Artikel Yayasan Paramadina

Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota II.9. KONSEP-KONSEP KEADILAN oleh Abdurrahman Wahid Tidak dapat dipungkiri, al-Qur'an meningkatkan sisi keadilan dalam kehidupan manusia, baik secara kolektif maupun individual. Karenanya, dengan mudah kita lalu dihinggapi semacam rasa cepat puas diri sebagai pribadi-pribadi Muslim dengan temuan yang mudah diperoleh secara gamblang itu. Sebagai hasil lanjutan dari rasa puas diri itu, lalu muncul idealisme atas al-Qur'an sebagai sumber pemikiran paling baik tentang keadilan. Kebetulan persepsi semacam itu sejalan dengan doktrin keimanan Islam sendiri tentang Allah sebagai Tuhan Yang Maha Adil. Bukankah kalau Allah sebagai sumber keadilan itu sendiri, lalu sudah sepantasnya al-Qur'an yang menjadi firmanNya (kalamu 'l-Lah) juga menjadi sumber pemikiran tentang keadilan? Cara berfikir induktif seperti itu memang memuaskan bagi mereka yang biasa berpikir sederhana tentang kehidupan, dan cenderung menilai refleksi filosofis yang sangat kompleks dan rumit. Mengapakah kita harus sulit-sulit mencari pemikiran dengan kompleksitas sangat tinggi tentang keadilan? Bukankah lebih baik apa yang ada itu saja segera diwujudkan dalam kenyataan hidup kaum Muslimin secara tuntas? Bukankah refleksi yang lebih jauh hanya akan menimbulkan kesulitan belaka? "Kecenderungan praktis" tersebut, memang sudah kuat terasa dalam wawasan teologis kaum skolastik (mutakallimin) Muslim sejak delapan abad terakhir ini. Argumentasi seperti itu memang tampak menarik sepintas lalu. Dalam kecenderungan segera melihat hasil penerapan wawasan Islam tentang keadilan dalam hidup nyata. Apalagi dewasa ini justru bangsa-bangsa Muslim sedang dilanda masalah ketidakadilan dalam ukuran sangat massif. Demikian juga, persaingan ketat antara Islam sebagai sebuah paham tentang kehidupan, terlepas dari hakikatnya sebagai ideologi atau bukan, dan paham-paham besar lain di dunia ini, terutama ideologi-ideologi besar seperti Sosialisme, Komunisme, Nasionalisme dan Liberalisme. Namun, sebenarnya kecenderungan serba praktis seperti itu adalah sebuah pelarian yang tidak akan menyelesaikan masalah. Reduksi sebuah kerumitan menjadi masalah yang disederhanakan, justru akan menambah parah keadaan. Kaum Muslim akan semakin menjauhi keharusan mencari pemecahan yang hakiki dan berdayaguna penuh untuk jangka panjang, dan merasa puas dengan "pemecahan" sementara yang tidak akan berdayaguna efektif dalam jangka panjang. Ketika Marxisme dihadapkan kepada masalah penjagaan hak-hak perolehan warga masyarakat, dan dihadapkan demikian kuatnya wewenang masyarakat untuk memiliki alat-alat produksi, pembahasan masalah itu oleh pemikir Komunis diabaikan, dengan menekankan slogan "demokrasi sosial" sebagai pemecahan praktis yang menyederhanakan masalah. Memang berdayaguna besar dalam jangka pendek, terbukti dengan kemauan mendirikan negara-negara Komunis dalam kurun waktu enam dasawarsa terakhir ini. Namun, "pemecahan masalah" seperti itu ternyata

membawa hasil buruk, terbukti dengan "di bongkar pasangnya" Komunisme dewasa ini oleh para pemimpin mereka sendiri di mana-mana. Rendahnya produktivitas individual sebagai akibat langsung dari hilangnya kebebasan individual warga masyarakat yang sudah berwatak kronis, akhirnya memaksa parta-partai Komunis untuk melakukan perombakan total seperti diakibatkan oleh perestroika dan glasnost di Uni Soviet beberapa waktu lalu. Tilikan atas pengalaman orang lain itu mengharuskan kita untuk juga meninjau masalah keadilan dalam pandangan Islam secara lebih cermat dan mendasar. Kalaupun ada persoalan, bahkan yang paling rumit sekalipun, haruslah diangkat ke permukaan dan selanjutnya dijadikan bahan kajian mendalam untuk pengembangan wawasan kemasyarakatan Islam yang lebih relevan dengan perkembangan kehidupan umat manusia di masa-masa mendatang. Berbagai masalah dasar yang sama akan dihadapi juga oleh paham yang dikembangkan Islam, juga akan dihadapkan kepada nasib yang sama dengan yang menentang Komunisme, jika tidak dari sekarang dirumuskan pengembangannya secara baik dan tuntas, bukankah hanya melalui jalan pintas belaka. Pembahasan berikut akan mencoba mengenal (itemize) beberapa aspek yang harus dijawab oleh Islam tentang wawasan keadilan sebagaimana tertuang dalam al-Qur'an. Pertama-tama akan dicoba untuk mengenal wawasan yang ada, kemudian dicoba pula untuk menghadapkannya kepada keadaan dan kebutuhan nyata yang sedang dihadapi umat manusia. Jika dengan cara ini lalu menjadi jelas hal-hal pokok dan sosok kasar dari apa yang harus dilakukan selanjutnya, tercapailah sudah apa yang dikandung dalam hati. PENGERTIAN KEADILAN Al-Qur'an menggunakan pengertian yang berbeda-beda bagi kata atau istilah yang bersangkut-paut dengan keadilan. Bahkan kata yang digunakan untuk menampilkan sisi atau wawasan keadilan juga tidak selalu berasal dari akar kata 'adl. Kata-kata sinonim seperti qisth, hukm dan sebagainya digunakan oleh al-Qur'an dalam pengertian keadilan. Sedangkan kata 'adl dalam berbagai bentuk konjugatifnya bisa saja kehilangan kaitannya yang langsung dengan sisi keadilan itu (ta'dilu, dalam arti mempersekutukan Tuhan dan 'adl dalam arti tebusan). Kalau dikatagorikan, ada beberapa pengertian yang berkaitan dengan keadilan dalam al-Qur'an dari akar kata 'adl itu, yaitu sesuatu yang benar, sikap yang tidak memihak, penjagaan hak-hak seseorang dan cara yang tepat dalam mengambil keputusan ("Hendaknya kalian menghukumi atau mengambil keputusan atas dasar keadilan"). Secara keseluruhan, pengertian-pengertian di atas terkait langsung dengan sisi keadilan, yaitu sebagai penjabaran bentuk-bentuk keadilan dalam kehidupan. Dari terkaitnya beberapa pengertian kata 'adl dengan wawasan atau sisi keadilan secara langsung itu saja, sudah tampak dengan jelas betapa porsi "warna keadilan" mendapat tempat dalam al-Qur'an, sehingga dapat dimengerti sikap kelompok Mu'tazilah dan Syi'ah untuk menempatkan keadilan ('adalah) sebagai salah satu dari lima prinsip utama al-Mabdi al-Khamsah.) dalam keyakinan atau akidah mereka. Kesimpulan di atas juga diperkuat dengan pengertian dan dorongan al-Qur'an agar manusia memenuhi janji, tugas dan amanat yang dipikulnya, melindungi yang menderita, lemah dan

kekurangan, merasakan solidaritas secara konkrit dengan sesama warga masyarakat, jujur dalam bersikap, dan seterusnya. Hal-hal yang ditentukan sebagai capaian yang harus diraih kaum Muslim itu menunjukkan orientasi yang sangat kuat akar keadilan dalam al-Qur'an. Demikian pula, wawasan keadilan itu tidak hanya dibatasi hanya pada lingkup mikro dari kehidupan warga masyarakat secara perorangan, melainkan juga lingkup makro kehidupan masyarakat itu sendiri. Sikap adil tidak hanya dituntut bagi kaum Muslim saja tetapi juga mereka yang beragama lain. Itupun tidak hanya dibatasi sikap adil dalam urusan-urusan mereka belaka, melainkan juga dalam kebebasan mereka untuk mempertahankan keyakinan dan melaksanakan ajaran agama masing-masing. Yang cukup menarik adalah dituangkannya kaitan langsung antara wawasan atau sisi keadilan oleh al-Qur'an dengan upaya peningkatan kesejahteraan dan peningkatan taraf hidup warga masyarakat, terutama mereka yang menderita dan lemah posisinya dalam percaturan masyarakat, seperti yatim-piatu, kaum muskin, janda, wanita hamil atau yang baru saja mengalami perceraian. Juga sanak keluarga (dzawil qurba) yang memerlukan pertolongan sebagai pengejawantahan keadilan. Orientasi sekian banyak "wajah keadilan" dalam wujud konkrit itu ada yang berwatak karikatif maupun yang mengacu kepada transformasi sosial, dan dengan demikian sedikit banyak berwatak straktural. Fase terpenting dari wawasan keadilan yang dibawakan al-Qur'an itu adalah sifatnya sebagai perintah agama, bukan sekedar sebagai acuan etis atau dorongan moral belaka. Pelaksanaannya merupakan pemenuhan kewajiban agama, dan dengan demikian akan diperhitungkan dalam amal perbuatan seorang Muslim di hari perhitungan (yaum al-hisab) kelak. Dengan demikian, wawasan keadilan dalam al-Qur'an mudah sekali diterima sebagai sesuatu yang ideologis, sebagaimana terbukti dari revolusi yang dibawakan Ayatullah Khomeini di Iran. Sudah tentu dengan segenap bahaya-bahaya yang ditimbulkannya, karena ternyata dalam sejarah, keadilan ideologis cenderung membuahkan tirani yang mengingkari keadilan itu Sebab kenyataan penting juga harus dikemukakan dalam hal ini, bahwa sifat dasar wawasan keadilan yang dikembangkan al-Qur'an ternyata bercorak mekanistik, kurang bercorak reflektif. Ini mungkin karena "warna" dari bentuk konkrit wawasan keadilan itu adalah "warna" hukum agama, sesuatu yang katakanlah legal-formalistik. PERMASALAHAN Mengingat sifat dasar wawasan keadilan yang legal-formalistik dalam al-Qur'an itu, secara langsung kita dapat melihat adanya dua buah persoalan utama yaitu keterbatasan visi yang dimiliki wawasan keadilan itu sendiri, dan bentuk penuangannya yang terasa "sangat berbalasan" (talionis, kompensatoris). Keterbatasan visi itu tampak dari kenyataan, bahwa kalau suatu bentuk tindakan telah dilakukan, terpenuhilah sudah kewajiban berbuat adil, walaupun dalam sisi-sisi yang lain justru wawasan keadilan itu dilanggar. Dapat dikemukakan sebagai contoh, umpamanya, seorang suami telah "bertindak adil" jika "berbuat adil" dengan menjaga ketepatan bagian menggilir dan memberikan nafkah antara dua orang isteri, tanpa mempersoalkan apakah memiliki dua orang isteri itu sendiri adalah sebuah tindakan yang adil. Dengan demikian, pemenuhan tuntutan

keadilan yang seharusnya berwajah utuh, lalu menjadi sangat parsial dan tergantung kepada pelaksanaan di satu sisinya belaka. Warna kompensatoris dari wawasan keadilan yang dibawakan al-Qur'an itu juga terlihat dalam sederhananya perumusan apa yang dinamakan keadilan itu sendiri. Wanita yang diceraikan dalam keadaan hamil berhak memperoleh santunan hingga ia melahirkan anak yang dikandungnya, cukup dengan jumlah tertentu berupa uang atau bahan makanan. Sangat terasa watak berbalasan dari "pemenuhan keadilan" yang berbentuk seperti ini, karena ada "pertukaran jasa" antara mengandung anak (bagi suami) dan memberikan santunan material (bagi isteri). Dari pengamatan akan kedua hal di atas lalu menjadi jelas, bahwa permasalahan utama bagi wawasan keadilan dalam pandangan al-Qur'an itu masih memerlukan pengembangan lebih jauh, apalagi jika dikaitkan dengan perkembangan wawasa keadilan dalam kehidupan itu sendiri. Sampai sejauh manakah dapat dikembangkan wawasan demokrasi yang utuh bila dipandang dari sudut wawasan keadilan yang dimiliki al-Qur'an itu? Dapatkah kepada kelompok demokrasi yang utuh bila dipandang dari sudut wawasan keadilan yang dimiliki al-Qur'an itu? Dapatkah kepada kelompok minoritas agama diberikan hak yang sama untuk memegang tampuk kekuasaan? Dapatkah wawasan keadilan itu menampung kebutuhan akan persamaan derajat agama dikesampingkan oleh kebutuhan akan hukum yang mencerminkan kebutuhan akan persamaan perlakuan hukum secara mutlak bagi semua warga negara tanpa melihat asal-usul agama, etnis, bahasa dan budayanya? Dapatkah dikembangkan sikap untuk membatasi hak milik pribadi demi meratakan pemilikan sarana produksi dan konsumsi guna tegaknya demokrasi ekonomi? Deretan pertanyaan fundamental, yang jawaban-jawabannya akan menentukan mampukah atau tidak wawasan keadilan yang terkandung dalam al-Qur'an memenuhi kebutuhan sebuah masyarakat modern di masa datang. Diperlukan kajian-kajian lebih lanjut tentang peta permasalahan seperti dikemukakan di atas, namun jelas sekali bahwa visi keadilan yang ada dalam al-Qur'an dewasa ini harus direntang sedemikian jauh, kalau diinginkan relevansi berjangka panjang dari wawasan itu sendiri. Jelas, masalahnya lalu menjadi rumit dan memerlukan refleksi filosofis, di samping kejujuran intelektual yang tinggi untuk merampungkannya secara kolektif. Masalahnya, masih punyakah umat Islam kejujuran intelektual seperti itu, atau memang sudah tercebur semuanya dalam pelarian sloganistik dan "kerangka operasionalisasi" serba terbatas, sebagai pelarian yang manis? -------------------------------------------Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah Editor: Budhy Munawar-Rachman Penerbit Yayasan Paramadina Jln. Metro Pondok Indah Pondok Indah Plaza I Kav. UA 20-21 Jakarta Selatan Telp. (021) 7501969, 7501983, 7507173 Fax. (021) 7507174 Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan

ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota
Please direct any suggestion to Media Team

Artikel Yayasan Paramadina
Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota I.1. PERSOALAN PENAFSIRAN METAFORIS ATAS FAKTA-FAKTA TEKSTUAL oleh M. Quraish Shihab (1/2) Dalam kamus linguistik, "metafora" (metaphor) berarti pemakaian suatu kata atau ungkapan untuk suatu obyek atau konsep, berdasarkan kias atau persamaan." (1) Itu berarti suatu kosakata atau susunan kata yang pada mulanya digunakan untuk makna tertentu (secara literal atau harfiah) dialihkan kepada makna lain. Dalam disiplin ilmu al-Qur'an pengalihan arti itu disebut ta'wil, atau oleh ulama-ulama sesudah abad ke 3 H., diartikan sebagai "mengalihkan arti suatu kata atau kalimat dari makna asalnya yang hakiki ke makna lain berdasarkan indikator-indikator atau argumentasi-argumentasi yang menyertainya." (2) Salah satu cabang disiplin ilmu bahasa Arab yaitu ilmu al-bayan menggunakan istilah majaz untuk maksud di atas. Tak dapat disangkal, setiap bahasa mengenal kata atau ungkapan yang bersifat metaforis, termasuk bahasa yang digunakan al-Qur'an. Tapi bagaimana dengan al-Qur'an yang redaksi-redaksinya merupakan susunan Ilahi? Apakah mengenal pula metafora? Al-Qur'an menegaskan, Ia turun dalam bahasa Arab. Kosakata yang digunakan umumnya digunakan pula oleh masyarakat Arab pada masa turunnya, tapi gaya susunannya yang bukan prosa dan bukan pula puisi, serta keindahan nada yang dihasilkannya menjadikan pakar-pakar bahasa Arab ketika itu mengakui, mereka tak mampu menyusun semacam redaksi ayat-ayatnya. Hal ini memberi petunjuk atau kesan bahasa al-Qur'an berbeda dengan bahasa yang digunakan ketika itu. Tapi di sisi lain, para ahli dalam rangka memahami al-Qur'an menelusuri dan mempelajari penggunaan kosakata dan ungkapan-ungkapan yang digunakan khususnya oleh suku-suku Qais, Tamim dan Asad karena mereka dinilai masih bertahan dengan bahasa Arab asli. Mereka oleh pakar-pakar budaya dan bahasa dinilai belum atau tak tersentuh oleh akulturasi budaya atau bahasa. Berbeda dengan suku-suku Arab lain nya yang bertetangga dengan daerah-daerah yang tak berbahasa Arab ketika itu seperti, Lakhem dan Juzaam yang bertetangga dengan penduduk Coptik di Mesir atau Gassaan dan Qudha'ah yang bertetangga dengan penduduk Syam yang berbahasa Ibrani. Atau suku Abdi al-qais dan Azad, penduduk Bahrain (Emirat Arab) yang bergaul dengan orang-orang India dan Persia. Bahkan para pakar bahasa tersebut --tak merujuk dalam rangka memahami kosakata atau ungkapan-ungkapan al-Qur'an-- pada penduduk kota-kota Hijaz sekali pun, karena mereka menilai bahwa pergaulan mereka relatif luas sehingga mengakibatkan bahasa mereka tak "asli" lagi. Isi yang dikemukakan di atas, menjadi bukti bahwa pemahaman

al-Qur'an tak terlepas dari pemahaman kosakata atau ungkapan yang digunakan orang-orang Arab pada masa turunnya; dan apabila terbukti mereka menggunakan metafora dalam percakapan mereka maka tentunya dalam al-Qur'an hal yang demikian pasti ditemukan, karena ia diturunkan dengan bahasa Arab, agar dapat mereka pahami (QS. Fushshilat: 3). Penelitian-penelitian yang dilakukan pakar-pakar bahasa, seringkali menimbulkan perbedaan-perbedaan di antara mereka, khususnya ulama-ulama Kufah versus ulama-ulama Bashrah. Ini berarti sebagian hasil-hasil yang mereka peroleh belum mendapat kesepakatan semua pihak, yang berakibat membawa sebagian ulama pada sikap hati-hati dalam menolak pemahaman metaforis bagi teks-teks keagamaan. Paling tidak, jika tak memahaminya secara literal, mereka menyerahkan pengertian sekian banyak kosakata atau ungkapan al-Qur'an kepada Allah swt. Sikap semacam ini tentunya tak memuaskan banyak pihak dan dari hari ke hari pembahasan masalah-masalah metaforis dalam teks-teks keagamaan tumbuh dengan pesatnya. Agaknya al-Jahiz (w. 255 H/868 M) merupakan tokoh pertama yang menghasilkan pemikiran-pemikiran jernih menyangkut masalah tersebut. Walaupun harus diakni bahwa kitab tafsir pertama, karya Abu Ubaidah Mu'ammar bin Al-Mustana (w. 209 H) bernama Majazat al-Qur'an. Namun nama ini tak berkaitan dengan pengertian majaz atau metafora yang dimaksud di sini. Tokoh al-Mahiz adalah seorang penganut aliran rasional dalam bidang teologi (Mu'tazilah) dan dengan penafsiran-penafsirannya ia telah mampu menyelesaikan sekian banyak problema pemahaman keagamaan yang tadinya dihadapi sekian banyak ulama. Imam Malik (w. 795 M) misalnya, enggan membenarkan redaksi "langit menurunkan hujan," karena berkeyakinan bahwa yang menurunkan hujan adalah Allah swt. (3) Demikian juga ketika beliau ditanya tentang pengertian Firman Allah dalam QS. Thaha: 5, "Tuhan yang maha pemurah bersemayam di atas Arasy." Malik menjawab: Pertanyaan semacam ini merupakan bid'ah" (tercela dalam pandangan agama). Bahkan sebagaimana ditulis al-Jahiz dalam bukunya al-Hayawan (4) ada orang-orang yang menduga bahwa batu merupakan makhluk berakal, berdasarkan Firman Allah dalam QS. al-Baqarah: 74 "... dan diantaranya (diantara batu) sungguh ada yang meluncur karena takut kepada Allah ...," sebagaimana ada yang menduga bahwa ada nabi-nabi untuk lebah-lebah berdasarkan QS. al-Nahl: 68, "Dan Tuhanmu mewahyukan kepada lebah." Kemudian mereka berpaham demikian merangkai hikayat-hikayat yang tak mempunyai dasar sedikitpun. Al-Jahiz yang sangat rasional dan ahli dalam bidang kebahasaan itu membantah pendapat-pendapat semacam itu dengan menunjuk pada penggunaan kosakata atau ungkapan yang sama dan yang pernah digunakan orang-orang Arab menjelang dan pada masa turunnya al-Qur'an. Ibnu Qutaibah (w. 276 H/889 M), murid al-Jahid walau pun bukan penganut aliran Muitazilah bahkan dinilai sebagai "juru bicara Ahl-u'l-Sunnah" (5) melanjutkan dan mengembangkan usaha-usaha gurunya dalam memahami teks-teks keagamaan dengan berbagai

motif yang berkembang dengan sangat pesat; dan tentu menggunakan segala cara dan argumentasi, baik logika maupun kebahasaan. Mereka yang menolak pemahaman metaforis dalam teks-teks keagamaan, paling tidak menggunakan dua argumentasi berikut, pertama, Metafora sama dengan kebohongan, sedangkan al-Qur'an adalah firman-firman Allah yang suci dari hal tertentu. Kedua, Seorang pembicara tak menggunakan metafora kecuali jika ia tak mampu menemukan kosakata atau ungkapan yang bersifat hakiki, dan tentunya harus diyakini bahwa Allah maha mampu atas segala sesuatu. Kedua argumentasi di atas jelas sekali kekeliruannya, sehingga berbagai ahli menolaknya. Ibnu Qutaibah menolak dengan menyatakan, "Seandainya metafora atau majaz dinilai kebohongan, maka alangkah banyaknya ucapan-ucapan kita merupakan kebohongan." (6) Al-Sayuthi (w. 911 H/1505 M) menulis dalam bukunya al-Itqan, "Metafora adalah unsur keindahan bahasa dan jika ia ditolak keberadaannya dalam al-Qur'an, maka tentunya sebahagian unsur keindahan pun tak akan ada padanya." (7) Sebagaimana telah dikemukakan pada awal uraian metafora dalam istilah ilmu bahasa Arab dinamai majaz, atau dalam istilah ilmu-ilmu al-Qur'an disebut ta'wil. Majaz menurut kaidah kebahasaan dapat dilakukan akibat adanya satu dari dua hal berikut, pertama, terdapat persamaan antara makna yang dikandung kosakata atau ungkapan dalam arti literalnya dengan makna yang dikandung oleh pengertian metaforis yang ditetapkan. Kedua, adanya perkaitan atau hubungan antara dua hal dalam ungkapan, sehingga mengakibatkan terjadinya penisbahan satu kalimat kepada sesuatu yang seharusnya bukan kepadanya. Ia dinisbahkan, misalnya "langit menurunkan hujan." Di sini terdapat perkaitan antara langit dan hujan, karena langit atau awan adalah sumber kedatangannya dan dengan demikian kepadanya ia dinisbahkan. Disepakati oleh mereka yang berpendapat adanya metafora, bahwa dibutuhkan dukungan petunjuk atau argumen guna mengalihkan satu makna hakiki ke makna metaforis. Tanpa adanya petunjuk maka penta'wilan tak dapat dilakukan. Tapi bagaimana bentuk petunjuk atau argumen tersebut, diperselisihkan mereka. Pertama, Kelompok yang dikenal dengan "al-Dhahiriyah" yaitu pengikut-pengikut Daud al-Dhahiri (w. 270 H) tak membenarkan adanya penta'wilan atau pengertian metaforis dalam teks-teks keagamaan, kecuali bila pengertian yang ditetapkan itu telah populer di kalangan orang-orang Arab pada masa turunnya al-Qur'an, serta terdapat petunjuk yang jelas yang mendukung pengalihan makna atau penta'wilan tersebut. (8) Ibnu Hazem (w. 456 H/1064 M) menegaskan,"Selama arti yang dipilih bagi satu kosakata atau ungkapan telah dikenal di kalangan sahabat dan Tabi'in dan sejalan pula dengan bahasaArab klasik, maka arti tersebut harus diterima baik dalam pengertian majaz, maupun hakiki." (9) Hanya perlu dicatat, satu kosakata atau ungkapan, tak dialihkan ke makna metaforis kecuali setelah makna hakiki tak dapat digunakan. Kedua, al-Syathibi penta'wilan ayat-ayat mengemukakan dua syarat al-Qur'an" (10) Pertama, pokok makna bagi yang

dipilih sesuai dengan hakikat kebenaran yang diakui oleh mereka yang memiliki otoritas dalam bidangnya. Tidak tepat kata al-Syathibi, memahami kata khalila dalam QS. al-Nisa' 125: Allah menjadikan Ibrahim khalila sebagai seorang "fakir" karena pengertian tersebut bertentangan dengan nash al-Qur'an yang lain, yaitu bahwa "ia (Ibrahim) menjamu tamunya dengan daging anak sapi yang dipanggang" (QS. Hud:69), yang menunjukkan beliau bukan seorang fakir; di samping bahwa kenyatann sejarah membuktikan bahwa Ibrahim as. bukan seorang fakir. Kedua, arti yang dipilih tersebut telah dikenal oleh bahasa-bahasa Arab klasik. Dalam syarat ini terbaca bahwa syarat "popularitas" artinya kosakata tak disinggung lagi, bahkan lebih jauh al-Syathibi menegaskan bahwa satu kosakata yang bersifat ambigu atau musytarak (mempunyai lebih dari satu makna), maka kesemua maknanya dapat digunakan bagi pengertian teks tersebut selama tak bertentangan satu dengan lainnya. Contoh kata "hidup" dan "mati." Al-Qur'an menggunakan kata "hidup" dalam arti berpisahnya Ruh dari badan dan juga dalam arti "kosongnya jiwa dari nilai-nilai agama." Firman Allah dalam QS. al-Rum 19, "Dia Allah mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup" dapat diartikan dengan salah satu atau dengan kedua arti tersebut di atas, demikian pula sebaliknya kata mati. Dalam hal ini tentunya kita tak dapat menyalahkan mereka yang memahami Firman Allah dalam QS. al-Baqarah 243, "Apakah kamu tak mengetahui orang-orang yang keluar dari kampung halaman mereka yang jumlah mereka beribu-ribu (keluar) karena takut mati, maka Allah berfirman kepada mereka 'matilah kamu,' kemudian Allah menghidupkan mereka, sesungguhnya Allah mempunyai karunia terhadap manusia tetapi kebanyakan manusia tak bersyukur." -------------------------------------------Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah Editor: Budhy Munawar-Rachman Penerbit Yayasan Paramadina Jln. Metro Pondok Indah Pondok Indah Plaza I Kav. UA 20-21 Jakarta Selatan Telp. (021) 7501969, 7501983, 7507173 Fax. (021) 7507174 (bersambung 2/2)

Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang YayasanISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota
Please direct any suggestion to Media Team

Artikel Yayasan Paramadina
Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota I.1. PERSOALAN PENAFSIRAN METAFORIS ATAS FAKTA-FAKTA TEKSTUAL oleh M. Quraish Shihab (2/2) Kita tak mempermasalahkan walaupun seandainya kita tak

adalah pertanda kesiapan bumi untuk menyambut satu makhluk yang dapat mengolahnya sehingga tercapai kesempurnaan hidup di dunia. Pemaparan pertanyaan kepada malaikat dan ketakmampuan mereka menjawab. Demikian pula halnya dengan manusia dan binatang. difahaminya atas dasar tamsil. (11) sehingga tak ada dialog sebagaimana tersurat. Yang demikian itu menurut Abduh dinamai. seperti menumbuhkan tumbuh-tumbuhan memelihara manusia dan sebagainya. maka yang digunakan adalah riwayat-riwayat yang sangat lemah atau dibuat-buat. dalam istilah agama dengan "malaikat. Satu hal yang pasti. menandakan kelemahan manusia dan ketakmampuannya menghilangkan bisikan-bisikan negatif yang mengantar kepada perselisihan. adalah isyarat yang lebih jelas dari satu redaksi tentang satu ciri tertentu bahwa pertumbuhan dalam tumbuh-tumbuhan terjadi tak lain kecuali dengan adanya Ruh yang dihembuskan Allah Swt ke dalam benihnya. hal tersebut mereka namakan natural power karena mereka tak mengenal dalam kehidupan ini kecuali apa yang tampak dan atau yang tampak bekasnya dalam alam nyata. 1906 M) dinilai sebagai salah seorang tokoh penganut aliran ini. demikian pula sebaliknya hal tersebut tak diingkari oleh seseorang yang ." Hal ini menurut Abduh. Pertanyaan malaikat kepada Tuhan tentang khalifah yang dapat merusak dan menumpahkan darah. Abduh ketika menguraikan tentang "malaikat. Ayat-ayat yang menguraikan kisah kejadian Adam as. menunjukkan kemampuan manusia memanfaatkan hukum-hukum alam. bahwa hakikat setiap ciptaan terdapat sesuatu yang menjadi sumber ketergantungannya serta sistem wujudnya. Keengganan Iblis sujud. adalah gambaran tentang potensi manusia mengetahui serta mengolah dan mengambil manfaat segala yang terdapat di bumi ini. pada surah al-Baqarah 30 dan seterusnya. Sujudnya Malaikat kepada Adam. Pengajaran Tuhan kepada Adam tentang nama benda-benda. menunjukkan keterbatasan hukum-hukum alam. dipahami Abduh sebagai gambaran tentang potensi dalam diri manusia untuk melakukan kejahatan.sependapat dengan orang-orang yang memahami kata "matilah kamu" dan "Allah menghidupkan mereka" dalam pengertian "kematian semangat jihad mereka" kemudian "kehidupan" semangat jihad tersebut sehingga kembali ke kampung halaman mereka untuk mengusir orang yang selama itu menganiaya mereka. agresi dan permusuhan di muka bumi ini. adalah bahwa "malaikat merupakan makhluk-makhluk Allah yang bertugas dalam pekerjaan-pekerjaan tertentu. kata Abduh selanjutnya. Pertama. sehingga dengan demikian terjadilah kehidupan bagi tumbuhan tersebut. Mereka juga dinilai sangat memperluas penggunaan metafora dengan menggunakan pemahaman tamsil atau perumpamaan bagi ayat-ayat al-Qur'an. bahwa malaikat merupakan makhluk ghaib yang tak dapat diketahui hakikatnya namun harus dipercaya wujudnya. Muhammad Abduh (w. Ketiga. tetapi penyampaian Tuhan kepada malaikat tentang rencana-Nya menciptakan khalifah di bumi. perpecahan. Sementara penganut-penganut aliran Rasional dinilai sementara ahli melakukan ta'wil dengan menitik beratkan tolok ukurnya pada akal mereka dan kalau pun menggunakan argumentasi kebahasaan." Selanjutnya Abduh menulis. Sedang pendapat yang kedua. Hal ini tak dapat diingkari siapa pun yang berakal walau pun mereka tak beriman atau mengingkari bahwa hal tersebut dinamai malaikat. "Bagi mereka yang tak mengindahkan penamaan yang ditetapkan agama." mengemukakan dua pendapat.

Menggunakan akal sebagai tolok ukur satu-satunya dalam memahami teks-teks keagamaan khususnya tentang peristiwa-peristiwa alam. atau membanding-bandingkan pikiran dan kehendaknya yang mempunyai dua sisi baik dan buruk. dapat mengantar pada pengingkaran hal-hal yang bersifat supra-rasional. dengan jalan pandangan yang diarahkan Daud kepada keajaiban tersebut berfungsi mengingatkan sebagaimana seseorang mengingatkan yang lain. bahwa dalam batinnya terjadi pergolakan." Demikian antara lain penta'wilan yang dilakukan Muhammad Abduh. sejarah kemanusiaan dan hal-hal ghaib berarti menggunakan sesuatu yang terbatas terhadap perbuatan-perbuatan Tuhan (zat yang tak terbatas itu)." demikian halnya sehingga pada akhirnya menanglah salah satu pilihan. tak mustahil dinamai Allah atau dinamai penyebab hal tersebut sebagai "malaikat. dirasakan oleh mereka yang mengamati dirinya." Al-Maraghi menulis bahwa pengertian ayat tersebut adalah bahwa "gunung mengantar Daud bertasbih mensucikan Allah. Karena kalau hal tersebut harus dipaksakan maka tak jarang ditemukan pemahaman-pemahaman yang tak hanya bertentangan dengan kaidah-kaidah kebahasaan tetapi juga bertentangan dengan hakikat keagamaan." (12) Pendapat di atas dinilai sementara ulama tak sejalan dengan teks ayat di mana yang diperintahkan adalah gunung-gunung. namun hal ini bila diturutkan tanpa batas yang jelas. yang kemudian diikuti oleh tak sedikit dari ulama-ulama sesudah masa beliau. (Kami berfirman) Hai gunung-gunung bertasbihlah berulang-ulang bersama Daud. maka redaksi tersebut tak harus dita'wilkan lagi dengan memaksakan suatu penafsiran yang dianggap logis sehingga dipahami akal. sebagaimana ditemukan kemudian dalam perkembangan pemikiran selanjutnya. bukannya Daud. walaupun belum dipahaminya. sedang terdapat ayat yang lain yang menegaskan bahwa: "Langit yang tujuh. Kita dapat memahami motivasi Muhammad Abduh dan penganut-penganut alirannya dalam menggunakan akal seluas-luasnya ketika memahami teks-teks keagamaan sehingga merasionalkan ajaran-ajaran agama sambil mempersempit sedapat mungkin wilayah ghaib. Ahmad Musthafa al-Maraghi salah seorang penganut aliran Abduh menulis dalam tafsirnya menyangkut ayat 10 surah Saba'. Tidak demikian! Apa yang dikemukakan di atas hanya berarti bahwa bila suatu redaksi sudah cukup jelas serta penafsirannya tak bertentangan dengan akal. penamaan tersebut dengan Muhammad Abduh menambahkan.beriman walaupun ia mengingkari "natural power" atau hukum alam. yang ini berkata "Kerjakanlah" dan yang itu "Jangan. Tapi tentunya ini bukan pula berarti kita menerima begitu saja penafsiran-penafsiran yang tak logis. Dan yang lebih penting lagi bahwa Mufassir al-Maraghi telah berusaha memahami hakikat tasbih gunung. seakan-akan apa yang terlintas dalam pikirannya itu sedang diajukan ke suatu sidang Majelis Permusyawaratan yang ini menerima dan yang itu menolak. bumi dan semua yang ada di dalammya bertasbih . Proses demikian yang terdapat dalam jiwa setiap manusia. "Dan sesungguhnya Kami telah anugerahkan kepada Daud karunia dari Kami.

Muhammad Husen al-Zahaby." QS. Dr. CATATAN 1. Al-Halaby. sebagaimana dipahami oleh Mustafa Mahmud. 18. Kosakata "pohon" dita'wilkan atau dipahami secara metaforis tanpa ada argumentasi pendukung. Jilid 1. Redaksi Firman Allah sebelum mereka mendekati pohon tersebut adalah dalam bentuk dual ("Janganlah kamu berdua mendekati pohon ini. sebahagian kamu menjadi musuh bagi yang lain" (Q. Contoh yang dikemukakan di atas menunjukkan betapa pemahaman ayat-ayat al-Qur'an. apalagi penta'wilan ayat-ayatnya. Harimurti Kridalaksana.kepada Allah dan tak sesuatu pun melainkan bertasbih memujiNya. Mustafa Mahmud. Perasaan malu akibat terlihatnya alat kelamin hanya dialami oleh mereka yang telah mengadakan hubungan sexual. Kedua. juga penguasaan bahasa Arab. 3. tetapi setelah mereka mendekatinya (memakan buah terlarang) redaksi ayat berbentuk plural atau jama' "Turunlah kamu. h. 2. dan anehnya "daun-daun surga" difahami secara hakiki. Syarid Al-Radhy. di samping nalar. (13) Apa yang dikemukakan di atas hemat kita bertentangan dengan teks ayat-ayat al-Qur'an serta kaidah-kaidah kebahasaan. Kamus linguistik. Muhammad . Dar al-Kutub al-Haditsah. Cairo. (medis) Mustafa Mahmud memahami larangan Tuhan pada Adam dan Hawa "mendekati pohon" sebagai larangan mengadakan "hubungan sexual. al-Baqarah: 35). Hal ini menunjukkan bahwa ketika itu mereka yang tadinya hanya berdua (Adam dan Hawa) kini telah menjadi lebih dari dua orang dengan adanya janin yang dikandung oleh Hawa setelah hubungan sex tersebut." Bukti yang dijadikan dasar pertimbangannya adalah. ayat al-Qur'an menggambarkan bahwa keadaan tanpa busana terjadi setelah atau akibat dari memakan buah pohon terlarang bukan sebelumnya. walau sekedar menyebutnya. h. Terbukti bahwa anak kecil tak merasakan hal tersebut. Jika apa yang digambarkan tentang pendapat al-Maragi di atas tak disetujui.S. Talkhis al-Bayan. al-Tafsir Wa 'l-Mufassirun. 1955. Jakarta 1983. tapi kamu sekalian tak mengetahui (hakikat) tasbih mereka. berbeda dengan orang dewasa yang merasa malu. tak sebagaimana dipahami oleh dr. ketika itu mereka merasa malu. Kedua. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penyantun lagi Maha Pengampun" (QS. 1963. h. al-Isra' 44). 106. tetap harus diakni bahwa pendapat tersebut dari sisi kebahasaan memiliki alasan-alasannya. Mesir. Gramedia. karena itu wanita hamil akan tetap diperlakukan oleh bahasa sebagai wujud tunggal. diedit oleh Abdulghani Hasan. Pertama. membutuhkan. Pertama. al-Baqarah: 36). Penta'wilan yang parah adalah yang semata-mata mengandalkan penalaran akal seseorang dengan mengabaikan pertimbanganpertimbangan kebahasaan. Ketika mereka (Adam dan Hawa) telah memakan (buah) pohon tersebut (mengadakan hubungan sex) mereka tanpa busana dan berusaha menutupi auratnya dengan daun-daun surga. 11. Ketiga. Di sisi lain bahasa Arab tak menganggap wujud janin sebagai wujud yang penuh.

Op. al-Itqan. MASALAH TA'WIL SEBAGAI METODOLOGI PENAFSIRAN AL. Lihat Abu Ishaq al-Syathiby. Cit. h. h. Jilid. tp. hl. h. hal. Lihat al-Jahiz dalam al-Hayawan. inward meaning) yang dikandungnya. Cairo. diedit oleh Abdullah Darraz. Abu Zahrah. Tentang pendapat-pendapat Abduh lihat lebih jauh Muhammad Rasyid Ridha dalam Tafsir al-Manar. Al-Azhar. 1971. 64. sendiri. Cairo 1964 M. sehingga yang diperlihatkan bukanlah makna lahiriyah kata-kata pada teks sumber suci itu. al-Muwafaqat.. 1364 H. sebagaimana . h. Ahmad Musthafa al-Maraghy. 1971. Beirut. Jilid 1. 7507173 Fax. -------------------------------------------Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah Editor: Budhy Munawar-Rachman Penerbit Yayasan Paramadina Jln. Syarif AlRadhy. 12. Jilid 111. 1967. Cairo. 226. 92.261 dst. Majma' al-Buhuts. al-Halaby. 10. Ibnu Hazem Hayatuha Wa Ashruhu. 5. Cairo. 11. Cairo.4.2.. Dar al-Itisham. th. Metro Pondok Indah Pondok Indah Plaza I Kav. h. 8. UA 20-21 Jakarta Selatan Telp. 128. tapi pada "makna dalam" (bathin. Cairo. Jilid 11. Khathawat al-Tafsir Al-Bayany. Lihat lebih jauh Abdul Muta'al Muhammad al-Jabri. 36. ialah pemahaman atau pemberian pengertian atas fakta-fakta tekstual dari sumber-sumber suci (al-Qur'an dan al-Sunnah) sedemikian rupa. 13. 119 dst. Tafsir Al-Maraghy. 1318 H. Dar al-Ma'rifah. Percetakan al-Manar.QUR'AN oleh Nurcholish Madjid (1/2) Interpretasi metaforis atau ta'wil. 7501983. 6. (021) 7507174 Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota Please direct any suggestion to Media Team Artikel Yayasan Paramadina Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota I. 7. 56. 9. Syathahat Musthafa Mahmud. (021) 7501969. diedit oleh Abdussalam Harun. Metode pemahaman serupa itu (ta'wil) telah muncul sejak masa-masa dini sejarah Islam (jika tidak malah sejak masa Rasul Allah saw. Juz 22. h. Al Sayuthi. Dr. h. Cairo 1367 H. 99.II. Ibid. Dar Al-Fikr. Muhammad Rajab al-Bayyumy.

di kalangan kaum Muslim. Dalam abad telekomunikasi mondial yang serba cepat dan luas. misalnya kesadaran hampir tiba-tiba kaum Muslim Indonesia tentang adanya golongan Syi'ah dan berbagai alirannya. untuk kalangan kaum Muslim. dan mana pula yang mutasyabihat. dan ayat-ayat lain yang mutasyabihat. yang didalamnya terdapat ayat-ayat muhkamat yang merupakan induk Kitab Suci (Umm al-Kitab). semuanya dari sisi Tuhan kami. [1] Masalah muhkamat dan mutasyabihat itu setidak-tidaknya menimbulkan tiga jenis perbedaan pandangan: Pertama. Adanya kedua jenis ayat itu. disebutkan dalam Kitab Suci sendiri sebagai berikut: Dia (Tuhan) yang telah menurunkan kepada engkau (Muhammad) Kitab Suci. "Kami percaya kepada Kitab Suci itu. telah melahirkan sejenis kesadaran baru di kalangan umat Islam dunia. Karena perselisihan ini maka ada ayat-ayat suci yang bagi suatu kelompok umat Islam bersifat ." Dan tidaklah akan dapat merenung (menangkap pesan) kecuali orang-orang yang berpengertian mendalam. Maka salah satu manfaat yang menjadi tujuan tulisan ini ialah tumbuhnya keinsafan lebih besar tentang bibit-bibit perselisihan paham dalam Islam. kita berharap dapat menempatkan diri lebih baik dalam memandang berbagai aliran dan madzhab di kalangan umat sendiri. yang interpretable). seperti halnya dengan revolusi-revolusi lain). setiap pribadi orang modern mengalami bombardemen informasi yang seringkali menyangkut segi-segi kesadarannya yang mendalam. dengan tujuan membuat fitnah (perpecahan) dan mencari ta'wil bagian-bagian tersamar itu. kejadian di Iran pada penghujung dasawarsa lalu itu dalam suatu sentakan. Ada pun orang-orang yang dalam hatinya terdapat keserongan. antara lain karena revolusi mereka di Iran 1979. serta bagaimana seharusnya kita menempatkan diri dalam kancah perselisihan itu secara adil. Maka dengan menengok masalah ta'wil ini. Sikap dapat memahami persoalan berkenaan dengan perselisihan paham di kalangan umat itu semakin dirasa mendesak akhir-akhir ini. termasuk informasi tentang adanya berbagai kelompok dan aliran pemikiran yang beraneka ragam Terlintas dalam pikiran. untuk kemudian sikap yang sama itu sedapat mungkin kita bawa pada persoalan masyarakat secara keseluruhan. mereka akan mengikuti bagian-bagian yang tersamar (mutasyabihat) daripadanya. Sedangkan orang-orang yang mendalam ilmunya maka akan menyatakan. Lepas dari masalah revolusi itu sendiri (yang agaknya lebih baik dilihat sebagai gejala politik. AYAT-AYAT MUHKAMAT DAN MUTASYABIHAT Salah satu pokok perselisihan di kalangan umat Islam yang terkait erat dengan masalah ta'wil ini ialah adanya ayat-ayat suci al-Qur'an yang "bermakna jelas atau pasti" (muhkamat) dan yang "bermakna samar atau tidak pasti" (mutasyabihat. Padahal tidak mengetahui ta'wil-nya kecuali Allah. perbedaan pandangan tentang mana saja ayat-ayat suci yang muhkamat. yakni. Dari sekian banyak informasi itu. ialah yang berkenaan dengan keadaan umat Islam sendiri di seluruh dunia.dikatakan kalangan Islam tertentu). kemudian perpecahan. yaitu kesadaran tentang pluralitas Islam dan potensi yang ada di balik setiap golongan. Karena itu persoalan interpretasi metaforis ini mempunyai saham cukup besar dalam timbulnya perselisihan.

" Ketiga. al-'awam). Sebagian kelompok Islam membolehkannya." PANDANGAN PARA FILSUF Seperti dapat diduga. Karena interpretasi bukanlah pekerjaan yang gampang. masih terdapat perselisihan tentang siapa yang harus melakukan interpretasi itu. Firman-firman berkenaan dengan surga dan neraka. harus dilakukan interpretasi di balik ungkapan-ungkapan lahiriah. Mereka dengan kuat memandang. "marah. . Yang pertama adalah "kaum ahli. para filsuf adalah kalangan orang-orang Muslim yang paling banyak melakukan ta'wil. namun bagi kelompok lain bersifat mutasyabihat. Mereka yang tidak membenarkan interpretasi akan melihat firman-firman itu seperti adanya. sedangkan kenyataan tidaklah seperti yang dikesankan pengertian lahir firman-firman itu. padahal kata-kata atau sifat-sifat itu juga dapat diberlakukan kepada makhluk. Ini membawa konsekuensi terbaginya anggota masyarakat manusia kepada kelompok-kelompok khusus (khawas.'. Kedua. kata-kata berserikat). Termasuk dalam permasalahan ini ialah problema homonimi (Arab: ism musytarak. bagi kebanyakan kaum Muslim bersifat muhkamat. al-khawash) dan kelompok-kelompok umum (awam. bersifat mutasyabihat sehingga pelukisan tentang surga dan neraka itu mereka pahami sebagai metafor-metafor atau kias-kias. seperti kata-kata "mendengar. disebabkan kuatnya pengakuan sebagai para pencari hakikat dan kebenaran demonstratif (yang terbuktikan secara tak terbantah). antara lain pengetahuan yang luas dan kemampuan berpikir yang mendalam. seperti golongan al-Bathiniyyun ("Kaum Kebatinan" . yang menurut mereka hanya diperoleh melalui pemikiran kefilsafatan." "melihat. khususnya manusia." "mengetahui." "senang"' dan lain-lain yang dalam Kitab Suci disebutkan sebagai sifat-sifat Tuhan. berpendapat dalam memahami ayat-ayat itu kita harus berhenti pada makna-makna seperti yang dibawakan ungkapan lahiriah lafal dan kalimatnya. Sebagian lagi yang tidak membolehkannya. ungkapan-ungkapan kebahasaan dalam sumber-sumber ajaran agama. Untuk dapat menangkap arti sebenarnya dari ungkapan-ungkapan itu. maka sangat masuk akal bahwa hak untuk melakukannya harus dibatasi hanya pada lingkungan yang memenuhi syarat. yang tak mesti menunjuk pada hakikatnya. Maka pelukisan itu mengesankan bahwa Tuhan dan manusia "berserikat" dalam beberapa sifat dan kelengkapan.lihat pembahasan di bawah). bagi mereka yang membolehkan interpretasi. Mereka yang melakukan interpretasi (karena beranggapan bahwa Tuhan mustahil memiliki kualitas-kualitas yang sama dengan manusia) akan memandang ayat-ayat yang bersangkutan dengan itu sebagai metafor-metafor belaka. "tangan". misalnya. tapi bagi sebagian mereka.muhkamat. diperlukan disiplin dan latihan berpikir yang tinggi. sehingga dalam memahami ayat-ayat mutasyabihat itu. dengan memberi penegasan bahwa Tuhan memiliki kualitas-kualitas itu "tanpa bagaimana. dan ini menimbulkan problema." dan yang kedua terdiri dari "orang-orang kebanyakan. baik Kitab Suci maupun Sunnah Nabi adalah ungkapan-ungkapan metaforis atau alegoris. Jadi tidak dimaksudkan seperti apa adanya menurut arti lahiriah ungkapan-ungkapan itu. perbedaan pandangan tentang boleh atau tidaknya melakukan ta'wil terhadap ayat-ayat yang mutasyabihat itu.

Mereka ini berkata. [2] Jadi para filsuf dengan kata lain. Adanya bahaya ini (bahaya kekafiran. tak seharusnya mengikuti cara awam dalam memahami ajaran agama. AL-BATHINIYYUN (KAUM KEBATINAN) . menggunakan metode interpretasi metaforis terhadap teks-teks keagamaan. maka Ibn Rusyd berpendapat. maka kalangan khawas. karena bertujuan kebaikan. [5] Sehingga sering dikatakan. Jadi bagi Ibn Rusyd firman Tuhan itu harus dibaca kaum khawas sedemikian rupa sehingga "orang-orang yang mendalam ilmunya" termasuk ke dalam yang mengetahui ta'wil ayat-ayat mutasyabihat. yaitu pendidikan orang banyak atau kaum awam. jadi tertolak). agar mereka berbuat baik dan meninggalkan keburukan. metode Ibn Rusyd yang membagi manusia dalam golongan khawas dan awam itu akan melahirkan semacam elitisme dalam kehidupan beragama.. para filsuf menganut teori Nabi telah melakukan "kebohongan untuk kebaikan" (al-kidzb li al-mashlahah)." sebagai ganti cara baca kaum awam (lihat terjemah kutipan firman itu di atas). Tapi "kebohongan" Nabi bukanlah kejahatan. misalnya berpandangan para filsuf selaku ahl al-burhan itulah yang dimaksudkan dalam firman Ilahi (dikutip di atas) sebagai "orang-orang yang mendalam ilmunya. [3] Karena itu para filsuf rawan terhadap tuduhan. Filsuf Islam terkenal dari Cordova. Dan sebaliknya. mereka sebenarnya menganut teori. yakni kebenaran tak terbantah"). kemudian menjadi kearifan itu sendiri. ta'wil harus disimpan dan dirahasiakan untuk kalangan kaum khawas saja. yang tidak memaksudkan makna-makna lahir ungkapan-ungkapan itu. Spanyol. filsafat adalah kecintaan kepada kearifan (wisdom). Nabi telah melakukan sejenis kebohongan: Mengungkapkan sesuatu tanpa memaksudkan makna lahiriah ungkapan itu. mereka adalah golongan khawas di kalangan umat. bahkan wajib. "Kami beriman kepada Kitab Suci itu. Padahal tidak mengetahui ta'wilnya kecuali Allah dan orang-orang yang mendalam ilmunya. Kelebihan mereka itu. yang tak terjangkau kemampuan akal mereka. ". sedangkan orang awam harus menerimanya menurut apa adanya sesuai dengan bunyi dan makna lahiriah lafalnya itu. Yaitu dengan memindah tanda baca berhenti (waqaf:) sehingga terbaca.. dan mereka berhak. disebabkan sulitnya pemahaman interpretatif yang abstrak itu. Kadang-kadang juga disebut ahl al-burhan ("para penganut kebenaran demonstratif atau apodeiktik. seperti yang dituduhkan Ibn Taymiyyah. orang awam akan menjadi kafir jika melakukan interpretasi. Ibn Rusyd (Latin: Averroes). Maka para filsuf Islam memandang diri mereka sebagai "penganut kearifan" (ahl al-hikmah) atau para orang arif-bijaksana (al-hukama). Dengan kata lain.Sesuai dengan makna asal katanya dalam bahasa Yunani. Para flsuf harus melakukan ta'wil terhadap bunyi-bunyi teks suci baik Kitab maupun Sunnah (Hadits). memandang Nabi mengutarakan sesuatu dengan ungkapan-ungkapan metaforis dan alegoris. semuanya dari sisi Tuhan kami. [4] Karena "pendidikan" itu ditujukan pada kalangan awam. yakni. para filsuf sendiri. Para filsuf akan menjadi kafir jika tidak melakukan interpretasi (karena bagi mereka ajaran-ajaran agama tertentu seperti surga dan neraka dalam pengertian fisik itu tidak masuk akal. melainkan pada makna batinnya. sehingga filsafat pun disebut al-hikmah. baik dari pihak khawas maupun awam)..." karena mereka ini berhak atau wajib melakukan ta'wil terhadap bunyi teks-teks suci.

Pembuktian itu diperoleh antara lain karena doktrin. yang tersembunyi dan dirahasiakan itu hanya diberikan Nabi kepada 'Ali. bagi mereka. tapi menyimpang ke Musa al-Kadhim ibn Jafar --dan bukannya ke Muhammad ibn Isma'il-. termasuk kaum Sufi. para pengikut Syi'ah Isma'iliyyah ini memang banyak sekali menggunakan sumber-sumber filsafat. Makna dan kebenaran agama. Karena itu istilah tersebut berlaku untuk hampir semua kelompok esoteris Islam. -------------------------------------------Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah Editor: Budhy Munawar-Rachman Penerbit Yayasan Paramadina Jln. Maka hanya mereka yang memiliki kemampuan spiritual yang tinggi sajalah yang mampu mengakui peranan khusus 'Ali. kemenakan. Adalah al-Bathiniyyun ini yang menjadi salah satu sasaran karya-karya polemis pemikir Sunni al-Ghazali dalam rangka usahanya menghancurkan filsafat. tak mampu menangkap makna batin yang sulit itu. memberi dukungan pada usaha pembuktian bahwa lembaga imamat (keimaman) adalah langsung dari Tuhan. dan hanya mereka inilah yang dapat menangkap makna-makna batiniah agama. Tapi karena orang awam. malah berbahaya bagi mereka. sistem filsafat itu menyediakan penyimpangan kandungan batin ajaran-ajaran agama yang antara lain. karena kepercayaan mereka pada imam-imam yang tujuh (yaitu sejak Hasan ibn 'Ali sampai Muhammad ibn Isma'il (ibn Ja'far al-Shadiq ibn Muhammad al-Baqir). yaitu suatu pecahan aliran Syi'ah yang muncul sesudah wafat Isma'il ibn Ja'far al-Shadiq sekitar 148 H (765 M). maka makna batin itu ditujukan hanya pada orang-orang istimewa tertentu saja.Istilah al-Bathiniyyun. yang dipercayai sekarang sedang bersembunyi dan akan kembali sebagai Imam Mahdi). seperti pandangan tentang kewajiban melakukan ibadat-ibadat tertentu. khususnya Neo-Platonisme. semua ajaran agama (Islam) selalu mengandung makna lahir dan makna batin. UA 20-21 Jakarta Selatan (bersambung 2/2) . sejak dari Hasan ibn 'Ali sebagai imam pertama. Metro Pondok Indah Pondok Indah Plaza I Kav.kemudian berakhir dengan Muhammad al-Muntadhar. terutama kaum Isma'ili. khususnya kandungan al-Qur'an. Tapi mereka juga berpegang pada paham tentang adanya ajaran-ajaran esoteris (bathin) yang membentuk sistem filsafat kaum Isma'ili. Dalam hal paham keimanan itu mereka berbeda dengan umumnya golongan Syi'ah Itsna 'Asy'ariyyah (Syi'ah Duabelas. melalui Ja'far al-Shadiq seperti kaum Isma'ili. karena kepercayaan mereka pada imam-imam yang duabelas jumlahnya. Oleh kaum Sunni istilah itu juga secara khusus digunakan untuk kelompok Islam tertentu. Dalam gabungannya dengan semangat keagamaan mereka. Sebab dalam melakukan ta'wil terhadap fakta-fakta tekstual agama. kadang-kadang juga Ahl al-Bawathin (Kaum Kebatinan) digunakan secara longgar untuk mengidentifikasi kelompok-kelompok Islam yang orientasinya berat ke arah paham keagamaan yang lebih mengutamakan usaha menangkap makna dalam (bathin) dari suatu teks atau ajaran agama. menantu dan sahabat yang menjadi kepercayaan beliau. Mereka juga dinamakan kaum Syi'ah Sab'iyyah (Syi'ah Tujuh). Mereka memang masih memiliki persamaan dengan orang-orang Muslim lain. seperti juga menjadi pandangan kaum filsuf. penganut aliran Isma'iliyyah.

QUR'AN oleh Nurcholish Madjid (2/2) Unsur Neo-Platonis Kaum Kebatinan ini kemudian muncul dalam karya kefilsafatan besar --yang ditulis sekelompok sarjana yang menamakan diri mereka Ikhwan al-Shafa' (Persaudaraan Suci)-. khususnya masyarakat Islam sendiri.Telp. Selain unsur Neo-Platonis. mereka memberi award bidang arsitektur Islam kepada Pesantren Pabelan. kebatinan kaum Isma'ili sangat menekankan pembangunan praktis susunan masyarakat dunia. 7507173 Fax. suatu bentuk kegiatan yang dimungkinkan oleh minat mereka yang besar kepada usaha memelihara warisan sejarah Islam. (021) 7501969.Risalat Ikhwan al-Shafa. [6] Mereka itu kini dipimpin Aga Khan yang terkenal itu. Pandangan hidup kaum Isma'ili yang sangat esoteris (bathini) itu telah membuat mereka sebagai salah satu kelompok yang paling eksklusifistik dalam Islam. Mereka juga terdiri dari kaum bisnis dan wirausahawan yang sukses. (Sebagai misal. tapi juga banyak mendorong kemajuan masyarakat manusia pada umumnya.2. (021) 7507174 Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota Please direct any suggestion to Media Team Artikel Yayasan Paramadina Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota I. Tapi lain dari Manucheanisme. pertumbuhan historis paham Sunni merupakan . sebagai bentuk keterlibatan nyata mereka dalam sejarah kemanusiaan. seperti tampak nyata di banyak kawasan Afrika Timur. Sedikit sekali kemungkinan orang luar lingkungan sendiri akan diberi pengakuan kemanusiann yang penuh. 7501983. MASALAH TA'WIL SEBAGAI METODOLOGI PENAFSIRAN AL. Jawa Tengah. Paham Sy'iah Isma'iliyyah bertemu dengan Manicheanisme dalam ajaran yang hendak memberi pada penganutnya "kearifan dan martabat kosmis" yang budi kasar orang umum tak mampu menggapainya. paham kebatinan ini juga menunjukkan tanda-tanda adanya pengarah Manicheanisme. yang menurut penilaian mereka diwakili rintisannya oleh pesantren itu). Mereka tidak saja menjadi sponsor atas kegiatan kultural dan ilmiah yang antusias. Magelang. Diduga bahwa orang-orang Persi penganut Manicheanisme di zaman Abbasiyah secara rahasia masuk Islam dan memeluk paham kebatinan kalangan kaum Isma'ili. atas dasar konsep tentang arsitektur Islam masa depan yang cukup revolusioner. Mereka juga banyak mengadakan pameran benda-benda seni peninggalan Islam di kota-kota besar dunia (1983 di New York). yaitu suatu pecahan agama Majusi (Zoroastrianisme). PANDANGAN KAUM SUNNI Dari satu segi.

Kaum Sunni --yang secara garis besar perjalanan sejarahnya hampir selalu paralel dengan susunan mapan masyarakat Islam-sangat mengkhawatirkan. sehingga tidak ada lagi sisa yang bersifat pasti. agar mereka (manusia) merenungkan ayat-ayatnya. Berdasarkan firman Allah. misalnya. jika mereka tidak melakukan interpretasi. Paling jauh. dan agar mereka yang berpengetahuan mendalam menangkap pesannya" [10] Ibn Taymiyyah mengatakan . Interpretasi metaforis atau ta'wil tidak saja selalu bersifat abstrak dan intelektualistik --yang tak terjangkau masyarakat banyak-. dan tidak bisa disamakan dengan sesuatu apa pun juga. dan 'Imran ibn Hasyim. yang telah Kami turunkan kepada engkau (Muhammad). ialah sikap mendukung sebagian terbesar kaum Muslim kepada Mu'awiyah sebagai Khalifah yang sah berkedudukan di Damaskus. Abu Bakrah. Tapi. [7] Yang politik pragmatis. semua bagian dari ajaran agama akan habis diinterpretasikan. madzab Madinah itu juga didukung oleh sebagian besar "para pelopor pertama" (al-sabiqun al-awwalun). Mereka ini dipelopori 'Abdullah ibn 'Umar. rujukan utama paham Sunni dalam ilmu Ketuhanan atau akidah. Sebab pelukisan antropomorfis itu tidak sesuai dengan penegasan Kitab Suci sendiri bahwa Tuhan tidak sebanding. pendekatan metaforis pada agama akan mempunyai efek melemahnya sendi-sendi dan kesadaran hukum masyarakat banyak. Khususnya yang terjadi pada tahun 41 H yang sering disebut para ahli sejarah sebagai "Tahun Persatuan" ('Am al-Jama'ah). Ibn Taymiyyah mengemukakan pandangan yang cukup menarik. Usamah ibn Zayd. maka bagaikan membuka Kotak Pandora. mereka tetap menolak antropomorfisme. dan "tanpa bagaimana" (bi-la kayfa). wajah. Kaum Sunni umumnya menerima adanya intepretasi metaforis. Bahkan. menurut Ibn Taymiyyah. menutup samasekali kemungkinan mengadakan ta'wil akan menghadapkan orang-orang Muslim yang serius pada kesulitan mengartikan berbagai pelukisan tentang Tuhan yang antropomorfis (yakni. mata dan lain-lain. dan seterusnya). Salah satu wujud semangat itu tampak dalam paham Sunni menghadapi masalah ta'wil itu. menyerupai manusia. wajah dan mata Tuhan itu tidak sama dengan yang ada pada makhluk seperti manusia. dengan mengatakan bahwa sekali pun disebutkan Tuhan itu mempunyai tangan. bahwa Dia bertahta di Singgasana. merasa senang dan tidak senang. "Kitab Suci penuh berkah. Sebab jika pintu interpretasi metaforis itu ditenggang dengan tidak hati-hati. wajah dan mata.tapi juga senantiasa menyediakan "lubang pelarian" (loop hole) di bidang hukum bagi mereka yang kesadaran hukumnya lemah. yang pertama komponen ideologis. Inilah metode al-Asy'ari. [9] Masih dalam konteks paham Sunni tentang ta'wil ini.gabungan dua komponen. dan yang kedua komponen politik pragmatis. keterangan dalam al-Qur'an bahwa Tuhan mempunyai tangan. [8] Mungkin disebabkan latar belakang pertumbuhan historisnya itu maka paham Sunni ditandai semangat umum moderasi dan akomodasi. sebaliknya. Yang ideologis ialah "Aliran Penduduk Madinah" (Madzhab Ahl al-Madinah) seperti dikemukakan mereka yang tak mau terlibat dalam pertikaian-pertikaian politik saat itu. namun tangan. Said ibn Abi Waqqash. khususnya antara 'Ali dan Mu'awiyah beserta pengikut masing-masing. Muhammad ibn Maslamah. tapi dengan pembatasan-pembatasan begitu rupa sehingga masih bisa dikuasai. Syria.

yaitu. bersumber pada atau bersifat murni keagamaan. tetapi tak boleh menyia-nyiakan energi kita dalam memperdebatkan sesuatu yang berada di luar kedalaman diri kita. sifat alegoris atau metaforis keterangan-keterangan dalam Kitab Suci itu tak dapat tidak harus digunakan sebagai metodologi penyampaian pesan. sebab manusia tidak akan dapat memahami sesuatu yang samasekali abstrak. ungkapan-ungkapan dalam bahasa manusia) itu dapat memberi definisi pada sesuatu yang tak mungkin didefinisikan. yang tidak ada asosiasinya dengan apa yang sudah ada dalam alam pikirannya. sebab "tidak ada kesalahan yang lebih besar daripada berpikir bahwa "terjemahan-terjemahan" (yakni. Ayat ini memberi kita suatu kunci penting untuk interpretasi al-Qur'an. inti atau dasar Kitab Suci. dan penafsir al-Qur'an terkemuka Terhadap firman Allah berkenaan dengan ayat-ayat muhkamat dan mutasyabihat yang dikutip di atas tadi. kata Ibn Taymiyyah. Tapi juga tidak sedikit daripadanya yang semata-mata merupakan hasil interaksi antara sesama . "Apakah mereka (manusia) tidak merenungkan al-Qur'an. dan hal yang tak masuk akal itu tak ada dalam al-Qur'an. pertama. namun kebanyakan justru firman-firman yang metaforis. Kita harus mencoba memahaminya sebaik mungkin. bagian yang bersifat figuratif. bahwa tujuan kita membahas persoalan interpretasi metaforis ini antara lain ialah untuk mendapatkan kesadaran tentang suatu dimensi pemahaman keagamaan dalam Islam yang ikut memberi corak keanekaragaman kaum Muslim di dunia. Namun manusia. baik yang muhkamat maupun yang mutasyabihat. tapi tumpang tindih. Allah dan Rasul-Nya tidaklah mencela orang yang merenungkan makna di balik ungkapan-ungkapan ayat-ayat mutasyabihat dalam al-Qur'an kecuali jika dilakukan dengan maksud menimbulkan perpecahan dan mencari-cari interpretasinya yang tidak masuk akal. tak dibenarkan menganggap perolehannya sebagai mutlak dan final. Hanya hal-hal yang maknanya tak masuk akal saja yang tidak direnungkan. [13] Seorang sarjana Muslim modern penafsir al-Qur'an lain." [14] PENUTUP Telah dikatakan. juga berpegang pada pandangan yang sama dalam masalah ta'wil ini. Abdullah Yusuf Ali memberi komentar sebagai berikut." dan kedua. sarjana Muslim di zaman modern ini. secara harfiah "Induk Kitab Suci. dalam usahanya memahami keterangan-keterangan suci itu. Secara garis besar al-Qur'an itu dapat dibagi ke dalam dua bagian.bahwa yang harus direnungkan itu ialah semua ayat-ayat al-Qur'an. yang tidak diberikan secara terpisah. ataukah sebenarnya hati mereka telah tersumbat?" [11] Karena itu. Muhammad Asad. Sebagian dari reasoning itu tentu saja. metaforis dikenakan kepada esensi itu. Menurut sarjana ini. Maka Allah memuji mereka yang merenungkan firman-firman-Nya. Asad berpendapat bahwa al-Qur'an memang mengandung ayat-ayat yang pasti maknanya tanpa samar. sebagaimana perintah untuk itu dapat dipahami dari firman-Nya. baik yang muhkamat maupun mutasyabihat. di seluruh Kitab Suci. [12] Pandangan hampir serupa dianut juga oleh Abdullah Yusuf Ali. Dari uraian di atas diharapkan ada sedikit kejelasan bahwa masing-masing kelompok atau aliran dalam Islam memiliki reasoning mereka sendiri dalam memilih suatu pemahaman agama.

QS. sebab --seperti kata Muhammad Asad tadi-kita sebenarnya hendak menggapai sesuatu (Kebenaran Mutlak) yang tidak bakal tergapai. 'Wahai sekalian orang-orang yang beriman. 1984]. QS. Lihat risalahnya. 1. QS. Itsbat al-Nubuwwat. Hodgson. 193. atau malah secara logis diperlukan. (Chicago: The University of Chicago Press. janganlah ada suatu kaum di antara kamu yang memandang rendah kaum yang lain. atau memberi orang lain apa yang disebut "hikmah keraguan" (benefit of doubt) dalam pergaulan sesama manusia.. khususnya sesama Muslim. Ibn Taymiyyah. Khazanah. 9. al-Ibanah'an Ushul al-Diyanah (Idarat al-Thiba'at al-Muniriyyah. Khazanah Intelektual Islam [Jakarta: Bulan Bintang. h. Al-Syaykh Muhammad al-Hudlari Bek. jil. Abu al-Hasan al-Asy'ari.. hh. 249). Lihat dalam buku kami. misalnya. (Lihat terjemahnya. 8-9. dalam buku kami. 3 jilid. 217-8). cit. (Riyadl: Maktabat al-Riyadl al-Haditsah. khususnya. 11. op. 5. Ibn Rusyd. 7. 1348 H). Shad/38:29.seorang yang bijaksana tak boleh bersikap dogmatis. 137-51. h. 1387 H 1967 M). pada waktu yang sama kita harus menyadari bahwa orang lain pun melihat kita demikian. Muhammad/47:24. jil. misalnya. 2. Ibn Rusyd.orang-orang Muslim sendiri atau antara orang-orang Muslim dengan non-Muslim dalam sejarah. 8. Ini sejalan dengan yang dipesankan Tuhan sendiri dalam ajaran-Nya tentang prinsip persaudaraan di antara orang-orang beriman dan bagaimana memeliharanya. dianut Ibn Sina (Avicenna). hh. S. yang kami terjemahkan dalam buku kami. (dalam Khazanah). tt. 110. . Tuduhan Ibn Taymiyyah itu dinyatakan dalam risalahnya. h. Marshall G. Tarikh al-Tasyri' al-lslami (Beirut: Dar al-Fikr. 10. Khazanah. meskipun dari sudut pandangan lain. Dari sudut pandangan inilah absurd-nya pengakuan diri sendiri sebagai yang paling benar. --seperti dikatakan Abdullah Yusuf Ali yang telah dikutip-. kalau-kalau mereka yang dipandang rendah itu lebih baik daripada mereka yang memandang rendah. Ma'arij al-Wushul fi Ma'rifat anna Ushul al-Din wa Furu'a-hu qad Bayyana-ha al-Rasul. Fashl al-Maqal wa Taqrir Ma bayn al-Hikmah wa al-Syari'ah min al-Ittishal. 230-1 6. Dan sementara kita melihat orang lain demikian. The Venture of Islam. 4 jilid.. pengakuan itu mungkin dibenarkan saja. Maka yang benar ialah menerapkan sikap "ragu yang sehat" (healthy scepticism). Pandangan seperti ini. Namun. keyakinan. 4." [15] CATATAN 1. Minhaj al-Sunnah al-Nabawiyyah fi Naqdl Kalam al-Syi'ah wa al-Qadariyyah. h. khususnya h. 1974). 378-9.). 3. 1 h. 'All 'Imran 3:7.

allegorical. The wise man will understand that there is an "essence" and an illustrative clothing given to the essence. (021) 7507174 Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota Please direct any suggestion to Media Team Artikel Yayasan Paramadina Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan . 7501983. catatan 347). and something eternal and independent of time and space. 991. literally "the mother of the Book. The Message of the Qur'an. 8-9. metaphorical. Metro Pondok Indah Pondok Indah Plaza I Kav. Muhammad Asad. We must try to understand it as best as we can but not waste our energies in disputing about matters beyond our dept (A. (1) the nucleus or foundation of the Book. h. UA 20-21 Jakarta Selatan Telp. (021) 7501969. It is very fascinating to take up the latter. throughout the Book. -------------------------------------------Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah Editor: Budhy Munawar-Rachman Penerbit Yayasan Paramadina Jln. but intermingled. as the final meaning is known to God alone. --the "Forms of Ideas" in Plato's Philosophy. and exercise our ingenuity about its inner meaning. as distinguished from the various illustrative parables. viz. the essence of God's message. and ordinance If we refer to xi-1 and xxxix-23. 7507173 Fax.12. appendix 1. which are plain to everyone's understanding. and though people of wisdom may get some light from it. 13. allegoric. Each verse is but a Sign or Symbol: what it presents is something immediately applicable. QS. Translation and Commentary. The division is not between the verses. Ibn Taymiyyah. The Commentators usually understand the verses "of established meaning" (muhkam) to refer to the categarical orders of the Syari'at (or the Law). 1973). But perhaps the meaning is wider: the "mother of the Book" must include the very foundation on which all Law rests. This passage gives us an important clue to the interpretation of the Qur'an. The Holy Qur'an. 1403 H]." and (2) the part which is figurative. h. Al-Hujarat/49:11. but between the meanings attached to them. we shall find that in a sense the whole of the Qur'an has both "established meaning" and allegorical meaning. no one should be dogmatic. [Jeddah: Dar al-Qiblah. not given separately. al-Iklil fi al-Mutasyabih wa al-Ta'wil (Kairo: Dar al-Mathba'at al-Salafiyyah. Broadly speaking it may be divided into two portions. but it refers to such a profound spiritual matters that human language is inadequate to it. 15. 123. 14. Yusuf Ali. h.

dan kalau demikian dalam keadaan bagaimana itu dapat atau harus diterapkan. seperti diungkapkan para ahli biografi Nabi.ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota I. Konsep ini muncul karena dalam kenyataan. sebagaimana hal tersebut dapat dilihat dari konteks aslinya. misalnya. Maksud asal sebuah ayat. khususnya mengenai ayat-ayat hukum. paman nabi sendiri. MANFAAT PENGETAHUAN ASBAB AL-NUZUL Di antara hal-hal yang dapat dengan jelas menjadi petunjuk tentang sebab turunnya sebuah firman ialah jika dimulai dengan ungkapan dialogis. "Katakan kepada Mereka". Makna dan implikasi langsung dan segera terpahami (muhabir. Konteks itu akan memberi penjelasan tentang implikasi sebuah firman. Seperti.Relevansinya Bagi Pandangan Historisis Segi-Segi Tertentu Ajaran Keagamaan oleh Masdar F. sudah dikemukakan di atas. seperti "Mereka bertanya kepadamu (Nabi)".w. 4. Situasi historis pada zaman Nabi dan perkembangan komunitas muslim. sejarah al-Qur'an maupun sejarah Islam. diketahui dengan cukup pasti adanya situasi atau konteks tertentu diwahyukan suatu firman. Dengan mengutip berbagai sumber otoritas dalam bidang ini. dari lafal dan konteksnya masing-masing dapat diketahui dengan jelas sebab-sebab turunnya surat Abasa al-Tahim. dan lain sebagainya. Alasan mula pertama yang mendasari suatu kepentingan hukum. dan juga Zayd (ibn Haritsah). yang bernama atau dipanggil Abu Lahab.. beserta istrinya. satu rangkaian ayat atau satu surat. maka kemanapun kamu menghadapkan .a. adalah jelas turun dalam kaitannya dengan pengalaman Nabi yang menyangkut seorang tokoh kafir Quraisy. Menentukan apakah makna sebuah ayat mengandung terapan yang bersifat khusus atau bersifat umum. Atau seperti surat al-Masad (Tabbat). dan memberi bahan melakukan penafsiran dan pemikiran tentang bagaimana mengaplikasikan sebuah firman itu dalam situasi yang berbeda. lafal permulaan ayat pertama surat al-Anfal menunjukan dengan jelas bahwa firman itu diturunkan kepada Nabi untuk memberi petunjuk kepada beliau mengenai perkara yang ditanyakan orang tentang bagaimana membagi harta rampasan perang. immediate) dari sebuah firman. Ahmad von Denffer memberi rincian arti penting bagi pengetahuan tentang asbab al-nuzul. ayat tentang perubahan bentuk rembulan (al-ahillah) dalam surat al-Baqarah/2:189. Demikian juga. Mas'udi (1/3) Asbab al-Nuzul adalah konsep. Sebagai sebuah contoh ialah firman Allah.3. nama Abu Lahab. Pengetahuan tentang asbab al-Nuzul akan membantu seseorang memahami konteks diturunkannya sebuah ayat suci. KONSEP ASBAB AL-NUZUL . Juga jika di situ disebutkan nama pribadi orang seperti. "Kepunyaan Allah-lah timur dan barat. 5. baik berupa satu ayat. sebagai berikut: 1. teori atau berita tentang adanya "sebab-sebab turun"-nya wahyu tertentu dari al-Qur'an kepada Nabi s. Beberapa di antaranya bahkan dapat langsung disimpulkan dari lafal teks firman bersangkutan. dan lain-lain. 2. 3.

sekalipun dalam keadaan normal diwajibkan. tidaklah menjadi persoalan. yaitu al-Masjid al-Haram di Makkah. mengapa terdapat kesamaan yang demikian besar dan jauh diantara seluruh umat Islam di dunia dalam hal shalat dan peribadatan lain. Sebagai misal ialah berita tentang sebab turunnya firman yang dikutip di atas. apalagi jika sembahyang itu bukan sembahyang wajib. Kemudian mereka bertanya kepada Nabi berkenaan dengan apa yang mereka alami itu. yaitu arah al-Masjid al-Haram di Makkah. (Dalam agama lain. di sanalah Wajah Allah. Tapi firman itu juga menegaskan bahwa sembahyang menghadap kemanapun dalam keadaan darurat. seseorang boleh melakukan shalat sunnah kemanapun di atas kendaraannya. karena Tuhan tidak terikat oleh ruang dan waktu. dengan dampak kesamaan yang menakjubkan antara seluruh kaum muslim di muka bumi ini dalam hal peribadatan. Sebab yang penting ialah nilai shalat itu sendiri sebagai tindakan mendekatkan diri kepada Allah dan mengasah jiwa untuk lebih bertaqwa kepada-Nya. tidaklah menyangkut sebenarnya nilai shalat itu. al-Wahidi al-Nisaburi menerangkan tentang adanya beberapa versi lain tentang sebab turunnya firman terrsebut. Ia harus menghadap ke kiblat yang sah. Sesungguhnya Allah adalah Maha Meliputi dan Maha Tahu". sehingga implikasinya juga dapat menyangkut beberapa situasi yang berbeda. tidak ke kiblat. Kalangan bukan Islam biasanya merasa heran. (QS. Tetapi ia dibenarkan menghadap mana saja dalam shalat jika ia tidak tahu arah yang benar. atau kalau karena kondisi tertentu tidak mungkin baginya menghadap ke arah yang benar. Firman ini turun kepada Nabi berkaitan dengan adanya peristiwa yang dialami sekelompok orang beriman yang mengadakan perjalanan di malam hari yang gelap gulita. [1] SUMBER BERITA ASBAB AL-NUZUL Sumber pengetahuan tentang asbab al-nuzul diperoleh dari penuturan para Sahabat Nabi." Tetapi karena konteks turunnya firman itu bersangkutan dengan peristiwa tertentu diatas. Menghadap kiblat yang telah ditentukan. Berdasarkan penuturan Jabil ibn 'Abd-Allah. yang menegaskan bahwa kemanapun seseorang menghadapkan wajahnya. al-Baqarah/2:115). sejalan dengan keaneka ragaman sumber berita. Pertama. Pagi harinya mereka baru menyadari bahwa semalam mereka bersembahyang dengan menghadap ke arah yang salah. yaitu berita-berita Hadist. Nilai berita itu sendiri sama dengan nilai berita-berita lain yang menyangkut Nabi dan Kerasulan Beliau.wajahmu. ia sebenarnya juga menghadap Tuhan. shahih dan dha'if. Karena itu bersangkut pula persoalan kuat dan lemahnya berita itu. timur ataupun barat. perbedaan sangat . sehingga Tuhanpun "ada dimana-mana. Semua ini menjadi wewenang cabang ilmu kritik hadits (ilmu tajrih dan ta'dil) para ahli. Kiblat itu hanya sebagai lambang orientasi hidup yang benar dan konsisten serta kesatuan orientasi itu antara seluruh umat Islam sedunia. mungkin tidak akan dapat mengerti. penuturan atau berita tentang suatu sebab turunnya wahyu tertentu juga dapat beraneka ragam. serta otentik dan palsunya. tidaklah berarti dalam sembahyang seorang muslim dapat menghadap kemanapun ia suka. melainkan sunnah. Maka turunlah ayat suci itu. Kita sendiri mengetahui betapa efektifnya simbolisasi kiblat ini. Dan seperti halnya persoalan hadits pada umumnya. berdasarkan penuturan Abd 'l-Lah ibn 'Umar. Maka tidak perlu lagi ditegaskan bahwa informasi-informasi yang ada harus dipilih dengan sikap kritis.

tanpa terlalu banyak mempersoalkan perbedaan antara mereka. kaum muslim dan agama Islam. terjemahnya. . al-Maidah/6:82). atas Versi ketiga tentang sebab turunnya firman itu menyangkut kaum Yahudi Madinah. seperti difirmankan di tempat lain. Walaupun kiblat sebagai lambang persatuan dan kesamaan itu demikian pentingnya. yang semasa hidupnya (sebagai seorang Kristen) bersembahyang menghadap kiblat yang berbeda dengan kiblat mereka sendiri. Perlakuan yang amat simpatik kepada kaum muslim dan sikapnya yang penuh pengertian kepada ajaran Islam yang menyebabkan turunnya firman Allah yang lain. Allah akan mengumpulkan kamu semua. tidaklah dibenarkan adanya tekanan yang serba mutlak atas kewajiban menghadapkan wajah ke Makkah. Jadi firman Allah tentang "timur dan barat" tersebut di mempunyai kemungkinan implikasi dan aplikasi yang luas. namun dari ayat suci itu jelas sekali bahwa segi makna adalah lebih penting daripada segi lambang. Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu. al-Baqarah/2:148). pandangan lain." (QS. Dan umat manusia dalam orientasi yang berbeda-beda itu hendaknya berlomba menuju kepada berbagai kebaikan. Meskipun lambang dan makna harus ada secara serentak. kaum Yahudi bertanya-tanya. karena perlindungan yang diberikannya kepada para pengikut Nabi yang berhijrah ke negeri itu untuk menghindar dari penyiksaan kaum musyrik Makkah.terasa dari sekte ke sekte lain. mengingat jasa-jasanya yang besar itu. menurut versi penuturan ashab al-nuzul ini. juga dari bangsa atau negeri ke bangsa atau negeri lain meskipun dari satu sekte). Dan firman Allah yang terkait itu. Seterusnya. Najasyi adalah raja Habasyah yang besar sekali jasanya kepada Nabi. Dan Nabi dalam memerintahkan sahabat beliau untuk melakukan shalat jenazah bagi Najasyah menggambarkan raja Habasyah itu sebagai "saudara" kaum beriman. kurang lebih adalah demikian: Dan bagi setiap (kelompok manusia) ada arah (wijhah) yang kepadanya kelompok itu menghadap. Dari balik pertanyaan sementara Sahabat di atas itu dapat diketahui dengan jelas bahwa sekalipun Najasyi adalah seorang Kristen. yang menegaskan bahwa sedekat-dekat umat manusia dalam rasa cintanya kepada kaum muslim ialah "mereka yang berkata. mengapa mereka diperintahkan untuk melakukan shalat jenazah bagi Raja Najasyi (Negus) dari Abessinia (Habasyah. Menurut penuturan ibn Abi Thalhah. Sebab. menegaskan bahwa masalah kemanapun orang menghadap dalam sembahyang bukanlah perkara penting. Lengkapnya. firman Allah itu. ketika Nabi dengan izin Allah mengubah kiblat sembahyang dari arah Yerusalem menjadi ke arah Makkah. namun berdasarkan firman Allah yang menegaskan bahwa kemanapun kita menghadapkan wajah kita maka di sanalah wajah Allah. "Kami adalah orang-orang Nasrani" (Q. Di (kelompok) manapun kamu berada. Yang penting ialah sikap batin yang ada dalam dada. namun Nabi memerintahkan mereka berdoa baginya. sebab tekanan serupa itu akan membawa kepada sikap lebih mementingkan lambang atau simbol daripada isi atau makna.s. kaum Muslim. berdasarkan penuturan 'Abd 'l-Lah ibn 'Abbas. ayat suci di atas itu turun berkenaan dengan adanya pertanyaan kepada Nabi. Ethiopia). Maka berlomba-lombalah kamu sekalian untuk berbagai kebaikan. setiap kelompok manusia mempunyai arah (wijhah) ke mana mereka menghadap atau berorientasi.

IMPLIKASI ASBAB AL-NUZUL Salah satu masalah yang banyak dibahas oleh para ahli agama. Mereka itulah orang-orang yang benar (sejati dalam kebaikan). tanpa kelebihan nilai salah satu atas yang lain.mengapa ada perubahan yang mengesankan sikap tidak teguh dalam beragama serupa itu?! Maka firman Allah tersebut dimaksudkan untuk menampik ejekan kaum Yahudi dan menegaskan bahwa perkara arah menghadap dalam sembahyang bukanlah sedemikian prinsipilnya sehingga harus dikaitkan dengan permasalahan nilai keagamaan yang lebih mendalam seperti keteguhan atau konsistensi (istiqamah) sebagai ukuran kesejatian dan kepalsuan. serta mereka yang menepati janji jika mereka berjanji. penghentian makna kehukuman (legal significance) praktek pengambilan anak angkat (tanpa memelihara atau mempertahankan adanya informasi tentang. para Malaikat. Nabi dan masyarakat Islam di zaman beliau. terjemahnya adalah demikian: Bukanlah kebaikan itu bahwa kamu menghadapkan wajahmu ke arah timur atau barat. untuk kaum kerabat. Hari Kemudian. Para ahli fiqih sepakat bahwa dalam hukum berubah menurut peruhahan zaman dan tempat. percaya kepada adanya pertanggungjawaban pribadi mutlak di Hari Kemudian (Akhirat). Kitab Suci dan para Nabi. Para ulama telah menuangkan masalah asbab al-nuzul ini dalam berbagai karya ilmiah yang kini menjadi rujukan para ahli. dan berbuat kepada sesama manusia dan makhluk untuk dibawa ke Hadirat Tuhan di Akhirat nanti. Asbab al-Nuzul menunjukkan banyaknya kasus suatu nilai ajaran atau hukum diwahyukan kepada Nabi dalam kaitannya dengan peristiwa nyata tertentu yang menyangkut. Lengkapnya. ialah sejauh mana nilai atau ketetapan hukum dalam Islam ditentukan oleh keadaan ruang dan waktu. melainkan karena hal-hal yang lebih sejati seperti iman kepada Allah yang selalu hadir (omnipresent) dalam hidup manusia sehari-hari. siapa ayah-ibu biologis anak tersebut). (QS. Tetapi kebaikan ialah jika orang beriman kepada Allah. Kaidah mereka mengatakan. Telah dikemukakan bahwa adanya nama pribadi Zayd yang tersebutkan dalam al-Qur'an. dan mereka itulah orang-orang yang bertaqwa. betapapun cintanya kepada harta itu. khususnya segi-segi tertentu ajaran agama di bidang hukum. dan tabah dalam menghadapi penderitaan dan kesusahan. adalah milik Allah semata. al-Baqarah/2:177). Zaynab. Suatu peristiwa pribadi. firman berkenaan dengan masalah kiblat ini. berupa perceraian Zayd ("ibn Muhamad") dari istrinya. guna membebaskan budak. Pembatalan ini dipertegas . telah menjadi titik tolak ditetapkannya suatu hukum Tuhan tentang pembatalan atau. yatim piatu. dan jika orang mendermakan hartanya. Tetapi mereka berselisih tentang batas terjauh dibenarkannya perubahan itu. Sebab akhirnya semua penjuru angin. juga jika orang menegakkan sembahyang dan mengeluarkan zakat. para peminta-minta. [2] Berkenaan dengan masalah itu bahkan turun firman yang menegaskan bahwa kebaikan tidaklah diperoleh hanya menghadapkan muka ke arah timur ataupun barat. orang terlantar di perjalanan. serta dalam masa-masa sulit. orang-orang miskin. seperti barat dan timur. "Taghayyur al-ahkam bi thagayyur al-zaman wa al-makan" (Perubahan hukum oleh perubahan zaman dan tempat).

(bersambung 2/3) Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah Editor: Budhy Munawar-Rachman Penerbit Yayasan Paramadina Jln. "Pertahankanlah istrimu (Zainab) dan bertaqwalah kepada Allah. dan engkau (Nabi) takut kepada sesama manusia padahal Allah lebih patut engkau takuti. -------------------------------------------.s. Cukuplah Allah sebagai penghitung. Kemudian Zayd-pun tidak lagi menyandang nama "ibn Muhamad" tapi dikembalikan kepada nama aslinya. Muhamad bukanlah ayah seseorang (tanpa keterkaitan keorangtuaan biologis) di antara kamu. "namun engkau sendiri (Nabi) merahasiakan apa yang ada dalam dirimu yang Allah akan memperlihatkannya. (Q. maka setelah putus Zaid untuk bercerai dari dia (Zainab). Tidak sepatutnya bagi Nabi ada perasaan enggan mengenai apa yang diwajibkan Allah kepadanya. yaitu "ibn Haritsah. yaitu dinikahkannya Nabi oleh Allah dengan Zainab. bekas anak angkatnya.Relevansinya Bagi Pandangan Historisis Segi-Segi Tertentu Ajaran Keagamaan oleh Masdar F. Dan perintah Allah haruslah terlaksana. yaitu perceraian Zaid dari Zainab dan perkawinan . sesuai dengan sunnah (hukum) Allah pada mereka yang telah lewat sebelumnya. agar tidak lagi ada halangan bagi kaum beriman untuk (kawin dengan bekas) istri anak-anak angkat mereka. al-Ahzab/33:37-40).3. Dan perintah Allah adalah sesuatu yang sangat pasti. dan tidak takut kepada seorangpun selain Allah. Dapat dilihat bahwa dalam peristiwa Zaid dan Zainab dan yang "ditangani" langsung oleh kitab suci itu terdapat kaitan antara suatu nilai hukum kulli (universal)." Firman Allah yang menyangkut tentang Zaid dan Zainab itu demikian: Dan ingatlah tatkala engkau (Nabi) berkata kepada dia (Zaid) yang Allah telah karuniakan kebahagiaan dan engkaupun telah pula memberinya kebahagiaan. yaitu pembatalan makna legal praktek mengangkat anak. setelah bercerai dari. Allah Maha Tahu akan segala sesuatu. UA 20-21 Jakarta Selatan Telp. 7507173 Fax. dengan sebuah kasus jaz'i (partikular). KONSEP ASBAB AL-NUZUL . Metro Pondok Indah Pondok Indah Plaza I Kav. melainkan dia adalah rasul Allah dan Penutup para Nabi. Mereka (yang telah lalu sebelumnya) itu adalah orang-orang yang menyampaikan risalat (pesan-pesan suci) Allah. (021) 7501969. Zayd. 7501983. jika mereka (anak-anak angkat) itu telah putus menceraikan istri-istri mereka.dengan contoh nyata. (021) 7507174 Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota Please direct any suggestion to Media Team Artikel Yayasan Paramadina Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota I. mereka takut kepada-Nya. Mas'udi (2/3) Jadi firman itu memang turun kepada Nabi berkenaan dengan suatu peristiwa konkret yang menyangkut sepasang suami-istri.

dan makanan kamu halal bagi mereka. Sesungguhnya Allah Maha Cepat dalam perhitungan. dan ia di akhirat akan tergolong orang-orang yang merugi. Maka . tidak berpegang kepada makna lahiriah bunyi lafal firman itu. sebagimana makanan kaum beriman halal bagi mereka: Mereka bertanya kepada engkau (Nabi) tentang apa yang dihalalkannya untuk mereka. Makanan mereka yang mendapat Kitab Suci (Ahl al-Kitab) adalah halal bagi kamu. atau tindakan. ketika Hudzaifah meminta pendapat. Barangsiapa menolak untuk beriman. Tetapi sebuah generalisasi hanya dapat dilakukan jika inti pesan suatu firman dapat ditangkap. bagi kamu) para wanita merdeka dari kalangan wanita beriman. Penyebutan tentang dibolehkannya lelaki Muslim kawin dengan wanita Kristen atau Yahudi dalam al-Qur'an ada dalam rangkaian dengan penyebutan tentang dihalalkannya makanan kaum Ahl al-Kitab itu bagi kaum beriman. Sebab dalam melakukannya selalu ada kemungkinan dicapai suatu pandangan. la bi khushush al-sabab). tanpa kamu menjadikan mereka objek seksual semata (zina). yang isinya menceritakan bahwa ia telah kawin dengan seorang wanita Yahudi di kota al-Mada'in. Dan (halal. dan kamu nikahi mereka (secara sah). Tapi Umar seperti dalam beberapa kasus lain. dengan kaidah mereka. Pada hari ini dihalalkan pada kamu perkara yang baik-baik. bagaimana suatu nilai dari sebuah kasus dapat ditarik dari dataran generasitas yang setinggi-tingginya. serta bertaqwalah kepada Allah. pada urutannya. Para ahli hukum Islam telah membuat patokan untuk masalah ini. maka sungguh sia-sialah amal perbuatannya. Ini dengan sendirinya menyangkut masalah kemampuan pemahaman yang mendalam sedalam-dalamnya dan seluas-luasnya. yakni dibenarkan kawin. atau bahkan mungkin ta'wil (interprestasi metaforis) yang tidak jarang menimbulkan kontroversi. bekas "menantu"-nya. dan tanpa kamu memperlakukan mereka sebagai gundik. dan sebutlah nama Adlah atasnya. jika kamu beri mereka mahar-mahar mereka. Masalah selanjutnya yang lebih esensial dari contoh di atas itu ialah. "Pengambilan makna dilakukan berdasarkan generalitas lafal. juga (dihalalkan bagi kamu binatang yang ditangkap) oleh binatang-binatang berburu yang kamu latih dengan kamu biasakan menangkap binatang buruan dan kamu ajari binatang-binatang itu dengan sesuatu (ketrampilan) yang diajarkan Allah kepada kamu." (QS. yang pada lahirnya seperti meninggalkan atau menyimpang dari ketentuan Kitab Contoh klasik dari persoalan tersebut ialah tindakan Umar ibn al-Khaththab pada waktu menjabat sebagai khalifah. Suatu ketika Umar menerima surat dari Hudzaifah ibn al-Yamman. Lalu. tidak berdasarkan partikularitas penyebab" (Al-Ibrah bi umum al-lafdh. al-Maidah/5:4-5). juga wanita merdeka dari kalangan mereka yang mendapat Kitab Suci sebelum kamu. Jawablah. "Dihalalkannya bagi kamu apa saja yang baik.Nabi dengan Zainab. tersangkut pula masalah tafsir. padahal al-Qur'an jelas membolehkannya. Dengan begitu nilai tersebut tidak lagi terikat oleh kekhususan peristiwa asal mulanya dan dapat diberlakukan pada kasus-kasus lain di semua tempat dan sepanjang masa (dan inilah makna universalitas suatu nilai). karena itu makanlah apa yang ditangkap oleh binatang berburu itu untuk kamu. Komandan kaum beriman (Amir al-Mu'minin) itu tidak membenarkan seorang tokoh Sahabat Nabi kawin dengan wanita Ahl al-Kitab (Yahudi atau Kristen).

maka kesempatan nikah dengan wanita Kristen dan Yahudi juga menjadi terbuka lebar. Ia hanya mengkawatirkan terlantarnya wanita muslimah. setelah Persia dibebaskan (di zaman Umar sendiri) dan lembah Indus oleh Muhamad ibn Qasim (di zaman al-Walid ibn al-Malik). lalu mereka mengutamakan para wanita Ahl al-Dzimmah (Ahl al-Kitab yang dilindungi) karena kecantikan mereka. Buddha. khalifah ketiga. Abd-al-Fattah Husaini al-Syaikh. ada beberapa tokoh Sahabat Nabi yang beristrikan wanita Ahl al-Kitab. misalnya. Disebabkan oleh meluasnya daerah kekuasaan politik kekhalifahan Islam. yang beristrikan wanita Kristen Arab." Menurut julur penuturan lain. Taois. para ahli hukum Islam masa lalu. mengatakan. dalam surat jawabannya memberi peringatan keras. namun kebijakan khalifah kedua itu menjadi preseden dalam yurisprudensi Islam tentang kemungkinan dilakukannya kebijakan khusus sesuai dengan tuntutan ruang dan waktu. sekalipun berada di negara Islam. tetapi dapat diperluas juga kepada kaum Majusi atau Zoroastri (sudah sejak Umar). antara lain dengan mengatakan: "Kuharap engkau tidak akan melepaskan surat ini sampai dia (wanita Yahudi) itu engkau lepaskan Sebab aku khawatir kaum Muslim akan mengikuti jejakmu.Umar. yaitu terlantarnya kaum muslimah sendiri jika kaum muslim lelaki diizinkan dengan bebas menikah dengan wanita Ahl al-Kitab. mengatakan bahwa tindakan khalifah kedua itu menyalahi nas atau lafal Kitab Suci. Sebab. namun kita tidak memandang perkara tersebut (lelaki muslim kawin dengan wanita Ahl al-Kitab) sebagai terlarang. konsep tentang Ahl al-Kitab diperluas meliputi kaum Majusi dan Hindu-Buddha. Apabila kelak. seorang tokoh terkemuka pembaharuan Islam di Sumatra Barat. dan belum banyak kalangan dari bangsa lain yang memeluk Islam. "Kita ikuti pendapat Umar itu. Muhamad ibn al-Husain. Hal ini sudah cukup sebagai bencana bagi para wanita kaum muslim. asal-usul agama-agama Asia itupun adalah paham Ketuhanan Yang Maha Esa atau Tauhid. Konfusianis." Kemudian rektor universitas al-Azhar. Karena itu banyak ahli fiqih yang berpandangan bahwa konsep Ahl al-Kitab tidak terbatas hanya kepada kaum Yahudi atau Kristen saja. dan agama-agama itu mempunyai kitab suci. dan Thalhah ibn Ubaid-Allah yang . Kita hanya berpendapat hendaknya para wanita muslim diutamakan. Meskipun ternyata larangan (sementara) Umar itu lambat laun ditinggalkan (dan bangsa Arab umumnya melakukan integrasi total dengan penduduk di mana mereka hidup sehingga lebur dengan bangsa setempat). Jadi ada timbangan sisi historis dan humanis dalam menetapkan suatu hukum. selain Hudzaifah. Utsman bin Affan. dan banyaknya bangsa-bangsa bukan muslim yang menjadi rakyat kekhalifahan itu. Umar menegaskan bahwa kaum lelaki muslim kawin dengan wanita Ahl alKitab tidaklah terlarang atau haram. seperti dikatakan oleh Abd al-Hamid Hakim. Na'ilah al-Kalbiyah. misalnya. Sebab waktu itu kaum muslim itu hanya terbatas kepada minoritas kecil para penguasa politik dan militer dan hampir terdiri hanya dari bangsa Arab saja. Shinthois dll. MASALAH KEPENTINGAN UMUM (AL-MASHLAHAT AL-AMMAH) Maka berdasarkan tindakan Umar itu. juga menyalahi apa yang dilakukan sebagian para Sahabat Nabi. dan kepada kaum Hindu. Dr. [3] Maka apa yang dikuatirkan khalifah sungguh-sungguh dapat menjadi kenyataan. seperti. dan itulah juga pendapat Abu Hanifah. Sebab. seperti.

Madinah. kata rektor al-Azhar lebih lanjut. Tetapi faktor itu lenyap. sebagai misal. Dan Umar tidak hanya menerapkan kebijakan politik melarang sementara perkawinan dengan wanita Ahl al-Kitab. mengalami berbagai perubahan sosial yang besar. bahwa pemerintah boleh melarang sementara sesuatu yang sebenarnya halal jika ada faktor yang merugikan masyarakat. pembagian tingkat penerimaan "ransum" (semacam gaji tetap) bagi tentara Islam berdasarkan seberapa jauh ia banyak atau kurang berjasa dalam sejarah Islam sejak zaman Nabi (padahal Abu Bakar. membuat ibukota. Umar berbeda dengan Abu Bakar dalam kebijakannya tentang penyamarataan atau pembedaan besarnya jumlah ransum tentara. yang timbul karena pertimbangan kemanfaatan (expediency) menurut tuntutan zaman dan tempat.beristrikan seorang wanita Yahudi dari Syam (Syiria). Abu Bakar berpendapat bahwa keadilan terwujud dengan penyamarataan antara semua tentara Islam. Maka Umar dengan berbagai kebijakannya adalah seorang penguasa yang berusaha mengurangi sesedikit mungkin efek kritis perubahan sosial itu. Kekhalifahan Umar adalah masa permulaan pembebasan negeri-negeri sekitar Arabia. tanpa memandang masa lampau mereka. [6] Dan meskipun. Ia juga dicatat membuat deretan berbagai kebijaksanaan "kontroversial" seperti meniadakan hukum potong tangan bagi pencuri di masa sulit seperti paceklik. [4] Karena itu ada yang menyatakan bahwa tindakan khalifah kedua itu adalah sejenis tindakan politik (tasharuf siyasi). khususnya Syria. larangan berkumpul untuk selamanya bagi wanita dengan lelaki yang tidak dikawininya pada saat menunggu (iddah). sejalan dengan kepentingan umum (al-mashlahat al-ammah) dan sesuai dengan tanggungjawab seorang penguasa dan pelaksana hukum bersangkutan. yang dapat menjadi sumber krisis. termasuk juga wanita tawanan (yang menurut hukum perang di seluruh dunia pada waktu itu tawanan perang. Umar tidak melakukan larangan itu kecuali setelah melihat adanya hal yang kurang menguntungkan bagi masyarakat Islam. Semua tindakan tersebut tidaklah dilakukan khalifah menurut kehendak hatinya sendiri. menerapkan prinsip penyamarataan antara semuanya). lelaki maupun lebih-lebih lagi perempuan. pembagian tanah-tanah pertanian di Syria dan Irak kepada penduduk setempat (tidak kepada tentara Islam seperti sebagian besar Sahabat Nabi berpendapat demikian). Menurut Dr Abd-al-Fattah. namun kedua-duanya bermaksud membela keadilan. pengefektifan hukum talak tiga (talak batin yang dilarang rujuk) bagi orang yang menyatakan talak tiga kali kepada istrinya meskipun pernyataan itu diucapkan sekaligus dan tanpa tenggang waktu. Khalifah dalam menetapkan kebijakan hukumnya menerapkan prinsip bahwa semua hukum agama mengandung alasan hukum (illah. Kekayaan yang melimpah ruah secara tiba-tiba akibat banyaknya harta rampasan perang. Sebaliknya Umar justru berpendapat akan tidak adil jika masa lalu . ratio legis) yang harus diperhatikan dalam pelaksanaannya. pendahulunya. Tetapi.melainkan hanya sekedar menjalankan suatu patokan yang sudah tetap dikalangan para ahli. Dan Umar tidaklah mengatakan sebagai haram --hal mana tentu akan berarti menentang hukum Allah-. yang dalam hal ini adalah jauh lebih kaya daripada Hijaz di Jazirah Arabia. maka dengan sendirinya lenyap pula alasan melarangnya. penghapusan perlakuan khusus pada para mu'allaf. adalah sepenuhnya berada dibawah kekuasaan dan menjadi "milik" perampasnya). Mesir dan Persia.

padahal sebagian dari mereka benar-benar jauh lebih berjasa daripada sebagian yang lain. 7507173 Fax. Yang jelas ialah bahwa dalam kaitannya dengan konsep tentang asbab al-Nuzul. yang menjadi salah satu tumpuan harapan bahwa Islam akan mampu lebih baik dalam menjawab tantangan zaman di masa depan. yaitu nasikh-mansukh. Yaitu bahwa kiblat.masing-masing tentara itu diabaikan. menurut Hodgson. yang ikut berharap bahwa umat Islam akhirnya akan mampu menjawab tantangan zaman: -------------------------------------------. dengan perbedaan disana-sini dalam hal materi mana yang menghapus dan mana pula yang dihapus. Yang jelas ialah. Konsep asbab al-Nuzul mempunyai kaitan yang erat dengan konsep lain yang juga amat penting. Dan karena kemampuan tersebut dapat berbeda-beda antara berbagai pribadi. maka hasilnya pun dapat berbeda-beda pula. pendirian Abu Bakar dan Umar membuktikan bahwa yang dituju oleh hukum ialah makna atau pesan yang dikandungnya (al-ahkam turadu li ma ani-ha). Konsep itu. konsep nasikh-mansukh juga mengandung kesadaran historis di kalangan ahli hukum Islam. baik Kitab maupun Sunnah. [7] Meskipun teori "hapus-menghapuskan" ini tidak lepas dari kontroversi. yaitu bahwa masalah penarikan atau pengangkatan makna umum (generalisasi) suatu nilai hukum akan menyangkut masalah penafsiran dan kemampuan memahami lebih mendalam inti pesan yang dikandungnya. namun sebagian besar ulama menganutnya. menyangkut masalah adanya bagian tertentu dari al-Qur'an ataupun Hadits yang "dihapus" (mansukh) dan yang "menghapus" (nasikh). tidaklah dimaksudkan pada dirinya sendiri. sementara formalitas dalam keadaan tertentu boleh ditinggalkan. Metro Pondok Indah Pondok Indah Plaza I Kav. dalam arti wujud fisiknya yang menyangRut formalitas penghadapan wajah ke suatu arah tertentu. melainkan dimaksudkan maknanya. (021) 7501969. UA 20-21 Jakarta Selatan Telp. Dan karena lebih penting daripada formalitas. seperti yang pandangan teoretisnya dikembangkan oleh para ahli fiqih dengan kepeloporan Imam al-Syafi'i. 7501983. (021) 7507174 Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota Please direct any suggestion to Media Team . MASALAH HISTORIS AJARAN KEAGAMAAN Itulah wujud contoh apa yang dikemukakan di atas. Rasa keadilan mengatakan bahwa sebagian orang yang berbuat lebih banyak tentunya juga harus mendapatkan balas jasa dan penghargaan lebih banyak.(bersambung 3/3) Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah Editor: Budhy Munawar-Rachman Penerbit Yayasan Paramadina Jln. seperti dikatakan rektor al-Azhar. Adalah kesadaran historis ini. berkenaan dengan sumber-sumber pengambilan ajaran agama. [6] Ini membawa kita kembali pada polemik sekitar kiblat shalat yang telah dikemukakan di atas. maka makna tidak boleh ditinggalkan. Kata Hodgson.

Sebab perbaikan setiap umat adalah dengan menghilangkan keburukan . Fushush al-Hikam. Sebab. tetapi perbedaan kesiapan umat manusia mengakibatkan perbedaan agama dan aliran. karena terdapat perbedaan kesiapan antara berbagai umat maka berbeda pula bentuk-bentuk jalan tauhid dan bagaimana jalan itu ditempuh. namun tujuannya adalah satu. Padahal inti semua agama yang benar. yaitu kitab Muhyi al-Din ibn al-Arabi. tujuan dan hakikat metode itu semuanya satu. [8] Sekarang bandingkan ungkapan Hodgson itu dengan yang dapat kita baca dalam sebuah kitab klasik. yakni kesehatan. sementara maksud. tetapi itu bukanlah maksudnya yang semula dan meskipun oleh kaum muslim kemudian hari kajian yang jujur tentang kenyataan sejarah masa silam Islam ditukar dengan gambaran stereotipikal dan berang. Sama juga dengan cara pengobatan yang berbeda-beda. yang dapat terjadi lewat penelitian ilmiah atau pengalaman rohani baru. Ia (al-Syafi'i) melakukan hal ini memang tanpa ketepatan sejarah tertentu. KONSEP ASBAB AL-NUZUL . Mas'udi (3/3) Tetapi barangkali modal potensial terbesar Islam yang paling hebat ialah kesadaran historisnya yang jelas. Al-Syafi'i membawa ke depan kecenderungan yang sudah ada secara laten dalam karya (Nabi) Muhamad sendiri ketika ia menekankan pemahaman al-Qur'an secara benar-benar konkret dalam interaksi historisnya dengan kehidupan Nabi Muhamad dan masyarakat beliau. dalam syarah al-Syaikh Abd-al-Razzaq al-Qasyani. kesediaan mengikuti dengan sungguh-sungguh bahwa tradisi agama terbentuk dalam waktu. dan selalu mempunyai dimensi historis. membuat agama itu mampu menampung ilham baru apapun ke dalam realita dari warisan dan dari titik tolak mulanya yang kreatif. namun mereka tidak pernah mengingkari prinsip bahwa ketepatan historis adalah fondasi semua pengetahuan keagamaan. sepanjang ajaran tentang pasrah kepada Allah (Islam) berdasarkan kepercayaan kepada Tuhan Yang Maha Esa (tawhid). Maka begitu pula cara turunnya ajaran kepada Para Nabi adalah satu. [9] Dalam syarah Fushush al-Hikam diuraikan sebagai berikut: Jika cara turunnya ajaran ke dalam jiwa para Nabi itulah yang dimaksud dengan kesatuan cara yang diturunkannya semua ajaran (dari Tuhan). lalu mengapa agama para Nabi itu berbeda-beda? Jawabnya ialah.3. seperti jari-jari yang menghubungkan garis luar lingkaran dengan titik pusat lingkaran itu. yang sejak dari semula mempunyai tempat begitu besar dalam dialognya. Dalam kitab ini dijelaskan tentang adanya konteks sejarah bagi ajaran agama-agama sehingga menghasilkan manifestasi lahiriah yang berbeda-beda.Relevansinya Bagi Pandangan Historisis Segi-Segi Tertentu Ajaran Keagamaan oleh Masdar F. dan semua cara pengobatan itu sebagai cara menyingkirkan penyakit dan mengembalikan kesehatan adalah satu. Jari-jari tersebut merupakan jalan-jalan yang berbeda-beda menurut perbedaan garis yang menghubungkan antara titik pusat lingkaran itu dengan setiap titik yang ditentukan pada garis lingkar luarnya. dan tujuannya ialah hidayah ke arah kebenaran. Jadi jalan tauhid pun satu.Artikel Yayasan Paramadina Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota I.

Hal yang sudah amat jelas ini perlu dipertegas. Misalnya. [10] Pendekatan historis ini tidaklah berarti relativisasi total ajaran agama dan sifat yang memandang sebagai tidak lebih daripada produk pengalaman sejarah belaka. karena kosmologi yang umum pada waktu itu. Allah telah memberi wahyu kepada Musa dalam bahasa Ibrani (Hebrew) serta kepada Muhamad dalam bahasa Arab. juga tidak kepada suatu sebab khusus dari asbab al-Nuzul munculnya suatu ajaran atau hukum. penting sekali memahami penegasan dalam Kitab Suci bahwa Allah tidak mengutus seorang Rasulpun kecuali dengan bahasa kaumnnya (QS. yang tidak tergantung kepada konteks. yaitu Adam. Padahal bahasa Ibrani adalah paling dekat ke bahasa Arab. Maka meskipun bahasa para Nabi itu bermacam-macam. dan dengan sabda itu Allah menjelaskan apa yang dikendaki dari mahlukNya dan apa perintahNya. Berkaitan dengan ini. demikian: Jadi diketahui bahwa Tuhan mengajari jenis manusia agar mengungkapkan apa yang dikehendaki dan digambarkan dalam benaknya dengan bahasanya. dan semuanya itu adalah sabda (Kalam) Allah. dan umat manusiapun kemudian mengetahui seperti Adam mengetahui. Dan jika masalah kebahasaan menyangkut pula segi kultural ini. Maka banyak para ahli yang akhirnya sampai kepada persoalan bahasa: bagaimana kita mempersepsi suatu ungkapan linguistik untuk dapat melakukan generallisasi tinggi dari makna immediate-nya ke makna universalnya. terdapat kemungkinan bahwa "tujuh lapis langit" adalah bahasa kultural (yang historis). tetapi juga kulturalnya. namun tujuan dan makna risalah mereka semua sama. meskipun bahasa itu berlainan. al-Mulk/67:3). maka konsep asbab al-nuzul dapat diperluas sehingga tidak hanya menyangkut sebuah ayat tertentu saja misalnya. sedemikian dekatnya sehingga kedua bahasa itu lebih dekat daripada bahasa bukan Arab (Ajam) satu dari yang lain. jika dalam al-Qur'an disebutkan bahwa Allah menciptakan tujuh lapis langit (QS. Bahasa termasuk kategori historis. melainkan menyangkut seluruh Kitab Suci itu seutuhnya. dan kesadaran kebahasaan akan dengan sendirinya menyangkut kesadaran historis. Ibrahim/14:4). keterangan yang cukup baik diberikan oleh Ibn Taimiyah. [11] Namun masalah kebahasaan mungkin akan ternyata tidak terbatas hanya kepada segi linguistiknya semata. Dan yang pertama mengetahui hal itu ialah bapak mereka.yang khusus ada padanya. dan hidayah mereka bersumber dari berbagai sentra dan martabat yang berbeda-beda menurut tabiat dan kejiwaan mereka. meskipun bahasa mereka berbeda-beda. agar kita waspada agar jangan sampai kita terkungkung oleh lingkaran kebahasaan semata dan terjerumus ke dalam sikap mental seolah-olah suatu nilai akan hilang kebenarannya jika tidak dinyatakan dalam bahasa tertentu atau ungkapan kebahasaan tertentu yang dianggap suci. yaitu bagaimana menangkap pesan inti yang uraiversal itu. khususnya sekitar Timur Tengah. Justru dalam penegasan tentang kesatuan agama para Nabi terkandung makna yang tegas bahwa ada sesuatu yang benar-benar universal dalam setiap agama dan menjadi titik pertemuan antara semua agama. dan tidak hanya berkaitan dengan kasus spesifik . Dan karena yang universal ini tidak terikat oleh ruang dan waktu. Tetapi masalahnya tetap sama. Tentang hal ini. memang mengenal adanya konsep demikian. maka dapat disebut "tidak historis".

maka rajamlah mereka sama sekali. h. 'Abd al-Hamid Hakim. firman ini dalam isi hukum atau makna legalnya telah menghapus firman Allah: "Orang yang berzina. h. 1988. 7. Al-Mu'in al-Mubin. sebagai kelanjutan dan pengembangan ide Imam al-Syafi'i. firman itu berbunyi: Lelaki maupun perempuan kawin jika berzina. 'Ulum al-Qur'an.92-93. dari sudut pendekatan historis dan ilmiah kepada wahyu Tuhan. (Buku ini dapat diperoleh dalam terjemahan Indonesia. Ibid. Termasuk masalah Nasikh-Mansukh atau "hapus menghapus" ini adalah keterangan Umar. 6.4. 5. [12] CATATAN 1. an Introduction to the Sciences of the Qur'an (London: The Islamic Foundation.. 2.s. 3. bukan sekedar dicambuk seratus kali seperti yang ada dalam al-Qur'an sekarang ini. semasa Nabi. Menurut para ulama. tetapi juga pengetahuan yang lebih menyeluruh tentang pola budaya Arabia dalam sejarahnya yang panjang. seperti "ayat cambuk" diatas: sebaliknya. Kairo. Ibid. Terutama kegiatan arkeologis yang baru-baru ini secara spektakuler.1985). jil. cambuklah masing-masing seratus kali". ada kemungkinan suatu firman dihapus (terhapus?) dari segi lafalnya. Khalifah kedua bahwa ada firman bahwa hukuman orang yang sudah beristri atau bersuami kemudian berzina ialah dirajam sampai mati.48. Menurut Umar. Pembahasan panjang lebar diberikan Imam al-Syafi'i dalam kitabnya yang terkenal. Maka dari sudut ini sungguh besar harapan kita kepada kegiatan penelitian ilmiah di bidang kultural yang mulai tumbuh di Jazirah Arabia. berhasil menemukan kota kuna Ubar (Iram) yang didirikan oleh Syaddad ibn Ad hampir empat ribu tahun yang lalu. namun hukumnya masih berlaku. berkat teknologi satelit. hh. Dr 'Abd al-Fattah. 1968. tetapi maknanya sudah tidak berlaku. al-Nur/4:24). perempuan dan lelaki. 4 jilid (Bukittinggi. Risalah). Dar al-Ittihad al-'Arabi. Asbab al-Nuzul. Al-Wahidi al-Nisaburi.175. Tarikh al-Tasyri' al-Islami. h. h. Nusantara 1955 M/1374 H). 4. Kairo: Markaz al-Ahram. sebelum Islam. 161. 177 dan 185. Kairo. lebih khusus lagi Jazirah Arabia sebagai "situs" langsung wahyu Allah kepada Nabi Muhamad. Q. 4. Jika benar temuan itu maka kita akan lebih mampu memahami penuturan al-Qur'an (al-Fajr/87:6-8) tentang kaum 'Ad dan pesan suci di balik penuturan itu. Segi amat menarik dari masalah ini ialah adanya teori dalam nasikh-mansukh bahwa suatu firman mungkin saja masih tetap bertahan (tidak dihapus) dari segi bunyi lafalnya. 1990. hh. kita tidak hanya akan mendapat manfaat dari pengetahuan tentang asbab al-nuzul saja.dalam kehidupan Nabi dan masyarakat beliau pada saat itu. hh. tetapi meliputi seluruh kondisi kultural dunia. Dalam bahasa fiqhnya. Al-Risalah. khususnya Timur Tengah.177. seperti "ayat rajam" di atas.. dan (bagi kita sekarang) sesudah Islam.96-144 dan 170-176. ada "penghapusan lafal tapi makna hukumnya tetap" . Ahmad Von Denffer. Karena itu.

(Chicago. tt. Lihat berita arkeologis penting ini dalam Time. Dalam pembahasannya. Marshall G. hh. Orang yang menyembah-Nya dan bersama Dia menyembah "tuhan" yang lain bukanlah seorang yang tunduk patuh (muslim). 1974). 3. "Islam" ialah "istislam" kepada Allah. bukanlah seorang muslim. 7501983. Ibn Taimiyah antara lain mengatakan: [kalimat dalam huruf Arab] (Hakikat perbedaannya adalah bahwa arti "islam" ialah "din" dan "din" adalah masdar dari kata kerja "dana-yadinu" (yang menunjuk makna) jika (seseorang) tunduk dan patuh. 8. 223-4. Kairo: Mushthafa al-Babi al-Halabi. 437. 1992. al-Iman. 11. jld. Kairo: Dar al-Thiba'ah al-Muhammadiyah. h. yaitu tindakan kalbu dan anggota badan ") 10. Lihat [kalimat dengan huruf Arab] oleh [kalimat dengan huruf Arab]. Lihat penjelasan makna asal kata-kata Arab "islam" dalam kitab Ibn Taimiyah. dengan menyembah (beribadat) kepada-Nya semata. yaitu tunduk dan penghambaan diri kepada-Nya. Dan orang yang tidak menyembah-Nya. tanpa orang lain. Para ahli bahasa mengatakan begini: "Seseorang melakukan islam (aslama) jika ia melakukan istislam (istaslama). cit. (1987). The University of Chicago Press... seperti dapat dilihat dalam praktek di Kerajaan Saudi Arabia. h. The Venture of Islam. "Jadi "islam" pada asalnya termasuk bab tindakan (bukan nama). "Agama Islam" yang diridhai Allah dan dengan itu diutus-Nya pada Rasul ialah "istislam " (sikap tundukpatuh) kepada Allah semata. 9. Ibn Taimiyah. Hodgson. -------------------------------------------Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah Editor: Budhy Munawar-Rachman Penerbit Yayasan Paramadina Jln. h. (021) 7507174 Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota Please direct any suggestion to Media Team . h. 8. op. Pangkalnya pada kalbu ialah sikap tunduk kepada Allah semata.[kalimat dalam huruf Arab] atau sebaliknya "penghapusan hukum tapi lafalnya tetap" [kalimat dalam huruf Arab] Bagaimana umat Islam memperoleh teori yang "aneh" ini. 3 jilid. (021) 7501969. 7507173 Fax. dapat dilihat dari kesepakatan hampir seluruh para ulama bahwa orang yang sudah kawin dan berzina memang harus dihukum rajam sampai mati. UA 20-21 Jakarta Selatan Telp. 82. 17 Peb. 12. Metro Pondok Indah Pondok Indah Plaza I Kav.S. bahkan besar kepala untuk menyembah-Nya. 30.

Artikel Yayasan Paramadina
Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota I.4. NASIKH MANSUKH DALAM AL-QUR'AN (1/2) oleh KH Ali Yafie Dari awal hingga akhir, al-Qur'an merupakan kesatuan utuh. Tak ada pertentangan satu dengan lainnya. Masing-masing saling menjelaskan al-Qur'an yufassir-u ba'dhuhu ba'dha. [1] Dari segi kejelasan, ada empat tingkat pengertian. Pertama, cukup jelas bagi setiap orang. Kedua, cukup jelas bagi yang bisa berbahasa Arab. Ketiga, cukup jelas bagi ulama/para ahli, dan keempat, hanya Allah yang mengetahui maksudnya. [2] Dalam al-Qur'an dijelaskan tentang adanya induk pengertian hunna umm al-kitab [3] yang sudah mempunyai kekuatan hukum tetap. Ketentuan-ketentuan induk itulah yang senantiasa harus menjadi landasan pengertian dan pedoman pengembangan berbagai pengertian, sejalan dengan sistematisasi interpretasi dalam ilmu hukum -hubungan antara ketentuan undang-undang yang hendak ditafsirkan dengan ketentuan-ketentuan lainnya dari undang-undang tersebut maupun undang-undang lainnya yang sejenis, yang harus benar-benar diperhatikan supaya tidak ada kontradiksi antara satu ayat dengan ayat lainnya. Hal ini untuk menjamin kepastian hukum. Sementara, unsur-unsur bahasa, sistem dan teologi dari teori interpretasi hukum masih harus dilengkapi dengan satu unsur lain yang tidak kalah pentingnya. Itulah unsur sejarah yang melatarbelakangi terbentuknya suatu undang-undang, yang biasa dikenal "interpretasi historis." Dalam ilmu tafsir ada yang disebut asbab al-nuzul, yang mempunyai unsur historis cukup nyata. Dalam kaitan ini para mufassir memberi tempat yang cukup tinggi terhadap pengertian ayat al-Qur'an. Dalam konteks sejarah yang menyangkut interpretasi itulah kita membicarakan masalah nasikh-mansukh. Dalam hal ini masalah yang terpenting untuk kita soroti adalah masalah asas, pengertian/batasan, jenis-jenis, kedudukan, hirarki penggunaan, kawasan penggunaan dan hikmah kegunaannya. ASAS Andaikan al-Qur'an tidak diturunkan dari Allah, isinya pasti saling bertentangan. [4] Ungkapan ini sangat penting dalam rangka memahami dan menafsirkan ayat-ayat serta ketentuan-ketentuan yang ada dalam al-Qur'an. Kitab Suci yang terdiri dari 6000 ayat lebih dan terbagi dalam 114 kelompok surat, mengandung berbagai jenis pembicaraan dan persoalan. Didalamnya terkandung antara lain nasihat, sejarah, dasar-dasar ilmu pengetahuan, keimanan, ajaran budi luhur, perintah dan larangan. Masalah-masalah yang disebutkan terakhir ini, tampak jelas dengan adanya ciri-ciri hukum didalamnya. Semua jenis masalah ini terkait satu dengan lainnya dan saling menjelaskan. Dalam kaitan itu, Imam Suyuthi maupun Imam Syathibi banyak

mengulas prinsip tersebut. Mereka mencatat adanya pendapat yang memandang adanya tiap ayat atau kelompok ayat yang berdiri sendiri. Tapi semuanya berpendapat bahwa antara satu ayat dengan ayat lainnya dari al-Qur'an tidak ada kontradiksi (ta'arudl). Dari asas inilah lahir metode-metode penafsiran untuk meluruskan pengertian terhadap bagian-bagian yang sepintas lalu tampak saling bertentangan. Adanya gejala pertentangan (ta'arudl) yang demikian merupakan asas metode penafsiran dimana Nasikh-Mansukh merupakan salah satu bagiannya. [5] PENGERTIAN Nasikh-Mansukh berasal dari kata naskh. Dari segi etimologi, kata ini dipakai untuk beberapa pengertian: pembatalan, penghapusan, pemindahan dan pengubahan. Menurut Abu Hasyim, pengertian majazinya ialah pemindahan atau pengalihan. [6] Diantara pengertian etimologi itu ada yang dibakukan menjadi pengertian terminologis. Perbedaan terma yang ada antara ulama mutaqaddim dengan ulama mutaakhkhir terkait pada sudut pandangan masing-masing dari segi etimologis kata naskh itu. Ulama mutaqaddim memberi batasan naskh sebagai dalil syar'i yang ditetapkan kemudian, tidak hanya untuk ketentuan/hukum yang mencabut ketentuan/hukum yang sudah berlaku sebelumnya, atau mengubah ketentuan/hukum yang pertama yang dinyatakan berakhirnya masa pemberlakuannya, sejauh hukum tersebut tidak dinyatakan berlaku terus menerus, tapi juga mencakup pengertian pembatasan (qaid) bagi suatu pengertian bebas (muthlaq). Juga dapat mencakup pengertian pengkhususan (makhasshish) terhadap suatu pengertian umum ('am). Bahkan juga pengertian pengecualian (istitsna). Demikian pula pengertian syarat dan sifatnya. Sebaliknya ulama mutaakhkhir memperciut batasan-batasan pengertian tersebut untuk mempertajam perbedaan antara nasikh dan makhasshish atau muqayyid, dan lain sebagainya, sehingga pengertian naskh terbatas hanya untuk ketentuan hukum yang datang kemudian, untuk mencabut atau menyatakan berakhirnya masa pemberlakuan ketentuan hukum yang terdahulu, sehingga ketentuan yang diberlakukan ialah ketentuan yang ditetapkan terakhir dan menggantikan ketentuan yang mendahuluinya. Dengan demikian tergambarlah, di satu pihak naskh mengandung lebih dari satu pengertian, dan di lain pihak -dalam perkembangan selanjutnya- naskh membatasinya hanya pada satu pengertian. [7] JENIS-JENIS NASKH Masalah pertama yang ingin kami soroti dalam bagian ini ialah adanya naskh antara satu syari'at dengan syari'at lainnya. Ini terjadi sebagaimana dapat kita amati antara syari'at Nabi Isa as. dengan syari'at hukum agama Yahudi yang lebih dahulu ada. Dalam hubungan ini, dapat kita katakan bilamana kita mengikrarkan Islam sebagai syari'at, dengan sendirinya kita mengaku adanya naskh, karena syari'at-syari'at sebelumnya tidak akan kita anut lagi dan semua hukumnya pun tidak akan kita berlakukan, sepanjang tidak dikukuhkan kembali oleh syari'at Nabi Muhammad saw. Jadi, adanya nasikh-mansukh antar syari'at itu merupakan salah satu jenis naskh. Hal semacam ini jika ditinjau dari

segi pendekatan ilmu hukum, sangat jelas maksudnya, misalnya pengertian suatu pemerintahan/negara dengan pemerintahan/ negara lainnya. Contohnya, adanya pemerintahan/negara kolonial Hindia Belanda dengan pemerintahan/negara nasional Republik Indonesia. Dalam kaitan ini soal kedaulatan, hukum dasar dan hukum-hukum yang langsung berhubungan dengan kedaulatan, serta hukum-hukum lainnya semuanya dicabut dan tidak diberlakukan lagi sepanjang tidak dikukuhkan pemerintah/negara baru itu. Jika kita sudah melihat adanya nasikh-mansukh antar syari'at, apakah didalam satu syari'at terjadi juga nasikh-mansukh antara hukum yang satu dengan hukum yang lainnya? Jika kita kembali pada syari'at Islam sendiri, kita akan menemui beberapa kasus yang dapat memberikan jawaban atas masalah ini. 1. Sesudah hijrah ke Madinah, kaum Muslim masih berkiblat ke arah Bait al-Muqaddas. Sekitar enam bulan kemudian, Allah menetapkan ketentuan lain: keharusan berkiblat ke arah Bait al-Haram. [8] Ini berarti terjadi nasikh-mansukh dalam hukum kiblat. Kasus lain misalnya dalam hal shalat yang semula tidak diperintahkan lima waktu dengan 17 raka'at. Ini juga berarti telah terjadi nasikh-mansukh dalam hukum shalat. 2. Kasus-kasus yang digambarkan di atas, semuanya menyangkut bidang ibadat. Sedangkan di bidang mu'amalat, dapat pula kita catat beberapa kasus, misalnya hukum keluarga. Sebagai contoh, semula ditetapkan masa tenggang ('iddah) bagi seorang janda, lamanya 1 (satu) tahun. [9] Beberapa waktu kemudian ditetapkan ketentuan hukum lain bahwa masa tenggangnya 4 bulan 10 hari. [10] Di bidang lain ada pula perubahan-perubahan yang menyangkut ketentuan hukum pembelaan diri, tentang minuman keras dan sebagainya. Dari seluruh kasus-kasus tersebut dapat ditarik kesimpulan, memang terbukti adanya nasikh-mansukh yang sifatnya intern dalam syari'at Islam. Beberapa ketentuan hukum yang sudah berlaku, kemudian dicabut atau berakhir masa pemberlakuannya dan diganti dengan ketentuan hukum lain. Hal seperti ini, jika dilihat dari sudut pendekatan ilmu hukum adalah hal yang lumrah dan banyak terjadi. Bahwa suatu undang-undang atau peraturan hukum lainnya dicabut atau dinyatakan tidak berlaku lagi, kemudian diganti dengan menetapkan undang-undang atau peraturan lain. Persoalan lebih jauh dalam masalah nasikh-mansukh ini ialah soal nasikh-mansukh antara al-Qur'an dengan Sunnah. Adanya nasikh-mansukh antara satu ayat yang memuat ketentuan hukum dalam al-Qur'an dengan lain ayat yang juga memuat ketentuan hukum dalam soal yang sama, adalah satu hal yang tidak diperselisihkan lagi. Demikian pula adanya nasikh-mansukh antara satu hadits yang memuat ketentuan hukum dalam soal yang sama, merupakan satu hal yang tidak diperselisihkan lagi. Juga, adanya nasikh-mansukh antara satu hadits yang memuat ketentuan hukum dalam Sunnah dengan lain hadits yang juga memuat ketentuan hukum dalam soal yang sama, merupakan satu hal yang sudah tidak diperselisihkan lagi. Masalah yang menimbulkan perbedaan pendapat diantara para ulama ialah adanya nasikh-mansukh silang antara al-Qur'an dengan Hadits/Sunnah. Jika disimak alasan masing-masing pihak, mungkin dapat ditarik satu garis bahwa faktor utama terjadinya perbedaan pendapat ialah pandangan masing-masing

tentang kedudukan hirarki syari'at itu sendiri.

al-Qur'an

dan

Sunnah

dalam

(bersambung 2/2)

-------------------------------------------Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah Editor: Budhy Munawar-Rachman Penerbit Yayasan Paramadina Jln. Metro Pondok Indah Pondok Indah Plaza I Kav. UA 20-21 Jakarta Selatan Telp. (021) 7501969, 7501983, 7507173 Fax. (021) 7507174 Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota
Please direct any suggestion to Media Team

Artikel Yayasan Paramadina
Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota I.4. NASIKH MANSUKH DALAM AL-QUR'AN (2/2) oleh KH Ali Yafie Dalam kaitan hirarki al-Qur'an dan Sunnah, ada semacam kesepakatan bahwa dalam nasikh-mansukh kedua unsurnya harus sama tingkatnya dan sama nilai dan sifatnya. Lembaga tawatur dan ahad termasuk faktor yang dipertimbangkan. Jalan pikiran seperti ini terdapat juga di kalangan ahli hukum bahwa suatu peraturan hukum tidak dapat dicabut dengan peraturan hukum lainnya yang lebih rendah tingkatannya. Demikian pula lembaga yang mengeluarkan peraturan hukum menjadi faktor pertimbangan. Berdasarkan pemikiran ini, ada satu hal yang perlu kita catat bahwa setelah Rasulullah saw wafat maka tidak ada lagi nasikh-mansukh yang mungkin terjadi pada syari'at. Jenis nasikh-mansukh yang diuraikan diatas, menyangkut segi formalnya. Jenis lain yang menyangkut segi materialnya, ada yang bersifat eksklusif (sharih) dan inklusif (dlimni). Untuk yang bersifat sharih, nasikh itu langsung menjelaskan mansukhnya, misalnya hukum kiblat. Ketentuan yang nasikh (pengganti) ditetapkan secara jelas. [12] Ini contoh dari al-Qur'an. Sedangkan contoh lain dari Sunnah misalnya hukum ziarah kubur. Didalam hadits disebutkan, "Pernah aku melarang kalian melakukan ziarah kubur. Sekarang lakukanlah!". [12] Berbeda dengan hal tersebut diatas, nasikh yang bersifat dlimni tidak memuat penegasan didalamnya bahwa ketentuan yang mendahuluinya tercabut, tetapi isinya cukup jelas bertentangan dengan ketentuan yang mendahuluinya. Jenis seperti inilah yang banyak ditemukan dalam hukum syari'at. KEDUDUKAN NASKH Masalah naskh bukanlah sesuatu yang berdiri sendiri. Ia merupakan bagian yang berada dalam disiplin Ilmu Tafsir dan Ilmu Ushul Fiqh. Karena itu masalah naskh merupakan techniseterm dengan batasan pengertian yang baku. Dalam

kaitan ini Imam Subki menerangkan adanya perbedaan pendapat tentang kedudukan naskh: apakah ia berfungsi mencabut (raf) atau menjelaskan (bayan). [13] Ungkapan Imam Subki ini dapat dikaitkan dengan hal-hal yang menyangkut jenis-jenis naskh yang diuraikan di atas. Jika ditinjau dari segi formalnya maka fungsi pencabutan itu lebih nampak. Tapi bila ditinjau dari segi materinya, maka fungsi penjelasannya lebih menonjol. Meski demikian, pada akhirnya dapat dilihat adanya suatu fungsi pokok bahwa naskh merupakan salah satu interpretasi hukum. HIRARKI PENGGUNAAN NASKH Yang menjadi persoalan sekarang, apakah naskh menempati urutan pertama dalam interpretasi hukum-syari'at? Dalam upaya melakukan interpretasi suatu peraturan dalam syari'at, baik al-Qur'an maupun Hadits setiap ketentuan hukum itu harus jelas. Pengertiannya tidak boleh meragukan, supaya kepastian hukumnya terjamin. Semua segi yang dapat memperjelas kondisi sesungguhnya, maksud ketentuan hukum itu harus disoroti dan didalami. Misalnya, tentang segi bahasanya, proses terjadinya, hubungannya antara ketentuan hukum itu dengan ketentuan hukum yang lain. Dalam hal ini harus ada upaya mengawinkan kedua ketentuan hukum itu (jam') atau memperkuat salah satu diantaranya (tarjih). Baik upaya jam' maupun tarjih sudah mempunyai tata aturan yang sudah baku dalam disiplin ilmu Usul Fiqh. Jika tingkat interpretasi ini sudah ditempuh dan ternyata kontradiksi antara dua ketentuan hukum itu juga sudah teratasi, maka pada tingkat inilah dipersoalkan kemungkinan adanya nasikh-mansukh antara dua ketentuan hukum tersebut. Kuncinya terletak pada soal historis yang menyangkut kedua ketentuan hukum tersebut. Faktor asbab al-nuzul bagi ayat dan asbab al-wurud bagi Hadits, ada dalam tingkat ini. Maka setiap masalah nasikh-mansukh berada pada tingkat akhir dari suatu upaya interpretasi. [14] Kawasan Penggunaan Naskh Masalah yang tidak kurang pentingnya disoroti, sejauh mana jangkauan naskh itu? Apakah semua ketentuan hukum didalam syari'at ada kemungkinannya terjangkau naskh? Dalam hal ini Imam Subki menukil pendapat Imam Ghazali bahwa esensi taklif (beban tugas keagamaan) sebagai suatu kebulatan tidak mungkin terjangkau oleh naskh. Selanjutnya, Syekh Asshabuni mencuplik pendapat jumhur ulama bahwa naskh hanya menyangkut perintah dan larangan, tidak termasuk masalah berita, karena mustahil Allah berdusta. [16] Sejalan dengan ini Imam Thabari mempertegas, nasikh-mansukh yang terjadi antara ayat-ayat al-Qur'an yang mengubah halal menjadi haram, atau sebaliknya, itu semua hanya menyangkut perintah dan larangan, sedangkan dalam berita tidak terjadi nasikh-mansukh. Ungkapan ini cukup penting diperhatikan, karena soal naskh adalah semata-mata soal hukum, yang hanya menyangkut perintah dan larangan, dan merupakan dua unsur pokok hukum. Hal seperti yang diuraikan di atas, di bidang ilmu Hukum dapat kita lihat gambarnya pada Hukum Dasar, misalnya Undangundang Dasar Negara yang tidak dapat dijangkau pencabutan. Adanya pencabutan terhadap sesuatu peraturan

hukum dan penetapan peraturan lain untuk menggantikannya hanya berlaku pada undang-undang organik atau peraturan, kedudukan dan kawasan naskh. Dengan demikian, dengan mudah kita dapat mengenal beberapa persyaratan, yaitu: 1. Adanya ketentuan hukum yang dicabut (mansukh) dalam formulasinya tidak mengandung keterangan bahwa ketentuan itu berlaku untuk seterusnya atau selama-lamanya. 2. Ketentuan hukum tersebut bukan yang telah mencapai kesepakatan universal tentang kebaikan atau keburukannya, seperti kejujuran dan keadilan untuk pihak yang baik serta kebohongan dan ketidakadilan untuk yang buruk. 3. Ketentuan hukum yang mencabut (nasikh) ditetapkan kemudian, karena pada hakikatnya nasikh adalah untuk mengakhiri pemberlakuan ketentuan hukum yang sudah ada sebelumnya. 4. Gejala kontradiksi sudah tidak dapat diatasi lagi. HIKMAH ADANYA NASKH Adanya nasikh-mansukh tidak dapat dipisahkan dari sifat turunnya al-Qur'an itu sendiri dan tujuan yang ingin dicapainya. Turunnya Kitab Suci al-Qur'an tidak terjadi sekaligus, tapi berangsur-angsur dalam waktu 20 tahun lebih. Hal ini memang dipertanyakan orang ketika itu, lalu Qur'an sendiri menjawab, pentahapan itu untuk pemantapan, [17] khususnya di bidang hukum. Dalam hal ini Syekh al-Qasimi berkata, sesungguhnya al-Khalik Yang Maha Suci lagi Maha Tinggi mendidik bangsa Arab selama 23 tahun dalam proses tadarruj (bertahap) sehingga mencapai kesempurnaannya dengan perantaraan berbagai sarana sosial. Hukum-hukum itu mulanya bersifat kedaerahan, kemudian secara bertahap diganti Allah dengan yang lain, sehingga bersifat universal. Demikianlah Sunnah al-Khaliq diberlakukan terhadap perorangan dan bangsa-bangsa dengan sama. Jika engkau melayangkan pandanganmu ke alam yang hidup ini, engkau pasti akan mengetahui bahwa naskh (penghapusan) adalah undang-undang alami yang lazim, baik dalam bidang material maupun spiritual, seperti proses kejadian manusia dari unsur-unsur sperma dan telur kemudian menjadi janin, lalu berubah menjadi anak, kemudian tumbuh menjadi remaja, dewasa, kemudian orang tua dan seterusnya. Setiap proses peredaran (keadaan) itu merupakan bukti nyata, dalam alam ini selalu berjalan proses tersebut secara rutin. Dan kalau naskh yang terjadi pada alam raya ini tidak lagi diingkari terjadinya, mengapa kita mempersoalkan adanya penghapusan dan proses pengembangan serta tadarruj dari yang rendah ke yang lebih tinggi? Apakah seorang dengan penalarannya akan berpendapat bahwa yang bijaksana langsung membenahi bangsa Arab yang masih dalam proses permulaan itu, dengan beban-beban yang hanya patut bagi suatu bangsa yang telah mencapai kemajuan dan kesempurnaan dalam kebudayaan yang tinggi? Kalau pikiran seperti ini tidak akan diucapkan seorang yang berakal sehat, maka bagaimana mungkin hal semacam itu akan dilakukan Allah swt. Yang Maha Menentukan hukum, memberikan beban kepada suatu bangsa yang masih dalam proses pertumbuhannya dengan beban yang tidak akan bisa dilakukan melainkan oleh suatu bangsa yang telah menaiki jenjang kedewasaannya? Lalu, manakah yang lebih baik, apakah syari'at kita yang menurut sunnah Allah ditentukan hukum-hukumnya sendiri, kemudian di-nasakh-kan karena dipandang perlu atau disempurnakan hal-hal yang dipandang tidak mampu dilaksanakan manusia

dengan alasan kemanusiaan? Ataukah syari'at-syari'at agama lain yang diubah sendiri oleh para pemimpinnya sehingga sebagian hukum-hukumnya lenyap sama sekali? [18] Syari'at Allah adalah perwujudan dari rahmat-Nya. Dia-lah yang Maha Mengetahui kemaslahatan hidup hamba-Nya. Melalui sarana syari'at-Nya, Dia mendidik manusia hidup tertib dan adil untuk mencapai kehidupan yang aman, sejahtera dan bahagia di dunia dan di akhirat. CATATAN 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. 12. 13. 14. 15. 16. 17. 18. Jalaluddin al-Suyuthi, Al-Itqan Ibn Katsir, Tafsir-u 'l-Qur'an-i 'l-'Azhim QS. Ali 'Imran: 7 QS. Al-Nisa: 82 Imam Abu Zahrah, Ushul al-Fiqh Al-Thusi, Uddat al-Ushul 'Abbas Mutawalli Hamadah, Al-Sunnat al-Nabawiyyah QS. Al-Baqarah: 114 QS. Al-Baqarah: 240 QS. Al-Baqarah: 234 QS. Al-Baqarah: 142 Imam Muslim, Al-Jami' al-Shahih Imam Al-Subki, Jam' al-Jawami' Abdul Wahab Khallaf, Ilmu Ushul al-Fiqh Imam Al-Subki, Jam' al-Jawami Muhammad Ali Al-Shabuni, Rawai'al-Bayan QS. Al-Furqan: 32 Al-Qasimi, Mahasin al-Ta'wil.

