Artikel Yayasan Paramadina

Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota II.9. KONSEP-KONSEP KEADILAN oleh Abdurrahman Wahid Tidak dapat dipungkiri, al-Qur'an meningkatkan sisi keadilan dalam kehidupan manusia, baik secara kolektif maupun individual. Karenanya, dengan mudah kita lalu dihinggapi semacam rasa cepat puas diri sebagai pribadi-pribadi Muslim dengan temuan yang mudah diperoleh secara gamblang itu. Sebagai hasil lanjutan dari rasa puas diri itu, lalu muncul idealisme atas al-Qur'an sebagai sumber pemikiran paling baik tentang keadilan. Kebetulan persepsi semacam itu sejalan dengan doktrin keimanan Islam sendiri tentang Allah sebagai Tuhan Yang Maha Adil. Bukankah kalau Allah sebagai sumber keadilan itu sendiri, lalu sudah sepantasnya al-Qur'an yang menjadi firmanNya (kalamu 'l-Lah) juga menjadi sumber pemikiran tentang keadilan? Cara berfikir induktif seperti itu memang memuaskan bagi mereka yang biasa berpikir sederhana tentang kehidupan, dan cenderung menilai refleksi filosofis yang sangat kompleks dan rumit. Mengapakah kita harus sulit-sulit mencari pemikiran dengan kompleksitas sangat tinggi tentang keadilan? Bukankah lebih baik apa yang ada itu saja segera diwujudkan dalam kenyataan hidup kaum Muslimin secara tuntas? Bukankah refleksi yang lebih jauh hanya akan menimbulkan kesulitan belaka? "Kecenderungan praktis" tersebut, memang sudah kuat terasa dalam wawasan teologis kaum skolastik (mutakallimin) Muslim sejak delapan abad terakhir ini. Argumentasi seperti itu memang tampak menarik sepintas lalu. Dalam kecenderungan segera melihat hasil penerapan wawasan Islam tentang keadilan dalam hidup nyata. Apalagi dewasa ini justru bangsa-bangsa Muslim sedang dilanda masalah ketidakadilan dalam ukuran sangat massif. Demikian juga, persaingan ketat antara Islam sebagai sebuah paham tentang kehidupan, terlepas dari hakikatnya sebagai ideologi atau bukan, dan paham-paham besar lain di dunia ini, terutama ideologi-ideologi besar seperti Sosialisme, Komunisme, Nasionalisme dan Liberalisme. Namun, sebenarnya kecenderungan serba praktis seperti itu adalah sebuah pelarian yang tidak akan menyelesaikan masalah. Reduksi sebuah kerumitan menjadi masalah yang disederhanakan, justru akan menambah parah keadaan. Kaum Muslim akan semakin menjauhi keharusan mencari pemecahan yang hakiki dan berdayaguna penuh untuk jangka panjang, dan merasa puas dengan "pemecahan" sementara yang tidak akan berdayaguna efektif dalam jangka panjang. Ketika Marxisme dihadapkan kepada masalah penjagaan hak-hak perolehan warga masyarakat, dan dihadapkan demikian kuatnya wewenang masyarakat untuk memiliki alat-alat produksi, pembahasan masalah itu oleh pemikir Komunis diabaikan, dengan menekankan slogan "demokrasi sosial" sebagai pemecahan praktis yang menyederhanakan masalah. Memang berdayaguna besar dalam jangka pendek, terbukti dengan kemauan mendirikan negara-negara Komunis dalam kurun waktu enam dasawarsa terakhir ini. Namun, "pemecahan masalah" seperti itu ternyata

membawa hasil buruk, terbukti dengan "di bongkar pasangnya" Komunisme dewasa ini oleh para pemimpin mereka sendiri di mana-mana. Rendahnya produktivitas individual sebagai akibat langsung dari hilangnya kebebasan individual warga masyarakat yang sudah berwatak kronis, akhirnya memaksa parta-partai Komunis untuk melakukan perombakan total seperti diakibatkan oleh perestroika dan glasnost di Uni Soviet beberapa waktu lalu. Tilikan atas pengalaman orang lain itu mengharuskan kita untuk juga meninjau masalah keadilan dalam pandangan Islam secara lebih cermat dan mendasar. Kalaupun ada persoalan, bahkan yang paling rumit sekalipun, haruslah diangkat ke permukaan dan selanjutnya dijadikan bahan kajian mendalam untuk pengembangan wawasan kemasyarakatan Islam yang lebih relevan dengan perkembangan kehidupan umat manusia di masa-masa mendatang. Berbagai masalah dasar yang sama akan dihadapi juga oleh paham yang dikembangkan Islam, juga akan dihadapkan kepada nasib yang sama dengan yang menentang Komunisme, jika tidak dari sekarang dirumuskan pengembangannya secara baik dan tuntas, bukankah hanya melalui jalan pintas belaka. Pembahasan berikut akan mencoba mengenal (itemize) beberapa aspek yang harus dijawab oleh Islam tentang wawasan keadilan sebagaimana tertuang dalam al-Qur'an. Pertama-tama akan dicoba untuk mengenal wawasan yang ada, kemudian dicoba pula untuk menghadapkannya kepada keadaan dan kebutuhan nyata yang sedang dihadapi umat manusia. Jika dengan cara ini lalu menjadi jelas hal-hal pokok dan sosok kasar dari apa yang harus dilakukan selanjutnya, tercapailah sudah apa yang dikandung dalam hati. PENGERTIAN KEADILAN Al-Qur'an menggunakan pengertian yang berbeda-beda bagi kata atau istilah yang bersangkut-paut dengan keadilan. Bahkan kata yang digunakan untuk menampilkan sisi atau wawasan keadilan juga tidak selalu berasal dari akar kata 'adl. Kata-kata sinonim seperti qisth, hukm dan sebagainya digunakan oleh al-Qur'an dalam pengertian keadilan. Sedangkan kata 'adl dalam berbagai bentuk konjugatifnya bisa saja kehilangan kaitannya yang langsung dengan sisi keadilan itu (ta'dilu, dalam arti mempersekutukan Tuhan dan 'adl dalam arti tebusan). Kalau dikatagorikan, ada beberapa pengertian yang berkaitan dengan keadilan dalam al-Qur'an dari akar kata 'adl itu, yaitu sesuatu yang benar, sikap yang tidak memihak, penjagaan hak-hak seseorang dan cara yang tepat dalam mengambil keputusan ("Hendaknya kalian menghukumi atau mengambil keputusan atas dasar keadilan"). Secara keseluruhan, pengertian-pengertian di atas terkait langsung dengan sisi keadilan, yaitu sebagai penjabaran bentuk-bentuk keadilan dalam kehidupan. Dari terkaitnya beberapa pengertian kata 'adl dengan wawasan atau sisi keadilan secara langsung itu saja, sudah tampak dengan jelas betapa porsi "warna keadilan" mendapat tempat dalam al-Qur'an, sehingga dapat dimengerti sikap kelompok Mu'tazilah dan Syi'ah untuk menempatkan keadilan ('adalah) sebagai salah satu dari lima prinsip utama al-Mabdi al-Khamsah.) dalam keyakinan atau akidah mereka. Kesimpulan di atas juga diperkuat dengan pengertian dan dorongan al-Qur'an agar manusia memenuhi janji, tugas dan amanat yang dipikulnya, melindungi yang menderita, lemah dan

kekurangan, merasakan solidaritas secara konkrit dengan sesama warga masyarakat, jujur dalam bersikap, dan seterusnya. Hal-hal yang ditentukan sebagai capaian yang harus diraih kaum Muslim itu menunjukkan orientasi yang sangat kuat akar keadilan dalam al-Qur'an. Demikian pula, wawasan keadilan itu tidak hanya dibatasi hanya pada lingkup mikro dari kehidupan warga masyarakat secara perorangan, melainkan juga lingkup makro kehidupan masyarakat itu sendiri. Sikap adil tidak hanya dituntut bagi kaum Muslim saja tetapi juga mereka yang beragama lain. Itupun tidak hanya dibatasi sikap adil dalam urusan-urusan mereka belaka, melainkan juga dalam kebebasan mereka untuk mempertahankan keyakinan dan melaksanakan ajaran agama masing-masing. Yang cukup menarik adalah dituangkannya kaitan langsung antara wawasan atau sisi keadilan oleh al-Qur'an dengan upaya peningkatan kesejahteraan dan peningkatan taraf hidup warga masyarakat, terutama mereka yang menderita dan lemah posisinya dalam percaturan masyarakat, seperti yatim-piatu, kaum muskin, janda, wanita hamil atau yang baru saja mengalami perceraian. Juga sanak keluarga (dzawil qurba) yang memerlukan pertolongan sebagai pengejawantahan keadilan. Orientasi sekian banyak "wajah keadilan" dalam wujud konkrit itu ada yang berwatak karikatif maupun yang mengacu kepada transformasi sosial, dan dengan demikian sedikit banyak berwatak straktural. Fase terpenting dari wawasan keadilan yang dibawakan al-Qur'an itu adalah sifatnya sebagai perintah agama, bukan sekedar sebagai acuan etis atau dorongan moral belaka. Pelaksanaannya merupakan pemenuhan kewajiban agama, dan dengan demikian akan diperhitungkan dalam amal perbuatan seorang Muslim di hari perhitungan (yaum al-hisab) kelak. Dengan demikian, wawasan keadilan dalam al-Qur'an mudah sekali diterima sebagai sesuatu yang ideologis, sebagaimana terbukti dari revolusi yang dibawakan Ayatullah Khomeini di Iran. Sudah tentu dengan segenap bahaya-bahaya yang ditimbulkannya, karena ternyata dalam sejarah, keadilan ideologis cenderung membuahkan tirani yang mengingkari keadilan itu Sebab kenyataan penting juga harus dikemukakan dalam hal ini, bahwa sifat dasar wawasan keadilan yang dikembangkan al-Qur'an ternyata bercorak mekanistik, kurang bercorak reflektif. Ini mungkin karena "warna" dari bentuk konkrit wawasan keadilan itu adalah "warna" hukum agama, sesuatu yang katakanlah legal-formalistik. PERMASALAHAN Mengingat sifat dasar wawasan keadilan yang legal-formalistik dalam al-Qur'an itu, secara langsung kita dapat melihat adanya dua buah persoalan utama yaitu keterbatasan visi yang dimiliki wawasan keadilan itu sendiri, dan bentuk penuangannya yang terasa "sangat berbalasan" (talionis, kompensatoris). Keterbatasan visi itu tampak dari kenyataan, bahwa kalau suatu bentuk tindakan telah dilakukan, terpenuhilah sudah kewajiban berbuat adil, walaupun dalam sisi-sisi yang lain justru wawasan keadilan itu dilanggar. Dapat dikemukakan sebagai contoh, umpamanya, seorang suami telah "bertindak adil" jika "berbuat adil" dengan menjaga ketepatan bagian menggilir dan memberikan nafkah antara dua orang isteri, tanpa mempersoalkan apakah memiliki dua orang isteri itu sendiri adalah sebuah tindakan yang adil. Dengan demikian, pemenuhan tuntutan

keadilan yang seharusnya berwajah utuh, lalu menjadi sangat parsial dan tergantung kepada pelaksanaan di satu sisinya belaka. Warna kompensatoris dari wawasan keadilan yang dibawakan al-Qur'an itu juga terlihat dalam sederhananya perumusan apa yang dinamakan keadilan itu sendiri. Wanita yang diceraikan dalam keadaan hamil berhak memperoleh santunan hingga ia melahirkan anak yang dikandungnya, cukup dengan jumlah tertentu berupa uang atau bahan makanan. Sangat terasa watak berbalasan dari "pemenuhan keadilan" yang berbentuk seperti ini, karena ada "pertukaran jasa" antara mengandung anak (bagi suami) dan memberikan santunan material (bagi isteri). Dari pengamatan akan kedua hal di atas lalu menjadi jelas, bahwa permasalahan utama bagi wawasan keadilan dalam pandangan al-Qur'an itu masih memerlukan pengembangan lebih jauh, apalagi jika dikaitkan dengan perkembangan wawasa keadilan dalam kehidupan itu sendiri. Sampai sejauh manakah dapat dikembangkan wawasan demokrasi yang utuh bila dipandang dari sudut wawasan keadilan yang dimiliki al-Qur'an itu? Dapatkah kepada kelompok demokrasi yang utuh bila dipandang dari sudut wawasan keadilan yang dimiliki al-Qur'an itu? Dapatkah kepada kelompok minoritas agama diberikan hak yang sama untuk memegang tampuk kekuasaan? Dapatkah wawasan keadilan itu menampung kebutuhan akan persamaan derajat agama dikesampingkan oleh kebutuhan akan hukum yang mencerminkan kebutuhan akan persamaan perlakuan hukum secara mutlak bagi semua warga negara tanpa melihat asal-usul agama, etnis, bahasa dan budayanya? Dapatkah dikembangkan sikap untuk membatasi hak milik pribadi demi meratakan pemilikan sarana produksi dan konsumsi guna tegaknya demokrasi ekonomi? Deretan pertanyaan fundamental, yang jawaban-jawabannya akan menentukan mampukah atau tidak wawasan keadilan yang terkandung dalam al-Qur'an memenuhi kebutuhan sebuah masyarakat modern di masa datang. Diperlukan kajian-kajian lebih lanjut tentang peta permasalahan seperti dikemukakan di atas, namun jelas sekali bahwa visi keadilan yang ada dalam al-Qur'an dewasa ini harus direntang sedemikian jauh, kalau diinginkan relevansi berjangka panjang dari wawasan itu sendiri. Jelas, masalahnya lalu menjadi rumit dan memerlukan refleksi filosofis, di samping kejujuran intelektual yang tinggi untuk merampungkannya secara kolektif. Masalahnya, masih punyakah umat Islam kejujuran intelektual seperti itu, atau memang sudah tercebur semuanya dalam pelarian sloganistik dan "kerangka operasionalisasi" serba terbatas, sebagai pelarian yang manis? -------------------------------------------Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah Editor: Budhy Munawar-Rachman Penerbit Yayasan Paramadina Jln. Metro Pondok Indah Pondok Indah Plaza I Kav. UA 20-21 Jakarta Selatan Telp. (021) 7501969, 7501983, 7507173 Fax. (021) 7507174 Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan

ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota
Please direct any suggestion to Media Team

Artikel Yayasan Paramadina
Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota I.1. PERSOALAN PENAFSIRAN METAFORIS ATAS FAKTA-FAKTA TEKSTUAL oleh M. Quraish Shihab (1/2) Dalam kamus linguistik, "metafora" (metaphor) berarti pemakaian suatu kata atau ungkapan untuk suatu obyek atau konsep, berdasarkan kias atau persamaan." (1) Itu berarti suatu kosakata atau susunan kata yang pada mulanya digunakan untuk makna tertentu (secara literal atau harfiah) dialihkan kepada makna lain. Dalam disiplin ilmu al-Qur'an pengalihan arti itu disebut ta'wil, atau oleh ulama-ulama sesudah abad ke 3 H., diartikan sebagai "mengalihkan arti suatu kata atau kalimat dari makna asalnya yang hakiki ke makna lain berdasarkan indikator-indikator atau argumentasi-argumentasi yang menyertainya." (2) Salah satu cabang disiplin ilmu bahasa Arab yaitu ilmu al-bayan menggunakan istilah majaz untuk maksud di atas. Tak dapat disangkal, setiap bahasa mengenal kata atau ungkapan yang bersifat metaforis, termasuk bahasa yang digunakan al-Qur'an. Tapi bagaimana dengan al-Qur'an yang redaksi-redaksinya merupakan susunan Ilahi? Apakah mengenal pula metafora? Al-Qur'an menegaskan, Ia turun dalam bahasa Arab. Kosakata yang digunakan umumnya digunakan pula oleh masyarakat Arab pada masa turunnya, tapi gaya susunannya yang bukan prosa dan bukan pula puisi, serta keindahan nada yang dihasilkannya menjadikan pakar-pakar bahasa Arab ketika itu mengakui, mereka tak mampu menyusun semacam redaksi ayat-ayatnya. Hal ini memberi petunjuk atau kesan bahasa al-Qur'an berbeda dengan bahasa yang digunakan ketika itu. Tapi di sisi lain, para ahli dalam rangka memahami al-Qur'an menelusuri dan mempelajari penggunaan kosakata dan ungkapan-ungkapan yang digunakan khususnya oleh suku-suku Qais, Tamim dan Asad karena mereka dinilai masih bertahan dengan bahasa Arab asli. Mereka oleh pakar-pakar budaya dan bahasa dinilai belum atau tak tersentuh oleh akulturasi budaya atau bahasa. Berbeda dengan suku-suku Arab lain nya yang bertetangga dengan daerah-daerah yang tak berbahasa Arab ketika itu seperti, Lakhem dan Juzaam yang bertetangga dengan penduduk Coptik di Mesir atau Gassaan dan Qudha'ah yang bertetangga dengan penduduk Syam yang berbahasa Ibrani. Atau suku Abdi al-qais dan Azad, penduduk Bahrain (Emirat Arab) yang bergaul dengan orang-orang India dan Persia. Bahkan para pakar bahasa tersebut --tak merujuk dalam rangka memahami kosakata atau ungkapan-ungkapan al-Qur'an-- pada penduduk kota-kota Hijaz sekali pun, karena mereka menilai bahwa pergaulan mereka relatif luas sehingga mengakibatkan bahasa mereka tak "asli" lagi. Isi yang dikemukakan di atas, menjadi bukti bahwa pemahaman

al-Qur'an tak terlepas dari pemahaman kosakata atau ungkapan yang digunakan orang-orang Arab pada masa turunnya; dan apabila terbukti mereka menggunakan metafora dalam percakapan mereka maka tentunya dalam al-Qur'an hal yang demikian pasti ditemukan, karena ia diturunkan dengan bahasa Arab, agar dapat mereka pahami (QS. Fushshilat: 3). Penelitian-penelitian yang dilakukan pakar-pakar bahasa, seringkali menimbulkan perbedaan-perbedaan di antara mereka, khususnya ulama-ulama Kufah versus ulama-ulama Bashrah. Ini berarti sebagian hasil-hasil yang mereka peroleh belum mendapat kesepakatan semua pihak, yang berakibat membawa sebagian ulama pada sikap hati-hati dalam menolak pemahaman metaforis bagi teks-teks keagamaan. Paling tidak, jika tak memahaminya secara literal, mereka menyerahkan pengertian sekian banyak kosakata atau ungkapan al-Qur'an kepada Allah swt. Sikap semacam ini tentunya tak memuaskan banyak pihak dan dari hari ke hari pembahasan masalah-masalah metaforis dalam teks-teks keagamaan tumbuh dengan pesatnya. Agaknya al-Jahiz (w. 255 H/868 M) merupakan tokoh pertama yang menghasilkan pemikiran-pemikiran jernih menyangkut masalah tersebut. Walaupun harus diakni bahwa kitab tafsir pertama, karya Abu Ubaidah Mu'ammar bin Al-Mustana (w. 209 H) bernama Majazat al-Qur'an. Namun nama ini tak berkaitan dengan pengertian majaz atau metafora yang dimaksud di sini. Tokoh al-Mahiz adalah seorang penganut aliran rasional dalam bidang teologi (Mu'tazilah) dan dengan penafsiran-penafsirannya ia telah mampu menyelesaikan sekian banyak problema pemahaman keagamaan yang tadinya dihadapi sekian banyak ulama. Imam Malik (w. 795 M) misalnya, enggan membenarkan redaksi "langit menurunkan hujan," karena berkeyakinan bahwa yang menurunkan hujan adalah Allah swt. (3) Demikian juga ketika beliau ditanya tentang pengertian Firman Allah dalam QS. Thaha: 5, "Tuhan yang maha pemurah bersemayam di atas Arasy." Malik menjawab: Pertanyaan semacam ini merupakan bid'ah" (tercela dalam pandangan agama). Bahkan sebagaimana ditulis al-Jahiz dalam bukunya al-Hayawan (4) ada orang-orang yang menduga bahwa batu merupakan makhluk berakal, berdasarkan Firman Allah dalam QS. al-Baqarah: 74 "... dan diantaranya (diantara batu) sungguh ada yang meluncur karena takut kepada Allah ...," sebagaimana ada yang menduga bahwa ada nabi-nabi untuk lebah-lebah berdasarkan QS. al-Nahl: 68, "Dan Tuhanmu mewahyukan kepada lebah." Kemudian mereka berpaham demikian merangkai hikayat-hikayat yang tak mempunyai dasar sedikitpun. Al-Jahiz yang sangat rasional dan ahli dalam bidang kebahasaan itu membantah pendapat-pendapat semacam itu dengan menunjuk pada penggunaan kosakata atau ungkapan yang sama dan yang pernah digunakan orang-orang Arab menjelang dan pada masa turunnya al-Qur'an. Ibnu Qutaibah (w. 276 H/889 M), murid al-Jahid walau pun bukan penganut aliran Muitazilah bahkan dinilai sebagai "juru bicara Ahl-u'l-Sunnah" (5) melanjutkan dan mengembangkan usaha-usaha gurunya dalam memahami teks-teks keagamaan dengan berbagai

motif yang berkembang dengan sangat pesat; dan tentu menggunakan segala cara dan argumentasi, baik logika maupun kebahasaan. Mereka yang menolak pemahaman metaforis dalam teks-teks keagamaan, paling tidak menggunakan dua argumentasi berikut, pertama, Metafora sama dengan kebohongan, sedangkan al-Qur'an adalah firman-firman Allah yang suci dari hal tertentu. Kedua, Seorang pembicara tak menggunakan metafora kecuali jika ia tak mampu menemukan kosakata atau ungkapan yang bersifat hakiki, dan tentunya harus diyakini bahwa Allah maha mampu atas segala sesuatu. Kedua argumentasi di atas jelas sekali kekeliruannya, sehingga berbagai ahli menolaknya. Ibnu Qutaibah menolak dengan menyatakan, "Seandainya metafora atau majaz dinilai kebohongan, maka alangkah banyaknya ucapan-ucapan kita merupakan kebohongan." (6) Al-Sayuthi (w. 911 H/1505 M) menulis dalam bukunya al-Itqan, "Metafora adalah unsur keindahan bahasa dan jika ia ditolak keberadaannya dalam al-Qur'an, maka tentunya sebahagian unsur keindahan pun tak akan ada padanya." (7) Sebagaimana telah dikemukakan pada awal uraian metafora dalam istilah ilmu bahasa Arab dinamai majaz, atau dalam istilah ilmu-ilmu al-Qur'an disebut ta'wil. Majaz menurut kaidah kebahasaan dapat dilakukan akibat adanya satu dari dua hal berikut, pertama, terdapat persamaan antara makna yang dikandung kosakata atau ungkapan dalam arti literalnya dengan makna yang dikandung oleh pengertian metaforis yang ditetapkan. Kedua, adanya perkaitan atau hubungan antara dua hal dalam ungkapan, sehingga mengakibatkan terjadinya penisbahan satu kalimat kepada sesuatu yang seharusnya bukan kepadanya. Ia dinisbahkan, misalnya "langit menurunkan hujan." Di sini terdapat perkaitan antara langit dan hujan, karena langit atau awan adalah sumber kedatangannya dan dengan demikian kepadanya ia dinisbahkan. Disepakati oleh mereka yang berpendapat adanya metafora, bahwa dibutuhkan dukungan petunjuk atau argumen guna mengalihkan satu makna hakiki ke makna metaforis. Tanpa adanya petunjuk maka penta'wilan tak dapat dilakukan. Tapi bagaimana bentuk petunjuk atau argumen tersebut, diperselisihkan mereka. Pertama, Kelompok yang dikenal dengan "al-Dhahiriyah" yaitu pengikut-pengikut Daud al-Dhahiri (w. 270 H) tak membenarkan adanya penta'wilan atau pengertian metaforis dalam teks-teks keagamaan, kecuali bila pengertian yang ditetapkan itu telah populer di kalangan orang-orang Arab pada masa turunnya al-Qur'an, serta terdapat petunjuk yang jelas yang mendukung pengalihan makna atau penta'wilan tersebut. (8) Ibnu Hazem (w. 456 H/1064 M) menegaskan,"Selama arti yang dipilih bagi satu kosakata atau ungkapan telah dikenal di kalangan sahabat dan Tabi'in dan sejalan pula dengan bahasaArab klasik, maka arti tersebut harus diterima baik dalam pengertian majaz, maupun hakiki." (9) Hanya perlu dicatat, satu kosakata atau ungkapan, tak dialihkan ke makna metaforis kecuali setelah makna hakiki tak dapat digunakan. Kedua, al-Syathibi penta'wilan ayat-ayat mengemukakan dua syarat al-Qur'an" (10) Pertama, pokok makna bagi yang

dipilih sesuai dengan hakikat kebenaran yang diakui oleh mereka yang memiliki otoritas dalam bidangnya. Tidak tepat kata al-Syathibi, memahami kata khalila dalam QS. al-Nisa' 125: Allah menjadikan Ibrahim khalila sebagai seorang "fakir" karena pengertian tersebut bertentangan dengan nash al-Qur'an yang lain, yaitu bahwa "ia (Ibrahim) menjamu tamunya dengan daging anak sapi yang dipanggang" (QS. Hud:69), yang menunjukkan beliau bukan seorang fakir; di samping bahwa kenyatann sejarah membuktikan bahwa Ibrahim as. bukan seorang fakir. Kedua, arti yang dipilih tersebut telah dikenal oleh bahasa-bahasa Arab klasik. Dalam syarat ini terbaca bahwa syarat "popularitas" artinya kosakata tak disinggung lagi, bahkan lebih jauh al-Syathibi menegaskan bahwa satu kosakata yang bersifat ambigu atau musytarak (mempunyai lebih dari satu makna), maka kesemua maknanya dapat digunakan bagi pengertian teks tersebut selama tak bertentangan satu dengan lainnya. Contoh kata "hidup" dan "mati." Al-Qur'an menggunakan kata "hidup" dalam arti berpisahnya Ruh dari badan dan juga dalam arti "kosongnya jiwa dari nilai-nilai agama." Firman Allah dalam QS. al-Rum 19, "Dia Allah mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup" dapat diartikan dengan salah satu atau dengan kedua arti tersebut di atas, demikian pula sebaliknya kata mati. Dalam hal ini tentunya kita tak dapat menyalahkan mereka yang memahami Firman Allah dalam QS. al-Baqarah 243, "Apakah kamu tak mengetahui orang-orang yang keluar dari kampung halaman mereka yang jumlah mereka beribu-ribu (keluar) karena takut mati, maka Allah berfirman kepada mereka 'matilah kamu,' kemudian Allah menghidupkan mereka, sesungguhnya Allah mempunyai karunia terhadap manusia tetapi kebanyakan manusia tak bersyukur." -------------------------------------------Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah Editor: Budhy Munawar-Rachman Penerbit Yayasan Paramadina Jln. Metro Pondok Indah Pondok Indah Plaza I Kav. UA 20-21 Jakarta Selatan Telp. (021) 7501969, 7501983, 7507173 Fax. (021) 7507174 (bersambung 2/2)

Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang YayasanISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota
Please direct any suggestion to Media Team

Artikel Yayasan Paramadina
Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota I.1. PERSOALAN PENAFSIRAN METAFORIS ATAS FAKTA-FAKTA TEKSTUAL oleh M. Quraish Shihab (2/2) Kita tak mempermasalahkan walaupun seandainya kita tak

dalam istilah agama dengan "malaikat. tetapi penyampaian Tuhan kepada malaikat tentang rencana-Nya menciptakan khalifah di bumi. menunjukkan kemampuan manusia memanfaatkan hukum-hukum alam. sehingga dengan demikian terjadilah kehidupan bagi tumbuhan tersebut. pada surah al-Baqarah 30 dan seterusnya. Sedang pendapat yang kedua." Hal ini menurut Abduh. bahwa hakikat setiap ciptaan terdapat sesuatu yang menjadi sumber ketergantungannya serta sistem wujudnya. Pertanyaan malaikat kepada Tuhan tentang khalifah yang dapat merusak dan menumpahkan darah. Keengganan Iblis sujud. Pertama.sependapat dengan orang-orang yang memahami kata "matilah kamu" dan "Allah menghidupkan mereka" dalam pengertian "kematian semangat jihad mereka" kemudian "kehidupan" semangat jihad tersebut sehingga kembali ke kampung halaman mereka untuk mengusir orang yang selama itu menganiaya mereka. maka yang digunakan adalah riwayat-riwayat yang sangat lemah atau dibuat-buat. adalah isyarat yang lebih jelas dari satu redaksi tentang satu ciri tertentu bahwa pertumbuhan dalam tumbuh-tumbuhan terjadi tak lain kecuali dengan adanya Ruh yang dihembuskan Allah Swt ke dalam benihnya. hal tersebut mereka namakan natural power karena mereka tak mengenal dalam kehidupan ini kecuali apa yang tampak dan atau yang tampak bekasnya dalam alam nyata. difahaminya atas dasar tamsil." mengemukakan dua pendapat. Sujudnya Malaikat kepada Adam. Sementara penganut-penganut aliran Rasional dinilai sementara ahli melakukan ta'wil dengan menitik beratkan tolok ukurnya pada akal mereka dan kalau pun menggunakan argumentasi kebahasaan. Ketiga. agresi dan permusuhan di muka bumi ini. Satu hal yang pasti. (11) sehingga tak ada dialog sebagaimana tersurat. perpecahan." Selanjutnya Abduh menulis. adalah bahwa "malaikat merupakan makhluk-makhluk Allah yang bertugas dalam pekerjaan-pekerjaan tertentu. 1906 M) dinilai sebagai salah seorang tokoh penganut aliran ini. Yang demikian itu menurut Abduh dinamai. kata Abduh selanjutnya. Pengajaran Tuhan kepada Adam tentang nama benda-benda. adalah gambaran tentang potensi manusia mengetahui serta mengolah dan mengambil manfaat segala yang terdapat di bumi ini. seperti menumbuhkan tumbuh-tumbuhan memelihara manusia dan sebagainya. Demikian pula halnya dengan manusia dan binatang. menunjukkan keterbatasan hukum-hukum alam. Muhammad Abduh (w. demikian pula sebaliknya hal tersebut tak diingkari oleh seseorang yang . Pemaparan pertanyaan kepada malaikat dan ketakmampuan mereka menjawab. bahwa malaikat merupakan makhluk ghaib yang tak dapat diketahui hakikatnya namun harus dipercaya wujudnya. adalah pertanda kesiapan bumi untuk menyambut satu makhluk yang dapat mengolahnya sehingga tercapai kesempurnaan hidup di dunia. dipahami Abduh sebagai gambaran tentang potensi dalam diri manusia untuk melakukan kejahatan. Abduh ketika menguraikan tentang "malaikat. menandakan kelemahan manusia dan ketakmampuannya menghilangkan bisikan-bisikan negatif yang mengantar kepada perselisihan. "Bagi mereka yang tak mengindahkan penamaan yang ditetapkan agama. Hal ini tak dapat diingkari siapa pun yang berakal walau pun mereka tak beriman atau mengingkari bahwa hal tersebut dinamai malaikat. Ayat-ayat yang menguraikan kisah kejadian Adam as. Mereka juga dinilai sangat memperluas penggunaan metafora dengan menggunakan pemahaman tamsil atau perumpamaan bagi ayat-ayat al-Qur'an.

namun hal ini bila diturutkan tanpa batas yang jelas. sebagaimana ditemukan kemudian dalam perkembangan pemikiran selanjutnya. maka redaksi tersebut tak harus dita'wilkan lagi dengan memaksakan suatu penafsiran yang dianggap logis sehingga dipahami akal. bukannya Daud. walaupun belum dipahaminya. Tidak demikian! Apa yang dikemukakan di atas hanya berarti bahwa bila suatu redaksi sudah cukup jelas serta penafsirannya tak bertentangan dengan akal. Kita dapat memahami motivasi Muhammad Abduh dan penganut-penganut alirannya dalam menggunakan akal seluas-luasnya ketika memahami teks-teks keagamaan sehingga merasionalkan ajaran-ajaran agama sambil mempersempit sedapat mungkin wilayah ghaib. (Kami berfirman) Hai gunung-gunung bertasbihlah berulang-ulang bersama Daud. atau membanding-bandingkan pikiran dan kehendaknya yang mempunyai dua sisi baik dan buruk. seakan-akan apa yang terlintas dalam pikirannya itu sedang diajukan ke suatu sidang Majelis Permusyawaratan yang ini menerima dan yang itu menolak. Proses demikian yang terdapat dalam jiwa setiap manusia. Tapi tentunya ini bukan pula berarti kita menerima begitu saja penafsiran-penafsiran yang tak logis. "Dan sesungguhnya Kami telah anugerahkan kepada Daud karunia dari Kami. Menggunakan akal sebagai tolok ukur satu-satunya dalam memahami teks-teks keagamaan khususnya tentang peristiwa-peristiwa alam." demikian halnya sehingga pada akhirnya menanglah salah satu pilihan. Karena kalau hal tersebut harus dipaksakan maka tak jarang ditemukan pemahaman-pemahaman yang tak hanya bertentangan dengan kaidah-kaidah kebahasaan tetapi juga bertentangan dengan hakikat keagamaan. bahwa dalam batinnya terjadi pergolakan. Dan yang lebih penting lagi bahwa Mufassir al-Maraghi telah berusaha memahami hakikat tasbih gunung." Demikian antara lain penta'wilan yang dilakukan Muhammad Abduh. yang ini berkata "Kerjakanlah" dan yang itu "Jangan. yang kemudian diikuti oleh tak sedikit dari ulama-ulama sesudah masa beliau. dirasakan oleh mereka yang mengamati dirinya. sedang terdapat ayat yang lain yang menegaskan bahwa: "Langit yang tujuh. tak mustahil dinamai Allah atau dinamai penyebab hal tersebut sebagai "malaikat. bumi dan semua yang ada di dalammya bertasbih . sejarah kemanusiaan dan hal-hal ghaib berarti menggunakan sesuatu yang terbatas terhadap perbuatan-perbuatan Tuhan (zat yang tak terbatas itu)." (12) Pendapat di atas dinilai sementara ulama tak sejalan dengan teks ayat di mana yang diperintahkan adalah gunung-gunung. dapat mengantar pada pengingkaran hal-hal yang bersifat supra-rasional. penamaan tersebut dengan Muhammad Abduh menambahkan." Al-Maraghi menulis bahwa pengertian ayat tersebut adalah bahwa "gunung mengantar Daud bertasbih mensucikan Allah.beriman walaupun ia mengingkari "natural power" atau hukum alam. dengan jalan pandangan yang diarahkan Daud kepada keajaiban tersebut berfungsi mengingatkan sebagaimana seseorang mengingatkan yang lain. Ahmad Musthafa al-Maraghi salah seorang penganut aliran Abduh menulis dalam tafsirnya menyangkut ayat 10 surah Saba'.

h." QS. sebagaimana dipahami oleh Mustafa Mahmud. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penyantun lagi Maha Pengampun" (QS. Cairo. 18. al-Baqarah: 35). Penta'wilan yang parah adalah yang semata-mata mengandalkan penalaran akal seseorang dengan mengabaikan pertimbanganpertimbangan kebahasaan. 2. Harimurti Kridalaksana. 1963. Jika apa yang digambarkan tentang pendapat al-Maragi di atas tak disetujui. Ketiga. ayat al-Qur'an menggambarkan bahwa keadaan tanpa busana terjadi setelah atau akibat dari memakan buah pohon terlarang bukan sebelumnya. al-Isra' 44). diedit oleh Abdulghani Hasan. Perasaan malu akibat terlihatnya alat kelamin hanya dialami oleh mereka yang telah mengadakan hubungan sexual. berbeda dengan orang dewasa yang merasa malu. Pertama. Syarid Al-Radhy.S. 106. Jilid 1. Kosakata "pohon" dita'wilkan atau dipahami secara metaforis tanpa ada argumentasi pendukung. tetap harus diakni bahwa pendapat tersebut dari sisi kebahasaan memiliki alasan-alasannya. Mustafa Mahmud. (medis) Mustafa Mahmud memahami larangan Tuhan pada Adam dan Hawa "mendekati pohon" sebagai larangan mengadakan "hubungan sexual. Contoh yang dikemukakan di atas menunjukkan betapa pemahaman ayat-ayat al-Qur'an. Ketika mereka (Adam dan Hawa) telah memakan (buah) pohon tersebut (mengadakan hubungan sex) mereka tanpa busana dan berusaha menutupi auratnya dengan daun-daun surga. Di sisi lain bahasa Arab tak menganggap wujud janin sebagai wujud yang penuh. apalagi penta'wilan ayat-ayatnya. tetapi setelah mereka mendekatinya (memakan buah terlarang) redaksi ayat berbentuk plural atau jama' "Turunlah kamu. Redaksi Firman Allah sebelum mereka mendekati pohon tersebut adalah dalam bentuk dual ("Janganlah kamu berdua mendekati pohon ini. Al-Halaby. CATATAN 1. Pertama. Gramedia. Dar al-Kutub al-Haditsah. Muhammad Husen al-Zahaby. Hal ini menunjukkan bahwa ketika itu mereka yang tadinya hanya berdua (Adam dan Hawa) kini telah menjadi lebih dari dua orang dengan adanya janin yang dikandung oleh Hawa setelah hubungan sex tersebut. sebahagian kamu menjadi musuh bagi yang lain" (Q. Kamus linguistik. Kedua. (13) Apa yang dikemukakan di atas hemat kita bertentangan dengan teks ayat-ayat al-Qur'an serta kaidah-kaidah kebahasaan.kepada Allah dan tak sesuatu pun melainkan bertasbih memujiNya. tak sebagaimana dipahami oleh dr." Bukti yang dijadikan dasar pertimbangannya adalah. Kedua. 3. 1955. h. Mesir. Jakarta 1983. tapi kamu sekalian tak mengetahui (hakikat) tasbih mereka. Terbukti bahwa anak kecil tak merasakan hal tersebut. 11. karena itu wanita hamil akan tetap diperlakukan oleh bahasa sebagai wujud tunggal. ketika itu mereka merasa malu. walau sekedar menyebutnya. dan anehnya "daun-daun surga" difahami secara hakiki. al-Tafsir Wa 'l-Mufassirun. al-Baqarah: 36). Talkhis al-Bayan. Dr. membutuhkan. Muhammad . h. juga penguasaan bahasa Arab. di samping nalar.

Dr. diedit oleh Abdullah Darraz. hl. h. Op. tapi pada "makna dalam" (bathin. Jilid. 128. Cairo.. h. 1318 H. Jilid 1. Juz 22. Metro Pondok Indah Pondok Indah Plaza I Kav. th. 11. 7501983. (021) 7507174 Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota Please direct any suggestion to Media Team Artikel Yayasan Paramadina Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota I. h. Cairo. 13. Tentang pendapat-pendapat Abduh lihat lebih jauh Muhammad Rasyid Ridha dalam Tafsir al-Manar. Dar al-Itisham. Al-Azhar. Syarif AlRadhy. Cairo. sebagaimana . Jilid 11. Lihat lebih jauh Abdul Muta'al Muhammad al-Jabri. 7507173 Fax. 6. 119 dst. tp.II. hal. Syathahat Musthafa Mahmud. Cairo. ialah pemahaman atau pemberian pengertian atas fakta-fakta tekstual dari sumber-sumber suci (al-Qur'an dan al-Sunnah) sedemikian rupa. Muhammad Rajab al-Bayyumy. 99. 226. MASALAH TA'WIL SEBAGAI METODOLOGI PENAFSIRAN AL. (021) 7501969. 12. Tafsir Al-Maraghy. 1971.2. Jilid 111. Dar Al-Fikr. h. 36. al-Halaby.4. Cairo 1964 M. Al Sayuthi. diedit oleh Abdussalam Harun. Metode pemahaman serupa itu (ta'wil) telah muncul sejak masa-masa dini sejarah Islam (jika tidak malah sejak masa Rasul Allah saw. Beirut. Percetakan al-Manar. 10. UA 20-21 Jakarta Selatan Telp. Ibid. h. -------------------------------------------Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah Editor: Budhy Munawar-Rachman Penerbit Yayasan Paramadina Jln. 9. h. Khathawat al-Tafsir Al-Bayany. 64. 8. Cairo. Ibnu Hazem Hayatuha Wa Ashruhu.. Ahmad Musthafa al-Maraghy. 1971. 5.QUR'AN oleh Nurcholish Madjid (1/2) Interpretasi metaforis atau ta'wil. 1967. 56.261 dst. Majma' al-Buhuts. 7. al-Muwafaqat. h. sendiri. al-Itqan. inward meaning) yang dikandungnya. sehingga yang diperlihatkan bukanlah makna lahiriyah kata-kata pada teks sumber suci itu. Lihat al-Jahiz dalam al-Hayawan. 92. Cit. 1364 H. Abu Zahrah. Dar al-Ma'rifah. Cairo 1367 H. Lihat Abu Ishaq al-Syathiby.

serta bagaimana seharusnya kita menempatkan diri dalam kancah perselisihan itu secara adil." Dan tidaklah akan dapat merenung (menangkap pesan) kecuali orang-orang yang berpengertian mendalam. antara lain karena revolusi mereka di Iran 1979. setiap pribadi orang modern mengalami bombardemen informasi yang seringkali menyangkut segi-segi kesadarannya yang mendalam. yang didalamnya terdapat ayat-ayat muhkamat yang merupakan induk Kitab Suci (Umm al-Kitab). Karena perselisihan ini maka ada ayat-ayat suci yang bagi suatu kelompok umat Islam bersifat .dikatakan kalangan Islam tertentu). Dari sekian banyak informasi itu. Padahal tidak mengetahui ta'wil-nya kecuali Allah. Maka dengan menengok masalah ta'wil ini. Sikap dapat memahami persoalan berkenaan dengan perselisihan paham di kalangan umat itu semakin dirasa mendesak akhir-akhir ini. Karena itu persoalan interpretasi metaforis ini mempunyai saham cukup besar dalam timbulnya perselisihan. [1] Masalah muhkamat dan mutasyabihat itu setidak-tidaknya menimbulkan tiga jenis perbedaan pandangan: Pertama. yakni. kejadian di Iran pada penghujung dasawarsa lalu itu dalam suatu sentakan. Maka salah satu manfaat yang menjadi tujuan tulisan ini ialah tumbuhnya keinsafan lebih besar tentang bibit-bibit perselisihan paham dalam Islam. "Kami percaya kepada Kitab Suci itu. dan ayat-ayat lain yang mutasyabihat. termasuk informasi tentang adanya berbagai kelompok dan aliran pemikiran yang beraneka ragam Terlintas dalam pikiran. kita berharap dapat menempatkan diri lebih baik dalam memandang berbagai aliran dan madzhab di kalangan umat sendiri. yang interpretable). dengan tujuan membuat fitnah (perpecahan) dan mencari ta'wil bagian-bagian tersamar itu. seperti halnya dengan revolusi-revolusi lain). misalnya kesadaran hampir tiba-tiba kaum Muslim Indonesia tentang adanya golongan Syi'ah dan berbagai alirannya. AYAT-AYAT MUHKAMAT DAN MUTASYABIHAT Salah satu pokok perselisihan di kalangan umat Islam yang terkait erat dengan masalah ta'wil ini ialah adanya ayat-ayat suci al-Qur'an yang "bermakna jelas atau pasti" (muhkamat) dan yang "bermakna samar atau tidak pasti" (mutasyabihat. dan mana pula yang mutasyabihat. Lepas dari masalah revolusi itu sendiri (yang agaknya lebih baik dilihat sebagai gejala politik. kemudian perpecahan. Sedangkan orang-orang yang mendalam ilmunya maka akan menyatakan. di kalangan kaum Muslim. ialah yang berkenaan dengan keadaan umat Islam sendiri di seluruh dunia. Ada pun orang-orang yang dalam hatinya terdapat keserongan. mereka akan mengikuti bagian-bagian yang tersamar (mutasyabihat) daripadanya. yaitu kesadaran tentang pluralitas Islam dan potensi yang ada di balik setiap golongan. untuk kalangan kaum Muslim. untuk kemudian sikap yang sama itu sedapat mungkin kita bawa pada persoalan masyarakat secara keseluruhan. perbedaan pandangan tentang mana saja ayat-ayat suci yang muhkamat. Dalam abad telekomunikasi mondial yang serba cepat dan luas. Adanya kedua jenis ayat itu. disebutkan dalam Kitab Suci sendiri sebagai berikut: Dia (Tuhan) yang telah menurunkan kepada engkau (Muhammad) Kitab Suci. telah melahirkan sejenis kesadaran baru di kalangan umat Islam dunia. semuanya dari sisi Tuhan kami.

kata-kata berserikat). Sebagian kelompok Islam membolehkannya. sehingga dalam memahami ayat-ayat mutasyabihat itu. ungkapan-ungkapan kebahasaan dalam sumber-sumber ajaran agama. Kedua." "mengetahui. Mereka yang tidak membenarkan interpretasi akan melihat firman-firman itu seperti adanya. seperti golongan al-Bathiniyyun ("Kaum Kebatinan" . tapi bagi sebagian mereka. yang tak mesti menunjuk pada hakikatnya.muhkamat. antara lain pengetahuan yang luas dan kemampuan berpikir yang mendalam. harus dilakukan interpretasi di balik ungkapan-ungkapan lahiriah." "melihat. diperlukan disiplin dan latihan berpikir yang tinggi. Maka pelukisan itu mengesankan bahwa Tuhan dan manusia "berserikat" dalam beberapa sifat dan kelengkapan. dengan memberi penegasan bahwa Tuhan memiliki kualitas-kualitas itu "tanpa bagaimana. "marah. . disebabkan kuatnya pengakuan sebagai para pencari hakikat dan kebenaran demonstratif (yang terbuktikan secara tak terbantah). perbedaan pandangan tentang boleh atau tidaknya melakukan ta'wil terhadap ayat-ayat yang mutasyabihat itu. masih terdapat perselisihan tentang siapa yang harus melakukan interpretasi itu. Ini membawa konsekuensi terbaginya anggota masyarakat manusia kepada kelompok-kelompok khusus (khawas." PANDANGAN PARA FILSUF Seperti dapat diduga. Mereka dengan kuat memandang. dan ini menimbulkan problema." Ketiga. Mereka yang melakukan interpretasi (karena beranggapan bahwa Tuhan mustahil memiliki kualitas-kualitas yang sama dengan manusia) akan memandang ayat-ayat yang bersangkutan dengan itu sebagai metafor-metafor belaka. namun bagi kelompok lain bersifat mutasyabihat. Yang pertama adalah "kaum ahli. yang menurut mereka hanya diperoleh melalui pemikiran kefilsafatan. Karena interpretasi bukanlah pekerjaan yang gampang. bagi kebanyakan kaum Muslim bersifat muhkamat.lihat pembahasan di bawah). Sebagian lagi yang tidak membolehkannya. bagi mereka yang membolehkan interpretasi. al-'awam). berpendapat dalam memahami ayat-ayat itu kita harus berhenti pada makna-makna seperti yang dibawakan ungkapan lahiriah lafal dan kalimatnya. Untuk dapat menangkap arti sebenarnya dari ungkapan-ungkapan itu. padahal kata-kata atau sifat-sifat itu juga dapat diberlakukan kepada makhluk. sedangkan kenyataan tidaklah seperti yang dikesankan pengertian lahir firman-firman itu." "senang"' dan lain-lain yang dalam Kitab Suci disebutkan sebagai sifat-sifat Tuhan. bersifat mutasyabihat sehingga pelukisan tentang surga dan neraka itu mereka pahami sebagai metafor-metafor atau kias-kias. baik Kitab Suci maupun Sunnah Nabi adalah ungkapan-ungkapan metaforis atau alegoris. maka sangat masuk akal bahwa hak untuk melakukannya harus dibatasi hanya pada lingkungan yang memenuhi syarat. Firman-firman berkenaan dengan surga dan neraka. al-khawash) dan kelompok-kelompok umum (awam. seperti kata-kata "mendengar. para filsuf adalah kalangan orang-orang Muslim yang paling banyak melakukan ta'wil. "tangan". misalnya. Termasuk dalam permasalahan ini ialah problema homonimi (Arab: ism musytarak. Jadi tidak dimaksudkan seperti apa adanya menurut arti lahiriah ungkapan-ungkapan itu. khususnya manusia.'." dan yang kedua terdiri dari "orang-orang kebanyakan.

yang tidak memaksudkan makna-makna lahir ungkapan-ungkapan itu. disebabkan sulitnya pemahaman interpretatif yang abstrak itu. Dengan kata lain. jadi tertolak). Para filsuf akan menjadi kafir jika tidak melakukan interpretasi (karena bagi mereka ajaran-ajaran agama tertentu seperti surga dan neraka dalam pengertian fisik itu tidak masuk akal.. menggunakan metode interpretasi metaforis terhadap teks-teks keagamaan. Jadi bagi Ibn Rusyd firman Tuhan itu harus dibaca kaum khawas sedemikian rupa sehingga "orang-orang yang mendalam ilmunya" termasuk ke dalam yang mengetahui ta'wil ayat-ayat mutasyabihat. Spanyol.. maka kalangan khawas. tak seharusnya mengikuti cara awam dalam memahami ajaran agama. Padahal tidak mengetahui ta'wilnya kecuali Allah dan orang-orang yang mendalam ilmunya. yakni. ". Filsuf Islam terkenal dari Cordova.Sesuai dengan makna asal katanya dalam bahasa Yunani. Kadang-kadang juga disebut ahl al-burhan ("para penganut kebenaran demonstratif atau apodeiktik. Mereka ini berkata. metode Ibn Rusyd yang membagi manusia dalam golongan khawas dan awam itu akan melahirkan semacam elitisme dalam kehidupan beragama. Yaitu dengan memindah tanda baca berhenti (waqaf:) sehingga terbaca. sehingga filsafat pun disebut al-hikmah. melainkan pada makna batinnya.. Kelebihan mereka itu. Nabi telah melakukan sejenis kebohongan: Mengungkapkan sesuatu tanpa memaksudkan makna lahiriah ungkapan itu. kemudian menjadi kearifan itu sendiri. yakni kebenaran tak terbantah"). sedangkan orang awam harus menerimanya menurut apa adanya sesuai dengan bunyi dan makna lahiriah lafalnya itu. para filsuf menganut teori Nabi telah melakukan "kebohongan untuk kebaikan" (al-kidzb li al-mashlahah). ta'wil harus disimpan dan dirahasiakan untuk kalangan kaum khawas saja. seperti yang dituduhkan Ibn Taymiyyah. dan mereka berhak. [4] Karena "pendidikan" itu ditujukan pada kalangan awam." karena mereka ini berhak atau wajib melakukan ta'wil terhadap bunyi teks-teks suci. filsafat adalah kecintaan kepada kearifan (wisdom). memandang Nabi mengutarakan sesuatu dengan ungkapan-ungkapan metaforis dan alegoris. yang tak terjangkau kemampuan akal mereka. mereka adalah golongan khawas di kalangan umat. "Kami beriman kepada Kitab Suci itu. orang awam akan menjadi kafir jika melakukan interpretasi. Ibn Rusyd (Latin: Averroes). para filsuf sendiri. mereka sebenarnya menganut teori. maka Ibn Rusyd berpendapat. [5] Sehingga sering dikatakan. Tapi "kebohongan" Nabi bukanlah kejahatan. [3] Karena itu para filsuf rawan terhadap tuduhan. bahkan wajib. Dan sebaliknya.. misalnya berpandangan para filsuf selaku ahl al-burhan itulah yang dimaksudkan dalam firman Ilahi (dikutip di atas) sebagai "orang-orang yang mendalam ilmunya. [2] Jadi para filsuf dengan kata lain. Para flsuf harus melakukan ta'wil terhadap bunyi-bunyi teks suci baik Kitab maupun Sunnah (Hadits)." sebagai ganti cara baca kaum awam (lihat terjemah kutipan firman itu di atas). semuanya dari sisi Tuhan kami. AL-BATHINIYYUN (KAUM KEBATINAN) . Adanya bahaya ini (bahaya kekafiran. Maka para filsuf Islam memandang diri mereka sebagai "penganut kearifan" (ahl al-hikmah) atau para orang arif-bijaksana (al-hukama). baik dari pihak khawas maupun awam). karena bertujuan kebaikan. agar mereka berbuat baik dan meninggalkan keburukan. yaitu pendidikan orang banyak atau kaum awam.

tak mampu menangkap makna batin yang sulit itu. yang tersembunyi dan dirahasiakan itu hanya diberikan Nabi kepada 'Ali. penganut aliran Isma'iliyyah. karena kepercayaan mereka pada imam-imam yang duabelas jumlahnya. kemenakan. Mereka juga dinamakan kaum Syi'ah Sab'iyyah (Syi'ah Tujuh). malah berbahaya bagi mereka. seperti juga menjadi pandangan kaum filsuf. semua ajaran agama (Islam) selalu mengandung makna lahir dan makna batin. Metro Pondok Indah Pondok Indah Plaza I Kav.Istilah al-Bathiniyyun. Tapi mereka juga berpegang pada paham tentang adanya ajaran-ajaran esoteris (bathin) yang membentuk sistem filsafat kaum Isma'ili. Oleh kaum Sunni istilah itu juga secara khusus digunakan untuk kelompok Islam tertentu. Tapi karena orang awam. Dalam hal paham keimanan itu mereka berbeda dengan umumnya golongan Syi'ah Itsna 'Asy'ariyyah (Syi'ah Duabelas. sejak dari Hasan ibn 'Ali sebagai imam pertama. sistem filsafat itu menyediakan penyimpangan kandungan batin ajaran-ajaran agama yang antara lain. khususnya kandungan al-Qur'an. kadang-kadang juga Ahl al-Bawathin (Kaum Kebatinan) digunakan secara longgar untuk mengidentifikasi kelompok-kelompok Islam yang orientasinya berat ke arah paham keagamaan yang lebih mengutamakan usaha menangkap makna dalam (bathin) dari suatu teks atau ajaran agama. karena kepercayaan mereka pada imam-imam yang tujuh (yaitu sejak Hasan ibn 'Ali sampai Muhammad ibn Isma'il (ibn Ja'far al-Shadiq ibn Muhammad al-Baqir). dan hanya mereka inilah yang dapat menangkap makna-makna batiniah agama. terutama kaum Isma'ili. -------------------------------------------Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah Editor: Budhy Munawar-Rachman Penerbit Yayasan Paramadina Jln. memberi dukungan pada usaha pembuktian bahwa lembaga imamat (keimaman) adalah langsung dari Tuhan. Karena itu istilah tersebut berlaku untuk hampir semua kelompok esoteris Islam. UA 20-21 Jakarta Selatan (bersambung 2/2) . Pembuktian itu diperoleh antara lain karena doktrin. melalui Ja'far al-Shadiq seperti kaum Isma'ili. maka makna batin itu ditujukan hanya pada orang-orang istimewa tertentu saja. menantu dan sahabat yang menjadi kepercayaan beliau. Dalam gabungannya dengan semangat keagamaan mereka. bagi mereka. Adalah al-Bathiniyyun ini yang menjadi salah satu sasaran karya-karya polemis pemikir Sunni al-Ghazali dalam rangka usahanya menghancurkan filsafat. seperti pandangan tentang kewajiban melakukan ibadat-ibadat tertentu. khususnya Neo-Platonisme. Mereka memang masih memiliki persamaan dengan orang-orang Muslim lain. yaitu suatu pecahan aliran Syi'ah yang muncul sesudah wafat Isma'il ibn Ja'far al-Shadiq sekitar 148 H (765 M). Sebab dalam melakukan ta'wil terhadap fakta-fakta tekstual agama. termasuk kaum Sufi. para pengikut Syi'ah Isma'iliyyah ini memang banyak sekali menggunakan sumber-sumber filsafat. Makna dan kebenaran agama.kemudian berakhir dengan Muhammad al-Muntadhar. Maka hanya mereka yang memiliki kemampuan spiritual yang tinggi sajalah yang mampu mengakui peranan khusus 'Ali. yang dipercayai sekarang sedang bersembunyi dan akan kembali sebagai Imam Mahdi). tapi menyimpang ke Musa al-Kadhim ibn Jafar --dan bukannya ke Muhammad ibn Isma'il-.

Telp. 7501983. Mereka juga terdiri dari kaum bisnis dan wirausahawan yang sukses. Pandangan hidup kaum Isma'ili yang sangat esoteris (bathini) itu telah membuat mereka sebagai salah satu kelompok yang paling eksklusifistik dalam Islam. Jawa Tengah.QUR'AN oleh Nurcholish Madjid (2/2) Unsur Neo-Platonis Kaum Kebatinan ini kemudian muncul dalam karya kefilsafatan besar --yang ditulis sekelompok sarjana yang menamakan diri mereka Ikhwan al-Shafa' (Persaudaraan Suci)-. [6] Mereka itu kini dipimpin Aga Khan yang terkenal itu. Sedikit sekali kemungkinan orang luar lingkungan sendiri akan diberi pengakuan kemanusiann yang penuh. MASALAH TA'WIL SEBAGAI METODOLOGI PENAFSIRAN AL. Mereka tidak saja menjadi sponsor atas kegiatan kultural dan ilmiah yang antusias. yaitu suatu pecahan agama Majusi (Zoroastrianisme). Magelang. paham kebatinan ini juga menunjukkan tanda-tanda adanya pengarah Manicheanisme. PANDANGAN KAUM SUNNI Dari satu segi. Tapi lain dari Manucheanisme. pertumbuhan historis paham Sunni merupakan . (021) 7507174 Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota Please direct any suggestion to Media Team Artikel Yayasan Paramadina Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota I. khususnya masyarakat Islam sendiri. 7507173 Fax. (Sebagai misal. atas dasar konsep tentang arsitektur Islam masa depan yang cukup revolusioner. mereka memberi award bidang arsitektur Islam kepada Pesantren Pabelan. Selain unsur Neo-Platonis.Risalat Ikhwan al-Shafa. suatu bentuk kegiatan yang dimungkinkan oleh minat mereka yang besar kepada usaha memelihara warisan sejarah Islam. Paham Sy'iah Isma'iliyyah bertemu dengan Manicheanisme dalam ajaran yang hendak memberi pada penganutnya "kearifan dan martabat kosmis" yang budi kasar orang umum tak mampu menggapainya.2. seperti tampak nyata di banyak kawasan Afrika Timur. yang menurut penilaian mereka diwakili rintisannya oleh pesantren itu). kebatinan kaum Isma'ili sangat menekankan pembangunan praktis susunan masyarakat dunia. Diduga bahwa orang-orang Persi penganut Manicheanisme di zaman Abbasiyah secara rahasia masuk Islam dan memeluk paham kebatinan kalangan kaum Isma'ili. Mereka juga banyak mengadakan pameran benda-benda seni peninggalan Islam di kota-kota besar dunia (1983 di New York). (021) 7501969. tapi juga banyak mendorong kemajuan masyarakat manusia pada umumnya. sebagai bentuk keterlibatan nyata mereka dalam sejarah kemanusiaan.

dan agar mereka yang berpengetahuan mendalam menangkap pesannya" [10] Ibn Taymiyyah mengatakan . tapi dengan pembatasan-pembatasan begitu rupa sehingga masih bisa dikuasai. bahwa Dia bertahta di Singgasana. dan seterusnya). merasa senang dan tidak senang. [9] Masih dalam konteks paham Sunni tentang ta'wil ini. Yang ideologis ialah "Aliran Penduduk Madinah" (Madzhab Ahl al-Madinah) seperti dikemukakan mereka yang tak mau terlibat dalam pertikaian-pertikaian politik saat itu. agar mereka (manusia) merenungkan ayat-ayatnya. yang telah Kami turunkan kepada engkau (Muhammad). menutup samasekali kemungkinan mengadakan ta'wil akan menghadapkan orang-orang Muslim yang serius pada kesulitan mengartikan berbagai pelukisan tentang Tuhan yang antropomorfis (yakni. khususnya antara 'Ali dan Mu'awiyah beserta pengikut masing-masing. Sebab pelukisan antropomorfis itu tidak sesuai dengan penegasan Kitab Suci sendiri bahwa Tuhan tidak sebanding. Syria. Tapi. [8] Mungkin disebabkan latar belakang pertumbuhan historisnya itu maka paham Sunni ditandai semangat umum moderasi dan akomodasi. dan 'Imran ibn Hasyim. semua bagian dari ajaran agama akan habis diinterpretasikan. Kaum Sunni umumnya menerima adanya intepretasi metaforis. "Kitab Suci penuh berkah. menurut Ibn Taymiyyah. Sebab jika pintu interpretasi metaforis itu ditenggang dengan tidak hati-hati. Paling jauh. Berdasarkan firman Allah.tapi juga senantiasa menyediakan "lubang pelarian" (loop hole) di bidang hukum bagi mereka yang kesadaran hukumnya lemah. wajah. madzab Madinah itu juga didukung oleh sebagian besar "para pelopor pertama" (al-sabiqun al-awwalun). Bahkan. Abu Bakrah. rujukan utama paham Sunni dalam ilmu Ketuhanan atau akidah. [7] Yang politik pragmatis. ialah sikap mendukung sebagian terbesar kaum Muslim kepada Mu'awiyah sebagai Khalifah yang sah berkedudukan di Damaskus. Khususnya yang terjadi pada tahun 41 H yang sering disebut para ahli sejarah sebagai "Tahun Persatuan" ('Am al-Jama'ah). dan tidak bisa disamakan dengan sesuatu apa pun juga. dan "tanpa bagaimana" (bi-la kayfa). mata dan lain-lain. wajah dan mata. Inilah metode al-Asy'ari. keterangan dalam al-Qur'an bahwa Tuhan mempunyai tangan. Salah satu wujud semangat itu tampak dalam paham Sunni menghadapi masalah ta'wil itu. mereka tetap menolak antropomorfisme. sehingga tidak ada lagi sisa yang bersifat pasti. namun tangan. Said ibn Abi Waqqash. sebaliknya. pendekatan metaforis pada agama akan mempunyai efek melemahnya sendi-sendi dan kesadaran hukum masyarakat banyak. jika mereka tidak melakukan interpretasi. maka bagaikan membuka Kotak Pandora. dan yang kedua komponen politik pragmatis. Ibn Taymiyyah mengemukakan pandangan yang cukup menarik. Muhammad ibn Maslamah. misalnya. menyerupai manusia. Usamah ibn Zayd. yang pertama komponen ideologis. Interpretasi metaforis atau ta'wil tidak saja selalu bersifat abstrak dan intelektualistik --yang tak terjangkau masyarakat banyak-. wajah dan mata Tuhan itu tidak sama dengan yang ada pada makhluk seperti manusia.gabungan dua komponen. dengan mengatakan bahwa sekali pun disebutkan Tuhan itu mempunyai tangan. Kaum Sunni --yang secara garis besar perjalanan sejarahnya hampir selalu paralel dengan susunan mapan masyarakat Islam-sangat mengkhawatirkan. Mereka ini dipelopori 'Abdullah ibn 'Umar.

tetapi tak boleh menyia-nyiakan energi kita dalam memperdebatkan sesuatu yang berada di luar kedalaman diri kita. sifat alegoris atau metaforis keterangan-keterangan dalam Kitab Suci itu tak dapat tidak harus digunakan sebagai metodologi penyampaian pesan. sebagaimana perintah untuk itu dapat dipahami dari firman-Nya. dan hal yang tak masuk akal itu tak ada dalam al-Qur'an. [12] Pandangan hampir serupa dianut juga oleh Abdullah Yusuf Ali. Abdullah Yusuf Ali memberi komentar sebagai berikut. "Apakah mereka (manusia) tidak merenungkan al-Qur'an. bersumber pada atau bersifat murni keagamaan. bagian yang bersifat figuratif. sebab "tidak ada kesalahan yang lebih besar daripada berpikir bahwa "terjemahan-terjemahan" (yakni. kata Ibn Taymiyyah. [13] Seorang sarjana Muslim modern penafsir al-Qur'an lain. juga berpegang pada pandangan yang sama dalam masalah ta'wil ini. Ayat ini memberi kita suatu kunci penting untuk interpretasi al-Qur'an. tapi tumpang tindih. tak dibenarkan menganggap perolehannya sebagai mutlak dan final. Tapi juga tidak sedikit daripadanya yang semata-mata merupakan hasil interaksi antara sesama . Dari uraian di atas diharapkan ada sedikit kejelasan bahwa masing-masing kelompok atau aliran dalam Islam memiliki reasoning mereka sendiri dalam memilih suatu pemahaman agama. di seluruh Kitab Suci. pertama. sebab manusia tidak akan dapat memahami sesuatu yang samasekali abstrak. Kita harus mencoba memahaminya sebaik mungkin. namun kebanyakan justru firman-firman yang metaforis.bahwa yang harus direnungkan itu ialah semua ayat-ayat al-Qur'an. Asad berpendapat bahwa al-Qur'an memang mengandung ayat-ayat yang pasti maknanya tanpa samar." [14] PENUTUP Telah dikatakan. Maka Allah memuji mereka yang merenungkan firman-firman-Nya. ataukah sebenarnya hati mereka telah tersumbat?" [11] Karena itu. yang tidak ada asosiasinya dengan apa yang sudah ada dalam alam pikirannya. Sebagian dari reasoning itu tentu saja. Menurut sarjana ini. Muhammad Asad. Hanya hal-hal yang maknanya tak masuk akal saja yang tidak direnungkan." dan kedua. yang tidak diberikan secara terpisah. Namun manusia. dan penafsir al-Qur'an terkemuka Terhadap firman Allah berkenaan dengan ayat-ayat muhkamat dan mutasyabihat yang dikutip di atas tadi. bahwa tujuan kita membahas persoalan interpretasi metaforis ini antara lain ialah untuk mendapatkan kesadaran tentang suatu dimensi pemahaman keagamaan dalam Islam yang ikut memberi corak keanekaragaman kaum Muslim di dunia. baik yang muhkamat maupun yang mutasyabihat. secara harfiah "Induk Kitab Suci. baik yang muhkamat maupun mutasyabihat. sarjana Muslim di zaman modern ini. inti atau dasar Kitab Suci. Secara garis besar al-Qur'an itu dapat dibagi ke dalam dua bagian. metaforis dikenakan kepada esensi itu. dalam usahanya memahami keterangan-keterangan suci itu. yaitu. Allah dan Rasul-Nya tidaklah mencela orang yang merenungkan makna di balik ungkapan-ungkapan ayat-ayat mutasyabihat dalam al-Qur'an kecuali jika dilakukan dengan maksud menimbulkan perpecahan dan mencari-cari interpretasinya yang tidak masuk akal. ungkapan-ungkapan dalam bahasa manusia) itu dapat memberi definisi pada sesuatu yang tak mungkin didefinisikan.

S. Al-Syaykh Muhammad al-Hudlari Bek. Itsbat al-Nubuwwat. Shad/38:29. 1348 H).orang-orang Muslim sendiri atau antara orang-orang Muslim dengan non-Muslim dalam sejarah. misalnya. Minhaj al-Sunnah al-Nabawiyyah fi Naqdl Kalam al-Syi'ah wa al-Qadariyyah. misalnya. Dan sementara kita melihat orang lain demikian. Abu al-Hasan al-Asy'ari. jil. 5. Lihat risalahnya. 8. The Venture of Islam.seorang yang bijaksana tak boleh bersikap dogmatis. 110. 1984]. khususnya. Dari sudut pandangan inilah absurd-nya pengakuan diri sendiri sebagai yang paling benar. Ma'arij al-Wushul fi Ma'rifat anna Ushul al-Din wa Furu'a-hu qad Bayyana-ha al-Rasul. 193. 1974). 'Wahai sekalian orang-orang yang beriman. 1 h. Maka yang benar ialah menerapkan sikap "ragu yang sehat" (healthy scepticism). 7. 8-9. 4. hh. Marshall G." [15] CATATAN 1. Ibn Rusyd. 9. (Chicago: The University of Chicago Press. jil. (Riyadl: Maktabat al-Riyadl al-Haditsah. Khazanah. (dalam Khazanah). janganlah ada suatu kaum di antara kamu yang memandang rendah kaum yang lain. Hodgson. atau memberi orang lain apa yang disebut "hikmah keraguan" (benefit of doubt) dalam pergaulan sesama manusia. 378-9. dianut Ibn Sina (Avicenna). QS. 217-8). QS. 1. 3. Ibn Rusyd. sebab --seperti kata Muhammad Asad tadi-kita sebenarnya hendak menggapai sesuatu (Kebenaran Mutlak) yang tidak bakal tergapai. 11. 'All 'Imran 3:7.. yang kami terjemahkan dalam buku kami. 1387 H 1967 M). op. dalam buku kami. 3 jilid. kalau-kalau mereka yang dipandang rendah itu lebih baik daripada mereka yang memandang rendah. tt. h. Khazanah. Ini sejalan dengan yang dipesankan Tuhan sendiri dalam ajaran-Nya tentang prinsip persaudaraan di antara orang-orang beriman dan bagaimana memeliharanya. h. Tarikh al-Tasyri' al-lslami (Beirut: Dar al-Fikr. 4 jilid. 249). --seperti dikatakan Abdullah Yusuf Ali yang telah dikutip-. 137-51. cit. pada waktu yang sama kita harus menyadari bahwa orang lain pun melihat kita demikian. . 230-1 6. Lihat dalam buku kami. Tuduhan Ibn Taymiyyah itu dinyatakan dalam risalahnya. Namun. al-Ibanah'an Ushul al-Diyanah (Idarat al-Thiba'at al-Muniriyyah.). pengakuan itu mungkin dibenarkan saja. atau malah secara logis diperlukan. h. Fashl al-Maqal wa Taqrir Ma bayn al-Hikmah wa al-Syari'ah min al-Ittishal. h. Ibn Taymiyyah. Muhammad/47:24. QS. meskipun dari sudut pandangan lain. 2. Khazanah Intelektual Islam [Jakarta: Bulan Bintang. (Lihat terjemahnya. khususnya h. khususnya sesama Muslim. keyakinan. Pandangan seperti ini. 10... hh.

991. This passage gives us an important clue to the interpretation of the Qur'an. 13. as distinguished from the various illustrative parables.12. but between the meanings attached to them. Ibn Taymiyyah. The wise man will understand that there is an "essence" and an illustrative clothing given to the essence. and exercise our ingenuity about its inner meaning. metaphorical. Translation and Commentary. 15. throughout the Book. --the "Forms of Ideas" in Plato's Philosophy. h. but intermingled. catatan 347). 7501983. al-Iklil fi al-Mutasyabih wa al-Ta'wil (Kairo: Dar al-Mathba'at al-Salafiyyah. as the final meaning is known to God alone. The division is not between the verses. 1973). h. allegoric. no one should be dogmatic. appendix 1. 8-9. (021) 7507174 Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota Please direct any suggestion to Media Team Artikel Yayasan Paramadina Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan . We must try to understand it as best as we can but not waste our energies in disputing about matters beyond our dept (A. 1403 H]. not given separately." and (2) the part which is figurative. 123. It is very fascinating to take up the latter. The Message of the Qur'an. The Holy Qur'an. allegorical. Metro Pondok Indah Pondok Indah Plaza I Kav. h. we shall find that in a sense the whole of the Qur'an has both "established meaning" and allegorical meaning. which are plain to everyone's understanding. 7507173 Fax. and something eternal and independent of time and space. Each verse is but a Sign or Symbol: what it presents is something immediately applicable. 14. the essence of God's message. [Jeddah: Dar al-Qiblah. and ordinance If we refer to xi-1 and xxxix-23. and though people of wisdom may get some light from it. literally "the mother of the Book. (1) the nucleus or foundation of the Book. Broadly speaking it may be divided into two portions. But perhaps the meaning is wider: the "mother of the Book" must include the very foundation on which all Law rests. Muhammad Asad. Yusuf Ali. UA 20-21 Jakarta Selatan Telp. (021) 7501969. The Commentators usually understand the verses "of established meaning" (muhkam) to refer to the categarical orders of the Syari'at (or the Law). Al-Hujarat/49:11. but it refers to such a profound spiritual matters that human language is inadequate to it. QS. viz. -------------------------------------------Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah Editor: Budhy Munawar-Rachman Penerbit Yayasan Paramadina Jln.

dan memberi bahan melakukan penafsiran dan pemikiran tentang bagaimana mengaplikasikan sebuah firman itu dalam situasi yang berbeda.a. seperti diungkapkan para ahli biografi Nabi. dan kalau demikian dalam keadaan bagaimana itu dapat atau harus diterapkan. KONSEP ASBAB AL-NUZUL . satu rangkaian ayat atau satu surat. Demikian juga. Juga jika di situ disebutkan nama pribadi orang seperti. baik berupa satu ayat.w. nama Abu Lahab. sebagai berikut: 1. Mas'udi (1/3) Asbab al-Nuzul adalah konsep.. 2. Konteks itu akan memberi penjelasan tentang implikasi sebuah firman. teori atau berita tentang adanya "sebab-sebab turun"-nya wahyu tertentu dari al-Qur'an kepada Nabi s. ayat tentang perubahan bentuk rembulan (al-ahillah) dalam surat al-Baqarah/2:189. sebagaimana hal tersebut dapat dilihat dari konteks aslinya. Atau seperti surat al-Masad (Tabbat). Konsep ini muncul karena dalam kenyataan. Alasan mula pertama yang mendasari suatu kepentingan hukum. Pengetahuan tentang asbab al-Nuzul akan membantu seseorang memahami konteks diturunkannya sebuah ayat suci. diketahui dengan cukup pasti adanya situasi atau konteks tertentu diwahyukan suatu firman. seperti "Mereka bertanya kepadamu (Nabi)". maka kemanapun kamu menghadapkan . beserta istrinya. dan juga Zayd (ibn Haritsah).ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota I. "Katakan kepada Mereka".Relevansinya Bagi Pandangan Historisis Segi-Segi Tertentu Ajaran Keagamaan oleh Masdar F. "Kepunyaan Allah-lah timur dan barat. dari lafal dan konteksnya masing-masing dapat diketahui dengan jelas sebab-sebab turunnya surat Abasa al-Tahim. misalnya. lafal permulaan ayat pertama surat al-Anfal menunjukan dengan jelas bahwa firman itu diturunkan kepada Nabi untuk memberi petunjuk kepada beliau mengenai perkara yang ditanyakan orang tentang bagaimana membagi harta rampasan perang. Maksud asal sebuah ayat. Menentukan apakah makna sebuah ayat mengandung terapan yang bersifat khusus atau bersifat umum. 3. immediate) dari sebuah firman. MANFAAT PENGETAHUAN ASBAB AL-NUZUL Di antara hal-hal yang dapat dengan jelas menjadi petunjuk tentang sebab turunnya sebuah firman ialah jika dimulai dengan ungkapan dialogis. dan lain-lain. Dengan mengutip berbagai sumber otoritas dalam bidang ini. sejarah al-Qur'an maupun sejarah Islam. sudah dikemukakan di atas. Situasi historis pada zaman Nabi dan perkembangan komunitas muslim. paman nabi sendiri. 5. dan lain sebagainya. 4.3. Beberapa di antaranya bahkan dapat langsung disimpulkan dari lafal teks firman bersangkutan. Sebagai sebuah contoh ialah firman Allah. adalah jelas turun dalam kaitannya dengan pengalaman Nabi yang menyangkut seorang tokoh kafir Quraisy. Ahmad von Denffer memberi rincian arti penting bagi pengetahuan tentang asbab al-nuzul. Seperti. khususnya mengenai ayat-ayat hukum. Makna dan implikasi langsung dan segera terpahami (muhabir. yang bernama atau dipanggil Abu Lahab.

al-Baqarah/2:115). sehingga Tuhanpun "ada dimana-mana. di sanalah Wajah Allah. [1] SUMBER BERITA ASBAB AL-NUZUL Sumber pengetahuan tentang asbab al-nuzul diperoleh dari penuturan para Sahabat Nabi. seseorang boleh melakukan shalat sunnah kemanapun di atas kendaraannya. sekalipun dalam keadaan normal diwajibkan. Karena itu bersangkut pula persoalan kuat dan lemahnya berita itu. Berdasarkan penuturan Jabil ibn 'Abd-Allah. mengapa terdapat kesamaan yang demikian besar dan jauh diantara seluruh umat Islam di dunia dalam hal shalat dan peribadatan lain. atau kalau karena kondisi tertentu tidak mungkin baginya menghadap ke arah yang benar. penuturan atau berita tentang suatu sebab turunnya wahyu tertentu juga dapat beraneka ragam. apalagi jika sembahyang itu bukan sembahyang wajib. Sesungguhnya Allah adalah Maha Meliputi dan Maha Tahu". Kita sendiri mengetahui betapa efektifnya simbolisasi kiblat ini. perbedaan sangat . tidaklah menyangkut sebenarnya nilai shalat itu. Pertama." Tetapi karena konteks turunnya firman itu bersangkutan dengan peristiwa tertentu diatas. dengan dampak kesamaan yang menakjubkan antara seluruh kaum muslim di muka bumi ini dalam hal peribadatan. berdasarkan penuturan Abd 'l-Lah ibn 'Umar. Pagi harinya mereka baru menyadari bahwa semalam mereka bersembahyang dengan menghadap ke arah yang salah. sehingga implikasinya juga dapat menyangkut beberapa situasi yang berbeda. yaitu berita-berita Hadist. Kiblat itu hanya sebagai lambang orientasi hidup yang benar dan konsisten serta kesatuan orientasi itu antara seluruh umat Islam sedunia. Firman ini turun kepada Nabi berkaitan dengan adanya peristiwa yang dialami sekelompok orang beriman yang mengadakan perjalanan di malam hari yang gelap gulita. Sebab yang penting ialah nilai shalat itu sendiri sebagai tindakan mendekatkan diri kepada Allah dan mengasah jiwa untuk lebih bertaqwa kepada-Nya. yaitu arah al-Masjid al-Haram di Makkah. Maka tidak perlu lagi ditegaskan bahwa informasi-informasi yang ada harus dipilih dengan sikap kritis. Sebagai misal ialah berita tentang sebab turunnya firman yang dikutip di atas. tidaklah berarti dalam sembahyang seorang muslim dapat menghadap kemanapun ia suka. Menghadap kiblat yang telah ditentukan. Kemudian mereka bertanya kepada Nabi berkenaan dengan apa yang mereka alami itu.wajahmu. (Dalam agama lain. yaitu al-Masjid al-Haram di Makkah. yang menegaskan bahwa kemanapun seseorang menghadapkan wajahnya. timur ataupun barat. tidak ke kiblat. sejalan dengan keaneka ragaman sumber berita. Dan seperti halnya persoalan hadits pada umumnya. Maka turunlah ayat suci itu. Ia harus menghadap ke kiblat yang sah. ia sebenarnya juga menghadap Tuhan. shahih dan dha'if. melainkan sunnah. tidaklah menjadi persoalan. mungkin tidak akan dapat mengerti. karena Tuhan tidak terikat oleh ruang dan waktu. Nilai berita itu sendiri sama dengan nilai berita-berita lain yang menyangkut Nabi dan Kerasulan Beliau. Tetapi ia dibenarkan menghadap mana saja dalam shalat jika ia tidak tahu arah yang benar. Semua ini menjadi wewenang cabang ilmu kritik hadits (ilmu tajrih dan ta'dil) para ahli. serta otentik dan palsunya. (QS. Tapi firman itu juga menegaskan bahwa sembahyang menghadap kemanapun dalam keadaan darurat. al-Wahidi al-Nisaburi menerangkan tentang adanya beberapa versi lain tentang sebab turunnya firman terrsebut. Kalangan bukan Islam biasanya merasa heran.

Maka berlomba-lombalah kamu sekalian untuk berbagai kebaikan. Perlakuan yang amat simpatik kepada kaum muslim dan sikapnya yang penuh pengertian kepada ajaran Islam yang menyebabkan turunnya firman Allah yang lain. Walaupun kiblat sebagai lambang persatuan dan kesamaan itu demikian pentingnya. menurut versi penuturan ashab al-nuzul ini. al-Maidah/6:82). Ethiopia).s. Dari balik pertanyaan sementara Sahabat di atas itu dapat diketahui dengan jelas bahwa sekalipun Najasyi adalah seorang Kristen. sebab tekanan serupa itu akan membawa kepada sikap lebih mementingkan lambang atau simbol daripada isi atau makna. kaum Yahudi bertanya-tanya. karena perlindungan yang diberikannya kepada para pengikut Nabi yang berhijrah ke negeri itu untuk menghindar dari penyiksaan kaum musyrik Makkah. tidaklah dibenarkan adanya tekanan yang serba mutlak atas kewajiban menghadapkan wajah ke Makkah. atas Versi ketiga tentang sebab turunnya firman itu menyangkut kaum Yahudi Madinah. namun Nabi memerintahkan mereka berdoa baginya. seperti difirmankan di tempat lain. Di (kelompok) manapun kamu berada. ayat suci di atas itu turun berkenaan dengan adanya pertanyaan kepada Nabi. . terjemahnya. mengapa mereka diperintahkan untuk melakukan shalat jenazah bagi Raja Najasyi (Negus) dari Abessinia (Habasyah. pandangan lain. al-Baqarah/2:148). tanpa terlalu banyak mempersoalkan perbedaan antara mereka. Seterusnya. setiap kelompok manusia mempunyai arah (wijhah) ke mana mereka menghadap atau berorientasi. Najasyi adalah raja Habasyah yang besar sekali jasanya kepada Nabi. Lengkapnya. Yang penting ialah sikap batin yang ada dalam dada.terasa dari sekte ke sekte lain. kaum Muslim. yang menegaskan bahwa sedekat-dekat umat manusia dalam rasa cintanya kepada kaum muslim ialah "mereka yang berkata. kurang lebih adalah demikian: Dan bagi setiap (kelompok manusia) ada arah (wijhah) yang kepadanya kelompok itu menghadap. Sebab. menegaskan bahwa masalah kemanapun orang menghadap dalam sembahyang bukanlah perkara penting. namun dari ayat suci itu jelas sekali bahwa segi makna adalah lebih penting daripada segi lambang. Dan umat manusia dalam orientasi yang berbeda-beda itu hendaknya berlomba menuju kepada berbagai kebaikan. kaum muslim dan agama Islam. namun berdasarkan firman Allah yang menegaskan bahwa kemanapun kita menghadapkan wajah kita maka di sanalah wajah Allah. Dan firman Allah yang terkait itu. Jadi firman Allah tentang "timur dan barat" tersebut di mempunyai kemungkinan implikasi dan aplikasi yang luas. Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu. juga dari bangsa atau negeri ke bangsa atau negeri lain meskipun dari satu sekte). Meskipun lambang dan makna harus ada secara serentak. yang semasa hidupnya (sebagai seorang Kristen) bersembahyang menghadap kiblat yang berbeda dengan kiblat mereka sendiri. Allah akan mengumpulkan kamu semua. Menurut penuturan ibn Abi Thalhah. firman Allah itu." (QS. berdasarkan penuturan 'Abd 'l-Lah ibn 'Abbas. ketika Nabi dengan izin Allah mengubah kiblat sembahyang dari arah Yerusalem menjadi ke arah Makkah. Dan Nabi dalam memerintahkan sahabat beliau untuk melakukan shalat jenazah bagi Najasyah menggambarkan raja Habasyah itu sebagai "saudara" kaum beriman. mengingat jasa-jasanya yang besar itu. "Kami adalah orang-orang Nasrani" (Q.

percaya kepada adanya pertanggungjawaban pribadi mutlak di Hari Kemudian (Akhirat). Tetapi kebaikan ialah jika orang beriman kepada Allah. dan tabah dalam menghadapi penderitaan dan kesusahan. serta dalam masa-masa sulit. Asbab al-Nuzul menunjukkan banyaknya kasus suatu nilai ajaran atau hukum diwahyukan kepada Nabi dalam kaitannya dengan peristiwa nyata tertentu yang menyangkut. yatim piatu. dan berbuat kepada sesama manusia dan makhluk untuk dibawa ke Hadirat Tuhan di Akhirat nanti. siapa ayah-ibu biologis anak tersebut). Pembatalan ini dipertegas . Telah dikemukakan bahwa adanya nama pribadi Zayd yang tersebutkan dalam al-Qur'an. Hari Kemudian. dan jika orang mendermakan hartanya. serta mereka yang menepati janji jika mereka berjanji. tanpa kelebihan nilai salah satu atas yang lain. Lengkapnya. Para ahli fiqih sepakat bahwa dalam hukum berubah menurut peruhahan zaman dan tempat. Nabi dan masyarakat Islam di zaman beliau. khususnya segi-segi tertentu ajaran agama di bidang hukum. melainkan karena hal-hal yang lebih sejati seperti iman kepada Allah yang selalu hadir (omnipresent) dalam hidup manusia sehari-hari. Kitab Suci dan para Nabi. seperti barat dan timur. ialah sejauh mana nilai atau ketetapan hukum dalam Islam ditentukan oleh keadaan ruang dan waktu. "Taghayyur al-ahkam bi thagayyur al-zaman wa al-makan" (Perubahan hukum oleh perubahan zaman dan tempat). penghentian makna kehukuman (legal significance) praktek pengambilan anak angkat (tanpa memelihara atau mempertahankan adanya informasi tentang. terjemahnya adalah demikian: Bukanlah kebaikan itu bahwa kamu menghadapkan wajahmu ke arah timur atau barat. orang-orang miskin. juga jika orang menegakkan sembahyang dan mengeluarkan zakat. guna membebaskan budak. [2] Berkenaan dengan masalah itu bahkan turun firman yang menegaskan bahwa kebaikan tidaklah diperoleh hanya menghadapkan muka ke arah timur ataupun barat. Para ulama telah menuangkan masalah asbab al-nuzul ini dalam berbagai karya ilmiah yang kini menjadi rujukan para ahli. Tetapi mereka berselisih tentang batas terjauh dibenarkannya perubahan itu. Suatu peristiwa pribadi. para Malaikat. betapapun cintanya kepada harta itu. untuk kaum kerabat. Zaynab. Sebab akhirnya semua penjuru angin. IMPLIKASI ASBAB AL-NUZUL Salah satu masalah yang banyak dibahas oleh para ahli agama. Kaidah mereka mengatakan. adalah milik Allah semata. dan mereka itulah orang-orang yang bertaqwa.mengapa ada perubahan yang mengesankan sikap tidak teguh dalam beragama serupa itu?! Maka firman Allah tersebut dimaksudkan untuk menampik ejekan kaum Yahudi dan menegaskan bahwa perkara arah menghadap dalam sembahyang bukanlah sedemikian prinsipilnya sehingga harus dikaitkan dengan permasalahan nilai keagamaan yang lebih mendalam seperti keteguhan atau konsistensi (istiqamah) sebagai ukuran kesejatian dan kepalsuan. orang terlantar di perjalanan. berupa perceraian Zayd ("ibn Muhamad") dari istrinya. (QS. al-Baqarah/2:177). para peminta-minta. firman berkenaan dengan masalah kiblat ini. telah menjadi titik tolak ditetapkannya suatu hukum Tuhan tentang pembatalan atau. Mereka itulah orang-orang yang benar (sejati dalam kebaikan).

" Firman Allah yang menyangkut tentang Zaid dan Zainab itu demikian: Dan ingatlah tatkala engkau (Nabi) berkata kepada dia (Zaid) yang Allah telah karuniakan kebahagiaan dan engkaupun telah pula memberinya kebahagiaan.Relevansinya Bagi Pandangan Historisis Segi-Segi Tertentu Ajaran Keagamaan oleh Masdar F. yaitu perceraian Zaid dari Zainab dan perkawinan . setelah bercerai dari. Zayd. Allah Maha Tahu akan segala sesuatu. Kemudian Zayd-pun tidak lagi menyandang nama "ibn Muhamad" tapi dikembalikan kepada nama aslinya. Mereka (yang telah lalu sebelumnya) itu adalah orang-orang yang menyampaikan risalat (pesan-pesan suci) Allah. "namun engkau sendiri (Nabi) merahasiakan apa yang ada dalam dirimu yang Allah akan memperlihatkannya. (021) 7501969. dengan sebuah kasus jaz'i (partikular). Dan perintah Allah haruslah terlaksana. sesuai dengan sunnah (hukum) Allah pada mereka yang telah lewat sebelumnya. Metro Pondok Indah Pondok Indah Plaza I Kav. 7501983. melainkan dia adalah rasul Allah dan Penutup para Nabi. agar tidak lagi ada halangan bagi kaum beriman untuk (kawin dengan bekas) istri anak-anak angkat mereka. Muhamad bukanlah ayah seseorang (tanpa keterkaitan keorangtuaan biologis) di antara kamu. (Q. Mas'udi (2/3) Jadi firman itu memang turun kepada Nabi berkenaan dengan suatu peristiwa konkret yang menyangkut sepasang suami-istri.(bersambung 2/3) Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah Editor: Budhy Munawar-Rachman Penerbit Yayasan Paramadina Jln.s. Dan perintah Allah adalah sesuatu yang sangat pasti. maka setelah putus Zaid untuk bercerai dari dia (Zainab). Cukuplah Allah sebagai penghitung. -------------------------------------------. Dapat dilihat bahwa dalam peristiwa Zaid dan Zainab dan yang "ditangani" langsung oleh kitab suci itu terdapat kaitan antara suatu nilai hukum kulli (universal). KONSEP ASBAB AL-NUZUL .dengan contoh nyata. yaitu "ibn Haritsah. dan engkau (Nabi) takut kepada sesama manusia padahal Allah lebih patut engkau takuti.3. yaitu dinikahkannya Nabi oleh Allah dengan Zainab. jika mereka (anak-anak angkat) itu telah putus menceraikan istri-istri mereka. bekas anak angkatnya. yaitu pembatalan makna legal praktek mengangkat anak. "Pertahankanlah istrimu (Zainab) dan bertaqwalah kepada Allah. UA 20-21 Jakarta Selatan Telp. dan tidak takut kepada seorangpun selain Allah. (021) 7507174 Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota Please direct any suggestion to Media Team Artikel Yayasan Paramadina Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota I. 7507173 Fax. al-Ahzab/33:37-40). mereka takut kepada-Nya. Tidak sepatutnya bagi Nabi ada perasaan enggan mengenai apa yang diwajibkan Allah kepadanya.

Sebab dalam melakukannya selalu ada kemungkinan dicapai suatu pandangan. Dengan begitu nilai tersebut tidak lagi terikat oleh kekhususan peristiwa asal mulanya dan dapat diberlakukan pada kasus-kasus lain di semua tempat dan sepanjang masa (dan inilah makna universalitas suatu nilai). Pada hari ini dihalalkan pada kamu perkara yang baik-baik. Dan (halal. "Pengambilan makna dilakukan berdasarkan generalitas lafal. Para ahli hukum Islam telah membuat patokan untuk masalah ini. Lalu. Tetapi sebuah generalisasi hanya dapat dilakukan jika inti pesan suatu firman dapat ditangkap. juga wanita merdeka dari kalangan mereka yang mendapat Kitab Suci sebelum kamu. "Dihalalkannya bagi kamu apa saja yang baik. ketika Hudzaifah meminta pendapat. tersangkut pula masalah tafsir. bagi kamu) para wanita merdeka dari kalangan wanita beriman. dan makanan kamu halal bagi mereka. sebagimana makanan kaum beriman halal bagi mereka: Mereka bertanya kepada engkau (Nabi) tentang apa yang dihalalkannya untuk mereka. Sesungguhnya Allah Maha Cepat dalam perhitungan. atau tindakan. juga (dihalalkan bagi kamu binatang yang ditangkap) oleh binatang-binatang berburu yang kamu latih dengan kamu biasakan menangkap binatang buruan dan kamu ajari binatang-binatang itu dengan sesuatu (ketrampilan) yang diajarkan Allah kepada kamu. Suatu ketika Umar menerima surat dari Hudzaifah ibn al-Yamman. Masalah selanjutnya yang lebih esensial dari contoh di atas itu ialah. bekas "menantu"-nya. dan kamu nikahi mereka (secara sah). Makanan mereka yang mendapat Kitab Suci (Ahl al-Kitab) adalah halal bagi kamu. Jawablah. tidak berpegang kepada makna lahiriah bunyi lafal firman itu. karena itu makanlah apa yang ditangkap oleh binatang berburu itu untuk kamu. yang isinya menceritakan bahwa ia telah kawin dengan seorang wanita Yahudi di kota al-Mada'in. dengan kaidah mereka. serta bertaqwalah kepada Allah." (QS. Ini dengan sendirinya menyangkut masalah kemampuan pemahaman yang mendalam sedalam-dalamnya dan seluas-luasnya. jika kamu beri mereka mahar-mahar mereka. atau bahkan mungkin ta'wil (interprestasi metaforis) yang tidak jarang menimbulkan kontroversi. dan tanpa kamu memperlakukan mereka sebagai gundik. la bi khushush al-sabab). maka sungguh sia-sialah amal perbuatannya. yang pada lahirnya seperti meninggalkan atau menyimpang dari ketentuan Kitab Contoh klasik dari persoalan tersebut ialah tindakan Umar ibn al-Khaththab pada waktu menjabat sebagai khalifah. tidak berdasarkan partikularitas penyebab" (Al-Ibrah bi umum al-lafdh. Penyebutan tentang dibolehkannya lelaki Muslim kawin dengan wanita Kristen atau Yahudi dalam al-Qur'an ada dalam rangkaian dengan penyebutan tentang dihalalkannya makanan kaum Ahl al-Kitab itu bagi kaum beriman. pada urutannya. padahal al-Qur'an jelas membolehkannya. Maka . Barangsiapa menolak untuk beriman. Komandan kaum beriman (Amir al-Mu'minin) itu tidak membenarkan seorang tokoh Sahabat Nabi kawin dengan wanita Ahl al-Kitab (Yahudi atau Kristen). dan sebutlah nama Adlah atasnya. Tapi Umar seperti dalam beberapa kasus lain. dan ia di akhirat akan tergolong orang-orang yang merugi. al-Maidah/5:4-5). bagaimana suatu nilai dari sebuah kasus dapat ditarik dari dataran generasitas yang setinggi-tingginya. yakni dibenarkan kawin.Nabi dengan Zainab. tanpa kamu menjadikan mereka objek seksual semata (zina).

seorang tokoh terkemuka pembaharuan Islam di Sumatra Barat. seperti dikatakan oleh Abd al-Hamid Hakim. namun kebijakan khalifah kedua itu menjadi preseden dalam yurisprudensi Islam tentang kemungkinan dilakukannya kebijakan khusus sesuai dengan tuntutan ruang dan waktu. mengatakan. Kita hanya berpendapat hendaknya para wanita muslim diutamakan. khalifah ketiga. Muhamad ibn al-Husain. juga menyalahi apa yang dilakukan sebagian para Sahabat Nabi. seperti. lalu mereka mengutamakan para wanita Ahl al-Dzimmah (Ahl al-Kitab yang dilindungi) karena kecantikan mereka. Na'ilah al-Kalbiyah. tetapi dapat diperluas juga kepada kaum Majusi atau Zoroastri (sudah sejak Umar)." Kemudian rektor universitas al-Azhar. Hal ini sudah cukup sebagai bencana bagi para wanita kaum muslim. Ia hanya mengkawatirkan terlantarnya wanita muslimah. Dr. selain Hudzaifah. dan agama-agama itu mempunyai kitab suci. misalnya. seperti. ada beberapa tokoh Sahabat Nabi yang beristrikan wanita Ahl al-Kitab. para ahli hukum Islam masa lalu. Sebab. sekalipun berada di negara Islam. [3] Maka apa yang dikuatirkan khalifah sungguh-sungguh dapat menjadi kenyataan. Abd-al-Fattah Husaini al-Syaikh. dan kepada kaum Hindu. dan itulah juga pendapat Abu Hanifah. dalam surat jawabannya memberi peringatan keras. Umar menegaskan bahwa kaum lelaki muslim kawin dengan wanita Ahl alKitab tidaklah terlarang atau haram. antara lain dengan mengatakan: "Kuharap engkau tidak akan melepaskan surat ini sampai dia (wanita Yahudi) itu engkau lepaskan Sebab aku khawatir kaum Muslim akan mengikuti jejakmu. misalnya. Karena itu banyak ahli fiqih yang berpandangan bahwa konsep Ahl al-Kitab tidak terbatas hanya kepada kaum Yahudi atau Kristen saja. konsep tentang Ahl al-Kitab diperluas meliputi kaum Majusi dan Hindu-Buddha. yang beristrikan wanita Kristen Arab. Apabila kelak. "Kita ikuti pendapat Umar itu. Disebabkan oleh meluasnya daerah kekuasaan politik kekhalifahan Islam. maka kesempatan nikah dengan wanita Kristen dan Yahudi juga menjadi terbuka lebar. Konfusianis. Buddha. Sebab waktu itu kaum muslim itu hanya terbatas kepada minoritas kecil para penguasa politik dan militer dan hampir terdiri hanya dari bangsa Arab saja. Jadi ada timbangan sisi historis dan humanis dalam menetapkan suatu hukum. dan banyaknya bangsa-bangsa bukan muslim yang menjadi rakyat kekhalifahan itu. asal-usul agama-agama Asia itupun adalah paham Ketuhanan Yang Maha Esa atau Tauhid. dan belum banyak kalangan dari bangsa lain yang memeluk Islam. Sebab. yaitu terlantarnya kaum muslimah sendiri jika kaum muslim lelaki diizinkan dengan bebas menikah dengan wanita Ahl al-Kitab. setelah Persia dibebaskan (di zaman Umar sendiri) dan lembah Indus oleh Muhamad ibn Qasim (di zaman al-Walid ibn al-Malik).Umar. dan Thalhah ibn Ubaid-Allah yang . Taois. Meskipun ternyata larangan (sementara) Umar itu lambat laun ditinggalkan (dan bangsa Arab umumnya melakukan integrasi total dengan penduduk di mana mereka hidup sehingga lebur dengan bangsa setempat). mengatakan bahwa tindakan khalifah kedua itu menyalahi nas atau lafal Kitab Suci. MASALAH KEPENTINGAN UMUM (AL-MASHLAHAT AL-AMMAH) Maka berdasarkan tindakan Umar itu. Utsman bin Affan. namun kita tidak memandang perkara tersebut (lelaki muslim kawin dengan wanita Ahl al-Kitab) sebagai terlarang." Menurut julur penuturan lain. Shinthois dll.

Maka Umar dengan berbagai kebijakannya adalah seorang penguasa yang berusaha mengurangi sesedikit mungkin efek kritis perubahan sosial itu. termasuk juga wanita tawanan (yang menurut hukum perang di seluruh dunia pada waktu itu tawanan perang. Kekayaan yang melimpah ruah secara tiba-tiba akibat banyaknya harta rampasan perang. yang dalam hal ini adalah jauh lebih kaya daripada Hijaz di Jazirah Arabia. Tetapi. Semua tindakan tersebut tidaklah dilakukan khalifah menurut kehendak hatinya sendiri. membuat ibukota. pendahulunya. maka dengan sendirinya lenyap pula alasan melarangnya. Mesir dan Persia. mengalami berbagai perubahan sosial yang besar. menerapkan prinsip penyamarataan antara semuanya). Dan Umar tidak hanya menerapkan kebijakan politik melarang sementara perkawinan dengan wanita Ahl al-Kitab. penghapusan perlakuan khusus pada para mu'allaf. sebagai misal. Dan Umar tidaklah mengatakan sebagai haram --hal mana tentu akan berarti menentang hukum Allah-. [6] Dan meskipun. lelaki maupun lebih-lebih lagi perempuan.melainkan hanya sekedar menjalankan suatu patokan yang sudah tetap dikalangan para ahli. bahwa pemerintah boleh melarang sementara sesuatu yang sebenarnya halal jika ada faktor yang merugikan masyarakat. ratio legis) yang harus diperhatikan dalam pelaksanaannya. yang timbul karena pertimbangan kemanfaatan (expediency) menurut tuntutan zaman dan tempat. pembagian tanah-tanah pertanian di Syria dan Irak kepada penduduk setempat (tidak kepada tentara Islam seperti sebagian besar Sahabat Nabi berpendapat demikian). Khalifah dalam menetapkan kebijakan hukumnya menerapkan prinsip bahwa semua hukum agama mengandung alasan hukum (illah. Kekhalifahan Umar adalah masa permulaan pembebasan negeri-negeri sekitar Arabia. namun kedua-duanya bermaksud membela keadilan. tanpa memandang masa lampau mereka. adalah sepenuhnya berada dibawah kekuasaan dan menjadi "milik" perampasnya). pengefektifan hukum talak tiga (talak batin yang dilarang rujuk) bagi orang yang menyatakan talak tiga kali kepada istrinya meskipun pernyataan itu diucapkan sekaligus dan tanpa tenggang waktu.beristrikan seorang wanita Yahudi dari Syam (Syiria). Abu Bakar berpendapat bahwa keadilan terwujud dengan penyamarataan antara semua tentara Islam. pembagian tingkat penerimaan "ransum" (semacam gaji tetap) bagi tentara Islam berdasarkan seberapa jauh ia banyak atau kurang berjasa dalam sejarah Islam sejak zaman Nabi (padahal Abu Bakar. yang dapat menjadi sumber krisis. Madinah. [4] Karena itu ada yang menyatakan bahwa tindakan khalifah kedua itu adalah sejenis tindakan politik (tasharuf siyasi). Tetapi faktor itu lenyap. larangan berkumpul untuk selamanya bagi wanita dengan lelaki yang tidak dikawininya pada saat menunggu (iddah). khususnya Syria. sejalan dengan kepentingan umum (al-mashlahat al-ammah) dan sesuai dengan tanggungjawab seorang penguasa dan pelaksana hukum bersangkutan. kata rektor al-Azhar lebih lanjut. Umar tidak melakukan larangan itu kecuali setelah melihat adanya hal yang kurang menguntungkan bagi masyarakat Islam. Sebaliknya Umar justru berpendapat akan tidak adil jika masa lalu . Ia juga dicatat membuat deretan berbagai kebijaksanaan "kontroversial" seperti meniadakan hukum potong tangan bagi pencuri di masa sulit seperti paceklik. Umar berbeda dengan Abu Bakar dalam kebijakannya tentang penyamarataan atau pembedaan besarnya jumlah ransum tentara. Menurut Dr Abd-al-Fattah.

baik Kitab maupun Sunnah. Rasa keadilan mengatakan bahwa sebagian orang yang berbuat lebih banyak tentunya juga harus mendapatkan balas jasa dan penghargaan lebih banyak. seperti yang pandangan teoretisnya dikembangkan oleh para ahli fiqih dengan kepeloporan Imam al-Syafi'i. dalam arti wujud fisiknya yang menyangRut formalitas penghadapan wajah ke suatu arah tertentu. Yang jelas ialah. Dan karena kemampuan tersebut dapat berbeda-beda antara berbagai pribadi. [7] Meskipun teori "hapus-menghapuskan" ini tidak lepas dari kontroversi. yaitu nasikh-mansukh. Adalah kesadaran historis ini. UA 20-21 Jakarta Selatan Telp. menyangkut masalah adanya bagian tertentu dari al-Qur'an ataupun Hadits yang "dihapus" (mansukh) dan yang "menghapus" (nasikh). yang menjadi salah satu tumpuan harapan bahwa Islam akan mampu lebih baik dalam menjawab tantangan zaman di masa depan. Yaitu bahwa kiblat. seperti dikatakan rektor al-Azhar. maka hasilnya pun dapat berbeda-beda pula. 7507173 Fax. Dan karena lebih penting daripada formalitas. maka makna tidak boleh ditinggalkan. [6] Ini membawa kita kembali pada polemik sekitar kiblat shalat yang telah dikemukakan di atas. menurut Hodgson. dengan perbedaan disana-sini dalam hal materi mana yang menghapus dan mana pula yang dihapus. tidaklah dimaksudkan pada dirinya sendiri. (021) 7501969. Konsep itu.(bersambung 3/3) Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah Editor: Budhy Munawar-Rachman Penerbit Yayasan Paramadina Jln. MASALAH HISTORIS AJARAN KEAGAMAAN Itulah wujud contoh apa yang dikemukakan di atas. sementara formalitas dalam keadaan tertentu boleh ditinggalkan. namun sebagian besar ulama menganutnya. (021) 7507174 Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota Please direct any suggestion to Media Team . pendirian Abu Bakar dan Umar membuktikan bahwa yang dituju oleh hukum ialah makna atau pesan yang dikandungnya (al-ahkam turadu li ma ani-ha). Kata Hodgson. berkenaan dengan sumber-sumber pengambilan ajaran agama. Konsep asbab al-Nuzul mempunyai kaitan yang erat dengan konsep lain yang juga amat penting. yang ikut berharap bahwa umat Islam akhirnya akan mampu menjawab tantangan zaman: -------------------------------------------. Metro Pondok Indah Pondok Indah Plaza I Kav. konsep nasikh-mansukh juga mengandung kesadaran historis di kalangan ahli hukum Islam. melainkan dimaksudkan maknanya.masing-masing tentara itu diabaikan. yaitu bahwa masalah penarikan atau pengangkatan makna umum (generalisasi) suatu nilai hukum akan menyangkut masalah penafsiran dan kemampuan memahami lebih mendalam inti pesan yang dikandungnya. padahal sebagian dari mereka benar-benar jauh lebih berjasa daripada sebagian yang lain. Yang jelas ialah bahwa dalam kaitannya dengan konsep tentang asbab al-Nuzul. 7501983.

kesediaan mengikuti dengan sungguh-sungguh bahwa tradisi agama terbentuk dalam waktu. dan tujuannya ialah hidayah ke arah kebenaran.Relevansinya Bagi Pandangan Historisis Segi-Segi Tertentu Ajaran Keagamaan oleh Masdar F. Jadi jalan tauhid pun satu. yang sejak dari semula mempunyai tempat begitu besar dalam dialognya. [8] Sekarang bandingkan ungkapan Hodgson itu dengan yang dapat kita baca dalam sebuah kitab klasik.Artikel Yayasan Paramadina Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota I. membuat agama itu mampu menampung ilham baru apapun ke dalam realita dari warisan dan dari titik tolak mulanya yang kreatif. dan selalu mempunyai dimensi historis. sepanjang ajaran tentang pasrah kepada Allah (Islam) berdasarkan kepercayaan kepada Tuhan Yang Maha Esa (tawhid).3. Sebab perbaikan setiap umat adalah dengan menghilangkan keburukan . Al-Syafi'i membawa ke depan kecenderungan yang sudah ada secara laten dalam karya (Nabi) Muhamad sendiri ketika ia menekankan pemahaman al-Qur'an secara benar-benar konkret dalam interaksi historisnya dengan kehidupan Nabi Muhamad dan masyarakat beliau. Mas'udi (3/3) Tetapi barangkali modal potensial terbesar Islam yang paling hebat ialah kesadaran historisnya yang jelas. yang dapat terjadi lewat penelitian ilmiah atau pengalaman rohani baru. dan semua cara pengobatan itu sebagai cara menyingkirkan penyakit dan mengembalikan kesehatan adalah satu. karena terdapat perbedaan kesiapan antara berbagai umat maka berbeda pula bentuk-bentuk jalan tauhid dan bagaimana jalan itu ditempuh. Sama juga dengan cara pengobatan yang berbeda-beda. [9] Dalam syarah Fushush al-Hikam diuraikan sebagai berikut: Jika cara turunnya ajaran ke dalam jiwa para Nabi itulah yang dimaksud dengan kesatuan cara yang diturunkannya semua ajaran (dari Tuhan). lalu mengapa agama para Nabi itu berbeda-beda? Jawabnya ialah. yaitu kitab Muhyi al-Din ibn al-Arabi. sementara maksud. namun mereka tidak pernah mengingkari prinsip bahwa ketepatan historis adalah fondasi semua pengetahuan keagamaan. tujuan dan hakikat metode itu semuanya satu. Maka begitu pula cara turunnya ajaran kepada Para Nabi adalah satu. dalam syarah al-Syaikh Abd-al-Razzaq al-Qasyani. seperti jari-jari yang menghubungkan garis luar lingkaran dengan titik pusat lingkaran itu. Jari-jari tersebut merupakan jalan-jalan yang berbeda-beda menurut perbedaan garis yang menghubungkan antara titik pusat lingkaran itu dengan setiap titik yang ditentukan pada garis lingkar luarnya. yakni kesehatan. Ia (al-Syafi'i) melakukan hal ini memang tanpa ketepatan sejarah tertentu. KONSEP ASBAB AL-NUZUL . tetapi perbedaan kesiapan umat manusia mengakibatkan perbedaan agama dan aliran. Dalam kitab ini dijelaskan tentang adanya konteks sejarah bagi ajaran agama-agama sehingga menghasilkan manifestasi lahiriah yang berbeda-beda. tetapi itu bukanlah maksudnya yang semula dan meskipun oleh kaum muslim kemudian hari kajian yang jujur tentang kenyataan sejarah masa silam Islam ditukar dengan gambaran stereotipikal dan berang. Sebab. Fushush al-Hikam. namun tujuannya adalah satu. Padahal inti semua agama yang benar.

Maka banyak para ahli yang akhirnya sampai kepada persoalan bahasa: bagaimana kita mempersepsi suatu ungkapan linguistik untuk dapat melakukan generallisasi tinggi dari makna immediate-nya ke makna universalnya. Berkaitan dengan ini. maka konsep asbab al-nuzul dapat diperluas sehingga tidak hanya menyangkut sebuah ayat tertentu saja misalnya. Tetapi masalahnya tetap sama. juga tidak kepada suatu sebab khusus dari asbab al-Nuzul munculnya suatu ajaran atau hukum. dan hidayah mereka bersumber dari berbagai sentra dan martabat yang berbeda-beda menurut tabiat dan kejiwaan mereka. yaitu bagaimana menangkap pesan inti yang uraiversal itu. Tentang hal ini. khususnya sekitar Timur Tengah. Dan karena yang universal ini tidak terikat oleh ruang dan waktu. terdapat kemungkinan bahwa "tujuh lapis langit" adalah bahasa kultural (yang historis). yang tidak tergantung kepada konteks.yang khusus ada padanya. Bahasa termasuk kategori historis. [11] Namun masalah kebahasaan mungkin akan ternyata tidak terbatas hanya kepada segi linguistiknya semata. Justru dalam penegasan tentang kesatuan agama para Nabi terkandung makna yang tegas bahwa ada sesuatu yang benar-benar universal dalam setiap agama dan menjadi titik pertemuan antara semua agama. agar kita waspada agar jangan sampai kita terkungkung oleh lingkaran kebahasaan semata dan terjerumus ke dalam sikap mental seolah-olah suatu nilai akan hilang kebenarannya jika tidak dinyatakan dalam bahasa tertentu atau ungkapan kebahasaan tertentu yang dianggap suci. dan dengan sabda itu Allah menjelaskan apa yang dikendaki dari mahlukNya dan apa perintahNya. Padahal bahasa Ibrani adalah paling dekat ke bahasa Arab. Misalnya. sedemikian dekatnya sehingga kedua bahasa itu lebih dekat daripada bahasa bukan Arab (Ajam) satu dari yang lain. melainkan menyangkut seluruh Kitab Suci itu seutuhnya. keterangan yang cukup baik diberikan oleh Ibn Taimiyah. penting sekali memahami penegasan dalam Kitab Suci bahwa Allah tidak mengutus seorang Rasulpun kecuali dengan bahasa kaumnnya (QS. Ibrahim/14:4). al-Mulk/67:3). Dan jika masalah kebahasaan menyangkut pula segi kultural ini. dan semuanya itu adalah sabda (Kalam) Allah. dan kesadaran kebahasaan akan dengan sendirinya menyangkut kesadaran historis. maka dapat disebut "tidak historis". tetapi juga kulturalnya. Allah telah memberi wahyu kepada Musa dalam bahasa Ibrani (Hebrew) serta kepada Muhamad dalam bahasa Arab. dan tidak hanya berkaitan dengan kasus spesifik . Dan yang pertama mengetahui hal itu ialah bapak mereka. Maka meskipun bahasa para Nabi itu bermacam-macam. yaitu Adam. [10] Pendekatan historis ini tidaklah berarti relativisasi total ajaran agama dan sifat yang memandang sebagai tidak lebih daripada produk pengalaman sejarah belaka. meskipun bahasa mereka berbeda-beda. Hal yang sudah amat jelas ini perlu dipertegas. karena kosmologi yang umum pada waktu itu. namun tujuan dan makna risalah mereka semua sama. memang mengenal adanya konsep demikian. jika dalam al-Qur'an disebutkan bahwa Allah menciptakan tujuh lapis langit (QS. demikian: Jadi diketahui bahwa Tuhan mengajari jenis manusia agar mengungkapkan apa yang dikehendaki dan digambarkan dalam benaknya dengan bahasanya. meskipun bahasa itu berlainan. dan umat manusiapun kemudian mengetahui seperti Adam mengetahui.

Dalam bahasa fiqhnya. Nusantara 1955 M/1374 H). seperti "ayat rajam" di atas. perempuan dan lelaki.92-93. Q. Risalah).48. semasa Nabi. ada "penghapusan lafal tapi makna hukumnya tetap" . Dr 'Abd al-Fattah.175. Dar al-Ittihad al-'Arabi.177. Kairo: Markaz al-Ahram. hh. [12] CATATAN 1. Al-Risalah. bukan sekedar dicambuk seratus kali seperti yang ada dalam al-Qur'an sekarang ini. 'Abd al-Hamid Hakim.96-144 dan 170-176. 3.s. h. Ibid. 1968. Kairo. maka rajamlah mereka sama sekali. 4. namun hukumnya masih berlaku. 1988. Terutama kegiatan arkeologis yang baru-baru ini secara spektakuler. dan (bagi kita sekarang) sesudah Islam. 'Ulum al-Qur'an. sebagai kelanjutan dan pengembangan ide Imam al-Syafi'i. hh. al-Nur/4:24). 4. 5. 1990. 7. Kairo. dari sudut pendekatan historis dan ilmiah kepada wahyu Tuhan.. lebih khusus lagi Jazirah Arabia sebagai "situs" langsung wahyu Allah kepada Nabi Muhamad. Khalifah kedua bahwa ada firman bahwa hukuman orang yang sudah beristri atau bersuami kemudian berzina ialah dirajam sampai mati.dalam kehidupan Nabi dan masyarakat beliau pada saat itu. firman ini dalam isi hukum atau makna legalnya telah menghapus firman Allah: "Orang yang berzina. tetapi maknanya sudah tidak berlaku.. kita tidak hanya akan mendapat manfaat dari pengetahuan tentang asbab al-nuzul saja. firman itu berbunyi: Lelaki maupun perempuan kawin jika berzina. h. 2. sebelum Islam. berkat teknologi satelit. Ahmad Von Denffer. Asbab al-Nuzul. Maka dari sudut ini sungguh besar harapan kita kepada kegiatan penelitian ilmiah di bidang kultural yang mulai tumbuh di Jazirah Arabia. (Buku ini dapat diperoleh dalam terjemahan Indonesia. an Introduction to the Sciences of the Qur'an (London: The Islamic Foundation. tetapi juga pengetahuan yang lebih menyeluruh tentang pola budaya Arabia dalam sejarahnya yang panjang. h.1985). Segi amat menarik dari masalah ini ialah adanya teori dalam nasikh-mansukh bahwa suatu firman mungkin saja masih tetap bertahan (tidak dihapus) dari segi bunyi lafalnya. cambuklah masing-masing seratus kali". Al-Wahidi al-Nisaburi. hh. Menurut Umar. khususnya Timur Tengah. 6. Jika benar temuan itu maka kita akan lebih mampu memahami penuturan al-Qur'an (al-Fajr/87:6-8) tentang kaum 'Ad dan pesan suci di balik penuturan itu. Menurut para ulama. 4 jilid (Bukittinggi. Al-Mu'in al-Mubin. 161.4. Termasuk masalah Nasikh-Mansukh atau "hapus menghapus" ini adalah keterangan Umar. Ibid. ada kemungkinan suatu firman dihapus (terhapus?) dari segi lafalnya. berhasil menemukan kota kuna Ubar (Iram) yang didirikan oleh Syaddad ibn Ad hampir empat ribu tahun yang lalu. Karena itu. jil. Pembahasan panjang lebar diberikan Imam al-Syafi'i dalam kitabnya yang terkenal. seperti "ayat cambuk" diatas: sebaliknya. h. tetapi meliputi seluruh kondisi kultural dunia. 177 dan 185. Tarikh al-Tasyri' al-Islami.

Para ahli bahasa mengatakan begini: "Seseorang melakukan islam (aslama) jika ia melakukan istislam (istaslama). Dalam pembahasannya. h.. 3. (1987). Pangkalnya pada kalbu ialah sikap tunduk kepada Allah semata. h. 8. Ibn Taimiyah antara lain mengatakan: [kalimat dalam huruf Arab] (Hakikat perbedaannya adalah bahwa arti "islam" ialah "din" dan "din" adalah masdar dari kata kerja "dana-yadinu" (yang menunjuk makna) jika (seseorang) tunduk dan patuh. 12. 1992. 3 jilid. (021) 7507174 Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota Please direct any suggestion to Media Team . al-Iman. tt. bahkan besar kepala untuk menyembah-Nya. h. 223-4. 9. 7507173 Fax. op. seperti dapat dilihat dalam praktek di Kerajaan Saudi Arabia. Orang yang menyembah-Nya dan bersama Dia menyembah "tuhan" yang lain bukanlah seorang yang tunduk patuh (muslim). Lihat [kalimat dengan huruf Arab] oleh [kalimat dengan huruf Arab].[kalimat dalam huruf Arab] atau sebaliknya "penghapusan hukum tapi lafalnya tetap" [kalimat dalam huruf Arab] Bagaimana umat Islam memperoleh teori yang "aneh" ini. cit. 82. 30. 8. The Venture of Islam. "Agama Islam" yang diridhai Allah dan dengan itu diutus-Nya pada Rasul ialah "istislam " (sikap tundukpatuh) kepada Allah semata. UA 20-21 Jakarta Selatan Telp. (Chicago. dengan menyembah (beribadat) kepada-Nya semata. bukanlah seorang muslim.S. Ibn Taimiyah. yaitu tunduk dan penghambaan diri kepada-Nya. Metro Pondok Indah Pondok Indah Plaza I Kav. Dan orang yang tidak menyembah-Nya. -------------------------------------------Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah Editor: Budhy Munawar-Rachman Penerbit Yayasan Paramadina Jln. h. 437. Kairo: Mushthafa al-Babi al-Halabi. 1974). yaitu tindakan kalbu dan anggota badan ") 10. 7501983. Lihat penjelasan makna asal kata-kata Arab "islam" dalam kitab Ibn Taimiyah. Kairo: Dar al-Thiba'ah al-Muhammadiyah. 17 Peb. Lihat berita arkeologis penting ini dalam Time. "Islam" ialah "istislam" kepada Allah. The University of Chicago Press. tanpa orang lain. hh. dapat dilihat dari kesepakatan hampir seluruh para ulama bahwa orang yang sudah kawin dan berzina memang harus dihukum rajam sampai mati. (021) 7501969. Marshall G.. 11. "Jadi "islam" pada asalnya termasuk bab tindakan (bukan nama). Hodgson. jld.

Artikel Yayasan Paramadina
Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota I.4. NASIKH MANSUKH DALAM AL-QUR'AN (1/2) oleh KH Ali Yafie Dari awal hingga akhir, al-Qur'an merupakan kesatuan utuh. Tak ada pertentangan satu dengan lainnya. Masing-masing saling menjelaskan al-Qur'an yufassir-u ba'dhuhu ba'dha. [1] Dari segi kejelasan, ada empat tingkat pengertian. Pertama, cukup jelas bagi setiap orang. Kedua, cukup jelas bagi yang bisa berbahasa Arab. Ketiga, cukup jelas bagi ulama/para ahli, dan keempat, hanya Allah yang mengetahui maksudnya. [2] Dalam al-Qur'an dijelaskan tentang adanya induk pengertian hunna umm al-kitab [3] yang sudah mempunyai kekuatan hukum tetap. Ketentuan-ketentuan induk itulah yang senantiasa harus menjadi landasan pengertian dan pedoman pengembangan berbagai pengertian, sejalan dengan sistematisasi interpretasi dalam ilmu hukum -hubungan antara ketentuan undang-undang yang hendak ditafsirkan dengan ketentuan-ketentuan lainnya dari undang-undang tersebut maupun undang-undang lainnya yang sejenis, yang harus benar-benar diperhatikan supaya tidak ada kontradiksi antara satu ayat dengan ayat lainnya. Hal ini untuk menjamin kepastian hukum. Sementara, unsur-unsur bahasa, sistem dan teologi dari teori interpretasi hukum masih harus dilengkapi dengan satu unsur lain yang tidak kalah pentingnya. Itulah unsur sejarah yang melatarbelakangi terbentuknya suatu undang-undang, yang biasa dikenal "interpretasi historis." Dalam ilmu tafsir ada yang disebut asbab al-nuzul, yang mempunyai unsur historis cukup nyata. Dalam kaitan ini para mufassir memberi tempat yang cukup tinggi terhadap pengertian ayat al-Qur'an. Dalam konteks sejarah yang menyangkut interpretasi itulah kita membicarakan masalah nasikh-mansukh. Dalam hal ini masalah yang terpenting untuk kita soroti adalah masalah asas, pengertian/batasan, jenis-jenis, kedudukan, hirarki penggunaan, kawasan penggunaan dan hikmah kegunaannya. ASAS Andaikan al-Qur'an tidak diturunkan dari Allah, isinya pasti saling bertentangan. [4] Ungkapan ini sangat penting dalam rangka memahami dan menafsirkan ayat-ayat serta ketentuan-ketentuan yang ada dalam al-Qur'an. Kitab Suci yang terdiri dari 6000 ayat lebih dan terbagi dalam 114 kelompok surat, mengandung berbagai jenis pembicaraan dan persoalan. Didalamnya terkandung antara lain nasihat, sejarah, dasar-dasar ilmu pengetahuan, keimanan, ajaran budi luhur, perintah dan larangan. Masalah-masalah yang disebutkan terakhir ini, tampak jelas dengan adanya ciri-ciri hukum didalamnya. Semua jenis masalah ini terkait satu dengan lainnya dan saling menjelaskan. Dalam kaitan itu, Imam Suyuthi maupun Imam Syathibi banyak

mengulas prinsip tersebut. Mereka mencatat adanya pendapat yang memandang adanya tiap ayat atau kelompok ayat yang berdiri sendiri. Tapi semuanya berpendapat bahwa antara satu ayat dengan ayat lainnya dari al-Qur'an tidak ada kontradiksi (ta'arudl). Dari asas inilah lahir metode-metode penafsiran untuk meluruskan pengertian terhadap bagian-bagian yang sepintas lalu tampak saling bertentangan. Adanya gejala pertentangan (ta'arudl) yang demikian merupakan asas metode penafsiran dimana Nasikh-Mansukh merupakan salah satu bagiannya. [5] PENGERTIAN Nasikh-Mansukh berasal dari kata naskh. Dari segi etimologi, kata ini dipakai untuk beberapa pengertian: pembatalan, penghapusan, pemindahan dan pengubahan. Menurut Abu Hasyim, pengertian majazinya ialah pemindahan atau pengalihan. [6] Diantara pengertian etimologi itu ada yang dibakukan menjadi pengertian terminologis. Perbedaan terma yang ada antara ulama mutaqaddim dengan ulama mutaakhkhir terkait pada sudut pandangan masing-masing dari segi etimologis kata naskh itu. Ulama mutaqaddim memberi batasan naskh sebagai dalil syar'i yang ditetapkan kemudian, tidak hanya untuk ketentuan/hukum yang mencabut ketentuan/hukum yang sudah berlaku sebelumnya, atau mengubah ketentuan/hukum yang pertama yang dinyatakan berakhirnya masa pemberlakuannya, sejauh hukum tersebut tidak dinyatakan berlaku terus menerus, tapi juga mencakup pengertian pembatasan (qaid) bagi suatu pengertian bebas (muthlaq). Juga dapat mencakup pengertian pengkhususan (makhasshish) terhadap suatu pengertian umum ('am). Bahkan juga pengertian pengecualian (istitsna). Demikian pula pengertian syarat dan sifatnya. Sebaliknya ulama mutaakhkhir memperciut batasan-batasan pengertian tersebut untuk mempertajam perbedaan antara nasikh dan makhasshish atau muqayyid, dan lain sebagainya, sehingga pengertian naskh terbatas hanya untuk ketentuan hukum yang datang kemudian, untuk mencabut atau menyatakan berakhirnya masa pemberlakuan ketentuan hukum yang terdahulu, sehingga ketentuan yang diberlakukan ialah ketentuan yang ditetapkan terakhir dan menggantikan ketentuan yang mendahuluinya. Dengan demikian tergambarlah, di satu pihak naskh mengandung lebih dari satu pengertian, dan di lain pihak -dalam perkembangan selanjutnya- naskh membatasinya hanya pada satu pengertian. [7] JENIS-JENIS NASKH Masalah pertama yang ingin kami soroti dalam bagian ini ialah adanya naskh antara satu syari'at dengan syari'at lainnya. Ini terjadi sebagaimana dapat kita amati antara syari'at Nabi Isa as. dengan syari'at hukum agama Yahudi yang lebih dahulu ada. Dalam hubungan ini, dapat kita katakan bilamana kita mengikrarkan Islam sebagai syari'at, dengan sendirinya kita mengaku adanya naskh, karena syari'at-syari'at sebelumnya tidak akan kita anut lagi dan semua hukumnya pun tidak akan kita berlakukan, sepanjang tidak dikukuhkan kembali oleh syari'at Nabi Muhammad saw. Jadi, adanya nasikh-mansukh antar syari'at itu merupakan salah satu jenis naskh. Hal semacam ini jika ditinjau dari

segi pendekatan ilmu hukum, sangat jelas maksudnya, misalnya pengertian suatu pemerintahan/negara dengan pemerintahan/ negara lainnya. Contohnya, adanya pemerintahan/negara kolonial Hindia Belanda dengan pemerintahan/negara nasional Republik Indonesia. Dalam kaitan ini soal kedaulatan, hukum dasar dan hukum-hukum yang langsung berhubungan dengan kedaulatan, serta hukum-hukum lainnya semuanya dicabut dan tidak diberlakukan lagi sepanjang tidak dikukuhkan pemerintah/negara baru itu. Jika kita sudah melihat adanya nasikh-mansukh antar syari'at, apakah didalam satu syari'at terjadi juga nasikh-mansukh antara hukum yang satu dengan hukum yang lainnya? Jika kita kembali pada syari'at Islam sendiri, kita akan menemui beberapa kasus yang dapat memberikan jawaban atas masalah ini. 1. Sesudah hijrah ke Madinah, kaum Muslim masih berkiblat ke arah Bait al-Muqaddas. Sekitar enam bulan kemudian, Allah menetapkan ketentuan lain: keharusan berkiblat ke arah Bait al-Haram. [8] Ini berarti terjadi nasikh-mansukh dalam hukum kiblat. Kasus lain misalnya dalam hal shalat yang semula tidak diperintahkan lima waktu dengan 17 raka'at. Ini juga berarti telah terjadi nasikh-mansukh dalam hukum shalat. 2. Kasus-kasus yang digambarkan di atas, semuanya menyangkut bidang ibadat. Sedangkan di bidang mu'amalat, dapat pula kita catat beberapa kasus, misalnya hukum keluarga. Sebagai contoh, semula ditetapkan masa tenggang ('iddah) bagi seorang janda, lamanya 1 (satu) tahun. [9] Beberapa waktu kemudian ditetapkan ketentuan hukum lain bahwa masa tenggangnya 4 bulan 10 hari. [10] Di bidang lain ada pula perubahan-perubahan yang menyangkut ketentuan hukum pembelaan diri, tentang minuman keras dan sebagainya. Dari seluruh kasus-kasus tersebut dapat ditarik kesimpulan, memang terbukti adanya nasikh-mansukh yang sifatnya intern dalam syari'at Islam. Beberapa ketentuan hukum yang sudah berlaku, kemudian dicabut atau berakhir masa pemberlakuannya dan diganti dengan ketentuan hukum lain. Hal seperti ini, jika dilihat dari sudut pendekatan ilmu hukum adalah hal yang lumrah dan banyak terjadi. Bahwa suatu undang-undang atau peraturan hukum lainnya dicabut atau dinyatakan tidak berlaku lagi, kemudian diganti dengan menetapkan undang-undang atau peraturan lain. Persoalan lebih jauh dalam masalah nasikh-mansukh ini ialah soal nasikh-mansukh antara al-Qur'an dengan Sunnah. Adanya nasikh-mansukh antara satu ayat yang memuat ketentuan hukum dalam al-Qur'an dengan lain ayat yang juga memuat ketentuan hukum dalam soal yang sama, adalah satu hal yang tidak diperselisihkan lagi. Demikian pula adanya nasikh-mansukh antara satu hadits yang memuat ketentuan hukum dalam soal yang sama, merupakan satu hal yang tidak diperselisihkan lagi. Juga, adanya nasikh-mansukh antara satu hadits yang memuat ketentuan hukum dalam Sunnah dengan lain hadits yang juga memuat ketentuan hukum dalam soal yang sama, merupakan satu hal yang sudah tidak diperselisihkan lagi. Masalah yang menimbulkan perbedaan pendapat diantara para ulama ialah adanya nasikh-mansukh silang antara al-Qur'an dengan Hadits/Sunnah. Jika disimak alasan masing-masing pihak, mungkin dapat ditarik satu garis bahwa faktor utama terjadinya perbedaan pendapat ialah pandangan masing-masing

tentang kedudukan hirarki syari'at itu sendiri.

al-Qur'an

dan

Sunnah

dalam

(bersambung 2/2)

-------------------------------------------Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah Editor: Budhy Munawar-Rachman Penerbit Yayasan Paramadina Jln. Metro Pondok Indah Pondok Indah Plaza I Kav. UA 20-21 Jakarta Selatan Telp. (021) 7501969, 7501983, 7507173 Fax. (021) 7507174 Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota
Please direct any suggestion to Media Team

Artikel Yayasan Paramadina
Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota I.4. NASIKH MANSUKH DALAM AL-QUR'AN (2/2) oleh KH Ali Yafie Dalam kaitan hirarki al-Qur'an dan Sunnah, ada semacam kesepakatan bahwa dalam nasikh-mansukh kedua unsurnya harus sama tingkatnya dan sama nilai dan sifatnya. Lembaga tawatur dan ahad termasuk faktor yang dipertimbangkan. Jalan pikiran seperti ini terdapat juga di kalangan ahli hukum bahwa suatu peraturan hukum tidak dapat dicabut dengan peraturan hukum lainnya yang lebih rendah tingkatannya. Demikian pula lembaga yang mengeluarkan peraturan hukum menjadi faktor pertimbangan. Berdasarkan pemikiran ini, ada satu hal yang perlu kita catat bahwa setelah Rasulullah saw wafat maka tidak ada lagi nasikh-mansukh yang mungkin terjadi pada syari'at. Jenis nasikh-mansukh yang diuraikan diatas, menyangkut segi formalnya. Jenis lain yang menyangkut segi materialnya, ada yang bersifat eksklusif (sharih) dan inklusif (dlimni). Untuk yang bersifat sharih, nasikh itu langsung menjelaskan mansukhnya, misalnya hukum kiblat. Ketentuan yang nasikh (pengganti) ditetapkan secara jelas. [12] Ini contoh dari al-Qur'an. Sedangkan contoh lain dari Sunnah misalnya hukum ziarah kubur. Didalam hadits disebutkan, "Pernah aku melarang kalian melakukan ziarah kubur. Sekarang lakukanlah!". [12] Berbeda dengan hal tersebut diatas, nasikh yang bersifat dlimni tidak memuat penegasan didalamnya bahwa ketentuan yang mendahuluinya tercabut, tetapi isinya cukup jelas bertentangan dengan ketentuan yang mendahuluinya. Jenis seperti inilah yang banyak ditemukan dalam hukum syari'at. KEDUDUKAN NASKH Masalah naskh bukanlah sesuatu yang berdiri sendiri. Ia merupakan bagian yang berada dalam disiplin Ilmu Tafsir dan Ilmu Ushul Fiqh. Karena itu masalah naskh merupakan techniseterm dengan batasan pengertian yang baku. Dalam

kaitan ini Imam Subki menerangkan adanya perbedaan pendapat tentang kedudukan naskh: apakah ia berfungsi mencabut (raf) atau menjelaskan (bayan). [13] Ungkapan Imam Subki ini dapat dikaitkan dengan hal-hal yang menyangkut jenis-jenis naskh yang diuraikan di atas. Jika ditinjau dari segi formalnya maka fungsi pencabutan itu lebih nampak. Tapi bila ditinjau dari segi materinya, maka fungsi penjelasannya lebih menonjol. Meski demikian, pada akhirnya dapat dilihat adanya suatu fungsi pokok bahwa naskh merupakan salah satu interpretasi hukum. HIRARKI PENGGUNAAN NASKH Yang menjadi persoalan sekarang, apakah naskh menempati urutan pertama dalam interpretasi hukum-syari'at? Dalam upaya melakukan interpretasi suatu peraturan dalam syari'at, baik al-Qur'an maupun Hadits setiap ketentuan hukum itu harus jelas. Pengertiannya tidak boleh meragukan, supaya kepastian hukumnya terjamin. Semua segi yang dapat memperjelas kondisi sesungguhnya, maksud ketentuan hukum itu harus disoroti dan didalami. Misalnya, tentang segi bahasanya, proses terjadinya, hubungannya antara ketentuan hukum itu dengan ketentuan hukum yang lain. Dalam hal ini harus ada upaya mengawinkan kedua ketentuan hukum itu (jam') atau memperkuat salah satu diantaranya (tarjih). Baik upaya jam' maupun tarjih sudah mempunyai tata aturan yang sudah baku dalam disiplin ilmu Usul Fiqh. Jika tingkat interpretasi ini sudah ditempuh dan ternyata kontradiksi antara dua ketentuan hukum itu juga sudah teratasi, maka pada tingkat inilah dipersoalkan kemungkinan adanya nasikh-mansukh antara dua ketentuan hukum tersebut. Kuncinya terletak pada soal historis yang menyangkut kedua ketentuan hukum tersebut. Faktor asbab al-nuzul bagi ayat dan asbab al-wurud bagi Hadits, ada dalam tingkat ini. Maka setiap masalah nasikh-mansukh berada pada tingkat akhir dari suatu upaya interpretasi. [14] Kawasan Penggunaan Naskh Masalah yang tidak kurang pentingnya disoroti, sejauh mana jangkauan naskh itu? Apakah semua ketentuan hukum didalam syari'at ada kemungkinannya terjangkau naskh? Dalam hal ini Imam Subki menukil pendapat Imam Ghazali bahwa esensi taklif (beban tugas keagamaan) sebagai suatu kebulatan tidak mungkin terjangkau oleh naskh. Selanjutnya, Syekh Asshabuni mencuplik pendapat jumhur ulama bahwa naskh hanya menyangkut perintah dan larangan, tidak termasuk masalah berita, karena mustahil Allah berdusta. [16] Sejalan dengan ini Imam Thabari mempertegas, nasikh-mansukh yang terjadi antara ayat-ayat al-Qur'an yang mengubah halal menjadi haram, atau sebaliknya, itu semua hanya menyangkut perintah dan larangan, sedangkan dalam berita tidak terjadi nasikh-mansukh. Ungkapan ini cukup penting diperhatikan, karena soal naskh adalah semata-mata soal hukum, yang hanya menyangkut perintah dan larangan, dan merupakan dua unsur pokok hukum. Hal seperti yang diuraikan di atas, di bidang ilmu Hukum dapat kita lihat gambarnya pada Hukum Dasar, misalnya Undangundang Dasar Negara yang tidak dapat dijangkau pencabutan. Adanya pencabutan terhadap sesuatu peraturan

hukum dan penetapan peraturan lain untuk menggantikannya hanya berlaku pada undang-undang organik atau peraturan, kedudukan dan kawasan naskh. Dengan demikian, dengan mudah kita dapat mengenal beberapa persyaratan, yaitu: 1. Adanya ketentuan hukum yang dicabut (mansukh) dalam formulasinya tidak mengandung keterangan bahwa ketentuan itu berlaku untuk seterusnya atau selama-lamanya. 2. Ketentuan hukum tersebut bukan yang telah mencapai kesepakatan universal tentang kebaikan atau keburukannya, seperti kejujuran dan keadilan untuk pihak yang baik serta kebohongan dan ketidakadilan untuk yang buruk. 3. Ketentuan hukum yang mencabut (nasikh) ditetapkan kemudian, karena pada hakikatnya nasikh adalah untuk mengakhiri pemberlakuan ketentuan hukum yang sudah ada sebelumnya. 4. Gejala kontradiksi sudah tidak dapat diatasi lagi. HIKMAH ADANYA NASKH Adanya nasikh-mansukh tidak dapat dipisahkan dari sifat turunnya al-Qur'an itu sendiri dan tujuan yang ingin dicapainya. Turunnya Kitab Suci al-Qur'an tidak terjadi sekaligus, tapi berangsur-angsur dalam waktu 20 tahun lebih. Hal ini memang dipertanyakan orang ketika itu, lalu Qur'an sendiri menjawab, pentahapan itu untuk pemantapan, [17] khususnya di bidang hukum. Dalam hal ini Syekh al-Qasimi berkata, sesungguhnya al-Khalik Yang Maha Suci lagi Maha Tinggi mendidik bangsa Arab selama 23 tahun dalam proses tadarruj (bertahap) sehingga mencapai kesempurnaannya dengan perantaraan berbagai sarana sosial. Hukum-hukum itu mulanya bersifat kedaerahan, kemudian secara bertahap diganti Allah dengan yang lain, sehingga bersifat universal. Demikianlah Sunnah al-Khaliq diberlakukan terhadap perorangan dan bangsa-bangsa dengan sama. Jika engkau melayangkan pandanganmu ke alam yang hidup ini, engkau pasti akan mengetahui bahwa naskh (penghapusan) adalah undang-undang alami yang lazim, baik dalam bidang material maupun spiritual, seperti proses kejadian manusia dari unsur-unsur sperma dan telur kemudian menjadi janin, lalu berubah menjadi anak, kemudian tumbuh menjadi remaja, dewasa, kemudian orang tua dan seterusnya. Setiap proses peredaran (keadaan) itu merupakan bukti nyata, dalam alam ini selalu berjalan proses tersebut secara rutin. Dan kalau naskh yang terjadi pada alam raya ini tidak lagi diingkari terjadinya, mengapa kita mempersoalkan adanya penghapusan dan proses pengembangan serta tadarruj dari yang rendah ke yang lebih tinggi? Apakah seorang dengan penalarannya akan berpendapat bahwa yang bijaksana langsung membenahi bangsa Arab yang masih dalam proses permulaan itu, dengan beban-beban yang hanya patut bagi suatu bangsa yang telah mencapai kemajuan dan kesempurnaan dalam kebudayaan yang tinggi? Kalau pikiran seperti ini tidak akan diucapkan seorang yang berakal sehat, maka bagaimana mungkin hal semacam itu akan dilakukan Allah swt. Yang Maha Menentukan hukum, memberikan beban kepada suatu bangsa yang masih dalam proses pertumbuhannya dengan beban yang tidak akan bisa dilakukan melainkan oleh suatu bangsa yang telah menaiki jenjang kedewasaannya? Lalu, manakah yang lebih baik, apakah syari'at kita yang menurut sunnah Allah ditentukan hukum-hukumnya sendiri, kemudian di-nasakh-kan karena dipandang perlu atau disempurnakan hal-hal yang dipandang tidak mampu dilaksanakan manusia

dengan alasan kemanusiaan? Ataukah syari'at-syari'at agama lain yang diubah sendiri oleh para pemimpinnya sehingga sebagian hukum-hukumnya lenyap sama sekali? [18] Syari'at Allah adalah perwujudan dari rahmat-Nya. Dia-lah yang Maha Mengetahui kemaslahatan hidup hamba-Nya. Melalui sarana syari'at-Nya, Dia mendidik manusia hidup tertib dan adil untuk mencapai kehidupan yang aman, sejahtera dan bahagia di dunia dan di akhirat. CATATAN 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. 12. 13. 14. 15. 16. 17. 18. Jalaluddin al-Suyuthi, Al-Itqan Ibn Katsir, Tafsir-u 'l-Qur'an-i 'l-'Azhim QS. Ali 'Imran: 7 QS. Al-Nisa: 82 Imam Abu Zahrah, Ushul al-Fiqh Al-Thusi, Uddat al-Ushul 'Abbas Mutawalli Hamadah, Al-Sunnat al-Nabawiyyah QS. Al-Baqarah: 114 QS. Al-Baqarah: 240 QS. Al-Baqarah: 234 QS. Al-Baqarah: 142 Imam Muslim, Al-Jami' al-Shahih Imam Al-Subki, Jam' al-Jawami' Abdul Wahab Khallaf, Ilmu Ushul al-Fiqh Imam Al-Subki, Jam' al-Jawami Muhammad Ali Al-Shabuni, Rawai'al-Bayan QS. Al-Furqan: 32 Al-Qasimi, Mahasin al-Ta'wil.

