekstual. which was done in the past. Maka jika terdapat pertentangan pertimbangan kepentingan umum di satu pihak. 7501983. According to the well-known Shari'a principle "the validity of that on which there is a difference can be questioned. one cannot choose one juristic school for implementation to the exclusion of all others. the criterion being what is more appropriate to the needs of that particular country. are not worthy of being followed. then. al-Tufi berpendapat bahwa kepentingan umum itu harus dimenangkan. since as a logical consiquence on would have to maintain the princiles of the other schools are not valid. Such countries could legislate new solutions for novel problems.

but rather as the continuation and completion of and old dialogue within Islam. masa depan yang lebih baik tentu dapat diciptakan. "pure" variant was egalitarian and scholarly. whilst hierarchy and . Tetapi prasyaratnya ialah. Marshal G.. 3 jilid (Chicago: The University of Chicago Press.[32] Lebih jauh. . jil. CATATAN 1. dan tujuan harus selalu mendahului perantaraan atau cara. Many Western Orientalists who wrote about Shari'a failed to distinguish between what is purely religious and the principles of secular transactions. h. mengembangkan pemikiran hukum yang akan menjawab tuntutan zaman dan tempat. if I order something of my opinion consider it in the light that I am only human.untuk mencapai tujuan itu. and the operation can be presented. based on public interest and utility. Hodgson. and therefore always evolving to an ideal best. dan berdasarkan itu. Tapi dengan bekal inner dynamics Islam itu sendiri." [33] PENUTUP Dari seluruh uraian di atas dapatlah disimpulkan. sehingga akan terbukti ramalan Gellner: Kaum Muslim adalah penarik manfaat yang sebenarnya dari modernitas. the latter principles have to be viewed as a system of civil Iaw. and the reaffirmation of a putative old local identity on the other.. if I order something pertaining to your religion comply.. and only in Islam. purification modernization on the one hand. Halangan terbesar bagi kemungkinan itu datang dari sikap-sikap dogmatic dan literalis. The old folk version. fiqh dan sistem hukum Islam memiliki kesempatan besar untuk diterapkan dalam zaman modern. 108. yaitu hukum-hukum keagaman ('ibadat) dan hukum-hukum kegiatan manusia dalam hidup keduniaan (mu'amalat): The religious essence and value of the Shari'a must never be overestimated. blamed for retardation and foreign domination. though not the source of modernity.. not as an innovation or concession to oursiders. Only Islam survives as a serious faith pervading both a folk and a Great Tradition. can be done in one and the same language and set of symbols. Thus in Islam. kaum Muslim harus mampu terlebih dahulu menangkap pesan dasar agamanya. The fact that its central. 1. Hence. 1974). The Prophet himself had set precedence for this religious-secular relationship when he said "I am only human. yang kini masih banyak melanda kaum Muslim. 2. "You know better about your civil non-religious matters... Though both are derived from the same source.S. Its great Tradition is modernisable. once a shallow of the central tradition now becomes a repidiated scapegoat. The Venture of Islam." Or when he said. Islam may yet turn out to be its beneficiary. Yamani mengritik sebagian kaum Orientalis yang tidak memahami Syari'ah dan mencampuradukkan dua unsurnya yang berbeda namun tidak terpisah. official.

so that one can hardly tell which one of the two is of most benefit to the other. The Message of the Qur'an (London: E. the reawakened Muslim potential for egalitarian scripturalism can actually fuse with nationalism. 13. hadits No. h. al-Ma'idah/5:16. Islamic Liberalism (Chicago: The University of Chicago Press. and thus the 'protestant' ideal of equal access for all believers can be implemented. scripturalism. . terjemahan dari Perancis oleh Brian Peace (Austin: University of Texas Press. 7). and the rational systematisation of social life-. Lihat QS. In an age of aspiration to universal literacy. Ibid. 11.363. al-Hadid/57:4. the extension of full participation in the sacred community not to one.J. (Gallner.ecstaasy pertained to its expendable. al-Baqarah/2:2. al-Baqarah/2:40. QS. 1988). catatan 42. 20. 16. Bulugh al-Maram. QS. 15. spiritual egalitarianism. 3. Lihat QS. Lihat QS. 1. Islam and Capitalism. 19. Brill. h. 7-8. h. 14. 5. Lihat QS. of the three great Western monotheisms. 10. 1978). By various obvious criteria --universalism. Lihat QS. but to all. or some. (Ernest Gallner. h. Lihat QS. 1561. 18.. 17. h. Muhammad Asad. hadits No.. al-Ahzab/433:7. Whilst European Protestantism merely prepared the ground for nationalism by furthering literacy. 12. 211. 6. Lihat QS. 1551. 1981). eventually disavowed. Thaha/20:115. the open class of scholars can expand towards embracing the entire community. al-A'raf/7:172. al-Ra'd/13:25. al-Ra'd/13:20. h. Modern egalitarianism is satisfied. 4. greatly aids its adaptation to the modern world. Muslim Society (Cambridge: Cambridge University Press. Maxime Rodinson. Lihat QS..Islam is.Ibid. Leonard Binder. Lihat QS. 9. catatan 21. 8. 4-5). Yasin/36:60 7. 1980). the one closest to modernity. peripheral forms. Ali Imran 3:79.

dan kami semua pasrah (muslimun) kepada-Nya. 24. dan seorang muslim (pasrah kepada Tuhan). Ibid. Lihat QS. 40. dan tidaklah dia termasuk mereka yang musyrik. 23. al-Rahman/55:7-9. Setiap orang yang dikaruniai Allah pangkat kenabian pasti menyeru manusia agar berkesadaran Ketuhanan (Rabbaniyyun) dan tidak akan menyimpang dari garis lurus itu setelah para pengikutnya benar-benar menjadi kaum yang pasrah kepada-Nya (muslimun): "Tidak pernah terjadi pada seorang manusia yang kepadanya Allah mengaruniakan kitab suci. al-Baqarah 2:133). h." (QS. al-Din li al Waqi' (Kuwait: al-Dar al-Kuwaytiyyah. Muhammad Asad. Ali Imran/3:79-80). Ali Imran/3:67-68). h. dan bersikap pasrah kepada-Nya (Islam). 22. QS. Secara umum dapat disimpulkan dari firman Allah tentang sikap anak turun Ya'qub Israil): "Adakah kamu menjadi saksi ketika maut datang kepada Ya'qub. tt.'" (QS. melainkan seorang hanif (lurus kepada kebenaran). 30. yaitu Tuhan Yang Maha Esa. "Ibrahim itu bukanlah seorang Yahudi ataupun Nasrani. Sesungguhnya manusia yang paling dekat kepada Ibrahim ialah mereka yang benar-benar mengikutinya dan Nabi ini (Muhammad) serta mereka yang beriman. bukan bagi Allah!' Melainkan (ia tentu berkata): 'Jadilah kamu orang-orang yang berkesadaran Ketuhanan (Rabbaniyyun) berdasarkan kitab suci yang kamu ajarkan dan berdasarkan yang kamu sendiri pelajari. Allah adalah pembimbing kaum beriman itu. berkenaan dengan keislaman para Nabi. hanif) menyembah Tuhan yang sama. al-Ma'idah/5:8. al-Amr bi al-Ma'ruf wa al-Nahy 'an al-Munkar (Beirut: Dar al-Kitab a-jadid. Ali Imran 3:19 dan 85. 27. . 26. Ibrahim. Suatu penegasan bahwa semua penganut agama (yang benar secara generik. 29. Terdapat banyak penegasan. Apakah patut ia menyuruh kamu menjadi kafir sesudah kamu semua menjadi orang-orang yang pasrah (muslimun)?" (QS. al-Nisa/4:58. yaitu Tuhan Yang Maha Esa. langsung dan tidak langsung.21. 25. Fat'hi Utsman. 1396 H/1976 M).' Dan ia (Nabi itu) tidak menyuruh kamu agar kamu mengambil para malaikat dan para Nabi yang lain sebagai tuhan-tuhan. catatan 48. h. Isma'il dan Ishaq. 28. Ibn Taymiyyah. Lihat QS. 149-150. dalam risalahnya.). ketika ia bertanya anak-anaknya: 'Apa yang kamu sembah sesudahku?' Mereka menjawab: 'Kami menyembah Tuhanmu dan Tuhan nenek moyangmu. ajaran kebenaran (hukum) dan kenabian kemudian berkata kepada orang banyak: 'Jadilah kamu semua hamba-hamba bagiku.91-92. Lihat QS.

10-11. Ibid. Metro Pondok Indah Pondok Indah Plaza I Kav. (021) 7507174 Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota Please direct any suggestion to Media Team Artikel Yayasan Paramadina Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota KONSEP-KONSEP ISTIHSAN. h. UA 20-21 Jakarta Selatan Telp. Selain dari sumber hukum primer tersebut. Istishlah dan Istishhab. Istihsan. 32. dikenal adanya dua kubu pengembangan pemikiran hukum Islam. yaitu: syariah terdahulu (syar' man qablana). kebiasaan/adat-istiadat (al'urf). Biasanya para ulama pendukung kubu Irak dikenal sebagai ahl al-ra'y. (021) 7501969. h.. 33. Itulah yang berkembang menjadi ijtihad. Islamic Law and Contemporary Issues (Jeddah: The Saudi Publishing House 1388 H). Ahmad Zaki Yamani. . dikenal juga adanya sumber-sumber sekunder (al-mashadir al-tab'iyyah). dan tokoh utama kubu Hijaz adalah Imam Malik. ISTISHLAH DAN MASHLAHAT AL-AMMAH Oleh KH Ali Yafie Dinamika hukum Islam dibentuk oleh adanya interaksi antara wahyu dan rasio. dalam pengembangan pemikiran hukumnya (metoda ijtihadnya) volume penggunaan rasio lebih besar dari volume penggunaan hadist (sebagai salah satu sumber syari'ah).31.. Tokoh utama kubu Irak ialah Imam Abu Hanifah. h. Ahl al-ra'y sesuai dengan situasi lingkungannya. 13-14. 6-7). Ijma' dan akal. dan para ulama pendukung kubu Hijaz dikenal sebagai ahl al-hadits. atau sama sekali tidak menggunakan sumber hukum itu. Pendapat sahabat Nabi (qaul al-shahabi). sumber hukum Islam terdiri atas: al-Qur'an. Dengan demikian. ISTIHSAN Pada saat-saat awal terbentuknya pemikiran hukum Islam yang metodis (ilmu fiqh). Sunnah. 7507173 Fax. Ini tidak berarti. upaya ilmiah menggali dan menemukan hukum bagi hal-hal yang tidak ditetapkan hukumnya secara tersurat (manshus) dalam syariah (al-kitab wa sunnah). 7501983. -------------------------------------------Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah Editor: Budhy Munawar-Rachman Penerbit Yayasan Paramadina Jln. yaitu kubu Irak dan kubu Hijaz. mereka tidak mengakui keabsahan hadist itu. Tapi penggunaannya sangat terbatas. Ibid.

atau sumber hukum yang . ialah peralihan dari hasil sesuatu qias kepada qias yang lain yang lebih kuat. Kata ini kemudian digunakan sebagai suatu technische-term yang membentuk pengertian baru menggambarkan suatu konsep penalaran dalam rangka penggunaan rasio secara lebih luas untuk menggali dan menemukan hukum sesuatu kejadian yang tidak ditetapkan hukum dari sumber syari'ah yang tersurat. dan menurut Istihsan hukumnya begini. karena ada juga istihsan yang ditegakkan atas landasan 'urf atau mashlahah Secara harfiah Istihsan itu berarti menganggap baik akan sesuatu baik itu fisik maupun nilai. Istilah "Istihsan" sebagai technische-term banyak beredar di kalangan tokoh-tokoh (ulama) dari aliran pemikiran hukum (mazhab) Hanafiyah. ternyata tidak saja menggunakan qias yang merupakan bentuk penggunaan rasio dengan cara analogis ilmiah ketat.Di pihak lain kita dapat mengamati. atau qias yang lebih dalam) dibandingkan dengan qias yang jelas. Menurut al-Bardisi definisi ini tidak mencakup (ghair jami'). Mereka menggunakannya secara tersendiri atau menyebutnya berdampingan dengan kata/istilah qias. apakah itu qias dalam arti technische-term. atau ijma' atau dharurah. Ahl al-ra'y yang volume penggunaan rasionya lebih besar. menyebutkan Istihsan itu suatu qias yang lebih dalam (khafi). atau dalam arti yang mencakup qias yang lebih luas yang dikaitkan dengan suatu ketentuan umum atau suatu kaidah-kaidah hukum yang baku. Syekh Muhammad Zakariya al-Bardisi. karena tidak dapat menampung Istihsan yang ditegakkan di luar landasan qias. Dalam hubungan inilah lahir konsep Istihsan. ahl al-hadits sesuai dengan situasi lingkungannya. Kita menggunakan qias dalam masalah ini. Sepanjang penelitian guru besar ilmu-ilmu Syari'ah pada Fakultas Hukum Universitas Kairo. tidak segera dapat ditangkap. Sebagian lagi memberikan definisi. Definisi ini menurutnya. bahkan kita menemukan dari mereka beberapa definisi yang kontradiktif. tapi mereka juga menggunakan analogi yang longgar dan lebih luas. atau kita menggunakan istihsan dalam masalah ini. seperti Istihsan yang ditegakkan di atas landasan nas. Dengan kata lain mereka mengatakan. hukum dalam masalah ini bersumber dari Istihsan. mereka yang menggunakan Istihsan sebagai sumber hukum tidak mempunyai kesepakatan atas suatu definisi tentang Istihsan itu. Kedua kubu tersebut mengakui keabsahan sumber hukum qias. dibandingkan dengan qias yang jelas (jali). istihsan itu ialah semua ketentuan syar'i (baik yang bersifat nash. mereka dalam pengembangan pemikiran hukum (metode ijtihadnya) volume penggunaan sumber hukum hadits lebih besar dari volume penggunaan sumber rasio (dalam hal ini qias). Mereka sering mengatakan. tapi apa yang dia maksud dengan qias di sini tidak begitu jelas. di antaranya adalah: Istihsan itu. atau dharurah. Definisi ini pun belum mencakup. Definisi yang lain. Ini tidak berarti mereka menolak penggunaan sumber rasio itu. menurut qias hukumnya begini. bukan saja tidak mencakup. dalam masalah ini. atau ijma'.

atau ijma'. adalah Imam Syafi'i. atau kebiasaan. untuk menghasilkan suatu hukum bagi kejadian baru. atau mashlahah. atau keadaan darurat atau suatu kepentingan nyata. ada empat elemen dari analogi qias itu. Termasuk pula dalam kategori Istihsan. semua itu merupakan elemen-elemen dalam hukum Istihsan. Karenanya juga konsep ini lebih dikenal dengan sebutan. masih ada upaya penalaran yang lain seperti Istihsan dan istislah dan seterusnya. landasan penyamaan ('illah). karena beliau berpendapat. Dalam perkembangan pemikiran hukum Islam. ketentuan yang dihasilkan dari pengaitan (ilhaq) tersebut di atas dan inilah yang disebut hukum qias. di kalangan penganut aliran pemikiran hukum (madzhab) Hanafiyah. pada hakekatnya konsep ini telah dikenal dan digunakan oleh angkatan pertama ahl al-ijtihad di kalangan sahabat dan tabi'in.dipersamakan dengan itu. Dalam analogi qias. Kemudian berkembang pula secara terbatas dalam aliran Malikiyah dan Hambaliyah. Dengan kata lain pertimbangan adanya ketentuan lain atau kesepakatan. untuk menampung segala perkembangan yang terjadi. kejadian baru (far). yakni ketentuan pokok (ashl). Dalam bahasa tekniknya harus ada ashl dan harus ada 'illah. ISTISHLAH Istishlah merupakan suatu konsep dalam pemikiran hukum Islam yang menjadikan mashlahah (kepentingan/kebutuhan manusia) yang sifatnya tidak terikat (mursalah) menjadi suatu sumber hukum sekunder. dibutuhkan adanya suatu ketentuan pokok yang bersifat terinci (tafshili) untuk dijadikan landasan mengaitkan sesuatu yang ada persamaannya. yakni kesepakatan para ahli yang berwenang (ahl al-ijtihad) di kalangan umat Islam. tapi sebagian yang lain beranggapan. Dan ternyata kemudian diambil alih juga oleh Imam al-Ghazali dari aliran Syafi'iyah dengan beberapa . atau dari suatu kaidah hukum. Alasan itulah menjadikan qias jali (biasa) dialihkan kepada qias khafi (alternatif) dan hasilnya disebut Istihsan. Konsep penalaran ini bermula dikembangkan dalam aliran pemikiran hukum Islam (madzhab) Malikiyah. atau 'urf atau dharurah. karena pengecualian itu didukung oleh suatu nash. atas pertimbangan sesuatu alasan yang lebih kuat. Dari uraian ini dapat ditangkap. Yang dicatat sebagai seorang tokoh yang menolak menempatkan Istihsan itu sebagai suatu sumber hukum sekunder. al-mashlah al-mursalah atau al-mashalih al-mursalah. kaidah-kaidah interpretasi atas ketentuan-ketentuan syari'ah (al-Qur'an dan Sunnah) ditambah dengan analogi qias. yang perlu ditata dalam hukum Islam. pengecualian masalah tertentu dari suatu ketentuan pokok yang bersifat umum. sudah cukup. Sebagian ahl al-ijtihad menganggap qias ini merupakan upaya final dalam penggalian dan penemuan hukum-hukum dari sumber syari'ah atau sumber yang dipersamakan (ijma'). sekalipun dengan istilah-istilah yang berbeda. Analogi Istihsan tidak terikat pada keketatan analogi qias karena dimungkinkan adanya qias alternatif (qias kahfi) yang terlepas dari elemen 'illah (dalam analogi qias biasa). dalam hal tujuan dan sasaran ditetapkannya ketentuan tersebut. Tapi dapat kita catat. Istihsan ini ditempatkan sebagai sumber hukum sekunder.

harta bendanya. konsep ini ditolak oleh Landasan pemikiran yang membentuk konsep ini ialah. yaitu. 1. nasab keturunannya dan kepercayaan keagamaannya. kenyataan bahwa. karena ibadat itu adalah hak prerogatif Allah sendiri.2. kecuali hal-hal yang pada galibnya membahayakan dan memelaratkan hidupnya. bukan sekadar anggapan atau rekaan.Dharuriyyah (bersifat mutlak) karena menyangkut komponen kehidupannya sendiri sebagai manusia. Dalam kajian para ahl-ijtihad ada tiga jenis mashlahah.penyempurnaan. dan manusia tidak dicegah melakukan sesuatu. Kelima tersebut biasanya disebut al-kulliyyat al-khams atau al-dharuriyyat al-khams. 1.Hajiyyah (kebutuhan pokok) untuk menghindarkan kesulitan dan kemelaratan dalam kehidupannya. Penempatan masalah ini sebagai suatu sumber hukum sekunder. yaitu: 1. bahwa ia memang mewujudkan suatu manfaat atau mencegah terjadinya madharrah (bahaya atau kemelaratan). menjadikan hukum Islam itu luwes dan dapat diterapkan pada setiap kurun waktu di segala lingkungan sosial. Para ahli yang mendukung konsep penalaran ini mencatat tiga persyaratan dalam penerapan hukum mashlahah ini. 1.3.Mashlahah yang tidak diakui ajaran syari'ah. 2. yang terdiri dari tiga tingkat kebutuhan manusia. Mashlahah itu tidak merupakan kepentingan pribadi atau segolongan kecil masyarakat. yaitu kepentingan yang bertentangan dengan maslahah yang diakui terutama pada tingkat pertama. yakni hal-hal yang menyangkut terpelihara dirinya (jiwa. yaitu: 1.Mashlahah yang tidak terikat pada jenis pertama dan kedua. raga dan kehormatannya) akal pikirannya. Tapi perlu dicatat. 3. upaya mewujudkan mashlahah dan mencegah mafsadah (hal-hal yang merusak) adalah sesuatu yang sangat nyata dibutuhkan setiap orang dan jelas dalam syari'ah yang diturunkan Allah kepada semua rasul-Nya. aliran Zhahiriyyah dan Syi'ah. dan tidak menjangkau bidang ibadat. yang menjadi dasar mashlahah (kepentingan dan kebutuhan manusia). Mashlahah itu harus bersifat pasti. Hasil penalaran mashlahah itu tidak berujung pada terabaikannya sesuatu prinsip yang ditetapkan oleh nash . Namun perlu dicatat ruang lingkup penerapan hukum mashlahah ini adalah bidang mu'amalat.1. tapi harus bersifat umum dan menjadi kebutuhan umum. Maka. Dan itulah sasaran utama dari hukum Islam. Maka tidak dituntut untuk dilakukan manusia untuk kepentingan hidupnya. 3.Tahsiniyyah (kebutuhan pelengkap) dalam rangka memelihara sopan santun dan tata krama dalam kehidupan. 2. syari'ah Islam dalam berbagai pengaturan dan hukumnya mengarah kepada terwujudnya mashlahah (apa yang menjadi kepentingan dan apa yang dibutuhkan manusia dalam kehidupannya di permukaan bumi).Mashlahah yang diakui ajaran syari'ah.

7501983. Seterusnya yang menyangkut mashlahah akal pikiran. Al-Asybah wa 'l-Nazhair: 5. (021) 7507174 . yang sifatnya umum yakni yang merupakan kepentingan setiap manusia dalam hidupnya. Imam al Syafi'i. 7507173 Fax. Imam al-Syathibi. Ini menyangkut hak publik dan berkaitan dengan fardhu kifayah. Imam Suyuthi. bersangkutan dengan fardhu 'ain yang dijelaskan dalam hadits lain yang berbunyi (thalb-u 'l-'ilmi faridhatun 'ala kulli muslim). mencerdaskan kehidupan masyarakat melalui pendidikan. seperti yang digambarkan dalam uraian terdahulu tentang al-kulliyyat al-khams. 4. menegakkan kontrol sosial melalui amar ma'ruf nahi mungkar. 2. jelas memperlihatkan keterkaitannya dengan kewajiban perorangan sebagai imbalan adanya pengakuan atas mashlahah dharuriyyah yang menimbulkan hak-hak mutlak perorangan bagi setiap manusia. hukum Islam juga mengenal mashlahah 'ammah yang menjadi kepentingan bersama masyarakat atau kepentingan umum (algemeen blang). bimbingan keagamaan (fatwa) dan penyebaran buku-buku. Al-Mustashfa. Imam al-Ghazali. AL-MASHLAHAH AL-'AMMAH Hukum Islam mengenal mashlahah 'ainiyah (kepentingan perorang) dari setiap manusia. Seperti misalnya yang menyangkut mashlahah harta benda/kepentingan seorang manusia memiliki harta benda (untuk makan.fardhu kifayah itu adalah urusan umum yang menyangkut kepentingan-kepentingan (mashalih) tegaknya urusan agama dan dunia dalam kehidupan kita. Al-Muwafaqat. Hal-hal ini terkait dengan taklif yang berbentuk fardhu 'ain. Begitu seterusnya menyangkut tiap mashlahah yang sifatnya dharuriyyah. 6. DAFTAR KEPUSTAKAAN 1. Al-Umm. 3. Di samping mashlahah tersebut di atas. Hikmatuttasyri'wa Falsafatih. Metro Pondok Indah Pondok Indah Plaza I Kav. menciptakan lapangan kerja untuk mewujudkan mata pencaharian bagi anggota-anggota masyarakat. Madkhal al-Fiqh al-Islami. Al-Mahmashani. pakaian dan tempat tinggalnya) hal ini bersangkutan dengan fardhu 'ain yang dijelaskan dalam tuntunan Rasulullah saw (thalab-u 'l-halal faridhatun 'ala kulli muslim) yaitu kewajiban bekerja mencari rizki memenuhi kebutuhan hidupnya sehari-hari. Sallam Madkur. -------------------------------------------Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah Editor: Budhy Munawar-Rachman Penerbit Yayasan Paramadina Jln. Imam Rafi'i menjelaskan. di antaranya adalah mencegah kemelaratan orang banyak (kaum Muslim). (021) 7501969. M.syari'ah atau ketetapan yang dipersamakan (ijma'). UA 20-21 Jakarta Selatan Telp.

Semua golongan itu sepakat (ijma') untuk menyimpan uangnya di bank dan memanfaatkan bunganya. apa yang tercakup dalam syari'at menjadi lebih luas. verba non acta. PERANAN TUNTUTAN SITUASI DALAM MEMAHAMI HUKUM ISLAM oleh Jalaluddin Rakhmat Jika saya mendepositokan uang saya di bank. tapi apakah riba sama dengan bunga deposito? Kemusykilan seperti itu telah dihadapi para ulama sepanjang sejarah.yang menerangkan ketentuan hukum untuk deposito. tidak tahu. Secara berangsur-angsur. misalnya. Tidak jarang perbedaan itu muncul karena perbedaan pemaknaan istilah-istilah itu. ketika dinasti Umayyah bertemu dengan kebudayaan Persia. dengan riba? Tanyalah ulama yang Anda kenal. Mereka tidak menemukan nash --teks al-Qur'an atau Hadits-. tapi bahkan memelihara tujuan syar'i. Syafi'i. Ada tiga kemungkinan jawaban: boleh. mereka menemukan lembaga yang menyelesaikan urusan orang-orang yang dizalimi. Tidak ada kesepakatan ulama mengenai kebolehan menggunakan masing-masing di antara ketiga hal itu.Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota Please direct any suggestion to Media Team Artikel Yayasan Paramadina Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota IV. Persis. tidak boleh. Deposito dan bunganya tidak dikenal di zaman Rasulullah saw. Yang kita sebut syari'at pada mulanya hanya menyangkut masalah keluarga. dari golongan apa saja. Kebanyakan di antara umat Islam masih belum mendapat jawaban yang tegas dan memuaskan. Para ulama merumuskan syari'at dalam bentuk fiqh yang mengatur bidang-bidang kehidupan yang lebih kompleks. Ketika Islam bertemu dengan peradaban-peradaban lain. perdagangan yang sederhana dan hukum pidana. Mereka bukan saja menganggap dewan ini tidak bertentangan dengan syar'i. Studi kritis terhadapnya akan segera membuktikan bahwa penggunaan metode-metode tersebut juga menimbulkan persoalan. para ulama mengembangkan metode istinbath (menarik kesimpulan hukum) baik berdasarkan kaidah-kaidah atau petunjuk umum dalam nash maupun dari penggunaan akal. menyerang istihsan dan menganggapnya sebagai usaha untuk membuat syari'at (man . sebagian menolakaya. Semua metode ini hanyalah upaya memecahkan persoalan. tentu saja bagi kepentingan umat Islam. Bila diminta fatwa lisan atau tulisan. Ulama yang ditanya itu memang mengalami kemusykilan. Sebagian menerimanya. Ada memang ketentuan tentang riba. Di antara metode-metode itu adalah qiyas. sekali lagi jawabannya akan beragam. Lembaga ini tidak terdapat dalam al-Qur'an dan Sunnah. NU jawabannya satu.26. Menurut al-Mawardi dalam al-Ahkam al-Sulthaniyah. istihsan dan istishlah. Anehnya bila golongan yang ditanya --Muhammadiyah. tapi mereka menganggap lembaga ini sangat bagus. bolehkah saya menerima bunga depositonya? Apakah bunga deposito itu sama. Kemudian penguasa Umayyah mengukuhkan lembaga itu dan menamainya Dewan Mazhalim.

para ulama yang mempertahankan istihsan mengambil dalil dari al-Qur'an dan Sunnah yang menyebutkan kata istihsan dalam pengertian denotatif ini (yaitu. Yang demikian itu disebut istihsan. atau mashlahat. Adapun cara menggunakan qiyas sebagai berikut: Seorang mujtahidin melakukan penelitian apakah ada dalil yang menunjukkan dalil tentang illat untuk menentukan hukum far'. atau kepada ijma' atau kepada dharurat. Tidak ada madzhab yang menolak penggunaan istihsan kecuali madzhab Dzahiriyah dan Syi'ah. Namun sebelum itu. atau tidak ada yang dapat dijadikan hujjah dari pendapat-pendapat mereka. ia bersandar kepada qiyas. tapi sesudah mengambil mashalih mursalah dan istihsan. kita akan menemukan banyak sekali definisi istihsan --yang tidak selalu menunjukkan . dan sudah ditegaskan hubungannya disamakanlah hukum yang asal dengan far' berdasarkan kesamaan illat seperti yang dipahaminya. "Apa yang dianggap kaum Muslim baik. ia menggunakan metode qiyas khafi.istahsana fa qad syara'a). Imam Malik juga mengambil qiyas. Maliki dan Hanafi memandang istihsan bahkan harus didahulukan dari qiyas. atau qiyas. Inilah yang ditetapkan oleh Imam Syafi'i dan ditegaskan al-Syirazi dan al-Maqdisi. Menarik sekali. Bila kita mengacu pada literatur. artinya. atau kepada maslahat. ia tidak keluar dari upaya menjalankan nash. Dalam semua keadaan itu. "Dan turutlah (pimpinan) yang sebaik-baiknya yang telah diturunkan kepadamu dari Tuhanmu".s al-Zumar: 18. ijma' dan pendapat para sahabat. Kadang-kadang mujtahid meninggalkan satu dalil kepada dalil yang lebih kuat. Tapi ketika Syafi'i menyerang istihsan seperti yang dimaknakan olehnya. PENGERTIAN ISTIHSAN Secara denotatif. saya kutipkan penjelasan Sayyid Musa Tuwanat: [1] Bila mujtahid tidak menemukan hukum dalam al-Qur'an. Q. al-Zumar: 55. Imam Ahmad pun bersandar kepada qiyas dengan syarat sesudah meninjau hukum itu dalam al-Qur'an dan Hadits dalam maknanya yang lebih luas. Pendirian Dewan Madzalim dipandang baik. harus dilakukan berdasarkan istihsan. Kadang-kadang qiyas ditinggalkan karena ada dalil yang kuat atsarnya. walaupun ia berbeda dari mujtahidin lainnya dalam cara dan cakupan penggunaan qiyas. menurut Allah baik juga." --Hadits menurut riwayat Abdullah bin Mas'ud. istihsan artinya memandang baik terhadap sesuatu. Sunnah dan ijma. Begitu pula para pengikut Hanafi yang membahas qiyas sesudah al-Kitab. Tulisan ini akan dimulai dengan mencoba menyelesaikan kemelut makna istihsan dan istishlah dan diakhiri dengan petunjuk praktis penggunaannya dalam menjawab tuntutan situasi sekarang ini. [2] Bila illat itu diketahui dengan menggunakan cara-cara yang dikenal dalam kitab ushul dan ada hubungan antara illat ini dengan kasus yang akan ditetapkan hukumnya. atau meninggalkan qiyas kepada atsar. yang tidak lain daripada istihsan menurut mazhab Hanafi. sebagai pengantar. orang-orang yang mendengarkan kata dan diturutinya yang paling baik. Sunnah. Malik menyebut istihsan sebagai sembilan persepuluh ilmu (Al-istihsan tis'at a'syar al-'ilm).

referensi yang sama. Ada definisi yang dibuat dengan memperhatikan segi-segi politis dan bukan segi-segi ilmiahnya. Untuk menunjukkan bagaimana definisi-definisi itu lebih banyak menyulitkan daripada membantu, kita lihat contoh di bawah ini: 1. Istihsan adalah meninggalkan qiyas untuk mengambil yang lebih sesuai dengan orang banyak. 2. Istihsan adalah mencari kemudahan dari hukum-hukum yang dihadapi orang banyak atau orang tertentu. 3. Istihsan adalah mengambil keluasan dan mencari kelegaan. 4. Istihsan adalah mengambil yang permisif dan memilih yang di dalamnya ada ketenangan (semuanya dari al-Sarkhashi). 5. Istihsan artinya meninggalkan kepastian qiyas kepada qiyas yang lebih kuat atau mentakhshiskan qiyas dengan dalil yang lebih kuat (al-Bazdawi dari madzhab Hanafi). 6. Istihsan artinya mengamalkan yang lebih kuat di antara dua dalil (al-Syathibi dari madzhab Maliki). 7. Istihsan artinya meninggalkan hukum masalah dari yang semacamnya karena dalil syara' yang tertentu (al-Thufi dari madzhab Hambali). 8. Istihsan adalah apa yang dipandang baik oleh mujtahid dengan akalnya. [3] Karena kita mengalami kesulitan memahami istihsan dari berbagai definisi itu, marilah kita ambil contoh kasus yang oleh para mujtahid disebut sebagai istihsan. Melihat aurat perempuan yang bukan muhrim haram, karena dapat menimbulkan "fitnah" (membawa orang kepada kemaksiatan). Yang dalam kurung itu disebut 'illat yang sangat jelas (kita sekarang sedang melakukan qiyas jaliy). Bagaimana hukumnya seorang dokter yang harus memeriksa pasien wanitanya? Bila ia tidak melihat auratnya, ia tak bisa menolong pasien itu dengan baik. Ia harus menolong pasien itu untuk mengembalikan kesehatannya, untuk kemaslahatan pasiennya. Tapi alasan ('illat) ini hanya dalam kasus pasien saja dan dianggap tegas (kita sedang melakukan qiyas khafiy). Bila kita meninggalkan qiyas jaliy dan mengambil qiyas khafiy, kita melakukan istihsan. Kadang-kadang seorang mujtahid meninggalkan qiyas karena menemukan hadits yang lebih kuat, atau karena memperhatikan kemaslahatan, atau karena 'urf (adat kebiasaan yang sudah lazim). Bila kita memperhatikan praktek-praktek yang disebut istihsan, kita menemukan istihsan dalam tiga pengertian: Pertama, istihsan berarti memilih yang lebih kuat di antara dua dalil yang bertentangan atau berbeda (berikhtilaf). Boleh jadi ikhtilaf di antara dua dalil lafzhi --yakni dalil yang diambil dari al-Qur'an dan Sunnah. Atau ikhtilaf di antara dua dalil ghair lafzhi; misalnya, antara qiyas jaliy dengan qiyas khafiy. Atau ikhtilaf di antara dalil lafzhi dan ghair lafzhi. Marilah kita mulai dengan ikhtilaf di antara dua dalil lafzhi. Dalam hal ini, ikhtilaf dapat berupa tazakam dan ta'arudh. Yang dimaksud dengan Tazabum adalah pembenaran dua hukum yang berasal dari syara', yang tidak mungkin digabungkan. Ta'arudh

artinya perbedaan hukum shawar al-masalah).

karena

perbedaan

kasus

(ikhtilaf

Kita melakukan istihsan bila kita mentarjih (menganggap lebih baik) salah satu di antaranya. Sambil memberikan contoh-contohnya, saya akan menunjukkan petunjuk-petunjuk praktis penggunaan istihsan pada tazahum dan ta'arudh. (1) Dulukan hukum yang mendesak (mudhiq) di atas hukum yang memberikan kelonggaran (musi'). Misalnya, antara menghilangkan najis di masjid dengan melakukan shalat pada awal waktunya, atau antara menolong orang yang celaka dengan melakukan shalat Jum'at. Pilihlah menghilangkan najis dan menolong orang yang celaka. (2) Dulukan yang tidak ada penggantinya dengan yang ada penggantinya. Misalnya, menggunakan air untuk memuaskan rasa haus atau untuk berwudhu'. Wudhu' itu ada penggantinya, yaitu tayammum. Tapi memuaskan haus tidak bisa diganti dengan batu. (3) Dulukan yang sudah tertentu (mu'ayyan) di atas urusan yang memberikan alternatif (mukhayyar). Misalnya memenuhi nadzar atau membayar kifarat. Anda bernadzar untuk memberikan makanan bagi orang miskin, tapi juga Anda harus membayar kifarat puasa. (4) Dulukan yang lebih penting dari pada yang penting. Anda wajib melakukan haji dan pada saat yang sama Anda harus membayar hutang. Bayarlah hutang Anda lebih dulu. Ta'arudh terjadi kalau ada dua dalil syara' yang bertentangan. Para ulama ushul mengusulkan beberapa cara, yang tidak dapat kita perinci satu per satu: mendulukan yang mutlak di atas yang muqayyad, takhshish di atas 'am, nasikh di atas mansukh, hakim di atas mahkum, al-Qur'an di atas Sunnah, yang disepakati di atas yang diikhtilafi. Kedua, istihsan berarti mengambil sesuatu yang sudah dipandang baik oleh 'urf atau akal. Misalnya, mencatat pernikahan di kantor departemen Agama. Istihsan dalam arti ini harus dilakukan dengan sangat hati-hati. Karena apa yang dipandang baik 'urf atau akal itu boleh jadi sangat subyektif, sehingga besar kemungkinan mengikuti bias-bias sosio-psikologis. Kita juga tidak cukup waktu membicarakan hal ini. Ketiga, istihsan berarti meninggalkan dalil-dalil tertentu untuk mendatangkan maslahat atau menegakkan hukum di atas pertimbangan maslahat yang lima: memelihara agama, jiwa, akal, keturunan dan harta. Istihsan jenis terakhir ini disebut juga istishan atau al-mashalih al-mursalah. PENUTUP Yang terakhir ini exercise. Apakah cara berpikir yang berikut ini termasuk istihsan atau bukan. Bunga deposito dapat dibenarkan karena beberapa pertimbangan. Pertama, uang yang disimpan mengalami penurunan nilai karena inflasi. Tingkat inflasi bisa jadi lebih tinggi dari bunga deposito. Kedua, dengan menyimpan, deposan harus membayar opportunity cost yang boleh jadi lebih mahal dari bunga deposito. Ketiga, mendepositokan uang juga siap memikul resiko, yang nilainya dapat dihitung (serta mungkin saja lebih besar dari bunga

deposito). Walhasil, bila Anda tidak mengambil deposito Anda, Anda akan menjadi pihak yang terzalimi atau teraniaya. Padahal, agama menyatakan "tidak boleh menindas dan tidak boleh ditindas"?? CATATAN 1. Al-Ijtihad wa Muda Hajatina ilaih fi Hadza al-'Ashr, Mesir: Dar al-Kutub al-Haditsah, hal. 324 - 325. 2. Ada empat rukun qiyas: (1) asalnya, yakni kasus yang ada dalam nas, misalnya minum khamar; (2) hukumnya, yakni haram; (3) far', kasus baru yang akan ditetapkan hukumnya, misalnya bir; (4) illat atau washf jami', yakni sebab yang menyamakan kedua kasus itu, misalnya memabukkan atau minuman keras. 3. Lihat, Muhammad Taqiy, Al-Ushul al-Ammah fi al-Ammah fi al-fiqh al-Muqaran, Beirut: Dar al-Andalus, 1979, hal. 361-362. -------------------------------------------Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah Editor: Budhy Munawar-Rachman Penerbit Yayasan Paramadina Jln. Metro Pondok Indah Pondok Indah Plaza I Kav. UA 20-21 Jakarta Selatan Telp. (021) 7501969, 7501983, 7507173 Fax. (021) 7507174 Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota
Please direct any suggestion to Media Team

Artikel Yayasan Paramadina
Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota IV.25. TAQLID DAN IJTIHAD (1/4) MASALAH KONTINUITAS DAN KREATIVITAS DALAM MEMAHAMI PESAN AGAMA oleh Nurcholish Madjid Jika masalah taqlid dan ijtihad harus ditelusuri ke belakang, barangkali yang paling tepat ialah kita menengok ke zaman 'Umar ibn al-Khathtab, Khalifah ke II. Bagi orang-orang muslim yang datang kemudian, khususnya kalangan kaum Sunni, berbagai tindakan 'Umar dipandang sebagai contoh klasik persoalan taqlid dan ijtihad. Salah satu hal yang memberi petunjuk kita tentang prinsip dasar 'Umar berkenaan dengan persoalan pokok ini ialah isi suratnya kepada Abu Musa al-Asy'ari, gubernur di Basrah, Irak: "Adapun sesudah itu, sesungguhnya menegakkan hukum (al qadla) adalah suatu kewajiban yang pasti dan tradisi (Sunnah) yang harus dipatuhi. Maka pahamilah jika sesuatu diajukan orang kepadamu. Sebab, tidaklah ada manfaatnya berbicara mengenai kebenaran jika tidak dapat dilaksanakan. Bersikaplah ramah antara sesama manusia dalam kepribadianmu, keadilanmu dan majlismu, sehingga seorang yang berkedudukan tinggi (syarif) tidak sempat berharap akan keadilanmu.

Memberi bukti adalah wajib atas orang yang menuduh, dan mengucapkan sumpah wajib bagi orang yang mengingkari (tuduhan). Sedangkan kompromi (ishlah, berdamai) diperbolehkan diantara sesama orang Muslim, kecuali kompromi yang menghalalkan hal yang haram dan mengharamkan hal yang halal. Dan janganlah engkau merasa terhalang untuk kembali pada yang benar berkenaan dengan perkara yang telah kau putuskan kemarin tetapi kemudian engkau memeriksa kembali jalan pikiranmu lalu engkau mendapat petunjuk kearah jalanmu yang benar; sebab kebenaran itu tetap abadi, dan kembali kepada yang benar adalah lebih baik daripada berketerusan dalam kebatilan. Pahamilah, sekali lagi, pahamilah, apa yang terlintas dalam dadamu yang tidak termaktub dalam Kitab dan Sunnah, kemudian temukanlah segi-segi kemiripan dan kesamaannya, dan selanjutnya buatlah analogi tentang berbagai perkara itu, lalu berpeganglah pada segi yang paling mirip dengan yang benar. Untuk orang yang mendakwahkan kebenaran atau bukti, berilah tenggang waktu yang harus ia gunakan dengan sebaik-baiknya. Jika ia berhasil datang membawa bukti itu, engkau harus mengambilnya untuk dia sesuai dengan haknya. Tetapi jika tidak, maka anggaplah benar keputusan (yang kau ambil) terhadapnya, sebab itulah yang lebih menjamin untuk menghindari keraguan, dan lebih jelas dari ketidakpastian (al-a'ma, kebutaan, kegelapan) ... Barang siapa telah benar niatnya kemudian teguh memegang pendiriannya, maka Allah akan melindunginya berkenaan dengan apa yang terjadi antara dia dan orang banyak. Dan barang siapa bertingkah laku terhadap sesama manusia dengan sesuatu yang Allah ketahui tidak berasal dari dirinya (tidak tulus), maka Allah akan menghinakannya ..." [1] Dari kutipan surat yang lebih panjang itu ada beberapa prinsip pokok yang dapat kita simpulkan berkenaan dengan masalah taqlid dan ijtihad. Prinsip-prinsip pokok itu ialah: Pertama, prinsip keotentikan (authenticity). Dalam surat 'Umar itu prinsip keotentikan tercermin dalam penegasannya bahwa keputusan apapun mengenai suatu perkara harus terlebih dahulu diusahakan menemukannya dalam Kitab dan Sunnah. Kedua, prinsip pengembangan. Yaitu, pengembangan asas-asas ajaran dari Kitab dan Sunnah untuk mencakup hal-hal yang tidak dengan jelas termaktub dalam sumber-sumber pokok itu. Metodologi pengembangan ini ialah penalaran melalui analogi. Pengembangan ini diperlukan, sebab suatu kebenaran akan membawa manfaat hanya kalau dapat terlaksana, dan syarat keterlaksanaan itu ialah relevansi dengan keadaan nyata. Ketiga, prinsip pembatalan suatu keputusan perkara yang telah terlanjur diambil tetapi kemudian ternyata salah, dan selanjutnya, pengambilan keputusan itu kepada yang benar. Ini bisa terjadi karena adanya bahan baru yang datang kemudian, yang sebelumnya tidak diketahui. Keempat, prinsip ketegasan dalam mengambil keputusan yang menyangkut perkara yang kurang jelas sumber pengambilannya (misalnya, tidak jelas tercantum dalam Kitab dan Sunnah), namun perkara itu amat penting dan mendesak. Ketegasan dalam hal ini bagaimanapun lebih baik daripada keraguan dan ketidakpastian.

Kelima, prinsip ketulusan dan niat baik, yaitu bahwa apapun yang dilakukan haruslah berdasarkan keikhlasan. Jika hal itu benar-benar ada, maka sesuatu yang menjadi akibatnya dalam hubungan dengan sesama manusia (seperti terjadinya kesalahpahaman), Tuhanlah yang akan memutuskan kelak (dalam bahasa 'Umar, Allah yang akan "mencukupkannya"). Dari prinsip-prinsip itu, prinsip keotentikan adalah yang pertama dan utama, disebabkan kedudukannya sebagai sumber keabsahan. Karena agama adalah sesuatu yang pada dasarnya hanya menjadi wewenang Tuhan, maka keotentikan suatu keputusan atau pikiran keagamaan diperoleh hanya jika ia jelas memiliki dasar referensial dalam sumber-sumber suci, yaitu Kitab dan Sunnah. Tanpa prinsip ini maka klaim keabsahan keagamaan akan menjadi mustahil. Justru suatu pemikiran disebut bernilai keagamaan karena ia merupakan segi derivatif semangat yang diambil dari sumber-sumber suci agama itu. TAQLID Prinsip keotentikan juga menyangkut masalah konsistensi ketaatan pada asas. Konsistensi itu, pada urutannya, akan menjadi batu penguji lebih lanjut tingkat keabsahan suatu pemikiran. Karena itu dalam pengembangan suatu pemikiran keagamaan tidak mungkin dihindari kewajiban memperhatikan hal-hal parametris dalam sistem ajaran sumber-sumber suci, sebab hal-hal parametris itulah yang menjadi tulang punggung kerangka ajarannya yang abadi (sesuai untuk segala zaman dan tempat). Hal-hal parametris itu dalam Kitab Suci disebut sebagai al-muhkamat (petunjuk-petunjuk dengan makna jelas), yang juga disebut sebagai prinsip dasar atau induk ajaran Kitab Suci (umm al-Kitab), kebalikan petunjuk-petunjuk metaforikal, alegoris dan interpretatif (mutasyabihat). [2] Karena keontentikan dan konsistensi mengimplikasikan penerimaan terhadap suatu postulat, premis atau formula dasar, dengan sendirinya ia juga mengandung makna taqlid menurut makna asli (generik) kata-kata itu, yakni, sebelum ia menjadi istilah teknis dengan makna sekunder seperti kini umum dipahami. Sebab, taqlid dalam arti generik merupakan unsur sikap menerima kebenaran suatu postulat berdasarkan pengakuan bahwa sumber atau pembuat postulat mempunyai wewenang penuh dan tinggi. Karena salah satu konsekuensi konsep tentang Tuhan ialah konsep tentang Dia Yang Maha Berwenang, maka menerima dengan penuh keyakinan terhadap kebenaran ajaran-Nya dengan sendirinya merupakan implikasi kepercayaan atau iman kepada Rasul dan ajaran-ajaran yang dibawa-Nya. [3] Iman yang sempurna dengan sendirinya mengandung semangat sikap pasrah sepenuhnya. Segi lain tentang makna penting taqlid ialah yang menyangkut masalah akumulasi informasi dan pengalaman. Taqlid sebagai pola penerimaan otoritas pendahulu dalam rentetan pengembangan ilmu dan pemikiran hampir tidak mungkin dihindari. Sebab, ekonomi pemikiran tidak mengizinkan terlalu banyak bersandar pada kemampuan pribadi secara terpisah dan atomistis, sehingga segala sesuatu akan menjadi tanggung jawab sendiri, dengan keharusan merintis setiap pengembangan dari titik nol (from the scratch). Pengetahuan

manusia seperti yang ada sekarang ini yang menandai zaman modern ("iptek") adalah hasil kumulatif penggalian informasi dan pengalaman yang melibatkan hampir seluruh ummat manusia sepanjang sejarah yang telah berjalan ribuan tahun. Deretan pengalaman dan pengawetan serta pelembagaan dalam karya-karya intelektual sepanjang masa itu menjadi pohon tradisi intelektual universal ummat manusia, yang tanpa itu kekayaan dan kesuburan seperti yang ada sekarang akan menjadi sama sekali mustahil. Memulai suatu pengembangan pemikiran dan dalam hal ini juga pengembangan bidang budaya manusia manapun dari titik nol akan hanya berakhir dengan kemiskinan (malah pemiskinan - improverishment) hasil usaha itu sendiri. Karena itu taqlid dalam makna generik yang positif merupakan dasar penumbuhan kekayaan intelektual yang integral, yakni integral dalam arti bahwa suatu bangunan tradisi intelektual memiliki akar-akar dalam sejarah. Jadi, keotentikan historis, yang keontentikan itu sendiri diperlukan jika diinginkan daya kembang dan kreativitas yang maksimal. Maka, untuk sekedar misal, seorang Albert Camus dalam tradisi intelektual Eropa (Barat) yang telah tampil dengan filsafat kontemporernya tentang eksistensialisme absurdity yang kontroversial itu pun harus dipahami sebagai bagian integral tradisi intelektual di sana yang akar-akarnya bisa ditelusuri jauh ke masa lalu, sampai ke masa Yunani kuno. Albert Camus, dalam jalan pikiran orang-orang Barat, tidak dapat dipahami tanpa melihat salah satu jalur konsistensi dan benang merah pemikiran Barat itu sendiri, melintasi zaman sampai ke masa lalu yang sangat jauh. Sekalipun konsep absurdity dapat dilihat sebagai Camus, namun sesungguhnya ia adalah salah satu hasil pertumbuhan kumulatif pemikiran Barat. [4] Ia memiliki keabsahan sebagai pemikiran Barat yang integral. Jadi keintegralan dan keotentikan diperkuat oleh adanya konstinuitas tradisi yang berkembang. Tetapi segi positff taqlid ini hanya terwujud jika ia tidak menjadi paham tersendiri yang tertutup, yang tumbuh menjadi "isme" terpisah. Sebab, taqlid seperti ini (yang barangkali lebih tepat disebut "taqlidisme") mengisyaratkan sikap penyucian masa lampau dan pemutlakan otoritas tokoh sejarah. Memang benar, masa lampau selalu mengandung otoritas. Tapi, justru demi pengembangan bidang yang menjadi otoritasnya, masa lampau beserta tokoh-tokohnya harus senantiasa terbuka untuk diuji dan diuji kembali. Pengujian itu dilakukan dengan pertama-tama, menemukan dan menginsafi segi-segi yang merupakan imperatif ruang dan waktu yang ikut membentuk suatu sosok pemikiran. Sebab, suatu sosok pemikiran tidak pernah muncul dan berkembang dari kevakuman. Ia selalu merupakan hasil interaksi berbagai faktor, dan faktor ruang dan waktu acap kali dominan. (bersambung 2/4) -------------------------------------------Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah Editor: Budhy Munawar-Rachman Penerbit Yayasan Paramadina Jln. Metro Pondok Indah Pondok Indah Plaza I Kav. UA 20-21 Jakarta Selatan Telp. (021) 7501969, 7501983, 7507173

Fax. (021) 7507174 Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota
Please direct any suggestion to Media Team

Artikel Yayasan Paramadina
Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota IV.25. TAQLID DAN IJTIHAD (2/4) MASALAH KONTINUITAS DAN KREATIVITAS DALAM MEMAHAMI PESAN AGAMA oleh Nurcholish Madjid Kedua, dengan menghadapkan sosok pemikiran itu pada kenyataan-kenyataan disini sekarang. Penghadapan ini diperlukan untuk melihat relevansi suatu sosok pemikiran historis, karena ia akan berguna untuk kita, disini dan kini. Seperti tubuh manusia yang memiliki mekanisme penolakan terhadap benda-benda asing yang tidak cocok dengan dirinya lewat gejala alergi, ruang dan waktu pun, yang mengejawantah dalam sistem sosial, memiliki mekanisme penolakan terhadap sesuatu yang tidak sesuai tanpa membiarkan diri secara pasif menjadi tawanan ruang dan waktu, kita tidak bisa dihadapkan pada kebutuhankebutuhan nyata yang didiktekan dan ditentukan oleh lingkungan kita. HIKMAH AGAMA Tujuan seorang Rasul diutus kepada umat manusia antara lain untuk mengajarkan Kitab Suci dan hikmah kepada mereka. Karena cakupan maknanya yang demikian luas, "hikmah" diterangkan kedalam berbagai pengertian dan konsep, diantaranya wisdom atau kewicaksanaan (dari bahasa Jawa, untuk membedakannya dari kata "kebijaksanaan"), ilmu pengetahuan, filsafat, malahan "blessing in disguise" (untuk menekankan segi kerahasiaan hikmah). [6] Mendasari konsep itu ialah kesadaran bahwa suatu "hikmah" selalu mengandung kemurahan dan rahmat Ilahi yang maha luas dan mendalam, yang tidak seluruhnya kita mampu menangkapnya. Maka disebutkan bahwa siapa dikaruniai hikmah, ia sungguh telah mendapatkan kebajikan yang berlimpah-ruah. [6] Jika "hikmah" itu kita hubungkan kembali pada istilah "muhkam" (kedua kata itu terambil dari akar kata yang sama, yaitu h-k-m), maka dalam menumbuhkan tradisi intelektual yang integral dan kreatif berdasarkan kaidah taqlid dan ijtihad itu memerlukan kemampuan menangkap hikmah pesan Ilahi seperti yang terlembagakan dalam ajaran-ajaran agama. Berkenaan dengan ini, dan dikaitkan pada keterangan dalam Kitab Suci tentang adanya ayat-ayat mahkam dan mutasyabih tersebut, menarik sekali kita mengangkat penafsiran A. Yusuf Ali atas makna muhkam itu: [7] ... The Commentators usually understand the verses "of established meaning" (muhkam) to refer to the categorical orders of the Shari'at (or the Law), which are plain to everyone's understanding. But perhaps the meaning is wider: "the mother of the Book" must include the very foundation on which all Law rests, the essence of God's Message, as

distinguished from the various allegories, and ordinances.

illustrative

parables,

If we refer to xi. 1 and xxxix. 23, [8] we shall find that in a sense the whole of the Qur'an has both "established meaning" and allegorical meaning. The division is not between the verses, but between the meanings to be attached to them. Each is but a Sign or Symbol: what it represents is something immediately applicable, and something eternal and independent of time and space, - the "Forms of Ideas" in Plato's Philosophy. The wise man will understand that there is an "essence" and an illustrative clothing given to the essence, throught the Book. We must try to understand it as best we can, but not waste our energies in disputing about matters beyond our depth.[9] Sesuatu dari ajaran Kitab Suci yang abadi dan tak terikat oleh waktu dan ruang (eternal and independent of time and space) dalam pengertian tentang muhkam itu tidak lain ialah makna, semangat, atau tujuan universal yang harus ditarik dari suatu materi ajaran agama yang bersifat spesifik, atau malah mungkin ad-hoc. Kadang-kadang makna dan tujuan universal dibalik suatu ketentuan spesifik itu sekaligus diterangkan langsung dalam rangkaian firman itu sendiri. Tapi, kadang-kadang makna itu harus ditarik melalui proses konseptualisasi atau ideasi (ideation). Contoh yang pertama ialah firman Ilahi yang mengurus perceraian Zaid (seorang bekas budak yang dimerdekakan dan diangkat anak oleh Nabi) dari istrinya, Zainab (seorang wanita bangsawan Quraisy dengan status sosial tinggi dan rupawan), dan perceraian itu kemudian diteruskan dengan dikawinkannya Nabi dengan Zainab oleh Tuhan. Maka terlaksanalah perkawinan seseorang -dalam hal ini Nabi menikahi bekas isteri anak angkatnya. Namun kejadian yang bagi orang-orang tertentu terdengar sebagai skandal ini justru -katakanlah- dirancang oleh Tuhan untuk suatu maksud yang mendukung nilai universal yang sejak semula menjadi klaim ajaran Islam, yaitu nilai sekitar konsep kealamian (naturalness) yang suci, yakni konsep fithrah. Dalam hal ini, anak angkat bukanlah anak alami seperti anak (biologis) sendiri, sehingga juga tidaklah alami dan tidak pula wajar jika hubungannya dengan ayah angkatnya dikenakan ketentuan yang sama dengan anak alami, termasuk dalam urusan nikah. Maka, kejadian ad-hoc yang menyangkut Zaid, Zainab dan Nabi itu langsung diterangkan tujuan universalnya, yaitu "agar tidak ada halangan bagi kaum beriman untuk mengawini (bekas) isteri-isteri anak-anak angkat mereka." [10] Tujuan ini jelas langsung terkait dengan segi universal yang lebih menyeluruh, yaitu konsep atau ajaran fithrah, yang mengimplikasikan bahwa segala sesuatu dalam tatanan hidup manusia ini hendaknya diatur dengan ketentuan yang sealami mungkin sesuai dengan hukum alam (Qadar) [11] dan hukum sejarah (Sunnat-u 'l-Lah) yang pasti dan tak berubah-ubah. [12] Pandangan bahwa segala sesuatu harus sealami mungkin adalah benar-benar sentral namun menuntut pemahaman mendalam yang disebut sebagai agama ftthrah yang hanif. Itulah hikmah pesan agama dalam arti yang seluas-luasnya dan secara global. Dalam arti yang lebih terinci, konsep hikmah agama dinyatakan dalam berbagai ungkapan, seperti telah menjadi tema dan judul sebuah buku yang cukup terkenal, Hikmat al-Tasyri' wa Falsafatuhu. [13] Hikmah pesan agama

Sikap penabuan dengan sendirinya tidak dapat dibenarkan meskipun sesungguhnya ia muncul dari obsesi para ulama pada ketertiban dan ketenangan atau keamanan. yaitu kerusakan mental. Bahwa rationale diharamkannya minuman keras (alkoholik.masih bisa dilihat rationalenya sehingga ia negatif. Syarat-syarat itu sekarang boleh kedengaran kuno. seperti khamar) ialah sifatnya yang memabukkan. Tapi. [14] IJTIHAD Uraian di atas dibuat dengan tujuan memberi gambaran bahwa masalah taqlid dan ijtihad. jantung kawan (Oikoumene). justru merupakan salah satu ajaran sentral agama Islam. Maka ijtihad bisa dilakukan hanya oleh orang-orang tertentu yang benar-benar telah memenuhi syarat itu. Melalui tokoh-tokoh pembaharu seperti Muhammad Abduh dan Sayid Ahmad Khan. seperti konsep sekitar 'illat al-hukm (Latin: ratio legis). orang-orang muslim terbiasa berpikir bahwa dunia ini milik mereka. tapi justru karena itu menuntut persyaratan banyak dan berat. (Disebut anomalous. Para pembaharu mendapati bahwa praktek taqlid yang umum . Konsep-konsep ini dibuat berkenaan dengan perlunya menemukan suatu rationale yang mendasari penetapan suatu hukum. khususnya di masa-masa penuh kekacauan menjelang keruntuhan Baghdad. Kemudian sifat memabukkan itu sendiri dihukumnya sebagai tidak baik. Hanya saja. kerusakan mental itu -betapa pun jelas negatif. Kini. dan hak mengatur dunia hanya ada pada mereka. pelukisan tentang kegiatan ijtihad sebagai sesuatu yang amat eksklusif telah melahirkan persepsi salah. Berkaitan dengan ini berbagai konsep yang telah mapan dalam pembahasan agama Islam. Dan selanjutnya. Dalam sejarah masyarakat Muslim sempat tumbuh pandangan yang hampir menabukan ijtihad. namun ia dibuat dengan tujuan menjamin adanya kewenangan dan tanggung jawab. ijtihad dikemukakan kembali sebagai metode terpenting menghilangkan situasi anomalous dunia Islam yang kalah dan dijajah oleh dunia Kristen Barat. Padahal memelihara fithrah itulah. mendalam. lebih dari pada yang dipahami umum. karena ia mengakibatkan suatu jenis kerusakan. sebagai salah satu akibat penguasaan mereka atas daerah-daerah sentral peradaban manusia. terutama daerah Nil sampai Ozus.ini juga dikenal dengan istilah lain sebagai maqashid al-syari'ah (maksud dan tujuan syari'ah). yaitu tema-tema teori politik Sunni. ijtihad itu diajukan orang sebagai salah satu tema pokok usaha reformasi atau penyegaran kembali pemahaman terhadap agama. yaitu bahwa ia berarti hilangnya akal sehat yang menjadi bagian dari fithrah manusia. dan meluas serta kompleks. dalam perkembangan selanjutnya penabuan itu juga dapat dilihat sebagai kelanjutan masa kegelapan (obskurantisme) dalam pemikiran Islam. karena selama paling kurang tujuh atau delapan abad. Karena itu di kalangan ulama klasik ada pendapat hampir merata bahwa ijtihad adalah suatu tugas yang penuh gengsi. khususnya pembahasan bidang hukum (syari'ah -par excellence). yang juga sering disebut dengan manath al-hukm (sumbu perputaran hukum). Contoh nyata penerapan konsep ini ialah yang dikenakan pada hukum khamr. menyangkut hal-hal yang cukup rumit.

selain . khususnya Muhammad Abduh. Xenophobia itu sendiri merupakan gejala. yang tidak segan-segan mengambil apa saja yang baik dari umat-umat lain. baik awam maupun ulama. [15] Ini dengan mudah dilihat gejala xenophobia." [17] Pandangan 'Umar ini sejalan dengan.w. (021) 7501969." [19] Berkenaan dengan itu. jika bukan malah pandangan teologis. devotional).menguasai orang-orang muslim. dan merupakan konsekwensi dari. meskipun umat itu kafir. 'Umar adalah seorang yang "berpikiran luas. khususnya zaman 'Umar. paling celaka kecemasan dan rendah diri. tetapi mengikuti berbagai pertimbangan kemaslahatan dan melihat makna-makna yang merupakan poros penetapan hukum (manath al-tasyri') yang diridlai Allah s. Metro Pondok Indah Pondok Indah Plaza I Kav. seorang pemikir Makkah dari madzhab Maliki. menurut kerangka aturan yang telah mapan tentang pengambilan hukum dan norma-norma moral Islam. tidak hanya para Sahabat seperti 'Umar dll. dan tidak memandang baik terhadap sikap jumud dalam hukum. penegasannya bahwa "tidaklah ada gunanya berbicara tentang kebenaran namun tidak dapat dilaksanakan.. dari kalangan generasi awal Islam. Tokoh pembaharu modern paling berpengaruh ini "memahami ijtihad dalam pengertiannya yang luas sebagai penelitian bebas. khususnya jika berbentuk unsur dari budaya asing. dan tentang apa yang paling baik disini dan sekarang. 7501983. malah juga Rasulullah sendiri! Menurut al-Makki.t. Sebab. [16] Bahkan 'Umar "tidak memandang semua perkara bersifat ta'abbudi (bernilai 'ubudiyyah. telah berkembang menjadi suatu sikap mental. sepanjang penuturannya. yang meliputi penolakan secara sadar terhadap segala sesuatu yang baru.25. paling untung chauvinisme." [18] (bersambung 3/4) -------------------------------------------Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah Editor: Budhy Munawar-Rachman Penerbit Yayasan Paramadina Jln. 7507173 Fax. Ia melukiskan semangat kosmopolit zaman klasik Islam. sungguh menarik pemaparan pemikiran al-Makki bahwa melakukan ijtihad. UA 20-21 Jakarta Selatan Telp. Gejala ini pula yang hari-hari ini dilihat al-Makki. (021) 7507174 Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota Please direct any suggestion to Media Team Artikel Yayasan Paramadina Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota IV. TAQLID DAN IJTIHAD (3/4) MASALAH KONTINUITAS DAN KREATIVITAS DALAM MEMAHAMI PESAN AGAMA oleh Nurcholish Madjid Agaknya jalan pikiran 'Umar dari zaman klasik (salaf) Islam itu muncul lagi pada orang-orang tertentu dari kalangan para pemikir Islam zaman modern.

sebagaimana tercermin dalam sabda Nabi yang amat terkenal. khususnya pemikiran. Muhammad Hasyim Asy'ari dan al-Sayyid Muhammad Ibn Alawi ibn "Abbas al-Maliki al-Hasani al-Makki. Sebab. ia akan mendapat dua pahala. yang menjadi alasan bagi Sang Kebenaran untuk menuntun seseorang ke berbagai jalan menuju kepada-Nya. sehingga harus senantiasa dibiarkan membuka diri bagi tinjauan dan pengujian. dari sudut pandangan esoterisnya. Al-Makki mengatakan bahwa dalam berijtihad Nabi selalu benar. dan selalu langsung dikoreksi Tuhan). dan siapa yang . Inilah barangkali letak kebenaran ucapan Karl Mannheim bahwa setiap ideologi (yakni. Sebab. Seluruh ide tentang mendekati (taqarrub) kepada Tuhan mengisyaratkan perlunya manusia berjalan tanpa jemu-jemunya meniti jalan lurus yang sulit itu. Nabi juga sering melakukan ijtihad dengan menggunakan metode analogi atau qiyas. selalu toleran satu sama lain. Sebab. kiranya jelas bahwa taqlid dan ijtihad sama-sama diperlukan dalam masyarakat manapun. sampai ia akhirnya bertemu (liqa. setiap bentuk absolutisme akan membuat suatu sistem pemikiran menjadi tertutup. [23] Akhirnya. Sesuatu dari kreasi manusiawi yang diabsolutkan akan secepat itu pula akan terobsolutkan.H. [20] (Dalam hal ini al-Makki mirip dengan Ibn Taymiyyah yang berpendapat bahwa Nabi bersifat ma'shum hanya dalam tugas menyampaikan (al-balagh) wahyu. dengan mekanisme penerimaan dan penganutan suatu otoritas (taqlid) kekayaan pengalaman kultural manusia. dan ketertutupan itu akan menjadi sumber absolutnya. para Sahabat Nabi dahulu. yang menegaskan bahwa siapa yang berijtihad dan benar. dan saling menghargai pendapat yang ada di kalangan mereka. Hadlrat al-Syaikh K. pemikiran yang dihayati secara ideologis-absolutistik) cenderung untuk selalu bakal ditinggalkan zaman. Tapi. sebagai sama-sama kegiatan manusiawi yang serba terbatas. maka taqlid ataupun ijtihad selalu mengandung persoalan. atau kalaupun salah beliau akan segera mendapat teguran Ilahi melalui wahyu yang suci sehingga kesalahan itu tidak melembaga dan menjadi satu dengan pola hidup orang banyak. Jadi tidak dibenarkan adanya absolutisme di sini. [21] NILAI SEBUAH IJTIHAD Dari uraian di atas. Maka problema yang dihadapkan kepada setiap orang ialah bagaimana ia teguh tanpa menjadi kemutlakan-kemutlakan. jalan itu sebanyak jumlah mereka yang mencarinya dengan sungguh-sungguh. dan ijtihad diperlukan justru untuk mengembangkan dan lebih memperkaya pengalaman itu. maka seperti ditegaskan Ibn Taymiyyah. dan sekaligus berkembang dan kreatif tanpa kehilangan keotentikan dan keabsahan -suatu penitian jalan yang sulit. Jika diluar itu Nabi bisa salah. [22] Dan karena banyaknya jalan menuju Kebenaran itu. meskipun amat jarang. pasti memang hanya usaha yang penuh kesungguhan saja. namun tanpa menjadi satu) dengan Kebenaran. dengan izin dan ridla dari Sang Kebenaran itu sendiri. menjadi kumulatif. namun tidak mustahil. begitu pula para Imam madzhab sendiri. yaitu ijtihad dan mujahadah. Jalan menuju kesana ternyata banyak. Bahkan.selaku Utusan Tuhan yang menerima wahyu parametris.

termasuk sejarah manusia. "Dia (Tuhan)-lah yang menurunkan kepadamu (Muhammad) Kitab Suci. Ini merupakan hal yang amat penting dalam perkembangan dan pertumbuhan. 1964). Berkenaan dengan "pohon" tradisi intelektual Barat cabang filsafat eksistensialisme ini. Karena itu tujuan hidup yang benar hanyalah Allah. [26] Dalam dinamika itu tidak perlu takut salah. sampai kepada Heracleitus dari Ephesus di zaman Yunani kuno.berijtihad dan salah. Dalam literatur klasik Arab. Eclesiastes. "hikmah" memang sering diartikan sebagai wisdom. Micah. hal 1728. Dan memang tidaklah menangkap pesan ini kecuali mereka yang berpengertian. kemudian mereka tidak mendapati dalam diri mereka keberatan terhadap apa yang telah kau putuskan. maka akan (hanya) mencari yang mutasyabih saja dari Kitab Suci itu dengan tujuan menciptakan perpecahan dan mencari-cari maknanya yang tersembunyi (membuat-buat interpretasi). para penganjurnya mengklaim sebagai berakar pada masa lampau yang jauh. Diantara isinya ayat-ayat muhkamat (jamak dari muhkam) yang merupakan induk (ajaran) Kitab Suci itu. dan Zabur dalam Perjanjian Lama. 120-121. sebab semuanya dari Tuhan kami. kita terus bergerak maju secara dinamis. "Tidak. yaitu sama dengan "filsafat" yang memang menyiratkan wisdom. sedangkan kemandekan berarti kematian. h. kemudian Job. (khutbahnya di atas bukit Moria (Zion) -yang kini berdiri Masjid 'Umar atau Qubbat al-Shakhrah dan Masjid al-Aqsha itu) sebagaimana dituturkan dalam Injil Matius 5 dari Perjanjian Baru. al-Nisa 4:65. 1407 H/1986 M). niat baik dan ketulusan hati adalah sumber perlindungan Ilahi dalam usaha kita mengembangkan masyarakat. Syarifat Allah al-Khalidah: Dirasat fi Tarikh Tasyri al-Ahkam wa Madzahib al-Fuqaha al-A'lam (Jeddah: Dar al-Syuruq. Sebab perkembangan dan pertumbuhan adalah tanda vitalitas. melintasi zaman. [24] Dengan berbekal ketulusan. CATATAN 1. Adapun mereka yang dalam hatinya terdapat kecenderungan kurang baik (serong). 2. Hanya Dzat Allah yang kekal abadi. sejak zaman Nabi 'Isa a. The Word of Existentialism: A Critical Reader (Chicago: The University of Chicago Press." 3. demi Tuhanmu. QS. "kami beriman dengan ayat-ayat itu. tapi ia juga benar. ia masih mendapat satu pahala. dan lainnya berupa ayat-ayat mutasyabihat (jamak dari mutasyabih).s. sedangkan seluruh wujud ini berjalan dan terus berubah. ed. Seperti dikatakan 'Umar dalam suratnya di atas. 5. Amos. 'Ali 'Imran 3:7. Dinamika penting tidak saja karena merupakan unsur vitalitas. Al-Sayyid Muhammad ibn Alawi ibn Abbas al-Maliki al-Hasani al-Makki." 4. mereka tidaklah beriman sehingga mereka mengangkatmu sebagai hakim berkenaan dengan hal-hal yang diperselisihkan di antara mereka. karena merupakan Sunnat Allah untuk seluruh ciptaannya. sehingga para filsuf . (lihat Maurice Friedman. dan mereka pasrah sepasrah-pasrahnya. sebab Dia-lah Kebenaran Yang Pertama dan yang Akhir. karena takut salah itu sendiri adanya kesalahan yang paling fatal. Padahal tidak ada yang mengetahui maknanya yang tersembunyi itu kecuali Allah. QS. Ini bisa dipahami dari firman. Sedangkan orang-orang yang mendalam pengetahuannya akan berkata.

catatan 347. 8. 6. (021) 7507174 Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota Please direct any suggestion to Media Team Artikel Yayasan Paramadina Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota IV. 7501983. "Alif Lam Ra. misalnya. A. Ini dengan jelas tercermin. mutasyabih di sini dikontraskan terhadap matsani. dari risalah Ibn Rusyd. 514. The Holy Qur'an (Jeddah: Dar al-Qiblah for Islamic Literature. Ali. TAQLID DAN IJTIHAD (4/4) MASALAH KONTINUITAS DAN KREATIVITAS DALAM MEMAHAMI PESAN AGAMA oleh Nurcholish Madjid 9. Al-Zumar 39:23. Yaitu QS. Fash al-Maqal wa Taqrir ma bain al-Hikmah wa al-Syari'ah min al-Ittishat (Kata Putus dan Kejelasan tentang Hubungan antara Filsafat dan Agama). kemudian dirinci... ide pokoknya atau "Form of Ideas"-nya sama. 1243. yakni dalam mengungkapkan ajaran-ajaran itu) . catatan 4276). (Lihat A. maka sungguh ia telah diberi kebaikan yang banyak. QS. Hud 11:1. yaitu bahwa ajaran al-Qur'an membentuk suatu kesatuan yang utuh. konsisten) namun matsani (berulang-ulang.Yusuf Ali." 7. "Allah telah menurunkan sebaik-baik Firman dalam bentuk sebuah Kitab yang mutasyabih (serasi." Induk Kitab Suci" (Umm al-Kitab). Ayat-ayat muhkam itu disebut sebagai "mother of the Book. tanpa dogmatik dan tertutup.Y. (Patut diketahui bahwa terjemahan al-Qur'an dan tafsir ke dalam Bahasa Inggris oleh A. sedangkan di 3:7 dengan muhkam. Sebab. 123. hal. UA 20-21 Jakarta Selatan Telp.(al-falasifah) juga disebut al-hukama ("orang-orang bijaksana")." A Yusuf Ali mengartikan perkataan mutasyabih di sini berbeda dengan yang ada pada 3:7 di atas. (021) 7501969. Namun. catatan 1493 dan hal. dari sisi Yang Maha Bijaksana dan Maha Teliti. (Inilah) Kitab yang ayat-ayatnya dibuat jelas maknanya (digunakan kata kerja pasif "uhkimat" yang sama artinya dengan kata sifat atau participte pasif "muhkam"). tt). (bersambung 4/4) -------------------------------------------Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah Editor: Budhy Munawar-Rachman Penerbit Yayasan Paramadina Jln.25. Metro Pondok Indah Pondok Indah Plaza I Kav. "Dia (Tuhan) memberi hikmah kepada siapa saja yang dikehendaki-Nya. yakni serasi antara berbagai ajarannya. hal." dan QS. Lihat catatan 2 di atas. al-Baqarah 2: 269. 7507173 Fax. yang manusia sedapat mungkin berusaha keras menangkapnya. Dan barangsiapa diberi hikmah. Yusuf Ali ini dianggap paling standar dan populer dalam .

yaitu Zaid ibn Haritsah. dan engkau takut kepada manusia. ". meniru penempatan Kitab Suci Kristen yang telah lama ada). QS. Firman yang dimaksud berkenaan dengan masalah ini ialah QS. Tidak boleh ada kesulitan pada Nabi berkenaan dengan apa yang telah ditetapkan oleh Allah. dan bertaqwalah kepada Allah. Dan mengapa mereka tidak memperhatikan Sunnah yang terjadi pada orang-orang yang telah lalu? Engkau tidak akan mendapatkan peralihan dalam Sunnat Allah dan engkau tidak akan menemukan perubahan dalam . dan sejak itu bernama lengkap Zaid ibn Muhammad. Al-Qamar 54:49. QS.. "Sesungguhnya Kami (Tuhan) telah menciptakan segala sesuatu dengan (hukum) kepastian (Qadar). Tetapi dengan adanya pembatalan sistem anak angkat yang disamakan dengan anak kandung dan sejak itu bernama lengkap seperti semestinya. yang setelah dimerdekakan diangkat Nabi sebagai anak angkat. 12. dan perintah Allah adalah kepastian yang sepasti-pastinya. 10. Itulan Sunnat Allah kepada mereka yang telah lewat sebelumnya. Al-Furqan 25:2 "Dan Dia (Tuhan) menciptakan segala sesuatu kemudian ditetapkan kepastiannya sepasti-pastinya." Dan QS." Kedua ayat itu. telah lama mempraktekan pengangkatan anak atau apa yang disebut tabanni. Dan perintah Allah haruslah dilaksanakan. yang kemudian juga mendapat restu dan persetujuan Ri'asat Idarat al-Buhuts al-Ilmiyyah wa 'l-Ifta wa 'l-Da'wah wa 'I-Irsyad di Riyadh sebagai badan tertinggi urusan keagamaan Saudi Arabia. Ini adalah "contoh klasik" metode pendekatan al-Qur'an terhadap masalah sosial kemanusiaan yang pelik dan peka. Salah satu edisinya dimaksudkan untuk hotel-hotel internasional. Orang-orang Arab. menegaskan tentang adanya hukum kepastian dari Allah (Qadar) yang menguasai dan mengatur alam raya ciptaan-Nya ini. melainkan Rasul Allah dan Penutup Nabi.. Al-Ahzab 33:37-40. Kami (Tuhan) kawinkan engkau (Muhammad) kepadanya (Zainab). Penyebarannya di seluruh dunia banyak dibiayai oleh Pemerintah Saudi Arabia sejak 1384 H/1965 M dengan sponsor Rabithah Alam Islami yang diketuai Syeik Mohammed Sour as-Sabhan sampai saat ini dengan berbagai cetakan dan edisi. dengan hak hak pada anak angkat itu yang sama dengan anak biologis (alami). "Pertahankanlah untukmu isterimu (Zainab) itu. "Ingatlah ketika engkau berkata kepada seseorang (Zaid) yang telah mendapatkan nikmat dari Allah dan mendapat nikmat (kasih sayang) darimu sendiri. agar tidak ada halangan bagi orang-orang beriman untuk mengawini isteri-isteri anak-anak angkat mereka jika memang mereka (anak-anak angkat) telah membatalkan (perkawinan) dari mereka (isteri-isteri mereka). Allah Maha Mengetahui atas segala sesuatu. Maka setelah Zaid melaksanakan pembatalan (perkawinannya) dengan dia (Zainab) secara pasti (resmi). tidak terkecuali Nabi sendiri. yaitu (Sunnat Allah) kepada mereka yang menyampaikan pesan-pesan Allah. Fathir 36:43. Zaid yang bekas budak (hitam) itu memang seorang pemuda yang saleh dan cerdas. Tetapi engkau menyimpan sesuatu dalam dirimu yang Allah hendak membukanya keluar. dan masih banyak lagi ayat-ayat yang lain. termasuk yang menyangkut masalah kawin dan waris." 11. dan mereka takut kepada-Nya.dunia Islam internasional. padahal Allah-lah yang lebih berhak kau takuti. dan cukuplah Allah sebagai yang membuat perhitungan Muhammad bukanlah ayah seseorang dari kaum lelaki diantara kamu.

yakni hukum-hukum kepastian dari Allah yang menguasai dan mengatur kehidupan manusia dalam sejarah. Lihat pembahasan panjang lebar tentang masalah ini dalam al-Jurjawi (op. 14. pengaruhnya terhadap kesehatan. oleh Ali Ahmad al-Jurjawi yang mencoba melihat hikmah setiap bentuk ibadat serta ajaran dan praktek keagamaan yang lain. Pendekatannya kurang meyakinkan dan berbau apologetik." Firman ini. tetapi cukup mewakili suatu contoh pencarian makna umum ibadat. pada peredaran darahnya. Kita diwajibkan memeriksa dan meneliti kemudian menarik pelajaran daripadanya. cit. menjelaskan tentang adanya Sunnat Allah.Sunnat Allah. Yaitu judul sebuah kitab yang cukup terkenal. yaitu filsafat at-tasyri' (filsafat penetapan hukum syari'at atau agama). bisnis asuransi jiwa. dan masih banyak lagi yang lain. ajaran dan praktek keagamaan itu secara rinci. 269-281. jumlah kematian karena alkoholisme.) hal. serta . yang meliputi pula pembicaraan sekitar pengaruh alkohol kepada peminumnya. tt). 13. alkohol dan pengaruh buruknya terhadap negeri-negeri panas. (Beirut: Dar al-Fikr. Namun isinya masih jauh dari klaim judul buku itu sendiri.

Yang dimaksudkan al-Makki sebagai sesuatu yang diambil 'Umar dari orang-orang kafir ialah idenya membuat Bayt al-Mal dan kalender (Hijrah). ada versi lain berkenaan dengan kejadian yang terabaikan dalam firman ini. kata al-Makki. sedangkan menyiksa binatang seperti itu tidaklah diperbolehkan. 5 jilid (Beirut: Muassasat Sya'ban.a. 274. Ibid. 21. "Pendapat. sehingga. padahal Mariyah adalah isteri Beliau yang sah. Hodgson. Pembahasan tentang ishamat atau ketidak-biasaan .hal. isteri Beliau yang berasal dari Mesir. op. Jadi.cit. Juga. Dari beberapa contoh yang dituturkan al-Makki. semuanya menunjukkan suatu yang dimaksudkan oleh al-Makki sebagai contoh ijtihad Nabi. hal. 48. tt. 19. 15. Nashir al-Din Abi Said 'Abdullah ibn 'Umar ibn Muhammad al-Syirazi al-Baydlawi. 5. Al-Makki op. hal. cit. "Pendapat yang benar ialah kita harus menghalangi mereka (musuh) itu dari air yang vital ini.S. (Lihat. hal.w. 17." Inipun. Marshall G. 1974). 274-275. Hal itu kemudian diketahui oleh Hafshah..) jil. menurut hukum Allah adalah halal. 116.. mempunyai naluri amat kuat untuk bersikap kasih kepada sesama hidup. jil. supaya musuh pun dapat pula memanfaatkannya. masih belum muslim. maka datanglah al-Khabbab ibn al-Mundzir bertanya. hal. yang pada waktu itu. Padahal Nabi s. Al-Makki. mengapa engkau mengharamkan sesuatu yang dihalalkan Allah hanya untuk memperoleh kerelaan (kesenangan hati) isteri-isterimu?!" Para penafsir klasik menuturkan tentang suatu kejadian bahwa Nabi suatu hari tinggal di rumah Mariyah. Lihat catatan 1 di atas. Nabi berijitihad untuk tidak usah menguasai sumber air yang vital. Anwar al Tanzil wa Asrar al-Ta'wil al-ma'ruf bi tafsir al-Baydlawi. termasuk pendekatan analogis. 137).. tentu saja. "Ini dari wahyu atau dari pendapat (ijtihad)?" Nabi menjawab." Yaitu. 121. Hodgson op. salah satu metode ijtihad yang amat penting. karena menghalangi mereka dari air termasuk taktik perang dan menjadi sebab kemenangan. The Venture of Islam.korelasi antara alkohol dan kejahatan. hal. karena Beliau melakukan analogi bahwa menghalangi mereka (musuh) dari memperoleh air yang vital itu sama dengan menghalangi binatang dari air. Al-Tahrim 66:1. lalu Hafshah pun marah kepada Nabi. 16. "Wahai Nabi. salah satunya ialah ijtihad Nabi di waktu menyiapkan Perang Badar. Musuh dalam perang bukanlah orang yang harus dihormati sehingga tidak diperbolehkan dihalangi dari air. Ide itu ditirunya dari orang-orang Persia. 3 jilid (Chicago: The University of Chicago Press. karena murka kepada Aisyah atau Hafshah. demi menyenangkan hati Hafshah (anak 'Umar ibn al-Khattab) Nabi berjanji dan mengharamkan berkumpul dengan Mariyah atas diri Beliau. Sedangkan yang disebut-sebut ijtihad Nabi yang kemudian mendatangkan teguran Ilahi ialah yang terabadikan dalam QS. 3. Versi manapun yang benar. 18. Kemudian al-Khabab membalas. 20. Cit.

Seluruh jagad lahir dan tunduk kepada hukum peralihan dan perubahan fana akan sirna. QS.(infallibility) Nabi oleh Ibn Taymiyyah ini dapat kita jumpai dalam karya besarnya Minhaj al -Sunnat al-Nabawiyyah fi Naqdl Kalam al-Syi'ah wa al-Qadariyvah. 1 di atas dan keterangan yang bersangkutan awal-awal tulisan ini. sebagaimana tereermin dari judulnya. hal. hal. suatu kekuatan kebaikan yang abstrak. namun Dia akan tetap abadi. "Wajah"-Nya atau Diri. "Dan barangsiapa berusaha sungguh-sungguh (mujahadah) di jalan Kami. karena menyadari bahwa Dia-lah satu-satunya hal yang abadi. 244 dan passim. tt).. Yang Lahir dan Yang Batin." A. Pribadi. op. 1. Lihat catatan no. dan itu adalah Tuhan. UA 20-21 Jakarta Selatan Telp. Tiada suatu Tuhan melainkan Dia. Jika berpikir tentang Tuhan yang impersonal. Yusuf Ali memberi komentar yang menarik tentang ayat terakhir Surah 28 ini: "Ini meringkaskan pelajaran seluruh Surah. "Dia (Tuhan)-lah Yang Pertama dan yang Akhir. 4 jilid (Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiyyah. Inilah juga doktrin Advaita dan Shri Shankara dalam jabarannya terhadap Brihadaranyaka Upanishad dalam filsafat Hindu. kita tidak dapat menggabungkannya dengan Pribadi atau Wujud yang vital. yang tentang Dia itu kita hanya mampu menangkap gaung samar-samar atau cerminan dalam momen yang paling intens dalam luapan spiritual. karya ini ditulis sebagai polemihya dengan golongan Syi'ah. Perlu diketahui. Lihat. Jadi kita tahu bahwa apa yang kita sebut diri kita sendiri tidaklah punya makna. 130. dan al-Makki." 23. 22. al-Ankabut 29:69. dan Dia Maha mengetahui atas segala sesuatu. atau Wujud-Nya itulah yang harus kita cari. 7507173 Fax. "Janganlah menyeru bersama Allah (Tuhan Yang Maha Esa) suatu Tuhan yang lain. cit. Segala sesutu binasa kecuali Wajah-Nya. Muh. 25. Ikhtilaf al-Ummah fi al-Ibadat. (021) 7507174 Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota Please direct any suggestion to Media Team ." -------------------------------------------Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah Editor: Budhy Munawar-Rachman Penerbit Yayasan Paramadina Jln. QS.. Kenyataan satu-satunya ialah Tuhan. jil. 7501983. Hasyim Asy'ari. yang tentang hal itu kita bisa mempunyai berbagai pengertian.H. Lihat juga QS. maka pastilah akan Kami tunjukkan kepada mereka berbagai jalan (subul) Kami. 24. Metro Pondok Indah Pondok Indah Plaza I Kav. (021) 7501969. sebab hanya ada satu Diri yang benar. Al-Qashash 28:88. Ibn Taymiyyah. Al-Hadid 57:3. Baginyalah ketentuan hukum. K. dan kepadanyalah kamu semua akan dikembalikan. al-Tanbihat.

" Dalam kaitan pengertan ijtihad menurut istilah. 1.24. Dalam tulisan ini saya hanya akan bicara tentang beberapa aspek ijtihad dan taqlid yang dipandang penting. Pengertian ijtihad menurut bahasa ini ada relevansinya dengan pengertian ijtihad menurut istilah. baik yang terdekat itu diperoleh dari nash -yang terkenal dengan qiyas (ma'qul nash). Ibrahim Hosen 1. Dan di sisi lain ada pengertian ijthad yang telah digunakan para sahabat Nabi. Sekedar mengikuti kelaziman. dimana dalam buku-buku Ushul Fiqh. 3. PENGERTIAN IJTIHAD Menurut bahasa. IJTIHAD Tulisan ini akan mendahulukan masalah ijtihad. ijtihad berarti "pengerahan segala kemampuan untuk mengerjakan sesuatu yang sulit. baru kemudian menyoroti masalah taqlid. Dalam tulisan ini hanya akan diungkapkan pengertian ijtihad menurut rumusan ushuliyyin dari kelompok mayoritas. Mereka memberikan batasan bahwa ijtihad adalah "penelitian dan pemikiran untuk mendapatkan sesuatu yang terdekat pada Kitab-u 'l-Lah dan Sunnah Rasul.yang terkenal dengan "mashlahat. 2.yang mengemukakan rumusan definisi. Taqlid tidak akan ada tanpa ijtihad. Minimal ada tiga alasan kenapa lebih mendahulukan ijtihad daripada taqlid." Atas dasar ini maka tidak tepat apabila kata "ijtihad" dipergunakan untuk melakukan sesuatu yang mudah/ringan. disamping banyaknya buku yang mengupas masalah tersebut yang mudah kita temukan. Persoalan taqlid akan lebih mudah dipahami jika seseorang telah memahami persoalan ijtihad. Dengan demikian seseorang hanya dibenarkan bertaqlid kepada mujtahid yang mu'tabar. masalah ijtihad selalu lebih dahulu dibicarakan sebelum masalah taqlid.Artikel Yayasan Paramadina Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota IV. atau yang terdekat itu diperoleh dari maksud dan tujuan umum dari hikmah syari'ah. ada dua kelompok ahli ushul flqh (ushuliyyin) -kelompok mayoritas dan kelompok minoritas. mengingat kedua masalah itu amat sering diperbincangkan. Menurut mereka. ijtihad adalah pengerahan segenap . dimana untuk melakukannya diperlukan beberapa persyaratan yang karenanya tidak mungkin pekerjaan itu (ijtihad) dilakukan sembarang orang. TAQLID DAN IJTIHAD (1/4) Beberapa Pengertian Dasar Oleh KH.

Lantaran itulah Jumhur 'ulama' telah bersepakat bahwa ijtihad hanya berlaku di bidang hukum (hukum Islam) dengan ketentuan-ketentuan tertentu. 3. MEDAN IJTIHAD Di atas telah ditegaskan bahwa ijtihad hanya berlaku di bidang hukum. salah seorang tokoh mu'tazilah. "yang dimaksud ijtihad adalah bila dimutlakkan maka ijtihad itu bidang hukum fiqih/hukum furu'. Masalah-masalah baru yang hukumnya belum diijma'i oleh ulama atau aimamatu 'l-mujtahidin. Atas dasar itu ada kekeliruan pendapat sementara pihak yang mengatakan bahwa ijtihad juga berlaku di bidang aqidah. Pendapat ini bukan saja menunjukkan inkonsistensi terhadap suatu disiplin ilmu (ushul fiqh). yaitu hukum Islam yang berhubungan dengan tingkah laku dan perbuatan orang-orang dewasa. tetapi juga akan membawa konsekuensi pembenaran terhadap aqidah non Islam yang dlalal.kesanggupan dari seorang ahli fxqih atau mujtahid untuk memperoleh pengertian tingkat dhann terhadap sesuatu hukum syara' (hukum Islam). Lalu. serta perbedaan yang terjadi sebagai akibat ijtihad ditolerir. Status hukum syar'i yang dihasilkan oleh ijtihad adalah dhanni. Lapangan atau medan dimana ijtihad dapat memainkan peranannya adalah: 1. Jadi apabila kita konsisten dengan definisi ijtihad diatas maka dapat kita tegaskan bahwa ijtihad sepanjang pengertian istilah hanyalah monopoli dunia hukum. bukan hukum i'tiqadi atau hukum khuluqi. Dalam hubungan ini komentator Jam'u 'l-Jawami' (Jalaluddin al-Mahally) menegaskan. bukan yang lain. Yang ingin dicapai oleh ijtihad adalah hukum syar'i. dan akan membawa rahmat manakala ijtihad dilakukan oleh yang memenuhi persyaratan dan dilakukan di medannya (majalul ijtihad). hukum Islam yang mana saja yang mungkin untuk di-ijtihad-i? Adakah hal itu berlaku di dunia hukum (hukum Islam) secara mutlak? Ulama telah bersepakat bahwa ijtihad dibenarkan. hal. Dia mengatakan bahwa ijtihad juga berlaku di bidang aqidah. 379). 4. (Jam'u 'l-Jawami'. Pendapat yang nyeleneh atau syadz ini dipelopori al-Jahidh. Juz II. 2. 2. Pelaku utihad adalah seorang ahli fiqih/hukum Islam (faqih). 3. Dari definisi tersebut sebagai berikut: dapat ditarik beberapa kesimpulan 1. Nash-nash Dhanny dan dalil-dalil hukum yang diperselisihkan. Masalah-masalah baru yang hukumnya belum ditegaskan oleh nash al-Qur'an atau Sunnah secara jelas. Hukum Islam yang ma'qulu 'l-ma'na/ta'aqquly (kausalitas .

dan ia berijtihad. "Tidak berlaku ijtihad pada masalah-masalah hukum yang ditentukan berdasarkan nash yang status dalalah-nya qath'i dan tegas. Hal ini sejalan dengan kaidah. 7501983. (021) 7501969. kemudian ijtihadnya benar. Jadi. demikian juga ijtihad akan gugur dengan sendirinya apabila hasil ijtihad itu berlawanan dengan nash. Hukum Islam yang telah diijma'i ulama. (bersambung 2/4) -------------------------------------------Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah Editor: Budhy Munawar-Rachman Penerbit Yayasan Paramadina Jln. 2.hukumnya/'illat-nya dapat diketahui mujtahid)." PERBEDAAN YANG DITOLERIR Ijtihad dilegalisasi bahkan sangat dianjurkan oleh Islam. maka ia memperoleh dua pahala (pahala ijtihad dan pahala kebenarannya)." (Riwayat Bukhari Muslim)." Bila kita telaah. kalau kita akan melakukan reaktualisasi hukum Islam. Islam bukan saja memberi legalitas ijtihad. Hukum Islam yang bersifat ta'abbudy/ghairu ma'quli 'lma'na (yang kausalitas hukumnya/'illat-nya tidak dapat dicerna dan diketahui mujtahid). maka ia mendapat satu pahala (pahala ijtihadnya). Jika hakim akan memutuskan perkara. 3. 7507173 . Hal ini antara lain diketahui dari Hadits Nabi yang artinya. kaidah itulah yang menghambat aspirasi sementara kalangan yang hendak merombak hukum-hukum Islam qath'i seperti hukum kewarisan al-Qur'an. Metro Pondok Indah Pondok Indah Plaza I Kav. "Apabila seorang hakim akan memutuskan perkara. Hukum Islam yang telah ditegaskan nash al-Qur'an atau Sunnah yang statusnya qath'iy (ahkamun manshushah). UA 20-21 Jakarta Selatan Telp. "Tidak ada ijtihad dalam melawan nash. Sebaliknya ulama telah bersepakat berlaku atau tidak dibenarkan pada: bahwa ijtihad tidak 1. kemudian hasil ijtihadnya salah. akan tetapi juga mentolerir adanya perbedaan pendapat sebagai hasil ijtihad. Disamping ijtihad tidak berlaku atau tidak mungkin dilakukan pada ketiga macam hukum Islam di atas. lalu ia melakukan ijtihad." Atas dasar itu maka muncullah ketentuan. Banyak ayat al-Qur'an dan Hadits Nabi yang menyinggung masalah ini. disinilah seharusnya kita melakukan terobosan-terobosan baru. Apabila ini yang kita lakukan dan kita memang telah memenuhi persyaratannya maka pantaslah kita dianggap sebagai mujtahid di abad modern ini yang akan didukung semua pihak. yang dalam istilah ushul fiqih dikenal dengan syari'ah atau "ma'ulima min al-din bi al-dlarurah.

sehingga kita akan sanggup menjadikan perbedaan pendapat tersebut sebagai rahmat yang memporak-porandakan persatuan umat Islam." Hal ini sejalan dengan status fiqih sebagai produk ijtihad yang statusnya dhanny." (Abu Nashar Al-Muqaddasi). Ini jelas tidak dapat dibenarkan. tidak dapat begitu saja dilenyapkan oleh ijtihad yang lain. Apabila benar bahwa semua agama itu sama tentu tidak ada kewajiban berda'wah. "Perbedaan pendapat di kalangan ulama akan membawa rahmat." Betapapun lemahnya suatu ijtihad. tetapi mengandung kemungkinan benar. ia tetap eksis. sehingga muncullah ucapan mereka yang sangat populer. Demikian juga al-Qur'an tidak perlu diturunkan. Hanya saja. Perbedaan pendapat dalam hukum Islam sebagai hasil ijtihad inilah yang ditegaskan Nabi akan membawa rahmat (kelapangan bagi umat) sebagaimana diketahui ditegaskan dalam sebuah hadits. Prinsip ini dipegang teguh oleh para imam mujtahid.24. TAQLID DAN IJTIHAD (2/4) Beberapa Pengertian Dasar Oleh KH. Oleh sebab itu maka ijtihad yang satu tidak dapat membatalkan ijtihad yang lain. ia benar tetapi mengandung kemungkinan salah. sejalan dengan kaidah. yang artinya kebenarannya tidak bersifat absolut. (021) 7507174 Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota Please direct any suggestion to Media Team Artikel Yayasan Paramadina Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota IV.Fax. tetapi mengandung kemungkinan salah. dan pendapat selain kami salah. Yang dimaksud dengan perbedaan di sini adalah perbedaan pendapat dalam hukum Islam ijtihady. jihad dan sebagainya. akan tetapi juga menunjukkan kepada kita bahwa adanya perbedaan pendapat sebagai hasil ijtihad ditolerir. amar ma'ruf nahi munkar. Ibrahim Hosen Hadits di atas bukan saja memberi legalitas ijtihad. "Pendapat kami benar. . IJTIHAD TIDAK DAPAT DIGUGURKAN DENGAN IJTIHAD Di atas telah disinggung bahwa hukum yang dihasilkan oleh ijtihad statusnya dhanny. "Ijtihad yang satu tidak dapat digugurkan oleh ijtihad yang lain. betapapun kuat dalilnya. ia salah tetapi mengandung kemungkinan benar. yakni fiqih. menurut mujtahid. Apabila hal ini dapat kita pegangi secara konsisten maka jiwa tasammuh dalam menanggapi aneka ragam pendapat di bidang fiqih sebagai akibat perbedaan dalam berijtihad akan tetap dapat ditumbuhkan. porsi kebenarannya lebih dominan/rajih. Inilah yang ingin saya tegaskan dalam kesempatan ini mengingat adanya sementara pihak yang menggunakan hadits marfu' untuk membenarkan adanya perbedaan pendapat di bidang aqidah yang akan bermuara pada paham "pluralisme agama" -semua agama sama atau benar.

4. agar ia mampu melakukan istinbath hukum secara tepat. Seseorang yang ingin mendudukkan dirinya sebagai mujtahid harus memenuhi beberapa persyaratan. 7. Menguasai bahasa Arab secara mendalam. 6. Memiliki ilmu pengetahuan yang luas tentang ayat-ayat al-Qur'an yang berhubungan dengan masalah hukum. sehingga muncullah ucapan mereka yang sangat populer. Di antara sekian persyaratan itu yang terpenting ialah: 1. dengan pengertian ia mampu membahas ayat-ayat tersebut untuk menggali hukum. "Pendapat kami benar. apakah Hadits itu dapat diterima ataukah tidak. Mengetahui ilmu logika/mantiq agar ia dapat menghasilkan deduksi yang benar dalam menyatakan suatu pertimbangan hukum dan sanggup mempertahankannya. 3. . Tanpa mengetahui sejarah perawi Hadits. 2. Hal itu agar ia tidak mempergunakan ayat al-Qur'an atau Hadits Nabi yang telah dinasakh (mansukh) untuk menggali hukum." SYARAT-SYARAT IJTIHAD. tapi mengandung kemungkinan salah. tidak mungkin kita akan melakukan ta'dil tajrih (screening). 9. Sebab al-Qur'an dan Sunnah sebagai sumber asasi hukum Islam tersusun dalam bahasa Arab yang sangat tinggi gaya bahasanya dan cukup unik dan ini merupakan kemu'jizatan al-Qur'an. Mengetahui sejarah para periwayat hadits. agar dengan kaidah-kaidah ini ia mampu mengolah dan menganalisa dalil-dalil hukum untuk menghasilkan hukum suatu permasalahan yang akan diketahuinya. dengan arti ia sanggup untuk membahas hadits-hadits tersebut untuk menggali hukum. 10. Menguasai seluruh masalah yang hukumnya telah ditunjukkan oleh ijma' agar ia tidak berijtihad yang hasilnya bertentangan dengan ijma'. Mengetahui latar belakang turunnya ayat (asbab-u 'l-nuzul) dan latar belakang suatu Hadits (asbab-u 'l-wurud). Menguasai kaidah-kaidah istinbath hukum/ushul fiqh. Mengetahui secara mendalam tentang masalah qiyas dan dapat mempergunakannya untuk menggali hukum.Prinsip tasammuh sebagai manifestasi dari status fiqih yang bersifat dhanny tersebut dipegang teguh oleh para Imam Mujtahid. tetapi mengandung kemungkinan benar. Berilmu pengetahuan yang luas tentang hadits-hadits Rasul yang berhubungan dengan masalah hukum. 8. 5. supaya ia dapat menilai sesuatu Hadist. Mengetahui secara mendalam tentang nasikh-mansukh dalam al-Qur'an dan Hadits. dan pendapat selain kami salah. Sebab untuk menentukan derajad/nilai suatu Hadits sangat tergantung dengan ihwal perawi yang lazim disebut dengan istilah sanad Hadits.

MACAM-MACAM TINGKATAN IJTIHAD. Ijtihad kategori ini tidak termasuk ketentuan ijtihad menurut ketentuan ushul fiqih. yaitu ijtihad yang dilakukan dengan cara menciptakan sendiri norma-norma dan kaidah istinbath yang dipergunakan sebagai sistem/metode bagi seorang mujtahid dalam menggali hukum. Sebagian ulama menilai bahwa Abu Yusuf termasuk kelompok pertama/mujtahid muthalaq/mustaqil. BENARKAH PINTU IJTIHAD SUDAH DIKUNCI? Para ahli fiqih telah sepakat bahwa ijtihad dengan pengertian penyesuaian suatu perkara dengan sesuatu hukum yang sudah ada tetap terbuka. yaitu: 1. Oleh karena itu mereka menjadikannya satu tingkatan. Ijtihad mereka hanya berkisar pada masalah-masalah yang memang belum diijtihadi imamnya. Contohnya. demikian juga mengenai hukum furu'/fiqih yang telah dihasilkan imamnya. Sebagian ulama berpendapat bahwa pintu ijtihad telah tertutup. Ijtihad terdiri dari bermacam-macam tingkatan. Ijtihad di bidang tarjih. Pada prinsipnya mereka mengikuti norma-norma/kaidah-kaidah istinbath imamnya. Perbedaan pendapat terjadi pada ijtihad menurut definisi ushul fiqih. Sebagian ulama mengatakan bahwa antara kelompok ketiga dan keempat ini sedikit sekali perbedaannya. mereka memakai sistem atau metode yang telah dirumuskan imamnya. Dalam mazhab Syafi'i. sehingga sangat sulit untuk dibedakan. 4. mana yang shahih dan mana yang lemah. 2. yaitu ijtihad yang dilakukan dengan cara mentarjih dari beberapa pendapat yang ada baik dalam satu lingkungan madzhab tertentu maupun dari berbagai mazhab yang ada dengan memilih mana diantara pendapat itu yang paling kuat dalilnya atau mana yang paling sesuai dengan kemaslahatan sesuai dengan tuntunan zaman. yaitu ijtihad yang dilakukan seorang mujtahid dalam lingkungan madzhab tertentu. Norma-norma dan kaidah itu dapat diubahnya sendiri manakala dipandang perlu. men-takhrij-kan pendapat imamnya dan menyeleksi beberapa pendapat yang dinukil dari imamnya. Ijtihad mazhab atau fatwa yang pelakunya disebut mujtahid mazhab/fatwa. Ijtihad Muntasib. yaitu ijtihad yang dilakukan seorang mujtahid dengan mempergunakan norma-norma dan kaidah-kaidah istinbath imamnya (mujtahid muthlaq/Mustaqil). Dari madzhab Hanafi seperti Muhammad bin Hasan dan Abu Yusuf. Gema ini digelorakan oleh ulama-ulama mutakhirin pada awal abad ke-IV Hijriah setelah dunia Islam diliputi kabut ta'ashub madzhab serta banyaknya man laisa . hal itu bisa kita lihat pada Imam Nawawi dan Imam Rafi'i. Mereka hanya berhak menafsirkan apa yang dimaksud dari norma-norma dan kaidah-kaidah tersebut. Ijtihad Muthlaq/Mustaqil. tidak menciptakan sendiri. Contohnya seperti Imam Ghazali dan Juwaini dari madzhab Syafi'i. Imam Syafi'i dan Imam Ahmad yang terkenal dengan sebutan Mazhab Empat. 3. dari mazhab Syafi'i seperti Muzany dan Buwaithy. Imam Malik. Jadi untuk menggali hukum dari sumbernya. Mujtahid dari tingkatan ini contohnya seperti Imam Hanafi.

Karena itu kita tidak perlu melakukan ijtihad lagi. mereka berpendapat bahwa pintu ijtihad tetap terbuka. Sebagian ulama yang lain berpendapat bahwa pintu ijtihad tetap terbuka dan dapat dimasuki oleh siapa saja yang memiliki kuncinya (memenuhi persyaratan). Dengan membuka pintu ijtihad maka setiap permasalahan baru yang dihadapi umat. b. Kini. 3. juga hasilnya akan berkisar: a. yang kemudian di Mesir digalakkan oleh Syekh Al-Maraghy. 2. yang berarti ijtihad yang dilakukan itu hanyalah tahsil al-hasil . munakahah. yang kebolehannya masih diperselisihkan kaum ushuliyyin. Golongan yang memandang bahwa ijtihad adalah sumber hukum. sehingga Islam akan ketinggalan zaman. yang biasa kita kenal dengan istilah talfiq. Oleh karena itu tiap-tiap yang menganut madzhab Ahl al-Sunnah harus memilih salah-satu dari Madzhab Empat. Menutup pintu ijtihad berarti menutup kesempatan ulama Islam untuk menciptakan pemikiran-pemikiran yang baik dalam memanfaatkan dan menggali sumber atau dalil hukum Islam 3. Pendapat ini antara lain diproklamirkan Imam al-Syaukani pada pertengahan abad ke-XIII Hijriah. akan dapat diketahui hukumnya. mu'amalah.lahu ahlu 'l-Ijtihad (mujtahid karbitan) yang tampil mengaku sebagai mujtahid. 2. akan banyak kasus baru yang hukumnya belum dijelaskan oleh al-Qur'an dan Sunnah serta belum dibahas oleh ulama-ulama terdahulu. Golongan yang berpendapat bahwa pintu ijtihad telah tertutup antara lain beralasan: 1. yaitu: 1. Rektor Universitas Al-Azhar pada waktu itu. Sedangkan golongan yang memandang bahwa ijtihad adalah kegiatan/pekerjaan mujtahid. Menutup pintu ijtihad berarti menjadikan hukum Islam yang semestinya lincah dan dinamis menjadi kaku dan beku. tidak dapat diketahui bagaimana status hukumnya. Sebab. yaitu sejak wafatnya imam-imam mujtahid kenamaan. Mungkin berupa hukum yang telah dikeluarkan oleh salah satu Madzhab Empat. jinayah dan lain sebagainya seluruhnya sudah lengkap dan dibukukan secara terperinci dan rapi. kita perlu mengetahui argumentasi dari golongan yang berpendapat bahwa pintu ijtihad masih tetap terbuka. Hukum Islam baik dalam bidang 'ibadah. Mungkin berupa hukum yang terdiri dari koleksi pendapat antara dua madzhab atau lebih. Dengan demikian maka hukum Islam akan selalu berkembang dan tumbuh subur serta sanggup menjawab tantangan zaman. mereka berpendapat bahwa pintu ijtihad telah tertutup. Membuka pintu ijtihad selain hal itu percuma dan membuang-buang waktu. Mayoritas Ahl al-Sunnah hanya mengakui Madzhab Empat. Ia harus terikat tidak boleh pindah madzhab.

Mungkin berupa hukum yang tidak seorangpun ulama Islam membenarkannya. dan bahwa berijtihad untuk mengambil hukum dari al-Qur'an dan Sunnah dibenarkan manakala ijtihad itu dilakukan pada tempatnya. Metro Pondok Indah Pondok Indah Plaza I Kav. sebagai berikut: "Mu'tamar mengambil keputusan bahwa al-Qur'an dan Sunnah Rasul merupakan sumber pokok hukum Islam. Hal ini menunjukkan bahwa untuk memenuhi syarat-syarat ijtihad yang telah ditentukan itu memang sangat sulit kalau tidak dikatakan tidak mungkin lagi untuk saat seperti sekarang ini. Jika tidak terdapat suatu hukum yang memuaskan dengan jalan tersebut. UA 20-21 Jakarta Selatan Telp." Dari Keputusan Lembaga Penelitian Islam al-Azhar tersebut . selain Mazhab Empat tidaklah dianggap.24. d. dan bahwa jalan untuk memelihara kemaslahatan dan untuk menghadapi peristiwa-peristiwa yang selalu timbul. TAQLID DAN IJTIHAD (3/4) Beberapa Pengertian Dasar Oleh KH. maka berlakulah ijtihad bersama (kolektif) berdasarkan madzhab. 4. 7501983. menurut mayoritas ulama Ahl al-Sunnah. hendaklah dipilih di antara hukum-hukum fiqih pada tiap-tiap mazhab suatu hukum yang memuaskan. Padahal.c. (bersambung 3/4) -------------------------------------------Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah Editor: Budhy Munawar-Rachman Penerbit Yayasan Paramadina Jln. Lembaga penelitian akan mengatur usaha-usaha untuk mencapai ijtihad bersama baik secara mazhab maupun secara mutlaq untuk dapat dipergunakan dimana perlu. Realitas sejarah menunjukkan bahwa sejak awal abad ke-IV Hijriah sampai detik ini tak seorangpun ulama berani menonjolkan diri atau ditonjolkan oleh pengikut-pengikutnya sebagai seorang mujtahid muthlaq/mustaqil. Ibrahim Hosen Sebelum saya mengambil kesimpulan dengan mempertemukan kedua pendapat yang saling berbeda itu marilah kita ikuti hasil keputusan Lembaga Penelitian Islam al-Azhar Cairo yang bersidang pada bulan Maret 1964 M. Mungkin berupa hukum yang sesuai dengan salah satu mazhab di luar Mazhab Empat. (021) 7507174 Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota Please direct any suggestion to Media Team Artikel Yayasan Paramadina Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota IV. Hal semacam ini pada hakikatnya menentang ijma'. dan jika tidak memuaskan maka berlakulah ijtihad bersama secara mutlaq. (021) 7501969. 7507173 Fax.

Ijtihad mutlaq secara perorangan.dapat diambil kesimpulan bahwa: 1. Dan harus kita sadari bahwa pintu ijtihad masih tetap terbuka dalam bidang-bidang tertentu tersebut adalah bagi yang memenuhi syarat. Ijtihad muthlaq secara perorangan (ijtihad muthlaq fardy). Ijtihad muthlaq apabila dilakukan secara kolektif (ijtihad muthlaq jama'iy). Ijtihad muthlaq secara kolektif. Menurut saya. Ijtihad di bidang tarjih baik secara perorangan (ijtihad fardy) maupun secara kolektif (ijtihad Jama'iy). Ijtihad dibenarkan apabila dilakukan di tempat-tempat dimana ijtihad boleh dilakukan. karena keputusan itu telah mempertemukan antara dua pendapat yang saling berbeda. c. Poin kedua tidak berlaku untuk: a. Bagi yang tidak. b. Ijtihad madzhab secara perorangan (ijtihad madzhab fardy). tentunya tertutup kemungkinan untuk membuka pintu ijtihad dengan segala macam bentuknya. Ijtihad madzhab secara perorangan. 4. Ijtihad di bidang tarjih baik bagi perorangan maupun kelompok secara kolektif. 2. pendapat yang mengatakan bahwa pintu ijtihad masih tetap terbuka haruslah diartikan untuk: 1. Keputusan Lembaga Penelitian Islam al-Azhar tersebut sangat bijaksana. Ijtihad di bidang tarjih baik secara perorangan maupun pintu ijtihad . Jadi tidak tepat. mengingat sangat jarangnya faqih/ulama ahli hukum seperti saat sekarang ini. 3. maka yang masih benar-benar dapat dilakukan adalah: 1. Dan sebaliknya. c. kalau secara mutlaq/tanpa batasan kita mengatakan bahwa pintu ijtihad telah tertutup. Ijtihad di bidang madzhab apabila dilakukan secara kolektif (ijtihad madzhab jama'iy). 2. Demikian juga pendapat yang mengatakan bahwa telah tertutup haruslah kita artikan untuk: 1. Pintu ijtihad masih tetap terbuka bagi yang memenuhi persyaratan. Ijtihad madzhab secara kolektif 3. Dengan demikian. tidak tepat kalau kita mengatakan secara mutlaq/tanpa batasan bahwa pintu ijtihad masih tetap terbuka. 2. Butir pertama hanya berlaku untuk: a.

Sebagai contoh untuk . mengingat kecerdasan. memahami dan menggali hukum Islam dari sumber atau dalilnya secara langsung. memahami dan menggali hukum Islam yang harus diamalkannya secara langsung dari dalil atau sumbernya. sekalipun imannya sah. Mentaklif atau mewajibkan seluruh umat manusia untuk meraih rutbatu 'l-ijtihad jelas tidak mungkin. sebab bisa berakibat fatal. sayangnya belum banyak dipublikasikan. Mereka itulah para mujtahid dengan segala macam tingkatannya. alhamdulillah.secara kolektif. hal itu juga akan membawa akibat terbengkalainya urusan-urusan duniawi/kehidupan yang lain. Ini jelas tidak rasionil. yaitu harus mengetahuinya melalui mujtahid. daya tangkap dan ilmu yang dimiliki seseorang bagaimanapun tidaklah sama. Memang harus kita sadari bahwa taqlid bukanlah merupakan sistem atau metode keilmuan yang baik yang digunakan seseorang untuk memperoleh ilmu. Bagi mereka yang memenuhi persyaratan ijtihad sebagaimana telah disebutkan di atas. mengingat tingkatan manusia yang berbeda-beda. Kelompok kedua. Hal ini dapat dilakukan secara perorangan maupun secara kolektif. Kelompok pertama sudah banyak dilakukan oleh Muhammadiyah dengan Majelis Tarjihnya. La taklifa fawqa 'l-istitha'a -manusia tidak akan ditaklif untuk melakukan sesuatu yang tidak mungkin dilaksanakan/diluar kemampuannya. Pesan saya dalam menutup uraian tentang ijtihad ini. Bagi mereka yang tidak memiliki persyaratan ijtihad. Untuk mengetahui hukum Islam yang akan diamalkannya. Kaidah Agama yang mengatakan. Ijtihad untuk kasus-kasus tertentu yang memang belum pernah dibahas oleh aimmat al-mujtahidin terdahulu. Disamping tidak logis dan tidak realistis. Secara faktual. 2. Oleh karena itu jumhur ulama telah mencapai konsensus bahwa taqlid tidak dapat dijadikan dasar atau metode keilmuan di bidang aqidah. karena waktu dan segala konsentrasi umat manusia hanya tercurah kearah ijtihad. TAQLID Tidak semua orang sanggup memahami hukum Islam secara langsung dari dalil atau sumbernya. MUI dengan Komisi Fatwanya. eksistensi taqlid memang tidak mungkin dihindarkan. janganlah sok berijtihad. sudah banyak dilakukan oleh Komisi Fatwa MUI. Milikilah persyaratan dan berijtihadlah di tempat-tempat yang dibenarkan untuk melakukan ijtihad sesuai dengan ketentuan yang berlaku. tentu tidak akan sanggup mengetahui. Sebab. Dari sinilah muncul persoalan taqlid. yang khusus untuk mencapai hukum furu'/fiqih dikenal dengan ijtihad. kalau memang bukan faqih yang menguasai kaidah-kaidah istinbath. sistem dan metode yang baik yang seharusnya kita jadikan washilah/sarana mencapai atau memperoleh ilmu adalah nadhar. yakni mengetahui. Sedangkan penelitian. NU dengan Syuriyah dan Bahstul Matsailnya. pengkajian dan penelaahan secara mendalam. mereka akan sanggup melakukan hal tersebut. tentu mereka harus lewat perantara. 2. Karena itu pula pelaku taqlid berdosa.

Lantaran itulah maka taqlid di bidang hukum dibenarkan. sehingga muncullah rasa ta'ashub madzhab/fanatik madzhab yang kadang sampai berlebih-lebihan." Mengenai taqlid di bidang hukum Islam. Seseorang yang telah bertaqlid dengan seorang mujtahid/imam. Dalam praktek memang demikian. melainkan orang-orang yang hidup mewah di negeri itu berkata. Sedangkan dalam masalah hukum ada yang bersifat qathi'iy dan ada yang bersifat dhanny. Syukurlah setelah gelap kini terangpun datang. niscaya pen-taklid-an itu justru tidak jalan. Kalaulah dalam masalah hukum ini semuanya harus berdasarkan dalil qath'iy. Taqlid di bidang hukum inilah yang kita maksud dan yang akan kita bicarakan dalam tulisan ini. yang artinya sbb: "Dan demikianlah. Disinilah antara lain perbedaan ajaran Islam yang berhubungan dengan masalah aqidah/keimanan dengan ajaran Islam yang berhubungan dengan masalah hukum. dan kini telah mulai memancar sinar itu ke ufuk penjuru dunia Islam termasuk Negeri Pancasila tercinta ini. sehingga umat Islam menjadi jumud dan Islam ketinggalan zaman. tanpa disadari oleh kambing yang bersangkutan. khususnya fiqih. Taqlid di bidang aqidah inilah yang antara lain dicela al-Qur'an sebagaimana yang ditegaskan dalam QS. untuk kemudian pindah ke pendapat selain imamnya/mujtahid yang diikuti. Kami tidak mengutus sebelum kamu seorang Nabi/Rasul yang memberi peringatan pada suatu negeri. Apabila hal itu diketahui lewat taqlid. Analisa bahasa ini menunjukkan kepada kita seolah-olah seseorang yang telah bertaqlid kepada seorang mujtahid/imam telah memberi identitas diri dengan sebuah kalung di lehernya dan ia telah mengikat dirinya dengan pendapat mujtahid/imam tersebut. meski imannya dianggap sah. Bahkan sebagian besar hukum taklifi dasarnya dhann. "Sesungguhnya kami mendapati bapak-bapak (leluhur) kami menganut suatu agama dan sesungguhnya kami adalah pengikut jejak-jejak mereka. ia berdosa. atau seperti kambing yang lehernya telah diikat dengan tali atau tambang yang dapat ditarik ke mana saja. PENGERTIAN TAQLID Menurut bahasa. Dalam bidang aqidah/keimanan. agama membenarkan. Oleh karena itu ulama telah sepakat bahwa penetapan aqidah haruslah berdasarkan nash qath'iy al-dalalah yang tidak mengandung pen-takwil-an. al-Zuhruf Ayat 23.mengetahui bahwa Allah itu ada maka harus ditempuh lewat nadhar. taqlid -bentuk masdar dari kata qallada berarti kalung yang dipakai/dikalungkan ke leher orang lain. Hal ini antara lain berkat digalakkannya studi fiqh perbandingan dan ushul fiqih perbandingan di . dimana lehernya diberi kalung sebagai tanda. mengingat bahwa dalam masalah hukum taklifi seseorang dibenarkan melakukan sesuatu berdasarkan dhann-nya. semuanya bersifat qath'iy atau pasti benarnya. ia tidak akan begitu mudah melepaskan diri dari ikatan itu. Hanya saja tentunya kita jangan cukup puas mendudukkan diri kita pada kursi taqlid ini. atau seperti binatang yang akan dijadikan dam. Hal inilah yang pernah melanda umat Islam termasuk umat Islam di Indonesia sampai berpuluh-puluh tahun lamanya.

perguruan-perguruan tinggi Islam. Demukian menurut al-Syaukany dalam Irsyad al-Fukhul. Menurut hemat saya yang ada hanyalah ijtihad dan taqlid. (021) 7507174 Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota Please direct any suggestion to Media Team Artikel Yayasan Paramadina Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota . yaitu sama-sama mengikuti pendapat orang lain. sedangkan ittiba' adalah beramal atau mengamalkan pendapat orang lain dengan mengetahui dalilnya. Sesuai dengan pengertian taqlid di atas maka beberapa hal seperti di bawah ini tidaklah termasuk kategori taqlid. Taqlid ialah beramal berdasarkan pendapat orang lain yang pendapatnya itu tidak merupakan salah satu dalil yang dibenarkan. (021) 7501969. UA 20-21 Jakarta Selatan Telp. Seorang hakim yang memutuskan perkara berdasarkan kesaksian saksi yang adil. Demikian menurut al-Kamal Ibn al-Hammam dalam al-Tahrir. 7507173 Fax. (bersambung 4/4) -------------------------------------------Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah Editor: Budhy Munawar-Rachman Penerbit Yayasan Paramadina Jln. harus terus kita kembangkan. Jadi Ittiba' itu sendiri termasuk kategori taqlid. Sebagian ulama ada yang berpendapat bahwa beramal atau mengamalkan pendapat orang lain dengan mengetahui dalilnya adalah ijtihad. Menerima pendapat orang lain dalam kondisi anda tidak mengetahui dari mana orang itu berpendapat. Sementara pihak ada yang membedakan antara taqlid dan ittiba'. tapi hakikatnya sama. 1. Taqlid ialah mengamalkan pendapat orang lain tanpa mengetahui dalilnya. Beberapa hal itu ialah: a. Metro Pondok Indah Pondok Indah Plaza I Kav. 7501983. 2. 3. dan ini dilakukan tanpa berdasarkan dalil. Beramal berdasarkan ijma' c. Beramal berdasarkan ayat al-Qur'an atau Hadits Nabi. b. Demikian menurut al-Qaffal. Sedangkan taqlid antara lain: menurut istilah Kondisi ada yang baik ini beberapa rumusan. Beramal berdasarkan pendapat orang lain tanpa berdasarkan dalil. hanya istilah dan tingkatannya saja yang berbeda.

Dan Allah berfirman." Orang-orang yang tidak memenuhi persyaratan ijtihad semacam itu wajib mengikuti pendapat imam mujtahid yang mu'tabar atau istifta'/meminta penjelasan hukum kepada ahl al-dzikr.24. demikian juga taqlid/muqallid yang terdiri dari beberapa tingkatan. tetapi wajib berijtihad sendiri. . Tidak dibenarkan/haram baginya bertaqlid atau mengikuti pendapat mujtahid yang lain.IV. Demikian juga harus kita usahakan. Sebab ijtihad yang dilakukannya justru akan membawa pada kesesatan. mereka mengikuti pendapat imam mujtahid. dimana dalam keseluruhan hukum Islam. Ibrahim Hosen Bagi orang-orang yang tidak memenuhi persyaratan ijtihad baik mereka ulama maupun awam. Sebab tidak realistis. "Bertanyalah kepada ulama apabila kamu tidak mengerti. tetapi nyatanya masih tetap menjadi muqallidin yang setia. haram bagi mereka berijtihad. bagi yang mampu berijtihad sendiri karena telah memenuhi persyaratannya janganlah mengikuti atau bertaqlid kepada mujtahid yang lain. Kearah inilah harus kita fahami ucapan imam-imam mujtahid kenamaan seperti Hanafi. janganlah menduduki bangku taqlid. "Allah tidak menaklif/memberi pembenahan kewajiban kepada seseorang kecuali sesuai dengan kemampuannya. yang artinya. Yang awam ini jelas tidak mungkin untuk dipaksakan harus mengupayakan dirinya menjadi mujtahid. al-Nahl: 43). Kenyataan menunjukkan bahwa sejak dahulu sampai saat sekarang dan akan berlanjut terus sampai akhir zaman nanti. TINGKATAN TAQLID/MUQALLID Sebagaimana halnya ijtihad/mujtahid yang bertingkat-tingkat. Sebab ada beberapa ulama yang semestinya mereka mampu berijtihad. Kalau sudah pada tempatnya untuk duduk di kursi ijtihad. Bagi kita yang harus kita tempuh ialah mengusahakan bagaimana agar lahirnya ulama-ulama yang ahlu li 'l-ijtihad dapat diperbanyak. Diantara ulama yang mengharamkan taqlid dan mewajibkan ijtihad tanpa ada batasan-batasan tertentu ialah Ibnu Hazm dan al-Syaukany. TAQLID DAN IJTIHAD Beberapa Pengertian Dasar HARAM IJTIHAD DAN WAJIB TAQLID (4/4) Oleh KH. sejalan dengan firman-Nya. Dengan demikian tidak benar jika kita mengatakan bahwa ijtihad itu wajib dan taqlid itu haram secara mutlaq/tanpa ada batasan. mayoritas umat Islam dari kalangan awam. Artinya. Ini sangat berbahaya. jangan sampai terjadi adanya "man laisa lahu ahlun li 'l-ijtihad" memberanikan diri untuk berijtihad. Syafi'i dan lain-lain yang melarang taqlid. Taqlid secara total/murni (taqlid al-mahdli). yaitu: 1. WAJIB IJTIHAD DAN HARAM TAQLID Bagi orang-orang yang memenuhi persyaratan ijtihad maka wajib bagi mereka berijtihad dan mengamalkan hasil ijtihadnya." (QS. seperti taqlid yang dilakukan oleh kebanyakan orang awam.