-------------------------------------------Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah Editor: Budhy Munawar-Rachman Penerbit Yayasan Paramadina Jln. Metro Pondok Indah Pondok Indah Plaza I Kav. UA 20-21 Jakarta Selatan Telp. (021) 7501969, 7501983, 7507173 Fax. (021) 7507174 Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota
Please direct any suggestion to Media Team

Artikel Yayasan Paramadina
Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota IV.29. PANDANGAN KONTEMPORER TENTANG FIQH (1/4) Telaah Problematika hukum Islam di Zaman Modern Oleh Nurcholish Madjid Salah satu kesibukan para intelektual Muslim di seluruh dunia saat ini ialah memikirkan bagaimana menerjemahkan nilai-nilai Islam ke dalam perangkat nyata kehidupan modern. Seorang Muslim yang serius tentu menyadari, betapa ia dihadapkan pada tantangan hidup dalam suatu masyarakat modern, yaitu suatu masyarakat yang notabene merupakan kelanjutan logis, meskipun

melalui proses transmutasi yang amat besar, dari berbagai unsur tatanan dan nilai hidup yang telah pernah berkembang sebelumnya, khusus di dunia Islam. Ilmu pengetahuan modern, misalnya, dengan mudah dapat ditelusuri asal-usulnya sebagai kelanjutan dunia keilmuan Islam yang pernah berkembang dalam masanya jayanya yang "liberal," ketika kaum Muslim terlatih menghargai suatu temuan pikiran dan keilmuan baru, dan ketika wawasan mereka terbentuk karena semangat kosmopolitanisme dan universalisme sejati. Namun pada saat yang sama, karena tuntutan imannya, seorang Muslim "modern" harus tetap berada dalam pangkuan agamanya dan dijiwai nilai-nilai asasinya. Zaman modern, atau yang menurut Marshall Hodgson lebih tepat dinamakan "Zaman Teknik" (Technical Age) adalah jelas berbeda secara mendasar dari zaman agraris sebelumnya. Padahal agama Islam, sebagaimana halnya dengan agama-agama besar lain, dilahirkan dalam zaman agraris. Seperti baru saja disebutkan di atas, ini tidaklah berarti zaman modern terputus samasekali dari zaman sebelumnya Justru unsur kontinuitasnya dengan masa lalu sedemikian rupa tidak mungkin diingkari, karena dasar-dasar zaman modern ini pun diletakkan masa sebelumnya, yaitu di zaman agraris. Suatu teori kesejarahan dunia malah menyebutkan, zaman agraris sebenarnya telah mengalami perkembangan menuju ke arah kompleksitas yang tinggi pada masa Axial Age ("Masa Aksial" atau "Sumbu"), yaitu masa yang terbentang selama enam abad sejak abad kedelapan sampai abad kedua sebelum Nabi 'Isa al-Masih as. Pada saat itu terjadi perubahan asasi di mana-mana, akibat lepasnya monopoli pengetahuan tulis baca dari tangan kelas pendeta, menjadi tersebar di antara berbagai kelompok borjuis, dan karenanya watak serta kecepatan perkembangan tradisi tulis-baca itu juga berubah. Pada waktu yang sama, keseluruhan tatanan geografis bagi kegiatan bermakna kesejarahan manusia juga mengalami transformasi, sebab saat itu mulai menyebar, meliputi hampir seluruh belahan bumi. [1] Pada masa itu dengan nyata budaya manusia mulai berkembang keluar dari inti kawasan Nil-Amudarya (Mesir-Transoxiana) yang menjadi inti kawasan bumi yang berpenghuni dan berperadaban (Arab: al-Da'irat al-Ma'murah; Yunani: Oikoumene, "Daerah Berpenduduk"). Zaman Islam adalah zaman "Pasca-Sumbu" (Post-Axial), dan masa kejayaan Islam merupakan puncak perkembangan "Zaman Agraria Berkota" (Agrariante Citied Society), yaitu masyarakat agraris dengan ciri kehidupan perkotaan (urbanity) yang menonjol. Adalah dalam urbanity itu --suatu pola kehidupan sosial-ekonomi yang ditandai tingginya kegiatan ekonomi urban dan penghargaan kepadanya, khususnya perdagangan, dan etos intelektual-- terletak benang merah kontinuitas antara zaman modern dengan zaman Islam. Tapi sekali pun zaman Islam masih sepenuhnya berada dalam rangkaian zaman agraris (jadi masih mempunyai kesinambungan dengan zaman sebelumnya), perubahan yang dibawanya sedemikian radikal dan eksplosif, sebanding dengan radikal dan eksklusif pembebasan (futuhat) yang dilakukan kaum Muslim, pertama-tama atas kawasan Nil-Amudarya, kemudian segera meliputi daerah yang lebih luas, yang kurang lebih waktu itu merupakan daerah paling maju di muka bumi. Dengan flashback di atas, kiranya menjadi jelas, sesungguhnya peralihan dari masa lalu yang agraris-urban itu, ke zaman modern sekarang, ini tidaklah terlalu unik dalam pandangan sejarah umat manusia. Dan disebabkan faktor peranan sejarahnya sendiri sebagai puncak zaman agraris urban, maka Islam

Sejarah membuktikan betapa problematiknya hubungan dogma Kristen dengan unsur pokok modernitas. dan bukannya faktor kontinuitas kultural di atas. pengamatan lebih jauh atas berbagai peristiwa besar menyimpulkan tidak adanya kemestian pilihan hitam putih antara kontinuitas dan perubahan. khususnya pengalaman permusuhan (antara lain karena titik singgung keagamaan Islam-Kristen dan ketetanggaan geografis Timur Tengah-Eropa) justru nampak menjadi sumber problematik bangsa-bangsa Muslim menghadapi perubahan ke zaman modern. Betapa pun besarnya suatu perubahan. dan betapa dalam Islam. Inilah yang dalam jargon ilmu sosial mutakhir disebut "modernitas tradisi". praktis tidak ada hal serupa dalam Islam. . karena adanya asosiasi (yang tidak seluruhnya benar) antara modernisme dan westernisme.memiliki potensi menjadi pewaris yang paling beruntung dari zaman modern ini. atau dapat diterangkan dalam kerangka nilai lama yang lebih luas itu. Jika kita ambil peristiwa Inkuisisi Kristen dalam menghadapi ilmu pengetahuan. yang menyebabkan kebanyakan kaum Muslim mengalami kesulitan dalam menghadapi zaman modern. situasi problematik itu dapat dikata tidak ada sama sekali. tetap terdapat unsur-unsur persambungan tertentu dengan masa lalu. dan pelanjut serta pengembangnya di masa depan. misalnya. dengan sesuatu yang lain dengan sendirinya selalu menimbulkan kesan pertentangan: Tapi. Apalagi bangsa-bangsa Barat itu." sebagai kelanjutan semangat permusuhan antara orang Spanyol Kristen dengan orang Spanyol Muslim yang mereka sebut "orang Moro"). Justru tidak jarang esensi nilai baru dalam suatu masyarakat yang berubah itu memperoleh pengukuhannya dan penguatan efektifitasnya karena mendapatkan tempat dalam sistem nilai lama yang lebih luas. Adalah beberapa pengalaman historis permusuhan ini. karena unsur-unsur asasi zaman modern itu tidak asing bagi pandangan hidup kaum Muslim. Berbagai pengalaman historis yang lebih spesifik pada bangsa-bangsa Muslim dalam interaksinya dengan bangsa-bangsa Barat. ketika melakukan penjajahan atas bangsa-bangsa Muslim. Tapi sudah tentu faktor kontinuitas prinsipil bukanlah satu-satunya perkara yang membentuk dan menentukan sikap seseorang atau komunitas dalam menghadapi perubahan zaman. MASALAH KONTINUITAS DAN PERUBAHAN Kontinuitas yang mengisyaratkan pertahanan unsur-unsur masa lalu dan perubahan yang mengandung makna penggantian unsur-unsur masa lalu itu. sementara Jepang yang Buddhis justru memperlihatkan tanda-tanda Barat dalam beberapa segi industrialnya. bahkan sebaliknya sikap positif terhadap ilmu pengatahuan adalah sui generis atau tiada taranya dalam pandangan hubungan organiknya yang sejati dengan sistem keimanan. sebagaimana setiap "kesan" atau "dugaan" (dhan) tidak selamanya mengandung kebenaran. Turki yang Muslim sampai sekarang masih menunjukkan ciri dunia ketiga yang non-industrial. yaitu ilmu pengetahuan. Maka. sebagaimana sedikit banyak ditunjukkan dalam pembicaraan di atas tadi. jelas-jelas membawa kenangan pengalaman historis masa lampau yang penuh permusuhan (antara lain dilambangkan dan dibuktikan dalam: bagaimana para penjajah Spanyol menamakan kaum Muslim Mindanao sebagai "orang-orang Moro. Kesulitan kaum Muslim ini di antaranya tercermin dalam bagaimana menangani masalah reinterpretasi hukum Islam untuk zaman modern.

[2] Karena observasi dan kesimpulannya itu. Islam adalah agama yang paling dekat dengan modernitas dibanding agama Yahudi dan Kristen. Versi kerakyatan lama (seperti praktek kesufian rakyat yang tidak sah atau mu'tabarah.. Yaitu dipandang dari sudut semangat Islam tentang universalisme. Egalitarianisme modern terpenuhi. dan pelaksanaannya dapat disajikan. dan dengan begitu maka cita-cita "protestan" agar semua yang beriman mempunyai akses yang sama (kepada kitab Suci-NM) akan terlaksana. memiliki pandangan tentang Islam dan kemodernan yang mungkin membuat seorang Muslim menjadi lebih percaya diri. egalitarianisme spiritual. perluasan partisipasi dalam masyarakat suci yang meliputi semua anggotanya tanpa kecuali. dan sistematisasi rasional kehidupan sosial. purifikasi/modernisasi di satu pihak.Garis argumen itu lebih-lebih tepat. dan samasekali tidak perlu meninggalkannya. dan penegahan apa yang dianggap suatu ciri lokal lama. betapapun ad hoc dan eclectic-nya sikap yang melatarbelakanginya) tapi dapat bertahan dengan nilai-nilai keislamannya. misalnya-NM). sementara secara imperatif mesti menerima kehidupan modern (sebagaimana telah menjadi kenyataan. tapi sebaliknya sebagai kelanjutan dan penyempurnaan dialog lama dalam Islam. Kenyataan bahwa varian sentral. tidak sebagai inovasi ataupun konsesi kepala pihak luar. jika dikenakan terhadap Islam dan kaum Muslim dalam menghadapi zaman modern. Islam mungkin akan ternyata merupakan penerima manfaat modernitas itu. sehingga orang tidak lagi mudah mengatakan mana salah satu dari keduanya itu yang paling bermanfaat bagi yang lain. Ia katakan: Hanya Islam yang mampu bertahan sebagai keimanan yang serius. yang pernah menjadi alas dangkal tradisi sentral sekarang menjadi kambing hitam yang dibuang. maka tidak heran menurut Ernest Gellner.sangat membantu adaptasi Islam ke dunia modern. Yaitu bahwa mereka.. dan hanya dalam Islam. yang mengatasi baik tradisi kecil maupun Tradisi Besar. Karena itu meskipun tidak merupakan sumber modernitas. Maka sosiolog terkenal Ernest Gellner. bahkan sering dengan nada peneguhan dan apresiasi. skripturalisme. misalnya. Dalam zaman cita-cita melek huruf universal.[3] Pendapat tentang tidak perlunya kaum Muslim menanggalkan . Jika hal ini dengan sendirinya menjadi keyakinan seorang Muslim. potensi Islam yang hangkit kembali untuk skripturalisme egaliter dapat secara aktual menyatu dengan nasionalisme. yang dipersalahkan menyebabkan kemunduran dan dominasi unsur asing. dapat dilakukan dalam bahasa dan perangkat simbol yang satu dan sama. Jadi dalam Islam. resmi dan "murni" Islam bersemangat egaliter dan keilmiahan --sementara hirarki dan ekstase (seperti dalam banyak praktek kesufian rakyat-NM berkaitan dengan bentuk-bentuknya yang bersifat pinggiran senantiasa meluas namun akhirnya ditampik. Sementara Protestantisme Eropa hanya menyiapkan lahan untuk nasionalisme melalui perluasan melek-huruf. para pengamat luar pun mengakui adanya hal yang sama. Tradisi Besarnya dapat dipermodern (modernisable). lapisan sarjana yang terbuka (dalam Islam) dapat berkembang sehingga meliputi seluruh masyarakat.

UA 20-21 Jakarta Selatan Telp. Jawaban terhadap pertanyaan ini diberikan pada akhir bukunya. yang oleh Leonard Binder diringkaskan. Dalam perkataan lain. apalagi dituduh. seseorang dapat berjalan sejauh yang ia perlukan untuk dapat mengejar Barat tanpa mengorbankan apapun yang esensial bagi Islam dan yang menjadi bagian integral dari identitas kaum Muslim. tanpa kehilangan sifatnya yang paling mendasar. 7507173 Fax. "Sejauh mana orang (Muslim) harus pergi dalam proses mencapai kemakmuran yang menggiurkan dari negara-negara industri? Haruskah seseorang berjalan sedemikian jauhnya sehingga mengorbankan berbagai nilai yang secara khusus diyakini. (021) 7501969. sebagai penyebab kemunduran negeri-negeri itu. Karena itu Islam tidak dapat dipandang sebagai bertanggung jawab atas kemunduran kaum Muslim. [5] -------------------------------------------(bersambung 2/4) Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah Editor: Budhy Munawar-Rachman Penerbit Yayasan Paramadina Jln.29. PANDANGAN KONTEMPORER TENTANG FIQH (2/4) Telaah Problematika hukum Islam di Zaman Modern Oleh Nurcholish Madjid MASALAH PESAN DASAR ISLAM Ketika mengatakan Islam tidak mempunyai sangkut paut dengan milieu ekonomi negeri-negeri Muslim sehingga tidak dapat dipandang. Metro Pondok Indah Pondok Indah Plaza I Kav.nilai-nilai dasar keislaman mereka untuk dapat masuk zaman modern itu juga dikemukakan Maxime Rodinson. karena Islam sesungguhnya tidak ada kaitannya dengan lingkungan ekonomi negeri-negeri Muslim. Dalam pembukaan sebuah bukunya. (021) 7507174 Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota Please direct any suggestion to Media Team Artikel Yayasan Paramadina Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota IV. Rodinson menunjuk kepada kenyataan betapa masyarakat-masyarakat Islam sepanjang sejarahnya menunjukkan gejala menganut pola ekonomi yang bermacam-macam dalam zaman yang berbeda atau tempat yang berbeda. Rodinson mempertanyakan. juga seorang sosiolog (Perancis) kontemporer. kepribadian dan identitas kelompok orang bersangkutan?"4. 7501983. kesimpulannya yang tegas bahwa kaum Muslim tidak meninggalkan hal-hal yang secara esensial bersifat namun perlu Islam . yaitu yang membentuk ciri tertentu. Tesis Rodinson ini terbuka untuk dipersoalkan. maka jika kemajuan adalah suatu "Kapitalisme" (sebagaimana orang cenderung melihat buktinya melalui runtuhnya sistem sosialis atau komunis) maka Islam dapat saja bersatu dengan kapitalisme itu. bahwa tidaklah perlu meninggalkan sesuatu apapun yang secara esensial bersifat Islam.

dengan berbuat hal-hal tidak bermoral (fahsya'. namun dalam kenyataan kita masih menemui diri kita. Karena suatu "pesan dasar" mengacu pada suatu nilai yang amat tinggi. Artinya. namun wujud nyatanya sendiri sering masih merupakan problem. Beragama bagi seseorang tentu tidak akan bermakna." [7] Perjanjian itu pula yang terjadi antara Tuhan dan Adam. dan harus menjauh dari penyembahan kepada setan. Meskipun problem di sini agaknya lebih banyak berurusan dengan soal kemampuan ekspresif.[6]. Dalam Kitab Suci al-Qur'an banyak diungkapkan tentang adanya perjanjian. agar Tuhan pun memenuhi perjanjian-Nya dengan manusia. tidak bisa disangkal. Perjanjian primordial itu juga diungkapkan dalam bahasa metaforik yang sangat ilustratif. kecenderungan banyak orang menilai kadar keimanan orang lain hanya dari segi hal-hal simbolik dan formal. maka dalam suatu masyarakat yang diliputi paham serba simbol (akibat pendidikan yang rata-rata rendah dan cara berpikir yang sederhana) "pesan dasar" itu sering terkacaukan dengan hal-hal simbolik dan formal yang mewadahinya. demikian: Dan ingatlah ketika Tuhanmu mengambil (menciptakan) dari anak cucu Adam. Tapi sementara frase "pesan dasar" Islam terdengar familiar bagi setiap yang pernah membahas masalah-masalah keislaman. Namun realita menunjukkan adanya kesulitan yang nyata. Tanpa berarti dukungan untuk salah satu dari Ahl al-Dhawahir dan Ahl al-Bawathin yang buah pikiran mereka sempat ikut mewarnai polemik-polemik dalam khazanah literatur Islam klasik. namun kemudian Adam melupakannya dan tergoda setan. yang membuatnya diusir dari surga. demi perkenan Tuhan (ridha Allah). kami bersaksi!" (Demikian itu supaya kami tidak) berkata di hari Kiamat: "Sesungguhnya kami lupa akan hal itu. keturunan mereka dan Dia minta kesaksian mereka atau diri mereka sendiri: "Bukankah Aku ini Tuhanmu?" Mereka mergawab: "Benar. yaitu dari tulang belakang mereka. bahwa manusia tidak akan menyembah setan dan harus hanya menyembah Allah semata. hal-hal yang secara esensial bersifat Islam itu dengan sendirinya adalah "pesan dasar" (risalah asasiyyah) Islam itu sendiri.[9] Maka kaum beriman sejati ialah mereka yang memenuhi janjinya. Sebuah firman suci menyebutkan adanya perjanjian primordial antara Tuhan dan manusia. jika menyalahi perjanjiannya dengan Allah setelah perjanjian itu menjadi kesepakatan. merupakan indikasi kesulitan menangkap pesan dasar agama seperti sering dikuatirkan sementara Ahl al-Bawathin tentang orientasi keagamaan Ahl al-Dhawahir. persetujuan dan kesepakatan antara Tuhan dan manusia.mendorong orang bertanya: Lalu apa wujud dari hal-hal yang secara esensial bersifat Islam itu? Jawabnya adalah. manusia harus menempuh hidup bermoral. munkar).[l0] Sebaliknya orang itu kafir. dengan mengutip Zamakhsyari dalam tafsir .[11] Muhammad Asad. sering tidak begitu jelas mengenai pesan dasar itu. jika ia tidak mampu menangkap pesan dasar itu. 'aqd dan mitsaq. karena itu ada risiko abstraksi yang tinggi pula. dengan Allah dan tidak membatalkan kesepakatan antara dia dan Allah itu.[8] Karena itu manusia diharapkan memenuhi perjanjiannya dengan Tuhan. tapi gagal mengungkapkannya). yang dinyatakan dalam kata-kata Arab sebagai abd. bukan substantif (orang tahu atau merasa tahu substansinya.

sebagai merujuk pada kewajiban moral manusia untuk menggunakan karunia bawaan lahirnya --intelektual dan fisik-. Karena itu al-Qur'an menegaskan. yang antara lain akan membawa manusia kepada kesadaran akan dirinya berhadapan dengan Sang Maha Pencipta. terhadap sesama manusia. Yang pertama (Yahudi) merupakan pelembagaan berdasarkan kebangsaan (atau malah kesukuan. anak pertama Israil atau Ya'qub). sedangkan yang kedua (Nasrani) konon berdasarkan nama tempat (Nazaret). yang sesungguhnya tidak memerlukannya. yang dalam bahasa Inggris secara konvensional diterjemahkan dengan God's covenant. dalam bahasa Arab.[22] . sepanjang penjelasan al-Qur'an. menerangkan. ditolak Kitab Suci." [20] Pesan dasar itu. al-Qur'an menolak klaim kaum Yahudi atau Nasrani bahwa Nabi Ibrahim adalah seorang Yahudi atau Nasrani.[l4] dan pokok perjanjian Tuhan dengan semua Nabi: "Ingatlah ketika Kami (Tuhan) mengambil dari para Nabi perjanjian mereka. Ibrahim adalah seorang Muslim (yang pasrah dan damai kepada Allah). Demikian pula bentuk-bentuk pelembagaan formal dan parokial lainnya.dalam suatu cara yang ditetapkan Ailah untuknya. Allah membimbing siapa saja yang mengikuti keridlaan-Nya ke berbagai jalan keselamatan. juga dari engkau (Muhammad) dan dari Nuh. Karena itu. Musa dan Isa putera Maryam. sebagaimana telah disinggung.[13]. yang titik tolaknya ialah sikap pasrah dan berdamai dengan Allah (dalam bahasa Arab disebut Islam). bahwa Allah adalah Maha Hadir. dan telah Kami ambil dari mereka perjanjian yang berat. Ibrahim. sebab agama yang benar secara asli haruslah tidak bernama kecuali dengan nama yang menggambarkan semangat makna generik kebenaran itu sendiri. agama yang benar ialah agama yang memiliki makna generik itu.al-Kasysyaf. adalah suatu istilah umum yang mencakup kewajiban-kewajiban moral dan sosial yang timbul akibat iman itu. [12]. sebab dalam pandangan Kitab Suci al-Qur'an keyahudian dan kenasranian adalah bentuk-bentuk pelembagaan formal dan bahkan parokial dari suatu agama generik." [16] Pemenuhan perjanjian manusia dengan Tuhannya itu melahirkan sikap hidup bertaqwa.[18] Dan Nabi saw pun bersabda bahwa "Tiada suatu apapun yang dalam timbangannya lebih berat daripada keluhuran budi. yaitu seorang yang karena bimbingan kesucian dirinya sendiri (fithrah) memelihara kecenderungan dan pemihakan yang murni kepada yang benar dan baik secara generik. yaitu sikap hidup yang penuh pertimbangan moral. asli dan sejati. Kesadaran Ketuhanan (Rabbaniyyah) yang mendasari akhlaq mulia itulah inti pesan dasar agama lewat para Rasul. yaitu makna dasar dan universal sebelum suatu agama terlembagakan menjadi bentuk-bentuk formal dan parokial. yang selamanya menyertai dan mengawasi tingkah laku setiap orang. perjanjian (Inggris: covenant) antara Allah dan manusia itu. yaitu. Juga ditegaskan. Ibrahim adalah seorang hanif. [16] Maka al-Qur'an pun disebutkan sebagai "petunjuk bagi orang-orang yang bertaqwa. sebagai pesan Tuhan kepada semua Nabi dan Rasul --dan melalui mereka kepada seluruh ummat manusia membentuk makna "generik" agama. misalnya. Asad juga memperjelas makna perjanjian dengan Allah (ahd Allah)." [l7] Dengan al-Qur'an itu. Islam (Sikap Pasrah dan Damai kepada Allah).[21] Maka. atas dasar keinsyafan mendalam." [l9] Dan bahwa "Yang paling banyak menyebabkan manusia masuk surga ialah taqwa kepada Allah dan budi pekerti luhur. yaitu suku keturunan Yehuda.

yang meliputi perjanjian dengan Allah ('ahd. Sebagai hukum dasar dari Tuhan. bahkan meliputi seluruh alam raya ciptaan-Nya ini. aqd. Hendaknya kamu tidak melanggar (hukum) keseimbangan itu. dan demikian pula dengan semua Nabi. yang menyangkut masalah pengaturan tata hidup manusia dalam hubungan mereka satu sama lain dalam masyarakat. yaitu seluruh jagad raya ini berjalan mengikuti hukum keseimbangan. PRINSIP KEADILAN (SOSIAL) Pada pokoknya pesan dasar ini.[25] Keadilan yang dalam bahasa Kitab Suci dinyatakan dalam kata-kata 'adl. yaitu agar manusia tunduk patuh kepada-Nya melalui sikap pasrah dan berdamai. yang pelanggaran terhadapnya dapat dilukiskan secara metaforik sebagai mengganggu atau "mengguncangkann tatanan jagad raya. Sesungguhnya. dari sudut pandangan kosmologi al-Qur'an. wasth (semuanya memiliki makna dasar "tengah" atau "jujur") adalah wujud lain hukum keseimbangan (mizan) yang telah ditetapkan Allah untuk seluruh jagad raya.[24] Dan sebagai wujud terpenting pemenuhan perjanjian dengan Allah dan pelaksanaan pesan dasar agama. Tapi dalam kaitannya dengan penciptaan Allah akan jagad raya. sikap pasrah kepada-Nya (islam) dan kesadaran akan kehadiran-Nya dalam hidup (taqwa. dan Dia tetapkan (hukum) keseimbangan. Karena itu tindakan menegakkan keadilan ditegaskan sebagai nilai yang paling mendekati taqwa. Dan tegakkanlah olehmu semua akan neraca dengan jujur. Ketika pesan dasar itu menuntut terjemahannya dalam tindakan sosial nyata. Bahkan neraca yang kita kenal dan tampak bekerja secara "sederhana" itu pun adalah . pesan dasar ini.[26] Beberapa tafsir dan terjemah konvensional menerangkan. dan dengan jalan menempuh hidup bermoral. termasuk Musa dan Isa (Yesus. menegakkan keadilan dalam masyarakat adalah amanat Allah kepada manusia. Mereka adalah muslim dan mengajarkan islam dalam arti. yang dimaksud dengan mizan dalam firman itu ialah neraca yang dikenal. dan jangan kamu bertindak merugikan (hukum) keseimbangan. yang dalam firman ini dilambangkan sebagai penciptaan langit yang "ditinggikan" oleh-Nya. berlaku untuk semua ummat manusia. Maka keadilan adalah aturan kosmis (cosmic order). di mana manusia hanyalah salah satu bagian saja. dan tidak terbatasi oleh pelembagaan formal agama-agama. semuanya adalah tokoh-tokoh yang muslim dan mengajarkan islam [23]. (sekalipun tidak berarti para Nabi itu secara harfiah menggunakan perkataan Arab yang berbunyi m-u-s-l-i-m dan i-s-l-a-m.Demikianlah Nabi Ibrahim. dalam makna kosmologisnya. maka lebih tepat memandang perkataan mizan ini. mitsaq di atas). maka ditegaskan. setelah lewat proses pengalihan nama itu dalam bahasa Yunani). Inilah yang antara lain dapat kita ambil pengertiannya dari firman Allah: Dan langit pun ditinggikan oleh-Nya. karena justru kebanyakan para Nabi bukanlah orang-orang Arab). Tentu saja tidak terlalu salah. rabbaniyyah). qisth. maka tidak ada manifestasinya yang lebih penting daripada nilai keadilan. keadilan adalah hukum primer seluruh jagad raya. semuanya bersikap pasrah dan berdamai dengan Allah dan membawa pesan dasar yang sama. adalah universal.

atau Sunnatullah yang tidak tergantung kepada keinginan seseorang (obyektif) dan berlaku universal. suatu cosmic order yang menjadi hukum Tuhan. Metro Pondok Indah Pondok Indah Plaza I Kav. dan tidak akan bertahan lama bersama kezaliman dan Islamn" [27] Dengan pernyataannya yang tidak biasa itu. jika tidak disertai keadilan. khususnya dalam arti sosial. sehingga tidak akan berubah (immutable). keadilan adalah "tatanan segala sesuatu" (nidham-u kull-i syay) [28]. Berbagai pemikiran mutakhir tentang fiqh menegaskan perlunya kesadaran akan pesan dasar Islam sebelum . (021) 7501969. dan tidak akan menegakkan negeri yang zalim meskipun Islam. didukung Allah. (021) 7507174 Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota Please direct any suggestion to Media Team Artikel Yayasan Paramadina Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota IV. sama dengan yang telah dijelaskan di atas. -------------------------------------------(bersambung 3/4) Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah Editor: Budhy Munawar-Rachman Penerbit Yayasan Paramadina Jln. sehingga ia menguatkan pandangan bahwa "Sesungguhnya Allah akan menegakkan negeri yang adil meskipun kafir. dalam hal ini khususnya Ibn Taymiyyah. sedemikian tegas dan jauh berpegang pada prinsip keadilan itu sebagai ideatum tatanan sosial manusia yang akan menjamin kekokohan dan kelangsungannya. yakni. di segala tempat dan masa. karena keseimbangan dalam sebuah neraca adalah kelanjutan dari hukum keseimbangan yang lebih luas (yang menguasai seluruh alam)." dan "Dunia akan bertahan bersama keadilan dan kekafiran. Dari sudut pandangan inilah kita memahami mengapa banyak para 'ulama'. 7507173 Fax. misalnya. PANDANGAN KONTEMPORER TENTANG FIQH (3/4) Telaah Problematika hukum Islam di Zaman Modern Oleh Nurcholish Madjid BEBERAPA CONTOH PEMIKIRAN KONTEMPORER FIQH Kita telah pergi sejauh yang diperlukan. Keislaman yang formal saja tidak akan membawa keselamatan di dunia ini. meskipun suatu masyarakat adalah kafir namun menegakkan keadilan di dunia ini.29. Sebaliknya. maka masyarakat itu akan tegak. 7501983. untuk membahas masalah-masalah pokok yang mendasari pemikiran kontemporer tentang fiqh. Sedemikian rupa jauhnya pandangan Ibn Taymiyyah. Sebab. UA 20-21 Jakarta Selatan Telp. melalui hukum gravitasi. Ibn Taymiyyah hanya bermaksud agar ummat Islam tidak taken for granted dalam hal keislaman.suatu gejala kosmis.

"Kalau tujuan kita ialah kebaikan masyarakat. Tapi kalau seandainya seluruh situasi yang berkaitan dengan lingkungan telah tersedia dengan sebaik-baiknya. Fatthi 'Utsman menegaskan. maka tentulah yang tersisa bagi kita ialah memikirkan sebab-sebab individual yang mendorong orang untuk melakukan pelanggaran-pelanggaran. al-Din li al-Waqi' (Agama untuk Realita): Keadilan Sosial sebelum hukuman. Dan cara apapun yang dapat merealisasikan tujuan ini harus dipandang sebagai wajar dari sudut pandangan sosial. hukum bunuh (qishash) untuk kejahatan pembunuhan. potong tangan untuk pencurian. Kami kutipkan dan terjemahkan sepenuhnya pendapat Fat'hi 'Utsman yang relevan. kecuali sesudah ditempuh jalan proteksi." Dalam praktek memang telah terjadi berbagai usaha ke arah ini melalui berbagai pengabdian sosial. Dari sini kita melihat. Jadi jika kita dapat mencegah sebab-sebab dan situasi yang mendorong kejahatan. dan lain-lainnya. maka Islam tidaklah melakukan hal itu sebelum tegaknya hak-hak hidup pribadi dan mantapnya tanggung negara untuk menjamin hak-hak pribadi itu. Tapi penetapan hukum Islam tidak pernah disebut kecuali mesti timbul dalam pikiran orang. Wajar bahwa Islam menempuh jalan penetapan hukum-hukum setelah ditempuhnya jalan pengarahan pikiran melalui aqidah dan pendidikan tingkah laku melalui prinsip tabadul. suatu hukum. Dan ketika menetapkan hukuman potong tangan pencuri. maka sesungguhnya ia juga menetapkan kemudahan jalan perkawinan dan melindungi bagian-bagian privat dari tubuh dengan menutup aurat dan menjaga penglihatan mata. Dan ketika Islam menetapkan hukum rajam atau cambuk atas pezina. maka itulah cara yang ideal yang kita wajib menggunakannya. Kesadaran itu dapat disebut sebagai karakteristik pemikiran fiqh dan hukum Islam di zaman modern. kelompok atau perbedaan tingkat sosial. maka tujuan hukuman haruslah proteksi. termasuk yang ada dalam al-Qur'an dapat dilaksanakan hanya setelah ditegakkannya keadilan sosial dan tatanan kemasyarakatan yang menjamin anggotanya untuk tidak melanggar ketentuan yang ditetapkan. Islam ketika menetapkan pelaksanaan qishash dalam kejahatan pembunuhan. yaitu Fat'hi 'Utsman (pemimpin redaksi majalah Islam internasional Arabia yang terbit di London). dari bukunya. dan Ahmad Zaki Yamani (yang pernah menjabat Menteri Perminyakan Saudi Arabia dan tokoh OPEC yang amat terkenal). misalnya. serta melarang khalwat (kencan seorang lelaki dan . Sedangkan yang sebenarnya ialah bahwa rahmat Allah untuk sekalian alam tidaklah menetapkan hukuman. baik yang berasal dari lingkungan atau pun dari pribadi sendiri. sama dengan yang dikatakan Francis Aveling dalam bukunya ilmu Jiwa Klasik dan Modern. ia bersama itu juga menetapkan langkah-langkah yang menjamin hilangnya dorongan-dorongan permusuhan golongan. dari tiga tokoh yang representatif. Di sini akan dikemukakan contoh pemikiran para intelektual Islam mutakhir.suatu hukum atau hukuman dilaksanakan. gambaran yang mengerikan tentang tangan-tangan buntung dan jasad-jasad berserakan. Muhammad Asad (salah seorang arsitek dan pemikir konstitusi Negara Islam Pakistan). Allah menerangkan dalam Kitab-Nya berbagai hukuman kejahatan (had) seperti.

the believers are not entitled to look upon spiritual truths and values as something that could be divorced from the physical and social factors of human existence.a society (or a state) must be so constituted that every individual. Asad membuat uraian panjang lebar. namun maaf tidak sempat menerjemahkan): The extreme severity of this Qur'anic punishment can be understood only if one bears in mind the fundamental principle of Islamic Law that no duty (taklif) is ever imposed on man without his being granted a coresponding right (haq). If the whole society suffers privations owing to circumstances beyond its control (as happened. to the enjoyment of social security: in other words. For. It follows. namun tanpa muhrim perempuan itu). may enjoy that minimum of material well-being and security without which there can be no human dignity. such shared privations may become a source of spiritual strength and. in this context. among the inalienable rights of every member of the Islamic society --Muslim and non-Muslim alike-.seorang perempuan yang bukan muhrim. he or she must be assured of an equitable standard of living commensurate with the resource at the disposal of the community. But if the available resources of a community are so unevenly distributed that certain groups within it live in affluence while the majority of the people are forced to use up all their energies in search of their daily bread. and the term "duty" also comprises. there can be no real happiness and strength in a society that permits some of its members to suffer undeserved want while others have more than the need. man and woman.is the right to protection (in every sense of the word) by the community as a whole. "Proverty may well . poverty becomes the most dangerous enemy of spiritual progress. liability to punishment. Now. of future greatness.[29] Lebih runtut lagi adalah jalan pikiran dan garis argumen Muhammad Asad. (Di sini kami kutipkan seluruh uraian itu. although the Qur'an makes it clear that human life cannot be expressed in terms of physical existence alone --the ultimate values of life being spiritual in nature-. Jadi pengaturan sosial berjalan seiring atau mendahului penetapan hukuman kejahatan. Dalam memberi penjelasan tentang makna yang lebih mendasar di balik hukuman yang amat keras bagi pencuri (potong tangan). through it. no spiritual progress: for. It was undoubtedly this that the Prophet had in mind when he uttered the warning woeds (quoted by al-Suyuti in al-Jami al-Saghir). that --in order to be truly Islamic-. no real freedom and. In short. As is evedent from innumerable Qur'anic ordinances as well as the Prophet's injuctions forthcoming from authentic Traditions. Islam envisages and demands a society that provides not only for the spiritual needs of man. threfore. for instance. an occasionally drives whole communities away from God-consciousness and into the arms of soul-destroying materialism. but for his bodily and intellectual needs as well. in the last resort. to the Muslim community in the early days of Islam). every citizen is entitled to a share in the community's economic resources and thus.

In a community or state which neglects or is unable to provide complete social security for all its members. widowhood. old age. 213-217). the social legislation of Islam aims at a state of affair in which every man. unjustified gain at the expense of other members of the community must be considered an attack against the system as a whole. If the society is unable to fulfil its duties with regard to everyone of its memebers. one may safely conclude that the cutting-off of a hand in punishment for theft is applicable only within the context of an already existing fully-functioning social security . and has been amplified and explained by a great number of the Prophers commandments. consequently. the absolute interdependence between man's right and corresponding duties (including liability to punishment). the above ordinance which lays down that the hand of the thief shall be cut off. Since. woman and child has (a) enough to eat and wear. under the circumstances outlined above. in cases of disability resulting from illness. the entire socioeconomic system of Islam is based on the faith of its adherents. (Its was in correct appreciation of this principle that the great Caliph Umar waived the had of handcutting in a period of famine which afflicted Arabia during his reign.turn into a denial of the truth (kafr). It is against the background of this social security scheme envisaged by Islam that the Qur'an imposes the severe sentence of hand-cutting as a deterrent punishment for robbery." Consequently. shelter. strictly enforced protection. the communal obligation to create such a comprehensive social security scheme has been laid down in many Qur'anic verses. in the last resort. Umar ibn al-Khattab. "temptation" cannot be admitted as a justifiable excuse. Tabagat. (b) an adequate home. any attempt on the part of an individual to achieve an easy. and since. always hear in mind the principle mentioned at the beginning of this note: namely. but after his premature death. however. it has not right to invoke the full sanction of criminal law (had) against the individual transgressor. and must be punished as such: and. its balance is extremely delicate and in need of constant. therefore. and (d) free medical care in health and sickness. In a community in which everyone is assured of full security and social justice. It was the second Caliph. or under-age. and a provision (by the community or the state) of adequate nourishment. the temptation to enrich onself by illegal means often becomes irresistible --and. theft cannot and should not be punished as severely as it should be punished in a state in which social security is a reality in the full sense of the woed.) To sum up. A corollary of these rights is the right to productive and remunerative work while of working age and in good health. As already mentioned. etc. who began to translate these ordinances into a concrete administrative scheme (see Ibn Said. enforeced enemployment. (c) equal opportunities and facilities for education. his successors had either the vision nor the statemanship to continue his unfinished work. One must. but must confine itself to milder forms of administrative punishment. III/1.

yang belum tentu cocok dengan tuntutan zaman kita sekarang. constitutes a huge Juristic tradition the value of which depends on the individual jurist himself. provided such consensus was possible. and sometimes contradictory principles resolving the same issues depending on the Juristic school that propagated the principle. and public interest considerations. maaf tidak sempat menerjemahkannya): The Islamic Shari'a as a phrase has two scope of meanings. the Shari'a is confined to the undoubted principles of the Qur'an. hasil pemikiran ("fiqh" dalam arti asalnya) para ulama dalam kitab-kitab itu baginya tidaklah mengikat. As I explained earlier. it has no binding authority. memperjelas persoalan Syari'ah itu dalam kaitannya dengan hasil karya para ulama terdahulu yang secara keseluruhannya biasanya dipandang sebagai korpus Hukum Islam. Yet. Ahmad Zaki Yamani. as I said before in this wide sense. and the consensus of the community represented by its sholars and learned men during a certain period and regarding a particular problem. it cannot have a binding authority since circumstances that brought about a certain principle might not be in existence any more... Perhatikanlah bagaimana Yamani menegaskan.[30] Fiqh sangat erat kaitan dengan Syari'ah. since within it one might find different. Construed narrowly. The importance of differentiating between the wide and the narrow scope of Shari'a is evident in countries that fully implement the system. such as the Kingdom of Saudi Arabia. it denotes everything that has been written by Moslem jurists throughout the centuries. because of certain inherent . jika bukannya malah identik (seperti menurut pengertian kebanyakan orang). and from the other sources of Shari'a such as Ijma' (the consensus of the community represented by its scholars and learned men). dalam sebuah risalahnya yang terkenal. and surely we cannot maintain that previous Moslem Jurists have anticipated all our existing contemporary problems. the Shari'a has a binding authority on every Moslem. As such the system has a tremendous scholastic value to the Moslem. not all the principles of Shari'a in its wider sense are of a binding authority. Sama dengan yang di atas. sekali lagi. one cannot deny the Shari'a scholastic value as an elaborate system of deduction which should be relied upon for future derivations of principles.scheme. The Shari'a. karena pemikiran itu tidak lepas dari tuntutan zaman dan tempat yang lebih spesifik. or even the particular problem confronting him. The jurists derived their principles from the Qur'an and the Sunnah (way of action and the opinions of the Prophet). Generally and widely construed. di sini kami kutipkan sepenuhnya uraian Yamani (namun. and in no other circumstances. his era. Viewed as such. however. to what is true and valid of the Sunna. Furthermore. and he is obligated to follow and employ it to solve his affairs . whether it dealt with contemporaneous issues of the time or in anticipation of future ones. looked upon in this wide scope.

[31] -------------------------------------------(bersambung 4/4) Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah Editor: Budhy Munawar-Rachman Penerbit Yayasan Paramadina Jln. or at least. Berkaitan dengan prinsip ini. 7501983.. Furthermore.29. al-Tufi berpendapat bahwa kepentingan umum itu harus dimenangkan. dengan implikasi sebuah dukungan. 7507173 Fax.difficulties in attempting to harmonize some of them. then. the criterion being what is more appropriate to the needs of that particular country. select principles from the various juristic schools with no exceptions. dengan merujuk kepada kitab Thabaqat al-Hanabilah oleh Ibn Rajab. deriving such solutions from the general principles of the Shariia and considerations of public interest and communal welfare. UA 20-21 Jakarta Selatan Telp. and consensus. (021) 7507174 Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota Please direct any suggestion to Media Team Artikel Yayasan Paramadina Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota IV. Maka jika terdapat pertentangan pertimbangan kepentingan umum di satu pihak. but not the validity of that on which there is consensus." it becomes imperative . pendapat yang ekstrim dari Imam al-Tuff yang diduga dari madzhab Hanbali (tapi juga ada yang menduganya bermadzhab Syi'ah). betapapun absahnya sebuah nas. confined to the Qur'an. which was done in the past. (021) 7501969. Metro Pondok Indah Pondok Indah Plaza I Kav. sekalipun dari al-Qur'an dan Sunnah. dan ketentuan tekstual atau nas di pihak lain. one cannot choose one juristic school for implementation to the exclusion of all others. yang mengatakan bahwa kepentingan umum mengatasi dan mendahului ketentuan tekstual. PANDANGAN KONTEMPORER TENTANG FIQH (4/4) Telaah Problematika hukum Islam di Zaman Modern Oleh Nurcholish Madjid Bagi Yamani prinsip public interest atau kepentingan umum adalah sangat fundamental. since as a logical consiquence on would have to maintain the princiles of the other schools are not valid. the Sunna. Such countries could legislate new solutions for novel problems. According to the well-known Shari'a principle "the validity of that on which there is a difference can be questioned. are not worthy of being followed.. to adopt the narrow meaning of Shari'a. sedangkan ketentuan tekstual yang diwahyukan dan sumber-sumber lainnya hanyalah perantara . Yamani mengutip. Ia berpandangan bahwa kepentingan umum itulah yang menjadi maksud dan tujuan Maha Hakim (Allah).

masa depan yang lebih baik tentu dapat diciptakan. Hence. The Prophet himself had set precedence for this religious-secular relationship when he said "I am only human. if I order something of my opinion consider it in the light that I am only human. yaitu hukum-hukum keagaman ('ibadat) dan hukum-hukum kegiatan manusia dalam hidup keduniaan (mu'amalat): The religious essence and value of the Shari'a must never be overestimated. Many Western Orientalists who wrote about Shari'a failed to distinguish between what is purely religious and the principles of secular transactions.S. Tapi dengan bekal inner dynamics Islam itu sendiri. . jil." [33] PENUTUP Dari seluruh uraian di atas dapatlah disimpulkan.. 2. kaum Muslim harus mampu terlebih dahulu menangkap pesan dasar agamanya. yang kini masih banyak melanda kaum Muslim. The Venture of Islam. but rather as the continuation and completion of and old dialogue within Islam.. though not the source of modernity. Its great Tradition is modernisable. 108. blamed for retardation and foreign domination. Tetapi prasyaratnya ialah. mengembangkan pemikiran hukum yang akan menjawab tuntutan zaman dan tempat. Islam may yet turn out to be its beneficiary. Marshal G. official. based on public interest and utility. dan berdasarkan itu. 1974). 3 jilid (Chicago: The University of Chicago Press. Though both are derived from the same source. CATATAN 1. and only in Islam. can be done in one and the same language and set of symbols. sehingga akan terbukti ramalan Gellner: Kaum Muslim adalah penarik manfaat yang sebenarnya dari modernitas. and the operation can be presented. The old folk version. if I order something pertaining to your religion comply.. Yamani mengritik sebagian kaum Orientalis yang tidak memahami Syari'ah dan mencampuradukkan dua unsurnya yang berbeda namun tidak terpisah. whilst hierarchy and .[32] Lebih jauh. Thus in Islam. fiqh dan sistem hukum Islam memiliki kesempatan besar untuk diterapkan dalam zaman modern.. and the reaffirmation of a putative old local identity on the other. h. Halangan terbesar bagi kemungkinan itu datang dari sikap-sikap dogmatic dan literalis. Hodgson. "pure" variant was egalitarian and scholarly. "You know better about your civil non-religious matters.. 1.untuk mencapai tujuan itu. once a shallow of the central tradition now becomes a repidiated scapegoat. dan tujuan harus selalu mendahului perantaraan atau cara.. Only Islam survives as a serious faith pervading both a folk and a Great Tradition. purification modernization on the one hand. the latter principles have to be viewed as a system of civil Iaw. The fact that its central. and therefore always evolving to an ideal best." Or when he said. not as an innovation or concession to oursiders.

h. Lihat QS. Lihat QS. and thus the 'protestant' ideal of equal access for all believers can be implemented. al-A'raf/7:172. al-Ma'idah/5:16. scripturalism. 9. Whilst European Protestantism merely prepared the ground for nationalism by furthering literacy. 14. 3. 1980). h. Islamic Liberalism (Chicago: The University of Chicago Press. al-Baqarah/2:40.ecstaasy pertained to its expendable. Thaha/20:115. 18. the reawakened Muslim potential for egalitarian scripturalism can actually fuse with nationalism. 211. al-Ra'd/13:25. 7). 1981). 16.. 8. of the three great Western monotheisms. 1978). 12. the open class of scholars can expand towards embracing the entire community. Lihat QS. eventually disavowed. al-Baqarah/2:2. 10. hadits No. (Gallner. catatan 42. al-Ahzab/433:7. spiritual egalitarianism. Lihat QS. The Message of the Qur'an (London: E. Lihat QS. 1551. 20. Muslim Society (Cambridge: Cambridge University Press. 4-5). 17. but to all. QS. hadits No. 15. 1988).Ibid. 19. 7-8. 4. the one closest to modernity.Islam is. Lihat QS. By various obvious criteria --universalism. and the rational systematisation of social life-. terjemahan dari Perancis oleh Brian Peace (Austin: University of Texas Press. h.. Maxime Rodinson. Ibid. h. Lihat QS. 1. so that one can hardly tell which one of the two is of most benefit to the other. al-Hadid/57:4. In an age of aspiration to universal literacy.J. Lihat QS.. h. Leonard Binder. . 6. 13. peripheral forms. Ali Imran 3:79. Modern egalitarianism is satisfied. Lihat QS. 1561. or some. (Ernest Gallner. Bulugh al-Maram. the extension of full participation in the sacred community not to one. catatan 21. QS. Muhammad Asad. al-Ra'd/13:20. greatly aids its adaptation to the modern world.363. 5. Yasin/36:60 7. Islam and Capitalism. 11. h. Brill.

h. hanif) menyembah Tuhan yang sama. Ali Imran/3:67-68). al-Baqarah 2:133). Fat'hi Utsman. dan bersikap pasrah kepada-Nya (Islam). ajaran kebenaran (hukum) dan kenabian kemudian berkata kepada orang banyak: 'Jadilah kamu semua hamba-hamba bagiku. catatan 48. 25.' Dan ia (Nabi itu) tidak menyuruh kamu agar kamu mengambil para malaikat dan para Nabi yang lain sebagai tuhan-tuhan. Lihat QS. yaitu Tuhan Yang Maha Esa. dan seorang muslim (pasrah kepada Tuhan). h. Apakah patut ia menyuruh kamu menjadi kafir sesudah kamu semua menjadi orang-orang yang pasrah (muslimun)?" (QS. yaitu Tuhan Yang Maha Esa. dan tidaklah dia termasuk mereka yang musyrik. 22. QS. Ali Imran/3:79-80). langsung dan tidak langsung. dan kami semua pasrah (muslimun) kepada-Nya. Isma'il dan Ishaq. 149-150.21. Ibn Taymiyyah. al-Din li al Waqi' (Kuwait: al-Dar al-Kuwaytiyyah. Ibid. . ketika ia bertanya anak-anaknya: 'Apa yang kamu sembah sesudahku?' Mereka menjawab: 'Kami menyembah Tuhanmu dan Tuhan nenek moyangmu. tt. Terdapat banyak penegasan. al-Nisa/4:58. Suatu penegasan bahwa semua penganut agama (yang benar secara generik. 26. 27. 29. h. Muhammad Asad.'" (QS. Allah adalah pembimbing kaum beriman itu. "Ibrahim itu bukanlah seorang Yahudi ataupun Nasrani. Ali Imran 3:19 dan 85. 1396 H/1976 M). 24. melainkan seorang hanif (lurus kepada kebenaran). Ibrahim. Lihat QS. dalam risalahnya. Secara umum dapat disimpulkan dari firman Allah tentang sikap anak turun Ya'qub Israil): "Adakah kamu menjadi saksi ketika maut datang kepada Ya'qub. Lihat QS. 30. Sesungguhnya manusia yang paling dekat kepada Ibrahim ialah mereka yang benar-benar mengikutinya dan Nabi ini (Muhammad) serta mereka yang beriman.). Setiap orang yang dikaruniai Allah pangkat kenabian pasti menyeru manusia agar berkesadaran Ketuhanan (Rabbaniyyun) dan tidak akan menyimpang dari garis lurus itu setelah para pengikutnya benar-benar menjadi kaum yang pasrah kepada-Nya (muslimun): "Tidak pernah terjadi pada seorang manusia yang kepadanya Allah mengaruniakan kitab suci.91-92." (QS. al-Ma'idah/5:8. 28. bukan bagi Allah!' Melainkan (ia tentu berkata): 'Jadilah kamu orang-orang yang berkesadaran Ketuhanan (Rabbaniyyun) berdasarkan kitab suci yang kamu ajarkan dan berdasarkan yang kamu sendiri pelajari. al-Amr bi al-Ma'ruf wa al-Nahy 'an al-Munkar (Beirut: Dar al-Kitab a-jadid. berkenaan dengan keislaman para Nabi. 23. 40. al-Rahman/55:7-9.

Tapi penggunaannya sangat terbatas. 13-14. Dengan demikian. -------------------------------------------Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah Editor: Budhy Munawar-Rachman Penerbit Yayasan Paramadina Jln. . mereka tidak mengakui keabsahan hadist itu.. Istishlah dan Istishhab..31. Itulah yang berkembang menjadi ijtihad. UA 20-21 Jakarta Selatan Telp. Sunnah. dan para ulama pendukung kubu Hijaz dikenal sebagai ahl al-hadits. Tokoh utama kubu Irak ialah Imam Abu Hanifah. Ahmad Zaki Yamani. Ibid. dalam pengembangan pemikiran hukumnya (metoda ijtihadnya) volume penggunaan rasio lebih besar dari volume penggunaan hadist (sebagai salah satu sumber syari'ah). yaitu: syariah terdahulu (syar' man qablana). 10-11. Islamic Law and Contemporary Issues (Jeddah: The Saudi Publishing House 1388 H). Selain dari sumber hukum primer tersebut. 7501983. Ibid. 6-7). (021) 7507174 Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota Please direct any suggestion to Media Team Artikel Yayasan Paramadina Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota KONSEP-KONSEP ISTIHSAN. Pendapat sahabat Nabi (qaul al-shahabi). ISTISHLAH DAN MASHLAHAT AL-AMMAH Oleh KH Ali Yafie Dinamika hukum Islam dibentuk oleh adanya interaksi antara wahyu dan rasio. sumber hukum Islam terdiri atas: al-Qur'an. 32. dikenal juga adanya sumber-sumber sekunder (al-mashadir al-tab'iyyah). Ijma' dan akal. kebiasaan/adat-istiadat (al'urf). h. h. yaitu kubu Irak dan kubu Hijaz. h. Ahl al-ra'y sesuai dengan situasi lingkungannya. Ini tidak berarti. Metro Pondok Indah Pondok Indah Plaza I Kav. Biasanya para ulama pendukung kubu Irak dikenal sebagai ahl al-ra'y. dikenal adanya dua kubu pengembangan pemikiran hukum Islam. 7507173 Fax. atau sama sekali tidak menggunakan sumber hukum itu. (021) 7501969. ISTIHSAN Pada saat-saat awal terbentuknya pemikiran hukum Islam yang metodis (ilmu fiqh). dan tokoh utama kubu Hijaz adalah Imam Malik. Istihsan. upaya ilmiah menggali dan menemukan hukum bagi hal-hal yang tidak ditetapkan hukumnya secara tersurat (manshus) dalam syariah (al-kitab wa sunnah). 33.

mereka yang menggunakan Istihsan sebagai sumber hukum tidak mempunyai kesepakatan atas suatu definisi tentang Istihsan itu. Syekh Muhammad Zakariya al-Bardisi. menurut qias hukumnya begini. bukan saja tidak mencakup. atau ijma'. bahkan kita menemukan dari mereka beberapa definisi yang kontradiktif. Menurut al-Bardisi definisi ini tidak mencakup (ghair jami'). tapi apa yang dia maksud dengan qias di sini tidak begitu jelas. Mereka menggunakannya secara tersendiri atau menyebutnya berdampingan dengan kata/istilah qias. karena tidak dapat menampung Istihsan yang ditegakkan di luar landasan qias. dan menurut Istihsan hukumnya begini. mereka dalam pengembangan pemikiran hukum (metode ijtihadnya) volume penggunaan sumber hukum hadits lebih besar dari volume penggunaan sumber rasio (dalam hal ini qias). Dalam hubungan inilah lahir konsep Istihsan. Dengan kata lain mereka mengatakan. tapi mereka juga menggunakan analogi yang longgar dan lebih luas. atau dharurah. Definisi ini pun belum mencakup. ternyata tidak saja menggunakan qias yang merupakan bentuk penggunaan rasio dengan cara analogis ilmiah ketat. Ahl al-ra'y yang volume penggunaan rasionya lebih besar. Definisi ini menurutnya. seperti Istihsan yang ditegakkan di atas landasan nas. Istilah "Istihsan" sebagai technische-term banyak beredar di kalangan tokoh-tokoh (ulama) dari aliran pemikiran hukum (mazhab) Hanafiyah. karena ada juga istihsan yang ditegakkan atas landasan 'urf atau mashlahah Secara harfiah Istihsan itu berarti menganggap baik akan sesuatu baik itu fisik maupun nilai. ialah peralihan dari hasil sesuatu qias kepada qias yang lain yang lebih kuat. istihsan itu ialah semua ketentuan syar'i (baik yang bersifat nash. di antaranya adalah: Istihsan itu. Sepanjang penelitian guru besar ilmu-ilmu Syari'ah pada Fakultas Hukum Universitas Kairo. Sebagian lagi memberikan definisi. Kedua kubu tersebut mengakui keabsahan sumber hukum qias. menyebutkan Istihsan itu suatu qias yang lebih dalam (khafi). tidak segera dapat ditangkap. apakah itu qias dalam arti technische-term. atau sumber hukum yang . atau dalam arti yang mencakup qias yang lebih luas yang dikaitkan dengan suatu ketentuan umum atau suatu kaidah-kaidah hukum yang baku. Definisi yang lain. dibandingkan dengan qias yang jelas (jali). atau ijma' atau dharurah. dalam masalah ini. Ini tidak berarti mereka menolak penggunaan sumber rasio itu. Mereka sering mengatakan.Di pihak lain kita dapat mengamati. ahl al-hadits sesuai dengan situasi lingkungannya. atau kita menggunakan istihsan dalam masalah ini. hukum dalam masalah ini bersumber dari Istihsan. Kita menggunakan qias dalam masalah ini. Kata ini kemudian digunakan sebagai suatu technische-term yang membentuk pengertian baru menggambarkan suatu konsep penalaran dalam rangka penggunaan rasio secara lebih luas untuk menggali dan menemukan hukum sesuatu kejadian yang tidak ditetapkan hukum dari sumber syari'ah yang tersurat. atau qias yang lebih dalam) dibandingkan dengan qias yang jelas.

kejadian baru (far). Tapi dapat kita catat. landasan penyamaan ('illah). kaidah-kaidah interpretasi atas ketentuan-ketentuan syari'ah (al-Qur'an dan Sunnah) ditambah dengan analogi qias. Yang dicatat sebagai seorang tokoh yang menolak menempatkan Istihsan itu sebagai suatu sumber hukum sekunder. ada empat elemen dari analogi qias itu. pada hakekatnya konsep ini telah dikenal dan digunakan oleh angkatan pertama ahl al-ijtihad di kalangan sahabat dan tabi'in. masih ada upaya penalaran yang lain seperti Istihsan dan istislah dan seterusnya. atau dari suatu kaidah hukum. atau mashlahah. ketentuan yang dihasilkan dari pengaitan (ilhaq) tersebut di atas dan inilah yang disebut hukum qias. yakni ketentuan pokok (ashl). Dan ternyata kemudian diambil alih juga oleh Imam al-Ghazali dari aliran Syafi'iyah dengan beberapa . pengecualian masalah tertentu dari suatu ketentuan pokok yang bersifat umum. Dari uraian ini dapat ditangkap. Analogi Istihsan tidak terikat pada keketatan analogi qias karena dimungkinkan adanya qias alternatif (qias kahfi) yang terlepas dari elemen 'illah (dalam analogi qias biasa). Termasuk pula dalam kategori Istihsan. Dalam perkembangan pemikiran hukum Islam. Sebagian ahl al-ijtihad menganggap qias ini merupakan upaya final dalam penggalian dan penemuan hukum-hukum dari sumber syari'ah atau sumber yang dipersamakan (ijma'). semua itu merupakan elemen-elemen dalam hukum Istihsan. atau kebiasaan. karena beliau berpendapat. Dalam bahasa tekniknya harus ada ashl dan harus ada 'illah. untuk menghasilkan suatu hukum bagi kejadian baru. di kalangan penganut aliran pemikiran hukum (madzhab) Hanafiyah. Karenanya juga konsep ini lebih dikenal dengan sebutan. al-mashlah al-mursalah atau al-mashalih al-mursalah. Istihsan ini ditempatkan sebagai sumber hukum sekunder. atau keadaan darurat atau suatu kepentingan nyata. atau 'urf atau dharurah. atas pertimbangan sesuatu alasan yang lebih kuat. karena pengecualian itu didukung oleh suatu nash. Dalam analogi qias. Konsep penalaran ini bermula dikembangkan dalam aliran pemikiran hukum Islam (madzhab) Malikiyah. yang perlu ditata dalam hukum Islam. sudah cukup. yakni kesepakatan para ahli yang berwenang (ahl al-ijtihad) di kalangan umat Islam.dipersamakan dengan itu. Alasan itulah menjadikan qias jali (biasa) dialihkan kepada qias khafi (alternatif) dan hasilnya disebut Istihsan. sekalipun dengan istilah-istilah yang berbeda. atau ijma'. ISTISHLAH Istishlah merupakan suatu konsep dalam pemikiran hukum Islam yang menjadikan mashlahah (kepentingan/kebutuhan manusia) yang sifatnya tidak terikat (mursalah) menjadi suatu sumber hukum sekunder. Kemudian berkembang pula secara terbatas dalam aliran Malikiyah dan Hambaliyah. untuk menampung segala perkembangan yang terjadi. Dengan kata lain pertimbangan adanya ketentuan lain atau kesepakatan. adalah Imam Syafi'i. dalam hal tujuan dan sasaran ditetapkannya ketentuan tersebut. dibutuhkan adanya suatu ketentuan pokok yang bersifat terinci (tafshili) untuk dijadikan landasan mengaitkan sesuatu yang ada persamaannya. tapi sebagian yang lain beranggapan.

yaitu: 1. 3. Para ahli yang mendukung konsep penalaran ini mencatat tiga persyaratan dalam penerapan hukum mashlahah ini. dan manusia tidak dicegah melakukan sesuatu. Mashlahah itu harus bersifat pasti. aliran Zhahiriyyah dan Syi'ah.Mashlahah yang diakui ajaran syari'ah. yaitu: 1. nasab keturunannya dan kepercayaan keagamaannya. harta bendanya. yang menjadi dasar mashlahah (kepentingan dan kebutuhan manusia). bahwa ia memang mewujudkan suatu manfaat atau mencegah terjadinya madharrah (bahaya atau kemelaratan).2. yaitu. Tapi perlu dicatat. 1. kenyataan bahwa. syari'ah Islam dalam berbagai pengaturan dan hukumnya mengarah kepada terwujudnya mashlahah (apa yang menjadi kepentingan dan apa yang dibutuhkan manusia dalam kehidupannya di permukaan bumi). 1. yang terdiri dari tiga tingkat kebutuhan manusia. Dalam kajian para ahl-ijtihad ada tiga jenis mashlahah. 1. Maka tidak dituntut untuk dilakukan manusia untuk kepentingan hidupnya.Tahsiniyyah (kebutuhan pelengkap) dalam rangka memelihara sopan santun dan tata krama dalam kehidupan. kecuali hal-hal yang pada galibnya membahayakan dan memelaratkan hidupnya. tapi harus bersifat umum dan menjadi kebutuhan umum.penyempurnaan. Hasil penalaran mashlahah itu tidak berujung pada terabaikannya sesuatu prinsip yang ditetapkan oleh nash .Hajiyyah (kebutuhan pokok) untuk menghindarkan kesulitan dan kemelaratan dalam kehidupannya. upaya mewujudkan mashlahah dan mencegah mafsadah (hal-hal yang merusak) adalah sesuatu yang sangat nyata dibutuhkan setiap orang dan jelas dalam syari'ah yang diturunkan Allah kepada semua rasul-Nya. yaitu kepentingan yang bertentangan dengan maslahah yang diakui terutama pada tingkat pertama. Kelima tersebut biasanya disebut al-kulliyyat al-khams atau al-dharuriyyat al-khams. 2. yakni hal-hal yang menyangkut terpelihara dirinya (jiwa. 3. menjadikan hukum Islam itu luwes dan dapat diterapkan pada setiap kurun waktu di segala lingkungan sosial.Mashlahah yang tidak diakui ajaran syari'ah.1.Mashlahah yang tidak terikat pada jenis pertama dan kedua. dan tidak menjangkau bidang ibadat.Dharuriyyah (bersifat mutlak) karena menyangkut komponen kehidupannya sendiri sebagai manusia. 2. bukan sekadar anggapan atau rekaan. Namun perlu dicatat ruang lingkup penerapan hukum mashlahah ini adalah bidang mu'amalat. karena ibadat itu adalah hak prerogatif Allah sendiri. Dan itulah sasaran utama dari hukum Islam.3. konsep ini ditolak oleh Landasan pemikiran yang membentuk konsep ini ialah. Penempatan masalah ini sebagai suatu sumber hukum sekunder. raga dan kehormatannya) akal pikirannya. Maka. Mashlahah itu tidak merupakan kepentingan pribadi atau segolongan kecil masyarakat.

Metro Pondok Indah Pondok Indah Plaza I Kav. Imam al-Syathibi. -------------------------------------------Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah Editor: Budhy Munawar-Rachman Penerbit Yayasan Paramadina Jln. 7501983. di antaranya adalah mencegah kemelaratan orang banyak (kaum Muslim). Hal-hal ini terkait dengan taklif yang berbentuk fardhu 'ain. Seterusnya yang menyangkut mashlahah akal pikiran. Sallam Madkur. Imam al-Ghazali. yang sifatnya umum yakni yang merupakan kepentingan setiap manusia dalam hidupnya. Al-Umm. Al-Muwafaqat. hukum Islam juga mengenal mashlahah 'ammah yang menjadi kepentingan bersama masyarakat atau kepentingan umum (algemeen blang). Imam Suyuthi. Al-Mahmashani. UA 20-21 Jakarta Selatan Telp. 3. menciptakan lapangan kerja untuk mewujudkan mata pencaharian bagi anggota-anggota masyarakat. Al-Mustashfa. Ini menyangkut hak publik dan berkaitan dengan fardhu kifayah. 6. AL-MASHLAHAH AL-'AMMAH Hukum Islam mengenal mashlahah 'ainiyah (kepentingan perorang) dari setiap manusia. menegakkan kontrol sosial melalui amar ma'ruf nahi mungkar. DAFTAR KEPUSTAKAAN 1. Hikmatuttasyri'wa Falsafatih. (021) 7501969. 4.fardhu kifayah itu adalah urusan umum yang menyangkut kepentingan-kepentingan (mashalih) tegaknya urusan agama dan dunia dalam kehidupan kita. seperti yang digambarkan dalam uraian terdahulu tentang al-kulliyyat al-khams. Di samping mashlahah tersebut di atas. M. Seperti misalnya yang menyangkut mashlahah harta benda/kepentingan seorang manusia memiliki harta benda (untuk makan. mencerdaskan kehidupan masyarakat melalui pendidikan. 2. Imam Rafi'i menjelaskan. 7507173 Fax. bersangkutan dengan fardhu 'ain yang dijelaskan dalam hadits lain yang berbunyi (thalb-u 'l-'ilmi faridhatun 'ala kulli muslim). Madkhal al-Fiqh al-Islami. bimbingan keagamaan (fatwa) dan penyebaran buku-buku. Al-Asybah wa 'l-Nazhair: 5. (021) 7507174 . Imam al Syafi'i. Begitu seterusnya menyangkut tiap mashlahah yang sifatnya dharuriyyah.syari'ah atau ketetapan yang dipersamakan (ijma'). jelas memperlihatkan keterkaitannya dengan kewajiban perorangan sebagai imbalan adanya pengakuan atas mashlahah dharuriyyah yang menimbulkan hak-hak mutlak perorangan bagi setiap manusia. pakaian dan tempat tinggalnya) hal ini bersangkutan dengan fardhu 'ain yang dijelaskan dalam tuntunan Rasulullah saw (thalab-u 'l-halal faridhatun 'ala kulli muslim) yaitu kewajiban bekerja mencari rizki memenuhi kebutuhan hidupnya sehari-hari.

misalnya. tidak tahu. Kemudian penguasa Umayyah mengukuhkan lembaga itu dan menamainya Dewan Mazhalim.26. Kebanyakan di antara umat Islam masih belum mendapat jawaban yang tegas dan memuaskan. Persis.Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota Please direct any suggestion to Media Team Artikel Yayasan Paramadina Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota IV. Secara berangsur-angsur. PERANAN TUNTUTAN SITUASI DALAM MEMAHAMI HUKUM ISLAM oleh Jalaluddin Rakhmat Jika saya mendepositokan uang saya di bank. Menurut al-Mawardi dalam al-Ahkam al-Sulthaniyah.yang menerangkan ketentuan hukum untuk deposito. tentu saja bagi kepentingan umat Islam. Ada tiga kemungkinan jawaban: boleh. tapi mereka menganggap lembaga ini sangat bagus. bolehkah saya menerima bunga depositonya? Apakah bunga deposito itu sama. Lembaga ini tidak terdapat dalam al-Qur'an dan Sunnah. NU jawabannya satu. Tidak ada kesepakatan ulama mengenai kebolehan menggunakan masing-masing di antara ketiga hal itu. Ada memang ketentuan tentang riba. dengan riba? Tanyalah ulama yang Anda kenal. Syafi'i. Di antara metode-metode itu adalah qiyas. tidak boleh. sebagian menolakaya. menyerang istihsan dan menganggapnya sebagai usaha untuk membuat syari'at (man . mereka menemukan lembaga yang menyelesaikan urusan orang-orang yang dizalimi. sekali lagi jawabannya akan beragam. dari golongan apa saja. Ulama yang ditanya itu memang mengalami kemusykilan. tapi bahkan memelihara tujuan syar'i. tapi apakah riba sama dengan bunga deposito? Kemusykilan seperti itu telah dihadapi para ulama sepanjang sejarah. Sebagian menerimanya. Mereka bukan saja menganggap dewan ini tidak bertentangan dengan syar'i. Bila diminta fatwa lisan atau tulisan. Semua golongan itu sepakat (ijma') untuk menyimpan uangnya di bank dan memanfaatkan bunganya. Yang kita sebut syari'at pada mulanya hanya menyangkut masalah keluarga. perdagangan yang sederhana dan hukum pidana. Para ulama merumuskan syari'at dalam bentuk fiqh yang mengatur bidang-bidang kehidupan yang lebih kompleks. Ketika Islam bertemu dengan peradaban-peradaban lain. para ulama mengembangkan metode istinbath (menarik kesimpulan hukum) baik berdasarkan kaidah-kaidah atau petunjuk umum dalam nash maupun dari penggunaan akal. Semua metode ini hanyalah upaya memecahkan persoalan. istihsan dan istishlah. verba non acta. Deposito dan bunganya tidak dikenal di zaman Rasulullah saw. apa yang tercakup dalam syari'at menjadi lebih luas. Tidak jarang perbedaan itu muncul karena perbedaan pemaknaan istilah-istilah itu. Studi kritis terhadapnya akan segera membuktikan bahwa penggunaan metode-metode tersebut juga menimbulkan persoalan. Mereka tidak menemukan nash --teks al-Qur'an atau Hadits-. Anehnya bila golongan yang ditanya --Muhammadiyah. ketika dinasti Umayyah bertemu dengan kebudayaan Persia.

kita akan menemukan banyak sekali definisi istihsan --yang tidak selalu menunjukkan .istahsana fa qad syara'a). para ulama yang mempertahankan istihsan mengambil dalil dari al-Qur'an dan Sunnah yang menyebutkan kata istihsan dalam pengertian denotatif ini (yaitu. atau kepada ijma' atau kepada dharurat. Pendirian Dewan Madzalim dipandang baik. Sunnah dan ijma. yang tidak lain daripada istihsan menurut mazhab Hanafi. Q. Tidak ada madzhab yang menolak penggunaan istihsan kecuali madzhab Dzahiriyah dan Syi'ah. tapi sesudah mengambil mashalih mursalah dan istihsan. Imam Ahmad pun bersandar kepada qiyas dengan syarat sesudah meninjau hukum itu dalam al-Qur'an dan Hadits dalam maknanya yang lebih luas. atau meninggalkan qiyas kepada atsar.s al-Zumar: 18. atau qiyas. Maliki dan Hanafi memandang istihsan bahkan harus didahulukan dari qiyas. Imam Malik juga mengambil qiyas. Yang demikian itu disebut istihsan. ia menggunakan metode qiyas khafi. istihsan artinya memandang baik terhadap sesuatu. artinya. "Apa yang dianggap kaum Muslim baik. orang-orang yang mendengarkan kata dan diturutinya yang paling baik. Kadang-kadang mujtahid meninggalkan satu dalil kepada dalil yang lebih kuat. Namun sebelum itu. Bila kita mengacu pada literatur. Kadang-kadang qiyas ditinggalkan karena ada dalil yang kuat atsarnya. Tulisan ini akan dimulai dengan mencoba menyelesaikan kemelut makna istihsan dan istishlah dan diakhiri dengan petunjuk praktis penggunaannya dalam menjawab tuntutan situasi sekarang ini. [2] Bila illat itu diketahui dengan menggunakan cara-cara yang dikenal dalam kitab ushul dan ada hubungan antara illat ini dengan kasus yang akan ditetapkan hukumnya. atau kepada maslahat. saya kutipkan penjelasan Sayyid Musa Tuwanat: [1] Bila mujtahid tidak menemukan hukum dalam al-Qur'an. atau tidak ada yang dapat dijadikan hujjah dari pendapat-pendapat mereka. Dalam semua keadaan itu. ia bersandar kepada qiyas. Tapi ketika Syafi'i menyerang istihsan seperti yang dimaknakan olehnya. Menarik sekali. Adapun cara menggunakan qiyas sebagai berikut: Seorang mujtahidin melakukan penelitian apakah ada dalil yang menunjukkan dalil tentang illat untuk menentukan hukum far'. walaupun ia berbeda dari mujtahidin lainnya dalam cara dan cakupan penggunaan qiyas. sebagai pengantar. harus dilakukan berdasarkan istihsan. ia tidak keluar dari upaya menjalankan nash. ijma' dan pendapat para sahabat. al-Zumar: 55. "Dan turutlah (pimpinan) yang sebaik-baiknya yang telah diturunkan kepadamu dari Tuhanmu". dan sudah ditegaskan hubungannya disamakanlah hukum yang asal dengan far' berdasarkan kesamaan illat seperti yang dipahaminya. Sunnah." --Hadits menurut riwayat Abdullah bin Mas'ud. Inilah yang ditetapkan oleh Imam Syafi'i dan ditegaskan al-Syirazi dan al-Maqdisi. PENGERTIAN ISTIHSAN Secara denotatif. menurut Allah baik juga. Begitu pula para pengikut Hanafi yang membahas qiyas sesudah al-Kitab. Malik menyebut istihsan sebagai sembilan persepuluh ilmu (Al-istihsan tis'at a'syar al-'ilm). atau mashlahat.

referensi yang sama. Ada definisi yang dibuat dengan memperhatikan segi-segi politis dan bukan segi-segi ilmiahnya. Untuk menunjukkan bagaimana definisi-definisi itu lebih banyak menyulitkan daripada membantu, kita lihat contoh di bawah ini: 1. Istihsan adalah meninggalkan qiyas untuk mengambil yang lebih sesuai dengan orang banyak. 2. Istihsan adalah mencari kemudahan dari hukum-hukum yang dihadapi orang banyak atau orang tertentu. 3. Istihsan adalah mengambil keluasan dan mencari kelegaan. 4. Istihsan adalah mengambil yang permisif dan memilih yang di dalamnya ada ketenangan (semuanya dari al-Sarkhashi). 5. Istihsan artinya meninggalkan kepastian qiyas kepada qiyas yang lebih kuat atau mentakhshiskan qiyas dengan dalil yang lebih kuat (al-Bazdawi dari madzhab Hanafi). 6. Istihsan artinya mengamalkan yang lebih kuat di antara dua dalil (al-Syathibi dari madzhab Maliki). 7. Istihsan artinya meninggalkan hukum masalah dari yang semacamnya karena dalil syara' yang tertentu (al-Thufi dari madzhab Hambali). 8. Istihsan adalah apa yang dipandang baik oleh mujtahid dengan akalnya. [3] Karena kita mengalami kesulitan memahami istihsan dari berbagai definisi itu, marilah kita ambil contoh kasus yang oleh para mujtahid disebut sebagai istihsan. Melihat aurat perempuan yang bukan muhrim haram, karena dapat menimbulkan "fitnah" (membawa orang kepada kemaksiatan). Yang dalam kurung itu disebut 'illat yang sangat jelas (kita sekarang sedang melakukan qiyas jaliy). Bagaimana hukumnya seorang dokter yang harus memeriksa pasien wanitanya? Bila ia tidak melihat auratnya, ia tak bisa menolong pasien itu dengan baik. Ia harus menolong pasien itu untuk mengembalikan kesehatannya, untuk kemaslahatan pasiennya. Tapi alasan ('illat) ini hanya dalam kasus pasien saja dan dianggap tegas (kita sedang melakukan qiyas khafiy). Bila kita meninggalkan qiyas jaliy dan mengambil qiyas khafiy, kita melakukan istihsan. Kadang-kadang seorang mujtahid meninggalkan qiyas karena menemukan hadits yang lebih kuat, atau karena memperhatikan kemaslahatan, atau karena 'urf (adat kebiasaan yang sudah lazim). Bila kita memperhatikan praktek-praktek yang disebut istihsan, kita menemukan istihsan dalam tiga pengertian: Pertama, istihsan berarti memilih yang lebih kuat di antara dua dalil yang bertentangan atau berbeda (berikhtilaf). Boleh jadi ikhtilaf di antara dua dalil lafzhi --yakni dalil yang diambil dari al-Qur'an dan Sunnah. Atau ikhtilaf di antara dua dalil ghair lafzhi; misalnya, antara qiyas jaliy dengan qiyas khafiy. Atau ikhtilaf di antara dalil lafzhi dan ghair lafzhi. Marilah kita mulai dengan ikhtilaf di antara dua dalil lafzhi. Dalam hal ini, ikhtilaf dapat berupa tazakam dan ta'arudh. Yang dimaksud dengan Tazabum adalah pembenaran dua hukum yang berasal dari syara', yang tidak mungkin digabungkan. Ta'arudh

artinya perbedaan hukum shawar al-masalah).

karena

perbedaan

kasus

(ikhtilaf

Kita melakukan istihsan bila kita mentarjih (menganggap lebih baik) salah satu di antaranya. Sambil memberikan contoh-contohnya, saya akan menunjukkan petunjuk-petunjuk praktis penggunaan istihsan pada tazahum dan ta'arudh. (1) Dulukan hukum yang mendesak (mudhiq) di atas hukum yang memberikan kelonggaran (musi'). Misalnya, antara menghilangkan najis di masjid dengan melakukan shalat pada awal waktunya, atau antara menolong orang yang celaka dengan melakukan shalat Jum'at. Pilihlah menghilangkan najis dan menolong orang yang celaka. (2) Dulukan yang tidak ada penggantinya dengan yang ada penggantinya. Misalnya, menggunakan air untuk memuaskan rasa haus atau untuk berwudhu'. Wudhu' itu ada penggantinya, yaitu tayammum. Tapi memuaskan haus tidak bisa diganti dengan batu. (3) Dulukan yang sudah tertentu (mu'ayyan) di atas urusan yang memberikan alternatif (mukhayyar). Misalnya memenuhi nadzar atau membayar kifarat. Anda bernadzar untuk memberikan makanan bagi orang miskin, tapi juga Anda harus membayar kifarat puasa. (4) Dulukan yang lebih penting dari pada yang penting. Anda wajib melakukan haji dan pada saat yang sama Anda harus membayar hutang. Bayarlah hutang Anda lebih dulu. Ta'arudh terjadi kalau ada dua dalil syara' yang bertentangan. Para ulama ushul mengusulkan beberapa cara, yang tidak dapat kita perinci satu per satu: mendulukan yang mutlak di atas yang muqayyad, takhshish di atas 'am, nasikh di atas mansukh, hakim di atas mahkum, al-Qur'an di atas Sunnah, yang disepakati di atas yang diikhtilafi. Kedua, istihsan berarti mengambil sesuatu yang sudah dipandang baik oleh 'urf atau akal. Misalnya, mencatat pernikahan di kantor departemen Agama. Istihsan dalam arti ini harus dilakukan dengan sangat hati-hati. Karena apa yang dipandang baik 'urf atau akal itu boleh jadi sangat subyektif, sehingga besar kemungkinan mengikuti bias-bias sosio-psikologis. Kita juga tidak cukup waktu membicarakan hal ini. Ketiga, istihsan berarti meninggalkan dalil-dalil tertentu untuk mendatangkan maslahat atau menegakkan hukum di atas pertimbangan maslahat yang lima: memelihara agama, jiwa, akal, keturunan dan harta. Istihsan jenis terakhir ini disebut juga istishan atau al-mashalih al-mursalah. PENUTUP Yang terakhir ini exercise. Apakah cara berpikir yang berikut ini termasuk istihsan atau bukan. Bunga deposito dapat dibenarkan karena beberapa pertimbangan. Pertama, uang yang disimpan mengalami penurunan nilai karena inflasi. Tingkat inflasi bisa jadi lebih tinggi dari bunga deposito. Kedua, dengan menyimpan, deposan harus membayar opportunity cost yang boleh jadi lebih mahal dari bunga deposito. Ketiga, mendepositokan uang juga siap memikul resiko, yang nilainya dapat dihitung (serta mungkin saja lebih besar dari bunga

deposito). Walhasil, bila Anda tidak mengambil deposito Anda, Anda akan menjadi pihak yang terzalimi atau teraniaya. Padahal, agama menyatakan "tidak boleh menindas dan tidak boleh ditindas"?? CATATAN 1. Al-Ijtihad wa Muda Hajatina ilaih fi Hadza al-'Ashr, Mesir: Dar al-Kutub al-Haditsah, hal. 324 - 325. 2. Ada empat rukun qiyas: (1) asalnya, yakni kasus yang ada dalam nas, misalnya minum khamar; (2) hukumnya, yakni haram; (3) far', kasus baru yang akan ditetapkan hukumnya, misalnya bir; (4) illat atau washf jami', yakni sebab yang menyamakan kedua kasus itu, misalnya memabukkan atau minuman keras. 3. Lihat, Muhammad Taqiy, Al-Ushul al-Ammah fi al-Ammah fi al-fiqh al-Muqaran, Beirut: Dar al-Andalus, 1979, hal. 361-362. -------------------------------------------Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah Editor: Budhy Munawar-Rachman Penerbit Yayasan Paramadina Jln. Metro Pondok Indah Pondok Indah Plaza I Kav. UA 20-21 Jakarta Selatan Telp. (021) 7501969, 7501983, 7507173 Fax. (021) 7507174 Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota
Please direct any suggestion to Media Team

Artikel Yayasan Paramadina
Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota IV.25. TAQLID DAN IJTIHAD (1/4) MASALAH KONTINUITAS DAN KREATIVITAS DALAM MEMAHAMI PESAN AGAMA oleh Nurcholish Madjid Jika masalah taqlid dan ijtihad harus ditelusuri ke belakang, barangkali yang paling tepat ialah kita menengok ke zaman 'Umar ibn al-Khathtab, Khalifah ke II. Bagi orang-orang muslim yang datang kemudian, khususnya kalangan kaum Sunni, berbagai tindakan 'Umar dipandang sebagai contoh klasik persoalan taqlid dan ijtihad. Salah satu hal yang memberi petunjuk kita tentang prinsip dasar 'Umar berkenaan dengan persoalan pokok ini ialah isi suratnya kepada Abu Musa al-Asy'ari, gubernur di Basrah, Irak: "Adapun sesudah itu, sesungguhnya menegakkan hukum (al qadla) adalah suatu kewajiban yang pasti dan tradisi (Sunnah) yang harus dipatuhi. Maka pahamilah jika sesuatu diajukan orang kepadamu. Sebab, tidaklah ada manfaatnya berbicara mengenai kebenaran jika tidak dapat dilaksanakan. Bersikaplah ramah antara sesama manusia dalam kepribadianmu, keadilanmu dan majlismu, sehingga seorang yang berkedudukan tinggi (syarif) tidak sempat berharap akan keadilanmu.

Memberi bukti adalah wajib atas orang yang menuduh, dan mengucapkan sumpah wajib bagi orang yang mengingkari (tuduhan). Sedangkan kompromi (ishlah, berdamai) diperbolehkan diantara sesama orang Muslim, kecuali kompromi yang menghalalkan hal yang haram dan mengharamkan hal yang halal. Dan janganlah engkau merasa terhalang untuk kembali pada yang benar berkenaan dengan perkara yang telah kau putuskan kemarin tetapi kemudian engkau memeriksa kembali jalan pikiranmu lalu engkau mendapat petunjuk kearah jalanmu yang benar; sebab kebenaran itu tetap abadi, dan kembali kepada yang benar adalah lebih baik daripada berketerusan dalam kebatilan. Pahamilah, sekali lagi, pahamilah, apa yang terlintas dalam dadamu yang tidak termaktub dalam Kitab dan Sunnah, kemudian temukanlah segi-segi kemiripan dan kesamaannya, dan selanjutnya buatlah analogi tentang berbagai perkara itu, lalu berpeganglah pada segi yang paling mirip dengan yang benar. Untuk orang yang mendakwahkan kebenaran atau bukti, berilah tenggang waktu yang harus ia gunakan dengan sebaik-baiknya. Jika ia berhasil datang membawa bukti itu, engkau harus mengambilnya untuk dia sesuai dengan haknya. Tetapi jika tidak, maka anggaplah benar keputusan (yang kau ambil) terhadapnya, sebab itulah yang lebih menjamin untuk menghindari keraguan, dan lebih jelas dari ketidakpastian (al-a'ma, kebutaan, kegelapan) ... Barang siapa telah benar niatnya kemudian teguh memegang pendiriannya, maka Allah akan melindunginya berkenaan dengan apa yang terjadi antara dia dan orang banyak. Dan barang siapa bertingkah laku terhadap sesama manusia dengan sesuatu yang Allah ketahui tidak berasal dari dirinya (tidak tulus), maka Allah akan menghinakannya ..." [1] Dari kutipan surat yang lebih panjang itu ada beberapa prinsip pokok yang dapat kita simpulkan berkenaan dengan masalah taqlid dan ijtihad. Prinsip-prinsip pokok itu ialah: Pertama, prinsip keotentikan (authenticity). Dalam surat 'Umar itu prinsip keotentikan tercermin dalam penegasannya bahwa keputusan apapun mengenai suatu perkara harus terlebih dahulu diusahakan menemukannya dalam Kitab dan Sunnah. Kedua, prinsip pengembangan. Yaitu, pengembangan asas-asas ajaran dari Kitab dan Sunnah untuk mencakup hal-hal yang tidak dengan jelas termaktub dalam sumber-sumber pokok itu. Metodologi pengembangan ini ialah penalaran melalui analogi. Pengembangan ini diperlukan, sebab suatu kebenaran akan membawa manfaat hanya kalau dapat terlaksana, dan syarat keterlaksanaan itu ialah relevansi dengan keadaan nyata. Ketiga, prinsip pembatalan suatu keputusan perkara yang telah terlanjur diambil tetapi kemudian ternyata salah, dan selanjutnya, pengambilan keputusan itu kepada yang benar. Ini bisa terjadi karena adanya bahan baru yang datang kemudian, yang sebelumnya tidak diketahui. Keempat, prinsip ketegasan dalam mengambil keputusan yang menyangkut perkara yang kurang jelas sumber pengambilannya (misalnya, tidak jelas tercantum dalam Kitab dan Sunnah), namun perkara itu amat penting dan mendesak. Ketegasan dalam hal ini bagaimanapun lebih baik daripada keraguan dan ketidakpastian.

Kelima, prinsip ketulusan dan niat baik, yaitu bahwa apapun yang dilakukan haruslah berdasarkan keikhlasan. Jika hal itu benar-benar ada, maka sesuatu yang menjadi akibatnya dalam hubungan dengan sesama manusia (seperti terjadinya kesalahpahaman), Tuhanlah yang akan memutuskan kelak (dalam bahasa 'Umar, Allah yang akan "mencukupkannya"). Dari prinsip-prinsip itu, prinsip keotentikan adalah yang pertama dan utama, disebabkan kedudukannya sebagai sumber keabsahan. Karena agama adalah sesuatu yang pada dasarnya hanya menjadi wewenang Tuhan, maka keotentikan suatu keputusan atau pikiran keagamaan diperoleh hanya jika ia jelas memiliki dasar referensial dalam sumber-sumber suci, yaitu Kitab dan Sunnah. Tanpa prinsip ini maka klaim keabsahan keagamaan akan menjadi mustahil. Justru suatu pemikiran disebut bernilai keagamaan karena ia merupakan segi derivatif semangat yang diambil dari sumber-sumber suci agama itu. TAQLID Prinsip keotentikan juga menyangkut masalah konsistensi ketaatan pada asas. Konsistensi itu, pada urutannya, akan menjadi batu penguji lebih lanjut tingkat keabsahan suatu pemikiran. Karena itu dalam pengembangan suatu pemikiran keagamaan tidak mungkin dihindari kewajiban memperhatikan hal-hal parametris dalam sistem ajaran sumber-sumber suci, sebab hal-hal parametris itulah yang menjadi tulang punggung kerangka ajarannya yang abadi (sesuai untuk segala zaman dan tempat). Hal-hal parametris itu dalam Kitab Suci disebut sebagai al-muhkamat (petunjuk-petunjuk dengan makna jelas), yang juga disebut sebagai prinsip dasar atau induk ajaran Kitab Suci (umm al-Kitab), kebalikan petunjuk-petunjuk metaforikal, alegoris dan interpretatif (mutasyabihat). [2] Karena keontentikan dan konsistensi mengimplikasikan penerimaan terhadap suatu postulat, premis atau formula dasar, dengan sendirinya ia juga mengandung makna taqlid menurut makna asli (generik) kata-kata itu, yakni, sebelum ia menjadi istilah teknis dengan makna sekunder seperti kini umum dipahami. Sebab, taqlid dalam arti generik merupakan unsur sikap menerima kebenaran suatu postulat berdasarkan pengakuan bahwa sumber atau pembuat postulat mempunyai wewenang penuh dan tinggi. Karena salah satu konsekuensi konsep tentang Tuhan ialah konsep tentang Dia Yang Maha Berwenang, maka menerima dengan penuh keyakinan terhadap kebenaran ajaran-Nya dengan sendirinya merupakan implikasi kepercayaan atau iman kepada Rasul dan ajaran-ajaran yang dibawa-Nya. [3] Iman yang sempurna dengan sendirinya mengandung semangat sikap pasrah sepenuhnya. Segi lain tentang makna penting taqlid ialah yang menyangkut masalah akumulasi informasi dan pengalaman. Taqlid sebagai pola penerimaan otoritas pendahulu dalam rentetan pengembangan ilmu dan pemikiran hampir tidak mungkin dihindari. Sebab, ekonomi pemikiran tidak mengizinkan terlalu banyak bersandar pada kemampuan pribadi secara terpisah dan atomistis, sehingga segala sesuatu akan menjadi tanggung jawab sendiri, dengan keharusan merintis setiap pengembangan dari titik nol (from the scratch). Pengetahuan

manusia seperti yang ada sekarang ini yang menandai zaman modern ("iptek") adalah hasil kumulatif penggalian informasi dan pengalaman yang melibatkan hampir seluruh ummat manusia sepanjang sejarah yang telah berjalan ribuan tahun. Deretan pengalaman dan pengawetan serta pelembagaan dalam karya-karya intelektual sepanjang masa itu menjadi pohon tradisi intelektual universal ummat manusia, yang tanpa itu kekayaan dan kesuburan seperti yang ada sekarang akan menjadi sama sekali mustahil. Memulai suatu pengembangan pemikiran dan dalam hal ini juga pengembangan bidang budaya manusia manapun dari titik nol akan hanya berakhir dengan kemiskinan (malah pemiskinan - improverishment) hasil usaha itu sendiri. Karena itu taqlid dalam makna generik yang positif merupakan dasar penumbuhan kekayaan intelektual yang integral, yakni integral dalam arti bahwa suatu bangunan tradisi intelektual memiliki akar-akar dalam sejarah. Jadi, keotentikan historis, yang keontentikan itu sendiri diperlukan jika diinginkan daya kembang dan kreativitas yang maksimal. Maka, untuk sekedar misal, seorang Albert Camus dalam tradisi intelektual Eropa (Barat) yang telah tampil dengan filsafat kontemporernya tentang eksistensialisme absurdity yang kontroversial itu pun harus dipahami sebagai bagian integral tradisi intelektual di sana yang akar-akarnya bisa ditelusuri jauh ke masa lalu, sampai ke masa Yunani kuno. Albert Camus, dalam jalan pikiran orang-orang Barat, tidak dapat dipahami tanpa melihat salah satu jalur konsistensi dan benang merah pemikiran Barat itu sendiri, melintasi zaman sampai ke masa lalu yang sangat jauh. Sekalipun konsep absurdity dapat dilihat sebagai Camus, namun sesungguhnya ia adalah salah satu hasil pertumbuhan kumulatif pemikiran Barat. [4] Ia memiliki keabsahan sebagai pemikiran Barat yang integral. Jadi keintegralan dan keotentikan diperkuat oleh adanya konstinuitas tradisi yang berkembang. Tetapi segi positff taqlid ini hanya terwujud jika ia tidak menjadi paham tersendiri yang tertutup, yang tumbuh menjadi "isme" terpisah. Sebab, taqlid seperti ini (yang barangkali lebih tepat disebut "taqlidisme") mengisyaratkan sikap penyucian masa lampau dan pemutlakan otoritas tokoh sejarah. Memang benar, masa lampau selalu mengandung otoritas. Tapi, justru demi pengembangan bidang yang menjadi otoritasnya, masa lampau beserta tokoh-tokohnya harus senantiasa terbuka untuk diuji dan diuji kembali. Pengujian itu dilakukan dengan pertama-tama, menemukan dan menginsafi segi-segi yang merupakan imperatif ruang dan waktu yang ikut membentuk suatu sosok pemikiran. Sebab, suatu sosok pemikiran tidak pernah muncul dan berkembang dari kevakuman. Ia selalu merupakan hasil interaksi berbagai faktor, dan faktor ruang dan waktu acap kali dominan. (bersambung 2/4) -------------------------------------------Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah Editor: Budhy Munawar-Rachman Penerbit Yayasan Paramadina Jln. Metro Pondok Indah Pondok Indah Plaza I Kav. UA 20-21 Jakarta Selatan Telp. (021) 7501969, 7501983, 7507173

Fax. (021) 7507174 Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota
Please direct any suggestion to Media Team

Artikel Yayasan Paramadina
Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota IV.25. TAQLID DAN IJTIHAD (2/4) MASALAH KONTINUITAS DAN KREATIVITAS DALAM MEMAHAMI PESAN AGAMA oleh Nurcholish Madjid Kedua, dengan menghadapkan sosok pemikiran itu pada kenyataan-kenyataan disini sekarang. Penghadapan ini diperlukan untuk melihat relevansi suatu sosok pemikiran historis, karena ia akan berguna untuk kita, disini dan kini. Seperti tubuh manusia yang memiliki mekanisme penolakan terhadap benda-benda asing yang tidak cocok dengan dirinya lewat gejala alergi, ruang dan waktu pun, yang mengejawantah dalam sistem sosial, memiliki mekanisme penolakan terhadap sesuatu yang tidak sesuai tanpa membiarkan diri secara pasif menjadi tawanan ruang dan waktu, kita tidak bisa dihadapkan pada kebutuhankebutuhan nyata yang didiktekan dan ditentukan oleh lingkungan kita. HIKMAH AGAMA Tujuan seorang Rasul diutus kepada umat manusia antara lain untuk mengajarkan Kitab Suci dan hikmah kepada mereka. Karena cakupan maknanya yang demikian luas, "hikmah" diterangkan kedalam berbagai pengertian dan konsep, diantaranya wisdom atau kewicaksanaan (dari bahasa Jawa, untuk membedakannya dari kata "kebijaksanaan"), ilmu pengetahuan, filsafat, malahan "blessing in disguise" (untuk menekankan segi kerahasiaan hikmah). [6] Mendasari konsep itu ialah kesadaran bahwa suatu "hikmah" selalu mengandung kemurahan dan rahmat Ilahi yang maha luas dan mendalam, yang tidak seluruhnya kita mampu menangkapnya. Maka disebutkan bahwa siapa dikaruniai hikmah, ia sungguh telah mendapatkan kebajikan yang berlimpah-ruah. [6] Jika "hikmah" itu kita hubungkan kembali pada istilah "muhkam" (kedua kata itu terambil dari akar kata yang sama, yaitu h-k-m), maka dalam menumbuhkan tradisi intelektual yang integral dan kreatif berdasarkan kaidah taqlid dan ijtihad itu memerlukan kemampuan menangkap hikmah pesan Ilahi seperti yang terlembagakan dalam ajaran-ajaran agama. Berkenaan dengan ini, dan dikaitkan pada keterangan dalam Kitab Suci tentang adanya ayat-ayat mahkam dan mutasyabih tersebut, menarik sekali kita mengangkat penafsiran A. Yusuf Ali atas makna muhkam itu: [7] ... The Commentators usually understand the verses "of established meaning" (muhkam) to refer to the categorical orders of the Shari'at (or the Law), which are plain to everyone's understanding. But perhaps the meaning is wider: "the mother of the Book" must include the very foundation on which all Law rests, the essence of God's Message, as

distinguished from the various allegories, and ordinances.

illustrative

parables,

If we refer to xi. 1 and xxxix. 23, [8] we shall find that in a sense the whole of the Qur'an has both "established meaning" and allegorical meaning. The division is not between the verses, but between the meanings to be attached to them. Each is but a Sign or Symbol: what it represents is something immediately applicable, and something eternal and independent of time and space, - the "Forms of Ideas" in Plato's Philosophy. The wise man will understand that there is an "essence" and an illustrative clothing given to the essence, throught the Book. We must try to understand it as best we can, but not waste our energies in disputing about matters beyond our depth.[9] Sesuatu dari ajaran Kitab Suci yang abadi dan tak terikat oleh waktu dan ruang (eternal and independent of time and space) dalam pengertian tentang muhkam itu tidak lain ialah makna, semangat, atau tujuan universal yang harus ditarik dari suatu materi ajaran agama yang bersifat spesifik, atau malah mungkin ad-hoc. Kadang-kadang makna dan tujuan universal dibalik suatu ketentuan spesifik itu sekaligus diterangkan langsung dalam rangkaian firman itu sendiri. Tapi, kadang-kadang makna itu harus ditarik melalui proses konseptualisasi atau ideasi (ideation). Contoh yang pertama ialah firman Ilahi yang mengurus perceraian Zaid (seorang bekas budak yang dimerdekakan dan diangkat anak oleh Nabi) dari istrinya, Zainab (seorang wanita bangsawan Quraisy dengan status sosial tinggi dan rupawan), dan perceraian itu kemudian diteruskan dengan dikawinkannya Nabi dengan Zainab oleh Tuhan. Maka terlaksanalah perkawinan seseorang -dalam hal ini Nabi menikahi bekas isteri anak angkatnya. Namun kejadian yang bagi orang-orang tertentu terdengar sebagai skandal ini justru -katakanlah- dirancang oleh Tuhan untuk suatu maksud yang mendukung nilai universal yang sejak semula menjadi klaim ajaran Islam, yaitu nilai sekitar konsep kealamian (naturalness) yang suci, yakni konsep fithrah. Dalam hal ini, anak angkat bukanlah anak alami seperti anak (biologis) sendiri, sehingga juga tidaklah alami dan tidak pula wajar jika hubungannya dengan ayah angkatnya dikenakan ketentuan yang sama dengan anak alami, termasuk dalam urusan nikah. Maka, kejadian ad-hoc yang menyangkut Zaid, Zainab dan Nabi itu langsung diterangkan tujuan universalnya, yaitu "agar tidak ada halangan bagi kaum beriman untuk mengawini (bekas) isteri-isteri anak-anak angkat mereka." [10] Tujuan ini jelas langsung terkait dengan segi universal yang lebih menyeluruh, yaitu konsep atau ajaran fithrah, yang mengimplikasikan bahwa segala sesuatu dalam tatanan hidup manusia ini hendaknya diatur dengan ketentuan yang sealami mungkin sesuai dengan hukum alam (Qadar) [11] dan hukum sejarah (Sunnat-u 'l-Lah) yang pasti dan tak berubah-ubah. [12] Pandangan bahwa segala sesuatu harus sealami mungkin adalah benar-benar sentral namun menuntut pemahaman mendalam yang disebut sebagai agama ftthrah yang hanif. Itulah hikmah pesan agama dalam arti yang seluas-luasnya dan secara global. Dalam arti yang lebih terinci, konsep hikmah agama dinyatakan dalam berbagai ungkapan, seperti telah menjadi tema dan judul sebuah buku yang cukup terkenal, Hikmat al-Tasyri' wa Falsafatuhu. [13] Hikmah pesan agama

Konsep-konsep ini dibuat berkenaan dengan perlunya menemukan suatu rationale yang mendasari penetapan suatu hukum. Berkaitan dengan ini berbagai konsep yang telah mapan dalam pembahasan agama Islam. dan hak mengatur dunia hanya ada pada mereka. yang juga sering disebut dengan manath al-hukm (sumbu perputaran hukum). [14] IJTIHAD Uraian di atas dibuat dengan tujuan memberi gambaran bahwa masalah taqlid dan ijtihad. Maka ijtihad bisa dilakukan hanya oleh orang-orang tertentu yang benar-benar telah memenuhi syarat itu. Dan selanjutnya. khususnya pembahasan bidang hukum (syari'ah -par excellence). menyangkut hal-hal yang cukup rumit. Melalui tokoh-tokoh pembaharu seperti Muhammad Abduh dan Sayid Ahmad Khan. Para pembaharu mendapati bahwa praktek taqlid yang umum . mendalam. yaitu bahwa ia berarti hilangnya akal sehat yang menjadi bagian dari fithrah manusia. sebagai salah satu akibat penguasaan mereka atas daerah-daerah sentral peradaban manusia. dan meluas serta kompleks. Dalam sejarah masyarakat Muslim sempat tumbuh pandangan yang hampir menabukan ijtihad. karena selama paling kurang tujuh atau delapan abad. namun ia dibuat dengan tujuan menjamin adanya kewenangan dan tanggung jawab.ini juga dikenal dengan istilah lain sebagai maqashid al-syari'ah (maksud dan tujuan syari'ah). Sikap penabuan dengan sendirinya tidak dapat dibenarkan meskipun sesungguhnya ia muncul dari obsesi para ulama pada ketertiban dan ketenangan atau keamanan. yaitu tema-tema teori politik Sunni. dalam perkembangan selanjutnya penabuan itu juga dapat dilihat sebagai kelanjutan masa kegelapan (obskurantisme) dalam pemikiran Islam. Hanya saja. justru merupakan salah satu ajaran sentral agama Islam. seperti khamar) ialah sifatnya yang memabukkan. ijtihad dikemukakan kembali sebagai metode terpenting menghilangkan situasi anomalous dunia Islam yang kalah dan dijajah oleh dunia Kristen Barat. Padahal memelihara fithrah itulah. Bahwa rationale diharamkannya minuman keras (alkoholik. jantung kawan (Oikoumene). Kini. kerusakan mental itu -betapa pun jelas negatif. Tapi. (Disebut anomalous. pelukisan tentang kegiatan ijtihad sebagai sesuatu yang amat eksklusif telah melahirkan persepsi salah. khususnya di masa-masa penuh kekacauan menjelang keruntuhan Baghdad. lebih dari pada yang dipahami umum. ijtihad itu diajukan orang sebagai salah satu tema pokok usaha reformasi atau penyegaran kembali pemahaman terhadap agama. Karena itu di kalangan ulama klasik ada pendapat hampir merata bahwa ijtihad adalah suatu tugas yang penuh gengsi. Contoh nyata penerapan konsep ini ialah yang dikenakan pada hukum khamr. Kemudian sifat memabukkan itu sendiri dihukumnya sebagai tidak baik. yaitu kerusakan mental. terutama daerah Nil sampai Ozus. seperti konsep sekitar 'illat al-hukm (Latin: ratio legis). karena ia mengakibatkan suatu jenis kerusakan. orang-orang muslim terbiasa berpikir bahwa dunia ini milik mereka.masih bisa dilihat rationalenya sehingga ia negatif. tapi justru karena itu menuntut persyaratan banyak dan berat. Syarat-syarat itu sekarang boleh kedengaran kuno.

(021) 7507174 Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota Please direct any suggestion to Media Team Artikel Yayasan Paramadina Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota IV. yang meliputi penolakan secara sadar terhadap segala sesuatu yang baru. 'Umar adalah seorang yang "berpikiran luas. penegasannya bahwa "tidaklah ada gunanya berbicara tentang kebenaran namun tidak dapat dilaksanakan. seorang pemikir Makkah dari madzhab Maliki.t. sungguh menarik pemaparan pemikiran al-Makki bahwa melakukan ijtihad. (021) 7501969. menurut kerangka aturan yang telah mapan tentang pengambilan hukum dan norma-norma moral Islam. selain .. tidak hanya para Sahabat seperti 'Umar dll." [17] Pandangan 'Umar ini sejalan dengan. baik awam maupun ulama. Metro Pondok Indah Pondok Indah Plaza I Kav. devotional). yang tidak segan-segan mengambil apa saja yang baik dari umat-umat lain. [16] Bahkan 'Umar "tidak memandang semua perkara bersifat ta'abbudi (bernilai 'ubudiyyah. telah berkembang menjadi suatu sikap mental. Gejala ini pula yang hari-hari ini dilihat al-Makki. dan tidak memandang baik terhadap sikap jumud dalam hukum. khususnya jika berbentuk unsur dari budaya asing. UA 20-21 Jakarta Selatan Telp. dan merupakan konsekwensi dari. 7507173 Fax. malah juga Rasulullah sendiri! Menurut al-Makki. paling celaka kecemasan dan rendah diri." [18] (bersambung 3/4) -------------------------------------------Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah Editor: Budhy Munawar-Rachman Penerbit Yayasan Paramadina Jln. khususnya zaman 'Umar. Sebab. Ia melukiskan semangat kosmopolit zaman klasik Islam.w. Xenophobia itu sendiri merupakan gejala. 7501983. dan tentang apa yang paling baik disini dan sekarang. paling untung chauvinisme. Tokoh pembaharu modern paling berpengaruh ini "memahami ijtihad dalam pengertiannya yang luas sebagai penelitian bebas.25. jika bukan malah pandangan teologis. [15] Ini dengan mudah dilihat gejala xenophobia. TAQLID DAN IJTIHAD (3/4) MASALAH KONTINUITAS DAN KREATIVITAS DALAM MEMAHAMI PESAN AGAMA oleh Nurcholish Madjid Agaknya jalan pikiran 'Umar dari zaman klasik (salaf) Islam itu muncul lagi pada orang-orang tertentu dari kalangan para pemikir Islam zaman modern. sepanjang penuturannya. khususnya Muhammad Abduh. dari kalangan generasi awal Islam." [19] Berkenaan dengan itu.menguasai orang-orang muslim. tetapi mengikuti berbagai pertimbangan kemaslahatan dan melihat makna-makna yang merupakan poros penetapan hukum (manath al-tasyri') yang diridlai Allah s. meskipun umat itu kafir.

ia akan mendapat dua pahala. yang menegaskan bahwa siapa yang berijtihad dan benar. Sebab. Seluruh ide tentang mendekati (taqarrub) kepada Tuhan mengisyaratkan perlunya manusia berjalan tanpa jemu-jemunya meniti jalan lurus yang sulit itu. Sebab. sampai ia akhirnya bertemu (liqa. dan ijtihad diperlukan justru untuk mengembangkan dan lebih memperkaya pengalaman itu. Sebab. dan ketertutupan itu akan menjadi sumber absolutnya. Inilah barangkali letak kebenaran ucapan Karl Mannheim bahwa setiap ideologi (yakni. yang menjadi alasan bagi Sang Kebenaran untuk menuntun seseorang ke berbagai jalan menuju kepada-Nya.H. maka seperti ditegaskan Ibn Taymiyyah. pemikiran yang dihayati secara ideologis-absolutistik) cenderung untuk selalu bakal ditinggalkan zaman. Muhammad Hasyim Asy'ari dan al-Sayyid Muhammad Ibn Alawi ibn "Abbas al-Maliki al-Hasani al-Makki. dari sudut pandangan esoterisnya. kiranya jelas bahwa taqlid dan ijtihad sama-sama diperlukan dalam masyarakat manapun. dengan mekanisme penerimaan dan penganutan suatu otoritas (taqlid) kekayaan pengalaman kultural manusia. dan siapa yang . sebagaimana tercermin dalam sabda Nabi yang amat terkenal. Hadlrat al-Syaikh K. Tapi. atau kalaupun salah beliau akan segera mendapat teguran Ilahi melalui wahyu yang suci sehingga kesalahan itu tidak melembaga dan menjadi satu dengan pola hidup orang banyak. [23] Akhirnya. maka taqlid ataupun ijtihad selalu mengandung persoalan. khususnya pemikiran. meskipun amat jarang. yaitu ijtihad dan mujahadah. Al-Makki mengatakan bahwa dalam berijtihad Nabi selalu benar. Jika diluar itu Nabi bisa salah. namun tidak mustahil. Jalan menuju kesana ternyata banyak. dengan izin dan ridla dari Sang Kebenaran itu sendiri. Maka problema yang dihadapkan kepada setiap orang ialah bagaimana ia teguh tanpa menjadi kemutlakan-kemutlakan. para Sahabat Nabi dahulu. dan sekaligus berkembang dan kreatif tanpa kehilangan keotentikan dan keabsahan -suatu penitian jalan yang sulit. [20] (Dalam hal ini al-Makki mirip dengan Ibn Taymiyyah yang berpendapat bahwa Nabi bersifat ma'shum hanya dalam tugas menyampaikan (al-balagh) wahyu. sehingga harus senantiasa dibiarkan membuka diri bagi tinjauan dan pengujian. dan selalu langsung dikoreksi Tuhan). Bahkan. dan saling menghargai pendapat yang ada di kalangan mereka. menjadi kumulatif. selalu toleran satu sama lain. pasti memang hanya usaha yang penuh kesungguhan saja. namun tanpa menjadi satu) dengan Kebenaran. [21] NILAI SEBUAH IJTIHAD Dari uraian di atas. jalan itu sebanyak jumlah mereka yang mencarinya dengan sungguh-sungguh. setiap bentuk absolutisme akan membuat suatu sistem pemikiran menjadi tertutup.selaku Utusan Tuhan yang menerima wahyu parametris. Nabi juga sering melakukan ijtihad dengan menggunakan metode analogi atau qiyas. [22] Dan karena banyaknya jalan menuju Kebenaran itu. Jadi tidak dibenarkan adanya absolutisme di sini. begitu pula para Imam madzhab sendiri. sebagai sama-sama kegiatan manusiawi yang serba terbatas. Sesuatu dari kreasi manusiawi yang diabsolutkan akan secepat itu pula akan terobsolutkan.

Dinamika penting tidak saja karena merupakan unsur vitalitas. Al-Sayyid Muhammad ibn Alawi ibn Abbas al-Maliki al-Hasani al-Makki. mereka tidaklah beriman sehingga mereka mengangkatmu sebagai hakim berkenaan dengan hal-hal yang diperselisihkan di antara mereka. sedangkan kemandekan berarti kematian. maka akan (hanya) mencari yang mutasyabih saja dari Kitab Suci itu dengan tujuan menciptakan perpecahan dan mencari-cari maknanya yang tersembunyi (membuat-buat interpretasi). Ini bisa dipahami dari firman. 1964). 5. [26] Dalam dinamika itu tidak perlu takut salah. hal 1728. al-Nisa 4:65. "Dia (Tuhan)-lah yang menurunkan kepadamu (Muhammad) Kitab Suci. "kami beriman dengan ayat-ayat itu. Eclesiastes. h. CATATAN 1. para penganjurnya mengklaim sebagai berakar pada masa lampau yang jauh. Dalam literatur klasik Arab. "hikmah" memang sering diartikan sebagai wisdom.berijtihad dan salah. Ini merupakan hal yang amat penting dalam perkembangan dan pertumbuhan. sedangkan seluruh wujud ini berjalan dan terus berubah. melintasi zaman. Seperti dikatakan 'Umar dalam suratnya di atas. (lihat Maurice Friedman. Padahal tidak ada yang mengetahui maknanya yang tersembunyi itu kecuali Allah. (khutbahnya di atas bukit Moria (Zion) -yang kini berdiri Masjid 'Umar atau Qubbat al-Shakhrah dan Masjid al-Aqsha itu) sebagaimana dituturkan dalam Injil Matius 5 dari Perjanjian Baru. Dan memang tidaklah menangkap pesan ini kecuali mereka yang berpengertian. kemudian mereka tidak mendapati dalam diri mereka keberatan terhadap apa yang telah kau putuskan. Sedangkan orang-orang yang mendalam pengetahuannya akan berkata. kemudian Job. The Word of Existentialism: A Critical Reader (Chicago: The University of Chicago Press. yaitu sama dengan "filsafat" yang memang menyiratkan wisdom. ed. Diantara isinya ayat-ayat muhkamat (jamak dari muhkam) yang merupakan induk (ajaran) Kitab Suci itu. karena merupakan Sunnat Allah untuk seluruh ciptaannya. karena takut salah itu sendiri adanya kesalahan yang paling fatal. Adapun mereka yang dalam hatinya terdapat kecenderungan kurang baik (serong). termasuk sejarah manusia. sampai kepada Heracleitus dari Ephesus di zaman Yunani kuno. Hanya Dzat Allah yang kekal abadi. dan lainnya berupa ayat-ayat mutasyabihat (jamak dari mutasyabih). sebab Dia-lah Kebenaran Yang Pertama dan yang Akhir." 3. sejak zaman Nabi 'Isa a. [24] Dengan berbekal ketulusan. Micah. ia masih mendapat satu pahala. QS. sebab semuanya dari Tuhan kami. kita terus bergerak maju secara dinamis. 2. Karena itu tujuan hidup yang benar hanyalah Allah." 4. 1407 H/1986 M). dan mereka pasrah sepasrah-pasrahnya. Berkenaan dengan "pohon" tradisi intelektual Barat cabang filsafat eksistensialisme ini. niat baik dan ketulusan hati adalah sumber perlindungan Ilahi dalam usaha kita mengembangkan masyarakat. tapi ia juga benar. "Tidak.s. 'Ali 'Imran 3:7. sehingga para filsuf . Sebab perkembangan dan pertumbuhan adalah tanda vitalitas. demi Tuhanmu. dan Zabur dalam Perjanjian Lama. Syarifat Allah al-Khalidah: Dirasat fi Tarikh Tasyri al-Ahkam wa Madzahib al-Fuqaha al-A'lam (Jeddah: Dar al-Syuruq. Amos. 120-121. QS.

(Inilah) Kitab yang ayat-ayatnya dibuat jelas maknanya (digunakan kata kerja pasif "uhkimat" yang sama artinya dengan kata sifat atau participte pasif "muhkam"). "Allah telah menurunkan sebaik-baik Firman dalam bentuk sebuah Kitab yang mutasyabih (serasi. (021) 7501969. misalnya. 1243. mutasyabih di sini dikontraskan terhadap matsani." 7. dari sisi Yang Maha Bijaksana dan Maha Teliti. catatan 4276). yang manusia sedapat mungkin berusaha keras menangkapnya. maka sungguh ia telah diberi kebaikan yang banyak. Metro Pondok Indah Pondok Indah Plaza I Kav. Yusuf Ali ini dianggap paling standar dan populer dalam . catatan 1493 dan hal. Hud 11:1. The Holy Qur'an (Jeddah: Dar al-Qiblah for Islamic Literature. 7507173 Fax. "Dia (Tuhan) memberi hikmah kepada siapa saja yang dikehendaki-Nya. kemudian dirinci. "Alif Lam Ra. (Patut diketahui bahwa terjemahan al-Qur'an dan tafsir ke dalam Bahasa Inggris oleh A. 7501983. hal. TAQLID DAN IJTIHAD (4/4) MASALAH KONTINUITAS DAN KREATIVITAS DALAM MEMAHAMI PESAN AGAMA oleh Nurcholish Madjid 9.. (021) 7507174 Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota Please direct any suggestion to Media Team Artikel Yayasan Paramadina Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota IV. Namun. Fash al-Maqal wa Taqrir ma bain al-Hikmah wa al-Syari'ah min al-Ittishat (Kata Putus dan Kejelasan tentang Hubungan antara Filsafat dan Agama). catatan 347.(al-falasifah) juga disebut al-hukama ("orang-orang bijaksana"). Lihat catatan 2 di atas. Ayat-ayat muhkam itu disebut sebagai "mother of the Book. 514. Sebab.25. 6. 123. tt). yakni serasi antara berbagai ajarannya. tanpa dogmatik dan tertutup. konsisten) namun matsani (berulang-ulang." Induk Kitab Suci" (Umm al-Kitab). A.. ide pokoknya atau "Form of Ideas"-nya sama. sedangkan di 3:7 dengan muhkam. (Lihat A. Ini dengan jelas tercermin. dari risalah Ibn Rusyd.Yusuf Ali. Yaitu QS. UA 20-21 Jakarta Selatan Telp. al-Baqarah 2: 269. Al-Zumar 39:23. 8. yaitu bahwa ajaran al-Qur'an membentuk suatu kesatuan yang utuh. QS. Ali. yakni dalam mengungkapkan ajaran-ajaran itu) ." A Yusuf Ali mengartikan perkataan mutasyabih di sini berbeda dengan yang ada pada 3:7 di atas." dan QS. (bersambung 4/4) -------------------------------------------Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah Editor: Budhy Munawar-Rachman Penerbit Yayasan Paramadina Jln.Y. Dan barangsiapa diberi hikmah. hal.

Al-Qamar 54:49. dan perintah Allah adalah kepastian yang sepasti-pastinya.dunia Islam internasional. ". termasuk yang menyangkut masalah kawin dan waris. yaitu Zaid ibn Haritsah. dan mereka takut kepada-Nya. QS. Dan mengapa mereka tidak memperhatikan Sunnah yang terjadi pada orang-orang yang telah lalu? Engkau tidak akan mendapatkan peralihan dalam Sunnat Allah dan engkau tidak akan menemukan perubahan dalam . "Pertahankanlah untukmu isterimu (Zainab) itu. "Sesungguhnya Kami (Tuhan) telah menciptakan segala sesuatu dengan (hukum) kepastian (Qadar). menegaskan tentang adanya hukum kepastian dari Allah (Qadar) yang menguasai dan mengatur alam raya ciptaan-Nya ini. dengan hak hak pada anak angkat itu yang sama dengan anak biologis (alami). agar tidak ada halangan bagi orang-orang beriman untuk mengawini isteri-isteri anak-anak angkat mereka jika memang mereka (anak-anak angkat) telah membatalkan (perkawinan) dari mereka (isteri-isteri mereka). dan engkau takut kepada manusia. QS. Dan perintah Allah haruslah dilaksanakan. meniru penempatan Kitab Suci Kristen yang telah lama ada). Orang-orang Arab. dan masih banyak lagi ayat-ayat yang lain. dan bertaqwalah kepada Allah. padahal Allah-lah yang lebih berhak kau takuti. Tetapi engkau menyimpan sesuatu dalam dirimu yang Allah hendak membukanya keluar. yang setelah dimerdekakan diangkat Nabi sebagai anak angkat. Firman yang dimaksud berkenaan dengan masalah ini ialah QS. "Ingatlah ketika engkau berkata kepada seseorang (Zaid) yang telah mendapatkan nikmat dari Allah dan mendapat nikmat (kasih sayang) darimu sendiri. tidak terkecuali Nabi sendiri. Kami (Tuhan) kawinkan engkau (Muhammad) kepadanya (Zainab). dan sejak itu bernama lengkap Zaid ibn Muhammad. Allah Maha Mengetahui atas segala sesuatu. Tidak boleh ada kesulitan pada Nabi berkenaan dengan apa yang telah ditetapkan oleh Allah. 10. 12. Zaid yang bekas budak (hitam) itu memang seorang pemuda yang saleh dan cerdas. yaitu (Sunnat Allah) kepada mereka yang menyampaikan pesan-pesan Allah." Kedua ayat itu. melainkan Rasul Allah dan Penutup Nabi. Ini adalah "contoh klasik" metode pendekatan al-Qur'an terhadap masalah sosial kemanusiaan yang pelik dan peka. telah lama mempraktekan pengangkatan anak atau apa yang disebut tabanni. Salah satu edisinya dimaksudkan untuk hotel-hotel internasional." Dan QS." 11. Al-Ahzab 33:37-40. Fathir 36:43. dan cukuplah Allah sebagai yang membuat perhitungan Muhammad bukanlah ayah seseorang dari kaum lelaki diantara kamu.. Al-Furqan 25:2 "Dan Dia (Tuhan) menciptakan segala sesuatu kemudian ditetapkan kepastiannya sepasti-pastinya. Itulan Sunnat Allah kepada mereka yang telah lewat sebelumnya.. yang kemudian juga mendapat restu dan persetujuan Ri'asat Idarat al-Buhuts al-Ilmiyyah wa 'l-Ifta wa 'l-Da'wah wa 'I-Irsyad di Riyadh sebagai badan tertinggi urusan keagamaan Saudi Arabia. Maka setelah Zaid melaksanakan pembatalan (perkawinannya) dengan dia (Zainab) secara pasti (resmi). Tetapi dengan adanya pembatalan sistem anak angkat yang disamakan dengan anak kandung dan sejak itu bernama lengkap seperti semestinya. Penyebarannya di seluruh dunia banyak dibiayai oleh Pemerintah Saudi Arabia sejak 1384 H/1965 M dengan sponsor Rabithah Alam Islami yang diketuai Syeik Mohammed Sour as-Sabhan sampai saat ini dengan berbagai cetakan dan edisi.

pengaruhnya terhadap kesehatan. tetapi cukup mewakili suatu contoh pencarian makna umum ibadat. cit. Yaitu judul sebuah kitab yang cukup terkenal. yakni hukum-hukum kepastian dari Allah yang menguasai dan mengatur kehidupan manusia dalam sejarah. yaitu filsafat at-tasyri' (filsafat penetapan hukum syari'at atau agama). 14. menjelaskan tentang adanya Sunnat Allah. Kita diwajibkan memeriksa dan meneliti kemudian menarik pelajaran daripadanya. 269-281. serta . oleh Ali Ahmad al-Jurjawi yang mencoba melihat hikmah setiap bentuk ibadat serta ajaran dan praktek keagamaan yang lain. yang meliputi pula pembicaraan sekitar pengaruh alkohol kepada peminumnya. Namun isinya masih jauh dari klaim judul buku itu sendiri. tt). Pendekatannya kurang meyakinkan dan berbau apologetik. ajaran dan praktek keagamaan itu secara rinci. (Beirut: Dar al-Fikr.Sunnat Allah." Firman ini. alkohol dan pengaruh buruknya terhadap negeri-negeri panas. Lihat pembahasan panjang lebar tentang masalah ini dalam al-Jurjawi (op. bisnis asuransi jiwa. dan masih banyak lagi yang lain. pada peredaran darahnya. jumlah kematian karena alkoholisme.) hal. 13.