-------------------------------------------Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah Editor: Budhy Munawar-Rachman Penerbit Yayasan Paramadina Jln. Metro Pondok Indah Pondok Indah Plaza I Kav. UA 20-21 Jakarta Selatan Telp. (021) 7501969, 7501983, 7507173 Fax. (021) 7507174 Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota
Please direct any suggestion to Media Team

Artikel Yayasan Paramadina
Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota IV.29. PANDANGAN KONTEMPORER TENTANG FIQH (1/4) Telaah Problematika hukum Islam di Zaman Modern Oleh Nurcholish Madjid Salah satu kesibukan para intelektual Muslim di seluruh dunia saat ini ialah memikirkan bagaimana menerjemahkan nilai-nilai Islam ke dalam perangkat nyata kehidupan modern. Seorang Muslim yang serius tentu menyadari, betapa ia dihadapkan pada tantangan hidup dalam suatu masyarakat modern, yaitu suatu masyarakat yang notabene merupakan kelanjutan logis, meskipun

melalui proses transmutasi yang amat besar, dari berbagai unsur tatanan dan nilai hidup yang telah pernah berkembang sebelumnya, khusus di dunia Islam. Ilmu pengetahuan modern, misalnya, dengan mudah dapat ditelusuri asal-usulnya sebagai kelanjutan dunia keilmuan Islam yang pernah berkembang dalam masanya jayanya yang "liberal," ketika kaum Muslim terlatih menghargai suatu temuan pikiran dan keilmuan baru, dan ketika wawasan mereka terbentuk karena semangat kosmopolitanisme dan universalisme sejati. Namun pada saat yang sama, karena tuntutan imannya, seorang Muslim "modern" harus tetap berada dalam pangkuan agamanya dan dijiwai nilai-nilai asasinya. Zaman modern, atau yang menurut Marshall Hodgson lebih tepat dinamakan "Zaman Teknik" (Technical Age) adalah jelas berbeda secara mendasar dari zaman agraris sebelumnya. Padahal agama Islam, sebagaimana halnya dengan agama-agama besar lain, dilahirkan dalam zaman agraris. Seperti baru saja disebutkan di atas, ini tidaklah berarti zaman modern terputus samasekali dari zaman sebelumnya Justru unsur kontinuitasnya dengan masa lalu sedemikian rupa tidak mungkin diingkari, karena dasar-dasar zaman modern ini pun diletakkan masa sebelumnya, yaitu di zaman agraris. Suatu teori kesejarahan dunia malah menyebutkan, zaman agraris sebenarnya telah mengalami perkembangan menuju ke arah kompleksitas yang tinggi pada masa Axial Age ("Masa Aksial" atau "Sumbu"), yaitu masa yang terbentang selama enam abad sejak abad kedelapan sampai abad kedua sebelum Nabi 'Isa al-Masih as. Pada saat itu terjadi perubahan asasi di mana-mana, akibat lepasnya monopoli pengetahuan tulis baca dari tangan kelas pendeta, menjadi tersebar di antara berbagai kelompok borjuis, dan karenanya watak serta kecepatan perkembangan tradisi tulis-baca itu juga berubah. Pada waktu yang sama, keseluruhan tatanan geografis bagi kegiatan bermakna kesejarahan manusia juga mengalami transformasi, sebab saat itu mulai menyebar, meliputi hampir seluruh belahan bumi. [1] Pada masa itu dengan nyata budaya manusia mulai berkembang keluar dari inti kawasan Nil-Amudarya (Mesir-Transoxiana) yang menjadi inti kawasan bumi yang berpenghuni dan berperadaban (Arab: al-Da'irat al-Ma'murah; Yunani: Oikoumene, "Daerah Berpenduduk"). Zaman Islam adalah zaman "Pasca-Sumbu" (Post-Axial), dan masa kejayaan Islam merupakan puncak perkembangan "Zaman Agraria Berkota" (Agrariante Citied Society), yaitu masyarakat agraris dengan ciri kehidupan perkotaan (urbanity) yang menonjol. Adalah dalam urbanity itu --suatu pola kehidupan sosial-ekonomi yang ditandai tingginya kegiatan ekonomi urban dan penghargaan kepadanya, khususnya perdagangan, dan etos intelektual-- terletak benang merah kontinuitas antara zaman modern dengan zaman Islam. Tapi sekali pun zaman Islam masih sepenuhnya berada dalam rangkaian zaman agraris (jadi masih mempunyai kesinambungan dengan zaman sebelumnya), perubahan yang dibawanya sedemikian radikal dan eksplosif, sebanding dengan radikal dan eksklusif pembebasan (futuhat) yang dilakukan kaum Muslim, pertama-tama atas kawasan Nil-Amudarya, kemudian segera meliputi daerah yang lebih luas, yang kurang lebih waktu itu merupakan daerah paling maju di muka bumi. Dengan flashback di atas, kiranya menjadi jelas, sesungguhnya peralihan dari masa lalu yang agraris-urban itu, ke zaman modern sekarang, ini tidaklah terlalu unik dalam pandangan sejarah umat manusia. Dan disebabkan faktor peranan sejarahnya sendiri sebagai puncak zaman agraris urban, maka Islam

Berbagai pengalaman historis yang lebih spesifik pada bangsa-bangsa Muslim dalam interaksinya dengan bangsa-bangsa Barat. pengamatan lebih jauh atas berbagai peristiwa besar menyimpulkan tidak adanya kemestian pilihan hitam putih antara kontinuitas dan perubahan. . Maka. bahkan sebaliknya sikap positif terhadap ilmu pengatahuan adalah sui generis atau tiada taranya dalam pandangan hubungan organiknya yang sejati dengan sistem keimanan. dan bukannya faktor kontinuitas kultural di atas. karena adanya asosiasi (yang tidak seluruhnya benar) antara modernisme dan westernisme. yang menyebabkan kebanyakan kaum Muslim mengalami kesulitan dalam menghadapi zaman modern. Adalah beberapa pengalaman historis permusuhan ini. Inilah yang dalam jargon ilmu sosial mutakhir disebut "modernitas tradisi". Sejarah membuktikan betapa problematiknya hubungan dogma Kristen dengan unsur pokok modernitas. dan pelanjut serta pengembangnya di masa depan. yaitu ilmu pengetahuan. sementara Jepang yang Buddhis justru memperlihatkan tanda-tanda Barat dalam beberapa segi industrialnya. tetap terdapat unsur-unsur persambungan tertentu dengan masa lalu. misalnya. Apalagi bangsa-bangsa Barat itu. ketika melakukan penjajahan atas bangsa-bangsa Muslim. dan betapa dalam Islam. MASALAH KONTINUITAS DAN PERUBAHAN Kontinuitas yang mengisyaratkan pertahanan unsur-unsur masa lalu dan perubahan yang mengandung makna penggantian unsur-unsur masa lalu itu. Betapa pun besarnya suatu perubahan. atau dapat diterangkan dalam kerangka nilai lama yang lebih luas itu. dengan sesuatu yang lain dengan sendirinya selalu menimbulkan kesan pertentangan: Tapi. karena unsur-unsur asasi zaman modern itu tidak asing bagi pandangan hidup kaum Muslim.memiliki potensi menjadi pewaris yang paling beruntung dari zaman modern ini." sebagai kelanjutan semangat permusuhan antara orang Spanyol Kristen dengan orang Spanyol Muslim yang mereka sebut "orang Moro"). sebagaimana setiap "kesan" atau "dugaan" (dhan) tidak selamanya mengandung kebenaran. situasi problematik itu dapat dikata tidak ada sama sekali. jelas-jelas membawa kenangan pengalaman historis masa lampau yang penuh permusuhan (antara lain dilambangkan dan dibuktikan dalam: bagaimana para penjajah Spanyol menamakan kaum Muslim Mindanao sebagai "orang-orang Moro. Turki yang Muslim sampai sekarang masih menunjukkan ciri dunia ketiga yang non-industrial. Tapi sudah tentu faktor kontinuitas prinsipil bukanlah satu-satunya perkara yang membentuk dan menentukan sikap seseorang atau komunitas dalam menghadapi perubahan zaman. Jika kita ambil peristiwa Inkuisisi Kristen dalam menghadapi ilmu pengetahuan. praktis tidak ada hal serupa dalam Islam. khususnya pengalaman permusuhan (antara lain karena titik singgung keagamaan Islam-Kristen dan ketetanggaan geografis Timur Tengah-Eropa) justru nampak menjadi sumber problematik bangsa-bangsa Muslim menghadapi perubahan ke zaman modern. sebagaimana sedikit banyak ditunjukkan dalam pembicaraan di atas tadi. Justru tidak jarang esensi nilai baru dalam suatu masyarakat yang berubah itu memperoleh pengukuhannya dan penguatan efektifitasnya karena mendapatkan tempat dalam sistem nilai lama yang lebih luas. Kesulitan kaum Muslim ini di antaranya tercermin dalam bagaimana menangani masalah reinterpretasi hukum Islam untuk zaman modern.

sementara secara imperatif mesti menerima kehidupan modern (sebagaimana telah menjadi kenyataan. Kenyataan bahwa varian sentral. dan dengan begitu maka cita-cita "protestan" agar semua yang beriman mempunyai akses yang sama (kepada kitab Suci-NM) akan terlaksana. yang pernah menjadi alas dangkal tradisi sentral sekarang menjadi kambing hitam yang dibuang. resmi dan "murni" Islam bersemangat egaliter dan keilmiahan --sementara hirarki dan ekstase (seperti dalam banyak praktek kesufian rakyat-NM berkaitan dengan bentuk-bentuknya yang bersifat pinggiran senantiasa meluas namun akhirnya ditampik.[3] Pendapat tentang tidak perlunya kaum Muslim menanggalkan . Yaitu bahwa mereka. betapapun ad hoc dan eclectic-nya sikap yang melatarbelakanginya) tapi dapat bertahan dengan nilai-nilai keislamannya. egalitarianisme spiritual. dan penegahan apa yang dianggap suatu ciri lokal lama. misalnya-NM). yang dipersalahkan menyebabkan kemunduran dan dominasi unsur asing. bahkan sering dengan nada peneguhan dan apresiasi.sangat membantu adaptasi Islam ke dunia modern.[2] Karena observasi dan kesimpulannya itu. maka tidak heran menurut Ernest Gellner. Maka sosiolog terkenal Ernest Gellner. misalnya. Sementara Protestantisme Eropa hanya menyiapkan lahan untuk nasionalisme melalui perluasan melek-huruf. yang mengatasi baik tradisi kecil maupun Tradisi Besar. Jadi dalam Islam. Islam mungkin akan ternyata merupakan penerima manfaat modernitas itu. lapisan sarjana yang terbuka (dalam Islam) dapat berkembang sehingga meliputi seluruh masyarakat. memiliki pandangan tentang Islam dan kemodernan yang mungkin membuat seorang Muslim menjadi lebih percaya diri. dan hanya dalam Islam. Karena itu meskipun tidak merupakan sumber modernitas. dan samasekali tidak perlu meninggalkannya. Ia katakan: Hanya Islam yang mampu bertahan sebagai keimanan yang serius. skripturalisme. tapi sebaliknya sebagai kelanjutan dan penyempurnaan dialog lama dalam Islam. Dalam zaman cita-cita melek huruf universal. Jika hal ini dengan sendirinya menjadi keyakinan seorang Muslim. purifikasi/modernisasi di satu pihak. dan sistematisasi rasional kehidupan sosial. perluasan partisipasi dalam masyarakat suci yang meliputi semua anggotanya tanpa kecuali. Egalitarianisme modern terpenuhi. dapat dilakukan dalam bahasa dan perangkat simbol yang satu dan sama. para pengamat luar pun mengakui adanya hal yang sama. Islam adalah agama yang paling dekat dengan modernitas dibanding agama Yahudi dan Kristen. tidak sebagai inovasi ataupun konsesi kepala pihak luar. potensi Islam yang hangkit kembali untuk skripturalisme egaliter dapat secara aktual menyatu dengan nasionalisme. jika dikenakan terhadap Islam dan kaum Muslim dalam menghadapi zaman modern. dan pelaksanaannya dapat disajikan. Tradisi Besarnya dapat dipermodern (modernisable).. Versi kerakyatan lama (seperti praktek kesufian rakyat yang tidak sah atau mu'tabarah.. Yaitu dipandang dari sudut semangat Islam tentang universalisme. sehingga orang tidak lagi mudah mengatakan mana salah satu dari keduanya itu yang paling bermanfaat bagi yang lain.Garis argumen itu lebih-lebih tepat.

(021) 7501969. seseorang dapat berjalan sejauh yang ia perlukan untuk dapat mengejar Barat tanpa mengorbankan apapun yang esensial bagi Islam dan yang menjadi bagian integral dari identitas kaum Muslim. yaitu yang membentuk ciri tertentu.nilai-nilai dasar keislaman mereka untuk dapat masuk zaman modern itu juga dikemukakan Maxime Rodinson. tanpa kehilangan sifatnya yang paling mendasar. Metro Pondok Indah Pondok Indah Plaza I Kav. Rodinson mempertanyakan. juga seorang sosiolog (Perancis) kontemporer. apalagi dituduh. bahwa tidaklah perlu meninggalkan sesuatu apapun yang secara esensial bersifat Islam. PANDANGAN KONTEMPORER TENTANG FIQH (2/4) Telaah Problematika hukum Islam di Zaman Modern Oleh Nurcholish Madjid MASALAH PESAN DASAR ISLAM Ketika mengatakan Islam tidak mempunyai sangkut paut dengan milieu ekonomi negeri-negeri Muslim sehingga tidak dapat dipandang. "Sejauh mana orang (Muslim) harus pergi dalam proses mencapai kemakmuran yang menggiurkan dari negara-negara industri? Haruskah seseorang berjalan sedemikian jauhnya sehingga mengorbankan berbagai nilai yang secara khusus diyakini. (021) 7507174 Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota Please direct any suggestion to Media Team Artikel Yayasan Paramadina Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota IV. Rodinson menunjuk kepada kenyataan betapa masyarakat-masyarakat Islam sepanjang sejarahnya menunjukkan gejala menganut pola ekonomi yang bermacam-macam dalam zaman yang berbeda atau tempat yang berbeda. maka jika kemajuan adalah suatu "Kapitalisme" (sebagaimana orang cenderung melihat buktinya melalui runtuhnya sistem sosialis atau komunis) maka Islam dapat saja bersatu dengan kapitalisme itu. Karena itu Islam tidak dapat dipandang sebagai bertanggung jawab atas kemunduran kaum Muslim. sebagai penyebab kemunduran negeri-negeri itu. karena Islam sesungguhnya tidak ada kaitannya dengan lingkungan ekonomi negeri-negeri Muslim. kesimpulannya yang tegas bahwa kaum Muslim tidak meninggalkan hal-hal yang secara esensial bersifat namun perlu Islam . UA 20-21 Jakarta Selatan Telp. Jawaban terhadap pertanyaan ini diberikan pada akhir bukunya. 7507173 Fax. yang oleh Leonard Binder diringkaskan. Dalam pembukaan sebuah bukunya. 7501983. kepribadian dan identitas kelompok orang bersangkutan?"4. Tesis Rodinson ini terbuka untuk dipersoalkan. Dalam perkataan lain. [5] -------------------------------------------(bersambung 2/4) Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah Editor: Budhy Munawar-Rachman Penerbit Yayasan Paramadina Jln.29.

yaitu dari tulang belakang mereka. dengan mengutip Zamakhsyari dalam tafsir . Tapi sementara frase "pesan dasar" Islam terdengar familiar bagi setiap yang pernah membahas masalah-masalah keislaman.[8] Karena itu manusia diharapkan memenuhi perjanjiannya dengan Tuhan. karena itu ada risiko abstraksi yang tinggi pula. Artinya. sering tidak begitu jelas mengenai pesan dasar itu. Namun realita menunjukkan adanya kesulitan yang nyata. kecenderungan banyak orang menilai kadar keimanan orang lain hanya dari segi hal-hal simbolik dan formal. Sebuah firman suci menyebutkan adanya perjanjian primordial antara Tuhan dan manusia.[6]. namun kemudian Adam melupakannya dan tergoda setan. munkar). 'aqd dan mitsaq.[11] Muhammad Asad. Karena suatu "pesan dasar" mengacu pada suatu nilai yang amat tinggi. Meskipun problem di sini agaknya lebih banyak berurusan dengan soal kemampuan ekspresif." [7] Perjanjian itu pula yang terjadi antara Tuhan dan Adam. bukan substantif (orang tahu atau merasa tahu substansinya. merupakan indikasi kesulitan menangkap pesan dasar agama seperti sering dikuatirkan sementara Ahl al-Bawathin tentang orientasi keagamaan Ahl al-Dhawahir. demi perkenan Tuhan (ridha Allah). yang dinyatakan dalam kata-kata Arab sebagai abd. Tanpa berarti dukungan untuk salah satu dari Ahl al-Dhawahir dan Ahl al-Bawathin yang buah pikiran mereka sempat ikut mewarnai polemik-polemik dalam khazanah literatur Islam klasik. jika ia tidak mampu menangkap pesan dasar itu.[l0] Sebaliknya orang itu kafir. Dalam Kitab Suci al-Qur'an banyak diungkapkan tentang adanya perjanjian. dengan Allah dan tidak membatalkan kesepakatan antara dia dan Allah itu. bahwa manusia tidak akan menyembah setan dan harus hanya menyembah Allah semata. keturunan mereka dan Dia minta kesaksian mereka atau diri mereka sendiri: "Bukankah Aku ini Tuhanmu?" Mereka mergawab: "Benar. dengan berbuat hal-hal tidak bermoral (fahsya'. tapi gagal mengungkapkannya). maka dalam suatu masyarakat yang diliputi paham serba simbol (akibat pendidikan yang rata-rata rendah dan cara berpikir yang sederhana) "pesan dasar" itu sering terkacaukan dengan hal-hal simbolik dan formal yang mewadahinya. Perjanjian primordial itu juga diungkapkan dalam bahasa metaforik yang sangat ilustratif. jika menyalahi perjanjiannya dengan Allah setelah perjanjian itu menjadi kesepakatan. tidak bisa disangkal. namun dalam kenyataan kita masih menemui diri kita. kami bersaksi!" (Demikian itu supaya kami tidak) berkata di hari Kiamat: "Sesungguhnya kami lupa akan hal itu. dan harus menjauh dari penyembahan kepada setan. demikian: Dan ingatlah ketika Tuhanmu mengambil (menciptakan) dari anak cucu Adam.mendorong orang bertanya: Lalu apa wujud dari hal-hal yang secara esensial bersifat Islam itu? Jawabnya adalah. hal-hal yang secara esensial bersifat Islam itu dengan sendirinya adalah "pesan dasar" (risalah asasiyyah) Islam itu sendiri. Beragama bagi seseorang tentu tidak akan bermakna. manusia harus menempuh hidup bermoral.[9] Maka kaum beriman sejati ialah mereka yang memenuhi janjinya. yang membuatnya diusir dari surga. persetujuan dan kesepakatan antara Tuhan dan manusia. namun wujud nyatanya sendiri sering masih merupakan problem. agar Tuhan pun memenuhi perjanjian-Nya dengan manusia.

juga dari engkau (Muhammad) dan dari Nuh. sebagai pesan Tuhan kepada semua Nabi dan Rasul --dan melalui mereka kepada seluruh ummat manusia membentuk makna "generik" agama. Musa dan Isa putera Maryam.[18] Dan Nabi saw pun bersabda bahwa "Tiada suatu apapun yang dalam timbangannya lebih berat daripada keluhuran budi. misalnya. dalam bahasa Arab. yaitu sikap hidup yang penuh pertimbangan moral. sebab agama yang benar secara asli haruslah tidak bernama kecuali dengan nama yang menggambarkan semangat makna generik kebenaran itu sendiri.[21] Maka. ditolak Kitab Suci. Karena itu. Asad juga memperjelas makna perjanjian dengan Allah (ahd Allah). yaitu suku keturunan Yehuda. Yang pertama (Yahudi) merupakan pelembagaan berdasarkan kebangsaan (atau malah kesukuan. menerangkan. adalah suatu istilah umum yang mencakup kewajiban-kewajiban moral dan sosial yang timbul akibat iman itu. anak pertama Israil atau Ya'qub)." [20] Pesan dasar itu. sepanjang penjelasan al-Qur'an. [12]. Kesadaran Ketuhanan (Rabbaniyyah) yang mendasari akhlaq mulia itulah inti pesan dasar agama lewat para Rasul.al-Kasysyaf.[22] . yaitu. terhadap sesama manusia. yang titik tolaknya ialah sikap pasrah dan berdamai dengan Allah (dalam bahasa Arab disebut Islam)." [l7] Dengan al-Qur'an itu. Ibrahim adalah seorang hanif. al-Qur'an menolak klaim kaum Yahudi atau Nasrani bahwa Nabi Ibrahim adalah seorang Yahudi atau Nasrani. yaitu seorang yang karena bimbingan kesucian dirinya sendiri (fithrah) memelihara kecenderungan dan pemihakan yang murni kepada yang benar dan baik secara generik. Allah membimbing siapa saja yang mengikuti keridlaan-Nya ke berbagai jalan keselamatan. agama yang benar ialah agama yang memiliki makna generik itu. Ibrahim adalah seorang Muslim (yang pasrah dan damai kepada Allah).dalam suatu cara yang ditetapkan Ailah untuknya. sebab dalam pandangan Kitab Suci al-Qur'an keyahudian dan kenasranian adalah bentuk-bentuk pelembagaan formal dan bahkan parokial dari suatu agama generik. sebagaimana telah disinggung. sebagai merujuk pada kewajiban moral manusia untuk menggunakan karunia bawaan lahirnya --intelektual dan fisik-. atas dasar keinsyafan mendalam. yaitu makna dasar dan universal sebelum suatu agama terlembagakan menjadi bentuk-bentuk formal dan parokial. yang sesungguhnya tidak memerlukannya. sedangkan yang kedua (Nasrani) konon berdasarkan nama tempat (Nazaret). yang selamanya menyertai dan mengawasi tingkah laku setiap orang. asli dan sejati. [16] Maka al-Qur'an pun disebutkan sebagai "petunjuk bagi orang-orang yang bertaqwa. Islam (Sikap Pasrah dan Damai kepada Allah). Demikian pula bentuk-bentuk pelembagaan formal dan parokial lainnya.[l4] dan pokok perjanjian Tuhan dengan semua Nabi: "Ingatlah ketika Kami (Tuhan) mengambil dari para Nabi perjanjian mereka. yang antara lain akan membawa manusia kepada kesadaran akan dirinya berhadapan dengan Sang Maha Pencipta. perjanjian (Inggris: covenant) antara Allah dan manusia itu. Karena itu al-Qur'an menegaskan. Ibrahim.[13]." [l9] Dan bahwa "Yang paling banyak menyebabkan manusia masuk surga ialah taqwa kepada Allah dan budi pekerti luhur." [16] Pemenuhan perjanjian manusia dengan Tuhannya itu melahirkan sikap hidup bertaqwa. dan telah Kami ambil dari mereka perjanjian yang berat. bahwa Allah adalah Maha Hadir. Juga ditegaskan. yang dalam bahasa Inggris secara konvensional diterjemahkan dengan God's covenant.

Maka keadilan adalah aturan kosmis (cosmic order). karena justru kebanyakan para Nabi bukanlah orang-orang Arab). rabbaniyyah). semuanya adalah tokoh-tokoh yang muslim dan mengajarkan islam [23]. yang menyangkut masalah pengaturan tata hidup manusia dalam hubungan mereka satu sama lain dalam masyarakat. maka lebih tepat memandang perkataan mizan ini. Karena itu tindakan menegakkan keadilan ditegaskan sebagai nilai yang paling mendekati taqwa. (sekalipun tidak berarti para Nabi itu secara harfiah menggunakan perkataan Arab yang berbunyi m-u-s-l-i-m dan i-s-l-a-m. yang dimaksud dengan mizan dalam firman itu ialah neraca yang dikenal. yang dalam firman ini dilambangkan sebagai penciptaan langit yang "ditinggikan" oleh-Nya. dan demikian pula dengan semua Nabi. Sebagai hukum dasar dari Tuhan. sikap pasrah kepada-Nya (islam) dan kesadaran akan kehadiran-Nya dalam hidup (taqwa. Hendaknya kamu tidak melanggar (hukum) keseimbangan itu. bahkan meliputi seluruh alam raya ciptaan-Nya ini. dari sudut pandangan kosmologi al-Qur'an.[25] Keadilan yang dalam bahasa Kitab Suci dinyatakan dalam kata-kata 'adl.[24] Dan sebagai wujud terpenting pemenuhan perjanjian dengan Allah dan pelaksanaan pesan dasar agama. aqd. qisth. Tentu saja tidak terlalu salah. dan Dia tetapkan (hukum) keseimbangan. mitsaq di atas). berlaku untuk semua ummat manusia. maka tidak ada manifestasinya yang lebih penting daripada nilai keadilan. setelah lewat proses pengalihan nama itu dalam bahasa Yunani). Sesungguhnya. maka ditegaskan. di mana manusia hanyalah salah satu bagian saja. Tapi dalam kaitannya dengan penciptaan Allah akan jagad raya. yang meliputi perjanjian dengan Allah ('ahd. dan jangan kamu bertindak merugikan (hukum) keseimbangan. yaitu seluruh jagad raya ini berjalan mengikuti hukum keseimbangan. adalah universal. semuanya bersikap pasrah dan berdamai dengan Allah dan membawa pesan dasar yang sama. termasuk Musa dan Isa (Yesus. keadilan adalah hukum primer seluruh jagad raya. pesan dasar ini. menegakkan keadilan dalam masyarakat adalah amanat Allah kepada manusia. dan dengan jalan menempuh hidup bermoral. yaitu agar manusia tunduk patuh kepada-Nya melalui sikap pasrah dan berdamai. dan tidak terbatasi oleh pelembagaan formal agama-agama. Bahkan neraca yang kita kenal dan tampak bekerja secara "sederhana" itu pun adalah .Demikianlah Nabi Ibrahim. yang pelanggaran terhadapnya dapat dilukiskan secara metaforik sebagai mengganggu atau "mengguncangkann tatanan jagad raya. Inilah yang antara lain dapat kita ambil pengertiannya dari firman Allah: Dan langit pun ditinggikan oleh-Nya. Ketika pesan dasar itu menuntut terjemahannya dalam tindakan sosial nyata. wasth (semuanya memiliki makna dasar "tengah" atau "jujur") adalah wujud lain hukum keseimbangan (mizan) yang telah ditetapkan Allah untuk seluruh jagad raya.[26] Beberapa tafsir dan terjemah konvensional menerangkan. dalam makna kosmologisnya. Mereka adalah muslim dan mengajarkan islam dalam arti. Dan tegakkanlah olehmu semua akan neraca dengan jujur. PRINSIP KEADILAN (SOSIAL) Pada pokoknya pesan dasar ini.

sehingga tidak akan berubah (immutable). Keislaman yang formal saja tidak akan membawa keselamatan di dunia ini. maka masyarakat itu akan tegak. dan tidak akan menegakkan negeri yang zalim meskipun Islam. Sebab. (021) 7501969. Metro Pondok Indah Pondok Indah Plaza I Kav. melalui hukum gravitasi.suatu gejala kosmis. di segala tempat dan masa. sehingga ia menguatkan pandangan bahwa "Sesungguhnya Allah akan menegakkan negeri yang adil meskipun kafir. jika tidak disertai keadilan. Sebaliknya. dan tidak akan bertahan lama bersama kezaliman dan Islamn" [27] Dengan pernyataannya yang tidak biasa itu. misalnya. didukung Allah. PANDANGAN KONTEMPORER TENTANG FIQH (3/4) Telaah Problematika hukum Islam di Zaman Modern Oleh Nurcholish Madjid BEBERAPA CONTOH PEMIKIRAN KONTEMPORER FIQH Kita telah pergi sejauh yang diperlukan. Ibn Taymiyyah hanya bermaksud agar ummat Islam tidak taken for granted dalam hal keislaman. UA 20-21 Jakarta Selatan Telp. Sedemikian rupa jauhnya pandangan Ibn Taymiyyah. Berbagai pemikiran mutakhir tentang fiqh menegaskan perlunya kesadaran akan pesan dasar Islam sebelum . keadilan adalah "tatanan segala sesuatu" (nidham-u kull-i syay) [28]. karena keseimbangan dalam sebuah neraca adalah kelanjutan dari hukum keseimbangan yang lebih luas (yang menguasai seluruh alam). Dari sudut pandangan inilah kita memahami mengapa banyak para 'ulama'. 7507173 Fax. sedemikian tegas dan jauh berpegang pada prinsip keadilan itu sebagai ideatum tatanan sosial manusia yang akan menjamin kekokohan dan kelangsungannya. yakni. (021) 7507174 Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota Please direct any suggestion to Media Team Artikel Yayasan Paramadina Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota IV. khususnya dalam arti sosial. dalam hal ini khususnya Ibn Taymiyyah.29. sama dengan yang telah dijelaskan di atas." dan "Dunia akan bertahan bersama keadilan dan kekafiran. -------------------------------------------(bersambung 3/4) Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah Editor: Budhy Munawar-Rachman Penerbit Yayasan Paramadina Jln. meskipun suatu masyarakat adalah kafir namun menegakkan keadilan di dunia ini. 7501983. untuk membahas masalah-masalah pokok yang mendasari pemikiran kontemporer tentang fiqh. atau Sunnatullah yang tidak tergantung kepada keinginan seseorang (obyektif) dan berlaku universal. suatu cosmic order yang menjadi hukum Tuhan.

Kami kutipkan dan terjemahkan sepenuhnya pendapat Fat'hi 'Utsman yang relevan. potong tangan untuk pencurian. Tapi kalau seandainya seluruh situasi yang berkaitan dengan lingkungan telah tersedia dengan sebaik-baiknya. Fatthi 'Utsman menegaskan. hukum bunuh (qishash) untuk kejahatan pembunuhan. termasuk yang ada dalam al-Qur'an dapat dilaksanakan hanya setelah ditegakkannya keadilan sosial dan tatanan kemasyarakatan yang menjamin anggotanya untuk tidak melanggar ketentuan yang ditetapkan. maka sesungguhnya ia juga menetapkan kemudahan jalan perkawinan dan melindungi bagian-bagian privat dari tubuh dengan menutup aurat dan menjaga penglihatan mata. yaitu Fat'hi 'Utsman (pemimpin redaksi majalah Islam internasional Arabia yang terbit di London). "Kalau tujuan kita ialah kebaikan masyarakat. maka itulah cara yang ideal yang kita wajib menggunakannya. Jadi jika kita dapat mencegah sebab-sebab dan situasi yang mendorong kejahatan. Dan ketika menetapkan hukuman potong tangan pencuri. dari bukunya." Dalam praktek memang telah terjadi berbagai usaha ke arah ini melalui berbagai pengabdian sosial. maka tujuan hukuman haruslah proteksi. dan lain-lainnya. Dari sini kita melihat. ia bersama itu juga menetapkan langkah-langkah yang menjamin hilangnya dorongan-dorongan permusuhan golongan. Tapi penetapan hukum Islam tidak pernah disebut kecuali mesti timbul dalam pikiran orang. serta melarang khalwat (kencan seorang lelaki dan . maka Islam tidaklah melakukan hal itu sebelum tegaknya hak-hak hidup pribadi dan mantapnya tanggung negara untuk menjamin hak-hak pribadi itu. kecuali sesudah ditempuh jalan proteksi. kelompok atau perbedaan tingkat sosial. sama dengan yang dikatakan Francis Aveling dalam bukunya ilmu Jiwa Klasik dan Modern. baik yang berasal dari lingkungan atau pun dari pribadi sendiri. Islam ketika menetapkan pelaksanaan qishash dalam kejahatan pembunuhan. maka tentulah yang tersisa bagi kita ialah memikirkan sebab-sebab individual yang mendorong orang untuk melakukan pelanggaran-pelanggaran. suatu hukum. Dan ketika Islam menetapkan hukum rajam atau cambuk atas pezina. dan Ahmad Zaki Yamani (yang pernah menjabat Menteri Perminyakan Saudi Arabia dan tokoh OPEC yang amat terkenal). Muhammad Asad (salah seorang arsitek dan pemikir konstitusi Negara Islam Pakistan).suatu hukum atau hukuman dilaksanakan. Wajar bahwa Islam menempuh jalan penetapan hukum-hukum setelah ditempuhnya jalan pengarahan pikiran melalui aqidah dan pendidikan tingkah laku melalui prinsip tabadul. Sedangkan yang sebenarnya ialah bahwa rahmat Allah untuk sekalian alam tidaklah menetapkan hukuman. Allah menerangkan dalam Kitab-Nya berbagai hukuman kejahatan (had) seperti. gambaran yang mengerikan tentang tangan-tangan buntung dan jasad-jasad berserakan. Kesadaran itu dapat disebut sebagai karakteristik pemikiran fiqh dan hukum Islam di zaman modern. al-Din li al-Waqi' (Agama untuk Realita): Keadilan Sosial sebelum hukuman. dari tiga tokoh yang representatif. Dan cara apapun yang dapat merealisasikan tujuan ini harus dipandang sebagai wajar dari sudut pandangan sosial. misalnya. Di sini akan dikemukakan contoh pemikiran para intelektual Islam mutakhir.

may enjoy that minimum of material well-being and security without which there can be no human dignity.a society (or a state) must be so constituted that every individual. he or she must be assured of an equitable standard of living commensurate with the resource at the disposal of the community. there can be no real happiness and strength in a society that permits some of its members to suffer undeserved want while others have more than the need. (Di sini kami kutipkan seluruh uraian itu. Islam envisages and demands a society that provides not only for the spiritual needs of man. If the whole society suffers privations owing to circumstances beyond its control (as happened. to the enjoyment of social security: in other words. but for his bodily and intellectual needs as well.seorang perempuan yang bukan muhrim. to the Muslim community in the early days of Islam). liability to punishment. Asad membuat uraian panjang lebar. Dalam memberi penjelasan tentang makna yang lebih mendasar di balik hukuman yang amat keras bagi pencuri (potong tangan). Now. although the Qur'an makes it clear that human life cannot be expressed in terms of physical existence alone --the ultimate values of life being spiritual in nature-. In short. in this context.[29] Lebih runtut lagi adalah jalan pikiran dan garis argumen Muhammad Asad. threfore. every citizen is entitled to a share in the community's economic resources and thus. through it.the believers are not entitled to look upon spiritual truths and values as something that could be divorced from the physical and social factors of human existence. But if the available resources of a community are so unevenly distributed that certain groups within it live in affluence while the majority of the people are forced to use up all their energies in search of their daily bread. namun tanpa muhrim perempuan itu). in the last resort. no spiritual progress: for. of future greatness. Jadi pengaturan sosial berjalan seiring atau mendahului penetapan hukuman kejahatan. no real freedom and. For. and the term "duty" also comprises. It follows. among the inalienable rights of every member of the Islamic society --Muslim and non-Muslim alike-. namun maaf tidak sempat menerjemahkan): The extreme severity of this Qur'anic punishment can be understood only if one bears in mind the fundamental principle of Islamic Law that no duty (taklif) is ever imposed on man without his being granted a coresponding right (haq). It was undoubtedly this that the Prophet had in mind when he uttered the warning woeds (quoted by al-Suyuti in al-Jami al-Saghir). such shared privations may become a source of spiritual strength and. poverty becomes the most dangerous enemy of spiritual progress. man and woman. for instance. an occasionally drives whole communities away from God-consciousness and into the arms of soul-destroying materialism. As is evedent from innumerable Qur'anic ordinances as well as the Prophet's injuctions forthcoming from authentic Traditions. "Proverty may well . that --in order to be truly Islamic-.is the right to protection (in every sense of the word) by the community as a whole.

and a provision (by the community or the state) of adequate nourishment. any attempt on the part of an individual to achieve an easy. or under-age. in the last resort. It is against the background of this social security scheme envisaged by Islam that the Qur'an imposes the severe sentence of hand-cutting as a deterrent punishment for robbery. (c) equal opportunities and facilities for education. its balance is extremely delicate and in need of constant. III/1. however. strictly enforced protection. Umar ibn al-Khattab. (Its was in correct appreciation of this principle that the great Caliph Umar waived the had of handcutting in a period of famine which afflicted Arabia during his reign.) To sum up. the above ordinance which lays down that the hand of the thief shall be cut off. the communal obligation to create such a comprehensive social security scheme has been laid down in many Qur'anic verses. shelter.turn into a denial of the truth (kafr). If the society is unable to fulfil its duties with regard to everyone of its memebers. theft cannot and should not be punished as severely as it should be punished in a state in which social security is a reality in the full sense of the woed. under the circumstances outlined above. his successors had either the vision nor the statemanship to continue his unfinished work. It was the second Caliph. consequently. but must confine itself to milder forms of administrative punishment. the temptation to enrich onself by illegal means often becomes irresistible --and. etc. 213-217). and must be punished as such: and. and (d) free medical care in health and sickness. A corollary of these rights is the right to productive and remunerative work while of working age and in good health. One must." Consequently. in cases of disability resulting from illness. and since. (b) an adequate home. In a community in which everyone is assured of full security and social justice. widowhood. always hear in mind the principle mentioned at the beginning of this note: namely. it has not right to invoke the full sanction of criminal law (had) against the individual transgressor. enforeced enemployment. Since. woman and child has (a) enough to eat and wear. Tabagat. and has been amplified and explained by a great number of the Prophers commandments. the social legislation of Islam aims at a state of affair in which every man. As already mentioned. the entire socioeconomic system of Islam is based on the faith of its adherents. the absolute interdependence between man's right and corresponding duties (including liability to punishment). therefore. who began to translate these ordinances into a concrete administrative scheme (see Ibn Said. old age. one may safely conclude that the cutting-off of a hand in punishment for theft is applicable only within the context of an already existing fully-functioning social security . unjustified gain at the expense of other members of the community must be considered an attack against the system as a whole. "temptation" cannot be admitted as a justifiable excuse. but after his premature death. In a community or state which neglects or is unable to provide complete social security for all its members.

provided such consensus was possible.[30] Fiqh sangat erat kaitan dengan Syari'ah. The jurists derived their principles from the Qur'an and the Sunnah (way of action and the opinions of the Prophet). because of certain inherent . Viewed as such. it has no binding authority. his era. hasil pemikiran ("fiqh" dalam arti asalnya) para ulama dalam kitab-kitab itu baginya tidaklah mengikat. Yet. maaf tidak sempat menerjemahkannya): The Islamic Shari'a as a phrase has two scope of meanings. whether it dealt with contemporaneous issues of the time or in anticipation of future ones. and from the other sources of Shari'a such as Ijma' (the consensus of the community represented by its scholars and learned men). and the consensus of the community represented by its sholars and learned men during a certain period and regarding a particular problem. to what is true and valid of the Sunna. Sama dengan yang di atas. As I explained earlier. as I said before in this wide sense. karena pemikiran itu tidak lepas dari tuntutan zaman dan tempat yang lebih spesifik. The importance of differentiating between the wide and the narrow scope of Shari'a is evident in countries that fully implement the system. such as the Kingdom of Saudi Arabia. Perhatikanlah bagaimana Yamani menegaskan. looked upon in this wide scope. Furthermore. and in no other circumstances. the Shari'a is confined to the undoubted principles of the Qur'an. not all the principles of Shari'a in its wider sense are of a binding authority.scheme. it denotes everything that has been written by Moslem jurists throughout the centuries. As such the system has a tremendous scholastic value to the Moslem. one cannot deny the Shari'a scholastic value as an elaborate system of deduction which should be relied upon for future derivations of principles. and surely we cannot maintain that previous Moslem Jurists have anticipated all our existing contemporary problems. and public interest considerations. the Shari'a has a binding authority on every Moslem. and he is obligated to follow and employ it to solve his affairs . memperjelas persoalan Syari'ah itu dalam kaitannya dengan hasil karya para ulama terdahulu yang secara keseluruhannya biasanya dipandang sebagai korpus Hukum Islam. Ahmad Zaki Yamani. or even the particular problem confronting him. yang belum tentu cocok dengan tuntutan zaman kita sekarang. constitutes a huge Juristic tradition the value of which depends on the individual jurist himself.. jika bukannya malah identik (seperti menurut pengertian kebanyakan orang). since within it one might find different. it cannot have a binding authority since circumstances that brought about a certain principle might not be in existence any more. di sini kami kutipkan sepenuhnya uraian Yamani (namun.. dalam sebuah risalahnya yang terkenal. sekali lagi. The Shari'a. Construed narrowly. Generally and widely construed. however. and sometimes contradictory principles resolving the same issues depending on the Juristic school that propagated the principle.

7507173 Fax. are not worthy of being followed. since as a logical consiquence on would have to maintain the princiles of the other schools are not valid. (021) 7501969. then. select principles from the various juristic schools with no exceptions. UA 20-21 Jakarta Selatan Telp.29. confined to the Qur'an. Yamani mengutip. or at least.. Such countries could legislate new solutions for novel problems. PANDANGAN KONTEMPORER TENTANG FIQH (4/4) Telaah Problematika hukum Islam di Zaman Modern Oleh Nurcholish Madjid Bagi Yamani prinsip public interest atau kepentingan umum adalah sangat fundamental. (021) 7507174 Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota Please direct any suggestion to Media Team Artikel Yayasan Paramadina Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota IV. and consensus.difficulties in attempting to harmonize some of them. dan ketentuan tekstual atau nas di pihak lain. Furthermore. which was done in the past. but not the validity of that on which there is consensus. pendapat yang ekstrim dari Imam al-Tuff yang diduga dari madzhab Hanbali (tapi juga ada yang menduganya bermadzhab Syi'ah). [31] -------------------------------------------(bersambung 4/4) Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah Editor: Budhy Munawar-Rachman Penerbit Yayasan Paramadina Jln. deriving such solutions from the general principles of the Shariia and considerations of public interest and communal welfare. According to the well-known Shari'a principle "the validity of that on which there is a difference can be questioned. the Sunna. dengan implikasi sebuah dukungan.. yang mengatakan bahwa kepentingan umum mengatasi dan mendahului ketentuan tekstual. Ia berpandangan bahwa kepentingan umum itulah yang menjadi maksud dan tujuan Maha Hakim (Allah). the criterion being what is more appropriate to the needs of that particular country. sekalipun dari al-Qur'an dan Sunnah. Berkaitan dengan prinsip ini." it becomes imperative . betapapun absahnya sebuah nas. one cannot choose one juristic school for implementation to the exclusion of all others. Maka jika terdapat pertentangan pertimbangan kepentingan umum di satu pihak. to adopt the narrow meaning of Shari'a. dengan merujuk kepada kitab Thabaqat al-Hanabilah oleh Ibn Rajab. sedangkan ketentuan tekstual yang diwahyukan dan sumber-sumber lainnya hanyalah perantara . 7501983. Metro Pondok Indah Pondok Indah Plaza I Kav. al-Tufi berpendapat bahwa kepentingan umum itu harus dimenangkan.

The Venture of Islam.. Many Western Orientalists who wrote about Shari'a failed to distinguish between what is purely religious and the principles of secular transactions. Marshal G. Hodgson.." Or when he said. Though both are derived from the same source.[32] Lebih jauh. fiqh dan sistem hukum Islam memiliki kesempatan besar untuk diterapkan dalam zaman modern. The fact that its central. kaum Muslim harus mampu terlebih dahulu menangkap pesan dasar agamanya. Its great Tradition is modernisable. whilst hierarchy and . CATATAN 1. mengembangkan pemikiran hukum yang akan menjawab tuntutan zaman dan tempat. The Prophet himself had set precedence for this religious-secular relationship when he said "I am only human. dan berdasarkan itu. "You know better about your civil non-religious matters. but rather as the continuation and completion of and old dialogue within Islam. dan tujuan harus selalu mendahului perantaraan atau cara.untuk mencapai tujuan itu. 3 jilid (Chicago: The University of Chicago Press. Thus in Islam. 1.S. 2. though not the source of modernity. if I order something of my opinion consider it in the light that I am only human.. Tapi dengan bekal inner dynamics Islam itu sendiri. based on public interest and utility. if I order something pertaining to your religion comply. purification modernization on the one hand. Islam may yet turn out to be its beneficiary. .. official.. h. and therefore always evolving to an ideal best. sehingga akan terbukti ramalan Gellner: Kaum Muslim adalah penarik manfaat yang sebenarnya dari modernitas. masa depan yang lebih baik tentu dapat diciptakan. 108. blamed for retardation and foreign domination." [33] PENUTUP Dari seluruh uraian di atas dapatlah disimpulkan. and the operation can be presented. 1974).. and only in Islam. once a shallow of the central tradition now becomes a repidiated scapegoat. Tetapi prasyaratnya ialah. "pure" variant was egalitarian and scholarly. the latter principles have to be viewed as a system of civil Iaw. jil. Halangan terbesar bagi kemungkinan itu datang dari sikap-sikap dogmatic dan literalis. not as an innovation or concession to oursiders. yaitu hukum-hukum keagaman ('ibadat) dan hukum-hukum kegiatan manusia dalam hidup keduniaan (mu'amalat): The religious essence and value of the Shari'a must never be overestimated. Only Islam survives as a serious faith pervading both a folk and a Great Tradition. can be done in one and the same language and set of symbols. Yamani mengritik sebagian kaum Orientalis yang tidak memahami Syari'ah dan mencampuradukkan dua unsurnya yang berbeda namun tidak terpisah. and the reaffirmation of a putative old local identity on the other. yang kini masih banyak melanda kaum Muslim. Hence. The old folk version.

Islamic Liberalism (Chicago: The University of Chicago Press. By various obvious criteria --universalism. 12. In an age of aspiration to universal literacy. Maxime Rodinson. Lihat QS. the open class of scholars can expand towards embracing the entire community. greatly aids its adaptation to the modern world. al-Ma'idah/5:16. of the three great Western monotheisms. (Ernest Gallner. QS. 14. peripheral forms. 1. Lihat QS. h. 1988). Lihat QS. 13. The Message of the Qur'an (London: E. 1561. . spiritual egalitarianism. h. Bulugh al-Maram.. Thaha/20:115. al-Baqarah/2:40. (Gallner. al-Baqarah/2:2. 7). 3. h.. 10. terjemahan dari Perancis oleh Brian Peace (Austin: University of Texas Press. the reawakened Muslim potential for egalitarian scripturalism can actually fuse with nationalism. 6. Lihat QS. Modern egalitarianism is satisfied. catatan 42.Ibid. Muhammad Asad. scripturalism. 8. al-Ahzab/433:7. the extension of full participation in the sacred community not to one. h. 20. QS. and thus the 'protestant' ideal of equal access for all believers can be implemented. Ali Imran 3:79. Yasin/36:60 7. Islam and Capitalism. Lihat QS. so that one can hardly tell which one of the two is of most benefit to the other. 9. 15.363. Lihat QS. 4.. catatan 21. Lihat QS. 1981).Islam is. hadits No. 5. al-A'raf/7:172. Ibid. and the rational systematisation of social life-. 19. Muslim Society (Cambridge: Cambridge University Press. 11. 4-5). h.ecstaasy pertained to its expendable. hadits No. 1980). 17. 211. Leonard Binder. Brill. 16. h. al-Hadid/57:4. Lihat QS. 1551. 7-8. al-Ra'd/13:25. 18. the one closest to modernity. eventually disavowed. Whilst European Protestantism merely prepared the ground for nationalism by furthering literacy. Lihat QS. 1978). al-Ra'd/13:20.J. or some. but to all.

dalam risalahnya. 23. Muhammad Asad. Ibrahim. al-Din li al Waqi' (Kuwait: al-Dar al-Kuwaytiyyah. Setiap orang yang dikaruniai Allah pangkat kenabian pasti menyeru manusia agar berkesadaran Ketuhanan (Rabbaniyyun) dan tidak akan menyimpang dari garis lurus itu setelah para pengikutnya benar-benar menjadi kaum yang pasrah kepada-Nya (muslimun): "Tidak pernah terjadi pada seorang manusia yang kepadanya Allah mengaruniakan kitab suci. al-Baqarah 2:133).91-92. al-Rahman/55:7-9. al-Ma'idah/5:8. yaitu Tuhan Yang Maha Esa. h. ajaran kebenaran (hukum) dan kenabian kemudian berkata kepada orang banyak: 'Jadilah kamu semua hamba-hamba bagiku. berkenaan dengan keislaman para Nabi. dan kami semua pasrah (muslimun) kepada-Nya. yaitu Tuhan Yang Maha Esa. 149-150. tt. Lihat QS. Isma'il dan Ishaq. 24.' Dan ia (Nabi itu) tidak menyuruh kamu agar kamu mengambil para malaikat dan para Nabi yang lain sebagai tuhan-tuhan. 40. ketika ia bertanya anak-anaknya: 'Apa yang kamu sembah sesudahku?' Mereka menjawab: 'Kami menyembah Tuhanmu dan Tuhan nenek moyangmu. 30. dan tidaklah dia termasuk mereka yang musyrik. langsung dan tidak langsung. dan seorang muslim (pasrah kepada Tuhan). Ibn Taymiyyah. Sesungguhnya manusia yang paling dekat kepada Ibrahim ialah mereka yang benar-benar mengikutinya dan Nabi ini (Muhammad) serta mereka yang beriman. Fat'hi Utsman. Terdapat banyak penegasan. 26. QS.'" (QS. Ibid. h. 29. 28. Suatu penegasan bahwa semua penganut agama (yang benar secara generik. Allah adalah pembimbing kaum beriman itu. Ali Imran/3:79-80). 25. Secara umum dapat disimpulkan dari firman Allah tentang sikap anak turun Ya'qub Israil): "Adakah kamu menjadi saksi ketika maut datang kepada Ya'qub. Ali Imran 3:19 dan 85. melainkan seorang hanif (lurus kepada kebenaran). hanif) menyembah Tuhan yang sama. "Ibrahim itu bukanlah seorang Yahudi ataupun Nasrani. Lihat QS. dan bersikap pasrah kepada-Nya (Islam). Apakah patut ia menyuruh kamu menjadi kafir sesudah kamu semua menjadi orang-orang yang pasrah (muslimun)?" (QS. 27. h. 22.). . Ali Imran/3:67-68). 1396 H/1976 M). al-Nisa/4:58. Lihat QS. bukan bagi Allah!' Melainkan (ia tentu berkata): 'Jadilah kamu orang-orang yang berkesadaran Ketuhanan (Rabbaniyyun) berdasarkan kitab suci yang kamu ajarkan dan berdasarkan yang kamu sendiri pelajari." (QS. catatan 48.21. al-Amr bi al-Ma'ruf wa al-Nahy 'an al-Munkar (Beirut: Dar al-Kitab a-jadid.

yaitu: syariah terdahulu (syar' man qablana). . mereka tidak mengakui keabsahan hadist itu. 10-11. Sunnah. 33. Istihsan. Ini tidak berarti.. Itulah yang berkembang menjadi ijtihad. Biasanya para ulama pendukung kubu Irak dikenal sebagai ahl al-ra'y. Istishlah dan Istishhab. Selain dari sumber hukum primer tersebut. 6-7). atau sama sekali tidak menggunakan sumber hukum itu. Pendapat sahabat Nabi (qaul al-shahabi). (021) 7501969. -------------------------------------------Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah Editor: Budhy Munawar-Rachman Penerbit Yayasan Paramadina Jln. kebiasaan/adat-istiadat (al'urf). dalam pengembangan pemikiran hukumnya (metoda ijtihadnya) volume penggunaan rasio lebih besar dari volume penggunaan hadist (sebagai salah satu sumber syari'ah). Ahl al-ra'y sesuai dengan situasi lingkungannya. dikenal adanya dua kubu pengembangan pemikiran hukum Islam. Ibid. 32. (021) 7507174 Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota Please direct any suggestion to Media Team Artikel Yayasan Paramadina Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota KONSEP-KONSEP ISTIHSAN. 13-14. dikenal juga adanya sumber-sumber sekunder (al-mashadir al-tab'iyyah). 7507173 Fax. ISTIHSAN Pada saat-saat awal terbentuknya pemikiran hukum Islam yang metodis (ilmu fiqh). sumber hukum Islam terdiri atas: al-Qur'an. Metro Pondok Indah Pondok Indah Plaza I Kav. upaya ilmiah menggali dan menemukan hukum bagi hal-hal yang tidak ditetapkan hukumnya secara tersurat (manshus) dalam syariah (al-kitab wa sunnah). dan para ulama pendukung kubu Hijaz dikenal sebagai ahl al-hadits.31. Islamic Law and Contemporary Issues (Jeddah: The Saudi Publishing House 1388 H). Ahmad Zaki Yamani. Tapi penggunaannya sangat terbatas. UA 20-21 Jakarta Selatan Telp. ISTISHLAH DAN MASHLAHAT AL-AMMAH Oleh KH Ali Yafie Dinamika hukum Islam dibentuk oleh adanya interaksi antara wahyu dan rasio. h. h. h. dan tokoh utama kubu Hijaz adalah Imam Malik. Dengan demikian. Tokoh utama kubu Irak ialah Imam Abu Hanifah. Ibid. yaitu kubu Irak dan kubu Hijaz. 7501983. Ijma' dan akal..

Definisi ini menurutnya. tapi mereka juga menggunakan analogi yang longgar dan lebih luas. Mereka sering mengatakan. ahl al-hadits sesuai dengan situasi lingkungannya. tapi apa yang dia maksud dengan qias di sini tidak begitu jelas. karena tidak dapat menampung Istihsan yang ditegakkan di luar landasan qias. seperti Istihsan yang ditegakkan di atas landasan nas. istihsan itu ialah semua ketentuan syar'i (baik yang bersifat nash. Menurut al-Bardisi definisi ini tidak mencakup (ghair jami'). dan menurut Istihsan hukumnya begini. hukum dalam masalah ini bersumber dari Istihsan. Sepanjang penelitian guru besar ilmu-ilmu Syari'ah pada Fakultas Hukum Universitas Kairo. Ini tidak berarti mereka menolak penggunaan sumber rasio itu. Definisi ini pun belum mencakup. Dengan kata lain mereka mengatakan. atau dharurah. Mereka menggunakannya secara tersendiri atau menyebutnya berdampingan dengan kata/istilah qias. menyebutkan Istihsan itu suatu qias yang lebih dalam (khafi). mereka yang menggunakan Istihsan sebagai sumber hukum tidak mempunyai kesepakatan atas suatu definisi tentang Istihsan itu. mereka dalam pengembangan pemikiran hukum (metode ijtihadnya) volume penggunaan sumber hukum hadits lebih besar dari volume penggunaan sumber rasio (dalam hal ini qias). Kita menggunakan qias dalam masalah ini. Sebagian lagi memberikan definisi. atau sumber hukum yang . Syekh Muhammad Zakariya al-Bardisi. di antaranya adalah: Istihsan itu. Istilah "Istihsan" sebagai technische-term banyak beredar di kalangan tokoh-tokoh (ulama) dari aliran pemikiran hukum (mazhab) Hanafiyah. atau dalam arti yang mencakup qias yang lebih luas yang dikaitkan dengan suatu ketentuan umum atau suatu kaidah-kaidah hukum yang baku. ialah peralihan dari hasil sesuatu qias kepada qias yang lain yang lebih kuat. Definisi yang lain. Dalam hubungan inilah lahir konsep Istihsan.Di pihak lain kita dapat mengamati. karena ada juga istihsan yang ditegakkan atas landasan 'urf atau mashlahah Secara harfiah Istihsan itu berarti menganggap baik akan sesuatu baik itu fisik maupun nilai. atau ijma'. dalam masalah ini. Kedua kubu tersebut mengakui keabsahan sumber hukum qias. atau kita menggunakan istihsan dalam masalah ini. tidak segera dapat ditangkap. dibandingkan dengan qias yang jelas (jali). Kata ini kemudian digunakan sebagai suatu technische-term yang membentuk pengertian baru menggambarkan suatu konsep penalaran dalam rangka penggunaan rasio secara lebih luas untuk menggali dan menemukan hukum sesuatu kejadian yang tidak ditetapkan hukum dari sumber syari'ah yang tersurat. ternyata tidak saja menggunakan qias yang merupakan bentuk penggunaan rasio dengan cara analogis ilmiah ketat. atau ijma' atau dharurah. menurut qias hukumnya begini. atau qias yang lebih dalam) dibandingkan dengan qias yang jelas. bahkan kita menemukan dari mereka beberapa definisi yang kontradiktif. bukan saja tidak mencakup. apakah itu qias dalam arti technische-term. Ahl al-ra'y yang volume penggunaan rasionya lebih besar.

Konsep penalaran ini bermula dikembangkan dalam aliran pemikiran hukum Islam (madzhab) Malikiyah. Karenanya juga konsep ini lebih dikenal dengan sebutan. atau dari suatu kaidah hukum. semua itu merupakan elemen-elemen dalam hukum Istihsan. sekalipun dengan istilah-istilah yang berbeda. ada empat elemen dari analogi qias itu. Istihsan ini ditempatkan sebagai sumber hukum sekunder. Analogi Istihsan tidak terikat pada keketatan analogi qias karena dimungkinkan adanya qias alternatif (qias kahfi) yang terlepas dari elemen 'illah (dalam analogi qias biasa). al-mashlah al-mursalah atau al-mashalih al-mursalah.dipersamakan dengan itu. Alasan itulah menjadikan qias jali (biasa) dialihkan kepada qias khafi (alternatif) dan hasilnya disebut Istihsan. atau keadaan darurat atau suatu kepentingan nyata. atau 'urf atau dharurah. Sebagian ahl al-ijtihad menganggap qias ini merupakan upaya final dalam penggalian dan penemuan hukum-hukum dari sumber syari'ah atau sumber yang dipersamakan (ijma'). tapi sebagian yang lain beranggapan. karena beliau berpendapat. landasan penyamaan ('illah). kejadian baru (far). Dan ternyata kemudian diambil alih juga oleh Imam al-Ghazali dari aliran Syafi'iyah dengan beberapa . Kemudian berkembang pula secara terbatas dalam aliran Malikiyah dan Hambaliyah. atas pertimbangan sesuatu alasan yang lebih kuat. karena pengecualian itu didukung oleh suatu nash. untuk menghasilkan suatu hukum bagi kejadian baru. ISTISHLAH Istishlah merupakan suatu konsep dalam pemikiran hukum Islam yang menjadikan mashlahah (kepentingan/kebutuhan manusia) yang sifatnya tidak terikat (mursalah) menjadi suatu sumber hukum sekunder. Dalam perkembangan pemikiran hukum Islam. pada hakekatnya konsep ini telah dikenal dan digunakan oleh angkatan pertama ahl al-ijtihad di kalangan sahabat dan tabi'in. untuk menampung segala perkembangan yang terjadi. masih ada upaya penalaran yang lain seperti Istihsan dan istislah dan seterusnya. atau ijma'. dalam hal tujuan dan sasaran ditetapkannya ketentuan tersebut. yang perlu ditata dalam hukum Islam. atau mashlahah. Dalam analogi qias. Tapi dapat kita catat. atau kebiasaan. dibutuhkan adanya suatu ketentuan pokok yang bersifat terinci (tafshili) untuk dijadikan landasan mengaitkan sesuatu yang ada persamaannya. Yang dicatat sebagai seorang tokoh yang menolak menempatkan Istihsan itu sebagai suatu sumber hukum sekunder. Dengan kata lain pertimbangan adanya ketentuan lain atau kesepakatan. yakni kesepakatan para ahli yang berwenang (ahl al-ijtihad) di kalangan umat Islam. Termasuk pula dalam kategori Istihsan. kaidah-kaidah interpretasi atas ketentuan-ketentuan syari'ah (al-Qur'an dan Sunnah) ditambah dengan analogi qias. ketentuan yang dihasilkan dari pengaitan (ilhaq) tersebut di atas dan inilah yang disebut hukum qias. adalah Imam Syafi'i. yakni ketentuan pokok (ashl). Dari uraian ini dapat ditangkap. sudah cukup. di kalangan penganut aliran pemikiran hukum (madzhab) Hanafiyah. pengecualian masalah tertentu dari suatu ketentuan pokok yang bersifat umum. Dalam bahasa tekniknya harus ada ashl dan harus ada 'illah.

Penempatan masalah ini sebagai suatu sumber hukum sekunder.penyempurnaan. yaitu: 1. upaya mewujudkan mashlahah dan mencegah mafsadah (hal-hal yang merusak) adalah sesuatu yang sangat nyata dibutuhkan setiap orang dan jelas dalam syari'ah yang diturunkan Allah kepada semua rasul-Nya. yang terdiri dari tiga tingkat kebutuhan manusia. syari'ah Islam dalam berbagai pengaturan dan hukumnya mengarah kepada terwujudnya mashlahah (apa yang menjadi kepentingan dan apa yang dibutuhkan manusia dalam kehidupannya di permukaan bumi). Dalam kajian para ahl-ijtihad ada tiga jenis mashlahah. tapi harus bersifat umum dan menjadi kebutuhan umum. bukan sekadar anggapan atau rekaan. Mashlahah itu harus bersifat pasti. 3. yaitu: 1. Namun perlu dicatat ruang lingkup penerapan hukum mashlahah ini adalah bidang mu'amalat.1.Tahsiniyyah (kebutuhan pelengkap) dalam rangka memelihara sopan santun dan tata krama dalam kehidupan. dan manusia tidak dicegah melakukan sesuatu. Hasil penalaran mashlahah itu tidak berujung pada terabaikannya sesuatu prinsip yang ditetapkan oleh nash . raga dan kehormatannya) akal pikirannya. 2. yaitu kepentingan yang bertentangan dengan maslahah yang diakui terutama pada tingkat pertama. 1.Mashlahah yang diakui ajaran syari'ah. 1. 3.Hajiyyah (kebutuhan pokok) untuk menghindarkan kesulitan dan kemelaratan dalam kehidupannya. Para ahli yang mendukung konsep penalaran ini mencatat tiga persyaratan dalam penerapan hukum mashlahah ini. Dan itulah sasaran utama dari hukum Islam. 2.Dharuriyyah (bersifat mutlak) karena menyangkut komponen kehidupannya sendiri sebagai manusia. Mashlahah itu tidak merupakan kepentingan pribadi atau segolongan kecil masyarakat. kenyataan bahwa.Mashlahah yang tidak terikat pada jenis pertama dan kedua. bahwa ia memang mewujudkan suatu manfaat atau mencegah terjadinya madharrah (bahaya atau kemelaratan). aliran Zhahiriyyah dan Syi'ah.3. harta bendanya. nasab keturunannya dan kepercayaan keagamaannya. Tapi perlu dicatat. yaitu.2. menjadikan hukum Islam itu luwes dan dapat diterapkan pada setiap kurun waktu di segala lingkungan sosial. dan tidak menjangkau bidang ibadat. yakni hal-hal yang menyangkut terpelihara dirinya (jiwa. 1.Mashlahah yang tidak diakui ajaran syari'ah. konsep ini ditolak oleh Landasan pemikiran yang membentuk konsep ini ialah. kecuali hal-hal yang pada galibnya membahayakan dan memelaratkan hidupnya. Kelima tersebut biasanya disebut al-kulliyyat al-khams atau al-dharuriyyat al-khams. yang menjadi dasar mashlahah (kepentingan dan kebutuhan manusia). Maka tidak dituntut untuk dilakukan manusia untuk kepentingan hidupnya. Maka. karena ibadat itu adalah hak prerogatif Allah sendiri.

(021) 7507174 . Imam Suyuthi. Imam Rafi'i menjelaskan. seperti yang digambarkan dalam uraian terdahulu tentang al-kulliyyat al-khams. UA 20-21 Jakarta Selatan Telp. Al-Mustashfa. hukum Islam juga mengenal mashlahah 'ammah yang menjadi kepentingan bersama masyarakat atau kepentingan umum (algemeen blang). Hal-hal ini terkait dengan taklif yang berbentuk fardhu 'ain. pakaian dan tempat tinggalnya) hal ini bersangkutan dengan fardhu 'ain yang dijelaskan dalam tuntunan Rasulullah saw (thalab-u 'l-halal faridhatun 'ala kulli muslim) yaitu kewajiban bekerja mencari rizki memenuhi kebutuhan hidupnya sehari-hari. jelas memperlihatkan keterkaitannya dengan kewajiban perorangan sebagai imbalan adanya pengakuan atas mashlahah dharuriyyah yang menimbulkan hak-hak mutlak perorangan bagi setiap manusia. bimbingan keagamaan (fatwa) dan penyebaran buku-buku. 3. Imam al-Ghazali. Al-Asybah wa 'l-Nazhair: 5. Seperti misalnya yang menyangkut mashlahah harta benda/kepentingan seorang manusia memiliki harta benda (untuk makan. di antaranya adalah mencegah kemelaratan orang banyak (kaum Muslim). Madkhal al-Fiqh al-Islami. bersangkutan dengan fardhu 'ain yang dijelaskan dalam hadits lain yang berbunyi (thalb-u 'l-'ilmi faridhatun 'ala kulli muslim). Al-Muwafaqat. Begitu seterusnya menyangkut tiap mashlahah yang sifatnya dharuriyyah. Imam al-Syathibi. -------------------------------------------Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah Editor: Budhy Munawar-Rachman Penerbit Yayasan Paramadina Jln. 4. Hikmatuttasyri'wa Falsafatih.fardhu kifayah itu adalah urusan umum yang menyangkut kepentingan-kepentingan (mashalih) tegaknya urusan agama dan dunia dalam kehidupan kita.syari'ah atau ketetapan yang dipersamakan (ijma'). 6. Al-Mahmashani. Di samping mashlahah tersebut di atas. Seterusnya yang menyangkut mashlahah akal pikiran. M. DAFTAR KEPUSTAKAAN 1. Imam al Syafi'i. Metro Pondok Indah Pondok Indah Plaza I Kav. 7507173 Fax. 2. menciptakan lapangan kerja untuk mewujudkan mata pencaharian bagi anggota-anggota masyarakat. Sallam Madkur. (021) 7501969. 7501983. mencerdaskan kehidupan masyarakat melalui pendidikan. Ini menyangkut hak publik dan berkaitan dengan fardhu kifayah. AL-MASHLAHAH AL-'AMMAH Hukum Islam mengenal mashlahah 'ainiyah (kepentingan perorang) dari setiap manusia. yang sifatnya umum yakni yang merupakan kepentingan setiap manusia dalam hidupnya. Al-Umm. menegakkan kontrol sosial melalui amar ma'ruf nahi mungkar.

Syafi'i.yang menerangkan ketentuan hukum untuk deposito. sebagian menolakaya. tapi apakah riba sama dengan bunga deposito? Kemusykilan seperti itu telah dihadapi para ulama sepanjang sejarah. Para ulama merumuskan syari'at dalam bentuk fiqh yang mengatur bidang-bidang kehidupan yang lebih kompleks. Mereka bukan saja menganggap dewan ini tidak bertentangan dengan syar'i. verba non acta. bolehkah saya menerima bunga depositonya? Apakah bunga deposito itu sama. sekali lagi jawabannya akan beragam. tapi bahkan memelihara tujuan syar'i. Studi kritis terhadapnya akan segera membuktikan bahwa penggunaan metode-metode tersebut juga menimbulkan persoalan. misalnya. Di antara metode-metode itu adalah qiyas. dari golongan apa saja. Ketika Islam bertemu dengan peradaban-peradaban lain. Ada memang ketentuan tentang riba. mereka menemukan lembaga yang menyelesaikan urusan orang-orang yang dizalimi. Ada tiga kemungkinan jawaban: boleh. Yang kita sebut syari'at pada mulanya hanya menyangkut masalah keluarga. para ulama mengembangkan metode istinbath (menarik kesimpulan hukum) baik berdasarkan kaidah-kaidah atau petunjuk umum dalam nash maupun dari penggunaan akal. Sebagian menerimanya. Deposito dan bunganya tidak dikenal di zaman Rasulullah saw. Tidak ada kesepakatan ulama mengenai kebolehan menggunakan masing-masing di antara ketiga hal itu. Ulama yang ditanya itu memang mengalami kemusykilan. ketika dinasti Umayyah bertemu dengan kebudayaan Persia. Semua golongan itu sepakat (ijma') untuk menyimpan uangnya di bank dan memanfaatkan bunganya. istihsan dan istishlah. Kemudian penguasa Umayyah mengukuhkan lembaga itu dan menamainya Dewan Mazhalim. Secara berangsur-angsur. Bila diminta fatwa lisan atau tulisan. perdagangan yang sederhana dan hukum pidana. NU jawabannya satu. Anehnya bila golongan yang ditanya --Muhammadiyah. PERANAN TUNTUTAN SITUASI DALAM MEMAHAMI HUKUM ISLAM oleh Jalaluddin Rakhmat Jika saya mendepositokan uang saya di bank. Menurut al-Mawardi dalam al-Ahkam al-Sulthaniyah. Kebanyakan di antara umat Islam masih belum mendapat jawaban yang tegas dan memuaskan. Persis. Mereka tidak menemukan nash --teks al-Qur'an atau Hadits-. dengan riba? Tanyalah ulama yang Anda kenal. tidak tahu. Lembaga ini tidak terdapat dalam al-Qur'an dan Sunnah. Tidak jarang perbedaan itu muncul karena perbedaan pemaknaan istilah-istilah itu. apa yang tercakup dalam syari'at menjadi lebih luas. menyerang istihsan dan menganggapnya sebagai usaha untuk membuat syari'at (man . tapi mereka menganggap lembaga ini sangat bagus. tentu saja bagi kepentingan umat Islam. tidak boleh.26. Semua metode ini hanyalah upaya memecahkan persoalan.Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota Please direct any suggestion to Media Team Artikel Yayasan Paramadina Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota IV.

istihsan artinya memandang baik terhadap sesuatu. Yang demikian itu disebut istihsan. saya kutipkan penjelasan Sayyid Musa Tuwanat: [1] Bila mujtahid tidak menemukan hukum dalam al-Qur'an. Bila kita mengacu pada literatur. [2] Bila illat itu diketahui dengan menggunakan cara-cara yang dikenal dalam kitab ushul dan ada hubungan antara illat ini dengan kasus yang akan ditetapkan hukumnya. atau qiyas. walaupun ia berbeda dari mujtahidin lainnya dalam cara dan cakupan penggunaan qiyas. Dalam semua keadaan itu. Maliki dan Hanafi memandang istihsan bahkan harus didahulukan dari qiyas. Begitu pula para pengikut Hanafi yang membahas qiyas sesudah al-Kitab. atau meninggalkan qiyas kepada atsar. Tapi ketika Syafi'i menyerang istihsan seperti yang dimaknakan olehnya. artinya.s al-Zumar: 18. Menarik sekali. ia menggunakan metode qiyas khafi. Imam Ahmad pun bersandar kepada qiyas dengan syarat sesudah meninjau hukum itu dalam al-Qur'an dan Hadits dalam maknanya yang lebih luas. harus dilakukan berdasarkan istihsan. "Apa yang dianggap kaum Muslim baik. atau tidak ada yang dapat dijadikan hujjah dari pendapat-pendapat mereka. tapi sesudah mengambil mashalih mursalah dan istihsan. Tulisan ini akan dimulai dengan mencoba menyelesaikan kemelut makna istihsan dan istishlah dan diakhiri dengan petunjuk praktis penggunaannya dalam menjawab tuntutan situasi sekarang ini. Q. atau kepada ijma' atau kepada dharurat. Kadang-kadang mujtahid meninggalkan satu dalil kepada dalil yang lebih kuat. Namun sebelum itu. PENGERTIAN ISTIHSAN Secara denotatif. Sunnah dan ijma. dan sudah ditegaskan hubungannya disamakanlah hukum yang asal dengan far' berdasarkan kesamaan illat seperti yang dipahaminya. Kadang-kadang qiyas ditinggalkan karena ada dalil yang kuat atsarnya. Inilah yang ditetapkan oleh Imam Syafi'i dan ditegaskan al-Syirazi dan al-Maqdisi. atau mashlahat. orang-orang yang mendengarkan kata dan diturutinya yang paling baik. para ulama yang mempertahankan istihsan mengambil dalil dari al-Qur'an dan Sunnah yang menyebutkan kata istihsan dalam pengertian denotatif ini (yaitu. menurut Allah baik juga. yang tidak lain daripada istihsan menurut mazhab Hanafi. atau kepada maslahat. sebagai pengantar. ia bersandar kepada qiyas.istahsana fa qad syara'a). Adapun cara menggunakan qiyas sebagai berikut: Seorang mujtahidin melakukan penelitian apakah ada dalil yang menunjukkan dalil tentang illat untuk menentukan hukum far'. Tidak ada madzhab yang menolak penggunaan istihsan kecuali madzhab Dzahiriyah dan Syi'ah. Malik menyebut istihsan sebagai sembilan persepuluh ilmu (Al-istihsan tis'at a'syar al-'ilm). "Dan turutlah (pimpinan) yang sebaik-baiknya yang telah diturunkan kepadamu dari Tuhanmu". Pendirian Dewan Madzalim dipandang baik. ia tidak keluar dari upaya menjalankan nash. kita akan menemukan banyak sekali definisi istihsan --yang tidak selalu menunjukkan . ijma' dan pendapat para sahabat. al-Zumar: 55. Imam Malik juga mengambil qiyas." --Hadits menurut riwayat Abdullah bin Mas'ud. Sunnah.

referensi yang sama. Ada definisi yang dibuat dengan memperhatikan segi-segi politis dan bukan segi-segi ilmiahnya. Untuk menunjukkan bagaimana definisi-definisi itu lebih banyak menyulitkan daripada membantu, kita lihat contoh di bawah ini: 1. Istihsan adalah meninggalkan qiyas untuk mengambil yang lebih sesuai dengan orang banyak. 2. Istihsan adalah mencari kemudahan dari hukum-hukum yang dihadapi orang banyak atau orang tertentu. 3. Istihsan adalah mengambil keluasan dan mencari kelegaan. 4. Istihsan adalah mengambil yang permisif dan memilih yang di dalamnya ada ketenangan (semuanya dari al-Sarkhashi). 5. Istihsan artinya meninggalkan kepastian qiyas kepada qiyas yang lebih kuat atau mentakhshiskan qiyas dengan dalil yang lebih kuat (al-Bazdawi dari madzhab Hanafi). 6. Istihsan artinya mengamalkan yang lebih kuat di antara dua dalil (al-Syathibi dari madzhab Maliki). 7. Istihsan artinya meninggalkan hukum masalah dari yang semacamnya karena dalil syara' yang tertentu (al-Thufi dari madzhab Hambali). 8. Istihsan adalah apa yang dipandang baik oleh mujtahid dengan akalnya. [3] Karena kita mengalami kesulitan memahami istihsan dari berbagai definisi itu, marilah kita ambil contoh kasus yang oleh para mujtahid disebut sebagai istihsan. Melihat aurat perempuan yang bukan muhrim haram, karena dapat menimbulkan "fitnah" (membawa orang kepada kemaksiatan). Yang dalam kurung itu disebut 'illat yang sangat jelas (kita sekarang sedang melakukan qiyas jaliy). Bagaimana hukumnya seorang dokter yang harus memeriksa pasien wanitanya? Bila ia tidak melihat auratnya, ia tak bisa menolong pasien itu dengan baik. Ia harus menolong pasien itu untuk mengembalikan kesehatannya, untuk kemaslahatan pasiennya. Tapi alasan ('illat) ini hanya dalam kasus pasien saja dan dianggap tegas (kita sedang melakukan qiyas khafiy). Bila kita meninggalkan qiyas jaliy dan mengambil qiyas khafiy, kita melakukan istihsan. Kadang-kadang seorang mujtahid meninggalkan qiyas karena menemukan hadits yang lebih kuat, atau karena memperhatikan kemaslahatan, atau karena 'urf (adat kebiasaan yang sudah lazim). Bila kita memperhatikan praktek-praktek yang disebut istihsan, kita menemukan istihsan dalam tiga pengertian: Pertama, istihsan berarti memilih yang lebih kuat di antara dua dalil yang bertentangan atau berbeda (berikhtilaf). Boleh jadi ikhtilaf di antara dua dalil lafzhi --yakni dalil yang diambil dari al-Qur'an dan Sunnah. Atau ikhtilaf di antara dua dalil ghair lafzhi; misalnya, antara qiyas jaliy dengan qiyas khafiy. Atau ikhtilaf di antara dalil lafzhi dan ghair lafzhi. Marilah kita mulai dengan ikhtilaf di antara dua dalil lafzhi. Dalam hal ini, ikhtilaf dapat berupa tazakam dan ta'arudh. Yang dimaksud dengan Tazabum adalah pembenaran dua hukum yang berasal dari syara', yang tidak mungkin digabungkan. Ta'arudh

artinya perbedaan hukum shawar al-masalah).

karena

perbedaan

kasus

(ikhtilaf

Kita melakukan istihsan bila kita mentarjih (menganggap lebih baik) salah satu di antaranya. Sambil memberikan contoh-contohnya, saya akan menunjukkan petunjuk-petunjuk praktis penggunaan istihsan pada tazahum dan ta'arudh. (1) Dulukan hukum yang mendesak (mudhiq) di atas hukum yang memberikan kelonggaran (musi'). Misalnya, antara menghilangkan najis di masjid dengan melakukan shalat pada awal waktunya, atau antara menolong orang yang celaka dengan melakukan shalat Jum'at. Pilihlah menghilangkan najis dan menolong orang yang celaka. (2) Dulukan yang tidak ada penggantinya dengan yang ada penggantinya. Misalnya, menggunakan air untuk memuaskan rasa haus atau untuk berwudhu'. Wudhu' itu ada penggantinya, yaitu tayammum. Tapi memuaskan haus tidak bisa diganti dengan batu. (3) Dulukan yang sudah tertentu (mu'ayyan) di atas urusan yang memberikan alternatif (mukhayyar). Misalnya memenuhi nadzar atau membayar kifarat. Anda bernadzar untuk memberikan makanan bagi orang miskin, tapi juga Anda harus membayar kifarat puasa. (4) Dulukan yang lebih penting dari pada yang penting. Anda wajib melakukan haji dan pada saat yang sama Anda harus membayar hutang. Bayarlah hutang Anda lebih dulu. Ta'arudh terjadi kalau ada dua dalil syara' yang bertentangan. Para ulama ushul mengusulkan beberapa cara, yang tidak dapat kita perinci satu per satu: mendulukan yang mutlak di atas yang muqayyad, takhshish di atas 'am, nasikh di atas mansukh, hakim di atas mahkum, al-Qur'an di atas Sunnah, yang disepakati di atas yang diikhtilafi. Kedua, istihsan berarti mengambil sesuatu yang sudah dipandang baik oleh 'urf atau akal. Misalnya, mencatat pernikahan di kantor departemen Agama. Istihsan dalam arti ini harus dilakukan dengan sangat hati-hati. Karena apa yang dipandang baik 'urf atau akal itu boleh jadi sangat subyektif, sehingga besar kemungkinan mengikuti bias-bias sosio-psikologis. Kita juga tidak cukup waktu membicarakan hal ini. Ketiga, istihsan berarti meninggalkan dalil-dalil tertentu untuk mendatangkan maslahat atau menegakkan hukum di atas pertimbangan maslahat yang lima: memelihara agama, jiwa, akal, keturunan dan harta. Istihsan jenis terakhir ini disebut juga istishan atau al-mashalih al-mursalah. PENUTUP Yang terakhir ini exercise. Apakah cara berpikir yang berikut ini termasuk istihsan atau bukan. Bunga deposito dapat dibenarkan karena beberapa pertimbangan. Pertama, uang yang disimpan mengalami penurunan nilai karena inflasi. Tingkat inflasi bisa jadi lebih tinggi dari bunga deposito. Kedua, dengan menyimpan, deposan harus membayar opportunity cost yang boleh jadi lebih mahal dari bunga deposito. Ketiga, mendepositokan uang juga siap memikul resiko, yang nilainya dapat dihitung (serta mungkin saja lebih besar dari bunga

deposito). Walhasil, bila Anda tidak mengambil deposito Anda, Anda akan menjadi pihak yang terzalimi atau teraniaya. Padahal, agama menyatakan "tidak boleh menindas dan tidak boleh ditindas"?? CATATAN 1. Al-Ijtihad wa Muda Hajatina ilaih fi Hadza al-'Ashr, Mesir: Dar al-Kutub al-Haditsah, hal. 324 - 325. 2. Ada empat rukun qiyas: (1) asalnya, yakni kasus yang ada dalam nas, misalnya minum khamar; (2) hukumnya, yakni haram; (3) far', kasus baru yang akan ditetapkan hukumnya, misalnya bir; (4) illat atau washf jami', yakni sebab yang menyamakan kedua kasus itu, misalnya memabukkan atau minuman keras. 3. Lihat, Muhammad Taqiy, Al-Ushul al-Ammah fi al-Ammah fi al-fiqh al-Muqaran, Beirut: Dar al-Andalus, 1979, hal. 361-362. -------------------------------------------Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah Editor: Budhy Munawar-Rachman Penerbit Yayasan Paramadina Jln. Metro Pondok Indah Pondok Indah Plaza I Kav. UA 20-21 Jakarta Selatan Telp. (021) 7501969, 7501983, 7507173 Fax. (021) 7507174 Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota
Please direct any suggestion to Media Team

Artikel Yayasan Paramadina
Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota IV.25. TAQLID DAN IJTIHAD (1/4) MASALAH KONTINUITAS DAN KREATIVITAS DALAM MEMAHAMI PESAN AGAMA oleh Nurcholish Madjid Jika masalah taqlid dan ijtihad harus ditelusuri ke belakang, barangkali yang paling tepat ialah kita menengok ke zaman 'Umar ibn al-Khathtab, Khalifah ke II. Bagi orang-orang muslim yang datang kemudian, khususnya kalangan kaum Sunni, berbagai tindakan 'Umar dipandang sebagai contoh klasik persoalan taqlid dan ijtihad. Salah satu hal yang memberi petunjuk kita tentang prinsip dasar 'Umar berkenaan dengan persoalan pokok ini ialah isi suratnya kepada Abu Musa al-Asy'ari, gubernur di Basrah, Irak: "Adapun sesudah itu, sesungguhnya menegakkan hukum (al qadla) adalah suatu kewajiban yang pasti dan tradisi (Sunnah) yang harus dipatuhi. Maka pahamilah jika sesuatu diajukan orang kepadamu. Sebab, tidaklah ada manfaatnya berbicara mengenai kebenaran jika tidak dapat dilaksanakan. Bersikaplah ramah antara sesama manusia dalam kepribadianmu, keadilanmu dan majlismu, sehingga seorang yang berkedudukan tinggi (syarif) tidak sempat berharap akan keadilanmu.

Memberi bukti adalah wajib atas orang yang menuduh, dan mengucapkan sumpah wajib bagi orang yang mengingkari (tuduhan). Sedangkan kompromi (ishlah, berdamai) diperbolehkan diantara sesama orang Muslim, kecuali kompromi yang menghalalkan hal yang haram dan mengharamkan hal yang halal. Dan janganlah engkau merasa terhalang untuk kembali pada yang benar berkenaan dengan perkara yang telah kau putuskan kemarin tetapi kemudian engkau memeriksa kembali jalan pikiranmu lalu engkau mendapat petunjuk kearah jalanmu yang benar; sebab kebenaran itu tetap abadi, dan kembali kepada yang benar adalah lebih baik daripada berketerusan dalam kebatilan. Pahamilah, sekali lagi, pahamilah, apa yang terlintas dalam dadamu yang tidak termaktub dalam Kitab dan Sunnah, kemudian temukanlah segi-segi kemiripan dan kesamaannya, dan selanjutnya buatlah analogi tentang berbagai perkara itu, lalu berpeganglah pada segi yang paling mirip dengan yang benar. Untuk orang yang mendakwahkan kebenaran atau bukti, berilah tenggang waktu yang harus ia gunakan dengan sebaik-baiknya. Jika ia berhasil datang membawa bukti itu, engkau harus mengambilnya untuk dia sesuai dengan haknya. Tetapi jika tidak, maka anggaplah benar keputusan (yang kau ambil) terhadapnya, sebab itulah yang lebih menjamin untuk menghindari keraguan, dan lebih jelas dari ketidakpastian (al-a'ma, kebutaan, kegelapan) ... Barang siapa telah benar niatnya kemudian teguh memegang pendiriannya, maka Allah akan melindunginya berkenaan dengan apa yang terjadi antara dia dan orang banyak. Dan barang siapa bertingkah laku terhadap sesama manusia dengan sesuatu yang Allah ketahui tidak berasal dari dirinya (tidak tulus), maka Allah akan menghinakannya ..." [1] Dari kutipan surat yang lebih panjang itu ada beberapa prinsip pokok yang dapat kita simpulkan berkenaan dengan masalah taqlid dan ijtihad. Prinsip-prinsip pokok itu ialah: Pertama, prinsip keotentikan (authenticity). Dalam surat 'Umar itu prinsip keotentikan tercermin dalam penegasannya bahwa keputusan apapun mengenai suatu perkara harus terlebih dahulu diusahakan menemukannya dalam Kitab dan Sunnah. Kedua, prinsip pengembangan. Yaitu, pengembangan asas-asas ajaran dari Kitab dan Sunnah untuk mencakup hal-hal yang tidak dengan jelas termaktub dalam sumber-sumber pokok itu. Metodologi pengembangan ini ialah penalaran melalui analogi. Pengembangan ini diperlukan, sebab suatu kebenaran akan membawa manfaat hanya kalau dapat terlaksana, dan syarat keterlaksanaan itu ialah relevansi dengan keadaan nyata. Ketiga, prinsip pembatalan suatu keputusan perkara yang telah terlanjur diambil tetapi kemudian ternyata salah, dan selanjutnya, pengambilan keputusan itu kepada yang benar. Ini bisa terjadi karena adanya bahan baru yang datang kemudian, yang sebelumnya tidak diketahui. Keempat, prinsip ketegasan dalam mengambil keputusan yang menyangkut perkara yang kurang jelas sumber pengambilannya (misalnya, tidak jelas tercantum dalam Kitab dan Sunnah), namun perkara itu amat penting dan mendesak. Ketegasan dalam hal ini bagaimanapun lebih baik daripada keraguan dan ketidakpastian.

Kelima, prinsip ketulusan dan niat baik, yaitu bahwa apapun yang dilakukan haruslah berdasarkan keikhlasan. Jika hal itu benar-benar ada, maka sesuatu yang menjadi akibatnya dalam hubungan dengan sesama manusia (seperti terjadinya kesalahpahaman), Tuhanlah yang akan memutuskan kelak (dalam bahasa 'Umar, Allah yang akan "mencukupkannya"). Dari prinsip-prinsip itu, prinsip keotentikan adalah yang pertama dan utama, disebabkan kedudukannya sebagai sumber keabsahan. Karena agama adalah sesuatu yang pada dasarnya hanya menjadi wewenang Tuhan, maka keotentikan suatu keputusan atau pikiran keagamaan diperoleh hanya jika ia jelas memiliki dasar referensial dalam sumber-sumber suci, yaitu Kitab dan Sunnah. Tanpa prinsip ini maka klaim keabsahan keagamaan akan menjadi mustahil. Justru suatu pemikiran disebut bernilai keagamaan karena ia merupakan segi derivatif semangat yang diambil dari sumber-sumber suci agama itu. TAQLID Prinsip keotentikan juga menyangkut masalah konsistensi ketaatan pada asas. Konsistensi itu, pada urutannya, akan menjadi batu penguji lebih lanjut tingkat keabsahan suatu pemikiran. Karena itu dalam pengembangan suatu pemikiran keagamaan tidak mungkin dihindari kewajiban memperhatikan hal-hal parametris dalam sistem ajaran sumber-sumber suci, sebab hal-hal parametris itulah yang menjadi tulang punggung kerangka ajarannya yang abadi (sesuai untuk segala zaman dan tempat). Hal-hal parametris itu dalam Kitab Suci disebut sebagai al-muhkamat (petunjuk-petunjuk dengan makna jelas), yang juga disebut sebagai prinsip dasar atau induk ajaran Kitab Suci (umm al-Kitab), kebalikan petunjuk-petunjuk metaforikal, alegoris dan interpretatif (mutasyabihat). [2] Karena keontentikan dan konsistensi mengimplikasikan penerimaan terhadap suatu postulat, premis atau formula dasar, dengan sendirinya ia juga mengandung makna taqlid menurut makna asli (generik) kata-kata itu, yakni, sebelum ia menjadi istilah teknis dengan makna sekunder seperti kini umum dipahami. Sebab, taqlid dalam arti generik merupakan unsur sikap menerima kebenaran suatu postulat berdasarkan pengakuan bahwa sumber atau pembuat postulat mempunyai wewenang penuh dan tinggi. Karena salah satu konsekuensi konsep tentang Tuhan ialah konsep tentang Dia Yang Maha Berwenang, maka menerima dengan penuh keyakinan terhadap kebenaran ajaran-Nya dengan sendirinya merupakan implikasi kepercayaan atau iman kepada Rasul dan ajaran-ajaran yang dibawa-Nya. [3] Iman yang sempurna dengan sendirinya mengandung semangat sikap pasrah sepenuhnya. Segi lain tentang makna penting taqlid ialah yang menyangkut masalah akumulasi informasi dan pengalaman. Taqlid sebagai pola penerimaan otoritas pendahulu dalam rentetan pengembangan ilmu dan pemikiran hampir tidak mungkin dihindari. Sebab, ekonomi pemikiran tidak mengizinkan terlalu banyak bersandar pada kemampuan pribadi secara terpisah dan atomistis, sehingga segala sesuatu akan menjadi tanggung jawab sendiri, dengan keharusan merintis setiap pengembangan dari titik nol (from the scratch). Pengetahuan

manusia seperti yang ada sekarang ini yang menandai zaman modern ("iptek") adalah hasil kumulatif penggalian informasi dan pengalaman yang melibatkan hampir seluruh ummat manusia sepanjang sejarah yang telah berjalan ribuan tahun. Deretan pengalaman dan pengawetan serta pelembagaan dalam karya-karya intelektual sepanjang masa itu menjadi pohon tradisi intelektual universal ummat manusia, yang tanpa itu kekayaan dan kesuburan seperti yang ada sekarang akan menjadi sama sekali mustahil. Memulai suatu pengembangan pemikiran dan dalam hal ini juga pengembangan bidang budaya manusia manapun dari titik nol akan hanya berakhir dengan kemiskinan (malah pemiskinan - improverishment) hasil usaha itu sendiri. Karena itu taqlid dalam makna generik yang positif merupakan dasar penumbuhan kekayaan intelektual yang integral, yakni integral dalam arti bahwa suatu bangunan tradisi intelektual memiliki akar-akar dalam sejarah. Jadi, keotentikan historis, yang keontentikan itu sendiri diperlukan jika diinginkan daya kembang dan kreativitas yang maksimal. Maka, untuk sekedar misal, seorang Albert Camus dalam tradisi intelektual Eropa (Barat) yang telah tampil dengan filsafat kontemporernya tentang eksistensialisme absurdity yang kontroversial itu pun harus dipahami sebagai bagian integral tradisi intelektual di sana yang akar-akarnya bisa ditelusuri jauh ke masa lalu, sampai ke masa Yunani kuno. Albert Camus, dalam jalan pikiran orang-orang Barat, tidak dapat dipahami tanpa melihat salah satu jalur konsistensi dan benang merah pemikiran Barat itu sendiri, melintasi zaman sampai ke masa lalu yang sangat jauh. Sekalipun konsep absurdity dapat dilihat sebagai Camus, namun sesungguhnya ia adalah salah satu hasil pertumbuhan kumulatif pemikiran Barat. [4] Ia memiliki keabsahan sebagai pemikiran Barat yang integral. Jadi keintegralan dan keotentikan diperkuat oleh adanya konstinuitas tradisi yang berkembang. Tetapi segi positff taqlid ini hanya terwujud jika ia tidak menjadi paham tersendiri yang tertutup, yang tumbuh menjadi "isme" terpisah. Sebab, taqlid seperti ini (yang barangkali lebih tepat disebut "taqlidisme") mengisyaratkan sikap penyucian masa lampau dan pemutlakan otoritas tokoh sejarah. Memang benar, masa lampau selalu mengandung otoritas. Tapi, justru demi pengembangan bidang yang menjadi otoritasnya, masa lampau beserta tokoh-tokohnya harus senantiasa terbuka untuk diuji dan diuji kembali. Pengujian itu dilakukan dengan pertama-tama, menemukan dan menginsafi segi-segi yang merupakan imperatif ruang dan waktu yang ikut membentuk suatu sosok pemikiran. Sebab, suatu sosok pemikiran tidak pernah muncul dan berkembang dari kevakuman. Ia selalu merupakan hasil interaksi berbagai faktor, dan faktor ruang dan waktu acap kali dominan. (bersambung 2/4) -------------------------------------------Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah Editor: Budhy Munawar-Rachman Penerbit Yayasan Paramadina Jln. Metro Pondok Indah Pondok Indah Plaza I Kav. UA 20-21 Jakarta Selatan Telp. (021) 7501969, 7501983, 7507173

Fax. (021) 7507174 Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota
Please direct any suggestion to Media Team

Artikel Yayasan Paramadina
Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota IV.25. TAQLID DAN IJTIHAD (2/4) MASALAH KONTINUITAS DAN KREATIVITAS DALAM MEMAHAMI PESAN AGAMA oleh Nurcholish Madjid Kedua, dengan menghadapkan sosok pemikiran itu pada kenyataan-kenyataan disini sekarang. Penghadapan ini diperlukan untuk melihat relevansi suatu sosok pemikiran historis, karena ia akan berguna untuk kita, disini dan kini. Seperti tubuh manusia yang memiliki mekanisme penolakan terhadap benda-benda asing yang tidak cocok dengan dirinya lewat gejala alergi, ruang dan waktu pun, yang mengejawantah dalam sistem sosial, memiliki mekanisme penolakan terhadap sesuatu yang tidak sesuai tanpa membiarkan diri secara pasif menjadi tawanan ruang dan waktu, kita tidak bisa dihadapkan pada kebutuhankebutuhan nyata yang didiktekan dan ditentukan oleh lingkungan kita. HIKMAH AGAMA Tujuan seorang Rasul diutus kepada umat manusia antara lain untuk mengajarkan Kitab Suci dan hikmah kepada mereka. Karena cakupan maknanya yang demikian luas, "hikmah" diterangkan kedalam berbagai pengertian dan konsep, diantaranya wisdom atau kewicaksanaan (dari bahasa Jawa, untuk membedakannya dari kata "kebijaksanaan"), ilmu pengetahuan, filsafat, malahan "blessing in disguise" (untuk menekankan segi kerahasiaan hikmah). [6] Mendasari konsep itu ialah kesadaran bahwa suatu "hikmah" selalu mengandung kemurahan dan rahmat Ilahi yang maha luas dan mendalam, yang tidak seluruhnya kita mampu menangkapnya. Maka disebutkan bahwa siapa dikaruniai hikmah, ia sungguh telah mendapatkan kebajikan yang berlimpah-ruah. [6] Jika "hikmah" itu kita hubungkan kembali pada istilah "muhkam" (kedua kata itu terambil dari akar kata yang sama, yaitu h-k-m), maka dalam menumbuhkan tradisi intelektual yang integral dan kreatif berdasarkan kaidah taqlid dan ijtihad itu memerlukan kemampuan menangkap hikmah pesan Ilahi seperti yang terlembagakan dalam ajaran-ajaran agama. Berkenaan dengan ini, dan dikaitkan pada keterangan dalam Kitab Suci tentang adanya ayat-ayat mahkam dan mutasyabih tersebut, menarik sekali kita mengangkat penafsiran A. Yusuf Ali atas makna muhkam itu: [7] ... The Commentators usually understand the verses "of established meaning" (muhkam) to refer to the categorical orders of the Shari'at (or the Law), which are plain to everyone's understanding. But perhaps the meaning is wider: "the mother of the Book" must include the very foundation on which all Law rests, the essence of God's Message, as

distinguished from the various allegories, and ordinances.

illustrative

parables,

If we refer to xi. 1 and xxxix. 23, [8] we shall find that in a sense the whole of the Qur'an has both "established meaning" and allegorical meaning. The division is not between the verses, but between the meanings to be attached to them. Each is but a Sign or Symbol: what it represents is something immediately applicable, and something eternal and independent of time and space, - the "Forms of Ideas" in Plato's Philosophy. The wise man will understand that there is an "essence" and an illustrative clothing given to the essence, throught the Book. We must try to understand it as best we can, but not waste our energies in disputing about matters beyond our depth.[9] Sesuatu dari ajaran Kitab Suci yang abadi dan tak terikat oleh waktu dan ruang (eternal and independent of time and space) dalam pengertian tentang muhkam itu tidak lain ialah makna, semangat, atau tujuan universal yang harus ditarik dari suatu materi ajaran agama yang bersifat spesifik, atau malah mungkin ad-hoc. Kadang-kadang makna dan tujuan universal dibalik suatu ketentuan spesifik itu sekaligus diterangkan langsung dalam rangkaian firman itu sendiri. Tapi, kadang-kadang makna itu harus ditarik melalui proses konseptualisasi atau ideasi (ideation). Contoh yang pertama ialah firman Ilahi yang mengurus perceraian Zaid (seorang bekas budak yang dimerdekakan dan diangkat anak oleh Nabi) dari istrinya, Zainab (seorang wanita bangsawan Quraisy dengan status sosial tinggi dan rupawan), dan perceraian itu kemudian diteruskan dengan dikawinkannya Nabi dengan Zainab oleh Tuhan. Maka terlaksanalah perkawinan seseorang -dalam hal ini Nabi menikahi bekas isteri anak angkatnya. Namun kejadian yang bagi orang-orang tertentu terdengar sebagai skandal ini justru -katakanlah- dirancang oleh Tuhan untuk suatu maksud yang mendukung nilai universal yang sejak semula menjadi klaim ajaran Islam, yaitu nilai sekitar konsep kealamian (naturalness) yang suci, yakni konsep fithrah. Dalam hal ini, anak angkat bukanlah anak alami seperti anak (biologis) sendiri, sehingga juga tidaklah alami dan tidak pula wajar jika hubungannya dengan ayah angkatnya dikenakan ketentuan yang sama dengan anak alami, termasuk dalam urusan nikah. Maka, kejadian ad-hoc yang menyangkut Zaid, Zainab dan Nabi itu langsung diterangkan tujuan universalnya, yaitu "agar tidak ada halangan bagi kaum beriman untuk mengawini (bekas) isteri-isteri anak-anak angkat mereka." [10] Tujuan ini jelas langsung terkait dengan segi universal yang lebih menyeluruh, yaitu konsep atau ajaran fithrah, yang mengimplikasikan bahwa segala sesuatu dalam tatanan hidup manusia ini hendaknya diatur dengan ketentuan yang sealami mungkin sesuai dengan hukum alam (Qadar) [11] dan hukum sejarah (Sunnat-u 'l-Lah) yang pasti dan tak berubah-ubah. [12] Pandangan bahwa segala sesuatu harus sealami mungkin adalah benar-benar sentral namun menuntut pemahaman mendalam yang disebut sebagai agama ftthrah yang hanif. Itulah hikmah pesan agama dalam arti yang seluas-luasnya dan secara global. Dalam arti yang lebih terinci, konsep hikmah agama dinyatakan dalam berbagai ungkapan, seperti telah menjadi tema dan judul sebuah buku yang cukup terkenal, Hikmat al-Tasyri' wa Falsafatuhu. [13] Hikmah pesan agama

khususnya pembahasan bidang hukum (syari'ah -par excellence). Syarat-syarat itu sekarang boleh kedengaran kuno. menyangkut hal-hal yang cukup rumit. orang-orang muslim terbiasa berpikir bahwa dunia ini milik mereka. jantung kawan (Oikoumene). yaitu tema-tema teori politik Sunni. terutama daerah Nil sampai Ozus. ijtihad dikemukakan kembali sebagai metode terpenting menghilangkan situasi anomalous dunia Islam yang kalah dan dijajah oleh dunia Kristen Barat. dan hak mengatur dunia hanya ada pada mereka. ijtihad itu diajukan orang sebagai salah satu tema pokok usaha reformasi atau penyegaran kembali pemahaman terhadap agama. Berkaitan dengan ini berbagai konsep yang telah mapan dalam pembahasan agama Islam.ini juga dikenal dengan istilah lain sebagai maqashid al-syari'ah (maksud dan tujuan syari'ah). yang juga sering disebut dengan manath al-hukm (sumbu perputaran hukum). Karena itu di kalangan ulama klasik ada pendapat hampir merata bahwa ijtihad adalah suatu tugas yang penuh gengsi. yaitu kerusakan mental. Padahal memelihara fithrah itulah. dan meluas serta kompleks. Dan selanjutnya. [14] IJTIHAD Uraian di atas dibuat dengan tujuan memberi gambaran bahwa masalah taqlid dan ijtihad. Konsep-konsep ini dibuat berkenaan dengan perlunya menemukan suatu rationale yang mendasari penetapan suatu hukum. Melalui tokoh-tokoh pembaharu seperti Muhammad Abduh dan Sayid Ahmad Khan. dalam perkembangan selanjutnya penabuan itu juga dapat dilihat sebagai kelanjutan masa kegelapan (obskurantisme) dalam pemikiran Islam. tapi justru karena itu menuntut persyaratan banyak dan berat. sebagai salah satu akibat penguasaan mereka atas daerah-daerah sentral peradaban manusia. Dalam sejarah masyarakat Muslim sempat tumbuh pandangan yang hampir menabukan ijtihad. pelukisan tentang kegiatan ijtihad sebagai sesuatu yang amat eksklusif telah melahirkan persepsi salah. seperti konsep sekitar 'illat al-hukm (Latin: ratio legis). Contoh nyata penerapan konsep ini ialah yang dikenakan pada hukum khamr. kerusakan mental itu -betapa pun jelas negatif. khususnya di masa-masa penuh kekacauan menjelang keruntuhan Baghdad. lebih dari pada yang dipahami umum. Kini. Para pembaharu mendapati bahwa praktek taqlid yang umum . karena selama paling kurang tujuh atau delapan abad. Maka ijtihad bisa dilakukan hanya oleh orang-orang tertentu yang benar-benar telah memenuhi syarat itu. Tapi. yaitu bahwa ia berarti hilangnya akal sehat yang menjadi bagian dari fithrah manusia. mendalam. (Disebut anomalous.masih bisa dilihat rationalenya sehingga ia negatif. seperti khamar) ialah sifatnya yang memabukkan. justru merupakan salah satu ajaran sentral agama Islam. Kemudian sifat memabukkan itu sendiri dihukumnya sebagai tidak baik. Sikap penabuan dengan sendirinya tidak dapat dibenarkan meskipun sesungguhnya ia muncul dari obsesi para ulama pada ketertiban dan ketenangan atau keamanan. Hanya saja. namun ia dibuat dengan tujuan menjamin adanya kewenangan dan tanggung jawab. Bahwa rationale diharamkannya minuman keras (alkoholik. karena ia mengakibatkan suatu jenis kerusakan.

" [17] Pandangan 'Umar ini sejalan dengan. menurut kerangka aturan yang telah mapan tentang pengambilan hukum dan norma-norma moral Islam. (021) 7501969. sungguh menarik pemaparan pemikiran al-Makki bahwa melakukan ijtihad. dan tentang apa yang paling baik disini dan sekarang. khususnya zaman 'Umar. 7507173 Fax. TAQLID DAN IJTIHAD (3/4) MASALAH KONTINUITAS DAN KREATIVITAS DALAM MEMAHAMI PESAN AGAMA oleh Nurcholish Madjid Agaknya jalan pikiran 'Umar dari zaman klasik (salaf) Islam itu muncul lagi pada orang-orang tertentu dari kalangan para pemikir Islam zaman modern. [16] Bahkan 'Umar "tidak memandang semua perkara bersifat ta'abbudi (bernilai 'ubudiyyah." [19] Berkenaan dengan itu. [15] Ini dengan mudah dilihat gejala xenophobia.w. dari kalangan generasi awal Islam.25. Ia melukiskan semangat kosmopolit zaman klasik Islam. devotional). 7501983. Metro Pondok Indah Pondok Indah Plaza I Kav. dan merupakan konsekwensi dari. paling celaka kecemasan dan rendah diri.menguasai orang-orang muslim." [18] (bersambung 3/4) -------------------------------------------Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah Editor: Budhy Munawar-Rachman Penerbit Yayasan Paramadina Jln. UA 20-21 Jakarta Selatan Telp. Tokoh pembaharu modern paling berpengaruh ini "memahami ijtihad dalam pengertiannya yang luas sebagai penelitian bebas. khususnya Muhammad Abduh. Xenophobia itu sendiri merupakan gejala. (021) 7507174 Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota Please direct any suggestion to Media Team Artikel Yayasan Paramadina Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota IV. khususnya jika berbentuk unsur dari budaya asing. selain . sepanjang penuturannya. jika bukan malah pandangan teologis. telah berkembang menjadi suatu sikap mental. penegasannya bahwa "tidaklah ada gunanya berbicara tentang kebenaran namun tidak dapat dilaksanakan. yang tidak segan-segan mengambil apa saja yang baik dari umat-umat lain. tetapi mengikuti berbagai pertimbangan kemaslahatan dan melihat makna-makna yang merupakan poros penetapan hukum (manath al-tasyri') yang diridlai Allah s.. 'Umar adalah seorang yang "berpikiran luas.t. meskipun umat itu kafir. malah juga Rasulullah sendiri! Menurut al-Makki. Sebab. Gejala ini pula yang hari-hari ini dilihat al-Makki. paling untung chauvinisme. tidak hanya para Sahabat seperti 'Umar dll. yang meliputi penolakan secara sadar terhadap segala sesuatu yang baru. seorang pemikir Makkah dari madzhab Maliki. dan tidak memandang baik terhadap sikap jumud dalam hukum. baik awam maupun ulama.

para Sahabat Nabi dahulu. [22] Dan karena banyaknya jalan menuju Kebenaran itu. dengan izin dan ridla dari Sang Kebenaran itu sendiri. dan ijtihad diperlukan justru untuk mengembangkan dan lebih memperkaya pengalaman itu. sampai ia akhirnya bertemu (liqa. yang menegaskan bahwa siapa yang berijtihad dan benar. sehingga harus senantiasa dibiarkan membuka diri bagi tinjauan dan pengujian. namun tanpa menjadi satu) dengan Kebenaran. kiranya jelas bahwa taqlid dan ijtihad sama-sama diperlukan dalam masyarakat manapun. dan selalu langsung dikoreksi Tuhan). Al-Makki mengatakan bahwa dalam berijtihad Nabi selalu benar. Inilah barangkali letak kebenaran ucapan Karl Mannheim bahwa setiap ideologi (yakni. sebagaimana tercermin dalam sabda Nabi yang amat terkenal. khususnya pemikiran. Jalan menuju kesana ternyata banyak. Sebab. Jadi tidak dibenarkan adanya absolutisme di sini. begitu pula para Imam madzhab sendiri. [23] Akhirnya. dari sudut pandangan esoterisnya. Sesuatu dari kreasi manusiawi yang diabsolutkan akan secepat itu pula akan terobsolutkan. Hadlrat al-Syaikh K. Muhammad Hasyim Asy'ari dan al-Sayyid Muhammad Ibn Alawi ibn "Abbas al-Maliki al-Hasani al-Makki. namun tidak mustahil. sebagai sama-sama kegiatan manusiawi yang serba terbatas. pemikiran yang dihayati secara ideologis-absolutistik) cenderung untuk selalu bakal ditinggalkan zaman. dan saling menghargai pendapat yang ada di kalangan mereka. Maka problema yang dihadapkan kepada setiap orang ialah bagaimana ia teguh tanpa menjadi kemutlakan-kemutlakan. yaitu ijtihad dan mujahadah. ia akan mendapat dua pahala. yang menjadi alasan bagi Sang Kebenaran untuk menuntun seseorang ke berbagai jalan menuju kepada-Nya. maka taqlid ataupun ijtihad selalu mengandung persoalan. Sebab. maka seperti ditegaskan Ibn Taymiyyah. Nabi juga sering melakukan ijtihad dengan menggunakan metode analogi atau qiyas. meskipun amat jarang. dan siapa yang . selalu toleran satu sama lain. pasti memang hanya usaha yang penuh kesungguhan saja. dan sekaligus berkembang dan kreatif tanpa kehilangan keotentikan dan keabsahan -suatu penitian jalan yang sulit. Seluruh ide tentang mendekati (taqarrub) kepada Tuhan mengisyaratkan perlunya manusia berjalan tanpa jemu-jemunya meniti jalan lurus yang sulit itu. Tapi. dengan mekanisme penerimaan dan penganutan suatu otoritas (taqlid) kekayaan pengalaman kultural manusia. menjadi kumulatif. Jika diluar itu Nabi bisa salah. setiap bentuk absolutisme akan membuat suatu sistem pemikiran menjadi tertutup. dan ketertutupan itu akan menjadi sumber absolutnya.selaku Utusan Tuhan yang menerima wahyu parametris. atau kalaupun salah beliau akan segera mendapat teguran Ilahi melalui wahyu yang suci sehingga kesalahan itu tidak melembaga dan menjadi satu dengan pola hidup orang banyak. [21] NILAI SEBUAH IJTIHAD Dari uraian di atas. [20] (Dalam hal ini al-Makki mirip dengan Ibn Taymiyyah yang berpendapat bahwa Nabi bersifat ma'shum hanya dalam tugas menyampaikan (al-balagh) wahyu. Bahkan. jalan itu sebanyak jumlah mereka yang mencarinya dengan sungguh-sungguh. Sebab.H.

Adapun mereka yang dalam hatinya terdapat kecenderungan kurang baik (serong). Eclesiastes. sebab semuanya dari Tuhan kami." 3. CATATAN 1. hal 1728.s. dan lainnya berupa ayat-ayat mutasyabihat (jamak dari mutasyabih). 5. "Dia (Tuhan)-lah yang menurunkan kepadamu (Muhammad) Kitab Suci. karena merupakan Sunnat Allah untuk seluruh ciptaannya. Syarifat Allah al-Khalidah: Dirasat fi Tarikh Tasyri al-Ahkam wa Madzahib al-Fuqaha al-A'lam (Jeddah: Dar al-Syuruq. sebab Dia-lah Kebenaran Yang Pertama dan yang Akhir. yaitu sama dengan "filsafat" yang memang menyiratkan wisdom. kemudian mereka tidak mendapati dalam diri mereka keberatan terhadap apa yang telah kau putuskan. Ini merupakan hal yang amat penting dalam perkembangan dan pertumbuhan. kita terus bergerak maju secara dinamis. sampai kepada Heracleitus dari Ephesus di zaman Yunani kuno. termasuk sejarah manusia. Hanya Dzat Allah yang kekal abadi. "hikmah" memang sering diartikan sebagai wisdom. melintasi zaman. Ini bisa dipahami dari firman. Dan memang tidaklah menangkap pesan ini kecuali mereka yang berpengertian. Sedangkan orang-orang yang mendalam pengetahuannya akan berkata." 4. dan Zabur dalam Perjanjian Lama. Dinamika penting tidak saja karena merupakan unsur vitalitas. mereka tidaklah beriman sehingga mereka mengangkatmu sebagai hakim berkenaan dengan hal-hal yang diperselisihkan di antara mereka. Amos. karena takut salah itu sendiri adanya kesalahan yang paling fatal. QS. Dalam literatur klasik Arab. Al-Sayyid Muhammad ibn Alawi ibn Abbas al-Maliki al-Hasani al-Makki. Berkenaan dengan "pohon" tradisi intelektual Barat cabang filsafat eksistensialisme ini. h. sedangkan seluruh wujud ini berjalan dan terus berubah. [26] Dalam dinamika itu tidak perlu takut salah. (khutbahnya di atas bukit Moria (Zion) -yang kini berdiri Masjid 'Umar atau Qubbat al-Shakhrah dan Masjid al-Aqsha itu) sebagaimana dituturkan dalam Injil Matius 5 dari Perjanjian Baru. "Tidak. Karena itu tujuan hidup yang benar hanyalah Allah.berijtihad dan salah. 1407 H/1986 M). sedangkan kemandekan berarti kematian. 120-121. ia masih mendapat satu pahala. maka akan (hanya) mencari yang mutasyabih saja dari Kitab Suci itu dengan tujuan menciptakan perpecahan dan mencari-cari maknanya yang tersembunyi (membuat-buat interpretasi). sehingga para filsuf . sejak zaman Nabi 'Isa a. Sebab perkembangan dan pertumbuhan adalah tanda vitalitas. The Word of Existentialism: A Critical Reader (Chicago: The University of Chicago Press. Diantara isinya ayat-ayat muhkamat (jamak dari muhkam) yang merupakan induk (ajaran) Kitab Suci itu. 'Ali 'Imran 3:7. kemudian Job. tapi ia juga benar. niat baik dan ketulusan hati adalah sumber perlindungan Ilahi dalam usaha kita mengembangkan masyarakat. 2. al-Nisa 4:65. Padahal tidak ada yang mengetahui maknanya yang tersembunyi itu kecuali Allah. Micah. para penganjurnya mengklaim sebagai berakar pada masa lampau yang jauh. dan mereka pasrah sepasrah-pasrahnya. Seperti dikatakan 'Umar dalam suratnya di atas. (lihat Maurice Friedman. 1964). ed. QS. "kami beriman dengan ayat-ayat itu. demi Tuhanmu. [24] Dengan berbekal ketulusan.

catatan 4276). 514. catatan 1493 dan hal. "Alif Lam Ra. kemudian dirinci. yakni dalam mengungkapkan ajaran-ajaran itu) . Dan barangsiapa diberi hikmah. (021) 7501969. yaitu bahwa ajaran al-Qur'an membentuk suatu kesatuan yang utuh. Al-Zumar 39:23. (Lihat A." 7. The Holy Qur'an (Jeddah: Dar al-Qiblah for Islamic Literature." A Yusuf Ali mengartikan perkataan mutasyabih di sini berbeda dengan yang ada pada 3:7 di atas." dan QS. Metro Pondok Indah Pondok Indah Plaza I Kav. konsisten) namun matsani (berulang-ulang. maka sungguh ia telah diberi kebaikan yang banyak. Ali. 123. yakni serasi antara berbagai ajarannya. al-Baqarah 2: 269.Yusuf Ali. Ayat-ayat muhkam itu disebut sebagai "mother of the Book. 7501983. (bersambung 4/4) -------------------------------------------Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah Editor: Budhy Munawar-Rachman Penerbit Yayasan Paramadina Jln. "Allah telah menurunkan sebaik-baik Firman dalam bentuk sebuah Kitab yang mutasyabih (serasi. Namun. Yaitu QS. tt).(al-falasifah) juga disebut al-hukama ("orang-orang bijaksana"). Hud 11:1. mutasyabih di sini dikontraskan terhadap matsani. dari sisi Yang Maha Bijaksana dan Maha Teliti.25. ide pokoknya atau "Form of Ideas"-nya sama. QS. 8. A. 1243. hal. (Patut diketahui bahwa terjemahan al-Qur'an dan tafsir ke dalam Bahasa Inggris oleh A. Lihat catatan 2 di atas. TAQLID DAN IJTIHAD (4/4) MASALAH KONTINUITAS DAN KREATIVITAS DALAM MEMAHAMI PESAN AGAMA oleh Nurcholish Madjid 9. yang manusia sedapat mungkin berusaha keras menangkapnya. misalnya. catatan 347. (Inilah) Kitab yang ayat-ayatnya dibuat jelas maknanya (digunakan kata kerja pasif "uhkimat" yang sama artinya dengan kata sifat atau participte pasif "muhkam"). Yusuf Ali ini dianggap paling standar dan populer dalam . (021) 7507174 Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota Please direct any suggestion to Media Team Artikel Yayasan Paramadina Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota IV. Ini dengan jelas tercermin. 7507173 Fax. tanpa dogmatik dan tertutup. "Dia (Tuhan) memberi hikmah kepada siapa saja yang dikehendaki-Nya. hal. UA 20-21 Jakarta Selatan Telp..Y." Induk Kitab Suci" (Umm al-Kitab).. Sebab. 6. sedangkan di 3:7 dengan muhkam. dari risalah Ibn Rusyd. Fash al-Maqal wa Taqrir ma bain al-Hikmah wa al-Syari'ah min al-Ittishat (Kata Putus dan Kejelasan tentang Hubungan antara Filsafat dan Agama).

dan mereka takut kepada-Nya. Ini adalah "contoh klasik" metode pendekatan al-Qur'an terhadap masalah sosial kemanusiaan yang pelik dan peka. dengan hak hak pada anak angkat itu yang sama dengan anak biologis (alami). Maka setelah Zaid melaksanakan pembatalan (perkawinannya) dengan dia (Zainab) secara pasti (resmi). Al-Ahzab 33:37-40. Salah satu edisinya dimaksudkan untuk hotel-hotel internasional. dan sejak itu bernama lengkap Zaid ibn Muhammad. QS. Allah Maha Mengetahui atas segala sesuatu. yaitu (Sunnat Allah) kepada mereka yang menyampaikan pesan-pesan Allah. Zaid yang bekas budak (hitam) itu memang seorang pemuda yang saleh dan cerdas. QS. yang kemudian juga mendapat restu dan persetujuan Ri'asat Idarat al-Buhuts al-Ilmiyyah wa 'l-Ifta wa 'l-Da'wah wa 'I-Irsyad di Riyadh sebagai badan tertinggi urusan keagamaan Saudi Arabia. dan perintah Allah adalah kepastian yang sepasti-pastinya. 10. Tetapi dengan adanya pembatalan sistem anak angkat yang disamakan dengan anak kandung dan sejak itu bernama lengkap seperti semestinya. Tidak boleh ada kesulitan pada Nabi berkenaan dengan apa yang telah ditetapkan oleh Allah. Penyebarannya di seluruh dunia banyak dibiayai oleh Pemerintah Saudi Arabia sejak 1384 H/1965 M dengan sponsor Rabithah Alam Islami yang diketuai Syeik Mohammed Sour as-Sabhan sampai saat ini dengan berbagai cetakan dan edisi. melainkan Rasul Allah dan Penutup Nabi. Fathir 36:43." 11. Tetapi engkau menyimpan sesuatu dalam dirimu yang Allah hendak membukanya keluar. meniru penempatan Kitab Suci Kristen yang telah lama ada). menegaskan tentang adanya hukum kepastian dari Allah (Qadar) yang menguasai dan mengatur alam raya ciptaan-Nya ini. agar tidak ada halangan bagi orang-orang beriman untuk mengawini isteri-isteri anak-anak angkat mereka jika memang mereka (anak-anak angkat) telah membatalkan (perkawinan) dari mereka (isteri-isteri mereka). Al-Qamar 54:49. 12." Kedua ayat itu. yang setelah dimerdekakan diangkat Nabi sebagai anak angkat.. Orang-orang Arab. dan cukuplah Allah sebagai yang membuat perhitungan Muhammad bukanlah ayah seseorang dari kaum lelaki diantara kamu.dunia Islam internasional. Dan mengapa mereka tidak memperhatikan Sunnah yang terjadi pada orang-orang yang telah lalu? Engkau tidak akan mendapatkan peralihan dalam Sunnat Allah dan engkau tidak akan menemukan perubahan dalam . Al-Furqan 25:2 "Dan Dia (Tuhan) menciptakan segala sesuatu kemudian ditetapkan kepastiannya sepasti-pastinya. dan bertaqwalah kepada Allah. padahal Allah-lah yang lebih berhak kau takuti. telah lama mempraktekan pengangkatan anak atau apa yang disebut tabanni. termasuk yang menyangkut masalah kawin dan waris. Itulan Sunnat Allah kepada mereka yang telah lewat sebelumnya. Dan perintah Allah haruslah dilaksanakan. "Pertahankanlah untukmu isterimu (Zainab) itu.. ". "Sesungguhnya Kami (Tuhan) telah menciptakan segala sesuatu dengan (hukum) kepastian (Qadar). dan masih banyak lagi ayat-ayat yang lain. tidak terkecuali Nabi sendiri. "Ingatlah ketika engkau berkata kepada seseorang (Zaid) yang telah mendapatkan nikmat dari Allah dan mendapat nikmat (kasih sayang) darimu sendiri. Firman yang dimaksud berkenaan dengan masalah ini ialah QS. dan engkau takut kepada manusia. yaitu Zaid ibn Haritsah. Kami (Tuhan) kawinkan engkau (Muhammad) kepadanya (Zainab)." Dan QS.

tt). cit. serta . Pendekatannya kurang meyakinkan dan berbau apologetik. Lihat pembahasan panjang lebar tentang masalah ini dalam al-Jurjawi (op. ajaran dan praktek keagamaan itu secara rinci. Namun isinya masih jauh dari klaim judul buku itu sendiri. menjelaskan tentang adanya Sunnat Allah. dan masih banyak lagi yang lain. Kita diwajibkan memeriksa dan meneliti kemudian menarik pelajaran daripadanya. Yaitu judul sebuah kitab yang cukup terkenal. bisnis asuransi jiwa.) hal. pengaruhnya terhadap kesehatan. tetapi cukup mewakili suatu contoh pencarian makna umum ibadat. (Beirut: Dar al-Fikr. yaitu filsafat at-tasyri' (filsafat penetapan hukum syari'at atau agama). yakni hukum-hukum kepastian dari Allah yang menguasai dan mengatur kehidupan manusia dalam sejarah. alkohol dan pengaruh buruknya terhadap negeri-negeri panas. yang meliputi pula pembicaraan sekitar pengaruh alkohol kepada peminumnya. jumlah kematian karena alkoholisme. 13. 14.Sunnat Allah. pada peredaran darahnya." Firman ini. oleh Ali Ahmad al-Jurjawi yang mencoba melihat hikmah setiap bentuk ibadat serta ajaran dan praktek keagamaan yang lain. 269-281.

mempunyai naluri amat kuat untuk bersikap kasih kepada sesama hidup.hal. ada versi lain berkenaan dengan kejadian yang terabaikan dalam firman ini.w. Kemudian al-Khabab membalas. sehingga. jil. Ibid. "Pendapat yang benar ialah kita harus menghalangi mereka (musuh) itu dari air yang vital ini.cit. 17. isteri Beliau yang berasal dari Mesir. Jadi.korelasi antara alkohol dan kejahatan. supaya musuh pun dapat pula memanfaatkannya. demi menyenangkan hati Hafshah (anak 'Umar ibn al-Khattab) Nabi berjanji dan mengharamkan berkumpul dengan Mariyah atas diri Beliau.a. (Lihat.. 5 jilid (Beirut: Muassasat Sya'ban. Sedangkan yang disebut-sebut ijtihad Nabi yang kemudian mendatangkan teguran Ilahi ialah yang terabadikan dalam QS. Ide itu ditirunya dari orang-orang Persia. Pembahasan tentang ishamat atau ketidak-biasaan . lalu Hafshah pun marah kepada Nabi. Al-Makki op. 21. padahal Mariyah adalah isteri Beliau yang sah. karena Beliau melakukan analogi bahwa menghalangi mereka (musuh) dari memperoleh air yang vital itu sama dengan menghalangi binatang dari air. tt. op. Lihat catatan 1 di atas." Yaitu.) jil. 121. 5. Juga. yang pada waktu itu. karena murka kepada Aisyah atau Hafshah. 20. Nabi berijitihad untuk tidak usah menguasai sumber air yang vital. hal. hal. maka datanglah al-Khabbab ibn al-Mundzir bertanya. Musuh dalam perang bukanlah orang yang harus dihormati sehingga tidak diperbolehkan dihalangi dari air. The Venture of Islam. Cit. Nashir al-Din Abi Said 'Abdullah ibn 'Umar ibn Muhammad al-Syirazi al-Baydlawi. Hodgson. Hal itu kemudian diketahui oleh Hafshah. mengapa engkau mengharamkan sesuatu yang dihalalkan Allah hanya untuk memperoleh kerelaan (kesenangan hati) isteri-isterimu?!" Para penafsir klasik menuturkan tentang suatu kejadian bahwa Nabi suatu hari tinggal di rumah Mariyah. 19. "Pendapat. Hodgson op. cit. Al-Tahrim 66:1. tentu saja. 3. "Wahai Nabi. 16." Inipun.S. 3 jilid (Chicago: The University of Chicago Press. 116. Yang dimaksudkan al-Makki sebagai sesuatu yang diambil 'Umar dari orang-orang kafir ialah idenya membuat Bayt al-Mal dan kalender (Hijrah). "Ini dari wahyu atau dari pendapat (ijtihad)?" Nabi menjawab. 137). Marshall G. Anwar al Tanzil wa Asrar al-Ta'wil al-ma'ruf bi tafsir al-Baydlawi.. kata al-Makki. Versi manapun yang benar. 274. salah satunya ialah ijtihad Nabi di waktu menyiapkan Perang Badar. hal. 48. termasuk pendekatan analogis. masih belum muslim. Dari beberapa contoh yang dituturkan al-Makki. hal. menurut hukum Allah adalah halal. 1974).. sedangkan menyiksa binatang seperti itu tidaklah diperbolehkan. 15. 274-275. karena menghalangi mereka dari air termasuk taktik perang dan menjadi sebab kemenangan. semuanya menunjukkan suatu yang dimaksudkan oleh al-Makki sebagai contoh ijtihad Nabi. Padahal Nabi s. Al-Makki. 18. hal. salah satu metode ijtihad yang amat penting.

1 di atas dan keterangan yang bersangkutan awal-awal tulisan ini. atau Wujud-Nya itulah yang harus kita cari." A.. Tiada suatu Tuhan melainkan Dia. karya ini ditulis sebagai polemihya dengan golongan Syi'ah. dan kepadanyalah kamu semua akan dikembalikan. Al-Qashash 28:88. hal. Jadi kita tahu bahwa apa yang kita sebut diri kita sendiri tidaklah punya makna. yang tentang hal itu kita bisa mempunyai berbagai pengertian. Lihat. Pribadi. Metro Pondok Indah Pondok Indah Plaza I Kav. Jika berpikir tentang Tuhan yang impersonal. Ibn Taymiyyah. namun Dia akan tetap abadi. Perlu diketahui. tt). "Dia (Tuhan)-lah Yang Pertama dan yang Akhir. jil.(infallibility) Nabi oleh Ibn Taymiyyah ini dapat kita jumpai dalam karya besarnya Minhaj al -Sunnat al-Nabawiyyah fi Naqdl Kalam al-Syi'ah wa al-Qadariyvah. 4 jilid (Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiyyah. al-Tanbihat.H. hal. QS. "Janganlah menyeru bersama Allah (Tuhan Yang Maha Esa) suatu Tuhan yang lain. 130. QS. 1. "Dan barangsiapa berusaha sungguh-sungguh (mujahadah) di jalan Kami. (021) 7501969. UA 20-21 Jakarta Selatan Telp. dan itu adalah Tuhan. kita tidak dapat menggabungkannya dengan Pribadi atau Wujud yang vital. Yusuf Ali memberi komentar yang menarik tentang ayat terakhir Surah 28 ini: "Ini meringkaskan pelajaran seluruh Surah. 24. (021) 7507174 Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota Please direct any suggestion to Media Team . Lihat juga QS. K. Lihat catatan no. Seluruh jagad lahir dan tunduk kepada hukum peralihan dan perubahan fana akan sirna. al-Ankabut 29:69. karena menyadari bahwa Dia-lah satu-satunya hal yang abadi. 25." 23. Hasyim Asy'ari. maka pastilah akan Kami tunjukkan kepada mereka berbagai jalan (subul) Kami. 22. Kenyataan satu-satunya ialah Tuhan. yang tentang Dia itu kita hanya mampu menangkap gaung samar-samar atau cerminan dalam momen yang paling intens dalam luapan spiritual. Inilah juga doktrin Advaita dan Shri Shankara dalam jabarannya terhadap Brihadaranyaka Upanishad dalam filsafat Hindu. 244 dan passim. 7507173 Fax. dan al-Makki. suatu kekuatan kebaikan yang abstrak. sebab hanya ada satu Diri yang benar. sebagaimana tereermin dari judulnya. cit. Al-Hadid 57:3. dan Dia Maha mengetahui atas segala sesuatu. Yang Lahir dan Yang Batin. op. Ikhtilaf al-Ummah fi al-Ibadat. Segala sesutu binasa kecuali Wajah-Nya. Muh.." -------------------------------------------Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah Editor: Budhy Munawar-Rachman Penerbit Yayasan Paramadina Jln. "Wajah"-Nya atau Diri. Baginyalah ketentuan hukum. 7501983.

2. Dalam tulisan ini hanya akan diungkapkan pengertian ijtihad menurut rumusan ushuliyyin dari kelompok mayoritas. Pengertian ijtihad menurut bahasa ini ada relevansinya dengan pengertian ijtihad menurut istilah.yang terkenal dengan "mashlahat. baru kemudian menyoroti masalah taqlid. baik yang terdekat itu diperoleh dari nash -yang terkenal dengan qiyas (ma'qul nash). Sekedar mengikuti kelaziman.Artikel Yayasan Paramadina Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota IV. Dalam tulisan ini saya hanya akan bicara tentang beberapa aspek ijtihad dan taqlid yang dipandang penting. dimana untuk melakukannya diperlukan beberapa persyaratan yang karenanya tidak mungkin pekerjaan itu (ijtihad) dilakukan sembarang orang. masalah ijtihad selalu lebih dahulu dibicarakan sebelum masalah taqlid. ijtihad adalah pengerahan segenap . IJTIHAD Tulisan ini akan mendahulukan masalah ijtihad.yang mengemukakan rumusan definisi. Ibrahim Hosen 1. PENGERTIAN IJTIHAD Menurut bahasa. dimana dalam buku-buku Ushul Fiqh. 1. mengingat kedua masalah itu amat sering diperbincangkan. Minimal ada tiga alasan kenapa lebih mendahulukan ijtihad daripada taqlid. atau yang terdekat itu diperoleh dari maksud dan tujuan umum dari hikmah syari'ah. Taqlid tidak akan ada tanpa ijtihad. 3. TAQLID DAN IJTIHAD (1/4) Beberapa Pengertian Dasar Oleh KH. Mereka memberikan batasan bahwa ijtihad adalah "penelitian dan pemikiran untuk mendapatkan sesuatu yang terdekat pada Kitab-u 'l-Lah dan Sunnah Rasul. Persoalan taqlid akan lebih mudah dipahami jika seseorang telah memahami persoalan ijtihad.24. Menurut mereka. ada dua kelompok ahli ushul flqh (ushuliyyin) -kelompok mayoritas dan kelompok minoritas. Dan di sisi lain ada pengertian ijthad yang telah digunakan para sahabat Nabi." Dalam kaitan pengertan ijtihad menurut istilah." Atas dasar ini maka tidak tepat apabila kata "ijtihad" dipergunakan untuk melakukan sesuatu yang mudah/ringan. ijtihad berarti "pengerahan segala kemampuan untuk mengerjakan sesuatu yang sulit. Dengan demikian seseorang hanya dibenarkan bertaqlid kepada mujtahid yang mu'tabar. disamping banyaknya buku yang mengupas masalah tersebut yang mudah kita temukan.

Pelaku utihad adalah seorang ahli fiqih/hukum Islam (faqih). Jadi apabila kita konsisten dengan definisi ijtihad diatas maka dapat kita tegaskan bahwa ijtihad sepanjang pengertian istilah hanyalah monopoli dunia hukum. hal. Dalam hubungan ini komentator Jam'u 'l-Jawami' (Jalaluddin al-Mahally) menegaskan. (Jam'u 'l-Jawami'. Nash-nash Dhanny dan dalil-dalil hukum yang diperselisihkan. bukan hukum i'tiqadi atau hukum khuluqi. Atas dasar itu ada kekeliruan pendapat sementara pihak yang mengatakan bahwa ijtihad juga berlaku di bidang aqidah. tetapi juga akan membawa konsekuensi pembenaran terhadap aqidah non Islam yang dlalal. Masalah-masalah baru yang hukumnya belum ditegaskan oleh nash al-Qur'an atau Sunnah secara jelas. Lalu. Lantaran itulah Jumhur 'ulama' telah bersepakat bahwa ijtihad hanya berlaku di bidang hukum (hukum Islam) dengan ketentuan-ketentuan tertentu. Lapangan atau medan dimana ijtihad dapat memainkan peranannya adalah: 1. Juz II. 3. Dari definisi tersebut sebagai berikut: dapat ditarik beberapa kesimpulan 1. salah seorang tokoh mu'tazilah. 2. 2. "yang dimaksud ijtihad adalah bila dimutlakkan maka ijtihad itu bidang hukum fiqih/hukum furu'. MEDAN IJTIHAD Di atas telah ditegaskan bahwa ijtihad hanya berlaku di bidang hukum. Pendapat ini bukan saja menunjukkan inkonsistensi terhadap suatu disiplin ilmu (ushul fiqh). dan akan membawa rahmat manakala ijtihad dilakukan oleh yang memenuhi persyaratan dan dilakukan di medannya (majalul ijtihad). Pendapat yang nyeleneh atau syadz ini dipelopori al-Jahidh. Yang ingin dicapai oleh ijtihad adalah hukum syar'i. 3. Hukum Islam yang ma'qulu 'l-ma'na/ta'aqquly (kausalitas . Status hukum syar'i yang dihasilkan oleh ijtihad adalah dhanni.kesanggupan dari seorang ahli fxqih atau mujtahid untuk memperoleh pengertian tingkat dhann terhadap sesuatu hukum syara' (hukum Islam). hukum Islam yang mana saja yang mungkin untuk di-ijtihad-i? Adakah hal itu berlaku di dunia hukum (hukum Islam) secara mutlak? Ulama telah bersepakat bahwa ijtihad dibenarkan. bukan yang lain. Dia mengatakan bahwa ijtihad juga berlaku di bidang aqidah. 379). serta perbedaan yang terjadi sebagai akibat ijtihad ditolerir. 4. Masalah-masalah baru yang hukumnya belum diijma'i oleh ulama atau aimamatu 'l-mujtahidin. yaitu hukum Islam yang berhubungan dengan tingkah laku dan perbuatan orang-orang dewasa.

Sebaliknya ulama telah bersepakat berlaku atau tidak dibenarkan pada: bahwa ijtihad tidak 1. "Tidak ada ijtihad dalam melawan nash. Disamping ijtihad tidak berlaku atau tidak mungkin dilakukan pada ketiga macam hukum Islam di atas. 2. Islam bukan saja memberi legalitas ijtihad. akan tetapi juga mentolerir adanya perbedaan pendapat sebagai hasil ijtihad. maka ia mendapat satu pahala (pahala ijtihadnya). Banyak ayat al-Qur'an dan Hadits Nabi yang menyinggung masalah ini. 3. Hukum Islam yang telah diijma'i ulama. disinilah seharusnya kita melakukan terobosan-terobosan baru. lalu ia melakukan ijtihad. maka ia memperoleh dua pahala (pahala ijtihad dan pahala kebenarannya). Hal ini antara lain diketahui dari Hadits Nabi yang artinya. kemudian hasil ijtihadnya salah. Hukum Islam yang bersifat ta'abbudy/ghairu ma'quli 'lma'na (yang kausalitas hukumnya/'illat-nya tidak dapat dicerna dan diketahui mujtahid). Hukum Islam yang telah ditegaskan nash al-Qur'an atau Sunnah yang statusnya qath'iy (ahkamun manshushah)." (Riwayat Bukhari Muslim). 7507173 ." Atas dasar itu maka muncullah ketentuan. kaidah itulah yang menghambat aspirasi sementara kalangan yang hendak merombak hukum-hukum Islam qath'i seperti hukum kewarisan al-Qur'an. Apabila ini yang kita lakukan dan kita memang telah memenuhi persyaratannya maka pantaslah kita dianggap sebagai mujtahid di abad modern ini yang akan didukung semua pihak. kemudian ijtihadnya benar. (021) 7501969. Jadi. demikian juga ijtihad akan gugur dengan sendirinya apabila hasil ijtihad itu berlawanan dengan nash. "Apabila seorang hakim akan memutuskan perkara.hukumnya/'illat-nya dapat diketahui mujtahid). dan ia berijtihad." Bila kita telaah." PERBEDAAN YANG DITOLERIR Ijtihad dilegalisasi bahkan sangat dianjurkan oleh Islam. 7501983. Metro Pondok Indah Pondok Indah Plaza I Kav. yang dalam istilah ushul fiqih dikenal dengan syari'ah atau "ma'ulima min al-din bi al-dlarurah. UA 20-21 Jakarta Selatan Telp. kalau kita akan melakukan reaktualisasi hukum Islam. "Tidak berlaku ijtihad pada masalah-masalah hukum yang ditentukan berdasarkan nash yang status dalalah-nya qath'i dan tegas. (bersambung 2/4) -------------------------------------------Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah Editor: Budhy Munawar-Rachman Penerbit Yayasan Paramadina Jln. Jika hakim akan memutuskan perkara. Hal ini sejalan dengan kaidah.

sehingga kita akan sanggup menjadikan perbedaan pendapat tersebut sebagai rahmat yang memporak-porandakan persatuan umat Islam. TAQLID DAN IJTIHAD (2/4) Beberapa Pengertian Dasar Oleh KH. akan tetapi juga menunjukkan kepada kita bahwa adanya perbedaan pendapat sebagai hasil ijtihad ditolerir. Inilah yang ingin saya tegaskan dalam kesempatan ini mengingat adanya sementara pihak yang menggunakan hadits marfu' untuk membenarkan adanya perbedaan pendapat di bidang aqidah yang akan bermuara pada paham "pluralisme agama" -semua agama sama atau benar. menurut mujtahid. "Ijtihad yang satu tidak dapat digugurkan oleh ijtihad yang lain. yakni fiqih. sehingga muncullah ucapan mereka yang sangat populer. Oleh sebab itu maka ijtihad yang satu tidak dapat membatalkan ijtihad yang lain. Demikian juga al-Qur'an tidak perlu diturunkan. Ini jelas tidak dapat dibenarkan. Perbedaan pendapat dalam hukum Islam sebagai hasil ijtihad inilah yang ditegaskan Nabi akan membawa rahmat (kelapangan bagi umat) sebagaimana diketahui ditegaskan dalam sebuah hadits. IJTIHAD TIDAK DAPAT DIGUGURKAN DENGAN IJTIHAD Di atas telah disinggung bahwa hukum yang dihasilkan oleh ijtihad statusnya dhanny. ia salah tetapi mengandung kemungkinan benar. Prinsip ini dipegang teguh oleh para imam mujtahid. sejalan dengan kaidah. dan pendapat selain kami salah. ia tetap eksis. tetapi mengandung kemungkinan benar. betapapun kuat dalilnya. tetapi mengandung kemungkinan salah. "Pendapat kami benar. Apabila hal ini dapat kita pegangi secara konsisten maka jiwa tasammuh dalam menanggapi aneka ragam pendapat di bidang fiqih sebagai akibat perbedaan dalam berijtihad akan tetap dapat ditumbuhkan. Ibrahim Hosen Hadits di atas bukan saja memberi legalitas ijtihad. (021) 7507174 Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota Please direct any suggestion to Media Team Artikel Yayasan Paramadina Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota IV. Yang dimaksud dengan perbedaan di sini adalah perbedaan pendapat dalam hukum Islam ijtihady." Hal ini sejalan dengan status fiqih sebagai produk ijtihad yang statusnya dhanny." Betapapun lemahnya suatu ijtihad. yang artinya kebenarannya tidak bersifat absolut. amar ma'ruf nahi munkar.Fax. "Perbedaan pendapat di kalangan ulama akan membawa rahmat." (Abu Nashar Al-Muqaddasi). . porsi kebenarannya lebih dominan/rajih. ia benar tetapi mengandung kemungkinan salah. Apabila benar bahwa semua agama itu sama tentu tidak ada kewajiban berda'wah. jihad dan sebagainya. Hanya saja.24. tidak dapat begitu saja dilenyapkan oleh ijtihad yang lain.

9. tapi mengandung kemungkinan salah. 7. Hal itu agar ia tidak mempergunakan ayat al-Qur'an atau Hadits Nabi yang telah dinasakh (mansukh) untuk menggali hukum. dan pendapat selain kami salah. Tanpa mengetahui sejarah perawi Hadits. 2. Sebab al-Qur'an dan Sunnah sebagai sumber asasi hukum Islam tersusun dalam bahasa Arab yang sangat tinggi gaya bahasanya dan cukup unik dan ini merupakan kemu'jizatan al-Qur'an. 4." SYARAT-SYARAT IJTIHAD. Mengetahui secara mendalam tentang nasikh-mansukh dalam al-Qur'an dan Hadits.Prinsip tasammuh sebagai manifestasi dari status fiqih yang bersifat dhanny tersebut dipegang teguh oleh para Imam Mujtahid. Berilmu pengetahuan yang luas tentang hadits-hadits Rasul yang berhubungan dengan masalah hukum. Mengetahui ilmu logika/mantiq agar ia dapat menghasilkan deduksi yang benar dalam menyatakan suatu pertimbangan hukum dan sanggup mempertahankannya. apakah Hadits itu dapat diterima ataukah tidak. Mengetahui sejarah para periwayat hadits. Menguasai kaidah-kaidah istinbath hukum/ushul fiqh. "Pendapat kami benar. 8. 6. 5. supaya ia dapat menilai sesuatu Hadist. Sebab untuk menentukan derajad/nilai suatu Hadits sangat tergantung dengan ihwal perawi yang lazim disebut dengan istilah sanad Hadits. Seseorang yang ingin mendudukkan dirinya sebagai mujtahid harus memenuhi beberapa persyaratan. dengan pengertian ia mampu membahas ayat-ayat tersebut untuk menggali hukum. 10. 3. sehingga muncullah ucapan mereka yang sangat populer. agar ia mampu melakukan istinbath hukum secara tepat. Menguasai bahasa Arab secara mendalam. Menguasai seluruh masalah yang hukumnya telah ditunjukkan oleh ijma' agar ia tidak berijtihad yang hasilnya bertentangan dengan ijma'. tetapi mengandung kemungkinan benar. . Mengetahui latar belakang turunnya ayat (asbab-u 'l-nuzul) dan latar belakang suatu Hadits (asbab-u 'l-wurud). agar dengan kaidah-kaidah ini ia mampu mengolah dan menganalisa dalil-dalil hukum untuk menghasilkan hukum suatu permasalahan yang akan diketahuinya. Memiliki ilmu pengetahuan yang luas tentang ayat-ayat al-Qur'an yang berhubungan dengan masalah hukum. Di antara sekian persyaratan itu yang terpenting ialah: 1. dengan arti ia sanggup untuk membahas hadits-hadits tersebut untuk menggali hukum. tidak mungkin kita akan melakukan ta'dil tajrih (screening). Mengetahui secara mendalam tentang masalah qiyas dan dapat mempergunakannya untuk menggali hukum.

tidak menciptakan sendiri. Imam Malik. Sebagian ulama menilai bahwa Abu Yusuf termasuk kelompok pertama/mujtahid muthalaq/mustaqil. yaitu ijtihad yang dilakukan dengan cara menciptakan sendiri norma-norma dan kaidah istinbath yang dipergunakan sebagai sistem/metode bagi seorang mujtahid dalam menggali hukum. Norma-norma dan kaidah itu dapat diubahnya sendiri manakala dipandang perlu. Dari madzhab Hanafi seperti Muhammad bin Hasan dan Abu Yusuf. hal itu bisa kita lihat pada Imam Nawawi dan Imam Rafi'i. Pada prinsipnya mereka mengikuti norma-norma/kaidah-kaidah istinbath imamnya. demikian juga mengenai hukum furu'/fiqih yang telah dihasilkan imamnya. 4. Jadi untuk menggali hukum dari sumbernya. Ijtihad Muntasib. BENARKAH PINTU IJTIHAD SUDAH DIKUNCI? Para ahli fiqih telah sepakat bahwa ijtihad dengan pengertian penyesuaian suatu perkara dengan sesuatu hukum yang sudah ada tetap terbuka. yaitu ijtihad yang dilakukan seorang mujtahid dengan mempergunakan norma-norma dan kaidah-kaidah istinbath imamnya (mujtahid muthlaq/Mustaqil). men-takhrij-kan pendapat imamnya dan menyeleksi beberapa pendapat yang dinukil dari imamnya. 3. Ijtihad Muthlaq/Mustaqil. Ijtihad mereka hanya berkisar pada masalah-masalah yang memang belum diijtihadi imamnya. Mujtahid dari tingkatan ini contohnya seperti Imam Hanafi. dari mazhab Syafi'i seperti Muzany dan Buwaithy. Ijtihad terdiri dari bermacam-macam tingkatan.MACAM-MACAM TINGKATAN IJTIHAD. Mereka hanya berhak menafsirkan apa yang dimaksud dari norma-norma dan kaidah-kaidah tersebut. Contohnya. sehingga sangat sulit untuk dibedakan. Ijtihad di bidang tarjih. Sebagian ulama berpendapat bahwa pintu ijtihad telah tertutup. mana yang shahih dan mana yang lemah. yaitu: 1. yaitu ijtihad yang dilakukan dengan cara mentarjih dari beberapa pendapat yang ada baik dalam satu lingkungan madzhab tertentu maupun dari berbagai mazhab yang ada dengan memilih mana diantara pendapat itu yang paling kuat dalilnya atau mana yang paling sesuai dengan kemaslahatan sesuai dengan tuntunan zaman. Gema ini digelorakan oleh ulama-ulama mutakhirin pada awal abad ke-IV Hijriah setelah dunia Islam diliputi kabut ta'ashub madzhab serta banyaknya man laisa . Perbedaan pendapat terjadi pada ijtihad menurut definisi ushul fiqih. 2. Imam Syafi'i dan Imam Ahmad yang terkenal dengan sebutan Mazhab Empat. Ijtihad mazhab atau fatwa yang pelakunya disebut mujtahid mazhab/fatwa. Ijtihad kategori ini tidak termasuk ketentuan ijtihad menurut ketentuan ushul fiqih. Sebagian ulama mengatakan bahwa antara kelompok ketiga dan keempat ini sedikit sekali perbedaannya. yaitu ijtihad yang dilakukan seorang mujtahid dalam lingkungan madzhab tertentu. Dalam mazhab Syafi'i. Contohnya seperti Imam Ghazali dan Juwaini dari madzhab Syafi'i. mereka memakai sistem atau metode yang telah dirumuskan imamnya. Oleh karena itu mereka menjadikannya satu tingkatan.