Seorang yang telah memilih salah satu madzhab boleh saja pindah ke madzhab lain. Dengan demikian dilihat dari satu segi. 3. MASALAH TALFIQ Berbicara masalah taqlid. 2. Tidak ada larangan bagi seseorang untuk berpindah madzhab. Pendapat ini rupanya yang banyak memasyarakat di Indonesia. seperti yang dilakukan para ulama yang mampu berijtihad dalam bidang madzhab. apakah ia harus terikat dengan madzhab tersebut yang berarti ia tidak dibenarkan mengikuti atau pindah ke madzhab lain. seperti yang dilakukan oleh mujtahid muntasib. Pendapat ini tidak membenarkan talfiq. tetapi dilihat dari sisi lain. Pendapat pertama ini dipelopori oleh Imam Qaffal. mereka termasuk muqallid. Dari segi dalil maupun kemaslahatan diantara ketiga pendapat di atas menurut hemat saya yang paling kuat adalah pendapat Al-Kamal Ibnu Hammam dengan alasan antara lain: . Taqlid dalam bidang-bidang hukum tertentu saja. Baginya tidak boleh pindah ke madzhab lain baik secara keseluruhan maupun sebagian (talfiq). Ushuliyyin berbeda pendapat mengenai boleh dan tidaknya seseorang ber-talfiq.2. yang di zaman partai-partai Islam masih ada. sempat dipolitisir dan eksploitir. Perbedaan ini bersumber dari masalah boleh dan tidaknya seseorang pindah mazhab. dengan ketentuan tidak terjadi dalam kesatuan qadliyah yang menurut imam pertama dan imam kedua sama-sama dianggap batal. Artinya. apabila seseorang telah mengikuti/bertaqlid dengan salah satu mazhab. rasanya tidak lengkap kalau kita tidak menyinggung masalah talfiq. Pendapat ketiga ini dipelopori oleh Al-Kamal Ibnu Hammam. walaupun dengan motivasi mencari kemudahan. Menurut definisinya. talfiq ialah beramal dalam suatu masalah/qadliyah atas dasar hukum yang terdiri dari kumpulan/gabungan dua mazhab atau lebih. Pendapat ini memperbolehkan talfiq sekalipun dimaksudkan untuk tujuan mencari keringanan tersebut. mereka dianggap sebagai mujtahid. Apabila seseorang telah mengikuti salah satu mazhab maka ia harus terikat dengan madzhab tersebut. Pendapat kedua ini membenarkan talfiq sekalipun dimaksudkan untuk mencari kemudahan. Taqlid dalam hal kaidah-kaidah istinbath. sekalipun dimaksudkan untuk mencari keringanan. 3. selama tidak terjadi dalam kasus hukum (dalam kesatuan qadliyah) dimana imam yang pertama dan imam yang kedua atau imam yang sekarang diikuti sama-sama menganggap batal. ataukah ia tidak terikat dengan arti boleh baginya mengikuti atau pindah ke madzhab lain? Dalam hal ini ada tiga pendapat: 1. dan bidang fatwa. Golongan ini dipelopori olah al-Qarafi. bidang tarjih.

Seseorang berwudlu menurut madzhab Syafi'i yang menyapu kurang dari seperempat kepala. mengenai sah jatuhnya thalaq raj'i mengikuti madzhab Hanafi yang memandang sah ruju' bi 'l-fi'li (langsung bersetubuh). Hal ini sejalan dengan kaidah. Tidak ada nash agama baik dari al-Qur'an maupun Sunnah yang mewajibkan seseorang harus terikat dengan salah satu mazhab saja. 2. 3. 2. Tidak punya mazhab artinya tidak terikat. b. kemudian ia bershalat dengan menghadap kiblat dengan posisi sebagaimana ditentukan oleh madzhab Hanafi. al-Nahl: 43). Hal ini dimaksudkan untuk keseragaman dan menghindarkan adanya kesimpang-siuran. Hanya saja dalam hal-hal yang menyangkut kemasyarakatan maka yang berlaku adalah mazhab pemerintah atau pendapat yang diundangkan pemerintah lewat perundang-undangan. selama tidak membawa ke dosa. Kaidah yang berbunyi. Ijtihad baru akan berfungsi dan berdayaguna sebagaimana . "Keputusan pemerintah mengikat atau wajib dipatuhi dan akan menyelesaikan persengketaan. Terjadi ru'yah yang mu'tabarah pada suatu tempat. "al-ami la madzhaba lahu" -orang awam tidak punya mazhab. ia terus bershalat dengan mengikuti madzhab Hanafi yang mengatakan bahwa sentuhan tersebut tidak membatalkan wudlu.1. Ijtihad merupakan sarana yang paling efektif untuk mendukung tetap tegak dan eksisnya hukum Islam serta menjadikannya sebagai tatanan hidup yang up to date yang sanggup menjawab tantangan zaman (shalihun li kulli zaman wa makan). Hadits Nabi yang menyatakan bahwa Rasulullah tidak pernah disuruh memilih sesuatu kecuali akan memilih yang paling mudah. Yang ada adalah perintah untuk bertanya kepada ulama tanpa ditentukan ulama yang mana dan siapa orangnya (QS. Kesimpulan Dari beberapa uraian di atas kesimpulan sebagai berikut: ingin saya ambil beberapa 1. Seseorang berwudlu mengikuti tata cara Syafi'i. 1. Membuat undang-undang perkawinan dimana akad nikahnya harus dengan wali dan saksi karena mengikuti madzhab Syafi'i. Masalah Kemasyarakatan 1. kemudian ia bersentuhan kulit dengan ajnabiyah. 2. 2." Contoh Talfiq a. kemudian Qadli Syafi'i menetapkan bahwa ru'yah tersebut berlaku pada seluruh wilayah kekuasaannya. Dalam Ibadat. sebab Qadli tadi berpegang dengan pendapat madzhab Maliki dan Hanafi yang tidak memandang persoalan mathla'.

4. Ijtihad sepanjang pengertian ushuliyyin hanyalah berlaku di dunia hukum. 13. al-Musthafa Fakhruddin al-Razi. Keduanya ini dapat kita lakukan secara perorangan (ijtihad fardy) atau secara kolektif (ijtihad jamma'iy). 7. 2. al-Risalah Muhammad bin 'Ali al-Bashri. 3. 6. 8. al-Burhan Al-Ghazali. 14. 17. khususnya perguruan tinggi.Marilah kita menjadi mujtahid yang benar atau muqallid yang baik yang mempunyai komitmen yang utuh terhadap ajaran agama Islam. 15. Untuk menggalakkan ijtihad guna menjadikan hukum Islam ini dinamis dan lincah perlu digalakkan studi fiqih perbandingan dan ushul fiqih perbandingan di lembaga-lembaga pendidikan Islam. 16. Perbedaan yang ditolerir oleh Islam yang dinyatakan akan membawa rahmat/kelapangan adalah perbedaan di bidang hukum furu'/fiqih sebagai akibat dari adanya perbedaan ijtihad. al-Mahshul Al-Amidi. 10. Jam'ul Jawami' Ushulus-Sarkhasi Ushulul-Bazdawi Al-Nasafi. Nihayatu 'l-Sul Al-Subki. 6. al-Tahrõr Muhammad bin Amir al-Halabi. 18. apabila hal itu dilakukan oleh yang memenuhi persyaratan dan dilakukan di tempat-tempat yang diperbolehkan memainkan peranan ijtihad. Minhaju 'l-Ushul Al-Asnawi. Inkamu 'l-Ihkam Al-Baidlawi. Irsyadu 'l-Fukhul Muhibbu 'l-Lah "Abdus-Syakur.disebutkan pada Butir pertama jika ijtihad dilakukan para ahlinya (mereka yang memenuhi persyaratan dan dilakukan pada tempatnya sesuai dengan ketentuan yang telah diakui kebenaran dan kesalahannya). 4. 10." Musallamu 'l-Tsubur . DAFTAR KEPUSTAKAAN 1. 5. Ranqikhu 'l-Ushul Al-Kamal Ibnul-Hammam. al-Mu'tamad Al-Juwaini. 5. Ijtihad dapat kita jadikan alat untuk menjawab perlu dan tidaknya reaktualisasi hukum Islam dan hal itu hanya memenuhi persyaratan ijtihad. 9. 12. Ijtihad yang saat ini benar-benar masih dapat kita lakukan ialah ijtihad di bidang tarjih dan ijtihad dalam kasus-kasus tertentu yang belum pernah diijtihadi dibahas oleh imam-imam mujtahid terdahulu. Taisirut-Tahrir Al-Syaukani. 8. 9. Ijtihad akan membawa kejayaan bagi Islam dan umatnya. 11. Al-Syafi'i. Na'udzu bi 'l-Lah. al-Manar Al-Baghdadi. 3. Tanpa itu hanya omong kosong. Badi'un-Nidham Shadrus-Syari'ah Al-Bukhari. 7. Ijtihad yang dilakukan oleh yang bukan ahlinya/yang tidak memenuhi persyaratan atau dilakukan tidak pada tempatnya justru akan membawa kehancuran Islam dan bencana serta malapetaka bagi umatnya.

'Ammar tidak meriwayatkan peristiwa itu lagi." kata Ibn Hajar. Dan Nabi berkata. [2] "Aku melihat memang lebih baik tidak meriwayatkan hadits ini ketimbang meriwayatkannya Aku setuju denganmu. Kita dalam keadaan junub. TINJAUAN KRITIS ATAS SEJARAH FIQH (1/10) Dari Fiqh Al-Khulafa' Al-Rasyidin Hingga Madzhab Liberalisme oleh Jalaluddin Rakhmat 1. Aku sampaikan kejadian ini kepada Rasulullah saw." Sejak itu. 7501983." kata Ibn Hajar." 'Ammar bin Yasir berkata pada 'Umar bin Khathab: "Tidakkah Anda ingat. cukuplah bagi kamu berbuat demikian. jika engkau inginkan. Abu Musa menentang pendapat Abdullah --sekaligus madzhab Umar-.22.dengan mengutip ayat ("jika kalian tak mendapatkan air hendaklah tayamum dengan tanah yang baik"). Semua sahabat menolak pendapat Umar. 7507173 Fax. "Wa hadza madzab masyhur 'an 'Umar. (021) 7507174 Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota Please direct any suggestion to Media Team Artikel Yayasan Paramadina Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota IV." Maksud kedatangannya untuk menanyakan apakah ia harus shalat atau tidak." Mendengar demikian Umar menegur 'Ammar: "Ya Ammar. Toh. Ibnul Qayyim. bila tidak ada air. A'lamu 'l-Muwaqq'in -------------------------------------------Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah Editor: Budhy Munawar-Rachman Penerbit Yayasan Paramadina Jln. Kata Ammar. Metro Pondok Indah Pondok Indah Plaza I Kav. Dulu --engkau dan aku-. UA 20-21 Jakarta Selatan Telp. sedangkan aku berguling-guling di atas tanah. aku tidak akan menceritakan hadits ini selama engkau hidup. 'Umar menjawab. sehingga aku tidak bersalah.19." [1] "Yang dimaksud Ammar.orang junub. Engkau tidak shalat. 'Umar tetap berpegang teguh pada pendapatnya -. takutlah pada Allah". FIQH AL-KHULAFA' AL-RASYIDIN: FIQH PENGUASA Seorang laki-laki datang menemui 'Umar bin Khathab: "Saya dalam keadaan junub dan tidak ada air. dan menahan diriku. al-Syathibi. "Ya Amir al-Mu'minin. "Jangan shalat sampai engkau mendapatkan air. Al-Bukhari mencatat perdebatan Abdullah bin Mas'ud dengan Abu Musa al-Asy'ari tentang kasus ini pada hadits No. Menarik untuk dicatat bahwa kelak . al-Muwafaqat 20.pernah berada dalam perjalanan. tidak perlu shalat. 247. (021) 7501969. aku sudah menyampaikannya. kecuali Abdullah bin Mas'ud.

ijtihad para sahabat menjadi rujukan yang harus diamalkan. al-hukm. bila tidak ada nash. dan bentuk ra'yu-nya bermacam-macam. adalah sunnah yang harus diamalkan dan dijadikan rujukan. mazhab Hanafi melanjutkan Lebih menarik lagi untuk kita catat adalah beberapa pelajaran dari riwayat di atas. 'Umar menghendaki pembakuan paham dan mengeliminasi pendapat yang berlainan. Ketika menceritakan ijtihad pada zaman sahabat. ada yang berijtihad dengan qiyas seperti Abdullah bin Mas'ud. memang terjadi perbedaan paham di antara sahabat dalam masalah fiqhiyah Kedua. dari mereka juga kita mewarisi ikhtilaf di kalangan kaum Muslim. dan contoh-contoh fiqh al-khulafa al-rasyidin. [3] Dari makalah kita mengenal sunnah Rasulullah. sebagian lainnya hanya . "Sunnah sahabat r. sebagian lagi sebagai hujjah bila bertentangan dengan qiyas. perilaku mereka menjadi sunnah yang diikuti.akhirnya menjadi salah satu sumber hukum Islam di samping istihsan. Abu Zahrah menulis: [4] Di antara sahabat ada yang berijtihad dalam batas-batas al-Kitab dan al-Sunnah. Sebagian menganggaprlya sebagai hujjah mutlak. qiyas.a. Madzhab sahabat pun menjadi hujjah. saya akan menjelaskan sebab-musabab timbulnya ikhtilaf fiqh di antara para sahabat. pada zaman sahabat rujukan itu adalah diri sendiri. URGENSI FIQH SAHABAT Fiqh shahabi memperoleh kedudukan yang sangat penting dalam khazanah pemikiran Islam. perbedaan di antara para sahabat berpengaruh besar pada ikhtilaf kaum Muslim pada abad-abad berikutnya Karena itu membicarakan fiqh para sahabat menjadi sangat penting sebagai pijakan bagi pembahasan masalah fiqh mutakhir. Bila pada zaman tasyri' orang memverifikasi pemahaman agamanya atau mengakhiri perbedaan pendapat dengan merujuk pada Rasulullah." Dalam perkembangan ilmu fiqh. perluasan kekuasaan Islam dan interaksi antara Islam dengan peradaban-peradaban lain menimbulkan masalah-masalah baru. Setelah itu. Al-Syathibi [5] menulis. Tentang hal ini. Ketiga. Kedua. zaman sahabat juga melahirkan prinsip-prinsip umum dalam mengambil keputusan hukum (istinbath. dan ada yang berijtihad dengan metode mashlahat.).dengan merujuk mazhab 'Umar. lewat kekuasaan. ada pula yang berijtihad dengan ra'yu bila tidak ada nash. Sementara itu.adalah orang yang berjumpa dengan Rasulullah saw dan meninggal dunia sebagai orang Islam. madzhab sahabat --sebagai ucapan dan perilaku yang keluar dari para sahabat-. karakteristik fiqh sahabat. Pertama. zaman sahabat adalah zaman segera setelah berakhirnya masa tasyri'. karena itu. mashalih mursalah dan sebagainya. ayat yang sama. ulama berbeda pendapat. terlihat ada sikap hiperkritis dalam menerima atau menyampaikan riwayat Dan keempat. Dan para sahabat merespon situasi ini dengan mengembangkan fiqh (pemahaman) mereka. yang nanti diformulasikan dalam kaidah-kaidah ushul fiqh. sahabat --sebagaimana didefinisikan ahli hadits-. Ketiga. Dengan demikian. dan tidak melewatinya. Saya akan memulai makalah ini dengan membahas urgensi fiqh sahabat dalam keseluruhan pemikiran fiqhiyah. Inilah embrio ilmu fiqh yang pertama. Pertama.

mereka adalah orang-orang yang menyaksikan turunnya wahyu. menegakkan agamanya. maka tidak mengherankan bila mazhab sahabat menjadi rujukan penting bagi perkembangan fiqh Islam sepanjang sejarah.. bila mereka ikhtilaf. dan sebagian yang lain. mengetahui tafsir dar ta'wil. atau dinilai sebagaimana perawi hadits lain. Menghadapi masalah-masalah baru itu. [8] Kelompok pertama memandang bahwa otoritas untuk menetapkan hukum-hukum Tuhan dan menjelaskan makna al-Qur'an setelah Rasulullah wafat dipegang ahl al-Bait. dan pembawa al-Qur'an dan al-'Sunnah. Mereka dibersikkan dari keraguan. Mereka akhirnya menggunakan metode-metode ijtidah seperti qiyas atau istihsan. Allah memuliakan mereka dengan karunia-Nya menempatkan kedudukan mereka pada tempat ikutan. karena mereka tahu betul --tugas mereka adalah mengacu pada Ma'shumun. Kelompok kedua memandang tidak ada orang tertentu yang ditunjuk rasul untuk menafsirkan dan menetapkan perintah Ilahi. ini yang terpenting. Karena posisi sahabat begitu istimewa. berdasarkan hadits ("berpeganglah pada dua orang sesudahku. Kelompok ini tidak mengalami kesulitan dalam masa berhentinya wahyu. Hanya merekalah.. Tentu saja.menganggap hujjah pada pendapat Abu Bakar dan Umar saja. kekeliruan. Bila mereka sepakat. Semua Khalifah al-Rasyidin termasuk kelompok kedua. ahl al-Sunnah sepakat menetapkan bahwa seluruh sallabat adalah baik (al-shahabiy kulluhum 'udul). yang dipilih Allah untuk. menurut nash dari Rasul. putuslah masa tasyi'.. kecuali Ali bin Abi Thalib.menemani Nabi-Nya. berpendapat bahwa yang menjadi hujjah hanyalah kesepakatan khulafa' al-Rasyidin. untuk menolongnya. pemimpin-pemimpin hidayah. [6] Terakhir keempat. dusta. mazhab sahabat menimbulkan kemusykilan yang sulit diatasi. pendapat mereka dapat membantu memecahkan masalah fiqh. Lalu mengapa mereka ikhtilaf? PENYEBAB IKHTILAF DI KALANGAN SAHABAT Salah satu sebab utama ikhtilaf di antara para sahabat adalah prosedur penetapan hukum untuk masalah-masalah baru yang tidak terjadi pada zaman Rasulullah saw. dan celaan. yakni Abu Bakar dan Umar"). karena banyak hal tak terjawab oleh nash. Mereka tak boleh dikritik. Allah menamai mereka sebagai 'udul al-ummah (umat yang paling bersih). Sementara itu. Merekalah 'udul al-ummah. muncul dua pandangan. di antara para sahabat itu yang paling penting adalah khulafa al-rasyidun. keraguan kesombongan. yang harus dirujuk untuk menyelesaikan masalah-masalah dan menetapkan hukum-hukum Allah. Imam ahli jarh dan ta'dil. setelah Rasulullah wafat. memenangkan ke benarannya. menurut kesepakatan ahl al-sunnah. dipersalahkan. hujjah agama. Al-Qur'an dan al-Sunnah adalah sumber untuk menarik hukum-hukum berkenaan dengan masalah-masalah yang timbul di masyarakat. Kelompok ini --kelak disebut Ahl al-Sunnah-ternyata tidak mudah mengambil hukum dari nash. Abu Hatim al-Razi dalam pengantar kitabnya menulis: [7] Adapun sahabat Rasulullah saw.. Kelompok kedua lebih banyak menggunakan .

karena itu Ibn Umar mengharamkan wanita ahli kitab dinikahi laki-laki Muslim. [13] Bila contoh-contoh tadi berkenaan dengan perbedaan antara ketetapan nash dengan ra'yu. berbeda-beda dalam kemampuan pengambilannya dan dalam menerima riwayatnya. Umar memutuskan hukuman rajam bagi orang gila yang berzina. ketika saya diundang. bertebaranlah sahabat di . Utsman berkata: Sesungguhnya laranganku itu hanya ra'yuku saja. ketika ia membaca ayat itu. Utsman tampaknya sependapat dengan Ibn 'Abbas. [9] Setelah perdebatan ini. menetapkan thalaq tiga dalam satu majlis itu dihitung satu. siapa yang tak mau boleh meninggalkannya. padahal al-Qur'an dan al-Sunnah sangat tegas menetapkannya. [11] Umar --atas saran Abd al-Rahman bin Auf menderanya 80 kali. Ali membebaskan hukum itu berdasarkan hadits. Tetapi Umar kemudian dikoreksi Ubayy bin Ka'ab. Ali kembali menderanya 40 kali. kelompok pertama dalil naqli. Umar pernah melarang hajji tamattu'. Kelompok kedua banyak menggunakan dalil aqly. menderanya 40 kali. [12] Begitu pula Ali. menurut riwayat lain dari Abdullah bin Zubair. Anda tidak. Siapa yang mau boleh menjalankannya. mengetahui nash tertentu. Ketika Utsman juga melarangnya. [15] Kadang-kadang ikhtilaf terjadi di antara para sahabat karena perbedaan pengetahuan yang mereka miiiki. Kata quru dalam wal muthalaqatu yatarabbashna bi anfusihim tsalatsatu quru' diartikan berbeda-beda. Ia memarahi orang itu. yang tidak hadir tentu tidak mengetahuinya. [10] Contoh lainnya adalah hukuman dera bagi peminum khamr. hanya karena pendapat seseorang. Rasulullah saw. karena ia menikah dengan Nailah. Engkau sendiri berada di pintu. Ali secara demonstratif melakukannya di depan Utsman. Sebagian sahabat. dan Thalhah menikahi wanita Yahudi dari Syam. Ia menghukum dengan hukum tertentu memerintahkan atau melarang sesuatu. Ketika Rasulullah saw. Yang hadir waktu itu dapat menyimpan peristiwa itu. ketika saya hadir Anda tidak ada. Ali menjawab: Aku tak akan meninggalkan sunnah Rasulullah saw. sebagian lain tidak mengetahuinya.. contoh-contoh berikut menunjukkan perbedaan memahami nash. misalnya. wafat. yang mengambil sunnah dari Nabi dan meriwayatkannya. Zaid ibn Tsabit mengartikannya masa bersuci di antara haidh dengan haidh lagi. wanita Nashrani. dan engkau sendiri melakukannya. Kata Ubayy Anda tahu saya berada di dalam beserta Rasulullah saw. Rasulullah saw. sesungguhnya Anda tahu. Umar pernah menegur orang yang dikiranya salah ketika membaca QS al-Fath: 26.ra'yu. ditanya tentang suatu masalah. Kata Utsman: Aku melarang manusia melakukan tamattu. Abdullah bin Mas'ud dan Umar mengartikan "quru" itu haidh. melakukan atau tidak melakukan sesuatu. dan kelompok pertama lebih banyak merujuk nash. Demi Allah Ya Umar. Rasulullah saw. Ibn 'Abbas menganggap ayat itu sebagai pengecualian (takhshish) dari ayat wa la tankihu al-musyrikat hatta yu'minna. Umar menetapkan thalaq tiga itu jatuh tiga sekaligus... [14] Ibn Umar menafsirkan "al-muhshanat dalam ayat wa al muhshanat min alladzina utu al-kitab sebagai wanita Muslim. [16] Al-Syaikh Muhammad Muhammad al-Madany menjelaskan sebab ikhtilaf yang berkenaan dengan sunnah: [17] salah satu Sahabat Rasulullah saw.

Ya Amir al-Mu'minin: "tidak ada orang yang lebih tahu dalam hal ini kecuali isteri Rasulullah saw. wajib mandi. masuklah seorang laki-laki: "Ya Amir al-Mu'minin. Ini jelas menurut akal. ikhtilaf di antara para sahabat dapat diselesaikan oleh khalifah. orang Basrah menghadiri tempat yang tidak dihadiri orang Syam. Padahal --seperti telah kita jelaskan--sebagian sahabat pada sebagian waktu tidak hadir di majelis Rasulullah saw. aku dengar kau berfatwa pada manusia dengan ra'yumu sendiri? Kata Zaid: "Ya Amir al-Mu'minin." Kata Umar: "Panggil dia!" Zaid pun datang dan Umar berkata: "Hai musuh dirinya sendiri!. Ini semua terjadi dalam hadits. Setiap orang hanya mcngetahui apa yang ia saksikan." Kata Umar: "Kalian sahabat-sahabat yang ikut Badr sudah ikhtilaf. Marilah kita berikan satu contoh lagi yang lebih ilustratif. Dalam kasus-kasus yang lain. Tidak juga ada larangan dari Rasulullah saw. walau pun tidak menemukan air selama dua bulan. dan setiap penduduk negeri mengambil dari sahabat yang ada di negeri mereka." Kata Umar: "Apakah Rasulullah saw. orang Basrah menghadiri yang tidak dihadiri orang Kufah. ikhtilaf di antara para sahabat itu dibiarkan dan diwariskan kepada generasi berikutnya." dari Rifa'ah bin Rafi'. Ketika orang sedang berkumpul di hadapan Umar bin Khathab. Buat orang-orang sektarian.dan Abi Ayyub dari Ubbay bin Ka'ab. mengetahuinya?" Kata Rafa'ah: "Tidak tahu. aku akan pukul dia.bila kalian bercampur dengan isteri kalian dan tidak keluar air mani kalian mandi?" Kata Rafa'ah: "Kami melakukan begitu pada zaman Rasulullah saw. lalu aku sampaikan -. Kata 'Aisyah: "Bila khitan sudah bertemu khitan. Ali Hudzaifah al-Yamani dan lain-lain mengetahui hukum mengusap tetapi 'Aisyah. Tetapi aku mendengar hadits dari paman-pamanku. 'Amar dan yang lain mengetahui tentang tayamum. wajib mandi. Ia mengutus orang bertanya pada Hafshah. apalagi orang-orang setelah kalian!" Kata Ali." Lalu Umar mengumpulkan Muhajirin dan Anshar. Ibn 'Umar. orang Kufah hadir di tempat yang tidak dihadiri orang Madinah." Kata Umar: "Bila ada lagi orang berfatwa bahwa tidak wajib mandi kalau tidak keluar. Tidak turun ayat yang mengharamkan. Keduanya berkata: "Jika kedua khitan bertemu. Anak perempuan dari anak beserta anak perempuan mendapat waris diketahui Ibn Mas'ud tetapi tidak diketahui Abu Musa. sedangkan sebagian lagi hadir. dan pada saat kita memerlukan informasi. lalu bermusyawarah. 'Umar bin Abd .. Khalifah bahkan menetapkan sangsi bagi orang yang mempunyai pendapat berbeda.negeri-negeri. Ia berkata: "Apakah kalian berbuat demikian . Semua orang berkata tidak perlu mandi. Aku tidak melakukan itu." [18] Dalam kasus yang baru kita ceritakan. Umar dan Ibn Mas'ud tidak mengetahuinya. Buat orang yang berjiwa terbuka. 'Aisyah ditanya. Hafshah tidak tahu. Abu Hurairah tidak mengetahuinya walaupun mereka penduduk Madinah. orang Syam hadir di tempat yang tidak dihadiri orang Basrah. ikhtilaf ini adalah assets bagi perkembangan pemikiran. ikhtilaf para sahabat ini menjadi sumber perpecahan. dan tidak mengetahui apa yang tidak ia hadiri. sehingga mereka berkata: Orang junub tidak tayamum. kecuali Ali dan Mu'adz. Berkata Ibn Hazm: "Orang Madinah hadir pada tempat yang tidak dihadiri orang Basrah. Kata Umar: "Panggil Rafa'ah bin Rafi'. ini Zaid bin Tsabit berfatwa di masjid dengan ra'yunya berkenaan dengan mandi janabah.

Metro Pondok Indah Pondok Indah Plaza I Kav.al-'Aziz. b) qiyas pada nash atau pada ijma'. Mereka adalah teladan yang diikuti.22. ada dua cara yang dilakukan para sahabat. TINJAUAN KRITIS ATAS SEJARAH FIQH (2/10) Dari Fiqh Al-Khulafa' Al-Rasyidin Hingga Madzhab Liberalisme oleh Jalaluddin Rakhmat KARAKTERISTIK FIQH SAHABAT Seperti telah disebutkan di muka. sempitlah manusia dibuatnya. Menurut Muhammad al-Khudlari Bek. menurut mereka. Lagi pula. tokoh ukhuwah Islamiyah yang menghentikan kutukan pada Ali di mimbar. Jika kita mengambil dari siapa saja di antara mereka. Artinya.Madzhab 'Alawi dan Madzhab 'Umari yang akhirnya mewariskan kepada kita sekarang sebagai Syi'ah dan ahli Sunnah.(bersambung 2/10) Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah Editor: Budhy Munawar-Rachman Penerbit Yayasan Paramadina Jln. para mujtahid berada dalam kesempitan. Dengan begitu. dari segi prosedur penetapan hukum. karena bila mereka tidak membukanya. Ah al-Bait memiliki kema'shuman berdasarkan nash al-Qur'an dan al-Sunnah. Menurut Muhammad Salim Madkur. fiqh mereka ini hanya terbatas pada qiyas. [30] Pada bagian ini. dan ijtihad dengan ra'yu seperti al-Mashalih al-Mursalah dan istihsan. saya tak akan membicarakan kelompok sahabat ini. Seandainya pendapat mereka itu tunggal. ia membuka umat untuk memasuki Rahmat-Nya. 7501983. berkata: "Aku tidak senang kalau sahabat Nabi tidak ikhtilaf. (021) 7507174 Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota Please direct any suggestion to Media Team Artikel Yayasan Paramadina Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota IV. . Allah memberikan keluasan pada umat dengan adanya ikhtilaf furu'i di antara mereka. mereka membuka pintu ijtihad bagi manusia. (021) 7501969. ijtihad mereka menggunakan tiga metode: a) menjelaskan dan menafsirkan nash. Mereka berpendapat bahwa ada dua nash yang dengan tegas menyuruh kaum Muslim berpegang teguh pada pimpinan ahl-al-Bait. UA 20-21 Jakarta Selatan Telp. tapi akan memutuskan perhatian pada metode ijtihad kelompok sahabat yang tak merujuk ahl al-Bait. 'Ammar bin Yasir." [19] -------------------------------------------. Mereka boleh ikhtilaf. Abu Dzar. Muhammad Ali al-Sais menyebutkan bahwa ijtihad sahabat itu meliputi qiyas. Kedua cara ini melahirkan dua mazhab besar di kalangan sahabat -. jadilah itu sunnah. Para sahabat -seperti Miqdad.merujuk pada ahl al-Bait dalam menghadapi masalah-masalah baru. pendapat seseorang menjadi hujjah bila orang itu ma'shum. Hudzaifah dan sebagian besar Bani Hasyim -. 7507173 Fax.

/2 H. Di antara mereka ada yang mengikuti ucapan Umar. Nabi saw. di antaranya Umar bin Khathab. halalkanlah apa yang dihalalkannya. Di bawah ini saya kutipkan berbagai riwayat berkenaan dengan sikap Khulafa al-Rasyidin pada Hadits (sunnah): 1) Dari Ibn Abbas: ketika Nabi menjelang wafat. Ketika terjadi banyak pertengkaran dan ikhtilaf. Dalam beberapa kasus. Pada suatu pagi ia datang padaku dan berkata: "Bawalah hadits-hadits yang ada padamu itu. jawablah -." [22] 2) 'Aisyah meriwayatkan: Ayahku telah mengumpulkan 500 hadits Rasulullah saw. yang kalian pertengkarkan. bila tidak ada nash. Nabi berkata: "Bawalah ke sini. ada tiga tahap dalam ijtihad para sahabat: a) merujuk pada nash al-Qur'an dan al-Sunnah b) menggunakan metode-metode ijtihad seperti qiyas. [26] Ia juga menetapkan tahanan rumah pada tiga sahabat yang banyak meriwayatkan hadits: Ibn Mas'ud. Padamu ada Kitab Allah. Cukuplah bagimu Kitab Allah. para Khulafa al-Rasyidin selain Ali. berkumpul orang-orang. [28] Karakteristik kedua dari ijtihad sahabat. walaupun ada nash sharih . Ia membakar dan berkata. dan Abu Mas'ud al-Anshari. Abu Darda.istihsan. al-baraah al-ashliyah. bahkan pertimbangan kepentingan umum (maslahat) didahulukan dari nash. Tidak layak di hadapanku bertengkar. berkata: "Pergilah kamu semua dari aku. Janganlah meriwayatkan satu Hadits pun dari Rasulullah saw. bila nash tidak ada atau tidak diketahui. [21] Menurut pendapat saya. Nanti orang-orang setelah kalian akan lebih bertikai lagi." Umar berkata: "Nabi sedang dikuasai penyakitnya. al-mashalih al-mursalah. Ia memikirkannya selama satu bulan. Pada tahap pertama. Mereka tenggelam dalam tulisan mereka dan meninggalkan Kitab Allah. Umar ingin menuliskan sunnah-sunnah Rasulullah saw.. tampaknya lebih memusatkan perhatian pada ayat-ayat al-Qur'an (atau ruh ajaran al-Qur'an) dengan agak mengabaikan (kadang-kadang menafikan hadits). "Aku membawanya. penulisan hadits terlambat sampai abad 8 M. Umar ibn Abd al-Aziz (meninggal 719/101) adalah orang yang pertama menginstruksikan penulisan hadits.Di antara Anda dan kami ada Kitab Allah. sadd al-dzara'i. ia memutuskan dan menyatakan: "Aku teringat orang-orang sebelum kalian. menggunakan qiyas atau pertimbangan kepentingan umum." [23] al-Dzahabi meriwayatkan bahwa Abu Bakar mengumpulkan orang setelah Nabi wafat dan berkata. Menurut satu riwayat. dan haramkanlah apa yang diharamkannya" [24] 3) Al-Zuhri meriwayatkan. Jika ada yang bertanya kepada kalian. "Kalian meriwayatkan hadits Rasulullah saw. "Aku takut jika aku mati aku masih meninggalkan hadits-hadits ini bersamamu. di rumah Rasulullah saw. [25] Umar kemudian mengumpulkan hadits-hadits itu dan membakarnya. mengharapkan bimbingan Allah dalam hal ini. dan c) mencapai kesepakatan lewat proses perkembangan opini publik yang alamiah. Pada suatu pagi. aku tuliskan bagimu tulisan yang tidak akan menyesatkanmu selama-lamanya." Terjadi ikhtilaf di antara orang-orang di rumah itu." [27] Tradisi pelarangan hadits ini dilanjutkan para tabi'in. sehingga di kalangan ahl al-sunnah.

mereka datang kepada Umar. Abu Bakar menyuruh Tharifah bin Hajiz untuk membawanya ke Madinah. "Kami tidak memerlukan kalian lagi. Umar datang dan berkata. Kata Umar: "Manusia terlalu terburu-buru di tempat yang seharusnya hati-hati. Ali bin Abi Thalib mengharamkannya. Utsman bin Affan membolehkan "menikahi" dua orang wanita bersaudara dari antara budak belian sekaligus. al-Dawalibi menulis hal yang sama dalam 'Ilm Ushul al-Fiqh: "Di antara kreasi Umar r. Amir al-Mu'minin Umar bin Khathab melihat orang telah melecehkan urusan thalaq. Umar melihat ini untuk kemashlahatan umat di zamannya. Al-Fujaah pernah menyatakan diri ingin berjihad dan meminta perbekalan pada Abu Bakar. dengan itu. [37] e) mengambil zakat dari kuda. "Kami tidak memberi kamu sedikit pun karena Islam. [33] Utsman juga melakukan banyak "pembaharuan" dalam fiqh Islam: a) mengitmamkan shalat dalam keadaan safat di Mina. [31] 4.. " Lalu berlalulah apa yang diputuskan Umar. setelah Rasulullah saw. [38] f) mendahulukan khotbah sebelum shalat pada shalat 'id." [29] 2..a.. yang menunjang kaidah hukum berubah karena perubahan zaman ialah jatuhnya thalaq tiga dengan satu kalimat. [35] c) melarang haji tamattu. Ketika talaq tiga dalam satu majelis dihitung satu menurut Sunnah dan ijma. thalaq tiga pada sekali ucapan dijadikan satu seperti hadits shahih dari Ibn 'Abbas. "Mereka kembali pada Abu Bakar dan berkata. Al-Fujaah ternyata menggunakan fasilitas Abu Bakar ini untuk merampok. jika tidak pedanglah yang memutuskan antara kamu dan kami. Abu Bakar dan permulaan Khilafah Umar.(tegas) yang bertentangan contoh-contohnya. Umar meninggalkan sunnah dan menyingkirkan ijma. sedangkan di zaman Nabi. "Adakah khalifah itu atau dia? "Abu Bakar menjawab." Ketika Rasul dan Abu Bakar membolehkan penjualan Ummahat al-Awlad. Abu Bakar dan Umar tidak memberikan hak khumus dari keluarga Rasulullah saw. [39] .. insya Allah. [36] d) membolehkan tidak mandi bagi yang bercampur dengan isterinya tanpa mengeluarkan mani. Dr. Abu Bakar menghukumnya dengan membakarnya hidup-hidup." Kata Ibn Qayyim. Umar melarangnya. sehingga sahabat menahan dirinya untuk tidak mudah menjatuhkan thalaq. Umar ingin menghukum keteledoran ini. Berikut ini 1. Ketika kelompok muallaf datang menemui Abu Bakar untuk menuntut surat. Khalid Muhammad Khalid menulis tentang ijtihad Umar dalam al-Dimuqrathiyyah: Umar bin Khattab telah meninggalkan nash-nash agama yang Suci dari al-Qur'an dan al-Sunnah ketika dituntut kemaslahatan untuk itu. [34] b) menambahkan adzan ketiga pada hari Jum'at . Abu Bakar memberinya bekal. Jika kamu Islam (baiklah itu). "Ia. Allah sudah memenangkan Islam dan melepaskan dari kalian. khalifah yang berhak mengatur pembagian khumus.. wafat.. tapi menyalurkan hak itu fi sabilillah. [30] 3. Mereka berpendapat. Ini adalah prinsip taghayyarat bihi al-fatwa litaghayyur al-zaman.. Umar merobek surat itu dan berkata. serta Rasulullah dan Abu Bakar melakukannya. Bila al-Qur'an menetapkan bagian muallaf dari zakat. [32] 5.

" Al-Barra menjawab. Tidak berubah. Tidak berlebih-lebihan kalau kita simpulkan bahwa fiqih al-Khulafa al-Rasyidin adalah fiqih penguasa. selain mewariskan kemusykilan bagi kita sekarang. Seringkali yang disebut ijma' adalah konsensus yang "ditetapkan" oleh penguasa politik waktu itu. Menurut Fazlur Rahman.menyumbangkan khazanah yang kaya untuk memperluas pemikiran. Karena itu. kecuali dalam satu hal: Apa yang disepakati tidak selalu berkembang dari hasil persaingan pendapat yang demokratis. Ia berkata: Aku tidak mengenal lagi apa-apa yang aku lihat dilakukan "orang" kecuali panggilan shalat. Sebagian sahabat mulai mengeluhkan terjadinya perubahan ini. Saya hampir sependapat dengan Fazlur Rahman. Dalam proses free market of ideas. Dikatakan kepadanya: Engkau tak tahu apa-apa yang mereka ada-adakan sepeninggal kamu. juga --seperti kata 'Umar ibn Abdul Aziz-. sikap kritis ini telah "dimatikan" dengan vonnis zindiq oleh sebagian ahli hadits.adalah fondasi utama dari seluruh bangunan fiqh Islam sepanjang zaman. Ia melihat Ibn .Saya hentikan kutipan kasus-kasus ijtihad Khulafa' al-Rasyidin di sini. [42] Kata ma ahdatsna (apa-apa yang kami adakan) menunjukkan pada perbuatan bid'ah yang dilakukan para sahabat Nabi. FIQH TABI'IN: FIQH USHUL Sejak zaman sahabat (dan ini diakui para sahabat sendiri) telah terjadi perubahan-perubahan dalam syari'at Islam. Imam Malik meriwayatkan dari pamannya Abu Suhail bin Malik. [40] pada zaman para sahabat. 'Umar sendiri berkata. mereka sahabatku. waktu itu yang disebut sunnah ialah apa yang disebut Imam Malik sebagai al-amr al-mujtama' 'alaih. KESIMPULAN Fiqh para sahabat --khususnya seperti diwakili oleh al-Khulafa. Ikhtilaf di antara para sahabat. lalu opini publik. Al-Zarqani mengomentari hadits ini: Yang dimaksud "orang" adalah sahabat. Diriwayatkan bahwa pada hari kiamat ada rombongan manusia yang pernah menyertai Nabi diusir dari al-haudh (telaga). Nabi saw: "Ya Rabbi. untuk itu diperlukan penelaahan kritis terhadapnya. Adzan tetap seperti dulu. Al-Musayyab memuji Al-Barra bin 'Azib: "Beruntunglah Anda. Fiqih shahabi memberikan dua macam pola pendekatan terhadap syari'ah yang kemudian melahirkan tradisi fiqh yang berbeda. [43] Bid'ah-bid'ah ini telah mengubah sunnah Rasulullah saw. Marilah kita lihat proses perkembangan pemikiran para sahabat sehubungan dengan sunnah. Ada dua sikap ekstrim terhadap sahabat yang harus dihindari: menghindari sikap kritis atau melakukan sikap hiperkritis. engkau tidak tahu hal-hal baru yang kami adakan sepeninggal Rasulullah. Ada pun shalat. Hai anak saudaraku. "Semoga Allah meyampaikan kepadaku kesalahan-kesalahanku sebagai suatu bingkisan. dari bapaknya (seorang sahabat). Anda berbaiat kepadanya di bawah pohon. tidak berganti. dan perbuatan yang lain telah berubah. Sayang sekali. lalu konsesnsus. pendapat-pendapat tertentu kemudian berkembang menjadi opini generalis. Berkembanglah berbagai penafsiran." [41] 2. [44] Imam Syafi'i meriwayatkan dari Wahab bin Kaysan. waktunya telah diakhirkan. Suatu ketika seorang tabi'in. Ketika banyak orang marah karena 'Umar dikritik. Tentu saja. orang secara bebas memberikan tafsiran pada sunnah Rasulullah saw. al-Rasyidun-. Anda menjadi sahabat Rasulullah saw.

APA YANG DIMAKSUD DENGAN FIQH TABI'IN Setelah Nabi Muhammad saw meninggal dunia. dan karenanya secara singkat ia disebut Fiqh al-ushul. sampai shalat pun. bahwa dalam khazanah fiqh ahl al-Sunnah para khalifah sedikit sekali memberi fatwa atau meriwayatkan al-hadits. [49] Contohnya. Karena pertimbangan politik. Fiqh Tab'in. kurang dari 27% hadits yang diriwayatkan Abu Hurairah (Abu Huraiah meriwayatkan 5374 hadits). kita lebih banyak menelaah ushul ketimbang fiqh. Dalam perkembangannya. Ibn Mas'ud. Ini pun sudah dilalaikan orang". dan mereka pun tidak bertanya pada semua sahabat. Ibn 'Abbas berdoa: Ya Allah. [45] Kata Al-Zuhri: Aku menemui Anas bin Malik di Damaskus. Ia mengingatkan aku pada Shalat Muhammad saw. juga mengambil ijtihad para sahabat. Hal ini disebabkan ushul adalah sandaran para tabi'in. menjaharkan basmalah. khususnya yang dijalankan secara setia oleh Ali dan para pengikutnya. Secara keseluruhan. selain mengambil hadits sebagai sumber hukum. [48] Jadi pada zaman sahabat pun. mungkin karena ketidaktahuan. Sebagian sahabat sedikit sekali memberi fatwa. Anas menjawab. sedangkan sujud di atas tanah dianggap musyrik dan dihitung sebagai perbuatan zindiq". Menarik untuk dicatat. . Sebagian lagi banyak sekali memberi fatwa.Zubair memulai shalatnya sebelum khutbah. sujud di atas kain menjadi syi'ar Ahl al-Sunnah. kita juga akan mengupas kemusykilan ijtihad sahabat. Bani Umayyah telah mengubah sunnah Nabi. sebagai upaya menghapus jejak Ali. Ia memegang tangan Muthrif bin Abd Allah dan berkata: Ia telah shalat seperti shalatnya Muhammad saw.kita akan membicarakan juga tradisi fiqh al-atsar dan fiqh al-ra'y. [47] 'Umran bin al Husain pernah shalat di belakang Ali. Mereka meninggalkan sunnah karena benci kepada Ali. Sebelum membahas itu semua. yang menjadi tradisi Rasulullah saw dan para sahabat Nabi seperti Abu Bakar. Ibn 'Umar. mungkin karena pengetahuan mereka. atau karena posisinya memungkinkan untuk itu. marilah kita lihat sedikit latar belakang fiqh tabi'in. Jabir ibn Abdullah dan lain-lain. kecuali shalat." tanya Al-Zuhri. [51] Contoh-contoh di atas menunjukkan bagaimana campur tangan kekuasaan politik membentuk fiqh. atau lagi-lagi pertimbangan politis. "Mengapa Anda menangis. Sebab itu. Umar 537 hadits. Tidak semua sahabat menjawab pertanyaan mereka. laknatlah mereka. [46] Al-Hasan al-Bashri menegaskan: "Seandainya sahabat-sahabat Rasulullah saw lewat. Abu bakar meriwayatkan hanya 142 hadits. Karena fiqh lebih banyak didasarkan pada al-hadits. sunnah Nabi sudah banyak diubah. Ia sedang menangis. Karena pendapat-pendapat para sahabat terbagi dua --yang berpusat pada al-hadits dan al-ra'y-. Jika semua hadits mereka disatukan hanya berjumlah 1411 hadits. kemudian berkata: Semua sunnah Rasulullah saw sudah diubah. orang-orang Islam bertanya pada sahabat dalam urusan hukum-hukum agama. [50] Contoh yang lain adalah sujud di atas tanah. kehatihatian. Ali 586 hadits. penguasa politik kemudian melakukan manipulasi hadits dengan motif politik. "Aku sudah tidak mengenal lagi apa yang aku lihat. Salah satu sebab utama perubahan adalah campur tangan penguasa. mereka tidak mengenal kamu (yang kamu amalkan) kecuali kiblat kamu". Utsman 146 hadits.

Bila ada masalah baru yang tidak terdapat pada kedua hal tersebut. yakni mereka yang berguru pada sahabat. Qabus ibn Abi Zhabiyan berkata: Aku tanya ayahku. hanya sedikit para sahabat yang meninggalkan Madinah. Baru ketika Utsman memerintah. dan Abdullah ibn Amr. Banyak diantara tabi'in yang mencapai faqahah (kefaqihan) begitu rupa sehingga sahabat (sic!) berguru pada mereka. mengapa Anda tinggalkan sahabat dan mendatangi 'Alqamah. Ayahku menjawab Aku menemukan sahabat-sahabat Nabi bertanya kepada 'Alqamah dan meminta fatwanya. menurut Abu Zahrah. Ka'ab al-Ahbar sering dimintai fatwa oleh Ibn Abbas. Dari sahabat. karena itu. Sahabat yang terkenal punya banyak murid adalah Ibn Mas'ud di Iraq. kecuali yang diizinkan keluar oleh Umar. (021) 7507174 Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota Please direct any suggestion to Media Team Artikel Yayasan Paramadina Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota IV. . Abdullah ibn 'Umar serta ayahnya Al-Faroq. bahkan sedikit sekali sahabat yang keluar dari Madinah. Abu Musa al-Asy'ari. (021) 7501969. ia mempertimbangkan alasan-alasan. dan lain-lain. mereka diizinkan keluar. umumaya fiqh mawali. ketika kekuasaan Islam meluas. Kedua. Fiqh tabi'in. TINJAUAN KRITIS ATAS SEJARAH FIQH (3/10) Dari Fiqh Al-Khulafa' Al-Rasyidin Hingga Madzhab Liberalisme oleh Jalaluddin Rakhmat Sebenarnya. 7501983. Juga bukan sahabat senior. 'Umar ingin mengambil manfaat dari pendapat mereka. para tabi'in mengumpulkan dua hal: Hadits-hadits Nabi saw dan pendapat-pendapat para sahabat (aqwal al-shahabat). Yang keluar kebanyakan bukan fuqaha. 'Alqamah dan Ka'ab keduanya tabi'in. UA 20-21 Jakarta Selatan Telp. 7507173 Fax. mereka melakukan ijtihad seperti atau dengan metode yang dilakukan para sahabat. Abu Zahrah menulis: [52] -------------------------------------------. para tabi'in.(bersambung 3/10) Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah Editor: Budhy Munawar-Rachman Penerbit Yayasan Paramadina Jln. Dalam pada itu. Metro Pondok Indah Pondok Indah Plaza I Kav. Umar bin Khatab menahan para sahabat senior di Madinah dan melarang mereka meninggalkan kota itu.22. umumnya bukanlah murid al-Khulafa al-Rasyidin. Kebanyakan. tidak banyak. Pertama. baik secara politik maupun administratif dalam pemerintahan.Karena itu. seperti Abdullah bin Mas'ud. sebelum Dinasti Umayyah berkuasa. murid-murid sahabat itu para mawali (non Arab). Zaid ibn Tsabit dan lain-lain di Madinah. Dalam kaitan ini. Abu Hurairah.

BUKTI-BUKTI MANIPULASI HADITS Di sini tidak ditunjukkan manipulasi hadits kecuali seperti tampak pada kitab-kitab hadits yang ada sekarang. Sulayman ibn Yasar (wafat 100 H) dan Kharijah ibn Zaid ibn Tsabit (wafat?). [53] Dengan cara itu. Tetapi ia membuang semua isi surat itu dengan alasan "supaya orang banyak tidak resah mendengarkannya. Isi surat ini secara lengkap dimuat dalam Kitab Shiffin dari Nashr bin Mazahim (wafat 212 H) dan Muruj al-Dzahab tulisan al-Mas'udi (wafat 246 H). membuang seluruh berita tentang sahabat dengan petunjuk adanya penghilangan itu. "Kalian menginginkan kekuasaan ini seperti kekuasaan Heraclius!". Marwan berkata: Ayat al-Qur'an: alladzi qala liwalidaihi uffin lakum turun tentang Abd al-Rahman. [56] Bagaimana mungkin laknat Nabi menjadi . membuang sebagian isi hadits dan menggantinya dengan kata-kata yang tidak jelas. Abu Bakar ibn 'Abid (wafat 94 H). Dalam tarikhnya. saudaranya. antara lain sebagai berikut. Ibrahim al-Nakh'i. [55] Ketiga. Al-Thabari (wafat 310 H) melaporkan peristiwa itu dengan menunjuk kedua kitab di atas sebagai sumber. Marwan marah dan menyuruh orang menangkap Abd al-Rahman. Dari situ paling tidak kita melihat petunjuk (indikator) manipulasi hadits pada zaman tabi'in. siapa yang aku laknat atau aku kecam. Abidullah ibn Abdillah (wafat 99 H). Hamad ibn Abu Sulayman Salim mawla Ibn Umar. ketika al-Nasai diminta meriwayatkan keutamaan Mu'awiyah. Muhammad ibn Abu Bakar menulis surat kepada Mu'awiyah menjelaskaan keutamaan Ali sebagai washi Nabi saw. 'Urwah ibn al-Zubair (wafat 94 H). Mu'awiyah pun mengakuinya.Ada tujuh orang faqih tabi'in yang terkenal (al-fuqaha al-sab'ah): Sa'id ibn Musayyab (wafat 93 H). Di samping mereka ada 'Atha ibn Abi Rabah. 'Aisyah menolak asbab al-nuzul ini. Ada beberapa cara manipulasi hadits. Abd al-Rahman ibn Abu Bakar memprotes Marwan sambil berkata. Shahih Bukhari menghilangkan ucapan Abd al-Rahman dengan mengatakan faqaala 'Abd al-Rahman ibn 'Abi Bakar syai'an (Abd al-Rahman mengatakan sesuatu). Pertama. memberikan makna lain (ta'wil) pada hadits. Kehormatan Khalifah dan Gubernurnya terpelihara. Al-Dzahabi ketika meriwayatkan biografi Al-Nasai menulis. [54] Kedua." Ibn Atsir dalam Al-Bidayah wa al-Nihayah juga menghilangkan kedua surat itu dengan mengemukakan alasan yang sama. Kata-kata ini dalam Tafsir al-Thabari dan Ibn Katsir diganti dengan: wa kadza wa kadza (demikianlah-demikianlah). ia berkata. Al-Qasim ibn Muhammad ibn Abu Bakar (Wafat 108 H). dan 'Ikrimah mawla Ibn Abbas. Contoh-contoh yang diberikan di sini difokuskan pada manipulasi yang diduga beralasan politis. kecaman kepada Mu'awiyah dan Marwan tidak diketahui. al-Thabari meriwayatkan ucapan Nabi saw tentang Ali: "Inilah washihu dan khalifahku untuk kamu". "hadits apa yang harus aku keluarkan kecuali ucapan Nabi. Tentu saja kata "washi"dan "khalifah" mempunyai konotasi yang sangat jelas. Ia lari ke kamar 'Aisyah ra. jadikanlah laknat dan kecaman itu kesucian dan rahmat baginya. Kata Al-Dzahabi: Barangkali yang dimaksudkan dengan keutamaan Mu'awiyah ini adalah ucapan Nabi saw: Ya Allah. Ketika Marwan menjadi Gubernur Mu'awiyah di Hijaz. semoga Allah tidak mengenyangkan perut Mu'awiyah". Al-Syu'bi. ia meminta rakyat untuk membaiat Yazid.

Beberapa tabi'in juga melarang penulisan hadits. Ia membenci Al-Harits karena kecintaannya yang berlebihan pada Ali dan mengutamakan Ali di atas sahabat yang lain. Pada bukunya. Ibn Abd al-Barr mengomentari ucapan al-Syu'bi: Ia tidak menjelaskan apa alasan dusta untuk Al-Harits. Ibn Hisyam mendasarkan tarikhnya pada tarikh Ibn Ishaq. Andalah tonggak agama. Ia berkata: menyampaikan padaku Al-Harits. kata Ibn Hisyam dalam pengantarnya. "Tetapi aku tinggalkan sebagian riwayat Ibn Ishaq yang jelek bila disebut orang". Anda berhaji ke Baitullah. Al-Thabari. Karena itu. orang terbaik. melarang penulisan hadits Nabi saw. yang dibuat-buat oleh orang Syi'ah. Lahirnya Madzhab-madzhab Fiqh Ketika al-Manshur baru saja diangkat menjadi khalifah. tetapi Bukhari dan Muslim memang meriwayatkan hadits ini. Abu Nu'aim al-Isbahani. maafkanlah aku untuk tidak berbicara. washiku dan Khalifahku untuk kamu. salah seorang pendusta." "Aku maafkan Anda". Keempat. Berkenaan dengan ini bagian "Fiqh al-Khulafa' al-Rasyidin" di atas. Al-Syuibi mengutamakan Abu Bakar. Kemudian ia melirik kepada Ibn Sam'an: "Bagaimana pendapat kamu?" Kata Ibn Sam'an: "Anda. dan bahwa Abu Bakar adalah orang yang pertama masuk Islam. dan khalifahku untuk kamu. Khalifah bertanya. cetakan kedua (Tahun 1354). aku tawassul padamu dengan Allah swt dan aku meminta tolong padamu dengan Muhammad saw dan dengan kekeluargaanmu padanya. Pada Hayat Muhammad. ia mengundang Malik ibn Anas. atau orang-orang yang bodoh dalam ilmu hadits. Demi Allah. "Inilah saudaraku. demi Allah. Ia dikawal para prajurit dengan pedang-pedang terhunus. washiku. 3. Ibn Katsir mendha'ifkan riwayat Nabi tentang Ali sebagai Washi. [69] Ia lupa bahwa hadits ini diriwayatkan dari banyak sahabat Nabi oleh Imam Ahmad. membuang sebagian isi hadits tanpa menyebutkan petunjuk ke situ atau alasan. mendha'ifkan hadits-hadits yang mengurangi kehormatan penguasa atau yang menunjang keutamaan lawan. kata al-Manshur. dan umat teradil. Ibn Sam'an dan Ibn Abi Dzuaib. Anda berikan keamanan di jalan. Keenam. orang yang paling baik. Kelima. ia mengutip ucapan Nabi: Siapa yang akan membantuku dalam urusan ini supaya menjadi saudaraku. Dalam Ibn Ishaq diriwayatkan Nabi saw berkata. Al-Syu'bi mendustakan Al-Harits. Anda lindungi orang yang lemah supaya tidak dimakan yang kuat. Al-Thabrani. cetakan pertama. "Atas nama Allah . ya Amir al-Mu'minin." [58] Belakangan ini Muhammad Husayn Haykal. Setelah berbicara panjang. ucapan Nabi saw ini dihilangkan sama sekali. Anda perangi musuh. Ia menganggap riwayat itu sebagai dusta. dalam Hayat Muhammad melakukan hal yang sama. "Bagaimana pendapat kalian tentang diriku? Apakah aku pemimpin adil atau zalim?" Malik bin Anas berkata: "Ya Amiral Mu'minin. [57] Al-Thabrani dalam Majma' al-Zawaid meriwayatkan ucapan Rasulullah saw kepada Salman bahwa Ali adalah washi-nya. bukan untuk Khalifah. wallahu a'lam. Al-Thabrani memberi komentar: Ia menjadikan washi untuk keluarganya." Kemudian al-Manshur melirik Ibn Abi Dzuaib. Ibnu 'Asakir dan lain-lain. Di antara yang dibuang itu adalah kisah "wa andzir 'asyirataka al-aqrabin". Al-Syu'bi meriwayatkan hadits dari Al-Harits al-Hamdani.kesucian dan rahmat.

Ia tak bicara sesuatu yang tak manfaat. tetapi karena tidak didukung penguasa. Malik berkata tentang Ja'far: "Aku pernah berguru pada Ja'far bin Muhammad beberapa waktu. anak yatim. Pada akhir bagian ini kita akan membicarakan "pokok dan tokoh" madzhab yang masih memiliki banyak pengikut sampai sekarang. kita akan meninjau latar belakang historis dari tumbuhnya madzhab-madzhab fiqh. Anda tahan harta mereka. Anda merampas harta Allah. dan ia termasuk ulama yang taat beribadah. Ibn Abi Dzuaib. Ibn Dzuaib adalah orang yang membukukan hadits di Madinah. Ia lebih berani. RasulNya. Tidak pernah aku lihat ia meriwayatkan hadits dari Rasulullah kecuali dalam keadaan suci. ketika Harun al-Rasyid berkuasa. Tapi. atau sedang membaca al-Qur'an.bagaimana pendapatmu tentang diriku?" Yang ditanya menjawab. Anda persulit orang yang kuat. Bagiku sama saja apakah mati itu dipercepat atau diperlambat. demi Allah." Peristiwa di atas. Ja'far al-Shadiq. nama lengRapnya Abu al-Harit Muhammad ibn Abd al-Rahman ibn al-Mughirah ibn Dzuaib al-'Amiri. Imam Malik menjadi terkemuka setelah al-Manshur memberikan segala kehormatan kepadanya. dan kepada setiap wilayah kaum Muslim saya kirim satu naskah. namanya hampir tidak pernah disebut dalam buku-buku tarikh. dengan para pengikut yang tersebar di berbagai bagian dunia Islam. serta saya instruksikan agar mereka mengamalkan isinya sehingga mereka tidak mengambil yang lain. Ketika naik haji. Masih sezaman dengan Malik dan bahkan Malik pernah berguru kepadanya. Anda manusia terjahat. yang dikisahkan Ibn Qutaybah. Seperti akan kita uraikan nanti. Anda hancurkan yang lemah. adalah faqih dari keluarga Rasulullah saw. al-Manshur berkata kepada Malik: "Saya punya rencana untuk memperbanyak kitab yang kau susun ini. kita tahu bahwa Malik didukung para penguasa. di samping Malik. Aku tidak pernah melihatnya kecuali dalam salah satu di antara tiga keadaan: sedang shalat. Walau Malik menolak rencana kedua khalifah itu. tentu saja tidak dikenal. Ia pun hampir tidak dikenal kecuali pada kalangan pengikutnya saja. Tapi sebelum itu." Begitu pula." Sifat terakhir ini justru menyebabkan Ja'far tidak disenangi penguasa. sedang puasa. Apa alasanmu di hadapan Allah nanti?" "Celaka kamu. zuhud. dan orang miskin. Malik bin Anas kelak terkenal sebagai pendiri madzhab Maliki. Menurut al-Dahlawi. dan bagian keluarga Rasul. tidakkah kamu lihat apa yang ada dihadapanmu?" kata al-Manshur. "Menurut pendapatku. Fame bestows no favors upon the losers. "Benar. ia bermusyawarah dengan Malik untuk menggantungkan al-Muwaththa pada Ka'bah dan memerintahkan orang untuk beramal menurut Kitab itu. madzhab-madzhab itu akhirnya hilang dari catatan sejarah. yaitu saya salin. sebetulnya banyak madzhab muncul. aku lihat pedang dan itu berarti kematian. adalah seorang alim yang terkenal faqih dan wara. Sejarah memang hanya memihak yang menang. dan boleh jadi lebih faqih dari Malik. Fiqhnya "dicurigai" dan para pengamalnya dianiaya. yang hanya takut kepada Allah saja. Namun sekarang hampir tidak ada orang yang mengenalnya. Ibn Dzuaib. . Dalam tulisan ini kita akan mencatat beberapa orang tokoh madzhab yang terlupakan. menunjukkan posisi Malik ibn Anas dibandingkan ulama yang sezaman dengannya.

Abu Rafi Mawla Rasulullah. Ali dan kedua puteranya. mereka mengembangkan esoterisme dan disimulasi untuk memelihara fiqh mereka." Salah satu contoh sunnah yang dijauhi orang adalah tasthih seperti diceritakan oleh Muhamamd bin 'Abd al-Rahma yang berkata: "Yang sunnah dalam membuat kubur adalah meratakan permukaan kubur (tasthith). Murtadha al-'Askary menyebut dua madzhab awal ini sebagai Madrasah al-Khulafa dan Madrasah Ahl al-Bayt. Para sahabat dapat dikelompokkan dalam dua besar. Yaitu ahl al-Bayt dan para pengikutnya. Tidak jarang sunnah Rasulullah yang sahih ditinggalkan karena sunnah itu dipertahankan dengan teguh oleh para pengikut ahl al-Bayt. Ummi Salamah. Inilah yang paling kuat menurut madzhab Syaf'i. Ibn Abbas. Yang pertama. Kedua madrasah ini berbeda dalam menafsirkan al-Qur'an. Umar. Sedangkan Abu Bakar. Pada zaman kekuasaan dinasti Umawiyyah. karena tasthih sudah menjadi syi'ar sy'iah. dan melakukan istinbath hukum. Ali dan sebagainya. Ibn Umar. Ibn Taymiyyah menulis perihal tasyabbuh dengan syiah: "Dari sinilah para fuqaha berpendapat untuk meninggalkan al-mustahabbat (yang sunat) bila sudah menjadi syiar orang-orang Syi'ah. Sementara itu. melandaskan fiqhnya pada al-Qur'an. bila orang berbicara tentang madzhab. Aisyah. memandang sunnah Rasulullah. Miqdad. sedikit menggunakan hadits dan lebih banyak berpijak pada penalaran rasional dengan melihat sebab hukum (illat) dan tujuan syara' (maqashid syar'iyyah). Aisyah. dan sedapat mungkin menghindari ra'yu dalam menetapkan hukum. madrasah al-Khulafa bercabang lagi ke dalam dua cabang besar: Madrasah al-Hadits dan Madrasah al-Ra'y.SEJARAH PEMBENTUKAN MADZHAB Kelima Madzhab yang akan kita bicarakan -Ja'fari. maka yang dimaksud adalah madzhab di kalangan sahabat Nabi: Madzhab Umar. dan mengeluarkan fatwa yang bertentangan dengan ahl al-Bayt. masuk kelompok pertama. Metro Pondok Indah .(bersambung 4/10) Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah Editor: Budhy Munawar-Rachman Penerbit Yayasan Paramadina Jln. Maliki. sehingga sunni tidak berbeda dengan syi'ah.tumbuh pada zaman kekuasaan dinasti Abbasiyah. Syafi'i. berpusat di Iraq. Karena tekanan dan penindasan. membunuh para pengikut setianya. Yang kedua. Pada zaman sebelum itu. dan sebagainya. juga para sahabat di luar ahl al-Bayt. "Tapi Abu Hanifah dan Ahmad berkata: "Menaikkan permukaan kubur (tasnim) lebih baik. Ibn Qutaybah dalam Kitab al-Ikhtilaf menceritakan bagaimana raja-raja Umawiyyat berusaha menghapuskan tradisi ahl al-Bayt dengan mengutuk Ali bin Abi Thalib di mimbar-mimbar. 'Ammar bin Yasir. Abu Hurairah dan lain-lain masuk kelompok kedua." -------------------------------------------. dan Hanbali-. berpusat di Madinah. Hudzaifah. Kemaslahatan berbeda dengan mereka dalam rangka menjauhi dan menentang mereka lebih besar dari kemaslahatan mengamalkan yang musthab itu. Hanafi. Utsman. Karena walaupun meninggalkannya tidak wajib menampakkannya berarti menyerupai (tasyabbuh) mereka. Madrasah ahl al-Bayt tumbuh "di bawah tanah" mengikuti para imam mereka. al-Sunnah dan Ijtihad para sahabat. Abu Dzarr.

Para khalifah banyak melakukan hal-hal yang melanggar sunnah Rasulullah saw b) Terputusnya hubungan antara pusat khilafah dengan pusat ilmiah. Dr. diangkat menjadi qadhi dalam pemerintahan tiga khalifah Abbasiyah: al-Mahdi. Madzhab Hanbali menjadi kuat pada masa pemerintahan al-Mutawakkil. Di antara mawali itu adalah Abu Hanafi dan di antara imam ahl al-Bayt adalah Ja'far bin Muhammad.22.yang justru lebih banyak pada daerah kekuasaan Islam. pusat pemerintahan berada di Syam. Al-Kharaj adalah Kitab yang disusun atas permintaan al-Rasyid. al-Mu'iz Badis mewajibkan seluruh penduduk untuk mengikuti madzhab Maliki. Dinasti Abbasiyah disambut dengan penuh antusias baik oleh mawali maupun pengikut ahl al-Bayt. sedangkan pusat-pusat ilmiah berada di Iraq dan Hijaz. Madzhab Maliki berkembang di khilafah Timur atas dukungan al-Manshur dan di khilafah Barat atas dukungan Yahya bin Yahya ketika diangkat menjadi qadhi oleh para khalifah Andalusia. c) Politik diskriminasi yang mengistimewakan orang Arab di atas orang bukan Arab. Waktu itu al-Mutawakkil tidak mengangkat seorang qadhi kecuali dengan persetujuan Imam Ahmad ibn Hanbal. bahwa madzhab-madzhab besar yang kita kenal sekarang --kecuali mazhab Ja'fari-.membesar karena dukungan penguasa. madrasah-madrasah itu tidak melahirkan pemikiran-pemikiran madzhab. (021) 7501969. Karena itu pada permulaan pemerintahannya. TINJAUAN KRITIS ATAS SEJARAH FIQH (4/10) Dari Fiqh Al-Khulafa' Al-Rasyidin Hingga Madzhab Liberalisme oleh Jalaluddin Rakhmat Pada periode Umawiyyah. . Dinasti Umawiyah memisahkan Arab dan mawali. Madzhab Hanafi mulai berkembang ketika Abu Yusuf. Kitab ini adalah rujukan utama madzhab Hanafi. 7501983. Banyak tokoh sahabat dan tabi'in yang menganggap daulat Umawiyyah ditegakkan di atas dasar yang batil. UA 20-21 Jakarta Selatan Telp. dan al-Rasyid. al-Hadi. 7507173 Fax. Keduanya mengembangkan ajaran mereka pada zaman Abbasiyah. (021) 7507174 Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota Please direct any suggestion to Media Team Artikel Yayasan Paramadina Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota IV. Kebijakan ini menyebabkan timbulnya rasa tidak senang pada para mawali . IMAM-IMAM MADZHAB YANG TERLUPAKAN Sudah disebutkan di muka. Di Afrika. Muhammad Farouq al-Nabhan menjelaskan sebab-sebab berikut: a) Hubungan yang buruk antara ulama dan khulafa.Pondok Indah Plaza I Kav. Madzhab Syafi'i membesar di Mesir ketika Shalahuddin al-Ayyubi merebut negeri itu. Banyak di antara mereka adalah para sarjana dalam berbagai disiplin ilmu. Waktu itu. murid Abu Hanifah.

Ia diberi gelar al-Zhahiry karena berpegang secara . yang nasikh dan yang mansukh dan paham akan pendapat para sahabat. tersebarlah madzhabnya di seluruh penjuru bumi. Abu Ja'far Muhammad ibn Jarir ibn Yazid ibn Khalid ibn Ghalib al-Thabary lahir di Thabaristan 224 H dan wafat di Baghdad 310 H. dan tulisan mereka terkenal di masyarakat. Ia termasuk mujtahid ahl al sunnah yang tidak bertaklid kepada siapa pun. Madzhabnya diamalkan orang sampai abad IV. ia melarikan diri dan meninggal di tempat pelarian. 5. Salah seorang muridnya yang masyhur adalah Ibn Hazm. Bila para pengikut madzhab itu lemah dan tidak memperoleh posisi sebagai hakim dan tidak berwewenang memberi fatwa. Ia berguru pada Ja'far al-Shadiq dan meriwayatkan banyak hadits." Beberapa madzhab sebagai berikut: yang hilang itu secara singkat diuraikan 1. Ia sangat dekat dengan Bani Umayyah dan juga Bani Abbas. Kata Ibn Khuzaymah: Ia hafal dan paham al-Qur'an. Lahir di Kufah tahun 65 H dan wafat di Bashrah tahun 161 H. al-Zuhry. Dengan begitu. Madzhabnya berkembang sampai abad VII. mengetahui betul makna al-Qur'an. mengetahui sunnah dan jalan-jalannya. 3. Ia faqih. Ia memberi komentar: "Seandainya tidak ada Malik dan Ibn 'Uyaiynah. tetapi ia berhasil lolos. Ketika ia diminta menjadi qadhi. Ayahnya termasuk perawi hadits yang ditsiqatkan Ibn Ma'in. ketika Ahmad menyebut dirinya hanya sebagai ahli hadits. Pendirinya Abd al-Rahman bin Amr al-Awza'iy adalah imam penduduk Syam. Madzhab al-Tsawri. hilanglah ilmu Hijaz. Imam Ahmad menyebutnya sebagai seorang faqih. tetapi setelah itu hilang karena tidak ada dukungan penguasa. Lalu madzhab itu pun hilang setelah beberapa lama.Dalam menyimpulkan semua ini. Tidak diketahui sampai kapan madzhabnya diikuti orang. Tokoh madzhab ini adalah Abu Abd Allah Sufyan bin Masruq al-Tsawry. maka orang tak ingin mempelajari madzhabnya. dapat membedakan yang sahih dan yang lemah. Nama lengkapnya Abu Muhammad Sufyan ibn 'Uyaiynah wafat tahun 198 H. Abu Sulayman Dawud ibn 'Ali dilahirkan di Kufah tahun 202 H dan hidup di Baghdad sampai tahun 270 H. Pahamnya diikuti orang sampai abad IV Hijrah. 2. Syah Wali al-Dahlawi menulis: "Bila pengikut suatu madzhab menjadi masyhur dan diberi wewenang untuk menetapkan keputusan hukum dan memberikan fatwa. Madzhab al-Awza'iy. Malik dan al-Tsawry) yang paling benar? Malik berkata: "Al-Awza'iy. Madzhab al-Zhahiry. Madzhabnya tersisihkan hanya ketika Muhammad bin Utsman dijadikan qadhi di Damaskus dan memutuskan hukum menurut Madzhab Syafi'i Ketika Malik ditanya tentang siapa di antara yang empat (Abu Hanifah. Di antara yang mengambil riwayat dari padanya adalah Syafi'i. lalu orang mempelajari madzhab itu terang-terangan. Madzhab Ibn 'Uyaiynah. Madzhab al-Thabary. al-Awza'iy. Abu Ishaq dan lain-lain. 4. Ia mengambil ilmu dari Imam Ja'far. Ibn Dinar. Berkali-kali al-Manshur mau membunuhnya." Mazhabnya diamalkan orang sampai tahun 302 H.

Di antara murid-muridnya adalah Imam Malik. kita tuliskan percakapannya dengan muridnya selama dua tahun seperti diceritakan Abu Nu'aim: Abu Hanifah.harfiah pada teks-teks nash. Mereka tak perduli membunuh orang tak berdosa karena dianggap mengancam pemerintahannya. Ia juga menyaksikan bahwa para khalifah Abbasiyah tidak lebih baik dari para khalifah Umawiyah dalam kebenciannya kepada keluarga Rasul. yang kemudian dijawab Ia orang pintar dan mengetahui agama. Ibn 'Uyaiynah.di sini hanya disebutkan beberapa catatan kecil saja. "Bukankah ia suka melakukan qiyas dalam urusan agama?. Abu Hanifah." Ja'far bertanya kepada Abu Hanffah: "Siapa namamu?" "Nu'man. mereka segera mengucilkannya atau membunuhnya. ketika Ya'qub ibn Yusuf ibn Abd al-Mu'min meninggalkan mazhab Maliki dan mengumumkan perpindahannya ke madzhab al-Zhahiry. Imam Ja'far memusatkan perhatiannya pada penyebaran sunnah Rasulullah dan peningkatan ilmu dan akhlak kaum Muslim. Ia menanyakan Ibn Abi Layla tentang kawannya. Kaum 'Alawi menunjukkan nasab seperti mereka dan memiliki kekerabatan dengan Rasulullah yang tidak dimililki 'Abbasiy. Karena itu. Mereka selalu cemas menghadapi mereka. pemberontakan Zaid ibn Ali. bila para penguasa 'Abbasiyah melihat ada dakwah 'Alawi. Syu'bah ibn al-Hajjaj. dan penindasan terhadap para pengikut madrasah ahl al-Bayt. Berikut adalah para pemuka madzhab yang terkenal. "Benar. Selama lima belas tahun ia tinggal bersama kakeknya. mereka segera menghukumnya. Untuk mengetahui pemikiran Imam Ja'far dalam hal fiqh. IMAM JA'FAR IBN MUHAMMAD AL-SHIDIQ (82-140 H) Ja'far ibn Muhammad ibn Ali ibn Husain (ibn Ali) ibn Fathimah binti Rasulullah saw lahir di Madinah tahun 82 H pada masa pemerintah Abd al-Malik ibn Marwan. Ia sempat menyaksikan kekejaman al-Hajjaj. Inilah sebagian di antara tokoh-tokoh madzhab yang tidak lagi dianut secara resmi sekarang ini. Ia juga menyaksikan naiknya al-Saffah dan al-Manshur dengan memanipulasikan kecintaan orang pada ahl al-Bayt. Ibn Syabramah. Setelah Ali wafat. Abu Zahrah menulis: Dinasti 'Abbasiyah selalu merasa terancam dalam kekuasaannya oleh para pengikut Ali. Karena riwayat hidup mereka sudah disebutkan di atas --kecuali Imam Ja'far-. dan Ibn Abi Layla menghadap Imam Ja'far. Bila mereka melihat ada pejabat yang memuji Bani 'Ali. dan ribuan para perawi. Ali Zainal Abidin keturunan Rasul yang selamat dari pembantaian di Karbela. Orang-orang yang menentang mereka semuanya berasal dari 'Alawiyyin. Fadhail ibn Iyadh." tanya Ja'far. Ia berkembang di daerah Maroko. ia diasuh oleh ayahnya Muhammad al-Baqir dan hidup bersama selama sembilan belas tahun." . al-Tsawry. Pokok-pokok pikirannya dalam fiqh akan kita perkenalkan secara singkat. Dalam suasana seperti itulah.

Tugas mujtahid adalah mengeluarkan dari al-Qur'an jawaban-jawaban umum untuk masalah-masalah yang khusus." Sikap Abu Hanifah itu. ia melihat bahwa khalifah haruslah diserahkan pada keturunan Ali dari Fathimah. c) Al-Qur'an dipandang telah lengkap menjawab seluruh persoalan agama. . menulis: "Sesungguhnya Abu Hanifah itu Syi'ah dalam kecenderungan dan pendapatnya tentang penguasa di zamannya." "Lalu. Mereka tidak mau menjadikan hujjah hadits-hadits yang diriwayatkan para sahabat yang memusuhi ahl al-Bayt." "Mana yang lebih besar kewajibannya . Qiyas hanya dipergunakan bila 'illat-nya manshush (terdapat dalam nash). Begitu pula." Dari percakapan di atas kita melihat perbedaan pendekatan hukum di antara dua pemuka madzhab.membunuh atau berzinah? "Membunuh."Aku tidak melihat Anda menguasai sedikit pun. Abu Hanifah berbay'at kepadanya. Ketika Muhammad dan Ibrahim dari ahl al-Bayt memberontak. Allah akan menyertakannya bersama iblis.shalat atau shawm (puasa)?" "Shalat" "Mengapa wanita yang haidh harus mengqadha shawmnya tetapi tidak harus mengqadha shalatnya. Ia menentang setiap kezaliman. Termasuk ke dalam sunnah adalah sunnah ahl al-Bayt: yakni para imam yang ma'shum. Bertaqwalah kepada Allah dan jangan melakukan qiyas dalam agama. Barang siapa yang menggiyas dalam agama. Bagaimana kamu menggunakan qiyasmu. al-Sunnah dan akal. Manakah yang lebih besar dosanya . mengapa Allah hanya menuntut dua orang saksi untuk pembunuhan dan empat orang saksi untuk zinah. penulis biografi Abu Hanifah. dan bahwa para khalifah yang sezaman dengan mereka telah merampas haknya dan karena itu mereka zalim. Abu Hanifah mendukungnya. Karena Rasulullah dan para imam adalah orang yang mengetahui rahasia-rahasia al-Qur'an. ayahku memberitahukan kepadaku dari kakekku bahwa Nabi saw bersabda: Orang yang pertama menggunakan qiyas dalam agama adalah iblis. Pada hal-hal yang tak terdapat ketentuan nashnya. Di antara karakteristik khas dari madzhab Ja'fari. Karena ketika Allah menyuruhnya bersujud kepada Adam ia berdalih: Aku lebih baik dari dia karena aku Kau buat dari api dan ia Kau buat dari tanah. IMAM ABU HANIFAH Abu Hanifah terkenal sebagai alim yang teguh pendirian. selain menolak qiyas adalah hal-hal berikut: a) Sumber-sumber syar'iy adalah al-Qur'an. Yakni. b) Istihsan tidak boleh dipergunakan." kata Ja'far sambil mengajukan berbagai pertanyaan yang tidak bisa dijawab Abu "Hai Nu'man. digunakan akal berdasarkan kaidah-kaidah tertentu. penafsiran al-Qur'an yang paling absah adalah yang berasal dari mereka. ditambah hasutan Ibn Abi Layla. Beberapa kali ia mengkritik al-Manshur secara terbuka. Abu Zahrah. karena ia mengikutinya dengan qiyas. ketika Imam Zayd melawan penguasa.

22. Bila tidak. Pokok fiqih madzhab Hanafi bersumber pada tiga hal: a) Sumber-sumber naqliyah. Aku tidak keluar dari pendapat sahabat kepada pendapat yang lain. Jika tidak aku dapatkan dalam al-Kitab dan Sunnah Rasulullah. (021) 7501969.mengeluarkan fatwa yang tidak dikehendaki penguasa. Abu Hanifah bahkan mengarqurkan beramal dengan 'urif. ia dipenjarakan. Ia tidak mungkin menarik Ja'far dan tidak berhasil .(bersambung 5/10) Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah Editor: Budhy Munawar-Rachman Penerbit Yayasan Paramadina Jln. karena diberi makanan beracun. Bila sudah sampai pada tabi'in. Ketika Abu Hanifah menolaknya. menurut satu riwayat. dan pendapat para sahabat. c) Al-A'raf. Tapi karena kedudukan Abu Hanifah di masyarakat. al-Sunnah. (021) 7507174 Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota Please direct any suggestion to Media Team Artikel Yayasan Paramadina Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota IV. yakni adat kebiasaan yang tidak bertentangan dengan nash. Di antaranya Abu Yusuf. TINJAUAN KRITIS ATAS SEJARAH FIQH (5/10) Dari Fiqh Al-Khulafa' Al-Rasyidin Hingga Madzhab Liberalisme oleh Jalaluddin Rakhmat IMAM MALIK Pada zaman kekuasaan Ja'far ibn Sulayman tahun 146 H Malik dihukum cambuk. Abu Hanifah berkata. ijma. yang meliputi al-Qur'an. Ia --menurut satu riwayat-. 7501983. -------------------------------------------. terutama dalam masalah perdagangan.menimbulkan kemarahan Al-Manshur. di samping ingin berusaha memanfaatkan alim besar ini. aku mengambil pendapat para sahabat yang aku kehendaki dan meninggalkan yang tidak aku kehendaki. yaitu dengan menggunakan qiyas dan istihsan. yang disampaikan oleh orang-orang yang dapat dipercaya. mereka berijtihad dan aku pun berijtihad. Setelah itu. UA 20-21 Jakarta Selatan Telp. yang kemudian menjadi qadhi dan banyak memasukkan hadits dalam kitab-kitabnya. Ia mengakhiri hidupnya. "Aku mengambil dari al-Kitab. ia dicambuk sepuluh lecutan. Al-Mansur tak dapat membunuhnya tanpa alasan. Metro Pondok Indah Pondok Indah Plaza I Kav.". yang sangat ekstrem menggunakan qiyas. jika aku dapatkan di dalamnya. dan Zafr ibn al-Hudzail. Muhammad ibn Hasan al-Syaybany. al-Manshur merasa bersalah. Setiap hari. Lalu ia menjebak Abu Hanifah dengan jabatan qadhi. Abu Hanifah meninggalkan banyak murid. yang pernah berguru pada Malik dan kemudian menggabungkan madrasah hadits dengan madrasah Ra'y. 7507173 Fax. b) Sumber-sumber ijtihadiyah. aku ambil Sunnah Rasulullah dan hadits-hadits yang sahih.

Seorang alim besar di kota itu mengecam orang-orang yang menjamak shalat Zhuhur dan Ashar. Malik menjadi sangat berwibawa. . ijma' mutaakhir: masing-masing dengan kekuatan hukum yang berbeda. "Tidak benar." Orang itu berkata: "Bukan aku yang berkata begitu. f) Istihsan. e) Khabar Ahad dan Qiyas. Bila zhahirnya sunnah bertentangan dengan al-Qur'an. e) Qiyas. c) Ijma' penduduk Madinah. b) al-Ijma'. Ia memberikan wewenang besar pada Malik untuk mengangkat dan memberhentikan para pejabat yang dipandangnya tidak mampu." Catatan kecil di atas menunjukkan kekuasaan Malik. "Ini khusus untuk Rasulullah saw. didahulukan al-sunnah. j) Istishhab." Malik memanggil pengawalnya: "Ia zindiq. Al-Manshur pada musim haji 153 H." kata sang imam. Tetapi shalat jamak ini terdapat dalam kitab hadits shahih Bukhari dan Muslim. Ketika seorang murid membantah Malik perihal penguburan rambut dan kuku. Ini sangat berpengaruh pada penyebaran madzhabnya. Orang-orang ketakutan berada di majlisnya. kata pemuda itu. "Mereka membawa agama baru yang bukan agama Muhammad saw. mafhum-nya dan illat-nya. b) Al-Sunnah: al-mutawatirah dan al-masyhurah. c) Ikhtilaf sahabat. seorang pemuda menanyakan lagi perihal shalat jamak. Bila engkau sudah menjadi Rasul Allah bolehlah engkau melakukannya. Anas ibn Malik dan banyak sahabat lainnya melakukan shalat jamak (bukan karena bepergian). STAGNASI PEMIKIRAN FIQH: MASA KETERTUTUPAN Dr. Pemuda itu mengeluarkan kedua kitab shahih tersebut dan memintanya membaca hadits-hadits tentang shalat jamak. meminta maaf kepada Malik atas perlakukan salah seorang penguasanya. g) Mashalih mursalah. Karena wewenangnya ini. d) Hadits mursal dan dha'if. ijma' secara naql.mengambil hati Abu Hanifah. d) Fatwa sahabat." Seusai shalat. Aku hanya melaporkan ucapan orang lain. 4. Ketika ia membacanya. IMAM HANBALI Pokok-pokok fiqh madzhab Hanbali: a) Al-Nushush. dalil-nya. bunuh dia. Mereka menyalahi al-Qur'an yang menyatakan bahwa shalat itu bagi kaum Mukmin kewajiban yang ditetapkan waktunya. Ia juga boleh menghukum mati atau memenjarakan yang dipandangnya bersalah. h) Sadd al-Dzara'i. IMAM SYAFI'I Pokok-pokok fiqh Syafi'i ada lima: a) Al-Qur'an dan al-Sunnah. Tunisia. Malik memukul orang itu dan memenjarakannya Ketika seorang bertanya: "Bagaimana pendapat Anda tentang orang yang berpendapat bahwa al-Qur'an itu makhluk?. b) Fatwa sahabat. Ia berkata bahwa itu termasuk salah satu bid'ah orang Syi'ah." Pemuda itu bermaksud menunjukkan bahwa Ibn Abbas. d) Ikhtilaf sahabat Nabi. Ijma' sebelum terbunuhnya Utsman. i) Mura'at khilaf al-mujtahidin. c) Pendapat sahabat yang tidak ada yang menentangnya. e) Qiyas. karena wibawa Malik." Malik menukas: "Tapi aku hanya mendengarnya dari kamu. Madzhab Maliki mendasarkan fiqhnya pada 12 pokok: a) Al-Qur'an: zhahirnya. k) Syar'man qablana. Ia mengembalikan kedua kitab itu sambil berkata. Muhammad al-Tijani al-Samawi bercerita tentang kisah fanatisme di kota Qafsah. hadirin tercengang mendengarnya.

tapi di sisi lain menyebabkan para ulama merasa cukup dengan apa yang telah tersedia.tetapi ia mengurungkan maksudnya. Di Afghanistan seorang mushalli memberi isyarat dengan telunjuknya dan menggerak-gerakkannya. Apa dalilnya? Dalilnya terdapat dalam Kitab fiqh al-Syaikh al-Kaydani. di satu sisi menyimpan khazanah ilmu para ulama. Bersamaan dengan itu. Mereka tak merasa perlu melakukan penelitian ulang. KARAKTERISTIK ZAMAN STAGNASI: TRADISI MENSYARAH KITAB Setelah keempat imam madzhab ahl al-Sunnah meninggal dunia. sesudah sebelumnya mempelajari al-Qur'an. Peminat fiqh hanya mempelajari kitab yang ditulis seorang faqih tertentu di antara tokoh-tokoh madzhabnya Ia tidak melihat kepada syari'at dan fiqh kecuali melalui tulisan dalam kitab itu. Maksudnya untuk . baik yang lemah maupun yang kuat. Pada masa inilah berkembang al-tafsir bi al-ma'tsur. ilmu ushul al-fiqh. dan tanzhim dalam madzhab fiqh. walau selama masa itu muncul juga beberapa ulama fiqh dan ushul yang cemerlang. al-Sunnah. ilmu jarh wa ta'dil dan riwayat para sahabat. Ketika ditanya mengapa itu terjadi. al-mustadrakat dan sebagainya. dan para mujtahid. Kita akan mengakhiri dengan melacak sebab-sebab timbulnya stagnasi pemikiran ini. Pasal ini akan memperlihatkan karakteristik zaman ini dari segi karya-karya ilmiah yang lahir waktu itu dan dari segi kecenderungan pemikiran. Pemikiran bergeser dari upaya mencari sebab-sebab dan maksud syara' dalam memahami hukum. Penafsiran al-Qur'an. Kawan shalat di sampingnya memukulnya dengan keras sehingga telunjuk itu patah. al-masanid. Mereka menulis buku-buku yang lebih merupakan ensiklopedia atau kamus dari pada analisis ilmiah. al-ma'ajim. fiqh memasuki zaman tadwin (kodifikasi). Al-Ustadz al-Zarqa melukiskan situasi umum pada waktu itu: Pada zaman tersebut pemikiran fiqh mengalami kemunduran. ia menjawab bahwa menggerakkan telunjuk dalam tasyahud adalah haram. dan fiqh para imam madzhab disusun dalam buku. tabi'in. dibukukan pula riwayat para perawi hadits. dimulai kemandegan dan diakhiri kebekuan. Gerakan tadwin. Dalam penafsiran al-Qur'an misalnya. tarjih. pokok-pokok dan maksud-maksud syara'. Hadits-hadits dibukukan dalam bentuk al-jawami'. Berbagai ilmu Islam dibukukan dan tidak disampaikan secara lisan lagi. Para pengikut membukukan fatwa-fatwa dan hasil ijthad para mujtahid tersebut. Sebuah rentang waktu yang oleh para Tarikh Tasyri' disebut sebagai zaman stagnasi pemikiran fiqh ('ashr al-rukud). Dengan begitu. serta menghimpun penafsiran para sahabat. Pada zaman inilah pemikiran taqlid mutlak dominan. para ulama menghimpun hadits-hadits Nabi saw. ke upaya menghapal yang sia-sia dan merasa cukup dengan menerima apa yang telah tertulis dalam kitab-kitab madzhab tanpa penelitian. menghilanglah kegiatan yang dulu merupakan gerakan takhrij. Kedua peristiwa di atas terjadi dalam rentang waktu cukup lama -menurut sebagian penulis dari abad VI Hijrah sampai abad XIII. Perlahan-lahan berkembanglah tradisi membuat syarah (komentar) dan matan. hadits.

Sikap ini ditunjukkan jelas oleh al-Syaykh Abu al-Hasan Abdullah al-Karkhy ketika ia berkata. Pada zaman ini. Diriwayatkan oleh para pengikut Maliki bahwa pada paham Imam Malik sudah tertulis Malik Hujatullah di bumi. Allah mengizinkannya. Argumentasi dikembangkan untuk membela madzhab masing masing. sepanjang saya ketahui. Irsyad al-Sary. Ada pula beberapa kitab yang mensyarah al-Muwatha susunan Imam Malik. misalnya. Ketika Abu Hanifah wafat. juga berkembang tradisi munaqasyah madzhabiyah (diskusi madzhab). Ibn Rouzbahan menulis bantahan pada Minhaj al-Karamah. Sebagai jawaban terhadap serangan ahl al-Sunnah. atau menambahkan penjelasan dengan mengutip ucapan para ulama lain. yang setiap jilidnya seukuran satu jilid Encyclopedia Britannica. Walau begitu. siapa yang membenci Abu Hanifah ia membenciku. Ulama Syi'ah membalasnya dengan menulis kitab lagi. Nabi Hidhir mohon agar ia diizinkan tetap berguru padanya di alam kubur. kekuasaan sangat berperan dalam menyuburkan fanatisme madzhab. Untuk Shahih al-Bukhari. Imam Syafi'i. Para ulama madzhab Syafi'i menyerang tulisan para ulama madzhab Hanbali atau sebaliknya. munaqasyah madzhabiyah telah menjadi benih yang menyuburkan fanatisme madzhab. FANATISME MADZHAB Asad Haydar menyebut tahun 645 Hijrah sebagai tahun ditetapkannya empat mazhab sebagai madzhab yang diakui khilafah Islam waktu itu. Konon Nabi Muhammad saw pernah berkata: "Semua nabi bangga denganku dan aku bangga dengan Abu Hanifah. Tapi pada zaman kemandegan. paling tidak ada tiga kitab syarah: Fath al-Bary. Ulama ahl al-Sunnah menulis kitab yang menyerang ajaran Syi'ah. supaya ia dapat mengajarkan syari'at Islam secara lengkap.memudahkan pembaca memahami kitab-kitab rujukan. al-Hilly menulis Minhaj al-Karamah. Al-Amini menulis 11 jilid al-Ghadir hanya untuk membuktikan keshahihan hadits Ghadir Khum. gejala fanatisme madzhab dapat dilacak sejak abad IV Hijrah. Umdat al-Qary. Tentang Imam . Ia belajar pada Abu Hanifah setiap waktu Subuh selama lima puluh tahun. Setiap madzhab membela pahamnya dengan tidak lagi mengindahkan adab diskusi ilmiah. Sekarang bantahan itu sudah menjadi 19 jilid Ihqaq al-Haq. Tidak jarang syarah suatu kitab disyarahi dan disyarahi lagi. Para ulama dari keempat madzhab diundang ke istana. Di antara karamah Abu Hanifah ialah bergurunya Nabi Khidr kepadanya. Kadang-kadang riwayat-riwayatnya dinisbahkan pada Nabi Muhammad saw. para pengikutnya meriwayatkan mitos di sekitar para imam madzhabnya. Bantahan ini dibantah lagi oleh al-Mar'asyi al-Tustary. yang didhaifkan Ibn Taymiyah. Seperti telah disampaikan pada tulisan terdahulu. Mereka menjelaskan kata-kata atau kalimat-kalimat secara sematik. Polemik antar madzhab ini bukanlah sesuatu yang jelek dan telah berlangsung sejak zaman para imam madzhab. Atau sebaliknya. melakukan kritik terhadap beberapa pendapat Muhammad ibn al-Hasan al-Syaybany. Siapa yang mencintai Abu Hanifah ia mencintaiku. Ia kemudian menyelesaikan kuliah dari Abu Hanifah selama 25 tahun lagi. Untuk mempertahankan keunggulan madzhabuya. "setiap ayat atau hadits yang bertentangan dengan apa yang ditetapkan madzhab kami. harus dita'wilkan atau dimansukhkan. Ibn Taymiyah menulis Minhaj al-Sunnah untuk menolak Minhaj al-Karamah.

Setiap bangunan yang fondasinya tidak kokoh. Mereka tidak mempedulikan hadits-hadits yang dikuasai dan yang digunakan untuk mempertahankan argumentasinya di hadapan lawan bila hadits-hadits tersebut telah sesuai dengan madzhab yang mereka ikuti dan pendapat yang mereka yakini. Mereka sepakat menerima hadits dhaif dan munqathi' bila telah masyhur di kalangan mereka dan telah membibir dalam percakapan mereka. Kadang-kadang mereka mencela para fuqaha. Padahal keduanya sama-sama dibutuhkan dan tidak bisa ditinggalkan dalam menuju cita-cita kehidupan. tidak menggali rahasianya. pengumpulan sanad." Orang alim itu adalah Imam Syafi'i. maka akan sunyi dan lekas rusak. Kedua kelompok itu. Mereka tidak sadar bahwa kadar keilmuannya sendiri sangat dangkal dan mereka berdosa melemparkan kata-kata kotor pada para fuqaha. walau tidak didukung satu dalil pun atau tidak meyakinkan. Mereka tidak memelihara matannya. Mereka heran bagaimana mungkin mengamalkan zhahirnya ayat-ayat itu. sedangkan fiqh bagaikan bangunannya. keduanya menjadi ikhwan yang saling berjauhan: mereka tak menampakkan sikap saling membantu dan menolong di jalan yang hak. karena seorang alimnya akan memenuhi seluruh bumi dengan ilmunya. Sedangkan kelompok kedua. yakni ahli fiqh dan fikir. siapakah yang engkau tinggalkan. mencacad mereka dan menuduhnya menyalahi sunnah. mereka . Setiap fondasi tanpa bangunan." Dengan berbagai "keutamaannya" itulah. pengikutnya mensakralkan fatwa para mujtahid. Mereka tidak mau menerimanya bahkan tidak mau menelitinya. dan tidak mengungkapkan kandungan fiqhnya. Aku pernah menyaksikan sekelompok faqih yang taklid. Al-Fakhr al-Razy menceritakan pengalamannya ketika ia menafsirkan: afala yatadabbarun al-Qur'an. pertama. kelompok ahli hadits dan atsar rata-rata berambisi dalam periwayatan. Abu Sulayman al-Khaththaby mengisahkan suasana zaman itu: Saya lihat ahli ilmu dewasa itu terbagi menjadi dua kelompok: pendukung hadits dan atsar dan ahli fiqh dan fikir. tidak memahami maknanya. maka akan cepat roboh. Mengenai Imam Ahmad bin Hanbal Abdullah al-Sajastany berkata: "Aku pernah melihat Rasul Allah saw dalam mimpi. karena rasa harga diri mereka yang sangat tajam. Saya lihat kedua kelompok ini saling berdekatan tempat tinggalnya dan sebetulnya saling membutuhkan. katanya. dan pemisahan hadit-hadits gharib dan syadz --hadits-hadits yang kebanyakan mawadhu' dan maqlub. kecuali sebagian kecil. kebanyakan tidak memilih-milih hadits. Rasul Allah saw bersabda: "Ya Allah berilah petunjuk pada suku Quraiysy. Apabila diriwayatkan pada mereka madzhab mereka atau para ahli hasil ijtihad para tokoh dari aliran mereka. Fatwa mujtahid lebih didulukan dari ayat al-Qur'an dan al-Sunnah. yang bagus dan yang buruk. padahal ulama dari madzhab mereka terdahulu tidak pernah mengamalkannya. Aku bertanya: "Ya Rasul Allah. Namun. memandangku dengan heran bila aku bacakan ayat-ayat al-Qur'an tentang beberapa masalah yang bertentangan dengan madzhab mereka. yang patut kami ikuti di zaman kami?" Rasul Allah saw menjawab: "Aku tinggalkan bagimu Ahmad bin Hanbal.Syafi'i. Itu karena hadits bagaikan fondasi. Yang demikian adalah suatu kesesatan dan penipuan ra'yu. Mereka hampir tidak bisa membedakan hadits yang shahih dan hadits yang dhaif.

tapi juga menimbulkan perpecahan di kalangan kaum Muslim.segera mencari kepercayaan umat tidak ikut bertanggungjawab. Demikianlah keumuman sikap setiap imam dan gurunya masing-masing. mereka tak memperhatikan dan tak menganggapnya sebagai pendapat al-Syafi'i. TINJAUAN KRITIS ATAS SEJARAH FIQH (6/10) Dari Fiqh Al-Khulafa' Al-Rasyidin Hingga Madzhab Liberalisme oleh Jalaluddin Rakhmat Pada madrasah Nizhamiyah. (021) 7501969. Mereka mau menerima riwayat dari padanya kecuali yang melalui Abu Yusuf. Sebagai contoh adalah peristiwa yang terjadi di Baghdad. ashhab (para sahabat). (021) 7507174 Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota Please direct any suggestion to Media Team Artikel Yayasan Paramadina Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota IV. Dengan bantuan penguasa ia menyerang pemimpin Hanbaly. menghancurkan otak-otak cemerlang. Bila pendapat itu datang dari al-Hasan ibn Ziyad dan pendapatnya berbeda dengan riwayat yang melalui mereka. Dalam sejarah. Maka pendapat yang datang dari Al-Hakam tidak memiliki keistimewaan di mata mereka. Lalu. 7507173 Fax. Maka bila datang riwayat Harmalah.22. mereka saling mengkafirkan yang kemudian memuncak pada peperangan antar sesama Muslim. Ia selalu mengecam Ahmad ibn Hanbal dan para pengikutnya sebagai penganut antropomorfisme. Begitu juga para pengikut al-Syafi'i. Pengikut al-Qusyayry menutup pintu-pintu pasar madrasah Nizhamiyah. Muhammad ibn al-Hasan dan para tokoh sahabat serta murid-muridnya yang lain. 7501983. Metro Pondok Indah Pondok Indah Plaza I Kav. terhadapnya. Abd al-Khaliq ibn Isa. Ibn al-Qusyayry al-Syafi'i memegang kekuasaan. kelompok terhadap madzhab Fanatisme madzhab bukan saja telah menghambat pemikiran.(bersambung 6/10) Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah Editor: Budhy Munawar-Rachman Penerbit Yayasan Paramadina Jln. telah terjadi beberapa kali. Al-Qusyayry berkata: "Perdamaian macam apa yang harus ada diantara kami? Perdamaian . terjadilah pertumpahan darah antara kedua golongan. -------------------------------------------. al-Jiziy dan sebagainya. mereka tidak akan menerima. dan para pendahulu yang setingkat dengan mereka. namun mereka Saya lihat para pendukung Malik tidak menerima riwayat dari padanya kecuali yang melalui Abu al-Qasim (Rasul Allah). UA 20-21 Jakarta Selatan Telp. 469 Hijrah. Pemerintah kemudian mengumpulkan wakil kedua belah pihak dan meminta supaya mereka berdamai. Mereka hanya menerima riwayat al-Muzany dan al-Raby ibn Sulayman al-Murady.

" PENUTUPAN PINTU IJTIHAD Walau ada pembagian ijtihad yang bermacam-macam. pemikiran yang bertentangan dengan madzhab itu ditindas. Bahayanya banyak --berakibat pada terbengkalainya akal. Sementara itu menurut Maliky. tapi tak boleh tidak harus ada mujtahid fi al-madzhab. mungkin karena ia berijtihad dengan metode yang sama untuk menjawab masalah-masalah yang belum dipecahkan imam mazhabnya. Adapun ijtihad fi al-madzhab. seorang mujtahid mengembangkan metode ijtihadnya secara mandiri dan mengeluarkan hukum-hukum berdasarkan metodenya itu. menurut Abu Zahrah. Maka perdamaian macam apa yang bisa berlaku di antara kami. Kaum Muslim mundur karena meninggalkan ijtihad sehingga mereka menjadi seperti yang kita lihat sekarang ini. tapi boleh saja menghasilkan kesimpulan furu'iyyah yang berbeda dari imam mazhabnya. di zaman kemandegan pintu ijtihad. Sayyid Rasyid Ridha. Menurut para pengikut madzhab Syafi'iy dan kebanyakan Hanafi. yang ditutup adalah ijtihad muthlaq. Karena itu. Jika kita membaca kitab-kitab sejarah madzhab. terus berkembang. Maka ketika satu madzhab memperoleh kekuasaan. Pada ijtihad muthlaq. atau menafsirkan yang mujmal menjelaskan yang mubham dari ucapan imam. Dalam hal ini. ijtihad mustaqil sudah tertutup. mengikuti gurunya Syaikh Muhammad Abduh. Demikian catatan Abu Zahrah tentang tertutupnya pintu ijtihad. Walau tak diketahui secara pasti sejak kapan. ia tentu saja masih menggunakan fatwa imam mazhabnya sebagai rujukan. meski pada tiap zaman boleh saja tak ada mujtahid mustaqil. setiap zaman tak boleh kosong dari mujtahid mustaqil. atau mentarjih (memilih yang terkuat) pendapat imam yang bermacam-macam itu. Sebalikaya. SEBAB-SEBAB STAGNASI Dr. di kalangan Syi'ah tidak pernah dikenal tertutupnya pintu ijtihad. kita ingin menegaskan kembali bahwa madzhab berkembang karena dukungan politik. Di sini mujtahid berpegang pada metode ijtihad imam mazhabnya. Sebenarnya. lebih ditujukan pada ijtihad muthlaq. penutupan pintu ijtihad pada saat ini. mengecam penutupan pintu ijtihad yang mana pun: "Kita tidak menemukan manfaat apa pun dari penutupan pintu ijtihad". kita akan menemukan bagaimana seseorang yang . Yang dapat melakukan ijtihad jenis ini disebut mujtahid mustaqil (mujtahid independen). Namun sebaliknya menurut kebanyakan Hanbaly. Namun kenyataannya.terjadi di antara orang yang memperebutkan kekuasaan atau kerajaan. Untuk yang pertama. penutupan pintu ijtihad terjadi karena ada anggapan bahwa tidak ada ulama yang memenuhi persyaratan seperti keempat imam itu. terputusnya pengembangan ilmu dan terhalangnya kemajuan pemikiran. kita dapat mengelompokkan dua macam ijtihad: ijtihad muthlaq dan ijtihad fi al-madzhab. ia disebut mujtahid muntasib. Sedangkan kaum ini menganggap kami kafir dan kami menganggap orang-orang yang aqidahnya tidak sama dengan kami juga kafir. campur tangan penguasa dalam kekuasaan kehakiman dan kelemahan posisi ulama dalam menghadapi umara. Muhammad Farouq al-Nabhan menyebut tiga sebab stagnasi pemikiran pada zaman ini: faktor-faktor politik.

posisi ulama yang lemah memperkuat fanatisme madzhab. dan bila benar dua. Sehingga ia disebut Salim mawla Abu Hudzaifah. ijtthadnya hanyalah dalam rangka memberikan legitimasi pada kebijakan penguasa. dikembalikan kepada mawlanya. 5. Ia sering masuk ke rumahku dan aku dalam keadaan fudhul (memakai busana rumah yang tidak menutup aurat).berbeda madzhab atau berganti madzhab menghadapi berbagai cobaan. demi "ketertiban dan keamanan".dengan anak saudara perempuannya Fathimah bint al-Walid bin 'Utbah bin Rabi'ah. bagaimana menurut . Ulama sangat bergantung kepada umara. Waktu itu ia termasuk wanita muhajirat yang awal dan gadis Quraysy yang utama.datang menemui Rasulullah saw. Abu Hudzaifah menikahkan Salim --yang dipandang sebagai anaknya itu-. Qadhi diangkat oleh penguasa. menyebarnya ulama mutathaffilin (ulama yang memberi fatwa berdasarkan petunjuk Bapak). Yaitu terpecahnya kekuasaan Islam menjadi negara-negara kecil hingga umat disibukkan dengan eksistensi politik. kami menganggap anak kepada Salim. Untuk sebab kedua. Contoh terakhir adalah pernyataan para ulama Rabithah yang mendukung kehadiran tentara Amerika di Jazirah Arab. Di samping itu. didiskreditkan ulama dan diadukan pada penguasa.telah mengangkat Salim sebagai anaknya. para ulama yang sama menyatakan Saddam sebagai bughat dan pemimpin dhalim. Jika kamu tidak mengetahui bapak-bapak mereka. para ulama dari 70 negara Islam menyatakan bahwa Saddam sebagai mujahid Islam yang taat pada Allah dan al-Qur'an. sebagaimana Rasulullah saw. para penguasa Muslim lebih sering menindas kebebasan pendapat dari pada mengembanghannya. Kami hanya mempunyai rumah satu. Itu lebih adil di sisi Allah. telah ditunjukkan bagaimana para ulama berebutan menjadi qadhi. Umara tentu saja selalu berusaha mempertahankan status quo. ia mendapat satu pahala. dan menyebarnya penyakit akhlak seperti hasud dan egoisme di kalangan ulama. karena ia dapat dikucilkan oleh masyarakat. Di sini harus dicatat: dalam sejarah. Bukankah ini ijtihad dan setiap ijtihad selalu mendapat pahala? Bila ijtihadnya salah. Bila tidak diketahui bapaknya. Dalam posisi seperti itu. Setelah invasi. Lebih-lebih bila berbeda pendapat dengan madzhab penguasa. mengangkat Zaid ibn Haritsah sebagai anak. maka mereka adalah saudaramu dalam agama dan mawla-mawla kamu --maka dikembalikanlah setiap orang di antara mereka itu kepada bapaknya. dan berkata: "Ya Rasul Allah. Ia berkata: 'Urwah bin Zub air mengabarkan kepadaku bahwa Hudzaifah bin 'Utbah bin Rabi'ah --salah seorang sahabat Nabi saw. yang ikut menyaksikan perang Badar-. Ia ditanya tentang menyusui orang dewasa. Ketika Allah menurunkan ayat dalam Kitab-Nya tentang Zaid ibn Haritsah --panggillah mereka dengan nama bapak-bapak mereka. Karena itu. Sahlan binti Suhail --istri Hudzaifah dari Bani Amir-. FIQH DITELAAH KEMBALI: FIQH KAUM PEMBARU "Yahya memberitakan kepadaku dari Malik dari Ibn Syihab. Abd al-Wahhab Khalaf menyebutkan empat faktor yang menyebabkan kemandegan. Empat puluh tiga hari sebelum Saddam menyerbu Kuwait. Qadhi tidak ingin mengambil risiko berbeda pendapat dengan madzhabnya. kalau pun ulama berijtihad. yang paling aman adalah mengikuti pendapat para imam mazhab yang sudah dibukukan. terbaginya para mujtahid berdasarkan madrasah tempat mereka belajar.

ternyata "Kembali kepada al-Qur'an dan al-Sunnah" tidak segampang seperti yang dibayangkan. Dalam istilah fiqh. Aisyah mengambil cara ini bila ada laki-laki yang ingin masuk ke rumahnya Ia menyuruh saudaranya. tetapi juga ushul al-fiqh. (Ia mabuk) dan 'Umar menetapkan hukum cambuk baginya.Anda? Rasulullah saw. . Ibrahim al-Nakhti meriwayatkan hadits yang sama dari 'Umar dan berkata: 'Umar meminumnya setelah mencambuk orang A'raby itu. Mereka mempersoalkan cara menyusukan itu. Bukankah istri-istri Nabi saw yang lain menolaknya? Bukankah pada kitab hadits yang sama Umar ibn Khatab dan Abdullah ibn Mas'ud hanya membenarkan susuan pada waktu kecil saja? Peristiwa yang kedua dijadikan dalil oleh sebagian pengikut madzhab Hanafi untuk menghalalkan minuman keras (khususnya Nabi) bila dicampur dengan air. (3) Dianjurkan menyusukan orang yang sudah dewasa supaya ia halal masuk ke rumah seorang perempuan. Yang kemudian menjadi persoalan adalah tindakan 'Umar. Istri-istri Nabi saw yang lain menolak untuk mengizinkan laki-laki masuk ke rumah dengan susuan seperti itu. Mungkinkah ini hanya fiqhnya 'Aisyah. Dari peristiwa yang pertama para faqih menyimpulkan beberapa hukum: (1) Batas susuan yang menyebabkan seorang haram dinikahi adalah lima kali susuan. lalu mencampurkan air ke dalamnya. Bagaimana mungkin Nabi saw menghalalkan sesuatu dengan tindakan yang haram? (Bukankah bersentuhan dengan perempuan yang bukan muhrim itu haram. Yang dipersoalkan bukan hanya penafsiran nash-nash tetapi juga metode pengambilan keputusan. Dengan merujuk pada hadits yang mengharamkan minuman keras --baik sedikit maupun banyak mereka telah membenarkan halalnya minuman keras karena dicampur air. Apakah perilaku 'Umar dapat dijadikan model dalam pengambilan kesimpulan hukum? Apakah pendapat para sahabat dapat dijadikan hujjah dalam agama? Apakah tindakan 'Umar itu suatu preseden bolehnya meninggalkan nash-nash syari'at bila kondisi berubah? Pertanyaan-pertanyaan tersebut merupakan problema yang dihadapi para pembaru Islam ketika mereka menelaah kembali fiqh yang ada. yang harus ditinjau bukan saja al-adillat al-syar'iyat. Ahkam al-Qur'an 2:565). Setelah itu ia memandangnya sebagai anak susuan. campurkan air ke dalamnya. (Al-Jashash. Ia berkata: Siapa yang ragu untuk meminumnya. Orang A'raby itu berkata: Aku minum dari minumanmu. Dari fenomena tersebut. Tentu saja fuqaha mazhab-mazhab yang lain menolaknya. (2) Tidak boleh laki-laki yang bukan muhrim memasuki rumah seorang perempuan. kecuali bila laki-laki itu saudara sepesusuan. Slogan yang di Indonesia didengungkan kaum modernis ini. Al-Muwatha 2: 115-116) Contoh lain: "Seorang A'raby meminum minuman 'Umar. berkata kepadanya: "Susukanlah dia lima kali susuan sehingga ia menjadi muhrim dengan susunya". Kesimpulan terakhir ini telah disepakati fuqaha. kemudian meminumnya. Umu Kultsum binti Abu Bakar al-Shiddik dan anak-anak perempuan saudaranya untuk menyusukan laki-laki yang ingin masuk ke rumahnya. apalagi menyusu kepadanya?). (Malik. Dua peristiwa di atas diambil dari kitab-kitab yang menjadi rujukan dalam menjawab masalah-masalah fiqhiyah. 'Umar meminta minumannya itu.

tapi berusaha menangkap menurutnya. Karena itu. Semuanya terjadi karena Ahmad mendasarkan mazhabnya pada hadits Rasulullah saw (meski lemah). Muhammad ibn Abd al-Wahab menolak "the corruption and laxity of the contemporary decline. Skripturalisme dan liberalisme keduanya berusaha mendobrak kebekuan pemikiran Islam. Ibn Qutaybah memasukkan Ahmad di antara muhadditsin dan Ibn Jarir al-Thabari menolak Ahmad sebagai ahli fiqh.C. dan yang paling dekat dengan ahl al-hadits adalah mazhab Hanbali.the alien intellectualism not only of philosophy but also theology" (Smith. Imam Ahmad ibn Hanbal. 1987:95). Aliran ini tak lagi terikat dengan bunyi teks. bila tidak ada. Yang paling dekat dengan ahl al-ra'y adalah madzhab Hanafi.. Pada Ibn Hazm.. ia mencela kaum mutakallim. yaitu aliran yang berpegang kepada teks-teks syari'at secara kaku. bila ada. Mereka menolak ta'wil dan menerima hadits secara harfiyah. kami mengikuti ijtihad Ahmad ibn Hanbal: (Mughniyah. yaitu liberalisme. fatwa para sahabat. 1968:42). makna hakiki dari teks. Jadi fiqhnya selalu merujuk pada nash-nash al-Qur'an atau hadits. ketika menyampaikan khutbahnya di Makkah tahun 1355. kesetiaan pada teks sangat ekstrem. Arkoun menyebut aliran ini logosentrisme yang ia gambarkan sebagai berikut: Di samping aliran ini ada aliran yang sangat menekankan rasio (akal). Yang kedua berdasarkan fiqh pada hadits walaupun lemah dan menolak penggunaan rasio. yang mengumpulkan ribuan hadits dalam musnadnya. Smith. tugas ahli fiqh hanyalah mencari nash yang relevan. ada dua aliran besar dalam fiqh Islam: ahl al-Ra'y dan ahl al-Hadits. dalam upaya menelaah kembali fiqh. dan yang ada hanya ijtihad. Raja Malik ibn Abd al-Aziz. sekaligus merupakan fiqh baru yang dapat menjawab masalah-masalah baru akibat perubahan masyarakat. filsuf dan sufi. Karena itu. setelah orang merasa perlu membuka kembali pintu ijtihad. Mazhab-mazhab fiqh terletak di antara kedua ekstrim itu. dan menolak qiyas kecuali dalam keadaan terpaksa. kita harus memulai dengan menyorot kedua aliran ini secara kritis dibahas skriptularisme.. maqashid syar'iyah dan sebagainya.sebetulnya hanyalah salah satu aliran peninjauan kembali fiqh. berkata: "Madzhab kami mengikuti dalil. Seperti Ibn Taymiyah. the introvert warmth and other wordly pety of the mystic way. memang lebih terkenal sebagai ahli hadits dari pada ahli fiqh. Paham Ibn Taymiyah dihidupkan kembali oleh Muhammad ibn Abd al-Wahab lima abad kemudian. Berbagai upaya rekonstroksi fiqh di dunia Islam sekarang ini berangkat dari kedua aliran tersebut. tema umum Islam. Aliran tersebut sebenarnya adalah skripturalisme. Ibn Taymiyah memperkuat gerakan anti rasionalisme ini dengan menolak setiap penggunaan logika dalam khazanah ilmu-ilmu Islam dan sekaligus menolak praktek-praktek yang tidak ada dasarnya dalam teks al-Qur'an dan hadits. Yang pertama menekankan rasio dalam pengambilan keputusan. dan terutama sekali pada Daud al-Zhahiri. Makna ini dianggap sebagai ruh ajaran Islam. . LATAR BELAKANG SKRIPTURALISME Seperti diketahui dalam fiqh tabi'in. . Dalam kalimat W. The Encyclopedia of Islam menyebut Ibn Taymiyah sebagai the bitter enemy of innovations.

membaca dzikir bersama. Ada beberara kegagalan skripturalisme. Filsafat bukan saja dijauhi. Karena skriptualisme menerima teks-teks al-Qur'an dan hadits dengan apa adanya. "since the leaders of these movements were interested in negating some of the influences of the medieval school of islamic thought and law. . tertawa dan sebagainya. -------------------------------------------. dianggap sesat. Kedua.menyelenggarakan upacara tahlilan dan marhabanan dianggap tidak mengikuti sunnah Rasulullah saw (dalam bahasa orang awam. Selanjutnya. dan kembali kepada al-Qur'an dan hadits sebagai satu-satunya jalan untuk memecahkan segala persoalan Islam. Metro Pondok Indah Pondok Indah Plaza I Kav. yang disebut bid'ah adalah apa saja yang tidak merujuk pada dalil yang telah dipilihnya. Mereka melihat masa Salaf sebagai model. dianggap bid'ah. 7507173 Fax. (021) 7501969. tetapi juga dikafirkan. mereka menetapkan keharusan percaya bahwa Ia turun ke langit dunia. 7501983. 1981:26). yang kemudian menjadi paham resmi Arab Saudi. duduk di atas 'arasy. mereka telah mematikan telaah filosofis.Paham ini. (021) 7507174 Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota Please direct any suggestion to Media Team Artikel Yayasan Paramadina Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota IV.(bersambung 7/10) Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah Editor: Budhy Munawar-Rachman Penerbit Yayasan Paramadina Jln. UA 20-21 Jakarta Selatan Telp. Kaum sufi. Dengan menolak ta'wil. Praktek-praktek keagamaan yang tidak secara spesifik ditunjukkan dalam nash. mempengaruhi banyak aliran pembaharuan di seluruh dunia. TINJAUAN KRITIS ATAS SEJARAH FIQH (7/10) Dari Fiqh Al-Khulafa' Al-Rasyidin Hingga Madzhab Liberalisme oleh Jalaluddin Rakhmat KEGAGALAN SKRIPTURALISME Keyakinan bahwa kesetiaan pada teks al-Qur'an dan hadits cukup untuk memecahkan persoalan ternyata hanya simplikasi. membaca shalawat kepada Nabi saw. mengobrol dengan ahli surga. Pada saat yang sama. Wacana teologi menjadi gersang. they inevitably took a negative attitude toward the intellectual and spiritual developments that had taken place in the intervening centuries" (Rahman. tidak ada contohnya dari Nabi saw).22. --dan di Indonesia-. yang mencoba menangkap makna batiniyah dari nash-nash. skriptualisme menyingkirkan pengalaman mistikal dari kehidupan beragama. Pertama. dalam aqidah. Qunut pada shalat Subuh. menurut Fazlur Rahman. mengucapkan doa yang tidak ma'tsur.

bukan tidak mengikuti sunnah. Para pengikutnya tidak lagi "menikmati" agama dan sebagian mengalami ketidakpuasan rohaniah. Tulisan ini hanya ingin mengingatkan kita akan pentingnya penilaian kritis terhadap pendekatan pada fiqh. Dalam skala makroskopis. tapi merasa faqih. dan zakat perdagangan. tetapi tidak berdasarkan dalil yang disetujui mereka. kita sebut liberalisme. Walaupun saya tidak akan membahas pokok-pokok pikiran kaum liberal Islam seperti yang dipaparkan Leonard Binder. Yang pertama kita sebut skripturalisme (sudah dibicarakan) dan kedua. Al-masail al-lafzhiyah --seperti makna lughawi. Salah satu contoh adalah perbincangan tentang zakat profesi atau pekerjaan-pekerjaan yang tidak diwajibkan zakat padanya. Madzhab yang lain akan dianggap menyimpang dari al-Qur'an dan sunnah. penentuan keshahihan hadits. makna 'urfi (kebiasaan). kelima. Kritik terhadap skripturalisme sama sekali tidak dimaksudkan untuk membela liberalisme. Dengan menyingkirkan mistisisme. Sebagian di antara mereka akhirnya menggunakan qiyas juga. Pada gilirannya. Tidak ada maksud saya --dan bukan tempatnya di sini-. skripturalisme tidak dapat menyelesaikan kemusykilan-kemusykilan yang terjadi ketika melakukan istidlal (memberikan dalil-dalil hukum) dari nash-nash. mudah mendorong orang ke arah fanatisme. Mereka kembali secara ketat pada teks-teks al-Qur'an dan al-hadits atau mereka berusaha menemukan ruh atau semangat dari ajaran al-Qur'an dan al-hadits. Keempat. orang-orang awam tidak merasa perlu lagi dengan kehadiran fuqaha. orang tidak memberikan solusi terhadap segala kemusykilan ini. Ketiga. mukhtalaf al-hadits. karena berusaha secara bebas untuk menggunakan penalaran. kaum skripturalis telah menghilangkan pengalaman beragama (religious experiences) yang emosional. Pada tahap institusional. menggunakannya dalam menjelaskan zakat profesi. kita dapat merumuskan kaidah-kaidah baru dalam menegakkan fiqh yang lebih relevan dan signifikan. Muncullah para "mujtahid" yang tidak berkualifikasi. 6. liberalisme juga sangat rentan terhadap berbagai problem. Terakhir. yang menolak qiyas. Melalui studi kritis terhadap keduanya. skripturalisme terbukti tidak menjawab berbagai masalah kontemporer.untuk merinci dalil-dalil orang-orang yang mempraktekkan upacara-upacara agama tersebut. paham ini melahirkan orang-orang yang wawasannya sempit. yang memuncak pada fragmentasi umat. makna 'am dan khash dan sebagainya.Padahal. Sebagian kaum modernis di Indonesia. Akibat kegagalan skripturalisme tersebut. karena menolak wacana intelektual. skripturalisme. tetapi tanpa aturan yang konsisten. saya akan mengutip deskripsinya tentang kaum liberalis . Bukankah segala persoalan dapat diselesaikan dengan merujuk pada dalil-dalil al-Qur'an dan hadits. makna haqiqi dan majazi. Ada yang mengqiyaskan zakat profesi dengan zakat pertanian. FIQH KAUM PEMBARU: MADZHAB LIBERALISME Seperti telah disebut di atas. qawaid ushul al-fiqh dan masalah-masalah lain yang berkaitan dengan penafsiran nash tidak mendapat perhatian. Mereka membentuk kelompok-kelompok. zakat emas dan perak. saya kira. para pembaru mencoba mendobrak stagnasi dengan melakukan salah satu di antara dua pilihan.

dan Allah membenarkan ijtihad 'Umar. Di bawah ini saya akan mengulangi lagi akar pemikiran kaum liberalis dengan mengutip apa yang pernah saya tulis pada pengantar buku Islam dan tantangan Modernitas.Islam. Pada bagian kedua. Karena itu. wahyu . Fiqh al-ra'y sebenarnya sejajar dengan tafsir al-Qur'an bi al-dirayat. Dalam kasus-kasus ini. Para ahli hadits meriwayatkan berbagai peristiwa ketika ijtihad Nabi berbeda dengan ijtihad 'Umar. but which goes beyond them. "Dengan ini kalian tidak akan sesat selamanya"' kata Nabi. secara khusus kita akan mengambil contoh pemikiran Ibrahim Hosen dan Fazlur Rahman untuk menggambarkan pokok-pokok pemikiran kaum liberalis. Since the words of the Qur'an do not exhaust the meaning of revelation. Dalam keadaan sakit. Bukankah Nabi mengatakan. Nabi hendak menshalatkan 'Abdullah ibn Ubayy. Umar berkata. sesudah mengutip sejarah ijtihad bi al-ra'y saya akan mengutip juga perkembangan tafsir bi al-ma'tsur. Karena itu. "Kamu lebih tahu urusan duniamu?" Bukhari meriwayatkan peristiwa yang oleh Ibn 'Abbas disebut sebagai "tragedi hari Kamis". SEJARAH MADZHAB LIBERALISME Fiqh kaum liberal dapat dilacak pada madzhab ahl al-ra'y di kalangan para sahabat Nabi. di sini para sahabat tidak merasa terikat dengan sunnah. the language of the Qur'an is coordinate with the essence of revelation. makna wahyu di luar arti lahiriah dari kata-kata." Tampaknya Umar berpendapat bahwa kondisi sakit Nabi melahirkan ijtihad Nabi yang tidak perlu diikuti. dan yang kedua secara ta'aqquli. but the content and the meaning of revelation is not essentially verbal. Nabi menyuruh sahabatnya mengambil dawat dan pena untuk menuliskan wasiatnya. Mereka bersedia meninggalkan makna lahir dari teks untuk menemakan makna dalam dari konteks. tapi kaum liberalis modern justru mengambil inspirasi dari tafsir bi al-ma'tsur. keduanya menggaungkan kembali perbedaan pendapat para sahabat tentang sunnah Rasullah saw. Rasulullah saw sering berijtihad. sedangkan 'Umar mengusulkan untuk membunuh mereka. dan ketika Rahman mengulas pemikiran modernis dan fundamentalis. Yaitu yang berhubungan dengan ibadah ritual (kelak disebut huquq Allah) dan yang berhubungan dengan masalah-masalah sosial (kelak disebut huquq al-'ibad). Mereka menerima yang pertama secara ta'abbudi. seeking that which is represented or revealed by language. "Nabi saw dalam keadaan sakit parah. Nabi menginginkan agar para tawanan Badar dibebaskan dengan tebusan. pada akhirnya saya akan mengajukan kritik. Di tangan kalian ada kitab Allah. tapi Umar melarangnya. ijtihadnya boleh jadi benar atau salah. TRADISI IJTIHAD BI 'L-RA'Y Ketika [brahim Hosen berbicara tentang ta'aqquli dan ta'abbudi. Seperti biasa. Apakah Nabi Muhammad saw berijtihad? Banyak para sahabat membagi perintah-perintah Nabi ke dalam dua bagian. Setelah itu. Cukuplah buat kita kitab Allah itu. Jadi ciri khas kaum liberalis ialah upaya untuk menangkap esensi wahyu. there is a need for an effort at understanding which is based on the words. For Islamic liberals.