Juga. "Ini dari wahyu atau dari pendapat (ijtihad)?" Nabi menjawab. isteri Beliau yang berasal dari Mesir. 17. 3. Pembahasan tentang ishamat atau ketidak-biasaan . 116.hal. Cit. "Wahai Nabi. Anwar al Tanzil wa Asrar al-Ta'wil al-ma'ruf bi tafsir al-Baydlawi. salah satunya ialah ijtihad Nabi di waktu menyiapkan Perang Badar. (Lihat. Al-Makki. 20. kata al-Makki. hal. Yang dimaksudkan al-Makki sebagai sesuatu yang diambil 'Umar dari orang-orang kafir ialah idenya membuat Bayt al-Mal dan kalender (Hijrah)." Inipun.korelasi antara alkohol dan kejahatan. supaya musuh pun dapat pula memanfaatkannya. cit. Versi manapun yang benar. menurut hukum Allah adalah halal. sehingga. hal. Hodgson. yang pada waktu itu. Ibid. Hal itu kemudian diketahui oleh Hafshah. 3 jilid (Chicago: The University of Chicago Press. Nabi berijitihad untuk tidak usah menguasai sumber air yang vital.. 5. hal. The Venture of Islam. Al-Tahrim 66:1. semuanya menunjukkan suatu yang dimaksudkan oleh al-Makki sebagai contoh ijtihad Nabi. masih belum muslim. 121. 18. op. Lihat catatan 1 di atas.cit. demi menyenangkan hati Hafshah (anak 'Umar ibn al-Khattab) Nabi berjanji dan mengharamkan berkumpul dengan Mariyah atas diri Beliau. 21.) jil. Padahal Nabi s. 19. Al-Makki op.. Sedangkan yang disebut-sebut ijtihad Nabi yang kemudian mendatangkan teguran Ilahi ialah yang terabadikan dalam QS. maka datanglah al-Khabbab ibn al-Mundzir bertanya.a. jil. Hodgson op. "Pendapat. 5 jilid (Beirut: Muassasat Sya'ban. tentu saja. tt. Dari beberapa contoh yang dituturkan al-Makki." Yaitu. karena murka kepada Aisyah atau Hafshah. karena menghalangi mereka dari air termasuk taktik perang dan menjadi sebab kemenangan. 16. Ide itu ditirunya dari orang-orang Persia. Marshall G. 15. karena Beliau melakukan analogi bahwa menghalangi mereka (musuh) dari memperoleh air yang vital itu sama dengan menghalangi binatang dari air. padahal Mariyah adalah isteri Beliau yang sah. salah satu metode ijtihad yang amat penting. hal. mempunyai naluri amat kuat untuk bersikap kasih kepada sesama hidup.S. Nashir al-Din Abi Said 'Abdullah ibn 'Umar ibn Muhammad al-Syirazi al-Baydlawi. Musuh dalam perang bukanlah orang yang harus dihormati sehingga tidak diperbolehkan dihalangi dari air. "Pendapat yang benar ialah kita harus menghalangi mereka (musuh) itu dari air yang vital ini.. termasuk pendekatan analogis. 48. hal. Kemudian al-Khabab membalas. lalu Hafshah pun marah kepada Nabi. 137). 1974).w. ada versi lain berkenaan dengan kejadian yang terabaikan dalam firman ini. Jadi. mengapa engkau mengharamkan sesuatu yang dihalalkan Allah hanya untuk memperoleh kerelaan (kesenangan hati) isteri-isterimu?!" Para penafsir klasik menuturkan tentang suatu kejadian bahwa Nabi suatu hari tinggal di rumah Mariyah. sedangkan menyiksa binatang seperti itu tidaklah diperbolehkan. 274. 274-275.

suatu kekuatan kebaikan yang abstrak. yang tentang hal itu kita bisa mempunyai berbagai pengertian.. tt).(infallibility) Nabi oleh Ibn Taymiyyah ini dapat kita jumpai dalam karya besarnya Minhaj al -Sunnat al-Nabawiyyah fi Naqdl Kalam al-Syi'ah wa al-Qadariyvah. Ibn Taymiyyah. Inilah juga doktrin Advaita dan Shri Shankara dalam jabarannya terhadap Brihadaranyaka Upanishad dalam filsafat Hindu. Metro Pondok Indah Pondok Indah Plaza I Kav. Lihat catatan no. 22." -------------------------------------------Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah Editor: Budhy Munawar-Rachman Penerbit Yayasan Paramadina Jln. dan kepadanyalah kamu semua akan dikembalikan. kita tidak dapat menggabungkannya dengan Pribadi atau Wujud yang vital. al-Tanbihat. karya ini ditulis sebagai polemihya dengan golongan Syi'ah. 130.. Lihat. "Dia (Tuhan)-lah Yang Pertama dan yang Akhir. Jika berpikir tentang Tuhan yang impersonal. 24. Jadi kita tahu bahwa apa yang kita sebut diri kita sendiri tidaklah punya makna. Kenyataan satu-satunya ialah Tuhan. sebagaimana tereermin dari judulnya. hal. namun Dia akan tetap abadi. (021) 7501969. QS. Yusuf Ali memberi komentar yang menarik tentang ayat terakhir Surah 28 ini: "Ini meringkaskan pelajaran seluruh Surah. "Dan barangsiapa berusaha sungguh-sungguh (mujahadah) di jalan Kami. dan Dia Maha mengetahui atas segala sesuatu. al-Ankabut 29:69. 25. 1 di atas dan keterangan yang bersangkutan awal-awal tulisan ini. K. UA 20-21 Jakarta Selatan Telp. op. jil. Tiada suatu Tuhan melainkan Dia. maka pastilah akan Kami tunjukkan kepada mereka berbagai jalan (subul) Kami. Perlu diketahui.H. atau Wujud-Nya itulah yang harus kita cari. dan al-Makki. Baginyalah ketentuan hukum. Lihat juga QS. cit. "Wajah"-Nya atau Diri. Hasyim Asy'ari. karena menyadari bahwa Dia-lah satu-satunya hal yang abadi. (021) 7507174 Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota Please direct any suggestion to Media Team . Al-Qashash 28:88. Muh. "Janganlah menyeru bersama Allah (Tuhan Yang Maha Esa) suatu Tuhan yang lain. 7501983." A. 1. yang tentang Dia itu kita hanya mampu menangkap gaung samar-samar atau cerminan dalam momen yang paling intens dalam luapan spiritual." 23. sebab hanya ada satu Diri yang benar. Al-Hadid 57:3. QS. Ikhtilaf al-Ummah fi al-Ibadat. Seluruh jagad lahir dan tunduk kepada hukum peralihan dan perubahan fana akan sirna. 7507173 Fax. hal. Segala sesutu binasa kecuali Wajah-Nya. dan itu adalah Tuhan. 4 jilid (Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiyyah. Pribadi. Yang Lahir dan Yang Batin. 244 dan passim.

" Atas dasar ini maka tidak tepat apabila kata "ijtihad" dipergunakan untuk melakukan sesuatu yang mudah/ringan. Minimal ada tiga alasan kenapa lebih mendahulukan ijtihad daripada taqlid. PENGERTIAN IJTIHAD Menurut bahasa. disamping banyaknya buku yang mengupas masalah tersebut yang mudah kita temukan. 1. Dengan demikian seseorang hanya dibenarkan bertaqlid kepada mujtahid yang mu'tabar. 2. ada dua kelompok ahli ushul flqh (ushuliyyin) -kelompok mayoritas dan kelompok minoritas. IJTIHAD Tulisan ini akan mendahulukan masalah ijtihad. Menurut mereka. atau yang terdekat itu diperoleh dari maksud dan tujuan umum dari hikmah syari'ah. 3. baru kemudian menyoroti masalah taqlid. Sekedar mengikuti kelaziman. Ibrahim Hosen 1.yang terkenal dengan "mashlahat. Persoalan taqlid akan lebih mudah dipahami jika seseorang telah memahami persoalan ijtihad. dimana untuk melakukannya diperlukan beberapa persyaratan yang karenanya tidak mungkin pekerjaan itu (ijtihad) dilakukan sembarang orang. Dalam tulisan ini hanya akan diungkapkan pengertian ijtihad menurut rumusan ushuliyyin dari kelompok mayoritas.yang mengemukakan rumusan definisi. Mereka memberikan batasan bahwa ijtihad adalah "penelitian dan pemikiran untuk mendapatkan sesuatu yang terdekat pada Kitab-u 'l-Lah dan Sunnah Rasul. TAQLID DAN IJTIHAD (1/4) Beberapa Pengertian Dasar Oleh KH. Dalam tulisan ini saya hanya akan bicara tentang beberapa aspek ijtihad dan taqlid yang dipandang penting. ijtihad adalah pengerahan segenap . Taqlid tidak akan ada tanpa ijtihad.Artikel Yayasan Paramadina Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota IV.24. mengingat kedua masalah itu amat sering diperbincangkan. Pengertian ijtihad menurut bahasa ini ada relevansinya dengan pengertian ijtihad menurut istilah. Dan di sisi lain ada pengertian ijthad yang telah digunakan para sahabat Nabi." Dalam kaitan pengertan ijtihad menurut istilah. dimana dalam buku-buku Ushul Fiqh. masalah ijtihad selalu lebih dahulu dibicarakan sebelum masalah taqlid. ijtihad berarti "pengerahan segala kemampuan untuk mengerjakan sesuatu yang sulit. baik yang terdekat itu diperoleh dari nash -yang terkenal dengan qiyas (ma'qul nash).

379). Jadi apabila kita konsisten dengan definisi ijtihad diatas maka dapat kita tegaskan bahwa ijtihad sepanjang pengertian istilah hanyalah monopoli dunia hukum. Hukum Islam yang ma'qulu 'l-ma'na/ta'aqquly (kausalitas . "yang dimaksud ijtihad adalah bila dimutlakkan maka ijtihad itu bidang hukum fiqih/hukum furu'. hukum Islam yang mana saja yang mungkin untuk di-ijtihad-i? Adakah hal itu berlaku di dunia hukum (hukum Islam) secara mutlak? Ulama telah bersepakat bahwa ijtihad dibenarkan. 3. yaitu hukum Islam yang berhubungan dengan tingkah laku dan perbuatan orang-orang dewasa. (Jam'u 'l-Jawami'. bukan hukum i'tiqadi atau hukum khuluqi. 4. Dalam hubungan ini komentator Jam'u 'l-Jawami' (Jalaluddin al-Mahally) menegaskan. Lapangan atau medan dimana ijtihad dapat memainkan peranannya adalah: 1. Juz II. Pendapat ini bukan saja menunjukkan inkonsistensi terhadap suatu disiplin ilmu (ushul fiqh). tetapi juga akan membawa konsekuensi pembenaran terhadap aqidah non Islam yang dlalal. bukan yang lain. Masalah-masalah baru yang hukumnya belum ditegaskan oleh nash al-Qur'an atau Sunnah secara jelas. Masalah-masalah baru yang hukumnya belum diijma'i oleh ulama atau aimamatu 'l-mujtahidin. hal. Lantaran itulah Jumhur 'ulama' telah bersepakat bahwa ijtihad hanya berlaku di bidang hukum (hukum Islam) dengan ketentuan-ketentuan tertentu. Atas dasar itu ada kekeliruan pendapat sementara pihak yang mengatakan bahwa ijtihad juga berlaku di bidang aqidah. MEDAN IJTIHAD Di atas telah ditegaskan bahwa ijtihad hanya berlaku di bidang hukum. dan akan membawa rahmat manakala ijtihad dilakukan oleh yang memenuhi persyaratan dan dilakukan di medannya (majalul ijtihad). 2. Dia mengatakan bahwa ijtihad juga berlaku di bidang aqidah. 2. serta perbedaan yang terjadi sebagai akibat ijtihad ditolerir.kesanggupan dari seorang ahli fxqih atau mujtahid untuk memperoleh pengertian tingkat dhann terhadap sesuatu hukum syara' (hukum Islam). Lalu. Pendapat yang nyeleneh atau syadz ini dipelopori al-Jahidh. Status hukum syar'i yang dihasilkan oleh ijtihad adalah dhanni. salah seorang tokoh mu'tazilah. Pelaku utihad adalah seorang ahli fiqih/hukum Islam (faqih). Nash-nash Dhanny dan dalil-dalil hukum yang diperselisihkan. Dari definisi tersebut sebagai berikut: dapat ditarik beberapa kesimpulan 1. 3. Yang ingin dicapai oleh ijtihad adalah hukum syar'i.

kalau kita akan melakukan reaktualisasi hukum Islam. dan ia berijtihad. (021) 7501969. kaidah itulah yang menghambat aspirasi sementara kalangan yang hendak merombak hukum-hukum Islam qath'i seperti hukum kewarisan al-Qur'an. kemudian hasil ijtihadnya salah. Apabila ini yang kita lakukan dan kita memang telah memenuhi persyaratannya maka pantaslah kita dianggap sebagai mujtahid di abad modern ini yang akan didukung semua pihak. disinilah seharusnya kita melakukan terobosan-terobosan baru. 7501983. Islam bukan saja memberi legalitas ijtihad. 3. Hal ini sejalan dengan kaidah. maka ia memperoleh dua pahala (pahala ijtihad dan pahala kebenarannya). lalu ia melakukan ijtihad. Sebaliknya ulama telah bersepakat berlaku atau tidak dibenarkan pada: bahwa ijtihad tidak 1. 2. Hukum Islam yang telah diijma'i ulama. UA 20-21 Jakarta Selatan Telp." Bila kita telaah. Disamping ijtihad tidak berlaku atau tidak mungkin dilakukan pada ketiga macam hukum Islam di atas. maka ia mendapat satu pahala (pahala ijtihadnya). Jika hakim akan memutuskan perkara. Hal ini antara lain diketahui dari Hadits Nabi yang artinya. Jadi. kemudian ijtihadnya benar. demikian juga ijtihad akan gugur dengan sendirinya apabila hasil ijtihad itu berlawanan dengan nash. 7507173 . "Tidak ada ijtihad dalam melawan nash." (Riwayat Bukhari Muslim)." Atas dasar itu maka muncullah ketentuan. akan tetapi juga mentolerir adanya perbedaan pendapat sebagai hasil ijtihad. Banyak ayat al-Qur'an dan Hadits Nabi yang menyinggung masalah ini.hukumnya/'illat-nya dapat diketahui mujtahid)." PERBEDAAN YANG DITOLERIR Ijtihad dilegalisasi bahkan sangat dianjurkan oleh Islam. "Apabila seorang hakim akan memutuskan perkara. yang dalam istilah ushul fiqih dikenal dengan syari'ah atau "ma'ulima min al-din bi al-dlarurah. Metro Pondok Indah Pondok Indah Plaza I Kav. "Tidak berlaku ijtihad pada masalah-masalah hukum yang ditentukan berdasarkan nash yang status dalalah-nya qath'i dan tegas. Hukum Islam yang bersifat ta'abbudy/ghairu ma'quli 'lma'na (yang kausalitas hukumnya/'illat-nya tidak dapat dicerna dan diketahui mujtahid). Hukum Islam yang telah ditegaskan nash al-Qur'an atau Sunnah yang statusnya qath'iy (ahkamun manshushah). (bersambung 2/4) -------------------------------------------Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah Editor: Budhy Munawar-Rachman Penerbit Yayasan Paramadina Jln.

tidak dapat begitu saja dilenyapkan oleh ijtihad yang lain. Ini jelas tidak dapat dibenarkan. tetapi mengandung kemungkinan benar. dan pendapat selain kami salah. "Perbedaan pendapat di kalangan ulama akan membawa rahmat. ." Betapapun lemahnya suatu ijtihad. sejalan dengan kaidah. ia tetap eksis. IJTIHAD TIDAK DAPAT DIGUGURKAN DENGAN IJTIHAD Di atas telah disinggung bahwa hukum yang dihasilkan oleh ijtihad statusnya dhanny. ia salah tetapi mengandung kemungkinan benar. Hanya saja. Apabila benar bahwa semua agama itu sama tentu tidak ada kewajiban berda'wah. TAQLID DAN IJTIHAD (2/4) Beberapa Pengertian Dasar Oleh KH. Oleh sebab itu maka ijtihad yang satu tidak dapat membatalkan ijtihad yang lain." (Abu Nashar Al-Muqaddasi). jihad dan sebagainya. Inilah yang ingin saya tegaskan dalam kesempatan ini mengingat adanya sementara pihak yang menggunakan hadits marfu' untuk membenarkan adanya perbedaan pendapat di bidang aqidah yang akan bermuara pada paham "pluralisme agama" -semua agama sama atau benar. sehingga kita akan sanggup menjadikan perbedaan pendapat tersebut sebagai rahmat yang memporak-porandakan persatuan umat Islam. Ibrahim Hosen Hadits di atas bukan saja memberi legalitas ijtihad. Perbedaan pendapat dalam hukum Islam sebagai hasil ijtihad inilah yang ditegaskan Nabi akan membawa rahmat (kelapangan bagi umat) sebagaimana diketahui ditegaskan dalam sebuah hadits. menurut mujtahid. "Pendapat kami benar. yang artinya kebenarannya tidak bersifat absolut. yakni fiqih.24. ia benar tetapi mengandung kemungkinan salah. Yang dimaksud dengan perbedaan di sini adalah perbedaan pendapat dalam hukum Islam ijtihady. Demikian juga al-Qur'an tidak perlu diturunkan.Fax. Prinsip ini dipegang teguh oleh para imam mujtahid. porsi kebenarannya lebih dominan/rajih. tetapi mengandung kemungkinan salah." Hal ini sejalan dengan status fiqih sebagai produk ijtihad yang statusnya dhanny. Apabila hal ini dapat kita pegangi secara konsisten maka jiwa tasammuh dalam menanggapi aneka ragam pendapat di bidang fiqih sebagai akibat perbedaan dalam berijtihad akan tetap dapat ditumbuhkan. betapapun kuat dalilnya. amar ma'ruf nahi munkar. (021) 7507174 Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota Please direct any suggestion to Media Team Artikel Yayasan Paramadina Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota IV. "Ijtihad yang satu tidak dapat digugurkan oleh ijtihad yang lain. sehingga muncullah ucapan mereka yang sangat populer. akan tetapi juga menunjukkan kepada kita bahwa adanya perbedaan pendapat sebagai hasil ijtihad ditolerir.

apakah Hadits itu dapat diterima ataukah tidak. agar dengan kaidah-kaidah ini ia mampu mengolah dan menganalisa dalil-dalil hukum untuk menghasilkan hukum suatu permasalahan yang akan diketahuinya. dengan arti ia sanggup untuk membahas hadits-hadits tersebut untuk menggali hukum. Hal itu agar ia tidak mempergunakan ayat al-Qur'an atau Hadits Nabi yang telah dinasakh (mansukh) untuk menggali hukum. 4. dengan pengertian ia mampu membahas ayat-ayat tersebut untuk menggali hukum. tetapi mengandung kemungkinan benar. 6. Sebab al-Qur'an dan Sunnah sebagai sumber asasi hukum Islam tersusun dalam bahasa Arab yang sangat tinggi gaya bahasanya dan cukup unik dan ini merupakan kemu'jizatan al-Qur'an. Seseorang yang ingin mendudukkan dirinya sebagai mujtahid harus memenuhi beberapa persyaratan. Memiliki ilmu pengetahuan yang luas tentang ayat-ayat al-Qur'an yang berhubungan dengan masalah hukum. Mengetahui secara mendalam tentang nasikh-mansukh dalam al-Qur'an dan Hadits. Di antara sekian persyaratan itu yang terpenting ialah: 1. 5. Mengetahui secara mendalam tentang masalah qiyas dan dapat mempergunakannya untuk menggali hukum. Sebab untuk menentukan derajad/nilai suatu Hadits sangat tergantung dengan ihwal perawi yang lazim disebut dengan istilah sanad Hadits. agar ia mampu melakukan istinbath hukum secara tepat. 8. Menguasai kaidah-kaidah istinbath hukum/ushul fiqh. Berilmu pengetahuan yang luas tentang hadits-hadits Rasul yang berhubungan dengan masalah hukum. 2. 3. tidak mungkin kita akan melakukan ta'dil tajrih (screening). sehingga muncullah ucapan mereka yang sangat populer. . 10. Menguasai seluruh masalah yang hukumnya telah ditunjukkan oleh ijma' agar ia tidak berijtihad yang hasilnya bertentangan dengan ijma'. 9. Menguasai bahasa Arab secara mendalam. "Pendapat kami benar. dan pendapat selain kami salah. Mengetahui latar belakang turunnya ayat (asbab-u 'l-nuzul) dan latar belakang suatu Hadits (asbab-u 'l-wurud). 7. supaya ia dapat menilai sesuatu Hadist. tapi mengandung kemungkinan salah. Mengetahui sejarah para periwayat hadits. Mengetahui ilmu logika/mantiq agar ia dapat menghasilkan deduksi yang benar dalam menyatakan suatu pertimbangan hukum dan sanggup mempertahankannya. Tanpa mengetahui sejarah perawi Hadits.Prinsip tasammuh sebagai manifestasi dari status fiqih yang bersifat dhanny tersebut dipegang teguh oleh para Imam Mujtahid." SYARAT-SYARAT IJTIHAD.

Sebagian ulama menilai bahwa Abu Yusuf termasuk kelompok pertama/mujtahid muthalaq/mustaqil. Contohnya. men-takhrij-kan pendapat imamnya dan menyeleksi beberapa pendapat yang dinukil dari imamnya. 2. Ijtihad mazhab atau fatwa yang pelakunya disebut mujtahid mazhab/fatwa. Ijtihad Muthlaq/Mustaqil. Norma-norma dan kaidah itu dapat diubahnya sendiri manakala dipandang perlu. tidak menciptakan sendiri. Imam Malik. mana yang shahih dan mana yang lemah. Dari madzhab Hanafi seperti Muhammad bin Hasan dan Abu Yusuf. Ijtihad Muntasib. yaitu: 1. hal itu bisa kita lihat pada Imam Nawawi dan Imam Rafi'i. Jadi untuk menggali hukum dari sumbernya. demikian juga mengenai hukum furu'/fiqih yang telah dihasilkan imamnya. 3. yaitu ijtihad yang dilakukan dengan cara mentarjih dari beberapa pendapat yang ada baik dalam satu lingkungan madzhab tertentu maupun dari berbagai mazhab yang ada dengan memilih mana diantara pendapat itu yang paling kuat dalilnya atau mana yang paling sesuai dengan kemaslahatan sesuai dengan tuntunan zaman. Imam Syafi'i dan Imam Ahmad yang terkenal dengan sebutan Mazhab Empat. Ijtihad kategori ini tidak termasuk ketentuan ijtihad menurut ketentuan ushul fiqih. Gema ini digelorakan oleh ulama-ulama mutakhirin pada awal abad ke-IV Hijriah setelah dunia Islam diliputi kabut ta'ashub madzhab serta banyaknya man laisa . Pada prinsipnya mereka mengikuti norma-norma/kaidah-kaidah istinbath imamnya. Ijtihad terdiri dari bermacam-macam tingkatan. Sebagian ulama mengatakan bahwa antara kelompok ketiga dan keempat ini sedikit sekali perbedaannya. Mereka hanya berhak menafsirkan apa yang dimaksud dari norma-norma dan kaidah-kaidah tersebut. mereka memakai sistem atau metode yang telah dirumuskan imamnya. Oleh karena itu mereka menjadikannya satu tingkatan. Sebagian ulama berpendapat bahwa pintu ijtihad telah tertutup. Ijtihad di bidang tarjih. Mujtahid dari tingkatan ini contohnya seperti Imam Hanafi. yaitu ijtihad yang dilakukan seorang mujtahid dalam lingkungan madzhab tertentu. Dalam mazhab Syafi'i. Perbedaan pendapat terjadi pada ijtihad menurut definisi ushul fiqih. Ijtihad mereka hanya berkisar pada masalah-masalah yang memang belum diijtihadi imamnya. dari mazhab Syafi'i seperti Muzany dan Buwaithy. Contohnya seperti Imam Ghazali dan Juwaini dari madzhab Syafi'i. 4. yaitu ijtihad yang dilakukan dengan cara menciptakan sendiri norma-norma dan kaidah istinbath yang dipergunakan sebagai sistem/metode bagi seorang mujtahid dalam menggali hukum. sehingga sangat sulit untuk dibedakan. yaitu ijtihad yang dilakukan seorang mujtahid dengan mempergunakan norma-norma dan kaidah-kaidah istinbath imamnya (mujtahid muthlaq/Mustaqil). BENARKAH PINTU IJTIHAD SUDAH DIKUNCI? Para ahli fiqih telah sepakat bahwa ijtihad dengan pengertian penyesuaian suatu perkara dengan sesuatu hukum yang sudah ada tetap terbuka.MACAM-MACAM TINGKATAN IJTIHAD.

Hukum Islam baik dalam bidang 'ibadah. 2. munakahah. Sebagian ulama yang lain berpendapat bahwa pintu ijtihad tetap terbuka dan dapat dimasuki oleh siapa saja yang memiliki kuncinya (memenuhi persyaratan). yang kemudian di Mesir digalakkan oleh Syekh Al-Maraghy. Mungkin berupa hukum yang terdiri dari koleksi pendapat antara dua madzhab atau lebih. yang biasa kita kenal dengan istilah talfiq. Pendapat ini antara lain diproklamirkan Imam al-Syaukani pada pertengahan abad ke-XIII Hijriah. tidak dapat diketahui bagaimana status hukumnya. Mayoritas Ahl al-Sunnah hanya mengakui Madzhab Empat. Menutup pintu ijtihad berarti menutup kesempatan ulama Islam untuk menciptakan pemikiran-pemikiran yang baik dalam memanfaatkan dan menggali sumber atau dalil hukum Islam 3. Membuka pintu ijtihad selain hal itu percuma dan membuang-buang waktu. b. Golongan yang berpendapat bahwa pintu ijtihad telah tertutup antara lain beralasan: 1. Dengan demikian maka hukum Islam akan selalu berkembang dan tumbuh subur serta sanggup menjawab tantangan zaman. mu'amalah. yaitu: 1. yaitu sejak wafatnya imam-imam mujtahid kenamaan. Sebab. mereka berpendapat bahwa pintu ijtihad tetap terbuka. Dengan membuka pintu ijtihad maka setiap permasalahan baru yang dihadapi umat. Menutup pintu ijtihad berarti menjadikan hukum Islam yang semestinya lincah dan dinamis menjadi kaku dan beku. Rektor Universitas Al-Azhar pada waktu itu. Oleh karena itu tiap-tiap yang menganut madzhab Ahl al-Sunnah harus memilih salah-satu dari Madzhab Empat. 3. kita perlu mengetahui argumentasi dari golongan yang berpendapat bahwa pintu ijtihad masih tetap terbuka. Mungkin berupa hukum yang telah dikeluarkan oleh salah satu Madzhab Empat. jinayah dan lain sebagainya seluruhnya sudah lengkap dan dibukukan secara terperinci dan rapi. Kini. yang kebolehannya masih diperselisihkan kaum ushuliyyin. Karena itu kita tidak perlu melakukan ijtihad lagi. Ia harus terikat tidak boleh pindah madzhab. Sedangkan golongan yang memandang bahwa ijtihad adalah kegiatan/pekerjaan mujtahid. 2.lahu ahlu 'l-Ijtihad (mujtahid karbitan) yang tampil mengaku sebagai mujtahid. mereka berpendapat bahwa pintu ijtihad telah tertutup. sehingga Islam akan ketinggalan zaman. juga hasilnya akan berkisar: a. akan banyak kasus baru yang hukumnya belum dijelaskan oleh al-Qur'an dan Sunnah serta belum dibahas oleh ulama-ulama terdahulu. akan dapat diketahui hukumnya. Golongan yang memandang bahwa ijtihad adalah sumber hukum. yang berarti ijtihad yang dilakukan itu hanyalah tahsil al-hasil .

7507173 Fax." Dari Keputusan Lembaga Penelitian Islam al-Azhar tersebut .24. 7501983. TAQLID DAN IJTIHAD (3/4) Beberapa Pengertian Dasar Oleh KH. dan bahwa berijtihad untuk mengambil hukum dari al-Qur'an dan Sunnah dibenarkan manakala ijtihad itu dilakukan pada tempatnya. selain Mazhab Empat tidaklah dianggap. dan bahwa jalan untuk memelihara kemaslahatan dan untuk menghadapi peristiwa-peristiwa yang selalu timbul. Hal ini menunjukkan bahwa untuk memenuhi syarat-syarat ijtihad yang telah ditentukan itu memang sangat sulit kalau tidak dikatakan tidak mungkin lagi untuk saat seperti sekarang ini. maka berlakulah ijtihad bersama (kolektif) berdasarkan madzhab. Mungkin berupa hukum yang sesuai dengan salah satu mazhab di luar Mazhab Empat. menurut mayoritas ulama Ahl al-Sunnah. Lembaga penelitian akan mengatur usaha-usaha untuk mencapai ijtihad bersama baik secara mazhab maupun secara mutlaq untuk dapat dipergunakan dimana perlu.c. Jika tidak terdapat suatu hukum yang memuaskan dengan jalan tersebut. Ibrahim Hosen Sebelum saya mengambil kesimpulan dengan mempertemukan kedua pendapat yang saling berbeda itu marilah kita ikuti hasil keputusan Lembaga Penelitian Islam al-Azhar Cairo yang bersidang pada bulan Maret 1964 M. Metro Pondok Indah Pondok Indah Plaza I Kav. Hal semacam ini pada hakikatnya menentang ijma'. (021) 7501969. dan jika tidak memuaskan maka berlakulah ijtihad bersama secara mutlaq. Realitas sejarah menunjukkan bahwa sejak awal abad ke-IV Hijriah sampai detik ini tak seorangpun ulama berani menonjolkan diri atau ditonjolkan oleh pengikut-pengikutnya sebagai seorang mujtahid muthlaq/mustaqil. Padahal. d. UA 20-21 Jakarta Selatan Telp. hendaklah dipilih di antara hukum-hukum fiqih pada tiap-tiap mazhab suatu hukum yang memuaskan. Mungkin berupa hukum yang tidak seorangpun ulama Islam membenarkannya. (021) 7507174 Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota Please direct any suggestion to Media Team Artikel Yayasan Paramadina Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota IV. sebagai berikut: "Mu'tamar mengambil keputusan bahwa al-Qur'an dan Sunnah Rasul merupakan sumber pokok hukum Islam. 4. (bersambung 3/4) -------------------------------------------Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah Editor: Budhy Munawar-Rachman Penerbit Yayasan Paramadina Jln.

c. c. Ijtihad madzhab secara kolektif 3. tentunya tertutup kemungkinan untuk membuka pintu ijtihad dengan segala macam bentuknya. Poin kedua tidak berlaku untuk: a. Dan harus kita sadari bahwa pintu ijtihad masih tetap terbuka dalam bidang-bidang tertentu tersebut adalah bagi yang memenuhi syarat. Ijtihad muthlaq secara perorangan (ijtihad muthlaq fardy). mengingat sangat jarangnya faqih/ulama ahli hukum seperti saat sekarang ini. 2. Ijtihad di bidang tarjih baik secara perorangan (ijtihad fardy) maupun secara kolektif (ijtihad Jama'iy). 3. pendapat yang mengatakan bahwa pintu ijtihad masih tetap terbuka haruslah diartikan untuk: 1. karena keputusan itu telah mempertemukan antara dua pendapat yang saling berbeda. Dan sebaliknya. 2. Ijtihad di bidang tarjih baik bagi perorangan maupun kelompok secara kolektif. Dengan demikian. Ijtihad muthlaq apabila dilakukan secara kolektif (ijtihad muthlaq jama'iy). maka yang masih benar-benar dapat dilakukan adalah: 1. Ijtihad dibenarkan apabila dilakukan di tempat-tempat dimana ijtihad boleh dilakukan. Demikian juga pendapat yang mengatakan bahwa telah tertutup haruslah kita artikan untuk: 1. Jadi tidak tepat. Menurut saya. Ijtihad madzhab secara perorangan. b. Butir pertama hanya berlaku untuk: a. Ijtihad mutlaq secara perorangan. Ijtihad madzhab secara perorangan (ijtihad madzhab fardy).dapat diambil kesimpulan bahwa: 1. Keputusan Lembaga Penelitian Islam al-Azhar tersebut sangat bijaksana. Ijtihad di bidang tarjih baik secara perorangan maupun pintu ijtihad . kalau secara mutlaq/tanpa batasan kita mengatakan bahwa pintu ijtihad telah tertutup. Ijtihad muthlaq secara kolektif. Ijtihad di bidang madzhab apabila dilakukan secara kolektif (ijtihad madzhab jama'iy). Pintu ijtihad masih tetap terbuka bagi yang memenuhi persyaratan. 2. tidak tepat kalau kita mengatakan secara mutlaq/tanpa batasan bahwa pintu ijtihad masih tetap terbuka. 4. Bagi yang tidak.

Disamping tidak logis dan tidak realistis. sebab bisa berakibat fatal. NU dengan Syuriyah dan Bahstul Matsailnya. Sedangkan penelitian. mereka akan sanggup melakukan hal tersebut. Secara faktual. Memang harus kita sadari bahwa taqlid bukanlah merupakan sistem atau metode keilmuan yang baik yang digunakan seseorang untuk memperoleh ilmu. Mentaklif atau mewajibkan seluruh umat manusia untuk meraih rutbatu 'l-ijtihad jelas tidak mungkin. Pesan saya dalam menutup uraian tentang ijtihad ini. kalau memang bukan faqih yang menguasai kaidah-kaidah istinbath. MUI dengan Komisi Fatwanya. alhamdulillah. Ini jelas tidak rasionil. Bagi mereka yang memenuhi persyaratan ijtihad sebagaimana telah disebutkan di atas. Kelompok kedua. Dari sinilah muncul persoalan taqlid. Milikilah persyaratan dan berijtihadlah di tempat-tempat yang dibenarkan untuk melakukan ijtihad sesuai dengan ketentuan yang berlaku. sayangnya belum banyak dipublikasikan. Bagi mereka yang tidak memiliki persyaratan ijtihad. yakni mengetahui. yaitu harus mengetahuinya melalui mujtahid. hal itu juga akan membawa akibat terbengkalainya urusan-urusan duniawi/kehidupan yang lain. mengingat kecerdasan. Untuk mengetahui hukum Islam yang akan diamalkannya. karena waktu dan segala konsentrasi umat manusia hanya tercurah kearah ijtihad.secara kolektif. Hal ini dapat dilakukan secara perorangan maupun secara kolektif. mengingat tingkatan manusia yang berbeda-beda. tentu mereka harus lewat perantara. 2. janganlah sok berijtihad. Kaidah Agama yang mengatakan. sudah banyak dilakukan oleh Komisi Fatwa MUI. Karena itu pula pelaku taqlid berdosa. yang khusus untuk mencapai hukum furu'/fiqih dikenal dengan ijtihad. sistem dan metode yang baik yang seharusnya kita jadikan washilah/sarana mencapai atau memperoleh ilmu adalah nadhar. Ijtihad untuk kasus-kasus tertentu yang memang belum pernah dibahas oleh aimmat al-mujtahidin terdahulu. pengkajian dan penelaahan secara mendalam. Sebab. daya tangkap dan ilmu yang dimiliki seseorang bagaimanapun tidaklah sama. tentu tidak akan sanggup mengetahui. Sebagai contoh untuk . Oleh karena itu jumhur ulama telah mencapai konsensus bahwa taqlid tidak dapat dijadikan dasar atau metode keilmuan di bidang aqidah. La taklifa fawqa 'l-istitha'a -manusia tidak akan ditaklif untuk melakukan sesuatu yang tidak mungkin dilaksanakan/diluar kemampuannya. sekalipun imannya sah. TAQLID Tidak semua orang sanggup memahami hukum Islam secara langsung dari dalil atau sumbernya. Mereka itulah para mujtahid dengan segala macam tingkatannya. memahami dan menggali hukum Islam yang harus diamalkannya secara langsung dari dalil atau sumbernya. Kelompok pertama sudah banyak dilakukan oleh Muhammadiyah dengan Majelis Tarjihnya. 2. memahami dan menggali hukum Islam dari sumber atau dalilnya secara langsung. eksistensi taqlid memang tidak mungkin dihindarkan.

al-Zuhruf Ayat 23. PENGERTIAN TAQLID Menurut bahasa. Sedangkan dalam masalah hukum ada yang bersifat qathi'iy dan ada yang bersifat dhanny. Taqlid di bidang aqidah inilah yang antara lain dicela al-Qur'an sebagaimana yang ditegaskan dalam QS. Analisa bahasa ini menunjukkan kepada kita seolah-olah seseorang yang telah bertaqlid kepada seorang mujtahid/imam telah memberi identitas diri dengan sebuah kalung di lehernya dan ia telah mengikat dirinya dengan pendapat mujtahid/imam tersebut. sehingga muncullah rasa ta'ashub madzhab/fanatik madzhab yang kadang sampai berlebih-lebihan. khususnya fiqih. niscaya pen-taklid-an itu justru tidak jalan.mengetahui bahwa Allah itu ada maka harus ditempuh lewat nadhar. atau seperti kambing yang lehernya telah diikat dengan tali atau tambang yang dapat ditarik ke mana saja. Syukurlah setelah gelap kini terangpun datang. melainkan orang-orang yang hidup mewah di negeri itu berkata. taqlid -bentuk masdar dari kata qallada berarti kalung yang dipakai/dikalungkan ke leher orang lain. atau seperti binatang yang akan dijadikan dam. Dalam bidang aqidah/keimanan. Hal ini antara lain berkat digalakkannya studi fiqh perbandingan dan ushul fiqih perbandingan di . Disinilah antara lain perbedaan ajaran Islam yang berhubungan dengan masalah aqidah/keimanan dengan ajaran Islam yang berhubungan dengan masalah hukum. Taqlid di bidang hukum inilah yang kita maksud dan yang akan kita bicarakan dalam tulisan ini." Mengenai taqlid di bidang hukum Islam. Hanya saja tentunya kita jangan cukup puas mendudukkan diri kita pada kursi taqlid ini. ia tidak akan begitu mudah melepaskan diri dari ikatan itu. mengingat bahwa dalam masalah hukum taklifi seseorang dibenarkan melakukan sesuatu berdasarkan dhann-nya. Oleh karena itu ulama telah sepakat bahwa penetapan aqidah haruslah berdasarkan nash qath'iy al-dalalah yang tidak mengandung pen-takwil-an. ia berdosa. "Sesungguhnya kami mendapati bapak-bapak (leluhur) kami menganut suatu agama dan sesungguhnya kami adalah pengikut jejak-jejak mereka. sehingga umat Islam menjadi jumud dan Islam ketinggalan zaman. meski imannya dianggap sah. Bahkan sebagian besar hukum taklifi dasarnya dhann. Kami tidak mengutus sebelum kamu seorang Nabi/Rasul yang memberi peringatan pada suatu negeri. Hal inilah yang pernah melanda umat Islam termasuk umat Islam di Indonesia sampai berpuluh-puluh tahun lamanya. Lantaran itulah maka taqlid di bidang hukum dibenarkan. dimana lehernya diberi kalung sebagai tanda. agama membenarkan. Apabila hal itu diketahui lewat taqlid. semuanya bersifat qath'iy atau pasti benarnya. untuk kemudian pindah ke pendapat selain imamnya/mujtahid yang diikuti. Dalam praktek memang demikian. Seseorang yang telah bertaqlid dengan seorang mujtahid/imam. dan kini telah mulai memancar sinar itu ke ufuk penjuru dunia Islam termasuk Negeri Pancasila tercinta ini. yang artinya sbb: "Dan demikianlah. Kalaulah dalam masalah hukum ini semuanya harus berdasarkan dalil qath'iy. tanpa disadari oleh kambing yang bersangkutan.

Beramal berdasarkan pendapat orang lain tanpa berdasarkan dalil. tapi hakikatnya sama. 7507173 Fax. Taqlid ialah beramal berdasarkan pendapat orang lain yang pendapatnya itu tidak merupakan salah satu dalil yang dibenarkan. yaitu sama-sama mengikuti pendapat orang lain. Metro Pondok Indah Pondok Indah Plaza I Kav. Seorang hakim yang memutuskan perkara berdasarkan kesaksian saksi yang adil. Taqlid ialah mengamalkan pendapat orang lain tanpa mengetahui dalilnya. dan ini dilakukan tanpa berdasarkan dalil. b. Jadi Ittiba' itu sendiri termasuk kategori taqlid. hanya istilah dan tingkatannya saja yang berbeda. Beramal berdasarkan ijma' c. Beberapa hal itu ialah: a. Menerima pendapat orang lain dalam kondisi anda tidak mengetahui dari mana orang itu berpendapat. (021) 7507174 Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota Please direct any suggestion to Media Team Artikel Yayasan Paramadina Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota . Sebagian ulama ada yang berpendapat bahwa beramal atau mengamalkan pendapat orang lain dengan mengetahui dalilnya adalah ijtihad. 2. Sesuai dengan pengertian taqlid di atas maka beberapa hal seperti di bawah ini tidaklah termasuk kategori taqlid. 7501983. 1.perguruan-perguruan tinggi Islam. sedangkan ittiba' adalah beramal atau mengamalkan pendapat orang lain dengan mengetahui dalilnya. Sedangkan taqlid antara lain: menurut istilah Kondisi ada yang baik ini beberapa rumusan. Demikian menurut al-Qaffal. Beramal berdasarkan ayat al-Qur'an atau Hadits Nabi. Sementara pihak ada yang membedakan antara taqlid dan ittiba'. Demukian menurut al-Syaukany dalam Irsyad al-Fukhul. (bersambung 4/4) -------------------------------------------Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah Editor: Budhy Munawar-Rachman Penerbit Yayasan Paramadina Jln. UA 20-21 Jakarta Selatan Telp. harus terus kita kembangkan. 3. Demikian menurut al-Kamal Ibn al-Hammam dalam al-Tahrir. Menurut hemat saya yang ada hanyalah ijtihad dan taqlid. (021) 7501969.

yang artinya. Kenyataan menunjukkan bahwa sejak dahulu sampai saat sekarang dan akan berlanjut terus sampai akhir zaman nanti. Sebab tidak realistis. . al-Nahl: 43). Dengan demikian tidak benar jika kita mengatakan bahwa ijtihad itu wajib dan taqlid itu haram secara mutlaq/tanpa ada batasan. bagi yang mampu berijtihad sendiri karena telah memenuhi persyaratannya janganlah mengikuti atau bertaqlid kepada mujtahid yang lain. tetapi nyatanya masih tetap menjadi muqallidin yang setia. Kalau sudah pada tempatnya untuk duduk di kursi ijtihad. sejalan dengan firman-Nya. TINGKATAN TAQLID/MUQALLID Sebagaimana halnya ijtihad/mujtahid yang bertingkat-tingkat. Artinya. Demikian juga harus kita usahakan. "Allah tidak menaklif/memberi pembenahan kewajiban kepada seseorang kecuali sesuai dengan kemampuannya. mereka mengikuti pendapat imam mujtahid. Ini sangat berbahaya. Sebab ijtihad yang dilakukannya justru akan membawa pada kesesatan. Syafi'i dan lain-lain yang melarang taqlid.24. Kearah inilah harus kita fahami ucapan imam-imam mujtahid kenamaan seperti Hanafi. janganlah menduduki bangku taqlid. Bagi kita yang harus kita tempuh ialah mengusahakan bagaimana agar lahirnya ulama-ulama yang ahlu li 'l-ijtihad dapat diperbanyak. haram bagi mereka berijtihad. dimana dalam keseluruhan hukum Islam. demikian juga taqlid/muqallid yang terdiri dari beberapa tingkatan. Tidak dibenarkan/haram baginya bertaqlid atau mengikuti pendapat mujtahid yang lain. yaitu: 1. seperti taqlid yang dilakukan oleh kebanyakan orang awam.IV. TAQLID DAN IJTIHAD Beberapa Pengertian Dasar HARAM IJTIHAD DAN WAJIB TAQLID (4/4) Oleh KH." Orang-orang yang tidak memenuhi persyaratan ijtihad semacam itu wajib mengikuti pendapat imam mujtahid yang mu'tabar atau istifta'/meminta penjelasan hukum kepada ahl al-dzikr. WAJIB IJTIHAD DAN HARAM TAQLID Bagi orang-orang yang memenuhi persyaratan ijtihad maka wajib bagi mereka berijtihad dan mengamalkan hasil ijtihadnya. Sebab ada beberapa ulama yang semestinya mereka mampu berijtihad. Diantara ulama yang mengharamkan taqlid dan mewajibkan ijtihad tanpa ada batasan-batasan tertentu ialah Ibnu Hazm dan al-Syaukany. "Bertanyalah kepada ulama apabila kamu tidak mengerti. mayoritas umat Islam dari kalangan awam. Yang awam ini jelas tidak mungkin untuk dipaksakan harus mengupayakan dirinya menjadi mujtahid." (QS. Dan Allah berfirman. tetapi wajib berijtihad sendiri. Ibrahim Hosen Bagi orang-orang yang tidak memenuhi persyaratan ijtihad baik mereka ulama maupun awam. Taqlid secara total/murni (taqlid al-mahdli). jangan sampai terjadi adanya "man laisa lahu ahlun li 'l-ijtihad" memberanikan diri untuk berijtihad.

Golongan ini dipelopori olah al-Qarafi. Pendapat ini tidak membenarkan talfiq. Pendapat ini rupanya yang banyak memasyarakat di Indonesia. Menurut definisinya. Pendapat ini memperbolehkan talfiq sekalipun dimaksudkan untuk tujuan mencari keringanan tersebut.2. mereka dianggap sebagai mujtahid. sempat dipolitisir dan eksploitir. Ushuliyyin berbeda pendapat mengenai boleh dan tidaknya seseorang ber-talfiq. dan bidang fatwa. mereka termasuk muqallid. Dari segi dalil maupun kemaslahatan diantara ketiga pendapat di atas menurut hemat saya yang paling kuat adalah pendapat Al-Kamal Ibnu Hammam dengan alasan antara lain: . Tidak ada larangan bagi seseorang untuk berpindah madzhab. 2. Taqlid dalam hal kaidah-kaidah istinbath. MASALAH TALFIQ Berbicara masalah taqlid. 3. dengan ketentuan tidak terjadi dalam kesatuan qadliyah yang menurut imam pertama dan imam kedua sama-sama dianggap batal. talfiq ialah beramal dalam suatu masalah/qadliyah atas dasar hukum yang terdiri dari kumpulan/gabungan dua mazhab atau lebih. Pendapat ketiga ini dipelopori oleh Al-Kamal Ibnu Hammam. Pendapat pertama ini dipelopori oleh Imam Qaffal. tetapi dilihat dari sisi lain. Baginya tidak boleh pindah ke madzhab lain baik secara keseluruhan maupun sebagian (talfiq). yang di zaman partai-partai Islam masih ada. walaupun dengan motivasi mencari kemudahan. selama tidak terjadi dalam kasus hukum (dalam kesatuan qadliyah) dimana imam yang pertama dan imam yang kedua atau imam yang sekarang diikuti sama-sama menganggap batal. 3. Taqlid dalam bidang-bidang hukum tertentu saja. Seorang yang telah memilih salah satu madzhab boleh saja pindah ke madzhab lain. ataukah ia tidak terikat dengan arti boleh baginya mengikuti atau pindah ke madzhab lain? Dalam hal ini ada tiga pendapat: 1. bidang tarjih. rasanya tidak lengkap kalau kita tidak menyinggung masalah talfiq. seperti yang dilakukan oleh mujtahid muntasib. seperti yang dilakukan para ulama yang mampu berijtihad dalam bidang madzhab. apabila seseorang telah mengikuti/bertaqlid dengan salah satu mazhab. Perbedaan ini bersumber dari masalah boleh dan tidaknya seseorang pindah mazhab. apakah ia harus terikat dengan madzhab tersebut yang berarti ia tidak dibenarkan mengikuti atau pindah ke madzhab lain. Pendapat kedua ini membenarkan talfiq sekalipun dimaksudkan untuk mencari kemudahan. Apabila seseorang telah mengikuti salah satu mazhab maka ia harus terikat dengan madzhab tersebut. sekalipun dimaksudkan untuk mencari keringanan. Artinya. Dengan demikian dilihat dari satu segi.

1. Hal ini dimaksudkan untuk keseragaman dan menghindarkan adanya kesimpang-siuran. Seseorang berwudlu menurut madzhab Syafi'i yang menyapu kurang dari seperempat kepala. Seseorang berwudlu mengikuti tata cara Syafi'i. Terjadi ru'yah yang mu'tabarah pada suatu tempat. Yang ada adalah perintah untuk bertanya kepada ulama tanpa ditentukan ulama yang mana dan siapa orangnya (QS. 1. kemudian ia bershalat dengan menghadap kiblat dengan posisi sebagaimana ditentukan oleh madzhab Hanafi. ia terus bershalat dengan mengikuti madzhab Hanafi yang mengatakan bahwa sentuhan tersebut tidak membatalkan wudlu. Kaidah yang berbunyi. b." Contoh Talfiq a. Hal ini sejalan dengan kaidah. "al-ami la madzhaba lahu" -orang awam tidak punya mazhab. 2. Tidak ada nash agama baik dari al-Qur'an maupun Sunnah yang mewajibkan seseorang harus terikat dengan salah satu mazhab saja. Hanya saja dalam hal-hal yang menyangkut kemasyarakatan maka yang berlaku adalah mazhab pemerintah atau pendapat yang diundangkan pemerintah lewat perundang-undangan. Ijtihad baru akan berfungsi dan berdayaguna sebagaimana . Membuat undang-undang perkawinan dimana akad nikahnya harus dengan wali dan saksi karena mengikuti madzhab Syafi'i. al-Nahl: 43). "Keputusan pemerintah mengikat atau wajib dipatuhi dan akan menyelesaikan persengketaan. kemudian Qadli Syafi'i menetapkan bahwa ru'yah tersebut berlaku pada seluruh wilayah kekuasaannya. Dalam Ibadat. Tidak punya mazhab artinya tidak terikat. Masalah Kemasyarakatan 1. mengenai sah jatuhnya thalaq raj'i mengikuti madzhab Hanafi yang memandang sah ruju' bi 'l-fi'li (langsung bersetubuh). Kesimpulan Dari beberapa uraian di atas kesimpulan sebagai berikut: ingin saya ambil beberapa 1. Ijtihad merupakan sarana yang paling efektif untuk mendukung tetap tegak dan eksisnya hukum Islam serta menjadikannya sebagai tatanan hidup yang up to date yang sanggup menjawab tantangan zaman (shalihun li kulli zaman wa makan). 2. sebab Qadli tadi berpegang dengan pendapat madzhab Maliki dan Hanafi yang tidak memandang persoalan mathla'. selama tidak membawa ke dosa. kemudian ia bersentuhan kulit dengan ajnabiyah. 3. 2. 2. Hadits Nabi yang menyatakan bahwa Rasulullah tidak pernah disuruh memilih sesuatu kecuali akan memilih yang paling mudah.

8. Ranqikhu 'l-Ushul Al-Kamal Ibnul-Hammam. 3. DAFTAR KEPUSTAKAAN 1. apabila hal itu dilakukan oleh yang memenuhi persyaratan dan dilakukan di tempat-tempat yang diperbolehkan memainkan peranan ijtihad. khususnya perguruan tinggi. 6. Ijtihad yang dilakukan oleh yang bukan ahlinya/yang tidak memenuhi persyaratan atau dilakukan tidak pada tempatnya justru akan membawa kehancuran Islam dan bencana serta malapetaka bagi umatnya. Jam'ul Jawami' Ushulus-Sarkhasi Ushulul-Bazdawi Al-Nasafi. Untuk menggalakkan ijtihad guna menjadikan hukum Islam ini dinamis dan lincah perlu digalakkan studi fiqih perbandingan dan ushul fiqih perbandingan di lembaga-lembaga pendidikan Islam. Ijtihad dapat kita jadikan alat untuk menjawab perlu dan tidaknya reaktualisasi hukum Islam dan hal itu hanya memenuhi persyaratan ijtihad. Nihayatu 'l-Sul Al-Subki. 17. 4. 7. Na'udzu bi 'l-Lah. 16. 14. al-Musthafa Fakhruddin al-Razi. 9.Marilah kita menjadi mujtahid yang benar atau muqallid yang baik yang mempunyai komitmen yang utuh terhadap ajaran agama Islam. al-Manar Al-Baghdadi. Inkamu 'l-Ihkam Al-Baidlawi. Ijtihad akan membawa kejayaan bagi Islam dan umatnya. 18. Ijtihad yang saat ini benar-benar masih dapat kita lakukan ialah ijtihad di bidang tarjih dan ijtihad dalam kasus-kasus tertentu yang belum pernah diijtihadi dibahas oleh imam-imam mujtahid terdahulu.disebutkan pada Butir pertama jika ijtihad dilakukan para ahlinya (mereka yang memenuhi persyaratan dan dilakukan pada tempatnya sesuai dengan ketentuan yang telah diakui kebenaran dan kesalahannya)." Musallamu 'l-Tsubur . Ijtihad sepanjang pengertian ushuliyyin hanyalah berlaku di dunia hukum. 2. 13. Taisirut-Tahrir Al-Syaukani. Badi'un-Nidham Shadrus-Syari'ah Al-Bukhari. 15. 11. 4. al-Mahshul Al-Amidi. 5. 8. 6. Irsyadu 'l-Fukhul Muhibbu 'l-Lah "Abdus-Syakur. Perbedaan yang ditolerir oleh Islam yang dinyatakan akan membawa rahmat/kelapangan adalah perbedaan di bidang hukum furu'/fiqih sebagai akibat dari adanya perbedaan ijtihad. al-Mu'tamad Al-Juwaini. Keduanya ini dapat kita lakukan secara perorangan (ijtihad fardy) atau secara kolektif (ijtihad jamma'iy). 9. 10. 3. 12. 10. Tanpa itu hanya omong kosong. 7. al-Risalah Muhammad bin 'Ali al-Bashri. al-Burhan Al-Ghazali. al-Tahrõr Muhammad bin Amir al-Halabi. Al-Syafi'i. 5. Minhaju 'l-Ushul Al-Asnawi.

tidak perlu shalat. 'Umar menjawab. Kata Ammar. TINJAUAN KRITIS ATAS SEJARAH FIQH (1/10) Dari Fiqh Al-Khulafa' Al-Rasyidin Hingga Madzhab Liberalisme oleh Jalaluddin Rakhmat 1." [1] "Yang dimaksud Ammar." Sejak itu. al-Syathibi." Maksud kedatangannya untuk menanyakan apakah ia harus shalat atau tidak.dengan mengutip ayat ("jika kalian tak mendapatkan air hendaklah tayamum dengan tanah yang baik"). 7507173 Fax. (021) 7507174 Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota Please direct any suggestion to Media Team Artikel Yayasan Paramadina Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota IV." kata Ibn Hajar. Ibnul Qayyim. aku sudah menyampaikannya. Menarik untuk dicatat bahwa kelak . dan menahan diriku." Mendengar demikian Umar menegur 'Ammar: "Ya Ammar. bila tidak ada air.pernah berada dalam perjalanan. Semua sahabat menolak pendapat Umar. kecuali Abdullah bin Mas'ud. sedangkan aku berguling-guling di atas tanah. sehingga aku tidak bersalah.22. Engkau tidak shalat. Aku sampaikan kejadian ini kepada Rasulullah saw. UA 20-21 Jakarta Selatan Telp. Metro Pondok Indah Pondok Indah Plaza I Kav. Dulu --engkau dan aku-. FIQH AL-KHULAFA' AL-RASYIDIN: FIQH PENGUASA Seorang laki-laki datang menemui 'Umar bin Khathab: "Saya dalam keadaan junub dan tidak ada air. 'Ammar tidak meriwayatkan peristiwa itu lagi. "Jangan shalat sampai engkau mendapatkan air. aku tidak akan menceritakan hadits ini selama engkau hidup. Toh. 247. [2] "Aku melihat memang lebih baik tidak meriwayatkan hadits ini ketimbang meriwayatkannya Aku setuju denganmu. Al-Bukhari mencatat perdebatan Abdullah bin Mas'ud dengan Abu Musa al-Asy'ari tentang kasus ini pada hadits No. A'lamu 'l-Muwaqq'in -------------------------------------------Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah Editor: Budhy Munawar-Rachman Penerbit Yayasan Paramadina Jln. cukuplah bagi kamu berbuat demikian. takutlah pada Allah". 7501983. jika engkau inginkan. 'Umar tetap berpegang teguh pada pendapatnya -." kata Ibn Hajar." 'Ammar bin Yasir berkata pada 'Umar bin Khathab: "Tidakkah Anda ingat. Abu Musa menentang pendapat Abdullah --sekaligus madzhab Umar-. al-Muwafaqat 20. "Wa hadza madzab masyhur 'an 'Umar. (021) 7501969.orang junub.19. Dan Nabi berkata. "Ya Amir al-Mu'minin. Kita dalam keadaan junub.

Pertama. Pertama. perluasan kekuasaan Islam dan interaksi antara Islam dengan peradaban-peradaban lain menimbulkan masalah-masalah baru. memang terjadi perbedaan paham di antara sahabat dalam masalah fiqhiyah Kedua.adalah orang yang berjumpa dengan Rasulullah saw dan meninggal dunia sebagai orang Islam. ayat yang sama. 'Umar menghendaki pembakuan paham dan mengeliminasi pendapat yang berlainan. ada yang berijtihad dengan qiyas seperti Abdullah bin Mas'ud. dan bentuk ra'yu-nya bermacam-macam. ijtihad para sahabat menjadi rujukan yang harus diamalkan. Dengan demikian.akhirnya menjadi salah satu sumber hukum Islam di samping istihsan. karakteristik fiqh sahabat. al-hukm. sahabat --sebagaimana didefinisikan ahli hadits-.a. Ketiga. dari mereka juga kita mewarisi ikhtilaf di kalangan kaum Muslim. zaman sahabat juga melahirkan prinsip-prinsip umum dalam mengambil keputusan hukum (istinbath. Setelah itu. ada pula yang berijtihad dengan ra'yu bila tidak ada nash. "Sunnah sahabat r.).dengan merujuk mazhab 'Umar. madzhab sahabat --sebagai ucapan dan perilaku yang keluar dari para sahabat-. Madzhab sahabat pun menjadi hujjah. pada zaman sahabat rujukan itu adalah diri sendiri. saya akan menjelaskan sebab-musabab timbulnya ikhtilaf fiqh di antara para sahabat. mashalih mursalah dan sebagainya. sebagian lainnya hanya . karena itu. ulama berbeda pendapat. Bila pada zaman tasyri' orang memverifikasi pemahaman agamanya atau mengakhiri perbedaan pendapat dengan merujuk pada Rasulullah. Ketika menceritakan ijtihad pada zaman sahabat. dan ada yang berijtihad dengan metode mashlahat. Ketiga. lewat kekuasaan. mazhab Hanafi melanjutkan Lebih menarik lagi untuk kita catat adalah beberapa pelajaran dari riwayat di atas. adalah sunnah yang harus diamalkan dan dijadikan rujukan. perilaku mereka menjadi sunnah yang diikuti. Tentang hal ini. zaman sahabat adalah zaman segera setelah berakhirnya masa tasyri'. dan contoh-contoh fiqh al-khulafa al-rasyidin. Saya akan memulai makalah ini dengan membahas urgensi fiqh sahabat dalam keseluruhan pemikiran fiqhiyah. Al-Syathibi [5] menulis. sebagian lagi sebagai hujjah bila bertentangan dengan qiyas. Dan para sahabat merespon situasi ini dengan mengembangkan fiqh (pemahaman) mereka. Sementara itu. yang nanti diformulasikan dalam kaidah-kaidah ushul fiqh. URGENSI FIQH SAHABAT Fiqh shahabi memperoleh kedudukan yang sangat penting dalam khazanah pemikiran Islam. dan tidak melewatinya. Abu Zahrah menulis: [4] Di antara sahabat ada yang berijtihad dalam batas-batas al-Kitab dan al-Sunnah. terlihat ada sikap hiperkritis dalam menerima atau menyampaikan riwayat Dan keempat. bila tidak ada nash. [3] Dari makalah kita mengenal sunnah Rasulullah." Dalam perkembangan ilmu fiqh. Inilah embrio ilmu fiqh yang pertama. Kedua. Sebagian menganggaprlya sebagai hujjah mutlak. qiyas. perbedaan di antara para sahabat berpengaruh besar pada ikhtilaf kaum Muslim pada abad-abad berikutnya Karena itu membicarakan fiqh para sahabat menjadi sangat penting sebagai pijakan bagi pembahasan masalah fiqh mutakhir.

Tentu saja. memenangkan ke benarannya. muncul dua pandangan. Lalu mengapa mereka ikhtilaf? PENYEBAB IKHTILAF DI KALANGAN SAHABAT Salah satu sebab utama ikhtilaf di antara para sahabat adalah prosedur penetapan hukum untuk masalah-masalah baru yang tidak terjadi pada zaman Rasulullah saw. mengetahui tafsir dar ta'wil. Imam ahli jarh dan ta'dil. yakni Abu Bakar dan Umar"). pendapat mereka dapat membantu memecahkan masalah fiqh. keraguan kesombongan. Allah memuliakan mereka dengan karunia-Nya menempatkan kedudukan mereka pada tempat ikutan. Mereka tak boleh dikritik. Mereka akhirnya menggunakan metode-metode ijtidah seperti qiyas atau istihsan. karena mereka tahu betul --tugas mereka adalah mengacu pada Ma'shumun. dan sebagian yang lain. Sementara itu. berpendapat bahwa yang menjadi hujjah hanyalah kesepakatan khulafa' al-Rasyidin.. hujjah agama.. Kelompok ini --kelak disebut Ahl al-Sunnah-ternyata tidak mudah mengambil hukum dari nash. bila mereka ikhtilaf.. menurut nash dari Rasul. Kelompok ini tidak mengalami kesulitan dalam masa berhentinya wahyu. Menghadapi masalah-masalah baru itu. Allah menamai mereka sebagai 'udul al-ummah (umat yang paling bersih). Bila mereka sepakat. [8] Kelompok pertama memandang bahwa otoritas untuk menetapkan hukum-hukum Tuhan dan menjelaskan makna al-Qur'an setelah Rasulullah wafat dipegang ahl al-Bait. berdasarkan hadits ("berpeganglah pada dua orang sesudahku. setelah Rasulullah wafat. kecuali Ali bin Abi Thalib. yang dipilih Allah untuk.menemani Nabi-Nya. maka tidak mengherankan bila mazhab sahabat menjadi rujukan penting bagi perkembangan fiqh Islam sepanjang sejarah. ahl al-Sunnah sepakat menetapkan bahwa seluruh sallabat adalah baik (al-shahabiy kulluhum 'udul). Kelompok kedua memandang tidak ada orang tertentu yang ditunjuk rasul untuk menafsirkan dan menetapkan perintah Ilahi. Abu Hatim al-Razi dalam pengantar kitabnya menulis: [7] Adapun sahabat Rasulullah saw. dusta. kekeliruan. di antara para sahabat itu yang paling penting adalah khulafa al-rasyidun. yang harus dirujuk untuk menyelesaikan masalah-masalah dan menetapkan hukum-hukum Allah. pemimpin-pemimpin hidayah. ini yang terpenting. atau dinilai sebagaimana perawi hadits lain. putuslah masa tasyi'.menganggap hujjah pada pendapat Abu Bakar dan Umar saja. karena banyak hal tak terjawab oleh nash. dipersalahkan. Hanya merekalah. mazhab sahabat menimbulkan kemusykilan yang sulit diatasi. Mereka dibersikkan dari keraguan. mereka adalah orang-orang yang menyaksikan turunnya wahyu. Merekalah 'udul al-ummah. untuk menolongnya. Karena posisi sahabat begitu istimewa. dan celaan. Kelompok kedua lebih banyak menggunakan . dan pembawa al-Qur'an dan al-'Sunnah.. menurut kesepakatan ahl al-sunnah. [6] Terakhir keempat. menegakkan agamanya. Al-Qur'an dan al-Sunnah adalah sumber untuk menarik hukum-hukum berkenaan dengan masalah-masalah yang timbul di masyarakat. Semua Khalifah al-Rasyidin termasuk kelompok kedua.

Abdullah bin Mas'ud dan Umar mengartikan "quru" itu haidh. Ali secara demonstratif melakukannya di depan Utsman. Ali membebaskan hukum itu berdasarkan hadits. [14] Ibn Umar menafsirkan "al-muhshanat dalam ayat wa al muhshanat min alladzina utu al-kitab sebagai wanita Muslim. Ketika Utsman juga melarangnya. Ia menghukum dengan hukum tertentu memerintahkan atau melarang sesuatu.ra'yu. bertebaranlah sahabat di .. Anda tidak. Ali menjawab: Aku tak akan meninggalkan sunnah Rasulullah saw. Rasulullah saw. Rasulullah saw. karena ia menikah dengan Nailah. ketika saya hadir Anda tidak ada. wafat. karena itu Ibn Umar mengharamkan wanita ahli kitab dinikahi laki-laki Muslim. [9] Setelah perdebatan ini. Zaid ibn Tsabit mengartikannya masa bersuci di antara haidh dengan haidh lagi. sesungguhnya Anda tahu. Engkau sendiri berada di pintu. Siapa yang mau boleh menjalankannya. Yang hadir waktu itu dapat menyimpan peristiwa itu. yang mengambil sunnah dari Nabi dan meriwayatkannya. dan Thalhah menikahi wanita Yahudi dari Syam. Tetapi Umar kemudian dikoreksi Ubayy bin Ka'ab.. yang tidak hadir tentu tidak mengetahuinya. Umar pernah menegur orang yang dikiranya salah ketika membaca QS al-Fath: 26. kelompok pertama dalil naqli. Utsman tampaknya sependapat dengan Ibn 'Abbas. [16] Al-Syaikh Muhammad Muhammad al-Madany menjelaskan sebab ikhtilaf yang berkenaan dengan sunnah: [17] salah satu Sahabat Rasulullah saw. Ali kembali menderanya 40 kali. Ia memarahi orang itu. [15] Kadang-kadang ikhtilaf terjadi di antara para sahabat karena perbedaan pengetahuan yang mereka miiiki. dan engkau sendiri melakukannya. [13] Bila contoh-contoh tadi berkenaan dengan perbedaan antara ketetapan nash dengan ra'yu. ditanya tentang suatu masalah. Utsman berkata: Sesungguhnya laranganku itu hanya ra'yuku saja. contoh-contoh berikut menunjukkan perbedaan memahami nash. Kata quru dalam wal muthalaqatu yatarabbashna bi anfusihim tsalatsatu quru' diartikan berbeda-beda. Kata Utsman: Aku melarang manusia melakukan tamattu. [10] Contoh lainnya adalah hukuman dera bagi peminum khamr. ketika saya diundang. Kelompok kedua banyak menggunakan dalil aqly. melakukan atau tidak melakukan sesuatu. Kata Ubayy Anda tahu saya berada di dalam beserta Rasulullah saw. berbeda-beda dalam kemampuan pengambilannya dan dalam menerima riwayatnya. dan kelompok pertama lebih banyak merujuk nash.. siapa yang tak mau boleh meninggalkannya. ketika ia membaca ayat itu. Rasulullah saw. Umar memutuskan hukuman rajam bagi orang gila yang berzina. padahal al-Qur'an dan al-Sunnah sangat tegas menetapkannya. [12] Begitu pula Ali. Umar pernah melarang hajji tamattu'. mengetahui nash tertentu. menurut riwayat lain dari Abdullah bin Zubair. [11] Umar --atas saran Abd al-Rahman bin Auf menderanya 80 kali. Sebagian sahabat. Umar menetapkan thalaq tiga itu jatuh tiga sekaligus. Demi Allah Ya Umar. hanya karena pendapat seseorang. Ketika Rasulullah saw. wanita Nashrani. Ibn 'Abbas menganggap ayat itu sebagai pengecualian (takhshish) dari ayat wa la tankihu al-musyrikat hatta yu'minna. sebagian lain tidak mengetahuinya. menetapkan thalaq tiga dalam satu majlis itu dihitung satu. menderanya 40 kali. misalnya.

Dalam kasus-kasus yang lain. orang Basrah menghadiri tempat yang tidak dihadiri orang Syam. Ibn 'Umar. Buat orang-orang sektarian." Kata Umar: "Bila ada lagi orang berfatwa bahwa tidak wajib mandi kalau tidak keluar." Kata Umar: "Panggil dia!" Zaid pun datang dan Umar berkata: "Hai musuh dirinya sendiri!. Padahal --seperti telah kita jelaskan--sebagian sahabat pada sebagian waktu tidak hadir di majelis Rasulullah saw. orang Syam hadir di tempat yang tidak dihadiri orang Basrah." [18] Dalam kasus yang baru kita ceritakan. Marilah kita berikan satu contoh lagi yang lebih ilustratif. Abu Hurairah tidak mengetahuinya walaupun mereka penduduk Madinah. Ya Amir al-Mu'minin: "tidak ada orang yang lebih tahu dalam hal ini kecuali isteri Rasulullah saw. 'Umar bin Abd . Tidak juga ada larangan dari Rasulullah saw. orang Kufah hadir di tempat yang tidak dihadiri orang Madinah. Semua orang berkata tidak perlu mandi. wajib mandi. Tidak turun ayat yang mengharamkan." dari Rifa'ah bin Rafi'. Ali Hudzaifah al-Yamani dan lain-lain mengetahui hukum mengusap tetapi 'Aisyah. wajib mandi. mengetahuinya?" Kata Rafa'ah: "Tidak tahu. 'Aisyah ditanya.negeri-negeri. Ia mengutus orang bertanya pada Hafshah. Buat orang yang berjiwa terbuka. Ia berkata: "Apakah kalian berbuat demikian .dan Abi Ayyub dari Ubbay bin Ka'ab. dan setiap penduduk negeri mengambil dari sahabat yang ada di negeri mereka. sehingga mereka berkata: Orang junub tidak tayamum." Kata Umar: "Kalian sahabat-sahabat yang ikut Badr sudah ikhtilaf. Ini semua terjadi dalam hadits. ikhtilaf di antara para sahabat itu dibiarkan dan diwariskan kepada generasi berikutnya. aku dengar kau berfatwa pada manusia dengan ra'yumu sendiri? Kata Zaid: "Ya Amir al-Mu'minin." Kata Umar: "Apakah Rasulullah saw. ini Zaid bin Tsabit berfatwa di masjid dengan ra'yunya berkenaan dengan mandi janabah. 'Amar dan yang lain mengetahui tentang tayamum. Keduanya berkata: "Jika kedua khitan bertemu. Setiap orang hanya mcngetahui apa yang ia saksikan. Kata 'Aisyah: "Bila khitan sudah bertemu khitan.bila kalian bercampur dengan isteri kalian dan tidak keluar air mani kalian mandi?" Kata Rafa'ah: "Kami melakukan begitu pada zaman Rasulullah saw. Ini jelas menurut akal. ikhtilaf para sahabat ini menjadi sumber perpecahan. dan tidak mengetahui apa yang tidak ia hadiri. orang Basrah menghadiri yang tidak dihadiri orang Kufah. Kata Umar: "Panggil Rafa'ah bin Rafi'. sedangkan sebagian lagi hadir.. walau pun tidak menemukan air selama dua bulan. apalagi orang-orang setelah kalian!" Kata Ali. ikhtilaf di antara para sahabat dapat diselesaikan oleh khalifah. lalu aku sampaikan -. Tetapi aku mendengar hadits dari paman-pamanku. Berkata Ibn Hazm: "Orang Madinah hadir pada tempat yang tidak dihadiri orang Basrah. aku akan pukul dia. kecuali Ali dan Mu'adz. lalu bermusyawarah." Lalu Umar mengumpulkan Muhajirin dan Anshar. dan pada saat kita memerlukan informasi. Hafshah tidak tahu. Khalifah bahkan menetapkan sangsi bagi orang yang mempunyai pendapat berbeda. masuklah seorang laki-laki: "Ya Amir al-Mu'minin. Ketika orang sedang berkumpul di hadapan Umar bin Khathab. ikhtilaf ini adalah assets bagi perkembangan pemikiran. Umar dan Ibn Mas'ud tidak mengetahuinya. Anak perempuan dari anak beserta anak perempuan mendapat waris diketahui Ibn Mas'ud tetapi tidak diketahui Abu Musa. Aku tidak melakukan itu.

'Ammar bin Yasir. karena bila mereka tidak membukanya. Mereka adalah teladan yang diikuti. Hudzaifah dan sebagian besar Bani Hasyim -. Jika kita mengambil dari siapa saja di antara mereka. ijtihad mereka menggunakan tiga metode: a) menjelaskan dan menafsirkan nash. (021) 7501969. Metro Pondok Indah Pondok Indah Plaza I Kav. ia membuka umat untuk memasuki Rahmat-Nya.al-'Aziz. jadilah itu sunnah. pendapat seseorang menjadi hujjah bila orang itu ma'shum. tokoh ukhuwah Islamiyah yang menghentikan kutukan pada Ali di mimbar. 7501983. ada dua cara yang dilakukan para sahabat. sempitlah manusia dibuatnya.Madzhab 'Alawi dan Madzhab 'Umari yang akhirnya mewariskan kepada kita sekarang sebagai Syi'ah dan ahli Sunnah. dari segi prosedur penetapan hukum. Para sahabat -seperti Miqdad. saya tak akan membicarakan kelompok sahabat ini.(bersambung 2/10) Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah Editor: Budhy Munawar-Rachman Penerbit Yayasan Paramadina Jln. UA 20-21 Jakarta Selatan Telp. Muhammad Ali al-Sais menyebutkan bahwa ijtihad sahabat itu meliputi qiyas. Menurut Muhammad Salim Madkur. Kedua cara ini melahirkan dua mazhab besar di kalangan sahabat -. fiqh mereka ini hanya terbatas pada qiyas. mereka membuka pintu ijtihad bagi manusia. berkata: "Aku tidak senang kalau sahabat Nabi tidak ikhtilaf.22. b) qiyas pada nash atau pada ijma'. [30] Pada bagian ini. Allah memberikan keluasan pada umat dengan adanya ikhtilaf furu'i di antara mereka. (021) 7507174 Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota Please direct any suggestion to Media Team Artikel Yayasan Paramadina Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota IV. Ah al-Bait memiliki kema'shuman berdasarkan nash al-Qur'an dan al-Sunnah." [19] -------------------------------------------. menurut mereka. Artinya. Mereka boleh ikhtilaf. Dengan begitu. Menurut Muhammad al-Khudlari Bek. TINJAUAN KRITIS ATAS SEJARAH FIQH (2/10) Dari Fiqh Al-Khulafa' Al-Rasyidin Hingga Madzhab Liberalisme oleh Jalaluddin Rakhmat KARAKTERISTIK FIQH SAHABAT Seperti telah disebutkan di muka. Seandainya pendapat mereka itu tunggal. . 7507173 Fax.merujuk pada ahl al-Bait dalam menghadapi masalah-masalah baru. Mereka berpendapat bahwa ada dua nash yang dengan tegas menyuruh kaum Muslim berpegang teguh pada pimpinan ahl-al-Bait. tapi akan memutuskan perhatian pada metode ijtihad kelompok sahabat yang tak merujuk ahl al-Bait. Lagi pula. Abu Dzar. dan ijtihad dengan ra'yu seperti al-Mashalih al-Mursalah dan istihsan. para mujtahid berada dalam kesempitan.

/2 H. walaupun ada nash sharih . bahkan pertimbangan kepentingan umum (maslahat) didahulukan dari nash. Jika ada yang bertanya kepada kalian. Tidak layak di hadapanku bertengkar. [25] Umar kemudian mengumpulkan hadits-hadits itu dan membakarnya. [26] Ia juga menetapkan tahanan rumah pada tiga sahabat yang banyak meriwayatkan hadits: Ibn Mas'ud. "Kalian meriwayatkan hadits Rasulullah saw. al-baraah al-ashliyah." [22] 2) 'Aisyah meriwayatkan: Ayahku telah mengumpulkan 500 hadits Rasulullah saw. Dalam beberapa kasus. Umar ibn Abd al-Aziz (meninggal 719/101) adalah orang yang pertama menginstruksikan penulisan hadits. Ia membakar dan berkata.istihsan. Ia memikirkannya selama satu bulan. sehingga di kalangan ahl al-sunnah. [21] Menurut pendapat saya. [28] Karakteristik kedua dari ijtihad sahabat. dan Abu Mas'ud al-Anshari. dan c) mencapai kesepakatan lewat proses perkembangan opini publik yang alamiah. Di bawah ini saya kutipkan berbagai riwayat berkenaan dengan sikap Khulafa al-Rasyidin pada Hadits (sunnah): 1) Dari Ibn Abbas: ketika Nabi menjelang wafat. "Aku membawanya. di rumah Rasulullah saw. Pada suatu pagi ia datang padaku dan berkata: "Bawalah hadits-hadits yang ada padamu itu. Umar ingin menuliskan sunnah-sunnah Rasulullah saw. penulisan hadits terlambat sampai abad 8 M. al-mashalih al-mursalah." Terjadi ikhtilaf di antara orang-orang di rumah itu. Mereka tenggelam dalam tulisan mereka dan meninggalkan Kitab Allah. berkumpul orang-orang. ada tiga tahap dalam ijtihad para sahabat: a) merujuk pada nash al-Qur'an dan al-Sunnah b) menggunakan metode-metode ijtihad seperti qiyas." [27] Tradisi pelarangan hadits ini dilanjutkan para tabi'in. ia memutuskan dan menyatakan: "Aku teringat orang-orang sebelum kalian. berkata: "Pergilah kamu semua dari aku. Ketika terjadi banyak pertengkaran dan ikhtilaf. Abu Darda. Janganlah meriwayatkan satu Hadits pun dari Rasulullah saw. Nabi saw. sadd al-dzara'i. aku tuliskan bagimu tulisan yang tidak akan menyesatkanmu selama-lamanya. Pada tahap pertama. jawablah -. para Khulafa al-Rasyidin selain Ali. mengharapkan bimbingan Allah dalam hal ini. bila nash tidak ada atau tidak diketahui.. halalkanlah apa yang dihalalkannya. "Aku takut jika aku mati aku masih meninggalkan hadits-hadits ini bersamamu. di antaranya Umar bin Khathab. Menurut satu riwayat. Pada suatu pagi. bila tidak ada nash. yang kalian pertengkarkan. Cukuplah bagimu Kitab Allah." Umar berkata: "Nabi sedang dikuasai penyakitnya. menggunakan qiyas atau pertimbangan kepentingan umum." [23] al-Dzahabi meriwayatkan bahwa Abu Bakar mengumpulkan orang setelah Nabi wafat dan berkata. Nanti orang-orang setelah kalian akan lebih bertikai lagi.Di antara Anda dan kami ada Kitab Allah. dan haramkanlah apa yang diharamkannya" [24] 3) Al-Zuhri meriwayatkan. tampaknya lebih memusatkan perhatian pada ayat-ayat al-Qur'an (atau ruh ajaran al-Qur'an) dengan agak mengabaikan (kadang-kadang menafikan hadits). Padamu ada Kitab Allah. Nabi berkata: "Bawalah ke sini. Di antara mereka ada yang mengikuti ucapan Umar.

. Jika kamu Islam (baiklah itu). Umar melihat ini untuk kemashlahatan umat di zamannya. [39] . Abu Bakar dan permulaan Khilafah Umar. "Adakah khalifah itu atau dia? "Abu Bakar menjawab. [36] d) membolehkan tidak mandi bagi yang bercampur dengan isterinya tanpa mengeluarkan mani. Ketika kelompok muallaf datang menemui Abu Bakar untuk menuntut surat. wafat. Abu Bakar menghukumnya dengan membakarnya hidup-hidup. "Kami tidak memberi kamu sedikit pun karena Islam.. " Lalu berlalulah apa yang diputuskan Umar.. Berikut ini 1. "Mereka kembali pada Abu Bakar dan berkata. Umar melarangnya. al-Dawalibi menulis hal yang sama dalam 'Ilm Ushul al-Fiqh: "Di antara kreasi Umar r. [37] e) mengambil zakat dari kuda. Utsman bin Affan membolehkan "menikahi" dua orang wanita bersaudara dari antara budak belian sekaligus. [31] 4. Al-Fujaah pernah menyatakan diri ingin berjihad dan meminta perbekalan pada Abu Bakar. [34] b) menambahkan adzan ketiga pada hari Jum'at . Khalid Muhammad Khalid menulis tentang ijtihad Umar dalam al-Dimuqrathiyyah: Umar bin Khattab telah meninggalkan nash-nash agama yang Suci dari al-Qur'an dan al-Sunnah ketika dituntut kemaslahatan untuk itu.a." Ketika Rasul dan Abu Bakar membolehkan penjualan Ummahat al-Awlad. Dr. [30] 3. thalaq tiga pada sekali ucapan dijadikan satu seperti hadits shahih dari Ibn 'Abbas. Abu Bakar dan Umar tidak memberikan hak khumus dari keluarga Rasulullah saw. dengan itu. "Kami tidak memerlukan kalian lagi.. Ketika talaq tiga dalam satu majelis dihitung satu menurut Sunnah dan ijma.. Allah sudah memenangkan Islam dan melepaskan dari kalian. Mereka berpendapat. Amir al-Mu'minin Umar bin Khathab melihat orang telah melecehkan urusan thalaq. setelah Rasulullah saw. tapi menyalurkan hak itu fi sabilillah. Kata Umar: "Manusia terlalu terburu-buru di tempat yang seharusnya hati-hati. Umar datang dan berkata. [33] Utsman juga melakukan banyak "pembaharuan" dalam fiqh Islam: a) mengitmamkan shalat dalam keadaan safat di Mina. Al-Fujaah ternyata menggunakan fasilitas Abu Bakar ini untuk merampok. "Ia. sedangkan di zaman Nabi." Kata Ibn Qayyim. Umar merobek surat itu dan berkata. yang menunjang kaidah hukum berubah karena perubahan zaman ialah jatuhnya thalaq tiga dengan satu kalimat. Ini adalah prinsip taghayyarat bihi al-fatwa litaghayyur al-zaman.(tegas) yang bertentangan contoh-contohnya. sehingga sahabat menahan dirinya untuk tidak mudah menjatuhkan thalaq. Umar meninggalkan sunnah dan menyingkirkan ijma. Umar ingin menghukum keteledoran ini. khalifah yang berhak mengatur pembagian khumus. [35] c) melarang haji tamattu. Bila al-Qur'an menetapkan bagian muallaf dari zakat. insya Allah. Ali bin Abi Thalib mengharamkannya. [32] 5. serta Rasulullah dan Abu Bakar melakukannya. [38] f) mendahulukan khotbah sebelum shalat pada shalat 'id." [29] 2.. mereka datang kepada Umar. jika tidak pedanglah yang memutuskan antara kamu dan kami.. Abu Bakar menyuruh Tharifah bin Hajiz untuk membawanya ke Madinah. Abu Bakar memberinya bekal.

Karena itu. Sayang sekali. Menurut Fazlur Rahman. Ada dua sikap ekstrim terhadap sahabat yang harus dihindari: menghindari sikap kritis atau melakukan sikap hiperkritis. Adzan tetap seperti dulu. Ada pun shalat. Ikhtilaf di antara para sahabat. pendapat-pendapat tertentu kemudian berkembang menjadi opini generalis. Hai anak saudaraku. Tidak berubah. Al-Zarqani mengomentari hadits ini: Yang dimaksud "orang" adalah sahabat. lalu konsesnsus. sikap kritis ini telah "dimatikan" dengan vonnis zindiq oleh sebagian ahli hadits. [42] Kata ma ahdatsna (apa-apa yang kami adakan) menunjukkan pada perbuatan bid'ah yang dilakukan para sahabat Nabi. Imam Malik meriwayatkan dari pamannya Abu Suhail bin Malik. juga --seperti kata 'Umar ibn Abdul Aziz-. Dikatakan kepadanya: Engkau tak tahu apa-apa yang mereka ada-adakan sepeninggal kamu. kecuali dalam satu hal: Apa yang disepakati tidak selalu berkembang dari hasil persaingan pendapat yang demokratis." [41] 2. mereka sahabatku. 'Umar sendiri berkata. Suatu ketika seorang tabi'in. FIQH TABI'IN: FIQH USHUL Sejak zaman sahabat (dan ini diakui para sahabat sendiri) telah terjadi perubahan-perubahan dalam syari'at Islam. Anda berbaiat kepadanya di bawah pohon.Saya hentikan kutipan kasus-kasus ijtihad Khulafa' al-Rasyidin di sini.adalah fondasi utama dari seluruh bangunan fiqh Islam sepanjang zaman. dan perbuatan yang lain telah berubah. Anda menjadi sahabat Rasulullah saw.menyumbangkan khazanah yang kaya untuk memperluas pemikiran. KESIMPULAN Fiqh para sahabat --khususnya seperti diwakili oleh al-Khulafa. Dalam proses free market of ideas. engkau tidak tahu hal-hal baru yang kami adakan sepeninggal Rasulullah. waktunya telah diakhirkan. untuk itu diperlukan penelaahan kritis terhadapnya. Tidak berlebih-lebihan kalau kita simpulkan bahwa fiqih al-Khulafa al-Rasyidin adalah fiqih penguasa. Saya hampir sependapat dengan Fazlur Rahman. lalu opini publik. Sebagian sahabat mulai mengeluhkan terjadinya perubahan ini." Al-Barra menjawab. Berkembanglah berbagai penafsiran. tidak berganti. [43] Bid'ah-bid'ah ini telah mengubah sunnah Rasulullah saw. dari bapaknya (seorang sahabat). Nabi saw: "Ya Rabbi. selain mewariskan kemusykilan bagi kita sekarang. "Semoga Allah meyampaikan kepadaku kesalahan-kesalahanku sebagai suatu bingkisan. Ia berkata: Aku tidak mengenal lagi apa-apa yang aku lihat dilakukan "orang" kecuali panggilan shalat. Tentu saja. Ketika banyak orang marah karena 'Umar dikritik. Ia melihat Ibn . Al-Musayyab memuji Al-Barra bin 'Azib: "Beruntunglah Anda. Marilah kita lihat proses perkembangan pemikiran para sahabat sehubungan dengan sunnah. orang secara bebas memberikan tafsiran pada sunnah Rasulullah saw. Fiqih shahabi memberikan dua macam pola pendekatan terhadap syari'ah yang kemudian melahirkan tradisi fiqh yang berbeda. Seringkali yang disebut ijma' adalah konsensus yang "ditetapkan" oleh penguasa politik waktu itu. al-Rasyidun-. waktu itu yang disebut sunnah ialah apa yang disebut Imam Malik sebagai al-amr al-mujtama' 'alaih. [44] Imam Syafi'i meriwayatkan dari Wahab bin Kaysan. Diriwayatkan bahwa pada hari kiamat ada rombongan manusia yang pernah menyertai Nabi diusir dari al-haudh (telaga). [40] pada zaman para sahabat.

Ia mengingatkan aku pada Shalat Muhammad saw. mungkin karena ketidaktahuan. "Aku sudah tidak mengenal lagi apa yang aku lihat. Ia memegang tangan Muthrif bin Abd Allah dan berkata: Ia telah shalat seperti shalatnya Muhammad saw. kita juga akan mengupas kemusykilan ijtihad sahabat. khususnya yang dijalankan secara setia oleh Ali dan para pengikutnya. selain mengambil hadits sebagai sumber hukum. mereka tidak mengenal kamu (yang kamu amalkan) kecuali kiblat kamu". Ibn 'Umar. Sebab itu. menjaharkan basmalah. kita lebih banyak menelaah ushul ketimbang fiqh. "Mengapa Anda menangis. Ali 586 hadits. Sebelum membahas itu semua. penguasa politik kemudian melakukan manipulasi hadits dengan motif politik. [51] Contoh-contoh di atas menunjukkan bagaimana campur tangan kekuasaan politik membentuk fiqh. Karena pertimbangan politik. Menarik untuk dicatat. Ibn 'Abbas berdoa: Ya Allah. [49] Contohnya. sujud di atas kain menjadi syi'ar Ahl al-Sunnah. sedangkan sujud di atas tanah dianggap musyrik dan dihitung sebagai perbuatan zindiq". sunnah Nabi sudah banyak diubah. kemudian berkata: Semua sunnah Rasulullah saw sudah diubah. bahwa dalam khazanah fiqh ahl al-Sunnah para khalifah sedikit sekali memberi fatwa atau meriwayatkan al-hadits. atau karena posisinya memungkinkan untuk itu. mungkin karena pengetahuan mereka. Fiqh Tab'in. sebagai upaya menghapus jejak Ali. [47] 'Umran bin al Husain pernah shalat di belakang Ali. Dalam perkembangannya. . APA YANG DIMAKSUD DENGAN FIQH TABI'IN Setelah Nabi Muhammad saw meninggal dunia. marilah kita lihat sedikit latar belakang fiqh tabi'in. kurang dari 27% hadits yang diriwayatkan Abu Hurairah (Abu Huraiah meriwayatkan 5374 hadits). juga mengambil ijtihad para sahabat. Bani Umayyah telah mengubah sunnah Nabi. Mereka meninggalkan sunnah karena benci kepada Ali. [45] Kata Al-Zuhri: Aku menemui Anas bin Malik di Damaskus. Jika semua hadits mereka disatukan hanya berjumlah 1411 hadits. Sebagian sahabat sedikit sekali memberi fatwa. Ini pun sudah dilalaikan orang". Secara keseluruhan.kita akan membicarakan juga tradisi fiqh al-atsar dan fiqh al-ra'y. Utsman 146 hadits. Ibn Mas'ud. [46] Al-Hasan al-Bashri menegaskan: "Seandainya sahabat-sahabat Rasulullah saw lewat. Jabir ibn Abdullah dan lain-lain. Hal ini disebabkan ushul adalah sandaran para tabi'in. kehatihatian." tanya Al-Zuhri. yang menjadi tradisi Rasulullah saw dan para sahabat Nabi seperti Abu Bakar. [48] Jadi pada zaman sahabat pun. Karena fiqh lebih banyak didasarkan pada al-hadits. [50] Contoh yang lain adalah sujud di atas tanah. Abu bakar meriwayatkan hanya 142 hadits. Anas menjawab. Salah satu sebab utama perubahan adalah campur tangan penguasa. dan mereka pun tidak bertanya pada semua sahabat. Sebagian lagi banyak sekali memberi fatwa.Zubair memulai shalatnya sebelum khutbah. kecuali shalat. sampai shalat pun. Karena pendapat-pendapat para sahabat terbagi dua --yang berpusat pada al-hadits dan al-ra'y-. laknatlah mereka. Ia sedang menangis. Umar 537 hadits. Tidak semua sahabat menjawab pertanyaan mereka. orang-orang Islam bertanya pada sahabat dalam urusan hukum-hukum agama. atau lagi-lagi pertimbangan politis. dan karenanya secara singkat ia disebut Fiqh al-ushul.

Bila ada masalah baru yang tidak terdapat pada kedua hal tersebut. Kedua.22. Zaid ibn Tsabit dan lain-lain di Madinah. Abdullah ibn 'Umar serta ayahnya Al-Faroq. Abu Hurairah. Fiqh tabi'in. Abu Zahrah menulis: [52] -------------------------------------------. Pertama. Baru ketika Utsman memerintah. para tabi'in. yakni mereka yang berguru pada sahabat. Yang keluar kebanyakan bukan fuqaha. murid-murid sahabat itu para mawali (non Arab). Ka'ab al-Ahbar sering dimintai fatwa oleh Ibn Abbas. menurut Abu Zahrah. 'Alqamah dan Ka'ab keduanya tabi'in. Kebanyakan. Abu Musa al-Asy'ari. karena itu. Dalam kaitan ini. mereka diizinkan keluar. ia mempertimbangkan alasan-alasan. Juga bukan sahabat senior. Banyak diantara tabi'in yang mencapai faqahah (kefaqihan) begitu rupa sehingga sahabat (sic!) berguru pada mereka. Dalam pada itu. (021) 7507174 Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota Please direct any suggestion to Media Team Artikel Yayasan Paramadina Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota IV. Sahabat yang terkenal punya banyak murid adalah Ibn Mas'ud di Iraq.(bersambung 3/10) Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah Editor: Budhy Munawar-Rachman Penerbit Yayasan Paramadina Jln. 'Umar ingin mengambil manfaat dari pendapat mereka. sebelum Dinasti Umayyah berkuasa. baik secara politik maupun administratif dalam pemerintahan. kecuali yang diizinkan keluar oleh Umar. Ayahku menjawab Aku menemukan sahabat-sahabat Nabi bertanya kepada 'Alqamah dan meminta fatwanya. 7507173 Fax. TINJAUAN KRITIS ATAS SEJARAH FIQH (3/10) Dari Fiqh Al-Khulafa' Al-Rasyidin Hingga Madzhab Liberalisme oleh Jalaluddin Rakhmat Sebenarnya. bahkan sedikit sekali sahabat yang keluar dari Madinah. umumaya fiqh mawali.Karena itu. ketika kekuasaan Islam meluas. dan lain-lain. mereka melakukan ijtihad seperti atau dengan metode yang dilakukan para sahabat. . hanya sedikit para sahabat yang meninggalkan Madinah. (021) 7501969. umumnya bukanlah murid al-Khulafa al-Rasyidin. UA 20-21 Jakarta Selatan Telp. tidak banyak. mengapa Anda tinggalkan sahabat dan mendatangi 'Alqamah. 7501983. dan Abdullah ibn Amr. para tabi'in mengumpulkan dua hal: Hadits-hadits Nabi saw dan pendapat-pendapat para sahabat (aqwal al-shahabat). Umar bin Khatab menahan para sahabat senior di Madinah dan melarang mereka meninggalkan kota itu. Metro Pondok Indah Pondok Indah Plaza I Kav. seperti Abdullah bin Mas'ud. Qabus ibn Abi Zhabiyan berkata: Aku tanya ayahku. Dari sahabat.

Abu Bakar ibn 'Abid (wafat 94 H). membuang sebagian isi hadits dan menggantinya dengan kata-kata yang tidak jelas. Dalam tarikhnya. Tetapi ia membuang semua isi surat itu dengan alasan "supaya orang banyak tidak resah mendengarkannya.Ada tujuh orang faqih tabi'in yang terkenal (al-fuqaha al-sab'ah): Sa'id ibn Musayyab (wafat 93 H). Muhammad ibn Abu Bakar menulis surat kepada Mu'awiyah menjelaskaan keutamaan Ali sebagai washi Nabi saw. [53] Dengan cara itu. Tentu saja kata "washi"dan "khalifah" mempunyai konotasi yang sangat jelas. BUKTI-BUKTI MANIPULASI HADITS Di sini tidak ditunjukkan manipulasi hadits kecuali seperti tampak pada kitab-kitab hadits yang ada sekarang. Pertama. [55] Ketiga. semoga Allah tidak mengenyangkan perut Mu'awiyah". Abidullah ibn Abdillah (wafat 99 H). Kata-kata ini dalam Tafsir al-Thabari dan Ibn Katsir diganti dengan: wa kadza wa kadza (demikianlah-demikianlah). Dari situ paling tidak kita melihat petunjuk (indikator) manipulasi hadits pada zaman tabi'in. Marwan berkata: Ayat al-Qur'an: alladzi qala liwalidaihi uffin lakum turun tentang Abd al-Rahman. membuang seluruh berita tentang sahabat dengan petunjuk adanya penghilangan itu. ia berkata." Ibn Atsir dalam Al-Bidayah wa al-Nihayah juga menghilangkan kedua surat itu dengan mengemukakan alasan yang sama. Al-Syu'bi. Isi surat ini secara lengkap dimuat dalam Kitab Shiffin dari Nashr bin Mazahim (wafat 212 H) dan Muruj al-Dzahab tulisan al-Mas'udi (wafat 246 H). memberikan makna lain (ta'wil) pada hadits. Shahih Bukhari menghilangkan ucapan Abd al-Rahman dengan mengatakan faqaala 'Abd al-Rahman ibn 'Abi Bakar syai'an (Abd al-Rahman mengatakan sesuatu). ia meminta rakyat untuk membaiat Yazid. Sulayman ibn Yasar (wafat 100 H) dan Kharijah ibn Zaid ibn Tsabit (wafat?). 'Aisyah menolak asbab al-nuzul ini. "hadits apa yang harus aku keluarkan kecuali ucapan Nabi. [56] Bagaimana mungkin laknat Nabi menjadi . jadikanlah laknat dan kecaman itu kesucian dan rahmat baginya. Ia lari ke kamar 'Aisyah ra. Hamad ibn Abu Sulayman Salim mawla Ibn Umar. 'Urwah ibn al-Zubair (wafat 94 H). Kata Al-Dzahabi: Barangkali yang dimaksudkan dengan keutamaan Mu'awiyah ini adalah ucapan Nabi saw: Ya Allah. al-Thabari meriwayatkan ucapan Nabi saw tentang Ali: "Inilah washihu dan khalifahku untuk kamu". Al-Qasim ibn Muhammad ibn Abu Bakar (Wafat 108 H). Ketika Marwan menjadi Gubernur Mu'awiyah di Hijaz. dan 'Ikrimah mawla Ibn Abbas. Marwan marah dan menyuruh orang menangkap Abd al-Rahman. saudaranya. antara lain sebagai berikut. [54] Kedua. Abd al-Rahman ibn Abu Bakar memprotes Marwan sambil berkata. ketika al-Nasai diminta meriwayatkan keutamaan Mu'awiyah. Kehormatan Khalifah dan Gubernurnya terpelihara. Di samping mereka ada 'Atha ibn Abi Rabah. Contoh-contoh yang diberikan di sini difokuskan pada manipulasi yang diduga beralasan politis. Ada beberapa cara manipulasi hadits. Al-Dzahabi ketika meriwayatkan biografi Al-Nasai menulis. Al-Thabari (wafat 310 H) melaporkan peristiwa itu dengan menunjuk kedua kitab di atas sebagai sumber. "Kalian menginginkan kekuasaan ini seperti kekuasaan Heraclius!". siapa yang aku laknat atau aku kecam. kecaman kepada Mu'awiyah dan Marwan tidak diketahui. Mu'awiyah pun mengakuinya. Ibrahim al-Nakh'i.

Khalifah bertanya. Keempat. Karena itu. mendha'ifkan hadits-hadits yang mengurangi kehormatan penguasa atau yang menunjang keutamaan lawan. Anda berikan keamanan di jalan.kesucian dan rahmat. tetapi Bukhari dan Muslim memang meriwayatkan hadits ini. "Bagaimana pendapat kalian tentang diriku? Apakah aku pemimpin adil atau zalim?" Malik bin Anas berkata: "Ya Amiral Mu'minin. dan umat teradil. 3. "Atas nama Allah . Berkenaan dengan ini bagian "Fiqh al-Khulafa' al-Rasyidin" di atas. Ia membenci Al-Harits karena kecintaannya yang berlebihan pada Ali dan mengutamakan Ali di atas sahabat yang lain. Anda perangi musuh. Ibn Abd al-Barr mengomentari ucapan al-Syu'bi: Ia tidak menjelaskan apa alasan dusta untuk Al-Harits. Dalam Ibn Ishaq diriwayatkan Nabi saw berkata. ucapan Nabi saw ini dihilangkan sama sekali. Kemudian ia melirik kepada Ibn Sam'an: "Bagaimana pendapat kamu?" Kata Ibn Sam'an: "Anda. cetakan kedua (Tahun 1354)." Kemudian al-Manshur melirik Ibn Abi Dzuaib. Pada bukunya. maafkanlah aku untuk tidak berbicara. "Inilah saudaraku. orang terbaik. Ia dikawal para prajurit dengan pedang-pedang terhunus. aku tawassul padamu dengan Allah swt dan aku meminta tolong padamu dengan Muhammad saw dan dengan kekeluargaanmu padanya. Ibn Katsir mendha'ifkan riwayat Nabi tentang Ali sebagai Washi. Anda berhaji ke Baitullah. ya Amir al-Mu'minin. orang yang paling baik. Al-Thabari. Demi Allah. Lahirnya Madzhab-madzhab Fiqh Ketika al-Manshur baru saja diangkat menjadi khalifah. Di antara yang dibuang itu adalah kisah "wa andzir 'asyirataka al-aqrabin". Al-Syuibi mengutamakan Abu Bakar. Setelah berbicara panjang. washiku dan Khalifahku untuk kamu. ia mengundang Malik ibn Anas. bukan untuk Khalifah." [58] Belakangan ini Muhammad Husayn Haykal. Ibnu 'Asakir dan lain-lain. Beberapa tabi'in juga melarang penulisan hadits. [69] Ia lupa bahwa hadits ini diriwayatkan dari banyak sahabat Nabi oleh Imam Ahmad. Pada Hayat Muhammad. ia mengutip ucapan Nabi: Siapa yang akan membantuku dalam urusan ini supaya menjadi saudaraku." "Aku maafkan Anda". Ibn Sam'an dan Ibn Abi Dzuaib. demi Allah. [57] Al-Thabrani dalam Majma' al-Zawaid meriwayatkan ucapan Rasulullah saw kepada Salman bahwa Ali adalah washi-nya. "Tetapi aku tinggalkan sebagian riwayat Ibn Ishaq yang jelek bila disebut orang". Andalah tonggak agama. Al-Thabrani. cetakan pertama. yang dibuat-buat oleh orang Syi'ah. Anda lindungi orang yang lemah supaya tidak dimakan yang kuat. Al-Syu'bi mendustakan Al-Harits. wallahu a'lam. atau orang-orang yang bodoh dalam ilmu hadits. kata al-Manshur. Ia berkata: menyampaikan padaku Al-Harits. Ia menganggap riwayat itu sebagai dusta. dan khalifahku untuk kamu. Keenam. membuang sebagian isi hadits tanpa menyebutkan petunjuk ke situ atau alasan. Abu Nu'aim al-Isbahani. Al-Thabrani memberi komentar: Ia menjadikan washi untuk keluarganya. salah seorang pendusta. Al-Syu'bi meriwayatkan hadits dari Al-Harits al-Hamdani. Kelima. Ibn Hisyam mendasarkan tarikhnya pada tarikh Ibn Ishaq. kata Ibn Hisyam dalam pengantarnya. melarang penulisan hadits Nabi saw. dan bahwa Abu Bakar adalah orang yang pertama masuk Islam. dalam Hayat Muhammad melakukan hal yang sama. washiku.

nama lengRapnya Abu al-Harit Muhammad ibn Abd al-Rahman ibn al-Mughirah ibn Dzuaib al-'Amiri. Aku tidak pernah melihatnya kecuali dalam salah satu di antara tiga keadaan: sedang shalat. Imam Malik menjadi terkemuka setelah al-Manshur memberikan segala kehormatan kepadanya. dan orang miskin. kita akan meninjau latar belakang historis dari tumbuhnya madzhab-madzhab fiqh. Apa alasanmu di hadapan Allah nanti?" "Celaka kamu. Anda merampas harta Allah. Ibn Abi Dzuaib. Fiqhnya "dicurigai" dan para pengamalnya dianiaya. tentu saja tidak dikenal. Anda manusia terjahat. Ketika naik haji. Ia pun hampir tidak dikenal kecuali pada kalangan pengikutnya saja. Seperti akan kita uraikan nanti. Pada akhir bagian ini kita akan membicarakan "pokok dan tokoh" madzhab yang masih memiliki banyak pengikut sampai sekarang. Anda persulit orang yang kuat. ia bermusyawarah dengan Malik untuk menggantungkan al-Muwaththa pada Ka'bah dan memerintahkan orang untuk beramal menurut Kitab itu. tetapi karena tidak didukung penguasa. "Menurut pendapatku. Anda tahan harta mereka. Malik bin Anas kelak terkenal sebagai pendiri madzhab Maliki. dengan para pengikut yang tersebar di berbagai bagian dunia Islam.bagaimana pendapatmu tentang diriku?" Yang ditanya menjawab. Namun sekarang hampir tidak ada orang yang mengenalnya." Peristiwa di atas. . Tapi. namanya hampir tidak pernah disebut dalam buku-buku tarikh. Masih sezaman dengan Malik dan bahkan Malik pernah berguru kepadanya. yang hanya takut kepada Allah saja. Dalam tulisan ini kita akan mencatat beberapa orang tokoh madzhab yang terlupakan. Ibn Dzuaib adalah orang yang membukukan hadits di Madinah. "Benar. Fame bestows no favors upon the losers. yaitu saya salin. Menurut al-Dahlawi. atau sedang membaca al-Qur'an. adalah faqih dari keluarga Rasulullah saw." Sifat terakhir ini justru menyebabkan Ja'far tidak disenangi penguasa. Anda hancurkan yang lemah. Walau Malik menolak rencana kedua khalifah itu. Malik berkata tentang Ja'far: "Aku pernah berguru pada Ja'far bin Muhammad beberapa waktu. Bagiku sama saja apakah mati itu dipercepat atau diperlambat. madzhab-madzhab itu akhirnya hilang dari catatan sejarah. anak yatim. sedang puasa. Sejarah memang hanya memihak yang menang. tidakkah kamu lihat apa yang ada dihadapanmu?" kata al-Manshur. kita tahu bahwa Malik didukung para penguasa. Ia lebih berani. dan boleh jadi lebih faqih dari Malik. dan bagian keluarga Rasul. dan kepada setiap wilayah kaum Muslim saya kirim satu naskah. Ia tak bicara sesuatu yang tak manfaat. Ja'far al-Shadiq. Ibn Dzuaib. di samping Malik." Begitu pula. demi Allah. serta saya instruksikan agar mereka mengamalkan isinya sehingga mereka tidak mengambil yang lain. RasulNya. sebetulnya banyak madzhab muncul. ketika Harun al-Rasyid berkuasa. menunjukkan posisi Malik ibn Anas dibandingkan ulama yang sezaman dengannya. adalah seorang alim yang terkenal faqih dan wara. Tidak pernah aku lihat ia meriwayatkan hadits dari Rasulullah kecuali dalam keadaan suci. yang dikisahkan Ibn Qutaybah. zuhud. aku lihat pedang dan itu berarti kematian. al-Manshur berkata kepada Malik: "Saya punya rencana untuk memperbanyak kitab yang kau susun ini. dan ia termasuk ulama yang taat beribadah. Tapi sebelum itu.

Utsman. Ibn Abbas. masuk kelompok pertama. Hudzaifah. dan mengeluarkan fatwa yang bertentangan dengan ahl al-Bayt. Ali dan sebagainya. karena tasthih sudah menjadi syi'ar sy'iah. Ummi Salamah. Miqdad. bila orang berbicara tentang madzhab. melandaskan fiqhnya pada al-Qur'an. dan melakukan istinbath hukum. Sementara itu. Metro Pondok Indah . Abu Dzarr. Yaitu ahl al-Bayt dan para pengikutnya. dan sebagainya. maka yang dimaksud adalah madzhab di kalangan sahabat Nabi: Madzhab Umar. 'Ammar bin Yasir. Karena walaupun meninggalkannya tidak wajib menampakkannya berarti menyerupai (tasyabbuh) mereka. Syafi'i. Tidak jarang sunnah Rasulullah yang sahih ditinggalkan karena sunnah itu dipertahankan dengan teguh oleh para pengikut ahl al-Bayt." Salah satu contoh sunnah yang dijauhi orang adalah tasthih seperti diceritakan oleh Muhamamd bin 'Abd al-Rahma yang berkata: "Yang sunnah dalam membuat kubur adalah meratakan permukaan kubur (tasthith). Kedua madrasah ini berbeda dalam menafsirkan al-Qur'an. Abu Rafi Mawla Rasulullah. sehingga sunni tidak berbeda dengan syi'ah. Murtadha al-'Askary menyebut dua madzhab awal ini sebagai Madrasah al-Khulafa dan Madrasah Ahl al-Bayt. Ibn Umar. al-Sunnah dan Ijtihad para sahabat. Yang kedua. Kemaslahatan berbeda dengan mereka dalam rangka menjauhi dan menentang mereka lebih besar dari kemaslahatan mengamalkan yang musthab itu." -------------------------------------------. berpusat di Iraq.SEJARAH PEMBENTUKAN MADZHAB Kelima Madzhab yang akan kita bicarakan -Ja'fari. berpusat di Madinah. dan Hanbali-. dan sedapat mungkin menghindari ra'yu dalam menetapkan hukum. Madrasah ahl al-Bayt tumbuh "di bawah tanah" mengikuti para imam mereka. Pada zaman sebelum itu. Ali dan kedua puteranya. Hanafi. Ibn Taymiyyah menulis perihal tasyabbuh dengan syiah: "Dari sinilah para fuqaha berpendapat untuk meninggalkan al-mustahabbat (yang sunat) bila sudah menjadi syiar orang-orang Syi'ah. madrasah al-Khulafa bercabang lagi ke dalam dua cabang besar: Madrasah al-Hadits dan Madrasah al-Ra'y. juga para sahabat di luar ahl al-Bayt. memandang sunnah Rasulullah. Umar. Maliki. Aisyah. Para sahabat dapat dikelompokkan dalam dua besar. Inilah yang paling kuat menurut madzhab Syaf'i.(bersambung 4/10) Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah Editor: Budhy Munawar-Rachman Penerbit Yayasan Paramadina Jln. Yang pertama. Abu Hurairah dan lain-lain masuk kelompok kedua. "Tapi Abu Hanifah dan Ahmad berkata: "Menaikkan permukaan kubur (tasnim) lebih baik. Aisyah. sedikit menggunakan hadits dan lebih banyak berpijak pada penalaran rasional dengan melihat sebab hukum (illat) dan tujuan syara' (maqashid syar'iyyah). mereka mengembangkan esoterisme dan disimulasi untuk memelihara fiqh mereka. Karena tekanan dan penindasan. Sedangkan Abu Bakar. Ibn Qutaybah dalam Kitab al-Ikhtilaf menceritakan bagaimana raja-raja Umawiyyat berusaha menghapuskan tradisi ahl al-Bayt dengan mengutuk Ali bin Abi Thalib di mimbar-mimbar. Pada zaman kekuasaan dinasti Umawiyyah.tumbuh pada zaman kekuasaan dinasti Abbasiyah. membunuh para pengikut setianya.

Kitab ini adalah rujukan utama madzhab Hanafi. Waktu itu al-Mutawakkil tidak mengangkat seorang qadhi kecuali dengan persetujuan Imam Ahmad ibn Hanbal. c) Politik diskriminasi yang mengistimewakan orang Arab di atas orang bukan Arab.22. al-Mu'iz Badis mewajibkan seluruh penduduk untuk mengikuti madzhab Maliki. Dinasti Abbasiyah disambut dengan penuh antusias baik oleh mawali maupun pengikut ahl al-Bayt. Al-Kharaj adalah Kitab yang disusun atas permintaan al-Rasyid. al-Hadi. murid Abu Hanifah. Kebijakan ini menyebabkan timbulnya rasa tidak senang pada para mawali . Banyak tokoh sahabat dan tabi'in yang menganggap daulat Umawiyyah ditegakkan di atas dasar yang batil.yang justru lebih banyak pada daerah kekuasaan Islam. Karena itu pada permulaan pemerintahannya. Madzhab Hanafi mulai berkembang ketika Abu Yusuf.Pondok Indah Plaza I Kav. sedangkan pusat-pusat ilmiah berada di Iraq dan Hijaz. pusat pemerintahan berada di Syam. 7501983. UA 20-21 Jakarta Selatan Telp. Dinasti Umawiyah memisahkan Arab dan mawali. Para khalifah banyak melakukan hal-hal yang melanggar sunnah Rasulullah saw b) Terputusnya hubungan antara pusat khilafah dengan pusat ilmiah. TINJAUAN KRITIS ATAS SEJARAH FIQH (4/10) Dari Fiqh Al-Khulafa' Al-Rasyidin Hingga Madzhab Liberalisme oleh Jalaluddin Rakhmat Pada periode Umawiyyah. Keduanya mengembangkan ajaran mereka pada zaman Abbasiyah. Madzhab Hanbali menjadi kuat pada masa pemerintahan al-Mutawakkil. Di antara mawali itu adalah Abu Hanafi dan di antara imam ahl al-Bayt adalah Ja'far bin Muhammad. 7507173 Fax. bahwa madzhab-madzhab besar yang kita kenal sekarang --kecuali mazhab Ja'fari-. dan al-Rasyid. Madzhab Maliki berkembang di khilafah Timur atas dukungan al-Manshur dan di khilafah Barat atas dukungan Yahya bin Yahya ketika diangkat menjadi qadhi oleh para khalifah Andalusia. Di Afrika. madrasah-madrasah itu tidak melahirkan pemikiran-pemikiran madzhab. Madzhab Syafi'i membesar di Mesir ketika Shalahuddin al-Ayyubi merebut negeri itu. . IMAM-IMAM MADZHAB YANG TERLUPAKAN Sudah disebutkan di muka. Muhammad Farouq al-Nabhan menjelaskan sebab-sebab berikut: a) Hubungan yang buruk antara ulama dan khulafa.membesar karena dukungan penguasa. (021) 7501969. Dr. (021) 7507174 Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota Please direct any suggestion to Media Team Artikel Yayasan Paramadina Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota IV. diangkat menjadi qadhi dalam pemerintahan tiga khalifah Abbasiyah: al-Mahdi. Waktu itu. Banyak di antara mereka adalah para sarjana dalam berbagai disiplin ilmu.

mengetahui sunnah dan jalan-jalannya. Madzhabnya berkembang sampai abad VII. Madzhab al-Awza'iy. 3. Ia diberi gelar al-Zhahiry karena berpegang secara . Dengan begitu. Madzhab al-Zhahiry. Abu Ishaq dan lain-lain. Ia faqih. Abu Sulayman Dawud ibn 'Ali dilahirkan di Kufah tahun 202 H dan hidup di Baghdad sampai tahun 270 H.Dalam menyimpulkan semua ini. Ayahnya termasuk perawi hadits yang ditsiqatkan Ibn Ma'in. Ia memberi komentar: "Seandainya tidak ada Malik dan Ibn 'Uyaiynah. Madzhabnya tersisihkan hanya ketika Muhammad bin Utsman dijadikan qadhi di Damaskus dan memutuskan hukum menurut Madzhab Syafi'i Ketika Malik ditanya tentang siapa di antara yang empat (Abu Hanifah. Lahir di Kufah tahun 65 H dan wafat di Bashrah tahun 161 H. Berkali-kali al-Manshur mau membunuhnya. Pendirinya Abd al-Rahman bin Amr al-Awza'iy adalah imam penduduk Syam. Ia mengambil ilmu dari Imam Ja'far. Nama lengkapnya Abu Muhammad Sufyan ibn 'Uyaiynah wafat tahun 198 H. dan tulisan mereka terkenal di masyarakat. ketika Ahmad menyebut dirinya hanya sebagai ahli hadits. tetapi ia berhasil lolos." Beberapa madzhab sebagai berikut: yang hilang itu secara singkat diuraikan 1. al-Zuhry. Imam Ahmad menyebutnya sebagai seorang faqih. dapat membedakan yang sahih dan yang lemah. 5. Tokoh madzhab ini adalah Abu Abd Allah Sufyan bin Masruq al-Tsawry. Kata Ibn Khuzaymah: Ia hafal dan paham al-Qur'an. hilanglah ilmu Hijaz. tetapi setelah itu hilang karena tidak ada dukungan penguasa. ia melarikan diri dan meninggal di tempat pelarian. Ibn Dinar. Tidak diketahui sampai kapan madzhabnya diikuti orang. Pahamnya diikuti orang sampai abad IV Hijrah. Ia termasuk mujtahid ahl al sunnah yang tidak bertaklid kepada siapa pun. al-Awza'iy." Mazhabnya diamalkan orang sampai tahun 302 H. Bila para pengikut madzhab itu lemah dan tidak memperoleh posisi sebagai hakim dan tidak berwewenang memberi fatwa. Madzhab al-Thabary. tersebarlah madzhabnya di seluruh penjuru bumi. Madzhabnya diamalkan orang sampai abad IV. Syah Wali al-Dahlawi menulis: "Bila pengikut suatu madzhab menjadi masyhur dan diberi wewenang untuk menetapkan keputusan hukum dan memberikan fatwa. 2. 4. Di antara yang mengambil riwayat dari padanya adalah Syafi'i. Lalu madzhab itu pun hilang setelah beberapa lama. Ia berguru pada Ja'far al-Shadiq dan meriwayatkan banyak hadits. Madzhab Ibn 'Uyaiynah. maka orang tak ingin mempelajari madzhabnya. Salah seorang muridnya yang masyhur adalah Ibn Hazm. Madzhab al-Tsawri. Ketika ia diminta menjadi qadhi. Abu Ja'far Muhammad ibn Jarir ibn Yazid ibn Khalid ibn Ghalib al-Thabary lahir di Thabaristan 224 H dan wafat di Baghdad 310 H. Ia sangat dekat dengan Bani Umayyah dan juga Bani Abbas. mengetahui betul makna al-Qur'an. yang nasikh dan yang mansukh dan paham akan pendapat para sahabat. lalu orang mempelajari madzhab itu terang-terangan. Malik dan al-Tsawry) yang paling benar? Malik berkata: "Al-Awza'iy.

Selama lima belas tahun ia tinggal bersama kakeknya. Untuk mengetahui pemikiran Imam Ja'far dalam hal fiqh.harfiah pada teks-teks nash. Inilah sebagian di antara tokoh-tokoh madzhab yang tidak lagi dianut secara resmi sekarang ini. Ia sempat menyaksikan kekejaman al-Hajjaj. kita tuliskan percakapannya dengan muridnya selama dua tahun seperti diceritakan Abu Nu'aim: Abu Hanifah. Ia menanyakan Ibn Abi Layla tentang kawannya. IMAM JA'FAR IBN MUHAMMAD AL-SHIDIQ (82-140 H) Ja'far ibn Muhammad ibn Ali ibn Husain (ibn Ali) ibn Fathimah binti Rasulullah saw lahir di Madinah tahun 82 H pada masa pemerintah Abd al-Malik ibn Marwan. Ia berkembang di daerah Maroko. Karena riwayat hidup mereka sudah disebutkan di atas --kecuali Imam Ja'far-." . Syu'bah ibn al-Hajjaj. bila para penguasa 'Abbasiyah melihat ada dakwah 'Alawi. pemberontakan Zaid ibn Ali. Ibn Syabramah. Ia juga menyaksikan naiknya al-Saffah dan al-Manshur dengan memanipulasikan kecintaan orang pada ahl al-Bayt. Ibn 'Uyaiynah. al-Tsawry. mereka segera mengucilkannya atau membunuhnya. Abu Zahrah menulis: Dinasti 'Abbasiyah selalu merasa terancam dalam kekuasaannya oleh para pengikut Ali. Ali Zainal Abidin keturunan Rasul yang selamat dari pembantaian di Karbela. "Bukankah ia suka melakukan qiyas dalam urusan agama?.di sini hanya disebutkan beberapa catatan kecil saja. Dalam suasana seperti itulah. Kaum 'Alawi menunjukkan nasab seperti mereka dan memiliki kekerabatan dengan Rasulullah yang tidak dimililki 'Abbasiy. Pokok-pokok pikirannya dalam fiqh akan kita perkenalkan secara singkat. dan ribuan para perawi. dan penindasan terhadap para pengikut madrasah ahl al-Bayt. Mereka tak perduli membunuh orang tak berdosa karena dianggap mengancam pemerintahannya. Bila mereka melihat ada pejabat yang memuji Bani 'Ali. dan Ibn Abi Layla menghadap Imam Ja'far. Setelah Ali wafat." tanya Ja'far. Ia juga menyaksikan bahwa para khalifah Abbasiyah tidak lebih baik dari para khalifah Umawiyah dalam kebenciannya kepada keluarga Rasul. Karena itu. Mereka selalu cemas menghadapi mereka. ia diasuh oleh ayahnya Muhammad al-Baqir dan hidup bersama selama sembilan belas tahun. ketika Ya'qub ibn Yusuf ibn Abd al-Mu'min meninggalkan mazhab Maliki dan mengumumkan perpindahannya ke madzhab al-Zhahiry. "Benar. Di antara murid-muridnya adalah Imam Malik. Fadhail ibn Iyadh. Abu Hanifah." Ja'far bertanya kepada Abu Hanffah: "Siapa namamu?" "Nu'man. Orang-orang yang menentang mereka semuanya berasal dari 'Alawiyyin. mereka segera menghukumnya. Imam Ja'far memusatkan perhatiannya pada penyebaran sunnah Rasulullah dan peningkatan ilmu dan akhlak kaum Muslim. yang kemudian dijawab Ia orang pintar dan mengetahui agama. Berikut adalah para pemuka madzhab yang terkenal.

Qiyas hanya dipergunakan bila 'illat-nya manshush (terdapat dalam nash). Abu Hanifah mendukungnya. ayahku memberitahukan kepadaku dari kakekku bahwa Nabi saw bersabda: Orang yang pertama menggunakan qiyas dalam agama adalah iblis."Aku tidak melihat Anda menguasai sedikit pun. Abu Hanifah berbay'at kepadanya. Pada hal-hal yang tak terdapat ketentuan nashnya. b) Istihsan tidak boleh dipergunakan. dan bahwa para khalifah yang sezaman dengan mereka telah merampas haknya dan karena itu mereka zalim." Dari percakapan di atas kita melihat perbedaan pendekatan hukum di antara dua pemuka madzhab. menulis: "Sesungguhnya Abu Hanifah itu Syi'ah dalam kecenderungan dan pendapatnya tentang penguasa di zamannya. Ia menentang setiap kezaliman. ketika Imam Zayd melawan penguasa. Karena Rasulullah dan para imam adalah orang yang mengetahui rahasia-rahasia al-Qur'an." kata Ja'far sambil mengajukan berbagai pertanyaan yang tidak bisa dijawab Abu "Hai Nu'man." Sikap Abu Hanifah itu. digunakan akal berdasarkan kaidah-kaidah tertentu. Tugas mujtahid adalah mengeluarkan dari al-Qur'an jawaban-jawaban umum untuk masalah-masalah yang khusus. Allah akan menyertakannya bersama iblis. mengapa Allah hanya menuntut dua orang saksi untuk pembunuhan dan empat orang saksi untuk zinah." "Mana yang lebih besar kewajibannya . . Mereka tidak mau menjadikan hujjah hadits-hadits yang diriwayatkan para sahabat yang memusuhi ahl al-Bayt. Karena ketika Allah menyuruhnya bersujud kepada Adam ia berdalih: Aku lebih baik dari dia karena aku Kau buat dari api dan ia Kau buat dari tanah. Ketika Muhammad dan Ibrahim dari ahl al-Bayt memberontak. Begitu pula. selain menolak qiyas adalah hal-hal berikut: a) Sumber-sumber syar'iy adalah al-Qur'an. al-Sunnah dan akal. c) Al-Qur'an dipandang telah lengkap menjawab seluruh persoalan agama. Manakah yang lebih besar dosanya . Barang siapa yang menggiyas dalam agama. penulis biografi Abu Hanifah. Bertaqwalah kepada Allah dan jangan melakukan qiyas dalam agama.shalat atau shawm (puasa)?" "Shalat" "Mengapa wanita yang haidh harus mengqadha shawmnya tetapi tidak harus mengqadha shalatnya. karena ia mengikutinya dengan qiyas. Termasuk ke dalam sunnah adalah sunnah ahl al-Bayt: yakni para imam yang ma'shum. Beberapa kali ia mengkritik al-Manshur secara terbuka. ia melihat bahwa khalifah haruslah diserahkan pada keturunan Ali dari Fathimah. ditambah hasutan Ibn Abi Layla. Di antara karakteristik khas dari madzhab Ja'fari." "Lalu. penafsiran al-Qur'an yang paling absah adalah yang berasal dari mereka. Bagaimana kamu menggunakan qiyasmu. Abu Zahrah. IMAM ABU HANIFAH Abu Hanifah terkenal sebagai alim yang teguh pendirian. Yakni.membunuh atau berzinah? "Membunuh.

karena diberi makanan beracun. Aku tidak keluar dari pendapat sahabat kepada pendapat yang lain. Di antaranya Abu Yusuf. TINJAUAN KRITIS ATAS SEJARAH FIQH (5/10) Dari Fiqh Al-Khulafa' Al-Rasyidin Hingga Madzhab Liberalisme oleh Jalaluddin Rakhmat IMAM MALIK Pada zaman kekuasaan Ja'far ibn Sulayman tahun 146 H Malik dihukum cambuk. ia dipenjarakan. (021) 7501969. di samping ingin berusaha memanfaatkan alim besar ini. Setelah itu. mereka berijtihad dan aku pun berijtihad. yaitu dengan menggunakan qiyas dan istihsan. ijma. (021) 7507174 Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota Please direct any suggestion to Media Team Artikel Yayasan Paramadina Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota IV. Al-Mansur tak dapat membunuhnya tanpa alasan. yang disampaikan oleh orang-orang yang dapat dipercaya. Jika tidak aku dapatkan dalam al-Kitab dan Sunnah Rasulullah. Abu Hanifah bahkan mengarqurkan beramal dengan 'urif. al-Sunnah. Abu Hanifah berkata. dan pendapat para sahabat.22. yang meliputi al-Qur'an. yakni adat kebiasaan yang tidak bertentangan dengan nash. 7501983.menimbulkan kemarahan Al-Manshur. Ketika Abu Hanifah menolaknya.(bersambung 5/10) Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah Editor: Budhy Munawar-Rachman Penerbit Yayasan Paramadina Jln. "Aku mengambil dari al-Kitab.mengeluarkan fatwa yang tidak dikehendaki penguasa. yang pernah berguru pada Malik dan kemudian menggabungkan madrasah hadits dengan madrasah Ra'y. Lalu ia menjebak Abu Hanifah dengan jabatan qadhi. 7507173 Fax. c) Al-A'raf. Ia --menurut satu riwayat-. Muhammad ibn Hasan al-Syaybany. al-Manshur merasa bersalah. ia dicambuk sepuluh lecutan. dan Zafr ibn al-Hudzail.". Ia tidak mungkin menarik Ja'far dan tidak berhasil . b) Sumber-sumber ijtihadiyah. -------------------------------------------. yang sangat ekstrem menggunakan qiyas. Setiap hari. menurut satu riwayat. Bila tidak. Metro Pondok Indah Pondok Indah Plaza I Kav. UA 20-21 Jakarta Selatan Telp. Tapi karena kedudukan Abu Hanifah di masyarakat. Ia mengakhiri hidupnya. Bila sudah sampai pada tabi'in. Pokok fiqih madzhab Hanafi bersumber pada tiga hal: a) Sumber-sumber naqliyah. terutama dalam masalah perdagangan. aku mengambil pendapat para sahabat yang aku kehendaki dan meninggalkan yang tidak aku kehendaki. yang kemudian menjadi qadhi dan banyak memasukkan hadits dalam kitab-kitabnya. aku ambil Sunnah Rasulullah dan hadits-hadits yang sahih. Abu Hanifah meninggalkan banyak murid. jika aku dapatkan di dalamnya.

" Seusai shalat. Al-Manshur pada musim haji 153 H. c) Pendapat sahabat yang tidak ada yang menentangnya. Malik menjadi sangat berwibawa. Seorang alim besar di kota itu mengecam orang-orang yang menjamak shalat Zhuhur dan Ashar. ijma' secara naql. bunuh dia. kata pemuda itu. Orang-orang ketakutan berada di majlisnya. Tetapi shalat jamak ini terdapat dalam kitab hadits shahih Bukhari dan Muslim. g) Mashalih mursalah. Mereka menyalahi al-Qur'an yang menyatakan bahwa shalat itu bagi kaum Mukmin kewajiban yang ditetapkan waktunya. meminta maaf kepada Malik atas perlakukan salah seorang penguasanya. c) Ijma' penduduk Madinah. Ia memberikan wewenang besar pada Malik untuk mengangkat dan memberhentikan para pejabat yang dipandangnya tidak mampu. f) Istihsan. h) Sadd al-Dzara'i. Bila engkau sudah menjadi Rasul Allah bolehlah engkau melakukannya." kata sang imam. Karena wewenangnya ini. Tunisia.mengambil hati Abu Hanifah. e) Qiyas. k) Syar'man qablana. Ijma' sebelum terbunuhnya Utsman. Ini sangat berpengaruh pada penyebaran madzhabnya. b) Al-Sunnah: al-mutawatirah dan al-masyhurah. didahulukan al-sunnah. ijma' mutaakhir: masing-masing dengan kekuatan hukum yang berbeda. 4. b) al-Ijma'. "Ini khusus untuk Rasulullah saw. e) Khabar Ahad dan Qiyas. d) Hadits mursal dan dha'if. Pemuda itu mengeluarkan kedua kitab shahih tersebut dan memintanya membaca hadits-hadits tentang shalat jamak. karena wibawa Malik. i) Mura'at khilaf al-mujtahidin. dalil-nya. e) Qiyas. Ia berkata bahwa itu termasuk salah satu bid'ah orang Syi'ah. hadirin tercengang mendengarnya. IMAM SYAFI'I Pokok-pokok fiqh Syafi'i ada lima: a) Al-Qur'an dan al-Sunnah." Malik memanggil pengawalnya: "Ia zindiq. Malik memukul orang itu dan memenjarakannya Ketika seorang bertanya: "Bagaimana pendapat Anda tentang orang yang berpendapat bahwa al-Qur'an itu makhluk?. b) Fatwa sahabat. seorang pemuda menanyakan lagi perihal shalat jamak. Bila zhahirnya sunnah bertentangan dengan al-Qur'an. STAGNASI PEMIKIRAN FIQH: MASA KETERTUTUPAN Dr. Ketika ia membacanya. Ia mengembalikan kedua kitab itu sambil berkata. d) Fatwa sahabat." Catatan kecil di atas menunjukkan kekuasaan Malik. d) Ikhtilaf sahabat Nabi. Madzhab Maliki mendasarkan fiqhnya pada 12 pokok: a) Al-Qur'an: zhahirnya. j) Istishhab. Ia juga boleh menghukum mati atau memenjarakan yang dipandangnya bersalah. mafhum-nya dan illat-nya." Malik menukas: "Tapi aku hanya mendengarnya dari kamu." Pemuda itu bermaksud menunjukkan bahwa Ibn Abbas. "Mereka membawa agama baru yang bukan agama Muhammad saw. . c) Ikhtilaf sahabat. IMAM HANBALI Pokok-pokok fiqh madzhab Hanbali: a) Al-Nushush. Anas ibn Malik dan banyak sahabat lainnya melakukan shalat jamak (bukan karena bepergian). Aku hanya melaporkan ucapan orang lain. Ketika seorang murid membantah Malik perihal penguburan rambut dan kuku. "Tidak benar. Muhammad al-Tijani al-Samawi bercerita tentang kisah fanatisme di kota Qafsah." Orang itu berkata: "Bukan aku yang berkata begitu.

dan tanzhim dalam madzhab fiqh. Al-Ustadz al-Zarqa melukiskan situasi umum pada waktu itu: Pada zaman tersebut pemikiran fiqh mengalami kemunduran. ia menjawab bahwa menggerakkan telunjuk dalam tasyahud adalah haram. al-ma'ajim. ilmu ushul al-fiqh. Maksudnya untuk . Pada masa inilah berkembang al-tafsir bi al-ma'tsur. serta menghimpun penafsiran para sahabat. tarjih. dan fiqh para imam madzhab disusun dalam buku. ilmu jarh wa ta'dil dan riwayat para sahabat. Berbagai ilmu Islam dibukukan dan tidak disampaikan secara lisan lagi. dibukukan pula riwayat para perawi hadits. tabi'in. Bersamaan dengan itu. Dengan begitu. para ulama menghimpun hadits-hadits Nabi saw. ke upaya menghapal yang sia-sia dan merasa cukup dengan menerima apa yang telah tertulis dalam kitab-kitab madzhab tanpa penelitian. Perlahan-lahan berkembanglah tradisi membuat syarah (komentar) dan matan. Di Afghanistan seorang mushalli memberi isyarat dengan telunjuknya dan menggerak-gerakkannya. hadits. dimulai kemandegan dan diakhiri kebekuan. Kawan shalat di sampingnya memukulnya dengan keras sehingga telunjuk itu patah. Mereka tak merasa perlu melakukan penelitian ulang. pokok-pokok dan maksud-maksud syara'. Kita akan mengakhiri dengan melacak sebab-sebab timbulnya stagnasi pemikiran ini. Peminat fiqh hanya mempelajari kitab yang ditulis seorang faqih tertentu di antara tokoh-tokoh madzhabnya Ia tidak melihat kepada syari'at dan fiqh kecuali melalui tulisan dalam kitab itu. di satu sisi menyimpan khazanah ilmu para ulama. Dalam penafsiran al-Qur'an misalnya. Gerakan tadwin. Pemikiran bergeser dari upaya mencari sebab-sebab dan maksud syara' dalam memahami hukum. walau selama masa itu muncul juga beberapa ulama fiqh dan ushul yang cemerlang. Kedua peristiwa di atas terjadi dalam rentang waktu cukup lama -menurut sebagian penulis dari abad VI Hijrah sampai abad XIII. al-mustadrakat dan sebagainya. Hadits-hadits dibukukan dalam bentuk al-jawami'. Pada zaman inilah pemikiran taqlid mutlak dominan. Mereka menulis buku-buku yang lebih merupakan ensiklopedia atau kamus dari pada analisis ilmiah. tapi di sisi lain menyebabkan para ulama merasa cukup dengan apa yang telah tersedia. Pasal ini akan memperlihatkan karakteristik zaman ini dari segi karya-karya ilmiah yang lahir waktu itu dan dari segi kecenderungan pemikiran. baik yang lemah maupun yang kuat.tetapi ia mengurungkan maksudnya. Sebuah rentang waktu yang oleh para Tarikh Tasyri' disebut sebagai zaman stagnasi pemikiran fiqh ('ashr al-rukud). al-masanid. menghilanglah kegiatan yang dulu merupakan gerakan takhrij. Penafsiran al-Qur'an. al-Sunnah. sesudah sebelumnya mempelajari al-Qur'an. Ketika ditanya mengapa itu terjadi. Apa dalilnya? Dalilnya terdapat dalam Kitab fiqh al-Syaikh al-Kaydani. KARAKTERISTIK ZAMAN STAGNASI: TRADISI MENSYARAH KITAB Setelah keempat imam madzhab ahl al-Sunnah meninggal dunia. dan para mujtahid. Para pengikut membukukan fatwa-fatwa dan hasil ijthad para mujtahid tersebut. fiqh memasuki zaman tadwin (kodifikasi).