Mayoritas Ahl al-Sunnah hanya mengakui Madzhab Empat. Hukum Islam baik dalam bidang 'ibadah. jinayah dan lain sebagainya seluruhnya sudah lengkap dan dibukukan secara terperinci dan rapi. kita perlu mengetahui argumentasi dari golongan yang berpendapat bahwa pintu ijtihad masih tetap terbuka. Membuka pintu ijtihad selain hal itu percuma dan membuang-buang waktu. Rektor Universitas Al-Azhar pada waktu itu. Sedangkan golongan yang memandang bahwa ijtihad adalah kegiatan/pekerjaan mujtahid.lahu ahlu 'l-Ijtihad (mujtahid karbitan) yang tampil mengaku sebagai mujtahid. Golongan yang berpendapat bahwa pintu ijtihad telah tertutup antara lain beralasan: 1. mereka berpendapat bahwa pintu ijtihad telah tertutup. 2. munakahah. Mungkin berupa hukum yang terdiri dari koleksi pendapat antara dua madzhab atau lebih. b. Menutup pintu ijtihad berarti menjadikan hukum Islam yang semestinya lincah dan dinamis menjadi kaku dan beku. 2. Pendapat ini antara lain diproklamirkan Imam al-Syaukani pada pertengahan abad ke-XIII Hijriah. Dengan membuka pintu ijtihad maka setiap permasalahan baru yang dihadapi umat. yaitu: 1. Golongan yang memandang bahwa ijtihad adalah sumber hukum. Sebagian ulama yang lain berpendapat bahwa pintu ijtihad tetap terbuka dan dapat dimasuki oleh siapa saja yang memiliki kuncinya (memenuhi persyaratan). yang biasa kita kenal dengan istilah talfiq. Kini. sehingga Islam akan ketinggalan zaman. Dengan demikian maka hukum Islam akan selalu berkembang dan tumbuh subur serta sanggup menjawab tantangan zaman. Sebab. yang kemudian di Mesir digalakkan oleh Syekh Al-Maraghy. Mungkin berupa hukum yang telah dikeluarkan oleh salah satu Madzhab Empat. yaitu sejak wafatnya imam-imam mujtahid kenamaan. Oleh karena itu tiap-tiap yang menganut madzhab Ahl al-Sunnah harus memilih salah-satu dari Madzhab Empat. Menutup pintu ijtihad berarti menutup kesempatan ulama Islam untuk menciptakan pemikiran-pemikiran yang baik dalam memanfaatkan dan menggali sumber atau dalil hukum Islam 3. tidak dapat diketahui bagaimana status hukumnya. 3. Karena itu kita tidak perlu melakukan ijtihad lagi. yang berarti ijtihad yang dilakukan itu hanyalah tahsil al-hasil . yang kebolehannya masih diperselisihkan kaum ushuliyyin. juga hasilnya akan berkisar: a. mu'amalah. Ia harus terikat tidak boleh pindah madzhab. akan banyak kasus baru yang hukumnya belum dijelaskan oleh al-Qur'an dan Sunnah serta belum dibahas oleh ulama-ulama terdahulu. mereka berpendapat bahwa pintu ijtihad tetap terbuka. akan dapat diketahui hukumnya.

dan bahwa berijtihad untuk mengambil hukum dari al-Qur'an dan Sunnah dibenarkan manakala ijtihad itu dilakukan pada tempatnya. TAQLID DAN IJTIHAD (3/4) Beberapa Pengertian Dasar Oleh KH. dan bahwa jalan untuk memelihara kemaslahatan dan untuk menghadapi peristiwa-peristiwa yang selalu timbul. 7507173 Fax. menurut mayoritas ulama Ahl al-Sunnah. Ibrahim Hosen Sebelum saya mengambil kesimpulan dengan mempertemukan kedua pendapat yang saling berbeda itu marilah kita ikuti hasil keputusan Lembaga Penelitian Islam al-Azhar Cairo yang bersidang pada bulan Maret 1964 M. (021) 7501969. (021) 7507174 Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota Please direct any suggestion to Media Team Artikel Yayasan Paramadina Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota IV.c.24. Lembaga penelitian akan mengatur usaha-usaha untuk mencapai ijtihad bersama baik secara mazhab maupun secara mutlaq untuk dapat dipergunakan dimana perlu. Padahal. Hal semacam ini pada hakikatnya menentang ijma'. sebagai berikut: "Mu'tamar mengambil keputusan bahwa al-Qur'an dan Sunnah Rasul merupakan sumber pokok hukum Islam. Metro Pondok Indah Pondok Indah Plaza I Kav. Mungkin berupa hukum yang tidak seorangpun ulama Islam membenarkannya. UA 20-21 Jakarta Selatan Telp. hendaklah dipilih di antara hukum-hukum fiqih pada tiap-tiap mazhab suatu hukum yang memuaskan. selain Mazhab Empat tidaklah dianggap. 4. Jika tidak terdapat suatu hukum yang memuaskan dengan jalan tersebut. dan jika tidak memuaskan maka berlakulah ijtihad bersama secara mutlaq. Hal ini menunjukkan bahwa untuk memenuhi syarat-syarat ijtihad yang telah ditentukan itu memang sangat sulit kalau tidak dikatakan tidak mungkin lagi untuk saat seperti sekarang ini. Mungkin berupa hukum yang sesuai dengan salah satu mazhab di luar Mazhab Empat. d. (bersambung 3/4) -------------------------------------------Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah Editor: Budhy Munawar-Rachman Penerbit Yayasan Paramadina Jln. 7501983." Dari Keputusan Lembaga Penelitian Islam al-Azhar tersebut . maka berlakulah ijtihad bersama (kolektif) berdasarkan madzhab. Realitas sejarah menunjukkan bahwa sejak awal abad ke-IV Hijriah sampai detik ini tak seorangpun ulama berani menonjolkan diri atau ditonjolkan oleh pengikut-pengikutnya sebagai seorang mujtahid muthlaq/mustaqil.

tidak tepat kalau kita mengatakan secara mutlaq/tanpa batasan bahwa pintu ijtihad masih tetap terbuka. b. 2. Pintu ijtihad masih tetap terbuka bagi yang memenuhi persyaratan. Jadi tidak tepat. Keputusan Lembaga Penelitian Islam al-Azhar tersebut sangat bijaksana. Ijtihad di bidang tarjih baik secara perorangan (ijtihad fardy) maupun secara kolektif (ijtihad Jama'iy). kalau secara mutlaq/tanpa batasan kita mengatakan bahwa pintu ijtihad telah tertutup. Dengan demikian. Ijtihad madzhab secara kolektif 3. tentunya tertutup kemungkinan untuk membuka pintu ijtihad dengan segala macam bentuknya. 3. 2. 4. Ijtihad muthlaq apabila dilakukan secara kolektif (ijtihad muthlaq jama'iy). Ijtihad mutlaq secara perorangan. Ijtihad di bidang madzhab apabila dilakukan secara kolektif (ijtihad madzhab jama'iy). maka yang masih benar-benar dapat dilakukan adalah: 1. Ijtihad madzhab secara perorangan. Poin kedua tidak berlaku untuk: a. Ijtihad di bidang tarjih baik bagi perorangan maupun kelompok secara kolektif. karena keputusan itu telah mempertemukan antara dua pendapat yang saling berbeda. 2. mengingat sangat jarangnya faqih/ulama ahli hukum seperti saat sekarang ini. Ijtihad muthlaq secara perorangan (ijtihad muthlaq fardy). Bagi yang tidak. c. Dan harus kita sadari bahwa pintu ijtihad masih tetap terbuka dalam bidang-bidang tertentu tersebut adalah bagi yang memenuhi syarat. c. Menurut saya. Ijtihad madzhab secara perorangan (ijtihad madzhab fardy). Ijtihad di bidang tarjih baik secara perorangan maupun pintu ijtihad .dapat diambil kesimpulan bahwa: 1. Butir pertama hanya berlaku untuk: a. Dan sebaliknya. pendapat yang mengatakan bahwa pintu ijtihad masih tetap terbuka haruslah diartikan untuk: 1. Ijtihad dibenarkan apabila dilakukan di tempat-tempat dimana ijtihad boleh dilakukan. Demikian juga pendapat yang mengatakan bahwa telah tertutup haruslah kita artikan untuk: 1. Ijtihad muthlaq secara kolektif.

hal itu juga akan membawa akibat terbengkalainya urusan-urusan duniawi/kehidupan yang lain. Secara faktual. janganlah sok berijtihad. mengingat kecerdasan. pengkajian dan penelaahan secara mendalam. Kelompok kedua. mereka akan sanggup melakukan hal tersebut. Kaidah Agama yang mengatakan.secara kolektif. kalau memang bukan faqih yang menguasai kaidah-kaidah istinbath. Oleh karena itu jumhur ulama telah mencapai konsensus bahwa taqlid tidak dapat dijadikan dasar atau metode keilmuan di bidang aqidah. tentu tidak akan sanggup mengetahui. Pesan saya dalam menutup uraian tentang ijtihad ini. Bagi mereka yang tidak memiliki persyaratan ijtihad. Hal ini dapat dilakukan secara perorangan maupun secara kolektif. sayangnya belum banyak dipublikasikan. Ijtihad untuk kasus-kasus tertentu yang memang belum pernah dibahas oleh aimmat al-mujtahidin terdahulu. mengingat tingkatan manusia yang berbeda-beda. yaitu harus mengetahuinya melalui mujtahid. sistem dan metode yang baik yang seharusnya kita jadikan washilah/sarana mencapai atau memperoleh ilmu adalah nadhar. daya tangkap dan ilmu yang dimiliki seseorang bagaimanapun tidaklah sama. Milikilah persyaratan dan berijtihadlah di tempat-tempat yang dibenarkan untuk melakukan ijtihad sesuai dengan ketentuan yang berlaku. NU dengan Syuriyah dan Bahstul Matsailnya. MUI dengan Komisi Fatwanya. yang khusus untuk mencapai hukum furu'/fiqih dikenal dengan ijtihad. 2. sebab bisa berakibat fatal. sekalipun imannya sah. Sedangkan penelitian. La taklifa fawqa 'l-istitha'a -manusia tidak akan ditaklif untuk melakukan sesuatu yang tidak mungkin dilaksanakan/diluar kemampuannya. Bagi mereka yang memenuhi persyaratan ijtihad sebagaimana telah disebutkan di atas. memahami dan menggali hukum Islam yang harus diamalkannya secara langsung dari dalil atau sumbernya. Mentaklif atau mewajibkan seluruh umat manusia untuk meraih rutbatu 'l-ijtihad jelas tidak mungkin. memahami dan menggali hukum Islam dari sumber atau dalilnya secara langsung. Sebab. Dari sinilah muncul persoalan taqlid. Sebagai contoh untuk . eksistensi taqlid memang tidak mungkin dihindarkan. karena waktu dan segala konsentrasi umat manusia hanya tercurah kearah ijtihad. alhamdulillah. Memang harus kita sadari bahwa taqlid bukanlah merupakan sistem atau metode keilmuan yang baik yang digunakan seseorang untuk memperoleh ilmu. sudah banyak dilakukan oleh Komisi Fatwa MUI. TAQLID Tidak semua orang sanggup memahami hukum Islam secara langsung dari dalil atau sumbernya. Untuk mengetahui hukum Islam yang akan diamalkannya. Disamping tidak logis dan tidak realistis. 2. Karena itu pula pelaku taqlid berdosa. Ini jelas tidak rasionil. tentu mereka harus lewat perantara. yakni mengetahui. Mereka itulah para mujtahid dengan segala macam tingkatannya. Kelompok pertama sudah banyak dilakukan oleh Muhammadiyah dengan Majelis Tarjihnya.

untuk kemudian pindah ke pendapat selain imamnya/mujtahid yang diikuti. Sedangkan dalam masalah hukum ada yang bersifat qathi'iy dan ada yang bersifat dhanny. Oleh karena itu ulama telah sepakat bahwa penetapan aqidah haruslah berdasarkan nash qath'iy al-dalalah yang tidak mengandung pen-takwil-an. Syukurlah setelah gelap kini terangpun datang. Bahkan sebagian besar hukum taklifi dasarnya dhann. sehingga muncullah rasa ta'ashub madzhab/fanatik madzhab yang kadang sampai berlebih-lebihan. meski imannya dianggap sah. Kami tidak mengutus sebelum kamu seorang Nabi/Rasul yang memberi peringatan pada suatu negeri." Mengenai taqlid di bidang hukum Islam. ia tidak akan begitu mudah melepaskan diri dari ikatan itu. atau seperti binatang yang akan dijadikan dam. Apabila hal itu diketahui lewat taqlid. Disinilah antara lain perbedaan ajaran Islam yang berhubungan dengan masalah aqidah/keimanan dengan ajaran Islam yang berhubungan dengan masalah hukum.mengetahui bahwa Allah itu ada maka harus ditempuh lewat nadhar. sehingga umat Islam menjadi jumud dan Islam ketinggalan zaman. melainkan orang-orang yang hidup mewah di negeri itu berkata. PENGERTIAN TAQLID Menurut bahasa. dan kini telah mulai memancar sinar itu ke ufuk penjuru dunia Islam termasuk Negeri Pancasila tercinta ini. tanpa disadari oleh kambing yang bersangkutan. Taqlid di bidang hukum inilah yang kita maksud dan yang akan kita bicarakan dalam tulisan ini. Hal ini antara lain berkat digalakkannya studi fiqh perbandingan dan ushul fiqih perbandingan di . ia berdosa. semuanya bersifat qath'iy atau pasti benarnya. Lantaran itulah maka taqlid di bidang hukum dibenarkan. Dalam bidang aqidah/keimanan. niscaya pen-taklid-an itu justru tidak jalan. yang artinya sbb: "Dan demikianlah. khususnya fiqih. Dalam praktek memang demikian. mengingat bahwa dalam masalah hukum taklifi seseorang dibenarkan melakukan sesuatu berdasarkan dhann-nya. atau seperti kambing yang lehernya telah diikat dengan tali atau tambang yang dapat ditarik ke mana saja. "Sesungguhnya kami mendapati bapak-bapak (leluhur) kami menganut suatu agama dan sesungguhnya kami adalah pengikut jejak-jejak mereka. Kalaulah dalam masalah hukum ini semuanya harus berdasarkan dalil qath'iy. Hal inilah yang pernah melanda umat Islam termasuk umat Islam di Indonesia sampai berpuluh-puluh tahun lamanya. agama membenarkan. Taqlid di bidang aqidah inilah yang antara lain dicela al-Qur'an sebagaimana yang ditegaskan dalam QS. al-Zuhruf Ayat 23. Analisa bahasa ini menunjukkan kepada kita seolah-olah seseorang yang telah bertaqlid kepada seorang mujtahid/imam telah memberi identitas diri dengan sebuah kalung di lehernya dan ia telah mengikat dirinya dengan pendapat mujtahid/imam tersebut. dimana lehernya diberi kalung sebagai tanda. taqlid -bentuk masdar dari kata qallada berarti kalung yang dipakai/dikalungkan ke leher orang lain. Seseorang yang telah bertaqlid dengan seorang mujtahid/imam. Hanya saja tentunya kita jangan cukup puas mendudukkan diri kita pada kursi taqlid ini.

sedangkan ittiba' adalah beramal atau mengamalkan pendapat orang lain dengan mengetahui dalilnya. Seorang hakim yang memutuskan perkara berdasarkan kesaksian saksi yang adil. Demukian menurut al-Syaukany dalam Irsyad al-Fukhul. 2. b. dan ini dilakukan tanpa berdasarkan dalil. Beramal berdasarkan ayat al-Qur'an atau Hadits Nabi. (bersambung 4/4) -------------------------------------------Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah Editor: Budhy Munawar-Rachman Penerbit Yayasan Paramadina Jln. 3. (021) 7501969. yaitu sama-sama mengikuti pendapat orang lain. hanya istilah dan tingkatannya saja yang berbeda. Taqlid ialah beramal berdasarkan pendapat orang lain yang pendapatnya itu tidak merupakan salah satu dalil yang dibenarkan. Beramal berdasarkan pendapat orang lain tanpa berdasarkan dalil. Metro Pondok Indah Pondok Indah Plaza I Kav. UA 20-21 Jakarta Selatan Telp. Sebagian ulama ada yang berpendapat bahwa beramal atau mengamalkan pendapat orang lain dengan mengetahui dalilnya adalah ijtihad.perguruan-perguruan tinggi Islam. harus terus kita kembangkan. Sedangkan taqlid antara lain: menurut istilah Kondisi ada yang baik ini beberapa rumusan. Menerima pendapat orang lain dalam kondisi anda tidak mengetahui dari mana orang itu berpendapat. 7507173 Fax. Demikian menurut al-Qaffal. tapi hakikatnya sama. Taqlid ialah mengamalkan pendapat orang lain tanpa mengetahui dalilnya. Sementara pihak ada yang membedakan antara taqlid dan ittiba'. 7501983. Beramal berdasarkan ijma' c. Demikian menurut al-Kamal Ibn al-Hammam dalam al-Tahrir. Menurut hemat saya yang ada hanyalah ijtihad dan taqlid. Beberapa hal itu ialah: a. Jadi Ittiba' itu sendiri termasuk kategori taqlid. (021) 7507174 Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota Please direct any suggestion to Media Team Artikel Yayasan Paramadina Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota . Sesuai dengan pengertian taqlid di atas maka beberapa hal seperti di bawah ini tidaklah termasuk kategori taqlid. 1.

tetapi wajib berijtihad sendiri. Syafi'i dan lain-lain yang melarang taqlid. WAJIB IJTIHAD DAN HARAM TAQLID Bagi orang-orang yang memenuhi persyaratan ijtihad maka wajib bagi mereka berijtihad dan mengamalkan hasil ijtihadnya. Kalau sudah pada tempatnya untuk duduk di kursi ijtihad. Sebab tidak realistis. Diantara ulama yang mengharamkan taqlid dan mewajibkan ijtihad tanpa ada batasan-batasan tertentu ialah Ibnu Hazm dan al-Syaukany. TAQLID DAN IJTIHAD Beberapa Pengertian Dasar HARAM IJTIHAD DAN WAJIB TAQLID (4/4) Oleh KH. Sebab ada beberapa ulama yang semestinya mereka mampu berijtihad. dimana dalam keseluruhan hukum Islam. Ibrahim Hosen Bagi orang-orang yang tidak memenuhi persyaratan ijtihad baik mereka ulama maupun awam. "Allah tidak menaklif/memberi pembenahan kewajiban kepada seseorang kecuali sesuai dengan kemampuannya. "Bertanyalah kepada ulama apabila kamu tidak mengerti. Artinya.IV. tetapi nyatanya masih tetap menjadi muqallidin yang setia. sejalan dengan firman-Nya. Tidak dibenarkan/haram baginya bertaqlid atau mengikuti pendapat mujtahid yang lain. yaitu: 1. Sebab ijtihad yang dilakukannya justru akan membawa pada kesesatan. Demikian juga harus kita usahakan. mayoritas umat Islam dari kalangan awam. Taqlid secara total/murni (taqlid al-mahdli). Ini sangat berbahaya. seperti taqlid yang dilakukan oleh kebanyakan orang awam. Kearah inilah harus kita fahami ucapan imam-imam mujtahid kenamaan seperti Hanafi. haram bagi mereka berijtihad. bagi yang mampu berijtihad sendiri karena telah memenuhi persyaratannya janganlah mengikuti atau bertaqlid kepada mujtahid yang lain. yang artinya. TINGKATAN TAQLID/MUQALLID Sebagaimana halnya ijtihad/mujtahid yang bertingkat-tingkat. . demikian juga taqlid/muqallid yang terdiri dari beberapa tingkatan. jangan sampai terjadi adanya "man laisa lahu ahlun li 'l-ijtihad" memberanikan diri untuk berijtihad. mereka mengikuti pendapat imam mujtahid." Orang-orang yang tidak memenuhi persyaratan ijtihad semacam itu wajib mengikuti pendapat imam mujtahid yang mu'tabar atau istifta'/meminta penjelasan hukum kepada ahl al-dzikr. Bagi kita yang harus kita tempuh ialah mengusahakan bagaimana agar lahirnya ulama-ulama yang ahlu li 'l-ijtihad dapat diperbanyak.24. Kenyataan menunjukkan bahwa sejak dahulu sampai saat sekarang dan akan berlanjut terus sampai akhir zaman nanti." (QS. janganlah menduduki bangku taqlid. Dan Allah berfirman. al-Nahl: 43). Yang awam ini jelas tidak mungkin untuk dipaksakan harus mengupayakan dirinya menjadi mujtahid. Dengan demikian tidak benar jika kita mengatakan bahwa ijtihad itu wajib dan taqlid itu haram secara mutlaq/tanpa ada batasan.

2. bidang tarjih. Pendapat ini memperbolehkan talfiq sekalipun dimaksudkan untuk tujuan mencari keringanan tersebut. Ushuliyyin berbeda pendapat mengenai boleh dan tidaknya seseorang ber-talfiq. Pendapat ini tidak membenarkan talfiq. tetapi dilihat dari sisi lain. Baginya tidak boleh pindah ke madzhab lain baik secara keseluruhan maupun sebagian (talfiq). ataukah ia tidak terikat dengan arti boleh baginya mengikuti atau pindah ke madzhab lain? Dalam hal ini ada tiga pendapat: 1. apakah ia harus terikat dengan madzhab tersebut yang berarti ia tidak dibenarkan mengikuti atau pindah ke madzhab lain. Pendapat pertama ini dipelopori oleh Imam Qaffal. yang di zaman partai-partai Islam masih ada. 3. Apabila seseorang telah mengikuti salah satu mazhab maka ia harus terikat dengan madzhab tersebut. apabila seseorang telah mengikuti/bertaqlid dengan salah satu mazhab. seperti yang dilakukan para ulama yang mampu berijtihad dalam bidang madzhab. Taqlid dalam bidang-bidang hukum tertentu saja. MASALAH TALFIQ Berbicara masalah taqlid. rasanya tidak lengkap kalau kita tidak menyinggung masalah talfiq. dengan ketentuan tidak terjadi dalam kesatuan qadliyah yang menurut imam pertama dan imam kedua sama-sama dianggap batal.2. selama tidak terjadi dalam kasus hukum (dalam kesatuan qadliyah) dimana imam yang pertama dan imam yang kedua atau imam yang sekarang diikuti sama-sama menganggap batal. Tidak ada larangan bagi seseorang untuk berpindah madzhab. mereka dianggap sebagai mujtahid. Seorang yang telah memilih salah satu madzhab boleh saja pindah ke madzhab lain. mereka termasuk muqallid. 3. sekalipun dimaksudkan untuk mencari keringanan. Menurut definisinya. Pendapat kedua ini membenarkan talfiq sekalipun dimaksudkan untuk mencari kemudahan. walaupun dengan motivasi mencari kemudahan. seperti yang dilakukan oleh mujtahid muntasib. Golongan ini dipelopori olah al-Qarafi. Taqlid dalam hal kaidah-kaidah istinbath. Pendapat ini rupanya yang banyak memasyarakat di Indonesia. Pendapat ketiga ini dipelopori oleh Al-Kamal Ibnu Hammam. Perbedaan ini bersumber dari masalah boleh dan tidaknya seseorang pindah mazhab. dan bidang fatwa. talfiq ialah beramal dalam suatu masalah/qadliyah atas dasar hukum yang terdiri dari kumpulan/gabungan dua mazhab atau lebih. Artinya. sempat dipolitisir dan eksploitir. Dengan demikian dilihat dari satu segi. Dari segi dalil maupun kemaslahatan diantara ketiga pendapat di atas menurut hemat saya yang paling kuat adalah pendapat Al-Kamal Ibnu Hammam dengan alasan antara lain: .

Kesimpulan Dari beberapa uraian di atas kesimpulan sebagai berikut: ingin saya ambil beberapa 1. Hadits Nabi yang menyatakan bahwa Rasulullah tidak pernah disuruh memilih sesuatu kecuali akan memilih yang paling mudah. sebab Qadli tadi berpegang dengan pendapat madzhab Maliki dan Hanafi yang tidak memandang persoalan mathla'. 2. kemudian Qadli Syafi'i menetapkan bahwa ru'yah tersebut berlaku pada seluruh wilayah kekuasaannya. Ijtihad baru akan berfungsi dan berdayaguna sebagaimana . Kaidah yang berbunyi. Membuat undang-undang perkawinan dimana akad nikahnya harus dengan wali dan saksi karena mengikuti madzhab Syafi'i. Ijtihad merupakan sarana yang paling efektif untuk mendukung tetap tegak dan eksisnya hukum Islam serta menjadikannya sebagai tatanan hidup yang up to date yang sanggup menjawab tantangan zaman (shalihun li kulli zaman wa makan). Terjadi ru'yah yang mu'tabarah pada suatu tempat. Hal ini sejalan dengan kaidah. Yang ada adalah perintah untuk bertanya kepada ulama tanpa ditentukan ulama yang mana dan siapa orangnya (QS. kemudian ia bershalat dengan menghadap kiblat dengan posisi sebagaimana ditentukan oleh madzhab Hanafi. ia terus bershalat dengan mengikuti madzhab Hanafi yang mengatakan bahwa sentuhan tersebut tidak membatalkan wudlu. 2. Tidak punya mazhab artinya tidak terikat. kemudian ia bersentuhan kulit dengan ajnabiyah. mengenai sah jatuhnya thalaq raj'i mengikuti madzhab Hanafi yang memandang sah ruju' bi 'l-fi'li (langsung bersetubuh).1. Hanya saja dalam hal-hal yang menyangkut kemasyarakatan maka yang berlaku adalah mazhab pemerintah atau pendapat yang diundangkan pemerintah lewat perundang-undangan. 3. 1. Hal ini dimaksudkan untuk keseragaman dan menghindarkan adanya kesimpang-siuran. b. 2. Tidak ada nash agama baik dari al-Qur'an maupun Sunnah yang mewajibkan seseorang harus terikat dengan salah satu mazhab saja. "Keputusan pemerintah mengikat atau wajib dipatuhi dan akan menyelesaikan persengketaan. selama tidak membawa ke dosa. al-Nahl: 43). 2. "al-ami la madzhaba lahu" -orang awam tidak punya mazhab. Seseorang berwudlu menurut madzhab Syafi'i yang menyapu kurang dari seperempat kepala. Seseorang berwudlu mengikuti tata cara Syafi'i. Dalam Ibadat. Masalah Kemasyarakatan 1." Contoh Talfiq a.

10. Untuk menggalakkan ijtihad guna menjadikan hukum Islam ini dinamis dan lincah perlu digalakkan studi fiqih perbandingan dan ushul fiqih perbandingan di lembaga-lembaga pendidikan Islam. 8. 8. Minhaju 'l-Ushul Al-Asnawi. 3. 7. 17. 18. Perbedaan yang ditolerir oleh Islam yang dinyatakan akan membawa rahmat/kelapangan adalah perbedaan di bidang hukum furu'/fiqih sebagai akibat dari adanya perbedaan ijtihad. al-Musthafa Fakhruddin al-Razi. 4. 2. 6. Taisirut-Tahrir Al-Syaukani. Na'udzu bi 'l-Lah. 10. al-Manar Al-Baghdadi. Ijtihad sepanjang pengertian ushuliyyin hanyalah berlaku di dunia hukum.Marilah kita menjadi mujtahid yang benar atau muqallid yang baik yang mempunyai komitmen yang utuh terhadap ajaran agama Islam. 9. 9. Irsyadu 'l-Fukhul Muhibbu 'l-Lah "Abdus-Syakur. 3. Ijtihad yang saat ini benar-benar masih dapat kita lakukan ialah ijtihad di bidang tarjih dan ijtihad dalam kasus-kasus tertentu yang belum pernah diijtihadi dibahas oleh imam-imam mujtahid terdahulu. khususnya perguruan tinggi. Ijtihad akan membawa kejayaan bagi Islam dan umatnya. al-Tahrõr Muhammad bin Amir al-Halabi. 16. Badi'un-Nidham Shadrus-Syari'ah Al-Bukhari. 4.disebutkan pada Butir pertama jika ijtihad dilakukan para ahlinya (mereka yang memenuhi persyaratan dan dilakukan pada tempatnya sesuai dengan ketentuan yang telah diakui kebenaran dan kesalahannya). 7. Al-Syafi'i. Jam'ul Jawami' Ushulus-Sarkhasi Ushulul-Bazdawi Al-Nasafi. 6. Ijtihad dapat kita jadikan alat untuk menjawab perlu dan tidaknya reaktualisasi hukum Islam dan hal itu hanya memenuhi persyaratan ijtihad. 13. Inkamu 'l-Ihkam Al-Baidlawi. 5. Ranqikhu 'l-Ushul Al-Kamal Ibnul-Hammam. 14. al-Risalah Muhammad bin 'Ali al-Bashri. apabila hal itu dilakukan oleh yang memenuhi persyaratan dan dilakukan di tempat-tempat yang diperbolehkan memainkan peranan ijtihad. Nihayatu 'l-Sul Al-Subki." Musallamu 'l-Tsubur . al-Burhan Al-Ghazali. 12. 15. Keduanya ini dapat kita lakukan secara perorangan (ijtihad fardy) atau secara kolektif (ijtihad jamma'iy). 11. 5. al-Mahshul Al-Amidi. DAFTAR KEPUSTAKAAN 1. al-Mu'tamad Al-Juwaini. Ijtihad yang dilakukan oleh yang bukan ahlinya/yang tidak memenuhi persyaratan atau dilakukan tidak pada tempatnya justru akan membawa kehancuran Islam dan bencana serta malapetaka bagi umatnya. Tanpa itu hanya omong kosong.

Al-Bukhari mencatat perdebatan Abdullah bin Mas'ud dengan Abu Musa al-Asy'ari tentang kasus ini pada hadits No. "Ya Amir al-Mu'minin. sehingga aku tidak bersalah. "Wa hadza madzab masyhur 'an 'Umar." kata Ibn Hajar.22. UA 20-21 Jakarta Selatan Telp. FIQH AL-KHULAFA' AL-RASYIDIN: FIQH PENGUASA Seorang laki-laki datang menemui 'Umar bin Khathab: "Saya dalam keadaan junub dan tidak ada air." Mendengar demikian Umar menegur 'Ammar: "Ya Ammar. A'lamu 'l-Muwaqq'in -------------------------------------------Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah Editor: Budhy Munawar-Rachman Penerbit Yayasan Paramadina Jln. dan menahan diriku. cukuplah bagi kamu berbuat demikian. 7501983." [1] "Yang dimaksud Ammar. takutlah pada Allah"." Sejak itu. 'Umar menjawab. tidak perlu shalat. Metro Pondok Indah Pondok Indah Plaza I Kav. jika engkau inginkan. 7507173 Fax. Kita dalam keadaan junub. aku sudah menyampaikannya. Engkau tidak shalat.orang junub. Aku sampaikan kejadian ini kepada Rasulullah saw. bila tidak ada air. aku tidak akan menceritakan hadits ini selama engkau hidup." Maksud kedatangannya untuk menanyakan apakah ia harus shalat atau tidak. al-Muwafaqat 20. sedangkan aku berguling-guling di atas tanah." kata Ibn Hajar. 'Umar tetap berpegang teguh pada pendapatnya -. [2] "Aku melihat memang lebih baik tidak meriwayatkan hadits ini ketimbang meriwayatkannya Aku setuju denganmu. Semua sahabat menolak pendapat Umar. kecuali Abdullah bin Mas'ud." 'Ammar bin Yasir berkata pada 'Umar bin Khathab: "Tidakkah Anda ingat. Toh.dengan mengutip ayat ("jika kalian tak mendapatkan air hendaklah tayamum dengan tanah yang baik"). al-Syathibi. Menarik untuk dicatat bahwa kelak . Abu Musa menentang pendapat Abdullah --sekaligus madzhab Umar-.19. Kata Ammar. Dulu --engkau dan aku-. 247. Ibnul Qayyim. (021) 7501969. "Jangan shalat sampai engkau mendapatkan air.pernah berada dalam perjalanan. 'Ammar tidak meriwayatkan peristiwa itu lagi. (021) 7507174 Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota Please direct any suggestion to Media Team Artikel Yayasan Paramadina Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota IV. TINJAUAN KRITIS ATAS SEJARAH FIQH (1/10) Dari Fiqh Al-Khulafa' Al-Rasyidin Hingga Madzhab Liberalisme oleh Jalaluddin Rakhmat 1. Dan Nabi berkata.

Tentang hal ini. URGENSI FIQH SAHABAT Fiqh shahabi memperoleh kedudukan yang sangat penting dalam khazanah pemikiran Islam. saya akan menjelaskan sebab-musabab timbulnya ikhtilaf fiqh di antara para sahabat. Pertama. dan bentuk ra'yu-nya bermacam-macam. ada yang berijtihad dengan qiyas seperti Abdullah bin Mas'ud. Dan para sahabat merespon situasi ini dengan mengembangkan fiqh (pemahaman) mereka. bila tidak ada nash. Saya akan memulai makalah ini dengan membahas urgensi fiqh sahabat dalam keseluruhan pemikiran fiqhiyah. dan contoh-contoh fiqh al-khulafa al-rasyidin. Madzhab sahabat pun menjadi hujjah. 'Umar menghendaki pembakuan paham dan mengeliminasi pendapat yang berlainan.akhirnya menjadi salah satu sumber hukum Islam di samping istihsan. pada zaman sahabat rujukan itu adalah diri sendiri. zaman sahabat adalah zaman segera setelah berakhirnya masa tasyri'. terlihat ada sikap hiperkritis dalam menerima atau menyampaikan riwayat Dan keempat. Pertama. Setelah itu. yang nanti diformulasikan dalam kaidah-kaidah ushul fiqh. ijtihad para sahabat menjadi rujukan yang harus diamalkan. mashalih mursalah dan sebagainya. Sebagian menganggaprlya sebagai hujjah mutlak. madzhab sahabat --sebagai ucapan dan perilaku yang keluar dari para sahabat-.dengan merujuk mazhab 'Umar. "Sunnah sahabat r." Dalam perkembangan ilmu fiqh. Al-Syathibi [5] menulis. ada pula yang berijtihad dengan ra'yu bila tidak ada nash. ayat yang sama. Ketiga. ulama berbeda pendapat.a. perluasan kekuasaan Islam dan interaksi antara Islam dengan peradaban-peradaban lain menimbulkan masalah-masalah baru. dan tidak melewatinya. dari mereka juga kita mewarisi ikhtilaf di kalangan kaum Muslim. mazhab Hanafi melanjutkan Lebih menarik lagi untuk kita catat adalah beberapa pelajaran dari riwayat di atas. al-hukm. Inilah embrio ilmu fiqh yang pertama.adalah orang yang berjumpa dengan Rasulullah saw dan meninggal dunia sebagai orang Islam. zaman sahabat juga melahirkan prinsip-prinsip umum dalam mengambil keputusan hukum (istinbath. qiyas. Abu Zahrah menulis: [4] Di antara sahabat ada yang berijtihad dalam batas-batas al-Kitab dan al-Sunnah. adalah sunnah yang harus diamalkan dan dijadikan rujukan. sahabat --sebagaimana didefinisikan ahli hadits-. memang terjadi perbedaan paham di antara sahabat dalam masalah fiqhiyah Kedua. Dengan demikian. perbedaan di antara para sahabat berpengaruh besar pada ikhtilaf kaum Muslim pada abad-abad berikutnya Karena itu membicarakan fiqh para sahabat menjadi sangat penting sebagai pijakan bagi pembahasan masalah fiqh mutakhir. dan ada yang berijtihad dengan metode mashlahat. karena itu.). lewat kekuasaan. Bila pada zaman tasyri' orang memverifikasi pemahaman agamanya atau mengakhiri perbedaan pendapat dengan merujuk pada Rasulullah. Kedua. Sementara itu. sebagian lainnya hanya . Ketiga. Ketika menceritakan ijtihad pada zaman sahabat. sebagian lagi sebagai hujjah bila bertentangan dengan qiyas. [3] Dari makalah kita mengenal sunnah Rasulullah. karakteristik fiqh sahabat. perilaku mereka menjadi sunnah yang diikuti.

Mereka dibersikkan dari keraguan. Bila mereka sepakat. Semua Khalifah al-Rasyidin termasuk kelompok kedua. Kelompok ini tidak mengalami kesulitan dalam masa berhentinya wahyu. Mereka akhirnya menggunakan metode-metode ijtidah seperti qiyas atau istihsan. menurut nash dari Rasul. kekeliruan. dipersalahkan. Karena posisi sahabat begitu istimewa. Sementara itu. kecuali Ali bin Abi Thalib. karena mereka tahu betul --tugas mereka adalah mengacu pada Ma'shumun. Hanya merekalah. Allah memuliakan mereka dengan karunia-Nya menempatkan kedudukan mereka pada tempat ikutan. dusta. pemimpin-pemimpin hidayah. atau dinilai sebagaimana perawi hadits lain. yang harus dirujuk untuk menyelesaikan masalah-masalah dan menetapkan hukum-hukum Allah. Kelompok kedua memandang tidak ada orang tertentu yang ditunjuk rasul untuk menafsirkan dan menetapkan perintah Ilahi. [8] Kelompok pertama memandang bahwa otoritas untuk menetapkan hukum-hukum Tuhan dan menjelaskan makna al-Qur'an setelah Rasulullah wafat dipegang ahl al-Bait. mereka adalah orang-orang yang menyaksikan turunnya wahyu. memenangkan ke benarannya. Merekalah 'udul al-ummah. Tentu saja. dan celaan. Mereka tak boleh dikritik. dan sebagian yang lain.. berdasarkan hadits ("berpeganglah pada dua orang sesudahku.. Al-Qur'an dan al-Sunnah adalah sumber untuk menarik hukum-hukum berkenaan dengan masalah-masalah yang timbul di masyarakat. Lalu mengapa mereka ikhtilaf? PENYEBAB IKHTILAF DI KALANGAN SAHABAT Salah satu sebab utama ikhtilaf di antara para sahabat adalah prosedur penetapan hukum untuk masalah-masalah baru yang tidak terjadi pada zaman Rasulullah saw. setelah Rasulullah wafat. berpendapat bahwa yang menjadi hujjah hanyalah kesepakatan khulafa' al-Rasyidin.. yang dipilih Allah untuk. karena banyak hal tak terjawab oleh nash. Menghadapi masalah-masalah baru itu. Kelompok ini --kelak disebut Ahl al-Sunnah-ternyata tidak mudah mengambil hukum dari nash. Abu Hatim al-Razi dalam pengantar kitabnya menulis: [7] Adapun sahabat Rasulullah saw. ahl al-Sunnah sepakat menetapkan bahwa seluruh sallabat adalah baik (al-shahabiy kulluhum 'udul). Imam ahli jarh dan ta'dil. dan pembawa al-Qur'an dan al-'Sunnah. menegakkan agamanya. yakni Abu Bakar dan Umar"). maka tidak mengherankan bila mazhab sahabat menjadi rujukan penting bagi perkembangan fiqh Islam sepanjang sejarah. pendapat mereka dapat membantu memecahkan masalah fiqh. mazhab sahabat menimbulkan kemusykilan yang sulit diatasi. di antara para sahabat itu yang paling penting adalah khulafa al-rasyidun.menganggap hujjah pada pendapat Abu Bakar dan Umar saja.. bila mereka ikhtilaf. [6] Terakhir keempat. untuk menolongnya. hujjah agama. mengetahui tafsir dar ta'wil. muncul dua pandangan.menemani Nabi-Nya. putuslah masa tasyi'. ini yang terpenting. keraguan kesombongan. menurut kesepakatan ahl al-sunnah. Kelompok kedua lebih banyak menggunakan . Allah menamai mereka sebagai 'udul al-ummah (umat yang paling bersih).

Tetapi Umar kemudian dikoreksi Ubayy bin Ka'ab. Ketika Utsman juga melarangnya. yang mengambil sunnah dari Nabi dan meriwayatkannya. Siapa yang mau boleh menjalankannya. [9] Setelah perdebatan ini. Ia memarahi orang itu. ketika saya hadir Anda tidak ada. Demi Allah Ya Umar. dan engkau sendiri melakukannya. Umar pernah menegur orang yang dikiranya salah ketika membaca QS al-Fath: 26. Umar menetapkan thalaq tiga itu jatuh tiga sekaligus. Sebagian sahabat. Rasulullah saw. [15] Kadang-kadang ikhtilaf terjadi di antara para sahabat karena perbedaan pengetahuan yang mereka miiiki. Yang hadir waktu itu dapat menyimpan peristiwa itu. wanita Nashrani. Zaid ibn Tsabit mengartikannya masa bersuci di antara haidh dengan haidh lagi. Rasulullah saw. berbeda-beda dalam kemampuan pengambilannya dan dalam menerima riwayatnya. karena itu Ibn Umar mengharamkan wanita ahli kitab dinikahi laki-laki Muslim. [16] Al-Syaikh Muhammad Muhammad al-Madany menjelaskan sebab ikhtilaf yang berkenaan dengan sunnah: [17] salah satu Sahabat Rasulullah saw. [10] Contoh lainnya adalah hukuman dera bagi peminum khamr. Ali membebaskan hukum itu berdasarkan hadits. Kata Utsman: Aku melarang manusia melakukan tamattu.ra'yu. Ali kembali menderanya 40 kali. Utsman berkata: Sesungguhnya laranganku itu hanya ra'yuku saja. bertebaranlah sahabat di . wafat. Abdullah bin Mas'ud dan Umar mengartikan "quru" itu haidh. sebagian lain tidak mengetahuinya. ketika ia membaca ayat itu. dan kelompok pertama lebih banyak merujuk nash.. Umar pernah melarang hajji tamattu'. [13] Bila contoh-contoh tadi berkenaan dengan perbedaan antara ketetapan nash dengan ra'yu. melakukan atau tidak melakukan sesuatu. Ali secara demonstratif melakukannya di depan Utsman. [12] Begitu pula Ali. yang tidak hadir tentu tidak mengetahuinya. Ia menghukum dengan hukum tertentu memerintahkan atau melarang sesuatu.. contoh-contoh berikut menunjukkan perbedaan memahami nash. karena ia menikah dengan Nailah. Rasulullah saw. hanya karena pendapat seseorang. kelompok pertama dalil naqli. Umar memutuskan hukuman rajam bagi orang gila yang berzina. sesungguhnya Anda tahu. Ali menjawab: Aku tak akan meninggalkan sunnah Rasulullah saw. [14] Ibn Umar menafsirkan "al-muhshanat dalam ayat wa al muhshanat min alladzina utu al-kitab sebagai wanita Muslim. ditanya tentang suatu masalah. padahal al-Qur'an dan al-Sunnah sangat tegas menetapkannya. Engkau sendiri berada di pintu. menderanya 40 kali. Kata Ubayy Anda tahu saya berada di dalam beserta Rasulullah saw. ketika saya diundang. Kata quru dalam wal muthalaqatu yatarabbashna bi anfusihim tsalatsatu quru' diartikan berbeda-beda. menurut riwayat lain dari Abdullah bin Zubair. [11] Umar --atas saran Abd al-Rahman bin Auf menderanya 80 kali. Anda tidak. dan Thalhah menikahi wanita Yahudi dari Syam. Ibn 'Abbas menganggap ayat itu sebagai pengecualian (takhshish) dari ayat wa la tankihu al-musyrikat hatta yu'minna. siapa yang tak mau boleh meninggalkannya.. misalnya. Utsman tampaknya sependapat dengan Ibn 'Abbas. mengetahui nash tertentu. menetapkan thalaq tiga dalam satu majlis itu dihitung satu. Kelompok kedua banyak menggunakan dalil aqly. Ketika Rasulullah saw.

Ya Amir al-Mu'minin: "tidak ada orang yang lebih tahu dalam hal ini kecuali isteri Rasulullah saw.dan Abi Ayyub dari Ubbay bin Ka'ab. mengetahuinya?" Kata Rafa'ah: "Tidak tahu. Abu Hurairah tidak mengetahuinya walaupun mereka penduduk Madinah. ikhtilaf para sahabat ini menjadi sumber perpecahan." [18] Dalam kasus yang baru kita ceritakan. ikhtilaf ini adalah assets bagi perkembangan pemikiran. Ini semua terjadi dalam hadits.bila kalian bercampur dengan isteri kalian dan tidak keluar air mani kalian mandi?" Kata Rafa'ah: "Kami melakukan begitu pada zaman Rasulullah saw.negeri-negeri. Tetapi aku mendengar hadits dari paman-pamanku. orang Syam hadir di tempat yang tidak dihadiri orang Basrah. Kata Umar: "Panggil Rafa'ah bin Rafi'." Kata Umar: "Bila ada lagi orang berfatwa bahwa tidak wajib mandi kalau tidak keluar. lalu bermusyawarah. Semua orang berkata tidak perlu mandi. aku dengar kau berfatwa pada manusia dengan ra'yumu sendiri? Kata Zaid: "Ya Amir al-Mu'minin." Kata Umar: "Kalian sahabat-sahabat yang ikut Badr sudah ikhtilaf. wajib mandi. Aku tidak melakukan itu. orang Kufah hadir di tempat yang tidak dihadiri orang Madinah. Buat orang yang berjiwa terbuka." dari Rifa'ah bin Rafi'. orang Basrah menghadiri tempat yang tidak dihadiri orang Syam. Setiap orang hanya mcngetahui apa yang ia saksikan. ikhtilaf di antara para sahabat itu dibiarkan dan diwariskan kepada generasi berikutnya. Ibn 'Umar. 'Umar bin Abd . sedangkan sebagian lagi hadir.. Ali Hudzaifah al-Yamani dan lain-lain mengetahui hukum mengusap tetapi 'Aisyah. 'Aisyah ditanya. Marilah kita berikan satu contoh lagi yang lebih ilustratif. Anak perempuan dari anak beserta anak perempuan mendapat waris diketahui Ibn Mas'ud tetapi tidak diketahui Abu Musa. lalu aku sampaikan -. Tidak turun ayat yang mengharamkan. Padahal --seperti telah kita jelaskan--sebagian sahabat pada sebagian waktu tidak hadir di majelis Rasulullah saw. Ini jelas menurut akal. walau pun tidak menemukan air selama dua bulan. ini Zaid bin Tsabit berfatwa di masjid dengan ra'yunya berkenaan dengan mandi janabah. Dalam kasus-kasus yang lain. Berkata Ibn Hazm: "Orang Madinah hadir pada tempat yang tidak dihadiri orang Basrah. apalagi orang-orang setelah kalian!" Kata Ali. sehingga mereka berkata: Orang junub tidak tayamum. Buat orang-orang sektarian." Lalu Umar mengumpulkan Muhajirin dan Anshar. kecuali Ali dan Mu'adz. Umar dan Ibn Mas'ud tidak mengetahuinya. masuklah seorang laki-laki: "Ya Amir al-Mu'minin." Kata Umar: "Panggil dia!" Zaid pun datang dan Umar berkata: "Hai musuh dirinya sendiri!. Ketika orang sedang berkumpul di hadapan Umar bin Khathab. Ia mengutus orang bertanya pada Hafshah." Kata Umar: "Apakah Rasulullah saw. Kata 'Aisyah: "Bila khitan sudah bertemu khitan. Tidak juga ada larangan dari Rasulullah saw. dan pada saat kita memerlukan informasi. Ia berkata: "Apakah kalian berbuat demikian . Hafshah tidak tahu. dan setiap penduduk negeri mengambil dari sahabat yang ada di negeri mereka. 'Amar dan yang lain mengetahui tentang tayamum. Keduanya berkata: "Jika kedua khitan bertemu. ikhtilaf di antara para sahabat dapat diselesaikan oleh khalifah. orang Basrah menghadiri yang tidak dihadiri orang Kufah. dan tidak mengetahui apa yang tidak ia hadiri. aku akan pukul dia. Khalifah bahkan menetapkan sangsi bagi orang yang mempunyai pendapat berbeda. wajib mandi.

. Metro Pondok Indah Pondok Indah Plaza I Kav. berkata: "Aku tidak senang kalau sahabat Nabi tidak ikhtilaf. karena bila mereka tidak membukanya. Seandainya pendapat mereka itu tunggal. para mujtahid berada dalam kesempitan. fiqh mereka ini hanya terbatas pada qiyas. Mereka boleh ikhtilaf. jadilah itu sunnah. ada dua cara yang dilakukan para sahabat. Lagi pula.Madzhab 'Alawi dan Madzhab 'Umari yang akhirnya mewariskan kepada kita sekarang sebagai Syi'ah dan ahli Sunnah. ia membuka umat untuk memasuki Rahmat-Nya. sempitlah manusia dibuatnya. menurut mereka. mereka membuka pintu ijtihad bagi manusia. b) qiyas pada nash atau pada ijma'. tapi akan memutuskan perhatian pada metode ijtihad kelompok sahabat yang tak merujuk ahl al-Bait. UA 20-21 Jakarta Selatan Telp. Ah al-Bait memiliki kema'shuman berdasarkan nash al-Qur'an dan al-Sunnah. Muhammad Ali al-Sais menyebutkan bahwa ijtihad sahabat itu meliputi qiyas. Menurut Muhammad al-Khudlari Bek. Mereka berpendapat bahwa ada dua nash yang dengan tegas menyuruh kaum Muslim berpegang teguh pada pimpinan ahl-al-Bait. saya tak akan membicarakan kelompok sahabat ini. Kedua cara ini melahirkan dua mazhab besar di kalangan sahabat -.merujuk pada ahl al-Bait dalam menghadapi masalah-masalah baru. Mereka adalah teladan yang diikuti. [30] Pada bagian ini. Para sahabat -seperti Miqdad." [19] -------------------------------------------. Jika kita mengambil dari siapa saja di antara mereka. 'Ammar bin Yasir. pendapat seseorang menjadi hujjah bila orang itu ma'shum. 7507173 Fax. dan ijtihad dengan ra'yu seperti al-Mashalih al-Mursalah dan istihsan. (021) 7501969. Abu Dzar. Dengan begitu. Artinya. 7501983. dari segi prosedur penetapan hukum. Hudzaifah dan sebagian besar Bani Hasyim -. Menurut Muhammad Salim Madkur. TINJAUAN KRITIS ATAS SEJARAH FIQH (2/10) Dari Fiqh Al-Khulafa' Al-Rasyidin Hingga Madzhab Liberalisme oleh Jalaluddin Rakhmat KARAKTERISTIK FIQH SAHABAT Seperti telah disebutkan di muka. tokoh ukhuwah Islamiyah yang menghentikan kutukan pada Ali di mimbar. ijtihad mereka menggunakan tiga metode: a) menjelaskan dan menafsirkan nash.al-'Aziz. (021) 7507174 Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota Please direct any suggestion to Media Team Artikel Yayasan Paramadina Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota IV.22.(bersambung 2/10) Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah Editor: Budhy Munawar-Rachman Penerbit Yayasan Paramadina Jln. Allah memberikan keluasan pada umat dengan adanya ikhtilaf furu'i di antara mereka.

[28] Karakteristik kedua dari ijtihad sahabat. Dalam beberapa kasus. al-baraah al-ashliyah. Tidak layak di hadapanku bertengkar. dan c) mencapai kesepakatan lewat proses perkembangan opini publik yang alamiah. Pada suatu pagi. Mereka tenggelam dalam tulisan mereka dan meninggalkan Kitab Allah. aku tuliskan bagimu tulisan yang tidak akan menyesatkanmu selama-lamanya. Cukuplah bagimu Kitab Allah. yang kalian pertengkarkan. dan Abu Mas'ud al-Anshari. berkata: "Pergilah kamu semua dari aku. Jika ada yang bertanya kepada kalian. Abu Darda. jawablah -. Nabi saw." Terjadi ikhtilaf di antara orang-orang di rumah itu. [21] Menurut pendapat saya.Di antara Anda dan kami ada Kitab Allah. berkumpul orang-orang. Di antara mereka ada yang mengikuti ucapan Umar. penulisan hadits terlambat sampai abad 8 M. "Aku membawanya. Di bawah ini saya kutipkan berbagai riwayat berkenaan dengan sikap Khulafa al-Rasyidin pada Hadits (sunnah): 1) Dari Ibn Abbas: ketika Nabi menjelang wafat. Pada tahap pertama. ada tiga tahap dalam ijtihad para sahabat: a) merujuk pada nash al-Qur'an dan al-Sunnah b) menggunakan metode-metode ijtihad seperti qiyas. bila tidak ada nash. al-mashalih al-mursalah. di antaranya Umar bin Khathab. sadd al-dzara'i. Umar ingin menuliskan sunnah-sunnah Rasulullah saw. menggunakan qiyas atau pertimbangan kepentingan umum. Nabi berkata: "Bawalah ke sini. Janganlah meriwayatkan satu Hadits pun dari Rasulullah saw." [23] al-Dzahabi meriwayatkan bahwa Abu Bakar mengumpulkan orang setelah Nabi wafat dan berkata./2 H.. Padamu ada Kitab Allah. di rumah Rasulullah saw. [25] Umar kemudian mengumpulkan hadits-hadits itu dan membakarnya. Umar ibn Abd al-Aziz (meninggal 719/101) adalah orang yang pertama menginstruksikan penulisan hadits. Ia memikirkannya selama satu bulan. tampaknya lebih memusatkan perhatian pada ayat-ayat al-Qur'an (atau ruh ajaran al-Qur'an) dengan agak mengabaikan (kadang-kadang menafikan hadits). walaupun ada nash sharih . "Aku takut jika aku mati aku masih meninggalkan hadits-hadits ini bersamamu. Ia membakar dan berkata. para Khulafa al-Rasyidin selain Ali. Nanti orang-orang setelah kalian akan lebih bertikai lagi. bahkan pertimbangan kepentingan umum (maslahat) didahulukan dari nash. "Kalian meriwayatkan hadits Rasulullah saw. ia memutuskan dan menyatakan: "Aku teringat orang-orang sebelum kalian. halalkanlah apa yang dihalalkannya. bila nash tidak ada atau tidak diketahui. dan haramkanlah apa yang diharamkannya" [24] 3) Al-Zuhri meriwayatkan." [22] 2) 'Aisyah meriwayatkan: Ayahku telah mengumpulkan 500 hadits Rasulullah saw. Pada suatu pagi ia datang padaku dan berkata: "Bawalah hadits-hadits yang ada padamu itu. [26] Ia juga menetapkan tahanan rumah pada tiga sahabat yang banyak meriwayatkan hadits: Ibn Mas'ud. mengharapkan bimbingan Allah dalam hal ini." [27] Tradisi pelarangan hadits ini dilanjutkan para tabi'in. Ketika terjadi banyak pertengkaran dan ikhtilaf.istihsan." Umar berkata: "Nabi sedang dikuasai penyakitnya. Menurut satu riwayat. sehingga di kalangan ahl al-sunnah.

Umar melarangnya. Ali bin Abi Thalib mengharamkannya. dengan itu. yang menunjang kaidah hukum berubah karena perubahan zaman ialah jatuhnya thalaq tiga dengan satu kalimat..(tegas) yang bertentangan contoh-contohnya. [30] 3. Abu Bakar menyuruh Tharifah bin Hajiz untuk membawanya ke Madinah. Umar merobek surat itu dan berkata.. tapi menyalurkan hak itu fi sabilillah. "Mereka kembali pada Abu Bakar dan berkata. Abu Bakar memberinya bekal. thalaq tiga pada sekali ucapan dijadikan satu seperti hadits shahih dari Ibn 'Abbas. "Ia. [36] d) membolehkan tidak mandi bagi yang bercampur dengan isterinya tanpa mengeluarkan mani. Ini adalah prinsip taghayyarat bihi al-fatwa litaghayyur al-zaman. "Adakah khalifah itu atau dia? "Abu Bakar menjawab. [39] . Umar melihat ini untuk kemashlahatan umat di zamannya. Amir al-Mu'minin Umar bin Khathab melihat orang telah melecehkan urusan thalaq. Ketika talaq tiga dalam satu majelis dihitung satu menurut Sunnah dan ijma. [32] 5. Abu Bakar menghukumnya dengan membakarnya hidup-hidup. Umar datang dan berkata.a. khalifah yang berhak mengatur pembagian khumus. Khalid Muhammad Khalid menulis tentang ijtihad Umar dalam al-Dimuqrathiyyah: Umar bin Khattab telah meninggalkan nash-nash agama yang Suci dari al-Qur'an dan al-Sunnah ketika dituntut kemaslahatan untuk itu. Al-Fujaah ternyata menggunakan fasilitas Abu Bakar ini untuk merampok. [31] 4. Mereka berpendapat. Berikut ini 1. Umar ingin menghukum keteledoran ini. [33] Utsman juga melakukan banyak "pembaharuan" dalam fiqh Islam: a) mengitmamkan shalat dalam keadaan safat di Mina. Utsman bin Affan membolehkan "menikahi" dua orang wanita bersaudara dari antara budak belian sekaligus." [29] 2. mereka datang kepada Umar. [38] f) mendahulukan khotbah sebelum shalat pada shalat 'id. "Kami tidak memerlukan kalian lagi. sehingga sahabat menahan dirinya untuk tidak mudah menjatuhkan thalaq. insya Allah. setelah Rasulullah saw. Dr. serta Rasulullah dan Abu Bakar melakukannya. jika tidak pedanglah yang memutuskan antara kamu dan kami. "Kami tidak memberi kamu sedikit pun karena Islam. al-Dawalibi menulis hal yang sama dalam 'Ilm Ushul al-Fiqh: "Di antara kreasi Umar r.... Umar meninggalkan sunnah dan menyingkirkan ijma. Jika kamu Islam (baiklah itu).. Kata Umar: "Manusia terlalu terburu-buru di tempat yang seharusnya hati-hati. " Lalu berlalulah apa yang diputuskan Umar. [35] c) melarang haji tamattu." Ketika Rasul dan Abu Bakar membolehkan penjualan Ummahat al-Awlad. [34] b) menambahkan adzan ketiga pada hari Jum'at . Allah sudah memenangkan Islam dan melepaskan dari kalian. sedangkan di zaman Nabi. Abu Bakar dan permulaan Khilafah Umar. Bila al-Qur'an menetapkan bagian muallaf dari zakat. Al-Fujaah pernah menyatakan diri ingin berjihad dan meminta perbekalan pada Abu Bakar.. Ketika kelompok muallaf datang menemui Abu Bakar untuk menuntut surat. [37] e) mengambil zakat dari kuda. wafat. Abu Bakar dan Umar tidak memberikan hak khumus dari keluarga Rasulullah saw." Kata Ibn Qayyim.

Saya hentikan kutipan kasus-kasus ijtihad Khulafa' al-Rasyidin di sini. Ia melihat Ibn . selain mewariskan kemusykilan bagi kita sekarang. al-Rasyidun-. Saya hampir sependapat dengan Fazlur Rahman." [41] 2. waktu itu yang disebut sunnah ialah apa yang disebut Imam Malik sebagai al-amr al-mujtama' 'alaih. Tidak berubah. Diriwayatkan bahwa pada hari kiamat ada rombongan manusia yang pernah menyertai Nabi diusir dari al-haudh (telaga). juga --seperti kata 'Umar ibn Abdul Aziz-. lalu opini publik. Fiqih shahabi memberikan dua macam pola pendekatan terhadap syari'ah yang kemudian melahirkan tradisi fiqh yang berbeda. Dalam proses free market of ideas. dari bapaknya (seorang sahabat). dan perbuatan yang lain telah berubah. Dikatakan kepadanya: Engkau tak tahu apa-apa yang mereka ada-adakan sepeninggal kamu. Suatu ketika seorang tabi'in. Ada pun shalat. Sayang sekali. waktunya telah diakhirkan. lalu konsesnsus. pendapat-pendapat tertentu kemudian berkembang menjadi opini generalis. Nabi saw: "Ya Rabbi. kecuali dalam satu hal: Apa yang disepakati tidak selalu berkembang dari hasil persaingan pendapat yang demokratis. sikap kritis ini telah "dimatikan" dengan vonnis zindiq oleh sebagian ahli hadits. Ketika banyak orang marah karena 'Umar dikritik. 'Umar sendiri berkata. Adzan tetap seperti dulu. [42] Kata ma ahdatsna (apa-apa yang kami adakan) menunjukkan pada perbuatan bid'ah yang dilakukan para sahabat Nabi. Sebagian sahabat mulai mengeluhkan terjadinya perubahan ini. FIQH TABI'IN: FIQH USHUL Sejak zaman sahabat (dan ini diakui para sahabat sendiri) telah terjadi perubahan-perubahan dalam syari'at Islam. Anda berbaiat kepadanya di bawah pohon. Marilah kita lihat proses perkembangan pemikiran para sahabat sehubungan dengan sunnah. [44] Imam Syafi'i meriwayatkan dari Wahab bin Kaysan. mereka sahabatku.adalah fondasi utama dari seluruh bangunan fiqh Islam sepanjang zaman. [43] Bid'ah-bid'ah ini telah mengubah sunnah Rasulullah saw. tidak berganti. Berkembanglah berbagai penafsiran. Ada dua sikap ekstrim terhadap sahabat yang harus dihindari: menghindari sikap kritis atau melakukan sikap hiperkritis. Imam Malik meriwayatkan dari pamannya Abu Suhail bin Malik. Menurut Fazlur Rahman. Al-Zarqani mengomentari hadits ini: Yang dimaksud "orang" adalah sahabat. Ikhtilaf di antara para sahabat. Hai anak saudaraku. engkau tidak tahu hal-hal baru yang kami adakan sepeninggal Rasulullah. KESIMPULAN Fiqh para sahabat --khususnya seperti diwakili oleh al-Khulafa. Ia berkata: Aku tidak mengenal lagi apa-apa yang aku lihat dilakukan "orang" kecuali panggilan shalat. Anda menjadi sahabat Rasulullah saw. "Semoga Allah meyampaikan kepadaku kesalahan-kesalahanku sebagai suatu bingkisan. Tidak berlebih-lebihan kalau kita simpulkan bahwa fiqih al-Khulafa al-Rasyidin adalah fiqih penguasa. Seringkali yang disebut ijma' adalah konsensus yang "ditetapkan" oleh penguasa politik waktu itu. untuk itu diperlukan penelaahan kritis terhadapnya. [40] pada zaman para sahabat. Tentu saja. Al-Musayyab memuji Al-Barra bin 'Azib: "Beruntunglah Anda." Al-Barra menjawab. orang secara bebas memberikan tafsiran pada sunnah Rasulullah saw.menyumbangkan khazanah yang kaya untuk memperluas pemikiran. Karena itu.

kecuali shalat.kita akan membicarakan juga tradisi fiqh al-atsar dan fiqh al-ra'y. Sebagian lagi banyak sekali memberi fatwa. marilah kita lihat sedikit latar belakang fiqh tabi'in. menjaharkan basmalah. [50] Contoh yang lain adalah sujud di atas tanah. [45] Kata Al-Zuhri: Aku menemui Anas bin Malik di Damaskus. Tidak semua sahabat menjawab pertanyaan mereka. Ia memegang tangan Muthrif bin Abd Allah dan berkata: Ia telah shalat seperti shalatnya Muhammad saw. Sebab itu. dan karenanya secara singkat ia disebut Fiqh al-ushul. Bani Umayyah telah mengubah sunnah Nabi. mungkin karena ketidaktahuan. Sebagian sahabat sedikit sekali memberi fatwa. Ibn 'Abbas berdoa: Ya Allah. kita lebih banyak menelaah ushul ketimbang fiqh. Karena pendapat-pendapat para sahabat terbagi dua --yang berpusat pada al-hadits dan al-ra'y-. sebagai upaya menghapus jejak Ali. Karena pertimbangan politik. Jabir ibn Abdullah dan lain-lain. [49] Contohnya. Sebelum membahas itu semua. Karena fiqh lebih banyak didasarkan pada al-hadits. laknatlah mereka. selain mengambil hadits sebagai sumber hukum. Menarik untuk dicatat. Ibn 'Umar. sedangkan sujud di atas tanah dianggap musyrik dan dihitung sebagai perbuatan zindiq". "Mengapa Anda menangis. mereka tidak mengenal kamu (yang kamu amalkan) kecuali kiblat kamu". yang menjadi tradisi Rasulullah saw dan para sahabat Nabi seperti Abu Bakar. sunnah Nabi sudah banyak diubah. kita juga akan mengupas kemusykilan ijtihad sahabat. Utsman 146 hadits. Anas menjawab. [47] 'Umran bin al Husain pernah shalat di belakang Ali. [48] Jadi pada zaman sahabat pun. khususnya yang dijalankan secara setia oleh Ali dan para pengikutnya. Ia mengingatkan aku pada Shalat Muhammad saw. Fiqh Tab'in. Jika semua hadits mereka disatukan hanya berjumlah 1411 hadits. "Aku sudah tidak mengenal lagi apa yang aku lihat. Dalam perkembangannya. atau lagi-lagi pertimbangan politis. sampai shalat pun. penguasa politik kemudian melakukan manipulasi hadits dengan motif politik." tanya Al-Zuhri. mungkin karena pengetahuan mereka. dan mereka pun tidak bertanya pada semua sahabat. Ibn Mas'ud. . Mereka meninggalkan sunnah karena benci kepada Ali. bahwa dalam khazanah fiqh ahl al-Sunnah para khalifah sedikit sekali memberi fatwa atau meriwayatkan al-hadits. [51] Contoh-contoh di atas menunjukkan bagaimana campur tangan kekuasaan politik membentuk fiqh. kurang dari 27% hadits yang diriwayatkan Abu Hurairah (Abu Huraiah meriwayatkan 5374 hadits). Abu bakar meriwayatkan hanya 142 hadits. Ini pun sudah dilalaikan orang". [46] Al-Hasan al-Bashri menegaskan: "Seandainya sahabat-sahabat Rasulullah saw lewat. sujud di atas kain menjadi syi'ar Ahl al-Sunnah. Ia sedang menangis. Umar 537 hadits. Hal ini disebabkan ushul adalah sandaran para tabi'in. Secara keseluruhan. orang-orang Islam bertanya pada sahabat dalam urusan hukum-hukum agama. atau karena posisinya memungkinkan untuk itu. APA YANG DIMAKSUD DENGAN FIQH TABI'IN Setelah Nabi Muhammad saw meninggal dunia. juga mengambil ijtihad para sahabat. kehatihatian. Salah satu sebab utama perubahan adalah campur tangan penguasa. Ali 586 hadits.Zubair memulai shalatnya sebelum khutbah. kemudian berkata: Semua sunnah Rasulullah saw sudah diubah.

TINJAUAN KRITIS ATAS SEJARAH FIQH (3/10) Dari Fiqh Al-Khulafa' Al-Rasyidin Hingga Madzhab Liberalisme oleh Jalaluddin Rakhmat Sebenarnya. Abu Hurairah. para tabi'in. Kedua. Juga bukan sahabat senior. UA 20-21 Jakarta Selatan Telp. Ayahku menjawab Aku menemukan sahabat-sahabat Nabi bertanya kepada 'Alqamah dan meminta fatwanya. seperti Abdullah bin Mas'ud. dan lain-lain. mengapa Anda tinggalkan sahabat dan mendatangi 'Alqamah. Dari sahabat. mereka diizinkan keluar. Sahabat yang terkenal punya banyak murid adalah Ibn Mas'ud di Iraq. kecuali yang diizinkan keluar oleh Umar. Dalam pada itu. Dalam kaitan ini. menurut Abu Zahrah. baik secara politik maupun administratif dalam pemerintahan. Ka'ab al-Ahbar sering dimintai fatwa oleh Ibn Abbas. Banyak diantara tabi'in yang mencapai faqahah (kefaqihan) begitu rupa sehingga sahabat (sic!) berguru pada mereka. Abdullah ibn 'Umar serta ayahnya Al-Faroq. Kebanyakan. Baru ketika Utsman memerintah. umumaya fiqh mawali. murid-murid sahabat itu para mawali (non Arab). (021) 7507174 Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota Please direct any suggestion to Media Team Artikel Yayasan Paramadina Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota IV. 'Umar ingin mengambil manfaat dari pendapat mereka. .(bersambung 3/10) Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah Editor: Budhy Munawar-Rachman Penerbit Yayasan Paramadina Jln. Umar bin Khatab menahan para sahabat senior di Madinah dan melarang mereka meninggalkan kota itu. Abu Zahrah menulis: [52] -------------------------------------------. tidak banyak. Metro Pondok Indah Pondok Indah Plaza I Kav. umumnya bukanlah murid al-Khulafa al-Rasyidin. Bila ada masalah baru yang tidak terdapat pada kedua hal tersebut. Qabus ibn Abi Zhabiyan berkata: Aku tanya ayahku.Karena itu. karena itu. Fiqh tabi'in. ketika kekuasaan Islam meluas. Zaid ibn Tsabit dan lain-lain di Madinah. Pertama. (021) 7501969. hanya sedikit para sahabat yang meninggalkan Madinah. 'Alqamah dan Ka'ab keduanya tabi'in. ia mempertimbangkan alasan-alasan. Yang keluar kebanyakan bukan fuqaha. dan Abdullah ibn Amr. yakni mereka yang berguru pada sahabat. 7501983. mereka melakukan ijtihad seperti atau dengan metode yang dilakukan para sahabat. sebelum Dinasti Umayyah berkuasa.22. para tabi'in mengumpulkan dua hal: Hadits-hadits Nabi saw dan pendapat-pendapat para sahabat (aqwal al-shahabat). 7507173 Fax. bahkan sedikit sekali sahabat yang keluar dari Madinah. Abu Musa al-Asy'ari.

Dalam tarikhnya. semoga Allah tidak mengenyangkan perut Mu'awiyah". BUKTI-BUKTI MANIPULASI HADITS Di sini tidak ditunjukkan manipulasi hadits kecuali seperti tampak pada kitab-kitab hadits yang ada sekarang. Isi surat ini secara lengkap dimuat dalam Kitab Shiffin dari Nashr bin Mazahim (wafat 212 H) dan Muruj al-Dzahab tulisan al-Mas'udi (wafat 246 H). Ia lari ke kamar 'Aisyah ra. Muhammad ibn Abu Bakar menulis surat kepada Mu'awiyah menjelaskaan keutamaan Ali sebagai washi Nabi saw. [55] Ketiga. jadikanlah laknat dan kecaman itu kesucian dan rahmat baginya. siapa yang aku laknat atau aku kecam. Ketika Marwan menjadi Gubernur Mu'awiyah di Hijaz. Abd al-Rahman ibn Abu Bakar memprotes Marwan sambil berkata. Mu'awiyah pun mengakuinya. Marwan marah dan menyuruh orang menangkap Abd al-Rahman. membuang seluruh berita tentang sahabat dengan petunjuk adanya penghilangan itu. Tetapi ia membuang semua isi surat itu dengan alasan "supaya orang banyak tidak resah mendengarkannya. Kehormatan Khalifah dan Gubernurnya terpelihara. Kata-kata ini dalam Tafsir al-Thabari dan Ibn Katsir diganti dengan: wa kadza wa kadza (demikianlah-demikianlah). ia berkata. saudaranya. [53] Dengan cara itu. ketika al-Nasai diminta meriwayatkan keutamaan Mu'awiyah. 'Aisyah menolak asbab al-nuzul ini. Abu Bakar ibn 'Abid (wafat 94 H). "Kalian menginginkan kekuasaan ini seperti kekuasaan Heraclius!". Kata Al-Dzahabi: Barangkali yang dimaksudkan dengan keutamaan Mu'awiyah ini adalah ucapan Nabi saw: Ya Allah. Pertama. ia meminta rakyat untuk membaiat Yazid. Contoh-contoh yang diberikan di sini difokuskan pada manipulasi yang diduga beralasan politis. Ada beberapa cara manipulasi hadits. Al-Dzahabi ketika meriwayatkan biografi Al-Nasai menulis. Al-Qasim ibn Muhammad ibn Abu Bakar (Wafat 108 H). Al-Syu'bi. Sulayman ibn Yasar (wafat 100 H) dan Kharijah ibn Zaid ibn Tsabit (wafat?). antara lain sebagai berikut. Ibrahim al-Nakh'i. [54] Kedua. membuang sebagian isi hadits dan menggantinya dengan kata-kata yang tidak jelas. 'Urwah ibn al-Zubair (wafat 94 H). Hamad ibn Abu Sulayman Salim mawla Ibn Umar." Ibn Atsir dalam Al-Bidayah wa al-Nihayah juga menghilangkan kedua surat itu dengan mengemukakan alasan yang sama. Marwan berkata: Ayat al-Qur'an: alladzi qala liwalidaihi uffin lakum turun tentang Abd al-Rahman. Di samping mereka ada 'Atha ibn Abi Rabah. Al-Thabari (wafat 310 H) melaporkan peristiwa itu dengan menunjuk kedua kitab di atas sebagai sumber. Shahih Bukhari menghilangkan ucapan Abd al-Rahman dengan mengatakan faqaala 'Abd al-Rahman ibn 'Abi Bakar syai'an (Abd al-Rahman mengatakan sesuatu). Dari situ paling tidak kita melihat petunjuk (indikator) manipulasi hadits pada zaman tabi'in. Abidullah ibn Abdillah (wafat 99 H). al-Thabari meriwayatkan ucapan Nabi saw tentang Ali: "Inilah washihu dan khalifahku untuk kamu". Tentu saja kata "washi"dan "khalifah" mempunyai konotasi yang sangat jelas. memberikan makna lain (ta'wil) pada hadits. kecaman kepada Mu'awiyah dan Marwan tidak diketahui.Ada tujuh orang faqih tabi'in yang terkenal (al-fuqaha al-sab'ah): Sa'id ibn Musayyab (wafat 93 H). "hadits apa yang harus aku keluarkan kecuali ucapan Nabi. dan 'Ikrimah mawla Ibn Abbas. [56] Bagaimana mungkin laknat Nabi menjadi .

Ibn Abd al-Barr mengomentari ucapan al-Syu'bi: Ia tidak menjelaskan apa alasan dusta untuk Al-Harits. Pada bukunya. atau orang-orang yang bodoh dalam ilmu hadits. "Bagaimana pendapat kalian tentang diriku? Apakah aku pemimpin adil atau zalim?" Malik bin Anas berkata: "Ya Amiral Mu'minin. Ia menganggap riwayat itu sebagai dusta. ia mengundang Malik ibn Anas. maafkanlah aku untuk tidak berbicara. Ia membenci Al-Harits karena kecintaannya yang berlebihan pada Ali dan mengutamakan Ali di atas sahabat yang lain. Khalifah bertanya. orang yang paling baik. orang terbaik. Ibn Hisyam mendasarkan tarikhnya pada tarikh Ibn Ishaq. dan khalifahku untuk kamu. Ibnu 'Asakir dan lain-lain. Anda perangi musuh. washiku. Berkenaan dengan ini bagian "Fiqh al-Khulafa' al-Rasyidin" di atas. ya Amir al-Mu'minin. "Inilah saudaraku. dalam Hayat Muhammad melakukan hal yang sama. Al-Syuibi mengutamakan Abu Bakar. kata al-Manshur. Dalam Ibn Ishaq diriwayatkan Nabi saw berkata. kata Ibn Hisyam dalam pengantarnya. [69] Ia lupa bahwa hadits ini diriwayatkan dari banyak sahabat Nabi oleh Imam Ahmad. "Tetapi aku tinggalkan sebagian riwayat Ibn Ishaq yang jelek bila disebut orang". Anda berhaji ke Baitullah. Ia dikawal para prajurit dengan pedang-pedang terhunus. ia mengutip ucapan Nabi: Siapa yang akan membantuku dalam urusan ini supaya menjadi saudaraku. washiku dan Khalifahku untuk kamu. Ibn Katsir mendha'ifkan riwayat Nabi tentang Ali sebagai Washi. wallahu a'lam. Karena itu. cetakan kedua (Tahun 1354). demi Allah. tetapi Bukhari dan Muslim memang meriwayatkan hadits ini. Demi Allah." "Aku maafkan Anda"." Kemudian al-Manshur melirik Ibn Abi Dzuaib. bukan untuk Khalifah. Anda lindungi orang yang lemah supaya tidak dimakan yang kuat. dan umat teradil. dan bahwa Abu Bakar adalah orang yang pertama masuk Islam. Al-Syu'bi meriwayatkan hadits dari Al-Harits al-Hamdani. salah seorang pendusta. yang dibuat-buat oleh orang Syi'ah. Al-Thabrani. Anda berikan keamanan di jalan. Al-Thabari. ucapan Nabi saw ini dihilangkan sama sekali. Kemudian ia melirik kepada Ibn Sam'an: "Bagaimana pendapat kamu?" Kata Ibn Sam'an: "Anda. Kelima. Andalah tonggak agama. Pada Hayat Muhammad. cetakan pertama. Beberapa tabi'in juga melarang penulisan hadits. Setelah berbicara panjang. "Atas nama Allah . Ia berkata: menyampaikan padaku Al-Harits. melarang penulisan hadits Nabi saw. Al-Syu'bi mendustakan Al-Harits. Keenam." [58] Belakangan ini Muhammad Husayn Haykal. membuang sebagian isi hadits tanpa menyebutkan petunjuk ke situ atau alasan. Di antara yang dibuang itu adalah kisah "wa andzir 'asyirataka al-aqrabin". mendha'ifkan hadits-hadits yang mengurangi kehormatan penguasa atau yang menunjang keutamaan lawan. Abu Nu'aim al-Isbahani. [57] Al-Thabrani dalam Majma' al-Zawaid meriwayatkan ucapan Rasulullah saw kepada Salman bahwa Ali adalah washi-nya. Lahirnya Madzhab-madzhab Fiqh Ketika al-Manshur baru saja diangkat menjadi khalifah.kesucian dan rahmat. Keempat. Ibn Sam'an dan Ibn Abi Dzuaib. aku tawassul padamu dengan Allah swt dan aku meminta tolong padamu dengan Muhammad saw dan dengan kekeluargaanmu padanya. Al-Thabrani memberi komentar: Ia menjadikan washi untuk keluarganya. 3.

Ia pun hampir tidak dikenal kecuali pada kalangan pengikutnya saja. RasulNya. dengan para pengikut yang tersebar di berbagai bagian dunia Islam. al-Manshur berkata kepada Malik: "Saya punya rencana untuk memperbanyak kitab yang kau susun ini. di samping Malik. Anda hancurkan yang lemah. "Menurut pendapatku. Anda merampas harta Allah. Sejarah memang hanya memihak yang menang. Anda manusia terjahat. dan bagian keluarga Rasul. yang hanya takut kepada Allah saja. dan ia termasuk ulama yang taat beribadah. yaitu saya salin. adalah seorang alim yang terkenal faqih dan wara. ketika Harun al-Rasyid berkuasa. zuhud. Malik bin Anas kelak terkenal sebagai pendiri madzhab Maliki. Malik berkata tentang Ja'far: "Aku pernah berguru pada Ja'far bin Muhammad beberapa waktu. Ia lebih berani. atau sedang membaca al-Qur'an. . Dalam tulisan ini kita akan mencatat beberapa orang tokoh madzhab yang terlupakan. Menurut al-Dahlawi. kita tahu bahwa Malik didukung para penguasa. yang dikisahkan Ibn Qutaybah. Tapi. Ibn Dzuaib. tetapi karena tidak didukung penguasa." Peristiwa di atas. ia bermusyawarah dengan Malik untuk menggantungkan al-Muwaththa pada Ka'bah dan memerintahkan orang untuk beramal menurut Kitab itu. Masih sezaman dengan Malik dan bahkan Malik pernah berguru kepadanya. demi Allah. Namun sekarang hampir tidak ada orang yang mengenalnya. sedang puasa. anak yatim. dan orang miskin. Anda tahan harta mereka. Apa alasanmu di hadapan Allah nanti?" "Celaka kamu. tidakkah kamu lihat apa yang ada dihadapanmu?" kata al-Manshur. madzhab-madzhab itu akhirnya hilang dari catatan sejarah. kita akan meninjau latar belakang historis dari tumbuhnya madzhab-madzhab fiqh. Seperti akan kita uraikan nanti. Ketika naik haji. tentu saja tidak dikenal. Pada akhir bagian ini kita akan membicarakan "pokok dan tokoh" madzhab yang masih memiliki banyak pengikut sampai sekarang. dan boleh jadi lebih faqih dari Malik. Anda persulit orang yang kuat. Aku tidak pernah melihatnya kecuali dalam salah satu di antara tiga keadaan: sedang shalat. Ibn Abi Dzuaib. nama lengRapnya Abu al-Harit Muhammad ibn Abd al-Rahman ibn al-Mughirah ibn Dzuaib al-'Amiri. dan kepada setiap wilayah kaum Muslim saya kirim satu naskah. Ia tak bicara sesuatu yang tak manfaat. Bagiku sama saja apakah mati itu dipercepat atau diperlambat. menunjukkan posisi Malik ibn Anas dibandingkan ulama yang sezaman dengannya. aku lihat pedang dan itu berarti kematian. Ibn Dzuaib adalah orang yang membukukan hadits di Madinah." Begitu pula. sebetulnya banyak madzhab muncul. "Benar. namanya hampir tidak pernah disebut dalam buku-buku tarikh. adalah faqih dari keluarga Rasulullah saw. Walau Malik menolak rencana kedua khalifah itu. Fame bestows no favors upon the losers.bagaimana pendapatmu tentang diriku?" Yang ditanya menjawab. Fiqhnya "dicurigai" dan para pengamalnya dianiaya. Imam Malik menjadi terkemuka setelah al-Manshur memberikan segala kehormatan kepadanya. serta saya instruksikan agar mereka mengamalkan isinya sehingga mereka tidak mengambil yang lain." Sifat terakhir ini justru menyebabkan Ja'far tidak disenangi penguasa. Tapi sebelum itu. Ja'far al-Shadiq. Tidak pernah aku lihat ia meriwayatkan hadits dari Rasulullah kecuali dalam keadaan suci.

(bersambung 4/10) Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah Editor: Budhy Munawar-Rachman Penerbit Yayasan Paramadina Jln. melandaskan fiqhnya pada al-Qur'an. Yaitu ahl al-Bayt dan para pengikutnya. Para sahabat dapat dikelompokkan dalam dua besar. membunuh para pengikut setianya. dan mengeluarkan fatwa yang bertentangan dengan ahl al-Bayt. dan sebagainya. Abu Rafi Mawla Rasulullah. 'Ammar bin Yasir. dan sedapat mungkin menghindari ra'yu dalam menetapkan hukum. Utsman. Yang pertama. Ali dan kedua puteranya. Hudzaifah. "Tapi Abu Hanifah dan Ahmad berkata: "Menaikkan permukaan kubur (tasnim) lebih baik. dan melakukan istinbath hukum. Yang kedua." -------------------------------------------. Kedua madrasah ini berbeda dalam menafsirkan al-Qur'an. Miqdad. Aisyah. Abu Dzarr. Ummi Salamah. berpusat di Madinah. Pada zaman sebelum itu. Hanafi. maka yang dimaksud adalah madzhab di kalangan sahabat Nabi: Madzhab Umar. Abu Hurairah dan lain-lain masuk kelompok kedua. Madrasah ahl al-Bayt tumbuh "di bawah tanah" mengikuti para imam mereka. Sementara itu. al-Sunnah dan Ijtihad para sahabat.tumbuh pada zaman kekuasaan dinasti Abbasiyah. dan Hanbali-. juga para sahabat di luar ahl al-Bayt. Murtadha al-'Askary menyebut dua madzhab awal ini sebagai Madrasah al-Khulafa dan Madrasah Ahl al-Bayt. Ibn Abbas. Tidak jarang sunnah Rasulullah yang sahih ditinggalkan karena sunnah itu dipertahankan dengan teguh oleh para pengikut ahl al-Bayt. Kemaslahatan berbeda dengan mereka dalam rangka menjauhi dan menentang mereka lebih besar dari kemaslahatan mengamalkan yang musthab itu. bila orang berbicara tentang madzhab. Sedangkan Abu Bakar. Umar. Inilah yang paling kuat menurut madzhab Syaf'i. Ibn Taymiyyah menulis perihal tasyabbuh dengan syiah: "Dari sinilah para fuqaha berpendapat untuk meninggalkan al-mustahabbat (yang sunat) bila sudah menjadi syiar orang-orang Syi'ah. masuk kelompok pertama. madrasah al-Khulafa bercabang lagi ke dalam dua cabang besar: Madrasah al-Hadits dan Madrasah al-Ra'y. Ali dan sebagainya. Aisyah. berpusat di Iraq. sedikit menggunakan hadits dan lebih banyak berpijak pada penalaran rasional dengan melihat sebab hukum (illat) dan tujuan syara' (maqashid syar'iyyah). memandang sunnah Rasulullah. Maliki. Karena tekanan dan penindasan. Karena walaupun meninggalkannya tidak wajib menampakkannya berarti menyerupai (tasyabbuh) mereka. sehingga sunni tidak berbeda dengan syi'ah. Pada zaman kekuasaan dinasti Umawiyyah. Syafi'i. karena tasthih sudah menjadi syi'ar sy'iah. Metro Pondok Indah . Ibn Umar. Ibn Qutaybah dalam Kitab al-Ikhtilaf menceritakan bagaimana raja-raja Umawiyyat berusaha menghapuskan tradisi ahl al-Bayt dengan mengutuk Ali bin Abi Thalib di mimbar-mimbar." Salah satu contoh sunnah yang dijauhi orang adalah tasthih seperti diceritakan oleh Muhamamd bin 'Abd al-Rahma yang berkata: "Yang sunnah dalam membuat kubur adalah meratakan permukaan kubur (tasthith).SEJARAH PEMBENTUKAN MADZHAB Kelima Madzhab yang akan kita bicarakan -Ja'fari. mereka mengembangkan esoterisme dan disimulasi untuk memelihara fiqh mereka.

Banyak di antara mereka adalah para sarjana dalam berbagai disiplin ilmu. al-Hadi. . Madzhab Syafi'i membesar di Mesir ketika Shalahuddin al-Ayyubi merebut negeri itu. Keduanya mengembangkan ajaran mereka pada zaman Abbasiyah.membesar karena dukungan penguasa. al-Mu'iz Badis mewajibkan seluruh penduduk untuk mengikuti madzhab Maliki.22. murid Abu Hanifah. Di antara mawali itu adalah Abu Hanafi dan di antara imam ahl al-Bayt adalah Ja'far bin Muhammad. Di Afrika. 7501983. Al-Kharaj adalah Kitab yang disusun atas permintaan al-Rasyid. Dinasti Abbasiyah disambut dengan penuh antusias baik oleh mawali maupun pengikut ahl al-Bayt. Waktu itu. Para khalifah banyak melakukan hal-hal yang melanggar sunnah Rasulullah saw b) Terputusnya hubungan antara pusat khilafah dengan pusat ilmiah. dan al-Rasyid. c) Politik diskriminasi yang mengistimewakan orang Arab di atas orang bukan Arab. sedangkan pusat-pusat ilmiah berada di Iraq dan Hijaz.Pondok Indah Plaza I Kav. Banyak tokoh sahabat dan tabi'in yang menganggap daulat Umawiyyah ditegakkan di atas dasar yang batil. IMAM-IMAM MADZHAB YANG TERLUPAKAN Sudah disebutkan di muka. Madzhab Hanbali menjadi kuat pada masa pemerintahan al-Mutawakkil. pusat pemerintahan berada di Syam. UA 20-21 Jakarta Selatan Telp. Kebijakan ini menyebabkan timbulnya rasa tidak senang pada para mawali . Waktu itu al-Mutawakkil tidak mengangkat seorang qadhi kecuali dengan persetujuan Imam Ahmad ibn Hanbal. 7507173 Fax. Kitab ini adalah rujukan utama madzhab Hanafi. bahwa madzhab-madzhab besar yang kita kenal sekarang --kecuali mazhab Ja'fari-. madrasah-madrasah itu tidak melahirkan pemikiran-pemikiran madzhab. diangkat menjadi qadhi dalam pemerintahan tiga khalifah Abbasiyah: al-Mahdi. Madzhab Maliki berkembang di khilafah Timur atas dukungan al-Manshur dan di khilafah Barat atas dukungan Yahya bin Yahya ketika diangkat menjadi qadhi oleh para khalifah Andalusia. Dinasti Umawiyah memisahkan Arab dan mawali. (021) 7507174 Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota Please direct any suggestion to Media Team Artikel Yayasan Paramadina Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota IV.yang justru lebih banyak pada daerah kekuasaan Islam. Dr. TINJAUAN KRITIS ATAS SEJARAH FIQH (4/10) Dari Fiqh Al-Khulafa' Al-Rasyidin Hingga Madzhab Liberalisme oleh Jalaluddin Rakhmat Pada periode Umawiyyah. Karena itu pada permulaan pemerintahannya. (021) 7501969. Muhammad Farouq al-Nabhan menjelaskan sebab-sebab berikut: a) Hubungan yang buruk antara ulama dan khulafa. Madzhab Hanafi mulai berkembang ketika Abu Yusuf.

ia melarikan diri dan meninggal di tempat pelarian. Ia mengambil ilmu dari Imam Ja'far. Madzhab al-Thabary." Beberapa madzhab sebagai berikut: yang hilang itu secara singkat diuraikan 1. al-Zuhry. dan tulisan mereka terkenal di masyarakat. dapat membedakan yang sahih dan yang lemah. Syah Wali al-Dahlawi menulis: "Bila pengikut suatu madzhab menjadi masyhur dan diberi wewenang untuk menetapkan keputusan hukum dan memberikan fatwa. Malik dan al-Tsawry) yang paling benar? Malik berkata: "Al-Awza'iy. Lahir di Kufah tahun 65 H dan wafat di Bashrah tahun 161 H. Berkali-kali al-Manshur mau membunuhnya. lalu orang mempelajari madzhab itu terang-terangan. tersebarlah madzhabnya di seluruh penjuru bumi. Madzhab al-Awza'iy. mengetahui betul makna al-Qur'an. Di antara yang mengambil riwayat dari padanya adalah Syafi'i. Ia sangat dekat dengan Bani Umayyah dan juga Bani Abbas. yang nasikh dan yang mansukh dan paham akan pendapat para sahabat. Madzhab al-Zhahiry. Salah seorang muridnya yang masyhur adalah Ibn Hazm. Tidak diketahui sampai kapan madzhabnya diikuti orang. Madzhabnya tersisihkan hanya ketika Muhammad bin Utsman dijadikan qadhi di Damaskus dan memutuskan hukum menurut Madzhab Syafi'i Ketika Malik ditanya tentang siapa di antara yang empat (Abu Hanifah. Ibn Dinar. Ia berguru pada Ja'far al-Shadiq dan meriwayatkan banyak hadits. Ia termasuk mujtahid ahl al sunnah yang tidak bertaklid kepada siapa pun.Dalam menyimpulkan semua ini. Kata Ibn Khuzaymah: Ia hafal dan paham al-Qur'an. Lalu madzhab itu pun hilang setelah beberapa lama. Abu Ja'far Muhammad ibn Jarir ibn Yazid ibn Khalid ibn Ghalib al-Thabary lahir di Thabaristan 224 H dan wafat di Baghdad 310 H. 2. maka orang tak ingin mempelajari madzhabnya. tetapi setelah itu hilang karena tidak ada dukungan penguasa. Dengan begitu. Ayahnya termasuk perawi hadits yang ditsiqatkan Ibn Ma'in. Ia memberi komentar: "Seandainya tidak ada Malik dan Ibn 'Uyaiynah. 3. al-Awza'iy. Madzhabnya diamalkan orang sampai abad IV. Ia faqih. hilanglah ilmu Hijaz. ketika Ahmad menyebut dirinya hanya sebagai ahli hadits. Pendirinya Abd al-Rahman bin Amr al-Awza'iy adalah imam penduduk Syam. Abu Sulayman Dawud ibn 'Ali dilahirkan di Kufah tahun 202 H dan hidup di Baghdad sampai tahun 270 H. 5. Madzhab al-Tsawri. tetapi ia berhasil lolos. Bila para pengikut madzhab itu lemah dan tidak memperoleh posisi sebagai hakim dan tidak berwewenang memberi fatwa. Ia diberi gelar al-Zhahiry karena berpegang secara . Tokoh madzhab ini adalah Abu Abd Allah Sufyan bin Masruq al-Tsawry. Pahamnya diikuti orang sampai abad IV Hijrah. Madzhabnya berkembang sampai abad VII. Nama lengkapnya Abu Muhammad Sufyan ibn 'Uyaiynah wafat tahun 198 H. 4. Abu Ishaq dan lain-lain. Ketika ia diminta menjadi qadhi. mengetahui sunnah dan jalan-jalannya. Imam Ahmad menyebutnya sebagai seorang faqih." Mazhabnya diamalkan orang sampai tahun 302 H. Madzhab Ibn 'Uyaiynah.

al-Tsawry.di sini hanya disebutkan beberapa catatan kecil saja." . Fadhail ibn Iyadh. Ibn 'Uyaiynah. Imam Ja'far memusatkan perhatiannya pada penyebaran sunnah Rasulullah dan peningkatan ilmu dan akhlak kaum Muslim. Ali Zainal Abidin keturunan Rasul yang selamat dari pembantaian di Karbela. pemberontakan Zaid ibn Ali. Ia menanyakan Ibn Abi Layla tentang kawannya. Pokok-pokok pikirannya dalam fiqh akan kita perkenalkan secara singkat. Dalam suasana seperti itulah. Karena itu. Selama lima belas tahun ia tinggal bersama kakeknya. Di antara murid-muridnya adalah Imam Malik. dan penindasan terhadap para pengikut madrasah ahl al-Bayt. Ia juga menyaksikan naiknya al-Saffah dan al-Manshur dengan memanipulasikan kecintaan orang pada ahl al-Bayt. IMAM JA'FAR IBN MUHAMMAD AL-SHIDIQ (82-140 H) Ja'far ibn Muhammad ibn Ali ibn Husain (ibn Ali) ibn Fathimah binti Rasulullah saw lahir di Madinah tahun 82 H pada masa pemerintah Abd al-Malik ibn Marwan. bila para penguasa 'Abbasiyah melihat ada dakwah 'Alawi. "Bukankah ia suka melakukan qiyas dalam urusan agama?. Orang-orang yang menentang mereka semuanya berasal dari 'Alawiyyin. Ia juga menyaksikan bahwa para khalifah Abbasiyah tidak lebih baik dari para khalifah Umawiyah dalam kebenciannya kepada keluarga Rasul. mereka segera menghukumnya. mereka segera mengucilkannya atau membunuhnya. Abu Zahrah menulis: Dinasti 'Abbasiyah selalu merasa terancam dalam kekuasaannya oleh para pengikut Ali. kita tuliskan percakapannya dengan muridnya selama dua tahun seperti diceritakan Abu Nu'aim: Abu Hanifah. dan ribuan para perawi. dan Ibn Abi Layla menghadap Imam Ja'far. Abu Hanifah. Mereka tak perduli membunuh orang tak berdosa karena dianggap mengancam pemerintahannya. Untuk mengetahui pemikiran Imam Ja'far dalam hal fiqh. Berikut adalah para pemuka madzhab yang terkenal. Setelah Ali wafat. Inilah sebagian di antara tokoh-tokoh madzhab yang tidak lagi dianut secara resmi sekarang ini. ketika Ya'qub ibn Yusuf ibn Abd al-Mu'min meninggalkan mazhab Maliki dan mengumumkan perpindahannya ke madzhab al-Zhahiry. Ia sempat menyaksikan kekejaman al-Hajjaj." tanya Ja'far. Ia berkembang di daerah Maroko. Syu'bah ibn al-Hajjaj. "Benar." Ja'far bertanya kepada Abu Hanffah: "Siapa namamu?" "Nu'man. Mereka selalu cemas menghadapi mereka. Kaum 'Alawi menunjukkan nasab seperti mereka dan memiliki kekerabatan dengan Rasulullah yang tidak dimililki 'Abbasiy. Bila mereka melihat ada pejabat yang memuji Bani 'Ali.harfiah pada teks-teks nash. yang kemudian dijawab Ia orang pintar dan mengetahui agama. Ibn Syabramah. ia diasuh oleh ayahnya Muhammad al-Baqir dan hidup bersama selama sembilan belas tahun. Karena riwayat hidup mereka sudah disebutkan di atas --kecuali Imam Ja'far-.

Manakah yang lebih besar dosanya . penulis biografi Abu Hanifah.membunuh atau berzinah? "Membunuh. digunakan akal berdasarkan kaidah-kaidah tertentu. ia melihat bahwa khalifah haruslah diserahkan pada keturunan Ali dari Fathimah. dan bahwa para khalifah yang sezaman dengan mereka telah merampas haknya dan karena itu mereka zalim. c) Al-Qur'an dipandang telah lengkap menjawab seluruh persoalan agama. Yakni. ketika Imam Zayd melawan penguasa. b) Istihsan tidak boleh dipergunakan. Tugas mujtahid adalah mengeluarkan dari al-Qur'an jawaban-jawaban umum untuk masalah-masalah yang khusus. Bertaqwalah kepada Allah dan jangan melakukan qiyas dalam agama. Karena Rasulullah dan para imam adalah orang yang mengetahui rahasia-rahasia al-Qur'an. karena ia mengikutinya dengan qiyas. Mereka tidak mau menjadikan hujjah hadits-hadits yang diriwayatkan para sahabat yang memusuhi ahl al-Bayt." Dari percakapan di atas kita melihat perbedaan pendekatan hukum di antara dua pemuka madzhab. Allah akan menyertakannya bersama iblis. IMAM ABU HANIFAH Abu Hanifah terkenal sebagai alim yang teguh pendirian. Ketika Muhammad dan Ibrahim dari ahl al-Bayt memberontak." Sikap Abu Hanifah itu. Termasuk ke dalam sunnah adalah sunnah ahl al-Bayt: yakni para imam yang ma'shum. mengapa Allah hanya menuntut dua orang saksi untuk pembunuhan dan empat orang saksi untuk zinah. penafsiran al-Qur'an yang paling absah adalah yang berasal dari mereka. menulis: "Sesungguhnya Abu Hanifah itu Syi'ah dalam kecenderungan dan pendapatnya tentang penguasa di zamannya. selain menolak qiyas adalah hal-hal berikut: a) Sumber-sumber syar'iy adalah al-Qur'an."Aku tidak melihat Anda menguasai sedikit pun. ayahku memberitahukan kepadaku dari kakekku bahwa Nabi saw bersabda: Orang yang pertama menggunakan qiyas dalam agama adalah iblis. Begitu pula. Beberapa kali ia mengkritik al-Manshur secara terbuka." "Lalu. Qiyas hanya dipergunakan bila 'illat-nya manshush (terdapat dalam nash). . al-Sunnah dan akal. Karena ketika Allah menyuruhnya bersujud kepada Adam ia berdalih: Aku lebih baik dari dia karena aku Kau buat dari api dan ia Kau buat dari tanah.shalat atau shawm (puasa)?" "Shalat" "Mengapa wanita yang haidh harus mengqadha shawmnya tetapi tidak harus mengqadha shalatnya. ditambah hasutan Ibn Abi Layla." "Mana yang lebih besar kewajibannya . Ia menentang setiap kezaliman. Pada hal-hal yang tak terdapat ketentuan nashnya. Barang siapa yang menggiyas dalam agama. Abu Hanifah berbay'at kepadanya. Di antara karakteristik khas dari madzhab Ja'fari. Abu Hanifah mendukungnya. Abu Zahrah. Bagaimana kamu menggunakan qiyasmu." kata Ja'far sambil mengajukan berbagai pertanyaan yang tidak bisa dijawab Abu "Hai Nu'man.

di samping ingin berusaha memanfaatkan alim besar ini. (021) 7507174 Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota Please direct any suggestion to Media Team Artikel Yayasan Paramadina Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota IV. "Aku mengambil dari al-Kitab. Aku tidak keluar dari pendapat sahabat kepada pendapat yang lain. Pokok fiqih madzhab Hanafi bersumber pada tiga hal: a) Sumber-sumber naqliyah. Ia tidak mungkin menarik Ja'far dan tidak berhasil . Abu Hanifah meninggalkan banyak murid. Lalu ia menjebak Abu Hanifah dengan jabatan qadhi. UA 20-21 Jakarta Selatan Telp. Ketika Abu Hanifah menolaknya. mereka berijtihad dan aku pun berijtihad. aku ambil Sunnah Rasulullah dan hadits-hadits yang sahih. c) Al-A'raf. yaitu dengan menggunakan qiyas dan istihsan. Setiap hari. b) Sumber-sumber ijtihadiyah. karena diberi makanan beracun. -------------------------------------------. aku mengambil pendapat para sahabat yang aku kehendaki dan meninggalkan yang tidak aku kehendaki. yakni adat kebiasaan yang tidak bertentangan dengan nash. Muhammad ibn Hasan al-Syaybany. Abu Hanifah berkata.22. al-Sunnah. yang sangat ekstrem menggunakan qiyas.". dan pendapat para sahabat. Ia --menurut satu riwayat-. Metro Pondok Indah Pondok Indah Plaza I Kav.menimbulkan kemarahan Al-Manshur. 7507173 Fax. Bila sudah sampai pada tabi'in.(bersambung 5/10) Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah Editor: Budhy Munawar-Rachman Penerbit Yayasan Paramadina Jln. Al-Mansur tak dapat membunuhnya tanpa alasan. al-Manshur merasa bersalah. (021) 7501969. ia dipenjarakan. yang pernah berguru pada Malik dan kemudian menggabungkan madrasah hadits dengan madrasah Ra'y.mengeluarkan fatwa yang tidak dikehendaki penguasa. menurut satu riwayat. yang disampaikan oleh orang-orang yang dapat dipercaya. ijma. Ia mengakhiri hidupnya. jika aku dapatkan di dalamnya. terutama dalam masalah perdagangan. Abu Hanifah bahkan mengarqurkan beramal dengan 'urif. yang kemudian menjadi qadhi dan banyak memasukkan hadits dalam kitab-kitabnya. Jika tidak aku dapatkan dalam al-Kitab dan Sunnah Rasulullah. ia dicambuk sepuluh lecutan. Di antaranya Abu Yusuf. Bila tidak. TINJAUAN KRITIS ATAS SEJARAH FIQH (5/10) Dari Fiqh Al-Khulafa' Al-Rasyidin Hingga Madzhab Liberalisme oleh Jalaluddin Rakhmat IMAM MALIK Pada zaman kekuasaan Ja'far ibn Sulayman tahun 146 H Malik dihukum cambuk. dan Zafr ibn al-Hudzail. yang meliputi al-Qur'an. Tapi karena kedudukan Abu Hanifah di masyarakat. 7501983. Setelah itu.

" Orang itu berkata: "Bukan aku yang berkata begitu." Seusai shalat. Ketika ia membacanya. f) Istihsan. bunuh dia." Malik menukas: "Tapi aku hanya mendengarnya dari kamu. Ia berkata bahwa itu termasuk salah satu bid'ah orang Syi'ah. j) Istishhab." kata sang imam. Tetapi shalat jamak ini terdapat dalam kitab hadits shahih Bukhari dan Muslim. Ia juga boleh menghukum mati atau memenjarakan yang dipandangnya bersalah. c) Ijma' penduduk Madinah. b) Fatwa sahabat. karena wibawa Malik. d) Ikhtilaf sahabat Nabi. Tunisia. Pemuda itu mengeluarkan kedua kitab shahih tersebut dan memintanya membaca hadits-hadits tentang shalat jamak. "Mereka membawa agama baru yang bukan agama Muhammad saw. didahulukan al-sunnah. Aku hanya melaporkan ucapan orang lain. Ijma' sebelum terbunuhnya Utsman. Bila zhahirnya sunnah bertentangan dengan al-Qur'an. Orang-orang ketakutan berada di majlisnya. ijma' mutaakhir: masing-masing dengan kekuatan hukum yang berbeda. d) Fatwa sahabat. Seorang alim besar di kota itu mengecam orang-orang yang menjamak shalat Zhuhur dan Ashar. d) Hadits mursal dan dha'if. e) Qiyas. "Tidak benar. Madzhab Maliki mendasarkan fiqhnya pada 12 pokok: a) Al-Qur'an: zhahirnya." Malik memanggil pengawalnya: "Ia zindiq. 4. g) Mashalih mursalah. h) Sadd al-Dzara'i. Malik memukul orang itu dan memenjarakannya Ketika seorang bertanya: "Bagaimana pendapat Anda tentang orang yang berpendapat bahwa al-Qur'an itu makhluk?. dalil-nya. e) Khabar Ahad dan Qiyas. e) Qiyas. hadirin tercengang mendengarnya. i) Mura'at khilaf al-mujtahidin. Ini sangat berpengaruh pada penyebaran madzhabnya. Malik menjadi sangat berwibawa." Pemuda itu bermaksud menunjukkan bahwa Ibn Abbas. "Ini khusus untuk Rasulullah saw. Ia memberikan wewenang besar pada Malik untuk mengangkat dan memberhentikan para pejabat yang dipandangnya tidak mampu. Bila engkau sudah menjadi Rasul Allah bolehlah engkau melakukannya. .mengambil hati Abu Hanifah. Karena wewenangnya ini. meminta maaf kepada Malik atas perlakukan salah seorang penguasanya. STAGNASI PEMIKIRAN FIQH: MASA KETERTUTUPAN Dr. k) Syar'man qablana. Muhammad al-Tijani al-Samawi bercerita tentang kisah fanatisme di kota Qafsah. Ketika seorang murid membantah Malik perihal penguburan rambut dan kuku. IMAM HANBALI Pokok-pokok fiqh madzhab Hanbali: a) Al-Nushush. ijma' secara naql. c) Pendapat sahabat yang tidak ada yang menentangnya. IMAM SYAFI'I Pokok-pokok fiqh Syafi'i ada lima: a) Al-Qur'an dan al-Sunnah. b) Al-Sunnah: al-mutawatirah dan al-masyhurah." Catatan kecil di atas menunjukkan kekuasaan Malik. Al-Manshur pada musim haji 153 H. b) al-Ijma'. c) Ikhtilaf sahabat. Mereka menyalahi al-Qur'an yang menyatakan bahwa shalat itu bagi kaum Mukmin kewajiban yang ditetapkan waktunya. Anas ibn Malik dan banyak sahabat lainnya melakukan shalat jamak (bukan karena bepergian). Ia mengembalikan kedua kitab itu sambil berkata. kata pemuda itu. mafhum-nya dan illat-nya. seorang pemuda menanyakan lagi perihal shalat jamak.

al-Sunnah. Mereka tak merasa perlu melakukan penelitian ulang. sesudah sebelumnya mempelajari al-Qur'an. ia menjawab bahwa menggerakkan telunjuk dalam tasyahud adalah haram. Bersamaan dengan itu. Dengan begitu. Apa dalilnya? Dalilnya terdapat dalam Kitab fiqh al-Syaikh al-Kaydani. Kedua peristiwa di atas terjadi dalam rentang waktu cukup lama -menurut sebagian penulis dari abad VI Hijrah sampai abad XIII. Gerakan tadwin. pokok-pokok dan maksud-maksud syara'. Penafsiran al-Qur'an. Pasal ini akan memperlihatkan karakteristik zaman ini dari segi karya-karya ilmiah yang lahir waktu itu dan dari segi kecenderungan pemikiran. Berbagai ilmu Islam dibukukan dan tidak disampaikan secara lisan lagi. dan tanzhim dalam madzhab fiqh. al-ma'ajim. KARAKTERISTIK ZAMAN STAGNASI: TRADISI MENSYARAH KITAB Setelah keempat imam madzhab ahl al-Sunnah meninggal dunia. fiqh memasuki zaman tadwin (kodifikasi). di satu sisi menyimpan khazanah ilmu para ulama. al-mustadrakat dan sebagainya. Al-Ustadz al-Zarqa melukiskan situasi umum pada waktu itu: Pada zaman tersebut pemikiran fiqh mengalami kemunduran. Pemikiran bergeser dari upaya mencari sebab-sebab dan maksud syara' dalam memahami hukum. tarjih. menghilanglah kegiatan yang dulu merupakan gerakan takhrij. dibukukan pula riwayat para perawi hadits. Di Afghanistan seorang mushalli memberi isyarat dengan telunjuknya dan menggerak-gerakkannya. Pada masa inilah berkembang al-tafsir bi al-ma'tsur. Peminat fiqh hanya mempelajari kitab yang ditulis seorang faqih tertentu di antara tokoh-tokoh madzhabnya Ia tidak melihat kepada syari'at dan fiqh kecuali melalui tulisan dalam kitab itu. Kawan shalat di sampingnya memukulnya dengan keras sehingga telunjuk itu patah. Para pengikut membukukan fatwa-fatwa dan hasil ijthad para mujtahid tersebut. tapi di sisi lain menyebabkan para ulama merasa cukup dengan apa yang telah tersedia. Mereka menulis buku-buku yang lebih merupakan ensiklopedia atau kamus dari pada analisis ilmiah. dan para mujtahid. ilmu ushul al-fiqh. Perlahan-lahan berkembanglah tradisi membuat syarah (komentar) dan matan. Maksudnya untuk . al-masanid. Kita akan mengakhiri dengan melacak sebab-sebab timbulnya stagnasi pemikiran ini. para ulama menghimpun hadits-hadits Nabi saw. serta menghimpun penafsiran para sahabat. hadits. dan fiqh para imam madzhab disusun dalam buku. Sebuah rentang waktu yang oleh para Tarikh Tasyri' disebut sebagai zaman stagnasi pemikiran fiqh ('ashr al-rukud). baik yang lemah maupun yang kuat. Hadits-hadits dibukukan dalam bentuk al-jawami'. dimulai kemandegan dan diakhiri kebekuan.tetapi ia mengurungkan maksudnya. Pada zaman inilah pemikiran taqlid mutlak dominan. ke upaya menghapal yang sia-sia dan merasa cukup dengan menerima apa yang telah tertulis dalam kitab-kitab madzhab tanpa penelitian. Dalam penafsiran al-Qur'an misalnya. tabi'in. Ketika ditanya mengapa itu terjadi. ilmu jarh wa ta'dil dan riwayat para sahabat. walau selama masa itu muncul juga beberapa ulama fiqh dan ushul yang cemerlang.

Di antara karamah Abu Hanifah ialah bergurunya Nabi Khidr kepadanya. Konon Nabi Muhammad saw pernah berkata: "Semua nabi bangga denganku dan aku bangga dengan Abu Hanifah. para pengikutnya meriwayatkan mitos di sekitar para imam madzhabnya. Ibn Rouzbahan menulis bantahan pada Minhaj al-Karamah. Polemik antar madzhab ini bukanlah sesuatu yang jelek dan telah berlangsung sejak zaman para imam madzhab. Nabi Hidhir mohon agar ia diizinkan tetap berguru padanya di alam kubur. Kadang-kadang riwayat-riwayatnya dinisbahkan pada Nabi Muhammad saw. Diriwayatkan oleh para pengikut Maliki bahwa pada paham Imam Malik sudah tertulis Malik Hujatullah di bumi. Sekarang bantahan itu sudah menjadi 19 jilid Ihqaq al-Haq. Ada pula beberapa kitab yang mensyarah al-Muwatha susunan Imam Malik. Pada zaman ini. Siapa yang mencintai Abu Hanifah ia mencintaiku. Allah mengizinkannya. Ketika Abu Hanifah wafat. Ia kemudian menyelesaikan kuliah dari Abu Hanifah selama 25 tahun lagi. Para ulama dari keempat madzhab diundang ke istana. Tentang Imam . gejala fanatisme madzhab dapat dilacak sejak abad IV Hijrah. kekuasaan sangat berperan dalam menyuburkan fanatisme madzhab. Setiap madzhab membela pahamnya dengan tidak lagi mengindahkan adab diskusi ilmiah. Ibn Taymiyah menulis Minhaj al-Sunnah untuk menolak Minhaj al-Karamah. paling tidak ada tiga kitab syarah: Fath al-Bary. al-Hilly menulis Minhaj al-Karamah. harus dita'wilkan atau dimansukhkan. Atau sebaliknya. Walau begitu. Umdat al-Qary. Sebagai jawaban terhadap serangan ahl al-Sunnah.memudahkan pembaca memahami kitab-kitab rujukan. Tidak jarang syarah suatu kitab disyarahi dan disyarahi lagi. Mereka menjelaskan kata-kata atau kalimat-kalimat secara sematik. atau menambahkan penjelasan dengan mengutip ucapan para ulama lain. yang setiap jilidnya seukuran satu jilid Encyclopedia Britannica. Ia belajar pada Abu Hanifah setiap waktu Subuh selama lima puluh tahun. siapa yang membenci Abu Hanifah ia membenciku. Bantahan ini dibantah lagi oleh al-Mar'asyi al-Tustary. supaya ia dapat mengajarkan syari'at Islam secara lengkap. Para ulama madzhab Syafi'i menyerang tulisan para ulama madzhab Hanbali atau sebaliknya. Ulama ahl al-Sunnah menulis kitab yang menyerang ajaran Syi'ah. Sikap ini ditunjukkan jelas oleh al-Syaykh Abu al-Hasan Abdullah al-Karkhy ketika ia berkata. Argumentasi dikembangkan untuk membela madzhab masing masing. Irsyad al-Sary. Seperti telah disampaikan pada tulisan terdahulu. FANATISME MADZHAB Asad Haydar menyebut tahun 645 Hijrah sebagai tahun ditetapkannya empat mazhab sebagai madzhab yang diakui khilafah Islam waktu itu. Tapi pada zaman kemandegan. "setiap ayat atau hadits yang bertentangan dengan apa yang ditetapkan madzhab kami. juga berkembang tradisi munaqasyah madzhabiyah (diskusi madzhab). yang didhaifkan Ibn Taymiyah. Ulama Syi'ah membalasnya dengan menulis kitab lagi. Al-Amini menulis 11 jilid al-Ghadir hanya untuk membuktikan keshahihan hadits Ghadir Khum. Untuk mempertahankan keunggulan madzhabuya. munaqasyah madzhabiyah telah menjadi benih yang menyuburkan fanatisme madzhab. sepanjang saya ketahui. misalnya. Imam Syafi'i. Untuk Shahih al-Bukhari. melakukan kritik terhadap beberapa pendapat Muhammad ibn al-Hasan al-Syaybany.

yang patut kami ikuti di zaman kami?" Rasul Allah saw menjawab: "Aku tinggalkan bagimu Ahmad bin Hanbal. walau tidak didukung satu dalil pun atau tidak meyakinkan." Orang alim itu adalah Imam Syafi'i. pertama. tidak menggali rahasianya. padahal ulama dari madzhab mereka terdahulu tidak pernah mengamalkannya. keduanya menjadi ikhwan yang saling berjauhan: mereka tak menampakkan sikap saling membantu dan menolong di jalan yang hak. Mereka tidak memelihara matannya. Setiap fondasi tanpa bangunan. Mereka hampir tidak bisa membedakan hadits yang shahih dan hadits yang dhaif. Yang demikian adalah suatu kesesatan dan penipuan ra'yu. Mereka tidak mempedulikan hadits-hadits yang dikuasai dan yang digunakan untuk mempertahankan argumentasinya di hadapan lawan bila hadits-hadits tersebut telah sesuai dengan madzhab yang mereka ikuti dan pendapat yang mereka yakini. kecuali sebagian kecil. Padahal keduanya sama-sama dibutuhkan dan tidak bisa ditinggalkan dalam menuju cita-cita kehidupan. sedangkan fiqh bagaikan bangunannya. Namun. Kedua kelompok itu. yang bagus dan yang buruk. Al-Fakhr al-Razy menceritakan pengalamannya ketika ia menafsirkan: afala yatadabbarun al-Qur'an. mencacad mereka dan menuduhnya menyalahi sunnah. siapakah yang engkau tinggalkan. karena seorang alimnya akan memenuhi seluruh bumi dengan ilmunya. Mereka tidak sadar bahwa kadar keilmuannya sendiri sangat dangkal dan mereka berdosa melemparkan kata-kata kotor pada para fuqaha. Mereka sepakat menerima hadits dhaif dan munqathi' bila telah masyhur di kalangan mereka dan telah membibir dalam percakapan mereka. Abu Sulayman al-Khaththaby mengisahkan suasana zaman itu: Saya lihat ahli ilmu dewasa itu terbagi menjadi dua kelompok: pendukung hadits dan atsar dan ahli fiqh dan fikir. Saya lihat kedua kelompok ini saling berdekatan tempat tinggalnya dan sebetulnya saling membutuhkan. karena rasa harga diri mereka yang sangat tajam. tidak memahami maknanya. Sedangkan kelompok kedua. Kadang-kadang mereka mencela para fuqaha. katanya. Mereka tidak mau menerimanya bahkan tidak mau menelitinya. Aku pernah menyaksikan sekelompok faqih yang taklid. maka akan sunyi dan lekas rusak. mereka . Aku bertanya: "Ya Rasul Allah. kebanyakan tidak memilih-milih hadits." Dengan berbagai "keutamaannya" itulah. pengumpulan sanad. pengikutnya mensakralkan fatwa para mujtahid. memandangku dengan heran bila aku bacakan ayat-ayat al-Qur'an tentang beberapa masalah yang bertentangan dengan madzhab mereka. dan tidak mengungkapkan kandungan fiqhnya. yakni ahli fiqh dan fikir. Mengenai Imam Ahmad bin Hanbal Abdullah al-Sajastany berkata: "Aku pernah melihat Rasul Allah saw dalam mimpi. kelompok ahli hadits dan atsar rata-rata berambisi dalam periwayatan. Rasul Allah saw bersabda: "Ya Allah berilah petunjuk pada suku Quraiysy. Fatwa mujtahid lebih didulukan dari ayat al-Qur'an dan al-Sunnah.Syafi'i. Setiap bangunan yang fondasinya tidak kokoh. dan pemisahan hadit-hadits gharib dan syadz --hadits-hadits yang kebanyakan mawadhu' dan maqlub. maka akan cepat roboh. Apabila diriwayatkan pada mereka madzhab mereka atau para ahli hasil ijtihad para tokoh dari aliran mereka. Itu karena hadits bagaikan fondasi. Mereka heran bagaimana mungkin mengamalkan zhahirnya ayat-ayat itu.

469 Hijrah. Lalu. menghancurkan otak-otak cemerlang. Metro Pondok Indah Pondok Indah Plaza I Kav. Dalam sejarah. al-Jiziy dan sebagainya. (021) 7501969. telah terjadi beberapa kali. dan para pendahulu yang setingkat dengan mereka. Abd al-Khaliq ibn Isa. Begitu juga para pengikut al-Syafi'i. -------------------------------------------. 7501983. Mereka hanya menerima riwayat al-Muzany dan al-Raby ibn Sulayman al-Murady. mereka tak memperhatikan dan tak menganggapnya sebagai pendapat al-Syafi'i. Dengan bantuan penguasa ia menyerang pemimpin Hanbaly. Al-Qusyayry berkata: "Perdamaian macam apa yang harus ada diantara kami? Perdamaian . terjadilah pertumpahan darah antara kedua golongan. Ibn al-Qusyayry al-Syafi'i memegang kekuasaan. tapi juga menimbulkan perpecahan di kalangan kaum Muslim. Ia selalu mengecam Ahmad ibn Hanbal dan para pengikutnya sebagai penganut antropomorfisme. TINJAUAN KRITIS ATAS SEJARAH FIQH (6/10) Dari Fiqh Al-Khulafa' Al-Rasyidin Hingga Madzhab Liberalisme oleh Jalaluddin Rakhmat Pada madrasah Nizhamiyah. Demikianlah keumuman sikap setiap imam dan gurunya masing-masing. Mereka mau menerima riwayat dari padanya kecuali yang melalui Abu Yusuf. Pengikut al-Qusyayry menutup pintu-pintu pasar madrasah Nizhamiyah. mereka saling mengkafirkan yang kemudian memuncak pada peperangan antar sesama Muslim. Muhammad ibn al-Hasan dan para tokoh sahabat serta murid-muridnya yang lain.segera mencari kepercayaan umat tidak ikut bertanggungjawab.22. Maka pendapat yang datang dari Al-Hakam tidak memiliki keistimewaan di mata mereka. ashhab (para sahabat). (021) 7507174 Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota Please direct any suggestion to Media Team Artikel Yayasan Paramadina Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota IV. Pemerintah kemudian mengumpulkan wakil kedua belah pihak dan meminta supaya mereka berdamai. Maka bila datang riwayat Harmalah. mereka tidak akan menerima. 7507173 Fax.(bersambung 6/10) Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah Editor: Budhy Munawar-Rachman Penerbit Yayasan Paramadina Jln. kelompok terhadap madzhab Fanatisme madzhab bukan saja telah menghambat pemikiran. Bila pendapat itu datang dari al-Hasan ibn Ziyad dan pendapatnya berbeda dengan riwayat yang melalui mereka. terhadapnya. Sebagai contoh adalah peristiwa yang terjadi di Baghdad. UA 20-21 Jakarta Selatan Telp. namun mereka Saya lihat para pendukung Malik tidak menerima riwayat dari padanya kecuali yang melalui Abu al-Qasim (Rasul Allah).

mengikuti gurunya Syaikh Muhammad Abduh. ia tentu saja masih menggunakan fatwa imam mazhabnya sebagai rujukan. mungkin karena ia berijtihad dengan metode yang sama untuk menjawab masalah-masalah yang belum dipecahkan imam mazhabnya. Kaum Muslim mundur karena meninggalkan ijtihad sehingga mereka menjadi seperti yang kita lihat sekarang ini. seorang mujtahid mengembangkan metode ijtihadnya secara mandiri dan mengeluarkan hukum-hukum berdasarkan metodenya itu. Karena itu. yang ditutup adalah ijtihad muthlaq. Menurut para pengikut madzhab Syafi'iy dan kebanyakan Hanafi. lebih ditujukan pada ijtihad muthlaq. Untuk yang pertama. Maka ketika satu madzhab memperoleh kekuasaan. Walau tak diketahui secara pasti sejak kapan. di zaman kemandegan pintu ijtihad. tapi tak boleh tidak harus ada mujtahid fi al-madzhab. Namun sebaliknya menurut kebanyakan Hanbaly. Sayyid Rasyid Ridha. Sebenarnya. Sementara itu menurut Maliky. Demikian catatan Abu Zahrah tentang tertutupnya pintu ijtihad. penutupan pintu ijtihad terjadi karena ada anggapan bahwa tidak ada ulama yang memenuhi persyaratan seperti keempat imam itu. campur tangan penguasa dalam kekuasaan kehakiman dan kelemahan posisi ulama dalam menghadapi umara. atau mentarjih (memilih yang terkuat) pendapat imam yang bermacam-macam itu. Bahayanya banyak --berakibat pada terbengkalainya akal. ijtihad mustaqil sudah tertutup. Sedangkan kaum ini menganggap kami kafir dan kami menganggap orang-orang yang aqidahnya tidak sama dengan kami juga kafir. setiap zaman tak boleh kosong dari mujtahid mustaqil. kita akan menemukan bagaimana seseorang yang . Muhammad Farouq al-Nabhan menyebut tiga sebab stagnasi pemikiran pada zaman ini: faktor-faktor politik. pemikiran yang bertentangan dengan madzhab itu ditindas. Pada ijtihad muthlaq. Di sini mujtahid berpegang pada metode ijtihad imam mazhabnya. mengecam penutupan pintu ijtihad yang mana pun: "Kita tidak menemukan manfaat apa pun dari penutupan pintu ijtihad". kita ingin menegaskan kembali bahwa madzhab berkembang karena dukungan politik. tapi boleh saja menghasilkan kesimpulan furu'iyyah yang berbeda dari imam mazhabnya. ia disebut mujtahid muntasib. kita dapat mengelompokkan dua macam ijtihad: ijtihad muthlaq dan ijtihad fi al-madzhab. meski pada tiap zaman boleh saja tak ada mujtahid mustaqil. atau menafsirkan yang mujmal menjelaskan yang mubham dari ucapan imam. Dalam hal ini. Yang dapat melakukan ijtihad jenis ini disebut mujtahid mustaqil (mujtahid independen). Adapun ijtihad fi al-madzhab. Maka perdamaian macam apa yang bisa berlaku di antara kami. Sebalikaya.terjadi di antara orang yang memperebutkan kekuasaan atau kerajaan. Jika kita membaca kitab-kitab sejarah madzhab. menurut Abu Zahrah. terputusnya pengembangan ilmu dan terhalangnya kemajuan pemikiran. terus berkembang." PENUTUPAN PINTU IJTIHAD Walau ada pembagian ijtihad yang bermacam-macam. Namun kenyataannya. di kalangan Syi'ah tidak pernah dikenal tertutupnya pintu ijtihad. SEBAB-SEBAB STAGNASI Dr. penutupan pintu ijtihad pada saat ini.

para ulama dari 70 negara Islam menyatakan bahwa Saddam sebagai mujahid Islam yang taat pada Allah dan al-Qur'an. bagaimana menurut .berbeda madzhab atau berganti madzhab menghadapi berbagai cobaan. Sahlan binti Suhail --istri Hudzaifah dari Bani Amir-. Karena itu. sebagaimana Rasulullah saw. Lebih-lebih bila berbeda pendapat dengan madzhab penguasa. Qadhi diangkat oleh penguasa. Contoh terakhir adalah pernyataan para ulama Rabithah yang mendukung kehadiran tentara Amerika di Jazirah Arab. dan menyebarnya penyakit akhlak seperti hasud dan egoisme di kalangan ulama. Untuk sebab kedua. FIQH DITELAAH KEMBALI: FIQH KAUM PEMBARU "Yahya memberitakan kepadaku dari Malik dari Ibn Syihab. dikembalikan kepada mawlanya. Ia berkata: 'Urwah bin Zub air mengabarkan kepadaku bahwa Hudzaifah bin 'Utbah bin Rabi'ah --salah seorang sahabat Nabi saw. menyebarnya ulama mutathaffilin (ulama yang memberi fatwa berdasarkan petunjuk Bapak). dan berkata: "Ya Rasul Allah. Umara tentu saja selalu berusaha mempertahankan status quo. ia mendapat satu pahala. Itu lebih adil di sisi Allah. Ketika Allah menurunkan ayat dalam Kitab-Nya tentang Zaid ibn Haritsah --panggillah mereka dengan nama bapak-bapak mereka. Kami hanya mempunyai rumah satu. Abu Hudzaifah menikahkan Salim --yang dipandang sebagai anaknya itu-. Bukankah ini ijtihad dan setiap ijtihad selalu mendapat pahala? Bila ijtihadnya salah. mengangkat Zaid ibn Haritsah sebagai anak. Qadhi tidak ingin mengambil risiko berbeda pendapat dengan madzhabnya. maka mereka adalah saudaramu dalam agama dan mawla-mawla kamu --maka dikembalikanlah setiap orang di antara mereka itu kepada bapaknya. Bila tidak diketahui bapaknya. Ia sering masuk ke rumahku dan aku dalam keadaan fudhul (memakai busana rumah yang tidak menutup aurat). posisi ulama yang lemah memperkuat fanatisme madzhab.dengan anak saudara perempuannya Fathimah bint al-Walid bin 'Utbah bin Rabi'ah. para ulama yang sama menyatakan Saddam sebagai bughat dan pemimpin dhalim. ijtthadnya hanyalah dalam rangka memberikan legitimasi pada kebijakan penguasa. Yaitu terpecahnya kekuasaan Islam menjadi negara-negara kecil hingga umat disibukkan dengan eksistensi politik. Setelah invasi.datang menemui Rasulullah saw. Waktu itu ia termasuk wanita muhajirat yang awal dan gadis Quraysy yang utama. Ulama sangat bergantung kepada umara. telah ditunjukkan bagaimana para ulama berebutan menjadi qadhi. Abd al-Wahhab Khalaf menyebutkan empat faktor yang menyebabkan kemandegan. Ia ditanya tentang menyusui orang dewasa. yang paling aman adalah mengikuti pendapat para imam mazhab yang sudah dibukukan. terbaginya para mujtahid berdasarkan madrasah tempat mereka belajar. Di samping itu. yang ikut menyaksikan perang Badar-. Sehingga ia disebut Salim mawla Abu Hudzaifah. dan bila benar dua. demi "ketertiban dan keamanan". 5. para penguasa Muslim lebih sering menindas kebebasan pendapat dari pada mengembanghannya. Dalam posisi seperti itu. kalau pun ulama berijtihad.telah mengangkat Salim sebagai anaknya. didiskreditkan ulama dan diadukan pada penguasa. karena ia dapat dikucilkan oleh masyarakat. kami menganggap anak kepada Salim. Jika kamu tidak mengetahui bapak-bapak mereka. Empat puluh tiga hari sebelum Saddam menyerbu Kuwait. Di sini harus dicatat: dalam sejarah.

Al-Muwatha 2: 115-116) Contoh lain: "Seorang A'raby meminum minuman 'Umar. Istri-istri Nabi saw yang lain menolak untuk mengizinkan laki-laki masuk ke rumah dengan susuan seperti itu. Mereka mempersoalkan cara menyusukan itu. Ahkam al-Qur'an 2:565). apalagi menyusu kepadanya?). lalu mencampurkan air ke dalamnya. (Malik. kemudian meminumnya. . (3) Dianjurkan menyusukan orang yang sudah dewasa supaya ia halal masuk ke rumah seorang perempuan. Tentu saja fuqaha mazhab-mazhab yang lain menolaknya. Yang dipersoalkan bukan hanya penafsiran nash-nash tetapi juga metode pengambilan keputusan. yang harus ditinjau bukan saja al-adillat al-syar'iyat. Aisyah mengambil cara ini bila ada laki-laki yang ingin masuk ke rumahnya Ia menyuruh saudaranya. Orang A'raby itu berkata: Aku minum dari minumanmu. Bagaimana mungkin Nabi saw menghalalkan sesuatu dengan tindakan yang haram? (Bukankah bersentuhan dengan perempuan yang bukan muhrim itu haram. Dengan merujuk pada hadits yang mengharamkan minuman keras --baik sedikit maupun banyak mereka telah membenarkan halalnya minuman keras karena dicampur air. Dari fenomena tersebut. Dua peristiwa di atas diambil dari kitab-kitab yang menjadi rujukan dalam menjawab masalah-masalah fiqhiyah. 'Umar meminta minumannya itu. Setelah itu ia memandangnya sebagai anak susuan. Ibrahim al-Nakhti meriwayatkan hadits yang sama dari 'Umar dan berkata: 'Umar meminumnya setelah mencambuk orang A'raby itu. berkata kepadanya: "Susukanlah dia lima kali susuan sehingga ia menjadi muhrim dengan susunya". Kesimpulan terakhir ini telah disepakati fuqaha. (Al-Jashash.Anda? Rasulullah saw. tetapi juga ushul al-fiqh. campurkan air ke dalamnya. Yang kemudian menjadi persoalan adalah tindakan 'Umar. Slogan yang di Indonesia didengungkan kaum modernis ini. Bukankah istri-istri Nabi saw yang lain menolaknya? Bukankah pada kitab hadits yang sama Umar ibn Khatab dan Abdullah ibn Mas'ud hanya membenarkan susuan pada waktu kecil saja? Peristiwa yang kedua dijadikan dalil oleh sebagian pengikut madzhab Hanafi untuk menghalalkan minuman keras (khususnya Nabi) bila dicampur dengan air. Mungkinkah ini hanya fiqhnya 'Aisyah. Umu Kultsum binti Abu Bakar al-Shiddik dan anak-anak perempuan saudaranya untuk menyusukan laki-laki yang ingin masuk ke rumahnya. Dalam istilah fiqh. (Ia mabuk) dan 'Umar menetapkan hukum cambuk baginya. Ia berkata: Siapa yang ragu untuk meminumnya. (2) Tidak boleh laki-laki yang bukan muhrim memasuki rumah seorang perempuan. ternyata "Kembali kepada al-Qur'an dan al-Sunnah" tidak segampang seperti yang dibayangkan. kecuali bila laki-laki itu saudara sepesusuan. Dari peristiwa yang pertama para faqih menyimpulkan beberapa hukum: (1) Batas susuan yang menyebabkan seorang haram dinikahi adalah lima kali susuan. Apakah perilaku 'Umar dapat dijadikan model dalam pengambilan kesimpulan hukum? Apakah pendapat para sahabat dapat dijadikan hujjah dalam agama? Apakah tindakan 'Umar itu suatu preseden bolehnya meninggalkan nash-nash syari'at bila kondisi berubah? Pertanyaan-pertanyaan tersebut merupakan problema yang dihadapi para pembaru Islam ketika mereka menelaah kembali fiqh yang ada.

. memang lebih terkenal sebagai ahli hadits dari pada ahli fiqh. Imam Ahmad ibn Hanbal. 1987:95). Muhammad ibn Abd al-Wahab menolak "the corruption and laxity of the contemporary decline. ketika menyampaikan khutbahnya di Makkah tahun 1355. tapi berusaha menangkap menurutnya. tema umum Islam. bila ada. the introvert warmth and other wordly pety of the mystic way. Smith. Pada Ibn Hazm.C. dan terutama sekali pada Daud al-Zhahiri. Yang kedua berdasarkan fiqh pada hadits walaupun lemah dan menolak penggunaan rasio. Yang pertama menekankan rasio dalam pengambilan keputusan. kita harus memulai dengan menyorot kedua aliran ini secara kritis dibahas skriptularisme. dalam upaya menelaah kembali fiqh. dan menolak qiyas kecuali dalam keadaan terpaksa. Aliran ini tak lagi terikat dengan bunyi teks. Seperti Ibn Taymiyah. berkata: "Madzhab kami mengikuti dalil. Semuanya terjadi karena Ahmad mendasarkan mazhabnya pada hadits Rasulullah saw (meski lemah). Yang paling dekat dengan ahl al-ra'y adalah madzhab Hanafi. LATAR BELAKANG SKRIPTURALISME Seperti diketahui dalam fiqh tabi'in. yaitu aliran yang berpegang kepada teks-teks syari'at secara kaku. yaitu liberalisme. Paham Ibn Taymiyah dihidupkan kembali oleh Muhammad ibn Abd al-Wahab lima abad kemudian. dan yang ada hanya ijtihad. Skripturalisme dan liberalisme keduanya berusaha mendobrak kebekuan pemikiran Islam. setelah orang merasa perlu membuka kembali pintu ijtihad. Raja Malik ibn Abd al-Aziz. Dalam kalimat W. . The Encyclopedia of Islam menyebut Ibn Taymiyah sebagai the bitter enemy of innovations. Arkoun menyebut aliran ini logosentrisme yang ia gambarkan sebagai berikut: Di samping aliran ini ada aliran yang sangat menekankan rasio (akal). Berbagai upaya rekonstroksi fiqh di dunia Islam sekarang ini berangkat dari kedua aliran tersebut.. sekaligus merupakan fiqh baru yang dapat menjawab masalah-masalah baru akibat perubahan masyarakat.sebetulnya hanyalah salah satu aliran peninjauan kembali fiqh. ada dua aliran besar dalam fiqh Islam: ahl al-Ra'y dan ahl al-Hadits. Mazhab-mazhab fiqh terletak di antara kedua ekstrim itu. kesetiaan pada teks sangat ekstrem. bila tidak ada. Ibn Taymiyah memperkuat gerakan anti rasionalisme ini dengan menolak setiap penggunaan logika dalam khazanah ilmu-ilmu Islam dan sekaligus menolak praktek-praktek yang tidak ada dasarnya dalam teks al-Qur'an dan hadits. Aliran tersebut sebenarnya adalah skripturalisme. Ibn Qutaybah memasukkan Ahmad di antara muhadditsin dan Ibn Jarir al-Thabari menolak Ahmad sebagai ahli fiqh. yang mengumpulkan ribuan hadits dalam musnadnya. tugas ahli fiqh hanyalah mencari nash yang relevan.the alien intellectualism not only of philosophy but also theology" (Smith. makna hakiki dari teks. filsuf dan sufi. Jadi fiqhnya selalu merujuk pada nash-nash al-Qur'an atau hadits. dan yang paling dekat dengan ahl al-hadits adalah mazhab Hanbali. . fatwa para sahabat. Makna ini dianggap sebagai ruh ajaran Islam. kami mengikuti ijtihad Ahmad ibn Hanbal: (Mughniyah.. ia mencela kaum mutakallim. Mereka menolak ta'wil dan menerima hadits secara harfiyah. maqashid syar'iyah dan sebagainya. 1968:42). Karena itu. Karena itu.

mempengaruhi banyak aliran pembaharuan di seluruh dunia. duduk di atas 'arasy. 1981:26). dalam aqidah. 7507173 Fax. mengucapkan doa yang tidak ma'tsur. yang kemudian menjadi paham resmi Arab Saudi. --dan di Indonesia-. membaca shalawat kepada Nabi saw. Qunut pada shalat Subuh. yang mencoba menangkap makna batiniyah dari nash-nash. skriptualisme menyingkirkan pengalaman mistikal dari kehidupan beragama. TINJAUAN KRITIS ATAS SEJARAH FIQH (7/10) Dari Fiqh Al-Khulafa' Al-Rasyidin Hingga Madzhab Liberalisme oleh Jalaluddin Rakhmat KEGAGALAN SKRIPTURALISME Keyakinan bahwa kesetiaan pada teks al-Qur'an dan hadits cukup untuk memecahkan persoalan ternyata hanya simplikasi. tetapi juga dikafirkan.22. dianggap bid'ah. mereka menetapkan keharusan percaya bahwa Ia turun ke langit dunia. Ada beberara kegagalan skripturalisme. tidak ada contohnya dari Nabi saw). Wacana teologi menjadi gersang. "since the leaders of these movements were interested in negating some of the influences of the medieval school of islamic thought and law. Pertama. yang disebut bid'ah adalah apa saja yang tidak merujuk pada dalil yang telah dipilihnya.menyelenggarakan upacara tahlilan dan marhabanan dianggap tidak mengikuti sunnah Rasulullah saw (dalam bahasa orang awam. UA 20-21 Jakarta Selatan Telp. menurut Fazlur Rahman. (021) 7501969.Paham ini. 7501983. Kedua. Dengan menolak ta'wil. Filsafat bukan saja dijauhi. dianggap sesat. dan kembali kepada al-Qur'an dan hadits sebagai satu-satunya jalan untuk memecahkan segala persoalan Islam. Kaum sufi. Pada saat yang sama. . mengobrol dengan ahli surga. -------------------------------------------. Praktek-praktek keagamaan yang tidak secara spesifik ditunjukkan dalam nash. Karena skriptualisme menerima teks-teks al-Qur'an dan hadits dengan apa adanya. Mereka melihat masa Salaf sebagai model. they inevitably took a negative attitude toward the intellectual and spiritual developments that had taken place in the intervening centuries" (Rahman. mereka telah mematikan telaah filosofis.(bersambung 7/10) Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah Editor: Budhy Munawar-Rachman Penerbit Yayasan Paramadina Jln. (021) 7507174 Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota Please direct any suggestion to Media Team Artikel Yayasan Paramadina Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota IV. membaca dzikir bersama. Metro Pondok Indah Pondok Indah Plaza I Kav. tertawa dan sebagainya. Selanjutnya.

Kritik terhadap skripturalisme sama sekali tidak dimaksudkan untuk membela liberalisme. zakat emas dan perak. menggunakannya dalam menjelaskan zakat profesi. Al-masail al-lafzhiyah --seperti makna lughawi.untuk merinci dalil-dalil orang-orang yang mempraktekkan upacara-upacara agama tersebut. bukan tidak mengikuti sunnah. skripturalisme tidak dapat menyelesaikan kemusykilan-kemusykilan yang terjadi ketika melakukan istidlal (memberikan dalil-dalil hukum) dari nash-nash. Dengan menyingkirkan mistisisme. yang menolak qiyas. Salah satu contoh adalah perbincangan tentang zakat profesi atau pekerjaan-pekerjaan yang tidak diwajibkan zakat padanya. karena menolak wacana intelektual. kita dapat merumuskan kaidah-kaidah baru dalam menegakkan fiqh yang lebih relevan dan signifikan. Sebagian di antara mereka akhirnya menggunakan qiyas juga. orang tidak memberikan solusi terhadap segala kemusykilan ini. skripturalisme. orang-orang awam tidak merasa perlu lagi dengan kehadiran fuqaha. yang memuncak pada fragmentasi umat. 6. kita sebut liberalisme. Melalui studi kritis terhadap keduanya. Keempat. makna 'am dan khash dan sebagainya. FIQH KAUM PEMBARU: MADZHAB LIBERALISME Seperti telah disebut di atas. Ada yang mengqiyaskan zakat profesi dengan zakat pertanian. Pada tahap institusional. Mereka kembali secara ketat pada teks-teks al-Qur'an dan al-hadits atau mereka berusaha menemukan ruh atau semangat dari ajaran al-Qur'an dan al-hadits. Tulisan ini hanya ingin mengingatkan kita akan pentingnya penilaian kritis terhadap pendekatan pada fiqh. Terakhir. Madzhab yang lain akan dianggap menyimpang dari al-Qur'an dan sunnah. saya kira. Para pengikutnya tidak lagi "menikmati" agama dan sebagian mengalami ketidakpuasan rohaniah. kelima. Ketiga. paham ini melahirkan orang-orang yang wawasannya sempit. dan zakat perdagangan. Sebagian kaum modernis di Indonesia. Bukankah segala persoalan dapat diselesaikan dengan merujuk pada dalil-dalil al-Qur'an dan hadits. penentuan keshahihan hadits. mukhtalaf al-hadits. karena berusaha secara bebas untuk menggunakan penalaran. Dalam skala makroskopis. makna 'urfi (kebiasaan). Pada gilirannya. mudah mendorong orang ke arah fanatisme. kaum skripturalis telah menghilangkan pengalaman beragama (religious experiences) yang emosional. saya akan mengutip deskripsinya tentang kaum liberalis .Padahal. Mereka membentuk kelompok-kelompok. tetapi tidak berdasarkan dalil yang disetujui mereka. tetapi tanpa aturan yang konsisten. Muncullah para "mujtahid" yang tidak berkualifikasi. Akibat kegagalan skripturalisme tersebut. Yang pertama kita sebut skripturalisme (sudah dibicarakan) dan kedua. Tidak ada maksud saya --dan bukan tempatnya di sini-. skripturalisme terbukti tidak menjawab berbagai masalah kontemporer. liberalisme juga sangat rentan terhadap berbagai problem. para pembaru mencoba mendobrak stagnasi dengan melakukan salah satu di antara dua pilihan. makna haqiqi dan majazi. tapi merasa faqih. Walaupun saya tidak akan membahas pokok-pokok pikiran kaum liberal Islam seperti yang dipaparkan Leonard Binder. qawaid ushul al-fiqh dan masalah-masalah lain yang berkaitan dengan penafsiran nash tidak mendapat perhatian.

Cukuplah buat kita kitab Allah itu. dan ketika Rahman mengulas pemikiran modernis dan fundamentalis. Pada bagian kedua. Mereka menerima yang pertama secara ta'abbudi.Islam. Mereka bersedia meninggalkan makna lahir dari teks untuk menemakan makna dalam dari konteks. seeking that which is represented or revealed by language. Rasulullah saw sering berijtihad. but which goes beyond them. Nabi menyuruh sahabatnya mengambil dawat dan pena untuk menuliskan wasiatnya. TRADISI IJTIHAD BI 'L-RA'Y Ketika [brahim Hosen berbicara tentang ta'aqquli dan ta'abbudi. For Islamic liberals. Yaitu yang berhubungan dengan ibadah ritual (kelak disebut huquq Allah) dan yang berhubungan dengan masalah-masalah sosial (kelak disebut huquq al-'ibad). Jadi ciri khas kaum liberalis ialah upaya untuk menangkap esensi wahyu. sesudah mengutip sejarah ijtihad bi al-ra'y saya akan mengutip juga perkembangan tafsir bi al-ma'tsur. Umar berkata. "Kamu lebih tahu urusan duniamu?" Bukhari meriwayatkan peristiwa yang oleh Ibn 'Abbas disebut sebagai "tragedi hari Kamis"." Tampaknya Umar berpendapat bahwa kondisi sakit Nabi melahirkan ijtihad Nabi yang tidak perlu diikuti. Nabi hendak menshalatkan 'Abdullah ibn Ubayy. Para ahli hadits meriwayatkan berbagai peristiwa ketika ijtihad Nabi berbeda dengan ijtihad 'Umar. Fiqh al-ra'y sebenarnya sejajar dengan tafsir al-Qur'an bi al-dirayat. Since the words of the Qur'an do not exhaust the meaning of revelation. "Nabi saw dalam keadaan sakit parah. the language of the Qur'an is coordinate with the essence of revelation. dan Allah membenarkan ijtihad 'Umar. Karena itu. Dalam kasus-kasus ini. tapi Umar melarangnya. Dalam keadaan sakit. SEJARAH MADZHAB LIBERALISME Fiqh kaum liberal dapat dilacak pada madzhab ahl al-ra'y di kalangan para sahabat Nabi. tapi kaum liberalis modern justru mengambil inspirasi dari tafsir bi al-ma'tsur. Di bawah ini saya akan mengulangi lagi akar pemikiran kaum liberalis dengan mengutip apa yang pernah saya tulis pada pengantar buku Islam dan tantangan Modernitas. dan yang kedua secara ta'aqquli. di sini para sahabat tidak merasa terikat dengan sunnah. Nabi menginginkan agar para tawanan Badar dibebaskan dengan tebusan. Bukankah Nabi mengatakan. there is a need for an effort at understanding which is based on the words. "Dengan ini kalian tidak akan sesat selamanya"' kata Nabi. Setelah itu. keduanya menggaungkan kembali perbedaan pendapat para sahabat tentang sunnah Rasullah saw. Di tangan kalian ada kitab Allah. wahyu . ijtihadnya boleh jadi benar atau salah. but the content and the meaning of revelation is not essentially verbal. secara khusus kita akan mengambil contoh pemikiran Ibrahim Hosen dan Fazlur Rahman untuk menggambarkan pokok-pokok pemikiran kaum liberalis. Seperti biasa. Apakah Nabi Muhammad saw berijtihad? Banyak para sahabat membagi perintah-perintah Nabi ke dalam dua bagian. makna wahyu di luar arti lahiriah dari kata-kata. pada akhirnya saya akan mengajukan kritik. sedangkan 'Umar mengusulkan untuk membunuh mereka. Karena itu.

Tidak ada ijtihad Nabi. aku akan berupaya menangis seperti tangisan Anda. aku akan menangis. Sementera itu. "tidak akan ada yang selamat kecuali Umar ibn Khaththab. padahal Nabi memerintahkan mereka untuk berada di dalamnya. tetapi ia hanya berbicara berdasarkan wahyu yang diturunkan kepadanya.selalu turun membenarkan Umar. Kalau orang mau. ia menegur Ali: "Kau lakukan itu padahal aku melarangnya?" Ali menjawab: "Aku tidak akan meninggalkan sunnah Rasulullah saw karena (ra'yu) salah seorang manusia. Ketika Umar dan Utsman --pada zamannya masing-masing melarang haji tamattu" Ali menentangnya. Ketika Utsman melarang menggabungkan haji dengan 'umrah. Kalau tidak." Abdullah ibn Mas'ud berkata seperti itu juga: "Aku mengatakan ini dengan ra'yuku.merupakan justifikasi terhadap peluang menggunakan ra'yu dalam menghadapi sunnah (yang berasal dari Ijtihad Nabi). tinggalkan saja. silakan ambil ra'yu-ku. dari Allah dan kalau salah. daerah Hijaz. yang berkata: "Barang siapa melakukan tamattu'. Diriwayatkan bahwa Nabi saw. sehingga lahirlah mazhab Kufah yang menitik-beratkan Fiqh al-ra'y. disertai Abu Bakar pernah menangis terisak-isak menyesali kekeliruan ijtihadnya. Ketika Abu Bakar dan Umar meninggalkan pasukan Usamah.a." Umar juga diriwayatkan berkata: "Inilah ra'yu Umar. "Seandainya azab turun. yang menekankan Fiqh al-atsar. ia datang menemuiku dan berkata." Nabi kemudian menceritakan tentang wahyu yang membenarkan Umar dan menyalahkan Nabi. Ibn Katsir. Pada suatu pagi." Para tabi'in dari Kufah kelak berguru kepada Abdullah ibn Mas'ud." Ketika Ali menegur Utsman yang melarang tamattu'. sangat takut kepada Umar dan tidak menemukan orang yang melawan pendapat Umar kecuali Ali ibn Abi Thalib. Ibn Abi al-Hadid membenarkan kedua sahabat itu. Ini hanyalah ra'yu yang aku pegang. 'Umar bertanya: "Apa yang menyebabkan Anda dan sahabat Anda menangis? Kalau ada sesuatu yang patut aku tangisi. Kalau tidak ada tangisan. Sebagai lawan mereka --dalam pemikiran-adalah madzhab Alawi." (QS 53:3). Allah dan Rasul-Nya terlepas darinya. kemudian kita pun menyebut madzhab pemikiran mereka sebagai madzhab Umari." Karena Umar adalah primadona dari kelompok pertama para sahabat ini. dari Umar. Mereka tidak membedakan huquq al-'ibad dan huquq Allah dalam instruksi-instruksi Nabi yang bernilai tasyri'. Fiqh al-ra'y makin diperteguh dengan kecenderungan umum madzhab Umari untuk mengabaikan penulisan hadits. "Ia tidak berbicara berdasarkan hawa nafsunya. "ambilkan . ia berasal dari Allah dan bila salah ia berasal dari setan. ia sudah menjalankan kitab Allah dan sunnah NabiNya. 'Aisyah melaporkan: "Ayahku telah mengumpulkan 500 hadits Nabi saw. "Sesungguhnya Nabi saw mengirimkan pasukan itu berdasarkan Ijtihad dan bukan berdasarkan wahyu yang diharamkan membantahnya. Kalau benar. Utsman berkata: "Aku tidak melarangnya. Bila benar." Hadits-hadits di atas --walaupun keabsahannya harus kita teliti secara kritis-." kata Nabi. Ali tetap tinggal di Madinah. sebelum ia memindahkan ibu kota ke Kufah pada masa kekhalifahannya. menulis: "Para sahabat r." Kita pun kemudian mengetahui bahwa di Madinah. berkembanglah madzhab Hijaz. yang terdiri atas sahabat-sahabat yang berkumpul di sekitar Ali ibn Abi Thalib. dalam kitab tarikhnya.

halalkan yang halal dan haramkan yang haram." Lalu saya berikan kepadanya. saya mati. Umar menyuruh mengumpulkan hadits-hadits itu dan memerintahkan untuk membakarnya. Janganlah meriwayatkan sesuatu pun dari Rasulullah saw. Rasul Ja'farian menyebutkan nama-nama ulama tabi'in yang melarang penulisan hadits.kepada al-Qur'an. Madzhab yang menggunakan kaidah semacam ini disebut madzhab al-Zhahiri. jawablah: "Di antara Anda dan kami ada Kitab Allah. karena diprakarsai Dawud al-Zhahiri yang dilanjutkan Ibn Hazm dalam kitabnya al-Muhalla. tak memperkenankan penggunaan akal." Tradisi pengabaian penulisan hadits --dan sekaligus pembakarannya-. "Hasbuna Kitab Allah. tetapi mengaplikasikan nash secara baik. Abu Sa'id. yang pertama kali melakukan tadwin hadits adalah Ibn Syihab al-Zahri atas perintah Umar ibn Abd al-Aziz. Ia membakarnya dan berkata: "Saya khawatir." Abu Bakar juga pernah mengumpulkan orang setelah Nabi wafat. tetapi membentuk kontinum. Ashim. Bila ada yang bertanya kepada kalian. dan berkata: "Kalian meriwayatkan dari Rasulullah saw. Sa'id ibn Jubair. Al-Hasan ibn Abi al-Hasan --menjelang kematiannya-. penulisan hadits terlambat sekitar dua abad. (2) madzhab ini mengutamakan ra'yu ketimbang al-Sunnah. Akibatnya. berdasarkan pemahaman yang benar akan maksud-maksud syara'. fiqh al-ra'y dan fiqh al-atsar ini tidak terpilah tegas. Alasan Umar: "Aku khawatir hadits-hadits itu akan memalingkan orang dari Kitab Allah. Kaidah mereka: la ra'yu fi al-din (tidak ada tempat rasio dalam agama). Prinsip mereka dalam pengambilan hukum. dan meninggalkan hadits-hadits itu padamu. kecuali satu buku saja. periwayatan hadits tetap berlangsung sampai zaman Umar. hadits-hadits yang kalian perselisihkan. Disadari atau tidak. Sejarah singkat madzhab 'Umari ini menunjukkan tiga ciri khasnya: (1) madzhab ini memusatkan perhatian utamanya --dan seringkali dengan mengabaikan yang lain-.hadits-hadits yang ada padamu. Di kalangan madzhab-madzhab ahl al-Sunnah. Ali Yafie melukiskannya sebagai lingkaran-lingkaran: "Lingkaran paling dalam (pertama) merupakan kelompok yang paling sedikit menggunakan ra'yunya. Ke dalamnya. Untuk menangkis tuduhan bahwa Umar sering meninggalkan nash-nash al-Qur'an secara sengaja. -------------------------------------------. Hanya intensitas penggunaannya sangat sedikit. yaitu. Nanti.(bersambung 8/10) Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah Editor: Budhy Munawar-Rachman Penerbit Yayasan Paramadina Jln. dan (3) madzhab ini menekankan aspek maqashid syar'iyyah atau kemaslahatan umat untuk menetapkan hukum. Abu Zahrah menulis: "Tidak seorang sahabat pun meninggalkan nash demi ra'yunya atau kemaslahatan yang dipandangnya. Sesungguhnya maslahat yang difatwakan sahabat tidak bertentangan dengan nash.dilanjutkan oleh tabi'in. madzhab ini sebenarnya juga menggunakan rasio. Konon. dan kurang terikat pada zhawahir (makna tekstual) dan nash. dan lain-lain. khusus di kalangan ahl al-Sunnah. Madzhab-madzhab itu berbeda dalam intensitas penggunaan nash dan ra'yu. manusia sesudahmu akan lebih daripada itu. ia lemparkan semua tulisan."." kata Umar. Metro Pondok Indah . Abu Burdah. Walaupun begitu. Ibrahim al-Nakha'i.memerintahkan pembantunya untuk menyalakan api pembakaran.