"Seandainya azab turun. Kalau benar. ia menegur Ali: "Kau lakukan itu padahal aku melarangnya?" Ali menjawab: "Aku tidak akan meninggalkan sunnah Rasulullah saw karena (ra'yu) salah seorang manusia." Abdullah ibn Mas'ud berkata seperti itu juga: "Aku mengatakan ini dengan ra'yuku. yang berkata: "Barang siapa melakukan tamattu'. Ini hanyalah ra'yu yang aku pegang." Ketika Ali menegur Utsman yang melarang tamattu'. tinggalkan saja." Para tabi'in dari Kufah kelak berguru kepada Abdullah ibn Mas'ud. ia datang menemuiku dan berkata. sebelum ia memindahkan ibu kota ke Kufah pada masa kekhalifahannya. sehingga lahirlah mazhab Kufah yang menitik-beratkan Fiqh al-ra'y. 'Umar bertanya: "Apa yang menyebabkan Anda dan sahabat Anda menangis? Kalau ada sesuatu yang patut aku tangisi." Karena Umar adalah primadona dari kelompok pertama para sahabat ini.selalu turun membenarkan Umar. "Ia tidak berbicara berdasarkan hawa nafsunya. Ibn Katsir. Sementera itu. silakan ambil ra'yu-ku. Kalau orang mau. tetapi ia hanya berbicara berdasarkan wahyu yang diturunkan kepadanya. Ibn Abi al-Hadid membenarkan kedua sahabat itu. yang menekankan Fiqh al-atsar." Hadits-hadits di atas --walaupun keabsahannya harus kita teliti secara kritis-. Tidak ada ijtihad Nabi. yang terdiri atas sahabat-sahabat yang berkumpul di sekitar Ali ibn Abi Thalib. aku akan berupaya menangis seperti tangisan Anda. daerah Hijaz. Allah dan Rasul-Nya terlepas darinya. kemudian kita pun menyebut madzhab pemikiran mereka sebagai madzhab Umari. Ketika Umar dan Utsman --pada zamannya masing-masing melarang haji tamattu" Ali menentangnya." Nabi kemudian menceritakan tentang wahyu yang membenarkan Umar dan menyalahkan Nabi. Utsman berkata: "Aku tidak melarangnya. Ali tetap tinggal di Madinah. Kalau tidak." kata Nabi. disertai Abu Bakar pernah menangis terisak-isak menyesali kekeliruan ijtihadnya. "ambilkan . Sebagai lawan mereka --dalam pemikiran-adalah madzhab Alawi. dari Allah dan kalau salah. Pada suatu pagi." Umar juga diriwayatkan berkata: "Inilah ra'yu Umar." Kita pun kemudian mengetahui bahwa di Madinah. Diriwayatkan bahwa Nabi saw. 'Aisyah melaporkan: "Ayahku telah mengumpulkan 500 hadits Nabi saw.a. ia berasal dari Allah dan bila salah ia berasal dari setan. menulis: "Para sahabat r. "tidak akan ada yang selamat kecuali Umar ibn Khaththab. sangat takut kepada Umar dan tidak menemukan orang yang melawan pendapat Umar kecuali Ali ibn Abi Thalib. Mereka tidak membedakan huquq al-'ibad dan huquq Allah dalam instruksi-instruksi Nabi yang bernilai tasyri'. Ketika Utsman melarang menggabungkan haji dengan 'umrah. aku akan menangis. Ketika Abu Bakar dan Umar meninggalkan pasukan Usamah." (QS 53:3). dari Umar. "Sesungguhnya Nabi saw mengirimkan pasukan itu berdasarkan Ijtihad dan bukan berdasarkan wahyu yang diharamkan membantahnya. padahal Nabi memerintahkan mereka untuk berada di dalamnya. Fiqh al-ra'y makin diperteguh dengan kecenderungan umum madzhab Umari untuk mengabaikan penulisan hadits. Kalau tidak ada tangisan.merupakan justifikasi terhadap peluang menggunakan ra'yu dalam menghadapi sunnah (yang berasal dari Ijtihad Nabi). dalam kitab tarikhnya. berkembanglah madzhab Hijaz. ia sudah menjalankan kitab Allah dan sunnah NabiNya. Bila benar.

Konon.kepada al-Qur'an. halalkan yang halal dan haramkan yang haram. saya mati. dan berkata: "Kalian meriwayatkan dari Rasulullah saw.memerintahkan pembantunya untuk menyalakan api pembakaran." Tradisi pengabaian penulisan hadits --dan sekaligus pembakarannya-. yang pertama kali melakukan tadwin hadits adalah Ibn Syihab al-Zahri atas perintah Umar ibn Abd al-Aziz. Umar menyuruh mengumpulkan hadits-hadits itu dan memerintahkan untuk membakarnya. -------------------------------------------. hadits-hadits yang kalian perselisihkan. Di kalangan madzhab-madzhab ahl al-Sunnah. karena diprakarsai Dawud al-Zhahiri yang dilanjutkan Ibn Hazm dalam kitabnya al-Muhalla. Janganlah meriwayatkan sesuatu pun dari Rasulullah saw. Akibatnya. Rasul Ja'farian menyebutkan nama-nama ulama tabi'in yang melarang penulisan hadits. Kaidah mereka: la ra'yu fi al-din (tidak ada tempat rasio dalam agama). Bila ada yang bertanya kepada kalian. ia lemparkan semua tulisan. kecuali satu buku saja. Untuk menangkis tuduhan bahwa Umar sering meninggalkan nash-nash al-Qur'an secara sengaja. Ke dalamnya. dan (3) madzhab ini menekankan aspek maqashid syar'iyyah atau kemaslahatan umat untuk menetapkan hukum.". periwayatan hadits tetap berlangsung sampai zaman Umar. fiqh al-ra'y dan fiqh al-atsar ini tidak terpilah tegas. Ia membakarnya dan berkata: "Saya khawatir. jawablah: "Di antara Anda dan kami ada Kitab Allah. dan meninggalkan hadits-hadits itu padamu. manusia sesudahmu akan lebih daripada itu.hadits-hadits yang ada padamu. Abu Zahrah menulis: "Tidak seorang sahabat pun meninggalkan nash demi ra'yunya atau kemaslahatan yang dipandangnya.dilanjutkan oleh tabi'in. Alasan Umar: "Aku khawatir hadits-hadits itu akan memalingkan orang dari Kitab Allah. madzhab ini sebenarnya juga menggunakan rasio. khusus di kalangan ahl al-Sunnah. Sejarah singkat madzhab 'Umari ini menunjukkan tiga ciri khasnya: (1) madzhab ini memusatkan perhatian utamanya --dan seringkali dengan mengabaikan yang lain-. Hanya intensitas penggunaannya sangat sedikit." Abu Bakar juga pernah mengumpulkan orang setelah Nabi wafat. tak memperkenankan penggunaan akal. Sa'id ibn Jubair. Disadari atau tidak. Ibrahim al-Nakha'i. dan lain-lain. Al-Hasan ibn Abi al-Hasan --menjelang kematiannya-. Metro Pondok Indah . Abu Burdah. "Hasbuna Kitab Allah. Madzhab-madzhab itu berbeda dalam intensitas penggunaan nash dan ra'yu. penulisan hadits terlambat sekitar dua abad. Ashim. Walaupun begitu. tetapi mengaplikasikan nash secara baik. Ali Yafie melukiskannya sebagai lingkaran-lingkaran: "Lingkaran paling dalam (pertama) merupakan kelompok yang paling sedikit menggunakan ra'yunya.(bersambung 8/10) Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah Editor: Budhy Munawar-Rachman Penerbit Yayasan Paramadina Jln. yaitu. Prinsip mereka dalam pengambilan hukum. Madzhab yang menggunakan kaidah semacam ini disebut madzhab al-Zhahiri. Nanti." kata Umar. dan kurang terikat pada zhawahir (makna tekstual) dan nash. (2) madzhab ini mengutamakan ra'yu ketimbang al-Sunnah. tetapi membentuk kontinum." Lalu saya berikan kepadanya. berdasarkan pemahaman yang benar akan maksud-maksud syara'. Abu Sa'id. Sesungguhnya maslahat yang difatwakan sahabat tidak bertentangan dengan nash.

Madzhab ini banyak dilaksanakan di Saudi Arabia. Kaidah mereka adalah al-Mashalih al-Mursalah. Apa yang belum terjadi adalah ketetapan hukum berdasarkan qiyas. (021) 7507174 Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota Please direct any suggestion to Media Team Artikel Yayasan Paramadina Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota IV. Bukankah agama itu ra'yu yang baik?" Barangkali ini penegasannya tentang keharusan nash tunduk pada analisis rasional. Abu Hanifah pernah dilaporkan berkata: "Seandainya Rasulullah berjumpa denganku. merupakan madzhab yang menggunakan rasio agak lebih intens daripada kelompok pertama tadi. TINJAUAN KRITIS ATAS SEJARAH FIQH (8/10) Dari Fiqh Al-Khulafa' Al-Rasyidin Hingga Madzhab Liberalisme oleh Jalaluddin Rakhmat "Lingkaran yang kedua. ia akan mengambil banyak pendapatku. kelompok yang disebut madzhab Maliki yang dipelopori Imam Malik. 7501983. Ia memprioritaskan ra'yu dalam mengeluarkan keputusan . terakhir. Akal lebih dipentingkan dalam proses pengambilan hukum daripada hadits. marilah kita melihat madzhab Hanafi. Kata Ibn Khaldun. Ali Hasan Abd al-Qadir: "Musuh-musuh Abu Hanifah menuduhnya tidak memberikan perhatian besar pada hadits. ia menguji hadits dengan pertimbangan psikologis dan konteks sosial. Ketika Raqabah ibn Musqilah ditanya tentang Abu Hanifah." Untuk memberikan contoh madzhab yang paling "Umari". Doktrinnya menyatakan bahwa rasio harus diperhatikan guna pertimbangan kemaslahatan. Ahmad Amin. "Sedangkan kelompok kelima. 7507173 Fax.22. Dalam proses pengambilan hukum. hal itu dikarenakan Abu Hanifah sangat memperketat syarat-syarat penerimaan hadits. Simaklah riwayat yang diceritakan Dr. UA 20-21 Jakarta Selatan Telp." Yang dimaksud dengan apa yang sudah terjadi adalah hadits-hadits Nabi. Abu Hanifah memang hanya sedikit meriwayatkan hadits. (021) 7501969. madzhab ini lebih banyak menggunakan analogi atau qiyas. Mazhab ini disebut mazhab Hanbali yang dipelopori Imam Ahmad ibn Hanbal. adalah mazhab yang frekuensi penggunaan akalnya lebih banyak. ia menjawab: "Abu Hanifah adalah orang paling pandai tentang apa yang sudah terjadi. Madzhab ini dipelopori oleh Imam Hanafi. "Lingkaran ketiga. Kata Dr. Doktrin mereka menyatakan bahwa hadits dha'if harus lebih diprioritaskan daripada akal. kurangnya hadits pada Abu Hanifah menunjukkan bahwa ia tidak merasa puas dengan menyampaikan hadits saja. "Lingkaran keempat adalah madzhab Syafi'i yang dipelopori Imam Syafi'i.Pondok Indah Plaza I Kav.

. "aku mendengar Yusuf ibn Asbath berkata. Kataku: "Berikan sebagian contohnya.. madzhab Hanafi tersebar ke seluruh kekuasaan Islam. menyebut hadist-hadist yang ditolak Abu Hanifah dan mencapai 150 hadits. Kita akan membicarakan kritik pembaruan Rahman di akhir tulisan ini. Lewat tangan-tangan kekuasaan. Tafsir Kontekstual-. Sebelum sampai ke situ. Abu Shalih al-Fura menuturkan. TAFSIR BI 'L-RIWAYAT DAN TAFSIR BI 'L-DIRAYAT Fiqh al-atsar mempunyai tandingan dalam tafsir bi al-riwayat. Ibrahim Hosen mereguk ilmunya. Rahman. Daerah-daerah madzhab Hanafi antara lain Mesir dan Pakistan. menerima hadits dengan sikap kritis. Ia memuji Abu Yusuf karena memberikan penafsiran yang situasional kepada hadits yang "berdiri sendiri". Kata Abu Hanifah: "Aku tidak akan menjadikan bagian binatang lebih banyak daripada bagian seorang Mukmin. Salah satu murid terkemuka dari Abu Hanifah adalah Abu Yusuf. Tafsir --menurut Muhammad Ali al-Shabuni-adalah ilmu untuk memahami Kitab Allah yang diturunkan kepada . (Untuk menggembirakan kita semua kedua-duanya berhak disebut Syaikh al-Islam). bagi madzhab Hanafi. sebagaimana kritik Rahman terhadap hadits (sunnah) dapat ditelusuri pada kritik fuqaha al-ra'y terhadap fuqaha al-atsar. Kata Abu Hanifah: "Undian itu judi. Kita tidak akan membicarakan pengaruh Abu Yusuf terhadap metodologi Rahman (dan juga Hosen). tidak ada khiyar. Abu Hanifah tidak tertarik untuk menemui mereka. Cukuplah dikatakan bahwa dengan mempelajari fiqh-fiqh klasik. al-Hadi dan al-Rasyid. ketika merumuskan metodologi ijtihadnya." Ibn Abu Syaibah dalam bukunya. sebagaimana fiqh al-ra'y mempunyai persamaannya dalam tafsir bi 'l-dirayat." Nabi mengundi istri-istrinya kalau mau bepergian. dan menetapkan "sunnah yang dikenal baik" sebagai kriteria terhadap "semangat dan sikap kolektif" dari hadits." Kata mereka: "Pada zaman Abu Hanifah. ada baiknya kita juga meninjau perkembangan metodologi penafsiran al-Qur'an." Katanya: "Rasulullah berkata. tidak berbeda dari Ibn Taimiyah bagi madzhab Hanbali. Fazlur Rahman dilahirkan.hanya dapat diterima oleh orang yang tidak mempunyai dasar dalam pemikiran Islam tradisional. Kata Abu Hanifah: "Isy'ar adalah penganiayaan. Karena itu. pada bab khusus. Ia menolak banyak hadits demi ra'yu. prajurit mendapat satu bagian." Nabi bersabda: "Dua jual beli dengan khiyar sebelum keduanya berpisah." Kata Abu Hanifah: "Bila jual beli wajib. antara lain pada masa al-Mahdi. kita akan terkejut menemukan bahwa klaim orisinalitas pembaruan Rahman --yang berulangkali disebut Taufik Adnan Amal dalam bukunya. Ia memegang jabatan qadhi pada masa-masa kekhalifahan 'Abbasiyyah. Di Pakistan.fiqh." Rasulullah melakukan isy'ar (melukai punggung unta) sebelum menyembelih hewan kurbannya. Tidak heran kalau Fazlur Rahman sering --bahkan paling sering-menyebut Abu Yusuf. Abu Hanifah menolak 400 atau lebih hadits Nabi saw. kritik terhadap Rahman juga dapat dilacak pada kritik fuqaha al-atsar terhadap fuqaha al-ra'y.. Uraian di atas diberikan untuk menjelaskan dasar-dasar pemikiran Rahman pada perkembangan pemikiran Islam klasik. kuda mendapat dua bagian. sebagai latar belakang teoretis dalam memahami penafsiran al-Qur'an yang dirumuskan oleh Rahman. ada empat orang sahabat. Di Mesir.

kita akan melihat problematik al-Qur'an yufassir ba'dhuhu bad'dhan. . Paling tidak. Di antara jenis-jenis tafsir bi 'l-riwayat. Bila tafsir itu diperoleh dengan menukil penjelasan dari al-Qur'an lagi. kita uraikan jalan yang ditempuh oleh al-Thabathaba'i. Kemudian Allah menghidupkan mereka di dunia. Muhammad saw. kita akan melacak kemusykilan asbab al-nuzul. Untuk mengapresiasi metode penafsiran Rahman. Pertama kali. Banyak kitab tafsir mengaku menggunakan metoda ini. serta menggali prinsip-prinsip universal ajaran Islam. dari sinilah Rahman mengajak kita untuk menafsirkan al-Qur'an dengan melihat al-Qur'an secara keseluruhan dan dengan melihat "sebab-sebab pewahyuan". 2:185) dan al-Sunnah. pendapat sahabat dan tabi'in. para mufasir menganggap taisir bi 'l-riwayat adalah yang paling dapat dipercaya. kita dapat membaginya ke dalam kelompok: tafsir Qur'ani yang murattab (berdasarkan urutan ayat dari al-Fatihah sampai al-Nas) dan tafsir Qur'ani maudhu'i (berdasarkan tema-tema atau topik-topik tertentu) Untuk mengetahui prosedur penafsiran qurani yang murattab. al-Hadits. Rahman hampir sepenuhnya berpijak pada tafsir bi 'l-dirayat. kita akan menemukan prosedur penafsiran Qur'ani yang bermacam-macam. Untuk yang terakhir ini. wa lam yalbisu imanabum bi zhulm (QS 6:82) sebagai syirk berdasarkan ayat inn al-syirk la-zhulm 'azhim (QS 31:13). dan menjelaskan maknanya serta menggali hukum-hukum dari hikmahnya. Selanjutnya. kemusykilan kedua penafsiran ini akan kita lihat. Ibn Abbas menafsirkan dua kematian dan dua kehidupan dalam surah Ghafir ayat 11 dengan merujuk kepada surah al-Baqarah ayat 28. Sesudah itu. ketika berada dalam tulang sulbi orang tua mereka. 7:52. Semula manusia mati. Tafsir al-Qur'an dengan al-Qur'an mempunyai basis dalam petunjuk-petunjuk al-Qur'an sendiri (QS 11:1. baru tafsir al-Qur'an dengan al-Sunnah (misalnya. Tradisi Nabi ini dilanjutkan oleh para sahabat. maka tafsir itu disebut tafsir bi 'l-riwayat atau tafsir bi 'l-ma'tsur. Rupanya. dari penafsiran QS 31:14 dengan QS 46:15. tafsir bi 'l-riwayat seperti ini diambil Rahman ketika berbicara tentang hukum Islam dan ditinggalkan Rahman ketika membahas aspek teologis dan eskatologis ajaran Islam. Bila tafsir itu berpijak pada ijtihad mufasir --dengan mengerahkan kemampuan nalar dan/atau intuisinya-. Ali ibn Abi Thalib menyimpulkan bahwa waktu minimal kehamilan adalah enam bulan. lewat asbab al-nuzul).maka kita menyebutnya tafsir bi al-dirayah atau tafsir bi 'l-ra'y.Nabi-Nya. dalam Tafsir al-Mizan. tafsir al-Qur'an dengan al-Qur'an adalah yang paling baik. yang menjadi pijakan Rahman. membedakan ketetapan legal dari sasaran dan tujuan al-Qur'an. Nabi saw. Di antara kedua jenis tafsir itu. Setelah itu Allah mematikan mereka dan menghidupkan mereka kembali pada Hari Kiamat. kita akan menelusuri akar-akar penafsiran Rahman pada tafsir bi 'l-dirayat. Anehnya. Akhirnya. menafsirkan kata zhulm dalam. Abd al-Karim al-Khathib al-Mishri bahkan menamai kitab tafsirnya al-Tafsir al-Qur'ani li al-Qur'an. Bila kita teliti kitab-kitab itu. yang --menurut Rahman-dapat mengungkapkan latar belakang situasional.

Yang dimaksud dengan kata al-mustaqar dalam surah al-Qiyamah ayat 12 adalah "tempat kembali" dengan melihat surah al-Insyiqaq ayat 6. al-'Alaq ayat 8. Tafsir maudhu'i dimulai dari topik.. Ayat-ayat itu kemudian disusun dan dirangkai begitu rupa sehingga dihasilkan kesatuan pandangan yang lengkap dan kesatuan pemikiran yang menghimpun dan meliputi seluruh ayat tersebut. kemudian dikumpulkan ayat-ayat yang berkenaan dengan topik tersebut. dapat membantu kita dalam menghilangkan kekaburan dan ketidakjelasan. Ibrahim Hosen. Yang dimaksud dengan konteks adalah "semua yang mengungkapkan ( makna) lafadz yang ingin kita pahami dari petunjuk-petunjuk yang lain. Mengumpulkan ayat-ayat dalam hubungannya satu sama lain. atau menjelaskan istilah-istilah yang dipergunakan dalam al-Qur'an. (QS 37:95). Kadang-kadang ayat-ayat yang berkaitan dengan topik tertentu tersebar pada surah-surah yang berbeda atau pada tempat-tempat yang berbeda dalam surah yang sama. Tanpa melihat konteks ayat. (Kita) kumpulkan setiap ayat yang berkaitan dengan pengertian tertentu dan topik tertentu. dan karena kita tidak mengetahui konteks turunnya ayat itu atau petunjuk-petunjuk situasional yang berlaku pada masyarakat Islam saat itu. mempermudah makna yang sulit. dan al-Naml ayat 62..Pertama. ". Perbedaan antara tafsir maudhu'i dengan tafsir murattab mirip dengan perbedaan antara thesaurus dengan dictionary. kita akan terjatuh ke dalam paham Jabbariyah. Ketua Komisi Fatwa Majelis Ulama . Ayat ini terdapat dalam kisah ucapan Ibrahim kepada para penyembah berhala. Bahwa "apa yang kamu perbuat" adalah berhala-berhala itu. "maka ayat-ayat al-Qur'an dilihat dari konteks ayat-ayat itu" (siyaq al-ayat). "ayat-ayat lain dipergunakan untuk memahami ayat-ayat yang mujmal atau sama. Kedua. Al-Qur'an menunjukkan dalam setiap surah atau setiap tempat. Jadi jelas. dalam satu tempat. salah satu aspek dari topik tertentu itu. ayat "Dan Allah menciptakan kamu serta apa yang kamu perbuat" (QS 37:96). dan al-Qhashash ayat 88." POKOK-POKOK PEMIKIRAN MADZHAB LIBERALISME Pendapat Prof. Pengantar pada tafsir ini --sepanjang pengetahuan saya dari kalangan kaum Muslim-. dengan melihat surah al-A'raf ayat 69. tetapi meliputi anak-cucunya. padahal Allah menciptakan kamu serta apa yang kamu perbuat (QS 37:96).. dan menjelaskan metodenya sebagai berikut: ". Seringkali kita mengalami kesulitan untuk memahami ayat atau mengetahui tujuannya karena jarak kita yang jauh dari zaman wahyu. Tafsir maudhu'i baru muncul belakangan. Yunus ayat 14.. seperti kata-kata yang membentuk kalimat tunggal yang berkaitan dengan lafadz yang ingin kita pahami. Kita memperoleh manfaat lain dari pengumpulan ayat-ayat yang berkaitan dengan topik tertentu dengan tetap berpijak pada pandangan Qur'ani yang utuh tentang topik tersebut.ditulis oleh Muhammad al-Baqir al-Abthahi. Apakah kamu menyembah barang yang kamu pahat. baik yang bersifat lafdziyah. atau bersifat haliyah. Ja'far Subhani menulis serial mafahim al-Qur'an (sampai sekarang sudah selesai lima jilid)." Yang dimaksud dengan "khalifah" dalam surah al-Baqarah ayat 30 tidak terbatas pada Adam. seperti kasus-kasus atau fenomena yang menjadi petunjuk bagi topik yang dibicarakan." Misalnya. 26. al-Najm ayat 42.

TAFSIR KONTEKSTUAL FAZLUR RAHMAN Rahman dalam Tema Pokok al-Qur'an memperinci metodologi penafsiran al-Qur'an dalam tiga langkah. kita harus mengambil sunnah Rasul dari segi jiwanya untuk tasyri al-ahkam dan memberikan keleluasaan sepenuhnya untuk mengembangkan teknik dan pelaksanaan masalah-masalah keduniawian. Kelima. Ia mengusulkan enam hal. yaitu.(bersambung 9/10) Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah Editor: Budhy Munawar-Rachman Penerbit Yayasan Paramadina Jln. (021) 7507174 Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota Please direct any suggestion to Media Team Artikel Yayasan Paramadina Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota IV. Keempat. kedua. kita harus mendukung hak pemerintah untuk mentakhshish umumnya nash dan membatasi muthlaqnya. ketiga langkah ini merupakan langkah pertama dalam perumusan prinsip-prinsip hukum Islam. kita harus meninggalkan pemahaman harfiah terhadap al-Qur'an dan menggantinya dengan pemahaman berdasarkan semangat dan jiwa al-Qur'an. -------------------------------------------. kita harus melepaskan diri dari masalikul'illah gaya lama dan mengembangkan perumusan 'illat hukum yang baru. Kita tidak perlu terikat pada teks-teks . Amal dan Pangabean memperincinya dalam Tafsir Kontekstual al-Qur'an. Ketiga. prinsip-prinsip umum ini kita aplikasikan untuk memecahkan masalah-masalah konkret dewasa ini. kita harus menggeser perhatian dari masalah pidana yang ditetapkan oleh nash kepada tujuan pemidanaan.22. UA 20-21 Jakarta Selatan Telp. Nanti. bergerak dari yang khusus kepada yang umum. Kedua. Terakhir. pendekatan historis untuk menemukan makna teks. Secara operasional. 7501983. pembedaan antara ketetapan legal dengan sasaran dan tujuan al-Qur'an. ketiga. (021) 7501969. Metro Pondok Indah Pondok Indah Plaza I Kav.Indonesia ini pernah mengajukan saran-saran bagi pembaruan pemikiran keagamaan di Indonesia. TINJAUAN KRITIS ATAS SEJARAH FIQH (9/10) Dari Fiqh Al-Khulafa' Al-Rasyidin Hingga Madzhab Liberalisme oleh Jalaluddin Rakhmat KRITIK PADA FIQH IBRAHIM HOSEN Esensi dari pemikiran Hosen ialah jiwa atau semangat dari al-Qur'an dan Sunnah. pemahaman sasaran al-Qur'an dengan memperhatikan latar belakang sosiologisnya. Pertama. Dalam perkembangan pemikirannya yang kemudian. kita harus sanggup menyimpulkan prinsip-prinsip umum ajaran al-Qur'an. Dari ketiga langkah tersebut di atas. 7507173 Fax. Pertama. kita harus mengganti pendekatan ta'abbudi terhadap nash-nash dengan pendekatan ta'aqquli.

qashar tidak lagi berlaku dalam perjalanan tetapi dalam situasi apapun yang membuat orang payah. Pandangan ini menimbulkan beberapa kemusykilan. Mereka memerlukan tenaga dan kekuatan. hukum-hukum syari'at dapat berubah. ketika kita harus meninggalkan produktivitas. ketika kita memerlukan tenaga untuk membangun. yang dimaksud ialah hendaknya wanita memelihara kesucian dirinya dengan menutup diri dari perbuatan-perbuatan yang tercela. berdasarkan pada 'illat baru. Tetapi yang menjadi persoalan ialah apakah berpegang pada semangat al-Qur'an atau al-Sunnah itu berarti tidak usah setia lagi pada makna lahiriahnya. dengan menetapkan pemerintah sebagai pentakhshish dan pengtaqyid nash. Dalam istilah sebagian orang. Saya yakin. al-Nur: 31) jelas menunjukkan perintah memakai kerudung sampai menutup dada. ketika kita meninggalkan makna lahir teks dan mencari jiwa atau semangat teks. Kata "menutupkan kerudung" harus dipahami sebagai kata kiasan. karena . Rasulullah menyuruh mereka berbuka. pemikiran seperti ini tidak memerlukan usaha yang sungguh yang menjadi makna ijtihad. Dalam situasi seperti itu puasa boleh ditinggalkan. Makna lahiriah dari teks. Sekarang kita abaikan makna lahiriah ini. Perintah ini harus dipahami sebagai perintah untuk menahan diri dari perbuatan-perbuatan yang mendorong orang ke arah pemuasaan nafsu. Sekarang. fiqh akan lebih berfungsi sebagai pemberi justifikasi daripada jurisprudensi. Dengan kebebasan mencari 'illat baru. "Dan hendaklah mereka menutupkan kerudungnya sampai menutupi dada mereka" (QS. Pertama. Kita tidak boleh menerima teks-teks itu begitu saja (secara ta'abbudi). dengan mengganti 'illat qashar pada masyaqqah (kepayahan). kita meninggalkan makna obyektif yang sudah jelas dan memasuki makna subyektif yang tidak jelas kriterianya. Bukan semangat dari ajaran zakat ialah pemerataan pendapatan dan pengurangan kemiskinan? Ketika para sahabat bersiap diri menghadapi perang di bulan Ramadlan. Apakah perempuan tidak perlu memakai kerudung bila ia sudah pandai menjaga diri tidak melakukan tindakan yang "merangsang"? Kita memerlukan kriteria kapan teks harus ditinggalkan demi makna yang lebih dalam dan kapan makna yang lebih dalam itu harus diperlakukan sebagai pengayaan makna lahiriah dan bukan pengabaiannya. kepastian hukum menjadi kabur. Kita tidak perlu mengeluarkan zakat bila pemerintah sudah melakukan kebijakan pemerataan pendapatan dan memberikan santunan pada fakir miskin. Fiqh menjadi alat status quo dan bukan sebagai korektor. Kata sebagian orang. Kita harus mencari semangat atau ruh perintah ini. Kita masih dapat mengumpulkan pendapat-pendapat lain. Semangat ajaran Islam itu kesucian diri. Tanpa kriteria ini kaum liberalis dapat membawa kita ke arah tadhyi (pengabaian nash) dan tahrif (penyimpangan makna). Apa semangat dari larangan ini? Umat Islam sedang menghadapi tugas yang berat. Misal. bukan menutupkan kerudung. Kita harus menggunakan akal (ta'aqquli).lahir al-Qur'an dan Sunnah. Kita dapat menggashar shalat hanya karena kita baru saja menyelenggarakan seminar yang menguras energi. Ketiga. Kata sebagian orang. Kedua. Dengan cara ini terbukalah peluang untuk memasukkan pikiran-pikiran non-islami ke dalam struktur syari'at Islam. apakah kita juga harus meninggalkan puasa. dahulu wanita-wanita Arab itu senang membuka dadanya untuk merangsang kaum pria. Islam akan dipandang hanya sebagai suplemen dan bukan sebagai alternatif.

Rahman menyadari pentingnya asbab al-nuzul. Terdapat juga kemusykilan dalam menentukan apakah dalam situasi tertentu. bila bertentangan dengan apa yang telah dipandangnya sebagai prinsip-prinsip umum ajaran al-Qur'an. Tuhan dapat membuat sejarah. sebagian besar tidak tahan kritik --bahkan pada tingkat kritik rawi atau sanad. meminta agar beliau memohon ampun kepada Allah untuk orang itu. tetapi --pada saut yang sama-. dari buku-buku tarikh.dapat "membuktikan" pengaruh-pengaruh Kristen dan Yahudi dalam al-Qur'an. datanglah . 158). tetapi mempunyai motif-motif yang patut dicurigai. Apakah meminta doa kepada Rasul itu hanya berlaku pada waktu Rasul masih hidup atau juga berlaku sekarang? Bukankah dari ayat ini dapat disimpulkan suatu prinsip umum: Bila berbuat dosa. Di kalangan para mufassirin terjadi ikhtilaf apakah pelajaran (al-'ibrah) itu bersifat spesifik (bi khushush al-sabab) atau umum (bi 'umum al-lafazh). tetapi hanya ahli sejarah yang dapat mengubah sejarah. Apalagi. kita merumuskan situasi di zaman Nabi itu dari asbab al-nuzul. Kemudian turun surah al-Nisa ayat 64. Pernah orang datang kepada Rasulullah saw." Dari mana kita memperoleh informasi tentang situasi masa lalu itu? Pertama. seperti kata sebagian orang. sebagaimana yang telah banyak diketahui oleh para peneliti ulum al-Qur'an.berkenaan dengan hubungan antara dengan asbab al-nuzul. Dalam kalimat Shadr."menilai bahwa literatur asbab al-nuzul itu seringkali sangat bertentangan dengan kacau-balau" (h. "terdapat jarak yang sangat jauh antara situasi sosial ketika nash-nash itu dilahirkan dengan situasi sosial dewasa ini. para orientalis --lewat "analisis sosiologi" mereka-. KRITIK PADA FAZLUR RAHMAN Metodologi Rahman --seperti telah disebutkan di atas-bersandar sepenuhnya pada pendekatan historis untuk memperoleh makna teks dari analisis latar sosiologis untuk memahami sasaran al-Qur'an. sedang dalam situasi lain sebabnya khusus tetapi efek legalnya umum. seperti yang dilukiskan oleh Taufik dalam buku ini (h. ketika nash-nash itu dijadikan rujukan. yang terbukti seringkali ditulis oleh orang-orang yang tidak mempunyai pengetahuan historiografi. hadist-hadist tentang asbab al-nuzul itu sangat sedikit. Seperti dikatakan Subhani. Kedua. Kemusykilan lainnya --yang terlalu panjang bila diuraikan di sini-. Lebih dari itu.justifikasi tidak memerlukan pemikiran yang mendalam. Apalagi --sebagai pelanjut mazhab Umari-Rahman seringkali tidak ragu-ragu menanggap hadist-hadist sebagai "fiksi yang dirumuskan belakangan saja". Karena itu. Kadang-kadang sebab yang sama berkaitan dengan ayat-ayat yang berlainan (ta'addud al-nazil wa 'l-sabab wahid). sangat sukar kita memperoleh gambaran utuh mengenai situasi sosial waktu itu. karena jarak kita yang jauh dari masa wahyu. Di antara yang sedikit itu. Yang paling musykil --dan justru di sini Rahman berpijak-adalah menetapkan apakah asbab al-nuzul itu hanya berkenaan dengan peristiwa atau orang yang spesifik atau dapat digeneralisasikan. 224). Kadang-kadang ayat yang sama dijelaskan dengan asbab al-nuzul yang berlainan (ta'addud al-asbab wa al-nazil wahid). sebab itu khusus dan efek legalnya juga khusus.

Setelah umat Islam terbentuk sebagai masyarakat.pengharaman khamr ini berlangsung secara gradual. Kata A'sya. Menurut Rahman --juga kebanyakan ulama-. ketika umat Islam belum merupakan suatu masyarakat (society). Dalam hadist yang dikeluarkan oleh Thabrani dari Mu'adz ibn Jabal disebutkan bahwa di antara yang pertama kali diharamkan pada permulaan kenabian adalah minuman khamr. Muhammad mengharamkan zina. karena mereka menganggap enteng larangan ilahi ini. di Makkah. penelitian saya tentang pengharaman menghasilkan kesimpulan yang berbeda. Kita tidak tahu apakah Rahman setuju. jauh sebelum turun surah al-Maidah. ketika manusia menjadi sebuah masyarakat (society). tetapi akhirnya dianggap sebagai perbuatan setan (QS 5:90-91)..." Inilah ratio legis haramnya alkohol." kata mereka lagi. kecuali untuk mempertegas (keharaman khamr) bagi menusia. khamr diharamkan. Marilah kita ambil kasus khamr. tetapi hanya merupakan komunitas informal. ketika Abu Jahal masih hidup. di tengah jalan ia dicegat Abu Sufyan. alkohol menjadi membahayakan sehingga pengkonsumsiannya tidak diperkenankan. Yang pertama mengharamkan khamr sebenarnya adalah surah . jika kita menyimpulkan --dari kesimpulannya-bahwa pengkonsumsian alkohol secara individual dalam komunitas informal tidak haram. para ahli tafsir sepakat menyebutkan surah al-Maidah ayat 90 sebagai ayat yang terakhir. Rahman menunjukkan evolusi "sikap" al-Qur'an terhadap khamr. Mereka berpegang pada sebab yang khusus (bi khushush al-sabab). "Hai Abu Bashir. "Aku tidak keberatan. Dalam urutan pengharaman khamr." "Abu Bashir. Setiap orang akan setuju bahwa konteks historis sangat diperlukan untuk memahami al-Qur'an. Apa prinsip umum yang dapat ditarik dari latar sosiologis ini? Kata Rahman. Di sini tampak bahwa prinsip umum yang diyakini oleh mufasir menentukan spesifikasi atau generalisasi asbab al-nuzul. Setiap orang juga tahu bahwa asbab al-nuzul dan tarikh sangat penting. Dengan menggunakan metodologi Rahman.kepada Rasulullah --baik dalam keadaan hidup atau mati dan mintakan agar beliau memohonkan ampunan buat kita? Kaum Wahhabi berpendapat bahwa tawassul itu syirik dan karena itu menganggap ayat ini hanya berlaku ketika Rasulullah masih hidup. juga. Menurut Thabathaba'i. Peristiwa ini terjadi di Makkah. Ketika ia bermaksud menyatakan Islamnya di depan Rasulullah saw. Yang ingin diketahui orang ialah bagaimana Rahman menarik kesimpulan dari ayat-ayat yang tidak ada asbab al-nuzul-nya. "Tidak turun ayat al-Ma'idah. Kedua-duanya sangat dihajatkan terutama sekali untuk menetapkan tujuan atau sasaran yang ingin dicapai al-Qur'an ("ideal moral" al-Qur'an) atau sebab berlakunya hukum (ratio legis). ". Khamr sudah diharamkan sejak awal kenabian. Abu Jahal terbunuh dalam perang Badar. Mula-mula khamr dipandang sebagai rahmat Tuhan (QS 16:66-69). dan orang-orang Quraisy lainnya. Tetapi karena sahabat terus-menerus melakukan pelanggaran. Muhammad mengharamkan khamr. Abu Jahal." Bahwa khamr telah diharamkan sejak awal bi'tsah dapat dilihat pada peristiwa masuk-Islamnya A'sya ibn Qais. bagaimana kita dapat memastikan situasi sosial dari tarikh yang dapat kita akses. Khamr tidak diharamkan.. Dan seterusnya. maka pengharaman ditegaskan berkali-kali --dari tahrim 'am sampai tahrim khash bi tasydid al-baligh (pengharaman khusus yang sangat keras)." kata mereka.

Riwayat ini dihimpun berdasarkan hadits Bukhari. Ahmad Abu Dawud. Al-A'raf termasuk surah yang turun dalam periode Makkiyah awal. Katakan Tuhanku hanya mengharamkan kekejian --baik yang tampak maupun yang tersembunyi-. Umar menjawabnya. Seandainya tidak turun ayat lain yang mengharamkan.. Ibn Majah. TINJAUAN KRITIS ATAS SEJARAH FIQH (10/10) Dari Fiqh Al-Khulafa' Al-Rasyidin Hingga Madzhab Liberalisme oleh Jalaluddin Rakhmat CATATAN 1. Al-Itsm dalam ayat itu adalah khamr. cukuplah ayat ini saja. Metro Pondok Indah Pondok Indah Plaza I Kav.al-A'raf ayat 33.dan dosa (al-itsm) dan pembangkangan tak benar serta menyekutukan Allah. 7507173 Fax. Menurut riwayat. sebagaimana ditegaskan dalam surah al-Baqarah ayat 214. Karena basis metodologi Rahman adalah tarikh dan asbab al-nuzul. yang harus lebih dahulu dirumuskan adalah kritik keduanya (yang kurang diperhatikan Rahman). 7501983.22. Tuhanku hanya mengharamkan kekejian. al-A'raf:33). "Kami berhenti. Ibn Hajar . Mereka bertanya kepadamu tentang khmr dan judi. ------------------------------------------. Muslim. al-Nasai.(bersambung 10/10) Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah Editor: Budhy Munawar-Rachman Penerbit Yayasan Paramadina Jln. di dalamnya dosa besar. Karena Allah berfirman. (QS. Katakanlah di dalamnya ada dosa besar (itsm kabir). (021) 7507174 Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota Please direct any suggestion to Media Team Artikel Yayasan Paramadina Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota IV. Allah tidak saja menjelaskan bahwa dosa itu haram.karena sahabat masih tetap melakukannya. dan dosa. pengharaman khamr diulang-ulang --makin lama makin keras-. karena yang dimaksud manfaat itu manfaat dunia dan semua yang diharamkan ada manfaat duniawi bagi pelanggarnya.al-Jashash menjelaskan: "Ayat ini menetapkan haramnya khamr. (021) 7501969. UA 20-21 Jakarta Selatan Telp. tetapi (untuk khamr) mempertegasnya dengan menyebutkan dosa besar. Dosa semuanya diharamkan dengan firman Allah." Walhasil. sebagai penegas akan bahayanya. Adapun kata manfaat bagi manusia tidaklah berarti menghalalkannya. Tentang surah al-Baqarah ayat 219 --yang dianggap Rahman dan kebanyakan mufassirin belum mengharamkan khamr-. Karena itu surah al-Ma'idah 90 diakhiri dengan kata Mengapa kalian belum berhenti juga.. Kami berhenti!" Ini hanyalah sebuah contoh penggunaan metodologi Rahman dengan hasil yang sama sekali berbeda dari konklusi Rahman.

tak ada yang menentang hal ini kecuali orang-orang bid'ah yang menyirnpang" (Al-Ishabah 1:9. "Sepakat semua Ahl Sunnah bahwa sahabat seluruhnya 'udul. Pada halaman yang sama.Abu Ishaq al-Syatiby. ketahuilah bahwa dia itu zindiq (atheis). 6. 1371. Beirut. 4:74. Bagaimana mungkin menetapkan ishmah mereka tanpa hujjah yang mutawatir? Bagaimana dapat dibayangkan adanya 'ishmah." Begitu "sucinya" para sahabat itu sehingga Abu Zar'ah menulis. tidak dikenai celaan. tanpa tahun. sebab mereka semna 'udul.T Al-Hakim Al-Ushul al-'Ammah fi al-Fiqh al-Muqaran. Ibn Al-Atsir dalam Usud al-Ghabah fi Ma'rifat al-Shahabah. . 7-9. tanpa kota. 1:3. Mereka yang termasuk jumpa ini orang yang lama bergaul dengan Nabi atau yang sebentar. yang melihatnya tetapi tidak menghadiri majelisnya. Bagaimana mungkin berhujjah dengan ucapan mereka dengan kemungkinan mereka salah. 1:135. Mathba'ah al-Maktabah al-Tijariyah. Dar al-Andalus. Al-Muwafaqat fi Ushul al-Syari'at. 1:443 al-Maktabah al-Salafiyah. beriman kepadanya dan meninggal dalam Islam. "Seluruh sahabat itu mukmin yang saleh.Taqdimah al-Ma'rifah li Kitab al-Jarh wa al-Ta'dil.al-Asqalani. semuanya mati dalam iman. 1974:133-143. padahal mereka boleh ikhtilaf? Mungkinkah dua orang ma'shum ikhtilaf? Bagaimana mungkin. Ibn Hajar berkata. Heiderabad. 1:10 4." 7. 250. hal. 1:457 3. Dar al-Fikr. Tarikh al-Madhahib al-Islamiyah. menurut Ibn Hazm. hal. menulis. Beirut. tanpa tahun. yang berperang besertanya atau tidak. Al-Syatibi mengutip ayat-ayat al-Qur'an dan hadits-hadits untuk menunjang pendapatnya. al-Mustasyfa. bahkan mereka mewajibkan --dalam masalah ijtihad-.Lihat al-Ghazali. Lihat: Fath al-Bari. Mesir: Mustafa Muhammad. "Siapa yang mengkritik salah seorang di antara sahabat Rasulullah saw.Fath al-Bari. Pembaca yang tertarik dapat melihat M. al-Ishahah fi Tamyiz al-Shahabah. padahal sahabat sepakat bolehnya bertentangan dengan sahabat yang lain? Abu Bakar dan Umar tidak mengingkari orang yang berbeda ijtihadnya dengan mereka. atau yang tidak melihatnya seperti orang buta". Ibn Hajar mengemukakan dalil-dalil tentang 'udul-nya sahabat secara rinci dalam kitab ini juga). Mengenai 'Udul-nya sahabat. 5.Abu Zahrah. Muhammad Taqiy al-hakim mengkritik kelemahan argumentasi al-Syatibi secara rinci. al-Ghazali menolak semua pendapat itu dan berkata. "Siapa saja yang mungkin salah atau lupa dan tidak tegas 'ishmahnya tidak boleh pembicaraannya menjadi hujjah. "Sahabat sama seperti perawi hadits yang lain kecuali satu hal --pada mereka tidak berlaku jarh dan ta'dil." Lihat Al-Ishabah 1:10.Ibn Hajar mendefinisikan sahahat sebagai "orang yang berjumpa dengan Nabi saw.agar setiap mujtahid mengikuti ijtihadnya masing-masing. Kecuali untuk sahabat yang masuk Islam sesudah Bai'at al-Ridwan (sambil mereka pun tidak boleh disebut kecuali kebaikan).. 2.

Dr. Musa Towana. Teheran: Sepahar. Kanz al-Ummal 3:102. Sunan al-Baihaqi 7:336. hal. Al-Baihaqi dalam Sunan al-Kubra 8:318.Al-Syatibi. "I'lam al-Muqi'in. Al-Sunnah qabl al-Tadwin. 32-33.Asbab al-Ikhtilaf bain Aimmah al-Madzahib al-Islamiyah". V NO. 20. Diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris oleh Mahliqa Qara'i. al-Dar al-Mantsur 1:279. Umdat al-Qari 11:151. Mesir: Mathba'ah Sa'adah. semuanya masuk surga." (Saya kutip lagi dari Muhammad 'Ajal al-Khatib. tt 1:63-64. Tarikh al-Madzahib. dan kebajikan.Shahih al-Bukhari. Irsayad al-Sari 10:9. Maktabah Wahdah. Musnad Ahmad 1:314. vol. Al-Baihaqi . lihat juga Shahih Muslim. dalam Kayhan-e Andisheh NO.Kupasan tentang perdebatan ini. 10. lihat Ibn Qayyim. Al-Ahzab 33 (tentang 'ishmah ahli bait). dalam Al-Tawhid. Saya kutip lagi dari Abu Zahrah. 12. hal. Kanz al-Ummal 1:185. pada Kitab Al-Muharibin. "Ra'y Gera'i Dar Ijtihad". al-Hakim dalam al-Mubarak 2:59 dan 4:389. "Ijtihad and the Practise of Ra'y". al-hakim 2:196. yang jika kamu berpegang teguh. al-Baihaqi dalam Sunan al-Kubra 8:264.Abu Dawud 2:227.Muhammad Ibrahim Jannati. 1963.Abu Dawud 2:242. Taysir al-Wushul 2:5.Abu Zahrah. Kairo: Dar al-Kutub al-Haditsah. Fath al-Bari 12:101. Kairo. 1:349. kamu tidak akan sesat selama-lamanya Kitab Allah den Ahli Baitku (hadits-hadits yang semakna dengan ini diriwayatkan oleh Shaih Muslim dalam Kitab Fadhail al-Shahabat". Al-Syura 23 (tentang keharusan mencintai ahli waris). Tafsir al-Darr al-Mantsur 6:74. Shahih Muslim 2:52. 4:352 dan 5:22. hal. 1404.Tafsir Ibn Katsir 4:194. 395-396). Sunan al-Nasa'i. 255. hal. 57-58. 8. 18. 2. 9.Di antara ayat-ayat yang menunjukkan keharusan mengikuti ahli bait adalah Al-Maidah 55 (Menurut banyak ahli tafsir. Tarikh al-Madzahib. 252. 13.Ibn Qayyim al-Jawziyyah. Ibn Majah 2:227. 19. Musnad Ahmad 4:366. 16. tidak seorangpun masuk neraka.petunjuk. dalam Hawl al-Wahdah al-Islamiyah. Di antara hadist-hadits tentang hal yang sama adalah hadits Tsaqalain: Aku tinggalkan bagimu dua hal.Shahih Muslim 1:574. "Al-'Itisham. hal. Bukhari meriwayatkan hadits ini tetapi dengan tidak lengkap. 9. 227-228. Sunan al-Baihaqi. 11. 3:69. 15. 5:148. 14. Al-Ijtihad: wa Mada Hajatina ilaih fi Hadza al-Ashar. 17. 1408. Zad al-Ma'ad 1:177-225. turun berkenaan dengan Ali bin Abi Thalib). tanpa tahun.

dikutip lagi dari al-Nash wa al-Ijtihad. Tafsir al-Syawkani 1:418. 39-40.Tadzkirat al-Huffadz. 26. tarjamah Abu Bakr. tarjamah 'Umar 28. 27. hal. Gubahan syair dari Al-Amini al-Inhaqi dari Syiria.a". 32.Al-Thabaqat al-Kubra. ed. 2:10. 1:174. 25. Al-Ijtihad. Taisir al-Khazim 1:356. Sunan . "Kitab al-Jihad". Shahih Muslim Bab "Tark al-Wasyiyyah" Musnad Ahmad. 1:2-3. Shahih al-Turmudzi 1:68. 23. dan Kitab al-Jizyah".Kitab al-Kharraj 24-25. al-Baihaqi 7:164.Tadzkirat al-Huffazh. Polemik Reaktualisasi Ajaran Islam. 1988. Tafsir al-Qurthubi 6:117. Usman mula-mula shalat dua rakaat. Shahih al-Turmudzi 2:308. Jakarta: Pustaka Panjimas. 30. Al-Durr al-Mautsir 2:136. Musnad Ahmad 2:148 Sunan al-Baihaqi 3:126.Al-Muwaththa'. 24. 29. 1:5. Sunan al-nasai 2:179. Tarikh al-Khulafa. 44. 1:22. Ahkam al-Qur'an dari Al-Jahshash 3:60 62. Tarikh Ibn Katsir 6:319. Al-Muhalla' 9:622. 33. Sunan Ibnu Majah 1:348. Riwayat pelarangan bagian muallaf. Al-Durr al-Mantsur 3:252.Diriwayatkan oleh Imam Malik dalam Al-Muwaththa' 1:282 dari Urwah: Rasulullah shalat dua rakaat di Mina pada shalat-shalat yang empat rakaat.Al-Thabaqat al-Kubra.2:148.Shahih al-Bukhari 3:69. 1935. dalam Limadza Ikhtartu Madzhab Ahl al-Bait. hadits NO.Shaih al-Bukhari. menyimpulkan dalil-dalil itu. 10404 H. 22. lihat Tafsir al-Manar 10:297. hal. Lihat juga Shahih al-Bukhari 2:154. Il-Ishabah 2:322. 31.Al-Thabaqat al-Kubra. 7:188. Abu Bakar shalat di Mina dua rakaat. tetapi kemudian meng-itmam-kannya. 7:447.Lihat Dr. 36. 1:7. Mustadrak al-Shahihain 3:109. Umar shalat di Mina dua rakaat. Sunan Abu Dawud 1:171. 21. Sunan al-Baihaqi 6:342-343.Tarikh al-Thabari 3:234. Tafsir al-Zamahsyari 1:359. Lihat juga Shahih Bukhari. Musa Towana.Al-Jawharah al-Nayyirah..Tadzkirat al-Huffazh.Lihat "Kontroversi sekitar Ijtihad 'Umar r. bukan tempatnya di sini menuliskan semua riwayat yang dijadikan dalil oleh kelompok pertama. 138. Tafsir al-Thabari 10:6. hal. Ahkam al-Qur'an dari Al-Jahshash 2:168. Kanz al-'Umal 1:47 dan lain-lain). 34. Sunan al-Muslim 2:260. Tarikh Thabari 3:193. 50. Kanz al-'Ummal. 11:257. Thabaqat ibn Sa'ad 2:244. Al-Kamil ibn al-Katsir 2:146. Qum Abu Mujtaba. "Kitab al-'Ilam". dan hadits: "Ahli baitku adalah tempat yang aman dari ikhtilaf bagi umatku" (Mustadrak al-Shahihain 3:348). dalam Iqbal Abdurrauf Saimima.

Ibn Hajar memberikan komentar. 1404. 205. tt. 42. 49. Shahih Muslim. Bandung: Pustaka. Membuka Pintu Ijtihad. hal. Sunan al-Nasai 5:148.Shahih al-Bukhari 3:69. lihat juga Dhuha Al-Islam. 2:180. "Bab Itsbat".Jami'Bayan Al-' Ilm. 26 menulis: Kami telah menyatakan (1) bahwa sunnah dari kaum muslim di masa lampau secara konsepsional dan kurang lebih secara garis besarnya berhubungan erat dengan sunnah Nabi dan pendapat yang menyatakan bahwa praktek-praktek muslim di masa lampau terpisah dari konsep sunnah Nabi adalah salah sekali. "Bab I: Al-Hawah". 37. Shahih al-Muslim 1:349. Musnad Ahmad 1:61. "Utsman melihat kemaslahatan jamaah supaya dapat mengejar shalat. 44.Syibli Nu'mani.Jami' Bayan Al-'Ilm. (2) bahwa meskipun demikian." Kitab Al-Maghazi. 48. hadits ke 4170. Mustadrak al-hakim 1:472. kandungan yang khusus dan aktual dari sunnah kaum muslim di masa lampau tersebut sebagian besarnya adalah produk dari kaum muslim sendiri.al-Nasai 3:100.Shahih Bukhari. Kitab Al-Riqaq. 47. Umar Yang Agung. Al-Umm. Fath al-bari 7:449-450. Lihat juga Sunan al-Baihaqi . (4) bahwa kandungan sunnah atau sunnah dengan pengertian sebagai praktek yang disepakati secara bersama adalah identik dengan ijma'. 1:365. juga Al-Baladzuri dalam al-Anshab 5:26. Lihat Fath al-Bari.Syarh Al-Muwaththa'.Ibn Hajar. lihat Al-Syawkani dalam Al-Awthar 3:374.Ibn Hazm dalam Al-Muhalla 5:227. Bandung: Pustaka.Shahih Muslim 1:142. Tanwir Al-Hawalik. 152. Fath al-Bari 2:361. 267.. Dar Al-Fikr Al-Araby. 41. Kitab Al-Fadhail.95. 2:401. sedangkan Marwan supaya orang mendengarkan khutbahnya. 1:221. 2:244. 37. 2:244. 3:192.Fazlur Rahman. Kitab al-Umm 1:173.Al-Imam Al-Syafi'i. hal. (3) bahwa unsur kreatif dari kandungan ini adalah ijtihad personal yang mengalami kristalisasi menjadi ijma' berdasarkan petunjuk pokok dari sunnah nabi yang tidak dianggap sebagai sesuatu yang sangat bersifat spesifik. Tasyir al-Wushul 1:282. 38.Ansab Al-Asyraf. Sunan al-Baihaqi 1:472.Shahih Bukhari. 1:93-94. 45. hal. 1:208. Turmudzi 3:302. 43. 1983. 39.Abu Zahrah. 46." 40. "Bab Ghazwat Al-Hudaibiyah. Tarikh Al-Madzahib Al-Islamiyah. 11:463-476. Sunan al-Baihaqi 1:429. 532. Shahih al-Bukhari 1:109.

"Kami mengeluoh kepada Rasulullah tentang udara yang sangat panas sehingga tanah menjadi sangat panas pada dahi-dahi kami. 7501983.. Fath Al-Bari. UA 20-21 Jakarta Selatan Telp. Tarikh Dimasq. 14.Kata Al-Dzhabi dalam Tadzkirat Al-Huffadz. Al-Sujud 'ala al-A'rdh. dalam Al-Nihayah. ibid.Catatan kaki pada hamisy kitab Sunan Al-Nasai. (021) 7507174 Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan . 698-701. pada hamisy kitab Tafsir Al Thabari. 51. Mustadrak Al-Hakim. Kanz al-'Ummal. Beirut. tetapi mereka dilarang berbuat begitu. 7507173 Fax. Ibn Katsir. Dar Ihya' Al-Turats Al-'Arabiy. 10:197-198. Usud Al-Ghabab. (021) 7501969. 1:79. Lihat juga biografi Al-Haban bin Al-'Ash pada Al-'Isti'ab. bab "Man La Ha'arahun Naby". Waktu itu para sahabat meletakkan ujung baju mereka dilarang ketika akan sujud untuk menghindarkan panas yang sangat. 52. Tetapi. 257. Ibn Al-Atsir. 8:143. Abdullah bin Mas'ud. 55. Metro Pondok Indah Pondok Indah Plaza I Kav. Tarikh Ibn Katsir.Al-Sirah Al-Nabawiyyah. 5:263. 56. lihat juga biografi Abdurrahman bin Abi Bakr dalam Ibn Asakir.Lihat Ali Al-Hamady. 53.Ibn Katsir. "Para fuqaha menyebut peristiwa ini berkenaan dengan sujud. Ketika mereka mengadukan apa yang mereka alami. ketika menjelaskan hadits ini. Kitab Al-Birr wa Al-Shilah. -------------------------------------------Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah Editor: Budhy Munawar-Rachman Penerbit Yayasan Paramadina Jln.. berkata.Shahih Al-Bukhari. Al-Bidayah wa Al-Nihayah. 1978. "Bab Walladzi Qala li Walidaihi".Shahih Muslim. 7:214 57.2:68. Ali bin Abi Thalib. 4:481. 8:889. hal. Tarikh al-Madzahib al-Islamiyyah.Tafsir Al-Thabari. 19:72-75. Dar Al Tarqib. 58. Tidak mungkin kita menurunkan semua hadits itu di sini Cukuplah kita kutip hadits Muslim dari Khabab bin Al-Arat. sahabat-sahabat seperti Abu Bakar. berdasarkan hadit-hadits yang diriwayatkan Ahl Sunnah bahwa disamping Rasulullah saw. 59.Abu Zahrah. 50. mengizinkan mereka sujud di atas pakaian mereka itu. 54. Jabir bin Abdillah dan lain-lain melarang sujud selain di atas tanah. hal. Nabi saw. Nabi saw. tidak mengizinkan kami (sujud selain di atas tanah). 3:40. Kitab ini menunjukkan. Al-Ishabah.Tafsir Al-Nisabury. 3:124. juz I.

terjadi banyak perbedaan pendapat antara para tokoh intern madzhab sendiri pada saat-saat permulaan perkembangannya." [2] Setelah masa-masa para imam madzhab lewat. dan tidak seorang pun dari mereka menisbatkan yang lain kepada kesalahan dan cacat. serta antara Imam al-Syafi'i dan gurunya.23. TRADISI SYARAH DAN HASYIYAH DALAM FIQH DAN MASALAH STAGNASI PEMIKIRAN HUKUM ISLAM (1/2) oleh Nurcholish Madjid Kita telah membicarakan garis perkembangan pemikiran sistem hukum Islam --yang kemudian dikenal dengan (ilmu) fiqh-. juga antara Imam Ahmad ibn Hajar dan Imam al-Ramli dan para pengikut mereka. Imam Malik. namun tidak seorang pun dari mereka yang menyakiti yang lain. namun dalam suasana saling menghargai dan tenggang rasa yang besar. tapi kemudian dikembangkan begitu rupa sehingga yang terwujud ialah sebuah aliran yang meluas dan . Sebaliknya mereka tetap saling mencintai.H. namun "tidak seorang pun dari mereka memusuhi yang lain. yang senantiasa disertai dengan kegaduhan polemik dan kontroversi. demikian pula antara Imam Ahmad ibn Hanbal dan gurunya. dan tidak saling menisbatkan lainnya kepada kesalahan ataupun cacat. Demikian pula telah terjadi perbedaan dalam furu' antara Imam Abu Hanifah dan Imam Malik (semoga Allah meridlai keduanya) dalam banyak masalah yang jumlahnya mencapai sekitar empatbelas ribu dalam bab-bab ibadat dan mu'amalah. Sampai dengan masa itu. dan saling menolong. seperti antara Imam al-Rafi'i dan Imam al-Nawawi. tidak seorang pun dari mereka menyakiti yang lain. berpersaudaraan. (semoga Allah meridlai keduanya) dalam banyak masalah yang jumlahnya mencapai sekitar enam ribu. dan masing-masing berdoa untuk segala kebaikan mereka itu.ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota Please direct any suggestion to Media Team Artikel Yayasan Paramadina Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota IV. juga tidak seorang pun dari mereka yang menyakiti yang lain. namun tidak seorang pun dari mereka memusuhi yang lain. bahkan sebaliknya mereka selalu saling mencintai. yaitu mulai sekitar abad keempat Hijri. tidak seorang pun dari mereka mendengki yang lain.H. yang kita saksikan dalam sejarah perkembangan fiqh ialah dinamika dan kreativitas. dalam banyak masalah. Keadaan demikian itu dilukiskan K.[1] K. maka yang terjadi ialah pertumbuhan dan perkembangan madzhab itu sendiri. dan akhirnya pertumbuhannya di masa para imam madzhab. tidak seorang pun dari mereka mencerca yang lain. saling mendukung sesama saudara mereka.sejak dari pertumbuhannya di masa para Sahabat. Muhammad Hasyim Asy'ari dari Tebuireng: Telah diketahui bahwa sesungguhnya telah terjadi perbedaan dalam furu' (makalah rincian) antara para Sahabat Rasulullah saw (semoga Allah meridlai mereka semua). Jalan pikiran para imam itu menjadi titik tolak. dan tidak seorang pun dari mereka menisbatkan yang lain kepada kesalahan dan cacat. Imam al-Syafi'i. Hasyim Asy'ari juga menyebut. kemudian para Tabi'in dan pengikut mereka.

al-Muzni. . berakhir dengan kekalahan mereka oleh ummat-ummat lain. yang serba berkecukupan. Inilah masa syarah (penjabaran) dan hasyiyah (penjabaran atas syarah). Agaknya dambaan mereka tercapai. tumbuh dan berkembang pemikiran yang lebih meluas dan mendalam. Demikian pula tokoh-tokoh dari madzhab-madzhab yang lain. bertitik tolak dari produk intelektual satu orang. Jadi tidak berlebihan jika masa itu sering ditunjuk sebagai permulaan kemunduran peradaban Islam. Karena itu yang ada bukanlah pemikiran Imam al-Syafi'i itu an sich. yaitu stagnasi atau kemandekan." yaitu suatu kesatuan pemikiran yang tumbuh dan berkembang. Ditambah lagi dengan keadaan politik negeri-negeri Muslim yang telah mulai kehilangan "elan vital"-nya antara lain karena banyaknya serbuan-serbuan militer dari Asia Tengah seperti dari kalangan bangsa-bangsa Turki dan Mongol. Pertumbuhan madzhab itu dengan sendirinya terjadi melalui para pengikut tokoh yang kelak disebut "imam madzhab" tersebut. al-Buwaythi. tapi dengan ongkos yang amat mahal. seperti yang banyak dilakukan oleh misalnya. Karena orisinalitas pemikiran tidak berkembang lagi. Penilaian ini lebih-lebih beralasan. al-Karabisi. Ciri umum masyarakat Muslim saat itu ialah suasana traumatis terhadap perpecahan dan perselisihan. karena para tokoh pemikir yang menjadi pangkal pengembangan madzhab tersebut semasa hidupnya sendiri sering mengisyaratkan keengganan menjadi pusat pengikutan. ialah ketenangan dan ketenteraman. menjadi kenyataan. misalnya. Tetapi masa itu segera diikuti oleh masa dengan tingkat kreativitas dan orisinalitas intelektual yang lebih rendah. maka dambaan kepada ketenangan dan ketenteraman menjadi semakin beralasan. Maka dari titik tolak pemikiran Imam al-Syafi'i." dan apapun produk pemikiran mereka harus diterima sebagai berlaku "sekali dan untuk selamanya". Ketidakberanian mengambil risiko salah dalam penelitian dan penjelajahan itu kemudian dirasionalisasikan dengan argumen: Apa yang telah dihasilkan para imam madzhab dan pendukung-pendukung mereka itu seolah-olah sudah "final. sehingga yang muncul sebagai dambaan atau obsesi utama masyarakat. Inilah yang dimaksudkan dengan istilah "madzhab. Dan karena pemikiran kritis juga terkekang. melainkan pemikiran yang meskipun tetap berwatak "kesyafi'ian" namun dalam banyak hal Imam al-Syafi'i sendiri mungkin tidak lagi tersangkut paut. setelah dia sendiri lama tiada. atas nama doktrin taqlid dan tertutupnya ijtihad. al-Za'farani. namun belum tentu orang tersebut sepenuhnya dapat dipandang sebagai ikut bertanggungjawab. al-Rabi'. Sebab ketenangan dan ketenteraman itu mereka "beli" dengan menutup dan mengekang kreativitas intelektual dan penjelasan. maka yang terjadi ialah pengulangan dan penghafalan yang sudah ada. khususnya bangsa-bangsa Eropa. yang kemudian lambat laun berkembang menjadi semacam etos di kalangan kaum Muslim di seluruh dunia. Jadi sesungguhnya seorang pemikir seperti al-Syafi'i menjadi imam madzhab adalah secara post factum.mendalam dan cukup pada dirinya sendiri (self-sufficient). maka tercipta suasana bagi tumbuhnya mitos-mitos. yang kemudian kelak. yaitu setelah fakta perkembangan pemikiran yang bertitik tolak dari dia itu. Mula-mula masih terdapat sisa-sisa kreativitas dan keberanian intelektual yang menghasilkan karya-karya tersendiri dengan tingkat orisinalitas yang memadai. dan lain-lain dari kalangan para penganut madzhab Syafi'i.

keharusan memilih suatu madzhab seperti itu dapat dibenarkan. Logika keharusan ini ialah ide tentang taqlid. misalnya. Keharusan memilih salah satu madzhab sekaligus larangan mencampur lebih dari satu madzhab --betapapun tulusnya hal itu dilakukan-. Pada saat itulah sejauh mengenai kegiatan intelektual yang muncul. sebagaimana telah disinggung. yang kemudian dikenal sebagai talfiq. mengenai suatu hukum tertentu seseorang cenderung mencari yang mudah dan ringan dari berbagai madzhab. Metro Pondok Indah Pondok Indah Plaza I Kav. dan bersamaan dengan itu hilang pula kemampuan memberi responsi pada keadaan masyarakat nyata (historis) yang senantiasa berkembang dan berubah. Ilmu Kalam.secara tersirat mengandung doktrin bahwa suatu pemikiran madzhab adalah suatu kesatuan organik yang tidak boleh dipisah-pisah. (021) 7501969. UA 20-21 Jakarta Selatan Telp. (021) 7507174 Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota Please direct any suggestion to Media Team Artikel Yayasan Paramadina . Begitu pula larangan mencampuradukkan lebih dari satu madzhab. merupakan dinamik dambaan kepada ketenteraman.SYARAH DAN HASYIYAH Mulai saat itulah kurang lebih muncul ide tentang keharusan seorang Muslim memilih salah satu dari madzhab-madzhab yang ada sebagai anutan. 7501983. (bersambung 2/2) -------------------------------------------Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah Editor: Budhy Munawar-Rachman Penerbit Yayasan Paramadina Jln. tanpa kesungguhan meneliti bagaimana pangkal sebenarnya hukum itu). Tapi konsekuensi yang lebih jauh ialah --sebagaimana telah disinggung tadi-. tetapi sesungguhnya juga merambah ke berbagai cabang ilmu keislaman yang lain. ialah karya-karya syarah. seperti dari sudut keprihatinan karena situasi politik yang tidak mantap. seperti. Sebuah karya sparah membuka peluang kepada bentuk elaborasi lebih lanjut. yaitu karya tulis berupa kitab yang mengelaborasi karya lain yang lebih orisinal. Kegiatan pseudo-ilmiah serupa ini paling banyak terjadi dalam pemikiran judisial.hilangnya kreativitas dan orisinalis intelektual. juga sangat dicela. dan yang terakhir ini tentu berakibat kepada masalah istiqamah atau keteguhan dan keikhlasan dalam beragama. karena dalam praktek serupa itu mudah sekali masuk unsur oportunisme dalam paham (seperti. 7507173 Fax. dan terutama. Dari beberapa sudut pandang tertentu. Pemisahan itu akan menghasilkan inkonsistensi. yang dipandang sebagai matan (teks inti). Tapi syarah bukanlah akhir perjalanan tradisi pseudo-ilmiah dalam masa kemandekan intelektual ini." yang biasanya disebut hasyiyah. sehingga merupakan "elaborasi atas elaborasi. yang taqlid itu.

air sungai.Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota IV. Ibn Taymiyyah. yaitu hujan (air laut) artinya yang asin (air sungai) artinya yang tawar (air sumur. dan . air sumber. dan air embun. berikut ini adalah contoh kutipan dari matan kitab Taqrib.23. Berikut ini adalah contoh hasyiyah-nya (tapi karena hasyiyah yang bersangkutan itu panjang sekali. yaitu "air sungai" saja): Hasyiyah: (Perkataannya dan air sungai) rangkaian dalam pengertian di. air sumber. air laut. maka ia mencakup Nil dan Furat dan sebagainya. maka demi kepraktisan kita akan mengutip hasyiyah yang menyangkut salah satu dari air yang tujuh itu. menurut keadaan aslinya dalam kitab. [4] Syarah ini kemudian diberi hasyiyah. al-Ghazali. air salju dan air embun) dan tujuh air itu tercakup dalam ungkapan Anda "Apa yang turun dari langit dan apa yang menyembul dari bumi dalam keadaan bagaimanapun adalah termasuk pokok penciptann. dan asalnya dari surga sebagaimana hal itu disebutkan dalam nas mengenainya sebab sesungguhnya diturunkan dari surga Nil Mesir dan Sihun sungai India dan Jihun sungai Balkh dan keduanya itu bukanlah Sihan dan Jiham menurut yang unggul berlainan dengan orang yang menyangka keduanya itu sinonim sebab Sihan adalah sungai Arnah dan Jihan adalah sungai al-Mashishah dan Dajlah dan Furat adalah dua sungai di Irak dari asal Sidrat al-Muntaha dan itulah makna firman Dia Yang Maha Tinggi "Dan Kami turunkan dari langit air dengan takaran tertentu" maka pada waktu keluarnya Ya'juj dan Ma'juj sungai-sungai itu diangkat dan itulah makna firman Dia Yang Maha Tinggi "Dan sesungguhnya Kami tentulah berkuasa untuk menghilangkannya. dan akhirnya diberi hasyiyah dalam kitab al-Bajuri. yaitu penjabaran atau elaborasi lebih lanjut. Matan itu kemudian diberi syarah dalam kitab Fat'h al-Qarib. Ibn Rusyd. artinya air yang mengalir di sungai (nahr) dengan fa'thah ha' dan matinya dan yang pertama lebih fasih dan al di situ adalah untuk jenis. juga sangat standar di pesantren-pesantren. Dan keadaan menurut aslinya itu dapat memberi gambaran tentang ungkapan "ilmiah" masa kemunduran itu yang tidak dapat disebut mengagumkan." jika mereka tidak terlatih membaca dalam konteks. yaitu sebuah kitab fiqh yang paling standar. air salju. [3] Syarah: (Air yang boleh) artinya sah (untuk menyucikan ada tujuh: air langit) artinya yang terjun dari langit. sebuah kitab yang boleh dipandang cukup tinggi: Matan: Air yang boleh untuk menyucikan ada tujuh air: air langit. jauh di bawah ukuran masa kejayaan intelektual sebelumnya seperti diwakili karya-karya Ibn Sina. di pesantren-pesantren. Maksudnya ialah agar kita dapat merasakan kesulitan yang dihadapi oleh mereka yang membaca "kitab gundul. TRADISI SYARAH DAN HASYIYAH DALAM FIQH DAN MASALAH STAGNASI PEMIKIRAN HUKUM ISLAM (2/2) oleh Nurcholish Madjid Untuk memperoleh gambaran apa yang dinamakan syarah dan hasyiyah itu." [5] Kutipan di atas itu sengaja dibuat dalam bentuk terjemahan harfiah tanpa memberi tanda-tanda baca sesuai konteks. air sumur. Ibn Arabi.

seolah-olah segala sesuatu terjadi secara wajar saja. yang biasanya diletakkan dalam bracket "kebangkitan Islam". semua ini diawali karena umat Islam terkena penyakit "puas diri". karena itu harus selalu diusahakan untuk . Tapi tentu saja umat Islam masih tetap mempunyai kesempatan yang baik. yang berarti empat kali lebih panjang daripada masa dominasi Eropa Barat yang sudah berlangsung selama dua abad ini). Bahkan dalam kutipan itu dapat dilihat munculnya beberapa dongeng dan mitologi. khususnya sejarah pemikirannya. Furat dan Dajlah itu ke langit sebagai tafsir atas ayat suci al-Qur'an pula. akibat dominasi mereka atas kehidupan di muka bumi selama berabad-abad (dalam perhitungan konservatif setidaknya selama delapan abad. seperti bahwa sungai Nil berasal dari surga dan sungai Dajlah (Tigris) dan Furat (Eufrat) di Irak berasal dari Sidrat al-Muntaha! Juga ada mitos lain yang tercampur dengan pandangan keagamaan tertentu seperti cerita tentang datangnya Ya'juj dan Ma'juj (Gog dan Mogog) yang tersebut dalam Kitab Suci al-Qur'an [6]. Tapi perbatasan atau frontier ilmu hanyalah produk kemampuan manusia sendiri yang tidak sempurna. melainkan ilmu hanya mempunyai perbatasan (frontier). Dan dalam pandangan mereka. yaitu ujung terakhir perkembangan pemikiran ilmiah." [8] Sementara banyak tafsiran yang berbeda-beda tentang apa "yang membuat baik umat terdabulu.sebagainya. Stagnasi ini tidak dirasakan oleh kaum Muslim. karena itu tak terjangkau. dapat diacu sebagai petunjuk adanya masa depan yang baik." namun dari pembacaan kepada sejarah peradaban Islam. yang pada saat itu akan diangkat sungai-sungai Nil. jelas bahwa yang membuat baik mereka generasi Islam klasik itu ialah apa yang dalam ungkapan kontemporer dinamakan "Etos Ilmiah". bangsa-bangsa pelopor umat manusia masuk Zaman Modern. setidaknya lebih baik daripada sekarang. ilmu pengetahuan telah "habis. atau lebih persisnya. Barat Laut. keadaan sudah sangat terlambat. Berbagai gejala masa-masa terakhir ini. apalagi daripada masa obskurantisme tersebut di atas itu." dan yang tersisa ialah mencerna apa saja yang diwariskan dari generasi sebelumnya. [7] KESIMPULAN Semangat obskurantisme atau kemasabodohan intelektual akibat berbagai faktor ekstern dalam proses-proses dan struktur-struktur politik masa itu sedemikian mencekam. Berbeda dengan obskurantisme. Batas atau limit ilmu hanya ada pada Allah. Banyak ahli yang mengatakan. Dan ketika mereka dikejutkan oleh datangnya tentara Perancis ke Mesir di bawah Napoleon yang dengan amat mudah mengalahkan mereka itu. etos ilmiah yang benar harus memandang ilmu tidak mempunyai batas (limit). sehingga dorongan ke arah kebangkitan kembali yang muncul sejak itu sampai sekarang belum mencapai tujuan yang dimaksud. sampai akhirnya mereka terhentak dan kalah oleh bangkitnya bangsa-bangsa yang selama ini mereka remehkan. sehingga mewarnai sikap intelektual sebagian besar kaum Muslim. yaitu bangsa-bangsa Eropa Barat. Sebuah adagium mungkin relevan dengan masalah ini yaitu yang berbunyi: "Tidak akan menjadi baik umat ini kecuali dengan sesuatu yang telah membuat baiknya umat terdahulu. yang dirangkaikan dengan paham keagamaan.

Muhammad Hasyim Asy'ari. al Mu'minun/23:18.). dan ini menghasilkan praktek menghafal. UA 20-21 Jakarta Selatan Telp. Lihat Q. tt). 3. 4. [9] Semuanya itu memerlukan suasana yang bersifat kondusif. (Semarang: Pustaka al-'Alawiyyah. al-Ghayah wa al Taqrib. apalagi ditembus.. s. seperti dikemukakan KH.s. (021) 7507174 Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota Please direct any suggestion to Media Team Artikel Yayasan Paramadina Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan . tt. 2-3. (021) 7501969. 7501983. (Risalah ini ditulis pada 1360 H atau 1941 M). h. maka lautan itu akan habis sebelum Kalimat Tuhanku habis.. 12.ditembus dengan keberanian intelektual serta kreativitas dan orisinalitasnya. 11. Seperti halnya dengan Zaman Modern. s. 3. Dan suasana itu tidak lain. -------------------------------------------Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah Editor: Budhy Munawar-Rachman Penerbit Yayasan Paramadina Jln. h. al-Kahf/18:94 (dalam cerita tentang Dzu al Qarnayan) 7. jadi tidak mungkin dicapai manusia. 'Kalau seandainya seluruh lautan ini tinta untuk Kalimat Tuhanku. 6. Ibid. Hasyim Asy'ari di atas. ialah toleransi dan saling menghargai dalam perbedaan. Abu Syuja' Ahmad Ibn al-Husayn al-Ishfahani." (Q. 2. "La tashluhu hadzihi al-Umah illa bi ma shaluha bihi awwaluha. h. sementara dalam zaman obskurantisme. h. tt)." 9. Hasyiyat al-Hajuri (Semarang: Maktabah wa Mathba'ah Usaha Keluarga. 5. Al-Syaykh Ibrahim al-Hajuri. al-Tibyan fi al-Nahy 'an Muqata'at al-Arham wa al-Aqarib wa al-Ikhwan (Surabaya: Mathba'at Nahdlat al-'Ulama. al Kahf/18:109). etos ilmiah Zaman Klasik Islam memandang perbatasan ilmu harus selalu ditebus. Batas atau limit ilmu hanya ada pada Allah swt.. Fat'h al-Qarib (Semarang: Maktabah wa Mathba'ah Usaha Keluarga. tt. Lihat Q. 8. etos ilmiah yang ada mengajarkan agar setiap bertemu dengan perbatasan hendaknya kembali ke semula. "Katakan. Muhammad ibn Qasim al-Ghazzi. 7507173 Fax. Metro Pondok Indah Pondok Indah Plaza I Kav. meski kami datangkan tinta sebanyak itu pula.). CATATAN 1. h. 27.

dan sebagainya. Tahun empat puluh Hijriah adalah batas pemisah antara kemurnian Sunnah dan kebebasannya dari kebohongan dan pemalsuan di satu pihak. serta meninggalkan keharusan taat pada Dinasti Umayyah. Khususnya setelah perselisihan antara 'Ali dan Mu'awiyah berubah menjadi peperangan dan yang banyak menumpahkan darah dan mengorbankan jiwa. Justru sifat transisional masa ini ditandai berbagai gejala kekacauan pemahaman keagamaan tertentu. Umawiyyah. dengan penampilan kesarjanaan di bidang keahlian yang lebih mengarah pada spesialisasi. di lain pihak pada masa itu juga mulai disaksikan munculnya tokoh-tokoh dengan sikap yang secara nisbi lebih mandiri. dan ditambah-tambahnya Sunnah itu serta digunakannya sebagai alat melayani berbagai kepentingan politik dan perpecahan internal Islam. terutama yang terjadi sejak peristiwa pembunuhan 'Utsman. SEJARAH AWAL PENYUSUNAN (1/3) DAN PEMBAKUAN HUKUM ISLAM oleh Nurcholish Madjid Dalam bidang fiqh seperti juga dalam bidang-bidang yang lain masa Tabi'in adalah masa peralihan dari masa sahabat Nabi dan masa tampilnya imam-imam madzhab. peristiwa-peristiwa politik menjadi sebab terpecahnya kaum Muslim dalam berbagai golongan dan partai. Tumbuhnya partisan-partisan politik yang berjuang keras memperoleh pengakuan dan legitimasi bagi klaim-klaim mereka.a. pertentangan ini kemudian mengambil bentuk sifat . Khalifah III. kaum Muslim generasi ketiga). Di satu pihak masa itu bisa disebut sebagai kelanjutan wajar masa sahabat Nabi. yang bersumber dari sisa dan kelanjutan berbagai konflik politik. Dan pertikaian itu antara lain menjadi sebab bagi berkecamuknya praktek pemalsuan hadits atau penuturan dan cerita tentang Nabi dan para sahabat. dan ketiga masa itu sebagai kesatuan suasana yang disebut salaf (Klasik). Begitulah. seperti Khawarij. wafat dan Mu'awiyah habis masa kekhilafahannya (juga wafat) anggota rumah tangga Nabi (Ahl al-Bayt) bersama sekelompok orang-orang Muslim menuntut hak mereka akan kekhalifahan. sedangkan kaum Khawarij menaruh dendam terhadap 'Ali dan Mu'awiyah sekaligus setelah mereka itu sendiri sebelumnya merupakan pendukung 'Ali yang bersemangat. Melukiskan keadaan yang ruwet itu Musthafa al-Siba'i mengetengahkan keterangan di bawah ini. Dalam pandangan keagamaan banyak ulama masa Tabi'in itu.ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota VI.21. Setelah 'Ali r. Walaupun begitu tidaklah berarti masa generasi kedua ini bebas dari persoalan dan kerumitan. Syi'ah. Sebagian besar orang-orang Muslim memihak 'Ali dalam perselisihannya dengan Mu'awiyah. Disesalkan. serta setelah orang-orang Muslim terpecah-pecah menjadi berbagai kelompok. Yang disebut "para pengikut" (makna kata Tabi'in) ialah kaum Muslim generasi kedua (mereka menjadi Muslim ditangan para Sahabat Nabi). telah mendorong berbagai pertikaian paham. dianggap sebagai masa-masa paling otentik dalam sejarah Islam. bersama dengan masa para Sahabat sebelumnya dan masa Tabi'in al-Tabi'in ("para pengikut dari para pengikut" yakni.

"Ketahuilah bahwa pangkal kebohongan dalam hadits-hadits tentang keunggulan (tokoh-tokoh) muncul dari arah kaum Syi'ah. Daerah-daerah . Dasar-dasar itu memang tidak semuanya langsung bersifat kehukuman atau legalistik.. menopang ditegakkannya kekuasaan politik Imperium Islam yang meliputi daerah antara Nil sampai Amudarya. Maka tindakan Nabi dan kebijaksanaannya di Madinah adalah kelanjutan yang sangat wajar dari apa yang telah dirintis pada periode Makkah itu. Setiap partai berusaha menguatkan posisinya dengan al-Qur'an dan Sunnah. keharusan menghormati hak milik sah orang lain. yaitu penyusunan dan pembakuan Hukum Islam melalui fiqh atau "proses pemahaman" yang sistimatis. kewajiban mengurus harta anak yatim secara benar.keagamaan. sekalipun keadaan di Makkah belum mengizinkan bagi Nabi untuk melaksanakannya. [1] Dihadapkan keruwetan itu. dan wajarlah bahwa al-Qur'an dan Sunnah itu untuk setiap kelompok tidak selalu mendukung klaim-klaim mereka. sebab selalu dikaitkan dengan ajaran moral dan etika. Maka mereka palsukanlah banyak hadits tentang kelebihan imam-imam mereka dan para tokoh kelompok mereka. bahkan justru dasar-dasarnya telah diletakkan dengan kokoh dalam periode pertama itu. perlindungan terhadap kaum wanita dan janda. Maka sebagian golongan itu melakukan interpretasi al-Qur'an tidak menurut hakikatnya dan membawa nash-nash Sunnah pada makna yang tidak dikandungnya. yang kelak mempunyai pengaruh yang lebih jauh bagi tumbuhnya aliran-aliran keagamaan dalam Islam..sebagaimana dituturkan Ibn Abi al-Hadid dalam Syarh Nahj al-Balaghah. namun ketentuan-ketentuan yang bersifat kehukuman telah ada sejak di Makkah. prinsip-prinsip yang diwariskan Nabi itu berhasil digunakan. setelah hal itu tidak mungkin mereka lakukan terhadap al-Qur'an karena ia sangat terlindung (terpelihara) dan banyaknya orang Muslim yang meriwayatkan dan membacanya. para Tabi'in -dengan dipimpin tokoh-tokoh yang mulai tumbuh dengan penampilan kesarjanaanmencoba melakukan sesuatu yang amat berat namun kemudian membuahkan hasil yang agung. Sebagian lagi meletakkan pada lisan Rasul hadits-hadits yang menguatkan klaim mereka." Tapi kemudian diimbangi orang-orang bodoh dari kalangan Ahl al-Sunnah dengan perbuatan pemalsuan juga. Meskipun baru setelah tinggal menetap di Madinah Nabi saw. melakukan kegiatan legislasi. Ada yang mengatakan bahwa yang pertama melakukan hal itu ialah kaum Syi'ah -dengan perbedaan berbagai kelompok mereka. Pada masa para sahabat yang kemudian disusul masa para Tabi'in. Sasaran pertama yang dituju para pemalsu hadits itu ialah sifat-sifat utama para tokoh. dan kemudian segera melebar dan meluas sehingga membentang dari semenanjung Iberia sampai lembah sungai Indus. WAWASAN HUKUM ZAMAN TABI'IN Antara Islam sebagai agama dan Hukum terdapat kaitan langsung yang tidak mungkin diingkari. Itu semua tidak akan tidak melahirkan sistem hukum. Maka sejak di Makkah Nabi mengajarkan tentang cita-cita keadilan sosial yang antara lain mendasari konsep-konsep tentang harta yang halal dan yang haram (semua harta yang diperoleh melalui penindasan adalah haram). Dari situlah mulai pemalsuan Hadits dan pencampuradukan yang sahih dengan yang palsu. dan seterusnya.

dan Indo-Iran umumnya. tapi ditinggalkannya dan menerima pendapat para sahabat. Tuntutan intelektual itu mendorong tumbuhnya suatu genre kegiatan ilmiah yang sangat khas Islam. Karena itu mudah dipahami jika timbul semacam tuntutan intelektual untuk berbagai segi kehidupan masyarakat yang harus dijawab para penguasa yang terdiri dari kaum Muslim Arab itu. yaitu Ilmu Fiqh. agaknya yang telah terjadi pada masa tabi'in itu ialah semacam pendekatan ad hoc dan praktis-pragmatis terhadap persoalan-persoalan hukum. Di sebelah Barat tradisi itu merupakan warisan Yunani-Romawi. diberikan secara garis besar. agar bersesuaian dengan kepentingan manusia di semua zaman dan agar dapat dipedomani oleh para pemegang wewenang (ulu al-amr) dalam menegakkan keadilan dan kebenaran.[2] Para ahli hukum Islam sudah terbiasa mengatakan secara benar bahwa letak kekuatan Islam ialah sifatnya yang akomodatif terhadap setiap perkembangan zaman dan peralihan tempat (shalih li kull zaman wa makan. atau dengan suatu ijtihad yang disetujuinya. Tetapi yang berkembang menurut perkembangan zaman dan tempat.w.sesuai untuk setiap zaman dan tempat).itu. maka tidak seorang pun dibenarkan menambah atau mengurangi. urusan politik dan peperangan. "Tidaklah ia (Nabi) berbicara atas kemauan sendiri.Bahwa hal-hal yang tidak berkembang menurut perkembangan zaman dan tempat. Dan tugas Rasul tidak keluar dari lingkaran tugas menyampaikan (tabligh) dan menjelaskan (tabyin). dengan menggunakan prinsip-prinsip umum yang ada dalam Kitab Suci. sehingga mampu menampung setiap perkembangan yang terjadi. tidak pernah timbul kecuali dari wahyu Allah kepada Nabi-Nya s. bahkan Arab.. khususnya masyarakat Madinah.. seperti 'aqa'id dan 'ibadat. maka Rasul saw. diperintahkan bermusyawarah mengenai itu semua. Adapun penetapan hukum yang berkaitan dengan perkara duniawi bersifat kehakiman. yang dalam wawasan geopolitik Yunani kuno dianggap sebagai heatland Oikoumene (Daerah Berperadaban -Arab: al-Da'irat al-Ma'murah) telah mempunyai tradisi sosial-politik yang sangat mapan dan tinggi." (QS. baik dari Kitab ataupun Sunnah. Dan Nabi pernah mempunyai suatu pendapat. al-Najm/53:34). Pendekatan ini dimungkinkan karena watak dasar Hukum Islam yang lapang dan luwes. seperti berbagai kepentingan kemasyarakatan (al-mashalih al-madaniyyah). diberikan secara sepenuhnya terperinci. Untuk mengerti masalah ini sangat menarik mengutip lebih lanjut keterangan al-Sayyid Sabiq. Penetapan hukum keagamaan murni. sebagaimana terjadi pada . tidak lain itu adalah wahyu yang diwahyukan kepadanya. politik dan perang. seperti hukum-hukum ibadat. dan dengan melakukan rujukan pada Tradisi Nabi dan para Sahabat serta masyarakat lingkungan mereka yang secara ideal terdekat.. Penetapan Hukum (al-tasyri') Islam merupakan salah satu dari berbagai segi yang amat penting yang disusun oleh tugas suci Islam dan yang memberi gambaran segi ilmiah dari tugas suci itu.a. termasuk tradisi kehukumannya. Tapi sebelum ilmu itu tumbuh secara utuh. Berkenaan dengan hal ini al-Sayyid Sabiq menjelaskan. . dengan dijelaskan oleh nash-nash yang bersangkutan.

Ini terjadi tanpa peduli dengan sambutan sebagian besar umat Islam kepada tahun 41 Hijri sebagai "Tahun Persatuan" atau "Tahun Solidaritas" ('Am al-Jama'ah).[3] (bersambung 2/3) -------------------------------------------Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah Editor: Budhy Munawar-Rachman Penerbit Yayasan Paramadina Jln. dan kemudian berselisihnya. dan bertahan. Seperti dilukiskan Siba'i yang telah dikutip di atas. guna menanyakan apa yang tidak mereka ketahui. sehingga Nabi kadang-kadang membenarkan pemahaman mereka itu. "Dua Tokoh") yang amat . penyebaran dan perselisihan otoritas itu memuncak pada sekitar sesudah 40 H. DUA KUBU ORIENTASI FIQH: HIJAZ DAN IRAK Di bawah pimpinan Khalifah Mu'awiyah (yang masa kekhalifahannya disebut Ibn Taymiyyah sebagai permulaan masa "kerajaan dengan rahmat" -al-mulk bi al-rahmah) kaum Muslim dapat dikatakan kembali pada keadaan seperti zaman Abu Bakar dan 'Umar (zaman al-Syaykhani. dan meminta tafsiran tentang makna-makna berbagai nash yang tidak jelas bagi mereka. dan kadang-kadang beliau menerangkan letak kesalahan dalam pendapat mereka itu. melewati zaman Nabi sendiri. tanda-tanda menyebarnya. (021) 7507174 Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota Please direct any suggestion to Media Team Artikel Yayasan Paramadina Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota VI. 7507173 Fax. tempat rujukan itu sudah mulai nampak. 7501983. kemudian zaman para Sahabat. Dan para Sahabat ra. Pada zaman para sahabat Nabi itu diwarisi banyak tokoh. ketika banyak partisan mulai berusaha keras memperebutkan legitimasi untuk klaim-klaim mereka. Tapi jika pada zaman Nabi tempat rujukannya ialah Nabi sendiri. pun selalu meruduk kepada Nabi saw. Mereka juga mengemukakan kepada Nabi pemahaman mereka tentang nash-nash itu. SEJARAH AWAL PENYUSUNAN (2/3) DAN PEMBAKUAN HUKUM ISLAM oleh Nurcholish Madjid Sudah tentu keluasan dan fleksibilitas semangat umum Hukum Islam itu dipertahankan. yang kemudian bertindak sebagai tempat rujukan.21. dan diteruskan ke zaman para Tabi'in. UA 20-21 Jakarta Selatan Telp. dengan otoritas yang diakui semua. sebab "persatuan" dan "solidaritas" itu agaknya hanya terbatas pada kenyataan kembalinya kesatuan politik (formal) umat Islam di bawah Khalifah Mu'awiyah ibn Abi Sufyan di Damaskus.. Metro Pondok Indah Pondok Indah Plaza I Kav.waktu perang Badar dan Uhud. (021) 7501969. Tapi sejak pertikaian politik pada paroh kedua kekhalifahan 'Utsman.

akibat masalah keabsahan kekuasaan Bani Umayyah itu). tradisi atau Sunnah) dan nash-nash. dalam ifta' (pemberian fatwa) ada dua aliran: aliran yang cenderung pada kelonggaran dan bersandar atas penalaran. Tempatnya ialah Hijaz. kompleksitas kehidupannya. mengingat sedikitnya Sunnah pada mereka itu tidak memadai untuk semua tuntutan mereka. yaitu tumbuhnya orientasi kehukuman (Islam) kepada Hadits atau Tradisi (dengan "T" besar) yang berpusat di Madinah dan Makkah serta mendapat dukungan langsung atau tak langsung dari rezim Damaskus. begitu pula kebudayaan penduduknya dan terlatihnya mereka itu kepada penalaran. mendengarkan.. Irak dengan kota-kota Kufah dan Basrah adalah kawasan yang selalu potensial menentang Damaskus secara efektif. Kemudian mereka ini mewariskan apa saja yang mereka ketahui kepada penduduk (berikut)-nya. memelihara sabda-sabda beliau dan menerapkannya. Dan (Hijaz) tetap menjadi tempat tinggal banyak dari mereka (para Sahabat) yang datang kemudian sampai beliau wafat. Penyandaran diri kepadanya juga lebih jelas nampak. Ini masih ditambah dengan kecenderungan mereka untuk banyak membuat asumsi-asumsi dan perincian karena keinginan mendapatkan tambahan pengetahuan. khususnya tradisi 'Umar. dan penggunaannya juga lebih banyak. sistem pemerintahannya. Sedangkan Irak telah mempunyai peradabannya sendiri. Karena itulah keperluan mereka kepada penalaran lebih kuat terasa.dirindukan orang banyak. Hijaz adalah tempat tinggal kenabian. Tempatnya ialah Irak. kemudian para Sahabat beliau menyambut. termasuk para "aktivis militan" yang membunuh 'Utsman (dan yang kemudian [ikut] mensponsori pengangkatan 'Ali namun akhirnya berpisah dan menjadi golongan Khawarij). dan hanya bersandar kepada bukti-bukti atsar (peninggalan atau "petilasan. Tapi "koalisi" itu mempunyai akibat cukup penting dalam bidang fiqh. Padahal peristiwa-peristiwa (hukum) di Irak itu. dan Irak (Kufah-Basrah) dengan orientasi penalaran pribadi (ra'y)-nya. Pada zaman itu (zaman Tabi'in). . Apa pun kualitas kekhalifahan Mu'awiyah itu. adalah lebih luas dan lebih banyak. menyampaikan seruannya. Dan aliran yang cenderung tidak kepada kelonggaran dalam hal tersebut. namun dalam hal masalah penegakan hukum mereka tetap sedapat mungkin berpegang dan meneruskan tradisi para Khalifah di Madinah dahulu. Adanya dua aliran itu merupakan akibat yang wajar dari situasi masing-masing Hijaz dan Irak. Ini kemudian berdampak tumbuhnya dua orientasi dengan perbedaan yang cukup penting: Hijaz (Makkah-Madinah) dengan orientasi Haditsnya. kias." yakni. dan tidak mendapatkan bagian dari Sunnah kecuali melalui para Sahabat dan Tabi'in yang pindah kesana. adalah lebih banyak daripada yang ada di Hijaz. Karena itu ada semacam "koalisi" antara Damaskus dan Madinah (tapi suatu koalisi yang tak pernah sepenuh hati. Dan yang dibawa pindah oleh mereka itu pun masih lebih sedikit daripada yang ada di Hijaz. penelitian tentang tujuan-tujuan hukum dan alasan-alasannya. sebagai dasar ijtihad. yaitu kaum Tabi'in yang bersemangat untuk tinggal di sana.. Penjelasan menarik tentang hal ini diberikan oleh Syaykh 'Ali al-Khafif. disebabkan masa lampaunya. Di situ Rasul menetap. Sementara banyak tokoh Madinah sendiri tetap mempertanyakan keabsahan rezim Umayyah itu.

Ini semakin memperkaya pemikiran hukum zaman Tabi'in. lebih-lebih zaman Tabi'in al-Tabi'in. Misalnya. IJTIHAD TABI'IN SEBAGAI PENDAHULU MADZHAB-MADZHAB Menurut 'Ali al-Khafifi. adalah tidak tepat. suasana lebih mengizinkan untuk muncul. Usaha secara resmi pembakuan Sunnah (yang kemudian menjadi sejajar dengan Hadits) telah mulai tumbuh sejak jaman 'Umar ibn 'Abd-al'Aziz menjelang akhir kekuasaan Umawi.[4] Jika dikatakan bahwa orang-orang Hijaz adalah Ahl al-Riwayah ("Kelompok Riwayat. Maka di kalangan orang-orang Hijaz terdapat seorang sarjana bernama Rabi'ah yang tergolong "Kelompok Penalaran. termasuk menuturkan riwayat dan Hadits. Sedangkan pada peringkat individu. kemudian pada zaman Tabi'in itu. apakah itu penalaran atau penuturan riwayat." karena mereka banyak berpegang kepada penuturan masa lampau. teologi dan hukum. membuat generalisasi bahwa sesuatu kelompok hanya melakukan satu metode penetapan hukum atau tasry'. Ikatan hanya terjadi jika ditemukan sebuah pendapat seorang Sahabat Nabi. telah membawa perubahan penting dalam sikap keagamaan. Kini usaha ini memperoleh dorongan baru." dan di kalangan para sarjana Irak. Kairo. Ijtihad yang terjadi di zaman Tabi'in adalah ijtihad mutlak. meskipun masing-masing tetap dapat dikenali ciri utamanya dari kedua katagori tersebut. khususnya Umar). Sikap berpegang kepada syari'ah ini bagi kaum 'Abbasi berarti pengukuhan legitimasi politik dan kekuasaan mereka (dibandingkan dengan kedudukan kaum Umawi. kelak. berkenaan dengan hukum. yang diduga bersandar kepada Sunnah yang karena beberapa sebab Sunnah itu tidak muncul sebelumnya. Disamping itu. yaitu Ahmad ibn Hanbal. dan ini pada urutannya memberi peluang lebih baik pada para sarjana untuk menyatakan pendapatnya. meneliti dan memahami yang benar. sesungguhnya itu hanya karakteristik gaya intelektual masing-masing daerah itu. kaum 'Abbasi lebih banyak dan lebih tulus perhatian mereka kepada masalah-masalah keagamaan dari pada kaum Umawi. sebagai pedoman) dan orang-orang Irak adalah Ahl al-Ra'y ("Kelompok Penalaran". dan merangsang tumbuhnya berbagai aliran pemikiran keagamaan. banyak berorientasi kepada preseden-preseden para khalifah Madinah. Yaitu ijtihad yang dilakukan tanpa ikatan pendapat seorang mujtahid yang terlebih dahulu. maupun yang lain. Tapi disamping itu. dan dihadapkan kepada oposisi kaum Syi'ah dan Khawarij). dengan perpindahan kekuasaan dari kaum Umawi ke kaum 'Abbasi. seperti Hadits. Terdapat persilangan antara keduanya. sikap tersebut menciptakan suasana yang lebih mendukung bagi perkembangan kajian agama. dan yang secara langsung diarahkan membahas. seorang anggota Majma' al-Buhuts al-Islamiyyah (Badan Riset Islam) Universitas al-Azhar. perubahan situasi politik. [5] . cukup banyak dari masing-masing daerah yang tidak mengikuti karakteristik umum itu. dengan isyarat tidak banyak mementingkan "riwayat"). baik yang bersangkutan dengan bidang politik. tampil seorang penganut dan pembela "Kelompok Riwayat" yang sangat tegar. Meskipun sesungguhnya kaum 'Abbasi akhirnya banyak meneruskan wawasan hukum keagamaan kaum Umawi sebagai pendukung Ahl al-Sunnah wa al-Jama'ah (yang sebagaimana telah disinggung.penalaran mendalam dan pelaksanaan yang banyak.

Ia belajar dari ayahnya dan dari pamannya. Suatu hal yang amat penting diperhatikan ialah adanya kaitan suatu aliran pikiran (yakni. Merekalah para pendahulu imam-imam madzhab. Banyak belajar dari bibinya. [6] Maka zaman itu kita menyaksikan tampilnya tokoh-tokoh kesarjanaan dengan bidang kajian ilmu yang lebih terspesialisasi. Dia adalah imam keempat kaum Syi'ah Imamiyyah. disebabkan banyaknya orang-orang bukan Arab (Syiria. wafat pada 94 H. Tarikh al-Tasyri' al-Islami. antara lain: 1. seperti dituturkan al-Syaykh Muhammad al-Hudlari Beg dalam kitabnya.Semua kegiatan itu juga terpengaruh kenyataan sosial-politik. berupa semakin beragamnya latar belakang etnis. dan cukup penting diperhatikan. (bersambung 3/3) -------------------------------------------Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah Editor: Budhy Munawar-Rachman Penerbit Yayasan Paramadina Jln. Wafat pada 94 H. bahkan guru-guru para calon imam madzhab itu. istri Nabi saw. dan sempat belajar dari para pembesar Sahabat Nabi. Wafat pada 94 H. tapi tidak banyak meriwayatkan Hadits. 7507173 Fax. al-Hasan ibn 'Ali. Namun diantara keduanya. Mesir. khususnya. terdapat nuansa yang cukup berarti.'Ali ibn al-Husayn ibn 'Ali ibn Abi Thalib al-Hasyimi. UA 20-21 Jakarta Selatan Telp. Lahir dua tahun kekhalifahan 'Umar.'Urwah ibn al-Zubayr ibn al-'Awwam. 3. Terkenal sangat saleh sehingga digelari "pendeta Quraysy" (rahib Quraysy). 7501983. dan sebagainya) yang masuk Islam. 2. Lahir di masa kekhalifahan 'Umar. (021) 7501969. kultural dan geografis anggota masyarakat Islam. dan dikenal dengan Zayn al-'Abidin. Wafat pada 94 H. Ia terkenal sangat 'alim (terpelajar). ibn 'Abbas. Al-Hasan al-Bashri banyak berkonsultasi dengannya. Di Madinah tampil cukup banyak sarjana. school of thought) dengan tempat. Metro Pondok Indah Pondok Indah Plaza I Kav. 'Aisyah. Banyak meriwayatkan Hadist yang bersambung dengan Abu Hurayrah. Telah disebutkan adanya dua aliran pokok: Irak dan Hijaz. (021) 7507174 Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota Please direct any suggestion to Media Team . madzhab.Abu Bakr ibn 'Abd-al-Rahman ibn al-Harits ibn Hisyam al-Makhzumi. Nuansa-nuansa itu tercermin dalam ketokohan sarjana atau 'ulama' yang mendominasi suasana intelektual suatu tempat. bidang kajian hukum Islam atau fiqh. Aisyah. 4. Lahir dimasa kekhalifahan 'Utsman. dan dalam diri masing-masing aliran besar itu. dan lain-lain. Persi.Sa'id ibn al Musayyib al-Makhzumi.

Ibn Abbas. 7. dan pernah dibacakan do'a oleh Nabi agar mempunyai pemahaman mendalam (tafaqquh) dalam agama. Wafat pada 106 H. Dia adalah imam kelima kaum Syi'ah. dll. 'A'isyah. Abu Hurayrah. Abu Hurayrah. Diutus oleh 'Umar ibn 'Abd-al-Aziz ke Mesir. Wafat pada 106 H. 6. Di Makkah beberapa sarjana terkenal juga tampil: 1. Dikenal sebagai "Kepala Bani Hasyim" di zamannya. Abu Hurayrah. Wafat pada 107 H.Sulayman ibn Yasar. SEJARAH AWAL PENYUSUNAN (3/3) DAN PEMBAKUAN HUKUM ISLAM oleh Nurcholish Madjid 5.Nafi'. Sa'id ibn al-Musayyaib. Ibn 'Umar. Sa'id ibn al-Musyyaib. juga dari Jabir dan 'Abd-Allah Ibn 'Umar. 8. Wafat di Thaif pada 68 H. dan sebagainya. Belajar dari ayahnya sendiri. dan sebagainya. Dianggap Bapak Ilmu tafsir al-Qur'an. klien 'Abd-Allah ibn 'Umar. dan dari 'A'isyah. dan lain-lain. dan sebagainya. Ibn Abbas. Wafat pada 103 H. mengajar Sunnah. Wafat pada 98 H. 11. Klien Bani Makhzum. 9. klien Ibn 'Abbas.) Belajar dari patronnya sendiri. dan belajar dari 'Abd-Allah ibn 'Umar.Qasim ibn Muhammad ibn Abi Bakr.Muhammad ibn Muslim. Berasal dari Daylam (daerah Iran). dan lain-lain. Belajar dari Ibn 'Abbas. Mendapat perintah dari 'Umar ibn 'Abd-al-Aziz untuk mencatat Sunnah penduduk Madinah sebagai rintisan resmi pertama pembukuan Hadits. 'Abbas ibn 'Abd-Muthalib.'Abd-Allah ibn.Abu Ja'far ibn Muhammad ibn 'Ali ibn al-Husayn. Pernah menyatakan ia sependapat . juga dari A'isyah.. 'A'isyah. 10. Lahir 50 H. Belajar dari patronnya sendiri. 'Ali dan Ubay ibn Ka'b. dia adalah guru Khalifah 'Umar ibn 'Abd al-'Aziz. Mendapat pendidikan dari 'A'isyah (bibinya sendiri). Belajar dari 'Aisyah. dan lain-lain.Artikel Yayasan Paramadina Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota VI. 2. Abu Hurayrah. Beliau diajar tentang ta'wil. dan dari 'A'isyah. Belajar dari Sa'd. Zayd ibn Tsabit. klien Maymunah (istri Nabi saw. ia juga terkenal sebagai penyair. Belajar dari ayahandanya sendiri. Ibn 'Abbas. Wafat pada 114 H. Abu Hurayrah. Lahir dua tahun sebelum Hijrah.'Ikrimah. Wafat pada 117 H. yang terkenal dengan Ibn Syihab al-Zuhri.Salim ibn 'Abd-Allah ibn 'Umar. dan sebagainya.21. Selain kepemimpinannya dalam fiqh dan Hadits. 3.'Ubayd-Allah ibn 'Abd-Allah ibn 'Utbah ibn Mas'ud. Belajar banyak dari 'Umar. Abd Hurayrah.Mujahid ibn Jabr. Annas ibn Malik. yang dikenal dengan sebutan al-Baqir. Ibn 'Abbas. dan lainnya.

Wafat pada 90 H. Belajar dari patronnya.'Alqamah ibn Qays al-Nakha'i. 3. kemudian dari Abu Hurayrah. Sarjana Tabi'in yang paling terkemuka. Ibn 'Abbas dan Ibn 'Umar. antara lain: 1. dan 4. 'Ali. Wafat pada 114 H. Jabir ibn Zayd. Ibn Mas'ud. yang fasih dan luas pengetahuan. dan sebagainya. Wafat pada 107 H. termasuk mereka yang hidup sezaman. Makhul ibn Abi Muslim. Ibn 'Abbas. Abu Hanifah.dengan kaum Khawarij.Muhammad ibn Sirin. Raja ibn Hayah al-Kindi. Kemudian dari Basrah. Wafat pada 62 H. Seorang khadam. Dari kalangan warga Kufah yang tampil antara lain ialah: 1.Ibrahim ibn Yazid al-Nakha'i. Lahir 17 H. Guru utama Imam Abu Hanifah. dll.'Amir ibn Syarahil al-Sya'bi. Wafat pada 110 H. Ibn Mas'ud. Cukup menarik bahwa al-Sya'bi tidak suka kepada metode qiyas (analogi) yang menjadi ciri Ahl al-Ra'y yang dikembangkan muridnya. Ibn Mas'ud. Wafat pada 90 H. Murid terkemuka Ibn Mas'ud. Keduanya bersaudara. 5. klien Zayd ibn Tsabit. Kedua-duanya wafat pada 95 H. kawan Ibn 'Abbas. Lahir di masa Nabi masih hidup. 'A'isyah. Qabishah ibn Dzu'ayb. Disebutkan berkulit hitam kelam. 4. 'Ali dan 'A'isyah. Ibn 'Abbas. Abu Hurayrah. Belajar dari 'Ali.'Atha ibn Rabbah. 'Ali. seperti 'Abd-al-rahman ibn Gahnim al-Asy'ari. klien Anas ibn Malik. 'Utsman. karena ia Sahabat Nabi sejak Hijrah sampai wafat. Wafat pada 110 H. 4. Wafat pada 93 H. 3. Selain belajar dari Nabi juga banyak belajar dari Abu Bakr.Qatadah ibn Da'aman al-Dusi. Belajar dari 'Umar.Masruq ibn al-Ajda' al-Hamdani.Al-Hasan ibn Abi al-Hasan Yassar. Wafat pada 63 H. Selain ahli hukum Islam. dan lainnya. 5. Belajar dari 'Umar. Karena penampilannya sebagai sarjana dan peranannya dalam mendidik para Tabi'in maka ia termasukkan dalam daftar ini. 2. Dari daerah Syam (Syria) beberapa tokoh ahli hukum tampil. sejarah dan geneologi (al-nasab).Abu al-Syaitsa'. Sangat banyak mendapat pujian dari para 'ulama' yang lain. tampil tokoh-tokoh. Ubbay. Abu Hurayrah.Abu al-'Aliyah Rafi' ibn Mahran al-Riyahi. Namun yang paling . 6. dan lain-lain. Banyak belajar dari kawannya sendiri itu. ia juga ahli bahasa. dan sebagainya. di samping seorang sarjana terkemuka. 2.Anas ibn Malik al-Anshari. Wafat pada 118 H. dan belajar dari 'Umar. 'Umar.Al-Aswab ibn Yazid al-Nakha'i. dan sebagainya. 'Utsman. dan sama-sama tampil sebagai sarjana terkemuka. Belajar dari 'A'isyah. Seorang pejuang yang terkenal berani. Abu Idris al-Khulani. Dibesarkan di Madinah dan menghafal al-Qur'an di zaman 'Utsman. Ibn 'Umar.

1949). Fiqh al -Sunnah. hh. al-Syafi'i.). 224-5. h. al-Layts ibn Sa'd. bersama Masjid-Universitas al-Azharnya). 3. dan Ahmad ibn Hanbal.Untuk keterangan lebih lengkap tentang tokoh-tokoh ini. jil.).Ibid. yaitu Yaman. "Al-Ijtihad fi 'Ashr al-Tabi'in wa Tabi'i 'l-Tabi'in. telah melapangkan jalan bagi tampilnya para imam madzhab yang sampai saat ini pengaruhnya masih amat kukuh seperti Abu Hanifah. 126-41. 13. Yazid ibn Abi Habib yang disebut-sebut sebagai pelopor ilmu pengetahuan di Mesir dan ahli masalah halal dan haram (wafat pada 128 H. 1387/1968). hh. [7] Para tokoh ahli hukum itu dan kegiatan ilmiah serta pengajarannya telah mendorong tumbuhnya para spesialis hukum angkatan berikutnya. lihat al-Syaykh Muhammad al-Hudlari Beg. Malik. seperti 'Abd-Allah ibn al-'Ash (wafat pada 65 H. 1404/1984)..) yang belajar dari Zayd ibn Tsabit. (Kuwait: Dar al-Bayan 1968/1388). 'A'isyah. h. terkenal sebagai 'Umar II dan banyak dipandang sebagai yang kelima dari al-Khulafa' al-Rasyidin. Dialah yang mengukuhkan tarbi. 222. Thawus ibn Kaysan al-Jundi (wafat pada 106 H. antara lain. Kota Kairo belum ada (baru didirikan oleh Dinasti Fathimiyah kelak. 7fe7). (Riyadl: Jami'at al-Imam Muhammad ibn Su'ud al-lslamiyyah. Jabir. 'Umar. . 2. Kemudian Wahb ibn Munabbin al-Shan'ani. 6.Ibid. h. dan ibukota Mesir ialah Fusthath yang perkembangannya tidak terlalu pesat seperti lain-lain. juga banyak muncul sarjana-sarjana dengan pengaruh yang jauh keluar dari batasan daerahnya sendiri. 4. h.Al-Syaykh 'Ali al-Khafifi. 'Abd-al-Khayr ibn 'Abd-allah al-Yazani (wafat pada 90 H. Dia wafat pada 101 H.). CATATAN 1. Sufyan al-Tsawri. (mengakui empat Khalifah pertama: Abu Bakr. Al-Sunnah wa Makanatuha fi al-Tasyri' al-Islami (Kairo: al-Dar al-Qawmiyyah.Al-Sayyid Sabiq. Abu Hurayrah.penting dari para sarjana Syam itu ialah Khalifah 'Umar ibn 'Abd-al-'Aziz. Ibn 'Abbas. seperti al-Awza'i.Ibid. Di Jazirah Arabia sebelah selatan. Tarikh al-Tasyri' al-Islami (Beirut: Dar al-Fikr.. Walaupun begitu telah tampil pula di kalangan Mesir beberapa sarjana terkemuka. Mereka ini. Wafat pada 114 H. Mesir saat itu belum menjadi tandingan tempat-tempat yang tersebut di atas. 'Utsman dan 'Ali) dan mensponsori secara resmi (kenegaraan) usaha penulisan Sunnah atau Hadits. dan lainnya. I h. 17. 7. 223. 5. Selanjutnya ialah Yahya ibn Abi Katsir yang menurut sementara 'ulama' yang lain seperti Syu'bah dianggap lebih ahli tentang Hadits daripada al-Zuhri tersebut. pada gilirannya.Musthafa al-Siba'i." dalam Al-Ijtihad fi al-Syari'at al-Islamiyyah. Mereka itu. dan lainnya. dan lainnya. yang belajar dari Ibn 'Umar.

fatwa-fatwa ulama. Jenis produk pemikiran Islam yang kedua.-------------------------------------------Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah Editor: Budhy Munawar-Rachman Penerbit Yayasan Paramadina Jln. ialah kitab-kitab fiqh yang pada saat di tulis pengarangnya.28. Jenis produk pemikiran hukum ketiga. 7501983. Berbeda dengan fatwa. dan peraturan perundangan di negeri-negeri Muslim. dan sampai tingkat tertentu juga bersifat dinamis karena merupakan usaha memberi jawaban atau menyelesaikan masalah yang diajukan ke pengadilan pada suatu titik waktu tertentu. beberapa buku fiqh tertentu telah diperlakukan sebagai kitab undang-undang. untuk . keputusan-keputusan pengadilan agama. tapi juga para politisi dan cendekiawan lainnya. FIQH DAN REAKTUALISASI AJARAN ISLAM Oleh Atho' Mudzhar Sedikitnya ada empat macam produk pemikiran hukum Islam yang kita kenal dalam perjalanan sejarah Islam. 7507173 Fax. kitab-kitab itu tidak dimaksudkan untuk diberlakukan secara umum di suatu negeri. Kitab-kitab fiqh ketika ditulis juga tidak dimaksudkan. UA 20-21 Jakarta Selatan Telp. Fatwa tidak mempunyai daya ikat. Metro Pondok Indah Pondok Indah Plaza I Kav. Fatwa-fatwa ulama atau mufti. keputusan-keputusan pengadilan agama ini sifatnya mengikat kepada pihak-pihak yang berperkara. yaitu peraturan perundangan di negeri Muslim. yaitu: kitab-kitab fiqh. Ini juga bersifat mengikat atau mempunyai daya ikat yang lebih luas. Orang yang terlibat dalam perumusannya juga tidak terbatas pada para fuqaha atau ulama. (021) 7507174 Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota Please direct any suggestion to Media Team Artikel Yayasan Paramadina Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota IV. Isi fatwa itu sendiri belum tentu dinamis. adalah keputusan-keputusan pengadilan agama. tapi sifat responsifnya itu yang sekurang-kurangaya dapat dikatakan dinamis. (021) 7501969. dalam arti si peminta fatwa tidak harus mengikuti isi/hukum fatwa yang diberikan kepadanya. sifatnya adalah kasuistik karena merupakan respon atau jawaban terhadap pertanyaan yang diajukan peminta fatwa. meskipun dalam sejarah kita mengetahui. Jenis produk pemikiran hukum keempat. Masing-masing produk pemikiran hukum itu mempunyai ciri khasnya tersendiri. karena itu memerlukan perhatian tersendiri pula. tapi fatwa biasanya cenderung bersifat dinamis karena merupakan respon terhadap perkembangan baru yang sedang dihadapi masyarakat si peminta fatwa.

dan peraturan perundangan negeri Muslim. Dengan tidak adanya masa laku ini. Secara sosiologis kedudukan demikian itu memberi hak-hak istimewa dan peranan tertentu kepada fuqaha pada lapisan sosial tertentu. Sebagai akibatnya. yang oleh sebagian orang lalu dianggap sebagai jumud atau beku alias tidak berkembang. keputusan pengadilan agama. Inilah kedudukan kitab fiqh sebagai salah satu bentuk produk pemikiran hukum Islam dan karakteristik serta kecenderungan-kecenderungannya dibanding dengan produk-produk pemikiran hukum lainnya: fatwa. masyarakat memandang fiqh. dan hukum Islam dipandang identik dengan aturan Tuhan. tapi sebagai buku agama itu sendiri. Gambaran ini diperlukan. khususnya masyarakat Islam Indonesia. SIKAP MUSLIM TERHADAP FIQH Setelah kita melihat bagaimana seharusnya memandang fiqh. maka perbaikan atau revisi terhadap sebagian isi kitab fiqh dianggap dapat. fiqh hanyalah salah satu dari beberapa bentuk produk pemikiran hukum Islam. dan saran-saran pemecahan masalahnya. Karena itu kitab-kitab fiqh cenderung menjadi resisten terhadap perubahan. Kedua. Ketika seorang faqih dari suatu masa menuliskan tintanya menjadi kitab fiqh. fiqh cenderung dianggap sebagai aturan Tuhan itu sendiri. Dengan cara meletakkan fiqh pada proporsinya yang demikian itu maka diharapkan kita akan memperlakukannya secara proporsional pula. dalam rangka reaktualisasi ajaran Islam.digunakan pada masa atau periode tertentu. membiarkan fiqh sebagai kumpulan aturan yang tidak mempunyai batasan masa lakunya. Kalau fatwa dan keputusan pengadilan agama sifatnya kasuistik --yaitu membahas masalah tertentu-. memandang fiqh identik dengan hukum Islam. Pada umumnya masyarakat Islam. Selain itu kitab-kitab fiqh juga mempunyai karakteristik lain. bukan saja sebagai orang yang memaklumi produk pemikiran keagamaan tapi sebagai penjaga hukum agama itu sendiri. Dan ketiga. seperti pertama. yang pada gilirannya akan mempengarahi cara pandang dan cara pikir fuqaha itu sendiri. Akibat lebih lanjut dari kedudukan fiqh yang diidentikkan dengan agama itu. atau akan mengganggu keutuhan isi keseluruhannya. sebelum kita mencoba memberi analisa lebih jauh tentang mekanisme kerja fiqh. maka kitab-kitab fiqh cenderung dianggap harus berlaku untuk semua masa. dan bukan bagian dari produk pemikiran keagamaan. maka kitab-kitab fiqh dipandang sebagai kumpulan hukum Tuhan. sekarang kita lihat bagaimana dalam kenyataan. karena sifatnya sebagai produk pemikiran.maka kitab-kitab fiqh sifatnya menyeluruh dan meliputi semua aspek bahasan hukum Islam. Akibatnya. selama berabad-abad fiqh menduduki tempat yang amat terpandang sebagai bagian dari agama itu sendiri. adalah sama dengan menghalalkan produk pemikiran manusia yang semestinya temporal. maka orang yang menguasai fiqh yang biasanya disebut fugaha. Sebagai salah satu akibat dari sifatnya yang menyeluruh ini. juga mempunyai kedudukan tinggi. dan karena hukum Tuhan adalah hukum yang paling benar dan tidak bisa dirubah maka kitab-kitab fiqh bukan saja dipandang sebagai produk keagamaan. Dengan cara pandang itu. maka fiqh sebenarnya tidak boleh resisten terhadap pemikiran baru yang muncul kemudian. maka sebenarnya itu .

Kedua aliran ini telah menghasilkan kitab-kitab fiqh yang berbeda. dalam mencoba memahami dan menjabarkan ajaran Islam tentang hukum. Kelompok pertama adalah mereka yang mengutamakan penggunaan hadits dalam memahami ayat-ayat Qur'an dan kelompok kedua. sebenarnya terjadi siklus yang menarik diamati: bahwa untuk menjaga dan memeliharanya. Kadang-kadang fiqh yang dipeliharanya itu adalah produk para pendahulunya. empat diantaranya akan disebutkan dan diuraikan di sini. Meskipun pandangan ini bersifat utopis karena kenyataan. tidak terkecuali di Indonesia. tapi kadang-kadang juga produksinya sendiri. Jadi sejak awal pertumbuhannya telah ada pihak-pihak yang berpendirian. dan untuk itu terlebih dahulu perlu dipahami faktor-faktor apa sebenarnya mengakibatkan kekeliruan tersebut. maka para fuqaha memerlukan kehidupan fiqh yang tinggi. Pilihan Wahyu dan Akal Dalam sejarah pertumbuhan hukum Islam kita mengetahui. Keempat pasangan pilihan tersebut ialah sebagai berikut: 1. Kekeliruan ini rasanya perlu diperbarui dan dibetulkan. Kelompok pertama terutama berkembang di Madinah. dipelopori Imam Abu Hanifah. Inilah yang menyebabkan lahirnya pandangan yang telah membiarkan fiqh sebagai kumpulan aturan yang tidak mempunyai batasan masa lalu . terdapat dua aliran besar di kalangan para pendiri madzhab. karena beliau sendiri pada akhirnya lebih memihak pada kelompok pertama. fiqh memerlukan penjaga yang disebut faqih atau fuqaha. aturan yang disebut hukum Islam itu tidak boleh terkena intervensi akal manusia karena hukum Islam itu adalah kebenarannya mutlak yang hanya diatur dengan wahyu. jumlah ayat al-Qur'an mengenai hukum itu hanya sedikit sekali (kurang lebih 276-500 ayat). Demikian kesalahpahaman yang terjadi di kalangan sementara orang Islam. sedangkan kelompok kedua menghasilkan kitab-kitab fiqh yang bersifat rasional. Kitab-kitab fiqh hasil kelompok pertama lebih memberi tempat kepada hadits-hadits meskipun lemah. EMPAT PASANGAN PILIHAN Terdapat sejumlah pasangan pilihan yang dapat mempengaruhi pandangan seseorang tentang fiqh. Imam Syafi'i sebenarnya telah berusaha menjembatani kedua kelompok itu. produk-produk pemikiran fiqh itu dianggap sebagai identik dengan hukum Tuhan itu sendiri. tapi pandangan ini telah mempunyai pengaruh dalam memberikan label bahwa produk pemikiran fiqh itupun merupakan upaya menafsirkan kehendak Tuhan yang bersifat abadi dalam bidang hukum. dan dipelopori Imam Malik bin Anas dan kelompok kedua berkembang di Kufah dan Baghdad. tapi tidak sepenuhnya berhasil. dari cara seluruhuya pandang dan cara pikirnya yang diwarnai oleh kedudukan sosialnya Di sini. Kelompok pertama kemudian dikenal dengan ahl al-hadith dan kelompok kedua disebut ahl al-ra'yi. dalam hal porsi penggunaan akal. dalam memandang fiqh. sebagaimana telah disebutkan di muka.tidak terlepas sebagian atau tadi. adalah mereka yang mengutamakan penggunaan akal. dan untuk memelihara status diri mereka. dan karenanya tidak meliput semua aspek kehidupan manusia. apalagi aspek-aspek kehidupan yang merupakan produk perkembangan zaman modern. Ironisnya.