Ia belajar pada Abu Hanifah setiap waktu Subuh selama lima puluh tahun. sepanjang saya ketahui. para pengikutnya meriwayatkan mitos di sekitar para imam madzhabnya. Untuk Shahih al-Bukhari. yang setiap jilidnya seukuran satu jilid Encyclopedia Britannica. Sekarang bantahan itu sudah menjadi 19 jilid Ihqaq al-Haq. Ketika Abu Hanifah wafat. Untuk mempertahankan keunggulan madzhabuya. Tidak jarang syarah suatu kitab disyarahi dan disyarahi lagi. Ulama ahl al-Sunnah menulis kitab yang menyerang ajaran Syi'ah. Siapa yang mencintai Abu Hanifah ia mencintaiku. supaya ia dapat mengajarkan syari'at Islam secara lengkap. al-Hilly menulis Minhaj al-Karamah. Mereka menjelaskan kata-kata atau kalimat-kalimat secara sematik. Nabi Hidhir mohon agar ia diizinkan tetap berguru padanya di alam kubur. Ulama Syi'ah membalasnya dengan menulis kitab lagi. Ibn Taymiyah menulis Minhaj al-Sunnah untuk menolak Minhaj al-Karamah. Polemik antar madzhab ini bukanlah sesuatu yang jelek dan telah berlangsung sejak zaman para imam madzhab. Allah mengizinkannya. Atau sebaliknya. FANATISME MADZHAB Asad Haydar menyebut tahun 645 Hijrah sebagai tahun ditetapkannya empat mazhab sebagai madzhab yang diakui khilafah Islam waktu itu. Sikap ini ditunjukkan jelas oleh al-Syaykh Abu al-Hasan Abdullah al-Karkhy ketika ia berkata. munaqasyah madzhabiyah telah menjadi benih yang menyuburkan fanatisme madzhab. Para ulama dari keempat madzhab diundang ke istana. Sebagai jawaban terhadap serangan ahl al-Sunnah. Imam Syafi'i. "setiap ayat atau hadits yang bertentangan dengan apa yang ditetapkan madzhab kami. Ibn Rouzbahan menulis bantahan pada Minhaj al-Karamah. Di antara karamah Abu Hanifah ialah bergurunya Nabi Khidr kepadanya. Ia kemudian menyelesaikan kuliah dari Abu Hanifah selama 25 tahun lagi. juga berkembang tradisi munaqasyah madzhabiyah (diskusi madzhab). misalnya. Irsyad al-Sary. Walau begitu. yang didhaifkan Ibn Taymiyah. Konon Nabi Muhammad saw pernah berkata: "Semua nabi bangga denganku dan aku bangga dengan Abu Hanifah. Kadang-kadang riwayat-riwayatnya dinisbahkan pada Nabi Muhammad saw. Bantahan ini dibantah lagi oleh al-Mar'asyi al-Tustary. Al-Amini menulis 11 jilid al-Ghadir hanya untuk membuktikan keshahihan hadits Ghadir Khum. melakukan kritik terhadap beberapa pendapat Muhammad ibn al-Hasan al-Syaybany. Pada zaman ini. kekuasaan sangat berperan dalam menyuburkan fanatisme madzhab. Tapi pada zaman kemandegan. Setiap madzhab membela pahamnya dengan tidak lagi mengindahkan adab diskusi ilmiah. Umdat al-Qary. Diriwayatkan oleh para pengikut Maliki bahwa pada paham Imam Malik sudah tertulis Malik Hujatullah di bumi. siapa yang membenci Abu Hanifah ia membenciku. paling tidak ada tiga kitab syarah: Fath al-Bary. Tentang Imam . gejala fanatisme madzhab dapat dilacak sejak abad IV Hijrah.memudahkan pembaca memahami kitab-kitab rujukan. Seperti telah disampaikan pada tulisan terdahulu. Para ulama madzhab Syafi'i menyerang tulisan para ulama madzhab Hanbali atau sebaliknya. harus dita'wilkan atau dimansukhkan. atau menambahkan penjelasan dengan mengutip ucapan para ulama lain. Argumentasi dikembangkan untuk membela madzhab masing masing. Ada pula beberapa kitab yang mensyarah al-Muwatha susunan Imam Malik.

karena seorang alimnya akan memenuhi seluruh bumi dengan ilmunya. kelompok ahli hadits dan atsar rata-rata berambisi dalam periwayatan. Aku bertanya: "Ya Rasul Allah. Namun. katanya. dan pemisahan hadit-hadits gharib dan syadz --hadits-hadits yang kebanyakan mawadhu' dan maqlub. Mengenai Imam Ahmad bin Hanbal Abdullah al-Sajastany berkata: "Aku pernah melihat Rasul Allah saw dalam mimpi. Apabila diriwayatkan pada mereka madzhab mereka atau para ahli hasil ijtihad para tokoh dari aliran mereka. Mereka heran bagaimana mungkin mengamalkan zhahirnya ayat-ayat itu. Mereka sepakat menerima hadits dhaif dan munqathi' bila telah masyhur di kalangan mereka dan telah membibir dalam percakapan mereka. Saya lihat kedua kelompok ini saling berdekatan tempat tinggalnya dan sebetulnya saling membutuhkan. Setiap bangunan yang fondasinya tidak kokoh. mencacad mereka dan menuduhnya menyalahi sunnah. pengumpulan sanad." Dengan berbagai "keutamaannya" itulah. Aku pernah menyaksikan sekelompok faqih yang taklid. maka akan sunyi dan lekas rusak. Mereka hampir tidak bisa membedakan hadits yang shahih dan hadits yang dhaif. Kadang-kadang mereka mencela para fuqaha. Yang demikian adalah suatu kesesatan dan penipuan ra'yu. Mereka tidak mau menerimanya bahkan tidak mau menelitinya. maka akan cepat roboh. Sedangkan kelompok kedua. Al-Fakhr al-Razy menceritakan pengalamannya ketika ia menafsirkan: afala yatadabbarun al-Qur'an. yakni ahli fiqh dan fikir. pertama. sedangkan fiqh bagaikan bangunannya. Rasul Allah saw bersabda: "Ya Allah berilah petunjuk pada suku Quraiysy. kebanyakan tidak memilih-milih hadits. keduanya menjadi ikhwan yang saling berjauhan: mereka tak menampakkan sikap saling membantu dan menolong di jalan yang hak. memandangku dengan heran bila aku bacakan ayat-ayat al-Qur'an tentang beberapa masalah yang bertentangan dengan madzhab mereka. pengikutnya mensakralkan fatwa para mujtahid. Fatwa mujtahid lebih didulukan dari ayat al-Qur'an dan al-Sunnah. siapakah yang engkau tinggalkan. dan tidak mengungkapkan kandungan fiqhnya. tidak menggali rahasianya.Syafi'i. Abu Sulayman al-Khaththaby mengisahkan suasana zaman itu: Saya lihat ahli ilmu dewasa itu terbagi menjadi dua kelompok: pendukung hadits dan atsar dan ahli fiqh dan fikir. kecuali sebagian kecil. yang patut kami ikuti di zaman kami?" Rasul Allah saw menjawab: "Aku tinggalkan bagimu Ahmad bin Hanbal. mereka . Mereka tidak memelihara matannya. Itu karena hadits bagaikan fondasi. padahal ulama dari madzhab mereka terdahulu tidak pernah mengamalkannya. karena rasa harga diri mereka yang sangat tajam. Mereka tidak sadar bahwa kadar keilmuannya sendiri sangat dangkal dan mereka berdosa melemparkan kata-kata kotor pada para fuqaha. Kedua kelompok itu. yang bagus dan yang buruk. Mereka tidak mempedulikan hadits-hadits yang dikuasai dan yang digunakan untuk mempertahankan argumentasinya di hadapan lawan bila hadits-hadits tersebut telah sesuai dengan madzhab yang mereka ikuti dan pendapat yang mereka yakini. walau tidak didukung satu dalil pun atau tidak meyakinkan. Setiap fondasi tanpa bangunan." Orang alim itu adalah Imam Syafi'i. Padahal keduanya sama-sama dibutuhkan dan tidak bisa ditinggalkan dalam menuju cita-cita kehidupan. tidak memahami maknanya.

Abd al-Khaliq ibn Isa. Lalu. mereka saling mengkafirkan yang kemudian memuncak pada peperangan antar sesama Muslim. 469 Hijrah. Muhammad ibn al-Hasan dan para tokoh sahabat serta murid-muridnya yang lain. TINJAUAN KRITIS ATAS SEJARAH FIQH (6/10) Dari Fiqh Al-Khulafa' Al-Rasyidin Hingga Madzhab Liberalisme oleh Jalaluddin Rakhmat Pada madrasah Nizhamiyah. namun mereka Saya lihat para pendukung Malik tidak menerima riwayat dari padanya kecuali yang melalui Abu al-Qasim (Rasul Allah). dan para pendahulu yang setingkat dengan mereka. terhadapnya. mereka tidak akan menerima. al-Jiziy dan sebagainya. tapi juga menimbulkan perpecahan di kalangan kaum Muslim. Metro Pondok Indah Pondok Indah Plaza I Kav. -------------------------------------------. Mereka hanya menerima riwayat al-Muzany dan al-Raby ibn Sulayman al-Murady. Sebagai contoh adalah peristiwa yang terjadi di Baghdad. Pengikut al-Qusyayry menutup pintu-pintu pasar madrasah Nizhamiyah. telah terjadi beberapa kali. ashhab (para sahabat). (021) 7501969. (021) 7507174 Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota Please direct any suggestion to Media Team Artikel Yayasan Paramadina Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota IV. Demikianlah keumuman sikap setiap imam dan gurunya masing-masing.segera mencari kepercayaan umat tidak ikut bertanggungjawab. Maka pendapat yang datang dari Al-Hakam tidak memiliki keistimewaan di mata mereka. kelompok terhadap madzhab Fanatisme madzhab bukan saja telah menghambat pemikiran. Dalam sejarah. Mereka mau menerima riwayat dari padanya kecuali yang melalui Abu Yusuf. Al-Qusyayry berkata: "Perdamaian macam apa yang harus ada diantara kami? Perdamaian . Begitu juga para pengikut al-Syafi'i. Pemerintah kemudian mengumpulkan wakil kedua belah pihak dan meminta supaya mereka berdamai. Maka bila datang riwayat Harmalah. Ia selalu mengecam Ahmad ibn Hanbal dan para pengikutnya sebagai penganut antropomorfisme.22. menghancurkan otak-otak cemerlang. mereka tak memperhatikan dan tak menganggapnya sebagai pendapat al-Syafi'i. UA 20-21 Jakarta Selatan Telp. 7501983. terjadilah pertumpahan darah antara kedua golongan. Ibn al-Qusyayry al-Syafi'i memegang kekuasaan. 7507173 Fax. Dengan bantuan penguasa ia menyerang pemimpin Hanbaly. Bila pendapat itu datang dari al-Hasan ibn Ziyad dan pendapatnya berbeda dengan riwayat yang melalui mereka.(bersambung 6/10) Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah Editor: Budhy Munawar-Rachman Penerbit Yayasan Paramadina Jln.

di zaman kemandegan pintu ijtihad. yang ditutup adalah ijtihad muthlaq. kita dapat mengelompokkan dua macam ijtihad: ijtihad muthlaq dan ijtihad fi al-madzhab. Maka perdamaian macam apa yang bisa berlaku di antara kami. Sementara itu menurut Maliky. mungkin karena ia berijtihad dengan metode yang sama untuk menjawab masalah-masalah yang belum dipecahkan imam mazhabnya. meski pada tiap zaman boleh saja tak ada mujtahid mustaqil. penutupan pintu ijtihad pada saat ini. Di sini mujtahid berpegang pada metode ijtihad imam mazhabnya. seorang mujtahid mengembangkan metode ijtihadnya secara mandiri dan mengeluarkan hukum-hukum berdasarkan metodenya itu. Kaum Muslim mundur karena meninggalkan ijtihad sehingga mereka menjadi seperti yang kita lihat sekarang ini. tapi tak boleh tidak harus ada mujtahid fi al-madzhab. Namun sebaliknya menurut kebanyakan Hanbaly. Yang dapat melakukan ijtihad jenis ini disebut mujtahid mustaqil (mujtahid independen). Sebalikaya. Maka ketika satu madzhab memperoleh kekuasaan. atau mentarjih (memilih yang terkuat) pendapat imam yang bermacam-macam itu. mengikuti gurunya Syaikh Muhammad Abduh. Demikian catatan Abu Zahrah tentang tertutupnya pintu ijtihad. penutupan pintu ijtihad terjadi karena ada anggapan bahwa tidak ada ulama yang memenuhi persyaratan seperti keempat imam itu. ia tentu saja masih menggunakan fatwa imam mazhabnya sebagai rujukan. setiap zaman tak boleh kosong dari mujtahid mustaqil. Karena itu. Jika kita membaca kitab-kitab sejarah madzhab. Menurut para pengikut madzhab Syafi'iy dan kebanyakan Hanafi. Sebenarnya. campur tangan penguasa dalam kekuasaan kehakiman dan kelemahan posisi ulama dalam menghadapi umara. Walau tak diketahui secara pasti sejak kapan. Bahayanya banyak --berakibat pada terbengkalainya akal. Dalam hal ini. ia disebut mujtahid muntasib. Muhammad Farouq al-Nabhan menyebut tiga sebab stagnasi pemikiran pada zaman ini: faktor-faktor politik. mengecam penutupan pintu ijtihad yang mana pun: "Kita tidak menemukan manfaat apa pun dari penutupan pintu ijtihad". Sedangkan kaum ini menganggap kami kafir dan kami menganggap orang-orang yang aqidahnya tidak sama dengan kami juga kafir." PENUTUPAN PINTU IJTIHAD Walau ada pembagian ijtihad yang bermacam-macam. SEBAB-SEBAB STAGNASI Dr. Pada ijtihad muthlaq. atau menafsirkan yang mujmal menjelaskan yang mubham dari ucapan imam. kita ingin menegaskan kembali bahwa madzhab berkembang karena dukungan politik. ijtihad mustaqil sudah tertutup. Namun kenyataannya. terputusnya pengembangan ilmu dan terhalangnya kemajuan pemikiran. terus berkembang. kita akan menemukan bagaimana seseorang yang .terjadi di antara orang yang memperebutkan kekuasaan atau kerajaan. Sayyid Rasyid Ridha. pemikiran yang bertentangan dengan madzhab itu ditindas. tapi boleh saja menghasilkan kesimpulan furu'iyyah yang berbeda dari imam mazhabnya. Untuk yang pertama. Adapun ijtihad fi al-madzhab. menurut Abu Zahrah. lebih ditujukan pada ijtihad muthlaq. di kalangan Syi'ah tidak pernah dikenal tertutupnya pintu ijtihad.

Ketika Allah menurunkan ayat dalam Kitab-Nya tentang Zaid ibn Haritsah --panggillah mereka dengan nama bapak-bapak mereka. terbaginya para mujtahid berdasarkan madrasah tempat mereka belajar. dikembalikan kepada mawlanya. Bila tidak diketahui bapaknya. dan menyebarnya penyakit akhlak seperti hasud dan egoisme di kalangan ulama. dan berkata: "Ya Rasul Allah. Contoh terakhir adalah pernyataan para ulama Rabithah yang mendukung kehadiran tentara Amerika di Jazirah Arab.telah mengangkat Salim sebagai anaknya. Qadhi tidak ingin mengambil risiko berbeda pendapat dengan madzhabnya. menyebarnya ulama mutathaffilin (ulama yang memberi fatwa berdasarkan petunjuk Bapak). Qadhi diangkat oleh penguasa. yang ikut menyaksikan perang Badar-.berbeda madzhab atau berganti madzhab menghadapi berbagai cobaan. bagaimana menurut . Setelah invasi. Abu Hudzaifah menikahkan Salim --yang dipandang sebagai anaknya itu-. Di samping itu. Abd al-Wahhab Khalaf menyebutkan empat faktor yang menyebabkan kemandegan. para ulama dari 70 negara Islam menyatakan bahwa Saddam sebagai mujahid Islam yang taat pada Allah dan al-Qur'an. ijtthadnya hanyalah dalam rangka memberikan legitimasi pada kebijakan penguasa. mengangkat Zaid ibn Haritsah sebagai anak. Karena itu. Empat puluh tiga hari sebelum Saddam menyerbu Kuwait. posisi ulama yang lemah memperkuat fanatisme madzhab. Ulama sangat bergantung kepada umara. Kami hanya mempunyai rumah satu. kalau pun ulama berijtihad. Di sini harus dicatat: dalam sejarah.datang menemui Rasulullah saw. ia mendapat satu pahala. sebagaimana Rasulullah saw. para ulama yang sama menyatakan Saddam sebagai bughat dan pemimpin dhalim. Ia berkata: 'Urwah bin Zub air mengabarkan kepadaku bahwa Hudzaifah bin 'Utbah bin Rabi'ah --salah seorang sahabat Nabi saw. karena ia dapat dikucilkan oleh masyarakat. Itu lebih adil di sisi Allah. 5. Ia sering masuk ke rumahku dan aku dalam keadaan fudhul (memakai busana rumah yang tidak menutup aurat). Bukankah ini ijtihad dan setiap ijtihad selalu mendapat pahala? Bila ijtihadnya salah. Waktu itu ia termasuk wanita muhajirat yang awal dan gadis Quraysy yang utama. Lebih-lebih bila berbeda pendapat dengan madzhab penguasa. yang paling aman adalah mengikuti pendapat para imam mazhab yang sudah dibukukan. Untuk sebab kedua. Ia ditanya tentang menyusui orang dewasa. dan bila benar dua. para penguasa Muslim lebih sering menindas kebebasan pendapat dari pada mengembanghannya. maka mereka adalah saudaramu dalam agama dan mawla-mawla kamu --maka dikembalikanlah setiap orang di antara mereka itu kepada bapaknya. Sahlan binti Suhail --istri Hudzaifah dari Bani Amir-. demi "ketertiban dan keamanan". Jika kamu tidak mengetahui bapak-bapak mereka.dengan anak saudara perempuannya Fathimah bint al-Walid bin 'Utbah bin Rabi'ah. telah ditunjukkan bagaimana para ulama berebutan menjadi qadhi. Sehingga ia disebut Salim mawla Abu Hudzaifah. Dalam posisi seperti itu. FIQH DITELAAH KEMBALI: FIQH KAUM PEMBARU "Yahya memberitakan kepadaku dari Malik dari Ibn Syihab. Yaitu terpecahnya kekuasaan Islam menjadi negara-negara kecil hingga umat disibukkan dengan eksistensi politik. Umara tentu saja selalu berusaha mempertahankan status quo. kami menganggap anak kepada Salim. didiskreditkan ulama dan diadukan pada penguasa.

Dua peristiwa di atas diambil dari kitab-kitab yang menjadi rujukan dalam menjawab masalah-masalah fiqhiyah. Dari fenomena tersebut. Aisyah mengambil cara ini bila ada laki-laki yang ingin masuk ke rumahnya Ia menyuruh saudaranya. yang harus ditinjau bukan saja al-adillat al-syar'iyat. Kesimpulan terakhir ini telah disepakati fuqaha. Ahkam al-Qur'an 2:565). Mungkinkah ini hanya fiqhnya 'Aisyah. Orang A'raby itu berkata: Aku minum dari minumanmu. Yang kemudian menjadi persoalan adalah tindakan 'Umar. ternyata "Kembali kepada al-Qur'an dan al-Sunnah" tidak segampang seperti yang dibayangkan. Yang dipersoalkan bukan hanya penafsiran nash-nash tetapi juga metode pengambilan keputusan. campurkan air ke dalamnya.Anda? Rasulullah saw. (Malik. Apakah perilaku 'Umar dapat dijadikan model dalam pengambilan kesimpulan hukum? Apakah pendapat para sahabat dapat dijadikan hujjah dalam agama? Apakah tindakan 'Umar itu suatu preseden bolehnya meninggalkan nash-nash syari'at bila kondisi berubah? Pertanyaan-pertanyaan tersebut merupakan problema yang dihadapi para pembaru Islam ketika mereka menelaah kembali fiqh yang ada. Dari peristiwa yang pertama para faqih menyimpulkan beberapa hukum: (1) Batas susuan yang menyebabkan seorang haram dinikahi adalah lima kali susuan. Ia berkata: Siapa yang ragu untuk meminumnya. tetapi juga ushul al-fiqh. Bagaimana mungkin Nabi saw menghalalkan sesuatu dengan tindakan yang haram? (Bukankah bersentuhan dengan perempuan yang bukan muhrim itu haram. (Al-Jashash. Tentu saja fuqaha mazhab-mazhab yang lain menolaknya. Dengan merujuk pada hadits yang mengharamkan minuman keras --baik sedikit maupun banyak mereka telah membenarkan halalnya minuman keras karena dicampur air. Bukankah istri-istri Nabi saw yang lain menolaknya? Bukankah pada kitab hadits yang sama Umar ibn Khatab dan Abdullah ibn Mas'ud hanya membenarkan susuan pada waktu kecil saja? Peristiwa yang kedua dijadikan dalil oleh sebagian pengikut madzhab Hanafi untuk menghalalkan minuman keras (khususnya Nabi) bila dicampur dengan air. Istri-istri Nabi saw yang lain menolak untuk mengizinkan laki-laki masuk ke rumah dengan susuan seperti itu. 'Umar meminta minumannya itu. kemudian meminumnya. Slogan yang di Indonesia didengungkan kaum modernis ini. berkata kepadanya: "Susukanlah dia lima kali susuan sehingga ia menjadi muhrim dengan susunya". Setelah itu ia memandangnya sebagai anak susuan. . kecuali bila laki-laki itu saudara sepesusuan. Umu Kultsum binti Abu Bakar al-Shiddik dan anak-anak perempuan saudaranya untuk menyusukan laki-laki yang ingin masuk ke rumahnya. Mereka mempersoalkan cara menyusukan itu. lalu mencampurkan air ke dalamnya. (3) Dianjurkan menyusukan orang yang sudah dewasa supaya ia halal masuk ke rumah seorang perempuan. (Ia mabuk) dan 'Umar menetapkan hukum cambuk baginya. apalagi menyusu kepadanya?). Al-Muwatha 2: 115-116) Contoh lain: "Seorang A'raby meminum minuman 'Umar. (2) Tidak boleh laki-laki yang bukan muhrim memasuki rumah seorang perempuan. Ibrahim al-Nakhti meriwayatkan hadits yang sama dari 'Umar dan berkata: 'Umar meminumnya setelah mencambuk orang A'raby itu. Dalam istilah fiqh.

Ibn Taymiyah memperkuat gerakan anti rasionalisme ini dengan menolak setiap penggunaan logika dalam khazanah ilmu-ilmu Islam dan sekaligus menolak praktek-praktek yang tidak ada dasarnya dalam teks al-Qur'an dan hadits. filsuf dan sufi. dan yang ada hanya ijtihad. ia mencela kaum mutakallim. tapi berusaha menangkap menurutnya. Yang paling dekat dengan ahl al-ra'y adalah madzhab Hanafi. tugas ahli fiqh hanyalah mencari nash yang relevan. sekaligus merupakan fiqh baru yang dapat menjawab masalah-masalah baru akibat perubahan masyarakat. Mazhab-mazhab fiqh terletak di antara kedua ekstrim itu. dan menolak qiyas kecuali dalam keadaan terpaksa. Mereka menolak ta'wil dan menerima hadits secara harfiyah. the introvert warmth and other wordly pety of the mystic way. memang lebih terkenal sebagai ahli hadits dari pada ahli fiqh. Imam Ahmad ibn Hanbal. Karena itu.. Yang kedua berdasarkan fiqh pada hadits walaupun lemah dan menolak penggunaan rasio. maqashid syar'iyah dan sebagainya.C. . dan terutama sekali pada Daud al-Zhahiri. tema umum Islam. ada dua aliran besar dalam fiqh Islam: ahl al-Ra'y dan ahl al-Hadits. Berbagai upaya rekonstroksi fiqh di dunia Islam sekarang ini berangkat dari kedua aliran tersebut. Skripturalisme dan liberalisme keduanya berusaha mendobrak kebekuan pemikiran Islam. Jadi fiqhnya selalu merujuk pada nash-nash al-Qur'an atau hadits. dalam upaya menelaah kembali fiqh. Arkoun menyebut aliran ini logosentrisme yang ia gambarkan sebagai berikut: Di samping aliran ini ada aliran yang sangat menekankan rasio (akal). kita harus memulai dengan menyorot kedua aliran ini secara kritis dibahas skriptularisme. yaitu liberalisme.the alien intellectualism not only of philosophy but also theology" (Smith. bila ada. . Paham Ibn Taymiyah dihidupkan kembali oleh Muhammad ibn Abd al-Wahab lima abad kemudian. LATAR BELAKANG SKRIPTURALISME Seperti diketahui dalam fiqh tabi'in. fatwa para sahabat. makna hakiki dari teks. berkata: "Madzhab kami mengikuti dalil. Muhammad ibn Abd al-Wahab menolak "the corruption and laxity of the contemporary decline. kesetiaan pada teks sangat ekstrem. Yang pertama menekankan rasio dalam pengambilan keputusan.. ketika menyampaikan khutbahnya di Makkah tahun 1355. setelah orang merasa perlu membuka kembali pintu ijtihad. Karena itu. Dalam kalimat W. Smith. 1968:42). Seperti Ibn Taymiyah. Aliran tersebut sebenarnya adalah skripturalisme. Aliran ini tak lagi terikat dengan bunyi teks.. Semuanya terjadi karena Ahmad mendasarkan mazhabnya pada hadits Rasulullah saw (meski lemah). Ibn Qutaybah memasukkan Ahmad di antara muhadditsin dan Ibn Jarir al-Thabari menolak Ahmad sebagai ahli fiqh. The Encyclopedia of Islam menyebut Ibn Taymiyah sebagai the bitter enemy of innovations. dan yang paling dekat dengan ahl al-hadits adalah mazhab Hanbali. Makna ini dianggap sebagai ruh ajaran Islam. Pada Ibn Hazm. bila tidak ada. yang mengumpulkan ribuan hadits dalam musnadnya.sebetulnya hanyalah salah satu aliran peninjauan kembali fiqh. yaitu aliran yang berpegang kepada teks-teks syari'at secara kaku. Raja Malik ibn Abd al-Aziz. 1987:95). kami mengikuti ijtihad Ahmad ibn Hanbal: (Mughniyah.

Ada beberara kegagalan skripturalisme. dan kembali kepada al-Qur'an dan hadits sebagai satu-satunya jalan untuk memecahkan segala persoalan Islam. mereka menetapkan keharusan percaya bahwa Ia turun ke langit dunia. Mereka melihat masa Salaf sebagai model.22. Praktek-praktek keagamaan yang tidak secara spesifik ditunjukkan dalam nash. dianggap bid'ah. Filsafat bukan saja dijauhi. Karena skriptualisme menerima teks-teks al-Qur'an dan hadits dengan apa adanya. Kedua. 7507173 Fax. mereka telah mematikan telaah filosofis. (021) 7507174 Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota Please direct any suggestion to Media Team Artikel Yayasan Paramadina Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota IV. tidak ada contohnya dari Nabi saw). Dengan menolak ta'wil. Wacana teologi menjadi gersang. menurut Fazlur Rahman. membaca shalawat kepada Nabi saw. tetapi juga dikafirkan.menyelenggarakan upacara tahlilan dan marhabanan dianggap tidak mengikuti sunnah Rasulullah saw (dalam bahasa orang awam. 7501983. yang mencoba menangkap makna batiniyah dari nash-nash. Pertama.(bersambung 7/10) Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah Editor: Budhy Munawar-Rachman Penerbit Yayasan Paramadina Jln. Qunut pada shalat Subuh. (021) 7501969. skriptualisme menyingkirkan pengalaman mistikal dari kehidupan beragama. dianggap sesat. they inevitably took a negative attitude toward the intellectual and spiritual developments that had taken place in the intervening centuries" (Rahman. dalam aqidah. mempengaruhi banyak aliran pembaharuan di seluruh dunia. tertawa dan sebagainya. yang kemudian menjadi paham resmi Arab Saudi. Pada saat yang sama. Metro Pondok Indah Pondok Indah Plaza I Kav.Paham ini. mengucapkan doa yang tidak ma'tsur. UA 20-21 Jakarta Selatan Telp. 1981:26). Selanjutnya. yang disebut bid'ah adalah apa saja yang tidak merujuk pada dalil yang telah dipilihnya. --dan di Indonesia-. membaca dzikir bersama. Kaum sufi. TINJAUAN KRITIS ATAS SEJARAH FIQH (7/10) Dari Fiqh Al-Khulafa' Al-Rasyidin Hingga Madzhab Liberalisme oleh Jalaluddin Rakhmat KEGAGALAN SKRIPTURALISME Keyakinan bahwa kesetiaan pada teks al-Qur'an dan hadits cukup untuk memecahkan persoalan ternyata hanya simplikasi. "since the leaders of these movements were interested in negating some of the influences of the medieval school of islamic thought and law. duduk di atas 'arasy. mengobrol dengan ahli surga. -------------------------------------------. .

Al-masail al-lafzhiyah --seperti makna lughawi. makna 'am dan khash dan sebagainya. Muncullah para "mujtahid" yang tidak berkualifikasi. zakat emas dan perak. Ketiga. kelima. Madzhab yang lain akan dianggap menyimpang dari al-Qur'an dan sunnah. Keempat. Dengan menyingkirkan mistisisme. kaum skripturalis telah menghilangkan pengalaman beragama (religious experiences) yang emosional. yang menolak qiyas. Terakhir. makna haqiqi dan majazi. yang memuncak pada fragmentasi umat. menggunakannya dalam menjelaskan zakat profesi. paham ini melahirkan orang-orang yang wawasannya sempit. skripturalisme tidak dapat menyelesaikan kemusykilan-kemusykilan yang terjadi ketika melakukan istidlal (memberikan dalil-dalil hukum) dari nash-nash. Pada tahap institusional. penentuan keshahihan hadits. Dalam skala makroskopis. Mereka membentuk kelompok-kelompok. tapi merasa faqih. bukan tidak mengikuti sunnah. qawaid ushul al-fiqh dan masalah-masalah lain yang berkaitan dengan penafsiran nash tidak mendapat perhatian. orang-orang awam tidak merasa perlu lagi dengan kehadiran fuqaha. Para pengikutnya tidak lagi "menikmati" agama dan sebagian mengalami ketidakpuasan rohaniah. tetapi tanpa aturan yang konsisten. kita dapat merumuskan kaidah-kaidah baru dalam menegakkan fiqh yang lebih relevan dan signifikan. 6. tetapi tidak berdasarkan dalil yang disetujui mereka. mudah mendorong orang ke arah fanatisme. mukhtalaf al-hadits. Ada yang mengqiyaskan zakat profesi dengan zakat pertanian. Salah satu contoh adalah perbincangan tentang zakat profesi atau pekerjaan-pekerjaan yang tidak diwajibkan zakat padanya. Tidak ada maksud saya --dan bukan tempatnya di sini-. Kritik terhadap skripturalisme sama sekali tidak dimaksudkan untuk membela liberalisme. Akibat kegagalan skripturalisme tersebut. orang tidak memberikan solusi terhadap segala kemusykilan ini.Padahal. Yang pertama kita sebut skripturalisme (sudah dibicarakan) dan kedua.untuk merinci dalil-dalil orang-orang yang mempraktekkan upacara-upacara agama tersebut. Sebagian kaum modernis di Indonesia. skripturalisme. dan zakat perdagangan. liberalisme juga sangat rentan terhadap berbagai problem. FIQH KAUM PEMBARU: MADZHAB LIBERALISME Seperti telah disebut di atas. skripturalisme terbukti tidak menjawab berbagai masalah kontemporer. karena menolak wacana intelektual. Sebagian di antara mereka akhirnya menggunakan qiyas juga. saya akan mengutip deskripsinya tentang kaum liberalis . karena berusaha secara bebas untuk menggunakan penalaran. Tulisan ini hanya ingin mengingatkan kita akan pentingnya penilaian kritis terhadap pendekatan pada fiqh. makna 'urfi (kebiasaan). Melalui studi kritis terhadap keduanya. Pada gilirannya. Bukankah segala persoalan dapat diselesaikan dengan merujuk pada dalil-dalil al-Qur'an dan hadits. saya kira. Walaupun saya tidak akan membahas pokok-pokok pikiran kaum liberal Islam seperti yang dipaparkan Leonard Binder. para pembaru mencoba mendobrak stagnasi dengan melakukan salah satu di antara dua pilihan. kita sebut liberalisme. Mereka kembali secara ketat pada teks-teks al-Qur'an dan al-hadits atau mereka berusaha menemukan ruh atau semangat dari ajaran al-Qur'an dan al-hadits.

makna wahyu di luar arti lahiriah dari kata-kata. ijtihadnya boleh jadi benar atau salah. Setelah itu. Mereka menerima yang pertama secara ta'abbudi. tapi kaum liberalis modern justru mengambil inspirasi dari tafsir bi al-ma'tsur. Bukankah Nabi mengatakan. the language of the Qur'an is coordinate with the essence of revelation. sesudah mengutip sejarah ijtihad bi al-ra'y saya akan mengutip juga perkembangan tafsir bi al-ma'tsur. Nabi menginginkan agar para tawanan Badar dibebaskan dengan tebusan. seeking that which is represented or revealed by language. Mereka bersedia meninggalkan makna lahir dari teks untuk menemakan makna dalam dari konteks. For Islamic liberals. there is a need for an effort at understanding which is based on the words. Jadi ciri khas kaum liberalis ialah upaya untuk menangkap esensi wahyu. but which goes beyond them. Yaitu yang berhubungan dengan ibadah ritual (kelak disebut huquq Allah) dan yang berhubungan dengan masalah-masalah sosial (kelak disebut huquq al-'ibad). Pada bagian kedua. pada akhirnya saya akan mengajukan kritik. Dalam keadaan sakit. TRADISI IJTIHAD BI 'L-RA'Y Ketika [brahim Hosen berbicara tentang ta'aqquli dan ta'abbudi. Karena itu. Rasulullah saw sering berijtihad. tapi Umar melarangnya. Di tangan kalian ada kitab Allah. "Dengan ini kalian tidak akan sesat selamanya"' kata Nabi.Islam. secara khusus kita akan mengambil contoh pemikiran Ibrahim Hosen dan Fazlur Rahman untuk menggambarkan pokok-pokok pemikiran kaum liberalis. Seperti biasa. SEJARAH MADZHAB LIBERALISME Fiqh kaum liberal dapat dilacak pada madzhab ahl al-ra'y di kalangan para sahabat Nabi. keduanya menggaungkan kembali perbedaan pendapat para sahabat tentang sunnah Rasullah saw. Di bawah ini saya akan mengulangi lagi akar pemikiran kaum liberalis dengan mengutip apa yang pernah saya tulis pada pengantar buku Islam dan tantangan Modernitas. Apakah Nabi Muhammad saw berijtihad? Banyak para sahabat membagi perintah-perintah Nabi ke dalam dua bagian. Nabi menyuruh sahabatnya mengambil dawat dan pena untuk menuliskan wasiatnya. Fiqh al-ra'y sebenarnya sejajar dengan tafsir al-Qur'an bi al-dirayat. Nabi hendak menshalatkan 'Abdullah ibn Ubayy. dan ketika Rahman mengulas pemikiran modernis dan fundamentalis. Umar berkata. Cukuplah buat kita kitab Allah itu. di sini para sahabat tidak merasa terikat dengan sunnah." Tampaknya Umar berpendapat bahwa kondisi sakit Nabi melahirkan ijtihad Nabi yang tidak perlu diikuti. "Kamu lebih tahu urusan duniamu?" Bukhari meriwayatkan peristiwa yang oleh Ibn 'Abbas disebut sebagai "tragedi hari Kamis". Dalam kasus-kasus ini. Since the words of the Qur'an do not exhaust the meaning of revelation. Karena itu. dan yang kedua secara ta'aqquli. wahyu . sedangkan 'Umar mengusulkan untuk membunuh mereka. but the content and the meaning of revelation is not essentially verbal. "Nabi saw dalam keadaan sakit parah. Para ahli hadits meriwayatkan berbagai peristiwa ketika ijtihad Nabi berbeda dengan ijtihad 'Umar. dan Allah membenarkan ijtihad 'Umar.

kemudian kita pun menyebut madzhab pemikiran mereka sebagai madzhab Umari. dari Umar. 'Umar bertanya: "Apa yang menyebabkan Anda dan sahabat Anda menangis? Kalau ada sesuatu yang patut aku tangisi. Sebagai lawan mereka --dalam pemikiran-adalah madzhab Alawi. sangat takut kepada Umar dan tidak menemukan orang yang melawan pendapat Umar kecuali Ali ibn Abi Thalib. Kalau tidak. ia berasal dari Allah dan bila salah ia berasal dari setan. yang berkata: "Barang siapa melakukan tamattu'. Utsman berkata: "Aku tidak melarangnya." Abdullah ibn Mas'ud berkata seperti itu juga: "Aku mengatakan ini dengan ra'yuku. disertai Abu Bakar pernah menangis terisak-isak menyesali kekeliruan ijtihadnya." kata Nabi. "tidak akan ada yang selamat kecuali Umar ibn Khaththab." Ketika Ali menegur Utsman yang melarang tamattu'. Fiqh al-ra'y makin diperteguh dengan kecenderungan umum madzhab Umari untuk mengabaikan penulisan hadits." Kita pun kemudian mengetahui bahwa di Madinah. Ibn Katsir. Diriwayatkan bahwa Nabi saw. Ali tetap tinggal di Madinah. Kalau tidak ada tangisan. "Ia tidak berbicara berdasarkan hawa nafsunya. Kalau orang mau. Ibn Abi al-Hadid membenarkan kedua sahabat itu. Allah dan Rasul-Nya terlepas darinya. menulis: "Para sahabat r. "Seandainya azab turun. Pada suatu pagi. ia sudah menjalankan kitab Allah dan sunnah NabiNya. Ketika Abu Bakar dan Umar meninggalkan pasukan Usamah." Para tabi'in dari Kufah kelak berguru kepada Abdullah ibn Mas'ud. "Sesungguhnya Nabi saw mengirimkan pasukan itu berdasarkan Ijtihad dan bukan berdasarkan wahyu yang diharamkan membantahnya. Ketika Umar dan Utsman --pada zamannya masing-masing melarang haji tamattu" Ali menentangnya. sehingga lahirlah mazhab Kufah yang menitik-beratkan Fiqh al-ra'y. Kalau benar. dalam kitab tarikhnya. Ketika Utsman melarang menggabungkan haji dengan 'umrah. ia datang menemuiku dan berkata. aku akan menangis. 'Aisyah melaporkan: "Ayahku telah mengumpulkan 500 hadits Nabi saw." Umar juga diriwayatkan berkata: "Inilah ra'yu Umar." Nabi kemudian menceritakan tentang wahyu yang membenarkan Umar dan menyalahkan Nabi. Bila benar.selalu turun membenarkan Umar. yang terdiri atas sahabat-sahabat yang berkumpul di sekitar Ali ibn Abi Thalib. tinggalkan saja." Hadits-hadits di atas --walaupun keabsahannya harus kita teliti secara kritis-. aku akan berupaya menangis seperti tangisan Anda." Karena Umar adalah primadona dari kelompok pertama para sahabat ini. "ambilkan . padahal Nabi memerintahkan mereka untuk berada di dalamnya. berkembanglah madzhab Hijaz. Ini hanyalah ra'yu yang aku pegang. yang menekankan Fiqh al-atsar. dari Allah dan kalau salah.a. Tidak ada ijtihad Nabi. silakan ambil ra'yu-ku. ia menegur Ali: "Kau lakukan itu padahal aku melarangnya?" Ali menjawab: "Aku tidak akan meninggalkan sunnah Rasulullah saw karena (ra'yu) salah seorang manusia. sebelum ia memindahkan ibu kota ke Kufah pada masa kekhalifahannya. Mereka tidak membedakan huquq al-'ibad dan huquq Allah dalam instruksi-instruksi Nabi yang bernilai tasyri'. daerah Hijaz. tetapi ia hanya berbicara berdasarkan wahyu yang diturunkan kepadanya.merupakan justifikasi terhadap peluang menggunakan ra'yu dalam menghadapi sunnah (yang berasal dari Ijtihad Nabi)." (QS 53:3). Sementera itu.

kecuali satu buku saja. Ibrahim al-Nakha'i. dan berkata: "Kalian meriwayatkan dari Rasulullah saw. Prinsip mereka dalam pengambilan hukum. fiqh al-ra'y dan fiqh al-atsar ini tidak terpilah tegas. Alasan Umar: "Aku khawatir hadits-hadits itu akan memalingkan orang dari Kitab Allah. Hanya intensitas penggunaannya sangat sedikit. yaitu. Kaidah mereka: la ra'yu fi al-din (tidak ada tempat rasio dalam agama). "Hasbuna Kitab Allah. Metro Pondok Indah . ia lemparkan semua tulisan. Ashim. Abu Burdah. khusus di kalangan ahl al-Sunnah. tetapi membentuk kontinum.kepada al-Qur'an. Nanti." Abu Bakar juga pernah mengumpulkan orang setelah Nabi wafat. yang pertama kali melakukan tadwin hadits adalah Ibn Syihab al-Zahri atas perintah Umar ibn Abd al-Aziz. Rasul Ja'farian menyebutkan nama-nama ulama tabi'in yang melarang penulisan hadits. karena diprakarsai Dawud al-Zhahiri yang dilanjutkan Ibn Hazm dalam kitabnya al-Muhalla. Di kalangan madzhab-madzhab ahl al-Sunnah. Sesungguhnya maslahat yang difatwakan sahabat tidak bertentangan dengan nash. madzhab ini sebenarnya juga menggunakan rasio. Abu Zahrah menulis: "Tidak seorang sahabat pun meninggalkan nash demi ra'yunya atau kemaslahatan yang dipandangnya. Madzhab yang menggunakan kaidah semacam ini disebut madzhab al-Zhahiri.". berdasarkan pemahaman yang benar akan maksud-maksud syara'. Sa'id ibn Jubair. dan meninggalkan hadits-hadits itu padamu. manusia sesudahmu akan lebih daripada itu. Ke dalamnya." Lalu saya berikan kepadanya. Untuk menangkis tuduhan bahwa Umar sering meninggalkan nash-nash al-Qur'an secara sengaja. halalkan yang halal dan haramkan yang haram." kata Umar. Al-Hasan ibn Abi al-Hasan --menjelang kematiannya-. -------------------------------------------. jawablah: "Di antara Anda dan kami ada Kitab Allah. penulisan hadits terlambat sekitar dua abad. periwayatan hadits tetap berlangsung sampai zaman Umar. dan lain-lain. hadits-hadits yang kalian perselisihkan.memerintahkan pembantunya untuk menyalakan api pembakaran. Bila ada yang bertanya kepada kalian. Sejarah singkat madzhab 'Umari ini menunjukkan tiga ciri khasnya: (1) madzhab ini memusatkan perhatian utamanya --dan seringkali dengan mengabaikan yang lain-. dan (3) madzhab ini menekankan aspek maqashid syar'iyyah atau kemaslahatan umat untuk menetapkan hukum. Janganlah meriwayatkan sesuatu pun dari Rasulullah saw.dilanjutkan oleh tabi'in.(bersambung 8/10) Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah Editor: Budhy Munawar-Rachman Penerbit Yayasan Paramadina Jln." Tradisi pengabaian penulisan hadits --dan sekaligus pembakarannya-. Ali Yafie melukiskannya sebagai lingkaran-lingkaran: "Lingkaran paling dalam (pertama) merupakan kelompok yang paling sedikit menggunakan ra'yunya. tetapi mengaplikasikan nash secara baik. Madzhab-madzhab itu berbeda dalam intensitas penggunaan nash dan ra'yu. Abu Sa'id.hadits-hadits yang ada padamu. Walaupun begitu. tak memperkenankan penggunaan akal. Ia membakarnya dan berkata: "Saya khawatir. Konon. dan kurang terikat pada zhawahir (makna tekstual) dan nash. saya mati. Disadari atau tidak. Umar menyuruh mengumpulkan hadits-hadits itu dan memerintahkan untuk membakarnya. Akibatnya. (2) madzhab ini mengutamakan ra'yu ketimbang al-Sunnah.

Ali Hasan Abd al-Qadir: "Musuh-musuh Abu Hanifah menuduhnya tidak memberikan perhatian besar pada hadits. marilah kita melihat madzhab Hanafi. madzhab ini lebih banyak menggunakan analogi atau qiyas. "Lingkaran ketiga. Mazhab ini disebut mazhab Hanbali yang dipelopori Imam Ahmad ibn Hanbal. Ia memprioritaskan ra'yu dalam mengeluarkan keputusan . terakhir. 7507173 Fax. adalah mazhab yang frekuensi penggunaan akalnya lebih banyak." Untuk memberikan contoh madzhab yang paling "Umari".Pondok Indah Plaza I Kav. Kaidah mereka adalah al-Mashalih al-Mursalah. ia akan mengambil banyak pendapatku. Bukankah agama itu ra'yu yang baik?" Barangkali ini penegasannya tentang keharusan nash tunduk pada analisis rasional. Doktrin mereka menyatakan bahwa hadits dha'if harus lebih diprioritaskan daripada akal. (021) 7507174 Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota Please direct any suggestion to Media Team Artikel Yayasan Paramadina Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota IV. ia menjawab: "Abu Hanifah adalah orang paling pandai tentang apa yang sudah terjadi. UA 20-21 Jakarta Selatan Telp. Kata Dr.22. Ahmad Amin. Simaklah riwayat yang diceritakan Dr. kurangnya hadits pada Abu Hanifah menunjukkan bahwa ia tidak merasa puas dengan menyampaikan hadits saja. ia menguji hadits dengan pertimbangan psikologis dan konteks sosial. "Lingkaran keempat adalah madzhab Syafi'i yang dipelopori Imam Syafi'i. TINJAUAN KRITIS ATAS SEJARAH FIQH (8/10) Dari Fiqh Al-Khulafa' Al-Rasyidin Hingga Madzhab Liberalisme oleh Jalaluddin Rakhmat "Lingkaran yang kedua. Madzhab ini banyak dilaksanakan di Saudi Arabia." Yang dimaksud dengan apa yang sudah terjadi adalah hadits-hadits Nabi. Doktrinnya menyatakan bahwa rasio harus diperhatikan guna pertimbangan kemaslahatan. Kata Ibn Khaldun. Abu Hanifah pernah dilaporkan berkata: "Seandainya Rasulullah berjumpa denganku. Akal lebih dipentingkan dalam proses pengambilan hukum daripada hadits. 7501983. Madzhab ini dipelopori oleh Imam Hanafi. "Sedangkan kelompok kelima. Dalam proses pengambilan hukum. hal itu dikarenakan Abu Hanifah sangat memperketat syarat-syarat penerimaan hadits. Ketika Raqabah ibn Musqilah ditanya tentang Abu Hanifah. (021) 7501969. Abu Hanifah memang hanya sedikit meriwayatkan hadits. merupakan madzhab yang menggunakan rasio agak lebih intens daripada kelompok pertama tadi. kelompok yang disebut madzhab Maliki yang dipelopori Imam Malik. Apa yang belum terjadi adalah ketetapan hukum berdasarkan qiyas.

Fazlur Rahman dilahirkan. prajurit mendapat satu bagian." Kata Abu Hanifah: "Bila jual beli wajib. pada bab khusus. Lewat tangan-tangan kekuasaan. . ketika merumuskan metodologi ijtihadnya. Daerah-daerah madzhab Hanafi antara lain Mesir dan Pakistan. kritik terhadap Rahman juga dapat dilacak pada kritik fuqaha al-atsar terhadap fuqaha al-ra'y. Ia menolak banyak hadits demi ra'yu. Uraian di atas diberikan untuk menjelaskan dasar-dasar pemikiran Rahman pada perkembangan pemikiran Islam klasik.hanya dapat diterima oleh orang yang tidak mempunyai dasar dalam pemikiran Islam tradisional. Kata Abu Hanifah: "Undian itu judi. menyebut hadist-hadist yang ditolak Abu Hanifah dan mencapai 150 hadits. Ibrahim Hosen mereguk ilmunya.fiqh. Cukuplah dikatakan bahwa dengan mempelajari fiqh-fiqh klasik. Di Pakistan." Ibn Abu Syaibah dalam bukunya. antara lain pada masa al-Mahdi. (Untuk menggembirakan kita semua kedua-duanya berhak disebut Syaikh al-Islam)." Katanya: "Rasulullah berkata. ada baiknya kita juga meninjau perkembangan metodologi penafsiran al-Qur'an. "aku mendengar Yusuf ibn Asbath berkata. TAFSIR BI 'L-RIWAYAT DAN TAFSIR BI 'L-DIRAYAT Fiqh al-atsar mempunyai tandingan dalam tafsir bi al-riwayat. ada empat orang sahabat. Tidak heran kalau Fazlur Rahman sering --bahkan paling sering-menyebut Abu Yusuf. sebagaimana fiqh al-ra'y mempunyai persamaannya dalam tafsir bi 'l-dirayat. Di Mesir." Rasulullah melakukan isy'ar (melukai punggung unta) sebelum menyembelih hewan kurbannya. kita akan terkejut menemukan bahwa klaim orisinalitas pembaruan Rahman --yang berulangkali disebut Taufik Adnan Amal dalam bukunya. Tafsir --menurut Muhammad Ali al-Shabuni-adalah ilmu untuk memahami Kitab Allah yang diturunkan kepada . menerima hadits dengan sikap kritis. sebagai latar belakang teoretis dalam memahami penafsiran al-Qur'an yang dirumuskan oleh Rahman. al-Hadi dan al-Rasyid. Rahman. tidak ada khiyar. Sebelum sampai ke situ. Tafsir Kontekstual-. Ia memuji Abu Yusuf karena memberikan penafsiran yang situasional kepada hadits yang "berdiri sendiri".. dan menetapkan "sunnah yang dikenal baik" sebagai kriteria terhadap "semangat dan sikap kolektif" dari hadits. Kataku: "Berikan sebagian contohnya. sebagaimana kritik Rahman terhadap hadits (sunnah) dapat ditelusuri pada kritik fuqaha al-ra'y terhadap fuqaha al-atsar. kuda mendapat dua bagian. Kata Abu Hanifah: "Isy'ar adalah penganiayaan. Salah satu murid terkemuka dari Abu Hanifah adalah Abu Yusuf. tidak berbeda dari Ibn Taimiyah bagi madzhab Hanbali.. Ia memegang jabatan qadhi pada masa-masa kekhalifahan 'Abbasiyyah. Karena itu. Kita akan membicarakan kritik pembaruan Rahman di akhir tulisan ini. Abu Hanifah menolak 400 atau lebih hadits Nabi saw." Nabi mengundi istri-istrinya kalau mau bepergian." Kata mereka: "Pada zaman Abu Hanifah. madzhab Hanafi tersebar ke seluruh kekuasaan Islam. Kita tidak akan membicarakan pengaruh Abu Yusuf terhadap metodologi Rahman (dan juga Hosen). Kata Abu Hanifah: "Aku tidak akan menjadikan bagian binatang lebih banyak daripada bagian seorang Mukmin. Abu Hanifah tidak tertarik untuk menemui mereka. Abu Shalih al-Fura menuturkan." Nabi bersabda: "Dua jual beli dengan khiyar sebelum keduanya berpisah. bagi madzhab Hanafi.

kita uraikan jalan yang ditempuh oleh al-Thabathaba'i. kita akan melihat problematik al-Qur'an yufassir ba'dhuhu bad'dhan. Rupanya. Ibn Abbas menafsirkan dua kematian dan dua kehidupan dalam surah Ghafir ayat 11 dengan merujuk kepada surah al-Baqarah ayat 28. baru tafsir al-Qur'an dengan al-Sunnah (misalnya. Paling tidak.maka kita menyebutnya tafsir bi al-dirayah atau tafsir bi 'l-ra'y.Nabi-Nya. Di antara jenis-jenis tafsir bi 'l-riwayat. lewat asbab al-nuzul). 7:52. Anehnya. menafsirkan kata zhulm dalam. Selanjutnya. Untuk yang terakhir ini. para mufasir menganggap taisir bi 'l-riwayat adalah yang paling dapat dipercaya. Kemudian Allah menghidupkan mereka di dunia. dan menjelaskan maknanya serta menggali hukum-hukum dari hikmahnya. Abd al-Karim al-Khathib al-Mishri bahkan menamai kitab tafsirnya al-Tafsir al-Qur'ani li al-Qur'an. Akhirnya. yang --menurut Rahman-dapat mengungkapkan latar belakang situasional. Setelah itu Allah mematikan mereka dan menghidupkan mereka kembali pada Hari Kiamat. yang menjadi pijakan Rahman. Di antara kedua jenis tafsir itu. pendapat sahabat dan tabi'in. kita akan menelusuri akar-akar penafsiran Rahman pada tafsir bi 'l-dirayat. tafsir bi 'l-riwayat seperti ini diambil Rahman ketika berbicara tentang hukum Islam dan ditinggalkan Rahman ketika membahas aspek teologis dan eskatologis ajaran Islam. maka tafsir itu disebut tafsir bi 'l-riwayat atau tafsir bi 'l-ma'tsur. serta menggali prinsip-prinsip universal ajaran Islam. Bila tafsir itu diperoleh dengan menukil penjelasan dari al-Qur'an lagi. Banyak kitab tafsir mengaku menggunakan metoda ini. Bila tafsir itu berpijak pada ijtihad mufasir --dengan mengerahkan kemampuan nalar dan/atau intuisinya-. tafsir al-Qur'an dengan al-Qur'an adalah yang paling baik. dari sinilah Rahman mengajak kita untuk menafsirkan al-Qur'an dengan melihat al-Qur'an secara keseluruhan dan dengan melihat "sebab-sebab pewahyuan". kita akan menemukan prosedur penafsiran Qur'ani yang bermacam-macam. Nabi saw. membedakan ketetapan legal dari sasaran dan tujuan al-Qur'an. Rahman hampir sepenuhnya berpijak pada tafsir bi 'l-dirayat. Pertama kali. wa lam yalbisu imanabum bi zhulm (QS 6:82) sebagai syirk berdasarkan ayat inn al-syirk la-zhulm 'azhim (QS 31:13). dalam Tafsir al-Mizan. dari penafsiran QS 31:14 dengan QS 46:15. kemusykilan kedua penafsiran ini akan kita lihat. ketika berada dalam tulang sulbi orang tua mereka. Tradisi Nabi ini dilanjutkan oleh para sahabat. Ali ibn Abi Thalib menyimpulkan bahwa waktu minimal kehamilan adalah enam bulan. al-Hadits. kita akan melacak kemusykilan asbab al-nuzul. Bila kita teliti kitab-kitab itu. Semula manusia mati. Tafsir al-Qur'an dengan al-Qur'an mempunyai basis dalam petunjuk-petunjuk al-Qur'an sendiri (QS 11:1. Untuk mengapresiasi metode penafsiran Rahman. . Sesudah itu. Muhammad saw. kita dapat membaginya ke dalam kelompok: tafsir Qur'ani yang murattab (berdasarkan urutan ayat dari al-Fatihah sampai al-Nas) dan tafsir Qur'ani maudhu'i (berdasarkan tema-tema atau topik-topik tertentu) Untuk mengetahui prosedur penafsiran qurani yang murattab. 2:185) dan al-Sunnah.

ditulis oleh Muhammad al-Baqir al-Abthahi. mempermudah makna yang sulit. Tanpa melihat konteks ayat. Kedua. salah satu aspek dari topik tertentu itu. al-'Alaq ayat 8.. Jadi jelas. Apakah kamu menyembah barang yang kamu pahat. atau bersifat haliyah. dalam satu tempat. Bahwa "apa yang kamu perbuat" adalah berhala-berhala itu. seperti kata-kata yang membentuk kalimat tunggal yang berkaitan dengan lafadz yang ingin kita pahami. al-Najm ayat 42. Seringkali kita mengalami kesulitan untuk memahami ayat atau mengetahui tujuannya karena jarak kita yang jauh dari zaman wahyu. Ayat-ayat itu kemudian disusun dan dirangkai begitu rupa sehingga dihasilkan kesatuan pandangan yang lengkap dan kesatuan pemikiran yang menghimpun dan meliputi seluruh ayat tersebut. dan karena kita tidak mengetahui konteks turunnya ayat itu atau petunjuk-petunjuk situasional yang berlaku pada masyarakat Islam saat itu. padahal Allah menciptakan kamu serta apa yang kamu perbuat (QS 37:96). kita akan terjatuh ke dalam paham Jabbariyah. Tafsir maudhu'i baru muncul belakangan. dan al-Qhashash ayat 88. baik yang bersifat lafdziyah. Pengantar pada tafsir ini --sepanjang pengetahuan saya dari kalangan kaum Muslim-. atau menjelaskan istilah-istilah yang dipergunakan dalam al-Qur'an. ayat "Dan Allah menciptakan kamu serta apa yang kamu perbuat" (QS 37:96)... 26. Yang dimaksud dengan konteks adalah "semua yang mengungkapkan ( makna) lafadz yang ingin kita pahami dari petunjuk-petunjuk yang lain. Kita memperoleh manfaat lain dari pengumpulan ayat-ayat yang berkaitan dengan topik tertentu dengan tetap berpijak pada pandangan Qur'ani yang utuh tentang topik tersebut. Mengumpulkan ayat-ayat dalam hubungannya satu sama lain. dan al-Naml ayat 62.Pertama. seperti kasus-kasus atau fenomena yang menjadi petunjuk bagi topik yang dibicarakan. ". (QS 37:95). Ja'far Subhani menulis serial mafahim al-Qur'an (sampai sekarang sudah selesai lima jilid). Ketua Komisi Fatwa Majelis Ulama .. Yunus ayat 14. Yang dimaksud dengan kata al-mustaqar dalam surah al-Qiyamah ayat 12 adalah "tempat kembali" dengan melihat surah al-Insyiqaq ayat 6. dapat membantu kita dalam menghilangkan kekaburan dan ketidakjelasan." Misalnya. Al-Qur'an menunjukkan dalam setiap surah atau setiap tempat. dengan melihat surah al-A'raf ayat 69. (Kita) kumpulkan setiap ayat yang berkaitan dengan pengertian tertentu dan topik tertentu. kemudian dikumpulkan ayat-ayat yang berkenaan dengan topik tersebut. Perbedaan antara tafsir maudhu'i dengan tafsir murattab mirip dengan perbedaan antara thesaurus dengan dictionary." Yang dimaksud dengan "khalifah" dalam surah al-Baqarah ayat 30 tidak terbatas pada Adam. Ayat ini terdapat dalam kisah ucapan Ibrahim kepada para penyembah berhala. Tafsir maudhu'i dimulai dari topik. Kadang-kadang ayat-ayat yang berkaitan dengan topik tertentu tersebar pada surah-surah yang berbeda atau pada tempat-tempat yang berbeda dalam surah yang sama. Ibrahim Hosen. "ayat-ayat lain dipergunakan untuk memahami ayat-ayat yang mujmal atau sama. tetapi meliputi anak-cucunya. "maka ayat-ayat al-Qur'an dilihat dari konteks ayat-ayat itu" (siyaq al-ayat). dan menjelaskan metodenya sebagai berikut: "." POKOK-POKOK PEMIKIRAN MADZHAB LIBERALISME Pendapat Prof.

Secara operasional. Pertama. pemahaman sasaran al-Qur'an dengan memperhatikan latar belakang sosiologisnya. Ketiga. kita harus mendukung hak pemerintah untuk mentakhshish umumnya nash dan membatasi muthlaqnya. UA 20-21 Jakarta Selatan Telp. kedua.22. Pertama. ketiga. Kita tidak perlu terikat pada teks-teks . Nanti. Kedua. yaitu. TINJAUAN KRITIS ATAS SEJARAH FIQH (9/10) Dari Fiqh Al-Khulafa' Al-Rasyidin Hingga Madzhab Liberalisme oleh Jalaluddin Rakhmat KRITIK PADA FIQH IBRAHIM HOSEN Esensi dari pemikiran Hosen ialah jiwa atau semangat dari al-Qur'an dan Sunnah. kita harus meninggalkan pemahaman harfiah terhadap al-Qur'an dan menggantinya dengan pemahaman berdasarkan semangat dan jiwa al-Qur'an.(bersambung 9/10) Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah Editor: Budhy Munawar-Rachman Penerbit Yayasan Paramadina Jln. Ia mengusulkan enam hal. bergerak dari yang khusus kepada yang umum. 7501983. pendekatan historis untuk menemukan makna teks. kita harus menggeser perhatian dari masalah pidana yang ditetapkan oleh nash kepada tujuan pemidanaan. Dalam perkembangan pemikirannya yang kemudian. TAFSIR KONTEKSTUAL FAZLUR RAHMAN Rahman dalam Tema Pokok al-Qur'an memperinci metodologi penafsiran al-Qur'an dalam tiga langkah. -------------------------------------------. Keempat. prinsip-prinsip umum ini kita aplikasikan untuk memecahkan masalah-masalah konkret dewasa ini. ketiga langkah ini merupakan langkah pertama dalam perumusan prinsip-prinsip hukum Islam. Dari ketiga langkah tersebut di atas. Amal dan Pangabean memperincinya dalam Tafsir Kontekstual al-Qur'an. Metro Pondok Indah Pondok Indah Plaza I Kav. kita harus mengganti pendekatan ta'abbudi terhadap nash-nash dengan pendekatan ta'aqquli. (021) 7501969. kita harus melepaskan diri dari masalikul'illah gaya lama dan mengembangkan perumusan 'illat hukum yang baru. pembedaan antara ketetapan legal dengan sasaran dan tujuan al-Qur'an. 7507173 Fax. Terakhir.Indonesia ini pernah mengajukan saran-saran bagi pembaruan pemikiran keagamaan di Indonesia. kita harus mengambil sunnah Rasul dari segi jiwanya untuk tasyri al-ahkam dan memberikan keleluasaan sepenuhnya untuk mengembangkan teknik dan pelaksanaan masalah-masalah keduniawian. (021) 7507174 Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota Please direct any suggestion to Media Team Artikel Yayasan Paramadina Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota IV. kita harus sanggup menyimpulkan prinsip-prinsip umum ajaran al-Qur'an. Kelima.

Pertama. Pandangan ini menimbulkan beberapa kemusykilan. al-Nur: 31) jelas menunjukkan perintah memakai kerudung sampai menutup dada. Kita harus mencari semangat atau ruh perintah ini. berdasarkan pada 'illat baru. Kata sebagian orang. dengan menetapkan pemerintah sebagai pentakhshish dan pengtaqyid nash. Tetapi yang menjadi persoalan ialah apakah berpegang pada semangat al-Qur'an atau al-Sunnah itu berarti tidak usah setia lagi pada makna lahiriahnya. pemikiran seperti ini tidak memerlukan usaha yang sungguh yang menjadi makna ijtihad. Kita tidak boleh menerima teks-teks itu begitu saja (secara ta'abbudi). Bukan semangat dari ajaran zakat ialah pemerataan pendapatan dan pengurangan kemiskinan? Ketika para sahabat bersiap diri menghadapi perang di bulan Ramadlan. Islam akan dipandang hanya sebagai suplemen dan bukan sebagai alternatif. Dengan cara ini terbukalah peluang untuk memasukkan pikiran-pikiran non-islami ke dalam struktur syari'at Islam. Perintah ini harus dipahami sebagai perintah untuk menahan diri dari perbuatan-perbuatan yang mendorong orang ke arah pemuasaan nafsu. Apakah perempuan tidak perlu memakai kerudung bila ia sudah pandai menjaga diri tidak melakukan tindakan yang "merangsang"? Kita memerlukan kriteria kapan teks harus ditinggalkan demi makna yang lebih dalam dan kapan makna yang lebih dalam itu harus diperlakukan sebagai pengayaan makna lahiriah dan bukan pengabaiannya. Kata "menutupkan kerudung" harus dipahami sebagai kata kiasan. hukum-hukum syari'at dapat berubah. Sekarang kita abaikan makna lahiriah ini. kita meninggalkan makna obyektif yang sudah jelas dan memasuki makna subyektif yang tidak jelas kriterianya. ketika kita harus meninggalkan produktivitas. Kita masih dapat mengumpulkan pendapat-pendapat lain. Kata sebagian orang. yang dimaksud ialah hendaknya wanita memelihara kesucian dirinya dengan menutup diri dari perbuatan-perbuatan yang tercela. Rasulullah menyuruh mereka berbuka. Semangat ajaran Islam itu kesucian diri. Sekarang. karena . kepastian hukum menjadi kabur. Mereka memerlukan tenaga dan kekuatan. Makna lahiriah dari teks. Kita tidak perlu mengeluarkan zakat bila pemerintah sudah melakukan kebijakan pemerataan pendapatan dan memberikan santunan pada fakir miskin. dahulu wanita-wanita Arab itu senang membuka dadanya untuk merangsang kaum pria. Tanpa kriteria ini kaum liberalis dapat membawa kita ke arah tadhyi (pengabaian nash) dan tahrif (penyimpangan makna). fiqh akan lebih berfungsi sebagai pemberi justifikasi daripada jurisprudensi. Fiqh menjadi alat status quo dan bukan sebagai korektor. apakah kita juga harus meninggalkan puasa. dengan mengganti 'illat qashar pada masyaqqah (kepayahan). Saya yakin. ketika kita meninggalkan makna lahir teks dan mencari jiwa atau semangat teks.lahir al-Qur'an dan Sunnah. Kita harus menggunakan akal (ta'aqquli). ketika kita memerlukan tenaga untuk membangun. Dalam situasi seperti itu puasa boleh ditinggalkan. Apa semangat dari larangan ini? Umat Islam sedang menghadapi tugas yang berat. Misal. Kedua. Kita dapat menggashar shalat hanya karena kita baru saja menyelenggarakan seminar yang menguras energi. Dengan kebebasan mencari 'illat baru. "Dan hendaklah mereka menutupkan kerudungnya sampai menutupi dada mereka" (QS. bukan menutupkan kerudung. Ketiga. qashar tidak lagi berlaku dalam perjalanan tetapi dalam situasi apapun yang membuat orang payah. Dalam istilah sebagian orang.

Kedua. "terdapat jarak yang sangat jauh antara situasi sosial ketika nash-nash itu dilahirkan dengan situasi sosial dewasa ini. Kadang-kadang ayat yang sama dijelaskan dengan asbab al-nuzul yang berlainan (ta'addud al-asbab wa al-nazil wahid). dari buku-buku tarikh. tetapi mempunyai motif-motif yang patut dicurigai. Kemusykilan lainnya --yang terlalu panjang bila diuraikan di sini-. sebab itu khusus dan efek legalnya juga khusus. Kemudian turun surah al-Nisa ayat 64. tetapi --pada saut yang sama-. seperti kata sebagian orang. sebagaimana yang telah banyak diketahui oleh para peneliti ulum al-Qur'an. tetapi hanya ahli sejarah yang dapat mengubah sejarah. yang terbukti seringkali ditulis oleh orang-orang yang tidak mempunyai pengetahuan historiografi. Pernah orang datang kepada Rasulullah saw."menilai bahwa literatur asbab al-nuzul itu seringkali sangat bertentangan dengan kacau-balau" (h. hadist-hadist tentang asbab al-nuzul itu sangat sedikit." Dari mana kita memperoleh informasi tentang situasi masa lalu itu? Pertama. ketika nash-nash itu dijadikan rujukan. Kadang-kadang sebab yang sama berkaitan dengan ayat-ayat yang berlainan (ta'addud al-nazil wa 'l-sabab wahid). Apalagi. Dalam kalimat Shadr. Terdapat juga kemusykilan dalam menentukan apakah dalam situasi tertentu. KRITIK PADA FAZLUR RAHMAN Metodologi Rahman --seperti telah disebutkan di atas-bersandar sepenuhnya pada pendekatan historis untuk memperoleh makna teks dari analisis latar sosiologis untuk memahami sasaran al-Qur'an. Di antara yang sedikit itu.berkenaan dengan hubungan antara dengan asbab al-nuzul. meminta agar beliau memohon ampun kepada Allah untuk orang itu. 224). Seperti dikatakan Subhani. bila bertentangan dengan apa yang telah dipandangnya sebagai prinsip-prinsip umum ajaran al-Qur'an. Rahman menyadari pentingnya asbab al-nuzul. datanglah . sangat sukar kita memperoleh gambaran utuh mengenai situasi sosial waktu itu. para orientalis --lewat "analisis sosiologi" mereka-. karena jarak kita yang jauh dari masa wahyu. Apakah meminta doa kepada Rasul itu hanya berlaku pada waktu Rasul masih hidup atau juga berlaku sekarang? Bukankah dari ayat ini dapat disimpulkan suatu prinsip umum: Bila berbuat dosa. Karena itu. kita merumuskan situasi di zaman Nabi itu dari asbab al-nuzul. sedang dalam situasi lain sebabnya khusus tetapi efek legalnya umum. sebagian besar tidak tahan kritik --bahkan pada tingkat kritik rawi atau sanad. seperti yang dilukiskan oleh Taufik dalam buku ini (h. Di kalangan para mufassirin terjadi ikhtilaf apakah pelajaran (al-'ibrah) itu bersifat spesifik (bi khushush al-sabab) atau umum (bi 'umum al-lafazh). 158). Lebih dari itu. Tuhan dapat membuat sejarah.justifikasi tidak memerlukan pemikiran yang mendalam. Apalagi --sebagai pelanjut mazhab Umari-Rahman seringkali tidak ragu-ragu menanggap hadist-hadist sebagai "fiksi yang dirumuskan belakangan saja".dapat "membuktikan" pengaruh-pengaruh Kristen dan Yahudi dalam al-Qur'an. Yang paling musykil --dan justru di sini Rahman berpijak-adalah menetapkan apakah asbab al-nuzul itu hanya berkenaan dengan peristiwa atau orang yang spesifik atau dapat digeneralisasikan.

. Yang pertama mengharamkan khamr sebenarnya adalah surah . maka pengharaman ditegaskan berkali-kali --dari tahrim 'am sampai tahrim khash bi tasydid al-baligh (pengharaman khusus yang sangat keras). Setelah umat Islam terbentuk sebagai masyarakat. Khamr tidak diharamkan. Setiap orang juga tahu bahwa asbab al-nuzul dan tarikh sangat penting. bagaimana kita dapat memastikan situasi sosial dari tarikh yang dapat kita akses.pengharaman khamr ini berlangsung secara gradual. Dengan menggunakan metodologi Rahman. "Hai Abu Bashir. di Makkah. Mereka berpegang pada sebab yang khusus (bi khushush al-sabab). jika kita menyimpulkan --dari kesimpulannya-bahwa pengkonsumsian alkohol secara individual dalam komunitas informal tidak haram. Dalam hadist yang dikeluarkan oleh Thabrani dari Mu'adz ibn Jabal disebutkan bahwa di antara yang pertama kali diharamkan pada permulaan kenabian adalah minuman khamr. Apa prinsip umum yang dapat ditarik dari latar sosiologis ini? Kata Rahman. ketika umat Islam belum merupakan suatu masyarakat (society). alkohol menjadi membahayakan sehingga pengkonsumsiannya tidak diperkenankan. Muhammad mengharamkan zina. dan orang-orang Quraisy lainnya. Abu Jahal terbunuh dalam perang Badar. di tengah jalan ia dicegat Abu Sufyan. penelitian saya tentang pengharaman menghasilkan kesimpulan yang berbeda. Kedua-duanya sangat dihajatkan terutama sekali untuk menetapkan tujuan atau sasaran yang ingin dicapai al-Qur'an ("ideal moral" al-Qur'an) atau sebab berlakunya hukum (ratio legis). jauh sebelum turun surah al-Maidah." kata mereka lagi. Menurut Thabathaba'i. tetapi akhirnya dianggap sebagai perbuatan setan (QS 5:90-91). "Tidak turun ayat al-Ma'idah. ketika manusia menjadi sebuah masyarakat (society). Dalam urutan pengharaman khamr. Rahman menunjukkan evolusi "sikap" al-Qur'an terhadap khamr." "Abu Bashir. Setiap orang akan setuju bahwa konteks historis sangat diperlukan untuk memahami al-Qur'an. juga. kecuali untuk mempertegas (keharaman khamr) bagi menusia. Di sini tampak bahwa prinsip umum yang diyakini oleh mufasir menentukan spesifikasi atau generalisasi asbab al-nuzul. khamr diharamkan. tetapi hanya merupakan komunitas informal. Peristiwa ini terjadi di Makkah. Kata A'sya." kata mereka. Khamr sudah diharamkan sejak awal kenabian. ". Dan seterusnya. karena mereka menganggap enteng larangan ilahi ini.kepada Rasulullah --baik dalam keadaan hidup atau mati dan mintakan agar beliau memohonkan ampunan buat kita? Kaum Wahhabi berpendapat bahwa tawassul itu syirik dan karena itu menganggap ayat ini hanya berlaku ketika Rasulullah masih hidup. Menurut Rahman --juga kebanyakan ulama-. Mula-mula khamr dipandang sebagai rahmat Tuhan (QS 16:66-69). Muhammad mengharamkan khamr. Tetapi karena sahabat terus-menerus melakukan pelanggaran." Bahwa khamr telah diharamkan sejak awal bi'tsah dapat dilihat pada peristiwa masuk-Islamnya A'sya ibn Qais. Marilah kita ambil kasus khamr.. ketika Abu Jahal masih hidup. para ahli tafsir sepakat menyebutkan surah al-Maidah ayat 90 sebagai ayat yang terakhir. Abu Jahal. Ketika ia bermaksud menyatakan Islamnya di depan Rasulullah saw.. Kita tidak tahu apakah Rahman setuju. Yang ingin diketahui orang ialah bagaimana Rahman menarik kesimpulan dari ayat-ayat yang tidak ada asbab al-nuzul-nya. "Aku tidak keberatan." Inilah ratio legis haramnya alkohol.

sebagaimana ditegaskan dalam surah al-Baqarah ayat 214. Ahmad Abu Dawud. tetapi (untuk khamr) mempertegasnya dengan menyebutkan dosa besar. Kami berhenti!" Ini hanyalah sebuah contoh penggunaan metodologi Rahman dengan hasil yang sama sekali berbeda dari konklusi Rahman. Katakanlah di dalamnya ada dosa besar (itsm kabir). Karena Allah berfirman. Tentang surah al-Baqarah ayat 219 --yang dianggap Rahman dan kebanyakan mufassirin belum mengharamkan khamr-. Mereka bertanya kepadamu tentang khmr dan judi. UA 20-21 Jakarta Selatan Telp. (021) 7501969. Katakan Tuhanku hanya mengharamkan kekejian --baik yang tampak maupun yang tersembunyi-.al-Jashash menjelaskan: "Ayat ini menetapkan haramnya khamr.karena sahabat masih tetap melakukannya. Adapun kata manfaat bagi manusia tidaklah berarti menghalalkannya. Muslim. Al-Itsm dalam ayat itu adalah khamr.. Umar menjawabnya. yang harus lebih dahulu dirumuskan adalah kritik keduanya (yang kurang diperhatikan Rahman). sebagai penegas akan bahayanya." Walhasil. TINJAUAN KRITIS ATAS SEJARAH FIQH (10/10) Dari Fiqh Al-Khulafa' Al-Rasyidin Hingga Madzhab Liberalisme oleh Jalaluddin Rakhmat CATATAN 1. 7507173 Fax. dan dosa.(bersambung 10/10) Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah Editor: Budhy Munawar-Rachman Penerbit Yayasan Paramadina Jln.Riwayat ini dihimpun berdasarkan hadits Bukhari. Tuhanku hanya mengharamkan kekejian. Al-A'raf termasuk surah yang turun dalam periode Makkiyah awal. cukuplah ayat ini saja. Karena itu surah al-Ma'idah 90 diakhiri dengan kata Mengapa kalian belum berhenti juga. pengharaman khamr diulang-ulang --makin lama makin keras-.dan dosa (al-itsm) dan pembangkangan tak benar serta menyekutukan Allah. Ibn Hajar . ------------------------------------------. Allah tidak saja menjelaskan bahwa dosa itu haram. Dosa semuanya diharamkan dengan firman Allah. (021) 7507174 Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota Please direct any suggestion to Media Team Artikel Yayasan Paramadina Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota IV. (QS. di dalamnya dosa besar. Metro Pondok Indah Pondok Indah Plaza I Kav. al-A'raf:33). Ibn Majah.22. Karena basis metodologi Rahman adalah tarikh dan asbab al-nuzul. Seandainya tidak turun ayat lain yang mengharamkan. karena yang dimaksud manfaat itu manfaat dunia dan semua yang diharamkan ada manfaat duniawi bagi pelanggarnya. "Kami berhenti.. Menurut riwayat. 7501983.al-A'raf ayat 33. al-Nasai.

" Begitu "sucinya" para sahabat itu sehingga Abu Zar'ah menulis. Dar al-Andalus. Al-Syatibi mengutip ayat-ayat al-Qur'an dan hadits-hadits untuk menunjang pendapatnya.agar setiap mujtahid mengikuti ijtihadnya masing-masing. Mesir: Mustafa Muhammad. Muhammad Taqiy al-hakim mengkritik kelemahan argumentasi al-Syatibi secara rinci. menurut Ibn Hazm. Ibn Hajar berkata. Al-Muwafaqat fi Ushul al-Syari'at. Mathba'ah al-Maktabah al-Tijariyah.Abu Zahrah. Lihat: Fath al-Bari. ." Lihat Al-Ishabah 1:10. Mengenai 'Udul-nya sahabat. 250. 5. sebab mereka semna 'udul. tanpa tahun. tak ada yang menentang hal ini kecuali orang-orang bid'ah yang menyirnpang" (Al-Ishabah 1:9. 1:10 4. Bagaimana mungkin berhujjah dengan ucapan mereka dengan kemungkinan mereka salah. 1:443 al-Maktabah al-Salafiyah.Abu Ishaq al-Syatiby. al-Ishahah fi Tamyiz al-Shahabah. padahal mereka boleh ikhtilaf? Mungkinkah dua orang ma'shum ikhtilaf? Bagaimana mungkin. semuanya mati dalam iman. 1371. Kecuali untuk sahabat yang masuk Islam sesudah Bai'at al-Ridwan (sambil mereka pun tidak boleh disebut kecuali kebaikan). bahkan mereka mewajibkan --dalam masalah ijtihad-. yang berperang besertanya atau tidak. 4:74. 1:3. tanpa tahun. "Sepakat semua Ahl Sunnah bahwa sahabat seluruhnya 'udul.Taqdimah al-Ma'rifah li Kitab al-Jarh wa al-Ta'dil. atau yang tidak melihatnya seperti orang buta".al-Asqalani.T Al-Hakim Al-Ushul al-'Ammah fi al-Fiqh al-Muqaran. al-Mustasyfa. 1974:133-143.Fath al-Bari.. hal. padahal sahabat sepakat bolehnya bertentangan dengan sahabat yang lain? Abu Bakar dan Umar tidak mengingkari orang yang berbeda ijtihadnya dengan mereka. menulis. Pada halaman yang sama. Ibn Hajar mengemukakan dalil-dalil tentang 'udul-nya sahabat secara rinci dalam kitab ini juga). "Siapa yang mengkritik salah seorang di antara sahabat Rasulullah saw.Lihat al-Ghazali. Beirut. al-Ghazali menolak semua pendapat itu dan berkata. hal. Tarikh al-Madhahib al-Islamiyah. Pembaca yang tertarik dapat melihat M." 7. "Sahabat sama seperti perawi hadits yang lain kecuali satu hal --pada mereka tidak berlaku jarh dan ta'dil. 6. 7-9. tanpa kota. beriman kepadanya dan meninggal dalam Islam. Beirut. Heiderabad. 1:457 3. 2. Dar al-Fikr. Bagaimana mungkin menetapkan ishmah mereka tanpa hujjah yang mutawatir? Bagaimana dapat dibayangkan adanya 'ishmah.Ibn Hajar mendefinisikan sahahat sebagai "orang yang berjumpa dengan Nabi saw. ketahuilah bahwa dia itu zindiq (atheis). yang melihatnya tetapi tidak menghadiri majelisnya. tidak dikenai celaan. Ibn Al-Atsir dalam Usud al-Ghabah fi Ma'rifat al-Shahabah. "Siapa saja yang mungkin salah atau lupa dan tidak tegas 'ishmahnya tidak boleh pembicaraannya menjadi hujjah. "Seluruh sahabat itu mukmin yang saleh. 1:135. Mereka yang termasuk jumpa ini orang yang lama bergaul dengan Nabi atau yang sebentar.

Tafsir al-Darr al-Mantsur 6:74. 395-396). 13. Kanz al-Ummal 1:185. 255. vol. 1963. Sunan al-Baihaqi 7:336.Abu Zahrah. al-Dar al-Mantsur 1:279. yang jika kamu berpegang teguh. Sunan al-Nasa'i. Kairo. pada Kitab Al-Muharibin. Al-Ahzab 33 (tentang 'ishmah ahli bait). 3:69. lihat Ibn Qayyim. 18. Mesir: Mathba'ah Sa'adah. 227-228. Musnad Ahmad 4:366. Al-Sunnah qabl al-Tadwin. turun berkenaan dengan Ali bin Abi Thalib). Musnad Ahmad 1:314. lihat juga Shahih Muslim. 16. dan kebajikan. Irsayad al-Sari 10:9. hal. Musa Towana. Al-Ijtihad: wa Mada Hajatina ilaih fi Hadza al-Ashar.petunjuk. 11. hal. "Al-'Itisham. 14. tt 1:63-64. 57-58. 20. 10. dalam Al-Tawhid. Kairo: Dar al-Kutub al-Haditsah. Al-Baihaqi . Shahih Muslim 2:52.Asbab al-Ikhtilaf bain Aimmah al-Madzahib al-Islamiyah".Muhammad Ibrahim Jannati.Abu Dawud 2:242. 1408. Di antara hadist-hadits tentang hal yang sama adalah hadits Tsaqalain: Aku tinggalkan bagimu dua hal.Di antara ayat-ayat yang menunjukkan keharusan mengikuti ahli bait adalah Al-Maidah 55 (Menurut banyak ahli tafsir. 8. Umdat al-Qari 11:151.Shahih Muslim 1:574. Diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris oleh Mahliqa Qara'i.Abu Dawud 2:227.Dr. dalam Kayhan-e Andisheh NO. Tarikh al-Madzahib. Bukhari meriwayatkan hadits ini tetapi dengan tidak lengkap.Tafsir Ibn Katsir 4:194. 15. 1:349. Al-Syura 23 (tentang keharusan mencintai ahli waris). tanpa tahun. kamu tidak akan sesat selama-lamanya Kitab Allah den Ahli Baitku (hadits-hadits yang semakna dengan ini diriwayatkan oleh Shaih Muslim dalam Kitab Fadhail al-Shahabat".Al-Syatibi. "Ra'y Gera'i Dar Ijtihad". 5:148. 19.Shahih al-Bukhari.Ibn Qayyim al-Jawziyyah. Ibn Majah 2:227. al-Baihaqi dalam Sunan al-Kubra 8:264. Zad al-Ma'ad 1:177-225. 32-33. 1404. 9. Maktabah Wahdah. 252.Kupasan tentang perdebatan ini. hal. dalam Hawl al-Wahdah al-Islamiyah. 9. "Ijtihad and the Practise of Ra'y". Taysir al-Wushul 2:5. Kanz al-Ummal 3:102. hal. Al-Baihaqi dalam Sunan al-Kubra 8:318. Teheran: Sepahar. 2. 17. al-Hakim dalam al-Mubarak 2:59 dan 4:389. Saya kutip lagi dari Abu Zahrah. 12. 4:352 dan 5:22. hal." (Saya kutip lagi dari Muhammad 'Ajal al-Khatib. al-hakim 2:196. Tarikh al-Madzahib. Fath al-Bari 12:101. V NO. Sunan al-Baihaqi. tidak seorangpun masuk neraka. semuanya masuk surga. "I'lam al-Muqi'in.

Polemik Reaktualisasi Ajaran Islam.Diriwayatkan oleh Imam Malik dalam Al-Muwaththa' 1:282 dari Urwah: Rasulullah shalat dua rakaat di Mina pada shalat-shalat yang empat rakaat. Sunan al-nasai 2:179. 36. 21. tarjamah Abu Bakr.Shaih al-Bukhari. 32. Taisir al-Khazim 1:356. 26. "Kitab al-Jihad". 10404 H. dan Kitab al-Jizyah".Lihat "Kontroversi sekitar Ijtihad 'Umar r. Sunan Abu Dawud 1:171. Jakarta: Pustaka Panjimas. 29. Al-Kamil ibn al-Katsir 2:146. Lihat juga Shahih al-Bukhari 2:154. 1:174. Al-Muhalla' 9:622. Tarikh al-Khulafa. dalam Limadza Ikhtartu Madzhab Ahl al-Bait. dan hadits: "Ahli baitku adalah tempat yang aman dari ikhtilaf bagi umatku" (Mustadrak al-Shahihain 3:348). Al-Durr al-Mantsur 3:252. menyimpulkan dalil-dalil itu. Abu Bakar shalat di Mina dua rakaat.. hadits NO. 1935. 22.Al-Thabaqat al-Kubra. dalam Iqbal Abdurrauf Saimima. 44. 34.2:148. Sunan al-Baihaqi 6:342-343.Tadzkirat al-Huffadz. Ahkam al-Qur'an dari Al-Jahshash 2:168.Lihat Dr. Kanz al-'Ummal. Umar shalat di Mina dua rakaat. 7:188.Al-Jawharah al-Nayyirah. Sunan al-Muslim 2:260. Musnad Ahmad 2:148 Sunan al-Baihaqi 3:126. Tafsir al-Syawkani 1:418. 31. Kanz al-'Umal 1:47 dan lain-lain). Il-Ishabah 2:322. tarjamah 'Umar 28. hal. 23. 1:7. hal. 7:447. 1:2-3. Usman mula-mula shalat dua rakaat. 25. Sunan . 138. tetapi kemudian meng-itmam-kannya. Tarikh Thabari 3:193. Tafsir al-Zamahsyari 1:359. Al-Durr al-Mautsir 2:136. 2:10.Tadzkirat al-Huffazh. hal.Al-Thabaqat al-Kubra. Qum Abu Mujtaba.Kitab al-Kharraj 24-25.Al-Muwaththa'. Riwayat pelarangan bagian muallaf. Tafsir al-Thabari 10:6. ed. Shahih al-Turmudzi 2:308. Thabaqat ibn Sa'ad 2:244. Shahih al-Turmudzi 1:68.Tarikh al-Thabari 3:234.Al-Thabaqat al-Kubra. lihat Tafsir al-Manar 10:297. 50. "Kitab al-'Ilam". 1988. 11:257. bukan tempatnya di sini menuliskan semua riwayat yang dijadikan dalil oleh kelompok pertama. 30. al-Baihaqi 7:164. 27. Mustadrak al-Shahihain 3:109. Tafsir al-Qurthubi 6:117. Ahkam al-Qur'an dari Al-Jahshash 3:60 62. Lihat juga Shahih Bukhari.Shahih al-Bukhari 3:69. dikutip lagi dari al-Nash wa al-Ijtihad.a". Al-Ijtihad. Shahih Muslim Bab "Tark al-Wasyiyyah" Musnad Ahmad. Gubahan syair dari Al-Amini al-Inhaqi dari Syiria. 24. Tarikh Ibn Katsir 6:319. 1:22. 1:5. 33. Sunan Ibnu Majah 1:348. 39-40. Musa Towana.Tadzkirat al-Huffazh.

1:208.Shahih Bukhari. 45. 532.Abu Zahrah.95. Bandung: Pustaka. Kitab Al-Riqaq. lihat juga Dhuha Al-Islam.Shahih Bukhari. hal. 2:401. 43. hal. Dar Al-Fikr Al-Araby. 2:244. 1:365.Syarh Al-Muwaththa'. "Bab I: Al-Hawah". 1:221. 26 menulis: Kami telah menyatakan (1) bahwa sunnah dari kaum muslim di masa lampau secara konsepsional dan kurang lebih secara garis besarnya berhubungan erat dengan sunnah Nabi dan pendapat yang menyatakan bahwa praktek-praktek muslim di masa lampau terpisah dari konsep sunnah Nabi adalah salah sekali. 41." 40. 2:244. "Bab Ghazwat Al-Hudaibiyah. Mustadrak al-hakim 1:472.Ibn Hazm dalam Al-Muhalla 5:227. 38. Tasyir al-Wushul 1:282.Jami' Bayan Al-'Ilm. Ibn Hajar memberikan komentar.Fazlur Rahman. 1:93-94. "Utsman melihat kemaslahatan jamaah supaya dapat mengejar shalat. 3:192. 37. Membuka Pintu Ijtihad. Musnad Ahmad 1:61. Tarikh Al-Madzahib Al-Islamiyah. Fath al-bari 7:449-450. Umar Yang Agung. juga Al-Baladzuri dalam al-Anshab 5:26. Fath al-Bari 2:361.Ibn Hajar.Shahih Muslim 1:142. Kitab Al-Fadhail. Turmudzi 3:302. 2:180. 37. 205.Shahih al-Bukhari 3:69. (3) bahwa unsur kreatif dari kandungan ini adalah ijtihad personal yang mengalami kristalisasi menjadi ijma' berdasarkan petunjuk pokok dari sunnah nabi yang tidak dianggap sebagai sesuatu yang sangat bersifat spesifik. Al-Umm. 267. Lihat juga Sunan al-Baihaqi .Ansab Al-Asyraf. Sunan al-Baihaqi 1:429. tt. lihat Al-Syawkani dalam Al-Awthar 3:374. kandungan yang khusus dan aktual dari sunnah kaum muslim di masa lampau tersebut sebagian besarnya adalah produk dari kaum muslim sendiri. hadits ke 4170. Sunan al-Nasai 5:148. 152. Shahih al-Bukhari 1:109. hal. Shahih al-Muslim 1:349. 42. sedangkan Marwan supaya orang mendengarkan khutbahnya.Syibli Nu'mani. 46. Lihat Fath al-Bari.. Kitab al-Umm 1:173. 48. (4) bahwa kandungan sunnah atau sunnah dengan pengertian sebagai praktek yang disepakati secara bersama adalah identik dengan ijma'. "Bab Itsbat"." Kitab Al-Maghazi. 1404. Sunan al-Baihaqi 1:472. 11:463-476.al-Nasai 3:100.Al-Imam Al-Syafi'i. 44. 49. Tanwir Al-Hawalik.Jami'Bayan Al-' Ilm. Shahih Muslim. (2) bahwa meskipun demikian. 47. 1983. 39. Bandung: Pustaka.

Tidak mungkin kita menurunkan semua hadits itu di sini Cukuplah kita kutip hadits Muslim dari Khabab bin Al-Arat. "Kami mengeluoh kepada Rasulullah tentang udara yang sangat panas sehingga tanah menjadi sangat panas pada dahi-dahi kami.Shahih Muslim. 3:124. hal. tetapi mereka dilarang berbuat begitu. Tetapi. Mustadrak Al-Hakim. Waktu itu para sahabat meletakkan ujung baju mereka dilarang ketika akan sujud untuk menghindarkan panas yang sangat. Abdullah bin Mas'ud. Metro Pondok Indah Pondok Indah Plaza I Kav.Tafsir Al-Nisabury.Shahih Al-Bukhari. Tarikh Ibn Katsir. juz I. lihat juga biografi Abdurrahman bin Abi Bakr dalam Ibn Asakir. Nabi saw. Al-Ishabah.2:68. mengizinkan mereka sujud di atas pakaian mereka itu. pada hamisy kitab Tafsir Al Thabari. 3:40. "Bab Walladzi Qala li Walidaihi". hal. 1978. 10:197-198. 7507173 Fax. "Para fuqaha menyebut peristiwa ini berkenaan dengan sujud. 1:79. 698-701. Dar Ihya' Al-Turats Al-'Arabiy. Ketika mereka mengadukan apa yang mereka alami.Abu Zahrah. ketika menjelaskan hadits ini. 54. bab "Man La Ha'arahun Naby".Al-Sirah Al-Nabawiyyah. Ibn Al-Atsir. Lihat juga biografi Al-Haban bin Al-'Ash pada Al-'Isti'ab. 257. Beirut. Usud Al-Ghabab. Al-Sujud 'ala al-A'rdh. 8:889. 14. Jabir bin Abdillah dan lain-lain melarang sujud selain di atas tanah. Ali bin Abi Thalib. Dar Al Tarqib.Ibn Katsir. (021) 7501969. 55. UA 20-21 Jakarta Selatan Telp. tidak mengizinkan kami (sujud selain di atas tanah). 51. Tarikh al-Madzahib al-Islamiyyah. 53. Kitab Al-Birr wa Al-Shilah. Ibn Katsir. berkata. 4:481. sahabat-sahabat seperti Abu Bakar. 7:214 57. 50.Kata Al-Dzhabi dalam Tadzkirat Al-Huffadz. 52. Nabi saw. Tarikh Dimasq. Kitab ini menunjukkan. Kanz al-'Ummal. (021) 7507174 Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan . 8:143. 7501983.Tafsir Al-Thabari. dalam Al-Nihayah. 5:263.Lihat Ali Al-Hamady. Al-Bidayah wa Al-Nihayah.. 19:72-75. 59. 56.Catatan kaki pada hamisy kitab Sunan Al-Nasai.. 58. -------------------------------------------Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah Editor: Budhy Munawar-Rachman Penerbit Yayasan Paramadina Jln. ibid. berdasarkan hadit-hadits yang diriwayatkan Ahl Sunnah bahwa disamping Rasulullah saw. Fath Al-Bari.

Muhammad Hasyim Asy'ari dari Tebuireng: Telah diketahui bahwa sesungguhnya telah terjadi perbedaan dalam furu' (makalah rincian) antara para Sahabat Rasulullah saw (semoga Allah meridlai mereka semua).sejak dari pertumbuhannya di masa para Sahabat. TRADISI SYARAH DAN HASYIYAH DALAM FIQH DAN MASALAH STAGNASI PEMIKIRAN HUKUM ISLAM (1/2) oleh Nurcholish Madjid Kita telah membicarakan garis perkembangan pemikiran sistem hukum Islam --yang kemudian dikenal dengan (ilmu) fiqh-. dan saling menolong.ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota Please direct any suggestion to Media Team Artikel Yayasan Paramadina Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota IV. yang kita saksikan dalam sejarah perkembangan fiqh ialah dinamika dan kreativitas. tidak seorang pun dari mereka mencerca yang lain. Imam Malik. demikian pula antara Imam Ahmad ibn Hanbal dan gurunya. Hasyim Asy'ari juga menyebut. Imam al-Syafi'i. namun dalam suasana saling menghargai dan tenggang rasa yang besar. yang senantiasa disertai dengan kegaduhan polemik dan kontroversi.H. dan akhirnya pertumbuhannya di masa para imam madzhab.H. saling mendukung sesama saudara mereka. namun tidak seorang pun dari mereka yang menyakiti yang lain.23. dan tidak saling menisbatkan lainnya kepada kesalahan ataupun cacat. bahkan sebaliknya mereka selalu saling mencintai. kemudian para Tabi'in dan pengikut mereka. tidak seorang pun dari mereka menyakiti yang lain. maka yang terjadi ialah pertumbuhan dan perkembangan madzhab itu sendiri. Sebaliknya mereka tetap saling mencintai. namun tidak seorang pun dari mereka memusuhi yang lain." [2] Setelah masa-masa para imam madzhab lewat. tidak seorang pun dari mereka mendengki yang lain. namun "tidak seorang pun dari mereka memusuhi yang lain. juga tidak seorang pun dari mereka yang menyakiti yang lain. yaitu mulai sekitar abad keempat Hijri. (semoga Allah meridlai keduanya) dalam banyak masalah yang jumlahnya mencapai sekitar enam ribu. Jalan pikiran para imam itu menjadi titik tolak.[1] K. berpersaudaraan. terjadi banyak perbedaan pendapat antara para tokoh intern madzhab sendiri pada saat-saat permulaan perkembangannya. juga antara Imam Ahmad ibn Hajar dan Imam al-Ramli dan para pengikut mereka. Demikian pula telah terjadi perbedaan dalam furu' antara Imam Abu Hanifah dan Imam Malik (semoga Allah meridlai keduanya) dalam banyak masalah yang jumlahnya mencapai sekitar empatbelas ribu dalam bab-bab ibadat dan mu'amalah. tapi kemudian dikembangkan begitu rupa sehingga yang terwujud ialah sebuah aliran yang meluas dan . serta antara Imam al-Syafi'i dan gurunya. Sampai dengan masa itu. dan tidak seorang pun dari mereka menisbatkan yang lain kepada kesalahan dan cacat. dan tidak seorang pun dari mereka menisbatkan yang lain kepada kesalahan dan cacat. seperti antara Imam al-Rafi'i dan Imam al-Nawawi. dan masing-masing berdoa untuk segala kebaikan mereka itu. dalam banyak masalah. Keadaan demikian itu dilukiskan K.

yaitu setelah fakta perkembangan pemikiran yang bertitik tolak dari dia itu. misalnya. Ditambah lagi dengan keadaan politik negeri-negeri Muslim yang telah mulai kehilangan "elan vital"-nya antara lain karena banyaknya serbuan-serbuan militer dari Asia Tengah seperti dari kalangan bangsa-bangsa Turki dan Mongol. dan lain-lain dari kalangan para penganut madzhab Syafi'i. seperti yang banyak dilakukan oleh misalnya. karena para tokoh pemikir yang menjadi pangkal pengembangan madzhab tersebut semasa hidupnya sendiri sering mengisyaratkan keengganan menjadi pusat pengikutan. al-Muzni. maka tercipta suasana bagi tumbuhnya mitos-mitos. Inilah yang dimaksudkan dengan istilah "madzhab. yang serba berkecukupan. Karena orisinalitas pemikiran tidak berkembang lagi. Penilaian ini lebih-lebih beralasan. ialah ketenangan dan ketenteraman. yaitu stagnasi atau kemandekan. Tetapi masa itu segera diikuti oleh masa dengan tingkat kreativitas dan orisinalitas intelektual yang lebih rendah. . al-Rabi'. tumbuh dan berkembang pemikiran yang lebih meluas dan mendalam. Maka dari titik tolak pemikiran Imam al-Syafi'i.mendalam dan cukup pada dirinya sendiri (self-sufficient). menjadi kenyataan. Dan karena pemikiran kritis juga terkekang. maka dambaan kepada ketenangan dan ketenteraman menjadi semakin beralasan. al-Karabisi. setelah dia sendiri lama tiada. berakhir dengan kekalahan mereka oleh ummat-ummat lain. atas nama doktrin taqlid dan tertutupnya ijtihad." dan apapun produk pemikiran mereka harus diterima sebagai berlaku "sekali dan untuk selamanya". Jadi tidak berlebihan jika masa itu sering ditunjuk sebagai permulaan kemunduran peradaban Islam. Sebab ketenangan dan ketenteraman itu mereka "beli" dengan menutup dan mengekang kreativitas intelektual dan penjelasan. namun belum tentu orang tersebut sepenuhnya dapat dipandang sebagai ikut bertanggungjawab. yang kemudian kelak. bertitik tolak dari produk intelektual satu orang. Karena itu yang ada bukanlah pemikiran Imam al-Syafi'i itu an sich. khususnya bangsa-bangsa Eropa. Inilah masa syarah (penjabaran) dan hasyiyah (penjabaran atas syarah). maka yang terjadi ialah pengulangan dan penghafalan yang sudah ada. melainkan pemikiran yang meskipun tetap berwatak "kesyafi'ian" namun dalam banyak hal Imam al-Syafi'i sendiri mungkin tidak lagi tersangkut paut. Mula-mula masih terdapat sisa-sisa kreativitas dan keberanian intelektual yang menghasilkan karya-karya tersendiri dengan tingkat orisinalitas yang memadai. Pertumbuhan madzhab itu dengan sendirinya terjadi melalui para pengikut tokoh yang kelak disebut "imam madzhab" tersebut. yang kemudian lambat laun berkembang menjadi semacam etos di kalangan kaum Muslim di seluruh dunia. tapi dengan ongkos yang amat mahal. Agaknya dambaan mereka tercapai. sehingga yang muncul sebagai dambaan atau obsesi utama masyarakat. Ketidakberanian mengambil risiko salah dalam penelitian dan penjelajahan itu kemudian dirasionalisasikan dengan argumen: Apa yang telah dihasilkan para imam madzhab dan pendukung-pendukung mereka itu seolah-olah sudah "final. al-Za'farani. Ciri umum masyarakat Muslim saat itu ialah suasana traumatis terhadap perpecahan dan perselisihan. al-Buwaythi." yaitu suatu kesatuan pemikiran yang tumbuh dan berkembang. Jadi sesungguhnya seorang pemikir seperti al-Syafi'i menjadi imam madzhab adalah secara post factum. Demikian pula tokoh-tokoh dari madzhab-madzhab yang lain.

Tapi syarah bukanlah akhir perjalanan tradisi pseudo-ilmiah dalam masa kemandekan intelektual ini. juga sangat dicela. keharusan memilih suatu madzhab seperti itu dapat dibenarkan. karena dalam praktek serupa itu mudah sekali masuk unsur oportunisme dalam paham (seperti. 7507173 Fax. UA 20-21 Jakarta Selatan Telp. merupakan dinamik dambaan kepada ketenteraman. Begitu pula larangan mencampuradukkan lebih dari satu madzhab. mengenai suatu hukum tertentu seseorang cenderung mencari yang mudah dan ringan dari berbagai madzhab. dan bersamaan dengan itu hilang pula kemampuan memberi responsi pada keadaan masyarakat nyata (historis) yang senantiasa berkembang dan berubah. Kegiatan pseudo-ilmiah serupa ini paling banyak terjadi dalam pemikiran judisial. Ilmu Kalam. Pada saat itulah sejauh mengenai kegiatan intelektual yang muncul." yang biasanya disebut hasyiyah. (021) 7501969. Metro Pondok Indah Pondok Indah Plaza I Kav. (021) 7507174 Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota Please direct any suggestion to Media Team Artikel Yayasan Paramadina . (bersambung 2/2) -------------------------------------------Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah Editor: Budhy Munawar-Rachman Penerbit Yayasan Paramadina Jln. Keharusan memilih salah satu madzhab sekaligus larangan mencampur lebih dari satu madzhab --betapapun tulusnya hal itu dilakukan-. misalnya. 7501983. Sebuah karya sparah membuka peluang kepada bentuk elaborasi lebih lanjut. dan yang terakhir ini tentu berakibat kepada masalah istiqamah atau keteguhan dan keikhlasan dalam beragama. Logika keharusan ini ialah ide tentang taqlid. yang taqlid itu. sebagaimana telah disinggung. ialah karya-karya syarah. sehingga merupakan "elaborasi atas elaborasi. dan terutama. tanpa kesungguhan meneliti bagaimana pangkal sebenarnya hukum itu). seperti dari sudut keprihatinan karena situasi politik yang tidak mantap.SYARAH DAN HASYIYAH Mulai saat itulah kurang lebih muncul ide tentang keharusan seorang Muslim memilih salah satu dari madzhab-madzhab yang ada sebagai anutan. yang dipandang sebagai matan (teks inti). Tapi konsekuensi yang lebih jauh ialah --sebagaimana telah disinggung tadi-.hilangnya kreativitas dan orisinalis intelektual.secara tersirat mengandung doktrin bahwa suatu pemikiran madzhab adalah suatu kesatuan organik yang tidak boleh dipisah-pisah. seperti. yaitu karya tulis berupa kitab yang mengelaborasi karya lain yang lebih orisinal. tetapi sesungguhnya juga merambah ke berbagai cabang ilmu keislaman yang lain. yang kemudian dikenal sebagai talfiq. Pemisahan itu akan menghasilkan inkonsistensi. Dari beberapa sudut pandang tertentu.

air salju. yaitu sebuah kitab fiqh yang paling standar. air sumur. TRADISI SYARAH DAN HASYIYAH DALAM FIQH DAN MASALAH STAGNASI PEMIKIRAN HUKUM ISLAM (2/2) oleh Nurcholish Madjid Untuk memperoleh gambaran apa yang dinamakan syarah dan hasyiyah itu. menurut keadaan aslinya dalam kitab." jika mereka tidak terlatih membaca dalam konteks. al-Ghazali. maka ia mencakup Nil dan Furat dan sebagainya. yaitu hujan (air laut) artinya yang asin (air sungai) artinya yang tawar (air sumur.23. [3] Syarah: (Air yang boleh) artinya sah (untuk menyucikan ada tujuh: air langit) artinya yang terjun dari langit. dan asalnya dari surga sebagaimana hal itu disebutkan dalam nas mengenainya sebab sesungguhnya diturunkan dari surga Nil Mesir dan Sihun sungai India dan Jihun sungai Balkh dan keduanya itu bukanlah Sihan dan Jiham menurut yang unggul berlainan dengan orang yang menyangka keduanya itu sinonim sebab Sihan adalah sungai Arnah dan Jihan adalah sungai al-Mashishah dan Dajlah dan Furat adalah dua sungai di Irak dari asal Sidrat al-Muntaha dan itulah makna firman Dia Yang Maha Tinggi "Dan Kami turunkan dari langit air dengan takaran tertentu" maka pada waktu keluarnya Ya'juj dan Ma'juj sungai-sungai itu diangkat dan itulah makna firman Dia Yang Maha Tinggi "Dan sesungguhnya Kami tentulah berkuasa untuk menghilangkannya. berikut ini adalah contoh kutipan dari matan kitab Taqrib. air sumber. dan . air salju dan air embun) dan tujuh air itu tercakup dalam ungkapan Anda "Apa yang turun dari langit dan apa yang menyembul dari bumi dalam keadaan bagaimanapun adalah termasuk pokok penciptann. Ibn Rusyd. air laut. Ibn Arabi." [5] Kutipan di atas itu sengaja dibuat dalam bentuk terjemahan harfiah tanpa memberi tanda-tanda baca sesuai konteks. [4] Syarah ini kemudian diberi hasyiyah.Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota IV. Berikut ini adalah contoh hasyiyah-nya (tapi karena hasyiyah yang bersangkutan itu panjang sekali. Ibn Taymiyyah. yaitu penjabaran atau elaborasi lebih lanjut. dan air embun. Matan itu kemudian diberi syarah dalam kitab Fat'h al-Qarib. yaitu "air sungai" saja): Hasyiyah: (Perkataannya dan air sungai) rangkaian dalam pengertian di. Dan keadaan menurut aslinya itu dapat memberi gambaran tentang ungkapan "ilmiah" masa kemunduran itu yang tidak dapat disebut mengagumkan. air sungai. di pesantren-pesantren. sebuah kitab yang boleh dipandang cukup tinggi: Matan: Air yang boleh untuk menyucikan ada tujuh air: air langit. Maksudnya ialah agar kita dapat merasakan kesulitan yang dihadapi oleh mereka yang membaca "kitab gundul. maka demi kepraktisan kita akan mengutip hasyiyah yang menyangkut salah satu dari air yang tujuh itu. juga sangat standar di pesantren-pesantren. dan akhirnya diberi hasyiyah dalam kitab al-Bajuri. air sumber. artinya air yang mengalir di sungai (nahr) dengan fa'thah ha' dan matinya dan yang pertama lebih fasih dan al di situ adalah untuk jenis. jauh di bawah ukuran masa kejayaan intelektual sebelumnya seperti diwakili karya-karya Ibn Sina.

Furat dan Dajlah itu ke langit sebagai tafsir atas ayat suci al-Qur'an pula. jelas bahwa yang membuat baik mereka generasi Islam klasik itu ialah apa yang dalam ungkapan kontemporer dinamakan "Etos Ilmiah". yang dirangkaikan dengan paham keagamaan. sehingga dorongan ke arah kebangkitan kembali yang muncul sejak itu sampai sekarang belum mencapai tujuan yang dimaksud. seolah-olah segala sesuatu terjadi secara wajar saja. khususnya sejarah pemikirannya. [7] KESIMPULAN Semangat obskurantisme atau kemasabodohan intelektual akibat berbagai faktor ekstern dalam proses-proses dan struktur-struktur politik masa itu sedemikian mencekam. Stagnasi ini tidak dirasakan oleh kaum Muslim. Tapi perbatasan atau frontier ilmu hanyalah produk kemampuan manusia sendiri yang tidak sempurna. etos ilmiah yang benar harus memandang ilmu tidak mempunyai batas (limit). setidaknya lebih baik daripada sekarang. ilmu pengetahuan telah "habis. yaitu bangsa-bangsa Eropa Barat. yaitu ujung terakhir perkembangan pemikiran ilmiah. Berbagai gejala masa-masa terakhir ini. karena itu tak terjangkau." dan yang tersisa ialah mencerna apa saja yang diwariskan dari generasi sebelumnya. yang biasanya diletakkan dalam bracket "kebangkitan Islam". Berbeda dengan obskurantisme. Tapi tentu saja umat Islam masih tetap mempunyai kesempatan yang baik. Sebuah adagium mungkin relevan dengan masalah ini yaitu yang berbunyi: "Tidak akan menjadi baik umat ini kecuali dengan sesuatu yang telah membuat baiknya umat terdahulu. sehingga mewarnai sikap intelektual sebagian besar kaum Muslim. karena itu harus selalu diusahakan untuk . Banyak ahli yang mengatakan. sampai akhirnya mereka terhentak dan kalah oleh bangkitnya bangsa-bangsa yang selama ini mereka remehkan.sebagainya. apalagi daripada masa obskurantisme tersebut di atas itu. seperti bahwa sungai Nil berasal dari surga dan sungai Dajlah (Tigris) dan Furat (Eufrat) di Irak berasal dari Sidrat al-Muntaha! Juga ada mitos lain yang tercampur dengan pandangan keagamaan tertentu seperti cerita tentang datangnya Ya'juj dan Ma'juj (Gog dan Mogog) yang tersebut dalam Kitab Suci al-Qur'an [6]. atau lebih persisnya. Bahkan dalam kutipan itu dapat dilihat munculnya beberapa dongeng dan mitologi. Dan ketika mereka dikejutkan oleh datangnya tentara Perancis ke Mesir di bawah Napoleon yang dengan amat mudah mengalahkan mereka itu. dapat diacu sebagai petunjuk adanya masa depan yang baik. akibat dominasi mereka atas kehidupan di muka bumi selama berabad-abad (dalam perhitungan konservatif setidaknya selama delapan abad. yang pada saat itu akan diangkat sungai-sungai Nil. yang berarti empat kali lebih panjang daripada masa dominasi Eropa Barat yang sudah berlangsung selama dua abad ini). bangsa-bangsa pelopor umat manusia masuk Zaman Modern. melainkan ilmu hanya mempunyai perbatasan (frontier)." [8] Sementara banyak tafsiran yang berbeda-beda tentang apa "yang membuat baik umat terdabulu. Dan dalam pandangan mereka. semua ini diawali karena umat Islam terkena penyakit "puas diri". Barat Laut. keadaan sudah sangat terlambat. Batas atau limit ilmu hanya ada pada Allah." namun dari pembacaan kepada sejarah peradaban Islam.

ialah toleransi dan saling menghargai dalam perbedaan. UA 20-21 Jakarta Selatan Telp. 2-3. etos ilmiah Zaman Klasik Islam memandang perbatasan ilmu harus selalu ditebus. (021) 7501969. 3. al Kahf/18:109).ditembus dengan keberanian intelektual serta kreativitas dan orisinalitasnya. CATATAN 1. al-Tibyan fi al-Nahy 'an Muqata'at al-Arham wa al-Aqarib wa al-Ikhwan (Surabaya: Mathba'at Nahdlat al-'Ulama." (Q. h. maka lautan itu akan habis sebelum Kalimat Tuhanku habis. Lihat Q. dan ini menghasilkan praktek menghafal. "La tashluhu hadzihi al-Umah illa bi ma shaluha bihi awwaluha. h. 8. al-Ghayah wa al Taqrib. Fat'h al-Qarib (Semarang: Maktabah wa Mathba'ah Usaha Keluarga. Lihat Q.s. 3. 6. al-Kahf/18:94 (dalam cerita tentang Dzu al Qarnayan) 7. 27. Batas atau limit ilmu hanya ada pada Allah swt. Hasyiyat al-Hajuri (Semarang: Maktabah wa Mathba'ah Usaha Keluarga. apalagi ditembus. 4. sementara dalam zaman obskurantisme. -------------------------------------------Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah Editor: Budhy Munawar-Rachman Penerbit Yayasan Paramadina Jln. Metro Pondok Indah Pondok Indah Plaza I Kav. h. 5. Dan suasana itu tidak lain. tt. Abu Syuja' Ahmad Ibn al-Husayn al-Ishfahani. Ibid. tt). 2. Hasyim Asy'ari di atas. 11. 'Kalau seandainya seluruh lautan ini tinta untuk Kalimat Tuhanku. "Katakan.. tt)..). h. Muhammad ibn Qasim al-Ghazzi. meski kami datangkan tinta sebanyak itu pula. al Mu'minun/23:18. seperti dikemukakan KH." 9. Seperti halnya dengan Zaman Modern.. 7507173 Fax. Al-Syaykh Ibrahim al-Hajuri. (Semarang: Pustaka al-'Alawiyyah. 7501983. etos ilmiah yang ada mengajarkan agar setiap bertemu dengan perbatasan hendaknya kembali ke semula.). jadi tidak mungkin dicapai manusia. Muhammad Hasyim Asy'ari. (021) 7507174 Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota Please direct any suggestion to Media Team Artikel Yayasan Paramadina Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan . h. 12. (Risalah ini ditulis pada 1360 H atau 1941 M). s. s. tt. [9] Semuanya itu memerlukan suasana yang bersifat kondusif.

Tumbuhnya partisan-partisan politik yang berjuang keras memperoleh pengakuan dan legitimasi bagi klaim-klaim mereka. SEJARAH AWAL PENYUSUNAN (1/3) DAN PEMBAKUAN HUKUM ISLAM oleh Nurcholish Madjid Dalam bidang fiqh seperti juga dalam bidang-bidang yang lain masa Tabi'in adalah masa peralihan dari masa sahabat Nabi dan masa tampilnya imam-imam madzhab. wafat dan Mu'awiyah habis masa kekhilafahannya (juga wafat) anggota rumah tangga Nabi (Ahl al-Bayt) bersama sekelompok orang-orang Muslim menuntut hak mereka akan kekhalifahan. Sebagian besar orang-orang Muslim memihak 'Ali dalam perselisihannya dengan Mu'awiyah. dianggap sebagai masa-masa paling otentik dalam sejarah Islam. bersama dengan masa para Sahabat sebelumnya dan masa Tabi'in al-Tabi'in ("para pengikut dari para pengikut" yakni. Yang disebut "para pengikut" (makna kata Tabi'in) ialah kaum Muslim generasi kedua (mereka menjadi Muslim ditangan para Sahabat Nabi). Begitulah. serta meninggalkan keharusan taat pada Dinasti Umayyah. sedangkan kaum Khawarij menaruh dendam terhadap 'Ali dan Mu'awiyah sekaligus setelah mereka itu sendiri sebelumnya merupakan pendukung 'Ali yang bersemangat. Umawiyyah. seperti Khawarij. Dalam pandangan keagamaan banyak ulama masa Tabi'in itu. telah mendorong berbagai pertikaian paham. dan sebagainya.ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota VI.a. Melukiskan keadaan yang ruwet itu Musthafa al-Siba'i mengetengahkan keterangan di bawah ini. Walaupun begitu tidaklah berarti masa generasi kedua ini bebas dari persoalan dan kerumitan. serta setelah orang-orang Muslim terpecah-pecah menjadi berbagai kelompok. di lain pihak pada masa itu juga mulai disaksikan munculnya tokoh-tokoh dengan sikap yang secara nisbi lebih mandiri. Disesalkan. Di satu pihak masa itu bisa disebut sebagai kelanjutan wajar masa sahabat Nabi. dan ditambah-tambahnya Sunnah itu serta digunakannya sebagai alat melayani berbagai kepentingan politik dan perpecahan internal Islam. kaum Muslim generasi ketiga). Khususnya setelah perselisihan antara 'Ali dan Mu'awiyah berubah menjadi peperangan dan yang banyak menumpahkan darah dan mengorbankan jiwa. Syi'ah. Khalifah III. terutama yang terjadi sejak peristiwa pembunuhan 'Utsman. pertentangan ini kemudian mengambil bentuk sifat . yang bersumber dari sisa dan kelanjutan berbagai konflik politik. dan ketiga masa itu sebagai kesatuan suasana yang disebut salaf (Klasik). Tahun empat puluh Hijriah adalah batas pemisah antara kemurnian Sunnah dan kebebasannya dari kebohongan dan pemalsuan di satu pihak. dengan penampilan kesarjanaan di bidang keahlian yang lebih mengarah pada spesialisasi. peristiwa-peristiwa politik menjadi sebab terpecahnya kaum Muslim dalam berbagai golongan dan partai. Justru sifat transisional masa ini ditandai berbagai gejala kekacauan pemahaman keagamaan tertentu.21. Dan pertikaian itu antara lain menjadi sebab bagi berkecamuknya praktek pemalsuan hadits atau penuturan dan cerita tentang Nabi dan para sahabat. Setelah 'Ali r.

Maka sejak di Makkah Nabi mengajarkan tentang cita-cita keadilan sosial yang antara lain mendasari konsep-konsep tentang harta yang halal dan yang haram (semua harta yang diperoleh melalui penindasan adalah haram). yang kelak mempunyai pengaruh yang lebih jauh bagi tumbuhnya aliran-aliran keagamaan dalam Islam." Tapi kemudian diimbangi orang-orang bodoh dari kalangan Ahl al-Sunnah dengan perbuatan pemalsuan juga. Dasar-dasar itu memang tidak semuanya langsung bersifat kehukuman atau legalistik. Maka sebagian golongan itu melakukan interpretasi al-Qur'an tidak menurut hakikatnya dan membawa nash-nash Sunnah pada makna yang tidak dikandungnya. prinsip-prinsip yang diwariskan Nabi itu berhasil digunakan. dan wajarlah bahwa al-Qur'an dan Sunnah itu untuk setiap kelompok tidak selalu mendukung klaim-klaim mereka. Itu semua tidak akan tidak melahirkan sistem hukum. yaitu penyusunan dan pembakuan Hukum Islam melalui fiqh atau "proses pemahaman" yang sistimatis. menopang ditegakkannya kekuasaan politik Imperium Islam yang meliputi daerah antara Nil sampai Amudarya. Maka mereka palsukanlah banyak hadits tentang kelebihan imam-imam mereka dan para tokoh kelompok mereka. melakukan kegiatan legislasi. bahkan justru dasar-dasarnya telah diletakkan dengan kokoh dalam periode pertama itu. kewajiban mengurus harta anak yatim secara benar. Pada masa para sahabat yang kemudian disusul masa para Tabi'in. sekalipun keadaan di Makkah belum mengizinkan bagi Nabi untuk melaksanakannya. para Tabi'in -dengan dipimpin tokoh-tokoh yang mulai tumbuh dengan penampilan kesarjanaanmencoba melakukan sesuatu yang amat berat namun kemudian membuahkan hasil yang agung. Dari situlah mulai pemalsuan Hadits dan pencampuradukan yang sahih dengan yang palsu. Maka tindakan Nabi dan kebijaksanaannya di Madinah adalah kelanjutan yang sangat wajar dari apa yang telah dirintis pada periode Makkah itu. Sasaran pertama yang dituju para pemalsu hadits itu ialah sifat-sifat utama para tokoh. dan kemudian segera melebar dan meluas sehingga membentang dari semenanjung Iberia sampai lembah sungai Indus.keagamaan. Daerah-daerah . Sebagian lagi meletakkan pada lisan Rasul hadits-hadits yang menguatkan klaim mereka. [1] Dihadapkan keruwetan itu. dan seterusnya.sebagaimana dituturkan Ibn Abi al-Hadid dalam Syarh Nahj al-Balaghah. Meskipun baru setelah tinggal menetap di Madinah Nabi saw. sebab selalu dikaitkan dengan ajaran moral dan etika. WAWASAN HUKUM ZAMAN TABI'IN Antara Islam sebagai agama dan Hukum terdapat kaitan langsung yang tidak mungkin diingkari.. "Ketahuilah bahwa pangkal kebohongan dalam hadits-hadits tentang keunggulan (tokoh-tokoh) muncul dari arah kaum Syi'ah. perlindungan terhadap kaum wanita dan janda. namun ketentuan-ketentuan yang bersifat kehukuman telah ada sejak di Makkah. Setiap partai berusaha menguatkan posisinya dengan al-Qur'an dan Sunnah. setelah hal itu tidak mungkin mereka lakukan terhadap al-Qur'an karena ia sangat terlindung (terpelihara) dan banyaknya orang Muslim yang meriwayatkan dan membacanya. Ada yang mengatakan bahwa yang pertama melakukan hal itu ialah kaum Syi'ah -dengan perbedaan berbagai kelompok mereka.. keharusan menghormati hak milik sah orang lain.

Tetapi yang berkembang menurut perkembangan zaman dan tempat.. sebagaimana terjadi pada . Adapun penetapan hukum yang berkaitan dengan perkara duniawi bersifat kehakiman. politik dan perang. Pendekatan ini dimungkinkan karena watak dasar Hukum Islam yang lapang dan luwes. "Tidaklah ia (Nabi) berbicara atas kemauan sendiri.itu. Dan Nabi pernah mempunyai suatu pendapat. diberikan secara sepenuhnya terperinci. Dan tugas Rasul tidak keluar dari lingkaran tugas menyampaikan (tabligh) dan menjelaskan (tabyin). Berkenaan dengan hal ini al-Sayyid Sabiq menjelaskan. agaknya yang telah terjadi pada masa tabi'in itu ialah semacam pendekatan ad hoc dan praktis-pragmatis terhadap persoalan-persoalan hukum.w. yaitu Ilmu Fiqh. khususnya masyarakat Madinah. dan Indo-Iran umumnya. Untuk mengerti masalah ini sangat menarik mengutip lebih lanjut keterangan al-Sayyid Sabiq. Penetapan hukum keagamaan murni. Karena itu mudah dipahami jika timbul semacam tuntutan intelektual untuk berbagai segi kehidupan masyarakat yang harus dijawab para penguasa yang terdiri dari kaum Muslim Arab itu. agar bersesuaian dengan kepentingan manusia di semua zaman dan agar dapat dipedomani oleh para pemegang wewenang (ulu al-amr) dalam menegakkan keadilan dan kebenaran.a. Penetapan Hukum (al-tasyri') Islam merupakan salah satu dari berbagai segi yang amat penting yang disusun oleh tugas suci Islam dan yang memberi gambaran segi ilmiah dari tugas suci itu. dengan menggunakan prinsip-prinsip umum yang ada dalam Kitab Suci. diperintahkan bermusyawarah mengenai itu semua. bahkan Arab. sehingga mampu menampung setiap perkembangan yang terjadi. yang dalam wawasan geopolitik Yunani kuno dianggap sebagai heatland Oikoumene (Daerah Berperadaban -Arab: al-Da'irat al-Ma'murah) telah mempunyai tradisi sosial-politik yang sangat mapan dan tinggi. atau dengan suatu ijtihad yang disetujuinya. tidak lain itu adalah wahyu yang diwahyukan kepadanya. al-Najm/53:34). Tapi sebelum ilmu itu tumbuh secara utuh. dengan dijelaskan oleh nash-nash yang bersangkutan.[2] Para ahli hukum Islam sudah terbiasa mengatakan secara benar bahwa letak kekuatan Islam ialah sifatnya yang akomodatif terhadap setiap perkembangan zaman dan peralihan tempat (shalih li kull zaman wa makan. dan dengan melakukan rujukan pada Tradisi Nabi dan para Sahabat serta masyarakat lingkungan mereka yang secara ideal terdekat. . maka Rasul saw.Bahwa hal-hal yang tidak berkembang menurut perkembangan zaman dan tempat. tidak pernah timbul kecuali dari wahyu Allah kepada Nabi-Nya s. seperti 'aqa'id dan 'ibadat. diberikan secara garis besar. tapi ditinggalkannya dan menerima pendapat para sahabat. termasuk tradisi kehukumannya. baik dari Kitab ataupun Sunnah...sesuai untuk setiap zaman dan tempat). seperti hukum-hukum ibadat. urusan politik dan peperangan. Tuntutan intelektual itu mendorong tumbuhnya suatu genre kegiatan ilmiah yang sangat khas Islam. maka tidak seorang pun dibenarkan menambah atau mengurangi. Di sebelah Barat tradisi itu merupakan warisan Yunani-Romawi." (QS. seperti berbagai kepentingan kemasyarakatan (al-mashalih al-madaniyyah).

Metro Pondok Indah Pondok Indah Plaza I Kav. dan kemudian berselisihnya. Seperti dilukiskan Siba'i yang telah dikutip di atas.21. sebab "persatuan" dan "solidaritas" itu agaknya hanya terbatas pada kenyataan kembalinya kesatuan politik (formal) umat Islam di bawah Khalifah Mu'awiyah ibn Abi Sufyan di Damaskus. (021) 7507174 Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota Please direct any suggestion to Media Team Artikel Yayasan Paramadina Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota VI. dan bertahan. UA 20-21 Jakarta Selatan Telp.[3] (bersambung 2/3) -------------------------------------------Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah Editor: Budhy Munawar-Rachman Penerbit Yayasan Paramadina Jln. Dan para Sahabat ra.waktu perang Badar dan Uhud. Ini terjadi tanpa peduli dengan sambutan sebagian besar umat Islam kepada tahun 41 Hijri sebagai "Tahun Persatuan" atau "Tahun Solidaritas" ('Am al-Jama'ah). dan diteruskan ke zaman para Tabi'in. DUA KUBU ORIENTASI FIQH: HIJAZ DAN IRAK Di bawah pimpinan Khalifah Mu'awiyah (yang masa kekhalifahannya disebut Ibn Taymiyyah sebagai permulaan masa "kerajaan dengan rahmat" -al-mulk bi al-rahmah) kaum Muslim dapat dikatakan kembali pada keadaan seperti zaman Abu Bakar dan 'Umar (zaman al-Syaykhani. tempat rujukan itu sudah mulai nampak. dan kadang-kadang beliau menerangkan letak kesalahan dalam pendapat mereka itu. "Dua Tokoh") yang amat . SEJARAH AWAL PENYUSUNAN (2/3) DAN PEMBAKUAN HUKUM ISLAM oleh Nurcholish Madjid Sudah tentu keluasan dan fleksibilitas semangat umum Hukum Islam itu dipertahankan. penyebaran dan perselisihan otoritas itu memuncak pada sekitar sesudah 40 H. tanda-tanda menyebarnya. dengan otoritas yang diakui semua. Mereka juga mengemukakan kepada Nabi pemahaman mereka tentang nash-nash itu. pun selalu meruduk kepada Nabi saw. kemudian zaman para Sahabat. Pada zaman para sahabat Nabi itu diwarisi banyak tokoh. guna menanyakan apa yang tidak mereka ketahui. ketika banyak partisan mulai berusaha keras memperebutkan legitimasi untuk klaim-klaim mereka. Tapi jika pada zaman Nabi tempat rujukannya ialah Nabi sendiri. 7507173 Fax. melewati zaman Nabi sendiri. (021) 7501969. yang kemudian bertindak sebagai tempat rujukan. sehingga Nabi kadang-kadang membenarkan pemahaman mereka itu. dan meminta tafsiran tentang makna-makna berbagai nash yang tidak jelas bagi mereka. 7501983.. Tapi sejak pertikaian politik pada paroh kedua kekhalifahan 'Utsman.

dirindukan orang banyak. khususnya tradisi 'Umar. Di situ Rasul menetap. akibat masalah keabsahan kekuasaan Bani Umayyah itu).. yaitu kaum Tabi'in yang bersemangat untuk tinggal di sana. Penyandaran diri kepadanya juga lebih jelas nampak. begitu pula kebudayaan penduduknya dan terlatihnya mereka itu kepada penalaran.. Dan (Hijaz) tetap menjadi tempat tinggal banyak dari mereka (para Sahabat) yang datang kemudian sampai beliau wafat. adalah lebih banyak daripada yang ada di Hijaz. Adanya dua aliran itu merupakan akibat yang wajar dari situasi masing-masing Hijaz dan Irak." yakni. dalam ifta' (pemberian fatwa) ada dua aliran: aliran yang cenderung pada kelonggaran dan bersandar atas penalaran. tradisi atau Sunnah) dan nash-nash. . kemudian para Sahabat beliau menyambut. namun dalam hal masalah penegakan hukum mereka tetap sedapat mungkin berpegang dan meneruskan tradisi para Khalifah di Madinah dahulu. adalah lebih luas dan lebih banyak. Irak dengan kota-kota Kufah dan Basrah adalah kawasan yang selalu potensial menentang Damaskus secara efektif. Karena itulah keperluan mereka kepada penalaran lebih kuat terasa. mengingat sedikitnya Sunnah pada mereka itu tidak memadai untuk semua tuntutan mereka. Tempatnya ialah Hijaz. Penjelasan menarik tentang hal ini diberikan oleh Syaykh 'Ali al-Khafif. Ini kemudian berdampak tumbuhnya dua orientasi dengan perbedaan yang cukup penting: Hijaz (Makkah-Madinah) dengan orientasi Haditsnya. Sementara banyak tokoh Madinah sendiri tetap mempertanyakan keabsahan rezim Umayyah itu. memelihara sabda-sabda beliau dan menerapkannya. Pada zaman itu (zaman Tabi'in). kias. Apa pun kualitas kekhalifahan Mu'awiyah itu. termasuk para "aktivis militan" yang membunuh 'Utsman (dan yang kemudian [ikut] mensponsori pengangkatan 'Ali namun akhirnya berpisah dan menjadi golongan Khawarij). dan hanya bersandar kepada bukti-bukti atsar (peninggalan atau "petilasan. Padahal peristiwa-peristiwa (hukum) di Irak itu. Tempatnya ialah Irak. dan penggunaannya juga lebih banyak. disebabkan masa lampaunya. Hijaz adalah tempat tinggal kenabian. menyampaikan seruannya. Sedangkan Irak telah mempunyai peradabannya sendiri. Karena itu ada semacam "koalisi" antara Damaskus dan Madinah (tapi suatu koalisi yang tak pernah sepenuh hati. penelitian tentang tujuan-tujuan hukum dan alasan-alasannya. kompleksitas kehidupannya. Ini masih ditambah dengan kecenderungan mereka untuk banyak membuat asumsi-asumsi dan perincian karena keinginan mendapatkan tambahan pengetahuan. dan tidak mendapatkan bagian dari Sunnah kecuali melalui para Sahabat dan Tabi'in yang pindah kesana. Dan yang dibawa pindah oleh mereka itu pun masih lebih sedikit daripada yang ada di Hijaz. Dan aliran yang cenderung tidak kepada kelonggaran dalam hal tersebut. yaitu tumbuhnya orientasi kehukuman (Islam) kepada Hadits atau Tradisi (dengan "T" besar) yang berpusat di Madinah dan Makkah serta mendapat dukungan langsung atau tak langsung dari rezim Damaskus. Tapi "koalisi" itu mempunyai akibat cukup penting dalam bidang fiqh. sebagai dasar ijtihad. mendengarkan. dan Irak (Kufah-Basrah) dengan orientasi penalaran pribadi (ra'y)-nya. Kemudian mereka ini mewariskan apa saja yang mereka ketahui kepada penduduk (berikut)-nya. sistem pemerintahannya.