"Lingkaran keempat adalah madzhab Syafi'i yang dipelopori Imam Syafi'i. marilah kita melihat madzhab Hanafi. Ahmad Amin.22. ia akan mengambil banyak pendapatku. terakhir.Pondok Indah Plaza I Kav. Kaidah mereka adalah al-Mashalih al-Mursalah. adalah mazhab yang frekuensi penggunaan akalnya lebih banyak." Untuk memberikan contoh madzhab yang paling "Umari". Kata Ibn Khaldun. merupakan madzhab yang menggunakan rasio agak lebih intens daripada kelompok pertama tadi. Abu Hanifah memang hanya sedikit meriwayatkan hadits. hal itu dikarenakan Abu Hanifah sangat memperketat syarat-syarat penerimaan hadits. Doktrin mereka menyatakan bahwa hadits dha'if harus lebih diprioritaskan daripada akal. kelompok yang disebut madzhab Maliki yang dipelopori Imam Malik. ia menjawab: "Abu Hanifah adalah orang paling pandai tentang apa yang sudah terjadi. Dalam proses pengambilan hukum. kurangnya hadits pada Abu Hanifah menunjukkan bahwa ia tidak merasa puas dengan menyampaikan hadits saja. Bukankah agama itu ra'yu yang baik?" Barangkali ini penegasannya tentang keharusan nash tunduk pada analisis rasional." Yang dimaksud dengan apa yang sudah terjadi adalah hadits-hadits Nabi. Ia memprioritaskan ra'yu dalam mengeluarkan keputusan . "Lingkaran ketiga. Akal lebih dipentingkan dalam proses pengambilan hukum daripada hadits. (021) 7501969. UA 20-21 Jakarta Selatan Telp. Abu Hanifah pernah dilaporkan berkata: "Seandainya Rasulullah berjumpa denganku. 7507173 Fax. madzhab ini lebih banyak menggunakan analogi atau qiyas. Doktrinnya menyatakan bahwa rasio harus diperhatikan guna pertimbangan kemaslahatan. Madzhab ini dipelopori oleh Imam Hanafi. 7501983. Apa yang belum terjadi adalah ketetapan hukum berdasarkan qiyas. Ketika Raqabah ibn Musqilah ditanya tentang Abu Hanifah. Ali Hasan Abd al-Qadir: "Musuh-musuh Abu Hanifah menuduhnya tidak memberikan perhatian besar pada hadits. "Sedangkan kelompok kelima. Madzhab ini banyak dilaksanakan di Saudi Arabia. Simaklah riwayat yang diceritakan Dr. (021) 7507174 Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota Please direct any suggestion to Media Team Artikel Yayasan Paramadina Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota IV. ia menguji hadits dengan pertimbangan psikologis dan konteks sosial. Mazhab ini disebut mazhab Hanbali yang dipelopori Imam Ahmad ibn Hanbal. Kata Dr. TINJAUAN KRITIS ATAS SEJARAH FIQH (8/10) Dari Fiqh Al-Khulafa' Al-Rasyidin Hingga Madzhab Liberalisme oleh Jalaluddin Rakhmat "Lingkaran yang kedua.

pada bab khusus. Kata Abu Hanifah: "Undian itu judi. Kata Abu Hanifah: "Aku tidak akan menjadikan bagian binatang lebih banyak daripada bagian seorang Mukmin.hanya dapat diterima oleh orang yang tidak mempunyai dasar dalam pemikiran Islam tradisional. Kata Abu Hanifah: "Isy'ar adalah penganiayaan. menyebut hadist-hadist yang ditolak Abu Hanifah dan mencapai 150 hadits. Karena itu. ." Katanya: "Rasulullah berkata. Abu Hanifah menolak 400 atau lebih hadits Nabi saw." Kata mereka: "Pada zaman Abu Hanifah." Nabi mengundi istri-istrinya kalau mau bepergian." Rasulullah melakukan isy'ar (melukai punggung unta) sebelum menyembelih hewan kurbannya. tidak berbeda dari Ibn Taimiyah bagi madzhab Hanbali. Daerah-daerah madzhab Hanafi antara lain Mesir dan Pakistan. Uraian di atas diberikan untuk menjelaskan dasar-dasar pemikiran Rahman pada perkembangan pemikiran Islam klasik. "aku mendengar Yusuf ibn Asbath berkata. Cukuplah dikatakan bahwa dengan mempelajari fiqh-fiqh klasik. Abu Shalih al-Fura menuturkan. sebagaimana fiqh al-ra'y mempunyai persamaannya dalam tafsir bi 'l-dirayat. bagi madzhab Hanafi. Di Mesir.. Ia memegang jabatan qadhi pada masa-masa kekhalifahan 'Abbasiyyah. prajurit mendapat satu bagian. Ia memuji Abu Yusuf karena memberikan penafsiran yang situasional kepada hadits yang "berdiri sendiri". Kita akan membicarakan kritik pembaruan Rahman di akhir tulisan ini. Kataku: "Berikan sebagian contohnya. al-Hadi dan al-Rasyid. ada baiknya kita juga meninjau perkembangan metodologi penafsiran al-Qur'an. (Untuk menggembirakan kita semua kedua-duanya berhak disebut Syaikh al-Islam). Rahman. madzhab Hanafi tersebar ke seluruh kekuasaan Islam. Tidak heran kalau Fazlur Rahman sering --bahkan paling sering-menyebut Abu Yusuf. Ia menolak banyak hadits demi ra'yu. Tafsir --menurut Muhammad Ali al-Shabuni-adalah ilmu untuk memahami Kitab Allah yang diturunkan kepada . Sebelum sampai ke situ. sebagaimana kritik Rahman terhadap hadits (sunnah) dapat ditelusuri pada kritik fuqaha al-ra'y terhadap fuqaha al-atsar. Fazlur Rahman dilahirkan. tidak ada khiyar." Kata Abu Hanifah: "Bila jual beli wajib." Nabi bersabda: "Dua jual beli dengan khiyar sebelum keduanya berpisah. ada empat orang sahabat. antara lain pada masa al-Mahdi. Kita tidak akan membicarakan pengaruh Abu Yusuf terhadap metodologi Rahman (dan juga Hosen). ketika merumuskan metodologi ijtihadnya. Tafsir Kontekstual-. sebagai latar belakang teoretis dalam memahami penafsiran al-Qur'an yang dirumuskan oleh Rahman. kritik terhadap Rahman juga dapat dilacak pada kritik fuqaha al-atsar terhadap fuqaha al-ra'y. kita akan terkejut menemukan bahwa klaim orisinalitas pembaruan Rahman --yang berulangkali disebut Taufik Adnan Amal dalam bukunya. menerima hadits dengan sikap kritis. Ibrahim Hosen mereguk ilmunya. Salah satu murid terkemuka dari Abu Hanifah adalah Abu Yusuf." Ibn Abu Syaibah dalam bukunya. TAFSIR BI 'L-RIWAYAT DAN TAFSIR BI 'L-DIRAYAT Fiqh al-atsar mempunyai tandingan dalam tafsir bi al-riwayat. kuda mendapat dua bagian.fiqh. Di Pakistan. Lewat tangan-tangan kekuasaan. Abu Hanifah tidak tertarik untuk menemui mereka. dan menetapkan "sunnah yang dikenal baik" sebagai kriteria terhadap "semangat dan sikap kolektif" dari hadits..

yang menjadi pijakan Rahman. 7:52. tafsir bi 'l-riwayat seperti ini diambil Rahman ketika berbicara tentang hukum Islam dan ditinggalkan Rahman ketika membahas aspek teologis dan eskatologis ajaran Islam. Banyak kitab tafsir mengaku menggunakan metoda ini. Sesudah itu. kita akan menemukan prosedur penafsiran Qur'ani yang bermacam-macam. Semula manusia mati. lewat asbab al-nuzul). dan menjelaskan maknanya serta menggali hukum-hukum dari hikmahnya. yang --menurut Rahman-dapat mengungkapkan latar belakang situasional. pendapat sahabat dan tabi'in. kemusykilan kedua penafsiran ini akan kita lihat. para mufasir menganggap taisir bi 'l-riwayat adalah yang paling dapat dipercaya. kita akan melihat problematik al-Qur'an yufassir ba'dhuhu bad'dhan. Bila kita teliti kitab-kitab itu. Bila tafsir itu diperoleh dengan menukil penjelasan dari al-Qur'an lagi. menafsirkan kata zhulm dalam. dari penafsiran QS 31:14 dengan QS 46:15. membedakan ketetapan legal dari sasaran dan tujuan al-Qur'an. Ibn Abbas menafsirkan dua kematian dan dua kehidupan dalam surah Ghafir ayat 11 dengan merujuk kepada surah al-Baqarah ayat 28. Akhirnya.maka kita menyebutnya tafsir bi al-dirayah atau tafsir bi 'l-ra'y. Pertama kali. serta menggali prinsip-prinsip universal ajaran Islam. Nabi saw. Rahman hampir sepenuhnya berpijak pada tafsir bi 'l-dirayat. ketika berada dalam tulang sulbi orang tua mereka. baru tafsir al-Qur'an dengan al-Sunnah (misalnya. kita akan melacak kemusykilan asbab al-nuzul. Untuk yang terakhir ini. dari sinilah Rahman mengajak kita untuk menafsirkan al-Qur'an dengan melihat al-Qur'an secara keseluruhan dan dengan melihat "sebab-sebab pewahyuan". Muhammad saw. wa lam yalbisu imanabum bi zhulm (QS 6:82) sebagai syirk berdasarkan ayat inn al-syirk la-zhulm 'azhim (QS 31:13). Ali ibn Abi Thalib menyimpulkan bahwa waktu minimal kehamilan adalah enam bulan. al-Hadits. dalam Tafsir al-Mizan. tafsir al-Qur'an dengan al-Qur'an adalah yang paling baik. Di antara jenis-jenis tafsir bi 'l-riwayat. kita dapat membaginya ke dalam kelompok: tafsir Qur'ani yang murattab (berdasarkan urutan ayat dari al-Fatihah sampai al-Nas) dan tafsir Qur'ani maudhu'i (berdasarkan tema-tema atau topik-topik tertentu) Untuk mengetahui prosedur penafsiran qurani yang murattab. kita akan menelusuri akar-akar penafsiran Rahman pada tafsir bi 'l-dirayat. kita uraikan jalan yang ditempuh oleh al-Thabathaba'i. 2:185) dan al-Sunnah. Abd al-Karim al-Khathib al-Mishri bahkan menamai kitab tafsirnya al-Tafsir al-Qur'ani li al-Qur'an. Kemudian Allah menghidupkan mereka di dunia. Rupanya. Tradisi Nabi ini dilanjutkan oleh para sahabat. Bila tafsir itu berpijak pada ijtihad mufasir --dengan mengerahkan kemampuan nalar dan/atau intuisinya-. Di antara kedua jenis tafsir itu. Selanjutnya. maka tafsir itu disebut tafsir bi 'l-riwayat atau tafsir bi 'l-ma'tsur. Tafsir al-Qur'an dengan al-Qur'an mempunyai basis dalam petunjuk-petunjuk al-Qur'an sendiri (QS 11:1. Untuk mengapresiasi metode penafsiran Rahman. Setelah itu Allah mematikan mereka dan menghidupkan mereka kembali pada Hari Kiamat. Anehnya. Paling tidak.Nabi-Nya. .

Kadang-kadang ayat-ayat yang berkaitan dengan topik tertentu tersebar pada surah-surah yang berbeda atau pada tempat-tempat yang berbeda dalam surah yang sama. ". al-'Alaq ayat 8. dan karena kita tidak mengetahui konteks turunnya ayat itu atau petunjuk-petunjuk situasional yang berlaku pada masyarakat Islam saat itu. Apakah kamu menyembah barang yang kamu pahat. Ibrahim Hosen. Ketua Komisi Fatwa Majelis Ulama . dan al-Naml ayat 62.Pertama. Tanpa melihat konteks ayat." Yang dimaksud dengan "khalifah" dalam surah al-Baqarah ayat 30 tidak terbatas pada Adam. seperti kasus-kasus atau fenomena yang menjadi petunjuk bagi topik yang dibicarakan. Perbedaan antara tafsir maudhu'i dengan tafsir murattab mirip dengan perbedaan antara thesaurus dengan dictionary. atau bersifat haliyah. ayat "Dan Allah menciptakan kamu serta apa yang kamu perbuat" (QS 37:96). Al-Qur'an menunjukkan dalam setiap surah atau setiap tempat.. Yunus ayat 14. dan menjelaskan metodenya sebagai berikut: ". Ayat ini terdapat dalam kisah ucapan Ibrahim kepada para penyembah berhala. Ja'far Subhani menulis serial mafahim al-Qur'an (sampai sekarang sudah selesai lima jilid). Bahwa "apa yang kamu perbuat" adalah berhala-berhala itu. tetapi meliputi anak-cucunya. Kedua. dalam satu tempat. Tafsir maudhu'i baru muncul belakangan. baik yang bersifat lafdziyah. Pengantar pada tafsir ini --sepanjang pengetahuan saya dari kalangan kaum Muslim-. Tafsir maudhu'i dimulai dari topik. kita akan terjatuh ke dalam paham Jabbariyah.ditulis oleh Muhammad al-Baqir al-Abthahi. al-Najm ayat 42. Yang dimaksud dengan konteks adalah "semua yang mengungkapkan ( makna) lafadz yang ingin kita pahami dari petunjuk-petunjuk yang lain. 26. "maka ayat-ayat al-Qur'an dilihat dari konteks ayat-ayat itu" (siyaq al-ayat). padahal Allah menciptakan kamu serta apa yang kamu perbuat (QS 37:96). Jadi jelas. dan al-Qhashash ayat 88. Yang dimaksud dengan kata al-mustaqar dalam surah al-Qiyamah ayat 12 adalah "tempat kembali" dengan melihat surah al-Insyiqaq ayat 6. dengan melihat surah al-A'raf ayat 69.. Kita memperoleh manfaat lain dari pengumpulan ayat-ayat yang berkaitan dengan topik tertentu dengan tetap berpijak pada pandangan Qur'ani yang utuh tentang topik tersebut. mempermudah makna yang sulit. Ayat-ayat itu kemudian disusun dan dirangkai begitu rupa sehingga dihasilkan kesatuan pandangan yang lengkap dan kesatuan pemikiran yang menghimpun dan meliputi seluruh ayat tersebut." Misalnya. Seringkali kita mengalami kesulitan untuk memahami ayat atau mengetahui tujuannya karena jarak kita yang jauh dari zaman wahyu. (Kita) kumpulkan setiap ayat yang berkaitan dengan pengertian tertentu dan topik tertentu.. (QS 37:95). Mengumpulkan ayat-ayat dalam hubungannya satu sama lain. "ayat-ayat lain dipergunakan untuk memahami ayat-ayat yang mujmal atau sama. dapat membantu kita dalam menghilangkan kekaburan dan ketidakjelasan.. kemudian dikumpulkan ayat-ayat yang berkenaan dengan topik tersebut." POKOK-POKOK PEMIKIRAN MADZHAB LIBERALISME Pendapat Prof. seperti kata-kata yang membentuk kalimat tunggal yang berkaitan dengan lafadz yang ingin kita pahami. atau menjelaskan istilah-istilah yang dipergunakan dalam al-Qur'an. salah satu aspek dari topik tertentu itu.

22. Ketiga. pendekatan historis untuk menemukan makna teks. kedua. TINJAUAN KRITIS ATAS SEJARAH FIQH (9/10) Dari Fiqh Al-Khulafa' Al-Rasyidin Hingga Madzhab Liberalisme oleh Jalaluddin Rakhmat KRITIK PADA FIQH IBRAHIM HOSEN Esensi dari pemikiran Hosen ialah jiwa atau semangat dari al-Qur'an dan Sunnah. ketiga. kita harus mengambil sunnah Rasul dari segi jiwanya untuk tasyri al-ahkam dan memberikan keleluasaan sepenuhnya untuk mengembangkan teknik dan pelaksanaan masalah-masalah keduniawian. pemahaman sasaran al-Qur'an dengan memperhatikan latar belakang sosiologisnya. bergerak dari yang khusus kepada yang umum. Pertama. prinsip-prinsip umum ini kita aplikasikan untuk memecahkan masalah-masalah konkret dewasa ini. kita harus mendukung hak pemerintah untuk mentakhshish umumnya nash dan membatasi muthlaqnya. kita harus melepaskan diri dari masalikul'illah gaya lama dan mengembangkan perumusan 'illat hukum yang baru. TAFSIR KONTEKSTUAL FAZLUR RAHMAN Rahman dalam Tema Pokok al-Qur'an memperinci metodologi penafsiran al-Qur'an dalam tiga langkah. kita harus meninggalkan pemahaman harfiah terhadap al-Qur'an dan menggantinya dengan pemahaman berdasarkan semangat dan jiwa al-Qur'an. kita harus sanggup menyimpulkan prinsip-prinsip umum ajaran al-Qur'an. kita harus menggeser perhatian dari masalah pidana yang ditetapkan oleh nash kepada tujuan pemidanaan. yaitu. Metro Pondok Indah Pondok Indah Plaza I Kav. Pertama. Keempat. -------------------------------------------. Amal dan Pangabean memperincinya dalam Tafsir Kontekstual al-Qur'an. UA 20-21 Jakarta Selatan Telp. pembedaan antara ketetapan legal dengan sasaran dan tujuan al-Qur'an. (021) 7507174 Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota Please direct any suggestion to Media Team Artikel Yayasan Paramadina Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota IV. (021) 7501969. Kedua. Ia mengusulkan enam hal. 7501983. Dari ketiga langkah tersebut di atas. Dalam perkembangan pemikirannya yang kemudian.Indonesia ini pernah mengajukan saran-saran bagi pembaruan pemikiran keagamaan di Indonesia. Secara operasional.(bersambung 9/10) Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah Editor: Budhy Munawar-Rachman Penerbit Yayasan Paramadina Jln. Kelima. kita harus mengganti pendekatan ta'abbudi terhadap nash-nash dengan pendekatan ta'aqquli. Kita tidak perlu terikat pada teks-teks . Terakhir. ketiga langkah ini merupakan langkah pertama dalam perumusan prinsip-prinsip hukum Islam. Nanti. 7507173 Fax.

Kita harus mencari semangat atau ruh perintah ini. Tetapi yang menjadi persoalan ialah apakah berpegang pada semangat al-Qur'an atau al-Sunnah itu berarti tidak usah setia lagi pada makna lahiriahnya. Kedua. Tanpa kriteria ini kaum liberalis dapat membawa kita ke arah tadhyi (pengabaian nash) dan tahrif (penyimpangan makna). Perintah ini harus dipahami sebagai perintah untuk menahan diri dari perbuatan-perbuatan yang mendorong orang ke arah pemuasaan nafsu. qashar tidak lagi berlaku dalam perjalanan tetapi dalam situasi apapun yang membuat orang payah. fiqh akan lebih berfungsi sebagai pemberi justifikasi daripada jurisprudensi. Saya yakin. Sekarang kita abaikan makna lahiriah ini. Rasulullah menyuruh mereka berbuka. Kata "menutupkan kerudung" harus dipahami sebagai kata kiasan. Apa semangat dari larangan ini? Umat Islam sedang menghadapi tugas yang berat. Kata sebagian orang. dahulu wanita-wanita Arab itu senang membuka dadanya untuk merangsang kaum pria. Islam akan dipandang hanya sebagai suplemen dan bukan sebagai alternatif. "Dan hendaklah mereka menutupkan kerudungnya sampai menutupi dada mereka" (QS. Apakah perempuan tidak perlu memakai kerudung bila ia sudah pandai menjaga diri tidak melakukan tindakan yang "merangsang"? Kita memerlukan kriteria kapan teks harus ditinggalkan demi makna yang lebih dalam dan kapan makna yang lebih dalam itu harus diperlakukan sebagai pengayaan makna lahiriah dan bukan pengabaiannya. pemikiran seperti ini tidak memerlukan usaha yang sungguh yang menjadi makna ijtihad. hukum-hukum syari'at dapat berubah. Sekarang. Kita dapat menggashar shalat hanya karena kita baru saja menyelenggarakan seminar yang menguras energi. al-Nur: 31) jelas menunjukkan perintah memakai kerudung sampai menutup dada. dengan mengganti 'illat qashar pada masyaqqah (kepayahan). Kita tidak perlu mengeluarkan zakat bila pemerintah sudah melakukan kebijakan pemerataan pendapatan dan memberikan santunan pada fakir miskin. Ketiga. ketika kita memerlukan tenaga untuk membangun. ketika kita harus meninggalkan produktivitas. Semangat ajaran Islam itu kesucian diri. Dalam situasi seperti itu puasa boleh ditinggalkan. Dalam istilah sebagian orang. Mereka memerlukan tenaga dan kekuatan.lahir al-Qur'an dan Sunnah. bukan menutupkan kerudung. karena . Dengan cara ini terbukalah peluang untuk memasukkan pikiran-pikiran non-islami ke dalam struktur syari'at Islam. Kita masih dapat mengumpulkan pendapat-pendapat lain. Kata sebagian orang. Misal. kita meninggalkan makna obyektif yang sudah jelas dan memasuki makna subyektif yang tidak jelas kriterianya. apakah kita juga harus meninggalkan puasa. yang dimaksud ialah hendaknya wanita memelihara kesucian dirinya dengan menutup diri dari perbuatan-perbuatan yang tercela. Kita harus menggunakan akal (ta'aqquli). Dengan kebebasan mencari 'illat baru. Makna lahiriah dari teks. Bukan semangat dari ajaran zakat ialah pemerataan pendapatan dan pengurangan kemiskinan? Ketika para sahabat bersiap diri menghadapi perang di bulan Ramadlan. kepastian hukum menjadi kabur. Kita tidak boleh menerima teks-teks itu begitu saja (secara ta'abbudi). dengan menetapkan pemerintah sebagai pentakhshish dan pengtaqyid nash. berdasarkan pada 'illat baru. Fiqh menjadi alat status quo dan bukan sebagai korektor. ketika kita meninggalkan makna lahir teks dan mencari jiwa atau semangat teks. Pertama. Pandangan ini menimbulkan beberapa kemusykilan.

224). bila bertentangan dengan apa yang telah dipandangnya sebagai prinsip-prinsip umum ajaran al-Qur'an. dari buku-buku tarikh. ketika nash-nash itu dijadikan rujukan. Yang paling musykil --dan justru di sini Rahman berpijak-adalah menetapkan apakah asbab al-nuzul itu hanya berkenaan dengan peristiwa atau orang yang spesifik atau dapat digeneralisasikan. Pernah orang datang kepada Rasulullah saw. para orientalis --lewat "analisis sosiologi" mereka-. seperti kata sebagian orang. sangat sukar kita memperoleh gambaran utuh mengenai situasi sosial waktu itu. Tuhan dapat membuat sejarah. hadist-hadist tentang asbab al-nuzul itu sangat sedikit. datanglah . karena jarak kita yang jauh dari masa wahyu. Di antara yang sedikit itu. Dalam kalimat Shadr. Seperti dikatakan Subhani. Apakah meminta doa kepada Rasul itu hanya berlaku pada waktu Rasul masih hidup atau juga berlaku sekarang? Bukankah dari ayat ini dapat disimpulkan suatu prinsip umum: Bila berbuat dosa. Rahman menyadari pentingnya asbab al-nuzul. Kemusykilan lainnya --yang terlalu panjang bila diuraikan di sini-. tetapi --pada saut yang sama-. seperti yang dilukiskan oleh Taufik dalam buku ini (h. yang terbukti seringkali ditulis oleh orang-orang yang tidak mempunyai pengetahuan historiografi. sedang dalam situasi lain sebabnya khusus tetapi efek legalnya umum. Terdapat juga kemusykilan dalam menentukan apakah dalam situasi tertentu. Kadang-kadang sebab yang sama berkaitan dengan ayat-ayat yang berlainan (ta'addud al-nazil wa 'l-sabab wahid). Lebih dari itu. Kemudian turun surah al-Nisa ayat 64. kita merumuskan situasi di zaman Nabi itu dari asbab al-nuzul. sebagian besar tidak tahan kritik --bahkan pada tingkat kritik rawi atau sanad. "terdapat jarak yang sangat jauh antara situasi sosial ketika nash-nash itu dilahirkan dengan situasi sosial dewasa ini.berkenaan dengan hubungan antara dengan asbab al-nuzul. sebab itu khusus dan efek legalnya juga khusus. Apalagi. Kedua. Kadang-kadang ayat yang sama dijelaskan dengan asbab al-nuzul yang berlainan (ta'addud al-asbab wa al-nazil wahid). sebagaimana yang telah banyak diketahui oleh para peneliti ulum al-Qur'an. tetapi mempunyai motif-motif yang patut dicurigai. tetapi hanya ahli sejarah yang dapat mengubah sejarah." Dari mana kita memperoleh informasi tentang situasi masa lalu itu? Pertama. Di kalangan para mufassirin terjadi ikhtilaf apakah pelajaran (al-'ibrah) itu bersifat spesifik (bi khushush al-sabab) atau umum (bi 'umum al-lafazh). meminta agar beliau memohon ampun kepada Allah untuk orang itu. Apalagi --sebagai pelanjut mazhab Umari-Rahman seringkali tidak ragu-ragu menanggap hadist-hadist sebagai "fiksi yang dirumuskan belakangan saja".dapat "membuktikan" pengaruh-pengaruh Kristen dan Yahudi dalam al-Qur'an. KRITIK PADA FAZLUR RAHMAN Metodologi Rahman --seperti telah disebutkan di atas-bersandar sepenuhnya pada pendekatan historis untuk memperoleh makna teks dari analisis latar sosiologis untuk memahami sasaran al-Qur'an. Karena itu."menilai bahwa literatur asbab al-nuzul itu seringkali sangat bertentangan dengan kacau-balau" (h.justifikasi tidak memerlukan pemikiran yang mendalam. 158).

Marilah kita ambil kasus khamr.. Dalam urutan pengharaman khamr. Setiap orang juga tahu bahwa asbab al-nuzul dan tarikh sangat penting. kecuali untuk mempertegas (keharaman khamr) bagi menusia. maka pengharaman ditegaskan berkali-kali --dari tahrim 'am sampai tahrim khash bi tasydid al-baligh (pengharaman khusus yang sangat keras). dan orang-orang Quraisy lainnya. Setelah umat Islam terbentuk sebagai masyarakat. Mula-mula khamr dipandang sebagai rahmat Tuhan (QS 16:66-69). ketika manusia menjadi sebuah masyarakat (society). Menurut Rahman --juga kebanyakan ulama-. karena mereka menganggap enteng larangan ilahi ini. Kedua-duanya sangat dihajatkan terutama sekali untuk menetapkan tujuan atau sasaran yang ingin dicapai al-Qur'an ("ideal moral" al-Qur'an) atau sebab berlakunya hukum (ratio legis). Yang ingin diketahui orang ialah bagaimana Rahman menarik kesimpulan dari ayat-ayat yang tidak ada asbab al-nuzul-nya. ketika umat Islam belum merupakan suatu masyarakat (society). Khamr sudah diharamkan sejak awal kenabian. tetapi akhirnya dianggap sebagai perbuatan setan (QS 5:90-91). Khamr tidak diharamkan." kata mereka lagi." Bahwa khamr telah diharamkan sejak awal bi'tsah dapat dilihat pada peristiwa masuk-Islamnya A'sya ibn Qais. Dalam hadist yang dikeluarkan oleh Thabrani dari Mu'adz ibn Jabal disebutkan bahwa di antara yang pertama kali diharamkan pada permulaan kenabian adalah minuman khamr." kata mereka. khamr diharamkan. penelitian saya tentang pengharaman menghasilkan kesimpulan yang berbeda.. Mereka berpegang pada sebab yang khusus (bi khushush al-sabab). Kita tidak tahu apakah Rahman setuju. Muhammad mengharamkan zina. Dan seterusnya. Kata A'sya. para ahli tafsir sepakat menyebutkan surah al-Maidah ayat 90 sebagai ayat yang terakhir. bagaimana kita dapat memastikan situasi sosial dari tarikh yang dapat kita akses. di tengah jalan ia dicegat Abu Sufyan. Di sini tampak bahwa prinsip umum yang diyakini oleh mufasir menentukan spesifikasi atau generalisasi asbab al-nuzul. jika kita menyimpulkan --dari kesimpulannya-bahwa pengkonsumsian alkohol secara individual dalam komunitas informal tidak haram. Abu Jahal. Yang pertama mengharamkan khamr sebenarnya adalah surah . Tetapi karena sahabat terus-menerus melakukan pelanggaran. Rahman menunjukkan evolusi "sikap" al-Qur'an terhadap khamr.kepada Rasulullah --baik dalam keadaan hidup atau mati dan mintakan agar beliau memohonkan ampunan buat kita? Kaum Wahhabi berpendapat bahwa tawassul itu syirik dan karena itu menganggap ayat ini hanya berlaku ketika Rasulullah masih hidup. Ketika ia bermaksud menyatakan Islamnya di depan Rasulullah saw. Dengan menggunakan metodologi Rahman. jauh sebelum turun surah al-Maidah. Peristiwa ini terjadi di Makkah. "Aku tidak keberatan. "Hai Abu Bashir. ". Muhammad mengharamkan khamr. alkohol menjadi membahayakan sehingga pengkonsumsiannya tidak diperkenankan. juga." Inilah ratio legis haramnya alkohol. "Tidak turun ayat al-Ma'idah. Setiap orang akan setuju bahwa konteks historis sangat diperlukan untuk memahami al-Qur'an. Menurut Thabathaba'i. di Makkah.. ketika Abu Jahal masih hidup. tetapi hanya merupakan komunitas informal." "Abu Bashir.pengharaman khamr ini berlangsung secara gradual. Abu Jahal terbunuh dalam perang Badar. Apa prinsip umum yang dapat ditarik dari latar sosiologis ini? Kata Rahman.

22. (QS. 7501983. di dalamnya dosa besar.Riwayat ini dihimpun berdasarkan hadits Bukhari. Dosa semuanya diharamkan dengan firman Allah.(bersambung 10/10) Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah Editor: Budhy Munawar-Rachman Penerbit Yayasan Paramadina Jln. Tentang surah al-Baqarah ayat 219 --yang dianggap Rahman dan kebanyakan mufassirin belum mengharamkan khamr-. Katakan Tuhanku hanya mengharamkan kekejian --baik yang tampak maupun yang tersembunyi-. Al-A'raf termasuk surah yang turun dalam periode Makkiyah awal. Ahmad Abu Dawud. Metro Pondok Indah Pondok Indah Plaza I Kav.dan dosa (al-itsm) dan pembangkangan tak benar serta menyekutukan Allah. al-Nasai. tetapi (untuk khamr) mempertegasnya dengan menyebutkan dosa besar. Allah tidak saja menjelaskan bahwa dosa itu haram. pengharaman khamr diulang-ulang --makin lama makin keras-." Walhasil. Seandainya tidak turun ayat lain yang mengharamkan. "Kami berhenti. 7507173 Fax. TINJAUAN KRITIS ATAS SEJARAH FIQH (10/10) Dari Fiqh Al-Khulafa' Al-Rasyidin Hingga Madzhab Liberalisme oleh Jalaluddin Rakhmat CATATAN 1. sebagaimana ditegaskan dalam surah al-Baqarah ayat 214. dan dosa. (021) 7501969. UA 20-21 Jakarta Selatan Telp.al-A'raf ayat 33. Muslim.karena sahabat masih tetap melakukannya. Adapun kata manfaat bagi manusia tidaklah berarti menghalalkannya. Al-Itsm dalam ayat itu adalah khamr. Kami berhenti!" Ini hanyalah sebuah contoh penggunaan metodologi Rahman dengan hasil yang sama sekali berbeda dari konklusi Rahman. Umar menjawabnya. Menurut riwayat. al-A'raf:33).. Katakanlah di dalamnya ada dosa besar (itsm kabir). karena yang dimaksud manfaat itu manfaat dunia dan semua yang diharamkan ada manfaat duniawi bagi pelanggarnya. Tuhanku hanya mengharamkan kekejian.al-Jashash menjelaskan: "Ayat ini menetapkan haramnya khamr. sebagai penegas akan bahayanya. Karena Allah berfirman. ------------------------------------------. Karena basis metodologi Rahman adalah tarikh dan asbab al-nuzul.. cukuplah ayat ini saja. (021) 7507174 Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota Please direct any suggestion to Media Team Artikel Yayasan Paramadina Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota IV. yang harus lebih dahulu dirumuskan adalah kritik keduanya (yang kurang diperhatikan Rahman). Mereka bertanya kepadamu tentang khmr dan judi. Ibn Hajar . Ibn Majah. Karena itu surah al-Ma'idah 90 diakhiri dengan kata Mengapa kalian belum berhenti juga.

Ibn Al-Atsir dalam Usud al-Ghabah fi Ma'rifat al-Shahabah. Heiderabad. 7-9. Beirut. tak ada yang menentang hal ini kecuali orang-orang bid'ah yang menyirnpang" (Al-Ishabah 1:9. "Siapa yang mengkritik salah seorang di antara sahabat Rasulullah saw. beriman kepadanya dan meninggal dalam Islam. al-Ishahah fi Tamyiz al-Shahabah. Mathba'ah al-Maktabah al-Tijariyah. 250.Taqdimah al-Ma'rifah li Kitab al-Jarh wa al-Ta'dil. Beirut. tanpa kota. tidak dikenai celaan. Mesir: Mustafa Muhammad. Lihat: Fath al-Bari. yang melihatnya tetapi tidak menghadiri majelisnya. menurut Ibn Hazm. 1:457 3. 6. 4:74. 1:3. hal. yang berperang besertanya atau tidak. tanpa tahun. "Sepakat semua Ahl Sunnah bahwa sahabat seluruhnya 'udul. atau yang tidak melihatnya seperti orang buta". semuanya mati dalam iman. 1974:133-143. menulis. al-Mustasyfa. tanpa tahun. sebab mereka semna 'udul." Lihat Al-Ishabah 1:10. Mereka yang termasuk jumpa ini orang yang lama bergaul dengan Nabi atau yang sebentar. 2. Ibn Hajar berkata. "Seluruh sahabat itu mukmin yang saleh. Dar al-Fikr. Pembaca yang tertarik dapat melihat M." 7. 1:10 4. Muhammad Taqiy al-hakim mengkritik kelemahan argumentasi al-Syatibi secara rinci. Tarikh al-Madhahib al-Islamiyah. Al-Muwafaqat fi Ushul al-Syari'at.Fath al-Bari.agar setiap mujtahid mengikuti ijtihadnya masing-masing. 1:135.al-Asqalani. 5. "Siapa saja yang mungkin salah atau lupa dan tidak tegas 'ishmahnya tidak boleh pembicaraannya menjadi hujjah. Kecuali untuk sahabat yang masuk Islam sesudah Bai'at al-Ridwan (sambil mereka pun tidak boleh disebut kecuali kebaikan). Al-Syatibi mengutip ayat-ayat al-Qur'an dan hadits-hadits untuk menunjang pendapatnya.Ibn Hajar mendefinisikan sahahat sebagai "orang yang berjumpa dengan Nabi saw. hal. Bagaimana mungkin berhujjah dengan ucapan mereka dengan kemungkinan mereka salah.Lihat al-Ghazali. 1371. al-Ghazali menolak semua pendapat itu dan berkata. padahal mereka boleh ikhtilaf? Mungkinkah dua orang ma'shum ikhtilaf? Bagaimana mungkin. padahal sahabat sepakat bolehnya bertentangan dengan sahabat yang lain? Abu Bakar dan Umar tidak mengingkari orang yang berbeda ijtihadnya dengan mereka.. "Sahabat sama seperti perawi hadits yang lain kecuali satu hal --pada mereka tidak berlaku jarh dan ta'dil. Bagaimana mungkin menetapkan ishmah mereka tanpa hujjah yang mutawatir? Bagaimana dapat dibayangkan adanya 'ishmah." Begitu "sucinya" para sahabat itu sehingga Abu Zar'ah menulis. Pada halaman yang sama. bahkan mereka mewajibkan --dalam masalah ijtihad-. Ibn Hajar mengemukakan dalil-dalil tentang 'udul-nya sahabat secara rinci dalam kitab ini juga). Dar al-Andalus.Abu Ishaq al-Syatiby. ketahuilah bahwa dia itu zindiq (atheis). 1:443 al-Maktabah al-Salafiyah. Mengenai 'Udul-nya sahabat.T Al-Hakim Al-Ushul al-'Ammah fi al-Fiqh al-Muqaran.Abu Zahrah. .

Al-Sunnah qabl al-Tadwin. 1:349. 9. Musnad Ahmad 1:314.Dr. 20. 1404. Al-Baihaqi dalam Sunan al-Kubra 8:318. dan kebajikan. Zad al-Ma'ad 1:177-225." (Saya kutip lagi dari Muhammad 'Ajal al-Khatib. 12. hal. Fath al-Bari 12:101. hal. al-Baihaqi dalam Sunan al-Kubra 8:264. 11. 15. 16. kamu tidak akan sesat selama-lamanya Kitab Allah den Ahli Baitku (hadits-hadits yang semakna dengan ini diriwayatkan oleh Shaih Muslim dalam Kitab Fadhail al-Shahabat". "Al-'Itisham. Bukhari meriwayatkan hadits ini tetapi dengan tidak lengkap. hal. vol.Abu Dawud 2:227. Tafsir al-Darr al-Mantsur 6:74. Al-Baihaqi . 1408. 8. 19. dalam Kayhan-e Andisheh NO. lihat Ibn Qayyim.Ibn Qayyim al-Jawziyyah. 5:148. 18. 17.Abu Zahrah. Al-Ijtihad: wa Mada Hajatina ilaih fi Hadza al-Ashar. lihat juga Shahih Muslim. Kairo: Dar al-Kutub al-Haditsah. turun berkenaan dengan Ali bin Abi Thalib). Musnad Ahmad 4:366. Kairo.Shahih Muslim 1:574. Mesir: Mathba'ah Sa'adah. Kanz al-Ummal 3:102. Shahih Muslim 2:52.Tafsir Ibn Katsir 4:194. Musa Towana.Asbab al-Ikhtilaf bain Aimmah al-Madzahib al-Islamiyah". Irsayad al-Sari 10:9. Ibn Majah 2:227. 2. "Ijtihad and the Practise of Ra'y". 252.petunjuk. 9.Kupasan tentang perdebatan ini. semuanya masuk surga. V NO. al-hakim 2:196. 14. 57-58. Tarikh al-Madzahib. Diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris oleh Mahliqa Qara'i. "Ra'y Gera'i Dar Ijtihad". Umdat al-Qari 11:151. al-Hakim dalam al-Mubarak 2:59 dan 4:389. Sunan al-Baihaqi. hal. hal. 1963. 3:69.Di antara ayat-ayat yang menunjukkan keharusan mengikuti ahli bait adalah Al-Maidah 55 (Menurut banyak ahli tafsir.Al-Syatibi.Muhammad Ibrahim Jannati. 227-228. Al-Syura 23 (tentang keharusan mencintai ahli waris). tidak seorangpun masuk neraka. "I'lam al-Muqi'in.Abu Dawud 2:242. dalam Al-Tawhid. tanpa tahun. Sunan al-Nasa'i. Taysir al-Wushul 2:5. Sunan al-Baihaqi 7:336. 395-396). 32-33. dalam Hawl al-Wahdah al-Islamiyah. pada Kitab Al-Muharibin. Maktabah Wahdah. Teheran: Sepahar. Di antara hadist-hadits tentang hal yang sama adalah hadits Tsaqalain: Aku tinggalkan bagimu dua hal. tt 1:63-64. 4:352 dan 5:22. 10. al-Dar al-Mantsur 1:279.Shahih al-Bukhari. Tarikh al-Madzahib. Saya kutip lagi dari Abu Zahrah. yang jika kamu berpegang teguh. Kanz al-Ummal 1:185. Al-Ahzab 33 (tentang 'ishmah ahli bait). 13. 255.

dan Kitab al-Jizyah". Riwayat pelarangan bagian muallaf. Kanz al-'Ummal. Kanz al-'Umal 1:47 dan lain-lain). Ahkam al-Qur'an dari Al-Jahshash 3:60 62. Musa Towana.Tadzkirat al-Huffazh. Al-Kamil ibn al-Katsir 2:146. 1:174. tarjamah 'Umar 28. hadits NO. Sunan al-nasai 2:179. tetapi kemudian meng-itmam-kannya. Tafsir al-Syawkani 1:418. ed. Tarikh Thabari 3:193. "Kitab al-'Ilam". dan hadits: "Ahli baitku adalah tempat yang aman dari ikhtilaf bagi umatku" (Mustadrak al-Shahihain 3:348). 21. Usman mula-mula shalat dua rakaat.. 11:257. lihat Tafsir al-Manar 10:297. Tarikh Ibn Katsir 6:319. Tafsir al-Zamahsyari 1:359. dalam Limadza Ikhtartu Madzhab Ahl al-Bait. Thabaqat ibn Sa'ad 2:244. 1988. menyimpulkan dalil-dalil itu. 22. 2:10. al-Baihaqi 7:164. 25. Sunan . Abu Bakar shalat di Mina dua rakaat. Gubahan syair dari Al-Amini al-Inhaqi dari Syiria. "Kitab al-Jihad". 29. dikutip lagi dari al-Nash wa al-Ijtihad. 1:7. Al-Durr al-Mautsir 2:136.Shaih al-Bukhari. Tafsir al-Thabari 10:6. Polemik Reaktualisasi Ajaran Islam. 36. Taisir al-Khazim 1:356. Tarikh al-Khulafa. Sunan Ibnu Majah 1:348.Lihat "Kontroversi sekitar Ijtihad 'Umar r. Shahih al-Turmudzi 2:308. 138. 1935. 44. 1:2-3. Shahih al-Turmudzi 1:68. 32. tarjamah Abu Bakr. 33. 10404 H. Al-Ijtihad.Al-Jawharah al-Nayyirah. hal. 50. Sunan al-Muslim 2:260. Mustadrak al-Shahihain 3:109. 39-40. 7:188.Lihat Dr. 34. hal. Lihat juga Shahih Bukhari.Al-Muwaththa'. Ahkam al-Qur'an dari Al-Jahshash 2:168. 26.a". Jakarta: Pustaka Panjimas. Il-Ishabah 2:322. 31. bukan tempatnya di sini menuliskan semua riwayat yang dijadikan dalil oleh kelompok pertama. Umar shalat di Mina dua rakaat.Kitab al-Kharraj 24-25.2:148. Al-Muhalla' 9:622. Musnad Ahmad 2:148 Sunan al-Baihaqi 3:126. 1:22. Qum Abu Mujtaba. 23.Shahih al-Bukhari 3:69. 7:447. Lihat juga Shahih al-Bukhari 2:154. 30. Sunan Abu Dawud 1:171.Al-Thabaqat al-Kubra.Al-Thabaqat al-Kubra.Tarikh al-Thabari 3:234. 24.Tadzkirat al-Huffazh. Tafsir al-Qurthubi 6:117. Shahih Muslim Bab "Tark al-Wasyiyyah" Musnad Ahmad.Tadzkirat al-Huffadz. Sunan al-Baihaqi 6:342-343. 27. 1:5.Al-Thabaqat al-Kubra.Diriwayatkan oleh Imam Malik dalam Al-Muwaththa' 1:282 dari Urwah: Rasulullah shalat dua rakaat di Mina pada shalat-shalat yang empat rakaat. dalam Iqbal Abdurrauf Saimima. hal. Al-Durr al-Mantsur 3:252.

Jami' Bayan Al-'Ilm. Musnad Ahmad 1:61. hadits ke 4170. Sunan al-Baihaqi 1:472. Mustadrak al-hakim 1:472.Syibli Nu'mani. 46. 2:244. 1:208.Fazlur Rahman. 1:365. 42.Shahih Bukhari. Lihat Fath al-Bari. Shahih al-Bukhari 1:109. 2:180. 37. Fath al-bari 7:449-450. (3) bahwa unsur kreatif dari kandungan ini adalah ijtihad personal yang mengalami kristalisasi menjadi ijma' berdasarkan petunjuk pokok dari sunnah nabi yang tidak dianggap sebagai sesuatu yang sangat bersifat spesifik. 152.Shahih al-Bukhari 3:69. "Bab I: Al-Hawah".Shahih Bukhari. Bandung: Pustaka. hal. 48. Sunan al-Baihaqi 1:429." 40." Kitab Al-Maghazi. 41. 39.. kandungan yang khusus dan aktual dari sunnah kaum muslim di masa lampau tersebut sebagian besarnya adalah produk dari kaum muslim sendiri. Tarikh Al-Madzahib Al-Islamiyah. 49. hal. Sunan al-Nasai 5:148.Shahih Muslim 1:142. lihat Al-Syawkani dalam Al-Awthar 3:374. "Bab Itsbat".Ibn Hajar. Tanwir Al-Hawalik. Shahih Muslim. juga Al-Baladzuri dalam al-Anshab 5:26.95.Abu Zahrah. 1:93-94. 43. 45.Ansab Al-Asyraf. (2) bahwa meskipun demikian. sedangkan Marwan supaya orang mendengarkan khutbahnya. 37. 26 menulis: Kami telah menyatakan (1) bahwa sunnah dari kaum muslim di masa lampau secara konsepsional dan kurang lebih secara garis besarnya berhubungan erat dengan sunnah Nabi dan pendapat yang menyatakan bahwa praktek-praktek muslim di masa lampau terpisah dari konsep sunnah Nabi adalah salah sekali. 3:192.Syarh Al-Muwaththa'. 267. 1404. 2:244. 38. 11:463-476. Kitab al-Umm 1:173.Jami'Bayan Al-' Ilm. 47.Ibn Hazm dalam Al-Muhalla 5:227.Al-Imam Al-Syafi'i. Bandung: Pustaka. Ibn Hajar memberikan komentar. 1983. Fath al-Bari 2:361. 1:221. Dar Al-Fikr Al-Araby. Umar Yang Agung. 532. tt. Kitab Al-Riqaq. 2:401. Al-Umm. "Bab Ghazwat Al-Hudaibiyah. Shahih al-Muslim 1:349. 205. "Utsman melihat kemaslahatan jamaah supaya dapat mengejar shalat. Membuka Pintu Ijtihad. hal. Kitab Al-Fadhail. lihat juga Dhuha Al-Islam. Lihat juga Sunan al-Baihaqi . 44. Turmudzi 3:302. Tasyir al-Wushul 1:282. (4) bahwa kandungan sunnah atau sunnah dengan pengertian sebagai praktek yang disepakati secara bersama adalah identik dengan ijma'.al-Nasai 3:100.

257. Kitab ini menunjukkan. 7:214 57. juz I.Ibn Katsir. (021) 7507174 Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan . berkata. 1:79. Al-Bidayah wa Al-Nihayah. lihat juga biografi Abdurrahman bin Abi Bakr dalam Ibn Asakir. bab "Man La Ha'arahun Naby". Al-Sujud 'ala al-A'rdh. 55. 52. Ketika mereka mengadukan apa yang mereka alami.Catatan kaki pada hamisy kitab Sunan Al-Nasai. Tetapi. Metro Pondok Indah Pondok Indah Plaza I Kav. UA 20-21 Jakarta Selatan Telp. pada hamisy kitab Tafsir Al Thabari. 54. 3:40. Kitab Al-Birr wa Al-Shilah. 4:481. 51.2:68. 50. hal. 1978.Lihat Ali Al-Hamady.Shahih Muslim. "Para fuqaha menyebut peristiwa ini berkenaan dengan sujud. hal. Mustadrak Al-Hakim. "Bab Walladzi Qala li Walidaihi". Tarikh al-Madzahib al-Islamiyyah.Tafsir Al-Thabari. 10:197-198. Dar Ihya' Al-Turats Al-'Arabiy.Tafsir Al-Nisabury.Abu Zahrah.. Dar Al Tarqib. Fath Al-Bari. mengizinkan mereka sujud di atas pakaian mereka itu. Tidak mungkin kita menurunkan semua hadits itu di sini Cukuplah kita kutip hadits Muslim dari Khabab bin Al-Arat. Tarikh Ibn Katsir. 7501983. tidak mengizinkan kami (sujud selain di atas tanah). ibid. "Kami mengeluoh kepada Rasulullah tentang udara yang sangat panas sehingga tanah menjadi sangat panas pada dahi-dahi kami. 14. Nabi saw. Al-Ishabah. Lihat juga biografi Al-Haban bin Al-'Ash pada Al-'Isti'ab. tetapi mereka dilarang berbuat begitu. Tarikh Dimasq. sahabat-sahabat seperti Abu Bakar. berdasarkan hadit-hadits yang diriwayatkan Ahl Sunnah bahwa disamping Rasulullah saw. Usud Al-Ghabab. 59. (021) 7501969. Nabi saw. 58. 8:143. Ibn Katsir. 698-701. Waktu itu para sahabat meletakkan ujung baju mereka dilarang ketika akan sujud untuk menghindarkan panas yang sangat. Ibn Al-Atsir. Kanz al-'Ummal. 8:889. Beirut. 3:124. 19:72-75. ketika menjelaskan hadits ini. Ali bin Abi Thalib.. Abdullah bin Mas'ud. Jabir bin Abdillah dan lain-lain melarang sujud selain di atas tanah. 56. -------------------------------------------Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah Editor: Budhy Munawar-Rachman Penerbit Yayasan Paramadina Jln.Al-Sirah Al-Nabawiyyah.Kata Al-Dzhabi dalam Tadzkirat Al-Huffadz.Shahih Al-Bukhari. 5:263. 7507173 Fax. 53. dalam Al-Nihayah.

yaitu mulai sekitar abad keempat Hijri. seperti antara Imam al-Rafi'i dan Imam al-Nawawi. Demikian pula telah terjadi perbedaan dalam furu' antara Imam Abu Hanifah dan Imam Malik (semoga Allah meridlai keduanya) dalam banyak masalah yang jumlahnya mencapai sekitar empatbelas ribu dalam bab-bab ibadat dan mu'amalah. Jalan pikiran para imam itu menjadi titik tolak. tidak seorang pun dari mereka menyakiti yang lain.H." [2] Setelah masa-masa para imam madzhab lewat. dan tidak seorang pun dari mereka menisbatkan yang lain kepada kesalahan dan cacat.[1] K. tidak seorang pun dari mereka mendengki yang lain. namun tidak seorang pun dari mereka memusuhi yang lain. namun dalam suasana saling menghargai dan tenggang rasa yang besar. dan masing-masing berdoa untuk segala kebaikan mereka itu. tapi kemudian dikembangkan begitu rupa sehingga yang terwujud ialah sebuah aliran yang meluas dan . (semoga Allah meridlai keduanya) dalam banyak masalah yang jumlahnya mencapai sekitar enam ribu. tidak seorang pun dari mereka mencerca yang lain. Muhammad Hasyim Asy'ari dari Tebuireng: Telah diketahui bahwa sesungguhnya telah terjadi perbedaan dalam furu' (makalah rincian) antara para Sahabat Rasulullah saw (semoga Allah meridlai mereka semua).H. dalam banyak masalah. juga antara Imam Ahmad ibn Hajar dan Imam al-Ramli dan para pengikut mereka. maka yang terjadi ialah pertumbuhan dan perkembangan madzhab itu sendiri. dan saling menolong.ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota Please direct any suggestion to Media Team Artikel Yayasan Paramadina Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota IV. Sampai dengan masa itu. bahkan sebaliknya mereka selalu saling mencintai.23. Sebaliknya mereka tetap saling mencintai. namun tidak seorang pun dari mereka yang menyakiti yang lain. dan tidak saling menisbatkan lainnya kepada kesalahan ataupun cacat. yang senantiasa disertai dengan kegaduhan polemik dan kontroversi. Hasyim Asy'ari juga menyebut. Imam al-Syafi'i. demikian pula antara Imam Ahmad ibn Hanbal dan gurunya. dan tidak seorang pun dari mereka menisbatkan yang lain kepada kesalahan dan cacat. kemudian para Tabi'in dan pengikut mereka. berpersaudaraan. terjadi banyak perbedaan pendapat antara para tokoh intern madzhab sendiri pada saat-saat permulaan perkembangannya. yang kita saksikan dalam sejarah perkembangan fiqh ialah dinamika dan kreativitas. dan akhirnya pertumbuhannya di masa para imam madzhab. Keadaan demikian itu dilukiskan K. juga tidak seorang pun dari mereka yang menyakiti yang lain. TRADISI SYARAH DAN HASYIYAH DALAM FIQH DAN MASALAH STAGNASI PEMIKIRAN HUKUM ISLAM (1/2) oleh Nurcholish Madjid Kita telah membicarakan garis perkembangan pemikiran sistem hukum Islam --yang kemudian dikenal dengan (ilmu) fiqh-. serta antara Imam al-Syafi'i dan gurunya. Imam Malik.sejak dari pertumbuhannya di masa para Sahabat. namun "tidak seorang pun dari mereka memusuhi yang lain. saling mendukung sesama saudara mereka.

Inilah masa syarah (penjabaran) dan hasyiyah (penjabaran atas syarah). Inilah yang dimaksudkan dengan istilah "madzhab. Karena orisinalitas pemikiran tidak berkembang lagi. maka tercipta suasana bagi tumbuhnya mitos-mitos. al-Za'farani.mendalam dan cukup pada dirinya sendiri (self-sufficient). bertitik tolak dari produk intelektual satu orang. . Mula-mula masih terdapat sisa-sisa kreativitas dan keberanian intelektual yang menghasilkan karya-karya tersendiri dengan tingkat orisinalitas yang memadai. ialah ketenangan dan ketenteraman. yang kemudian kelak. Demikian pula tokoh-tokoh dari madzhab-madzhab yang lain. al-Rabi'. menjadi kenyataan. Ciri umum masyarakat Muslim saat itu ialah suasana traumatis terhadap perpecahan dan perselisihan. Maka dari titik tolak pemikiran Imam al-Syafi'i." dan apapun produk pemikiran mereka harus diterima sebagai berlaku "sekali dan untuk selamanya". seperti yang banyak dilakukan oleh misalnya. melainkan pemikiran yang meskipun tetap berwatak "kesyafi'ian" namun dalam banyak hal Imam al-Syafi'i sendiri mungkin tidak lagi tersangkut paut. berakhir dengan kekalahan mereka oleh ummat-ummat lain. khususnya bangsa-bangsa Eropa. Ditambah lagi dengan keadaan politik negeri-negeri Muslim yang telah mulai kehilangan "elan vital"-nya antara lain karena banyaknya serbuan-serbuan militer dari Asia Tengah seperti dari kalangan bangsa-bangsa Turki dan Mongol. sehingga yang muncul sebagai dambaan atau obsesi utama masyarakat. Penilaian ini lebih-lebih beralasan." yaitu suatu kesatuan pemikiran yang tumbuh dan berkembang. dan lain-lain dari kalangan para penganut madzhab Syafi'i. yaitu setelah fakta perkembangan pemikiran yang bertitik tolak dari dia itu. namun belum tentu orang tersebut sepenuhnya dapat dipandang sebagai ikut bertanggungjawab. tumbuh dan berkembang pemikiran yang lebih meluas dan mendalam. Karena itu yang ada bukanlah pemikiran Imam al-Syafi'i itu an sich. Jadi tidak berlebihan jika masa itu sering ditunjuk sebagai permulaan kemunduran peradaban Islam. yaitu stagnasi atau kemandekan. Jadi sesungguhnya seorang pemikir seperti al-Syafi'i menjadi imam madzhab adalah secara post factum. Sebab ketenangan dan ketenteraman itu mereka "beli" dengan menutup dan mengekang kreativitas intelektual dan penjelasan. al-Muzni. al-Karabisi. maka yang terjadi ialah pengulangan dan penghafalan yang sudah ada. Ketidakberanian mengambil risiko salah dalam penelitian dan penjelajahan itu kemudian dirasionalisasikan dengan argumen: Apa yang telah dihasilkan para imam madzhab dan pendukung-pendukung mereka itu seolah-olah sudah "final. tapi dengan ongkos yang amat mahal. Dan karena pemikiran kritis juga terkekang. karena para tokoh pemikir yang menjadi pangkal pengembangan madzhab tersebut semasa hidupnya sendiri sering mengisyaratkan keengganan menjadi pusat pengikutan. Pertumbuhan madzhab itu dengan sendirinya terjadi melalui para pengikut tokoh yang kelak disebut "imam madzhab" tersebut. atas nama doktrin taqlid dan tertutupnya ijtihad. yang kemudian lambat laun berkembang menjadi semacam etos di kalangan kaum Muslim di seluruh dunia. Agaknya dambaan mereka tercapai. Tetapi masa itu segera diikuti oleh masa dengan tingkat kreativitas dan orisinalitas intelektual yang lebih rendah. al-Buwaythi. setelah dia sendiri lama tiada. yang serba berkecukupan. misalnya. maka dambaan kepada ketenangan dan ketenteraman menjadi semakin beralasan.

Pemisahan itu akan menghasilkan inkonsistensi. Tapi konsekuensi yang lebih jauh ialah --sebagaimana telah disinggung tadi-. seperti." yang biasanya disebut hasyiyah. Metro Pondok Indah Pondok Indah Plaza I Kav. 7501983. sehingga merupakan "elaborasi atas elaborasi. Logika keharusan ini ialah ide tentang taqlid. yaitu karya tulis berupa kitab yang mengelaborasi karya lain yang lebih orisinal. yang dipandang sebagai matan (teks inti).hilangnya kreativitas dan orisinalis intelektual. Keharusan memilih salah satu madzhab sekaligus larangan mencampur lebih dari satu madzhab --betapapun tulusnya hal itu dilakukan-. (bersambung 2/2) -------------------------------------------Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah Editor: Budhy Munawar-Rachman Penerbit Yayasan Paramadina Jln. yang kemudian dikenal sebagai talfiq. Tapi syarah bukanlah akhir perjalanan tradisi pseudo-ilmiah dalam masa kemandekan intelektual ini. merupakan dinamik dambaan kepada ketenteraman. keharusan memilih suatu madzhab seperti itu dapat dibenarkan. Pada saat itulah sejauh mengenai kegiatan intelektual yang muncul. Dari beberapa sudut pandang tertentu. Begitu pula larangan mencampuradukkan lebih dari satu madzhab. Sebuah karya sparah membuka peluang kepada bentuk elaborasi lebih lanjut. karena dalam praktek serupa itu mudah sekali masuk unsur oportunisme dalam paham (seperti. dan yang terakhir ini tentu berakibat kepada masalah istiqamah atau keteguhan dan keikhlasan dalam beragama.secara tersirat mengandung doktrin bahwa suatu pemikiran madzhab adalah suatu kesatuan organik yang tidak boleh dipisah-pisah. seperti dari sudut keprihatinan karena situasi politik yang tidak mantap. dan bersamaan dengan itu hilang pula kemampuan memberi responsi pada keadaan masyarakat nyata (historis) yang senantiasa berkembang dan berubah. juga sangat dicela. dan terutama. Ilmu Kalam. 7507173 Fax. Kegiatan pseudo-ilmiah serupa ini paling banyak terjadi dalam pemikiran judisial. yang taqlid itu. UA 20-21 Jakarta Selatan Telp. mengenai suatu hukum tertentu seseorang cenderung mencari yang mudah dan ringan dari berbagai madzhab. (021) 7501969. tanpa kesungguhan meneliti bagaimana pangkal sebenarnya hukum itu). tetapi sesungguhnya juga merambah ke berbagai cabang ilmu keislaman yang lain. (021) 7507174 Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota Please direct any suggestion to Media Team Artikel Yayasan Paramadina . misalnya.SYARAH DAN HASYIYAH Mulai saat itulah kurang lebih muncul ide tentang keharusan seorang Muslim memilih salah satu dari madzhab-madzhab yang ada sebagai anutan. ialah karya-karya syarah. sebagaimana telah disinggung.

artinya air yang mengalir di sungai (nahr) dengan fa'thah ha' dan matinya dan yang pertama lebih fasih dan al di situ adalah untuk jenis. air sumber. TRADISI SYARAH DAN HASYIYAH DALAM FIQH DAN MASALAH STAGNASI PEMIKIRAN HUKUM ISLAM (2/2) oleh Nurcholish Madjid Untuk memperoleh gambaran apa yang dinamakan syarah dan hasyiyah itu. Dan keadaan menurut aslinya itu dapat memberi gambaran tentang ungkapan "ilmiah" masa kemunduran itu yang tidak dapat disebut mengagumkan. air sumur. maka ia mencakup Nil dan Furat dan sebagainya. yaitu sebuah kitab fiqh yang paling standar. berikut ini adalah contoh kutipan dari matan kitab Taqrib. yaitu hujan (air laut) artinya yang asin (air sungai) artinya yang tawar (air sumur. air laut. juga sangat standar di pesantren-pesantren. Ibn Rusyd. dan . dan akhirnya diberi hasyiyah dalam kitab al-Bajuri. [4] Syarah ini kemudian diberi hasyiyah. air sungai. menurut keadaan aslinya dalam kitab. air salju dan air embun) dan tujuh air itu tercakup dalam ungkapan Anda "Apa yang turun dari langit dan apa yang menyembul dari bumi dalam keadaan bagaimanapun adalah termasuk pokok penciptann. air salju. dan asalnya dari surga sebagaimana hal itu disebutkan dalam nas mengenainya sebab sesungguhnya diturunkan dari surga Nil Mesir dan Sihun sungai India dan Jihun sungai Balkh dan keduanya itu bukanlah Sihan dan Jiham menurut yang unggul berlainan dengan orang yang menyangka keduanya itu sinonim sebab Sihan adalah sungai Arnah dan Jihan adalah sungai al-Mashishah dan Dajlah dan Furat adalah dua sungai di Irak dari asal Sidrat al-Muntaha dan itulah makna firman Dia Yang Maha Tinggi "Dan Kami turunkan dari langit air dengan takaran tertentu" maka pada waktu keluarnya Ya'juj dan Ma'juj sungai-sungai itu diangkat dan itulah makna firman Dia Yang Maha Tinggi "Dan sesungguhnya Kami tentulah berkuasa untuk menghilangkannya. al-Ghazali." [5] Kutipan di atas itu sengaja dibuat dalam bentuk terjemahan harfiah tanpa memberi tanda-tanda baca sesuai konteks." jika mereka tidak terlatih membaca dalam konteks. sebuah kitab yang boleh dipandang cukup tinggi: Matan: Air yang boleh untuk menyucikan ada tujuh air: air langit. dan air embun. jauh di bawah ukuran masa kejayaan intelektual sebelumnya seperti diwakili karya-karya Ibn Sina. yaitu penjabaran atau elaborasi lebih lanjut. Maksudnya ialah agar kita dapat merasakan kesulitan yang dihadapi oleh mereka yang membaca "kitab gundul. di pesantren-pesantren.23. maka demi kepraktisan kita akan mengutip hasyiyah yang menyangkut salah satu dari air yang tujuh itu. Ibn Taymiyyah. yaitu "air sungai" saja): Hasyiyah: (Perkataannya dan air sungai) rangkaian dalam pengertian di.Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota IV. [3] Syarah: (Air yang boleh) artinya sah (untuk menyucikan ada tujuh: air langit) artinya yang terjun dari langit. Berikut ini adalah contoh hasyiyah-nya (tapi karena hasyiyah yang bersangkutan itu panjang sekali. Matan itu kemudian diberi syarah dalam kitab Fat'h al-Qarib. Ibn Arabi. air sumber.

melainkan ilmu hanya mempunyai perbatasan (frontier). Barat Laut. jelas bahwa yang membuat baik mereka generasi Islam klasik itu ialah apa yang dalam ungkapan kontemporer dinamakan "Etos Ilmiah". keadaan sudah sangat terlambat. seperti bahwa sungai Nil berasal dari surga dan sungai Dajlah (Tigris) dan Furat (Eufrat) di Irak berasal dari Sidrat al-Muntaha! Juga ada mitos lain yang tercampur dengan pandangan keagamaan tertentu seperti cerita tentang datangnya Ya'juj dan Ma'juj (Gog dan Mogog) yang tersebut dalam Kitab Suci al-Qur'an [6]. etos ilmiah yang benar harus memandang ilmu tidak mempunyai batas (limit). Berbeda dengan obskurantisme. ilmu pengetahuan telah "habis. Furat dan Dajlah itu ke langit sebagai tafsir atas ayat suci al-Qur'an pula. apalagi daripada masa obskurantisme tersebut di atas itu." namun dari pembacaan kepada sejarah peradaban Islam. karena itu tak terjangkau. yang dirangkaikan dengan paham keagamaan." dan yang tersisa ialah mencerna apa saja yang diwariskan dari generasi sebelumnya. setidaknya lebih baik daripada sekarang. Tapi perbatasan atau frontier ilmu hanyalah produk kemampuan manusia sendiri yang tidak sempurna. yang berarti empat kali lebih panjang daripada masa dominasi Eropa Barat yang sudah berlangsung selama dua abad ini). sehingga mewarnai sikap intelektual sebagian besar kaum Muslim. karena itu harus selalu diusahakan untuk . Berbagai gejala masa-masa terakhir ini. [7] KESIMPULAN Semangat obskurantisme atau kemasabodohan intelektual akibat berbagai faktor ekstern dalam proses-proses dan struktur-struktur politik masa itu sedemikian mencekam. yaitu ujung terakhir perkembangan pemikiran ilmiah. khususnya sejarah pemikirannya. Sebuah adagium mungkin relevan dengan masalah ini yaitu yang berbunyi: "Tidak akan menjadi baik umat ini kecuali dengan sesuatu yang telah membuat baiknya umat terdahulu. yaitu bangsa-bangsa Eropa Barat. Bahkan dalam kutipan itu dapat dilihat munculnya beberapa dongeng dan mitologi." [8] Sementara banyak tafsiran yang berbeda-beda tentang apa "yang membuat baik umat terdabulu. seolah-olah segala sesuatu terjadi secara wajar saja. bangsa-bangsa pelopor umat manusia masuk Zaman Modern. sampai akhirnya mereka terhentak dan kalah oleh bangkitnya bangsa-bangsa yang selama ini mereka remehkan. dapat diacu sebagai petunjuk adanya masa depan yang baik. akibat dominasi mereka atas kehidupan di muka bumi selama berabad-abad (dalam perhitungan konservatif setidaknya selama delapan abad. Dan dalam pandangan mereka. sehingga dorongan ke arah kebangkitan kembali yang muncul sejak itu sampai sekarang belum mencapai tujuan yang dimaksud. atau lebih persisnya. Banyak ahli yang mengatakan. yang biasanya diletakkan dalam bracket "kebangkitan Islam". Batas atau limit ilmu hanya ada pada Allah.sebagainya. yang pada saat itu akan diangkat sungai-sungai Nil. Tapi tentu saja umat Islam masih tetap mempunyai kesempatan yang baik. Stagnasi ini tidak dirasakan oleh kaum Muslim. semua ini diawali karena umat Islam terkena penyakit "puas diri". Dan ketika mereka dikejutkan oleh datangnya tentara Perancis ke Mesir di bawah Napoleon yang dengan amat mudah mengalahkan mereka itu.

al Kahf/18:109). 7507173 Fax.). dan ini menghasilkan praktek menghafal. tt. 8. (021) 7507174 Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota Please direct any suggestion to Media Team Artikel Yayasan Paramadina Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan . al-Tibyan fi al-Nahy 'an Muqata'at al-Arham wa al-Aqarib wa al-Ikhwan (Surabaya: Mathba'at Nahdlat al-'Ulama. Hasyiyat al-Hajuri (Semarang: Maktabah wa Mathba'ah Usaha Keluarga. "La tashluhu hadzihi al-Umah illa bi ma shaluha bihi awwaluha. tt).s. Abu Syuja' Ahmad Ibn al-Husayn al-Ishfahani. s. Ibid. seperti dikemukakan KH. (Semarang: Pustaka al-'Alawiyyah. sementara dalam zaman obskurantisme. 12. h. (021) 7501969. CATATAN 1. h.ditembus dengan keberanian intelektual serta kreativitas dan orisinalitasnya. etos ilmiah Zaman Klasik Islam memandang perbatasan ilmu harus selalu ditebus.. s. apalagi ditembus. UA 20-21 Jakarta Selatan Telp. -------------------------------------------Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah Editor: Budhy Munawar-Rachman Penerbit Yayasan Paramadina Jln. ialah toleransi dan saling menghargai dalam perbedaan. Metro Pondok Indah Pondok Indah Plaza I Kav. (Risalah ini ditulis pada 1360 H atau 1941 M). etos ilmiah yang ada mengajarkan agar setiap bertemu dengan perbatasan hendaknya kembali ke semula." 9. 7501983. 3. Dan suasana itu tidak lain. al-Ghayah wa al Taqrib. Hasyim Asy'ari di atas. al Mu'minun/23:18. tt). 27. Batas atau limit ilmu hanya ada pada Allah swt. tt... 11. [9] Semuanya itu memerlukan suasana yang bersifat kondusif. al-Kahf/18:94 (dalam cerita tentang Dzu al Qarnayan) 7. h. h. 2. "Katakan. 2-3. Lihat Q. maka lautan itu akan habis sebelum Kalimat Tuhanku habis. h. 6. jadi tidak mungkin dicapai manusia. Al-Syaykh Ibrahim al-Hajuri. 3. 5." (Q. Muhammad ibn Qasim al-Ghazzi.). meski kami datangkan tinta sebanyak itu pula. 'Kalau seandainya seluruh lautan ini tinta untuk Kalimat Tuhanku. 4. Fat'h al-Qarib (Semarang: Maktabah wa Mathba'ah Usaha Keluarga. Seperti halnya dengan Zaman Modern. Muhammad Hasyim Asy'ari. Lihat Q.

Setelah 'Ali r. di lain pihak pada masa itu juga mulai disaksikan munculnya tokoh-tokoh dengan sikap yang secara nisbi lebih mandiri. Umawiyyah. terutama yang terjadi sejak peristiwa pembunuhan 'Utsman. Justru sifat transisional masa ini ditandai berbagai gejala kekacauan pemahaman keagamaan tertentu. Syi'ah. seperti Khawarij. dianggap sebagai masa-masa paling otentik dalam sejarah Islam. Sebagian besar orang-orang Muslim memihak 'Ali dalam perselisihannya dengan Mu'awiyah. sedangkan kaum Khawarij menaruh dendam terhadap 'Ali dan Mu'awiyah sekaligus setelah mereka itu sendiri sebelumnya merupakan pendukung 'Ali yang bersemangat. Tahun empat puluh Hijriah adalah batas pemisah antara kemurnian Sunnah dan kebebasannya dari kebohongan dan pemalsuan di satu pihak. pertentangan ini kemudian mengambil bentuk sifat . Dan pertikaian itu antara lain menjadi sebab bagi berkecamuknya praktek pemalsuan hadits atau penuturan dan cerita tentang Nabi dan para sahabat. kaum Muslim generasi ketiga).ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota VI. SEJARAH AWAL PENYUSUNAN (1/3) DAN PEMBAKUAN HUKUM ISLAM oleh Nurcholish Madjid Dalam bidang fiqh seperti juga dalam bidang-bidang yang lain masa Tabi'in adalah masa peralihan dari masa sahabat Nabi dan masa tampilnya imam-imam madzhab. serta setelah orang-orang Muslim terpecah-pecah menjadi berbagai kelompok. Khalifah III. Di satu pihak masa itu bisa disebut sebagai kelanjutan wajar masa sahabat Nabi. wafat dan Mu'awiyah habis masa kekhilafahannya (juga wafat) anggota rumah tangga Nabi (Ahl al-Bayt) bersama sekelompok orang-orang Muslim menuntut hak mereka akan kekhalifahan. Dalam pandangan keagamaan banyak ulama masa Tabi'in itu. dengan penampilan kesarjanaan di bidang keahlian yang lebih mengarah pada spesialisasi. bersama dengan masa para Sahabat sebelumnya dan masa Tabi'in al-Tabi'in ("para pengikut dari para pengikut" yakni. peristiwa-peristiwa politik menjadi sebab terpecahnya kaum Muslim dalam berbagai golongan dan partai. Tumbuhnya partisan-partisan politik yang berjuang keras memperoleh pengakuan dan legitimasi bagi klaim-klaim mereka. Khususnya setelah perselisihan antara 'Ali dan Mu'awiyah berubah menjadi peperangan dan yang banyak menumpahkan darah dan mengorbankan jiwa. serta meninggalkan keharusan taat pada Dinasti Umayyah. dan ketiga masa itu sebagai kesatuan suasana yang disebut salaf (Klasik). Begitulah. dan ditambah-tambahnya Sunnah itu serta digunakannya sebagai alat melayani berbagai kepentingan politik dan perpecahan internal Islam. Walaupun begitu tidaklah berarti masa generasi kedua ini bebas dari persoalan dan kerumitan. dan sebagainya. yang bersumber dari sisa dan kelanjutan berbagai konflik politik.21.a. Yang disebut "para pengikut" (makna kata Tabi'in) ialah kaum Muslim generasi kedua (mereka menjadi Muslim ditangan para Sahabat Nabi). Melukiskan keadaan yang ruwet itu Musthafa al-Siba'i mengetengahkan keterangan di bawah ini. telah mendorong berbagai pertikaian paham. Disesalkan.

" Tapi kemudian diimbangi orang-orang bodoh dari kalangan Ahl al-Sunnah dengan perbuatan pemalsuan juga. [1] Dihadapkan keruwetan itu. Daerah-daerah . Setiap partai berusaha menguatkan posisinya dengan al-Qur'an dan Sunnah.keagamaan. menopang ditegakkannya kekuasaan politik Imperium Islam yang meliputi daerah antara Nil sampai Amudarya. Maka sebagian golongan itu melakukan interpretasi al-Qur'an tidak menurut hakikatnya dan membawa nash-nash Sunnah pada makna yang tidak dikandungnya. kewajiban mengurus harta anak yatim secara benar. Ada yang mengatakan bahwa yang pertama melakukan hal itu ialah kaum Syi'ah -dengan perbedaan berbagai kelompok mereka. Maka tindakan Nabi dan kebijaksanaannya di Madinah adalah kelanjutan yang sangat wajar dari apa yang telah dirintis pada periode Makkah itu.. para Tabi'in -dengan dipimpin tokoh-tokoh yang mulai tumbuh dengan penampilan kesarjanaanmencoba melakukan sesuatu yang amat berat namun kemudian membuahkan hasil yang agung. Maka mereka palsukanlah banyak hadits tentang kelebihan imam-imam mereka dan para tokoh kelompok mereka. bahkan justru dasar-dasarnya telah diletakkan dengan kokoh dalam periode pertama itu. Pada masa para sahabat yang kemudian disusul masa para Tabi'in. yaitu penyusunan dan pembakuan Hukum Islam melalui fiqh atau "proses pemahaman" yang sistimatis. perlindungan terhadap kaum wanita dan janda. sekalipun keadaan di Makkah belum mengizinkan bagi Nabi untuk melaksanakannya. Itu semua tidak akan tidak melahirkan sistem hukum. "Ketahuilah bahwa pangkal kebohongan dalam hadits-hadits tentang keunggulan (tokoh-tokoh) muncul dari arah kaum Syi'ah. WAWASAN HUKUM ZAMAN TABI'IN Antara Islam sebagai agama dan Hukum terdapat kaitan langsung yang tidak mungkin diingkari. Maka sejak di Makkah Nabi mengajarkan tentang cita-cita keadilan sosial yang antara lain mendasari konsep-konsep tentang harta yang halal dan yang haram (semua harta yang diperoleh melalui penindasan adalah haram). Dari situlah mulai pemalsuan Hadits dan pencampuradukan yang sahih dengan yang palsu. Dasar-dasar itu memang tidak semuanya langsung bersifat kehukuman atau legalistik. dan seterusnya. yang kelak mempunyai pengaruh yang lebih jauh bagi tumbuhnya aliran-aliran keagamaan dalam Islam.sebagaimana dituturkan Ibn Abi al-Hadid dalam Syarh Nahj al-Balaghah. melakukan kegiatan legislasi. sebab selalu dikaitkan dengan ajaran moral dan etika. namun ketentuan-ketentuan yang bersifat kehukuman telah ada sejak di Makkah. prinsip-prinsip yang diwariskan Nabi itu berhasil digunakan. dan kemudian segera melebar dan meluas sehingga membentang dari semenanjung Iberia sampai lembah sungai Indus. dan wajarlah bahwa al-Qur'an dan Sunnah itu untuk setiap kelompok tidak selalu mendukung klaim-klaim mereka. Sebagian lagi meletakkan pada lisan Rasul hadits-hadits yang menguatkan klaim mereka. Sasaran pertama yang dituju para pemalsu hadits itu ialah sifat-sifat utama para tokoh. keharusan menghormati hak milik sah orang lain.. setelah hal itu tidak mungkin mereka lakukan terhadap al-Qur'an karena ia sangat terlindung (terpelihara) dan banyaknya orang Muslim yang meriwayatkan dan membacanya. Meskipun baru setelah tinggal menetap di Madinah Nabi saw.

Di sebelah Barat tradisi itu merupakan warisan Yunani-Romawi. agaknya yang telah terjadi pada masa tabi'in itu ialah semacam pendekatan ad hoc dan praktis-pragmatis terhadap persoalan-persoalan hukum. diperintahkan bermusyawarah mengenai itu semua.sesuai untuk setiap zaman dan tempat). yang dalam wawasan geopolitik Yunani kuno dianggap sebagai heatland Oikoumene (Daerah Berperadaban -Arab: al-Da'irat al-Ma'murah) telah mempunyai tradisi sosial-politik yang sangat mapan dan tinggi. termasuk tradisi kehukumannya. baik dari Kitab ataupun Sunnah. Tetapi yang berkembang menurut perkembangan zaman dan tempat. seperti 'aqa'id dan 'ibadat. tidak pernah timbul kecuali dari wahyu Allah kepada Nabi-Nya s. seperti hukum-hukum ibadat. urusan politik dan peperangan. Tuntutan intelektual itu mendorong tumbuhnya suatu genre kegiatan ilmiah yang sangat khas Islam.Bahwa hal-hal yang tidak berkembang menurut perkembangan zaman dan tempat..w. sehingga mampu menampung setiap perkembangan yang terjadi.a. Untuk mengerti masalah ini sangat menarik mengutip lebih lanjut keterangan al-Sayyid Sabiq. tapi ditinggalkannya dan menerima pendapat para sahabat. bahkan Arab. dan dengan melakukan rujukan pada Tradisi Nabi dan para Sahabat serta masyarakat lingkungan mereka yang secara ideal terdekat.[2] Para ahli hukum Islam sudah terbiasa mengatakan secara benar bahwa letak kekuatan Islam ialah sifatnya yang akomodatif terhadap setiap perkembangan zaman dan peralihan tempat (shalih li kull zaman wa makan. Tapi sebelum ilmu itu tumbuh secara utuh. diberikan secara garis besar. politik dan perang. Penetapan Hukum (al-tasyri') Islam merupakan salah satu dari berbagai segi yang amat penting yang disusun oleh tugas suci Islam dan yang memberi gambaran segi ilmiah dari tugas suci itu. maka Rasul saw. dan Indo-Iran umumnya. tidak lain itu adalah wahyu yang diwahyukan kepadanya.." (QS. Dan tugas Rasul tidak keluar dari lingkaran tugas menyampaikan (tabligh) dan menjelaskan (tabyin). dengan dijelaskan oleh nash-nash yang bersangkutan. dengan menggunakan prinsip-prinsip umum yang ada dalam Kitab Suci. seperti berbagai kepentingan kemasyarakatan (al-mashalih al-madaniyyah). Pendekatan ini dimungkinkan karena watak dasar Hukum Islam yang lapang dan luwes. atau dengan suatu ijtihad yang disetujuinya. Berkenaan dengan hal ini al-Sayyid Sabiq menjelaskan. "Tidaklah ia (Nabi) berbicara atas kemauan sendiri. Karena itu mudah dipahami jika timbul semacam tuntutan intelektual untuk berbagai segi kehidupan masyarakat yang harus dijawab para penguasa yang terdiri dari kaum Muslim Arab itu. Dan Nabi pernah mempunyai suatu pendapat.itu. Adapun penetapan hukum yang berkaitan dengan perkara duniawi bersifat kehakiman. maka tidak seorang pun dibenarkan menambah atau mengurangi. Penetapan hukum keagamaan murni. diberikan secara sepenuhnya terperinci.. yaitu Ilmu Fiqh. agar bersesuaian dengan kepentingan manusia di semua zaman dan agar dapat dipedomani oleh para pemegang wewenang (ulu al-amr) dalam menegakkan keadilan dan kebenaran. sebagaimana terjadi pada . al-Najm/53:34). khususnya masyarakat Madinah. .

SEJARAH AWAL PENYUSUNAN (2/3) DAN PEMBAKUAN HUKUM ISLAM oleh Nurcholish Madjid Sudah tentu keluasan dan fleksibilitas semangat umum Hukum Islam itu dipertahankan. ketika banyak partisan mulai berusaha keras memperebutkan legitimasi untuk klaim-klaim mereka. dengan otoritas yang diakui semua. sebab "persatuan" dan "solidaritas" itu agaknya hanya terbatas pada kenyataan kembalinya kesatuan politik (formal) umat Islam di bawah Khalifah Mu'awiyah ibn Abi Sufyan di Damaskus. sehingga Nabi kadang-kadang membenarkan pemahaman mereka itu.. Ini terjadi tanpa peduli dengan sambutan sebagian besar umat Islam kepada tahun 41 Hijri sebagai "Tahun Persatuan" atau "Tahun Solidaritas" ('Am al-Jama'ah). (021) 7507174 Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota Please direct any suggestion to Media Team Artikel Yayasan Paramadina Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota VI. Dan para Sahabat ra. yang kemudian bertindak sebagai tempat rujukan. 7507173 Fax. DUA KUBU ORIENTASI FIQH: HIJAZ DAN IRAK Di bawah pimpinan Khalifah Mu'awiyah (yang masa kekhalifahannya disebut Ibn Taymiyyah sebagai permulaan masa "kerajaan dengan rahmat" -al-mulk bi al-rahmah) kaum Muslim dapat dikatakan kembali pada keadaan seperti zaman Abu Bakar dan 'Umar (zaman al-Syaykhani.[3] (bersambung 2/3) -------------------------------------------Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah Editor: Budhy Munawar-Rachman Penerbit Yayasan Paramadina Jln. tempat rujukan itu sudah mulai nampak. dan meminta tafsiran tentang makna-makna berbagai nash yang tidak jelas bagi mereka. UA 20-21 Jakarta Selatan Telp. Tapi jika pada zaman Nabi tempat rujukannya ialah Nabi sendiri. Seperti dilukiskan Siba'i yang telah dikutip di atas. 7501983. melewati zaman Nabi sendiri. Mereka juga mengemukakan kepada Nabi pemahaman mereka tentang nash-nash itu. dan kadang-kadang beliau menerangkan letak kesalahan dalam pendapat mereka itu. dan kemudian berselisihnya.21. Tapi sejak pertikaian politik pada paroh kedua kekhalifahan 'Utsman. pun selalu meruduk kepada Nabi saw. dan diteruskan ke zaman para Tabi'in. dan bertahan. "Dua Tokoh") yang amat . tanda-tanda menyebarnya. Pada zaman para sahabat Nabi itu diwarisi banyak tokoh. Metro Pondok Indah Pondok Indah Plaza I Kav. guna menanyakan apa yang tidak mereka ketahui. penyebaran dan perselisihan otoritas itu memuncak pada sekitar sesudah 40 H. kemudian zaman para Sahabat. (021) 7501969.waktu perang Badar dan Uhud.

Kemudian mereka ini mewariskan apa saja yang mereka ketahui kepada penduduk (berikut)-nya. penelitian tentang tujuan-tujuan hukum dan alasan-alasannya. Tapi "koalisi" itu mempunyai akibat cukup penting dalam bidang fiqh. namun dalam hal masalah penegakan hukum mereka tetap sedapat mungkin berpegang dan meneruskan tradisi para Khalifah di Madinah dahulu. Dan yang dibawa pindah oleh mereka itu pun masih lebih sedikit daripada yang ada di Hijaz. disebabkan masa lampaunya. Di situ Rasul menetap. dan Irak (Kufah-Basrah) dengan orientasi penalaran pribadi (ra'y)-nya. Padahal peristiwa-peristiwa (hukum) di Irak itu. Adanya dua aliran itu merupakan akibat yang wajar dari situasi masing-masing Hijaz dan Irak. Penyandaran diri kepadanya juga lebih jelas nampak. Sedangkan Irak telah mempunyai peradabannya sendiri. adalah lebih banyak daripada yang ada di Hijaz. dan penggunaannya juga lebih banyak. dan hanya bersandar kepada bukti-bukti atsar (peninggalan atau "petilasan. Pada zaman itu (zaman Tabi'in). Penjelasan menarik tentang hal ini diberikan oleh Syaykh 'Ali al-Khafif. Hijaz adalah tempat tinggal kenabian. tradisi atau Sunnah) dan nash-nash.. akibat masalah keabsahan kekuasaan Bani Umayyah itu). khususnya tradisi 'Umar. kompleksitas kehidupannya. kemudian para Sahabat beliau menyambut. Karena itulah keperluan mereka kepada penalaran lebih kuat terasa.. yaitu tumbuhnya orientasi kehukuman (Islam) kepada Hadits atau Tradisi (dengan "T" besar) yang berpusat di Madinah dan Makkah serta mendapat dukungan langsung atau tak langsung dari rezim Damaskus. Dan aliran yang cenderung tidak kepada kelonggaran dalam hal tersebut. Tempatnya ialah Irak. Tempatnya ialah Hijaz. Sementara banyak tokoh Madinah sendiri tetap mempertanyakan keabsahan rezim Umayyah itu. sistem pemerintahannya. sebagai dasar ijtihad. Dan (Hijaz) tetap menjadi tempat tinggal banyak dari mereka (para Sahabat) yang datang kemudian sampai beliau wafat. menyampaikan seruannya. Irak dengan kota-kota Kufah dan Basrah adalah kawasan yang selalu potensial menentang Damaskus secara efektif.dirindukan orang banyak. yaitu kaum Tabi'in yang bersemangat untuk tinggal di sana. Apa pun kualitas kekhalifahan Mu'awiyah itu. mendengarkan. Ini masih ditambah dengan kecenderungan mereka untuk banyak membuat asumsi-asumsi dan perincian karena keinginan mendapatkan tambahan pengetahuan. dalam ifta' (pemberian fatwa) ada dua aliran: aliran yang cenderung pada kelonggaran dan bersandar atas penalaran. memelihara sabda-sabda beliau dan menerapkannya. adalah lebih luas dan lebih banyak. begitu pula kebudayaan penduduknya dan terlatihnya mereka itu kepada penalaran. Karena itu ada semacam "koalisi" antara Damaskus dan Madinah (tapi suatu koalisi yang tak pernah sepenuh hati. dan tidak mendapatkan bagian dari Sunnah kecuali melalui para Sahabat dan Tabi'in yang pindah kesana." yakni. kias. Ini kemudian berdampak tumbuhnya dua orientasi dengan perbedaan yang cukup penting: Hijaz (Makkah-Madinah) dengan orientasi Haditsnya. termasuk para "aktivis militan" yang membunuh 'Utsman (dan yang kemudian [ikut] mensponsori pengangkatan 'Ali namun akhirnya berpisah dan menjadi golongan Khawarij). mengingat sedikitnya Sunnah pada mereka itu tidak memadai untuk semua tuntutan mereka. .

[4] Jika dikatakan bahwa orang-orang Hijaz adalah Ahl al-Riwayah ("Kelompok Riwayat. Terdapat persilangan antara keduanya. IJTIHAD TABI'IN SEBAGAI PENDAHULU MADZHAB-MADZHAB Menurut 'Ali al-Khafifi. dengan perpindahan kekuasaan dari kaum Umawi ke kaum 'Abbasi. banyak berorientasi kepada preseden-preseden para khalifah Madinah. yaitu Ahmad ibn Hanbal." dan di kalangan para sarjana Irak. Misalnya. kemudian pada zaman Tabi'in itu. Kairo. Ijtihad yang terjadi di zaman Tabi'in adalah ijtihad mutlak. yang diduga bersandar kepada Sunnah yang karena beberapa sebab Sunnah itu tidak muncul sebelumnya. maupun yang lain. baik yang bersangkutan dengan bidang politik. apakah itu penalaran atau penuturan riwayat. dan yang secara langsung diarahkan membahas. Meskipun sesungguhnya kaum 'Abbasi akhirnya banyak meneruskan wawasan hukum keagamaan kaum Umawi sebagai pendukung Ahl al-Sunnah wa al-Jama'ah (yang sebagaimana telah disinggung. sebagai pedoman) dan orang-orang Irak adalah Ahl al-Ra'y ("Kelompok Penalaran". seorang anggota Majma' al-Buhuts al-Islamiyyah (Badan Riset Islam) Universitas al-Azhar. teologi dan hukum. perubahan situasi politik. Maka di kalangan orang-orang Hijaz terdapat seorang sarjana bernama Rabi'ah yang tergolong "Kelompok Penalaran. kelak. sesungguhnya itu hanya karakteristik gaya intelektual masing-masing daerah itu. [5] . lebih-lebih zaman Tabi'in al-Tabi'in. Tapi disamping itu. meneliti dan memahami yang benar. dengan isyarat tidak banyak mementingkan "riwayat"). Ini semakin memperkaya pemikiran hukum zaman Tabi'in. sikap tersebut menciptakan suasana yang lebih mendukung bagi perkembangan kajian agama. Kini usaha ini memperoleh dorongan baru. berkenaan dengan hukum. suasana lebih mengizinkan untuk muncul. Sikap berpegang kepada syari'ah ini bagi kaum 'Abbasi berarti pengukuhan legitimasi politik dan kekuasaan mereka (dibandingkan dengan kedudukan kaum Umawi. membuat generalisasi bahwa sesuatu kelompok hanya melakukan satu metode penetapan hukum atau tasry'. adalah tidak tepat. Ikatan hanya terjadi jika ditemukan sebuah pendapat seorang Sahabat Nabi. telah membawa perubahan penting dalam sikap keagamaan. tampil seorang penganut dan pembela "Kelompok Riwayat" yang sangat tegar.penalaran mendalam dan pelaksanaan yang banyak. dan ini pada urutannya memberi peluang lebih baik pada para sarjana untuk menyatakan pendapatnya. kaum 'Abbasi lebih banyak dan lebih tulus perhatian mereka kepada masalah-masalah keagamaan dari pada kaum Umawi. meskipun masing-masing tetap dapat dikenali ciri utamanya dari kedua katagori tersebut. khususnya Umar). cukup banyak dari masing-masing daerah yang tidak mengikuti karakteristik umum itu. seperti Hadits. Disamping itu. dan merangsang tumbuhnya berbagai aliran pemikiran keagamaan. Sedangkan pada peringkat individu." karena mereka banyak berpegang kepada penuturan masa lampau. dan dihadapkan kepada oposisi kaum Syi'ah dan Khawarij). termasuk menuturkan riwayat dan Hadits. Usaha secara resmi pembakuan Sunnah (yang kemudian menjadi sejajar dengan Hadits) telah mulai tumbuh sejak jaman 'Umar ibn 'Abd-al'Aziz menjelang akhir kekuasaan Umawi. Yaitu ijtihad yang dilakukan tanpa ikatan pendapat seorang mujtahid yang terlebih dahulu.

Metro Pondok Indah Pondok Indah Plaza I Kav. Suatu hal yang amat penting diperhatikan ialah adanya kaitan suatu aliran pikiran (yakni. dan dalam diri masing-masing aliran besar itu. Ia belajar dari ayahnya dan dari pamannya. 4. ibn 'Abbas. Mesir.'Ali ibn al-Husayn ibn 'Ali ibn Abi Thalib al-Hasyimi. Ia terkenal sangat 'alim (terpelajar).Abu Bakr ibn 'Abd-al-Rahman ibn al-Harits ibn Hisyam al-Makhzumi. 7501983. bahkan guru-guru para calon imam madzhab itu. Banyak belajar dari bibinya. Dia adalah imam keempat kaum Syi'ah Imamiyyah. dan dikenal dengan Zayn al-'Abidin. dan lain-lain. Namun diantara keduanya. Persi. berupa semakin beragamnya latar belakang etnis. Wafat pada 94 H. Al-Hasan al-Bashri banyak berkonsultasi dengannya. Tarikh al-Tasyri' al-Islami. Wafat pada 94 H. 3. dan sebagainya) yang masuk Islam. Lahir dua tahun kekhalifahan 'Umar. antara lain: 1.Sa'id ibn al Musayyib al-Makhzumi. Banyak meriwayatkan Hadist yang bersambung dengan Abu Hurayrah. Merekalah para pendahulu imam-imam madzhab. madzhab. terdapat nuansa yang cukup berarti. school of thought) dengan tempat. dan cukup penting diperhatikan. Telah disebutkan adanya dua aliran pokok: Irak dan Hijaz. Lahir dimasa kekhalifahan 'Utsman. 'Aisyah. bidang kajian hukum Islam atau fiqh. Nuansa-nuansa itu tercermin dalam ketokohan sarjana atau 'ulama' yang mendominasi suasana intelektual suatu tempat. Aisyah. istri Nabi saw. UA 20-21 Jakarta Selatan Telp. Lahir di masa kekhalifahan 'Umar. [6] Maka zaman itu kita menyaksikan tampilnya tokoh-tokoh kesarjanaan dengan bidang kajian ilmu yang lebih terspesialisasi. 2. (021) 7507174 Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota Please direct any suggestion to Media Team . seperti dituturkan al-Syaykh Muhammad al-Hudlari Beg dalam kitabnya. tapi tidak banyak meriwayatkan Hadits. 7507173 Fax. (bersambung 3/3) -------------------------------------------Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah Editor: Budhy Munawar-Rachman Penerbit Yayasan Paramadina Jln.Semua kegiatan itu juga terpengaruh kenyataan sosial-politik. al-Hasan ibn 'Ali. kultural dan geografis anggota masyarakat Islam.'Urwah ibn al-Zubayr ibn al-'Awwam. khususnya. Di Madinah tampil cukup banyak sarjana. dan sempat belajar dari para pembesar Sahabat Nabi. wafat pada 94 H. (021) 7501969. disebabkan banyaknya orang-orang bukan Arab (Syiria. Wafat pada 94 H. Terkenal sangat saleh sehingga digelari "pendeta Quraysy" (rahib Quraysy).

Ibn 'Abbas. Abu Hurayrah.. 'Ali dan Ubay ibn Ka'b. Belajar dari ayahandanya sendiri. dan sebagainya. klien Ibn 'Abbas. Mendapat pendidikan dari 'A'isyah (bibinya sendiri). dan dari 'A'isyah. Belajar dari 'Aisyah. dan lain-lain. dan lain-lain. Klien Bani Makhzum. Wafat pada 106 H.) Belajar dari patronnya sendiri. 7. Pernah menyatakan ia sependapat .'Ikrimah. 6. Sa'id ibn al-Musyyaib. Wafat pada 117 H.'Ubayd-Allah ibn 'Abd-Allah ibn 'Utbah ibn Mas'ud. Ibn Abbas. yang terkenal dengan Ibn Syihab al-Zuhri. dan pernah dibacakan do'a oleh Nabi agar mempunyai pemahaman mendalam (tafaqquh) dalam agama. Diutus oleh 'Umar ibn 'Abd-al-Aziz ke Mesir. 10. dan belajar dari 'Abd-Allah ibn 'Umar. Belajar banyak dari 'Umar. klien 'Abd-Allah ibn 'Umar. klien Maymunah (istri Nabi saw. Wafat pada 107 H. Wafat pada 103 H. dia adalah guru Khalifah 'Umar ibn 'Abd al-'Aziz. Wafat pada 98 H. dan lainnya. dan lain-lain.Salim ibn 'Abd-Allah ibn 'Umar. Ibn 'Abbas. Abu Hurayrah. Mendapat perintah dari 'Umar ibn 'Abd-al-Aziz untuk mencatat Sunnah penduduk Madinah sebagai rintisan resmi pertama pembukuan Hadits.Artikel Yayasan Paramadina Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota VI. Dikenal sebagai "Kepala Bani Hasyim" di zamannya. Belajar dari patronnya sendiri.Abu Ja'far ibn Muhammad ibn 'Ali ibn al-Husayn. 8. Wafat pada 114 H. dll. Belajar dari Ibn 'Abbas. Dia adalah imam kelima kaum Syi'ah. yang dikenal dengan sebutan al-Baqir. Wafat pada 106 H. Belajar dari ayahnya sendiri.Muhammad ibn Muslim.Sulayman ibn Yasar. 'A'isyah. 3. Beliau diajar tentang ta'wil. Abu Hurayrah. mengajar Sunnah. Berasal dari Daylam (daerah Iran).21. 2.'Abd-Allah ibn. Abu Hurayrah. juga dari A'isyah. 'Abbas ibn 'Abd-Muthalib. Abd Hurayrah. 'A'isyah. Ibn Abbas.Nafi'. juga dari Jabir dan 'Abd-Allah Ibn 'Umar. Ibn 'Umar. Lahir 50 H. Wafat di Thaif pada 68 H. 11. dan dari 'A'isyah. dan sebagainya. Annas ibn Malik. Sa'id ibn al-Musayyaib. Zayd ibn Tsabit. 9. Belajar dari Sa'd. Di Makkah beberapa sarjana terkenal juga tampil: 1. dan sebagainya. Lahir dua tahun sebelum Hijrah. dan sebagainya.Mujahid ibn Jabr. Selain kepemimpinannya dalam fiqh dan Hadits. ia juga terkenal sebagai penyair. Abu Hurayrah.Qasim ibn Muhammad ibn Abi Bakr. Dianggap Bapak Ilmu tafsir al-Qur'an. SEJARAH AWAL PENYUSUNAN (3/3) DAN PEMBAKUAN HUKUM ISLAM oleh Nurcholish Madjid 5.

kemudian dari Abu Hurayrah. Jabir ibn Zayd. 'A'isyah. karena ia Sahabat Nabi sejak Hijrah sampai wafat. 'Umar. Wafat pada 110 H. Belajar dari 'A'isyah. Selain ahli hukum Islam. 'Ali. sejarah dan geneologi (al-nasab).Al-Aswab ibn Yazid al-Nakha'i. tampil tokoh-tokoh.Abu al-'Aliyah Rafi' ibn Mahran al-Riyahi. 'Utsman.'Alqamah ibn Qays al-Nakha'i. Wafat pada 63 H. 3. Ibn Mas'ud.Abu al-Syaitsa'. yang fasih dan luas pengetahuan. dan 4. Raja ibn Hayah al-Kindi.Qatadah ibn Da'aman al-Dusi. 2. Wafat pada 93 H.Anas ibn Malik al-Anshari. 5.Al-Hasan ibn Abi al-Hasan Yassar. Guru utama Imam Abu Hanifah. Ibn 'Umar. 'Ali. Seorang pejuang yang terkenal berani. Namun yang paling . Keduanya bersaudara. Dari daerah Syam (Syria) beberapa tokoh ahli hukum tampil. Selain belajar dari Nabi juga banyak belajar dari Abu Bakr. Karena penampilannya sebagai sarjana dan peranannya dalam mendidik para Tabi'in maka ia termasukkan dalam daftar ini. Dibesarkan di Madinah dan menghafal al-Qur'an di zaman 'Utsman. Wafat pada 90 H. Wafat pada 114 H.Muhammad ibn Sirin. kawan Ibn 'Abbas. dan sama-sama tampil sebagai sarjana terkemuka. 5. dll. Wafat pada 90 H. dan belajar dari 'Umar. Makhul ibn Abi Muslim. dan sebagainya.'Atha ibn Rabbah. 6. Wafat pada 107 H. dan lain-lain. Abu Hanifah. Belajar dari 'Umar. Disebutkan berkulit hitam kelam. Sangat banyak mendapat pujian dari para 'ulama' yang lain. 2. ia juga ahli bahasa. klien Anas ibn Malik. Wafat pada 62 H. Cukup menarik bahwa al-Sya'bi tidak suka kepada metode qiyas (analogi) yang menjadi ciri Ahl al-Ra'y yang dikembangkan muridnya. Ibn 'Abbas. di samping seorang sarjana terkemuka.dengan kaum Khawarij. Abu Hurayrah. Banyak belajar dari kawannya sendiri itu. Dari kalangan warga Kufah yang tampil antara lain ialah: 1. Lahir 17 H. Belajar dari patronnya. Kedua-duanya wafat pada 95 H. Kemudian dari Basrah.Ibrahim ibn Yazid al-Nakha'i. dan lainnya. Lahir di masa Nabi masih hidup. termasuk mereka yang hidup sezaman. Sarjana Tabi'in yang paling terkemuka. Abu Hurayrah. Belajar dari 'Ali. Ibn 'Abbas. Ibn Mas'ud. 4.Masruq ibn al-Ajda' al-Hamdani.'Amir ibn Syarahil al-Sya'bi. Qabishah ibn Dzu'ayb. dan sebagainya. Ubbay. 'Utsman. klien Zayd ibn Tsabit. dan sebagainya. Ibn Mas'ud. antara lain: 1. Abu Idris al-Khulani. Wafat pada 110 H. seperti 'Abd-al-rahman ibn Gahnim al-Asy'ari. Wafat pada 118 H. Murid terkemuka Ibn Mas'ud. Seorang khadam. 3. Ibn 'Abbas dan Ibn 'Umar. 4. Belajar dari 'Umar. 'Ali dan 'A'isyah.

Al-Sayyid Sabiq. 4. yang belajar dari Ibn 'Umar. Wafat pada 114 H. hh. 17." dalam Al-Ijtihad fi al-Syari'at al-Islamiyyah. Malik. hh. 'Abd-al-Khayr ibn 'Abd-allah al-Yazani (wafat pada 90 H. dan ibukota Mesir ialah Fusthath yang perkembangannya tidak terlalu pesat seperti lain-lain. (Kuwait: Dar al-Bayan 1968/1388).). (Riyadl: Jami'at al-Imam Muhammad ibn Su'ud al-lslamiyyah. h. 1949). 'A'isyah. Mesir saat itu belum menjadi tandingan tempat-tempat yang tersebut di atas. 3. Jabir.. Fiqh al -Sunnah. Selanjutnya ialah Yahya ibn Abi Katsir yang menurut sementara 'ulama' yang lain seperti Syu'bah dianggap lebih ahli tentang Hadits daripada al-Zuhri tersebut. 'Umar. 7. al-Syafi'i. Kemudian Wahb ibn Munabbin al-Shan'ani. jil. dan lainnya. dan Ahmad ibn Hanbal.) yang belajar dari Zayd ibn Tsabit.Musthafa al-Siba'i. "Al-Ijtihad fi 'Ashr al-Tabi'in wa Tabi'i 'l-Tabi'in. terkenal sebagai 'Umar II dan banyak dipandang sebagai yang kelima dari al-Khulafa' al-Rasyidin. seperti 'Abd-Allah ibn al-'Ash (wafat pada 65 H. CATATAN 1. 1404/1984).Ibid. dan lainnya. Dia wafat pada 101 H. Al-Sunnah wa Makanatuha fi al-Tasyri' al-Islami (Kairo: al-Dar al-Qawmiyyah. 1387/1968). juga banyak muncul sarjana-sarjana dengan pengaruh yang jauh keluar dari batasan daerahnya sendiri.Ibid. 222.Al-Syaykh 'Ali al-Khafifi.). al-Layts ibn Sa'd. Sufyan al-Tsawri. (mengakui empat Khalifah pertama: Abu Bakr. Abu Hurayrah. antara lain.Ibid. Walaupun begitu telah tampil pula di kalangan Mesir beberapa sarjana terkemuka. 'Utsman dan 'Ali) dan mensponsori secara resmi (kenegaraan) usaha penulisan Sunnah atau Hadits. h. 223. seperti al-Awza'i. Thawus ibn Kaysan al-Jundi (wafat pada 106 H. h. yaitu Yaman. telah melapangkan jalan bagi tampilnya para imam madzhab yang sampai saat ini pengaruhnya masih amat kukuh seperti Abu Hanifah. 224-5. Tarikh al-Tasyri' al-Islami (Beirut: Dar al-Fikr.penting dari para sarjana Syam itu ialah Khalifah 'Umar ibn 'Abd-al-'Aziz. 6. Kota Kairo belum ada (baru didirikan oleh Dinasti Fathimiyah kelak. dan lainnya. I h. 5. lihat al-Syaykh Muhammad al-Hudlari Beg. Mereka ini. pada gilirannya. [7] Para tokoh ahli hukum itu dan kegiatan ilmiah serta pengajarannya telah mendorong tumbuhnya para spesialis hukum angkatan berikutnya. bersama Masjid-Universitas al-Azharnya). 2. Mereka itu. Di Jazirah Arabia sebelah selatan. . 13.Untuk keterangan lebih lengkap tentang tokoh-tokoh ini.). Yazid ibn Abi Habib yang disebut-sebut sebagai pelopor ilmu pengetahuan di Mesir dan ahli masalah halal dan haram (wafat pada 128 H.. 7fe7). Dialah yang mengukuhkan tarbi. Ibn 'Abbas. 126-41. h.

yaitu peraturan perundangan di negeri Muslim. Jenis produk pemikiran hukum ketiga. tapi sifat responsifnya itu yang sekurang-kurangaya dapat dikatakan dinamis. dalam arti si peminta fatwa tidak harus mengikuti isi/hukum fatwa yang diberikan kepadanya. untuk . beberapa buku fiqh tertentu telah diperlakukan sebagai kitab undang-undang. keputusan-keputusan pengadilan agama ini sifatnya mengikat kepada pihak-pihak yang berperkara. ialah kitab-kitab fiqh yang pada saat di tulis pengarangnya. Berbeda dengan fatwa. (021) 7507174 Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota Please direct any suggestion to Media Team Artikel Yayasan Paramadina Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota IV. sifatnya adalah kasuistik karena merupakan respon atau jawaban terhadap pertanyaan yang diajukan peminta fatwa. keputusan-keputusan pengadilan agama. karena itu memerlukan perhatian tersendiri pula. fatwa-fatwa ulama. Masing-masing produk pemikiran hukum itu mempunyai ciri khasnya tersendiri. dan sampai tingkat tertentu juga bersifat dinamis karena merupakan usaha memberi jawaban atau menyelesaikan masalah yang diajukan ke pengadilan pada suatu titik waktu tertentu. Jenis produk pemikiran hukum keempat. Isi fatwa itu sendiri belum tentu dinamis. tapi juga para politisi dan cendekiawan lainnya. FIQH DAN REAKTUALISASI AJARAN ISLAM Oleh Atho' Mudzhar Sedikitnya ada empat macam produk pemikiran hukum Islam yang kita kenal dalam perjalanan sejarah Islam. dan peraturan perundangan di negeri-negeri Muslim. 7501983. Kitab-kitab fiqh ketika ditulis juga tidak dimaksudkan. (021) 7501969. yaitu: kitab-kitab fiqh. Fatwa tidak mempunyai daya ikat. Fatwa-fatwa ulama atau mufti. adalah keputusan-keputusan pengadilan agama. 7507173 Fax. kitab-kitab itu tidak dimaksudkan untuk diberlakukan secara umum di suatu negeri. Ini juga bersifat mengikat atau mempunyai daya ikat yang lebih luas.-------------------------------------------Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah Editor: Budhy Munawar-Rachman Penerbit Yayasan Paramadina Jln. meskipun dalam sejarah kita mengetahui. Jenis produk pemikiran Islam yang kedua.28. Orang yang terlibat dalam perumusannya juga tidak terbatas pada para fuqaha atau ulama. UA 20-21 Jakarta Selatan Telp. tapi fatwa biasanya cenderung bersifat dinamis karena merupakan respon terhadap perkembangan baru yang sedang dihadapi masyarakat si peminta fatwa. Metro Pondok Indah Pondok Indah Plaza I Kav.

maka orang yang menguasai fiqh yang biasanya disebut fugaha. fiqh hanyalah salah satu dari beberapa bentuk produk pemikiran hukum Islam. dan hukum Islam dipandang identik dengan aturan Tuhan. selama berabad-abad fiqh menduduki tempat yang amat terpandang sebagai bagian dari agama itu sendiri. fiqh cenderung dianggap sebagai aturan Tuhan itu sendiri. Dan ketiga. Pada umumnya masyarakat Islam. Dengan tidak adanya masa laku ini. Sebagai akibatnya. khususnya masyarakat Islam Indonesia. sekarang kita lihat bagaimana dalam kenyataan. dan peraturan perundangan negeri Muslim. Secara sosiologis kedudukan demikian itu memberi hak-hak istimewa dan peranan tertentu kepada fuqaha pada lapisan sosial tertentu. maka perbaikan atau revisi terhadap sebagian isi kitab fiqh dianggap dapat. yang oleh sebagian orang lalu dianggap sebagai jumud atau beku alias tidak berkembang. Dengan cara pandang itu. adalah sama dengan menghalalkan produk pemikiran manusia yang semestinya temporal. memandang fiqh identik dengan hukum Islam. atau akan mengganggu keutuhan isi keseluruhannya. maka fiqh sebenarnya tidak boleh resisten terhadap pemikiran baru yang muncul kemudian.digunakan pada masa atau periode tertentu. bukan saja sebagai orang yang memaklumi produk pemikiran keagamaan tapi sebagai penjaga hukum agama itu sendiri. Gambaran ini diperlukan. maka kitab-kitab fiqh dipandang sebagai kumpulan hukum Tuhan. tapi sebagai buku agama itu sendiri. dan karena hukum Tuhan adalah hukum yang paling benar dan tidak bisa dirubah maka kitab-kitab fiqh bukan saja dipandang sebagai produk keagamaan. Inilah kedudukan kitab fiqh sebagai salah satu bentuk produk pemikiran hukum Islam dan karakteristik serta kecenderungan-kecenderungannya dibanding dengan produk-produk pemikiran hukum lainnya: fatwa. sebelum kita mencoba memberi analisa lebih jauh tentang mekanisme kerja fiqh. dan saran-saran pemecahan masalahnya. Karena itu kitab-kitab fiqh cenderung menjadi resisten terhadap perubahan. maka sebenarnya itu . Ketika seorang faqih dari suatu masa menuliskan tintanya menjadi kitab fiqh. maka kitab-kitab fiqh cenderung dianggap harus berlaku untuk semua masa. Dengan cara meletakkan fiqh pada proporsinya yang demikian itu maka diharapkan kita akan memperlakukannya secara proporsional pula. membiarkan fiqh sebagai kumpulan aturan yang tidak mempunyai batasan masa lakunya. juga mempunyai kedudukan tinggi. dalam rangka reaktualisasi ajaran Islam.maka kitab-kitab fiqh sifatnya menyeluruh dan meliputi semua aspek bahasan hukum Islam. Selain itu kitab-kitab fiqh juga mempunyai karakteristik lain. karena sifatnya sebagai produk pemikiran. dan bukan bagian dari produk pemikiran keagamaan. Kedua. seperti pertama. Akibatnya. Sebagai salah satu akibat dari sifatnya yang menyeluruh ini. SIKAP MUSLIM TERHADAP FIQH Setelah kita melihat bagaimana seharusnya memandang fiqh. Kalau fatwa dan keputusan pengadilan agama sifatnya kasuistik --yaitu membahas masalah tertentu-. Akibat lebih lanjut dari kedudukan fiqh yang diidentikkan dengan agama itu. yang pada gilirannya akan mempengarahi cara pandang dan cara pikir fuqaha itu sendiri. keputusan pengadilan agama. masyarakat memandang fiqh.

Kekeliruan ini rasanya perlu diperbarui dan dibetulkan. karena beliau sendiri pada akhirnya lebih memihak pada kelompok pertama.tidak terlepas sebagian atau tadi. Pilihan Wahyu dan Akal Dalam sejarah pertumbuhan hukum Islam kita mengetahui. Imam Syafi'i sebenarnya telah berusaha menjembatani kedua kelompok itu. dari cara seluruhuya pandang dan cara pikirnya yang diwarnai oleh kedudukan sosialnya Di sini. dipelopori Imam Abu Hanifah. Kitab-kitab fiqh hasil kelompok pertama lebih memberi tempat kepada hadits-hadits meskipun lemah. terdapat dua aliran besar di kalangan para pendiri madzhab. Ironisnya. Inilah yang menyebabkan lahirnya pandangan yang telah membiarkan fiqh sebagai kumpulan aturan yang tidak mempunyai batasan masa lalu . Kadang-kadang fiqh yang dipeliharanya itu adalah produk para pendahulunya. sebagaimana telah disebutkan di muka. tapi kadang-kadang juga produksinya sendiri. dan karenanya tidak meliput semua aspek kehidupan manusia. fiqh memerlukan penjaga yang disebut faqih atau fuqaha. tapi pandangan ini telah mempunyai pengaruh dalam memberikan label bahwa produk pemikiran fiqh itupun merupakan upaya menafsirkan kehendak Tuhan yang bersifat abadi dalam bidang hukum. Keempat pasangan pilihan tersebut ialah sebagai berikut: 1. maka para fuqaha memerlukan kehidupan fiqh yang tinggi. EMPAT PASANGAN PILIHAN Terdapat sejumlah pasangan pilihan yang dapat mempengaruhi pandangan seseorang tentang fiqh. Demikian kesalahpahaman yang terjadi di kalangan sementara orang Islam. tidak terkecuali di Indonesia. sebenarnya terjadi siklus yang menarik diamati: bahwa untuk menjaga dan memeliharanya. Kelompok pertama adalah mereka yang mengutamakan penggunaan hadits dalam memahami ayat-ayat Qur'an dan kelompok kedua. apalagi aspek-aspek kehidupan yang merupakan produk perkembangan zaman modern. Kelompok pertama kemudian dikenal dengan ahl al-hadith dan kelompok kedua disebut ahl al-ra'yi. adalah mereka yang mengutamakan penggunaan akal. dalam memandang fiqh. Kelompok pertama terutama berkembang di Madinah. dalam mencoba memahami dan menjabarkan ajaran Islam tentang hukum. dan dipelopori Imam Malik bin Anas dan kelompok kedua berkembang di Kufah dan Baghdad. empat diantaranya akan disebutkan dan diuraikan di sini. produk-produk pemikiran fiqh itu dianggap sebagai identik dengan hukum Tuhan itu sendiri. sedangkan kelompok kedua menghasilkan kitab-kitab fiqh yang bersifat rasional. aturan yang disebut hukum Islam itu tidak boleh terkena intervensi akal manusia karena hukum Islam itu adalah kebenarannya mutlak yang hanya diatur dengan wahyu. dan untuk memelihara status diri mereka. dan untuk itu terlebih dahulu perlu dipahami faktor-faktor apa sebenarnya mengakibatkan kekeliruan tersebut. Kedua aliran ini telah menghasilkan kitab-kitab fiqh yang berbeda. Meskipun pandangan ini bersifat utopis karena kenyataan. dalam hal porsi penggunaan akal. tapi tidak sepenuhnya berhasil. jumlah ayat al-Qur'an mengenai hukum itu hanya sedikit sekali (kurang lebih 276-500 ayat). Jadi sejak awal pertumbuhannya telah ada pihak-pihak yang berpendirian.

dan cenderung mengekalkan produk pemikiran manusia yang semestinya temporal dan liable terhadap perubahan. maka kitab fiqh yang berpuluh-puluh jilid itupun menjadi tabu mendapatkan revisi.fiqh pada umumnya dirumuskan para teoritisi belakang meja daripada . tapi dulunya lebih merupakan ekspresi lokal. Kesalahan dalam melakukan pilihan antara wahyu dan akal. dan bukan oleh para hakim di pengadilan agama. kesalahan dalam melakukan pilihan yang tepat antara porsi peranan wahyu dan akal telah mempunyai dampak yang serius dalam sejarah perkembangan --atau lebih tepatnya ketidak-berkembangan fiqh. atau lebih tepatnya kesalahan dalam memberikan porsi peranan wahyu dan akal ternyata telah membawa pada kejumudan fiqh itu sendiri yang justru meliputi sebagian terbesar dari aturan hukum Islam yang ada. Pilihan Idealisme dan Realisme Pasangan pilihan ketiga yang telah mempengaruhi perkembangan fiqh adalah pilihan antara idealisme dan realisme. 3. Jadi. telah mengakibatkan mandeknya perkembangan fiqh. Tapi karena hukum Islam dipandang identik dengan fiqh. Kitab-kitab fiqh yang kita pelajari sekarang di Indonesia ini. Artinya kitab-kitab fiqh itu partikularistik. Demikianlah perkembangan hukum Islam. atau para ahli hukum. Tapi pada kenyataan kita melihat. Orang harus melakukan pilihan antara pandangan yang mengatakan hukum Islam itu universal. Bahkan kita mengetahui banyak fuqaha menolak jabatan qadi atau hakim. antara hukum Islam sebagai kesatuan dan hukum Islam sebagai keragaman. antara cita-cita dan kenyataan. Tapi justru kitab-kitab yang dipandang sebagai hukum Islam itu di Indonesia dipandang universal tadi. bahwa pandangan pertama telah mendominasi benak kaum Muslim selama berabad-abad. Satu kitab fiqh dapat ditulis dalam berpuluh-puluh jilid. Kita mengetahui dalam sejarah. mengidentikkan fiqh dengan hukum Islam yang universal. dan dari suatu masa tertentu di masa silam. bahwa kitab-kitab fiqh itu pada umumnya ditulis para fuqaha. Kita mengetahui dari sejarah. dan sebagai hasilnya fiqh selalu resisten terhadap perubahan. Begitulah. Hukum Islam yang dianggap universal itu sebenarnya adalah produk fuqaha dari suatu lingkungan kultur tertentu. lebih ironis lagi. Pilihan Kesatuan dan Keragaman Pasangan pilihan kedua adalah. dengan pandangan yang mengatakan hukum Islam itu partikular . Ini berarti --sejarah telah membuktikannya-. Hukum Islam sebagai kesatuan artinya. dan merupakan ekspresi dari kultur tertentu di sekitar Timur Tengah. Jadi. jurist. selain sudah tua. 2. seperti yang kita saksikan selama ini. Sekarang kita melihat madzhab-madzhab itu sebagai aliran-aliran dalam hukum Islam. adalah kitab-kitab fiqh yang ditulis lima atau enam abad yang lalu. Tentu saja selebihnya adalah produk penafsiran dan pemikiran manusia. Kita mengetahui terdapat berbagai madzhab dalam fiqh. Bagi kita kaum Muslim Indonesia. karena hukum Islam itu adalah hukum Tuhan maka semestinya hukum Islam itu hanya ada satu macam saja untuk seluruh umat manusia. sementara wahyu yang mendasarinya hanya beberapa ratus ayat saja. meskipun untuk itu mereka harus masuk penjara. kitab-kitab fiqh yang kita pelajari itu mengandung ekspresi lokal di Timur Tengah sana. untuk seluruh umat Islam di dunia. dan sebagian diterjemahkan atau disadur dalam bahasa Indonesia. fiqh yang dipandang identik dengan hukum Islam itu bermacam-macam.

Sebagai akibatnya kitab-kitab fiqh menjadi beku. dan Irak. Mesir. Siria. khususnya dalam hal hukum keluarga. 4. lebih menekankan segala sesuatunya pada hal-hal yang maksimal daripada minimal. atau sekurang-kurangnya kekeliruan dalam menentukan bobot masing-masing pilihan itu. Fiqh harus dipandang sebagai varian suatu keragaman yang bersifat partikularistik yang terkait dengan tempat dan waktu. sebagaimana disebutkan di muka. Jika kita hendak mereaktualisasikan ajaran-ajaran Islam. dirubah atau bahkan dibuang pada setiap saat. Fiqh telah dipandang sebagai ekspresi kesatuan hukum Islam yang universal daripada sebagai ekspresi keragaman partikular. dan tidak boleh mengalami perubahan. dan karenanya boleh diotak-atik. melainkan akibat lanjutan dari pilihan pada pasangan-pasangan sebelumnya. telah berlangsung selama berabad-abad. Sebagai akibatnya. Karena hukum Islam harus hanya ada satu. Kita harus memandang fiqh sebagai produk dominan akal ketimbang wahyu. dan lebih khusus lagi dalam bidang fiqh. Fiqh telah mewakili hukum dalam bentuk cita-cita daripada sebagai respon atau refleksi kenyataan yang ada secara realis. statis. LANGKAH-LANGKAH REAKTUALISASI Uraian di atas dapat disimpulkan: Kemandekan pemikiran fiqh di dunia Islam selama ini adalah karena kekeliruan menetapkan pilihan dari pasangan-pasangan pilihan tersebut di atas. Ini telah terjadi pada saat kitab fiqh itu dituliskan. telah mengakibatkan kemandekan pemikiran fiqh di dunia Islam selama ini.praktisi di lapangan. Pilihan Stabilitas dan Perubahan Pasangan pilihan keempat adalah pilihan stabilitas dan perubahan. Kebekuan fiqh itu. Semua itu. maka secara konseptual hukum Islam tidak menerima adanya variasi. dengan mengintrodusir dan memperbaharui peraturan perundangan. Fiqh juga telah memilih stabilitas daripada perubahan. Pasangan pilihan ini sebenarnya tidak sepenuhnya berdiri sendiri. Fiqh harus dikembangkan dari yurisprudensi pengadilan yang bertumpu pada realisme. Bahkan Saudi Arabia pun dalam banyak hal telah mulai melakukan suplemen terhadap hukum-hukum fiqh Hambali yang umumnya terlalu literalis. Hal ini terjadi di Tunisia. dan resisten terhadap perubahan. Beberapa negeri Muslim setelah pertemuan yang pahit dengan peradaban Barat. fiqh yang dihasilkannya lebih mengekspresikan hal-hal yang ideal daripada real. baik remote waktu maupun tempat. ialah: fiqh semakin hari semakin jauh dari kenyataan masyarakat. Baru pada abad ke-19 terdengar suara-suara untuk melakukan perubahan terhadap fiqh yang ada. ini berarti hukum Islam itu harus stabil. Pendek kata. Akibat lain dari pilihan atas idealisme daripada realisme itu. apalagi ketika kitab-kitab fiqh itu menjadi remote dari masyarakat yang mengamalkannya. mulai mencoba melakukan revisi terhadap fiqhnya. khususnya dalam bidang hukum. maka kita harus membalik pilihan-pilihan tersebut di atas. Dari dimensi waktu. fiqh harus dilihat sebagai mata rantai perubahan yang tak henti-hentinya tanpa harus dipersoalkan keabsahannya karena toh pada akhirnya fiqh itu hanya menyangkut soal cabang .

Kedua. khususnya para imam shalat. 1990/1991. sampai dengan tampilnya Kyai Dahlan dengan Muhammadiyahnya. dan termasuk yang sering dibaca dalam shalat itu. Pakistan. -------------------------------------------Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah Editor: Budhy Munawar-Rachman Penerbit Yayasan Paramadina Jln. Catatan-catatan kuliah Sejarah Sosial Hukum Islam pada Fakultas Pasca Sarjana. 1969). DAFTAR KEPUSTAKAAN Atho' Mudzhar. Coulson. 1977). adanya tingkat pendidikan dan tingkat keterbukaan yang tinggi dari masyarakat Muslim. memahami faktor-faktor sosiokultural dan politik yang melatarbelakangi lahirnya suatu produk pemikiran fiqhiyah tertentu. Chicago. Dengan demikian. dan tidak pula menyadari betapa surat pendek itu dapat menjadi pangkal gerakan kemanusiaan yang besar dan mendalam seperti . Metro Pondok Indah Pondok Indah Plaza I Kav. Noel J. 7501983. Tetapi. Surat itu sendiri sudah merupakan bagian dari hafalan baku para santri. IAIN Jakarta.. UA 20-21 Jakarta Selatan Telp. Tapi untuk melakukan pilihan-pilihan yang tepat diperlukan beberapa syarat. 7507173 Fax. Philosophy of Islamic Law and the Orientalists (Islamic Publications Ltd. Dan ketiga. adanya keberanian di kalangan umat Islam untuk mengambil pilihan-pilihan yang tidak konvensional dari pasangan-pasangan pilihan tersebut di atas. MASALAH SIMBOL DAN SIMBOLISME DALAM EKSPRESI KEAGAMAAN (1/2) Oleh Nurcholish Madjid Ketika Kyai Ahmad Dahlan mulai menapak jalan menuju cita-cita reformasi Islam di Indonesia. Muhammad Muslehuddin. (021) 7507174 Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota Please direct any suggestion to Media Team Artikel Yayasan Paramadina Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota V. maka produk pemikiran hukum itu dengan sendirinya harus dirubah. jika di tempat lain atau pada waktu lain ditemukan unsur-unsur partikularisme yang berbeda. sedikitnya ada tiga syarat yang harus dipenuhi yaitu: Pertama. (021) 7501969. yaitu surat al-Ma'un (QS 107). Dengan demikian dinamika hukum Islam dapat terus dijaga dan dikembangkan. kaum muslim Indonesia seperti tidak pernah tersentuh oleh makna dan semangat firman Allah itu. Conflicts and Tensions in Islamic Law (The University of Chicago Press. beliau memperkenalkan dan mempropagandakan sebuah surat pendek al-Qur'an dari Juz 'Amma.dari agama. agar dapat memahami partikularisme dari produk pemikiran hukum itu.35.

Sebuah Hadits yang amat terkenal mengisyaratkan bahwa tujuan tugas suci atau risalah dibangkitkannya Nabi s. menegaskan keadilan sosial. haji.a. Sebab mungkin kita sendiri tidak merasa. kita menjalankan ibadat-ibadat hanyalah untuk memenuhi kemestian-kemestian sosial kultural semata. adalah untuk menyempurnakan berbagai keluhuran budi. Keagamaan yang sejati menuntut adanya wujud nyata konsekuensi ibadat. kurang lebih adalah: Pernahkah engkau lihat (hai Muhammad).w. yang menurut istilah sekarang.Muhammadiyah dengan amal-amal sosialnya. namun ibadat itu tidak mempengaruhi tingkah laku kita yang lebih mendalam. biarpun sedikit. yang tingkah laku itu bakal membentuk budi pekerti luhur [2]. yaitu budi pekerti yang luhur. yaitu mereka yang akan shalat tetapi lalai. Penilaian diri kita sebagai pendusta agama atau beragama secara palsu karena tidak memiliki komitmen sosial yang makin diperburuk oleh tingkah laku lahiriah kita sendiri yang nampak seperti menjalankan ibadat formal. [3] AGAMA DAN AKHLAQ Surat al-Ma'un memperingatkan kita bahwa beragama dengan tulus tidaklah cukup hanya dengan mengerjakan segi-segi formal keagamaan seperti shalat. yang dibidikkan oleh ibadat itu. dan bungkus itu dengan sendirinya akan mempunyai dampak penipuan. Anak yatim dan orang miskin mewakili seluruh anggota masyarakat yang tidak beruntung oleh berbagai sebab dan cara. Jadi sesungguhnya kita menjalankan ibadat itu karena pamrih atau riya'. seperti kemestian yang ada pada pola pergaulan dalam suatu kelompok. namun tidak menghayati dan tidak mewujud-nyatakan hikmahnya. sementara kita mungkin rajin menjalankan ibadat-ibadat formal seperti shalat. orang yang mendustakan agama? Itulah orang yang menghardik anak yatim dan tidak berjuang untuk memberi makan orang miskin. dll. dan yang enggan memberi pertolongan. "kelompok orang-orang Islam. Indikasinya ialah keseganan untuk berkorban guna memberi pertolongan kepada orang yang perlu. puasa. yaitu mereka yang suka pamrih kepada sesama. Karena itulah Allah mengutuk orang yang menjalankan ibadat formal serupa itu namun ia lupa atau lalai akan ibadat mereka sendiri. Maka celakalah untuk orang-orang yang shalat. [4] Sejalan dengan ini Nabi juga menggambarkan bahwa diantara semua kualitas manusia. Seperti kita ketahui. [5] Lalu beliau gambarkan bahwa yang paling banyak menyebabkan manusia . adalah karena mereka merupakan kelompok-kelompok sosial yang paling memerlukan usaha bersama untuk memperbaiki nasib mereka. [1] Jelas sekali firman Allah itu menegaskan bahwa kepalsuan dapat terjadi dalam sikap keagamaan kita jika kita tidak memiliki komitmen batin kepada usaha-usaha. surat al-Ma'un itu terjemahnya. Dikatakan semakin diperburuk karena kepalsuan kita dalam beragama memperoleh bungkus kebajikan berupa amalan ibadat lahiriah. tidak ada yang timbangan atau bobot nilai kebaikannya lebih erat daripada budi pekerti luhur. sekurang-kurangnya mungkin sekali kita sekedar pamrih kepada sesama anggota kelompok Islam. kita melakukan ibadat karena menghayati bahwa shalat adalah perintah Allah lalu tidak menghayati apa makna shalat itu yang lebih mendalam dan luas. Artinya." Artinya. misalnya. Disebutkannya anak yatim dan orang miskin.

(2) kita harus memperlihatkannya dalam tindakan-tindakan kebaikan kepada sesama kita. anak-anak yatim.Tetapi kebajikan ialah (jika) orang yang beriman kepada Allah. Tindakan-tindakan derma yang praktis mempunyai nilai hanya jika keluar dari rasa cinta dan tidak dari motif-motif yang lain. kita diberi gambaran yang indah tentang orang yang salih dan takut kepada Tuhan. dan mereka itulah orang-orang yang berbakti (bertaqwa). orang-orang miskin. sanak keluarga kita. para malaikat. Kita juga melihat karya Ilahi dalam alam ciptaan-Nya. berujud jenjang yang wajar. dan memang berhak untuk meminta. juga. dan untuk membebaskan para budak. Iman bukanlah semata-mata perkara ucapan. kitab-kitab suci dan para nabi. Dikatakannya: Seakan untuk menekankan lagi peringatan melawan formalisme yang mematikan. Mereka itulah orang-orang benar (tulus). melainkan datang dalam pengalaman kita sendiri. peminta-minta. menegaskan "Kamu sekalian tidak akan memperoleh kebajikan sebelum kamu mendermakan sebagian dari (harta) yang kamu cintai. Dalam hal ini. bukan sekedar pengemis yang malas tetapi orang A. orang yang benar-benar memerlukan pertolongan tetapi tidak pernah meminta (kewajiban kita menemukan mereka itu). dan mereka didahulukan sebelum orang yang meminta. dan (4) jiwa pribadi kita sendiri harus teguh dan tidak goyah dalam segala keadaan. orang terlantar di perjalanan. . kesusahan dan masa perang. Kita diberi empat pokok: (1) iman kita harus sejati dan tulus. Kita harus menyadari kehadiran Tuhan dan kebaikan-Nya. [8] Dalam kaitan itu menarik sekali memperhatikan komentar Yusuf Ali atas firman yang amat penting ini. dan orang yang mendermakan hartanya. tapi masih dapat dipandang secara terpisah. sebab kita melihat Hari Kemudian seolah-olah terjadi sekarang ini. (3) kita harus menjadi warga masyarakat yang baik. dan orang yang menepati janji jika membuat janji. Hari kemudian. Jika kita sadari itu. tapi ia harus memusatkan pandangannya kepada cinta Tuhan dan cinta sesama manusia." [7] Dan penegasan-Nya lagi. hal-hal besar menjadi kecil di depan mata kita segala kepalsuan dan sifat sementara dunia ini akan tidak lagi memperbudak kita. yang lebih terinci: Bukanlah kebajikan itu bahwa kamu menghadapkan mukamu ke timur dan ke barat. dan ajaran-ajaran-Nya yang tidak lagi berada jauh dari kita. Keempat pokok itu saling berkaitan. Allah swt. Untuk kerabat.masuk surga ialah taqwa kepada Allah dan keluhuran budi. kewajiban kita dapat berbentuk berbagai macam. yang mendukung organisasi-organisasi sosial. Orang itu harus mentaati aturan-aturan yang membawa kebaikan. [6] Penegasan-penegasan Nabi itu merupakan kelanjutan dari ajaran al-Qur'an tentang apa yang dinamakan nilai kebajikan (al-birr atau 'amal shalih). serta mereka yang tabah dalam kesulitan. betapapun cinta orang itu kepada harta tersebut. anak-anak yatim (termasuk siapa saja yang tidak punya topangan hidup atau bantuan). yakni.

Maka Rasul saw bersabda. Karena itu juga tidak pula segi-segi lahiriah itu akan menghantarkan kita menuju kebahagiaan. Justru sikap-sikap membatasi diri hanya kepada hal-hal ritualistik dan formal akan sama dengan peniadaan tujuan agama yang hakiki. Prinsip ini dipertegas oleh Nabi saw dalam sebuah Hadits mengenai dua wanita: Abu Hurayrah meriwayatkan prinsip penting yang diajarkan Nabi ini. Mukti Ali. namun reaksi kepada masalah-masalah kepincangan sosial seperti kemiskinan dan kezaliman masih lemah. TAUHID ESENSI. namun ia rajin memberi pertolongan kepada orang-orang sengsara. Jadi." Kemudian orang itu menceritakan tentang seorang wanita yang kedengarannya jelek. Seseorang yang datang kepada Nabi dan menceritakan tentang seorang wanita yang rajin mengerjakan shalat. "Tempat dia di neraka!. dan tidak pernah menyakiti hati sanak keluarganya. Muhammad Asad menegaskan bahwa al-Qur'an menekankan prinsip yang semata-mata mengikuti bentuk-bentuk lahiriah tidaklah memenuhi persyaratan kebajikan. Yang dimaksud ialah. BUKAN TAUHID NAMA . Prof. A. sehingga tidak seharusnya dipandang dalam kerangka sebagai tujuan dalam dirinya sendiri sementara tujuan yang sebenarnya terlupakan. dan budak-budak (kita harus melakukan apa saja yang dapat kita lakukan untuk memberi atau membeli kemerdekaan mereka). tetapi lidahnya selalu menyakiti sanak keluarganya. yang memberi peringatan keras kepada orang yang suka pamer kebajikan palsu dan kemunafikan dalam menekuni segi-segi forma keagamaan. "Tempat dia di surga.[l0] Dan memang menghadapkan muka ke arah tertentu dalam ibadat hanyalah bentuk formal lahiriah semata dari sebuah amalan. [9] Dalam menafsir firman itu.yang memerlukan bantuan kita dalam bentuk tertentu (kewajiban kita untuk tanggap kepada mereka). Disebutnya masalah menghadapkan wajah ke arah ini atau itu dalam sembahyang adalah kelanjutan dari pembahasan tentang kiblat dalam urutan ayat-ayat sebelumnya. Perbudakan mengandung berbagai bentuk yang tersembunyi dan berbahaya dan semuanya tercakup di situ." Seorang tokoh Islam Indonesia. puasa dan zakat. Maka Nabi saw bersabda. agama kita mengajarkan bahwa formalitas ritual belaka tidaklah cukup sebagai wujud keagamaan yang benar. pernah mengatakan bahwa orang-orang Muslim banyak yang lebih peka kepada masalah-masalah keagamaan daripada masalah-masalah sosial. sebelum kita mengisinya dengan hal-hal yang lebih esensial. banyak orang Islam yang lebih cepat bereaksi kepada gejala-gejala yang dinilai menyimpang dari ketentuan lahiriah keagamaan. dan di situ nampak bahwa Nabi saw justru lebih peka pada masalah-masalah sosial yang lebih substantif daripada masalah-masalah formal keagamaan semata yang simbolik. karena ia melalaikan shalat dan puasa. Maka Hadits di atas dapat dirujuk sebagai sebuah ilustrasi tentang apa yang dikatakan Prof. Mukti Ali itu. seperti soal pakaian atau tingkah "tidak sopan" dan "tidak bermoral" tertentu.

kaum musyrik Arab mengira bahwa Nabi tidak konsisten dalam mengajarkan paham Ketuhanan Yang Maha Esa. 7507173 Fax. Dalam pandangan mereka yang keliru itu. maka bagi Dia adalah nama-nama yang terbaik". Namun dzikr juga dapat melahirkan gejala formal. UA 20-21 Jakarta Selatan Telp. al-Rahim. al-Razzaq. firman Allah itu mengandung makna bahwa . dan carilah jalan tengah antara keduanya. "Serulah olehmu sekalian (nama) Allah atau serulah olehmu sekalian (nama) al-Rahman. Dan janganlah engkau (Muhammad) mengeraskan shalatmu. Sebab pada saat itu al-Qur'an mulai banyak menggunakan nama al-Rahman. memberi petunjuk kepada Nabi dalam menghadapi mereka: "Katakan (hai Muhammad).35. dari antara nama-nama terbaik (al-asma al-husna) Tuhan. selain nama "Allah" untuk Wujud Maha Tinggi. al-Ghaffar. Sebetulnya dzikir adalah lebih banyak sikap hati (dzat al-shadr). 7501983. seperti al-Rahman. yang selama ini tidak dikenal orang Arab yang selama ini menggunakan nama Allah (al-Lah).Dzikr atau ingat kepada Tuhan adalah salah satu bentuk ritus yang amat penting dalam agama Islam. jika Dzat Yang Mutlak itu mempunyai nama lain. Maka turunlah firman Allah.(bersambung 2/2) Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah Editor: Budhy Munawar-Rachman Penerbit Yayasan Paramadina Jln. Dalam Kitab Suci al-Qur'an terdapat sebuah firman yang isinya petunjuk kepada Nabi saw menghadapi orang-orang musyrik Arab yang menolak adanya nama lain. Selain lafal "Allah" sebagai lafal keagungan (lafzh al-jalalah) karena merupakan nama Wujud Maha Tinggi yang utama juga terdapat lafal-lafal lain yang merupakan nama-nama Wujud Maha Tinggi itu. (021) 7507174 Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota Please direct any suggestion to Media Team Artikel Yayasan Paramadina Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota V. Metro Pondok Indah Pondok Indah Plaza I Kav. dapat dipahami dari berbagai sumber suci dalam al-Qur'an dan Sunnah. khususnya kata-kata atau lafal yang berkaitan dengan Tuhan seperti "Allah" dan "La ilaha illa 'l-lah". seperti pengucapan atau pembacaan kata-kata atau lafal-lafal tertentu dari perbendaharaan keagamaan. Karena salah paham. (021) 7501969. dll. yang secara langsung atau tidak. berarti Ia tidak Maha Esa. jangan pula kau lirihkan. nama manapun yang kamu serukan." [12] -------------------------------------------. MASALAH SIMBOL DAN SIMBOLISME DALAM EKSPRESI KEAGAMAAN (2/2) Oleh Nurcholish Madjid Menurut Sayyid Quthub. melainkan berbilang sebanyak nama yang digunakan.

maka setiap nama itu adalah suatu Tuhan. Kalau seandainya nama itu sama dengan yang dinamai. Dzat atau Wujud yang satu dan sama. selain nama "Allah". guru dari para imam dan tokoh keagamaan besar dalam sejarah Islam. wahai Hisyam?" Hisyam mengatakan lagi. Maka Tauhid yang benar ialah "Tawhid al-Dzat" bukan "Tawhid al-Ism" (Tauhid Esensi. Dzat Yang Maha Esa itulah yang bernama "Allah" dan atau "al-Rahman" serta nama-nama terbaik lainnya. (yang disembah)." [15] . ya Rahman". Ketika Abu Jahal. mendengar tentang ucapan Nabi dalam sujud itu.. dan keduanya menunjuk kepada Hakikat.manusia dibenarkan memanggil atau menyeru dan menamakan Tuhan mereka sekehendak mereka sesuai dengan nama-nama-Nya yang paling baik (al-asma al-husna). [l3] Berkenaan dengan alasan turunnya firman itu. "Al-Lah") berasal "ilah" dan "ilah" mengandung makna "ma'luh'. melainkan Dzat atau Esensi-Nya. bukannya "Allah" bernama "al -Rahman" atau "al-Rahim". dan dalam bersujud beliau mengucapkan: "Ya Allah. yaitu Dzat (Esensi) Wujud Yang Maha Mutlak itu. baik untuk kalangan Ahl al-Sunnah maupun Syi'ah. Tetapi Allah Yang Maha Mulia dan Maha Agung adalah suatu Makna (Esensi) yang diacu oleh nama-nama itu. Dalam sebuah penuturan. Barangsiapa menyembah nama dan makna (sekaligus). ia berkata: "Dia (Muhammad) melarang kita menyembah dua Tuhan. dan sekarang ia sendiri menyembah Tuhan yang lain lagi. Firman itu juga merupakan sanggahan terhadap kaum Jahiliah yang mengingkari nama "al-Rahman". "Bagi Allah Yang Maha Mulia dan Maha Agung ada sembilanpuluh sembilan nama. al-Baidlawi dan al-Nasafi menegaskan bahwa kata ganti nama "Dia" dalam kalimat "maka bagi Dia adalah nama-nama yang terbaik" dalam ayat itu mengacu tidak kepada nama "Allah" atau "al-Rahman"." Ada juga penuturan bahwa ayat itu turun kepada Nabi karena kaum Ahl al-Kitab pernah mengatakan kepada beliau. tafsir-tafsir klasik menuturkan adanya Hadits dari Ibn Abbas. maka ia sungguh telah musyrik dan menyembah dua hal. "Tambahilah aku (ilmu)"." Maka turunnya ayat itu tidak lain ialah untuk menegaskan bahwa kedua nama itu sama saja. "Engkau (Muhammad) jarang menyebut nama al-Rahman. Sebab suatu nama tidaklah diberikan kepada nama yang lain. sebab Dia mempunyai banyak nama. sedangkan nama-nama itu sendiri seluruhnya tidaklah sama dengan Dia . Jadi yang bersifat Maha Esa itu bukanlah Nama-Nya. Karena itu al-Baidlawi menegaskan bahwa pahan Tauhid bukanlah ditujukan kepada nama. bahwa di suatu malam nabi beribadat. melainkan kepada sesuatu yang dinamai. melainkan kepada esensi. Zamakhsyari. tokoh musyrik Makkah yang sangat memusuhi kaum beriman. Maka barangsiapa menyembah nama tanpa makna. [l4] Pandangan Ketuhanan yang amat mendasar ini diterangkan dengan jelas sekali oleh Ja'far al-Shadiq. padahal Allah banyak menggunakan nama itu dalam Taurat. ia menjelaskan nama "Allah" dan bagaimana menyembah-Nya secara benar sebagai jawaban atas pertanyaan Hisyam: "Allah" (kadang-kadang dieja. dan nama (ism) tidaklah sama dengan yang dinamai (al-musamma). ia sungguh telah kafir dan tidak menyembah apa-apa. Ja'far al-Shadiq menyambung.. Dan barangsiapa menyembah makna tanpa nama maka itulah Tawhid. Jadi. tetapi kepada suatu dzat atau esensi. Engkau mengerti. bukan Tauhid Nama).

tidak mampu atau bingung) mengetahui Esensi-Nya (Mahiyyah) dan memahami Kualitas-Nya (Kaifiyyah). seperti ditegaskan oleh Ja'far al-Shadiq yang dikutip di atas. Justru segi ini harus ditumbuhkan lebih kuat dalam masyarakat. Jadi. 'Ali Ibn Abi Thalib ra. jangankan sekedar simbol dan ritus. betapapun. menurut Hadits-hadits di atas. Maka agama ialah pendekatan diri kepada Allah dan perbuatan baik kepada sesama manusia. Berkenaan dengan ini. tidak benar untuk dijadikan tujuan penyembahan. dan tidak sebanding dengan apapun. "Allah" artinya "Yang Disembah" (al-Ma'bud). muspra dan malah berbahaya.'assalamu'alaikum . berarti kita harus menunjukkan penyembahan kita kepada Dia yang menurut al-Qur'an memang tidak tergambarkan. jika terdapat kewajaran dalam penggunaan simbol-simbol sedemikian rupa sehingga agama memiliki daya cekam kepada masyarakat luas (umum). dan yang terdinding dari dugaan dan benih pikiran. Orang Arab mengatakan "Seseorang tercekam (aliha) jika ia merasa bingung (tahayyara) atas sesuatu yang tidak dapat dipahaminya.. Artinya. [17] Jadi. betapapun nama-nama itu nama-nama utama (al-Asma al-Husna). Jadi "al-Lah" ialah Dia yang tertutup dari indera makhluk.Kalau kita harus menyembah Makna atau Esensi. dan bukan menyembah Nama seperti yang diperingatkan dengan keras sebagai suatu bentuk kemusyrikan oleh Ja'far al-Shadiq itu. dalam makna takbir (ucapan "Allah-u Akbar") pada pembukaan dan dalam makna taslim (ucapan.. CATATAN . Bersamaan dengan penggunaan simbol-simbol diperlukan adanya kesadaran tentang hal-hal yang lebih substantif. menerangkan. menyembah Tuhan sebagai maknanya berarti menyembah Wujud yang tak terjangkau dan tak terhingga. yang mengenai Dia itu makhluk merasa tercekam (ya'lahu) dan dicekam (yu'lahu) oleh-Nya. sambil melupakan Makna dan Esensi di balik Nama itu. melainkan menuju kepada suatu nilai yang tinggi). "Allah" maknanya "Yang Disembah" yang agar makhluk (aliha. dan orang itu terpukau (walaha) jika ia merasa takut (fazi'a) kepada sesuatu yang ia takuti atau kuatiri. antara nama (ism) dan yang dinamakan (musamma) tidak identik. Maka sebenarnya yang boleh dikatakan "ideal" dalam kehidupan keagamaan ialah jika ada keseimbangan antara simbolisasi dan substansiasi. Allah adalah Wujud dan tertutup dari kemampuan penglihatan. [16] Dan Muhammad al-Baqir ra. sebagaimana keduanya itu dipesankan kepada kita melalui shalat kita. yang Hakikatnya tidak dibatasi oleh nama-nama-Nya. dan tidak intrinsik (dalam arti tidak menjadi tujuan dalam dirinya sendiri. Nama Tuhan pun. mewariskan penjelasan yang amat berharga kepada kita Dia mengatakan. yang justru mempunyai nilai intrinsik.") pada penutupannya. Agama tidak mungkin tanpa simbolisasi. Sebab. namun tetap ada kesadaran bahwa suatu simbol hanya mempunyai nilai instrumental. namun simbol tanpa makna adalah absurd.

sebagai "comprises the small items needed for one's daily use. perkataan "yahudldlu" menunjuk pada adanya komitmen batin yang tinggi. juga perbuatan kebaikan kala-kala berupa pemberian bantuan kepada sesama manusia dalam hal-hal kecil tersebut. Dan Muhammad Asad. Yang dimaksud dalam firman ini bukanlah mereka itu dikutuk Allah karena lupa mengerjakan shalat yang disebabkan. Sebab lupa dan alpa serupa itu justru dimaafkan oleh Allah. A. yakni usaha mengangkat dan menolong nasib kaum miskin. Berarti bahwa indikasi ketulusan dan kesejatian dalam beragama ialah adanya komitmen sosial yang tinggi dan mendalam kepada orang bersangkutan. 4. Tapi yang dimaksud dalam firman itu ialah mereka yang menjalankan shalat itu lupa akan shalat mereka sendiri." Departemen Agama menerjemahkan dengan "menganjurkan" sedangkan Mahmud Yunus dalam tafsir Qur'an Karim menggunakan perkataan "menyuruh".. [tulisan Arab] "ma min syay-in fi 'il-mizan-i atsqal-u min husn-i 'l-khulaq-i. Yang diterjemahkan dengan "lupa" atau "lalai" dalam firman itu ialah kata-kata yang dalam bahasa aslinya (Arab) "sahun". (Lihat. 46). Jadi bergaya hidup egoistis. misalnya. al Ma'un/107:1-7. hal. tt. Yaitu sabda nabi yang amat terkenal. Jilid 3. Yaitu sabda Nabi saw. tidak peduli kepada orang lain sekitar. menerjemahkannya dalam bahasa Inggeris dengan "feels no urge" (tidak merasakan adanya dorongan). it denotes "aid" or "assistance" in any difficulty" (. Ibn Taymiyyah. kata-kata itu berarti "bantuan" atau "pertolongan" dalam setiap kesulitan) -The Message of the Qur'an. sehingga mereka yang menjalankan shalat itu dengan mereka yang tidak menjalankannya sama saja. terlalu sibuk bekerja. dalam The Message of the Qur'an. 4 jilid. Kata-kata Arab "al-ma'un" yang merupakan ujung surat dan menjadi nama suratnya dijelaskan oleh Muhammad asad. Maktabat al-Riyadl al-Haditsah. dalam arti bahwa shalat mereka tidak mempunyai pengarah apa-apa kepada pendidikan akhlaknya. menerjemahkan perkataan itu dengan "menggemarkan. as well as the occasional acts of kindness consisting in helping out one's fellow-men with such item. 2. .. khususnya mereka yang memerlukan pertolongan. berdasarkan berbagai tafsir klasik. hal." 5. tidak dikutuk. In its wider sense.1. Minhaj al-Sunnah. QS.. Riyadl. [tulisan Arab] "Innama bu'its-tu li-utammim-a makarim-a 'l-akhlaq-iSesungguhnya aku diutus hanyalah untuk menyempurnakan berbagai keluhuran budi. kata-kata "al-ma'un" mencakup hal-hal kecil yang diperlukan orang dalam penggunaan sehari-hari. Apalagi jika lebih buruk! 3. 979. karena baginya perkataan "yahudldlu" mempunyai makna "mendorong diri sendiri" (sebelum mendorong orang lain).("Tiada sesuatu apapun yang dalam timbangan (nilainya) lebih berat daripada keluhuran budi"). Hassan dalam Al-Furqan. Perkataan "yahudldlu" yang diterjemahkan dengan "berjuang" di sini mempunyai asal arti "menganjurkan dengan kuat". Jadi. Dalam maknanya yang lebih luas.

hal. The Holy Qur'an. [tulisan Arab]. Sebuah Hadits otentik. Madarik al-Tanzil wa Haqaiq al-Ta'wil oleh al-Nasafi.'Ali 'Imran 3:93. 16. [tulisan Arab]. al-Kasysyaf al-Zamaksyari. 7501983. riwayat itu dalam bahasa aslinya (Arab) adalah demikian. 10. Lengkapnya. A. Translation and Commentery (Jeddah: Dar al-Qiblah 1403 H).32. (021) 7507174 Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota Please direct any suggestion to Media Team Artikel Yayasan Paramadina Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota V. Jil. -------------------------------------------Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah Editor: Budhy Munawar-Rachman Penerbit Yayasan Paramadina Jln. lihat tafsir ayat bersangkutan dalam kitab-kitab tafsir klasik: Anwar al-Tanzil wa Asrar al-Ta'wil oleh al-Baidlawi. 69. terjemah bahasa Arab oleh Dr. Sayyid Quthub. Muhammad Asad. dalam Integrismes. (021) 7501969. menurut sebuah penuturan. 1992). hal. UA 20-21 Jakarta Selatan Telp. 5. hal. Metro Pondok Indah Pondok Indah Plaza I Kav. Yaitu keterangan dari Ali ibn Abi Thalib r. dll. Tafsir al-Khazin oleh al-Baghdadi. 13. Fi Zhilal al-Qur'an. Yaitu sebuah penuturan atau riwayat yang berasal dari Muhammad al-Baqir. QS.a. Khalil. al-Baqarah 2:177. ZAKAT KONSEP HARTA YANG BERSIH . 8. 7507173 Fax. 17. 11.. 7. 36. Khalil A. 73. [tulisan Arab]. QS.6. 14. QS. AlUshuliyyat al-Mu'ashirah: Asbabuha wa Mazhahiruha (Paris: Dar Am Alfayn. al-Isra'/17:110. Untuk pembahasan ini. 15. Juz 15. [tulisan Arab]. 93: 12. hal. "Aktsar-u ma yudkhil-u 'l-jannat-a taqwa 'l-Lah-i wa husn-u 'l-khuluq-i "Yang paling banyak memasukan orang ke dalam surga ialah taqwa kepada Allah dan keluhuran budi". 9. Dikutip oleh Roger Garaudy. Yusuf Ali.