Jadi. dan bukan oleh para hakim di pengadilan agama. Sekarang kita melihat madzhab-madzhab itu sebagai aliran-aliran dalam hukum Islam. tapi dulunya lebih merupakan ekspresi lokal. dan sebagian diterjemahkan atau disadur dalam bahasa Indonesia. atau para ahli hukum. mengidentikkan fiqh dengan hukum Islam yang universal. dan merupakan ekspresi dari kultur tertentu di sekitar Timur Tengah. Pilihan Idealisme dan Realisme Pasangan pilihan ketiga yang telah mempengaruhi perkembangan fiqh adalah pilihan antara idealisme dan realisme. Kitab-kitab fiqh yang kita pelajari sekarang di Indonesia ini. bahwa kitab-kitab fiqh itu pada umumnya ditulis para fuqaha. Kita mengetahui dalam sejarah. Kita mengetahui terdapat berbagai madzhab dalam fiqh. antara cita-cita dan kenyataan. fiqh yang dipandang identik dengan hukum Islam itu bermacam-macam.fiqh pada umumnya dirumuskan para teoritisi belakang meja daripada . dengan pandangan yang mengatakan hukum Islam itu partikular . kesalahan dalam melakukan pilihan yang tepat antara porsi peranan wahyu dan akal telah mempunyai dampak yang serius dalam sejarah perkembangan --atau lebih tepatnya ketidak-berkembangan fiqh. untuk seluruh umat Islam di dunia. dan dari suatu masa tertentu di masa silam. adalah kitab-kitab fiqh yang ditulis lima atau enam abad yang lalu. Pilihan Kesatuan dan Keragaman Pasangan pilihan kedua adalah. Begitulah. 2. maka kitab fiqh yang berpuluh-puluh jilid itupun menjadi tabu mendapatkan revisi. atau lebih tepatnya kesalahan dalam memberikan porsi peranan wahyu dan akal ternyata telah membawa pada kejumudan fiqh itu sendiri yang justru meliputi sebagian terbesar dari aturan hukum Islam yang ada. Artinya kitab-kitab fiqh itu partikularistik. Tapi karena hukum Islam dipandang identik dengan fiqh. lebih ironis lagi. seperti yang kita saksikan selama ini. Bahkan kita mengetahui banyak fuqaha menolak jabatan qadi atau hakim. selain sudah tua. antara hukum Islam sebagai kesatuan dan hukum Islam sebagai keragaman. Kesalahan dalam melakukan pilihan antara wahyu dan akal. Orang harus melakukan pilihan antara pandangan yang mengatakan hukum Islam itu universal. Demikianlah perkembangan hukum Islam. Tapi justru kitab-kitab yang dipandang sebagai hukum Islam itu di Indonesia dipandang universal tadi. Satu kitab fiqh dapat ditulis dalam berpuluh-puluh jilid. jurist. 3. bahwa pandangan pertama telah mendominasi benak kaum Muslim selama berabad-abad. dan sebagai hasilnya fiqh selalu resisten terhadap perubahan. Jadi. Hukum Islam yang dianggap universal itu sebenarnya adalah produk fuqaha dari suatu lingkungan kultur tertentu. Kita mengetahui dari sejarah. meskipun untuk itu mereka harus masuk penjara. Tapi pada kenyataan kita melihat. kitab-kitab fiqh yang kita pelajari itu mengandung ekspresi lokal di Timur Tengah sana. Hukum Islam sebagai kesatuan artinya. karena hukum Islam itu adalah hukum Tuhan maka semestinya hukum Islam itu hanya ada satu macam saja untuk seluruh umat manusia. Ini berarti --sejarah telah membuktikannya-.dan cenderung mengekalkan produk pemikiran manusia yang semestinya temporal dan liable terhadap perubahan. Bagi kita kaum Muslim Indonesia. Tentu saja selebihnya adalah produk penafsiran dan pemikiran manusia. telah mengakibatkan mandeknya perkembangan fiqh. sementara wahyu yang mendasarinya hanya beberapa ratus ayat saja.

khususnya dalam bidang hukum. ialah: fiqh semakin hari semakin jauh dari kenyataan masyarakat. maka secara konseptual hukum Islam tidak menerima adanya variasi. 4. dan karenanya boleh diotak-atik. Kita harus memandang fiqh sebagai produk dominan akal ketimbang wahyu. LANGKAH-LANGKAH REAKTUALISASI Uraian di atas dapat disimpulkan: Kemandekan pemikiran fiqh di dunia Islam selama ini adalah karena kekeliruan menetapkan pilihan dari pasangan-pasangan pilihan tersebut di atas. Jika kita hendak mereaktualisasikan ajaran-ajaran Islam. Baru pada abad ke-19 terdengar suara-suara untuk melakukan perubahan terhadap fiqh yang ada. dirubah atau bahkan dibuang pada setiap saat. mulai mencoba melakukan revisi terhadap fiqhnya. ini berarti hukum Islam itu harus stabil. Sebagai akibatnya kitab-kitab fiqh menjadi beku. Siria. Dari dimensi waktu. maka kita harus membalik pilihan-pilihan tersebut di atas. Fiqh telah mewakili hukum dalam bentuk cita-cita daripada sebagai respon atau refleksi kenyataan yang ada secara realis. lebih menekankan segala sesuatunya pada hal-hal yang maksimal daripada minimal. Pilihan Stabilitas dan Perubahan Pasangan pilihan keempat adalah pilihan stabilitas dan perubahan. khususnya dalam hal hukum keluarga. Hal ini terjadi di Tunisia. melainkan akibat lanjutan dari pilihan pada pasangan-pasangan sebelumnya. sebagaimana disebutkan di muka. atau sekurang-kurangnya kekeliruan dalam menentukan bobot masing-masing pilihan itu. fiqh harus dilihat sebagai mata rantai perubahan yang tak henti-hentinya tanpa harus dipersoalkan keabsahannya karena toh pada akhirnya fiqh itu hanya menyangkut soal cabang . Fiqh harus dipandang sebagai varian suatu keragaman yang bersifat partikularistik yang terkait dengan tempat dan waktu. Kebekuan fiqh itu. apalagi ketika kitab-kitab fiqh itu menjadi remote dari masyarakat yang mengamalkannya. Bahkan Saudi Arabia pun dalam banyak hal telah mulai melakukan suplemen terhadap hukum-hukum fiqh Hambali yang umumnya terlalu literalis. dan lebih khusus lagi dalam bidang fiqh. dan resisten terhadap perubahan. Fiqh juga telah memilih stabilitas daripada perubahan. Akibat lain dari pilihan atas idealisme daripada realisme itu. dan Irak. Mesir. dan tidak boleh mengalami perubahan. Beberapa negeri Muslim setelah pertemuan yang pahit dengan peradaban Barat. baik remote waktu maupun tempat. telah mengakibatkan kemandekan pemikiran fiqh di dunia Islam selama ini. Semua itu. Ini telah terjadi pada saat kitab fiqh itu dituliskan. Pasangan pilihan ini sebenarnya tidak sepenuhnya berdiri sendiri. Pendek kata. Fiqh harus dikembangkan dari yurisprudensi pengadilan yang bertumpu pada realisme. fiqh yang dihasilkannya lebih mengekspresikan hal-hal yang ideal daripada real. Sebagai akibatnya. Karena hukum Islam harus hanya ada satu. Fiqh telah dipandang sebagai ekspresi kesatuan hukum Islam yang universal daripada sebagai ekspresi keragaman partikular.praktisi di lapangan. dengan mengintrodusir dan memperbaharui peraturan perundangan. telah berlangsung selama berabad-abad. statis.

Dengan demikian. khususnya para imam shalat. Chicago. dan termasuk yang sering dibaca dalam shalat itu. 7507173 Fax. Tapi untuk melakukan pilihan-pilihan yang tepat diperlukan beberapa syarat. sampai dengan tampilnya Kyai Dahlan dengan Muhammadiyahnya. dan tidak pula menyadari betapa surat pendek itu dapat menjadi pangkal gerakan kemanusiaan yang besar dan mendalam seperti . memahami faktor-faktor sosiokultural dan politik yang melatarbelakangi lahirnya suatu produk pemikiran fiqhiyah tertentu. Noel J. yaitu surat al-Ma'un (QS 107). agar dapat memahami partikularisme dari produk pemikiran hukum itu. IAIN Jakarta.35. maka produk pemikiran hukum itu dengan sendirinya harus dirubah. beliau memperkenalkan dan mempropagandakan sebuah surat pendek al-Qur'an dari Juz 'Amma. Coulson. jika di tempat lain atau pada waktu lain ditemukan unsur-unsur partikularisme yang berbeda. Metro Pondok Indah Pondok Indah Plaza I Kav. -------------------------------------------Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah Editor: Budhy Munawar-Rachman Penerbit Yayasan Paramadina Jln. Catatan-catatan kuliah Sejarah Sosial Hukum Islam pada Fakultas Pasca Sarjana. (021) 7507174 Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota Please direct any suggestion to Media Team Artikel Yayasan Paramadina Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota V. UA 20-21 Jakarta Selatan Telp. Pakistan. Dengan demikian dinamika hukum Islam dapat terus dijaga dan dikembangkan. 1977). Dan ketiga. (021) 7501969. DAFTAR KEPUSTAKAAN Atho' Mudzhar. Kedua. kaum muslim Indonesia seperti tidak pernah tersentuh oleh makna dan semangat firman Allah itu. 1990/1991. Surat itu sendiri sudah merupakan bagian dari hafalan baku para santri. sedikitnya ada tiga syarat yang harus dipenuhi yaitu: Pertama.. adanya keberanian di kalangan umat Islam untuk mengambil pilihan-pilihan yang tidak konvensional dari pasangan-pasangan pilihan tersebut di atas. Philosophy of Islamic Law and the Orientalists (Islamic Publications Ltd.dari agama. Muhammad Muslehuddin. 1969). 7501983. MASALAH SIMBOL DAN SIMBOLISME DALAM EKSPRESI KEAGAMAAN (1/2) Oleh Nurcholish Madjid Ketika Kyai Ahmad Dahlan mulai menapak jalan menuju cita-cita reformasi Islam di Indonesia. adanya tingkat pendidikan dan tingkat keterbukaan yang tinggi dari masyarakat Muslim. Tetapi. Conflicts and Tensions in Islamic Law (The University of Chicago Press.

sekurang-kurangnya mungkin sekali kita sekedar pamrih kepada sesama anggota kelompok Islam. Disebutkannya anak yatim dan orang miskin. adalah karena mereka merupakan kelompok-kelompok sosial yang paling memerlukan usaha bersama untuk memperbaiki nasib mereka. Keagamaan yang sejati menuntut adanya wujud nyata konsekuensi ibadat. Artinya. biarpun sedikit. kurang lebih adalah: Pernahkah engkau lihat (hai Muhammad). yang menurut istilah sekarang.w. tidak ada yang timbangan atau bobot nilai kebaikannya lebih erat daripada budi pekerti luhur. Sebab mungkin kita sendiri tidak merasa. misalnya. dan bungkus itu dengan sendirinya akan mempunyai dampak penipuan. kita menjalankan ibadat-ibadat hanyalah untuk memenuhi kemestian-kemestian sosial kultural semata. surat al-Ma'un itu terjemahnya. namun tidak menghayati dan tidak mewujud-nyatakan hikmahnya. dan yang enggan memberi pertolongan. yaitu budi pekerti yang luhur. yang dibidikkan oleh ibadat itu. haji. Penilaian diri kita sebagai pendusta agama atau beragama secara palsu karena tidak memiliki komitmen sosial yang makin diperburuk oleh tingkah laku lahiriah kita sendiri yang nampak seperti menjalankan ibadat formal. Sebuah Hadits yang amat terkenal mengisyaratkan bahwa tujuan tugas suci atau risalah dibangkitkannya Nabi s. menegaskan keadilan sosial. Jadi sesungguhnya kita menjalankan ibadat itu karena pamrih atau riya'. adalah untuk menyempurnakan berbagai keluhuran budi. Anak yatim dan orang miskin mewakili seluruh anggota masyarakat yang tidak beruntung oleh berbagai sebab dan cara. "kelompok orang-orang Islam. kita melakukan ibadat karena menghayati bahwa shalat adalah perintah Allah lalu tidak menghayati apa makna shalat itu yang lebih mendalam dan luas. [4] Sejalan dengan ini Nabi juga menggambarkan bahwa diantara semua kualitas manusia." Artinya. [3] AGAMA DAN AKHLAQ Surat al-Ma'un memperingatkan kita bahwa beragama dengan tulus tidaklah cukup hanya dengan mengerjakan segi-segi formal keagamaan seperti shalat. Seperti kita ketahui. namun ibadat itu tidak mempengaruhi tingkah laku kita yang lebih mendalam. sementara kita mungkin rajin menjalankan ibadat-ibadat formal seperti shalat. dll.Muhammadiyah dengan amal-amal sosialnya. Karena itulah Allah mengutuk orang yang menjalankan ibadat formal serupa itu namun ia lupa atau lalai akan ibadat mereka sendiri. Maka celakalah untuk orang-orang yang shalat. yang tingkah laku itu bakal membentuk budi pekerti luhur [2]. orang yang mendustakan agama? Itulah orang yang menghardik anak yatim dan tidak berjuang untuk memberi makan orang miskin. puasa. seperti kemestian yang ada pada pola pergaulan dalam suatu kelompok. yaitu mereka yang akan shalat tetapi lalai. [1] Jelas sekali firman Allah itu menegaskan bahwa kepalsuan dapat terjadi dalam sikap keagamaan kita jika kita tidak memiliki komitmen batin kepada usaha-usaha. Indikasinya ialah keseganan untuk berkorban guna memberi pertolongan kepada orang yang perlu.a. yaitu mereka yang suka pamrih kepada sesama. Dikatakan semakin diperburuk karena kepalsuan kita dalam beragama memperoleh bungkus kebajikan berupa amalan ibadat lahiriah. [5] Lalu beliau gambarkan bahwa yang paling banyak menyebabkan manusia .

anak-anak yatim (termasuk siapa saja yang tidak punya topangan hidup atau bantuan). Allah swt. Tindakan-tindakan derma yang praktis mempunyai nilai hanya jika keluar dari rasa cinta dan tidak dari motif-motif yang lain. dan mereka itulah orang-orang yang berbakti (bertaqwa). serta mereka yang tabah dalam kesulitan. Kita diberi empat pokok: (1) iman kita harus sejati dan tulus. melainkan datang dalam pengalaman kita sendiri. Untuk kerabat. kewajiban kita dapat berbentuk berbagai macam. betapapun cinta orang itu kepada harta tersebut. dan mereka didahulukan sebelum orang yang meminta. [6] Penegasan-penegasan Nabi itu merupakan kelanjutan dari ajaran al-Qur'an tentang apa yang dinamakan nilai kebajikan (al-birr atau 'amal shalih). Mereka itulah orang-orang benar (tulus). sebab kita melihat Hari Kemudian seolah-olah terjadi sekarang ini. Orang itu harus mentaati aturan-aturan yang membawa kebaikan. [8] Dalam kaitan itu menarik sekali memperhatikan komentar Yusuf Ali atas firman yang amat penting ini. juga. yang mendukung organisasi-organisasi sosial. (2) kita harus memperlihatkannya dalam tindakan-tindakan kebaikan kepada sesama kita. Dalam hal ini. Dikatakannya: Seakan untuk menekankan lagi peringatan melawan formalisme yang mematikan.Tetapi kebajikan ialah (jika) orang yang beriman kepada Allah. orang-orang miskin. Jika kita sadari itu.masuk surga ialah taqwa kepada Allah dan keluhuran budi. yang lebih terinci: Bukanlah kebajikan itu bahwa kamu menghadapkan mukamu ke timur dan ke barat. Kita harus menyadari kehadiran Tuhan dan kebaikan-Nya. hal-hal besar menjadi kecil di depan mata kita segala kepalsuan dan sifat sementara dunia ini akan tidak lagi memperbudak kita. Kita juga melihat karya Ilahi dalam alam ciptaan-Nya. tapi masih dapat dipandang secara terpisah. (3) kita harus menjadi warga masyarakat yang baik. orang terlantar di perjalanan. berujud jenjang yang wajar. kita diberi gambaran yang indah tentang orang yang salih dan takut kepada Tuhan. dan memang berhak untuk meminta. dan ajaran-ajaran-Nya yang tidak lagi berada jauh dari kita. menegaskan "Kamu sekalian tidak akan memperoleh kebajikan sebelum kamu mendermakan sebagian dari (harta) yang kamu cintai. Keempat pokok itu saling berkaitan. peminta-minta. dan orang yang menepati janji jika membuat janji. anak-anak yatim. . dan (4) jiwa pribadi kita sendiri harus teguh dan tidak goyah dalam segala keadaan. sanak keluarga kita. tapi ia harus memusatkan pandangannya kepada cinta Tuhan dan cinta sesama manusia. kesusahan dan masa perang. kitab-kitab suci dan para nabi. bukan sekedar pengemis yang malas tetapi orang A. dan orang yang mendermakan hartanya. dan untuk membebaskan para budak." [7] Dan penegasan-Nya lagi. orang yang benar-benar memerlukan pertolongan tetapi tidak pernah meminta (kewajiban kita menemukan mereka itu). Hari kemudian. para malaikat. yakni. Iman bukanlah semata-mata perkara ucapan.

"Tempat dia di neraka!. Disebutnya masalah menghadapkan wajah ke arah ini atau itu dalam sembahyang adalah kelanjutan dari pembahasan tentang kiblat dalam urutan ayat-ayat sebelumnya. Prof." Seorang tokoh Islam Indonesia. puasa dan zakat. Prinsip ini dipertegas oleh Nabi saw dalam sebuah Hadits mengenai dua wanita: Abu Hurayrah meriwayatkan prinsip penting yang diajarkan Nabi ini. Mukti Ali. agama kita mengajarkan bahwa formalitas ritual belaka tidaklah cukup sebagai wujud keagamaan yang benar. karena ia melalaikan shalat dan puasa. Justru sikap-sikap membatasi diri hanya kepada hal-hal ritualistik dan formal akan sama dengan peniadaan tujuan agama yang hakiki. dan budak-budak (kita harus melakukan apa saja yang dapat kita lakukan untuk memberi atau membeli kemerdekaan mereka). Maka Nabi saw bersabda. sehingga tidak seharusnya dipandang dalam kerangka sebagai tujuan dalam dirinya sendiri sementara tujuan yang sebenarnya terlupakan. Maka Hadits di atas dapat dirujuk sebagai sebuah ilustrasi tentang apa yang dikatakan Prof. Maka Rasul saw bersabda. yang memberi peringatan keras kepada orang yang suka pamer kebajikan palsu dan kemunafikan dalam menekuni segi-segi forma keagamaan. Jadi." Kemudian orang itu menceritakan tentang seorang wanita yang kedengarannya jelek. A. namun ia rajin memberi pertolongan kepada orang-orang sengsara. Karena itu juga tidak pula segi-segi lahiriah itu akan menghantarkan kita menuju kebahagiaan. seperti soal pakaian atau tingkah "tidak sopan" dan "tidak bermoral" tertentu. Mukti Ali itu. Muhammad Asad menegaskan bahwa al-Qur'an menekankan prinsip yang semata-mata mengikuti bentuk-bentuk lahiriah tidaklah memenuhi persyaratan kebajikan. dan tidak pernah menyakiti hati sanak keluarganya. TAUHID ESENSI. [9] Dalam menafsir firman itu. pernah mengatakan bahwa orang-orang Muslim banyak yang lebih peka kepada masalah-masalah keagamaan daripada masalah-masalah sosial. tetapi lidahnya selalu menyakiti sanak keluarganya. Yang dimaksud ialah. Perbudakan mengandung berbagai bentuk yang tersembunyi dan berbahaya dan semuanya tercakup di situ. Seseorang yang datang kepada Nabi dan menceritakan tentang seorang wanita yang rajin mengerjakan shalat. "Tempat dia di surga. namun reaksi kepada masalah-masalah kepincangan sosial seperti kemiskinan dan kezaliman masih lemah. BUKAN TAUHID NAMA . sebelum kita mengisinya dengan hal-hal yang lebih esensial. banyak orang Islam yang lebih cepat bereaksi kepada gejala-gejala yang dinilai menyimpang dari ketentuan lahiriah keagamaan.[l0] Dan memang menghadapkan muka ke arah tertentu dalam ibadat hanyalah bentuk formal lahiriah semata dari sebuah amalan. dan di situ nampak bahwa Nabi saw justru lebih peka pada masalah-masalah sosial yang lebih substantif daripada masalah-masalah formal keagamaan semata yang simbolik.yang memerlukan bantuan kita dalam bentuk tertentu (kewajiban kita untuk tanggap kepada mereka).

firman Allah itu mengandung makna bahwa . dari antara nama-nama terbaik (al-asma al-husna) Tuhan. MASALAH SIMBOL DAN SIMBOLISME DALAM EKSPRESI KEAGAMAAN (2/2) Oleh Nurcholish Madjid Menurut Sayyid Quthub. Dan janganlah engkau (Muhammad) mengeraskan shalatmu. dll. Sebetulnya dzikir adalah lebih banyak sikap hati (dzat al-shadr). yang selama ini tidak dikenal orang Arab yang selama ini menggunakan nama Allah (al-Lah). al-Ghaffar. Sebab pada saat itu al-Qur'an mulai banyak menggunakan nama al-Rahman. selain nama "Allah" untuk Wujud Maha Tinggi. 7501983. UA 20-21 Jakarta Selatan Telp. jangan pula kau lirihkan. yang secara langsung atau tidak. 7507173 Fax. jika Dzat Yang Mutlak itu mempunyai nama lain. Metro Pondok Indah Pondok Indah Plaza I Kav. dapat dipahami dari berbagai sumber suci dalam al-Qur'an dan Sunnah.(bersambung 2/2) Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah Editor: Budhy Munawar-Rachman Penerbit Yayasan Paramadina Jln.Dzikr atau ingat kepada Tuhan adalah salah satu bentuk ritus yang amat penting dalam agama Islam. (021) 7501969. Selain lafal "Allah" sebagai lafal keagungan (lafzh al-jalalah) karena merupakan nama Wujud Maha Tinggi yang utama juga terdapat lafal-lafal lain yang merupakan nama-nama Wujud Maha Tinggi itu. Dalam Kitab Suci al-Qur'an terdapat sebuah firman yang isinya petunjuk kepada Nabi saw menghadapi orang-orang musyrik Arab yang menolak adanya nama lain. maka bagi Dia adalah nama-nama yang terbaik". berarti Ia tidak Maha Esa." [12] -------------------------------------------. al-Rahim. nama manapun yang kamu serukan. seperti al-Rahman. Dalam pandangan mereka yang keliru itu. Maka turunlah firman Allah. seperti pengucapan atau pembacaan kata-kata atau lafal-lafal tertentu dari perbendaharaan keagamaan. kaum musyrik Arab mengira bahwa Nabi tidak konsisten dalam mengajarkan paham Ketuhanan Yang Maha Esa.35. dan carilah jalan tengah antara keduanya. (021) 7507174 Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota Please direct any suggestion to Media Team Artikel Yayasan Paramadina Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota V. Namun dzikr juga dapat melahirkan gejala formal. memberi petunjuk kepada Nabi dalam menghadapi mereka: "Katakan (hai Muhammad). Karena salah paham. al-Razzaq. melainkan berbilang sebanyak nama yang digunakan. "Serulah olehmu sekalian (nama) Allah atau serulah olehmu sekalian (nama) al-Rahman. khususnya kata-kata atau lafal yang berkaitan dengan Tuhan seperti "Allah" dan "La ilaha illa 'l-lah".

Kalau seandainya nama itu sama dengan yang dinamai. Tetapi Allah Yang Maha Mulia dan Maha Agung adalah suatu Makna (Esensi) yang diacu oleh nama-nama itu. "Tambahilah aku (ilmu)". tetapi kepada suatu dzat atau esensi. mendengar tentang ucapan Nabi dalam sujud itu. melainkan Dzat atau Esensi-Nya. maka setiap nama itu adalah suatu Tuhan. ya Rahman". (yang disembah)." Ada juga penuturan bahwa ayat itu turun kepada Nabi karena kaum Ahl al-Kitab pernah mengatakan kepada beliau. dan keduanya menunjuk kepada Hakikat. [l4] Pandangan Ketuhanan yang amat mendasar ini diterangkan dengan jelas sekali oleh Ja'far al-Shadiq. ia sungguh telah kafir dan tidak menyembah apa-apa. al-Baidlawi dan al-Nasafi menegaskan bahwa kata ganti nama "Dia" dalam kalimat "maka bagi Dia adalah nama-nama yang terbaik" dalam ayat itu mengacu tidak kepada nama "Allah" atau "al-Rahman". Sebab suatu nama tidaklah diberikan kepada nama yang lain. selain nama "Allah". baik untuk kalangan Ahl al-Sunnah maupun Syi'ah. Karena itu al-Baidlawi menegaskan bahwa pahan Tauhid bukanlah ditujukan kepada nama. melainkan kepada sesuatu yang dinamai. "Al-Lah") berasal "ilah" dan "ilah" mengandung makna "ma'luh'." [15] . Dalam sebuah penuturan. [l3] Berkenaan dengan alasan turunnya firman itu. Dan barangsiapa menyembah makna tanpa nama maka itulah Tawhid. dan sekarang ia sendiri menyembah Tuhan yang lain lagi. guru dari para imam dan tokoh keagamaan besar dalam sejarah Islam. Dzat atau Wujud yang satu dan sama.manusia dibenarkan memanggil atau menyeru dan menamakan Tuhan mereka sekehendak mereka sesuai dengan nama-nama-Nya yang paling baik (al-asma al-husna). Ketika Abu Jahal. Zamakhsyari. bukannya "Allah" bernama "al -Rahman" atau "al-Rahim". "Engkau (Muhammad) jarang menyebut nama al-Rahman. padahal Allah banyak menggunakan nama itu dalam Taurat. Barangsiapa menyembah nama dan makna (sekaligus). dan nama (ism) tidaklah sama dengan yang dinamai (al-musamma). Dzat Yang Maha Esa itulah yang bernama "Allah" dan atau "al-Rahman" serta nama-nama terbaik lainnya. ia berkata: "Dia (Muhammad) melarang kita menyembah dua Tuhan. tokoh musyrik Makkah yang sangat memusuhi kaum beriman. bahwa di suatu malam nabi beribadat. "Bagi Allah Yang Maha Mulia dan Maha Agung ada sembilanpuluh sembilan nama. Jadi. Ja'far al-Shadiq menyambung. wahai Hisyam?" Hisyam mengatakan lagi. melainkan kepada esensi. maka ia sungguh telah musyrik dan menyembah dua hal. Engkau mengerti. sebab Dia mempunyai banyak nama. Maka barangsiapa menyembah nama tanpa makna. dan dalam bersujud beliau mengucapkan: "Ya Allah. ia menjelaskan nama "Allah" dan bagaimana menyembah-Nya secara benar sebagai jawaban atas pertanyaan Hisyam: "Allah" (kadang-kadang dieja. tafsir-tafsir klasik menuturkan adanya Hadits dari Ibn Abbas. Maka Tauhid yang benar ialah "Tawhid al-Dzat" bukan "Tawhid al-Ism" (Tauhid Esensi. bukan Tauhid Nama). Jadi yang bersifat Maha Esa itu bukanlah Nama-Nya.. Firman itu juga merupakan sanggahan terhadap kaum Jahiliah yang mengingkari nama "al-Rahman". yaitu Dzat (Esensi) Wujud Yang Maha Mutlak itu.. sedangkan nama-nama itu sendiri seluruhnya tidaklah sama dengan Dia ." Maka turunnya ayat itu tidak lain ialah untuk menegaskan bahwa kedua nama itu sama saja.

Kalau kita harus menyembah Makna atau Esensi. Jadi. dan tidak sebanding dengan apapun.. Maka agama ialah pendekatan diri kepada Allah dan perbuatan baik kepada sesama manusia. "Allah" maknanya "Yang Disembah" yang agar makhluk (aliha. sambil melupakan Makna dan Esensi di balik Nama itu. Orang Arab mengatakan "Seseorang tercekam (aliha) jika ia merasa bingung (tahayyara) atas sesuatu yang tidak dapat dipahaminya. melainkan menuju kepada suatu nilai yang tinggi). namun simbol tanpa makna adalah absurd.") pada penutupannya. tidak mampu atau bingung) mengetahui Esensi-Nya (Mahiyyah) dan memahami Kualitas-Nya (Kaifiyyah). Justru segi ini harus ditumbuhkan lebih kuat dalam masyarakat. Jadi "al-Lah" ialah Dia yang tertutup dari indera makhluk. menerangkan. menurut Hadits-hadits di atas. Maka sebenarnya yang boleh dikatakan "ideal" dalam kehidupan keagamaan ialah jika ada keseimbangan antara simbolisasi dan substansiasi. [16] Dan Muhammad al-Baqir ra. menyembah Tuhan sebagai maknanya berarti menyembah Wujud yang tak terjangkau dan tak terhingga.'assalamu'alaikum . dan orang itu terpukau (walaha) jika ia merasa takut (fazi'a) kepada sesuatu yang ia takuti atau kuatiri. betapapun nama-nama itu nama-nama utama (al-Asma al-Husna). muspra dan malah berbahaya. Bersamaan dengan penggunaan simbol-simbol diperlukan adanya kesadaran tentang hal-hal yang lebih substantif. CATATAN . yang mengenai Dia itu makhluk merasa tercekam (ya'lahu) dan dicekam (yu'lahu) oleh-Nya. berarti kita harus menunjukkan penyembahan kita kepada Dia yang menurut al-Qur'an memang tidak tergambarkan. [17] Jadi. Allah adalah Wujud dan tertutup dari kemampuan penglihatan. dan yang terdinding dari dugaan dan benih pikiran. Nama Tuhan pun. 'Ali Ibn Abi Thalib ra. tidak benar untuk dijadikan tujuan penyembahan. jangankan sekedar simbol dan ritus. Sebab. dan tidak intrinsik (dalam arti tidak menjadi tujuan dalam dirinya sendiri. Artinya. jika terdapat kewajaran dalam penggunaan simbol-simbol sedemikian rupa sehingga agama memiliki daya cekam kepada masyarakat luas (umum). antara nama (ism) dan yang dinamakan (musamma) tidak identik. seperti ditegaskan oleh Ja'far al-Shadiq yang dikutip di atas. "Allah" artinya "Yang Disembah" (al-Ma'bud).. namun tetap ada kesadaran bahwa suatu simbol hanya mempunyai nilai instrumental. yang justru mempunyai nilai intrinsik. yang Hakikatnya tidak dibatasi oleh nama-nama-Nya. dalam makna takbir (ucapan "Allah-u Akbar") pada pembukaan dan dalam makna taslim (ucapan. Agama tidak mungkin tanpa simbolisasi. betapapun. sebagaimana keduanya itu dipesankan kepada kita melalui shalat kita. Berkenaan dengan ini. mewariskan penjelasan yang amat berharga kepada kita Dia mengatakan. dan bukan menyembah Nama seperti yang diperingatkan dengan keras sebagai suatu bentuk kemusyrikan oleh Ja'far al-Shadiq itu.

misalnya. Dan Muhammad Asad. perkataan "yahudldlu" menunjuk pada adanya komitmen batin yang tinggi. as well as the occasional acts of kindness consisting in helping out one's fellow-men with such item. hal.. Riyadl. karena baginya perkataan "yahudldlu" mempunyai makna "mendorong diri sendiri" (sebelum mendorong orang lain). sebagai "comprises the small items needed for one's daily use. Hassan dalam Al-Furqan. Jadi. QS. Maktabat al-Riyadl al-Haditsah. khususnya mereka yang memerlukan pertolongan. Perkataan "yahudldlu" yang diterjemahkan dengan "berjuang" di sini mempunyai asal arti "menganjurkan dengan kuat". A. terlalu sibuk bekerja. [tulisan Arab] "Innama bu'its-tu li-utammim-a makarim-a 'l-akhlaq-iSesungguhnya aku diutus hanyalah untuk menyempurnakan berbagai keluhuran budi. tidak dikutuk. juga perbuatan kebaikan kala-kala berupa pemberian bantuan kepada sesama manusia dalam hal-hal kecil tersebut. Minhaj al-Sunnah. sehingga mereka yang menjalankan shalat itu dengan mereka yang tidak menjalankannya sama saja. yakni usaha mengangkat dan menolong nasib kaum miskin. (Lihat.. Sebab lupa dan alpa serupa itu justru dimaafkan oleh Allah. Kata-kata Arab "al-ma'un" yang merupakan ujung surat dan menjadi nama suratnya dijelaskan oleh Muhammad asad. Yaitu sabda Nabi saw. Jadi bergaya hidup egoistis.("Tiada sesuatu apapun yang dalam timbangan (nilainya) lebih berat daripada keluhuran budi"). 979. [tulisan Arab] "ma min syay-in fi 'il-mizan-i atsqal-u min husn-i 'l-khulaq-i. Jilid 3. Yang dimaksud dalam firman ini bukanlah mereka itu dikutuk Allah karena lupa mengerjakan shalat yang disebabkan. Yang diterjemahkan dengan "lupa" atau "lalai" dalam firman itu ialah kata-kata yang dalam bahasa aslinya (Arab) "sahun". In its wider sense.." Departemen Agama menerjemahkan dengan "menganjurkan" sedangkan Mahmud Yunus dalam tafsir Qur'an Karim menggunakan perkataan "menyuruh". menerjemahkannya dalam bahasa Inggeris dengan "feels no urge" (tidak merasakan adanya dorongan). al Ma'un/107:1-7. tidak peduli kepada orang lain sekitar. tt. . 4. Ibn Taymiyyah. 2. 4 jilid. 46). it denotes "aid" or "assistance" in any difficulty" (. hal. Tapi yang dimaksud dalam firman itu ialah mereka yang menjalankan shalat itu lupa akan shalat mereka sendiri. Apalagi jika lebih buruk! 3. kata-kata "al-ma'un" mencakup hal-hal kecil yang diperlukan orang dalam penggunaan sehari-hari." 5. dalam The Message of the Qur'an. Yaitu sabda nabi yang amat terkenal. berdasarkan berbagai tafsir klasik. Berarti bahwa indikasi ketulusan dan kesejatian dalam beragama ialah adanya komitmen sosial yang tinggi dan mendalam kepada orang bersangkutan. dalam arti bahwa shalat mereka tidak mempunyai pengarah apa-apa kepada pendidikan akhlaknya. kata-kata itu berarti "bantuan" atau "pertolongan" dalam setiap kesulitan) -The Message of the Qur'an. Dalam maknanya yang lebih luas.1. menerjemahkan perkataan itu dengan "menggemarkan.

Madarik al-Tanzil wa Haqaiq al-Ta'wil oleh al-Nasafi. (021) 7501969.a. 11.. Fi Zhilal al-Qur'an. ZAKAT KONSEP HARTA YANG BERSIH . 15. A. "Aktsar-u ma yudkhil-u 'l-jannat-a taqwa 'l-Lah-i wa husn-u 'l-khuluq-i "Yang paling banyak memasukan orang ke dalam surga ialah taqwa kepada Allah dan keluhuran budi". dll. 69. terjemah bahasa Arab oleh Dr. menurut sebuah penuturan. Yusuf Ali. lihat tafsir ayat bersangkutan dalam kitab-kitab tafsir klasik: Anwar al-Tanzil wa Asrar al-Ta'wil oleh al-Baidlawi. al-Baqarah 2:177. QS. Dikutip oleh Roger Garaudy. -------------------------------------------Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah Editor: Budhy Munawar-Rachman Penerbit Yayasan Paramadina Jln. QS.6. 1992). [tulisan Arab]. [tulisan Arab]. 13. [tulisan Arab]. (021) 7507174 Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota Please direct any suggestion to Media Team Artikel Yayasan Paramadina Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota V. QS. Muhammad Asad. 7. 7507173 Fax.'Ali 'Imran 3:93. Sayyid Quthub. hal. Translation and Commentery (Jeddah: Dar al-Qiblah 1403 H). Lengkapnya.32. Tafsir al-Khazin oleh al-Baghdadi. al-Kasysyaf al-Zamaksyari. Metro Pondok Indah Pondok Indah Plaza I Kav. hal. dalam Integrismes. 5. [tulisan Arab]. 93: 12. Jil. 16. hal. 36. Untuk pembahasan ini. Juz 15. Khalil. 73. Yaitu keterangan dari Ali ibn Abi Thalib r. Sebuah Hadits otentik. AlUshuliyyat al-Mu'ashirah: Asbabuha wa Mazhahiruha (Paris: Dar Am Alfayn. riwayat itu dalam bahasa aslinya (Arab) adalah demikian. Khalil A. 10. 17. UA 20-21 Jakarta Selatan Telp. The Holy Qur'an. hal. 7501983. 14. Yaitu sebuah penuturan atau riwayat yang berasal dari Muhammad al-Baqir. 8. 9. al-Isra'/17:110.

tentang "pemerataaan" atau lebih mendasar lagi soal "keadilan sosial. magic.Oleh Masdar F. Mas'udi Bicara soal zakat dikaitkan dengan pemerataan ada kesan memaksakan diri. manusia yang dengan hak prerogatif Tuhan hanya memiliki kemungkinan baik. kehebatan dan mukjizatnya diperlihatkan juga. Islam tak saja harus ma'qul (sensible). Berbeda dengan logika teoritis yang bersifat abstrak dan subyektif. Masalahnya. shalat. Suatu ajaran untuk bisa disebut ma'mul. anehnya orang tak kunjung kapok menjadikannya sebagai tema. Tanpa diduga-duga orang ini tiba-tiba tersadarkan bahwa di alam dunia ini. Karena Islam datang sebagai petunjuk untuk manusia dan diterapkan oleh manusia dalam kapasitas kodratinya yang wajar-wajar saja. logika empiris bersifat konkrit dan obyektif. Logika pemikiran hadir dalam ujud rnaqal yang bersifat teoritis. bahkan keadilan sekaligus." orang bisa saja mengatakan bahwa semua rukun Islam yang lima cukup ma'qul untuk memecahkannya. Yakni manusia sebagai makhluk Tuhan yang memiliki segala kemungkinan dan potensi kebaikan maupun keburukan. tapi sekaligus juga ma'mul (applicable). Sesungguhnyalah. tapi yang ma'mul secara implisit haruslah ma'qul. Sebagai agama yang datang untuk kehidupan manusia dalam ukuran yang normal atau yang wajar. mangada-ada!. logika kesejarahan hadir dalam ujud hal yang bersifat empirik. di mana akan munculnya momen-momen ajaib yang lahir atas campur tangan langsung Tuhan seperti digambarkan di atas. orang ini terbuka tabir kerohaniannya. Kembali pada pokok soal. atau hanya pas-pasan saja. seseorang boleh tak punya apa-apa. sedang ma'mul artinya bisa dicerna logika kesejarahan. harus bisa dijabarkan dalam kerangka kerja sistem yang bisa dirancang. kekuatan maupun kelemahan. Seolah-olah yang penting bukan kesepadanan konsep zakat dengan pemerataan. Tapi. Sementara untuk manusia yang luar biasa. Ma'qul artinya bisa dicerna logika penalaran. Ibarat figur. Tapi adanya kekuatan ghaib. seseorang yang kebetulan kaya raya tiba-tiba terpanggil menginfakkan seluruh hartanya untuk menghidupi orang-orang miskin. Islam bukanlah sejenis halte tempat orang menunggu dengan kepasifan.Islam tak punya urusan. bisa meng-iblis tapi juga bisa menjadi laiknya malaikat. bisa baik bisa jahat. bagaimanapun hal ini memang tak mustahil. juga haji) bukan merupakan perkara mustahil. tapi dalam hati tetap bercokol keyakinan. yang penting adalah keterpautan hati secara terus menerus untuk menyebut nama-nama Nya. dikontrol dan bisa diukur. . dengan segala ajarannya. mengkaitkan soal pemerataan. Ini berarti bahwa yang ma'qul belum tentu matmul. lambat atau cepat. Misalnya karena kekhusyukannya dalam menunaikan shalat. puasa. Manusia yang bisa salah bisa benar. Tapi dari semua yang ma'qul itu. atau hanya memiliki potensi buruk --kalau saja yang demikian itu ada dalam kenyataan Islam-. suatu saat nanti. dengan konsep zakat bukan merupakan hal yang tak masuk akal. kata-kata zakat diyakini sebagai tokoh imam mahdi atau ratu adil yang meski pun sangat sulit orang mencernanya. Ajaib! Tapi. yang tersimpan dalam kata-kata "zakat" itu sendiri. Bahkan mengkaitkannya dengan rukun Islam yang lain (syahadat.

Tapi disinilah persoalannya. dalam sejarah politik kenegaraan modern. Ia dengan segala perangkat lunaknya (seperti sistem hukum dan perundang-undangan) maupun yang keras (seperti satelit pengintai dan senjata rudalnya) seringkali menjadi alat bagi kepentingan "penyakit keduniaan" yang seharusnya dinetralisir oleh keberadaannya. yang titik berangkatnya adalah pada pemerataan akses sumber daya materi. atau keadilan sosial. Ajaran Nabi Isa secara implisit ingin sekali mengingkari keberadaannya. Maka bisa dimengerti apabila pernah muncul suatu obsesi dalam sejarah pemikiran manusia yang mengimpikan suatu zaman dimana apa yang disebut lembaga negara itu tak usah ada lagi. Karena seperti halnya tema pemerataan. 18 abad kemudian secara eksplisit mengidealkan kepunahannya. yang dalam realitas sosiologis memuncak pada apa yang dikenal dengan negara (state). konsep pajak sedikit banyak sudah mulai diberi fungsi redistribusi kekayaan seperti tersebut di atas. Maka konsep dasar zakat sebagai mekanisme redistribusi kekayaan (materi) adalah pengalihan sebagian aset materi yang dimiliki kalangan kaya (yang memiliki lebih dari yang diperlukan) untuk kemudian didistribusikan pada mereka yang tak punya (fakir miskin dan sejenisnya) dan kepentingan bersama. rata sedikitnya atau banyaknya. dalam sejarahnya justru cenderung memainkan peran terbalik. Tapi agar tak terjadi suasana ketimpangan. Sasarannya bukan agar semua orang memiliki bagian secara sama rata. setelah pajak yang tinggi itu ditarik dari masyarakat wajib pajak. ketimpangan di bidang yang lain (politik dan budaya) hampir pasti selalu saja membuntuti. yakni nafsu gila harta (keduniaan) tadi. tapi hanya sebagai sarana yang tetap ada di luar zat-Nya. Benar bahwa haji pun bersentuhan dengan soal materi. Seyogyanyalah pengalihan itu dilaksanakan kalangan berada atas kesadaran mereka sendiri. lembaga negara yang secara moral hanya bisa dijustified sepanjang berfungsi sebagai racun penawar terhadap kerakusan duniawi masyarakat manusia (yang kuat). dimana sebagian yang lain hampir-hampir tak memiliki sama sekali. Tapi lembaga anomali tersebut perlu justru untuk menjadi penawar bagi anomali lain yang ada pada diri manusia. maka kehadiran lembaga yang memiliki kewenangan memaksa untuk melakukan pengalihan itu pun menjadi tak terelakkan. Juga ajaran Karl Marx. Tapi karena manusia mengidap nafsu "cinta harta" (hub-u 'l-dunya). apakah memang kemudian ditasarufkan untuk mengangkat kehidupan mereka yang tak punya dan untuk kemaslahatan semua pihak? Inilah persoalan dasar. siapa yang sebenarnya paling . Zaman idaman baginya adalah zaman ketika lembaga negara telah lenyap berikut seluruh akar-akarnya. zakat adalah satu-satunya rukun Islam yang berkaitan langsung dengan persoalan materi itu. dari sudut moral memang merupakan anomali. Lembaga itu. zakat --berbeda dengan haji-. Syahdan. Lebih dari sekedar meletakkan soal penguasaan sumber daya materi sebagai subyeknya. Bahkan dengan tarif begitu tinggi yang disebut dengan pajak progresif. Tapi persoalannya.satu-satunya yang sekaligus ma'mul adalah rukun yang ketiga. yakni zakat. atau ditekan serendah-rendahnya.bahkan meletakkannya sebagai sesuatu yang harus diatur sedemikian rupa agar kemungkinannya untuk menumpuk hanya pada kalangan tertentu (aghniya) bisa dihindarkan. Sebab bermula dari ketimpangan dalam hal materi (ekonomi).

Apakah melalui sektor pertahanan dalam pengertian yang luas dengan dalih demi kepentingan nasional mereka. sama sekali tak berarti. Tapi juga belum berarti telah kembali pada pemiliknya yang sah. secara lahir batin. politik dan budaya. Berbeda dengan di Timur. aristokrat. Lembaga Perwakilan Rakyat di negara-negara Timur yang paternalistik. seperti yang terjadi di banyak bumi belahan Timur. Mereka yang ada di lapisan bawah. Apabila negara di zaman modern sudah mulai melibatkan rakyat melalui wakil-wakilnya dalam menentukan penggunaan uang pajaknya melalui undang-undang. Hal tersebut dapat dilihat dengan jelas. dalam alokasi penggunaan dana pajak dalam APBN mereka. masih jauh dari dapat disebut memiliki negara. di negara-negara Timur yang paternalistik. . Kesadaran dan perilaku mereka tetaplah untuk mengelabui rakyat bagi kepentingan para penguasa yang mengatur keberadaan mereka. kemudian menyusul bidang-bidang kehidupan lain yang lebih sublim. pada hakekatnya adalah lembaga Perwakilan Penguasa. Penjelasannya sederhana. tapi juga terhadap negara-negara lain yang mengaku berjalan secara demokratis. Tapi ya itu tadi. negara monarki absolut memandang kewenangan pengalokasian uang pajak (upeti/tax) sepenuhnya di tangan sang raja saja. keberadaan lembaga perwakilan rakyat umumnya hanya merupakan permainan politik kalangan elite penguasa. lebih-lebih rakyat pada lapisannya yang paling jelata. atau oleh hampir semua negara di atas bumi ini? Pertanyaan tersebut mengena bukan saja terhadap lembaga negara yang dikelola secara otoriter. dengan peranan lembaga perwakilan rakyat dalam tata kenegaraan modern belum menjadi jaminan bahwa uang pajak akan ditasarufkan dengan prioritas utama bagi pembebasan rakyat lemah. Di negara-negara Barat yang liberal-kapitalistik. Bahwa di negara-negara Eropa dan Amerika yang pendapatan perkapitanya telah mencapai angka 8 ribu sampai 11 ribu dollar pertahun masih banyak warga negara yang tuna wisma (homeless) adalah bukti yang sangat cukup bahwa rakyat jelata di sana memang belum bisa disebut ikut memiliki negara. Memang lebih gila lagi. atau semi otoriter.diuntungkan oleh pranata pajak yang ditangani lembaga negara. Tapi hal itu tetap bukan (belum?) dalam rangka penegakkan kontrol atas lembaga negara bagi kepentingan rakyat. legislatif maupun judikatif). sudah berada di tangan rakyat. independensi lembaga perwakilan rakyat dengan penguasa (baca: eksekutif) memang cukup kuat. tapi baru yang ada di lapisan menengah dan terutama lapisan atas. yaitu rakyat keseluruhan yang dimulai dari lapisannya yang paling jelata. Berapa anggaran belanja yang diperuntukkan bagi pembebasan rakyat (jelata). Dimulai dari pembebasan di bidang ekonomi. di Barat negara memang sudah tak lagi sepenuhuya milik penguasa (kaum bangsawan. Di Barat negara dengan seluruh soko gurunya (eksekutif. seperti Amerika dan negara-negara Barat. Lembaga Perwakilan Rakyat hanyalah sekedar "nama dan proforma". adalah negara-negara monarki absolut zaman dulu. baik secara keturunan maupun SK jabatan seperti di Timur). Bagian yang paling besar dari dana itu diperuntukkan untuk melindungi atau melayani kepentingan kelas menengah ke atas. yang justru merupakan pemilik utama sebutan "rakyat" kapan saja ia diucapkan. atau melalui sektor pembangunan sarana-sarana mana yang diperuntukkan utamanya bagi kalangan masyarakat kelas menengah ke atas. misalnya.

what?! Menuruti obsesi Marx bahwa lembaga negara mesti dienyahkan . Sampai titik ini sebenarnya telah jelas bagi kita bahwa. Padahal. jika dilihat sedikit lebih kritis. seperti disebutkan di atas adalah kepentingan kelompok yang mengontrol roda kenegaraan atau pemerintahan. Akibat permainan drama kolosal ini. selaku cukongnya. Memang di sana bukan tak ada masalah sama sekali. agaknya tak lagi terutama terletak pada kalangan kaya. Lebih dari itu. banyak orang terhegemoni untuk meyakini bahwa Barat memang teladan dunia. yakni kaum kapitalis dan tentu saja para elite politik sebagai pengawal kepentingan-kepentingannya. sistem kenegaraan/pemerintahan yang liberal-kapitalistik memang merupakan pilihan sejarah terbaik dan terakhir. mereka siap menawarkan bantuannya. Baik yang berupa hibah (grant) maupun yang berupa pinjaman (loan). Persoalan pokok itu kini jelas terutama ada di pihak apa yang kita sebut lembaga negara. Nafsu kerakusan mereka untuk mengakumulasikan kekayaan lebih banyak dan lebih banyak lagi. bahwa beban yang ditimpakan kepada mereka yang punya. negara-negara Barat segera menunjukkan kedermawanannya (charity). apabila negara-negara Timur yang miskin itu memerlukan perbaikan ekonomi. yakni beban pajak. Dengan kata lain persoalan pokok dalam topik redistribusi kekayaan (asset) untuk pemerataan. diputarkan kembali untuk melipat gandakan kekuatan mereka yang sudah kuat. sama sekali bukan demi kepentingan rakyat dan bangsa negara-negara Timur. akan segera tampak pada kita bahwa apa yang diperbuat negara-negara Barat tetaplah demi kepentingan mereka sendiri. Hanya masalahnya. kaum lemah dan melarat. Dengan pranata pajaknya ide zakat (bahwa yang kuat harus menanggung beban) sudah banyak dilaksanakan oleh hampir semua negara di jaman ini. ternyata digelapkan oleh negara sehingga tak sampai ke alamat (mustahiq) yang semestinya. yakni kelompok orang-orang yang secara politik mengendalikan jalannya pemerintahan itu sendiri dan kalangan para kaya kapitalis. Setiap kali bencana dan musibah terjadi di masyarakat dunia Timur. Di dunia Timur yang feodalistik. Karena dia (lembaga negara)-lah yang berbuat selingkuh. seolah negara-negara liberal kapitalis Barat itu telah menempatkan dirinya di bawah kepentingan rakyat sejati. dan kemudian keadilan sosial dalam tatarannya yang lebih luas. Drama itu pementasannya di masyarakat bangsa negara-negara Timur yang umumnya miskin dan lemah. Tapi fakta bahwa dalam kerakusannya mereka bisa diikat komitmennya untuk menyisihkan sebagian dari kekayaannya (berupa pajak) adalah bukti bahwa persoalan pokok tak lagi sepenuhnya di tangan mereka. ide dasar dari zakat bukan sesuatu yang sama sekali asing dalam struktur pemikiran kenegaraan. dana pajak yang dikenakan atas orang-orang kaya dibelokkan pentasarufannya untuk kepentingan para penguasa untuk mempertahankan kekuasaannya. bahkan dalam tarif yang begitu tinggi. dana pajak yang semestinya diprioritaskan pentasarufannya untuk memperkuat yang lemah. lebih-lebih kenegaraan modern.Memang ada drama yang menarik. sekurang-kurangnya dalam tingkat verbal. jelas merupakan persoalan yang tetap serius bagi ide pemerataan dan keadilan. dan bisa mengelabui banyak orang. So. Dan kepentingan mereka (negara-negara Barat). Sementara di Barat yang liberal-kapitalistik.

Pekerjaan ini berat dan memakan waktu. dengan meyakinkan masyarakat akan pentingnya kontrol sosial (amar ma'ruf nahi munkar) secara terus menerus. betapa pun konyolnya tidaklah mungkin dihindari.atau pengingkaran Isa as. "Biarlah badan itu tetap ada dan tumbuh dengan kewajarannya. dengan sadar telah membangun lembaga itu. -------------------------------------------Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah Editor: Budhy Munawar-Rachman Penerbit Yayasan Paramadina Jln. Metro Pondok Indah Pondok Indah Plaza I Kav. agar keberadaan lembaga negara itu tetap sebagai alat. (021) 7501969. apalagi dalam pengertian yang lebih luas sebagai lembaga permufakatan kolektif. (021) 7507174 Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota Please direct any suggestion to Media Team Konsep dasar dalam al qur. Memang untuk menegakkan keadilan sosial dalam semangat dan kerangka zakat. Dari sudut konsepsi zakat. harus ditransformasikan terlebih dahulu. Konsepsi tentang ajaran zakat (dan pada akhirnya tentang bangunan fiqh secara keseluruhan) yang sudah terlanjur mendogma di kalangan umat selama lebih dari sepuluh abad.yang pernah menyarankan jalan keluar agar badan itu dimusnahkan saja daripada diperalat oleh nafsu-nafsu negatif yang melekat padanya Yang paling sehat dan fitri (Islami) tentulah pendirian yang mengatakan. lembaga kenegaraan itu beliau bangun dengan kewaspadaan penuh. tak lebih hanyalah mitos belaka. apalagi keadilan. Seperti halnya badan (kecil). Sebagian orang mungkin merasa lebih aman dalam dekapan dogma lama ketimbang harus berspekulasi dengan pamahaman ajaran yang "baru. Tapi dengan bercokolnya nafsu-nafsu itu pada badan. melainkan bagi kepentingan seluruh rakyat yang ada dalam otoritasnya. Mengingkari lembaga negara untuk semangat (ruh) kolektivitas manusia hukumnya sama belaka dengan mengingkari badan bagi ruh individualitas manusia.an( rasif) . Bahkan beliau sendiri dengan komunitasnya. ada pekerjaan rumah (PR) yang harus diselesaikan lebih dahulu." Tapi tanpa keberanian moral dan intelektual untuk melakukan perubahan itu." Demikianlah Muhammad Rasulullah sebagai teladan umat manusia tak perlu menyatakan penolakan terhadap keberadaan lembaga negara. Tapi dengan pengawasan atau kontrol yang terus menerus jangan sampai jatuh dan diperalat oleh nafsu-nafsu jahat yang mengitarinya. kedudukan negara atau kekuasaan pemerintahan adalah amil yang harus melayani kepentingan segenap rakyat. 7501983. negara sebagai badan besar pun mengidap nafsu-nafsu (interests) negatif duniawi yang selalu cenderung memperalat dirinya. bukan bagi kepentingan penguasa atau kalangan kaya. Negara. tak seorang pun --kecuali langka. terhadap lembaga itu rasa-rasanya tak realistik. maka pengkaitan ajaran Zakat dengan cita pemerataan. dengan membebaskan kemaslahatan (keadilan dan kesejahteraan) bagi semuanya. 7507173 Fax. UA 20-21 Jakarta Selatan Telp. kalau pun ada-. Tapi inilah kuncinya.

sedangkan yang kedua meyangkut bidang furu'iyah (detail atau cabang). hanya ingin dikatakan bahwa pemakaian istilah teologi mempunyai alasan cukup kuat. Hal ini tidaklah dimaksudkan untuk menolak pemakaian kata teologi itu. Sebab pemungutan suatu istilah dari khazanah dan tradisi agama lain tidaklah harus dipandang sebagai sesuatu yang negatif. keduanya baik ilmu kalam atau ilmu tauhid maupun ilmu fiqih pada dasarnya adalah fiqih atau pemahaman yang tersistematisasikan. Dengan menyinggung masalah ini. Melalui kategori-kategori yang dirumuskan sebagai hukum akal itu. mustahil dan harus.mengenal atau pernah diberi pelajaran ilmu tauhid. tapi justru tentang aqidah yang menjadi obyek bahasan ilmu kalam atau tauhid. menulis buku al-fiqh-u 'l-akbar yang isinya bukan tentang ilmu fiqih. Biasanya. yaitu dari khazanah dan tradisi Gereja Kristiani. bagaimana sebaiknya kita memahami dan kemudian menghayati ide tauhid itu dalam kehidupan kita sebagai muslim? Dalam pengalaman kita --sekurang-kurangnya sebagian dari kita-. Yang pertama. Kata teologi sebagaimana dijelaskan dalam Encyclopaedia of Religion and Religions berarti "ilmu yang membicarakan tentang Tuhan dan hubungan-Nya dengan alam semesta. Imam Abu Hanifah. pertama-tama kita diperkenalkan dengan apa yang disebut sebagai "hukum akal. kita diajak memahami tentang konsep ketuhanan dan kenabian. Boleh jadi. Maka kita pun mengetahui sifat-sifat Tuhan dan Nabi-nabi.Artikel Yayasan Paramadina Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota II. sebab ia membantu kita memahami Islam secara lebih utuh dan lebih terpadu. Kita tentu sepakat bahwa ide sentral dalam teologi al-Qur'an adalah ide tauhid. Bapak ilmu fiqih. Pertanyaan yang perlu kita munculkan. menyangkut bidang ushuliyah (tentang yang prinsip atau yang pokok). misalnya. Sebab. dan bukan hanya dengan ilmu kalam atau ilmu tauhid. baik yang dikategorikan sebagai sifat-sifat yang wajib. ilmu fiqih seperti yang berkembang sekarang ini dalam kerangka pemikiran Imam Abu Hanifah adalah al-fiqh-u 'l-ashghar. Ia istilah yang diambil dari agama lain. namun seringkali diperluas mencakup keseluruhan bidang agama. dalam mempelajari ilmu tersebut." Dalam pengertian ini agaknya perkataan teologi lebih tepat dipadankan dengan istilah fiqih. melainkan istilah fiqih seperti yang pernah digunakan sebelum ilmu fiqih lahir. Masalah-masalah lain seperti kepercayaan tentang . Akan tetapi perjalanan sejarah dan tradisi keilmuan Islam telah menyingkirkan pengertian fiqih sebagaimana dipergunakan Imam Abu Hanifah. dari yang sangat tradisional hingga yang termasuk modern seperti buku Risalah Tawhid karya Muhammad Abduh.5." Hal ini bisa kita baca dalam buku-buku ilmu tauhid. Istilah fiqih di sini bukan dimaksudkan ilmu fiqih sebagaimana kita pahami selama ini. apalagi jika istilah tersebut bisa memperkaya khazanah dan membantu mensistematisasikan pemahaman kita tentang Islam. sifat-sifat yang mustahil maupun sifat-sifat yang harus. Pijakan tulisan ini tentang teologi al-Qur'an. KONSEP-KONSEP TEOLOGIS oleh Djohan Effendi Perkataan teologi tidak berasal dari khazanah dan tradisi agama Islam. yakni: wajib.

Ia tidak melahirkan innerforce (kekuatan batin). Kebanyakan dari kita tentu tidak akrab dengan istilah-istilah atau konsep -konsep tersebut. Salbiyah. Dengan mengemukakan hal itu ingin diturunkkan betapa jauhnya teologi yang dibahas dalam buku-buku ilmu tauhid dengan dunia praktis. 7:138. atau penyembahan makhluk halus atau manusia yang dipertuhan. misalnya penyembahan benda-benda langit seperti matahari. ma'ani dan sifat ma'nawiyah. Berkenaan dengan penyembahan berhala. 6:102. Teologi semacam itu adalah teologi yang steril dan mandul." Dalam membahas sifat dua puluh itu. yang selama ini dikenal sebagai "sifat dua puluh. Ia tidak mempunyai relevansi dengan realitas kehidupan kita. 4:117). ta'alluq shuluhi qadim. ta'alluq hukmiyah. 19:82-92. terutama ketika membicarakan sifat-sifat Tuhan. Al-Qur'an mengemukakan dua ciri utama dari kemusyrikan. 41:37) atau benda-benda mati lainnya (QS. dan kedua. yakni. Lebih-lebih kalau kita memasuki pembahasan yang lebih rumit." Dan memang al-Qur'an sendiri menyinggung bahkan mengecam orang-orang yang menjadikan berhala sebagai ilah atau sesembahan (QS. seperti dilakukan para penganut agama-agama "pagan. Teologi semacam itu tidaklah membuahkan elan vital (gairah hidup). pertama. bukanlah persoalan yang masih memerlukan perhatian lebih banyak. dengan problematika kemanusiaan. 4:171. Jelas sekali pembahasan tentang teologi sebagaimana terdapat dalam ilmu tauhid sangat intelektualistik sifatnya. ta'allaq tanjizi qadim. Juga dikemukakan pembahasan tentang kaitan atau ta'alluq sifat-sifat Tuhan dengan alam ini. Kedua ciri utama itu wujud dalam berbagai bentuk manifestasi. moral maupun spiritual. dan muncullah konsep-konsep tentang ta'alluq ma'iyah. 16:57. menganggap Tuhan mempunyai syarik atau sekutu. Selain berhala al-Qur'an juga mengemukakan hal-hal lain yang bisa dijadikan obyek sesembahan selain Tuhan. ada baiknya bila kita memahami apa-apa yang oleh al-Qur'an dianggap sebagai syirik atau kemusyrikan. 6:101) atau tokoh-tokoh yang dipertuhan atau dianggap mempunyai unsur-unsur ketuhanan (QS. yang membuat kita bergairah dalam aksi untuk membebaskan diri kita dan masyarakat sekitar kita dari segala bentuk kemusyrikan. ta'alluq ta'tsir. 6:74. 21:52).malaikat. ta'alluq tanjizi hadits. Kalau kita mendengar perkataan syirik atau kemusyrikan yang segera terbayang dalam angan-angan kita biasanya penyembahan berhala. hari akhirat maupun qadla dan qadar. adalah kelanjutan atau pelengkap dari kepercayaan terhadap Tuhan dan Kenabian tersebut. kiranya dari segi keberagamaan kita sebagai muslim. Pembahasan tentang dan di sekitar hal-hal inilah yang selama ini disebut sebagai ilmu tauhid. muncul berbagai konsep seperti sifat nafsiyah. Akan tetapi masalah . ta'alluq bi 'l-quwwah. BENTUK-BENTUK KEMUSYRIKAN Dalam memahami ide tauhid. kitab-kitab wahyu. Juga disinggung adanya penyembahan makhluk halus seperti jin (QS. 17:40 dan 37:49). benda-benda langit atau benda-benda mati lainnya. bulan dan bintang (QS. menganggap Tuhan mempunyai andad atau saingan. 5:116. Masalahnya sangat jelas dan karena itu menghindarinya pun sangat mudah.

Khususnya berkaitan dengan kekayaan. (6) Surah al-Humazah. Pada masa periode Mekkah awal terdapat 48 surah yang diwahyukan kepada Nabi Muhammad saw. 2:165). (3) Surah al-Lahab. (7) Surah al-Ma'un. Suatu hal yang sangat menggoda untuk direnungkan adalah. benda dan lembaga. Yang ada malah kecaman terhadap keserakahan dan ketidakpedulian sosial. bukan dalam bentuk penyembahan melainkan dalam bentuk kecintaan (QS. aliran atau juga organisasi yang berlebih-lebihan (QS. usaha atau bussiness kita.kemusyrikan tidak berhenti sampai di situ saja. baik pandangan maupun sikapnya.)." yaitu hawa nafsu kita sendiri (QS. menunjukkan bahwa masalah kemusyrikan bukanlah sesuatu yang sederhana. Kebertauhidan tidak hanya menyangkut kepercayaan kita terhadap Tuhan Yang Maha Esa tetapi juga menyangkut pandangan dan sikap kita terhadap manusia. 9:31) atau sikap fanatisme golongan. 9:24). kekayaan. Hubungan manusia dengan benda. Al-Qur'an masih mengemukakan hal-hal lain yang berkaitan dengan masalah kemusyrikan. Ia sangat terkait dengan hal-hal yang sangat praktis. Hal-hal lain yang oleh al-Qur'an dijadikan contoh sebagai saingan Tuhan dalam kaitannya dengan kecintaan kita adalah keluarga dan kerabat dekat kita. Di sini hanya diambil 12 surah paling awal saja. Berbagai bentuk manifestasi kemusyrikan tersebut. sebab surah yang ke-13 adalah Surah al-Dhuha. (9) Surah al-Fil.). (2) Surah al-Mudatstsir. dan (12) Surah al-Insyirah.). Selain itu masih ada satu hal lagi yang oleh al-Qur'an disebutkan sebagai "sesuatu yang bisa menjadi ilah atau sesembahan kita. mendapat sorotan yang sangat tajam dalam al-Qur'an. terutama berkaitan dengan ciri kemusyrikan yang menempatkan adanya andad atau saingan terhadap Tuhan. (4) Surah al-Quraysy. (10) Surah al-Layli. KESERAKAHAN DAN KETIDAKPEDULIAN SOSIAL Berangkat dari berbagai bentuk manifestasi kemusyrikan yang disebutkan al-Qur'an di atas. yakni: (1) Surah al-'Alaq. 30:31-32).25:43). 23:52-53. justru pada surat-surat atau ayat-ayat yang diwahyukan di masa-masa permulaan kenabian Muhammad saw tidak terdapat kecaman terhadap penyembahan berhala. sebagaimana dikemakakan al-Qur'an. Beberapa mufassir menceriterakan bahwa Surah al-Dhuha turun sesudah Nabi mengalami masa jeda di mana wahyu . karena itu usaha kita menjadi orang yang benar-benar bertauhid bukanlah masalah yang mudah. dan rumah-rumah mewah kita (QS. (5) Surah al-Kawtsar. kita bisa sampai pada kesimpulan bahwa teologi al-Qur'an tidak sekedar terbatas pada aspek kepercayaan saja. (8) Surah al-Takatsur. Dalam kategori ini bisa dimasukkan juga sikap ketaatan yang sama sekali tanpa reserve terhadap ulama (QS. (11) Surah al-Balad. tahap Mekkah pertengahan (616-617) dan tahap Mekkah akhir (618-622 M. Hal ini menarik dan perlu untuk dikaji lebih jauh. Periode Mekkah sendiri juga dibagi dalam tiga tahap. yang lebih halus sifatnya. Untuk memperjelas hal ini ada baiknya bila lebih dahulu dikemukakan tentang periodisasi turunnya al-Qur'an.) dan periode Madinah (622-632 M. tahap Mekkah awal (610-615 M. Sengaja hanya diambil 12 surah di atas. Seperti kita ketahui masa turunnya al-Qur'an dibagi dalam dua priode: periode Mekkah (610-622 M.

Pada anak yatim yang punya tali kekerabatan. Tapi tak mau ia menempuh jalan mendaki. Atau orang papa yang terlunta-lunta.terhenti beberapa lama. Ke-12 surah tersebut sama sekali tidak menyinggung masalah penyembahan berhala. Surah al-Ma'un. Dalam Surah al-Lahab. Tahukah engkau orang yang membohongkan agama Itulah dia yang mengusir anak yatim. Atau memberi makanan di masa kelaparan. orang-orang yang tidak mempedulikan penderitaan anak-anak yatim dan orang-orang miskin dikualifikasikan sebagai orang-orang yang membohongkan agama. Dalam surah yang turun berikutnya. Dan membenarkan nilai kebaikan Kami akan memudahkan baginya jalan kebahagiaan. Surah berikutnya yang turun dalam urutan ke-8. disinggung bahwa harta kekayaan dan usaha seseorang sama sekali tidak akan menyelamatkannya dari hukuman di Hari Akhirat. Dan tidak menganjurkan memberi makan orang-orang miskin. Hingga kalian masuk ke pekuburan. Ia menyangka harta kekayaannya bisa mengekalkannya. Karena itu ke-12 surah di atas turun atau diwahyukan kepada Nabi pada masa-masa sangat awal dari kenabian. atau dari sejarah Islam. dengan keras mengingatkan akan nasib celaka bagi mereka yang dengan serakah menumpuk-numpuk kekayaan dan menganggap kekayaannya itu bisa mengabadikannya. Yang menumpuk-numpuk harta kekayaan dan menghitung-hitungnya. menyinggung keengganan manusia memberikan bantuan kepada sesamanya yang hidup dalam penderitaan dan kesengsaraan. Kalian menjadi lalai karena perlombaan mencari kekayaan. Dan siapa yang kikir dan menyombongkan kekayaan. Celaka amat si pengumpat si pemfitnah. . Tahukah engkau jalan mendaki itu. kemegahan dan Dalam Surah al-Layli yang diwahyukan dalam urutan ke-10 diberikan kabar baik terhadap mereka yang suka memberi dan sebaliknya kabar buruk bagi mereka yang kikir dan bakhil. Tidak berguna baginya kekayaannya. Memerdekakan budak sahaya. dan apa yang dikerjakannya! Akan dibakar ia dalam api menyala Surah al-Humazah. Dan tiada berguna baginya kekayaannya ketika ia binasa. yang turun dalam urutan ke-6. Enam surah di antaranya justru menyinggung masalah keserakahan terhadap kekayaan dan ketidakpedulian terhadap orang-orang yang menderita. Maka siapa yang suka memberi dan bertaqwa. Surah al-Takatsur. memberikan peringatan keras terhadap orang-orang yang asyik berlomba-lomba dalam kemewahan dan kekayaan. Dan Kami tunjuki ia dua jalan. yang turun dalam urutan ke-3. Dan mendustakan nilai kebaikan Kami akan mudahkan baginya jalan kesengsaraan. Yang terakhir Surah al-Balad yang diwahyukan dalam urutan ke-11.

(021) 7507174 Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota Please direct any suggestion to Media Team Artikel Yayasan Paramadina Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota II. Dengan perkataan lain apapun profesi kita. dalam al-Qur'an masalah kekayaan. keserakahan dan ketidakpedulian sosial dengan cita-cita tentang reformasi sosial yang dilandasi semangat mewujudkan kehidupan yang penuh rahmah itu? Kaitannya sangat jelas. keserakahan dan ketidakpedulian sosial mendapat sorotan tajam pada masa yang sangat awal dari kenabian Muhammad. Ia langsung menyangkut kebertauhidan kita. REFORMASI SOSIAL Kalau kita renungkan mengapa masalah kekayaan. Pertanyaan yang mungkin timbul. Anjuran Nabi agar kita selalu memulai kegiatan dan kerja kita dengan ucapan "Bismillahirrahmanirrahim" (bism-i 'l-Lah-i 'l-rahman-i 'l-rahim). Dengan perkataan lain. memberikan suatu isyarat kepada kita agar kita menjadikan diri kita sebagai perwujudan dari nilai-nilai rahmah itu bagi sesama makhluk Tuhan. motivasi dan orientasi kita tidak boleh bergeser dari ide untuk menciptakan --atau setidak-tidaknya menjadi bagian dari proses menciptakan-suatu tata kehidupan yang dilandasi nilai-nilai rahmah itu.Pesan-pesan al-Qur'an di atas. -------------------------------------------Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah Editor: Budhy Munawar-Rachman Penerbit Yayasan Paramadina Jln.6. UA 20-21 Jakarta Selatan Telp. Ia memperlihatkan betapa. Itulah prioritas utama yang digumuli Nabi dalam usaha mewujudkan reformasi sosial. Hal ini bisa kita kaitkan dengan penegasan al-Qur'an yang mengatakan bahwa Muhammmad diutus tidak lain kecuali dalam rangka membawa rahmat bagi seluruh alam (QS. Ia tidak sekedar masalah etik dan moral. bagaimana kaitan antara sorotan tajam terhadap kekayaan. 21:107). yang diwahyukan justru di masa yang sangat awal dari kenabian. sangat jelas dan sama sekali tidak memerlukan penafsiran. mungkin kita bisa menarik kesimpulan bahwa Risalah Nabi kita terutama untuk mengadakan reformasi sosial. Metro Pondok Indah Pondok Indah Plaza I Kav. 7501983. 7507173 Fax. (021) 7501969. pertama-tama oleh distribusi kekayaan yang adil. bahwa keserakahan dan ketidakpedulian sosial adalah yang menimbulkan suatu kehidupan yang tidak disemangati nilai-nilai rahmah. Karena itu reformasi sosial mestilah ditandai. misi utama Nabi Muhammad saw adalah membantu manusia mewujudkan tata kehidupan yang disemangati nilai-nilai rahmah. KONSEP-KONSEP KOSMOLOGIS (1/2) . keserakahan dan ketidakpedulian sosial mempunyai perspektif teologis.

kita dapat menelaah ayat-ayat berikut. Mengingat hal-hal tersebut di atas. tidak ada lagi sesuatu yang lebih besar daripadanya. Dapat kita lihat dalam kasus ini bahwa konsep kosmologis dalam al-Qur'an. Ia merasa yakin bahwa persepsinya mengenai langit itulah yang sesuai dengan apa yang dapat diamati setiap hari. [1] dan ardh [2] itu dahulu sesuatu yang padu. Dan itu tidaklah benar. ciptaan Tuhan di seluruh jagad raya ini secara jelas disebutkan sebagai "ayat-ayat Allah". sebagai bandingan. yang dikemukakan orang itu sangatlah sederhana. kemudian kami pisahkan keduanya (QS. terdapat ayat-ayat Allah bagi orang-orang yang berakal (dapat menalar). dan seluruh langit itu berputar-putar dalam satu hari (siang dan malam). setelah ia sekian lama terhampar di permukaan bumi seperti layaknya sebuah tenda yang belum dipasang.dengan menggunakan ayat-ayat lain di dalam kitab suci tersebut. maka sebagai padanan untuk mendapatkan arti ayat-ayat al-Qur'an yang menyangkut al-Kaun dapat digunakan juga ayat-ayat Allah yang berada di dalam alam semesta ini. Untuk memberikan contoh yang nyata. Namun. al-Anbiya': 30. Pada hemat saya. Bola ini dikatakan mewadahi seluruh ruang alam dan segala sesuatu yang berada di dalamnya. serta silih bergantinya malam dan siang. mengenai penciptaan alam semesta. Dan sama' itu kami bangun dengan kekuatan dan sesungguhnya kamilah yang meluaskannya (QS. Apa yang kiranya dapat kita harapkan dari orang ini andaikata ia diminta memberikan penafsiran (bukan sekadar salinan kata-kata) ayat-ayat tersebut? Tentu saja ia akan memberikan interpretasi yang sesuai dengan persepsinya tentang langit. Dan tidakkah orang-orang kafir itu mengetahui bahwa agama sama. tergantung pada pengetahuan mufassir tentang alam semesta itu sendiri.oleh Achmad Baiquni Telah banyak kitab yang ditulis ulama masyhur untuk menafsirkan ayat-ayat suci al-Qur'an --yang merupakan garis-garis besar ajaran Islam itu-. sesuatu konsepsi mengenai alam semesta yang benar harus dapat . Dan pada dindingnya tampak menempel bintang-bintang yang gemerlapan di malam hari. serta ardh yaitu bumi yang datar yang dikurung oleh bola langit. kapan pun juga. pengertiannya ialah bahwa langit itu adalah sebuah bola super raksasa yang panjang radiusnya tertentu. karena konsepsinya tidak mampu mengakomodasikan gejala yang dinyatakan ayat 4 surah al-Dzariyat. yang berputar mengelilingi sumbunya. Dan mungkin sekali ia akan mengatakan bahwa ayat 30 surah al-Anbiya' itu melukiskan peristiwa ketika Tuhan menyebutkan langit menjadi bola. dalam al-Qur'an sendiri. Sesungguhnya dalam ciptaan langit dan bumi. Sebuah langit yang berbentuk bola dengan jari-jari tertentu bukanlah langit yang bertambah luas. Bintang-bintang tampak tidak berubah posisinya yang satu terhadap yang lain. misalnya dalam surah 'Ali Imran 190 disebut. Seseorang yang hidup dalam abad 9 M akan mengatakan bahwa kata sama' artinya langit. al-Dzariyat: 47). dan dengan Sunnah Rasul sebagai penjelasan. Karenanya. Apalagi kalau ia melingkupi seluruh ruang kosmos beserta isinya. maka tidaklah mengherankan apabila ketetapan dalam penafsiran ayat-ayat al-Qur'an yang berisi konsep-konsep Kauniyah sangat bervariasi.

ketika ia berjalan sangat cepat. Serta dalam ayat 190 dan 191 surah Ali Imran. bagaimana ia diciptakan. (QS. Jelaslah di sini bahwa sains adalah hasil konsensus di antara para pakar. Untuk mendapatkan konsepsi yang benar itu pada hakekatnya telah diberikan petunjuk sang pencipta misalnya dalam ayat 101 surah Yunus. mental dan spiritual yang bukan Islam. kiranya perlu kita pertanyakan apakah benar konsep kosmologi yang berkembang dalam sains itu sejalan dengan apa yang terdapat dalam al-Qur'an. yang menyangkut proses-proses alamiah di langit itu. tiadalah Engkau ciptakan ini dengan sia-sia. maka muncullah di lingkungan umat Islam suatu kegiatan observasional yang disertai dengan pengukuran.dipergunakan untuk menerangkan semua peristiwa yang dilukiskan ayat-ayat dalam kitab suci. . Katakanlah (wahai Muhammad). wahai Tuhan kami. Penalaran tentang "bagaimana" dan "mengapa". Maha suci Engkau. Mari kita kaji sambil menelusuri perkembangan ilmu kealaman sejak akhir abad 19 hingga akhir abad 20. sehingga sejak itu sains tumbuh dalam kerangka acuan budaya. (QS. Penerapan metode ilmiah ini. Dengan diikutinya perintah dan petunjuk ini. ia harus sesuai dengan konsep-konsep kosmologis dalam al-Qur'an. Yunus: 101). Ali Imran: 190 dan 191). [3] Dia mengajar manusia apa yang tidak diketahuinya. yang terdiri atas pengukuran teliti pada observasi dan penggunaan pertimbangan yang rasional. serta silih bergantinya siang dan malam. dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah. Yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk. menyebabkan timbulnya cabang baru dalam sains yang dinamakan astrofisika. 4 dan 5 surah al-'Alaq. telah mengubah astrologi menjadi astronomi. yang mengajar dengan qalam. al-Ghasyiyah: 1 dan 18). maka peliharalah kami dari siksa azab neraka. Sebab obor pengembangan ilmu telah mulai berpindah tangan dari umat Islam kepada para cendekiawan bukan Islam sejak pertengahan abad ke 13 sampai selesai dalam abad 17. terdapat ayat-ayat bagi orang-orang yang berakal (dapat menalar). Sesungguhnya dalam penciptaan sama' dan ardh. dan pikirkan tentang penciptaan sama' dan ardh. seperti yang berkembang di lingkungan Yunani. Kita ingat ayat 3. Dan sama'. Dalam teguran ayat 1 dan 18 dalam surah al-Ghasyiyah. Perhatikanlah dalam intighon apa yang ada di sama' dan di ardh (QS. jauh melampaui kelajuannya dalam abad-abad sebelumnya. sedangkan dalam fase-fase lain menghasilkan kesimpulan yang sehaluan dengannya. dan yang memiliki nilai-nilai tak Islami. yang bersama-sama astronomi membentuk konsep-konsep kosmologi. sehingga ilmu tidak lagi bersifat kontemplatif belaka. sejalan dengan kecanggihan instrumentasi yang dipergunakan dalam observasi dan matematika sebagai sarana komputasi. Maka apakah mereka itu tak memperhatikan onta-dalam intighon. tapi mempunyai ciri empiris sehingga tersusunlah dasar-dasar sains. Bacalah. Karena telah menjadi kebiasaan para pakar menulis hasil penelitian orang lain. Meskipun ilmu pengetahuan keislaman ini tumbuh sebagai akibat dari pelaksanaan salah satu perintah agama. maka tersusunlah himpunan rasionalitas kolektif insani yang kita kenal sebagai sains. Kita akan menemukan bahwa pada tahap-tahap tertentu ia tampak tidak sesuai dengan ajaran agama kita. atau dalam keadaan berbaring. bagaimana ia ditinggikan.

Datanglah kalian mematuhi-Ku dengan suka atau terpaksa. lalu Dia berkata kepadanya dan kepada ardh. Ia akan mengatakan. Dari uraian di atas bahwa konsep kosmologi sains pada abad ke 19 gagal total dan sama sekali tak mampu menerangkan apa yang terkandung dalam dua ayat tersebut di atas. bahwa bintang-bintang di langit jaraknya dari bumi tidak sama. Kita dapat juga mengemukakan beberapa ayat lainnya sebagai berikut. sebagian diikuti satelitnya. Dan kita akan melihat sepanjang pertumbuhan sains selanjutnya bahwa ide-ide semacam ini. Dalam pada itu Dia mengarah pada penciptaan sama'. al-Thalaq: 12) Allah-lah yang menciptakan sama' dan ardh dan apa yang ada di antara keduanya dalam enam hari. Padahal mereka baru merupakan sebagian saja dari ayat-ayat al-Qur'an yang berisi konsep-konsep kosmologi. dan sungguh jika keduanya akan lenyap dan tak ada siapa pun . selalu timbul-tenggelam. dan ada bintang-bintang kembar dan gerombolan-gerombolan bintang dalam galaksi kita yang disebut Bimasakti. Lebih dari itu bahkan bertentangan dengan ajaran agama kita. dan Kami memeliharanya. tak lagi akan mengatakan. maka saya selalu menganjurkan agar umat Islam yang ingin mengejar ketinggalan mereka dalam sains dan teknologi akhir-akhir ini bersiap-siap mengadakan langkah-langkah pengamanan dengan meng-Islamkan sains. (QS. sebab alam semesta yang tak terbatas dan tak berhingga besarnya. dianggap tak berawal dan tidak berakhir. ada pun Arsy-Nya telah tegak pada ma' [6] untuk menguji siapakah di antara kalian yang lebih baik amalnya (QS. Sudah tentu konsep kosmologi sains abad yang lalu ini tidak sesuai dengan konsep al-Qur'an. yang mengandung konsepsi tentang alam yang langgeng. al-Sajadah:4) Dan Dialah yang telah menciptakan sama' dan ardh dalam enam hari. karena tak dapat mengakomodasi peristiwa yang: dilukiskan ayat 30 surah al-Anbiya' dan ayat 47 surah al-Dzariyat. dan kami hiasi langit dunia dengan pelita-pelita. dan Dia mewahyukan kepada tiap sama' peraturannya masing-masing. keduanya menjawab: kami datang dengan taat (QS. (Karena itu.Seseorang yang hidup pada akhir abad 19. Hud: 7) Sesungguhnya Allah menahan sama' dan ardh agar jangan lenyap. ada sejak dulu dan akan ada seterusnya. langit adalah ruang jagad-raya. sehingga sains kembali dapat berkembang dalam kerangka sistem nilai yang Islami). Karena konsep kosmologi yang berlaku waktu itu berasal dari Newton. demikianlah ketentuan Yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui. dan pada waktu itu pula bersemayam di arsy-Nya [5] (QS. ia akan mengatakan juga bahwa bola super besar yang mewadahi seluruh ruang kosmos itu tidak ada sebab baginya ruang jagad-raya ini tak berhingga besarnya dan tidak mempunyai batas. langit itu sebuah bola super raksasa. yang di dalamnya terdapat bintang-bintang. yang telah mengetahui melalui kegiatan sainsnya. dan ia penuh dukhon [4]. Fushshilat: 11) Maka Dia menjadikannya tujuh sama' dalam dua hari. Fushshilat: 12) Allah-lah yang telah menciptakan tujuh sama' dan ardh seperti itu pula (QS. dan bahkan mampu mengukur jarak itu dan mengatakan berapa massanya.

al-Anbiya': 104) Sekarang mari kira cari pengertian yang terdapat dalam ayat itu. Hal ini mengingatkan orang pada pacuan kuda. tidak sulit untuk menghitung kapan mereka itu mulai berlari. kuda yang paling laju akan berlari paling depan. Karena kelajuan dan jarak masing-masing galaksi dari bumi diketahui.yang dapat menahan keduanya itu selain Allah. Jadi konsep dentuman besar terpaksa dikoreksi yaitu bahwa keberadaan alam semesta ini diawali oleh ledakan maha dahsyat ketika tercipta ruang-waktu dan energi yang keluar dari singularitas dengan suhu yang tak terkirakan tingginya. Apa yang akan dikatakan oleh seorang kosmolog atau seorang fisikawan abad 20. jika ia ditanya tentang konsep kosmologi sains yang mutakhir yang dihasilkan penelitian para pakar? Secara garis besar. Fathir: 41) Pada hari Kami gulung sama' seperti menggulung lembaran tulis. Sebab konsepsinya tentang alam semesta memang salah hingga tidak cocok dengan apa yang ada dalam al-Qur'an. sebab elektron-elektron yang berasal dari masing-masing atom telah menyatu dengan protonnya dan membentuk neotron sehingga tak ada gaya tolak listrik antara masing-masing elektron dan antara masing-masing proton. Pada tahun 1952 Gamow berkesimpulan bahwa galaksi-galaksi di seluruh jagad-raya yang cacahnya kira-kira 100 milyar dan masing-masing rata-rata berisi 100 milyar bintang itu pada mulanya berada di satu tempat bersama-sama dengan bumi. sebab gaya gravitasi gumpalan itu akan begitu besar sehingga ia akan teremas menjadi sangat kecil. peristiwa inilah yang kemudian terkenal sebagai "dentuman besar" (big bang). Lebih kecil dari bintang pulsar yang jari-jarinya hanya sebesar 2 sampai 3 kilometer dan massanya kira-kira 2 sampai 3 kali massa sang surya. jawabnya kira-kira sebagai berikut: Konsepsi mengenai alam semesta ini sebenarnya mulai mengalami perubahan sejak tahun 1929 ketika Hubble melihat dan yakin bahwa galaksi-galaksi di sekitar Bimasakti menjauhi kita dengan kelajuan yang sebanding dengan jarak dari bumi. yang lebih jauh kecepatannya lebih besar. sesungguhnya Kamilah yang akan melaksanakannya (QS. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penyantun dan Maha Pengampun (QS. Sudah barang tentu gumpalan sebesar itu tak pernah bergelimpangan di ruang kosmos. Materi yang sekian banyaknya itu terkumpul sebagai suatu gumpalan yang terdiri dari neotron. sebagaimana Kami telah mulai awal penciptaan. sehingga dalam sains terdapat istilah alam yang mengembang (expanding universe). meski ia seorang pakar yang ulung sekali pun. Kita telah melihat dari contoh-contoh yang diberikan. begitulah Kami akan mengembalikannya. Gumpalan ini berada dalam ruang alam dan tanpa diketahui sebab musababnya meledak dengan sangat dahsyat sehingga terhamburlah materi itu ke seluruh ruang jagad-raya. sekitar 15 milyar tahun yang lalu. Gambarkan saja dalam angan-angan. . dan bahkan lebih kecil dari lobang hitam (black hole) yang massanya jauh melebihi pulsar dan jari-jarinya menyusut mendekati ukuran titik. berapa besar kepadatan materi dalam titik yang volumenya nol itu jika seluruh massa 100 milyar kali 100 milyar bintang sebesar matahari dipaksakan masuk di dalamnya! Inilah yang biasa disebut sebagai singularitas. itulah janji yang akan kami tepati. bahwa dengan bekal pengetahuan abad 19 saja seseorang tak mungkin memahaminya.

Pada saat pengembunan tersentak. dan selurnh kosmos terdorong membesar dengan kecepatan luar biasa selama waktu 10-32 sekon.(bersambung 2/2) Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah Editor: Budhy Munawar-Rachman Penerbit Yayasan Paramadina Jln. 7501983. sehingga suhunya merendah melewati 1.6. pada saat itu .-------------------------------------------. (021) 7507174 Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota Please direct any suggestion to Media Team Artikel Yayasan Paramadina Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota II. Vakum yang mempunyai kandungan energi yang luarbiasa besarnya serta tekanan gravitasi yang negatif ini menimbulkan suatu dorongan eksplosif keluar dari singularitas. Baru setelah umur alam mencapai 700. terjadilah gejala "lewat dingin".000 trilyun-trilyun derajat. Metro Pondok Indah Pondok Indah Plaza I Kav. berapa? duakah? tigakah? atau berapa? para ilmuwan tidak tahu. tidak perlu aturannya sama dengan apa yang ada di alam kita ini. (021) 7501969. Pada saat itu suhu kosmos adalah sekitar 100 milyar derajat dan campuran partikel dan radiasi yang sangat rapat tetapi bersuhu sangat tinggi itu lebih menyerupai zat-alir daripada zat padat sehingga para ilmuwan memberikan nama "sop kosmos" kepadanya Antara umur satu sekon dan tiga menit terjadi proses yang dinamakan nukleosintesis. karena ekspansinya. Tatkala alam mendingin. Dan masing-masing alam dapat mempunyai hukum-hukumnya sendiri. Ekspansi yang luar biasa cepataya ini menimbulkan kesan-kesan alam kita digelembungkan dengan tiupan dahsyat sehingga ia dikenal sebagai gejala inflasi.000 trilyun-trilyun derajat. KONSEP-KONSEP KOSMOLOGIS (2/2) oleh Achmad Baiquni Para pakar berpendapat bahwa alam semesta tercipta dari ketiadaan sebagai goncangan vakum yang membuatnya mengandung energi yang sangat tinggi dalam singularitas yang tekanannya menjadi negatif. yang berakibat terhentinya inflasi. ada kemungkinan bahwa tidak hanya satu alam saja yang muncul.000 tahun elektron-elektron masuk dalam orbit mereka sekitar inti dan membentuk atom sambil melepaskan radiasi. namun tatkala umur alam mendekati seper-seratus sekon. tidak terjadi secara serentak. dalam periode ini atom-atom ringan terbentuk sebagai hasil reaksi fusi-nuklir. pada umur 10-35 sekon. keluarlah energi yang memanaskan kosmos kembali menjadi 1. tetapi beberapa alam. Jenis materi apa yang muncul pertama-tama di alam ini tidak seorang pun tahu. Karena materialisasi dari energi yang tersedia. maka di lokasi-lokasi tertentu terdapat konsentrasi materi yang merupakan benih galaksi-galaksi yang tersebar di seluruh kosmos. isinya terdiri atas radiasi dan partikel-partikel sub-nuklir. Selama proses inflasi ini. 7507173 Fax. UA 20-21 Jakarta Selatan Telp.

Kalau semua yang telah dirintis secara matematis ini mendapatkan pembenaran dari eksprimen atau observasi di alam luas. entropinya besarnya tidak terhingga. karena "tergulung" dengan jarij-ari 10-32 sentimeter yang bermanifestasi sebagai muatan listrik dan muatan nuklir. ketika gagasan Gamow tentang dentuman besar yang menjurus pada konsep alam semesta yang berawal dikumandangkan beberapa kosmolog yang dipelopori Hoyle mengajukan tandingan yang dikenal sebagai kosmos yang mantap (steady state universe) yang menyatakan bahwa alam semesta ajeg sejak dulu sampai sekarang dan hingga nanti tanpa awal dan tanpa akhir. "terbentang" dan mengejawantah sebagai ruang-waktu. ketika persamaan matematis Einstein. Pertama. Einstein mengalah dan kembali ke perumusannya yang semula yang melukiskan alam yang tak statis. Kita lihat bahwa hasrat mempertahankan konsepsi alam semesta yang tak berawal (tak diciptakan) selalu menemui kegagalan. alam semesta ini berkembang-kempis (oscillating universe). Saya akan mengungkapkan beberapa saja yang relevan. maka ada kemungkinan bahwa alam yang kita huni ini mempunyai kembaran (shadow world) yang sebenarnya berada di sekeliling kita. katakan saja. Sudah tentu apa yang dikatakan itu adalah hasil mutakhir kegiatan penelitian dan saling kaji antara para pakar dan merupakan konsensus. oleh Wilson dan Penzias pada 1964. Namun terungkapnya keberadaan gelombang mikro yang mendatangi bumi dari segala penjuru alam secara uniform. Tapi langkah pembetulan itu mendapat tamparan. yaitu kosmos yang statis. tapi tak dapat kita lihat. yaitu 4 buah dimensi ruang-waktu yang kita hayati. sebenarnya sains telah mengalami penyelewengan-penyelewengan yang akhirnya terbongkar kesalahannya. Namun Weinberg menunjukkan kepalsuannya. Dengan demikian maka konsepsi yang berawal lebih dikukuhkan. . Ketiga. Kedua. Begitulah kira-kira uraian fisikawan itu. beberapa ilmuwan mencoba mengembalikan keabadian kosmos dengan mengatakan. sebagai contoh. yang dirumuskan untuk melukiskan alam semesta. suatu asumsi yang konsekuensinya tak didukung kenyataan. karena tak cocok dengan kenyataan. Dimensi yang kita hayati adalah dimensi yang. alam semesta mempunyai dimensi 10. tapi berekspansi. ia hanya dapat kita hubungi lewat medan gaya gravitasi sedangkan hukum alamnya tidak perlu sama dengan yang berlaku di dunia ini. Menurut perhitungan kami. karena tak sesuai dengan kenyataan yang terobservasi. dinyatakan oleh Friedman bahwa ia memberi gambaran kosmos yang mengembang. dan mendapatkan pembetulan. dan 6 lainnya yang tidak kita sadari. telah mendorong para pakar mengakuinya sebagai kilatan dalam alam semesta yang tersisa dari peristiwa dentuman besar. Sebab alam yang berkelakuan seperti itu.seluruh langit bercahaya terang benderang dan hingga kini "cahaya" ini masih dapat diobservasi sebagai radiasi gelombang mikro. Selama perjalanan mencari kebenaran itu. ketika dentuman besar tak dapat disangkal. meledak dan masuk kembali tak henti-hentinya tak berawal dan tak berakhir. karena Hubble mengobservasi justeru jagad-raya ini berekspansi. ia segera diubah oleh si-perumus agar sesuai dengan konsep kosmologi pada waktu itu.

sekali-kali kamu tak akan menemukan perubahan pada sunnatullah itu. lalu Dia berkata kepadanya dan kepada materi: Datanglah kalian mematuhi . yang terobservasi pengaruhnya. Sebab mereka tak mempunyai informasi berapa sebenarnya massa yang terkandung dalam alam ini. seperti layaknya tim detektif yang ingin memecahkan sebuah misteri dengan menggunakan sekelumit abu rokok dan pecahan-pecahan gelas yang berserakan di sekitar tempat kejadian. pertama. karena bintang-bintang yang bercahaya dan materi antar bintang. sedangkan sebagian lagi dibawa zarah-zarah yang disebut neutrino. alam semesta ini "terbuka. sebagian massa itu bercahaya." sehingga pada suatu saat ekspansinya akan berhenti dan alam kembali mengecil untuk akhirnya seluruhnya mencebur kembali dalam singularitas. al-Anbiya': 30) Dan ruang waktu itu Kami bangun dengan kekuatan (ketika dentuman besar dan inflasi melandanya sehingga beberapa dari dimensinya menjadi terbentang) dan sesungguhnya Kamilah yang m eluaskannya (sebagai kosmos yang berekspansi) (QS. al-Dzariyat: 47) Dalam pada itu Dia mengarah pada penciptaan ruang-waktu dan ia penuh "embunan" (dari materialisasi energi). yaitu ekspansi alam semesta dan radiasi gelombang mikro. harus melandasinya juga dengan pengetahuan sunnatullah. Apakah para fisikawan-kosmolog mengetahui nasib alam itu pada akhirnya? Ada dua pandangan yang dianut dalam sains yaitu. Saya akan menafsirkan ayat-ayat yang telah dicantumkan di atas." sehingga ia akan berekspansi selamanya. segenap peraturan Allah swt yang mengendalikan tingkah laku alam.konsep tersebut. kemudian kami pisahkan keduanya itu (QS. dan kedua jagad raya ini "tertutup. Kalau para detektif itu cukup memakai penalaran logis saja. tempat ia keluar dulu kala.Bagaimana para fisikawan-kosmolog dapat mengatakan semuanya itu tanpa melihat sendiri kejadiannya? Sebenarnya mereka melihat dua gejala. Sedangkan qaul yang kedua mendasari pernyataannya dengan adanya neutrinoneutrino yang mereka percayai membawa sebagian besar dari massa alam ini sehingga sebagai totalitas kekuatan gaya kritis itu akan terlampaui. di samping menggunakan pertimbanganpertimbangan rasional. yang mereka pergunakan untuk menelusuri kembali peristiwanya yang terjadi sekitar 15 milyar tahun lalu. tidak dengan pengetahuan orang abad ke 9 atau ke 19 melainkan dengan pengetahuan seseorang dari abad 20. yaitu yang dinamakan gaya kritis. dan yang saya pilih di antara sekian banyak ayat yang mengandung konsep. maka para pakar. Qaul yang pertama didasarkan pada kenyataan bahwa masa seluruh alam ini tak cukup besar untuk menarik kembali semua galaksi yang bertebaran. Sekarang marilah kita gali konsep-konsep kosmologi dalam al-Qur'an. yang dalam ayat 23 surah al-Fath dinyatakan memiliki stabilitas. sebagian gelap. hanya dapat menyajikan sekitar 20 persen saja dari gaya yang diperlukan. Kapan? Mereka tak tahu. Dan tidakkah orang yang kafir itu mengetahui bahwa ruang waktu dan energi-materi itu dulu sesuatu yang padu (dalam singularitas). sebagai sunnat-u 'l-lah yang berlaku sejak dulu. sebagai berikut.

hasil karya pikir manusia. demikianlah ketentuan Yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui (QS. al-Fathir: 41) Pada hari Kami gulung ruang-waktu (alam semesta) laksana menggulung lembaran tulis. dan apa yang bertentangan dengannya saya tolak. sebagaimana Kami telah mulai awal penciptaan. yang salaf. memeriksa ruang-waktu (alam semesta) serta materi di dalamnya sesuai dengan perintah-Nya dalam surah Yunus 101 itu mendapatkan petunjuk ke arah yang benar seperti tercantum dalam surah Fushshilat 53.(peraturan)-Ku dengan suka atau terpaksa. sesungguhnya Dia adalah Maha Penyantun dan Maha Pengampun (QS. untuk membimbing mereka dari kesesatan dalam memahami ciptaanNya. dan Dia mewahyukan kepada tiap alam itu peraturan (hukum alam)-nya masing-masing. keduanya menjawab: Kami datang dengan kepatuhan. sedang pemerintahan-Nya telah tegak pada fase zat alir (yaitu sop kosmos) untuk menguji siapakah di antara kalian yang lebih baik amalannya (QS. al-Thalaq: 12) Allah-lah yang menciptakan ruang-waktu dan materi dan apa yang ada di antara keduanya dalam enam hari. Fushshilat: 11). Fushshilat: 12) Allah-lah yang menciptakan tujuh ruang-waktu (alam semesta). karena ada beberapa konsepsi sains yang telah saya tolak. Mengatakan bahwa apa yang telah saya lakukan ini sebagai usaha menarik-narik al-Qur'an agar sejalan atau cocok dengan sains. dan sungguh jika keduanya akan lenyap tiada siapa pun yang dapat menahan keduanya selain Allah. sesungguhnya Kamilah yang akan melaksanakannya (QS. adalah suatu tuduhan yang tak berdasar. al-Anbiya': 104). Hud: 7) Sesungguhnya Allah menahan ruang-waktu (alam semesta) dan materi di dalamnya agar jangan lenyap (sebagai jagad-raya yang terbuka). Akan Kami perlihatkan kepada mereka ayat-ayat Kami di segenap penjuru dan dalam diri mereka sendiri sehingga jelaslah bagi mereka itu bahwa ia (al-Qur'an) adalah yang benar. dan pada saat itu pula menegakkan pemerintahan-Nya (yang seluruh perangkat peraturannya ditaati oleh segenap mahluk-Nya dengan suka hati) (QS. Patokan saya adalah kebenaran kitab suci umat Islam. itulah janji yang akan kami tepati. Dan tidak pula saya menarik al-Qur'an agar sesuai dengan sains. dan Kami memeliharanya. karena tidak sesuai dengan al-Qur'an. Dan bukankah justeru Allah swt sendiri yang mengungkapkan adanya gejala ekspansi kosmos dan radiasi gelombang mikro kepada para ilmuwan. (QS. hingga para ilmuwan yang setia kepada tradisi umat Islam. (QS. Maka dia menjadikannya tujuh ruang-waktu (alam semesta) dalam dua hari. dan kami hiasi ruang-waktu (alam) dunia dengan pelita-pelita. Apa yang telah saya lakukan di sini bukanlah pembenaran (justification) sains dengan al-Qur'an. al-Sajadah: 4) Dan Dia-lah yang telah menciptakan ruang-waktu dan materi dalam enam hari. Dalam awal uraian saya telah dikatakan bahwa penggalian konsep-konsep kosmologi dalam al-Qur'an merupakan pekerjaan . begitulah Kami akan mengembalikannya. Demikian konsep-konsep kosmologi yang dapat digali dari al-Qur'an sebagaimana saya melihatnya selaku orang yang berkecimpung dalam bidang sains. dan materinya seperti itu pula.

karena melukiskan Tuhan duduk di singgasana adalah syirik. Karena secara eksprimental dapat dibuktikan bahwa ruang serta waktu merupakan satu kesatuan. dengan bolpen. dengan pangkal bulu. dengan vulpen.5 milyar tahun lalu di sekitar matahari. Sama'. atom-atom yang belum berbentuk karena suhu alam masih sangat tinggi dan elektron-elektron belum dapat ditangkap oleh inti-inti atom. maka saya gunakan istilah ruang-waktu sebagai ganti "ruang". aparatur dan peraturannya. melainkan pemerintah Indonesia yang bertindak. Malahan saya lebih suka mengartikan sebagai "karya tulis". Arsy. Dan karena telah terbukti bahwa materi dan energi setara dan dapat berubah dari yang satu menjadi yang lain. galaksi-galaksi dan lain-lainnya. Ma'. karena orang dapat menulis sesuatu tak hanya dengan pena. dengan mesin ketik dan lain-lain sebagainya. singgasana atau tahta. 2. 6. 1. hal ini tidak berarti bahwa gedung itulah yang mengambil keputusan. yang sudah ada sesaat setelah Allah menciptakan jagad-raya. Qalam. Ardh. dengan kuas. maka saya akan mencakup keduanya dalam istilah energi-materi. dan tanah di bumi kita ini baru terjadi sekitar 3 milyar tahun lalu sebagai kerak di atas magma. maka saya condong untuk menggunakan istilah sarana tulis sebagai ganti "pena". Dukhan asap atau uap. maka penggunaan istilah "sop kosmos" sebagai keterangan melukiskan . saya condong untuk menafsirkan sebagai pemerintahan lengkap dengan sarana. Memang begitulah karena sains akan berkembang dan akan senantiasa menemukan hal-hal yang yang dapat lebih melengkapi pengetahuan manusia hingga lebih memahami ayat-ayat Allah. 5.yang terus baru dapat tak kunjung henti." yakni bakal-bumi. misalnya dengan lidi-aren. bumi atau tanah. Karenanya. yang kecuali terkandung dalam asap dan uap juga lebih mengena bila dipergunakan melukiskan gejala yang ditemukan pada suatu sistem yang mendingin dari suhu yang sangat tinggi (dalam kasus ini bertrilyun-trilyun derajat). CATATAN Di bawah ini disajikan pertimbangan yang saya pergunakan untuk memilih kata-kata dalam penafsiran. maka saya lebih suka mempergunakan katakata "Pemerintahan" (Allah) untuk mengartikan kata-kata arsy. melainkan ruang alam yang di dalamnya terdapat bintang-bintang. pada saat awal penciptaan. Dan karena pada saat itu isi alam semesta yakni radiasi dan materi pada suhu yang sangat tinggi itu wujudnya lain daripada yang kita dapat temui di dunia sekarang ini. 3. bahkan inti atom pun pada saat itu belum terbentuk! Oleh karenanya. pena. karena dalam fase penciptaan alam itu air yang terdiri dari atom oksigen dan atom-atom hidrogen belum dapat berbentuk. Maka saya condong mengartikan kata-kata ardh dengan istilah "materi. air atau zat alir. 4. Sebab jika kita mengatakan: itu keputusan Bina Graha. kini tak lagi diartikan sebagai bola super-raksasa yang dindingnya ditempeli bintang-bintang. maka saya condong menggunakan istilah embunan. karena bumi baru terbentuk sekitar 4. maka saya memilih maknanya sebagai zat alir.

7507173 Fax. Dr. sesama manusia. Ideologi adalah Weltanchauung. hubungannya dengan dunia. KONSEP-KONSEP ANTROPOLOGIS (1/2) oleh Jalaluddin Rakhmat Al-Qur'an adalah kitab manusia. mengulas manusia dari segi penciptaannya. la nature de l'individu et la place qui lui est assignee daus la groupe. tidaklah terlalu aneh. Ideologi adalah cara memandang realitas. en fonction de l'objektif social poursuiri. dan fungsi manusia sebagai hamba Tuhan. I origine et le fin de la destine e humaine. (021) 7507174 Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota Please direct any suggestion to Media Team Artikel Yayasan Paramadina Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota II. Karena itu dalam seluruh bukunya. yang secara khusus menjelaskan principe d'entre manusia ini. Karena al-Qur'an seluruhnya berbicara untuk manusia atau berbicara tentang manusia. (021) 7501969. tapi tidak membahas principe d'entre manusia. Tuhan. yang menjelaskan realitas dalam perspektif tertentu. dieu sera la reference primordial et unique puisqu'll est. UA 20-21 Jakarta Selatan Telp. Yusuf Qardhawi (1977: 33) Masyarakat Islam dibentuk karena ideologinya. Boisard (1979: 84). a la fois. Semuanya dapat disimpulkan dalam kalimatnya. Agak mengherankan. tulis Marcel A. walaupun Boisard mengakui pentingnya filsafat antropologis dalam Islam. ia menjelaskan perbedaan manusia dengan makhluk lain. tacitement on explicitement.zat yang sangat rapat tapi dapat mengalir pada suhu yang amat tinggi. seperti lazimnya filsafat manusia (philosophic de l'homme). Boisard hampir tidak pernah membahas karakteristik manusia menurut al-Qur'an. 1979: 84). ia kemudian menyebutkan bahwa al-Qur'an diwahyukan untuk memperkenalkan Tuhan kepada manusia. yaitu Islam. Adalah Rahman (1980). Pour une religion eschatologique comme l'Islam. Metro Pondok Indah Pondok Indah Plaza I Kav. Toute ideologie precise d'emblee. -------------------------------------------Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah Editor: Budhy Munawar-Rachman Penerbit Yayasan Paramadina Jln. [1] Dirk Bakker (1965) dalam bukunya Man in the Qur'an. 7501983. kata Fazlur Rahman (1980: 43). Agak terperinci. . bukan untuk menjelaskan manusia -non pour expliquer l'humain (Boisard. Di antara realitas penting yang diulas ideologi adalah manusia. ketika mengantarkan tulisannya tentang pandangan Qur'ani mengenai manusia dalam bab Les Fils d'Adam.7.

if not absolutely impossible. Saya sangat terkesan dengan Izutsu (1964. 1967) --yang membahas amanah sebagai inti kodrat manusia-. Ia sama sekali tidak menyebut berbagai konsep yang digunakan al-Qur'an untuk merujuk manusia. kita menentukan makna pokok (basic meaning) dan makna nasabi (relational meaning). Mungkin tulisan Mutahhari (tanpa tahun) dan beberapa tulisan lainnya (Lihat Mutahhari. yang kita anggap merupakan unsur konseptual dasar dari Weltanschauung Qur'ani ini. seperti Fazlur Rahman. juga walaupun pendek tulisan al-Faruqi (1404: 332). sebagaimana digunakan dalam al-Qur'an. mereka meneliti ayat-ayat al-Qur'an yang berkenaan dengan manusia. hubungan komunikasi nonlinguistik. man ought to follow his nature. Yang kita perlukan di sini. dengan resiko salah beberapa langkah. It is extremely difficult. akan dibahas implikasi dari bidang semantik tersebut untuk memperoleh gambaran tentang Weltanschauung Qur'ani. Pertama. kita memilih istilah-istilah kunci (key-terms) dari vocabulary al-Qur'an. 1965) yang memperkenalkan metodologi semantik [2] dalam memahami konsep-konsep dasar al-Qur'an. akan dibahas istilah-istilah kunci manusia dan bidang semantiknya. 1964: 19). Ia mengambil konsep Allah sebagai istilah kunci dan menjelaskan hubungan konsep itu dengan manusia. kita menyimpulkan weltanschauung yang menyajikan konsep-konsep itu dalam satu kesatuan. penulis makalah ini juga outsider. Izutsu sendiri berkata. 1980: 24) Rahman mengulas manusia dengan mengulas pandangan al-Qur'an tentang kedudukan manusia sebagai individu dan anggota masyarakat. kemudian mengenal bidang semantik setiap istilah itu. Kedua. Ia tidak memulai dari konsep dasar yang digunakan al-Qur'an untuk mengabsorbsikan manusia. Tulisan ini mengambil jalan lain. Makna pokok yang berkenaan dengan constant semantic element which remains attached to the word whereever it goes and however it is used (Izutsu. Jadi. this tranformation of the is into ought is both fhe unique privelege and the unique risk of man (Rahman. Dengan kata lain. lalu menyimpulkan secara induktif. Tidak mungkin dalam makalah ini. kita mengidentifikasikan istilah-istilah al-Qur'an tentang manusia. Pertama. juga dalam tulisan lain (Rahman. Unfortunately. 1964: 10). Ia menyebutkan tiga hubungan ontologis. 1986) membahas karakteristik khas manusia yang lebih "maju" dari al-Ghazali. Malangnya di samping makalah ini tidak dimaksudkan untuk itu. what is called semantics today is so bewilderingly complicated. Ketika Izutsu membahas kosep Tuhan dan manusia dalam al-Qur'an. Makna nasabi adalah makna tambahan yang terjadi karena istilah itu dihubungkan dengan konteks di mana istilah itu berada. Ketiga. for an outsider even to get a general idea of what it is like (Izutsu. 1960). . saya menguraikannya secara terperinci.The only different is that while every other creature follows its nature automatically. Sayangnya. sebetulnya menemukan bagaimana al-Qur'an memberi makna tentang konsep-konsep dasar manusia.uraian Rahman tidak berbeda dengan pembahasan al-Ghazali yang lebih klasik (Lihat Othman. dan hubungan komunikasi linguistik. Dalam tulisan tersebut. Kedua. ia menyebut pembahasannya sebagai semantics of the Koranic weltanschauung.

insan. 27:56) dan menunjukkan kelompok atau golongan manusia. Dari segi inilah. Basyar disebut 27 kali. Dalam QS.. Dan tidak Kami utus sebelummu para utusan kecuali mereka itu memakan makanan dan berjalan-jalan di pasar. dan makan dengan menggunakan tangan. 39. 7:38. 51:56. Bukankah Rasul itu memakan makanan dan berjalan-jalan di pasar. tapi ini tidak lain kecuali malaikat yang mulia (12:31). 5: 465) menyebutkan umumnya para mufasir mengartikan ayat ini untuk menunjukkan kelebihan manusia secara fisiologis: berjalan tegak. Yusuf Ali (1977: 1759) dengan tepat menafsirkan ayat ini to man God gave the purest and the best nature. 70:160. misalnya. 17:88. orang-orang kafir selalu berkata. and man's duty is to preserve the pattern on which God has made him (QS 30:30). Kata Basyar dihubungkan dengan mitslukum (tujuh kali) dan mitsluna (enam kali) diantara ayat-ayat tersebut di muka. disuruh Allah menegaskan bahwa secara biologis. anasiy. ins. basyar memberikan referensi pada manusia sebagai makhluk biologis. 46:18. Ketika wanita-wanita Mesir takjub melihat ketampanan Yusuf as. minum. 128. Ada konsep-konsep lain yang jarang dipergunakan dalam al-Qur'an dan dapat dilacak pada salah satu di antara tiga istilah kunci di atas. [3] Dalam seluruh ayat tersebut. seks. Sama tidak tepatnya untuk tidak menafsirkan Sesungguhnya telah kami jadikan insan dalam bentuk yang sebaik-baiknya (95: 4) dengan menunjukkan karakteristik fisiologi manusia. Al-Syaukani (1964. 25: 7. bagaimana mungkin aku mempunyai anak. 7:82. Marilah kita kembali kepada ketiga istilah kunci tadi. dan selalu dihubungkan dengan jinn sebagai pasangan makhluk manusia yang mukallaf (6:112. Ya Allah. 25: 20. unas digunakan untuk menunjukkan 12 golongan dalam Bani Israil. Unas disebut lima kali dalam al-Qur'an (2:60. Anasiy hanya disebut satu kali (25:49). Tuhanku. Secara singkat konsep basyar selalu dihubungkan dengan sifat-sifat biologis manusia: makan. 72:5. Anasiy dalam bentuk jamak dari insan.BASYAR. 55:33. menjadi karasiy (Lihat al-Thabrasi. tapi sifat-sifat psikologis (atau spiritual). 17:71. 27:17. 1937). ada tiga istilah kunci yang mengacu kepada makna pokok manusia: basyar. 2:60. 56. Lihatlah bagaimana Maryam berkata. berjalan di pasar. Mereka berkata. dan ia minum apa yang kamu minum (33:33). mereka berkata. Tentang para Nabi. Basyar." bukan superman. Kecenderungan para Rasul untuk tidak patuh pada dosa dan kesalahan bukan sifat-sifat biologis. Tapi Ibn 'Arabi . insiy. Bukankah ia Basyar seperti kamu. aku ini manusia biasa (basyar) seperti kamu. 130. atau bagaimana kaum yang diseru para nabi menolak ajarannya. hanya saja aku diberi wahyu bahwa Tuhanmu ialah Tuhan yang satu (18:110. Ayat ini ditegaskan dalam QS. DAN AL-NAS Dalam al-Qur'an. ia makan apa yang kamu makan. karena nabi hanyalah basyar --manusia biasa yang "seperti kita. 29. dan al-Nas. yang merupakan bentuk lain dari insan. 74. ia seperti manusia yang lain. padahal aku tidak disentuh basyar (3:47). INSAN. Surat 17:21 dengan jelas menunjukkan makna ini pada hari kami memanggil setiap unas dengan imam mereka. dan QS. 6). 179. Nabi Muhammad saw. dengan mengganti nun atau ya atau boleh juga bentuk jamak dari insiy. ini bukan basyar. 41:25. 41:6). seperti kursiy. Ins disebut 18 kali dalam al-Qur'an. unas. Katakanlah. kita tidak tepat menafsirkan basyarun mitslukum sebagai manusia seperti kita dalam hal berbuat dosa.

Kecuali kategori ketiga yang akan kita jelaskan kemudian. melihat. takabur. memikirkan. kata insan berkali-kali dihubungkan dengan kata nazhar. berkehendak. Menurut Fazlur Rahman (1967: 9). Insan dihubungkan dengan keistimewaannya sebagai khalifah atau pemikul amanah. dan bahkan musyrik (10:12. insanlah yang dimusuhi setan (17:53. Insan disebut 65 kali dalam al-Qur'an.berkata. tt. semua konteks insan menunjuk pada sifat-sifat psikologis atau spiritual. dengan inisiatif moral insani. manusia sebagai pemikul al wilayah al-ilahiyyah. berkuasa. 80:17. Di dalamnya terkandung makna khilafah. [5] (96: 4. Karena itu. 51. karena manusia memikul amanah. dan memutuskan. Allah berfirman. Akan Kami perlihatkan kepada mereka (insan) tanda-tanda Kami di alam semesta ini dan pada diri mereka sendiri sehingga jelas baginya bahwa ia itu al-Haq (41: 53). Insan dihubungkan dengan predisposisi negatif diri manusia. Allah membuatnya hidup. proses terbentuknya makanan dari siraman air hujan hingga terbentuknya buah-buahan (80: 24-36). Keempat. dan penciptaannya (86: 5). 11:9. "Ia mengajarkan (insan) al-bayan" [6] (55: 3). ia cenderung menyembah Allah dengan ikhlas. manusia adalah makhluk yang diberi ilmu. 39:8. 49. 'isr). mengamati) perbuatannya (79: 35). dan ini adalah sifat-sifat rabbaniyah. Yang mengajar dengan pena. kedua. kekeliruan penafsiran. Karena itu juga. untuk menciptakan tatanan dunia yang baik. mitsaq. Menurut al-Qur'an. . mendengar. mengetahui. 5). Pada kategori pertama. Pertama. 46:15). 13. 351-352) mengutip berbagai pendapat para mufassir tentang makna amanah dan memilih makna amanah sebagai predisposisi (isti'dad) untuk beriman dan mentaati Allah. menguasainya atau dalam istilah al-Qur'an "mengetahui nama-nama semuanya" dan kemudian menggunakannya. ia cenderung sombong. [4] Kita dapat mengelompokkan konteks insan dalam tiga kategori. Sekali lagi. Ia diwasiatkan untuk berbuat baik (29:8. 31:14. kita melihat keistimewaan manusia sebagai wujud yang berbeda dengan hewani. 79:35. mengajar insan apa yang tidak diketahuinya. umumnya para mufassir bermula dari salah paham tentang semantic field istilah insan. manusia adalah makhluk yang memikul amanah (33: 72). menganalisis. Dalam hubungan inilah. Insan disuruh menazhar (merenungkan. 50:16). 89:23). 89:15). 59:16) dan ditentukan nasibnya di hari Qiyamat (75:10. amanah adalah menemukan hukum alam. setelah Allah menjelaskan sifat insan yang tidak labil. Dan ketiga Insan dihubungkan dengan proses penciptaan manusia. maka insan dalam al-Qur'an juga dihubungkan dengan konsep tanggung jawab (75: 36. 17:83. 75:3. (Al-Thabathabai. 41:49. bila ia mendapat keberuntungan. Bila ia ditimpa musibah. dalam menyembah Allah. yang berbeda dengan basyar. berbicara. Manusia diberi kemampuan mengembangkan ilmu dan daya nalarnya. [7] Predisposisi untuk beriman inilah yang digambarkan secara metaforis [8] dalam surat 7:172. amalnya dicatat dengan cermat untuk diberi balasan sesuai dengan apa yang dikerjakannya (53: 39). Ketiga. Tak ada makhluk Allah yang lebih bagus daripada manusia. Kedua. 42:48. 17:67. Amanah inilah yang dalam ayat-ayat lain disebutkan sebagai perjanjian (ahd. Insan. insan sangat dipengaruhi lingkungannya. 14.

Menurut Qardhawi (1973: 76). saripati tanah. KONSEP-KONSEP ANTROPOLOGIS (2/2) oleh Jalaluddin Rakhmat Pada kategori kedua. banyak membantah atau mendebat (18:54. 7:381). yang kedua unsur insani.-------------------------------------------. Metro Pondok Indah Pondok Indah Plaza I Kav. 43:15). bodoh (33:72). tanah (15:28. Yang pertama unsur basyari. 30:20) dan air (25:54). dan segan membantu (70:19. bakhil (17:100). (021) 7501969. 32:7).(bersambung 2/2) Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah Editor: Budhy Munawar-Rachman Penerbit Yayasan Paramadina Jln. Demikian pula basyar berasal dari tanah liat. Keduanya harus tergabung dalam keseimbangan. 38:71. 21:37). Bila dihubungkan dengan sifat-sifat manusia pada kategori pertama. kata insan dihubungkan dengan predisposisi negatif pada diri manusia. (021) 7507174 Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota Please direct any suggestion to Media Team Artikel Yayasan Paramadina Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota II. 36:77). tergesa-gesa (17:11. 75:5). berbuat dosa (96:6. "Tidak boleh (seorang mukmin) mengurangi hak-hak tubuh untuk memenuhi hak ruh. Tak mungkin dalam makalah . Sebagai insan manusia diciptakan dari tanah liat. insan menjadi makhluk paradoksal.21). resah. Al-Nas. Ini mendorong saya untuk menyimpulkan bahwa proses penciptaan manusia menggambarkan secara simbolis karakteristik basyari dan karakteristik insani. UA 20-21 Jakarta Selatan Telp. 7507173 Fax. 16:4. Inilah manusia yang paling banyak disebut al-Qur'an (240 kali. 22:66." kata Abbas Mahmud al-'Aqqad (1974. manusia adalah gabungan kekuatan tanah dan hembusan Ilahi (bain qabdhat al-thin wa nafkhat al-ruh). tanah (15:26. gelisah. manusia itu cenderung zalim dan kafir (14:34. lihat 'Abd al-Baqi. meragukan hari akhirat (19:66). tidak berterima kasih (100:6). 90:4). 55:14. Kedua kekuatan ini digambarkan dengan kategori ayat-ayat ketiga. Yang pertama. yang berjuang mengatasi konflik dua kekuatan yang saling bertentangan: kekuatan mengikuti fitrah (memikul amanat Allah) dan kekuatan mengikuti predisposisi negatif. 23:12. pada kata al-Nas). al-Mu'jam. unsur material dan yang kedua unsur ruhani. Secara menarik proses penciptaan manusia atau asal kejadian manusia dinisbahkan pada konsep insan dan basyar sekaligus. dan tidak boleh ia mengurangi hak-hak ruh untuk memenuhi hak tubuh. 20. Menurut al-Qur'an. ditakdirkan untuk bersusah payah dan menderita (84:6.7. 7501983. Konsep kunci ketiga ialah al-Nas yang mengacu pada manusia sebagai makhluk sosial.

36. tetapi memusuhi kebenaran (2:204). 23:78. yang selamat dari azab Allah (11:116). Ayat-ayat itu lazimnya dikenal dengan ungkapan wa min al-Nas (dan diantara sebagian manusia). seperti kata . Banyak ayat yang menunjukkan kelompok-kelompok sosial dengan karakteristiknya. 13:1). yang hanya memikirkan kehidupan dunia (2:200). yang dilambangkan manusia dengan unsur tanah. Ia mengemban wilayah Ilahiyah. petunjuk. Ia menyerap sifat-sifat rabbaniah menurut ungkapan Ibn Arabi. 28. sebagian besar manusia mempunyai kwalitas rendah. 4:155). 34:28. Ayat-ayat ini dipertegas dengan ayat-ayat yang menunjukkan sedikitnya kelompok manusia yang beriman (4:66. fasiq (5:49). tapi juga manusia secara sosial. 32:9). seperti sama'. Ia dengan sendirinya musayyar. 39:27. al-Nas menunjuk pada manusia sebagai makhluk sosial. 45:26. qadar. dan sebagainya). di samping ada sebagian orang yang rela mengorbankan dirinya untuk mencari kerelaan Allah. Kedua. hewan dan tumbuh-tumbuhan. Surat 6116 menyimpulkan bukti kedua ini. Manusia sebagai basyar berkaitan dengan unsur material. 67:23. 4:46. yang berilmu atau dapat mengambil pelajaran (18:22. 24:35. Ketiga. yang menjual pembicaraan yang menyesatkan (31:6). 12:21. 7:3. kita menjelaskan seluruh bidang semantik istilah al-Nas. Ia menjadi mahkluk yang mukhayyar. 27:62. yang berdebat dengan Allah tanpa ilmu. yang mengambil sekutu terhadap Allah (2:165). kafir (17:89. 30. 31:20). dan al-Kitab (22:3. 30:6. 2:88. tidak beriman (11:17. kita dapat menyimpulkan. 29:10). tapi ia diberikan kekuatan untuk tunduk atau melepaskan diri daripadanya. 7:10. psikologis dan sosial.8. WELTANSCHAUUNG QUR'ANI TENTANG MANUSIA Dari uraian di muka tampak al-Qur'an memandang manusia sebagai makhluk biologis. Al-Nas sering dihubungkan al-Qur'an dengan petunjuk atau al-Kitab (57:25. dengan memperhatikan ungkapan aktsar al-Nas. Jika kamu ikuti kebanyakan yang ada di bumi. Namun manusia sebagai insan dan al-Nas bertalian dengan unsur hembusan Ilahi. Menurut al-Qur'an sebagian manusia itu tidak berilmu (7:187.68. melalaikan ayat-ayat Allah (10:92). Pada keadaan itu. 4:170. yang tidak diperdayakan syetan (4:83). yang bersyukur (34:13. baik dari segi ilmu maupun dari segi iman. 40:57). 40:58. tapi sebetulnya tidak beriman (2:8). 2:243. Sebagaimana ada hukum-hukum yang berkenaan dengan karakteristik biologis manusia. Kepadanya dikenakan aturan-aturan. 38:24. 69:42). dan kebanyakan harus menanggung azab (22:18). Dengan memperhatikan ungkapan ini. 12:38). yang mempesonakan orang dalam pembicaraan tentang kehidupan dunia. Pertama. yang menyembah Allah dengan iman yang lemah (22:11. kalam. maka ada juga hukum-hukum yang mengendalikan manusia sebagai makhluk psikologis dan makhluk sosial. 12:103. al-Qur'an menegaskan bahwa petunjuk al-Qur'an bukanlah hanya dimaksudkan pada manusia secara individual. 14:1. kita menemukan kelompok manusia yang menyatakan beriman. manusia secara otomatis tunduk kepada takdir Allah di alam semesta.singkat ini. bashar. 25:50). sama taatnya seperti matahari. Cukuplah di sini ditunjukkan beberapa hal yang memperkuat pertanyaan pada awal paragraf ini --yakni. tidak bersyukur (40:61. mereka akan menyesatkanmu dari jolan Allah.