Meskipun sesungguhnya kaum 'Abbasi akhirnya banyak meneruskan wawasan hukum keagamaan kaum Umawi sebagai pendukung Ahl al-Sunnah wa al-Jama'ah (yang sebagaimana telah disinggung. khususnya Umar). Terdapat persilangan antara keduanya. Ijtihad yang terjadi di zaman Tabi'in adalah ijtihad mutlak. Sikap berpegang kepada syari'ah ini bagi kaum 'Abbasi berarti pengukuhan legitimasi politik dan kekuasaan mereka (dibandingkan dengan kedudukan kaum Umawi. berkenaan dengan hukum. dengan perpindahan kekuasaan dari kaum Umawi ke kaum 'Abbasi.[4] Jika dikatakan bahwa orang-orang Hijaz adalah Ahl al-Riwayah ("Kelompok Riwayat. tampil seorang penganut dan pembela "Kelompok Riwayat" yang sangat tegar." karena mereka banyak berpegang kepada penuturan masa lampau. seperti Hadits." dan di kalangan para sarjana Irak. Tapi disamping itu. dengan isyarat tidak banyak mementingkan "riwayat"). Kairo. dan ini pada urutannya memberi peluang lebih baik pada para sarjana untuk menyatakan pendapatnya. Ini semakin memperkaya pemikiran hukum zaman Tabi'in. yang diduga bersandar kepada Sunnah yang karena beberapa sebab Sunnah itu tidak muncul sebelumnya. IJTIHAD TABI'IN SEBAGAI PENDAHULU MADZHAB-MADZHAB Menurut 'Ali al-Khafifi. adalah tidak tepat. seorang anggota Majma' al-Buhuts al-Islamiyyah (Badan Riset Islam) Universitas al-Azhar. membuat generalisasi bahwa sesuatu kelompok hanya melakukan satu metode penetapan hukum atau tasry'. Misalnya.penalaran mendalam dan pelaksanaan yang banyak. sikap tersebut menciptakan suasana yang lebih mendukung bagi perkembangan kajian agama. Sedangkan pada peringkat individu. apakah itu penalaran atau penuturan riwayat. Ikatan hanya terjadi jika ditemukan sebuah pendapat seorang Sahabat Nabi. meneliti dan memahami yang benar. baik yang bersangkutan dengan bidang politik. suasana lebih mengizinkan untuk muncul. cukup banyak dari masing-masing daerah yang tidak mengikuti karakteristik umum itu. meskipun masing-masing tetap dapat dikenali ciri utamanya dari kedua katagori tersebut. teologi dan hukum. Usaha secara resmi pembakuan Sunnah (yang kemudian menjadi sejajar dengan Hadits) telah mulai tumbuh sejak jaman 'Umar ibn 'Abd-al'Aziz menjelang akhir kekuasaan Umawi. perubahan situasi politik. Disamping itu. dan dihadapkan kepada oposisi kaum Syi'ah dan Khawarij). Kini usaha ini memperoleh dorongan baru. sesungguhnya itu hanya karakteristik gaya intelektual masing-masing daerah itu. lebih-lebih zaman Tabi'in al-Tabi'in. yaitu Ahmad ibn Hanbal. maupun yang lain. telah membawa perubahan penting dalam sikap keagamaan. kaum 'Abbasi lebih banyak dan lebih tulus perhatian mereka kepada masalah-masalah keagamaan dari pada kaum Umawi. banyak berorientasi kepada preseden-preseden para khalifah Madinah. kelak. termasuk menuturkan riwayat dan Hadits. dan merangsang tumbuhnya berbagai aliran pemikiran keagamaan. sebagai pedoman) dan orang-orang Irak adalah Ahl al-Ra'y ("Kelompok Penalaran". kemudian pada zaman Tabi'in itu. dan yang secara langsung diarahkan membahas. Maka di kalangan orang-orang Hijaz terdapat seorang sarjana bernama Rabi'ah yang tergolong "Kelompok Penalaran. Yaitu ijtihad yang dilakukan tanpa ikatan pendapat seorang mujtahid yang terlebih dahulu. [5] .

school of thought) dengan tempat.Semua kegiatan itu juga terpengaruh kenyataan sosial-politik. UA 20-21 Jakarta Selatan Telp. Di Madinah tampil cukup banyak sarjana. Al-Hasan al-Bashri banyak berkonsultasi dengannya. dan sebagainya) yang masuk Islam. 2. Metro Pondok Indah Pondok Indah Plaza I Kav. Wafat pada 94 H. 7507173 Fax. dan dalam diri masing-masing aliran besar itu. (021) 7507174 Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota Please direct any suggestion to Media Team . Telah disebutkan adanya dua aliran pokok: Irak dan Hijaz. antara lain: 1. 4. Lahir dua tahun kekhalifahan 'Umar. Persi. Dia adalah imam keempat kaum Syi'ah Imamiyyah. Ia belajar dari ayahnya dan dari pamannya. 7501983. al-Hasan ibn 'Ali. wafat pada 94 H. madzhab. Nuansa-nuansa itu tercermin dalam ketokohan sarjana atau 'ulama' yang mendominasi suasana intelektual suatu tempat. Mesir. disebabkan banyaknya orang-orang bukan Arab (Syiria.'Urwah ibn al-Zubayr ibn al-'Awwam. seperti dituturkan al-Syaykh Muhammad al-Hudlari Beg dalam kitabnya. bidang kajian hukum Islam atau fiqh. bahkan guru-guru para calon imam madzhab itu. Wafat pada 94 H.Abu Bakr ibn 'Abd-al-Rahman ibn al-Harits ibn Hisyam al-Makhzumi. kultural dan geografis anggota masyarakat Islam. 'Aisyah. 3. Merekalah para pendahulu imam-imam madzhab. dan lain-lain. Banyak meriwayatkan Hadist yang bersambung dengan Abu Hurayrah. Lahir di masa kekhalifahan 'Umar. dan sempat belajar dari para pembesar Sahabat Nabi. istri Nabi saw. Ia terkenal sangat 'alim (terpelajar). [6] Maka zaman itu kita menyaksikan tampilnya tokoh-tokoh kesarjanaan dengan bidang kajian ilmu yang lebih terspesialisasi. Terkenal sangat saleh sehingga digelari "pendeta Quraysy" (rahib Quraysy). Suatu hal yang amat penting diperhatikan ialah adanya kaitan suatu aliran pikiran (yakni. berupa semakin beragamnya latar belakang etnis. Wafat pada 94 H. khususnya. ibn 'Abbas.Sa'id ibn al Musayyib al-Makhzumi. dan dikenal dengan Zayn al-'Abidin. dan cukup penting diperhatikan. Lahir dimasa kekhalifahan 'Utsman. Aisyah. Tarikh al-Tasyri' al-Islami.'Ali ibn al-Husayn ibn 'Ali ibn Abi Thalib al-Hasyimi. Banyak belajar dari bibinya. terdapat nuansa yang cukup berarti. Namun diantara keduanya. tapi tidak banyak meriwayatkan Hadits. (bersambung 3/3) -------------------------------------------Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah Editor: Budhy Munawar-Rachman Penerbit Yayasan Paramadina Jln. (021) 7501969.

6. 7. dan dari 'A'isyah. dan dari 'A'isyah.Sulayman ibn Yasar. Dia adalah imam kelima kaum Syi'ah. Dianggap Bapak Ilmu tafsir al-Qur'an. dan lain-lain.'Ikrimah. Belajar dari patronnya sendiri. juga dari A'isyah. Belajar banyak dari 'Umar. 'A'isyah.'Abd-Allah ibn. Wafat pada 106 H. dan sebagainya. mengajar Sunnah. Belajar dari Ibn 'Abbas. Belajar dari 'Aisyah.) Belajar dari patronnya sendiri.Nafi'.Mujahid ibn Jabr. dia adalah guru Khalifah 'Umar ibn 'Abd al-'Aziz. Belajar dari ayahandanya sendiri. klien Ibn 'Abbas. Sa'id ibn al-Musyyaib.Abu Ja'far ibn Muhammad ibn 'Ali ibn al-Husayn. 'Abbas ibn 'Abd-Muthalib. 11. Selain kepemimpinannya dalam fiqh dan Hadits. 3.21. 10. Di Makkah beberapa sarjana terkenal juga tampil: 1. Annas ibn Malik. Wafat pada 103 H. dan lain-lain. dan sebagainya.Qasim ibn Muhammad ibn Abi Bakr. Beliau diajar tentang ta'wil. Sa'id ibn al-Musayyaib.Artikel Yayasan Paramadina Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota VI. SEJARAH AWAL PENYUSUNAN (3/3) DAN PEMBAKUAN HUKUM ISLAM oleh Nurcholish Madjid 5. 'Ali dan Ubay ibn Ka'b. Dikenal sebagai "Kepala Bani Hasyim" di zamannya. Abu Hurayrah. 8.. dll. Abu Hurayrah. Wafat pada 106 H. 9. dan lain-lain. Ibn 'Umar. Pernah menyatakan ia sependapat . Ibn 'Abbas. Abu Hurayrah. yang dikenal dengan sebutan al-Baqir. Abu Hurayrah. Belajar dari ayahnya sendiri. Mendapat perintah dari 'Umar ibn 'Abd-al-Aziz untuk mencatat Sunnah penduduk Madinah sebagai rintisan resmi pertama pembukuan Hadits. Wafat pada 98 H. yang terkenal dengan Ibn Syihab al-Zuhri. dan sebagainya. juga dari Jabir dan 'Abd-Allah Ibn 'Umar. Wafat pada 107 H. Wafat di Thaif pada 68 H. Wafat pada 114 H. dan lainnya. dan pernah dibacakan do'a oleh Nabi agar mempunyai pemahaman mendalam (tafaqquh) dalam agama. 2.Muhammad ibn Muslim. Klien Bani Makhzum. dan sebagainya. Berasal dari Daylam (daerah Iran).Salim ibn 'Abd-Allah ibn 'Umar. Abu Hurayrah.'Ubayd-Allah ibn 'Abd-Allah ibn 'Utbah ibn Mas'ud. Wafat pada 117 H. Belajar dari Sa'd. Mendapat pendidikan dari 'A'isyah (bibinya sendiri). 'A'isyah. Ibn Abbas. Zayd ibn Tsabit. Lahir dua tahun sebelum Hijrah. dan belajar dari 'Abd-Allah ibn 'Umar. Abd Hurayrah. Ibn 'Abbas. Ibn Abbas. klien 'Abd-Allah ibn 'Umar. klien Maymunah (istri Nabi saw. ia juga terkenal sebagai penyair. Lahir 50 H. Diutus oleh 'Umar ibn 'Abd-al-Aziz ke Mesir.

6. Belajar dari 'Umar. 'A'isyah. 4.Masruq ibn al-Ajda' al-Hamdani. Abu Hurayrah. Kemudian dari Basrah. Karena penampilannya sebagai sarjana dan peranannya dalam mendidik para Tabi'in maka ia termasukkan dalam daftar ini. Wafat pada 118 H. Guru utama Imam Abu Hanifah.dengan kaum Khawarij. Raja ibn Hayah al-Kindi. 'Utsman. karena ia Sahabat Nabi sejak Hijrah sampai wafat. kawan Ibn 'Abbas. 'Utsman. Wafat pada 110 H. Lahir di masa Nabi masih hidup. dan 4. Wafat pada 90 H. 'Ali dan 'A'isyah. Dari daerah Syam (Syria) beberapa tokoh ahli hukum tampil. klien Anas ibn Malik. dan sebagainya. Kedua-duanya wafat pada 95 H.Qatadah ibn Da'aman al-Dusi. dll. Murid terkemuka Ibn Mas'ud.Al-Hasan ibn Abi al-Hasan Yassar. 'Ali. 3. klien Zayd ibn Tsabit. di samping seorang sarjana terkemuka.Al-Aswab ibn Yazid al-Nakha'i. Belajar dari 'Umar. Qabishah ibn Dzu'ayb. dan lainnya. 5. kemudian dari Abu Hurayrah. 4. Wafat pada 93 H. 2. Ubbay. Sarjana Tabi'in yang paling terkemuka. Lahir 17 H. Disebutkan berkulit hitam kelam.Anas ibn Malik al-Anshari. Ibn 'Umar. Ibn Mas'ud. Dari kalangan warga Kufah yang tampil antara lain ialah: 1.'Atha ibn Rabbah. Seorang khadam. 5. Abu Hurayrah.Muhammad ibn Sirin. Cukup menarik bahwa al-Sya'bi tidak suka kepada metode qiyas (analogi) yang menjadi ciri Ahl al-Ra'y yang dikembangkan muridnya. yang fasih dan luas pengetahuan. dan sebagainya. Belajar dari 'A'isyah. Belajar dari patronnya.Abu al-'Aliyah Rafi' ibn Mahran al-Riyahi. Wafat pada 63 H. Seorang pejuang yang terkenal berani. Keduanya bersaudara.Abu al-Syaitsa'. Ibn 'Abbas dan Ibn 'Umar. Namun yang paling . Wafat pada 114 H. Selain ahli hukum Islam. Ibn 'Abbas. Belajar dari 'Ali. sejarah dan geneologi (al-nasab). Ibn Mas'ud. 3. Sangat banyak mendapat pujian dari para 'ulama' yang lain. dan sebagainya. Makhul ibn Abi Muslim. Selain belajar dari Nabi juga banyak belajar dari Abu Bakr. 'Ali. Abu Idris al-Khulani. Abu Hanifah. Wafat pada 110 H.'Amir ibn Syarahil al-Sya'bi. termasuk mereka yang hidup sezaman.Ibrahim ibn Yazid al-Nakha'i. Ibn 'Abbas. Banyak belajar dari kawannya sendiri itu. Wafat pada 107 H. Dibesarkan di Madinah dan menghafal al-Qur'an di zaman 'Utsman.'Alqamah ibn Qays al-Nakha'i. dan sama-sama tampil sebagai sarjana terkemuka. tampil tokoh-tokoh. Ibn Mas'ud. 'Umar. dan belajar dari 'Umar. Wafat pada 90 H. Jabir ibn Zayd. Wafat pada 62 H. 2. dan lain-lain. antara lain: 1. seperti 'Abd-al-rahman ibn Gahnim al-Asy'ari. ia juga ahli bahasa.

yaitu Yaman. dan Ahmad ibn Hanbal. Mesir saat itu belum menjadi tandingan tempat-tempat yang tersebut di atas.Al-Sayyid Sabiq. 6. h. 7fe7). Malik. lihat al-Syaykh Muhammad al-Hudlari Beg. yang belajar dari Ibn 'Umar. 1949). 17. 3. Ibn 'Abbas. 7. Jabir. 'A'isyah. seperti 'Abd-Allah ibn al-'Ash (wafat pada 65 H. Di Jazirah Arabia sebelah selatan. (Kuwait: Dar al-Bayan 1968/1388).). telah melapangkan jalan bagi tampilnya para imam madzhab yang sampai saat ini pengaruhnya masih amat kukuh seperti Abu Hanifah.) yang belajar dari Zayd ibn Tsabit.).. I h. 'Abd-al-Khayr ibn 'Abd-allah al-Yazani (wafat pada 90 H. h.penting dari para sarjana Syam itu ialah Khalifah 'Umar ibn 'Abd-al-'Aziz. (mengakui empat Khalifah pertama: Abu Bakr. dan lainnya.Al-Syaykh 'Ali al-Khafifi. CATATAN 1. Kemudian Wahb ibn Munabbin al-Shan'ani. [7] Para tokoh ahli hukum itu dan kegiatan ilmiah serta pengajarannya telah mendorong tumbuhnya para spesialis hukum angkatan berikutnya. h. 222. terkenal sebagai 'Umar II dan banyak dipandang sebagai yang kelima dari al-Khulafa' al-Rasyidin. dan lainnya." dalam Al-Ijtihad fi al-Syari'at al-Islamiyyah. 2. 13. al-Layts ibn Sa'd.Untuk keterangan lebih lengkap tentang tokoh-tokoh ini. 224-5.). Wafat pada 114 H. antara lain. Dialah yang mengukuhkan tarbi. Mereka itu. 4. Kota Kairo belum ada (baru didirikan oleh Dinasti Fathimiyah kelak. 5. h.Ibid. 1387/1968). hh. 1404/1984).Musthafa al-Siba'i. 'Umar. al-Syafi'i. Tarikh al-Tasyri' al-Islami (Beirut: Dar al-Fikr. 223. Walaupun begitu telah tampil pula di kalangan Mesir beberapa sarjana terkemuka. dan lainnya. jil. juga banyak muncul sarjana-sarjana dengan pengaruh yang jauh keluar dari batasan daerahnya sendiri. Yazid ibn Abi Habib yang disebut-sebut sebagai pelopor ilmu pengetahuan di Mesir dan ahli masalah halal dan haram (wafat pada 128 H. 'Utsman dan 'Ali) dan mensponsori secara resmi (kenegaraan) usaha penulisan Sunnah atau Hadits. (Riyadl: Jami'at al-Imam Muhammad ibn Su'ud al-lslamiyyah. Fiqh al -Sunnah. Selanjutnya ialah Yahya ibn Abi Katsir yang menurut sementara 'ulama' yang lain seperti Syu'bah dianggap lebih ahli tentang Hadits daripada al-Zuhri tersebut. Sufyan al-Tsawri. Dia wafat pada 101 H.Ibid. . Al-Sunnah wa Makanatuha fi al-Tasyri' al-Islami (Kairo: al-Dar al-Qawmiyyah. Abu Hurayrah.Ibid. seperti al-Awza'i. bersama Masjid-Universitas al-Azharnya). Thawus ibn Kaysan al-Jundi (wafat pada 106 H. Mereka ini. pada gilirannya.. "Al-Ijtihad fi 'Ashr al-Tabi'in wa Tabi'i 'l-Tabi'in. hh. dan ibukota Mesir ialah Fusthath yang perkembangannya tidak terlalu pesat seperti lain-lain. 126-41.

Jenis produk pemikiran hukum keempat. kitab-kitab itu tidak dimaksudkan untuk diberlakukan secara umum di suatu negeri. karena itu memerlukan perhatian tersendiri pula. tapi juga para politisi dan cendekiawan lainnya. meskipun dalam sejarah kita mengetahui. dan peraturan perundangan di negeri-negeri Muslim. Fatwa-fatwa ulama atau mufti. FIQH DAN REAKTUALISASI AJARAN ISLAM Oleh Atho' Mudzhar Sedikitnya ada empat macam produk pemikiran hukum Islam yang kita kenal dalam perjalanan sejarah Islam. untuk . Masing-masing produk pemikiran hukum itu mempunyai ciri khasnya tersendiri. fatwa-fatwa ulama. Orang yang terlibat dalam perumusannya juga tidak terbatas pada para fuqaha atau ulama. 7501983. tapi sifat responsifnya itu yang sekurang-kurangaya dapat dikatakan dinamis. Ini juga bersifat mengikat atau mempunyai daya ikat yang lebih luas. yaitu peraturan perundangan di negeri Muslim. tapi fatwa biasanya cenderung bersifat dinamis karena merupakan respon terhadap perkembangan baru yang sedang dihadapi masyarakat si peminta fatwa. Kitab-kitab fiqh ketika ditulis juga tidak dimaksudkan. (021) 7507174 Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota Please direct any suggestion to Media Team Artikel Yayasan Paramadina Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota IV. Isi fatwa itu sendiri belum tentu dinamis.-------------------------------------------Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah Editor: Budhy Munawar-Rachman Penerbit Yayasan Paramadina Jln. Jenis produk pemikiran Islam yang kedua. ialah kitab-kitab fiqh yang pada saat di tulis pengarangnya. keputusan-keputusan pengadilan agama ini sifatnya mengikat kepada pihak-pihak yang berperkara. dalam arti si peminta fatwa tidak harus mengikuti isi/hukum fatwa yang diberikan kepadanya. yaitu: kitab-kitab fiqh. Fatwa tidak mempunyai daya ikat. Berbeda dengan fatwa. (021) 7501969. sifatnya adalah kasuistik karena merupakan respon atau jawaban terhadap pertanyaan yang diajukan peminta fatwa. adalah keputusan-keputusan pengadilan agama. 7507173 Fax. beberapa buku fiqh tertentu telah diperlakukan sebagai kitab undang-undang. Metro Pondok Indah Pondok Indah Plaza I Kav. Jenis produk pemikiran hukum ketiga. keputusan-keputusan pengadilan agama.28. UA 20-21 Jakarta Selatan Telp. dan sampai tingkat tertentu juga bersifat dinamis karena merupakan usaha memberi jawaban atau menyelesaikan masalah yang diajukan ke pengadilan pada suatu titik waktu tertentu.

Ketika seorang faqih dari suatu masa menuliskan tintanya menjadi kitab fiqh. Inilah kedudukan kitab fiqh sebagai salah satu bentuk produk pemikiran hukum Islam dan karakteristik serta kecenderungan-kecenderungannya dibanding dengan produk-produk pemikiran hukum lainnya: fatwa. Dengan tidak adanya masa laku ini. Gambaran ini diperlukan.maka kitab-kitab fiqh sifatnya menyeluruh dan meliputi semua aspek bahasan hukum Islam. yang pada gilirannya akan mempengarahi cara pandang dan cara pikir fuqaha itu sendiri. Dan ketiga. Dengan cara meletakkan fiqh pada proporsinya yang demikian itu maka diharapkan kita akan memperlakukannya secara proporsional pula. Akibatnya. dalam rangka reaktualisasi ajaran Islam.digunakan pada masa atau periode tertentu. Selain itu kitab-kitab fiqh juga mempunyai karakteristik lain. membiarkan fiqh sebagai kumpulan aturan yang tidak mempunyai batasan masa lakunya. bukan saja sebagai orang yang memaklumi produk pemikiran keagamaan tapi sebagai penjaga hukum agama itu sendiri. Karena itu kitab-kitab fiqh cenderung menjadi resisten terhadap perubahan. fiqh hanyalah salah satu dari beberapa bentuk produk pemikiran hukum Islam. SIKAP MUSLIM TERHADAP FIQH Setelah kita melihat bagaimana seharusnya memandang fiqh. maka fiqh sebenarnya tidak boleh resisten terhadap pemikiran baru yang muncul kemudian. dan karena hukum Tuhan adalah hukum yang paling benar dan tidak bisa dirubah maka kitab-kitab fiqh bukan saja dipandang sebagai produk keagamaan. Akibat lebih lanjut dari kedudukan fiqh yang diidentikkan dengan agama itu. Kedua. Dengan cara pandang itu. khususnya masyarakat Islam Indonesia. dan hukum Islam dipandang identik dengan aturan Tuhan. sekarang kita lihat bagaimana dalam kenyataan. karena sifatnya sebagai produk pemikiran. maka kitab-kitab fiqh cenderung dianggap harus berlaku untuk semua masa. maka orang yang menguasai fiqh yang biasanya disebut fugaha. selama berabad-abad fiqh menduduki tempat yang amat terpandang sebagai bagian dari agama itu sendiri. adalah sama dengan menghalalkan produk pemikiran manusia yang semestinya temporal. dan peraturan perundangan negeri Muslim. atau akan mengganggu keutuhan isi keseluruhannya. Sebagai akibatnya. Sebagai salah satu akibat dari sifatnya yang menyeluruh ini. juga mempunyai kedudukan tinggi. Kalau fatwa dan keputusan pengadilan agama sifatnya kasuistik --yaitu membahas masalah tertentu-. Secara sosiologis kedudukan demikian itu memberi hak-hak istimewa dan peranan tertentu kepada fuqaha pada lapisan sosial tertentu. dan saran-saran pemecahan masalahnya. masyarakat memandang fiqh. keputusan pengadilan agama. maka perbaikan atau revisi terhadap sebagian isi kitab fiqh dianggap dapat. maka kitab-kitab fiqh dipandang sebagai kumpulan hukum Tuhan. maka sebenarnya itu . fiqh cenderung dianggap sebagai aturan Tuhan itu sendiri. Pada umumnya masyarakat Islam. dan bukan bagian dari produk pemikiran keagamaan. seperti pertama. yang oleh sebagian orang lalu dianggap sebagai jumud atau beku alias tidak berkembang. memandang fiqh identik dengan hukum Islam. sebelum kita mencoba memberi analisa lebih jauh tentang mekanisme kerja fiqh. tapi sebagai buku agama itu sendiri.

sebagaimana telah disebutkan di muka. Demikian kesalahpahaman yang terjadi di kalangan sementara orang Islam. Kadang-kadang fiqh yang dipeliharanya itu adalah produk para pendahulunya. Inilah yang menyebabkan lahirnya pandangan yang telah membiarkan fiqh sebagai kumpulan aturan yang tidak mempunyai batasan masa lalu . Kedua aliran ini telah menghasilkan kitab-kitab fiqh yang berbeda.tidak terlepas sebagian atau tadi. apalagi aspek-aspek kehidupan yang merupakan produk perkembangan zaman modern. jumlah ayat al-Qur'an mengenai hukum itu hanya sedikit sekali (kurang lebih 276-500 ayat). aturan yang disebut hukum Islam itu tidak boleh terkena intervensi akal manusia karena hukum Islam itu adalah kebenarannya mutlak yang hanya diatur dengan wahyu. terdapat dua aliran besar di kalangan para pendiri madzhab. tapi kadang-kadang juga produksinya sendiri. dalam mencoba memahami dan menjabarkan ajaran Islam tentang hukum. dan karenanya tidak meliput semua aspek kehidupan manusia. dalam hal porsi penggunaan akal. sebenarnya terjadi siklus yang menarik diamati: bahwa untuk menjaga dan memeliharanya. empat diantaranya akan disebutkan dan diuraikan di sini. produk-produk pemikiran fiqh itu dianggap sebagai identik dengan hukum Tuhan itu sendiri. sedangkan kelompok kedua menghasilkan kitab-kitab fiqh yang bersifat rasional. Jadi sejak awal pertumbuhannya telah ada pihak-pihak yang berpendirian. Kekeliruan ini rasanya perlu diperbarui dan dibetulkan. EMPAT PASANGAN PILIHAN Terdapat sejumlah pasangan pilihan yang dapat mempengaruhi pandangan seseorang tentang fiqh. Kelompok pertama terutama berkembang di Madinah. dipelopori Imam Abu Hanifah. Kelompok pertama kemudian dikenal dengan ahl al-hadith dan kelompok kedua disebut ahl al-ra'yi. Meskipun pandangan ini bersifat utopis karena kenyataan. maka para fuqaha memerlukan kehidupan fiqh yang tinggi. dalam memandang fiqh. Ironisnya. Kelompok pertama adalah mereka yang mengutamakan penggunaan hadits dalam memahami ayat-ayat Qur'an dan kelompok kedua. dan dipelopori Imam Malik bin Anas dan kelompok kedua berkembang di Kufah dan Baghdad. dan untuk itu terlebih dahulu perlu dipahami faktor-faktor apa sebenarnya mengakibatkan kekeliruan tersebut. Imam Syafi'i sebenarnya telah berusaha menjembatani kedua kelompok itu. Kitab-kitab fiqh hasil kelompok pertama lebih memberi tempat kepada hadits-hadits meskipun lemah. tapi pandangan ini telah mempunyai pengaruh dalam memberikan label bahwa produk pemikiran fiqh itupun merupakan upaya menafsirkan kehendak Tuhan yang bersifat abadi dalam bidang hukum. tapi tidak sepenuhnya berhasil. dari cara seluruhuya pandang dan cara pikirnya yang diwarnai oleh kedudukan sosialnya Di sini. karena beliau sendiri pada akhirnya lebih memihak pada kelompok pertama. dan untuk memelihara status diri mereka. adalah mereka yang mengutamakan penggunaan akal. Pilihan Wahyu dan Akal Dalam sejarah pertumbuhan hukum Islam kita mengetahui. Keempat pasangan pilihan tersebut ialah sebagai berikut: 1. fiqh memerlukan penjaga yang disebut faqih atau fuqaha. tidak terkecuali di Indonesia.

Jadi. Orang harus melakukan pilihan antara pandangan yang mengatakan hukum Islam itu universal. jurist. 2. antara cita-cita dan kenyataan. atau para ahli hukum. Kita mengetahui dari sejarah. Hukum Islam yang dianggap universal itu sebenarnya adalah produk fuqaha dari suatu lingkungan kultur tertentu. meskipun untuk itu mereka harus masuk penjara. telah mengakibatkan mandeknya perkembangan fiqh. sementara wahyu yang mendasarinya hanya beberapa ratus ayat saja. seperti yang kita saksikan selama ini. dan merupakan ekspresi dari kultur tertentu di sekitar Timur Tengah.dan cenderung mengekalkan produk pemikiran manusia yang semestinya temporal dan liable terhadap perubahan. adalah kitab-kitab fiqh yang ditulis lima atau enam abad yang lalu. bahwa pandangan pertama telah mendominasi benak kaum Muslim selama berabad-abad. Tapi pada kenyataan kita melihat. selain sudah tua. Tapi karena hukum Islam dipandang identik dengan fiqh. Sekarang kita melihat madzhab-madzhab itu sebagai aliran-aliran dalam hukum Islam. Hukum Islam sebagai kesatuan artinya. kesalahan dalam melakukan pilihan yang tepat antara porsi peranan wahyu dan akal telah mempunyai dampak yang serius dalam sejarah perkembangan --atau lebih tepatnya ketidak-berkembangan fiqh. lebih ironis lagi. Demikianlah perkembangan hukum Islam. Ini berarti --sejarah telah membuktikannya-. maka kitab fiqh yang berpuluh-puluh jilid itupun menjadi tabu mendapatkan revisi. Pilihan Idealisme dan Realisme Pasangan pilihan ketiga yang telah mempengaruhi perkembangan fiqh adalah pilihan antara idealisme dan realisme. Artinya kitab-kitab fiqh itu partikularistik. atau lebih tepatnya kesalahan dalam memberikan porsi peranan wahyu dan akal ternyata telah membawa pada kejumudan fiqh itu sendiri yang justru meliputi sebagian terbesar dari aturan hukum Islam yang ada. Tapi justru kitab-kitab yang dipandang sebagai hukum Islam itu di Indonesia dipandang universal tadi. dan sebagai hasilnya fiqh selalu resisten terhadap perubahan.fiqh pada umumnya dirumuskan para teoritisi belakang meja daripada . Bahkan kita mengetahui banyak fuqaha menolak jabatan qadi atau hakim. mengidentikkan fiqh dengan hukum Islam yang universal. kitab-kitab fiqh yang kita pelajari itu mengandung ekspresi lokal di Timur Tengah sana. Kesalahan dalam melakukan pilihan antara wahyu dan akal. dan bukan oleh para hakim di pengadilan agama. Begitulah. fiqh yang dipandang identik dengan hukum Islam itu bermacam-macam. bahwa kitab-kitab fiqh itu pada umumnya ditulis para fuqaha. Kitab-kitab fiqh yang kita pelajari sekarang di Indonesia ini. Pilihan Kesatuan dan Keragaman Pasangan pilihan kedua adalah. 3. Kita mengetahui dalam sejarah. Jadi. dan dari suatu masa tertentu di masa silam. dan sebagian diterjemahkan atau disadur dalam bahasa Indonesia. dengan pandangan yang mengatakan hukum Islam itu partikular . Bagi kita kaum Muslim Indonesia. antara hukum Islam sebagai kesatuan dan hukum Islam sebagai keragaman. Tentu saja selebihnya adalah produk penafsiran dan pemikiran manusia. tapi dulunya lebih merupakan ekspresi lokal. untuk seluruh umat Islam di dunia. karena hukum Islam itu adalah hukum Tuhan maka semestinya hukum Islam itu hanya ada satu macam saja untuk seluruh umat manusia. Kita mengetahui terdapat berbagai madzhab dalam fiqh. Satu kitab fiqh dapat ditulis dalam berpuluh-puluh jilid.

melainkan akibat lanjutan dari pilihan pada pasangan-pasangan sebelumnya. dan lebih khusus lagi dalam bidang fiqh. 4. Pasangan pilihan ini sebenarnya tidak sepenuhnya berdiri sendiri. LANGKAH-LANGKAH REAKTUALISASI Uraian di atas dapat disimpulkan: Kemandekan pemikiran fiqh di dunia Islam selama ini adalah karena kekeliruan menetapkan pilihan dari pasangan-pasangan pilihan tersebut di atas. dan Irak. Semua itu.praktisi di lapangan. dengan mengintrodusir dan memperbaharui peraturan perundangan. Kebekuan fiqh itu. atau sekurang-kurangnya kekeliruan dalam menentukan bobot masing-masing pilihan itu. ini berarti hukum Islam itu harus stabil. Fiqh telah mewakili hukum dalam bentuk cita-cita daripada sebagai respon atau refleksi kenyataan yang ada secara realis. khususnya dalam bidang hukum. Beberapa negeri Muslim setelah pertemuan yang pahit dengan peradaban Barat. dan karenanya boleh diotak-atik. maka secara konseptual hukum Islam tidak menerima adanya variasi. fiqh yang dihasilkannya lebih mengekspresikan hal-hal yang ideal daripada real. Fiqh harus dipandang sebagai varian suatu keragaman yang bersifat partikularistik yang terkait dengan tempat dan waktu. sebagaimana disebutkan di muka. Dari dimensi waktu. Karena hukum Islam harus hanya ada satu. Bahkan Saudi Arabia pun dalam banyak hal telah mulai melakukan suplemen terhadap hukum-hukum fiqh Hambali yang umumnya terlalu literalis. lebih menekankan segala sesuatunya pada hal-hal yang maksimal daripada minimal. Sebagai akibatnya. Sebagai akibatnya kitab-kitab fiqh menjadi beku. dirubah atau bahkan dibuang pada setiap saat. maka kita harus membalik pilihan-pilihan tersebut di atas. ialah: fiqh semakin hari semakin jauh dari kenyataan masyarakat. telah berlangsung selama berabad-abad. Hal ini terjadi di Tunisia. statis. Kita harus memandang fiqh sebagai produk dominan akal ketimbang wahyu. Siria. Fiqh juga telah memilih stabilitas daripada perubahan. telah mengakibatkan kemandekan pemikiran fiqh di dunia Islam selama ini. Jika kita hendak mereaktualisasikan ajaran-ajaran Islam. fiqh harus dilihat sebagai mata rantai perubahan yang tak henti-hentinya tanpa harus dipersoalkan keabsahannya karena toh pada akhirnya fiqh itu hanya menyangkut soal cabang . Pilihan Stabilitas dan Perubahan Pasangan pilihan keempat adalah pilihan stabilitas dan perubahan. Ini telah terjadi pada saat kitab fiqh itu dituliskan. apalagi ketika kitab-kitab fiqh itu menjadi remote dari masyarakat yang mengamalkannya. dan resisten terhadap perubahan. Fiqh harus dikembangkan dari yurisprudensi pengadilan yang bertumpu pada realisme. khususnya dalam hal hukum keluarga. baik remote waktu maupun tempat. Fiqh telah dipandang sebagai ekspresi kesatuan hukum Islam yang universal daripada sebagai ekspresi keragaman partikular. Mesir. Akibat lain dari pilihan atas idealisme daripada realisme itu. Pendek kata. dan tidak boleh mengalami perubahan. Baru pada abad ke-19 terdengar suara-suara untuk melakukan perubahan terhadap fiqh yang ada. mulai mencoba melakukan revisi terhadap fiqhnya.

MASALAH SIMBOL DAN SIMBOLISME DALAM EKSPRESI KEAGAMAAN (1/2) Oleh Nurcholish Madjid Ketika Kyai Ahmad Dahlan mulai menapak jalan menuju cita-cita reformasi Islam di Indonesia. Kedua. maka produk pemikiran hukum itu dengan sendirinya harus dirubah. beliau memperkenalkan dan mempropagandakan sebuah surat pendek al-Qur'an dari Juz 'Amma. adanya keberanian di kalangan umat Islam untuk mengambil pilihan-pilihan yang tidak konvensional dari pasangan-pasangan pilihan tersebut di atas. Noel J.. 1977). (021) 7501969. Catatan-catatan kuliah Sejarah Sosial Hukum Islam pada Fakultas Pasca Sarjana. Metro Pondok Indah Pondok Indah Plaza I Kav. 7507173 Fax. 1969). dan tidak pula menyadari betapa surat pendek itu dapat menjadi pangkal gerakan kemanusiaan yang besar dan mendalam seperti . agar dapat memahami partikularisme dari produk pemikiran hukum itu.dari agama. Tetapi. UA 20-21 Jakarta Selatan Telp. Surat itu sendiri sudah merupakan bagian dari hafalan baku para santri. adanya tingkat pendidikan dan tingkat keterbukaan yang tinggi dari masyarakat Muslim. Chicago. dan termasuk yang sering dibaca dalam shalat itu. sampai dengan tampilnya Kyai Dahlan dengan Muhammadiyahnya. Muhammad Muslehuddin. khususnya para imam shalat. DAFTAR KEPUSTAKAAN Atho' Mudzhar. Dengan demikian dinamika hukum Islam dapat terus dijaga dan dikembangkan. Philosophy of Islamic Law and the Orientalists (Islamic Publications Ltd. 7501983. yaitu surat al-Ma'un (QS 107). Dengan demikian. 1990/1991. Conflicts and Tensions in Islamic Law (The University of Chicago Press.35. kaum muslim Indonesia seperti tidak pernah tersentuh oleh makna dan semangat firman Allah itu. sedikitnya ada tiga syarat yang harus dipenuhi yaitu: Pertama. IAIN Jakarta. jika di tempat lain atau pada waktu lain ditemukan unsur-unsur partikularisme yang berbeda. (021) 7507174 Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota Please direct any suggestion to Media Team Artikel Yayasan Paramadina Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota V. Coulson. Dan ketiga. memahami faktor-faktor sosiokultural dan politik yang melatarbelakangi lahirnya suatu produk pemikiran fiqhiyah tertentu. -------------------------------------------Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah Editor: Budhy Munawar-Rachman Penerbit Yayasan Paramadina Jln. Pakistan. Tapi untuk melakukan pilihan-pilihan yang tepat diperlukan beberapa syarat.

surat al-Ma'un itu terjemahnya. kita melakukan ibadat karena menghayati bahwa shalat adalah perintah Allah lalu tidak menghayati apa makna shalat itu yang lebih mendalam dan luas. Maka celakalah untuk orang-orang yang shalat. orang yang mendustakan agama? Itulah orang yang menghardik anak yatim dan tidak berjuang untuk memberi makan orang miskin. yang menurut istilah sekarang. dan yang enggan memberi pertolongan. sekurang-kurangnya mungkin sekali kita sekedar pamrih kepada sesama anggota kelompok Islam. Seperti kita ketahui.Muhammadiyah dengan amal-amal sosialnya. kita menjalankan ibadat-ibadat hanyalah untuk memenuhi kemestian-kemestian sosial kultural semata. Artinya. menegaskan keadilan sosial. Indikasinya ialah keseganan untuk berkorban guna memberi pertolongan kepada orang yang perlu. Sebab mungkin kita sendiri tidak merasa. sementara kita mungkin rajin menjalankan ibadat-ibadat formal seperti shalat. yang tingkah laku itu bakal membentuk budi pekerti luhur [2]. seperti kemestian yang ada pada pola pergaulan dalam suatu kelompok. yaitu budi pekerti yang luhur. namun tidak menghayati dan tidak mewujud-nyatakan hikmahnya." Artinya. yaitu mereka yang akan shalat tetapi lalai. yang dibidikkan oleh ibadat itu. Keagamaan yang sejati menuntut adanya wujud nyata konsekuensi ibadat. adalah karena mereka merupakan kelompok-kelompok sosial yang paling memerlukan usaha bersama untuk memperbaiki nasib mereka. Anak yatim dan orang miskin mewakili seluruh anggota masyarakat yang tidak beruntung oleh berbagai sebab dan cara. [1] Jelas sekali firman Allah itu menegaskan bahwa kepalsuan dapat terjadi dalam sikap keagamaan kita jika kita tidak memiliki komitmen batin kepada usaha-usaha. "kelompok orang-orang Islam. puasa. biarpun sedikit. Penilaian diri kita sebagai pendusta agama atau beragama secara palsu karena tidak memiliki komitmen sosial yang makin diperburuk oleh tingkah laku lahiriah kita sendiri yang nampak seperti menjalankan ibadat formal. yaitu mereka yang suka pamrih kepada sesama. dan bungkus itu dengan sendirinya akan mempunyai dampak penipuan. [5] Lalu beliau gambarkan bahwa yang paling banyak menyebabkan manusia . Jadi sesungguhnya kita menjalankan ibadat itu karena pamrih atau riya'. adalah untuk menyempurnakan berbagai keluhuran budi. Sebuah Hadits yang amat terkenal mengisyaratkan bahwa tujuan tugas suci atau risalah dibangkitkannya Nabi s. Disebutkannya anak yatim dan orang miskin. Karena itulah Allah mengutuk orang yang menjalankan ibadat formal serupa itu namun ia lupa atau lalai akan ibadat mereka sendiri.w. haji. Dikatakan semakin diperburuk karena kepalsuan kita dalam beragama memperoleh bungkus kebajikan berupa amalan ibadat lahiriah. [3] AGAMA DAN AKHLAQ Surat al-Ma'un memperingatkan kita bahwa beragama dengan tulus tidaklah cukup hanya dengan mengerjakan segi-segi formal keagamaan seperti shalat. namun ibadat itu tidak mempengaruhi tingkah laku kita yang lebih mendalam. [4] Sejalan dengan ini Nabi juga menggambarkan bahwa diantara semua kualitas manusia. kurang lebih adalah: Pernahkah engkau lihat (hai Muhammad).a. dll. tidak ada yang timbangan atau bobot nilai kebaikannya lebih erat daripada budi pekerti luhur. misalnya.

Kita diberi empat pokok: (1) iman kita harus sejati dan tulus. Mereka itulah orang-orang benar (tulus). anak-anak yatim (termasuk siapa saja yang tidak punya topangan hidup atau bantuan). Kita harus menyadari kehadiran Tuhan dan kebaikan-Nya. dan mereka didahulukan sebelum orang yang meminta. kesusahan dan masa perang. dan orang yang menepati janji jika membuat janji. Allah swt. Tindakan-tindakan derma yang praktis mempunyai nilai hanya jika keluar dari rasa cinta dan tidak dari motif-motif yang lain. dan ajaran-ajaran-Nya yang tidak lagi berada jauh dari kita. bukan sekedar pengemis yang malas tetapi orang A." [7] Dan penegasan-Nya lagi. Untuk kerabat. dan orang yang mendermakan hartanya. . [8] Dalam kaitan itu menarik sekali memperhatikan komentar Yusuf Ali atas firman yang amat penting ini. Iman bukanlah semata-mata perkara ucapan. Keempat pokok itu saling berkaitan. sanak keluarga kita. sebab kita melihat Hari Kemudian seolah-olah terjadi sekarang ini. Dalam hal ini. (2) kita harus memperlihatkannya dalam tindakan-tindakan kebaikan kepada sesama kita. peminta-minta. Kita juga melihat karya Ilahi dalam alam ciptaan-Nya. yang mendukung organisasi-organisasi sosial. yang lebih terinci: Bukanlah kebajikan itu bahwa kamu menghadapkan mukamu ke timur dan ke barat. tapi masih dapat dipandang secara terpisah. Hari kemudian. serta mereka yang tabah dalam kesulitan. dan memang berhak untuk meminta. anak-anak yatim. Jika kita sadari itu.Tetapi kebajikan ialah (jika) orang yang beriman kepada Allah. [6] Penegasan-penegasan Nabi itu merupakan kelanjutan dari ajaran al-Qur'an tentang apa yang dinamakan nilai kebajikan (al-birr atau 'amal shalih). Orang itu harus mentaati aturan-aturan yang membawa kebaikan. para malaikat. dan mereka itulah orang-orang yang berbakti (bertaqwa). Dikatakannya: Seakan untuk menekankan lagi peringatan melawan formalisme yang mematikan. kita diberi gambaran yang indah tentang orang yang salih dan takut kepada Tuhan. kitab-kitab suci dan para nabi. tapi ia harus memusatkan pandangannya kepada cinta Tuhan dan cinta sesama manusia. yakni. kewajiban kita dapat berbentuk berbagai macam. (3) kita harus menjadi warga masyarakat yang baik. orang yang benar-benar memerlukan pertolongan tetapi tidak pernah meminta (kewajiban kita menemukan mereka itu). betapapun cinta orang itu kepada harta tersebut.masuk surga ialah taqwa kepada Allah dan keluhuran budi. orang terlantar di perjalanan. dan (4) jiwa pribadi kita sendiri harus teguh dan tidak goyah dalam segala keadaan. berujud jenjang yang wajar. melainkan datang dalam pengalaman kita sendiri. dan untuk membebaskan para budak. juga. menegaskan "Kamu sekalian tidak akan memperoleh kebajikan sebelum kamu mendermakan sebagian dari (harta) yang kamu cintai. orang-orang miskin. hal-hal besar menjadi kecil di depan mata kita segala kepalsuan dan sifat sementara dunia ini akan tidak lagi memperbudak kita.

Seseorang yang datang kepada Nabi dan menceritakan tentang seorang wanita yang rajin mengerjakan shalat. Yang dimaksud ialah. "Tempat dia di neraka!." Seorang tokoh Islam Indonesia. seperti soal pakaian atau tingkah "tidak sopan" dan "tidak bermoral" tertentu. Justru sikap-sikap membatasi diri hanya kepada hal-hal ritualistik dan formal akan sama dengan peniadaan tujuan agama yang hakiki. yang memberi peringatan keras kepada orang yang suka pamer kebajikan palsu dan kemunafikan dalam menekuni segi-segi forma keagamaan. TAUHID ESENSI. sehingga tidak seharusnya dipandang dalam kerangka sebagai tujuan dalam dirinya sendiri sementara tujuan yang sebenarnya terlupakan. Disebutnya masalah menghadapkan wajah ke arah ini atau itu dalam sembahyang adalah kelanjutan dari pembahasan tentang kiblat dalam urutan ayat-ayat sebelumnya. tetapi lidahnya selalu menyakiti sanak keluarganya. Prof. Mukti Ali itu. "Tempat dia di surga. puasa dan zakat. A. namun ia rajin memberi pertolongan kepada orang-orang sengsara. Perbudakan mengandung berbagai bentuk yang tersembunyi dan berbahaya dan semuanya tercakup di situ. karena ia melalaikan shalat dan puasa. BUKAN TAUHID NAMA ." Kemudian orang itu menceritakan tentang seorang wanita yang kedengarannya jelek. banyak orang Islam yang lebih cepat bereaksi kepada gejala-gejala yang dinilai menyimpang dari ketentuan lahiriah keagamaan.[l0] Dan memang menghadapkan muka ke arah tertentu dalam ibadat hanyalah bentuk formal lahiriah semata dari sebuah amalan. Maka Nabi saw bersabda. Maka Hadits di atas dapat dirujuk sebagai sebuah ilustrasi tentang apa yang dikatakan Prof. Maka Rasul saw bersabda. namun reaksi kepada masalah-masalah kepincangan sosial seperti kemiskinan dan kezaliman masih lemah. Karena itu juga tidak pula segi-segi lahiriah itu akan menghantarkan kita menuju kebahagiaan. pernah mengatakan bahwa orang-orang Muslim banyak yang lebih peka kepada masalah-masalah keagamaan daripada masalah-masalah sosial. dan di situ nampak bahwa Nabi saw justru lebih peka pada masalah-masalah sosial yang lebih substantif daripada masalah-masalah formal keagamaan semata yang simbolik. dan tidak pernah menyakiti hati sanak keluarganya. agama kita mengajarkan bahwa formalitas ritual belaka tidaklah cukup sebagai wujud keagamaan yang benar. Prinsip ini dipertegas oleh Nabi saw dalam sebuah Hadits mengenai dua wanita: Abu Hurayrah meriwayatkan prinsip penting yang diajarkan Nabi ini. Mukti Ali.yang memerlukan bantuan kita dalam bentuk tertentu (kewajiban kita untuk tanggap kepada mereka). Jadi. Muhammad Asad menegaskan bahwa al-Qur'an menekankan prinsip yang semata-mata mengikuti bentuk-bentuk lahiriah tidaklah memenuhi persyaratan kebajikan. sebelum kita mengisinya dengan hal-hal yang lebih esensial. dan budak-budak (kita harus melakukan apa saja yang dapat kita lakukan untuk memberi atau membeli kemerdekaan mereka). [9] Dalam menafsir firman itu.

7507173 Fax. yang secara langsung atau tidak. dapat dipahami dari berbagai sumber suci dalam al-Qur'an dan Sunnah. (021) 7507174 Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota Please direct any suggestion to Media Team Artikel Yayasan Paramadina Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota V. maka bagi Dia adalah nama-nama yang terbaik". firman Allah itu mengandung makna bahwa . seperti al-Rahman. Sebab pada saat itu al-Qur'an mulai banyak menggunakan nama al-Rahman. Maka turunlah firman Allah. jika Dzat Yang Mutlak itu mempunyai nama lain. (021) 7501969. melainkan berbilang sebanyak nama yang digunakan. dan carilah jalan tengah antara keduanya. UA 20-21 Jakarta Selatan Telp. Dalam Kitab Suci al-Qur'an terdapat sebuah firman yang isinya petunjuk kepada Nabi saw menghadapi orang-orang musyrik Arab yang menolak adanya nama lain.35. dari antara nama-nama terbaik (al-asma al-husna) Tuhan. 7501983. al-Ghaffar. seperti pengucapan atau pembacaan kata-kata atau lafal-lafal tertentu dari perbendaharaan keagamaan. dll. MASALAH SIMBOL DAN SIMBOLISME DALAM EKSPRESI KEAGAMAAN (2/2) Oleh Nurcholish Madjid Menurut Sayyid Quthub. yang selama ini tidak dikenal orang Arab yang selama ini menggunakan nama Allah (al-Lah).Dzikr atau ingat kepada Tuhan adalah salah satu bentuk ritus yang amat penting dalam agama Islam. selain nama "Allah" untuk Wujud Maha Tinggi. al-Razzaq.(bersambung 2/2) Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah Editor: Budhy Munawar-Rachman Penerbit Yayasan Paramadina Jln. Dan janganlah engkau (Muhammad) mengeraskan shalatmu. jangan pula kau lirihkan. al-Rahim. memberi petunjuk kepada Nabi dalam menghadapi mereka: "Katakan (hai Muhammad)." [12] -------------------------------------------. Metro Pondok Indah Pondok Indah Plaza I Kav. Namun dzikr juga dapat melahirkan gejala formal. berarti Ia tidak Maha Esa. Selain lafal "Allah" sebagai lafal keagungan (lafzh al-jalalah) karena merupakan nama Wujud Maha Tinggi yang utama juga terdapat lafal-lafal lain yang merupakan nama-nama Wujud Maha Tinggi itu. "Serulah olehmu sekalian (nama) Allah atau serulah olehmu sekalian (nama) al-Rahman. kaum musyrik Arab mengira bahwa Nabi tidak konsisten dalam mengajarkan paham Ketuhanan Yang Maha Esa. nama manapun yang kamu serukan. khususnya kata-kata atau lafal yang berkaitan dengan Tuhan seperti "Allah" dan "La ilaha illa 'l-lah". Karena salah paham. Dalam pandangan mereka yang keliru itu. Sebetulnya dzikir adalah lebih banyak sikap hati (dzat al-shadr).

Jadi yang bersifat Maha Esa itu bukanlah Nama-Nya. Dzat Yang Maha Esa itulah yang bernama "Allah" dan atau "al-Rahman" serta nama-nama terbaik lainnya. ia menjelaskan nama "Allah" dan bagaimana menyembah-Nya secara benar sebagai jawaban atas pertanyaan Hisyam: "Allah" (kadang-kadang dieja. padahal Allah banyak menggunakan nama itu dalam Taurat." Maka turunnya ayat itu tidak lain ialah untuk menegaskan bahwa kedua nama itu sama saja. ia sungguh telah kafir dan tidak menyembah apa-apa. selain nama "Allah". Firman itu juga merupakan sanggahan terhadap kaum Jahiliah yang mengingkari nama "al-Rahman". dan keduanya menunjuk kepada Hakikat.manusia dibenarkan memanggil atau menyeru dan menamakan Tuhan mereka sekehendak mereka sesuai dengan nama-nama-Nya yang paling baik (al-asma al-husna). bukan Tauhid Nama). "Al-Lah") berasal "ilah" dan "ilah" mengandung makna "ma'luh'. Karena itu al-Baidlawi menegaskan bahwa pahan Tauhid bukanlah ditujukan kepada nama. guru dari para imam dan tokoh keagamaan besar dalam sejarah Islam.. mendengar tentang ucapan Nabi dalam sujud itu. tetapi kepada suatu dzat atau esensi. sebab Dia mempunyai banyak nama. dan nama (ism) tidaklah sama dengan yang dinamai (al-musamma). Maka Tauhid yang benar ialah "Tawhid al-Dzat" bukan "Tawhid al-Ism" (Tauhid Esensi. maka ia sungguh telah musyrik dan menyembah dua hal. Jadi. ia berkata: "Dia (Muhammad) melarang kita menyembah dua Tuhan." Ada juga penuturan bahwa ayat itu turun kepada Nabi karena kaum Ahl al-Kitab pernah mengatakan kepada beliau. Kalau seandainya nama itu sama dengan yang dinamai. "Tambahilah aku (ilmu)". [l3] Berkenaan dengan alasan turunnya firman itu. tokoh musyrik Makkah yang sangat memusuhi kaum beriman. Tetapi Allah Yang Maha Mulia dan Maha Agung adalah suatu Makna (Esensi) yang diacu oleh nama-nama itu. yaitu Dzat (Esensi) Wujud Yang Maha Mutlak itu. Dan barangsiapa menyembah makna tanpa nama maka itulah Tawhid. Sebab suatu nama tidaklah diberikan kepada nama yang lain. dan dalam bersujud beliau mengucapkan: "Ya Allah. al-Baidlawi dan al-Nasafi menegaskan bahwa kata ganti nama "Dia" dalam kalimat "maka bagi Dia adalah nama-nama yang terbaik" dalam ayat itu mengacu tidak kepada nama "Allah" atau "al-Rahman". Dalam sebuah penuturan. Maka barangsiapa menyembah nama tanpa makna. melainkan kepada sesuatu yang dinamai. Ja'far al-Shadiq menyambung. "Engkau (Muhammad) jarang menyebut nama al-Rahman. wahai Hisyam?" Hisyam mengatakan lagi. maka setiap nama itu adalah suatu Tuhan. [l4] Pandangan Ketuhanan yang amat mendasar ini diterangkan dengan jelas sekali oleh Ja'far al-Shadiq. melainkan kepada esensi. Barangsiapa menyembah nama dan makna (sekaligus). Ketika Abu Jahal. (yang disembah). Engkau mengerti. dan sekarang ia sendiri menyembah Tuhan yang lain lagi. bahwa di suatu malam nabi beribadat. ya Rahman". bukannya "Allah" bernama "al -Rahman" atau "al-Rahim"." [15] . "Bagi Allah Yang Maha Mulia dan Maha Agung ada sembilanpuluh sembilan nama. baik untuk kalangan Ahl al-Sunnah maupun Syi'ah. melainkan Dzat atau Esensi-Nya. Dzat atau Wujud yang satu dan sama.. sedangkan nama-nama itu sendiri seluruhnya tidaklah sama dengan Dia . Zamakhsyari. tafsir-tafsir klasik menuturkan adanya Hadits dari Ibn Abbas.

Allah adalah Wujud dan tertutup dari kemampuan penglihatan. 'Ali Ibn Abi Thalib ra. Bersamaan dengan penggunaan simbol-simbol diperlukan adanya kesadaran tentang hal-hal yang lebih substantif. Orang Arab mengatakan "Seseorang tercekam (aliha) jika ia merasa bingung (tahayyara) atas sesuatu yang tidak dapat dipahaminya. berarti kita harus menunjukkan penyembahan kita kepada Dia yang menurut al-Qur'an memang tidak tergambarkan. tidak mampu atau bingung) mengetahui Esensi-Nya (Mahiyyah) dan memahami Kualitas-Nya (Kaifiyyah).") pada penutupannya. dan tidak intrinsik (dalam arti tidak menjadi tujuan dalam dirinya sendiri. menyembah Tuhan sebagai maknanya berarti menyembah Wujud yang tak terjangkau dan tak terhingga.'assalamu'alaikum . betapapun nama-nama itu nama-nama utama (al-Asma al-Husna). betapapun. [17] Jadi.. dan bukan menyembah Nama seperti yang diperingatkan dengan keras sebagai suatu bentuk kemusyrikan oleh Ja'far al-Shadiq itu. namun tetap ada kesadaran bahwa suatu simbol hanya mempunyai nilai instrumental. jika terdapat kewajaran dalam penggunaan simbol-simbol sedemikian rupa sehingga agama memiliki daya cekam kepada masyarakat luas (umum). yang Hakikatnya tidak dibatasi oleh nama-nama-Nya. Sebab. seperti ditegaskan oleh Ja'far al-Shadiq yang dikutip di atas. dan yang terdinding dari dugaan dan benih pikiran. yang justru mempunyai nilai intrinsik. Jadi "al-Lah" ialah Dia yang tertutup dari indera makhluk. namun simbol tanpa makna adalah absurd. menerangkan. sambil melupakan Makna dan Esensi di balik Nama itu.Kalau kita harus menyembah Makna atau Esensi. [16] Dan Muhammad al-Baqir ra. Maka agama ialah pendekatan diri kepada Allah dan perbuatan baik kepada sesama manusia. Jadi. jangankan sekedar simbol dan ritus. Berkenaan dengan ini. tidak benar untuk dijadikan tujuan penyembahan. dan orang itu terpukau (walaha) jika ia merasa takut (fazi'a) kepada sesuatu yang ia takuti atau kuatiri. dan tidak sebanding dengan apapun. antara nama (ism) dan yang dinamakan (musamma) tidak identik. sebagaimana keduanya itu dipesankan kepada kita melalui shalat kita. muspra dan malah berbahaya. Justru segi ini harus ditumbuhkan lebih kuat dalam masyarakat. Nama Tuhan pun. mewariskan penjelasan yang amat berharga kepada kita Dia mengatakan. menurut Hadits-hadits di atas. Agama tidak mungkin tanpa simbolisasi.. "Allah" maknanya "Yang Disembah" yang agar makhluk (aliha. Maka sebenarnya yang boleh dikatakan "ideal" dalam kehidupan keagamaan ialah jika ada keseimbangan antara simbolisasi dan substansiasi. yang mengenai Dia itu makhluk merasa tercekam (ya'lahu) dan dicekam (yu'lahu) oleh-Nya. Artinya. CATATAN . melainkan menuju kepada suatu nilai yang tinggi). dalam makna takbir (ucapan "Allah-u Akbar") pada pembukaan dan dalam makna taslim (ucapan. "Allah" artinya "Yang Disembah" (al-Ma'bud).

. perkataan "yahudldlu" menunjuk pada adanya komitmen batin yang tinggi. Yang dimaksud dalam firman ini bukanlah mereka itu dikutuk Allah karena lupa mengerjakan shalat yang disebabkan. dalam The Message of the Qur'an. Tapi yang dimaksud dalam firman itu ialah mereka yang menjalankan shalat itu lupa akan shalat mereka sendiri. Jadi bergaya hidup egoistis. Hassan dalam Al-Furqan. Yang diterjemahkan dengan "lupa" atau "lalai" dalam firman itu ialah kata-kata yang dalam bahasa aslinya (Arab) "sahun".("Tiada sesuatu apapun yang dalam timbangan (nilainya) lebih berat daripada keluhuran budi"). Apalagi jika lebih buruk! 3. kata-kata "al-ma'un" mencakup hal-hal kecil yang diperlukan orang dalam penggunaan sehari-hari. karena baginya perkataan "yahudldlu" mempunyai makna "mendorong diri sendiri" (sebelum mendorong orang lain).. Jadi. Dan Muhammad Asad. terlalu sibuk bekerja. In its wider sense. Perkataan "yahudldlu" yang diterjemahkan dengan "berjuang" di sini mempunyai asal arti "menganjurkan dengan kuat". 4.. Yaitu sabda Nabi saw." 5. berdasarkan berbagai tafsir klasik. hal. A. kata-kata itu berarti "bantuan" atau "pertolongan" dalam setiap kesulitan) -The Message of the Qur'an. Sebab lupa dan alpa serupa itu justru dimaafkan oleh Allah. Kata-kata Arab "al-ma'un" yang merupakan ujung surat dan menjadi nama suratnya dijelaskan oleh Muhammad asad. sehingga mereka yang menjalankan shalat itu dengan mereka yang tidak menjalankannya sama saja. as well as the occasional acts of kindness consisting in helping out one's fellow-men with such item. 4 jilid. al Ma'un/107:1-7. khususnya mereka yang memerlukan pertolongan. misalnya. 2. juga perbuatan kebaikan kala-kala berupa pemberian bantuan kepada sesama manusia dalam hal-hal kecil tersebut. [tulisan Arab] "Innama bu'its-tu li-utammim-a makarim-a 'l-akhlaq-iSesungguhnya aku diutus hanyalah untuk menyempurnakan berbagai keluhuran budi. tt. 46). yakni usaha mengangkat dan menolong nasib kaum miskin. Berarti bahwa indikasi ketulusan dan kesejatian dalam beragama ialah adanya komitmen sosial yang tinggi dan mendalam kepada orang bersangkutan. tidak dikutuk. Ibn Taymiyyah. Dalam maknanya yang lebih luas. Maktabat al-Riyadl al-Haditsah. it denotes "aid" or "assistance" in any difficulty" (. menerjemahkannya dalam bahasa Inggeris dengan "feels no urge" (tidak merasakan adanya dorongan). QS. tidak peduli kepada orang lain sekitar. Riyadl. Minhaj al-Sunnah.. dalam arti bahwa shalat mereka tidak mempunyai pengarah apa-apa kepada pendidikan akhlaknya. [tulisan Arab] "ma min syay-in fi 'il-mizan-i atsqal-u min husn-i 'l-khulaq-i. 979." Departemen Agama menerjemahkan dengan "menganjurkan" sedangkan Mahmud Yunus dalam tafsir Qur'an Karim menggunakan perkataan "menyuruh". (Lihat. Jilid 3. hal. menerjemahkan perkataan itu dengan "menggemarkan.1. sebagai "comprises the small items needed for one's daily use. Yaitu sabda nabi yang amat terkenal.

69. hal. 93: 12. 7507173 Fax. UA 20-21 Jakarta Selatan Telp. 17. menurut sebuah penuturan. 16. lihat tafsir ayat bersangkutan dalam kitab-kitab tafsir klasik: Anwar al-Tanzil wa Asrar al-Ta'wil oleh al-Baidlawi. 73. 14. "Aktsar-u ma yudkhil-u 'l-jannat-a taqwa 'l-Lah-i wa husn-u 'l-khuluq-i "Yang paling banyak memasukan orang ke dalam surga ialah taqwa kepada Allah dan keluhuran budi". 8. Metro Pondok Indah Pondok Indah Plaza I Kav. 10. AlUshuliyyat al-Mu'ashirah: Asbabuha wa Mazhahiruha (Paris: Dar Am Alfayn. QS. al-Kasysyaf al-Zamaksyari. A. Yaitu sebuah penuturan atau riwayat yang berasal dari Muhammad al-Baqir. (021) 7507174 Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota Please direct any suggestion to Media Team Artikel Yayasan Paramadina Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota V. 15. 1992). hal. 9. 36. Tafsir al-Khazin oleh al-Baghdadi. Madarik al-Tanzil wa Haqaiq al-Ta'wil oleh al-Nasafi.32. [tulisan Arab]. ZAKAT KONSEP HARTA YANG BERSIH . Khalil. al-Isra'/17:110. riwayat itu dalam bahasa aslinya (Arab) adalah demikian. Juz 15. Lengkapnya. Yusuf Ali. terjemah bahasa Arab oleh Dr. [tulisan Arab].6. The Holy Qur'an. -------------------------------------------Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah Editor: Budhy Munawar-Rachman Penerbit Yayasan Paramadina Jln. dalam Integrismes. (021) 7501969. QS. 5. Muhammad Asad. hal. Fi Zhilal al-Qur'an. 13. Dikutip oleh Roger Garaudy. 7501983. Sayyid Quthub. Yaitu keterangan dari Ali ibn Abi Thalib r. Translation and Commentery (Jeddah: Dar al-Qiblah 1403 H). Untuk pembahasan ini. hal. 7. [tulisan Arab]. 11. Jil. Sebuah Hadits otentik. al-Baqarah 2:177.'Ali 'Imran 3:93. QS..a. Khalil A. [tulisan Arab]. dll.

Tapi adanya kekuatan ghaib.Oleh Masdar F. Ibarat figur. Mas'udi Bicara soal zakat dikaitkan dengan pemerataan ada kesan memaksakan diri. Sesungguhnyalah. kekuatan maupun kelemahan. atau hanya pas-pasan saja. Tapi. logika kesejarahan hadir dalam ujud hal yang bersifat empirik. Karena Islam datang sebagai petunjuk untuk manusia dan diterapkan oleh manusia dalam kapasitas kodratinya yang wajar-wajar saja. seseorang yang kebetulan kaya raya tiba-tiba terpanggil menginfakkan seluruh hartanya untuk menghidupi orang-orang miskin. Ma'qul artinya bisa dicerna logika penalaran.Islam tak punya urusan. Berbeda dengan logika teoritis yang bersifat abstrak dan subyektif. seseorang boleh tak punya apa-apa." orang bisa saja mengatakan bahwa semua rukun Islam yang lima cukup ma'qul untuk memecahkannya. yang tersimpan dalam kata-kata "zakat" itu sendiri. Seolah-olah yang penting bukan kesepadanan konsep zakat dengan pemerataan. Sementara untuk manusia yang luar biasa. mangada-ada!. Islam tak saja harus ma'qul (sensible). di mana akan munculnya momen-momen ajaib yang lahir atas campur tangan langsung Tuhan seperti digambarkan di atas. . logika empiris bersifat konkrit dan obyektif. Bahkan mengkaitkannya dengan rukun Islam yang lain (syahadat. Tapi dari semua yang ma'qul itu. bahkan keadilan sekaligus. harus bisa dijabarkan dalam kerangka kerja sistem yang bisa dirancang. Masalahnya. shalat. suatu saat nanti. magic. kehebatan dan mukjizatnya diperlihatkan juga. sedang ma'mul artinya bisa dicerna logika kesejarahan. Suatu ajaran untuk bisa disebut ma'mul. dengan segala ajarannya. puasa. tapi dalam hati tetap bercokol keyakinan. Sebagai agama yang datang untuk kehidupan manusia dalam ukuran yang normal atau yang wajar. tapi sekaligus juga ma'mul (applicable). kata-kata zakat diyakini sebagai tokoh imam mahdi atau ratu adil yang meski pun sangat sulit orang mencernanya. atau hanya memiliki potensi buruk --kalau saja yang demikian itu ada dalam kenyataan Islam-. Islam bukanlah sejenis halte tempat orang menunggu dengan kepasifan. tapi yang ma'mul secara implisit haruslah ma'qul. Misalnya karena kekhusyukannya dalam menunaikan shalat. Kembali pada pokok soal. dikontrol dan bisa diukur. Tanpa diduga-duga orang ini tiba-tiba tersadarkan bahwa di alam dunia ini. bagaimanapun hal ini memang tak mustahil. Ajaib! Tapi. orang ini terbuka tabir kerohaniannya. tentang "pemerataaan" atau lebih mendasar lagi soal "keadilan sosial. Manusia yang bisa salah bisa benar. bisa meng-iblis tapi juga bisa menjadi laiknya malaikat. lambat atau cepat. anehnya orang tak kunjung kapok menjadikannya sebagai tema. bisa baik bisa jahat. dengan konsep zakat bukan merupakan hal yang tak masuk akal. mengkaitkan soal pemerataan. juga haji) bukan merupakan perkara mustahil. manusia yang dengan hak prerogatif Tuhan hanya memiliki kemungkinan baik. Logika pemikiran hadir dalam ujud rnaqal yang bersifat teoritis. yang penting adalah keterpautan hati secara terus menerus untuk menyebut nama-nama Nya. Yakni manusia sebagai makhluk Tuhan yang memiliki segala kemungkinan dan potensi kebaikan maupun keburukan. Ini berarti bahwa yang ma'qul belum tentu matmul.

yang titik berangkatnya adalah pada pemerataan akses sumber daya materi. dalam sejarahnya justru cenderung memainkan peran terbalik. Karena seperti halnya tema pemerataan. dari sudut moral memang merupakan anomali. yang dalam realitas sosiologis memuncak pada apa yang dikenal dengan negara (state). yakni zakat. rata sedikitnya atau banyaknya. Bahkan dengan tarif begitu tinggi yang disebut dengan pajak progresif.satu-satunya yang sekaligus ma'mul adalah rukun yang ketiga. dimana sebagian yang lain hampir-hampir tak memiliki sama sekali. Sasarannya bukan agar semua orang memiliki bagian secara sama rata. Maka bisa dimengerti apabila pernah muncul suatu obsesi dalam sejarah pemikiran manusia yang mengimpikan suatu zaman dimana apa yang disebut lembaga negara itu tak usah ada lagi. Seyogyanyalah pengalihan itu dilaksanakan kalangan berada atas kesadaran mereka sendiri. Maka konsep dasar zakat sebagai mekanisme redistribusi kekayaan (materi) adalah pengalihan sebagian aset materi yang dimiliki kalangan kaya (yang memiliki lebih dari yang diperlukan) untuk kemudian didistribusikan pada mereka yang tak punya (fakir miskin dan sejenisnya) dan kepentingan bersama. atau ditekan serendah-rendahnya. Benar bahwa haji pun bersentuhan dengan soal materi. Tapi lembaga anomali tersebut perlu justru untuk menjadi penawar bagi anomali lain yang ada pada diri manusia. tapi hanya sebagai sarana yang tetap ada di luar zat-Nya. Tapi disinilah persoalannya. konsep pajak sedikit banyak sudah mulai diberi fungsi redistribusi kekayaan seperti tersebut di atas. Tapi agar tak terjadi suasana ketimpangan. Lembaga itu. siapa yang sebenarnya paling . zakat adalah satu-satunya rukun Islam yang berkaitan langsung dengan persoalan materi itu. lembaga negara yang secara moral hanya bisa dijustified sepanjang berfungsi sebagai racun penawar terhadap kerakusan duniawi masyarakat manusia (yang kuat). Zaman idaman baginya adalah zaman ketika lembaga negara telah lenyap berikut seluruh akar-akarnya. Ajaran Nabi Isa secara implisit ingin sekali mengingkari keberadaannya. yakni nafsu gila harta (keduniaan) tadi. maka kehadiran lembaga yang memiliki kewenangan memaksa untuk melakukan pengalihan itu pun menjadi tak terelakkan. Tapi persoalannya. Lebih dari sekedar meletakkan soal penguasaan sumber daya materi sebagai subyeknya. ketimpangan di bidang yang lain (politik dan budaya) hampir pasti selalu saja membuntuti. dalam sejarah politik kenegaraan modern. Ia dengan segala perangkat lunaknya (seperti sistem hukum dan perundang-undangan) maupun yang keras (seperti satelit pengintai dan senjata rudalnya) seringkali menjadi alat bagi kepentingan "penyakit keduniaan" yang seharusnya dinetralisir oleh keberadaannya.bahkan meletakkannya sebagai sesuatu yang harus diatur sedemikian rupa agar kemungkinannya untuk menumpuk hanya pada kalangan tertentu (aghniya) bisa dihindarkan. atau keadilan sosial. Juga ajaran Karl Marx. Syahdan. Tapi karena manusia mengidap nafsu "cinta harta" (hub-u 'l-dunya). zakat --berbeda dengan haji-. setelah pajak yang tinggi itu ditarik dari masyarakat wajib pajak. apakah memang kemudian ditasarufkan untuk mengangkat kehidupan mereka yang tak punya dan untuk kemaslahatan semua pihak? Inilah persoalan dasar. 18 abad kemudian secara eksplisit mengidealkan kepunahannya. Sebab bermula dari ketimpangan dalam hal materi (ekonomi).

Mereka yang ada di lapisan bawah. Berapa anggaran belanja yang diperuntukkan bagi pembebasan rakyat (jelata). independensi lembaga perwakilan rakyat dengan penguasa (baca: eksekutif) memang cukup kuat. adalah negara-negara monarki absolut zaman dulu. sama sekali tak berarti. Lembaga Perwakilan Rakyat di negara-negara Timur yang paternalistik. Tapi ya itu tadi. atau melalui sektor pembangunan sarana-sarana mana yang diperuntukkan utamanya bagi kalangan masyarakat kelas menengah ke atas. atau oleh hampir semua negara di atas bumi ini? Pertanyaan tersebut mengena bukan saja terhadap lembaga negara yang dikelola secara otoriter. secara lahir batin. tapi baru yang ada di lapisan menengah dan terutama lapisan atas. di Barat negara memang sudah tak lagi sepenuhuya milik penguasa (kaum bangsawan. Penjelasannya sederhana. Apabila negara di zaman modern sudah mulai melibatkan rakyat melalui wakil-wakilnya dalam menentukan penggunaan uang pajaknya melalui undang-undang.diuntungkan oleh pranata pajak yang ditangani lembaga negara. baik secara keturunan maupun SK jabatan seperti di Timur). lebih-lebih rakyat pada lapisannya yang paling jelata. Memang lebih gila lagi. tapi juga terhadap negara-negara lain yang mengaku berjalan secara demokratis. seperti yang terjadi di banyak bumi belahan Timur. negara monarki absolut memandang kewenangan pengalokasian uang pajak (upeti/tax) sepenuhnya di tangan sang raja saja. Berbeda dengan di Timur. . Lembaga Perwakilan Rakyat hanyalah sekedar "nama dan proforma". masih jauh dari dapat disebut memiliki negara. sudah berada di tangan rakyat. Apakah melalui sektor pertahanan dalam pengertian yang luas dengan dalih demi kepentingan nasional mereka. atau semi otoriter. seperti Amerika dan negara-negara Barat. dalam alokasi penggunaan dana pajak dalam APBN mereka. Kesadaran dan perilaku mereka tetaplah untuk mengelabui rakyat bagi kepentingan para penguasa yang mengatur keberadaan mereka. Di Barat negara dengan seluruh soko gurunya (eksekutif. kemudian menyusul bidang-bidang kehidupan lain yang lebih sublim. misalnya. Hal tersebut dapat dilihat dengan jelas. Dimulai dari pembebasan di bidang ekonomi. keberadaan lembaga perwakilan rakyat umumnya hanya merupakan permainan politik kalangan elite penguasa. Di negara-negara Barat yang liberal-kapitalistik. dengan peranan lembaga perwakilan rakyat dalam tata kenegaraan modern belum menjadi jaminan bahwa uang pajak akan ditasarufkan dengan prioritas utama bagi pembebasan rakyat lemah. yaitu rakyat keseluruhan yang dimulai dari lapisannya yang paling jelata. Bahwa di negara-negara Eropa dan Amerika yang pendapatan perkapitanya telah mencapai angka 8 ribu sampai 11 ribu dollar pertahun masih banyak warga negara yang tuna wisma (homeless) adalah bukti yang sangat cukup bahwa rakyat jelata di sana memang belum bisa disebut ikut memiliki negara. yang justru merupakan pemilik utama sebutan "rakyat" kapan saja ia diucapkan. pada hakekatnya adalah lembaga Perwakilan Penguasa. politik dan budaya. legislatif maupun judikatif). Tapi juga belum berarti telah kembali pada pemiliknya yang sah. di negara-negara Timur yang paternalistik. Tapi hal itu tetap bukan (belum?) dalam rangka penegakkan kontrol atas lembaga negara bagi kepentingan rakyat. Bagian yang paling besar dari dana itu diperuntukkan untuk melindungi atau melayani kepentingan kelas menengah ke atas. aristokrat.

bahwa beban yang ditimpakan kepada mereka yang punya. sama sekali bukan demi kepentingan rakyat dan bangsa negara-negara Timur. Dan kepentingan mereka (negara-negara Barat). agaknya tak lagi terutama terletak pada kalangan kaya. akan segera tampak pada kita bahwa apa yang diperbuat negara-negara Barat tetaplah demi kepentingan mereka sendiri. yakni kaum kapitalis dan tentu saja para elite politik sebagai pengawal kepentingan-kepentingannya. Sementara di Barat yang liberal-kapitalistik. Setiap kali bencana dan musibah terjadi di masyarakat dunia Timur. selaku cukongnya. Nafsu kerakusan mereka untuk mengakumulasikan kekayaan lebih banyak dan lebih banyak lagi. bahkan dalam tarif yang begitu tinggi. diputarkan kembali untuk melipat gandakan kekuatan mereka yang sudah kuat. ternyata digelapkan oleh negara sehingga tak sampai ke alamat (mustahiq) yang semestinya. Dengan kata lain persoalan pokok dalam topik redistribusi kekayaan (asset) untuk pemerataan. Di dunia Timur yang feodalistik. what?! Menuruti obsesi Marx bahwa lembaga negara mesti dienyahkan . sistem kenegaraan/pemerintahan yang liberal-kapitalistik memang merupakan pilihan sejarah terbaik dan terakhir. Drama itu pementasannya di masyarakat bangsa negara-negara Timur yang umumnya miskin dan lemah.Memang ada drama yang menarik. Tapi fakta bahwa dalam kerakusannya mereka bisa diikat komitmennya untuk menyisihkan sebagian dari kekayaannya (berupa pajak) adalah bukti bahwa persoalan pokok tak lagi sepenuhnya di tangan mereka. lebih-lebih kenegaraan modern. mereka siap menawarkan bantuannya. Akibat permainan drama kolosal ini. So. banyak orang terhegemoni untuk meyakini bahwa Barat memang teladan dunia. jelas merupakan persoalan yang tetap serius bagi ide pemerataan dan keadilan. seolah negara-negara liberal kapitalis Barat itu telah menempatkan dirinya di bawah kepentingan rakyat sejati. dana pajak yang dikenakan atas orang-orang kaya dibelokkan pentasarufannya untuk kepentingan para penguasa untuk mempertahankan kekuasaannya. seperti disebutkan di atas adalah kepentingan kelompok yang mengontrol roda kenegaraan atau pemerintahan. yakni beban pajak. dan kemudian keadilan sosial dalam tatarannya yang lebih luas. Dengan pranata pajaknya ide zakat (bahwa yang kuat harus menanggung beban) sudah banyak dilaksanakan oleh hampir semua negara di jaman ini. Lebih dari itu. negara-negara Barat segera menunjukkan kedermawanannya (charity). Padahal. dana pajak yang semestinya diprioritaskan pentasarufannya untuk memperkuat yang lemah. Karena dia (lembaga negara)-lah yang berbuat selingkuh. yakni kelompok orang-orang yang secara politik mengendalikan jalannya pemerintahan itu sendiri dan kalangan para kaya kapitalis. ide dasar dari zakat bukan sesuatu yang sama sekali asing dalam struktur pemikiran kenegaraan. apabila negara-negara Timur yang miskin itu memerlukan perbaikan ekonomi. Persoalan pokok itu kini jelas terutama ada di pihak apa yang kita sebut lembaga negara. Memang di sana bukan tak ada masalah sama sekali. Sampai titik ini sebenarnya telah jelas bagi kita bahwa. Hanya masalahnya. dan bisa mengelabui banyak orang. sekurang-kurangnya dalam tingkat verbal. kaum lemah dan melarat. Baik yang berupa hibah (grant) maupun yang berupa pinjaman (loan). jika dilihat sedikit lebih kritis.

atau pengingkaran Isa as. dengan meyakinkan masyarakat akan pentingnya kontrol sosial (amar ma'ruf nahi munkar) secara terus menerus. Metro Pondok Indah Pondok Indah Plaza I Kav. Memang untuk menegakkan keadilan sosial dalam semangat dan kerangka zakat. "Biarlah badan itu tetap ada dan tumbuh dengan kewajarannya." Tapi tanpa keberanian moral dan intelektual untuk melakukan perubahan itu. Dari sudut konsepsi zakat. kalau pun ada-.an( rasif) . dengan membebaskan kemaslahatan (keadilan dan kesejahteraan) bagi semuanya." Demikianlah Muhammad Rasulullah sebagai teladan umat manusia tak perlu menyatakan penolakan terhadap keberadaan lembaga negara. maka pengkaitan ajaran Zakat dengan cita pemerataan. harus ditransformasikan terlebih dahulu. 7507173 Fax. Tapi dengan bercokolnya nafsu-nafsu itu pada badan. ada pekerjaan rumah (PR) yang harus diselesaikan lebih dahulu. tak lebih hanyalah mitos belaka. negara sebagai badan besar pun mengidap nafsu-nafsu (interests) negatif duniawi yang selalu cenderung memperalat dirinya. lembaga kenegaraan itu beliau bangun dengan kewaspadaan penuh. Tapi dengan pengawasan atau kontrol yang terus menerus jangan sampai jatuh dan diperalat oleh nafsu-nafsu jahat yang mengitarinya. Seperti halnya badan (kecil). kedudukan negara atau kekuasaan pemerintahan adalah amil yang harus melayani kepentingan segenap rakyat. Konsepsi tentang ajaran zakat (dan pada akhirnya tentang bangunan fiqh secara keseluruhan) yang sudah terlanjur mendogma di kalangan umat selama lebih dari sepuluh abad. Bahkan beliau sendiri dengan komunitasnya.yang pernah menyarankan jalan keluar agar badan itu dimusnahkan saja daripada diperalat oleh nafsu-nafsu negatif yang melekat padanya Yang paling sehat dan fitri (Islami) tentulah pendirian yang mengatakan. bukan bagi kepentingan penguasa atau kalangan kaya. (021) 7507174 Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota Please direct any suggestion to Media Team Konsep dasar dalam al qur. Negara. (021) 7501969. UA 20-21 Jakarta Selatan Telp. 7501983. Tapi inilah kuncinya. Mengingkari lembaga negara untuk semangat (ruh) kolektivitas manusia hukumnya sama belaka dengan mengingkari badan bagi ruh individualitas manusia. melainkan bagi kepentingan seluruh rakyat yang ada dalam otoritasnya. -------------------------------------------Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah Editor: Budhy Munawar-Rachman Penerbit Yayasan Paramadina Jln. dengan sadar telah membangun lembaga itu. tak seorang pun --kecuali langka. apalagi dalam pengertian yang lebih luas sebagai lembaga permufakatan kolektif. terhadap lembaga itu rasa-rasanya tak realistik. Pekerjaan ini berat dan memakan waktu. Sebagian orang mungkin merasa lebih aman dalam dekapan dogma lama ketimbang harus berspekulasi dengan pamahaman ajaran yang "baru. agar keberadaan lembaga negara itu tetap sebagai alat. apalagi keadilan. betapa pun konyolnya tidaklah mungkin dihindari.

Pertanyaan yang perlu kita munculkan. Bapak ilmu fiqih. Melalui kategori-kategori yang dirumuskan sebagai hukum akal itu. Biasanya. Sebab pemungutan suatu istilah dari khazanah dan tradisi agama lain tidaklah harus dipandang sebagai sesuatu yang negatif. Kata teologi sebagaimana dijelaskan dalam Encyclopaedia of Religion and Religions berarti "ilmu yang membicarakan tentang Tuhan dan hubungan-Nya dengan alam semesta. Imam Abu Hanifah. bagaimana sebaiknya kita memahami dan kemudian menghayati ide tauhid itu dalam kehidupan kita sebagai muslim? Dalam pengalaman kita --sekurang-kurangnya sebagian dari kita-. menulis buku al-fiqh-u 'l-akbar yang isinya bukan tentang ilmu fiqih. Kita tentu sepakat bahwa ide sentral dalam teologi al-Qur'an adalah ide tauhid. misalnya. sebab ia membantu kita memahami Islam secara lebih utuh dan lebih terpadu. tapi justru tentang aqidah yang menjadi obyek bahasan ilmu kalam atau tauhid." Dalam pengertian ini agaknya perkataan teologi lebih tepat dipadankan dengan istilah fiqih.mengenal atau pernah diberi pelajaran ilmu tauhid. Masalah-masalah lain seperti kepercayaan tentang . kita diajak memahami tentang konsep ketuhanan dan kenabian. keduanya baik ilmu kalam atau ilmu tauhid maupun ilmu fiqih pada dasarnya adalah fiqih atau pemahaman yang tersistematisasikan. Dengan menyinggung masalah ini. hanya ingin dikatakan bahwa pemakaian istilah teologi mempunyai alasan cukup kuat. KONSEP-KONSEP TEOLOGIS oleh Djohan Effendi Perkataan teologi tidak berasal dari khazanah dan tradisi agama Islam. menyangkut bidang ushuliyah (tentang yang prinsip atau yang pokok). Maka kita pun mengetahui sifat-sifat Tuhan dan Nabi-nabi. dari yang sangat tradisional hingga yang termasuk modern seperti buku Risalah Tawhid karya Muhammad Abduh. yakni: wajib.Artikel Yayasan Paramadina Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota II. Istilah fiqih di sini bukan dimaksudkan ilmu fiqih sebagaimana kita pahami selama ini. apalagi jika istilah tersebut bisa memperkaya khazanah dan membantu mensistematisasikan pemahaman kita tentang Islam. baik yang dikategorikan sebagai sifat-sifat yang wajib. yaitu dari khazanah dan tradisi Gereja Kristiani. sedangkan yang kedua meyangkut bidang furu'iyah (detail atau cabang). melainkan istilah fiqih seperti yang pernah digunakan sebelum ilmu fiqih lahir." Hal ini bisa kita baca dalam buku-buku ilmu tauhid. dan bukan hanya dengan ilmu kalam atau ilmu tauhid.5. dalam mempelajari ilmu tersebut. mustahil dan harus. ilmu fiqih seperti yang berkembang sekarang ini dalam kerangka pemikiran Imam Abu Hanifah adalah al-fiqh-u 'l-ashghar. Pijakan tulisan ini tentang teologi al-Qur'an. Ia istilah yang diambil dari agama lain. Boleh jadi. namun seringkali diperluas mencakup keseluruhan bidang agama. Sebab. sifat-sifat yang mustahil maupun sifat-sifat yang harus. Hal ini tidaklah dimaksudkan untuk menolak pemakaian kata teologi itu. Akan tetapi perjalanan sejarah dan tradisi keilmuan Islam telah menyingkirkan pengertian fiqih sebagaimana dipergunakan Imam Abu Hanifah. Yang pertama. pertama-tama kita diperkenalkan dengan apa yang disebut sebagai "hukum akal.

Juga disinggung adanya penyembahan makhluk halus seperti jin (QS. 5:116. ma'ani dan sifat ma'nawiyah. Ia tidak mempunyai relevansi dengan realitas kehidupan kita. Kedua ciri utama itu wujud dalam berbagai bentuk manifestasi.malaikat. dan muncullah konsep-konsep tentang ta'alluq ma'iyah. Teologi semacam itu tidaklah membuahkan elan vital (gairah hidup). misalnya penyembahan benda-benda langit seperti matahari. 19:82-92. bukanlah persoalan yang masih memerlukan perhatian lebih banyak. ada baiknya bila kita memahami apa-apa yang oleh al-Qur'an dianggap sebagai syirik atau kemusyrikan. ta'alluq shuluhi qadim. Salbiyah. Berkenaan dengan penyembahan berhala. atau penyembahan makhluk halus atau manusia yang dipertuhan. pertama. yakni. Kebanyakan dari kita tentu tidak akrab dengan istilah-istilah atau konsep -konsep tersebut. Al-Qur'an mengemukakan dua ciri utama dari kemusyrikan. yang selama ini dikenal sebagai "sifat dua puluh. BENTUK-BENTUK KEMUSYRIKAN Dalam memahami ide tauhid. 16:57. benda-benda langit atau benda-benda mati lainnya. 7:138. dan kedua. dengan problematika kemanusiaan. Jelas sekali pembahasan tentang teologi sebagaimana terdapat dalam ilmu tauhid sangat intelektualistik sifatnya. kitab-kitab wahyu." Dan memang al-Qur'an sendiri menyinggung bahkan mengecam orang-orang yang menjadikan berhala sebagai ilah atau sesembahan (QS. Masalahnya sangat jelas dan karena itu menghindarinya pun sangat mudah. muncul berbagai konsep seperti sifat nafsiyah. ta'alluq ta'tsir. bulan dan bintang (QS. 6:101) atau tokoh-tokoh yang dipertuhan atau dianggap mempunyai unsur-unsur ketuhanan (QS. Dengan mengemukakan hal itu ingin diturunkkan betapa jauhnya teologi yang dibahas dalam buku-buku ilmu tauhid dengan dunia praktis. yang membuat kita bergairah dalam aksi untuk membebaskan diri kita dan masyarakat sekitar kita dari segala bentuk kemusyrikan. Ia tidak melahirkan innerforce (kekuatan batin). seperti dilakukan para penganut agama-agama "pagan. 6:74. 21:52). moral maupun spiritual. ta'alluq hukmiyah. ta'alluq bi 'l-quwwah. 17:40 dan 37:49). Juga dikemukakan pembahasan tentang kaitan atau ta'alluq sifat-sifat Tuhan dengan alam ini." Dalam membahas sifat dua puluh itu. Akan tetapi masalah . 6:102. Kalau kita mendengar perkataan syirik atau kemusyrikan yang segera terbayang dalam angan-angan kita biasanya penyembahan berhala. Pembahasan tentang dan di sekitar hal-hal inilah yang selama ini disebut sebagai ilmu tauhid. 41:37) atau benda-benda mati lainnya (QS. menganggap Tuhan mempunyai andad atau saingan. adalah kelanjutan atau pelengkap dari kepercayaan terhadap Tuhan dan Kenabian tersebut. Lebih-lebih kalau kita memasuki pembahasan yang lebih rumit. 4:117). 4:171. Teologi semacam itu adalah teologi yang steril dan mandul. terutama ketika membicarakan sifat-sifat Tuhan. hari akhirat maupun qadla dan qadar. ta'allaq tanjizi qadim. ta'alluq tanjizi hadits. kiranya dari segi keberagamaan kita sebagai muslim. Selain berhala al-Qur'an juga mengemukakan hal-hal lain yang bisa dijadikan obyek sesembahan selain Tuhan. menganggap Tuhan mempunyai syarik atau sekutu.

2:165). dan (12) Surah al-Insyirah. Al-Qur'an masih mengemukakan hal-hal lain yang berkaitan dengan masalah kemusyrikan. Dalam kategori ini bisa dimasukkan juga sikap ketaatan yang sama sekali tanpa reserve terhadap ulama (QS. usaha atau bussiness kita. Ia sangat terkait dengan hal-hal yang sangat praktis. benda dan lembaga. (8) Surah al-Takatsur. Berbagai bentuk manifestasi kemusyrikan tersebut. Hal ini menarik dan perlu untuk dikaji lebih jauh. (6) Surah al-Humazah. Pada masa periode Mekkah awal terdapat 48 surah yang diwahyukan kepada Nabi Muhammad saw. menunjukkan bahwa masalah kemusyrikan bukanlah sesuatu yang sederhana. Beberapa mufassir menceriterakan bahwa Surah al-Dhuha turun sesudah Nabi mengalami masa jeda di mana wahyu . tahap Mekkah awal (610-615 M. 30:31-32). Suatu hal yang sangat menggoda untuk direnungkan adalah. yang lebih halus sifatnya. (5) Surah al-Kawtsar. Selain itu masih ada satu hal lagi yang oleh al-Qur'an disebutkan sebagai "sesuatu yang bisa menjadi ilah atau sesembahan kita. 23:52-53.). kekayaan. 9:31) atau sikap fanatisme golongan. justru pada surat-surat atau ayat-ayat yang diwahyukan di masa-masa permulaan kenabian Muhammad saw tidak terdapat kecaman terhadap penyembahan berhala. Seperti kita ketahui masa turunnya al-Qur'an dibagi dalam dua priode: periode Mekkah (610-622 M. kita bisa sampai pada kesimpulan bahwa teologi al-Qur'an tidak sekedar terbatas pada aspek kepercayaan saja. (4) Surah al-Quraysy. Hal-hal lain yang oleh al-Qur'an dijadikan contoh sebagai saingan Tuhan dalam kaitannya dengan kecintaan kita adalah keluarga dan kerabat dekat kita. Untuk memperjelas hal ini ada baiknya bila lebih dahulu dikemukakan tentang periodisasi turunnya al-Qur'an.). karena itu usaha kita menjadi orang yang benar-benar bertauhid bukanlah masalah yang mudah. (3) Surah al-Lahab. Kebertauhidan tidak hanya menyangkut kepercayaan kita terhadap Tuhan Yang Maha Esa tetapi juga menyangkut pandangan dan sikap kita terhadap manusia.kemusyrikan tidak berhenti sampai di situ saja. dan rumah-rumah mewah kita (QS. Di sini hanya diambil 12 surah paling awal saja. aliran atau juga organisasi yang berlebih-lebihan (QS. KESERAKAHAN DAN KETIDAKPEDULIAN SOSIAL Berangkat dari berbagai bentuk manifestasi kemusyrikan yang disebutkan al-Qur'an di atas. Hubungan manusia dengan benda." yaitu hawa nafsu kita sendiri (QS. 9:24). Yang ada malah kecaman terhadap keserakahan dan ketidakpedulian sosial. (2) Surah al-Mudatstsir. Khususnya berkaitan dengan kekayaan. tahap Mekkah pertengahan (616-617) dan tahap Mekkah akhir (618-622 M. (11) Surah al-Balad. (10) Surah al-Layli. Sengaja hanya diambil 12 surah di atas.) dan periode Madinah (622-632 M. baik pandangan maupun sikapnya. yakni: (1) Surah al-'Alaq. bukan dalam bentuk penyembahan melainkan dalam bentuk kecintaan (QS. (7) Surah al-Ma'un. (9) Surah al-Fil. sebagaimana dikemakakan al-Qur'an. sebab surah yang ke-13 adalah Surah al-Dhuha.25:43). terutama berkaitan dengan ciri kemusyrikan yang menempatkan adanya andad atau saingan terhadap Tuhan. mendapat sorotan yang sangat tajam dalam al-Qur'an.). Periode Mekkah sendiri juga dibagi dalam tiga tahap.

Tahukah engkau jalan mendaki itu. Karena itu ke-12 surah di atas turun atau diwahyukan kepada Nabi pada masa-masa sangat awal dari kenabian.terhenti beberapa lama. Tahukah engkau orang yang membohongkan agama Itulah dia yang mengusir anak yatim. Atau memberi makanan di masa kelaparan. yang turun dalam urutan ke-3. Surah berikutnya yang turun dalam urutan ke-8. Surah al-Takatsur. Celaka amat si pengumpat si pemfitnah. Enam surah di antaranya justru menyinggung masalah keserakahan terhadap kekayaan dan ketidakpedulian terhadap orang-orang yang menderita. Kalian menjadi lalai karena perlombaan mencari kekayaan. yang turun dalam urutan ke-6. dengan keras mengingatkan akan nasib celaka bagi mereka yang dengan serakah menumpuk-numpuk kekayaan dan menganggap kekayaannya itu bisa mengabadikannya. Atau orang papa yang terlunta-lunta. Tidak berguna baginya kekayaannya. disinggung bahwa harta kekayaan dan usaha seseorang sama sekali tidak akan menyelamatkannya dari hukuman di Hari Akhirat. Dan membenarkan nilai kebaikan Kami akan memudahkan baginya jalan kebahagiaan. Maka siapa yang suka memberi dan bertaqwa. Dan Kami tunjuki ia dua jalan. menyinggung keengganan manusia memberikan bantuan kepada sesamanya yang hidup dalam penderitaan dan kesengsaraan. Pada anak yatim yang punya tali kekerabatan. Dalam Surah al-Lahab. atau dari sejarah Islam. Memerdekakan budak sahaya. Tapi tak mau ia menempuh jalan mendaki. Dan mendustakan nilai kebaikan Kami akan mudahkan baginya jalan kesengsaraan. Yang terakhir Surah al-Balad yang diwahyukan dalam urutan ke-11. memberikan peringatan keras terhadap orang-orang yang asyik berlomba-lomba dalam kemewahan dan kekayaan. Dan tidak menganjurkan memberi makan orang-orang miskin. Dan tiada berguna baginya kekayaannya ketika ia binasa. orang-orang yang tidak mempedulikan penderitaan anak-anak yatim dan orang-orang miskin dikualifikasikan sebagai orang-orang yang membohongkan agama. Ke-12 surah tersebut sama sekali tidak menyinggung masalah penyembahan berhala. dan apa yang dikerjakannya! Akan dibakar ia dalam api menyala Surah al-Humazah. Dan siapa yang kikir dan menyombongkan kekayaan. Dalam surah yang turun berikutnya. kemegahan dan Dalam Surah al-Layli yang diwahyukan dalam urutan ke-10 diberikan kabar baik terhadap mereka yang suka memberi dan sebaliknya kabar buruk bagi mereka yang kikir dan bakhil. Yang menumpuk-numpuk harta kekayaan dan menghitung-hitungnya. Surah al-Ma'un. . Hingga kalian masuk ke pekuburan. Ia menyangka harta kekayaannya bisa mengekalkannya.

memberikan suatu isyarat kepada kita agar kita menjadikan diri kita sebagai perwujudan dari nilai-nilai rahmah itu bagi sesama makhluk Tuhan. yang diwahyukan justru di masa yang sangat awal dari kenabian. Ia langsung menyangkut kebertauhidan kita.6. bahwa keserakahan dan ketidakpedulian sosial adalah yang menimbulkan suatu kehidupan yang tidak disemangati nilai-nilai rahmah. UA 20-21 Jakarta Selatan Telp. keserakahan dan ketidakpedulian sosial mendapat sorotan tajam pada masa yang sangat awal dari kenabian Muhammad. Itulah prioritas utama yang digumuli Nabi dalam usaha mewujudkan reformasi sosial. dalam al-Qur'an masalah kekayaan. Pertanyaan yang mungkin timbul. Hal ini bisa kita kaitkan dengan penegasan al-Qur'an yang mengatakan bahwa Muhammmad diutus tidak lain kecuali dalam rangka membawa rahmat bagi seluruh alam (QS. (021) 7501969. mungkin kita bisa menarik kesimpulan bahwa Risalah Nabi kita terutama untuk mengadakan reformasi sosial. pertama-tama oleh distribusi kekayaan yang adil. REFORMASI SOSIAL Kalau kita renungkan mengapa masalah kekayaan. 7501983. bagaimana kaitan antara sorotan tajam terhadap kekayaan. -------------------------------------------Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah Editor: Budhy Munawar-Rachman Penerbit Yayasan Paramadina Jln. sangat jelas dan sama sekali tidak memerlukan penafsiran. motivasi dan orientasi kita tidak boleh bergeser dari ide untuk menciptakan --atau setidak-tidaknya menjadi bagian dari proses menciptakan-suatu tata kehidupan yang dilandasi nilai-nilai rahmah itu. Anjuran Nabi agar kita selalu memulai kegiatan dan kerja kita dengan ucapan "Bismillahirrahmanirrahim" (bism-i 'l-Lah-i 'l-rahman-i 'l-rahim). Metro Pondok Indah Pondok Indah Plaza I Kav. keserakahan dan ketidakpedulian sosial mempunyai perspektif teologis. Dengan perkataan lain. KONSEP-KONSEP KOSMOLOGIS (1/2) . Karena itu reformasi sosial mestilah ditandai. Ia memperlihatkan betapa. Dengan perkataan lain apapun profesi kita. Ia tidak sekedar masalah etik dan moral. misi utama Nabi Muhammad saw adalah membantu manusia mewujudkan tata kehidupan yang disemangati nilai-nilai rahmah. (021) 7507174 Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota Please direct any suggestion to Media Team Artikel Yayasan Paramadina Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota II.Pesan-pesan al-Qur'an di atas. 7507173 Fax. 21:107). keserakahan dan ketidakpedulian sosial dengan cita-cita tentang reformasi sosial yang dilandasi semangat mewujudkan kehidupan yang penuh rahmah itu? Kaitannya sangat jelas.

Dan itu tidaklah benar. Sesungguhnya dalam ciptaan langit dan bumi. Mengingat hal-hal tersebut di atas. Seseorang yang hidup dalam abad 9 M akan mengatakan bahwa kata sama' artinya langit. yang berputar mengelilingi sumbunya. Dapat kita lihat dalam kasus ini bahwa konsep kosmologis dalam al-Qur'an. mengenai penciptaan alam semesta. Dan mungkin sekali ia akan mengatakan bahwa ayat 30 surah al-Anbiya' itu melukiskan peristiwa ketika Tuhan menyebutkan langit menjadi bola. dan dengan Sunnah Rasul sebagai penjelasan. setelah ia sekian lama terhampar di permukaan bumi seperti layaknya sebuah tenda yang belum dipasang. Bintang-bintang tampak tidak berubah posisinya yang satu terhadap yang lain. maka tidaklah mengherankan apabila ketetapan dalam penafsiran ayat-ayat al-Qur'an yang berisi konsep-konsep Kauniyah sangat bervariasi. ciptaan Tuhan di seluruh jagad raya ini secara jelas disebutkan sebagai "ayat-ayat Allah".oleh Achmad Baiquni Telah banyak kitab yang ditulis ulama masyhur untuk menafsirkan ayat-ayat suci al-Qur'an --yang merupakan garis-garis besar ajaran Islam itu-. [1] dan ardh [2] itu dahulu sesuatu yang padu. Bola ini dikatakan mewadahi seluruh ruang alam dan segala sesuatu yang berada di dalamnya.dengan menggunakan ayat-ayat lain di dalam kitab suci tersebut. Untuk memberikan contoh yang nyata. yang dikemukakan orang itu sangatlah sederhana. Namun. Apalagi kalau ia melingkupi seluruh ruang kosmos beserta isinya. kapan pun juga. dan seluruh langit itu berputar-putar dalam satu hari (siang dan malam). terdapat ayat-ayat Allah bagi orang-orang yang berakal (dapat menalar). serta ardh yaitu bumi yang datar yang dikurung oleh bola langit. Apa yang kiranya dapat kita harapkan dari orang ini andaikata ia diminta memberikan penafsiran (bukan sekadar salinan kata-kata) ayat-ayat tersebut? Tentu saja ia akan memberikan interpretasi yang sesuai dengan persepsinya tentang langit. kita dapat menelaah ayat-ayat berikut. karena konsepsinya tidak mampu mengakomodasikan gejala yang dinyatakan ayat 4 surah al-Dzariyat. Ia merasa yakin bahwa persepsinya mengenai langit itulah yang sesuai dengan apa yang dapat diamati setiap hari. tergantung pada pengetahuan mufassir tentang alam semesta itu sendiri. pengertiannya ialah bahwa langit itu adalah sebuah bola super raksasa yang panjang radiusnya tertentu. sebagai bandingan. misalnya dalam surah 'Ali Imran 190 disebut. sesuatu konsepsi mengenai alam semesta yang benar harus dapat . Karenanya. Dan pada dindingnya tampak menempel bintang-bintang yang gemerlapan di malam hari. Pada hemat saya. Dan tidakkah orang-orang kafir itu mengetahui bahwa agama sama. al-Dzariyat: 47). serta silih bergantinya malam dan siang. Sebuah langit yang berbentuk bola dengan jari-jari tertentu bukanlah langit yang bertambah luas. Dan sama' itu kami bangun dengan kekuatan dan sesungguhnya kamilah yang meluaskannya (QS. dalam al-Qur'an sendiri. tidak ada lagi sesuatu yang lebih besar daripadanya. kemudian kami pisahkan keduanya (QS. al-Anbiya': 30. maka sebagai padanan untuk mendapatkan arti ayat-ayat al-Qur'an yang menyangkut al-Kaun dapat digunakan juga ayat-ayat Allah yang berada di dalam alam semesta ini.

bagaimana ia ditinggikan. Karena telah menjadi kebiasaan para pakar menulis hasil penelitian orang lain. Perhatikanlah dalam intighon apa yang ada di sama' dan di ardh (QS. Yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk. sejalan dengan kecanggihan instrumentasi yang dipergunakan dalam observasi dan matematika sebagai sarana komputasi. ketika ia berjalan sangat cepat. Penerapan metode ilmiah ini. Dengan diikutinya perintah dan petunjuk ini. . menyebabkan timbulnya cabang baru dalam sains yang dinamakan astrofisika. yang menyangkut proses-proses alamiah di langit itu. bagaimana ia diciptakan. yang mengajar dengan qalam. sedangkan dalam fase-fase lain menghasilkan kesimpulan yang sehaluan dengannya. mental dan spiritual yang bukan Islam. maka peliharalah kami dari siksa azab neraka. Sesungguhnya dalam penciptaan sama' dan ardh. Katakanlah (wahai Muhammad). tapi mempunyai ciri empiris sehingga tersusunlah dasar-dasar sains. tiadalah Engkau ciptakan ini dengan sia-sia. Serta dalam ayat 190 dan 191 surah Ali Imran. Kita akan menemukan bahwa pada tahap-tahap tertentu ia tampak tidak sesuai dengan ajaran agama kita. seperti yang berkembang di lingkungan Yunani. Jelaslah di sini bahwa sains adalah hasil konsensus di antara para pakar. terdapat ayat-ayat bagi orang-orang yang berakal (dapat menalar). Sebab obor pengembangan ilmu telah mulai berpindah tangan dari umat Islam kepada para cendekiawan bukan Islam sejak pertengahan abad ke 13 sampai selesai dalam abad 17. Dan sama'. Untuk mendapatkan konsepsi yang benar itu pada hakekatnya telah diberikan petunjuk sang pencipta misalnya dalam ayat 101 surah Yunus. Dalam teguran ayat 1 dan 18 dalam surah al-Ghasyiyah. al-Ghasyiyah: 1 dan 18). jauh melampaui kelajuannya dalam abad-abad sebelumnya. sehingga ilmu tidak lagi bersifat kontemplatif belaka. Kita ingat ayat 3. ia harus sesuai dengan konsep-konsep kosmologis dalam al-Qur'an. (QS. atau dalam keadaan berbaring. Yunus: 101). kiranya perlu kita pertanyakan apakah benar konsep kosmologi yang berkembang dalam sains itu sejalan dengan apa yang terdapat dalam al-Qur'an. Bacalah. Penalaran tentang "bagaimana" dan "mengapa". Ali Imran: 190 dan 191). maka tersusunlah himpunan rasionalitas kolektif insani yang kita kenal sebagai sains. Mari kita kaji sambil menelusuri perkembangan ilmu kealaman sejak akhir abad 19 hingga akhir abad 20. serta silih bergantinya siang dan malam. yang terdiri atas pengukuran teliti pada observasi dan penggunaan pertimbangan yang rasional. dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah. dan yang memiliki nilai-nilai tak Islami. telah mengubah astrologi menjadi astronomi. wahai Tuhan kami. dan pikirkan tentang penciptaan sama' dan ardh. Meskipun ilmu pengetahuan keislaman ini tumbuh sebagai akibat dari pelaksanaan salah satu perintah agama. Maha suci Engkau. [3] Dia mengajar manusia apa yang tidak diketahuinya. (QS. maka muncullah di lingkungan umat Islam suatu kegiatan observasional yang disertai dengan pengukuran. sehingga sejak itu sains tumbuh dalam kerangka acuan budaya.dipergunakan untuk menerangkan semua peristiwa yang dilukiskan ayat-ayat dalam kitab suci. yang bersama-sama astronomi membentuk konsep-konsep kosmologi. 4 dan 5 surah al-'Alaq. Maka apakah mereka itu tak memperhatikan onta-dalam intighon.

dan ia penuh dukhon [4]. Fushshilat: 11) Maka Dia menjadikannya tujuh sama' dalam dua hari. al-Sajadah:4) Dan Dialah yang telah menciptakan sama' dan ardh dalam enam hari. sehingga sains kembali dapat berkembang dalam kerangka sistem nilai yang Islami). ia akan mengatakan juga bahwa bola super besar yang mewadahi seluruh ruang kosmos itu tidak ada sebab baginya ruang jagad-raya ini tak berhingga besarnya dan tidak mempunyai batas. selalu timbul-tenggelam. dan sungguh jika keduanya akan lenyap dan tak ada siapa pun . Padahal mereka baru merupakan sebagian saja dari ayat-ayat al-Qur'an yang berisi konsep-konsep kosmologi. yang telah mengetahui melalui kegiatan sainsnya. dianggap tak berawal dan tidak berakhir. dan pada waktu itu pula bersemayam di arsy-Nya [5] (QS. ada pun Arsy-Nya telah tegak pada ma' [6] untuk menguji siapakah di antara kalian yang lebih baik amalnya (QS. yang di dalamnya terdapat bintang-bintang. Hud: 7) Sesungguhnya Allah menahan sama' dan ardh agar jangan lenyap. Dan kita akan melihat sepanjang pertumbuhan sains selanjutnya bahwa ide-ide semacam ini. demikianlah ketentuan Yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui. sebab alam semesta yang tak terbatas dan tak berhingga besarnya. sebagian diikuti satelitnya. Ia akan mengatakan. Dalam pada itu Dia mengarah pada penciptaan sama'. lalu Dia berkata kepadanya dan kepada ardh. karena tak dapat mengakomodasi peristiwa yang: dilukiskan ayat 30 surah al-Anbiya' dan ayat 47 surah al-Dzariyat. (Karena itu. dan Dia mewahyukan kepada tiap sama' peraturannya masing-masing. langit adalah ruang jagad-raya. keduanya menjawab: kami datang dengan taat (QS. ada sejak dulu dan akan ada seterusnya. al-Thalaq: 12) Allah-lah yang menciptakan sama' dan ardh dan apa yang ada di antara keduanya dalam enam hari. langit itu sebuah bola super raksasa. Dari uraian di atas bahwa konsep kosmologi sains pada abad ke 19 gagal total dan sama sekali tak mampu menerangkan apa yang terkandung dalam dua ayat tersebut di atas. dan kami hiasi langit dunia dengan pelita-pelita. Lebih dari itu bahkan bertentangan dengan ajaran agama kita. dan Kami memeliharanya. Fushshilat: 12) Allah-lah yang telah menciptakan tujuh sama' dan ardh seperti itu pula (QS. Karena konsep kosmologi yang berlaku waktu itu berasal dari Newton. Sudah tentu konsep kosmologi sains abad yang lalu ini tidak sesuai dengan konsep al-Qur'an. yang mengandung konsepsi tentang alam yang langgeng. dan bahkan mampu mengukur jarak itu dan mengatakan berapa massanya. (QS. Kita dapat juga mengemukakan beberapa ayat lainnya sebagai berikut. dan ada bintang-bintang kembar dan gerombolan-gerombolan bintang dalam galaksi kita yang disebut Bimasakti. Datanglah kalian mematuhi-Ku dengan suka atau terpaksa. tak lagi akan mengatakan. maka saya selalu menganjurkan agar umat Islam yang ingin mengejar ketinggalan mereka dalam sains dan teknologi akhir-akhir ini bersiap-siap mengadakan langkah-langkah pengamanan dengan meng-Islamkan sains. bahwa bintang-bintang di langit jaraknya dari bumi tidak sama.Seseorang yang hidup pada akhir abad 19.

sekitar 15 milyar tahun yang lalu. kuda yang paling laju akan berlari paling depan. al-Anbiya': 104) Sekarang mari kira cari pengertian yang terdapat dalam ayat itu. begitulah Kami akan mengembalikannya. Jadi konsep dentuman besar terpaksa dikoreksi yaitu bahwa keberadaan alam semesta ini diawali oleh ledakan maha dahsyat ketika tercipta ruang-waktu dan energi yang keluar dari singularitas dengan suhu yang tak terkirakan tingginya. jawabnya kira-kira sebagai berikut: Konsepsi mengenai alam semesta ini sebenarnya mulai mengalami perubahan sejak tahun 1929 ketika Hubble melihat dan yakin bahwa galaksi-galaksi di sekitar Bimasakti menjauhi kita dengan kelajuan yang sebanding dengan jarak dari bumi. meski ia seorang pakar yang ulung sekali pun. bahwa dengan bekal pengetahuan abad 19 saja seseorang tak mungkin memahaminya. Gumpalan ini berada dalam ruang alam dan tanpa diketahui sebab musababnya meledak dengan sangat dahsyat sehingga terhamburlah materi itu ke seluruh ruang jagad-raya. Fathir: 41) Pada hari Kami gulung sama' seperti menggulung lembaran tulis. Hal ini mengingatkan orang pada pacuan kuda.yang dapat menahan keduanya itu selain Allah. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penyantun dan Maha Pengampun (QS. sebab gaya gravitasi gumpalan itu akan begitu besar sehingga ia akan teremas menjadi sangat kecil. sehingga dalam sains terdapat istilah alam yang mengembang (expanding universe). Materi yang sekian banyaknya itu terkumpul sebagai suatu gumpalan yang terdiri dari neotron. peristiwa inilah yang kemudian terkenal sebagai "dentuman besar" (big bang). Sudah barang tentu gumpalan sebesar itu tak pernah bergelimpangan di ruang kosmos. Sebab konsepsinya tentang alam semesta memang salah hingga tidak cocok dengan apa yang ada dalam al-Qur'an. Karena kelajuan dan jarak masing-masing galaksi dari bumi diketahui. . Apa yang akan dikatakan oleh seorang kosmolog atau seorang fisikawan abad 20. Pada tahun 1952 Gamow berkesimpulan bahwa galaksi-galaksi di seluruh jagad-raya yang cacahnya kira-kira 100 milyar dan masing-masing rata-rata berisi 100 milyar bintang itu pada mulanya berada di satu tempat bersama-sama dengan bumi. sesungguhnya Kamilah yang akan melaksanakannya (QS. yang lebih jauh kecepatannya lebih besar. Gambarkan saja dalam angan-angan. dan bahkan lebih kecil dari lobang hitam (black hole) yang massanya jauh melebihi pulsar dan jari-jarinya menyusut mendekati ukuran titik. berapa besar kepadatan materi dalam titik yang volumenya nol itu jika seluruh massa 100 milyar kali 100 milyar bintang sebesar matahari dipaksakan masuk di dalamnya! Inilah yang biasa disebut sebagai singularitas. Lebih kecil dari bintang pulsar yang jari-jarinya hanya sebesar 2 sampai 3 kilometer dan massanya kira-kira 2 sampai 3 kali massa sang surya. sebab elektron-elektron yang berasal dari masing-masing atom telah menyatu dengan protonnya dan membentuk neotron sehingga tak ada gaya tolak listrik antara masing-masing elektron dan antara masing-masing proton. jika ia ditanya tentang konsep kosmologi sains yang mutakhir yang dihasilkan penelitian para pakar? Secara garis besar. Kita telah melihat dari contoh-contoh yang diberikan. sebagaimana Kami telah mulai awal penciptaan. tidak sulit untuk menghitung kapan mereka itu mulai berlari. itulah janji yang akan kami tepati.

yang berakibat terhentinya inflasi. tidak perlu aturannya sama dengan apa yang ada di alam kita ini. pada umur 10-35 sekon. Baru setelah umur alam mencapai 700. 7501983. sehingga suhunya merendah melewati 1. Jenis materi apa yang muncul pertama-tama di alam ini tidak seorang pun tahu. UA 20-21 Jakarta Selatan Telp. (021) 7501969. Metro Pondok Indah Pondok Indah Plaza I Kav.(bersambung 2/2) Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah Editor: Budhy Munawar-Rachman Penerbit Yayasan Paramadina Jln. Selama proses inflasi ini. tetapi beberapa alam. dalam periode ini atom-atom ringan terbentuk sebagai hasil reaksi fusi-nuklir. terjadilah gejala "lewat dingin". Pada saat pengembunan tersentak. Karena materialisasi dari energi yang tersedia. karena ekspansinya.-------------------------------------------.000 tahun elektron-elektron masuk dalam orbit mereka sekitar inti dan membentuk atom sambil melepaskan radiasi. 7507173 Fax. pada saat itu .000 trilyun-trilyun derajat. KONSEP-KONSEP KOSMOLOGIS (2/2) oleh Achmad Baiquni Para pakar berpendapat bahwa alam semesta tercipta dari ketiadaan sebagai goncangan vakum yang membuatnya mengandung energi yang sangat tinggi dalam singularitas yang tekanannya menjadi negatif. Pada saat itu suhu kosmos adalah sekitar 100 milyar derajat dan campuran partikel dan radiasi yang sangat rapat tetapi bersuhu sangat tinggi itu lebih menyerupai zat-alir daripada zat padat sehingga para ilmuwan memberikan nama "sop kosmos" kepadanya Antara umur satu sekon dan tiga menit terjadi proses yang dinamakan nukleosintesis. maka di lokasi-lokasi tertentu terdapat konsentrasi materi yang merupakan benih galaksi-galaksi yang tersebar di seluruh kosmos. Dan masing-masing alam dapat mempunyai hukum-hukumnya sendiri.6.000 trilyun-trilyun derajat. namun tatkala umur alam mendekati seper-seratus sekon. Tatkala alam mendingin. berapa? duakah? tigakah? atau berapa? para ilmuwan tidak tahu. dan selurnh kosmos terdorong membesar dengan kecepatan luar biasa selama waktu 10-32 sekon. Vakum yang mempunyai kandungan energi yang luarbiasa besarnya serta tekanan gravitasi yang negatif ini menimbulkan suatu dorongan eksplosif keluar dari singularitas. (021) 7507174 Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota Please direct any suggestion to Media Team Artikel Yayasan Paramadina Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota II. isinya terdiri atas radiasi dan partikel-partikel sub-nuklir. tidak terjadi secara serentak. Ekspansi yang luar biasa cepataya ini menimbulkan kesan-kesan alam kita digelembungkan dengan tiupan dahsyat sehingga ia dikenal sebagai gejala inflasi. ada kemungkinan bahwa tidak hanya satu alam saja yang muncul. keluarlah energi yang memanaskan kosmos kembali menjadi 1.

entropinya besarnya tidak terhingga. Einstein mengalah dan kembali ke perumusannya yang semula yang melukiskan alam yang tak statis. yaitu 4 buah dimensi ruang-waktu yang kita hayati. maka ada kemungkinan bahwa alam yang kita huni ini mempunyai kembaran (shadow world) yang sebenarnya berada di sekeliling kita. dan 6 lainnya yang tidak kita sadari. suatu asumsi yang konsekuensinya tak didukung kenyataan. Kalau semua yang telah dirintis secara matematis ini mendapatkan pembenaran dari eksprimen atau observasi di alam luas. dinyatakan oleh Friedman bahwa ia memberi gambaran kosmos yang mengembang. Pertama. ketika dentuman besar tak dapat disangkal. sebagai contoh. Tapi langkah pembetulan itu mendapat tamparan. yang dirumuskan untuk melukiskan alam semesta. telah mendorong para pakar mengakuinya sebagai kilatan dalam alam semesta yang tersisa dari peristiwa dentuman besar. Namun Weinberg menunjukkan kepalsuannya. Saya akan mengungkapkan beberapa saja yang relevan. "terbentang" dan mengejawantah sebagai ruang-waktu. karena tak sesuai dengan kenyataan yang terobservasi. tapi berekspansi. Kedua. Sebab alam yang berkelakuan seperti itu. yaitu kosmos yang statis. Dengan demikian maka konsepsi yang berawal lebih dikukuhkan. ketika gagasan Gamow tentang dentuman besar yang menjurus pada konsep alam semesta yang berawal dikumandangkan beberapa kosmolog yang dipelopori Hoyle mengajukan tandingan yang dikenal sebagai kosmos yang mantap (steady state universe) yang menyatakan bahwa alam semesta ajeg sejak dulu sampai sekarang dan hingga nanti tanpa awal dan tanpa akhir. sebenarnya sains telah mengalami penyelewengan-penyelewengan yang akhirnya terbongkar kesalahannya. karena "tergulung" dengan jarij-ari 10-32 sentimeter yang bermanifestasi sebagai muatan listrik dan muatan nuklir. beberapa ilmuwan mencoba mengembalikan keabadian kosmos dengan mengatakan. ia segera diubah oleh si-perumus agar sesuai dengan konsep kosmologi pada waktu itu. alam semesta mempunyai dimensi 10. dan mendapatkan pembetulan. ketika persamaan matematis Einstein. meledak dan masuk kembali tak henti-hentinya tak berawal dan tak berakhir. katakan saja.seluruh langit bercahaya terang benderang dan hingga kini "cahaya" ini masih dapat diobservasi sebagai radiasi gelombang mikro. . tapi tak dapat kita lihat. karena Hubble mengobservasi justeru jagad-raya ini berekspansi. Begitulah kira-kira uraian fisikawan itu. Dimensi yang kita hayati adalah dimensi yang. Kita lihat bahwa hasrat mempertahankan konsepsi alam semesta yang tak berawal (tak diciptakan) selalu menemui kegagalan. Menurut perhitungan kami. Sudah tentu apa yang dikatakan itu adalah hasil mutakhir kegiatan penelitian dan saling kaji antara para pakar dan merupakan konsensus. Namun terungkapnya keberadaan gelombang mikro yang mendatangi bumi dari segala penjuru alam secara uniform. Ketiga. oleh Wilson dan Penzias pada 1964. alam semesta ini berkembang-kempis (oscillating universe). karena tak cocok dengan kenyataan. Selama perjalanan mencari kebenaran itu. ia hanya dapat kita hubungi lewat medan gaya gravitasi sedangkan hukum alamnya tidak perlu sama dengan yang berlaku di dunia ini.

Qaul yang pertama didasarkan pada kenyataan bahwa masa seluruh alam ini tak cukup besar untuk menarik kembali semua galaksi yang bertebaran. Sedangkan qaul yang kedua mendasari pernyataannya dengan adanya neutrinoneutrino yang mereka percayai membawa sebagian besar dari massa alam ini sehingga sebagai totalitas kekuatan gaya kritis itu akan terlampaui. dan yang saya pilih di antara sekian banyak ayat yang mengandung konsep. tidak dengan pengetahuan orang abad ke 9 atau ke 19 melainkan dengan pengetahuan seseorang dari abad 20." sehingga pada suatu saat ekspansinya akan berhenti dan alam kembali mengecil untuk akhirnya seluruhnya mencebur kembali dalam singularitas." sehingga ia akan berekspansi selamanya. sedangkan sebagian lagi dibawa zarah-zarah yang disebut neutrino. sebagian massa itu bercahaya. Dan tidakkah orang yang kafir itu mengetahui bahwa ruang waktu dan energi-materi itu dulu sesuatu yang padu (dalam singularitas). sekali-kali kamu tak akan menemukan perubahan pada sunnatullah itu. lalu Dia berkata kepadanya dan kepada materi: Datanglah kalian mematuhi . Kalau para detektif itu cukup memakai penalaran logis saja. yang mereka pergunakan untuk menelusuri kembali peristiwanya yang terjadi sekitar 15 milyar tahun lalu. dan kedua jagad raya ini "tertutup. sebagai sunnat-u 'l-lah yang berlaku sejak dulu. alam semesta ini "terbuka. tempat ia keluar dulu kala.konsep tersebut. Apakah para fisikawan-kosmolog mengetahui nasib alam itu pada akhirnya? Ada dua pandangan yang dianut dalam sains yaitu. hanya dapat menyajikan sekitar 20 persen saja dari gaya yang diperlukan. maka para pakar. sebagai berikut. sebagian gelap. yaitu ekspansi alam semesta dan radiasi gelombang mikro. al-Dzariyat: 47) Dalam pada itu Dia mengarah pada penciptaan ruang-waktu dan ia penuh "embunan" (dari materialisasi energi). al-Anbiya': 30) Dan ruang waktu itu Kami bangun dengan kekuatan (ketika dentuman besar dan inflasi melandanya sehingga beberapa dari dimensinya menjadi terbentang) dan sesungguhnya Kamilah yang m eluaskannya (sebagai kosmos yang berekspansi) (QS. kemudian kami pisahkan keduanya itu (QS. yang terobservasi pengaruhnya. yang dalam ayat 23 surah al-Fath dinyatakan memiliki stabilitas. segenap peraturan Allah swt yang mengendalikan tingkah laku alam. pertama. Kapan? Mereka tak tahu. Saya akan menafsirkan ayat-ayat yang telah dicantumkan di atas. yaitu yang dinamakan gaya kritis. harus melandasinya juga dengan pengetahuan sunnatullah. Sekarang marilah kita gali konsep-konsep kosmologi dalam al-Qur'an. seperti layaknya tim detektif yang ingin memecahkan sebuah misteri dengan menggunakan sekelumit abu rokok dan pecahan-pecahan gelas yang berserakan di sekitar tempat kejadian. Sebab mereka tak mempunyai informasi berapa sebenarnya massa yang terkandung dalam alam ini. di samping menggunakan pertimbanganpertimbangan rasional. karena bintang-bintang yang bercahaya dan materi antar bintang.Bagaimana para fisikawan-kosmolog dapat mengatakan semuanya itu tanpa melihat sendiri kejadiannya? Sebenarnya mereka melihat dua gejala.

al-Sajadah: 4) Dan Dia-lah yang telah menciptakan ruang-waktu dan materi dalam enam hari. begitulah Kami akan mengembalikannya. Apa yang telah saya lakukan di sini bukanlah pembenaran (justification) sains dengan al-Qur'an. keduanya menjawab: Kami datang dengan kepatuhan. Dalam awal uraian saya telah dikatakan bahwa penggalian konsep-konsep kosmologi dalam al-Qur'an merupakan pekerjaan . Dan bukankah justeru Allah swt sendiri yang mengungkapkan adanya gejala ekspansi kosmos dan radiasi gelombang mikro kepada para ilmuwan. itulah janji yang akan kami tepati. Maka dia menjadikannya tujuh ruang-waktu (alam semesta) dalam dua hari. Fushshilat: 12) Allah-lah yang menciptakan tujuh ruang-waktu (alam semesta). al-Thalaq: 12) Allah-lah yang menciptakan ruang-waktu dan materi dan apa yang ada di antara keduanya dalam enam hari. dan kami hiasi ruang-waktu (alam) dunia dengan pelita-pelita. memeriksa ruang-waktu (alam semesta) serta materi di dalamnya sesuai dengan perintah-Nya dalam surah Yunus 101 itu mendapatkan petunjuk ke arah yang benar seperti tercantum dalam surah Fushshilat 53.(peraturan)-Ku dengan suka atau terpaksa. (QS. adalah suatu tuduhan yang tak berdasar. demikianlah ketentuan Yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui (QS. dan Kami memeliharanya. dan pada saat itu pula menegakkan pemerintahan-Nya (yang seluruh perangkat peraturannya ditaati oleh segenap mahluk-Nya dengan suka hati) (QS. dan apa yang bertentangan dengannya saya tolak. untuk membimbing mereka dari kesesatan dalam memahami ciptaanNya. sesungguhnya Kamilah yang akan melaksanakannya (QS. dan sungguh jika keduanya akan lenyap tiada siapa pun yang dapat menahan keduanya selain Allah. Mengatakan bahwa apa yang telah saya lakukan ini sebagai usaha menarik-narik al-Qur'an agar sejalan atau cocok dengan sains. dan Dia mewahyukan kepada tiap alam itu peraturan (hukum alam)-nya masing-masing. Patokan saya adalah kebenaran kitab suci umat Islam. hingga para ilmuwan yang setia kepada tradisi umat Islam. (QS. Fushshilat: 11). sesungguhnya Dia adalah Maha Penyantun dan Maha Pengampun (QS. yang salaf. hasil karya pikir manusia. Demikian konsep-konsep kosmologi yang dapat digali dari al-Qur'an sebagaimana saya melihatnya selaku orang yang berkecimpung dalam bidang sains. Hud: 7) Sesungguhnya Allah menahan ruang-waktu (alam semesta) dan materi di dalamnya agar jangan lenyap (sebagai jagad-raya yang terbuka). sedang pemerintahan-Nya telah tegak pada fase zat alir (yaitu sop kosmos) untuk menguji siapakah di antara kalian yang lebih baik amalannya (QS. Akan Kami perlihatkan kepada mereka ayat-ayat Kami di segenap penjuru dan dalam diri mereka sendiri sehingga jelaslah bagi mereka itu bahwa ia (al-Qur'an) adalah yang benar. al-Anbiya': 104). sebagaimana Kami telah mulai awal penciptaan. al-Fathir: 41) Pada hari Kami gulung ruang-waktu (alam semesta) laksana menggulung lembaran tulis. dan materinya seperti itu pula. karena tidak sesuai dengan al-Qur'an. karena ada beberapa konsepsi sains yang telah saya tolak. Dan tidak pula saya menarik al-Qur'an agar sesuai dengan sains.

3. maka saya akan mencakup keduanya dalam istilah energi-materi. kini tak lagi diartikan sebagai bola super-raksasa yang dindingnya ditempeli bintang-bintang. 5. dengan bolpen. Memang begitulah karena sains akan berkembang dan akan senantiasa menemukan hal-hal yang yang dapat lebih melengkapi pengetahuan manusia hingga lebih memahami ayat-ayat Allah. singgasana atau tahta. 2. maka saya condong menggunakan istilah embunan. Malahan saya lebih suka mengartikan sebagai "karya tulis". melainkan ruang alam yang di dalamnya terdapat bintang-bintang. bumi atau tanah. Sebab jika kita mengatakan: itu keputusan Bina Graha. hal ini tidak berarti bahwa gedung itulah yang mengambil keputusan. yang kecuali terkandung dalam asap dan uap juga lebih mengena bila dipergunakan melukiskan gejala yang ditemukan pada suatu sistem yang mendingin dari suhu yang sangat tinggi (dalam kasus ini bertrilyun-trilyun derajat). Qalam." yakni bakal-bumi. karena melukiskan Tuhan duduk di singgasana adalah syirik. pada saat awal penciptaan. karena bumi baru terbentuk sekitar 4. dengan vulpen. maka saya lebih suka mempergunakan katakata "Pemerintahan" (Allah) untuk mengartikan kata-kata arsy. aparatur dan peraturannya. Karena secara eksprimental dapat dibuktikan bahwa ruang serta waktu merupakan satu kesatuan. atom-atom yang belum berbentuk karena suhu alam masih sangat tinggi dan elektron-elektron belum dapat ditangkap oleh inti-inti atom. Ardh. 6. dengan mesin ketik dan lain-lain sebagainya. dengan kuas. misalnya dengan lidi-aren. maka saya condong untuk menggunakan istilah sarana tulis sebagai ganti "pena". maka penggunaan istilah "sop kosmos" sebagai keterangan melukiskan . 4. Maka saya condong mengartikan kata-kata ardh dengan istilah "materi. karena orang dapat menulis sesuatu tak hanya dengan pena. Dan karena pada saat itu isi alam semesta yakni radiasi dan materi pada suhu yang sangat tinggi itu wujudnya lain daripada yang kita dapat temui di dunia sekarang ini. Arsy. dan tanah di bumi kita ini baru terjadi sekitar 3 milyar tahun lalu sebagai kerak di atas magma. maka saya memilih maknanya sebagai zat alir. yang sudah ada sesaat setelah Allah menciptakan jagad-raya. 1. Ma'. pena. Dan karena telah terbukti bahwa materi dan energi setara dan dapat berubah dari yang satu menjadi yang lain.5 milyar tahun lalu di sekitar matahari. CATATAN Di bawah ini disajikan pertimbangan yang saya pergunakan untuk memilih kata-kata dalam penafsiran. Dukhan asap atau uap.yang terus baru dapat tak kunjung henti. Sama'. air atau zat alir. galaksi-galaksi dan lain-lainnya. karena dalam fase penciptaan alam itu air yang terdiri dari atom oksigen dan atom-atom hidrogen belum dapat berbentuk. melainkan pemerintah Indonesia yang bertindak. bahkan inti atom pun pada saat itu belum terbentuk! Oleh karenanya. saya condong untuk menafsirkan sebagai pemerintahan lengkap dengan sarana. dengan pangkal bulu. maka saya gunakan istilah ruang-waktu sebagai ganti "ruang". Karenanya.

tapi tidak membahas principe d'entre manusia. en fonction de l'objektif social poursuiri. Di antara realitas penting yang diulas ideologi adalah manusia. ia kemudian menyebutkan bahwa al-Qur'an diwahyukan untuk memperkenalkan Tuhan kepada manusia. Metro Pondok Indah Pondok Indah Plaza I Kav. Boisard (1979: 84). Yusuf Qardhawi (1977: 33) Masyarakat Islam dibentuk karena ideologinya. Dr. KONSEP-KONSEP ANTROPOLOGIS (1/2) oleh Jalaluddin Rakhmat Al-Qur'an adalah kitab manusia. mengulas manusia dari segi penciptaannya. ketika mengantarkan tulisannya tentang pandangan Qur'ani mengenai manusia dalam bab Les Fils d'Adam. ia menjelaskan perbedaan manusia dengan makhluk lain. 7501983. -------------------------------------------Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah Editor: Budhy Munawar-Rachman Penerbit Yayasan Paramadina Jln.7. [1] Dirk Bakker (1965) dalam bukunya Man in the Qur'an. Ideologi adalah Weltanchauung. dan fungsi manusia sebagai hamba Tuhan. UA 20-21 Jakarta Selatan Telp. Agak mengherankan. yang secara khusus menjelaskan principe d'entre manusia ini. tacitement on explicitement. 1979: 84). Ideologi adalah cara memandang realitas. Karena al-Qur'an seluruhnya berbicara untuk manusia atau berbicara tentang manusia. (021) 7501969. Tuhan. dieu sera la reference primordial et unique puisqu'll est. seperti lazimnya filsafat manusia (philosophic de l'homme). bukan untuk menjelaskan manusia -non pour expliquer l'humain (Boisard. . 7507173 Fax.zat yang sangat rapat tapi dapat mengalir pada suhu yang amat tinggi. Toute ideologie precise d'emblee. Adalah Rahman (1980). sesama manusia. tulis Marcel A. Agak terperinci. hubungannya dengan dunia. Karena itu dalam seluruh bukunya. kata Fazlur Rahman (1980: 43). tidaklah terlalu aneh. la nature de l'individu et la place qui lui est assignee daus la groupe. I origine et le fin de la destine e humaine. Semuanya dapat disimpulkan dalam kalimatnya. yang menjelaskan realitas dalam perspektif tertentu. Pour une religion eschatologique comme l'Islam. (021) 7507174 Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota Please direct any suggestion to Media Team Artikel Yayasan Paramadina Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota II. yaitu Islam. a la fois. Boisard hampir tidak pernah membahas karakteristik manusia menurut al-Qur'an. walaupun Boisard mengakui pentingnya filsafat antropologis dalam Islam.