Kembali pada pokok soal. sedang ma'mul artinya bisa dicerna logika kesejarahan. Tapi dari semua yang ma'qul itu. Karena Islam datang sebagai petunjuk untuk manusia dan diterapkan oleh manusia dalam kapasitas kodratinya yang wajar-wajar saja. tapi dalam hati tetap bercokol keyakinan. shalat. Yakni manusia sebagai makhluk Tuhan yang memiliki segala kemungkinan dan potensi kebaikan maupun keburukan. Ma'qul artinya bisa dicerna logika penalaran. Islam tak saja harus ma'qul (sensible). yang penting adalah keterpautan hati secara terus menerus untuk menyebut nama-nama Nya. tapi yang ma'mul secara implisit haruslah ma'qul. seseorang yang kebetulan kaya raya tiba-tiba terpanggil menginfakkan seluruh hartanya untuk menghidupi orang-orang miskin. bahkan keadilan sekaligus. suatu saat nanti. logika empiris bersifat konkrit dan obyektif. Ibarat figur. bisa baik bisa jahat. Manusia yang bisa salah bisa benar. Berbeda dengan logika teoritis yang bersifat abstrak dan subyektif. Ini berarti bahwa yang ma'qul belum tentu matmul. Bahkan mengkaitkannya dengan rukun Islam yang lain (syahadat." orang bisa saja mengatakan bahwa semua rukun Islam yang lima cukup ma'qul untuk memecahkannya. dikontrol dan bisa diukur. manusia yang dengan hak prerogatif Tuhan hanya memiliki kemungkinan baik. mangada-ada!. . kata-kata zakat diyakini sebagai tokoh imam mahdi atau ratu adil yang meski pun sangat sulit orang mencernanya. atau hanya pas-pasan saja. bisa meng-iblis tapi juga bisa menjadi laiknya malaikat. puasa. Ajaib! Tapi. bagaimanapun hal ini memang tak mustahil. juga haji) bukan merupakan perkara mustahil. Tapi adanya kekuatan ghaib. Seolah-olah yang penting bukan kesepadanan konsep zakat dengan pemerataan. Sesungguhnyalah. Islam bukanlah sejenis halte tempat orang menunggu dengan kepasifan. Masalahnya.Islam tak punya urusan. seseorang boleh tak punya apa-apa. kekuatan maupun kelemahan. Sementara untuk manusia yang luar biasa.Oleh Masdar F. Tapi. mengkaitkan soal pemerataan. dengan konsep zakat bukan merupakan hal yang tak masuk akal. di mana akan munculnya momen-momen ajaib yang lahir atas campur tangan langsung Tuhan seperti digambarkan di atas. logika kesejarahan hadir dalam ujud hal yang bersifat empirik. Sebagai agama yang datang untuk kehidupan manusia dalam ukuran yang normal atau yang wajar. anehnya orang tak kunjung kapok menjadikannya sebagai tema. lambat atau cepat. Mas'udi Bicara soal zakat dikaitkan dengan pemerataan ada kesan memaksakan diri. tentang "pemerataaan" atau lebih mendasar lagi soal "keadilan sosial. harus bisa dijabarkan dalam kerangka kerja sistem yang bisa dirancang. atau hanya memiliki potensi buruk --kalau saja yang demikian itu ada dalam kenyataan Islam-. dengan segala ajarannya. orang ini terbuka tabir kerohaniannya. yang tersimpan dalam kata-kata "zakat" itu sendiri. tapi sekaligus juga ma'mul (applicable). kehebatan dan mukjizatnya diperlihatkan juga. Tanpa diduga-duga orang ini tiba-tiba tersadarkan bahwa di alam dunia ini. Suatu ajaran untuk bisa disebut ma'mul. Misalnya karena kekhusyukannya dalam menunaikan shalat. Logika pemikiran hadir dalam ujud rnaqal yang bersifat teoritis. magic.

satu-satunya yang sekaligus ma'mul adalah rukun yang ketiga. 18 abad kemudian secara eksplisit mengidealkan kepunahannya. Tapi lembaga anomali tersebut perlu justru untuk menjadi penawar bagi anomali lain yang ada pada diri manusia. Bahkan dengan tarif begitu tinggi yang disebut dengan pajak progresif. Lembaga itu. konsep pajak sedikit banyak sudah mulai diberi fungsi redistribusi kekayaan seperti tersebut di atas. Syahdan. zakat --berbeda dengan haji-. dimana sebagian yang lain hampir-hampir tak memiliki sama sekali. Tapi persoalannya. Juga ajaran Karl Marx. Tapi agar tak terjadi suasana ketimpangan. yang dalam realitas sosiologis memuncak pada apa yang dikenal dengan negara (state). Zaman idaman baginya adalah zaman ketika lembaga negara telah lenyap berikut seluruh akar-akarnya. Maka bisa dimengerti apabila pernah muncul suatu obsesi dalam sejarah pemikiran manusia yang mengimpikan suatu zaman dimana apa yang disebut lembaga negara itu tak usah ada lagi. atau ditekan serendah-rendahnya.bahkan meletakkannya sebagai sesuatu yang harus diatur sedemikian rupa agar kemungkinannya untuk menumpuk hanya pada kalangan tertentu (aghniya) bisa dihindarkan. Ajaran Nabi Isa secara implisit ingin sekali mengingkari keberadaannya. Lebih dari sekedar meletakkan soal penguasaan sumber daya materi sebagai subyeknya. maka kehadiran lembaga yang memiliki kewenangan memaksa untuk melakukan pengalihan itu pun menjadi tak terelakkan. rata sedikitnya atau banyaknya. Tapi disinilah persoalannya. yakni zakat. Tapi karena manusia mengidap nafsu "cinta harta" (hub-u 'l-dunya). yakni nafsu gila harta (keduniaan) tadi. setelah pajak yang tinggi itu ditarik dari masyarakat wajib pajak. zakat adalah satu-satunya rukun Islam yang berkaitan langsung dengan persoalan materi itu. tapi hanya sebagai sarana yang tetap ada di luar zat-Nya. Sasarannya bukan agar semua orang memiliki bagian secara sama rata. Karena seperti halnya tema pemerataan. dalam sejarahnya justru cenderung memainkan peran terbalik. Ia dengan segala perangkat lunaknya (seperti sistem hukum dan perundang-undangan) maupun yang keras (seperti satelit pengintai dan senjata rudalnya) seringkali menjadi alat bagi kepentingan "penyakit keduniaan" yang seharusnya dinetralisir oleh keberadaannya. ketimpangan di bidang yang lain (politik dan budaya) hampir pasti selalu saja membuntuti. Maka konsep dasar zakat sebagai mekanisme redistribusi kekayaan (materi) adalah pengalihan sebagian aset materi yang dimiliki kalangan kaya (yang memiliki lebih dari yang diperlukan) untuk kemudian didistribusikan pada mereka yang tak punya (fakir miskin dan sejenisnya) dan kepentingan bersama. apakah memang kemudian ditasarufkan untuk mengangkat kehidupan mereka yang tak punya dan untuk kemaslahatan semua pihak? Inilah persoalan dasar. dalam sejarah politik kenegaraan modern. siapa yang sebenarnya paling . Seyogyanyalah pengalihan itu dilaksanakan kalangan berada atas kesadaran mereka sendiri. dari sudut moral memang merupakan anomali. Benar bahwa haji pun bersentuhan dengan soal materi. lembaga negara yang secara moral hanya bisa dijustified sepanjang berfungsi sebagai racun penawar terhadap kerakusan duniawi masyarakat manusia (yang kuat). yang titik berangkatnya adalah pada pemerataan akses sumber daya materi. Sebab bermula dari ketimpangan dalam hal materi (ekonomi). atau keadilan sosial.

negara monarki absolut memandang kewenangan pengalokasian uang pajak (upeti/tax) sepenuhnya di tangan sang raja saja. Tapi juga belum berarti telah kembali pada pemiliknya yang sah.diuntungkan oleh pranata pajak yang ditangani lembaga negara. Bagian yang paling besar dari dana itu diperuntukkan untuk melindungi atau melayani kepentingan kelas menengah ke atas. dalam alokasi penggunaan dana pajak dalam APBN mereka. adalah negara-negara monarki absolut zaman dulu. atau oleh hampir semua negara di atas bumi ini? Pertanyaan tersebut mengena bukan saja terhadap lembaga negara yang dikelola secara otoriter. Kesadaran dan perilaku mereka tetaplah untuk mengelabui rakyat bagi kepentingan para penguasa yang mengatur keberadaan mereka. atau melalui sektor pembangunan sarana-sarana mana yang diperuntukkan utamanya bagi kalangan masyarakat kelas menengah ke atas. misalnya. tapi baru yang ada di lapisan menengah dan terutama lapisan atas. Tapi ya itu tadi. Berbeda dengan di Timur. Lembaga Perwakilan Rakyat di negara-negara Timur yang paternalistik. Mereka yang ada di lapisan bawah. Hal tersebut dapat dilihat dengan jelas. Lembaga Perwakilan Rakyat hanyalah sekedar "nama dan proforma". Memang lebih gila lagi. Tapi hal itu tetap bukan (belum?) dalam rangka penegakkan kontrol atas lembaga negara bagi kepentingan rakyat. pada hakekatnya adalah lembaga Perwakilan Penguasa. . yang justru merupakan pemilik utama sebutan "rakyat" kapan saja ia diucapkan. sama sekali tak berarti. aristokrat. Apakah melalui sektor pertahanan dalam pengertian yang luas dengan dalih demi kepentingan nasional mereka. seperti yang terjadi di banyak bumi belahan Timur. Berapa anggaran belanja yang diperuntukkan bagi pembebasan rakyat (jelata). dengan peranan lembaga perwakilan rakyat dalam tata kenegaraan modern belum menjadi jaminan bahwa uang pajak akan ditasarufkan dengan prioritas utama bagi pembebasan rakyat lemah. Dimulai dari pembebasan di bidang ekonomi. Penjelasannya sederhana. sudah berada di tangan rakyat. independensi lembaga perwakilan rakyat dengan penguasa (baca: eksekutif) memang cukup kuat. secara lahir batin. kemudian menyusul bidang-bidang kehidupan lain yang lebih sublim. baik secara keturunan maupun SK jabatan seperti di Timur). politik dan budaya. yaitu rakyat keseluruhan yang dimulai dari lapisannya yang paling jelata. Di Barat negara dengan seluruh soko gurunya (eksekutif. tapi juga terhadap negara-negara lain yang mengaku berjalan secara demokratis. di Barat negara memang sudah tak lagi sepenuhuya milik penguasa (kaum bangsawan. Bahwa di negara-negara Eropa dan Amerika yang pendapatan perkapitanya telah mencapai angka 8 ribu sampai 11 ribu dollar pertahun masih banyak warga negara yang tuna wisma (homeless) adalah bukti yang sangat cukup bahwa rakyat jelata di sana memang belum bisa disebut ikut memiliki negara. Apabila negara di zaman modern sudah mulai melibatkan rakyat melalui wakil-wakilnya dalam menentukan penggunaan uang pajaknya melalui undang-undang. legislatif maupun judikatif). atau semi otoriter. di negara-negara Timur yang paternalistik. Di negara-negara Barat yang liberal-kapitalistik. keberadaan lembaga perwakilan rakyat umumnya hanya merupakan permainan politik kalangan elite penguasa. seperti Amerika dan negara-negara Barat. lebih-lebih rakyat pada lapisannya yang paling jelata. masih jauh dari dapat disebut memiliki negara.

Sampai titik ini sebenarnya telah jelas bagi kita bahwa. Akibat permainan drama kolosal ini. what?! Menuruti obsesi Marx bahwa lembaga negara mesti dienyahkan . lebih-lebih kenegaraan modern. sekurang-kurangnya dalam tingkat verbal. Karena dia (lembaga negara)-lah yang berbuat selingkuh. dan bisa mengelabui banyak orang. seolah negara-negara liberal kapitalis Barat itu telah menempatkan dirinya di bawah kepentingan rakyat sejati. sama sekali bukan demi kepentingan rakyat dan bangsa negara-negara Timur. Baik yang berupa hibah (grant) maupun yang berupa pinjaman (loan). banyak orang terhegemoni untuk meyakini bahwa Barat memang teladan dunia. Padahal. seperti disebutkan di atas adalah kepentingan kelompok yang mengontrol roda kenegaraan atau pemerintahan. ide dasar dari zakat bukan sesuatu yang sama sekali asing dalam struktur pemikiran kenegaraan. diputarkan kembali untuk melipat gandakan kekuatan mereka yang sudah kuat. Setiap kali bencana dan musibah terjadi di masyarakat dunia Timur. yakni beban pajak. yakni kelompok orang-orang yang secara politik mengendalikan jalannya pemerintahan itu sendiri dan kalangan para kaya kapitalis. bahwa beban yang ditimpakan kepada mereka yang punya. jika dilihat sedikit lebih kritis. akan segera tampak pada kita bahwa apa yang diperbuat negara-negara Barat tetaplah demi kepentingan mereka sendiri. sistem kenegaraan/pemerintahan yang liberal-kapitalistik memang merupakan pilihan sejarah terbaik dan terakhir. Sementara di Barat yang liberal-kapitalistik. Dan kepentingan mereka (negara-negara Barat). bahkan dalam tarif yang begitu tinggi. Lebih dari itu. Tapi fakta bahwa dalam kerakusannya mereka bisa diikat komitmennya untuk menyisihkan sebagian dari kekayaannya (berupa pajak) adalah bukti bahwa persoalan pokok tak lagi sepenuhnya di tangan mereka. dana pajak yang dikenakan atas orang-orang kaya dibelokkan pentasarufannya untuk kepentingan para penguasa untuk mempertahankan kekuasaannya. negara-negara Barat segera menunjukkan kedermawanannya (charity). jelas merupakan persoalan yang tetap serius bagi ide pemerataan dan keadilan. Drama itu pementasannya di masyarakat bangsa negara-negara Timur yang umumnya miskin dan lemah. Memang di sana bukan tak ada masalah sama sekali. ternyata digelapkan oleh negara sehingga tak sampai ke alamat (mustahiq) yang semestinya. yakni kaum kapitalis dan tentu saja para elite politik sebagai pengawal kepentingan-kepentingannya. apabila negara-negara Timur yang miskin itu memerlukan perbaikan ekonomi. Nafsu kerakusan mereka untuk mengakumulasikan kekayaan lebih banyak dan lebih banyak lagi. dana pajak yang semestinya diprioritaskan pentasarufannya untuk memperkuat yang lemah. mereka siap menawarkan bantuannya. kaum lemah dan melarat. selaku cukongnya. Hanya masalahnya. Di dunia Timur yang feodalistik. Dengan pranata pajaknya ide zakat (bahwa yang kuat harus menanggung beban) sudah banyak dilaksanakan oleh hampir semua negara di jaman ini.Memang ada drama yang menarik. agaknya tak lagi terutama terletak pada kalangan kaya. So. Dengan kata lain persoalan pokok dalam topik redistribusi kekayaan (asset) untuk pemerataan. Persoalan pokok itu kini jelas terutama ada di pihak apa yang kita sebut lembaga negara. dan kemudian keadilan sosial dalam tatarannya yang lebih luas.

Tapi dengan bercokolnya nafsu-nafsu itu pada badan. terhadap lembaga itu rasa-rasanya tak realistik. bukan bagi kepentingan penguasa atau kalangan kaya. tak seorang pun --kecuali langka.yang pernah menyarankan jalan keluar agar badan itu dimusnahkan saja daripada diperalat oleh nafsu-nafsu negatif yang melekat padanya Yang paling sehat dan fitri (Islami) tentulah pendirian yang mengatakan. Dari sudut konsepsi zakat. dengan sadar telah membangun lembaga itu. melainkan bagi kepentingan seluruh rakyat yang ada dalam otoritasnya. Pekerjaan ini berat dan memakan waktu. Memang untuk menegakkan keadilan sosial dalam semangat dan kerangka zakat. Bahkan beliau sendiri dengan komunitasnya." Demikianlah Muhammad Rasulullah sebagai teladan umat manusia tak perlu menyatakan penolakan terhadap keberadaan lembaga negara. maka pengkaitan ajaran Zakat dengan cita pemerataan. UA 20-21 Jakarta Selatan Telp. negara sebagai badan besar pun mengidap nafsu-nafsu (interests) negatif duniawi yang selalu cenderung memperalat dirinya. Sebagian orang mungkin merasa lebih aman dalam dekapan dogma lama ketimbang harus berspekulasi dengan pamahaman ajaran yang "baru. Konsepsi tentang ajaran zakat (dan pada akhirnya tentang bangunan fiqh secara keseluruhan) yang sudah terlanjur mendogma di kalangan umat selama lebih dari sepuluh abad.atau pengingkaran Isa as." Tapi tanpa keberanian moral dan intelektual untuk melakukan perubahan itu. betapa pun konyolnya tidaklah mungkin dihindari. dengan membebaskan kemaslahatan (keadilan dan kesejahteraan) bagi semuanya. kedudukan negara atau kekuasaan pemerintahan adalah amil yang harus melayani kepentingan segenap rakyat. 7501983. Negara. apalagi dalam pengertian yang lebih luas sebagai lembaga permufakatan kolektif. Seperti halnya badan (kecil). tak lebih hanyalah mitos belaka. (021) 7507174 Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota Please direct any suggestion to Media Team Konsep dasar dalam al qur. harus ditransformasikan terlebih dahulu. Mengingkari lembaga negara untuk semangat (ruh) kolektivitas manusia hukumnya sama belaka dengan mengingkari badan bagi ruh individualitas manusia. -------------------------------------------Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah Editor: Budhy Munawar-Rachman Penerbit Yayasan Paramadina Jln. lembaga kenegaraan itu beliau bangun dengan kewaspadaan penuh. Tapi dengan pengawasan atau kontrol yang terus menerus jangan sampai jatuh dan diperalat oleh nafsu-nafsu jahat yang mengitarinya. dengan meyakinkan masyarakat akan pentingnya kontrol sosial (amar ma'ruf nahi munkar) secara terus menerus. "Biarlah badan itu tetap ada dan tumbuh dengan kewajarannya. 7507173 Fax. apalagi keadilan. (021) 7501969. ada pekerjaan rumah (PR) yang harus diselesaikan lebih dahulu. Tapi inilah kuncinya. kalau pun ada-. agar keberadaan lembaga negara itu tetap sebagai alat.an( rasif) . Metro Pondok Indah Pondok Indah Plaza I Kav.

KONSEP-KONSEP TEOLOGIS oleh Djohan Effendi Perkataan teologi tidak berasal dari khazanah dan tradisi agama Islam. Kata teologi sebagaimana dijelaskan dalam Encyclopaedia of Religion and Religions berarti "ilmu yang membicarakan tentang Tuhan dan hubungan-Nya dengan alam semesta. Maka kita pun mengetahui sifat-sifat Tuhan dan Nabi-nabi. sifat-sifat yang mustahil maupun sifat-sifat yang harus. dan bukan hanya dengan ilmu kalam atau ilmu tauhid." Hal ini bisa kita baca dalam buku-buku ilmu tauhid. tapi justru tentang aqidah yang menjadi obyek bahasan ilmu kalam atau tauhid. Dengan menyinggung masalah ini. apalagi jika istilah tersebut bisa memperkaya khazanah dan membantu mensistematisasikan pemahaman kita tentang Islam. Bapak ilmu fiqih. melainkan istilah fiqih seperti yang pernah digunakan sebelum ilmu fiqih lahir.Artikel Yayasan Paramadina Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota II. Masalah-masalah lain seperti kepercayaan tentang . Imam Abu Hanifah.mengenal atau pernah diberi pelajaran ilmu tauhid. ilmu fiqih seperti yang berkembang sekarang ini dalam kerangka pemikiran Imam Abu Hanifah adalah al-fiqh-u 'l-ashghar." Dalam pengertian ini agaknya perkataan teologi lebih tepat dipadankan dengan istilah fiqih. Ia istilah yang diambil dari agama lain. Hal ini tidaklah dimaksudkan untuk menolak pemakaian kata teologi itu. keduanya baik ilmu kalam atau ilmu tauhid maupun ilmu fiqih pada dasarnya adalah fiqih atau pemahaman yang tersistematisasikan. sedangkan yang kedua meyangkut bidang furu'iyah (detail atau cabang).5. kita diajak memahami tentang konsep ketuhanan dan kenabian. bagaimana sebaiknya kita memahami dan kemudian menghayati ide tauhid itu dalam kehidupan kita sebagai muslim? Dalam pengalaman kita --sekurang-kurangnya sebagian dari kita-. Boleh jadi. menyangkut bidang ushuliyah (tentang yang prinsip atau yang pokok). hanya ingin dikatakan bahwa pemakaian istilah teologi mempunyai alasan cukup kuat. Melalui kategori-kategori yang dirumuskan sebagai hukum akal itu. misalnya. Yang pertama. mustahil dan harus. Akan tetapi perjalanan sejarah dan tradisi keilmuan Islam telah menyingkirkan pengertian fiqih sebagaimana dipergunakan Imam Abu Hanifah. Kita tentu sepakat bahwa ide sentral dalam teologi al-Qur'an adalah ide tauhid. dari yang sangat tradisional hingga yang termasuk modern seperti buku Risalah Tawhid karya Muhammad Abduh. Pijakan tulisan ini tentang teologi al-Qur'an. Sebab pemungutan suatu istilah dari khazanah dan tradisi agama lain tidaklah harus dipandang sebagai sesuatu yang negatif. Istilah fiqih di sini bukan dimaksudkan ilmu fiqih sebagaimana kita pahami selama ini. sebab ia membantu kita memahami Islam secara lebih utuh dan lebih terpadu. Pertanyaan yang perlu kita munculkan. dalam mempelajari ilmu tersebut. namun seringkali diperluas mencakup keseluruhan bidang agama. baik yang dikategorikan sebagai sifat-sifat yang wajib. Biasanya. pertama-tama kita diperkenalkan dengan apa yang disebut sebagai "hukum akal. Sebab. menulis buku al-fiqh-u 'l-akbar yang isinya bukan tentang ilmu fiqih. yakni: wajib. yaitu dari khazanah dan tradisi Gereja Kristiani.

kiranya dari segi keberagamaan kita sebagai muslim. Kedua ciri utama itu wujud dalam berbagai bentuk manifestasi. muncul berbagai konsep seperti sifat nafsiyah. 6:74. Akan tetapi masalah . Dengan mengemukakan hal itu ingin diturunkkan betapa jauhnya teologi yang dibahas dalam buku-buku ilmu tauhid dengan dunia praktis. ada baiknya bila kita memahami apa-apa yang oleh al-Qur'an dianggap sebagai syirik atau kemusyrikan. terutama ketika membicarakan sifat-sifat Tuhan. 21:52). atau penyembahan makhluk halus atau manusia yang dipertuhan. ta'alluq bi 'l-quwwah. Jelas sekali pembahasan tentang teologi sebagaimana terdapat dalam ilmu tauhid sangat intelektualistik sifatnya. 41:37) atau benda-benda mati lainnya (QS. dengan problematika kemanusiaan. Selain berhala al-Qur'an juga mengemukakan hal-hal lain yang bisa dijadikan obyek sesembahan selain Tuhan. Lebih-lebih kalau kita memasuki pembahasan yang lebih rumit. misalnya penyembahan benda-benda langit seperti matahari. 6:102. 4:171. BENTUK-BENTUK KEMUSYRIKAN Dalam memahami ide tauhid. yakni. ma'ani dan sifat ma'nawiyah. Juga disinggung adanya penyembahan makhluk halus seperti jin (QS. moral maupun spiritual. Masalahnya sangat jelas dan karena itu menghindarinya pun sangat mudah. seperti dilakukan para penganut agama-agama "pagan. 17:40 dan 37:49). 4:117)." Dalam membahas sifat dua puluh itu. yang membuat kita bergairah dalam aksi untuk membebaskan diri kita dan masyarakat sekitar kita dari segala bentuk kemusyrikan. ta'allaq tanjizi qadim. ta'alluq ta'tsir. Pembahasan tentang dan di sekitar hal-hal inilah yang selama ini disebut sebagai ilmu tauhid. Juga dikemukakan pembahasan tentang kaitan atau ta'alluq sifat-sifat Tuhan dengan alam ini. 19:82-92. menganggap Tuhan mempunyai syarik atau sekutu. Kalau kita mendengar perkataan syirik atau kemusyrikan yang segera terbayang dalam angan-angan kita biasanya penyembahan berhala. Teologi semacam itu adalah teologi yang steril dan mandul. ta'alluq hukmiyah. menganggap Tuhan mempunyai andad atau saingan. 5:116. Ia tidak mempunyai relevansi dengan realitas kehidupan kita. ta'alluq tanjizi hadits. ta'alluq shuluhi qadim. dan kedua. Ia tidak melahirkan innerforce (kekuatan batin). 6:101) atau tokoh-tokoh yang dipertuhan atau dianggap mempunyai unsur-unsur ketuhanan (QS. benda-benda langit atau benda-benda mati lainnya.malaikat. hari akhirat maupun qadla dan qadar. pertama. 7:138. yang selama ini dikenal sebagai "sifat dua puluh. Al-Qur'an mengemukakan dua ciri utama dari kemusyrikan. kitab-kitab wahyu." Dan memang al-Qur'an sendiri menyinggung bahkan mengecam orang-orang yang menjadikan berhala sebagai ilah atau sesembahan (QS. bukanlah persoalan yang masih memerlukan perhatian lebih banyak. dan muncullah konsep-konsep tentang ta'alluq ma'iyah. Teologi semacam itu tidaklah membuahkan elan vital (gairah hidup). adalah kelanjutan atau pelengkap dari kepercayaan terhadap Tuhan dan Kenabian tersebut. Berkenaan dengan penyembahan berhala. bulan dan bintang (QS. Kebanyakan dari kita tentu tidak akrab dengan istilah-istilah atau konsep -konsep tersebut. 16:57. Salbiyah.

Ia sangat terkait dengan hal-hal yang sangat praktis. Hal ini menarik dan perlu untuk dikaji lebih jauh.25:43). (10) Surah al-Layli. 30:31-32). terutama berkaitan dengan ciri kemusyrikan yang menempatkan adanya andad atau saingan terhadap Tuhan. Untuk memperjelas hal ini ada baiknya bila lebih dahulu dikemukakan tentang periodisasi turunnya al-Qur'an. Berbagai bentuk manifestasi kemusyrikan tersebut. Beberapa mufassir menceriterakan bahwa Surah al-Dhuha turun sesudah Nabi mengalami masa jeda di mana wahyu . kekayaan. (2) Surah al-Mudatstsir. 2:165).kemusyrikan tidak berhenti sampai di situ saja. baik pandangan maupun sikapnya. (4) Surah al-Quraysy. (8) Surah al-Takatsur. usaha atau bussiness kita. (6) Surah al-Humazah. Dalam kategori ini bisa dimasukkan juga sikap ketaatan yang sama sekali tanpa reserve terhadap ulama (QS. Hal-hal lain yang oleh al-Qur'an dijadikan contoh sebagai saingan Tuhan dalam kaitannya dengan kecintaan kita adalah keluarga dan kerabat dekat kita. Khususnya berkaitan dengan kekayaan. (3) Surah al-Lahab. Hubungan manusia dengan benda. (9) Surah al-Fil. sebagaimana dikemakakan al-Qur'an. Al-Qur'an masih mengemukakan hal-hal lain yang berkaitan dengan masalah kemusyrikan. yakni: (1) Surah al-'Alaq. dan rumah-rumah mewah kita (QS. (11) Surah al-Balad.). Periode Mekkah sendiri juga dibagi dalam tiga tahap. justru pada surat-surat atau ayat-ayat yang diwahyukan di masa-masa permulaan kenabian Muhammad saw tidak terdapat kecaman terhadap penyembahan berhala. yang lebih halus sifatnya. tahap Mekkah pertengahan (616-617) dan tahap Mekkah akhir (618-622 M. 23:52-53. (5) Surah al-Kawtsar. bukan dalam bentuk penyembahan melainkan dalam bentuk kecintaan (QS. Di sini hanya diambil 12 surah paling awal saja. Yang ada malah kecaman terhadap keserakahan dan ketidakpedulian sosial. tahap Mekkah awal (610-615 M. Kebertauhidan tidak hanya menyangkut kepercayaan kita terhadap Tuhan Yang Maha Esa tetapi juga menyangkut pandangan dan sikap kita terhadap manusia. Seperti kita ketahui masa turunnya al-Qur'an dibagi dalam dua priode: periode Mekkah (610-622 M. karena itu usaha kita menjadi orang yang benar-benar bertauhid bukanlah masalah yang mudah.) dan periode Madinah (622-632 M. kita bisa sampai pada kesimpulan bahwa teologi al-Qur'an tidak sekedar terbatas pada aspek kepercayaan saja. sebab surah yang ke-13 adalah Surah al-Dhuha. Sengaja hanya diambil 12 surah di atas." yaitu hawa nafsu kita sendiri (QS. (7) Surah al-Ma'un. 9:24). benda dan lembaga.). dan (12) Surah al-Insyirah. Suatu hal yang sangat menggoda untuk direnungkan adalah. 9:31) atau sikap fanatisme golongan. Selain itu masih ada satu hal lagi yang oleh al-Qur'an disebutkan sebagai "sesuatu yang bisa menjadi ilah atau sesembahan kita. KESERAKAHAN DAN KETIDAKPEDULIAN SOSIAL Berangkat dari berbagai bentuk manifestasi kemusyrikan yang disebutkan al-Qur'an di atas. menunjukkan bahwa masalah kemusyrikan bukanlah sesuatu yang sederhana. mendapat sorotan yang sangat tajam dalam al-Qur'an.). aliran atau juga organisasi yang berlebih-lebihan (QS. Pada masa periode Mekkah awal terdapat 48 surah yang diwahyukan kepada Nabi Muhammad saw.

Dan tiada berguna baginya kekayaannya ketika ia binasa. Atau orang papa yang terlunta-lunta. Dan tidak menganjurkan memberi makan orang-orang miskin. . Tapi tak mau ia menempuh jalan mendaki. dengan keras mengingatkan akan nasib celaka bagi mereka yang dengan serakah menumpuk-numpuk kekayaan dan menganggap kekayaannya itu bisa mengabadikannya. Dan membenarkan nilai kebaikan Kami akan memudahkan baginya jalan kebahagiaan. Tidak berguna baginya kekayaannya. atau dari sejarah Islam. Tahukah engkau orang yang membohongkan agama Itulah dia yang mengusir anak yatim. Surah al-Takatsur. Kalian menjadi lalai karena perlombaan mencari kekayaan. Surah al-Ma'un.terhenti beberapa lama. Ia menyangka harta kekayaannya bisa mengekalkannya. orang-orang yang tidak mempedulikan penderitaan anak-anak yatim dan orang-orang miskin dikualifikasikan sebagai orang-orang yang membohongkan agama. Atau memberi makanan di masa kelaparan. Maka siapa yang suka memberi dan bertaqwa. menyinggung keengganan manusia memberikan bantuan kepada sesamanya yang hidup dalam penderitaan dan kesengsaraan. Yang terakhir Surah al-Balad yang diwahyukan dalam urutan ke-11. Ke-12 surah tersebut sama sekali tidak menyinggung masalah penyembahan berhala. Dan siapa yang kikir dan menyombongkan kekayaan. disinggung bahwa harta kekayaan dan usaha seseorang sama sekali tidak akan menyelamatkannya dari hukuman di Hari Akhirat. Dalam Surah al-Lahab. Dan mendustakan nilai kebaikan Kami akan mudahkan baginya jalan kesengsaraan. Dalam surah yang turun berikutnya. Pada anak yatim yang punya tali kekerabatan. yang turun dalam urutan ke-3. memberikan peringatan keras terhadap orang-orang yang asyik berlomba-lomba dalam kemewahan dan kekayaan. Hingga kalian masuk ke pekuburan. Tahukah engkau jalan mendaki itu. Yang menumpuk-numpuk harta kekayaan dan menghitung-hitungnya. yang turun dalam urutan ke-6. Surah berikutnya yang turun dalam urutan ke-8. Karena itu ke-12 surah di atas turun atau diwahyukan kepada Nabi pada masa-masa sangat awal dari kenabian. Dan Kami tunjuki ia dua jalan. dan apa yang dikerjakannya! Akan dibakar ia dalam api menyala Surah al-Humazah. kemegahan dan Dalam Surah al-Layli yang diwahyukan dalam urutan ke-10 diberikan kabar baik terhadap mereka yang suka memberi dan sebaliknya kabar buruk bagi mereka yang kikir dan bakhil. Celaka amat si pengumpat si pemfitnah. Enam surah di antaranya justru menyinggung masalah keserakahan terhadap kekayaan dan ketidakpedulian terhadap orang-orang yang menderita. Memerdekakan budak sahaya.

sangat jelas dan sama sekali tidak memerlukan penafsiran. Ia langsung menyangkut kebertauhidan kita. Ia tidak sekedar masalah etik dan moral. 21:107). (021) 7501969. Ia memperlihatkan betapa. pertama-tama oleh distribusi kekayaan yang adil. dalam al-Qur'an masalah kekayaan. Metro Pondok Indah Pondok Indah Plaza I Kav. keserakahan dan ketidakpedulian sosial dengan cita-cita tentang reformasi sosial yang dilandasi semangat mewujudkan kehidupan yang penuh rahmah itu? Kaitannya sangat jelas. keserakahan dan ketidakpedulian sosial mempunyai perspektif teologis. Itulah prioritas utama yang digumuli Nabi dalam usaha mewujudkan reformasi sosial. -------------------------------------------Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah Editor: Budhy Munawar-Rachman Penerbit Yayasan Paramadina Jln. UA 20-21 Jakarta Selatan Telp.6. REFORMASI SOSIAL Kalau kita renungkan mengapa masalah kekayaan. motivasi dan orientasi kita tidak boleh bergeser dari ide untuk menciptakan --atau setidak-tidaknya menjadi bagian dari proses menciptakan-suatu tata kehidupan yang dilandasi nilai-nilai rahmah itu. yang diwahyukan justru di masa yang sangat awal dari kenabian. Dengan perkataan lain apapun profesi kita. Hal ini bisa kita kaitkan dengan penegasan al-Qur'an yang mengatakan bahwa Muhammmad diutus tidak lain kecuali dalam rangka membawa rahmat bagi seluruh alam (QS. Dengan perkataan lain. KONSEP-KONSEP KOSMOLOGIS (1/2) . Karena itu reformasi sosial mestilah ditandai. Pertanyaan yang mungkin timbul. Anjuran Nabi agar kita selalu memulai kegiatan dan kerja kita dengan ucapan "Bismillahirrahmanirrahim" (bism-i 'l-Lah-i 'l-rahman-i 'l-rahim). 7507173 Fax.Pesan-pesan al-Qur'an di atas. mungkin kita bisa menarik kesimpulan bahwa Risalah Nabi kita terutama untuk mengadakan reformasi sosial. keserakahan dan ketidakpedulian sosial mendapat sorotan tajam pada masa yang sangat awal dari kenabian Muhammad. misi utama Nabi Muhammad saw adalah membantu manusia mewujudkan tata kehidupan yang disemangati nilai-nilai rahmah. memberikan suatu isyarat kepada kita agar kita menjadikan diri kita sebagai perwujudan dari nilai-nilai rahmah itu bagi sesama makhluk Tuhan. 7501983. bagaimana kaitan antara sorotan tajam terhadap kekayaan. bahwa keserakahan dan ketidakpedulian sosial adalah yang menimbulkan suatu kehidupan yang tidak disemangati nilai-nilai rahmah. (021) 7507174 Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota Please direct any suggestion to Media Team Artikel Yayasan Paramadina Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota II.

Ia merasa yakin bahwa persepsinya mengenai langit itulah yang sesuai dengan apa yang dapat diamati setiap hari. Sesungguhnya dalam ciptaan langit dan bumi. dan seluruh langit itu berputar-putar dalam satu hari (siang dan malam). dan dengan Sunnah Rasul sebagai penjelasan. mengenai penciptaan alam semesta. serta silih bergantinya malam dan siang. maka tidaklah mengherankan apabila ketetapan dalam penafsiran ayat-ayat al-Qur'an yang berisi konsep-konsep Kauniyah sangat bervariasi. yang berputar mengelilingi sumbunya. kapan pun juga. misalnya dalam surah 'Ali Imran 190 disebut. Dan itu tidaklah benar. ciptaan Tuhan di seluruh jagad raya ini secara jelas disebutkan sebagai "ayat-ayat Allah". terdapat ayat-ayat Allah bagi orang-orang yang berakal (dapat menalar). Untuk memberikan contoh yang nyata. dalam al-Qur'an sendiri. Apalagi kalau ia melingkupi seluruh ruang kosmos beserta isinya.dengan menggunakan ayat-ayat lain di dalam kitab suci tersebut. Dan sama' itu kami bangun dengan kekuatan dan sesungguhnya kamilah yang meluaskannya (QS. al-Anbiya': 30. Dan tidakkah orang-orang kafir itu mengetahui bahwa agama sama.oleh Achmad Baiquni Telah banyak kitab yang ditulis ulama masyhur untuk menafsirkan ayat-ayat suci al-Qur'an --yang merupakan garis-garis besar ajaran Islam itu-. pengertiannya ialah bahwa langit itu adalah sebuah bola super raksasa yang panjang radiusnya tertentu. Mengingat hal-hal tersebut di atas. setelah ia sekian lama terhampar di permukaan bumi seperti layaknya sebuah tenda yang belum dipasang. Sebuah langit yang berbentuk bola dengan jari-jari tertentu bukanlah langit yang bertambah luas. kemudian kami pisahkan keduanya (QS. sebagai bandingan. Namun. karena konsepsinya tidak mampu mengakomodasikan gejala yang dinyatakan ayat 4 surah al-Dzariyat. Dan pada dindingnya tampak menempel bintang-bintang yang gemerlapan di malam hari. tergantung pada pengetahuan mufassir tentang alam semesta itu sendiri. serta ardh yaitu bumi yang datar yang dikurung oleh bola langit. Pada hemat saya. sesuatu konsepsi mengenai alam semesta yang benar harus dapat . maka sebagai padanan untuk mendapatkan arti ayat-ayat al-Qur'an yang menyangkut al-Kaun dapat digunakan juga ayat-ayat Allah yang berada di dalam alam semesta ini. kita dapat menelaah ayat-ayat berikut. Apa yang kiranya dapat kita harapkan dari orang ini andaikata ia diminta memberikan penafsiran (bukan sekadar salinan kata-kata) ayat-ayat tersebut? Tentu saja ia akan memberikan interpretasi yang sesuai dengan persepsinya tentang langit. Bintang-bintang tampak tidak berubah posisinya yang satu terhadap yang lain. Karenanya. Bola ini dikatakan mewadahi seluruh ruang alam dan segala sesuatu yang berada di dalamnya. [1] dan ardh [2] itu dahulu sesuatu yang padu. Seseorang yang hidup dalam abad 9 M akan mengatakan bahwa kata sama' artinya langit. Dapat kita lihat dalam kasus ini bahwa konsep kosmologis dalam al-Qur'an. Dan mungkin sekali ia akan mengatakan bahwa ayat 30 surah al-Anbiya' itu melukiskan peristiwa ketika Tuhan menyebutkan langit menjadi bola. yang dikemukakan orang itu sangatlah sederhana. tidak ada lagi sesuatu yang lebih besar daripadanya. al-Dzariyat: 47).

Meskipun ilmu pengetahuan keislaman ini tumbuh sebagai akibat dari pelaksanaan salah satu perintah agama. serta silih bergantinya siang dan malam. telah mengubah astrologi menjadi astronomi. kiranya perlu kita pertanyakan apakah benar konsep kosmologi yang berkembang dalam sains itu sejalan dengan apa yang terdapat dalam al-Qur'an. 4 dan 5 surah al-'Alaq. wahai Tuhan kami. jauh melampaui kelajuannya dalam abad-abad sebelumnya. seperti yang berkembang di lingkungan Yunani. bagaimana ia ditinggikan. Sesungguhnya dalam penciptaan sama' dan ardh. terdapat ayat-ayat bagi orang-orang yang berakal (dapat menalar). mental dan spiritual yang bukan Islam. Karena telah menjadi kebiasaan para pakar menulis hasil penelitian orang lain. (QS. Yunus: 101). Penalaran tentang "bagaimana" dan "mengapa". sehingga ilmu tidak lagi bersifat kontemplatif belaka. (QS. yang bersama-sama astronomi membentuk konsep-konsep kosmologi. dan pikirkan tentang penciptaan sama' dan ardh. Katakanlah (wahai Muhammad). Perhatikanlah dalam intighon apa yang ada di sama' dan di ardh (QS. ia harus sesuai dengan konsep-konsep kosmologis dalam al-Qur'an. Dan sama'. al-Ghasyiyah: 1 dan 18). dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah. dan yang memiliki nilai-nilai tak Islami. menyebabkan timbulnya cabang baru dalam sains yang dinamakan astrofisika. Maha suci Engkau. Penerapan metode ilmiah ini. Jelaslah di sini bahwa sains adalah hasil konsensus di antara para pakar. atau dalam keadaan berbaring. [3] Dia mengajar manusia apa yang tidak diketahuinya. Kita ingat ayat 3. maka peliharalah kami dari siksa azab neraka. maka tersusunlah himpunan rasionalitas kolektif insani yang kita kenal sebagai sains. ketika ia berjalan sangat cepat. yang menyangkut proses-proses alamiah di langit itu. Untuk mendapatkan konsepsi yang benar itu pada hakekatnya telah diberikan petunjuk sang pencipta misalnya dalam ayat 101 surah Yunus.dipergunakan untuk menerangkan semua peristiwa yang dilukiskan ayat-ayat dalam kitab suci. Sebab obor pengembangan ilmu telah mulai berpindah tangan dari umat Islam kepada para cendekiawan bukan Islam sejak pertengahan abad ke 13 sampai selesai dalam abad 17. Dengan diikutinya perintah dan petunjuk ini. . Maka apakah mereka itu tak memperhatikan onta-dalam intighon. yang terdiri atas pengukuran teliti pada observasi dan penggunaan pertimbangan yang rasional. sedangkan dalam fase-fase lain menghasilkan kesimpulan yang sehaluan dengannya. bagaimana ia diciptakan. Ali Imran: 190 dan 191). tapi mempunyai ciri empiris sehingga tersusunlah dasar-dasar sains. Bacalah. yang mengajar dengan qalam. Dalam teguran ayat 1 dan 18 dalam surah al-Ghasyiyah. Mari kita kaji sambil menelusuri perkembangan ilmu kealaman sejak akhir abad 19 hingga akhir abad 20. Serta dalam ayat 190 dan 191 surah Ali Imran. sehingga sejak itu sains tumbuh dalam kerangka acuan budaya. Yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk. tiadalah Engkau ciptakan ini dengan sia-sia. sejalan dengan kecanggihan instrumentasi yang dipergunakan dalam observasi dan matematika sebagai sarana komputasi. maka muncullah di lingkungan umat Islam suatu kegiatan observasional yang disertai dengan pengukuran. Kita akan menemukan bahwa pada tahap-tahap tertentu ia tampak tidak sesuai dengan ajaran agama kita.

yang di dalamnya terdapat bintang-bintang. ada pun Arsy-Nya telah tegak pada ma' [6] untuk menguji siapakah di antara kalian yang lebih baik amalnya (QS. sehingga sains kembali dapat berkembang dalam kerangka sistem nilai yang Islami). Hud: 7) Sesungguhnya Allah menahan sama' dan ardh agar jangan lenyap. dan ia penuh dukhon [4]. ada sejak dulu dan akan ada seterusnya. Padahal mereka baru merupakan sebagian saja dari ayat-ayat al-Qur'an yang berisi konsep-konsep kosmologi. ia akan mengatakan juga bahwa bola super besar yang mewadahi seluruh ruang kosmos itu tidak ada sebab baginya ruang jagad-raya ini tak berhingga besarnya dan tidak mempunyai batas. selalu timbul-tenggelam. demikianlah ketentuan Yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui. Karena konsep kosmologi yang berlaku waktu itu berasal dari Newton. bahwa bintang-bintang di langit jaraknya dari bumi tidak sama. dan ada bintang-bintang kembar dan gerombolan-gerombolan bintang dalam galaksi kita yang disebut Bimasakti. Ia akan mengatakan. (QS. dianggap tak berawal dan tidak berakhir. karena tak dapat mengakomodasi peristiwa yang: dilukiskan ayat 30 surah al-Anbiya' dan ayat 47 surah al-Dzariyat. Kita dapat juga mengemukakan beberapa ayat lainnya sebagai berikut. dan Dia mewahyukan kepada tiap sama' peraturannya masing-masing. Datanglah kalian mematuhi-Ku dengan suka atau terpaksa. dan pada waktu itu pula bersemayam di arsy-Nya [5] (QS. Dalam pada itu Dia mengarah pada penciptaan sama'. dan sungguh jika keduanya akan lenyap dan tak ada siapa pun . yang mengandung konsepsi tentang alam yang langgeng. dan kami hiasi langit dunia dengan pelita-pelita. Sudah tentu konsep kosmologi sains abad yang lalu ini tidak sesuai dengan konsep al-Qur'an. Lebih dari itu bahkan bertentangan dengan ajaran agama kita. maka saya selalu menganjurkan agar umat Islam yang ingin mengejar ketinggalan mereka dalam sains dan teknologi akhir-akhir ini bersiap-siap mengadakan langkah-langkah pengamanan dengan meng-Islamkan sains. Dari uraian di atas bahwa konsep kosmologi sains pada abad ke 19 gagal total dan sama sekali tak mampu menerangkan apa yang terkandung dalam dua ayat tersebut di atas. lalu Dia berkata kepadanya dan kepada ardh. al-Thalaq: 12) Allah-lah yang menciptakan sama' dan ardh dan apa yang ada di antara keduanya dalam enam hari. yang telah mengetahui melalui kegiatan sainsnya. Fushshilat: 11) Maka Dia menjadikannya tujuh sama' dalam dua hari. keduanya menjawab: kami datang dengan taat (QS. al-Sajadah:4) Dan Dialah yang telah menciptakan sama' dan ardh dalam enam hari. (Karena itu. Fushshilat: 12) Allah-lah yang telah menciptakan tujuh sama' dan ardh seperti itu pula (QS. langit adalah ruang jagad-raya.Seseorang yang hidup pada akhir abad 19. dan Kami memeliharanya. tak lagi akan mengatakan. sebab alam semesta yang tak terbatas dan tak berhingga besarnya. sebagian diikuti satelitnya. langit itu sebuah bola super raksasa. dan bahkan mampu mengukur jarak itu dan mengatakan berapa massanya. Dan kita akan melihat sepanjang pertumbuhan sains selanjutnya bahwa ide-ide semacam ini.

. yang lebih jauh kecepatannya lebih besar. berapa besar kepadatan materi dalam titik yang volumenya nol itu jika seluruh massa 100 milyar kali 100 milyar bintang sebesar matahari dipaksakan masuk di dalamnya! Inilah yang biasa disebut sebagai singularitas. Karena kelajuan dan jarak masing-masing galaksi dari bumi diketahui. al-Anbiya': 104) Sekarang mari kira cari pengertian yang terdapat dalam ayat itu. Pada tahun 1952 Gamow berkesimpulan bahwa galaksi-galaksi di seluruh jagad-raya yang cacahnya kira-kira 100 milyar dan masing-masing rata-rata berisi 100 milyar bintang itu pada mulanya berada di satu tempat bersama-sama dengan bumi.yang dapat menahan keduanya itu selain Allah. Gumpalan ini berada dalam ruang alam dan tanpa diketahui sebab musababnya meledak dengan sangat dahsyat sehingga terhamburlah materi itu ke seluruh ruang jagad-raya. peristiwa inilah yang kemudian terkenal sebagai "dentuman besar" (big bang). Sudah barang tentu gumpalan sebesar itu tak pernah bergelimpangan di ruang kosmos. Lebih kecil dari bintang pulsar yang jari-jarinya hanya sebesar 2 sampai 3 kilometer dan massanya kira-kira 2 sampai 3 kali massa sang surya. begitulah Kami akan mengembalikannya. Gambarkan saja dalam angan-angan. itulah janji yang akan kami tepati. bahwa dengan bekal pengetahuan abad 19 saja seseorang tak mungkin memahaminya. Apa yang akan dikatakan oleh seorang kosmolog atau seorang fisikawan abad 20. Sebab konsepsinya tentang alam semesta memang salah hingga tidak cocok dengan apa yang ada dalam al-Qur'an. meski ia seorang pakar yang ulung sekali pun. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penyantun dan Maha Pengampun (QS. Fathir: 41) Pada hari Kami gulung sama' seperti menggulung lembaran tulis. sebab gaya gravitasi gumpalan itu akan begitu besar sehingga ia akan teremas menjadi sangat kecil. sehingga dalam sains terdapat istilah alam yang mengembang (expanding universe). Jadi konsep dentuman besar terpaksa dikoreksi yaitu bahwa keberadaan alam semesta ini diawali oleh ledakan maha dahsyat ketika tercipta ruang-waktu dan energi yang keluar dari singularitas dengan suhu yang tak terkirakan tingginya. jawabnya kira-kira sebagai berikut: Konsepsi mengenai alam semesta ini sebenarnya mulai mengalami perubahan sejak tahun 1929 ketika Hubble melihat dan yakin bahwa galaksi-galaksi di sekitar Bimasakti menjauhi kita dengan kelajuan yang sebanding dengan jarak dari bumi. sesungguhnya Kamilah yang akan melaksanakannya (QS. sekitar 15 milyar tahun yang lalu. kuda yang paling laju akan berlari paling depan. Kita telah melihat dari contoh-contoh yang diberikan. sebab elektron-elektron yang berasal dari masing-masing atom telah menyatu dengan protonnya dan membentuk neotron sehingga tak ada gaya tolak listrik antara masing-masing elektron dan antara masing-masing proton. jika ia ditanya tentang konsep kosmologi sains yang mutakhir yang dihasilkan penelitian para pakar? Secara garis besar. tidak sulit untuk menghitung kapan mereka itu mulai berlari. dan bahkan lebih kecil dari lobang hitam (black hole) yang massanya jauh melebihi pulsar dan jari-jarinya menyusut mendekati ukuran titik. sebagaimana Kami telah mulai awal penciptaan. Hal ini mengingatkan orang pada pacuan kuda. Materi yang sekian banyaknya itu terkumpul sebagai suatu gumpalan yang terdiri dari neotron.

maka di lokasi-lokasi tertentu terdapat konsentrasi materi yang merupakan benih galaksi-galaksi yang tersebar di seluruh kosmos. terjadilah gejala "lewat dingin". Selama proses inflasi ini. Ekspansi yang luar biasa cepataya ini menimbulkan kesan-kesan alam kita digelembungkan dengan tiupan dahsyat sehingga ia dikenal sebagai gejala inflasi.000 trilyun-trilyun derajat. karena ekspansinya. yang berakibat terhentinya inflasi. Pada saat itu suhu kosmos adalah sekitar 100 milyar derajat dan campuran partikel dan radiasi yang sangat rapat tetapi bersuhu sangat tinggi itu lebih menyerupai zat-alir daripada zat padat sehingga para ilmuwan memberikan nama "sop kosmos" kepadanya Antara umur satu sekon dan tiga menit terjadi proses yang dinamakan nukleosintesis. tidak terjadi secara serentak. keluarlah energi yang memanaskan kosmos kembali menjadi 1. ada kemungkinan bahwa tidak hanya satu alam saja yang muncul. KONSEP-KONSEP KOSMOLOGIS (2/2) oleh Achmad Baiquni Para pakar berpendapat bahwa alam semesta tercipta dari ketiadaan sebagai goncangan vakum yang membuatnya mengandung energi yang sangat tinggi dalam singularitas yang tekanannya menjadi negatif.6. dalam periode ini atom-atom ringan terbentuk sebagai hasil reaksi fusi-nuklir. namun tatkala umur alam mendekati seper-seratus sekon. (021) 7501969. sehingga suhunya merendah melewati 1. 7507173 Fax.000 tahun elektron-elektron masuk dalam orbit mereka sekitar inti dan membentuk atom sambil melepaskan radiasi. tidak perlu aturannya sama dengan apa yang ada di alam kita ini. Pada saat pengembunan tersentak. Baru setelah umur alam mencapai 700.000 trilyun-trilyun derajat. Vakum yang mempunyai kandungan energi yang luarbiasa besarnya serta tekanan gravitasi yang negatif ini menimbulkan suatu dorongan eksplosif keluar dari singularitas. pada umur 10-35 sekon. UA 20-21 Jakarta Selatan Telp.-------------------------------------------. Karena materialisasi dari energi yang tersedia. Jenis materi apa yang muncul pertama-tama di alam ini tidak seorang pun tahu. 7501983. isinya terdiri atas radiasi dan partikel-partikel sub-nuklir. pada saat itu . berapa? duakah? tigakah? atau berapa? para ilmuwan tidak tahu. tetapi beberapa alam. Metro Pondok Indah Pondok Indah Plaza I Kav. (021) 7507174 Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota Please direct any suggestion to Media Team Artikel Yayasan Paramadina Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota II. dan selurnh kosmos terdorong membesar dengan kecepatan luar biasa selama waktu 10-32 sekon. Tatkala alam mendingin. Dan masing-masing alam dapat mempunyai hukum-hukumnya sendiri.(bersambung 2/2) Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah Editor: Budhy Munawar-Rachman Penerbit Yayasan Paramadina Jln.

yang dirumuskan untuk melukiskan alam semesta. dan mendapatkan pembetulan. Saya akan mengungkapkan beberapa saja yang relevan. Selama perjalanan mencari kebenaran itu. ketika gagasan Gamow tentang dentuman besar yang menjurus pada konsep alam semesta yang berawal dikumandangkan beberapa kosmolog yang dipelopori Hoyle mengajukan tandingan yang dikenal sebagai kosmos yang mantap (steady state universe) yang menyatakan bahwa alam semesta ajeg sejak dulu sampai sekarang dan hingga nanti tanpa awal dan tanpa akhir. sebenarnya sains telah mengalami penyelewengan-penyelewengan yang akhirnya terbongkar kesalahannya. Namun terungkapnya keberadaan gelombang mikro yang mendatangi bumi dari segala penjuru alam secara uniform. sebagai contoh. Pertama. katakan saja.seluruh langit bercahaya terang benderang dan hingga kini "cahaya" ini masih dapat diobservasi sebagai radiasi gelombang mikro. Namun Weinberg menunjukkan kepalsuannya. Kalau semua yang telah dirintis secara matematis ini mendapatkan pembenaran dari eksprimen atau observasi di alam luas. . tapi berekspansi. Dengan demikian maka konsepsi yang berawal lebih dikukuhkan. entropinya besarnya tidak terhingga. ia hanya dapat kita hubungi lewat medan gaya gravitasi sedangkan hukum alamnya tidak perlu sama dengan yang berlaku di dunia ini. alam semesta mempunyai dimensi 10. beberapa ilmuwan mencoba mengembalikan keabadian kosmos dengan mengatakan. ia segera diubah oleh si-perumus agar sesuai dengan konsep kosmologi pada waktu itu. dinyatakan oleh Friedman bahwa ia memberi gambaran kosmos yang mengembang. Begitulah kira-kira uraian fisikawan itu. Menurut perhitungan kami. Sebab alam yang berkelakuan seperti itu. Kita lihat bahwa hasrat mempertahankan konsepsi alam semesta yang tak berawal (tak diciptakan) selalu menemui kegagalan. Sudah tentu apa yang dikatakan itu adalah hasil mutakhir kegiatan penelitian dan saling kaji antara para pakar dan merupakan konsensus. Einstein mengalah dan kembali ke perumusannya yang semula yang melukiskan alam yang tak statis. karena tak cocok dengan kenyataan. karena "tergulung" dengan jarij-ari 10-32 sentimeter yang bermanifestasi sebagai muatan listrik dan muatan nuklir. maka ada kemungkinan bahwa alam yang kita huni ini mempunyai kembaran (shadow world) yang sebenarnya berada di sekeliling kita. Ketiga. Tapi langkah pembetulan itu mendapat tamparan. oleh Wilson dan Penzias pada 1964. yaitu kosmos yang statis. suatu asumsi yang konsekuensinya tak didukung kenyataan. meledak dan masuk kembali tak henti-hentinya tak berawal dan tak berakhir. yaitu 4 buah dimensi ruang-waktu yang kita hayati. ketika dentuman besar tak dapat disangkal. ketika persamaan matematis Einstein. "terbentang" dan mengejawantah sebagai ruang-waktu. Dimensi yang kita hayati adalah dimensi yang. karena tak sesuai dengan kenyataan yang terobservasi. tapi tak dapat kita lihat. telah mendorong para pakar mengakuinya sebagai kilatan dalam alam semesta yang tersisa dari peristiwa dentuman besar. dan 6 lainnya yang tidak kita sadari. karena Hubble mengobservasi justeru jagad-raya ini berekspansi. Kedua. alam semesta ini berkembang-kempis (oscillating universe).

Sedangkan qaul yang kedua mendasari pernyataannya dengan adanya neutrinoneutrino yang mereka percayai membawa sebagian besar dari massa alam ini sehingga sebagai totalitas kekuatan gaya kritis itu akan terlampaui. Kalau para detektif itu cukup memakai penalaran logis saja. Apakah para fisikawan-kosmolog mengetahui nasib alam itu pada akhirnya? Ada dua pandangan yang dianut dalam sains yaitu. kemudian kami pisahkan keduanya itu (QS. sebagian massa itu bercahaya. harus melandasinya juga dengan pengetahuan sunnatullah. sedangkan sebagian lagi dibawa zarah-zarah yang disebut neutrino. karena bintang-bintang yang bercahaya dan materi antar bintang. sebagai sunnat-u 'l-lah yang berlaku sejak dulu. pertama. lalu Dia berkata kepadanya dan kepada materi: Datanglah kalian mematuhi . sebagai berikut. yang terobservasi pengaruhnya. di samping menggunakan pertimbanganpertimbangan rasional. al-Dzariyat: 47) Dalam pada itu Dia mengarah pada penciptaan ruang-waktu dan ia penuh "embunan" (dari materialisasi energi). tidak dengan pengetahuan orang abad ke 9 atau ke 19 melainkan dengan pengetahuan seseorang dari abad 20. seperti layaknya tim detektif yang ingin memecahkan sebuah misteri dengan menggunakan sekelumit abu rokok dan pecahan-pecahan gelas yang berserakan di sekitar tempat kejadian." sehingga pada suatu saat ekspansinya akan berhenti dan alam kembali mengecil untuk akhirnya seluruhnya mencebur kembali dalam singularitas. alam semesta ini "terbuka. yaitu ekspansi alam semesta dan radiasi gelombang mikro." sehingga ia akan berekspansi selamanya. Kapan? Mereka tak tahu. maka para pakar. al-Anbiya': 30) Dan ruang waktu itu Kami bangun dengan kekuatan (ketika dentuman besar dan inflasi melandanya sehingga beberapa dari dimensinya menjadi terbentang) dan sesungguhnya Kamilah yang m eluaskannya (sebagai kosmos yang berekspansi) (QS. yang mereka pergunakan untuk menelusuri kembali peristiwanya yang terjadi sekitar 15 milyar tahun lalu. Dan tidakkah orang yang kafir itu mengetahui bahwa ruang waktu dan energi-materi itu dulu sesuatu yang padu (dalam singularitas). tempat ia keluar dulu kala. Qaul yang pertama didasarkan pada kenyataan bahwa masa seluruh alam ini tak cukup besar untuk menarik kembali semua galaksi yang bertebaran.konsep tersebut. dan kedua jagad raya ini "tertutup. dan yang saya pilih di antara sekian banyak ayat yang mengandung konsep. Sebab mereka tak mempunyai informasi berapa sebenarnya massa yang terkandung dalam alam ini. sebagian gelap.Bagaimana para fisikawan-kosmolog dapat mengatakan semuanya itu tanpa melihat sendiri kejadiannya? Sebenarnya mereka melihat dua gejala. sekali-kali kamu tak akan menemukan perubahan pada sunnatullah itu. Saya akan menafsirkan ayat-ayat yang telah dicantumkan di atas. yang dalam ayat 23 surah al-Fath dinyatakan memiliki stabilitas. segenap peraturan Allah swt yang mengendalikan tingkah laku alam. Sekarang marilah kita gali konsep-konsep kosmologi dalam al-Qur'an. hanya dapat menyajikan sekitar 20 persen saja dari gaya yang diperlukan. yaitu yang dinamakan gaya kritis.

Fushshilat: 11). al-Fathir: 41) Pada hari Kami gulung ruang-waktu (alam semesta) laksana menggulung lembaran tulis. yang salaf. memeriksa ruang-waktu (alam semesta) serta materi di dalamnya sesuai dengan perintah-Nya dalam surah Yunus 101 itu mendapatkan petunjuk ke arah yang benar seperti tercantum dalam surah Fushshilat 53. dan kami hiasi ruang-waktu (alam) dunia dengan pelita-pelita. dan sungguh jika keduanya akan lenyap tiada siapa pun yang dapat menahan keduanya selain Allah. al-Anbiya': 104). begitulah Kami akan mengembalikannya. adalah suatu tuduhan yang tak berdasar. al-Thalaq: 12) Allah-lah yang menciptakan ruang-waktu dan materi dan apa yang ada di antara keduanya dalam enam hari.(peraturan)-Ku dengan suka atau terpaksa. hingga para ilmuwan yang setia kepada tradisi umat Islam. Patokan saya adalah kebenaran kitab suci umat Islam. Apa yang telah saya lakukan di sini bukanlah pembenaran (justification) sains dengan al-Qur'an. Demikian konsep-konsep kosmologi yang dapat digali dari al-Qur'an sebagaimana saya melihatnya selaku orang yang berkecimpung dalam bidang sains. dan pada saat itu pula menegakkan pemerintahan-Nya (yang seluruh perangkat peraturannya ditaati oleh segenap mahluk-Nya dengan suka hati) (QS. Fushshilat: 12) Allah-lah yang menciptakan tujuh ruang-waktu (alam semesta). karena ada beberapa konsepsi sains yang telah saya tolak. Dan bukankah justeru Allah swt sendiri yang mengungkapkan adanya gejala ekspansi kosmos dan radiasi gelombang mikro kepada para ilmuwan. keduanya menjawab: Kami datang dengan kepatuhan. Dalam awal uraian saya telah dikatakan bahwa penggalian konsep-konsep kosmologi dalam al-Qur'an merupakan pekerjaan . dan apa yang bertentangan dengannya saya tolak. Maka dia menjadikannya tujuh ruang-waktu (alam semesta) dalam dua hari. Akan Kami perlihatkan kepada mereka ayat-ayat Kami di segenap penjuru dan dalam diri mereka sendiri sehingga jelaslah bagi mereka itu bahwa ia (al-Qur'an) adalah yang benar. sesungguhnya Kamilah yang akan melaksanakannya (QS. al-Sajadah: 4) Dan Dia-lah yang telah menciptakan ruang-waktu dan materi dalam enam hari. Hud: 7) Sesungguhnya Allah menahan ruang-waktu (alam semesta) dan materi di dalamnya agar jangan lenyap (sebagai jagad-raya yang terbuka). demikianlah ketentuan Yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui (QS. sedang pemerintahan-Nya telah tegak pada fase zat alir (yaitu sop kosmos) untuk menguji siapakah di antara kalian yang lebih baik amalannya (QS. Mengatakan bahwa apa yang telah saya lakukan ini sebagai usaha menarik-narik al-Qur'an agar sejalan atau cocok dengan sains. itulah janji yang akan kami tepati. dan Kami memeliharanya. dan materinya seperti itu pula. sebagaimana Kami telah mulai awal penciptaan. karena tidak sesuai dengan al-Qur'an. (QS. Dan tidak pula saya menarik al-Qur'an agar sesuai dengan sains. sesungguhnya Dia adalah Maha Penyantun dan Maha Pengampun (QS. untuk membimbing mereka dari kesesatan dalam memahami ciptaanNya. hasil karya pikir manusia. (QS. dan Dia mewahyukan kepada tiap alam itu peraturan (hukum alam)-nya masing-masing.

Ardh. karena bumi baru terbentuk sekitar 4. dan tanah di bumi kita ini baru terjadi sekitar 3 milyar tahun lalu sebagai kerak di atas magma." yakni bakal-bumi. hal ini tidak berarti bahwa gedung itulah yang mengambil keputusan. misalnya dengan lidi-aren. maka saya memilih maknanya sebagai zat alir. Dukhan asap atau uap. melainkan pemerintah Indonesia yang bertindak. dengan pangkal bulu. Memang begitulah karena sains akan berkembang dan akan senantiasa menemukan hal-hal yang yang dapat lebih melengkapi pengetahuan manusia hingga lebih memahami ayat-ayat Allah. Dan karena telah terbukti bahwa materi dan energi setara dan dapat berubah dari yang satu menjadi yang lain. maka penggunaan istilah "sop kosmos" sebagai keterangan melukiskan . kini tak lagi diartikan sebagai bola super-raksasa yang dindingnya ditempeli bintang-bintang. 6.yang terus baru dapat tak kunjung henti. Karena secara eksprimental dapat dibuktikan bahwa ruang serta waktu merupakan satu kesatuan. air atau zat alir. 2. melainkan ruang alam yang di dalamnya terdapat bintang-bintang. Arsy. Qalam. maka saya condong untuk menggunakan istilah sarana tulis sebagai ganti "pena". bahkan inti atom pun pada saat itu belum terbentuk! Oleh karenanya. dengan mesin ketik dan lain-lain sebagainya. maka saya lebih suka mempergunakan katakata "Pemerintahan" (Allah) untuk mengartikan kata-kata arsy. pada saat awal penciptaan. CATATAN Di bawah ini disajikan pertimbangan yang saya pergunakan untuk memilih kata-kata dalam penafsiran. yang sudah ada sesaat setelah Allah menciptakan jagad-raya. Ma'. pena. Sama'. karena orang dapat menulis sesuatu tak hanya dengan pena. 1. singgasana atau tahta. Malahan saya lebih suka mengartikan sebagai "karya tulis". Dan karena pada saat itu isi alam semesta yakni radiasi dan materi pada suhu yang sangat tinggi itu wujudnya lain daripada yang kita dapat temui di dunia sekarang ini. dengan kuas.5 milyar tahun lalu di sekitar matahari. saya condong untuk menafsirkan sebagai pemerintahan lengkap dengan sarana. 3. atom-atom yang belum berbentuk karena suhu alam masih sangat tinggi dan elektron-elektron belum dapat ditangkap oleh inti-inti atom. 4. aparatur dan peraturannya. maka saya gunakan istilah ruang-waktu sebagai ganti "ruang". Maka saya condong mengartikan kata-kata ardh dengan istilah "materi. 5. Karenanya. maka saya condong menggunakan istilah embunan. bumi atau tanah. dengan bolpen. Sebab jika kita mengatakan: itu keputusan Bina Graha. karena dalam fase penciptaan alam itu air yang terdiri dari atom oksigen dan atom-atom hidrogen belum dapat berbentuk. dengan vulpen. yang kecuali terkandung dalam asap dan uap juga lebih mengena bila dipergunakan melukiskan gejala yang ditemukan pada suatu sistem yang mendingin dari suhu yang sangat tinggi (dalam kasus ini bertrilyun-trilyun derajat). galaksi-galaksi dan lain-lainnya. maka saya akan mencakup keduanya dalam istilah energi-materi. karena melukiskan Tuhan duduk di singgasana adalah syirik.

Pour une religion eschatologique comme l'Islam. Karena al-Qur'an seluruhnya berbicara untuk manusia atau berbicara tentang manusia. 7501983. Boisard (1979: 84). Toute ideologie precise d'emblee. ia kemudian menyebutkan bahwa al-Qur'an diwahyukan untuk memperkenalkan Tuhan kepada manusia. tulis Marcel A. Agak terperinci. Ideologi adalah Weltanchauung. Dr. kata Fazlur Rahman (1980: 43). Agak mengherankan. [1] Dirk Bakker (1965) dalam bukunya Man in the Qur'an.zat yang sangat rapat tapi dapat mengalir pada suhu yang amat tinggi. I origine et le fin de la destine e humaine. Tuhan. Ideologi adalah cara memandang realitas. la nature de l'individu et la place qui lui est assignee daus la groupe. Boisard hampir tidak pernah membahas karakteristik manusia menurut al-Qur'an. tacitement on explicitement. a la fois. Adalah Rahman (1980). -------------------------------------------Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah Editor: Budhy Munawar-Rachman Penerbit Yayasan Paramadina Jln. 7507173 Fax. bukan untuk menjelaskan manusia -non pour expliquer l'humain (Boisard. tidaklah terlalu aneh. UA 20-21 Jakarta Selatan Telp. mengulas manusia dari segi penciptaannya. Yusuf Qardhawi (1977: 33) Masyarakat Islam dibentuk karena ideologinya. yang menjelaskan realitas dalam perspektif tertentu. 1979: 84). Semuanya dapat disimpulkan dalam kalimatnya. en fonction de l'objektif social poursuiri. yaitu Islam. ketika mengantarkan tulisannya tentang pandangan Qur'ani mengenai manusia dalam bab Les Fils d'Adam. sesama manusia. Karena itu dalam seluruh bukunya. dan fungsi manusia sebagai hamba Tuhan. walaupun Boisard mengakui pentingnya filsafat antropologis dalam Islam. . seperti lazimnya filsafat manusia (philosophic de l'homme). (021) 7501969. ia menjelaskan perbedaan manusia dengan makhluk lain.7. Metro Pondok Indah Pondok Indah Plaza I Kav. KONSEP-KONSEP ANTROPOLOGIS (1/2) oleh Jalaluddin Rakhmat Al-Qur'an adalah kitab manusia. tapi tidak membahas principe d'entre manusia. (021) 7507174 Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota Please direct any suggestion to Media Team Artikel Yayasan Paramadina Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota II. yang secara khusus menjelaskan principe d'entre manusia ini. Di antara realitas penting yang diulas ideologi adalah manusia. dieu sera la reference primordial et unique puisqu'll est. hubungannya dengan dunia.

It is extremely difficult. 1964: 10). Ketiga. Yang kita perlukan di sini. Dalam tulisan tersebut. Jadi. Ia mengambil konsep Allah sebagai istilah kunci dan menjelaskan hubungan konsep itu dengan manusia. akan dibahas implikasi dari bidang semantik tersebut untuk memperoleh gambaran tentang Weltanschauung Qur'ani. Izutsu sendiri berkata. Kedua. juga dalam tulisan lain (Rahman. Saya sangat terkesan dengan Izutsu (1964. Ia tidak memulai dari konsep dasar yang digunakan al-Qur'an untuk mengabsorbsikan manusia. Ketika Izutsu membahas kosep Tuhan dan manusia dalam al-Qur'an. kita mengidentifikasikan istilah-istilah al-Qur'an tentang manusia.uraian Rahman tidak berbeda dengan pembahasan al-Ghazali yang lebih klasik (Lihat Othman. Pertama. Unfortunately. Makna nasabi adalah makna tambahan yang terjadi karena istilah itu dihubungkan dengan konteks di mana istilah itu berada. Sayangnya. mereka meneliti ayat-ayat al-Qur'an yang berkenaan dengan manusia. 1965) yang memperkenalkan metodologi semantik [2] dalam memahami konsep-konsep dasar al-Qur'an. Tulisan ini mengambil jalan lain. if not absolutely impossible. dengan resiko salah beberapa langkah. Tidak mungkin dalam makalah ini. Makna pokok yang berkenaan dengan constant semantic element which remains attached to the word whereever it goes and however it is used (Izutsu. ia menyebut pembahasannya sebagai semantics of the Koranic weltanschauung. man ought to follow his nature. 1986) membahas karakteristik khas manusia yang lebih "maju" dari al-Ghazali. yang kita anggap merupakan unsur konseptual dasar dari Weltanschauung Qur'ani ini. saya menguraikannya secara terperinci. 1964: 19). kita menentukan makna pokok (basic meaning) dan makna nasabi (relational meaning).The only different is that while every other creature follows its nature automatically. what is called semantics today is so bewilderingly complicated. Dengan kata lain. dan hubungan komunikasi linguistik. penulis makalah ini juga outsider. 1967) --yang membahas amanah sebagai inti kodrat manusia-. 1980: 24) Rahman mengulas manusia dengan mengulas pandangan al-Qur'an tentang kedudukan manusia sebagai individu dan anggota masyarakat. kita memilih istilah-istilah kunci (key-terms) dari vocabulary al-Qur'an. lalu menyimpulkan secara induktif. this tranformation of the is into ought is both fhe unique privelege and the unique risk of man (Rahman. sebetulnya menemukan bagaimana al-Qur'an memberi makna tentang konsep-konsep dasar manusia. hubungan komunikasi nonlinguistik. Malangnya di samping makalah ini tidak dimaksudkan untuk itu. 1960). Mungkin tulisan Mutahhari (tanpa tahun) dan beberapa tulisan lainnya (Lihat Mutahhari. juga walaupun pendek tulisan al-Faruqi (1404: 332). for an outsider even to get a general idea of what it is like (Izutsu. sebagaimana digunakan dalam al-Qur'an. akan dibahas istilah-istilah kunci manusia dan bidang semantiknya. Kedua. . kita menyimpulkan weltanschauung yang menyajikan konsep-konsep itu dalam satu kesatuan. Ia sama sekali tidak menyebut berbagai konsep yang digunakan al-Qur'an untuk merujuk manusia. seperti Fazlur Rahman. Ia menyebutkan tiga hubungan ontologis. kemudian mengenal bidang semantik setiap istilah itu. Pertama.

Katakanlah. ia makan apa yang kamu makan. disuruh Allah menegaskan bahwa secara biologis. 46:18. DAN AL-NAS Dalam al-Qur'an. padahal aku tidak disentuh basyar (3:47). Al-Syaukani (1964. seks. ia seperti manusia yang lain. orang-orang kafir selalu berkata. menjadi karasiy (Lihat al-Thabrasi. Lihatlah bagaimana Maryam berkata. 17:88. unas. Ada konsep-konsep lain yang jarang dipergunakan dalam al-Qur'an dan dapat dilacak pada salah satu di antara tiga istilah kunci di atas. 55:33. Ketika wanita-wanita Mesir takjub melihat ketampanan Yusuf as. Tapi Ibn 'Arabi . Tentang para Nabi. 2:60. kita tidak tepat menafsirkan basyarun mitslukum sebagai manusia seperti kita dalam hal berbuat dosa. 17:71. unas digunakan untuk menunjukkan 12 golongan dalam Bani Israil. 179. yang merupakan bentuk lain dari insan. Nabi Muhammad saw. 29. aku ini manusia biasa (basyar) seperti kamu. 72:5. Basyar disebut 27 kali. dan QS. Sama tidak tepatnya untuk tidak menafsirkan Sesungguhnya telah kami jadikan insan dalam bentuk yang sebaik-baiknya (95: 4) dengan menunjukkan karakteristik fisiologi manusia. 5: 465) menyebutkan umumnya para mufasir mengartikan ayat ini untuk menunjukkan kelebihan manusia secara fisiologis: berjalan tegak. and man's duty is to preserve the pattern on which God has made him (QS 30:30). 6). dan makan dengan menggunakan tangan. anasiy." bukan superman. Kata Basyar dihubungkan dengan mitslukum (tujuh kali) dan mitsluna (enam kali) diantara ayat-ayat tersebut di muka. hanya saja aku diberi wahyu bahwa Tuhanmu ialah Tuhan yang satu (18:110. tapi ini tidak lain kecuali malaikat yang mulia (12:31). Dari segi inilah. 51:56. ins. Ayat ini ditegaskan dalam QS. [3] Dalam seluruh ayat tersebut. Ya Allah.BASYAR. 25: 20. Surat 17:21 dengan jelas menunjukkan makna ini pada hari kami memanggil setiap unas dengan imam mereka.. Secara singkat konsep basyar selalu dihubungkan dengan sifat-sifat biologis manusia: makan. 25: 7. karena nabi hanyalah basyar --manusia biasa yang "seperti kita. Ins disebut 18 kali dalam al-Qur'an. tapi sifat-sifat psikologis (atau spiritual). 130. Tuhanku. Basyar. 41:25. Mereka berkata. 41:6). Dalam QS. ini bukan basyar. 70:160. Anasiy dalam bentuk jamak dari insan. 27:56) dan menunjukkan kelompok atau golongan manusia. bagaimana mungkin aku mempunyai anak. mereka berkata. ada tiga istilah kunci yang mengacu kepada makna pokok manusia: basyar. 27:17. 1937). dan ia minum apa yang kamu minum (33:33). misalnya. dengan mengganti nun atau ya atau boleh juga bentuk jamak dari insiy. 7:82. Marilah kita kembali kepada ketiga istilah kunci tadi. Kecenderungan para Rasul untuk tidak patuh pada dosa dan kesalahan bukan sifat-sifat biologis. Yusuf Ali (1977: 1759) dengan tepat menafsirkan ayat ini to man God gave the purest and the best nature. 7:38. seperti kursiy. basyar memberikan referensi pada manusia sebagai makhluk biologis. Dan tidak Kami utus sebelummu para utusan kecuali mereka itu memakan makanan dan berjalan-jalan di pasar. dan selalu dihubungkan dengan jinn sebagai pasangan makhluk manusia yang mukallaf (6:112. insiy. dan al-Nas. 128. insan. 56. Anasiy hanya disebut satu kali (25:49). INSAN. Bukankah ia Basyar seperti kamu. 39. Bukankah Rasul itu memakan makanan dan berjalan-jalan di pasar. minum. 74. atau bagaimana kaum yang diseru para nabi menolak ajarannya. Unas disebut lima kali dalam al-Qur'an (2:60. berjalan di pasar.

51. mitsaq. Menurut al-Qur'an. berbicara. insan sangat dipengaruhi lingkungannya. 5). dan bahkan musyrik (10:12. dan memutuskan. berkuasa. [4] Kita dapat mengelompokkan konteks insan dalam tiga kategori. bila ia mendapat keberuntungan. Insan dihubungkan dengan predisposisi negatif diri manusia. Menurut Fazlur Rahman (1967: 9). semua konteks insan menunjuk pada sifat-sifat psikologis atau spiritual. Kecuali kategori ketiga yang akan kita jelaskan kemudian. mengajar insan apa yang tidak diketahuinya. kekeliruan penafsiran. manusia adalah makhluk yang diberi ilmu. manusia adalah makhluk yang memikul amanah (33: 72). Insan dihubungkan dengan keistimewaannya sebagai khalifah atau pemikul amanah. Karena itu juga. amanah adalah menemukan hukum alam. menganalisis. 'isr). tt. 41:49. Sekali lagi. Bila ia ditimpa musibah. Ketiga. 42:48. Yang mengajar dengan pena. berkehendak. umumnya para mufassir bermula dari salah paham tentang semantic field istilah insan. amalnya dicatat dengan cermat untuk diberi balasan sesuai dengan apa yang dikerjakannya (53: 39). ia cenderung sombong. kata insan berkali-kali dihubungkan dengan kata nazhar. takabur. dengan inisiatif moral insani. 89:23). Dan ketiga Insan dihubungkan dengan proses penciptaan manusia. Karena itu. (Al-Thabathabai. 89:15). 17:83. "Ia mengajarkan (insan) al-bayan" [6] (55: 3). 49. 75:3. proses terbentuknya makanan dari siraman air hujan hingga terbentuknya buah-buahan (80: 24-36). mengamati) perbuatannya (79: 35). Insan. insanlah yang dimusuhi setan (17:53. mengetahui. Akan Kami perlihatkan kepada mereka (insan) tanda-tanda Kami di alam semesta ini dan pada diri mereka sendiri sehingga jelas baginya bahwa ia itu al-Haq (41: 53). kita melihat keistimewaan manusia sebagai wujud yang berbeda dengan hewani. memikirkan. Allah membuatnya hidup. 46:15). 31:14. Pertama. 50:16). 11:9. Allah berfirman. karena manusia memikul amanah. Ia diwasiatkan untuk berbuat baik (29:8. 351-352) mengutip berbagai pendapat para mufassir tentang makna amanah dan memilih makna amanah sebagai predisposisi (isti'dad) untuk beriman dan mentaati Allah. Pada kategori pertama. Manusia diberi kemampuan mengembangkan ilmu dan daya nalarnya. Kedua. 13. 59:16) dan ditentukan nasibnya di hari Qiyamat (75:10. ia cenderung menyembah Allah dengan ikhlas. kedua. Keempat. Insan disuruh menazhar (merenungkan. [7] Predisposisi untuk beriman inilah yang digambarkan secara metaforis [8] dalam surat 7:172. 14. Di dalamnya terkandung makna khilafah. yang berbeda dengan basyar. untuk menciptakan tatanan dunia yang baik. [5] (96: 4. Amanah inilah yang dalam ayat-ayat lain disebutkan sebagai perjanjian (ahd. dalam menyembah Allah. melihat. 80:17. maka insan dalam al-Qur'an juga dihubungkan dengan konsep tanggung jawab (75: 36. manusia sebagai pemikul al wilayah al-ilahiyyah. dan penciptaannya (86: 5).berkata. menguasainya atau dalam istilah al-Qur'an "mengetahui nama-nama semuanya" dan kemudian menggunakannya. mendengar. Dalam hubungan inilah. dan ini adalah sifat-sifat rabbaniyah. Tak ada makhluk Allah yang lebih bagus daripada manusia. 79:35. setelah Allah menjelaskan sifat insan yang tidak labil. . 39:8. 17:67. Insan disebut 65 kali dalam al-Qur'an.

38:71. Yang pertama. (021) 7507174 Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota Please direct any suggestion to Media Team Artikel Yayasan Paramadina Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota II. al-Mu'jam. Inilah manusia yang paling banyak disebut al-Qur'an (240 kali. Yang pertama unsur basyari. Konsep kunci ketiga ialah al-Nas yang mengacu pada manusia sebagai makhluk sosial. 7507173 Fax. KONSEP-KONSEP ANTROPOLOGIS (2/2) oleh Jalaluddin Rakhmat Pada kategori kedua. Metro Pondok Indah Pondok Indah Plaza I Kav. tanah (15:26. (021) 7501969. dan tidak boleh ia mengurangi hak-hak ruh untuk memenuhi hak tubuh. pada kata al-Nas). Sebagai insan manusia diciptakan dari tanah liat. 20.-------------------------------------------. ditakdirkan untuk bersusah payah dan menderita (84:6. banyak membantah atau mendebat (18:54. "Tidak boleh (seorang mukmin) mengurangi hak-hak tubuh untuk memenuhi hak ruh. bakhil (17:100). Bila dihubungkan dengan sifat-sifat manusia pada kategori pertama. gelisah. 7:381). insan menjadi makhluk paradoksal. saripati tanah. 90:4). 23:12. Kedua kekuatan ini digambarkan dengan kategori ayat-ayat ketiga. dan segan membantu (70:19. 7501983. 55:14. lihat 'Abd al-Baqi.21). 30:20) dan air (25:54). 21:37). Ini mendorong saya untuk menyimpulkan bahwa proses penciptaan manusia menggambarkan secara simbolis karakteristik basyari dan karakteristik insani. Secara menarik proses penciptaan manusia atau asal kejadian manusia dinisbahkan pada konsep insan dan basyar sekaligus. tidak berterima kasih (100:6). unsur material dan yang kedua unsur ruhani. tergesa-gesa (17:11. meragukan hari akhirat (19:66). Demikian pula basyar berasal dari tanah liat. tanah (15:28. 75:5). manusia itu cenderung zalim dan kafir (14:34.(bersambung 2/2) Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah Editor: Budhy Munawar-Rachman Penerbit Yayasan Paramadina Jln. Keduanya harus tergabung dalam keseimbangan. bodoh (33:72). 36:77). manusia adalah gabungan kekuatan tanah dan hembusan Ilahi (bain qabdhat al-thin wa nafkhat al-ruh). Al-Nas. kata insan dihubungkan dengan predisposisi negatif pada diri manusia. 43:15). UA 20-21 Jakarta Selatan Telp. yang berjuang mengatasi konflik dua kekuatan yang saling bertentangan: kekuatan mengikuti fitrah (memikul amanat Allah) dan kekuatan mengikuti predisposisi negatif." kata Abbas Mahmud al-'Aqqad (1974. yang kedua unsur insani. 22:66. berbuat dosa (96:6. resah. Tak mungkin dalam makalah . 16:4. 32:7).7. Menurut al-Qur'an. Menurut Qardhawi (1973: 76).

seperti sama'. 67:23. baik dari segi ilmu maupun dari segi iman. manusia secara otomatis tunduk kepada takdir Allah di alam semesta.singkat ini. 30:6. 31:20). 29:10). 30. al-Qur'an menegaskan bahwa petunjuk al-Qur'an bukanlah hanya dimaksudkan pada manusia secara individual. 12:21. yang mengambil sekutu terhadap Allah (2:165). Dengan memperhatikan ungkapan ini. dan al-Kitab (22:3. 69:42). 12:103. fasiq (5:49). yang berilmu atau dapat mengambil pelajaran (18:22. 12:38). Jika kamu ikuti kebanyakan yang ada di bumi. dan kebanyakan harus menanggung azab (22:18). Pada keadaan itu. tapi juga manusia secara sosial. tidak bersyukur (40:61.68. Namun manusia sebagai insan dan al-Nas bertalian dengan unsur hembusan Ilahi. 34:28. 2:243. 40:57). yang tidak diperdayakan syetan (4:83). WELTANSCHAUUNG QUR'ANI TENTANG MANUSIA Dari uraian di muka tampak al-Qur'an memandang manusia sebagai makhluk biologis. 27:62. tidak beriman (11:17. Ia menyerap sifat-sifat rabbaniah menurut ungkapan Ibn Arabi. maka ada juga hukum-hukum yang mengendalikan manusia sebagai makhluk psikologis dan makhluk sosial. yang mempesonakan orang dalam pembicaraan tentang kehidupan dunia. mereka akan menyesatkanmu dari jolan Allah. kita menjelaskan seluruh bidang semantik istilah al-Nas. Al-Nas sering dihubungkan al-Qur'an dengan petunjuk atau al-Kitab (57:25. Kepadanya dikenakan aturan-aturan. hewan dan tumbuh-tumbuhan. 7:10. Surat 6116 menyimpulkan bukti kedua ini. 39:27. tetapi memusuhi kebenaran (2:204). tapi sebetulnya tidak beriman (2:8). Sebagaimana ada hukum-hukum yang berkenaan dengan karakteristik biologis manusia. kafir (17:89. 23:78. Ia dengan sendirinya musayyar. Banyak ayat yang menunjukkan kelompok-kelompok sosial dengan karakteristiknya. Cukuplah di sini ditunjukkan beberapa hal yang memperkuat pertanyaan pada awal paragraf ini --yakni. tapi ia diberikan kekuatan untuk tunduk atau melepaskan diri daripadanya. yang menyembah Allah dengan iman yang lemah (22:11. 32:9). petunjuk. Ayat-ayat itu lazimnya dikenal dengan ungkapan wa min al-Nas (dan diantara sebagian manusia). 25:50). al-Nas menunjuk pada manusia sebagai makhluk sosial. yang berdebat dengan Allah tanpa ilmu. bashar.8. Manusia sebagai basyar berkaitan dengan unsur material. yang bersyukur (34:13. Kedua. 4:46. Ayat-ayat ini dipertegas dengan ayat-ayat yang menunjukkan sedikitnya kelompok manusia yang beriman (4:66. yang menjual pembicaraan yang menyesatkan (31:6). kita dapat menyimpulkan. Pertama. yang hanya memikirkan kehidupan dunia (2:200). kalam. 13:1). 4:155). dan sebagainya). di samping ada sebagian orang yang rela mengorbankan dirinya untuk mencari kerelaan Allah. 2:88. kita menemukan kelompok manusia yang menyatakan beriman. Menurut al-Qur'an sebagian manusia itu tidak berilmu (7:187. 7:3. Ia menjadi mahkluk yang mukhayyar. melalaikan ayat-ayat Allah (10:92). sama taatnya seperti matahari. yang dilambangkan manusia dengan unsur tanah. psikologis dan sosial. 45:26. 24:35.36. Ketiga. qadar. sebagian besar manusia mempunyai kwalitas rendah. Ia mengemban wilayah Ilahiyah. 4:170. 40:58. 38:24. 14:1. 28. seperti kata . dengan memperhatikan ungkapan aktsar al-Nas. yang selamat dari azab Allah (11:116).

sedikit orang yang berilmu. menurut al-Qur'an. Secara konkrit kesetiaan ini diungkapkan dengan kepatuhan pada syari'at Islam yang dirancang sesuai amanah. dan lebih sedikit lagi orang yang beriman dan berilmu. Sesuatu yang olehnya manusia menjadi apa yang terwujud. Al-Qur'an tak lain merupakan rangkaian ayat yang mengingatkan manusia untuk memenuhi janjinya itu. al-Mu'jam. more important still. of conceptualizing and interpreting the world that surround them (Izutsu.: 17). Ini terjadi bila manusia tetap setia pada amanah yang dipikulnya. sedikit sekali orang yang dapat mengembangkan ilmu dan iman ini sekaligus. jawab. 67:2)." tulis Leahy (1985: 11) 2. Bila Sartre mengatakan hidup ini absurd. sebuah benda. kewajiban manusia ialah memenangkan predisposisi positif. pembaca dianjurkan melihat sendiri dalam Al-Baqi. ia dituntut untuk bertanggung Karena pada manusia ada predisposisi negatif dan positif sekaligus. 4. yaitu potensi mengembangkan iman dan ilmu. Dalam pandangan al-Qur'an. Metodologi semantik didefinisikan sebagai an analytic study of the key-terms of language with a view to arriving eventually at a conceptual grasp of the Weltanschauung or world-view of the people who use that language as tool not only of speaking and thinking. tapi suatu prinsip adanya (principe d'etre). CATATAN 1. Keduanya harus dikembangkan secara seimbang. Ia lah yang menciptakan kehidupan dan kematian untuk menguji kamu siapa diantara kamu yang paling baik amalnya (QS. Karena banyak. Inilah hakikat kemanusiaannya. "Karenanya. sesuatu yang olehnya ia merupakan sebuah nilai yang unik. sesuatu yang olehnya manusia mempunyai karakteristik yang khas. Sedikit orang yang beriman. 1964:11) 3. "Apa yang ingin ditelaah bukanlah suatu makhluk. yakni sejauh mana ia mengembangkan iman dan ilmunya. Sesungguhnya kami jadikan apa yang ada dipermukaan bumi sebagai perhiasan untuk menguji mereka. 58:11).al-Thabathabai. Dr Muhammad Mahmud Hijazi (1968. Kelompok terakhir inilah yang disebut al-Qur'an. siapa diantara mereka yang paling baik amalannya (18:7). Lihat al-Baqi. Mu'jam. Karena itu. al-Qur'an menyatakan hidup ini medan untuk membuktikan 'amal shalih. 5. "Allah mengangkat derajat orang-orang yang beriman diantara kamu dan orang-orang yang diberi ilmu" (QS. kita menyimpulkannya bahwa ilmu dan iman adalah dasar yang membedakan manusia dari makhluk lainnya. Ada dua komponen esensial yang membentuk hakikat manusia yang membedakannya dari binatang. Obyek formal dari filsafat manusia ialah inti manusia. Usaha untuk mengembangkan keduanya disebut 'amal shalih. but. Makna hidup manusia diukur sejauh mana ia berhasil beramal sebaik-baiknya. alam kodratnya strukturnya yang fundamental." tulis Mutahhari (tt. "Allah telah memberi manusia gairah dan kemampuan untuk meneliti dan menyelidiki untuk mengadakan percobaan sehingga .30:65) menjelaskan ayat ini.

L'humanisme de L'Islam. 1964. sumpah dengan ayat-ayat Allah. 1978. janji. Boisard. Al-'Aqqad Abbas Mahmud. 19:95) 7. Uraian berbagai pendapat tersebut beserta kritiknya disajikan lengkap oleh Subhani (1400:75 106). dan pelajaran dari masa lalu. 1937. al-Thabathabai (TT. Majma' al-Bayan. Penerbit tidak diketahui. Tanpa tahun. Amsterdam: Drukkerrij Holland NV: Biazard. 1964. Toshihiko.Qur'an. Al-Faruqi." 6. Al-Mizan fi 'l-Tafsir al-Qur'an. saksi. Abu Ali Al-Fadhl. 1966. "Nazhriyat al-lnsan fi 'l. Izutsu. Muhammad Fuad. Al-Mu'jam al Mufahras Li al-Alfazh al Qur'an al-Karim. 1404. The Covenant in The Koran. Sida: A1-Irfan Bakker. no 9. Qum: Al-Hauza al-Ilmiyah. Surat-surat dalam al-Qur'an mengingatkan manusia pada perjanjian Allah. Al-Thabathabai. Fath al-Qadir Kairo: Mustafa Al-Babi al-Halbi. Muhamad Hussein. 1356. Muhammad bin Ali. Hijazi. Ali. Ismail. Muhammad Mahmud. Al-Thabrasi. pengetahuan tentang halal dan haram. 1968. Man in The Qur'an. Al-Syaukani. God and Man in The Koran." al-Tawhid. 1974. Paris: Albin Michel. Beirut: Dar el-fikr. Al-Bayan ditafsirkan sebagai kemampuan berbicara. terjadi banyak ikhtilaf di kalangan mufassir. Beirut: Dar al-Kutub al-Lubuani. 8. tanda-tanda yang berjanji. ancaman. . daftaer kondisi yang harus dipenuhi pihak kedua. Tentang perjanjian manusia di alam dzarrah ini. jilid 7. Lihat al-Syaukani (1964. The Holy al-Qur'an American Trust Publication.sampai pada pengetahuan tentang rahasia alam semesta serta tabiat segala hal. Yusuf 1977. Al-Tafsir al-Wadhih Kairo: A1-Istiqdal al-Kubra. Dirk. Abd al-Karim Biazar menulis tentang the Covenant in the Qur'an sebagai kunci yang mempersatukan ayat-ayat dalam setiap surat al-Qur'an. Marcel A. Ahd al Karim. DAFTAR KEPUSTAKAAN Abd al Baqi. kemampuan mengembangkan ilmu. Tokyo Keio Institute of Cultural and Linguistic Studies. nikmat Allah. yang terdiri dari pihak pertama (Allah) pihak kedua (Manusia). "Al-lnsan fil Qur'an" dalam Al-A'mal al-Kamilah. Lalu ia menundukkan semuanya untuk berbakti memenuhi kehendak manusia. Biazar (1366) banyak memberikan contoh-contoh yang menarik. tahun 2. 5:131).

1966. Chicago: Bibliotheca Islamica Subhani. (021) 7507174 Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota Please direct any suggestion to Media Team Artikel Yayasan Paramadina Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota II. 1977. memeliharanya dan menjaganya sehingga segala makhluk itu menjalani kehidupannya masing-masing dengan baik dan melakukan fungsinya masing-masing dengan tertib. Maktabah Wahbah Rahman. and Man. The Concept of Man in Islam in the writings of Al Ghazali. Islamic Studies. Ali Issa. Hukum Allah meliputi segenap makhluk (alam semesta). Tanpa tahun. Mutahhari. Murtadha. ------. [1] Melalui suatu pengamatan yang cermat atas segala alam sekitar kita. VI: 1. Qum: Antara lain Khayyam. 7501983. 7507173 Fax. Metro Pondok Indah Pondok Indah Plaza I Kav. -------------------------------------------Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah Editor: Budhy Munawar-Rachman Penerbit Yayasan Paramadina Jln. Ali Yafie Hukum yang diperkenalkan al-Qur'an bukanlah sesuatu yang berdiri sendiri. dapat disaksikan betapa teraturnya alam raya ini. Ma'alim al-Tawhid fi 'l-Qur'an al-Karim. Fazlur. Leahy.------. (021) 7501969. Jakarta: Gramedia. Al-Khashaish al-Amimah li 'l-Islam. 1965. Akidah tentang Allah yang menciptakan alam semesta. The Qur'anic Concept of God. mengaturnya. ------. 1986. 1400. Betapa teraturnya gerakan bintang-bintang pada garis edarnya . 1960. Louis. Kairo: Dar al-Maaref Qardhawi. Al-Iman wa 'l-Hayat. 1973. KONSEP-KONSEP HUKUM (1/3) oleh KH. Manusia: Sebuah Misteri.8. Ja'far. Al-Insan wa 'l-Iman Teheran: Muassasah al-Bi'tsah. tapi merupakan bagian integral dari akidah. UA 20-21 Jakarta Selatan Telp. Bandung: Mizan. 1986. Maktabah Wahbah. March 1967. ------. Manusia dan Agama. Othman. Yusuf. Montreal: McGill University Press. 1980. the universe. Major Themes of the Qur'an. Ethico Religious Concepts in the Qur'an.

kode genetik. menalar. [7] Petunjuk-petunjuk al-Qur'an yang mengarahkan manusia untuk berfikir. lebih mengesankan lagi. pencernaan dan tugas-tugas lain yang tidak terbilang banyaknya. Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan) Kami segenap ufuk dan pada diri mereka sendiri. Ilmu pengetahuan mengungkapkan. tubuh manusia terdiri dari 50 juta sel.. (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang Engkau menciptakan langit dan bumi (seraya berkata) ya Tuhan kami. mengomentari ayat-ayat ini dengan sabdanya. hukum konservasi. Maha Suci Engkau. dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal. Tanpa kita sadari. Sedangkan ketangguhannya menunjukkan staminanya. tekanan darah kita. [4] . memberikan informasi yang jelas pada kita betapa alam raya ini mulai dari bagian-bagiannya yang terkecil seperti partikel-partikel dalam inti atom yang sukar dibayangkan kecilnya. sangatlah jelas dan berulang-ulang kali disampaikan dalam sekian banyaknya ayat-ayat al-Qur'an. sehingga jelaslah bagi mereka bakwa al-Qur'an itu adalah benar. Tidaklah bermanfaat tanda kekuasaan Allah dan Rasul-rasul yang memberi peringatan bagi orang-orang yang tidak beriman.. meneliti. mengamati dan meneliti sebagaimana disinggung di atas yang sifatnya global.. Bumi tempat kita hidup yang berputar pada sumbunya dan beredar pada orbitnya di sekeliling matahari dalam jangka waktu tertentu dan pasti menyebabkan silih bergantinya siang dan malam dan bertukarnya satu musim ke musim lain secara teratur. Prestasi atletik seringkali memperlihatkan tenaga tubuh yang bersifat melar. tubuh mengatur suhu badan kita. seperti hukum proporsi. [3] Pesan untuk mengamati. hukum gravitasi.. Tubuh manusia jauh lebih rumit dan menakjubkan daripada pesawat komputer. Celakalah orang yang membaca ayat ini lalu tidak berfikir. hukum gerak. dapat kita renungkan salah satu ayat al-Qur'an yang berbunyi. Pusat pengatur tubuh.masing-masing. Penemuan hukum-hukum alam (natuurwet) sebagaimana disinggung di atas. sampai kepada galaksi-galaksi yang tak terbayangkan besar dan luasnya. maka peliharalah kami dari siksaan neraka.. [2] Dalam hubungan ini. Dan apakah mereka tidak memperhatikan kekuasaan langit dan bumi dan segala sesuatu yang diciptakan Allah . Katakanlah! Perhatikanlah apa yang ada di langit dan di bumi. jumlah panjang jaringan pembuluh darahnya sampai 100 ribu kilometer dan lebih dari 500 macam proses kimiawi terjadi di dalam hati. Dan yang lebih dekat kita renungkan ialah keadaan tubuh jasmani kita sendiri. memikirkan dan mempelajari alam semesta. hukum Pascal. hukum reproduksi dan embriologi. Misalnya . Meskipun demikian fungsi-fungsi tubuh yang tidak tampak. [6] Rasulullah saw.Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi. hukum relativitas.. semuanya bergerak menurut ketentuan-ketentuan hukum alam yang mengaturnya. yakni otak memiliki kemampuan merekam dan menyimpan lebih banyak informasi dibandingkan dengan pesawat apapun. tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia. dilengkapi dengan petunjuk-petunjuk lain yang bersifat detail dimana terbayang isyarat-isyarat yang mengacu pada pokok-pokok ilmu pengetahuan tentang alam dan hukum-hukum yang berlaku atasnya. Lewat ilmu pengetahuan alam kita diperkenalkan dengan hukum-hukum fisika dan kimia serta biologi. [5] .

untuk terjun menggali ilmu pengetahuan yang luas dan khazanah ilmiah bangsa-bangsa Yunani. [9] Kedua ayat ini cukup jelas isyarat-isyaratnya yang dapat ditangkap ilmu astronomi. dan sekali-kali tidak (pula) akan menemni penyimpangan dari sunnatullah itu. Adanya sejumlah ketentuan yang pasti dan berlaku sebagai hukum yang mengatur segala makhluk di alam raya ini. al-Ghazali dan serentetan nama besar yang tidak asing bagi dunia ilmu pengetahuan di Timur dan di Barat. air. [10] Dalam terminologi teologis hal semacam itu termasuk dalam kategori qadar dan qadla. di dalam bahasa al-Qur'an kadangkala disebut sunnatullah. Benda-benda yang ada disekeliling kita. Maka sekali-kali kamu tidak akan mendapat pergantian bagi sunnatullah itu.Dan matahari itu berjalan di tempatnya. [12] Kata bi qadar (dengan qadar) di sini ditafsirkan. [11] Penjelasan lebih jauh tentang qadar itu dapat kita simak dari beberapa ayat.. Kehadiran ayat-ayat yang mengandung isyarat-isyarat yang mengacu pada pengungkapan misteri alam. sehingga menghasilkan ilmuwan-ilmuwan besar seperti Ibn Sina. Parsi. kilat. Tidaklah mungkin bagi matahari mencapai bulan dan malampun tidak dapat mendahului siang. namun istilah ini lebih mendominasi hal-hal yang bersangkut paut dengan perilaku manusia. mendorong minat dan membangkitkan semangat kaum Muslim angkatan-angkatan pertama --yang dapat menghayati ayat-ayat al-Qur'an ini-. dan tentang manusia sendiri dan kejadiannya serta segala macam permasalahannya. dan sering kali --secara kurang hati-hati-. Upaya pengamatan. Dan masing-masing di dalam orbitnya pada beredar. Dan telah Kami tetapkan bagi bulan manzilah-manzilah perjalanan sehingga (setelah ia sampai ke manzilah terakhir) kembalilah ia sebagai bentuk tandan yang tua. Isyarat yang ada dibalik kalimat ini dapat ditangkap lebih jelas dengan bantuan ilmu fisika yang membahas tentang materi dan unsur. Salah satu ayatnya mengatakan. telah mengungkapkan banyak penemuan yang memperkenalkan kepada kita hukum-hukum yang berlaku dengan pasti atas alam ini.ayat yang berbunyi. menurut ukuran. Allah tidak menciptakan yang demikian itu melainkan dengan hak. Dialah yang menjadikan matahari bersinar dan bulan bercahaya.dianggap identik dengan determinisme. al-Farabi. biasanya dalam bahasa ilmu-pengetahuan disebut natuurwet atau hukum alam. Ayat yang secara jelas merangkaikan sunnatullah itu dengan qadar. tumbuh-tumbuhan.. Sesungguhaya Kami menciptakan segala sesuatu dengan qadar. Ibn Rusyd.. berbunyi . penelitian dan penalaran lewat ilmu-ilmu yang mempelajari perilaku dan sifat-sifat makhluk-makhluk. dan adalah ketetapan Allah itu suatu qadar yang pasti berlaku. Dia menguraikan tanda-tanda (kekuasaannya) kepada orang-orang yang mengetahui (berilmu)" [8] . Demikian pula halnya dengan ilmu-ilmu lain yang dapat menangkap isyarat-isyarat berbagai ayat al-Qur'an yang berbicara tentang hewan. baik berupa benda mati maupun makhluk hidup. Romawi. India dan Cina di bidang pengetahuan filsafat dan alam. yang merupakan ..(Allah telah menetaphan yang demikian) sebagai sunnatullah pada mereka yang telah berlaku dahulu. itulah ketentuan dari Yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui. dan ditetapkan manzilah-manzilah (mansion) bagi peredarannya supaya kalian mengetahui bilangan tahun-tahun dan perhitungannya. diantaranya. awan.

unsur Hg (air raksa). Unsur-unsur yang tergabung dalam suatu senyawa selalu mempunyai proporsi tertentu. Sebahagian besar dari materi-materi yang kita kenal terdiri dari unsur-unsur. emas.". Tergabungnya dua unsur atau lebih melalui pola persenyawaan atau pola percampuran membentuk suatu materi tertentu. hewan.. seng. jumlah protonnya 79. Misalnya unsur oksigen bergabung dengan hidrogen membentuk senyawa cair. mengikuti suatu aturan yang dikenal hakam proporsi yang sudah tertentu. dan seterusnya. 7501983. unsur Cu (tembaga). jumlah protonnya 26.. semuanya itu termasuk dalam kategori materi. jumlah protonnya 78. air dan sebagainya. jumlah protonnya 29. dapat pula kita temui dari informasi ilmu kimia yang membahas unsur-unsur itu. Juga untuk menemukan sunnatullah atau hukum-hukum kauniyah yang akan menopang tegaknya hukum-hukum syar'iyyah. dan disebut air. Misalnya. unsur Fe (besi). Dalam hubungan ini dapat kita hayati ungkapan sebuah ayat yang berbunyi. (021) 7507174 Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan . Mungkin itulah yang disindir Imam Ghazali dengan ungkapannya:.(bersambung 2/3) Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah Editor: Budhy Munawar-Rachman Penerbit Yayasan Paramadina Jln. unsur Pt (platina). Dan Dia (Allah) telah menciptakan segala sesuatu dan Dia-lah yang menetapkan qadar/ukurannya secara pasti serapi-rapinya. unsur Ni (nikel). jumlah proton yang terkandung di dalamnya 13. tumbuh-tumbuhan. Padahal ayat-ayat yang berbicara tentang qudrat-iradat Allah/kekuasaan dan keagungan Allah. demikian pula dengan proporsi nitrogen dan hidrogen dalam amoniak. Semuanya ini merupakan bagian dari hukum yang mengatur dan memelihara alam semesta. . [13] Secara sepintas dari dua informasi yang disajikan di atas. memperlihatkan kepada kita adanya kadar ukuran tertentu yang menjadi ketentuan-ketentuan yang pasti yang dapat diamati dalam diri setiap makhluk. jumlah protonnya 47.bahan-bahan kebutuhan dalam hidup kita seperti kayu. UA 20-21 Jakarta Selatan Telp. besi. perak. jumlah protonnya 80. Air murni selalu mempunyai proporsi oksigen dan hidrogen yang sudah tertentu dan tetap. jumlah protonnya 28. unsur Au (emas). tulisan tanpa aksara dan bunyi itu pasti tidak dapat diraih dengan mata telanjang. unsur Ag (perak). mereka tidak mampu membaca tulisan Ilahi yang tergurat di atas lembaran-lembaran alam semesta. (021) 7501969. [14] Pembahasan teologis dalam bidang qada dan qadar (masalah takdir) kurang menyentuh apa yang kami singgung di atas. sebagian besar mengaitkan bermacam-macam fenomena alam yang dimintakan perhatian supaya manusia mengamatinya dan melakukan penalarannya untuk dapat membaca tulisan Ilahi yang tersirat di dalamnya. tapi harus dengan mata hati. [15] -------------------------------------------. 7507173 Fax. Isyarat serupa yang kita peroleh dari informasi ilmu fisika sebagaimana disinggung di atas.. Dalam kasus-kasus seperti ini. unsur Al (aluminium). Metro Pondok Indah Pondok Indah Plaza I Kav. unsur-unsur telah bergabung membentuk suatu senyawa.

semuanya itu adalah untuk memperjelas proses terbentuknya suatu hukum dan latar belakang sejarah yang mendorong kehadiran hukum tersebut. semuanya berkaitan dengan peristiwa sejarah yang dialami para Nabi/Rasul dengan umatnya masing-masing. pemakaian kata sunnatullah lebih banyak mengacu pada apa yang disebut oleh ilmu pengetabuan sebagai "hukum sejarah. Apa yang dikenal dalam ilmu hukum dengan historis-interpretasi cukup jelas padanannya dalam ilmu ushul fiqh yang lazim dipakai dalam mengolah hukum Islam. dan sebagainya. sunnata man arsalna qablak. merupakan sebagian dari sunnatullah. asbab al-nuzul. asbab al-wurud dan status makkiyah atau madaniyah dari ayatayat. al-Kahf. Uhud. Haman. KONSEP-KONSEP HUKUM (2/3) oleh KH. Quraisy. aspek kesejarahan mempunyai juga arti penting dalam hukum-hukum syar'iyyah. Selain itu. bahkan dalam al-Qur'an. Jalut. semua itu tidaklah lahir dalam sehari dengan kilatan lampu aladin. al-Fath. dengan adanya hukum nasikh-mansukh. yang memeras golongan lemah. yang hidup bergelimang kemewahan. Saba'. apa faktor-faktor kemenangan dan apa faktor-faktor kegagalan dalam satu perjuangan. yang mengabaikan nilai-nilai moral. al-Ahzab. yang berbicara tentang sunnatullah dengan berbagai formulasi seperti sunnat alawwalin. Fathir. . Hunain. Hijr. yang banyak dicatat dalam al-Qur'an menerjemahkan dengan jelas sunnatullah yang berlaku dalam sejarah. dan seterusnya. dan sebagainya. Tubba'. sunana al-ladzina min qablikum. Hukum yang berlaku sepanjang sejarah kehidupan manusia.8. Sejarah mempunyai hukumnya sendiri dalam hal-hal tersebut di atas. Dari sejarah itu tergambar bagaimana proses kebangkitan suatu umat dan bagaimana proses kehancurannya. tapi merupakan hasil kerja keras yang lama dan berkesinambungan. Ali 'Imran. sebagaimana berlaku natuurwet. dan memenangkan suatu perjuangan besar dalam menegakkan kebenaran dan keadilan serta mewujudkan kesejahteraan yang memberi arti bagi kemanusiaan. tapi juga menjangkau alam nonmateri. Sunnah Rasullullah saw yang menggambarkan perjuangannya selama dua dasawarsa lebih. al-Anfal. Ali Yafie Sunnatullah yang diperkenalkan al-Qur'an sebagaimana diuraikan di atas tidaklah terbatas pada ketentuan-ketentuan yang mengatur alam materi saja. Ahqaf. al-Tsamud. dan lain sebagainya. yang berlaku secara pasti. yang diminta al-Qur'an supaya diamati.ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota Please direct any suggestion to Media Team Artikel Yayasan Paramadina Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota II. Bagaimana pertarungan antara pahlawan-pahlawan kebenaran dan akibat-akibat apa yang dialami para penentang kebenaran yang melakukan kezaliman. Ghafir." Ayat-ayat di dalam surah-surah al-Isra'. Sukses besar berupa keberhasilan membangun dan membina suatu umat teladan. direnungkan dan mengambil pelajaran daripadanya. al-Nisa. Thur. Dalam rangka itu al-Qur'an memperkenalkan tokoh-tokoh sejarah zaman lampau seperti Fir'aun. Demikian pula halnya dengan tempat-tempat bersejarah seperti Badr.

Keduanya mempunyai titik temu dalam hukum sebab-akibat. Hukum sejarah sejalan dengan hukum alam. lalu diluruskan oleh sunnah Rasulullah dalam praktek sebagaimana tercermin dengan jelas dalam cara-cara perjuangan Rasul saw. tapi dalam bentuk kesadaran keimanan yang menjadikan mereka menyadari kewajibannya dan melaksanakan perjuangan dengan gigih tanpa pamrih. Atau dianggapnya hukum tawakkal bertentangan dengan hukum sebab-musabab (kausal). Keraguan seperti itu sejak dini telah muncul. tapi tidak mewujudkan janji itu dalam bentuk suatu keajaiban yang langsung turun dari langit. Sikap yang demikian membuktikan bahwa mereka sudah memenuhi janjinya kepada Allah. Siapa yang menolong/membela agama Allah dengan jalan menegakkan keadilan. menyebarkan ketentraman.yang didorong oleh rasa percaya diri dan semangat juang yang tinggi sebagai perwujudan iman dan taqwa. Sebab-sebab keberhasilan dan kemenangan dalam suatu perjuangan dapat dipelajari dari sejarah dan harus dipersiapkan dengan sebaik-baiknya. Dalam hubungan ini Syeikh Mahmud Syaltut mengomentari. Sunnah Rasulullah dalam perjuangan itu mendidik umatnya supaya memahami dan menghayati sunnatullah yang berlaku dalam sejarah. atau karena sudah memeluk agama Allah. yang menandai kehidupan sosial. karena khawatir kalau-kalau upaya berobat untuk menghindarkan penyakit bertentangan dengan iman tauhudnya dan tidak menjadikan ia bertawakkal kepada Allah. Maka dengan adanya perjuangan antara kebenaran dengan kebatilan. yang menempuh segala persyaratan dan mengkaitkan segala sebab dengan musababnya. tapi hanya sebagai alat menciptakan kemakmuran dan untuk menegakkan hukum Allah dalam hal memerintahkan yang ma'ruf dan mencegah yang mungkar. Pesan dan petunjuk yang diberikan al-Qur'an pada manusia. demikian pula sunnah Rasulullah yang memberikan penjelasan praktis pada pesan al-Qur'an itu. tidak menjadikan kekuatan/kekuasaan itu sebagai alat menindas dan merusak. disamping menjelaskan hal itu dalam petunjuk lisannya pada mereka yang segan berobat di kala ia sakit. melihat adanya semacam kontradiksi antara hukum sebab-musabab (hukum kausal) dengan hukum teologis yang disebut tauhid. [16] Ciri utama agama Islam. memantapkan keamanan. ialah ajarannya yang cukup praktis dan realistis menghadapi kenyataan sosial dengan langkah-langkah pemecahan yang praktis pula. mengungkapkan sesungguhnya Allah hanya memenangkan suatu perjuangan sesuai dengan ketentuan sunnahNya yang berlaku atas segenap mahluk-Nya. membimbing kita supaya menyadari keterkaitan segala sesuatu dengan penyebabnya. Lebih lanjut beliau menjelaskan bahwa dalam al-Qur'an banyak ayat memuat janji Allah untuk membantu memenangkan perjuangan orang-orang mukmin. Dan Allah pun mewujudkan janjinya pada mereka. Sebaliknya juga segala penyebab terjadinya suatu kegagalan atau kehancuran harus disadari dan dihindari. Dianggapnya hukum tauhid itu cenderung memberikan cap syirik (mempersekutukan Allah) jika seseorang menganggap ada penyebab (faktor penentu) selain Allah. hanya karena mereka sudah mengaku beriman/percaya kepada Allah. atau hukum moral yang disebut tawakkal. Dalam hubungan . ayat-ayat yang berbicara tentang perjuangan Rasulullah. maka keharusan memenuhi segala persyaratan-persyaratan itu adalah suatu hal yang mutlak. Ada sebagian pendapat yang kurang memahami sunnatullah dalam bentuk hukum alam dan hukum sejarah. sebagai syarat bagi terjadinya.

hukum itu hanya sekedar mengurus dan mengatur hubungan antar sesama manusia. bersabda. Tata hubungan manusia dalam kehidupan berkeluarga dalam suatu lingkungan rumah tangga. Maka janganlah kalian mengikuti hawa nafsumu. Kepatuhan mentaati hukum menjadi kepatuhan yang semu dan bersifat lahiriah belaka. [18] Imam Ghazali menjelaskan. sebab-musabab itu adalah sunnatullah dan penyimpangan dari sunnatullah bukanlah persyaratan dalam tawakkal bahkan ada kalanya merupakan kebodohan yang dicela agama. [20] Itulah pesan al-Qur'an. Selain itu. yakni bidang 'ibadat. diatur dalam hukum mu'amalat. diatur secara pasti. kaya maupun miskin. karena sesungguhnya Allah menciptakan penyakit dan menciptakan juga obat. Allah jualah yang lebih tabu keadaannya. Di sini pula tampak titik awal perbedaan antara pemahaman hukum menurut ilmu hukum dengan hukum Islam yang bersumber dari al-Qur'an. hanya diarahkan supaya tidak melanggar rambu-rambu hukum. Hubungan manusia sebagai makhluk dengan Khaliqnya (Allah) diatur penataannya melalui hukum ibadat. Dalam penegakkan hukum menurut ajaran al-Qur'an selalu ditekankan suatu pesan sebagai berikut. Itu (pengobatan) adalah sebahagian dari qadar Allah. bidang munakahat dan bidang jinayat. apakah itu bertentangan dengan qadar (taqdir)? Lalu Beliau menjawab.itu Nabi saw. Pembinaan hukum di sini tidak diarahkan kepada pembinaan diri manusianya. hukum itu terdiri dari suruhan/perintah dan larangan serta hak dan kewajiban. diatur melalui hukum jinayat. Apa yang dimaksud dengan nilai moral dan akhlak tidaklah tergolong hukum. . biarpun terhadap dirimu sendiri atau ibu bapak dan keluarga kerabatmu. menjadi saksi karena Allah. Ibadat tidak lain adalah perwujudan dari akidah yang diimani. supaya kalian tidak menyimpang (dari kebenaran). Wahai orang-orang yang berilmu! jadilah kalian orang yang benar-benar penegak keadilan. Dengan demikian tidaklah mengherankan akibatnya dalam rangka pembinaan hukum. Menurut ilmu hukum. Sebaliknya hukum menurut ajaran al-Qur'an penegakkannya berjalan sekaligus dengan penabinaan moral dan akhlak yang bersumber dari akidah/keimanan. Dan jika kalian memutarbalikkan (kebenaran) atau enggan menjadi saksi. bidang mu'amalat. masih ada perbedaan asasi antara kedua jenis hukum itu. Menurut ilmu hukum. keamanan serta kesejahteraannya yang ditegakkan oleh pemegang kekuasaan umum atau badan peradilan. Karena itu penegakkan hukum menurut ilmu hukum selama tidak diawasi dan diketahui pejabat/aparat hukum selalu terjadi pelanggaran hukum. [l7] Dalam sabdanya yang lain. Hubungan antara makhluk (manusia) dengan Al-Khaliq. Bertobatlah kalian. ketika Beliau ditanya tentang pengobatan. Adanya hukum-ibadat dalam batang tubuh hukum Islam yang bersumber dari al-Qur'an itu merupakan ciri utama hukum Islam. Tata hubungan antara manusia dengan sesamanya dalam lalulintas pergaulan dan hubungan sehari-hari untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Maka sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala apa yang kalian lakukan. Adanya hukum niat yang diberi peran menentukan nilai perilaku manusia. Di luar itu tidak diperlukan hukum. memperlihatkan dengan jelas peran moral dalam hukum itu. dan terakhir tata hubungan keselamatan. Di sinilah terlihat secara nyata keterkaitan hukum itu dengan akidah/keimanan. diatur melalui hukum munakahat. [39] Penjabaran yang merinci hukum-hukum al-Qur'an yang dilakukan fiqh memperlihatkan adanya empat bidang utama yang menjadi sasaran dari hukum itu. Demikian ulasan al-Ghazali dalam Kitab Tawhid dan Tawakkal.

Dan janganlah sebagian dari kalian memakan harta benda sebagian yang lain dengan jalan batil dan jangan pula mempergunakan harta itu sebagai umpan (guna menyuap) para hakim. sebagaimana terpadunya antara aqidah/keimanan dan moral/ahklak. Maka barang siapa menerima putusan perkara (yang ia sendiri tahu) bahwa itu hak saudaranya (lawannya dalam perkara) maka janganlah ia mengambil (hak) itu. 7501983. supaya kalian dapat memakan sebahagian harta benda orang lain itu dengan (jalan berbuat) dosa. Mungkin sebahagian dari kalian lebih mampu dari yang lain (lawannya) mengemukakan alasan-alasan untuk memperkuat tuntutannya.bagaimana seyogyanya seorang berbuat adil. melalui jalur ilmu. (021) 7501969. sunnah Rasulullah memperjelas sebagai berikut. lalu aku memutus perkara itu atas dasar apa yang saya dengar (dari alasan/keterangan) itu. maka hukum dari ajaran al-Qur'an itu mempunyai kekuatan sendiri yang tidak sepenuhnya tergantung pada adanya suatu kekuasaan sebagai kekuatan pemaksa dari luar hukum itu. KONSEP-KONSEP HUKUM (3/3) oleh KH. Ide hukum yang diajarkan al-Qur'an berkembang terus dari kurun ke kurun. dengan hukum dalam rumusan yang diajarkan al-Qur'an. secara dini al-Qur'an memperingatkan. UA 20-21 Jakarta Selatan Telp. (021) 7507174 Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota Please direct any suggestion to Media Team Artikel Yayasan Paramadina Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota II. Sesungguhnya kalian mengajukan perkara-perkara kepadaku (untuk diputus). [2l] Dalam hubungan adanya kemungkinan seseorang berlaku memperdayakan hakim. Karena sesungguhnya ia hanya mengambil (menerima dariku) sepotong api neraka. Dengan sifatnya yang demikian itu. Seandainya hukum yang diajarkan al-Qur'an itu tergantung . Di dalamnya terpadu antara sunnatullah dengan sunnah Rasulullah. Kemungkinan seorang pencari keadilan berlaku memperdaya hakim. Tidak dituntut dari dan terhadap orang lain saja. Demikian sabda Rasulullah.(bersambung 3/3) Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah Editor: Budhy Munawar-Rachman Penerbit Yayasan Paramadina Jln. Metro Pondok Indah Pondok Indah Plaza I Kav. yang pertama ialah dari dan terhadap dirinya sendiri. Ali Yafie Dengan demikian maka jelaslah. al-Qur'an memperkenalkan satu konsepsi hukum yang bersifat integral. [22] -------------------------------------------. padahal kalian mengetahui. atau adanya aparat hukum yang menyalahgunakan kedudukannya. 7507173 Fax.8.

Disamping itu. sekali pun harus mengalami pasang surut dan pasang naik dan penerapannya. sebagai ilmu. perkembangan ilmu pengetahuan yang sangat pesat. adanya berbagai madrasah dan madzhab di dalamnya menunjukkan. sehingga perundang-undangan ini dapat memenuhi kebutuhan hidup modern. Sebagai contoh dapat kita lihat dari hasil Kongres Ahli-ahli Hukum Internasional yang berlangsung di London (2-7 Juli 1951) yang antara lain menetapkan. perkembangan segi fiqhnya yang merumuskan hukum sosial kemasyarakatan itu. yang tidak lain wujud nyatanya dan terinci adalah fiqh (hukum Islam) itu sendiri. wawasan hukum yang diperkenalkan al-Qur'an. Hukum yang diperkenalkan al-Qur'an hidup terus. Seginya yang menyangkut hukum sosial kemasyarakatan (ahkam syar'iyah 'amaliyah/fiqh) lebih banyak mendominasi perkembangan itu. Tapi ternyata hukum Islam dari ajaran al-Qur'an itu dapat memperlihatkan daya tahannya yang ampuh. maka sudah lama jenis hukum ini terkubur dalam perut sejarah atau sekurang-kurangnya menjadi barang pajangan di lemari-lemari museum. perundang-undangan Islam kaya dengan berbagai teori hukum dan teknik hukum yang indah. Terakhir kita mendengar selesainya upaya kompilasi Hukum Islam yang dilakukan Mahkamah Agung bersama Departemen Agama. Di lain pihak.pada suatu kekuasaan. pembangunan dan pembinaan hukum nasional diarahkan kepada pembaharuan hukum yang sesuai dengan kesadaran hukum yang berkembang dalam masyarakat. Karena kita semua cukup mengetahui betapa hebat upaya dari kekuasaan-kekuasaan yang mampu menaklukkan wilayah-wilayah Islam dan umatnya disertai upaya melikwidasi budaya dan hukumnya. Sebagai kelanjutan dari pokok pikiran ini. Tetapi bagaimana pun juga. Namun harus diakui. Maka Fiqh ini dijadikan agenda tetap dalam pengkajian-pengkajian mereka di bidang hukum. Selain itu. sangat berjasa dalam menumbuhkan kesadaran hukum dan sikap normatif dalam kehidupan umat Islam. kurang mendapat perhatian dalam pengembangannya. pelaksanaan dan pengembangan wawasan hukum yang diperkenalkan al-Qur'an itu merupakan tantangan bagi para ulama dan para . dengan hukum-hukumnya yang menyangkut sunnatullah yang berupa hukum alam dan hukum sejarah. dari kongres ke kongres mulai terbuka pandangan terhadap Islam. karena memang demikianlah hukum sejarah dalam sunnatullah sendiri. [23] Dalam rangka pembangunan hukum di negara kita Republik Indonesia. yang sangat mendominasi bangsa-bangsa Barat. Dan seginya yang menyangkut sunatullah berupa hukum alam dan sejarah. yakni keseimbangan dan keterpaduan dalam hal pemahaman. sejak 1978 sampai dengan 1983 telah dilaksanakan pengkajian hukum yang meliputi antara lain Hukum Islam. Salah satu gejala dari perkembangan tersebut adalah minat para ilmuwan Barat untuk mempelajari Islam/Qur'an. penerapannya ternyata juga kurang terpadu antara hukum-hukumnya yang menyangkut segi sosial kemasyarakatan. pokok-pokok hukum (undang-undang) yang terdapat dalam agama Islam merupakan undang-undang yang bernilai tinggi dan sulit dibantah kebenarannya. Ia tetap bertahan bahkan berkembang dalam bentuk baru melalui proses taqnin (dirumuskan menjadi positif melalui yurisprudensi dan adakalanya melalui berbagai bentuk perundang-undangan). perkembangan segi-seginya tidaklah seimbang. Dalam rangka itu para ahli hukum dari mereka. Dua hal yang disinggung terakhir ini. yang terjadi di negara-negara maju dapat pula mencari pandangan yang negatif terhadap Islam dan al-Qur'an.

Syaltut. 2) QS. 19) QS. al-Furqan:2 22) Ihya 'Ulum al-Din. Human Body. Al-Ra'd:15. 14 Tahun 1970 tentang Ketentuan Pokok Kekuasaan Kehakiman 8) QS. 'Ali 'Imran. (021) 7501969. I/440. Metro Pondok Indah Pondok Indah Plaza I Kav. Grolier Internasional Inc. h. Fathir :43. Penjelasan Umum. al-Qamar:49.cendekiawan Muslim. Yunus:15. 7501983. 4) QS. 20) Ilmu Pengetahuan Populer. al-Ahzab:38. al-Maidah:42 5) QS. al-A'raf:87. 3) QS. 21) QS. 15) QS. dan lain-lain. 18) QS.272. -------------------------------------------Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah Editor: Budhy Munawar-Rachman Penerbit Yayasan Paramadina Jln. 11) QS. 13) QS. (021) 7507174 Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan . 9) Jonathan Rutland. 10) QS. al-Maidah:43. CATATAN 1) QS. al-A'raf: 185. 16) QS. 12) QS. IV/146. 23) Min Taujuhat al-Islam. 6) UUD 1945. 14) Taisir Ibn' Katsir. 'Ali 'Imran:190/191. LV/89. al-Ghazali. Hud:45. 17) QS. Yasln:38/40.83. 7) UU No. 7507173 Fax. Yunus:101. al-Mumtahanah:10. al-Maidah:8. al-Nisa':68. UA 20-21 Jakarta Selatan Telp. Fusshilat:53.

selama langit dan bumi masih ada kecuali jika Tuharmu menghendaki hal berbeda.10. sebagai anugerah yang tiada batasnya. Sebab Tuhanmu pasti melaksanakan apa saja yang menjadi kehendak-Nya.namun semuanya menunjukkan adanya keyakinan yang pasti tentang pengalaman kebahagiaan atau kesengsaraan dalam hidup manusia. Ada pun mereka yang sengsara. Kebahagiaan atau kesengsaraan itu dapat terjadi hanya di dunia ini saja seperti dalam Marxisme. maka tiada seorang pun akan berbicara kecuali dengan izin-Nya Mereka manusia akan terbagi menjadi dua. yang sengsara dan yang bahagia. Semua ajaran. maka akan berada dalam surga. selama langit dan bumi masih ada. kesengsaraan) dan yang bahagia (sa'id. Al-Qur'an melukiskan keadaan itu demikian. yakni. penyandang sa'adah. Gambaran tentang wujud kebahagiaan atau kesengsaraan itu sangat beranekaragam. yakni kebahagiaan). Sebab tujuan hidup manusia tak lain ialah memperoleh kebahagiaan dan menghindari kesengsaraan. KONSEP-KONSEP KEBAHAGIAAN DAN KESENGSARAAN (1/4) oleh Nurcholish Madjid Masalah kebahagiaan (sa'adah) dan kesengsaraan (syaqawah) adalah masalah kemanusiaan yang paling hakiki. patut kita bahas secara sungguh-sungguh. Ada pun mereka yang bahagia. atau di akhirat saja seperti dalam agama-agama other-wordly. Kitab Suci al-Qur'an menyajikan banyak ilustrasi dan penegasan yang kuat tentang kebahagiaan dan kesengsaraan Dalam sebuah firman disebutkan tentang terbaginya manusia ke dalam dua kelompok: yang sengsara (syaqiy penyandang syaqawah. Kekal abadi di dalamnya. kekal abadi di dalamnya. maka akan tinggal dalam neraka di sana mereka akan berkeluh kesah semata. Namun semua ajaran dan ideologi selalu menegaskan bahwa kebahagiaan yang dijanjikannya atau kesengsaraan yang diancamkannya adalah jenis yang paling sejati dan abadi. gambaran tentang wujud kebahagiaan dan kesengsaraan itu dinyatakan dalam konsep-konsep tentang kehidupan di surga dan di neraka. baik yang bersifat keagamaan maupun yang bersifat keduniaan semata (seperti Marxisme. atau di dunia dan akhirat seperti dalam Islam. .ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota Please direct any suggestion to Media Team Artikel Yayasan Paramadina Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota II. Meskipun ilustrasi tentang surga dan neraka itu berbeda-beda --dalam banyak hal perbedaan itu sangat radikal dan prinsipil-. misalnya) menjanjikan kebahagiaan bagi para pengikutnya dan mengancam para penentangnya dengan kesengsaraan. Dalam agama-agama. Hud/11:105-108) Munculnya persoalan pengertian kebahagiaan dan kesengsaraan ini dalam Islam. kecuali jika Tuhanmu menghendaki hal berbeda. (QS. Jika Hari (Kiamat) itu telah tiba.

Itu berarti memperoleh kebahagiaan akhirat belum tentu dan tidak dengan sendirinya memperoleh kebahagiaan di dunia. orang yang mengalami kebahagiaan duniawi belum tentu akan mendapatkan kebahagiaan di akhirat. Ateisme dengan sendirinya mengingkari kehidupan sesudah mati atau akhirat. Maka manusia didorong mengejar kedua bentuk kebahagiaan itu. namun dirasa perlu kita mulai membahasnya mengingat perkembangan keagamaan di negeri kita yang pesat dengan tuntutan-tuntutannya yang terus meningkat. Ini akan banyak menyangkut konsep-konsep kefilsafatan dan kesufian yang cukup rumit. seseorang dianjurkan mengejar kebahagiaan di akhirat. KEBAHAGIAAN DAN KESENGSARAAN: JASMANI DAN ROHANI? Di atas telah disinggung. Bagi agama-agama itu. yaitu. serta berusaha menghindar dari penderitaan azab lahir dan batin (QS. bukan fase peralihan seperti diyakini agama-agama (Lihat QS. dan kematian adalah fase final hidup manusia. sesuai dengan sebaik-baik apa yang telah mereka kerjakan (QS. Demikian itu masalah kebahagiaan. merupakan bagian dari dialog Islam sejak masa klasik. Islam mengajarkan kebahagiaan dan kesengsaraan jasmani dan rohani atau duniawi dan ukhrawi. atau pengalaman jasmani semata. karena sifatnya yang membelenggu sukma manusia. Walaupun begitu. tentu saja. kehidupan jasmani adalah kesengsaraan. namun tetap membedakan keduanya.disebabkan adanya perbedaan interpretasi atas ayat-ayat suci yang menggambarkan kebahagiaan dan kesengsaraan itu. banyak pula dijanjikan kehidupan yang bahagia sekaligus di dunia ini dan di akhirat kelak untuk mereka yang beriman dan berbuat baik. al-Nahl/16:97). dan pastilah akan Kami ganjarkan kepada mereka pahala mereka (di akhirat). Marxisme. mengajarkan tentang adanya kebahagiaan atau kesengsaraan yang hanya bersifat jasmani. demikian pula masalah . Kehidupan yang bahagia di dunia menjadi semacam pendahuluan bagi kehidupan yang lebih bahagia di akhirat. Dalam Islam. Sebaliknya. namun diingatkan agar jangan melupakan nasibnya dalam hidup di dunia ini (Lihat QS. dan dia itu beriman maka pastilah akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik (di dunia). apakah berupa pengalaman kerohanian semata. semua itu berlangsung hanya dalam hidup di dunia ini saja. dalam orientasi hidup yang mengarah ke kehidupan rohani saja. al-Baqarah/2:200). yang hanya mempercayai kehidupan duniawi ini saja. Kebahagiaan hanya diperoleh dengan tindakan dan perilaku meninggalkan dunia. Dalam tulisan ini kita akan membicarakan konsep kebahagiaan dan kesengsaraan sebagai pengalaman keagamaan (pribadi). dari kalangan pria maupun wanita. Kaum Marxis yang ateis ini mirip dengan gambaran dalam al-Qur'an tentang golongan manusia pemuja waktu (al-Dahr). ataukah pengalaman rohani dan jasmani sekaligus. Barangsiapa berbuat baik. Perselisihan tentang wujud kebahagiaan atau kesengsaraan itu. dan dengan sendirinya. sebagian agama mengajarkan adanya kebahagiaan dan kesengsaraan rohani semata. al-Jatsiyah/45:24). al-Qashash/28:77).

Tapi memang ada dan banyak. Dalam kemungkinan tinjauan yang lebih menyeluruh. dapat dipercaya. Beberapa nilai akhlak luhur seperti jujur. yang melahirkan piramida eksistensial. yang dikaitkan dengan "kebijaksanaan" Tuhan sebagai yang Maha Kasih-Sayang dan Maha Adil. Kemudian ada beberapa keterangan. Ciri tersebut akan membawa mereka pada kebahagiaan duniawi dan ukhrawi sekaligus. the . dengan kebahagiaan di akhirat yang jauh lebih besar. tepat janji. Adapun orang-orang yang jahat. yang dahulu kamu dustakan. dan lain-lain adalah pekerti-pekerti yang dipujikan Allah sebagai ciri-ciri kaum beriman. Sebab hampir seluruh keterangan dan pelukisan tentang surga dan neraka dalam Kitab dan Sunnah menggambarkan tentang pengalaman kebahagiaan atau kesengsaraan yang serba fisik. maka tempat mereka adalah neraka. baik dari al-Qur'an maupun Sunnnah. cinta kerja keras. Orang yang ingkar kepada kebenaran dan berbuat jahat diancam baginya kesengsaraan dalam hidup di dunia ini sebelum kesengsaraan yang lebih besar kelak di akhirat. baik dalam Kitab maupun Sunnah yang memberi isyarat bahwa pengalaman kebahagiaan dan kesengsaraan itu tidak fisik. hemat. manusia dengan kaum khawas (al-khawash atau orang-orang khusus. Ibn Rusyd mengaitkan perkara ini dengan kenyataan terbaginya manusia dalam susunan tinggi dan rendah. al-Sajdah/32:20-21) Penegasan-penegasan ini tidak perlu dipertentangkan dengan penegasan-penegasan terdahulu di atas bahwa ada perbedaan antara kebahagiaan duniawi dan kebahagiaan ukhrawi. khususnya keterangan atau pelukisan tentang surga dan neraka Yaitu perbedaan antara mereka yang memahami teks-teks suci secara harfiah dan mereka yang melakukan interpretasi metaforis (ta'wil) Bagi mereka yang memahami teks-teks suci itu secara harfiah. dan bahwa tidak selamanya mengejar salah satu akan dengan sendirinya menghasilkan yang lain. Setiap kali mereka hendak keluar dari sana. (QS. dan harus dipahami dalam konteks adres pembicaraan (al-mukhathab). MASALAH INTERPRETASI Meskipun para ulama sepakat tentang adanya kebahagiaan dan kesengsaraan dunia-akhirat itu. maka pelukisan kebahagiaan dan kesengsaraan apa pun harus diterima sebagai sesuatu yang wujudi atau eksistensial. mereka tetap berselisih tentang kebahagiaan dan kesengsaraan yang sejati dan abadi Pangkal perbedaan itu ialah adanya perbedaan dalam tafsiran atas berbagai keterangan suci tentang kebahagiaan dan kesengsaraan." Dan pastilah Kami (Tuhan) buat mereka merasakan azab yang lebih ringan (di dunia ini) sebelum azab yang lebih besar (di akhirat nanti) agar kiranya mereka mau kembali. perilaku lahir dan batin manusia yang membawa akibat pada adanya pengalaman kebahagiaan atau kesengsaruan duniawi dan ukhrawi sekaligus. mereka dikembalikan ke dalamnya. melainkan rohani atau sekurang-kurangnya psikologis. tabah. pengertian tentang kebahagiaan dan kesengsaraan akan cenderung bersifat fisik. sambil dikatakan kepada mereka: "Sekarang rasakanlah azab neraka ini.kesengsaraan. berkesungguhan dalam mencapai hasil kerja sebaik-baiknya (itqan). tulus.

Kaum awam ini membentuk bagian terbesar struktur piramidal masyarakat manusia. Pemahaman me lalui metode i'tibar adalah interpretasi alegoris atau ta'wil. namun dalam pandangan Ibn Rusyd tidaklah terhindarkan karena kenyataan dalam masyarakat menunjukkan adanya orang-orang tertentu yang jumlahnya tidak banyak. menurut Ibn Rusyd wajib melakukan pemahaman serupa itu. (021) 7501969. Meskipun pendekatan ini mengesankan elitisme. yang sanggup memahami kebenarankebenaran hakiki lewat alegori-alegori dengan melakukan "penyeberangan" (al-i'tibar) ke pengertian-pengertian sebenarnya di balik alegori-alegori.specials) menempati puncak piramida itu. Mereka ini wajib menerima pelukisan tentang surga dan neraka apa adanya. dan kaum awam (al-awam orang-orang umum atau kebanyakan.(bersambung 2/4) Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah Editor: Budhy Munawar-Rachman Penerbit Yayasan Paramadina Jln. Tapi Tuhan Yang Maha Adil dan Maha Kasih-Sayang kepada sekalian umat manusia tentu mustahil mengalamatkan sabda-Nya hanya kepada orang-orang khusus yang jumlahnya sedikit itu. Karena itu. adalah metafor-metafor atau makna-makna kiasan (majaz). jika mendapatkan bahwa pengertian harfiah pelukisan itu adalah mustahil atau absurd. Fashl al-Maqa]). Karena yang pokok ialah iman kepada Allah serta berbuat baik. Mereka yang mampu memahaminya dengan melakukan al-i'tibar. maka pengertian tentang hakikat kebahagiaan dan kesengsaraan itu menjadi kurang relevan bagi kaum awam. the commons) menempati bagian-bagian bawah sampai ke dasar piramida. karena memang pelukisan yang bersifat fisik itulah yang dapat ditangkap dan dipahami umum. Sebab dengan demikian berarti Tuhan menjanjikan kebahagiaan hanya kepada kelompok kecil manusia saja. sesuai dan setingkat dengan cara berfikir serta kemampuan mereka menangkap pesan dan memahami masalah. seluruh keterangan tentang kebahagiaan dan kesengsaraan. pelukisan tentang kebahagiaan dan kesengsaraan dalam Kitab Suci dan Sunnah Nabi kebanyakan bersifat fisik. UA 20-21 Jakarta Selatan Telp. dalam pandangan Ibn Rusyd dan para filsuf Muslim. 7501983. Bagi mereka ini. Metro Pondok Indah Pondok Indah Plaza I Kav. (Lihat Ibn Rusyd. -------------------------------------------. Karena itu Tuhan juga mengarahkan sabda-Nya kepada khalayak umum. 7507173 Fax. suatu hal yang jelas mustahil yang kualifikasi kelompok kecil itu ialah kesanggupan memahami hal-hal abstrak di balik ungkapan-ungkapan kiasan. berbentuk pelukisan kehidupan di surga dan neraka dalam Kitab Suci dan Sabda Nabi. sesuai dengan cara yang sekiranya akan mendorong mereka berbuat baik dan mencegah dari berbuat jahat. Dengan jalan itu kaum khawas dapat menerima agama dan rahmat yang dikandung agama itu pada dataran yang lebih tinggi daripada kaum awam. (021) 7507174 Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota Please direct any suggestion to Media Team .