Ia lah yang menciptakan kehidupan dan kematian untuk menguji kamu siapa diantara kamu yang paling baik amalnya (QS. Lihat al-Baqi. kewajiban manusia ialah memenangkan predisposisi positif. Secara konkrit kesetiaan ini diungkapkan dengan kepatuhan pada syari'at Islam yang dirancang sesuai amanah. al-Mu'jam. Kelompok terakhir inilah yang disebut al-Qur'an. 58:11). menurut al-Qur'an. Makna hidup manusia diukur sejauh mana ia berhasil beramal sebaik-baiknya. Ada dua komponen esensial yang membentuk hakikat manusia yang membedakannya dari binatang. Metodologi semantik didefinisikan sebagai an analytic study of the key-terms of language with a view to arriving eventually at a conceptual grasp of the Weltanschauung or world-view of the people who use that language as tool not only of speaking and thinking. 5. Sesungguhnya kami jadikan apa yang ada dipermukaan bumi sebagai perhiasan untuk menguji mereka. pembaca dianjurkan melihat sendiri dalam Al-Baqi. alam kodratnya strukturnya yang fundamental. "Apa yang ingin ditelaah bukanlah suatu makhluk. Ini terjadi bila manusia tetap setia pada amanah yang dipikulnya. yaitu potensi mengembangkan iman dan ilmu. Karena itu. 1964:11) 3. tapi suatu prinsip adanya (principe d'etre). Al-Qur'an tak lain merupakan rangkaian ayat yang mengingatkan manusia untuk memenuhi janjinya itu. but. sedikit orang yang berilmu. dan lebih sedikit lagi orang yang beriman dan berilmu. siapa diantara mereka yang paling baik amalannya (18:7).30:65) menjelaskan ayat ini. of conceptualizing and interpreting the world that surround them (Izutsu. Inilah hakikat kemanusiaannya." tulis Mutahhari (tt. sesuatu yang olehnya manusia mempunyai karakteristik yang khas. yakni sejauh mana ia mengembangkan iman dan ilmunya. ia dituntut untuk bertanggung Karena pada manusia ada predisposisi negatif dan positif sekaligus. Bila Sartre mengatakan hidup ini absurd. Usaha untuk mengembangkan keduanya disebut 'amal shalih. sebuah benda. Sedikit orang yang beriman. sesuatu yang olehnya ia merupakan sebuah nilai yang unik. 4. al-Qur'an menyatakan hidup ini medan untuk membuktikan 'amal shalih. 67:2). "Allah mengangkat derajat orang-orang yang beriman diantara kamu dan orang-orang yang diberi ilmu" (QS.: 17).al-Thabathabai. Sesuatu yang olehnya manusia menjadi apa yang terwujud." tulis Leahy (1985: 11) 2. "Allah telah memberi manusia gairah dan kemampuan untuk meneliti dan menyelidiki untuk mengadakan percobaan sehingga . kita menyimpulkannya bahwa ilmu dan iman adalah dasar yang membedakan manusia dari makhluk lainnya. Keduanya harus dikembangkan secara seimbang. Dalam pandangan al-Qur'an. Karena banyak. "Karenanya. Mu'jam. Obyek formal dari filsafat manusia ialah inti manusia. CATATAN 1. sedikit sekali orang yang dapat mengembangkan ilmu dan iman ini sekaligus. Dr Muhammad Mahmud Hijazi (1968. jawab. more important still.

1966. Izutsu. tanda-tanda yang berjanji. Muhammad bin Ali. 1974. al-Thabathabai (TT. Tanpa tahun. Amsterdam: Drukkerrij Holland NV: Biazard. 1978. terjadi banyak ikhtilaf di kalangan mufassir. The Covenant in The Koran. Marcel A. Lalu ia menundukkan semuanya untuk berbakti memenuhi kehendak manusia. Al-Syaukani. Surat-surat dalam al-Qur'an mengingatkan manusia pada perjanjian Allah. 1964. daftaer kondisi yang harus dipenuhi pihak kedua. Tokyo Keio Institute of Cultural and Linguistic Studies. Boisard. Beirut: Dar al-Kutub al-Lubuani. Al-Thabrasi. God and Man in The Koran. Ahd al Karim. Qum: Al-Hauza al-Ilmiyah. Al-Faruqi. kemampuan mengembangkan ilmu." 6. 1964. dan pelajaran dari masa lalu. Beirut: Dar el-fikr. jilid 7. Lihat al-Syaukani (1964. Biazar (1366) banyak memberikan contoh-contoh yang menarik. Al-Mu'jam al Mufahras Li al-Alfazh al Qur'an al-Karim. Fath al-Qadir Kairo: Mustafa Al-Babi al-Halbi. Dirk. Al-'Aqqad Abbas Mahmud. Tentang perjanjian manusia di alam dzarrah ini. Penerbit tidak diketahui. Hijazi. DAFTAR KEPUSTAKAAN Abd al Baqi. janji. sumpah dengan ayat-ayat Allah. 1937. 1356. Sida: A1-Irfan Bakker. Muhamad Hussein. Paris: Albin Michel. yang terdiri dari pihak pertama (Allah) pihak kedua (Manusia). Majma' al-Bayan. Abu Ali Al-Fadhl. 5:131). The Holy al-Qur'an American Trust Publication. "Al-lnsan fil Qur'an" dalam Al-A'mal al-Kamilah. Al-Mizan fi 'l-Tafsir al-Qur'an. Muhammad Fuad. saksi. Al-Tafsir al-Wadhih Kairo: A1-Istiqdal al-Kubra.Qur'an. Ali. . 8. "Nazhriyat al-lnsan fi 'l. 1404. nikmat Allah. pengetahuan tentang halal dan haram. L'humanisme de L'Islam." al-Tawhid. Ismail. Muhammad Mahmud. 19:95) 7.sampai pada pengetahuan tentang rahasia alam semesta serta tabiat segala hal. Al-Thabathabai. no 9. Al-Bayan ditafsirkan sebagai kemampuan berbicara. Abd al-Karim Biazar menulis tentang the Covenant in the Qur'an sebagai kunci yang mempersatukan ayat-ayat dalam setiap surat al-Qur'an. Man in The Qur'an. 1968. Uraian berbagai pendapat tersebut beserta kritiknya disajikan lengkap oleh Subhani (1400:75 106). Toshihiko. Yusuf 1977. tahun 2. ancaman.

1966. 1965. [1] Melalui suatu pengamatan yang cermat atas segala alam sekitar kita. Qum: Antara lain Khayyam. memeliharanya dan menjaganya sehingga segala makhluk itu menjalani kehidupannya masing-masing dengan baik dan melakukan fungsinya masing-masing dengan tertib. KONSEP-KONSEP HUKUM (1/3) oleh KH. The Concept of Man in Islam in the writings of Al Ghazali. Chicago: Bibliotheca Islamica Subhani. 1977. Ethico Religious Concepts in the Qur'an.------. Maktabah Wahbah Rahman. 1973. Major Themes of the Qur'an. Al-Khashaish al-Amimah li 'l-Islam. 1960. ------. and Man. 1986. Ali Yafie Hukum yang diperkenalkan al-Qur'an bukanlah sesuatu yang berdiri sendiri. Akidah tentang Allah yang menciptakan alam semesta. Jakarta: Gramedia. ------. Leahy. Manusia dan Agama. (021) 7501969. Manusia: Sebuah Misteri. Maktabah Wahbah. Islamic Studies. Ma'alim al-Tawhid fi 'l-Qur'an al-Karim. mengaturnya. Mutahhari. ------. VI: 1. Ja'far. Yusuf. UA 20-21 Jakarta Selatan Telp. Louis. Kairo: Dar al-Maaref Qardhawi. Montreal: McGill University Press. Othman. Betapa teraturnya gerakan bintang-bintang pada garis edarnya . Tanpa tahun. March 1967. tapi merupakan bagian integral dari akidah. 7507173 Fax. 1980.8. Ali Issa. -------------------------------------------Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah Editor: Budhy Munawar-Rachman Penerbit Yayasan Paramadina Jln. Al-Iman wa 'l-Hayat. Murtadha. Al-Insan wa 'l-Iman Teheran: Muassasah al-Bi'tsah. 1400. dapat disaksikan betapa teraturnya alam raya ini. Bandung: Mizan. Hukum Allah meliputi segenap makhluk (alam semesta). Fazlur. 1986. the universe. (021) 7507174 Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota Please direct any suggestion to Media Team Artikel Yayasan Paramadina Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota II. Metro Pondok Indah Pondok Indah Plaza I Kav. The Qur'anic Concept of God. 7501983.

dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal. Pusat pengatur tubuh. Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan) Kami segenap ufuk dan pada diri mereka sendiri. kode genetik. hukum reproduksi dan embriologi. lebih mengesankan lagi. memikirkan dan mempelajari alam semesta. sehingga jelaslah bagi mereka bakwa al-Qur'an itu adalah benar. yakni otak memiliki kemampuan merekam dan menyimpan lebih banyak informasi dibandingkan dengan pesawat apapun. hukum Pascal. tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia. hukum konservasi.. Katakanlah! Perhatikanlah apa yang ada di langit dan di bumi. mengamati dan meneliti sebagaimana disinggung di atas yang sifatnya global. [3] Pesan untuk mengamati. Tanpa kita sadari. seperti hukum proporsi. hukum gerak. pencernaan dan tugas-tugas lain yang tidak terbilang banyaknya. (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang Engkau menciptakan langit dan bumi (seraya berkata) ya Tuhan kami. [2] Dalam hubungan ini. Prestasi atletik seringkali memperlihatkan tenaga tubuh yang bersifat melar. Sedangkan ketangguhannya menunjukkan staminanya. Tidaklah bermanfaat tanda kekuasaan Allah dan Rasul-rasul yang memberi peringatan bagi orang-orang yang tidak beriman.masing-masing. Meskipun demikian fungsi-fungsi tubuh yang tidak tampak.Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi.. Ilmu pengetahuan mengungkapkan. tekanan darah kita.. [6] Rasulullah saw. menalar. Misalnya . Celakalah orang yang membaca ayat ini lalu tidak berfikir. tubuh mengatur suhu badan kita.. tubuh manusia terdiri dari 50 juta sel. sangatlah jelas dan berulang-ulang kali disampaikan dalam sekian banyaknya ayat-ayat al-Qur'an. Dan apakah mereka tidak memperhatikan kekuasaan langit dan bumi dan segala sesuatu yang diciptakan Allah . Lewat ilmu pengetahuan alam kita diperkenalkan dengan hukum-hukum fisika dan kimia serta biologi.. semuanya bergerak menurut ketentuan-ketentuan hukum alam yang mengaturnya. [4] . meneliti. mengomentari ayat-ayat ini dengan sabdanya. hukum gravitasi. Maha Suci Engkau. dilengkapi dengan petunjuk-petunjuk lain yang bersifat detail dimana terbayang isyarat-isyarat yang mengacu pada pokok-pokok ilmu pengetahuan tentang alam dan hukum-hukum yang berlaku atasnya. [5] . Penemuan hukum-hukum alam (natuurwet) sebagaimana disinggung di atas. hukum relativitas. dapat kita renungkan salah satu ayat al-Qur'an yang berbunyi. memberikan informasi yang jelas pada kita betapa alam raya ini mulai dari bagian-bagiannya yang terkecil seperti partikel-partikel dalam inti atom yang sukar dibayangkan kecilnya. sampai kepada galaksi-galaksi yang tak terbayangkan besar dan luasnya. jumlah panjang jaringan pembuluh darahnya sampai 100 ribu kilometer dan lebih dari 500 macam proses kimiawi terjadi di dalam hati. [7] Petunjuk-petunjuk al-Qur'an yang mengarahkan manusia untuk berfikir.. Dan yang lebih dekat kita renungkan ialah keadaan tubuh jasmani kita sendiri. Tubuh manusia jauh lebih rumit dan menakjubkan daripada pesawat komputer. Bumi tempat kita hidup yang berputar pada sumbunya dan beredar pada orbitnya di sekeliling matahari dalam jangka waktu tertentu dan pasti menyebabkan silih bergantinya siang dan malam dan bertukarnya satu musim ke musim lain secara teratur. maka peliharalah kami dari siksaan neraka.

ayat yang berbunyi. dan sering kali --secara kurang hati-hati-. di dalam bahasa al-Qur'an kadangkala disebut sunnatullah. Dia menguraikan tanda-tanda (kekuasaannya) kepada orang-orang yang mengetahui (berilmu)" [8] . Maka sekali-kali kamu tidak akan mendapat pergantian bagi sunnatullah itu.(Allah telah menetaphan yang demikian) sebagai sunnatullah pada mereka yang telah berlaku dahulu.untuk terjun menggali ilmu pengetahuan yang luas dan khazanah ilmiah bangsa-bangsa Yunani. dan adalah ketetapan Allah itu suatu qadar yang pasti berlaku. Dan masing-masing di dalam orbitnya pada beredar.. [9] Kedua ayat ini cukup jelas isyarat-isyaratnya yang dapat ditangkap ilmu astronomi. penelitian dan penalaran lewat ilmu-ilmu yang mempelajari perilaku dan sifat-sifat makhluk-makhluk. Ibn Rusyd. kilat.. [12] Kata bi qadar (dengan qadar) di sini ditafsirkan. al-Farabi. dan tentang manusia sendiri dan kejadiannya serta segala macam permasalahannya. tumbuh-tumbuhan. Parsi. Isyarat yang ada dibalik kalimat ini dapat ditangkap lebih jelas dengan bantuan ilmu fisika yang membahas tentang materi dan unsur. menurut ukuran. Benda-benda yang ada disekeliling kita. Kehadiran ayat-ayat yang mengandung isyarat-isyarat yang mengacu pada pengungkapan misteri alam. Adanya sejumlah ketentuan yang pasti dan berlaku sebagai hukum yang mengatur segala makhluk di alam raya ini. diantaranya. sehingga menghasilkan ilmuwan-ilmuwan besar seperti Ibn Sina. yang merupakan . Demikian pula halnya dengan ilmu-ilmu lain yang dapat menangkap isyarat-isyarat berbagai ayat al-Qur'an yang berbicara tentang hewan. Ayat yang secara jelas merangkaikan sunnatullah itu dengan qadar. biasanya dalam bahasa ilmu-pengetahuan disebut natuurwet atau hukum alam. Romawi. itulah ketentuan dari Yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui. telah mengungkapkan banyak penemuan yang memperkenalkan kepada kita hukum-hukum yang berlaku dengan pasti atas alam ini. awan. [10] Dalam terminologi teologis hal semacam itu termasuk dalam kategori qadar dan qadla.Dan matahari itu berjalan di tempatnya.dianggap identik dengan determinisme. Dan telah Kami tetapkan bagi bulan manzilah-manzilah perjalanan sehingga (setelah ia sampai ke manzilah terakhir) kembalilah ia sebagai bentuk tandan yang tua. mendorong minat dan membangkitkan semangat kaum Muslim angkatan-angkatan pertama --yang dapat menghayati ayat-ayat al-Qur'an ini-... dan sekali-kali tidak (pula) akan menemni penyimpangan dari sunnatullah itu. Sesungguhaya Kami menciptakan segala sesuatu dengan qadar. air. al-Ghazali dan serentetan nama besar yang tidak asing bagi dunia ilmu pengetahuan di Timur dan di Barat. berbunyi . [11] Penjelasan lebih jauh tentang qadar itu dapat kita simak dari beberapa ayat. Upaya pengamatan. Dialah yang menjadikan matahari bersinar dan bulan bercahaya. India dan Cina di bidang pengetahuan filsafat dan alam. Tidaklah mungkin bagi matahari mencapai bulan dan malampun tidak dapat mendahului siang. Allah tidak menciptakan yang demikian itu melainkan dengan hak. baik berupa benda mati maupun makhluk hidup. Salah satu ayatnya mengatakan. namun istilah ini lebih mendominasi hal-hal yang bersangkut paut dengan perilaku manusia. dan ditetapkan manzilah-manzilah (mansion) bagi peredarannya supaya kalian mengetahui bilangan tahun-tahun dan perhitungannya.

(021) 7507174 Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan . Isyarat serupa yang kita peroleh dari informasi ilmu fisika sebagaimana disinggung di atas.. UA 20-21 Jakarta Selatan Telp. [14] Pembahasan teologis dalam bidang qada dan qadar (masalah takdir) kurang menyentuh apa yang kami singgung di atas. Dalam hubungan ini dapat kita hayati ungkapan sebuah ayat yang berbunyi. Metro Pondok Indah Pondok Indah Plaza I Kav. jumlah protonnya 47. unsur Cu (tembaga). Misalnya. perak. jumlah protonnya 78. Dan Dia (Allah) telah menciptakan segala sesuatu dan Dia-lah yang menetapkan qadar/ukurannya secara pasti serapi-rapinya. jumlah protonnya 26. [15] -------------------------------------------. jumlah protonnya 29. Dalam kasus-kasus seperti ini. besi. unsur Ag (perak).bahan-bahan kebutuhan dalam hidup kita seperti kayu. Sebahagian besar dari materi-materi yang kita kenal terdiri dari unsur-unsur. Misalnya unsur oksigen bergabung dengan hidrogen membentuk senyawa cair.. jumlah protonnya 79. hewan. tumbuh-tumbuhan. Unsur-unsur yang tergabung dalam suatu senyawa selalu mempunyai proporsi tertentu.". unsur Hg (air raksa). unsur Al (aluminium). . Tergabungnya dua unsur atau lebih melalui pola persenyawaan atau pola percampuran membentuk suatu materi tertentu. 7507173 Fax. jumlah proton yang terkandung di dalamnya 13. seng. sebagian besar mengaitkan bermacam-macam fenomena alam yang dimintakan perhatian supaya manusia mengamatinya dan melakukan penalarannya untuk dapat membaca tulisan Ilahi yang tersirat di dalamnya. semuanya itu termasuk dalam kategori materi. jumlah protonnya 28. Mungkin itulah yang disindir Imam Ghazali dengan ungkapannya:.. Semuanya ini merupakan bagian dari hukum yang mengatur dan memelihara alam semesta. dan seterusnya. unsur-unsur telah bergabung membentuk suatu senyawa. mengikuti suatu aturan yang dikenal hakam proporsi yang sudah tertentu. jumlah protonnya 80. dapat pula kita temui dari informasi ilmu kimia yang membahas unsur-unsur itu. unsur Au (emas). unsur Ni (nikel). Juga untuk menemukan sunnatullah atau hukum-hukum kauniyah yang akan menopang tegaknya hukum-hukum syar'iyyah. tulisan tanpa aksara dan bunyi itu pasti tidak dapat diraih dengan mata telanjang. emas. unsur Pt (platina). Padahal ayat-ayat yang berbicara tentang qudrat-iradat Allah/kekuasaan dan keagungan Allah. Air murni selalu mempunyai proporsi oksigen dan hidrogen yang sudah tertentu dan tetap. air dan sebagainya. memperlihatkan kepada kita adanya kadar ukuran tertentu yang menjadi ketentuan-ketentuan yang pasti yang dapat diamati dalam diri setiap makhluk. tapi harus dengan mata hati. mereka tidak mampu membaca tulisan Ilahi yang tergurat di atas lembaran-lembaran alam semesta.(bersambung 2/3) Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah Editor: Budhy Munawar-Rachman Penerbit Yayasan Paramadina Jln. unsur Fe (besi). 7501983. (021) 7501969. [13] Secara sepintas dari dua informasi yang disajikan di atas. dan disebut air. demikian pula dengan proporsi nitrogen dan hidrogen dalam amoniak.

Hukum yang berlaku sepanjang sejarah kehidupan manusia. Tubba'. al-Nisa. Dari sejarah itu tergambar bagaimana proses kebangkitan suatu umat dan bagaimana proses kehancurannya. . al-Tsamud. Ghafir.8. sunana al-ladzina min qablikum. dan sebagainya. dan seterusnya. al-Anfal. yang berbicara tentang sunnatullah dengan berbagai formulasi seperti sunnat alawwalin. KONSEP-KONSEP HUKUM (2/3) oleh KH." Ayat-ayat di dalam surah-surah al-Isra'. Apa yang dikenal dalam ilmu hukum dengan historis-interpretasi cukup jelas padanannya dalam ilmu ushul fiqh yang lazim dipakai dalam mengolah hukum Islam. dan memenangkan suatu perjuangan besar dalam menegakkan kebenaran dan keadilan serta mewujudkan kesejahteraan yang memberi arti bagi kemanusiaan. yang berlaku secara pasti. yang mengabaikan nilai-nilai moral. Uhud. yang hidup bergelimang kemewahan. Ali 'Imran. Selain itu. dengan adanya hukum nasikh-mansukh. yang diminta al-Qur'an supaya diamati. Demikian pula halnya dengan tempat-tempat bersejarah seperti Badr. Sunnah Rasullullah saw yang menggambarkan perjuangannya selama dua dasawarsa lebih. sebagaimana berlaku natuurwet. Saba'. semuanya berkaitan dengan peristiwa sejarah yang dialami para Nabi/Rasul dengan umatnya masing-masing. al-Ahzab. merupakan sebagian dari sunnatullah. dan lain sebagainya. Haman. Quraisy. Sukses besar berupa keberhasilan membangun dan membina suatu umat teladan. asbab al-nuzul. Dalam rangka itu al-Qur'an memperkenalkan tokoh-tokoh sejarah zaman lampau seperti Fir'aun. dan sebagainya. tapi merupakan hasil kerja keras yang lama dan berkesinambungan. semuanya itu adalah untuk memperjelas proses terbentuknya suatu hukum dan latar belakang sejarah yang mendorong kehadiran hukum tersebut. al-Kahf. Ali Yafie Sunnatullah yang diperkenalkan al-Qur'an sebagaimana diuraikan di atas tidaklah terbatas pada ketentuan-ketentuan yang mengatur alam materi saja. Hunain. Bagaimana pertarungan antara pahlawan-pahlawan kebenaran dan akibat-akibat apa yang dialami para penentang kebenaran yang melakukan kezaliman.ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota Please direct any suggestion to Media Team Artikel Yayasan Paramadina Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota II. Hijr. yang banyak dicatat dalam al-Qur'an menerjemahkan dengan jelas sunnatullah yang berlaku dalam sejarah. asbab al-wurud dan status makkiyah atau madaniyah dari ayatayat. yang memeras golongan lemah. sunnata man arsalna qablak. Jalut. semua itu tidaklah lahir dalam sehari dengan kilatan lampu aladin. aspek kesejarahan mempunyai juga arti penting dalam hukum-hukum syar'iyyah. bahkan dalam al-Qur'an. direnungkan dan mengambil pelajaran daripadanya. apa faktor-faktor kemenangan dan apa faktor-faktor kegagalan dalam satu perjuangan. pemakaian kata sunnatullah lebih banyak mengacu pada apa yang disebut oleh ilmu pengetabuan sebagai "hukum sejarah. Thur. Sejarah mempunyai hukumnya sendiri dalam hal-hal tersebut di atas. tapi juga menjangkau alam nonmateri. Fathir. Ahqaf. al-Fath.

Keraguan seperti itu sejak dini telah muncul. karena khawatir kalau-kalau upaya berobat untuk menghindarkan penyakit bertentangan dengan iman tauhudnya dan tidak menjadikan ia bertawakkal kepada Allah. Sebaliknya juga segala penyebab terjadinya suatu kegagalan atau kehancuran harus disadari dan dihindari. Dan Allah pun mewujudkan janjinya pada mereka. Dalam hubungan ini Syeikh Mahmud Syaltut mengomentari. hanya karena mereka sudah mengaku beriman/percaya kepada Allah. Hukum sejarah sejalan dengan hukum alam. tapi hanya sebagai alat menciptakan kemakmuran dan untuk menegakkan hukum Allah dalam hal memerintahkan yang ma'ruf dan mencegah yang mungkar. mengungkapkan sesungguhnya Allah hanya memenangkan suatu perjuangan sesuai dengan ketentuan sunnahNya yang berlaku atas segenap mahluk-Nya. Siapa yang menolong/membela agama Allah dengan jalan menegakkan keadilan. atau hukum moral yang disebut tawakkal. tapi tidak mewujudkan janji itu dalam bentuk suatu keajaiban yang langsung turun dari langit. lalu diluruskan oleh sunnah Rasulullah dalam praktek sebagaimana tercermin dengan jelas dalam cara-cara perjuangan Rasul saw. tidak menjadikan kekuatan/kekuasaan itu sebagai alat menindas dan merusak. Pesan dan petunjuk yang diberikan al-Qur'an pada manusia. [16] Ciri utama agama Islam. yang menandai kehidupan sosial. Sebab-sebab keberhasilan dan kemenangan dalam suatu perjuangan dapat dipelajari dari sejarah dan harus dipersiapkan dengan sebaik-baiknya. Maka dengan adanya perjuangan antara kebenaran dengan kebatilan.yang didorong oleh rasa percaya diri dan semangat juang yang tinggi sebagai perwujudan iman dan taqwa. melihat adanya semacam kontradiksi antara hukum sebab-musabab (hukum kausal) dengan hukum teologis yang disebut tauhid. Lebih lanjut beliau menjelaskan bahwa dalam al-Qur'an banyak ayat memuat janji Allah untuk membantu memenangkan perjuangan orang-orang mukmin. maka keharusan memenuhi segala persyaratan-persyaratan itu adalah suatu hal yang mutlak. ialah ajarannya yang cukup praktis dan realistis menghadapi kenyataan sosial dengan langkah-langkah pemecahan yang praktis pula. yang menempuh segala persyaratan dan mengkaitkan segala sebab dengan musababnya. tapi dalam bentuk kesadaran keimanan yang menjadikan mereka menyadari kewajibannya dan melaksanakan perjuangan dengan gigih tanpa pamrih. Ada sebagian pendapat yang kurang memahami sunnatullah dalam bentuk hukum alam dan hukum sejarah. Dalam hubungan . atau karena sudah memeluk agama Allah. memantapkan keamanan. Sikap yang demikian membuktikan bahwa mereka sudah memenuhi janjinya kepada Allah. membimbing kita supaya menyadari keterkaitan segala sesuatu dengan penyebabnya. ayat-ayat yang berbicara tentang perjuangan Rasulullah. sebagai syarat bagi terjadinya. Sunnah Rasulullah dalam perjuangan itu mendidik umatnya supaya memahami dan menghayati sunnatullah yang berlaku dalam sejarah. Dianggapnya hukum tauhid itu cenderung memberikan cap syirik (mempersekutukan Allah) jika seseorang menganggap ada penyebab (faktor penentu) selain Allah. disamping menjelaskan hal itu dalam petunjuk lisannya pada mereka yang segan berobat di kala ia sakit. menyebarkan ketentraman. demikian pula sunnah Rasulullah yang memberikan penjelasan praktis pada pesan al-Qur'an itu. Keduanya mempunyai titik temu dalam hukum sebab-akibat. Atau dianggapnya hukum tawakkal bertentangan dengan hukum sebab-musabab (kausal).

Di luar itu tidak diperlukan hukum. Maka janganlah kalian mengikuti hawa nafsumu. Dengan demikian tidaklah mengherankan akibatnya dalam rangka pembinaan hukum. menjadi saksi karena Allah. [20] Itulah pesan al-Qur'an. Dan jika kalian memutarbalikkan (kebenaran) atau enggan menjadi saksi. keamanan serta kesejahteraannya yang ditegakkan oleh pemegang kekuasaan umum atau badan peradilan. Adanya hukum niat yang diberi peran menentukan nilai perilaku manusia. Wahai orang-orang yang berilmu! jadilah kalian orang yang benar-benar penegak keadilan. Itu (pengobatan) adalah sebahagian dari qadar Allah. Sebaliknya hukum menurut ajaran al-Qur'an penegakkannya berjalan sekaligus dengan penabinaan moral dan akhlak yang bersumber dari akidah/keimanan. Bertobatlah kalian. Ibadat tidak lain adalah perwujudan dari akidah yang diimani. Menurut ilmu hukum. Pembinaan hukum di sini tidak diarahkan kepada pembinaan diri manusianya. diatur secara pasti. Dalam penegakkan hukum menurut ajaran al-Qur'an selalu ditekankan suatu pesan sebagai berikut. Demikian ulasan al-Ghazali dalam Kitab Tawhid dan Tawakkal. Maka sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala apa yang kalian lakukan. Menurut ilmu hukum. karena sesungguhnya Allah menciptakan penyakit dan menciptakan juga obat. yakni bidang 'ibadat. hanya diarahkan supaya tidak melanggar rambu-rambu hukum. diatur melalui hukum jinayat. sebab-musabab itu adalah sunnatullah dan penyimpangan dari sunnatullah bukanlah persyaratan dalam tawakkal bahkan ada kalanya merupakan kebodohan yang dicela agama. bersabda. Kepatuhan mentaati hukum menjadi kepatuhan yang semu dan bersifat lahiriah belaka. diatur dalam hukum mu'amalat. apakah itu bertentangan dengan qadar (taqdir)? Lalu Beliau menjawab. biarpun terhadap dirimu sendiri atau ibu bapak dan keluarga kerabatmu. supaya kalian tidak menyimpang (dari kebenaran). bidang munakahat dan bidang jinayat. kaya maupun miskin. Karena itu penegakkan hukum menurut ilmu hukum selama tidak diawasi dan diketahui pejabat/aparat hukum selalu terjadi pelanggaran hukum. memperlihatkan dengan jelas peran moral dalam hukum itu. Di sinilah terlihat secara nyata keterkaitan hukum itu dengan akidah/keimanan. masih ada perbedaan asasi antara kedua jenis hukum itu. Tata hubungan antara manusia dengan sesamanya dalam lalulintas pergaulan dan hubungan sehari-hari untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Hubungan manusia sebagai makhluk dengan Khaliqnya (Allah) diatur penataannya melalui hukum ibadat. dan terakhir tata hubungan keselamatan. Adanya hukum-ibadat dalam batang tubuh hukum Islam yang bersumber dari al-Qur'an itu merupakan ciri utama hukum Islam. . Selain itu. Hubungan antara makhluk (manusia) dengan Al-Khaliq. ketika Beliau ditanya tentang pengobatan. [18] Imam Ghazali menjelaskan. hukum itu hanya sekedar mengurus dan mengatur hubungan antar sesama manusia. Tata hubungan manusia dalam kehidupan berkeluarga dalam suatu lingkungan rumah tangga. hukum itu terdiri dari suruhan/perintah dan larangan serta hak dan kewajiban. diatur melalui hukum munakahat.itu Nabi saw. Di sini pula tampak titik awal perbedaan antara pemahaman hukum menurut ilmu hukum dengan hukum Islam yang bersumber dari al-Qur'an. Allah jualah yang lebih tabu keadaannya. bidang mu'amalat. Apa yang dimaksud dengan nilai moral dan akhlak tidaklah tergolong hukum. [l7] Dalam sabdanya yang lain. [39] Penjabaran yang merinci hukum-hukum al-Qur'an yang dilakukan fiqh memperlihatkan adanya empat bidang utama yang menjadi sasaran dari hukum itu.

(021) 7507174 Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota Please direct any suggestion to Media Team Artikel Yayasan Paramadina Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota II. al-Qur'an memperkenalkan satu konsepsi hukum yang bersifat integral. maka hukum dari ajaran al-Qur'an itu mempunyai kekuatan sendiri yang tidak sepenuhnya tergantung pada adanya suatu kekuasaan sebagai kekuatan pemaksa dari luar hukum itu. [2l] Dalam hubungan adanya kemungkinan seseorang berlaku memperdayakan hakim. Mungkin sebahagian dari kalian lebih mampu dari yang lain (lawannya) mengemukakan alasan-alasan untuk memperkuat tuntutannya.8. Karena sesungguhnya ia hanya mengambil (menerima dariku) sepotong api neraka. Seandainya hukum yang diajarkan al-Qur'an itu tergantung . 7501983. Demikian sabda Rasulullah. 7507173 Fax. Di dalamnya terpadu antara sunnatullah dengan sunnah Rasulullah. yang pertama ialah dari dan terhadap dirinya sendiri. supaya kalian dapat memakan sebahagian harta benda orang lain itu dengan (jalan berbuat) dosa. lalu aku memutus perkara itu atas dasar apa yang saya dengar (dari alasan/keterangan) itu. Ali Yafie Dengan demikian maka jelaslah. UA 20-21 Jakarta Selatan Telp. Metro Pondok Indah Pondok Indah Plaza I Kav.bagaimana seyogyanya seorang berbuat adil. Maka barang siapa menerima putusan perkara (yang ia sendiri tahu) bahwa itu hak saudaranya (lawannya dalam perkara) maka janganlah ia mengambil (hak) itu. KONSEP-KONSEP HUKUM (3/3) oleh KH. Sesungguhnya kalian mengajukan perkara-perkara kepadaku (untuk diputus). Ide hukum yang diajarkan al-Qur'an berkembang terus dari kurun ke kurun. dengan hukum dalam rumusan yang diajarkan al-Qur'an. Dengan sifatnya yang demikian itu. sebagaimana terpadunya antara aqidah/keimanan dan moral/ahklak. Tidak dituntut dari dan terhadap orang lain saja. padahal kalian mengetahui. (021) 7501969. Kemungkinan seorang pencari keadilan berlaku memperdaya hakim. sunnah Rasulullah memperjelas sebagai berikut.(bersambung 3/3) Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah Editor: Budhy Munawar-Rachman Penerbit Yayasan Paramadina Jln. melalui jalur ilmu. atau adanya aparat hukum yang menyalahgunakan kedudukannya. Dan janganlah sebagian dari kalian memakan harta benda sebagian yang lain dengan jalan batil dan jangan pula mempergunakan harta itu sebagai umpan (guna menyuap) para hakim. secara dini al-Qur'an memperingatkan. [22] -------------------------------------------.

Dua hal yang disinggung terakhir ini. Dalam rangka itu para ahli hukum dari mereka. perkembangan segi-seginya tidaklah seimbang. Tapi ternyata hukum Islam dari ajaran al-Qur'an itu dapat memperlihatkan daya tahannya yang ampuh. wawasan hukum yang diperkenalkan al-Qur'an. pembangunan dan pembinaan hukum nasional diarahkan kepada pembaharuan hukum yang sesuai dengan kesadaran hukum yang berkembang dalam masyarakat. Salah satu gejala dari perkembangan tersebut adalah minat para ilmuwan Barat untuk mempelajari Islam/Qur'an. penerapannya ternyata juga kurang terpadu antara hukum-hukumnya yang menyangkut segi sosial kemasyarakatan. adanya berbagai madrasah dan madzhab di dalamnya menunjukkan. Hukum yang diperkenalkan al-Qur'an hidup terus. Tetapi bagaimana pun juga. perkembangan ilmu pengetahuan yang sangat pesat. Selain itu. dengan hukum-hukumnya yang menyangkut sunnatullah yang berupa hukum alam dan hukum sejarah. Disamping itu. Maka Fiqh ini dijadikan agenda tetap dalam pengkajian-pengkajian mereka di bidang hukum.pada suatu kekuasaan. Namun harus diakui. yang sangat mendominasi bangsa-bangsa Barat. perundang-undangan Islam kaya dengan berbagai teori hukum dan teknik hukum yang indah. yang tidak lain wujud nyatanya dan terinci adalah fiqh (hukum Islam) itu sendiri. karena memang demikianlah hukum sejarah dalam sunnatullah sendiri. Dan seginya yang menyangkut sunatullah berupa hukum alam dan sejarah. sebagai ilmu. yang terjadi di negara-negara maju dapat pula mencari pandangan yang negatif terhadap Islam dan al-Qur'an. sangat berjasa dalam menumbuhkan kesadaran hukum dan sikap normatif dalam kehidupan umat Islam. pelaksanaan dan pengembangan wawasan hukum yang diperkenalkan al-Qur'an itu merupakan tantangan bagi para ulama dan para . maka sudah lama jenis hukum ini terkubur dalam perut sejarah atau sekurang-kurangnya menjadi barang pajangan di lemari-lemari museum. Di lain pihak. [23] Dalam rangka pembangunan hukum di negara kita Republik Indonesia. Sebagai contoh dapat kita lihat dari hasil Kongres Ahli-ahli Hukum Internasional yang berlangsung di London (2-7 Juli 1951) yang antara lain menetapkan. Sebagai kelanjutan dari pokok pikiran ini. kurang mendapat perhatian dalam pengembangannya. Seginya yang menyangkut hukum sosial kemasyarakatan (ahkam syar'iyah 'amaliyah/fiqh) lebih banyak mendominasi perkembangan itu. sejak 1978 sampai dengan 1983 telah dilaksanakan pengkajian hukum yang meliputi antara lain Hukum Islam. sekali pun harus mengalami pasang surut dan pasang naik dan penerapannya. Terakhir kita mendengar selesainya upaya kompilasi Hukum Islam yang dilakukan Mahkamah Agung bersama Departemen Agama. Ia tetap bertahan bahkan berkembang dalam bentuk baru melalui proses taqnin (dirumuskan menjadi positif melalui yurisprudensi dan adakalanya melalui berbagai bentuk perundang-undangan). Karena kita semua cukup mengetahui betapa hebat upaya dari kekuasaan-kekuasaan yang mampu menaklukkan wilayah-wilayah Islam dan umatnya disertai upaya melikwidasi budaya dan hukumnya. pokok-pokok hukum (undang-undang) yang terdapat dalam agama Islam merupakan undang-undang yang bernilai tinggi dan sulit dibantah kebenarannya. dari kongres ke kongres mulai terbuka pandangan terhadap Islam. yakni keseimbangan dan keterpaduan dalam hal pemahaman. sehingga perundang-undangan ini dapat memenuhi kebutuhan hidup modern. perkembangan segi fiqhnya yang merumuskan hukum sosial kemasyarakatan itu.

al-A'raf:87. h. (021) 7507174 Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan . 11) QS. al-Furqan:2 22) Ihya 'Ulum al-Din. Yasln:38/40. 18) QS. 14) Taisir Ibn' Katsir. al-Nisa':68. al-Maidah:8. -------------------------------------------Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah Editor: Budhy Munawar-Rachman Penerbit Yayasan Paramadina Jln. Penjelasan Umum.cendekiawan Muslim. 'Ali 'Imran:190/191. 7507173 Fax. Metro Pondok Indah Pondok Indah Plaza I Kav. Hud:45. Human Body. 17) QS. Fathir :43. 19) QS. 15) QS. 7501983. 20) Ilmu Pengetahuan Populer. al-Maidah:42 5) QS. 16) QS. Yunus:15. Fusshilat:53. 9) Jonathan Rutland. 4) QS. Yunus:101. al-Ahzab:38. CATATAN 1) QS. 10) QS. (021) 7501969.272. Al-Ra'd:15. UA 20-21 Jakarta Selatan Telp. al-Qamar:49.83. al-A'raf: 185. LV/89. dan lain-lain. Grolier Internasional Inc. 12) QS. al-Mumtahanah:10. 2) QS. 14 Tahun 1970 tentang Ketentuan Pokok Kekuasaan Kehakiman 8) QS. 21) QS. Syaltut. al-Ghazali. 6) UUD 1945. 23) Min Taujuhat al-Islam. 'Ali 'Imran. 3) QS. 7) UU No. I/440. 13) QS. IV/146. al-Maidah:43.

10. KONSEP-KONSEP KEBAHAGIAAN DAN KESENGSARAAN (1/4) oleh Nurcholish Madjid Masalah kebahagiaan (sa'adah) dan kesengsaraan (syaqawah) adalah masalah kemanusiaan yang paling hakiki. Kebahagiaan atau kesengsaraan itu dapat terjadi hanya di dunia ini saja seperti dalam Marxisme. Sebab Tuhanmu pasti melaksanakan apa saja yang menjadi kehendak-Nya. patut kita bahas secara sungguh-sungguh. Gambaran tentang wujud kebahagiaan atau kesengsaraan itu sangat beranekaragam. Meskipun ilustrasi tentang surga dan neraka itu berbeda-beda --dalam banyak hal perbedaan itu sangat radikal dan prinsipil-. kekal abadi di dalamnya. kesengsaraan) dan yang bahagia (sa'id. yakni. Kekal abadi di dalamnya. misalnya) menjanjikan kebahagiaan bagi para pengikutnya dan mengancam para penentangnya dengan kesengsaraan. . Ada pun mereka yang bahagia. Kitab Suci al-Qur'an menyajikan banyak ilustrasi dan penegasan yang kuat tentang kebahagiaan dan kesengsaraan Dalam sebuah firman disebutkan tentang terbaginya manusia ke dalam dua kelompok: yang sengsara (syaqiy penyandang syaqawah. Sebab tujuan hidup manusia tak lain ialah memperoleh kebahagiaan dan menghindari kesengsaraan. sebagai anugerah yang tiada batasnya. maka akan berada dalam surga. Namun semua ajaran dan ideologi selalu menegaskan bahwa kebahagiaan yang dijanjikannya atau kesengsaraan yang diancamkannya adalah jenis yang paling sejati dan abadi. (QS.ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota Please direct any suggestion to Media Team Artikel Yayasan Paramadina Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota II. selama langit dan bumi masih ada kecuali jika Tuharmu menghendaki hal berbeda. Al-Qur'an melukiskan keadaan itu demikian.namun semuanya menunjukkan adanya keyakinan yang pasti tentang pengalaman kebahagiaan atau kesengsaraan dalam hidup manusia. Hud/11:105-108) Munculnya persoalan pengertian kebahagiaan dan kesengsaraan ini dalam Islam. yakni kebahagiaan). baik yang bersifat keagamaan maupun yang bersifat keduniaan semata (seperti Marxisme. yang sengsara dan yang bahagia. maka akan tinggal dalam neraka di sana mereka akan berkeluh kesah semata. Jika Hari (Kiamat) itu telah tiba. Semua ajaran. Ada pun mereka yang sengsara. atau di dunia dan akhirat seperti dalam Islam. atau di akhirat saja seperti dalam agama-agama other-wordly. maka tiada seorang pun akan berbicara kecuali dengan izin-Nya Mereka manusia akan terbagi menjadi dua. kecuali jika Tuhanmu menghendaki hal berbeda. penyandang sa'adah. selama langit dan bumi masih ada. gambaran tentang wujud kebahagiaan dan kesengsaraan itu dinyatakan dalam konsep-konsep tentang kehidupan di surga dan di neraka. Dalam agama-agama.

dan kematian adalah fase final hidup manusia. karena sifatnya yang membelenggu sukma manusia. Kebahagiaan hanya diperoleh dengan tindakan dan perilaku meninggalkan dunia. KEBAHAGIAAN DAN KESENGSARAAN: JASMANI DAN ROHANI? Di atas telah disinggung. Bagi agama-agama itu. seseorang dianjurkan mengejar kebahagiaan di akhirat. ataukah pengalaman rohani dan jasmani sekaligus. dan pastilah akan Kami ganjarkan kepada mereka pahala mereka (di akhirat). dan dia itu beriman maka pastilah akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik (di dunia).disebabkan adanya perbedaan interpretasi atas ayat-ayat suci yang menggambarkan kebahagiaan dan kesengsaraan itu. Walaupun begitu. Ateisme dengan sendirinya mengingkari kehidupan sesudah mati atau akhirat. Maka manusia didorong mengejar kedua bentuk kebahagiaan itu. Marxisme. Sebaliknya. al-Qashash/28:77). al-Baqarah/2:200). Islam mengajarkan kebahagiaan dan kesengsaraan jasmani dan rohani atau duniawi dan ukhrawi. Dalam tulisan ini kita akan membicarakan konsep kebahagiaan dan kesengsaraan sebagai pengalaman keagamaan (pribadi). dalam orientasi hidup yang mengarah ke kehidupan rohani saja. Dalam Islam. dan dengan sendirinya. apakah berupa pengalaman kerohanian semata. orang yang mengalami kebahagiaan duniawi belum tentu akan mendapatkan kebahagiaan di akhirat. yaitu. serta berusaha menghindar dari penderitaan azab lahir dan batin (QS. merupakan bagian dari dialog Islam sejak masa klasik. namun tetap membedakan keduanya. banyak pula dijanjikan kehidupan yang bahagia sekaligus di dunia ini dan di akhirat kelak untuk mereka yang beriman dan berbuat baik. sebagian agama mengajarkan adanya kebahagiaan dan kesengsaraan rohani semata. namun diingatkan agar jangan melupakan nasibnya dalam hidup di dunia ini (Lihat QS. demikian pula masalah . dari kalangan pria maupun wanita. atau pengalaman jasmani semata. mengajarkan tentang adanya kebahagiaan atau kesengsaraan yang hanya bersifat jasmani. Itu berarti memperoleh kebahagiaan akhirat belum tentu dan tidak dengan sendirinya memperoleh kebahagiaan di dunia. al-Jatsiyah/45:24). Demikian itu masalah kebahagiaan. kehidupan jasmani adalah kesengsaraan. Perselisihan tentang wujud kebahagiaan atau kesengsaraan itu. bukan fase peralihan seperti diyakini agama-agama (Lihat QS. Kaum Marxis yang ateis ini mirip dengan gambaran dalam al-Qur'an tentang golongan manusia pemuja waktu (al-Dahr). Ini akan banyak menyangkut konsep-konsep kefilsafatan dan kesufian yang cukup rumit. Barangsiapa berbuat baik. sesuai dengan sebaik-baik apa yang telah mereka kerjakan (QS. namun dirasa perlu kita mulai membahasnya mengingat perkembangan keagamaan di negeri kita yang pesat dengan tuntutan-tuntutannya yang terus meningkat. semua itu berlangsung hanya dalam hidup di dunia ini saja. al-Nahl/16:97). tentu saja. Kehidupan yang bahagia di dunia menjadi semacam pendahuluan bagi kehidupan yang lebih bahagia di akhirat. yang hanya mempercayai kehidupan duniawi ini saja.

hemat. tabah." Dan pastilah Kami (Tuhan) buat mereka merasakan azab yang lebih ringan (di dunia ini) sebelum azab yang lebih besar (di akhirat nanti) agar kiranya mereka mau kembali. Ciri tersebut akan membawa mereka pada kebahagiaan duniawi dan ukhrawi sekaligus. Kemudian ada beberapa keterangan. yang melahirkan piramida eksistensial. Adapun orang-orang yang jahat. Orang yang ingkar kepada kebenaran dan berbuat jahat diancam baginya kesengsaraan dalam hidup di dunia ini sebelum kesengsaraan yang lebih besar kelak di akhirat. maka tempat mereka adalah neraka. the . dan bahwa tidak selamanya mengejar salah satu akan dengan sendirinya menghasilkan yang lain. manusia dengan kaum khawas (al-khawash atau orang-orang khusus. Dalam kemungkinan tinjauan yang lebih menyeluruh. MASALAH INTERPRETASI Meskipun para ulama sepakat tentang adanya kebahagiaan dan kesengsaraan dunia-akhirat itu. dengan kebahagiaan di akhirat yang jauh lebih besar. Sebab hampir seluruh keterangan dan pelukisan tentang surga dan neraka dalam Kitab dan Sunnah menggambarkan tentang pengalaman kebahagiaan atau kesengsaraan yang serba fisik.kesengsaraan. Ibn Rusyd mengaitkan perkara ini dengan kenyataan terbaginya manusia dalam susunan tinggi dan rendah. khususnya keterangan atau pelukisan tentang surga dan neraka Yaitu perbedaan antara mereka yang memahami teks-teks suci secara harfiah dan mereka yang melakukan interpretasi metaforis (ta'wil) Bagi mereka yang memahami teks-teks suci itu secara harfiah. baik dalam Kitab maupun Sunnah yang memberi isyarat bahwa pengalaman kebahagiaan dan kesengsaraan itu tidak fisik. maka pelukisan kebahagiaan dan kesengsaraan apa pun harus diterima sebagai sesuatu yang wujudi atau eksistensial. tulus. mereka dikembalikan ke dalamnya. berkesungguhan dalam mencapai hasil kerja sebaik-baiknya (itqan). Tapi memang ada dan banyak. Beberapa nilai akhlak luhur seperti jujur. dapat dipercaya. al-Sajdah/32:20-21) Penegasan-penegasan ini tidak perlu dipertentangkan dengan penegasan-penegasan terdahulu di atas bahwa ada perbedaan antara kebahagiaan duniawi dan kebahagiaan ukhrawi. melainkan rohani atau sekurang-kurangnya psikologis. dan harus dipahami dalam konteks adres pembicaraan (al-mukhathab). perilaku lahir dan batin manusia yang membawa akibat pada adanya pengalaman kebahagiaan atau kesengsaruan duniawi dan ukhrawi sekaligus. yang dikaitkan dengan "kebijaksanaan" Tuhan sebagai yang Maha Kasih-Sayang dan Maha Adil. sambil dikatakan kepada mereka: "Sekarang rasakanlah azab neraka ini. cinta kerja keras. pengertian tentang kebahagiaan dan kesengsaraan akan cenderung bersifat fisik. baik dari al-Qur'an maupun Sunnnah. dan lain-lain adalah pekerti-pekerti yang dipujikan Allah sebagai ciri-ciri kaum beriman. tepat janji. (QS. mereka tetap berselisih tentang kebahagiaan dan kesengsaraan yang sejati dan abadi Pangkal perbedaan itu ialah adanya perbedaan dalam tafsiran atas berbagai keterangan suci tentang kebahagiaan dan kesengsaraan. yang dahulu kamu dustakan. Setiap kali mereka hendak keluar dari sana.

Tapi Tuhan Yang Maha Adil dan Maha Kasih-Sayang kepada sekalian umat manusia tentu mustahil mengalamatkan sabda-Nya hanya kepada orang-orang khusus yang jumlahnya sedikit itu. Karena itu Tuhan juga mengarahkan sabda-Nya kepada khalayak umum. Metro Pondok Indah Pondok Indah Plaza I Kav. menurut Ibn Rusyd wajib melakukan pemahaman serupa itu. (021) 7501969.(bersambung 2/4) Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah Editor: Budhy Munawar-Rachman Penerbit Yayasan Paramadina Jln. -------------------------------------------. 7501983. (Lihat Ibn Rusyd. Karena yang pokok ialah iman kepada Allah serta berbuat baik. the commons) menempati bagian-bagian bawah sampai ke dasar piramida. namun dalam pandangan Ibn Rusyd tidaklah terhindarkan karena kenyataan dalam masyarakat menunjukkan adanya orang-orang tertentu yang jumlahnya tidak banyak. dan kaum awam (al-awam orang-orang umum atau kebanyakan. Sebab dengan demikian berarti Tuhan menjanjikan kebahagiaan hanya kepada kelompok kecil manusia saja. Fashl al-Maqa]). Pemahaman me lalui metode i'tibar adalah interpretasi alegoris atau ta'wil. jika mendapatkan bahwa pengertian harfiah pelukisan itu adalah mustahil atau absurd. maka pengertian tentang hakikat kebahagiaan dan kesengsaraan itu menjadi kurang relevan bagi kaum awam. Karena itu. Mereka yang mampu memahaminya dengan melakukan al-i'tibar. Mereka ini wajib menerima pelukisan tentang surga dan neraka apa adanya. suatu hal yang jelas mustahil yang kualifikasi kelompok kecil itu ialah kesanggupan memahami hal-hal abstrak di balik ungkapan-ungkapan kiasan.specials) menempati puncak piramida itu. UA 20-21 Jakarta Selatan Telp. 7507173 Fax. karena memang pelukisan yang bersifat fisik itulah yang dapat ditangkap dan dipahami umum. sesuai dan setingkat dengan cara berfikir serta kemampuan mereka menangkap pesan dan memahami masalah. (021) 7507174 Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota Please direct any suggestion to Media Team . Bagi mereka ini. berbentuk pelukisan kehidupan di surga dan neraka dalam Kitab Suci dan Sabda Nabi. yang sanggup memahami kebenarankebenaran hakiki lewat alegori-alegori dengan melakukan "penyeberangan" (al-i'tibar) ke pengertian-pengertian sebenarnya di balik alegori-alegori. sesuai dengan cara yang sekiranya akan mendorong mereka berbuat baik dan mencegah dari berbuat jahat. Meskipun pendekatan ini mengesankan elitisme. Kaum awam ini membentuk bagian terbesar struktur piramidal masyarakat manusia. pelukisan tentang kebahagiaan dan kesengsaraan dalam Kitab Suci dan Sunnah Nabi kebanyakan bersifat fisik. adalah metafor-metafor atau makna-makna kiasan (majaz). Dengan jalan itu kaum khawas dapat menerima agama dan rahmat yang dikandung agama itu pada dataran yang lebih tinggi daripada kaum awam. dalam pandangan Ibn Rusyd dan para filsuf Muslim. seluruh keterangan tentang kebahagiaan dan kesengsaraan.

dan sungai-sungai dari madu. yang tidak akan rusak. Inilah yang dicari dan dikejar para filsuf dan kaum sufi. Itulah tempat kesudahan bagi mereka yang bertaqwa. dan disampaikan hanya kepada kalangan tertentu yang terbatas. (QS. al-Kahf/16:54. yang murni-bersih. (QS. lihat juga QS. seperti dapat diketahui dari firman berikut. adalah nyata dan tidak mungkin diingkari. Dan memang kenyataannya pendekatan esoterik senantiasa sulit dipahami kaum awam. namun "tamsil-ibarat" dan pelukisan mengenai hakikatnya dapat menerima penafsiran-penafsiran. sehingga banyak salah pengertian yang kemudian mengundang polemik dan . Dan sungguh telah Kami (Tuhan) beberkan untuk manusia dalam al-Qur'an ini setiap bentuk tamsil-ibarat. dan sungai-sungai dari susu. termasuk penafsiran alegoris (tamtsili ataupun ta'wil).10. sebagai ajaran "rahasia" bagi kaum khawas. dan buah-buahannya tumbuh tanpa berhenti. juga memperoleh ampunan dari Tuhan mereka. demikian pula naungan rindang yang diberikannya. yang minuman itu memotong-motong usus mereka. maka filsafat dan tasawuf acapkali sengaja dibuat tidak bisa diarah oleh orang umum. yang segar melezatkan bagi yang meminumnya. Bahwa banyak kandungan al-Qur'an yang bersifat tamsil-ibarat. termasuk mengenai kebahagiaan dan kesengsaraan. Al-Rad/13:35) Tamsil-ibarat surga yang dijanjikan untuk orang-orang yang bertaqwa ialah. Sebagaimana juga (tamsil-ibarat) orang yang kekal di dalam neraka. yang diberi minum dengan air mendidih. sungai-sungainya mengalir di bawahnya. sepatutnya tidaklah dipahami menurut makna bunyi lafal lahiriahnya. KONSEP-KONSEP KEBAHAGIAAN DAN KESENGSARAAN (2/4) oleh Nurcholish Madjid Para filsuf menemukan dukungan bagi metodologi ta'wil mereka dalam berbagai penjelasan. (QS. al-Rum/30:58 dan QS. dan sungai-sungai dari khamar. baik di dunia maupun di akhirat. Namun kebanyakan manusia tidak menerimanya. Karena merupakan pemahaman keagamaan yang lebih batini (esoterik) daripada lahiri (eksoterik). Maka sementara masalah adanya kebahagiaan dan kesengsaraan itu.Artikel Yayasan Paramadina Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota II. yang tidak akan berubah cita-rasanya. Lebih jauh lagi. Tamsil-ibarat surga (jannah: kebun) yang dijanjikan untuk mereka yang bertaqwa ialah. al-Zumar/39:27). kecuali dengan sikap ingkar. sedangkan tempat kesudahan mereka yang menentang ialah api neraka. al-Isra'/17:89. Di dalam surga itu mereka mendapatkan buah-buahan dari segala macam. QS. bahwa dalam al-Qur'an Tuhan memang menyediakan berbagai "tamsil-ibarat". ada berbagai isyarat bahwa keterangan tentang surga dan neraka pun bersifat tamsil-ibarat. Muhammad/47:15) Jadi karena pelukisan tentang surga dan neraka itu disebut sebagai tamsil-ibarat dalam al-Qur'an. di dalamnya ada sungai-sungai dari air. dapat dipahami dari firman berikut. alegori atau metafor.

sebagai tempat kediaman yang tenang tenteram. Saat perjumpaan dengan Allah. stereotipikal. kekal di sana selama-lamanya. Sebagian tokoh lagi. Pertama. berkat kemajuan teknologi informasi dan transportasi. saat pembebasan diri dari kungkungan jasad yang campur aduk ini serta dari beban bumi dan iming-iming jangka pendeknya. dan ketokohannya disanjung dan dikecam secara sama.. yang tumbuh pesat tidak mungkin lagi dibendung. saat dari lubuk hati manusia yang mendalam terpancar sinar dari Cahaya yang mata tidak mampu memandangNya. saat menyaksikan Keagungan-Nya. Kebahagiaan di surga menanti kaum beriman. Surga dengan segala kenikmatan yang ada di dalamnya tidaklah berarti apa-apa dan akan menjadi tidak seberapa di depan hebatnya keridlaan Allah yang Maha Pemurah. dalam surga-surga kebahagiaan abadi. termasuk di bidang kesufian atau mistisisme. barangkali lebih psikologis daripada fisiologis. surga-surga yang di bawahnya mengalir sungai-sungai.kontroversi. Allah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman. akibat intrik-intrik politik yang menjerat mereka. karena berbagai hal... kekal di sana selama-lamanya. (dijanjikan pula) tempat-tempat tinggal yang indah. terwujud dalam ridla Allah. Sebagaimana telah diisyaratkan dalam pembahasan di atas. telah meninggalkan karya-karya besar yang sampai sekarang dipelajari orang dengan penuh minat. Sayyid Quthub mengatakan.. sulit dan ruwet. Dan keridlaan dari Allah adalah yang akbar. pria maupun wanita. . Dan keridlaan dari Allah itulah yang akbar. dalam surga-surga kebahagiaan abadi. al-Tawbah/9:72) Dalam menafsirkan firman Allah ini. Sebuah firman mengatakan. juga tempat-tempat tinggal yang indah. Beberapa pelopor pemahaman esoterik. apalagi. seperti al-Hallaj dan Suhrawardi. Ketiga pergaulan kemanusiaan sejagad makin tidak terhindarkan. Kedua. Dan keridlaan dari Allah itulah yang akbar. Walaupun pemahaman esoterik senantiasa rumit. BAHAGIA DAN SENGSARA: PANDANGAN KEFILSAFATAN DAN KESUFIAN Walaupun begitu dalam zaman sekarang pendekatan esoterik tidak lagi dapat dipertahankan sepenuhnya sebagai kerahasiaan. Dan di atas itu semua mereka akan mendapatkan sesuatu yang lebih besar dan lebih agung lagi. karena akses pada bahan bacaan. namun tidak berarti tertutup rapat untuk setiap orang. malah dalam banyak hal merupakan kebutuhan. seperti Ibn 'Arabi. kaum sufi dan para filsuf juga mendapatkan banyaknya penegasan bahwa kebahagiaan tertinggi jika bukannya seluruh kebahagiaan itu sendiri. Surga-surga yang di bawahnya mengalir sungai-sungai. Selain berdasarkan isyarat tentang banyaknya kandungan al-Qur'an yang disebut sebagai tamsil-ibarat di atas. (QS. saat pencerahan ketika relung-relung sukma benderang dengan berkas . tingkat kecerdasan anggota masyarakat yang semakin tinggi menuntut pengertian-pengertian agama yang tidak konvensional atau. Bahkan kiranya memang tidak perlu dan tidak dibenarkan untuk dibendung. pandangan kefilsafatan dan kesufian tentang bahagia dan sengsara cenderung mengarah pada pengertian-pengertian yang lebih rohani daripada jasmani atau. Karena tidak jarang pendekatan esoterik memang menyegarkan. harus menemui kematian di tangan penguasa. Itulah sebenarnya kebahagiaan yang agung.

Tafsiran bahwa kebahagiaan tertinggi dan paling agung. UA 20-21 Jakarta Selatan Telp. termasuk pembebasan dari belenggu budaya dan tradisi. bersifat penyingkapan dan pengalaman spiritual akan kehadiran Kebenaran Ilahi). sebagai keridlaan Allah --sebagai pengalaman kesaksian rohani akan Wujud Maha Benar itu. semuanya adalah satu momen dari momen-momen yang bertumpu pada kelangkaan amat sedikit bagi manusia dalam suasana kesucian total. Apalagi keridlaan Allah meliputi seluruh sukma. Dan jika kalimat persaksian itu harus mutlak diteruskan dengan al-itsbat atau peneguhan dalam fase afirmatif "kecuali Allah" (al-Lah. Metodologi seperti itu dikembangkan dalam tasawuf. jika menghalangi pada Kebenaran.. yaitu sikap pengosongan diri dan pembebasannya dari setiap belenggu yang menghalangi jalan kepada Allah.Ruh Allah. epiphanic. 254-5) Dengan tafsirnya itu. 7507173 Fax. terbentuk dari kata-kata Illah dan artikel "al"-yakni. maka tujuannya ialah pembebasan diri dari setiap belenggu. Tuhan yang sebenarnya itu dan tidak kepada apa dan siapapun yang lain. yakni. yang menurut banyak ahli termasuk 'Ali ibn Abi Thalib dan Ja'far al-Shadiq. dan sukma-sukma itu tercekam di dalamnya tanpa kesudahan! "ltulah kebahagiaan sejati yang agung". juga tidak setiap harapan. (Sayyid Quthub. sungguh dihadapan itu semua tidaklah bermakna lagi setiap kesenangan. termasuk dalam hidup sekarang ini jika mungkin. yaitu setiap bentuk obyek ketundukan (Arab: Ilah). Tercapainya pengalaman tersebut. (021) 7501969. KEBEBASAN DAN KEBAHAGIAAN Salah satu tema utama dalam metodologi kesufian ialah takhalli. Tuhan atau Sesembahan yang sebenarnya). Jika kalimat persaksian dimulai dengan al-nafy atau peniadaan dalam fase negatif tiada Tuhan. menjadi tujuan semua olah-rohani (riyadlah) dan perjuangan spiritual (mujahadah). seperti yang diajarkan kaum sufi. Pembebasan adalah juga salah satu tema pokok seruan Nabi kepada umat manusia..(bersambung 3/4) Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah Editor: Budhy Munawar-Rachman Penerbit Yayasan Paramadina Jln. maka yang dimaksudkan ialah kemestian kita tunduk pada Allah. (021) 7507174 Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota Please direct any suggestion to Media Team Artikel Yayasan Paramadina Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan . Fi Zhilal al-Qur'an. yang dihadapan pengalaman kesaksian itu semua bentuk kebahagiaan menjadi tidak bermakna apa-apa adalah sebuah tafsiran kasyafi (theophanic. jilid 10. hal. 7501983. -------------------------------------------.. Sayyid Quthub telah melakukan pendekatan filosofis dan sufi pada masalah hakikat kebahagiaan. Belenggu itu dilambangkan dalam konsep tentang "Tuhan" atau "Sesembahan".. Metro Pondok Indah Pondok Indah Plaza I Kav.

serta tiada suatu apa pun yang sepadan dengan Dia (wa lam yakun lauu kufuw-an ahad-un. Padahal pikirin itu tak akan luput dari dorongan diri sendiri dan keinginannya. tapi juga akan berarti bahwa Tuhan telah disejajarkan dengan apa yang tercapai oleh pikirannya sendiri. atau pembebasan yang membimbing kita kepada ketundukan dinamis tersebut --dari banyak penjelasan dalam kitab Suci tentang berbagai akibat dan implikasinya-. (QS. jodoh-jodohmu. QS. dan terus mencari Kebenaran. al-Syura 42:11). suatu proses "pembebasan dan ketundukan. Dengan kata lain. Maka tunduk secara benar --dalam bahasa Arab disebut Islam. berupa usaha yang tulus dan murni untuk mencari. perdagangan yang kerugiannya kamu kuatirkan. (dan jika) kekayaan yang telah berhasil kamu kumpulkan. serta karib-kerabatmu. QS. Tuhan yang sebenarnya-. QS. dan daripada perjuangan di jalan-Nya. besar ataupun kecil. yaitu Tuhan). kerabat dan umat manusia pada umumnya. Dan . Jadi sesungguhnya kebahagiaan dimulai dengan "negasi dan afirmasi". Tuhan tidak mungkin diketahui manusia sebab tidak akan terjangkau oleh pikiran dan khayalnya. maka sesungguhnya keyakinan atau klaim "mengetahui Tuhan" (yang diindikasikan oleh sikap "berhenti mencari") adalah suatu jenis pembelengguan diri. Juga tidak untuk mendoronng manusia agar meninggalkan kegiatan duniawi. (jika itu semua) lebih kamu cintai daripada Allah dan Rasul-Nya.al-Ikhlash/112:4) maka tunduk pada Tuhan berarti tunduk dalam maknanya yang dinamis. keyakinan bahwa diri sendiri telah "mengetahui Tuhan akan berakhir dengan penuhanan keinginan diri sendiri. saudara-saudaramu. karena al-Qur'an sarat dengan ajaran tentang kewajiban memelihara cinta kasih di antara keluarga. Inilah antara lain tafsir atas peringatan dalam Kitab Suci bahwa di antara manusia ada yang menjadikan hawa atau keinginan dirinya sendiri sebagai Tuhan (Lihat. Tidak saja karena hal ini akan merupakan contradiction in terms (berupa kemustahilan suatu wujud nisbi seperti manusia dapat menjangkau atau mengetahui Wujud Mutlak. yaitu sikap pasrah yang tulus kepada Allah.justru akan secara langsung membawa pada kebebasan dan pembebasan diri dari setiap nilai dan pranata yang membelenggu sukma. atau sikap dan pandangan yang mengangkat keinginan diri sendiri itu sebagai Tuhan. Usaha mencari Kebenaran inilah sifat kehanifan (hanifiyyah) manusia atas dorongan fithrah atau kejadian asalnya sendiri yang suci.salah satu yang patut sekali kita renungkan terbaca (terjemahnya) demikian." seperti dilambangkan dalam kalimat syahadat pertama. maka tunggulah sampai saat Allah melaksanakan keputusan-Nya Allah tidak akan memberi petunjuk kepada mereka yang bersemangat jahat". Mengenai negasi atau peniadaan yang menghantarkan kita kepada afirmasi itu. Katakan (wahai Muhammad): "Jika orang-orang tuamu.10. anak-anakmu. al-Tawbah/9:24) Firman Allah ini tidaklah dipahami bahwa Nabi D4uhammad datang untuk membawa pertentangan dalam keluarga. serta tempat tinggal yang untukmu menyenangkan.ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota II. 25:43 dan 45:23). Yang pertaa tidak benar. KONSEP-KONSEP KEBAHAGIAAN DAN KESENGSARAAN (3/4) oleh Nurcholish Madjid Karena Allah adalah Wujud yang tak dapat dibandingkan dengan sesuatu apapun (laysa ka-mitslihi syay-un.

Kita harus mencintai Allah. (4) gedung-gedung indah. "Karena aku datang untuk membuat manusia melawan ayahnya. 78). dan akhirnya "bertemu" (liqa) dengan Kebenaran. "kecuali Allah". artinya ketundukan dalam wujud usaha tak kenal henti secara tulus "mencari"' "mendekat" (taqarrub). Sebab seperti dikatakan A. kita harus memilih mana yang lebih kita cintai. Text. Firman Allah tersebut hanya menegaskan. baik untuk gengsi mau pun kesenangan. (2) kekayaan dan kemakmuran. saudara. anak perempuan melawan ibunya. Maryland: Amana Corp. dan tempat tinggal). suatu hal yang manusia dipesan jangan sampai melupakannya. Begitulah contoh implikasi proses pembebasan diri yang diterangkan dalam Kitab Suci." Tetapi pembebasan dari belenggu-belenggu sosio-kultural dan sosio ekonomi hanyalah separuh jalan menuju kepada kebahagiaan sejati. Psychoanalysis and Religion. "TANYALAH JALAN" (SAL SABIL-AN) Setelah proses pembebasan. Brentwood. Hati manusia terikat kepada (1) sanak-kadangnya sendiri. 1983. separoh lagi jalan yang harus ditempuh ialah yang dilambangkan dalam pernyataan tekad untuk tunduk pada Sang Kebenaran itu sendiri. 1972. orang harus memutuskan hubungan kekeluargaan yang bersifat membelenggu. juga pernah menyatakan. New Haven.orang tua.yang kedua juga tidak benar karena al-Qur'an mengajarkan pandangan yang optimis-positif kepada kehidupan. Erich Fromm mengatakan bahwa dengan pernyataannya itu Nabi Isa tidak bermaksud mengajarkan kebencian pada orang tua. 445. Usaha terus-menerus mencari Kebenaran itu disebut berjalan menempuh "Jalan Allah" (sabil al-Lah). catatan 1272). Serupa dengan makna firman Allah itu. (3) perdagangan atau cara-cara memperoleh keuntungan dan penghasilan. keluarga dan masyarakat) mau pun sosio-ekonomi dan fisik (pekerjaan. Yusuf Ali dalam menafsirkan firman ini. dan menantu perempuan melawan mertua perempuannya" (Matius 10:35). (Erich Fromm. yaitu kebahagiaan "bertemu" dengan Tuhan. agar ia menjadi manusia sejati. Inilah Islam yaitu ketundukan kepada Yang Maha Benar (al-Haqq). melainkan untuk menggambarkan dalam bentuk yang paling tegas dan drastis sebuah prinsip. biarpun harus mengorbankan itu semua. Conn. baik sosio-kultural (orang tua. sepanjang catatan dalam Perjanjian Baru. atau karib kerabat. Sang Kebenaran. (A. h. kedudukan. The Holy Qur'an. Nabi Isa al-Masih. Yusuf Ali. yang merupakan konsistensi pertanyaan afirmatif atau al-itsbat pada bagian kedua kalimat syahadat. adalah ketundukan yang dinamis. Translation and Commentary. yaitu "jalan Allah" (sabil al-Lah) dapat ditempuh baru setelah seseorang mampu membebaskan diri dari belenggu lingkungannya. dengan kemungkinan manusia memperoleh kebahagiaan di dunia ini. dan menjadi bebas sepenuhnya. suami atau isteri. bahwa jalan menuju Kebenaran. dan wujud nyata usaha tersebut pada pribadi yang bersangkutan ialah adanya kualitas .: Yale University Press. Dalam melakukan pendekatan psikoanalitis terhadap agama dan gejala keagamaan. "Tiada Tuhan. yang proses pembebasan itu merupakan konsistensi pernyataan negatif atau al-nafy pada bagian pertama kalimat syahadat. Telah dikemukakan bahwa ketundukan kepada Allah Sang Kebenaran Mutlak. anak-anak. h. Jika semuanya ini menjadi halangan dalam jalan Allah.

mendekat dan bertemu dengan Kebenaran. Maka dalam perjalanan menempuh jalan yang lurus itu justru kita harus terus menerus bertanya dan bertanya. sebagai sumber kesadaran akan kebenaran). dan yang ketiga oleh kaum sufi dan ahli 'Irfan. Jalan Allah yang harus ditempuh melalui ketiga fase itu juga disebut "jalan lurus" (al-shirath al-mustaqim). maka ia masih mendapatkan satu pahala (sebuah Hadist terkenal). yang kedua oleh para pemikir baik dalam bidang fiqh maupun Kalam. kemudian "diaminkan. bersifat terang. yang toh tidak akan kita sadari pada saat mengalaminya sendiri. lalu ia menempuh jalan yang (ternyata) benar. tak boleh dipastikan sebagai mutlak lurus. dan jika (ternyata) keliru. Sesungguhnya dalam Al-Qur'an dilukiskan bahwa berusaha secara dinamis. masih akan memberi kebahagiaan. karena jalan itu membentang langsung antara diri kita yang paling suci. Al-Qur'an melukiskan bahwa dalam surga. al-Nisa 4:103). sebab perhentian berarti menyalahi seluruh prinsip tentang Kebenaran Mutlak. sudah merupakan sumber mata air pengalaman kebahagiaan yang tinggi. maka Sang Kebenaran itu sungguh mutlak dan tak akan terjangkau. juga yang akan kita tempuh. ijtihad (dalam dimensinya yang lebih intelektual). para penghuninya akan diberi minum yang sejuk dan amat menyegarkan yang airnya diambil dari mata air yang bernama "salsabil-an" atau "sal sabil-an. mencari dan menemukan jalan ke arah Kebenaran itu sendiri. maka salah satu "pesan" yang dikandungnya ialah agar kita bertanya tentang jalan yang lurus itu setiap saat. karena tidak lurus lagi? Siapa Tahu? Pertanyaan dan penanyaan itu adalah eksistensial dan esensial sekali dalam mencari. artinya. terutama dalam setiap kali shalat. siang. Seorang yang memang tunduk patuh kepada Allah (muslim) akan terus menerus memohon petunjuk jalan yang lurus itu. Yang pertama banyak ditempuh oleh ahli perang dan para pahlawan. ia akan mendapatkan pahala ganda. Dalam kesungguhan mencari dan menemukan jalan itu kita tidak perlu takut membuat kekeliruan. akan menyesatkan kita dari Kebenaran. Justru amat berharga dalam menempuh jalan itu semangat mencari dan berusaha yang sungguh-sungguh. yaitu jihad. yaitu fitrah kita dalam hati nurani (nurani. sehingga melahirkan sikap hidup jihad (dalam dimensinya yang lebih fisik). sore. Tapi justru karena kemutlakanNya. Inilah makna penegasan Nabi bahwa barangsiapa berusaha dengan sungguh-sungguh. Ini berarti bahwa jalan yang telah kita tempuh. Tunjukkanlah kami jalan yang lurus (QS. dan mujahadah (dalam dimensinya yang lebih spiritual). apa selanjutnya? Apakah tak ada kemungkinan sama sekali bahwa jalan yang telah kita tempuh apalagi yang masih akan kita tempuh. yaitu dalam tempat dan lingkungan pengalaman kebahagiaan sejati. tanpa henti-hentinya. Dan kalau shalat itu disebutkan dalam al-Qur'an sebagai kewajiban atas kaum beriman dengan dikaitkan pada pembagian waktu selama sehari-semalaman (pagi. saat terbenam matahari dan malam) (QS. dalam menempuh jalan lurus itu kita tidak boleh berhenti. meskipun tidak sepenuhnya. ijtihad dan mujahadah tersebut tadi." Sebuah . Pertanyaan dan penanyaan itulah yang mendasari ketulusan hati dalam permohonan kepada Tuhan. asalkan tak disengaja."kesungguhan dalam berusaha" (dinyatakan dalam kata-kata Arab juha -usaha penuh kesungguhan). karena kekeliruan pun. Akibatnya. al-Fatihah/1:6)." baik secara sendirian maupun bersama orang lain. lurus ke arah (sekali lagi ke arah) Kebenaran Mutlak.

Perkataan itu secara harfiah berarti. quite in contrast to a populer sentiment that mysticism is an irrational type of religious experience. Dan Yusuf Ali menafsirkan firman itu dengan mengatakan bahwa mata air salsabil (-an) ini membawa kita kepada ide metaforis yang lain. the higgest development of rationality in religious thinking. ia justru mengetengahkan perkembangan tertinggi rasionalitas dalam pemikiran keagamaan. -------------------------------------------Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah Editor: Budhy Munawar-Rachman Penerbit Yayasan Paramadina Jln. Kata Erich Fromm: I should like to note that. "carilah jalanmu ke surga dengan cara melakukan perbuatan baik".." (Erich Fromm. dari mata air yang ada. maka dalam konteks pencarian Kebenaran sejati itu. menerangkan kata-kata salsabil-an jelas merupakan kata majemuk itu. Jalan itu sekarang terbuka menuju Hadirat Yang Maha Tinggi. catatan 5850). (Lihat.. Justru tasawuf sebagai bidang yang menggarap segi esoterik keagamaan. metodologi itu mengharuskan adanya proses pengosongan diri dari anggapan-anggapan. alegori atau makna kiasan yang sungguh indah. The Holy Qur'an. 7501983. asumsi-asumsi dan klaim-klaim tentang pengetahuan yang benar.metafor. meskipun tanpa ada pra-asumsi atau premis. karena perkataan Arab sal sabil-a itu tidak lain arti harfiahnya ialah "tanyalah jalan". ibid. Muhammad Asad mengatakan bahwa begitulah Ali ibn Abi Thalib. h. Kenyataan bahwa al-Qur'an senantiasa menyerukan penggunaan akal untuk mencari dan menerima Kebenaran menunjukkan bahwa antara rasio dan pengalaman keagamaan tidaklah terdapat pertentangan. Tapi. Seperti dinyatakan oleh Albert Schweitzer: "Pemikiran rasional yang bebas dari asumsi-asumsi berakhir dalam mistisisme"). 917. h. sangat berlawanan dengan perasaan umum bahwa mistisisme adalah suatu jenis pengalaman keagamaan yang tidak rasional. yang disebut salsabil. A. UA 20-21 Jakarta Selatan Telp. Kembali kepada metodologi takhalli di kalangan kaum Sufi. Muhammad Asad. "Carilah Jalan". berpikir dalam konteks kesufian tidaklah berarti tiadanya rasionalitas. yang dapat dibagi menjadi dua komponen. Metro Pondok Indah Pondok Indah Plaza I Kav. sebagaimana dikutip Zamakhsyari dan Razi. catatan 9). As Albert Schweitzer has put it: "Rational thinking which is free from assumptions ends in mysticism. pra-asumsi dan premis justru harus dilepaskan. 1658. Mereka (yang bahagia) di sana disajikan minuman dalam piala yang ramuannya ialah zanjabil. al-Insan/76:17-18) Menafsirkan metafor dalam firman ini. agar supaya dalam menempuh jalan lurus mencari Kebenaran itu terjadi kemurnian sejati (ikhlash). (QS. The Message of the Qur'an. 7507173 (bersambung 4/4) . h. (Saya harus memberi catatan bahwa. 90. Jika dalam konteks duniawi berpikir selalu menuntut adanya pra-asumsi atau premis. telah kita bicarakan. "salsabil-an" ("tanyalah [atau "carilah"] jalan"): yakni. adalah suatu bentuk perkembangan rasionalitas yang tertinggi. (021) 7501969. (Lihat. catatan 17). it represents". Yusuf Ali.

serta tiada suatu apa pun yang sepadan dengan Dia (wa lam yakun lauu kufuw-an ahad-un. KONSEP-KONSEP KEBAHAGIAAN DAN KESENGSARAAN (3/4) oleh Nurcholish Madjid Karena Allah adalah Wujud yang tak dapat dibandingkan dengan sesuatu apapun (laysa ka-mitslihi syay-un. keyakinan bahwa diri sendiri telah "mengetahui Tuhan akan berakhir dengan penuhanan keinginan diri sendiri. al-Syura 42:11). Katakan (wahai Muhammad): "Jika orang-orang tuamu. perdagangan yang kerugiannya kamu kuatirkan. (021) 7507174 Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota Please direct any suggestion to Media Team Artikel Yayasan Paramadina Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota II. saudara-saudaramu. yaitu sikap pasrah yang tulus kepada Allah. maka sesungguhnya keyakinan atau klaim "mengetahui Tuhan" (yang diindikasikan oleh sikap "berhenti mencari") adalah suatu jenis pembelengguan diri.10. Inilah antara lain tafsir atas peringatan dalam Kitab Suci bahwa di antara manusia ada yang menjadikan hawa atau keinginan dirinya sendiri sebagai Tuhan (Lihat.salah satu yang patut sekali kita renungkan terbaca (terjemahnya) demikian. serta tempat tinggal yang untukmu menyenangkan. Mengenai negasi atau peniadaan yang menghantarkan kita kepada afirmasi itu. Maka tunduk secara benar --dalam bahasa Arab disebut Islam. jodoh-jodohmu. yaitu Tuhan).Fax. Dengan kata lain. serta karib-kerabatmu. dan daripada . QS." seperti dilambangkan dalam kalimat syahadat pertama. (jika itu semua) lebih kamu cintai daripada Allah dan Rasul-Nya. Tidak saja karena hal ini akan merupakan contradiction in terms (berupa kemustahilan suatu wujud nisbi seperti manusia dapat menjangkau atau mengetahui Wujud Mutlak. berupa usaha yang tulus dan murni untuk mencari. dan terus mencari Kebenaran. Jadi sesungguhnya kebahagiaan dimulai dengan "negasi dan afirmasi". suatu proses "pembebasan dan ketundukan. tapi juga akan berarti bahwa Tuhan telah disejajarkan dengan apa yang tercapai oleh pikirannya sendiri. 25:43 dan 45:23). QS. atau pembebasan yang membimbing kita kepada ketundukan dinamis tersebut --dari banyak penjelasan dalam kitab Suci tentang berbagai akibat dan implikasinya-. (dan jika) kekayaan yang telah berhasil kamu kumpulkan. Tuhan yang sebenarnya-. Tuhan tidak mungkin diketahui manusia sebab tidak akan terjangkau oleh pikiran dan khayalnya. Padahal pikirin itu tak akan luput dari dorongan diri sendiri dan keinginannya. QS.al-Ikhlash/112:4) maka tunduk pada Tuhan berarti tunduk dalam maknanya yang dinamis. atau sikap dan pandangan yang mengangkat keinginan diri sendiri itu sebagai Tuhan. anak-anakmu.justru akan secara langsung membawa pada kebebasan dan pembebasan diri dari setiap nilai dan pranata yang membelenggu sukma. Usaha mencari Kebenaran inilah sifat kehanifan (hanifiyyah) manusia atas dorongan fithrah atau kejadian asalnya sendiri yang suci.

" Tetapi pembebasan dari belenggu-belenggu sosio-kultural dan sosio ekonomi hanyalah separuh jalan menuju kepada kebahagiaan sejati. Brentwood. sepanjang catatan dalam Perjanjian Baru. 1983. "Tiada Tuhan. Conn. (QS. orang harus memutuskan hubungan kekeluargaan yang bersifat membelenggu. anak perempuan melawan ibunya. Sang Kebenaran. Yusuf Ali dalam menafsirkan firman ini. Dan yang kedua juga tidak benar karena al-Qur'an mengajarkan pandangan yang optimis-positif kepada kehidupan. agar ia menjadi manusia sejati. dan tempat tinggal). Serupa dengan makna firman Allah itu.perjuangan di jalan-Nya. karena al-Qur'an sarat dengan ajaran tentang kewajiban memelihara cinta kasih di antara keluarga. bahwa jalan menuju Kebenaran. The Holy Qur'an. Nabi Isa al-Masih. Sebab seperti dikatakan A. Yusuf Ali. New Haven. Hati manusia terikat kepada (1) sanak-kadangnya sendiri.orang tua. yaitu kebahagiaan "bertemu" dengan Tuhan. Erich Fromm mengatakan bahwa dengan pernyataannya itu Nabi Isa tidak bermaksud mengajarkan kebencian pada orang tua. suatu hal yang manusia dipesan jangan sampai melupakannya. 445. yang proses pembebasan itu merupakan konsistensi pernyataan negatif atau al-nafy pada bagian pertama kalimat syahadat. Translation and Commentary. keluarga dan masyarakat) mau pun sosio-ekonomi dan fisik (pekerjaan. Yang pertaa tidak benar. dan menantu perempuan melawan mertua perempuannya" (Matius 10:35). Juga tidak untuk mendoronng manusia agar meninggalkan kegiatan duniawi. (A. kerabat dan umat manusia pada umumnya. 78).: Yale University Press. kedudukan. suami atau isteri. al-Tawbah/9:24) Firman Allah ini tidaklah dipahami bahwa Nabi D4uhammad datang untuk membawa pertentangan dalam keluarga. separoh lagi jalan yang harus ditempuh ialah yang dilambangkan dalam pernyataan tekad untuk tunduk pada Sang Kebenaran itu sendiri. saudara. maka tunggulah sampai saat Allah melaksanakan keputusan-Nya Allah tidak akan memberi petunjuk kepada mereka yang bersemangat jahat". atau karib kerabat. dan menjadi bebas sepenuhnya. anak-anak. melainkan untuk menggambarkan dalam bentuk yang paling tegas dan drastis sebuah prinsip. (4) gedung-gedung indah. 1972. dengan kemungkinan manusia memperoleh kebahagiaan di dunia ini. baik untuk gengsi mau pun kesenangan. juga pernah menyatakan. h. Firman Allah tersebut hanya menegaskan. catatan 1272). Psychoanalysis and Religion. h. (Erich Fromm. Jika semuanya ini menjadi halangan dalam jalan Allah. Begitulah contoh implikasi proses pembebasan diri yang diterangkan dalam Kitab Suci. "Karena aku datang untuk membuat manusia melawan ayahnya. biarpun harus mengorbankan itu semua. Maryland: Amana Corp. yaitu "jalan Allah" (sabil al-Lah) dapat ditempuh baru setelah seseorang mampu membebaskan diri dari belenggu lingkungannya. (3) perdagangan atau cara-cara memperoleh keuntungan dan penghasilan. yang merupakan . Dalam melakukan pendekatan psikoanalitis terhadap agama dan gejala keagamaan. (2) kekayaan dan kemakmuran. kita harus memilih mana yang lebih kita cintai. baik sosio-kultural (orang tua. besar ataupun kecil. Kita harus mencintai Allah. "TANYALAH JALAN" (SAL SABIL-AN) Setelah proses pembebasan. Text.

Maka dalam perjalanan menempuh jalan yang lurus itu justru kita harus terus menerus bertanya dan bertanya. sore. "kecuali Allah". Inilah Islam yaitu ketundukan kepada Yang Maha Benar (al-Haqq). al-Fatihah/1:6). kemudian "diaminkan. Justru amat berharga dalam menempuh jalan itu semangat mencari dan berusaha yang sungguh-sungguh. karena tidak lurus lagi? Siapa Tahu? Pertanyaan dan penanyaan itu adalah eksistensial dan esensial sekali dalam mencari. Yang pertama banyak ditempuh oleh ahli perang dan para pahlawan. yaitu jihad. Inilah makna penegasan Nabi bahwa barangsiapa berusaha dengan sungguh-sungguh. dalam menempuh jalan lurus itu kita tidak boleh berhenti. maka salah satu "pesan" yang dikandungnya ialah agar kita bertanya tentang jalan yang lurus itu setiap saat. maka ia masih mendapatkan satu . Dalam kesungguhan mencari dan menemukan jalan itu kita tidak perlu takut membuat kekeliruan. ijtihad dan mujahadah tersebut tadi. yaitu fitrah kita dalam hati nurani (nurani. dan akhirnya "bertemu" (liqa) dengan Kebenaran. Jalan Allah yang harus ditempuh melalui ketiga fase itu juga disebut "jalan lurus" (al-shirath al-mustaqim). karena kekeliruan pun. terutama dalam setiap kali shalat. apa selanjutnya? Apakah tak ada kemungkinan sama sekali bahwa jalan yang telah kita tempuh apalagi yang masih akan kita tempuh. dan yang ketiga oleh kaum sufi dan ahli 'Irfan. dan jika (ternyata) keliru. sehingga melahirkan sikap hidup jihad (dalam dimensinya yang lebih fisik). maka Sang Kebenaran itu sungguh mutlak dan tak akan terjangkau. meskipun tidak sepenuhnya. Ini berarti bahwa jalan yang telah kita tempuh. Tapi justru karena kemutlakanNya. lurus ke arah (sekali lagi ke arah) Kebenaran Mutlak. masih akan memberi kebahagiaan. tak boleh dipastikan sebagai mutlak lurus. tanpa henti-hentinya. artinya ketundukan dalam wujud usaha tak kenal henti secara tulus "mencari"' "mendekat" (taqarrub). Seorang yang memang tunduk patuh kepada Allah (muslim) akan terus menerus memohon petunjuk jalan yang lurus itu. ijtihad (dalam dimensinya yang lebih intelektual). Telah dikemukakan bahwa ketundukan kepada Allah Sang Kebenaran Mutlak. siang. Usaha terus-menerus mencari Kebenaran itu disebut berjalan menempuh "Jalan Allah" (sabil al-Lah). yang toh tidak akan kita sadari pada saat mengalaminya sendiri. al-Nisa 4:103). sebab perhentian berarti menyalahi seluruh prinsip tentang Kebenaran Mutlak. mendekat dan bertemu dengan Kebenaran. asalkan tak disengaja. yang kedua oleh para pemikir baik dalam bidang fiqh maupun Kalam. Dan kalau shalat itu disebutkan dalam al-Qur'an sebagai kewajiban atas kaum beriman dengan dikaitkan pada pembagian waktu selama sehari-semalaman (pagi. lalu ia menempuh jalan yang (ternyata) benar. sebagai sumber kesadaran akan kebenaran). dan mujahadah (dalam dimensinya yang lebih spiritual). juga yang akan kita tempuh. ia akan mendapatkan pahala ganda. Akibatnya. bersifat terang. artinya. saat terbenam matahari dan malam) (QS. karena jalan itu membentang langsung antara diri kita yang paling suci. Pertanyaan dan penanyaan itulah yang mendasari ketulusan hati dalam permohonan kepada Tuhan. dan wujud nyata usaha tersebut pada pribadi yang bersangkutan ialah adanya kualitas "kesungguhan dalam berusaha" (dinyatakan dalam kata-kata Arab juha -usaha penuh kesungguhan). Tunjukkanlah kami jalan yang lurus (QS. akan menyesatkan kita dari Kebenaran.konsistensi pertanyaan afirmatif atau al-itsbat pada bagian kedua kalimat syahadat. adalah ketundukan yang dinamis." baik secara sendirian maupun bersama orang lain.

Mereka (yang bahagia) di sana disajikan minuman dalam piala yang ramuannya ialah zanjabil. para penghuninya akan diberi minum yang sejuk dan amat menyegarkan yang airnya diambil dari mata air yang bernama "salsabil-an" atau "sal sabil-an. mencari dan menemukan jalan ke arah Kebenaran itu sendiri. the higgest development of rationality in religious thinking. Muhammad Asad mengatakan bahwa begitulah Ali ibn Abi Thalib. The Holy Qur'an. 90. Jika dalam konteks duniawi berpikir selalu menuntut adanya pra-asumsi atau premis. Dan Yusuf Ali menafsirkan firman itu dengan mengatakan bahwa mata air salsabil (-an) ini membawa kita kepada ide metaforis yang lain. maka dalam konteks pencarian Kebenaran sejati itu. (Lihat. Yusuf Ali. catatan 9). agar supaya dalam menempuh jalan lurus mencari Kebenaran itu terjadi kemurnian sejati (ikhlash). Perkataan itu secara harfiah berarti. Justru tasawuf sebagai bidang yang menggarap segi esoterik keagamaan. ibid. 917. catatan 5850).. yang dapat dibagi menjadi dua komponen. berpikir dalam konteks kesufian tidaklah berarti tiadanya rasionalitas. 1658. h." (Erich Fromm. pra-asumsi dan premis justru harus dilepaskan. h. asumsi-asumsi dan klaim-klaim tentang pengetahuan yang benar. alegori atau makna kiasan yang sungguh indah. Jalan itu sekarang terbuka menuju Hadirat Yang Maha Tinggi. "salsabil-an" ("tanyalah [atau "carilah"] jalan"): yakni. yaitu dalam tempat dan lingkungan pengalaman kebahagiaan sejati.pahala (sebuah Hadist terkenal). Kenyataan bahwa al-Qur'an senantiasa menyerukan penggunaan akal untuk mencari dan menerima Kebenaran menunjukkan bahwa antara rasio dan pengalaman keagamaan tidaklah terdapat pertentangan. catatan 17). quite in contrast to a populer sentiment that mysticism is an irrational type of religious experience. Al-Qur'an melukiskan bahwa dalam surga. dari mata air yang ada. (Lihat. Kembali kepada metodologi takhalli di kalangan kaum Sufi. karena perkataan Arab sal sabil-a itu tidak lain arti harfiahnya ialah "tanyalah jalan". The Message of the Qur'an. sebagaimana dikutip Zamakhsyari dan Razi. Muhammad Asad. metodologi itu mengharuskan adanya proses pengosongan diri dari anggapan-anggapan. sudah merupakan sumber mata air pengalaman kebahagiaan yang tinggi. (QS. "Carilah Jalan".. Seperti dinyatakan oleh Albert Schweitzer: "Pemikiran rasional . menerangkan kata-kata salsabil-an jelas merupakan kata majemuk itu. Sesungguhnya dalam Al-Qur'an dilukiskan bahwa berusaha secara dinamis. Kata Erich Fromm: I should like to note that. al-Insan/76:17-18) Menafsirkan metafor dalam firman ini. meskipun tanpa ada pra-asumsi atau premis. Tapi. h. yang disebut salsabil. "carilah jalanmu ke surga dengan cara melakukan perbuatan baik". A. telah kita bicarakan. it represents"." Sebuah metafor. adalah suatu bentuk perkembangan rasionalitas yang tertinggi. sangat berlawanan dengan perasaan umum bahwa mistisisme adalah suatu jenis pengalaman keagamaan yang tidak rasional. ia justru mengetengahkan perkembangan tertinggi rasionalitas dalam pemikiran keagamaan. (Saya harus memberi catatan bahwa. As Albert Schweitzer has put it: "Rational thinking which is free from assumptions ends in mysticism.

Pada kita ada kitab Allah itu cukup buat kita. Mereka tidak ingin membebani Nabi saw dengan sesuatu yang memberatkannya dalam keadaan (sakit) seperti itu. beliau bersabda. Mereka bahkan memuji kebijakan Umar. hanya pengarahan pada cara yang terbaik. yang mempunyai pandangan jauh ke depan. UA 20-21 Jakarta Selatan Telp. menetapkan sesuatu yang menghilangkan ikhtilaf (di kalangan kaum muslim). 7501983. Karena itu Umar berkata. 7507173 Fax. "Sakit keras menguasai diri." dan al-Qur'an itu menjelaskan segala sesuatu. Nabi saw berkata." Orang-orang pun bertikai dan ramailah pembicaraan. Tidak pantas bertikai di hadapanku." Peristiwa ini konon terjadi pada hari Kamis. tidak perlu lagi ada petunjuk Rasulullah saw di luar itu? Ibnu Abbas sebagai ulama salaf boleh menyesalkan peristiwa itu. Apakah ia menyesalkan pertikaian sahabat di hadapan Nabi saw. Kata al-Qurthubi. DARI SUNNAH KE HADITS ATAU SEBALIKNYA (1/3) oleh Jalaluddin Rakhmat Pada waktu Nabi saw sakit keras.20. "Alangkah tragisnya kejadian yang menghalangi Nabi saw. untuk menuliskan wasiatnya. -------------------------------------------. sehingga Nabi saw." kata Ibnu Abbas. sehingga Ibnu Abbas yang meriwayatkan hadits di atas menyebutkannya sebagai tragedi hari Kamis. Tapi Umar beserta kelompok sahabat lainnya melihat perintah itu bukan wajib. yang sedang udzur. mengigau!). Kita tidak tahu mengapa Ibnu Abbas menyebutkan sebagai tragedi. "Sesungguhnya Umar berpendapat seperti itu. Metro Pondok Indah Pondok Indah Plaza I Kav. (021) 7507174 Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota Please direct any suggestion to Media Team Ilmu tradisional Artikel Yayasan Paramadina Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota III. Apalagi ada firman Allah "Tidak ada yang Kami lewatkan dalam Kitab ini sedikit pun. tapi para ulama salaf tidak. "Memang yang diperintah harus segera menjalankan perintah.yang bebas dari asumsi-asumsi berakhir dalam mistisisme"). "Bawa kepadaku Kitab agar kalian tidak akan sesat sesudahku. karena sekiranya Nabi saw. "Enyahlah kalian dari sini. tentu tak . (021) 7501969.(bersambung 4/4) Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah Editor: Budhy Munawar-Rachman Penerbit Yayasan Paramadina Jln." Umar berkata. murka kepada mereka? Ataukah ia menyesalkan ucapan Umar yang menuduh perintah Nabi saw itu dilakukan tidak sadar (Dalam riwayat lain. Umar mengatakan Nabi saw." Kata al-Khithabi. sehingga tidak perlu dipatuhi? Ataukah ia menyesalkan ucapan Umar bahwa al-Qur'an saja sudah cukup. "Cukuplah Kitab Allah bagi kita.

. al-Nakha'i. mengisahkan satu peristiwa ketika Abu Bakar mengumpulkan orang banyak setelah Nabi saw wafat. Sa'id bin Musayyab tidak mau menuliskan hadits. dan Sofyan al-Tsawry di Kufah. Tidak heran bila sebagian besar sahabat. "Kitab Allah ." Baik Abu Bakar maupun Umar. dan karena itu tidak mengikat? Sikap Umar terhadap hadist adalah sikap Abu Bakar juga. Selama rentang waktu yang cukup panjang itu. Mereka adalah Ibnu Jurayj di Makkah. . Al-Dzahabi. kepada apa Umar merujuk selain al-Qur'an? Ketika mereka ingin mengetahui cara-cara shalat yang tidak diuraikan al-Qur'an atau menghadapi masalah-masalah baru yang timbul dalam perkembangan Islam. Aisyah bercerita. Saya pun membawakan untukmu. Mu'ammar di Yaman.. juga sebagian besar tokoh tabi'un seperti Sa'id ibn Jubair.ada gunanya lagi ulama dan ijtihad pun tidak perlu lagi. menegaskan sikap mereka dengan tindakan. "Umar kuatir sekiranya Nabi saw. Nanti orang-orang sesudah kalian akan lebih keras lagi bertikai. Bila ada orang yang meminta kalian (meriwayatkan hadits). Kemudian beliau memerintahkannya untuk dikumpulkan. katakan di antara kita dan Anda ada Kitab Allah. apa yang mereka jadikan acuan? Fazlur Rahman menjawab. Setelah hadits-hadits itu terkumpul. Umar meletakkannya di atas bara api. meninggalkan hadits-hadits itu kepadamu. "Ayahku telah menghimpun 500 hadits dari Nabi. Untuk membuka pintu ijtihad. sembari berkata: Tidak boleh ada matsnat seperti matsnat Ahli Kitab. "Bawa hadits-hadits itu kepadaku. al-Hasan bin Abu al-Hasan. tapi sesudah itu mereka melihat hadits." Ia lalu membakarnya dan berkata: Aku takut setelah aku mati. Sekarang. Sa'id bin Abu 'Urwah di Basrah. Qasim ibn Muhammad ibn Abi Bakar. kita harus kembali lagi kepada sunnah.. kelak orang-orang munafik akan mencari jalan untuk mengecam apa yang dituliskan itu." telah memulai problematika sunnah atau hadits yang berada di luar al-Qur'an. Malik di Madinah. Abu Bakar berkata: "Kamu sekalian meriwayatkan hadits-hadits dari Rasulullah saw. "Hadits-hadits makin bertambah banyak pada zaman Umar. Al-Awza'i di Syria." Apapun komentar para ulama. perkataan Umar. sedangkan sunnah atau hadits adalah produk pemikiran manusia. Suatu pagi beliau datang kepadaku dan berkata. ketika beberapa orang mulai merintis pengumpulan dan penulisan hadits. dalam rangka membuka pintu ijtihad. Janganlah kalian meriwayatkan hadits sedikit pun dari Rasulullah saw. sehingga kalian bertengkar. ketika menulis biografi Abu Bakar. kita harus mulai dari peninjauan ulang kepada kedua konsep itu. Mereka melarang periwayatan hadits dengan keras." Kata Ibn al-Jawzi." Kemenakan Aisyah. halalkan apa yang dihalalkannya dan haramkan apa yang diharamkannya. Betulkah al-Qur'an saja sudah cukup? Atau bisakah kita menyimpulkan bahwa hanya al-Qur'an sajalah karya ilahi. Situasi seperti ini berlangsung sampai paruh terakhir abad kedua Hijrah. Saya melihat perkembangan sebaliknya: dari hadits ke sunnah. menuliskan dalam keadaan sakit. berkata." Abu Bakar dan Umar adalah dua khalifah pertama yang termasuk al-Khulafa' al-Rasyidun. mula-mula umat Islam merujuk kepada sunnah.

tapi sahabat yang lain. (2) Bahwa kandungan sunnah yang bersumber dari Nabi tidak banyak jumlahnya dan tidak dimaksudkan bersifat spesifik secara mutlak. Sebagian lagi hanyalah interpretasi para ahli hukum Islam terhadap sunnah yang ada. berkembang secara demokratis sunnah yang disepakati (amr al-majtama' 'alaih). formalisasi sunnah ke dalam hadits ini. (3) Bahwa konsep sunnah sesudah Nabi wafat tidak hanya mencakup sunnah Nabi tapi juga penafsiran-penafsiran terhadap sunnah Nabi tersebut. hubungan organis di antara sunnah. Sayangnya. Karena itu. dinisbahkan kepada Nabi saw. Boleh jadi sebagian sahabat memandang perilaku tertentu sebagai sunnah. menurut Fazlur Rahman. sunnah adalah praktek kaum muslim pada zaman awal. . Romawi. Sunnah yang sudah disepakati kebanyakan orang ini." pada daerah tertentu seperti Madinah. Dalam "free market of ideas. Ketika gerakan hadits muncul pada Abad 3 Hijrah. berkembanglah penafsiran individual terhadap teladan Nabi itu. sebagai teladan. dan Persia. sejak awal sejarah Islam hingga masa kini. tidak menganggapnya sunnah. wafat. di tambah unsur-unsur yang berasal dari kebudayaan Yahudi." Fazlur Rahman menegaskan: mengkoreksi pandangan orientalis ini dengan Sekarang kami akan menunjukkan (1) Bahwa sementara kisah perkembangan Sunnah di atas hanya benar sehubungan dengan kandungannya. Ketika timbul gerakan hadits pada paruh kedua Abad 2 Hijrah. Secara berangsur-angsur. ada sunnah Kuffah. sama luasnya dengan ijma' yang pada dasarnya merupakan sebuah proses yang semakin meluas secara terus-menerus. Ada sunnah Madinah. berkembang sunnah yang umumnya disepakati para ulama di daerah tersebut. telah memasung proses kreatif sunnah dan menjerat para ulama Islam pada rumus-rumus yang kaku. dan yang terakhir sekali (6) Bahwa setelah gerakan pemurnian Hadits yang besar-besaran. Setelah Nabi saw.DARI SUNNAH KE HADITS Beberapa orang orientalis berpendapat. TELADAN NABI SAW | PRAKTEK PARA SAHABAT | PENAFSIRAN INDIVIDUAL | OPINIO GENERALIS | OPINIO PUBLICA (SUNNAH) | FORMALISASI SUNNAH (HADITS) Jadi. Sebagian kandungan sunnah berasal dari kebiasaan Jahiliyah (pra-Islam) yang dilestarikan dalam Islam. sunnah tidak lain daripada opinio publica. seluruh sunnah yang ada. Kuffah. ijtihad. para sahabat memperhatikan perilaku Nabi saw. (4) Bahwa sunnah dalam pengertian terakhir ini. Mereka berusaha mempraktekkannya dalam kehidupan sehari-hari. diekspresikan dalam hadits. dan disebut "Sunnah Nabi. Hadits adalah verbalisasi sunnah. dan ijma' menjadi rusak. tapi tidak benar sehubungan dengan konsepnya yang menyatakan sunnah Nabi tetap merupakan konsep yang memiliki validitas dan operatif. pada daerah kekuasaan kaum muslim.

DARI SUNNAH KE HADITS ATAU SEBALIKNYA (2/3) oleh Jalaluddin Rakhmat Mungkin banyak ulama akan tercengang membaca pandangan Fazlur Rahman tentang hadits. oleh kaum muslimin sendiri. Mereka dengan kadar yang bermacam-macam berusaha membentuk tingkah lakunya sesuai dengan Nabi saw. Nabi saw. selama hidupnya terus-menerus menjadi perhatian para sahabat.20. Sifatnya yang aphoristik menunjukkan bahwa hadits tersebut tidak bersifat historis. seperti saya kutip di bawah ini: Berulang kali telah kami katakan --mungkin sampai membosankan sebagian pembaca-." Sesekali Nabi saw. perilakunya itu sunnah yang harus diikuti." Namun. (021) 7501969. menegaskan.bahwa walaupun landasannya yang utama adalah teladan Nabi. ia berkata "Ambillah dari aku manasik kalian." Dalam hal haji. saya berpendapat bahwa yang pertama kali beredar di kalangan kaum muslim adalah . (021) 7507174 Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota Please direct any suggestion to Media Team Artikel Yayasan Paramadina Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota III. hadits merupakan hasil karya dari generasi-generasi muslim. hadits adalah pembakuan yang kaku. berulangkali menyuruh sahabat menirunya. ijma' (yang merupakan opinio publica) dan ijtihad (yang merupakan proses interpretasi umat terhadap ajaran Islam) menjadi tersisihkan. "Shalatlah kalian seperti kalian melihat aku shalat. setelah kaum muslim awal secara berangsur-angsur sepakat menerima sunnah. DARI HADITS KE SUNNAH Sepakat dengan Fazlur Rahman.-------------------------------------------. mereka menisbatkan sunnah itu kepada Nabi saw. Siapa yang berpaling dari sunnahku ia tidak termasuk golonganku. Nabi saw. walaupun secara historis tidak terlepas dari Nabi. berlawanan dengan tesis Fazlur Rahman. Inilah yang disebut hadits. Walhasil. saya juga berpendapat bahwa perilaku Nabi saw. UA 20-21 Jakarta Selatan Telp. berkata. 7501983. mereka merumuskan sunnah itu dalam bentuk verbal. Metro Pondok Indah Pondok Indah Plaza I Kav. Bila sunnah adalah proses kreatif yang terus menerus. Dalam hal shalat. Hadits adalah keseluruhan aphorisme yang diformulasikan dan dikemukakan seolah-olah dari Nabi. "Nikah itu sunnahku. Kemudian. Ketika gerakan hadits unggul. 7507173 Fax. Secara lebih tepat hadits adalah komentar yang monumental mengenai Nabi oleh umat muslim di masa lampau.(bersambung 2/3) Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah Editor: Budhy Munawar-Rachman Penerbit Yayasan Paramadina Jln.

hadits. kemudian menjadi sunnah. Keempat. Urwah bin Zubayr pernah berkata. Abu Rayyah menulis. yang menghimpun keputusan-keputusan hukum yang pernah dibuat Rasulullah saw. Karena sejumlah hadits hilang. pengaruh kedua sahabat besar ini terasa sampai lebih dari satu abad. redaksinya dapat berubah-ubah. Dalam rangkaian periwayatan. tidak adanya rujukan tertulis menyebabkan banyak orang secara bebas membuat hadits untuk kepentingan politis. Tidak mungkin kita memberi contoh-contohnya secara terperinci disini. Misalnya Ali. pasar gagasan umumnya tidak bebas) sebagian ra'yu menjadi dominan. "Dulu aku menulis sejumlah besar hadits. Umar sendiri pernah mengumpulkan catatan-catatan hadits yang berserakan dan membakarnya. mempunyai mushaf di luar al-Qur'an. seperti diriwayatkan Bukhari. terbukanya peluang pada pemalsuan hadits. orang-orang mencari petunjuk dari ra'yu-nya. Dalam semua kejadian ini. dominasi ra'yu sangat ditopang oleh hilangnya catatan-catatan tertulis. alangkah baiknya kalau aku tidak menghancurkan hadits-hadist itu. boleh jadi juga karena dipaksakan penguasa." Kedua. menurut Fazlur Rahman. Pertama. menurut Rasm Ja'farian. Untuk memperparah keadaan. Bersamaan dengan perbedaan pendapat ini. Seandainya para sahabat menuliskan apa-apa yang pernah didengarnya dari Rasulullah saw. karena para sahabat meminta izin untuk menulis hadits tapi Umar mencegahnya. Ada di antara mereka yang menuliskannya. Karena makna adalah masalah persepsi. Dalam peristiwa-peristiwa yang disebutkan dalam pengantar di atas. ketika menyampaian hadits itu mereka hanya menyampaikan maknanya. Sekarang aku berpikir. hilangnya sejumlah besar hadits. Karena orang hanya menerima hadits secara lisan. ekonomi. Yang jelas. masalah penafsiran. Dalam pasar ra'yu yang "bebas" (dalam kenyataannya. Abdullah bin Amr bin Ash juga dilaporkan rajin mencatat apa yang didengarnya dari Nabi. sunnah akan tercatat tidak lebih dari satu rantai saja (dalam penyampaian) antara Nabi saw dan umat sesudahnya. telah mengakibatkan hal-hal yang merugikan umat Islam. tidak dituliskan dan para sahabat tidak berupaya . Abu al-Abbas al-Hanbaly menulis. yang mengandalkan ra'yu." Ketiga. Ra'yu dominan inilah. terjadilah perbedaan pendapat. atau sosiologis. Kita tidak akan mengupas mengapa dua khalifah pertama mengadakan gerakan "penghilangan" hadits. Sebagian orang menuding Umarlah yang bertanggung jawab atas kejadian ini. Keengganan mencatat hadits. "Salah satu penyebab timbulnya perbedaan pendapat di antara para ulama adalah hadits-hadits dan teks-teks yang kontradiktif. "Ketika hadits-hadits Nabi saw. periwayatan dengan makna. kemudian aku hapuskan semuanya. lahirlah akibat yang kelima. Aku bersedia memberikan seluruh anakku dan hartaku untuk memperolehnya kembali. maka redaksi hadits berkembang sesuai dengan penafsiran orang yang meriwayatkannya. kita melihat 'Aisyah juga menyimpan catatan-catatan hadits (mungkin ditulis Abu Bakar). Sebuah ra'yu menjadi dominan boleh jadi karena proses kreatif dan adanya demokrasi. Banyak riwayat menunjukkan perhatian para sahabat untuk menghapal ucapan-ucapan Nabi atau menyampaikan apa yang dilakukan Nabi saw.

"Sesungguhuya Allah ta'ala telah memperlihatkan kepada Amir-u 'l-Mu'minin yakni Muawiyah pandangan yang baik tentang Yazid. Marwan berdusta. Panjangnya rangkaian periwayatan hadits telah memungkinkan orang-orang menambahkan kesimpulan dan pendapatnya pada hadits-hadits. Ia ingin menunjuk orang sebagai khalifah. terutama. MENCARI DEFINISI HADITS DAN SUNNAH Pada suatu hari Marwan bin Hakam berkhotbah di Masjid Madinah. "Marwan berdusta." Ucapan itu sampai kepada Aisyah. pintu periwayatan hadits palsu terbuka baik untuk orang taat maupun orang sesat. mula-mula muncul hadits. Ia berkata. Jadi ia ingin melanjutkan sunnah Abubakar dan Umar. saya hanya ingin mengajak pembaca merekonstruksi kembali pandangannya tentang hadits dan sunnah. Ulum al-Hadits mungkin membantu kita mengatasi kesulitan ini dengan menambah kesulitan baru. Bila saya mendaftar kesulitan yang disebut terakhir. Ia membuang laknat Rasulullah saw. Demi Allah. Demi Allah. al-Hakim dan al-Hakim menshahihkannya (lihat Mustadrak al-Hakim 4:481. daripada pada teks. Sesungguhnya kamu adalah tetesan dari laknat Allah. Ia berkata." Marwan marah dan menyuruh agar Abd-u 'l-Rahman ditangkap. Aisyah Ummu 'l-Mukminin. Tidak mengherankan. Abd-u 'l-Rahman ibn Abu Bakar berkata. Bukhari meriwayatkan hadits ini dengan singkat." Pendeknya. dalam bentuk tertulis. "Ini sunnah Heraklius dan Kaisar. Kemudian. hadits adalah produk pemikiran kaum muslim awal untuk memformulasikan sunnah. Tafsir al-dur al-Mansur 6:41 dan kitab-kitab tafsir lainnya). Tidak lain Muawiyah hanya ingin memberikan kasih-sayang dan kehormatan kepada anaknya. kepada Marwan dan menyamarkan ucapan Abd-u 'l Rahman. Kesulitan bahkan muncul ketika kita mendefinisikan hadits dan sunnah. Jadi. Ibn Mundzir. melalui kegiatan para pengumpul hadits. yang lebih merujuk pada tema perilaku yang hidup di tengah-tengah masyarakat. Tapi Rasulullah saw. Inilah riwayat Bukhari. bila Fazlur Rahman sampai kepada kesimpulan. Ketika hadits-hadits dihidupkan kembali. "Tentang orang inilah turun ayat yang berkata pada orang tuanya 'cis' bagimu berdua. kesulitan menguji hadits menjadi sangat besar. aku dapat menyebutkan kepada siapa ayat ini turun. Bila aku mau. orang berusaha menghambat periwayatan hadits. Timbullah sunnah. Abd-u 'l-Rahman lari ke kamar saudaranya. Ia berkhotbah dan menyebut Yazid ibn Muawiyah supaya ia dibaiat . Tafsir al-Qurthubi 16:197. Marwan di Hijaz sebagai gubernur yang diangkat Muawiyah. Waktu itu ia menjadi Gubernur Madinah yang ditunjuk oleh Mu'awiyah. yang kemudian disebut sunnah. telah melaknat ayahmu ketika kamu masih berada di sulbinya. Sunnah pada gilirannya kelihatan sebagai produk para ahli hukum Islam: yang kemudian dinisbahkan kepada Nabi saw. anaknya.mengumpulkannya. bukanlah ayat itu turun untuk dia. yang meriwayatkan apa saja yang mereka inginkan tanpa takut kepada siapapun." Hadits ini diriwayatkan al-Nasa'i. hilangnya catatan-catatan hadits telah menimbulkan dominasi ra'yu. Tafsir Ibn Katsir 4:159. Tafsir Al-Fakhr al-Razi 7:491. Marwan melanjutkan khotbahnya. Abubakar tidak pernah menunjuk salah seorang anaknya atau salah seorang keluarganya untuk menjadi khalifah.

segera kita menemukan banyak riwayat di dalamnya. Para ahli ilmu hadits mendefinisikan hadits sebagai "apa saja yang disandarkan (dinisbahkan) kepada Nabi saw. Yang menarik kita bukanlah apa yang dibuang Bukhari. "Sesungguhnya dia inilah yang tentang dia Allah menurunkan ayat-ayat dan orang yang berkata kepada kedua orang tuanya 'cis' bagimu berdua. perbuatan. 7507173 Fax. Bila kita membuka kitab-kitab hadits. ia bercerita tentang perilaku para sahabatnya. DARI SUNNAH KE HADITS ATAU SEBALIKNYA (3/3) oleh Jalaluddin Rakhmat KERANCUAN PENGERTIAN HADITS Riwayat di atas disebut "hadits" padahal yang diceritakan adalah perilaku para sahabat. berupa ucapan. -------------------------------------------. Nurrudin Atar. Aisyah berkata dari balik hijab: Allah tidak menurunkan ayat apapun tentang kami kecuali Allah menurunkan ayat untuk membersihkanku.sesudah bapakuya. (021) 7501969. Metro Pondok Indah Pondok Indah Plaza I Kav. 'Aisyah malah menegaskan dengan hadits yang menyatakan bahwa Marwan adalah orang yang dilaknat Allah dan Rasul-Nya. 117 menceritakan tangkisan Abu Hurairah kepada orang-orang yang menyatakan Abu Hurairah terlalu banyak meriwayatkan hadits. dikutipkan beberapa saja diantaranya.20. Sekedar memperjelas persoalan di sini. Ia berkata. hadits No." Ia masuk ke rumah Aisyah dan mereka tidak berhasil menangkapnya Kemudian Marwan berkata. 4826 dalam hitungan Ibnu Hajar al-Asqalani (lihat Fath al-Bari 8:576). Pada Shahih Bukhari. karena ayat itu turun berkenaan dengan orang lain. Hadits ini adalah hadits No. Riwayat di atas tidak menceritakan hal ihwal Nabi saw. berbuatan atau taqrir Nabi saw. Yang kedua menegaskan bahwa yang pertama berdusta. Ia menjelaskan bahwa ia tidak disibukkan . 7501983. Yang pertama menyebutkan. halaman 26). taqrir.(bersambung 3/3) Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah Editor: Budhy Munawar-Rachman Penerbit Yayasan Paramadina Jln. "Tangkaplah dia. Manhaj al-Naqd fi Ulum al-Hadits. tetapi "perang hadits" antara dua orang sahabat --Marwan ibn Hakam dan 'Aisyah. apakah kalian menjanjikan padaku dan seterusnya. atau sifat-sifat atau akhlak (Lihat Dr. asbab al-nuzul ayat al-Ahqaf itu berkenaan dengan 'Abd-u 'l-Rahman ibn Abu Bakar. Maka Abdurrahman mengatakan sesuatu. UA 20-21 Jakarta Selatan Telp. (021) 7507174 Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota Please direct any suggestion to Media Team Artikel Yayasan Paramadina Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota III. tidak berkenaan dengan ucapan.

Boleh jadi banyak amal yang kita lakukan selama ini ternyata bersumber pada "hadits" yang bukan hadits (menurut definisi yang pertama). Karena itu menurut Dr. atau sifat fisik atau akhlak dan apa saja yang dinisbahkan kepada para sahabat. berupa ucapan. Yang paling menyusahkan kita ternyata tidak semua hadits walaupun shahih meriwayatkan sunnah Rasulullah saw. Perhatikan Bukhari memasukkan sebagai salah satu kitab haditsnya. Akhirnya. menghadiri majelis yang tidak dihadiri yang lain. Dalam Shahih Bukhari. para ulama di luar para sahabat juga sebagai hadits." Sampai di sini kita bertanya apakah kita sepakat dengan definisi Dr. Kembali kepada Rasulullah saw. Mungkin bagi banyak orang. dan menghapal hadits yang tidak dihapal orang lain. bukan ucapan Bani saw. taqrir. perbuatan.dengan urusan ekonomi. Demikian pula. atau sifat fisik atau akhlak dan apa saja yang dinisbahkan kepada para sahabat dan tabi'in. perbuatan atau taqrir Nabi saw. Untuk mengenyangkan perutnya. sehingga definisi hadits sekarang ialah "apa saja yang disandarkan (dinisbahkan) kepada Nabi saw. perbuatan. Hadits yang menceritakan sahabat disebut hadits mawquf (istilah yang didalamnya terdapat kontradiksi. definisi hadits yang paling tepat ialah "apa saja yang disandarkan (dinisbahkan) kepada Nabi saw. harus mengubah anggapan kita selama ini. "Kami menganggap berkumpul pada ahli mayit dan menyediakan makanan sesudah penguburannya termasuk meratap. Ucapan "al-shalat-u khair-un min al-nawm" dalam adzan Shubuh adalah tambahan yang dilakukan atas perintah Umar ibn Khatab. Yang pertama muth'ah . Kami melakukan muth'ah pada zaman Rasulullah saw. ini adalah ucapan para ulama di berbagai negeri (lihat Fath-u 'l-Bari 1:47). dan sesungguhnya al-Qur'an itu adalah al-Qur'an ini. ada hadits yang berbunyi "Iman itu perkataan dan perbuatan. taqrir. Ternyata hadits itu tidak semuanya berkenaan dengan Nabi saw. perhatikanlah hadits ini: Dari Jabir ra: Sesungguhnya Ibnu Zubair melarang muth'ah tetapi Ibn Abbas memerintahkannya. Ia berkata: Padaku ada hadits. Ketika Umar berkuasa. misalnya. Ia selalu menyertai Nabi saw. disebut hadits maqthu. padahal riwayat ini tidak menyangkut ucapan. Dan pada zaman Abu Bakar ra. ia berkhotbah kepada orang banyak: Sesungguhnya Rasulullah saw. karena bukan hadits bila tidak berkenaan dengan Nabi saw." Namun jangan terkejut kalau ahli hadits bahkan menyebut riwayat.). Ibnu Hajar dalam pengantarnya pada Syarh al-Bukhari menyebutkan secara terperinci hadits-hadits mawquf dalam Shahih Bukhari. Riwayat tentang para tabi'in yakni ulama yang berguru kepada para sahabat. Hadits itu berbunyi. Tetapi aku melarangnya dan akan menghukum pelakunya. Atar. Atar. seperti sahabat-sahabat Anshar dan Muhajirin. berupa ucapan. riwayat tentang para sahabat masih dapat dianggap hadits." Ini bukan sabda Nabi saw. Adalah Rasul ini. kebiasaan melakukan adzan awal pada shalat Jum'at di kalangan ulama tradisional. Salah satu contohnya adalah hadits yang sering disampaikan kaum modernis untuk menolak tradisi slametan ("tahlilan") pada kematian. Ada dua muth'ah yang ada pada zaman Rasulullah saw. bertambah dan berkurang. didasarkan kepada hadits yang menceritakan perilaku orang Islam di zaman Utsman ibn 'Affan." Hadits ini merupakan ucapan 'Abd-u l-Lah al-Bajali. Menurut Bukhari. Bila ya. (lihat Nayl al-Awthar 4:148).

Hadits ini menceritakan khotbah sahabat Umar yang mengharamkan muth'ah yang dilakukan para sahabat sejak zaman Rasulullah saw. Jumhur ulama termasuk Imam Syafi'i dan Malik menetapkan pembalikan atau pemindahan serban itu sebagai sunnah. Yang membiarkan sahabatnya melakukan muth'ah atau hadits larangan Umar? Umumnya kita memilih yang kedua. Membalikkan serbannya. h. menyamakan hadits dengan sunnah. Yang kedua muth'ah haji (haji tamattu'). Selain al-Qur'an berupa ucapan. Ahli ushul fiqh mendefinisikan sunnah sebagai "apa saja yang keluar dari Nabi saw. Dalam riwayat lain. duduk tasyahhud. Bila ada seorang laki-laki menikahi perempuan sampai waktu tertentu. yang tepat untuk dijadikan dalil hukum syar'i" (Muhammad Ajjaj al Khathib. "Aku mendengar Rasulullah saw. Tetapi bagaimana pendapat anda bila Wail bin Hajar melaporkan apa yang disaksikannya ketika Nabi saw. karena perbuatan Nabi saw. Masalahnya sekarang: kapan perkataan. Dalam hadits itu sebagai sunnah? Anda berkata tidak. Hadits ini diriwayatkan dalam Sunnah Baihaqi 7:206. Itu hanya kebetulan saja dan tidak mempunyai implikasi hukum. Kerancuan definisi hadits ini membawa kita kepada ikhtilaf mengenai apa yang disebut sunnah. Kata Syafi' i. Imam Hanafi dan . "Dalam hadits ini ada lima sunnah. Tidak pernah memindahkan serban kecuali kalau berat. Pada waktu khotbah istisqa Nabi saw. tidak semua hadits mengandung sunnah. dan taqrir. al-Sunnah Qabl al-Tadwin. memindahkan serbannya.16) Jadi menurut ulama ushul fiqh.perempuan. Itu tepat disebut sunnah? Seandainya seorang sahabat berkata. Walhasil. Banyak orang. kita mengamalkan juga sunnah para sahabat. Abdullah bin Zaid bercerita tentang istisqa Nabi saw. Batuk tiga kali setelah takbirat-u 'l-ihram. dengan memperluas definisi hadits sehingga juga memasukkan perilaku para sahabat dan tabi'in. "Nabi saw. sehingga ujung serban sebelah kanan disimpan pada bahu sebelah kiri dan ujung serban sebelah kiri disimpan pada bahu sebelah kanan. KERANCUAN PENGERTIAN SUNNAH Para ahli hadits. yang dllaporkan dalam hadits. fi hadza 'l-hadits khams-u sunnah. Manakah yang harus kita pegang: hadits taqrir Nabi saw. Nabi saw. yang tidak jarang bertentangan dengan sunnah Rasulullah saw. dalam hadits hanya ada tiga sunnah. Bukankah Ibnu Zubair melihat "Nabi saw. termasuk para ulama yang menyamakan hadits dengan sunnah. "Aku melihatnya menggerakkan telunjuknya sambil berdoa?" Tidakkah anda menyimpulkan bahwa gerakan telunjuk itu sama dengan batuk --yang hanya secara kebetulan tidak mempunyai implikasi hukum. dan banyak di antara kita. Imam Ahmad pernah diriwayatkan berkata. Mungkin saja buat sebagian di antara mereka. aku aakan melemparinya dengan batu." Tidak semua ulama setuju dengan pernyataan Ahmad. menyebut sunnah pada semua perilaku Nabi saw. perbuatan dan taqrir Nabi saw. memberi isyarat dengan telunjuknya tapi tidak mengerakkannya?" (Nayl al-Awthar 2:318). Sampai ke zaman Abu Bakar ra. Batuk tidak bernilai syar'i. perbuatan. sehingga bagian dalam serban itu di luar dan sebalik. dikeluarkan juga oleh Muslim dalam shahihnya." dapatkah kita menetapkan perilaku Nabi saw." Jadi pemindahan dalam khotbah istisqa itu tentu mempunyai implikasi syar'i.