Ia tidak memulai dari konsep dasar yang digunakan al-Qur'an untuk mengabsorbsikan manusia. sebetulnya menemukan bagaimana al-Qur'an memberi makna tentang konsep-konsep dasar manusia. if not absolutely impossible. what is called semantics today is so bewilderingly complicated. Dengan kata lain. hubungan komunikasi nonlinguistik. penulis makalah ini juga outsider. mereka meneliti ayat-ayat al-Qur'an yang berkenaan dengan manusia. yang kita anggap merupakan unsur konseptual dasar dari Weltanschauung Qur'ani ini. 1986) membahas karakteristik khas manusia yang lebih "maju" dari al-Ghazali. sebagaimana digunakan dalam al-Qur'an. kemudian mengenal bidang semantik setiap istilah itu. It is extremely difficult. dengan resiko salah beberapa langkah. 1964: 10). Ketika Izutsu membahas kosep Tuhan dan manusia dalam al-Qur'an. Ketiga. saya menguraikannya secara terperinci. seperti Fazlur Rahman. juga walaupun pendek tulisan al-Faruqi (1404: 332). Ia menyebutkan tiga hubungan ontologis. 1964: 19). Sayangnya. 1965) yang memperkenalkan metodologi semantik [2] dalam memahami konsep-konsep dasar al-Qur'an.uraian Rahman tidak berbeda dengan pembahasan al-Ghazali yang lebih klasik (Lihat Othman. Tulisan ini mengambil jalan lain. kita menentukan makna pokok (basic meaning) dan makna nasabi (relational meaning). Saya sangat terkesan dengan Izutsu (1964. lalu menyimpulkan secara induktif. Pertama. for an outsider even to get a general idea of what it is like (Izutsu. Dalam tulisan tersebut. Ia sama sekali tidak menyebut berbagai konsep yang digunakan al-Qur'an untuk merujuk manusia. akan dibahas istilah-istilah kunci manusia dan bidang semantiknya. Yang kita perlukan di sini. 1967) --yang membahas amanah sebagai inti kodrat manusia-. 1980: 24) Rahman mengulas manusia dengan mengulas pandangan al-Qur'an tentang kedudukan manusia sebagai individu dan anggota masyarakat. man ought to follow his nature. Makna pokok yang berkenaan dengan constant semantic element which remains attached to the word whereever it goes and however it is used (Izutsu. kita memilih istilah-istilah kunci (key-terms) dari vocabulary al-Qur'an. . 1960). Jadi. this tranformation of the is into ought is both fhe unique privelege and the unique risk of man (Rahman. kita mengidentifikasikan istilah-istilah al-Qur'an tentang manusia. Mungkin tulisan Mutahhari (tanpa tahun) dan beberapa tulisan lainnya (Lihat Mutahhari. Kedua. Ia mengambil konsep Allah sebagai istilah kunci dan menjelaskan hubungan konsep itu dengan manusia. Pertama.The only different is that while every other creature follows its nature automatically. Tidak mungkin dalam makalah ini. Malangnya di samping makalah ini tidak dimaksudkan untuk itu. Izutsu sendiri berkata. Kedua. akan dibahas implikasi dari bidang semantik tersebut untuk memperoleh gambaran tentang Weltanschauung Qur'ani. juga dalam tulisan lain (Rahman. Unfortunately. ia menyebut pembahasannya sebagai semantics of the Koranic weltanschauung. kita menyimpulkan weltanschauung yang menyajikan konsep-konsep itu dalam satu kesatuan. dan hubungan komunikasi linguistik. Makna nasabi adalah makna tambahan yang terjadi karena istilah itu dihubungkan dengan konteks di mana istilah itu berada.

128. 29. menjadi karasiy (Lihat al-Thabrasi. 72:5. 41:6). 39. yang merupakan bentuk lain dari insan. Bukankah Rasul itu memakan makanan dan berjalan-jalan di pasar. ia seperti manusia yang lain. 70:160.BASYAR. INSAN. anasiy. Dari segi inilah. Sama tidak tepatnya untuk tidak menafsirkan Sesungguhnya telah kami jadikan insan dalam bentuk yang sebaik-baiknya (95: 4) dengan menunjukkan karakteristik fisiologi manusia. atau bagaimana kaum yang diseru para nabi menolak ajarannya. insiy. Tentang para Nabi. Anasiy hanya disebut satu kali (25:49). Tapi Ibn 'Arabi . berjalan di pasar.. 7:82. 55:33. Basyar disebut 27 kali. 5: 465) menyebutkan umumnya para mufasir mengartikan ayat ini untuk menunjukkan kelebihan manusia secara fisiologis: berjalan tegak. Ayat ini ditegaskan dalam QS. Tuhanku. dan al-Nas. Ins disebut 18 kali dalam al-Qur'an. Bukankah ia Basyar seperti kamu. 56. tapi sifat-sifat psikologis (atau spiritual). padahal aku tidak disentuh basyar (3:47). Al-Syaukani (1964. Secara singkat konsep basyar selalu dihubungkan dengan sifat-sifat biologis manusia: makan. dan QS. karena nabi hanyalah basyar --manusia biasa yang "seperti kita. and man's duty is to preserve the pattern on which God has made him (QS 30:30). Dalam QS. 17:88. ini bukan basyar. 27:56) dan menunjukkan kelompok atau golongan manusia. insan. disuruh Allah menegaskan bahwa secara biologis. Surat 17:21 dengan jelas menunjukkan makna ini pada hari kami memanggil setiap unas dengan imam mereka. ia makan apa yang kamu makan. dan ia minum apa yang kamu minum (33:33). 7:38. 74. ada tiga istilah kunci yang mengacu kepada makna pokok manusia: basyar. 2:60. 1937). bagaimana mungkin aku mempunyai anak. aku ini manusia biasa (basyar) seperti kamu. seperti kursiy." bukan superman. Marilah kita kembali kepada ketiga istilah kunci tadi. 25: 7. Yusuf Ali (1977: 1759) dengan tepat menafsirkan ayat ini to man God gave the purest and the best nature. dengan mengganti nun atau ya atau boleh juga bentuk jamak dari insiy. dan makan dengan menggunakan tangan. Basyar. basyar memberikan referensi pada manusia sebagai makhluk biologis. misalnya. Mereka berkata. 51:56. hanya saja aku diberi wahyu bahwa Tuhanmu ialah Tuhan yang satu (18:110. unas. Katakanlah. dan selalu dihubungkan dengan jinn sebagai pasangan makhluk manusia yang mukallaf (6:112. mereka berkata. 25: 20. Ketika wanita-wanita Mesir takjub melihat ketampanan Yusuf as. Lihatlah bagaimana Maryam berkata. 27:17. seks. 130. 41:25. Unas disebut lima kali dalam al-Qur'an (2:60. unas digunakan untuk menunjukkan 12 golongan dalam Bani Israil. ins. kita tidak tepat menafsirkan basyarun mitslukum sebagai manusia seperti kita dalam hal berbuat dosa. 6). 179. 17:71. Ya Allah. orang-orang kafir selalu berkata. minum. Dan tidak Kami utus sebelummu para utusan kecuali mereka itu memakan makanan dan berjalan-jalan di pasar. tapi ini tidak lain kecuali malaikat yang mulia (12:31). [3] Dalam seluruh ayat tersebut. Kecenderungan para Rasul untuk tidak patuh pada dosa dan kesalahan bukan sifat-sifat biologis. DAN AL-NAS Dalam al-Qur'an. Anasiy dalam bentuk jamak dari insan. Ada konsep-konsep lain yang jarang dipergunakan dalam al-Qur'an dan dapat dilacak pada salah satu di antara tiga istilah kunci di atas. 46:18. Kata Basyar dihubungkan dengan mitslukum (tujuh kali) dan mitsluna (enam kali) diantara ayat-ayat tersebut di muka. Nabi Muhammad saw.

Manusia diberi kemampuan mengembangkan ilmu dan daya nalarnya. maka insan dalam al-Qur'an juga dihubungkan dengan konsep tanggung jawab (75: 36. Insan disebut 65 kali dalam al-Qur'an. proses terbentuknya makanan dari siraman air hujan hingga terbentuknya buah-buahan (80: 24-36). mitsaq. setelah Allah menjelaskan sifat insan yang tidak labil. semua konteks insan menunjuk pada sifat-sifat psikologis atau spiritual. 46:15). Menurut al-Qur'an. 89:15). [7] Predisposisi untuk beriman inilah yang digambarkan secara metaforis [8] dalam surat 7:172. Pertama. Allah membuatnya hidup. insanlah yang dimusuhi setan (17:53. dalam menyembah Allah. bila ia mendapat keberuntungan. 80:17. 50:16). Menurut Fazlur Rahman (1967: 9). . 5). Di dalamnya terkandung makna khilafah. 31:14. ia cenderung sombong. kekeliruan penafsiran. Bila ia ditimpa musibah. dan penciptaannya (86: 5). 51. amalnya dicatat dengan cermat untuk diberi balasan sesuai dengan apa yang dikerjakannya (53: 39). melihat. kita melihat keistimewaan manusia sebagai wujud yang berbeda dengan hewani. Karena itu juga. Ketiga. 13. Ia diwasiatkan untuk berbuat baik (29:8. 17:67. 17:83. 59:16) dan ditentukan nasibnya di hari Qiyamat (75:10. dan bahkan musyrik (10:12. Insan disuruh menazhar (merenungkan. 11:9. ia cenderung menyembah Allah dengan ikhlas. Insan. berkuasa. 49. Karena itu. tt. dan memutuskan. mengamati) perbuatannya (79: 35). 39:8. menganalisis. Dalam hubungan inilah. kata insan berkali-kali dihubungkan dengan kata nazhar. Tak ada makhluk Allah yang lebih bagus daripada manusia. umumnya para mufassir bermula dari salah paham tentang semantic field istilah insan. 'isr). Insan dihubungkan dengan predisposisi negatif diri manusia. kedua. amanah adalah menemukan hukum alam. berkehendak. memikirkan. 41:49. manusia adalah makhluk yang diberi ilmu. berbicara. manusia adalah makhluk yang memikul amanah (33: 72). 42:48. mengajar insan apa yang tidak diketahuinya. Yang mengajar dengan pena. insan sangat dipengaruhi lingkungannya. mengetahui. untuk menciptakan tatanan dunia yang baik. Amanah inilah yang dalam ayat-ayat lain disebutkan sebagai perjanjian (ahd. Keempat. 79:35. Allah berfirman. mendengar. dengan inisiatif moral insani. 351-352) mengutip berbagai pendapat para mufassir tentang makna amanah dan memilih makna amanah sebagai predisposisi (isti'dad) untuk beriman dan mentaati Allah. Akan Kami perlihatkan kepada mereka (insan) tanda-tanda Kami di alam semesta ini dan pada diri mereka sendiri sehingga jelas baginya bahwa ia itu al-Haq (41: 53). 14. Kedua. manusia sebagai pemikul al wilayah al-ilahiyyah. Kecuali kategori ketiga yang akan kita jelaskan kemudian. karena manusia memikul amanah.berkata. [4] Kita dapat mengelompokkan konteks insan dalam tiga kategori. takabur. (Al-Thabathabai. Insan dihubungkan dengan keistimewaannya sebagai khalifah atau pemikul amanah. Dan ketiga Insan dihubungkan dengan proses penciptaan manusia. dan ini adalah sifat-sifat rabbaniyah. 75:3. Pada kategori pertama. [5] (96: 4. Sekali lagi. yang berbeda dengan basyar. 89:23). "Ia mengajarkan (insan) al-bayan" [6] (55: 3). menguasainya atau dalam istilah al-Qur'an "mengetahui nama-nama semuanya" dan kemudian menggunakannya.

21:37). 20. yang berjuang mengatasi konflik dua kekuatan yang saling bertentangan: kekuatan mengikuti fitrah (memikul amanat Allah) dan kekuatan mengikuti predisposisi negatif.-------------------------------------------. Metro Pondok Indah Pondok Indah Plaza I Kav. tanah (15:28. lihat 'Abd al-Baqi. manusia itu cenderung zalim dan kafir (14:34.21).7. yang kedua unsur insani. insan menjadi makhluk paradoksal. Ini mendorong saya untuk menyimpulkan bahwa proses penciptaan manusia menggambarkan secara simbolis karakteristik basyari dan karakteristik insani. UA 20-21 Jakarta Selatan Telp. 22:66. 23:12. manusia adalah gabungan kekuatan tanah dan hembusan Ilahi (bain qabdhat al-thin wa nafkhat al-ruh). (021) 7507174 Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota Please direct any suggestion to Media Team Artikel Yayasan Paramadina Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota II. saripati tanah. bakhil (17:100). pada kata al-Nas). tanah (15:26. 36:77). berbuat dosa (96:6. Sebagai insan manusia diciptakan dari tanah liat. (021) 7501969. 75:5). 43:15). meragukan hari akhirat (19:66). 7507173 Fax. resah. Inilah manusia yang paling banyak disebut al-Qur'an (240 kali. Menurut Qardhawi (1973: 76). 55:14. "Tidak boleh (seorang mukmin) mengurangi hak-hak tubuh untuk memenuhi hak ruh. Secara menarik proses penciptaan manusia atau asal kejadian manusia dinisbahkan pada konsep insan dan basyar sekaligus. 32:7). Yang pertama unsur basyari. dan tidak boleh ia mengurangi hak-hak ruh untuk memenuhi hak tubuh. 90:4). Al-Nas. al-Mu'jam. Demikian pula basyar berasal dari tanah liat. tergesa-gesa (17:11. dan segan membantu (70:19. Keduanya harus tergabung dalam keseimbangan. 30:20) dan air (25:54). kata insan dihubungkan dengan predisposisi negatif pada diri manusia. banyak membantah atau mendebat (18:54. 16:4. 38:71. gelisah. tidak berterima kasih (100:6)." kata Abbas Mahmud al-'Aqqad (1974. Menurut al-Qur'an. 7:381). Yang pertama.(bersambung 2/2) Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah Editor: Budhy Munawar-Rachman Penerbit Yayasan Paramadina Jln. Konsep kunci ketiga ialah al-Nas yang mengacu pada manusia sebagai makhluk sosial. unsur material dan yang kedua unsur ruhani. KONSEP-KONSEP ANTROPOLOGIS (2/2) oleh Jalaluddin Rakhmat Pada kategori kedua. ditakdirkan untuk bersusah payah dan menderita (84:6. Bila dihubungkan dengan sifat-sifat manusia pada kategori pertama. Tak mungkin dalam makalah . bodoh (33:72). 7501983. Kedua kekuatan ini digambarkan dengan kategori ayat-ayat ketiga.

36. 32:9). Ia dengan sendirinya musayyar. kita dapat menyimpulkan. 67:23. yang berdebat dengan Allah tanpa ilmu. 4:170. 34:28. al-Qur'an menegaskan bahwa petunjuk al-Qur'an bukanlah hanya dimaksudkan pada manusia secara individual. qadar. tidak bersyukur (40:61. tapi ia diberikan kekuatan untuk tunduk atau melepaskan diri daripadanya. melalaikan ayat-ayat Allah (10:92). Surat 6116 menyimpulkan bukti kedua ini. tapi juga manusia secara sosial. Manusia sebagai basyar berkaitan dengan unsur material. sama taatnya seperti matahari. yang mempesonakan orang dalam pembicaraan tentang kehidupan dunia. baik dari segi ilmu maupun dari segi iman. 25:50). 4:46. di samping ada sebagian orang yang rela mengorbankan dirinya untuk mencari kerelaan Allah. yang tidak diperdayakan syetan (4:83). 39:27. tidak beriman (11:17. kita menemukan kelompok manusia yang menyatakan beriman. 23:78. 4:155). 14:1. al-Nas menunjuk pada manusia sebagai makhluk sosial. Banyak ayat yang menunjukkan kelompok-kelompok sosial dengan karakteristiknya. 45:26. dan kebanyakan harus menanggung azab (22:18). Ketiga. dengan memperhatikan ungkapan aktsar al-Nas. seperti kata . maka ada juga hukum-hukum yang mengendalikan manusia sebagai makhluk psikologis dan makhluk sosial. tapi sebetulnya tidak beriman (2:8). 2:243. dan sebagainya). Namun manusia sebagai insan dan al-Nas bertalian dengan unsur hembusan Ilahi. petunjuk.8. yang hanya memikirkan kehidupan dunia (2:200). fasiq (5:49). 28. 13:1). 40:58. 12:38). 7:10. yang menyembah Allah dengan iman yang lemah (22:11. kalam. Pertama. dan al-Kitab (22:3. mereka akan menyesatkanmu dari jolan Allah. yang selamat dari azab Allah (11:116). psikologis dan sosial. WELTANSCHAUUNG QUR'ANI TENTANG MANUSIA Dari uraian di muka tampak al-Qur'an memandang manusia sebagai makhluk biologis. bashar. 2:88. yang mengambil sekutu terhadap Allah (2:165). Ia menyerap sifat-sifat rabbaniah menurut ungkapan Ibn Arabi. sebagian besar manusia mempunyai kwalitas rendah. yang menjual pembicaraan yang menyesatkan (31:6). Sebagaimana ada hukum-hukum yang berkenaan dengan karakteristik biologis manusia. kita menjelaskan seluruh bidang semantik istilah al-Nas. 29:10). tetapi memusuhi kebenaran (2:204). 40:57). Ia mengemban wilayah Ilahiyah. Ia menjadi mahkluk yang mukhayyar. 12:103. Al-Nas sering dihubungkan al-Qur'an dengan petunjuk atau al-Kitab (57:25. 24:35. kafir (17:89. manusia secara otomatis tunduk kepada takdir Allah di alam semesta. seperti sama'. yang dilambangkan manusia dengan unsur tanah. Pada keadaan itu. Kepadanya dikenakan aturan-aturan. 27:62.68. Ayat-ayat itu lazimnya dikenal dengan ungkapan wa min al-Nas (dan diantara sebagian manusia). Menurut al-Qur'an sebagian manusia itu tidak berilmu (7:187. 69:42). yang berilmu atau dapat mengambil pelajaran (18:22. 12:21. Jika kamu ikuti kebanyakan yang ada di bumi. 31:20). 7:3.singkat ini. Dengan memperhatikan ungkapan ini. 30. 38:24. Ayat-ayat ini dipertegas dengan ayat-ayat yang menunjukkan sedikitnya kelompok manusia yang beriman (4:66. hewan dan tumbuh-tumbuhan. 30:6. yang bersyukur (34:13. Kedua. Cukuplah di sini ditunjukkan beberapa hal yang memperkuat pertanyaan pada awal paragraf ini --yakni.

5.: 17). Sedikit orang yang beriman. Inilah hakikat kemanusiaannya. Ada dua komponen esensial yang membentuk hakikat manusia yang membedakannya dari binatang. dan lebih sedikit lagi orang yang beriman dan berilmu. Sesungguhnya kami jadikan apa yang ada dipermukaan bumi sebagai perhiasan untuk menguji mereka.30:65) menjelaskan ayat ini. Obyek formal dari filsafat manusia ialah inti manusia. tapi suatu prinsip adanya (principe d'etre). Makna hidup manusia diukur sejauh mana ia berhasil beramal sebaik-baiknya. Bila Sartre mengatakan hidup ini absurd. Usaha untuk mengembangkan keduanya disebut 'amal shalih. Sesuatu yang olehnya manusia menjadi apa yang terwujud. Dr Muhammad Mahmud Hijazi (1968. Karena banyak. ia dituntut untuk bertanggung Karena pada manusia ada predisposisi negatif dan positif sekaligus. sedikit orang yang berilmu. Kelompok terakhir inilah yang disebut al-Qur'an. "Apa yang ingin ditelaah bukanlah suatu makhluk. 4. sesuatu yang olehnya ia merupakan sebuah nilai yang unik. 67:2)." tulis Mutahhari (tt. but. kita menyimpulkannya bahwa ilmu dan iman adalah dasar yang membedakan manusia dari makhluk lainnya. sesuatu yang olehnya manusia mempunyai karakteristik yang khas. CATATAN 1. jawab. kewajiban manusia ialah memenangkan predisposisi positif. menurut al-Qur'an. Ia lah yang menciptakan kehidupan dan kematian untuk menguji kamu siapa diantara kamu yang paling baik amalnya (QS. "Allah mengangkat derajat orang-orang yang beriman diantara kamu dan orang-orang yang diberi ilmu" (QS. more important still. pembaca dianjurkan melihat sendiri dalam Al-Baqi. al-Mu'jam. Al-Qur'an tak lain merupakan rangkaian ayat yang mengingatkan manusia untuk memenuhi janjinya itu. Dalam pandangan al-Qur'an. 1964:11) 3. al-Qur'an menyatakan hidup ini medan untuk membuktikan 'amal shalih. siapa diantara mereka yang paling baik amalannya (18:7). sebuah benda.al-Thabathabai. Karena itu. Lihat al-Baqi. Keduanya harus dikembangkan secara seimbang. yakni sejauh mana ia mengembangkan iman dan ilmunya. alam kodratnya strukturnya yang fundamental. Ini terjadi bila manusia tetap setia pada amanah yang dipikulnya. Secara konkrit kesetiaan ini diungkapkan dengan kepatuhan pada syari'at Islam yang dirancang sesuai amanah. Metodologi semantik didefinisikan sebagai an analytic study of the key-terms of language with a view to arriving eventually at a conceptual grasp of the Weltanschauung or world-view of the people who use that language as tool not only of speaking and thinking. 58:11)." tulis Leahy (1985: 11) 2. Mu'jam. of conceptualizing and interpreting the world that surround them (Izutsu. sedikit sekali orang yang dapat mengembangkan ilmu dan iman ini sekaligus. "Karenanya. "Allah telah memberi manusia gairah dan kemampuan untuk meneliti dan menyelidiki untuk mengadakan percobaan sehingga . yaitu potensi mengembangkan iman dan ilmu.

Man in The Qur'an. nikmat Allah. Al-Mu'jam al Mufahras Li al-Alfazh al Qur'an al-Karim. tanda-tanda yang berjanji. 19:95) 7." al-Tawhid. Ali. DAFTAR KEPUSTAKAAN Abd al Baqi. al-Thabathabai (TT. Toshihiko. The Covenant in The Koran. janji. Surat-surat dalam al-Qur'an mengingatkan manusia pada perjanjian Allah. Al-Bayan ditafsirkan sebagai kemampuan berbicara. Al-Mizan fi 'l-Tafsir al-Qur'an. Uraian berbagai pendapat tersebut beserta kritiknya disajikan lengkap oleh Subhani (1400:75 106). Beirut: Dar al-Kutub al-Lubuani. . Paris: Albin Michel. Lalu ia menundukkan semuanya untuk berbakti memenuhi kehendak manusia. Yusuf 1977. Muhammad Fuad. Fath al-Qadir Kairo: Mustafa Al-Babi al-Halbi. Tokyo Keio Institute of Cultural and Linguistic Studies. no 9. Beirut: Dar el-fikr.sampai pada pengetahuan tentang rahasia alam semesta serta tabiat segala hal. Izutsu. Tentang perjanjian manusia di alam dzarrah ini. saksi. L'humanisme de L'Islam. Biazar (1366) banyak memberikan contoh-contoh yang menarik. 1974. jilid 7. 1966. Muhamad Hussein. 5:131). terjadi banyak ikhtilaf di kalangan mufassir. Ahd al Karim. Penerbit tidak diketahui. kemampuan mengembangkan ilmu. yang terdiri dari pihak pertama (Allah) pihak kedua (Manusia). Marcel A. sumpah dengan ayat-ayat Allah. Ismail. Boisard. "Nazhriyat al-lnsan fi 'l. 1964. Majma' al-Bayan. Al-Thabathabai. Al-Faruqi. Al-Syaukani.Qur'an. Sida: A1-Irfan Bakker. "Al-lnsan fil Qur'an" dalam Al-A'mal al-Kamilah. The Holy al-Qur'an American Trust Publication. 1937. tahun 2." 6. pengetahuan tentang halal dan haram. daftaer kondisi yang harus dipenuhi pihak kedua. ancaman. God and Man in The Koran. Abd al-Karim Biazar menulis tentang the Covenant in the Qur'an sebagai kunci yang mempersatukan ayat-ayat dalam setiap surat al-Qur'an. 1404. Al-Tafsir al-Wadhih Kairo: A1-Istiqdal al-Kubra. Abu Ali Al-Fadhl. Al-'Aqqad Abbas Mahmud. 1978. Al-Thabrasi. Muhammad Mahmud. Dirk. Qum: Al-Hauza al-Ilmiyah. 8. Tanpa tahun. 1356. Muhammad bin Ali. Hijazi. dan pelajaran dari masa lalu. Amsterdam: Drukkerrij Holland NV: Biazard. 1964. Lihat al-Syaukani (1964. 1968.

Mutahhari. mengaturnya. 7507173 Fax. ------. and Man. Ali Issa. 1977. Murtadha. 1966. Maktabah Wahbah. Leahy. 1965. Othman. Al-Khashaish al-Amimah li 'l-Islam. Ethico Religious Concepts in the Qur'an. Hukum Allah meliputi segenap makhluk (alam semesta). Al-Insan wa 'l-Iman Teheran: Muassasah al-Bi'tsah. 1973. The Qur'anic Concept of God. -------------------------------------------Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah Editor: Budhy Munawar-Rachman Penerbit Yayasan Paramadina Jln. ------. VI: 1. Metro Pondok Indah Pondok Indah Plaza I Kav. Montreal: McGill University Press. tapi merupakan bagian integral dari akidah. Major Themes of the Qur'an. dapat disaksikan betapa teraturnya alam raya ini. Jakarta: Gramedia. KONSEP-KONSEP HUKUM (1/3) oleh KH. Qum: Antara lain Khayyam. Al-Iman wa 'l-Hayat. Ja'far. 7501983. Maktabah Wahbah Rahman. Betapa teraturnya gerakan bintang-bintang pada garis edarnya .8. Yusuf. March 1967. Bandung: Mizan. ------. Akidah tentang Allah yang menciptakan alam semesta. (021) 7501969. 1986. Tanpa tahun. Ali Yafie Hukum yang diperkenalkan al-Qur'an bukanlah sesuatu yang berdiri sendiri. Kairo: Dar al-Maaref Qardhawi. Manusia dan Agama. Ma'alim al-Tawhid fi 'l-Qur'an al-Karim. UA 20-21 Jakarta Selatan Telp. Louis. the universe.------. Chicago: Bibliotheca Islamica Subhani. Manusia: Sebuah Misteri. 1980. Islamic Studies. Fazlur. 1986. (021) 7507174 Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota Please direct any suggestion to Media Team Artikel Yayasan Paramadina Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota II. 1400. 1960. The Concept of Man in Islam in the writings of Al Ghazali. memeliharanya dan menjaganya sehingga segala makhluk itu menjalani kehidupannya masing-masing dengan baik dan melakukan fungsinya masing-masing dengan tertib. [1] Melalui suatu pengamatan yang cermat atas segala alam sekitar kita.

Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan) Kami segenap ufuk dan pada diri mereka sendiri. menalar. [2] Dalam hubungan ini. jumlah panjang jaringan pembuluh darahnya sampai 100 ribu kilometer dan lebih dari 500 macam proses kimiawi terjadi di dalam hati. meneliti. mengomentari ayat-ayat ini dengan sabdanya. dilengkapi dengan petunjuk-petunjuk lain yang bersifat detail dimana terbayang isyarat-isyarat yang mengacu pada pokok-pokok ilmu pengetahuan tentang alam dan hukum-hukum yang berlaku atasnya. maka peliharalah kami dari siksaan neraka. hukum gravitasi. Tubuh manusia jauh lebih rumit dan menakjubkan daripada pesawat komputer. Celakalah orang yang membaca ayat ini lalu tidak berfikir. tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia. hukum relativitas. hukum gerak.. sampai kepada galaksi-galaksi yang tak terbayangkan besar dan luasnya. dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal.. [3] Pesan untuk mengamati. kode genetik. tubuh mengatur suhu badan kita. Maha Suci Engkau. yakni otak memiliki kemampuan merekam dan menyimpan lebih banyak informasi dibandingkan dengan pesawat apapun. hukum reproduksi dan embriologi. Lewat ilmu pengetahuan alam kita diperkenalkan dengan hukum-hukum fisika dan kimia serta biologi. Ilmu pengetahuan mengungkapkan. mengamati dan meneliti sebagaimana disinggung di atas yang sifatnya global.. tubuh manusia terdiri dari 50 juta sel.Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi. Dan yang lebih dekat kita renungkan ialah keadaan tubuh jasmani kita sendiri.. [4] . tekanan darah kita. memberikan informasi yang jelas pada kita betapa alam raya ini mulai dari bagian-bagiannya yang terkecil seperti partikel-partikel dalam inti atom yang sukar dibayangkan kecilnya.. Sedangkan ketangguhannya menunjukkan staminanya. Pusat pengatur tubuh. sangatlah jelas dan berulang-ulang kali disampaikan dalam sekian banyaknya ayat-ayat al-Qur'an. semuanya bergerak menurut ketentuan-ketentuan hukum alam yang mengaturnya. [6] Rasulullah saw. lebih mengesankan lagi. memikirkan dan mempelajari alam semesta. Meskipun demikian fungsi-fungsi tubuh yang tidak tampak. hukum Pascal. Dan apakah mereka tidak memperhatikan kekuasaan langit dan bumi dan segala sesuatu yang diciptakan Allah . (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang Engkau menciptakan langit dan bumi (seraya berkata) ya Tuhan kami. seperti hukum proporsi. dapat kita renungkan salah satu ayat al-Qur'an yang berbunyi. [5] . sehingga jelaslah bagi mereka bakwa al-Qur'an itu adalah benar. Prestasi atletik seringkali memperlihatkan tenaga tubuh yang bersifat melar. pencernaan dan tugas-tugas lain yang tidak terbilang banyaknya. Penemuan hukum-hukum alam (natuurwet) sebagaimana disinggung di atas.masing-masing. Tanpa kita sadari. Bumi tempat kita hidup yang berputar pada sumbunya dan beredar pada orbitnya di sekeliling matahari dalam jangka waktu tertentu dan pasti menyebabkan silih bergantinya siang dan malam dan bertukarnya satu musim ke musim lain secara teratur.. Katakanlah! Perhatikanlah apa yang ada di langit dan di bumi. Tidaklah bermanfaat tanda kekuasaan Allah dan Rasul-rasul yang memberi peringatan bagi orang-orang yang tidak beriman. hukum konservasi. [7] Petunjuk-petunjuk al-Qur'an yang mengarahkan manusia untuk berfikir. Misalnya .

telah mengungkapkan banyak penemuan yang memperkenalkan kepada kita hukum-hukum yang berlaku dengan pasti atas alam ini.. menurut ukuran. penelitian dan penalaran lewat ilmu-ilmu yang mempelajari perilaku dan sifat-sifat makhluk-makhluk. Isyarat yang ada dibalik kalimat ini dapat ditangkap lebih jelas dengan bantuan ilmu fisika yang membahas tentang materi dan unsur. Benda-benda yang ada disekeliling kita. kilat. Sesungguhaya Kami menciptakan segala sesuatu dengan qadar. di dalam bahasa al-Qur'an kadangkala disebut sunnatullah. dan adalah ketetapan Allah itu suatu qadar yang pasti berlaku.. namun istilah ini lebih mendominasi hal-hal yang bersangkut paut dengan perilaku manusia. Romawi. India dan Cina di bidang pengetahuan filsafat dan alam. Kehadiran ayat-ayat yang mengandung isyarat-isyarat yang mengacu pada pengungkapan misteri alam. itulah ketentuan dari Yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui. diantaranya. air. dan sekali-kali tidak (pula) akan menemni penyimpangan dari sunnatullah itu. Parsi. Tidaklah mungkin bagi matahari mencapai bulan dan malampun tidak dapat mendahului siang. Dialah yang menjadikan matahari bersinar dan bulan bercahaya. berbunyi . tumbuh-tumbuhan.untuk terjun menggali ilmu pengetahuan yang luas dan khazanah ilmiah bangsa-bangsa Yunani. Adanya sejumlah ketentuan yang pasti dan berlaku sebagai hukum yang mengatur segala makhluk di alam raya ini. Upaya pengamatan. Dia menguraikan tanda-tanda (kekuasaannya) kepada orang-orang yang mengetahui (berilmu)" [8] . Dan telah Kami tetapkan bagi bulan manzilah-manzilah perjalanan sehingga (setelah ia sampai ke manzilah terakhir) kembalilah ia sebagai bentuk tandan yang tua. Dan masing-masing di dalam orbitnya pada beredar. dan ditetapkan manzilah-manzilah (mansion) bagi peredarannya supaya kalian mengetahui bilangan tahun-tahun dan perhitungannya. Maka sekali-kali kamu tidak akan mendapat pergantian bagi sunnatullah itu. Ibn Rusyd. [11] Penjelasan lebih jauh tentang qadar itu dapat kita simak dari beberapa ayat. mendorong minat dan membangkitkan semangat kaum Muslim angkatan-angkatan pertama --yang dapat menghayati ayat-ayat al-Qur'an ini-. Allah tidak menciptakan yang demikian itu melainkan dengan hak. biasanya dalam bahasa ilmu-pengetahuan disebut natuurwet atau hukum alam.(Allah telah menetaphan yang demikian) sebagai sunnatullah pada mereka yang telah berlaku dahulu. [10] Dalam terminologi teologis hal semacam itu termasuk dalam kategori qadar dan qadla. baik berupa benda mati maupun makhluk hidup.. al-Ghazali dan serentetan nama besar yang tidak asing bagi dunia ilmu pengetahuan di Timur dan di Barat. Demikian pula halnya dengan ilmu-ilmu lain yang dapat menangkap isyarat-isyarat berbagai ayat al-Qur'an yang berbicara tentang hewan. Salah satu ayatnya mengatakan.dianggap identik dengan determinisme. sehingga menghasilkan ilmuwan-ilmuwan besar seperti Ibn Sina. awan.Dan matahari itu berjalan di tempatnya.. [9] Kedua ayat ini cukup jelas isyarat-isyaratnya yang dapat ditangkap ilmu astronomi. Ayat yang secara jelas merangkaikan sunnatullah itu dengan qadar. al-Farabi. [12] Kata bi qadar (dengan qadar) di sini ditafsirkan. dan tentang manusia sendiri dan kejadiannya serta segala macam permasalahannya. dan sering kali --secara kurang hati-hati-.ayat yang berbunyi. yang merupakan .

Isyarat serupa yang kita peroleh dari informasi ilmu fisika sebagaimana disinggung di atas. unsur Pt (platina). unsur Al (aluminium). jumlah proton yang terkandung di dalamnya 13..bahan-bahan kebutuhan dalam hidup kita seperti kayu. UA 20-21 Jakarta Selatan Telp.. [13] Secara sepintas dari dua informasi yang disajikan di atas. unsur Ag (perak). [15] -------------------------------------------. Mungkin itulah yang disindir Imam Ghazali dengan ungkapannya:. unsur Cu (tembaga). mereka tidak mampu membaca tulisan Ilahi yang tergurat di atas lembaran-lembaran alam semesta. jumlah protonnya 26. (021) 7501969. Juga untuk menemukan sunnatullah atau hukum-hukum kauniyah yang akan menopang tegaknya hukum-hukum syar'iyyah. hewan. dan disebut air. jumlah protonnya 47.". dan seterusnya. Misalnya. memperlihatkan kepada kita adanya kadar ukuran tertentu yang menjadi ketentuan-ketentuan yang pasti yang dapat diamati dalam diri setiap makhluk. Misalnya unsur oksigen bergabung dengan hidrogen membentuk senyawa cair. jumlah protonnya 80. (021) 7507174 Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan . 7507173 Fax. semuanya itu termasuk dalam kategori materi.(bersambung 2/3) Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah Editor: Budhy Munawar-Rachman Penerbit Yayasan Paramadina Jln. perak. Metro Pondok Indah Pondok Indah Plaza I Kav. tumbuh-tumbuhan. Padahal ayat-ayat yang berbicara tentang qudrat-iradat Allah/kekuasaan dan keagungan Allah. besi. sebagian besar mengaitkan bermacam-macam fenomena alam yang dimintakan perhatian supaya manusia mengamatinya dan melakukan penalarannya untuk dapat membaca tulisan Ilahi yang tersirat di dalamnya. . Air murni selalu mempunyai proporsi oksigen dan hidrogen yang sudah tertentu dan tetap. unsur Fe (besi). Semuanya ini merupakan bagian dari hukum yang mengatur dan memelihara alam semesta. tapi harus dengan mata hati. Dan Dia (Allah) telah menciptakan segala sesuatu dan Dia-lah yang menetapkan qadar/ukurannya secara pasti serapi-rapinya. unsur Au (emas). mengikuti suatu aturan yang dikenal hakam proporsi yang sudah tertentu. demikian pula dengan proporsi nitrogen dan hidrogen dalam amoniak. 7501983. emas. dapat pula kita temui dari informasi ilmu kimia yang membahas unsur-unsur itu. air dan sebagainya. unsur-unsur telah bergabung membentuk suatu senyawa. jumlah protonnya 28. unsur Ni (nikel).. [14] Pembahasan teologis dalam bidang qada dan qadar (masalah takdir) kurang menyentuh apa yang kami singgung di atas. Tergabungnya dua unsur atau lebih melalui pola persenyawaan atau pola percampuran membentuk suatu materi tertentu. Unsur-unsur yang tergabung dalam suatu senyawa selalu mempunyai proporsi tertentu. Dalam kasus-kasus seperti ini. jumlah protonnya 79. jumlah protonnya 78. Sebahagian besar dari materi-materi yang kita kenal terdiri dari unsur-unsur. seng. unsur Hg (air raksa). tulisan tanpa aksara dan bunyi itu pasti tidak dapat diraih dengan mata telanjang. jumlah protonnya 29. Dalam hubungan ini dapat kita hayati ungkapan sebuah ayat yang berbunyi.

dan memenangkan suatu perjuangan besar dalam menegakkan kebenaran dan keadilan serta mewujudkan kesejahteraan yang memberi arti bagi kemanusiaan. tapi juga menjangkau alam nonmateri. al-Ahzab. Thur. tapi merupakan hasil kerja keras yang lama dan berkesinambungan. dan sebagainya. asbab al-wurud dan status makkiyah atau madaniyah dari ayatayat. apa faktor-faktor kemenangan dan apa faktor-faktor kegagalan dalam satu perjuangan. al-Anfal. al-Fath. Ali 'Imran. dan sebagainya. semua itu tidaklah lahir dalam sehari dengan kilatan lampu aladin. dan seterusnya. yang berlaku secara pasti. Hunain. dan lain sebagainya. Bagaimana pertarungan antara pahlawan-pahlawan kebenaran dan akibat-akibat apa yang dialami para penentang kebenaran yang melakukan kezaliman. dengan adanya hukum nasikh-mansukh. bahkan dalam al-Qur'an. yang berbicara tentang sunnatullah dengan berbagai formulasi seperti sunnat alawwalin. Quraisy. Ali Yafie Sunnatullah yang diperkenalkan al-Qur'an sebagaimana diuraikan di atas tidaklah terbatas pada ketentuan-ketentuan yang mengatur alam materi saja. Apa yang dikenal dalam ilmu hukum dengan historis-interpretasi cukup jelas padanannya dalam ilmu ushul fiqh yang lazim dipakai dalam mengolah hukum Islam." Ayat-ayat di dalam surah-surah al-Isra'. KONSEP-KONSEP HUKUM (2/3) oleh KH. Sukses besar berupa keberhasilan membangun dan membina suatu umat teladan. Hijr. pemakaian kata sunnatullah lebih banyak mengacu pada apa yang disebut oleh ilmu pengetabuan sebagai "hukum sejarah. Uhud. yang mengabaikan nilai-nilai moral.8. Saba'. Jalut. Ahqaf. yang banyak dicatat dalam al-Qur'an menerjemahkan dengan jelas sunnatullah yang berlaku dalam sejarah. Ghafir. al-Tsamud. Haman. semuanya berkaitan dengan peristiwa sejarah yang dialami para Nabi/Rasul dengan umatnya masing-masing. semuanya itu adalah untuk memperjelas proses terbentuknya suatu hukum dan latar belakang sejarah yang mendorong kehadiran hukum tersebut. yang memeras golongan lemah. Dari sejarah itu tergambar bagaimana proses kebangkitan suatu umat dan bagaimana proses kehancurannya. sunnata man arsalna qablak. yang diminta al-Qur'an supaya diamati. Dalam rangka itu al-Qur'an memperkenalkan tokoh-tokoh sejarah zaman lampau seperti Fir'aun. merupakan sebagian dari sunnatullah. yang hidup bergelimang kemewahan. sebagaimana berlaku natuurwet. Selain itu. . Fathir. Sejarah mempunyai hukumnya sendiri dalam hal-hal tersebut di atas. aspek kesejarahan mempunyai juga arti penting dalam hukum-hukum syar'iyyah. al-Nisa. Hukum yang berlaku sepanjang sejarah kehidupan manusia. asbab al-nuzul. Demikian pula halnya dengan tempat-tempat bersejarah seperti Badr. Sunnah Rasullullah saw yang menggambarkan perjuangannya selama dua dasawarsa lebih. Tubba'.ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota Please direct any suggestion to Media Team Artikel Yayasan Paramadina Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota II. sunana al-ladzina min qablikum. direnungkan dan mengambil pelajaran daripadanya. al-Kahf.

memantapkan keamanan. Pesan dan petunjuk yang diberikan al-Qur'an pada manusia. Keraguan seperti itu sejak dini telah muncul. tapi hanya sebagai alat menciptakan kemakmuran dan untuk menegakkan hukum Allah dalam hal memerintahkan yang ma'ruf dan mencegah yang mungkar. Sikap yang demikian membuktikan bahwa mereka sudah memenuhi janjinya kepada Allah. yang menempuh segala persyaratan dan mengkaitkan segala sebab dengan musababnya. Sunnah Rasulullah dalam perjuangan itu mendidik umatnya supaya memahami dan menghayati sunnatullah yang berlaku dalam sejarah. yang menandai kehidupan sosial. karena khawatir kalau-kalau upaya berobat untuk menghindarkan penyakit bertentangan dengan iman tauhudnya dan tidak menjadikan ia bertawakkal kepada Allah. atau hukum moral yang disebut tawakkal.yang didorong oleh rasa percaya diri dan semangat juang yang tinggi sebagai perwujudan iman dan taqwa. Keduanya mempunyai titik temu dalam hukum sebab-akibat. sebagai syarat bagi terjadinya. disamping menjelaskan hal itu dalam petunjuk lisannya pada mereka yang segan berobat di kala ia sakit. Atau dianggapnya hukum tawakkal bertentangan dengan hukum sebab-musabab (kausal). Maka dengan adanya perjuangan antara kebenaran dengan kebatilan. Hukum sejarah sejalan dengan hukum alam. tidak menjadikan kekuatan/kekuasaan itu sebagai alat menindas dan merusak. Ada sebagian pendapat yang kurang memahami sunnatullah dalam bentuk hukum alam dan hukum sejarah. ayat-ayat yang berbicara tentang perjuangan Rasulullah. [16] Ciri utama agama Islam. atau karena sudah memeluk agama Allah. membimbing kita supaya menyadari keterkaitan segala sesuatu dengan penyebabnya. Sebab-sebab keberhasilan dan kemenangan dalam suatu perjuangan dapat dipelajari dari sejarah dan harus dipersiapkan dengan sebaik-baiknya. Lebih lanjut beliau menjelaskan bahwa dalam al-Qur'an banyak ayat memuat janji Allah untuk membantu memenangkan perjuangan orang-orang mukmin. mengungkapkan sesungguhnya Allah hanya memenangkan suatu perjuangan sesuai dengan ketentuan sunnahNya yang berlaku atas segenap mahluk-Nya. tapi dalam bentuk kesadaran keimanan yang menjadikan mereka menyadari kewajibannya dan melaksanakan perjuangan dengan gigih tanpa pamrih. ialah ajarannya yang cukup praktis dan realistis menghadapi kenyataan sosial dengan langkah-langkah pemecahan yang praktis pula. Dalam hubungan ini Syeikh Mahmud Syaltut mengomentari. Dan Allah pun mewujudkan janjinya pada mereka. melihat adanya semacam kontradiksi antara hukum sebab-musabab (hukum kausal) dengan hukum teologis yang disebut tauhid. menyebarkan ketentraman. Dalam hubungan . lalu diluruskan oleh sunnah Rasulullah dalam praktek sebagaimana tercermin dengan jelas dalam cara-cara perjuangan Rasul saw. Siapa yang menolong/membela agama Allah dengan jalan menegakkan keadilan. hanya karena mereka sudah mengaku beriman/percaya kepada Allah. demikian pula sunnah Rasulullah yang memberikan penjelasan praktis pada pesan al-Qur'an itu. maka keharusan memenuhi segala persyaratan-persyaratan itu adalah suatu hal yang mutlak. tapi tidak mewujudkan janji itu dalam bentuk suatu keajaiban yang langsung turun dari langit. Dianggapnya hukum tauhid itu cenderung memberikan cap syirik (mempersekutukan Allah) jika seseorang menganggap ada penyebab (faktor penentu) selain Allah. Sebaliknya juga segala penyebab terjadinya suatu kegagalan atau kehancuran harus disadari dan dihindari.

hukum itu terdiri dari suruhan/perintah dan larangan serta hak dan kewajiban. Selain itu. Hubungan manusia sebagai makhluk dengan Khaliqnya (Allah) diatur penataannya melalui hukum ibadat. Tata hubungan manusia dalam kehidupan berkeluarga dalam suatu lingkungan rumah tangga. Ibadat tidak lain adalah perwujudan dari akidah yang diimani. Apa yang dimaksud dengan nilai moral dan akhlak tidaklah tergolong hukum. Adanya hukum niat yang diberi peran menentukan nilai perilaku manusia. diatur secara pasti. sebab-musabab itu adalah sunnatullah dan penyimpangan dari sunnatullah bukanlah persyaratan dalam tawakkal bahkan ada kalanya merupakan kebodohan yang dicela agama. Di luar itu tidak diperlukan hukum. [20] Itulah pesan al-Qur'an. [18] Imam Ghazali menjelaskan. Demikian ulasan al-Ghazali dalam Kitab Tawhid dan Tawakkal. supaya kalian tidak menyimpang (dari kebenaran). memperlihatkan dengan jelas peran moral dalam hukum itu. Adanya hukum-ibadat dalam batang tubuh hukum Islam yang bersumber dari al-Qur'an itu merupakan ciri utama hukum Islam. Itu (pengobatan) adalah sebahagian dari qadar Allah. masih ada perbedaan asasi antara kedua jenis hukum itu. apakah itu bertentangan dengan qadar (taqdir)? Lalu Beliau menjawab. bersabda. biarpun terhadap dirimu sendiri atau ibu bapak dan keluarga kerabatmu. Hubungan antara makhluk (manusia) dengan Al-Khaliq. [39] Penjabaran yang merinci hukum-hukum al-Qur'an yang dilakukan fiqh memperlihatkan adanya empat bidang utama yang menjadi sasaran dari hukum itu. ketika Beliau ditanya tentang pengobatan. Bertobatlah kalian. Di sini pula tampak titik awal perbedaan antara pemahaman hukum menurut ilmu hukum dengan hukum Islam yang bersumber dari al-Qur'an. . Dan jika kalian memutarbalikkan (kebenaran) atau enggan menjadi saksi. Maka sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala apa yang kalian lakukan. Tata hubungan antara manusia dengan sesamanya dalam lalulintas pergaulan dan hubungan sehari-hari untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. [l7] Dalam sabdanya yang lain. yakni bidang 'ibadat. Menurut ilmu hukum. keamanan serta kesejahteraannya yang ditegakkan oleh pemegang kekuasaan umum atau badan peradilan. diatur melalui hukum jinayat. bidang munakahat dan bidang jinayat. hukum itu hanya sekedar mengurus dan mengatur hubungan antar sesama manusia. Kepatuhan mentaati hukum menjadi kepatuhan yang semu dan bersifat lahiriah belaka. Dalam penegakkan hukum menurut ajaran al-Qur'an selalu ditekankan suatu pesan sebagai berikut. Menurut ilmu hukum. Wahai orang-orang yang berilmu! jadilah kalian orang yang benar-benar penegak keadilan. Maka janganlah kalian mengikuti hawa nafsumu. Di sinilah terlihat secara nyata keterkaitan hukum itu dengan akidah/keimanan. Karena itu penegakkan hukum menurut ilmu hukum selama tidak diawasi dan diketahui pejabat/aparat hukum selalu terjadi pelanggaran hukum. bidang mu'amalat. Pembinaan hukum di sini tidak diarahkan kepada pembinaan diri manusianya. Sebaliknya hukum menurut ajaran al-Qur'an penegakkannya berjalan sekaligus dengan penabinaan moral dan akhlak yang bersumber dari akidah/keimanan. kaya maupun miskin. Allah jualah yang lebih tabu keadaannya.itu Nabi saw. diatur melalui hukum munakahat. diatur dalam hukum mu'amalat. menjadi saksi karena Allah. hanya diarahkan supaya tidak melanggar rambu-rambu hukum. dan terakhir tata hubungan keselamatan. karena sesungguhnya Allah menciptakan penyakit dan menciptakan juga obat. Dengan demikian tidaklah mengherankan akibatnya dalam rangka pembinaan hukum.

supaya kalian dapat memakan sebahagian harta benda orang lain itu dengan (jalan berbuat) dosa. Dengan sifatnya yang demikian itu.8. sebagaimana terpadunya antara aqidah/keimanan dan moral/ahklak. Mungkin sebahagian dari kalian lebih mampu dari yang lain (lawannya) mengemukakan alasan-alasan untuk memperkuat tuntutannya.(bersambung 3/3) Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah Editor: Budhy Munawar-Rachman Penerbit Yayasan Paramadina Jln. Kemungkinan seorang pencari keadilan berlaku memperdaya hakim. yang pertama ialah dari dan terhadap dirinya sendiri. maka hukum dari ajaran al-Qur'an itu mempunyai kekuatan sendiri yang tidak sepenuhnya tergantung pada adanya suatu kekuasaan sebagai kekuatan pemaksa dari luar hukum itu. Metro Pondok Indah Pondok Indah Plaza I Kav. 7507173 Fax. 7501983. sunnah Rasulullah memperjelas sebagai berikut. Ide hukum yang diajarkan al-Qur'an berkembang terus dari kurun ke kurun. [22] -------------------------------------------. secara dini al-Qur'an memperingatkan. lalu aku memutus perkara itu atas dasar apa yang saya dengar (dari alasan/keterangan) itu. melalui jalur ilmu. al-Qur'an memperkenalkan satu konsepsi hukum yang bersifat integral. Dan janganlah sebagian dari kalian memakan harta benda sebagian yang lain dengan jalan batil dan jangan pula mempergunakan harta itu sebagai umpan (guna menyuap) para hakim. Di dalamnya terpadu antara sunnatullah dengan sunnah Rasulullah. Karena sesungguhnya ia hanya mengambil (menerima dariku) sepotong api neraka. Demikian sabda Rasulullah. Tidak dituntut dari dan terhadap orang lain saja. (021) 7507174 Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota Please direct any suggestion to Media Team Artikel Yayasan Paramadina Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota II. padahal kalian mengetahui. (021) 7501969. KONSEP-KONSEP HUKUM (3/3) oleh KH. Seandainya hukum yang diajarkan al-Qur'an itu tergantung . Ali Yafie Dengan demikian maka jelaslah. Maka barang siapa menerima putusan perkara (yang ia sendiri tahu) bahwa itu hak saudaranya (lawannya dalam perkara) maka janganlah ia mengambil (hak) itu. Sesungguhnya kalian mengajukan perkara-perkara kepadaku (untuk diputus). [2l] Dalam hubungan adanya kemungkinan seseorang berlaku memperdayakan hakim.bagaimana seyogyanya seorang berbuat adil. UA 20-21 Jakarta Selatan Telp. atau adanya aparat hukum yang menyalahgunakan kedudukannya. dengan hukum dalam rumusan yang diajarkan al-Qur'an.

perkembangan segi fiqhnya yang merumuskan hukum sosial kemasyarakatan itu. maka sudah lama jenis hukum ini terkubur dalam perut sejarah atau sekurang-kurangnya menjadi barang pajangan di lemari-lemari museum. adanya berbagai madrasah dan madzhab di dalamnya menunjukkan. Sebagai kelanjutan dari pokok pikiran ini. dari kongres ke kongres mulai terbuka pandangan terhadap Islam. perkembangan ilmu pengetahuan yang sangat pesat. yang terjadi di negara-negara maju dapat pula mencari pandangan yang negatif terhadap Islam dan al-Qur'an. yakni keseimbangan dan keterpaduan dalam hal pemahaman. Dalam rangka itu para ahli hukum dari mereka. Selain itu. pokok-pokok hukum (undang-undang) yang terdapat dalam agama Islam merupakan undang-undang yang bernilai tinggi dan sulit dibantah kebenarannya. sejak 1978 sampai dengan 1983 telah dilaksanakan pengkajian hukum yang meliputi antara lain Hukum Islam. Tapi ternyata hukum Islam dari ajaran al-Qur'an itu dapat memperlihatkan daya tahannya yang ampuh. Salah satu gejala dari perkembangan tersebut adalah minat para ilmuwan Barat untuk mempelajari Islam/Qur'an. Namun harus diakui. Dua hal yang disinggung terakhir ini. Karena kita semua cukup mengetahui betapa hebat upaya dari kekuasaan-kekuasaan yang mampu menaklukkan wilayah-wilayah Islam dan umatnya disertai upaya melikwidasi budaya dan hukumnya. sebagai ilmu. Terakhir kita mendengar selesainya upaya kompilasi Hukum Islam yang dilakukan Mahkamah Agung bersama Departemen Agama. Di lain pihak. Disamping itu. perkembangan segi-seginya tidaklah seimbang. Tetapi bagaimana pun juga. sehingga perundang-undangan ini dapat memenuhi kebutuhan hidup modern. dengan hukum-hukumnya yang menyangkut sunnatullah yang berupa hukum alam dan hukum sejarah. wawasan hukum yang diperkenalkan al-Qur'an. Dan seginya yang menyangkut sunatullah berupa hukum alam dan sejarah. Hukum yang diperkenalkan al-Qur'an hidup terus. Sebagai contoh dapat kita lihat dari hasil Kongres Ahli-ahli Hukum Internasional yang berlangsung di London (2-7 Juli 1951) yang antara lain menetapkan. pembangunan dan pembinaan hukum nasional diarahkan kepada pembaharuan hukum yang sesuai dengan kesadaran hukum yang berkembang dalam masyarakat. [23] Dalam rangka pembangunan hukum di negara kita Republik Indonesia. pelaksanaan dan pengembangan wawasan hukum yang diperkenalkan al-Qur'an itu merupakan tantangan bagi para ulama dan para .pada suatu kekuasaan. penerapannya ternyata juga kurang terpadu antara hukum-hukumnya yang menyangkut segi sosial kemasyarakatan. Seginya yang menyangkut hukum sosial kemasyarakatan (ahkam syar'iyah 'amaliyah/fiqh) lebih banyak mendominasi perkembangan itu. yang sangat mendominasi bangsa-bangsa Barat. Ia tetap bertahan bahkan berkembang dalam bentuk baru melalui proses taqnin (dirumuskan menjadi positif melalui yurisprudensi dan adakalanya melalui berbagai bentuk perundang-undangan). sangat berjasa dalam menumbuhkan kesadaran hukum dan sikap normatif dalam kehidupan umat Islam. karena memang demikianlah hukum sejarah dalam sunnatullah sendiri. yang tidak lain wujud nyatanya dan terinci adalah fiqh (hukum Islam) itu sendiri. perundang-undangan Islam kaya dengan berbagai teori hukum dan teknik hukum yang indah. kurang mendapat perhatian dalam pengembangannya. Maka Fiqh ini dijadikan agenda tetap dalam pengkajian-pengkajian mereka di bidang hukum. sekali pun harus mengalami pasang surut dan pasang naik dan penerapannya.

dan lain-lain. (021) 7501969. Grolier Internasional Inc. CATATAN 1) QS. 13) QS. IV/146.83.cendekiawan Muslim. al-Maidah:8. al-Ahzab:38. I/440. 14 Tahun 1970 tentang Ketentuan Pokok Kekuasaan Kehakiman 8) QS. Fusshilat:53. al-Maidah:42 5) QS. 10) QS. Hud:45. 9) Jonathan Rutland. (021) 7507174 Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan . 7) UU No. 12) QS. 3) QS. al-Nisa':68. 11) QS. 20) Ilmu Pengetahuan Populer. 4) QS. Fathir :43. Syaltut. 7507173 Fax. UA 20-21 Jakarta Selatan Telp. 'Ali 'Imran. Penjelasan Umum. LV/89. al-Mumtahanah:10. Human Body. 6) UUD 1945. 15) QS. 21) QS. 'Ali 'Imran:190/191. 2) QS. Yasln:38/40.272. Al-Ra'd:15. 16) QS. 23) Min Taujuhat al-Islam. al-Qamar:49. 18) QS. 17) QS. 19) QS. al-A'raf:87. 14) Taisir Ibn' Katsir. al-Furqan:2 22) Ihya 'Ulum al-Din. 7501983. h. al-A'raf: 185. -------------------------------------------Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah Editor: Budhy Munawar-Rachman Penerbit Yayasan Paramadina Jln. Metro Pondok Indah Pondok Indah Plaza I Kav. al-Ghazali. al-Maidah:43. Yunus:101. Yunus:15.

Meskipun ilustrasi tentang surga dan neraka itu berbeda-beda --dalam banyak hal perbedaan itu sangat radikal dan prinsipil-. gambaran tentang wujud kebahagiaan dan kesengsaraan itu dinyatakan dalam konsep-konsep tentang kehidupan di surga dan di neraka. baik yang bersifat keagamaan maupun yang bersifat keduniaan semata (seperti Marxisme. kekal abadi di dalamnya. yakni kebahagiaan). Kekal abadi di dalamnya. Ada pun mereka yang bahagia. Dalam agama-agama. maka akan berada dalam surga. selama langit dan bumi masih ada kecuali jika Tuharmu menghendaki hal berbeda. yang sengsara dan yang bahagia. KONSEP-KONSEP KEBAHAGIAAN DAN KESENGSARAAN (1/4) oleh Nurcholish Madjid Masalah kebahagiaan (sa'adah) dan kesengsaraan (syaqawah) adalah masalah kemanusiaan yang paling hakiki. . Al-Qur'an melukiskan keadaan itu demikian. penyandang sa'adah. sebagai anugerah yang tiada batasnya.10. kesengsaraan) dan yang bahagia (sa'id. patut kita bahas secara sungguh-sungguh. kecuali jika Tuhanmu menghendaki hal berbeda. maka tiada seorang pun akan berbicara kecuali dengan izin-Nya Mereka manusia akan terbagi menjadi dua. Sebab Tuhanmu pasti melaksanakan apa saja yang menjadi kehendak-Nya.namun semuanya menunjukkan adanya keyakinan yang pasti tentang pengalaman kebahagiaan atau kesengsaraan dalam hidup manusia. Hud/11:105-108) Munculnya persoalan pengertian kebahagiaan dan kesengsaraan ini dalam Islam.ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota Please direct any suggestion to Media Team Artikel Yayasan Paramadina Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota II. Kebahagiaan atau kesengsaraan itu dapat terjadi hanya di dunia ini saja seperti dalam Marxisme. atau di akhirat saja seperti dalam agama-agama other-wordly. maka akan tinggal dalam neraka di sana mereka akan berkeluh kesah semata. Ada pun mereka yang sengsara. Jika Hari (Kiamat) itu telah tiba. atau di dunia dan akhirat seperti dalam Islam. Sebab tujuan hidup manusia tak lain ialah memperoleh kebahagiaan dan menghindari kesengsaraan. Namun semua ajaran dan ideologi selalu menegaskan bahwa kebahagiaan yang dijanjikannya atau kesengsaraan yang diancamkannya adalah jenis yang paling sejati dan abadi. yakni. misalnya) menjanjikan kebahagiaan bagi para pengikutnya dan mengancam para penentangnya dengan kesengsaraan. Kitab Suci al-Qur'an menyajikan banyak ilustrasi dan penegasan yang kuat tentang kebahagiaan dan kesengsaraan Dalam sebuah firman disebutkan tentang terbaginya manusia ke dalam dua kelompok: yang sengsara (syaqiy penyandang syaqawah. Semua ajaran. selama langit dan bumi masih ada. Gambaran tentang wujud kebahagiaan atau kesengsaraan itu sangat beranekaragam. (QS.

Walaupun begitu. Ateisme dengan sendirinya mengingkari kehidupan sesudah mati atau akhirat. Ini akan banyak menyangkut konsep-konsep kefilsafatan dan kesufian yang cukup rumit.disebabkan adanya perbedaan interpretasi atas ayat-ayat suci yang menggambarkan kebahagiaan dan kesengsaraan itu. sebagian agama mengajarkan adanya kebahagiaan dan kesengsaraan rohani semata. Marxisme. Perselisihan tentang wujud kebahagiaan atau kesengsaraan itu. karena sifatnya yang membelenggu sukma manusia. dan kematian adalah fase final hidup manusia. Itu berarti memperoleh kebahagiaan akhirat belum tentu dan tidak dengan sendirinya memperoleh kebahagiaan di dunia. serta berusaha menghindar dari penderitaan azab lahir dan batin (QS. apakah berupa pengalaman kerohanian semata. sesuai dengan sebaik-baik apa yang telah mereka kerjakan (QS. banyak pula dijanjikan kehidupan yang bahagia sekaligus di dunia ini dan di akhirat kelak untuk mereka yang beriman dan berbuat baik. kehidupan jasmani adalah kesengsaraan. al-Nahl/16:97). dari kalangan pria maupun wanita. namun diingatkan agar jangan melupakan nasibnya dalam hidup di dunia ini (Lihat QS. al-Qashash/28:77). tentu saja. mengajarkan tentang adanya kebahagiaan atau kesengsaraan yang hanya bersifat jasmani. dan dia itu beriman maka pastilah akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik (di dunia). Demikian itu masalah kebahagiaan. Kebahagiaan hanya diperoleh dengan tindakan dan perilaku meninggalkan dunia. al-Jatsiyah/45:24). yaitu. atau pengalaman jasmani semata. dalam orientasi hidup yang mengarah ke kehidupan rohani saja. seseorang dianjurkan mengejar kebahagiaan di akhirat. merupakan bagian dari dialog Islam sejak masa klasik. namun dirasa perlu kita mulai membahasnya mengingat perkembangan keagamaan di negeri kita yang pesat dengan tuntutan-tuntutannya yang terus meningkat. KEBAHAGIAAN DAN KESENGSARAAN: JASMANI DAN ROHANI? Di atas telah disinggung. semua itu berlangsung hanya dalam hidup di dunia ini saja. yang hanya mempercayai kehidupan duniawi ini saja. al-Baqarah/2:200). namun tetap membedakan keduanya. ataukah pengalaman rohani dan jasmani sekaligus. Islam mengajarkan kebahagiaan dan kesengsaraan jasmani dan rohani atau duniawi dan ukhrawi. Kaum Marxis yang ateis ini mirip dengan gambaran dalam al-Qur'an tentang golongan manusia pemuja waktu (al-Dahr). Kehidupan yang bahagia di dunia menjadi semacam pendahuluan bagi kehidupan yang lebih bahagia di akhirat. demikian pula masalah . bukan fase peralihan seperti diyakini agama-agama (Lihat QS. Bagi agama-agama itu. dan pastilah akan Kami ganjarkan kepada mereka pahala mereka (di akhirat). Sebaliknya. Dalam tulisan ini kita akan membicarakan konsep kebahagiaan dan kesengsaraan sebagai pengalaman keagamaan (pribadi). orang yang mengalami kebahagiaan duniawi belum tentu akan mendapatkan kebahagiaan di akhirat. Maka manusia didorong mengejar kedua bentuk kebahagiaan itu. dan dengan sendirinya. Barangsiapa berbuat baik. Dalam Islam.

dengan kebahagiaan di akhirat yang jauh lebih besar. berkesungguhan dalam mencapai hasil kerja sebaik-baiknya (itqan). maka pelukisan kebahagiaan dan kesengsaraan apa pun harus diterima sebagai sesuatu yang wujudi atau eksistensial. maka tempat mereka adalah neraka. Setiap kali mereka hendak keluar dari sana. cinta kerja keras. perilaku lahir dan batin manusia yang membawa akibat pada adanya pengalaman kebahagiaan atau kesengsaruan duniawi dan ukhrawi sekaligus. mereka tetap berselisih tentang kebahagiaan dan kesengsaraan yang sejati dan abadi Pangkal perbedaan itu ialah adanya perbedaan dalam tafsiran atas berbagai keterangan suci tentang kebahagiaan dan kesengsaraan. pengertian tentang kebahagiaan dan kesengsaraan akan cenderung bersifat fisik. baik dalam Kitab maupun Sunnah yang memberi isyarat bahwa pengalaman kebahagiaan dan kesengsaraan itu tidak fisik. khususnya keterangan atau pelukisan tentang surga dan neraka Yaitu perbedaan antara mereka yang memahami teks-teks suci secara harfiah dan mereka yang melakukan interpretasi metaforis (ta'wil) Bagi mereka yang memahami teks-teks suci itu secara harfiah. sambil dikatakan kepada mereka: "Sekarang rasakanlah azab neraka ini. manusia dengan kaum khawas (al-khawash atau orang-orang khusus. Kemudian ada beberapa keterangan. Ciri tersebut akan membawa mereka pada kebahagiaan duniawi dan ukhrawi sekaligus. dapat dipercaya. hemat. yang dahulu kamu dustakan.kesengsaraan. MASALAH INTERPRETASI Meskipun para ulama sepakat tentang adanya kebahagiaan dan kesengsaraan dunia-akhirat itu. the . mereka dikembalikan ke dalamnya. Adapun orang-orang yang jahat." Dan pastilah Kami (Tuhan) buat mereka merasakan azab yang lebih ringan (di dunia ini) sebelum azab yang lebih besar (di akhirat nanti) agar kiranya mereka mau kembali. dan lain-lain adalah pekerti-pekerti yang dipujikan Allah sebagai ciri-ciri kaum beriman. al-Sajdah/32:20-21) Penegasan-penegasan ini tidak perlu dipertentangkan dengan penegasan-penegasan terdahulu di atas bahwa ada perbedaan antara kebahagiaan duniawi dan kebahagiaan ukhrawi. tepat janji. tulus. Orang yang ingkar kepada kebenaran dan berbuat jahat diancam baginya kesengsaraan dalam hidup di dunia ini sebelum kesengsaraan yang lebih besar kelak di akhirat. Sebab hampir seluruh keterangan dan pelukisan tentang surga dan neraka dalam Kitab dan Sunnah menggambarkan tentang pengalaman kebahagiaan atau kesengsaraan yang serba fisik. Beberapa nilai akhlak luhur seperti jujur. dan bahwa tidak selamanya mengejar salah satu akan dengan sendirinya menghasilkan yang lain. Ibn Rusyd mengaitkan perkara ini dengan kenyataan terbaginya manusia dalam susunan tinggi dan rendah. melainkan rohani atau sekurang-kurangnya psikologis. Tapi memang ada dan banyak. dan harus dipahami dalam konteks adres pembicaraan (al-mukhathab). Dalam kemungkinan tinjauan yang lebih menyeluruh. baik dari al-Qur'an maupun Sunnnah. yang melahirkan piramida eksistensial. yang dikaitkan dengan "kebijaksanaan" Tuhan sebagai yang Maha Kasih-Sayang dan Maha Adil. tabah. (QS.

pelukisan tentang kebahagiaan dan kesengsaraan dalam Kitab Suci dan Sunnah Nabi kebanyakan bersifat fisik. Kaum awam ini membentuk bagian terbesar struktur piramidal masyarakat manusia. Tapi Tuhan Yang Maha Adil dan Maha Kasih-Sayang kepada sekalian umat manusia tentu mustahil mengalamatkan sabda-Nya hanya kepada orang-orang khusus yang jumlahnya sedikit itu. Sebab dengan demikian berarti Tuhan menjanjikan kebahagiaan hanya kepada kelompok kecil manusia saja. Mereka yang mampu memahaminya dengan melakukan al-i'tibar. Dengan jalan itu kaum khawas dapat menerima agama dan rahmat yang dikandung agama itu pada dataran yang lebih tinggi daripada kaum awam. sesuai dan setingkat dengan cara berfikir serta kemampuan mereka menangkap pesan dan memahami masalah. jika mendapatkan bahwa pengertian harfiah pelukisan itu adalah mustahil atau absurd. Bagi mereka ini. dan kaum awam (al-awam orang-orang umum atau kebanyakan. dalam pandangan Ibn Rusyd dan para filsuf Muslim.(bersambung 2/4) Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah Editor: Budhy Munawar-Rachman Penerbit Yayasan Paramadina Jln. (Lihat Ibn Rusyd. 7507173 Fax. yang sanggup memahami kebenarankebenaran hakiki lewat alegori-alegori dengan melakukan "penyeberangan" (al-i'tibar) ke pengertian-pengertian sebenarnya di balik alegori-alegori. Karena itu Tuhan juga mengarahkan sabda-Nya kepada khalayak umum. Fashl al-Maqa]). maka pengertian tentang hakikat kebahagiaan dan kesengsaraan itu menjadi kurang relevan bagi kaum awam. 7501983. Karena itu. Pemahaman me lalui metode i'tibar adalah interpretasi alegoris atau ta'wil. adalah metafor-metafor atau makna-makna kiasan (majaz). seluruh keterangan tentang kebahagiaan dan kesengsaraan. menurut Ibn Rusyd wajib melakukan pemahaman serupa itu. (021) 7507174 Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota Please direct any suggestion to Media Team . berbentuk pelukisan kehidupan di surga dan neraka dalam Kitab Suci dan Sabda Nabi. the commons) menempati bagian-bagian bawah sampai ke dasar piramida. Metro Pondok Indah Pondok Indah Plaza I Kav. namun dalam pandangan Ibn Rusyd tidaklah terhindarkan karena kenyataan dalam masyarakat menunjukkan adanya orang-orang tertentu yang jumlahnya tidak banyak. suatu hal yang jelas mustahil yang kualifikasi kelompok kecil itu ialah kesanggupan memahami hal-hal abstrak di balik ungkapan-ungkapan kiasan. karena memang pelukisan yang bersifat fisik itulah yang dapat ditangkap dan dipahami umum.specials) menempati puncak piramida itu. UA 20-21 Jakarta Selatan Telp. (021) 7501969. Mereka ini wajib menerima pelukisan tentang surga dan neraka apa adanya. Meskipun pendekatan ini mengesankan elitisme. sesuai dengan cara yang sekiranya akan mendorong mereka berbuat baik dan mencegah dari berbuat jahat. Karena yang pokok ialah iman kepada Allah serta berbuat baik. -------------------------------------------.

al-Rum/30:58 dan QS. (QS. namun "tamsil-ibarat" dan pelukisan mengenai hakikatnya dapat menerima penafsiran-penafsiran. dan sungai-sungai dari khamar. Tamsil-ibarat surga (jannah: kebun) yang dijanjikan untuk mereka yang bertaqwa ialah. dan sungai-sungai dari susu. Al-Rad/13:35) Tamsil-ibarat surga yang dijanjikan untuk orang-orang yang bertaqwa ialah. yang segar melezatkan bagi yang meminumnya. al-Isra'/17:89. Maka sementara masalah adanya kebahagiaan dan kesengsaraan itu. yang tidak akan berubah cita-rasanya. Sebagaimana juga (tamsil-ibarat) orang yang kekal di dalam neraka. (QS. Karena merupakan pemahaman keagamaan yang lebih batini (esoterik) daripada lahiri (eksoterik). Muhammad/47:15) Jadi karena pelukisan tentang surga dan neraka itu disebut sebagai tamsil-ibarat dalam al-Qur'an. termasuk mengenai kebahagiaan dan kesengsaraan. termasuk penafsiran alegoris (tamtsili ataupun ta'wil). dapat dipahami dari firman berikut. QS. di dalamnya ada sungai-sungai dari air. Lebih jauh lagi. dan sungai-sungai dari madu. yang murni-bersih. lihat juga QS.10. yang tidak akan rusak. Itulah tempat kesudahan bagi mereka yang bertaqwa. Inilah yang dicari dan dikejar para filsuf dan kaum sufi. sehingga banyak salah pengertian yang kemudian mengundang polemik dan . KONSEP-KONSEP KEBAHAGIAAN DAN KESENGSARAAN (2/4) oleh Nurcholish Madjid Para filsuf menemukan dukungan bagi metodologi ta'wil mereka dalam berbagai penjelasan. sebagai ajaran "rahasia" bagi kaum khawas. ada berbagai isyarat bahwa keterangan tentang surga dan neraka pun bersifat tamsil-ibarat. sungai-sungainya mengalir di bawahnya. juga memperoleh ampunan dari Tuhan mereka. Dan memang kenyataannya pendekatan esoterik senantiasa sulit dipahami kaum awam. seperti dapat diketahui dari firman berikut. baik di dunia maupun di akhirat. (QS. yang minuman itu memotong-motong usus mereka. demikian pula naungan rindang yang diberikannya. Di dalam surga itu mereka mendapatkan buah-buahan dari segala macam. bahwa dalam al-Qur'an Tuhan memang menyediakan berbagai "tamsil-ibarat". yang diberi minum dengan air mendidih.Artikel Yayasan Paramadina Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota II. Bahwa banyak kandungan al-Qur'an yang bersifat tamsil-ibarat. al-Zumar/39:27). sepatutnya tidaklah dipahami menurut makna bunyi lafal lahiriahnya. kecuali dengan sikap ingkar. adalah nyata dan tidak mungkin diingkari. sedangkan tempat kesudahan mereka yang menentang ialah api neraka. maka filsafat dan tasawuf acapkali sengaja dibuat tidak bisa diarah oleh orang umum. dan disampaikan hanya kepada kalangan tertentu yang terbatas. dan buah-buahannya tumbuh tanpa berhenti. Namun kebanyakan manusia tidak menerimanya. Dan sungguh telah Kami (Tuhan) beberkan untuk manusia dalam al-Qur'an ini setiap bentuk tamsil-ibarat. alegori atau metafor. al-Kahf/16:54.

dan ketokohannya disanjung dan dikecam secara sama. Dan keridlaan dari Allah adalah yang akbar. Sebagaimana telah diisyaratkan dalam pembahasan di atas. kekal di sana selama-lamanya. Karena tidak jarang pendekatan esoterik memang menyegarkan. sebagai tempat kediaman yang tenang tenteram. dalam surga-surga kebahagiaan abadi.. Kebahagiaan di surga menanti kaum beriman. Dan di atas itu semua mereka akan mendapatkan sesuatu yang lebih besar dan lebih agung lagi. dalam surga-surga kebahagiaan abadi. Surga-surga yang di bawahnya mengalir sungai-sungai. Saat perjumpaan dengan Allah. saat menyaksikan Keagungan-Nya. saat pencerahan ketika relung-relung sukma benderang dengan berkas . Dan keridlaan dari Allah itulah yang akbar. Sebuah firman mengatakan. barangkali lebih psikologis daripada fisiologis. . harus menemui kematian di tangan penguasa. terwujud dalam ridla Allah. BAHAGIA DAN SENGSARA: PANDANGAN KEFILSAFATAN DAN KESUFIAN Walaupun begitu dalam zaman sekarang pendekatan esoterik tidak lagi dapat dipertahankan sepenuhnya sebagai kerahasiaan. malah dalam banyak hal merupakan kebutuhan. Kedua. tingkat kecerdasan anggota masyarakat yang semakin tinggi menuntut pengertian-pengertian agama yang tidak konvensional atau.kontroversi. berkat kemajuan teknologi informasi dan transportasi. seperti al-Hallaj dan Suhrawardi. pria maupun wanita. stereotipikal. kaum sufi dan para filsuf juga mendapatkan banyaknya penegasan bahwa kebahagiaan tertinggi jika bukannya seluruh kebahagiaan itu sendiri. kekal di sana selama-lamanya. pandangan kefilsafatan dan kesufian tentang bahagia dan sengsara cenderung mengarah pada pengertian-pengertian yang lebih rohani daripada jasmani atau.. Surga dengan segala kenikmatan yang ada di dalamnya tidaklah berarti apa-apa dan akan menjadi tidak seberapa di depan hebatnya keridlaan Allah yang Maha Pemurah. Bahkan kiranya memang tidak perlu dan tidak dibenarkan untuk dibendung. telah meninggalkan karya-karya besar yang sampai sekarang dipelajari orang dengan penuh minat. termasuk di bidang kesufian atau mistisisme.. karena akses pada bahan bacaan. seperti Ibn 'Arabi. Selain berdasarkan isyarat tentang banyaknya kandungan al-Qur'an yang disebut sebagai tamsil-ibarat di atas. saat pembebasan diri dari kungkungan jasad yang campur aduk ini serta dari beban bumi dan iming-iming jangka pendeknya. Itulah sebenarnya kebahagiaan yang agung. karena berbagai hal. yang tumbuh pesat tidak mungkin lagi dibendung. akibat intrik-intrik politik yang menjerat mereka. namun tidak berarti tertutup rapat untuk setiap orang. Allah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman. Ketiga pergaulan kemanusiaan sejagad makin tidak terhindarkan. sulit dan ruwet. juga tempat-tempat tinggal yang indah. apalagi. (dijanjikan pula) tempat-tempat tinggal yang indah. Beberapa pelopor pemahaman esoterik. Walaupun pemahaman esoterik senantiasa rumit. surga-surga yang di bawahnya mengalir sungai-sungai. Sayyid Quthub mengatakan. Pertama. al-Tawbah/9:72) Dalam menafsirkan firman Allah ini. Dan keridlaan dari Allah itulah yang akbar. saat dari lubuk hati manusia yang mendalam terpancar sinar dari Cahaya yang mata tidak mampu memandangNya.. (QS. Sebagian tokoh lagi.

yaitu sikap pengosongan diri dan pembebasannya dari setiap belenggu yang menghalangi jalan kepada Allah. seperti yang diajarkan kaum sufi. hal. termasuk dalam hidup sekarang ini jika mungkin.(bersambung 3/4) Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah Editor: Budhy Munawar-Rachman Penerbit Yayasan Paramadina Jln. maka yang dimaksudkan ialah kemestian kita tunduk pada Allah. Tuhan yang sebenarnya itu dan tidak kepada apa dan siapapun yang lain. Metro Pondok Indah Pondok Indah Plaza I Kav. semuanya adalah satu momen dari momen-momen yang bertumpu pada kelangkaan amat sedikit bagi manusia dalam suasana kesucian total. Metodologi seperti itu dikembangkan dalam tasawuf. jika menghalangi pada Kebenaran. jilid 10. Tafsiran bahwa kebahagiaan tertinggi dan paling agung. menjadi tujuan semua olah-rohani (riyadlah) dan perjuangan spiritual (mujahadah). maka tujuannya ialah pembebasan diri dari setiap belenggu. dan sukma-sukma itu tercekam di dalamnya tanpa kesudahan! "ltulah kebahagiaan sejati yang agung". Jika kalimat persaksian dimulai dengan al-nafy atau peniadaan dalam fase negatif tiada Tuhan. yaitu setiap bentuk obyek ketundukan (Arab: Ilah). Apalagi keridlaan Allah meliputi seluruh sukma.. (Sayyid Quthub... 7501983. UA 20-21 Jakarta Selatan Telp. juga tidak setiap harapan. epiphanic. yang menurut banyak ahli termasuk 'Ali ibn Abi Thalib dan Ja'far al-Shadiq. sebagai keridlaan Allah --sebagai pengalaman kesaksian rohani akan Wujud Maha Benar itu. Pembebasan adalah juga salah satu tema pokok seruan Nabi kepada umat manusia. Belenggu itu dilambangkan dalam konsep tentang "Tuhan" atau "Sesembahan". Dan jika kalimat persaksian itu harus mutlak diteruskan dengan al-itsbat atau peneguhan dalam fase afirmatif "kecuali Allah" (al-Lah. yang dihadapan pengalaman kesaksian itu semua bentuk kebahagiaan menjadi tidak bermakna apa-apa adalah sebuah tafsiran kasyafi (theophanic. (021) 7507174 Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota Please direct any suggestion to Media Team Artikel Yayasan Paramadina Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan . KEBEBASAN DAN KEBAHAGIAAN Salah satu tema utama dalam metodologi kesufian ialah takhalli. 254-5) Dengan tafsirnya itu. (021) 7501969. terbentuk dari kata-kata Illah dan artikel "al"-yakni. bersifat penyingkapan dan pengalaman spiritual akan kehadiran Kebenaran Ilahi).Ruh Allah. Tercapainya pengalaman tersebut.. yakni. sungguh dihadapan itu semua tidaklah bermakna lagi setiap kesenangan. Tuhan atau Sesembahan yang sebenarnya). termasuk pembebasan dari belenggu budaya dan tradisi. Sayyid Quthub telah melakukan pendekatan filosofis dan sufi pada masalah hakikat kebahagiaan. 7507173 Fax. Fi Zhilal al-Qur'an. -------------------------------------------.

atau sikap dan pandangan yang mengangkat keinginan diri sendiri itu sebagai Tuhan. al-Syura 42:11). QS. Maka tunduk secara benar --dalam bahasa Arab disebut Islam.ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota II. Yang pertaa tidak benar. tapi juga akan berarti bahwa Tuhan telah disejajarkan dengan apa yang tercapai oleh pikirannya sendiri. 25:43 dan 45:23). (QS. anak-anakmu. perdagangan yang kerugiannya kamu kuatirkan. kerabat dan umat manusia pada umumnya. Usaha mencari Kebenaran inilah sifat kehanifan (hanifiyyah) manusia atas dorongan fithrah atau kejadian asalnya sendiri yang suci. Tuhan tidak mungkin diketahui manusia sebab tidak akan terjangkau oleh pikiran dan khayalnya. QS. yaitu Tuhan). Tidak saja karena hal ini akan merupakan contradiction in terms (berupa kemustahilan suatu wujud nisbi seperti manusia dapat menjangkau atau mengetahui Wujud Mutlak.justru akan secara langsung membawa pada kebebasan dan pembebasan diri dari setiap nilai dan pranata yang membelenggu sukma.10. Juga tidak untuk mendoronng manusia agar meninggalkan kegiatan duniawi. Padahal pikirin itu tak akan luput dari dorongan diri sendiri dan keinginannya." seperti dilambangkan dalam kalimat syahadat pertama. atau pembebasan yang membimbing kita kepada ketundukan dinamis tersebut --dari banyak penjelasan dalam kitab Suci tentang berbagai akibat dan implikasinya-. Mengenai negasi atau peniadaan yang menghantarkan kita kepada afirmasi itu. serta karib-kerabatmu. (jika itu semua) lebih kamu cintai daripada Allah dan Rasul-Nya. serta tempat tinggal yang untukmu menyenangkan. yaitu sikap pasrah yang tulus kepada Allah.al-Ikhlash/112:4) maka tunduk pada Tuhan berarti tunduk dalam maknanya yang dinamis. jodoh-jodohmu. maka tunggulah sampai saat Allah melaksanakan keputusan-Nya Allah tidak akan memberi petunjuk kepada mereka yang bersemangat jahat". QS. al-Tawbah/9:24) Firman Allah ini tidaklah dipahami bahwa Nabi D4uhammad datang untuk membawa pertentangan dalam keluarga. Dengan kata lain. dan daripada perjuangan di jalan-Nya. keyakinan bahwa diri sendiri telah "mengetahui Tuhan akan berakhir dengan penuhanan keinginan diri sendiri. (dan jika) kekayaan yang telah berhasil kamu kumpulkan. dan terus mencari Kebenaran. Dan . berupa usaha yang tulus dan murni untuk mencari. suatu proses "pembebasan dan ketundukan. besar ataupun kecil. saudara-saudaramu. serta tiada suatu apa pun yang sepadan dengan Dia (wa lam yakun lauu kufuw-an ahad-un. Inilah antara lain tafsir atas peringatan dalam Kitab Suci bahwa di antara manusia ada yang menjadikan hawa atau keinginan dirinya sendiri sebagai Tuhan (Lihat.salah satu yang patut sekali kita renungkan terbaca (terjemahnya) demikian. Katakan (wahai Muhammad): "Jika orang-orang tuamu. karena al-Qur'an sarat dengan ajaran tentang kewajiban memelihara cinta kasih di antara keluarga. Tuhan yang sebenarnya-. Jadi sesungguhnya kebahagiaan dimulai dengan "negasi dan afirmasi". maka sesungguhnya keyakinan atau klaim "mengetahui Tuhan" (yang diindikasikan oleh sikap "berhenti mencari") adalah suatu jenis pembelengguan diri. KONSEP-KONSEP KEBAHAGIAAN DAN KESENGSARAAN (3/4) oleh Nurcholish Madjid Karena Allah adalah Wujud yang tak dapat dibandingkan dengan sesuatu apapun (laysa ka-mitslihi syay-un.

Inilah Islam yaitu ketundukan kepada Yang Maha Benar (al-Haqq). 1983." Tetapi pembebasan dari belenggu-belenggu sosio-kultural dan sosio ekonomi hanyalah separuh jalan menuju kepada kebahagiaan sejati. Begitulah contoh implikasi proses pembebasan diri yang diterangkan dalam Kitab Suci. yaitu kebahagiaan "bertemu" dengan Tuhan. kedudukan. 78). yang merupakan konsistensi pertanyaan afirmatif atau al-itsbat pada bagian kedua kalimat syahadat. (3) perdagangan atau cara-cara memperoleh keuntungan dan penghasilan. (A. atau karib kerabat. Hati manusia terikat kepada (1) sanak-kadangnya sendiri. Yusuf Ali dalam menafsirkan firman ini. dan menantu perempuan melawan mertua perempuannya" (Matius 10:35). h. kita harus memilih mana yang lebih kita cintai. anak perempuan melawan ibunya. (4) gedung-gedung indah. baik untuk gengsi mau pun kesenangan. bahwa jalan menuju Kebenaran. Psychoanalysis and Religion. dan tempat tinggal). (Erich Fromm. yang proses pembebasan itu merupakan konsistensi pernyataan negatif atau al-nafy pada bagian pertama kalimat syahadat.: Yale University Press. Erich Fromm mengatakan bahwa dengan pernyataannya itu Nabi Isa tidak bermaksud mengajarkan kebencian pada orang tua. adalah ketundukan yang dinamis. Firman Allah tersebut hanya menegaskan. dan akhirnya "bertemu" (liqa) dengan Kebenaran. Telah dikemukakan bahwa ketundukan kepada Allah Sang Kebenaran Mutlak. anak-anak. Kita harus mencintai Allah. Text. juga pernah menyatakan. saudara. dan menjadi bebas sepenuhnya. Nabi Isa al-Masih. Dalam melakukan pendekatan psikoanalitis terhadap agama dan gejala keagamaan. Sang Kebenaran. keluarga dan masyarakat) mau pun sosio-ekonomi dan fisik (pekerjaan. suatu hal yang manusia dipesan jangan sampai melupakannya. biarpun harus mengorbankan itu semua. "kecuali Allah". h. 1972. Conn. Sebab seperti dikatakan A. melainkan untuk menggambarkan dalam bentuk yang paling tegas dan drastis sebuah prinsip. 445. Yusuf Ali. artinya ketundukan dalam wujud usaha tak kenal henti secara tulus "mencari"' "mendekat" (taqarrub). orang harus memutuskan hubungan kekeluargaan yang bersifat membelenggu.yang kedua juga tidak benar karena al-Qur'an mengajarkan pandangan yang optimis-positif kepada kehidupan. agar ia menjadi manusia sejati. Serupa dengan makna firman Allah itu. dan wujud nyata usaha tersebut pada pribadi yang bersangkutan ialah adanya kualitas . (2) kekayaan dan kemakmuran. sepanjang catatan dalam Perjanjian Baru. Jika semuanya ini menjadi halangan dalam jalan Allah. "TANYALAH JALAN" (SAL SABIL-AN) Setelah proses pembebasan. Maryland: Amana Corp. yaitu "jalan Allah" (sabil al-Lah) dapat ditempuh baru setelah seseorang mampu membebaskan diri dari belenggu lingkungannya. separoh lagi jalan yang harus ditempuh ialah yang dilambangkan dalam pernyataan tekad untuk tunduk pada Sang Kebenaran itu sendiri. The Holy Qur'an. Brentwood. "Tiada Tuhan. Usaha terus-menerus mencari Kebenaran itu disebut berjalan menempuh "Jalan Allah" (sabil al-Lah). catatan 1272). dengan kemungkinan manusia memperoleh kebahagiaan di dunia ini. suami atau isteri. New Haven.orang tua. Translation and Commentary. baik sosio-kultural (orang tua. "Karena aku datang untuk membuat manusia melawan ayahnya.

masih akan memberi kebahagiaan. Maka dalam perjalanan menempuh jalan yang lurus itu justru kita harus terus menerus bertanya dan bertanya. Akibatnya. para penghuninya akan diberi minum yang sejuk dan amat menyegarkan yang airnya diambil dari mata air yang bernama "salsabil-an" atau "sal sabil-an. mendekat dan bertemu dengan Kebenaran. artinya. Seorang yang memang tunduk patuh kepada Allah (muslim) akan terus menerus memohon petunjuk jalan yang lurus itu. terutama dalam setiap kali shalat. Sesungguhnya dalam Al-Qur'an dilukiskan bahwa berusaha secara dinamis. yang kedua oleh para pemikir baik dalam bidang fiqh maupun Kalam. Tunjukkanlah kami jalan yang lurus (QS. Jalan Allah yang harus ditempuh melalui ketiga fase itu juga disebut "jalan lurus" (al-shirath al-mustaqim). apa selanjutnya? Apakah tak ada kemungkinan sama sekali bahwa jalan yang telah kita tempuh apalagi yang masih akan kita tempuh. dan jika (ternyata) keliru. sudah merupakan sumber mata air pengalaman kebahagiaan yang tinggi. juga yang akan kita tempuh. siang. maka Sang Kebenaran itu sungguh mutlak dan tak akan terjangkau. ijtihad dan mujahadah tersebut tadi. Ini berarti bahwa jalan yang telah kita tempuh. Tapi justru karena kemutlakanNya. sebagai sumber kesadaran akan kebenaran). karena kekeliruan pun. yaitu fitrah kita dalam hati nurani (nurani."kesungguhan dalam berusaha" (dinyatakan dalam kata-kata Arab juha -usaha penuh kesungguhan). Yang pertama banyak ditempuh oleh ahli perang dan para pahlawan. akan menyesatkan kita dari Kebenaran. Inilah makna penegasan Nabi bahwa barangsiapa berusaha dengan sungguh-sungguh. yaitu dalam tempat dan lingkungan pengalaman kebahagiaan sejati. yang toh tidak akan kita sadari pada saat mengalaminya sendiri. Dalam kesungguhan mencari dan menemukan jalan itu kita tidak perlu takut membuat kekeliruan." baik secara sendirian maupun bersama orang lain. maka salah satu "pesan" yang dikandungnya ialah agar kita bertanya tentang jalan yang lurus itu setiap saat. bersifat terang. tanpa henti-hentinya. yaitu jihad." Sebuah . meskipun tidak sepenuhnya. ia akan mendapatkan pahala ganda. sore. mencari dan menemukan jalan ke arah Kebenaran itu sendiri. sehingga melahirkan sikap hidup jihad (dalam dimensinya yang lebih fisik). Dan kalau shalat itu disebutkan dalam al-Qur'an sebagai kewajiban atas kaum beriman dengan dikaitkan pada pembagian waktu selama sehari-semalaman (pagi. dan mujahadah (dalam dimensinya yang lebih spiritual). Justru amat berharga dalam menempuh jalan itu semangat mencari dan berusaha yang sungguh-sungguh. karena tidak lurus lagi? Siapa Tahu? Pertanyaan dan penanyaan itu adalah eksistensial dan esensial sekali dalam mencari. al-Fatihah/1:6). asalkan tak disengaja. Pertanyaan dan penanyaan itulah yang mendasari ketulusan hati dalam permohonan kepada Tuhan. lalu ia menempuh jalan yang (ternyata) benar. karena jalan itu membentang langsung antara diri kita yang paling suci. sebab perhentian berarti menyalahi seluruh prinsip tentang Kebenaran Mutlak. maka ia masih mendapatkan satu pahala (sebuah Hadist terkenal). dalam menempuh jalan lurus itu kita tidak boleh berhenti. saat terbenam matahari dan malam) (QS. kemudian "diaminkan. tak boleh dipastikan sebagai mutlak lurus. Al-Qur'an melukiskan bahwa dalam surga. ijtihad (dalam dimensinya yang lebih intelektual). al-Nisa 4:103). dan yang ketiga oleh kaum sufi dan ahli 'Irfan. lurus ke arah (sekali lagi ke arah) Kebenaran Mutlak.

karena perkataan Arab sal sabil-a itu tidak lain arti harfiahnya ialah "tanyalah jalan". pra-asumsi dan premis justru harus dilepaskan. Kenyataan bahwa al-Qur'an senantiasa menyerukan penggunaan akal untuk mencari dan menerima Kebenaran menunjukkan bahwa antara rasio dan pengalaman keagamaan tidaklah terdapat pertentangan. "Carilah Jalan". 7507173 (bersambung 4/4) . Tapi. meskipun tanpa ada pra-asumsi atau premis. Kembali kepada metodologi takhalli di kalangan kaum Sufi. h. al-Insan/76:17-18) Menafsirkan metafor dalam firman ini. (021) 7501969. metodologi itu mengharuskan adanya proses pengosongan diri dari anggapan-anggapan. Seperti dinyatakan oleh Albert Schweitzer: "Pemikiran rasional yang bebas dari asumsi-asumsi berakhir dalam mistisisme"). 1658. alegori atau makna kiasan yang sungguh indah. 917. h. Jalan itu sekarang terbuka menuju Hadirat Yang Maha Tinggi. asumsi-asumsi dan klaim-klaim tentang pengetahuan yang benar. Muhammad Asad. maka dalam konteks pencarian Kebenaran sejati itu. (QS. The Holy Qur'an. -------------------------------------------Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah Editor: Budhy Munawar-Rachman Penerbit Yayasan Paramadina Jln. the higgest development of rationality in religious thinking. Justru tasawuf sebagai bidang yang menggarap segi esoterik keagamaan. Mereka (yang bahagia) di sana disajikan minuman dalam piala yang ramuannya ialah zanjabil. ibid. Jika dalam konteks duniawi berpikir selalu menuntut adanya pra-asumsi atau premis. Kata Erich Fromm: I should like to note that. As Albert Schweitzer has put it: "Rational thinking which is free from assumptions ends in mysticism. Muhammad Asad mengatakan bahwa begitulah Ali ibn Abi Thalib. catatan 5850).. Yusuf Ali. catatan 17). telah kita bicarakan. adalah suatu bentuk perkembangan rasionalitas yang tertinggi. yang disebut salsabil. Metro Pondok Indah Pondok Indah Plaza I Kav.. The Message of the Qur'an. Dan Yusuf Ali menafsirkan firman itu dengan mengatakan bahwa mata air salsabil (-an) ini membawa kita kepada ide metaforis yang lain. (Lihat.metafor. berpikir dalam konteks kesufian tidaklah berarti tiadanya rasionalitas. (Saya harus memberi catatan bahwa. "carilah jalanmu ke surga dengan cara melakukan perbuatan baik". h. Perkataan itu secara harfiah berarti. agar supaya dalam menempuh jalan lurus mencari Kebenaran itu terjadi kemurnian sejati (ikhlash). dari mata air yang ada. it represents". 90. sebagaimana dikutip Zamakhsyari dan Razi. ia justru mengetengahkan perkembangan tertinggi rasionalitas dalam pemikiran keagamaan. sangat berlawanan dengan perasaan umum bahwa mistisisme adalah suatu jenis pengalaman keagamaan yang tidak rasional. (Lihat. "salsabil-an" ("tanyalah [atau "carilah"] jalan"): yakni. menerangkan kata-kata salsabil-an jelas merupakan kata majemuk itu." (Erich Fromm. catatan 9). 7501983. quite in contrast to a populer sentiment that mysticism is an irrational type of religious experience. A. yang dapat dibagi menjadi dua komponen. UA 20-21 Jakarta Selatan Telp.

maka sesungguhnya keyakinan atau klaim "mengetahui Tuhan" (yang diindikasikan oleh sikap "berhenti mencari") adalah suatu jenis pembelengguan diri.justru akan secara langsung membawa pada kebebasan dan pembebasan diri dari setiap nilai dan pranata yang membelenggu sukma. QS. KONSEP-KONSEP KEBAHAGIAAN DAN KESENGSARAAN (3/4) oleh Nurcholish Madjid Karena Allah adalah Wujud yang tak dapat dibandingkan dengan sesuatu apapun (laysa ka-mitslihi syay-un. (021) 7507174 Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota Please direct any suggestion to Media Team Artikel Yayasan Paramadina Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota II. dan terus mencari Kebenaran. QS. berupa usaha yang tulus dan murni untuk mencari. Katakan (wahai Muhammad): "Jika orang-orang tuamu. tapi juga akan berarti bahwa Tuhan telah disejajarkan dengan apa yang tercapai oleh pikirannya sendiri. QS. (jika itu semua) lebih kamu cintai daripada Allah dan Rasul-Nya. Jadi sesungguhnya kebahagiaan dimulai dengan "negasi dan afirmasi". serta karib-kerabatmu. anak-anakmu. serta tempat tinggal yang untukmu menyenangkan. perdagangan yang kerugiannya kamu kuatirkan. Tuhan yang sebenarnya-. (dan jika) kekayaan yang telah berhasil kamu kumpulkan. atau pembebasan yang membimbing kita kepada ketundukan dinamis tersebut --dari banyak penjelasan dalam kitab Suci tentang berbagai akibat dan implikasinya-. Dengan kata lain. keyakinan bahwa diri sendiri telah "mengetahui Tuhan akan berakhir dengan penuhanan keinginan diri sendiri. Mengenai negasi atau peniadaan yang menghantarkan kita kepada afirmasi itu." seperti dilambangkan dalam kalimat syahadat pertama. saudara-saudaramu. Tidak saja karena hal ini akan merupakan contradiction in terms (berupa kemustahilan suatu wujud nisbi seperti manusia dapat menjangkau atau mengetahui Wujud Mutlak. al-Syura 42:11). Usaha mencari Kebenaran inilah sifat kehanifan (hanifiyyah) manusia atas dorongan fithrah atau kejadian asalnya sendiri yang suci. dan daripada . Padahal pikirin itu tak akan luput dari dorongan diri sendiri dan keinginannya.Fax. Inilah antara lain tafsir atas peringatan dalam Kitab Suci bahwa di antara manusia ada yang menjadikan hawa atau keinginan dirinya sendiri sebagai Tuhan (Lihat.10. serta tiada suatu apa pun yang sepadan dengan Dia (wa lam yakun lauu kufuw-an ahad-un. Tuhan tidak mungkin diketahui manusia sebab tidak akan terjangkau oleh pikiran dan khayalnya. yaitu Tuhan). Maka tunduk secara benar --dalam bahasa Arab disebut Islam.salah satu yang patut sekali kita renungkan terbaca (terjemahnya) demikian. 25:43 dan 45:23). jodoh-jodohmu. suatu proses "pembebasan dan ketundukan. atau sikap dan pandangan yang mengangkat keinginan diri sendiri itu sebagai Tuhan.al-Ikhlash/112:4) maka tunduk pada Tuhan berarti tunduk dalam maknanya yang dinamis. yaitu sikap pasrah yang tulus kepada Allah.

besar ataupun kecil. baik sosio-kultural (orang tua. anak-anak. dengan kemungkinan manusia memperoleh kebahagiaan di dunia ini. (A. (QS. Sebab seperti dikatakan A. yaitu kebahagiaan "bertemu" dengan Tuhan. dan menantu perempuan melawan mertua perempuannya" (Matius 10:35). (3) perdagangan atau cara-cara memperoleh keuntungan dan penghasilan. agar ia menjadi manusia sejati. (2) kekayaan dan kemakmuran. 1972. melainkan untuk menggambarkan dalam bentuk yang paling tegas dan drastis sebuah prinsip. yang merupakan . h. Dalam melakukan pendekatan psikoanalitis terhadap agama dan gejala keagamaan. suatu hal yang manusia dipesan jangan sampai melupakannya. Erich Fromm mengatakan bahwa dengan pernyataannya itu Nabi Isa tidak bermaksud mengajarkan kebencian pada orang tua. Yusuf Ali dalam menafsirkan firman ini. kita harus memilih mana yang lebih kita cintai. Conn. (4) gedung-gedung indah. keluarga dan masyarakat) mau pun sosio-ekonomi dan fisik (pekerjaan. h. (Erich Fromm. yang proses pembebasan itu merupakan konsistensi pernyataan negatif atau al-nafy pada bagian pertama kalimat syahadat. Text. kedudukan. Serupa dengan makna firman Allah itu. Begitulah contoh implikasi proses pembebasan diri yang diterangkan dalam Kitab Suci. dan menjadi bebas sepenuhnya. anak perempuan melawan ibunya. baik untuk gengsi mau pun kesenangan. saudara. karena al-Qur'an sarat dengan ajaran tentang kewajiban memelihara cinta kasih di antara keluarga. "Karena aku datang untuk membuat manusia melawan ayahnya. 78).orang tua. Yusuf Ali. Maryland: Amana Corp. al-Tawbah/9:24) Firman Allah ini tidaklah dipahami bahwa Nabi D4uhammad datang untuk membawa pertentangan dalam keluarga. Brentwood. yaitu "jalan Allah" (sabil al-Lah) dapat ditempuh baru setelah seseorang mampu membebaskan diri dari belenggu lingkungannya. biarpun harus mengorbankan itu semua. Nabi Isa al-Masih. New Haven. atau karib kerabat. catatan 1272). Firman Allah tersebut hanya menegaskan. kerabat dan umat manusia pada umumnya.perjuangan di jalan-Nya. Sang Kebenaran.: Yale University Press. Jika semuanya ini menjadi halangan dalam jalan Allah. Psychoanalysis and Religion. The Holy Qur'an. sepanjang catatan dalam Perjanjian Baru. Juga tidak untuk mendoronng manusia agar meninggalkan kegiatan duniawi. 445. juga pernah menyatakan. 1983. bahwa jalan menuju Kebenaran. "Tiada Tuhan. separoh lagi jalan yang harus ditempuh ialah yang dilambangkan dalam pernyataan tekad untuk tunduk pada Sang Kebenaran itu sendiri. orang harus memutuskan hubungan kekeluargaan yang bersifat membelenggu. dan tempat tinggal). Translation and Commentary. Kita harus mencintai Allah." Tetapi pembebasan dari belenggu-belenggu sosio-kultural dan sosio ekonomi hanyalah separuh jalan menuju kepada kebahagiaan sejati. suami atau isteri. Dan yang kedua juga tidak benar karena al-Qur'an mengajarkan pandangan yang optimis-positif kepada kehidupan. maka tunggulah sampai saat Allah melaksanakan keputusan-Nya Allah tidak akan memberi petunjuk kepada mereka yang bersemangat jahat". Hati manusia terikat kepada (1) sanak-kadangnya sendiri. "TANYALAH JALAN" (SAL SABIL-AN) Setelah proses pembebasan. Yang pertaa tidak benar.

Maka dalam perjalanan menempuh jalan yang lurus itu justru kita harus terus menerus bertanya dan bertanya.konsistensi pertanyaan afirmatif atau al-itsbat pada bagian kedua kalimat syahadat. Seorang yang memang tunduk patuh kepada Allah (muslim) akan terus menerus memohon petunjuk jalan yang lurus itu. bersifat terang. saat terbenam matahari dan malam) (QS. Jalan Allah yang harus ditempuh melalui ketiga fase itu juga disebut "jalan lurus" (al-shirath al-mustaqim). Tapi justru karena kemutlakanNya. karena kekeliruan pun. al-Fatihah/1:6). dalam menempuh jalan lurus itu kita tidak boleh berhenti. karena tidak lurus lagi? Siapa Tahu? Pertanyaan dan penanyaan itu adalah eksistensial dan esensial sekali dalam mencari. sore. masih akan memberi kebahagiaan. kemudian "diaminkan. Pertanyaan dan penanyaan itulah yang mendasari ketulusan hati dalam permohonan kepada Tuhan. Dalam kesungguhan mencari dan menemukan jalan itu kita tidak perlu takut membuat kekeliruan. dan yang ketiga oleh kaum sufi dan ahli 'Irfan. dan jika (ternyata) keliru. yang kedua oleh para pemikir baik dalam bidang fiqh maupun Kalam. Inilah makna penegasan Nabi bahwa barangsiapa berusaha dengan sungguh-sungguh. tak boleh dipastikan sebagai mutlak lurus. Yang pertama banyak ditempuh oleh ahli perang dan para pahlawan. Justru amat berharga dalam menempuh jalan itu semangat mencari dan berusaha yang sungguh-sungguh. Tunjukkanlah kami jalan yang lurus (QS. dan wujud nyata usaha tersebut pada pribadi yang bersangkutan ialah adanya kualitas "kesungguhan dalam berusaha" (dinyatakan dalam kata-kata Arab juha -usaha penuh kesungguhan). Usaha terus-menerus mencari Kebenaran itu disebut berjalan menempuh "Jalan Allah" (sabil al-Lah). maka salah satu "pesan" yang dikandungnya ialah agar kita bertanya tentang jalan yang lurus itu setiap saat. lurus ke arah (sekali lagi ke arah) Kebenaran Mutlak. artinya. Inilah Islam yaitu ketundukan kepada Yang Maha Benar (al-Haqq). yaitu jihad. al-Nisa 4:103). Akibatnya. meskipun tidak sepenuhnya. apa selanjutnya? Apakah tak ada kemungkinan sama sekali bahwa jalan yang telah kita tempuh apalagi yang masih akan kita tempuh. sebab perhentian berarti menyalahi seluruh prinsip tentang Kebenaran Mutlak. ijtihad dan mujahadah tersebut tadi. sebagai sumber kesadaran akan kebenaran)." baik secara sendirian maupun bersama orang lain. mendekat dan bertemu dengan Kebenaran. ijtihad (dalam dimensinya yang lebih intelektual). "kecuali Allah". terutama dalam setiap kali shalat. ia akan mendapatkan pahala ganda. lalu ia menempuh jalan yang (ternyata) benar. Ini berarti bahwa jalan yang telah kita tempuh. yaitu fitrah kita dalam hati nurani (nurani. sehingga melahirkan sikap hidup jihad (dalam dimensinya yang lebih fisik). maka Sang Kebenaran itu sungguh mutlak dan tak akan terjangkau. tanpa henti-hentinya. karena jalan itu membentang langsung antara diri kita yang paling suci. juga yang akan kita tempuh. yang toh tidak akan kita sadari pada saat mengalaminya sendiri. Dan kalau shalat itu disebutkan dalam al-Qur'an sebagai kewajiban atas kaum beriman dengan dikaitkan pada pembagian waktu selama sehari-semalaman (pagi. siang. Telah dikemukakan bahwa ketundukan kepada Allah Sang Kebenaran Mutlak. artinya ketundukan dalam wujud usaha tak kenal henti secara tulus "mencari"' "mendekat" (taqarrub). adalah ketundukan yang dinamis. dan mujahadah (dalam dimensinya yang lebih spiritual). maka ia masih mendapatkan satu . dan akhirnya "bertemu" (liqa) dengan Kebenaran. akan menyesatkan kita dari Kebenaran. asalkan tak disengaja.

The Message of the Qur'an. Justru tasawuf sebagai bidang yang menggarap segi esoterik keagamaan. asumsi-asumsi dan klaim-klaim tentang pengetahuan yang benar. Sesungguhnya dalam Al-Qur'an dilukiskan bahwa berusaha secara dinamis. Jalan itu sekarang terbuka menuju Hadirat Yang Maha Tinggi. "carilah jalanmu ke surga dengan cara melakukan perbuatan baik". "Carilah Jalan". Muhammad Asad. (Lihat. berpikir dalam konteks kesufian tidaklah berarti tiadanya rasionalitas. meskipun tanpa ada pra-asumsi atau premis. karena perkataan Arab sal sabil-a itu tidak lain arti harfiahnya ialah "tanyalah jalan"." Sebuah metafor. Kata Erich Fromm: I should like to note that. h. Kembali kepada metodologi takhalli di kalangan kaum Sufi.. adalah suatu bentuk perkembangan rasionalitas yang tertinggi. quite in contrast to a populer sentiment that mysticism is an irrational type of religious experience. h. metodologi itu mengharuskan adanya proses pengosongan diri dari anggapan-anggapan. ibid. (Lihat. sangat berlawanan dengan perasaan umum bahwa mistisisme adalah suatu jenis pengalaman keagamaan yang tidak rasional. h. the higgest development of rationality in religious thinking. sudah merupakan sumber mata air pengalaman kebahagiaan yang tinggi. menerangkan kata-kata salsabil-an jelas merupakan kata majemuk itu. yaitu dalam tempat dan lingkungan pengalaman kebahagiaan sejati. 90. 917. Seperti dinyatakan oleh Albert Schweitzer: "Pemikiran rasional . mencari dan menemukan jalan ke arah Kebenaran itu sendiri. "salsabil-an" ("tanyalah [atau "carilah"] jalan"): yakni. Perkataan itu secara harfiah berarti. Mereka (yang bahagia) di sana disajikan minuman dalam piala yang ramuannya ialah zanjabil. telah kita bicarakan. Kenyataan bahwa al-Qur'an senantiasa menyerukan penggunaan akal untuk mencari dan menerima Kebenaran menunjukkan bahwa antara rasio dan pengalaman keagamaan tidaklah terdapat pertentangan. Al-Qur'an melukiskan bahwa dalam surga. The Holy Qur'an. (Saya harus memberi catatan bahwa. sebagaimana dikutip Zamakhsyari dan Razi. catatan 17). catatan 9). yang dapat dibagi menjadi dua komponen. Tapi. alegori atau makna kiasan yang sungguh indah. agar supaya dalam menempuh jalan lurus mencari Kebenaran itu terjadi kemurnian sejati (ikhlash). 1658. yang disebut salsabil. ia justru mengetengahkan perkembangan tertinggi rasionalitas dalam pemikiran keagamaan. para penghuninya akan diberi minum yang sejuk dan amat menyegarkan yang airnya diambil dari mata air yang bernama "salsabil-an" atau "sal sabil-an. As Albert Schweitzer has put it: "Rational thinking which is free from assumptions ends in mysticism. Muhammad Asad mengatakan bahwa begitulah Ali ibn Abi Thalib.." (Erich Fromm. maka dalam konteks pencarian Kebenaran sejati itu. pra-asumsi dan premis justru harus dilepaskan. dari mata air yang ada. al-Insan/76:17-18) Menafsirkan metafor dalam firman ini. catatan 5850). Jika dalam konteks duniawi berpikir selalu menuntut adanya pra-asumsi atau premis.pahala (sebuah Hadist terkenal). A. Dan Yusuf Ali menafsirkan firman itu dengan mengatakan bahwa mata air salsabil (-an) ini membawa kita kepada ide metaforis yang lain. Yusuf Ali. it represents". (QS.

yang bebas dari asumsi-asumsi berakhir dalam mistisisme"). mengigau!). untuk menuliskan wasiatnya. Karena itu Umar berkata. Umar mengatakan Nabi saw. menetapkan sesuatu yang menghilangkan ikhtilaf (di kalangan kaum muslim). 7501983. UA 20-21 Jakarta Selatan Telp. hanya pengarahan pada cara yang terbaik. "Alangkah tragisnya kejadian yang menghalangi Nabi saw. yang mempunyai pandangan jauh ke depan. Mereka tidak ingin membebani Nabi saw dengan sesuatu yang memberatkannya dalam keadaan (sakit) seperti itu. sehingga Nabi saw." Peristiwa ini konon terjadi pada hari Kamis. Kata al-Qurthubi. sehingga tidak perlu dipatuhi? Ataukah ia menyesalkan ucapan Umar bahwa al-Qur'an saja sudah cukup.20." kata Ibnu Abbas. Nabi saw berkata. (021) 7501969. tentu tak . DARI SUNNAH KE HADITS ATAU SEBALIKNYA (1/3) oleh Jalaluddin Rakhmat Pada waktu Nabi saw sakit keras. tapi para ulama salaf tidak. Apakah ia menyesalkan pertikaian sahabat di hadapan Nabi saw. Apalagi ada firman Allah "Tidak ada yang Kami lewatkan dalam Kitab ini sedikit pun. "Memang yang diperintah harus segera menjalankan perintah. "Enyahlah kalian dari sini." Orang-orang pun bertikai dan ramailah pembicaraan. beliau bersabda. -------------------------------------------. Kita tidak tahu mengapa Ibnu Abbas menyebutkan sebagai tragedi. "Cukuplah Kitab Allah bagi kita. (021) 7507174 Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota Please direct any suggestion to Media Team Ilmu tradisional Artikel Yayasan Paramadina Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota III. Metro Pondok Indah Pondok Indah Plaza I Kav. yang sedang udzur. tidak perlu lagi ada petunjuk Rasulullah saw di luar itu? Ibnu Abbas sebagai ulama salaf boleh menyesalkan peristiwa itu. "Sakit keras menguasai diri." Kata al-Khithabi." dan al-Qur'an itu menjelaskan segala sesuatu. 7507173 Fax. Pada kita ada kitab Allah itu cukup buat kita." Umar berkata. Mereka bahkan memuji kebijakan Umar. Tidak pantas bertikai di hadapanku. Tapi Umar beserta kelompok sahabat lainnya melihat perintah itu bukan wajib.(bersambung 4/4) Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah Editor: Budhy Munawar-Rachman Penerbit Yayasan Paramadina Jln. karena sekiranya Nabi saw. "Bawa kepadaku Kitab agar kalian tidak akan sesat sesudahku. sehingga Ibnu Abbas yang meriwayatkan hadits di atas menyebutkannya sebagai tragedi hari Kamis. "Sesungguhnya Umar berpendapat seperti itu. murka kepada mereka? Ataukah ia menyesalkan ucapan Umar yang menuduh perintah Nabi saw itu dilakukan tidak sadar (Dalam riwayat lain.

Suatu pagi beliau datang kepadaku dan berkata. kepada apa Umar merujuk selain al-Qur'an? Ketika mereka ingin mengetahui cara-cara shalat yang tidak diuraikan al-Qur'an atau menghadapi masalah-masalah baru yang timbul dalam perkembangan Islam. al-Nakha'i. Mereka adalah Ibnu Jurayj di Makkah. Al-Awza'i di Syria. meninggalkan hadits-hadits itu kepadamu. sembari berkata: Tidak boleh ada matsnat seperti matsnat Ahli Kitab.. Mereka melarang periwayatan hadits dengan keras. al-Hasan bin Abu al-Hasan. perkataan Umar.ada gunanya lagi ulama dan ijtihad pun tidak perlu lagi." Baik Abu Bakar maupun Umar.. katakan di antara kita dan Anda ada Kitab Allah. "Umar kuatir sekiranya Nabi saw. Aisyah bercerita. halalkan apa yang dihalalkannya dan haramkan apa yang diharamkannya. dalam rangka membuka pintu ijtihad. Saya melihat perkembangan sebaliknya: dari hadits ke sunnah. Janganlah kalian meriwayatkan hadits sedikit pun dari Rasulullah saw. dan Sofyan al-Tsawry di Kufah. Kemudian beliau memerintahkannya untuk dikumpulkan." Kata Ibn al-Jawzi. dan karena itu tidak mengikat? Sikap Umar terhadap hadist adalah sikap Abu Bakar juga. mengisahkan satu peristiwa ketika Abu Bakar mengumpulkan orang banyak setelah Nabi saw wafat. Betulkah al-Qur'an saja sudah cukup? Atau bisakah kita menyimpulkan bahwa hanya al-Qur'an sajalah karya ilahi. juga sebagian besar tokoh tabi'un seperti Sa'id ibn Jubair. Saya pun membawakan untukmu. Nanti orang-orang sesudah kalian akan lebih keras lagi bertikai." telah memulai problematika sunnah atau hadits yang berada di luar al-Qur'an. berkata. apa yang mereka jadikan acuan? Fazlur Rahman menjawab. menuliskan dalam keadaan sakit. Qasim ibn Muhammad ibn Abi Bakar. kelak orang-orang munafik akan mencari jalan untuk mengecam apa yang dituliskan itu. . Bila ada orang yang meminta kalian (meriwayatkan hadits). ketika menulis biografi Abu Bakar. sehingga kalian bertengkar.. menegaskan sikap mereka dengan tindakan." Ia lalu membakarnya dan berkata: Aku takut setelah aku mati. "Bawa hadits-hadits itu kepadaku. "Ayahku telah menghimpun 500 hadits dari Nabi. Selama rentang waktu yang cukup panjang itu. Situasi seperti ini berlangsung sampai paruh terakhir abad kedua Hijrah. kita harus mulai dari peninjauan ulang kepada kedua konsep itu. Sa'id bin Abu 'Urwah di Basrah. Mu'ammar di Yaman. Tidak heran bila sebagian besar sahabat. Setelah hadits-hadits itu terkumpul. Sekarang. Sa'id bin Musayyab tidak mau menuliskan hadits." Kemenakan Aisyah. Umar meletakkannya di atas bara api. "Hadits-hadits makin bertambah banyak pada zaman Umar. Malik di Madinah. sedangkan sunnah atau hadits adalah produk pemikiran manusia. Al-Dzahabi. Abu Bakar berkata: "Kamu sekalian meriwayatkan hadits-hadits dari Rasulullah saw. Untuk membuka pintu ijtihad." Abu Bakar dan Umar adalah dua khalifah pertama yang termasuk al-Khulafa' al-Rasyidun. mula-mula umat Islam merujuk kepada sunnah. ketika beberapa orang mulai merintis pengumpulan dan penulisan hadits. kita harus kembali lagi kepada sunnah. "Kitab Allah . tapi sesudah itu mereka melihat hadits." Apapun komentar para ulama.

Ada sunnah Madinah." pada daerah tertentu seperti Madinah. tapi tidak benar sehubungan dengan konsepnya yang menyatakan sunnah Nabi tetap merupakan konsep yang memiliki validitas dan operatif. ada sunnah Kuffah. Secara berangsur-angsur. di tambah unsur-unsur yang berasal dari kebudayaan Yahudi. formalisasi sunnah ke dalam hadits ini. para sahabat memperhatikan perilaku Nabi saw. sunnah adalah praktek kaum muslim pada zaman awal. Sebagian lagi hanyalah interpretasi para ahli hukum Islam terhadap sunnah yang ada. telah memasung proses kreatif sunnah dan menjerat para ulama Islam pada rumus-rumus yang kaku.DARI SUNNAH KE HADITS Beberapa orang orientalis berpendapat. TELADAN NABI SAW | PRAKTEK PARA SAHABAT | PENAFSIRAN INDIVIDUAL | OPINIO GENERALIS | OPINIO PUBLICA (SUNNAH) | FORMALISASI SUNNAH (HADITS) Jadi. tidak menganggapnya sunnah. wafat. Ketika timbul gerakan hadits pada paruh kedua Abad 2 Hijrah. sunnah tidak lain daripada opinio publica. Ketika gerakan hadits muncul pada Abad 3 Hijrah. (2) Bahwa kandungan sunnah yang bersumber dari Nabi tidak banyak jumlahnya dan tidak dimaksudkan bersifat spesifik secara mutlak. dan Persia. dan disebut "Sunnah Nabi. dan yang terakhir sekali (6) Bahwa setelah gerakan pemurnian Hadits yang besar-besaran. Sunnah yang sudah disepakati kebanyakan orang ini. seluruh sunnah yang ada. berkembang sunnah yang umumnya disepakati para ulama di daerah tersebut. sama luasnya dengan ijma' yang pada dasarnya merupakan sebuah proses yang semakin meluas secara terus-menerus. berkembang secara demokratis sunnah yang disepakati (amr al-majtama' 'alaih). Romawi. berkembanglah penafsiran individual terhadap teladan Nabi itu. tapi sahabat yang lain. (3) Bahwa konsep sunnah sesudah Nabi wafat tidak hanya mencakup sunnah Nabi tapi juga penafsiran-penafsiran terhadap sunnah Nabi tersebut." Fazlur Rahman menegaskan: mengkoreksi pandangan orientalis ini dengan Sekarang kami akan menunjukkan (1) Bahwa sementara kisah perkembangan Sunnah di atas hanya benar sehubungan dengan kandungannya. ijtihad. Karena itu. Sebagian kandungan sunnah berasal dari kebiasaan Jahiliyah (pra-Islam) yang dilestarikan dalam Islam. menurut Fazlur Rahman. Mereka berusaha mempraktekkannya dalam kehidupan sehari-hari. Sayangnya. . diekspresikan dalam hadits. dan ijma' menjadi rusak. Hadits adalah verbalisasi sunnah. hubungan organis di antara sunnah. (4) Bahwa sunnah dalam pengertian terakhir ini. sejak awal sejarah Islam hingga masa kini. Boleh jadi sebagian sahabat memandang perilaku tertentu sebagai sunnah. Kuffah. pada daerah kekuasaan kaum muslim. dinisbahkan kepada Nabi saw. Dalam "free market of ideas. Setelah Nabi saw. sebagai teladan.

berlawanan dengan tesis Fazlur Rahman. Kemudian. 7501983. (021) 7501969.-------------------------------------------. UA 20-21 Jakarta Selatan Telp. Mereka dengan kadar yang bermacam-macam berusaha membentuk tingkah lakunya sesuai dengan Nabi saw. "Nikah itu sunnahku. saya juga berpendapat bahwa perilaku Nabi saw. ijma' (yang merupakan opinio publica) dan ijtihad (yang merupakan proses interpretasi umat terhadap ajaran Islam) menjadi tersisihkan.(bersambung 2/3) Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah Editor: Budhy Munawar-Rachman Penerbit Yayasan Paramadina Jln. berulangkali menyuruh sahabat menirunya. DARI HADITS KE SUNNAH Sepakat dengan Fazlur Rahman.bahwa walaupun landasannya yang utama adalah teladan Nabi. Dalam hal shalat. Inilah yang disebut hadits. 7507173 Fax.20. "Shalatlah kalian seperti kalian melihat aku shalat. selama hidupnya terus-menerus menjadi perhatian para sahabat. seperti saya kutip di bawah ini: Berulang kali telah kami katakan --mungkin sampai membosankan sebagian pembaca-. DARI SUNNAH KE HADITS ATAU SEBALIKNYA (2/3) oleh Jalaluddin Rakhmat Mungkin banyak ulama akan tercengang membaca pandangan Fazlur Rahman tentang hadits. ia berkata "Ambillah dari aku manasik kalian." Sesekali Nabi saw. Sifatnya yang aphoristik menunjukkan bahwa hadits tersebut tidak bersifat historis." Dalam hal haji. mereka menisbatkan sunnah itu kepada Nabi saw. berkata. (021) 7507174 Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota Please direct any suggestion to Media Team Artikel Yayasan Paramadina Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota III. Ketika gerakan hadits unggul. saya berpendapat bahwa yang pertama kali beredar di kalangan kaum muslim adalah . oleh kaum muslimin sendiri. Bila sunnah adalah proses kreatif yang terus menerus. perilakunya itu sunnah yang harus diikuti. hadits adalah pembakuan yang kaku. Nabi saw. walaupun secara historis tidak terlepas dari Nabi. setelah kaum muslim awal secara berangsur-angsur sepakat menerima sunnah. Metro Pondok Indah Pondok Indah Plaza I Kav. Nabi saw. Secara lebih tepat hadits adalah komentar yang monumental mengenai Nabi oleh umat muslim di masa lampau. Hadits adalah keseluruhan aphorisme yang diformulasikan dan dikemukakan seolah-olah dari Nabi. menegaskan. mereka merumuskan sunnah itu dalam bentuk verbal." Namun. Siapa yang berpaling dari sunnahku ia tidak termasuk golonganku. hadits merupakan hasil karya dari generasi-generasi muslim. Walhasil.

Seandainya para sahabat menuliskan apa-apa yang pernah didengarnya dari Rasulullah saw. Ra'yu dominan inilah. tidak adanya rujukan tertulis menyebabkan banyak orang secara bebas membuat hadits untuk kepentingan politis. Abdullah bin Amr bin Ash juga dilaporkan rajin mencatat apa yang didengarnya dari Nabi. Keengganan mencatat hadits. Untuk memperparah keadaan. Aku bersedia memberikan seluruh anakku dan hartaku untuk memperolehnya kembali." Ketiga. Yang jelas. pasar gagasan umumnya tidak bebas) sebagian ra'yu menjadi dominan. Sebuah ra'yu menjadi dominan boleh jadi karena proses kreatif dan adanya demokrasi. boleh jadi juga karena dipaksakan penguasa. Misalnya Ali. terjadilah perbedaan pendapat. kemudian aku hapuskan semuanya. karena para sahabat meminta izin untuk menulis hadits tapi Umar mencegahnya. menurut Rasm Ja'farian. redaksinya dapat berubah-ubah. dominasi ra'yu sangat ditopang oleh hilangnya catatan-catatan tertulis. Sekarang aku berpikir. Dalam pasar ra'yu yang "bebas" (dalam kenyataannya. Abu Rayyah menulis. Pertama. Dalam peristiwa-peristiwa yang disebutkan dalam pengantar di atas. Dalam rangkaian periwayatan. Kita tidak akan mengupas mengapa dua khalifah pertama mengadakan gerakan "penghilangan" hadits. atau sosiologis. masalah penafsiran. kemudian menjadi sunnah. lahirlah akibat yang kelima. periwayatan dengan makna. terbukanya peluang pada pemalsuan hadits. telah mengakibatkan hal-hal yang merugikan umat Islam. yang menghimpun keputusan-keputusan hukum yang pernah dibuat Rasulullah saw. "Ketika hadits-hadits Nabi saw. Banyak riwayat menunjukkan perhatian para sahabat untuk menghapal ucapan-ucapan Nabi atau menyampaikan apa yang dilakukan Nabi saw. maka redaksi hadits berkembang sesuai dengan penafsiran orang yang meriwayatkannya. Ada di antara mereka yang menuliskannya. ekonomi. Karena orang hanya menerima hadits secara lisan. Karena makna adalah masalah persepsi. yang mengandalkan ra'yu. Abu al-Abbas al-Hanbaly menulis. Tidak mungkin kita memberi contoh-contohnya secara terperinci disini. Dalam semua kejadian ini. ketika menyampaian hadits itu mereka hanya menyampaikan maknanya. seperti diriwayatkan Bukhari. menurut Fazlur Rahman. "Salah satu penyebab timbulnya perbedaan pendapat di antara para ulama adalah hadits-hadits dan teks-teks yang kontradiktif. Keempat. tidak dituliskan dan para sahabat tidak berupaya . Umar sendiri pernah mengumpulkan catatan-catatan hadits yang berserakan dan membakarnya. "Dulu aku menulis sejumlah besar hadits. Urwah bin Zubayr pernah berkata. orang-orang mencari petunjuk dari ra'yu-nya. kita melihat 'Aisyah juga menyimpan catatan-catatan hadits (mungkin ditulis Abu Bakar). Sebagian orang menuding Umarlah yang bertanggung jawab atas kejadian ini." Kedua. pengaruh kedua sahabat besar ini terasa sampai lebih dari satu abad.hadits. Bersamaan dengan perbedaan pendapat ini. alangkah baiknya kalau aku tidak menghancurkan hadits-hadist itu. Karena sejumlah hadits hilang. sunnah akan tercatat tidak lebih dari satu rantai saja (dalam penyampaian) antara Nabi saw dan umat sesudahnya. hilangnya sejumlah besar hadits. mempunyai mushaf di luar al-Qur'an.

Tafsir al-Qurthubi 16:197. orang berusaha menghambat periwayatan hadits. Tidak lain Muawiyah hanya ingin memberikan kasih-sayang dan kehormatan kepada anaknya. Aisyah Ummu 'l-Mukminin. melalui kegiatan para pengumpul hadits. telah melaknat ayahmu ketika kamu masih berada di sulbinya. Ia berkata. Marwan di Hijaz sebagai gubernur yang diangkat Muawiyah. Kemudian. daripada pada teks. kesulitan menguji hadits menjadi sangat besar. Bila aku mau. hadits adalah produk pemikiran kaum muslim awal untuk memformulasikan sunnah. Ia berkhotbah dan menyebut Yazid ibn Muawiyah supaya ia dibaiat . "Marwan berdusta. mula-mula muncul hadits. Panjangnya rangkaian periwayatan hadits telah memungkinkan orang-orang menambahkan kesimpulan dan pendapatnya pada hadits-hadits. Ia ingin menunjuk orang sebagai khalifah. Waktu itu ia menjadi Gubernur Madinah yang ditunjuk oleh Mu'awiyah. Ibn Mundzir. Sunnah pada gilirannya kelihatan sebagai produk para ahli hukum Islam: yang kemudian dinisbahkan kepada Nabi saw. aku dapat menyebutkan kepada siapa ayat ini turun.mengumpulkannya. Tapi Rasulullah saw." Pendeknya. Jadi ia ingin melanjutkan sunnah Abubakar dan Umar. Demi Allah. Abubakar tidak pernah menunjuk salah seorang anaknya atau salah seorang keluarganya untuk menjadi khalifah. "Ini sunnah Heraklius dan Kaisar. yang lebih merujuk pada tema perilaku yang hidup di tengah-tengah masyarakat. al-Hakim dan al-Hakim menshahihkannya (lihat Mustadrak al-Hakim 4:481. hilangnya catatan-catatan hadits telah menimbulkan dominasi ra'yu. Jadi. Ia membuang laknat Rasulullah saw. Kesulitan bahkan muncul ketika kita mendefinisikan hadits dan sunnah. Tafsir al-dur al-Mansur 6:41 dan kitab-kitab tafsir lainnya). Marwan berdusta. Marwan melanjutkan khotbahnya. Abd-u 'l-Rahman lari ke kamar saudaranya. Bukhari meriwayatkan hadits ini dengan singkat." Ucapan itu sampai kepada Aisyah. Ketika hadits-hadits dihidupkan kembali. Inilah riwayat Bukhari. "Tentang orang inilah turun ayat yang berkata pada orang tuanya 'cis' bagimu berdua. MENCARI DEFINISI HADITS DAN SUNNAH Pada suatu hari Marwan bin Hakam berkhotbah di Masjid Madinah. Ulum al-Hadits mungkin membantu kita mengatasi kesulitan ini dengan menambah kesulitan baru. anaknya. yang meriwayatkan apa saja yang mereka inginkan tanpa takut kepada siapapun. yang kemudian disebut sunnah. Tafsir Ibn Katsir 4:159. dalam bentuk tertulis." Hadits ini diriwayatkan al-Nasa'i. bila Fazlur Rahman sampai kepada kesimpulan. Ia berkata. Timbullah sunnah. bukanlah ayat itu turun untuk dia. Demi Allah. Tafsir Al-Fakhr al-Razi 7:491." Marwan marah dan menyuruh agar Abd-u 'l-Rahman ditangkap. pintu periwayatan hadits palsu terbuka baik untuk orang taat maupun orang sesat. Tidak mengherankan. Abd-u 'l-Rahman ibn Abu Bakar berkata. kepada Marwan dan menyamarkan ucapan Abd-u 'l Rahman. Bila saya mendaftar kesulitan yang disebut terakhir. saya hanya ingin mengajak pembaca merekonstruksi kembali pandangannya tentang hadits dan sunnah. terutama. "Sesungguhuya Allah ta'ala telah memperlihatkan kepada Amir-u 'l-Mu'minin yakni Muawiyah pandangan yang baik tentang Yazid. Sesungguhnya kamu adalah tetesan dari laknat Allah.