Sebagaimana juga (tamsil-ibarat) orang yang kekal di dalam neraka. Tamsil-ibarat surga (jannah: kebun) yang dijanjikan untuk mereka yang bertaqwa ialah. dan sungai-sungai dari khamar. (QS. dapat dipahami dari firman berikut. Maka sementara masalah adanya kebahagiaan dan kesengsaraan itu. KONSEP-KONSEP KEBAHAGIAAN DAN KESENGSARAAN (2/4) oleh Nurcholish Madjid Para filsuf menemukan dukungan bagi metodologi ta'wil mereka dalam berbagai penjelasan. adalah nyata dan tidak mungkin diingkari. bahwa dalam al-Qur'an Tuhan memang menyediakan berbagai "tamsil-ibarat". Itulah tempat kesudahan bagi mereka yang bertaqwa. Di dalam surga itu mereka mendapatkan buah-buahan dari segala macam. al-Zumar/39:27). dan disampaikan hanya kepada kalangan tertentu yang terbatas. sungai-sungainya mengalir di bawahnya. Dan sungguh telah Kami (Tuhan) beberkan untuk manusia dalam al-Qur'an ini setiap bentuk tamsil-ibarat. sepatutnya tidaklah dipahami menurut makna bunyi lafal lahiriahnya. namun "tamsil-ibarat" dan pelukisan mengenai hakikatnya dapat menerima penafsiran-penafsiran. dan buah-buahannya tumbuh tanpa berhenti. QS. maka filsafat dan tasawuf acapkali sengaja dibuat tidak bisa diarah oleh orang umum. al-Isra'/17:89. yang murni-bersih. Muhammad/47:15) Jadi karena pelukisan tentang surga dan neraka itu disebut sebagai tamsil-ibarat dalam al-Qur'an. alegori atau metafor. baik di dunia maupun di akhirat. termasuk penafsiran alegoris (tamtsili ataupun ta'wil). lihat juga QS. di dalamnya ada sungai-sungai dari air. al-Kahf/16:54. al-Rum/30:58 dan QS. Dan memang kenyataannya pendekatan esoterik senantiasa sulit dipahami kaum awam. yang tidak akan berubah cita-rasanya. kecuali dengan sikap ingkar.10. Karena merupakan pemahaman keagamaan yang lebih batini (esoterik) daripada lahiri (eksoterik). (QS. dan sungai-sungai dari madu. demikian pula naungan rindang yang diberikannya. juga memperoleh ampunan dari Tuhan mereka. yang tidak akan rusak. Namun kebanyakan manusia tidak menerimanya. sebagai ajaran "rahasia" bagi kaum khawas. ada berbagai isyarat bahwa keterangan tentang surga dan neraka pun bersifat tamsil-ibarat.Artikel Yayasan Paramadina Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota II. Inilah yang dicari dan dikejar para filsuf dan kaum sufi. Al-Rad/13:35) Tamsil-ibarat surga yang dijanjikan untuk orang-orang yang bertaqwa ialah. yang diberi minum dengan air mendidih. seperti dapat diketahui dari firman berikut. Bahwa banyak kandungan al-Qur'an yang bersifat tamsil-ibarat. Lebih jauh lagi. sehingga banyak salah pengertian yang kemudian mengundang polemik dan . termasuk mengenai kebahagiaan dan kesengsaraan. sedangkan tempat kesudahan mereka yang menentang ialah api neraka. (QS. yang minuman itu memotong-motong usus mereka. yang segar melezatkan bagi yang meminumnya. dan sungai-sungai dari susu.

namun tidak berarti tertutup rapat untuk setiap orang. terwujud dalam ridla Allah. Bahkan kiranya memang tidak perlu dan tidak dibenarkan untuk dibendung. apalagi. Itulah sebenarnya kebahagiaan yang agung. saat menyaksikan Keagungan-Nya. seperti Ibn 'Arabi.. sebagai tempat kediaman yang tenang tenteram. Dan di atas itu semua mereka akan mendapatkan sesuatu yang lebih besar dan lebih agung lagi. karena akses pada bahan bacaan. karena berbagai hal. Sebuah firman mengatakan. (QS. yang tumbuh pesat tidak mungkin lagi dibendung. Walaupun pemahaman esoterik senantiasa rumit. Ketiga pergaulan kemanusiaan sejagad makin tidak terhindarkan. stereotipikal. al-Tawbah/9:72) Dalam menafsirkan firman Allah ini.. Beberapa pelopor pemahaman esoterik. kekal di sana selama-lamanya. BAHAGIA DAN SENGSARA: PANDANGAN KEFILSAFATAN DAN KESUFIAN Walaupun begitu dalam zaman sekarang pendekatan esoterik tidak lagi dapat dipertahankan sepenuhnya sebagai kerahasiaan. Saat perjumpaan dengan Allah. saat dari lubuk hati manusia yang mendalam terpancar sinar dari Cahaya yang mata tidak mampu memandangNya. juga tempat-tempat tinggal yang indah. Sebagian tokoh lagi. Surga dengan segala kenikmatan yang ada di dalamnya tidaklah berarti apa-apa dan akan menjadi tidak seberapa di depan hebatnya keridlaan Allah yang Maha Pemurah. Allah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman. Dan keridlaan dari Allah itulah yang akbar. termasuk di bidang kesufian atau mistisisme. Sayyid Quthub mengatakan. Dan keridlaan dari Allah itulah yang akbar. saat pembebasan diri dari kungkungan jasad yang campur aduk ini serta dari beban bumi dan iming-iming jangka pendeknya. harus menemui kematian di tangan penguasa. pria maupun wanita. Selain berdasarkan isyarat tentang banyaknya kandungan al-Qur'an yang disebut sebagai tamsil-ibarat di atas. berkat kemajuan teknologi informasi dan transportasi. dan ketokohannya disanjung dan dikecam secara sama. pandangan kefilsafatan dan kesufian tentang bahagia dan sengsara cenderung mengarah pada pengertian-pengertian yang lebih rohani daripada jasmani atau. telah meninggalkan karya-karya besar yang sampai sekarang dipelajari orang dengan penuh minat. malah dalam banyak hal merupakan kebutuhan. Kedua. Pertama. kekal di sana selama-lamanya. saat pencerahan ketika relung-relung sukma benderang dengan berkas . Surga-surga yang di bawahnya mengalir sungai-sungai. kaum sufi dan para filsuf juga mendapatkan banyaknya penegasan bahwa kebahagiaan tertinggi jika bukannya seluruh kebahagiaan itu sendiri.kontroversi. Sebagaimana telah diisyaratkan dalam pembahasan di atas. Kebahagiaan di surga menanti kaum beriman. (dijanjikan pula) tempat-tempat tinggal yang indah. Dan keridlaan dari Allah adalah yang akbar. seperti al-Hallaj dan Suhrawardi. dalam surga-surga kebahagiaan abadi. dalam surga-surga kebahagiaan abadi. akibat intrik-intrik politik yang menjerat mereka. barangkali lebih psikologis daripada fisiologis. tingkat kecerdasan anggota masyarakat yang semakin tinggi menuntut pengertian-pengertian agama yang tidak konvensional atau.. Karena tidak jarang pendekatan esoterik memang menyegarkan. surga-surga yang di bawahnya mengalir sungai-sungai. .. sulit dan ruwet.

Pembebasan adalah juga salah satu tema pokok seruan Nabi kepada umat manusia.(bersambung 3/4) Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah Editor: Budhy Munawar-Rachman Penerbit Yayasan Paramadina Jln. terbentuk dari kata-kata Illah dan artikel "al"-yakni. yang menurut banyak ahli termasuk 'Ali ibn Abi Thalib dan Ja'far al-Shadiq. yang dihadapan pengalaman kesaksian itu semua bentuk kebahagiaan menjadi tidak bermakna apa-apa adalah sebuah tafsiran kasyafi (theophanic. Tuhan atau Sesembahan yang sebenarnya). semuanya adalah satu momen dari momen-momen yang bertumpu pada kelangkaan amat sedikit bagi manusia dalam suasana kesucian total. Jika kalimat persaksian dimulai dengan al-nafy atau peniadaan dalam fase negatif tiada Tuhan. -------------------------------------------.. Tafsiran bahwa kebahagiaan tertinggi dan paling agung. maka yang dimaksudkan ialah kemestian kita tunduk pada Allah. yaitu setiap bentuk obyek ketundukan (Arab: Ilah). seperti yang diajarkan kaum sufi. Dan jika kalimat persaksian itu harus mutlak diteruskan dengan al-itsbat atau peneguhan dalam fase afirmatif "kecuali Allah" (al-Lah. (021) 7501969. UA 20-21 Jakarta Selatan Telp. sungguh dihadapan itu semua tidaklah bermakna lagi setiap kesenangan. yaitu sikap pengosongan diri dan pembebasannya dari setiap belenggu yang menghalangi jalan kepada Allah. maka tujuannya ialah pembebasan diri dari setiap belenggu. Metro Pondok Indah Pondok Indah Plaza I Kav. menjadi tujuan semua olah-rohani (riyadlah) dan perjuangan spiritual (mujahadah). Apalagi keridlaan Allah meliputi seluruh sukma... yakni. (021) 7507174 Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota Please direct any suggestion to Media Team Artikel Yayasan Paramadina Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan . Belenggu itu dilambangkan dalam konsep tentang "Tuhan" atau "Sesembahan". jika menghalangi pada Kebenaran. 254-5) Dengan tafsirnya itu. Fi Zhilal al-Qur'an. termasuk pembebasan dari belenggu budaya dan tradisi. Metodologi seperti itu dikembangkan dalam tasawuf. bersifat penyingkapan dan pengalaman spiritual akan kehadiran Kebenaran Ilahi). juga tidak setiap harapan. jilid 10. 7507173 Fax. Tercapainya pengalaman tersebut.. epiphanic. Tuhan yang sebenarnya itu dan tidak kepada apa dan siapapun yang lain. KEBEBASAN DAN KEBAHAGIAAN Salah satu tema utama dalam metodologi kesufian ialah takhalli. dan sukma-sukma itu tercekam di dalamnya tanpa kesudahan! "ltulah kebahagiaan sejati yang agung". hal. (Sayyid Quthub. Sayyid Quthub telah melakukan pendekatan filosofis dan sufi pada masalah hakikat kebahagiaan. termasuk dalam hidup sekarang ini jika mungkin. 7501983.Ruh Allah. sebagai keridlaan Allah --sebagai pengalaman kesaksian rohani akan Wujud Maha Benar itu.

Katakan (wahai Muhammad): "Jika orang-orang tuamu. Tuhan tidak mungkin diketahui manusia sebab tidak akan terjangkau oleh pikiran dan khayalnya. Dengan kata lain.10. al-Tawbah/9:24) Firman Allah ini tidaklah dipahami bahwa Nabi D4uhammad datang untuk membawa pertentangan dalam keluarga. anak-anakmu. atau pembebasan yang membimbing kita kepada ketundukan dinamis tersebut --dari banyak penjelasan dalam kitab Suci tentang berbagai akibat dan implikasinya-. suatu proses "pembebasan dan ketundukan. Juga tidak untuk mendoronng manusia agar meninggalkan kegiatan duniawi. serta karib-kerabatmu. QS.justru akan secara langsung membawa pada kebebasan dan pembebasan diri dari setiap nilai dan pranata yang membelenggu sukma. keyakinan bahwa diri sendiri telah "mengetahui Tuhan akan berakhir dengan penuhanan keinginan diri sendiri. jodoh-jodohmu. Mengenai negasi atau peniadaan yang menghantarkan kita kepada afirmasi itu. Tuhan yang sebenarnya-. Dan . kerabat dan umat manusia pada umumnya. berupa usaha yang tulus dan murni untuk mencari. serta tiada suatu apa pun yang sepadan dengan Dia (wa lam yakun lauu kufuw-an ahad-un. dan terus mencari Kebenaran. 25:43 dan 45:23). (jika itu semua) lebih kamu cintai daripada Allah dan Rasul-Nya. KONSEP-KONSEP KEBAHAGIAAN DAN KESENGSARAAN (3/4) oleh Nurcholish Madjid Karena Allah adalah Wujud yang tak dapat dibandingkan dengan sesuatu apapun (laysa ka-mitslihi syay-un." seperti dilambangkan dalam kalimat syahadat pertama. Yang pertaa tidak benar. al-Syura 42:11). serta tempat tinggal yang untukmu menyenangkan. karena al-Qur'an sarat dengan ajaran tentang kewajiban memelihara cinta kasih di antara keluarga. Tidak saja karena hal ini akan merupakan contradiction in terms (berupa kemustahilan suatu wujud nisbi seperti manusia dapat menjangkau atau mengetahui Wujud Mutlak. yaitu Tuhan). Padahal pikirin itu tak akan luput dari dorongan diri sendiri dan keinginannya. Usaha mencari Kebenaran inilah sifat kehanifan (hanifiyyah) manusia atas dorongan fithrah atau kejadian asalnya sendiri yang suci. saudara-saudaramu. Inilah antara lain tafsir atas peringatan dalam Kitab Suci bahwa di antara manusia ada yang menjadikan hawa atau keinginan dirinya sendiri sebagai Tuhan (Lihat.ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota II. QS. QS. atau sikap dan pandangan yang mengangkat keinginan diri sendiri itu sebagai Tuhan. tapi juga akan berarti bahwa Tuhan telah disejajarkan dengan apa yang tercapai oleh pikirannya sendiri. Jadi sesungguhnya kebahagiaan dimulai dengan "negasi dan afirmasi". (dan jika) kekayaan yang telah berhasil kamu kumpulkan. Maka tunduk secara benar --dalam bahasa Arab disebut Islam. yaitu sikap pasrah yang tulus kepada Allah. perdagangan yang kerugiannya kamu kuatirkan. (QS. dan daripada perjuangan di jalan-Nya. maka tunggulah sampai saat Allah melaksanakan keputusan-Nya Allah tidak akan memberi petunjuk kepada mereka yang bersemangat jahat". maka sesungguhnya keyakinan atau klaim "mengetahui Tuhan" (yang diindikasikan oleh sikap "berhenti mencari") adalah suatu jenis pembelengguan diri.salah satu yang patut sekali kita renungkan terbaca (terjemahnya) demikian.al-Ikhlash/112:4) maka tunduk pada Tuhan berarti tunduk dalam maknanya yang dinamis. besar ataupun kecil.

" Tetapi pembebasan dari belenggu-belenggu sosio-kultural dan sosio ekonomi hanyalah separuh jalan menuju kepada kebahagiaan sejati. kedudukan. 445. agar ia menjadi manusia sejati. adalah ketundukan yang dinamis. "Tiada Tuhan. Jika semuanya ini menjadi halangan dalam jalan Allah. "TANYALAH JALAN" (SAL SABIL-AN) Setelah proses pembebasan. orang harus memutuskan hubungan kekeluargaan yang bersifat membelenggu. keluarga dan masyarakat) mau pun sosio-ekonomi dan fisik (pekerjaan. Sebab seperti dikatakan A. bahwa jalan menuju Kebenaran. sepanjang catatan dalam Perjanjian Baru. melainkan untuk menggambarkan dalam bentuk yang paling tegas dan drastis sebuah prinsip. (Erich Fromm. Firman Allah tersebut hanya menegaskan. yang merupakan konsistensi pertanyaan afirmatif atau al-itsbat pada bagian kedua kalimat syahadat. yaitu "jalan Allah" (sabil al-Lah) dapat ditempuh baru setelah seseorang mampu membebaskan diri dari belenggu lingkungannya. catatan 1272). dan tempat tinggal). juga pernah menyatakan. 78). Yusuf Ali. Usaha terus-menerus mencari Kebenaran itu disebut berjalan menempuh "Jalan Allah" (sabil al-Lah). suami atau isteri. (A. (4) gedung-gedung indah. suatu hal yang manusia dipesan jangan sampai melupakannya. h. saudara. Serupa dengan makna firman Allah itu. The Holy Qur'an. (2) kekayaan dan kemakmuran. "Karena aku datang untuk membuat manusia melawan ayahnya. dan wujud nyata usaha tersebut pada pribadi yang bersangkutan ialah adanya kualitas . Nabi Isa al-Masih. dengan kemungkinan manusia memperoleh kebahagiaan di dunia ini. Maryland: Amana Corp. artinya ketundukan dalam wujud usaha tak kenal henti secara tulus "mencari"' "mendekat" (taqarrub). dan menantu perempuan melawan mertua perempuannya" (Matius 10:35). separoh lagi jalan yang harus ditempuh ialah yang dilambangkan dalam pernyataan tekad untuk tunduk pada Sang Kebenaran itu sendiri. "kecuali Allah". yang proses pembebasan itu merupakan konsistensi pernyataan negatif atau al-nafy pada bagian pertama kalimat syahadat. Conn. Brentwood. Sang Kebenaran. dan menjadi bebas sepenuhnya. baik sosio-kultural (orang tua. Begitulah contoh implikasi proses pembebasan diri yang diterangkan dalam Kitab Suci. dan akhirnya "bertemu" (liqa) dengan Kebenaran. (3) perdagangan atau cara-cara memperoleh keuntungan dan penghasilan. Psychoanalysis and Religion. Text. Hati manusia terikat kepada (1) sanak-kadangnya sendiri. kita harus memilih mana yang lebih kita cintai. biarpun harus mengorbankan itu semua. yaitu kebahagiaan "bertemu" dengan Tuhan.yang kedua juga tidak benar karena al-Qur'an mengajarkan pandangan yang optimis-positif kepada kehidupan. Kita harus mencintai Allah. 1972. anak perempuan melawan ibunya. New Haven. 1983. baik untuk gengsi mau pun kesenangan. Inilah Islam yaitu ketundukan kepada Yang Maha Benar (al-Haqq). anak-anak. atau karib kerabat. Erich Fromm mengatakan bahwa dengan pernyataannya itu Nabi Isa tidak bermaksud mengajarkan kebencian pada orang tua. Telah dikemukakan bahwa ketundukan kepada Allah Sang Kebenaran Mutlak. Yusuf Ali dalam menafsirkan firman ini. h.orang tua.: Yale University Press. Dalam melakukan pendekatan psikoanalitis terhadap agama dan gejala keagamaan. Translation and Commentary.

sore. Tunjukkanlah kami jalan yang lurus (QS. Akibatnya. dan mujahadah (dalam dimensinya yang lebih spiritual). ijtihad (dalam dimensinya yang lebih intelektual). Al-Qur'an melukiskan bahwa dalam surga. ijtihad dan mujahadah tersebut tadi. Inilah makna penegasan Nabi bahwa barangsiapa berusaha dengan sungguh-sungguh. apa selanjutnya? Apakah tak ada kemungkinan sama sekali bahwa jalan yang telah kita tempuh apalagi yang masih akan kita tempuh. karena jalan itu membentang langsung antara diri kita yang paling suci. maka salah satu "pesan" yang dikandungnya ialah agar kita bertanya tentang jalan yang lurus itu setiap saat. sebab perhentian berarti menyalahi seluruh prinsip tentang Kebenaran Mutlak. meskipun tidak sepenuhnya. yaitu fitrah kita dalam hati nurani (nurani. kemudian "diaminkan. terutama dalam setiap kali shalat. Tapi justru karena kemutlakanNya. lurus ke arah (sekali lagi ke arah) Kebenaran Mutlak."kesungguhan dalam berusaha" (dinyatakan dalam kata-kata Arab juha -usaha penuh kesungguhan). sehingga melahirkan sikap hidup jihad (dalam dimensinya yang lebih fisik). para penghuninya akan diberi minum yang sejuk dan amat menyegarkan yang airnya diambil dari mata air yang bernama "salsabil-an" atau "sal sabil-an. dan jika (ternyata) keliru. karena kekeliruan pun. dalam menempuh jalan lurus itu kita tidak boleh berhenti. artinya. yaitu jihad. asalkan tak disengaja. karena tidak lurus lagi? Siapa Tahu? Pertanyaan dan penanyaan itu adalah eksistensial dan esensial sekali dalam mencari. dan yang ketiga oleh kaum sufi dan ahli 'Irfan. ia akan mendapatkan pahala ganda." baik secara sendirian maupun bersama orang lain. maka ia masih mendapatkan satu pahala (sebuah Hadist terkenal). Dalam kesungguhan mencari dan menemukan jalan itu kita tidak perlu takut membuat kekeliruan. maka Sang Kebenaran itu sungguh mutlak dan tak akan terjangkau. Jalan Allah yang harus ditempuh melalui ketiga fase itu juga disebut "jalan lurus" (al-shirath al-mustaqim). Sesungguhnya dalam Al-Qur'an dilukiskan bahwa berusaha secara dinamis. juga yang akan kita tempuh. yang toh tidak akan kita sadari pada saat mengalaminya sendiri. Ini berarti bahwa jalan yang telah kita tempuh. tanpa henti-hentinya. saat terbenam matahari dan malam) (QS. siang. Pertanyaan dan penanyaan itulah yang mendasari ketulusan hati dalam permohonan kepada Tuhan. akan menyesatkan kita dari Kebenaran. yaitu dalam tempat dan lingkungan pengalaman kebahagiaan sejati." Sebuah . Dan kalau shalat itu disebutkan dalam al-Qur'an sebagai kewajiban atas kaum beriman dengan dikaitkan pada pembagian waktu selama sehari-semalaman (pagi. masih akan memberi kebahagiaan. sebagai sumber kesadaran akan kebenaran). Seorang yang memang tunduk patuh kepada Allah (muslim) akan terus menerus memohon petunjuk jalan yang lurus itu. Justru amat berharga dalam menempuh jalan itu semangat mencari dan berusaha yang sungguh-sungguh. tak boleh dipastikan sebagai mutlak lurus. sudah merupakan sumber mata air pengalaman kebahagiaan yang tinggi. al-Fatihah/1:6). mencari dan menemukan jalan ke arah Kebenaran itu sendiri. bersifat terang. yang kedua oleh para pemikir baik dalam bidang fiqh maupun Kalam. al-Nisa 4:103). mendekat dan bertemu dengan Kebenaran. Yang pertama banyak ditempuh oleh ahli perang dan para pahlawan. lalu ia menempuh jalan yang (ternyata) benar. Maka dalam perjalanan menempuh jalan yang lurus itu justru kita harus terus menerus bertanya dan bertanya.

Kata Erich Fromm: I should like to note that. "carilah jalanmu ke surga dengan cara melakukan perbuatan baik". Seperti dinyatakan oleh Albert Schweitzer: "Pemikiran rasional yang bebas dari asumsi-asumsi berakhir dalam mistisisme"). berpikir dalam konteks kesufian tidaklah berarti tiadanya rasionalitas. sangat berlawanan dengan perasaan umum bahwa mistisisme adalah suatu jenis pengalaman keagamaan yang tidak rasional. (Lihat. 7501983. ia justru mengetengahkan perkembangan tertinggi rasionalitas dalam pemikiran keagamaan. Kenyataan bahwa al-Qur'an senantiasa menyerukan penggunaan akal untuk mencari dan menerima Kebenaran menunjukkan bahwa antara rasio dan pengalaman keagamaan tidaklah terdapat pertentangan.. h. yang disebut salsabil. telah kita bicarakan. catatan 9). "salsabil-an" ("tanyalah [atau "carilah"] jalan"): yakni. 1658. Tapi. The Holy Qur'an. The Message of the Qur'an. al-Insan/76:17-18) Menafsirkan metafor dalam firman ini. 917. catatan 5850). (Saya harus memberi catatan bahwa. Kembali kepada metodologi takhalli di kalangan kaum Sufi. 90. asumsi-asumsi dan klaim-klaim tentang pengetahuan yang benar. karena perkataan Arab sal sabil-a itu tidak lain arti harfiahnya ialah "tanyalah jalan". (Lihat. metodologi itu mengharuskan adanya proses pengosongan diri dari anggapan-anggapan. Yusuf Ali. Jalan itu sekarang terbuka menuju Hadirat Yang Maha Tinggi. "Carilah Jalan". pra-asumsi dan premis justru harus dilepaskan. Justru tasawuf sebagai bidang yang menggarap segi esoterik keagamaan.metafor. it represents". yang dapat dibagi menjadi dua komponen. As Albert Schweitzer has put it: "Rational thinking which is free from assumptions ends in mysticism. menerangkan kata-kata salsabil-an jelas merupakan kata majemuk itu. quite in contrast to a populer sentiment that mysticism is an irrational type of religious experience. Mereka (yang bahagia) di sana disajikan minuman dalam piala yang ramuannya ialah zanjabil. Muhammad Asad. 7507173 (bersambung 4/4) . the higgest development of rationality in religious thinking. Muhammad Asad mengatakan bahwa begitulah Ali ibn Abi Thalib. adalah suatu bentuk perkembangan rasionalitas yang tertinggi. meskipun tanpa ada pra-asumsi atau premis. (021) 7501969. Jika dalam konteks duniawi berpikir selalu menuntut adanya pra-asumsi atau premis." (Erich Fromm. sebagaimana dikutip Zamakhsyari dan Razi. Dan Yusuf Ali menafsirkan firman itu dengan mengatakan bahwa mata air salsabil (-an) ini membawa kita kepada ide metaforis yang lain. -------------------------------------------Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah Editor: Budhy Munawar-Rachman Penerbit Yayasan Paramadina Jln. h. dari mata air yang ada. ibid. Metro Pondok Indah Pondok Indah Plaza I Kav. catatan 17). maka dalam konteks pencarian Kebenaran sejati itu. Perkataan itu secara harfiah berarti.. h. (QS. agar supaya dalam menempuh jalan lurus mencari Kebenaran itu terjadi kemurnian sejati (ikhlash). UA 20-21 Jakarta Selatan Telp. alegori atau makna kiasan yang sungguh indah. A.

Inilah antara lain tafsir atas peringatan dalam Kitab Suci bahwa di antara manusia ada yang menjadikan hawa atau keinginan dirinya sendiri sebagai Tuhan (Lihat.al-Ikhlash/112:4) maka tunduk pada Tuhan berarti tunduk dalam maknanya yang dinamis. suatu proses "pembebasan dan ketundukan. tapi juga akan berarti bahwa Tuhan telah disejajarkan dengan apa yang tercapai oleh pikirannya sendiri." seperti dilambangkan dalam kalimat syahadat pertama.justru akan secara langsung membawa pada kebebasan dan pembebasan diri dari setiap nilai dan pranata yang membelenggu sukma. Usaha mencari Kebenaran inilah sifat kehanifan (hanifiyyah) manusia atas dorongan fithrah atau kejadian asalnya sendiri yang suci. serta karib-kerabatmu. keyakinan bahwa diri sendiri telah "mengetahui Tuhan akan berakhir dengan penuhanan keinginan diri sendiri. QS. atau pembebasan yang membimbing kita kepada ketundukan dinamis tersebut --dari banyak penjelasan dalam kitab Suci tentang berbagai akibat dan implikasinya-. maka sesungguhnya keyakinan atau klaim "mengetahui Tuhan" (yang diindikasikan oleh sikap "berhenti mencari") adalah suatu jenis pembelengguan diri. (021) 7507174 Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota Please direct any suggestion to Media Team Artikel Yayasan Paramadina Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota II. Maka tunduk secara benar --dalam bahasa Arab disebut Islam.salah satu yang patut sekali kita renungkan terbaca (terjemahnya) demikian. dan daripada . Padahal pikirin itu tak akan luput dari dorongan diri sendiri dan keinginannya. dan terus mencari Kebenaran. Tuhan yang sebenarnya-. saudara-saudaramu. Tidak saja karena hal ini akan merupakan contradiction in terms (berupa kemustahilan suatu wujud nisbi seperti manusia dapat menjangkau atau mengetahui Wujud Mutlak. Katakan (wahai Muhammad): "Jika orang-orang tuamu. Jadi sesungguhnya kebahagiaan dimulai dengan "negasi dan afirmasi". anak-anakmu. serta tempat tinggal yang untukmu menyenangkan. Dengan kata lain. serta tiada suatu apa pun yang sepadan dengan Dia (wa lam yakun lauu kufuw-an ahad-un. Mengenai negasi atau peniadaan yang menghantarkan kita kepada afirmasi itu. berupa usaha yang tulus dan murni untuk mencari. yaitu Tuhan). QS. Tuhan tidak mungkin diketahui manusia sebab tidak akan terjangkau oleh pikiran dan khayalnya. perdagangan yang kerugiannya kamu kuatirkan.10. (dan jika) kekayaan yang telah berhasil kamu kumpulkan. jodoh-jodohmu. QS. KONSEP-KONSEP KEBAHAGIAAN DAN KESENGSARAAN (3/4) oleh Nurcholish Madjid Karena Allah adalah Wujud yang tak dapat dibandingkan dengan sesuatu apapun (laysa ka-mitslihi syay-un. yaitu sikap pasrah yang tulus kepada Allah. al-Syura 42:11). atau sikap dan pandangan yang mengangkat keinginan diri sendiri itu sebagai Tuhan.Fax. (jika itu semua) lebih kamu cintai daripada Allah dan Rasul-Nya. 25:43 dan 45:23).

Erich Fromm mengatakan bahwa dengan pernyataannya itu Nabi Isa tidak bermaksud mengajarkan kebencian pada orang tua. Maryland: Amana Corp. juga pernah menyatakan. Yusuf Ali. Text. "Tiada Tuhan. yaitu "jalan Allah" (sabil al-Lah) dapat ditempuh baru setelah seseorang mampu membebaskan diri dari belenggu lingkungannya. al-Tawbah/9:24) Firman Allah ini tidaklah dipahami bahwa Nabi D4uhammad datang untuk membawa pertentangan dalam keluarga. biarpun harus mengorbankan itu semua. Hati manusia terikat kepada (1) sanak-kadangnya sendiri. dengan kemungkinan manusia memperoleh kebahagiaan di dunia ini. h. karena al-Qur'an sarat dengan ajaran tentang kewajiban memelihara cinta kasih di antara keluarga. Conn. (2) kekayaan dan kemakmuran. suatu hal yang manusia dipesan jangan sampai melupakannya. New Haven. agar ia menjadi manusia sejati. "TANYALAH JALAN" (SAL SABIL-AN) Setelah proses pembebasan. 78). Juga tidak untuk mendoronng manusia agar meninggalkan kegiatan duniawi. Kita harus mencintai Allah. yang proses pembebasan itu merupakan konsistensi pernyataan negatif atau al-nafy pada bagian pertama kalimat syahadat. anak-anak." Tetapi pembebasan dari belenggu-belenggu sosio-kultural dan sosio ekonomi hanyalah separuh jalan menuju kepada kebahagiaan sejati. Firman Allah tersebut hanya menegaskan. kerabat dan umat manusia pada umumnya. Brentwood. (4) gedung-gedung indah. anak perempuan melawan ibunya. yang merupakan . "Karena aku datang untuk membuat manusia melawan ayahnya. (3) perdagangan atau cara-cara memperoleh keuntungan dan penghasilan. sepanjang catatan dalam Perjanjian Baru. baik sosio-kultural (orang tua.: Yale University Press. (QS. catatan 1272). kita harus memilih mana yang lebih kita cintai. kedudukan. Translation and Commentary. (A.perjuangan di jalan-Nya. atau karib kerabat. Dalam melakukan pendekatan psikoanalitis terhadap agama dan gejala keagamaan. The Holy Qur'an. keluarga dan masyarakat) mau pun sosio-ekonomi dan fisik (pekerjaan. yaitu kebahagiaan "bertemu" dengan Tuhan. Yusuf Ali dalam menafsirkan firman ini. separoh lagi jalan yang harus ditempuh ialah yang dilambangkan dalam pernyataan tekad untuk tunduk pada Sang Kebenaran itu sendiri. dan menantu perempuan melawan mertua perempuannya" (Matius 10:35). maka tunggulah sampai saat Allah melaksanakan keputusan-Nya Allah tidak akan memberi petunjuk kepada mereka yang bersemangat jahat". melainkan untuk menggambarkan dalam bentuk yang paling tegas dan drastis sebuah prinsip. Sebab seperti dikatakan A. besar ataupun kecil. Dan yang kedua juga tidak benar karena al-Qur'an mengajarkan pandangan yang optimis-positif kepada kehidupan. Begitulah contoh implikasi proses pembebasan diri yang diterangkan dalam Kitab Suci.orang tua. (Erich Fromm. dan menjadi bebas sepenuhnya. Jika semuanya ini menjadi halangan dalam jalan Allah. h. Yang pertaa tidak benar. 1972. Psychoanalysis and Religion. bahwa jalan menuju Kebenaran. baik untuk gengsi mau pun kesenangan. Serupa dengan makna firman Allah itu. orang harus memutuskan hubungan kekeluargaan yang bersifat membelenggu. saudara. suami atau isteri. dan tempat tinggal). 445. Sang Kebenaran. Nabi Isa al-Masih. 1983.

dan akhirnya "bertemu" (liqa) dengan Kebenaran. apa selanjutnya? Apakah tak ada kemungkinan sama sekali bahwa jalan yang telah kita tempuh apalagi yang masih akan kita tempuh. "kecuali Allah". maka Sang Kebenaran itu sungguh mutlak dan tak akan terjangkau.konsistensi pertanyaan afirmatif atau al-itsbat pada bagian kedua kalimat syahadat. ia akan mendapatkan pahala ganda. Ini berarti bahwa jalan yang telah kita tempuh. dan yang ketiga oleh kaum sufi dan ahli 'Irfan. ijtihad (dalam dimensinya yang lebih intelektual). yang toh tidak akan kita sadari pada saat mengalaminya sendiri. al-Nisa 4:103). Tapi justru karena kemutlakanNya. yaitu fitrah kita dalam hati nurani (nurani. Usaha terus-menerus mencari Kebenaran itu disebut berjalan menempuh "Jalan Allah" (sabil al-Lah). Inilah makna penegasan Nabi bahwa barangsiapa berusaha dengan sungguh-sungguh. dalam menempuh jalan lurus itu kita tidak boleh berhenti." baik secara sendirian maupun bersama orang lain. Seorang yang memang tunduk patuh kepada Allah (muslim) akan terus menerus memohon petunjuk jalan yang lurus itu. ijtihad dan mujahadah tersebut tadi. sebab perhentian berarti menyalahi seluruh prinsip tentang Kebenaran Mutlak. tanpa henti-hentinya. maka ia masih mendapatkan satu . masih akan memberi kebahagiaan. Telah dikemukakan bahwa ketundukan kepada Allah Sang Kebenaran Mutlak. sehingga melahirkan sikap hidup jihad (dalam dimensinya yang lebih fisik). yang kedua oleh para pemikir baik dalam bidang fiqh maupun Kalam. saat terbenam matahari dan malam) (QS. karena tidak lurus lagi? Siapa Tahu? Pertanyaan dan penanyaan itu adalah eksistensial dan esensial sekali dalam mencari. terutama dalam setiap kali shalat. yaitu jihad. Inilah Islam yaitu ketundukan kepada Yang Maha Benar (al-Haqq). sebagai sumber kesadaran akan kebenaran). lurus ke arah (sekali lagi ke arah) Kebenaran Mutlak. siang. Yang pertama banyak ditempuh oleh ahli perang dan para pahlawan. maka salah satu "pesan" yang dikandungnya ialah agar kita bertanya tentang jalan yang lurus itu setiap saat. mendekat dan bertemu dengan Kebenaran. Jalan Allah yang harus ditempuh melalui ketiga fase itu juga disebut "jalan lurus" (al-shirath al-mustaqim). Tunjukkanlah kami jalan yang lurus (QS. asalkan tak disengaja. artinya. dan wujud nyata usaha tersebut pada pribadi yang bersangkutan ialah adanya kualitas "kesungguhan dalam berusaha" (dinyatakan dalam kata-kata Arab juha -usaha penuh kesungguhan). Pertanyaan dan penanyaan itulah yang mendasari ketulusan hati dalam permohonan kepada Tuhan. lalu ia menempuh jalan yang (ternyata) benar. Dan kalau shalat itu disebutkan dalam al-Qur'an sebagai kewajiban atas kaum beriman dengan dikaitkan pada pembagian waktu selama sehari-semalaman (pagi. kemudian "diaminkan. Justru amat berharga dalam menempuh jalan itu semangat mencari dan berusaha yang sungguh-sungguh. Akibatnya. karena jalan itu membentang langsung antara diri kita yang paling suci. tak boleh dipastikan sebagai mutlak lurus. sore. adalah ketundukan yang dinamis. Maka dalam perjalanan menempuh jalan yang lurus itu justru kita harus terus menerus bertanya dan bertanya. dan mujahadah (dalam dimensinya yang lebih spiritual). dan jika (ternyata) keliru. juga yang akan kita tempuh. al-Fatihah/1:6). bersifat terang. artinya ketundukan dalam wujud usaha tak kenal henti secara tulus "mencari"' "mendekat" (taqarrub). akan menyesatkan kita dari Kebenaran. meskipun tidak sepenuhnya. Dalam kesungguhan mencari dan menemukan jalan itu kita tidak perlu takut membuat kekeliruan. karena kekeliruan pun.

Mereka (yang bahagia) di sana disajikan minuman dalam piala yang ramuannya ialah zanjabil. 90.. menerangkan kata-kata salsabil-an jelas merupakan kata majemuk itu. sebagaimana dikutip Zamakhsyari dan Razi. Kembali kepada metodologi takhalli di kalangan kaum Sufi. Seperti dinyatakan oleh Albert Schweitzer: "Pemikiran rasional .. ibid. Al-Qur'an melukiskan bahwa dalam surga. para penghuninya akan diberi minum yang sejuk dan amat menyegarkan yang airnya diambil dari mata air yang bernama "salsabil-an" atau "sal sabil-an." Sebuah metafor. Sesungguhnya dalam Al-Qur'an dilukiskan bahwa berusaha secara dinamis. "Carilah Jalan". sangat berlawanan dengan perasaan umum bahwa mistisisme adalah suatu jenis pengalaman keagamaan yang tidak rasional. Muhammad Asad mengatakan bahwa begitulah Ali ibn Abi Thalib. catatan 9). Muhammad Asad. Perkataan itu secara harfiah berarti. mencari dan menemukan jalan ke arah Kebenaran itu sendiri." (Erich Fromm. dari mata air yang ada. 917. catatan 5850). adalah suatu bentuk perkembangan rasionalitas yang tertinggi. karena perkataan Arab sal sabil-a itu tidak lain arti harfiahnya ialah "tanyalah jalan". (QS. h. Justru tasawuf sebagai bidang yang menggarap segi esoterik keagamaan. (Saya harus memberi catatan bahwa. Dan Yusuf Ali menafsirkan firman itu dengan mengatakan bahwa mata air salsabil (-an) ini membawa kita kepada ide metaforis yang lain. telah kita bicarakan. sudah merupakan sumber mata air pengalaman kebahagiaan yang tinggi. 1658. Kenyataan bahwa al-Qur'an senantiasa menyerukan penggunaan akal untuk mencari dan menerima Kebenaran menunjukkan bahwa antara rasio dan pengalaman keagamaan tidaklah terdapat pertentangan. metodologi itu mengharuskan adanya proses pengosongan diri dari anggapan-anggapan. "carilah jalanmu ke surga dengan cara melakukan perbuatan baik". alegori atau makna kiasan yang sungguh indah. al-Insan/76:17-18) Menafsirkan metafor dalam firman ini. asumsi-asumsi dan klaim-klaim tentang pengetahuan yang benar. meskipun tanpa ada pra-asumsi atau premis. Jika dalam konteks duniawi berpikir selalu menuntut adanya pra-asumsi atau premis. yang dapat dibagi menjadi dua komponen. h. The Holy Qur'an. pra-asumsi dan premis justru harus dilepaskan. A. Yusuf Ali. ia justru mengetengahkan perkembangan tertinggi rasionalitas dalam pemikiran keagamaan. (Lihat. "salsabil-an" ("tanyalah [atau "carilah"] jalan"): yakni. h. yaitu dalam tempat dan lingkungan pengalaman kebahagiaan sejati. yang disebut salsabil. it represents". The Message of the Qur'an. catatan 17). (Lihat. Tapi. agar supaya dalam menempuh jalan lurus mencari Kebenaran itu terjadi kemurnian sejati (ikhlash). berpikir dalam konteks kesufian tidaklah berarti tiadanya rasionalitas. the higgest development of rationality in religious thinking. As Albert Schweitzer has put it: "Rational thinking which is free from assumptions ends in mysticism.pahala (sebuah Hadist terkenal). maka dalam konteks pencarian Kebenaran sejati itu. quite in contrast to a populer sentiment that mysticism is an irrational type of religious experience. Jalan itu sekarang terbuka menuju Hadirat Yang Maha Tinggi. Kata Erich Fromm: I should like to note that.

"Memang yang diperintah harus segera menjalankan perintah. tidak perlu lagi ada petunjuk Rasulullah saw di luar itu? Ibnu Abbas sebagai ulama salaf boleh menyesalkan peristiwa itu.yang bebas dari asumsi-asumsi berakhir dalam mistisisme")." Umar berkata. Pada kita ada kitab Allah itu cukup buat kita. murka kepada mereka? Ataukah ia menyesalkan ucapan Umar yang menuduh perintah Nabi saw itu dilakukan tidak sadar (Dalam riwayat lain. Karena itu Umar berkata." dan al-Qur'an itu menjelaskan segala sesuatu. (021) 7507174 Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota Please direct any suggestion to Media Team Ilmu tradisional Artikel Yayasan Paramadina Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota III. karena sekiranya Nabi saw. yang mempunyai pandangan jauh ke depan. yang sedang udzur." Peristiwa ini konon terjadi pada hari Kamis. sehingga Nabi saw. "Sesungguhnya Umar berpendapat seperti itu. (021) 7501969. beliau bersabda. -------------------------------------------. 7507173 Fax. Tidak pantas bertikai di hadapanku. Metro Pondok Indah Pondok Indah Plaza I Kav. "Cukuplah Kitab Allah bagi kita. menetapkan sesuatu yang menghilangkan ikhtilaf (di kalangan kaum muslim). "Alangkah tragisnya kejadian yang menghalangi Nabi saw. UA 20-21 Jakarta Selatan Telp. Mereka tidak ingin membebani Nabi saw dengan sesuatu yang memberatkannya dalam keadaan (sakit) seperti itu. 7501983. Umar mengatakan Nabi saw. Tapi Umar beserta kelompok sahabat lainnya melihat perintah itu bukan wajib. Mereka bahkan memuji kebijakan Umar.20. Kita tidak tahu mengapa Ibnu Abbas menyebutkan sebagai tragedi." Kata al-Khithabi." kata Ibnu Abbas. "Bawa kepadaku Kitab agar kalian tidak akan sesat sesudahku. sehingga tidak perlu dipatuhi? Ataukah ia menyesalkan ucapan Umar bahwa al-Qur'an saja sudah cukup. Nabi saw berkata. DARI SUNNAH KE HADITS ATAU SEBALIKNYA (1/3) oleh Jalaluddin Rakhmat Pada waktu Nabi saw sakit keras. mengigau!). "Sakit keras menguasai diri. Kata al-Qurthubi. hanya pengarahan pada cara yang terbaik. tapi para ulama salaf tidak." Orang-orang pun bertikai dan ramailah pembicaraan. tentu tak . sehingga Ibnu Abbas yang meriwayatkan hadits di atas menyebutkannya sebagai tragedi hari Kamis. Apakah ia menyesalkan pertikaian sahabat di hadapan Nabi saw. "Enyahlah kalian dari sini. untuk menuliskan wasiatnya. Apalagi ada firman Allah "Tidak ada yang Kami lewatkan dalam Kitab ini sedikit pun.(bersambung 4/4) Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah Editor: Budhy Munawar-Rachman Penerbit Yayasan Paramadina Jln.

dan karena itu tidak mengikat? Sikap Umar terhadap hadist adalah sikap Abu Bakar juga. Malik di Madinah. dan Sofyan al-Tsawry di Kufah. sembari berkata: Tidak boleh ada matsnat seperti matsnat Ahli Kitab. tapi sesudah itu mereka melihat hadits. "Umar kuatir sekiranya Nabi saw. Mu'ammar di Yaman. sedangkan sunnah atau hadits adalah produk pemikiran manusia.. "Hadits-hadits makin bertambah banyak pada zaman Umar. Sa'id bin Abu 'Urwah di Basrah. Abu Bakar berkata: "Kamu sekalian meriwayatkan hadits-hadits dari Rasulullah saw. menegaskan sikap mereka dengan tindakan.. berkata. kita harus mulai dari peninjauan ulang kepada kedua konsep itu. Sa'id bin Musayyab tidak mau menuliskan hadits. Qasim ibn Muhammad ibn Abi Bakar. Suatu pagi beliau datang kepadaku dan berkata." Abu Bakar dan Umar adalah dua khalifah pertama yang termasuk al-Khulafa' al-Rasyidun." Ia lalu membakarnya dan berkata: Aku takut setelah aku mati. Situasi seperti ini berlangsung sampai paruh terakhir abad kedua Hijrah.. ketika menulis biografi Abu Bakar. dalam rangka membuka pintu ijtihad." Kemenakan Aisyah. Umar meletakkannya di atas bara api. Selama rentang waktu yang cukup panjang itu. Al-Dzahabi. Aisyah bercerita." Apapun komentar para ulama. meninggalkan hadits-hadits itu kepadamu. Nanti orang-orang sesudah kalian akan lebih keras lagi bertikai. Setelah hadits-hadits itu terkumpul. Mereka adalah Ibnu Jurayj di Makkah. kepada apa Umar merujuk selain al-Qur'an? Ketika mereka ingin mengetahui cara-cara shalat yang tidak diuraikan al-Qur'an atau menghadapi masalah-masalah baru yang timbul dalam perkembangan Islam. Janganlah kalian meriwayatkan hadits sedikit pun dari Rasulullah saw. juga sebagian besar tokoh tabi'un seperti Sa'id ibn Jubair. Kemudian beliau memerintahkannya untuk dikumpulkan. mula-mula umat Islam merujuk kepada sunnah. sehingga kalian bertengkar. . Betulkah al-Qur'an saja sudah cukup? Atau bisakah kita menyimpulkan bahwa hanya al-Qur'an sajalah karya ilahi. kelak orang-orang munafik akan mencari jalan untuk mengecam apa yang dituliskan itu." Kata Ibn al-Jawzi. menuliskan dalam keadaan sakit. "Ayahku telah menghimpun 500 hadits dari Nabi. Saya pun membawakan untukmu. kita harus kembali lagi kepada sunnah. Untuk membuka pintu ijtihad. halalkan apa yang dihalalkannya dan haramkan apa yang diharamkannya. apa yang mereka jadikan acuan? Fazlur Rahman menjawab. mengisahkan satu peristiwa ketika Abu Bakar mengumpulkan orang banyak setelah Nabi saw wafat. "Kitab Allah . Mereka melarang periwayatan hadits dengan keras.ada gunanya lagi ulama dan ijtihad pun tidak perlu lagi. Tidak heran bila sebagian besar sahabat. Saya melihat perkembangan sebaliknya: dari hadits ke sunnah. "Bawa hadits-hadits itu kepadaku. Sekarang. Al-Awza'i di Syria." telah memulai problematika sunnah atau hadits yang berada di luar al-Qur'an. al-Nakha'i. al-Hasan bin Abu al-Hasan." Baik Abu Bakar maupun Umar. katakan di antara kita dan Anda ada Kitab Allah. Bila ada orang yang meminta kalian (meriwayatkan hadits). perkataan Umar. ketika beberapa orang mulai merintis pengumpulan dan penulisan hadits.

sunnah adalah praktek kaum muslim pada zaman awal. Kuffah. ada sunnah Kuffah. Secara berangsur-angsur. tapi sahabat yang lain. dan yang terakhir sekali (6) Bahwa setelah gerakan pemurnian Hadits yang besar-besaran. Ketika gerakan hadits muncul pada Abad 3 Hijrah. . Boleh jadi sebagian sahabat memandang perilaku tertentu sebagai sunnah. Mereka berusaha mempraktekkannya dalam kehidupan sehari-hari. sebagai teladan. tidak menganggapnya sunnah. telah memasung proses kreatif sunnah dan menjerat para ulama Islam pada rumus-rumus yang kaku. wafat. seluruh sunnah yang ada. Setelah Nabi saw. para sahabat memperhatikan perilaku Nabi saw. dan ijma' menjadi rusak. Sunnah yang sudah disepakati kebanyakan orang ini. Hadits adalah verbalisasi sunnah. hubungan organis di antara sunnah. diekspresikan dalam hadits. (4) Bahwa sunnah dalam pengertian terakhir ini. Sebagian lagi hanyalah interpretasi para ahli hukum Islam terhadap sunnah yang ada. formalisasi sunnah ke dalam hadits ini. dinisbahkan kepada Nabi saw. Karena itu." pada daerah tertentu seperti Madinah. sejak awal sejarah Islam hingga masa kini. (2) Bahwa kandungan sunnah yang bersumber dari Nabi tidak banyak jumlahnya dan tidak dimaksudkan bersifat spesifik secara mutlak. berkembanglah penafsiran individual terhadap teladan Nabi itu. dan Persia." Fazlur Rahman menegaskan: mengkoreksi pandangan orientalis ini dengan Sekarang kami akan menunjukkan (1) Bahwa sementara kisah perkembangan Sunnah di atas hanya benar sehubungan dengan kandungannya. ijtihad. Ada sunnah Madinah. Romawi. tapi tidak benar sehubungan dengan konsepnya yang menyatakan sunnah Nabi tetap merupakan konsep yang memiliki validitas dan operatif.DARI SUNNAH KE HADITS Beberapa orang orientalis berpendapat. Sebagian kandungan sunnah berasal dari kebiasaan Jahiliyah (pra-Islam) yang dilestarikan dalam Islam. Sayangnya. dan disebut "Sunnah Nabi. berkembang secara demokratis sunnah yang disepakati (amr al-majtama' 'alaih). menurut Fazlur Rahman. sunnah tidak lain daripada opinio publica. (3) Bahwa konsep sunnah sesudah Nabi wafat tidak hanya mencakup sunnah Nabi tapi juga penafsiran-penafsiran terhadap sunnah Nabi tersebut. Dalam "free market of ideas. di tambah unsur-unsur yang berasal dari kebudayaan Yahudi. berkembang sunnah yang umumnya disepakati para ulama di daerah tersebut. sama luasnya dengan ijma' yang pada dasarnya merupakan sebuah proses yang semakin meluas secara terus-menerus. pada daerah kekuasaan kaum muslim. Ketika timbul gerakan hadits pada paruh kedua Abad 2 Hijrah. TELADAN NABI SAW | PRAKTEK PARA SAHABAT | PENAFSIRAN INDIVIDUAL | OPINIO GENERALIS | OPINIO PUBLICA (SUNNAH) | FORMALISASI SUNNAH (HADITS) Jadi.

Siapa yang berpaling dari sunnahku ia tidak termasuk golonganku. Sifatnya yang aphoristik menunjukkan bahwa hadits tersebut tidak bersifat historis.(bersambung 2/3) Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah Editor: Budhy Munawar-Rachman Penerbit Yayasan Paramadina Jln. seperti saya kutip di bawah ini: Berulang kali telah kami katakan --mungkin sampai membosankan sebagian pembaca-. (021) 7507174 Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota Please direct any suggestion to Media Team Artikel Yayasan Paramadina Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota III. berkata. Nabi saw. "Shalatlah kalian seperti kalian melihat aku shalat. Kemudian. Walhasil. oleh kaum muslimin sendiri.20. DARI SUNNAH KE HADITS ATAU SEBALIKNYA (2/3) oleh Jalaluddin Rakhmat Mungkin banyak ulama akan tercengang membaca pandangan Fazlur Rahman tentang hadits. "Nikah itu sunnahku. ia berkata "Ambillah dari aku manasik kalian. hadits merupakan hasil karya dari generasi-generasi muslim. berlawanan dengan tesis Fazlur Rahman. 7501983. berulangkali menyuruh sahabat menirunya. walaupun secara historis tidak terlepas dari Nabi. hadits adalah pembakuan yang kaku." Sesekali Nabi saw. (021) 7501969.-------------------------------------------. 7507173 Fax. Nabi saw. Secara lebih tepat hadits adalah komentar yang monumental mengenai Nabi oleh umat muslim di masa lampau. Dalam hal shalat. saya juga berpendapat bahwa perilaku Nabi saw. saya berpendapat bahwa yang pertama kali beredar di kalangan kaum muslim adalah . Bila sunnah adalah proses kreatif yang terus menerus. ijma' (yang merupakan opinio publica) dan ijtihad (yang merupakan proses interpretasi umat terhadap ajaran Islam) menjadi tersisihkan. selama hidupnya terus-menerus menjadi perhatian para sahabat. Mereka dengan kadar yang bermacam-macam berusaha membentuk tingkah lakunya sesuai dengan Nabi saw. menegaskan." Dalam hal haji. DARI HADITS KE SUNNAH Sepakat dengan Fazlur Rahman. Inilah yang disebut hadits. UA 20-21 Jakarta Selatan Telp.bahwa walaupun landasannya yang utama adalah teladan Nabi. Ketika gerakan hadits unggul. perilakunya itu sunnah yang harus diikuti. mereka merumuskan sunnah itu dalam bentuk verbal. setelah kaum muslim awal secara berangsur-angsur sepakat menerima sunnah." Namun. mereka menisbatkan sunnah itu kepada Nabi saw. Metro Pondok Indah Pondok Indah Plaza I Kav. Hadits adalah keseluruhan aphorisme yang diformulasikan dan dikemukakan seolah-olah dari Nabi.

yang mengandalkan ra'yu. Kita tidak akan mengupas mengapa dua khalifah pertama mengadakan gerakan "penghilangan" hadits. Sekarang aku berpikir. atau sosiologis. Seandainya para sahabat menuliskan apa-apa yang pernah didengarnya dari Rasulullah saw. Umar sendiri pernah mengumpulkan catatan-catatan hadits yang berserakan dan membakarnya. Misalnya Ali. tidak adanya rujukan tertulis menyebabkan banyak orang secara bebas membuat hadits untuk kepentingan politis. yang menghimpun keputusan-keputusan hukum yang pernah dibuat Rasulullah saw. Sebagian orang menuding Umarlah yang bertanggung jawab atas kejadian ini. dominasi ra'yu sangat ditopang oleh hilangnya catatan-catatan tertulis. menurut Fazlur Rahman. Dalam rangkaian periwayatan. Karena makna adalah masalah persepsi. "Salah satu penyebab timbulnya perbedaan pendapat di antara para ulama adalah hadits-hadits dan teks-teks yang kontradiktif. Dalam peristiwa-peristiwa yang disebutkan dalam pengantar di atas. Sebuah ra'yu menjadi dominan boleh jadi karena proses kreatif dan adanya demokrasi. sunnah akan tercatat tidak lebih dari satu rantai saja (dalam penyampaian) antara Nabi saw dan umat sesudahnya. Abu al-Abbas al-Hanbaly menulis. Ra'yu dominan inilah. Ada di antara mereka yang menuliskannya. ketika menyampaian hadits itu mereka hanya menyampaikan maknanya. Keengganan mencatat hadits. karena para sahabat meminta izin untuk menulis hadits tapi Umar mencegahnya. Bersamaan dengan perbedaan pendapat ini. menurut Rasm Ja'farian. orang-orang mencari petunjuk dari ra'yu-nya. Pertama. Untuk memperparah keadaan. kita melihat 'Aisyah juga menyimpan catatan-catatan hadits (mungkin ditulis Abu Bakar). periwayatan dengan makna. pasar gagasan umumnya tidak bebas) sebagian ra'yu menjadi dominan.hadits. telah mengakibatkan hal-hal yang merugikan umat Islam. Aku bersedia memberikan seluruh anakku dan hartaku untuk memperolehnya kembali. Karena sejumlah hadits hilang. pengaruh kedua sahabat besar ini terasa sampai lebih dari satu abad. Banyak riwayat menunjukkan perhatian para sahabat untuk menghapal ucapan-ucapan Nabi atau menyampaikan apa yang dilakukan Nabi saw. tidak dituliskan dan para sahabat tidak berupaya . kemudian menjadi sunnah. Abdullah bin Amr bin Ash juga dilaporkan rajin mencatat apa yang didengarnya dari Nabi. lahirlah akibat yang kelima. "Ketika hadits-hadits Nabi saw. "Dulu aku menulis sejumlah besar hadits. Karena orang hanya menerima hadits secara lisan. ekonomi. terjadilah perbedaan pendapat. Dalam semua kejadian ini. boleh jadi juga karena dipaksakan penguasa. Dalam pasar ra'yu yang "bebas" (dalam kenyataannya. mempunyai mushaf di luar al-Qur'an. Urwah bin Zubayr pernah berkata. Keempat. masalah penafsiran. Tidak mungkin kita memberi contoh-contohnya secara terperinci disini. hilangnya sejumlah besar hadits. kemudian aku hapuskan semuanya. Yang jelas. seperti diriwayatkan Bukhari. terbukanya peluang pada pemalsuan hadits." Kedua." Ketiga. maka redaksi hadits berkembang sesuai dengan penafsiran orang yang meriwayatkannya. alangkah baiknya kalau aku tidak menghancurkan hadits-hadist itu. Abu Rayyah menulis. redaksinya dapat berubah-ubah.

Demi Allah. Timbullah sunnah." Ucapan itu sampai kepada Aisyah. "Tentang orang inilah turun ayat yang berkata pada orang tuanya 'cis' bagimu berdua. Marwan di Hijaz sebagai gubernur yang diangkat Muawiyah. al-Hakim dan al-Hakim menshahihkannya (lihat Mustadrak al-Hakim 4:481. Tidak mengherankan. melalui kegiatan para pengumpul hadits. Tidak lain Muawiyah hanya ingin memberikan kasih-sayang dan kehormatan kepada anaknya. Tafsir al-dur al-Mansur 6:41 dan kitab-kitab tafsir lainnya). Tafsir Al-Fakhr al-Razi 7:491. Marwan berdusta. Ibn Mundzir. yang lebih merujuk pada tema perilaku yang hidup di tengah-tengah masyarakat. Abd-u 'l-Rahman ibn Abu Bakar berkata. Abubakar tidak pernah menunjuk salah seorang anaknya atau salah seorang keluarganya untuk menjadi khalifah. terutama. Waktu itu ia menjadi Gubernur Madinah yang ditunjuk oleh Mu'awiyah. Jadi ia ingin melanjutkan sunnah Abubakar dan Umar. kepada Marwan dan menyamarkan ucapan Abd-u 'l Rahman. Ia berkata. Ketika hadits-hadits dihidupkan kembali. Sunnah pada gilirannya kelihatan sebagai produk para ahli hukum Islam: yang kemudian dinisbahkan kepada Nabi saw. MENCARI DEFINISI HADITS DAN SUNNAH Pada suatu hari Marwan bin Hakam berkhotbah di Masjid Madinah." Hadits ini diriwayatkan al-Nasa'i. Ia berkhotbah dan menyebut Yazid ibn Muawiyah supaya ia dibaiat . Ia ingin menunjuk orang sebagai khalifah. "Marwan berdusta. yang kemudian disebut sunnah. Ulum al-Hadits mungkin membantu kita mengatasi kesulitan ini dengan menambah kesulitan baru. hilangnya catatan-catatan hadits telah menimbulkan dominasi ra'yu. bila Fazlur Rahman sampai kepada kesimpulan. Tafsir al-Qurthubi 16:197. Bila saya mendaftar kesulitan yang disebut terakhir. "Ini sunnah Heraklius dan Kaisar. Panjangnya rangkaian periwayatan hadits telah memungkinkan orang-orang menambahkan kesimpulan dan pendapatnya pada hadits-hadits. Jadi. Tapi Rasulullah saw. bukanlah ayat itu turun untuk dia. Abd-u 'l-Rahman lari ke kamar saudaranya. Sesungguhnya kamu adalah tetesan dari laknat Allah. Bila aku mau. mula-mula muncul hadits. Kesulitan bahkan muncul ketika kita mendefinisikan hadits dan sunnah. saya hanya ingin mengajak pembaca merekonstruksi kembali pandangannya tentang hadits dan sunnah. anaknya. yang meriwayatkan apa saja yang mereka inginkan tanpa takut kepada siapapun. kesulitan menguji hadits menjadi sangat besar. Tafsir Ibn Katsir 4:159. orang berusaha menghambat periwayatan hadits. hadits adalah produk pemikiran kaum muslim awal untuk memformulasikan sunnah. Aisyah Ummu 'l-Mukminin. dalam bentuk tertulis. Bukhari meriwayatkan hadits ini dengan singkat. Demi Allah. aku dapat menyebutkan kepada siapa ayat ini turun. Ia membuang laknat Rasulullah saw. Ia berkata. pintu periwayatan hadits palsu terbuka baik untuk orang taat maupun orang sesat. Marwan melanjutkan khotbahnya." Pendeknya. Inilah riwayat Bukhari." Marwan marah dan menyuruh agar Abd-u 'l-Rahman ditangkap. daripada pada teks. Kemudian. telah melaknat ayahmu ketika kamu masih berada di sulbinya.mengumpulkannya. "Sesungguhuya Allah ta'ala telah memperlihatkan kepada Amir-u 'l-Mu'minin yakni Muawiyah pandangan yang baik tentang Yazid.

Riwayat di atas tidak menceritakan hal ihwal Nabi saw. 7501983. berbuatan atau taqrir Nabi saw. 'Aisyah malah menegaskan dengan hadits yang menyatakan bahwa Marwan adalah orang yang dilaknat Allah dan Rasul-Nya. Bila kita membuka kitab-kitab hadits. taqrir. DARI SUNNAH KE HADITS ATAU SEBALIKNYA (3/3) oleh Jalaluddin Rakhmat KERANCUAN PENGERTIAN HADITS Riwayat di atas disebut "hadits" padahal yang diceritakan adalah perilaku para sahabat. dikutipkan beberapa saja diantaranya. Sekedar memperjelas persoalan di sini. (021) 7507174 Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota Please direct any suggestion to Media Team Artikel Yayasan Paramadina Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota III. Yang pertama menyebutkan.(bersambung 3/3) Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah Editor: Budhy Munawar-Rachman Penerbit Yayasan Paramadina Jln. apakah kalian menjanjikan padaku dan seterusnya. 4826 dalam hitungan Ibnu Hajar al-Asqalani (lihat Fath al-Bari 8:576). atau sifat-sifat atau akhlak (Lihat Dr. Yang menarik kita bukanlah apa yang dibuang Bukhari. Ia berkata. Manhaj al-Naqd fi Ulum al-Hadits. Para ahli ilmu hadits mendefinisikan hadits sebagai "apa saja yang disandarkan (dinisbahkan) kepada Nabi saw. halaman 26). "Tangkaplah dia. (021) 7501969. perbuatan. Yang kedua menegaskan bahwa yang pertama berdusta. Maka Abdurrahman mengatakan sesuatu. -------------------------------------------. 7507173 Fax. UA 20-21 Jakarta Selatan Telp. "Sesungguhnya dia inilah yang tentang dia Allah menurunkan ayat-ayat dan orang yang berkata kepada kedua orang tuanya 'cis' bagimu berdua. Metro Pondok Indah Pondok Indah Plaza I Kav. Ia menjelaskan bahwa ia tidak disibukkan . tetapi "perang hadits" antara dua orang sahabat --Marwan ibn Hakam dan 'Aisyah. ia bercerita tentang perilaku para sahabatnya. Aisyah berkata dari balik hijab: Allah tidak menurunkan ayat apapun tentang kami kecuali Allah menurunkan ayat untuk membersihkanku. hadits No. karena ayat itu turun berkenaan dengan orang lain. segera kita menemukan banyak riwayat di dalamnya. 117 menceritakan tangkisan Abu Hurairah kepada orang-orang yang menyatakan Abu Hurairah terlalu banyak meriwayatkan hadits. Nurrudin Atar. Pada Shahih Bukhari. tidak berkenaan dengan ucapan. Hadits ini adalah hadits No. berupa ucapan.sesudah bapakuya.20." Ia masuk ke rumah Aisyah dan mereka tidak berhasil menangkapnya Kemudian Marwan berkata. asbab al-nuzul ayat al-Ahqaf itu berkenaan dengan 'Abd-u 'l-Rahman ibn Abu Bakar.

ini adalah ucapan para ulama di berbagai negeri (lihat Fath-u 'l-Bari 1:47). bukan ucapan Bani saw. dan sesungguhnya al-Qur'an itu adalah al-Qur'an ini. Ada dua muth'ah yang ada pada zaman Rasulullah saw. Demikian pula. Ia berkata: Padaku ada hadits. harus mengubah anggapan kita selama ini. Ia selalu menyertai Nabi saw. Boleh jadi banyak amal yang kita lakukan selama ini ternyata bersumber pada "hadits" yang bukan hadits (menurut definisi yang pertama). riwayat tentang para sahabat masih dapat dianggap hadits. didasarkan kepada hadits yang menceritakan perilaku orang Islam di zaman Utsman ibn 'Affan. Dalam Shahih Bukhari. bertambah dan berkurang." Sampai di sini kita bertanya apakah kita sepakat dengan definisi Dr." Hadits ini merupakan ucapan 'Abd-u l-Lah al-Bajali. perbuatan atau taqrir Nabi saw. karena bukan hadits bila tidak berkenaan dengan Nabi saw. perhatikanlah hadits ini: Dari Jabir ra: Sesungguhnya Ibnu Zubair melarang muth'ah tetapi Ibn Abbas memerintahkannya. misalnya. definisi hadits yang paling tepat ialah "apa saja yang disandarkan (dinisbahkan) kepada Nabi saw. atau sifat fisik atau akhlak dan apa saja yang dinisbahkan kepada para sahabat. berupa ucapan. Menurut Bukhari. Yang paling menyusahkan kita ternyata tidak semua hadits walaupun shahih meriwayatkan sunnah Rasulullah saw. Atar. Ucapan "al-shalat-u khair-un min al-nawm" dalam adzan Shubuh adalah tambahan yang dilakukan atas perintah Umar ibn Khatab. kebiasaan melakukan adzan awal pada shalat Jum'at di kalangan ulama tradisional. Dan pada zaman Abu Bakar ra. Ketika Umar berkuasa. Perhatikan Bukhari memasukkan sebagai salah satu kitab haditsnya. Bila ya. "Kami menganggap berkumpul pada ahli mayit dan menyediakan makanan sesudah penguburannya termasuk meratap. (lihat Nayl al-Awthar 4:148). taqrir. Untuk mengenyangkan perutnya. Ternyata hadits itu tidak semuanya berkenaan dengan Nabi saw. Kembali kepada Rasulullah saw. Riwayat tentang para tabi'in yakni ulama yang berguru kepada para sahabat. Hadits itu berbunyi. Salah satu contohnya adalah hadits yang sering disampaikan kaum modernis untuk menolak tradisi slametan ("tahlilan") pada kematian. Karena itu menurut Dr." Namun jangan terkejut kalau ahli hadits bahkan menyebut riwayat. padahal riwayat ini tidak menyangkut ucapan. dan menghapal hadits yang tidak dihapal orang lain." Ini bukan sabda Nabi saw. sehingga definisi hadits sekarang ialah "apa saja yang disandarkan (dinisbahkan) kepada Nabi saw.). ada hadits yang berbunyi "Iman itu perkataan dan perbuatan. Hadits yang menceritakan sahabat disebut hadits mawquf (istilah yang didalamnya terdapat kontradiksi. menghadiri majelis yang tidak dihadiri yang lain. taqrir. perbuatan. perbuatan. Adalah Rasul ini. Tetapi aku melarangnya dan akan menghukum pelakunya. ia berkhotbah kepada orang banyak: Sesungguhnya Rasulullah saw. Mungkin bagi banyak orang. atau sifat fisik atau akhlak dan apa saja yang dinisbahkan kepada para sahabat dan tabi'in. Atar. Ibnu Hajar dalam pengantarnya pada Syarh al-Bukhari menyebutkan secara terperinci hadits-hadits mawquf dalam Shahih Bukhari. Yang pertama muth'ah . para ulama di luar para sahabat juga sebagai hadits. seperti sahabat-sahabat Anshar dan Muhajirin. disebut hadits maqthu.dengan urusan ekonomi. berupa ucapan. Kami melakukan muth'ah pada zaman Rasulullah saw. Akhirnya.

Yang membiarkan sahabatnya melakukan muth'ah atau hadits larangan Umar? Umumnya kita memilih yang kedua. "Aku mendengar Rasulullah saw. KERANCUAN PENGERTIAN SUNNAH Para ahli hadits. Kerancuan definisi hadits ini membawa kita kepada ikhtilaf mengenai apa yang disebut sunnah. Manakah yang harus kita pegang: hadits taqrir Nabi saw. Batuk tidak bernilai syar'i. duduk tasyahhud.perempuan. Jumhur ulama termasuk Imam Syafi'i dan Malik menetapkan pembalikan atau pemindahan serban itu sebagai sunnah. dikeluarkan juga oleh Muslim dalam shahihnya. Hadits ini diriwayatkan dalam Sunnah Baihaqi 7:206. yang dllaporkan dalam hadits. perbuatan dan taqrir Nabi saw. memberi isyarat dengan telunjuknya tapi tidak mengerakkannya?" (Nayl al-Awthar 2:318). memindahkan serbannya. Pada waktu khotbah istisqa Nabi saw. Mungkin saja buat sebagian di antara mereka. termasuk para ulama yang menyamakan hadits dengan sunnah. al-Sunnah Qabl al-Tadwin. Hadits ini menceritakan khotbah sahabat Umar yang mengharamkan muth'ah yang dilakukan para sahabat sejak zaman Rasulullah saw. kita mengamalkan juga sunnah para sahabat. fi hadza 'l-hadits khams-u sunnah. Sampai ke zaman Abu Bakar ra." Tidak semua ulama setuju dengan pernyataan Ahmad. Membalikkan serbannya. tidak semua hadits mengandung sunnah. "Nabi saw. perbuatan. Ahli ushul fiqh mendefinisikan sunnah sebagai "apa saja yang keluar dari Nabi saw. h. Tidak pernah memindahkan serban kecuali kalau berat. Batuk tiga kali setelah takbirat-u 'l-ihram. Yang kedua muth'ah haji (haji tamattu'). Abdullah bin Zaid bercerita tentang istisqa Nabi saw. Tetapi bagaimana pendapat anda bila Wail bin Hajar melaporkan apa yang disaksikannya ketika Nabi saw. dengan memperluas definisi hadits sehingga juga memasukkan perilaku para sahabat dan tabi'in. Selain al-Qur'an berupa ucapan. dan banyak di antara kita. Kata Syafi' i.16) Jadi menurut ulama ushul fiqh. Imam Ahmad pernah diriwayatkan berkata. dalam hadits hanya ada tiga sunnah. Dalam hadits itu sebagai sunnah? Anda berkata tidak. Bila ada seorang laki-laki menikahi perempuan sampai waktu tertentu. menyamakan hadits dengan sunnah. Nabi saw." dapatkah kita menetapkan perilaku Nabi saw. Dalam riwayat lain. menyebut sunnah pada semua perilaku Nabi saw. Banyak orang. aku aakan melemparinya dengan batu. yang tepat untuk dijadikan dalil hukum syar'i" (Muhammad Ajjaj al Khathib. Itu tepat disebut sunnah? Seandainya seorang sahabat berkata. Masalahnya sekarang: kapan perkataan. Imam Hanafi dan . Bukankah Ibnu Zubair melihat "Nabi saw. sehingga ujung serban sebelah kanan disimpan pada bahu sebelah kiri dan ujung serban sebelah kiri disimpan pada bahu sebelah kanan. karena perbuatan Nabi saw." Jadi pemindahan dalam khotbah istisqa itu tentu mempunyai implikasi syar'i. Itu hanya kebetulan saja dan tidak mempunyai implikasi hukum. sehingga bagian dalam serban itu di luar dan sebalik. dan taqrir. "Dalam hadits ini ada lima sunnah. Walhasil. yang tidak jarang bertentangan dengan sunnah Rasulullah saw. "Aku melihatnya menggerakkan telunjuknya sambil berdoa?" Tidakkah anda menyimpulkan bahwa gerakan telunjuk itu sama dengan batuk --yang hanya secara kebetulan tidak mempunyai implikasi hukum.

Karena itu. apakah yang sunnah itu pemindahan atau pembalikkan. mereka berkata. Metro Pondok Indah Pondok Indah Plaza I Kav. Definisi sunnah seperti disebutkan di atas. ia duduk di hadapan Rasulullah saw. Ketika ia bertanya kepada orang-orang pandai apa arti mimpi itu. Pembaruan pemikiran Islam atau reaktualisasi ajaran Islam. mengapa kita tidak mau melanjutkannya. Sikap kritis ini seringkali dicurigai akan menghilangkan hadits atau sunnah. UA 20-21 Jakarta Selatan . Ketika kita sedang giat melakukan islamisasi ilmu.sebagian pengikut Maliki menetapkan bukan sunnah. dengan membuang ribuan hadits yang dianggap dha'if (lemah). Dengan latar belakang uraian tentang hadits sebelumnya." Inilah yang mendorong Bukhari mengumpulkan hadits-hadits yang sahih saja. Semua orang sepakat pentingnya hadits dan sunnah dalam merealisasikan ajaran Islam. sehingga pada awalnya sunnah sama dengan ijma'. Karena sunnah adalah hasil penafsiran. pada kenyataannya tidak lagi dipakai. "Anda akan membersihkan hadits Nabi saw. Pernyataan Fazlur Rahman ini bagi kebanyakan orang sangat mengejutkan. Kita lupa bahwa kritik terhadap keduanya telah diteladankan kepada kita oleh para ulama terdahulu. dari kebohongan. dan masyarakat. Anda melihat bagaimana para ulama berbeda dalam mengambil sunnah hanya dari satu hadits saja. bahkan sunnah para tabi'in. Bahkan ketika merujuk pada al-Qur'an pun. kemusykilan tentang sunnah makin bertambah. kita harus melihat hadits. maka yang disebut sunnah adalah pendapat umum. Bukanlah selama ini yang kita anggap benar secara mutlak adalah al Qur'an dan sunnah? Patut dicatat bahwa kesimpulan Fazlur Rahman itu didasarkan pada sunnah dalam pengertian sunnah Rasulullah saw. Siapa yang ingin melanjutkan tradisi Imam Bukhari dewasa ini? -------------------------------------------Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah Editor: Budhy Munawar-Rachman Penerbit Yayasan Paramadina Jln. Para ulama juga ikhtilaf untuk menetapkan apakah pemindahan serban itu berlaku bagi imam atau berlaku bagi jemaah juga. harus mengacu pada teks-teks yang menjadi landasan ajaran Islam. Ketika terjadi perbedaan paham. PENUTUP. hukum. Fazlur Rahman dalam Membuka Pintu Ijtihad menegaskan adanya unsur penafsiran manusia dalam sunnah. nilai sunnah tentu saja tidak bersifat mutlak seperti al-Qur'an. budaya. Sunnah adalah perumusan para ulama mengenai kandungan hadits. ekonomi. Bila sunnah sudah mencakup juga perilaku sahabat. Yang sering kita lupakan adalah bersikap kritis terhadap keduanya. Konon Imam Bukhari bermimpi. kita tidak bisa tidak harus merujuk pada hadits dan sunnah (tentu saja sesudah al-Qur'an). Pemindahan itu hanya kebetulan saja. dan di tangannya ada kipas untuk mengusir lalat agar tidak mengenai tubuh Nabi saw. Bila para pembaru Islam terdahulu memulai kiprahnya dari kritik terhadap hadits dan sunnah (Ingat bagaimana Muhammadiyah dan PERSIS "men-dha'if-kan" hadits-hadits yang dipergunakan orang-orang NU). kita menemukan juga adanya sunnah para sahabat.

Malik Ibn Anas (pendiri madzhab Maliki.diharapkan akan dapat membantu memperjelas persoalan. Di negara kita. maka golongan ini menjadi sasaran kritik para ulama dan tokoh Islam.19. "Aku tinggalkan di antara kalian dua perkara. Yang paling terkenal di antaranya ialah dua kitab koleksi oleh al-Bukhari dan Muslim (disebut al-Shahihayn. Oleh karena dampak masalah ini dalam usaha penetapan hukum (tasyri') sangat besar dan penting. PERGESERAN PENGERTIAN "SUNNAH" KE "HADITS" (1/3) IMPLIKASINYA DALAM PENGEMBANGAN SYARI'AH oleh Nurcholish Madjid Dalam masyarakat Islam di beberapa negara terdapat kelompok-kelompok yang meragukan otoritas hadits sebagai sumber kedua penetapan hukum Islam. Abu Dawud.) yang menghasilkan kitab hadits al-Muwaththa'. demikian pula sebaliknya. di antara keduanya terdapat jalinan yang erat. Sebab yang disebutkan sebagai sumber kedua sesudah Kitab Suci al-Qur'an ialah sunnah. ada suatu golongan yang menanamkan dirinya kaum "Inkar al-Sunnah". yang kamu tidak akan sesat selama berpegang kepada keduanya: Kitab Allah dan sunnah RasulNya. (021) 7501969." Tapi sekarang ini sunnah memang tidak dapat dibedakan dari hadits. Perjalanan sejarah . Jika seseorang menyebut "sunnah" maka dengan sendirinya akan terbayang padanya sejumlah kitab koleksi sabda Nabi. Tapi ingkar kepada hadits. maka kajian kesejarahan tentang evolusi pengertian sunnah --yang diungkapkan Nabi meski secara tersirat-. Berdasarkan sabda Nabi tentang Kitab dan sunnah di atas. Bahkan dapat dikatakan bahwa sunnah mengandung makna yang lebih prinsipil daripada hadits. Pada banyak kasus mungkin terjadi semacam kekacauan akibat kecenderungan masyarakat untuk menyamakan begitu saja antara sunnah dan hadits. wafat 179 H. 7501983. sebagaimana sering dituturkan tentang adanya sabda Nabi saw. bukan hadits.Telp. sekalipun jelas tidak dapat dilakukan secara umum tanpa penelitian tentang hadits tertentu mana yang dimaksud. namun sesungguhnya tidaklah identik. "Dua Yang Sahih"). telah terjadi dalam kurun waktu yang panjang pada golongan-golongan tertentu Islam seperti kaum Mu'tazilah. pada prinsipnya sikap ingkar pada sunnah tidak dapat dibenarkan. Yang pertama (sunnah) mengandung pengertian yang lebih luas daripada yang kedua (hadits). Tapi sebelum mereka sudah ada seorang kolektor hadits yang amat kenamaan dan berpengaruh besar yaitu sarjana dan pemikir dari Madinah. dan yang lengkapnya meliputi pula kitab-kitab koleksi oleh Ibn Majah. Karena sikap mereka menolak perlunya kaum muslim berpegang pada sunnah. Sudah jelas. (021) 7507174 Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota Please direct any suggestion to Media Team Artikel Yayasan Paramadina Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota III. 7507173 Fax. al-Turmudzi dan al-Nasa'i.

dalam lingkup sunnah sebagai keseluruhan tingkah laku Nabi. Dan ia telah mengumpulkan bahan untuk kitab sirah-nya beberapa lama sebelum usaha-usaha pengumpulkan hadits. Di antara kitab-kitab sirah. yang secara logis paling paham akan apa yang dipesankan Tuhan pada manusia melalui beliau. yang sekarang ini definisinya makin luas batasannya dan komprehensif. Jika disebutkan oleh Nabi bahwa sunnah merupakan pedoman kedua setelah Kitab Suci bagi kaum muslim dalam memahami agama. namun mencampuradukkan antara keduanya tidak dapat dibenarkan. Sebab.. Pengertian lain yang menyalahi hal itu mustahil dapat diterima. seperti kitab-kitab sirah atau biografi Nabi. sunnah tidak terbatas hanya pada hadits. karena memuat gambaran tentang perjalanan hidup Nabi khususnya dalam kapasitas beliau sebagai pemimpin. PENGERTIAN SUNNAH Sunnah lebih luas daripada hadits. Jika sunnah merupakan keseluruhan perilaku Nabi. tidak berarti bahwa hadits dengan sendirinya mencakup seluruh sunnah. Tapi jika kita berhasil melepaskan diri dari dogmatisme yang menerima begitu saja pengertian-pengertian mapan tentang apa yang terjadi di masa lampau. kemudian. maka kita dapat mengetahui dari sumber-sumber yang selama ini tidak dimasukkan sebagai hadits. kedua. dan tumbuh sebagai sarjana terkemuka di kota Nabi. Meskipun wafat di Baghdad. Ibn Ishaq lahir di Madinah (pada tahun 85 H). orang Islam tentu pertama-tama harus melihat apa yang ada dalam Kitab Suci. baik sebagai pribadi maupun pemimpin. maka dari celah-celah sejarah itu kita akan dapat menarik "benang merah" yang memberikan kejelasan tentang perkembangan dan perubahan itu. Sebelum Ishaq. maka sesungguhnya Nabi hanya menyatakan sesuatu yang amat logis. juga yang paling tahu bagaimana melaksanakannya. Yaitu. Berarti. Namun demikian. termasuk yang sahih. Sedangkan hadits merupakan bentuk reportase atau penuturan tentang apa yang disebabkan Nabi atau yang dijalankan dalam praktek tindakan orang lain yang "didiamkan" beliau (yang dapat dapat diartikan sebagai "pembenaran"). Sebab. Memang. harus dimasukkan pula corak dan ragam tindakan beliau. bersama dengan kitab-kitab biografi Nabi yang lain amat penting. harus mencari contoh bagaimana Nabi sendiri memahami dan melaksanakannya. antara sunnah dan hadits terbentang garis kontinuitas yang tidak terputus. termasuk yang sangat dini ditulis ialah Sirah Ibn Ishaq yang kemudian disunting oleh Ibn Hisyam (berturut-turut wafat pada tahun 151 dan 219 Hijri). kitab-kitab itu juga merupakan sumber . Kitab-kitab itu. dalam memahami agama dan melaksanakannya. telah muncul berbagai karya tulis tentang riwayat peperangan Nabi yang lazim disebut kitab-kitab al-Maghazi. namun masih juga sering mengundang kekaburan. Pemahaman Nabi terhadap pesan atau wahyu Allah itu teladan beliau dalam melaksanakannya membentuk "tradisi" atau "sunnah" kenabian (al-sunnah al-Nabawiyyah). Maka.perkembangan dan perubahan itu sendiri cukup panjang dan rumit. Sekalipun pengertian ini cukup jelas. Nabi-lah sebagai utusan Tuhan. Dalam kedudukan beliau sebagai pemimpin itulah Kitab-kitab sirah banyak memberi gambaran. Itulah makna asal kata hadits.

janganlah kamu membentak! Sedangkan berkenaan dengan nikmat karunia Tuhanmu. isteri beliau. Sunnah Nabi harus pula dipahami sebagai keseluruhan kepribadian Nabi dan akhlak beliau. al-Dluha 93:1-11) Bukankah Kamu telah lapangkan dadamu?! Dan Kami bebaskan bebanmu. sebagaimana dilukiskan A'isyah. Tetapi justru karena itu maka memahami sunnah Nabi tidak dapat lepas dari memahami Kitab Suci sendiri.S. berhasil membangkitkan semangat perjuangan Islam. kemudian Dia membimbingmu?! Dan Dia mendapatimu miskin. Inilah "eksperimen" Sultan Shalah al-Din al-Ayyubi dalam menghadapi tentara Salib. Dalam sejarah terbukti bahwa pembacaan biografi Nabi. maka kamu akan lega. dan tidak pula murka. kemudian Dia memperkayamu?! Maka kepada anak yatim. yang keseluruhannya menampilkan sosok Nabi yang berkeprlbadian mulia. Dan dengan "eksperimen" itu pemimpin Islam dari Mesir yang kemudian terkenal dengan sebutan "Sultan Saladin" itu mewariskan pada Umat Islam seluruh dunia tradisi Maulid. yang memberati punggungmu?! Serta Kami muliakan namamu?! Sebab sesunggahnya bersama kesulitan tentu ada kemudahan! Maka jika engkau bebas. sehingga menimbulkan ejekan dan sinisme kaum . Dan beliau juga dilukiskan dalam Kitab Suci sebagai seorang yang berakhlak amat mulia (Q. baik yang menyenangkan atau tidak. dalam hal ini tingkah laku dan kepribadian beliau sebagai seorang yang berakhlak mulia. jika yang dimaksud selain tindakan-tindakan Nabi atau sabda beliau yang bersifat terpisah dan ad hoc seperti umumnya tema catatan hadits. dan keseluruhan sasaran peneladanan itu tidak lain ialah sunnah nabi. Dan juga pastilah Tuhanmu akan menganugerahimu. Sebab sesungguhnya akhlak Nabi yang mulia itu tidak lain adalah semangat Kitab Suci al-Qur'an itu sendiri. serta banyak ingat kepada Allah" (Q. engkau harus nyatakan! (QS. menjadi pedoman hidup kedua setelah Kitab Suci bagi seluruh kaum beriman.S. Dengan demikian Nabi. dua surat yang termasuk paling banyak dibaca dalam sembahyang dapat kita renungkan maknanya di sini: Demi pagi yang cerah dan demi malam ketika telah kelam. al-Syarh 94:1-8) Para ahli hampir semuanya sepakat bahwa surat al-Dluha turun kepada Nabi berkenaan dengan peristiwa terputusnya wahyu yang relatif panjang. yang ternyata berhasil gemilang. yaitu upacara memperingati kelahiran Nabi dengan membaca riwayat hidup beliau. Dan pastilah kemudian hari lebih baik bagimu daripada yang sekarang ada. Sebagai contoh. yang dalam kepribadian dan akhlak beliau disebutkan dalam Kitab Suci sebagai teladan yang baik (uswah hasanah) bagi kita semua "yang benar-benar berharap pada Allah pada Hari Kemudian. kerja keraslah! Dan kepada Tuhanmu. Dari Kitab Suci kita mengetahui lebih banyak perkembangan kepribadian Nabi yang menggambarkan pengalaman Nabi. khususnya yang berkaitan dengan riwayat peperangan beliau yang dikena sebagai al-Maghazi tersebut. karena ilham teladan baik dari beliau. kemudian Dia melindungimu?! Dan Dia mendapatimu bingung.yang baik untuk memahami sunnah. janganlah engkau menghardik! Dan kepada peminta-minta. al-Qalam 68:4). Tidaklah Tuhanmu meninggalkan engkau (Muhammad). senantiasa berharaplah! (QS. khususnya. Dari pengamatan atas gambaran itu kita dapat memperoleh ilham tentang peneladanan pada beliau. al-Ahzab 33:32). Bukankah Dia mendapatimu yatim.

dan beliau pun wafat memenuhi panggilan menghadap Allah dalam keadaan menang dan sukses luar biasa). Allah menjanjikan untuk memberi kemenangan yang bakal membuat beliau puas dan lega. sehingga seperti dikatakan Sayyid Quthub. berupa kemenangan demi kemenangan yang diraih Nabi setelah hijrah ke Madinah. dan miskin. (021) 7507174 Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota Please direct any suggestion to Media Team Artikel Yayasan Paramadina Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota III. dan bagaimana Allah telah menunjukkan kasih-Nya pada beliau dengan memberi kemampuan mengatasi kesusahan itu semua. Allah menghibur beliau dan memberinya dorongan moril. Serentak dengan itu semua Allah juga mengingatkan akan masa lampau Nabi yang penuh kesusahan seperti keadaan beliau yang yatim-piatu. Dari latar belakang turunnya. perjuangan besar selalu memerlukan waktu untuk mencapai hasil dan semakin besar nilai suatu perjuangan maka semakin panjang pula dimensi waktu yang diperlukannya. yang taktis. selama perjuangan diteruskan dengan penuh kesabaran dan harapan. surat ini juga menggambarkan tentang suatu dinamika pengalaman Nabi dalam perjuangan beliau. dan selalu ingat dengan penuh syukur akan nikmat karunia Tuhan. bahwa Allah samasekali tidak meninggalkan beliau dan tidak pula murka. (Janji Tuhan ini kelak ternyata terbukti dan terlaksana.(bersambung 2/3) Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah Editor: Budhy Munawar-Rachman Penerbit Yayasan Paramadina Jln. Sebab.musyrik Makkah bahwa Tuhan telah meninggalkan Nabi dan murka kepadanya. (021) 7501969. Dalam terjemah kontemporernya. Dan berdasarkan latar belakang itu maka Allah berpesan agar Nabi janganlah sampai menghardik anak-yatim. Oleh karena itu hendaknya Nabi tidak putus asa atau kecil hati oleh pengalaman kekecewaan jangka pendek. . Allah mengingatkan Nabi bahwa perjuangan jangka panjang.19. bingung tentang apa yang hendak dilakukan. 7501983. PERGESERAN PENGERTIAN "SUNNAH" KE "HADITS" (2/3) IMPLIKASINYA DALAM PENGEMBANGAN SYARI'AH oleh Nurcholish Madjid IMPLIKASI SUNNAH SEBAGAI KOREKSI HADITS DALAM PENGEMBANGAN SYARI'AH Allah juga mengingatkan Nabi bahwa masa mendatang lebih penting daripada masa sekarang. Dan dalam jangka panjang itulah. -------------------------------------------. UA 20-21 Jakarta Selatan Telp. 7507173 Fax. Metro Pondok Indah Pondok Indah Plaza I Kav. atau membentak peminta-minta. yang strategis lebih penting daripada pengalaman jangka pendek.

Tetap berorientasi kepada Allah. Lalu Allah menegaskan bahwa setiap kesulitan tentu akan membawa kemudahan.Memikul beban tanggungjawab dengan penuh kerelaan 9. para ahli mengatakan bahwa wahyu itu turun kepada Nabi masih dalam kaitannya dengan surat al-Dluha.Rasa kasih sayang kepada sesama manusia yang kurang beruntung 6. 7. Maka dari itu setiap kesempatan harus digunakan untuk kerja keras. dalam arti dapat terjadi dan dialami oleh siapa saja dari kalangan manusia yang mempunyai tekad atau komitmen pada cita-cita luhur. sambil senantiasa mengarahkan diri kepada Allah.Sadar akan perjuangan jangka panjang. asal dan tuduan semua yang Firman Allah yang memberi gambaran dinamika kepribadian Nabi sebagai uswah hasanah dalam al-Qur'an cukup banyak. dari kedua surat pendek yang banyak dibaca dalam shalat itu dapat disimpulkan gambaran dinamika kepribadian Nabi berhubung dengan pengalaman hidup perjuangan beliau. maka sesungguhnya dinamika pengalaman hidup Nabi tersebut adalah universal. Akhlak serta kepribadian yang menjadi sunnah Nabi. Dari situ kita paham sebuah sunnah Nabi.Menggunakan setiap waktu luang untuk kerja-kerja produktif 11. sebab yakin akan masa datang yang lebih baik 10. Juga diingatkan bahwa Allah telah membuat terhormat nama Nabi dan dijunjung tinggi.Tidak kecil hati karena kesulitan. Jadi. Oleh karena itu sikap-sikap yang telah ditunjukkan oleh Nabi sebagaimana tersimpul dari kedua surat pendek itu akan melengkapi kaum beriman dengan contoh nyata dalam menghadapi problema kehidupan. dan membuat semua beban terasa ringan bagi beliau.Bersikap lapang dada 8. namun hasil perjuangan itu di kemudian hari tentu akan membawa kebahagiaan.Berkenaan dengan surat al-Syarh. yang dapat disimpulkan dari kedua surat itu adalah kurang lebih demikian: 1. dengan penuh harapan kepadaNya. dan dari situ pula kita mengerti suatu aspek makna firman Allah bahwa pada diri Rasulullah terdapat teladan yang baik bagi kaum beriman. bahwa amal usaha tentu mengandung kesulitan. 3.Senantiasa bersyukur pada Allah atas segala nikmat karunia-Nya.Sikap senantiasa berpengharapan kepada Allah 2. Dalam surat ini Allah menegaskan bagaimana Dia telah membuat Nabi sebagai seorang yang lapang dada (munsyarih al-shadr).Ingat akan latar belakang diri di masa lalu dan bagaimana semua kesulitan teratasi 5. Jika kita renungkan lebih mendalam gambaran itu.Yakin akan kemenangan akhir 4. Pengkajian terhadap firman-firman itu akan memberi gambaran yang utuh tentang siapa Nabi dan bagaimana garis besar sepak terjang . bahkan merupakan kelanjutannya. berkat perjuangan beliau dan kebajikan yang ditegakkannya. seperti telah diutarakan.

Mereka mendasarkan pandangan itu pada hal-hal berikut: 1.beliau dalam hidup beliau baik sebagai pribadi maupun sebagai Utusan Ilahi. karena ingkar pada sunnah Nabi adalah mustahil bagi seorang muslim. namun ajaran moral di balik cerita selalu bersifat dinamik sehingga dapat dengan mudah diangkat pada tingkat generalitas yang tinggi. dan bahwa Kitab Suci merupakan satu-satunya sumber penetapan syari'ah disebabkan kepastian otentisitasnya. khususnya segi-segi yang dinamik dan mendasar. Jadi sunnah Nabi. Meskipun banyak laporan dalam kitab-kitab hadits yang juga memberi gambaran tentang tingkah laku atau kepribadian Nabi. Tokoh itu sendiri. sehingga tidak lagi ada peran bagi sunnah (hadits) untuk menatapkan hukum . Tapi pandangannya yang menolak otoritas hadits telah menimbulkan heboh di kalangan para ulama al-Azhar. dan yang dinilainya banyak membuka pintu bagi orang lain sesudahnya untuk juga bersikap ingkar pada hadits. Mushthafa al-Siba'i. seorang pembela paham Sunni yang bersemangat dan mantan dekan Fakultas Syari'ah Universitas Syiria. Ini menjelaskan bahwa Kitab Suci telah mencakup seluruh prinsip penetapan syari'ah. dapat lebih banyak diketahui dari Kitab Suci daripada dari kumpulan kitab hadits. Sedangkan sunnah (yang dimaksud tentunya hadits) mengandung keraguan dalam keabsahannya sebagai sumber argumen (hujjah) karena terjadi penambahan-penambahan padanya. al-Siba'i mengutip tokoh itu yang pandangannya pernah dimuat oleh majalah al-Manar pimipinan Sayyid Muhammad Rashyid Ridla. yang telah tampil membela Islam dengan cara yang mengagumkan. Sedangkan yang ada dalam al-Qur'an. Menurut Dr. Secara ringkas.Allah telah menegaskan "Tidak ada satu perkarapun yang Kami abaikan dalam Kitab Suci (Q. Karena itu sunnah Nabi sebenarnya tidak terbatas hanya pada hadits. PERGESERAN PENGERTIAN SUNNAH KE HADITS Di atas telah dikemukakan adanya kelompok-kelompok kaum muslim yang sangat meragukan otentisitas dan otoritas kumpulan hadits. Kita dapat mendekteksi dinamika kepribadian Nabi itu dari firman-frman yang ditunjukkan khusus kepada Nabi. yang disebutkan oleh al-Siba'i sebagai contoh. dengan demikian bernilai universal. adalah seorang muslim yang bergairah. Mereka sebenarnya tidak mengingkari sunnah. menurut al-Siba'i.S. Tetapi mereka ini dapat disebut sebagai golongan "Ingkar Hadits" (sebutlah "Inkar al-Hadits"). Al-An'am 6:38). serta seorang tokoh pembina gerakan al-Ikhwan al-Muslimun di Syiria. menurut Mushthafa al-Siba'i. sekalipun dituturkan dalam kaitan dengan ruang dan waktu atau pengalaman khusus Nabi. Tanpa menyebut namanya secara jelas. dari dahulu sampai sekarang. golongan Ingkar Hadits itu terdapat di mana-mana dalam dunia Islam. meskipun hadits (yang sahih) memang termasuk sunnah. Sangat menarik jalan pikiran seorang tokoh yang ingkar hadits itu di zaman modern. namun umumnya bersifat ad hoc terkait erat dengan tuntutan khusus ruang dan waktu. pandangan mereka yang menolak hadits ialah bahwa Islam hanyalah al-Qur'an saja. dan karena adanya banyak kontradiksi dalam sebagian cukup besar nash-nash-nya. seperti diindikasikan oleh penggunaan kata pengganti nama "engkau" dalam suatu format dialog antara Tuhan dan Utusan-Nya.

Dari sudut analisa politik. 4. Tuhan tidak menjamin pemeliharaan sunnah (hadits)." [1] Dalam kutipan al-Siba'i tentang argumen orang yang ingkar pada hadits itu disebutkan bahwa pembukaan hadits dimulai pada akhir abad pertama Hijri. 'Umar II memerintahkan seorang sarjana terkenal. sehingga masuk ke dalamnya penambahan dan pemalsuan. tentulah Tuhan memeliharanya untuk kepentingan para hamba-Nya dari kemungkinan penyelewengan dan perubahan sebagaimana Dia telah memelihara Kitab Suci-Nya. al-Hijr 15:9). dll. Hadits juga belum dibukukan di zaman al-Khulafa al-Rasyidun. Mungkin yang dimaksudkan ialah adanya dorongan pembukuan hadits oleh Khalifah 'Umar Ibn 'Abd al-'Aziz (w. dan hal itu dengan sendirinya menempatkan sunnah pada tingkat dugaan (martabat al-dhann) belaka. 'Alqamah. 'Ubaydah. Pembukuan hadits baru dimulai pada akhir abad pertama. dan sesungguhnyalah Kami yang memelihara-Nya" (Q. 102 H. "Sesungguhnya dugaan tidak sedikit pun menghasilkan kebenaran" (Q. Abu Bakr.S. "Sesungguhnya Kami benar-benar telah menurunkan pelajaran. yang mengisyaratkan pengakuan bahwa ia adalah pelanjut kekhalifahan 'Umar Ibn al-Khaththab yang bijakbestari. dan selesai pengumpulan dan koreksinya pada pertengahan abad ketiga. 3. Kota Nabi. tindakan 'Umar II ini adalah untuk menemukan dan mengukuhkan landasan pembenaran bagi ideologi Jama'ah-nya.an. karena Allah berfirman. Kalau seandainya hadits termasuk sumber penetapan syari'ah. sesudah 'Ali Ibn Abi Thalib.Terdapat penuturan dari Nabi saw.. Umar II. sedangkan dugaan tidak dapat menghasilkan hukum syar'i. menunjukkan sikap tidak suka pada usaha membukukannya. Khalifah ini terkenal dengan sebutan kehormatan. 2. dan rampung pada pertengahan abad ketiga..dan membuat syari'ah. jika bukannya malah merupakan wujud historis yang kongkret dari "tradisi" atau "sunnah" Nabi sendiri. karena keyakinan 'Umar II bahwa tradisi itu merupakan kelanjutan langsung pola kehidupan masyarakat Madinah di zaman Nabi. al-Rasyidun. al-Qasim Ibn Muhammad. Syihab al-Din al-Zuhri (w. sebagaimana difirmankan. bahkan secara otentik diceritakan bahwa beliau melarang membukukannya. al-Sya'bi. Ini adalah jangka waktu yang cukup panjang untuk menimbulkan keraguan tentang keabsahan teks-teks hadits.Sunnah (hadits) belum dibukukan di zaman Nabi saw. ia berasal dari diriku. dan apapun yang sampai kepadamu dan menyalahi al-Qur'an. Apapun yang sampai kepadamu sekalian dan bersesuaian dengan al-Qur.) dari Bani Umayyah.S. 124 H) untuk meneliti dan membuktikan tradisi yang hidup di kalangan penduduk Madinah. al-Najm 52:28).Allah menjamin pemeliharaan al-Qur'an dari kesalahan. yang dengan ideologi itu ia ingin merangkul . ia tidak berasal dariku. Maka banyak kalangan kaum Muslim yang memandang 'Umar II sebagai anggota kelima dari al-Khulafa. bahwa beliau bersabda "Sesungguhnya hadits akan memancarkan dari diriku. dan kebanyakan tokoh besar para sahabat Nabi serta para Tabi'un seperti 'Umar. al-Nakha'i.

256 H). Abu Dawud (w.seluruh kaum Muslim tanpa memandang aliran politik atau pemahaman keagamaan mereka. menurut al-Siba'i. 7501983.273 H). Mushthafa al-Siba'i amat menghargai kebijakan 'Umar II berkenaan dengan pembukaan sunnah itu. UA 20-21 Jakarta Selatan Telp. dengan tampilnya al-Nasa'i (w. (021) 7501969. Berdasarkan latar belakang inilah maka ideologi 'Umar II kelak disebut sebagai paham "sunnah dan jama'ah" dan para pendukungnya disebut ahl al-sunnah wa al-Jama'ah (golongan sunnah dan jama'ah). Metro Pondok Indah Pondok Indah Plaza I Kav. "sunnah" itu akan memberi landasan legitimasi bagi idenya tentang persatuan seluruh umat Islam dalam "Jama'ah" yang serba mencakup. dalam pandangan 'Umar II. al-Nasa'i (w. pengertian "sunnah" pun kemudian menjadi hampir identik dengan koleksi hadits dalam "Kitab yang Enam" itu. Teori dan metodenya kemudian diterapkan dengan setia oleh al-Bukhari (w. dalam pandangan al-Siba'i. 204 H). 7507173 Fax.(bersambung 3/3) Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah Editor: Budhy Munawar-Rachman Penerbit Yayasan Paramadina Jln. 'Abd-Allah Ibn 'Abbas dan 'Abd-Allah Ibn Mas'ud. Maka penelitian dan pembukaan tentang tradisi penduduk Madinah akan dengan sendirinya menghasilkan pembukaan "tradisi" atau "sunnah" Nabi. juga merupakan kelanjutan yang sah dari "tradisi" atau "sunnah" Nabi. al-Turmudzi (. sesungguhnya. di bawah ke kepeloporan tokoh-tokohnya seperti 'Abd-Allah ibn 'Umar (Ibn al-Khaththab). 279 H) dan terakhir. [2] Tapi. (021) 7507174 Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota . 'Umar II melihat bahwa sikap yang serba akomodatif pada semua kaum muslim tanpa memandang aliran politik atau paham keagamaan khasnya itu telah diberikan contohnya oleh penduduk Madinah. dan dengan begitu. sebagaimana dilakukan oleh 'Abd Allah Ibn 'Amr Ibn al-'Ash. Selanjutnya. Imam al-Syafi'i adalah tokoh pemikir peletak sebenarnya teori ilmiah pengumpulan dan klasifikasi hadits. golongan oposisi itu kemudian mampu memobilisasi diri sehingga. 303 H). sekalipun ia menyesalkan sikap Khalifah yang baginya terlalu banyak memberi angin pada kaum Syi'ah dan Khawarij (karena. Koleksi mereka berenam itulah yang kelak disebut "Kitab yang Enam" (al-Kutub al-Sittah). 261 H).w. pembukuan hadits secara sistematis dan kritis dan dalam skala besar serta pada tingkat kesungguhan yang tinggi baru dimulai pada awal abad ketiga dengan tampilnya Iman al-Syafi'i (w. mereka akhirnya mampu meruntuhkan Dinasti Umayyah dan melaksanakan pembalasan dendam yang sangat kejam). 303 H). sebelum masa 'Umar II pun sebetulnya sudah ada usaha-usaha pribadi untuk mencatat hadits.275 H). Dan. dan baru benar-benar rampung pada awal abad keempat Hijri. Ibn Majah (w. dalam kolaborasinya dengan kaum Abbasi. -------------------------------------------. termasuk kaum Syi'ah dan Khawarij yang merupakan kaum oposan terhadap rezim Umayyah. sikap yang serba inklusifistik sesama kaum muslim itu merupakan "tradisi" atau "sunnah" historis penduduk Madinah. Jadi. lalu diteruskan berturut-turut oleh Muslim (w. Akibatnya.

dalam hal ini hadits. 4. dasar-dasar argumen menolak otoritas hadits secara ringkasnya adalah sebagai berikut: 1. tapi tidak menjamin hal serupa untuk Hadits. dengan tandas menyatakan: seorang pembela paham Sunni yang menolak argumen-argumen itu. 3. 2. demikian pula para sahabat dan para Tabi'un terkenal. Selain dasar-dasar pertimbangan yang berasal dari al-Qur'an dan pesan Nabi sendiri --menurut pengertian yang dipegang oleh mereka yang ingkar hadits-. 2. dan menolak yang lain. sekurangnya menghalangi.Nabi melarang.Nabi menegaskan agar orang menerima hadits hanya yang benar-benar bersesuaian dengan al-Qur'an. karena telah menegaskan bahwa Kitab Suci itu telah memuat segala sesuatu. tapi hanya dalam garis besar saja.masa kodifikasi dan seleksi hadits yang demikian lama sesudah masa Nabi dan yang memakan waktu demikian panjang merupakan dasar sikap mereka yang meragukan otoritas hadits.Please direct any suggestion to Media Team Artikel Yayasan Paramadina Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota III.Yang disebut bakal dijamin terpelihara dari usaha pengubahan tidak hanya pada al-Qur'an tapi juga meliputi sunnah. dimulai sejak sekitar dua abad setelah Nabi dan rampung sekitar tiga abad setelah Nabi. . melalui sistem hafalan kaum muslim Arab yang memang terkenal memiliki kemampuan menghafal yang amat kuat (sebagai akibat pengembangan bahasa Arab yang amat tinggi namun tidak banyak bersandar pada penggunaan tulisan).Keseluruhan ajaran Islam cukup berdasarkan pada al-Qur'an saja. penulisan hadits di masa beliau. Dr.Allah menjamin terpeliharanya al-Qur'an. Sebagaimana telah dikutip kembali dari keterangan (kutipan) Mushthafa al-Siba'i. namun sudah tidak lagi banyak berarti.19. Musthafa al-Siba'i. Dia 1. Sunnah dan hadits tetap terpelihara. tegar. Sesudah masa itu memang masih terdapat usaha pengumpulan sisa-sisa hadits oleh beberapa pribadi. PERGESERAN PENGERTIAN "SUNNAH" KE "HADITS" (3/3) IMPLIKASINYA DALAM PENGEMBANGAN SYARI'AH oleh Nurcholish Madjid IMPLIKASI SUNNAH SEBAGAI KOREKSI HADITS DALAM PENGEMBANGAN SYARI'AH Fakta historis tersebut di atas menunjukkan bahwa proses pengumpulan hadits berlangsung selama satu abad atau lebih.Memang benar Kitab Suci memuat segala sesuatu.

3.Pencegahan Nabi dan para pembesar sahabat dan Tabi'un dari usaha membukukan hadits terjadi karena kekuatiran akan tercampur dengan teks-teks al-Qur'an yang saat itu kodifikasi resminya belum mapan di kalangan umat, disebabkan sedikitnya mereka yang ahli baca-tulis. Pencegahan itu hanya menyangkut usaha pembukuan resmi. Sedangkan yang tidak resmi dan sebagai catatan pribadi, beberapa sahabat telah melakukannya. 4.Keabsahan hadits yang menjadi landasan argumen keempat di atas diragukan oleh para ahli. Dan jika benar pun, maknanya adalah sangat wajar, yaitu bahwa kita harus menerima hadits hanya yang sejalan dengan al-Qur'an. Justru para ulama semuanya sepakat bahwa, Hadits yang sahih, meskipun menetapkan ajaran secara tersendiri, tidak ada yang bertentangan dengan al-Qur'an. Pembelaan al-Siba'i atas sunnah sebagai hadits itu mewakili pandangan yang sangat umum di kalangan para ulama. Namun ia tidak memberi kejelasan tentang bagaimana efek kenyataan sejarah bahwa untuk sampai pada koleksi dan kodifikasi hadits seperti sekarang ini proses-proses yang amat sulit harus dilewati, khususnya proses pemisahan mana dari laporan-laporan hadits itu otentik dan yang palsu. masih tetap diperlukan adanya argumen yang kukuh dan mendasar untuk pandangan bahwa klasifikasi yang ada sekarang adalah terpercaya, atau sudah tidak lagi memerlukan peninjauan kembali. Batu penarung bagi pandangan ini ialah kenyataan bahwa zaman sekarang ditandai dengan mudahnya diperoleh bahan bacaan di semua bidang, termasuk bidang-bidang yang dapat dijadikan landasan kajian perbandingan ilmu kritik hadits, baik dari segi metodologinya maupun dari segi hasil-hasil yang telah dicapai. Karena itu pada zaman sekarang akan lebih mudah bagi mereka yang berminat secara khusus untuk meneliti kembali hadits-hadits dan membuat klasifikasi baru tentang sahih-tidaknya matan-matan dan riwayat-riwayat yang ada. Sebenarnya hal ini dapat sekedar merupakan pengulangan atau penerapan kembali metodologi Imam al-Bukhari, tapi dengan dibantu oleh penggunaan kemudahan-kemudahan yang ditawarkan oleh zaman modern, baik dari segi perangkat kerasnya (material dan bahan bacaan yang tersedia) maupun perangkat lunaknya (metodologi kritiknya). Imam al-Bukhari sendiri sekedar meneruskan dan menerapkan dengan setia teori dan prinsip-prinsip riset hadits yang diletakkan oleh Imam al-Syafi'i. Dorongan untuk meletakkan teori dan metodologinya itu ialah keprihatinan al-Syafi'i oleh adanya kekacauan dan berkecamuknya usaha pemalsuan laporan-laporan hadits di zamannya, yang laporan-laporan itu sendiri semula dan kebanyakan bergaya anekdotal tentang generasi Islam yang telah lewat, mencakup tentang Nabi sendiri dan para sahabat. Karena itu hadits juga disebut Khabar, Akhbar, Riwayah, Atsar, dan lain-lain, yang kesemuanya menunjukkan sisa pengertiannya yang mula-mula, yaitu kabar, berita, penuturan, peninggalan, dan lain-lain. Maka yang dilakukan al-Syafi'i mempunyai nilai yang sungguh besar, dengan pengaruh yang sampai sekarang dirasakan oleh seluruh umat Islam. Tapi yang telah dilakukan banyak daripada sekedar penelitian hadits. Tokoh oleh imam al-Syafi'i jauh lebih meletakkan dasar-dasar metodologi pendiri madzhab yang penganutnya

banyak di negeri kita ini juga diakui jasanya sebagai yang meletakkan dasar-dasar metodologi penetapan syari'ah, yang justru terasa semakin relevan dengan keadaan zaman sekarang ini. Menurut Marshall Hodgson --yang dapat kita anggap sebagai seorang peninjau netral dan cukup jujur-- al-Syafi'i berjasa sebagai seorang sarjana yang dengan penuh kesadaran meletakkan prinsip adanya pertimbangan historis bagi penetapan syari'ah. Hal itu tercermin dalam konsepnya tentang nasikh-mansukh, yaitu konsep yang memandang kemungkinan suatu hukum dihapuskan oleh hukum yang lain dalam Islam, disebabkan adanya pertimbangan baru berkenaan dengan lingkungan (dharf), baik lingkungan ruang (dharf al-makan) maupun lingkungan waktu (dharf al-zaman). [3] Berdasarkan metodologid al-Syafi'i itu maka terkenal sekali rumus hukum Islam yang mengatakan bahwa hukum berubah oleh perubahan zaman dan tempat. Terutama perubahan zaman, semua ulama sepakat bahwa hal itu tidak dapat dielakkan akan membawa perubahan hukum. Prinsip ini tercermin dalam dua kalimat rumusannya dalam bahasa Arab, [Tulisan Arab] yang artinya, "Perubahan hukum oleh perubahan zaman. Tidak dapat diingkari perubahan hukum oleh perubahan zaman). [4] Untuk dapat melaksanakan prinsip amat penting itu tidaklah mudah. Salah satu yang mesti diperlukan ialah kemampuan menangkap "pesan zaman", sehingga suatu hukum dapat diterapkan secara efektif karena relevan dengan pesan zaman itu. Ini berarti juga menuntut kemampuan membuat generalisasi atau abstraksi dari hukum-hukum yang ada menjadi prinsip-prinsip umum yang berlaku untuk setiap zaman dan tempat. Dan berlakunya suatu prinsip untuk segala zaman dan tempat adalah berarti kemestian memberi peluang pada prinsip itu untuk dilaksanakan secara teknis dan kongkret menurut tuntutan ruang dan waktu. Karena ruang dan waktu berubah, maka tuntutan spesifiknya pun tentu berubah, dan ini membawa perubahan hukum. Maka yang berubah bukanlah prinsipnya, melainkan pelaksanaan teknis dan kongkret hukum itu dalam masyarakat tertentu dan masa tertentu. Iman al-Syafi'i khususnya, dan madzhab Syafi'i umumnya meletakkan dasar metodologi generalisasi dan abstraksi (ta'mim, istiqra, tajrid) tersebut dalam lima cara pendekatan pada setiap ketentuan hukum, yaitu: 1) semua perkara harus diperhatikan maksud dan tujuannya; 2) bahaya harus dihilangkan atau dihindari; 3) adat kebiasaan adalah sumber penetapan hukum; 4) hal mantap tidak boleh dihapus oleh hal yang meragukan; 5) kesulitan pelaksanaan harus menghasilkan kemudahan hukum. Dalam bahasa Arab, kelima prinsip itu diberi patokan rumusan baku sebagai berikut, [5] [Tulisan Arab] Kemudian, sesuai dengan kebiasaan klasik dalam budaya Islam, kelima prinsip itu oleh seorang penganut Syafi'i didendangkan dalam bentuk syair, demikian: [Tulisan Arab] Jika diperhatikan benar-benar metodologi Imam al-Syafi'i itu literer madzhab

maka sesungguhnya terdapat dorongan yang cukup kuat untuk mendekati suatu ketentuan tekstual, baik dalam Kitab Suci maupun dalam hadits tidak secara harfiah, melainkan dengan penarikan ide prinsipil atau fikrah mabda iyyah atau fikrah ushuliyyah yang dikandungnya, dan yang menjadi inti hikmah tasyri' dari ketentuan yang ada. Oleh karena tema-tema hadits umumnya bersifat ad hoc dan lepas dari keseluruhan kepribadian Nabi, maka abstraksi dan generalisasi dari hadits menghasilkan problema dan kesulitan yang tidak kecil. Padahal hanya dari abstraksi dan generalisasi itu kita dapat memahami sunnah Nabi, dan bukannya sekedar menyamakan begitu saja makna dan semangat sunnah dengan teks-teks laporan hadits. CATATAN 1.Dr. Mushthafa al-Siba'i, "Al-A'ashir fi wajh al-Sunnah Hadits-an" dalam majalah Al-Muslimin, Damaskus, No. 3 (Syawal 1374 H/Ayyar [Mei 1955]), hal. 24-26. Meskipun Al-Siba'i tidak menyebutkan nama tokoh Ingkar Hadits ini, namun dari bukunya. Al-Sunnah wa Makanatuha fi al-Tasyri' al-Islami, nama itu dapat diperkirakan sebagai Dr. Ahmad Amin, seorang penganut modernisme Islam yang terkenal. (Al-Siba'i, Al-Sunnah, Nurcholish Madjid (terj & ed) (Jakarta: Pustaka Firdaus, tt). 2.Ibid, hal. 27. 3.Marshall G.S. Hodgson, The Venture of Islam, 3 jilid (Chicago: The University of Chicago Press, 1974), jilid 33, hal.437. Menurut Hodgson, sesungguhnya yang dikembangkan oleh Imam al-Syafi'i adalah prinsip-prinsip yang tendensinya sudah terlihat di zaman Nabi sendiri, jadi memiliki tingkat otentisitas yang tinggi, dan Hodgson melihat pada metodologi itu sebagai salah satu sumber ketentuan dan kemampuan Islam menjawab tantangan zaman, khususnya zaman modern sekarang ini. Maka berkenaan dengan ini menarik sekali keputusan para ulama NU seluruh Indonesia di Tambakberas, Jombang, beberapa waktu yang lalu, yang menetapkan bahwa penganutan kepada madzhab Syafi'i seyogyanya tidak terbatas hanya kepada pendapat-pendapat spesifik (qawl) beliau saja, tetapi lebih penting lagi ialah kepada metodologi (manhaj, minhaj) yang dirintis dan dikembangkannya. 4.Mushthafa Ahmad al-Zarqa, "Taghayyur al-Ahkam bi Taghayyur al-Azman," dalam majalah Al-Muslimun, Damaskus, No. 8 (Syawal 1373 H/Juni 1954 M), hal. 34. 5."Tarikh al-Qawa'id al-Kulliyyah fi al-Syari'at al-Islamiyyah," dalam majalah Al-Muslimun Damaskus, No. 12 (Syawal 1373 H/Mei 1955 M), hal. 17. -------------------------------------------Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah Editor: Budhy Munawar-Rachman Penerbit Yayasan Paramadina Jln. Metro Pondok Indah Pondok Indah Plaza I Kav. UA 20-21 Jakarta Selatan

Telp. (021) 7501969, 7501983, 7507173 Fax. (021) 7507174 Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota
Please direct any suggestion to Media Team

Artikel Yayasan Paramadina
Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota III.8. ANTARA SUKMA NURANI DAN SUKMA DHULMANI oleh Jalaluddin Rakhmat Menurut para sufi, manusia adalah mahluk Allah yang paling sempurna di dinia ini. Hal ini, seperti yang dikatakan Ibnu'Arabi manusia bukan saja karena merupakan khalifah Allah di bumi yang dijadikan sesuai dengan citra-Nya, tetapi juga karena ia merupakan mazhaz (penampakan atau tempat kenyataan) asma dan sifat Allah yang paling lengkap dan menyeluruh. Allah menjadikan Adam (manusia) sesuai dengan citra-Nya. Setelah jasad Adam dijadikan dari alam jisim, kemudian Allah meniupkan ruh-Nya ke dalam jasad Adam. Allah berfirman: Maka apabila Aku telah menyempurnakan tiupkan kepadanya ruh-Ku (QS. 15: 29) kejadiannya dan Aku

Jadi jasad manusia, menurut para sufi, hanyalah alat, perkakas atau kendaraan bagi rohani dalam melakukan aktivitasnya. Manusia pada hakekatnya bukanlah jasad lahir yang diciptakan dari unsur-unsur materi, akan tetapi rohani yang berada dalam dirinya yang selalu mempergunakan tugasnya. Karena itu, pembahasan tentang jasad tidak banyak dilakukan para sufi dibandingkan pembahasan mereka tentang ruh (al-ruh), jiwa (al-nafs), akal (al-'aql) dan hati nurani atau jantung (al-qalb). RUH DAN JIWA (AL-RUH DAN AL-NAFS) Banyak ulama yang menyamakan pengertian antara ruh dan jasad. Ruh berasal dari alam arwah dan memerintah dan menggunakan jasad sebagai alatnya. Sedangkan jasad berasal dari alam ciptaan, yang dijadikan dari unsur materi. Tetapi para ahli sufi membedakan ruh dan jiwa. Ruh berasal dari tabiat Ilahi dan cenderung kembali ke asal semula. Ia selalu dinisbahkan kepada Allah dan tetap berada dalam keadaan suci. Karena ruh bersifat kerohanian dan selalu suci, maka setelah ditiup Allah dan berada dalam jasad, ia tetap suci. Ruh di dalam diri manusia berfungsi sebagai sumber moral yang baik dan mulia. Jika ruh merupakan sumber akhlak yang mulia dan terpuji, maka lain halaya dengan jiwa. Jiwa adalah sumber akhlak tercela, al-Farabi, Ibn Sina dan al-Ghazali membagi jiwa pada: jiwa nabati (tumbuh-tumbuhan), jiwa hewani (binatang) dan jiwa insani. Jiwa nabati adalah kesempurnaan awal bagi benda alami yang

organis dari segi makan, tumbuh dan melahirkan. Adapun jiwa hewani, disamping memiliki daya makan untuk tumbuh dan melahirkan, juga memiliki daya untuk mengetahui hal-hal yang kecil dan daya merasa, sedangkan jiwa insani mempunyai kelebihan dari segi daya berfikir (al-nafs-al-nathiqah). Daya jiwa yang berfikir (al-nafs-al-nathiqah atau al-nafs-al-insaniyah). Inilah, menurut para filsuf dan sufi, yang merupakan hakekat atau pribadi manusia. Sehingga dengan hakekat, ia dapat mengetahui hal-hal yang umum dan yang khusus, Dzatnya dan Penciptaannya. Karena pada diri manusia tidak hanya memiliki jiwa insani (berpikir), tetapi juga jiwa nabati dan hewani, maka jiwa (nafs) manusia mejadi pusat tempat tertumpuknya sifat-sifat yang tercela pada manusia. Itulah sebabnya jiwa manusia mempunyai sifat yang beraneka sesuai dengan keadaannya. Apabila jiwa menyerah dan patuh pada kemauan syahwat dan memperturutkan ajakan syaithan, yang memang pada jiwa itu sendiri ada sifat kebinatangan, maka ia disebut jiwa yang menyuruh berbuat jahat. Firman Allah, "Sesungguhnya jiwa yang demikian itu selalu menyuruh berbuat jahat." (QS. 12: 53) Apabila jiwa selalu dapat menentang dan melawan sifat-sifat tercela, maka ia disebut jiwa pencela, sebab ia selalu mencela manusia yang melakukan keburukan dan yang teledor dan lalai berbakti kepada Allah. Hal ini ditegaskan oleh-Nya, "Dan Aku bersumpah dengan jiwa yang selalu mencela." (QS. 75:2). Tetapi apabila jiwa dapat terhindar dari semua sifat-sifat yang tercela, maka ia berubah jadi jiwa yang tenang (al-nafs al-muthmainnah). Dalam hal ini Allah menegaskan, "Hai jiwa yang tenang, kembalilah kepada Tuhanmu dengan rasa puas lagi diridhoi, dan masuklah kepada hamba-hamba-Ku, dan masuklah ke dalam Surga-Ku." (QS. 89:27-30) Jadi, jiwa mempunyai tiga buah sifat, yaitu jiwa yang telah menjadi tumpukan sifat-sifat yang tercela, jiwa yang telah melakukan perlawanan pada sifat-sifat tercela, dan jiwa yang telah mencapai tingkat kesucian, ketenangan dan ketentraman, yaitu jiwa muthmainnah. Dan jiwa muthmainnah inilah yang telah dijamin Allah langsung masuk surga. Jiwa muthmainnah adalah jiwa yang selalu berhubungan dengan ruh. Ruh bersifat Ketuhanan sebagai sumber moral mulia dan terpuji, dan ia hanya mempunyai satu sifat, yaitu suci. Sedangkan jiwa mempunyai beberapa sifat yang ambivalen. Allah sampaikan, "Demi jiwa serta kesempurnaannya, Allah mengilhamkan jiwa pada keburukan dan ketaqwaan." (QS.91:7-8). Artinya, dalam jiwa terdapat potensi buruk dan baik, karena itu jiwa terletak pada perjuangan baik dan buruk. AKAL Akal yang dalam bahasa Yunani disebut nous atau logos atau intelek (intellect) dalam bahasa Inggris adalah daya berpikir yang terdapat dalam otak, sedangkan "hati" adalah daya jiwa (nafs nathiqah). Daya jiwa berpikir yang ada pada otak di kepala disebut akal. Sedangkan yang ada pada hati (jantung) di dada disebut rasa (dzauq). Karena itu ada dua sumber pengetahuan, yaitu pengetahuan akal (ma'rifat aqliyah) dan

pengetahuan hati (ma'rifat qalbiyah). Kalau para filsuf mengunggulkan pengetahuan akal, para sufi lebih mengunggulkan pengetahuan hati (rasa). Menurut para filsuf Islam, akal yang telah mencapai tingkatan tertinggi --akal perolehan (akal mustafad)-ia dapat mengetahui kebahagiaan dan berusaha memperolehnya. Akal yang demikian akan menjadikan jiwanya kekal dalam kebahagiaan (sorga). Namun, jika akal yang telah mengenal kebahagiaan itu berpaling, berarti ia tidak berusaha memperolehnya. Jiwa yang demikian akan kekal dalam kesengsaraan (neraka). Adapun akal yang tidak sempurna dan tidak mengenal kebahagiaan, maka menurut al-Farabi, jiwa yang demikian akan hancur. Sedangkan menurut para filsuf tidak hancur. Karena kesempurnaan manusia menurut para filsuf terletak pada kesempurnaan pengetahuan akal dalam mengetahui dan memperoleh kebahagiaan yang tertinggi, yaitu ketika akan sampai ke tingkat akal perolehan. HATI SUKMA (QALB) Hati atau sukma terjemahan dari kata bahasa Arab qalb. Sebenarnya terjemahan yang tepat dari qalb adalah jantung, bukan hati atau sukma. Tetapi, dalam pembahasan ini kita memakai kata hati sebagaimana yang sudah biasa. Hati adalah segumpal daging yang berbentuk bulat panjang dan terletak di dada sebelah kiri. Hati dalam pengertian ini bukanlah objek kajian kita di sini, karena hal itu termasuk bidang kedokteran yang cakupannya bisa lebih luas, misalnya hati binatang, bahkan bangkainya. Adapun yang dimaksud hati di sini adalah hati dalam arti yang halus, hati-nurani --daya pikir jiwa (daya nafs nathiqah) yang ada pada hati, di rongga dada. Dan daya berfikir itulah yang disebut dengan rasa (dzauq), yang memperoleh sumber pengetahuan hati (ma'rifat qalbiyah). Dalam kaitan ini Allah berfirman, "Mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakan memahaminya." (QS. 7:1-79). Dari uraian di atas, dapat kita ambil kesimpulan sementara, bahwa menurut para filsuf dan sufi Islam, hakekat manusia itu jiwa yang berfikir (nafs insaniyah), tetapi mereka berbeda pendapat pada cara mencapai kesempurnaan manusia. Bagi para filsuf, kesempurnaan manusia diperoleh melalui pengetahuan akal (ma'rifat aqliyah), sedangkan para sufi melalui pengetahuan hati (ma'rifat qalbiyah). Akal dan hati sama-sama merupakan daya berpikir. Menurut sufi, hati yang bersifat nurani itulah sebagai wadah atau sumber ma'rifat --suatu alat untuk mengetahui hal-hal yang Ilahi. Hal ini hanya dimungkinkan jika hati telah bersih dari pencemaran hawa nafsu dengan menempuh fase-fase moral dengan latihan jiwa, serta menggantikan moral yang tercela dengan moral yang terpuji, lewat hidup zuhud yang penuh taqwa, wara' serta dzikir yang kontinyu, ilmu ladunni (ilmu Allah) yang memancarkan sinarnya dalam hati, sehingga ia dapat menjadi Sumber atau wadah ma'rifat, dan akan mencapai pengenalan Allah Dengan demikian, poros jalan sufi ialah moralitas. Latihan-latihan ruhaniah yang sesuai dengan tabiat terpuji

adalah sebagai kesehatan hati dan hal ini yang lebih berarti ketimbang kesehatan jasmani sebab penyakit anggota tubuh luar hanya akan membuat hilangnya kehidupan di dunia ini saja, sementara penyakit hati nurani akan membuat hilangnya kehidupan yang abadi. Hati nurani ini tidak terlepas dari penyakit, yang kalau dibiarkan justru akan membuatnya berkembang banyak dan akan berubah menjadi hati dhulmani --hati yang kotor. Kesempurnaan hakikat manusia (nafs insaniyah) ditentukan oleh hasil perjuangan antara hati nurani dan hati dhulmani. Inilah yang dimaksud dengan firman Allah yang artinya, "Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang mensucikan jiwanya, dan rugilah orang yang mengotorinya." (QS. 91:8-9). Hati nurani bagaikan cermin, sementara pengetahuan adalah pantulan gambar realitas yang terdapat di dalamnya. Jika cermin hati nurani tidak bening, hawa nafsunya yang tumbuh. Sementara ketaatan kepada Allah serta keterpalingan dari tuntutan hawa nafsu itulah yang justru membuat hati-nurani bersih dan cemerlang serta mendapatkan limpahan cahaya dari Allah Swt. Bagi para sufi, kata al-Ghazali, Allah melimpahkan cahaya pada dada seseorang, tidaklah karena mempelajarinya, mengkajinya, ataupun menulis buku, tetapi dengan bersikap asketis terhadap dunia, menghindarkan diri dari hal-hal yang berkaitan dengannya, membebaskan hati nurani dari berbagai pesonanya, dan menerima Allah segenap hati. Dan barangsiapa memiliki Allah niscaya Allah adalah miliknya. Setiap hikmah muncul dari hati nurani, dengan keteguhan beribadat, tanpa belajar, tetapi lewat pancaran cahaya dari ilham Ilahi. Hati atau sukma dhulmani selalu mempunyai keterkaitan dengan nafs atau jiwa nabati dan hewani. Itulah sebabnya ia selalu menggoda manusia untuk mengikuti hawa nafsunya. Kesempurnaan manusia (nafs nathiqah), tergantung pada kemampuan hati-nurani dalam pengendalian dan pengontrolan hati dhulmani. DAFTAR KEPUSTAKAAN Abu al-Wafi aI-Taftazani, Maduhal ila al-Tashawwuf al-Islamiy, Kairo, 1983. Ahmad Dandy, Allah dan Manusia Dalam Konsepsi Syeikh Nurudin al-Raniry Jakarta, Rajawali, 1983. Al-Farabi, Kitab Ara Ahl al-Madinah al-Fadhilah, Kairo, 1906. Al-Ghazali, Ihya Ulum al-Din, Kairo, 1334 H. ------, Ma'arij al-Quds fi Madarij Ma'rifah al-Nafs, Kairo, 1327 H. ------, Asnan al-Qur'an fi Ihya 'Ulum al-Din, Kairo. Harun Nasution, Falsafah dan Mistisisme Islam, Bulan Bintang, Jakarta, 1978. Muhyiddin Ibnu Arabi, Fushush al-Hikam, Kairo, 1949. --------------------------------------------

Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah Editor: Budhy Munawar-Rachman Penerbit Yayasan Paramadina Jln. Metro Pondok Indah Pondok Indah Plaza I Kav. UA 20-21 Jakarta Selatan Telp. (021) 7501969, 7501983, 7507173 Fax. (021) 7507174 Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota
Please direct any suggestion to Media Team

Artikel Yayasan Paramadina
Indeks Islam | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota III.17. PANDANGAN KESUFIAN TENTANG DIRI MANUSIA oleh M. Bambang Pranowo Elingana yen ana timbalan Yen wis budal ora kena wakilan, Ora kena wakilan Timbalane kang Maha Kuasa Gelem ora gelem bakale lunga (Ingatlah jika telah datang panggilan Kau harus pergi dan tak bisa kau wakilkan, tak bisa kau wakilkan Panggilan dari Yang Maha Kuasa Mau tak mau kau harus pergi jua) Nyanyian puitis di atas adalah penggalan dari sebuah nyanyian keagamaan yang cukup panjang. Di Jawa, nyanyian itu disebut pujian atau erang-erangan. Pujian tersebut biasanya didendangkan bersama-sama oleh para jemaah di langgar atau mesjid menjelang shalat Subuh, Maghrib atau Isya, sembari menanti datangnya anggota masyarakat lain yang turut mendirikan salat berjamaah. Mungkin berkat susunannya yang ritmis dan mudah dihapal maka pujian tersebut seringkali menjadi "nyanyian" populer yang dilakukan bukan hanya di mesjid dan langgar, tapi juga di sawah dan ladang ketika seseorang menggembalakan ternaknya, atau di rumah-rumah ketika ibu-ibu berusaha menidurkan anaknya. Tidak jelas siapa pengarang pujian yang cukup populer tersebut, terutama di desa-desa bagian Jawa Tengah Selatan. Namun, orang mengenal bahwa pujian semacam itu disebarkan oleh kalangan pesantren. Perlu dicatat, para kyai pemimpin pesantren kebanyakan juga pemimpin tarekat, sehingga tidak mengherankan kalau pujian yang diciptakan sarat dengan pesan-pesan kesufian. Dan, dari pujian tersebut tercermin sebuah permintaan agar manusia menyadari bahwa suka atau tidak, ia harus memenuhi panggilan Tuhan Yang Maha Kuasa untuk kembali ke haribaannya. Panggilan Tuhan tersebut tidak dapat didelegasikan kepada siapapun juga. Memang, di antara pesan kesufian yang terpenting adalah ajakan agar manusia menyadari sepenuhnya sifat kefanaan dari kehidupan dunia ini. Oleh karena dunia bersifat fana dan yang kekal hanyalah Tuhan, maka dunia ini dipandang benar-benar

itu pada dasarnya disebabkan tiga kemungkinan. t. Dalam kenyataannya. vol. Melaksanakan secara intensif berbagai amalan sunnah tersebut tak lain merupakan usaha mengamalkan sebuah hadits Qudsi sebagai berikut: Kepada orang yang memusuhi Wali-Ku. di antara cermin dan sumber cahaya terdapat penghalang yang tidak memungkinkan cahaya Ilahi menerpa cermin tersebut. Dengan demikian jika hati manusia benar-benar bersih niscaya ia akan bisa menangkap cahaya petunjuk Ilahi dan memantulkan cahaya tersebut ke sekitarnya (lihat Ghazali. Lalai dari kesadaran berketuhanan berarti manusia telah terjerat oleh perangkat serba kefanaan. puasa Senin.t. di dunia yang fana ini. hati manusia ibarat cermin. Kamis. cerminnya terlalu kotor sehingga cahaya Ilahi yang seterang apapun tidak dapat ditangkap dengan cermin rohani yang dimilikinya. ia harus senantiasa berusaha memurnikan diri dengan jalan menguasai nafsu-nafsu rendah serta mengikuti perjalanan hidup para nabi melalui berbagai latihan kerohanian (riyadlah). Yang termasuk dalam kategori ini. cermin tersebut memang membelakangi sumber cahaya hingga memang tak dapat diharapkan dapat tersentuh oleh cahaya petunjuk Ilahi. riyadlah atau latihan kerohanian dalam berbagai bentuk amalan sunnah --salat sunnah. Dalam "perangkap" seperti itu manusia cenderung berorientasi hanya kepada usaha mewujudkan kesenangan sementara yang segera dapat dinikmati kini dan di sini. Begitu sukma meninggalkan raga. mengapa manusia seringkali lalai dan lupa kepada Tuhan dan detik-detik kehadirannya di dunia ini justru lebih banyak tersita untuk hal-hal yang bersifat jasadi atau lahiriah belaka? Imam Ghazali menjawab masalah ini dengan Teori Cermin (al-Mir'ah) dalam karyanya yang sangat terkenal itu --Ihya' 'ulum al-Din.bermakna hanya apabila ia senantiasa diorientasikan kepada Tuhan. akan Kunyatakan perang. tahta dan kesenangan lahir sebagai orientasi hidupnya. . orang-orang yang menjadikan harta. Hamba-Ku adalah mereka yang mendekatkan dirinya kepada-Ku dan melakukan pula hal-hal sunnah yang Aku cintai. Ia lupa bahwa manusia disebut manusia tidak lain karena roh sukma yang ditiupkan Tuhan masih melekat di jasad atau raganya. Pertama. Menurut Imam Ghazali. 119-125). Sedangkan jika manusia tidak mampu menangkap sinyal-sinyal spiritual dari Tuhan. Ibadat yang paling mendekatkan Hamba-Ku. Yang termasuk dalam kategori ini adalah mereka yang dilumuri dengan perbuatan-perbuatan kotor dan aniaya. sedangkan petunjuk Tuhan bagaikan nur atau cahaya. Inilah yang menerangkan mengapa di lingkungan pesantren dan di kalangan para penganut tarekat. Contoh yang sangat tepat untuk kategori ini orang-orang kafir yang dengan sadar mengingkari keberadaan Tuhan. sehingga Aku sayang kepadanya adalah menunaikan semua perintah yang telah Aku berikan. Ketiga.I: h. ia dianggap sudah tiada.. dan lebih-lebih usaha senantiasa mempertautkan diri dengan Allah melalui dzikir merupakan hal yang sangat sentral dalam kehidupan sehari-hari mereka. Agar hati manusia selalu dapat menjadi cermin yang bening. Kedua. puasa Nabi Daud. TEORI CERMIN AL-GHAZALI Bagaimanapun roh atau sukma akan kembali kepada Tuhan.

Setibanya di rumah ia langsung sujud syukur "Alkhamdulillah." Demikianlah. Orang sepasar akhirnya bergumam: "Oh. Sesampainya di pasar secara demonstratif ia sengaja mencuri ayam yang sedang diperjualbelikan. salah seorang pendiri mazhab fiqih yang terkenal. maka Aku-lah yang menjadi telinganya yang dipakai untuk mendengar. Karena tertangkap basah maka iapun dipukuli banyak orang. ia zindiq dan siapa yang mengamalkan fiqh tanpa bertasawuf. Ibadah ritual akan jatuh nilainya menjadi seremonial tanpa isi jika ibadah tersebut dilaksanakan tanpa sikap batin yang dipimpin semata-mata oleh harapan memperoleh ridha Allah. Dalam kaitan ini Imam Malik.Apabila Aku telah mencintainya. Aku-lah matanya untuk melihat. Segala pujian dilimpahkan orang kepada si Alim atas kesalehan dan kealimannya. Pada suatu pagi ia pun pergi menuju pasar di seberang desa. Maqam-maqam tersebut dari . Sebaliknya sikap batin yang tidak diaktualisasikan dalam bentuk pelaksanann ibadah sebagaimana yang dituntunkan syariat dan dicontohkan oleh Nabi. Dengan demikian. dari sudut pandang kesufian. Apabila dia meminta kepada-Ku akan Aku beri. ia fasiq (tak bermoral). dan Aku-lah kakinya untuk berjalan. kini aku beribadah bukan karena manusia.merupakan ilustrasi relatif menarik. maka di kalangan kaum sufi ibadah ritual selalu dibarengi bahkan didahului oleh penggeledahan dan interogasi diri: apakah ibadah yang kita lakukan sudah benar-benar karena Allah dan bukannya karena yang lain? Dalam kaitannya dengan upaya rohani seperti itulah kisah sufistik yang dicatat dari pesantren --Tarekat Qadariah-Naqshabandiyah di Jawa Timur-. keberanian untuk melakukan penggeledahan dan interogasi diri merupakan inti keberagamaan dan sekaligus bagaikan tangga naik yang akan mengantarkan diri seseorang kepada derajat yang terus meningkat dari suatu tingkat (maqam) tertentu ke tingkat rohani berikutnya yang lebih tinggi. Aku-lah tangannya untuk bekerja. mengatakan bahwa siapa yang bertasawuf tanpa mengamalkan fiqh. dan apabila ia meminta perlindungan akan Aku beri. padahal sebenarnya ia tak lebih dari seorang maling!" Mendengar omongan seperti itu ia bukannya sedih melainkan bersyukur kepada Allah. Jangan-jangan dirinya rajin beribadah itu bukan karena Allah melainkan justru karena orang memujinya sebagai orang alim. Ayam dikembalikannya dan ia pun pulang dalam keadaan babak belur. yang menjurus kapada zindiq (penyelewengan). dipandang sebagai kesombongan spiritual. hal itu dalam pandangan kesufian tidak secara otomatis merupakan jaminan bahwa orang tersebut akan sampai pada tujuan hakiki dari ibadah yakni terjalinnya hubungan konstan dengan Allah. Mendengar berbagai pujian tersebut si Alim jadi gelisah. hidup ini merupakan pergulatan terus-menerus dengan diri sendiri. tetapi insya Allah benar-benar karena Engkau semata. ya Allah. Agar ibadah ritual benar-benar dapat bermakna dan tak jatuh ke nilai seremonial yang tanpa isi. Di sebuah desa hidup seorang yang dikenal oleh kalangan luas sebagai orang yang sangat alim. (Riwayat Bukhari dan Abi Hurairah) Apabila seseorang telah melaksanakan berbagai ibadah secara intensif. ternyata ia hanya pura-pura alim.

(10)Maqam Ridla. (3) Maqam Zuhud.yang terendah hingga yang tertinggi dikenal di kalangan kaum sufi dengan istilah-istilah sebagai berikut: (1) Maqam Tawbat. (5) Maqam Faqir. ialah rasa ngeri dalam menghadapi siksa Allah atau tidak tercapainya kenikmatan dari Allah. (4) Maqam Shabar. Namun. Mengenal selintas maqam-maqam tersebut seolah-olah mustahil nilai-nilai kesufian tersebut dapat diwujudkan dalan kehidupan yang sudah serba modern ini. maka maqam-maqam tersebut adalah acuan yang memang harus dimiliki mereka yan benar-benar merindukan leburnya diri kembali kepada Yan Maha Hakiki. Menengok pada luka menganga yang menjangkiti dunia modern seperti konsumerisme yang seolah tak mengenal kata puas. Akhirnya. yaitu menyadari bahwa segala kenikmatan itu datangnya dari Allah semata. semua itu mengantarkan kita pada kesimpulan bahwa pola kehidupan yang semata-mata dipimpin oleh otak (head) dan ketrampilan teknologis (hand) itu perlu diimbangi dan dikendalikan dengan kebeningan hati (heart). ialah rasa puas di hati sekalipun menerima nasib pahit. (6) Maqam Syukur. (9) Maqam Tawakkal. serta materialisme yang cenderung mencekal nilai-nilai spiritual. diharapkan. yakni lepasnya pandangan keduniaan dan usaha memperolehnya dari diri orang yang sebetulnya mampu untuk memperolehnya. yaitu tenang serta tabah sewaktu melarat dan mengutamakan orang lain di kala berada. sukma yang berada dalam kegelapan). (8) Maqam Raja'. melalui sudut pandang kesufian kiranya kehidupan beragama akan marnpu mewujudkan pribadi-pribadi yang seimbang seperti itu. ialah ketabahan dalam menghadapi dan mendorong hawa nafsu. Dan. dibenci. ataukah ia akan mengarahkan sukmanya sehingga sang sukmalah yang memimpin kebutuhan jasadi agar senantiasa berada dalam terpaan cahaya . hedonisme yang telah menyebabkan merajalelanya AIDS. jika maqam-maqam tersebut dipandang sebagai tidak lain dari upaya pendakian rohani menuju ridla Allah. (7) Maqam Khauf. yaitu menahan diri untuk tidak melakukan sesuatu dalam rangka menjunjung tinggi perintah-Nya. semua itu terpulang kepada manusia sendri apakah ia akan menundukkan sukmanya kepada kehidupan yang berorientasi pada kebutuhan jasadi yang bersifat kini dan di sini (sukma dhulmani. (2) Maqam Wara'. yakni meninggalkan dan tidak mengulangi lagi perbuatan dosa yang pernah dilakukan dan dosa-dosa sepadannya demi menjunjung tinggi ajaran Allah dan mengingkari murka-Nya. yaitu sikap hati yang bergantung hanya kepada Allah dalam menghadapi segala sesuatu baik yang disukai. yakni hati yang diliputi rasa gembira karena mengetahui kemurahan dari Allah yang menjadi tumpuan harapannya. maupun ditakuti.