Sunnah adalah perumusan para ulama mengenai kandungan hadits. PENUTUP. Bahkan ketika merujuk pada al-Qur'an pun. Yang sering kita lupakan adalah bersikap kritis terhadap keduanya. apakah yang sunnah itu pemindahan atau pembalikkan. ekonomi.sebagian pengikut Maliki menetapkan bukan sunnah. dan di tangannya ada kipas untuk mengusir lalat agar tidak mengenai tubuh Nabi saw. Siapa yang ingin melanjutkan tradisi Imam Bukhari dewasa ini? -------------------------------------------Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah Editor: Budhy Munawar-Rachman Penerbit Yayasan Paramadina Jln. dari kebohongan. budaya. Pemindahan itu hanya kebetulan saja. Pembaruan pemikiran Islam atau reaktualisasi ajaran Islam. Dengan latar belakang uraian tentang hadits sebelumnya. harus mengacu pada teks-teks yang menjadi landasan ajaran Islam. sehingga pada awalnya sunnah sama dengan ijma'. Bila para pembaru Islam terdahulu memulai kiprahnya dari kritik terhadap hadits dan sunnah (Ingat bagaimana Muhammadiyah dan PERSIS "men-dha'if-kan" hadits-hadits yang dipergunakan orang-orang NU). Para ulama juga ikhtilaf untuk menetapkan apakah pemindahan serban itu berlaku bagi imam atau berlaku bagi jemaah juga. Fazlur Rahman dalam Membuka Pintu Ijtihad menegaskan adanya unsur penafsiran manusia dalam sunnah. hukum. mereka berkata. Metro Pondok Indah Pondok Indah Plaza I Kav. Karena sunnah adalah hasil penafsiran. Definisi sunnah seperti disebutkan di atas. Semua orang sepakat pentingnya hadits dan sunnah dalam merealisasikan ajaran Islam." Inilah yang mendorong Bukhari mengumpulkan hadits-hadits yang sahih saja. dengan membuang ribuan hadits yang dianggap dha'if (lemah). Bukanlah selama ini yang kita anggap benar secara mutlak adalah al Qur'an dan sunnah? Patut dicatat bahwa kesimpulan Fazlur Rahman itu didasarkan pada sunnah dalam pengertian sunnah Rasulullah saw. Bila sunnah sudah mencakup juga perilaku sahabat. kita tidak bisa tidak harus merujuk pada hadits dan sunnah (tentu saja sesudah al-Qur'an). Ketika terjadi perbedaan paham. mengapa kita tidak mau melanjutkannya. pada kenyataannya tidak lagi dipakai. Ketika kita sedang giat melakukan islamisasi ilmu. kita menemukan juga adanya sunnah para sahabat. Konon Imam Bukhari bermimpi. Kita lupa bahwa kritik terhadap keduanya telah diteladankan kepada kita oleh para ulama terdahulu. bahkan sunnah para tabi'in. nilai sunnah tentu saja tidak bersifat mutlak seperti al-Qur'an. maka yang disebut sunnah adalah pendapat umum. Ketika ia bertanya kepada orang-orang pandai apa arti mimpi itu. kemusykilan tentang sunnah makin bertambah. "Anda akan membersihkan hadits Nabi saw. UA 20-21 Jakarta Selatan . Anda melihat bagaimana para ulama berbeda dalam mengambil sunnah hanya dari satu hadits saja. kita harus melihat hadits. Pernyataan Fazlur Rahman ini bagi kebanyakan orang sangat mengejutkan. dan masyarakat. Sikap kritis ini seringkali dicurigai akan menghilangkan hadits atau sunnah. Karena itu. ia duduk di hadapan Rasulullah saw.

Abu Dawud. wafat 179 H. Jika seseorang menyebut "sunnah" maka dengan sendirinya akan terbayang padanya sejumlah kitab koleksi sabda Nabi. bukan hadits. ada suatu golongan yang menanamkan dirinya kaum "Inkar al-Sunnah". pada prinsipnya sikap ingkar pada sunnah tidak dapat dibenarkan. (021) 7507174 Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota Please direct any suggestion to Media Team Artikel Yayasan Paramadina Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota III.Telp. Yang pertama (sunnah) mengandung pengertian yang lebih luas daripada yang kedua (hadits). Tapi ingkar kepada hadits. maka golongan ini menjadi sasaran kritik para ulama dan tokoh Islam. Pada banyak kasus mungkin terjadi semacam kekacauan akibat kecenderungan masyarakat untuk menyamakan begitu saja antara sunnah dan hadits. 7507173 Fax. Oleh karena dampak masalah ini dalam usaha penetapan hukum (tasyri') sangat besar dan penting. Berdasarkan sabda Nabi tentang Kitab dan sunnah di atas. Sebab yang disebutkan sebagai sumber kedua sesudah Kitab Suci al-Qur'an ialah sunnah. "Aku tinggalkan di antara kalian dua perkara. Bahkan dapat dikatakan bahwa sunnah mengandung makna yang lebih prinsipil daripada hadits. Karena sikap mereka menolak perlunya kaum muslim berpegang pada sunnah. al-Turmudzi dan al-Nasa'i. dan yang lengkapnya meliputi pula kitab-kitab koleksi oleh Ibn Majah. Malik Ibn Anas (pendiri madzhab Maliki. telah terjadi dalam kurun waktu yang panjang pada golongan-golongan tertentu Islam seperti kaum Mu'tazilah.19. Sudah jelas. Tapi sebelum mereka sudah ada seorang kolektor hadits yang amat kenamaan dan berpengaruh besar yaitu sarjana dan pemikir dari Madinah. 7501983. namun sesungguhnya tidaklah identik.diharapkan akan dapat membantu memperjelas persoalan. sebagaimana sering dituturkan tentang adanya sabda Nabi saw. Perjalanan sejarah . di antara keduanya terdapat jalinan yang erat.) yang menghasilkan kitab hadits al-Muwaththa'. (021) 7501969. maka kajian kesejarahan tentang evolusi pengertian sunnah --yang diungkapkan Nabi meski secara tersirat-. yang kamu tidak akan sesat selama berpegang kepada keduanya: Kitab Allah dan sunnah RasulNya. Di negara kita." Tapi sekarang ini sunnah memang tidak dapat dibedakan dari hadits. PERGESERAN PENGERTIAN "SUNNAH" KE "HADITS" (1/3) IMPLIKASINYA DALAM PENGEMBANGAN SYARI'AH oleh Nurcholish Madjid Dalam masyarakat Islam di beberapa negara terdapat kelompok-kelompok yang meragukan otoritas hadits sebagai sumber kedua penetapan hukum Islam. "Dua Yang Sahih"). sekalipun jelas tidak dapat dilakukan secara umum tanpa penelitian tentang hadits tertentu mana yang dimaksud. demikian pula sebaliknya. Yang paling terkenal di antaranya ialah dua kitab koleksi oleh al-Bukhari dan Muslim (disebut al-Shahihayn.

Dalam kedudukan beliau sebagai pemimpin itulah Kitab-kitab sirah banyak memberi gambaran. termasuk yang sangat dini ditulis ialah Sirah Ibn Ishaq yang kemudian disunting oleh Ibn Hisyam (berturut-turut wafat pada tahun 151 dan 219 Hijri). dalam memahami agama dan melaksanakannya. dan tumbuh sebagai sarjana terkemuka di kota Nabi. termasuk yang sahih. harus dimasukkan pula corak dan ragam tindakan beliau. Jika sunnah merupakan keseluruhan perilaku Nabi. Namun demikian. bersama dengan kitab-kitab biografi Nabi yang lain amat penting. Ibn Ishaq lahir di Madinah (pada tahun 85 H). Sebab. Nabi-lah sebagai utusan Tuhan. maka sesungguhnya Nabi hanya menyatakan sesuatu yang amat logis. namun mencampuradukkan antara keduanya tidak dapat dibenarkan. karena memuat gambaran tentang perjalanan hidup Nabi khususnya dalam kapasitas beliau sebagai pemimpin. Yaitu. namun masih juga sering mengundang kekaburan. kitab-kitab itu juga merupakan sumber . kedua. orang Islam tentu pertama-tama harus melihat apa yang ada dalam Kitab Suci. PENGERTIAN SUNNAH Sunnah lebih luas daripada hadits. Sebab. harus mencari contoh bagaimana Nabi sendiri memahami dan melaksanakannya. Sekalipun pengertian ini cukup jelas. Memang. kemudian. tidak berarti bahwa hadits dengan sendirinya mencakup seluruh sunnah. Meskipun wafat di Baghdad. juga yang paling tahu bagaimana melaksanakannya. Berarti. baik sebagai pribadi maupun pemimpin. Dan ia telah mengumpulkan bahan untuk kitab sirah-nya beberapa lama sebelum usaha-usaha pengumpulkan hadits. seperti kitab-kitab sirah atau biografi Nabi. Jika disebutkan oleh Nabi bahwa sunnah merupakan pedoman kedua setelah Kitab Suci bagi kaum muslim dalam memahami agama. Kitab-kitab itu. sunnah tidak terbatas hanya pada hadits. Itulah makna asal kata hadits. Sebelum Ishaq. Di antara kitab-kitab sirah. telah muncul berbagai karya tulis tentang riwayat peperangan Nabi yang lazim disebut kitab-kitab al-Maghazi.. Maka.perkembangan dan perubahan itu sendiri cukup panjang dan rumit. Sedangkan hadits merupakan bentuk reportase atau penuturan tentang apa yang disebabkan Nabi atau yang dijalankan dalam praktek tindakan orang lain yang "didiamkan" beliau (yang dapat dapat diartikan sebagai "pembenaran"). Pengertian lain yang menyalahi hal itu mustahil dapat diterima. antara sunnah dan hadits terbentang garis kontinuitas yang tidak terputus. Tapi jika kita berhasil melepaskan diri dari dogmatisme yang menerima begitu saja pengertian-pengertian mapan tentang apa yang terjadi di masa lampau. maka kita dapat mengetahui dari sumber-sumber yang selama ini tidak dimasukkan sebagai hadits. dalam lingkup sunnah sebagai keseluruhan tingkah laku Nabi. yang sekarang ini definisinya makin luas batasannya dan komprehensif. maka dari celah-celah sejarah itu kita akan dapat menarik "benang merah" yang memberikan kejelasan tentang perkembangan dan perubahan itu. Pemahaman Nabi terhadap pesan atau wahyu Allah itu teladan beliau dalam melaksanakannya membentuk "tradisi" atau "sunnah" kenabian (al-sunnah al-Nabawiyyah). yang secara logis paling paham akan apa yang dipesankan Tuhan pada manusia melalui beliau.

kemudian Dia memperkayamu?! Maka kepada anak yatim. berhasil membangkitkan semangat perjuangan Islam. Tidaklah Tuhanmu meninggalkan engkau (Muhammad). serta banyak ingat kepada Allah" (Q. Dan juga pastilah Tuhanmu akan menganugerahimu. kemudian Dia melindungimu?! Dan Dia mendapatimu bingung. al-Ahzab 33:32). yang keseluruhannya menampilkan sosok Nabi yang berkeprlbadian mulia.S. karena ilham teladan baik dari beliau. Dengan demikian Nabi. kemudian Dia membimbingmu?! Dan Dia mendapatimu miskin. Dalam sejarah terbukti bahwa pembacaan biografi Nabi. maka kamu akan lega. al-Dluha 93:1-11) Bukankah Kamu telah lapangkan dadamu?! Dan Kami bebaskan bebanmu. yaitu upacara memperingati kelahiran Nabi dengan membaca riwayat hidup beliau.yang baik untuk memahami sunnah. engkau harus nyatakan! (QS. yang ternyata berhasil gemilang. Dari Kitab Suci kita mengetahui lebih banyak perkembangan kepribadian Nabi yang menggambarkan pengalaman Nabi. baik yang menyenangkan atau tidak. Sebab sesungguhnya akhlak Nabi yang mulia itu tidak lain adalah semangat Kitab Suci al-Qur'an itu sendiri. al-Qalam 68:4). dalam hal ini tingkah laku dan kepribadian beliau sebagai seorang yang berakhlak mulia. isteri beliau. Tetapi justru karena itu maka memahami sunnah Nabi tidak dapat lepas dari memahami Kitab Suci sendiri. menjadi pedoman hidup kedua setelah Kitab Suci bagi seluruh kaum beriman. Dan dengan "eksperimen" itu pemimpin Islam dari Mesir yang kemudian terkenal dengan sebutan "Sultan Saladin" itu mewariskan pada Umat Islam seluruh dunia tradisi Maulid. janganlah kamu membentak! Sedangkan berkenaan dengan nikmat karunia Tuhanmu. dua surat yang termasuk paling banyak dibaca dalam sembahyang dapat kita renungkan maknanya di sini: Demi pagi yang cerah dan demi malam ketika telah kelam.S. khususnya. Inilah "eksperimen" Sultan Shalah al-Din al-Ayyubi dalam menghadapi tentara Salib. jika yang dimaksud selain tindakan-tindakan Nabi atau sabda beliau yang bersifat terpisah dan ad hoc seperti umumnya tema catatan hadits. sebagaimana dilukiskan A'isyah. Bukankah Dia mendapatimu yatim. al-Syarh 94:1-8) Para ahli hampir semuanya sepakat bahwa surat al-Dluha turun kepada Nabi berkenaan dengan peristiwa terputusnya wahyu yang relatif panjang. Sunnah Nabi harus pula dipahami sebagai keseluruhan kepribadian Nabi dan akhlak beliau. sehingga menimbulkan ejekan dan sinisme kaum . janganlah engkau menghardik! Dan kepada peminta-minta. dan tidak pula murka. Dan pastilah kemudian hari lebih baik bagimu daripada yang sekarang ada. khususnya yang berkaitan dengan riwayat peperangan beliau yang dikena sebagai al-Maghazi tersebut. yang memberati punggungmu?! Serta Kami muliakan namamu?! Sebab sesunggahnya bersama kesulitan tentu ada kemudahan! Maka jika engkau bebas. dan keseluruhan sasaran peneladanan itu tidak lain ialah sunnah nabi. senantiasa berharaplah! (QS. Dari pengamatan atas gambaran itu kita dapat memperoleh ilham tentang peneladanan pada beliau. Dan beliau juga dilukiskan dalam Kitab Suci sebagai seorang yang berakhlak amat mulia (Q. yang dalam kepribadian dan akhlak beliau disebutkan dalam Kitab Suci sebagai teladan yang baik (uswah hasanah) bagi kita semua "yang benar-benar berharap pada Allah pada Hari Kemudian. kerja keraslah! Dan kepada Tuhanmu. Sebagai contoh.

PERGESERAN PENGERTIAN "SUNNAH" KE "HADITS" (2/3) IMPLIKASINYA DALAM PENGEMBANGAN SYARI'AH oleh Nurcholish Madjid IMPLIKASI SUNNAH SEBAGAI KOREKSI HADITS DALAM PENGEMBANGAN SYARI'AH Allah juga mengingatkan Nabi bahwa masa mendatang lebih penting daripada masa sekarang. sehingga seperti dikatakan Sayyid Quthub. bahwa Allah samasekali tidak meninggalkan beliau dan tidak pula murka. (Janji Tuhan ini kelak ternyata terbukti dan terlaksana. Dalam terjemah kontemporernya.musyrik Makkah bahwa Tuhan telah meninggalkan Nabi dan murka kepadanya. Dan dalam jangka panjang itulah.(bersambung 2/3) Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah Editor: Budhy Munawar-Rachman Penerbit Yayasan Paramadina Jln. perjuangan besar selalu memerlukan waktu untuk mencapai hasil dan semakin besar nilai suatu perjuangan maka semakin panjang pula dimensi waktu yang diperlukannya. 7507173 Fax. UA 20-21 Jakarta Selatan Telp. dan beliau pun wafat memenuhi panggilan menghadap Allah dalam keadaan menang dan sukses luar biasa). (021) 7507174 Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota Please direct any suggestion to Media Team Artikel Yayasan Paramadina Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota III. dan bagaimana Allah telah menunjukkan kasih-Nya pada beliau dengan memberi kemampuan mengatasi kesusahan itu semua. Dari latar belakang turunnya. yang strategis lebih penting daripada pengalaman jangka pendek. Metro Pondok Indah Pondok Indah Plaza I Kav. Oleh karena itu hendaknya Nabi tidak putus asa atau kecil hati oleh pengalaman kekecewaan jangka pendek. atau membentak peminta-minta. Serentak dengan itu semua Allah juga mengingatkan akan masa lampau Nabi yang penuh kesusahan seperti keadaan beliau yang yatim-piatu. Allah mengingatkan Nabi bahwa perjuangan jangka panjang. selama perjuangan diteruskan dengan penuh kesabaran dan harapan. 7501983. (021) 7501969. . dan selalu ingat dengan penuh syukur akan nikmat karunia Tuhan.19. -------------------------------------------. Dan berdasarkan latar belakang itu maka Allah berpesan agar Nabi janganlah sampai menghardik anak-yatim. Allah menjanjikan untuk memberi kemenangan yang bakal membuat beliau puas dan lega. surat ini juga menggambarkan tentang suatu dinamika pengalaman Nabi dalam perjuangan beliau. dan miskin. yang taktis. bingung tentang apa yang hendak dilakukan. berupa kemenangan demi kemenangan yang diraih Nabi setelah hijrah ke Madinah. Allah menghibur beliau dan memberinya dorongan moril. Sebab.

Rasa kasih sayang kepada sesama manusia yang kurang beruntung 6. Lalu Allah menegaskan bahwa setiap kesulitan tentu akan membawa kemudahan.Yakin akan kemenangan akhir 4.Tetap berorientasi kepada Allah.Menggunakan setiap waktu luang untuk kerja-kerja produktif 11. Juga diingatkan bahwa Allah telah membuat terhormat nama Nabi dan dijunjung tinggi. dengan penuh harapan kepadaNya. asal dan tuduan semua yang Firman Allah yang memberi gambaran dinamika kepribadian Nabi sebagai uswah hasanah dalam al-Qur'an cukup banyak.Senantiasa bersyukur pada Allah atas segala nikmat karunia-Nya.Memikul beban tanggungjawab dengan penuh kerelaan 9. dan dari situ pula kita mengerti suatu aspek makna firman Allah bahwa pada diri Rasulullah terdapat teladan yang baik bagi kaum beriman. berkat perjuangan beliau dan kebajikan yang ditegakkannya. Jika kita renungkan lebih mendalam gambaran itu. 3.Bersikap lapang dada 8.Sadar akan perjuangan jangka panjang.Ingat akan latar belakang diri di masa lalu dan bagaimana semua kesulitan teratasi 5. bahwa amal usaha tentu mengandung kesulitan.Sikap senantiasa berpengharapan kepada Allah 2. maka sesungguhnya dinamika pengalaman hidup Nabi tersebut adalah universal. 7.Berkenaan dengan surat al-Syarh. Oleh karena itu sikap-sikap yang telah ditunjukkan oleh Nabi sebagaimana tersimpul dari kedua surat pendek itu akan melengkapi kaum beriman dengan contoh nyata dalam menghadapi problema kehidupan. Dalam surat ini Allah menegaskan bagaimana Dia telah membuat Nabi sebagai seorang yang lapang dada (munsyarih al-shadr). para ahli mengatakan bahwa wahyu itu turun kepada Nabi masih dalam kaitannya dengan surat al-Dluha. sebab yakin akan masa datang yang lebih baik 10. sambil senantiasa mengarahkan diri kepada Allah. seperti telah diutarakan. dan membuat semua beban terasa ringan bagi beliau. Dari situ kita paham sebuah sunnah Nabi.Tidak kecil hati karena kesulitan. Maka dari itu setiap kesempatan harus digunakan untuk kerja keras. dari kedua surat pendek yang banyak dibaca dalam shalat itu dapat disimpulkan gambaran dinamika kepribadian Nabi berhubung dengan pengalaman hidup perjuangan beliau. Pengkajian terhadap firman-firman itu akan memberi gambaran yang utuh tentang siapa Nabi dan bagaimana garis besar sepak terjang . namun hasil perjuangan itu di kemudian hari tentu akan membawa kebahagiaan. Jadi. yang dapat disimpulkan dari kedua surat itu adalah kurang lebih demikian: 1. dalam arti dapat terjadi dan dialami oleh siapa saja dari kalangan manusia yang mempunyai tekad atau komitmen pada cita-cita luhur. bahkan merupakan kelanjutannya. Akhlak serta kepribadian yang menjadi sunnah Nabi.

yang disebutkan oleh al-Siba'i sebagai contoh. al-Siba'i mengutip tokoh itu yang pandangannya pernah dimuat oleh majalah al-Manar pimipinan Sayyid Muhammad Rashyid Ridla. meskipun hadits (yang sahih) memang termasuk sunnah. Jadi sunnah Nabi. dari dahulu sampai sekarang. adalah seorang muslim yang bergairah. Mushthafa al-Siba'i. namun umumnya bersifat ad hoc terkait erat dengan tuntutan khusus ruang dan waktu. dapat lebih banyak diketahui dari Kitab Suci daripada dari kumpulan kitab hadits.beliau dalam hidup beliau baik sebagai pribadi maupun sebagai Utusan Ilahi. menurut Mushthafa al-Siba'i. seperti diindikasikan oleh penggunaan kata pengganti nama "engkau" dalam suatu format dialog antara Tuhan dan Utusan-Nya. dengan demikian bernilai universal. golongan Ingkar Hadits itu terdapat di mana-mana dalam dunia Islam. Tokoh itu sendiri. seorang pembela paham Sunni yang bersemangat dan mantan dekan Fakultas Syari'ah Universitas Syiria. Al-An'am 6:38).S. sehingga tidak lagi ada peran bagi sunnah (hadits) untuk menatapkan hukum . Karena itu sunnah Nabi sebenarnya tidak terbatas hanya pada hadits. dan yang dinilainya banyak membuka pintu bagi orang lain sesudahnya untuk juga bersikap ingkar pada hadits. PERGESERAN PENGERTIAN SUNNAH KE HADITS Di atas telah dikemukakan adanya kelompok-kelompok kaum muslim yang sangat meragukan otentisitas dan otoritas kumpulan hadits. serta seorang tokoh pembina gerakan al-Ikhwan al-Muslimun di Syiria. Mereka mendasarkan pandangan itu pada hal-hal berikut: 1. sekalipun dituturkan dalam kaitan dengan ruang dan waktu atau pengalaman khusus Nabi. namun ajaran moral di balik cerita selalu bersifat dinamik sehingga dapat dengan mudah diangkat pada tingkat generalitas yang tinggi. Tetapi mereka ini dapat disebut sebagai golongan "Ingkar Hadits" (sebutlah "Inkar al-Hadits"). Tapi pandangannya yang menolak otoritas hadits telah menimbulkan heboh di kalangan para ulama al-Azhar. Ini menjelaskan bahwa Kitab Suci telah mencakup seluruh prinsip penetapan syari'ah. pandangan mereka yang menolak hadits ialah bahwa Islam hanyalah al-Qur'an saja. khususnya segi-segi yang dinamik dan mendasar. karena ingkar pada sunnah Nabi adalah mustahil bagi seorang muslim. dan karena adanya banyak kontradiksi dalam sebagian cukup besar nash-nash-nya. dan bahwa Kitab Suci merupakan satu-satunya sumber penetapan syari'ah disebabkan kepastian otentisitasnya. Tanpa menyebut namanya secara jelas. Secara ringkas. Sangat menarik jalan pikiran seorang tokoh yang ingkar hadits itu di zaman modern. Sedangkan yang ada dalam al-Qur'an. Meskipun banyak laporan dalam kitab-kitab hadits yang juga memberi gambaran tentang tingkah laku atau kepribadian Nabi. yang telah tampil membela Islam dengan cara yang mengagumkan. Sedangkan sunnah (yang dimaksud tentunya hadits) mengandung keraguan dalam keabsahannya sebagai sumber argumen (hujjah) karena terjadi penambahan-penambahan padanya. Mereka sebenarnya tidak mengingkari sunnah. menurut al-Siba'i. Kita dapat mendekteksi dinamika kepribadian Nabi itu dari firman-frman yang ditunjukkan khusus kepada Nabi. Menurut Dr.Allah telah menegaskan "Tidak ada satu perkarapun yang Kami abaikan dalam Kitab Suci (Q.

karena keyakinan 'Umar II bahwa tradisi itu merupakan kelanjutan langsung pola kehidupan masyarakat Madinah di zaman Nabi. sesudah 'Ali Ibn Abi Thalib. Syihab al-Din al-Zuhri (w. 102 H. sedangkan dugaan tidak dapat menghasilkan hukum syar'i.S. dan selesai pengumpulan dan koreksinya pada pertengahan abad ketiga. Mungkin yang dimaksudkan ialah adanya dorongan pembukuan hadits oleh Khalifah 'Umar Ibn 'Abd al-'Aziz (w. tindakan 'Umar II ini adalah untuk menemukan dan mengukuhkan landasan pembenaran bagi ideologi Jama'ah-nya. yang dengan ideologi itu ia ingin merangkul .) dari Bani Umayyah.Allah menjamin pemeliharaan al-Qur'an dari kesalahan. yang mengisyaratkan pengakuan bahwa ia adalah pelanjut kekhalifahan 'Umar Ibn al-Khaththab yang bijakbestari. al-Hijr 15:9).an. karena Allah berfirman. bahwa beliau bersabda "Sesungguhnya hadits akan memancarkan dari diriku. menunjukkan sikap tidak suka pada usaha membukukannya. tentulah Tuhan memeliharanya untuk kepentingan para hamba-Nya dari kemungkinan penyelewengan dan perubahan sebagaimana Dia telah memelihara Kitab Suci-Nya. sehingga masuk ke dalamnya penambahan dan pemalsuan. dan sesungguhnyalah Kami yang memelihara-Nya" (Q.Terdapat penuturan dari Nabi saw. Umar II.. 124 H) untuk meneliti dan membuktikan tradisi yang hidup di kalangan penduduk Madinah. Hadits juga belum dibukukan di zaman al-Khulafa al-Rasyidun. al-Rasyidun. 'Ubaydah. dll. al-Najm 52:28). Ini adalah jangka waktu yang cukup panjang untuk menimbulkan keraguan tentang keabsahan teks-teks hadits. Dari sudut analisa politik. Pembukuan hadits baru dimulai pada akhir abad pertama. dan hal itu dengan sendirinya menempatkan sunnah pada tingkat dugaan (martabat al-dhann) belaka. bahkan secara otentik diceritakan bahwa beliau melarang membukukannya. Khalifah ini terkenal dengan sebutan kehormatan. "Sesungguhnya Kami benar-benar telah menurunkan pelajaran. 2. Maka banyak kalangan kaum Muslim yang memandang 'Umar II sebagai anggota kelima dari al-Khulafa.dan membuat syari'ah. 'Alqamah. "Sesungguhnya dugaan tidak sedikit pun menghasilkan kebenaran" (Q. dan apapun yang sampai kepadamu dan menyalahi al-Qur'an. Apapun yang sampai kepadamu sekalian dan bersesuaian dengan al-Qur. sebagaimana difirmankan. al-Qasim Ibn Muhammad. ia berasal dari diriku. al-Nakha'i. 3. dan kebanyakan tokoh besar para sahabat Nabi serta para Tabi'un seperti 'Umar.. ia tidak berasal dariku. 4. Kalau seandainya hadits termasuk sumber penetapan syari'ah.S. Kota Nabi. jika bukannya malah merupakan wujud historis yang kongkret dari "tradisi" atau "sunnah" Nabi sendiri. dan rampung pada pertengahan abad ketiga. Abu Bakr.Sunnah (hadits) belum dibukukan di zaman Nabi saw. Tuhan tidak menjamin pemeliharaan sunnah (hadits). al-Sya'bi." [1] Dalam kutipan al-Siba'i tentang argumen orang yang ingkar pada hadits itu disebutkan bahwa pembukaan hadits dimulai pada akhir abad pertama Hijri. 'Umar II memerintahkan seorang sarjana terkenal.

303 H). Imam al-Syafi'i adalah tokoh pemikir peletak sebenarnya teori ilmiah pengumpulan dan klasifikasi hadits. "sunnah" itu akan memberi landasan legitimasi bagi idenya tentang persatuan seluruh umat Islam dalam "Jama'ah" yang serba mencakup. mereka akhirnya mampu meruntuhkan Dinasti Umayyah dan melaksanakan pembalasan dendam yang sangat kejam). [2] Tapi. dalam pandangan al-Siba'i. Selanjutnya. dan baru benar-benar rampung pada awal abad keempat Hijri.275 H). sebelum masa 'Umar II pun sebetulnya sudah ada usaha-usaha pribadi untuk mencatat hadits. dengan tampilnya al-Nasa'i (w. -------------------------------------------. Koleksi mereka berenam itulah yang kelak disebut "Kitab yang Enam" (al-Kutub al-Sittah). (021) 7501969. di bawah ke kepeloporan tokoh-tokohnya seperti 'Abd-Allah ibn 'Umar (Ibn al-Khaththab). menurut al-Siba'i. 7507173 Fax. 303 H). 261 H). Mushthafa al-Siba'i amat menghargai kebijakan 'Umar II berkenaan dengan pembukaan sunnah itu.273 H). Berdasarkan latar belakang inilah maka ideologi 'Umar II kelak disebut sebagai paham "sunnah dan jama'ah" dan para pendukungnya disebut ahl al-sunnah wa al-Jama'ah (golongan sunnah dan jama'ah). 7501983. Maka penelitian dan pembukaan tentang tradisi penduduk Madinah akan dengan sendirinya menghasilkan pembukaan "tradisi" atau "sunnah" Nabi. Ibn Majah (w. lalu diteruskan berturut-turut oleh Muslim (w. 204 H). 279 H) dan terakhir. sesungguhnya. Jadi. UA 20-21 Jakarta Selatan Telp. 'Abd-Allah Ibn 'Abbas dan 'Abd-Allah Ibn Mas'ud. sikap yang serba inklusifistik sesama kaum muslim itu merupakan "tradisi" atau "sunnah" historis penduduk Madinah. Metro Pondok Indah Pondok Indah Plaza I Kav. Akibatnya.w. (021) 7507174 Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota . 'Umar II melihat bahwa sikap yang serba akomodatif pada semua kaum muslim tanpa memandang aliran politik atau paham keagamaan khasnya itu telah diberikan contohnya oleh penduduk Madinah. Teori dan metodenya kemudian diterapkan dengan setia oleh al-Bukhari (w.(bersambung 3/3) Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah Editor: Budhy Munawar-Rachman Penerbit Yayasan Paramadina Jln. pembukuan hadits secara sistematis dan kritis dan dalam skala besar serta pada tingkat kesungguhan yang tinggi baru dimulai pada awal abad ketiga dengan tampilnya Iman al-Syafi'i (w. pengertian "sunnah" pun kemudian menjadi hampir identik dengan koleksi hadits dalam "Kitab yang Enam" itu. Dan. sebagaimana dilakukan oleh 'Abd Allah Ibn 'Amr Ibn al-'Ash. 256 H). juga merupakan kelanjutan yang sah dari "tradisi" atau "sunnah" Nabi. dan dengan begitu. sekalipun ia menyesalkan sikap Khalifah yang baginya terlalu banyak memberi angin pada kaum Syi'ah dan Khawarij (karena. dalam kolaborasinya dengan kaum Abbasi. golongan oposisi itu kemudian mampu memobilisasi diri sehingga. al-Turmudzi (. termasuk kaum Syi'ah dan Khawarij yang merupakan kaum oposan terhadap rezim Umayyah. al-Nasa'i (w.seluruh kaum Muslim tanpa memandang aliran politik atau pemahaman keagamaan mereka. Abu Dawud (w. dalam pandangan 'Umar II.

melalui sistem hafalan kaum muslim Arab yang memang terkenal memiliki kemampuan menghafal yang amat kuat (sebagai akibat pengembangan bahasa Arab yang amat tinggi namun tidak banyak bersandar pada penggunaan tulisan). Dia 1. tapi hanya dalam garis besar saja.Keseluruhan ajaran Islam cukup berdasarkan pada al-Qur'an saja. sekurangnya menghalangi. dalam hal ini hadits.Memang benar Kitab Suci memuat segala sesuatu. dimulai sejak sekitar dua abad setelah Nabi dan rampung sekitar tiga abad setelah Nabi. Selain dasar-dasar pertimbangan yang berasal dari al-Qur'an dan pesan Nabi sendiri --menurut pengertian yang dipegang oleh mereka yang ingkar hadits-. Sunnah dan hadits tetap terpelihara. Sesudah masa itu memang masih terdapat usaha pengumpulan sisa-sisa hadits oleh beberapa pribadi.Nabi menegaskan agar orang menerima hadits hanya yang benar-benar bersesuaian dengan al-Qur'an.Yang disebut bakal dijamin terpelihara dari usaha pengubahan tidak hanya pada al-Qur'an tapi juga meliputi sunnah. Musthafa al-Siba'i. dasar-dasar argumen menolak otoritas hadits secara ringkasnya adalah sebagai berikut: 1. karena telah menegaskan bahwa Kitab Suci itu telah memuat segala sesuatu. 3. dengan tandas menyatakan: seorang pembela paham Sunni yang menolak argumen-argumen itu. tapi tidak menjamin hal serupa untuk Hadits. 4. PERGESERAN PENGERTIAN "SUNNAH" KE "HADITS" (3/3) IMPLIKASINYA DALAM PENGEMBANGAN SYARI'AH oleh Nurcholish Madjid IMPLIKASI SUNNAH SEBAGAI KOREKSI HADITS DALAM PENGEMBANGAN SYARI'AH Fakta historis tersebut di atas menunjukkan bahwa proses pengumpulan hadits berlangsung selama satu abad atau lebih.Nabi melarang. namun sudah tidak lagi banyak berarti. Dr. 2. dan menolak yang lain.masa kodifikasi dan seleksi hadits yang demikian lama sesudah masa Nabi dan yang memakan waktu demikian panjang merupakan dasar sikap mereka yang meragukan otoritas hadits.Allah menjamin terpeliharanya al-Qur'an.Please direct any suggestion to Media Team Artikel Yayasan Paramadina Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota III. . 2. Sebagaimana telah dikutip kembali dari keterangan (kutipan) Mushthafa al-Siba'i. penulisan hadits di masa beliau. tegar.19. demikian pula para sahabat dan para Tabi'un terkenal.

3.Pencegahan Nabi dan para pembesar sahabat dan Tabi'un dari usaha membukukan hadits terjadi karena kekuatiran akan tercampur dengan teks-teks al-Qur'an yang saat itu kodifikasi resminya belum mapan di kalangan umat, disebabkan sedikitnya mereka yang ahli baca-tulis. Pencegahan itu hanya menyangkut usaha pembukuan resmi. Sedangkan yang tidak resmi dan sebagai catatan pribadi, beberapa sahabat telah melakukannya. 4.Keabsahan hadits yang menjadi landasan argumen keempat di atas diragukan oleh para ahli. Dan jika benar pun, maknanya adalah sangat wajar, yaitu bahwa kita harus menerima hadits hanya yang sejalan dengan al-Qur'an. Justru para ulama semuanya sepakat bahwa, Hadits yang sahih, meskipun menetapkan ajaran secara tersendiri, tidak ada yang bertentangan dengan al-Qur'an. Pembelaan al-Siba'i atas sunnah sebagai hadits itu mewakili pandangan yang sangat umum di kalangan para ulama. Namun ia tidak memberi kejelasan tentang bagaimana efek kenyataan sejarah bahwa untuk sampai pada koleksi dan kodifikasi hadits seperti sekarang ini proses-proses yang amat sulit harus dilewati, khususnya proses pemisahan mana dari laporan-laporan hadits itu otentik dan yang palsu. masih tetap diperlukan adanya argumen yang kukuh dan mendasar untuk pandangan bahwa klasifikasi yang ada sekarang adalah terpercaya, atau sudah tidak lagi memerlukan peninjauan kembali. Batu penarung bagi pandangan ini ialah kenyataan bahwa zaman sekarang ditandai dengan mudahnya diperoleh bahan bacaan di semua bidang, termasuk bidang-bidang yang dapat dijadikan landasan kajian perbandingan ilmu kritik hadits, baik dari segi metodologinya maupun dari segi hasil-hasil yang telah dicapai. Karena itu pada zaman sekarang akan lebih mudah bagi mereka yang berminat secara khusus untuk meneliti kembali hadits-hadits dan membuat klasifikasi baru tentang sahih-tidaknya matan-matan dan riwayat-riwayat yang ada. Sebenarnya hal ini dapat sekedar merupakan pengulangan atau penerapan kembali metodologi Imam al-Bukhari, tapi dengan dibantu oleh penggunaan kemudahan-kemudahan yang ditawarkan oleh zaman modern, baik dari segi perangkat kerasnya (material dan bahan bacaan yang tersedia) maupun perangkat lunaknya (metodologi kritiknya). Imam al-Bukhari sendiri sekedar meneruskan dan menerapkan dengan setia teori dan prinsip-prinsip riset hadits yang diletakkan oleh Imam al-Syafi'i. Dorongan untuk meletakkan teori dan metodologinya itu ialah keprihatinan al-Syafi'i oleh adanya kekacauan dan berkecamuknya usaha pemalsuan laporan-laporan hadits di zamannya, yang laporan-laporan itu sendiri semula dan kebanyakan bergaya anekdotal tentang generasi Islam yang telah lewat, mencakup tentang Nabi sendiri dan para sahabat. Karena itu hadits juga disebut Khabar, Akhbar, Riwayah, Atsar, dan lain-lain, yang kesemuanya menunjukkan sisa pengertiannya yang mula-mula, yaitu kabar, berita, penuturan, peninggalan, dan lain-lain. Maka yang dilakukan al-Syafi'i mempunyai nilai yang sungguh besar, dengan pengaruh yang sampai sekarang dirasakan oleh seluruh umat Islam. Tapi yang telah dilakukan banyak daripada sekedar penelitian hadits. Tokoh oleh imam al-Syafi'i jauh lebih meletakkan dasar-dasar metodologi pendiri madzhab yang penganutnya

banyak di negeri kita ini juga diakui jasanya sebagai yang meletakkan dasar-dasar metodologi penetapan syari'ah, yang justru terasa semakin relevan dengan keadaan zaman sekarang ini. Menurut Marshall Hodgson --yang dapat kita anggap sebagai seorang peninjau netral dan cukup jujur-- al-Syafi'i berjasa sebagai seorang sarjana yang dengan penuh kesadaran meletakkan prinsip adanya pertimbangan historis bagi penetapan syari'ah. Hal itu tercermin dalam konsepnya tentang nasikh-mansukh, yaitu konsep yang memandang kemungkinan suatu hukum dihapuskan oleh hukum yang lain dalam Islam, disebabkan adanya pertimbangan baru berkenaan dengan lingkungan (dharf), baik lingkungan ruang (dharf al-makan) maupun lingkungan waktu (dharf al-zaman). [3] Berdasarkan metodologid al-Syafi'i itu maka terkenal sekali rumus hukum Islam yang mengatakan bahwa hukum berubah oleh perubahan zaman dan tempat. Terutama perubahan zaman, semua ulama sepakat bahwa hal itu tidak dapat dielakkan akan membawa perubahan hukum. Prinsip ini tercermin dalam dua kalimat rumusannya dalam bahasa Arab, [Tulisan Arab] yang artinya, "Perubahan hukum oleh perubahan zaman. Tidak dapat diingkari perubahan hukum oleh perubahan zaman). [4] Untuk dapat melaksanakan prinsip amat penting itu tidaklah mudah. Salah satu yang mesti diperlukan ialah kemampuan menangkap "pesan zaman", sehingga suatu hukum dapat diterapkan secara efektif karena relevan dengan pesan zaman itu. Ini berarti juga menuntut kemampuan membuat generalisasi atau abstraksi dari hukum-hukum yang ada menjadi prinsip-prinsip umum yang berlaku untuk setiap zaman dan tempat. Dan berlakunya suatu prinsip untuk segala zaman dan tempat adalah berarti kemestian memberi peluang pada prinsip itu untuk dilaksanakan secara teknis dan kongkret menurut tuntutan ruang dan waktu. Karena ruang dan waktu berubah, maka tuntutan spesifiknya pun tentu berubah, dan ini membawa perubahan hukum. Maka yang berubah bukanlah prinsipnya, melainkan pelaksanaan teknis dan kongkret hukum itu dalam masyarakat tertentu dan masa tertentu. Iman al-Syafi'i khususnya, dan madzhab Syafi'i umumnya meletakkan dasar metodologi generalisasi dan abstraksi (ta'mim, istiqra, tajrid) tersebut dalam lima cara pendekatan pada setiap ketentuan hukum, yaitu: 1) semua perkara harus diperhatikan maksud dan tujuannya; 2) bahaya harus dihilangkan atau dihindari; 3) adat kebiasaan adalah sumber penetapan hukum; 4) hal mantap tidak boleh dihapus oleh hal yang meragukan; 5) kesulitan pelaksanaan harus menghasilkan kemudahan hukum. Dalam bahasa Arab, kelima prinsip itu diberi patokan rumusan baku sebagai berikut, [5] [Tulisan Arab] Kemudian, sesuai dengan kebiasaan klasik dalam budaya Islam, kelima prinsip itu oleh seorang penganut Syafi'i didendangkan dalam bentuk syair, demikian: [Tulisan Arab] Jika diperhatikan benar-benar metodologi Imam al-Syafi'i itu literer madzhab

maka sesungguhnya terdapat dorongan yang cukup kuat untuk mendekati suatu ketentuan tekstual, baik dalam Kitab Suci maupun dalam hadits tidak secara harfiah, melainkan dengan penarikan ide prinsipil atau fikrah mabda iyyah atau fikrah ushuliyyah yang dikandungnya, dan yang menjadi inti hikmah tasyri' dari ketentuan yang ada. Oleh karena tema-tema hadits umumnya bersifat ad hoc dan lepas dari keseluruhan kepribadian Nabi, maka abstraksi dan generalisasi dari hadits menghasilkan problema dan kesulitan yang tidak kecil. Padahal hanya dari abstraksi dan generalisasi itu kita dapat memahami sunnah Nabi, dan bukannya sekedar menyamakan begitu saja makna dan semangat sunnah dengan teks-teks laporan hadits. CATATAN 1.Dr. Mushthafa al-Siba'i, "Al-A'ashir fi wajh al-Sunnah Hadits-an" dalam majalah Al-Muslimin, Damaskus, No. 3 (Syawal 1374 H/Ayyar [Mei 1955]), hal. 24-26. Meskipun Al-Siba'i tidak menyebutkan nama tokoh Ingkar Hadits ini, namun dari bukunya. Al-Sunnah wa Makanatuha fi al-Tasyri' al-Islami, nama itu dapat diperkirakan sebagai Dr. Ahmad Amin, seorang penganut modernisme Islam yang terkenal. (Al-Siba'i, Al-Sunnah, Nurcholish Madjid (terj & ed) (Jakarta: Pustaka Firdaus, tt). 2.Ibid, hal. 27. 3.Marshall G.S. Hodgson, The Venture of Islam, 3 jilid (Chicago: The University of Chicago Press, 1974), jilid 33, hal.437. Menurut Hodgson, sesungguhnya yang dikembangkan oleh Imam al-Syafi'i adalah prinsip-prinsip yang tendensinya sudah terlihat di zaman Nabi sendiri, jadi memiliki tingkat otentisitas yang tinggi, dan Hodgson melihat pada metodologi itu sebagai salah satu sumber ketentuan dan kemampuan Islam menjawab tantangan zaman, khususnya zaman modern sekarang ini. Maka berkenaan dengan ini menarik sekali keputusan para ulama NU seluruh Indonesia di Tambakberas, Jombang, beberapa waktu yang lalu, yang menetapkan bahwa penganutan kepada madzhab Syafi'i seyogyanya tidak terbatas hanya kepada pendapat-pendapat spesifik (qawl) beliau saja, tetapi lebih penting lagi ialah kepada metodologi (manhaj, minhaj) yang dirintis dan dikembangkannya. 4.Mushthafa Ahmad al-Zarqa, "Taghayyur al-Ahkam bi Taghayyur al-Azman," dalam majalah Al-Muslimun, Damaskus, No. 8 (Syawal 1373 H/Juni 1954 M), hal. 34. 5."Tarikh al-Qawa'id al-Kulliyyah fi al-Syari'at al-Islamiyyah," dalam majalah Al-Muslimun Damaskus, No. 12 (Syawal 1373 H/Mei 1955 M), hal. 17. -------------------------------------------Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah Editor: Budhy Munawar-Rachman Penerbit Yayasan Paramadina Jln. Metro Pondok Indah Pondok Indah Plaza I Kav. UA 20-21 Jakarta Selatan

Telp. (021) 7501969, 7501983, 7507173 Fax. (021) 7507174 Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota
Please direct any suggestion to Media Team

Artikel Yayasan Paramadina
Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota III.8. ANTARA SUKMA NURANI DAN SUKMA DHULMANI oleh Jalaluddin Rakhmat Menurut para sufi, manusia adalah mahluk Allah yang paling sempurna di dinia ini. Hal ini, seperti yang dikatakan Ibnu'Arabi manusia bukan saja karena merupakan khalifah Allah di bumi yang dijadikan sesuai dengan citra-Nya, tetapi juga karena ia merupakan mazhaz (penampakan atau tempat kenyataan) asma dan sifat Allah yang paling lengkap dan menyeluruh. Allah menjadikan Adam (manusia) sesuai dengan citra-Nya. Setelah jasad Adam dijadikan dari alam jisim, kemudian Allah meniupkan ruh-Nya ke dalam jasad Adam. Allah berfirman: Maka apabila Aku telah menyempurnakan tiupkan kepadanya ruh-Ku (QS. 15: 29) kejadiannya dan Aku

Jadi jasad manusia, menurut para sufi, hanyalah alat, perkakas atau kendaraan bagi rohani dalam melakukan aktivitasnya. Manusia pada hakekatnya bukanlah jasad lahir yang diciptakan dari unsur-unsur materi, akan tetapi rohani yang berada dalam dirinya yang selalu mempergunakan tugasnya. Karena itu, pembahasan tentang jasad tidak banyak dilakukan para sufi dibandingkan pembahasan mereka tentang ruh (al-ruh), jiwa (al-nafs), akal (al-'aql) dan hati nurani atau jantung (al-qalb). RUH DAN JIWA (AL-RUH DAN AL-NAFS) Banyak ulama yang menyamakan pengertian antara ruh dan jasad. Ruh berasal dari alam arwah dan memerintah dan menggunakan jasad sebagai alatnya. Sedangkan jasad berasal dari alam ciptaan, yang dijadikan dari unsur materi. Tetapi para ahli sufi membedakan ruh dan jiwa. Ruh berasal dari tabiat Ilahi dan cenderung kembali ke asal semula. Ia selalu dinisbahkan kepada Allah dan tetap berada dalam keadaan suci. Karena ruh bersifat kerohanian dan selalu suci, maka setelah ditiup Allah dan berada dalam jasad, ia tetap suci. Ruh di dalam diri manusia berfungsi sebagai sumber moral yang baik dan mulia. Jika ruh merupakan sumber akhlak yang mulia dan terpuji, maka lain halaya dengan jiwa. Jiwa adalah sumber akhlak tercela, al-Farabi, Ibn Sina dan al-Ghazali membagi jiwa pada: jiwa nabati (tumbuh-tumbuhan), jiwa hewani (binatang) dan jiwa insani. Jiwa nabati adalah kesempurnaan awal bagi benda alami yang

organis dari segi makan, tumbuh dan melahirkan. Adapun jiwa hewani, disamping memiliki daya makan untuk tumbuh dan melahirkan, juga memiliki daya untuk mengetahui hal-hal yang kecil dan daya merasa, sedangkan jiwa insani mempunyai kelebihan dari segi daya berfikir (al-nafs-al-nathiqah). Daya jiwa yang berfikir (al-nafs-al-nathiqah atau al-nafs-al-insaniyah). Inilah, menurut para filsuf dan sufi, yang merupakan hakekat atau pribadi manusia. Sehingga dengan hakekat, ia dapat mengetahui hal-hal yang umum dan yang khusus, Dzatnya dan Penciptaannya. Karena pada diri manusia tidak hanya memiliki jiwa insani (berpikir), tetapi juga jiwa nabati dan hewani, maka jiwa (nafs) manusia mejadi pusat tempat tertumpuknya sifat-sifat yang tercela pada manusia. Itulah sebabnya jiwa manusia mempunyai sifat yang beraneka sesuai dengan keadaannya. Apabila jiwa menyerah dan patuh pada kemauan syahwat dan memperturutkan ajakan syaithan, yang memang pada jiwa itu sendiri ada sifat kebinatangan, maka ia disebut jiwa yang menyuruh berbuat jahat. Firman Allah, "Sesungguhnya jiwa yang demikian itu selalu menyuruh berbuat jahat." (QS. 12: 53) Apabila jiwa selalu dapat menentang dan melawan sifat-sifat tercela, maka ia disebut jiwa pencela, sebab ia selalu mencela manusia yang melakukan keburukan dan yang teledor dan lalai berbakti kepada Allah. Hal ini ditegaskan oleh-Nya, "Dan Aku bersumpah dengan jiwa yang selalu mencela." (QS. 75:2). Tetapi apabila jiwa dapat terhindar dari semua sifat-sifat yang tercela, maka ia berubah jadi jiwa yang tenang (al-nafs al-muthmainnah). Dalam hal ini Allah menegaskan, "Hai jiwa yang tenang, kembalilah kepada Tuhanmu dengan rasa puas lagi diridhoi, dan masuklah kepada hamba-hamba-Ku, dan masuklah ke dalam Surga-Ku." (QS. 89:27-30) Jadi, jiwa mempunyai tiga buah sifat, yaitu jiwa yang telah menjadi tumpukan sifat-sifat yang tercela, jiwa yang telah melakukan perlawanan pada sifat-sifat tercela, dan jiwa yang telah mencapai tingkat kesucian, ketenangan dan ketentraman, yaitu jiwa muthmainnah. Dan jiwa muthmainnah inilah yang telah dijamin Allah langsung masuk surga. Jiwa muthmainnah adalah jiwa yang selalu berhubungan dengan ruh. Ruh bersifat Ketuhanan sebagai sumber moral mulia dan terpuji, dan ia hanya mempunyai satu sifat, yaitu suci. Sedangkan jiwa mempunyai beberapa sifat yang ambivalen. Allah sampaikan, "Demi jiwa serta kesempurnaannya, Allah mengilhamkan jiwa pada keburukan dan ketaqwaan." (QS.91:7-8). Artinya, dalam jiwa terdapat potensi buruk dan baik, karena itu jiwa terletak pada perjuangan baik dan buruk. AKAL Akal yang dalam bahasa Yunani disebut nous atau logos atau intelek (intellect) dalam bahasa Inggris adalah daya berpikir yang terdapat dalam otak, sedangkan "hati" adalah daya jiwa (nafs nathiqah). Daya jiwa berpikir yang ada pada otak di kepala disebut akal. Sedangkan yang ada pada hati (jantung) di dada disebut rasa (dzauq). Karena itu ada dua sumber pengetahuan, yaitu pengetahuan akal (ma'rifat aqliyah) dan

pengetahuan hati (ma'rifat qalbiyah). Kalau para filsuf mengunggulkan pengetahuan akal, para sufi lebih mengunggulkan pengetahuan hati (rasa). Menurut para filsuf Islam, akal yang telah mencapai tingkatan tertinggi --akal perolehan (akal mustafad)-ia dapat mengetahui kebahagiaan dan berusaha memperolehnya. Akal yang demikian akan menjadikan jiwanya kekal dalam kebahagiaan (sorga). Namun, jika akal yang telah mengenal kebahagiaan itu berpaling, berarti ia tidak berusaha memperolehnya. Jiwa yang demikian akan kekal dalam kesengsaraan (neraka). Adapun akal yang tidak sempurna dan tidak mengenal kebahagiaan, maka menurut al-Farabi, jiwa yang demikian akan hancur. Sedangkan menurut para filsuf tidak hancur. Karena kesempurnaan manusia menurut para filsuf terletak pada kesempurnaan pengetahuan akal dalam mengetahui dan memperoleh kebahagiaan yang tertinggi, yaitu ketika akan sampai ke tingkat akal perolehan. HATI SUKMA (QALB) Hati atau sukma terjemahan dari kata bahasa Arab qalb. Sebenarnya terjemahan yang tepat dari qalb adalah jantung, bukan hati atau sukma. Tetapi, dalam pembahasan ini kita memakai kata hati sebagaimana yang sudah biasa. Hati adalah segumpal daging yang berbentuk bulat panjang dan terletak di dada sebelah kiri. Hati dalam pengertian ini bukanlah objek kajian kita di sini, karena hal itu termasuk bidang kedokteran yang cakupannya bisa lebih luas, misalnya hati binatang, bahkan bangkainya. Adapun yang dimaksud hati di sini adalah hati dalam arti yang halus, hati-nurani --daya pikir jiwa (daya nafs nathiqah) yang ada pada hati, di rongga dada. Dan daya berfikir itulah yang disebut dengan rasa (dzauq), yang memperoleh sumber pengetahuan hati (ma'rifat qalbiyah). Dalam kaitan ini Allah berfirman, "Mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakan memahaminya." (QS. 7:1-79). Dari uraian di atas, dapat kita ambil kesimpulan sementara, bahwa menurut para filsuf dan sufi Islam, hakekat manusia itu jiwa yang berfikir (nafs insaniyah), tetapi mereka berbeda pendapat pada cara mencapai kesempurnaan manusia. Bagi para filsuf, kesempurnaan manusia diperoleh melalui pengetahuan akal (ma'rifat aqliyah), sedangkan para sufi melalui pengetahuan hati (ma'rifat qalbiyah). Akal dan hati sama-sama merupakan daya berpikir. Menurut sufi, hati yang bersifat nurani itulah sebagai wadah atau sumber ma'rifat --suatu alat untuk mengetahui hal-hal yang Ilahi. Hal ini hanya dimungkinkan jika hati telah bersih dari pencemaran hawa nafsu dengan menempuh fase-fase moral dengan latihan jiwa, serta menggantikan moral yang tercela dengan moral yang terpuji, lewat hidup zuhud yang penuh taqwa, wara' serta dzikir yang kontinyu, ilmu ladunni (ilmu Allah) yang memancarkan sinarnya dalam hati, sehingga ia dapat menjadi Sumber atau wadah ma'rifat, dan akan mencapai pengenalan Allah Dengan demikian, poros jalan sufi ialah moralitas. Latihan-latihan ruhaniah yang sesuai dengan tabiat terpuji

adalah sebagai kesehatan hati dan hal ini yang lebih berarti ketimbang kesehatan jasmani sebab penyakit anggota tubuh luar hanya akan membuat hilangnya kehidupan di dunia ini saja, sementara penyakit hati nurani akan membuat hilangnya kehidupan yang abadi. Hati nurani ini tidak terlepas dari penyakit, yang kalau dibiarkan justru akan membuatnya berkembang banyak dan akan berubah menjadi hati dhulmani --hati yang kotor. Kesempurnaan hakikat manusia (nafs insaniyah) ditentukan oleh hasil perjuangan antara hati nurani dan hati dhulmani. Inilah yang dimaksud dengan firman Allah yang artinya, "Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang mensucikan jiwanya, dan rugilah orang yang mengotorinya." (QS. 91:8-9). Hati nurani bagaikan cermin, sementara pengetahuan adalah pantulan gambar realitas yang terdapat di dalamnya. Jika cermin hati nurani tidak bening, hawa nafsunya yang tumbuh. Sementara ketaatan kepada Allah serta keterpalingan dari tuntutan hawa nafsu itulah yang justru membuat hati-nurani bersih dan cemerlang serta mendapatkan limpahan cahaya dari Allah Swt. Bagi para sufi, kata al-Ghazali, Allah melimpahkan cahaya pada dada seseorang, tidaklah karena mempelajarinya, mengkajinya, ataupun menulis buku, tetapi dengan bersikap asketis terhadap dunia, menghindarkan diri dari hal-hal yang berkaitan dengannya, membebaskan hati nurani dari berbagai pesonanya, dan menerima Allah segenap hati. Dan barangsiapa memiliki Allah niscaya Allah adalah miliknya. Setiap hikmah muncul dari hati nurani, dengan keteguhan beribadat, tanpa belajar, tetapi lewat pancaran cahaya dari ilham Ilahi. Hati atau sukma dhulmani selalu mempunyai keterkaitan dengan nafs atau jiwa nabati dan hewani. Itulah sebabnya ia selalu menggoda manusia untuk mengikuti hawa nafsunya. Kesempurnaan manusia (nafs nathiqah), tergantung pada kemampuan hati-nurani dalam pengendalian dan pengontrolan hati dhulmani. DAFTAR KEPUSTAKAAN Abu al-Wafi aI-Taftazani, Maduhal ila al-Tashawwuf al-Islamiy, Kairo, 1983. Ahmad Dandy, Allah dan Manusia Dalam Konsepsi Syeikh Nurudin al-Raniry Jakarta, Rajawali, 1983. Al-Farabi, Kitab Ara Ahl al-Madinah al-Fadhilah, Kairo, 1906. Al-Ghazali, Ihya Ulum al-Din, Kairo, 1334 H. ------, Ma'arij al-Quds fi Madarij Ma'rifah al-Nafs, Kairo, 1327 H. ------, Asnan al-Qur'an fi Ihya 'Ulum al-Din, Kairo. Harun Nasution, Falsafah dan Mistisisme Islam, Bulan Bintang, Jakarta, 1978. Muhyiddin Ibnu Arabi, Fushush al-Hikam, Kairo, 1949. --------------------------------------------

Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah Editor: Budhy Munawar-Rachman Penerbit Yayasan Paramadina Jln. Metro Pondok Indah Pondok Indah Plaza I Kav. UA 20-21 Jakarta Selatan Telp. (021) 7501969, 7501983, 7507173 Fax. (021) 7507174 Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota
Please direct any suggestion to Media Team

Artikel Yayasan Paramadina
Indeks Islam | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota III.17. PANDANGAN KESUFIAN TENTANG DIRI MANUSIA oleh M. Bambang Pranowo Elingana yen ana timbalan Yen wis budal ora kena wakilan, Ora kena wakilan Timbalane kang Maha Kuasa Gelem ora gelem bakale lunga (Ingatlah jika telah datang panggilan Kau harus pergi dan tak bisa kau wakilkan, tak bisa kau wakilkan Panggilan dari Yang Maha Kuasa Mau tak mau kau harus pergi jua) Nyanyian puitis di atas adalah penggalan dari sebuah nyanyian keagamaan yang cukup panjang. Di Jawa, nyanyian itu disebut pujian atau erang-erangan. Pujian tersebut biasanya didendangkan bersama-sama oleh para jemaah di langgar atau mesjid menjelang shalat Subuh, Maghrib atau Isya, sembari menanti datangnya anggota masyarakat lain yang turut mendirikan salat berjamaah. Mungkin berkat susunannya yang ritmis dan mudah dihapal maka pujian tersebut seringkali menjadi "nyanyian" populer yang dilakukan bukan hanya di mesjid dan langgar, tapi juga di sawah dan ladang ketika seseorang menggembalakan ternaknya, atau di rumah-rumah ketika ibu-ibu berusaha menidurkan anaknya. Tidak jelas siapa pengarang pujian yang cukup populer tersebut, terutama di desa-desa bagian Jawa Tengah Selatan. Namun, orang mengenal bahwa pujian semacam itu disebarkan oleh kalangan pesantren. Perlu dicatat, para kyai pemimpin pesantren kebanyakan juga pemimpin tarekat, sehingga tidak mengherankan kalau pujian yang diciptakan sarat dengan pesan-pesan kesufian. Dan, dari pujian tersebut tercermin sebuah permintaan agar manusia menyadari bahwa suka atau tidak, ia harus memenuhi panggilan Tuhan Yang Maha Kuasa untuk kembali ke haribaannya. Panggilan Tuhan tersebut tidak dapat didelegasikan kepada siapapun juga. Memang, di antara pesan kesufian yang terpenting adalah ajakan agar manusia menyadari sepenuhnya sifat kefanaan dari kehidupan dunia ini. Oleh karena dunia bersifat fana dan yang kekal hanyalah Tuhan, maka dunia ini dipandang benar-benar

puasa Nabi Daud. Inilah yang menerangkan mengapa di lingkungan pesantren dan di kalangan para penganut tarekat. Pertama.. dan lebih-lebih usaha senantiasa mempertautkan diri dengan Allah melalui dzikir merupakan hal yang sangat sentral dalam kehidupan sehari-hari mereka. di dunia yang fana ini. di antara cermin dan sumber cahaya terdapat penghalang yang tidak memungkinkan cahaya Ilahi menerpa cermin tersebut. Melaksanakan secara intensif berbagai amalan sunnah tersebut tak lain merupakan usaha mengamalkan sebuah hadits Qudsi sebagai berikut: Kepada orang yang memusuhi Wali-Ku. cerminnya terlalu kotor sehingga cahaya Ilahi yang seterang apapun tidak dapat ditangkap dengan cermin rohani yang dimilikinya. Begitu sukma meninggalkan raga. Yang termasuk dalam kategori ini adalah mereka yang dilumuri dengan perbuatan-perbuatan kotor dan aniaya. Yang termasuk dalam kategori ini. Menurut Imam Ghazali. Lalai dari kesadaran berketuhanan berarti manusia telah terjerat oleh perangkat serba kefanaan. TEORI CERMIN AL-GHAZALI Bagaimanapun roh atau sukma akan kembali kepada Tuhan. sedangkan petunjuk Tuhan bagaikan nur atau cahaya. . riyadlah atau latihan kerohanian dalam berbagai bentuk amalan sunnah --salat sunnah.bermakna hanya apabila ia senantiasa diorientasikan kepada Tuhan. ia dianggap sudah tiada. Dalam kenyataannya. cermin tersebut memang membelakangi sumber cahaya hingga memang tak dapat diharapkan dapat tersentuh oleh cahaya petunjuk Ilahi.I: h. Contoh yang sangat tepat untuk kategori ini orang-orang kafir yang dengan sadar mengingkari keberadaan Tuhan. Ibadat yang paling mendekatkan Hamba-Ku. puasa Senin. Hamba-Ku adalah mereka yang mendekatkan dirinya kepada-Ku dan melakukan pula hal-hal sunnah yang Aku cintai. orang-orang yang menjadikan harta. ia harus senantiasa berusaha memurnikan diri dengan jalan menguasai nafsu-nafsu rendah serta mengikuti perjalanan hidup para nabi melalui berbagai latihan kerohanian (riyadlah). Sedangkan jika manusia tidak mampu menangkap sinyal-sinyal spiritual dari Tuhan.t. mengapa manusia seringkali lalai dan lupa kepada Tuhan dan detik-detik kehadirannya di dunia ini justru lebih banyak tersita untuk hal-hal yang bersifat jasadi atau lahiriah belaka? Imam Ghazali menjawab masalah ini dengan Teori Cermin (al-Mir'ah) dalam karyanya yang sangat terkenal itu --Ihya' 'ulum al-Din. tahta dan kesenangan lahir sebagai orientasi hidupnya. t. Dalam "perangkap" seperti itu manusia cenderung berorientasi hanya kepada usaha mewujudkan kesenangan sementara yang segera dapat dinikmati kini dan di sini. Ia lupa bahwa manusia disebut manusia tidak lain karena roh sukma yang ditiupkan Tuhan masih melekat di jasad atau raganya. sehingga Aku sayang kepadanya adalah menunaikan semua perintah yang telah Aku berikan. Kedua. vol. Ketiga. hati manusia ibarat cermin. itu pada dasarnya disebabkan tiga kemungkinan. Dengan demikian jika hati manusia benar-benar bersih niscaya ia akan bisa menangkap cahaya petunjuk Ilahi dan memantulkan cahaya tersebut ke sekitarnya (lihat Ghazali. Kamis. Agar hati manusia selalu dapat menjadi cermin yang bening. akan Kunyatakan perang. 119-125).

Karena tertangkap basah maka iapun dipukuli banyak orang. Mendengar berbagai pujian tersebut si Alim jadi gelisah.Apabila Aku telah mencintainya. ternyata ia hanya pura-pura alim. maka Aku-lah yang menjadi telinganya yang dipakai untuk mendengar. dari sudut pandang kesufian. Jangan-jangan dirinya rajin beribadah itu bukan karena Allah melainkan justru karena orang memujinya sebagai orang alim. hidup ini merupakan pergulatan terus-menerus dengan diri sendiri. Sebaliknya sikap batin yang tidak diaktualisasikan dalam bentuk pelaksanann ibadah sebagaimana yang dituntunkan syariat dan dicontohkan oleh Nabi. Maqam-maqam tersebut dari . salah seorang pendiri mazhab fiqih yang terkenal. Aku-lah tangannya untuk bekerja. Di sebuah desa hidup seorang yang dikenal oleh kalangan luas sebagai orang yang sangat alim. dan Aku-lah kakinya untuk berjalan. Orang sepasar akhirnya bergumam: "Oh. hal itu dalam pandangan kesufian tidak secara otomatis merupakan jaminan bahwa orang tersebut akan sampai pada tujuan hakiki dari ibadah yakni terjalinnya hubungan konstan dengan Allah. yang menjurus kapada zindiq (penyelewengan). Ibadah ritual akan jatuh nilainya menjadi seremonial tanpa isi jika ibadah tersebut dilaksanakan tanpa sikap batin yang dipimpin semata-mata oleh harapan memperoleh ridha Allah. (Riwayat Bukhari dan Abi Hurairah) Apabila seseorang telah melaksanakan berbagai ibadah secara intensif. Sesampainya di pasar secara demonstratif ia sengaja mencuri ayam yang sedang diperjualbelikan. Setibanya di rumah ia langsung sujud syukur "Alkhamdulillah. Segala pujian dilimpahkan orang kepada si Alim atas kesalehan dan kealimannya. Apabila dia meminta kepada-Ku akan Aku beri. tetapi insya Allah benar-benar karena Engkau semata.merupakan ilustrasi relatif menarik." Demikianlah. padahal sebenarnya ia tak lebih dari seorang maling!" Mendengar omongan seperti itu ia bukannya sedih melainkan bersyukur kepada Allah. ia fasiq (tak bermoral). dan apabila ia meminta perlindungan akan Aku beri. mengatakan bahwa siapa yang bertasawuf tanpa mengamalkan fiqh. kini aku beribadah bukan karena manusia. ia zindiq dan siapa yang mengamalkan fiqh tanpa bertasawuf. Dengan demikian. Ayam dikembalikannya dan ia pun pulang dalam keadaan babak belur. maka di kalangan kaum sufi ibadah ritual selalu dibarengi bahkan didahului oleh penggeledahan dan interogasi diri: apakah ibadah yang kita lakukan sudah benar-benar karena Allah dan bukannya karena yang lain? Dalam kaitannya dengan upaya rohani seperti itulah kisah sufistik yang dicatat dari pesantren --Tarekat Qadariah-Naqshabandiyah di Jawa Timur-. Pada suatu pagi ia pun pergi menuju pasar di seberang desa. dipandang sebagai kesombongan spiritual. Dalam kaitan ini Imam Malik. keberanian untuk melakukan penggeledahan dan interogasi diri merupakan inti keberagamaan dan sekaligus bagaikan tangga naik yang akan mengantarkan diri seseorang kepada derajat yang terus meningkat dari suatu tingkat (maqam) tertentu ke tingkat rohani berikutnya yang lebih tinggi. Aku-lah matanya untuk melihat. Agar ibadah ritual benar-benar dapat bermakna dan tak jatuh ke nilai seremonial yang tanpa isi. ya Allah.

yakni meninggalkan dan tidak mengulangi lagi perbuatan dosa yang pernah dilakukan dan dosa-dosa sepadannya demi menjunjung tinggi ajaran Allah dan mengingkari murka-Nya. Namun. yaitu menahan diri untuk tidak melakukan sesuatu dalam rangka menjunjung tinggi perintah-Nya. sukma yang berada dalam kegelapan). Akhirnya. maka maqam-maqam tersebut adalah acuan yang memang harus dimiliki mereka yan benar-benar merindukan leburnya diri kembali kepada Yan Maha Hakiki.yang terendah hingga yang tertinggi dikenal di kalangan kaum sufi dengan istilah-istilah sebagai berikut: (1) Maqam Tawbat. (2) Maqam Wara'. semua itu mengantarkan kita pada kesimpulan bahwa pola kehidupan yang semata-mata dipimpin oleh otak (head) dan ketrampilan teknologis (hand) itu perlu diimbangi dan dikendalikan dengan kebeningan hati (heart). maupun ditakuti. (3) Maqam Zuhud. ialah ketabahan dalam menghadapi dan mendorong hawa nafsu. serta materialisme yang cenderung mencekal nilai-nilai spiritual. (6) Maqam Syukur. diharapkan. yaitu tenang serta tabah sewaktu melarat dan mengutamakan orang lain di kala berada. melalui sudut pandang kesufian kiranya kehidupan beragama akan marnpu mewujudkan pribadi-pribadi yang seimbang seperti itu. ataukah ia akan mengarahkan sukmanya sehingga sang sukmalah yang memimpin kebutuhan jasadi agar senantiasa berada dalam terpaan cahaya . yakni lepasnya pandangan keduniaan dan usaha memperolehnya dari diri orang yang sebetulnya mampu untuk memperolehnya. Mengenal selintas maqam-maqam tersebut seolah-olah mustahil nilai-nilai kesufian tersebut dapat diwujudkan dalan kehidupan yang sudah serba modern ini. semua itu terpulang kepada manusia sendri apakah ia akan menundukkan sukmanya kepada kehidupan yang berorientasi pada kebutuhan jasadi yang bersifat kini dan di sini (sukma dhulmani. Dan. (9) Maqam Tawakkal. yakni hati yang diliputi rasa gembira karena mengetahui kemurahan dari Allah yang menjadi tumpuan harapannya. (8) Maqam Raja'. jika maqam-maqam tersebut dipandang sebagai tidak lain dari upaya pendakian rohani menuju ridla Allah. (7) Maqam Khauf. ialah rasa ngeri dalam menghadapi siksa Allah atau tidak tercapainya kenikmatan dari Allah. Menengok pada luka menganga yang menjangkiti dunia modern seperti konsumerisme yang seolah tak mengenal kata puas. yaitu sikap hati yang bergantung hanya kepada Allah dalam menghadapi segala sesuatu baik yang disukai. (4) Maqam Shabar. yaitu menyadari bahwa segala kenikmatan itu datangnya dari Allah semata. (5) Maqam Faqir. ialah rasa puas di hati sekalipun menerima nasib pahit. hedonisme yang telah menyebabkan merajalelanya AIDS. dibenci. (10)Maqam Ridla.

Jadi.. hanif dan berakal. Jakarta. UA 20-21 Jakarta Selatan Telp. 1981. Zarkasyi. "Sufism As a Category in Indonesian Literature And History. Madjid. (dengan terjemahan Jiwa oleh Misbah Zaini Mustofa). Yayasan Kesejahteraan Bersama. 95:4). A. Johns.) Pesantren dan Pembaharuan.. 2 (1961). Berjan. Purwokerto. Al-Ghazali.N." dalam Journal of Southeast Asian History. "Tasauf dan Pesantren". 91:7-10).I. LP3ES.Ilahi. sehingga masih harus berjuang untuk menyempurnakan dirinya (QS. 4:174). -------------------------------------------Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah Editor: Budhy Munawar-Rachman Penerbit Yayasan Paramadina Jln. "Soal-Jawab Thoriqiyah". "Ihya' 'Ulum al-Din". Muhamad Nawawi Shidiq. Imam.16. Pesantren Raudlatul Thulab. Nurcholish.H. dalam M. vol. vol. Dawam Rahardjo (ed. "Jalan ke Surga" (Kumpulan 772 Hadist Qudsi). (021) 7501969. Lebih dari itu bagi seorang mukmin petunjuk primordial ini masih ditambah lagi dengan datangnya Rasul Tuhan pembawa kitab suci sebagai petunjuk hidupnya (QS. MANUSIA DAN PROSES PENYEMPURNAAN DIRI oleh Komaruddin Hidayat Secara tegas Allah menyatakan bahwa manusia merupakan puncak ciptaan-Nya dengan tingkat kesempurnaan dan keunikan-Nya yang prima dibanding makhluk lainnya (QS. DAFTAR KEPUSTAKAAN Firdaus A. Pekalongan. Namun begitu Allah juga memperingatkan bahwa kualitas kemanusiaannya. Raja Murah.. hal. 7501983. tanpa tahun. 1985. Metro Pondok Indah Pondok Indah Plaza I Kav. 1977. 10-23. Proses penyempurnaan ini amat dimungkinkan karena pada naturnya manusia itu fithri. pengenalan diri adalah tangga yang harus dilewati seseorang untuk mendaki ke jenjang yang lebih tinggi dalam rangka . (021) 7507174 Indeks Islam | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota Please direct any suggestion to Media Team Artikel Yayasan Paramadina Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota III. Di dalam tradisi kaum sufi terdapat postulat yang berbunyi: Man 'arafa nafsahu faqad 'arafa rabbabu --Siapa yang telah mengenal dirinya maka ia (akan mudah) mengenal Tuhannya. 7507173 Fax. masih belum selesai atau setengah jadi.

Sederet disiplin ilmu seperti psikologi. melainkan juga di kalangan Islam. maka ilmu kalam lebih menggarisbawahi gambaran Tuhan sebagai Maha Akal. Semakin seorang ahli pikir mendalami satu sudut kajian tentang manusia. dan ahli pikir pada umumnya. sementara ilmu tasawuf memproyeksikan Tuhan sebagai Sang Kekasih. katanya: Nietzsche proclaims the will to power.mengenal Tuhan. bila langkah pertama untuk mengenal Tuhan adalah mengenal diri sendiri terlebih dahulu secara benar. telah menghantarkan pada persepsi yang terpecah dalam melihat manusia dan hubungannya dengan Tuhan. 1978. Demikianlah manusia senantiasa mengandung sebuah misteri yang melekat pada dirinya dan misteri ini telah mengandung sebuah misteri yang melekat pada dirinya dan misteri ini telah mengundang kegelisahan intelektual pare ahli pikir untuk mencoba berlomba menjawabnya. Owing to this development our modern theory of man lost its intellectual center. Terjadinya ideologisasi terhadap ilmu-ilmu agama. sosiologi. kini manusia semakin mendapatkan kesulitan untuk mengenali jati diri dan hakikat kemanusiaannya Dengan majunya spesialisasi dalam dunia ilmu pengetahuan dan berkembangnya differensiasi dalam profesi kehidupan maka protret atau konsep tentang realitas manusia semakin terpecah meniadi kepingan-kepingan kecil sehingga keutuhan sosok manusia semakin sulit dihadirkan secara utuh. yang berarti semakin terputus dari pemahaman komprehensif tentang manusia. maka . ekonomi. oleh Ernst Cassirer. Perbedaan-perbedaan ini muncul dalam benak manusia karena pada dasarnya yang bertuhan adalah manusia. semakin jauh pula ia terkurung dalam bilik lorong yang ia masuki. misalnya. Dalam tradisi ilmu fiqih misalnya. tetapi masing-masing memiliki metode dan tujuan yang berbeda. secara sadar atau tidak. Demikianlah. We acquired instead a complete anarchy of thought. Krisis pengenalan jati diri manusia ini secara eksplisit dikemukakan. sebaliknya. sebagaimana diakui kalangan psikolog. biologi. politik. p. akan melahirkan kesimpulan yang berbeda pula mengenai siapa dan apa hakikat manusia itu. Freud signalizes the sexual instinct. di mana manusia itu lahir. Jadi. Persoalan serius yang menghadang adalah. Marx enthrones the economic instinct.21) Krisis pengenalan diri sesungguhnya tidak hanya dirasakan kalangan ahli pikir Barat modern. manusia pada akhirnya akan menuntut imbalan pahala atas ketaatannya melaksanakan dekrit-Nya. teologi dan lainnya semuanya menjadikan manusia sebagai obyek kajian materialnya. antropologi. tumbuh dan berkembang dibentuk dan dipengaruhi oleh berbagai faktor yang dijumpai dalam realitas sejarah hidupnya. kedokteran. (Ernst Cassier. Each theory becomes a Procrustean bed in which the empirical facts are stretched to fit a preconceived pattern. bila ilmu fiqih cenderung mengenalkan Tuhan sebagai Maha Hakim. sementara manusia adalah subyek-subyek yang cenderung membangkang dan harus siap menerima vonis-vonis dari kemurkaan Tuhan Sang Maha Hakim atau. secara tak langsung ilmu ini cenderung menghadirkan wajah Tuhan sebagai Yang Maha Hakim. meskipun obyek materialnya sama-sama manusia. filsuf. Differensiasi metodologis setiap ilmu.

memberikan contoh yang amat sederhana tetapi gamblang betapa miskinnya penganut materialisme dalam memahami kehidupan yang penuh nuansa ini. an act of love only chemiphysical. vegetality. Terlepas apakah riwayatnya sahih ataukah lemah. 1962. dan humanity. 8). Bagi mereka yang berpandangan atau terbiasa dengan metode berpikir empirisme-materialistik akan sulit diajak untuk menghayati makna penyempurnaan kualitas insani sebagaimana yang lazim diyakini di kalangan pare sufi. Allah menyatakan bahwa dalam diri manusia memang terdapat unsur Ilahi yang dalam al-Qur'an beristilah "min ruhi. sebaliknya yang kedua berkeyakinan bahwa dunia materi ini hakikatnya berasal dari realitas yang bersifat imateri (upward causation). Bila diurut dari bawah unsurnya ialah minerality. 15:29. Menurut doktrin al-Qur'an. kemudian Aku ingin dikenal. 2:3). tempuh ialah bagaimana Meskipun Cassirer secara gamblang menunjukkan krisis pengenalan diri." Pendek kata. Yang pertama berkeyakinan pada teori bahwa semua realitas materi (downward causation). hal. faham ini telah mereduksi keagungan manusia yang dinyatakan Tuhan sebagai moral and religious being. (Ralph ross. Kuntu kanzan makhfiyyan fa ahbabtu an u'rafa fa khalaqtu al-khalqa fabi 'arafu-ni --Aku pada mulanya adalah harta yang tersembunyi. secara sederhana kita bisa membedakan dua paradigma pemahaman terhadap manusia. Progressive reductionism works as follows. Kuciptakanlah makhluk maka melalui Aku mereka kenal Aku. Meski demikian. namun dengan beberapa penafsiran yang berbeda. therefore. antara lain. yaitu paradigma materialisme-atheistik dan spiritualisme-theistik. animality. misalnya. mereka cenderung sepakat bahwa manusia adalah microcosmos yang memiliki sifat-sifat yang menyerupai Tuhan dan paling potensial mendekati Tuhan (Bandingkan QS. only electrical charges. Dalam konteks inilah . Pandangan yang begitu dangkal tentang manusia secara tegas dikritik oleh al-Qur'an. manusia adalah wakil Tuhan di muka bumi untuk melaksanakan 'blueprint'-Nya membangun bayang-bayang surga di bumi ini (QS. the art object or act of love is only a flow of electricity. Dalam QS. Ralph Ross. pada umumnya orang sufi menerima hadits tersebut.langkah pertama yang harus kita mengenal diri kita secara benar. 41:53). An art object is only mass and light waves. Kritik terhadap aliran materialisme akhir-akhir ini semakin gencar. misalnya. Lebih dari itu dalam tradisi sufi terdapat keyakinan yang begitu populer bahwa manusia sengaja diciptakan Tuhan karena dengan penciptaan itu Tuhan akan melihat dan menampakkan kebesaran diri-Nya. realitas manusia memiliki jenjang-jenjang dan mata rantai eksistensi. dan akan mudah dijumpai pada berbagai bidang studi keilmuan Barat kontemporer dengan dalih. Dari jenjang pertama sampai ke tiga aktivitas dan daya jangkau manusia masih berada dalam lingkup dunia materi dan dunia materi selalu menghadirkan polaritas atau fragmentasi yang saling berlawanan (the primordial pair).

Di manapun seorang mukmin berada. suatu mengaktualisasikan kesadaran dan kapasitas kemampuan untuk dirinya sebagai . Pertama. roh Ilahi yang bersifat imateri dan berperan sebagai "sopir" bagi kendaraan "jasad" kita ini seringkali lupa diri sehingga ia kehilangan otonominya sebagai master. makin bertambah kepingan gambaran realitas dunia. Proses ini bisa juga disebut sebagai proses internalisasi sifat Tuhan ke dalam diri manusia. senang kesucian. Dalam konteks ini kalangan sufi biasanya menyandarkan Hadits Nabi yang berbunyi. Kalangan sufi yakin. yaitu dataran: minerality. dia tidak boleh lepas dari berfikir dan berdzikir untuk Tuhannya (QS. tujuan utama ajaran tasawuf adalah membantu seseorang bagaimana caranya seseorang bisa memelihara dan meningkatkan kesucian jiwanya sehingga dengan begitu ia merasa damai dan juga kembali ke tempat asal muasalnya dengan damai pula (QS. dan makin jauh pula manusia untuk mampu mengenal dirinya secara utuh. Yaitu. dahaga dan kerinduan mendekati Tuhan ini bukanlah hasil rekayasa pendidikan (kultur) melainkan merupakan natur manusia yang paling dalam. 89:27). selalu ingin dekat kepada Yang Maha Suci dan Abstrak. dan animality. Makin berkembang ilmu pengetahuan. secara sadar meniru sifat-sifat Tuhan sehingga seorang mukmin memiliki sifat-sifat mulia sebagaimana sifat-Nya. Dengan kiasan lain. vegetality.yang dimaksud bahwa realitas yang kita tangkap tentang dunia materi adalah realitas yang terpecah berkeping-keping. Seperti dikemukakan Carel Alexis bahwa man has gained the mistery of the material world before knowing himself. Ajaran spiritualitas seperti ini tidak hanya terdapat pada Islam melainkan pada agama lain. Secara garis besar tahapan seorang mukmin untuk meningkatkan kualitas jiwanya terdiri dari tiga maqam. "Keakuan" orang bukan lagi difokuskan pada kesucian jiwa tetapi pada prestasi akumulasi dan konsumsi materi. Pendeknya." Maqam ketiga tahaqquq. namun para sarjana muslim sepakat bahwa inti tasawuf adalah ajaran yang menyatakan bahwa hakekat keluhuran nilai seseorang bukanlah terletak pada wujud fisiknya melainkan pada kesucian dan kemuliaan hatinya. Bila hal ini terjadi maka terjadilah kerancuan standar nilai. pada nurani manusia yang terdapat dalam cahaya suci yang senantiasa ingin menatap Yang Maha Cahaya (Tuhan) karena dalam kontak dan kedekatan antara nurani dan Tuhan itulah muncul kedamaian dan kebahagiaan yang paling prima. berusaha mengingat dan mengikatkan kesadaran hati dan pikiran kita kepada Allah. Jadi. Dalam kaitan definisi. Dari kenyataan ini maka tidak terlalu salah bila ada yang berpendapat bahwa sesungguhnya potensi dan kecenderungan kehidupan batin manusia ke arah kehidupan mistik bersifat natural dan universal. lalu turunlah tahtanya ke level yang lebih rendah. bahkan dalam tradisi pemikiran filsafat akan mudah pula dijumpai. jiwa yang tadinya duduk dan memerintah dari atas singgasana "imateri" dengan sifat-sifatnya yang mulia seperti: cinta kasih. penuh damai. Yaitu. yang pertumbuhannya sering terhalangi oleh pertumbuhan dan naluri jiwa nabati dan hewani yang melekat pada manusia. sehingga ia bisa sedekat mungkin dengan Tuhan yang Maha Suci. Yaitu. 3:191). "Takhallaqu bi akhlaq-i Allah. tradisi tasawuf belum mempunyai definisi tunggal. Artinya. Dari dzikir ini meningkat sampai maqam kedua -takhalluq. dzikir atau ta'alluq pada Tuhan.

bukankah cukup tegas isyarat al-Qur'an maupun Hadits yang menyatakan bahwa kewajiban setiap muslim adalah mensucikan jiwanya sehingga kesuciannya termanifestasikan dalam perilaku insaniyahnya? Melalui tahapan ta'alluq. ia akan mengetahui Tuhannya karena manusia adalah "microcosmos" atau jagad cilik dimana 'arsy Tuhan berada di situ. tetapi Tuhan bukan pengertian huwiyah-Nya atau "ke-Dia-annya" yang Maha Absolut dan Maha Esa. maka seorang mukmin akan mencapai derajat khalifah Allah dengan kapasitasnya yang perkasa tetapi sekaligus penuh kasih dan damai. Beberapa ayat al-Qur'an dan Hadits menegaskan bahwa hati seseorang bagaikan raja. Dan dari sekian makhluk Tuhan. kata qalb senantiasa berasosiasi dengan kata taqallub yang bergerak atau berubah secara konstan. Maqam tahaqquq ini sejalan dengan Hadits Qudsi yang digemari kalangan sufi yang menyatakan bahwa bagi seorang mukmin yang telah mencapai martabat yang sedemikian dekat dan intimnya dengan Tuhan maka Tuhan akan melihat kedekatan hamba-Nya. Taqallub-nya hati sang sufi. yang dimaksudkan dengan ungkapan siapa yang mengetahui jiwanya. seorang sufi kontemporer adalah mereka yang tidak asing berdzikir dan berfikir tentang Tuhan sekalipun di hotel mewah dan datang dengan kendaraan yang mewah pula.138). Dalam sebuah hadits Qudsi disebutkan bahwa meskipun secara fisik hati itu kecil dan mengambil tempat pada jasad manusia. Bukankah Allah punya blue-print dan proyek untuk memakmurkan bumi. takhalluq. maka tasawuf bisa dikatakan sebagai inti keberagaman dan karenanya setiap muslim semestinya berusaha untuk menjadi sufi. dan tahaqquq. hanya hati seorang Insan Kamil-lah yang paling mampu menangkap lalu memancarkan tajalli-Nya dalam perilaku kemanusiaan (Fushushul Hikam. XII. Hossein Nasr. Tajalli berarti penampakan diri Tuhan ke dalam makhluk-Nya dalam pengertian metafisik. p. . KHALIFAH ALLAH: MANUSIA SUCI NAN PERKASA Bila upaya penyucian jiwa merupakan inti tasawuf. Dalam tradisi tasawuf yang menjadi fokus kajiannya ialah apa yang disebut gaib atau hati dalam pengertiannya yang metafisis. bukannya Yang Bathin. Dalam konteks inilah. Namun begitu. 1977. secara karikatural. sementara bumi langit tidak sanggup.seorang mukmin yang dirinya sudah "didominasi" sifat-sifat Tuhan sehingga tercermin dalam perilakunya yang serba suci dan mulia. menurut Ibn 'Arabi. dan itu dilakukan dalam upaya mendekati dan menggapai kasih Tuhan. dan bukankah hamba-hamba-Nya yang saleh telah dinyatakan sebagai mandataris-Nya? Jadi. melainkan Tuhan dalam sifat-Nya yang Dhahir. Menurut Ibn 'Arabi. adalah seiring dengan tajalli-nya Tuhan. namun luasnya hati Insan Kamil (qalb al-'arif) melebihi luasnya langit dan bumi karena ia sanggup menerima 'arsy Tuhan. Pandangan semacam itu tentu saja kurang populer dan sulit diterima oleh kalangan terdekat. Seorang 'abd-u 'l-Lah (budak Allah) yang saleh adalah sekaligus juga wakil-Nya untuk membangun bayang-bayang surga di muka bumi ini. Kebaikan dan kejahatan kerajaan itu akan tergantung bagaimana perilaku sang raja. kata 'Arabi. sementara badan dan anggotanya bagai istana dan para abdi dalem-nya.

mereka . New York. Lahore. (021) 7501969. Dr. -------------------------------------------Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah Editor: Budhy Munawar-Rachman Penerbit Yayasan Paramadina Jln. 7507173 Fax. Ibn. UA 20-21 Jakarta Selatan Telp. Massiggnon. AE. Annemarie.. Harun. Karena itu ada baiknya kita lebih dahulu berbicara tentang tasawuf itu sendiri. Bahkan. 181) oleh KH Ali Yafie Kata syari'ah telah beredar luas di kalangan umat muslim. Princeton. 1977. Teheran. 1982. The Mystical Philosophy of Muhyi al-Din Ibnul 'Arabi. Jakarta. Pemakaian kata tersebut mengacu kepada makna ajaran dan norma agama itu sendiri. Prof. Mir. New York. Fushush al-Hikam (The Bezels of Wisdom). haqiqah dan ma'rifah. Louis. dalam al-Qur'an sendiri. Jilid II dan III. Sedangkan tiga kata lainnya menjadi terma yang terkenal dalam tasawuf. 1978. London. Ernst. Raiph. Schimmel. Falsafat dan Mistisisme Dalam Islam. The Passion of al-Hallaj. HAQIQAH DAN MA'RIFAH (hal. SYARI'AH.. Izutsu. Symbols and Civilization. Dimensi Mistik Dalam Islam. Mengenai kelompok tasawuf ada dua pendapat.15. Dr. (021) 7507174 Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota Please direct any suggestion to Media Team Artikel Yayasan Paramadina Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota III. THARIQAH.DAFTAR KEPUSTAKAAN Arabi. Nasution. Pertama.. 1976. 7501983. Lahore. 1980. Valiuddin. kata tersebut telah dipakai antara lain pada Surah al-Jatsiyah: 18. Metro Pondok Indah Pondok Indah Plaza I Kav. An Essay on Man. 1962. The Qur'anic Sufism. Dalam perkembangan Islam munculnya tiga kata thariqah. Toshihiko. 1938 Cassirer. 1978. Afifi. The Concept of Perpetual Creation in Islamic Mysticism and Zen Buddhism. telah mengakibatkan terbatasnya pengertian syari'ah sehingga lebih banyak mengacu pada norma hukum.. 1973 Ross.

Upaya penalaran para ulama muhaddits dan fuqaha dalam menjabarkan prinsip-prinsip ajaran Islam mengenai penataan kehidupan pribadi dan masyarakat yang sudah berkembang selama tiga abad -dengan munculnya disiplin ilmu Tasawuf. pola dasar tasawuf adalah kedisiplinan beribadah. dan produk penalaran ulama tasawuf yang disebut haqiqah. Perbedaan tersebut ditandai dengan beberapa hal berikut: 1. Ibnu Khaldun mengungkapkan. Ahli syari'ah menonjolkan -kadang-kadang secara berlebih-lebihan. konsentrasi tujuan hidup menuju Allah (untuk mendapatkan ridla-Nya). Sedang dilain pihak. tapi mulai ditandai juga dengan berkembangnya suatu cara penjelasan teoritis yang kelak menjadi suatu disiplin ilmu yang disebut ilmu Tasawuf. Pada tingkat perkembangan inilah muncul beberapa terma yang dulunya tidak lazim dipakai dalam ilmu-ilmu keislaman. yaitu produk penalaran ulama muhaddits dan fuqaha yang disebut syari'ah. serta patuh melaksanakan ajaran-ajaran agama dalam kehidupannya sehari-hari. dan upaya membebaskan diri dari keterikatan mutlak pada kehidupan duniawi. Sehingga seharusnya kita katakan seorang muhaddttsin sekaligus juga ulama sufiyah. begitu pula seorang mutakallimin sekaligus juga ulama sufiyah. atau kesenangan duniawi lainnya.adalah kelompok spiritual dalam umat Islam yang berada di tengah-tengah dua kelompok lainnya yang disebut kelompok formal dan kelompok Intelektual. sehingga di kalangan atas dan menengah terdapat pola kehidupan mewah. Dan ini menimbulkan banyak pertentangan antara kedua kelompok tersebut. Ajaran Tasawuf pada dasarnya merupakan bagian dari prinsip-prinsip Islam sejak awal. Selanjutnya para fuqaha pun disebut ahli syari'ah dan para ulama tasawuf disebut ahli haqiqah. Keadaan tersebut berkelanjutan hingga mencapai puncak perkembangannya pada akhir abad 4 H. sehingga tidak diperbudak harta atau tahta.terjadilah pemisahan antara dua pola penalaran. Ajaran ini tak ubahnya merupakan upaya mendidik diri dan keluarga untuk hidup bersih dan sederhana. Ketika itulah angkatan pertama kaum muslim yang mempertahankan pola hidup sederhananya lebih dikenal sebagai kaum sufiyah. Kecenderungan seperti ini secara umum terjadi pada kalangan kaum muslim angkatan pertama. . Dalam masa tiga abad itu dunia Islam mencapai kemakmuran yang melimpah. bahwa tasawuf itu hanyalah suatu kecenderungan spiritual yang membentuk etika moral dan lingkungan sosial khusus. Pada tahap perkembangannya. secara berangsur-angsur terjadi pergeseran nilai sehingga orientasi kehidupan duniawi menjadi lebih berat. Pada angkatan berikutnya (abad 2 H) dan seterusnya. secara berangsur-angsur pola pikir dan pola hubungan antara ahli syari'ah dan ahli haqiqah makin berbeda. Kelompok intelektual ini terdiri dari ulama-ulama mutakallim (ahli teologi).soal pengalaman agama dalam bentuk yang formalistik (syi'ar-syi'ar lahiriah). sedangkan kelompok formal terdiri dari ulama-ulama muhaddits dan fuqaha. Kedua. Pada masa itu gerakan tasawuf juga mengalami perkembangan yang tidak terbatas hanya pada praktek hidup bersahaja saja. seperti kita dapat simak dalam karya sastra "cerita seribu satu malam" dimasa kejayaan kekhalifahan Abbasiyah.

para ahli haqiqah menonjolkan aspek-aspek batiniah ajaran Islam. bagaimanapun keberadaan penganut-penganut tarekat itu merupakan bagian dari potensi bangsa/umat. dan Imam Ghazali berupaya memulihkannya. disamping Tarekat Naqsyabandiyah. Mereka berkata. Padahal. tarekat yang banyak pengikutnya Tarekat Rifa'iyyah yang dibangun Sayid Ahmad al-Rifa'i. Ajaran tarekatnya menyebar ke seluruh penjuru dunia Islam. kalau seseorang sudah mencapai derajat wali. Di Jawa Timur misalnya. Dan tempat ketiga diduduki tarekat ulama penyair kenamaan Parsi. siapa yang telah sampai perjalanan rohaniahnya kepada Allah dan sudah terlebur dirinya dalam diri Allah. Syadziliyah. dia sudah bebas dari ikatan-ikatan formal. Ahli haqiqah mengklaim. Adanya teori-teori ahli haqiqah yang menggusarkan para ahli syari'ah. Dalam satu dasawarsa terakhir ini. ada baiknya kita mempertanyakan kapankah munculnya tarekat (al-thuruq al-shufiyah) itu dalam sejarah perkembangan gerakan tasawuf Dr. kita melihat adanya langkah lebih maju dalam perkembangan tarekat-tarekat tersebut dengan adanya koordinasi antara berbagai macam tarekat itu lewat ikatan yang dikenal dengan nama Jam'iyah Ahl al-Thariqah al-Mu'tabarah. 4. 2. Ghinia dan Jawa. maka dia akan mampu menaklukkan alam dan melakukan hal-hal yang luar biasa (keramat). Jurang pemisah yang makin hari makin melebar antara ahli syari'ah dan ahli haqiqah makin menjadi-jadi pada sekitar akhir abad kelima Hijrah. Kamil Musthafa al-Syibi dalam tesisnya tentang gerakan tasawuf dan gerakan syi'ah mengungkapkan. Di Indonesia kita lebih banyak mengenal ajaran tasawuf lewat lembaga keagamaan non-formal yang namanya "tarekat" asal kata thariqah. Untuk lebih mengenal adanya tarekat itu. para pendahulu mereka sangat disiplin dalam pengalaman syari'ah. Dalam kaitan inilah beliau tampil dengan karya besarnya Ihya 'Ulum al-Din. pemerintah Mesir menempatkan pembinaan dan koordinasi tarekat-terekat tersebut di bawah Departemen Bimbingan Nasional (Wizarah al-Irsyad al-Qaumi). tokoh pertama yang memperkenalkan sistem thariqah (tarekat) itu Syekh Abdul Qadir al-Jilani (w. Pada tahun lima puluhan. Jalal . Pertimbangannya ialah. misalnya teori al-fana fi 'l-Lah (peleburan diri dalam Allah) yang dikemukakan Abu Yazid al-Busthami dan teori Hub al-Lah (cinta Allah) hasil pemikiran Rabi'ah al-'Adawiyah serta teori Maqamat-Ahwal (terminal-terminal dan situasi-situasi) ciptaan Dzunn-un al-Mishri. Tijaniyah dan Sanusiyah. Dalam buku ini beliau mempertemukan teori-teori syari'ah dengan teori-teori haqiqah Ternyata upaya al-Ghazali ini sangat membantu dalam merukunkan kembali antara para ahli syari'ah dengan ahli haqiqah. yang mendapat sambutan luas di Aljazair. 3. kita jumpai Tarekat Qadiriyah yang cukup dikenal. Semua itu dianggap sebagai ajaran aneh oleh para ahli syari'ah. Sebagian ahli haqigah tidak merasa terikat dengan syi'ar-syi'ar agama yang ritual-formalistis. yang berhak mendapatkan perlindungan dalam rangka tertib kemasyarakatan suatu negara. Sedangkan di Mesir. 561 H/1166 M) di Baghdad.

al-Din al-Rumi (w. ada kalanya dengan alat-alat bantu seperti musik dan gerak badan yang dapat membina konsentrasi ingatan. dia harus terlebih dahulu menjalani masa persiapan yang berat. dan dunia Islam bagian Timur pada umumnya. dengan jalan pengamalan syari'ah dan penghayatan haqiqah dalam sistem/metode thariqah untuk mencapai ma'rifah. dan akhirnya membebaskan wilayah Libya. Sayyid Ahmad al-Syarif al-Sanusi berhasil menggalang satu kekuatan perlawanan rakyat yang mampu memerangi kolonialis Italia. Di bawah syeikhnya yang terakhir. Sasaran akhir dari pembinaan pribadi dalam pola hidup bertasawuf adalah hidup bersih. Kemudian sistem ini berkembang terus dan meluas. Adakalanya sebelum yang bersangkutan diterima menjadi penganut. bahwa tarekat-tarekat sufi merupakan bentuk kelembagaan yang terorganisasi untuk membina suatu pendidikan moral dan solidaritas sosial. 4. bahwa sistem hidup bersih dan bersahaja (zuhd) adalah dasar semua tarekat yang berbeda-beda itu. Menekuni pembacaan dzikir tertentu (awrad) dalam waktu-waktu tertentu setiap hari. Beliau membuat tradisi baru dengan menggunakan alat-alat musik sebagai sarana dzikir. Mungkin sifat keras dari iklim yang dibentuk Tarekat Sanusiyah inilah yang mewarnai Mu'ammar al-Qadafi mengambil alih kekuasaan dan berkuasa sampai saat ini sebagai Kepala Negara tersebut. tekun beribadah kepada Allah. Perancis dan Inggris secara berturut-turut. Menjalani riyadlah (latihan dasar) berkhalwat. membimbing masyarakat ke arah yang diridlai Allah. tapi ada beberapa ciri yang menyamakan: 1. sehingga dapat berbuat hal-hal yang berlaku di luar kebiasaan. Yang juga perlu dicatat di sini ialah munculnya Tarekat Sanusiyah yang mempunyai disiplin tinggi mirip disiplin militer. 5. Pada titik pengenalan ini akan terpadu makna tawakkal dalam tawhid. 2. Dalam periode berikutnya muncul tarekat al-Syadziliyah yang mendapat sambutan luas di Maroko dan Tunisia khususnya. dan pada umumnya tarekat-tarekat tersebut walaupun beragam namanya dan metodenya. 6. Semua pengikutnya dididik dalam disiplin itu. Apa yang dimaksud dengan kata ma'rifah dalam terma mereka ialah penghayatan puncak pengenalan keesaan Allah dalam wujud semesta dan wujud dirinya sendiri. Ada upacara khusus ketika seseorang diterima menjadi penganut (murid). Menyepi dan berkonsentrasi dengan shalat dan puasa selama beberapa hari (kadang-kadang sampai 40 hari). Penghormatan dan penyerahan total kepada Syeikh atau pembantunya yang tidak bisa dibantah Dari sistem dan metode tersebut Nicholson menyimpulkan. Nicholson mengungkapkan hasil penelitiannya. 672 H/1273 M). bersahaja. Memakai pakaian khusus (sedikitnya ada tanda pengenal) 3. . Mempercayai adanya kekuatan gaib/tenaga dalam pada mereka yang sudah terlatih.

UA 20-21 Jakarta Selatan Telp. Rijal al-fikri wa 'l-Da'wah fi 'l-lslam. 7507173 Fax. dan melepaskan dirinya dari ketergantungan mutlak kepada sesuatu selain Allah. terutama salat dan puasa. TASAWUF (hal.yang melahirkan sikap pasrah total kepada Allah. Filsafat yang menjadi dasar pendekatan diri itu adalah. bukan jasadnya. Saf pertama ditempati oleh orang-orang yang cepat datang ke mesjid dan banyak membaca . Saf (baris). Kamil Mushthafa al-Syibli. pertama. (021) 7501969. (021) 7507174 Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota Please direct any suggestion to Media Team Artikel Yayasan Paramadina Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota III. maka yang dapat diterima Tuhan untuk mendekatiNya adalah roh yang suci. ASAL KATA SUFI Tidak mengherankan kalau kata sufi dan tasawuf dikaitkan dengan kata-kata Arab yang mengandung arti suci. al-Muqaddimah. 7501983. Tasawuf adalah ilmu yang membahas masalah pendekatan diri manusia kepada Tuhan melalui penyucian rohnya. maka bagian yang dapat mendekatkan diri dengan Tuhan adalah roh. Metro Pondok Indah Pondok Indah Plaza I Kav. al-Shilah bain al-Tashawwuf wa 'l-Tasyayyu'. Tuhan bersifat rohani. -------------------------------------------Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah Editor: Budhy Munawar-Rachman Penerbit Yayasan Paramadina Jln. Dan memang. kaum sufi banyak berusaha menyucikan diri mereka melalui banyak melaksanakan ibadat. Kedua. Yang dimaksud saf di sini ialah baris pertama dalam salat di mesjid. Dhuha al-Islam dan Zhuhur al-Islam Imam al Ghazali. Safa dalam arti suci dan sufi adalah orang yang disucikan. 42) oleh Harun Nasution (1/4) Tujuan tasawuf adalah mendekatkan diri sedekat mungkin dengan Tuhan sehingga ia dapat melihat-Nya dengan mata hati bahkan rohnya dapat bersatu dengan Roh Tuhan. DAFTAR KEPUSTAKAAN Abu 'l-Hasan al-Nadawi. Ihya 'Ulum al-Din Irnam Ibn Khaldun. Penulis-penulis banyak mengaitkannya dengan kata: 1. Ahmad Amin. Tuhan adalah Maha Suci.14. 2.

Roh yang pada mulanya suci itu menjadi tidak suci dan karena itu tidak dapat kembali ke tempatnya semula yang suci. filsafat Yunani dan agama Hindu dan Buddha. Orang yang pertama memakai kata sufi kelihatannya Abu Hasyim al-Kufi di Irak (w. walaupun untuk sementara. ia meninggalkan pakaian mewah yang biasa dipakainya dan diganti dengan kain wol kasar yang ditenun secara sederhana dari bulu domba. Filsafat sufi juga demikian.150 H). kalau seseorang ingin memasuki jalan tasawuf. Di Madinah mereka hidup sebagai orang miskin. Di siang hari. Ada yang mengatakan bahwa pengaruhnya datang dari rahib-rahib Kristen yang mengasingkan diri untuk beribadat dan mendekatkan diri kepada Tuhan di gurun pasir Arabia. Pendapat ini memang banyak yang menolak. roh manusia adalah suci dan berasal dari tempat suci. muncullah anggapan bahwa aliran tasawuf lahir dalam Islam atas pengaruh dari luar. 4. Inilah pula sifat-sifat kaum sufi. sufi adalah orang yang memakai wol kasar untuk menjauhkan diri dari dunia materi dan memusatkan perhatian pada alam rohani. Orang-orang seperti ini adalah yang berusaha membersihkan diri dan dekat dengan Tuhan. Rahib-rahib itu berhati baik. Dalam sejarah tasawuf. dan di malam hari lampu mereka menjadi petunjuk jalan bagi musafir. Roh yang masuk ke dalam janin di kandungan ibu berasal dari alam rohani yang . berhati baik serta mulia dan tidak mementingkan dunia. Ahl al-Suffah.ayat-ayat al-Qur'an dan berdzikir sebelum waktu salat datang. pemurah dan suka menolong. Diantara semua pendapat itu. kemudian turun ke dunia materi dan masuk ke dalam tubuh manusia yang bernafsu. dan pemurah dan suka menolong. Dalam filsafatnya. ASAL-USUL TASAWUF Karena tasawuf timbul dalam Islam sesudah umat Islam mempunyai kontak dengan agama Kristen. Ahl al-Suffah. karena kata sophos telah masuk kedalam kata falsafat dalam bahasa Arab. Untuk itu ia harus menyucikan diri dengan memusatkan perhatian pada fllsafat serta ilmu pengetahuan dan melakukan beberapa pantangan. dan ditulis dengan sin dan bukan dengan shad seperti yang terdapat dalam kata tasawuf. Sophos (bahasa Yunani yang masuk kedalam filsafat Islam) yang berarti hikmat. (pelana) sebagai bantal. 3. sungguhpun tak mempunyai apa-apa. 5. Suf (kain wol). Jadi. Pakaian ini melambangkan kesederhanaan serta kemiskinan dan kejauhan dari dunia. berhati baik. pendapat terakhir inilah yang banyak diterima sebagai asal kata sufi. Tempat mereka menjadi tujuan orang yang perlu bantuan di padang yang gersang. kemah mereka menjadi tempat berteduh bagi orang yang kepanasan. dan kaum sufi pula yang tahu hikmat. Pengaruh filsafat Yunani dikatakan berasal dari pemikiran mistik Pythagoras. yaitu para sahabat yang hijrah bersama Nabi ke Madinah dengan meninggalkan harta kekayaannya di Mekkah. Sufi juga mengasingkan diri dari dunia ramai. tinggal di Mesjid Nabi dan tidur di atas bangku batu dengan memakai suffah.

Ayat 186 dari surat al-Baqarah mengatakan. Sedangkan pengaruh dari agama Hindu dikatakan datang dari ajaran bersatunya Atman dengan Brahman melalui kontemplasi dan menjauhi dunia materi." Kaum sufi mengartikan do'a disini bukan berdo'a. sama dengan Pythagoras. sesudah tubuh mati tidak akan kembali ke hidup serupa di bumi. Nirwana dapat dicapai dengan meninggalkan dunia. Masih dari filsafat Yunani. pengaruhnya dikatakan dari konsep Nirwana. Kalau sudah bersih. Tuhan memang dekat sekali dengan manusia. memang terdapat dalam tasawuf Islam. tapi kemudian dipengaruhi oleh hawa nafsu yang terdapat dalam tubuh manusia. konsep Plotinus tentang bersatunya roh dengan Tuhan di dunia ini. Paham itu memang bertentangan dengan ajaran al-Qur'an bahwa roh. "Timur dan Barat kepunyaan Tuhan. "Telah Kami ciptakan manusia dan Kami . Selama masih kotor. Paham penyucian diri melalui reinkarnasi tak terdapat dalam ajaran tasawuf. roh yang telah kotor itu dibersihkan dulu melalui ibadat yang banyak. Tentang dekatnya Tuhan. "Jika hambaKu bertanya kepadamu tentang Aku. Ajaran menghancurkan diri untuk bersatu dengan Tuhan juga terdapat dalam Islam. tidakkah mungkin tasawuf timbul dari dalam diri Islam sendiri? Hakekat tasawuf kita adalah mendekatkan diri kepada Tuhan. dan tak dapat kembali ke Tuhan. Dalam kaitan ini timbul pertanyaan: sekiranya ajaran-ajaran tersebut diatas tidak ada. agama Hindu dan Buddha. al-Baqarah 115). Ayat ini mengandung arti bahwa dimana saja Tuhan dapat dijumpai. Dari agama Buddha. yaitu persatuan roh manusia dengan roh Tuhan. Bahwa yang kemudian datang dipengaruhi oleh yang datang terdahulu adalah suatu kemungkinan. Ayat berikut menggambarkan lebih lanjut betapa dekatnya Tuhan dengan manusia. tetapi berseru. dia berpendapat bahwa roh yang masuk ke dalam tubuh manusia juga kotor. Dalam ajaran Islam. Dalam tasawuf terdapat pengalaman ittihad.suci. Tapi. Dengan kata lain. ia dapat mendekatkan diri dengan Tuhan sampai ke tingkat bersatu dengan Dia di bumi ini. roh pergi ke alam barzah menunggu datangnya hari perhitungan. ia berseru agar Tuhan membuka hijab dan menampakkan diri-Nya kepada yang berseru. maka kemana saja kamu berpaling di situ ada wajah Tuhan" (QS. Kita perlu mencatat. Maka untuk dapat bertemu dengan Tuhan Yang Maha Suci. maka Aku dekat dan mengabulkan seruan orang yang memanggil jika Aku dipanggil. filsafat Yunani dan agama Kristen datang lama sebelum Islam. Tapi. Roh memancar dari diri Tuhan dan akan kembali ke Tuhan. ia akan tetap tinggal di bumi berusaha membersihkan diri melalui reinkarnasi. untuk menjumpainya. Dekatnya Tuhan kepada manusia disebut al-Qur'an dan Hadits. digambarkan oleh ayat berikut. Tuhan dekat dan sufi tak perlu pergi jauh. memasuki hidup kontemplasi dan menghancurkan diri. agar Tuhan mengabulkan seruannya untuk melihat Tuhan dan berada dekat kepada-Nya. Tapi pendapat serupa ini memerlukan bukti-bukti historis. pengaruh itu dikaitkan dengan filsafat emanasi Plotinus. Sesudah bercerai dengan tubuh.

Bahwa Tuhan dekat bukan hanya kepada manusia. kesatuan wujud makhluk dengan Tuhan. tapi juga kepada makhluk lain sebagaimana dijelaskan hadis berikut. langkah pertama yang harus dilakukan seseorang adalah tobat dari dosa-dosanya. tetapi di dalam diri manusia sendiri. Sebagaimana telah di sebut diatas penyucian diri diusahakan melalui ibadat." Untuk mencari Tuhan. Demikianlah ayat-ayat al-Qur'an dan Hadits Nabi menggambarkan betapa dekatnya Tuhan kepada manusia dan juga kepada makhluk-Nya yang lain. kemudian Aku ingin dikenal. hadits terakhir ini mengandung konsep wahdat al-wujud. dan dari sinilah berasal kata tarekat dalam bahasa Indonesia. seorang calon sufi banyak melaksanakan ibadat. Maka Kuciptakan makhluk. persatuan manusia dengan Tuhan. terjadilah penyucian diri calon sufi secara berangsur. membaca al-Qur'an dan dzikir. tapi Allah-lah yang membunuh dan bukanlah engkau yang melontarkan ketika engkau lontarkan (pasir) tapi Allah-lah yang melontarkannya (QS. Bertahun-tahun orang harus menempuh jalan yang sulit itu. "Pada mulanya Aku adalah harta yang tersembunyi. dan melalui mereka Aku-pun dikenal. Dalam konteks inilah ayat berikut dipahami kaum sufi. "Bukanlah kamu yang membunuh mereka. sufi melihat persatuan manusia dengan Tuhan. dan bukan manusia saja yang bersatu dengan Tuhan. sufi tak perlu pergi jauh.tahu apa yang dibisikkan dirinya kepadanya. Perbuatan manusia adalah perbuatan Tuhan. lalu melihat Tuhan dengan mata hatinya dan akhirnya mengalami persatuan rohnya dengan roh Tuhan. cukup ia masuk kedalam dirinya dan Tuhan yang dicarinya akan ia jumpai dalam dirinya sendiri. Dengan khusuk dan banyak beribadat ia akan merasakan kedekatan Tuhan. Kalau ayat-ayat diatas mengandung arti ittihad. al-Anfal 17). JALAN PENDEKATAN DIRI KEPADA TUHAN Jalan yang ditempuh seseorang untuk sampai ke tingkat melihat Tuhan dengan mata hati dan akhirnya bersatu dengan Tuhan demikian panjang dan penuh duri. dibagi kaum sufi ke dalam stasion-stasion yang dalam bahasa Arab disebut maqamat -tempat seorang calon sufi menunggu sambil berusaha keras untuk membersihkan diri agar dapat melanjutkan perjalanan ke stasion berikutnya. dan inilah hakikat tasawuf. Karena itu hanya sedikit sekali orang yang bisa sampai puncak tujuan tasawuf. Jalan itu disebut tariqah (bahasa Arab). Ayat ini menggambarkan Tuhan berada bukan diluar diri manusia." Disini terdapat paham bahwa Tuhan dan makhluk bersatu. Disini. stasion pertama dalam tasawuf . Jalan itu. terutama puasa. Gambaran serupa ini tidak memerlukan pengaruh dari luar agar seorang muslim dapat merasakan kedekatan Tuhan itu. Karena itu hadis mengatakan. shalat. Tujuan semua ibadat dalam Islam ialah mendekatkan diri itu. Karena itu. Dan Kami lebih dekat dengan manusia daripada pembuluh darah yang ada di lehernya (QS. Jelas kiranya bahwa usaha penyucian diri. Qaf 16). Maka. yang intinya adalah penyucian diri. "Siapa yang mengetahui dirinya mengetahui Tuhannya.

yaitu zuhud. 7507173 Fax. Bisyr al-Hafi tidak bisa mengulurkan tangan ke arah makanan yang berisi syubhat.14. Pakaiannyapun sederhana. Ia menjadi orang zahid dari dunia. orang yang tidak bisa lagi digoda oleh kesenangan dunia dan kelezatan materi. 7501983. Ia terus banyak berpuasa. Kebutuhan hidupnya hanya sedikit dan ia tidak meminta kecuali hanya untuk dapat . Ia juga akan selalu naik haji. Dari stasion wara'. melakukan shalat. ia keluar dari pengasingannya masuk kembali ke dunianya semula. 42) oleh Harun Nasution (2/4) Untuk memantapkan tobatnya ia pindah ke stasion kedua. Di stasion ini ia dijauhkan Tuhan dari perbuatan-perbuatan syubhat. Pada mulanya seorang calon sufi harus tobat dari dosa-dosa besar yang dilakukannya Kalau ia telah berhasil dalam hal ini. Dalam literatur tasawuf disebut bahwa al-Muhasibi menolak makanan. (021) 7507174 Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota Please direct any suggestion to Media Team Artikel Yayasan Paramadina Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota III. Ia makan dan minum hanya untuk mempertahankan kelanjutan hidup. shalat. dan membuat ia tahan lapar dan dahaga. dan itu diperolehnya dalam berpuasa. membaca al-Qur'an dan dzikir. ia pindah ke stasion faqr. Ia sedikit tidur dan banyak beribadat. melakukan shalat. yaitu tobat yang membuat orangnya menyesal atas dosa-dosanya yang lampau dan betul-betul tidak berbuat dosa lagi walau sekecil apapun. Metro Pondok Indah Pondok Indah Plaza I Kav. (bersambung 2/4) -------------------------------------------Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah Editor: Budhy Munawar-Rachman Penerbit Yayasan Paramadina Jln. membaca al-Qur'an dan berdzikir. membaca al-Qur'an dan berdzikir.adalah tobat. Di stasion ini ia menjalani hidup kefakiran. Puasanya yang banyak membuat hawa nafsunya lemah. karena di dalamnya terdapat syubhat. Ia mengasingkan diri ke tempat terpencil untuk beribadat. Kalau kesenangan dunia dan kelezatan materi tak bisa menggodanya lagi. ia akan tobat dari dosa-dosa kecil. kemudian dari perbuatan makruh dan selanjutnya dari perbuatan syubhat. Di stasion ini ia menjauhkan diri dari dunia materi dan dunia ramai. Tobat yang dimaksud adalah taubah nasuha. (021) 7501969. Jelaslah bahwa usaha ini memakan waktu panjang. Yang dicarinya ialah kebahagiaan rohani. UA 20-21 Jakarta Selatan Telp. puasa. Sampailah ia ke stasion wara'. TASAWUF (hal.

Rasa takut itu kemudian berubah menjadi rasa waswas apakah tobatnya diterima Tuhan sehingga ia dapat meneruskan perjalanannya mendekati Tuhan. Sufi memberikan arti mahabbah sebagai berikut. Ia tidak minta masuk surga dan dijauhkan dari neraka. karena ada orang yang lebih berhajat pada makanan dari padanya. Ayat 54 dari surat al-Maidah. Ketiga. bahkan ia tidak menunggu-nunggu datangnya pertolongan. sungguhpun tak ada padanya. Lambat laun ia rasakan bahwa Tuhan bukanlah zat yang suka murka. baginya cukup apa yang ada untuk hari ini. Di sini ia telah dekat sekali dengan Tuhan dan iapun sampai ke ambang pintu melihat Tuhan dengan hati nurani untuk selanjutnya bersatu dengan Tuhan. memeluk kepatuhan kepada Tuhan dan membenci sikap melawan kepada-Nya. Kedua. Menyerahkan seluruh diri kepada Yang Dikasihi. yang ada hanyalah perasaan senang. Ia sabar menderita. Mencintai Tuhan tidaklah dilarang dalam Islam. Dari stasion tawakkal. Selanjutnya ia pindah ke stasion tawakkal. Ia tidak memikirkan hari esok. pertama. Ia menjadi sufi setelah sampai ke stasion berikutnya dan memperoleh pengalaman-pengalaman tasawuf. Karena stasion-stasion tersebut di atas baru merupakan tempat penyucian diri bagi orang yang memasuki jalan tasawuf. bahkan dalam al-Qur'an terdapat ayat-ayat yang menggambarkan cinta Tuhan kepada hamba dan cinta hamba kepada Tuhan. Ia menyerahkan diri sebulat-bulatnya kepada kehendak Tuhan. kecuali dari Diri Yang Dikasihi.menjalankan kewajiban-kewajiban agamanya. Kendatipun ada padanya. Mengosongkan hati dari segala-galanya. Dari stasion ini ia tidak menentang percobaan dari Tuhan bahkan ia menerima dengan senang hati. rasa cinta kepada Tuhan bergelora dalam hatinya. ia tidak mau makan. PENGALAMAN SUFI Di masa awal perjalanannya. Ia tidak meminta tapi tidak menolak pemberian Tuhan. Bahkan. Ia sabar bukan hanya dalam menjalankan perintah-perintah Tuhan yang berat dan menjauhi larangan-larangan Tuhan yang penuh godaan. ia meningkat ke stasion ridla. ia sebenarnya belumlah menjadi sufi. Ia bersikap seperti telah mati. hatinya merasa senang dan di dalamnya bergelora rasa cinta kepada Tuhan. Pada stasion ridla. cinta Ilahi. calon sufi dalam hubungannya dengan Tuhan dipengaruhi rasa takut atas dosa-dosa yang dilakukannya. Bahkan ia tidak meminta sungguhpun ia tidak punya. Rasa takut hilang dan timbullah sebagai gantinya rasa cinta kepada Tuhan. Ketika malapetaka turun. "Allah akan mendatangkan suatu umat yang dicintai-Nya dan orang yang mencintai-Nya. ia selamanya merasa tenteram. tapi baru menjadi zahid atau calon sufi. tapi zat yang sayang dan kasih kepada hamba-Nya. Maka ia pun sampai ke stasion mahabbah. tetapi juga sabar dalam menerima percobaan-percobaan berat yang ditimpakan Tuhan kepadanya." Selanjutnya ayat . Ia bukan hanya tidak meminta pertolongan dari Tuhan. Setelah menjalani hidup kefakiran ia sampai ke stasion sabar. Di dalam hatinya tidak ada perasaan benci.

dan ini tertera dari syairnya yang berikut: Kucintai Engkau dengan dua cinta. "Tuhanku." Ketika fajar menyingsing ia dengan rasa cemas mengucapkan. Dalam doanya. dan Allah akan mencintai kamu. ataukah Engkau tolak sehingga aku merasa sedih. Rabi'ah al-'Adawiah telah benar-benar menjadi sufi. Yang ia pinta adalah dekat kepada Tuhan. hanya Engkaulah yang kukasihi. Orang yang Ku-cintai. Cinta karena diriku Membuat aku lupa yang lain dan senantiasa menyebut nama-Mu. kebahagiaan dari kesenanganku. karena cintaku kepada-Mu telah memenuhi hatiku. jika kamu cinta kepada Tuhan. . bakarlah mataku karena Engkau. janganlah sembunyikan keindahan-Mu yang kekal itu dari pandanganku. maka turutlah Aku." Ia bermunajat. apakah Engkau terima aku sehingga aku bahagia. Membuat aku melihat Engkau karena Engkau bukakan hijab. Sekiranya Engkau usir aku dari depan pintuMu. Aku gelisah." Sufi yang masyhur dalam sejarah tasawuf dengan pengalaman cinta adalah seorang wanita bernama Rabi'ah al-'Adawiah (713-801 M) di Basrah. "Buah hatiku. "Senantiasa hamba-Ku mendekatkan diri kepada-Ku melalui ibadat sehingga Aku cinta kepadanya. Cintanya yang dalam kepada Tuhan memalingkannya dari segala yang lain dari Tuhan. mata-mata telah bertiduran. sehingga ketika orang bertanya kepadanya. Cinta kepada diri-Mu. Cinta karena diriku dan cinta karena diri-Mu. telah sampai ke stasion sesudah mahabbah. bukan pula karena ingin masuk surga. yaitu ma'rifah." Pernah pula ia berkata. Bagi-Mu-lah puji dan untuk itu semua. "Katakanlah. "Tuhanku. dan inilah aku berada di hadirat-Mu. akhirnya dibalas Tuhan. seperti yang berikut. tiap pecinta telah berduaan dengan yang dicintainya." Cinta tulus Rabi'ah al-'Adawiah kepada Tuhan. Demi keMahakuasaan-Mu inilah yang akan kulakukan selama Engkau beri hajat kepadaku." Sewaktu malam telah sunyi ia berkata. apakah ia benci kepada setan. Rabi'ah al-'Adawiah. Tiada puji bagiku untuk ini dan itu. "Aku mengabdi kepada Tuhan bukan karena takut kepada neraka. tetapi aku mengabdi karena cintaku kepada-Nya. Beri ampunlah pembuat dosa yang datang ke hadiratMu. aku tidak akan bergerak. bintang di langit telah gemerlapan. Ia telah melihat Tuhan dengan hati nuraninya. malam telah berlalu dan siang segera akan menampakkan diri." Begitu penuh hatinya dengan rasa cinta kepada Tuhan. Hatiku telah enggan mencintai selain Engkau. Ia telah sampai ke stasion yang menjadi idaman kaum sufi. ia tidak meminta dijauhkan dari neraka dan pula tidak meminta dimasukkan ke surga. pintu-pintu istana telah dikunci. Ia mengatakan.30 dari surat 'Ali Imran menyebutkan. Dengan kata lain. "Cintaku kepada Tuhan tidak meninggalkan ruang kosong di dalam hatiku untuk benci setan. "Tuhanku. penglihatan dan tangannya. jika kupuja Engkau karena takut kepada neraka." Hadits juga menggambarkan cinta itu. Engkau harapanku. ia menjawab. Aku menjadi pendengaran.

pertama. Sebelum menempuh jalan tasawuf al-Ghazali diserang penyakit syak. "Melihat rahasia-rahasia Tuhan dan mengetahui peraturan-peraturan Tuhan tentang segala yang ada. Ketiga daya untuk melihat Tuhan yang disebut sirr." Yang dimaksud Zunnun ialah bahwa ia memperoleh ma'rifah karena kemurahan hati Tuhan. Sebagaimana disebut dalam literatur tasawuf. mata kepalanya akan tertutup dan ketika itu yang dilihatnya hanya Allah. yaitu 'ilm. jiwa tak ubahnya sebagai kaca. menurut al-Ghazali. Ma'rifah berbeda dengan 'ilm. Kalau sufi melihat ke cermin itu yang akan dilihatnya hanyalah Allah. Sirr adalah daya terpeka dari kalbu dan daya ini keluar setelah sufi berhasil menyucikan jiwanya sesuci-sucinya. yang dilihat orang 'arif. daya untuk mencintai Tuhan yang disebut ruh. Dalam pendapat al-Ghazali.860 M). sehingga akhirnya dapat menangkap daya cemerlang yang dipancarkan Tuhan. Lebih jauh mengenai ma'rifah dalam literatur tasawuf dijumpai ungkapan berikut. daya untuk-mengetahui sifat-sifat Tuhan yang disebut qalb. Sekiranya Tuhan tidak membukakan tabir dari mata hatinya. pengetahuan yang diperoleh melalui kalbu. Pengetahuan ini disebut ilm ladunni. Tapi. bagaimana ia memperoleh ma'rifah. Keempat.Pengalaman ma'rifah. makin lama ia disucikan dengan ibadat yang banyak. sekiranya ma'rifah mengambil bentuk materi. sufi berusaha keras mendekatkan diri dari bawah dan Tuhan menurunkan rahmat-Nya dari atas. Demikian juga jiwa. yaitu ma'rifah. ma'rifah adalah cermin. ma'rifat dalam tasawuf berarti pengetahuan yang diperoleh langsung dari Tuhan melalui kalbu. yang kalau senantiasa dibersihkan dan digosok akan mempunyai daya tangkap yang besar. pertama. makin suci ia dan makin besar daya tangkapnya. Maka. Kalbu mempunyai tiga daya. sufi memakai alat bukan akal yang berpusat di kepala. ia tidak akan dapat melihat Tuhan. kalau mata yang terdapat di dalam hati sanubari manusia terbuka." Kata ma'rifat memang mengandung arti pengetahuan. Kedua. ia menjawab. Ketika Zunnun ditanya. tapi qalb atau kalbu (jantung) yang berpusat di dada. Semua orang yang . setelah mencapai ma'rifah. Dalam hubungan dengan Tuhan. baik sewaktu tidur maupun sewaktu bangun hanyalah Allah. lebih benar dari pengetahuan yang diperoleh melalui akal. 'Ilm ini diperoleh melalui akal. cahaya yang disinarkannya gelap. Karena itu al-Ghazali mengartikan ma'rifat. Ketika itu sufi pun bergemilang dalam cahaya Tuhan dan dapat melihat rahasia-rahasia Tuhan. Ketiga. Karena cinta ikhlas dan suci itulah Tuhan mengungkapkan tabir dari pandangan sufi dan dengan terbukanya tabir itu sufi pun dapat menerima cahaya yang dipancarkan Tuhan dan sufi pun melihat keindahan-Nya yang abadi. Juga dikatakan bahwa ma'rifah datang ketika cinta sufi dari bawah dibalas Tuhan dari atas. keyakinannya untuk memperoleh kebenaran ternyata melalui tasawuf. Kedua. bukan filsafat. ditonjolkan oleh Zunnun al-Misri (w. Ma'rifah adalah anugerah Tuhan kepada sufi yang dengan ikhlas dan sungguh-sungguh mencintai Tuhan. "Aku melihat dan mengetahui Tuhan dengan Tuhan dan sekiranya tidak karena Tuhan aku tidak melihat dan tidak tahu Tuhan. Dalam bahasa sufi.