117 menceritakan tangkisan Abu Hurairah kepada orang-orang yang menyatakan Abu Hurairah terlalu banyak meriwayatkan hadits. 7501983. Yang menarik kita bukanlah apa yang dibuang Bukhari. UA 20-21 Jakarta Selatan Telp. dikutipkan beberapa saja diantaranya. 4826 dalam hitungan Ibnu Hajar al-Asqalani (lihat Fath al-Bari 8:576). Bila kita membuka kitab-kitab hadits. asbab al-nuzul ayat al-Ahqaf itu berkenaan dengan 'Abd-u 'l-Rahman ibn Abu Bakar. Ia menjelaskan bahwa ia tidak disibukkan . Yang kedua menegaskan bahwa yang pertama berdusta. "Sesungguhnya dia inilah yang tentang dia Allah menurunkan ayat-ayat dan orang yang berkata kepada kedua orang tuanya 'cis' bagimu berdua. taqrir. berbuatan atau taqrir Nabi saw." Ia masuk ke rumah Aisyah dan mereka tidak berhasil menangkapnya Kemudian Marwan berkata.(bersambung 3/3) Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah Editor: Budhy Munawar-Rachman Penerbit Yayasan Paramadina Jln. ia bercerita tentang perilaku para sahabatnya. segera kita menemukan banyak riwayat di dalamnya. Hadits ini adalah hadits No. Maka Abdurrahman mengatakan sesuatu. -------------------------------------------. Para ahli ilmu hadits mendefinisikan hadits sebagai "apa saja yang disandarkan (dinisbahkan) kepada Nabi saw. Aisyah berkata dari balik hijab: Allah tidak menurunkan ayat apapun tentang kami kecuali Allah menurunkan ayat untuk membersihkanku. 'Aisyah malah menegaskan dengan hadits yang menyatakan bahwa Marwan adalah orang yang dilaknat Allah dan Rasul-Nya. "Tangkaplah dia. apakah kalian menjanjikan padaku dan seterusnya. berupa ucapan. Metro Pondok Indah Pondok Indah Plaza I Kav. Ia berkata. Yang pertama menyebutkan. (021) 7501969. (021) 7507174 Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota Please direct any suggestion to Media Team Artikel Yayasan Paramadina Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota III. tidak berkenaan dengan ucapan. Sekedar memperjelas persoalan di sini. tetapi "perang hadits" antara dua orang sahabat --Marwan ibn Hakam dan 'Aisyah.20. perbuatan. DARI SUNNAH KE HADITS ATAU SEBALIKNYA (3/3) oleh Jalaluddin Rakhmat KERANCUAN PENGERTIAN HADITS Riwayat di atas disebut "hadits" padahal yang diceritakan adalah perilaku para sahabat. Nurrudin Atar. halaman 26). atau sifat-sifat atau akhlak (Lihat Dr. Riwayat di atas tidak menceritakan hal ihwal Nabi saw. karena ayat itu turun berkenaan dengan orang lain. Pada Shahih Bukhari. hadits No.sesudah bapakuya. 7507173 Fax. Manhaj al-Naqd fi Ulum al-Hadits.

kebiasaan melakukan adzan awal pada shalat Jum'at di kalangan ulama tradisional. berupa ucapan. ini adalah ucapan para ulama di berbagai negeri (lihat Fath-u 'l-Bari 1:47). Ia berkata: Padaku ada hadits. perbuatan. Perhatikan Bukhari memasukkan sebagai salah satu kitab haditsnya. karena bukan hadits bila tidak berkenaan dengan Nabi saw. Ibnu Hajar dalam pengantarnya pada Syarh al-Bukhari menyebutkan secara terperinci hadits-hadits mawquf dalam Shahih Bukhari. didasarkan kepada hadits yang menceritakan perilaku orang Islam di zaman Utsman ibn 'Affan. Hadits yang menceritakan sahabat disebut hadits mawquf (istilah yang didalamnya terdapat kontradiksi. Ada dua muth'ah yang ada pada zaman Rasulullah saw. definisi hadits yang paling tepat ialah "apa saja yang disandarkan (dinisbahkan) kepada Nabi saw. Akhirnya.). Atar. Boleh jadi banyak amal yang kita lakukan selama ini ternyata bersumber pada "hadits" yang bukan hadits (menurut definisi yang pertama). Karena itu menurut Dr. perbuatan atau taqrir Nabi saw. Kami melakukan muth'ah pada zaman Rasulullah saw. Atar. Riwayat tentang para tabi'in yakni ulama yang berguru kepada para sahabat. atau sifat fisik atau akhlak dan apa saja yang dinisbahkan kepada para sahabat dan tabi'in. Tetapi aku melarangnya dan akan menghukum pelakunya. taqrir.dengan urusan ekonomi. taqrir. disebut hadits maqthu. Bila ya. Demikian pula. "Kami menganggap berkumpul pada ahli mayit dan menyediakan makanan sesudah penguburannya termasuk meratap. bertambah dan berkurang. harus mengubah anggapan kita selama ini. Dan pada zaman Abu Bakar ra. menghadiri majelis yang tidak dihadiri yang lain. Untuk mengenyangkan perutnya. atau sifat fisik atau akhlak dan apa saja yang dinisbahkan kepada para sahabat. ada hadits yang berbunyi "Iman itu perkataan dan perbuatan. para ulama di luar para sahabat juga sebagai hadits. Ia selalu menyertai Nabi saw. Ucapan "al-shalat-u khair-un min al-nawm" dalam adzan Shubuh adalah tambahan yang dilakukan atas perintah Umar ibn Khatab." Sampai di sini kita bertanya apakah kita sepakat dengan definisi Dr. perbuatan. Dalam Shahih Bukhari. Adalah Rasul ini. (lihat Nayl al-Awthar 4:148). Kembali kepada Rasulullah saw. dan sesungguhnya al-Qur'an itu adalah al-Qur'an ini. misalnya. Menurut Bukhari." Ini bukan sabda Nabi saw. Salah satu contohnya adalah hadits yang sering disampaikan kaum modernis untuk menolak tradisi slametan ("tahlilan") pada kematian. ia berkhotbah kepada orang banyak: Sesungguhnya Rasulullah saw. Mungkin bagi banyak orang. bukan ucapan Bani saw. Ternyata hadits itu tidak semuanya berkenaan dengan Nabi saw." Hadits ini merupakan ucapan 'Abd-u l-Lah al-Bajali. dan menghapal hadits yang tidak dihapal orang lain. padahal riwayat ini tidak menyangkut ucapan. perhatikanlah hadits ini: Dari Jabir ra: Sesungguhnya Ibnu Zubair melarang muth'ah tetapi Ibn Abbas memerintahkannya. berupa ucapan. riwayat tentang para sahabat masih dapat dianggap hadits." Namun jangan terkejut kalau ahli hadits bahkan menyebut riwayat. Hadits itu berbunyi. Ketika Umar berkuasa. Yang paling menyusahkan kita ternyata tidak semua hadits walaupun shahih meriwayatkan sunnah Rasulullah saw. seperti sahabat-sahabat Anshar dan Muhajirin. sehingga definisi hadits sekarang ialah "apa saja yang disandarkan (dinisbahkan) kepada Nabi saw. Yang pertama muth'ah .

memindahkan serbannya. Jumhur ulama termasuk Imam Syafi'i dan Malik menetapkan pembalikan atau pemindahan serban itu sebagai sunnah. yang tepat untuk dijadikan dalil hukum syar'i" (Muhammad Ajjaj al Khathib. Batuk tiga kali setelah takbirat-u 'l-ihram. KERANCUAN PENGERTIAN SUNNAH Para ahli hadits. perbuatan. aku aakan melemparinya dengan batu. Selain al-Qur'an berupa ucapan. kita mengamalkan juga sunnah para sahabat. perbuatan dan taqrir Nabi saw. Mungkin saja buat sebagian di antara mereka. Imam Hanafi dan . dengan memperluas definisi hadits sehingga juga memasukkan perilaku para sahabat dan tabi'in. Hadits ini menceritakan khotbah sahabat Umar yang mengharamkan muth'ah yang dilakukan para sahabat sejak zaman Rasulullah saw. Ahli ushul fiqh mendefinisikan sunnah sebagai "apa saja yang keluar dari Nabi saw. termasuk para ulama yang menyamakan hadits dengan sunnah. Tidak pernah memindahkan serban kecuali kalau berat. Membalikkan serbannya. dikeluarkan juga oleh Muslim dalam shahihnya. Kerancuan definisi hadits ini membawa kita kepada ikhtilaf mengenai apa yang disebut sunnah. "Nabi saw. al-Sunnah Qabl al-Tadwin. yang dllaporkan dalam hadits. yang tidak jarang bertentangan dengan sunnah Rasulullah saw. menyamakan hadits dengan sunnah. duduk tasyahhud. fi hadza 'l-hadits khams-u sunnah. h. "Dalam hadits ini ada lima sunnah. Dalam riwayat lain. "Aku melihatnya menggerakkan telunjuknya sambil berdoa?" Tidakkah anda menyimpulkan bahwa gerakan telunjuk itu sama dengan batuk --yang hanya secara kebetulan tidak mempunyai implikasi hukum. Imam Ahmad pernah diriwayatkan berkata. Yang membiarkan sahabatnya melakukan muth'ah atau hadits larangan Umar? Umumnya kita memilih yang kedua. "Aku mendengar Rasulullah saw. Abdullah bin Zaid bercerita tentang istisqa Nabi saw." dapatkah kita menetapkan perilaku Nabi saw. Walhasil. sehingga ujung serban sebelah kanan disimpan pada bahu sebelah kiri dan ujung serban sebelah kiri disimpan pada bahu sebelah kanan. Nabi saw. Banyak orang. Itu tepat disebut sunnah? Seandainya seorang sahabat berkata. Tetapi bagaimana pendapat anda bila Wail bin Hajar melaporkan apa yang disaksikannya ketika Nabi saw. dan banyak di antara kita. dalam hadits hanya ada tiga sunnah. Yang kedua muth'ah haji (haji tamattu'). Manakah yang harus kita pegang: hadits taqrir Nabi saw.16) Jadi menurut ulama ushul fiqh. Dalam hadits itu sebagai sunnah? Anda berkata tidak. memberi isyarat dengan telunjuknya tapi tidak mengerakkannya?" (Nayl al-Awthar 2:318). Kata Syafi' i. Hadits ini diriwayatkan dalam Sunnah Baihaqi 7:206. menyebut sunnah pada semua perilaku Nabi saw. Sampai ke zaman Abu Bakar ra. Itu hanya kebetulan saja dan tidak mempunyai implikasi hukum. sehingga bagian dalam serban itu di luar dan sebalik.perempuan. Bukankah Ibnu Zubair melihat "Nabi saw. tidak semua hadits mengandung sunnah. dan taqrir. karena perbuatan Nabi saw." Jadi pemindahan dalam khotbah istisqa itu tentu mempunyai implikasi syar'i." Tidak semua ulama setuju dengan pernyataan Ahmad. Bila ada seorang laki-laki menikahi perempuan sampai waktu tertentu. Batuk tidak bernilai syar'i. Masalahnya sekarang: kapan perkataan. Pada waktu khotbah istisqa Nabi saw.

Bila sunnah sudah mencakup juga perilaku sahabat. Semua orang sepakat pentingnya hadits dan sunnah dalam merealisasikan ajaran Islam. budaya. kita tidak bisa tidak harus merujuk pada hadits dan sunnah (tentu saja sesudah al-Qur'an). PENUTUP. hukum. Ketika kita sedang giat melakukan islamisasi ilmu. Definisi sunnah seperti disebutkan di atas. dan di tangannya ada kipas untuk mengusir lalat agar tidak mengenai tubuh Nabi saw. Dengan latar belakang uraian tentang hadits sebelumnya. "Anda akan membersihkan hadits Nabi saw. Karena sunnah adalah hasil penafsiran." Inilah yang mendorong Bukhari mengumpulkan hadits-hadits yang sahih saja. Anda melihat bagaimana para ulama berbeda dalam mengambil sunnah hanya dari satu hadits saja. kita menemukan juga adanya sunnah para sahabat. nilai sunnah tentu saja tidak bersifat mutlak seperti al-Qur'an. apakah yang sunnah itu pemindahan atau pembalikkan. Pernyataan Fazlur Rahman ini bagi kebanyakan orang sangat mengejutkan. sehingga pada awalnya sunnah sama dengan ijma'. kita harus melihat hadits. Para ulama juga ikhtilaf untuk menetapkan apakah pemindahan serban itu berlaku bagi imam atau berlaku bagi jemaah juga. Pembaruan pemikiran Islam atau reaktualisasi ajaran Islam. Yang sering kita lupakan adalah bersikap kritis terhadap keduanya. dengan membuang ribuan hadits yang dianggap dha'if (lemah). Sunnah adalah perumusan para ulama mengenai kandungan hadits. Pemindahan itu hanya kebetulan saja. Karena itu. bahkan sunnah para tabi'in. Metro Pondok Indah Pondok Indah Plaza I Kav. maka yang disebut sunnah adalah pendapat umum. mengapa kita tidak mau melanjutkannya. Bukanlah selama ini yang kita anggap benar secara mutlak adalah al Qur'an dan sunnah? Patut dicatat bahwa kesimpulan Fazlur Rahman itu didasarkan pada sunnah dalam pengertian sunnah Rasulullah saw. Kita lupa bahwa kritik terhadap keduanya telah diteladankan kepada kita oleh para ulama terdahulu. Fazlur Rahman dalam Membuka Pintu Ijtihad menegaskan adanya unsur penafsiran manusia dalam sunnah. harus mengacu pada teks-teks yang menjadi landasan ajaran Islam. Bila para pembaru Islam terdahulu memulai kiprahnya dari kritik terhadap hadits dan sunnah (Ingat bagaimana Muhammadiyah dan PERSIS "men-dha'if-kan" hadits-hadits yang dipergunakan orang-orang NU). Bahkan ketika merujuk pada al-Qur'an pun. ia duduk di hadapan Rasulullah saw. Siapa yang ingin melanjutkan tradisi Imam Bukhari dewasa ini? -------------------------------------------Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah Editor: Budhy Munawar-Rachman Penerbit Yayasan Paramadina Jln. ekonomi. Ketika terjadi perbedaan paham.sebagian pengikut Maliki menetapkan bukan sunnah. dan masyarakat. kemusykilan tentang sunnah makin bertambah. Ketika ia bertanya kepada orang-orang pandai apa arti mimpi itu. UA 20-21 Jakarta Selatan . dari kebohongan. Sikap kritis ini seringkali dicurigai akan menghilangkan hadits atau sunnah. mereka berkata. Konon Imam Bukhari bermimpi. pada kenyataannya tidak lagi dipakai.

Yang paling terkenal di antaranya ialah dua kitab koleksi oleh al-Bukhari dan Muslim (disebut al-Shahihayn.diharapkan akan dapat membantu memperjelas persoalan. Tapi sebelum mereka sudah ada seorang kolektor hadits yang amat kenamaan dan berpengaruh besar yaitu sarjana dan pemikir dari Madinah." Tapi sekarang ini sunnah memang tidak dapat dibedakan dari hadits. Pada banyak kasus mungkin terjadi semacam kekacauan akibat kecenderungan masyarakat untuk menyamakan begitu saja antara sunnah dan hadits. Sebab yang disebutkan sebagai sumber kedua sesudah Kitab Suci al-Qur'an ialah sunnah. pada prinsipnya sikap ingkar pada sunnah tidak dapat dibenarkan. (021) 7501969.19. Berdasarkan sabda Nabi tentang Kitab dan sunnah di atas. "Dua Yang Sahih"). Abu Dawud. bukan hadits. Jika seseorang menyebut "sunnah" maka dengan sendirinya akan terbayang padanya sejumlah kitab koleksi sabda Nabi. dan yang lengkapnya meliputi pula kitab-kitab koleksi oleh Ibn Majah. Sudah jelas. Tapi ingkar kepada hadits. maka golongan ini menjadi sasaran kritik para ulama dan tokoh Islam. Yang pertama (sunnah) mengandung pengertian yang lebih luas daripada yang kedua (hadits).Telp. telah terjadi dalam kurun waktu yang panjang pada golongan-golongan tertentu Islam seperti kaum Mu'tazilah. sebagaimana sering dituturkan tentang adanya sabda Nabi saw. wafat 179 H. 7501983. Karena sikap mereka menolak perlunya kaum muslim berpegang pada sunnah. sekalipun jelas tidak dapat dilakukan secara umum tanpa penelitian tentang hadits tertentu mana yang dimaksud. PERGESERAN PENGERTIAN "SUNNAH" KE "HADITS" (1/3) IMPLIKASINYA DALAM PENGEMBANGAN SYARI'AH oleh Nurcholish Madjid Dalam masyarakat Islam di beberapa negara terdapat kelompok-kelompok yang meragukan otoritas hadits sebagai sumber kedua penetapan hukum Islam. Oleh karena dampak masalah ini dalam usaha penetapan hukum (tasyri') sangat besar dan penting. ada suatu golongan yang menanamkan dirinya kaum "Inkar al-Sunnah". al-Turmudzi dan al-Nasa'i. Bahkan dapat dikatakan bahwa sunnah mengandung makna yang lebih prinsipil daripada hadits. "Aku tinggalkan di antara kalian dua perkara. Malik Ibn Anas (pendiri madzhab Maliki. Perjalanan sejarah . namun sesungguhnya tidaklah identik. (021) 7507174 Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota Please direct any suggestion to Media Team Artikel Yayasan Paramadina Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota III. Di negara kita. 7507173 Fax.) yang menghasilkan kitab hadits al-Muwaththa'. di antara keduanya terdapat jalinan yang erat. demikian pula sebaliknya. maka kajian kesejarahan tentang evolusi pengertian sunnah --yang diungkapkan Nabi meski secara tersirat-. yang kamu tidak akan sesat selama berpegang kepada keduanya: Kitab Allah dan sunnah RasulNya.

sunnah tidak terbatas hanya pada hadits. Sedangkan hadits merupakan bentuk reportase atau penuturan tentang apa yang disebabkan Nabi atau yang dijalankan dalam praktek tindakan orang lain yang "didiamkan" beliau (yang dapat dapat diartikan sebagai "pembenaran"). Yaitu. termasuk yang sangat dini ditulis ialah Sirah Ibn Ishaq yang kemudian disunting oleh Ibn Hisyam (berturut-turut wafat pada tahun 151 dan 219 Hijri). termasuk yang sahih. Sebelum Ishaq.perkembangan dan perubahan itu sendiri cukup panjang dan rumit. Meskipun wafat di Baghdad. Memang. namun masih juga sering mengundang kekaburan. PENGERTIAN SUNNAH Sunnah lebih luas daripada hadits. Sebab. harus dimasukkan pula corak dan ragam tindakan beliau. karena memuat gambaran tentang perjalanan hidup Nabi khususnya dalam kapasitas beliau sebagai pemimpin. telah muncul berbagai karya tulis tentang riwayat peperangan Nabi yang lazim disebut kitab-kitab al-Maghazi. yang secara logis paling paham akan apa yang dipesankan Tuhan pada manusia melalui beliau. Di antara kitab-kitab sirah. maka kita dapat mengetahui dari sumber-sumber yang selama ini tidak dimasukkan sebagai hadits. Jika sunnah merupakan keseluruhan perilaku Nabi. Berarti. antara sunnah dan hadits terbentang garis kontinuitas yang tidak terputus. namun mencampuradukkan antara keduanya tidak dapat dibenarkan. maka sesungguhnya Nabi hanya menyatakan sesuatu yang amat logis. dan tumbuh sebagai sarjana terkemuka di kota Nabi. seperti kitab-kitab sirah atau biografi Nabi. juga yang paling tahu bagaimana melaksanakannya. Sebab. kemudian. Nabi-lah sebagai utusan Tuhan. orang Islam tentu pertama-tama harus melihat apa yang ada dalam Kitab Suci. Ibn Ishaq lahir di Madinah (pada tahun 85 H). tidak berarti bahwa hadits dengan sendirinya mencakup seluruh sunnah. dalam memahami agama dan melaksanakannya. Tapi jika kita berhasil melepaskan diri dari dogmatisme yang menerima begitu saja pengertian-pengertian mapan tentang apa yang terjadi di masa lampau. Pengertian lain yang menyalahi hal itu mustahil dapat diterima. Dalam kedudukan beliau sebagai pemimpin itulah Kitab-kitab sirah banyak memberi gambaran. Itulah makna asal kata hadits. baik sebagai pribadi maupun pemimpin. Kitab-kitab itu. Pemahaman Nabi terhadap pesan atau wahyu Allah itu teladan beliau dalam melaksanakannya membentuk "tradisi" atau "sunnah" kenabian (al-sunnah al-Nabawiyyah). harus mencari contoh bagaimana Nabi sendiri memahami dan melaksanakannya. Maka. dalam lingkup sunnah sebagai keseluruhan tingkah laku Nabi. maka dari celah-celah sejarah itu kita akan dapat menarik "benang merah" yang memberikan kejelasan tentang perkembangan dan perubahan itu. kedua. Jika disebutkan oleh Nabi bahwa sunnah merupakan pedoman kedua setelah Kitab Suci bagi kaum muslim dalam memahami agama. Namun demikian. Dan ia telah mengumpulkan bahan untuk kitab sirah-nya beberapa lama sebelum usaha-usaha pengumpulkan hadits. yang sekarang ini definisinya makin luas batasannya dan komprehensif. Sekalipun pengertian ini cukup jelas. bersama dengan kitab-kitab biografi Nabi yang lain amat penting. kitab-kitab itu juga merupakan sumber ..

dan keseluruhan sasaran peneladanan itu tidak lain ialah sunnah nabi. berhasil membangkitkan semangat perjuangan Islam. Dari Kitab Suci kita mengetahui lebih banyak perkembangan kepribadian Nabi yang menggambarkan pengalaman Nabi.yang baik untuk memahami sunnah. Dari pengamatan atas gambaran itu kita dapat memperoleh ilham tentang peneladanan pada beliau. Dalam sejarah terbukti bahwa pembacaan biografi Nabi. menjadi pedoman hidup kedua setelah Kitab Suci bagi seluruh kaum beriman. Tidaklah Tuhanmu meninggalkan engkau (Muhammad). Sebagai contoh.S. karena ilham teladan baik dari beliau. al-Syarh 94:1-8) Para ahli hampir semuanya sepakat bahwa surat al-Dluha turun kepada Nabi berkenaan dengan peristiwa terputusnya wahyu yang relatif panjang. Sunnah Nabi harus pula dipahami sebagai keseluruhan kepribadian Nabi dan akhlak beliau. yaitu upacara memperingati kelahiran Nabi dengan membaca riwayat hidup beliau. Dan juga pastilah Tuhanmu akan menganugerahimu. senantiasa berharaplah! (QS. khususnya yang berkaitan dengan riwayat peperangan beliau yang dikena sebagai al-Maghazi tersebut. isteri beliau. Tetapi justru karena itu maka memahami sunnah Nabi tidak dapat lepas dari memahami Kitab Suci sendiri. sebagaimana dilukiskan A'isyah. kemudian Dia melindungimu?! Dan Dia mendapatimu bingung. kemudian Dia membimbingmu?! Dan Dia mendapatimu miskin. khususnya. yang memberati punggungmu?! Serta Kami muliakan namamu?! Sebab sesunggahnya bersama kesulitan tentu ada kemudahan! Maka jika engkau bebas. sehingga menimbulkan ejekan dan sinisme kaum . Sebab sesungguhnya akhlak Nabi yang mulia itu tidak lain adalah semangat Kitab Suci al-Qur'an itu sendiri. dan tidak pula murka. dua surat yang termasuk paling banyak dibaca dalam sembahyang dapat kita renungkan maknanya di sini: Demi pagi yang cerah dan demi malam ketika telah kelam. Dengan demikian Nabi. jika yang dimaksud selain tindakan-tindakan Nabi atau sabda beliau yang bersifat terpisah dan ad hoc seperti umumnya tema catatan hadits. Dan beliau juga dilukiskan dalam Kitab Suci sebagai seorang yang berakhlak amat mulia (Q. Dan dengan "eksperimen" itu pemimpin Islam dari Mesir yang kemudian terkenal dengan sebutan "Sultan Saladin" itu mewariskan pada Umat Islam seluruh dunia tradisi Maulid. al-Qalam 68:4). kemudian Dia memperkayamu?! Maka kepada anak yatim. dalam hal ini tingkah laku dan kepribadian beliau sebagai seorang yang berakhlak mulia. janganlah engkau menghardik! Dan kepada peminta-minta. kerja keraslah! Dan kepada Tuhanmu. yang dalam kepribadian dan akhlak beliau disebutkan dalam Kitab Suci sebagai teladan yang baik (uswah hasanah) bagi kita semua "yang benar-benar berharap pada Allah pada Hari Kemudian. al-Dluha 93:1-11) Bukankah Kamu telah lapangkan dadamu?! Dan Kami bebaskan bebanmu. maka kamu akan lega. Dan pastilah kemudian hari lebih baik bagimu daripada yang sekarang ada. yang ternyata berhasil gemilang. baik yang menyenangkan atau tidak. yang keseluruhannya menampilkan sosok Nabi yang berkeprlbadian mulia. janganlah kamu membentak! Sedangkan berkenaan dengan nikmat karunia Tuhanmu. engkau harus nyatakan! (QS. al-Ahzab 33:32). Bukankah Dia mendapatimu yatim. serta banyak ingat kepada Allah" (Q. Inilah "eksperimen" Sultan Shalah al-Din al-Ayyubi dalam menghadapi tentara Salib.S.

dan selalu ingat dengan penuh syukur akan nikmat karunia Tuhan. Metro Pondok Indah Pondok Indah Plaza I Kav. atau membentak peminta-minta. Allah mengingatkan Nabi bahwa perjuangan jangka panjang. (Janji Tuhan ini kelak ternyata terbukti dan terlaksana. bahwa Allah samasekali tidak meninggalkan beliau dan tidak pula murka. (021) 7507174 Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota Please direct any suggestion to Media Team Artikel Yayasan Paramadina Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota III. UA 20-21 Jakarta Selatan Telp. Allah menghibur beliau dan memberinya dorongan moril. Dan berdasarkan latar belakang itu maka Allah berpesan agar Nabi janganlah sampai menghardik anak-yatim. 7501983. selama perjuangan diteruskan dengan penuh kesabaran dan harapan. yang strategis lebih penting daripada pengalaman jangka pendek. dan miskin. 7507173 Fax.19. Oleh karena itu hendaknya Nabi tidak putus asa atau kecil hati oleh pengalaman kekecewaan jangka pendek. perjuangan besar selalu memerlukan waktu untuk mencapai hasil dan semakin besar nilai suatu perjuangan maka semakin panjang pula dimensi waktu yang diperlukannya. bingung tentang apa yang hendak dilakukan.(bersambung 2/3) Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah Editor: Budhy Munawar-Rachman Penerbit Yayasan Paramadina Jln. Allah menjanjikan untuk memberi kemenangan yang bakal membuat beliau puas dan lega. surat ini juga menggambarkan tentang suatu dinamika pengalaman Nabi dalam perjuangan beliau. Dan dalam jangka panjang itulah. yang taktis. dan beliau pun wafat memenuhi panggilan menghadap Allah dalam keadaan menang dan sukses luar biasa). . (021) 7501969. Dari latar belakang turunnya. PERGESERAN PENGERTIAN "SUNNAH" KE "HADITS" (2/3) IMPLIKASINYA DALAM PENGEMBANGAN SYARI'AH oleh Nurcholish Madjid IMPLIKASI SUNNAH SEBAGAI KOREKSI HADITS DALAM PENGEMBANGAN SYARI'AH Allah juga mengingatkan Nabi bahwa masa mendatang lebih penting daripada masa sekarang. -------------------------------------------. dan bagaimana Allah telah menunjukkan kasih-Nya pada beliau dengan memberi kemampuan mengatasi kesusahan itu semua. Sebab. sehingga seperti dikatakan Sayyid Quthub. berupa kemenangan demi kemenangan yang diraih Nabi setelah hijrah ke Madinah.musyrik Makkah bahwa Tuhan telah meninggalkan Nabi dan murka kepadanya. Serentak dengan itu semua Allah juga mengingatkan akan masa lampau Nabi yang penuh kesusahan seperti keadaan beliau yang yatim-piatu. Dalam terjemah kontemporernya.

7. Pengkajian terhadap firman-firman itu akan memberi gambaran yang utuh tentang siapa Nabi dan bagaimana garis besar sepak terjang . Dalam surat ini Allah menegaskan bagaimana Dia telah membuat Nabi sebagai seorang yang lapang dada (munsyarih al-shadr).Tetap berorientasi kepada Allah. Lalu Allah menegaskan bahwa setiap kesulitan tentu akan membawa kemudahan. Jadi.Tidak kecil hati karena kesulitan. bahwa amal usaha tentu mengandung kesulitan. berkat perjuangan beliau dan kebajikan yang ditegakkannya. Maka dari itu setiap kesempatan harus digunakan untuk kerja keras. Juga diingatkan bahwa Allah telah membuat terhormat nama Nabi dan dijunjung tinggi. Dari situ kita paham sebuah sunnah Nabi.Memikul beban tanggungjawab dengan penuh kerelaan 9. 3. para ahli mengatakan bahwa wahyu itu turun kepada Nabi masih dalam kaitannya dengan surat al-Dluha. dengan penuh harapan kepadaNya.Sikap senantiasa berpengharapan kepada Allah 2.Senantiasa bersyukur pada Allah atas segala nikmat karunia-Nya. seperti telah diutarakan. yang dapat disimpulkan dari kedua surat itu adalah kurang lebih demikian: 1. maka sesungguhnya dinamika pengalaman hidup Nabi tersebut adalah universal.Yakin akan kemenangan akhir 4.Berkenaan dengan surat al-Syarh. dan dari situ pula kita mengerti suatu aspek makna firman Allah bahwa pada diri Rasulullah terdapat teladan yang baik bagi kaum beriman. sebab yakin akan masa datang yang lebih baik 10.Rasa kasih sayang kepada sesama manusia yang kurang beruntung 6. sambil senantiasa mengarahkan diri kepada Allah.Ingat akan latar belakang diri di masa lalu dan bagaimana semua kesulitan teratasi 5. dan membuat semua beban terasa ringan bagi beliau. Akhlak serta kepribadian yang menjadi sunnah Nabi. asal dan tuduan semua yang Firman Allah yang memberi gambaran dinamika kepribadian Nabi sebagai uswah hasanah dalam al-Qur'an cukup banyak. Oleh karena itu sikap-sikap yang telah ditunjukkan oleh Nabi sebagaimana tersimpul dari kedua surat pendek itu akan melengkapi kaum beriman dengan contoh nyata dalam menghadapi problema kehidupan.Sadar akan perjuangan jangka panjang.Menggunakan setiap waktu luang untuk kerja-kerja produktif 11. dalam arti dapat terjadi dan dialami oleh siapa saja dari kalangan manusia yang mempunyai tekad atau komitmen pada cita-cita luhur. dari kedua surat pendek yang banyak dibaca dalam shalat itu dapat disimpulkan gambaran dinamika kepribadian Nabi berhubung dengan pengalaman hidup perjuangan beliau. Jika kita renungkan lebih mendalam gambaran itu.Bersikap lapang dada 8. bahkan merupakan kelanjutannya. namun hasil perjuangan itu di kemudian hari tentu akan membawa kebahagiaan.

dan bahwa Kitab Suci merupakan satu-satunya sumber penetapan syari'ah disebabkan kepastian otentisitasnya. menurut al-Siba'i. Kita dapat mendekteksi dinamika kepribadian Nabi itu dari firman-frman yang ditunjukkan khusus kepada Nabi.Allah telah menegaskan "Tidak ada satu perkarapun yang Kami abaikan dalam Kitab Suci (Q. serta seorang tokoh pembina gerakan al-Ikhwan al-Muslimun di Syiria. Mushthafa al-Siba'i. Sangat menarik jalan pikiran seorang tokoh yang ingkar hadits itu di zaman modern. namun ajaran moral di balik cerita selalu bersifat dinamik sehingga dapat dengan mudah diangkat pada tingkat generalitas yang tinggi. pandangan mereka yang menolak hadits ialah bahwa Islam hanyalah al-Qur'an saja. sekalipun dituturkan dalam kaitan dengan ruang dan waktu atau pengalaman khusus Nabi. yang telah tampil membela Islam dengan cara yang mengagumkan. namun umumnya bersifat ad hoc terkait erat dengan tuntutan khusus ruang dan waktu. karena ingkar pada sunnah Nabi adalah mustahil bagi seorang muslim. yang disebutkan oleh al-Siba'i sebagai contoh. Ini menjelaskan bahwa Kitab Suci telah mencakup seluruh prinsip penetapan syari'ah. Tapi pandangannya yang menolak otoritas hadits telah menimbulkan heboh di kalangan para ulama al-Azhar. Sedangkan sunnah (yang dimaksud tentunya hadits) mengandung keraguan dalam keabsahannya sebagai sumber argumen (hujjah) karena terjadi penambahan-penambahan padanya. Karena itu sunnah Nabi sebenarnya tidak terbatas hanya pada hadits. Mereka sebenarnya tidak mengingkari sunnah. Jadi sunnah Nabi. khususnya segi-segi yang dinamik dan mendasar.beliau dalam hidup beliau baik sebagai pribadi maupun sebagai Utusan Ilahi. Mereka mendasarkan pandangan itu pada hal-hal berikut: 1. Al-An'am 6:38). meskipun hadits (yang sahih) memang termasuk sunnah. Tetapi mereka ini dapat disebut sebagai golongan "Ingkar Hadits" (sebutlah "Inkar al-Hadits"). seorang pembela paham Sunni yang bersemangat dan mantan dekan Fakultas Syari'ah Universitas Syiria. dengan demikian bernilai universal. al-Siba'i mengutip tokoh itu yang pandangannya pernah dimuat oleh majalah al-Manar pimipinan Sayyid Muhammad Rashyid Ridla. dan yang dinilainya banyak membuka pintu bagi orang lain sesudahnya untuk juga bersikap ingkar pada hadits. Secara ringkas. sehingga tidak lagi ada peran bagi sunnah (hadits) untuk menatapkan hukum . Menurut Dr. Meskipun banyak laporan dalam kitab-kitab hadits yang juga memberi gambaran tentang tingkah laku atau kepribadian Nabi. Tokoh itu sendiri. dapat lebih banyak diketahui dari Kitab Suci daripada dari kumpulan kitab hadits. Sedangkan yang ada dalam al-Qur'an. adalah seorang muslim yang bergairah.S. dan karena adanya banyak kontradiksi dalam sebagian cukup besar nash-nash-nya. menurut Mushthafa al-Siba'i. PERGESERAN PENGERTIAN SUNNAH KE HADITS Di atas telah dikemukakan adanya kelompok-kelompok kaum muslim yang sangat meragukan otentisitas dan otoritas kumpulan hadits. golongan Ingkar Hadits itu terdapat di mana-mana dalam dunia Islam. seperti diindikasikan oleh penggunaan kata pengganti nama "engkau" dalam suatu format dialog antara Tuhan dan Utusan-Nya. dari dahulu sampai sekarang. Tanpa menyebut namanya secara jelas.

karena Allah berfirman. bahwa beliau bersabda "Sesungguhnya hadits akan memancarkan dari diriku.dan membuat syari'ah. dan kebanyakan tokoh besar para sahabat Nabi serta para Tabi'un seperti 'Umar. dan selesai pengumpulan dan koreksinya pada pertengahan abad ketiga.S. dll.an. yang mengisyaratkan pengakuan bahwa ia adalah pelanjut kekhalifahan 'Umar Ibn al-Khaththab yang bijakbestari. 'Umar II memerintahkan seorang sarjana terkenal. dan hal itu dengan sendirinya menempatkan sunnah pada tingkat dugaan (martabat al-dhann) belaka. "Sesungguhnya dugaan tidak sedikit pun menghasilkan kebenaran" (Q. "Sesungguhnya Kami benar-benar telah menurunkan pelajaran.. jika bukannya malah merupakan wujud historis yang kongkret dari "tradisi" atau "sunnah" Nabi sendiri. 4. 'Alqamah. menunjukkan sikap tidak suka pada usaha membukukannya. 2. sehingga masuk ke dalamnya penambahan dan pemalsuan. Khalifah ini terkenal dengan sebutan kehormatan. Dari sudut analisa politik. karena keyakinan 'Umar II bahwa tradisi itu merupakan kelanjutan langsung pola kehidupan masyarakat Madinah di zaman Nabi. ia tidak berasal dariku. Kalau seandainya hadits termasuk sumber penetapan syari'ah. Tuhan tidak menjamin pemeliharaan sunnah (hadits).S. tindakan 'Umar II ini adalah untuk menemukan dan mengukuhkan landasan pembenaran bagi ideologi Jama'ah-nya. Apapun yang sampai kepadamu sekalian dan bersesuaian dengan al-Qur. tentulah Tuhan memeliharanya untuk kepentingan para hamba-Nya dari kemungkinan penyelewengan dan perubahan sebagaimana Dia telah memelihara Kitab Suci-Nya. Maka banyak kalangan kaum Muslim yang memandang 'Umar II sebagai anggota kelima dari al-Khulafa. al-Nakha'i. al-Najm 52:28).Terdapat penuturan dari Nabi saw. sedangkan dugaan tidak dapat menghasilkan hukum syar'i. al-Qasim Ibn Muhammad. Hadits juga belum dibukukan di zaman al-Khulafa al-Rasyidun. al-Hijr 15:9). 3. Mungkin yang dimaksudkan ialah adanya dorongan pembukuan hadits oleh Khalifah 'Umar Ibn 'Abd al-'Aziz (w. Syihab al-Din al-Zuhri (w. dan rampung pada pertengahan abad ketiga. al-Sya'bi.. 'Ubaydah. 102 H.) dari Bani Umayyah. yang dengan ideologi itu ia ingin merangkul . 124 H) untuk meneliti dan membuktikan tradisi yang hidup di kalangan penduduk Madinah. sebagaimana difirmankan. sesudah 'Ali Ibn Abi Thalib." [1] Dalam kutipan al-Siba'i tentang argumen orang yang ingkar pada hadits itu disebutkan bahwa pembukaan hadits dimulai pada akhir abad pertama Hijri. Ini adalah jangka waktu yang cukup panjang untuk menimbulkan keraguan tentang keabsahan teks-teks hadits. Umar II. dan apapun yang sampai kepadamu dan menyalahi al-Qur'an. Abu Bakr. dan sesungguhnyalah Kami yang memelihara-Nya" (Q. ia berasal dari diriku. Kota Nabi.Sunnah (hadits) belum dibukukan di zaman Nabi saw. bahkan secara otentik diceritakan bahwa beliau melarang membukukannya.Allah menjamin pemeliharaan al-Qur'an dari kesalahan. Pembukuan hadits baru dimulai pada akhir abad pertama. al-Rasyidun.

pengertian "sunnah" pun kemudian menjadi hampir identik dengan koleksi hadits dalam "Kitab yang Enam" itu. pembukuan hadits secara sistematis dan kritis dan dalam skala besar serta pada tingkat kesungguhan yang tinggi baru dimulai pada awal abad ketiga dengan tampilnya Iman al-Syafi'i (w. sebagaimana dilakukan oleh 'Abd Allah Ibn 'Amr Ibn al-'Ash. [2] Tapi. (021) 7501969. Maka penelitian dan pembukaan tentang tradisi penduduk Madinah akan dengan sendirinya menghasilkan pembukaan "tradisi" atau "sunnah" Nabi. 'Umar II melihat bahwa sikap yang serba akomodatif pada semua kaum muslim tanpa memandang aliran politik atau paham keagamaan khasnya itu telah diberikan contohnya oleh penduduk Madinah. 303 H). lalu diteruskan berturut-turut oleh Muslim (w. 'Abd-Allah Ibn 'Abbas dan 'Abd-Allah Ibn Mas'ud. (021) 7507174 Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota . juga merupakan kelanjutan yang sah dari "tradisi" atau "sunnah" Nabi.273 H). sebelum masa 'Umar II pun sebetulnya sudah ada usaha-usaha pribadi untuk mencatat hadits. menurut al-Siba'i. 7501983. Abu Dawud (w. 261 H). sekalipun ia menyesalkan sikap Khalifah yang baginya terlalu banyak memberi angin pada kaum Syi'ah dan Khawarij (karena. 279 H) dan terakhir. Selanjutnya. Akibatnya. Imam al-Syafi'i adalah tokoh pemikir peletak sebenarnya teori ilmiah pengumpulan dan klasifikasi hadits. Metro Pondok Indah Pondok Indah Plaza I Kav. sikap yang serba inklusifistik sesama kaum muslim itu merupakan "tradisi" atau "sunnah" historis penduduk Madinah. 256 H). dan baru benar-benar rampung pada awal abad keempat Hijri. dalam kolaborasinya dengan kaum Abbasi. UA 20-21 Jakarta Selatan Telp.w. "sunnah" itu akan memberi landasan legitimasi bagi idenya tentang persatuan seluruh umat Islam dalam "Jama'ah" yang serba mencakup. mereka akhirnya mampu meruntuhkan Dinasti Umayyah dan melaksanakan pembalasan dendam yang sangat kejam). Berdasarkan latar belakang inilah maka ideologi 'Umar II kelak disebut sebagai paham "sunnah dan jama'ah" dan para pendukungnya disebut ahl al-sunnah wa al-Jama'ah (golongan sunnah dan jama'ah). 204 H).(bersambung 3/3) Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah Editor: Budhy Munawar-Rachman Penerbit Yayasan Paramadina Jln. sesungguhnya. Mushthafa al-Siba'i amat menghargai kebijakan 'Umar II berkenaan dengan pembukaan sunnah itu. dan dengan begitu. dalam pandangan 'Umar II.275 H). di bawah ke kepeloporan tokoh-tokohnya seperti 'Abd-Allah ibn 'Umar (Ibn al-Khaththab). Teori dan metodenya kemudian diterapkan dengan setia oleh al-Bukhari (w. 7507173 Fax. -------------------------------------------. golongan oposisi itu kemudian mampu memobilisasi diri sehingga. 303 H). Ibn Majah (w. Jadi. Koleksi mereka berenam itulah yang kelak disebut "Kitab yang Enam" (al-Kutub al-Sittah). al-Turmudzi (. al-Nasa'i (w. Dan. dalam pandangan al-Siba'i.seluruh kaum Muslim tanpa memandang aliran politik atau pemahaman keagamaan mereka. termasuk kaum Syi'ah dan Khawarij yang merupakan kaum oposan terhadap rezim Umayyah. dengan tampilnya al-Nasa'i (w.

dengan tandas menyatakan: seorang pembela paham Sunni yang menolak argumen-argumen itu. Sesudah masa itu memang masih terdapat usaha pengumpulan sisa-sisa hadits oleh beberapa pribadi. demikian pula para sahabat dan para Tabi'un terkenal. melalui sistem hafalan kaum muslim Arab yang memang terkenal memiliki kemampuan menghafal yang amat kuat (sebagai akibat pengembangan bahasa Arab yang amat tinggi namun tidak banyak bersandar pada penggunaan tulisan). karena telah menegaskan bahwa Kitab Suci itu telah memuat segala sesuatu.Please direct any suggestion to Media Team Artikel Yayasan Paramadina Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota III. Selain dasar-dasar pertimbangan yang berasal dari al-Qur'an dan pesan Nabi sendiri --menurut pengertian yang dipegang oleh mereka yang ingkar hadits-.Yang disebut bakal dijamin terpelihara dari usaha pengubahan tidak hanya pada al-Qur'an tapi juga meliputi sunnah.Keseluruhan ajaran Islam cukup berdasarkan pada al-Qur'an saja. tapi hanya dalam garis besar saja. dan menolak yang lain.Allah menjamin terpeliharanya al-Qur'an. namun sudah tidak lagi banyak berarti.19. dimulai sejak sekitar dua abad setelah Nabi dan rampung sekitar tiga abad setelah Nabi. tegar.masa kodifikasi dan seleksi hadits yang demikian lama sesudah masa Nabi dan yang memakan waktu demikian panjang merupakan dasar sikap mereka yang meragukan otoritas hadits. . 3. dasar-dasar argumen menolak otoritas hadits secara ringkasnya adalah sebagai berikut: 1. penulisan hadits di masa beliau. 4. Sebagaimana telah dikutip kembali dari keterangan (kutipan) Mushthafa al-Siba'i. Dia 1.Nabi menegaskan agar orang menerima hadits hanya yang benar-benar bersesuaian dengan al-Qur'an. sekurangnya menghalangi. Musthafa al-Siba'i. tapi tidak menjamin hal serupa untuk Hadits.Nabi melarang. dalam hal ini hadits. Sunnah dan hadits tetap terpelihara. PERGESERAN PENGERTIAN "SUNNAH" KE "HADITS" (3/3) IMPLIKASINYA DALAM PENGEMBANGAN SYARI'AH oleh Nurcholish Madjid IMPLIKASI SUNNAH SEBAGAI KOREKSI HADITS DALAM PENGEMBANGAN SYARI'AH Fakta historis tersebut di atas menunjukkan bahwa proses pengumpulan hadits berlangsung selama satu abad atau lebih. 2.Memang benar Kitab Suci memuat segala sesuatu. 2. Dr.

3.Pencegahan Nabi dan para pembesar sahabat dan Tabi'un dari usaha membukukan hadits terjadi karena kekuatiran akan tercampur dengan teks-teks al-Qur'an yang saat itu kodifikasi resminya belum mapan di kalangan umat, disebabkan sedikitnya mereka yang ahli baca-tulis. Pencegahan itu hanya menyangkut usaha pembukuan resmi. Sedangkan yang tidak resmi dan sebagai catatan pribadi, beberapa sahabat telah melakukannya. 4.Keabsahan hadits yang menjadi landasan argumen keempat di atas diragukan oleh para ahli. Dan jika benar pun, maknanya adalah sangat wajar, yaitu bahwa kita harus menerima hadits hanya yang sejalan dengan al-Qur'an. Justru para ulama semuanya sepakat bahwa, Hadits yang sahih, meskipun menetapkan ajaran secara tersendiri, tidak ada yang bertentangan dengan al-Qur'an. Pembelaan al-Siba'i atas sunnah sebagai hadits itu mewakili pandangan yang sangat umum di kalangan para ulama. Namun ia tidak memberi kejelasan tentang bagaimana efek kenyataan sejarah bahwa untuk sampai pada koleksi dan kodifikasi hadits seperti sekarang ini proses-proses yang amat sulit harus dilewati, khususnya proses pemisahan mana dari laporan-laporan hadits itu otentik dan yang palsu. masih tetap diperlukan adanya argumen yang kukuh dan mendasar untuk pandangan bahwa klasifikasi yang ada sekarang adalah terpercaya, atau sudah tidak lagi memerlukan peninjauan kembali. Batu penarung bagi pandangan ini ialah kenyataan bahwa zaman sekarang ditandai dengan mudahnya diperoleh bahan bacaan di semua bidang, termasuk bidang-bidang yang dapat dijadikan landasan kajian perbandingan ilmu kritik hadits, baik dari segi metodologinya maupun dari segi hasil-hasil yang telah dicapai. Karena itu pada zaman sekarang akan lebih mudah bagi mereka yang berminat secara khusus untuk meneliti kembali hadits-hadits dan membuat klasifikasi baru tentang sahih-tidaknya matan-matan dan riwayat-riwayat yang ada. Sebenarnya hal ini dapat sekedar merupakan pengulangan atau penerapan kembali metodologi Imam al-Bukhari, tapi dengan dibantu oleh penggunaan kemudahan-kemudahan yang ditawarkan oleh zaman modern, baik dari segi perangkat kerasnya (material dan bahan bacaan yang tersedia) maupun perangkat lunaknya (metodologi kritiknya). Imam al-Bukhari sendiri sekedar meneruskan dan menerapkan dengan setia teori dan prinsip-prinsip riset hadits yang diletakkan oleh Imam al-Syafi'i. Dorongan untuk meletakkan teori dan metodologinya itu ialah keprihatinan al-Syafi'i oleh adanya kekacauan dan berkecamuknya usaha pemalsuan laporan-laporan hadits di zamannya, yang laporan-laporan itu sendiri semula dan kebanyakan bergaya anekdotal tentang generasi Islam yang telah lewat, mencakup tentang Nabi sendiri dan para sahabat. Karena itu hadits juga disebut Khabar, Akhbar, Riwayah, Atsar, dan lain-lain, yang kesemuanya menunjukkan sisa pengertiannya yang mula-mula, yaitu kabar, berita, penuturan, peninggalan, dan lain-lain. Maka yang dilakukan al-Syafi'i mempunyai nilai yang sungguh besar, dengan pengaruh yang sampai sekarang dirasakan oleh seluruh umat Islam. Tapi yang telah dilakukan banyak daripada sekedar penelitian hadits. Tokoh oleh imam al-Syafi'i jauh lebih meletakkan dasar-dasar metodologi pendiri madzhab yang penganutnya

banyak di negeri kita ini juga diakui jasanya sebagai yang meletakkan dasar-dasar metodologi penetapan syari'ah, yang justru terasa semakin relevan dengan keadaan zaman sekarang ini. Menurut Marshall Hodgson --yang dapat kita anggap sebagai seorang peninjau netral dan cukup jujur-- al-Syafi'i berjasa sebagai seorang sarjana yang dengan penuh kesadaran meletakkan prinsip adanya pertimbangan historis bagi penetapan syari'ah. Hal itu tercermin dalam konsepnya tentang nasikh-mansukh, yaitu konsep yang memandang kemungkinan suatu hukum dihapuskan oleh hukum yang lain dalam Islam, disebabkan adanya pertimbangan baru berkenaan dengan lingkungan (dharf), baik lingkungan ruang (dharf al-makan) maupun lingkungan waktu (dharf al-zaman). [3] Berdasarkan metodologid al-Syafi'i itu maka terkenal sekali rumus hukum Islam yang mengatakan bahwa hukum berubah oleh perubahan zaman dan tempat. Terutama perubahan zaman, semua ulama sepakat bahwa hal itu tidak dapat dielakkan akan membawa perubahan hukum. Prinsip ini tercermin dalam dua kalimat rumusannya dalam bahasa Arab, [Tulisan Arab] yang artinya, "Perubahan hukum oleh perubahan zaman. Tidak dapat diingkari perubahan hukum oleh perubahan zaman). [4] Untuk dapat melaksanakan prinsip amat penting itu tidaklah mudah. Salah satu yang mesti diperlukan ialah kemampuan menangkap "pesan zaman", sehingga suatu hukum dapat diterapkan secara efektif karena relevan dengan pesan zaman itu. Ini berarti juga menuntut kemampuan membuat generalisasi atau abstraksi dari hukum-hukum yang ada menjadi prinsip-prinsip umum yang berlaku untuk setiap zaman dan tempat. Dan berlakunya suatu prinsip untuk segala zaman dan tempat adalah berarti kemestian memberi peluang pada prinsip itu untuk dilaksanakan secara teknis dan kongkret menurut tuntutan ruang dan waktu. Karena ruang dan waktu berubah, maka tuntutan spesifiknya pun tentu berubah, dan ini membawa perubahan hukum. Maka yang berubah bukanlah prinsipnya, melainkan pelaksanaan teknis dan kongkret hukum itu dalam masyarakat tertentu dan masa tertentu. Iman al-Syafi'i khususnya, dan madzhab Syafi'i umumnya meletakkan dasar metodologi generalisasi dan abstraksi (ta'mim, istiqra, tajrid) tersebut dalam lima cara pendekatan pada setiap ketentuan hukum, yaitu: 1) semua perkara harus diperhatikan maksud dan tujuannya; 2) bahaya harus dihilangkan atau dihindari; 3) adat kebiasaan adalah sumber penetapan hukum; 4) hal mantap tidak boleh dihapus oleh hal yang meragukan; 5) kesulitan pelaksanaan harus menghasilkan kemudahan hukum. Dalam bahasa Arab, kelima prinsip itu diberi patokan rumusan baku sebagai berikut, [5] [Tulisan Arab] Kemudian, sesuai dengan kebiasaan klasik dalam budaya Islam, kelima prinsip itu oleh seorang penganut Syafi'i didendangkan dalam bentuk syair, demikian: [Tulisan Arab] Jika diperhatikan benar-benar metodologi Imam al-Syafi'i itu literer madzhab

maka sesungguhnya terdapat dorongan yang cukup kuat untuk mendekati suatu ketentuan tekstual, baik dalam Kitab Suci maupun dalam hadits tidak secara harfiah, melainkan dengan penarikan ide prinsipil atau fikrah mabda iyyah atau fikrah ushuliyyah yang dikandungnya, dan yang menjadi inti hikmah tasyri' dari ketentuan yang ada. Oleh karena tema-tema hadits umumnya bersifat ad hoc dan lepas dari keseluruhan kepribadian Nabi, maka abstraksi dan generalisasi dari hadits menghasilkan problema dan kesulitan yang tidak kecil. Padahal hanya dari abstraksi dan generalisasi itu kita dapat memahami sunnah Nabi, dan bukannya sekedar menyamakan begitu saja makna dan semangat sunnah dengan teks-teks laporan hadits. CATATAN 1.Dr. Mushthafa al-Siba'i, "Al-A'ashir fi wajh al-Sunnah Hadits-an" dalam majalah Al-Muslimin, Damaskus, No. 3 (Syawal 1374 H/Ayyar [Mei 1955]), hal. 24-26. Meskipun Al-Siba'i tidak menyebutkan nama tokoh Ingkar Hadits ini, namun dari bukunya. Al-Sunnah wa Makanatuha fi al-Tasyri' al-Islami, nama itu dapat diperkirakan sebagai Dr. Ahmad Amin, seorang penganut modernisme Islam yang terkenal. (Al-Siba'i, Al-Sunnah, Nurcholish Madjid (terj & ed) (Jakarta: Pustaka Firdaus, tt). 2.Ibid, hal. 27. 3.Marshall G.S. Hodgson, The Venture of Islam, 3 jilid (Chicago: The University of Chicago Press, 1974), jilid 33, hal.437. Menurut Hodgson, sesungguhnya yang dikembangkan oleh Imam al-Syafi'i adalah prinsip-prinsip yang tendensinya sudah terlihat di zaman Nabi sendiri, jadi memiliki tingkat otentisitas yang tinggi, dan Hodgson melihat pada metodologi itu sebagai salah satu sumber ketentuan dan kemampuan Islam menjawab tantangan zaman, khususnya zaman modern sekarang ini. Maka berkenaan dengan ini menarik sekali keputusan para ulama NU seluruh Indonesia di Tambakberas, Jombang, beberapa waktu yang lalu, yang menetapkan bahwa penganutan kepada madzhab Syafi'i seyogyanya tidak terbatas hanya kepada pendapat-pendapat spesifik (qawl) beliau saja, tetapi lebih penting lagi ialah kepada metodologi (manhaj, minhaj) yang dirintis dan dikembangkannya. 4.Mushthafa Ahmad al-Zarqa, "Taghayyur al-Ahkam bi Taghayyur al-Azman," dalam majalah Al-Muslimun, Damaskus, No. 8 (Syawal 1373 H/Juni 1954 M), hal. 34. 5."Tarikh al-Qawa'id al-Kulliyyah fi al-Syari'at al-Islamiyyah," dalam majalah Al-Muslimun Damaskus, No. 12 (Syawal 1373 H/Mei 1955 M), hal. 17. -------------------------------------------Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah Editor: Budhy Munawar-Rachman Penerbit Yayasan Paramadina Jln. Metro Pondok Indah Pondok Indah Plaza I Kav. UA 20-21 Jakarta Selatan

Telp. (021) 7501969, 7501983, 7507173 Fax. (021) 7507174 Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota
Please direct any suggestion to Media Team

Artikel Yayasan Paramadina
Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota III.8. ANTARA SUKMA NURANI DAN SUKMA DHULMANI oleh Jalaluddin Rakhmat Menurut para sufi, manusia adalah mahluk Allah yang paling sempurna di dinia ini. Hal ini, seperti yang dikatakan Ibnu'Arabi manusia bukan saja karena merupakan khalifah Allah di bumi yang dijadikan sesuai dengan citra-Nya, tetapi juga karena ia merupakan mazhaz (penampakan atau tempat kenyataan) asma dan sifat Allah yang paling lengkap dan menyeluruh. Allah menjadikan Adam (manusia) sesuai dengan citra-Nya. Setelah jasad Adam dijadikan dari alam jisim, kemudian Allah meniupkan ruh-Nya ke dalam jasad Adam. Allah berfirman: Maka apabila Aku telah menyempurnakan tiupkan kepadanya ruh-Ku (QS. 15: 29) kejadiannya dan Aku

Jadi jasad manusia, menurut para sufi, hanyalah alat, perkakas atau kendaraan bagi rohani dalam melakukan aktivitasnya. Manusia pada hakekatnya bukanlah jasad lahir yang diciptakan dari unsur-unsur materi, akan tetapi rohani yang berada dalam dirinya yang selalu mempergunakan tugasnya. Karena itu, pembahasan tentang jasad tidak banyak dilakukan para sufi dibandingkan pembahasan mereka tentang ruh (al-ruh), jiwa (al-nafs), akal (al-'aql) dan hati nurani atau jantung (al-qalb). RUH DAN JIWA (AL-RUH DAN AL-NAFS) Banyak ulama yang menyamakan pengertian antara ruh dan jasad. Ruh berasal dari alam arwah dan memerintah dan menggunakan jasad sebagai alatnya. Sedangkan jasad berasal dari alam ciptaan, yang dijadikan dari unsur materi. Tetapi para ahli sufi membedakan ruh dan jiwa. Ruh berasal dari tabiat Ilahi dan cenderung kembali ke asal semula. Ia selalu dinisbahkan kepada Allah dan tetap berada dalam keadaan suci. Karena ruh bersifat kerohanian dan selalu suci, maka setelah ditiup Allah dan berada dalam jasad, ia tetap suci. Ruh di dalam diri manusia berfungsi sebagai sumber moral yang baik dan mulia. Jika ruh merupakan sumber akhlak yang mulia dan terpuji, maka lain halaya dengan jiwa. Jiwa adalah sumber akhlak tercela, al-Farabi, Ibn Sina dan al-Ghazali membagi jiwa pada: jiwa nabati (tumbuh-tumbuhan), jiwa hewani (binatang) dan jiwa insani. Jiwa nabati adalah kesempurnaan awal bagi benda alami yang

organis dari segi makan, tumbuh dan melahirkan. Adapun jiwa hewani, disamping memiliki daya makan untuk tumbuh dan melahirkan, juga memiliki daya untuk mengetahui hal-hal yang kecil dan daya merasa, sedangkan jiwa insani mempunyai kelebihan dari segi daya berfikir (al-nafs-al-nathiqah). Daya jiwa yang berfikir (al-nafs-al-nathiqah atau al-nafs-al-insaniyah). Inilah, menurut para filsuf dan sufi, yang merupakan hakekat atau pribadi manusia. Sehingga dengan hakekat, ia dapat mengetahui hal-hal yang umum dan yang khusus, Dzatnya dan Penciptaannya. Karena pada diri manusia tidak hanya memiliki jiwa insani (berpikir), tetapi juga jiwa nabati dan hewani, maka jiwa (nafs) manusia mejadi pusat tempat tertumpuknya sifat-sifat yang tercela pada manusia. Itulah sebabnya jiwa manusia mempunyai sifat yang beraneka sesuai dengan keadaannya. Apabila jiwa menyerah dan patuh pada kemauan syahwat dan memperturutkan ajakan syaithan, yang memang pada jiwa itu sendiri ada sifat kebinatangan, maka ia disebut jiwa yang menyuruh berbuat jahat. Firman Allah, "Sesungguhnya jiwa yang demikian itu selalu menyuruh berbuat jahat." (QS. 12: 53) Apabila jiwa selalu dapat menentang dan melawan sifat-sifat tercela, maka ia disebut jiwa pencela, sebab ia selalu mencela manusia yang melakukan keburukan dan yang teledor dan lalai berbakti kepada Allah. Hal ini ditegaskan oleh-Nya, "Dan Aku bersumpah dengan jiwa yang selalu mencela." (QS. 75:2). Tetapi apabila jiwa dapat terhindar dari semua sifat-sifat yang tercela, maka ia berubah jadi jiwa yang tenang (al-nafs al-muthmainnah). Dalam hal ini Allah menegaskan, "Hai jiwa yang tenang, kembalilah kepada Tuhanmu dengan rasa puas lagi diridhoi, dan masuklah kepada hamba-hamba-Ku, dan masuklah ke dalam Surga-Ku." (QS. 89:27-30) Jadi, jiwa mempunyai tiga buah sifat, yaitu jiwa yang telah menjadi tumpukan sifat-sifat yang tercela, jiwa yang telah melakukan perlawanan pada sifat-sifat tercela, dan jiwa yang telah mencapai tingkat kesucian, ketenangan dan ketentraman, yaitu jiwa muthmainnah. Dan jiwa muthmainnah inilah yang telah dijamin Allah langsung masuk surga. Jiwa muthmainnah adalah jiwa yang selalu berhubungan dengan ruh. Ruh bersifat Ketuhanan sebagai sumber moral mulia dan terpuji, dan ia hanya mempunyai satu sifat, yaitu suci. Sedangkan jiwa mempunyai beberapa sifat yang ambivalen. Allah sampaikan, "Demi jiwa serta kesempurnaannya, Allah mengilhamkan jiwa pada keburukan dan ketaqwaan." (QS.91:7-8). Artinya, dalam jiwa terdapat potensi buruk dan baik, karena itu jiwa terletak pada perjuangan baik dan buruk. AKAL Akal yang dalam bahasa Yunani disebut nous atau logos atau intelek (intellect) dalam bahasa Inggris adalah daya berpikir yang terdapat dalam otak, sedangkan "hati" adalah daya jiwa (nafs nathiqah). Daya jiwa berpikir yang ada pada otak di kepala disebut akal. Sedangkan yang ada pada hati (jantung) di dada disebut rasa (dzauq). Karena itu ada dua sumber pengetahuan, yaitu pengetahuan akal (ma'rifat aqliyah) dan

pengetahuan hati (ma'rifat qalbiyah). Kalau para filsuf mengunggulkan pengetahuan akal, para sufi lebih mengunggulkan pengetahuan hati (rasa). Menurut para filsuf Islam, akal yang telah mencapai tingkatan tertinggi --akal perolehan (akal mustafad)-ia dapat mengetahui kebahagiaan dan berusaha memperolehnya. Akal yang demikian akan menjadikan jiwanya kekal dalam kebahagiaan (sorga). Namun, jika akal yang telah mengenal kebahagiaan itu berpaling, berarti ia tidak berusaha memperolehnya. Jiwa yang demikian akan kekal dalam kesengsaraan (neraka). Adapun akal yang tidak sempurna dan tidak mengenal kebahagiaan, maka menurut al-Farabi, jiwa yang demikian akan hancur. Sedangkan menurut para filsuf tidak hancur. Karena kesempurnaan manusia menurut para filsuf terletak pada kesempurnaan pengetahuan akal dalam mengetahui dan memperoleh kebahagiaan yang tertinggi, yaitu ketika akan sampai ke tingkat akal perolehan. HATI SUKMA (QALB) Hati atau sukma terjemahan dari kata bahasa Arab qalb. Sebenarnya terjemahan yang tepat dari qalb adalah jantung, bukan hati atau sukma. Tetapi, dalam pembahasan ini kita memakai kata hati sebagaimana yang sudah biasa. Hati adalah segumpal daging yang berbentuk bulat panjang dan terletak di dada sebelah kiri. Hati dalam pengertian ini bukanlah objek kajian kita di sini, karena hal itu termasuk bidang kedokteran yang cakupannya bisa lebih luas, misalnya hati binatang, bahkan bangkainya. Adapun yang dimaksud hati di sini adalah hati dalam arti yang halus, hati-nurani --daya pikir jiwa (daya nafs nathiqah) yang ada pada hati, di rongga dada. Dan daya berfikir itulah yang disebut dengan rasa (dzauq), yang memperoleh sumber pengetahuan hati (ma'rifat qalbiyah). Dalam kaitan ini Allah berfirman, "Mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakan memahaminya." (QS. 7:1-79). Dari uraian di atas, dapat kita ambil kesimpulan sementara, bahwa menurut para filsuf dan sufi Islam, hakekat manusia itu jiwa yang berfikir (nafs insaniyah), tetapi mereka berbeda pendapat pada cara mencapai kesempurnaan manusia. Bagi para filsuf, kesempurnaan manusia diperoleh melalui pengetahuan akal (ma'rifat aqliyah), sedangkan para sufi melalui pengetahuan hati (ma'rifat qalbiyah). Akal dan hati sama-sama merupakan daya berpikir. Menurut sufi, hati yang bersifat nurani itulah sebagai wadah atau sumber ma'rifat --suatu alat untuk mengetahui hal-hal yang Ilahi. Hal ini hanya dimungkinkan jika hati telah bersih dari pencemaran hawa nafsu dengan menempuh fase-fase moral dengan latihan jiwa, serta menggantikan moral yang tercela dengan moral yang terpuji, lewat hidup zuhud yang penuh taqwa, wara' serta dzikir yang kontinyu, ilmu ladunni (ilmu Allah) yang memancarkan sinarnya dalam hati, sehingga ia dapat menjadi Sumber atau wadah ma'rifat, dan akan mencapai pengenalan Allah Dengan demikian, poros jalan sufi ialah moralitas. Latihan-latihan ruhaniah yang sesuai dengan tabiat terpuji

adalah sebagai kesehatan hati dan hal ini yang lebih berarti ketimbang kesehatan jasmani sebab penyakit anggota tubuh luar hanya akan membuat hilangnya kehidupan di dunia ini saja, sementara penyakit hati nurani akan membuat hilangnya kehidupan yang abadi. Hati nurani ini tidak terlepas dari penyakit, yang kalau dibiarkan justru akan membuatnya berkembang banyak dan akan berubah menjadi hati dhulmani --hati yang kotor. Kesempurnaan hakikat manusia (nafs insaniyah) ditentukan oleh hasil perjuangan antara hati nurani dan hati dhulmani. Inilah yang dimaksud dengan firman Allah yang artinya, "Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang mensucikan jiwanya, dan rugilah orang yang mengotorinya." (QS. 91:8-9). Hati nurani bagaikan cermin, sementara pengetahuan adalah pantulan gambar realitas yang terdapat di dalamnya. Jika cermin hati nurani tidak bening, hawa nafsunya yang tumbuh. Sementara ketaatan kepada Allah serta keterpalingan dari tuntutan hawa nafsu itulah yang justru membuat hati-nurani bersih dan cemerlang serta mendapatkan limpahan cahaya dari Allah Swt. Bagi para sufi, kata al-Ghazali, Allah melimpahkan cahaya pada dada seseorang, tidaklah karena mempelajarinya, mengkajinya, ataupun menulis buku, tetapi dengan bersikap asketis terhadap dunia, menghindarkan diri dari hal-hal yang berkaitan dengannya, membebaskan hati nurani dari berbagai pesonanya, dan menerima Allah segenap hati. Dan barangsiapa memiliki Allah niscaya Allah adalah miliknya. Setiap hikmah muncul dari hati nurani, dengan keteguhan beribadat, tanpa belajar, tetapi lewat pancaran cahaya dari ilham Ilahi. Hati atau sukma dhulmani selalu mempunyai keterkaitan dengan nafs atau jiwa nabati dan hewani. Itulah sebabnya ia selalu menggoda manusia untuk mengikuti hawa nafsunya. Kesempurnaan manusia (nafs nathiqah), tergantung pada kemampuan hati-nurani dalam pengendalian dan pengontrolan hati dhulmani. DAFTAR KEPUSTAKAAN Abu al-Wafi aI-Taftazani, Maduhal ila al-Tashawwuf al-Islamiy, Kairo, 1983. Ahmad Dandy, Allah dan Manusia Dalam Konsepsi Syeikh Nurudin al-Raniry Jakarta, Rajawali, 1983. Al-Farabi, Kitab Ara Ahl al-Madinah al-Fadhilah, Kairo, 1906. Al-Ghazali, Ihya Ulum al-Din, Kairo, 1334 H. ------, Ma'arij al-Quds fi Madarij Ma'rifah al-Nafs, Kairo, 1327 H. ------, Asnan al-Qur'an fi Ihya 'Ulum al-Din, Kairo. Harun Nasution, Falsafah dan Mistisisme Islam, Bulan Bintang, Jakarta, 1978. Muhyiddin Ibnu Arabi, Fushush al-Hikam, Kairo, 1949. --------------------------------------------

Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah Editor: Budhy Munawar-Rachman Penerbit Yayasan Paramadina Jln. Metro Pondok Indah Pondok Indah Plaza I Kav. UA 20-21 Jakarta Selatan Telp. (021) 7501969, 7501983, 7507173 Fax. (021) 7507174 Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota
Please direct any suggestion to Media Team

Artikel Yayasan Paramadina
Indeks Islam | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota III.17. PANDANGAN KESUFIAN TENTANG DIRI MANUSIA oleh M. Bambang Pranowo Elingana yen ana timbalan Yen wis budal ora kena wakilan, Ora kena wakilan Timbalane kang Maha Kuasa Gelem ora gelem bakale lunga (Ingatlah jika telah datang panggilan Kau harus pergi dan tak bisa kau wakilkan, tak bisa kau wakilkan Panggilan dari Yang Maha Kuasa Mau tak mau kau harus pergi jua) Nyanyian puitis di atas adalah penggalan dari sebuah nyanyian keagamaan yang cukup panjang. Di Jawa, nyanyian itu disebut pujian atau erang-erangan. Pujian tersebut biasanya didendangkan bersama-sama oleh para jemaah di langgar atau mesjid menjelang shalat Subuh, Maghrib atau Isya, sembari menanti datangnya anggota masyarakat lain yang turut mendirikan salat berjamaah. Mungkin berkat susunannya yang ritmis dan mudah dihapal maka pujian tersebut seringkali menjadi "nyanyian" populer yang dilakukan bukan hanya di mesjid dan langgar, tapi juga di sawah dan ladang ketika seseorang menggembalakan ternaknya, atau di rumah-rumah ketika ibu-ibu berusaha menidurkan anaknya. Tidak jelas siapa pengarang pujian yang cukup populer tersebut, terutama di desa-desa bagian Jawa Tengah Selatan. Namun, orang mengenal bahwa pujian semacam itu disebarkan oleh kalangan pesantren. Perlu dicatat, para kyai pemimpin pesantren kebanyakan juga pemimpin tarekat, sehingga tidak mengherankan kalau pujian yang diciptakan sarat dengan pesan-pesan kesufian. Dan, dari pujian tersebut tercermin sebuah permintaan agar manusia menyadari bahwa suka atau tidak, ia harus memenuhi panggilan Tuhan Yang Maha Kuasa untuk kembali ke haribaannya. Panggilan Tuhan tersebut tidak dapat didelegasikan kepada siapapun juga. Memang, di antara pesan kesufian yang terpenting adalah ajakan agar manusia menyadari sepenuhnya sifat kefanaan dari kehidupan dunia ini. Oleh karena dunia bersifat fana dan yang kekal hanyalah Tuhan, maka dunia ini dipandang benar-benar

Yang termasuk dalam kategori ini.bermakna hanya apabila ia senantiasa diorientasikan kepada Tuhan. di antara cermin dan sumber cahaya terdapat penghalang yang tidak memungkinkan cahaya Ilahi menerpa cermin tersebut. vol. tahta dan kesenangan lahir sebagai orientasi hidupnya. puasa Senin. di dunia yang fana ini. mengapa manusia seringkali lalai dan lupa kepada Tuhan dan detik-detik kehadirannya di dunia ini justru lebih banyak tersita untuk hal-hal yang bersifat jasadi atau lahiriah belaka? Imam Ghazali menjawab masalah ini dengan Teori Cermin (al-Mir'ah) dalam karyanya yang sangat terkenal itu --Ihya' 'ulum al-Din. sehingga Aku sayang kepadanya adalah menunaikan semua perintah yang telah Aku berikan. puasa Nabi Daud. ia dianggap sudah tiada. orang-orang yang menjadikan harta. Kamis. Hamba-Ku adalah mereka yang mendekatkan dirinya kepada-Ku dan melakukan pula hal-hal sunnah yang Aku cintai.. Kedua. cermin tersebut memang membelakangi sumber cahaya hingga memang tak dapat diharapkan dapat tersentuh oleh cahaya petunjuk Ilahi. Agar hati manusia selalu dapat menjadi cermin yang bening. Lalai dari kesadaran berketuhanan berarti manusia telah terjerat oleh perangkat serba kefanaan. cerminnya terlalu kotor sehingga cahaya Ilahi yang seterang apapun tidak dapat ditangkap dengan cermin rohani yang dimilikinya. Melaksanakan secara intensif berbagai amalan sunnah tersebut tak lain merupakan usaha mengamalkan sebuah hadits Qudsi sebagai berikut: Kepada orang yang memusuhi Wali-Ku. Inilah yang menerangkan mengapa di lingkungan pesantren dan di kalangan para penganut tarekat. dan lebih-lebih usaha senantiasa mempertautkan diri dengan Allah melalui dzikir merupakan hal yang sangat sentral dalam kehidupan sehari-hari mereka. Ibadat yang paling mendekatkan Hamba-Ku. Ketiga. Contoh yang sangat tepat untuk kategori ini orang-orang kafir yang dengan sadar mengingkari keberadaan Tuhan. Sedangkan jika manusia tidak mampu menangkap sinyal-sinyal spiritual dari Tuhan. TEORI CERMIN AL-GHAZALI Bagaimanapun roh atau sukma akan kembali kepada Tuhan. itu pada dasarnya disebabkan tiga kemungkinan. Begitu sukma meninggalkan raga. t.t. riyadlah atau latihan kerohanian dalam berbagai bentuk amalan sunnah --salat sunnah. Pertama. Yang termasuk dalam kategori ini adalah mereka yang dilumuri dengan perbuatan-perbuatan kotor dan aniaya. Ia lupa bahwa manusia disebut manusia tidak lain karena roh sukma yang ditiupkan Tuhan masih melekat di jasad atau raganya. sedangkan petunjuk Tuhan bagaikan nur atau cahaya. . ia harus senantiasa berusaha memurnikan diri dengan jalan menguasai nafsu-nafsu rendah serta mengikuti perjalanan hidup para nabi melalui berbagai latihan kerohanian (riyadlah). Dalam "perangkap" seperti itu manusia cenderung berorientasi hanya kepada usaha mewujudkan kesenangan sementara yang segera dapat dinikmati kini dan di sini. hati manusia ibarat cermin. Dalam kenyataannya. Menurut Imam Ghazali. akan Kunyatakan perang. 119-125). Dengan demikian jika hati manusia benar-benar bersih niscaya ia akan bisa menangkap cahaya petunjuk Ilahi dan memantulkan cahaya tersebut ke sekitarnya (lihat Ghazali.I: h.

mengatakan bahwa siapa yang bertasawuf tanpa mengamalkan fiqh.Apabila Aku telah mencintainya. ia zindiq dan siapa yang mengamalkan fiqh tanpa bertasawuf. Segala pujian dilimpahkan orang kepada si Alim atas kesalehan dan kealimannya. Di sebuah desa hidup seorang yang dikenal oleh kalangan luas sebagai orang yang sangat alim. salah seorang pendiri mazhab fiqih yang terkenal. Ibadah ritual akan jatuh nilainya menjadi seremonial tanpa isi jika ibadah tersebut dilaksanakan tanpa sikap batin yang dipimpin semata-mata oleh harapan memperoleh ridha Allah. Jangan-jangan dirinya rajin beribadah itu bukan karena Allah melainkan justru karena orang memujinya sebagai orang alim. dipandang sebagai kesombongan spiritual. Maqam-maqam tersebut dari . padahal sebenarnya ia tak lebih dari seorang maling!" Mendengar omongan seperti itu ia bukannya sedih melainkan bersyukur kepada Allah. Ayam dikembalikannya dan ia pun pulang dalam keadaan babak belur. Pada suatu pagi ia pun pergi menuju pasar di seberang desa. maka di kalangan kaum sufi ibadah ritual selalu dibarengi bahkan didahului oleh penggeledahan dan interogasi diri: apakah ibadah yang kita lakukan sudah benar-benar karena Allah dan bukannya karena yang lain? Dalam kaitannya dengan upaya rohani seperti itulah kisah sufistik yang dicatat dari pesantren --Tarekat Qadariah-Naqshabandiyah di Jawa Timur-. maka Aku-lah yang menjadi telinganya yang dipakai untuk mendengar. dan apabila ia meminta perlindungan akan Aku beri. Mendengar berbagai pujian tersebut si Alim jadi gelisah. dan Aku-lah kakinya untuk berjalan. ternyata ia hanya pura-pura alim. ya Allah. keberanian untuk melakukan penggeledahan dan interogasi diri merupakan inti keberagamaan dan sekaligus bagaikan tangga naik yang akan mengantarkan diri seseorang kepada derajat yang terus meningkat dari suatu tingkat (maqam) tertentu ke tingkat rohani berikutnya yang lebih tinggi. Apabila dia meminta kepada-Ku akan Aku beri. Aku-lah tangannya untuk bekerja. ia fasiq (tak bermoral). (Riwayat Bukhari dan Abi Hurairah) Apabila seseorang telah melaksanakan berbagai ibadah secara intensif. Sesampainya di pasar secara demonstratif ia sengaja mencuri ayam yang sedang diperjualbelikan. Agar ibadah ritual benar-benar dapat bermakna dan tak jatuh ke nilai seremonial yang tanpa isi.merupakan ilustrasi relatif menarik. tetapi insya Allah benar-benar karena Engkau semata. Aku-lah matanya untuk melihat. Dalam kaitan ini Imam Malik. Sebaliknya sikap batin yang tidak diaktualisasikan dalam bentuk pelaksanann ibadah sebagaimana yang dituntunkan syariat dan dicontohkan oleh Nabi. dari sudut pandang kesufian. Dengan demikian. Karena tertangkap basah maka iapun dipukuli banyak orang. hal itu dalam pandangan kesufian tidak secara otomatis merupakan jaminan bahwa orang tersebut akan sampai pada tujuan hakiki dari ibadah yakni terjalinnya hubungan konstan dengan Allah. yang menjurus kapada zindiq (penyelewengan). hidup ini merupakan pergulatan terus-menerus dengan diri sendiri. Setibanya di rumah ia langsung sujud syukur "Alkhamdulillah. Orang sepasar akhirnya bergumam: "Oh." Demikianlah. kini aku beribadah bukan karena manusia.

dibenci. yakni lepasnya pandangan keduniaan dan usaha memperolehnya dari diri orang yang sebetulnya mampu untuk memperolehnya. (6) Maqam Syukur. Namun. yaitu menahan diri untuk tidak melakukan sesuatu dalam rangka menjunjung tinggi perintah-Nya. Mengenal selintas maqam-maqam tersebut seolah-olah mustahil nilai-nilai kesufian tersebut dapat diwujudkan dalan kehidupan yang sudah serba modern ini. Dan. yaitu sikap hati yang bergantung hanya kepada Allah dalam menghadapi segala sesuatu baik yang disukai. ataukah ia akan mengarahkan sukmanya sehingga sang sukmalah yang memimpin kebutuhan jasadi agar senantiasa berada dalam terpaan cahaya . melalui sudut pandang kesufian kiranya kehidupan beragama akan marnpu mewujudkan pribadi-pribadi yang seimbang seperti itu. semua itu mengantarkan kita pada kesimpulan bahwa pola kehidupan yang semata-mata dipimpin oleh otak (head) dan ketrampilan teknologis (hand) itu perlu diimbangi dan dikendalikan dengan kebeningan hati (heart). (8) Maqam Raja'. yaitu tenang serta tabah sewaktu melarat dan mengutamakan orang lain di kala berada. ialah ketabahan dalam menghadapi dan mendorong hawa nafsu. (9) Maqam Tawakkal. (2) Maqam Wara'. diharapkan. serta materialisme yang cenderung mencekal nilai-nilai spiritual. ialah rasa puas di hati sekalipun menerima nasib pahit. (10)Maqam Ridla.yang terendah hingga yang tertinggi dikenal di kalangan kaum sufi dengan istilah-istilah sebagai berikut: (1) Maqam Tawbat. Menengok pada luka menganga yang menjangkiti dunia modern seperti konsumerisme yang seolah tak mengenal kata puas. sukma yang berada dalam kegelapan). ialah rasa ngeri dalam menghadapi siksa Allah atau tidak tercapainya kenikmatan dari Allah. maupun ditakuti. Akhirnya. (7) Maqam Khauf. yakni hati yang diliputi rasa gembira karena mengetahui kemurahan dari Allah yang menjadi tumpuan harapannya. (3) Maqam Zuhud. maka maqam-maqam tersebut adalah acuan yang memang harus dimiliki mereka yan benar-benar merindukan leburnya diri kembali kepada Yan Maha Hakiki. jika maqam-maqam tersebut dipandang sebagai tidak lain dari upaya pendakian rohani menuju ridla Allah. semua itu terpulang kepada manusia sendri apakah ia akan menundukkan sukmanya kepada kehidupan yang berorientasi pada kebutuhan jasadi yang bersifat kini dan di sini (sukma dhulmani. (5) Maqam Faqir. (4) Maqam Shabar. hedonisme yang telah menyebabkan merajalelanya AIDS. yaitu menyadari bahwa segala kenikmatan itu datangnya dari Allah semata. yakni meninggalkan dan tidak mengulangi lagi perbuatan dosa yang pernah dilakukan dan dosa-dosa sepadannya demi menjunjung tinggi ajaran Allah dan mengingkari murka-Nya.

Dawam Rahardjo (ed. Di dalam tradisi kaum sufi terdapat postulat yang berbunyi: Man 'arafa nafsahu faqad 'arafa rabbabu --Siapa yang telah mengenal dirinya maka ia (akan mudah) mengenal Tuhannya.Ilahi. 1985. 1981. Madjid. Johns. LP3ES.N. sehingga masih harus berjuang untuk menyempurnakan dirinya (QS. Jakarta. hal. 1977. dalam M. vol. Pekalongan. hanif dan berakal. MANUSIA DAN PROSES PENYEMPURNAAN DIRI oleh Komaruddin Hidayat Secara tegas Allah menyatakan bahwa manusia merupakan puncak ciptaan-Nya dengan tingkat kesempurnaan dan keunikan-Nya yang prima dibanding makhluk lainnya (QS. 2 (1961). Imam. DAFTAR KEPUSTAKAAN Firdaus A. Al-Ghazali. "Sufism As a Category in Indonesian Literature And History." dalam Journal of Southeast Asian History. Lebih dari itu bagi seorang mukmin petunjuk primordial ini masih ditambah lagi dengan datangnya Rasul Tuhan pembawa kitab suci sebagai petunjuk hidupnya (QS. (021) 7501969. 7501983. Proses penyempurnaan ini amat dimungkinkan karena pada naturnya manusia itu fithri. masih belum selesai atau setengah jadi. 4:174).. Berjan.I. UA 20-21 Jakarta Selatan Telp. Yayasan Kesejahteraan Bersama. 7507173 Fax.. "Tasauf dan Pesantren". Purwokerto. 95:4). "Jalan ke Surga" (Kumpulan 772 Hadist Qudsi). "Ihya' 'Ulum al-Din". (dengan terjemahan Jiwa oleh Misbah Zaini Mustofa). Metro Pondok Indah Pondok Indah Plaza I Kav. Raja Murah. A. -------------------------------------------Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah Editor: Budhy Munawar-Rachman Penerbit Yayasan Paramadina Jln.) Pesantren dan Pembaharuan. Namun begitu Allah juga memperingatkan bahwa kualitas kemanusiaannya. Nurcholish.H. Jadi. Zarkasyi. tanpa tahun. Pesantren Raudlatul Thulab. 10-23. 91:7-10). vol. Muhamad Nawawi Shidiq.16. "Soal-Jawab Thoriqiyah".. (021) 7507174 Indeks Islam | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota Please direct any suggestion to Media Team Artikel Yayasan Paramadina Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota III. pengenalan diri adalah tangga yang harus dilewati seseorang untuk mendaki ke jenjang yang lebih tinggi dalam rangka .

Each theory becomes a Procrustean bed in which the empirical facts are stretched to fit a preconceived pattern. bila ilmu fiqih cenderung mengenalkan Tuhan sebagai Maha Hakim. Semakin seorang ahli pikir mendalami satu sudut kajian tentang manusia. Marx enthrones the economic instinct. Differensiasi metodologis setiap ilmu. Sederet disiplin ilmu seperti psikologi. sebaliknya. kini manusia semakin mendapatkan kesulitan untuk mengenali jati diri dan hakikat kemanusiaannya Dengan majunya spesialisasi dalam dunia ilmu pengetahuan dan berkembangnya differensiasi dalam profesi kehidupan maka protret atau konsep tentang realitas manusia semakin terpecah meniadi kepingan-kepingan kecil sehingga keutuhan sosok manusia semakin sulit dihadirkan secara utuh. sementara manusia adalah subyek-subyek yang cenderung membangkang dan harus siap menerima vonis-vonis dari kemurkaan Tuhan Sang Maha Hakim atau. filsuf. misalnya. antropologi. Terjadinya ideologisasi terhadap ilmu-ilmu agama. oleh Ernst Cassirer. politik. biologi. Dalam tradisi ilmu fiqih misalnya. tetapi masing-masing memiliki metode dan tujuan yang berbeda. tumbuh dan berkembang dibentuk dan dipengaruhi oleh berbagai faktor yang dijumpai dalam realitas sejarah hidupnya. Jadi.mengenal Tuhan. akan melahirkan kesimpulan yang berbeda pula mengenai siapa dan apa hakikat manusia itu. secara tak langsung ilmu ini cenderung menghadirkan wajah Tuhan sebagai Yang Maha Hakim. Demikianlah manusia senantiasa mengandung sebuah misteri yang melekat pada dirinya dan misteri ini telah mengandung sebuah misteri yang melekat pada dirinya dan misteri ini telah mengundang kegelisahan intelektual pare ahli pikir untuk mencoba berlomba menjawabnya. Perbedaan-perbedaan ini muncul dalam benak manusia karena pada dasarnya yang bertuhan adalah manusia. p. Demikianlah. (Ernst Cassier. yang berarti semakin terputus dari pemahaman komprehensif tentang manusia. ekonomi. semakin jauh pula ia terkurung dalam bilik lorong yang ia masuki. bila langkah pertama untuk mengenal Tuhan adalah mengenal diri sendiri terlebih dahulu secara benar. sebagaimana diakui kalangan psikolog. meskipun obyek materialnya sama-sama manusia. Freud signalizes the sexual instinct. telah menghantarkan pada persepsi yang terpecah dalam melihat manusia dan hubungannya dengan Tuhan. secara sadar atau tidak. sosiologi. teologi dan lainnya semuanya menjadikan manusia sebagai obyek kajian materialnya. Krisis pengenalan jati diri manusia ini secara eksplisit dikemukakan. melainkan juga di kalangan Islam. Owing to this development our modern theory of man lost its intellectual center. Persoalan serius yang menghadang adalah. manusia pada akhirnya akan menuntut imbalan pahala atas ketaatannya melaksanakan dekrit-Nya. We acquired instead a complete anarchy of thought. dan ahli pikir pada umumnya.21) Krisis pengenalan diri sesungguhnya tidak hanya dirasakan kalangan ahli pikir Barat modern. sementara ilmu tasawuf memproyeksikan Tuhan sebagai Sang Kekasih. maka . 1978. maka ilmu kalam lebih menggarisbawahi gambaran Tuhan sebagai Maha Akal. kedokteran. katanya: Nietzsche proclaims the will to power. di mana manusia itu lahir.

animality. kemudian Aku ingin dikenal. Progressive reductionism works as follows. namun dengan beberapa penafsiran yang berbeda. pada umumnya orang sufi menerima hadits tersebut. 15:29. An art object is only mass and light waves. antara lain. Kuciptakanlah makhluk maka melalui Aku mereka kenal Aku. Bagi mereka yang berpandangan atau terbiasa dengan metode berpikir empirisme-materialistik akan sulit diajak untuk menghayati makna penyempurnaan kualitas insani sebagaimana yang lazim diyakini di kalangan pare sufi. yaitu paradigma materialisme-atheistik dan spiritualisme-theistik. 41:53). Meski demikian. faham ini telah mereduksi keagungan manusia yang dinyatakan Tuhan sebagai moral and religious being. misalnya. realitas manusia memiliki jenjang-jenjang dan mata rantai eksistensi. vegetality. dan akan mudah dijumpai pada berbagai bidang studi keilmuan Barat kontemporer dengan dalih. dan humanity. Menurut doktrin al-Qur'an. (Ralph ross. an act of love only chemiphysical. Dari jenjang pertama sampai ke tiga aktivitas dan daya jangkau manusia masih berada dalam lingkup dunia materi dan dunia materi selalu menghadirkan polaritas atau fragmentasi yang saling berlawanan (the primordial pair). the art object or act of love is only a flow of electricity. Terlepas apakah riwayatnya sahih ataukah lemah. 1962. Lebih dari itu dalam tradisi sufi terdapat keyakinan yang begitu populer bahwa manusia sengaja diciptakan Tuhan karena dengan penciptaan itu Tuhan akan melihat dan menampakkan kebesaran diri-Nya. Allah menyatakan bahwa dalam diri manusia memang terdapat unsur Ilahi yang dalam al-Qur'an beristilah "min ruhi. hal. Pandangan yang begitu dangkal tentang manusia secara tegas dikritik oleh al-Qur'an. mereka cenderung sepakat bahwa manusia adalah microcosmos yang memiliki sifat-sifat yang menyerupai Tuhan dan paling potensial mendekati Tuhan (Bandingkan QS. Kritik terhadap aliran materialisme akhir-akhir ini semakin gencar." Pendek kata. 8). Yang pertama berkeyakinan pada teori bahwa semua realitas materi (downward causation). manusia adalah wakil Tuhan di muka bumi untuk melaksanakan 'blueprint'-Nya membangun bayang-bayang surga di bumi ini (QS. secara sederhana kita bisa membedakan dua paradigma pemahaman terhadap manusia. tempuh ialah bagaimana Meskipun Cassirer secara gamblang menunjukkan krisis pengenalan diri. Bila diurut dari bawah unsurnya ialah minerality. Ralph Ross. sebaliknya yang kedua berkeyakinan bahwa dunia materi ini hakikatnya berasal dari realitas yang bersifat imateri (upward causation). Dalam konteks inilah . Kuntu kanzan makhfiyyan fa ahbabtu an u'rafa fa khalaqtu al-khalqa fabi 'arafu-ni --Aku pada mulanya adalah harta yang tersembunyi. therefore.langkah pertama yang harus kita mengenal diri kita secara benar. 2:3). only electrical charges. Dalam QS. misalnya. memberikan contoh yang amat sederhana tetapi gamblang betapa miskinnya penganut materialisme dalam memahami kehidupan yang penuh nuansa ini.

Artinya." Maqam ketiga tahaqquq. yang pertumbuhannya sering terhalangi oleh pertumbuhan dan naluri jiwa nabati dan hewani yang melekat pada manusia. Jadi. dzikir atau ta'alluq pada Tuhan. dahaga dan kerinduan mendekati Tuhan ini bukanlah hasil rekayasa pendidikan (kultur) melainkan merupakan natur manusia yang paling dalam. Dalam konteks ini kalangan sufi biasanya menyandarkan Hadits Nabi yang berbunyi. penuh damai. Proses ini bisa juga disebut sebagai proses internalisasi sifat Tuhan ke dalam diri manusia. 3:191). Yaitu. Dari dzikir ini meningkat sampai maqam kedua -takhalluq. Secara garis besar tahapan seorang mukmin untuk meningkatkan kualitas jiwanya terdiri dari tiga maqam. Di manapun seorang mukmin berada. berusaha mengingat dan mengikatkan kesadaran hati dan pikiran kita kepada Allah. "Takhallaqu bi akhlaq-i Allah. Pertama. dan makin jauh pula manusia untuk mampu mengenal dirinya secara utuh. bahkan dalam tradisi pemikiran filsafat akan mudah pula dijumpai. jiwa yang tadinya duduk dan memerintah dari atas singgasana "imateri" dengan sifat-sifatnya yang mulia seperti: cinta kasih. sehingga ia bisa sedekat mungkin dengan Tuhan yang Maha Suci.yang dimaksud bahwa realitas yang kita tangkap tentang dunia materi adalah realitas yang terpecah berkeping-keping. pada nurani manusia yang terdapat dalam cahaya suci yang senantiasa ingin menatap Yang Maha Cahaya (Tuhan) karena dalam kontak dan kedekatan antara nurani dan Tuhan itulah muncul kedamaian dan kebahagiaan yang paling prima. Ajaran spiritualitas seperti ini tidak hanya terdapat pada Islam melainkan pada agama lain. namun para sarjana muslim sepakat bahwa inti tasawuf adalah ajaran yang menyatakan bahwa hakekat keluhuran nilai seseorang bukanlah terletak pada wujud fisiknya melainkan pada kesucian dan kemuliaan hatinya. senang kesucian. Dalam kaitan definisi. tradisi tasawuf belum mempunyai definisi tunggal. dan animality. Bila hal ini terjadi maka terjadilah kerancuan standar nilai. "Keakuan" orang bukan lagi difokuskan pada kesucian jiwa tetapi pada prestasi akumulasi dan konsumsi materi. yaitu dataran: minerality. tujuan utama ajaran tasawuf adalah membantu seseorang bagaimana caranya seseorang bisa memelihara dan meningkatkan kesucian jiwanya sehingga dengan begitu ia merasa damai dan juga kembali ke tempat asal muasalnya dengan damai pula (QS. lalu turunlah tahtanya ke level yang lebih rendah. roh Ilahi yang bersifat imateri dan berperan sebagai "sopir" bagi kendaraan "jasad" kita ini seringkali lupa diri sehingga ia kehilangan otonominya sebagai master. selalu ingin dekat kepada Yang Maha Suci dan Abstrak. makin bertambah kepingan gambaran realitas dunia. Seperti dikemukakan Carel Alexis bahwa man has gained the mistery of the material world before knowing himself. suatu mengaktualisasikan kesadaran dan kapasitas kemampuan untuk dirinya sebagai . Kalangan sufi yakin. Dengan kiasan lain. vegetality. Yaitu. Makin berkembang ilmu pengetahuan. secara sadar meniru sifat-sifat Tuhan sehingga seorang mukmin memiliki sifat-sifat mulia sebagaimana sifat-Nya. Dari kenyataan ini maka tidak terlalu salah bila ada yang berpendapat bahwa sesungguhnya potensi dan kecenderungan kehidupan batin manusia ke arah kehidupan mistik bersifat natural dan universal. Yaitu. dia tidak boleh lepas dari berfikir dan berdzikir untuk Tuhannya (QS. 89:27). Pendeknya.

takhalluq. kata qalb senantiasa berasosiasi dengan kata taqallub yang bergerak atau berubah secara konstan. Maqam tahaqquq ini sejalan dengan Hadits Qudsi yang digemari kalangan sufi yang menyatakan bahwa bagi seorang mukmin yang telah mencapai martabat yang sedemikian dekat dan intimnya dengan Tuhan maka Tuhan akan melihat kedekatan hamba-Nya. Pandangan semacam itu tentu saja kurang populer dan sulit diterima oleh kalangan terdekat. Hossein Nasr. Taqallub-nya hati sang sufi. Namun begitu. kata 'Arabi. dan tahaqquq. dan bukankah hamba-hamba-Nya yang saleh telah dinyatakan sebagai mandataris-Nya? Jadi. Menurut Ibn 'Arabi. 1977. sementara badan dan anggotanya bagai istana dan para abdi dalem-nya. Kebaikan dan kejahatan kerajaan itu akan tergantung bagaimana perilaku sang raja. Bukankah Allah punya blue-print dan proyek untuk memakmurkan bumi. bukankah cukup tegas isyarat al-Qur'an maupun Hadits yang menyatakan bahwa kewajiban setiap muslim adalah mensucikan jiwanya sehingga kesuciannya termanifestasikan dalam perilaku insaniyahnya? Melalui tahapan ta'alluq. XII. . Seorang 'abd-u 'l-Lah (budak Allah) yang saleh adalah sekaligus juga wakil-Nya untuk membangun bayang-bayang surga di muka bumi ini. dan itu dilakukan dalam upaya mendekati dan menggapai kasih Tuhan. namun luasnya hati Insan Kamil (qalb al-'arif) melebihi luasnya langit dan bumi karena ia sanggup menerima 'arsy Tuhan. yang dimaksudkan dengan ungkapan siapa yang mengetahui jiwanya. Tajalli berarti penampakan diri Tuhan ke dalam makhluk-Nya dalam pengertian metafisik. melainkan Tuhan dalam sifat-Nya yang Dhahir. tetapi Tuhan bukan pengertian huwiyah-Nya atau "ke-Dia-annya" yang Maha Absolut dan Maha Esa. menurut Ibn 'Arabi. Dalam konteks inilah. secara karikatural. Dalam tradisi tasawuf yang menjadi fokus kajiannya ialah apa yang disebut gaib atau hati dalam pengertiannya yang metafisis. maka seorang mukmin akan mencapai derajat khalifah Allah dengan kapasitasnya yang perkasa tetapi sekaligus penuh kasih dan damai. Beberapa ayat al-Qur'an dan Hadits menegaskan bahwa hati seseorang bagaikan raja. sementara bumi langit tidak sanggup. ia akan mengetahui Tuhannya karena manusia adalah "microcosmos" atau jagad cilik dimana 'arsy Tuhan berada di situ.138). hanya hati seorang Insan Kamil-lah yang paling mampu menangkap lalu memancarkan tajalli-Nya dalam perilaku kemanusiaan (Fushushul Hikam. p. seorang sufi kontemporer adalah mereka yang tidak asing berdzikir dan berfikir tentang Tuhan sekalipun di hotel mewah dan datang dengan kendaraan yang mewah pula.seorang mukmin yang dirinya sudah "didominasi" sifat-sifat Tuhan sehingga tercermin dalam perilakunya yang serba suci dan mulia. maka tasawuf bisa dikatakan sebagai inti keberagaman dan karenanya setiap muslim semestinya berusaha untuk menjadi sufi. Dan dari sekian makhluk Tuhan. KHALIFAH ALLAH: MANUSIA SUCI NAN PERKASA Bila upaya penyucian jiwa merupakan inti tasawuf. bukannya Yang Bathin. Dalam sebuah hadits Qudsi disebutkan bahwa meskipun secara fisik hati itu kecil dan mengambil tempat pada jasad manusia. adalah seiring dengan tajalli-nya Tuhan.

Pertama.. Princeton. UA 20-21 Jakarta Selatan Telp. Mengenai kelompok tasawuf ada dua pendapat. The Mystical Philosophy of Muhyi al-Din Ibnul 'Arabi. HAQIQAH DAN MA'RIFAH (hal. Louis.DAFTAR KEPUSTAKAAN Arabi. Jakarta. Symbols and Civilization. Dr. Ibn. Jilid II dan III. Pemakaian kata tersebut mengacu kepada makna ajaran dan norma agama itu sendiri. mereka . Bahkan. Nasution. Dalam perkembangan Islam munculnya tiga kata thariqah. The Concept of Perpetual Creation in Islamic Mysticism and Zen Buddhism. The Passion of al-Hallaj. haqiqah dan ma'rifah. 1962. 1980. Annemarie. 1938 Cassirer. Schimmel. Valiuddin. Sedangkan tiga kata lainnya menjadi terma yang terkenal dalam tasawuf. 1978. Falsafat dan Mistisisme Dalam Islam. AE. Lahore. Karena itu ada baiknya kita lebih dahulu berbicara tentang tasawuf itu sendiri. London. 1982. Ernst. New York. 181) oleh KH Ali Yafie Kata syari'ah telah beredar luas di kalangan umat muslim. Metro Pondok Indah Pondok Indah Plaza I Kav. -------------------------------------------Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah Editor: Budhy Munawar-Rachman Penerbit Yayasan Paramadina Jln. dalam al-Qur'an sendiri... Izutsu. Massiggnon. SYARI'AH. Afifi. (021) 7501969.15. Dimensi Mistik Dalam Islam. New York. 1976.. kata tersebut telah dipakai antara lain pada Surah al-Jatsiyah: 18. Lahore. An Essay on Man. Harun. THARIQAH. 7507173 Fax. Toshihiko. (021) 7507174 Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota Please direct any suggestion to Media Team Artikel Yayasan Paramadina Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota III. Prof. Fushush al-Hikam (The Bezels of Wisdom). Mir. Dr. 1978. Teheran. telah mengakibatkan terbatasnya pengertian syari'ah sehingga lebih banyak mengacu pada norma hukum. 1973 Ross. 7501983. The Qur'anic Sufism. Raiph. 1977.

secara berangsur-angsur pola pikir dan pola hubungan antara ahli syari'ah dan ahli haqiqah makin berbeda. Keadaan tersebut berkelanjutan hingga mencapai puncak perkembangannya pada akhir abad 4 H. Ajaran Tasawuf pada dasarnya merupakan bagian dari prinsip-prinsip Islam sejak awal. yaitu produk penalaran ulama muhaddits dan fuqaha yang disebut syari'ah. Dalam masa tiga abad itu dunia Islam mencapai kemakmuran yang melimpah. tapi mulai ditandai juga dengan berkembangnya suatu cara penjelasan teoritis yang kelak menjadi suatu disiplin ilmu yang disebut ilmu Tasawuf. atau kesenangan duniawi lainnya. Perbedaan tersebut ditandai dengan beberapa hal berikut: 1. dan upaya membebaskan diri dari keterikatan mutlak pada kehidupan duniawi. Pada tingkat perkembangan inilah muncul beberapa terma yang dulunya tidak lazim dipakai dalam ilmu-ilmu keislaman. konsentrasi tujuan hidup menuju Allah (untuk mendapatkan ridla-Nya). Pada masa itu gerakan tasawuf juga mengalami perkembangan yang tidak terbatas hanya pada praktek hidup bersahaja saja. serta patuh melaksanakan ajaran-ajaran agama dalam kehidupannya sehari-hari. Sedang dilain pihak. Ketika itulah angkatan pertama kaum muslim yang mempertahankan pola hidup sederhananya lebih dikenal sebagai kaum sufiyah. . Selanjutnya para fuqaha pun disebut ahli syari'ah dan para ulama tasawuf disebut ahli haqiqah. Kecenderungan seperti ini secara umum terjadi pada kalangan kaum muslim angkatan pertama. pola dasar tasawuf adalah kedisiplinan beribadah. Pada tahap perkembangannya. sehingga di kalangan atas dan menengah terdapat pola kehidupan mewah. sedangkan kelompok formal terdiri dari ulama-ulama muhaddits dan fuqaha. Pada angkatan berikutnya (abad 2 H) dan seterusnya. Kelompok intelektual ini terdiri dari ulama-ulama mutakallim (ahli teologi). begitu pula seorang mutakallimin sekaligus juga ulama sufiyah.adalah kelompok spiritual dalam umat Islam yang berada di tengah-tengah dua kelompok lainnya yang disebut kelompok formal dan kelompok Intelektual. Ibnu Khaldun mengungkapkan. Sehingga seharusnya kita katakan seorang muhaddttsin sekaligus juga ulama sufiyah. dan produk penalaran ulama tasawuf yang disebut haqiqah. Ajaran ini tak ubahnya merupakan upaya mendidik diri dan keluarga untuk hidup bersih dan sederhana. seperti kita dapat simak dalam karya sastra "cerita seribu satu malam" dimasa kejayaan kekhalifahan Abbasiyah.soal pengalaman agama dalam bentuk yang formalistik (syi'ar-syi'ar lahiriah). Dan ini menimbulkan banyak pertentangan antara kedua kelompok tersebut. secara berangsur-angsur terjadi pergeseran nilai sehingga orientasi kehidupan duniawi menjadi lebih berat. sehingga tidak diperbudak harta atau tahta. Ahli syari'ah menonjolkan -kadang-kadang secara berlebih-lebihan.terjadilah pemisahan antara dua pola penalaran. Kedua. Upaya penalaran para ulama muhaddits dan fuqaha dalam menjabarkan prinsip-prinsip ajaran Islam mengenai penataan kehidupan pribadi dan masyarakat yang sudah berkembang selama tiga abad -dengan munculnya disiplin ilmu Tasawuf. bahwa tasawuf itu hanyalah suatu kecenderungan spiritual yang membentuk etika moral dan lingkungan sosial khusus.

Dan tempat ketiga diduduki tarekat ulama penyair kenamaan Parsi. dia sudah bebas dari ikatan-ikatan formal. kita jumpai Tarekat Qadiriyah yang cukup dikenal. Untuk lebih mengenal adanya tarekat itu. Mereka berkata. Ghinia dan Jawa. bagaimanapun keberadaan penganut-penganut tarekat itu merupakan bagian dari potensi bangsa/umat. Jalal . disamping Tarekat Naqsyabandiyah. 3. Pada tahun lima puluhan. Tijaniyah dan Sanusiyah. Adanya teori-teori ahli haqiqah yang menggusarkan para ahli syari'ah. 561 H/1166 M) di Baghdad. Dalam kaitan inilah beliau tampil dengan karya besarnya Ihya 'Ulum al-Din.para ahli haqiqah menonjolkan aspek-aspek batiniah ajaran Islam. yang mendapat sambutan luas di Aljazair. Pertimbangannya ialah. yang berhak mendapatkan perlindungan dalam rangka tertib kemasyarakatan suatu negara. 2. pemerintah Mesir menempatkan pembinaan dan koordinasi tarekat-terekat tersebut di bawah Departemen Bimbingan Nasional (Wizarah al-Irsyad al-Qaumi). siapa yang telah sampai perjalanan rohaniahnya kepada Allah dan sudah terlebur dirinya dalam diri Allah. Padahal. Ahli haqiqah mengklaim. Sebagian ahli haqigah tidak merasa terikat dengan syi'ar-syi'ar agama yang ritual-formalistis. ada baiknya kita mempertanyakan kapankah munculnya tarekat (al-thuruq al-shufiyah) itu dalam sejarah perkembangan gerakan tasawuf Dr. dan Imam Ghazali berupaya memulihkannya. Di Indonesia kita lebih banyak mengenal ajaran tasawuf lewat lembaga keagamaan non-formal yang namanya "tarekat" asal kata thariqah. Dalam buku ini beliau mempertemukan teori-teori syari'ah dengan teori-teori haqiqah Ternyata upaya al-Ghazali ini sangat membantu dalam merukunkan kembali antara para ahli syari'ah dengan ahli haqiqah. kalau seseorang sudah mencapai derajat wali. Dalam satu dasawarsa terakhir ini. 4. Syadziliyah. para pendahulu mereka sangat disiplin dalam pengalaman syari'ah. Kamil Musthafa al-Syibi dalam tesisnya tentang gerakan tasawuf dan gerakan syi'ah mengungkapkan. Ajaran tarekatnya menyebar ke seluruh penjuru dunia Islam. Sedangkan di Mesir. Jurang pemisah yang makin hari makin melebar antara ahli syari'ah dan ahli haqiqah makin menjadi-jadi pada sekitar akhir abad kelima Hijrah. misalnya teori al-fana fi 'l-Lah (peleburan diri dalam Allah) yang dikemukakan Abu Yazid al-Busthami dan teori Hub al-Lah (cinta Allah) hasil pemikiran Rabi'ah al-'Adawiyah serta teori Maqamat-Ahwal (terminal-terminal dan situasi-situasi) ciptaan Dzunn-un al-Mishri. tokoh pertama yang memperkenalkan sistem thariqah (tarekat) itu Syekh Abdul Qadir al-Jilani (w. Di Jawa Timur misalnya. maka dia akan mampu menaklukkan alam dan melakukan hal-hal yang luar biasa (keramat). kita melihat adanya langkah lebih maju dalam perkembangan tarekat-tarekat tersebut dengan adanya koordinasi antara berbagai macam tarekat itu lewat ikatan yang dikenal dengan nama Jam'iyah Ahl al-Thariqah al-Mu'tabarah. Semua itu dianggap sebagai ajaran aneh oleh para ahli syari'ah. tarekat yang banyak pengikutnya Tarekat Rifa'iyyah yang dibangun Sayid Ahmad al-Rifa'i.

Ada upacara khusus ketika seseorang diterima menjadi penganut (murid). Di bawah syeikhnya yang terakhir. Mempercayai adanya kekuatan gaib/tenaga dalam pada mereka yang sudah terlatih. Sasaran akhir dari pembinaan pribadi dalam pola hidup bertasawuf adalah hidup bersih. Perancis dan Inggris secara berturut-turut. dengan jalan pengamalan syari'ah dan penghayatan haqiqah dalam sistem/metode thariqah untuk mencapai ma'rifah. ada kalanya dengan alat-alat bantu seperti musik dan gerak badan yang dapat membina konsentrasi ingatan. dan akhirnya membebaskan wilayah Libya.al-Din al-Rumi (w. Dalam periode berikutnya muncul tarekat al-Syadziliyah yang mendapat sambutan luas di Maroko dan Tunisia khususnya. Mungkin sifat keras dari iklim yang dibentuk Tarekat Sanusiyah inilah yang mewarnai Mu'ammar al-Qadafi mengambil alih kekuasaan dan berkuasa sampai saat ini sebagai Kepala Negara tersebut. bersahaja. tekun beribadah kepada Allah. tapi ada beberapa ciri yang menyamakan: 1. membimbing masyarakat ke arah yang diridlai Allah. 6. Kemudian sistem ini berkembang terus dan meluas. sehingga dapat berbuat hal-hal yang berlaku di luar kebiasaan. . Adakalanya sebelum yang bersangkutan diterima menjadi penganut. Beliau membuat tradisi baru dengan menggunakan alat-alat musik sebagai sarana dzikir. bahwa sistem hidup bersih dan bersahaja (zuhd) adalah dasar semua tarekat yang berbeda-beda itu. dan pada umumnya tarekat-tarekat tersebut walaupun beragam namanya dan metodenya. Penghormatan dan penyerahan total kepada Syeikh atau pembantunya yang tidak bisa dibantah Dari sistem dan metode tersebut Nicholson menyimpulkan. Menyepi dan berkonsentrasi dengan shalat dan puasa selama beberapa hari (kadang-kadang sampai 40 hari). Pada titik pengenalan ini akan terpadu makna tawakkal dalam tawhid. Memakai pakaian khusus (sedikitnya ada tanda pengenal) 3. Sayyid Ahmad al-Syarif al-Sanusi berhasil menggalang satu kekuatan perlawanan rakyat yang mampu memerangi kolonialis Italia. Nicholson mengungkapkan hasil penelitiannya. Apa yang dimaksud dengan kata ma'rifah dalam terma mereka ialah penghayatan puncak pengenalan keesaan Allah dalam wujud semesta dan wujud dirinya sendiri. dia harus terlebih dahulu menjalani masa persiapan yang berat. 672 H/1273 M). Semua pengikutnya dididik dalam disiplin itu. 4. Menekuni pembacaan dzikir tertentu (awrad) dalam waktu-waktu tertentu setiap hari. Yang juga perlu dicatat di sini ialah munculnya Tarekat Sanusiyah yang mempunyai disiplin tinggi mirip disiplin militer. 5. Menjalani riyadlah (latihan dasar) berkhalwat. bahwa tarekat-tarekat sufi merupakan bentuk kelembagaan yang terorganisasi untuk membina suatu pendidikan moral dan solidaritas sosial. 2. dan dunia Islam bagian Timur pada umumnya.

42) oleh Harun Nasution (1/4) Tujuan tasawuf adalah mendekatkan diri sedekat mungkin dengan Tuhan sehingga ia dapat melihat-Nya dengan mata hati bahkan rohnya dapat bersatu dengan Roh Tuhan. Dhuha al-Islam dan Zhuhur al-Islam Imam al Ghazali. 7507173 Fax. maka yang dapat diterima Tuhan untuk mendekatiNya adalah roh yang suci. Safa dalam arti suci dan sufi adalah orang yang disucikan. DAFTAR KEPUSTAKAAN Abu 'l-Hasan al-Nadawi. pertama. 2. ASAL KATA SUFI Tidak mengherankan kalau kata sufi dan tasawuf dikaitkan dengan kata-kata Arab yang mengandung arti suci. Yang dimaksud saf di sini ialah baris pertama dalam salat di mesjid. Tuhan adalah Maha Suci. Ihya 'Ulum al-Din Irnam Ibn Khaldun. Metro Pondok Indah Pondok Indah Plaza I Kav. Rijal al-fikri wa 'l-Da'wah fi 'l-lslam. -------------------------------------------Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah Editor: Budhy Munawar-Rachman Penerbit Yayasan Paramadina Jln. maka bagian yang dapat mendekatkan diri dengan Tuhan adalah roh. al-Shilah bain al-Tashawwuf wa 'l-Tasyayyu'.14. Saf pertama ditempati oleh orang-orang yang cepat datang ke mesjid dan banyak membaca . 7501983. kaum sufi banyak berusaha menyucikan diri mereka melalui banyak melaksanakan ibadat. terutama salat dan puasa. Tuhan bersifat rohani. (021) 7507174 Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota Please direct any suggestion to Media Team Artikel Yayasan Paramadina Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota III. Ahmad Amin. al-Muqaddimah. Penulis-penulis banyak mengaitkannya dengan kata: 1. Filsafat yang menjadi dasar pendekatan diri itu adalah. TASAWUF (hal. Saf (baris). Tasawuf adalah ilmu yang membahas masalah pendekatan diri manusia kepada Tuhan melalui penyucian rohnya. (021) 7501969. Kedua. dan melepaskan dirinya dari ketergantungan mutlak kepada sesuatu selain Allah. bukan jasadnya.yang melahirkan sikap pasrah total kepada Allah. UA 20-21 Jakarta Selatan Telp. Kamil Mushthafa al-Syibli. Dan memang.

Pakaian ini melambangkan kesederhanaan serta kemiskinan dan kejauhan dari dunia. pendapat terakhir inilah yang banyak diterima sebagai asal kata sufi. ASAL-USUL TASAWUF Karena tasawuf timbul dalam Islam sesudah umat Islam mempunyai kontak dengan agama Kristen. tinggal di Mesjid Nabi dan tidur di atas bangku batu dengan memakai suffah. Orang-orang seperti ini adalah yang berusaha membersihkan diri dan dekat dengan Tuhan. walaupun untuk sementara. Ahl al-Suffah. filsafat Yunani dan agama Hindu dan Buddha.150 H). Di siang hari. kemah mereka menjadi tempat berteduh bagi orang yang kepanasan. sungguhpun tak mempunyai apa-apa. dan di malam hari lampu mereka menjadi petunjuk jalan bagi musafir. kalau seseorang ingin memasuki jalan tasawuf. berhati baik serta mulia dan tidak mementingkan dunia. dan kaum sufi pula yang tahu hikmat. Ahl al-Suffah. pemurah dan suka menolong. 4. Diantara semua pendapat itu. Ada yang mengatakan bahwa pengaruhnya datang dari rahib-rahib Kristen yang mengasingkan diri untuk beribadat dan mendekatkan diri kepada Tuhan di gurun pasir Arabia. Sophos (bahasa Yunani yang masuk kedalam filsafat Islam) yang berarti hikmat. sufi adalah orang yang memakai wol kasar untuk menjauhkan diri dari dunia materi dan memusatkan perhatian pada alam rohani. Pengaruh filsafat Yunani dikatakan berasal dari pemikiran mistik Pythagoras. Pendapat ini memang banyak yang menolak.ayat-ayat al-Qur'an dan berdzikir sebelum waktu salat datang. kemudian turun ke dunia materi dan masuk ke dalam tubuh manusia yang bernafsu. yaitu para sahabat yang hijrah bersama Nabi ke Madinah dengan meninggalkan harta kekayaannya di Mekkah. dan pemurah dan suka menolong. ia meninggalkan pakaian mewah yang biasa dipakainya dan diganti dengan kain wol kasar yang ditenun secara sederhana dari bulu domba. Orang yang pertama memakai kata sufi kelihatannya Abu Hasyim al-Kufi di Irak (w. Tempat mereka menjadi tujuan orang yang perlu bantuan di padang yang gersang. 5. muncullah anggapan bahwa aliran tasawuf lahir dalam Islam atas pengaruh dari luar. Jadi. Untuk itu ia harus menyucikan diri dengan memusatkan perhatian pada fllsafat serta ilmu pengetahuan dan melakukan beberapa pantangan. dan ditulis dengan sin dan bukan dengan shad seperti yang terdapat dalam kata tasawuf. Filsafat sufi juga demikian. 3. Roh yang pada mulanya suci itu menjadi tidak suci dan karena itu tidak dapat kembali ke tempatnya semula yang suci. berhati baik. Dalam filsafatnya. Roh yang masuk ke dalam janin di kandungan ibu berasal dari alam rohani yang . Rahib-rahib itu berhati baik. Di Madinah mereka hidup sebagai orang miskin. Dalam sejarah tasawuf. karena kata sophos telah masuk kedalam kata falsafat dalam bahasa Arab. roh manusia adalah suci dan berasal dari tempat suci. (pelana) sebagai bantal. Suf (kain wol). Sufi juga mengasingkan diri dari dunia ramai. Inilah pula sifat-sifat kaum sufi.

Kita perlu mencatat. digambarkan oleh ayat berikut. Roh memancar dari diri Tuhan dan akan kembali ke Tuhan. agama Hindu dan Buddha. memasuki hidup kontemplasi dan menghancurkan diri. Tapi. Dalam tasawuf terdapat pengalaman ittihad. roh pergi ke alam barzah menunggu datangnya hari perhitungan. Ayat ini mengandung arti bahwa dimana saja Tuhan dapat dijumpai. agar Tuhan mengabulkan seruannya untuk melihat Tuhan dan berada dekat kepada-Nya. ia akan tetap tinggal di bumi berusaha membersihkan diri melalui reinkarnasi. tetapi berseru. al-Baqarah 115). Dari agama Buddha. memang terdapat dalam tasawuf Islam. untuk menjumpainya. Tuhan memang dekat sekali dengan manusia. "Jika hambaKu bertanya kepadamu tentang Aku. sesudah tubuh mati tidak akan kembali ke hidup serupa di bumi. Tentang dekatnya Tuhan. Ajaran menghancurkan diri untuk bersatu dengan Tuhan juga terdapat dalam Islam. Sesudah bercerai dengan tubuh. Tapi pendapat serupa ini memerlukan bukti-bukti historis. Bahwa yang kemudian datang dipengaruhi oleh yang datang terdahulu adalah suatu kemungkinan. dia berpendapat bahwa roh yang masuk ke dalam tubuh manusia juga kotor. Maka untuk dapat bertemu dengan Tuhan Yang Maha Suci. Paham itu memang bertentangan dengan ajaran al-Qur'an bahwa roh. Dalam ajaran Islam. "Telah Kami ciptakan manusia dan Kami . pengaruhnya dikatakan dari konsep Nirwana. Tuhan dekat dan sufi tak perlu pergi jauh. dan tak dapat kembali ke Tuhan. Masih dari filsafat Yunani. filsafat Yunani dan agama Kristen datang lama sebelum Islam.suci. yaitu persatuan roh manusia dengan roh Tuhan. maka kemana saja kamu berpaling di situ ada wajah Tuhan" (QS." Kaum sufi mengartikan do'a disini bukan berdo'a. tidakkah mungkin tasawuf timbul dari dalam diri Islam sendiri? Hakekat tasawuf kita adalah mendekatkan diri kepada Tuhan. Selama masih kotor. Paham penyucian diri melalui reinkarnasi tak terdapat dalam ajaran tasawuf. Nirwana dapat dicapai dengan meninggalkan dunia. tapi kemudian dipengaruhi oleh hawa nafsu yang terdapat dalam tubuh manusia. Dengan kata lain. Ayat berikut menggambarkan lebih lanjut betapa dekatnya Tuhan dengan manusia. Dalam kaitan ini timbul pertanyaan: sekiranya ajaran-ajaran tersebut diatas tidak ada. sama dengan Pythagoras. pengaruh itu dikaitkan dengan filsafat emanasi Plotinus. konsep Plotinus tentang bersatunya roh dengan Tuhan di dunia ini. Dekatnya Tuhan kepada manusia disebut al-Qur'an dan Hadits. Sedangkan pengaruh dari agama Hindu dikatakan datang dari ajaran bersatunya Atman dengan Brahman melalui kontemplasi dan menjauhi dunia materi. ia dapat mendekatkan diri dengan Tuhan sampai ke tingkat bersatu dengan Dia di bumi ini. "Timur dan Barat kepunyaan Tuhan. Kalau sudah bersih. ia berseru agar Tuhan membuka hijab dan menampakkan diri-Nya kepada yang berseru. roh yang telah kotor itu dibersihkan dulu melalui ibadat yang banyak. Tapi. maka Aku dekat dan mengabulkan seruan orang yang memanggil jika Aku dipanggil. Ayat 186 dari surat al-Baqarah mengatakan.

Jalan itu disebut tariqah (bahasa Arab). Maka. JALAN PENDEKATAN DIRI KEPADA TUHAN Jalan yang ditempuh seseorang untuk sampai ke tingkat melihat Tuhan dengan mata hati dan akhirnya bersatu dengan Tuhan demikian panjang dan penuh duri. Ayat ini menggambarkan Tuhan berada bukan diluar diri manusia. sufi tak perlu pergi jauh. sufi melihat persatuan manusia dengan Tuhan. Tujuan semua ibadat dalam Islam ialah mendekatkan diri itu. membaca al-Qur'an dan dzikir." Untuk mencari Tuhan. cukup ia masuk kedalam dirinya dan Tuhan yang dicarinya akan ia jumpai dalam dirinya sendiri. yang intinya adalah penyucian diri. dibagi kaum sufi ke dalam stasion-stasion yang dalam bahasa Arab disebut maqamat -tempat seorang calon sufi menunggu sambil berusaha keras untuk membersihkan diri agar dapat melanjutkan perjalanan ke stasion berikutnya. Jalan itu. langkah pertama yang harus dilakukan seseorang adalah tobat dari dosa-dosanya. tetapi di dalam diri manusia sendiri. Qaf 16). Karena itu hadis mengatakan. Karena itu. dan dari sinilah berasal kata tarekat dalam bahasa Indonesia. kemudian Aku ingin dikenal. "Pada mulanya Aku adalah harta yang tersembunyi." Disini terdapat paham bahwa Tuhan dan makhluk bersatu. Disini. Bertahun-tahun orang harus menempuh jalan yang sulit itu. shalat. hadits terakhir ini mengandung konsep wahdat al-wujud. kesatuan wujud makhluk dengan Tuhan. stasion pertama dalam tasawuf . Demikianlah ayat-ayat al-Qur'an dan Hadits Nabi menggambarkan betapa dekatnya Tuhan kepada manusia dan juga kepada makhluk-Nya yang lain. Dalam konteks inilah ayat berikut dipahami kaum sufi. "Siapa yang mengetahui dirinya mengetahui Tuhannya. Karena itu hanya sedikit sekali orang yang bisa sampai puncak tujuan tasawuf. Gambaran serupa ini tidak memerlukan pengaruh dari luar agar seorang muslim dapat merasakan kedekatan Tuhan itu. terutama puasa. Maka Kuciptakan makhluk. seorang calon sufi banyak melaksanakan ibadat. dan bukan manusia saja yang bersatu dengan Tuhan. Dengan khusuk dan banyak beribadat ia akan merasakan kedekatan Tuhan. "Bukanlah kamu yang membunuh mereka. Bahwa Tuhan dekat bukan hanya kepada manusia. Kalau ayat-ayat diatas mengandung arti ittihad. Jelas kiranya bahwa usaha penyucian diri. tapi Allah-lah yang membunuh dan bukanlah engkau yang melontarkan ketika engkau lontarkan (pasir) tapi Allah-lah yang melontarkannya (QS. Sebagaimana telah di sebut diatas penyucian diri diusahakan melalui ibadat.tahu apa yang dibisikkan dirinya kepadanya. al-Anfal 17). lalu melihat Tuhan dengan mata hatinya dan akhirnya mengalami persatuan rohnya dengan roh Tuhan. Perbuatan manusia adalah perbuatan Tuhan. dan melalui mereka Aku-pun dikenal. Dan Kami lebih dekat dengan manusia daripada pembuluh darah yang ada di lehernya (QS. tapi juga kepada makhluk lain sebagaimana dijelaskan hadis berikut. terjadilah penyucian diri calon sufi secara berangsur. persatuan manusia dengan Tuhan. dan inilah hakikat tasawuf.

karena di dalamnya terdapat syubhat. TASAWUF (hal. Kebutuhan hidupnya hanya sedikit dan ia tidak meminta kecuali hanya untuk dapat . Dalam literatur tasawuf disebut bahwa al-Muhasibi menolak makanan. 7501983.14. Metro Pondok Indah Pondok Indah Plaza I Kav. dan membuat ia tahan lapar dan dahaga. dan itu diperolehnya dalam berpuasa. Puasanya yang banyak membuat hawa nafsunya lemah. melakukan shalat. Ia sedikit tidur dan banyak beribadat. orang yang tidak bisa lagi digoda oleh kesenangan dunia dan kelezatan materi. (bersambung 2/4) -------------------------------------------Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah Editor: Budhy Munawar-Rachman Penerbit Yayasan Paramadina Jln.adalah tobat. shalat. ia keluar dari pengasingannya masuk kembali ke dunianya semula. Pakaiannyapun sederhana. UA 20-21 Jakarta Selatan Telp. Di stasion ini ia dijauhkan Tuhan dari perbuatan-perbuatan syubhat. 42) oleh Harun Nasution (2/4) Untuk memantapkan tobatnya ia pindah ke stasion kedua. ia pindah ke stasion faqr. Sampailah ia ke stasion wara'. Yang dicarinya ialah kebahagiaan rohani. yaitu tobat yang membuat orangnya menyesal atas dosa-dosanya yang lampau dan betul-betul tidak berbuat dosa lagi walau sekecil apapun. ia akan tobat dari dosa-dosa kecil. 7507173 Fax. Bisyr al-Hafi tidak bisa mengulurkan tangan ke arah makanan yang berisi syubhat. Ia mengasingkan diri ke tempat terpencil untuk beribadat. Ia juga akan selalu naik haji. Ia terus banyak berpuasa. Kalau kesenangan dunia dan kelezatan materi tak bisa menggodanya lagi. Dari stasion wara'. Ia makan dan minum hanya untuk mempertahankan kelanjutan hidup. Di stasion ini ia menjalani hidup kefakiran. Pada mulanya seorang calon sufi harus tobat dari dosa-dosa besar yang dilakukannya Kalau ia telah berhasil dalam hal ini. membaca al-Qur'an dan berdzikir. (021) 7507174 Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota Please direct any suggestion to Media Team Artikel Yayasan Paramadina Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota III. (021) 7501969. Tobat yang dimaksud adalah taubah nasuha. yaitu zuhud. kemudian dari perbuatan makruh dan selanjutnya dari perbuatan syubhat. Jelaslah bahwa usaha ini memakan waktu panjang. membaca al-Qur'an dan berdzikir. Di stasion ini ia menjauhkan diri dari dunia materi dan dunia ramai. Ia menjadi orang zahid dari dunia. puasa. membaca al-Qur'an dan dzikir. melakukan shalat.

bahkan ia tidak menunggu-nunggu datangnya pertolongan. ia sebenarnya belumlah menjadi sufi. Ia menyerahkan diri sebulat-bulatnya kepada kehendak Tuhan. Kedua. Ia tidak minta masuk surga dan dijauhkan dari neraka. Ia sabar menderita. Sufi memberikan arti mahabbah sebagai berikut. Ia tidak meminta tapi tidak menolak pemberian Tuhan. "Allah akan mendatangkan suatu umat yang dicintai-Nya dan orang yang mencintai-Nya. Ia bersikap seperti telah mati. Di dalam hatinya tidak ada perasaan benci." Selanjutnya ayat . Menyerahkan seluruh diri kepada Yang Dikasihi. Karena stasion-stasion tersebut di atas baru merupakan tempat penyucian diri bagi orang yang memasuki jalan tasawuf. Ia tidak memikirkan hari esok. Lambat laun ia rasakan bahwa Tuhan bukanlah zat yang suka murka. ia selamanya merasa tenteram. Bahkan. Ketika malapetaka turun. cinta Ilahi. tetapi juga sabar dalam menerima percobaan-percobaan berat yang ditimpakan Tuhan kepadanya. Rasa takut itu kemudian berubah menjadi rasa waswas apakah tobatnya diterima Tuhan sehingga ia dapat meneruskan perjalanannya mendekati Tuhan. sungguhpun tak ada padanya. baginya cukup apa yang ada untuk hari ini. Ayat 54 dari surat al-Maidah. ia tidak mau makan. karena ada orang yang lebih berhajat pada makanan dari padanya. Ia menjadi sufi setelah sampai ke stasion berikutnya dan memperoleh pengalaman-pengalaman tasawuf. Pada stasion ridla. ia meningkat ke stasion ridla. Ia bukan hanya tidak meminta pertolongan dari Tuhan. yang ada hanyalah perasaan senang. Ia sabar bukan hanya dalam menjalankan perintah-perintah Tuhan yang berat dan menjauhi larangan-larangan Tuhan yang penuh godaan. Selanjutnya ia pindah ke stasion tawakkal. calon sufi dalam hubungannya dengan Tuhan dipengaruhi rasa takut atas dosa-dosa yang dilakukannya.menjalankan kewajiban-kewajiban agamanya. pertama. Dari stasion ini ia tidak menentang percobaan dari Tuhan bahkan ia menerima dengan senang hati. tapi zat yang sayang dan kasih kepada hamba-Nya. Mengosongkan hati dari segala-galanya. Maka ia pun sampai ke stasion mahabbah. memeluk kepatuhan kepada Tuhan dan membenci sikap melawan kepada-Nya. Rasa takut hilang dan timbullah sebagai gantinya rasa cinta kepada Tuhan. kecuali dari Diri Yang Dikasihi. bahkan dalam al-Qur'an terdapat ayat-ayat yang menggambarkan cinta Tuhan kepada hamba dan cinta hamba kepada Tuhan. Setelah menjalani hidup kefakiran ia sampai ke stasion sabar. rasa cinta kepada Tuhan bergelora dalam hatinya. Bahkan ia tidak meminta sungguhpun ia tidak punya. Ketiga. tapi baru menjadi zahid atau calon sufi. Dari stasion tawakkal. PENGALAMAN SUFI Di masa awal perjalanannya. Kendatipun ada padanya. hatinya merasa senang dan di dalamnya bergelora rasa cinta kepada Tuhan. Di sini ia telah dekat sekali dengan Tuhan dan iapun sampai ke ambang pintu melihat Tuhan dengan hati nurani untuk selanjutnya bersatu dengan Tuhan. Mencintai Tuhan tidaklah dilarang dalam Islam.

dan Allah akan mencintai kamu. Orang yang Ku-cintai. "Tuhanku." Pernah pula ia berkata. Hatiku telah enggan mencintai selain Engkau. yaitu ma'rifah. hanya Engkaulah yang kukasihi." Sewaktu malam telah sunyi ia berkata. pintu-pintu istana telah dikunci. "Senantiasa hamba-Ku mendekatkan diri kepada-Ku melalui ibadat sehingga Aku cinta kepadanya. ia menjawab. ia tidak meminta dijauhkan dari neraka dan pula tidak meminta dimasukkan ke surga. seperti yang berikut. Beri ampunlah pembuat dosa yang datang ke hadiratMu. Cinta karena diriku dan cinta karena diri-Mu. Ia telah melihat Tuhan dengan hati nuraninya. malam telah berlalu dan siang segera akan menampakkan diri. "Aku mengabdi kepada Tuhan bukan karena takut kepada neraka. akhirnya dibalas Tuhan. Demi keMahakuasaan-Mu inilah yang akan kulakukan selama Engkau beri hajat kepadaku. Bagi-Mu-lah puji dan untuk itu semua. aku tidak akan bergerak." Ia bermunajat. bakarlah mataku karena Engkau." Ketika fajar menyingsing ia dengan rasa cemas mengucapkan. "Tuhanku. Cinta karena diriku Membuat aku lupa yang lain dan senantiasa menyebut nama-Mu. sehingga ketika orang bertanya kepadanya. jika kamu cinta kepada Tuhan. karena cintaku kepada-Mu telah memenuhi hatiku. bukan pula karena ingin masuk surga. Engkau harapanku. mata-mata telah bertiduran. dan inilah aku berada di hadirat-Mu. penglihatan dan tangannya. Ia mengatakan. maka turutlah Aku. "Tuhanku. kebahagiaan dari kesenanganku." Cinta tulus Rabi'ah al-'Adawiah kepada Tuhan. Membuat aku melihat Engkau karena Engkau bukakan hijab. Rabi'ah al-'Adawiah. Yang ia pinta adalah dekat kepada Tuhan. Cinta kepada diri-Mu." Hadits juga menggambarkan cinta itu. tiap pecinta telah berduaan dengan yang dicintainya. Aku gelisah." Sufi yang masyhur dalam sejarah tasawuf dengan pengalaman cinta adalah seorang wanita bernama Rabi'ah al-'Adawiah (713-801 M) di Basrah. ataukah Engkau tolak sehingga aku merasa sedih. Rabi'ah al-'Adawiah telah benar-benar menjadi sufi. apakah ia benci kepada setan. Tiada puji bagiku untuk ini dan itu. apakah Engkau terima aku sehingga aku bahagia. bintang di langit telah gemerlapan. telah sampai ke stasion sesudah mahabbah. Cintanya yang dalam kepada Tuhan memalingkannya dari segala yang lain dari Tuhan.30 dari surat 'Ali Imran menyebutkan. Dengan kata lain. "Cintaku kepada Tuhan tidak meninggalkan ruang kosong di dalam hatiku untuk benci setan. Ia telah sampai ke stasion yang menjadi idaman kaum sufi. Dalam doanya. jika kupuja Engkau karena takut kepada neraka." Begitu penuh hatinya dengan rasa cinta kepada Tuhan. "Buah hatiku. tetapi aku mengabdi karena cintaku kepada-Nya. "Katakanlah. . Sekiranya Engkau usir aku dari depan pintuMu. dan ini tertera dari syairnya yang berikut: Kucintai Engkau dengan dua cinta. janganlah sembunyikan keindahan-Mu yang kekal itu dari pandanganku. Aku menjadi pendengaran.