" dalam Journal of Southeast Asian History. tanpa tahun. masih belum selesai atau setengah jadi.I. sehingga masih harus berjuang untuk menyempurnakan dirinya (QS. 1981. hanif dan berakal. 2 (1961). -------------------------------------------Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah Editor: Budhy Munawar-Rachman Penerbit Yayasan Paramadina Jln. Di dalam tradisi kaum sufi terdapat postulat yang berbunyi: Man 'arafa nafsahu faqad 'arafa rabbabu --Siapa yang telah mengenal dirinya maka ia (akan mudah) mengenal Tuhannya. 95:4). 7501983.N. Pekalongan. UA 20-21 Jakarta Selatan Telp. 1985. 1977. LP3ES. Purwokerto. (021) 7507174 Indeks Islam | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota Please direct any suggestion to Media Team Artikel Yayasan Paramadina Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota III. A. DAFTAR KEPUSTAKAAN Firdaus A. Al-Ghazali. "Soal-Jawab Thoriqiyah". vol. 7507173 Fax.Ilahi. Madjid. Raja Murah. Namun begitu Allah juga memperingatkan bahwa kualitas kemanusiaannya. 10-23. MANUSIA DAN PROSES PENYEMPURNAAN DIRI oleh Komaruddin Hidayat Secara tegas Allah menyatakan bahwa manusia merupakan puncak ciptaan-Nya dengan tingkat kesempurnaan dan keunikan-Nya yang prima dibanding makhluk lainnya (QS. dalam M. Jakarta. "Jalan ke Surga" (Kumpulan 772 Hadist Qudsi). Berjan. 4:174).H. Jadi. Nurcholish. Dawam Rahardjo (ed.. Proses penyempurnaan ini amat dimungkinkan karena pada naturnya manusia itu fithri. Zarkasyi. Johns. "Tasauf dan Pesantren". Pesantren Raudlatul Thulab. 91:7-10). Yayasan Kesejahteraan Bersama. Lebih dari itu bagi seorang mukmin petunjuk primordial ini masih ditambah lagi dengan datangnya Rasul Tuhan pembawa kitab suci sebagai petunjuk hidupnya (QS.) Pesantren dan Pembaharuan. (021) 7501969. pengenalan diri adalah tangga yang harus dilewati seseorang untuk mendaki ke jenjang yang lebih tinggi dalam rangka . Imam. "Sufism As a Category in Indonesian Literature And History..16.. hal. (dengan terjemahan Jiwa oleh Misbah Zaini Mustofa). Metro Pondok Indah Pondok Indah Plaza I Kav. Muhamad Nawawi Shidiq. "Ihya' 'Ulum al-Din". vol.

filsuf. kedokteran. dan ahli pikir pada umumnya. telah menghantarkan pada persepsi yang terpecah dalam melihat manusia dan hubungannya dengan Tuhan. bila langkah pertama untuk mengenal Tuhan adalah mengenal diri sendiri terlebih dahulu secara benar. melainkan juga di kalangan Islam. di mana manusia itu lahir. meskipun obyek materialnya sama-sama manusia. Persoalan serius yang menghadang adalah. Jadi. katanya: Nietzsche proclaims the will to power. misalnya. We acquired instead a complete anarchy of thought. Perbedaan-perbedaan ini muncul dalam benak manusia karena pada dasarnya yang bertuhan adalah manusia. Demikianlah manusia senantiasa mengandung sebuah misteri yang melekat pada dirinya dan misteri ini telah mengandung sebuah misteri yang melekat pada dirinya dan misteri ini telah mengundang kegelisahan intelektual pare ahli pikir untuk mencoba berlomba menjawabnya. teologi dan lainnya semuanya menjadikan manusia sebagai obyek kajian materialnya. akan melahirkan kesimpulan yang berbeda pula mengenai siapa dan apa hakikat manusia itu. maka ilmu kalam lebih menggarisbawahi gambaran Tuhan sebagai Maha Akal. Owing to this development our modern theory of man lost its intellectual center. sosiologi. biologi. maka . manusia pada akhirnya akan menuntut imbalan pahala atas ketaatannya melaksanakan dekrit-Nya. oleh Ernst Cassirer. p. sementara ilmu tasawuf memproyeksikan Tuhan sebagai Sang Kekasih. ekonomi. kini manusia semakin mendapatkan kesulitan untuk mengenali jati diri dan hakikat kemanusiaannya Dengan majunya spesialisasi dalam dunia ilmu pengetahuan dan berkembangnya differensiasi dalam profesi kehidupan maka protret atau konsep tentang realitas manusia semakin terpecah meniadi kepingan-kepingan kecil sehingga keutuhan sosok manusia semakin sulit dihadirkan secara utuh. antropologi. Dalam tradisi ilmu fiqih misalnya. politik. Demikianlah.mengenal Tuhan. bila ilmu fiqih cenderung mengenalkan Tuhan sebagai Maha Hakim. sementara manusia adalah subyek-subyek yang cenderung membangkang dan harus siap menerima vonis-vonis dari kemurkaan Tuhan Sang Maha Hakim atau. Each theory becomes a Procrustean bed in which the empirical facts are stretched to fit a preconceived pattern. Terjadinya ideologisasi terhadap ilmu-ilmu agama. tumbuh dan berkembang dibentuk dan dipengaruhi oleh berbagai faktor yang dijumpai dalam realitas sejarah hidupnya. yang berarti semakin terputus dari pemahaman komprehensif tentang manusia. Semakin seorang ahli pikir mendalami satu sudut kajian tentang manusia. secara sadar atau tidak. 1978. Differensiasi metodologis setiap ilmu. tetapi masing-masing memiliki metode dan tujuan yang berbeda. semakin jauh pula ia terkurung dalam bilik lorong yang ia masuki. (Ernst Cassier. sebaliknya. Marx enthrones the economic instinct. Sederet disiplin ilmu seperti psikologi. Krisis pengenalan jati diri manusia ini secara eksplisit dikemukakan. sebagaimana diakui kalangan psikolog. secara tak langsung ilmu ini cenderung menghadirkan wajah Tuhan sebagai Yang Maha Hakim.21) Krisis pengenalan diri sesungguhnya tidak hanya dirasakan kalangan ahli pikir Barat modern. Freud signalizes the sexual instinct.

memberikan contoh yang amat sederhana tetapi gamblang betapa miskinnya penganut materialisme dalam memahami kehidupan yang penuh nuansa ini. dan akan mudah dijumpai pada berbagai bidang studi keilmuan Barat kontemporer dengan dalih. 1962. secara sederhana kita bisa membedakan dua paradigma pemahaman terhadap manusia. Dalam konteks inilah . misalnya. 41:53). Terlepas apakah riwayatnya sahih ataukah lemah. 2:3). Dalam QS. mereka cenderung sepakat bahwa manusia adalah microcosmos yang memiliki sifat-sifat yang menyerupai Tuhan dan paling potensial mendekati Tuhan (Bandingkan QS. faham ini telah mereduksi keagungan manusia yang dinyatakan Tuhan sebagai moral and religious being. misalnya.langkah pertama yang harus kita mengenal diri kita secara benar. Kuciptakanlah makhluk maka melalui Aku mereka kenal Aku." Pendek kata. the art object or act of love is only a flow of electricity. Allah menyatakan bahwa dalam diri manusia memang terdapat unsur Ilahi yang dalam al-Qur'an beristilah "min ruhi. pada umumnya orang sufi menerima hadits tersebut. an act of love only chemiphysical. (Ralph ross. Meski demikian. Yang pertama berkeyakinan pada teori bahwa semua realitas materi (downward causation). Kritik terhadap aliran materialisme akhir-akhir ini semakin gencar. 8). Progressive reductionism works as follows. vegetality. Kuntu kanzan makhfiyyan fa ahbabtu an u'rafa fa khalaqtu al-khalqa fabi 'arafu-ni --Aku pada mulanya adalah harta yang tersembunyi. Bila diurut dari bawah unsurnya ialah minerality. 15:29. An art object is only mass and light waves. Ralph Ross. yaitu paradigma materialisme-atheistik dan spiritualisme-theistik. antara lain. realitas manusia memiliki jenjang-jenjang dan mata rantai eksistensi. Lebih dari itu dalam tradisi sufi terdapat keyakinan yang begitu populer bahwa manusia sengaja diciptakan Tuhan karena dengan penciptaan itu Tuhan akan melihat dan menampakkan kebesaran diri-Nya. only electrical charges. dan humanity. Bagi mereka yang berpandangan atau terbiasa dengan metode berpikir empirisme-materialistik akan sulit diajak untuk menghayati makna penyempurnaan kualitas insani sebagaimana yang lazim diyakini di kalangan pare sufi. Dari jenjang pertama sampai ke tiga aktivitas dan daya jangkau manusia masih berada dalam lingkup dunia materi dan dunia materi selalu menghadirkan polaritas atau fragmentasi yang saling berlawanan (the primordial pair). Pandangan yang begitu dangkal tentang manusia secara tegas dikritik oleh al-Qur'an. hal. kemudian Aku ingin dikenal. manusia adalah wakil Tuhan di muka bumi untuk melaksanakan 'blueprint'-Nya membangun bayang-bayang surga di bumi ini (QS. animality. namun dengan beberapa penafsiran yang berbeda. therefore. tempuh ialah bagaimana Meskipun Cassirer secara gamblang menunjukkan krisis pengenalan diri. sebaliknya yang kedua berkeyakinan bahwa dunia materi ini hakikatnya berasal dari realitas yang bersifat imateri (upward causation). Menurut doktrin al-Qur'an.

Pertama. penuh damai. Di manapun seorang mukmin berada. Dari dzikir ini meningkat sampai maqam kedua -takhalluq. tradisi tasawuf belum mempunyai definisi tunggal." Maqam ketiga tahaqquq. dahaga dan kerinduan mendekati Tuhan ini bukanlah hasil rekayasa pendidikan (kultur) melainkan merupakan natur manusia yang paling dalam. secara sadar meniru sifat-sifat Tuhan sehingga seorang mukmin memiliki sifat-sifat mulia sebagaimana sifat-Nya. 3:191). tujuan utama ajaran tasawuf adalah membantu seseorang bagaimana caranya seseorang bisa memelihara dan meningkatkan kesucian jiwanya sehingga dengan begitu ia merasa damai dan juga kembali ke tempat asal muasalnya dengan damai pula (QS. roh Ilahi yang bersifat imateri dan berperan sebagai "sopir" bagi kendaraan "jasad" kita ini seringkali lupa diri sehingga ia kehilangan otonominya sebagai master. sehingga ia bisa sedekat mungkin dengan Tuhan yang Maha Suci. Yaitu. Ajaran spiritualitas seperti ini tidak hanya terdapat pada Islam melainkan pada agama lain. Kalangan sufi yakin. dan animality. suatu mengaktualisasikan kesadaran dan kapasitas kemampuan untuk dirinya sebagai . lalu turunlah tahtanya ke level yang lebih rendah. makin bertambah kepingan gambaran realitas dunia. dan makin jauh pula manusia untuk mampu mengenal dirinya secara utuh. Yaitu. Dengan kiasan lain. dzikir atau ta'alluq pada Tuhan. pada nurani manusia yang terdapat dalam cahaya suci yang senantiasa ingin menatap Yang Maha Cahaya (Tuhan) karena dalam kontak dan kedekatan antara nurani dan Tuhan itulah muncul kedamaian dan kebahagiaan yang paling prima. Pendeknya. "Keakuan" orang bukan lagi difokuskan pada kesucian jiwa tetapi pada prestasi akumulasi dan konsumsi materi. namun para sarjana muslim sepakat bahwa inti tasawuf adalah ajaran yang menyatakan bahwa hakekat keluhuran nilai seseorang bukanlah terletak pada wujud fisiknya melainkan pada kesucian dan kemuliaan hatinya. Secara garis besar tahapan seorang mukmin untuk meningkatkan kualitas jiwanya terdiri dari tiga maqam. jiwa yang tadinya duduk dan memerintah dari atas singgasana "imateri" dengan sifat-sifatnya yang mulia seperti: cinta kasih. Bila hal ini terjadi maka terjadilah kerancuan standar nilai. "Takhallaqu bi akhlaq-i Allah. yang pertumbuhannya sering terhalangi oleh pertumbuhan dan naluri jiwa nabati dan hewani yang melekat pada manusia. yaitu dataran: minerality. selalu ingin dekat kepada Yang Maha Suci dan Abstrak. vegetality. Jadi. senang kesucian. berusaha mengingat dan mengikatkan kesadaran hati dan pikiran kita kepada Allah. Artinya. Seperti dikemukakan Carel Alexis bahwa man has gained the mistery of the material world before knowing himself. Dalam konteks ini kalangan sufi biasanya menyandarkan Hadits Nabi yang berbunyi. Dari kenyataan ini maka tidak terlalu salah bila ada yang berpendapat bahwa sesungguhnya potensi dan kecenderungan kehidupan batin manusia ke arah kehidupan mistik bersifat natural dan universal. Yaitu. dia tidak boleh lepas dari berfikir dan berdzikir untuk Tuhannya (QS. Dalam kaitan definisi. 89:27). Makin berkembang ilmu pengetahuan. Proses ini bisa juga disebut sebagai proses internalisasi sifat Tuhan ke dalam diri manusia.yang dimaksud bahwa realitas yang kita tangkap tentang dunia materi adalah realitas yang terpecah berkeping-keping. bahkan dalam tradisi pemikiran filsafat akan mudah pula dijumpai.

dan tahaqquq. Pandangan semacam itu tentu saja kurang populer dan sulit diterima oleh kalangan terdekat. melainkan Tuhan dalam sifat-Nya yang Dhahir. namun luasnya hati Insan Kamil (qalb al-'arif) melebihi luasnya langit dan bumi karena ia sanggup menerima 'arsy Tuhan. yang dimaksudkan dengan ungkapan siapa yang mengetahui jiwanya. hanya hati seorang Insan Kamil-lah yang paling mampu menangkap lalu memancarkan tajalli-Nya dalam perilaku kemanusiaan (Fushushul Hikam. adalah seiring dengan tajalli-nya Tuhan. p. kata qalb senantiasa berasosiasi dengan kata taqallub yang bergerak atau berubah secara konstan. Seorang 'abd-u 'l-Lah (budak Allah) yang saleh adalah sekaligus juga wakil-Nya untuk membangun bayang-bayang surga di muka bumi ini. XII. Dalam sebuah hadits Qudsi disebutkan bahwa meskipun secara fisik hati itu kecil dan mengambil tempat pada jasad manusia. maka seorang mukmin akan mencapai derajat khalifah Allah dengan kapasitasnya yang perkasa tetapi sekaligus penuh kasih dan damai.seorang mukmin yang dirinya sudah "didominasi" sifat-sifat Tuhan sehingga tercermin dalam perilakunya yang serba suci dan mulia. sementara badan dan anggotanya bagai istana dan para abdi dalem-nya. menurut Ibn 'Arabi. dan bukankah hamba-hamba-Nya yang saleh telah dinyatakan sebagai mandataris-Nya? Jadi. Taqallub-nya hati sang sufi. KHALIFAH ALLAH: MANUSIA SUCI NAN PERKASA Bila upaya penyucian jiwa merupakan inti tasawuf.138). Dalam konteks inilah. secara karikatural. maka tasawuf bisa dikatakan sebagai inti keberagaman dan karenanya setiap muslim semestinya berusaha untuk menjadi sufi. takhalluq. sementara bumi langit tidak sanggup. Bukankah Allah punya blue-print dan proyek untuk memakmurkan bumi. kata 'Arabi. seorang sufi kontemporer adalah mereka yang tidak asing berdzikir dan berfikir tentang Tuhan sekalipun di hotel mewah dan datang dengan kendaraan yang mewah pula. Menurut Ibn 'Arabi. 1977. Beberapa ayat al-Qur'an dan Hadits menegaskan bahwa hati seseorang bagaikan raja. tetapi Tuhan bukan pengertian huwiyah-Nya atau "ke-Dia-annya" yang Maha Absolut dan Maha Esa. Maqam tahaqquq ini sejalan dengan Hadits Qudsi yang digemari kalangan sufi yang menyatakan bahwa bagi seorang mukmin yang telah mencapai martabat yang sedemikian dekat dan intimnya dengan Tuhan maka Tuhan akan melihat kedekatan hamba-Nya. dan itu dilakukan dalam upaya mendekati dan menggapai kasih Tuhan. Dan dari sekian makhluk Tuhan. Tajalli berarti penampakan diri Tuhan ke dalam makhluk-Nya dalam pengertian metafisik. bukankah cukup tegas isyarat al-Qur'an maupun Hadits yang menyatakan bahwa kewajiban setiap muslim adalah mensucikan jiwanya sehingga kesuciannya termanifestasikan dalam perilaku insaniyahnya? Melalui tahapan ta'alluq. Kebaikan dan kejahatan kerajaan itu akan tergantung bagaimana perilaku sang raja. . bukannya Yang Bathin. ia akan mengetahui Tuhannya karena manusia adalah "microcosmos" atau jagad cilik dimana 'arsy Tuhan berada di situ. Dalam tradisi tasawuf yang menjadi fokus kajiannya ialah apa yang disebut gaib atau hati dalam pengertiannya yang metafisis. Hossein Nasr. Namun begitu.

Sedangkan tiga kata lainnya menjadi terma yang terkenal dalam tasawuf. Symbols and Civilization. Toshihiko. Jilid II dan III. Lahore. Afifi. 1962. kata tersebut telah dipakai antara lain pada Surah al-Jatsiyah: 18. An Essay on Man. Lahore. 1978. SYARI'AH. Harun. Dalam perkembangan Islam munculnya tiga kata thariqah. 1982. -------------------------------------------Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah Editor: Budhy Munawar-Rachman Penerbit Yayasan Paramadina Jln. Falsafat dan Mistisisme Dalam Islam. Karena itu ada baiknya kita lebih dahulu berbicara tentang tasawuf itu sendiri. 181) oleh KH Ali Yafie Kata syari'ah telah beredar luas di kalangan umat muslim. UA 20-21 Jakarta Selatan Telp. Princeton. Ibn. 7507173 Fax. HAQIQAH DAN MA'RIFAH (hal. New York. The Mystical Philosophy of Muhyi al-Din Ibnul 'Arabi. The Passion of al-Hallaj. 1977. Teheran. London. 7501983. Izutsu. Jakarta. Louis. Annemarie. Schimmel. haqiqah dan ma'rifah. Prof. Bahkan. 1973 Ross.. Metro Pondok Indah Pondok Indah Plaza I Kav. Dr. Dr. The Concept of Perpetual Creation in Islamic Mysticism and Zen Buddhism. 1976...DAFTAR KEPUSTAKAAN Arabi. Fushush al-Hikam (The Bezels of Wisdom). Dimensi Mistik Dalam Islam. THARIQAH. (021) 7507174 Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota Please direct any suggestion to Media Team Artikel Yayasan Paramadina Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota III. AE. Pertama. Mir. dalam al-Qur'an sendiri. Nasution. 1938 Cassirer. mereka . Massiggnon..15. 1980. Ernst. Mengenai kelompok tasawuf ada dua pendapat. telah mengakibatkan terbatasnya pengertian syari'ah sehingga lebih banyak mengacu pada norma hukum. The Qur'anic Sufism. New York. Valiuddin. 1978. (021) 7501969. Pemakaian kata tersebut mengacu kepada makna ajaran dan norma agama itu sendiri. Raiph.

tapi mulai ditandai juga dengan berkembangnya suatu cara penjelasan teoritis yang kelak menjadi suatu disiplin ilmu yang disebut ilmu Tasawuf.adalah kelompok spiritual dalam umat Islam yang berada di tengah-tengah dua kelompok lainnya yang disebut kelompok formal dan kelompok Intelektual. Ibnu Khaldun mengungkapkan. seperti kita dapat simak dalam karya sastra "cerita seribu satu malam" dimasa kejayaan kekhalifahan Abbasiyah. Kecenderungan seperti ini secara umum terjadi pada kalangan kaum muslim angkatan pertama. Kelompok intelektual ini terdiri dari ulama-ulama mutakallim (ahli teologi). secara berangsur-angsur terjadi pergeseran nilai sehingga orientasi kehidupan duniawi menjadi lebih berat. Ahli syari'ah menonjolkan -kadang-kadang secara berlebih-lebihan. bahwa tasawuf itu hanyalah suatu kecenderungan spiritual yang membentuk etika moral dan lingkungan sosial khusus. pola dasar tasawuf adalah kedisiplinan beribadah. Ketika itulah angkatan pertama kaum muslim yang mempertahankan pola hidup sederhananya lebih dikenal sebagai kaum sufiyah. Ajaran ini tak ubahnya merupakan upaya mendidik diri dan keluarga untuk hidup bersih dan sederhana. yaitu produk penalaran ulama muhaddits dan fuqaha yang disebut syari'ah. Dan ini menimbulkan banyak pertentangan antara kedua kelompok tersebut. dan produk penalaran ulama tasawuf yang disebut haqiqah. sehingga tidak diperbudak harta atau tahta. . sehingga di kalangan atas dan menengah terdapat pola kehidupan mewah. dan upaya membebaskan diri dari keterikatan mutlak pada kehidupan duniawi. Pada angkatan berikutnya (abad 2 H) dan seterusnya. Perbedaan tersebut ditandai dengan beberapa hal berikut: 1.terjadilah pemisahan antara dua pola penalaran. Sedang dilain pihak. Pada tahap perkembangannya. Selanjutnya para fuqaha pun disebut ahli syari'ah dan para ulama tasawuf disebut ahli haqiqah. Dalam masa tiga abad itu dunia Islam mencapai kemakmuran yang melimpah. Pada masa itu gerakan tasawuf juga mengalami perkembangan yang tidak terbatas hanya pada praktek hidup bersahaja saja. Pada tingkat perkembangan inilah muncul beberapa terma yang dulunya tidak lazim dipakai dalam ilmu-ilmu keislaman. secara berangsur-angsur pola pikir dan pola hubungan antara ahli syari'ah dan ahli haqiqah makin berbeda. begitu pula seorang mutakallimin sekaligus juga ulama sufiyah. sedangkan kelompok formal terdiri dari ulama-ulama muhaddits dan fuqaha. Sehingga seharusnya kita katakan seorang muhaddttsin sekaligus juga ulama sufiyah. konsentrasi tujuan hidup menuju Allah (untuk mendapatkan ridla-Nya). atau kesenangan duniawi lainnya. Keadaan tersebut berkelanjutan hingga mencapai puncak perkembangannya pada akhir abad 4 H. Kedua. Ajaran Tasawuf pada dasarnya merupakan bagian dari prinsip-prinsip Islam sejak awal. serta patuh melaksanakan ajaran-ajaran agama dalam kehidupannya sehari-hari.soal pengalaman agama dalam bentuk yang formalistik (syi'ar-syi'ar lahiriah). Upaya penalaran para ulama muhaddits dan fuqaha dalam menjabarkan prinsip-prinsip ajaran Islam mengenai penataan kehidupan pribadi dan masyarakat yang sudah berkembang selama tiga abad -dengan munculnya disiplin ilmu Tasawuf.

ada baiknya kita mempertanyakan kapankah munculnya tarekat (al-thuruq al-shufiyah) itu dalam sejarah perkembangan gerakan tasawuf Dr. Adanya teori-teori ahli haqiqah yang menggusarkan para ahli syari'ah. Di Jawa Timur misalnya. pemerintah Mesir menempatkan pembinaan dan koordinasi tarekat-terekat tersebut di bawah Departemen Bimbingan Nasional (Wizarah al-Irsyad al-Qaumi). tokoh pertama yang memperkenalkan sistem thariqah (tarekat) itu Syekh Abdul Qadir al-Jilani (w. Padahal. Ajaran tarekatnya menyebar ke seluruh penjuru dunia Islam. Jurang pemisah yang makin hari makin melebar antara ahli syari'ah dan ahli haqiqah makin menjadi-jadi pada sekitar akhir abad kelima Hijrah. Ghinia dan Jawa. Mereka berkata. Untuk lebih mengenal adanya tarekat itu. Dalam buku ini beliau mempertemukan teori-teori syari'ah dengan teori-teori haqiqah Ternyata upaya al-Ghazali ini sangat membantu dalam merukunkan kembali antara para ahli syari'ah dengan ahli haqiqah. tarekat yang banyak pengikutnya Tarekat Rifa'iyyah yang dibangun Sayid Ahmad al-Rifa'i. dan Imam Ghazali berupaya memulihkannya. kita melihat adanya langkah lebih maju dalam perkembangan tarekat-tarekat tersebut dengan adanya koordinasi antara berbagai macam tarekat itu lewat ikatan yang dikenal dengan nama Jam'iyah Ahl al-Thariqah al-Mu'tabarah. Sedangkan di Mesir. Tijaniyah dan Sanusiyah. 561 H/1166 M) di Baghdad. Kamil Musthafa al-Syibi dalam tesisnya tentang gerakan tasawuf dan gerakan syi'ah mengungkapkan. misalnya teori al-fana fi 'l-Lah (peleburan diri dalam Allah) yang dikemukakan Abu Yazid al-Busthami dan teori Hub al-Lah (cinta Allah) hasil pemikiran Rabi'ah al-'Adawiyah serta teori Maqamat-Ahwal (terminal-terminal dan situasi-situasi) ciptaan Dzunn-un al-Mishri. disamping Tarekat Naqsyabandiyah.para ahli haqiqah menonjolkan aspek-aspek batiniah ajaran Islam. yang berhak mendapatkan perlindungan dalam rangka tertib kemasyarakatan suatu negara. Syadziliyah. Pada tahun lima puluhan. Ahli haqiqah mengklaim. kalau seseorang sudah mencapai derajat wali. 2. maka dia akan mampu menaklukkan alam dan melakukan hal-hal yang luar biasa (keramat). Dalam satu dasawarsa terakhir ini. Jalal . Semua itu dianggap sebagai ajaran aneh oleh para ahli syari'ah. bagaimanapun keberadaan penganut-penganut tarekat itu merupakan bagian dari potensi bangsa/umat. Sebagian ahli haqigah tidak merasa terikat dengan syi'ar-syi'ar agama yang ritual-formalistis. para pendahulu mereka sangat disiplin dalam pengalaman syari'ah. kita jumpai Tarekat Qadiriyah yang cukup dikenal. dia sudah bebas dari ikatan-ikatan formal. Di Indonesia kita lebih banyak mengenal ajaran tasawuf lewat lembaga keagamaan non-formal yang namanya "tarekat" asal kata thariqah. yang mendapat sambutan luas di Aljazair. 3. 4. Pertimbangannya ialah. siapa yang telah sampai perjalanan rohaniahnya kepada Allah dan sudah terlebur dirinya dalam diri Allah. Dalam kaitan inilah beliau tampil dengan karya besarnya Ihya 'Ulum al-Din. Dan tempat ketiga diduduki tarekat ulama penyair kenamaan Parsi.

membimbing masyarakat ke arah yang diridlai Allah. 2. 6. sehingga dapat berbuat hal-hal yang berlaku di luar kebiasaan. tapi ada beberapa ciri yang menyamakan: 1. Perancis dan Inggris secara berturut-turut. Yang juga perlu dicatat di sini ialah munculnya Tarekat Sanusiyah yang mempunyai disiplin tinggi mirip disiplin militer. Menjalani riyadlah (latihan dasar) berkhalwat. dengan jalan pengamalan syari'ah dan penghayatan haqiqah dalam sistem/metode thariqah untuk mencapai ma'rifah. Sayyid Ahmad al-Syarif al-Sanusi berhasil menggalang satu kekuatan perlawanan rakyat yang mampu memerangi kolonialis Italia. 672 H/1273 M). Memakai pakaian khusus (sedikitnya ada tanda pengenal) 3. Di bawah syeikhnya yang terakhir. bahwa sistem hidup bersih dan bersahaja (zuhd) adalah dasar semua tarekat yang berbeda-beda itu. dia harus terlebih dahulu menjalani masa persiapan yang berat. bersahaja. Ada upacara khusus ketika seseorang diterima menjadi penganut (murid). ada kalanya dengan alat-alat bantu seperti musik dan gerak badan yang dapat membina konsentrasi ingatan. Mungkin sifat keras dari iklim yang dibentuk Tarekat Sanusiyah inilah yang mewarnai Mu'ammar al-Qadafi mengambil alih kekuasaan dan berkuasa sampai saat ini sebagai Kepala Negara tersebut. Menekuni pembacaan dzikir tertentu (awrad) dalam waktu-waktu tertentu setiap hari. Penghormatan dan penyerahan total kepada Syeikh atau pembantunya yang tidak bisa dibantah Dari sistem dan metode tersebut Nicholson menyimpulkan.al-Din al-Rumi (w. tekun beribadah kepada Allah. bahwa tarekat-tarekat sufi merupakan bentuk kelembagaan yang terorganisasi untuk membina suatu pendidikan moral dan solidaritas sosial. dan akhirnya membebaskan wilayah Libya. Nicholson mengungkapkan hasil penelitiannya. Kemudian sistem ini berkembang terus dan meluas. Dalam periode berikutnya muncul tarekat al-Syadziliyah yang mendapat sambutan luas di Maroko dan Tunisia khususnya. dan pada umumnya tarekat-tarekat tersebut walaupun beragam namanya dan metodenya. Menyepi dan berkonsentrasi dengan shalat dan puasa selama beberapa hari (kadang-kadang sampai 40 hari). Semua pengikutnya dididik dalam disiplin itu. Sasaran akhir dari pembinaan pribadi dalam pola hidup bertasawuf adalah hidup bersih. 4. Apa yang dimaksud dengan kata ma'rifah dalam terma mereka ialah penghayatan puncak pengenalan keesaan Allah dalam wujud semesta dan wujud dirinya sendiri. Adakalanya sebelum yang bersangkutan diterima menjadi penganut. 5. Pada titik pengenalan ini akan terpadu makna tawakkal dalam tawhid. . dan dunia Islam bagian Timur pada umumnya. Beliau membuat tradisi baru dengan menggunakan alat-alat musik sebagai sarana dzikir. Mempercayai adanya kekuatan gaib/tenaga dalam pada mereka yang sudah terlatih.

7501983. DAFTAR KEPUSTAKAAN Abu 'l-Hasan al-Nadawi. Yang dimaksud saf di sini ialah baris pertama dalam salat di mesjid. Penulis-penulis banyak mengaitkannya dengan kata: 1. ASAL KATA SUFI Tidak mengherankan kalau kata sufi dan tasawuf dikaitkan dengan kata-kata Arab yang mengandung arti suci. kaum sufi banyak berusaha menyucikan diri mereka melalui banyak melaksanakan ibadat. -------------------------------------------Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah Editor: Budhy Munawar-Rachman Penerbit Yayasan Paramadina Jln. Filsafat yang menjadi dasar pendekatan diri itu adalah.yang melahirkan sikap pasrah total kepada Allah. Kedua. pertama. Saf pertama ditempati oleh orang-orang yang cepat datang ke mesjid dan banyak membaca . al-Muqaddimah. Dhuha al-Islam dan Zhuhur al-Islam Imam al Ghazali. bukan jasadnya. 42) oleh Harun Nasution (1/4) Tujuan tasawuf adalah mendekatkan diri sedekat mungkin dengan Tuhan sehingga ia dapat melihat-Nya dengan mata hati bahkan rohnya dapat bersatu dengan Roh Tuhan. Ahmad Amin. maka bagian yang dapat mendekatkan diri dengan Tuhan adalah roh. Dan memang. al-Shilah bain al-Tashawwuf wa 'l-Tasyayyu'. TASAWUF (hal. Tasawuf adalah ilmu yang membahas masalah pendekatan diri manusia kepada Tuhan melalui penyucian rohnya. maka yang dapat diterima Tuhan untuk mendekatiNya adalah roh yang suci. Tuhan bersifat rohani. dan melepaskan dirinya dari ketergantungan mutlak kepada sesuatu selain Allah. Safa dalam arti suci dan sufi adalah orang yang disucikan. 7507173 Fax. Ihya 'Ulum al-Din Irnam Ibn Khaldun. 2.14. Kamil Mushthafa al-Syibli. (021) 7501969. Metro Pondok Indah Pondok Indah Plaza I Kav. (021) 7507174 Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota Please direct any suggestion to Media Team Artikel Yayasan Paramadina Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota III. UA 20-21 Jakarta Selatan Telp. terutama salat dan puasa. Saf (baris). Rijal al-fikri wa 'l-Da'wah fi 'l-lslam. Tuhan adalah Maha Suci.

Dalam filsafatnya. dan pemurah dan suka menolong. Jadi. Filsafat sufi juga demikian. Sufi juga mengasingkan diri dari dunia ramai.ayat-ayat al-Qur'an dan berdzikir sebelum waktu salat datang. Pendapat ini memang banyak yang menolak. roh manusia adalah suci dan berasal dari tempat suci. kemah mereka menjadi tempat berteduh bagi orang yang kepanasan. karena kata sophos telah masuk kedalam kata falsafat dalam bahasa Arab. Suf (kain wol). Di Madinah mereka hidup sebagai orang miskin. 3. Diantara semua pendapat itu. Rahib-rahib itu berhati baik. Roh yang masuk ke dalam janin di kandungan ibu berasal dari alam rohani yang . berhati baik serta mulia dan tidak mementingkan dunia. (pelana) sebagai bantal. Sophos (bahasa Yunani yang masuk kedalam filsafat Islam) yang berarti hikmat. filsafat Yunani dan agama Hindu dan Buddha. 4. tinggal di Mesjid Nabi dan tidur di atas bangku batu dengan memakai suffah. dan ditulis dengan sin dan bukan dengan shad seperti yang terdapat dalam kata tasawuf. walaupun untuk sementara. kemudian turun ke dunia materi dan masuk ke dalam tubuh manusia yang bernafsu. Orang-orang seperti ini adalah yang berusaha membersihkan diri dan dekat dengan Tuhan. sufi adalah orang yang memakai wol kasar untuk menjauhkan diri dari dunia materi dan memusatkan perhatian pada alam rohani. dan di malam hari lampu mereka menjadi petunjuk jalan bagi musafir. ia meninggalkan pakaian mewah yang biasa dipakainya dan diganti dengan kain wol kasar yang ditenun secara sederhana dari bulu domba. pendapat terakhir inilah yang banyak diterima sebagai asal kata sufi. Untuk itu ia harus menyucikan diri dengan memusatkan perhatian pada fllsafat serta ilmu pengetahuan dan melakukan beberapa pantangan. berhati baik. Orang yang pertama memakai kata sufi kelihatannya Abu Hasyim al-Kufi di Irak (w. kalau seseorang ingin memasuki jalan tasawuf.150 H). Ahl al-Suffah. 5. Roh yang pada mulanya suci itu menjadi tidak suci dan karena itu tidak dapat kembali ke tempatnya semula yang suci. sungguhpun tak mempunyai apa-apa. Dalam sejarah tasawuf. Inilah pula sifat-sifat kaum sufi. Ada yang mengatakan bahwa pengaruhnya datang dari rahib-rahib Kristen yang mengasingkan diri untuk beribadat dan mendekatkan diri kepada Tuhan di gurun pasir Arabia. yaitu para sahabat yang hijrah bersama Nabi ke Madinah dengan meninggalkan harta kekayaannya di Mekkah. ASAL-USUL TASAWUF Karena tasawuf timbul dalam Islam sesudah umat Islam mempunyai kontak dengan agama Kristen. Ahl al-Suffah. Pengaruh filsafat Yunani dikatakan berasal dari pemikiran mistik Pythagoras. Di siang hari. pemurah dan suka menolong. Pakaian ini melambangkan kesederhanaan serta kemiskinan dan kejauhan dari dunia. muncullah anggapan bahwa aliran tasawuf lahir dalam Islam atas pengaruh dari luar. Tempat mereka menjadi tujuan orang yang perlu bantuan di padang yang gersang. dan kaum sufi pula yang tahu hikmat.

Dekatnya Tuhan kepada manusia disebut al-Qur'an dan Hadits. agama Hindu dan Buddha. yaitu persatuan roh manusia dengan roh Tuhan. sama dengan Pythagoras. Dari agama Buddha. ia berseru agar Tuhan membuka hijab dan menampakkan diri-Nya kepada yang berseru." Kaum sufi mengartikan do'a disini bukan berdo'a. Dalam tasawuf terdapat pengalaman ittihad. Ayat 186 dari surat al-Baqarah mengatakan. al-Baqarah 115). tidakkah mungkin tasawuf timbul dari dalam diri Islam sendiri? Hakekat tasawuf kita adalah mendekatkan diri kepada Tuhan. digambarkan oleh ayat berikut. Tuhan dekat dan sufi tak perlu pergi jauh. maka Aku dekat dan mengabulkan seruan orang yang memanggil jika Aku dipanggil. ia akan tetap tinggal di bumi berusaha membersihkan diri melalui reinkarnasi. Masih dari filsafat Yunani. tetapi berseru. memang terdapat dalam tasawuf Islam. Sedangkan pengaruh dari agama Hindu dikatakan datang dari ajaran bersatunya Atman dengan Brahman melalui kontemplasi dan menjauhi dunia materi. konsep Plotinus tentang bersatunya roh dengan Tuhan di dunia ini. ia dapat mendekatkan diri dengan Tuhan sampai ke tingkat bersatu dengan Dia di bumi ini. Tentang dekatnya Tuhan. dan tak dapat kembali ke Tuhan. Ayat berikut menggambarkan lebih lanjut betapa dekatnya Tuhan dengan manusia. untuk menjumpainya. Paham penyucian diri melalui reinkarnasi tak terdapat dalam ajaran tasawuf. Ajaran menghancurkan diri untuk bersatu dengan Tuhan juga terdapat dalam Islam. dia berpendapat bahwa roh yang masuk ke dalam tubuh manusia juga kotor. Maka untuk dapat bertemu dengan Tuhan Yang Maha Suci. pengaruhnya dikatakan dari konsep Nirwana. Selama masih kotor. Tapi. pengaruh itu dikaitkan dengan filsafat emanasi Plotinus. "Jika hambaKu bertanya kepadamu tentang Aku. Kita perlu mencatat. Paham itu memang bertentangan dengan ajaran al-Qur'an bahwa roh. Ayat ini mengandung arti bahwa dimana saja Tuhan dapat dijumpai. tapi kemudian dipengaruhi oleh hawa nafsu yang terdapat dalam tubuh manusia. Kalau sudah bersih. memasuki hidup kontemplasi dan menghancurkan diri. Tapi pendapat serupa ini memerlukan bukti-bukti historis. "Telah Kami ciptakan manusia dan Kami . Bahwa yang kemudian datang dipengaruhi oleh yang datang terdahulu adalah suatu kemungkinan. filsafat Yunani dan agama Kristen datang lama sebelum Islam. maka kemana saja kamu berpaling di situ ada wajah Tuhan" (QS. roh yang telah kotor itu dibersihkan dulu melalui ibadat yang banyak. Tuhan memang dekat sekali dengan manusia. Sesudah bercerai dengan tubuh. roh pergi ke alam barzah menunggu datangnya hari perhitungan. "Timur dan Barat kepunyaan Tuhan. Dalam kaitan ini timbul pertanyaan: sekiranya ajaran-ajaran tersebut diatas tidak ada.suci. Dengan kata lain. Tapi. Nirwana dapat dicapai dengan meninggalkan dunia. Roh memancar dari diri Tuhan dan akan kembali ke Tuhan. Dalam ajaran Islam. sesudah tubuh mati tidak akan kembali ke hidup serupa di bumi. agar Tuhan mengabulkan seruannya untuk melihat Tuhan dan berada dekat kepada-Nya.

cukup ia masuk kedalam dirinya dan Tuhan yang dicarinya akan ia jumpai dalam dirinya sendiri. Jelas kiranya bahwa usaha penyucian diri. sufi melihat persatuan manusia dengan Tuhan. dan melalui mereka Aku-pun dikenal. al-Anfal 17). Perbuatan manusia adalah perbuatan Tuhan. JALAN PENDEKATAN DIRI KEPADA TUHAN Jalan yang ditempuh seseorang untuk sampai ke tingkat melihat Tuhan dengan mata hati dan akhirnya bersatu dengan Tuhan demikian panjang dan penuh duri. Maka Kuciptakan makhluk. stasion pertama dalam tasawuf . Dengan khusuk dan banyak beribadat ia akan merasakan kedekatan Tuhan. dan inilah hakikat tasawuf. kemudian Aku ingin dikenal. terjadilah penyucian diri calon sufi secara berangsur. Qaf 16). Sebagaimana telah di sebut diatas penyucian diri diusahakan melalui ibadat. "Bukanlah kamu yang membunuh mereka. membaca al-Qur'an dan dzikir. sufi tak perlu pergi jauh. Jalan itu. Maka. dan bukan manusia saja yang bersatu dengan Tuhan. Bahwa Tuhan dekat bukan hanya kepada manusia. dibagi kaum sufi ke dalam stasion-stasion yang dalam bahasa Arab disebut maqamat -tempat seorang calon sufi menunggu sambil berusaha keras untuk membersihkan diri agar dapat melanjutkan perjalanan ke stasion berikutnya. persatuan manusia dengan Tuhan. Demikianlah ayat-ayat al-Qur'an dan Hadits Nabi menggambarkan betapa dekatnya Tuhan kepada manusia dan juga kepada makhluk-Nya yang lain. shalat. terutama puasa. Karena itu hanya sedikit sekali orang yang bisa sampai puncak tujuan tasawuf." Disini terdapat paham bahwa Tuhan dan makhluk bersatu. Karena itu. langkah pertama yang harus dilakukan seseorang adalah tobat dari dosa-dosanya." Untuk mencari Tuhan. "Siapa yang mengetahui dirinya mengetahui Tuhannya. yang intinya adalah penyucian diri. hadits terakhir ini mengandung konsep wahdat al-wujud. Karena itu hadis mengatakan. Tujuan semua ibadat dalam Islam ialah mendekatkan diri itu. dan dari sinilah berasal kata tarekat dalam bahasa Indonesia. tetapi di dalam diri manusia sendiri. tapi Allah-lah yang membunuh dan bukanlah engkau yang melontarkan ketika engkau lontarkan (pasir) tapi Allah-lah yang melontarkannya (QS. Disini. kesatuan wujud makhluk dengan Tuhan. Gambaran serupa ini tidak memerlukan pengaruh dari luar agar seorang muslim dapat merasakan kedekatan Tuhan itu.tahu apa yang dibisikkan dirinya kepadanya. Dan Kami lebih dekat dengan manusia daripada pembuluh darah yang ada di lehernya (QS. Bertahun-tahun orang harus menempuh jalan yang sulit itu. Ayat ini menggambarkan Tuhan berada bukan diluar diri manusia. seorang calon sufi banyak melaksanakan ibadat. Jalan itu disebut tariqah (bahasa Arab). "Pada mulanya Aku adalah harta yang tersembunyi. lalu melihat Tuhan dengan mata hatinya dan akhirnya mengalami persatuan rohnya dengan roh Tuhan. Kalau ayat-ayat diatas mengandung arti ittihad. Dalam konteks inilah ayat berikut dipahami kaum sufi. tapi juga kepada makhluk lain sebagaimana dijelaskan hadis berikut.

14. Ia menjadi orang zahid dari dunia. Yang dicarinya ialah kebahagiaan rohani. Kebutuhan hidupnya hanya sedikit dan ia tidak meminta kecuali hanya untuk dapat . Dalam literatur tasawuf disebut bahwa al-Muhasibi menolak makanan. 7501983. puasa. Ia mengasingkan diri ke tempat terpencil untuk beribadat. shalat. (bersambung 2/4) -------------------------------------------Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah Editor: Budhy Munawar-Rachman Penerbit Yayasan Paramadina Jln.adalah tobat. membaca al-Qur'an dan berdzikir. kemudian dari perbuatan makruh dan selanjutnya dari perbuatan syubhat. Jelaslah bahwa usaha ini memakan waktu panjang. Puasanya yang banyak membuat hawa nafsunya lemah. dan itu diperolehnya dalam berpuasa. ia akan tobat dari dosa-dosa kecil. TASAWUF (hal. UA 20-21 Jakarta Selatan Telp. 42) oleh Harun Nasution (2/4) Untuk memantapkan tobatnya ia pindah ke stasion kedua. Tobat yang dimaksud adalah taubah nasuha. Ia sedikit tidur dan banyak beribadat. (021) 7507174 Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota Please direct any suggestion to Media Team Artikel Yayasan Paramadina Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota III. orang yang tidak bisa lagi digoda oleh kesenangan dunia dan kelezatan materi. 7507173 Fax. Di stasion ini ia menjauhkan diri dari dunia materi dan dunia ramai. Pada mulanya seorang calon sufi harus tobat dari dosa-dosa besar yang dilakukannya Kalau ia telah berhasil dalam hal ini. dan membuat ia tahan lapar dan dahaga. Metro Pondok Indah Pondok Indah Plaza I Kav. ia keluar dari pengasingannya masuk kembali ke dunianya semula. melakukan shalat. membaca al-Qur'an dan berdzikir. Di stasion ini ia menjalani hidup kefakiran. (021) 7501969. melakukan shalat. yaitu tobat yang membuat orangnya menyesal atas dosa-dosanya yang lampau dan betul-betul tidak berbuat dosa lagi walau sekecil apapun. Bisyr al-Hafi tidak bisa mengulurkan tangan ke arah makanan yang berisi syubhat. yaitu zuhud. Ia juga akan selalu naik haji. Pakaiannyapun sederhana. Kalau kesenangan dunia dan kelezatan materi tak bisa menggodanya lagi. Sampailah ia ke stasion wara'. karena di dalamnya terdapat syubhat. Dari stasion wara'. ia pindah ke stasion faqr. membaca al-Qur'an dan dzikir. Di stasion ini ia dijauhkan Tuhan dari perbuatan-perbuatan syubhat. Ia makan dan minum hanya untuk mempertahankan kelanjutan hidup. Ia terus banyak berpuasa.

memeluk kepatuhan kepada Tuhan dan membenci sikap melawan kepada-Nya. Kedua. cinta Ilahi. Mengosongkan hati dari segala-galanya. Karena stasion-stasion tersebut di atas baru merupakan tempat penyucian diri bagi orang yang memasuki jalan tasawuf. Rasa takut itu kemudian berubah menjadi rasa waswas apakah tobatnya diterima Tuhan sehingga ia dapat meneruskan perjalanannya mendekati Tuhan. Rasa takut hilang dan timbullah sebagai gantinya rasa cinta kepada Tuhan. Ia menyerahkan diri sebulat-bulatnya kepada kehendak Tuhan. yang ada hanyalah perasaan senang. Ia tidak meminta tapi tidak menolak pemberian Tuhan. Ketiga. tapi baru menjadi zahid atau calon sufi. Ia menjadi sufi setelah sampai ke stasion berikutnya dan memperoleh pengalaman-pengalaman tasawuf. tapi zat yang sayang dan kasih kepada hamba-Nya. Ayat 54 dari surat al-Maidah. sungguhpun tak ada padanya. "Allah akan mendatangkan suatu umat yang dicintai-Nya dan orang yang mencintai-Nya. ia selamanya merasa tenteram. Lambat laun ia rasakan bahwa Tuhan bukanlah zat yang suka murka. Pada stasion ridla. bahkan ia tidak menunggu-nunggu datangnya pertolongan. tetapi juga sabar dalam menerima percobaan-percobaan berat yang ditimpakan Tuhan kepadanya. rasa cinta kepada Tuhan bergelora dalam hatinya. Bahkan. ia sebenarnya belumlah menjadi sufi. Di dalam hatinya tidak ada perasaan benci. Ia sabar menderita. Menyerahkan seluruh diri kepada Yang Dikasihi. ia tidak mau makan. Ia sabar bukan hanya dalam menjalankan perintah-perintah Tuhan yang berat dan menjauhi larangan-larangan Tuhan yang penuh godaan. karena ada orang yang lebih berhajat pada makanan dari padanya." Selanjutnya ayat . hatinya merasa senang dan di dalamnya bergelora rasa cinta kepada Tuhan. Dari stasion ini ia tidak menentang percobaan dari Tuhan bahkan ia menerima dengan senang hati. Sufi memberikan arti mahabbah sebagai berikut. Setelah menjalani hidup kefakiran ia sampai ke stasion sabar. Kendatipun ada padanya. PENGALAMAN SUFI Di masa awal perjalanannya. Bahkan ia tidak meminta sungguhpun ia tidak punya. Selanjutnya ia pindah ke stasion tawakkal. Ketika malapetaka turun. Di sini ia telah dekat sekali dengan Tuhan dan iapun sampai ke ambang pintu melihat Tuhan dengan hati nurani untuk selanjutnya bersatu dengan Tuhan. bahkan dalam al-Qur'an terdapat ayat-ayat yang menggambarkan cinta Tuhan kepada hamba dan cinta hamba kepada Tuhan. Mencintai Tuhan tidaklah dilarang dalam Islam. baginya cukup apa yang ada untuk hari ini. Dari stasion tawakkal. kecuali dari Diri Yang Dikasihi. Ia bersikap seperti telah mati. calon sufi dalam hubungannya dengan Tuhan dipengaruhi rasa takut atas dosa-dosa yang dilakukannya. Ia tidak memikirkan hari esok. Maka ia pun sampai ke stasion mahabbah. Ia tidak minta masuk surga dan dijauhkan dari neraka. pertama. Ia bukan hanya tidak meminta pertolongan dari Tuhan.menjalankan kewajiban-kewajiban agamanya. ia meningkat ke stasion ridla.

Cinta karena diriku dan cinta karena diri-Mu. apakah ia benci kepada setan. Tiada puji bagiku untuk ini dan itu." Pernah pula ia berkata. malam telah berlalu dan siang segera akan menampakkan diri. Engkau harapanku. apakah Engkau terima aku sehingga aku bahagia. Dengan kata lain. dan inilah aku berada di hadirat-Mu. seperti yang berikut. ia tidak meminta dijauhkan dari neraka dan pula tidak meminta dimasukkan ke surga. Aku gelisah." Begitu penuh hatinya dengan rasa cinta kepada Tuhan. ataukah Engkau tolak sehingga aku merasa sedih." Cinta tulus Rabi'ah al-'Adawiah kepada Tuhan. yaitu ma'rifah. hanya Engkaulah yang kukasihi." Ia bermunajat." Ketika fajar menyingsing ia dengan rasa cemas mengucapkan. "Senantiasa hamba-Ku mendekatkan diri kepada-Ku melalui ibadat sehingga Aku cinta kepadanya.30 dari surat 'Ali Imran menyebutkan. pintu-pintu istana telah dikunci. Rabi'ah al-'Adawiah. Beri ampunlah pembuat dosa yang datang ke hadiratMu." Hadits juga menggambarkan cinta itu. Demi keMahakuasaan-Mu inilah yang akan kulakukan selama Engkau beri hajat kepadaku. Ia mengatakan. "Tuhanku. aku tidak akan bergerak. bintang di langit telah gemerlapan. "Tuhanku. Yang ia pinta adalah dekat kepada Tuhan. sehingga ketika orang bertanya kepadanya. Cintanya yang dalam kepada Tuhan memalingkannya dari segala yang lain dari Tuhan. Cinta karena diriku Membuat aku lupa yang lain dan senantiasa menyebut nama-Mu. Rabi'ah al-'Adawiah telah benar-benar menjadi sufi. Cinta kepada diri-Mu. Dalam doanya. Orang yang Ku-cintai. jika kamu cinta kepada Tuhan. "Katakanlah. janganlah sembunyikan keindahan-Mu yang kekal itu dari pandanganku. penglihatan dan tangannya." Sufi yang masyhur dalam sejarah tasawuf dengan pengalaman cinta adalah seorang wanita bernama Rabi'ah al-'Adawiah (713-801 M) di Basrah. dan ini tertera dari syairnya yang berikut: Kucintai Engkau dengan dua cinta. "Buah hatiku. karena cintaku kepada-Mu telah memenuhi hatiku. akhirnya dibalas Tuhan. bukan pula karena ingin masuk surga. Sekiranya Engkau usir aku dari depan pintuMu. jika kupuja Engkau karena takut kepada neraka. tetapi aku mengabdi karena cintaku kepada-Nya. "Aku mengabdi kepada Tuhan bukan karena takut kepada neraka. "Tuhanku. mata-mata telah bertiduran. telah sampai ke stasion sesudah mahabbah." Sewaktu malam telah sunyi ia berkata. "Cintaku kepada Tuhan tidak meninggalkan ruang kosong di dalam hatiku untuk benci setan. Hatiku telah enggan mencintai selain Engkau. bakarlah mataku karena Engkau. kebahagiaan dari kesenanganku. Ia telah sampai ke stasion yang menjadi idaman kaum sufi. ia menjawab. Ia telah melihat Tuhan dengan hati nuraninya. . dan Allah akan mencintai kamu. Aku menjadi pendengaran. maka turutlah Aku. Bagi-Mu-lah puji dan untuk itu semua. Membuat aku melihat Engkau karena Engkau bukakan hijab. tiap pecinta telah berduaan dengan yang dicintainya.

sufi berusaha keras mendekatkan diri dari bawah dan Tuhan menurunkan rahmat-Nya dari atas. makin suci ia dan makin besar daya tangkapnya. ma'rifah adalah cermin. Semua orang yang . Juga dikatakan bahwa ma'rifah datang ketika cinta sufi dari bawah dibalas Tuhan dari atas. sekiranya ma'rifah mengambil bentuk materi. Dalam hubungan dengan Tuhan. Ketiga. Kedua. Ketika itu sufi pun bergemilang dalam cahaya Tuhan dan dapat melihat rahasia-rahasia Tuhan. "Aku melihat dan mengetahui Tuhan dengan Tuhan dan sekiranya tidak karena Tuhan aku tidak melihat dan tidak tahu Tuhan. pertama. Sirr adalah daya terpeka dari kalbu dan daya ini keluar setelah sufi berhasil menyucikan jiwanya sesuci-sucinya. "Melihat rahasia-rahasia Tuhan dan mengetahui peraturan-peraturan Tuhan tentang segala yang ada. Pengetahuan ini disebut ilm ladunni. menurut al-Ghazali. bagaimana ia memperoleh ma'rifah. yang dilihat orang 'arif. baik sewaktu tidur maupun sewaktu bangun hanyalah Allah. Kalbu mempunyai tiga daya. Tapi. Dalam pendapat al-Ghazali. Sekiranya Tuhan tidak membukakan tabir dari mata hatinya. pertama. Ma'rifah adalah anugerah Tuhan kepada sufi yang dengan ikhlas dan sungguh-sungguh mencintai Tuhan. Kalau sufi melihat ke cermin itu yang akan dilihatnya hanyalah Allah. ia menjawab. tapi qalb atau kalbu (jantung) yang berpusat di dada. cahaya yang disinarkannya gelap. yang kalau senantiasa dibersihkan dan digosok akan mempunyai daya tangkap yang besar. Demikian juga jiwa. Ketiga daya untuk melihat Tuhan yang disebut sirr. Sebelum menempuh jalan tasawuf al-Ghazali diserang penyakit syak. jiwa tak ubahnya sebagai kaca." Kata ma'rifat memang mengandung arti pengetahuan. sehingga akhirnya dapat menangkap daya cemerlang yang dipancarkan Tuhan. pengetahuan yang diperoleh melalui kalbu. ma'rifat dalam tasawuf berarti pengetahuan yang diperoleh langsung dari Tuhan melalui kalbu. daya untuk-mengetahui sifat-sifat Tuhan yang disebut qalb. keyakinannya untuk memperoleh kebenaran ternyata melalui tasawuf. yaitu ma'rifah. makin lama ia disucikan dengan ibadat yang banyak. Kedua. mata kepalanya akan tertutup dan ketika itu yang dilihatnya hanya Allah. daya untuk mencintai Tuhan yang disebut ruh. Sebagaimana disebut dalam literatur tasawuf.Pengalaman ma'rifah. Ketika Zunnun ditanya. Karena cinta ikhlas dan suci itulah Tuhan mengungkapkan tabir dari pandangan sufi dan dengan terbukanya tabir itu sufi pun dapat menerima cahaya yang dipancarkan Tuhan dan sufi pun melihat keindahan-Nya yang abadi. bukan filsafat. Lebih jauh mengenai ma'rifah dalam literatur tasawuf dijumpai ungkapan berikut. kalau mata yang terdapat di dalam hati sanubari manusia terbuka. setelah mencapai ma'rifah. Karena itu al-Ghazali mengartikan ma'rifat. sufi memakai alat bukan akal yang berpusat di kepala. Keempat. ia tidak akan dapat melihat Tuhan. lebih benar dari pengetahuan yang diperoleh melalui akal. 'Ilm ini diperoleh melalui akal.860 M)." Yang dimaksud Zunnun ialah bahwa ia memperoleh ma'rifah karena kemurahan hati Tuhan. Dalam bahasa sufi. ditonjolkan oleh Zunnun al-Misri (w. yaitu 'ilm. Maka. Ma'rifah berbeda dengan 'ilm.

7507173 Fax. Yang dimaksud bukan hancurnya jiwa sufi menjadi tiada.14. yang di dalam istilah tasawuf disebut ittihad. (bersambung 3/4) -------------------------------------------Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah Editor: Budhy Munawar-Rachman Penerbit Yayasan Paramadina Jln. Untuk sampai ke ittihad. Hilang maksiat akan timbul takwa. . Seseorang pernah bertanya kepada Abu Yazid tentang perjuangannya untuk mencapai ittihad. Ia ingin berada lebih dekat lagi dengan Tuhan. seorang sufi harus terlebih dahulu mengalami fana' dan baqa'. 7501983.memandangnya akan mati karena kecemerlangan dan keindahannya. 874 M). Dengan demikian. (021) 7507174 Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota Please direct any suggestion to Media Team Artikel Yayasan Paramadina Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota III. Yang dimaksud dengan fana' adalah hancur sedangkan baqa' berarti tinggal." sedang umurnya waktu itu telah lebih dari tujuh puluh tahun. sufi harus terlebih dahulu mengalami al-fana' 'an al-nafs. tak tahan melihat Tetapi sufi yang dapat menangkap cahaya ma'rifah dengan mata hatinya akan dipenuhi kalbunya dengan rasa cinta yang mendalam kepada Tuhan. orang yang fana dari maksiat akan baqa (tinggal) takwa dalam dirinya. UA 20-21 Jakarta Selatan Telp. orang yang fana dari kejahatan akan baqa (tinggal) ilmu dalam dirinya. Metro Pondok Indah Pondok Indah Plaza I Kav. Sesuatu hilang dari diri sufi dan sesuatu yang lain akan timbul sebagai gantinya. dalam arti lafdzi kehancuran jiwa. Sesuatu didalam diri sufi akan fana atau hancur dan sesuatu yang lain akan baqa atau tinggal. Ia ingin mengalami persatuan dengan Tuhan. yang tinggal dalam dirinya sifat-sifat yang baik. Ucapan-ucapan yang ditinggalkannya menunjukkan bahwa untuk mencapai ittihad diperlukan usaha yang keras dan waktu yang lama. 42) oleh Harun Nasution (3/4) Pengalaman ittihad ini ditonjolkan oleh Abu Yazid al Bustami (w. Ia menjawab. Ia ingin mengatakan bahwa dalam usia tujuh puluh tahunlah ia baru sampai ke stasion ittihad. (021) 7501969. TASAWUF (hal. Tidak mengherankan kalau sufi merasa tidak puas dengan stasion ma'rifah saja. Dalam literatur tasawuf disebutkan. Hilang kejahilan akan timbul ilmu. Hilang sifat buruk akan timbul sifat baik. "Tiga tahun. Sebelum sampai ke ittihad.

karena lafadz itu menggambarkan Tuhan masih jauh dari sufi dan berada di belakang tabir. Aku hanya mengucapkan. diapun berkata lagi. "Manusia tobat dari dosanya. bi 'l-Lah. ia mengungkapkan lagi. kekasih-Ku. Aku menjawab. "Tinggalkan dirimu dan datanglah. antara lain." Abu Yazid tobat dengan lafadz syahadat demikian. Syatahat yang diucapkan Abu Yazid. Dia juga mengucapkan. Kemudian Ia membuat aku gila kepada diri-Nya. Tetapi jika itu kehendak-Mu. Abu Yazid mengatakan. Dalam mimpi ia bertanya. Hiasilah aku dengan keesaan-Mu. baqa' dan ittihad. aku tak berdaya menentang-Mu." Ketika sampai ke ambang pintu ittihad dari sufi keluar ungkapan-ungkapan ganjil yang dalam istilah sufi disebut syatahat (ucapan teopatis)." Lalu." Akhirnya Abu Yazid dengan meninggalkan dirinya mengalami fana. Inilah yang disebut kaum sufi al-fana' 'an al-nafs wa al-baqa. Sedangkan mengenai fana dan baqa'. "Gila pada diriku adalah fana' dan gila pada diri-Mu adalah baqa' (kelanjutan hidup). kemudian aku mengetahui-Nya melalui diri-Nya dan akupun hidup. Di sini terjadilah ittihad. "Aku tidak meminta dari Tuhan kecuali Tuhan. "Ia membuat aku gila pada diriku hingga aku mati. "Fananya seseorang dari dirinya dan dari makhluk lain terjadi dengan hilangnya kesadaran tentang dirinya dan makhluk lain. "Aku tidak heran melihat cintaku pada-Mu. dengan arti kesadaran tentang diri sendiri hancur dan timbullah kesadaran diri Tuhan. Abu Yazid menggambarkan dengan kata-kata berikut ini. Tetapi aku heran melihat cinta-Mu padaku. "Aku mengetahui Tuhan melalui diriku hingga aku hancur. "Apa jalannya untuk sampai kepadaMu?" Tuhan menjawab. demikian pula makhluk lain." Dalam menjelaskan pengertian fana'. makhluk-Ku ingin melihat engkau. aku tak ingin melihat mereka. persatuan atau manunggal dengan Tuhan.tapi kehancurannya akan menimbulkan kesadaran sufi terhadap diri-Nya. dan akupun hidup. karena aku hanyalah hamba yang hina. tetapi ia tak sadar lagi pada diri mereka dan pada dirinya. dia berkata lagi. Abu Yazid." Seperti halnya Rabi'ah yang tidak meminta surga dari Tuhan dan pula tidak meminta dijauhkan dari neraka dan yang dikehendakinya hanyalah berada dekat dan bersatu dengan Tuhan. tetapi aku tidak. Lalu. "Pada suatu ketika aku dinaikkan kehadirat Tuhan dan Ia berkata. sebagai berikut. Abu Yazid ingin berada di hadirat Tuhan. Masalah ittihad." Kara-kata ini menggambarkan bahwa cinta mendalam Abu Yazid telah dibalas Tuhan. karena Engkau adalah Raja Maha Kuasa. al-Qusyairi menulis. tiada Tuhan selain Allah. Kesadaran sufi tentang dirinya dan makhluk lain lenyap dan pergi ke dalam diri Tuhan dan terjadilah ittihad. Mengenai fana'. sehingga jika . berhadapan langsung dengan Tuhan dan mengatakan kepadaNya: Tiada Tuhan selain Engkau. Sebenarnya dirinya tetap ada.

maka sembahlah Aku. "Engkau adalah Engkau. rohnya telah melebur dalam diri Tuhan. karena ketika itu aku tak ada di sana. bahkan seluruhnya menjadi satu. Hal ini juga dialami Abu Yazid. Aku adalah Allah. "Hai Engkau. dan sebagaimana dilihat pada permulaan makalah ini. sebagaimana terungkap dari kata-kata berikut ini. tidak ada di rumah ini selain Allah Yang Maha Kuasa. Sufi lain yang mengalami persatuan dengan Tuhan adalah Husain Ibn Mansur al-Hallaj (858-922 M). Ini kelihatan dari kata-katanya. Itu adalah kata-kata Tuhan yang diucapkan melalui lidah Abu Yazid. sufi haruslah bersih bukan dari dosa saja. tetapi Tuhan melalui Abu Yazid. yang satu memanggil yang lain dengan kata-kata: Ya ana (Hai aku)." Ia berkata lagi. Dengan kata lain. kata menjadi satu. tetapi itu tidak mengandung pengakuan Abu Yazid bahwa ia adalah Tuhan. Engkau adalah aku dan aku adalah Engkau. "Akulah Yang Satu. Maka yang mengatakan "Hai Aku Yang Satu" bukan Abu Yazid. semuanya kecuali engkau adalah makhluk-Ku. mengeluarkan kata-kata.menggambarkan bersatunya Abu Yazid dengan Tuhan." Yang mengucapkan kata-kata itu memang lidah Abu Yazid. "Pergilah. tetapi juga dari syubhat. kata-kata diatas betul keluar dari mulut Abu Yazid." Dalam literatur tasawuf disebut bahwa dalam ittihad." Yang penting diperhatikan dalam ungkapan diatas adalah kata-kata Abu Yazid "Aku menjawab melalui diriNya" (Fa qultu bihi). Godaan Tuhan untuk mengalihkan perhatian Abu Yazid ke makhluk-Nya ditolak Abu Yazid. Maka dalam pengertian sufi. Ia tetap meminta bersatu dengan Tuhan. "Abu Yazid. Dalam arti serupa inilah harus diartikan kata-kata yang diucapkan lidah sufi ketika berada dalam ittihad yaitu kata-kata yang pada lahirnya mengandung pengakuan sufi seolah-olah ia adalah Tuhan. Maha Besar Aku. Mengakui dirinya Tuhan adalah dosa terbesar.makhluk-Mu melihat aku. agar dapat dekat kepada Tuhan. "Engkaulah Yang Satu. yang ada hanyalah Tuhan." Aku menjawab: "Aku adalah Aku. Di dalam jubah ini tidak ada selain Allah. seusai sembahyang subuh. "Maha Suci Aku. Tiada Allah selain Aku." Akupun berkata. Tetapi yang mereka lihat sebenarnya adalah Engkau. "Hiasilah aku dengan keesaan-Mu. Ia tidak ada lagi. Maha Suci Aku." Aku menjawab. seperti kelihatan dalam ungkapan selanjutnya. aku menjawab melalui diri-Nya "Hai Aku. Karena itu dia pun mengatakan." Ia berkata kepadaku." Permintaan Abu Yazid dikabulkan Tuhan dan terjadilah persatuan. "Dialog pun terputus. Maka dosa terbesar tersebut diatas akan membuat Abu Yazid jauh dari Tuhan dan tak dapat bersatu dengan Dia." Dalam istilah sufi. tetapi itu tidak berarti bahwa ia mengakui dirinya Tuhan. Abu Yazid. aku adalah Engkau. mereka akan berkata. yang berlainan . Tuhanlah yang mengaku diri-Nya Allah melalui lidah Abu Yazid." Dialog antara Abu Yazid dengan Tuhan ini menggambarkan bahwa ia dekat sekali dengan Tuhan. Maka Ia pun berkata kepadaku. telah kami lihat Engkau. Kata-kata bihi -melalui diri-Nya. kata-kata tersebut memang diucapkan lidah Abu Yazid.

(021) 7507174 Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota Please direct any suggestion to Media Team . UA 20-21 Jakarta Selatan Telp. nasut manusia lenyap dan muncullah lahut-nya dan ketika itulah nasut Tuhan turun bersemayam dalam diri sufi dan terjadilah hulul. Landasan bahwa Tuhan dan manusia sama-sama mempunyai sifat diambil dari hadits yang menegaskan bahwa Tuhan menciptakan Adam sesuai dengan bentuk-Nya. Demikian juga Tuhan mempunyai dua sifat dasar. Tuhan memilih tubuh-tubuh manusia tertentu untuk bersemayam didalamnya dengan sifat-sifat ketuhanannya. manusia mempunyai dua sifat dasar: nasut (kemanusiaan) dan lahut (ketuhanan). ketika itu -dalam tiap hal. aku disentuhnya pula Maka. Hal ini karena dia mengatakan. al-Hallaj mengalami persatuannya dengan Tuhan turun ke bumi. Hal itu digambarkan al-Hallaj dalam syair berikut ini: Jiwa-Mu disatukan dengan jiwaku Sebagaimana anggur disatukan dengan air suci Jika Engkau disentuh. 7507173 Fax. yang dialami Abu Yazid dalam ittihad sebelum tercapai hulul. Metro Pondok Indah Pondok Indah Plaza I Kav. (021) 7501969.nasibnya dengan Abu Yazid. "Ana 'l-Haqq" (Akulah Yang Maha Benar). Dalam literatur tasawuf hulul diartikan. Pengalaman persatuannya dengan Tuhan tidak disebut ittihad. tetapi hulul. lahut (ketuhanan) dan nasut (kemanusiaan). (bersambung 4/4) -------------------------------------------Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah Editor: Budhy Munawar-Rachman Penerbit Yayasan Paramadina Jln. Hadits ini mengandung arti bahwa didalam diri Adam ada bentuk Tuhan dan itulah yang disebut lahut manusia. mayatnya dibakar dan debunya dibuang ke sungai Tigris. Sebaliknya didalam diri Tuhan terdapat bentuk Adam dan itulah yang disebut nasut Tuhan. Kalau Abu Yazid mengalami naik ke langit untuk bersatu dengan Tuhan.Engkau adalah aku. Menurut al-Hallaj. Di sini terdapat juga konsep fana. 7501983. Hal ini terlihat jelas pada syair al-Hallaj sebagai berikut: Maha Suci Diri Yang Sifat kemanusiaan-Nya Membukakan rahasia cahaya ketuhanan-Nya yang gemilang Kemudian kelihatan bagi makhluk-Nya dengan nyata Dalam bentuk manusia yang makan dan minum Dengan membersihkan diri malalui ibadat yang banyak dilakukan. Nasibnya malang karena dijatuhi hukuman bunuh. setelah sifat-sifat kemanusiaan yang ada dalam tubuh itu dihancurkan.

" Syatahat atau kata-kata teofani sufi seperti itu membuat kaum syari'at menuduh sufi telah menyeleweng dari ajaran Islam dan menganggap tasawuf bertentangan dengan Islam. tasawuf sebaliknya banyak diamalkan. Kaum syari'at yang banyak terikat kepada formalitas ibadat. ia satukan menjadi dua aspek. setelah kritik al-Ghazali dalam bukunya Tahafut al-Falasifah. tidak menangkap pengalaman sufi yang mementingkan hakekat dan tujuan ibadat. Pertentangan ini mereda setelah al-Ghazali datang dengan pengalamannya bahwa jalan sufilah yang dapat membawa orang kepada kebenaran yang menyakinkan. Aku hanya satu dari yang benar. Ketika mengalami hulul yang digambarkan diatas itulah lidah al-Hallaj mengucapkan. engkau lihat Dia. Dan jika engkau lihat Dia. Kami adalah dua jiwa yang menempati satu tubuh. gelar yang diberikan kepada kaum sufi. Muhy al-Din Ibn 'Arabi (1165-1240) membawa ajaran kesatuan wujud makhluk dengan Tuhan dalam wahdat al-wujud. "Ana 'l-Haqq" (Akulah Yang Maha Benar). Sufi yang bernasib malang ini mengatakan. Aspek batin yang merupakan . tapi mengkafirkan al-Farabi dan Ibn Sina.Artikel Yayasan Paramadina Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota III. tidak berkembang lagi di dunia Islam Sunni. tiap makhluk mempunyai dua aspek. Lahut dan nasut. "Aku adalah rahasia Yang Maha Benar. bahkan oleh syariat sendiri. Dalam perkembangan selanjutnya. ucapan itu tidak mengandung arti pengakuan al-Hallaj dirinya menjadi Tuhan. Dalam pengalamannya. Ia tidak mengkafirkan Abu Yazid dan al-Hallaj. Jika Engkau lihat aku. Al-Ghazali menghalalkan tasawuf sampai tingkat ma'rifah. engkau lihat Kami. Kalau filsafat. Dalam sejarah Islam memang terkenal adanya pertentangan keras antara kaum syari'at dan kaum hakekat. Yang Maha Benar bukanlah Aku.14. Kata-kata itu adalah kata-kata Tuhan yang Ia ucapkan melalui lidah al-Hallaj. setelah pengalaman persatuan manusia dengan Tuhan yang dibawa al-Bustami dalam ittihad dan al-Hallaj dalam hulul. baqa. yang bagi al-Hallaj merupakan dua hal yang berbeda. dan ittihad. TASAWUF (hal. Maka bedakanlah antara kami. sungguhpun ia tidak mengharamkan tingkat fana'. 42) oleh Harun Nasution (4/4) Hulul juga digambarkan dalam syair berikut: Aku adalah Dia yang kucintai Dan Dia yang kucintai adalah aku. yaitu mendekatkan diri sedekat mungkin kepada Tuhan. Tetapi sebagaimana halnya dengan Abu Yazid.

alam sebagai makhluk. Huwiah dan Aniyah. Tuhan dalam keabsolutannya baru keluar dari al-'ama. Maka. Jelas bahwa Ibn Arabi tidak mengidentikkan alam dengan Tuhan. Untuk mencapai tingkat Insan Kamil. tetapi masih dalam bentuk potensial. Dalam pengalaman al-Jilli. Wujud alam tergantung pada wujud Tuhan. Keadaan ini tak ubahnya sebagai orang yang melihat dirinya dalam beberapa cermin yang diletakkan di sekelilingnya. Tuhan. Pada tahap hawiah nama dan sifat Tuhan telah muncul. Sebagai bayangan. Dengan kata lain. wujud alam bersatu dengan wujud Tuhan dalam ajaran wahdat al-wujud. sufi disinari oleh nama-nama Tuhan. Pada tingkat tawassut. Di dalam tiap cermin. Tajalli Tuhan yang sempurna terdapat dalam Insan Kamil. Oleh karena itu ada orang yang mengidentikkan ajaran wahdat al-wujud Ibn Arabi dengan panteisme dalam arti bahwa yang disebut Tuhan adalah alam semesta. Pada tahap aniah. sebagaimana halnya dengan sufi-sufi lainnya. tajalli atau penampakan diri Tuhan mengambil tiga tahap tanazul (turun). Alam hanya merupakan penampakan diri atau tajalli dari Tuhan. Ajaran wahdat al-wujud dengan tajalli Tuhan ini selanjutnya membawa pada ajaran al-Insan al-Kamil yang dikembangkan terutama oleh Abd al-Karim al-Jilli (1366-1428). Di dalam cermin. Tuhan adalah transendental dan bukan imanen. dengan kata lain. yaitu al-haqq. seperti hayat. Sungguhpun manusia merupakan tajalli atau penampakan diri Tuhan yang paling sempurna diantara semua makhluk-Nya. tetapi dalam aspek batinnya satu. tajalli-Nya tidak sama pada semua manusia. Sebagai bayangan. Wujud semuanya satu. Tuhan menampakkan diri dengan nama-nama dan sifat-sifat-Nya pada makhluk-Nya. Tuhan menampakkan diri dalam nama-nama-Nya.esensi. Bagi Ibn Arabi. tanpa nama dan sifat. seperti Pengasih. disebut al-haqq. Yang lain dan yang banyak adalah bayangannya. adalah penampakan diri atau tajalli dari Tuhan. Semua makhluk dalam aspek luarnya berbeda. sufi mesti mengadakan taraqqi (pendakian) melalui tiga tingkatan: bidayah. pada diri manusia Ia menampakkan diri-Nya dengan segala sifat-Nya. Yang ada dalam alam ini kelihatannya banyak tetapi pada hakekatnya satu. tetapi pada hakekatnya dirinya hanya satu. ia lihat dirinya. alam adalah bayangan Tuhan. Alam sebagai cermin yang didalamnya terdapat gambar Tuhan. Pada tingkat bidayah. sebagaimana disebut dalam Hadits yang telah dikutip pada permulaan. ilmu. dirinya kelihatan banyak. Penyayang dan sebagainya (tajalli fi al-asma). Di antara semua makhluk-Nya. yaitu wujud al-haqq. kabut kegelapan. dan aspek luar yang merupakan aksiden disebut al-khalq. tawassut dan khitam. qudrat dll. pada sufi yang demikian. ahadiah. dan melalui makhluklah Ia dikenal. kemudian Ia ingin dikenal maka diciptakan-Nya makhluk. Dan Tuhan ber-tajalli pada sufi demikian dengan . Pada tahap ahadiah. wujud alam tak akan ada tanpa wujud Tuhan. pada awalnya adalah "harta" tersembunyi. Tuhan berada di luar dan bukan di dalam alam. sufi disinari oleh sifat-sifat Tuhan.

yang dikembangkan tarekat adalah orientasi akhirat dan sikap tawakal. Di Turki Usmani. muncul pada abad ke-14 bagi pengikut Bahauddin Naqsyabandi (w. mereka mendapat sokongan dari tarekat Bekhtasyi dan para ulama Turki. dan disamping itu menekankan ajaran tawakal sufi. Sementara itu ada pula tarekat yang menekankan pentingnya kehidupan rohani dan mengabaikan kehidupan duniawi. Mesir dan Suria. Insan Kamil yang tersempurna terdapat dalam diri Nabi Muhammad. Untuk itu tidak mengherankan kalau pemimpin-pemimpin pembaharuan dalam Islam seperti Jamaluddin Afghani. 1415 M). Dan dialah yang menjadi perantara antara manusia dan Tuhan. sehingga tarekat menyimpang dari tujuan sebenarnya dari sufi untuk menyucikan diri dan berada dekat dengan Tuhan. Insan Kamil terdapat dalam diri para Nabi dan para wali. Suria dan Mesir. Dalam tarekat. Karena pengaruh besar itu. tentara menjadi anggota tarekat Bekhtasyi dan dalam perlawanan mereka terhadap pembaharuan yang diadakan sultan-sultan. yang dibentuk oleh murid-murid atau pengikut-pengikut sufi besar untuk melestarikan ajaran gurunya. 1166 M). Syattariah. Pada tingkat khitam. Di antara semuanya. sehingga timbullah pertentangan antara kaum syari'at dan kaum tarekat. Demikianlah. tarekat mempunyai pengaruh besar dalam masyarakat Islam. ajaran-ajaran sufi besar tersebut terkadang diselewengkan. Tarekat ada yang telah menyalahi ajaran dasar sufi dan syari'at Islam. orang-orang yang ingin mendapat dukungan dari masyarakat menjadi anggota tarekat. sufi disinari dzat Tuhan yang dengan demikian sufi tersebut ber-tajalli dengan dzat-Nya. Perlu ditegaskan bahwa sampai permulaan abad ke-20. Sementara itu tasawuf pada masa awal sejarahnya mengambil bentuk tarekat. dalam arti organisasi tasawuf. Tarekat-tarekat besar lain diantaranya adalah Bekhtasyiah di Turki. Ia menjadi manusia sempurna. dan Rifa'iah di Irak. Di antara tarekat-tarekat besar yang terdapat di Indonesia adalah Qadiriah yang muncul pada abad ke-13 Masehi untuk melestarikan ajaran Syekh Abdul Qadir Jailani (w. Naqsyabandiah. Dialah bayangan Tuhan yang sempurna.sifat-sifat-Nya. Rasyid Ridha dan terutama Kamal Ataturk memandang tarekat sebagai salah satu faktor yang membawa kepada kemunduran . sehingga mengabaikan usaha. Pada tingkat ini sufi pun menjadi Insan Kamil. pengikut Abdullah Syattar (w. mempunyai sifat ketuhanan dan dalam dirinya terdapat bentuk (shurah) Allah. Muhammad Abduh. tujuan sufi untuk berada sedekat mungkin dengan Tuhan akhirnya tercapai malalui ittihad serta hulul yang mengandung pengalaman persatuan roh manusia dengan roh Tuhan dan melalui wahdat al-wujud yang mengandung arti penampakan diri atau tajalli Tuhan yang sempurna dalam diri Insan Kamil. Syadziliah di Marokko. Dengan kata lain. 1415 M). Mawlawiah (Jalaluddin Rumi) di Turki. Sanusiah di Libia. dan Tijaniah yang muncul pada abad ke-19 di Marokko dan Aljazair. Karena pengaruh besar dalam masyarakat itu orientasi akhirat dan sikap tawakal berkembang di kalangan umat Islam yang bekas-bekasnya masih ada pada kita sampai sekarang.

. A. A. London. ada ke kerohanian dalam agama Hindu dan tak sedikit pula yang mengikuti kerohanian dalam agama Islam.J. Gallimard. FILSAFAT ISLAM (1/3) oleh Harun Nasution .13. George Allan and Unwin Ltd. UA 20-21 Jakarta Selatan Telp. Oleh karena itu bukanlah tidak pada tempatnya bagi seorang Kristen untuk mempelajari ajaran-ajaran sufi yang telah meninggalkan pengaruh besar dalam kehidupan umat Islam dan bersama-sama dengan orang Islam menggali kembali ajaran-ajaran sufi yang akan dapat memenuhi kebutuhan orang yang mencari nilai-nilai kerohanian dan moral zaman yang penuh kegelapan dan tantangan seperti sekarang. Pada akhir-akhir ini memang kelihatan gejala orang-orang di Barat yang bosan hidup kematerian lalu mencari hidup kerohanian di Timur. Sufism. -------------------------------------------Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah Editor: Budhy Munawar-Rachman Penerbit Yayasan Paramadina Jln. 1963. Badawi. perlu dihidupkan kembali spiritualisme.. A.R.J.umat Islam. al-Nahdah al-Misriah. Metro Pondok Indah Pondok Indah Plaza I Kav. Corbin. Banyak orang mengatakan bahwa dalam menghadapi meterialisme yang melanda dunia sekarang. Syatahat al-Sufiah.. Disini tasawuf dengan ajaran kerohanian dan akhlak mulianya dapat memainkan peranan penting. 1949. Dalam pada itu dunia dewasa ini dilanda oleh materialisme yang menimbulkan berbagai masalah sosial yang pelik. Cairo. H. umpamanya aliran Subud di Jakarta. 1964. Tetapi untuk itu yang perlu ditekankan tarekat dalam diri para pengikutnya adalah penyucian diri dan pembentukan akhlak mulia disamping kerohanian dengan tidak mengabaikan kehidupan keduniaan. Dalam hubungan itu kira-kira 30 tahun lalu. (021) 7501969. Paris. DAFTAR KEPUSTAKAAN Arberry. Histoire de la Philosophie Islamique. 7507173 Fax. (021) 7507174 Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota Please direct any suggestion to Media Team Artikel Yayasan Paramadina Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota III. 7501983.. Ada yang pergi ke kerohanian dalam agama Buddha. Arberry dalam bukunya Sufism menulis bahwa Muslim dan bukan Muslim adalah makhluk Tuhan yang satu.

Daerah-daerah ini. Untuk itu mereka pelajari filsafat dan ilmu pengetahuan Yunani. yang di Barat dikenal dengan istilah free-will and free-act. berlainan dengan anak kecil. Dari warga negara non Islam ini timbul satu golongan yang tidak senang dengan kekuasaan Islam dan oleh karena itu ingin menjatuhkan Islam. Mereka tinggalkan arti harfiah teks dan ambil arti majazinya. maka akal yang kuat menggambarkan manusia yang kuat. Aleksander Yang Agung membawa bukan hanya kaum militer tetapi juga kaum sipil. bahwa tidak ada paksaan dalam agama dan bahwa kewajiban orang Islam hanya menyampaikan ajaran-ajaran yang dibawa Nabi. Untuk itu ia adakan pembauran antara orang-orang Yunani yang dibawanya. Mereka pun menyerang agama Islam dengan memajukan argumen-argumen berdasarkan falsafat yang mereka peroleh dari Yunani. Dengan jalan demikian berkembanglah falsafat dan ilmu pengetahuan Yunani di Timur Tengah. Kedudukan akal tinggi di dalamnya. dengan penduduk setempat. sehingga mereka tidak mau tunduk kepada arti harfiah dari teks wahyu yang tidak sejalan dengan pemikiran filosofis dan ilmiah. sesuai dengan ajaran al-Qur'an. yaitu manusia dewasa.Ketika datang ke Timur Tengah pada abad IV SM. dengan menangnya kekuatan Islam dalam peperangan tersebut. Dengan demikian timbullah di panggung sejarah pemikiran Islam teologi rasional yang dipelopori kaum Mu'tazilah. jatuh ke bawah kekuasaan Islam. mampu berdiri sendiri. 3. dan timbullah pusat-pusat peradaban Yunani seperti Iskandariah (dari nama Aleksander) di Mesir. Antakia di Suria. Tujuannya bukanlah hanya meluaskan daerah kekuasaannya ke luar Macedonia. Selopsia serta Jundisyapur di Irak dan Baktra (sekarang Balkh) di Iran. Ketika para Sahabat Nabi Muhammad menyampaikan dakwah Islam ke daerah-daerah tersebut terjadi peperangan antara kekuatan Islam dan kekuatan Kerajaan Bizantium di Mesir. Manusia dewasa. Karena itu aliran ini menganut faham qadariah. tidak dipaksa para sahabat untuk masuk-Islam. 2. mempunyai kebebasan dalam kemauan serta perbuatan. Pemikiran filosofis mereka membawa kepada penekanan . Akal menunjukkan kekuatan manusia. Kedudukan akal yang tinggi dalam pemikiran Yunani mereka jumpai sejalan dengan kedudukan akal yang tinggi dalam al-Qur'an dan Sunnah Nabi. Ciri-ciri dari teologi rasional ini ialah: 1. Suria serta Irak. dan mampu berfikir secara mendalam. yang membawa kepada konsep manusia yang penuh dinamika. dan kekuatan Kerajaan Persia di Iran. Tetapi penduduknya. Mereka tetap memeluk agama mereka semula terutama yang menganut agama Nasrani dan Yahudi. baik dalam perbuatan maupun pemikiran. Dari pihak umat Islam timbul satu golongan yang melihat bahwa serangan itu tidak dapat ditangkis kecuali dengan memakai argumen-argumen filosofis pula. Mereka dikenal banyak memakai ta'wil dalam memahami wahyu. tapi juga menanamkan kebudayaan Yunani di daerah-daerah yang dimasukinya. dengan lain kata mereka tinggalkan arti tersurat dari nash wahyu dan mengambil arti tersiratnya.

Alam ini berjalan menurut peraturan tertentu. Mempelajari teologi adalah wajib dalam Islam. Benda-benda yang ada di luar akal merupakan juz'iat (kekhususan. Karena itu mempelajari filsafat. Maka keadilan Tuhanlah yang menjadi titik tolak pemikiran teologi mereka. Filsafat yang termulia dalam pendapat Al-Kindi adalah filsafat ketuhanan atau teologi. al-Kindi. adalah sesuainya apa yang ada di dalam akal dengan apa yang ada diluarnya. pada masa antara abad ke VIII dan ke XIII M. yang di dalam diriNya terdapat arti banyak. Selanjutnya filsafat dalam pembahasannya memakai akal dan agama. dan peraturan itu perlu dicari untuk kepentingan hidup manusia di dunia ini.konsep Tuhan Yang Maha Adil. tetapi wajib. Keadilan Tuhan membawa mereka selanjutnya kepada keyakinan adanya hukum alam ciptaan Tuhan. Dengan filsafat "al-Haqq al-Awwal"nya. berusaha memurnikan keesaan Tuhan dari arti banyak. Pemurnian tauhid inilah yang menimbulkan filsafat emanasi (al-faid. tetapi juga sains. Filsafat dengan demikian membahas soal Tuhan dan agama. Al-haqiqah atau kebenaran. Yang Maha Esa berfikir tentang diriNya yang esa. Hakikat yang ada dalam benda-benda itu disebut kulliat (keumuman. Menurut pemikiran filsafat kalau ada yang benar maka mesti ada "Yang Benar Pertama" (al-Haqq al-Awwal). dan dalam penjelasan tentang yang benar juga memakai argumen-argumen rasional. universals). Filsuf besar pertama yang dikenal adalah al-Kindi. dalam al-Qur'an disebut Sunnatullah. dan berfalsafat tidaklah haram dan tidak dilarang. pancaran) dari al-Farabi. Agama dalam pada itu juga menjelaskan yang benar. dan pemikiran merupakan daya atau energi. Karena pemikiran Tuhan tentang diriNya merupakan daya . dengan keyakinan akan kedudukan akal yang tinggi. bukan hanya filsafat. (796-873M) satu-satunya filsuf Arab dalam Islam. hanya berhubungan dengan yang esa. di dalam diri Tuhan terdapat arti banyak. Teologi rasional Mu'tazilah inilah. berhubungan langsung dengan ciptaannya yang tak dapat dihitung banyaknya itu. Memurnikan tauhid memang masalah penting dalam teologi dan filsafat Islam. tidaklah sebenarnya esa. agar menjadi esa. yang mengatur perjalanan apa yang ada di alam ini. Yang Benar Pertama itu dalam penjelasan Al-Kindi adalah Tuhan. yaitu hakikat yang bersifat universal dalam bentuk jenis. Dalam pemikirannya. Pencipta alam semesta. Yang penting bagi filsafat bukanlah benda-benda atau juz'iat itu sendiri. kalau Tuhan. Zat. Dalam hal ini al-Farabi (870-950 M) memberi konsep yang lebih murni lagi. Filsafat ia artikan sebagai pembahasan tentang yang benar (al-bahs'an al-haqq). menurut pendapatnya. kebebasan manusia dalam berfikir serta berbuat dan adanya hukum alam ciptaan Tuhan. yang membawa pada perkembangan Islam. tetapi yang penting adalah hakikat dari juz'iat itu sendiri. particulars). Ia dengan tegas mengatakan bahwa antara filsafat dan agama tak ada pertentangan. Maka kedua-duanya membahas yang benar. Yang Maha Esa. Tiap-tiap benda mempunyai hakikat sebagai juz'i (haqiqah jaz'iah) yang disebut aniah dan hakikat sebagai kulli. yaitu sesuainya konsep dalam akal dengan benda bersangkutan yang berada di luar akal. (haqiqah kulliah) yang disebut mahiah.

apa yang dipancarkan pemikiran Tuhan itu mestilah pula qadim. yaitu zaman tak bermula. Akal VI menghasilkan Akal VII dan Matahari. Ibn Sina dan filsuf-filsuf Islam yang menganut paham emanasi. Pemikirannya tentang Tuhan menghasilkan Akal II dan pemikirannya tentang dirinya menghasilkan Langit Pertama. Pemikirannya tentang Tuhan menghasilkan Akal III dan pemikirannya tentang dirinya sendiri menghasilkan Alam Bintang. Akal IX menghasilkan Akal X dan Bulan. Tuhan tidak langsung menciptakan yang banyak ini. Yang Maha Esa menciptakan yang esa. Memang tiap-tiap Akal itu mengurus planet yang diwujudkannya. Akal dalam pendapat filsuf Islam adalah malaikat. air dan tanah. maka daya itu menciptakan sesuatu. Akal II dan seterusnya serta materi asal yang empat api. Maka materi asal timbul bukan dari tiada. Obyek pemikiran Akal I adalah Tuhan dan dirinya sendiri. Akal VII menghasilkan Akal VIII dan Venus.yang dahsyat. Jadi. karena tidak ada lagi planet yang akan diurusnya. udara. yaitu alam yang terdiri atas sepuluh falak. Tuhan tidak langsung berhubungan dengan yang banyak. dalam arti tidak mempunyai permulaan dalam zaman. Akal V menghasilkan Akal VI dan Mars. Pemikiran Akal X tidak Akal. cukup kuat lagi untuk menghasilkan Demikianlah gambaran alam dalam astronomi yang diketahui di zaman Aristoteles dan zaman al-Farabi. yang dikritik al-Ghazali. Begitulah Tuhan menciptakan alam semesta dalam falsafat emanasi al-Farabi. Akal X menghasilkan hanya Bumi. Alam dalam filsafat Islam diciptakan bukan dari tiada atau nihil. Dalam pendapat falsafat dari nihil tak dapat diciptakan sesuatu. tetapi dari materi asal yaitu api. tetapi melalui Akal atau malaikat. Sesuatu mesti diciptakan dari suatu yang telah ada. Akal IV menghasilkan Akal V dan Yupiter. Dengan lain kata Akal I. Yang diciptakan pemikiran Tuhan tentang diriNya itu adalah Akal I. Dari sinilah timbul pengertian alam qadim. Karena Tuhan beffikir semenjak qidam. Pemikiran Akal X tentang Tuhan tidak lagi menghasilkan Akal. dan Akal I melalui Akal II. dan inilah tauhid yang murni dalam pendapat al-Farabi. Ak al VIII menghasilkan Akal IX dan Merkuri. air dan tanah adalah pula qadim. Dalam diri Tuhan tidak terdapat arti banyak. Akal II juga mempunyai obyek pemikiran. yaitu Tuhan dan dirinya sendiri. Dengan demikian diperolehlah gambaran berikut: Akal III menghasilkan Akal IV dan Saturnus. tetapi dari sesuatu yang dipancarkan pemikiran Tuhan. . udara. Begitulah Akal selanjutnya berfikir tentang Tuhan dan menghasilkan Akal dan berpikir tentang dirinya sendiri dan menghasilkan planet-planet. tetapi melalui Akal I yang esa. Akal II melalui Akal III dan demikianlah seterusnya sampai ke penciptaan Bumi melalui Akal X. Dalam diri yang esa atau Akal I inilah mulai terdapat arti banyak.

yang menangkap arti-arti murni. iv.13. Akal teoritis. iii. v. (021) 7501969. yang terbagi dua: (a) Indra luar. Filsafat yang terbaik mengenai ini adalah pemikiran yang diberikan Ibn Sina (980-1037M). Sama dengan al-Farabi ia membagi jiwa kepada tiga bagian: 1. 2. Metro Pondok Indah Pondok Indah Plaza I Kav. FILSAFAT ISLAM (2/3) oleh Harun Nasution Selain kemahaesaan Tuhan. Jiwa tumbuh-tumbuhan yang mempunyai daya makan. b. penglihatan. yang mempunyai hanya satu daya. roh dan malaikat.(bersambung 2/3) Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah Editor: Budhy Munawar-Rachman Penerbit Yayasan Paramadina Jln. yang menerima arti-arti yang berasal dari materi melalui indra pengingat yang ada dalam jiwa binatang. 3. yaitu pendengaran. rasa dan raba. Jiwa manusia. Indra penganggap yang menangkap arti-arti yang terlindung dalam gambar-gambar tersebut. pindah dari satu tempat ke tempat. UA 20-21 Jakarta Selatan Telp. ii. dan daya menangkap dengan pancaindra. Dan (b) Indra dalam yang berada di otak dan terdiri dari: i. yang dibahas filsuf-filsuf Islam ada pula soal jiwa manusia yang dalam falsafat Islam disebut al-nafs. Indra penggambar yang melepaskan gambar-gambar dari materi. Indra pengingat yang menyimpan arti-arti itu. . Akal praktis. Jiwa binatang yang mempunyai daya gerak. Indra bersama yang menerima kesan-kesan yang diperoleh pancaindra. yaitu berfikir yang disebut akal. (021) 7507174 Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota Please direct any suggestion to Media Team Artikel Yayasan Paramadina Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota III. yang tak pernah ada dalam materi seperti Tuhan. Akal terbagi dua: a.-------------------------------------------. 7507173 Fax. tumbuh dan berkembang biak.Indra pereka yang mengatur gambar-gambar ini. 7501983.

Jika jiwa tumbuh-tumbuhan dan binatang yang berpengaruh. Karena itu balasan yang akan diterimanya bukan di dunia.Akal praktis memusatkan perhatian kepada alam materi. tidak meneruskan arti-arti. Dan dalam hal ini akal praktis mempunyai malaikat. kalau terpengaruh oleh materi. Kalau akal sudah sampai kepada kesempurnaan. Tetapi kalau ia teruskan akal teoritis akan berkembang dengan baik. jiwa manusia adalah . bahkan badan bisa menjadi penghalang baginya dalam menangkap arti-arti murni. 4. Makin banyak arti yang diteruskan otak kepadanya makin kuat daya akal untuk menangkap arti-arti murni. Jiwa tumbuh-tumbuhan dan jiwa binatang akan lenyap dengan hancurnya tubuh kembali menjadi tanah. ke akal teoritis. dan jelas bahwa yang terpenting diantaranya adalah jiwa berpikir manusia yang disebut akal itu Akal praktis. Kedua jiwa ini. Akal perolehan yang telah sempurna kesanggupannya menangkap arti-arti murni. karena telah memperoleh balasan di dunia ini tidak akan dihidupkan kembal di akhirat. sehingga hawa nafsu yang terdapat di dalamnya tidak menjadi halangan bagi akal praktis untuk membawa manusia kepada kesempurnaan. Akal bakat. yang pada mulanya menolong akal untuk menangkap arti-arti. 3. Akal inilah yang dapat menangkap arti-arti murni yang dipancarkan Tuhan melalui Akal X ke Bumi. orang itu dekat menyerupai binatang. Akal teoritis mempunyai empat tingkatan: 1. Setelah tubuh manusia mati. yang diciptakan Tuhan setiap ada janin yang siap untuk menerima jiwa. Jiwa berhajat kepada badan manusia. Jiwa manusia. 2. yang diterimanya dari indra pengingat dalam jiwa binatang. Akal tingkat keempat inilah yang tertinggi dan dimiliki filsuf-filsuf. karena otaklah. sedang akal teoritis kepada alam metafisik. sebagaimana dilihat di atas. Kalau jiwa tumbuh tumbuhan dan binatang tidak kekal. Jiwa manusia mempunyai wujud tersendiri. Akal inilah yang mengontrol badan manusia. Dalam diri manusia terdapat tiga macam jiwa ini. Jiwa tumbuh-tumbuhan dan binatang lenyap dengan matinya tubuh karena keduanya hanya mempunyai fungsi-fungsi fisik seperti dijelaskan sebelumnya. Akal aktual. berlainan dengan kedua jiwa di atas fungsinya tidak berkaitan dengan yang bersifat fisik tetapi yang bersifat abstrak dan rohani. yang telah mulai dapat menangkap arti-arti murni. Sifat seseorang banyak bergantung pada jiwa mana dari tiga yang tersebut di atas berpengaruh pada dirinya. yang akan tinggal menghadapi perhitungan di depan Tuhan adalah jiwa manusia. Akal potensial dalam arti akal yang mempunyai potensi untuk menangkap arti-arti murni. Tetapi jika jiwa manusia yang berpengaruh terhadap dirinya maka ia dekat menyerupai malaikat. tetapi di akhirat. yang telah mudah dan lebih banyak menangkap arti-arti murni. jiwa tak berhajat lagi pada badan.

Politeisme dan ateisme jelas bertentangan sekali dengan ajaran dasar Islam tauhid yang sebagaimana dilihat di atas para filsuf mengusahakan Islam memberikan arti semurni-murninya. Karena akal I. maka alam adalah pula Tuhan dan terdapatlah dua Tuhan. yaitu: 1. Tidak diciptakan bisa pula berarti tidak perlu adanya Pencipta yaitu Tuhan. Ini membawa kepada paham syirk atau politeisme. Alam qadim dalam arti tak bermula dalam zaman 2. . Karena inti manusia adalah jiwa berfikir untuk memperoleh kesempurnaan. Tiga. yaitu perincian yang ada dalam alam ini. Sebagai seorang Mu'tazilah al-Kindi juga tidak percaya pada adanya sifat-sifat Tuhan. diantara sepuluh itu. Demikianlah beberapa aspek penting dari falsafat Islam.kekal. Sebagai orang yang banyak berkecimpung dalam bidang sains para filsuf percaya pula kepada tidak berubahnya hukum alam. Yang tidak diciptakan adalah Tuhan. Ini membawa pula kepada ateisme. Dan ini berarti tidak diciptakan. Tetapi kalau ia berpisah dari badan dalam keadaan belum sempurna ia akan mengalami kesengsaraan kelak. Pemurnian konsep tauhid membawa al-Kindi kepada pemikiran Tuhan tidak mempunyai hakikat dan tak dapat diberi sifat jenis (al-jins) serta diferensiasi (al-fasl). Konsep alam qadim membawa kepada kekufuran dalam pendapat al-Ghazali karena qadim dalam filsafat berarti sesuatu yang wujudnya tidak mempunyai permulaan dalam zaman yaitu tidak pernah tidak ada di zaman lampau. timbul pendapat bahwa Tuhan tidak mengetahui juz'iat. tak bermula dalam zaman dan baqin. menurut al-Ghazali membawa mereka kepada kekufuran. Kalau alam qadim. Pembangkitan jasmani tak ada 3. Dari paham bahwa jiwa manusialah yang akan menghadapi perhitungan kelak timbul faham tidak adanya pembangkitan jasmani yang juga dikritik al-Ghazali. Maka syahadat dalam teologi Islam adalah: la qadima. II dan seterusnya itulah yang mengetahui juz'iat atau kekhususan yang terjadi di alam ini. Inilah yang mendorong al-Ghazali untuk mencap kafir filsuf yang percaya bahwa alam ini qadim. Jika ia telah mencapai kesempurnaan sebelum berpisah dengan badan ia akan mengalami kebahagiaan di akhirat. Tuhan tidak mengetahui perincian yang terjadi di alam. dosa besar yang dalam al-Qur'an disebut tak dapat diampuni Tuhan. Inilah sepuluh dari duapuluh kritikan yang dimajukan al-Ghazali (1058-1111 M) terhadap pemikiran para filsuf Islam. pembangkitan jasmani tak ada. II dan seterusnyalah yang mengatur planet-planet maka Akal I. Tuhan mengetahui hanya yang bersifat universal. yang ada hanyalah semata-mata zat. illallah. Pemurnian itu membawa al-Farabi pula kepada falsafat emanasi yang di dalamnya terkandung pemikiran alam qadim. Karena Tuhan dalam filsafat emanasi tak boleh berhubungan langsung dengan yang banyak dan hanya berfikir tentang diriNya Yang Maha Esa. tak mempunyai akhir dalam zaman. tidak ada yang qadim selain Allah.

Sesudah al-Ghazali. sedangkan teks ayat-ayat dalam al-Qur'an menggambarkan adanya pembangkitan jasmani itu. Pengkafiran tentang masalah ketiga. Karena akal lemah manusia dalam teologi ini merupakan manusia lemah dekat menyerupai anak yang belum dewasa yang belum bisa berdiri sendiri tetapi masih banyak bergantung pada orang lain untuk membantunya dalam hidupnya. Manusia di sini bersikap statis. Sebagai lawan dari teologi rasional Mu'tazilah teologi Asy'ari bercorak tradisional. Corak tradisionalnya dilihat dari hal-hal 1. 2. Mereka tidak mengambil arti tersurat dari wahyu untuk menyesuaikannya dengan pemikiran ilmiah dan filosofis. 3. Apalagi di samping pengkafiran itu al-Ghazali mengeluarkan pendapat bahwa jalan sebenarnya untuk mencapai hakikat bukanlah filsafat tetapi tasawuf. Jelas teologi tradisional al-Asy'ari ini tidak mendorong pada berkembangnya pemikiran ilmiah dan filosofis sebagaimana halnya dengan teologi rasional Mu'tazilah. Katakanlah: Yang menghidupkan adalah Yang Menciptakannya pertama kali." Maka pengkafiran di sini berdasar atas berlawanannya falsafat tidak adanya pembangkitan jasmani dengan teks al-Qur'an yang adalah wahyu dari Tuhan. teologi tradisional inilah yang berkembang di dunia Islam bagian Timur. Pemikiran teologi al-Asy'ari bertitik tolak dari paham kehendak mutlak Tuhan. Pengkafiran al-Ghazali ini membuat orang di dunia Islam bagian timur dengan Baghdad sebagai pusat pemikiran menjauhi falsafat. Manusia dan alam ini diatur Tuhan menurut kehendak mutlakNya dan bukan menurut peraturan yang dibuatnya. Tidak mengherankan kalau sesudah zaman . tak terdapat. Tuhan tidak mengetahui perincian yang ada di alam juga didasarkan atas keadaan falsafat itu. Oleh sebab-sebab yang belum begitu jelas ia meninggalkan paham Mu'tazilahnya dan munculkan sebagai lawan dari teologi Mu'tazilah teologi baru yang kemudian dikenal dengan nama teologi al-Asy'ari. yang ada ialah kebiasaan alam. Sebagai umpama dapat disebut ayat 59 dari surat al-An'am: Tiada daun yang jatuh yang tidak diketahui-Nya. Dalam pada itu sebelum zaman al-Ghazali telah muncul teologi baru yang menentang teologi rasional Mu'tazilah. Dengan demikian bagi mereka api tidak sesuai dengan hukum alam selamanya membakar tetapi biasanya membakar sesuai dengan kehendak mutlak Tuhan. Dalam teologi ini akal mempunyai kedudukan rendah sehingga kaum Asy'ari banyak terikat kepada arti lafzi dari teks wahyu. Teologi ini mengajarkan paham jabariah atau fatalisme yaitu percaya kepada kada dan kadar Tuhan. berlawanan dengan teks ayat dalam al-Qur'an. Karena itu hukum alam dalam teologi ini. Teologi baru itu dibawa oleh al-Asy'ari (873-935) yang pada mulanya adalah salah satu tokoh teologi rasional. Umpamanya ayat 78/9 dari surat Yasin "Siapa yang menghidupkan tulang-tulang yang telah rapuh ini?.Mengenai masalah kedua pembangkitan jasmani tak ada.

Ibn Bajjah (1082-1138) dalam bukunya Risalah al-Wida'.(bersambung 3/3) Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah Editor: Budhy Munawar-Rachman Penerbit Yayasan Paramadina Jln. menurut Ibn Rusyd mengandung arti bahwa ketika Tuhan menciptakan alam. . UA 20-21 Jakarta Selatan Telp. (021) 7501969. Metro Pondok Indah Pondok Indah Plaza I Kav. kelihatannya mencela al-Ghazali yang berpendapat bahwa bukanlah akal tetapi al-dzauq dan ma'rifat sufilah yang membawa orang kepada kebenaran yang meyakinkan. Dan akal orang yang terpencil di suatu pulau. tidak ada sesuatu di samping Tuhan. Mengenai masalah pertama qidam al-alam. jauh dari masyarakat manusia. kebaikan serta kejahatan dan kewajiban manusia berbuat baik dan menjauhi perbuatan jahat. dengan kata lain. di ketika itu berada dalam kesendirianNya. Ibn Tufail (w. kata Ibn Rusyd. alam tidak mempunyai permulaan dalam zaman. alam mempunyai permulaan dalam zaman. 1185 M) dalam bukunya Hayy Ibn Yaqzan malahan menghidupkan pendapat Mu'tazilah bahwa akal manusia begitu kuatnya sehingga ia dapat mengetahui masalah-masalah keagamaan seperti adanya Tuhan. Tuhan menciptakan alam dari tiada atau nihil. Ayat 7 dari surat Hud umpamanya mengatakan.al-Ghazali ilmu dan falsafat tak berkembang lagi di Baghdad sebagaimana sebelumnya di zaman Mu'tazilah dan filsuf-filsuf Islam.13. dapat mencapai kesempurnaan sehingga ia sanggup menerima pancaran ilmu dari Tuhan. 7501983. tidak sesuai dengan kandungan al-Qur'an. -------------------------------------------. seperti yang terdapat dalam falsafat emanasi Al-Farabi dan Ibn Sina. Tuhan. FILSAFAT ISLAM (3/3) oleh Harun Nasution Di dunia Islam bagian Barat yaitu di Andalus atau Spanyol Islam. Konsep serupa ini. (021) 7507174 Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota Please direct any suggestion to Media Team Artikel Yayasan Paramadina Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota III. wajibnya manusia berterimakasih kepada Tuhan. Tapi Ibn Rusyd-lah (1126-1198 M) yang mengarang buku Tahafut al-Tahafut sebagai jawaban terhadap kritik-kritik Al-Ghazali yang ia uraikan dalam Tahafut al-Falasifah. telah ada sesuatu di sampingNya. Dalam hal-hal ini wahyu datang untuk memperkuat akal. 7507173 Fax. konsep al-Ghazali bahwa alam hadis. Didalam al-Qur'an digambarkan bahwa sebelum alam diciptakan Tuhan. sebaliknya pemikiran filsafat masih berkembang sesudah serangan al-Ghazali tersebut.

kata khalaqa di dalam al-Qur'an. kata Ibn Rusyd. Dalam hal bumi. Jelas disebut dalam ayat ini. menjelaskan. dan air serta uap adalah satu. Manusia di dalam al-Qur'an diciptakan bukan dari "tiada" tetapi dari sesuatu yang "ada. Ayat 11 dari Ha Mim menyebut pula. Demikian pula langit. bahwa ketika Tuhan menciptakan langit dan bumi telah ada di samping Tuhan. Ayat 47/8 dari surat Ibrahim menyebut: Janganlah sangka bahwa Allah akan menyalahi janji bagi rasul-rasulNya. Adapun langit dan bumi susunannya adalah baru (hadis).Dan Dia-lah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam hari dan takhtaNya (pada waktu itu) berada di atas air." yang terjadi ialah "ada" berubah menjadi "ada" dalam bentuk lain." seperti yang dikatakan al-Ghazali. "ada" dalam bentuk materi asal yang empat dirubah Tuhan menjadi "ada" dalam bentuk bumi. Di samping itu. Jadi Tuhan qadim berarti Tuhan tidak diciptakan. tetapi adalah Pencipta dan alam qadim berarti alam diciptakan dalam keadaan terus menerus dari zaman tak bermula ke zaman tak berakhir. menggambarkan penciptaan bukan dari "tiada. air. mulai dari zaman tak bermula di masa lampau sampai ke zaman tak berakhir di masa mendatang. menurut penjelasan Ibn Rusyd tidak membawa kepada politeisme atau ateisme. Selanjutnya ayat 30 dari surat al-Anbia' mengatakan pula." seperti yang dikatakan para filsuf. tetapi adalah ciptaan Tuhan. alam bukan Tuhan." yaitu intisari tanah seperti disebut oleh ayat di atas. Kami ciptakan manusia dari inti sari tanah. Kemudian Ia pun naik ke langit sewaktu ia masih merupakan uap. Kami jadikan segala yang hidup dari air. Filsafat memang tidak menerima konsep penciptann dari tiada (creatio ex nihilo)." kata Ibn Rusyd tidak bisa berubah menjadi "ada. Dan yang qadim adalah materi asal. tetapi dari "ada. Dengan demikian sungguhpun alam qadim. Di sini yang ada di samping Tuhan adalah uap. Bahwa alam yang terus menerus dalam keadaan diciptakan ini tetap akan ada dan baqin digambarkan juga oleh al-Qur'an. Sesungguhnya Allah Maha Kuasa dan Maha Pemberi balasan di hari bumi ditukar dengan bumi yang lain dan . Qadimnya alam. Ibn Sina dan filsuf-filsuf lain. Yang sesuai dengan kandungan al-Qur'an sebenarnya adalah konsep al-Farabi. Apakah orang-orang yang tak percaya tidak melihat bahwa langit dan bumi (pada mulanya) adalah satu dan kemudian Kami pisahkan. Ayat ini mengandung arti bahwa langit dan bumi pada mulanya berasal dari unsur yang satu dan kemudian menjadi dua benda yang berlainan. "Tiada. tetapi juga berarti sesuatu yang diciptakan dalam keadaan terus menerus. karena qadim dalam pemikiran filsafat bukan hanya berarti sesuatu yang tidak diciptakan. Dengan ayat-ayat serupa inilah Ibn Rusyd menentang pendapat al-Ghazali bahwa alam diciptakan Tuhan dari tiada dan bersifat hadis dan menegaskan bahwa pendapat itu tidak sesuai dengan kandungan al-Qur'an. Ayat 12 dari surat al-Mu'minun.

(demikian pula) langit. Di hari perhitungan atau pembalasan nanti, tegasnya di hari kiamat, Tuhan akan menukar bumi ini dengan bumi yang lain dan demikian pula langit sekarang akan ditukar dengan langit yang lain. Konsep ini mengandung arti bahwa pada hari kiamat bumi dan langit sekarang akan hancur susunannya dan menjadi materi asal api, udara, air dan tanah kembali; dari keempat unsur ini Tuhan akan menciptakan bumi dan langit yang lain lagi. Bumi dan langit ini akan hancur pula, dan dari materi asalnya akan diciptakan pula bumi dan langit yang lain dan demikianlah seterusnya tanpa kesudahan. Jadi pengertian qadim sebagai sesuatu yang berada dalam kejadian terus menerus adalah sesuai dengan kandungan al-Qur'an. Dengan demikian al-Ghazali tidak mempunyai argumen kuat untuk mengkafirkan filsuf dalam filsafat mereka tentang qadimnya alam. Kedua-duanya, kata Ibn Rusyd, yaitu pihak al-Farabi dan pihak al-Ghazali sama-sama memberi tafsiran masing-masing tentang ayat-ayat al-Qur'an mengenai penciptaan alam. Yang bertentangan bukanlah pendapat filsuf dengan al-Qur'an, tetapi pendapat filsuf dengan pendapat al-Ghazali. Mengenai masalah kedua, Tuhan tidak mengetahui perincian yang terjadi di alam, Ibn Rusyd menjelaskan bahwa para filosof tak pernah mengatakan demikian. Menurut mereka Tuhan mengetahui perinciannya; yang mereka persoalkan ialah bagaimana Tuhan mengetahui perincian itu. Perincian berbentuk materi dan materi dapat ditangkap pancaindra, sedang Tuhan bersifat immateri dan tak mempunyai pancaindra. Dalam hal pembangkitan jasmani, Ibn Rusyd menulis dalam Tahafut al-Tahafut bahwa filsuf-filsuf Islam tak menyebut hal itu. Dalam pada itu ia melihat adanya pertentangan dalam ucapan-ucapan al-Ghazali. Di dalam Tahajut al-Falasifah ia menulis bahwa dalam Islam tidak ada orang yang berpendapat adanya pembangkitan rohani saja, tetapi di dalam buku lain ia mengatakan, menurut kaum sufi, yang ada nanti ialah pembangkitan rohani dan pembangkitan jasmani tidak ada. Dengan demikian al-Ghazali juga tak mempunyai argumen kuat untuk mengkafirkan kaum filsuf dalam pemikiran tentang tidak tahunya Tuhan tentang perincian di alam dan tidak adanya pembangkitan jasmani. Ini bukanlah pendapat filsuf, dan kelihatannya adalah kesimpulan yang ditarik al-Ghazali dari filsafat mereka. Dalam pada itu Ibn Rusyd, sebagaimana para filsuf Islam lain, menegaskan bahwa antara agama dan falsafat tidak ada pertentangan, karena keduanya membicarakan kebenaran, dan kebenaran tak berlawanan dengan kebenaran. Kalau penelitian akal bertentangan dengan teks wahyu dalam al-Qur'an maka dipakai ta'wil; wahyu diberi arti majazi. Arti ta'wil adalah meningga]kan arti lafzi untuk pergi ke arti majazi. Dengan kata lain, meninggalkan arti tersurat dan mengambil arti tersirat. Tetapi arti tersirat tidak boleh disampaikan kepada kaum awam, karena mereka tak dapat memahaminya. Antara filsafat dan agama Ibn Rusyd mengadakan harmoni. Dan dalam harmoni ini akal mempunyai kedudukan tinggi. Pengharmonian akal dan wahyu ini sampai ke Eropa dan di sana dikenal dengan averroisme. Salah satu ajaran averroisme ialah

kebenaran ganda, yang mengatakan bahwa pendapat filsafat benar, sungguhpun menurut agama salah. Agama mempunyai kebenarannya sendiri. Dan averroisme inilah yang menimbulkan pemikiran rasional dan ilmiah di Eropa. Tak lama sesudah zaman Ibn Rusyd umat Islam di Spanyol mengalami kemunduran besar dan kekuasaan luas Islam sebelumnya hanya tinggal di sekitar Granada di tangan Banu Nasr. Pada 1492 dinasti ini terpaksa menyerah kepada Raja Ferdinand dari Castilia. Dengan hilangnya Islam dari Andalus atau di Spanyol, hilang pulalah pemikiran rasional dan ilmiah dari dunia Islam bagian barat. Di dunia Islam bagian timur, kecuali di kalangan Syi'ah, teologi tradisional al-Asy'ari dan pendapat al-Ghazali bahwa jalan tasawuf untuk mencapai kebenaran adalah lebih meyakinkan dari pada jalan filsafat. Hilanglah pemikiran rasional, filosofis dan ilmiah dari dunia Islam sunni sehingga datang abad XIX dan umat Islam dikejutkan oleh kemajuan Eropa dalam bidang pemikiran, filsafat dan sains, sebagaimana disebut di atas, berkembang di Barat atas pengaruh metode berpikir Ibn Rusyd yang disebut averroisme. Semenjak itu pemikiran rasional mulai ditimbulkan oleh pemikir-pemikir pembaruan seperti al-Afghani, Muhammad Abduh, Sayyid Ahmad Khan, dan lain-lain. DAFTAR KEPUSTAKAAN De Boer, TJ., History of Philosophy in Islam, Tranl. E.R. Jones, London, Luzac & Co., 1970. Al-Farabi, Rasail, Hyderabad, t.t. Al-Ghazali, Tahafut al-Falasifah, Kairo, Dar al-Ma'arif, 1966. Al-Ghazali, Al-Munqiz min al-Dalal, Cairo, al-Maktab al-Fanni, 1961. Harun Nasution, Falsafah dan Mistisisme dalam Islam, Jakarta, Bulan Bintang, 1983. Ibn Rusyd, Tahafut al-Tahafut, Kairo, Dar al-Ma'arif, 1964. Ibn Rusyd, Fals al-Maqal, London, J.E. Brill, 1969. Ibn Sina, Al-Najah, Kairo, M.B. al-Halabi, 1938. O. Leary, De Lacy, How Greek Science Passed to The Arabs, London, Routledge & Kegan Paul, 1964. Sharif M.M., ed., A History of Muslim Philosophy, Weisbaden, 1963. -------------------------------------------Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah Editor: Budhy Munawar-Rachman Penerbit Yayasan Paramadina Jln. Metro Pondok Indah Pondok Indah Plaza I Kav. UA 20-21 Jakarta Selatan Telp. (021) 7501969, 7501983, 7507173 Fax. (021) 7507174 Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan

ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota
Please direct any suggestion to Media Team

Artikel Yayasan Paramadina
Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota III.12. KEKUATAN DAN KELEMAHAN PAHAM ASY'ARI (1/3) SEBAGAI DOKTRIN AKIDAH oleh Zainun Kamal Paham teologi Asy'ari termasuk paham teologi tradisional, yang mengambil posisi antara ekstrim rasionalis yang menggunakan metafor dan golongan ekstrim tekstualis yang leterlek. Ia mengambil posisi di antara aliran Mu'tazilah dan Salafiyah, tetapi "benang merah" sebagai jalan tengah yang diambilnya tidak begitu jelas. Suatu kali ia memihak Mu'tazilah, lain kali cenderung ke Salafiyah, dan lain kali lagi, mengambil kedua pendapat dari kedua aliran yang bertentangan itu lalu mengkompromikannya menjadi satu. [1] Untuk meninjau pemikiran-pemikiran al-Asy'ari lebih baik memaparkan lebih dulu sejarah hidupnya meski secara ringkas. Dengan pemaparan ini akan terlihat gambaran latar belakang pemikirannya. Sebab suatu pemikiran merupakan hasil refleksi zaman dan kondisi dari suatu masyarakat. Dan al-Asy'ari juga tidak lepas dari konteks zaman dan maksyarakatnya sendiri. Sebenarnya, nama asli Imam Asy'ari adalah Ali Ibn Ismail [2] -keluarga Abu Musa al-Asy'ari. [3] Panggilan akrabnya Abu al-Hasan [4]. Dia dilahirkan di Bashrah pada 260 H./875 M [5] -saat wafatnya filsuf Arab muslim al-Kindi. [6] Ia wafat di Baghdad pada tahun 324 H./935 M. Abu al-Hasan al-Asy'ari pada mulanya belajar membaca, menulis dan menghafal al-Qur'an dalam asuhan orang tuanya, yang kebetulan meninggal dunia ketika ia masih kecil. Selanjutnya dia belajar kepada ulama Hadits, Fiqh, Tafsir dan bahasa antara lain kepada al-Saji, Abu Khalifah al-Jumhi, Sahal Ibn Nuh, Muhammad Ibn Ya'kub, Abdur Rahman Ibn Khalf dan lain-lain. [7] Demikian juga ia belajar Fiqih Syafi'i kepada seorang faqih: Abu Ishak al-Maruzi (w. 340 H./951 M.) -seorang tokoh Mu'tazilah di Bashrah. Sampai umur empat puluh tahun ia selalu bersama ustaz al-Juba'i, serta ikut berpartisipasi dalam mempertahankan ajaran-ajaran Mu'tazilah. [9] Pada tahun 300 H./915 M dalam usia 40 tahun, Abu al-Hasan al-Asy'ari meninggalkan ajaran-ajaran Mu'tazilah. Untuk hal ini terdapat beberapa pendapat mengenai sebab-sebab meninggalkan atau keluar dari Mu'tazilah. Sebab klasik yang biasa disebut perpisahan dia dengan gurunya karena terjadinya dialog antara keduanya tentang salah satu ajaran pokok Mu'tazilah, yaitu masalah "keadilan Tuhan." Mu'tazilah berpendapat, "semua perbuatan Tuhan tidak kosong dari manfaat dan kemashlahatan. Tuhan tidak menghendaki sesuatu, kecuali bermanfaat bagi manusia, bahkan Dia mesti menghendaki yang baik dan terbaik untuk kemashlahatan manusia. Paham ini di sebut al-Shalah wa 'l-Ashlah. [10]

Dialog tersebut berlangsung sebagai berikut: Al-Asy'ari (A) - Bagaimana pendapat tuan tentang nasib tiga orang bersaudara setelah wafat; yang tua mati dalam bertaqwa; yang kedua mati kafir; dan yang ketiga mati dalam keadaan masih kecil. Aldubba'i (J) - yang taqwa mendapat terbaik; yang kafir masuk neraka; dan yang kecil selamat dari bahaya neraka. A - Kalau yang kecil ingin mendapatkan tempat yang lebih baik di Sorga, mungkinkah? J - Tidak, karena tempat itu hanya dapat dicapai dengan jalan ibadat dan kepatuhan kepada Tuhan. Adapun anak kecil belum mempunyai ibadat dan kepatuhan kepada-Nya. A- Kalau anak kecil itu mengatakan kepada Tuhan: itu bukan salahku. Sekiranya Engkau bolehkan aku terus hidup, aku akan mengerjakan perbuatan baik seperti yang dilakukan oleh yang taqwa itu. J - Allah akan menjawab kepada anak kecil itu, Aku tahu, jika engkau terus hidup, engkau akan berbuat maksiat dan engkau akan mendapat siksa; maka Saya (Allah - Red) matikan engkau adalah untuk kemaslahatanmu. A - Sekiranya saudaranya yang kafir mengatakan, "Ya Tuhanku Engkau ketahui masa depanku sebagaimana Engkau ketahui masa depannya, mengapa Engkau tidak jaga kepentinganku? Al-Jubba'i menjawab, "Engkau gila, (dalam riwayat lain dikatakan, bahwa Al-Jubba'i hanya terdiam dan tidak menjawab). [11] Dalam percakapan di atas, al-Jubba'i, jagoan Mu'tazilah itu, tampaknya dengan mudah saja dapat ditumbangkan oleh al-Asy'ari. Tetapi dialog ini kelihatannya hanyalah sebuah ilustrasi yang dibuat para pengikut al-Asy'ari sendiri untuk memperlihatkan perbedaan logikanya dengan logika orang-orang Mu'tazilah. Bagi Mu'tazilah, si anak kecil tentu tidak akan mengajukan protes kepada Allah, karena dia sendiri tahu, bahwa sesuai dengan keadilan Tuhan, tempat yang cocok untuknya memang di sana. Kalau Tuhan menempatkan anak kecil sederajat dengan tempat orang yang taqwa, tentu dia sendiri akan merasakan bahwa Tuhan sudah tidak adil lagi terhadap dirinya. Sebab, tempatnya memang bukanlah seharusnya sederajat dengan orang-orang yang taqwa. Di alam akhirat, menurut Mu'tazilah, tidak ada lagi perdebatan tentang keadilan Tuhan. Di sana, manusia sudah mendapati al-Wa'ad wa al-Wa'id. Dia sudah menepati janji. Yang taqwa mendapat sorga, yang kafir mendapat neraka, dan jika di sana terdapat yang meninggal dunia dalam keadaan masih kecil, baik anak-anak orang mukmin atau kafir, maka bagi mereka tidak ada alasan untuk disiksa, karena Tuhan Maha Suci dari penganiayaan. [12] Bagi yang kafir lebih tidak punya alasan lagi. Sebab, Tuhan

lebih memperhatikan kemaslahatannya di dunia. Tuhan tidak menghendaki kekafirannya. Berarti, jika ia kafir sama artinya dengan kehendak diri sendiri. Sementara, dia sendiri sudah tahu akibat kekafirannya, karena ia diberi akal dan petunjuk. [13] Jadi, kalau yang kafir harus menyalahkan Tuhan atas kehendak dan perbuatannya sendiri, maka ia dianggap oleh Memorandum suatu pemikiran yang tidak rasional. Sebab lain yang biasa disebutkan adalah meninggalkan ajaran-ajaran Mu'tazilah karena pernah bermimpi melihat Rasulullah saw sebanyak tiga kali. Mimpi itu terjadi pada bulan Ramadhan. Mimpi pertama terjadi pada tanggal 10; mimpi kedua pada tanggal duapuluh, dan mimpi ketiga pada tanggal tigapuluh. [14] Dalam mimpi yang terjadi pada bulan Ramadlan itu Rasulullah menyampaikan bahwa madzhab ahli haditslah yang benar, karena itulah madzhabnya yang berasal dari saya. [15] Diriwayatkan bahwa al-Asy'ari sebelum mengambil keputusan untuk keluar dari Mu'tazilah, ia mengisolir diri di rumahnya selama limabelas hari. Sesudah itu ia pergi ke mesjid lalu naik mimbar dan menyampaikan: "Saya dulu mengatakan, bahwa al-Qur'an adalah makhluk; Allah swt. tidak dapat dilihat dengan pandangan mata orang mukmin di akhirat dan perbuatan jahat adalah perbuatan saya sendiri. Sekarang saya taubat dari semuanya itu. Saya lemparkan keyakinan-keyakinan lama saya, sebagaimana saya lemparkan baju ini (isyarat pada jubahnya). Dan saya keluar dari kekejian dan skandal Mu'tazilah." [16] Terlepas dari soal sesuai atau tidaknya uraian di atas dengan fakta sejarah; maka dari sisi lain dapat pula kita ungkapkan sebab yang mendorong al-Asy'ari meninggalkan faham Mu'tazilah. Sebab itu ialah rasa skeptis dan ketidakpercayaannya lagi terhadap kemampuan akal, sebagaimana yang pernah pula dialami oleh al-Ghazali di kemudian hari. Pada kedua tokoh ini terdapat suatu indikasi kesamaan yang sangat mirip. Al-Asy'ari, sebagai contoh pendiri aliran, setelah belajar pada Mu'tazilah, kemudian merasa tidak puas, lantas menyerangnya. Demikian juga halnya dengan al-Ghazali, sebagai benteng pertahanan yang kokoh terhadap aliran al-Asy'ari, setelah ia belajar filsafat, kemudian merasa tidak puas, lalu menyerang pula. Al-Asy'ari memakai ungkapan-ungkapan yang pedas sekali dalam menyerang Mu'tazilah, dengan tuduhan sebagai golongan sesat, penyeleweng, dan majusinya umat. Begitu pula al-Ghazali menyerang para filsuf, dengan tuduhan sebagai golongan bid'ah dan kufur. Al-Asy'ari melakukan sanggahan terhadap Mu'tazilah setelah ia mengetahui benar akan aliran Mu'tazilah itu. Setelah itu ia menulis sebuah buku yang bernama Maqalat al-Islamiyyin yang berisikan kepercayaan aliran-aliran. Dan untuk bantahannya ia menulis lagi sebuah buku yang bernama al-Ibanah. Demikian juga halnya dengan al-Ghazali, setelah mengkaji filsafat secara mendalam, kemudian ia tulis pemikiran-pemikiran filsuf itu dalam sebuah buku yang bernama Maqasid al-Falsafah. Setelah itu, baru ia melakukan bantahan-bantahan terhadap para filsuf dengan mengarang sebuah buku yang bernama Tahafut

al-Falasifah (kesalahan para filsuf). Sebagaimana diketahui, pemegang janji rasional pada masa al-Asy'ari adalah para tokoh Mu'tazilah, karena itu sanggahannya tertuju langsung pada Mu'tazilah. Sementara para filsuf yang dinilai sebagai pewaris pemikiran rasional Mu'tazilah, maka al-Ghazali sebagai pembela ikhlas terhadap aliran al-Asy'ari harus dengan tegas pula melakukan sanggahan terhadap filsuf. Pemikiran al-Asy'ari yang asli baru dapat diketahui setelah ia menyatakan pemisahan dirinya dari Mu'tazilah dan pengakuannya menganut paham aqidah salafiyah aliran Ahmad bin Hambal. [17] Yaitu keimanan yang tidak didasari penyelaman persoalan gaib yang mendalam. Di sisi lain, ia hanya percaya pada akidah dengan dalil yang ditunjuk oleh nash, dan dipahami secara tekstual sebagaimana yang tertulis dalam Kitab suci dan sunnah Rasul. Fungsi akal hanyalah sebagai saksi pembenar dan penjelas dalil-dalil al-Qur'an. [18] Jadi akal terletak di belakang nash-nash agama yang tidak boleh berdiri sendiri. Ia bukanlah hakim yang akan mengadili. Spekulasi apapun terhadap segala sesuatu yang sakral dianggap suatu bid'ah. Setiap dogma harus dipercayai tanpa mengajukan pertanyaan bagaimana dan mengapa. Sekarang permasalahannya ialah, sampai seberapa jauh al-Asy'ari meninggalkan ajaran-ajaran Mu'tazilah dan keikhlasannya terhadap ajaran Salafiyah. Untuk mengetahui ajaran-ajaran al-Asy'ari, kita dapat melihat pada kitab-kitab yang ditulisnya, terutama: 1.Maqalat al-Islamiyyin, merupakan karangan yang pertama dalam soal-soal kepercayaan Islam. Buku ini menjadi sumber yang penting, karena ketelitian dan kejujuran pengarangnya. Buku ini terdiri -dari tiga bagian: a.Tinjauan tentang golongan-golongan dalam Islam b.Aqidah aliran Ashhab al-Hadits dan Ahl al-Sunnah, dan c.Beberapa persoalan ilmu Kalam. 2.Al-Ibanah 'an Ushul al-Diyanah, berisikan uraian tentang kepercayaan Ahl al-Sunnah dan pernyataan penghargaannya terhadap persoalan-persoalan yang banyak dan penting. Dalam buku ini ia menyerang dengan pedas aliran Mu'tazilah. 3.Kitab al-Luma' fi al-Radd 'ala ahl al-Zaigh wa al-bida', berisikan sorotan terhadap lawan-lawannya dalam beberapa persoalan ilmu Kalam. Para ahli mempertanyakan tentang perbedaan kandungan yang terdapat pada kedua kitabnya al-Ibanah dan al-Luma'. Yang pertama, peranan naql lebih tinggi ketimbang akal. Dalam arti, Salafiahnya lebih dominan dibandingkan Mu'tazilah. Sedangkan buku kedua (al-Luma'), peranan akal lebih tinggi dalam memahami nash-nash. Di sini terlihat adanya anjuran kembali untuk memahami nash-nash agama dengan metode ilmu kalam. [19] Perbedaan ini bisa terjadi, karena al-Asy'ari pada kitabnya al-Ibanah ditulisnya langsung setelah pernyataannya keluar dari Mu'tazilah. Jadi, secara psikologis, bukunya dalam rangka menonjolkan sikap loyalnya terhadap kaum Salafi,

sebagai rekan barunya. Dan sikap kebenciannya terhadap Mu'tazilah karena penilaiannya sebagai musuh yang sedang dihadapinya, meski dulu teman akrabnya. Sebenarnya, ini dapat dipahami. Sebab, seseorang yang selama ini dijadikan teman baik, oleh karena suatu hal berubah menjadi musuh, maka ia akan memperlihatkan sikap bencinya terhadap musuh itu. Dan sebaliknya akan memperlihatkan sikap loyalnya terhadap teman baru. Karena itu, kitab al-Ibanah mencerminkan tingkat kesunyian secara penuh. Sebaliknya, menampakkan sikap bencinya terhadap Mu'tazilah lebih nyata. Karena itu, kitab al-Ibanah menurut para ahli ditulis langsung setelah al-Asy'ari meninggalkan faham Mu'tazilah. (bersambung 2/3) -------------------------------------------Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah Editor: Budhy Munawar-Rachman Penerbit Yayasan Paramadina Jln. Metro Pondok Indah Pondok Indah Plaza I Kav. UA 20-21 Jakarta Selatan Telp. (021) 7501969, 7501983, 7507173 Fax. (021) 7507174 Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota
Please direct any suggestion to Media Team

Artikel Yayasan Paramadina
Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang YayasanISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota III.12. KEKUATAN DAN KELEMAHAN PAHAM ASY'ARI (2/3) SEBAGAI DOKTRIN AKIDAH oleh Zainun Kamal Lain halnya dengan kitabnya al-Luma', yang ditulis setelah kitab al-Ibanah. Ia sudah mesti mengambil sikap yang jelas. Maka di sini terlihat kembali kajian keagamaan al-Asy'ari dengan dalil-dalil rasional dan membangun ilmu kalamnya sendiri. Dengan demikian, ketika menulis kitab al-Luma', argumentasi rasional al-Asy'ari menonjol kembali dalam memahami nash-nash agama dan terlihat interpretasi metaforisnya (ta'wil). Kecenderungannya pada metode kaum Mu'tazilah inilah yang menyebabkan kaum Hambali menolak paham teologi al-Asy'ari. Hal itu memperlihatkan gambaran yang agak mirip dengan sikap al-Ghazali yang mencoba menyerang para filsuf, tetapi kenyataannya ia tetap mempergunakan metode falsafah dalam kajian keislaman, khususnya logika Aristoteles. Inilah yang dikatakan oleh Ibn Taimiyyah bahwa al-Ghazali telah masuk ke dalam kandang falsafah, kemudian berusaha keluar, dan berputar-putar mencari pintunya, tetapi sudah tidak berdaya lagi untuk keluar. Sebagai penentang Mu'tazilah, sudah barang tentu al-Asy'ari berpendapat, bahwa Tuhan mempunyai sifat. Mustahil Tuhan sendiri merupakan pengetahuan ('Ilm). Yang benar, Tuhan itu

mengetahui (Alim). Tuhan mengetahui dengan pengetahuanNya, bukanlah dengan Zat-Nya. Demikian pula bukan dengan sifat-sifat seperti, sifat hidup, berkuasa, mendengar dan melihat. [20] Disini terlihat, al-Asy'ari menetapkan sifat kepada Tuhan seperti halnya kaum Salafi. Namun cara penafsirannya cukup berbeda. Kaum Salafi hanya menetapkan sifat kepada Allah, sebagaimana teks ayat, tanpa melakukan pembahasan mendalam. Mereka hanya menerima arti dengan jalan kepercayaan, bahwa sifat-sifat Allah berbeda dengan sifat makhluk-Nya. Begitu hati-hatinya mereka dalam menjaga persamaan Allah dengan makhluk-Nya, sehingga mereka mengatakan, "Siapa yang tergerak tangannya, lalu ketika membaca ayat yang berbunyi "Aku (Allah) ciptakan dengan tangan-Ku," lalu ia langsung mengatakan, wajib dipotong tangannya." [21] Lain halnya dengan al-Asy'ari, baginya arti sifat tidak berbeda dengan pengertian sifat bagi Muitazilah. al-Asy'ari, sifat berada pada Zat, tetapi sifat bukan dan bukan pula lain dari Zat. Ungkapan al-Asy'ari seperti ini, kata Dr. Ibrahim Madkour, tidak terlepas paradoks. [22] jauh Bagi Zat, yang dari

Bagi Mu'tazilah, sifat sama dengan Zat. Sifat tidak mempunyai pengertian yang sebenarnya. Jika dikatakan, yang mengetahui ('Alim), maka artinya menetapkan pengetahuan ('Ilm) bagi Allah, dan yang mengetahui itu adalah Zat-Nya sendiri. Dalam hal ini, menetapkan sifat hanya sekedar untuk memahami bahwa Allah bukanlah jahil. Seperti juga mengatakan yang berkuasa (qadir) adalah menetapkan kekuasaan (qudrah) bagi Allah. Kekuasaan itu adalah Zat-Nya sendiri. Artinya, menafsirkan kelemahan Allah. [23] Masih berbicara tentang tauhid, pemikiran al-Asy'ari yang lain ialah, bahwa Tuhan dapat dilihat di akhirat. Untuk itu, al-Asy'ari membawakan argumen rasio dan nash. Yang tidak dapat dilihat, kata al-Asy'ari, hanyalah yang tak punya wujud. Setiap wujud mesti dapat dilihat, Tuhan berwujud, dan oleh karena itu dapat dilihat. [24] Argumen al-Qur'an yang dimajukannya antara lain, "Wajah-wajah yang ketika itu berseri-seri memandang kepada Allah" (QS. al-Qiyamah: 22-23). Menurut al-Asy'ari kata nazirah dalam ayat itu tak bisa berarti memikirkan seperti pendapat Mu'tazilah, karena akhirat bukanlah tempat berfikir; juga tak bisa berarti menunggu, karena wajah atau muka tidak dapat menunggu, yang menunggu adalah manusia. Lagi pula, di sorga tidak ada penungguan, karena menunggu mengandung arti dan membuat kejengkelan dan kebosanan. Oleh karena itu, nazirah mesti berarti melihat dengan mata kepala. [25] Sungguhpun al-Asy'ari berpendapat, bahwa orang-orang mukmin nanti dapat melihat Tuhan di Akhirat dengan mata kepala, namun pemahamannya bukanlah bersifat harfiyah. Tetapi menghendaki suatu penafsiran lagi yaitu, bahwa melihat Tuhan itu tidak mesti mempunyai tempat dan terarah pada tujuan, tetapi hanya merupakan suatu penglihatan pengetahuan dan kesadaran, dengan mempergunakan mata, yang belum terfikirkan bagi kita sekarang, bagaimana bentuk mata itu nantinya. [26]

jika Ia memasukkan seluruh manusia ke dalam neraka. dapat berbuat apa saja yang dikehendaki-Nya terhadap makhluk-Nya." (al-An'am: 103) Ayat tersebut di atas diartikan oleh al-Asy'ari. Al-Asy'ari. bahwa Tuhan dapat dilihat nanti di akhirat. kata al-Asy'ari. Paham keadilan al-Asy'ari ini mirip dengan paham sebagian umat yang merestui seorang raja yang absolut diktator. Tetapi seperti kaum Salafi. [29] Tidak dapat dikatakan salah. [30] Karena perbuatan salah dan tidak adil menurut pendapatnya adalah perbuatan yang melanggar hukum. artinya. Dan juga diartikan tidak dapat melihat Tuhan di akhirat bagi orang kafir. [27] Apa yang telah kita ungkapkan di atas. bebas memperbuat apa yang kehendaki-Nya." yaitu seseorang mempunyai kekuasaan mutlak atas harta yang dimilikinya serta mempergunakannya sesuai dengan pengetahuan pemilik. sedangkan keadilan adalah merupakan filsafat hubungan khaliq dengan makhluknya. Dan juga menolak faham al-Shalah wa al-Ashlah Mu'tazilah. Sengaja dirangkaikan keadilan dengan tauhid. [31] Oleh karena itu. Tuhan masih tetap bersifat adil. memiliki hal penuh untuk membunuh atau menghidupkan rakyatnya.Namun demikian. dalam arti. ia menolak bahwa kita mewajibkan sesuatu kepada Allah. bahwa yang dimaksud tidak dapat melihat Tuhan adalah di dunia ini. karena pembahasan tentang tauhid hanyalah merupakan filsafat ketuhanan semata. termasuk orang-orang kafir. Sang raja yang absolut diktator itu. maka al-Asy'ari memerlukan pula untuk menafsirkan atau menta'wilkan ayat yang berikut ini: Artinya: "Penglihatan tak dapat menangkap-Nya tetapi ia dapat mengangkat penglihatannya. Tuhan wajib mewujudkan yang baik. dan juga tidak dapat dikatakan Tuhan bersifat dzalim. maka perbuatan Tuhan tidak pernah bertentangan dengan hukum. bahwa sang raja itu diatas dari undang-undang dan hukum. kemudian al-Asy'ari menganalogikan bahwa . Karena undang-undang dan hukum itu adalah bikinannya sendiri. menjatuhkan hukuman bagi orang mukmim. bahkan yang terbaik untuk kemaslahatan manusia. atau memasukkan orang kafir ke dalam sorga. Keadilan diartikannya "menempatkan sesuatu pada tempat yang sebenarnya. Tuhan sebagai pemilik yang berkuasa mutlak. kata al-Asy'ari. Kemudian digambarkan. Allah. untuk dapat menerima. dia tidak perlu patuh dan tunduk kepada undang-undang dan hukum. maka Tuhan tidaklah berbuat salah dan dzalim. Dari asumsi itu. [28] Al-Asy'ari meninjau keadilan Tuhan dari sudut kekuasaan dan kehendak mutlak Tuhan. meyakini bahwa Allah adalah Maha Adil. kalau Tuhan memasukkan seluruh umat manusia ke dalam sorga. dan bukan di akhirat. [32] Upah yang diberikan Tuhan hanyalah merupakan rahmat dan hukuman tetap merupakan keadilan Tuhan. seperti Mu'tazilah. Jika Tuhan menyakiti anak-anak kecil di hari kiamat. dan karena di atas Tuhan tidak ada undang-undang atau hukum. adalah merupakan sebagian dari pemikiran al-Asy'ari tentang tauhid. Sekarang kita berpindah kepada pemikirannya tentang keadilan.

baik di dunia atau di akhirat. Al-Asy'ari menegaskan bahwa Tuhan menghendaki segala apa yang mungkin dikehendaki. kecuali jika Allah menghendaki manusia . yang mewujudkan kasb atau perbuatan manusia. maka tidak seorangpun yang akan sanggup mempersalahkan dan menuntut-Nya. Maka tidak seorangpun yang dapat mewajibkan sesuatu kepada Allah mengenai kemaslahatan umat manusia. sebenarnya adalah Tuhan sendiri. adalah sesuatu yang timbul dari yang berbuat (al-muhtasib) dengan perantaraan daya yang diciptakan. Tidak satupun didalam ini terwujud lepas dari kekuasaan dan kehendak Tuhan. maka tak seorangpun yang sanggup menentangnya. Jadi. Di satu pihak ia ingin melukiskan peran manusia dalam perbuatannya. baik di dunia ini. sehingga akhirnya manusia bersifat pasif dalam perbuatan-perbuatannya. Al-Kasb dapat diartikan sebagai suatu perbuatan yang timbul dari manusia dengan perantaraan daya yang diciptakan oleh Allah. [38] Dengan perkataan lain. bagi al-Asy'ari.Allah adalah memiliki kemerdekaan mutlak. Jika Tuhan menghendaki sesuatu. perbuatan-perbuatan manusia adalah diciptakan Tuhan. menurut al-Asy'ari. kecuali Allah menghendaki" (QS. selalu digambarkan sebagai seorang yang lemah. [34] Karena manusia dipandang lemah. Namun dalam penjelasannya tertangkap bahwa kasb itu pada hakekatnya adalah ciptaan Tuhan. ia pasti ada. perolehan). [36] Melihat kepada pengertian. [37] Dan tidak ada pembuat (agent) bagi kasb kecuali Allah. Untuk menggambarkan hubungan perbuatan dengan kemauan dan kekuasaan mutlak Tuhan al-Asyari memakai istilah al-kasb (acquisition. kata al-Asy'ari. al-Asy'ari memberi penjelasan yang sulit ditangkap. dalam teori kasb manusia tidak mempunyai pengaruh efektif dalam perbuatannya. dapat dilihat dari pendapat al-Asy'ari tentang kehendak dan daya yang menyebabkan perbuatan menjadi wujud. maupun di akhirat. [35] Kasb. Bahwa perbuatan manusia sebenarnya adalah perbuatan Tuhan." al-Shaffat 37:96) (QS. Argumen yang dimajukan oleh al-Asy'ari tentang diciptakannya kasb oleh Tuhan adalah ayat: "Allah menciptakan kamu dan perbuatan-perbuatan kamu. Persis seperti seorang raja yang absolut diktator. "sesuatu yang timbul dari yang berbuat" mengandung atas perbuatannya. Karena manusia. Ayat ini diartikan oleh al-Asy'ari bahwa manusia tak bisa menghendaki sesuatu. maka paham al-Asy'ari dalam hal ini lebih dekat kepada faham Jabariyah (fatalisme) dari faham Qadariyah (Free Will). tidak mempunyai daya dan kekuatan apa-apa disaat berhadapan dengan kekuasaan absolut mutlak. Tetapi keterangan bahwa "kasb itu adalah ciptaan Tuhan" menghilangkan arti keaktifan itu. dan jika Tuhan tidak menghendakinya niscaya ia tiada. Jadi dalam paham al-Asy'ari. Dia memperbuat sekehendak-Nya terhadap milik-Nya. kalau ia menganiaya seluruh rakyatnya. Manusia dalam kelemahannya banyak tergantung kepada kehendak dan kekuasaan Tuhan. [39] Firman Tuhan: "Kamu tidak menghendaki al-Insan 76:30). [33] Kalau Allah menganiaya seluruh umat manusia. Tentang faham kasb ini.