Hilang maksiat akan timbul takwa. yang tinggal dalam dirinya sifat-sifat yang baik. orang yang fana dari kejahatan akan baqa (tinggal) ilmu dalam dirinya. Hilang sifat buruk akan timbul sifat baik. 42) oleh Harun Nasution (3/4) Pengalaman ittihad ini ditonjolkan oleh Abu Yazid al Bustami (w. Hilang kejahilan akan timbul ilmu. seorang sufi harus terlebih dahulu mengalami fana' dan baqa'. sufi harus terlebih dahulu mengalami al-fana' 'an al-nafs. Ia menjawab. TASAWUF (hal. Ia ingin mengalami persatuan dengan Tuhan. "Tiga tahun. 7501983. Ia ingin berada lebih dekat lagi dengan Tuhan. orang yang fana dari maksiat akan baqa (tinggal) takwa dalam dirinya. Seseorang pernah bertanya kepada Abu Yazid tentang perjuangannya untuk mencapai ittihad. Tidak mengherankan kalau sufi merasa tidak puas dengan stasion ma'rifah saja. Sesuatu hilang dari diri sufi dan sesuatu yang lain akan timbul sebagai gantinya. (bersambung 3/4) -------------------------------------------Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah Editor: Budhy Munawar-Rachman Penerbit Yayasan Paramadina Jln. Metro Pondok Indah Pondok Indah Plaza I Kav. UA 20-21 Jakarta Selatan Telp. dalam arti lafdzi kehancuran jiwa. (021) 7501969. yang di dalam istilah tasawuf disebut ittihad." sedang umurnya waktu itu telah lebih dari tujuh puluh tahun.memandangnya akan mati karena kecemerlangan dan keindahannya. Sesuatu didalam diri sufi akan fana atau hancur dan sesuatu yang lain akan baqa atau tinggal.14. Dalam literatur tasawuf disebutkan. Ia ingin mengatakan bahwa dalam usia tujuh puluh tahunlah ia baru sampai ke stasion ittihad. 7507173 Fax. Dengan demikian. tak tahan melihat Tetapi sufi yang dapat menangkap cahaya ma'rifah dengan mata hatinya akan dipenuhi kalbunya dengan rasa cinta yang mendalam kepada Tuhan. Yang dimaksud dengan fana' adalah hancur sedangkan baqa' berarti tinggal. Ucapan-ucapan yang ditinggalkannya menunjukkan bahwa untuk mencapai ittihad diperlukan usaha yang keras dan waktu yang lama. . Sebelum sampai ke ittihad. Untuk sampai ke ittihad. 874 M). Yang dimaksud bukan hancurnya jiwa sufi menjadi tiada. (021) 7507174 Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota Please direct any suggestion to Media Team Artikel Yayasan Paramadina Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota III.

Aku hanya mengucapkan." Akhirnya Abu Yazid dengan meninggalkan dirinya mengalami fana. Sedangkan mengenai fana dan baqa'. "Aku tidak meminta dari Tuhan kecuali Tuhan." Dalam menjelaskan pengertian fana'. Masalah ittihad. Abu Yazid mengatakan. al-Qusyairi menulis. sehingga jika . baqa' dan ittihad. Kemudian Ia membuat aku gila kepada diri-Nya. "Fananya seseorang dari dirinya dan dari makhluk lain terjadi dengan hilangnya kesadaran tentang dirinya dan makhluk lain. persatuan atau manunggal dengan Tuhan. Aku menjawab. sebagai berikut. Inilah yang disebut kaum sufi al-fana' 'an al-nafs wa al-baqa." Ketika sampai ke ambang pintu ittihad dari sufi keluar ungkapan-ungkapan ganjil yang dalam istilah sufi disebut syatahat (ucapan teopatis). Abu Yazid menggambarkan dengan kata-kata berikut ini. antara lain. "Aku tidak heran melihat cintaku pada-Mu. dengan arti kesadaran tentang diri sendiri hancur dan timbullah kesadaran diri Tuhan. Abu Yazid. Tetapi jika itu kehendak-Mu. Dia juga mengucapkan. "Pada suatu ketika aku dinaikkan kehadirat Tuhan dan Ia berkata. karena Engkau adalah Raja Maha Kuasa. demikian pula makhluk lain." Seperti halnya Rabi'ah yang tidak meminta surga dari Tuhan dan pula tidak meminta dijauhkan dari neraka dan yang dikehendakinya hanyalah berada dekat dan bersatu dengan Tuhan." Abu Yazid tobat dengan lafadz syahadat demikian. "Gila pada diriku adalah fana' dan gila pada diri-Mu adalah baqa' (kelanjutan hidup). karena aku hanyalah hamba yang hina. tiada Tuhan selain Allah. kemudian aku mengetahui-Nya melalui diri-Nya dan akupun hidup. Dalam mimpi ia bertanya. "Apa jalannya untuk sampai kepadaMu?" Tuhan menjawab. bi 'l-Lah. Mengenai fana'. Kesadaran sufi tentang dirinya dan makhluk lain lenyap dan pergi ke dalam diri Tuhan dan terjadilah ittihad. Di sini terjadilah ittihad. "Aku mengetahui Tuhan melalui diriku hingga aku hancur. Tetapi aku heran melihat cinta-Mu padaku. "Ia membuat aku gila pada diriku hingga aku mati. berhadapan langsung dengan Tuhan dan mengatakan kepadaNya: Tiada Tuhan selain Engkau. diapun berkata lagi. Sebenarnya dirinya tetap ada. karena lafadz itu menggambarkan Tuhan masih jauh dari sufi dan berada di belakang tabir. tetapi aku tidak. aku tak ingin melihat mereka. Abu Yazid ingin berada di hadirat Tuhan. tetapi ia tak sadar lagi pada diri mereka dan pada dirinya. kekasih-Ku. "Tinggalkan dirimu dan datanglah. dia berkata lagi. aku tak berdaya menentang-Mu. Syatahat yang diucapkan Abu Yazid. "Manusia tobat dari dosanya. makhluk-Ku ingin melihat engkau. Hiasilah aku dengan keesaan-Mu." Kara-kata ini menggambarkan bahwa cinta mendalam Abu Yazid telah dibalas Tuhan. Lalu. dan akupun hidup. ia mengungkapkan lagi.tapi kehancurannya akan menimbulkan kesadaran sufi terhadap diri-Nya." Lalu.

" Ia berkata lagi. "Engkaulah Yang Satu. tetapi itu tidak mengandung pengakuan Abu Yazid bahwa ia adalah Tuhan. tidak ada di rumah ini selain Allah Yang Maha Kuasa. agar dapat dekat kepada Tuhan. karena ketika itu aku tak ada di sana. Maka dosa terbesar tersebut diatas akan membuat Abu Yazid jauh dari Tuhan dan tak dapat bersatu dengan Dia. Tiada Allah selain Aku. Tetapi yang mereka lihat sebenarnya adalah Engkau. Engkau adalah aku dan aku adalah Engkau. dan sebagaimana dilihat pada permulaan makalah ini. mengeluarkan kata-kata. tetapi itu tidak berarti bahwa ia mengakui dirinya Tuhan. seusai sembahyang subuh. "Dialog pun terputus.menggambarkan bersatunya Abu Yazid dengan Tuhan. telah kami lihat Engkau." Aku menjawab: "Aku adalah Aku." Aku menjawab. Godaan Tuhan untuk mengalihkan perhatian Abu Yazid ke makhluk-Nya ditolak Abu Yazid. Dengan kata lain. "Hiasilah aku dengan keesaan-Mu. sufi haruslah bersih bukan dari dosa saja." Dialog antara Abu Yazid dengan Tuhan ini menggambarkan bahwa ia dekat sekali dengan Tuhan. Sufi lain yang mengalami persatuan dengan Tuhan adalah Husain Ibn Mansur al-Hallaj (858-922 M). "Akulah Yang Satu. "Engkau adalah Engkau. Itu adalah kata-kata Tuhan yang diucapkan melalui lidah Abu Yazid. sebagaimana terungkap dari kata-kata berikut ini. Maha Besar Aku. tetapi juga dari syubhat. mereka akan berkata. Tuhanlah yang mengaku diri-Nya Allah melalui lidah Abu Yazid. Ia tetap meminta bersatu dengan Tuhan. aku adalah Engkau." Permintaan Abu Yazid dikabulkan Tuhan dan terjadilah persatuan. Maka Ia pun berkata kepadaku. Ini kelihatan dari kata-katanya. rohnya telah melebur dalam diri Tuhan.makhluk-Mu melihat aku. Ia tidak ada lagi." Yang mengucapkan kata-kata itu memang lidah Abu Yazid. seperti kelihatan dalam ungkapan selanjutnya. kata-kata diatas betul keluar dari mulut Abu Yazid. maka sembahlah Aku. Kata-kata bihi -melalui diri-Nya." Dalam literatur tasawuf disebut bahwa dalam ittihad. kata-kata tersebut memang diucapkan lidah Abu Yazid. "Hai Engkau. kata menjadi satu. Dalam arti serupa inilah harus diartikan kata-kata yang diucapkan lidah sufi ketika berada dalam ittihad yaitu kata-kata yang pada lahirnya mengandung pengakuan sufi seolah-olah ia adalah Tuhan. Aku adalah Allah. Hal ini juga dialami Abu Yazid." Akupun berkata. Abu Yazid. Mengakui dirinya Tuhan adalah dosa terbesar. Maka yang mengatakan "Hai Aku Yang Satu" bukan Abu Yazid. bahkan seluruhnya menjadi satu. aku menjawab melalui diri-Nya "Hai Aku. "Maha Suci Aku. "Abu Yazid. tetapi Tuhan melalui Abu Yazid. yang berlainan . Maha Suci Aku. yang ada hanyalah Tuhan. yang satu memanggil yang lain dengan kata-kata: Ya ana (Hai aku). semuanya kecuali engkau adalah makhluk-Ku. Di dalam jubah ini tidak ada selain Allah. Maka dalam pengertian sufi. Karena itu dia pun mengatakan. "Pergilah." Dalam istilah sufi." Yang penting diperhatikan dalam ungkapan diatas adalah kata-kata Abu Yazid "Aku menjawab melalui diriNya" (Fa qultu bihi)." Ia berkata kepadaku.

Nasibnya malang karena dijatuhi hukuman bunuh.Engkau adalah aku. Landasan bahwa Tuhan dan manusia sama-sama mempunyai sifat diambil dari hadits yang menegaskan bahwa Tuhan menciptakan Adam sesuai dengan bentuk-Nya. Di sini terdapat juga konsep fana. "Ana 'l-Haqq" (Akulah Yang Maha Benar). 7507173 Fax. Metro Pondok Indah Pondok Indah Plaza I Kav. Sebaliknya didalam diri Tuhan terdapat bentuk Adam dan itulah yang disebut nasut Tuhan. Tuhan memilih tubuh-tubuh manusia tertentu untuk bersemayam didalamnya dengan sifat-sifat ketuhanannya.nasibnya dengan Abu Yazid. tetapi hulul. Hadits ini mengandung arti bahwa didalam diri Adam ada bentuk Tuhan dan itulah yang disebut lahut manusia. (bersambung 4/4) -------------------------------------------Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah Editor: Budhy Munawar-Rachman Penerbit Yayasan Paramadina Jln. ketika itu -dalam tiap hal. Pengalaman persatuannya dengan Tuhan tidak disebut ittihad. lahut (ketuhanan) dan nasut (kemanusiaan). Hal ini karena dia mengatakan. setelah sifat-sifat kemanusiaan yang ada dalam tubuh itu dihancurkan. UA 20-21 Jakarta Selatan Telp. (021) 7507174 Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota Please direct any suggestion to Media Team . Hal ini terlihat jelas pada syair al-Hallaj sebagai berikut: Maha Suci Diri Yang Sifat kemanusiaan-Nya Membukakan rahasia cahaya ketuhanan-Nya yang gemilang Kemudian kelihatan bagi makhluk-Nya dengan nyata Dalam bentuk manusia yang makan dan minum Dengan membersihkan diri malalui ibadat yang banyak dilakukan. Menurut al-Hallaj. Hal itu digambarkan al-Hallaj dalam syair berikut ini: Jiwa-Mu disatukan dengan jiwaku Sebagaimana anggur disatukan dengan air suci Jika Engkau disentuh. mayatnya dibakar dan debunya dibuang ke sungai Tigris. aku disentuhnya pula Maka. Kalau Abu Yazid mengalami naik ke langit untuk bersatu dengan Tuhan. 7501983. (021) 7501969. al-Hallaj mengalami persatuannya dengan Tuhan turun ke bumi. manusia mempunyai dua sifat dasar: nasut (kemanusiaan) dan lahut (ketuhanan). Dalam literatur tasawuf hulul diartikan. nasut manusia lenyap dan muncullah lahut-nya dan ketika itulah nasut Tuhan turun bersemayam dalam diri sufi dan terjadilah hulul. yang dialami Abu Yazid dalam ittihad sebelum tercapai hulul. Demikian juga Tuhan mempunyai dua sifat dasar.

42) oleh Harun Nasution (4/4) Hulul juga digambarkan dalam syair berikut: Aku adalah Dia yang kucintai Dan Dia yang kucintai adalah aku. Tetapi sebagaimana halnya dengan Abu Yazid. Yang Maha Benar bukanlah Aku. yaitu mendekatkan diri sedekat mungkin kepada Tuhan. tapi mengkafirkan al-Farabi dan Ibn Sina. ia satukan menjadi dua aspek. engkau lihat Kami. Jika Engkau lihat aku. Dalam pengalamannya." Syatahat atau kata-kata teofani sufi seperti itu membuat kaum syari'at menuduh sufi telah menyeleweng dari ajaran Islam dan menganggap tasawuf bertentangan dengan Islam. yang bagi al-Hallaj merupakan dua hal yang berbeda. tidak berkembang lagi di dunia Islam Sunni. Ia tidak mengkafirkan Abu Yazid dan al-Hallaj. tidak menangkap pengalaman sufi yang mementingkan hakekat dan tujuan ibadat. Pertentangan ini mereda setelah al-Ghazali datang dengan pengalamannya bahwa jalan sufilah yang dapat membawa orang kepada kebenaran yang menyakinkan. sungguhpun ia tidak mengharamkan tingkat fana'. Lahut dan nasut. engkau lihat Dia. baqa.Artikel Yayasan Paramadina Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota III. Aku hanya satu dari yang benar. Dalam sejarah Islam memang terkenal adanya pertentangan keras antara kaum syari'at dan kaum hakekat. Dalam perkembangan selanjutnya. Ketika mengalami hulul yang digambarkan diatas itulah lidah al-Hallaj mengucapkan. dan ittihad. setelah kritik al-Ghazali dalam bukunya Tahafut al-Falasifah. tiap makhluk mempunyai dua aspek. TASAWUF (hal. "Aku adalah rahasia Yang Maha Benar. ucapan itu tidak mengandung arti pengakuan al-Hallaj dirinya menjadi Tuhan. Al-Ghazali menghalalkan tasawuf sampai tingkat ma'rifah. Kaum syari'at yang banyak terikat kepada formalitas ibadat. bahkan oleh syariat sendiri. setelah pengalaman persatuan manusia dengan Tuhan yang dibawa al-Bustami dalam ittihad dan al-Hallaj dalam hulul. Aspek batin yang merupakan . Muhy al-Din Ibn 'Arabi (1165-1240) membawa ajaran kesatuan wujud makhluk dengan Tuhan dalam wahdat al-wujud.14. Kami adalah dua jiwa yang menempati satu tubuh. Kalau filsafat. tasawuf sebaliknya banyak diamalkan. gelar yang diberikan kepada kaum sufi. Maka bedakanlah antara kami. Kata-kata itu adalah kata-kata Tuhan yang Ia ucapkan melalui lidah al-Hallaj. Sufi yang bernasib malang ini mengatakan. "Ana 'l-Haqq" (Akulah Yang Maha Benar). Dan jika engkau lihat Dia.

dan melalui makhluklah Ia dikenal. Di dalam cermin. sufi disinari oleh nama-nama Tuhan. Sebagai bayangan. Di antara semua makhluk-Nya. Wujud semuanya satu. Yang lain dan yang banyak adalah bayangannya. Alam sebagai cermin yang didalamnya terdapat gambar Tuhan. tanpa nama dan sifat. Tajalli Tuhan yang sempurna terdapat dalam Insan Kamil. Pada tahap hawiah nama dan sifat Tuhan telah muncul. tajalli-Nya tidak sama pada semua manusia. sebagaimana disebut dalam Hadits yang telah dikutip pada permulaan. Tuhan dalam keabsolutannya baru keluar dari al-'ama. tajalli atau penampakan diri Tuhan mengambil tiga tahap tanazul (turun). tawassut dan khitam. tetapi pada hakekatnya dirinya hanya satu. seperti Pengasih. ilmu. ia lihat dirinya. alam adalah bayangan Tuhan. ahadiah. Sebagai bayangan. Tuhan adalah transendental dan bukan imanen. disebut al-haqq. dan aspek luar yang merupakan aksiden disebut al-khalq. pada diri manusia Ia menampakkan diri-Nya dengan segala sifat-Nya. Pada tahap ahadiah. Pada tahap aniah. sebagaimana halnya dengan sufi-sufi lainnya. wujud alam tak akan ada tanpa wujud Tuhan.esensi. Sungguhpun manusia merupakan tajalli atau penampakan diri Tuhan yang paling sempurna diantara semua makhluk-Nya. kabut kegelapan. Semua makhluk dalam aspek luarnya berbeda. dengan kata lain. sufi mesti mengadakan taraqqi (pendakian) melalui tiga tingkatan: bidayah. qudrat dll. pada awalnya adalah "harta" tersembunyi. Tuhan menampakkan diri dalam nama-nama-Nya. tetapi dalam aspek batinnya satu. alam sebagai makhluk. Tuhan berada di luar dan bukan di dalam alam. Tuhan menampakkan diri dengan nama-nama dan sifat-sifat-Nya pada makhluk-Nya. seperti hayat. Oleh karena itu ada orang yang mengidentikkan ajaran wahdat al-wujud Ibn Arabi dengan panteisme dalam arti bahwa yang disebut Tuhan adalah alam semesta. Penyayang dan sebagainya (tajalli fi al-asma). dirinya kelihatan banyak. Wujud alam tergantung pada wujud Tuhan. tetapi masih dalam bentuk potensial. wujud alam bersatu dengan wujud Tuhan dalam ajaran wahdat al-wujud. Alam hanya merupakan penampakan diri atau tajalli dari Tuhan. kemudian Ia ingin dikenal maka diciptakan-Nya makhluk. yaitu wujud al-haqq. Untuk mencapai tingkat Insan Kamil. Dan Tuhan ber-tajalli pada sufi demikian dengan . Keadaan ini tak ubahnya sebagai orang yang melihat dirinya dalam beberapa cermin yang diletakkan di sekelilingnya. Bagi Ibn Arabi. adalah penampakan diri atau tajalli dari Tuhan. Dalam pengalaman al-Jilli. Maka. Tuhan. Huwiah dan Aniyah. pada sufi yang demikian. Ajaran wahdat al-wujud dengan tajalli Tuhan ini selanjutnya membawa pada ajaran al-Insan al-Kamil yang dikembangkan terutama oleh Abd al-Karim al-Jilli (1366-1428). yaitu al-haqq. Jelas bahwa Ibn Arabi tidak mengidentikkan alam dengan Tuhan. Pada tingkat tawassut. sufi disinari oleh sifat-sifat Tuhan. Yang ada dalam alam ini kelihatannya banyak tetapi pada hakekatnya satu. Pada tingkat bidayah. Dengan kata lain. Di dalam tiap cermin.

tentara menjadi anggota tarekat Bekhtasyi dan dalam perlawanan mereka terhadap pembaharuan yang diadakan sultan-sultan. Mawlawiah (Jalaluddin Rumi) di Turki. Karena pengaruh besar dalam masyarakat itu orientasi akhirat dan sikap tawakal berkembang di kalangan umat Islam yang bekas-bekasnya masih ada pada kita sampai sekarang. Di antara tarekat-tarekat besar yang terdapat di Indonesia adalah Qadiriah yang muncul pada abad ke-13 Masehi untuk melestarikan ajaran Syekh Abdul Qadir Jailani (w. Ia menjadi manusia sempurna. Syattariah. yang dibentuk oleh murid-murid atau pengikut-pengikut sufi besar untuk melestarikan ajaran gurunya. tujuan sufi untuk berada sedekat mungkin dengan Tuhan akhirnya tercapai malalui ittihad serta hulul yang mengandung pengalaman persatuan roh manusia dengan roh Tuhan dan melalui wahdat al-wujud yang mengandung arti penampakan diri atau tajalli Tuhan yang sempurna dalam diri Insan Kamil. dan Rifa'iah di Irak. Dengan kata lain. Insan Kamil yang tersempurna terdapat dalam diri Nabi Muhammad. Naqsyabandiah. sehingga mengabaikan usaha. Sanusiah di Libia. Syadziliah di Marokko. Karena pengaruh besar itu. Dan dialah yang menjadi perantara antara manusia dan Tuhan. orang-orang yang ingin mendapat dukungan dari masyarakat menjadi anggota tarekat. Rasyid Ridha dan terutama Kamal Ataturk memandang tarekat sebagai salah satu faktor yang membawa kepada kemunduran . mereka mendapat sokongan dari tarekat Bekhtasyi dan para ulama Turki. Tarekat ada yang telah menyalahi ajaran dasar sufi dan syari'at Islam. Pada tingkat khitam. Demikianlah. Mesir dan Suria. dan disamping itu menekankan ajaran tawakal sufi. 1415 M). dalam arti organisasi tasawuf. Pada tingkat ini sufi pun menjadi Insan Kamil.sifat-sifat-Nya. 1415 M). muncul pada abad ke-14 bagi pengikut Bahauddin Naqsyabandi (w. ajaran-ajaran sufi besar tersebut terkadang diselewengkan. Suria dan Mesir. sehingga tarekat menyimpang dari tujuan sebenarnya dari sufi untuk menyucikan diri dan berada dekat dengan Tuhan. mempunyai sifat ketuhanan dan dalam dirinya terdapat bentuk (shurah) Allah. Insan Kamil terdapat dalam diri para Nabi dan para wali. Dialah bayangan Tuhan yang sempurna. pengikut Abdullah Syattar (w. Muhammad Abduh. tarekat mempunyai pengaruh besar dalam masyarakat Islam. yang dikembangkan tarekat adalah orientasi akhirat dan sikap tawakal. sehingga timbullah pertentangan antara kaum syari'at dan kaum tarekat. sufi disinari dzat Tuhan yang dengan demikian sufi tersebut ber-tajalli dengan dzat-Nya. Di antara semuanya. Dalam tarekat. Untuk itu tidak mengherankan kalau pemimpin-pemimpin pembaharuan dalam Islam seperti Jamaluddin Afghani. 1166 M). Di Turki Usmani. Sementara itu tasawuf pada masa awal sejarahnya mengambil bentuk tarekat. Perlu ditegaskan bahwa sampai permulaan abad ke-20. dan Tijaniah yang muncul pada abad ke-19 di Marokko dan Aljazair. Sementara itu ada pula tarekat yang menekankan pentingnya kehidupan rohani dan mengabaikan kehidupan duniawi. Tarekat-tarekat besar lain diantaranya adalah Bekhtasyiah di Turki.

Sufism..13. (021) 7507174 Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota Please direct any suggestion to Media Team Artikel Yayasan Paramadina Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota III. ada ke kerohanian dalam agama Hindu dan tak sedikit pula yang mengikuti kerohanian dalam agama Islam. 1949. Ada yang pergi ke kerohanian dalam agama Buddha. Metro Pondok Indah Pondok Indah Plaza I Kav. UA 20-21 Jakarta Selatan Telp. Cairo. Histoire de la Philosophie Islamique. (021) 7501969.J. Banyak orang mengatakan bahwa dalam menghadapi meterialisme yang melanda dunia sekarang. 7501983. A. al-Nahdah al-Misriah. Badawi. -------------------------------------------Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah Editor: Budhy Munawar-Rachman Penerbit Yayasan Paramadina Jln. Dalam pada itu dunia dewasa ini dilanda oleh materialisme yang menimbulkan berbagai masalah sosial yang pelik. Arberry dalam bukunya Sufism menulis bahwa Muslim dan bukan Muslim adalah makhluk Tuhan yang satu. perlu dihidupkan kembali spiritualisme.. Gallimard.R.. A. DAFTAR KEPUSTAKAAN Arberry. 1964. Disini tasawuf dengan ajaran kerohanian dan akhlak mulianya dapat memainkan peranan penting. London. umpamanya aliran Subud di Jakarta. Pada akhir-akhir ini memang kelihatan gejala orang-orang di Barat yang bosan hidup kematerian lalu mencari hidup kerohanian di Timur. FILSAFAT ISLAM (1/3) oleh Harun Nasution . Syatahat al-Sufiah. Corbin. Tetapi untuk itu yang perlu ditekankan tarekat dalam diri para pengikutnya adalah penyucian diri dan pembentukan akhlak mulia disamping kerohanian dengan tidak mengabaikan kehidupan keduniaan. H. A. 1963. Oleh karena itu bukanlah tidak pada tempatnya bagi seorang Kristen untuk mempelajari ajaran-ajaran sufi yang telah meninggalkan pengaruh besar dalam kehidupan umat Islam dan bersama-sama dengan orang Islam menggali kembali ajaran-ajaran sufi yang akan dapat memenuhi kebutuhan orang yang mencari nilai-nilai kerohanian dan moral zaman yang penuh kegelapan dan tantangan seperti sekarang.umat Islam. Paris. George Allan and Unwin Ltd.. Dalam hubungan itu kira-kira 30 tahun lalu.J. 7507173 Fax.

Mereka tetap memeluk agama mereka semula terutama yang menganut agama Nasrani dan Yahudi. mempunyai kebebasan dalam kemauan serta perbuatan. yang membawa kepada konsep manusia yang penuh dinamika. Tujuannya bukanlah hanya meluaskan daerah kekuasaannya ke luar Macedonia. Mereka tinggalkan arti harfiah teks dan ambil arti majazinya. Mereka pun menyerang agama Islam dengan memajukan argumen-argumen berdasarkan falsafat yang mereka peroleh dari Yunani. bahwa tidak ada paksaan dalam agama dan bahwa kewajiban orang Islam hanya menyampaikan ajaran-ajaran yang dibawa Nabi. Mereka dikenal banyak memakai ta'wil dalam memahami wahyu. mampu berdiri sendiri. dan timbullah pusat-pusat peradaban Yunani seperti Iskandariah (dari nama Aleksander) di Mesir. Ciri-ciri dari teologi rasional ini ialah: 1. Kedudukan akal yang tinggi dalam pemikiran Yunani mereka jumpai sejalan dengan kedudukan akal yang tinggi dalam al-Qur'an dan Sunnah Nabi. dan mampu berfikir secara mendalam. Suria serta Irak. Tetapi penduduknya. Dari warga negara non Islam ini timbul satu golongan yang tidak senang dengan kekuasaan Islam dan oleh karena itu ingin menjatuhkan Islam. Selopsia serta Jundisyapur di Irak dan Baktra (sekarang Balkh) di Iran. Dengan demikian timbullah di panggung sejarah pemikiran Islam teologi rasional yang dipelopori kaum Mu'tazilah.Ketika datang ke Timur Tengah pada abad IV SM. yang di Barat dikenal dengan istilah free-will and free-act. baik dalam perbuatan maupun pemikiran. 3. Dengan jalan demikian berkembanglah falsafat dan ilmu pengetahuan Yunani di Timur Tengah. Pemikiran filosofis mereka membawa kepada penekanan . Untuk itu mereka pelajari filsafat dan ilmu pengetahuan Yunani. Aleksander Yang Agung membawa bukan hanya kaum militer tetapi juga kaum sipil. tapi juga menanamkan kebudayaan Yunani di daerah-daerah yang dimasukinya. tidak dipaksa para sahabat untuk masuk-Islam. yaitu manusia dewasa. dengan penduduk setempat. Untuk itu ia adakan pembauran antara orang-orang Yunani yang dibawanya. sehingga mereka tidak mau tunduk kepada arti harfiah dari teks wahyu yang tidak sejalan dengan pemikiran filosofis dan ilmiah. Antakia di Suria. Ketika para Sahabat Nabi Muhammad menyampaikan dakwah Islam ke daerah-daerah tersebut terjadi peperangan antara kekuatan Islam dan kekuatan Kerajaan Bizantium di Mesir. berlainan dengan anak kecil. dengan menangnya kekuatan Islam dalam peperangan tersebut. Kedudukan akal tinggi di dalamnya. sesuai dengan ajaran al-Qur'an. 2. dengan lain kata mereka tinggalkan arti tersurat dari nash wahyu dan mengambil arti tersiratnya. maka akal yang kuat menggambarkan manusia yang kuat. Daerah-daerah ini. jatuh ke bawah kekuasaan Islam. Manusia dewasa. Karena itu aliran ini menganut faham qadariah. Akal menunjukkan kekuatan manusia. Dari pihak umat Islam timbul satu golongan yang melihat bahwa serangan itu tidak dapat ditangkis kecuali dengan memakai argumen-argumen filosofis pula. dan kekuatan Kerajaan Persia di Iran.

Yang Maha Esa berfikir tentang diriNya yang esa. berhubungan langsung dengan ciptaannya yang tak dapat dihitung banyaknya itu. Benda-benda yang ada di luar akal merupakan juz'iat (kekhususan. Teologi rasional Mu'tazilah inilah. pancaran) dari al-Farabi. tetapi yang penting adalah hakikat dari juz'iat itu sendiri. berusaha memurnikan keesaan Tuhan dari arti banyak. kalau Tuhan. Maka keadilan Tuhanlah yang menjadi titik tolak pemikiran teologi mereka. Filsafat yang termulia dalam pendapat Al-Kindi adalah filsafat ketuhanan atau teologi. dalam al-Qur'an disebut Sunnatullah. di dalam diri Tuhan terdapat arti banyak. Karena pemikiran Tuhan tentang diriNya merupakan daya . Selanjutnya filsafat dalam pembahasannya memakai akal dan agama. Filsafat ia artikan sebagai pembahasan tentang yang benar (al-bahs'an al-haqq). Zat. Pemurnian tauhid inilah yang menimbulkan filsafat emanasi (al-faid. Pencipta alam semesta. Hakikat yang ada dalam benda-benda itu disebut kulliat (keumuman. Agama dalam pada itu juga menjelaskan yang benar. Karena itu mempelajari filsafat. Filsafat dengan demikian membahas soal Tuhan dan agama. Al-haqiqah atau kebenaran. Mempelajari teologi adalah wajib dalam Islam. Ia dengan tegas mengatakan bahwa antara filsafat dan agama tak ada pertentangan. Yang Maha Esa. bukan hanya filsafat. yang di dalam diriNya terdapat arti banyak. Menurut pemikiran filsafat kalau ada yang benar maka mesti ada "Yang Benar Pertama" (al-Haqq al-Awwal). dan pemikiran merupakan daya atau energi. Dengan filsafat "al-Haqq al-Awwal"nya. adalah sesuainya apa yang ada di dalam akal dengan apa yang ada diluarnya. tidaklah sebenarnya esa. particulars). yang mengatur perjalanan apa yang ada di alam ini. Maka kedua-duanya membahas yang benar. dan dalam penjelasan tentang yang benar juga memakai argumen-argumen rasional. dengan keyakinan akan kedudukan akal yang tinggi. Yang Benar Pertama itu dalam penjelasan Al-Kindi adalah Tuhan. (haqiqah kulliah) yang disebut mahiah. tetapi wajib. tetapi juga sains. kebebasan manusia dalam berfikir serta berbuat dan adanya hukum alam ciptaan Tuhan. agar menjadi esa. (796-873M) satu-satunya filsuf Arab dalam Islam.konsep Tuhan Yang Maha Adil. Alam ini berjalan menurut peraturan tertentu. Yang penting bagi filsafat bukanlah benda-benda atau juz'iat itu sendiri. Tiap-tiap benda mempunyai hakikat sebagai juz'i (haqiqah jaz'iah) yang disebut aniah dan hakikat sebagai kulli. Dalam hal ini al-Farabi (870-950 M) memberi konsep yang lebih murni lagi. yaitu sesuainya konsep dalam akal dengan benda bersangkutan yang berada di luar akal. dan berfalsafat tidaklah haram dan tidak dilarang. Filsuf besar pertama yang dikenal adalah al-Kindi. al-Kindi. hanya berhubungan dengan yang esa. universals). Keadilan Tuhan membawa mereka selanjutnya kepada keyakinan adanya hukum alam ciptaan Tuhan. yaitu hakikat yang bersifat universal dalam bentuk jenis. pada masa antara abad ke VIII dan ke XIII M. menurut pendapatnya. Memurnikan tauhid memang masalah penting dalam teologi dan filsafat Islam. yang membawa pada perkembangan Islam. dan peraturan itu perlu dicari untuk kepentingan hidup manusia di dunia ini. Dalam pemikirannya.

Ibn Sina dan filsuf-filsuf Islam yang menganut paham emanasi. cukup kuat lagi untuk menghasilkan Demikianlah gambaran alam dalam astronomi yang diketahui di zaman Aristoteles dan zaman al-Farabi. tetapi dari sesuatu yang dipancarkan pemikiran Tuhan. Dalam diri yang esa atau Akal I inilah mulai terdapat arti banyak. udara. yaitu Tuhan dan dirinya sendiri. Dalam diri Tuhan tidak terdapat arti banyak. Akal VI menghasilkan Akal VII dan Matahari. Akal X menghasilkan hanya Bumi. tetapi dari materi asal yaitu api. udara. Pemikirannya tentang Tuhan menghasilkan Akal III dan pemikirannya tentang dirinya sendiri menghasilkan Alam Bintang. Alam dalam filsafat Islam diciptakan bukan dari tiada atau nihil.yang dahsyat. yaitu zaman tak bermula. Akal II melalui Akal III dan demikianlah seterusnya sampai ke penciptaan Bumi melalui Akal X. Akal V menghasilkan Akal VI dan Mars. Akal dalam pendapat filsuf Islam adalah malaikat. Memang tiap-tiap Akal itu mengurus planet yang diwujudkannya. yaitu alam yang terdiri atas sepuluh falak. Jadi. Akal II dan seterusnya serta materi asal yang empat api. Yang diciptakan pemikiran Tuhan tentang diriNya itu adalah Akal I. Dalam pendapat falsafat dari nihil tak dapat diciptakan sesuatu. Dengan demikian diperolehlah gambaran berikut: Akal III menghasilkan Akal IV dan Saturnus. Akal II juga mempunyai obyek pemikiran. apa yang dipancarkan pemikiran Tuhan itu mestilah pula qadim. Tuhan tidak langsung menciptakan yang banyak ini. maka daya itu menciptakan sesuatu. Tuhan tidak langsung berhubungan dengan yang banyak. Begitulah Akal selanjutnya berfikir tentang Tuhan dan menghasilkan Akal dan berpikir tentang dirinya sendiri dan menghasilkan planet-planet. Akal VII menghasilkan Akal VIII dan Venus. Pemikiran Akal X tidak Akal. Obyek pemikiran Akal I adalah Tuhan dan dirinya sendiri. air dan tanah. air dan tanah adalah pula qadim. Akal IX menghasilkan Akal X dan Bulan. Dari sinilah timbul pengertian alam qadim. Ak al VIII menghasilkan Akal IX dan Merkuri. Pemikiran Akal X tentang Tuhan tidak lagi menghasilkan Akal. dan inilah tauhid yang murni dalam pendapat al-Farabi. Karena Tuhan beffikir semenjak qidam. Begitulah Tuhan menciptakan alam semesta dalam falsafat emanasi al-Farabi. . Maka materi asal timbul bukan dari tiada. yang dikritik al-Ghazali. Dengan lain kata Akal I. Akal IV menghasilkan Akal V dan Yupiter. tetapi melalui Akal atau malaikat. Yang Maha Esa menciptakan yang esa. dan Akal I melalui Akal II. Sesuatu mesti diciptakan dari suatu yang telah ada. tetapi melalui Akal I yang esa. Pemikirannya tentang Tuhan menghasilkan Akal II dan pemikirannya tentang dirinya menghasilkan Langit Pertama. dalam arti tidak mempunyai permulaan dalam zaman. karena tidak ada lagi planet yang akan diurusnya.

yang mempunyai hanya satu daya.-------------------------------------------. iv. yaitu pendengaran. rasa dan raba. 7507173 Fax. ii. UA 20-21 Jakarta Selatan Telp. v. yaitu berfikir yang disebut akal. Dan (b) Indra dalam yang berada di otak dan terdiri dari: i. 3. tumbuh dan berkembang biak. Indra penganggap yang menangkap arti-arti yang terlindung dalam gambar-gambar tersebut. yang dibahas filsuf-filsuf Islam ada pula soal jiwa manusia yang dalam falsafat Islam disebut al-nafs. yang terbagi dua: (a) Indra luar. 7501983. penglihatan. Akal terbagi dua: a. Indra pengingat yang menyimpan arti-arti itu. Jiwa manusia. yang menerima arti-arti yang berasal dari materi melalui indra pengingat yang ada dalam jiwa binatang. Jiwa binatang yang mempunyai daya gerak.(bersambung 2/3) Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah Editor: Budhy Munawar-Rachman Penerbit Yayasan Paramadina Jln. Sama dengan al-Farabi ia membagi jiwa kepada tiga bagian: 1. b. yang tak pernah ada dalam materi seperti Tuhan. dan daya menangkap dengan pancaindra. 2. (021) 7507174 Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota Please direct any suggestion to Media Team Artikel Yayasan Paramadina Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota III. (021) 7501969.Indra pereka yang mengatur gambar-gambar ini.13. pindah dari satu tempat ke tempat. FILSAFAT ISLAM (2/3) oleh Harun Nasution Selain kemahaesaan Tuhan. roh dan malaikat. iii. Akal praktis. Indra bersama yang menerima kesan-kesan yang diperoleh pancaindra. Akal teoritis. Metro Pondok Indah Pondok Indah Plaza I Kav. Filsafat yang terbaik mengenai ini adalah pemikiran yang diberikan Ibn Sina (980-1037M). Indra penggambar yang melepaskan gambar-gambar dari materi. yang menangkap arti-arti murni. . Jiwa tumbuh-tumbuhan yang mempunyai daya makan.

jiwa tak berhajat lagi pada badan. Dalam diri manusia terdapat tiga macam jiwa ini. Sifat seseorang banyak bergantung pada jiwa mana dari tiga yang tersebut di atas berpengaruh pada dirinya. Kalau jiwa tumbuh tumbuhan dan binatang tidak kekal. Jiwa tumbuh-tumbuhan dan jiwa binatang akan lenyap dengan hancurnya tubuh kembali menjadi tanah. yang telah mudah dan lebih banyak menangkap arti-arti murni. Tetapi kalau ia teruskan akal teoritis akan berkembang dengan baik. bahkan badan bisa menjadi penghalang baginya dalam menangkap arti-arti murni. Akal inilah yang mengontrol badan manusia. Akal teoritis mempunyai empat tingkatan: 1. orang itu dekat menyerupai binatang. 2. yang diterimanya dari indra pengingat dalam jiwa binatang. dan jelas bahwa yang terpenting diantaranya adalah jiwa berpikir manusia yang disebut akal itu Akal praktis. Akal aktual. berlainan dengan kedua jiwa di atas fungsinya tidak berkaitan dengan yang bersifat fisik tetapi yang bersifat abstrak dan rohani. sebagaimana dilihat di atas. tetapi di akhirat. yang telah mulai dapat menangkap arti-arti murni. Makin banyak arti yang diteruskan otak kepadanya makin kuat daya akal untuk menangkap arti-arti murni. Setelah tubuh manusia mati. Akal bakat. kalau terpengaruh oleh materi. Jiwa manusia mempunyai wujud tersendiri.Akal praktis memusatkan perhatian kepada alam materi. Jika jiwa tumbuh-tumbuhan dan binatang yang berpengaruh. Jiwa manusia. 3. yang akan tinggal menghadapi perhitungan di depan Tuhan adalah jiwa manusia. Akal perolehan yang telah sempurna kesanggupannya menangkap arti-arti murni. Jiwa berhajat kepada badan manusia. 4. Akal potensial dalam arti akal yang mempunyai potensi untuk menangkap arti-arti murni. sedang akal teoritis kepada alam metafisik. karena telah memperoleh balasan di dunia ini tidak akan dihidupkan kembal di akhirat. Dan dalam hal ini akal praktis mempunyai malaikat. jiwa manusia adalah . Akal tingkat keempat inilah yang tertinggi dan dimiliki filsuf-filsuf. Jiwa tumbuh-tumbuhan dan binatang lenyap dengan matinya tubuh karena keduanya hanya mempunyai fungsi-fungsi fisik seperti dijelaskan sebelumnya. Karena itu balasan yang akan diterimanya bukan di dunia. Kalau akal sudah sampai kepada kesempurnaan. sehingga hawa nafsu yang terdapat di dalamnya tidak menjadi halangan bagi akal praktis untuk membawa manusia kepada kesempurnaan. yang pada mulanya menolong akal untuk menangkap arti-arti. karena otaklah. yang diciptakan Tuhan setiap ada janin yang siap untuk menerima jiwa. tidak meneruskan arti-arti. ke akal teoritis. Tetapi jika jiwa manusia yang berpengaruh terhadap dirinya maka ia dekat menyerupai malaikat. Kedua jiwa ini. Akal inilah yang dapat menangkap arti-arti murni yang dipancarkan Tuhan melalui Akal X ke Bumi.

Demikianlah beberapa aspek penting dari falsafat Islam. illallah. Yang tidak diciptakan adalah Tuhan. pembangkitan jasmani tak ada. diantara sepuluh itu. Tuhan mengetahui hanya yang bersifat universal. Maka syahadat dalam teologi Islam adalah: la qadima. . Sebagai seorang Mu'tazilah al-Kindi juga tidak percaya pada adanya sifat-sifat Tuhan. Inilah yang mendorong al-Ghazali untuk mencap kafir filsuf yang percaya bahwa alam ini qadim. Karena akal I. Dan ini berarti tidak diciptakan. Tiga. Karena inti manusia adalah jiwa berfikir untuk memperoleh kesempurnaan. Kalau alam qadim. tidak ada yang qadim selain Allah. Ini membawa kepada paham syirk atau politeisme. Inilah sepuluh dari duapuluh kritikan yang dimajukan al-Ghazali (1058-1111 M) terhadap pemikiran para filsuf Islam. Jika ia telah mencapai kesempurnaan sebelum berpisah dengan badan ia akan mengalami kebahagiaan di akhirat. Pembangkitan jasmani tak ada 3. Tidak diciptakan bisa pula berarti tidak perlu adanya Pencipta yaitu Tuhan. Dari paham bahwa jiwa manusialah yang akan menghadapi perhitungan kelak timbul faham tidak adanya pembangkitan jasmani yang juga dikritik al-Ghazali. yang ada hanyalah semata-mata zat. Sebagai orang yang banyak berkecimpung dalam bidang sains para filsuf percaya pula kepada tidak berubahnya hukum alam. Alam qadim dalam arti tak bermula dalam zaman 2. dosa besar yang dalam al-Qur'an disebut tak dapat diampuni Tuhan. tak mempunyai akhir dalam zaman. Karena Tuhan dalam filsafat emanasi tak boleh berhubungan langsung dengan yang banyak dan hanya berfikir tentang diriNya Yang Maha Esa. menurut al-Ghazali membawa mereka kepada kekufuran. Konsep alam qadim membawa kepada kekufuran dalam pendapat al-Ghazali karena qadim dalam filsafat berarti sesuatu yang wujudnya tidak mempunyai permulaan dalam zaman yaitu tidak pernah tidak ada di zaman lampau. tak bermula dalam zaman dan baqin. timbul pendapat bahwa Tuhan tidak mengetahui juz'iat. yaitu perincian yang ada dalam alam ini. yaitu: 1.kekal. Pemurnian konsep tauhid membawa al-Kindi kepada pemikiran Tuhan tidak mempunyai hakikat dan tak dapat diberi sifat jenis (al-jins) serta diferensiasi (al-fasl). Ini membawa pula kepada ateisme. Tetapi kalau ia berpisah dari badan dalam keadaan belum sempurna ia akan mengalami kesengsaraan kelak. Politeisme dan ateisme jelas bertentangan sekali dengan ajaran dasar Islam tauhid yang sebagaimana dilihat di atas para filsuf mengusahakan Islam memberikan arti semurni-murninya. II dan seterusnyalah yang mengatur planet-planet maka Akal I. II dan seterusnya itulah yang mengetahui juz'iat atau kekhususan yang terjadi di alam ini. maka alam adalah pula Tuhan dan terdapatlah dua Tuhan. Pemurnian itu membawa al-Farabi pula kepada falsafat emanasi yang di dalamnya terkandung pemikiran alam qadim. Tuhan tidak mengetahui perincian yang terjadi di alam.

Sesudah al-Ghazali. Sebagai lawan dari teologi rasional Mu'tazilah teologi Asy'ari bercorak tradisional. Mereka tidak mengambil arti tersurat dari wahyu untuk menyesuaikannya dengan pemikiran ilmiah dan filosofis. Corak tradisionalnya dilihat dari hal-hal 1.Mengenai masalah kedua pembangkitan jasmani tak ada. Pengkafiran al-Ghazali ini membuat orang di dunia Islam bagian timur dengan Baghdad sebagai pusat pemikiran menjauhi falsafat. Katakanlah: Yang menghidupkan adalah Yang Menciptakannya pertama kali. Dalam teologi ini akal mempunyai kedudukan rendah sehingga kaum Asy'ari banyak terikat kepada arti lafzi dari teks wahyu. Teologi ini mengajarkan paham jabariah atau fatalisme yaitu percaya kepada kada dan kadar Tuhan. Jelas teologi tradisional al-Asy'ari ini tidak mendorong pada berkembangnya pemikiran ilmiah dan filosofis sebagaimana halnya dengan teologi rasional Mu'tazilah. Tidak mengherankan kalau sesudah zaman . yang ada ialah kebiasaan alam. berlawanan dengan teks ayat dalam al-Qur'an. sedangkan teks ayat-ayat dalam al-Qur'an menggambarkan adanya pembangkitan jasmani itu. Umpamanya ayat 78/9 dari surat Yasin "Siapa yang menghidupkan tulang-tulang yang telah rapuh ini?. Tuhan tidak mengetahui perincian yang ada di alam juga didasarkan atas keadaan falsafat itu. Manusia dan alam ini diatur Tuhan menurut kehendak mutlakNya dan bukan menurut peraturan yang dibuatnya. teologi tradisional inilah yang berkembang di dunia Islam bagian Timur. Dalam pada itu sebelum zaman al-Ghazali telah muncul teologi baru yang menentang teologi rasional Mu'tazilah. Manusia di sini bersikap statis. Pemikiran teologi al-Asy'ari bertitik tolak dari paham kehendak mutlak Tuhan. Apalagi di samping pengkafiran itu al-Ghazali mengeluarkan pendapat bahwa jalan sebenarnya untuk mencapai hakikat bukanlah filsafat tetapi tasawuf. Pengkafiran tentang masalah ketiga." Maka pengkafiran di sini berdasar atas berlawanannya falsafat tidak adanya pembangkitan jasmani dengan teks al-Qur'an yang adalah wahyu dari Tuhan. Teologi baru itu dibawa oleh al-Asy'ari (873-935) yang pada mulanya adalah salah satu tokoh teologi rasional. Karena itu hukum alam dalam teologi ini. 2. Oleh sebab-sebab yang belum begitu jelas ia meninggalkan paham Mu'tazilahnya dan munculkan sebagai lawan dari teologi Mu'tazilah teologi baru yang kemudian dikenal dengan nama teologi al-Asy'ari. Dengan demikian bagi mereka api tidak sesuai dengan hukum alam selamanya membakar tetapi biasanya membakar sesuai dengan kehendak mutlak Tuhan. Karena akal lemah manusia dalam teologi ini merupakan manusia lemah dekat menyerupai anak yang belum dewasa yang belum bisa berdiri sendiri tetapi masih banyak bergantung pada orang lain untuk membantunya dalam hidupnya. 3. Sebagai umpama dapat disebut ayat 59 dari surat al-An'am: Tiada daun yang jatuh yang tidak diketahui-Nya. tak terdapat.

di ketika itu berada dalam kesendirianNya. telah ada sesuatu di sampingNya. tidak sesuai dengan kandungan al-Qur'an. konsep al-Ghazali bahwa alam hadis. Dalam hal-hal ini wahyu datang untuk memperkuat akal.al-Ghazali ilmu dan falsafat tak berkembang lagi di Baghdad sebagaimana sebelumnya di zaman Mu'tazilah dan filsuf-filsuf Islam. -------------------------------------------. 7501983. jauh dari masyarakat manusia. Konsep serupa ini. menurut Ibn Rusyd mengandung arti bahwa ketika Tuhan menciptakan alam. Tuhan. alam tidak mempunyai permulaan dalam zaman. Ibn Tufail (w. seperti yang terdapat dalam falsafat emanasi Al-Farabi dan Ibn Sina. dapat mencapai kesempurnaan sehingga ia sanggup menerima pancaran ilmu dari Tuhan.13. kebaikan serta kejahatan dan kewajiban manusia berbuat baik dan menjauhi perbuatan jahat. Ibn Bajjah (1082-1138) dalam bukunya Risalah al-Wida'. Dan akal orang yang terpencil di suatu pulau. Mengenai masalah pertama qidam al-alam. Ayat 7 dari surat Hud umpamanya mengatakan. sebaliknya pemikiran filsafat masih berkembang sesudah serangan al-Ghazali tersebut. 7507173 Fax. Didalam al-Qur'an digambarkan bahwa sebelum alam diciptakan Tuhan. (021) 7501969. Tapi Ibn Rusyd-lah (1126-1198 M) yang mengarang buku Tahafut al-Tahafut sebagai jawaban terhadap kritik-kritik Al-Ghazali yang ia uraikan dalam Tahafut al-Falasifah. alam mempunyai permulaan dalam zaman. Tuhan menciptakan alam dari tiada atau nihil. Metro Pondok Indah Pondok Indah Plaza I Kav. dengan kata lain. 1185 M) dalam bukunya Hayy Ibn Yaqzan malahan menghidupkan pendapat Mu'tazilah bahwa akal manusia begitu kuatnya sehingga ia dapat mengetahui masalah-masalah keagamaan seperti adanya Tuhan. FILSAFAT ISLAM (3/3) oleh Harun Nasution Di dunia Islam bagian Barat yaitu di Andalus atau Spanyol Islam. wajibnya manusia berterimakasih kepada Tuhan. kata Ibn Rusyd. (021) 7507174 Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota Please direct any suggestion to Media Team Artikel Yayasan Paramadina Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota III. UA 20-21 Jakarta Selatan Telp. tidak ada sesuatu di samping Tuhan. .(bersambung 3/3) Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah Editor: Budhy Munawar-Rachman Penerbit Yayasan Paramadina Jln. kelihatannya mencela al-Ghazali yang berpendapat bahwa bukanlah akal tetapi al-dzauq dan ma'rifat sufilah yang membawa orang kepada kebenaran yang meyakinkan.

Sesungguhnya Allah Maha Kuasa dan Maha Pemberi balasan di hari bumi ditukar dengan bumi yang lain dan . "ada" dalam bentuk materi asal yang empat dirubah Tuhan menjadi "ada" dalam bentuk bumi." seperti yang dikatakan al-Ghazali. dan air serta uap adalah satu. kata khalaqa di dalam al-Qur'an." yaitu intisari tanah seperti disebut oleh ayat di atas. Dan yang qadim adalah materi asal. Dengan demikian sungguhpun alam qadim. menjelaskan. karena qadim dalam pemikiran filsafat bukan hanya berarti sesuatu yang tidak diciptakan. Demikian pula langit. Ayat ini mengandung arti bahwa langit dan bumi pada mulanya berasal dari unsur yang satu dan kemudian menjadi dua benda yang berlainan. kata Ibn Rusyd. alam bukan Tuhan. Adapun langit dan bumi susunannya adalah baru (hadis). air. menggambarkan penciptaan bukan dari "tiada. Ayat 11 dari Ha Mim menyebut pula.Dan Dia-lah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam hari dan takhtaNya (pada waktu itu) berada di atas air. tetapi dari "ada. menurut penjelasan Ibn Rusyd tidak membawa kepada politeisme atau ateisme. Dalam hal bumi. Bahwa alam yang terus menerus dalam keadaan diciptakan ini tetap akan ada dan baqin digambarkan juga oleh al-Qur'an. Filsafat memang tidak menerima konsep penciptann dari tiada (creatio ex nihilo)." yang terjadi ialah "ada" berubah menjadi "ada" dalam bentuk lain. Jelas disebut dalam ayat ini. bahwa ketika Tuhan menciptakan langit dan bumi telah ada di samping Tuhan. Manusia di dalam al-Qur'an diciptakan bukan dari "tiada" tetapi dari sesuatu yang "ada. Di samping itu. Apakah orang-orang yang tak percaya tidak melihat bahwa langit dan bumi (pada mulanya) adalah satu dan kemudian Kami pisahkan. mulai dari zaman tak bermula di masa lampau sampai ke zaman tak berakhir di masa mendatang. Kami jadikan segala yang hidup dari air. Selanjutnya ayat 30 dari surat al-Anbia' mengatakan pula. Qadimnya alam. Yang sesuai dengan kandungan al-Qur'an sebenarnya adalah konsep al-Farabi. Dengan ayat-ayat serupa inilah Ibn Rusyd menentang pendapat al-Ghazali bahwa alam diciptakan Tuhan dari tiada dan bersifat hadis dan menegaskan bahwa pendapat itu tidak sesuai dengan kandungan al-Qur'an. Ibn Sina dan filsuf-filsuf lain. tetapi adalah Pencipta dan alam qadim berarti alam diciptakan dalam keadaan terus menerus dari zaman tak bermula ke zaman tak berakhir. Ayat 47/8 dari surat Ibrahim menyebut: Janganlah sangka bahwa Allah akan menyalahi janji bagi rasul-rasulNya. tetapi juga berarti sesuatu yang diciptakan dalam keadaan terus menerus. Jadi Tuhan qadim berarti Tuhan tidak diciptakan." seperti yang dikatakan para filsuf. "Tiada. Kemudian Ia pun naik ke langit sewaktu ia masih merupakan uap. Kami ciptakan manusia dari inti sari tanah. Di sini yang ada di samping Tuhan adalah uap. tetapi adalah ciptaan Tuhan." kata Ibn Rusyd tidak bisa berubah menjadi "ada. Ayat 12 dari surat al-Mu'minun.

(demikian pula) langit. Di hari perhitungan atau pembalasan nanti, tegasnya di hari kiamat, Tuhan akan menukar bumi ini dengan bumi yang lain dan demikian pula langit sekarang akan ditukar dengan langit yang lain. Konsep ini mengandung arti bahwa pada hari kiamat bumi dan langit sekarang akan hancur susunannya dan menjadi materi asal api, udara, air dan tanah kembali; dari keempat unsur ini Tuhan akan menciptakan bumi dan langit yang lain lagi. Bumi dan langit ini akan hancur pula, dan dari materi asalnya akan diciptakan pula bumi dan langit yang lain dan demikianlah seterusnya tanpa kesudahan. Jadi pengertian qadim sebagai sesuatu yang berada dalam kejadian terus menerus adalah sesuai dengan kandungan al-Qur'an. Dengan demikian al-Ghazali tidak mempunyai argumen kuat untuk mengkafirkan filsuf dalam filsafat mereka tentang qadimnya alam. Kedua-duanya, kata Ibn Rusyd, yaitu pihak al-Farabi dan pihak al-Ghazali sama-sama memberi tafsiran masing-masing tentang ayat-ayat al-Qur'an mengenai penciptaan alam. Yang bertentangan bukanlah pendapat filsuf dengan al-Qur'an, tetapi pendapat filsuf dengan pendapat al-Ghazali. Mengenai masalah kedua, Tuhan tidak mengetahui perincian yang terjadi di alam, Ibn Rusyd menjelaskan bahwa para filosof tak pernah mengatakan demikian. Menurut mereka Tuhan mengetahui perinciannya; yang mereka persoalkan ialah bagaimana Tuhan mengetahui perincian itu. Perincian berbentuk materi dan materi dapat ditangkap pancaindra, sedang Tuhan bersifat immateri dan tak mempunyai pancaindra. Dalam hal pembangkitan jasmani, Ibn Rusyd menulis dalam Tahafut al-Tahafut bahwa filsuf-filsuf Islam tak menyebut hal itu. Dalam pada itu ia melihat adanya pertentangan dalam ucapan-ucapan al-Ghazali. Di dalam Tahajut al-Falasifah ia menulis bahwa dalam Islam tidak ada orang yang berpendapat adanya pembangkitan rohani saja, tetapi di dalam buku lain ia mengatakan, menurut kaum sufi, yang ada nanti ialah pembangkitan rohani dan pembangkitan jasmani tidak ada. Dengan demikian al-Ghazali juga tak mempunyai argumen kuat untuk mengkafirkan kaum filsuf dalam pemikiran tentang tidak tahunya Tuhan tentang perincian di alam dan tidak adanya pembangkitan jasmani. Ini bukanlah pendapat filsuf, dan kelihatannya adalah kesimpulan yang ditarik al-Ghazali dari filsafat mereka. Dalam pada itu Ibn Rusyd, sebagaimana para filsuf Islam lain, menegaskan bahwa antara agama dan falsafat tidak ada pertentangan, karena keduanya membicarakan kebenaran, dan kebenaran tak berlawanan dengan kebenaran. Kalau penelitian akal bertentangan dengan teks wahyu dalam al-Qur'an maka dipakai ta'wil; wahyu diberi arti majazi. Arti ta'wil adalah meningga]kan arti lafzi untuk pergi ke arti majazi. Dengan kata lain, meninggalkan arti tersurat dan mengambil arti tersirat. Tetapi arti tersirat tidak boleh disampaikan kepada kaum awam, karena mereka tak dapat memahaminya. Antara filsafat dan agama Ibn Rusyd mengadakan harmoni. Dan dalam harmoni ini akal mempunyai kedudukan tinggi. Pengharmonian akal dan wahyu ini sampai ke Eropa dan di sana dikenal dengan averroisme. Salah satu ajaran averroisme ialah

kebenaran ganda, yang mengatakan bahwa pendapat filsafat benar, sungguhpun menurut agama salah. Agama mempunyai kebenarannya sendiri. Dan averroisme inilah yang menimbulkan pemikiran rasional dan ilmiah di Eropa. Tak lama sesudah zaman Ibn Rusyd umat Islam di Spanyol mengalami kemunduran besar dan kekuasaan luas Islam sebelumnya hanya tinggal di sekitar Granada di tangan Banu Nasr. Pada 1492 dinasti ini terpaksa menyerah kepada Raja Ferdinand dari Castilia. Dengan hilangnya Islam dari Andalus atau di Spanyol, hilang pulalah pemikiran rasional dan ilmiah dari dunia Islam bagian barat. Di dunia Islam bagian timur, kecuali di kalangan Syi'ah, teologi tradisional al-Asy'ari dan pendapat al-Ghazali bahwa jalan tasawuf untuk mencapai kebenaran adalah lebih meyakinkan dari pada jalan filsafat. Hilanglah pemikiran rasional, filosofis dan ilmiah dari dunia Islam sunni sehingga datang abad XIX dan umat Islam dikejutkan oleh kemajuan Eropa dalam bidang pemikiran, filsafat dan sains, sebagaimana disebut di atas, berkembang di Barat atas pengaruh metode berpikir Ibn Rusyd yang disebut averroisme. Semenjak itu pemikiran rasional mulai ditimbulkan oleh pemikir-pemikir pembaruan seperti al-Afghani, Muhammad Abduh, Sayyid Ahmad Khan, dan lain-lain. DAFTAR KEPUSTAKAAN De Boer, TJ., History of Philosophy in Islam, Tranl. E.R. Jones, London, Luzac & Co., 1970. Al-Farabi, Rasail, Hyderabad, t.t. Al-Ghazali, Tahafut al-Falasifah, Kairo, Dar al-Ma'arif, 1966. Al-Ghazali, Al-Munqiz min al-Dalal, Cairo, al-Maktab al-Fanni, 1961. Harun Nasution, Falsafah dan Mistisisme dalam Islam, Jakarta, Bulan Bintang, 1983. Ibn Rusyd, Tahafut al-Tahafut, Kairo, Dar al-Ma'arif, 1964. Ibn Rusyd, Fals al-Maqal, London, J.E. Brill, 1969. Ibn Sina, Al-Najah, Kairo, M.B. al-Halabi, 1938. O. Leary, De Lacy, How Greek Science Passed to The Arabs, London, Routledge & Kegan Paul, 1964. Sharif M.M., ed., A History of Muslim Philosophy, Weisbaden, 1963. -------------------------------------------Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah Editor: Budhy Munawar-Rachman Penerbit Yayasan Paramadina Jln. Metro Pondok Indah Pondok Indah Plaza I Kav. UA 20-21 Jakarta Selatan Telp. (021) 7501969, 7501983, 7507173 Fax. (021) 7507174 Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan

ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota
Please direct any suggestion to Media Team

Artikel Yayasan Paramadina
Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota III.12. KEKUATAN DAN KELEMAHAN PAHAM ASY'ARI (1/3) SEBAGAI DOKTRIN AKIDAH oleh Zainun Kamal Paham teologi Asy'ari termasuk paham teologi tradisional, yang mengambil posisi antara ekstrim rasionalis yang menggunakan metafor dan golongan ekstrim tekstualis yang leterlek. Ia mengambil posisi di antara aliran Mu'tazilah dan Salafiyah, tetapi "benang merah" sebagai jalan tengah yang diambilnya tidak begitu jelas. Suatu kali ia memihak Mu'tazilah, lain kali cenderung ke Salafiyah, dan lain kali lagi, mengambil kedua pendapat dari kedua aliran yang bertentangan itu lalu mengkompromikannya menjadi satu. [1] Untuk meninjau pemikiran-pemikiran al-Asy'ari lebih baik memaparkan lebih dulu sejarah hidupnya meski secara ringkas. Dengan pemaparan ini akan terlihat gambaran latar belakang pemikirannya. Sebab suatu pemikiran merupakan hasil refleksi zaman dan kondisi dari suatu masyarakat. Dan al-Asy'ari juga tidak lepas dari konteks zaman dan maksyarakatnya sendiri. Sebenarnya, nama asli Imam Asy'ari adalah Ali Ibn Ismail [2] -keluarga Abu Musa al-Asy'ari. [3] Panggilan akrabnya Abu al-Hasan [4]. Dia dilahirkan di Bashrah pada 260 H./875 M [5] -saat wafatnya filsuf Arab muslim al-Kindi. [6] Ia wafat di Baghdad pada tahun 324 H./935 M. Abu al-Hasan al-Asy'ari pada mulanya belajar membaca, menulis dan menghafal al-Qur'an dalam asuhan orang tuanya, yang kebetulan meninggal dunia ketika ia masih kecil. Selanjutnya dia belajar kepada ulama Hadits, Fiqh, Tafsir dan bahasa antara lain kepada al-Saji, Abu Khalifah al-Jumhi, Sahal Ibn Nuh, Muhammad Ibn Ya'kub, Abdur Rahman Ibn Khalf dan lain-lain. [7] Demikian juga ia belajar Fiqih Syafi'i kepada seorang faqih: Abu Ishak al-Maruzi (w. 340 H./951 M.) -seorang tokoh Mu'tazilah di Bashrah. Sampai umur empat puluh tahun ia selalu bersama ustaz al-Juba'i, serta ikut berpartisipasi dalam mempertahankan ajaran-ajaran Mu'tazilah. [9] Pada tahun 300 H./915 M dalam usia 40 tahun, Abu al-Hasan al-Asy'ari meninggalkan ajaran-ajaran Mu'tazilah. Untuk hal ini terdapat beberapa pendapat mengenai sebab-sebab meninggalkan atau keluar dari Mu'tazilah. Sebab klasik yang biasa disebut perpisahan dia dengan gurunya karena terjadinya dialog antara keduanya tentang salah satu ajaran pokok Mu'tazilah, yaitu masalah "keadilan Tuhan." Mu'tazilah berpendapat, "semua perbuatan Tuhan tidak kosong dari manfaat dan kemashlahatan. Tuhan tidak menghendaki sesuatu, kecuali bermanfaat bagi manusia, bahkan Dia mesti menghendaki yang baik dan terbaik untuk kemashlahatan manusia. Paham ini di sebut al-Shalah wa 'l-Ashlah. [10]

Dialog tersebut berlangsung sebagai berikut: Al-Asy'ari (A) - Bagaimana pendapat tuan tentang nasib tiga orang bersaudara setelah wafat; yang tua mati dalam bertaqwa; yang kedua mati kafir; dan yang ketiga mati dalam keadaan masih kecil. Aldubba'i (J) - yang taqwa mendapat terbaik; yang kafir masuk neraka; dan yang kecil selamat dari bahaya neraka. A - Kalau yang kecil ingin mendapatkan tempat yang lebih baik di Sorga, mungkinkah? J - Tidak, karena tempat itu hanya dapat dicapai dengan jalan ibadat dan kepatuhan kepada Tuhan. Adapun anak kecil belum mempunyai ibadat dan kepatuhan kepada-Nya. A- Kalau anak kecil itu mengatakan kepada Tuhan: itu bukan salahku. Sekiranya Engkau bolehkan aku terus hidup, aku akan mengerjakan perbuatan baik seperti yang dilakukan oleh yang taqwa itu. J - Allah akan menjawab kepada anak kecil itu, Aku tahu, jika engkau terus hidup, engkau akan berbuat maksiat dan engkau akan mendapat siksa; maka Saya (Allah - Red) matikan engkau adalah untuk kemaslahatanmu. A - Sekiranya saudaranya yang kafir mengatakan, "Ya Tuhanku Engkau ketahui masa depanku sebagaimana Engkau ketahui masa depannya, mengapa Engkau tidak jaga kepentinganku? Al-Jubba'i menjawab, "Engkau gila, (dalam riwayat lain dikatakan, bahwa Al-Jubba'i hanya terdiam dan tidak menjawab). [11] Dalam percakapan di atas, al-Jubba'i, jagoan Mu'tazilah itu, tampaknya dengan mudah saja dapat ditumbangkan oleh al-Asy'ari. Tetapi dialog ini kelihatannya hanyalah sebuah ilustrasi yang dibuat para pengikut al-Asy'ari sendiri untuk memperlihatkan perbedaan logikanya dengan logika orang-orang Mu'tazilah. Bagi Mu'tazilah, si anak kecil tentu tidak akan mengajukan protes kepada Allah, karena dia sendiri tahu, bahwa sesuai dengan keadilan Tuhan, tempat yang cocok untuknya memang di sana. Kalau Tuhan menempatkan anak kecil sederajat dengan tempat orang yang taqwa, tentu dia sendiri akan merasakan bahwa Tuhan sudah tidak adil lagi terhadap dirinya. Sebab, tempatnya memang bukanlah seharusnya sederajat dengan orang-orang yang taqwa. Di alam akhirat, menurut Mu'tazilah, tidak ada lagi perdebatan tentang keadilan Tuhan. Di sana, manusia sudah mendapati al-Wa'ad wa al-Wa'id. Dia sudah menepati janji. Yang taqwa mendapat sorga, yang kafir mendapat neraka, dan jika di sana terdapat yang meninggal dunia dalam keadaan masih kecil, baik anak-anak orang mukmin atau kafir, maka bagi mereka tidak ada alasan untuk disiksa, karena Tuhan Maha Suci dari penganiayaan. [12] Bagi yang kafir lebih tidak punya alasan lagi. Sebab, Tuhan

lebih memperhatikan kemaslahatannya di dunia. Tuhan tidak menghendaki kekafirannya. Berarti, jika ia kafir sama artinya dengan kehendak diri sendiri. Sementara, dia sendiri sudah tahu akibat kekafirannya, karena ia diberi akal dan petunjuk. [13] Jadi, kalau yang kafir harus menyalahkan Tuhan atas kehendak dan perbuatannya sendiri, maka ia dianggap oleh Memorandum suatu pemikiran yang tidak rasional. Sebab lain yang biasa disebutkan adalah meninggalkan ajaran-ajaran Mu'tazilah karena pernah bermimpi melihat Rasulullah saw sebanyak tiga kali. Mimpi itu terjadi pada bulan Ramadhan. Mimpi pertama terjadi pada tanggal 10; mimpi kedua pada tanggal duapuluh, dan mimpi ketiga pada tanggal tigapuluh. [14] Dalam mimpi yang terjadi pada bulan Ramadlan itu Rasulullah menyampaikan bahwa madzhab ahli haditslah yang benar, karena itulah madzhabnya yang berasal dari saya. [15] Diriwayatkan bahwa al-Asy'ari sebelum mengambil keputusan untuk keluar dari Mu'tazilah, ia mengisolir diri di rumahnya selama limabelas hari. Sesudah itu ia pergi ke mesjid lalu naik mimbar dan menyampaikan: "Saya dulu mengatakan, bahwa al-Qur'an adalah makhluk; Allah swt. tidak dapat dilihat dengan pandangan mata orang mukmin di akhirat dan perbuatan jahat adalah perbuatan saya sendiri. Sekarang saya taubat dari semuanya itu. Saya lemparkan keyakinan-keyakinan lama saya, sebagaimana saya lemparkan baju ini (isyarat pada jubahnya). Dan saya keluar dari kekejian dan skandal Mu'tazilah." [16] Terlepas dari soal sesuai atau tidaknya uraian di atas dengan fakta sejarah; maka dari sisi lain dapat pula kita ungkapkan sebab yang mendorong al-Asy'ari meninggalkan faham Mu'tazilah. Sebab itu ialah rasa skeptis dan ketidakpercayaannya lagi terhadap kemampuan akal, sebagaimana yang pernah pula dialami oleh al-Ghazali di kemudian hari. Pada kedua tokoh ini terdapat suatu indikasi kesamaan yang sangat mirip. Al-Asy'ari, sebagai contoh pendiri aliran, setelah belajar pada Mu'tazilah, kemudian merasa tidak puas, lantas menyerangnya. Demikian juga halnya dengan al-Ghazali, sebagai benteng pertahanan yang kokoh terhadap aliran al-Asy'ari, setelah ia belajar filsafat, kemudian merasa tidak puas, lalu menyerang pula. Al-Asy'ari memakai ungkapan-ungkapan yang pedas sekali dalam menyerang Mu'tazilah, dengan tuduhan sebagai golongan sesat, penyeleweng, dan majusinya umat. Begitu pula al-Ghazali menyerang para filsuf, dengan tuduhan sebagai golongan bid'ah dan kufur. Al-Asy'ari melakukan sanggahan terhadap Mu'tazilah setelah ia mengetahui benar akan aliran Mu'tazilah itu. Setelah itu ia menulis sebuah buku yang bernama Maqalat al-Islamiyyin yang berisikan kepercayaan aliran-aliran. Dan untuk bantahannya ia menulis lagi sebuah buku yang bernama al-Ibanah. Demikian juga halnya dengan al-Ghazali, setelah mengkaji filsafat secara mendalam, kemudian ia tulis pemikiran-pemikiran filsuf itu dalam sebuah buku yang bernama Maqasid al-Falsafah. Setelah itu, baru ia melakukan bantahan-bantahan terhadap para filsuf dengan mengarang sebuah buku yang bernama Tahafut

al-Falasifah (kesalahan para filsuf). Sebagaimana diketahui, pemegang janji rasional pada masa al-Asy'ari adalah para tokoh Mu'tazilah, karena itu sanggahannya tertuju langsung pada Mu'tazilah. Sementara para filsuf yang dinilai sebagai pewaris pemikiran rasional Mu'tazilah, maka al-Ghazali sebagai pembela ikhlas terhadap aliran al-Asy'ari harus dengan tegas pula melakukan sanggahan terhadap filsuf. Pemikiran al-Asy'ari yang asli baru dapat diketahui setelah ia menyatakan pemisahan dirinya dari Mu'tazilah dan pengakuannya menganut paham aqidah salafiyah aliran Ahmad bin Hambal. [17] Yaitu keimanan yang tidak didasari penyelaman persoalan gaib yang mendalam. Di sisi lain, ia hanya percaya pada akidah dengan dalil yang ditunjuk oleh nash, dan dipahami secara tekstual sebagaimana yang tertulis dalam Kitab suci dan sunnah Rasul. Fungsi akal hanyalah sebagai saksi pembenar dan penjelas dalil-dalil al-Qur'an. [18] Jadi akal terletak di belakang nash-nash agama yang tidak boleh berdiri sendiri. Ia bukanlah hakim yang akan mengadili. Spekulasi apapun terhadap segala sesuatu yang sakral dianggap suatu bid'ah. Setiap dogma harus dipercayai tanpa mengajukan pertanyaan bagaimana dan mengapa. Sekarang permasalahannya ialah, sampai seberapa jauh al-Asy'ari meninggalkan ajaran-ajaran Mu'tazilah dan keikhlasannya terhadap ajaran Salafiyah. Untuk mengetahui ajaran-ajaran al-Asy'ari, kita dapat melihat pada kitab-kitab yang ditulisnya, terutama: 1.Maqalat al-Islamiyyin, merupakan karangan yang pertama dalam soal-soal kepercayaan Islam. Buku ini menjadi sumber yang penting, karena ketelitian dan kejujuran pengarangnya. Buku ini terdiri -dari tiga bagian: a.Tinjauan tentang golongan-golongan dalam Islam b.Aqidah aliran Ashhab al-Hadits dan Ahl al-Sunnah, dan c.Beberapa persoalan ilmu Kalam. 2.Al-Ibanah 'an Ushul al-Diyanah, berisikan uraian tentang kepercayaan Ahl al-Sunnah dan pernyataan penghargaannya terhadap persoalan-persoalan yang banyak dan penting. Dalam buku ini ia menyerang dengan pedas aliran Mu'tazilah. 3.Kitab al-Luma' fi al-Radd 'ala ahl al-Zaigh wa al-bida', berisikan sorotan terhadap lawan-lawannya dalam beberapa persoalan ilmu Kalam. Para ahli mempertanyakan tentang perbedaan kandungan yang terdapat pada kedua kitabnya al-Ibanah dan al-Luma'. Yang pertama, peranan naql lebih tinggi ketimbang akal. Dalam arti, Salafiahnya lebih dominan dibandingkan Mu'tazilah. Sedangkan buku kedua (al-Luma'), peranan akal lebih tinggi dalam memahami nash-nash. Di sini terlihat adanya anjuran kembali untuk memahami nash-nash agama dengan metode ilmu kalam. [19] Perbedaan ini bisa terjadi, karena al-Asy'ari pada kitabnya al-Ibanah ditulisnya langsung setelah pernyataannya keluar dari Mu'tazilah. Jadi, secara psikologis, bukunya dalam rangka menonjolkan sikap loyalnya terhadap kaum Salafi,

sebagai rekan barunya. Dan sikap kebenciannya terhadap Mu'tazilah karena penilaiannya sebagai musuh yang sedang dihadapinya, meski dulu teman akrabnya. Sebenarnya, ini dapat dipahami. Sebab, seseorang yang selama ini dijadikan teman baik, oleh karena suatu hal berubah menjadi musuh, maka ia akan memperlihatkan sikap bencinya terhadap musuh itu. Dan sebaliknya akan memperlihatkan sikap loyalnya terhadap teman baru. Karena itu, kitab al-Ibanah mencerminkan tingkat kesunyian secara penuh. Sebaliknya, menampakkan sikap bencinya terhadap Mu'tazilah lebih nyata. Karena itu, kitab al-Ibanah menurut para ahli ditulis langsung setelah al-Asy'ari meninggalkan faham Mu'tazilah. (bersambung 2/3) -------------------------------------------Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah Editor: Budhy Munawar-Rachman Penerbit Yayasan Paramadina Jln. Metro Pondok Indah Pondok Indah Plaza I Kav. UA 20-21 Jakarta Selatan Telp. (021) 7501969, 7501983, 7507173 Fax. (021) 7507174 Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota
Please direct any suggestion to Media Team

Artikel Yayasan Paramadina
Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang YayasanISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota III.12. KEKUATAN DAN KELEMAHAN PAHAM ASY'ARI (2/3) SEBAGAI DOKTRIN AKIDAH oleh Zainun Kamal Lain halnya dengan kitabnya al-Luma', yang ditulis setelah kitab al-Ibanah. Ia sudah mesti mengambil sikap yang jelas. Maka di sini terlihat kembali kajian keagamaan al-Asy'ari dengan dalil-dalil rasional dan membangun ilmu kalamnya sendiri. Dengan demikian, ketika menulis kitab al-Luma', argumentasi rasional al-Asy'ari menonjol kembali dalam memahami nash-nash agama dan terlihat interpretasi metaforisnya (ta'wil). Kecenderungannya pada metode kaum Mu'tazilah inilah yang menyebabkan kaum Hambali menolak paham teologi al-Asy'ari. Hal itu memperlihatkan gambaran yang agak mirip dengan sikap al-Ghazali yang mencoba menyerang para filsuf, tetapi kenyataannya ia tetap mempergunakan metode falsafah dalam kajian keislaman, khususnya logika Aristoteles. Inilah yang dikatakan oleh Ibn Taimiyyah bahwa al-Ghazali telah masuk ke dalam kandang falsafah, kemudian berusaha keluar, dan berputar-putar mencari pintunya, tetapi sudah tidak berdaya lagi untuk keluar. Sebagai penentang Mu'tazilah, sudah barang tentu al-Asy'ari berpendapat, bahwa Tuhan mempunyai sifat. Mustahil Tuhan sendiri merupakan pengetahuan ('Ilm). Yang benar, Tuhan itu

mengetahui (Alim). Tuhan mengetahui dengan pengetahuanNya, bukanlah dengan Zat-Nya. Demikian pula bukan dengan sifat-sifat seperti, sifat hidup, berkuasa, mendengar dan melihat. [20] Disini terlihat, al-Asy'ari menetapkan sifat kepada Tuhan seperti halnya kaum Salafi. Namun cara penafsirannya cukup berbeda. Kaum Salafi hanya menetapkan sifat kepada Allah, sebagaimana teks ayat, tanpa melakukan pembahasan mendalam. Mereka hanya menerima arti dengan jalan kepercayaan, bahwa sifat-sifat Allah berbeda dengan sifat makhluk-Nya. Begitu hati-hatinya mereka dalam menjaga persamaan Allah dengan makhluk-Nya, sehingga mereka mengatakan, "Siapa yang tergerak tangannya, lalu ketika membaca ayat yang berbunyi "Aku (Allah) ciptakan dengan tangan-Ku," lalu ia langsung mengatakan, wajib dipotong tangannya." [21] Lain halnya dengan al-Asy'ari, baginya arti sifat tidak berbeda dengan pengertian sifat bagi Muitazilah. al-Asy'ari, sifat berada pada Zat, tetapi sifat bukan dan bukan pula lain dari Zat. Ungkapan al-Asy'ari seperti ini, kata Dr. Ibrahim Madkour, tidak terlepas paradoks. [22] jauh Bagi Zat, yang dari

Bagi Mu'tazilah, sifat sama dengan Zat. Sifat tidak mempunyai pengertian yang sebenarnya. Jika dikatakan, yang mengetahui ('Alim), maka artinya menetapkan pengetahuan ('Ilm) bagi Allah, dan yang mengetahui itu adalah Zat-Nya sendiri. Dalam hal ini, menetapkan sifat hanya sekedar untuk memahami bahwa Allah bukanlah jahil. Seperti juga mengatakan yang berkuasa (qadir) adalah menetapkan kekuasaan (qudrah) bagi Allah. Kekuasaan itu adalah Zat-Nya sendiri. Artinya, menafsirkan kelemahan Allah. [23] Masih berbicara tentang tauhid, pemikiran al-Asy'ari yang lain ialah, bahwa Tuhan dapat dilihat di akhirat. Untuk itu, al-Asy'ari membawakan argumen rasio dan nash. Yang tidak dapat dilihat, kata al-Asy'ari, hanyalah yang tak punya wujud. Setiap wujud mesti dapat dilihat, Tuhan berwujud, dan oleh karena itu dapat dilihat. [24] Argumen al-Qur'an yang dimajukannya antara lain, "Wajah-wajah yang ketika itu berseri-seri memandang kepada Allah" (QS. al-Qiyamah: 22-23). Menurut al-Asy'ari kata nazirah dalam ayat itu tak bisa berarti memikirkan seperti pendapat Mu'tazilah, karena akhirat bukanlah tempat berfikir; juga tak bisa berarti menunggu, karena wajah atau muka tidak dapat menunggu, yang menunggu adalah manusia. Lagi pula, di sorga tidak ada penungguan, karena menunggu mengandung arti dan membuat kejengkelan dan kebosanan. Oleh karena itu, nazirah mesti berarti melihat dengan mata kepala. [25] Sungguhpun al-Asy'ari berpendapat, bahwa orang-orang mukmin nanti dapat melihat Tuhan di Akhirat dengan mata kepala, namun pemahamannya bukanlah bersifat harfiyah. Tetapi menghendaki suatu penafsiran lagi yaitu, bahwa melihat Tuhan itu tidak mesti mempunyai tempat dan terarah pada tujuan, tetapi hanya merupakan suatu penglihatan pengetahuan dan kesadaran, dengan mempergunakan mata, yang belum terfikirkan bagi kita sekarang, bagaimana bentuk mata itu nantinya. [26]

maka Tuhan tidaklah berbuat salah dan dzalim. Kemudian digambarkan." yaitu seseorang mempunyai kekuasaan mutlak atas harta yang dimilikinya serta mempergunakannya sesuai dengan pengetahuan pemilik. Tuhan wajib mewujudkan yang baik. Al-Asy'ari. dapat berbuat apa saja yang dikehendaki-Nya terhadap makhluk-Nya. maka perbuatan Tuhan tidak pernah bertentangan dengan hukum. Karena undang-undang dan hukum itu adalah bikinannya sendiri. Sang raja yang absolut diktator itu. kata al-Asy'ari. dan karena di atas Tuhan tidak ada undang-undang atau hukum. Tuhan masih tetap bersifat adil. Sekarang kita berpindah kepada pemikirannya tentang keadilan. [31] Oleh karena itu. bahwa yang dimaksud tidak dapat melihat Tuhan adalah di dunia ini. artinya. memiliki hal penuh untuk membunuh atau menghidupkan rakyatnya. meyakini bahwa Allah adalah Maha Adil. bahwa sang raja itu diatas dari undang-undang dan hukum. bahwa Tuhan dapat dilihat nanti di akhirat. [30] Karena perbuatan salah dan tidak adil menurut pendapatnya adalah perbuatan yang melanggar hukum. jika Ia memasukkan seluruh manusia ke dalam neraka. kemudian al-Asy'ari menganalogikan bahwa .Namun demikian. termasuk orang-orang kafir. [27] Apa yang telah kita ungkapkan di atas. Dan juga diartikan tidak dapat melihat Tuhan di akhirat bagi orang kafir. dan juga tidak dapat dikatakan Tuhan bersifat dzalim. Tetapi seperti kaum Salafi. sedangkan keadilan adalah merupakan filsafat hubungan khaliq dengan makhluknya. Dan juga menolak faham al-Shalah wa al-Ashlah Mu'tazilah. [32] Upah yang diberikan Tuhan hanyalah merupakan rahmat dan hukuman tetap merupakan keadilan Tuhan." (al-An'am: 103) Ayat tersebut di atas diartikan oleh al-Asy'ari. Sengaja dirangkaikan keadilan dengan tauhid. dan bukan di akhirat. [28] Al-Asy'ari meninjau keadilan Tuhan dari sudut kekuasaan dan kehendak mutlak Tuhan. dalam arti. maka al-Asy'ari memerlukan pula untuk menafsirkan atau menta'wilkan ayat yang berikut ini: Artinya: "Penglihatan tak dapat menangkap-Nya tetapi ia dapat mengangkat penglihatannya. karena pembahasan tentang tauhid hanyalah merupakan filsafat ketuhanan semata. Jika Tuhan menyakiti anak-anak kecil di hari kiamat. atau memasukkan orang kafir ke dalam sorga. ia menolak bahwa kita mewajibkan sesuatu kepada Allah. menjatuhkan hukuman bagi orang mukmim. Keadilan diartikannya "menempatkan sesuatu pada tempat yang sebenarnya. bahkan yang terbaik untuk kemaslahatan manusia. Paham keadilan al-Asy'ari ini mirip dengan paham sebagian umat yang merestui seorang raja yang absolut diktator. Dari asumsi itu. Allah. bebas memperbuat apa yang kehendaki-Nya. adalah merupakan sebagian dari pemikiran al-Asy'ari tentang tauhid. untuk dapat menerima. kalau Tuhan memasukkan seluruh umat manusia ke dalam sorga. [29] Tidak dapat dikatakan salah. Tuhan sebagai pemilik yang berkuasa mutlak. dia tidak perlu patuh dan tunduk kepada undang-undang dan hukum. seperti Mu'tazilah. kata al-Asy'ari.

baik di dunia atau di akhirat.Allah adalah memiliki kemerdekaan mutlak. [37] Dan tidak ada pembuat (agent) bagi kasb kecuali Allah. maka tidak seorangpun yang akan sanggup mempersalahkan dan menuntut-Nya. dalam teori kasb manusia tidak mempunyai pengaruh efektif dalam perbuatannya. [39] Firman Tuhan: "Kamu tidak menghendaki al-Insan 76:30). [33] Kalau Allah menganiaya seluruh umat manusia. Persis seperti seorang raja yang absolut diktator. tidak mempunyai daya dan kekuatan apa-apa disaat berhadapan dengan kekuasaan absolut mutlak. Namun dalam penjelasannya tertangkap bahwa kasb itu pada hakekatnya adalah ciptaan Tuhan. Jadi. bagi al-Asy'ari. Al-Kasb dapat diartikan sebagai suatu perbuatan yang timbul dari manusia dengan perantaraan daya yang diciptakan oleh Allah. Maka tidak seorangpun yang dapat mewajibkan sesuatu kepada Allah mengenai kemaslahatan umat manusia. [36] Melihat kepada pengertian. kata al-Asy'ari. [38] Dengan perkataan lain. Tentang faham kasb ini. dapat dilihat dari pendapat al-Asy'ari tentang kehendak dan daya yang menyebabkan perbuatan menjadi wujud. maka paham al-Asy'ari dalam hal ini lebih dekat kepada faham Jabariyah (fatalisme) dari faham Qadariyah (Free Will). perbuatan-perbuatan manusia adalah diciptakan Tuhan. Ayat ini diartikan oleh al-Asy'ari bahwa manusia tak bisa menghendaki sesuatu. Dia memperbuat sekehendak-Nya terhadap milik-Nya. Tidak satupun didalam ini terwujud lepas dari kekuasaan dan kehendak Tuhan. maupun di akhirat. Bahwa perbuatan manusia sebenarnya adalah perbuatan Tuhan. [35] Kasb. Al-Asy'ari menegaskan bahwa Tuhan menghendaki segala apa yang mungkin dikehendaki. Di satu pihak ia ingin melukiskan peran manusia dalam perbuatannya. [34] Karena manusia dipandang lemah. kecuali jika Allah menghendaki manusia . perolehan). yang mewujudkan kasb atau perbuatan manusia. sehingga akhirnya manusia bersifat pasif dalam perbuatan-perbuatannya. menurut al-Asy'ari. ia pasti ada. kecuali Allah menghendaki" (QS. sebenarnya adalah Tuhan sendiri. maka tak seorangpun yang sanggup menentangnya. Jadi dalam paham al-Asy'ari. "sesuatu yang timbul dari yang berbuat" mengandung atas perbuatannya. Karena manusia. kalau ia menganiaya seluruh rakyatnya. Jika Tuhan menghendaki sesuatu. baik di dunia ini. Untuk menggambarkan hubungan perbuatan dengan kemauan dan kekuasaan mutlak Tuhan al-Asyari memakai istilah al-kasb (acquisition. al-Asy'ari memberi penjelasan yang sulit ditangkap. Manusia dalam kelemahannya banyak tergantung kepada kehendak dan kekuasaan Tuhan. selalu digambarkan sebagai seorang yang lemah. dan jika Tuhan tidak menghendakinya niscaya ia tiada. adalah sesuatu yang timbul dari yang berbuat (al-muhtasib) dengan perantaraan daya yang diciptakan. Argumen yang dimajukan oleh al-Asy'ari tentang diciptakannya kasb oleh Tuhan adalah ayat: "Allah menciptakan kamu dan perbuatan-perbuatan kamu." al-Shaffat 37:96) (QS. Tetapi keterangan bahwa "kasb itu adalah ciptaan Tuhan" menghilangkan arti keaktifan itu.

7507173 Fax. [44] Harun Nasution juga berpendapat demikian. [40] Ini mengandung arti bahwa kehendak manusia adalah satu dengan kehendak Tuhan. yang seorang mampu mengangkatnya sendirian. UA 20-21 Jakarta Selatan Telp. namun tidak berarti bahwa orang yang tidak sanggup itu tidak turut mengangkat. Tetapi daya yang berpengaruh dan efektif pada akhirnya dalam perwujudan perbuatan ialah daya Tuhan. tetapi manusia dalam pada itu tidak kehilangan sifat sebagai pembuat. [43] (bersambung 3/3) -------------------------------------------Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah Editor: Budhy Munawar-Rachman Penerbit Yayasan Paramadina Jln. Alasannya karena menurut al-Asy'ari kemauan dan daya untuk berbuat adalah kemauan dan daya Tuhan. maka banyak para ahli menilai bahwa kasb adalah sebagai jabariyah moderat.supaya menghendaki sesuatu itu. bahkan Ibn Hazm (w. Demikian pulalah perbuatan manusia. yaitu perbuatan Tuhan dan perbuatah manusia. Al-Baghdadi mencoba menjelaskan kepada kita sebagai berikut. dan kehendak yang ada dalam diri manusia. sedangkan yang seorang lagi tidak mampu. [46] . sebenarnya tidak lain dari kehendak Tuhan. daya Tuhan dan daya manusia. KEKUATAN DAN KELEMAHAN PAHAM ASY'ARI (3/3) SEBAGAI DOKTRIN AKIDAH oleh Zainun Kamal Buat sementara dapat kita simpulkan bahwa dalam paham al-Asy'ari. 7501983.12. dan perbuatan itu sendiri adalah perbuatan Tuhan dan bukan perbuatan manusia. 728 H) menilai. sebagai jabariyah murni. 456 H) dan Ibn Taimiyyah (w. maka terangkatnya batu itu adalah oleh yang kuat tadi. untuk terwujudnya perbuatan perlu ada dua daya. Perbuatan pada hakekatnya terjadi dengan perantaraannya daya Tuhan. (021) 7501969. (021) 7507174 Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang YayasanISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota Please direct any suggestion to Media Team Artikel Yayasan Paramadina Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota III. terdapat dua perbuatan. Metro Pondok Indah Pondok Indah Plaza I Kav. untuk terwujudnya suatu perbuatan dalam perbuatan manusia. Karena manusia dalam teori kasb al-Asy'ari tidak mempunyai pengaruh efektif dalam perbuatannya. Tuhan dan manusia dalam suatu perbuatan adalah seperti dua orang yang mengangkat batu b esar . Dalam teori kasb. sedangkan daya manusia tidaklah efektif kalau tidak disokong oleh daya Tuhan. Perbuatan Tuhan adalah hakiki dan perbuatan manusia adalah majazi (sebagai lambang). Kalau kedua orang tersebut sama-sama mengangkat batu besar itu.

al-Baqillani. Kasb-nya al-Asy'ari itu telah membawa para pengikutnya berfaham Jabariyah murni. Oleh karena itu. Dengan demikian. yang mengingkari sama sekali adanya kemampuan pada manusia untuk berbuat. ketika yang terakhir ini membatalkan aliran Mu'tazilah sebagai paham resmi pada waktu itu. Salah satu faktor penting bagi tersebarnya teologi al-Asy'ariyah di dunia Islam adalah sifat akomodatifnya terhadap Dinasti yang berkuasa. yang tidak mempunyai daya dan kekuatan apa-apa disaat berhadapan dengan kekuasaan yang absolut. maka disinilah letak kekuatan teologi itu. Akhirnya. Memang. yaitu ia dengan mudah dapat diterima oleh umumnya umat Islam yang bersifat sederhana dalam pemikiran. Ia telah menghilangkan kesadaran pemikiran rasionalisme di dunia Islam. Sejarah menunjukkan. al-Asy'ari menegaskan bahwa kasb manusia itu tidak mempunyai efek nyata dalam mewujudkan perbuatan manusia itu. Karena teologi al-Asy'ari didirikan atas kerangka landasan yang menganggap bahwa akal manusia mempunyai daya yang lemah. sehingga mayoritas umat Islam menganutnya sampai detik ini. yang jumlahnya selalu mayoritas di dunia Sunni. seperti yang sudah kita uraikan di atas. ia sering mendapat dukungan. sang raja tidak perlu patuh dan tunduk kepada undang-undang dan hukum. . Mereka adalah orang-orang yang tidak setuju dengan ajaran-ajaran Mu'tazilah. Sebab. paham al-Asy'ari ini juga telah membawa dampak dan pengaruh negatif. antara lain. Ajarannya dikembangkan oleh para pengikutnya. Kemudian setelah wafatnya al-Asy'ari pada tahun 935M. al-Juwaini dan al-Ghazali.Ibn Taimiyyah menilai al-Asy'ari telah gagal dengan konsep kasb-nya yang hendak menengahi antara Qaddariyyah dengan Jabbariyah. bahwa dalam faham teologi al-Asy'ari manusia selalu digambarkan sebagai seorang yang lemah. [47] dimana raja-raja selalu berkuasa dengan diktator dan mempunyai hak penuh untuk menghukum siapa saja yang diinginkannya.umat Islam. sebagai konsekuensi logis dari paham manusia lemah dan patuh kepada penguasa. menurut Ibn Taimiyyah. Ibn Taimiyyah menilai konsep kasb yang ditetapkan al-Asy'ari itu tidak masuk akal. Sebab undang-undang dan hukum itu adalah bikinannya sendiri. bahkan menjadi aliran dari Dinasti yang berkuasa. aliran itu mengalami kemajuan besar sekali. bahwa aliran al-Asy'ari telah berhasil menarik rakyat banyak di bawah naungannya berkat campur tangan khalifah al-Mutawakkil. Sungguhpun demikian. Teologi ini timbul merupakan refleksi dari status sosial dan kultural masyarakat pada masanya. apalagi berhadapan dengan kekuasaan mutlak Allah. yaitu keadaan masyarakat Islam pada abad ke-9 M. Hilangnya pemikiran rasionalisme tersebut telah menyebabkan kemunduran umat Islam selama berabad-abad. [46] PENGARUH KALAM AL-ASY'ARI Seperti telah disebutkan di atas. Kunci keberhasilan teologi al-Asy'ari ialah karena sejak awal berdirinya ia telah berpihak kepada awwamnya .

h. Al-lbanah 'an Ushul al-Dinyanah. [49] Paham bahwa semua peristiwa yang terjadi. 1973 h.. akibatnya. Ed. M. serta jauh dari pengetahuan. ed. Paham fatalisme yang berkembang dalam masyarakat. lihat Hamudah Guramah. 1969. 60 4. Fi al-Falsafah al-Islamiyyah II. Dengan dalih peristiwa itu terjadi atas kehendak Tuhan semata. dan lebih dari itu.Fauqiyah. 46 2. maqalat al-Islamiyyin wa Ikhtilaf al-Mushallin. mempunyai daya yang lemah. seperti rezeki. h. Abu al-Hasan al-Asy'ari.Ali Ibn Ismail Ibn Abi Basyar Ishak Ibn Salim Ibn Ismail Ibn Abdullah Ibn Musa Ibn Bilal Ibn Abi Burdah Ibn Musa al-Asy'ari (Lihat Abu al-Hasan al-Asy'ari. kebodohan dan kematian massal yang terjadi. Mesir. 9 (Selanjutnya disebut. adalah atas kehendak Tuhan menghilangkan makna pertanggungjawaban manusia atas segala perbuatannya. Tetapi teologi ini akan menjadi lemah disaat berhadapan perkembangan ilmu pengetahuan dan penemuan teknologi baru. Mesir. tahun 1976. menjadikan penganutnya kurang mempunyai ruang gerak. tetapi mereka artikan secara letterlek. Al-Ibanah. menjadikan manusia-manusia yang tidak mau bertanggungjawab atas kesalahan-kesalahannya. CATATAN 1. h. Lihat juga Abu al-Hasan al-Asy'ari. jodoh dan maut adalah di tangan Tuhan. Dengan demikian para penganutnya teologi ini sukar dapat mengikuti dan mentolerir perubahan dan perkembangan yang terjadi dalam masyarakat modern. 10 . Peristiwa terowongan Mina adalah salah satu bukti nyata dari faham Fatalisme.Ibrahim Madkour. 1977. termasuk perbuatan manusia.Abu Musa al-Asy'ari adalah salah seorang sahabat Rasul-Allah saw. menjadikan manusia-manusia yang enggan merubah nasibnya sendiri dan merubah struktur masyarakat. ia dapat merupakan salah satu dari faktor-faktor yang memperlambat kemajuan dan pembangunan. menurut al-Asy'ari. Mahyudin Abdul Hamid. Bahkan. Mesir. Dan ia selalu mempersalahkan takdir atas kemiskinan. karena terikat tidak saja pada dogma-dogma. Fauqiyah. Selain itu. suatu kesimpulan dapat diambil bahwa faham teologi al-Asy'ari mempunyai basis yang kuat pada suatu masyarakat yang bersifat sederhana dalam cara hidup dan berpikir. h. tetapi juga pada ayat-ayat yang mengandung arti dzanni. Fauqiyah Husein Mahmud. lebih tegas lagi. 3 3. sehingga tidak ada yang mau bertanggungjawab atasnya. yaitu ayat-ayat yang sebenarnya boleh mengandung arti lain dari arti letterlek. Mesir. al-lbanah). Dr. Sayeed Ameer Ali mengatakan bahwa kemerosotan bangsa-bangsa Islam sekarang ini salah satu sebabnya karena formalisme al-Asy'ari. dan salah seorang hakim yang mewakili Ali Ibn Abi Thalib waktu terjadinya arbitrase antara Ali dan Muawiyah. Untuk menutup tulisan ini.Karena akal manusia.

1985. al-Asy'ari. dalam al-Lubab I. 1982. Mahmud Subhi.Madkour. 73.Fauqiyah. 1974. 164-165 14. Anawati./881 M.Al-Syahrastani. Ed. Mesir.A. 1980. Al-Ibanah. Al-Asy'ari. 104 22. Mahmud Subhi.A. hal. Al-Ibanah. Ali Abu Rayyan.. 116. Dar el Ulum.Subhi. 60 7. 50 23. Bairut. Ibid. Tarikh.5.Faiqiyah. h.Abu al-Hasan al-Asy'ari. Iskandiyah. h. Kairo. 17. h.8 18. Falsafah. 34 16. 1976. h. h. 312 Gardet & Anawati. 30 21.1397 H. h.Hasan Mahmud al-Asy'ari. H. dalam. 51 24. 35 19. Tarikh al-Fikri al-Falsafi Fi al-lslam./885 M. Dan Hamudah. 303 (dikutip dari Fanqiyah. h. 310 6. h. dapat dilihat pada. h. 31 15. dalam al-Khutbath III. Mahmud Kasim.Ibid. h.Fauqiyah.Bahwa manusia harus bertanggung jawab atas kehendak dan perbuatannya sendiri menurut pendapat Mu'tazilah. h 93 10. 13 Penulis lebih cenderung menetapkan sejarah lahirnya pada ketika memisahkan diri dari Mu'tazilah adalah pada tahun 300 H. (lihat M. 159. h. al-Milal wa al-Nihal I. 13. 41 17.65 12. 38 20.Abu al-Hasan al-Asy'ari. Al-Mu'tazilah. 36 9. Mesir. hal. Kairo. h. Kitab al-Luma' Fi al-Rad'ala ahl al-Zaigh wa al-Bida'. h.Zuhdi Jar Allah. Abd. Al-Syahrastani. Fi Ilm al-Kalam II. Aziz M. 1968. Subhi Fi Ilm al-Kalam II. 100 . h. h.Terdapat beberapa variasi pendapat dalam menetapkan tahun lahirnya: 270 H. Fi Ilm al-Kalam II. 52 270 H. h. Al-Makrizi. h. Lihat juga. h. Falsafat al-Fikrial-Dini Bain al-Islam wa al-Masihiyah I (terj. Iskandiyah. dan lihat juga Subhi.M.Ibid.Hamuddh. Iskandariyah.Al-Asy'ari.Louis Gardet & J. h. Fi Ilm al-Kalam II. Fi Ilm al-Kalam II. Al-Ibanah.. Madkour.Lihat Rayyan. h. 94. 29 8. 1982 h. Dirasat Arabiyah wa Islamiyah I. Iskandiyah.. Al-Ibanah. Al-Ibanah'an Ushul al-Dinayah. Dirasat Fi al-Falsafah al-Islamiyyah. 1965. Ibn Atsir. Fi al-Falsafah. Iskandiyah. 1973 h. h. h. Kairo. Al-Mihal I. 102 11.) Bairut. Fi al-Fasafah II. Wakil. Sedangkan usianya waktu itu sudah umum diketahui empat puluh tahun.

The Spirit Of Islam. Kairo. Teologi Islam.Al-Asy'ari. 16 28.Al-Sahrastani...Ibid. Minhaj al-Sunnah II. h.Ibid. h. UI-Press.Mahmud Kasim.Ibn Taimiyyah. 562 43. (021) 7507174 .Al-Asy'ari. 102.Al-Asy'ari.. Al-Luma'. 205 45. 51 40. Madzahib al-Islamiyin. h. h. h. h. h. Ibid. 1971. 57 41.Ibid. h.Abd al-Qahir al-Baghdadi.Ibid.Abd al-Rahman Badawi. Dirasat.Mahmud Kasim. h.Al-Syahrastani. Kitab Ushul al Din. Metro Pondok Indah Pondok Indah Plaza I Kav. 112 46. h. h. 16-17 47. Al-Ibanah. h.Al-Asy'ari. UA 20-21 Jakarta Selatan Telp. 70 38. lihat juga Mahmud Kasim. al-Luma'. tt. 7507173 Fax. h. Jakarta. 72 39. h. 472 473.Abu Zahrah.Al-Asy'ari.. 41 42. 35. Bairut. Al-Milal I. h.Al-Asy'ari. -------------------------------------------Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah Editor: Budhy Munawar-Rachman Penerbit Yayasan Paramadina Jln. 167 33. 13 26. 76 37. h. h. 1983 h. 71 32.Ibid. Al-Ibanah.. 1981. Lihat juga Madkour.Ibid 31. Tarikh al-Madzahib al-Islamiyah. (021) 7501969. 100. h.Sayeed Ameer Alim.25. tt. Delhi.Ibid. Al-Milal I. 101 30. Al-Luma'.Muhammad Abu Zahrah. 34 48. 7501983. h. Tarikh al-Madzahib. Dirasat. h. Bairut. h. 27.205 36. 168 34. 133-134 44.. 113 29.Harun Nasution.

Tujuan amal yang bersifat "kedalam" landasannya adalah "iman. Itu adalah urusan Tuhan dan pribadi yang bersangkutan. Mas'udi Dengan mengatakan innama 'l-a'malu bi 'l-niyyat (amal ditentukan niyatnya). bobot dan relevansi suatu amal (dalam hal ini amal pemikiran) pada dasarnya adalah relatif dan bisa berubah. dalam bahasa manajemennya." Syahdan. tapi di sana. karena setiap amal adalah respons terhadap realitas yang didefinisikannya. menurut agama. di alam akhirat nanti. Dan hanya dalam kaitan sebab akibat itulah suatu amal bisa dinilai. Pertama. dan kedua yang bersifat keluar dan sosial. oleh realitas kehidupan yang mendorong kehadirannya." sedang tujuan yang bersifat "ke luar" landasannya adalah "realitas kehidupan. adalah kesadaran tentang tujuan suatu amal dilakukan. seperti diketahui. Sedang yang kedua adalah realitas yang ada dalam dunia kenyataan yang . Semakin tepat definisi realitas yang ditangkap. Ketiga. maka sesungguhnya Nabi Muhammad saw sedang berteori bagaimana suatu amal. semakin tinggi pula bobot dan relevansi pemikiran yang diresponinya. dievaluasi. Maka bobot dan relevansinya juga tergantung pada sejauh mana definisi atas realitas itu memiliki ketepatan." yaitu mengapa dan dalam konteks sosial yang bagaimana suatu amal telah dilakukan. Dan amal berdimensi ganda. adalah kritik atau evaluasi amal dari sudut niat (tujuan)nya yang bersifat "keluar. Kedua. amal itu diikat dan ditentukan oleh konteksnya. Tak ada suatu amal yang muncul begitu saja lepas dari kaitan sebab akibat yang melingkupinya. yaitu realitas teoritik dan realitas empirik. bobot dan relevansi suatu amal pemikiran pertama-tama tidak ditentukan penilaian benar tidaknya dari sudut doktrin. harus dikritik atau. Yang ada pada wewenang kita. Dalam hubungan ini innama 'l-a'malu bi 'l-niyyat akan berarti. Sementara itu. TELAAH KRITIS ATAS TEOLOGI MU'TAZILAH (1/2) oleh Masdar F. dikritik atau dievaluasi. bukan di sini. dan waktunya. kritik amal atas dasar niat yang bersifat kedalam sama sekali bukan urusan kita. realitas yang menjadi pijakan amal pemikiran. justru lantaran konteks yang melahirkannya adalah juga bersifat relatif dan berubah.Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota Please direct any suggestion to Media Team Artikel Yayasan Paramadina Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota III. Niat. pertama yang bersifat ke dalam dan personal. di dunia ini. maka bisa dikemukakan beberapa acuan sebagai berikut. sebagai makhluk sosial. melainkan lebih pada kenyataan sejauh mana ia mengena pada realitas yang diresponsnya. Yang pertama adalah realitas yang terdapat dalam dunia ide yang dipikirkan. Dengan menerima dasar penilaian atau kritik yang demikian ini.11. dapat kita kelompokkan dalam dua katagori.

maka dampak sosialnya pun cenderung abstrak dan terbatas pada kalangan tertentu saja. atau kekuatan-kekuatan itu. Memang. dengan sendirinya. akan cenderung bercorak elitis. titik tolaknya adalah keprihatinan terhadap realitas empiris (baru kemudian realitas yang bersifat teoritis). Perkembangan yang tragis ini yang terjadi dua kali. Pemikiran kategori pertama. dan dalam kontrol siapakah ia. bahwa pemikiran-pemikiran keagamaan (fiqh atau teologi) sebagai amal yang ditawarkan para pemikir Muslim sejak abad pertengahan adalah lahir dari suatu pola keprihatinan yang serupa. Dengan kedua perkembangan itulah muncul pertanyaan-pertanyaan teologis. Menurut ajaran Islam. sebagian amal pemikiran benar-benar lahir dengan titik tolak keprihatinan pada realitas teoritis (baru kemudian. Berkaitan dengan tanggungjawab perbuatan manusia tadi. "cobaan besar. yaitu balasan sorga dan balasan neraka. apakah faktor itu adalah "amal perbuatannya" ataukah "rahmat Tuhan" semata yang diberikan kepada siapa saja yang dikehendaki-Nya. sedang sebagian amal pemikiran yang lain. telah terjadi dua perkembangan yang sangat signifikan dalam sejarah umat Islam. bahwa pada paroh kedua abad pertama Hijriah. Seperti selalu diulang-ulang para sejarawan. Demikianlah. tapi semata-mata atas dasar "rahmat" yang disediakan melalui pintu tunggalnya: Yesus. sedang yang kedua akan bercorak populis. dari keprihatinan atas pertanyaan-pertanyaan inilah . pemikiran katagori pertama. Siapakah yang sesungguhnya bertanggungjawab atas tindakan manusia: dirinyakah. kenyataan bahwa di kalangan umat terjadi konflik internal yang boleh jadi tidak pernah diinginkan oleh mereka sendiri. ada dua jenis balasan sejati di akhirat nanti.dirasakan. yang satu terhadap yang lain bisa saling pengaruh mempengaruhi. keduanya tak harus selalu terpisah. Sebaliknya. (Suatu pemikiran yang jelas berangkat dari keprihatinan teoritik). PEMIKIRAN TEOLOGI MU'TAZILAH Fakta sejarah. faktor apakah yang memastikan orang memperoleh penyelamatan Tuhan dengan masuk sorga. Bagaimana hukumnya orang Islam yang melakukan dosa besar (seperti membunuh sesama Muslim tanpa hak). karena titik tolak keprihatinannya pada realitas abstrak dan umumnya terbatas hanya pada concern kalangan tertentu. yaitu bagaimana ajaran agama bisa dipahami umat secara benar." Perkembangan kedua adalah masuknya bangsa Parsi dan sekitarnya kedalam Islam berikut pemikiran dan keyakinan-keyakinan lamanya yang sudah terbentuk kuat dalam benak masing-masing. Syahdan. juga akan cenderung pada hal-hal yang konkrit yang bisa mengena pada kepentingan orang banyak. Pertama. bergerak ke realitas empiris)."penyelamatan Tuhan" itu tak ada sangkut pautnya dengan amal perbuatan manusia. jika dirasa perlu. Tapi yang saya maksudkan adalah. tapi telah saling membunuh. Pertanyaan ini muncul -besar kemungkinan karena menurut doktrin Kristiani yang ketika itu juga sudah dibawa masuk dalam lingkungan umat Islam. pemikiran yang lahir dari keprihatinan pada realitas riil yang dirasakan orang banyak. dimana satu kelompok bukan saja telah mengutuk kelompok yang lain. dikenal dengan sebutan fitnah kubra.

Mu'tazilah secara tegas mengatakan bahwa "manusia sepenuhnya memiliki kebebasannya sendiri bertindak. I'tazala'anna!. Jawaban inilah yang agaknya dicondongi mayoritas umat Islam yang disebut sebagai kelompok Murji'ah (artinya: menangguhkan). Jawaban ini diajukan kelompok yang terkenal dengan sebutan Khawarij. sangat menekankan perlunya seseorang dapat memperjelas (diperjelas) kedudukannya apakah termasuk orang dalam (in group. Mu'tazilah. Pertama.para pemikir Islam ketika itu merasa ditantang merumuskan jawabannya yang benar sesuai dengan ajaran-ajaran Islam yang shahih. minna) atau termasuk orang luar (out group. Berbeda dengan aliran teologi lainnya. dengan nada menyesal Hasan berkomentar: Ia telah keluar dari kita. 110 H/ 728 M). mengaku sebagai satu-satunya yang benar. Kata i'tazala (hengkang) yang jadi sebutan Mu'tazilah (yang hengkang dari arus umum) itu pun kemudian ditempelkan kepada Washil bin Atha dan segenap pengikutnya." Baginya.halal ditumpahkan darahnya. . seorang ulama terkemuka pada zamannya. maka pertanyaan tentang "kebebasan manusia. Prinsip "janji dan ancaman" (al-wa'du wa 'l wa'id) yang akan dilaksanakan di hari kemudian tak bisa dipahami tanpa adanya prinsip "kebebasan" tadi. prinsip kebebasan juga hanya akan berarti kalau ada "janji dan ancaman" yang setimpal di hari kemudian. Muslim no yang baru pada taraf pembentukan diri. Murjiah. Dan sebenarnya pada kisaran inilah Mu'tazilah benar-benar tumbuh sebagai aliran teologi yang tersendiri diantara aliran-aliran teologi yang lain. Qadariyah. Asy'ariyah. Hasan Basri selaku pemimpin dan tokoh yang merasa harus menjaga keutuhan umat berada dalam arus kecenderungan umum ini. seorang Muslim telah terpental dari kelompok (komunitas) alias menjadi "kafir" dan karena itu -sesuai dengan hukum riddah. Berbicara tentang awal mula sejarah Muitazilah. yang berkembang saat itu adalah jawaban-jawaban berikut. Maka terhadap pertanyaan yang terlontar dalam diskusi Hasan tadi. Khasywiyah dan sebagainya. yang lainnya adalah salah. Tersebutlah. maka jawaban pun hadir dalam corak dan pendekatan yang demikian berbeda-beda. Dan sebaliknya. Maturidiya. Masing-masing jawaban tumbuh sebagai aliran pemikiran yang berdiri sendiri. orang akan selalu merujuk pada episoda diskusi Hasan al-Bashri (w. manusia secara moral dapat dituntut pertanggungjawaban di kemudian hari. dengan para muridnya diseputar tema Muslim yes." terasa lebih bersifat murni teologis. Jawaban kedua mengatakan bahwa Muslim yang melakukan dosa besar masih tetap tergolong Muslim. karena merasa berpedoman pada pegangan mutlak yang ada di tangan. Saya kira. Karuan saja. minhum). karena ajaran-ajaran Islam itu pun harus diolah terlebih dahulu melalui subyektifitas masing-masing pemikir. Jabariyah. hanya dengan prinsip kebebasan inilah. di kemudian hari nama-nama: Khawarij. Itulah sebabnya ketika Washil melontarkan pendapatnya yang melawan arus tadi. dan bagaimana dengan dosa yang dilakukannya itu terserah Tuhan di hari akhirat nanti. dengan melakukan dosa besar. Yang menarik adalah bahwa masing-masing aliran ini. yaitu bahwa identitas seseorang apakah ada "di dalam" (minna) atau "di luar" (minhum) harus benar-benar jelas. Tapi kalau pertanyaan tentang "status pendosa besar" ini banyak diselimuti latar belakang politis.

Secara harfiyah prinsip yang tersebut terakhir ini bukan barang baru bagi umat Islam pada jamannya. Pada poin inilah Mu'tazilah dimasyhurkan sebagai aliran pemikiran yang rasionalistik. Mas'udi Mu'tazilah yakin bahwa pembalasan di akhirat semata-mata ditentukan oleh "amal perbuatan manusia" yang diambilnya sendiri secara bebas merdeka. Baik atau buruk (al-hasan wa 'l-qabh) bukanlah sesuatu yang harus didiktekan siapa pun juga. Dengan nalarnya. Metro Pondok Indah Pondok Indah Plaza I Kav. maka sebenarnya Mu'tazilah sudah berketetapan hati bahwa sebagai sesama makhluk. (021) 7501969. Tapi "keesaan Tuhan" dalam teori Mu'tazilah ini menjadi baru karena yang ia maksudkan rupanya adalah pembebasan (tanzih) . pastilah manusia yang memiliki kemampuan yang memungkinkan dirinya menentukan mana yang baik dan mana yang buruk. manusia tumbuh sebagai makhluk yang mandiri dan tidak lagi tergantung pada pihak lain dalam menentukan jalan hidupnya. Sebagai yang Maha adil Tuhan harus membalas keburukan atas setiap tindakan buruk dan harus membalas kebaikan atas semua tindakan yang baik.11. Seperti diketahui. yang cenderung mengunggulkan otoritas "akal" (nalar) atas "naqal. 7507173 Fax. Tapi. Dan sebagai yang Maha adil. TELAAH KRITIS ATAS TEOLOGI MU'TAZILAH (2/2) oleh Masdar F. Dia tak bisa tidak kecuali harus bertindak yang terbaik bagi manusia. tesis tentang Qur'an tersebut erat kaitannya dengan tesisnya yang lain tentang "Keesaan Tuhan" yang dibangunnya dengan pendekatan murni filosofis. UA 20-21 Jakarta Selatan Telp." suatu pendirian yang oleh mayoritas Muslim dipandang sangat membahayakan keutuhan doktrin. manusia yang bebas dan bertanggungjawab itu. diluar diri manusia sendiri. berupa akal yang lebih dipahami sebagai rasio atau nalar. Mu'tazilah tak lagi perlu? Tak ada penegasan eksplisit tentang itu. Sementara itu. al-Qur'an (wahyu) tidak memiliki otoritas yang dapat mendikte manusia. bahkan juga sebelumnya. 7501983. Apakah dengan begitu. Kemampuan itu menurut keyakinan Mu'tazilah sudah diberikan Tuhan. dengan tesisnya bahwa al-Qur'an itu makhluk.(bersambung 2/2) -------------------------------------------Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah Editor: Budhy Munawar-Rachman Penerbit Yayasan Paramadina Jln. (021) 7507174 Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota Please direct any suggestion to Media Team Artikel Yayasan Paramadina Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota III.

yang adalah teolog Mu'tazilah terkemuka pada zamannya. 241 H/855 M). ia akan tumbuh menjadi manusia durhaka. orang yang mati dewasa itu menempati kedudukan lebih tinggi dibanding kedudukan si anak. Tapi. TIGA KRITIK Adalah al-Asy'ari (w. murtad dan sejenisnya hanya lantaran pendapat yang berbeda. Konon. tapi juga pada semua aliran teologi yang tumbuh pada masa-masa itu karena klaim yang sama. menurut catatan sejarah yang pertama kali menyatakan kekecewaannya terhadap konsep teologi Mu'tazilah yang rasionalistik itu. kilah Jubbaiy. hingga tak sempat tumbuh jadi manusia durhaka? Yang menarik dari diskusi ini bukan saja al-Jubbaiy kehabisan akal menjawabnya. maka diciptakan (makhluq).Tuhan dari seluruh "sifat" bahkan yang secara eksplisit tersebut dalam ajaran-ajaran wahyu (Qur'an). tapi seperti halnya Jubbaiy. tentang nasib seorang anak dan seorang dewasa yang sama-sama masuk sorga karena imannya. al-Asy'ari bertanya kepada guru besarnya. Asy'ari pun juga menggunakan akal (logika) untuk mendukung argumentasinya. maka Qur'an sebagai ekspresi salah satu sifat-Nya (al-kalam) yang hadits dengan demikian juga berkapasitas hadits. bagaimana jika orang-orang yang dijebloskan dalam neraka protes. jika hakikat Tuhan itu qadim. Bedanya adalah bahwa Jubbaiy (Mu'tazilah) dengan logika akalnya bersikeras untuk mendefinisikan Tuhan menurut batas-batas manusia. sedang Asy'ari. al-Jubba'iy. Tuhan tahu. Dengan menarik postulat ini lebih jauh. pada suatu ketika. . sedang lawan-lawannya mengaku menemukan kebenaran mutlak itu melalui huruf-huruf naqal. Keduanya memiliki perbedaan yang substansial. Karena yang dewasa telah sempat beramal kebaikan. Yakni. sedang si anak belum. salah satu ciri yang menonjol dari sejarah pemikiran keagamaan saat itu adalah kesembronoannya yang benar-benar diyakini dalam menuduh orang atau pihak lain sebagai kafir. Sesungguhnyalah kritik ini tidak saja mengena pada Mu'tazilah. maka segala sesuatu selainnya. 330 H/942 M). Hanya bedanya. Kenapa harus terjadi si anak tidak diberi usia yang cukup agar ia bisa berbuat kebaikan seperti temannya yang dewasa? Kejar Asy'ari. Kalau begitu. kejar Asy'ari lebih lanjut. Sifat-sifat atau atribut yang dikenakan kepada Tuhan bukanlah sesuatu yang sebangun dengan hakikat-Nya. Kalau kritik al-Asy'ari itu adalah juga kritik kita kepada Mu'tazilah. Yang tersebut terakhir ini dengan sangat militan diwakili oleh golongan Khasywiyah yang mengaku menjadi pengikut Imam Ahmad bin Hambal (w. kenapa mereka tidak dimatikan saja ketika masih muda. syirk. sesuai dengan keadilan Tuhan dalam persepsi Mu'tazilah. Sementara Tuhan harus berbuat yang terbaik untuk manusia. bahwa Mu'tazilah mengaku telah menemukan kebenaran tunggal dan mutlak itu melalui logika akal. juga dengan logika akalnya. justru ingin membebaskan-Nya tetap berada di atas batas-batas manusia tadi. jawab Jubbaiy. Mengapa harus begitu? Tanya Asy'ari. adalah hadits. Itulah sebabnya. termasuk sifat-sifat yang dikenakan kepadaNya. jika si anak dibiarkan hidup. maka kritik kita yang kedua adalah pada klaimnya sebagai telah menemukan kebenaran tunggal yang harus diterima semua pihak.

maka isu-isu yang digelutinya pun hampir tak punya sentuhan yang bermakna bagi umat pada umumnya. kritik yang ketiga. Tapi kalau dialektika teologi yang mengabdi doktrin itu berwatak retorik (dialektika yang terjadi dalam proses penghadapan antagonis antara satu doktrin dengan doktrin yang lain). Sehingga kalau realitas yang menggugah keprihatinannya adalah soal keadilan." tapi keadilan yang menjadi tanggung jawab manusia dalam kehidupan di "sini. Tapi. sistem pemikiran teologis atau apa saja atributnya yang relevan untuk dibangun. (Dari dasar keprihatinannya ini. maka keadilan yang dimaksud bukanlah keadilan Tuhan yang harus ditegakkan di "sana. adalah yang tersebut pertama muaranya adalah pada terbangunnya kesesuaian realitas pemahaman dengan bunyi doktrin yang statis." atau "teologi kerakyatan"). Yang pertama berwatak formal dengan orientasi pada bentuk . dengan dalih itu. Sementara itu. kalau teologi abad pertengahan (seperti Mu'tazilah maupun lawan-lawannya) yang mengabdi kepada kepentingan doktrin disebut teologi dialektik. kelompok Mu'tazilah ini justru bergandengan-tangan dengan rejim yang berkuasa untuk melakukan tindak sewenang-wenang terhadap siapa saja yang tidak disukainya. karena dasar keprihatinannya yang serupa). beda antara teologi dialektika retorik di satu pihak dengan dialektika empiris di lain pihak. adalah yang benar-benar berangkat dari lapisannya paling bawah. karena pada dasarnya Mu'tazilah lahir dari keprihatinan pada realitas teoritis bahkan yang berdimensi metafisik. maka sebutan yang sama pun bisa juga dikenakan pada teologi yang perlu kita kembangkan ini. (Kritik ini pun mengena pada aliran teologi lainnya. atau inquition yang dilakukannya dengan dukungan tangan-tangan kekuasaan dan birokrasi pemerintahan yang karena alasan politik tertentu dapat dipengaruhinya." Saya pikir. Mu'tazilah telah melancarkan intrik terhadap orang lain untuk menerima doktrin-doktrin teologinya dan menimpakan hukuman atas siapa saja yang mencoba menolaknya. terutama jika diingat praktek kesewenang-wenangan yang dilakukan kalangan penguasa. sedang yang tersebut terakhir concernnya pada kesesuaian antara realitas kehidupan dengan semangat doktrin yang dinamis. Dan dalam kaitannya dengan persoalan keadilan yang dirasakan umat. lantaran dasar keprihatinannya yang elitis tadi. maka bagi saya. TAWARAN ALTERNATIF Mencoba konsisten dengan kerangka teori "niat" seperti tersebut di atas. Dilihat dari sudut muaranya. maka dialektika teologi baru itu bersifat empiris (dialektika yang terjadi dari proses penghadapan kritis antara realitas kehidupan dengan pesan-pesan universal). salah satu prinsip ajaran yang dipropagandakan Mu'tazilah adalah tentang "keadilan" suatu isu yang sebenarnya sangat relevan pada saat itu.Untuk kasus Mu'tazilah sikap intoleransi ini ditindak lanjuti dengan prinsip amar ma'ruf nahi munkarnya yang merisaukan banyak pihak yang menjadi lawan polemiknya. Seperti diketahui. ia bisa disebut misalnya "teologi populis. Tragedi teologis ini dikenal dengan mihnah. Seperti telah disinggung di atas. maka rupanya keadilan yang dimaksudkan adalah keadilan lain (yang bersifat eskatologis) yang berkaitan dengan "peranan" Tuhan di hari kemudian.

Sebagai balasan. Pertentangan keduanya dan pengikutnya sampai kepada tingkat saling mengkafirkan. a conventicle of schismatics. Michael Cerularius. dua sisi yang selama ini seperti cenderung terpisah. Pastor Romawi ahli politik. Peristiwa ini disebut sebagai skisma besar Gereja Timur. masing-masing menyebut yang lain sebagai Judas. Pernikahan dilarang bagi pastor Romawi. mereka mengangkat Robert dari Genewa dengan gelar Clement VII. tetapi diperbolehkan bagi pastor Yunani. Metro Pondok Indah Pondok Indah Plaza I Kav. Dengan watak keterbukaannya. teologi dialektika empiris ini akan menerima perbedaan pendapat sebagai realitas kehidupan yang wajar. (021) 7507174 Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota Please direct any suggestion to Media Team Dimensi sosial Artikel Yayasan Paramadina Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota VI. pastor Yunani ahli teologi. Pembaptisan di Yunani dilakukan dengan penyelaman.dan cenderung tertutup. Kristen Romawi sembahyang sambil berlutut. Justru dengan pendapat yang berbeda-beda itu. Paus St. Lebih dari tiga abad kemudian. "Kiai" Yunani memelihara janggut. 1950:544). Terakhir. Dua Paus bertahta. menyebarkan tulisan yang mengkritik keras Paus di Roma." (Durant. teologi dialektika empiris ini secara vertikal berwatak populis. UA 20-21 Jakarta Selatan Telp. sedang secara horizontal berwatak demokratis. Sebagai gantinya. -------------------------------------------Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah Editor: Budhy Munawar-Rachman Penerbit Yayasan Paramadina Jln. Pada tahun 1043. kardinal-kardinal Perancis berkumpul di Anagui." Kristen Yunani berdoa sambil berdiri. sedang yang kedua berwatak substansial yang berorientasi pada substansi dan bersifat terbuka. mengeluarkan manifesto yang mengatakan pemilihan Paus Urbanus VI tidak sah. maka kemungkinan menemukan pilihan "yang terbaik" menjadi tersedia. Mereka berpisah seperti "a biological species divided in space and diversified in time. Patriarch Konstantinopel. teolog Yunani menolak tambahan filioque pada syahadat sex patre filioque procedit hasil perumusan Gereja Romawi. di Barat Kristianitas terbelah dua pola: Gereja Romawi dan Gereja Yunani. (021) 7501969. . Leo mengekskomunikasikan Cerularius dan menggelari pengikut-pengikutnya sebagai "an assembly of heretics.52. Dengan demikian. SKISME DALAM ISLAM SEBUAH TELAAH ULANG (1/3) oleh Jalaluddin Rakhmat Ketika matahari Islam sedang naik di sebelah Timur. a synagogne of Satan. sedangkan rekannya dari Roma mencukurnya. 7507173 Fax. Menurut laporan Will Durant (Durant). 7501983. di Romawi dengan pemercikan.

1054.. Encyclopedisch Woordenbock voor Groot-Nederland (Ter laan.. the penitents so shriven. Bila skisme adalah istilah Kristiani. "Ah. anggota-anggota lainnya ikut demam dan panas? Mula-mula saya menganggap istilah skisme dalam Islam sebagai mengada-ada. di dunia Katolik pernah muncul gerakan konsiliasi (cinciliar movement) yang dipelopori oleh kaum cendekiawan. sesiku demi sesiku. sehingga begitu saja mendengarnya. legitimasi ini diperoleh dengan memalsukan sumber-sumber ajaran agama atau memberikan penatsiran yang diselewengkan." Nabi menjawab. Pertama. sehingga kalau satu anggota sakit.1953:362) "Each side claimed the sacraments administered by priests of the opposite obedience are invalid. Sebuah kamus klasik. kerk. Tidak jarang. doomed to hell or limbo if death should supervene. dalam Islam. apakah mereka itu Yahudi dan Nashara. Pertikaian dalam gereja Katolik. and that the children so baptized. "Kalian akan mengikuti tradisi umat sebelum kalian. Ada tiga kesamaan antara skisma Kristiani dengan perpecahan dalam Islam. yang semula bersifat politis. setelah saya merenungkan pertanyaan-pertanyaan di atas? terlintas dalam ingatan saya sebuah hadits. "Siapa lagi. Katholieke kerk van Rome. de sheuring in de. severed Christendom into East and West" (Durant. baik skisme dalam Kristen maupun skisme dalam Islam lebih banyak dilandasi pertikaian kepentingan politik daripada karena pertikaian aqidah. kemudian diperluas ke dalam bidang liturgi dan doktrin: begitu pula.= shedding). Will Durant melukiskan skisme besar tahun 1054. 1950:544). 1937:648) menjelaskan makna skisme: Schisma. ia menulis. Skisma memang bukan istilah Islam. ada-ada saja!. tradisi yang same telah diikuti umat Islam juga. ". sehingga bila mereka memasuki gua serigala. "Tidak pernah darah di tumpahkan dan pedang dihunus dalam Islam kecuali karena pertikaian masalah imamah (kepemimpinan)." Peristiwa ini pun disebut sebagai Skisma Besar. Kedua." [1] Kata skisme tidak mengada-ada.K. 23:53." Tetapi. the dying so anointed. de afscheiding van een deel van de Gr. William Occam menentang identifikasi Kristianitas dalam gereja . yang saling menguatkan satu same lain. Walaupun skisme berasal dari dunia kristen. (Gr. 21:92)? Bukanlah mereka seperti bangunan yang kokoh. Ketiga. Sahabat bertanya. kamu pun akan mengikutinya. Al-Syahrastani dalam al-Milal wa al-Nihal menulis. pertikaian politik sering dicarikan legitimasinya dengan pengembangan teologi yang berlainan. Seperti dalam dunia Kristiani." Secara singkat. and not the slight diversities of creed. toen er verschillende pausaen tegelijk waren. Pernahkan Islam mempunyai Paus dua dan di antara keduanya ada tuduhan saling mengkafirkan? Bukankah umat Islam adalah "ummatan wahidatan" (QS. atau seperti tubuh yang satu. Nabi Muhammad berkata. 1378-1407. saya segera berkomentar.these galling political events. remained in a state of mortal sin. R. dalam Islam pun kaum politisi memperbesar perbedaan doktrinal yang kecil untuk menyuburkan fanatisme --saling mengkafirkan dan saling membid'ahkan. mengapa kita tiba-tiba bicara tentang skisme dalam Islam. "Ya Rasullah.

Ijma' dan bay'ah diterima juga dalam Syi'ah walaupun dalam arti yang terbatas. ingin mengikuti suara cendekiawan dan mengesampingkan suara politisi. Ahl al-Sunnah menetapkan pemimpin melalui kesepakatan (al-ittifaq) dan pemilihan (al-ikhtiyar). Ketiga konsep kunci untuk pandangan politik Syi'ah . menulis buku Concilium Pacis (1381). pertentangan khalifah antara Mu'awiyah dan Ali bin Abi Thalib setelah perjanjian Shiffin. Sementara itu. dan Jamaluddin al-Afgani (tidak jelas dari Sunnah atau Syi'ah). Walaupun --karena sifat ajarannya-. tetapi -anehnya menyebut kepemimpinan dengan istilah imamah). Pada bagian akhir.Islam tidak memisahkan aspek politik dan aspek intelektual. perlawanan Husayn bin Ali terhadap Yazid. atau penobatan Syarif al-Husain sebagai Khalifah tandingan khalifah Utsmaniyah. Ada beberapa kali terjadi skisme politik besar dalam sejarah Islam: pemberontakan 'Aisyah terhadap Khalifah Ali bin Abi Thalib. Sayang. skisme yang tetap berpengaruh sampai sekarang adalah skisme-skisme yang melahirkan polarisasi Sunnah . Karena itu. Syi'ah menetapkan pemimpin lewat keterangan agama (nash) dan penunjukan (ta'yin). seperti dalam dunia Kristiani. Karena itu. dan kedua.Syi'ah (yaitu tiga skisme yang pertama).tertentu. walaupun membicarakan skisme. sikap nonsektarian. Dalam Islam.yakni Khalifah. abstraksi pandangan politik ahl al-Sunnah dapat disimpulkan hanya pada perbedaan konsep imamah dan khilafah yang dianut Syi'ah. Al-Mawardi dalam Al-Ahkam al-Sulthaniyah (450 H) dan Abu Ya'la dalam Al-Ahkam al-Sulthaniyah (458 H) semuanya menulis. Di antara semua skisme tersebut. [2] Al-Syahrustani membedakan di antara kedua madzhab ini dalam hal kepemimpinan politik. pemilihan Ahl al-Hal wa al-'Aqd. ijma' dan bay'ah. dalam Islam pun umat terbanyak lebih banyak mendengar suara politisi ketimbang cendekiawan. imamah. tujuan akhirnya adalah menumbuhkan sikap persatuan --sikap nonskismatik. wilayat. Heinrich von Langenstein. Wilayah dan 'ishmah merupakan karakteristik tak terpisahkan dari imamah. dan lain-lain. dan bagian kedua skisme intelektual. Ahl al-Sunnah berpegang pada ketentuan syura sebagai landasan . yang baru saja dihapuskan tiga hari sebelumnya. untuk mudahnya saja. ANTARA KHALIFAH DAN IMAMAH Hamid Enayat menyebutkan tiga konsep kunci untuk pandangan politik Ahl al-Sunnah . Kasyif Githa (dari Syi'ah). Tulisan ini. teolog dari Universitas Paris.yakni. di sini kedua aspek itu dipisahkan. di sini kita akan meneliti perbedaan konsep politik di antara kedua madzhab besar itu dan melacak penyebab-penyebabnya. dan 'ishmah. tokoh-tokoh cendekia seperti Syaikh Syaltut (dari ahl al-Sunnah). "Kepemimpinan ditetapkan dengan dua cara: pertama. menggalakkan upaya-upaya taqrib. atau penobatan Abdullah bin Zubair (681-692) sebagai Khalifah bersamaan dengan masa Khalifah Yazid. Jadi. terus terang saja. penunjukan imam sebelumnya" (Perlu dicatat di sini bahwa penulis-penulis di atas adalah ulama ahl al-Sunnah. Bagian pertama makalah ini akan membicarakan skisme politik. makalah ini akan mengajukan rekomendasi apa yang seharusnya kita lakukan.

Nor does it appear likely that such a leader should accept someone as his deputy and successor and introduce him to others as such. dikutip lagi dari Al-Askari. Begitu pula Umar mempercayakan Dewan Formatur yang terdiri dari enam orang untuk memilih satu di antaranya sebagai khalifah. during the first days of his activity. Mereka beryakinan bahwa Rasulullah SA. Ahl al-Sunnah tidak mempunyai konsepsi yang jelas tentang ketentuan-ketentuan syura. Akhirnya. and refuse to make any distinctions. -------------------------------------------Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah Editor: Budhy Munawar-Rachman (bersambung 2/3) . Al-Ahkam al-Sulthaniyah 6-7. syura." Sayyid Muhammad Husayn Tabatabai (t. but then throughout his life and religious call deprive his deputy of his duties as deputy." kata Al-Askari (1406:202).t. Menurut Al-Mawardi. pemimpin tidak perlu ditunjuk oleh nash. dan Salim Mawla Abi Hudzaifah. should introduce to strangers one of his associates as his successor and deputy. dan berapa jumlah orang yang sepakat. Mawardi dalam bukunya. Umat boleh memiliki (ikhtiyar) pemimpin yang disepakatinya (ittifaq) Dalam kenyataan. Empat imam mazhab Ahl al-Sunnah sepakat bahwa pemimpin sah dengan salah satu di antara empat cara (al-Yahfufi.: 39) menulis: From the Shi'ite point of view it appears as unlikely that the leader of a movement. seperti ketika 'Abbas mendatangi Ali untuk membai'atnya. pemimpin bahkan dapat disahkan tidak lewat ittifaq tetapi lewat al-ghalabah (kemenangan perang). Basyir bin Sa'ad. syura dan ittifaq cukup dilakukan oleh seorang saja (sic!). Jadi karena pemimpin adalah hasil syura. Usaid bin Hudhair.W.. menurut Ahl al-Sunnah.kepemimpinan dan menunjuk QS.. Pengangkatan Abu Bakar dipilih oleh Umar bin Khathab. syura cukup tiga orang dan satu di antara mereka disepakati oleh dua orang yang lain. yaitu: (1) sistem syura yang terbatas (seperti pemilihan Abu Bakar) (2) sistem istikhlaf (penunjukan pengganti seperti yang dilakukan Abu Bakar terhadap 'Umar (3) sistem syura dari dewan formatur yang ditunjuk khalifah sebelumnya (seperti pengangkatan Utsman bin Affan) (4) sistem al-ghalabah bi al-saif (penaklukan dengan kekuatan militer seperti yang dilakukan Mu'awiyah) Syi'ah berpendapat bahwa imamah hanya sah bila ditegaskan dalam nash. Menurut fuqaha Kufah. Abu 'Ubaidah bin al-Jarah. "Ia telah memikirkan dan merencanakan pelanjutnya . Ini pendapat fuqaha Bashrah. disregard the respect due to his position as successor. untuk menegakkan masyarakat Islam. 1406:147. menunjuk pengganti-pengganti sesudahnya untuk memimpin umat Islam. 1406: 234-256). siapa yang memilih. al-Syura 38 dan Ali Imran 164 sebagai dalil. "Sejak pertama kali ia mengajak orang pada Islam. boleh dilakukan dalam jumlah terbatas dan ittifaq paling sedikit dilakukan lima orang. but not introduce him to his completely loyal and devout aides and friends. Bukankah aqad nikah sah dengan dua saksi dan satu wali? Kata kelompok yang lain.

Ia tidak boleh diturunkan dan tidak boleh orang keluar menentangnya. Al-Qur'an menentang hal itu dengan berkata. UA 20-21 Jakarta Selatan Telp. [3] Karena imam itu ditunjuk oleh nash. 7501983. Wajib bagi rakyat menasihati dan memperingatkannya. Bagaimana kalian menetapkan keputusan?. Metro Pondok Indah Pondok Indah Plaza I Kav. Syi'ah Jawad Mughnuyah (1406: 26) berpendapat. "Apakah orang yang memberi petunjuk kepada yang benar lebih berhak diikuti ataukah orang yang tidak dapat memberi petunjuk. mahaddtsin. Al-Hilli (dalam Al-Hasan. 1396: 27) menulis: Imam mesti yang paling utama dari rakyatnya. (021) 7507174 Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota Please direct any suggestion to Media Team Artikel Yayasan Paramadina Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota VI. Mazhab Imamiyah sepakat tentang hal itu. Ahl al-Sunnah) membolehkan mendahulukan al-mafdhul di atas al-fadhil. dan mutakallimun bahwa imam tidak boleh di dimakzulkan karena kefasikan.52. (021) 7501969. bahkan terpelihara dari dosa. bahkan harus diberi petunjuk. maka tentu imam adalah orang yang terbaik. ada nash-nash yang jelas dari Rasulullah saw. atau pelanggaran hak. Al-Nawawi berkata dalam Syarh Muslim-nya. Ini melahirkan kontroversi al-fadhil dan al-mafdhul. . "Keluar memerangi mereka haram berdasarkan ijma' kaum muslimin. 7507173 Fax. "Berkata jumhur ahl al-Sunnah dari kalangan fuqaha." Kontroversi selanjutnya adalah tindakan untuk menjawab pertanyaan manakah yang lebih utama. yang menunjukkan Ali sebagai penggantinya dan sebelas orang imam dari keturunannya. "Ketika Syi'ah menegaskan bahwa khilafah adalah hak ilahi bagi Ali dan keturunannya. terjadilah kontroversi berikutnya." Karena Syi'ah menetapkan al-fadhil dan Ahl al-Sunnah membolehkan al-mafdhul sebagai imam. penguasa muslim yang dzalim atau penguasa kafir yang adil. Ahl al-Sunnah memilih yang pertama. Sudah jelas sekali hadits-hadits yang menunjukkan pengertian yang saya sebut. dan kedzaliman. SKISME DALAM ISLAM SEBUAH TELAAH ULANG (2/3) oleh Jalaluddin Rakhmat Walhasil. Dengan begitu mereka menyalahi akal dan nash al-Kitab. Al-Jumhur (yakni. Akan menganggap tidak baik mendahulukan al-mafdhul dan menghinakan al-fadhil.Penerbit Yayasan Paramadina Jln. walaupun mereka fasik dan zalim. Ahl al-Sunnah ijma' bahwa sulthan tidak boleh dimakzulkan karena kefasikan. dan Syi'ah mengikuti yang kedua." Sebelum itu ia menulis (Syarh Muslim 12: 229). Syi'ah melarang dan Ahl al-Sunnah mengharuskan petaatan pada penguasa yang zalim. menurut Syi'ah.

sejak berakhirnya Khulafa al-Rasyidun. Kontroversi lain --yang justru sangat esensial-. pada kata imamah (yang secara khusus berarti kepemimpinan ruhaniah) juga terkandung makna wilayah (secara khusus berarti kepemimpinan politis). Nahnu ma'aman ghalab" (Kami bersama orang yang berkuasa). saya menguraikan teori ini secara lengkap. ahl al-Sunnah memisahkan kedua kepemimpinan itu. Tidak mungkin dalam makalah ini. mereka mengikuti khalifah al-Manshur. Bagi orang Syi'ah. kafir yang adil lebih baik dari Muslim yang dzalim. Mengapa terjadi perbedaan itu. Menarik untuk dicatat bahwa khalq (karakteristik fisik) dan khuluq (perilaku) ditulis sama dalam bahasa Arab. Sementara itu. Kita hanya akan mengulas dua teori saja: teori sosioantropologis Bangsa Arab dan teori pendekatan doktrinal. Setiap anggota marga bangsa dalam menghitung-hitung prestasi nenek moyangnya. Karena itu. ahl al-Sunnah berpegang pada kaidah yang diberikan Ibn Umar pada waktu ada pertikaian antara Ali dan para penentangnya. Secara singkat. kehormatan seseorang dalam bahasa Arab disebut hasab (dari akar kata hasiba yang berarti menghitung). kesetiaan pada suku dan ketergantungan kehormatan pada sukunya menjadi sangat penting.mereka telah bersikap ekstrem dalam toleransinya terhadap penguasa yang adil. karakteristik perilaku juga herediter. Teori ini dikemukakan oleh Nicholson (1969). dan pada bidang politis. Ibn Thawus yang masyhur menegaskan. Orang Syi'ah sering mendefinisikan diri mereka sebagai madzhab ahl al-bayt. perbedaan preferensi penguasa (kafir yang adil atau muslim yang dzalim). yang sama? Ada beberapa teori yang menjawab pertanyaan ini. lahirlah skisme politik besar Islam yang berlangsung sampai kini. Goldziher (1967). TEORI SOSIO-ANTROPOLOGIS BANGSA ARAB. Di antara . Mereka mengutamakan non-muslim jika ia adil daripada seorang penguasa Muslim yang dzalim. teori ini berpijak pada dua asumsi: (1) Bangsa Arab adalah bangsa yang terorganisasi atas dasar kesukuan. Secara politis. ahl al-bayt --di samping memegang hak kepemimpinan politis-juga menjadi rujukan dalam masalah-masalah keagamaan.adalah hubungan antara kepemimpinan relegius dengan kepemimpinan politis. orang mengikuti Imam Malik. dan menjadi kebanggaan anggota kabilah. Orang Arab percaya bahwa selain karateristik fisikal. dan secara terperinci dijelaskan kembali oleh Jafri (1967). padahal kedua mazhab ini lahir dari Islam yang sama dan pengikut Nabi saw. lazim disebut Sunnah. (2) Bangsa Arab yang membentuk umat Islam permulaan terdiri dari dua subkultur-subkultur Arab Selatan dan subkultur Arab Tengah-Utara. Dengan demikian. misalnya. Pada bidang religius. Wellhausen (1927). Dari perbedaan pengangkatan pemimpin (ikhtiyar atau ta'yin). Perilaku yang menjadi tradisi suatu kabilah. perbedaan kualifikasi pemimpin (al-fadhil atau al-mafdhul). Asumsi pertama menunjukkan bahwa status sosial seseorang sangat ditentukan oleh status marganya. dan perbedaan dalam memandang hubungan kekuasann politis dengan kekuasaan religius (digabungkan atau dipisahkan).

Ahl al-Sunnah. "Orang banyak tidak menginginkan nubuwwah dan khalifah bergabung pada Bani Hasyim" (Tarikh Thabari 1: 2769). Dalam pertentangan memperebutkan kedudukan ahl al-bayt.sunnah yang paling dihargai adalah mengurus dan memelihara tempat-tempat suci. kepemimpinan Arab dipegang oleh keturunan Qushayy. Pada suku-suku Arab Utara. Kabilah yang mendapat tugas secara turun temurun memelihara Ka'bah disebut sebagai "keluarga al-bayt" atau ahl al-bayt. Inilah. Dari kedua subkultur inilah. Pada masa Abu Thalib. Ketika Nabi hijrah ke Madinah. of power" dari Bani Hasyim. argumentasi yang dikemukakan Umar bin Khathab kepada 'Abbas ketika bertengkar masalah kepemimpinan 'Ali. Ka'bah adalah rumah suci yang dihormati semua kabilah Arab. Tema ahl al-bayt memiliki "appeal" yang kuat bagi bangsa Arab. Kepemimpinan ahl al-bayt menggabungkan dimensi temporal dan sakral sekaligus. Mungkin. Nabi saw menyadari betul aspek-aspek kultural dari kepemimpinan ahl al-bayt. Mereka adalah suku Arab yang memiliki sensitivitas religius yang tinggi. menerjemahkan sebagian argumentasi Shadr ini tanpa komentar sedikitpun: yang kita Saya akan memberikan . Ketika keturunan "Umayyah merasakan ada angin baru yang menguntungkan mereka. [4] TEORI PENDEKATAN DOKTRINAL Sayyid Baqr Shadr (1982:73-96) mengemukakan apa sebut sebagai teori pendekatan doktrinal. karena itu pula. Islam menyuruh menghormatiahl al-bayt (yang sekarang didefinisikan lebih terbatas lagi sebagai keturunan Rasulullah saw). sejak zaman jahiliyah orang Arab tidak mengenal pemisahan antara kepemimpinan temporal dan kepemimpinan sakral. Ia mengembalikan lagi wibawa kepemimpinan Bani Hasyim sebagai Ahl al-Bayt. Karena itu. sejak Mu'awiyah merebut kekuasaan berupaya untuk menekan konsepsi kepemimpinan ahl al-bayt. Bani Hasyim menang dan menyisihkan lawannya dari Bani Abd al-Syams. Bagi bangsa Arab. Perlawanan terhadap Islam. Karena secara doktrinal. berkembang skisme Sunnah-Syi'ah. pemimpin dipilih berdasarkan kesucian keturunan (hereditary sanctity). misalnya. Bani "Umayyah tentu tidak rela dengan "return. pada Arab Selatan. inskripsi pada monumen Arab Selatan menunjukkan perasaan syukur dan penyerahan diri pada Tuhan. Ali pernah memindahkan ibu kota pemerintahan Islam dari Madinah --yang sudah dikuasai Bani Ummayah-. muncullah Muhammad bin Abdullah bin Abd al-Muthalib.ke Kufah. pengurusan rumah suci (bayt) dan kehormatan (hasab) tidak dapat dipisahkan. Sejak awal. Karena itu Bani Hasyim dikenal bangsa Arab sebagai Ahl al-Bayt. datang paling banyak dari Bani Umayyah. penguasa-penguasa yang bukan ahl al-bayt tidak menafikan kehormatan itu. Bila inskripsi pada monumen di Arab Utara memuja keberanian dan kepahlawanan. Yang tidak mereka inginkan adalah gabungan antara kehormatan religius dengan kehormatan politik. khususnya Arab Selatan. Bani Abd al-Syams perlahan-lahan muncul sebagai kekuatan politik dan bani Hasyim mulai melemah. pemimpin umumnya dipilih berdasarkan usia atau senioritas. karena itu. menemoi suku Aws dan Khazraj yang berasal dari Arab Selatan.

Sebagian berkata: Dekatkan supaya Nabi menulis . karena harus tunduk pada adanya aliran yang luas pada bidang kehidupan. serta meninggalkan kecenderungan mengikuti kemaslahatan yang tidak dapat difahami tujuannya. di rumahnya ada banyak orang. para sahabat cenderung mendahulukan ijtihad untuk memperkirakan dan memperoleh maslahat daripada ta'abbud secara harfiyah pada nash-nash agama. kita temukan dua aliran utama yang berbeda. Umar bin Khathab pernah melawan Rasulullah saw dan berijtihad pada banyak kejadian. sesuai dengan kemaslahatan masyarakat. Minoritas ini adalah Syi'ah. dengan peralihan atau perubahan. Bukhari meriwayatkan dalam shahihnya dari Ibn 'Abbas. Nabi berkata: Mari aku tuliskan untuk kamu tulisan sehingga kamu tidak sesat sesudahnya. tampaknya lebih menyebar di kalangan kaum muslimin karena kecenderungan manusia untuk tunduk pada kemaslahatan yang dapat difahami dan diperkirakannya. Keduanya hidup bersama dalam lingkungan umat yang dilahirkan oleh Rasul sang Pemimpin. Aliran ini meyakini kemungkinan ijtihad. Dua aliran utama yang menyertai zaman Nabi sejak awal adalah: pertumbuhan umat Islam di (1) Aliran yang beriman sepenuhnya pada ta'abbud bi 'l-din berhukum dan berserah mutlak pada nash-nash agama dalam seluruh bidang kehidupan. Berkata Umar: Nabi saw sedang dicengkram sakit. dan tinggi dari generasi yang dilahirkan Rasulullah. Kelompok yang lain tidak berhasil memperoleh kekuasann dan berkembang sebagai kelompok minoritas menghadapi lingkungan Islam yang umum. Di samping itu. di antaranya Umar bin Khathab. sampai pada saat menjelang kematiannya (yang akan diuraikan nanti). Perbedaan di antara kedua aliran ini telah menimbulkan perbedaan doktrinal sesudah wafat Rasulullah saw. memisahkan umat dua kelompok besar. Rasul telah bertahan berkali-kali menghadapi aliran ini. Cukuplah bagi kita Kitab Allah. Yang mengikuti aliran ini terdiri dari sahabat-sahabat besar. sehingga sejarah manusia tidak pernah menyaksikan generasi aqidah yang lebih mulia. sejak dini. aliran ijtihadi. Ia berkata: "Menjelang Rasulullah saw wafat. ada juga sahabat yang bertahkim dan bertaslim sepenuhnya pada nash-nash agama di semua bidang kehidupan. Aliran kedua. yang bertentangan dengan nash. membolehkan memalingkan nash agama pada bidang-bidang kehidupan di luar bidang-bidang kehidupan di atas. Pernah kedua aliran ini bertentangan di hadapan Rasul pada hari-hari terakhir kehidupannya. (2) Aliran yang hanya merasa tunduk pada agama pada bidang-bidang khusus seperti ibadah dan hal-hal yang ghaib. Walaupun demikian. lebih suci. Di hadapan kalian ada al-Qur'an. Penghuni rumah itu pun bertikai. dengan meyakini bahwa apa yang dilakukannya benar. Salah satu kelompok berhasil berkuasa dan sanggup berkembang sehingga mencakup mayoritas kaum muslimin. Sahabat adalah kelompok Mukmin yang cemerlang.Bila kita mengikuti periode permulaan dari kehidupan umat Islam di zaman Nabi saw. benih yang paling utama pada saat pertumbuhan risalah. yang menyertai perkembangan umat dalam permulaan eksperimen Islam.

"Dan jika kamu sakit atau sedang bepergian. (021) 7501969. Saya tidak akan memperinci kedua ikhtilaf ini. dan ada air. maka bertayamumlah dengan debu yang suci. atau bepergian. (021) 7507174 Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota Please direct any suggestion to Media Team pertikaian dan Artikel Yayasan Paramadina Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan . ketika para politisi mulai masuk. Ketika sudah ramai perbincangan dan pertikaian di hadapan Nabi. tidak sakit. atau kamu tak menemukan air. Kalimat ini dipahami Abu Hanifah sebagai berikut: Orang yang tidak bepergian. lafazh yang 'am (berlaku umum) dan khash (berlaku khusus). dan sapulah muka kamu dan tangan kamu itu. Abu Zuhrah (1987) menyebut yang pertama ikhtilaf 'aqaidi dan yang kedua ikhtilaf fiqhi. ia berkata: Pergilah kalian. yang tidak mungkin semuanya dibahas di sini. Skisme ini dapat terjadi pacla bidang ilmu kalam atau bidang fiqh." (al-Qur'an 5: 6). Sebab-sebab yang berkaitan dengan pemahaman al-Qur'an dan al-Sunnah. Metro Pondok Indah Pondok Indah Plaza I Kav. atau jika salah seorang di antara kamu datang dari jamban. Banyak orang berpikir sederhana: pertikaian akan segera selesai bila kita kembali kepada al-Qur'an dan al-Sunnah." Peristiwa ini cukup menunjukkan dalamnya pertentangan di antara kedua aliran ini. Ayat tersebut hanya mewajibkan tayammum bila tidak ada air khusus pada yang sakit atau musafir. Sebagian lagi berkata seperti kata Umar. Skisme intelektual (mungkin malah tidak tepat disebut skisme) memang bisa menjadi solid. dan tidak wajib shalat. atau setelah kamu menjamah wanita. tidak berlaku tayammum baginya. atau sakit. UA 20-21 Jakarta Selatan Telp. Di dalam kedua sumber tasyri' ini terdapat kata-kata atau kalimat yang musytarak (mengandung makna ganda). Pertikaian justru terjadi ketika kaum Muslim berusaha memahami al-Qur'an dan al-Sunnah. 7501983. -------------------------------------------. Lihatlah perbedaan pemahaman ayat tayamum ini.(bersambung 3/3) Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah Editor: Budhy Munawar-Rachman Penerbit Yayasan Paramadina Jln. SKISME INTELEKTUAL Dari kedua aliran ini kemudian berkembang aliran-aliran lainnya. tetapi hanya akan menunjukkan penyebab timbulnya ikhtilaf tersebut.(wasiat) kitab sehingga kamu tidak sesat sesudahnya. yang muthlaq dan yang muqayyad (bersyarat). Madzhab yang lain berpendapat bahwa syarat sah tayammum adalah salah satu di antara tiga kondisi: tidak ada air. 7507173 Fax. Kebanyakan aliran-aliran itu muncul sebagai hasil refleksi intelektual.

Nabi berkata. 1960). kata Hanafi dan Hambali." [5] SEBAB-SEBAB BERKENAAN DENGAN PERBEDAAN KAIDAH USHUL FIQH Apabila ada rangkaian kalimat majemuk. Apakah deraan harus dihilangkan bila orang taubat. Hambali. Karena itu. ketika kita memasuki pengkajian-pengkajian Islam yang lebih operasional seperti epistimologi Islam. 'Aisyah berkata. apakah kesaksian penuduh dapat diterima bila orang itu telah bertaubat? Semua mazhah --selain Hanafi-memilih rnenjawab "ya" untuk pertanyaan-pertanyaan di atas. ia mencambuki orang yang menangisi mayat. Manakah yang sunnah. Kemusykilan pertama terjadi ketika kita mengambil pelajaran dari hadits: apakah yang diberitakan hadits itu Sunnah atau bukan. Pernah lewat jenazah Yahudi di depan Rasulullah saw. "Semoga Allah meyayangi Abu Abd al-Rahman (yakni.52. SEBAB-SEBAB YANG BERKENAAN DENGAN SUNNAH Masalah-masalah yang berkenaan dengan sunnah lebih musykil lagi. al-Mughniyah. tanah. Kemusykilan kedua adalah sampai atau tidak sampainya hadits. pasir. Ayat yang berkenaan dengan tuduhan berzinah (QS. Dalam bidang ilmu kalam terjadi perbedaan pemahaman nash-nash yang berkenaan dengan qadha dan qadar. kata Syafi'i. Yang terakhir diambil oleh Hanafi. 'Aisyah menolak hadits 'Umar ini. Mereka menangisi jenazah itu. kalian menangis. kemana pengecualian itu berlaku? Kepada semua kalimat atau kepada kalimat yang terakhir. tanah. "Debu" meliputi pasir dan tanah. teologi Islam. sehingga kita mengenal Jabbariyah dan Qadariyah. salju dan logam. . Ada yang menyertai Nabi hampir setiap saat. SKISME DALAM ISLAM SEBUAH TELAAH ULANG (3/3) oleh Jalaluddin Rakhmat Apa yang dimaksud "air"? Kata mazhab Hanafi. Ketika Ibnu Umar melaporkan lagi hadits dari ayahnya. Jamaat Tabligh berpendapat makan di bawah. kata Maliki. air mutlak saja. Kata mazhab yang lain. dan batuan. dan sebagainya. lalu di ujunguya ada kata yang mengecualikan (istitsna). batuan. padahal ia sedang disiksa.ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota VI. Perbedaan ini akan makin melebar. pada Fath Makkah) atau membunuhnya (seperti yang dilakukan Nabi pada perang Khandaq)." (2) "Jangan terima kesaksian mereka selama-lamanya. menjilati jari setelah makan. Yang pertama dipilih oleh Syafi'i. sebagian wajah oleh Ja'fari (al-Jaziri. juga air mudhaf (seperti air jeruk. kata Hambali. mengampuni para tawanan (seperti yang dilakukan Rasulullah saw. pasir." Istitsna datang sesudah kalimat-kalimat itu. Ia mendengar sesuatu tetapi tidak menghafalnya. Ibn Umar). Maliki. Hadits dilaporkan oleh para sahabat. tanah saja. umat Islam yang lainnya tidak beranggapan begitu. 1986." dan (3) "Mereka itulah orang-orang fasik. air itu termasuk air mutlak (H2O). Umar melaporkan bahwa mayit akan disiksa karena tangisan keluarganya. air teh). yang mempunyai lingkup pengalaman yang berlainan bersama Rasulullah saw. dan menggunakan siwak adalah sunnah. dan ada yang berjumpa dengan Nabi sesaat saja. 24:4) mengandung tiga kalimah: (1) "Deralah mereka 80 deraan.

istihsan. Mencurigai hadits-hadits tentang wasiat Nabi kepada keluarganya. APA YANG HARUS DILAKUKAN? Saya ingin mengakhiri makalah ini dengan menuliskan kembali apa yang saya sampaikan pada tempat lain (Rahmat. Tentang shalat. Muhammad Rasulullah. Kedua. Di tengah-tengah umat.hanya boleh dilakukan setelah pengujian naqli. Sepakat pada yang qath'i. Misalnya. keyakinan kita harus diamalkan sejauh tidak merusak keutuhan umat atau tidak mendatangkan mudharat. terdapat juga beberapa metode ijtihad yang tidak disepakati. berkenaan dengan pokok-pokok akidah. misalnya. beramal dengan prinsip silaturahim: Bila terjadi perbedaan paham atau penafsiran pada hal-hal yang dzanni. 2. Memilih pendapat yang paling kuat inilah tarjih. Berpikir dengan prinsip tarjih. Tetapi betapapun kuatnya. 1986: 99-103). Pertama. bertalian dengan cabang-cabang (furu') dari pokok-pokok di atas yang memungkinkan terjadinya perbedaan. . Ukuran aqli --yang saya definisikan sebagai metode dialektik untuk menguji konsistensi logis suatu proposisi-. terjebak dalam keterburu--buruan. sebagai pertentangan dengan prinsip egalitarian al-Qur'an [6] adalah mendahulukan kritik 'aqli daripada kritik naqli. pendapat itu tetap dzhanni. siap berbeda pada yang dzhann-i: Kita dapat membagi hukum-hukum fiqh ke dalam dua bagian besar. Kita akan segera menemukan bahwa bagian pertama berdasarkan dalil-dalil qath'i dan bagian kedua berdasarkan dalil-dalil dzanni. 1. istishlah. Misalnya. dan muamalah yang disetujui bersama. Pada bagian yang kedua sepatutnya kita saling menghargai dan menggunakan perbedaan pendapat untuk pengembangan wawasan tentang Islam. dan sebagainya. jumlah ruku' dan sujud. dan Hari Kebangkitan. Seorang tidak dikatakan Muslim lagi bila berbeda pada bagian fiqh yang pertama. Adalah kenyataan yang menakjubkan walaupun sering lolos dari perhatian kita bahwa dalam bagian pertama seluruh mazhab mencapai kesepakatan. Dengan ukuran naqli. Perbedaan mulai terjadi pada rincian dari pokok-pokok itu. betapapun banyak dan sahihnya. Demikian pula halnya dengan keberatan sementara orang terhadap hadits-hadits tentang Imam Mahdi. jumlah shalat wajib. tidak ada perbedaan antara Ahl al-Sunnah dan Syi'ah dalam hal bilangan rakaat. dan bagian-bagian shalat yang penting lainnya. qiyas. mereka berbeda dalam cara mengangkat tangan dalam takbir. Ini cara untuk menghindarkan "terburu-buru" menangkap ruh dari suatu nash. mencari dalil-dalil yang paling kuat lewat kritik hadits (yang secara konvensional telah disepakati oleh ulama ahli hadits) dan ilmu-ilmu al-Qur'an (kalau berkenaan dengan penafsiran al-Qur'an). qaul shahabat.Inilah salah satu contoh perbedaan penggunaan kaidah Ushul Fiqh. Orang yang menganggap bahwa setiap orang berhak ijtihad dan menafsirkan al-Qur'an karena ruh ajaran Islam itu egalitarian. Dalam hal akidah --semuanya percaya kepada Allah yang Esa. Semua sepakat shalat dimulai dengan takbir. Di samping itu. bila dalil-dalil yang dipergunakan sama-sama kuat. apa pun mazhabnya. saya maksudkan. kita harus menguji perbedaan paham itu lewat ukuran-ukuran naqli dan aqli.

Fathir:19). Ahmad. karena ilmu meletakkan konvensi-konvensi yang disetujui bersama. al-Zumar:9) "Allah mengangkat derajat orang yang beriman dan memiliki ilmu pengetahuan" (QS. Salah satu penyebab perpecahan ialah pendekatan parsial yang pada gilirannya disebabkan kekurangan pengetahuan. Khamsun wa Mi-ah Shahabi Mukhtalaq. "Perselisihan itu semua jelek" -(al-khilaf syarr kullah). seperti itu pula beragamnya perbedaan pendapat. al-Ra'd:16). Ijtihad memerlukan pengetahuan yang komprehensif tentang Islam. Ketika ditegur ia menjawab. apakah sama orang vang berpengetahuan dengan yang tidak berpengetahuan" (QS. 1974. apakah sama orang yang buta dengan orang yang melihat. Ijtihad sebetulnya secara inheren melibatkan banyak ilmu. Ijtihad bagi Ulama dan taqlid bagi orang awam: Membedakan mana yang qath'i dan dzanni. "Katakan. "Katakan. "Berijtihad" tanpa ilmu berarti membuang seluruh konvensi dan kriteria. Ia menyebut Ahl al Sunnah sebagai madrasah al-khilafah dan Syi'ah sebagai madrasah al-imamah.Ini saya sebut prinsip shilaturrahim. Ketika Utsman shalat empat rakaat. Bukan ijtihad bila dilakukan tanpa ilmu. Ibnu Umar shalat empat rakaat. Tidak sama kegelapan dan cahaya" (QS. 3. keyakinan kita terhadap paham kita terlalu tinggi sehingga kita cenderung eksklusivistis dan meninggalkan prinsip silaturrahim. Berbagai matan hadits ini dan penjelasannya dapat dibaca pada Al-Sayyid Murtadha al-Askari. Mengizinkan setiap orang berijtihad --tanpa mempedulikan perbedaan mereka dalam pengetahuan agama-. Ini mempertebal ketergantungan kepada paham fiqh kita. Ibnu Mas'ud shalat juga empat rakaat. al-Thabrani. CATATAN 1) Hadits ini diriwayatkan oleh Al-Bukhari. Ibnu Mas'ud berpendapat shalat Dzuhur dan 'Ashar di Mina harus di qashar. 2) Al-Sayyid Murtadha al-'Askari menulis studi perbandingan antara Sunnah dan Syi'ah dalam Ma'alim al-Madrasatain (Teheran: Al-Bi'tsah. al-Turmidzi al-Hakim. Seperti sangat beragamnya kemampuan dan pengetahuan orang. kita cenderung menerima informasi hanya lewat sumber-sumber yang kita setujui dan menutup diri dari informasi yang datang dari sumber lain. Imam Syafi'i tidak membaca qunut pada shalat Shubuh karena menghormati makam Abu Hanifah yang tidak jauh dari situ. "Tidak sama orang buta dan orang yang melihat. al-Bazzar. dan ini berarti. Sayang sekali. Di Indonesia. 1406). melakukan tarjih bukanlah pekerjaan yang bisa dilakukan setiap orang. di samping membuat kendala-kendala yang berbentuk kriteria. Ibn Majah. tetapi mengulang lagi shalatnya di rumah (para ulama menyebutnya ihtiyath). tetapi ia menahan diri karena memikirkan kemaslahatan umat.dapat menimbulkan chaos. Tidakkah kalian pikirkan itu?" (QS. hanya sekelompok kecil orang yang dapat melakukannya. mengkritik hadits. Al-Mujadilah: 11). banyak paham timbul --barangkali setelah melakukan taryih. dan ini berarti anarkhi. Ilmu mengurangi perbedaan. Dan seterusnya sehingga terbentuk lingkaran setan yang tidak berujung. . Beirut: Dar al-Turats al-Islami. Ali yakin ia paling berhak menjadi khalifah. Akibatnya. Al-Qur'an yang mengajarkan persamaan dengan tegas mengatakan.

Orang-orang Yaman adalah para pendukung Syi'ah. Durant. Dalam sunan al-Nasai dan Al-Turmudzi ada bab yang berjudul: Bab bolehnya menangisi mayit. Beirut: Dar al-Fikr al-Arabi. Al-Yahfufi. -------------. Goldziher. Hadits-hadits yang melaporkan bolehnya menangisi mayat cukup banyak. Lihat 3:33. Kita hanya ingin menunjukkan bahwa prinsip egalitarian hendaknya ditafsirkan dengan merujuk pada dalil-dalil yang sahih. DAFTAR PUSTAKA Abu Zuhrah. Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiyah.M. The story of Civilization. Al-Askari. Kitab al-Imarah. 1406. Kitab al-Ahkam. Murtadha. Terjemahan Inggris oleh S. Musthafa. Vol. Al-Hasan." dalam Al-Maqalat wa al-Dirasat. Kanz al-Ummal 6: 201. 1405. 1950. I. -------------. S. Karena mereka berasal dari kerajaan Saba. Abd al-Rahman. 5) Hadits ini diriwayatkan Muslim dalam Kitab al-Jana-iz. Al-Syi'ah wa al-Hakimun. 27:16. 4) Mayoritas penduduk Kufah adalah orang Yaman dari Arab Selatan. . 6) Padahal dalam banyak ayat al-Qur'an. 1987. Muslim Studies. Muhammad. 1405. Tarikh al-Madzahib al-Islamiyah. 19:58. Dalail al-Shidq. 1953. tidak diketahui penerbitnya. 1967-1972. Musnad Ahmad 5:89. 20:30. sehingga Syi'ah sering disebut sebagai Sabaiyyah. "Ulu al-Amr 'inda Madzahib al-Islamiyah. Lihat Shahih al-Bukhari. 2:124. Al-fiqh 'ala al-Madzahib al-Arba'ah. Shahih Muslim. London. New York: Simon and Schuster. 14:37. 1986. New York: Simon and Schuster. Mobtadiyah: Dar al-Mu'alim Al-Jaziri. 4:54.3) Hadits tentang dua belas imam ini diriwayatkan juga dalam kitab-kitab shahih di kalangan Ahl al-Sunnah. Stern dan C. 19:6. Teheran: Wizarat al-Irsyad al-Islamiyah. Muhammedanische Studien. The story of Civilization. Shahih al-Turmudzi 2: 35: Mustadrak al-Shakihain 4: 501. pamannya (Hamzah). Begitu banyaknya Sabaiyyah yang mendukung Syi'ah. Teheran: Bittsah. Al-fiqh 'ala al-Madzahib al-Khaumsah.R. Nabi menangisi putranya (Ibrahim). 1982. Will. dan ibunya (Aminah). Jawad. 1396. mereka kemudian dikenal sebagai Sabaiyyah. prinsip pewarisan kepemimpinan pada keturunan atau keluarga nabi-nabi sering ditegaskan. Vol. Beirut: Dar al-Jawad.IV. Al-Mughniyah. Kita tidak bermaksud menunjukkan bahwa pendapat wasiat Nabi pada Ali adalah satu-satunya paham yang benar. Ma'alim at-Madrasatain. 6:84. Barber.V.

Beirut: American University. Shadr. Metro Pondok Indah Pondok Indah Plaza I Kav. A Literary History of The Arabs.M. S. 7501983. Tidak diketahui penerbitnya. Revolusi Iran bagi sebagian orang-orang muslim menawarkan semacam "hikmah . Beirut: Dar al-Fikr. 1976. RA. Husayn. muncul dengan kuat di kalangan kaum muslimin Indonesia khususnya dan dunia umumnya karena adanya Revolusi Iran pada 1979. UA 20-21 Jakarta Selatan Telp. Teheran: Maktabah al-Najah. Sebuah Dilemma. M. 7507173 Fax. Cambridge. 1986. -------------------------------------------Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah Editor: Budhy Munawar-Rachman Penerbit Yayasan Paramadina Jln. Wellhausen. 1956. Bandung: Mizan. (021) 7501969. 1982. Baqr. Dengan mengesampingkan beberapa perorangan atau kelompok yang agaknya mengalami kesulitan besar untuk "mengakomodasi" kenyataan baru berupa peranan amat mengesankan dari kaum Syi'ah dalam percaturan keislaman internasional sekarang ini.H.. Nicholson. 1979. sebagaimana telah sering dibicarakan. Kesadaran akan adanya skisme itu akhir-akhir ini. Weir.. SKISME DALAM ISLAM (1/4) Tinjauan Singkat Secara Kritis-Historis Proses Dini Perpecahan Sosial-Keagamaan Islam oleh Nurcholish Madjid Pembicaraan tentang Agama Islam kecuali jika dibatasi hanya kepada hal-hal yang sama sekali normatif belaka dengan tingkat idealisasi sejarah Islam yang tinggi pasti melibatkan pembicaraan tentang berbagai skisme atau perpecahan dalam agama itu. Thabari. Tanpa Tahun. Shi'a. S. The Origins and Early Development of Shi'a Islam. J. 1927. (021) 7507174 Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota Please direct any suggestion to Media Team Artikel Yayasan Paramadina Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota VI.).Jafri. Julius. Ibn Jarir. Tarikh al-Umam wa al-Muluk. Trans. Satu Islam. Baths Hawl al-Wilayah. Rahmat. The Arab Kingdom and Its Fall. Calcutta. Tabatabai.51. "Ukhuwah Islamiyah: Perspektif al-Qur'an dan Sejarah" dalam Haidar Bagir (ed.

tidak saja kepada kaum muslim tetapi juga kepada para penganut agama para Nabi dan Rasul Allah keseluruhannya. dan apa yang sedang dan bakal terjadi. UMAT YANG TUNGGAL Kenyataan historis pertama tentang agama Islam ialah bahwa umatnya telah terpecah dan bahkan saling menumpahkan darah sejak masa-masa amat dini perjalanan sejarahnya. Namun justru secara historis masalah kesatuan itulah di antara hal-hal yang amat sulit dicapai oleh manusia. Dan ini adalah umatmu semua. maka pembahasan kita dalam makalah ini insya Allah akan kita lakukan dalam semangat tinjauan kritis berdasarkan pandangan yang memperhitungkan berbagai faktor sejarah. Dan inilah pula dasar pandangan tentang Kesatuan Kemanusiaan (al-Wahdat al-Insaniyyah). Dengan begitu diharap bahwa secara berangsur kita dapat mewujudkan dalam kenyataan berbagai angan-angan mengenai umat atau masyarakat Islam yang mendekati gambaran dalam Kitab suci sebagai "ruhama baynahum" (saling cinta kasih antara sesamanya). yaitu mengabdi kepada Tuhan Yang Maha Esa yang mencintai dan melindungi mereka. Apalagi al-Qur'an sendiri sejak dari semula menyatakan dan memperingatkan. Keadaan yang menyimpang dari seharusnya ini tidak saja karena berbagai usaha mereka memahami ajaran Tuhan dan menerapkannya dalam kehidupan nyata . sedangkan Aku adalah Pelindungmu semua. umat yang tunggal. agar waspada terhadap bahaya perpecahan dan pertentangan. Sesungguhnya Kami (Tuhan) maha mengetahui akan segala sesuatu yang kamu kerjakan. maka kegunaan itu ialah sebagai bagian dari usaha bersama untuk mendorong lebih jauh kecenderungan positif tersebut.terselubung" (blessing in disguise) berupa cakrawala pandangan keagamaan (Islam) yang lebih meluas. Termasuk ke dalam makna kedewasaan itu. dan berbuatlah kebajikan. ialah kesediaan dan kemampuan untuk melihat berbagai kenyataan sejarah secara proporsional. dengan mengakui dan memasukkannya ke dalam hitungan berbagai faktor sejarah sebagai ikut menentukan apa yang telah terjadi. Karena itu jika harus disebutkan kegunaan utama pembahasan kita sekarang ini. yaitu pesan suci keprasahan yang tulus kepada kehendak Ilahi (al-islam dalam makna generiknya). [1] Tafsir atas firman itu tidak bisa lain daripada penegasan bahwa semua Nabi dan Utusan Tuhan itu membentuk persaudaraan umat yang tunggal. makanlah dari yang baik-baik. Seorang muslim yang serius dan prihatin tentu merasakan adanya semacam anomali dalam kenyataan sejarah itu. dan dalam memandang keberagamaan "orang lain" (dalam pengertian yang seluas-luasnya). Ini menjadi dasar pandangan tentang Kesatuan Kenabian (Wahdat al-Nubuwwah) dan Kesatuan Risalah atau pesan suci (Wahdat al-Risalah). Lebih menarik lagi sebagai bahan kajian bahwa manusia cenderung berpecah-belah justru setelah mereka menerima ajaran Tuhan yang dibawa oleh para Utusan-Nya. kiranya. Tetapi berbagai pengalaman menunjukkan bahwa keadaan itu tidak akan tercipta jika kita tidak memiliki cukup kedewasann dalam sikap keberagamaan kita. Salah satu firman suci dalam al-Qur'an yang relevan dengan masalah ini terbaca: Wahai para Rasul. maka bertaqwalah kamu sekalian kepada-Ku. Berdasarkan itu semua. sebab Pesan Suci mereka pun tunggal.

Perpecahan dan pertentangan itu semakin destruktif sifatnya karena pembawaannya yang sering bergaya absolutistik dan tak kenal kompromi akibat watak dasar suatu keyakinan keagamaan. [2] Jika harus menyebutkan bukti kebenaran firman itu. kecuali mereka yang mendapatkan rahmat dari Tuhanmu. Namun inilah yang sebenarnya terjadi dalam pengalaman hidup umat manusia. Lebih dari itu.(jadi tentunya tumbuh dari niat yang baik dan ketulusan hati)." Mungkin keterangan itu dapat diperoleh dari beberapa firman Ilahi juga. Kemudian Allah mengutus para Nabi untuk membawa berita gembira dan peringatan. [4] Firman-firman itu membuka kemungkinan berbagai interpretasi . termasuk yang ada dalam satu agama pun. Keadaan menyedihkan ini pun secara ringkas digambarkan dalam Kitab Suci: Pada mulanya manusia adalah umat yang tunggal. yang dikehendaki-Nya). acapkali malah menjuruskan orang banyak kepada perpecahan dan pertentangan. kemudian mereka berselisih. Jika seandainya tidak karena adanya "Sabda" (Kalimah) yang telah lewat dari Tuhanmu. maka barangkali kita hanya harus menyebutkan kenyataan tentang semua agama. memberi petunjuk tentang kebenaran yang mereka perselisihkan itu kepada mereka yang beriman. diselesaikan dengan pertumpahan darah dan penindasan. maka tentunya Dia jadikan manusia umat yang tunggal. maka tentulah diputuskan (sekarang juga) antara mereka berkenaan dengan perkara yang mereka perselisihkan itu. tidak ada yang lebih absurd daripada penyelesaian perselisihan faham keagamaan melalui penindasan dan penumpahan darah. misalnya: Kalau seandainya Tuhanmu menghendaki. dengan izin-Nya. Firman itu ialah. Maka Allah pun. karena rasa permusuhan antara sesama mereka. dan Dia menurunkan bersama para Nabi itu Kitab Suci dengan sebenarnya untuk memutuskan perkara antara umat manusia berkenaan dengan masalah yang mereka perselisihkan. Tetapi mereka itu akan tetap selalu berselisih. Dan mereka yang menerima Kitab Suci itu tidaklah berselisih mcngenai sesuatu (masalah Kebenaran) kecuali setelah datang berbagai penjelasan. Tapi mungkin kita harus mencoba mencari keterangan lain untuk membuat semuanya itu "make sense. yang jelas tanpa kecuali terbagi-bagi dan terpecah-pecah menjadi berbagai golongan dan sekte. Barangkali. [3] Juga firman Allah: Manusia itu tidak lain kecuali umat yang tunggal. meskipun disertai dengan penuh niat baik dan tulus. Maka dalam gabungannya dengan naf:su benar sendiri dan sektarianisme yang jelas selalu mengancam setiap orang atau golongan tanpa kecuali variasi pendekatan dan interpretasi itu. tapi juga karena variasi cara pendekatan kepada ajaran itu membuahkan variasi dalam interpretasi. Allah memberi petunjuk ke arah jalan yang lurus kepada siapa yang menghendakinya (atau. dan untuk itulah Dia menciptakan mereka. kerapkali persengketaan di antara sesama mereka. yang melengkapi firman-firman terkutip di atas sehingga menjadi pandangan dan pengertian yang bulat. dari perspektif pesan suci semula agama bersangkutan sendiri.

[7] Dari perspektif inilah kita akan memasuki bidang yang sebenarnya dari pembahasan makalah ini. [8] kita akan melakukan tahap pembahasan ini dengan pembicaraan singkat tentang peristiwa menyedihkan yang kemudian dikenal sebagai al-fitnat al-kubra . yang merupakan ekspresi Iradat dan Hikmat-Nya yang universal dalam peristiwa tertentu. misalnya."Word" is the Decree of God. namun pembicaraan tentang pembunuhan khalifah ketiga.. Karena itu berlomba-lombalah kamu semua (dengan menggunakan kelebihan itu) untuk berbagai kebaikan. yaitu faktor terpenting yang membuat manusia berbeda-beda -NM) yang diberikan-Nya kepadamu. kemudian Dia akan menerangkan kepada kamu tentang segala sesuatu yang pernah kamu perselisihkan. TENTANG "AL-FITNAT AL-KUBRA" Mungkin bagi banyak orang cukup membosankan. dan adanya Kehendak agar dengan perbedaan itu manusia berlomba-lomba ke arah berbagai kebaikan (istibaq al-khayrat.". Kepada Allah-lah tempat kembalimu semua. Ayat suci itu ialah firman-Nya: Jika seandainya Allah menghendaki. emulation in virtue and piety). [6] Dan ayat suci itu bersesuaian dengan ayat suci yang lain. ditafsirkan sebagai berarti "Keputusan" Tuhan. Tuhan membuat justru berbagai perbedaan mereka itu membantu mengarahkan manusia kepada tercapainya tujuan-tujuan yang lebih tinggi dengan meningkatnya perlombaan dalam kebaikan den kesalahan. sebagai fitnah besar yang mengawali skisme dalam Islam tidak mungkin dihindarkan. Utsman ibn Affan. Maka dengan sedikit melawan semacam "konsensus" di kalangan kaum Sunni untuk menghindari pembicaraan tentang tingkah laku historis para Sahabat yang kurang mencocoki beberapa ketentuan normatif.tentang apa yang ada dalam ajaran Kitab Suci mengenai hakikat manusia sebagai makhluk sejarah berkenaan dengan perkara persatuan dan perpecahan. Here we have again the mystic doctrine of "the Word. Mengenai "Sabda" (Kalimah) dalam firman yang dikutip terakhir itu. Tetapi (Dia tidak menghendakinya) karena Dia hendak menguji kamu semua berkenaan dengan sesuatu (kelebihan. When men began to deverge from one another. [5] Di sini (dalam ayat ini) kita mendapatkan lagi doktrin kesufian tentang "Sabda." "Sabda" adalah Keputusan Tuhan... the expression of His Universal Will or Wisdom in a particular case. God made their very differences subserve the higher ends by increasing emulation in virtue and piety. yang menyebutkan adanya Kehendak Ilahi tentang perbedaan antara sesama manusia. dan dengan mengarah kembali kepada Kesatuan den Wujud yang mutlak Ayat suci dan tafsirnya itu mengingatkan kita kepada sebuah hadits yang sering dikutip orang bahwa perselisihan di antara orang yang beriman adalah suatu rahmat. yaitu tinjauan ulang secara kritis-historis terhadap perpecahan sosial keagamaan yang terjadi dalam Islam dalam perjalanan perkembangannya yang amat dini. pernyataan Iradat atau Hikmat-Nya yang universal dalam suatu masalah tertentu.. maka pastilah Dia menjadikan kamu sekalian umat yang tunggal. Ketika manusia telah bersimpangan jalan satu dari yang lain. and thus pointing back to the ultimate Unity and Reality..

namun hal itu terjadi lebih banyak hanya berkat kebijaksanaan diplomatik Nabi yang memberi dan mengakui hak istimewa dan kehormatan mereka. sebagaimana layaknya adat kebiasaan para sesepuh (al-syaykh) suku-suku Arab menjalankan kepemimpinan mereka.(bersambung 2/4) Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah Editor: Budhy Munawar-Rachman Penerbit Yayasan Paramadina Jln. tanpa pengawal. sebagaimana telah terjadi pada Umar sebelumnya dan kelak terjadi pula pada Ali). SKISME DALAM ISLAM (2/4) Tinjauan Singkat Secara Kritis-Historis Proses Dini .51. tersedia tidak hanya satu keterangan. Pertama ialah. melainkan banyak dan cukup kompleks. Tapi mereka segera kembali pulang ke Mesir. 7501983. bahwa meskipun Utsman termasuk perintis pertama orang-orang Arab Makkah masuk Islam. Abu Sufyan. karena telah diberi tahu (secara palsu) bahwa persoalan mereka telah diselesaikan dengan baik oleh Khalifah melalui perundingan dengan ketua utusan mereka. Kebiasaan itu membantu memudahkan usaha membunuhnya. UA 20-21 Jakarta Selatan Telp. yang klan itu menjadi musuh utama Nabi. misalnya. Namun setelah mereka mendapat berita yang benar bahwa ketua utusan mereka itu malah telah dibunuh. juga Ali sesudahnya. sampai dengan saat Nabi menaklukkan Makkah. [9] Tentang mengapa delegasi tentara itu tidak puas terhadap Utsman dalam menjalankan tugas kekhalifahannya. (021) 7507174 Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota Please direct any suggestion to Media Team Artikel Yayasan Paramadina Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota VI. Pembunuhan terhadap khalifah ketiga terjadi duapuluh empat tahun setelah wafat Nabi. (021) 7501969. delegasi tentera itu menyerbu Utsman di rumahnya. -------------------------------------------. Setelah beberapa saat perundingan dan musyawarah. juga anaknya Mu'awiyah yang sedikit terlebih dahulu berbuat serupa. mereka kembali ke Madinah untuk mengajukan tuntutan. bahkan sikap permusuhan mereka itu berlangsung terus sampai boleh dikata detik-detik terakhir sebelum Nabi wafat.("ujian besar") itu. yang di situ kaum bukan-Umawi di Madinah menunjukkan sikap netral. namun dia adalah seorang anggota klan Umayyah yang berkuasa di kota itu. (Seperti halnya dengan Umar sebelumnya. Meskipun akhirnya Abu Sufyan masuk Islam. 7507173 Fax. dan membunuhnya. adalah seorang penguasa Makkah yang mengorganisasi dan memobilisasi orang-orang Quraisy melawan Nabi di Mekkah. Metro Pondok Indah Pondok Indah Plaza I Kav. Utsman memerintah hanya dengan mengandalkan reputasi dan nama baik pribadi. Sekelompok tentara (Arab Islam) dari Mesir datang Ke Madinah untuk mengajukan klaim kepada Khalifah tentang apa yang menjadi hak mereka.

yang kebanyakan mereka itu terdiri dari kaum Umawi. Mereka memegang pemerintahan menghadapi kecenderungan kesukuan dan semangat kedaerahan orang-orang Arab. Kebijaksanaan itu juga mengurangi ancaman bahwa budaya Arab akan terserap ke dalam budaya daerah-daerah Bulan Sabit Subur (Fertile Crescent. Kebijaksanaan Utsman itu membantu mengurangi kecenderungan emigrasi ke luar Hijaz dan memperkuat kekuasaan pusat di Madinah secara fisik (sumber daya manusia). Sudah sejak masa Umar banyak orang Arab Quraisy yang kaya. Sebagian dari hadirnya para penasehat dan tenaga ahli Umawi itu sebenarnya merupakan lanjutan kebijaksanaan Umar sebelumnya. Para tentera ini hidup menetap di tempat-tempat tersebut. ke daerah pegunungan Anatolia sebelah selatan membentang ke timur dan kembali ke selatan. sementara perang sendiri. dan meneruskan usaha perdagangan mereka di sana. Ini tumbuh menjadi faktor penunjang bagi protes-protes yang mulai dilancarkan para tentara. berbentuk proyek-proyek irigasi di berbagai oase.Perpecahan Sosial-Keagamaan Islam oleh Nurcholish Madjid Sebagai klan dengan tradisi kekuasaan yang mapan. ke Lembah Mesopotamia). Utsman menjadi tidak banyak berdaya menghadapi klannya sendiri. Para tentera suku Arab (al-muqatilah) yang oleh Umar ditempatkan di berbagai kota garnizun di daerah-daerah taklukan dipertahankan oleh Utsman seperti keadaan mereka semasa Umar. dan ia pun terjerumus kedalam praktek-praktek nepotistik yang mengundang berbagai reaksi keras banyak kalangan. meskipun sebenarnya ia berhasil sedikit mengubah keadaan dengan mengarahkan sebagian investasi dari Lembah Mesopotamia ke Hijaz. Marwan ibn al-Hakam. Mereka mengelilingi Utsman dengan penasehat-penasehat dan tenaga-tenaga ahli. telah menjadi peristiwa sesekali saja. dan kekuasaan mereka itu diawasi oleh semangat ajaran umum Islam yang saat itu Islam telah menjadi ciri utama sifat ke-Arab-an mereka. tapi tanpa mempunyai wibawa hebat seorang Umar. (Harus diingat bahwa pada saat itu semua orang muslim adalah warga negara dan sekaligus tentara). yang menjadi alasan penempatan itu. karena Umar melihat pada kaum Umawi itu kecakapan pemerintahan yang bisa dimanfaatkan. dalam suasana terpisah dari penduduk bukan-Arab sekelilingnya. Ini acapkali menimbulkan rasa keberatan dari pihak orang-orang Arab yang kurang mampu. Tetapi tanpa keteguhan kepribadian Umar. kaum Umawi segera melihat pada kekhalifahan Utsman suatu kesempatan untuk mengembalikan kedudukan mereka yang baru saja hilang. Apalagi setelah ekspedisi menaklukkan Iran telah . seperti seorang "aktivis" Umawi. daerah subur yang membentuk konfigurasi bulan sabit dari pantai timur Laut Tengah naik ke utara. Sebenarnya Utsman melanjutkan kebijakan Umar. yakni para pedagang Mekkah. Tetapi kebijaksanaan Utsman yang yang menghambat emigrasi dari Hijaz itu membuatnya tidak populer di kalangan orang-orang Makkah. Bertindak sebagai penguasa pada kota-kota perbatasan itu ialah para gubernur (bekas) pedagang kaya yang cakap memerintah dari keluarga-keluarga Quraisy dan sekutu mereka dari Taif (klan Tsaqif). khususnya orang-orang Arab setempat. yang pergi ke daerah-daerah taklukan. seperti Kufah. Utsman pun tidak bisa mengatasi situasi warisan pendahulunya itu. terutama Mesopotamia di Irak.

sesungguhnya. dengan menyesuaikan dan mengikuti cara penulisan Kitab Suci menurut ejaan Utsman. Ibn Mas'ud. handalan utama mereka dalam masalah periwayatan). Tetapi gubernur yang ditempatkan di Mesir (di kota Fusthath. khususnya lembaga atau sistem penggajian tentera dengan besar dan kecilnya gaji (sesungguhnya lebih tepat disebut lumpsum) itu menurut tingkat kepeloporan seseorang dan jasanya dalam agama Islam. tindakannya untuk menyatukan sistem penulisan al-Qur'an itu pun dapat dikatakan sebagai kelanjutan kebijakan Umar sebelumnya. sekalipun akhirnya dapat dinetralisasikan melalui usaha akomodasi berbagai versi bacaan Kitab Suci dalam bentuk pengakuan keabsahan "bacaan tujuh" Al-qira'at al-sab'ah. ketidakpuasan di kalangan tentara terhadap kebijakan Utsman semakin keras dinyatakan orang. Tetapi kejadian itu tetap meninggalkan bekas. Kairo lama). tidak pernah memuaskan orang-orang setempat. karena dipandang kurang menunjukkan ukuran moral yang tinggi (konon suka minuman keras dan mabuk). Penyatuan ejaan al-Qur'an itu amat prinsipiil sebagai dasar penyatuan orang-orang Arab Muslim khususnya dan semua orang Muslim umumnya. bahkan gubernurnya pun ditolak orang. Kebijaksanaan Utsman berkenaan dengan Kitab Suci itu sungguh patut dipuji. Utsman dikenal sebagai amat berjasa menyatukan ejaan penulisan al-Qur'an dengan memerintahkan untuk membakar semua versi ejaan yang lain (sehingga sampai sekarang ejaan standar Kitab Suci agama Islam itu disebut ejaan atau "rasm Utsmani"). (Pengumpul al al-Qur'an). sempat menunjukkan perasaan tidak sukanya kepada kebijakan Utsman. (Bahkan kaum Syi'ah yang dikenal sangat anti Utsman itupun akhirnya juga mengakui jasa khalifah ketiga ini. Dan jika ummat Islam sesudah itu menikmati kesatuan penulisan dan pembukuan Kitab Suci-nya yang tidak ada bandingnya dalam sistim kepercayaan atau faham lainnya mana pun juga.rampung dan tuntas. Demikian pula Kufah. Maka penduduk Syria puas dengan Mu'awiyah. Maka untuk menunjang sistemnya inilah antara lain Umar tidak mengizinkan tentera memiliki . Suatu kerusuhan muncul di Kufah. Para gubernur yang melanjutkan tugas mereka semenjak diangkat oleh Umar banyak yang cakap dan sebagian dari mereka diterima baik oleh penduduk setempat. berkedudukan di Kufah. maka sebagian besar keberuntungan itu adalah berkat jasa Utsman ibn Affan yang bergelar Jami' al-Qur'an. tidak ada kebijakannya yang dapat diterima di sana. salah seorang ahli membaca al-Qur'an yang amat terkenal dan disegani. Umar disebut sebagai "yang pertama menciptakan lembaga-lembaga" (Arab: awwal man dawwana al-dawawin). sebuah kota garnizun yang didirikan Umar dan kerusuhan itu harus ditindas dengan penumpahan darah. [10] Dan seperti hampir semua kebijaksanaan Utsman yang lain. Salah satu kebijakan lagi dari Umar yang dilanjutkan atau diwarisi oleh Utsman ialah yang berkenaan dengan sistem keuangan negara. usaha Utsman itu tidak berjalan tanpa tantangan. sekalipun mereka agaknya juga mempunyai jalur penuturan dari Ali ibn Abi Thalib. karena tidak lagi bisa dialih-arahkan kepada kegiatan-kegiatan ekspedisi militer. Menurut para ahli akhirnya ia patuh juga kepada keputusan Khalifah. Namun. Basrah dengan Ibn Amir (yang di waktu damai giat berdagang untuk mengumpulkan kekayaan tapi bertindak cukup adil karena ia menganjurkan orang lain agar berbuat serupa pula).

tidak hanya sekarang sesudah Utsman. ketokohan Ali membuatnya paling tepat sebagai pengganti (khalifah) Nabi. kalangan Sunni) dan diakui oleh para ahli bukan-Muslim sebagai suatu tindakan seorang genius dan bijak. dan hanyalah salah satu. serta mertua beliau (ayahanda A'isyah. Jadi berbeda dengan pandangan Umar yang tidak melihatnya demikian. Bagi banyak pihak di Madinah. Ketidakpuasan ini masih harus ditambah. Tetapi agaknya penunjukan Abu Bakr. Tentang mengapa yang terjadi ialah pengangkatan Abu Bakr. Tapi ketika Utsman mewarisinya. salah seorang isteri beliau yang amat dicintainya) sebagai imam (imam. ahli perang (warrior) yang tangkas. sama dengan harta rampasan perang mana pun juga. khususnya dalam bidang-bidang keuangan ini. sebagaimana telah dikemukakan. tentu saja. menggantikan Utsman. adalah bahan kontroversi yang serius. dengan gejala-gejala nepotisme Umawi yang semakin terasa pada masa Utsman. Mereka menginginkan untuk secara langsung mengontrol dan menguasai penghasilan daerahnya masing-masing itu. ternyata sedikit demi sedikit sistem Umar itu mulai menunjukkan segi-segi kelemahannya. SYI'AH DAN SUNNAH Kejadian pembunuhan Utsman hanyalah permulaan. (Juga Umarlah yang memprakarsai pendirian lembaga keuangan yang dikenal dengan bayt al-mal --harfiah berarti "rumah harta"). tercermin dari penggunaan istilah Khalifah (pengganti) olehnya untuk tugasnya itu. yakni. Kebetulan Ali yang adalah kemenakan dan menantu Nabi. Kebijakan Umar di bidang ini dan di bidang finansial pada umumnya sangat dihargai oleh para ahli sejarah Islam (khususnya. yang sampai sekarang masih menjadi bahan pembicaraan. Baru di masa Umar sifat kedaruratan itu mulai hilang. serta pelopor mula pertama dalam Islam. hanya selang sekitar seperempat abad sejak wafat Nabi. Maka. tapi sejak wafat Nabi sendiri. meskipun tidak disepakati oleh semua orang. dan tumbuh . seorang Sahabat Nabi yang amat dekat dan senior. GOLONGAN-GOLONGAN KHAWARIJ. Tentera di berbagai kota garnizun mulai merasakan tidak adilnya penghasilan daerah mereka dikontrol dan dibawa ke Madinah sebagai fay' (milik negara). dengan sikap hidup yang penuh kesalihan dan hikmah (wisdom) yang luas dan mendalam.tanah-tanah produktif (pertanian) di daerah-daerah yang telah mereka bebaskan. Utsman tidak memiliki wibawa dan kecakapan seperti pendahulunya itu. dan dilepaskan dari pengawasan Madinah. Dan dengan begitu dimulailah perang saudara selama lima tahun. khususnya di kawasan Bulan Sabit Subur. artinya orang yang berdiri di depan. seperti telah disinggung. dengan pensponsoran kuat dari Umar. dari deretan fitnah yang amat besar pengaruhnya kepada terjadinya skisme dalam Islam. para bekas pembunuh itu atau simpatisan mereka mensponsori pengangkatan Ali (ibn Abi Thalib) sebagai khalifah. telah tumbuh sejak zaman Nabi sendiri sebagai seorang pahlawan. mengulangi perdebatan di masa Umar sekitar masalah tanah-tanah pertanian daerah taklukan itu. Segera setelah Utsman terbunuh. [11] para tentera menghendaki agar tanah-tanah produktif itu langsung dibagikan kepada tentera penakluk bersangkutan. maka. menurut sementara ahli sejarah Islam. memimpin. Ditambah lagi. lebih mirip tindakan darurat (emergency). Akumulasi dari semua ketidakpuasan terhadap Utsman itu yang jelas sebagian bukan karena kesalahan Utsman sendiri berakhir dengan pembunuhan Khalifah. khususnya dalam shalat berjama'ah) ummat Islam di Madinah itu.

dibawa oleh sikapnya yang salih dan populis. Komandan Orang-orang Beriman. karena memang program utama masyarakat Islam waktu itu ialah melancarkan ekspedisi-ekspedisi militer ke luar Jazirah Arabia. dengan akibat yang amat jauh dalam bidang sosial-keagamaan. Perkembangan pranata politik Islam pada saat pengangkatan Ali ialah bahwa sistem kekhalifahan telah berjalan dan tumbuh selama hampir seperempat abad. ayah dari pada kakek Mu'awiyah) tetapi juga dari tokoh-tokoh seperti A'isyah. gubernur dan komandan militer yang menaklukkan Mesir. Tetapi mungkin sebagai gabungan antara kesalihan yang lebih mementingkan perdamaian dan sikap meremehkan kepintaran. meskipun jelas mustahil mendukung pembunuhannya. dipelopori oleh politikus dan gubernur yang cakap. seperti dapat diduga. untuk sebutan resmi jabatannya itu. Program itu sendiri konon sebagai kelanjutan rintisan dan pelaksanaan pesan Nabi menjelang wafat. jika tidak bisa disebut kelicikan. yaitu kalangan kaum Umawi (Umawi. Reaksi-reaksi itu segera menyeret masyarakat Islam ke dalam kancah peperangan sesama mereka. Juga disebabkan oleh kecakapan militernya. tuntutan untuk pengusutan pembunuhan Utsman sangat keras. Ali agaknya akan akhirnya memenangkan pertempurannya melawan Mu'awiyah. Berbagai reaksi kurang menguntungkan terhadap 'Ali itu tidak saja membuat situasi masyarakat Islam yang masih muda dilanda suasana tak menentu dan sedikit chaotik. lengkap dengan berbagai pelembagaannya yang sebagian besar sebagaimana telah disinggung. Khalifah terbunuh. Mu'awiyah (anak abu Sufyan. seorang anggota keluarga Abu Bakr. Yang lebih parah. anak cucu Umayyah ibn 'Abd Syams. musuh utama Nabi sampai penaklukan Mekkah). dan di hadapan berbagai kritis yang mulai mengancam ummat Islam lembaga itu menjadi rebutan dalam tema-tema "to be or not to be. Sedangkan dari kalangan kaum Umawi. Maka suasana curiga kepada Ali dari banyak pihak menjadi tak terhindarkan. Maka Umar. Maka kekhalifahan sebagai saat itu telah menjadi terlalu amat penting untuk dilewatkan begitu saja. menunjukkan simpati kepada para pemrotes kebijaksanaan Utsman. puteri Abu Bakr dan isteri Nabi yang sangat dicintainya. Ali secara iktikad baik dan "polos" menerima usul arbitrasi di Shiffin. diletakkan oleh Umar. Tetapi ketokohannya itu menjadi problem karena kenyataan bahwa sejak semula ia. 'Ali yang seorang ahli perang (warrior) yang cakap dan berani agaknya dengan mudah mengalahkan A'isyah dan al-Zubayr di pertempuran dekat Basrah yang kemudian dikenal sebagai "Peristiwa Onta" (karena A'isyah memimpin pasukan dengan menunggang onta. yakni. memilih nama atau gelar Amir al-Mu'minin. ialah permusuhan antara Ali dan Mu'awiyah. dan dibantu oleh 'Amr ibn al-'Ash. Akibatnya ialah bahwa ia justru . dan onta itu terbunuh dalam pertempuran). Tetapi peristiwa itu sendiri menimbulkan luka sosial-keagamaan pada ummat Islam yang sampai sekarang belum seluruhnya tersembuhkan. Kecurigaan itu mewujudkan diri dalam reaksi-reaksi tidak setuju kepada pengangkatan Ali sebagai khalifah." Telah disebutkan bahwa Ali sebenarnya adalah tokoh yang amat tepat menghadapi situasi kritis itu. juga al-Zubayr ibn al-Awwam. dengan korban jiwa yang tidak sedikit. diplomatik Mu'awiyah dan para pendukungnya. tidak saja dari kalangan yang secara langsung mempunyai hubungan darah dengan Utsman.kesadaran padanya akan sifat kepermanenan jabatan pemimpin ummat Islam.

"orang-orang yang menjual diri (kepada Allah). "Dan di antara manusia ada yang 'menjual' dirinya demi memperoleh ridla Allah. UA 20-21 Jakarta Selatan Telp. Korban yang paling tragis dari ekstremisme mereka ialah Ali sendiri.51. seorang tokoh yang pernah mereka unggulkan dengan penuh antusiasme. (021) 7507174 Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota Please direct any suggestion to Media Team Artikel Yayasan Paramadina Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota VI. untuk akhirnya melenyapkan diri mereka sendiri. Karena kegiatan mereka yang selalu merongrong tatanan mapan. Dan Allah itu Maha Penyantun kepada para hamba-Nya." dengan secara total menyerahkan dan mengorbankan diri untuk agama yang benar. yang kemudian secara tak terhindarkan membawa mereka kepada situasi mudah sekali terpecah-belah dan saling bermusuhan. (Sebutan ini merujuk kepada firman Allah. Metro Pondok Indah Pondok Indah Plaza I Kav. yaitu gerakan dengan semangat sendirinya mereka berkembang menjadi kelompok dengan tingkat ekstremisme yang amat tinggi. Mereka ini kemudian membentuk kelompok ketiga. Egalitarianisme radikal kelompok ini membawa mereka kepada konsep-konsep sosialpolitik yang sesungguhnya lebih dekat kepada cita-cita Islam seperti diletakkan oleh Nabi dan merupakan kelanjutan cita-cita universal dalam tradisi bangsa-bangsa Irano-Semitik sejak ratusan tahun. yang sejak semula menginginkan penyelesaian militer terhadap Mu'awiyah. 7501983. 7507173 Fax. maka konsep-konsep itu yang antara lain melahirkan doktrin hijrah." tanpa ada pihak yang benar-benar diuntungkan.(bersambung 3/4) Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah Editor: Budhy Munawar-Rachman Penerbit Yayasan Paramadina Jln. namun akhirnya mereka habisi dalam suatu pembunuhan politik. yaitu semua orang harus menyingkir dari tatanan mapan dan bergabung dengan mereka demi iman yang benar telah menjerumuskan masyarakat Islam kepada suasana "semua lawan semua. SKISME DALAM ISLAM (3/4) Tinjauan Singkat Secara Kritis-Historis Proses Dini Perpecahan Sosial-Keagamaan Islam oleh Nurcholish Madjid Maka sebutan al-Syurat itu sekaligus memberi gambaran tentang hakikat dan sifat gerakan mereka." [12] -------------------------------------------. (021) 7501969. . Tetapi karena dibawakan dengan militansi yang hampir tak terkendalikan.kehilangan dukungan dari para sponsornya yang gigih dan militan. yakni. dan yang dengan kuat sekali mewarnai pandangan-pandangan hidup di daerah Bulan Sabit Subur. dan menamakan diri mereka kaum al-Syurat.

(Mereka juga dinamakan kaum al-Haruriyyun. nisbat kepada oase al-Harura dekat Kufah. Tetapi sebenarnya hanya secara fisik mereka boleh dikata terhapus dari sejarah. meskipun ia tetap secara keseluruhan mengunggulkan Ali atas lawannya itu). ummat Islam di bawah Mu'awiyah dapat dikatakan kembali kepada keutuhannya yang semula. menunjukkan segi tertentu kelebihan Mu'awiyah atas Ali. Seperti telah dikatakan tadi. Bahkan cukup menarik bahwa ibn Taymiyyah. sepeninggal Ali. Tantangan terhadap Yazid mula-mula datang dari para pendukung Ali yang memang nampak selalu siap menggunakan setiap kesempatan. Ini. Akibatnya ialah bahwa mereka hampir-hampir praktis tidak tertahan untuk menyaksikan zaman modern sekarang ini. Bahkan ada tanda-tanda bahwa problematika kaum Khawarij itu. (Mu'awiyah ternyata menunjukkan kecakapan memerintah yang mengesankan. . sehingga para ahli sejarah ada yang mengatakan sebagai Khalifah Islam yang kedua terbesar. anaknya. (Sesungguhnya mereka berharap. Sebagian besar masyarakat Islam menyetujui ide itu. Terutama pada tahun 41 Hijri. sebagaimana dahulu muncul dalam sistem kalam kaum Mu'tazilah. Dengan maksud untuk tidak mengambil risiko yang dapat mengganggu "keseimbangan rawan" (delicate balance) susunan masyarakat Islam yang ada dan yang diperoleh dengan banyak pengorbanan itu. [14] Tetapi setelah Mu'awiyah meninggal. justru banyak sekali faham-faham keagamaan yang kini berkembang dan mapan di kalangan kaum Muslimin dapat ditelusuri kembali sebagai asal dari problematika kaum Khawarij. masih sempat menunjuk kepada kenyataan bahwa sementara Ali mendapat dukungan bagi kekhalifahannya hanya dari sebagian umat Islam. mempertahankan klaim kekhalifahan. Sedangkan secara doktrinal. sesudah Umar ibn al-Khaththab. [13] Dengan modal persatuan itu Mu'awiyah dapat melanjutkan program-program ekspansi militer dan politik yang sempat tertunda beberapa lama oleh adanya fitnah. Tetapi kekhalifahan Yazid yang memang tidak banyak memenuhi gambaran ideal seorang penguasa Muslim itu segera mengundang munculnya kembali pertentangan-pertentangan laten. dan Yazid pun dinyatakan sebagai Khalifah. mereka ini kemudian mengalami penghancuran diri sendiri (self annihilation) justru karena watak mereka yang sangat akstrem. keadaan kembali kepada kekacauannya yang semula. anak sendiri. Mu'awiyah mendapat dukungan yang boleh dikata universal. dan orang dengan penuh harapan menyebut tahun itu sebagai "Tahun Persatuan" (Amal-Jama'ah). dalam polemiknya dengan kaum Syi'ah. kini menunjukkan daya tarik dan vitalitasnya di kalangan sebagian kaum Muslim "liberal" (dalam arti lebih banyak menunjukkan sikap kritis dan mungkin ingin lepas dari kukungan tatanan mapan sosial-keagamaan yang ada). tempat mereka berpangkalan).mereka kemudian lebih dikenal sebagai kaum Khawarij (pemberontak). sebagai penggantinya. sekurang-kurangnya secara de facto. dalam pandangan Ibn Taymiyyah. yakni. agar Hasan. sudah sejak semula dalam kekhalifahannya Mu'awiyah meminta agar masyarakat menyetujui untuk mengangkat Yazid. Perkembangan lebih lanjut masyarakat Islam setelah terbunuhuya Ali oleh kaum Khawarij ialah pengakuan dan dukungan hampir universal masyarakat kepada kekuasaan Mu'awiyah di Damaskus.

telah membuat kaum Khawarij cukup favorable di mata kaum non-muslim. Apalagi. dan setelah penguasa Damaskus ini meninggal sesudah menjabat sebagai khalifah selama sekitar tiga tahun saja. seperti terbunuhnya Utsman sebelumnya. Ini membuat kekuasaan kaum Khawarij. Tetapi Yazid tidak hanya menghadapi tantangan dari kaum Syi'ah. Kebiasaan mereka untuk melakukan gerilya dalam kelompok-kelompok penyerang yang disusun seperti sistem kabilah sebelum Islam (masa Jahiliyah) telah mengundang antipati orang-orang kota. terbunuh secara amat kejam dan tragis. banyak kalangan penduduk Kufah sendiri yang menarik dukungannya kepada Husayn. dekat Kufah. Adalah sejak peristiwa Karabala itu para pendukung setia Ali dan keturunannya dikenal dengan sebutan kaum Syi'ah (yang sebetulnya lengkapnya ialah syi'ah Ali. tidak pernah efektif. Tetapi Hasan mengecewakan mereka dengan sikapnya yang lebih senang turun dari klaim itu dan hidup hampir menyendiri secara damai di Madinah. dengan membiarkan mereka dalam otonomi penuh mengurus kepentingan mereka sendiri. Irak. saudara Hasan. Yazid tidak bisa mengatasinya. Dan politik mereka yang menerapkan prinsip nonintervensi terhadap kelompok-kelompok bukan-Muslim. Tetapi. Dengan menggunakan sentimen umum terhadap kematian tragis Husayn. yang mempunyai dampak amat luas dan mendalam pada sistem sosial-keagamaan Islam sampai sekarang. meliputi sebagian besar pedalaman Jazirah Arabia. Terbunuhnya Husayn. setelah berhasil dibujuk oleh gubernur Syria. Egalitarianisme mereka telah membuat mereka termasuk yang pertama dalam sejarah Islam yang tidak membeda bedakan antara Muslim Arab dan Muslim bukan-Arab. Di luar kota Makkah sendiri. cucu Nabi. Maka harapan para pendukung Ali kini ditujukan kepada Husayn. Tetapi kaum Khawarij gagal memperoleh dukungan dari kalangan Muslim yang lebih terorganisir di kota-kota. merupakan peristiwa terpenting dalam fitnah kedua. Husayn dengan kekuatan tenteranya yang kecil menolak untuk menyerah. kekuasaan berada di tangan kaum Khawarij yang seperti selama ini melancarkan perang "hit and run" terhadap Abdullah ibn al-Zubayr. yang mereka undang untuk memberontak di Kufah. sebelum tentera Syria datang menyerbu. khususnya di daerah pedesaan atau badawah. Tentera Yazid menghancurkan mereka.menghadapi Mu'awiyah di Damaskus. Abdullah oleh sebagian besar umat diakui sebagai khalifah yang sah. dan mereka ini terkucilkan di padang pasir Karbala. Tetapi Abdullah tidak menikmati kekuasaan yang mantap. khususnya faham persamaan umat manusia. "Partai Ali"). dengan Makkah sebagai ibukota. kaum Syi'ah perlahan-lahan mengkonsolidasikan diri dan mengembangkan pandangan-pandangan sosial-politik keagamaan yang kelak menjadi dasar sistem doktrinal Syi'isme. setelah secaara singkat menjadi pendukung Abdullah ibn al-Zubayr pada saat permulaan penampilan khalifah Makkah . Sebenarnya kaum Khawarij ini hampir berhasil menghidupkan beberapa nilai yang diajarkan oleh Nabi. putera Ali dan Fathimah. dan Husayn. meskipun selama fitnah kedua ini menguasai teritorial yang paling luas. Di Makkah bangkit Abdullah ibn al-Zubayr (ibn al-Awwam) yang ayahnya dahulu pernah menentang Ali bersama A'isyah dan kalah kini bangkit menentang Yazid dengan cukup efektif.

itu. dengan akibat hukum bunuh yang mereka laksanakan secara konsekuen. Irak. Tantangan orang Kufah ini mempermudah pemberontakan kaum Syi'ah untuk dipatahkan oleh Ibn al-Zubayr dengan menggunakan kekuatan tentara dari Basrah yang saat itu telah bebas dari tugas menghadapi kaum Khawarij. dan yang kemudian membangkitkan amarah mereka dengan akibat pembunuhan khalifah). Kaum Khawarij dan Syi'ah itu tetap merupakan ancaman yang laten. dan faham keagamaan diperhitungkan hanya setelah jelas siapa yang unggul melalui kekuatan itu. Segi kebenaran Abd al-Malik ialah bahwa ia berhasil mengakhiri fitnah (kedua). Kaum Syi'ah. Abd al-Malik (692-705). kaum Syi'ah sekali lagi mencoba memobilisasi diri dan menemukan figur sentral mereka pada putera Ali yang lain. Mereka dengan tegas mengambil sikap yang menyamakan status antara orang-orang Muslim bukan-Arab dengan Muslim Arab. Tetapi egalitarianisme mereka ini justru membuat marah orang-orang Muslim Arab Kufah. Dengan cepat kekuatan kaum Umawi di Syria sebagai salah satu kontestan untuk kekhalifahan tumbuh dan berkembang. Setelah menyusul Irak. yaitu Ibn al-Hanafiyyah. sepupu Mu'awiyah. yang dikenal sehagai kaum Azariqah. Hingga akhirnya kaum Umawi berhasil merebut Makkah sendiri (Ka'bah sempat hancur dan harus dibangun kembali karena pertempuran memperebutkan kota suci itu). Maka negara menjadi negara kekuasan (macht staat). sebagai Khalifah. Ibn al-Zubayr masih harus menyelesaikan masalah Syi'ah. Juga penggantian kekhalifahan dengan tegas didasarkan kepada pewarisan. Kota-kota garnizun di bawah kepemimpinan kaum Umawi yang tegar kini lebih efektif dalam melawan gerilya kaum Khawarij dari pedalaman dibanding keadaan mereka dibawah kepemimpinan Ibn al-Zubayr yang lunak. (Adalah Marwan ini yang dahulu bertindak sebagai penasehat utama Khalifah Utsman ibn Affan dan didakwa sebagai dalang pembunuhan pemimpin delegasi Mesir yang datang ke Madinah untuk mengadukan perkara mereka. yang berarti hilangnya basis dukungan bagi Ibn al-Zubayr di Mekkah. sehingga Mesir pun tidak lama jatuh ke tangan Marwan dan anaknya. juga ingin menegakkan prinsip persamaan manusia. kaum Khawarij terpecah menjadi dua. Kini kekhalifahan sepenuhnya pindah ke tangan anak Marwan. yang kemudian berpaling melawan mereka. Sementara itu. di utara. dan di situ Khalifah Abdullah ibn al-Zubayr (ibn al-Awwam) terbunuh. Mereka ini akhirnya dikalahkan oleh tentara Ibn al-Zubayr yang berpangkalan di Basrah. Selain menghadapi kaum Khawarij. Keberhasilan Ibn al-Zubayr mematahkan kaum Khawarij dan Syi'ah tidak berarti bahwa mereka benar-benar bebas dari oposisi. kekuatan-kekuatan oposisi kelanjutan kaum Umawi berhasil mengkonsolidasi diri. Dengan tegas Abd al-Malik mendasarkan sistemnya di atas konsep kekuatan (force). Kaum Umawi yang berkoalisi dengan kaum Banu Kalb (sandaran utama kekuatan Arab Syria bagi kaum Umawi sejak masa Mu'awiyah) mengangkat Marwan ibn al-Hakam. Abd al-Malik. dengan melakukan berbagai akomodasi. sama halnya dengan kaum Khawarij. Setelah mengalami kekalahan yang tragis oleh Yazid di padang Karbala. dalam bentuk suksesi melalui penunjukan oleh khalifah yang . Irak juga jatuh ke tangan kaum Umawi. menganggap siapa saja yang tidak bergabung dengan mereka sebagai murtad. Pemberontakan kaum Syi'ah ini dipimpin oleh Mukhtar ibn Abi Ubayd. di Syria. namun dengan cara-cara yang lebih moderat. yang oleh Hodgson disebut sebagai khalifah Islam terbesar ketiga setelah Umar dan Mu'awiyah. yang berbasiskan Iran.

Sebagai dukungan asasi bagi konsep Jama'ah-Nya itu. suatu konsep atau idiologi yang meletakkan nilai-nilai persatuan dan kesatuan di atas semangat kesukuan dan bahkan di atas faham-faham keagamaan faksional. Maka dengan begitu secara berangsur tumbuhlah . Solidaritas Arab berdasarkan Islam melawan kecenderungan kesukuan lama (Jahiliyah) ini kemudian menjadi dasar ide tentang Jama'ah. sebagaimana sebutan pilihan sementara ahli sejarah Islam). Bagi mereka Islam adalah lambang Arabisme yang dipersatukan. dengan berbagai modifikasi dan penyesuaian. banyak melanjutkan rintisan dan percontohan Umar ibn al-Khathab. yang menjadi dasar kebesaran kekuasaan Umawi (lebih tepat. terlebih lagi para penguasa Umawi. Maka kaum Umawi di Damaskus itu. semakin banyak merasakan perlunya bahan rujukan dari kebiasaan mapan (sunnah) masa lalu Islam. pada kalangan Banu Tsaqif (yang sebelumnya telah membantu menaklukkan Mekkah. Tetapi ketika Abd al-Malik mengganti mata uang logam Yunani yang bergambar kepala raja mereka dengan mata uang logam khas Arab dan Islam dengan simbol kalimah syahadat. dengan dibantu oleh keahlian dan kesarjanaan al-Hajjaj ibn Yusuf. yaitu sebagai lambang persatuan dan kesatuan (Jama'ah) yang tak tergugat. sudah tentu. [15] Dampak amat penting tindakan ini ialah penyatuan yang lebih meyakinkan seluruh kekuatan Islam (dan Arab). kaum Muslimin. yang sebenarnya belum lama berselang itu. bekas guru madrasah di Thaif. maka efeknya ialah penegasan kedaulatan Islam. dan berfungsi terutama sebagai kode etik dan ajaran disiplin bagi kekuatan elite penakluk dan penguasa. Karena itu ketika para qadli sebagai pemegang semacam kekuasaan yudikatif di daerah-daerah (Abd al-Malik adalah orang pertama melembagakan jabatan qadli itu). Kemudian dorongan untuk memahami lebih baik dan melaksanakan ajarannya secara lebih tepat tumbuh dengan pesat di kalangan umum. Melalui kebijaksanaan Abd al-Malik ibn Marwan ini maka al-Qur'an mempunyai fungsi lain. masa Umar ibn al-Khathab nampak paling banyak dijadikan rujukan. Abd al-Malik meneruskan usaha mempersatukan ummat Islam berkenaan dengan Kitab Suci mereka. Maka dalam usaha memahami lebih baik Kitab Suci itu dan melaksanakannya dalam kehidupan nyata. Marwani. Berdasarkan pandangannya itu Abd al-Malik melihat pentingnya usaha lebih lanjut mempersatukan orang-orang Arab di bawah bendera Islam melawan kecenderungan kesukuan yang sampai saat itu masih menunjukkan potensi latennya. banyak referensi dilakukan kepada preseden yang ada dalam sejarah Islam. Nampaknya masa lalu Islam itu yang paling otoritatif. Kebesaran Abd al-Malik ibn Marwan yang lain terletak dalam kegairahannya untuk menegaskan supremasi Islam terhadap yang lain. Tetapi. dan menghancurkan Ka'bah serta membangunnya kembali). dengan memperbaiki cara penulisannya dan memastikan harakat bacaannya melalui penambahan beberapa diakritik dan vokalisasi (harakat). membunuh Ibn al-Zubayr. Di sisi lain tindakannya bisa disebut sebagai sejenis nasionalisme Arab. ialah masa Nabi sendiri.terdahulu. sepanjang mengenai pelaksanaan pemerintahan sehari-hari. dalam masalah pemerintahan menurut pengertian seluas-luasnya. Berbeda dengan pandangan keagamaan kaum Khawarij dan Syi'ah pandangan keagamaan kaum Umawi memang sangat berat berwarna ke-Arab-an. jika pemerintahan itu harus dijalankan dengan norma-norma keislaman.

dan penuturan tentang para tokoh masa lalu itu. (021) 7501969. (021) 7507174 Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota Please direct any suggestion to Media Team Artikel Yayasan Paramadina Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota VI. namun Ali lebih unggul daripada Mu'awiyah. Dorongan yang amat kuat untuk menyudahi berbagai fitnah yang telah meninggalkan kesan-kesan penuh trauma itu telah mengharuskan kaum Marwani atau Umawi untuk menunjukkan sikap-sikap yang lebih akomodatif dan kompromistis. UA 20-21 Jakarta Selatan Telp. sedikit atau pun banyak. Dengan begitu kaum Marwani atau Umawi meletakkan landasan dialog intern Islam yang meliputi semua. [16] -------------------------------------------. 7501983. yang kelak melahirkan disiplin terpisah dalam ilmu-ilmu keagamaan Islam. Umar II sebenarnya hanya melanjutkan kecenderungan yang sudah ada pada kaum Marwani atau Umawi. Para ahli mengatakan bahwa gerakan perorangan untuk mencatat hadits telah terjadi sejak masa sangat awal sejarah Islam. khususnya sejak kekhalifahan Abd al-Malik ibn Marwan. Muslim. menjadi semakin besar. anggota-anggota klan mereka. Tapi sejarah mencatat bahwa dorongan paling kuat ke arah sana itu dimulai oleh Khalifah Umar ibn Abd al-Aziz (ibn Marwan) yang dikenal sebagai Umar II (memerintah 717-720) karena mengingatkan orang kepada Khalifah Umar ibn al-Khaththab.yurisprudensi Islam. Maka perhatian kepada cerita. dan menjadi dasar . Ini semua kelak disistematisasi dan dikritik. SKISME DALAM ISLAM (4/4) Tinjauan Singkat Secara Kritis-Historis Proses Dini Perpecahan Sosial-Keagamaan Islam oleh Nurcholish Madjid Keperluan kepada bahan rujukan dari masa lalu (preseden) untuk menetapkan hukum lambat-laun tumbuh manjadi kesadaran tentang otoritas tradisi (sunnah) yang sah (valid). Tradisi ini berkembang dan tumbuh kuat. tapi juga tentang tokoh-tokoh generasi ketiga umat Islam. tindakan terpenting ialah mengakui Ali sebagai khalifah yang sah.(bersambung 4/4) Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah Editor: Budhy Munawar-Rachman Penerbit Yayasan Paramadina Jln.51. yang di situ setiap kelompok memperoleh kehormatannya. Dalam rangka ini. Metro Pondok Indah Pondok Indah Plaza I Kav. Utsman. khususnya tentang Nabi sendiri dan para Sahabat. tetap lebih unggul daripada Ali. dll. pada urutan keempat (artinya. juga anggota klan mereka tapi menjadi musuh Ali). oleh para sarjana hadits seperti al-Bukhari. anekdot. untuk selanjutnya dikodifikasi. yaitu ilmu fiqh. rupanya malah sejak masa nabi sendiri. 7507173 Fax.

karena mengambil pelajaran dari pengalaman agama-agama sebelumnya. "Sesungguhnya mereka yang memecah belah agama mereka kemudian menjadi bersekte-sekte. Maka kesimpulannya. plus Mu'awiyah. Juga bisa dilihat. Maka dengan jelas dapat dilihat betapa absurd-nya memutlakkan kebenaran suatu aliran paham dalam agama (Islam). yaitu mereka yang memecah belah agama mereka kemudian menjadi bersekte-sekte. yang dapat dikemukakan di atas hanyalah masalah-masalah mendasar tentang faham-faham pecahan dini Islam. sama dengan golongan Sunni. QS. lebih-lebih lagi jika kita perhitungkan pandangan semua kelompok mengenai masalah kekhalifahan itu. (Patut diperhatikan. Umar. engkau (Muhammad) tidak sedikit pun termasuk mereka. mungkin yang diperlukan sekarang ialah mengembangkan dasar fikiran nonsektarianisme. Syi'ah dan Sunnah. sebagai tercermin dalam peringatan yang lain. maka disebut Ahl al-Sunnah wa 'l-Jama'ah. dan melihat sektarianisme sebagai jenis kemusyrikan. tidak jarang dinyatakan dalam gaya-gaya absolutistik dan "pasti benar"). meskipun jauh dari sempurna dan lengkap. mengaku benar sendiri). yakni. [17] Sebenarnya semangat non-sektarianisme inilah salah satu pandangan dasar Islam yang dibawa Nabi. kaum Khawarij hanya Abu Bakr dan Umar. kaum Umawi lama hanya Abu Bakr. PENUTUP Dikarenakan terbatasaya ruang dan sifat pembahasan. QS. al-Mu'minun/23:51-52. Dan setiap kelompok itu. CATATAN 1. yaitu faham yang menggabungkan antara ideologi Jama'ah (persatuan dan kesatuan) dan ideologi Sunnah (faham yang memandang otoritas masa lalu dan tradisi yang sah sebagai bahan rujukan)." [19] Agaknya kita semua ditantang untuk memerangi sektarianisme yang kini masih menggejala. antara lain. Utsman. kemudian dibarengi atau disusul oleh munculnya berbagai pecahan yang lain lagi. Masing-masing pecahan itu sesungguhnya pecah lagi ke dalam berbagai kelompok. betapa problematisnya kekhalifahan dan kedudukan seorang khalifah. diharap dapat memberi gambaran (dan kesadaran) betapa relatifnya pangkal skisme dalam Islam (karena berakar dalam pertikaian sosial-politik yang sama sekali tidak mungkin lepas dari konteks ruang dan waktu dalam pengertian yang seluas-luasnya). dengan sendirinya. "Dan janganlah kamu termasuk orang-orang musyrik. mengakui semuanya namun dengan mengunggulkan Utsman atas Ali dan Ali atas Mu'awiyah. biasa disingkat dengan Ahl al-Sunnah. betapa kaum Syi'ah cenderung hanya mengakui Ali. sebagai jawab kecenderungan alami manusia untuk memihak yang baik dan benar: "Maka ikutilah olehmu semua agama Ibrahim. mempunyai sistem dan teori pembenaran bagi pandangan masing-masing. sesuai dengan peringatan. setiap golongan membanggakan apa yang ada pada mereka" (yakni. yaitu Khawarij. 2. al-Baqarah/2:213. Uraian di atas. kaum Marwani atau Umawi. . golongan Sunni." [18] Semangat non-sektarianis itulah salah satu makna yang dimaksud bahwa agama Tawhid Nabi Ibrahim adalah hanif. secara hanif.faham yang kini merupakan anutan terbesar kaum Muslim di dunia. lebih singkat lagi.

H. The Holy Qur'an. 4.tb5. Tapi uraian berikut hanyak dibuat dengan bersandar kepada kepada Marshall G. misalnya. al-Ma'idah 5:51. Khilaf al-Ummah fi al-Ibadat wa Madzhab Ahl al-Sunnah wa al-Jama'ah (Perselisihan umat dalam ibadat dan Madzhab Ahl al-Sunnah wa al-Jama'ah). 1343 H.S. misalnya. Ikhtilaf al-a'immah rahmah li al-ummah (Perbedaan pendapat para imam adalah rahmat untuk ummat). Bahkan al-Qur'an kaum Syi'i pun ditulis dengan mengikuti ejaan atau rasm Utsmani.. Lafal lain terbaca. Yang kedua diwakili oleh mushaf terbitan Mu'assasat Intisyarat Shabirin. Terdapat pandangan bahwa kalangan "awam" sebaiknya tidak membicarakan hal itu. 488. salah satu unsur dalam faham Sunni ialah semacam konsensus untuk tidak membicarakan peristiwa-peristiwa menyedihkan yang menyangkut peperangan dan perebutan posisi politik yang terjadi antara para Sahabat Nabi sekitar seperempat abad sesudah wafat beliau. tiga jilid (Chicago. Hud/11:118-119. A. baik dari kesahihan sanadnya maupun dari segi lafalnya yang lebih persis. 1974). 1326 H. Rasyid Ridla. The University of Chicago Press. Mungkin bisa dikatakan sebagai suatu bentuk penghindaran dari kenyataan pahit dalam sejarah Islam.3. Tapi betapa pun diperselisihkan hadits itu nampaknya banyak dipercayai para ahli. (Meskipun tidak disebutkan dalam pengantar atau lainnya bahwa mushaf itu ditulis dengan ejaan Utsmani. 1405 Hijri qamari (lunar) atau 1363 Hijri Syamsi (solar). 1403 H)." Bahkan qira'at atau bacaannya disebutkan. The Venture of Islam. (Lihat. 10. jil. QS.). h. yang dikenal dcngall "rasm al-mushaf" atau "rasm Utsmani. misalnya. Yunus/10:19. catatan 1407. namun kenyataannya ia persis sama dengan mushaf ejaan Utsmani). Translation and Commentary (Jeddah: Dar al Qibla. Cukup ironis bahwa justru hadits ini pun diperselisihkan. 7. Tarjamah Sabil al-Abid ala Jawharat al-Tauhid [tanpa data penerbitan]. 9. Banyak bahan rujuknya dari literatur klasik untuk pembahasan sekitar perkembangan dini sejarah Islam yang menyangkut fitnah besar ini. Hodgson.241-242). hh. QS. Teheran. 983) ditegaskan oleh penerbit bahwa mushaf itu menggunakan ejaan yang paling asli dan paling aktual. Salah satunya ialah Tarikh at-Thabari yang terkenal./1965 M. Dalam kata penutup terbitan mushaf ini (h. 6.tb5 5. yang meskipun ditulis di bawah bayangan kuat idiologi Sunni namun sampai batas yang cukup jauh tidak kehilangan sifat ilmiahnya. Muhammad Shalih ibn Umar Samarani. Bukan saja samasekali tidak ada perbedaan antara al-Qur'an pada kaum Sunni dan al-Qur'an pada kaum Syi'i. Yang pertama diwakili oleh mushaf terbitan Mu'assasat Intisyarat Amir Kabir. memberi pengantar dengan semangat hadits itu untuk penerbitan risalah Ibn Taymiyyah. Ikhtilaf ummati rahmah (Perbedaan pendapat ummatku adalah rahmat). baik yang diterbitkan pada masa pemerintahan Syah Reza Pahlewi maupun yang diterbitkan pada masa pemerintahan Islam revolusioner (Khumaini). 1. 8. passim. (Cairo: Mathba'at al-Manar. QS. Teheran. seperti . Sabda Nabi yang terbaca. Yusuf Ali.

pada mushaf.a. Sebagai contoh tulisan Arab tingkat awal itu berikut ini adalah (foto) kopi surat Rasulullah kepada al-Mundzir ibn Sawi. Tarikh al-Tasri al-Islami. Dan tatkala dia (Ali) melamar anak perempuan Abu Jahl. Padahal telah mantap dalam al-Shahihayn (Bukhari-Muslim) dari Nabi s. 12. Ibn Taymiyyah masih sempat mencatat demikian. 13. maka tahun 41 Hijri disebut "Tahun Persatuan" ('Am al Jama'ah)." 11.. Dan sungguh aku tidak akan mengizinkan. Jadi dalam kutipan pertama Ibn Taymiyyah ingin mengesankan bahwa Mu'awiyah bertingkah laku sesuai dengan Sunnah. "Perilaku Mu'awiyah terhadap rakyatnya adalah termasuk sebaik-baik perilaku para penguasa. 1387 H/1967]. 14. h. yang hanya mengenal konsonan. kecuali mereka yang benar-benar mengenal bahasa Arab karena dibesarkan sebagai orang Arab. bahwa beliau bersabda. 'Sebaik-baik para pemimpinmu ialah yang kamu cinta kepada mereka dan mereka cinta kepada kamu dan berdo'a untuk kebaikanmu. [Beirut. Muhammad Hamidullah dengan izin majalah orientalisme Jerman. Bani al-Mughirah meminta izin kepadaku untuk mengawinkan anak perempuan mereka kepada Ali." (Minhaj al-Sunnah. Misalnya. "yang dari jalur lain dari Imam Ali ibn Abi Thalib. dan rakyatnya mencintainya.mushaf Sunni. Abu Ya'quh Yusuf. 1389 H/1969). h. 57 (antara hh. 87). Dar al-Fikr. yang diturun oleh Dr. (Lihat. Dan kemudian konsep Jama'ah itu dikembangkan sebagai idiologi. Sedangkan seburuk-buruk pemimpinmu ialah yang kamu benci kepada mereka dan mereka benci kepadamu. serta kamu mengutuk mereka dan mereka mengutuk kamu. al-Syaykh Muhammad al-Hudlari Bek. mengatakan. Perdebatan itu terekam dalam karya seorang murid Imam Abu Hanifah. juga h. salah seorang pemikir Sunni mazhab Hanbali yang sangat polemis terhadap golongan Syi'ah. 110. Zeltschrift der Deutschen Morgenlandischen dalam Majmu'at al-Watsa'iq al-Siyasiyyah li al-Ahd al-Nabawi wa Khilaafat al-Rasyidah (Beirut: Dar al-Irsyad. 114 dan 115): Tulisan seperti di masa Rasulullah itulah yang juga digunakan . sekali lagi tidak akan mengizinkan. h. tanpa huruf hidup. dokumen No.'" (ibid. QS. 15. al-Baqarah 2:207.. 194). Karena hampir semua kelompok Islam mengakui kekuasaan de facto Mu'awiyah. sebagai berasal dari riwayat Hafsh dari Ashim. jil. tidak akan berkumpul menjadi satu anak perempuan Rasulullah dengan anak perempuan musuh Allah pada satu orang lelaki. Kitab al-Kharaj. Ibn Taymiyyah. dan dalam kutipan kedua ia mau memperlihatkan betapa Ali pernah membuat hal yang menyakiti hati Nabi. ". Sedangkan mereka yang tidak demikian keadaannya akan terbentur kepada sistem huruf Arab. Perlu diingat bahwa meskipun al-Qur'an telah dipersatukan kodifikasinya oleh Utsman namun orang masih mengalami kesulitan untuk memastikan pembacaannya. Sangat menarik sebagai bahan studi lebih mendalam mempelajari berbagai polemik sekitar Ali dan Mu'awiyah ini. beliau (Nabi) bersabda..w. sama dengan huruf-hurut Semitik yang lain. 189). 3. Demi Allah. Sebaliknya tentang Ali. sekali lagi tidak akan mengizinkan! Kecuali jika anak Abu Thalib itu menceraikan anak perempuanku (Fathimah) dan kemudian kawin dengan anak perempuan mereka.

Maka hendaklah dari setiap golongan ada satu kelompok orang yang pergi (mencurahkan perhatian) untuk memahami agama secara mendalam (ber-tafaqquh) . ha' dan kha'. Metro Pondok Indah Pondok Indah Plaza I Kav. dan. Keadaan serupa itu bertahan hampir sepanjang sejarah Islam sesudah masa Marwani." (QS.. QS. Penggunaan perkataan "fiqh" sebenarnya merujuk kepada beberapa firman Allah. "Kami (Tuhan) telah merinci berbagai ayat untuk kaum yang mengerti" (ber-fiqh) (QS. antara lain.. seperti satu. Jadi yang dimaksudkan dengan perkataan fiqh dalam firman-firman itu pendalaman ajaran keagamaan secara menyeluruh. sampai sekarang. antara ra' dan za' antara sin dan syin. antara tha' dan dha'. al-An'am/6:169. Maka penambahan beberapa diakritik.. tiga titik. antara 'ayn dan ghayn. 7501983. Perkataan Arab "fiqh" sendiri berarti "faham" (dalam makna "mengerti"). (021) 7507174 Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota Please direct any suggestion to Media Team Artikel Yayasan Paramadina Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan . antara lain." (QS. QS. seperti untuk bunyi-bunyi ba'.. Tapi karena dominasi dan supremasi persoalan penataan kembali masyarakat saat-saat dini sejarah Islam. yaitu agama yang teguh (konsisten). 'Sesungguhnya aku diberi petunjuk oleh Tuhanku ke arah jalan yang lurus. al-An'am/6:161). khususnya pada masa dinasti Marwani itu (antara lain karena urgensi mengatasi dan menyudahi fitnah yang berkelarutan). dan antara bunyi-bunyi jim. antara shad dan dlal. dua. agama (Nabi) Ibrahim yang hanif . al-An'am 6:98). 17. tsa nun dan ya'. -------------------------------------------Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah Editor: Budhy Munawar-Rachman Penerbit Yayasan Paramadina Jln. QS. Perhatikan bahwa untuk perkembangan tulisan Arab saat itu.untuk kodifikasi al-Qur'an oleh Utsman dan menghasilkan mushaf rasmUtsmani. di bawah dan di atas oleh al-Hajjaj merupakan fase amat penting dalam sejarah metode penulisan al-Qur'an. akhirnya. al-Tawbah/9:122. UA 20-21 Jakarta Selatan Telp. 7507173 Fax. antara dal dan dzal. Ini tercermin dalam bagaimana sebagian besar kaum Muslim mempersepsi agamanya sebagai terutama sistem hukum. ". 19. (021) 7501969. kesulitan masih harus ditambah dengan tidak adanya perbedaan simbol untuk cukup banyak bunyi. 18. ta'. antara fa' dan qaf. maka segi hukum dari agama juga amat dominan dan supreme. sehingga pengetahuan mengenai masalah-masalah hukum pun dianggap fiqh par excellence. Bahwa agama yang dibawa Nabi Muhammad adalah juga agama Ibrahim ditegaskan dalam cukup banyak ayat-ayat suci. "Katakan Muhammad. al-Rum/30:32. 16. Ali 'Imran/3:95.

Tetapi dalam kata asalnya. Lebih lanjut kita melihat hal seperti itu dalam masalah perkawinan dan peradilan khusus yang menyangkut penyelesaian sengketa urusan kekeluargaan di kalangan kaum muslimin bangsa Indonesia. 47. kewenangan. timbul bentuk-bentuk kata "amir. pemelihara.ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota VI. suruhan. petugas. "amiralay (brigadier general). kata "wilayah" yang berarti kekuasaan. Dari akar kata ini berkembang bentuk-bentuk kata: wala yang berarti: cinta. daerah yurisdiksi. pengasuh pengantin perempuan ketika nikah yaitu keluarga dekatnya yang melakukan janji atau akad nikah dengan pengantin laki-laki (dalam urusan nikah ini dikenal juga adanya wali hakim yaitu pejabat urusan agama yang bertindak sebagai wali). Kata ini biasa diartikan "penguasa. masalah penting." cukup beralasan dilihat dari segi pemakaian bahasa. Dalam bahasa asalnya. selain berarti: order. wali Allah atau waliullah. Adapun kata "wali" juga sudah lazim dipakai dalam bahasa Indonesia. tugas (yang harus dilakukan). Dalam persoalan ini tentunya pada tingkat pertama kita . Dalam kaitan masalah-masalah tersebut di atas terkait permasalahan wali al-amr. wali negara). atau markasnya. ingin kita melihat kaitan pengertian kata ini dengan persoalan hukum dalam rangka kajian fiqh. atau wilayahnya). menyuruh melakukan. tentang kata-kata "wali" dan "amr. Itulah pembahasan sepintas dari segi etimologis dan lexicologis. Maka dalam rangka urusan tersebut kita dapat memahami kehadiran Undang-undang Perkawinan dan Undang-undang Peradilan Agama (yang belum lama ini sudah diundangkan). komando. yaitu orang suci dan keramat (seperti Wali Songo). otoritas. pelindung. PENGERTIAN WALI AL-AMR DAN PROBLEMATIKA (1/2) HUBUNGAN ULAMA DAN UMARA oleh Ali Yafie Pemerintah memandang perlu untuk mengeluarkan sebuah keputusan dalam kaitan hari libur Idul Fithri sebagai hari libur nasional. juga berarti: urusan. Mengamarkan: memerintahkan. loyalitas. pemilik atau penguasa sesuatu barang. persoalan atau perkara." "amiral" (admiral). kekeluargaan. teman atau sahabat. Dan itu terlansir dalam sebuah Keputusan Presiden dan diperkuat Keputusan Menteri Agama. Kata "wali al-amr" (dalam sebutan Indonesia) berasal dari "waliy-u 'l-amr" (bahasa Arab). kata ini berarti juga: penolong. persahabatan." Kedua bagian kata majemuk ini sudah lazim dipakai dalam bahasa Indonesia. kepala pemerintahan (seperti wali kota. Dari akar kata "amr" ini. yang berarti: orang yang menurut hukum diserahi kewajiban mengurus anak yatim serta hartanya selama anak itu belum dewasa. yaitu kata "amr" biasa dibunyikan "amar" yang berarti: perintah atau suruhan (misalnya: dengan amar raja diartikan: atas perintah raja). "imarah" (sifat keamiran. Sesudah itu. power. Kalau ditambah dengan akhiran "an" maka menjadi "amaran" yang berarti: perintah. ia mempunyai arti yang lebih luas." Maka kata "waliy-u 'l-amr" dengan pengertian "penguasa" atau "pemerintah. Hal itu jelas memperlihatkan keterkaitan Pemerintah dengan urusan keagamaan (pelaksanaan ajaran agama). amirul mu'minin (khalifah).

a. Mufassir kenamaan yakni Imam 'Imaduddin Ibn Katsir menukilkan keterangan Ibn 'Abbas (Sahabat Nabi) r. kata ini pengertian umumnya mencakup para amir (umara) ulama. niscaya orang-orang yang meneliti diantara mereka mengetahui hal itu . Maka disana kita akan menemukan pemakaian kata "uli 'l-amr" (yang artinya dengan "waliy-u 'l-amr"). Ahli fiqh kenamaan yakni Imam Abul Hasan 'Ali al-Mawardi ketika mengulas jenis-jenis kewenangan yang disebut "imarah" yang pejabatnya disebut "amir" beliau mensitir juga ayat 59 surah an-Nisa tersebut di atas. Pendapat kedua. Al Hasan Al Bashri dan Abul 'Aliyah (semuanya ulama Tabi'in) yakni al-'ulama" (yang dimaksud dengan uli 'l-amr adalah ulama). Dan yang kedua berbunyi (Terjemahnya): Apabila mereka ditimpa sesuatu peristiwa keamanan atau ketakutan. pendapat Mujahid. dari sabda Rasulullah s. Beberapa hadits lainnya dari berbagai sumber berita dari sejumlah sahabat Nabi telah dipaparkan oleh Ibn Katsir.a.berupaya mencari pokok persoalannya dalam al-Qur'an.a. atau suatu daerah kekuasaan tertentu. dan pada ayat 83 dari surah yang sama. Ibn Katsir melanjutkan keterangannya bahwa yang jelas (wa 'l-Lah-u a'lam). dan ini pendapat Ibn Abbas r. [1] Yang pertama berbunyi (terjemahnya): Hai orang-orang yang beriman! Taatilah Allah dan taatilah rasulNya dan "ulil amri" dari kalian. Seandainya mereka mengembalikan persoalan itu kepada Rasul dan kepada "uli 'l-amri" dari mereka.w. Pertama. [2] ditambah dengan penjelasan hadits shahih yang diriwayatkan Abu Hurairah r. Teori Wilayah (Kekuasaan atau Kewenangan) Di dalam Fiqh (Ilmu Hukum Islam) ditemukan adanya dua jenis kekuasaan (wilayah) yang dikaitkan dengan sumbernya.. Dari ulasan beliau dapat ditarik pengertian bahwa didalam kata "uli 'l-amr" termasuk penguasa atau pemimpin tertinggi pemerintahan sampai kepada pejabat-pejabat yang berwenang di daerah-daerah. yaitu pada ayat 59 surah an-Nisa. pada dua tempat.517 Juz I Tafsir Ibn Katsir). [3] Maka semua penjelasan ini merupakan perintah untuk mentaati para ulama dan umara.).: Barangsiapa mendurhakai aku berarti dia sudah taat kepada Allah dan barangsiapa mendurhakai amir yang saya angkat berarti dia telah mendurhakai aku. bahwa yang dimaksud dengan kata ini ialah para ulama. (Lihat h. bahwa yang dimaksud dengan kata itu. Bahkan Imam al-Mawardi ini ketika membahas masalah Imamah atau Kekhalifahan (Bab Pertama dari bukunya yang berjudul al-Ahkam al-Shulthaniyah). ialah amir-amir. beliau juga berpatokan dari ayat 59 (surah an-Nisa) tersebut. Mereka itu disebut "wulat" (mufradnya wali sebagai singkatan dari waliy-u 'l-amr) dan umara (tunggalnya amir) yaitu penguasa yang diberi kewenangan dalam satu urusan tertentu. al-Hasan dan 'Atha..'l-amr" ada dua pendapat. Demikian pendapat Jabir. lalu mereka menyiarkannya.. yang semuanya mengacu kepada keharusan mentaati amir-amir (para petugas atau penguasa yang diangkat Nabi dalam berbagai urusan yang ditempatkan di berbagai daerah (yang telah dibebaskan ketika itu). dan dua . 'Atha. lalu beliau menjelaskan bahwa didalam pengertian "uli. "yakni ahl-u 'l fiqh-i wa 'l-din" (yang dimaksud dengan uli 'l-amr yaitu ahli dalam masalah-masalah agama).).a.. Sama dengan itu. atau dalam urusan-urusan yang diserahkan pengelolanya kepada mereka. Pengertian ini diperkuat oleh ayat 63 surah al-Maidah dan ayat 43 surah an-Nahl.

yang kedudukannya dalam mengurus dan mengelola diri dan harta benda orang-orang yang berada dalam perwaliannya. ketujuh. Yaitu. utamanya untuk memberikan perlindungan bagi kepentingan masyarakat. Perwalian tersebut menyangkut diri dan harta benda mereka yang belum cakap melakukan tindakan hukum.