Kalau kedua orang tersebut sama-sama mengangkat batu besar itu. maka banyak para ahli menilai bahwa kasb adalah sebagai jabariyah moderat. namun tidak berarti bahwa orang yang tidak sanggup itu tidak turut mengangkat. Al-Baghdadi mencoba menjelaskan kepada kita sebagai berikut. terdapat dua perbuatan. 456 H) dan Ibn Taimiyyah (w.supaya menghendaki sesuatu itu.12. Tetapi daya yang berpengaruh dan efektif pada akhirnya dalam perwujudan perbuatan ialah daya Tuhan. KEKUATAN DAN KELEMAHAN PAHAM ASY'ARI (3/3) SEBAGAI DOKTRIN AKIDAH oleh Zainun Kamal Buat sementara dapat kita simpulkan bahwa dalam paham al-Asy'ari. 7507173 Fax. Tuhan dan manusia dalam suatu perbuatan adalah seperti dua orang yang mengangkat batu b esar . 728 H) menilai. sebenarnya tidak lain dari kehendak Tuhan. dan perbuatan itu sendiri adalah perbuatan Tuhan dan bukan perbuatan manusia. sebagai jabariyah murni. tetapi manusia dalam pada itu tidak kehilangan sifat sebagai pembuat. Perbuatan Tuhan adalah hakiki dan perbuatan manusia adalah majazi (sebagai lambang). Dalam teori kasb. Demikian pulalah perbuatan manusia. [40] Ini mengandung arti bahwa kehendak manusia adalah satu dengan kehendak Tuhan. untuk terwujudnya suatu perbuatan dalam perbuatan manusia. maka terangkatnya batu itu adalah oleh yang kuat tadi. (021) 7501969. UA 20-21 Jakarta Selatan Telp. daya Tuhan dan daya manusia. bahkan Ibn Hazm (w. sedangkan daya manusia tidaklah efektif kalau tidak disokong oleh daya Tuhan. sedangkan yang seorang lagi tidak mampu. Alasannya karena menurut al-Asy'ari kemauan dan daya untuk berbuat adalah kemauan dan daya Tuhan. [46] . untuk terwujudnya perbuatan perlu ada dua daya. yaitu perbuatan Tuhan dan perbuatah manusia. [44] Harun Nasution juga berpendapat demikian. yang seorang mampu mengangkatnya sendirian. dan kehendak yang ada dalam diri manusia. [43] (bersambung 3/3) -------------------------------------------Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah Editor: Budhy Munawar-Rachman Penerbit Yayasan Paramadina Jln. 7501983. Perbuatan pada hakekatnya terjadi dengan perantaraannya daya Tuhan. (021) 7507174 Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang YayasanISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota Please direct any suggestion to Media Team Artikel Yayasan Paramadina Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota III. Karena manusia dalam teori kasb al-Asy'ari tidak mempunyai pengaruh efektif dalam perbuatannya. Metro Pondok Indah Pondok Indah Plaza I Kav.

yang mengingkari sama sekali adanya kemampuan pada manusia untuk berbuat. ketika yang terakhir ini membatalkan aliran Mu'tazilah sebagai paham resmi pada waktu itu. sang raja tidak perlu patuh dan tunduk kepada undang-undang dan hukum. Sejarah menunjukkan. yaitu keadaan masyarakat Islam pada abad ke-9 M. Kasb-nya al-Asy'ari itu telah membawa para pengikutnya berfaham Jabariyah murni. bahwa aliran al-Asy'ari telah berhasil menarik rakyat banyak di bawah naungannya berkat campur tangan khalifah al-Mutawakkil. Ajarannya dikembangkan oleh para pengikutnya. ia sering mendapat dukungan. apalagi berhadapan dengan kekuasaan mutlak Allah. Teologi ini timbul merupakan refleksi dari status sosial dan kultural masyarakat pada masanya. Kemudian setelah wafatnya al-Asy'ari pada tahun 935M. Karena teologi al-Asy'ari didirikan atas kerangka landasan yang menganggap bahwa akal manusia mempunyai daya yang lemah. al-Juwaini dan al-Ghazali. maka disinilah letak kekuatan teologi itu. Sungguhpun demikian. aliran itu mengalami kemajuan besar sekali. Oleh karena itu. bahwa dalam faham teologi al-Asy'ari manusia selalu digambarkan sebagai seorang yang lemah. yang tidak mempunyai daya dan kekuatan apa-apa disaat berhadapan dengan kekuasaan yang absolut. Dengan demikian. sebagai konsekuensi logis dari paham manusia lemah dan patuh kepada penguasa. seperti yang sudah kita uraikan di atas. al-Baqillani. yaitu ia dengan mudah dapat diterima oleh umumnya umat Islam yang bersifat sederhana dalam pemikiran. [46] PENGARUH KALAM AL-ASY'ARI Seperti telah disebutkan di atas. Salah satu faktor penting bagi tersebarnya teologi al-Asy'ariyah di dunia Islam adalah sifat akomodatifnya terhadap Dinasti yang berkuasa. Sebab. Ia telah menghilangkan kesadaran pemikiran rasionalisme di dunia Islam. Akhirnya. menurut Ibn Taimiyyah. Sebab undang-undang dan hukum itu adalah bikinannya sendiri. [47] dimana raja-raja selalu berkuasa dengan diktator dan mempunyai hak penuh untuk menghukum siapa saja yang diinginkannya. Hilangnya pemikiran rasionalisme tersebut telah menyebabkan kemunduran umat Islam selama berabad-abad. bahkan menjadi aliran dari Dinasti yang berkuasa. yang jumlahnya selalu mayoritas di dunia Sunni. Mereka adalah orang-orang yang tidak setuju dengan ajaran-ajaran Mu'tazilah.umat Islam. paham al-Asy'ari ini juga telah membawa dampak dan pengaruh negatif. sehingga mayoritas umat Islam menganutnya sampai detik ini. . Memang. Kunci keberhasilan teologi al-Asy'ari ialah karena sejak awal berdirinya ia telah berpihak kepada awwamnya . Ibn Taimiyyah menilai konsep kasb yang ditetapkan al-Asy'ari itu tidak masuk akal.Ibn Taimiyyah menilai al-Asy'ari telah gagal dengan konsep kasb-nya yang hendak menengahi antara Qaddariyyah dengan Jabbariyah. antara lain. al-Asy'ari menegaskan bahwa kasb manusia itu tidak mempunyai efek nyata dalam mewujudkan perbuatan manusia itu.

yaitu ayat-ayat yang sebenarnya boleh mengandung arti lain dari arti letterlek. h. mempunyai daya yang lemah. al-lbanah). Fauqiyah. 3 3. kebodohan dan kematian massal yang terjadi. tahun 1976. sehingga tidak ada yang mau bertanggungjawab atasnya. dan lebih dari itu. 1969. jodoh dan maut adalah di tangan Tuhan. adalah atas kehendak Tuhan menghilangkan makna pertanggungjawaban manusia atas segala perbuatannya. h.Karena akal manusia. akibatnya. Dr. h. 1977. Fi al-Falsafah al-Islamiyyah II. tetapi mereka artikan secara letterlek. Mesir. Paham fatalisme yang berkembang dalam masyarakat.Fauqiyah. Mesir. maqalat al-Islamiyyin wa Ikhtilaf al-Mushallin. 10 . Abu al-Hasan al-Asy'ari. Fauqiyah Husein Mahmud. Lihat juga Abu al-Hasan al-Asy'ari. Mahyudin Abdul Hamid. lebih tegas lagi. Tetapi teologi ini akan menjadi lemah disaat berhadapan perkembangan ilmu pengetahuan dan penemuan teknologi baru. Untuk menutup tulisan ini. serta jauh dari pengetahuan. 60 4. ia dapat merupakan salah satu dari faktor-faktor yang memperlambat kemajuan dan pembangunan. dan salah seorang hakim yang mewakili Ali Ibn Abi Thalib waktu terjadinya arbitrase antara Ali dan Muawiyah. seperti rezeki. karena terikat tidak saja pada dogma-dogma. 1973 h. tetapi juga pada ayat-ayat yang mengandung arti dzanni. 9 (Selanjutnya disebut. ed. menjadikan manusia-manusia yang enggan merubah nasibnya sendiri dan merubah struktur masyarakat. lihat Hamudah Guramah. Mesir.Ibrahim Madkour. menurut al-Asy'ari. [49] Paham bahwa semua peristiwa yang terjadi. Sayeed Ameer Ali mengatakan bahwa kemerosotan bangsa-bangsa Islam sekarang ini salah satu sebabnya karena formalisme al-Asy'ari. 46 2. Bahkan. Selain itu. Mesir. Al-Ibanah. Dengan demikian para penganutnya teologi ini sukar dapat mengikuti dan mentolerir perubahan dan perkembangan yang terjadi dalam masyarakat modern. Ed. Peristiwa terowongan Mina adalah salah satu bukti nyata dari faham Fatalisme. Al-lbanah 'an Ushul al-Dinyanah. suatu kesimpulan dapat diambil bahwa faham teologi al-Asy'ari mempunyai basis yang kuat pada suatu masyarakat yang bersifat sederhana dalam cara hidup dan berpikir. Dan ia selalu mempersalahkan takdir atas kemiskinan. M.Abu Musa al-Asy'ari adalah salah seorang sahabat Rasul-Allah saw. h. Dengan dalih peristiwa itu terjadi atas kehendak Tuhan semata. CATATAN 1. termasuk perbuatan manusia. menjadikan penganutnya kurang mempunyai ruang gerak..Ali Ibn Ismail Ibn Abi Basyar Ishak Ibn Salim Ibn Ismail Ibn Abdullah Ibn Musa Ibn Bilal Ibn Abi Burdah Ibn Musa al-Asy'ari (Lihat Abu al-Hasan al-Asy'ari. menjadikan manusia-manusia yang tidak mau bertanggungjawab atas kesalahan-kesalahannya.

Subhi. Wakil. h. 36 9.Ibid.) Bairut. 29 8. Fi Ilm al-Kalam II..Louis Gardet & J. Kitab al-Luma' Fi al-Rad'ala ahl al-Zaigh wa al-Bida'. Lihat juga. Abd. Ali Abu Rayyan. 38 20. hal. Iskandiyah. Mahmud Kasim. Dan Hamudah. 30 21. Tarikh al-Fikri al-Falsafi Fi al-lslam. h.Lihat Rayyan. Iskandiyah. 94. al-Milal wa al-Nihal I.. h. Fi Ilm al-Kalam II. h. h. Mahmud Subhi. 31 15. Al-Syahrastani. 1982. 104 22. 17. dan lihat juga Subhi. h. Al-Ibanah. 102 11. Mesir. 1985. 100 ./881 M. Al-Makrizi. Fi al-Falsafah. 1974.Madkour. 1968./885 M. Anawati. 52 270 H. H. Kairo. 1976. 1965. Al-Asy'ari. hal. Dirasat Arabiyah wa Islamiyah I. (lihat M. Fi Ilm al-Kalam II.Fauqiyah. 41 17. Sedangkan usianya waktu itu sudah umum diketahui empat puluh tahun. h 93 10. 73.Zuhdi Jar Allah. dapat dilihat pada. Iskandariyah. Kairo. Mahmud Subhi. Ed.Al-Asy'ari. 116. 303 (dikutip dari Fanqiyah. Kairo. 159.Hasan Mahmud al-Asy'ari.Terdapat beberapa variasi pendapat dalam menetapkan tahun lahirnya: 270 H.. Iskandiyah. Al-Mihal I. h. 13 Penulis lebih cenderung menetapkan sejarah lahirnya pada ketika memisahkan diri dari Mu'tazilah adalah pada tahun 300 H. 1973 h. h.8 18. 164-165 14. Mesir. h. 13. h. h. dalam al-Khutbath III.M. Dirasat Fi al-Falsafah al-Islamiyyah. Aziz M. Al-Mu'tazilah. 310 6.Faiqiyah. h. al-Asy'ari. h. h. h.Fauqiyah. h. Subhi Fi Ilm al-Kalam II. Ibn Atsir. h. 51 24. Ibid. dalam. Bairut. Fi Ilm al-Kalam II.A. h. Madkour. Fi al-Fasafah II. h. Dar el Ulum.A.5.Hamuddh.Abu al-Hasan al-Asy'ari. Al-Ibanah'an Ushul al-Dinayah. dalam al-Lubab I.Abu al-Hasan al-Asy'ari. Al-Ibanah. h. Falsafah. h. Falsafat al-Fikrial-Dini Bain al-Islam wa al-Masihiyah I (terj. Al-Ibanah.Al-Syahrastani. 1980.Bahwa manusia harus bertanggung jawab atas kehendak dan perbuatannya sendiri menurut pendapat Mu'tazilah. Al-Ibanah. 312 Gardet & Anawati. 34 16.1397 H. Iskandiyah. h. 50 23.65 12. Tarikh. 35 19. 60 7. 1982 h.Ibid.

112 46.25.Sayeed Ameer Alim.Muhammad Abu Zahrah.Al-Syahrastani. Minhaj al-Sunnah II. 51 40. 562 43. h. tt. h. 101 30.. h. h. (021) 7507174 .. Al-Ibanah..Ibid. 13 26. h.Ibid 31. 167 33. 168 34.Abd al-Rahman Badawi. Delhi. Metro Pondok Indah Pondok Indah Plaza I Kav. 72 39. Al-Luma'.Al-Asy'ari. 7507173 Fax.Al-Asy'ari. h. 1983 h. 71 32.Mahmud Kasim.Ibn Taimiyyah.. Ibid. Kairo. UA 20-21 Jakarta Selatan Telp. 27.Ibid. 133-134 44. -------------------------------------------Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah Editor: Budhy Munawar-Rachman Penerbit Yayasan Paramadina Jln. Tarikh al-Madzahib..Mahmud Kasim. h. h. h. al-Luma'. UI-Press. Tarikh al-Madzahib al-Islamiyah. Dirasat. h. Lihat juga Madkour. Al-Ibanah. Jakarta. tt.Abd al-Qahir al-Baghdadi. 16-17 47. 41 42.Harun Nasution.Ibid. Bairut. h. 472 473. 57 41. h. h.Ibid.Abu Zahrah. Teologi Islam. h. h. 1971.Al-Asy'ari. Al-Milal I. h. Al-Luma'. h. lihat juga Mahmud Kasim. Dirasat. h.Al-Asy'ari. (021) 7501969. Kitab Ushul al Din.Ibid. Al-Milal I. Madzahib al-Islamiyin. Bairut.205 36.Ibid. 35.Al-Asy'ari. 113 29. 70 38. 1981. h. h. The Spirit Of Islam. h.Al-Sahrastani. 7501983.. 205 45. 16 28. 100. 102. 76 37. 34 48.Al-Asy'ari.

bukan di sini. amal itu diikat dan ditentukan oleh konteksnya. Ketiga. Itu adalah urusan Tuhan dan pribadi yang bersangkutan. Dalam hubungan ini innama 'l-a'malu bi 'l-niyyat akan berarti. Sementara itu. bobot dan relevansi suatu amal pemikiran pertama-tama tidak ditentukan penilaian benar tidaknya dari sudut doktrin. di dunia ini. dapat kita kelompokkan dalam dua katagori. karena setiap amal adalah respons terhadap realitas yang didefinisikannya. kritik amal atas dasar niat yang bersifat kedalam sama sekali bukan urusan kita. melainkan lebih pada kenyataan sejauh mana ia mengena pada realitas yang diresponsnya. tapi di sana. Dan amal berdimensi ganda. Dengan menerima dasar penilaian atau kritik yang demikian ini." Syahdan. dan kedua yang bersifat keluar dan sosial. dan waktunya. dikritik atau dievaluasi. Mas'udi Dengan mengatakan innama 'l-a'malu bi 'l-niyyat (amal ditentukan niyatnya). maka bisa dikemukakan beberapa acuan sebagai berikut." yaitu mengapa dan dalam konteks sosial yang bagaimana suatu amal telah dilakukan.11. bobot dan relevansi suatu amal (dalam hal ini amal pemikiran) pada dasarnya adalah relatif dan bisa berubah. justru lantaran konteks yang melahirkannya adalah juga bersifat relatif dan berubah. semakin tinggi pula bobot dan relevansi pemikiran yang diresponinya. Tak ada suatu amal yang muncul begitu saja lepas dari kaitan sebab akibat yang melingkupinya. Yang pertama adalah realitas yang terdapat dalam dunia ide yang dipikirkan. pertama yang bersifat ke dalam dan personal. dalam bahasa manajemennya. dievaluasi. adalah kritik atau evaluasi amal dari sudut niat (tujuan)nya yang bersifat "keluar. Sedang yang kedua adalah realitas yang ada dalam dunia kenyataan yang . Niat. harus dikritik atau. seperti diketahui. Maka bobot dan relevansinya juga tergantung pada sejauh mana definisi atas realitas itu memiliki ketepatan. oleh realitas kehidupan yang mendorong kehadirannya. TELAAH KRITIS ATAS TEOLOGI MU'TAZILAH (1/2) oleh Masdar F. Pertama. yaitu realitas teoritik dan realitas empirik. Kedua. Semakin tepat definisi realitas yang ditangkap. Tujuan amal yang bersifat "kedalam" landasannya adalah "iman. maka sesungguhnya Nabi Muhammad saw sedang berteori bagaimana suatu amal.Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota Please direct any suggestion to Media Team Artikel Yayasan Paramadina Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota III. adalah kesadaran tentang tujuan suatu amal dilakukan." sedang tujuan yang bersifat "ke luar" landasannya adalah "realitas kehidupan. sebagai makhluk sosial. Yang ada pada wewenang kita. di alam akhirat nanti. menurut agama. realitas yang menjadi pijakan amal pemikiran. Dan hanya dalam kaitan sebab akibat itulah suatu amal bisa dinilai.

Memang. Pertama. maka dampak sosialnya pun cenderung abstrak dan terbatas pada kalangan tertentu saja. (Suatu pemikiran yang jelas berangkat dari keprihatinan teoritik). yaitu bagaimana ajaran agama bisa dipahami umat secara benar. Berkaitan dengan tanggungjawab perbuatan manusia tadi. atau kekuatan-kekuatan itu. karena titik tolak keprihatinannya pada realitas abstrak dan umumnya terbatas hanya pada concern kalangan tertentu. Perkembangan yang tragis ini yang terjadi dua kali. pemikiran katagori pertama. keduanya tak harus selalu terpisah. Pemikiran kategori pertama. Syahdan. "cobaan besar."penyelamatan Tuhan" itu tak ada sangkut pautnya dengan amal perbuatan manusia. PEMIKIRAN TEOLOGI MU'TAZILAH Fakta sejarah. apakah faktor itu adalah "amal perbuatannya" ataukah "rahmat Tuhan" semata yang diberikan kepada siapa saja yang dikehendaki-Nya. Menurut ajaran Islam. sedang sebagian amal pemikiran yang lain. dimana satu kelompok bukan saja telah mengutuk kelompok yang lain.dirasakan. bergerak ke realitas empiris). juga akan cenderung pada hal-hal yang konkrit yang bisa mengena pada kepentingan orang banyak. Sebaliknya. dikenal dengan sebutan fitnah kubra. sebagian amal pemikiran benar-benar lahir dengan titik tolak keprihatinan pada realitas teoritis (baru kemudian. yaitu balasan sorga dan balasan neraka. Tapi yang saya maksudkan adalah. sedang yang kedua akan bercorak populis. tapi semata-mata atas dasar "rahmat" yang disediakan melalui pintu tunggalnya: Yesus. kenyataan bahwa di kalangan umat terjadi konflik internal yang boleh jadi tidak pernah diinginkan oleh mereka sendiri. titik tolaknya adalah keprihatinan terhadap realitas empiris (baru kemudian realitas yang bersifat teoritis). faktor apakah yang memastikan orang memperoleh penyelamatan Tuhan dengan masuk sorga. bahwa pada paroh kedua abad pertama Hijriah. dan dalam kontrol siapakah ia. Demikianlah. Pertanyaan ini muncul -besar kemungkinan karena menurut doktrin Kristiani yang ketika itu juga sudah dibawa masuk dalam lingkungan umat Islam. dari keprihatinan atas pertanyaan-pertanyaan inilah . telah terjadi dua perkembangan yang sangat signifikan dalam sejarah umat Islam. jika dirasa perlu." Perkembangan kedua adalah masuknya bangsa Parsi dan sekitarnya kedalam Islam berikut pemikiran dan keyakinan-keyakinan lamanya yang sudah terbentuk kuat dalam benak masing-masing. Seperti selalu diulang-ulang para sejarawan. ada dua jenis balasan sejati di akhirat nanti. pemikiran yang lahir dari keprihatinan pada realitas riil yang dirasakan orang banyak. bahwa pemikiran-pemikiran keagamaan (fiqh atau teologi) sebagai amal yang ditawarkan para pemikir Muslim sejak abad pertengahan adalah lahir dari suatu pola keprihatinan yang serupa. Siapakah yang sesungguhnya bertanggungjawab atas tindakan manusia: dirinyakah. tapi telah saling membunuh. akan cenderung bercorak elitis. dengan sendirinya. yang satu terhadap yang lain bisa saling pengaruh mempengaruhi. Bagaimana hukumnya orang Islam yang melakukan dosa besar (seperti membunuh sesama Muslim tanpa hak). Dengan kedua perkembangan itulah muncul pertanyaan-pertanyaan teologis.

Dan sebenarnya pada kisaran inilah Mu'tazilah benar-benar tumbuh sebagai aliran teologi yang tersendiri diantara aliran-aliran teologi yang lain." terasa lebih bersifat murni teologis. Karuan saja. karena ajaran-ajaran Islam itu pun harus diolah terlebih dahulu melalui subyektifitas masing-masing pemikir. Qadariyah. Maturidiya. mengaku sebagai satu-satunya yang benar. Tersebutlah. dan bagaimana dengan dosa yang dilakukannya itu terserah Tuhan di hari akhirat nanti. Jawaban kedua mengatakan bahwa Muslim yang melakukan dosa besar masih tetap tergolong Muslim. yang berkembang saat itu adalah jawaban-jawaban berikut. Prinsip "janji dan ancaman" (al-wa'du wa 'l wa'id) yang akan dilaksanakan di hari kemudian tak bisa dipahami tanpa adanya prinsip "kebebasan" tadi. Saya kira. orang akan selalu merujuk pada episoda diskusi Hasan al-Bashri (w. dengan para muridnya diseputar tema Muslim yes. sangat menekankan perlunya seseorang dapat memperjelas (diperjelas) kedudukannya apakah termasuk orang dalam (in group. Hasan Basri selaku pemimpin dan tokoh yang merasa harus menjaga keutuhan umat berada dalam arus kecenderungan umum ini. dengan nada menyesal Hasan berkomentar: Ia telah keluar dari kita. Itulah sebabnya ketika Washil melontarkan pendapatnya yang melawan arus tadi. dengan melakukan dosa besar." Baginya. Mu'tazilah. prinsip kebebasan juga hanya akan berarti kalau ada "janji dan ancaman" yang setimpal di hari kemudian. minna) atau termasuk orang luar (out group.halal ditumpahkan darahnya. maka pertanyaan tentang "kebebasan manusia. Jabariyah.para pemikir Islam ketika itu merasa ditantang merumuskan jawabannya yang benar sesuai dengan ajaran-ajaran Islam yang shahih. Jawaban ini diajukan kelompok yang terkenal dengan sebutan Khawarij. minhum). seorang Muslim telah terpental dari kelompok (komunitas) alias menjadi "kafir" dan karena itu -sesuai dengan hukum riddah. maka jawaban pun hadir dalam corak dan pendekatan yang demikian berbeda-beda. hanya dengan prinsip kebebasan inilah. Maka terhadap pertanyaan yang terlontar dalam diskusi Hasan tadi. manusia secara moral dapat dituntut pertanggungjawaban di kemudian hari. di kemudian hari nama-nama: Khawarij. Mu'tazilah secara tegas mengatakan bahwa "manusia sepenuhnya memiliki kebebasannya sendiri bertindak. Masing-masing jawaban tumbuh sebagai aliran pemikiran yang berdiri sendiri. Dan sebaliknya. yang lainnya adalah salah. Asy'ariyah. Kata i'tazala (hengkang) yang jadi sebutan Mu'tazilah (yang hengkang dari arus umum) itu pun kemudian ditempelkan kepada Washil bin Atha dan segenap pengikutnya. . Berbeda dengan aliran teologi lainnya. Khasywiyah dan sebagainya. Yang menarik adalah bahwa masing-masing aliran ini. 110 H/ 728 M). Pertama. Murjiah. Tapi kalau pertanyaan tentang "status pendosa besar" ini banyak diselimuti latar belakang politis. karena merasa berpedoman pada pegangan mutlak yang ada di tangan. yaitu bahwa identitas seseorang apakah ada "di dalam" (minna) atau "di luar" (minhum) harus benar-benar jelas. I'tazala'anna!. seorang ulama terkemuka pada zamannya. Muslim no yang baru pada taraf pembentukan diri. Jawaban inilah yang agaknya dicondongi mayoritas umat Islam yang disebut sebagai kelompok Murji'ah (artinya: menangguhkan). Berbicara tentang awal mula sejarah Muitazilah.

bahkan juga sebelumnya. Baik atau buruk (al-hasan wa 'l-qabh) bukanlah sesuatu yang harus didiktekan siapa pun juga. yang cenderung mengunggulkan otoritas "akal" (nalar) atas "naqal. Dan sebagai yang Maha adil. manusia tumbuh sebagai makhluk yang mandiri dan tidak lagi tergantung pada pihak lain dalam menentukan jalan hidupnya. TELAAH KRITIS ATAS TEOLOGI MU'TAZILAH (2/2) oleh Masdar F. tesis tentang Qur'an tersebut erat kaitannya dengan tesisnya yang lain tentang "Keesaan Tuhan" yang dibangunnya dengan pendekatan murni filosofis. al-Qur'an (wahyu) tidak memiliki otoritas yang dapat mendikte manusia. Apakah dengan begitu. (021) 7501969. maka sebenarnya Mu'tazilah sudah berketetapan hati bahwa sebagai sesama makhluk. pastilah manusia yang memiliki kemampuan yang memungkinkan dirinya menentukan mana yang baik dan mana yang buruk. diluar diri manusia sendiri. manusia yang bebas dan bertanggungjawab itu. Secara harfiyah prinsip yang tersebut terakhir ini bukan barang baru bagi umat Islam pada jamannya. Sementara itu. berupa akal yang lebih dipahami sebagai rasio atau nalar. 7507173 Fax. Dengan nalarnya. UA 20-21 Jakarta Selatan Telp." suatu pendirian yang oleh mayoritas Muslim dipandang sangat membahayakan keutuhan doktrin. Tapi "keesaan Tuhan" dalam teori Mu'tazilah ini menjadi baru karena yang ia maksudkan rupanya adalah pembebasan (tanzih) . Dia tak bisa tidak kecuali harus bertindak yang terbaik bagi manusia.(bersambung 2/2) -------------------------------------------Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah Editor: Budhy Munawar-Rachman Penerbit Yayasan Paramadina Jln. Tapi. Mas'udi Mu'tazilah yakin bahwa pembalasan di akhirat semata-mata ditentukan oleh "amal perbuatan manusia" yang diambilnya sendiri secara bebas merdeka. 7501983. dengan tesisnya bahwa al-Qur'an itu makhluk. Mu'tazilah tak lagi perlu? Tak ada penegasan eksplisit tentang itu. Seperti diketahui. (021) 7507174 Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota Please direct any suggestion to Media Team Artikel Yayasan Paramadina Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota III. Sebagai yang Maha adil Tuhan harus membalas keburukan atas setiap tindakan buruk dan harus membalas kebaikan atas semua tindakan yang baik.11. Metro Pondok Indah Pondok Indah Plaza I Kav. Kemampuan itu menurut keyakinan Mu'tazilah sudah diberikan Tuhan. Pada poin inilah Mu'tazilah dimasyhurkan sebagai aliran pemikiran yang rasionalistik.

bagaimana jika orang-orang yang dijebloskan dalam neraka protes. orang yang mati dewasa itu menempati kedudukan lebih tinggi dibanding kedudukan si anak. Bedanya adalah bahwa Jubbaiy (Mu'tazilah) dengan logika akalnya bersikeras untuk mendefinisikan Tuhan menurut batas-batas manusia. Sifat-sifat atau atribut yang dikenakan kepada Tuhan bukanlah sesuatu yang sebangun dengan hakikat-Nya. Kalau begitu. hingga tak sempat tumbuh jadi manusia durhaka? Yang menarik dari diskusi ini bukan saja al-Jubbaiy kehabisan akal menjawabnya. sedang Asy'ari. Kenapa harus terjadi si anak tidak diberi usia yang cukup agar ia bisa berbuat kebaikan seperti temannya yang dewasa? Kejar Asy'ari. ia akan tumbuh menjadi manusia durhaka. bahwa Mu'tazilah mengaku telah menemukan kebenaran tunggal dan mutlak itu melalui logika akal. jika si anak dibiarkan hidup. juga dengan logika akalnya. jawab Jubbaiy. Dengan menarik postulat ini lebih jauh. maka diciptakan (makhluq). Konon. kenapa mereka tidak dimatikan saja ketika masih muda. 330 H/942 M). jika hakikat Tuhan itu qadim. murtad dan sejenisnya hanya lantaran pendapat yang berbeda. Kalau kritik al-Asy'ari itu adalah juga kritik kita kepada Mu'tazilah. adalah hadits. tapi juga pada semua aliran teologi yang tumbuh pada masa-masa itu karena klaim yang sama. Yang tersebut terakhir ini dengan sangat militan diwakili oleh golongan Khasywiyah yang mengaku menjadi pengikut Imam Ahmad bin Hambal (w. 241 H/855 M). al-Asy'ari bertanya kepada guru besarnya. sesuai dengan keadilan Tuhan dalam persepsi Mu'tazilah. justru ingin membebaskan-Nya tetap berada di atas batas-batas manusia tadi. kilah Jubbaiy. kejar Asy'ari lebih lanjut. Mengapa harus begitu? Tanya Asy'ari.Tuhan dari seluruh "sifat" bahkan yang secara eksplisit tersebut dalam ajaran-ajaran wahyu (Qur'an). sedang lawan-lawannya mengaku menemukan kebenaran mutlak itu melalui huruf-huruf naqal. termasuk sifat-sifat yang dikenakan kepadaNya. maka kritik kita yang kedua adalah pada klaimnya sebagai telah menemukan kebenaran tunggal yang harus diterima semua pihak. sedang si anak belum. TIGA KRITIK Adalah al-Asy'ari (w. Asy'ari pun juga menggunakan akal (logika) untuk mendukung argumentasinya. Hanya bedanya. Sesungguhnyalah kritik ini tidak saja mengena pada Mu'tazilah. maka segala sesuatu selainnya. tapi seperti halnya Jubbaiy. Yakni. Tapi. tentang nasib seorang anak dan seorang dewasa yang sama-sama masuk sorga karena imannya. Keduanya memiliki perbedaan yang substansial. Karena yang dewasa telah sempat beramal kebaikan. salah satu ciri yang menonjol dari sejarah pemikiran keagamaan saat itu adalah kesembronoannya yang benar-benar diyakini dalam menuduh orang atau pihak lain sebagai kafir. Tuhan tahu. al-Jubba'iy. . pada suatu ketika. syirk. yang adalah teolog Mu'tazilah terkemuka pada zamannya. menurut catatan sejarah yang pertama kali menyatakan kekecewaannya terhadap konsep teologi Mu'tazilah yang rasionalistik itu. Itulah sebabnya. maka Qur'an sebagai ekspresi salah satu sifat-Nya (al-kalam) yang hadits dengan demikian juga berkapasitas hadits. Sementara Tuhan harus berbuat yang terbaik untuk manusia.

karena dasar keprihatinannya yang serupa). TAWARAN ALTERNATIF Mencoba konsisten dengan kerangka teori "niat" seperti tersebut di atas.Untuk kasus Mu'tazilah sikap intoleransi ini ditindak lanjuti dengan prinsip amar ma'ruf nahi munkarnya yang merisaukan banyak pihak yang menjadi lawan polemiknya. maka isu-isu yang digelutinya pun hampir tak punya sentuhan yang bermakna bagi umat pada umumnya. sedang yang tersebut terakhir concernnya pada kesesuaian antara realitas kehidupan dengan semangat doktrin yang dinamis. terutama jika diingat praktek kesewenang-wenangan yang dilakukan kalangan penguasa. adalah yang tersebut pertama muaranya adalah pada terbangunnya kesesuaian realitas pemahaman dengan bunyi doktrin yang statis. Seperti telah disinggung di atas." Saya pikir. kalau teologi abad pertengahan (seperti Mu'tazilah maupun lawan-lawannya) yang mengabdi kepada kepentingan doktrin disebut teologi dialektik. Tapi kalau dialektika teologi yang mengabdi doktrin itu berwatak retorik (dialektika yang terjadi dalam proses penghadapan antagonis antara satu doktrin dengan doktrin yang lain). dengan dalih itu. ia bisa disebut misalnya "teologi populis." atau "teologi kerakyatan"). (Kritik ini pun mengena pada aliran teologi lainnya. sistem pemikiran teologis atau apa saja atributnya yang relevan untuk dibangun. Seperti diketahui. Tragedi teologis ini dikenal dengan mihnah. maka keadilan yang dimaksud bukanlah keadilan Tuhan yang harus ditegakkan di "sana. kritik yang ketiga. maka sebutan yang sama pun bisa juga dikenakan pada teologi yang perlu kita kembangkan ini. Yang pertama berwatak formal dengan orientasi pada bentuk . Mu'tazilah telah melancarkan intrik terhadap orang lain untuk menerima doktrin-doktrin teologinya dan menimpakan hukuman atas siapa saja yang mencoba menolaknya. adalah yang benar-benar berangkat dari lapisannya paling bawah. maka rupanya keadilan yang dimaksudkan adalah keadilan lain (yang bersifat eskatologis) yang berkaitan dengan "peranan" Tuhan di hari kemudian. kelompok Mu'tazilah ini justru bergandengan-tangan dengan rejim yang berkuasa untuk melakukan tindak sewenang-wenang terhadap siapa saja yang tidak disukainya. Dan dalam kaitannya dengan persoalan keadilan yang dirasakan umat. Sehingga kalau realitas yang menggugah keprihatinannya adalah soal keadilan. karena pada dasarnya Mu'tazilah lahir dari keprihatinan pada realitas teoritis bahkan yang berdimensi metafisik. Dilihat dari sudut muaranya. lantaran dasar keprihatinannya yang elitis tadi. maka dialektika teologi baru itu bersifat empiris (dialektika yang terjadi dari proses penghadapan kritis antara realitas kehidupan dengan pesan-pesan universal). beda antara teologi dialektika retorik di satu pihak dengan dialektika empiris di lain pihak. salah satu prinsip ajaran yang dipropagandakan Mu'tazilah adalah tentang "keadilan" suatu isu yang sebenarnya sangat relevan pada saat itu. Tapi. Sementara itu." tapi keadilan yang menjadi tanggung jawab manusia dalam kehidupan di "sini. (Dari dasar keprihatinannya ini. maka bagi saya. atau inquition yang dilakukannya dengan dukungan tangan-tangan kekuasaan dan birokrasi pemerintahan yang karena alasan politik tertentu dapat dipengaruhinya.

dua sisi yang selama ini seperti cenderung terpisah. Kristen Romawi sembahyang sambil berlutut. Mereka berpisah seperti "a biological species divided in space and diversified in time. SKISME DALAM ISLAM SEBUAH TELAAH ULANG (1/3) oleh Jalaluddin Rakhmat Ketika matahari Islam sedang naik di sebelah Timur. Sebagai gantinya. teologi dialektika empiris ini akan menerima perbedaan pendapat sebagai realitas kehidupan yang wajar. mengeluarkan manifesto yang mengatakan pemilihan Paus Urbanus VI tidak sah. Paus St. sedang secara horizontal berwatak demokratis. maka kemungkinan menemukan pilihan "yang terbaik" menjadi tersedia. 1950:544). Leo mengekskomunikasikan Cerularius dan menggelari pengikut-pengikutnya sebagai "an assembly of heretics. Patriarch Konstantinopel. tetapi diperbolehkan bagi pastor Yunani. Pastor Romawi ahli politik. . 7507173 Fax. di Barat Kristianitas terbelah dua pola: Gereja Romawi dan Gereja Yunani. Sebagai balasan. Pertentangan keduanya dan pengikutnya sampai kepada tingkat saling mengkafirkan. menyebarkan tulisan yang mengkritik keras Paus di Roma. UA 20-21 Jakarta Selatan Telp. Metro Pondok Indah Pondok Indah Plaza I Kav. Michael Cerularius. Dua Paus bertahta. mereka mengangkat Robert dari Genewa dengan gelar Clement VII. a conventicle of schismatics. 7501983. Menurut laporan Will Durant (Durant). Dengan watak keterbukaannya. Pada tahun 1043.52. teologi dialektika empiris ini secara vertikal berwatak populis.dan cenderung tertutup. (021) 7501969. kardinal-kardinal Perancis berkumpul di Anagui." Kristen Yunani berdoa sambil berdiri. di Romawi dengan pemercikan. a synagogne of Satan. Terakhir. masing-masing menyebut yang lain sebagai Judas. pastor Yunani ahli teologi. Peristiwa ini disebut sebagai skisma besar Gereja Timur. Dengan demikian. Pernikahan dilarang bagi pastor Romawi. Lebih dari tiga abad kemudian. sedangkan rekannya dari Roma mencukurnya. -------------------------------------------Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah Editor: Budhy Munawar-Rachman Penerbit Yayasan Paramadina Jln. (021) 7507174 Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota Please direct any suggestion to Media Team Dimensi sosial Artikel Yayasan Paramadina Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota VI. Justru dengan pendapat yang berbeda-beda itu. teolog Yunani menolak tambahan filioque pada syahadat sex patre filioque procedit hasil perumusan Gereja Romawi." (Durant. "Kiai" Yunani memelihara janggut. sedang yang kedua berwatak substansial yang berorientasi pada substansi dan bersifat terbuka. Pembaptisan di Yunani dilakukan dengan penyelaman.

Encyclopedisch Woordenbock voor Groot-Nederland (Ter laan. de sheuring in de. legitimasi ini diperoleh dengan memalsukan sumber-sumber ajaran agama atau memberikan penatsiran yang diselewengkan. Walaupun skisme berasal dari dunia kristen. baik skisme dalam Kristen maupun skisme dalam Islam lebih banyak dilandasi pertikaian kepentingan politik daripada karena pertikaian aqidah. Pertama. Will Durant melukiskan skisme besar tahun 1054. Ada tiga kesamaan antara skisma Kristiani dengan perpecahan dalam Islam. and that the children so baptized. toen er verschillende pausaen tegelijk waren. kamu pun akan mengikutinya. ". 21:92)? Bukanlah mereka seperti bangunan yang kokoh. yang saling menguatkan satu same lain. sehingga begitu saja mendengarnya. remained in a state of mortal sin." Tetapi. sehingga bila mereka memasuki gua serigala.1953:362) "Each side claimed the sacraments administered by priests of the opposite obedience are invalid. Pernahkan Islam mempunyai Paus dua dan di antara keduanya ada tuduhan saling mengkafirkan? Bukankah umat Islam adalah "ummatan wahidatan" (QS. sehingga kalau satu anggota sakit. "Siapa lagi." [1] Kata skisme tidak mengada-ada. Pertikaian dalam gereja Katolik. mengapa kita tiba-tiba bicara tentang skisme dalam Islam. sesiku demi sesiku. "Ya Rasullah. de afscheiding van een deel van de Gr. yang semula bersifat politis. tradisi yang same telah diikuti umat Islam juga. apakah mereka itu Yahudi dan Nashara. kemudian diperluas ke dalam bidang liturgi dan doktrin: begitu pula. Kedua. (Gr.= shedding). Al-Syahrastani dalam al-Milal wa al-Nihal menulis. Skisma memang bukan istilah Islam. dalam Islam. the dying so anointed. Seperti dalam dunia Kristiani. and not the slight diversities of creed. Ketiga. "Ah. "Tidak pernah darah di tumpahkan dan pedang dihunus dalam Islam kecuali karena pertikaian masalah imamah (kepemimpinan). pertikaian politik sering dicarikan legitimasinya dengan pengembangan teologi yang berlainan. William Occam menentang identifikasi Kristianitas dalam gereja . Sahabat bertanya." Secara singkat. 1378-1407.these galling political events." Nabi menjawab. Sebuah kamus klasik.K. Katholieke kerk van Rome. 23:53. 1054. Tidak jarang.. saya segera berkomentar. R. 1950:544). the penitents so shriven. ada-ada saja!.. 1937:648) menjelaskan makna skisme: Schisma. Bila skisme adalah istilah Kristiani. ia menulis. di dunia Katolik pernah muncul gerakan konsiliasi (cinciliar movement) yang dipelopori oleh kaum cendekiawan. "Kalian akan mengikuti tradisi umat sebelum kalian." Peristiwa ini pun disebut sebagai Skisma Besar. kerk. setelah saya merenungkan pertanyaan-pertanyaan di atas? terlintas dalam ingatan saya sebuah hadits. anggota-anggota lainnya ikut demam dan panas? Mula-mula saya menganggap istilah skisme dalam Islam sebagai mengada-ada. doomed to hell or limbo if death should supervene. dalam Islam pun kaum politisi memperbesar perbedaan doktrinal yang kecil untuk menyuburkan fanatisme --saling mengkafirkan dan saling membid'ahkan. atau seperti tubuh yang satu. severed Christendom into East and West" (Durant. Nabi Muhammad berkata.

di sini kita akan meneliti perbedaan konsep politik di antara kedua madzhab besar itu dan melacak penyebab-penyebabnya. sikap nonsektarian. Heinrich von Langenstein. Walaupun --karena sifat ajarannya-.Syi'ah (yaitu tiga skisme yang pertama). tokoh-tokoh cendekia seperti Syaikh Syaltut (dari ahl al-Sunnah). Di antara semua skisme tersebut. yang baru saja dihapuskan tiga hari sebelumnya. skisme yang tetap berpengaruh sampai sekarang adalah skisme-skisme yang melahirkan polarisasi Sunnah .yakni Khalifah. Jadi. Dalam Islam. dan 'ishmah.tertentu. menggalakkan upaya-upaya taqrib. walaupun membicarakan skisme. Karena itu. dan kedua. Wilayah dan 'ishmah merupakan karakteristik tak terpisahkan dari imamah. menulis buku Concilium Pacis (1381). Ada beberapa kali terjadi skisme politik besar dalam sejarah Islam: pemberontakan 'Aisyah terhadap Khalifah Ali bin Abi Thalib. tujuan akhirnya adalah menumbuhkan sikap persatuan --sikap nonskismatik. wilayat. Sementara itu. abstraksi pandangan politik ahl al-Sunnah dapat disimpulkan hanya pada perbedaan konsep imamah dan khilafah yang dianut Syi'ah. Tulisan ini. Sayang. imamah. dan lain-lain. atau penobatan Abdullah bin Zubair (681-692) sebagai Khalifah bersamaan dengan masa Khalifah Yazid. ingin mengikuti suara cendekiawan dan mengesampingkan suara politisi. makalah ini akan mengajukan rekomendasi apa yang seharusnya kita lakukan. pemilihan Ahl al-Hal wa al-'Aqd. ijma' dan bay'ah. teolog dari Universitas Paris. Pada bagian akhir. perlawanan Husayn bin Ali terhadap Yazid. Kasyif Githa (dari Syi'ah). Ahl al-Sunnah menetapkan pemimpin melalui kesepakatan (al-ittifaq) dan pemilihan (al-ikhtiyar). atau penobatan Syarif al-Husain sebagai Khalifah tandingan khalifah Utsmaniyah. Syi'ah menetapkan pemimpin lewat keterangan agama (nash) dan penunjukan (ta'yin). Ahl al-Sunnah berpegang pada ketentuan syura sebagai landasan .Islam tidak memisahkan aspek politik dan aspek intelektual. Bagian pertama makalah ini akan membicarakan skisme politik. Al-Mawardi dalam Al-Ahkam al-Sulthaniyah (450 H) dan Abu Ya'la dalam Al-Ahkam al-Sulthaniyah (458 H) semuanya menulis.yakni. ANTARA KHALIFAH DAN IMAMAH Hamid Enayat menyebutkan tiga konsep kunci untuk pandangan politik Ahl al-Sunnah . seperti dalam dunia Kristiani. dalam Islam pun umat terbanyak lebih banyak mendengar suara politisi ketimbang cendekiawan. penunjukan imam sebelumnya" (Perlu dicatat di sini bahwa penulis-penulis di atas adalah ulama ahl al-Sunnah. Ijma' dan bay'ah diterima juga dalam Syi'ah walaupun dalam arti yang terbatas. Karena itu. tetapi -anehnya menyebut kepemimpinan dengan istilah imamah). untuk mudahnya saja. "Kepemimpinan ditetapkan dengan dua cara: pertama. di sini kedua aspek itu dipisahkan. dan bagian kedua skisme intelektual. Ketiga konsep kunci untuk pandangan politik Syi'ah . dan Jamaluddin al-Afgani (tidak jelas dari Sunnah atau Syi'ah). terus terang saja. pertentangan khalifah antara Mu'awiyah dan Ali bin Abi Thalib setelah perjanjian Shiffin. [2] Al-Syahrustani membedakan di antara kedua madzhab ini dalam hal kepemimpinan politik.

Bukankah aqad nikah sah dengan dua saksi dan satu wali? Kata kelompok yang lain. syura cukup tiga orang dan satu di antara mereka disepakati oleh dua orang yang lain.. Pengangkatan Abu Bakar dipilih oleh Umar bin Khathab. Begitu pula Umar mempercayakan Dewan Formatur yang terdiri dari enam orang untuk memilih satu di antaranya sebagai khalifah.W. untuk menegakkan masyarakat Islam. and refuse to make any distinctions. pemimpin tidak perlu ditunjuk oleh nash. but then throughout his life and religious call deprive his deputy of his duties as deputy. Al-Ahkam al-Sulthaniyah 6-7. Akhirnya. dikutip lagi dari Al-Askari. during the first days of his activity. pemimpin bahkan dapat disahkan tidak lewat ittifaq tetapi lewat al-ghalabah (kemenangan perang). siapa yang memilih. Abu 'Ubaidah bin al-Jarah.t. Ini pendapat fuqaha Bashrah. 1406: 234-256)." kata Al-Askari (1406:202). menurut Ahl al-Sunnah. Usaid bin Hudhair. "Ia telah memikirkan dan merencanakan pelanjutnya . dan berapa jumlah orang yang sepakat. "Sejak pertama kali ia mengajak orang pada Islam. Umat boleh memiliki (ikhtiyar) pemimpin yang disepakatinya (ittifaq) Dalam kenyataan. Empat imam mazhab Ahl al-Sunnah sepakat bahwa pemimpin sah dengan salah satu di antara empat cara (al-Yahfufi. dan Salim Mawla Abi Hudzaifah. but not introduce him to his completely loyal and devout aides and friends." Sayyid Muhammad Husayn Tabatabai (t. disregard the respect due to his position as successor.. 1406:147. Mawardi dalam bukunya.kepemimpinan dan menunjuk QS. should introduce to strangers one of his associates as his successor and deputy.: 39) menulis: From the Shi'ite point of view it appears as unlikely that the leader of a movement. Menurut fuqaha Kufah. Menurut Al-Mawardi. Jadi karena pemimpin adalah hasil syura. syura. yaitu: (1) sistem syura yang terbatas (seperti pemilihan Abu Bakar) (2) sistem istikhlaf (penunjukan pengganti seperti yang dilakukan Abu Bakar terhadap 'Umar (3) sistem syura dari dewan formatur yang ditunjuk khalifah sebelumnya (seperti pengangkatan Utsman bin Affan) (4) sistem al-ghalabah bi al-saif (penaklukan dengan kekuatan militer seperti yang dilakukan Mu'awiyah) Syi'ah berpendapat bahwa imamah hanya sah bila ditegaskan dalam nash. seperti ketika 'Abbas mendatangi Ali untuk membai'atnya. al-Syura 38 dan Ali Imran 164 sebagai dalil. boleh dilakukan dalam jumlah terbatas dan ittifaq paling sedikit dilakukan lima orang. -------------------------------------------Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah Editor: Budhy Munawar-Rachman (bersambung 2/3) . Nor does it appear likely that such a leader should accept someone as his deputy and successor and introduce him to others as such. Basyir bin Sa'ad. Mereka beryakinan bahwa Rasulullah SA. syura dan ittifaq cukup dilakukan oleh seorang saja (sic!). Ahl al-Sunnah tidak mempunyai konsepsi yang jelas tentang ketentuan-ketentuan syura. menunjuk pengganti-pengganti sesudahnya untuk memimpin umat Islam.

penguasa muslim yang dzalim atau penguasa kafir yang adil. mahaddtsin.Penerbit Yayasan Paramadina Jln. Bagaimana kalian menetapkan keputusan?. "Apakah orang yang memberi petunjuk kepada yang benar lebih berhak diikuti ataukah orang yang tidak dapat memberi petunjuk." Sebelum itu ia menulis (Syarh Muslim 12: 229). Akan menganggap tidak baik mendahulukan al-mafdhul dan menghinakan al-fadhil. "Ketika Syi'ah menegaskan bahwa khilafah adalah hak ilahi bagi Ali dan keturunannya. "Keluar memerangi mereka haram berdasarkan ijma' kaum muslimin. walaupun mereka fasik dan zalim. Sudah jelas sekali hadits-hadits yang menunjukkan pengertian yang saya sebut. Ahl al-Sunnah ijma' bahwa sulthan tidak boleh dimakzulkan karena kefasikan. Metro Pondok Indah Pondok Indah Plaza I Kav. SKISME DALAM ISLAM SEBUAH TELAAH ULANG (2/3) oleh Jalaluddin Rakhmat Walhasil. [3] Karena imam itu ditunjuk oleh nash. bahkan terpelihara dari dosa. UA 20-21 Jakarta Selatan Telp. Ini melahirkan kontroversi al-fadhil dan al-mafdhul. atau pelanggaran hak. maka tentu imam adalah orang yang terbaik." Karena Syi'ah menetapkan al-fadhil dan Ahl al-Sunnah membolehkan al-mafdhul sebagai imam. Ahl al-Sunnah memilih yang pertama. (021) 7501969. Al-Nawawi berkata dalam Syarh Muslim-nya. dan kedzaliman.52. (021) 7507174 Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota Please direct any suggestion to Media Team Artikel Yayasan Paramadina Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota VI. yang menunjukkan Ali sebagai penggantinya dan sebelas orang imam dari keturunannya. Dengan begitu mereka menyalahi akal dan nash al-Kitab. Syi'ah Jawad Mughnuyah (1406: 26) berpendapat. menurut Syi'ah. Ahl al-Sunnah) membolehkan mendahulukan al-mafdhul di atas al-fadhil. Al-Jumhur (yakni. Wajib bagi rakyat menasihati dan memperingatkannya. . dan Syi'ah mengikuti yang kedua. Ia tidak boleh diturunkan dan tidak boleh orang keluar menentangnya. Syi'ah melarang dan Ahl al-Sunnah mengharuskan petaatan pada penguasa yang zalim. dan mutakallimun bahwa imam tidak boleh di dimakzulkan karena kefasikan." Kontroversi selanjutnya adalah tindakan untuk menjawab pertanyaan manakah yang lebih utama. terjadilah kontroversi berikutnya. Al-Qur'an menentang hal itu dengan berkata. "Berkata jumhur ahl al-Sunnah dari kalangan fuqaha. Al-Hilli (dalam Al-Hasan. 1396: 27) menulis: Imam mesti yang paling utama dari rakyatnya. 7501983. Mazhab Imamiyah sepakat tentang hal itu. ada nash-nash yang jelas dari Rasulullah saw. 7507173 Fax. bahkan harus diberi petunjuk.

Menarik untuk dicatat bahwa khalq (karakteristik fisik) dan khuluq (perilaku) ditulis sama dalam bahasa Arab. Dengan demikian. perbedaan preferensi penguasa (kafir yang adil atau muslim yang dzalim). teori ini berpijak pada dua asumsi: (1) Bangsa Arab adalah bangsa yang terorganisasi atas dasar kesukuan. Secara singkat. dan menjadi kebanggaan anggota kabilah. kafir yang adil lebih baik dari Muslim yang dzalim. perbedaan kualifikasi pemimpin (al-fadhil atau al-mafdhul). dan secara terperinci dijelaskan kembali oleh Jafri (1967). Teori ini dikemukakan oleh Nicholson (1969). Orang Syi'ah sering mendefinisikan diri mereka sebagai madzhab ahl al-bayt. Pada bidang religius. Dari perbedaan pengangkatan pemimpin (ikhtiyar atau ta'yin). Ibn Thawus yang masyhur menegaskan. Setiap anggota marga bangsa dalam menghitung-hitung prestasi nenek moyangnya. Perilaku yang menjadi tradisi suatu kabilah. ahl al-bayt --di samping memegang hak kepemimpinan politis-juga menjadi rujukan dalam masalah-masalah keagamaan. saya menguraikan teori ini secara lengkap. dan perbedaan dalam memandang hubungan kekuasann politis dengan kekuasaan religius (digabungkan atau dipisahkan). kehormatan seseorang dalam bahasa Arab disebut hasab (dari akar kata hasiba yang berarti menghitung). mereka mengikuti khalifah al-Manshur.mereka telah bersikap ekstrem dalam toleransinya terhadap penguasa yang adil. Bagi orang Syi'ah. yang sama? Ada beberapa teori yang menjawab pertanyaan ini. padahal kedua mazhab ini lahir dari Islam yang sama dan pengikut Nabi saw. misalnya. ahl al-Sunnah berpegang pada kaidah yang diberikan Ibn Umar pada waktu ada pertikaian antara Ali dan para penentangnya. lazim disebut Sunnah. Kita hanya akan mengulas dua teori saja: teori sosioantropologis Bangsa Arab dan teori pendekatan doktrinal. Kontroversi lain --yang justru sangat esensial-. pada kata imamah (yang secara khusus berarti kepemimpinan ruhaniah) juga terkandung makna wilayah (secara khusus berarti kepemimpinan politis). Sementara itu. kesetiaan pada suku dan ketergantungan kehormatan pada sukunya menjadi sangat penting. Orang Arab percaya bahwa selain karateristik fisikal. lahirlah skisme politik besar Islam yang berlangsung sampai kini. Goldziher (1967). Karena itu. Wellhausen (1927). Nahnu ma'aman ghalab" (Kami bersama orang yang berkuasa). (2) Bangsa Arab yang membentuk umat Islam permulaan terdiri dari dua subkultur-subkultur Arab Selatan dan subkultur Arab Tengah-Utara. Secara politis. ahl al-Sunnah memisahkan kedua kepemimpinan itu. Di antara .adalah hubungan antara kepemimpinan relegius dengan kepemimpinan politis. Asumsi pertama menunjukkan bahwa status sosial seseorang sangat ditentukan oleh status marganya. Tidak mungkin dalam makalah ini. karakteristik perilaku juga herediter. Mengapa terjadi perbedaan itu. sejak berakhirnya Khulafa al-Rasyidun. dan pada bidang politis. Mereka mengutamakan non-muslim jika ia adil daripada seorang penguasa Muslim yang dzalim. orang mengikuti Imam Malik. TEORI SOSIO-ANTROPOLOGIS BANGSA ARAB.

Mereka adalah suku Arab yang memiliki sensitivitas religius yang tinggi. pengurusan rumah suci (bayt) dan kehormatan (hasab) tidak dapat dipisahkan. "Orang banyak tidak menginginkan nubuwwah dan khalifah bergabung pada Bani Hasyim" (Tarikh Thabari 1: 2769). Pada suku-suku Arab Utara.sunnah yang paling dihargai adalah mengurus dan memelihara tempat-tempat suci. Ahl al-Sunnah. Yang tidak mereka inginkan adalah gabungan antara kehormatan religius dengan kehormatan politik. Mungkin. argumentasi yang dikemukakan Umar bin Khathab kepada 'Abbas ketika bertengkar masalah kepemimpinan 'Ali. Ketika Nabi hijrah ke Madinah. Dari kedua subkultur inilah. Islam menyuruh menghormatiahl al-bayt (yang sekarang didefinisikan lebih terbatas lagi sebagai keturunan Rasulullah saw). Ia mengembalikan lagi wibawa kepemimpinan Bani Hasyim sebagai Ahl al-Bayt. menerjemahkan sebagian argumentasi Shadr ini tanpa komentar sedikitpun: yang kita Saya akan memberikan . datang paling banyak dari Bani Umayyah. menemoi suku Aws dan Khazraj yang berasal dari Arab Selatan. sejak Mu'awiyah merebut kekuasaan berupaya untuk menekan konsepsi kepemimpinan ahl al-bayt. Karena itu. of power" dari Bani Hasyim. Nabi saw menyadari betul aspek-aspek kultural dari kepemimpinan ahl al-bayt. muncullah Muhammad bin Abdullah bin Abd al-Muthalib. Bani Abd al-Syams perlahan-lahan muncul sebagai kekuatan politik dan bani Hasyim mulai melemah. Karena itu Bani Hasyim dikenal bangsa Arab sebagai Ahl al-Bayt. berkembang skisme Sunnah-Syi'ah. Karena secara doktrinal. pemimpin umumnya dipilih berdasarkan usia atau senioritas. Ketika keturunan "Umayyah merasakan ada angin baru yang menguntungkan mereka. Bila inskripsi pada monumen di Arab Utara memuja keberanian dan kepahlawanan. pada Arab Selatan. Pada masa Abu Thalib. Tema ahl al-bayt memiliki "appeal" yang kuat bagi bangsa Arab. Bani "Umayyah tentu tidak rela dengan "return. kepemimpinan Arab dipegang oleh keturunan Qushayy. sejak zaman jahiliyah orang Arab tidak mengenal pemisahan antara kepemimpinan temporal dan kepemimpinan sakral. misalnya. penguasa-penguasa yang bukan ahl al-bayt tidak menafikan kehormatan itu. Ali pernah memindahkan ibu kota pemerintahan Islam dari Madinah --yang sudah dikuasai Bani Ummayah-. Bani Hasyim menang dan menyisihkan lawannya dari Bani Abd al-Syams. Sejak awal. [4] TEORI PENDEKATAN DOKTRINAL Sayyid Baqr Shadr (1982:73-96) mengemukakan apa sebut sebagai teori pendekatan doktrinal. Perlawanan terhadap Islam. pemimpin dipilih berdasarkan kesucian keturunan (hereditary sanctity). Ka'bah adalah rumah suci yang dihormati semua kabilah Arab.ke Kufah. Dalam pertentangan memperebutkan kedudukan ahl al-bayt. karena itu pula. inskripsi pada monumen Arab Selatan menunjukkan perasaan syukur dan penyerahan diri pada Tuhan. Kabilah yang mendapat tugas secara turun temurun memelihara Ka'bah disebut sebagai "keluarga al-bayt" atau ahl al-bayt. Kepemimpinan ahl al-bayt menggabungkan dimensi temporal dan sakral sekaligus. karena itu. Bagi bangsa Arab. Inilah. khususnya Arab Selatan.

Rasul telah bertahan berkali-kali menghadapi aliran ini. Dua aliran utama yang menyertai zaman Nabi sejak awal adalah: pertumbuhan umat Islam di (1) Aliran yang beriman sepenuhnya pada ta'abbud bi 'l-din berhukum dan berserah mutlak pada nash-nash agama dalam seluruh bidang kehidupan. karena harus tunduk pada adanya aliran yang luas pada bidang kehidupan. dengan peralihan atau perubahan. Minoritas ini adalah Syi'ah. Sebagian berkata: Dekatkan supaya Nabi menulis . Berkata Umar: Nabi saw sedang dicengkram sakit. yang menyertai perkembangan umat dalam permulaan eksperimen Islam. Cukuplah bagi kita Kitab Allah. Kelompok yang lain tidak berhasil memperoleh kekuasann dan berkembang sebagai kelompok minoritas menghadapi lingkungan Islam yang umum. sesuai dengan kemaslahatan masyarakat. Yang mengikuti aliran ini terdiri dari sahabat-sahabat besar. lebih suci. Pernah kedua aliran ini bertentangan di hadapan Rasul pada hari-hari terakhir kehidupannya. Umar bin Khathab pernah melawan Rasulullah saw dan berijtihad pada banyak kejadian. Sahabat adalah kelompok Mukmin yang cemerlang.Bila kita mengikuti periode permulaan dari kehidupan umat Islam di zaman Nabi saw. Di hadapan kalian ada al-Qur'an. Bukhari meriwayatkan dalam shahihnya dari Ibn 'Abbas. Perbedaan di antara kedua aliran ini telah menimbulkan perbedaan doktrinal sesudah wafat Rasulullah saw. membolehkan memalingkan nash agama pada bidang-bidang kehidupan di luar bidang-bidang kehidupan di atas. benih yang paling utama pada saat pertumbuhan risalah. Ia berkata: "Menjelang Rasulullah saw wafat. dan tinggi dari generasi yang dilahirkan Rasulullah. yang bertentangan dengan nash. serta meninggalkan kecenderungan mengikuti kemaslahatan yang tidak dapat difahami tujuannya. dengan meyakini bahwa apa yang dilakukannya benar. Keduanya hidup bersama dalam lingkungan umat yang dilahirkan oleh Rasul sang Pemimpin. di antaranya Umar bin Khathab. sampai pada saat menjelang kematiannya (yang akan diuraikan nanti). memisahkan umat dua kelompok besar. Nabi berkata: Mari aku tuliskan untuk kamu tulisan sehingga kamu tidak sesat sesudahnya. di rumahnya ada banyak orang. (2) Aliran yang hanya merasa tunduk pada agama pada bidang-bidang khusus seperti ibadah dan hal-hal yang ghaib. Penghuni rumah itu pun bertikai. para sahabat cenderung mendahulukan ijtihad untuk memperkirakan dan memperoleh maslahat daripada ta'abbud secara harfiyah pada nash-nash agama. sejak dini. Aliran ini meyakini kemungkinan ijtihad. sehingga sejarah manusia tidak pernah menyaksikan generasi aqidah yang lebih mulia. tampaknya lebih menyebar di kalangan kaum muslimin karena kecenderungan manusia untuk tunduk pada kemaslahatan yang dapat difahami dan diperkirakannya. kita temukan dua aliran utama yang berbeda. aliran ijtihadi. Di samping itu. ada juga sahabat yang bertahkim dan bertaslim sepenuhnya pada nash-nash agama di semua bidang kehidupan. Salah satu kelompok berhasil berkuasa dan sanggup berkembang sehingga mencakup mayoritas kaum muslimin. Walaupun demikian. Aliran kedua.

lafazh yang 'am (berlaku umum) dan khash (berlaku khusus). tetapi hanya akan menunjukkan penyebab timbulnya ikhtilaf tersebut.(bersambung 3/3) Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah Editor: Budhy Munawar-Rachman Penerbit Yayasan Paramadina Jln. Di dalam kedua sumber tasyri' ini terdapat kata-kata atau kalimat yang musytarak (mengandung makna ganda). Pertikaian justru terjadi ketika kaum Muslim berusaha memahami al-Qur'an dan al-Sunnah. 7501983. Abu Zuhrah (1987) menyebut yang pertama ikhtilaf 'aqaidi dan yang kedua ikhtilaf fiqhi. atau setelah kamu menjamah wanita. Banyak orang berpikir sederhana: pertikaian akan segera selesai bila kita kembali kepada al-Qur'an dan al-Sunnah. Skisme ini dapat terjadi pacla bidang ilmu kalam atau bidang fiqh." (al-Qur'an 5: 6). dan ada air. Kebanyakan aliran-aliran itu muncul sebagai hasil refleksi intelektual. Sebagian lagi berkata seperti kata Umar. Lihatlah perbedaan pemahaman ayat tayamum ini. "Dan jika kamu sakit atau sedang bepergian. dan tidak wajib shalat. dan sapulah muka kamu dan tangan kamu itu. 7507173 Fax. Madzhab yang lain berpendapat bahwa syarat sah tayammum adalah salah satu di antara tiga kondisi: tidak ada air. Sebab-sebab yang berkaitan dengan pemahaman al-Qur'an dan al-Sunnah. Skisme intelektual (mungkin malah tidak tepat disebut skisme) memang bisa menjadi solid. ia berkata: Pergilah kalian. Saya tidak akan memperinci kedua ikhtilaf ini. tidak sakit. atau bepergian. (021) 7507174 Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota Please direct any suggestion to Media Team pertikaian dan Artikel Yayasan Paramadina Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan . SKISME INTELEKTUAL Dari kedua aliran ini kemudian berkembang aliran-aliran lainnya. (021) 7501969. yang tidak mungkin semuanya dibahas di sini. atau sakit. atau jika salah seorang di antara kamu datang dari jamban.(wasiat) kitab sehingga kamu tidak sesat sesudahnya. -------------------------------------------. ketika para politisi mulai masuk. maka bertayamumlah dengan debu yang suci. Kalimat ini dipahami Abu Hanifah sebagai berikut: Orang yang tidak bepergian. Ketika sudah ramai perbincangan dan pertikaian di hadapan Nabi. Ayat tersebut hanya mewajibkan tayammum bila tidak ada air khusus pada yang sakit atau musafir. yang muthlaq dan yang muqayyad (bersyarat). tidak berlaku tayammum baginya. Metro Pondok Indah Pondok Indah Plaza I Kav. UA 20-21 Jakarta Selatan Telp." Peristiwa ini cukup menunjukkan dalamnya pertentangan di antara kedua aliran ini. atau kamu tak menemukan air.

batuan. Ia mendengar sesuatu tetapi tidak menghafalnya. SKISME DALAM ISLAM SEBUAH TELAAH ULANG (3/3) oleh Jalaluddin Rakhmat Apa yang dimaksud "air"? Kata mazhab Hanafi. juga air mudhaf (seperti air jeruk. Hadits dilaporkan oleh para sahabat. Jamaat Tabligh berpendapat makan di bawah. dan batuan. pasir. umat Islam yang lainnya tidak beranggapan begitu. "Semoga Allah meyayangi Abu Abd al-Rahman (yakni. 'Aisyah menolak hadits 'Umar ini. air mutlak saja. tanah. "Debu" meliputi pasir dan tanah. al-Mughniyah. 1960). dan sebagainya. kata Maliki. ketika kita memasuki pengkajian-pengkajian Islam yang lebih operasional seperti epistimologi Islam." Istitsna datang sesudah kalimat-kalimat itu. yang mempunyai lingkup pengalaman yang berlainan bersama Rasulullah saw. Yang pertama dipilih oleh Syafi'i. Apakah deraan harus dihilangkan bila orang taubat. dan menggunakan siwak adalah sunnah. ia mencambuki orang yang menangisi mayat. pasir. lalu di ujunguya ada kata yang mengecualikan (istitsna)." (2) "Jangan terima kesaksian mereka selama-lamanya. Yang terakhir diambil oleh Hanafi. air teh). Ada yang menyertai Nabi hampir setiap saat.ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota VI. Ketika Ibnu Umar melaporkan lagi hadits dari ayahnya. Dalam bidang ilmu kalam terjadi perbedaan pemahaman nash-nash yang berkenaan dengan qadha dan qadar. sebagian wajah oleh Ja'fari (al-Jaziri. salju dan logam. Maliki. Perbedaan ini akan makin melebar." [5] SEBAB-SEBAB BERKENAAN DENGAN PERBEDAAN KAIDAH USHUL FIQH Apabila ada rangkaian kalimat majemuk. menjilati jari setelah makan.52. Mereka menangisi jenazah itu. kemana pengecualian itu berlaku? Kepada semua kalimat atau kepada kalimat yang terakhir. Ibn Umar). tanah saja. 1986. Pernah lewat jenazah Yahudi di depan Rasulullah saw. apakah kesaksian penuduh dapat diterima bila orang itu telah bertaubat? Semua mazhah --selain Hanafi-memilih rnenjawab "ya" untuk pertanyaan-pertanyaan di atas. sehingga kita mengenal Jabbariyah dan Qadariyah. 24:4) mengandung tiga kalimah: (1) "Deralah mereka 80 deraan. air itu termasuk air mutlak (H2O). kata Syafi'i. 'Aisyah berkata. . padahal ia sedang disiksa. Kemusykilan pertama terjadi ketika kita mengambil pelajaran dari hadits: apakah yang diberitakan hadits itu Sunnah atau bukan. kalian menangis. Manakah yang sunnah. Ayat yang berkenaan dengan tuduhan berzinah (QS. kata Hanafi dan Hambali. pada Fath Makkah) atau membunuhnya (seperti yang dilakukan Nabi pada perang Khandaq). dan ada yang berjumpa dengan Nabi sesaat saja. tanah." dan (3) "Mereka itulah orang-orang fasik. mengampuni para tawanan (seperti yang dilakukan Rasulullah saw. Kemusykilan kedua adalah sampai atau tidak sampainya hadits. kata Hambali. Nabi berkata. Umar melaporkan bahwa mayit akan disiksa karena tangisan keluarganya. Kata mazhab yang lain. Hambali. teologi Islam. SEBAB-SEBAB YANG BERKENAAN DENGAN SUNNAH Masalah-masalah yang berkenaan dengan sunnah lebih musykil lagi. Karena itu.

dan sebagainya. terjebak dalam keterburu--buruan. Ukuran aqli --yang saya definisikan sebagai metode dialektik untuk menguji konsistensi logis suatu proposisi-. . keyakinan kita harus diamalkan sejauh tidak merusak keutuhan umat atau tidak mendatangkan mudharat. 1986: 99-103). Dengan ukuran naqli.hanya boleh dilakukan setelah pengujian naqli. Tetapi betapapun kuatnya. pendapat itu tetap dzhanni. Berpikir dengan prinsip tarjih. Pertama. Perbedaan mulai terjadi pada rincian dari pokok-pokok itu. Pada bagian yang kedua sepatutnya kita saling menghargai dan menggunakan perbedaan pendapat untuk pengembangan wawasan tentang Islam. saya maksudkan. berkenaan dengan pokok-pokok akidah. Ini cara untuk menghindarkan "terburu-buru" menangkap ruh dari suatu nash. istishlah. Kita akan segera menemukan bahwa bagian pertama berdasarkan dalil-dalil qath'i dan bagian kedua berdasarkan dalil-dalil dzanni. Sepakat pada yang qath'i. Misalnya. Di tengah-tengah umat. Mencurigai hadits-hadits tentang wasiat Nabi kepada keluarganya. Demikian pula halnya dengan keberatan sementara orang terhadap hadits-hadits tentang Imam Mahdi. Semua sepakat shalat dimulai dengan takbir. dan bagian-bagian shalat yang penting lainnya. qaul shahabat. misalnya. tidak ada perbedaan antara Ahl al-Sunnah dan Syi'ah dalam hal bilangan rakaat.Inilah salah satu contoh perbedaan penggunaan kaidah Ushul Fiqh. bertalian dengan cabang-cabang (furu') dari pokok-pokok di atas yang memungkinkan terjadinya perbedaan. terdapat juga beberapa metode ijtihad yang tidak disepakati. Orang yang menganggap bahwa setiap orang berhak ijtihad dan menafsirkan al-Qur'an karena ruh ajaran Islam itu egalitarian. betapapun banyak dan sahihnya. mencari dalil-dalil yang paling kuat lewat kritik hadits (yang secara konvensional telah disepakati oleh ulama ahli hadits) dan ilmu-ilmu al-Qur'an (kalau berkenaan dengan penafsiran al-Qur'an). bila dalil-dalil yang dipergunakan sama-sama kuat. apa pun mazhabnya. kita harus menguji perbedaan paham itu lewat ukuran-ukuran naqli dan aqli. 2. Tentang shalat. Kedua. Memilih pendapat yang paling kuat inilah tarjih. Dalam hal akidah --semuanya percaya kepada Allah yang Esa. jumlah ruku' dan sujud. jumlah shalat wajib. Adalah kenyataan yang menakjubkan walaupun sering lolos dari perhatian kita bahwa dalam bagian pertama seluruh mazhab mencapai kesepakatan. Di samping itu. Misalnya. beramal dengan prinsip silaturahim: Bila terjadi perbedaan paham atau penafsiran pada hal-hal yang dzanni. 1. qiyas. Muhammad Rasulullah. Seorang tidak dikatakan Muslim lagi bila berbeda pada bagian fiqh yang pertama. APA YANG HARUS DILAKUKAN? Saya ingin mengakhiri makalah ini dengan menuliskan kembali apa yang saya sampaikan pada tempat lain (Rahmat. dan muamalah yang disetujui bersama. sebagai pertentangan dengan prinsip egalitarian al-Qur'an [6] adalah mendahulukan kritik 'aqli daripada kritik naqli. mereka berbeda dalam cara mengangkat tangan dalam takbir. istihsan. dan Hari Kebangkitan. siap berbeda pada yang dzhann-i: Kita dapat membagi hukum-hukum fiqh ke dalam dua bagian besar.

apakah sama orang yang buta dengan orang yang melihat. mengkritik hadits. Akibatnya. "Katakan.dapat menimbulkan chaos. Khamsun wa Mi-ah Shahabi Mukhtalaq. . Sayang sekali. 2) Al-Sayyid Murtadha al-'Askari menulis studi perbandingan antara Sunnah dan Syi'ah dalam Ma'alim al-Madrasatain (Teheran: Al-Bi'tsah. 1974. Ibnu Umar shalat empat rakaat. Di Indonesia. Ketika ditegur ia menjawab. melakukan tarjih bukanlah pekerjaan yang bisa dilakukan setiap orang. Ibn Majah. Al-Mujadilah: 11). Ketika Utsman shalat empat rakaat. Ali yakin ia paling berhak menjadi khalifah. tetapi mengulang lagi shalatnya di rumah (para ulama menyebutnya ihtiyath). Ahmad. hanya sekelompok kecil orang yang dapat melakukannya. Ini mempertebal ketergantungan kepada paham fiqh kita. CATATAN 1) Hadits ini diriwayatkan oleh Al-Bukhari. dan ini berarti anarkhi. Bukan ijtihad bila dilakukan tanpa ilmu. al-Thabrani. al-Ra'd:16). "Perselisihan itu semua jelek" -(al-khilaf syarr kullah). al-Bazzar. Imam Syafi'i tidak membaca qunut pada shalat Shubuh karena menghormati makam Abu Hanifah yang tidak jauh dari situ. Ijtihad sebetulnya secara inheren melibatkan banyak ilmu. Berbagai matan hadits ini dan penjelasannya dapat dibaca pada Al-Sayyid Murtadha al-Askari. Ilmu mengurangi perbedaan. banyak paham timbul --barangkali setelah melakukan taryih. Ibnu Mas'ud berpendapat shalat Dzuhur dan 'Ashar di Mina harus di qashar. 1406). al-Zumar:9) "Allah mengangkat derajat orang yang beriman dan memiliki ilmu pengetahuan" (QS. "Katakan. Mengizinkan setiap orang berijtihad --tanpa mempedulikan perbedaan mereka dalam pengetahuan agama-. apakah sama orang vang berpengetahuan dengan yang tidak berpengetahuan" (QS. keyakinan kita terhadap paham kita terlalu tinggi sehingga kita cenderung eksklusivistis dan meninggalkan prinsip silaturrahim. Ijtihad memerlukan pengetahuan yang komprehensif tentang Islam. "Berijtihad" tanpa ilmu berarti membuang seluruh konvensi dan kriteria. Salah satu penyebab perpecahan ialah pendekatan parsial yang pada gilirannya disebabkan kekurangan pengetahuan. Tidakkah kalian pikirkan itu?" (QS. dan ini berarti. Beirut: Dar al-Turats al-Islami. "Tidak sama orang buta dan orang yang melihat. karena ilmu meletakkan konvensi-konvensi yang disetujui bersama. di samping membuat kendala-kendala yang berbentuk kriteria. Seperti sangat beragamnya kemampuan dan pengetahuan orang. seperti itu pula beragamnya perbedaan pendapat.Ini saya sebut prinsip shilaturrahim. tetapi ia menahan diri karena memikirkan kemaslahatan umat. kita cenderung menerima informasi hanya lewat sumber-sumber yang kita setujui dan menutup diri dari informasi yang datang dari sumber lain. Dan seterusnya sehingga terbentuk lingkaran setan yang tidak berujung. Ia menyebut Ahl al Sunnah sebagai madrasah al-khilafah dan Syi'ah sebagai madrasah al-imamah. Tidak sama kegelapan dan cahaya" (QS. Ijtihad bagi Ulama dan taqlid bagi orang awam: Membedakan mana yang qath'i dan dzanni. Ibnu Mas'ud shalat juga empat rakaat. Al-Qur'an yang mengajarkan persamaan dengan tegas mengatakan. 3. al-Turmidzi al-Hakim. Fathir:19).

R. Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiyah. Stern dan C. Al-Syi'ah wa al-Hakimun. Vol. Muhammad.V. Muhammedanische Studien. Kitab al-Imarah. 1406. tidak diketahui penerbitnya. Nabi menangisi putranya (Ibrahim). S. 2:124. 1950. Musnad Ahmad 5:89. New York: Simon and Schuster. 1405. mereka kemudian dikenal sebagai Sabaiyyah. Teheran: Wizarat al-Irsyad al-Islamiyah. . 6:84. Beirut: Dar al-Jawad. 6) Padahal dalam banyak ayat al-Qur'an. sehingga Syi'ah sering disebut sebagai Sabaiyyah. Kita hanya ingin menunjukkan bahwa prinsip egalitarian hendaknya ditafsirkan dengan merujuk pada dalil-dalil yang sahih. Ma'alim at-Madrasatain. 1405. "Ulu al-Amr 'inda Madzahib al-Islamiyah. Tarikh al-Madzahib al-Islamiyah. Begitu banyaknya Sabaiyyah yang mendukung Syi'ah.IV. Orang-orang Yaman adalah para pendukung Syi'ah." dalam Al-Maqalat wa al-Dirasat. Goldziher. Lihat 3:33. dan ibunya (Aminah). The story of Civilization. -------------. Al-fiqh 'ala al-Madzahib al-Khaumsah. DAFTAR PUSTAKA Abu Zuhrah. prinsip pewarisan kepemimpinan pada keturunan atau keluarga nabi-nabi sering ditegaskan. Al-Mughniyah. Murtadha. 1953. Musthafa. 19:6. Kanz al-Ummal 6: 201. Abd al-Rahman. -------------. 1986. 1982. I. The story of Civilization. Al-Hasan. Will. New York: Simon and Schuster. Dalam sunan al-Nasai dan Al-Turmudzi ada bab yang berjudul: Bab bolehnya menangisi mayit. Beirut: Dar al-Fikr al-Arabi. Hadits-hadits yang melaporkan bolehnya menangisi mayat cukup banyak. Al-fiqh 'ala al-Madzahib al-Arba'ah. 20:30. Muslim Studies. Teheran: Bittsah. 4) Mayoritas penduduk Kufah adalah orang Yaman dari Arab Selatan. Mobtadiyah: Dar al-Mu'alim Al-Jaziri. Shahih Muslim. Jawad. 1967-1972. Durant. 27:16. 4:54. Kitab al-Ahkam. Lihat Shahih al-Bukhari. 14:37. Terjemahan Inggris oleh S. Al-Yahfufi. Dalail al-Shidq. 1396. 5) Hadits ini diriwayatkan Muslim dalam Kitab al-Jana-iz. 1987. Al-Askari.M. Vol. Karena mereka berasal dari kerajaan Saba. Barber. Shahih al-Turmudzi 2: 35: Mustadrak al-Shakihain 4: 501. 19:58. London.3) Hadits tentang dua belas imam ini diriwayatkan juga dalam kitab-kitab shahih di kalangan Ahl al-Sunnah. Kita tidak bermaksud menunjukkan bahwa pendapat wasiat Nabi pada Ali adalah satu-satunya paham yang benar. pamannya (Hamzah).

Shi'a. Baqr. Thabari. Dengan mengesampingkan beberapa perorangan atau kelompok yang agaknya mengalami kesulitan besar untuk "mengakomodasi" kenyataan baru berupa peranan amat mengesankan dari kaum Syi'ah dalam percaturan keislaman internasional sekarang ini. SKISME DALAM ISLAM (1/4) Tinjauan Singkat Secara Kritis-Historis Proses Dini Perpecahan Sosial-Keagamaan Islam oleh Nurcholish Madjid Pembicaraan tentang Agama Islam kecuali jika dibatasi hanya kepada hal-hal yang sama sekali normatif belaka dengan tingkat idealisasi sejarah Islam yang tinggi pasti melibatkan pembicaraan tentang berbagai skisme atau perpecahan dalam agama itu. Nicholson.H. sebagaimana telah sering dibicarakan. Tabatabai. S. Beirut: American University. J. -------------------------------------------Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah Editor: Budhy Munawar-Rachman Penerbit Yayasan Paramadina Jln. Wellhausen. Weir. Cambridge. Tanpa Tahun. "Ukhuwah Islamiyah: Perspektif al-Qur'an dan Sejarah" dalam Haidar Bagir (ed. Satu Islam. 1982. Husayn.. Revolusi Iran bagi sebagian orang-orang muslim menawarkan semacam "hikmah . 7507173 Fax.Jafri. Baths Hawl al-Wilayah. 7501983. Calcutta. Rahmat. S. Sebuah Dilemma. Tidak diketahui penerbitnya. Shadr. M. (021) 7507174 Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota Please direct any suggestion to Media Team Artikel Yayasan Paramadina Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota VI. Tarikh al-Umam wa al-Muluk. UA 20-21 Jakarta Selatan Telp..). The Arab Kingdom and Its Fall. The Origins and Early Development of Shi'a Islam. muncul dengan kuat di kalangan kaum muslimin Indonesia khususnya dan dunia umumnya karena adanya Revolusi Iran pada 1979. Beirut: Dar al-Fikr. RA. Metro Pondok Indah Pondok Indah Plaza I Kav. (021) 7501969. 1927. 1986. 1956. Kesadaran akan adanya skisme itu akhir-akhir ini. A Literary History of The Arabs. 1979.51. 1976. Ibn Jarir. Julius. Trans. Teheran: Maktabah al-Najah. Bandung: Mizan.M.

Apalagi al-Qur'an sendiri sejak dari semula menyatakan dan memperingatkan. Lebih menarik lagi sebagai bahan kajian bahwa manusia cenderung berpecah-belah justru setelah mereka menerima ajaran Tuhan yang dibawa oleh para Utusan-Nya. Namun justru secara historis masalah kesatuan itulah di antara hal-hal yang amat sulit dicapai oleh manusia. Ini menjadi dasar pandangan tentang Kesatuan Kenabian (Wahdat al-Nubuwwah) dan Kesatuan Risalah atau pesan suci (Wahdat al-Risalah). sebab Pesan Suci mereka pun tunggal. sedangkan Aku adalah Pelindungmu semua. Salah satu firman suci dalam al-Qur'an yang relevan dengan masalah ini terbaca: Wahai para Rasul. Seorang muslim yang serius dan prihatin tentu merasakan adanya semacam anomali dalam kenyataan sejarah itu. tidak saja kepada kaum muslim tetapi juga kepada para penganut agama para Nabi dan Rasul Allah keseluruhannya. Keadaan yang menyimpang dari seharusnya ini tidak saja karena berbagai usaha mereka memahami ajaran Tuhan dan menerapkannya dalam kehidupan nyata . dan berbuatlah kebajikan. ialah kesediaan dan kemampuan untuk melihat berbagai kenyataan sejarah secara proporsional. dan dalam memandang keberagamaan "orang lain" (dalam pengertian yang seluas-luasnya). Berdasarkan itu semua. makanlah dari yang baik-baik. agar waspada terhadap bahaya perpecahan dan pertentangan. Dengan begitu diharap bahwa secara berangsur kita dapat mewujudkan dalam kenyataan berbagai angan-angan mengenai umat atau masyarakat Islam yang mendekati gambaran dalam Kitab suci sebagai "ruhama baynahum" (saling cinta kasih antara sesamanya). yaitu mengabdi kepada Tuhan Yang Maha Esa yang mencintai dan melindungi mereka. kiranya. maka bertaqwalah kamu sekalian kepada-Ku. dengan mengakui dan memasukkannya ke dalam hitungan berbagai faktor sejarah sebagai ikut menentukan apa yang telah terjadi. Dan ini adalah umatmu semua. umat yang tunggal. maka kegunaan itu ialah sebagai bagian dari usaha bersama untuk mendorong lebih jauh kecenderungan positif tersebut.terselubung" (blessing in disguise) berupa cakrawala pandangan keagamaan (Islam) yang lebih meluas. Karena itu jika harus disebutkan kegunaan utama pembahasan kita sekarang ini. Sesungguhnya Kami (Tuhan) maha mengetahui akan segala sesuatu yang kamu kerjakan. Tetapi berbagai pengalaman menunjukkan bahwa keadaan itu tidak akan tercipta jika kita tidak memiliki cukup kedewasann dalam sikap keberagamaan kita. yaitu pesan suci keprasahan yang tulus kepada kehendak Ilahi (al-islam dalam makna generiknya). Termasuk ke dalam makna kedewasaan itu. maka pembahasan kita dalam makalah ini insya Allah akan kita lakukan dalam semangat tinjauan kritis berdasarkan pandangan yang memperhitungkan berbagai faktor sejarah. UMAT YANG TUNGGAL Kenyataan historis pertama tentang agama Islam ialah bahwa umatnya telah terpecah dan bahkan saling menumpahkan darah sejak masa-masa amat dini perjalanan sejarahnya. dan apa yang sedang dan bakal terjadi. [1] Tafsir atas firman itu tidak bisa lain daripada penegasan bahwa semua Nabi dan Utusan Tuhan itu membentuk persaudaraan umat yang tunggal. Dan inilah pula dasar pandangan tentang Kesatuan Kemanusiaan (al-Wahdat al-Insaniyyah).

Lebih dari itu.(jadi tentunya tumbuh dari niat yang baik dan ketulusan hati). kecuali mereka yang mendapatkan rahmat dari Tuhanmu. misalnya: Kalau seandainya Tuhanmu menghendaki. Dan mereka yang menerima Kitab Suci itu tidaklah berselisih mcngenai sesuatu (masalah Kebenaran) kecuali setelah datang berbagai penjelasan. Barangkali. [3] Juga firman Allah: Manusia itu tidak lain kecuali umat yang tunggal. dari perspektif pesan suci semula agama bersangkutan sendiri. maka tentunya Dia jadikan manusia umat yang tunggal. Tetapi mereka itu akan tetap selalu berselisih. dan untuk itulah Dia menciptakan mereka. yang jelas tanpa kecuali terbagi-bagi dan terpecah-pecah menjadi berbagai golongan dan sekte. [2] Jika harus menyebutkan bukti kebenaran firman itu. Maka Allah pun. [4] Firman-firman itu membuka kemungkinan berbagai interpretasi . Perpecahan dan pertentangan itu semakin destruktif sifatnya karena pembawaannya yang sering bergaya absolutistik dan tak kenal kompromi akibat watak dasar suatu keyakinan keagamaan. maka tentulah diputuskan (sekarang juga) antara mereka berkenaan dengan perkara yang mereka perselisihkan itu. diselesaikan dengan pertumpahan darah dan penindasan. kerapkali persengketaan di antara sesama mereka. Maka dalam gabungannya dengan naf:su benar sendiri dan sektarianisme yang jelas selalu mengancam setiap orang atau golongan tanpa kecuali variasi pendekatan dan interpretasi itu. acapkali malah menjuruskan orang banyak kepada perpecahan dan pertentangan." Mungkin keterangan itu dapat diperoleh dari beberapa firman Ilahi juga. Jika seandainya tidak karena adanya "Sabda" (Kalimah) yang telah lewat dari Tuhanmu. Tapi mungkin kita harus mencoba mencari keterangan lain untuk membuat semuanya itu "make sense. Kemudian Allah mengutus para Nabi untuk membawa berita gembira dan peringatan. tapi juga karena variasi cara pendekatan kepada ajaran itu membuahkan variasi dalam interpretasi. yang melengkapi firman-firman terkutip di atas sehingga menjadi pandangan dan pengertian yang bulat. dengan izin-Nya. tidak ada yang lebih absurd daripada penyelesaian perselisihan faham keagamaan melalui penindasan dan penumpahan darah. maka barangkali kita hanya harus menyebutkan kenyataan tentang semua agama. Namun inilah yang sebenarnya terjadi dalam pengalaman hidup umat manusia. Firman itu ialah. memberi petunjuk tentang kebenaran yang mereka perselisihkan itu kepada mereka yang beriman. Allah memberi petunjuk ke arah jalan yang lurus kepada siapa yang menghendakinya (atau. yang dikehendaki-Nya). meskipun disertai dengan penuh niat baik dan tulus. termasuk yang ada dalam satu agama pun. kemudian mereka berselisih. karena rasa permusuhan antara sesama mereka. dan Dia menurunkan bersama para Nabi itu Kitab Suci dengan sebenarnya untuk memutuskan perkara antara umat manusia berkenaan dengan masalah yang mereka perselisihkan. Keadaan menyedihkan ini pun secara ringkas digambarkan dalam Kitab Suci: Pada mulanya manusia adalah umat yang tunggal.

". Ketika manusia telah bersimpangan jalan satu dari yang lain. [6] Dan ayat suci itu bersesuaian dengan ayat suci yang lain. ditafsirkan sebagai berarti "Keputusan" Tuhan. dan dengan mengarah kembali kepada Kesatuan den Wujud yang mutlak Ayat suci dan tafsirnya itu mengingatkan kita kepada sebuah hadits yang sering dikutip orang bahwa perselisihan di antara orang yang beriman adalah suatu rahmat. dan adanya Kehendak agar dengan perbedaan itu manusia berlomba-lomba ke arah berbagai kebaikan (istibaq al-khayrat. yaitu faktor terpenting yang membuat manusia berbeda-beda -NM) yang diberikan-Nya kepadamu. Kepada Allah-lah tempat kembalimu semua. yang menyebutkan adanya Kehendak Ilahi tentang perbedaan antara sesama manusia. and thus pointing back to the ultimate Unity and Reality. misalnya. God made their very differences subserve the higher ends by increasing emulation in virtue and piety.. Mengenai "Sabda" (Kalimah) dalam firman yang dikutip terakhir itu. emulation in virtue and piety). Here we have again the mystic doctrine of "the Word." "Sabda" adalah Keputusan Tuhan. Maka dengan sedikit melawan semacam "konsensus" di kalangan kaum Sunni untuk menghindari pembicaraan tentang tingkah laku historis para Sahabat yang kurang mencocoki beberapa ketentuan normatif. Tuhan membuat justru berbagai perbedaan mereka itu membantu mengarahkan manusia kepada tercapainya tujuan-tujuan yang lebih tinggi dengan meningkatnya perlombaan dalam kebaikan den kesalahan. yaitu tinjauan ulang secara kritis-historis terhadap perpecahan sosial keagamaan yang terjadi dalam Islam dalam perjalanan perkembangannya yang amat dini. pernyataan Iradat atau Hikmat-Nya yang universal dalam suatu masalah tertentu. Ayat suci itu ialah firman-Nya: Jika seandainya Allah menghendaki. maka pastilah Dia menjadikan kamu sekalian umat yang tunggal. kemudian Dia akan menerangkan kepada kamu tentang segala sesuatu yang pernah kamu perselisihkan. [5] Di sini (dalam ayat ini) kita mendapatkan lagi doktrin kesufian tentang "Sabda."Word" is the Decree of God. Tetapi (Dia tidak menghendakinya) karena Dia hendak menguji kamu semua berkenaan dengan sesuatu (kelebihan. sebagai fitnah besar yang mengawali skisme dalam Islam tidak mungkin dihindarkan. TENTANG "AL-FITNAT AL-KUBRA" Mungkin bagi banyak orang cukup membosankan. namun pembicaraan tentang pembunuhan khalifah ketiga.. When men began to deverge from one another. [8] kita akan melakukan tahap pembahasan ini dengan pembicaraan singkat tentang peristiwa menyedihkan yang kemudian dikenal sebagai al-fitnat al-kubra . Karena itu berlomba-lombalah kamu semua (dengan menggunakan kelebihan itu) untuk berbagai kebaikan.. Utsman ibn Affan. [7] Dari perspektif inilah kita akan memasuki bidang yang sebenarnya dari pembahasan makalah ini.. yang merupakan ekspresi Iradat dan Hikmat-Nya yang universal dalam peristiwa tertentu. the expression of His Universal Will or Wisdom in a particular case..tentang apa yang ada dalam ajaran Kitab Suci mengenai hakikat manusia sebagai makhluk sejarah berkenaan dengan perkara persatuan dan perpecahan.

juga Ali sesudahnya. Metro Pondok Indah Pondok Indah Plaza I Kav. karena telah diberi tahu (secara palsu) bahwa persoalan mereka telah diselesaikan dengan baik oleh Khalifah melalui perundingan dengan ketua utusan mereka. 7507173 Fax. tersedia tidak hanya satu keterangan. [9] Tentang mengapa delegasi tentara itu tidak puas terhadap Utsman dalam menjalankan tugas kekhalifahannya. melainkan banyak dan cukup kompleks. UA 20-21 Jakarta Selatan Telp. delegasi tentera itu menyerbu Utsman di rumahnya. tanpa pengawal. mereka kembali ke Madinah untuk mengajukan tuntutan. adalah seorang penguasa Makkah yang mengorganisasi dan memobilisasi orang-orang Quraisy melawan Nabi di Mekkah. yang klan itu menjadi musuh utama Nabi. Sekelompok tentara (Arab Islam) dari Mesir datang Ke Madinah untuk mengajukan klaim kepada Khalifah tentang apa yang menjadi hak mereka. juga anaknya Mu'awiyah yang sedikit terlebih dahulu berbuat serupa. bahwa meskipun Utsman termasuk perintis pertama orang-orang Arab Makkah masuk Islam. (Seperti halnya dengan Umar sebelumnya. Pertama ialah. yang di situ kaum bukan-Umawi di Madinah menunjukkan sikap netral. Namun setelah mereka mendapat berita yang benar bahwa ketua utusan mereka itu malah telah dibunuh. sampai dengan saat Nabi menaklukkan Makkah. namun hal itu terjadi lebih banyak hanya berkat kebijaksanaan diplomatik Nabi yang memberi dan mengakui hak istimewa dan kehormatan mereka. (021) 7507174 Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota Please direct any suggestion to Media Team Artikel Yayasan Paramadina Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota VI. Setelah beberapa saat perundingan dan musyawarah. Tapi mereka segera kembali pulang ke Mesir. sebagaimana layaknya adat kebiasaan para sesepuh (al-syaykh) suku-suku Arab menjalankan kepemimpinan mereka. Meskipun akhirnya Abu Sufyan masuk Islam. namun dia adalah seorang anggota klan Umayyah yang berkuasa di kota itu. (021) 7501969.(bersambung 2/4) Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah Editor: Budhy Munawar-Rachman Penerbit Yayasan Paramadina Jln.("ujian besar") itu. Abu Sufyan. Utsman memerintah hanya dengan mengandalkan reputasi dan nama baik pribadi. dan membunuhnya. Kebiasaan itu membantu memudahkan usaha membunuhnya. misalnya. Pembunuhan terhadap khalifah ketiga terjadi duapuluh empat tahun setelah wafat Nabi. sebagaimana telah terjadi pada Umar sebelumnya dan kelak terjadi pula pada Ali).51. 7501983. -------------------------------------------. SKISME DALAM ISLAM (2/4) Tinjauan Singkat Secara Kritis-Historis Proses Dini . bahkan sikap permusuhan mereka itu berlangsung terus sampai boleh dikata detik-detik terakhir sebelum Nabi wafat.

Sebenarnya Utsman melanjutkan kebijakan Umar. seperti seorang "aktivis" Umawi. Kebijaksanaan itu juga mengurangi ancaman bahwa budaya Arab akan terserap ke dalam budaya daerah-daerah Bulan Sabit Subur (Fertile Crescent. Utsman pun tidak bisa mengatasi situasi warisan pendahulunya itu. Mereka mengelilingi Utsman dengan penasehat-penasehat dan tenaga-tenaga ahli. Ini tumbuh menjadi faktor penunjang bagi protes-protes yang mulai dilancarkan para tentara. Apalagi setelah ekspedisi menaklukkan Iran telah . Para tentera suku Arab (al-muqatilah) yang oleh Umar ditempatkan di berbagai kota garnizun di daerah-daerah taklukan dipertahankan oleh Utsman seperti keadaan mereka semasa Umar. sementara perang sendiri. kaum Umawi segera melihat pada kekhalifahan Utsman suatu kesempatan untuk mengembalikan kedudukan mereka yang baru saja hilang. yang menjadi alasan penempatan itu. meskipun sebenarnya ia berhasil sedikit mengubah keadaan dengan mengarahkan sebagian investasi dari Lembah Mesopotamia ke Hijaz.Perpecahan Sosial-Keagamaan Islam oleh Nurcholish Madjid Sebagai klan dengan tradisi kekuasaan yang mapan. berbentuk proyek-proyek irigasi di berbagai oase. Sebagian dari hadirnya para penasehat dan tenaga ahli Umawi itu sebenarnya merupakan lanjutan kebijaksanaan Umar sebelumnya. dan ia pun terjerumus kedalam praktek-praktek nepotistik yang mengundang berbagai reaksi keras banyak kalangan. telah menjadi peristiwa sesekali saja. Sudah sejak masa Umar banyak orang Arab Quraisy yang kaya. Mereka memegang pemerintahan menghadapi kecenderungan kesukuan dan semangat kedaerahan orang-orang Arab. yang pergi ke daerah-daerah taklukan. terutama Mesopotamia di Irak. daerah subur yang membentuk konfigurasi bulan sabit dari pantai timur Laut Tengah naik ke utara. yakni para pedagang Mekkah. ke Lembah Mesopotamia). Kebijaksanaan Utsman itu membantu mengurangi kecenderungan emigrasi ke luar Hijaz dan memperkuat kekuasaan pusat di Madinah secara fisik (sumber daya manusia). khususnya orang-orang Arab setempat. Utsman menjadi tidak banyak berdaya menghadapi klannya sendiri. Marwan ibn al-Hakam. dalam suasana terpisah dari penduduk bukan-Arab sekelilingnya. Para tentera ini hidup menetap di tempat-tempat tersebut. Bertindak sebagai penguasa pada kota-kota perbatasan itu ialah para gubernur (bekas) pedagang kaya yang cakap memerintah dari keluarga-keluarga Quraisy dan sekutu mereka dari Taif (klan Tsaqif). yang kebanyakan mereka itu terdiri dari kaum Umawi. (Harus diingat bahwa pada saat itu semua orang muslim adalah warga negara dan sekaligus tentara). dan kekuasaan mereka itu diawasi oleh semangat ajaran umum Islam yang saat itu Islam telah menjadi ciri utama sifat ke-Arab-an mereka. Tetapi tanpa keteguhan kepribadian Umar. dan meneruskan usaha perdagangan mereka di sana. tapi tanpa mempunyai wibawa hebat seorang Umar. karena Umar melihat pada kaum Umawi itu kecakapan pemerintahan yang bisa dimanfaatkan. Tetapi kebijaksanaan Utsman yang yang menghambat emigrasi dari Hijaz itu membuatnya tidak populer di kalangan orang-orang Makkah. seperti Kufah. Ini acapkali menimbulkan rasa keberatan dari pihak orang-orang Arab yang kurang mampu. ke daerah pegunungan Anatolia sebelah selatan membentang ke timur dan kembali ke selatan.

Dan jika ummat Islam sesudah itu menikmati kesatuan penulisan dan pembukuan Kitab Suci-nya yang tidak ada bandingnya dalam sistim kepercayaan atau faham lainnya mana pun juga. khususnya lembaga atau sistem penggajian tentera dengan besar dan kecilnya gaji (sesungguhnya lebih tepat disebut lumpsum) itu menurut tingkat kepeloporan seseorang dan jasanya dalam agama Islam. karena dipandang kurang menunjukkan ukuran moral yang tinggi (konon suka minuman keras dan mabuk). tindakannya untuk menyatukan sistem penulisan al-Qur'an itu pun dapat dikatakan sebagai kelanjutan kebijakan Umar sebelumnya. ketidakpuasan di kalangan tentara terhadap kebijakan Utsman semakin keras dinyatakan orang. Menurut para ahli akhirnya ia patuh juga kepada keputusan Khalifah. berkedudukan di Kufah. Basrah dengan Ibn Amir (yang di waktu damai giat berdagang untuk mengumpulkan kekayaan tapi bertindak cukup adil karena ia menganjurkan orang lain agar berbuat serupa pula). Demikian pula Kufah. Utsman dikenal sebagai amat berjasa menyatukan ejaan penulisan al-Qur'an dengan memerintahkan untuk membakar semua versi ejaan yang lain (sehingga sampai sekarang ejaan standar Kitab Suci agama Islam itu disebut ejaan atau "rasm Utsmani"). tidak pernah memuaskan orang-orang setempat. Salah satu kebijakan lagi dari Umar yang dilanjutkan atau diwarisi oleh Utsman ialah yang berkenaan dengan sistem keuangan negara. Maka penduduk Syria puas dengan Mu'awiyah. Namun. [10] Dan seperti hampir semua kebijaksanaan Utsman yang lain. Maka untuk menunjang sistemnya inilah antara lain Umar tidak mengizinkan tentera memiliki . sekalipun akhirnya dapat dinetralisasikan melalui usaha akomodasi berbagai versi bacaan Kitab Suci dalam bentuk pengakuan keabsahan "bacaan tujuh" Al-qira'at al-sab'ah. Umar disebut sebagai "yang pertama menciptakan lembaga-lembaga" (Arab: awwal man dawwana al-dawawin). sekalipun mereka agaknya juga mempunyai jalur penuturan dari Ali ibn Abi Thalib. tidak ada kebijakannya yang dapat diterima di sana. sebuah kota garnizun yang didirikan Umar dan kerusuhan itu harus ditindas dengan penumpahan darah. karena tidak lagi bisa dialih-arahkan kepada kegiatan-kegiatan ekspedisi militer. usaha Utsman itu tidak berjalan tanpa tantangan.rampung dan tuntas. Tetapi kejadian itu tetap meninggalkan bekas. (Bahkan kaum Syi'ah yang dikenal sangat anti Utsman itupun akhirnya juga mengakui jasa khalifah ketiga ini. Tetapi gubernur yang ditempatkan di Mesir (di kota Fusthath. Kairo lama). dengan menyesuaikan dan mengikuti cara penulisan Kitab Suci menurut ejaan Utsman. Kebijaksanaan Utsman berkenaan dengan Kitab Suci itu sungguh patut dipuji. Para gubernur yang melanjutkan tugas mereka semenjak diangkat oleh Umar banyak yang cakap dan sebagian dari mereka diterima baik oleh penduduk setempat. (Pengumpul al al-Qur'an). salah seorang ahli membaca al-Qur'an yang amat terkenal dan disegani. Penyatuan ejaan al-Qur'an itu amat prinsipiil sebagai dasar penyatuan orang-orang Arab Muslim khususnya dan semua orang Muslim umumnya. handalan utama mereka dalam masalah periwayatan). Ibn Mas'ud. Suatu kerusuhan muncul di Kufah. bahkan gubernurnya pun ditolak orang. sempat menunjukkan perasaan tidak sukanya kepada kebijakan Utsman. sesungguhnya. maka sebagian besar keberuntungan itu adalah berkat jasa Utsman ibn Affan yang bergelar Jami' al-Qur'an.

ahli perang (warrior) yang tangkas. hanya selang sekitar seperempat abad sejak wafat Nabi. Baru di masa Umar sifat kedaruratan itu mulai hilang. Mereka menginginkan untuk secara langsung mengontrol dan menguasai penghasilan daerahnya masing-masing itu. tercermin dari penggunaan istilah Khalifah (pengganti) olehnya untuk tugasnya itu. Akumulasi dari semua ketidakpuasan terhadap Utsman itu yang jelas sebagian bukan karena kesalahan Utsman sendiri berakhir dengan pembunuhan Khalifah. GOLONGAN-GOLONGAN KHAWARIJ. khususnya dalam bidang-bidang keuangan ini. Kebijakan Umar di bidang ini dan di bidang finansial pada umumnya sangat dihargai oleh para ahli sejarah Islam (khususnya. Tapi ketika Utsman mewarisinya. dengan gejala-gejala nepotisme Umawi yang semakin terasa pada masa Utsman. salah seorang isteri beliau yang amat dicintainya) sebagai imam (imam.tanah-tanah produktif (pertanian) di daerah-daerah yang telah mereka bebaskan. ketokohan Ali membuatnya paling tepat sebagai pengganti (khalifah) Nabi. sebagaimana telah dikemukakan. dan hanyalah salah satu. tapi sejak wafat Nabi sendiri. Bagi banyak pihak di Madinah. khususnya di kawasan Bulan Sabit Subur. telah tumbuh sejak zaman Nabi sendiri sebagai seorang pahlawan. tidak hanya sekarang sesudah Utsman. dengan pensponsoran kuat dari Umar. [11] para tentera menghendaki agar tanah-tanah produktif itu langsung dibagikan kepada tentera penakluk bersangkutan. Tentang mengapa yang terjadi ialah pengangkatan Abu Bakr. adalah bahan kontroversi yang serius. yang sampai sekarang masih menjadi bahan pembicaraan. dan dilepaskan dari pengawasan Madinah. SYI'AH DAN SUNNAH Kejadian pembunuhan Utsman hanyalah permulaan. ternyata sedikit demi sedikit sistem Umar itu mulai menunjukkan segi-segi kelemahannya. Tetapi agaknya penunjukan Abu Bakr. serta pelopor mula pertama dalam Islam. maka. Dan dengan begitu dimulailah perang saudara selama lima tahun. Tentera di berbagai kota garnizun mulai merasakan tidak adilnya penghasilan daerah mereka dikontrol dan dibawa ke Madinah sebagai fay' (milik negara). Segera setelah Utsman terbunuh. memimpin. Ketidakpuasan ini masih harus ditambah. sama dengan harta rampasan perang mana pun juga. Kebetulan Ali yang adalah kemenakan dan menantu Nabi. Ditambah lagi. dari deretan fitnah yang amat besar pengaruhnya kepada terjadinya skisme dalam Islam. mengulangi perdebatan di masa Umar sekitar masalah tanah-tanah pertanian daerah taklukan itu. yakni. seorang Sahabat Nabi yang amat dekat dan senior. Utsman tidak memiliki wibawa dan kecakapan seperti pendahulunya itu. Jadi berbeda dengan pandangan Umar yang tidak melihatnya demikian. meskipun tidak disepakati oleh semua orang. serta mertua beliau (ayahanda A'isyah. lebih mirip tindakan darurat (emergency). para bekas pembunuh itu atau simpatisan mereka mensponsori pengangkatan Ali (ibn Abi Thalib) sebagai khalifah. khususnya dalam shalat berjama'ah) ummat Islam di Madinah itu. dan tumbuh . kalangan Sunni) dan diakui oleh para ahli bukan-Muslim sebagai suatu tindakan seorang genius dan bijak. seperti telah disinggung. menggantikan Utsman. Maka. dengan sikap hidup yang penuh kesalihan dan hikmah (wisdom) yang luas dan mendalam. menurut sementara ahli sejarah Islam. artinya orang yang berdiri di depan. tentu saja. (Juga Umarlah yang memprakarsai pendirian lembaga keuangan yang dikenal dengan bayt al-mal --harfiah berarti "rumah harta").

juga al-Zubayr ibn al-Awwam. Tetapi mungkin sebagai gabungan antara kesalihan yang lebih mementingkan perdamaian dan sikap meremehkan kepintaran. Program itu sendiri konon sebagai kelanjutan rintisan dan pelaksanaan pesan Nabi menjelang wafat. puteri Abu Bakr dan isteri Nabi yang sangat dicintainya. Juga disebabkan oleh kecakapan militernya. memilih nama atau gelar Amir al-Mu'minin. seorang anggota keluarga Abu Bakr. ayah dari pada kakek Mu'awiyah) tetapi juga dari tokoh-tokoh seperti A'isyah. Maka kekhalifahan sebagai saat itu telah menjadi terlalu amat penting untuk dilewatkan begitu saja. Berbagai reaksi kurang menguntungkan terhadap 'Ali itu tidak saja membuat situasi masyarakat Islam yang masih muda dilanda suasana tak menentu dan sedikit chaotik.kesadaran padanya akan sifat kepermanenan jabatan pemimpin ummat Islam. Yang lebih parah. Maka suasana curiga kepada Ali dari banyak pihak menjadi tak terhindarkan. Akibatnya ialah bahwa ia justru . Tetapi peristiwa itu sendiri menimbulkan luka sosial-keagamaan pada ummat Islam yang sampai sekarang belum seluruhnya tersembuhkan. Kecurigaan itu mewujudkan diri dalam reaksi-reaksi tidak setuju kepada pengangkatan Ali sebagai khalifah. yaitu kalangan kaum Umawi (Umawi." Telah disebutkan bahwa Ali sebenarnya adalah tokoh yang amat tepat menghadapi situasi kritis itu. karena memang program utama masyarakat Islam waktu itu ialah melancarkan ekspedisi-ekspedisi militer ke luar Jazirah Arabia. gubernur dan komandan militer yang menaklukkan Mesir. Khalifah terbunuh. musuh utama Nabi sampai penaklukan Mekkah). anak cucu Umayyah ibn 'Abd Syams. Komandan Orang-orang Beriman. diletakkan oleh Umar. Ali secara iktikad baik dan "polos" menerima usul arbitrasi di Shiffin. tidak saja dari kalangan yang secara langsung mempunyai hubungan darah dengan Utsman. lengkap dengan berbagai pelembagaannya yang sebagian besar sebagaimana telah disinggung. seperti dapat diduga. dengan korban jiwa yang tidak sedikit. yakni. menunjukkan simpati kepada para pemrotes kebijaksanaan Utsman. Tetapi ketokohannya itu menjadi problem karena kenyataan bahwa sejak semula ia. Perkembangan pranata politik Islam pada saat pengangkatan Ali ialah bahwa sistem kekhalifahan telah berjalan dan tumbuh selama hampir seperempat abad. dan dibantu oleh 'Amr ibn al-'Ash. dengan akibat yang amat jauh dalam bidang sosial-keagamaan. dibawa oleh sikapnya yang salih dan populis. tuntutan untuk pengusutan pembunuhan Utsman sangat keras. diplomatik Mu'awiyah dan para pendukungnya. Mu'awiyah (anak abu Sufyan. dan di hadapan berbagai kritis yang mulai mengancam ummat Islam lembaga itu menjadi rebutan dalam tema-tema "to be or not to be. Sedangkan dari kalangan kaum Umawi. Maka Umar. dipelopori oleh politikus dan gubernur yang cakap. jika tidak bisa disebut kelicikan. ialah permusuhan antara Ali dan Mu'awiyah. untuk sebutan resmi jabatannya itu. Ali agaknya akan akhirnya memenangkan pertempurannya melawan Mu'awiyah. Reaksi-reaksi itu segera menyeret masyarakat Islam ke dalam kancah peperangan sesama mereka. dan onta itu terbunuh dalam pertempuran). meskipun jelas mustahil mendukung pembunuhannya. 'Ali yang seorang ahli perang (warrior) yang cakap dan berani agaknya dengan mudah mengalahkan A'isyah dan al-Zubayr di pertempuran dekat Basrah yang kemudian dikenal sebagai "Peristiwa Onta" (karena A'isyah memimpin pasukan dengan menunggang onta.

Karena kegiatan mereka yang selalu merongrong tatanan mapan. yakni. seorang tokoh yang pernah mereka unggulkan dengan penuh antusiasme. Metro Pondok Indah Pondok Indah Plaza I Kav. yang sejak semula menginginkan penyelesaian militer terhadap Mu'awiyah. yaitu semua orang harus menyingkir dari tatanan mapan dan bergabung dengan mereka demi iman yang benar telah menjerumuskan masyarakat Islam kepada suasana "semua lawan semua. Tetapi karena dibawakan dengan militansi yang hampir tak terkendalikan. "orang-orang yang menjual diri (kepada Allah)." dengan secara total menyerahkan dan mengorbankan diri untuk agama yang benar. 7501983. dan yang dengan kuat sekali mewarnai pandangan-pandangan hidup di daerah Bulan Sabit Subur. (021) 7501969. maka konsep-konsep itu yang antara lain melahirkan doktrin hijrah. UA 20-21 Jakarta Selatan Telp. Dan Allah itu Maha Penyantun kepada para hamba-Nya. Egalitarianisme radikal kelompok ini membawa mereka kepada konsep-konsep sosialpolitik yang sesungguhnya lebih dekat kepada cita-cita Islam seperti diletakkan oleh Nabi dan merupakan kelanjutan cita-cita universal dalam tradisi bangsa-bangsa Irano-Semitik sejak ratusan tahun. (021) 7507174 Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota Please direct any suggestion to Media Team Artikel Yayasan Paramadina Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota VI. SKISME DALAM ISLAM (3/4) Tinjauan Singkat Secara Kritis-Historis Proses Dini Perpecahan Sosial-Keagamaan Islam oleh Nurcholish Madjid Maka sebutan al-Syurat itu sekaligus memberi gambaran tentang hakikat dan sifat gerakan mereka. Korban yang paling tragis dari ekstremisme mereka ialah Ali sendiri." [12] -------------------------------------------.(bersambung 3/4) Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah Editor: Budhy Munawar-Rachman Penerbit Yayasan Paramadina Jln. . yaitu gerakan dengan semangat sendirinya mereka berkembang menjadi kelompok dengan tingkat ekstremisme yang amat tinggi.kehilangan dukungan dari para sponsornya yang gigih dan militan. yang kemudian secara tak terhindarkan membawa mereka kepada situasi mudah sekali terpecah-belah dan saling bermusuhan. 7507173 Fax.51. untuk akhirnya melenyapkan diri mereka sendiri. dan menamakan diri mereka kaum al-Syurat. "Dan di antara manusia ada yang 'menjual' dirinya demi memperoleh ridla Allah. Mereka ini kemudian membentuk kelompok ketiga." tanpa ada pihak yang benar-benar diuntungkan. (Sebutan ini merujuk kepada firman Allah. namun akhirnya mereka habisi dalam suatu pembunuhan politik.

Dengan maksud untuk tidak mengambil risiko yang dapat mengganggu "keseimbangan rawan" (delicate balance) susunan masyarakat Islam yang ada dan yang diperoleh dengan banyak pengorbanan itu. anak sendiri. sehingga para ahli sejarah ada yang mengatakan sebagai Khalifah Islam yang kedua terbesar. menunjukkan segi tertentu kelebihan Mu'awiyah atas Ali. Tetapi sebenarnya hanya secara fisik mereka boleh dikata terhapus dari sejarah. mereka ini kemudian mengalami penghancuran diri sendiri (self annihilation) justru karena watak mereka yang sangat akstrem. Sebagian besar masyarakat Islam menyetujui ide itu. Mu'awiyah mendapat dukungan yang boleh dikata universal. mempertahankan klaim kekhalifahan. kini menunjukkan daya tarik dan vitalitasnya di kalangan sebagian kaum Muslim "liberal" (dalam arti lebih banyak menunjukkan sikap kritis dan mungkin ingin lepas dari kukungan tatanan mapan sosial-keagamaan yang ada). keadaan kembali kepada kekacauannya yang semula. (Sesungguhnya mereka berharap. sekurang-kurangnya secara de facto.mereka kemudian lebih dikenal sebagai kaum Khawarij (pemberontak). Tantangan terhadap Yazid mula-mula datang dari para pendukung Ali yang memang nampak selalu siap menggunakan setiap kesempatan. dan orang dengan penuh harapan menyebut tahun itu sebagai "Tahun Persatuan" (Amal-Jama'ah). sebagai penggantinya. Perkembangan lebih lanjut masyarakat Islam setelah terbunuhuya Ali oleh kaum Khawarij ialah pengakuan dan dukungan hampir universal masyarakat kepada kekuasaan Mu'awiyah di Damaskus. masih sempat menunjuk kepada kenyataan bahwa sementara Ali mendapat dukungan bagi kekhalifahannya hanya dari sebagian umat Islam. (Mu'awiyah ternyata menunjukkan kecakapan memerintah yang mengesankan. . sesudah Umar ibn al-Khaththab. dalam polemiknya dengan kaum Syi'ah. Terutama pada tahun 41 Hijri. sudah sejak semula dalam kekhalifahannya Mu'awiyah meminta agar masyarakat menyetujui untuk mengangkat Yazid. Akibatnya ialah bahwa mereka hampir-hampir praktis tidak tertahan untuk menyaksikan zaman modern sekarang ini. [13] Dengan modal persatuan itu Mu'awiyah dapat melanjutkan program-program ekspansi militer dan politik yang sempat tertunda beberapa lama oleh adanya fitnah. dalam pandangan Ibn Taymiyyah. anaknya. sepeninggal Ali. Ini. ummat Islam di bawah Mu'awiyah dapat dikatakan kembali kepada keutuhannya yang semula. [14] Tetapi setelah Mu'awiyah meninggal. Sedangkan secara doktrinal. dan Yazid pun dinyatakan sebagai Khalifah. meskipun ia tetap secara keseluruhan mengunggulkan Ali atas lawannya itu). justru banyak sekali faham-faham keagamaan yang kini berkembang dan mapan di kalangan kaum Muslimin dapat ditelusuri kembali sebagai asal dari problematika kaum Khawarij. nisbat kepada oase al-Harura dekat Kufah. yakni. sebagaimana dahulu muncul dalam sistem kalam kaum Mu'tazilah. Tetapi kekhalifahan Yazid yang memang tidak banyak memenuhi gambaran ideal seorang penguasa Muslim itu segera mengundang munculnya kembali pertentangan-pertentangan laten. Bahkan cukup menarik bahwa ibn Taymiyyah. Seperti telah dikatakan tadi. tempat mereka berpangkalan). Bahkan ada tanda-tanda bahwa problematika kaum Khawarij itu. agar Hasan. (Mereka juga dinamakan kaum al-Haruriyyun.

khususnya faham persamaan umat manusia. putera Ali dan Fathimah. Terbunuhnya Husayn.menghadapi Mu'awiyah di Damaskus. Irak. khususnya di daerah pedesaan atau badawah. Tetapi Abdullah tidak menikmati kekuasaan yang mantap. banyak kalangan penduduk Kufah sendiri yang menarik dukungannya kepada Husayn. dengan membiarkan mereka dalam otonomi penuh mengurus kepentingan mereka sendiri. Tetapi. yang mempunyai dampak amat luas dan mendalam pada sistem sosial-keagamaan Islam sampai sekarang. kaum Syi'ah perlahan-lahan mengkonsolidasikan diri dan mengembangkan pandangan-pandangan sosial-politik keagamaan yang kelak menjadi dasar sistem doktrinal Syi'isme. dan Husayn. meliputi sebagian besar pedalaman Jazirah Arabia. kekuasaan berada di tangan kaum Khawarij yang seperti selama ini melancarkan perang "hit and run" terhadap Abdullah ibn al-Zubayr. Tentera Yazid menghancurkan mereka. Di Makkah bangkit Abdullah ibn al-Zubayr (ibn al-Awwam) yang ayahnya dahulu pernah menentang Ali bersama A'isyah dan kalah kini bangkit menentang Yazid dengan cukup efektif. sebelum tentera Syria datang menyerbu. dan setelah penguasa Damaskus ini meninggal sesudah menjabat sebagai khalifah selama sekitar tiga tahun saja. Tetapi kaum Khawarij gagal memperoleh dukungan dari kalangan Muslim yang lebih terorganisir di kota-kota. dekat Kufah. cucu Nabi. Adalah sejak peristiwa Karabala itu para pendukung setia Ali dan keturunannya dikenal dengan sebutan kaum Syi'ah (yang sebetulnya lengkapnya ialah syi'ah Ali. tidak pernah efektif. merupakan peristiwa terpenting dalam fitnah kedua. setelah berhasil dibujuk oleh gubernur Syria. Kebiasaan mereka untuk melakukan gerilya dalam kelompok-kelompok penyerang yang disusun seperti sistem kabilah sebelum Islam (masa Jahiliyah) telah mengundang antipati orang-orang kota. Apalagi. Tetapi Yazid tidak hanya menghadapi tantangan dari kaum Syi'ah. "Partai Ali"). meskipun selama fitnah kedua ini menguasai teritorial yang paling luas. telah membuat kaum Khawarij cukup favorable di mata kaum non-muslim. Sebenarnya kaum Khawarij ini hampir berhasil menghidupkan beberapa nilai yang diajarkan oleh Nabi. Maka harapan para pendukung Ali kini ditujukan kepada Husayn. setelah secaara singkat menjadi pendukung Abdullah ibn al-Zubayr pada saat permulaan penampilan khalifah Makkah . seperti terbunuhnya Utsman sebelumnya. Tetapi Hasan mengecewakan mereka dengan sikapnya yang lebih senang turun dari klaim itu dan hidup hampir menyendiri secara damai di Madinah. yang mereka undang untuk memberontak di Kufah. saudara Hasan. Di luar kota Makkah sendiri. Husayn dengan kekuatan tenteranya yang kecil menolak untuk menyerah. Dan politik mereka yang menerapkan prinsip nonintervensi terhadap kelompok-kelompok bukan-Muslim. Abdullah oleh sebagian besar umat diakui sebagai khalifah yang sah. Dengan menggunakan sentimen umum terhadap kematian tragis Husayn. Yazid tidak bisa mengatasinya. dan mereka ini terkucilkan di padang pasir Karbala. terbunuh secara amat kejam dan tragis. Egalitarianisme mereka telah membuat mereka termasuk yang pertama dalam sejarah Islam yang tidak membeda bedakan antara Muslim Arab dan Muslim bukan-Arab. Ini membuat kekuasaan kaum Khawarij. dengan Makkah sebagai ibukota.

Irak juga jatuh ke tangan kaum Umawi. namun dengan cara-cara yang lebih moderat. sama halnya dengan kaum Khawarij. Keberhasilan Ibn al-Zubayr mematahkan kaum Khawarij dan Syi'ah tidak berarti bahwa mereka benar-benar bebas dari oposisi. Kaum Khawarij dan Syi'ah itu tetap merupakan ancaman yang laten. Setelah menyusul Irak. yang dikenal sehagai kaum Azariqah. dalam bentuk suksesi melalui penunjukan oleh khalifah yang . Kota-kota garnizun di bawah kepemimpinan kaum Umawi yang tegar kini lebih efektif dalam melawan gerilya kaum Khawarij dari pedalaman dibanding keadaan mereka dibawah kepemimpinan Ibn al-Zubayr yang lunak. kaum Syi'ah sekali lagi mencoba memobilisasi diri dan menemukan figur sentral mereka pada putera Ali yang lain. yaitu Ibn al-Hanafiyyah. (Adalah Marwan ini yang dahulu bertindak sebagai penasehat utama Khalifah Utsman ibn Affan dan didakwa sebagai dalang pembunuhan pemimpin delegasi Mesir yang datang ke Madinah untuk mengadukan perkara mereka. Hingga akhirnya kaum Umawi berhasil merebut Makkah sendiri (Ka'bah sempat hancur dan harus dibangun kembali karena pertempuran memperebutkan kota suci itu). Kini kekhalifahan sepenuhnya pindah ke tangan anak Marwan. Selain menghadapi kaum Khawarij. yang oleh Hodgson disebut sebagai khalifah Islam terbesar ketiga setelah Umar dan Mu'awiyah. Dengan cepat kekuatan kaum Umawi di Syria sebagai salah satu kontestan untuk kekhalifahan tumbuh dan berkembang. Pemberontakan kaum Syi'ah ini dipimpin oleh Mukhtar ibn Abi Ubayd. Mereka ini akhirnya dikalahkan oleh tentara Ibn al-Zubayr yang berpangkalan di Basrah. Juga penggantian kekhalifahan dengan tegas didasarkan kepada pewarisan. di Syria. Kaum Syi'ah. Tetapi egalitarianisme mereka ini justru membuat marah orang-orang Muslim Arab Kufah. dan faham keagamaan diperhitungkan hanya setelah jelas siapa yang unggul melalui kekuatan itu.itu. yang berarti hilangnya basis dukungan bagi Ibn al-Zubayr di Mekkah. Dengan tegas Abd al-Malik mendasarkan sistemnya di atas konsep kekuatan (force). kekuatan-kekuatan oposisi kelanjutan kaum Umawi berhasil mengkonsolidasi diri. yang kemudian berpaling melawan mereka. Tantangan orang Kufah ini mempermudah pemberontakan kaum Syi'ah untuk dipatahkan oleh Ibn al-Zubayr dengan menggunakan kekuatan tentara dari Basrah yang saat itu telah bebas dari tugas menghadapi kaum Khawarij. yang berbasiskan Iran. di utara. Mereka dengan tegas mengambil sikap yang menyamakan status antara orang-orang Muslim bukan-Arab dengan Muslim Arab. Segi kebenaran Abd al-Malik ialah bahwa ia berhasil mengakhiri fitnah (kedua). dan di situ Khalifah Abdullah ibn al-Zubayr (ibn al-Awwam) terbunuh. dengan melakukan berbagai akomodasi. Abd al-Malik. Abd al-Malik (692-705). Ibn al-Zubayr masih harus menyelesaikan masalah Syi'ah. sepupu Mu'awiyah. juga ingin menegakkan prinsip persamaan manusia. Setelah mengalami kekalahan yang tragis oleh Yazid di padang Karbala. dengan akibat hukum bunuh yang mereka laksanakan secara konsekuen. menganggap siapa saja yang tidak bergabung dengan mereka sebagai murtad. sehingga Mesir pun tidak lama jatuh ke tangan Marwan dan anaknya. Kaum Umawi yang berkoalisi dengan kaum Banu Kalb (sandaran utama kekuatan Arab Syria bagi kaum Umawi sejak masa Mu'awiyah) mengangkat Marwan ibn al-Hakam. dan yang kemudian membangkitkan amarah mereka dengan akibat pembunuhan khalifah). kaum Khawarij terpecah menjadi dua. sebagai Khalifah. Irak. Sementara itu. Maka negara menjadi negara kekuasan (macht staat).

ialah masa Nabi sendiri. Nampaknya masa lalu Islam itu yang paling otoritatif. banyak melanjutkan rintisan dan percontohan Umar ibn al-Khathab. Kemudian dorongan untuk memahami lebih baik dan melaksanakan ajarannya secara lebih tepat tumbuh dengan pesat di kalangan umum. masa Umar ibn al-Khathab nampak paling banyak dijadikan rujukan. Berbeda dengan pandangan keagamaan kaum Khawarij dan Syi'ah pandangan keagamaan kaum Umawi memang sangat berat berwarna ke-Arab-an. kaum Muslimin.terdahulu. dengan dibantu oleh keahlian dan kesarjanaan al-Hajjaj ibn Yusuf. Tetapi. sudah tentu. jika pemerintahan itu harus dijalankan dengan norma-norma keislaman. sebagaimana sebutan pilihan sementara ahli sejarah Islam). pada kalangan Banu Tsaqif (yang sebelumnya telah membantu menaklukkan Mekkah. Abd al-Malik meneruskan usaha mempersatukan ummat Islam berkenaan dengan Kitab Suci mereka. maka efeknya ialah penegasan kedaulatan Islam. Sebagai dukungan asasi bagi konsep Jama'ah-Nya itu. Tetapi ketika Abd al-Malik mengganti mata uang logam Yunani yang bergambar kepala raja mereka dengan mata uang logam khas Arab dan Islam dengan simbol kalimah syahadat. sepanjang mengenai pelaksanaan pemerintahan sehari-hari. bekas guru madrasah di Thaif. Maka kaum Umawi di Damaskus itu. yang sebenarnya belum lama berselang itu. semakin banyak merasakan perlunya bahan rujukan dari kebiasaan mapan (sunnah) masa lalu Islam. yang menjadi dasar kebesaran kekuasaan Umawi (lebih tepat. banyak referensi dilakukan kepada preseden yang ada dalam sejarah Islam. Solidaritas Arab berdasarkan Islam melawan kecenderungan kesukuan lama (Jahiliyah) ini kemudian menjadi dasar ide tentang Jama'ah. dengan memperbaiki cara penulisannya dan memastikan harakat bacaannya melalui penambahan beberapa diakritik dan vokalisasi (harakat). Kebesaran Abd al-Malik ibn Marwan yang lain terletak dalam kegairahannya untuk menegaskan supremasi Islam terhadap yang lain. Marwani. dalam masalah pemerintahan menurut pengertian seluas-luasnya. Maka dalam usaha memahami lebih baik Kitab Suci itu dan melaksanakannya dalam kehidupan nyata. membunuh Ibn al-Zubayr. Berdasarkan pandangannya itu Abd al-Malik melihat pentingnya usaha lebih lanjut mempersatukan orang-orang Arab di bawah bendera Islam melawan kecenderungan kesukuan yang sampai saat itu masih menunjukkan potensi latennya. Melalui kebijaksanaan Abd al-Malik ibn Marwan ini maka al-Qur'an mempunyai fungsi lain. suatu konsep atau idiologi yang meletakkan nilai-nilai persatuan dan kesatuan di atas semangat kesukuan dan bahkan di atas faham-faham keagamaan faksional. dengan berbagai modifikasi dan penyesuaian. yaitu sebagai lambang persatuan dan kesatuan (Jama'ah) yang tak tergugat. dan berfungsi terutama sebagai kode etik dan ajaran disiplin bagi kekuatan elite penakluk dan penguasa. Di sisi lain tindakannya bisa disebut sebagai sejenis nasionalisme Arab. Bagi mereka Islam adalah lambang Arabisme yang dipersatukan. [15] Dampak amat penting tindakan ini ialah penyatuan yang lebih meyakinkan seluruh kekuatan Islam (dan Arab). Maka dengan begitu secara berangsur tumbuhlah . terlebih lagi para penguasa Umawi. Karena itu ketika para qadli sebagai pemegang semacam kekuasaan yudikatif di daerah-daerah (Abd al-Malik adalah orang pertama melembagakan jabatan qadli itu). dan menghancurkan Ka'bah serta membangunnya kembali).

anekdot. Dorongan yang amat kuat untuk menyudahi berbagai fitnah yang telah meninggalkan kesan-kesan penuh trauma itu telah mengharuskan kaum Marwani atau Umawi untuk menunjukkan sikap-sikap yang lebih akomodatif dan kompromistis. dll. Utsman. Para ahli mengatakan bahwa gerakan perorangan untuk mencatat hadits telah terjadi sejak masa sangat awal sejarah Islam. Dalam rangka ini. Umar II sebenarnya hanya melanjutkan kecenderungan yang sudah ada pada kaum Marwani atau Umawi. Ini semua kelak disistematisasi dan dikritik. khususnya sejak kekhalifahan Abd al-Malik ibn Marwan.(bersambung 4/4) Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah Editor: Budhy Munawar-Rachman Penerbit Yayasan Paramadina Jln. 7501983. 7507173 Fax. Maka perhatian kepada cerita. untuk selanjutnya dikodifikasi. (021) 7507174 Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota Please direct any suggestion to Media Team Artikel Yayasan Paramadina Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota VI. UA 20-21 Jakarta Selatan Telp. (021) 7501969. tindakan terpenting ialah mengakui Ali sebagai khalifah yang sah. pada urutan keempat (artinya. tapi juga tentang tokoh-tokoh generasi ketiga umat Islam. namun Ali lebih unggul daripada Mu'awiyah. khususnya tentang Nabi sendiri dan para Sahabat. SKISME DALAM ISLAM (4/4) Tinjauan Singkat Secara Kritis-Historis Proses Dini Perpecahan Sosial-Keagamaan Islam oleh Nurcholish Madjid Keperluan kepada bahan rujukan dari masa lalu (preseden) untuk menetapkan hukum lambat-laun tumbuh manjadi kesadaran tentang otoritas tradisi (sunnah) yang sah (valid). [16] -------------------------------------------.51. tetap lebih unggul daripada Ali. rupanya malah sejak masa nabi sendiri. sedikit atau pun banyak. dan menjadi dasar . Tradisi ini berkembang dan tumbuh kuat. Metro Pondok Indah Pondok Indah Plaza I Kav. yang di situ setiap kelompok memperoleh kehormatannya. oleh para sarjana hadits seperti al-Bukhari. yaitu ilmu fiqh. anggota-anggota klan mereka. Tapi sejarah mencatat bahwa dorongan paling kuat ke arah sana itu dimulai oleh Khalifah Umar ibn Abd al-Aziz (ibn Marwan) yang dikenal sebagai Umar II (memerintah 717-720) karena mengingatkan orang kepada Khalifah Umar ibn al-Khaththab. Dengan begitu kaum Marwani atau Umawi meletakkan landasan dialog intern Islam yang meliputi semua. juga anggota klan mereka tapi menjadi musuh Ali). menjadi semakin besar. dan penuturan tentang para tokoh masa lalu itu.yurisprudensi Islam. Muslim. yang kelak melahirkan disiplin terpisah dalam ilmu-ilmu keagamaan Islam.

al-Mu'minun/23:51-52. mengakui semuanya namun dengan mengunggulkan Utsman atas Ali dan Ali atas Mu'awiyah. betapa problematisnya kekhalifahan dan kedudukan seorang khalifah. "Sesungguhnya mereka yang memecah belah agama mereka kemudian menjadi bersekte-sekte. yaitu mereka yang memecah belah agama mereka kemudian menjadi bersekte-sekte. biasa disingkat dengan Ahl al-Sunnah. maka disebut Ahl al-Sunnah wa 'l-Jama'ah. engkau (Muhammad) tidak sedikit pun termasuk mereka. Syi'ah dan Sunnah. mempunyai sistem dan teori pembenaran bagi pandangan masing-masing. QS. kaum Umawi lama hanya Abu Bakr. lebih singkat lagi. CATATAN 1. lebih-lebih lagi jika kita perhitungkan pandangan semua kelompok mengenai masalah kekhalifahan itu. setiap golongan membanggakan apa yang ada pada mereka" (yakni." [19] Agaknya kita semua ditantang untuk memerangi sektarianisme yang kini masih menggejala. yakni. plus Mu'awiyah. kaum Marwani atau Umawi. diharap dapat memberi gambaran (dan kesadaran) betapa relatifnya pangkal skisme dalam Islam (karena berakar dalam pertikaian sosial-politik yang sama sekali tidak mungkin lepas dari konteks ruang dan waktu dalam pengertian yang seluas-luasnya). meskipun jauh dari sempurna dan lengkap. "Dan janganlah kamu termasuk orang-orang musyrik. al-Baqarah/2:213. antara lain. Utsman. Umar. mungkin yang diperlukan sekarang ialah mengembangkan dasar fikiran nonsektarianisme. dengan sendirinya. Maka kesimpulannya. sebagai tercermin dalam peringatan yang lain. Masing-masing pecahan itu sesungguhnya pecah lagi ke dalam berbagai kelompok. betapa kaum Syi'ah cenderung hanya mengakui Ali. Dan setiap kelompok itu. kemudian dibarengi atau disusul oleh munculnya berbagai pecahan yang lain lagi. golongan Sunni. [17] Sebenarnya semangat non-sektarianisme inilah salah satu pandangan dasar Islam yang dibawa Nabi. yaitu Khawarij. Maka dengan jelas dapat dilihat betapa absurd-nya memutlakkan kebenaran suatu aliran paham dalam agama (Islam). Uraian di atas. sama dengan golongan Sunni. . 2. yaitu faham yang menggabungkan antara ideologi Jama'ah (persatuan dan kesatuan) dan ideologi Sunnah (faham yang memandang otoritas masa lalu dan tradisi yang sah sebagai bahan rujukan). yang dapat dikemukakan di atas hanyalah masalah-masalah mendasar tentang faham-faham pecahan dini Islam. mengaku benar sendiri). sesuai dengan peringatan. (Patut diperhatikan.faham yang kini merupakan anutan terbesar kaum Muslim di dunia. tidak jarang dinyatakan dalam gaya-gaya absolutistik dan "pasti benar"). dan melihat sektarianisme sebagai jenis kemusyrikan. kaum Khawarij hanya Abu Bakr dan Umar. Juga bisa dilihat. secara hanif. PENUTUP Dikarenakan terbatasaya ruang dan sifat pembahasan. karena mengambil pelajaran dari pengalaman agama-agama sebelumnya. sebagai jawab kecenderungan alami manusia untuk memihak yang baik dan benar: "Maka ikutilah olehmu semua agama Ibrahim. QS." [18] Semangat non-sektarianis itulah salah satu makna yang dimaksud bahwa agama Tawhid Nabi Ibrahim adalah hanif.

baik yang diterbitkan pada masa pemerintahan Syah Reza Pahlewi maupun yang diterbitkan pada masa pemerintahan Islam revolusioner (Khumaini). baik dari kesahihan sanadnya maupun dari segi lafalnya yang lebih persis. passim. Terdapat pandangan bahwa kalangan "awam" sebaiknya tidak membicarakan hal itu. Ikhtilaf ummati rahmah (Perbedaan pendapat ummatku adalah rahmat). catatan 1407. 1405 Hijri qamari (lunar) atau 1363 Hijri Syamsi (solar). Translation and Commentary (Jeddah: Dar al Qibla. (Meskipun tidak disebutkan dalam pengantar atau lainnya bahwa mushaf itu ditulis dengan ejaan Utsmani. h. namun kenyataannya ia persis sama dengan mushaf ejaan Utsmani). The University of Chicago Press. 983) ditegaskan oleh penerbit bahwa mushaf itu menggunakan ejaan yang paling asli dan paling aktual. The Holy Qur'an.tb5. misalnya. QS. Lafal lain terbaca. 1974). Salah satunya ialah Tarikh at-Thabari yang terkenal. Tapi betapa pun diperselisihkan hadits itu nampaknya banyak dipercayai para ahli. Yusuf Ali. seperti . Muhammad Shalih ibn Umar Samarani. misalnya.241-242). (Lihat. Cukup ironis bahwa justru hadits ini pun diperselisihkan. al-Ma'idah 5:51. Mungkin bisa dikatakan sebagai suatu bentuk penghindaran dari kenyataan pahit dalam sejarah Islam.).3. 4. QS. yang meskipun ditulis di bawah bayangan kuat idiologi Sunni namun sampai batas yang cukup jauh tidak kehilangan sifat ilmiahnya. 488. Bukan saja samasekali tidak ada perbedaan antara al-Qur'an pada kaum Sunni dan al-Qur'an pada kaum Syi'i. H. Rasyid Ridla. Hud/11:118-119." Bahkan qira'at atau bacaannya disebutkan. 9. 6. tiga jilid (Chicago. memberi pengantar dengan semangat hadits itu untuk penerbitan risalah Ibn Taymiyyah. 8. Tarjamah Sabil al-Abid ala Jawharat al-Tauhid [tanpa data penerbitan]. Ikhtilaf al-a'immah rahmah li al-ummah (Perbedaan pendapat para imam adalah rahmat untuk ummat). 7. Khilaf al-Ummah fi al-Ibadat wa Madzhab Ahl al-Sunnah wa al-Jama'ah (Perselisihan umat dalam ibadat dan Madzhab Ahl al-Sunnah wa al-Jama'ah).tb5 5. misalnya. Yang kedua diwakili oleh mushaf terbitan Mu'assasat Intisyarat Shabirin. The Venture of Islam. 1403 H). hh. Teheran. 1343 H. yang dikenal dcngall "rasm al-mushaf" atau "rasm Utsmani. 10.. jil. QS. Banyak bahan rujuknya dari literatur klasik untuk pembahasan sekitar perkembangan dini sejarah Islam yang menyangkut fitnah besar ini. Hodgson. Teheran. 1326 H. (Cairo: Mathba'at al-Manar./1965 M. Tapi uraian berikut hanyak dibuat dengan bersandar kepada kepada Marshall G.S. Dalam kata penutup terbitan mushaf ini (h. A. Yang pertama diwakili oleh mushaf terbitan Mu'assasat Intisyarat Amir Kabir. 1. Yunus/10:19. salah satu unsur dalam faham Sunni ialah semacam konsensus untuk tidak membicarakan peristiwa-peristiwa menyedihkan yang menyangkut peperangan dan perebutan posisi politik yang terjadi antara para Sahabat Nabi sekitar seperempat abad sesudah wafat beliau. Sabda Nabi yang terbaca. Bahkan al-Qur'an kaum Syi'i pun ditulis dengan mengikuti ejaan atau rasm Utsmani.

57 (antara hh. Ibn Taymiyyah. 110. Tarikh al-Tasri al-Islami.. yang hanya mengenal konsonan. dokumen No. Abu Ya'quh Yusuf. jil. (Lihat. 12.'" (ibid. Muhammad Hamidullah dengan izin majalah orientalisme Jerman. 'Sebaik-baik para pemimpinmu ialah yang kamu cinta kepada mereka dan mereka cinta kepada kamu dan berdo'a untuk kebaikanmu. 1389 H/1969). Perlu diingat bahwa meskipun al-Qur'an telah dipersatukan kodifikasinya oleh Utsman namun orang masih mengalami kesulitan untuk memastikan pembacaannya. sekali lagi tidak akan mengizinkan.pada mushaf. sebagai berasal dari riwayat Hafsh dari Ashim. ". Zeltschrift der Deutschen Morgenlandischen dalam Majmu'at al-Watsa'iq al-Siyasiyyah li al-Ahd al-Nabawi wa Khilaafat al-Rasyidah (Beirut: Dar al-Irsyad. Dan tatkala dia (Ali) melamar anak perempuan Abu Jahl. kecuali mereka yang benar-benar mengenal bahasa Arab karena dibesarkan sebagai orang Arab. h. Jadi dalam kutipan pertama Ibn Taymiyyah ingin mengesankan bahwa Mu'awiyah bertingkah laku sesuai dengan Sunnah. h. juga h. dan dalam kutipan kedua ia mau memperlihatkan betapa Ali pernah membuat hal yang menyakiti hati Nabi. Dan kemudian konsep Jama'ah itu dikembangkan sebagai idiologi. al-Syaykh Muhammad al-Hudlari Bek. Sedangkan mereka yang tidak demikian keadaannya akan terbentur kepada sistem huruf Arab. Sebaliknya tentang Ali. 87). 1387 H/1967].." 11. Demi Allah. 194). Dar al-Fikr.a. "Perilaku Mu'awiyah terhadap rakyatnya adalah termasuk sebaik-baik perilaku para penguasa. "yang dari jalur lain dari Imam Ali ibn Abi Thalib. tanpa huruf hidup." (Minhaj al-Sunnah. Sangat menarik sebagai bahan studi lebih mendalam mempelajari berbagai polemik sekitar Ali dan Mu'awiyah ini. 189). QS. sama dengan huruf-hurut Semitik yang lain. mengatakan. sekali lagi tidak akan mengizinkan! Kecuali jika anak Abu Thalib itu menceraikan anak perempuanku (Fathimah) dan kemudian kawin dengan anak perempuan mereka. maka tahun 41 Hijri disebut "Tahun Persatuan" ('Am al Jama'ah). 14. bahwa beliau bersabda. Padahal telah mantap dalam al-Shahihayn (Bukhari-Muslim) dari Nabi s. Bani al-Mughirah meminta izin kepadaku untuk mengawinkan anak perempuan mereka kepada Ali. Kitab al-Kharaj. serta kamu mengutuk mereka dan mereka mengutuk kamu.w. Sebagai contoh tulisan Arab tingkat awal itu berikut ini adalah (foto) kopi surat Rasulullah kepada al-Mundzir ibn Sawi.. 15. al-Baqarah 2:207. beliau (Nabi) bersabda. Karena hampir semua kelompok Islam mengakui kekuasaan de facto Mu'awiyah. Misalnya. 3. yang diturun oleh Dr. Dan sungguh aku tidak akan mengizinkan. 13. Perdebatan itu terekam dalam karya seorang murid Imam Abu Hanifah.mushaf Sunni. Sedangkan seburuk-buruk pemimpinmu ialah yang kamu benci kepada mereka dan mereka benci kepadamu. [Beirut. 114 dan 115): Tulisan seperti di masa Rasulullah itulah yang juga digunakan . salah seorang pemikir Sunni mazhab Hanbali yang sangat polemis terhadap golongan Syi'ah. dan rakyatnya mencintainya. h. tidak akan berkumpul menjadi satu anak perempuan Rasulullah dengan anak perempuan musuh Allah pada satu orang lelaki. Ibn Taymiyyah masih sempat mencatat demikian.

sampai sekarang.. (021) 7507174 Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota Please direct any suggestion to Media Team Artikel Yayasan Paramadina Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan . ta'. Tapi karena dominasi dan supremasi persoalan penataan kembali masyarakat saat-saat dini sejarah Islam. -------------------------------------------Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah Editor: Budhy Munawar-Rachman Penerbit Yayasan Paramadina Jln. Perhatikan bahwa untuk perkembangan tulisan Arab saat itu.. seperti untuk bunyi-bunyi ba'. kesulitan masih harus ditambah dengan tidak adanya perbedaan simbol untuk cukup banyak bunyi. seperti satu. 18. ha' dan kha'. antara lain. Keadaan serupa itu bertahan hampir sepanjang sejarah Islam sesudah masa Marwani. dan. antara ra' dan za' antara sin dan syin. antara tha' dan dha'. al-An'am/6:169. Ini tercermin dalam bagaimana sebagian besar kaum Muslim mempersepsi agamanya sebagai terutama sistem hukum. tiga titik. sehingga pengetahuan mengenai masalah-masalah hukum pun dianggap fiqh par excellence. "Kami (Tuhan) telah merinci berbagai ayat untuk kaum yang mengerti" (ber-fiqh) (QS. akhirnya. Ali 'Imran/3:95. QS." (QS." (QS. 7507173 Fax. 'Sesungguhnya aku diberi petunjuk oleh Tuhanku ke arah jalan yang lurus. agama (Nabi) Ibrahim yang hanif . QS.. maka segi hukum dari agama juga amat dominan dan supreme. Perkataan Arab "fiqh" sendiri berarti "faham" (dalam makna "mengerti"). dua. ". al-Rum/30:32. yaitu agama yang teguh (konsisten). Metro Pondok Indah Pondok Indah Plaza I Kav. di bawah dan di atas oleh al-Hajjaj merupakan fase amat penting dalam sejarah metode penulisan al-Qur'an. al-Tawbah/9:122. Bahwa agama yang dibawa Nabi Muhammad adalah juga agama Ibrahim ditegaskan dalam cukup banyak ayat-ayat suci. 7501983. 16. antara lain.. 17. QS. antara 'ayn dan ghayn. Maka penambahan beberapa diakritik. antara dal dan dzal. khususnya pada masa dinasti Marwani itu (antara lain karena urgensi mengatasi dan menyudahi fitnah yang berkelarutan). Jadi yang dimaksudkan dengan perkataan fiqh dalam firman-firman itu pendalaman ajaran keagamaan secara menyeluruh. "Katakan Muhammad. Maka hendaklah dari setiap golongan ada satu kelompok orang yang pergi (mencurahkan perhatian) untuk memahami agama secara mendalam (ber-tafaqquh) .untuk kodifikasi al-Qur'an oleh Utsman dan menghasilkan mushaf rasmUtsmani. (021) 7501969. antara shad dan dlal. tsa nun dan ya'. al-An'am 6:98). UA 20-21 Jakarta Selatan Telp. 19. antara fa' dan qaf. dan antara bunyi-bunyi jim. al-An'am/6:161). Penggunaan perkataan "fiqh" sebenarnya merujuk kepada beberapa firman Allah.

juga berarti: urusan. Dalam bahasa asalnya. otoritas. Itulah pembahasan sepintas dari segi etimologis dan lexicologis. tentang kata-kata "wali" dan "amr. persahabatan. Kalau ditambah dengan akhiran "an" maka menjadi "amaran" yang berarti: perintah. tugas (yang harus dilakukan). Tetapi dalam kata asalnya. atau markasnya. yaitu orang suci dan keramat (seperti Wali Songo). kata ini berarti juga: penolong. Maka dalam rangka urusan tersebut kita dapat memahami kehadiran Undang-undang Perkawinan dan Undang-undang Peradilan Agama (yang belum lama ini sudah diundangkan). PENGERTIAN WALI AL-AMR DAN PROBLEMATIKA (1/2) HUBUNGAN ULAMA DAN UMARA oleh Ali Yafie Pemerintah memandang perlu untuk mengeluarkan sebuah keputusan dalam kaitan hari libur Idul Fithri sebagai hari libur nasional.ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota VI. Dari akar kata ini berkembang bentuk-bentuk kata: wala yang berarti: cinta. "imarah" (sifat keamiran. persoalan atau perkara. yang berarti: orang yang menurut hukum diserahi kewajiban mengurus anak yatim serta hartanya selama anak itu belum dewasa. kewenangan. daerah yurisdiksi. Lebih lanjut kita melihat hal seperti itu dalam masalah perkawinan dan peradilan khusus yang menyangkut penyelesaian sengketa urusan kekeluargaan di kalangan kaum muslimin bangsa Indonesia. petugas. suruhan. pelindung. menyuruh melakukan. Dari akar kata "amr" ini. wali negara)." "amiral" (admiral). kepala pemerintahan (seperti wali kota. "amiralay (brigadier general). Kata "wali al-amr" (dalam sebutan Indonesia) berasal dari "waliy-u 'l-amr" (bahasa Arab). Mengamarkan: memerintahkan. Dalam persoalan ini tentunya pada tingkat pertama kita . amirul mu'minin (khalifah). wali Allah atau waliullah. pengasuh pengantin perempuan ketika nikah yaitu keluarga dekatnya yang melakukan janji atau akad nikah dengan pengantin laki-laki (dalam urusan nikah ini dikenal juga adanya wali hakim yaitu pejabat urusan agama yang bertindak sebagai wali). Kata ini biasa diartikan "penguasa. timbul bentuk-b