'Ilm ini diperoleh melalui akal. Kedua. Kalbu mempunyai tiga daya. makin suci ia dan makin besar daya tangkapnya. tapi qalb atau kalbu (jantung) yang berpusat di dada. Ketika Zunnun ditanya. Dalam pendapat al-Ghazali. sehingga akhirnya dapat menangkap daya cemerlang yang dipancarkan Tuhan. Lebih jauh mengenai ma'rifah dalam literatur tasawuf dijumpai ungkapan berikut. ia menjawab. bagaimana ia memperoleh ma'rifah. Ketiga. Ketiga daya untuk melihat Tuhan yang disebut sirr. Tapi. Keempat. makin lama ia disucikan dengan ibadat yang banyak. Semua orang yang . ma'rifah adalah cermin. ma'rifat dalam tasawuf berarti pengetahuan yang diperoleh langsung dari Tuhan melalui kalbu. Ketika itu sufi pun bergemilang dalam cahaya Tuhan dan dapat melihat rahasia-rahasia Tuhan. yang dilihat orang 'arif. yaitu 'ilm. keyakinannya untuk memperoleh kebenaran ternyata melalui tasawuf.Pengalaman ma'rifah. Dalam hubungan dengan Tuhan. ditonjolkan oleh Zunnun al-Misri (w." Kata ma'rifat memang mengandung arti pengetahuan. cahaya yang disinarkannya gelap. daya untuk-mengetahui sifat-sifat Tuhan yang disebut qalb. Dalam bahasa sufi. "Aku melihat dan mengetahui Tuhan dengan Tuhan dan sekiranya tidak karena Tuhan aku tidak melihat dan tidak tahu Tuhan. ia tidak akan dapat melihat Tuhan. Sirr adalah daya terpeka dari kalbu dan daya ini keluar setelah sufi berhasil menyucikan jiwanya sesuci-sucinya. pengetahuan yang diperoleh melalui kalbu. Sebagaimana disebut dalam literatur tasawuf. pertama. sufi berusaha keras mendekatkan diri dari bawah dan Tuhan menurunkan rahmat-Nya dari atas. Juga dikatakan bahwa ma'rifah datang ketika cinta sufi dari bawah dibalas Tuhan dari atas. Kalau sufi melihat ke cermin itu yang akan dilihatnya hanyalah Allah. Sebelum menempuh jalan tasawuf al-Ghazali diserang penyakit syak. menurut al-Ghazali. jiwa tak ubahnya sebagai kaca. daya untuk mencintai Tuhan yang disebut ruh. Karena cinta ikhlas dan suci itulah Tuhan mengungkapkan tabir dari pandangan sufi dan dengan terbukanya tabir itu sufi pun dapat menerima cahaya yang dipancarkan Tuhan dan sufi pun melihat keindahan-Nya yang abadi. Pengetahuan ini disebut ilm ladunni. kalau mata yang terdapat di dalam hati sanubari manusia terbuka. sekiranya ma'rifah mengambil bentuk materi. setelah mencapai ma'rifah. "Melihat rahasia-rahasia Tuhan dan mengetahui peraturan-peraturan Tuhan tentang segala yang ada. Maka. lebih benar dari pengetahuan yang diperoleh melalui akal. Ma'rifah adalah anugerah Tuhan kepada sufi yang dengan ikhlas dan sungguh-sungguh mencintai Tuhan. mata kepalanya akan tertutup dan ketika itu yang dilihatnya hanya Allah. yang kalau senantiasa dibersihkan dan digosok akan mempunyai daya tangkap yang besar. pertama. baik sewaktu tidur maupun sewaktu bangun hanyalah Allah. Sekiranya Tuhan tidak membukakan tabir dari mata hatinya. yaitu ma'rifah.860 M). Kedua. Karena itu al-Ghazali mengartikan ma'rifat." Yang dimaksud Zunnun ialah bahwa ia memperoleh ma'rifah karena kemurahan hati Tuhan. sufi memakai alat bukan akal yang berpusat di kepala. Ma'rifah berbeda dengan 'ilm. Demikian juga jiwa. bukan filsafat.

7507173 Fax. (bersambung 3/4) -------------------------------------------Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah Editor: Budhy Munawar-Rachman Penerbit Yayasan Paramadina Jln. Ia ingin mengalami persatuan dengan Tuhan. Hilang kejahilan akan timbul ilmu. Hilang maksiat akan timbul takwa. 42) oleh Harun Nasution (3/4) Pengalaman ittihad ini ditonjolkan oleh Abu Yazid al Bustami (w. Yang dimaksud bukan hancurnya jiwa sufi menjadi tiada. Ia ingin mengatakan bahwa dalam usia tujuh puluh tahunlah ia baru sampai ke stasion ittihad. (021) 7501969.14. yang di dalam istilah tasawuf disebut ittihad. 7501983. Ucapan-ucapan yang ditinggalkannya menunjukkan bahwa untuk mencapai ittihad diperlukan usaha yang keras dan waktu yang lama. Ia menjawab. 874 M). Seseorang pernah bertanya kepada Abu Yazid tentang perjuangannya untuk mencapai ittihad. orang yang fana dari kejahatan akan baqa (tinggal) ilmu dalam dirinya. seorang sufi harus terlebih dahulu mengalami fana' dan baqa'. sufi harus terlebih dahulu mengalami al-fana' 'an al-nafs. Dalam literatur tasawuf disebutkan. dalam arti lafdzi kehancuran jiwa. Ia ingin berada lebih dekat lagi dengan Tuhan. Hilang sifat buruk akan timbul sifat baik. orang yang fana dari maksiat akan baqa (tinggal) takwa dalam dirinya. Yang dimaksud dengan fana' adalah hancur sedangkan baqa' berarti tinggal. Untuk sampai ke ittihad. tak tahan melihat Tetapi sufi yang dapat menangkap cahaya ma'rifah dengan mata hatinya akan dipenuhi kalbunya dengan rasa cinta yang mendalam kepada Tuhan. Metro Pondok Indah Pondok Indah Plaza I Kav. yang tinggal dalam dirinya sifat-sifat yang baik. Sesuatu didalam diri sufi akan fana atau hancur dan sesuatu yang lain akan baqa atau tinggal." sedang umurnya waktu itu telah lebih dari tujuh puluh tahun. Dengan demikian. (021) 7507174 Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota Please direct any suggestion to Media Team Artikel Yayasan Paramadina Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota III. Sesuatu hilang dari diri sufi dan sesuatu yang lain akan timbul sebagai gantinya. Sebelum sampai ke ittihad.memandangnya akan mati karena kecemerlangan dan keindahannya. UA 20-21 Jakarta Selatan Telp. . "Tiga tahun. Tidak mengherankan kalau sufi merasa tidak puas dengan stasion ma'rifah saja. TASAWUF (hal.

" Ketika sampai ke ambang pintu ittihad dari sufi keluar ungkapan-ungkapan ganjil yang dalam istilah sufi disebut syatahat (ucapan teopatis). "Ia membuat aku gila pada diriku hingga aku mati. Mengenai fana'." Lalu. ia mengungkapkan lagi. dan akupun hidup. baqa' dan ittihad. Hiasilah aku dengan keesaan-Mu. Abu Yazid menggambarkan dengan kata-kata berikut ini. "Gila pada diriku adalah fana' dan gila pada diri-Mu adalah baqa' (kelanjutan hidup)." Seperti halnya Rabi'ah yang tidak meminta surga dari Tuhan dan pula tidak meminta dijauhkan dari neraka dan yang dikehendakinya hanyalah berada dekat dan bersatu dengan Tuhan. tiada Tuhan selain Allah. Masalah ittihad." Abu Yazid tobat dengan lafadz syahadat demikian. karena lafadz itu menggambarkan Tuhan masih jauh dari sufi dan berada di belakang tabir. Abu Yazid." Akhirnya Abu Yazid dengan meninggalkan dirinya mengalami fana." Dalam menjelaskan pengertian fana'. tetapi ia tak sadar lagi pada diri mereka dan pada dirinya. diapun berkata lagi. "Tinggalkan dirimu dan datanglah. Aku hanya mengucapkan. "Manusia tobat dari dosanya. karena Engkau adalah Raja Maha Kuasa. kemudian aku mengetahui-Nya melalui diri-Nya dan akupun hidup. Sedangkan mengenai fana dan baqa'. sebagai berikut. Abu Yazid mengatakan. "Pada suatu ketika aku dinaikkan kehadirat Tuhan dan Ia berkata. antara lain. persatuan atau manunggal dengan Tuhan. "Aku tidak heran melihat cintaku pada-Mu. "Aku mengetahui Tuhan melalui diriku hingga aku hancur. Kemudian Ia membuat aku gila kepada diri-Nya. Lalu. dia berkata lagi. aku tak ingin melihat mereka. Inilah yang disebut kaum sufi al-fana' 'an al-nafs wa al-baqa." Kara-kata ini menggambarkan bahwa cinta mendalam Abu Yazid telah dibalas Tuhan. Dia juga mengucapkan. "Apa jalannya untuk sampai kepadaMu?" Tuhan menjawab. karena aku hanyalah hamba yang hina. kekasih-Ku. "Aku tidak meminta dari Tuhan kecuali Tuhan. bi 'l-Lah. Sebenarnya dirinya tetap ada. Aku menjawab. berhadapan langsung dengan Tuhan dan mengatakan kepadaNya: Tiada Tuhan selain Engkau. Syatahat yang diucapkan Abu Yazid. "Fananya seseorang dari dirinya dan dari makhluk lain terjadi dengan hilangnya kesadaran tentang dirinya dan makhluk lain.tapi kehancurannya akan menimbulkan kesadaran sufi terhadap diri-Nya. makhluk-Ku ingin melihat engkau. aku tak berdaya menentang-Mu. sehingga jika . Tetapi aku heran melihat cinta-Mu padaku. Abu Yazid ingin berada di hadirat Tuhan. tetapi aku tidak. al-Qusyairi menulis. dengan arti kesadaran tentang diri sendiri hancur dan timbullah kesadaran diri Tuhan. Kesadaran sufi tentang dirinya dan makhluk lain lenyap dan pergi ke dalam diri Tuhan dan terjadilah ittihad. Dalam mimpi ia bertanya. Di sini terjadilah ittihad. Tetapi jika itu kehendak-Mu. demikian pula makhluk lain.

aku adalah Engkau.menggambarkan bersatunya Abu Yazid dengan Tuhan." Dialog antara Abu Yazid dengan Tuhan ini menggambarkan bahwa ia dekat sekali dengan Tuhan.makhluk-Mu melihat aku. tetapi itu tidak mengandung pengakuan Abu Yazid bahwa ia adalah Tuhan. Sufi lain yang mengalami persatuan dengan Tuhan adalah Husain Ibn Mansur al-Hallaj (858-922 M). sebagaimana terungkap dari kata-kata berikut ini." Yang penting diperhatikan dalam ungkapan diatas adalah kata-kata Abu Yazid "Aku menjawab melalui diriNya" (Fa qultu bihi). dan sebagaimana dilihat pada permulaan makalah ini. Engkau adalah aku dan aku adalah Engkau. Tiada Allah selain Aku. Maka dosa terbesar tersebut diatas akan membuat Abu Yazid jauh dari Tuhan dan tak dapat bersatu dengan Dia. "Akulah Yang Satu. yang berlainan . Tuhanlah yang mengaku diri-Nya Allah melalui lidah Abu Yazid." Dalam istilah sufi. Karena itu dia pun mengatakan. Kata-kata bihi -melalui diri-Nya. Mengakui dirinya Tuhan adalah dosa terbesar." Permintaan Abu Yazid dikabulkan Tuhan dan terjadilah persatuan. tetapi juga dari syubhat. "Abu Yazid. Maha Besar Aku. Maka dalam pengertian sufi. "Hiasilah aku dengan keesaan-Mu. kata-kata diatas betul keluar dari mulut Abu Yazid. "Engkaulah Yang Satu. Maka yang mengatakan "Hai Aku Yang Satu" bukan Abu Yazid. Abu Yazid. Tetapi yang mereka lihat sebenarnya adalah Engkau. Godaan Tuhan untuk mengalihkan perhatian Abu Yazid ke makhluk-Nya ditolak Abu Yazid. yang satu memanggil yang lain dengan kata-kata: Ya ana (Hai aku). "Engkau adalah Engkau. sufi haruslah bersih bukan dari dosa saja." Yang mengucapkan kata-kata itu memang lidah Abu Yazid. mengeluarkan kata-kata. maka sembahlah Aku." Ia berkata kepadaku. agar dapat dekat kepada Tuhan. telah kami lihat Engkau. Ini kelihatan dari kata-katanya. rohnya telah melebur dalam diri Tuhan. Di dalam jubah ini tidak ada selain Allah. karena ketika itu aku tak ada di sana. mereka akan berkata." Ia berkata lagi. aku menjawab melalui diri-Nya "Hai Aku. Ia tetap meminta bersatu dengan Tuhan. kata menjadi satu. Ia tidak ada lagi. "Maha Suci Aku. Hal ini juga dialami Abu Yazid. bahkan seluruhnya menjadi satu. Maha Suci Aku." Akupun berkata. "Dialog pun terputus. Itu adalah kata-kata Tuhan yang diucapkan melalui lidah Abu Yazid. seperti kelihatan dalam ungkapan selanjutnya. Aku adalah Allah. yang ada hanyalah Tuhan. Maka Ia pun berkata kepadaku." Dalam literatur tasawuf disebut bahwa dalam ittihad. "Hai Engkau. tidak ada di rumah ini selain Allah Yang Maha Kuasa. seusai sembahyang subuh. semuanya kecuali engkau adalah makhluk-Ku. tetapi itu tidak berarti bahwa ia mengakui dirinya Tuhan. kata-kata tersebut memang diucapkan lidah Abu Yazid. tetapi Tuhan melalui Abu Yazid." Aku menjawab. Dengan kata lain. "Pergilah." Aku menjawab: "Aku adalah Aku. Dalam arti serupa inilah harus diartikan kata-kata yang diucapkan lidah sufi ketika berada dalam ittihad yaitu kata-kata yang pada lahirnya mengandung pengakuan sufi seolah-olah ia adalah Tuhan.

mayatnya dibakar dan debunya dibuang ke sungai Tigris. Hal itu digambarkan al-Hallaj dalam syair berikut ini: Jiwa-Mu disatukan dengan jiwaku Sebagaimana anggur disatukan dengan air suci Jika Engkau disentuh. nasut manusia lenyap dan muncullah lahut-nya dan ketika itulah nasut Tuhan turun bersemayam dalam diri sufi dan terjadilah hulul. Pengalaman persatuannya dengan Tuhan tidak disebut ittihad. Metro Pondok Indah Pondok Indah Plaza I Kav. Tuhan memilih tubuh-tubuh manusia tertentu untuk bersemayam didalamnya dengan sifat-sifat ketuhanannya. "Ana 'l-Haqq" (Akulah Yang Maha Benar). setelah sifat-sifat kemanusiaan yang ada dalam tubuh itu dihancurkan. Demikian juga Tuhan mempunyai dua sifat dasar. ketika itu -dalam tiap hal.Engkau adalah aku. 7507173 Fax. lahut (ketuhanan) dan nasut (kemanusiaan). Dalam literatur tasawuf hulul diartikan. 7501983. (bersambung 4/4) -------------------------------------------Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah Editor: Budhy Munawar-Rachman Penerbit Yayasan Paramadina Jln. Hal ini karena dia mengatakan. Hadits ini mengandung arti bahwa didalam diri Adam ada bentuk Tuhan dan itulah yang disebut lahut manusia. Hal ini terlihat jelas pada syair al-Hallaj sebagai berikut: Maha Suci Diri Yang Sifat kemanusiaan-Nya Membukakan rahasia cahaya ketuhanan-Nya yang gemilang Kemudian kelihatan bagi makhluk-Nya dengan nyata Dalam bentuk manusia yang makan dan minum Dengan membersihkan diri malalui ibadat yang banyak dilakukan. al-Hallaj mengalami persatuannya dengan Tuhan turun ke bumi. Kalau Abu Yazid mengalami naik ke langit untuk bersatu dengan Tuhan. yang dialami Abu Yazid dalam ittihad sebelum tercapai hulul. tetapi hulul. Nasibnya malang karena dijatuhi hukuman bunuh. UA 20-21 Jakarta Selatan Telp. Di sini terdapat juga konsep fana.nasibnya dengan Abu Yazid. Landasan bahwa Tuhan dan manusia sama-sama mempunyai sifat diambil dari hadits yang menegaskan bahwa Tuhan menciptakan Adam sesuai dengan bentuk-Nya. Sebaliknya didalam diri Tuhan terdapat bentuk Adam dan itulah yang disebut nasut Tuhan. Menurut al-Hallaj. (021) 7507174 Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota Please direct any suggestion to Media Team . (021) 7501969. manusia mempunyai dua sifat dasar: nasut (kemanusiaan) dan lahut (ketuhanan). aku disentuhnya pula Maka.

yang bagi al-Hallaj merupakan dua hal yang berbeda. sungguhpun ia tidak mengharamkan tingkat fana'. Lahut dan nasut. setelah pengalaman persatuan manusia dengan Tuhan yang dibawa al-Bustami dalam ittihad dan al-Hallaj dalam hulul. 42) oleh Harun Nasution (4/4) Hulul juga digambarkan dalam syair berikut: Aku adalah Dia yang kucintai Dan Dia yang kucintai adalah aku. TASAWUF (hal. gelar yang diberikan kepada kaum sufi. Ia tidak mengkafirkan Abu Yazid dan al-Hallaj. dan ittihad. Kalau filsafat. ucapan itu tidak mengandung arti pengakuan al-Hallaj dirinya menjadi Tuhan. ia satukan menjadi dua aspek. tidak menangkap pengalaman sufi yang mementingkan hakekat dan tujuan ibadat. Dalam sejarah Islam memang terkenal adanya pertentangan keras antara kaum syari'at dan kaum hakekat. tasawuf sebaliknya banyak diamalkan.14. Ketika mengalami hulul yang digambarkan diatas itulah lidah al-Hallaj mengucapkan. tapi mengkafirkan al-Farabi dan Ibn Sina. setelah kritik al-Ghazali dalam bukunya Tahafut al-Falasifah. Kami adalah dua jiwa yang menempati satu tubuh. baqa. Yang Maha Benar bukanlah Aku. yaitu mendekatkan diri sedekat mungkin kepada Tuhan. Maka bedakanlah antara kami. engkau lihat Dia. Aspek batin yang merupakan . Al-Ghazali menghalalkan tasawuf sampai tingkat ma'rifah. Dalam pengalamannya.Artikel Yayasan Paramadina Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota III. Aku hanya satu dari yang benar. "Aku adalah rahasia Yang Maha Benar. bahkan oleh syariat sendiri. "Ana 'l-Haqq" (Akulah Yang Maha Benar)." Syatahat atau kata-kata teofani sufi seperti itu membuat kaum syari'at menuduh sufi telah menyeleweng dari ajaran Islam dan menganggap tasawuf bertentangan dengan Islam. Dan jika engkau lihat Dia. Kaum syari'at yang banyak terikat kepada formalitas ibadat. Pertentangan ini mereda setelah al-Ghazali datang dengan pengalamannya bahwa jalan sufilah yang dapat membawa orang kepada kebenaran yang menyakinkan. Dalam perkembangan selanjutnya. Muhy al-Din Ibn 'Arabi (1165-1240) membawa ajaran kesatuan wujud makhluk dengan Tuhan dalam wahdat al-wujud. tiap makhluk mempunyai dua aspek. tidak berkembang lagi di dunia Islam Sunni. engkau lihat Kami. Kata-kata itu adalah kata-kata Tuhan yang Ia ucapkan melalui lidah al-Hallaj. Jika Engkau lihat aku. Tetapi sebagaimana halnya dengan Abu Yazid. Sufi yang bernasib malang ini mengatakan.

yaitu wujud al-haqq. pada diri manusia Ia menampakkan diri-Nya dengan segala sifat-Nya. kabut kegelapan.esensi. sebagaimana halnya dengan sufi-sufi lainnya. wujud alam tak akan ada tanpa wujud Tuhan. dan melalui makhluklah Ia dikenal. qudrat dll. Untuk mencapai tingkat Insan Kamil. ia lihat dirinya. Tuhan adalah transendental dan bukan imanen. Tuhan menampakkan diri dalam nama-nama-Nya. Wujud semuanya satu. Pada tahap aniah. Di antara semua makhluk-Nya. sebagaimana disebut dalam Hadits yang telah dikutip pada permulaan. pada sufi yang demikian. Sebagai bayangan. Pada tingkat tawassut. Dengan kata lain. ahadiah. Tajalli Tuhan yang sempurna terdapat dalam Insan Kamil. ilmu. tanpa nama dan sifat. Jelas bahwa Ibn Arabi tidak mengidentikkan alam dengan Tuhan. Wujud alam tergantung pada wujud Tuhan. Yang lain dan yang banyak adalah bayangannya. Dan Tuhan ber-tajalli pada sufi demikian dengan . Penyayang dan sebagainya (tajalli fi al-asma). Dalam pengalaman al-Jilli. pada awalnya adalah "harta" tersembunyi. sufi disinari oleh nama-nama Tuhan. Pada tahap hawiah nama dan sifat Tuhan telah muncul. Di dalam tiap cermin. Sebagai bayangan. tetapi pada hakekatnya dirinya hanya satu. alam sebagai makhluk. disebut al-haqq. Alam hanya merupakan penampakan diri atau tajalli dari Tuhan. dirinya kelihatan banyak. Di dalam cermin. sufi disinari oleh sifat-sifat Tuhan. Semua makhluk dalam aspek luarnya berbeda. yaitu al-haqq. Tuhan berada di luar dan bukan di dalam alam. Bagi Ibn Arabi. Tuhan menampakkan diri dengan nama-nama dan sifat-sifat-Nya pada makhluk-Nya. adalah penampakan diri atau tajalli dari Tuhan. tetapi dalam aspek batinnya satu. Yang ada dalam alam ini kelihatannya banyak tetapi pada hakekatnya satu. Huwiah dan Aniyah. Tuhan dalam keabsolutannya baru keluar dari al-'ama. tetapi masih dalam bentuk potensial. tajalli atau penampakan diri Tuhan mengambil tiga tahap tanazul (turun). seperti Pengasih. Pada tingkat bidayah. tajalli-Nya tidak sama pada semua manusia. Tuhan. sufi mesti mengadakan taraqqi (pendakian) melalui tiga tingkatan: bidayah. seperti hayat. Pada tahap ahadiah. tawassut dan khitam. Maka. alam adalah bayangan Tuhan. dengan kata lain. Oleh karena itu ada orang yang mengidentikkan ajaran wahdat al-wujud Ibn Arabi dengan panteisme dalam arti bahwa yang disebut Tuhan adalah alam semesta. Ajaran wahdat al-wujud dengan tajalli Tuhan ini selanjutnya membawa pada ajaran al-Insan al-Kamil yang dikembangkan terutama oleh Abd al-Karim al-Jilli (1366-1428). Keadaan ini tak ubahnya sebagai orang yang melihat dirinya dalam beberapa cermin yang diletakkan di sekelilingnya. wujud alam bersatu dengan wujud Tuhan dalam ajaran wahdat al-wujud. dan aspek luar yang merupakan aksiden disebut al-khalq. Alam sebagai cermin yang didalamnya terdapat gambar Tuhan. Sungguhpun manusia merupakan tajalli atau penampakan diri Tuhan yang paling sempurna diantara semua makhluk-Nya. kemudian Ia ingin dikenal maka diciptakan-Nya makhluk.

Pada tingkat ini sufi pun menjadi Insan Kamil. Sementara itu tasawuf pada masa awal sejarahnya mengambil bentuk tarekat. Insan Kamil terdapat dalam diri para Nabi dan para wali. ajaran-ajaran sufi besar tersebut terkadang diselewengkan. Dialah bayangan Tuhan yang sempurna. sufi disinari dzat Tuhan yang dengan demikian sufi tersebut ber-tajalli dengan dzat-Nya. Muhammad Abduh. Demikianlah. Di antara semuanya. dan disamping itu menekankan ajaran tawakal sufi. Ia menjadi manusia sempurna. Tarekat ada yang telah menyalahi ajaran dasar sufi dan syari'at Islam. dalam arti organisasi tasawuf. Sementara itu ada pula tarekat yang menekankan pentingnya kehidupan rohani dan mengabaikan kehidupan duniawi. 1415 M). Mawlawiah (Jalaluddin Rumi) di Turki. pengikut Abdullah Syattar (w. mempunyai sifat ketuhanan dan dalam dirinya terdapat bentuk (shurah) Allah. Syadziliah di Marokko. Dalam tarekat. Karena pengaruh besar dalam masyarakat itu orientasi akhirat dan sikap tawakal berkembang di kalangan umat Islam yang bekas-bekasnya masih ada pada kita sampai sekarang. Dengan kata lain. Tarekat-tarekat besar lain diantaranya adalah Bekhtasyiah di Turki. 1166 M). Di antara tarekat-tarekat besar yang terdapat di Indonesia adalah Qadiriah yang muncul pada abad ke-13 Masehi untuk melestarikan ajaran Syekh Abdul Qadir Jailani (w. Syattariah. Di Turki Usmani. dan Rifa'iah di Irak. Sanusiah di Libia. sehingga timbullah pertentangan antara kaum syari'at dan kaum tarekat.sifat-sifat-Nya. orang-orang yang ingin mendapat dukungan dari masyarakat menjadi anggota tarekat. tarekat mempunyai pengaruh besar dalam masyarakat Islam. muncul pada abad ke-14 bagi pengikut Bahauddin Naqsyabandi (w. yang dibentuk oleh murid-murid atau pengikut-pengikut sufi besar untuk melestarikan ajaran gurunya. Karena pengaruh besar itu. Dan dialah yang menjadi perantara antara manusia dan Tuhan. Perlu ditegaskan bahwa sampai permulaan abad ke-20. Mesir dan Suria. mereka mendapat sokongan dari tarekat Bekhtasyi dan para ulama Turki. yang dikembangkan tarekat adalah orientasi akhirat dan sikap tawakal. Pada tingkat khitam. Untuk itu tidak mengherankan kalau pemimpin-pemimpin pembaharuan dalam Islam seperti Jamaluddin Afghani. Rasyid Ridha dan terutama Kamal Ataturk memandang tarekat sebagai salah satu faktor yang membawa kepada kemunduran . tentara menjadi anggota tarekat Bekhtasyi dan dalam perlawanan mereka terhadap pembaharuan yang diadakan sultan-sultan. sehingga mengabaikan usaha. Naqsyabandiah. Suria dan Mesir. sehingga tarekat menyimpang dari tujuan sebenarnya dari sufi untuk menyucikan diri dan berada dekat dengan Tuhan. tujuan sufi untuk berada sedekat mungkin dengan Tuhan akhirnya tercapai malalui ittihad serta hulul yang mengandung pengalaman persatuan roh manusia dengan roh Tuhan dan melalui wahdat al-wujud yang mengandung arti penampakan diri atau tajalli Tuhan yang sempurna dalam diri Insan Kamil. 1415 M). dan Tijaniah yang muncul pada abad ke-19 di Marokko dan Aljazair. Insan Kamil yang tersempurna terdapat dalam diri Nabi Muhammad.

. Oleh karena itu bukanlah tidak pada tempatnya bagi seorang Kristen untuk mempelajari ajaran-ajaran sufi yang telah meninggalkan pengaruh besar dalam kehidupan umat Islam dan bersama-sama dengan orang Islam menggali kembali ajaran-ajaran sufi yang akan dapat memenuhi kebutuhan orang yang mencari nilai-nilai kerohanian dan moral zaman yang penuh kegelapan dan tantangan seperti sekarang. FILSAFAT ISLAM (1/3) oleh Harun Nasution ..J. Gallimard. Pada akhir-akhir ini memang kelihatan gejala orang-orang di Barat yang bosan hidup kematerian lalu mencari hidup kerohanian di Timur.. 1963. (021) 7501969. London.umat Islam.. al-Nahdah al-Misriah. Badawi. Dalam hubungan itu kira-kira 30 tahun lalu. -------------------------------------------Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah Editor: Budhy Munawar-Rachman Penerbit Yayasan Paramadina Jln. DAFTAR KEPUSTAKAAN Arberry. perlu dihidupkan kembali spiritualisme. H. umpamanya aliran Subud di Jakarta. Metro Pondok Indah Pondok Indah Plaza I Kav. Arberry dalam bukunya Sufism menulis bahwa Muslim dan bukan Muslim adalah makhluk Tuhan yang satu. (021) 7507174 Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota Please direct any suggestion to Media Team Artikel Yayasan Paramadina Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota III.J. Disini tasawuf dengan ajaran kerohanian dan akhlak mulianya dapat memainkan peranan penting. Histoire de la Philosophie Islamique.R. 1964. Sufism. A. Dalam pada itu dunia dewasa ini dilanda oleh materialisme yang menimbulkan berbagai masalah sosial yang pelik. Banyak orang mengatakan bahwa dalam menghadapi meterialisme yang melanda dunia sekarang. Ada yang pergi ke kerohanian dalam agama Buddha. A. ada ke kerohanian dalam agama Hindu dan tak sedikit pula yang mengikuti kerohanian dalam agama Islam. Tetapi untuk itu yang perlu ditekankan tarekat dalam diri para pengikutnya adalah penyucian diri dan pembentukan akhlak mulia disamping kerohanian dengan tidak mengabaikan kehidupan keduniaan. 7501983. UA 20-21 Jakarta Selatan Telp. 7507173 Fax. Cairo.13. Syatahat al-Sufiah. A. Corbin. George Allan and Unwin Ltd. Paris. 1949.

baik dalam perbuatan maupun pemikiran. dengan lain kata mereka tinggalkan arti tersurat dari nash wahyu dan mengambil arti tersiratnya. dan timbullah pusat-pusat peradaban Yunani seperti Iskandariah (dari nama Aleksander) di Mesir. Untuk itu mereka pelajari filsafat dan ilmu pengetahuan Yunani. Mereka pun menyerang agama Islam dengan memajukan argumen-argumen berdasarkan falsafat yang mereka peroleh dari Yunani. Ketika para Sahabat Nabi Muhammad menyampaikan dakwah Islam ke daerah-daerah tersebut terjadi peperangan antara kekuatan Islam dan kekuatan Kerajaan Bizantium di Mesir. bahwa tidak ada paksaan dalam agama dan bahwa kewajiban orang Islam hanya menyampaikan ajaran-ajaran yang dibawa Nabi. Daerah-daerah ini. jatuh ke bawah kekuasaan Islam. Dari pihak umat Islam timbul satu golongan yang melihat bahwa serangan itu tidak dapat ditangkis kecuali dengan memakai argumen-argumen filosofis pula. 2. mempunyai kebebasan dalam kemauan serta perbuatan. Mereka tetap memeluk agama mereka semula terutama yang menganut agama Nasrani dan Yahudi. Dari warga negara non Islam ini timbul satu golongan yang tidak senang dengan kekuasaan Islam dan oleh karena itu ingin menjatuhkan Islam. Mereka dikenal banyak memakai ta'wil dalam memahami wahyu. dengan menangnya kekuatan Islam dalam peperangan tersebut. dan mampu berfikir secara mendalam. sehingga mereka tidak mau tunduk kepada arti harfiah dari teks wahyu yang tidak sejalan dengan pemikiran filosofis dan ilmiah. tapi juga menanamkan kebudayaan Yunani di daerah-daerah yang dimasukinya. Kedudukan akal tinggi di dalamnya. Untuk itu ia adakan pembauran antara orang-orang Yunani yang dibawanya. yaitu manusia dewasa. Ciri-ciri dari teologi rasional ini ialah: 1. sesuai dengan ajaran al-Qur'an. Dengan jalan demikian berkembanglah falsafat dan ilmu pengetahuan Yunani di Timur Tengah. dan kekuatan Kerajaan Persia di Iran. Tujuannya bukanlah hanya meluaskan daerah kekuasaannya ke luar Macedonia. yang di Barat dikenal dengan istilah free-will and free-act. 3. Dengan demikian timbullah di panggung sejarah pemikiran Islam teologi rasional yang dipelopori kaum Mu'tazilah. Akal menunjukkan kekuatan manusia. Manusia dewasa. Tetapi penduduknya. Pemikiran filosofis mereka membawa kepada penekanan . Kedudukan akal yang tinggi dalam pemikiran Yunani mereka jumpai sejalan dengan kedudukan akal yang tinggi dalam al-Qur'an dan Sunnah Nabi. maka akal yang kuat menggambarkan manusia yang kuat. berlainan dengan anak kecil. Mereka tinggalkan arti harfiah teks dan ambil arti majazinya. dengan penduduk setempat. Karena itu aliran ini menganut faham qadariah.Ketika datang ke Timur Tengah pada abad IV SM. yang membawa kepada konsep manusia yang penuh dinamika. mampu berdiri sendiri. Suria serta Irak. tidak dipaksa para sahabat untuk masuk-Islam. Selopsia serta Jundisyapur di Irak dan Baktra (sekarang Balkh) di Iran. Antakia di Suria. Aleksander Yang Agung membawa bukan hanya kaum militer tetapi juga kaum sipil.

Keadilan Tuhan membawa mereka selanjutnya kepada keyakinan adanya hukum alam ciptaan Tuhan. Benda-benda yang ada di luar akal merupakan juz'iat (kekhususan. yang di dalam diriNya terdapat arti banyak. Teologi rasional Mu'tazilah inilah. pancaran) dari al-Farabi. berusaha memurnikan keesaan Tuhan dari arti banyak. al-Kindi. yang mengatur perjalanan apa yang ada di alam ini. Mempelajari teologi adalah wajib dalam Islam. (haqiqah kulliah) yang disebut mahiah. dan peraturan itu perlu dicari untuk kepentingan hidup manusia di dunia ini. Dalam hal ini al-Farabi (870-950 M) memberi konsep yang lebih murni lagi. Filsafat ia artikan sebagai pembahasan tentang yang benar (al-bahs'an al-haqq). Zat. Karena pemikiran Tuhan tentang diriNya merupakan daya . Yang penting bagi filsafat bukanlah benda-benda atau juz'iat itu sendiri. Maka kedua-duanya membahas yang benar. Filsafat yang termulia dalam pendapat Al-Kindi adalah filsafat ketuhanan atau teologi. Agama dalam pada itu juga menjelaskan yang benar. Pencipta alam semesta. yaitu hakikat yang bersifat universal dalam bentuk jenis. pada masa antara abad ke VIII dan ke XIII M. Tiap-tiap benda mempunyai hakikat sebagai juz'i (haqiqah jaz'iah) yang disebut aniah dan hakikat sebagai kulli. Dengan filsafat "al-Haqq al-Awwal"nya.konsep Tuhan Yang Maha Adil. Karena itu mempelajari filsafat. dalam al-Qur'an disebut Sunnatullah. Dalam pemikirannya. tidaklah sebenarnya esa. yaitu sesuainya konsep dalam akal dengan benda bersangkutan yang berada di luar akal. Al-haqiqah atau kebenaran. Maka keadilan Tuhanlah yang menjadi titik tolak pemikiran teologi mereka. agar menjadi esa. Filsafat dengan demikian membahas soal Tuhan dan agama. hanya berhubungan dengan yang esa. menurut pendapatnya. kebebasan manusia dalam berfikir serta berbuat dan adanya hukum alam ciptaan Tuhan. adalah sesuainya apa yang ada di dalam akal dengan apa yang ada diluarnya. Selanjutnya filsafat dalam pembahasannya memakai akal dan agama. Yang Maha Esa berfikir tentang diriNya yang esa. Ia dengan tegas mengatakan bahwa antara filsafat dan agama tak ada pertentangan. tetapi juga sains. kalau Tuhan. dan dalam penjelasan tentang yang benar juga memakai argumen-argumen rasional. particulars). yang membawa pada perkembangan Islam. dan pemikiran merupakan daya atau energi. Yang Benar Pertama itu dalam penjelasan Al-Kindi adalah Tuhan. berhubungan langsung dengan ciptaannya yang tak dapat dihitung banyaknya itu. bukan hanya filsafat. Filsuf besar pertama yang dikenal adalah al-Kindi. tetapi yang penting adalah hakikat dari juz'iat itu sendiri. Alam ini berjalan menurut peraturan tertentu. (796-873M) satu-satunya filsuf Arab dalam Islam. di dalam diri Tuhan terdapat arti banyak. Menurut pemikiran filsafat kalau ada yang benar maka mesti ada "Yang Benar Pertama" (al-Haqq al-Awwal). tetapi wajib. Memurnikan tauhid memang masalah penting dalam teologi dan filsafat Islam. dan berfalsafat tidaklah haram dan tidak dilarang. dengan keyakinan akan kedudukan akal yang tinggi. Pemurnian tauhid inilah yang menimbulkan filsafat emanasi (al-faid. Yang Maha Esa. universals). Hakikat yang ada dalam benda-benda itu disebut kulliat (keumuman.

Akal IV menghasilkan Akal V dan Yupiter. Akal V menghasilkan Akal VI dan Mars. Akal IX menghasilkan Akal X dan Bulan. Alam dalam filsafat Islam diciptakan bukan dari tiada atau nihil. yaitu Tuhan dan dirinya sendiri. udara. Jadi. yaitu alam yang terdiri atas sepuluh falak. Dari sinilah timbul pengertian alam qadim. maka daya itu menciptakan sesuatu. Pemikiran Akal X tentang Tuhan tidak lagi menghasilkan Akal. tetapi melalui Akal atau malaikat. Akal II juga mempunyai obyek pemikiran. cukup kuat lagi untuk menghasilkan Demikianlah gambaran alam dalam astronomi yang diketahui di zaman Aristoteles dan zaman al-Farabi. Sesuatu mesti diciptakan dari suatu yang telah ada. Dengan lain kata Akal I. Yang Maha Esa menciptakan yang esa. Akal VII menghasilkan Akal VIII dan Venus. Dalam diri Tuhan tidak terdapat arti banyak. air dan tanah. Yang diciptakan pemikiran Tuhan tentang diriNya itu adalah Akal I. Akal dalam pendapat filsuf Islam adalah malaikat. karena tidak ada lagi planet yang akan diurusnya. Begitulah Tuhan menciptakan alam semesta dalam falsafat emanasi al-Farabi. Obyek pemikiran Akal I adalah Tuhan dan dirinya sendiri. yaitu zaman tak bermula. Tuhan tidak langsung menciptakan yang banyak ini. Akal X menghasilkan hanya Bumi. tetapi dari materi asal yaitu api. Memang tiap-tiap Akal itu mengurus planet yang diwujudkannya. Maka materi asal timbul bukan dari tiada. dan Akal I melalui Akal II. Pemikirannya tentang Tuhan menghasilkan Akal II dan pemikirannya tentang dirinya menghasilkan Langit Pertama. yang dikritik al-Ghazali. tetapi dari sesuatu yang dipancarkan pemikiran Tuhan. apa yang dipancarkan pemikiran Tuhan itu mestilah pula qadim. dan inilah tauhid yang murni dalam pendapat al-Farabi. udara. Pemikiran Akal X tidak Akal. Tuhan tidak langsung berhubungan dengan yang banyak. Pemikirannya tentang Tuhan menghasilkan Akal III dan pemikirannya tentang dirinya sendiri menghasilkan Alam Bintang. Ibn Sina dan filsuf-filsuf Islam yang menganut paham emanasi. Akal II dan seterusnya serta materi asal yang empat api. Dalam pendapat falsafat dari nihil tak dapat diciptakan sesuatu. air dan tanah adalah pula qadim. Dengan demikian diperolehlah gambaran berikut: Akal III menghasilkan Akal IV dan Saturnus. Dalam diri yang esa atau Akal I inilah mulai terdapat arti banyak. Akal VI menghasilkan Akal VII dan Matahari. dalam arti tidak mempunyai permulaan dalam zaman. Ak al VIII menghasilkan Akal IX dan Merkuri. Karena Tuhan beffikir semenjak qidam. .yang dahsyat. Akal II melalui Akal III dan demikianlah seterusnya sampai ke penciptaan Bumi melalui Akal X. tetapi melalui Akal I yang esa. Begitulah Akal selanjutnya berfikir tentang Tuhan dan menghasilkan Akal dan berpikir tentang dirinya sendiri dan menghasilkan planet-planet.

Akal teoritis. rasa dan raba. yang tak pernah ada dalam materi seperti Tuhan. Jiwa manusia. (021) 7501969. Indra penganggap yang menangkap arti-arti yang terlindung dalam gambar-gambar tersebut. 7501983. pindah dari satu tempat ke tempat. Indra bersama yang menerima kesan-kesan yang diperoleh pancaindra. Dan (b) Indra dalam yang berada di otak dan terdiri dari: i.13.Indra pereka yang mengatur gambar-gambar ini. yang dibahas filsuf-filsuf Islam ada pula soal jiwa manusia yang dalam falsafat Islam disebut al-nafs. iv. Jiwa binatang yang mempunyai daya gerak. penglihatan. yaitu pendengaran. yang mempunyai hanya satu daya. tumbuh dan berkembang biak. yaitu berfikir yang disebut akal. Akal terbagi dua: a. 7507173 Fax. Indra penggambar yang melepaskan gambar-gambar dari materi. Jiwa tumbuh-tumbuhan yang mempunyai daya makan. b. . UA 20-21 Jakarta Selatan Telp. roh dan malaikat. Filsafat yang terbaik mengenai ini adalah pemikiran yang diberikan Ibn Sina (980-1037M). (021) 7507174 Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota Please direct any suggestion to Media Team Artikel Yayasan Paramadina Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota III. 2. Akal praktis. FILSAFAT ISLAM (2/3) oleh Harun Nasution Selain kemahaesaan Tuhan. Indra pengingat yang menyimpan arti-arti itu. Sama dengan al-Farabi ia membagi jiwa kepada tiga bagian: 1. Metro Pondok Indah Pondok Indah Plaza I Kav. yang menerima arti-arti yang berasal dari materi melalui indra pengingat yang ada dalam jiwa binatang. yang menangkap arti-arti murni.-------------------------------------------. iii. dan daya menangkap dengan pancaindra. 3.(bersambung 2/3) Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah Editor: Budhy Munawar-Rachman Penerbit Yayasan Paramadina Jln. v. ii. yang terbagi dua: (a) Indra luar.

yang telah mulai dapat menangkap arti-arti murni. yang akan tinggal menghadapi perhitungan di depan Tuhan adalah jiwa manusia. 4. yang pada mulanya menolong akal untuk menangkap arti-arti. tetapi di akhirat. Jiwa tumbuh-tumbuhan dan jiwa binatang akan lenyap dengan hancurnya tubuh kembali menjadi tanah. Kedua jiwa ini. Jiwa berhajat kepada badan manusia. Dalam diri manusia terdapat tiga macam jiwa ini. Akal bakat. Kalau jiwa tumbuh tumbuhan dan binatang tidak kekal. yang telah mudah dan lebih banyak menangkap arti-arti murni. Akal teoritis mempunyai empat tingkatan: 1. Kalau akal sudah sampai kepada kesempurnaan. sedang akal teoritis kepada alam metafisik. dan jelas bahwa yang terpenting diantaranya adalah jiwa berpikir manusia yang disebut akal itu Akal praktis. yang diciptakan Tuhan setiap ada janin yang siap untuk menerima jiwa. Akal aktual. sebagaimana dilihat di atas. Makin banyak arti yang diteruskan otak kepadanya makin kuat daya akal untuk menangkap arti-arti murni. tidak meneruskan arti-arti. ke akal teoritis. jiwa manusia adalah . Karena itu balasan yang akan diterimanya bukan di dunia. Jiwa tumbuh-tumbuhan dan binatang lenyap dengan matinya tubuh karena keduanya hanya mempunyai fungsi-fungsi fisik seperti dijelaskan sebelumnya. bahkan badan bisa menjadi penghalang baginya dalam menangkap arti-arti murni. Akal inilah yang dapat menangkap arti-arti murni yang dipancarkan Tuhan melalui Akal X ke Bumi. Akal potensial dalam arti akal yang mempunyai potensi untuk menangkap arti-arti murni. karena telah memperoleh balasan di dunia ini tidak akan dihidupkan kembal di akhirat. Akal inilah yang mengontrol badan manusia.Akal praktis memusatkan perhatian kepada alam materi. karena otaklah. Tetapi kalau ia teruskan akal teoritis akan berkembang dengan baik. Akal tingkat keempat inilah yang tertinggi dan dimiliki filsuf-filsuf. kalau terpengaruh oleh materi. jiwa tak berhajat lagi pada badan. Setelah tubuh manusia mati. orang itu dekat menyerupai binatang. Jiwa manusia. Tetapi jika jiwa manusia yang berpengaruh terhadap dirinya maka ia dekat menyerupai malaikat. 3. Jika jiwa tumbuh-tumbuhan dan binatang yang berpengaruh. Dan dalam hal ini akal praktis mempunyai malaikat. sehingga hawa nafsu yang terdapat di dalamnya tidak menjadi halangan bagi akal praktis untuk membawa manusia kepada kesempurnaan. yang diterimanya dari indra pengingat dalam jiwa binatang. Jiwa manusia mempunyai wujud tersendiri. Sifat seseorang banyak bergantung pada jiwa mana dari tiga yang tersebut di atas berpengaruh pada dirinya. Akal perolehan yang telah sempurna kesanggupannya menangkap arti-arti murni. berlainan dengan kedua jiwa di atas fungsinya tidak berkaitan dengan yang bersifat fisik tetapi yang bersifat abstrak dan rohani. 2.

pembangkitan jasmani tak ada. yaitu: 1. . Sebagai seorang Mu'tazilah al-Kindi juga tidak percaya pada adanya sifat-sifat Tuhan. Tiga.kekal. maka alam adalah pula Tuhan dan terdapatlah dua Tuhan. Konsep alam qadim membawa kepada kekufuran dalam pendapat al-Ghazali karena qadim dalam filsafat berarti sesuatu yang wujudnya tidak mempunyai permulaan dalam zaman yaitu tidak pernah tidak ada di zaman lampau. yaitu perincian yang ada dalam alam ini. II dan seterusnyalah yang mengatur planet-planet maka Akal I. Sebagai orang yang banyak berkecimpung dalam bidang sains para filsuf percaya pula kepada tidak berubahnya hukum alam. Pembangkitan jasmani tak ada 3. menurut al-Ghazali membawa mereka kepada kekufuran. illallah. Yang tidak diciptakan adalah Tuhan. tak mempunyai akhir dalam zaman. Dan ini berarti tidak diciptakan. Tuhan tidak mengetahui perincian yang terjadi di alam. Pemurnian itu membawa al-Farabi pula kepada falsafat emanasi yang di dalamnya terkandung pemikiran alam qadim. timbul pendapat bahwa Tuhan tidak mengetahui juz'iat. dosa besar yang dalam al-Qur'an disebut tak dapat diampuni Tuhan. Kalau alam qadim. Politeisme dan ateisme jelas bertentangan sekali dengan ajaran dasar Islam tauhid yang sebagaimana dilihat di atas para filsuf mengusahakan Islam memberikan arti semurni-murninya. Demikianlah beberapa aspek penting dari falsafat Islam. Tuhan mengetahui hanya yang bersifat universal. Ini membawa pula kepada ateisme. Pemurnian konsep tauhid membawa al-Kindi kepada pemikiran Tuhan tidak mempunyai hakikat dan tak dapat diberi sifat jenis (al-jins) serta diferensiasi (al-fasl). Alam qadim dalam arti tak bermula dalam zaman 2. Ini membawa kepada paham syirk atau politeisme. Karena Tuhan dalam filsafat emanasi tak boleh berhubungan langsung dengan yang banyak dan hanya berfikir tentang diriNya Yang Maha Esa. II dan seterusnya itulah yang mengetahui juz'iat atau kekhususan yang terjadi di alam ini. Maka syahadat dalam teologi Islam adalah: la qadima. Tetapi kalau ia berpisah dari badan dalam keadaan belum sempurna ia akan mengalami kesengsaraan kelak. Dari paham bahwa jiwa manusialah yang akan menghadapi perhitungan kelak timbul faham tidak adanya pembangkitan jasmani yang juga dikritik al-Ghazali. Karena akal I. Inilah yang mendorong al-Ghazali untuk mencap kafir filsuf yang percaya bahwa alam ini qadim. Jika ia telah mencapai kesempurnaan sebelum berpisah dengan badan ia akan mengalami kebahagiaan di akhirat. tak bermula dalam zaman dan baqin. yang ada hanyalah semata-mata zat. Inilah sepuluh dari duapuluh kritikan yang dimajukan al-Ghazali (1058-1111 M) terhadap pemikiran para filsuf Islam. tidak ada yang qadim selain Allah. Karena inti manusia adalah jiwa berfikir untuk memperoleh kesempurnaan. Tidak diciptakan bisa pula berarti tidak perlu adanya Pencipta yaitu Tuhan. diantara sepuluh itu.

Umpamanya ayat 78/9 dari surat Yasin "Siapa yang menghidupkan tulang-tulang yang telah rapuh ini?. Sesudah al-Ghazali. Pengkafiran al-Ghazali ini membuat orang di dunia Islam bagian timur dengan Baghdad sebagai pusat pemikiran menjauhi falsafat.Mengenai masalah kedua pembangkitan jasmani tak ada. Mereka tidak mengambil arti tersurat dari wahyu untuk menyesuaikannya dengan pemikiran ilmiah dan filosofis. teologi tradisional inilah yang berkembang di dunia Islam bagian Timur. 3. Jelas teologi tradisional al-Asy'ari ini tidak mendorong pada berkembangnya pemikiran ilmiah dan filosofis sebagaimana halnya dengan teologi rasional Mu'tazilah. Karena akal lemah manusia dalam teologi ini merupakan manusia lemah dekat menyerupai anak yang belum dewasa yang belum bisa berdiri sendiri tetapi masih banyak bergantung pada orang lain untuk membantunya dalam hidupnya. Katakanlah: Yang menghidupkan adalah Yang Menciptakannya pertama kali. Dalam pada itu sebelum zaman al-Ghazali telah muncul teologi baru yang menentang teologi rasional Mu'tazilah. Dalam teologi ini akal mempunyai kedudukan rendah sehingga kaum Asy'ari banyak terikat kepada arti lafzi dari teks wahyu. 2. Sebagai lawan dari teologi rasional Mu'tazilah teologi Asy'ari bercorak tradisional. Sebagai umpama dapat disebut ayat 59 dari surat al-An'am: Tiada daun yang jatuh yang tidak diketahui-Nya. Corak tradisionalnya dilihat dari hal-hal 1. Pengkafiran tentang masalah ketiga. Tuhan tidak mengetahui perincian yang ada di alam juga didasarkan atas keadaan falsafat itu. Manusia di sini bersikap statis. Tidak mengherankan kalau sesudah zaman . Teologi baru itu dibawa oleh al-Asy'ari (873-935) yang pada mulanya adalah salah satu tokoh teologi rasional. tak terdapat. yang ada ialah kebiasaan alam. Teologi ini mengajarkan paham jabariah atau fatalisme yaitu percaya kepada kada dan kadar Tuhan. Karena itu hukum alam dalam teologi ini." Maka pengkafiran di sini berdasar atas berlawanannya falsafat tidak adanya pembangkitan jasmani dengan teks al-Qur'an yang adalah wahyu dari Tuhan. Manusia dan alam ini diatur Tuhan menurut kehendak mutlakNya dan bukan menurut peraturan yang dibuatnya. Apalagi di samping pengkafiran itu al-Ghazali mengeluarkan pendapat bahwa jalan sebenarnya untuk mencapai hakikat bukanlah filsafat tetapi tasawuf. Oleh sebab-sebab yang belum begitu jelas ia meninggalkan paham Mu'tazilahnya dan munculkan sebagai lawan dari teologi Mu'tazilah teologi baru yang kemudian dikenal dengan nama teologi al-Asy'ari. Dengan demikian bagi mereka api tidak sesuai dengan hukum alam selamanya membakar tetapi biasanya membakar sesuai dengan kehendak mutlak Tuhan. Pemikiran teologi al-Asy'ari bertitik tolak dari paham kehendak mutlak Tuhan. berlawanan dengan teks ayat dalam al-Qur'an. sedangkan teks ayat-ayat dalam al-Qur'an menggambarkan adanya pembangkitan jasmani itu.

kata Ibn Rusyd. (021) 7501969. . UA 20-21 Jakarta Selatan Telp. alam mempunyai permulaan dalam zaman.(bersambung 3/3) Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah Editor: Budhy Munawar-Rachman Penerbit Yayasan Paramadina Jln. konsep al-Ghazali bahwa alam hadis. Ibn Tufail (w. Mengenai masalah pertama qidam al-alam. Dan akal orang yang terpencil di suatu pulau. 7507173 Fax. alam tidak mempunyai permulaan dalam zaman. di ketika itu berada dalam kesendirianNya. menurut Ibn Rusyd mengandung arti bahwa ketika Tuhan menciptakan alam. Didalam al-Qur'an digambarkan bahwa sebelum alam diciptakan Tuhan. 7501983. tidak sesuai dengan kandungan al-Qur'an. jauh dari masyarakat manusia. Ibn Bajjah (1082-1138) dalam bukunya Risalah al-Wida'. wajibnya manusia berterimakasih kepada Tuhan. tidak ada sesuatu di samping Tuhan. Konsep serupa ini.13. telah ada sesuatu di sampingNya. (021) 7507174 Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota Please direct any suggestion to Media Team Artikel Yayasan Paramadina Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota III. 1185 M) dalam bukunya Hayy Ibn Yaqzan malahan menghidupkan pendapat Mu'tazilah bahwa akal manusia begitu kuatnya sehingga ia dapat mengetahui masalah-masalah keagamaan seperti adanya Tuhan. Tuhan. Tapi Ibn Rusyd-lah (1126-1198 M) yang mengarang buku Tahafut al-Tahafut sebagai jawaban terhadap kritik-kritik Al-Ghazali yang ia uraikan dalam Tahafut al-Falasifah. dapat mencapai kesempurnaan sehingga ia sanggup menerima pancaran ilmu dari Tuhan. dengan kata lain. seperti yang terdapat dalam falsafat emanasi Al-Farabi dan Ibn Sina.al-Ghazali ilmu dan falsafat tak berkembang lagi di Baghdad sebagaimana sebelumnya di zaman Mu'tazilah dan filsuf-filsuf Islam. Ayat 7 dari surat Hud umpamanya mengatakan. Dalam hal-hal ini wahyu datang untuk memperkuat akal. sebaliknya pemikiran filsafat masih berkembang sesudah serangan al-Ghazali tersebut. Tuhan menciptakan alam dari tiada atau nihil. kebaikan serta kejahatan dan kewajiban manusia berbuat baik dan menjauhi perbuatan jahat. -------------------------------------------. Metro Pondok Indah Pondok Indah Plaza I Kav. kelihatannya mencela al-Ghazali yang berpendapat bahwa bukanlah akal tetapi al-dzauq dan ma'rifat sufilah yang membawa orang kepada kebenaran yang meyakinkan. FILSAFAT ISLAM (3/3) oleh Harun Nasution Di dunia Islam bagian Barat yaitu di Andalus atau Spanyol Islam.

" yang terjadi ialah "ada" berubah menjadi "ada" dalam bentuk lain. Ayat 12 dari surat al-Mu'minun. kata khalaqa di dalam al-Qur'an. kata Ibn Rusyd. Ayat 47/8 dari surat Ibrahim menyebut: Janganlah sangka bahwa Allah akan menyalahi janji bagi rasul-rasulNya. Yang sesuai dengan kandungan al-Qur'an sebenarnya adalah konsep al-Farabi. "Tiada. tetapi juga berarti sesuatu yang diciptakan dalam keadaan terus menerus. menurut penjelasan Ibn Rusyd tidak membawa kepada politeisme atau ateisme. alam bukan Tuhan. menggambarkan penciptaan bukan dari "tiada. Dengan ayat-ayat serupa inilah Ibn Rusyd menentang pendapat al-Ghazali bahwa alam diciptakan Tuhan dari tiada dan bersifat hadis dan menegaskan bahwa pendapat itu tidak sesuai dengan kandungan al-Qur'an. Jelas disebut dalam ayat ini. Dengan demikian sungguhpun alam qadim. dan air serta uap adalah satu. Kami jadikan segala yang hidup dari air. Kemudian Ia pun naik ke langit sewaktu ia masih merupakan uap. Apakah orang-orang yang tak percaya tidak melihat bahwa langit dan bumi (pada mulanya) adalah satu dan kemudian Kami pisahkan. air. tetapi adalah Pencipta dan alam qadim berarti alam diciptakan dalam keadaan terus menerus dari zaman tak bermula ke zaman tak berakhir. Di samping itu. Dan yang qadim adalah materi asal." kata Ibn Rusyd tidak bisa berubah menjadi "ada. tetapi adalah ciptaan Tuhan. Qadimnya alam.Dan Dia-lah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam hari dan takhtaNya (pada waktu itu) berada di atas air. Selanjutnya ayat 30 dari surat al-Anbia' mengatakan pula. Di sini yang ada di samping Tuhan adalah uap. bahwa ketika Tuhan menciptakan langit dan bumi telah ada di samping Tuhan. Kami ciptakan manusia dari inti sari tanah. Filsafat memang tidak menerima konsep penciptann dari tiada (creatio ex nihilo). Ibn Sina dan filsuf-filsuf lain. tetapi dari "ada. Bahwa alam yang terus menerus dalam keadaan diciptakan ini tetap akan ada dan baqin digambarkan juga oleh al-Qur'an. Adapun langit dan bumi susunannya adalah baru (hadis). Ayat ini mengandung arti bahwa langit dan bumi pada mulanya berasal dari unsur yang satu dan kemudian menjadi dua benda yang berlainan. Jadi Tuhan qadim berarti Tuhan tidak diciptakan. mulai dari zaman tak bermula di masa lampau sampai ke zaman tak berakhir di masa mendatang. Dalam hal bumi. Sesungguhnya Allah Maha Kuasa dan Maha Pemberi balasan di hari bumi ditukar dengan bumi yang lain dan ." seperti yang dikatakan al-Ghazali. menjelaskan. Demikian pula langit. "ada" dalam bentuk materi asal yang empat dirubah Tuhan menjadi "ada" dalam bentuk bumi. Ayat 11 dari Ha Mim menyebut pula. Manusia di dalam al-Qur'an diciptakan bukan dari "tiada" tetapi dari sesuatu yang "ada. karena qadim dalam pemikiran filsafat bukan hanya berarti sesuatu yang tidak diciptakan." seperti yang dikatakan para filsuf." yaitu intisari tanah seperti disebut oleh ayat di atas.

(demikian pula) langit. Di hari perhitungan atau pembalasan nanti, tegasnya di hari kiamat, Tuhan akan menukar bumi ini dengan bumi yang lain dan demikian pula langit sekarang akan ditukar dengan langit yang lain. Konsep ini mengandung arti bahwa pada hari kiamat bumi dan langit sekarang akan hancur susunannya dan menjadi materi asal api, udara, air dan tanah kembali; dari keempat unsur ini Tuhan akan menciptakan bumi dan langit yang lain lagi. Bumi dan langit ini akan hancur pula, dan dari materi asalnya akan diciptakan pula bumi dan langit yang lain dan demikianlah seterusnya tanpa kesudahan. Jadi pengertian qadim sebagai sesuatu yang berada dalam kejadian terus menerus adalah sesuai dengan kandungan al-Qur'an. Dengan demikian al-Ghazali tidak mempunyai argumen kuat untuk mengkafirkan filsuf dalam filsafat mereka tentang qadimnya alam. Kedua-duanya, kata Ibn Rusyd, yaitu pihak al-Farabi dan pihak al-Ghazali sama-sama memberi tafsiran masing-masing tentang ayat-ayat al-Qur'an mengenai penciptaan alam. Yang bertentangan bukanlah pendapat filsuf dengan al-Qur'an, tetapi pendapat filsuf dengan pendapat al-Ghazali. Mengenai masalah kedua, Tuhan tidak mengetahui perincian yang terjadi di alam, Ibn Rusyd menjelaskan bahwa para filosof tak pernah mengatakan demikian. Menurut mereka Tuhan mengetahui perinciannya; yang mereka persoalkan ialah bagaimana Tuhan mengetahui perincian itu. Perincian berbentuk materi dan materi dapat ditangkap pancaindra, sedang Tuhan bersifat immateri dan tak mempunyai pancaindra. Dalam hal pembangkitan jasmani, Ibn Rusyd menulis dalam Tahafut al-Tahafut bahwa filsuf-filsuf Islam tak menyebut hal itu. Dalam pada itu ia melihat adanya pertentangan dalam ucapan-ucapan al-Ghazali. Di dalam Tahajut al-Falasifah ia menulis bahwa dalam Islam tidak ada orang yang berpendapat adanya pembangkitan rohani saja, tetapi di dalam buku lain ia mengatakan, menurut kaum sufi, yang ada nanti ialah pembangkitan rohani dan pembangkitan jasmani tidak ada. Dengan demikian al-Ghazali juga tak mempunyai argumen kuat untuk mengkafirkan kaum filsuf dalam pemikiran tentang tidak tahunya Tuhan tentang perincian di alam dan tidak adanya pembangkitan jasmani. Ini bukanlah pendapat filsuf, dan kelihatannya adalah kesimpulan yang ditarik al-Ghazali dari filsafat mereka. Dalam pada itu Ibn Rusyd, sebagaimana para filsuf Islam lain, menegaskan bahwa antara agama dan falsafat tidak ada pertentangan, karena keduanya membicarakan kebenaran, dan kebenaran tak berlawanan dengan kebenaran. Kalau penelitian akal bertentangan dengan teks wahyu dalam al-Qur'an maka dipakai ta'wil; wahyu diberi arti majazi. Arti ta'wil adalah meningga]kan arti lafzi untuk pergi ke arti majazi. Dengan kata lain, meninggalkan arti tersurat dan mengambil arti tersirat. Tetapi arti tersirat tidak boleh disampaikan kepada kaum awam, karena mereka tak dapat memahaminya. Antara filsafat dan agama Ibn Rusyd mengadakan harmoni. Dan dalam harmoni ini akal mempunyai kedudukan tinggi. Pengharmonian akal dan wahyu ini sampai ke Eropa dan di sana dikenal dengan averroisme. Salah satu ajaran averroisme ialah

kebenaran ganda, yang mengatakan bahwa pendapat filsafat benar, sungguhpun menurut agama salah. Agama mempunyai kebenarannya sendiri. Dan averroisme inilah yang menimbulkan pemikiran rasional dan ilmiah di Eropa. Tak lama sesudah zaman Ibn Rusyd umat Islam di Spanyol mengalami kemunduran besar dan kekuasaan luas Islam sebelumnya hanya tinggal di sekitar Granada di tangan Banu Nasr. Pada 1492 dinasti ini terpaksa menyerah kepada Raja Ferdinand dari Castilia. Dengan hilangnya Islam dari Andalus atau di Spanyol, hilang pulalah pemikiran rasional dan ilmiah dari dunia Islam bagian barat. Di dunia Islam bagian timur, kecuali di kalangan Syi'ah, teologi tradisional al-Asy'ari dan pendapat al-Ghazali bahwa jalan tasawuf untuk mencapai kebenaran adalah lebih meyakinkan dari pada jalan filsafat. Hilanglah pemikiran rasional, filosofis dan ilmiah dari dunia Islam sunni sehingga datang abad XIX dan umat Islam dikejutkan oleh kemajuan Eropa dalam bidang pemikiran, filsafat dan sains, sebagaimana disebut di atas, berkembang di Barat atas pengaruh metode berpikir Ibn Rusyd yang disebut averroisme. Semenjak itu pemikiran rasional mulai ditimbulkan oleh pemikir-pemikir pembaruan seperti al-Afghani, Muhammad Abduh, Sayyid Ahmad Khan, dan lain-lain. DAFTAR KEPUSTAKAAN De Boer, TJ., History of Philosophy in Islam, Tranl. E.R. Jones, London, Luzac & Co., 1970. Al-Farabi, Rasail, Hyderabad, t.t. Al-Ghazali, Tahafut al-Falasifah, Kairo, Dar al-Ma'arif, 1966. Al-Ghazali, Al-Munqiz min al-Dalal, Cairo, al-Maktab al-Fanni, 1961. Harun Nasution, Falsafah dan Mistisisme dalam Islam, Jakarta, Bulan Bintang, 1983. Ibn Rusyd, Tahafut al-Tahafut, Kairo, Dar al-Ma'arif, 1964. Ibn Rusyd, Fals al-Maqal, London, J.E. Brill, 1969. Ibn Sina, Al-Najah, Kairo, M.B. al-Halabi, 1938. O. Leary, De Lacy, How Greek Science Passed to The Arabs, London, Routledge & Kegan Paul, 1964. Sharif M.M., ed., A History of Muslim Philosophy, Weisbaden, 1963. -------------------------------------------Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah Editor: Budhy Munawar-Rachman Penerbit Yayasan Paramadina Jln. Metro Pondok Indah Pondok Indah Plaza I Kav. UA 20-21 Jakarta Selatan Telp. (021) 7501969, 7501983, 7507173 Fax. (021) 7507174 Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan

ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota
Please direct any suggestion to Media Team

Artikel Yayasan Paramadina
Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota III.12. KEKUATAN DAN KELEMAHAN PAHAM ASY'ARI (1/3) SEBAGAI DOKTRIN AKIDAH oleh Zainun Kamal Paham teologi Asy'ari termasuk paham teologi tradisional, yang mengambil posisi antara ekstrim rasionalis yang menggunakan metafor dan golongan ekstrim tekstualis yang leterlek. Ia mengambil posisi di antara aliran Mu'tazilah dan Salafiyah, tetapi "benang merah" sebagai jalan tengah yang diambilnya tidak begitu jelas. Suatu kali ia memihak Mu'tazilah, lain kali cenderung ke Salafiyah, dan lain kali lagi, mengambil kedua pendapat dari kedua aliran yang bertentangan itu lalu mengkompromikannya menjadi satu. [1] Untuk meninjau pemikiran-pemikiran al-Asy'ari lebih baik memaparkan lebih dulu sejarah hidupnya meski secara ringkas. Dengan pemaparan ini akan terlihat gambaran latar belakang pemikirannya. Sebab suatu pemikiran merupakan hasil refleksi zaman dan kondisi dari suatu masyarakat. Dan al-Asy'ari juga tidak lepas dari konteks zaman dan maksyarakatnya sendiri. Sebenarnya, nama asli Imam Asy'ari adalah Ali Ibn Ismail [2] -keluarga Abu Musa al-Asy'ari. [3] Panggilan akrabnya Abu al-Hasan [4]. Dia dilahirkan di Bashrah pada 260 H./875 M [5] -saat wafatnya filsuf Arab muslim al-Kindi. [6] Ia wafat di Baghdad pada tahun 324 H./935 M. Abu al-Hasan al-Asy'ari pada mulanya belajar membaca, menulis dan menghafal al-Qur'an dalam asuhan orang tuanya, yang kebetulan meninggal dunia ketika ia masih kecil. Selanjutnya dia belajar kepada ulama Hadits, Fiqh, Tafsir dan bahasa antara lain kepada al-Saji, Abu Khalifah al-Jumhi, Sahal Ibn Nuh, Muhammad Ibn Ya'kub, Abdur Rahman Ibn Khalf dan lain-lain. [7] Demikian juga ia belajar Fiqih Syafi'i kepada seorang faqih: Abu Ishak al-Maruzi (w. 340 H./951 M.) -seorang tokoh Mu'tazilah di Bashrah. Sampai umur empat puluh tahun ia selalu bersama ustaz al-Juba'i, serta ikut berpartisipasi dalam mempertahankan ajaran-ajaran Mu'tazilah. [9] Pada tahun 300 H./915 M dalam usia 40 tahun, Abu al-Hasan al-Asy'ari meninggalkan ajaran-ajaran Mu'tazilah. Untuk hal ini terdapat beberapa pendapat mengenai sebab-sebab meninggalkan atau keluar dari Mu'tazilah. Sebab klasik yang biasa disebut perpisahan dia dengan gurunya karena terjadinya dialog antara keduanya tentang salah satu ajaran pokok Mu'tazilah, yaitu masalah "keadilan Tuhan." Mu'tazilah berpendapat, "semua perbuatan Tuhan tidak kosong dari manfaat dan kemashlahatan. Tuhan tidak menghendaki sesuatu, kecuali bermanfaat bagi manusia, bahkan Dia mesti menghendaki yang baik dan terbaik untuk kemashlahatan manusia. Paham ini di sebut al-Shalah wa 'l-Ashlah. [10]

Dialog tersebut berlangsung sebagai berikut: Al-Asy'ari (A) - Bagaimana pendapat tuan tentang nasib tiga orang bersaudara setelah wafat; yang tua mati dalam bertaqwa; yang kedua mati kafir; dan yang ketiga mati dalam keadaan masih kecil. Aldubba'i (J) - yang taqwa mendapat terbaik; yang kafir masuk neraka; dan yang kecil selamat dari bahaya neraka. A - Kalau yang kecil ingin mendapatkan tempat yang lebih baik di Sorga, mungkinkah? J - Tidak, karena tempat itu hanya dapat dicapai dengan jalan ibadat dan kepatuhan kepada Tuhan. Adapun anak kecil belum mempunyai ibadat dan kepatuhan kepada-Nya. A- Kalau anak kecil itu mengatakan kepada Tuhan: itu bukan salahku. Sekiranya Engkau bolehkan aku terus hidup, aku akan mengerjakan perbuatan baik seperti yang dilakukan oleh yang taqwa itu. J - Allah akan menjawab kepada anak kecil itu, Aku tahu, jika engkau terus hidup, engkau akan berbuat maksiat dan engkau akan mendapat siksa; maka Saya (Allah - Red) matikan engkau adalah untuk kemaslahatanmu. A - Sekiranya saudaranya yang kafir mengatakan, "Ya Tuhanku Engkau ketahui masa depanku sebagaimana Engkau ketahui masa depannya, mengapa Engkau tidak jaga kepentinganku? Al-Jubba'i menjawab, "Engkau gila, (dalam riwayat lain dikatakan, bahwa Al-Jubba'i hanya terdiam dan tidak menjawab). [11] Dalam percakapan di atas, al-Jubba'i, jagoan Mu'tazilah itu, tampaknya dengan mudah saja dapat ditumbangkan oleh al-Asy'ari. Tetapi dialog ini kelihatannya hanyalah sebuah ilustrasi yang dibuat para pengikut al-Asy'ari sendiri untuk memperlihatkan perbedaan logikanya dengan logika orang-orang Mu'tazilah. Bagi Mu'tazilah, si anak kecil tentu tidak akan mengajukan protes kepada Allah, karena dia sendiri tahu, bahwa sesuai dengan keadilan Tuhan, tempat yang cocok untuknya memang di sana. Kalau Tuhan menempatkan anak kecil sederajat dengan tempat orang yang taqwa, tentu dia sendiri akan merasakan bahwa Tuhan sudah tidak adil lagi terhadap dirinya. Sebab, tempatnya memang bukanlah seharusnya sederajat dengan orang-orang yang taqwa. Di alam akhirat, menurut Mu'tazilah, tidak ada lagi perdebatan tentang keadilan Tuhan. Di sana, manusia sudah mendapati al-Wa'ad wa al-Wa'id. Dia sudah menepati janji. Yang taqwa mendapat sorga, yang kafir mendapat neraka, dan jika di sana terdapat yang meninggal dunia dalam keadaan masih kecil, baik anak-anak orang mukmin atau kafir, maka bagi mereka tidak ada alasan untuk disiksa, karena Tuhan Maha Suci dari penganiayaan. [12] Bagi yang kafir lebih tidak punya alasan lagi. Sebab, Tuhan

lebih memperhatikan kemaslahatannya di dunia. Tuhan tidak menghendaki kekafirannya. Berarti, jika ia kafir sama artinya dengan kehendak diri sendiri. Sementara, dia sendiri sudah tahu akibat kekafirannya, karena ia diberi akal dan petunjuk. [13] Jadi, kalau yang kafir harus menyalahkan Tuhan atas kehendak dan perbuatannya sendiri, maka ia dianggap oleh Memorandum suatu pemikiran yang tidak rasional. Sebab lain yang biasa disebutkan adalah meninggalkan ajaran-ajaran Mu'tazilah karena pernah bermimpi melihat Rasulullah saw sebanyak tiga kali. Mimpi itu terjadi pada bulan Ramadhan. Mimpi pertama terjadi pada tanggal 10; mimpi kedua pada tanggal duapuluh, dan mimpi ketiga pada tanggal tigapuluh. [14] Dalam mimpi yang terjadi pada bulan Ramadlan itu Rasulullah menyampaikan bahwa madzhab ahli haditslah yang benar, karena itulah madzhabnya yang berasal dari saya. [15] Diriwayatkan bahwa al-Asy'ari sebelum mengambil keputusan untuk keluar dari Mu'tazilah, ia mengisolir diri di rumahnya selama limabelas hari. Sesudah itu ia pergi ke mesjid lalu naik mimbar dan menyampaikan: "Saya dulu mengatakan, bahwa al-Qur'an adalah makhluk; Allah swt. tidak dapat dilihat dengan pandangan mata orang mukmin di akhirat dan perbuatan jahat adalah perbuatan saya sendiri. Sekarang saya taubat dari semuanya itu. Saya lemparkan keyakinan-keyakinan lama saya, sebagaimana saya lemparkan baju ini (isyarat pada jubahnya). Dan saya keluar dari kekejian dan skandal Mu'tazilah." [16] Terlepas dari soal sesuai atau tidaknya uraian di atas dengan fakta sejarah; maka dari sisi lain dapat pula kita ungkapkan sebab yang mendorong al-Asy'ari meninggalkan faham Mu'tazilah. Sebab itu ialah rasa skeptis dan ketidakpercayaannya lagi terhadap kemampuan akal, sebagaimana yang pernah pula dialami oleh al-Ghazali di kemudian hari. Pada kedua tokoh ini terdapat suatu indikasi kesamaan yang sangat mirip. Al-Asy'ari, sebagai contoh pendiri aliran, setelah belajar pada Mu'tazilah, kemudian merasa tidak puas, lantas menyerangnya. Demikian juga halnya dengan al-Ghazali, sebagai benteng pertahanan yang kokoh terhadap aliran al-Asy'ari, setelah ia belajar filsafat, kemudian merasa tidak puas, lalu menyerang pula. Al-Asy'ari memakai ungkapan-ungkapan yang pedas sekali dalam menyerang Mu'tazilah, dengan tuduhan sebagai golongan sesat, penyeleweng, dan majusinya umat. Begitu pula al-Ghazali menyerang para filsuf, dengan tuduhan sebagai golongan bid'ah dan kufur. Al-Asy'ari melakukan sanggahan terhadap Mu'tazilah setelah ia mengetahui benar akan aliran Mu'tazilah itu. Setelah itu ia menulis sebuah buku yang bernama Maqalat al-Islamiyyin yang berisikan kepercayaan aliran-aliran. Dan untuk bantahannya ia menulis lagi sebuah buku yang bernama al-Ibanah. Demikian juga halnya dengan al-Ghazali, setelah mengkaji filsafat secara mendalam, kemudian ia tulis pemikiran-pemikiran filsuf itu dalam sebuah buku yang bernama Maqasid al-Falsafah. Setelah itu, baru ia melakukan bantahan-bantahan terhadap para filsuf dengan mengarang sebuah buku yang bernama Tahafut

al-Falasifah (kesalahan para filsuf). Sebagaimana diketahui, pemegang janji rasional pada masa al-Asy'ari adalah para tokoh Mu'tazilah, karena itu sanggahannya tertuju langsung pada Mu'tazilah. Sementara para filsuf yang dinilai sebagai pewaris pemikiran rasional Mu'tazilah, maka al-Ghazali sebagai pembela ikhlas terhadap aliran al-Asy'ari harus dengan tegas pula melakukan sanggahan terhadap filsuf. Pemikiran al-Asy'ari yang asli baru dapat diketahui setelah ia menyatakan pemisahan dirinya dari Mu'tazilah dan pengakuannya menganut paham aqidah salafiyah aliran Ahmad bin Hambal. [17] Yaitu keimanan yang tidak didasari penyelaman persoalan gaib yang mendalam. Di sisi lain, ia hanya percaya pada akidah dengan dalil yang ditunjuk oleh nash, dan dipahami secara tekstual sebagaimana yang tertulis dalam Kitab suci dan sunnah Rasul. Fungsi akal hanyalah sebagai saksi pembenar dan penjelas dalil-dalil al-Qur'an. [18] Jadi akal terletak di belakang nash-nash agama yang tidak boleh berdiri sendiri. Ia bukanlah hakim yang akan mengadili. Spekulasi apapun terhadap segala sesuatu yang sakral dianggap suatu bid'ah. Setiap dogma harus dipercayai tanpa mengajukan pertanyaan bagaimana dan mengapa. Sekarang permasalahannya ialah, sampai seberapa jauh al-Asy'ari meninggalkan ajaran-ajaran Mu'tazilah dan keikhlasannya terhadap ajaran Salafiyah. Untuk mengetahui ajaran-ajaran al-Asy'ari, kita dapat melihat pada kitab-kitab yang ditulisnya, terutama: 1.Maqalat al-Islamiyyin, merupakan karangan yang pertama dalam soal-soal kepercayaan Islam. Buku ini menjadi sumber yang penting, karena ketelitian dan kejujuran pengarangnya. Buku ini terdiri -dari tiga bagian: a.Tinjauan tentang golongan-golongan dalam Islam b.Aqidah aliran Ashhab al-Hadits dan Ahl al-Sunnah, dan c.Beberapa persoalan ilmu Kalam. 2.Al-Ibanah 'an Ushul al-Diyanah, berisikan uraian tentang kepercayaan Ahl al-Sunnah dan pernyataan penghargaannya terhadap persoalan-persoalan yang banyak dan penting. Dalam buku ini ia menyerang dengan pedas aliran Mu'tazilah. 3.Kitab al-Luma' fi al-Radd 'ala ahl al-Zaigh wa al-bida', berisikan sorotan terhadap lawan-lawannya dalam beberapa persoalan ilmu Kalam. Para ahli mempertanyakan tentang perbedaan kandungan yang terdapat pada kedua kitabnya al-Ibanah dan al-Luma'. Yang pertama, peranan naql lebih tinggi ketimbang akal. Dalam arti, Salafiahnya lebih dominan dibandingkan Mu'tazilah. Sedangkan buku kedua (al-Luma'), peranan akal lebih tinggi dalam memahami nash-nash. Di sini terlihat adanya anjuran kembali untuk memahami nash-nash agama dengan metode ilmu kalam. [19] Perbedaan ini bisa terjadi, karena al-Asy'ari pada kitabnya al-Ibanah ditulisnya langsung setelah pernyataannya keluar dari Mu'tazilah. Jadi, secara psikologis, bukunya dalam rangka menonjolkan sikap loyalnya terhadap kaum Salafi,

sebagai rekan barunya. Dan sikap kebenciannya terhadap Mu'tazilah karena penilaiannya sebagai musuh yang sedang dihadapinya, meski dulu teman akrabnya. Sebenarnya, ini dapat dipahami. Sebab, seseorang yang selama ini dijadikan teman baik, oleh karena suatu hal berubah menjadi musuh, maka ia akan memperlihatkan sikap bencinya terhadap musuh itu. Dan sebaliknya akan memperlihatkan sikap loyalnya terhadap teman baru. Karena itu, kitab al-Ibanah mencerminkan tingkat kesunyian secara penuh. Sebaliknya, menampakkan sikap bencinya terhadap Mu'tazilah lebih nyata. Karena itu, kitab al-Ibanah menurut para ahli ditulis langsung setelah al-Asy'ari meninggalkan faham Mu'tazilah. (bersambung 2/3) -------------------------------------------Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah Editor: Budhy Munawar-Rachman Penerbit Yayasan Paramadina Jln. Metro Pondok Indah Pondok Indah Plaza I Kav. UA 20-21 Jakarta Selatan Telp. (021) 7501969, 7501983, 7507173 Fax. (021) 7507174 Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota
Please direct any suggestion to Media Team

Artikel Yayasan Paramadina
Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang YayasanISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota III.12. KEKUATAN DAN KELEMAHAN PAHAM ASY'ARI (2/3) SEBAGAI DOKTRIN AKIDAH oleh Zainun Kamal Lain halnya dengan kitabnya al-Luma', yang ditulis setelah kitab al-Ibanah. Ia sudah mesti mengambil sikap yang jelas. Maka di sini terlihat kembali kajian keagamaan al-Asy'ari dengan dalil-dalil rasional dan membangun ilmu kalamnya sendiri. Dengan demikian, ketika menulis kitab al-Luma', argumentasi rasional al-Asy'ari menonjol kembali dalam memahami nash-nash agama dan terlihat interpretasi metaforisnya (ta'wil). Kecenderungannya pada metode kaum Mu'tazilah inilah yang menyebabkan kaum Hambali menolak paham teologi al-Asy'ari. Hal itu memperlihatkan gambaran yang agak mirip dengan sikap al-Ghazali yang mencoba menyerang para filsuf, tetapi kenyataannya ia tetap mempergunakan metode falsafah dalam kajian keislaman, khususnya logika Aristoteles. Inilah yang dikatakan oleh Ibn Taimiyyah bahwa al-Ghazali telah masuk ke dalam kandang falsafah, kemudian berusaha keluar, dan berputar-putar mencari pintunya, tetapi sudah tidak berdaya lagi untuk keluar. Sebagai penentang Mu'tazilah, sudah barang tentu al-Asy'ari berpendapat, bahwa Tuhan mempunyai sifat. Mustahil Tuhan sendiri merupakan pengetahuan ('Ilm). Yang benar, Tuhan itu

mengetahui (Alim). Tuhan mengetahui dengan pengetahuanNya, bukanlah dengan Zat-Nya. Demikian pula bukan dengan sifat-sifat seperti, sifat hidup, berkuasa, mendengar dan melihat. [20] Disini terlihat, al-Asy'ari menetapkan sifat kepada Tuhan seperti halnya kaum Salafi. Namun cara penafsirannya cukup berbeda. Kaum Salafi hanya menetapkan sifat kepada Allah, sebagaimana teks ayat, tanpa melakukan pembahasan mendalam. Mereka hanya menerima arti dengan jalan kepercayaan, bahwa sifat-sifat Allah berbeda dengan sifat makhluk-Nya. Begitu hati-hatinya mereka dalam menjaga persamaan Allah dengan makhluk-Nya, sehingga mereka mengatakan, "Siapa yang tergerak tangannya, lalu ketika membaca ayat yang berbunyi "Aku (Allah) ciptakan dengan tangan-Ku," lalu ia langsung mengatakan, wajib dipotong tangannya." [21] Lain halnya dengan al-Asy'ari, baginya arti sifat tidak berbeda dengan pengertian sifat bagi Muitazilah. al-Asy'ari, sifat berada pada Zat, tetapi sifat bukan dan bukan pula lain dari Zat. Ungkapan al-Asy'ari seperti ini, kata Dr. Ibrahim Madkour, tidak terlepas paradoks. [22] jauh Bagi Zat, yang dari

Bagi Mu'tazilah, sifat sama dengan Zat. Sifat tidak mempunyai pengertian yang sebenarnya. Jika dikatakan, yang mengetahui ('Alim), maka artinya menetapkan pengetahuan ('Ilm) bagi Allah, dan yang mengetahui itu adalah Zat-Nya sendiri. Dalam hal ini, menetapkan sifat hanya sekedar untuk memahami bahwa Allah bukanlah jahil. Seperti juga mengatakan yang berkuasa (qadir) adalah menetapkan kekuasaan (qudrah) bagi Allah. Kekuasaan itu adalah Zat-Nya sendiri. Artinya, menafsirkan kelemahan Allah. [23] Masih berbicara tentang tauhid, pemikiran al-Asy'ari yang lain ialah, bahwa Tuhan dapat dilihat di akhirat. Untuk itu, al-Asy'ari membawakan argumen rasio dan nash. Yang tidak dapat dilihat, kata al-Asy'ari, hanyalah yang tak punya wujud. Setiap wujud mesti dapat dilihat, Tuhan berwujud, dan oleh karena itu dapat dilihat. [24] Argumen al-Qur'an yang dimajukannya antara lain, "Wajah-wajah yang ketika itu berseri-seri memandang kepada Allah" (QS. al-Qiyamah: 22-23). Menurut al-Asy'ari kata nazirah dalam ayat itu tak bisa berarti memikirkan seperti pendapat Mu'tazilah, karena akhirat bukanlah tempat berfikir; juga tak bisa berarti menunggu, karena wajah atau muka tidak dapat menunggu, yang menunggu adalah manusia. Lagi pula, di sorga tidak ada penungguan, karena menunggu mengandung arti dan membuat kejengkelan dan kebosanan. Oleh karena itu, nazirah mesti berarti melihat dengan mata kepala. [25] Sungguhpun al-Asy'ari berpendapat, bahwa orang-orang mukmin nanti dapat melihat Tuhan di Akhirat dengan mata kepala, namun pemahamannya bukanlah bersifat harfiyah. Tetapi menghendaki suatu penafsiran lagi yaitu, bahwa melihat Tuhan itu tidak mesti mempunyai tempat dan terarah pada tujuan, tetapi hanya merupakan suatu penglihatan pengetahuan dan kesadaran, dengan mempergunakan mata, yang belum terfikirkan bagi kita sekarang, bagaimana bentuk mata itu nantinya. [26]

Jika Tuhan menyakiti anak-anak kecil di hari kiamat. bahwa yang dimaksud tidak dapat melihat Tuhan adalah di dunia ini. meyakini bahwa Allah adalah Maha Adil. seperti Mu'tazilah. [31] Oleh karena itu. dia tidak perlu patuh dan tunduk kepada undang-undang dan hukum. memiliki hal penuh untuk membunuh atau menghidupkan rakyatnya. Paham keadilan al-Asy'ari ini mirip dengan paham sebagian umat yang merestui seorang raja yang absolut diktator. atau memasukkan orang kafir ke dalam sorga. dapat berbuat apa saja yang dikehendaki-Nya terhadap makhluk-Nya. termasuk orang-orang kafir. Dan juga menolak faham al-Shalah wa al-Ashlah Mu'tazilah. Kemudian digambarkan. kata al-Asy'ari. untuk dapat menerima. Tuhan masih tetap bersifat adil. bebas memperbuat apa yang kehendaki-Nya. Sekarang kita berpindah kepada pemikirannya tentang keadilan. Tuhan wajib mewujudkan yang baik. kata al-Asy'ari." (al-An'am: 103) Ayat tersebut di atas diartikan oleh al-Asy'ari. [30] Karena perbuatan salah dan tidak adil menurut pendapatnya adalah perbuatan yang melanggar hukum. Dari asumsi itu. Sang raja yang absolut diktator itu. bahwa Tuhan dapat dilihat nanti di akhirat. adalah merupakan sebagian dari pemikiran al-Asy'ari tentang tauhid. maka perbuatan Tuhan tidak pernah bertentangan dengan hukum. Karena undang-undang dan hukum itu adalah bikinannya sendiri. maka al-Asy'ari memerlukan pula untuk menafsirkan atau menta'wilkan ayat yang berikut ini: Artinya: "Penglihatan tak dapat menangkap-Nya tetapi ia dapat mengangkat penglihatannya. dan karena di atas Tuhan tidak ada undang-undang atau hukum." yaitu seseorang mempunyai kekuasaan mutlak atas harta yang dimilikinya serta mempergunakannya sesuai dengan pengetahuan pemilik. [29] Tidak dapat dikatakan salah. [27] Apa yang telah kita ungkapkan di atas. ia menolak bahwa kita mewajibkan sesuatu kepada Allah. Tuhan sebagai pemilik yang berkuasa mutlak. menjatuhkan hukuman bagi orang mukmim. [28] Al-Asy'ari meninjau keadilan Tuhan dari sudut kekuasaan dan kehendak mutlak Tuhan. artinya. Tetapi seperti kaum Salafi.Namun demikian. [32] Upah yang diberikan Tuhan hanyalah merupakan rahmat dan hukuman tetap merupakan keadilan Tuhan. kalau Tuhan memasukkan seluruh umat manusia ke dalam sorga. bahwa sang raja itu diatas dari undang-undang dan hukum. Allah. maka Tuhan tidaklah berbuat salah dan dzalim. kemudian al-Asy'ari menganalogikan bahwa . sedangkan keadilan adalah merupakan filsafat hubungan khaliq dengan makhluknya. karena pembahasan tentang tauhid hanyalah merupakan filsafat ketuhanan semata. dan juga tidak dapat dikatakan Tuhan bersifat dzalim. jika Ia memasukkan seluruh manusia ke dalam neraka. bahkan yang terbaik untuk kemaslahatan manusia. Al-Asy'ari. dan bukan di akhirat. Keadilan diartikannya "menempatkan sesuatu pada tempat yang sebenarnya. Sengaja dirangkaikan keadilan dengan tauhid. dalam arti. Dan juga diartikan tidak dapat melihat Tuhan di akhirat bagi orang kafir.

Namun dalam penjelasannya tertangkap bahwa kasb itu pada hakekatnya adalah ciptaan Tuhan. Jika Tuhan menghendaki sesuatu. Al-Asy'ari menegaskan bahwa Tuhan menghendaki segala apa yang mungkin dikehendaki. Maka tidak seorangpun yang dapat mewajibkan sesuatu kepada Allah mengenai kemaslahatan umat manusia. Jadi. baik di dunia ini. [33] Kalau Allah menganiaya seluruh umat manusia. dalam teori kasb manusia tidak mempunyai pengaruh efektif dalam perbuatannya. [36] Melihat kepada pengertian. Di satu pihak ia ingin melukiskan peran manusia dalam perbuatannya. [35] Kasb. [34] Karena manusia dipandang lemah. Al-Kasb dapat diartikan sebagai suatu perbuatan yang timbul dari manusia dengan perantaraan daya yang diciptakan oleh Allah. adalah sesuatu yang timbul dari yang berbuat (al-muhtasib) dengan perantaraan daya yang diciptakan. sehingga akhirnya manusia bersifat pasif dalam perbuatan-perbuatannya. al-Asy'ari memberi penjelasan yang sulit ditangkap.Allah adalah memiliki kemerdekaan mutlak. Untuk menggambarkan hubungan perbuatan dengan kemauan dan kekuasaan mutlak Tuhan al-Asyari memakai istilah al-kasb (acquisition. dan jika Tuhan tidak menghendakinya niscaya ia tiada. [37] Dan tidak ada pembuat (agent) bagi kasb kecuali Allah. menurut al-Asy'ari. yang mewujudkan kasb atau perbuatan manusia. ia pasti ada. dapat dilihat dari pendapat al-Asy'ari tentang kehendak dan daya yang menyebabkan perbuatan menjadi wujud. Karena manusia. sebenarnya adalah Tuhan sendiri. tidak mempunyai daya dan kekuatan apa-apa disaat berhadapan dengan kekuasaan absolut mutlak. maka tak seorangpun yang sanggup menentangnya. [39] Firman Tuhan: "Kamu tidak menghendaki al-Insan 76:30). maka paham al-Asy'ari dalam hal ini lebih dekat kepada faham Jabariyah (fatalisme) dari faham Qadariyah (Free Will). kecuali jika Allah menghendaki manusia . Tidak satupun didalam ini terwujud lepas dari kekuasaan dan kehendak Tuhan. perbuatan-perbuatan manusia adalah diciptakan Tuhan. selalu digambarkan sebagai seorang yang lemah. maka tidak seorangpun yang akan sanggup mempersalahkan dan menuntut-Nya. maupun di akhirat." al-Shaffat 37:96) (QS. Manusia dalam kelemahannya banyak tergantung kepada kehendak dan kekuasaan Tuhan. Tetapi keterangan bahwa "kasb itu adalah ciptaan Tuhan" menghilangkan arti keaktifan itu. Dia memperbuat sekehendak-Nya terhadap milik-Nya. perolehan). kecuali Allah menghendaki" (QS. [38] Dengan perkataan lain. Bahwa perbuatan manusia sebenarnya adalah perbuatan Tuhan. Tentang faham kasb ini. bagi al-Asy'ari. baik di dunia atau di akhirat. Persis seperti seorang raja yang absolut diktator. Ayat ini diartikan oleh al-Asy'ari bahwa manusia tak bisa menghendaki sesuatu. "sesuatu yang timbul dari yang berbuat" mengandung atas perbuatannya. Jadi dalam paham al-Asy'ari. kata al-Asy'ari. Argumen yang dimajukan oleh al-Asy'ari tentang diciptakannya kasb oleh Tuhan adalah ayat: "Allah menciptakan kamu dan perbuatan-perbuatan kamu. kalau ia menganiaya seluruh rakyatnya.

Tetapi daya yang berpengaruh dan efektif pada akhirnya dalam perwujudan perbuatan ialah daya Tuhan. 456 H) dan Ibn Taimiyyah (w. [44] Harun Nasution juga berpendapat demikian. Al-Baghdadi mencoba menjelaskan kepada kita sebagai berikut.12. [43] (bersambung 3/3) -------------------------------------------Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah Editor: Budhy Munawar-Rachman Penerbit Yayasan Paramadina Jln. terdapat dua perbuatan. sebagai jabariyah murni. Tuhan dan manusia dalam suatu perbuatan adalah seperti dua orang yang mengangkat batu b esar . Karena manusia dalam teori kasb al-Asy'ari tidak mempunyai pengaruh efektif dalam perbuatannya. [46] . yang seorang mampu mengangkatnya sendirian. Metro Pondok Indah Pondok Indah Plaza I Kav. 7507173 Fax. Demikian pulalah perbuatan manusia. daya Tuhan dan daya manusia. maka terangkatnya batu itu adalah oleh yang kuat tadi. maka banyak para ahli menilai bahwa kasb adalah sebagai jabariyah moderat. Alasannya karena menurut al-Asy'ari kemauan dan daya untuk berbuat adalah kemauan dan daya Tuhan. dan kehendak yang ada dalam diri manusia. tetapi manusia dalam pada itu tidak kehilangan sifat sebagai pembuat. UA 20-21 Jakarta Selatan Telp. Kalau kedua orang tersebut sama-sama mengangkat batu besar itu. 728 H) menilai. Dalam teori kasb. namun tidak berarti bahwa orang yang tidak sanggup itu tidak turut mengangkat.supaya menghendaki sesuatu itu. dan perbuatan itu sendiri adalah perbuatan Tuhan dan bukan perbuatan manusia. sedangkan daya manusia tidaklah efektif kalau tidak disokong oleh daya Tuhan. untuk terwujudnya suatu perbuatan dalam perbuatan manusia. (021) 7507174 Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang YayasanISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota Please direct any suggestion to Media Team Artikel Yayasan Paramadina Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota III. yaitu perbuatan Tuhan dan perbuatah manusia. sedangkan yang seorang lagi tidak mampu. KEKUATAN DAN KELEMAHAN PAHAM ASY'ARI (3/3) SEBAGAI DOKTRIN AKIDAH oleh Zainun Kamal Buat sementara dapat kita simpulkan bahwa dalam paham al-Asy'ari. [40] Ini mengandung arti bahwa kehendak manusia adalah satu dengan kehendak Tuhan. (021) 7501969. Perbuatan pada hakekatnya terjadi dengan perantaraannya daya Tuhan. bahkan Ibn Hazm (w. sebenarnya tidak lain dari kehendak Tuhan. untuk terwujudnya perbuatan perlu ada dua daya. Perbuatan Tuhan adalah hakiki dan perbuatan manusia adalah majazi (sebagai lambang). 7501983.

antara lain. seperti yang sudah kita uraikan di atas. al-Baqillani. Kasb-nya al-Asy'ari itu telah membawa para pengikutnya berfaham Jabariyah murni. Hilangnya pemikiran rasionalisme tersebut telah menyebabkan kemunduran umat Islam selama berabad-abad. apalagi berhadapan dengan kekuasaan mutlak Allah. al-Juwaini dan al-Ghazali. Salah satu faktor penting bagi tersebarnya teologi al-Asy'ariyah di dunia Islam adalah sifat akomodatifnya terhadap Dinasti yang berkuasa. sebagai konsekuensi logis dari paham manusia lemah dan patuh kepada penguasa.Ibn Taimiyyah menilai al-Asy'ari telah gagal dengan konsep kasb-nya yang hendak menengahi antara Qaddariyyah dengan Jabbariyah. . Dengan demikian. yang mengingkari sama sekali adanya kemampuan pada manusia untuk berbuat.umat Islam. bahwa aliran al-Asy'ari telah berhasil menarik rakyat banyak di bawah naungannya berkat campur tangan khalifah al-Mutawakkil. yang jumlahnya selalu mayoritas di dunia Sunni. yaitu keadaan masyarakat Islam pada abad ke-9 M. aliran itu mengalami kemajuan besar sekali. Ibn Taimiyyah menilai konsep kasb yang ditetapkan al-Asy'ari itu tidak masuk akal. al-Asy'ari menegaskan bahwa kasb manusia itu tidak mempunyai efek nyata dalam mewujudkan perbuatan manusia itu. Sebab undang-undang dan hukum itu adalah bikinannya sendiri. sang raja tidak perlu patuh dan tunduk kepada undang-undang dan hukum. Sungguhpun demikian. bahkan menjadi aliran dari Dinasti yang berkuasa. maka disinilah letak kekuatan teologi itu. Mereka adalah orang-orang yang tidak setuju dengan ajaran-ajaran Mu'tazilah. Oleh karena itu. ia sering mendapat dukungan. Teologi ini timbul merupakan refleksi dari status sosial dan kultural masyarakat pada masanya. ketika yang terakhir ini membatalkan aliran Mu'tazilah sebagai paham resmi pada waktu itu. [47] dimana raja-raja selalu berkuasa dengan diktator dan mempunyai hak penuh untuk menghukum siapa saja yang diinginkannya. yang tidak mempunyai daya dan kekuatan apa-apa disaat berhadapan dengan kekuasaan yang absolut. Memang. Sejarah menunjukkan. paham al-Asy'ari ini juga telah membawa dampak dan pengaruh negatif. menurut Ibn Taimiyyah. Kemudian setelah wafatnya al-Asy'ari pada tahun 935M. yaitu ia dengan mudah dapat diterima oleh umumnya umat Islam yang bersifat sederhana dalam pemikiran. Karena teologi al-Asy'ari didirikan atas kerangka landasan yang menganggap bahwa akal manusia mempunyai daya yang lemah. Ia telah menghilangkan kesadaran pemikiran rasionalisme di dunia Islam. Sebab. sehingga mayoritas umat Islam menganutnya sampai detik ini. Ajarannya dikembangkan oleh para pengikutnya. bahwa dalam faham teologi al-Asy'ari manusia selalu digambarkan sebagai seorang yang lemah. [46] PENGARUH KALAM AL-ASY'ARI Seperti telah disebutkan di atas. Kunci keberhasilan teologi al-Asy'ari ialah karena sejak awal berdirinya ia telah berpihak kepada awwamnya . Akhirnya.

1973 h. 60 4. ia dapat merupakan salah satu dari faktor-faktor yang memperlambat kemajuan dan pembangunan. Al-Ibanah. Bahkan.Fauqiyah. Peristiwa terowongan Mina adalah salah satu bukti nyata dari faham Fatalisme. Lihat juga Abu al-Hasan al-Asy'ari. tetapi juga pada ayat-ayat yang mengandung arti dzanni. Dengan dalih peristiwa itu terjadi atas kehendak Tuhan semata. 10 . lebih tegas lagi. 9 (Selanjutnya disebut. 3 3. Sayeed Ameer Ali mengatakan bahwa kemerosotan bangsa-bangsa Islam sekarang ini salah satu sebabnya karena formalisme al-Asy'ari. menurut al-Asy'ari. Fauqiyah. Ed. Mesir. Dr. Selain itu.Abu Musa al-Asy'ari adalah salah seorang sahabat Rasul-Allah saw. CATATAN 1. yaitu ayat-ayat yang sebenarnya boleh mengandung arti lain dari arti letterlek. dan lebih dari itu.Karena akal manusia. Untuk menutup tulisan ini. kebodohan dan kematian massal yang terjadi. menjadikan manusia-manusia yang enggan merubah nasibnya sendiri dan merubah struktur masyarakat. tetapi mereka artikan secara letterlek. Dan ia selalu mempersalahkan takdir atas kemiskinan. h. serta jauh dari pengetahuan. ed. Tetapi teologi ini akan menjadi lemah disaat berhadapan perkembangan ilmu pengetahuan dan penemuan teknologi baru. al-lbanah). maqalat al-Islamiyyin wa Ikhtilaf al-Mushallin. termasuk perbuatan manusia. Al-lbanah 'an Ushul al-Dinyanah.. jodoh dan maut adalah di tangan Tuhan. Mesir. h. lihat Hamudah Guramah. menjadikan penganutnya kurang mempunyai ruang gerak. Paham fatalisme yang berkembang dalam masyarakat. mempunyai daya yang lemah. menjadikan manusia-manusia yang tidak mau bertanggungjawab atas kesalahan-kesalahannya. [49] Paham bahwa semua peristiwa yang terjadi. karena terikat tidak saja pada dogma-dogma. Fi al-Falsafah al-Islamiyyah II. h. 1969. adalah atas kehendak Tuhan menghilangkan makna pertanggungjawaban manusia atas segala perbuatannya. 46 2. sehingga tidak ada yang mau bertanggungjawab atasnya. h. seperti rezeki. M. Mesir.Ali Ibn Ismail Ibn Abi Basyar Ishak Ibn Salim Ibn Ismail Ibn Abdullah Ibn Musa Ibn Bilal Ibn Abi Burdah Ibn Musa al-Asy'ari (Lihat Abu al-Hasan al-Asy'ari. Mahyudin Abdul Hamid. Mesir. Fauqiyah Husein Mahmud. tahun 1976.Ibrahim Madkour. Abu al-Hasan al-Asy'ari. 1977. akibatnya. Dengan demikian para penganutnya teologi ini sukar dapat mengikuti dan mentolerir perubahan dan perkembangan yang terjadi dalam masyarakat modern. suatu kesimpulan dapat diambil bahwa faham teologi al-Asy'ari mempunyai basis yang kuat pada suatu masyarakat yang bersifat sederhana dalam cara hidup dan berpikir. dan salah seorang hakim yang mewakili Ali Ibn Abi Thalib waktu terjadinya arbitrase antara Ali dan Muawiyah.

/881 M. Al-Ibanah. Mahmud Subhi.Abu al-Hasan al-Asy'ari. 73. H. Mesir.Hasan Mahmud al-Asy'ari.Ibid. 159. Lihat juga. 100 . Kairo. 1973 h. 310 6. 41 17. Iskandiyah. h. Falsafat al-Fikrial-Dini Bain al-Islam wa al-Masihiyah I (terj. h. Kitab al-Luma' Fi al-Rad'ala ahl al-Zaigh wa al-Bida'. Al-Ibanah. 164-165 14.Lihat Rayyan. 31 15. Ali Abu Rayyan. 303 (dikutip dari Fanqiyah.M. hal. 51 24. 1982 h. 60 7. 52 270 H.65 12. Al-Ibanah. h. 102 11. Dirasat Fi al-Falsafah al-Islamiyyah. Aziz M. h 93 10. Fi Ilm al-Kalam II. h. Al-Ibanah'an Ushul al-Dinayah. dalam al-Khutbath III.Hamuddh. 13 Penulis lebih cenderung menetapkan sejarah lahirnya pada ketika memisahkan diri dari Mu'tazilah adalah pada tahun 300 H. 94. h./885 M.Subhi.Fauqiyah. h. Al-Asy'ari. dan lihat juga Subhi. Mesir. 116. h. hal..A. Bairut.. Kairo. 1974. Iskandariyah.Al-Asy'ari. Kairo. 38 20. 1985. h. Subhi Fi Ilm al-Kalam II.Madkour. Mahmud Subhi. h. Al-Ibanah. 50 23. Abd. h.8 18. 35 19. Ibn Atsir. Al-Syahrastani. Tarikh. Al-Mu'tazilah. 104 22. Mahmud Kasim. dalam. h. Dirasat Arabiyah wa Islamiyah I. Wakil. 13. 1980. 36 9.Fauqiyah.) Bairut. 312 Gardet & Anawati. Fi Ilm al-Kalam II. Ed.1397 H. 1968.Bahwa manusia harus bertanggung jawab atas kehendak dan perbuatannya sendiri menurut pendapat Mu'tazilah.Louis Gardet & J. h.Faiqiyah. Al-Mihal I. h. 17. Dan Hamudah. 34 16. 1976. al-Milal wa al-Nihal I. h. Iskandiyah. Sedangkan usianya waktu itu sudah umum diketahui empat puluh tahun. Fi al-Fasafah II. Dar el Ulum.Abu al-Hasan al-Asy'ari.Zuhdi Jar Allah. Fi al-Falsafah. h. h. 29 8. h. h.Terdapat beberapa variasi pendapat dalam menetapkan tahun lahirnya: 270 H. h. Ibid. Madkour. (lihat M. 1965. Falsafah. dapat dilihat pada. Iskandiyah. 30 21. Tarikh al-Fikri al-Falsafi Fi al-lslam. Iskandiyah. Fi Ilm al-Kalam II.. Anawati. h.5. h. al-Asy'ari. h.A. 1982. Fi Ilm al-Kalam II.Al-Syahrastani. Al-Makrizi. dalam al-Lubab I.Ibid.

h. 76 37. 7501983. h.. h. Minhaj al-Sunnah II. h. Bairut. 102. 71 32. tt. al-Luma'. 27. Al-Luma'. 1981. 113 29..Ibid.Harun Nasution. 1971. Bairut.Ibid. h.Sayeed Ameer Alim. h.Ibid. Kairo.. Al-Milal I. Lihat juga Madkour.Al-Asy'ari. (021) 7507174 .Al-Asy'ari. 100. Tarikh al-Madzahib al-Islamiyah. Kitab Ushul al Din. Al-Ibanah.Muhammad Abu Zahrah.Abd al-Qahir al-Baghdadi. h.Al-Asy'ari. Madzahib al-Islamiyin. 16 28. 7507173 Fax..Al-Asy'ari. 205 45. h. h. 70 38. 167 33. h.205 36. 112 46. Dirasat. Dirasat. 101 30. h.Ibid. 562 43.. 13 26. Al-Luma'.Mahmud Kasim. Metro Pondok Indah Pondok Indah Plaza I Kav. 41 42. 57 41.Al-Asy'ari. UA 20-21 Jakarta Selatan Telp. 16-17 47. h. Jakarta. 472 473. tt. 35.Mahmud Kasim. h.25. 34 48. 133-134 44. h. h. h.Ibn Taimiyyah.Al-Syahrastani.Ibid. UI-Press. h. h.. The Spirit Of Islam.Al-Asy'ari. 51 40.Ibid 31. Al-Milal I. 72 39. h. 168 34. Teologi Islam. h. h. lihat juga Mahmud Kasim. Tarikh al-Madzahib.Ibid. Delhi. Ibid. (021) 7501969. -------------------------------------------Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah Editor: Budhy Munawar-Rachman Penerbit Yayasan Paramadina Jln. 1983 h.Abu Zahrah.Al-Sahrastani.Abd al-Rahman Badawi. Al-Ibanah.

" sedang tujuan yang bersifat "ke luar" landasannya adalah "realitas kehidupan. menurut agama. Tujuan amal yang bersifat "kedalam" landasannya adalah "iman. Sementara itu. Dan hanya dalam kaitan sebab akibat itulah suatu amal bisa dinilai. Yang ada pada wewenang kita. realitas yang menjadi pijakan amal pemikiran. dapat kita kelompokkan dalam dua katagori. pertama yang bersifat ke dalam dan personal. oleh realitas kehidupan yang mendorong kehadirannya. Semakin tepat definisi realitas yang ditangkap. Kedua. Maka bobot dan relevansinya juga tergantung pada sejauh mana definisi atas realitas itu memiliki ketepatan. maka sesungguhnya Nabi Muhammad saw sedang berteori bagaimana suatu amal. bobot dan relevansi suatu amal (dalam hal ini amal pemikiran) pada dasarnya adalah relatif dan bisa berubah." yaitu mengapa dan dalam konteks sosial yang bagaimana suatu amal telah dilakukan. melainkan lebih pada kenyataan sejauh mana ia mengena pada realitas yang diresponsnya. Dengan menerima dasar penilaian atau kritik yang demikian ini. amal itu diikat dan ditentukan oleh konteksnya. Dalam hubungan ini innama 'l-a'malu bi 'l-niyyat akan berarti. sebagai makhluk sosial. Tak ada suatu amal yang muncul begitu saja lepas dari kaitan sebab akibat yang melingkupinya. Dan amal berdimensi ganda. Yang pertama adalah realitas yang terdapat dalam dunia ide yang dipikirkan. seperti diketahui. adalah kritik atau evaluasi amal dari sudut niat (tujuan)nya yang bersifat "keluar. maka bisa dikemukakan beberapa acuan sebagai berikut. dalam bahasa manajemennya. adalah kesadaran tentang tujuan suatu amal dilakukan. dikritik atau dievaluasi. harus dikritik atau. justru lantaran konteks yang melahirkannya adalah juga bersifat relatif dan berubah. Ketiga. di dunia ini." Syahdan. kritik amal atas dasar niat yang bersifat kedalam sama sekali bukan urusan kita. yaitu realitas teoritik dan realitas empirik. dan kedua yang bersifat keluar dan sosial. Niat. tapi di sana. semakin tinggi pula bobot dan relevansi pemikiran yang diresponinya. dan waktunya. Sedang yang kedua adalah realitas yang ada dalam dunia kenyataan yang . bukan di sini. TELAAH KRITIS ATAS TEOLOGI MU'TAZILAH (1/2) oleh Masdar F. karena setiap amal adalah respons terhadap realitas yang didefinisikannya. Mas'udi Dengan mengatakan innama 'l-a'malu bi 'l-niyyat (amal ditentukan niyatnya). Itu adalah urusan Tuhan dan pribadi yang bersangkutan. dievaluasi. bobot dan relevansi suatu amal pemikiran pertama-tama tidak ditentukan penilaian benar tidaknya dari sudut doktrin.Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota Please direct any suggestion to Media Team Artikel Yayasan Paramadina Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota III. Pertama. di alam akhirat nanti.11.

dengan sendirinya. Berkaitan dengan tanggungjawab perbuatan manusia tadi. atau kekuatan-kekuatan itu. Seperti selalu diulang-ulang para sejarawan. Pertanyaan ini muncul -besar kemungkinan karena menurut doktrin Kristiani yang ketika itu juga sudah dibawa masuk dalam lingkungan umat Islam. Siapakah yang sesungguhnya bertanggungjawab atas tindakan manusia: dirinyakah. bahwa pada paroh kedua abad pertama Hijriah. yang satu terhadap yang lain bisa saling pengaruh mempengaruhi. Perkembangan yang tragis ini yang terjadi dua kali. dari keprihatinan atas pertanyaan-pertanyaan inilah . telah terjadi dua perkembangan yang sangat signifikan dalam sejarah umat Islam. Demikianlah. pemikiran katagori pertama. tapi semata-mata atas dasar "rahmat" yang disediakan melalui pintu tunggalnya: Yesus. yaitu bagaimana ajaran agama bisa dipahami umat secara benar. sedang sebagian amal pemikiran yang lain. Bagaimana hukumnya orang Islam yang melakukan dosa besar (seperti membunuh sesama Muslim tanpa hak). sebagian amal pemikiran benar-benar lahir dengan titik tolak keprihatinan pada realitas teoritis (baru kemudian. Syahdan. dimana satu kelompok bukan saja telah mengutuk kelompok yang lain. PEMIKIRAN TEOLOGI MU'TAZILAH Fakta sejarah. bergerak ke realitas empiris)." Perkembangan kedua adalah masuknya bangsa Parsi dan sekitarnya kedalam Islam berikut pemikiran dan keyakinan-keyakinan lamanya yang sudah terbentuk kuat dalam benak masing-masing. apakah faktor itu adalah "amal perbuatannya" ataukah "rahmat Tuhan" semata yang diberikan kepada siapa saja yang dikehendaki-Nya. karena titik tolak keprihatinannya pada realitas abstrak dan umumnya terbatas hanya pada concern kalangan tertentu. sedang yang kedua akan bercorak populis. (Suatu pemikiran yang jelas berangkat dari keprihatinan teoritik). pemikiran yang lahir dari keprihatinan pada realitas riil yang dirasakan orang banyak.dirasakan. Dengan kedua perkembangan itulah muncul pertanyaan-pertanyaan teologis. Pertama. jika dirasa perlu. maka dampak sosialnya pun cenderung abstrak dan terbatas pada kalangan tertentu saja. Pemikiran kategori pertama. keduanya tak harus selalu terpisah. dikenal dengan sebutan fitnah kubra. bahwa pemikiran-pemikiran keagamaan (fiqh atau teologi) sebagai amal yang ditawarkan para pemikir Muslim sejak abad pertengahan adalah lahir dari suatu pola keprihatinan yang serupa. Memang. kenyataan bahwa di kalangan umat terjadi konflik internal yang boleh jadi tidak pernah diinginkan oleh mereka sendiri. dan dalam kontrol siapakah ia."penyelamatan Tuhan" itu tak ada sangkut pautnya dengan amal perbuatan manusia. yaitu balasan sorga dan balasan neraka. akan cenderung bercorak elitis. tapi telah saling membunuh. Tapi yang saya maksudkan adalah. Sebaliknya. titik tolaknya adalah keprihatinan terhadap realitas empiris (baru kemudian realitas yang bersifat teoritis). "cobaan besar. juga akan cenderung pada hal-hal yang konkrit yang bisa mengena pada kepentingan orang banyak. faktor apakah yang memastikan orang memperoleh penyelamatan Tuhan dengan masuk sorga. ada dua jenis balasan sejati di akhirat nanti. Menurut ajaran Islam.

Asy'ariyah. Tersebutlah. Saya kira. Maturidiya." Baginya. Dan sebaliknya. maka jawaban pun hadir dalam corak dan pendekatan yang demikian berbeda-beda. dengan melakukan dosa besar. seorang Muslim telah terpental dari kelompok (komunitas) alias menjadi "kafir" dan karena itu -sesuai dengan hukum riddah. di kemudian hari nama-nama: Khawarij. Dan sebenarnya pada kisaran inilah Mu'tazilah benar-benar tumbuh sebagai aliran teologi yang tersendiri diantara aliran-aliran teologi yang lain. Tapi kalau pertanyaan tentang "status pendosa besar" ini banyak diselimuti latar belakang politis. Berbicara tentang awal mula sejarah Muitazilah. Jawaban kedua mengatakan bahwa Muslim yang melakukan dosa besar masih tetap tergolong Muslim." terasa lebih bersifat murni teologis. Khasywiyah dan sebagainya. Mu'tazilah. minna) atau termasuk orang luar (out group. hanya dengan prinsip kebebasan inilah. mengaku sebagai satu-satunya yang benar. Muslim no yang baru pada taraf pembentukan diri. Prinsip "janji dan ancaman" (al-wa'du wa 'l wa'id) yang akan dilaksanakan di hari kemudian tak bisa dipahami tanpa adanya prinsip "kebebasan" tadi. Kata i'tazala (hengkang) yang jadi sebutan Mu'tazilah (yang hengkang dari arus umum) itu pun kemudian ditempelkan kepada Washil bin Atha dan segenap pengikutnya.halal ditumpahkan darahnya. yang berkembang saat itu adalah jawaban-jawaban berikut. 110 H/ 728 M). Itulah sebabnya ketika Washil melontarkan pendapatnya yang melawan arus tadi. I'tazala'anna!. orang akan selalu merujuk pada episoda diskusi Hasan al-Bashri (w. sangat menekankan perlunya seseorang dapat memperjelas (diperjelas) kedudukannya apakah termasuk orang dalam (in group. Murjiah. maka pertanyaan tentang "kebebasan manusia. manusia secara moral dapat dituntut pertanggungjawaban di kemudian hari. dengan nada menyesal Hasan berkomentar: Ia telah keluar dari kita. Jawaban ini diajukan kelompok yang terkenal dengan sebutan Khawarij. Yang menarik adalah bahwa masing-masing aliran ini. yaitu bahwa identitas seseorang apakah ada "di dalam" (minna) atau "di luar" (minhum) harus benar-benar jelas. Karuan saja. karena merasa berpedoman pada pegangan mutlak yang ada di tangan. yang lainnya adalah salah. karena ajaran-ajaran Islam itu pun harus diolah terlebih dahulu melalui subyektifitas masing-masing pemikir. Pertama.para pemikir Islam ketika itu merasa ditantang merumuskan jawabannya yang benar sesuai dengan ajaran-ajaran Islam yang shahih. Berbeda dengan aliran teologi lainnya. dan bagaimana dengan dosa yang dilakukannya itu terserah Tuhan di hari akhirat nanti. seorang ulama terkemuka pada zamannya. Jabariyah. Hasan Basri selaku pemimpin dan tokoh yang merasa harus menjaga keutuhan umat berada dalam arus kecenderungan umum ini. Qadariyah. prinsip kebebasan juga hanya akan berarti kalau ada "janji dan ancaman" yang setimpal di hari kemudian. dengan para muridnya diseputar tema Muslim yes. Jawaban inilah yang agaknya dicondongi mayoritas umat Islam yang disebut sebagai kelompok Murji'ah (artinya: menangguhkan). minhum). Maka terhadap pertanyaan yang terlontar dalam diskusi Hasan tadi. Mu'tazilah secara tegas mengatakan bahwa "manusia sepenuhnya memiliki kebebasannya sendiri bertindak. Masing-masing jawaban tumbuh sebagai aliran pemikiran yang berdiri sendiri. .

Apakah dengan begitu. Sebagai yang Maha adil Tuhan harus membalas keburukan atas setiap tindakan buruk dan harus membalas kebaikan atas semua tindakan yang baik. Pada poin inilah Mu'tazilah dimasyhurkan sebagai aliran pemikiran yang rasionalistik. TELAAH KRITIS ATAS TEOLOGI MU'TAZILAH (2/2) oleh Masdar F. Sementara itu. berupa akal yang lebih dipahami sebagai rasio atau nalar. manusia tumbuh sebagai makhluk yang mandiri dan tidak lagi tergantung pada pihak lain dalam menentukan jalan hidupnya. Kemampuan itu menurut keyakinan Mu'tazilah sudah diberikan Tuhan. Secara harfiyah prinsip yang tersebut terakhir ini bukan barang baru bagi umat Islam pada jamannya.11. manusia yang bebas dan bertanggungjawab itu." suatu pendirian yang oleh mayoritas Muslim dipandang sangat membahayakan keutuhan doktrin. Metro Pondok Indah Pondok Indah Plaza I Kav. bahkan juga sebelumnya. diluar diri manusia sendiri. Mas'udi Mu'tazilah yakin bahwa pembalasan di akhirat semata-mata ditentukan oleh "amal perbuatan manusia" yang diambilnya sendiri secara bebas merdeka. Mu'tazilah tak lagi perlu? Tak ada penegasan eksplisit tentang itu. Tapi "keesaan Tuhan" dalam teori Mu'tazilah ini menjadi baru karena yang ia maksudkan rupanya adalah pembebasan (tanzih) . dengan tesisnya bahwa al-Qur'an itu makhluk. UA 20-21 Jakarta Selatan Telp. yang cenderung mengunggulkan otoritas "akal" (nalar) atas "naqal.(bersambung 2/2) -------------------------------------------Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah Editor: Budhy Munawar-Rachman Penerbit Yayasan Paramadina Jln. Baik atau buruk (al-hasan wa 'l-qabh) bukanlah sesuatu yang harus didiktekan siapa pun juga. Tapi. 7507173 Fax. maka sebenarnya Mu'tazilah sudah berketetapan hati bahwa sebagai sesama makhluk. Dengan nalarnya. Dan sebagai yang Maha adil. tesis tentang Qur'an tersebut erat kaitannya dengan tesisnya yang lain tentang "Keesaan Tuhan" yang dibangunnya dengan pendekatan murni filosofis. (021) 7507174 Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota Please direct any suggestion to Media Team Artikel Yayasan Paramadina Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota III. 7501983. pastilah manusia yang memiliki kemampuan yang memungkinkan dirinya menentukan mana yang baik dan mana yang buruk. Seperti diketahui. al-Qur'an (wahyu) tidak memiliki otoritas yang dapat mendikte manusia. (021) 7501969. Dia tak bisa tidak kecuali harus bertindak yang terbaik bagi manusia.

al-Jubba'iy. sedang lawan-lawannya mengaku menemukan kebenaran mutlak itu melalui huruf-huruf naqal. maka diciptakan (makhluq). juga dengan logika akalnya. Tapi. ia akan tumbuh menjadi manusia durhaka. syirk. Konon. 330 H/942 M). pada suatu ketika. Itulah sebabnya. kejar Asy'ari lebih lanjut. sedang si anak belum. Kalau begitu. tapi seperti halnya Jubbaiy. Yakni. Kenapa harus terjadi si anak tidak diberi usia yang cukup agar ia bisa berbuat kebaikan seperti temannya yang dewasa? Kejar Asy'ari. adalah hadits. bagaimana jika orang-orang yang dijebloskan dalam neraka protes. maka Qur'an sebagai ekspresi salah satu sifat-Nya (al-kalam) yang hadits dengan demikian juga berkapasitas hadits. maka segala sesuatu selainnya. bahwa Mu'tazilah mengaku telah menemukan kebenaran tunggal dan mutlak itu melalui logika akal. murtad dan sejenisnya hanya lantaran pendapat yang berbeda. kenapa mereka tidak dimatikan saja ketika masih muda. yang adalah teolog Mu'tazilah terkemuka pada zamannya. jawab Jubbaiy. Mengapa harus begitu? Tanya Asy'ari. menurut catatan sejarah yang pertama kali menyatakan kekecewaannya terhadap konsep teologi Mu'tazilah yang rasionalistik itu. Asy'ari pun juga menggunakan akal (logika) untuk mendukung argumentasinya. Yang tersebut terakhir ini dengan sangat militan diwakili oleh golongan Khasywiyah yang mengaku menjadi pengikut Imam Ahmad bin Hambal (w. 241 H/855 M). Sesungguhnyalah kritik ini tidak saja mengena pada Mu'tazilah. Hanya bedanya. Tuhan tahu. kilah Jubbaiy. jika si anak dibiarkan hidup. Karena yang dewasa telah sempat beramal kebaikan. Dengan menarik postulat ini lebih jauh.Tuhan dari seluruh "sifat" bahkan yang secara eksplisit tersebut dalam ajaran-ajaran wahyu (Qur'an). termasuk sifat-sifat yang dikenakan kepadaNya. Bedanya adalah bahwa Jubbaiy (Mu'tazilah) dengan logika akalnya bersikeras untuk mendefinisikan Tuhan menurut batas-batas manusia. hingga tak sempat tumbuh jadi manusia durhaka? Yang menarik dari diskusi ini bukan saja al-Jubbaiy kehabisan akal menjawabnya. tentang nasib seorang anak dan seorang dewasa yang sama-sama masuk sorga karena imannya. jika hakikat Tuhan itu qadim. Sifat-sifat atau atribut yang dikenakan kepada Tuhan bukanlah sesuatu yang sebangun dengan hakikat-Nya. sesuai dengan keadilan Tuhan dalam persepsi Mu'tazilah. salah satu ciri yang menonjol dari sejarah pemikiran keagamaan saat itu adalah kesembronoannya yang benar-benar diyakini dalam menuduh orang atau pihak lain sebagai kafir. . Sementara Tuhan harus berbuat yang terbaik untuk manusia. tapi juga pada semua aliran teologi yang tumbuh pada masa-masa itu karena klaim yang sama. Keduanya memiliki perbedaan yang substansial. orang yang mati dewasa itu menempati kedudukan lebih tinggi dibanding kedudukan si anak. al-Asy'ari bertanya kepada guru besarnya. sedang Asy'ari. TIGA KRITIK Adalah al-Asy'ari (w. Kalau kritik al-Asy'ari itu adalah juga kritik kita kepada Mu'tazilah. maka kritik kita yang kedua adalah pada klaimnya sebagai telah menemukan kebenaran tunggal yang harus diterima semua pihak. justru ingin membebaskan-Nya tetap berada di atas batas-batas manusia tadi.

" atau "teologi kerakyatan"). kalau teologi abad pertengahan (seperti Mu'tazilah maupun lawan-lawannya) yang mengabdi kepada kepentingan doktrin disebut teologi dialektik. Sementara itu. Sehingga kalau realitas yang menggugah keprihatinannya adalah soal keadilan. Seperti telah disinggung di atas." tapi keadilan yang menjadi tanggung jawab manusia dalam kehidupan di "sini.Untuk kasus Mu'tazilah sikap intoleransi ini ditindak lanjuti dengan prinsip amar ma'ruf nahi munkarnya yang merisaukan banyak pihak yang menjadi lawan polemiknya. karena pada dasarnya Mu'tazilah lahir dari keprihatinan pada realitas teoritis bahkan yang berdimensi metafisik. Dilihat dari sudut muaranya. sistem pemikiran teologis atau apa saja atributnya yang relevan untuk dibangun. maka dialektika teologi baru itu bersifat empiris (dialektika yang terjadi dari proses penghadapan kritis antara realitas kehidupan dengan pesan-pesan universal). Dan dalam kaitannya dengan persoalan keadilan yang dirasakan umat. Yang pertama berwatak formal dengan orientasi pada bentuk . maka keadilan yang dimaksud bukanlah keadilan Tuhan yang harus ditegakkan di "sana. dengan dalih itu. atau inquition yang dilakukannya dengan dukungan tangan-tangan kekuasaan dan birokrasi pemerintahan yang karena alasan politik tertentu dapat dipengaruhinya. Mu'tazilah telah melancarkan intrik terhadap orang lain untuk menerima doktrin-doktrin teologinya dan menimpakan hukuman atas siapa saja yang mencoba menolaknya. (Kritik ini pun mengena pada aliran teologi lainnya. TAWARAN ALTERNATIF Mencoba konsisten dengan kerangka teori "niat" seperti tersebut di atas. kritik yang ketiga. adalah yang benar-benar berangkat dari lapisannya paling bawah. lantaran dasar keprihatinannya yang elitis tadi. Seperti diketahui. ia bisa disebut misalnya "teologi populis." Saya pikir. maka rupanya keadilan yang dimaksudkan adalah keadilan lain (yang bersifat eskatologis) yang berkaitan dengan "peranan" Tuhan di hari kemudian. adalah yang tersebut pertama muaranya adalah pada terbangunnya kesesuaian realitas pemahaman dengan bunyi doktrin yang statis. karena dasar keprihatinannya yang serupa). beda antara teologi dialektika retorik di satu pihak dengan dialektika empiris di lain pihak. salah satu prinsip ajaran yang dipropagandakan Mu'tazilah adalah tentang "keadilan" suatu isu yang sebenarnya sangat relevan pada saat itu. terutama jika diingat praktek kesewenang-wenangan yang dilakukan kalangan penguasa. Tapi kalau dialektika teologi yang mengabdi doktrin itu berwatak retorik (dialektika yang terjadi dalam proses penghadapan antagonis antara satu doktrin dengan doktrin yang lain). (Dari dasar keprihatinannya ini. maka sebutan yang sama pun bisa juga dikenakan pada teologi yang perlu kita kembangkan ini. Tapi. kelompok Mu'tazilah ini justru bergandengan-tangan dengan rejim yang berkuasa untuk melakukan tindak sewenang-wenang terhadap siapa saja yang tidak disukainya. Tragedi teologis ini dikenal dengan mihnah. maka isu-isu yang digelutinya pun hampir tak punya sentuhan yang bermakna bagi umat pada umumnya. maka bagi saya. sedang yang tersebut terakhir concernnya pada kesesuaian antara realitas kehidupan dengan semangat doktrin yang dinamis.

52. -------------------------------------------Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah Editor: Budhy Munawar-Rachman Penerbit Yayasan Paramadina Jln." (Durant. UA 20-21 Jakarta Selatan Telp. a conventicle of schismatics. menyebarkan tulisan yang mengkritik keras Paus di Roma. a synagogne of Satan. Mereka berpisah seperti "a biological species divided in space and diversified in time. Sebagai gantinya. SKISME DALAM ISLAM SEBUAH TELAAH ULANG (1/3) oleh Jalaluddin Rakhmat Ketika matahari Islam sedang naik di sebelah Timur. di Romawi dengan pemercikan. Michael Cerularius. mereka mengangkat Robert dari Genewa dengan gelar Clement VII. Peristiwa ini disebut sebagai skisma besar Gereja Timur. Menurut laporan Will Durant (Durant). pastor Yunani ahli teologi. sedang yang kedua berwatak substansial yang berorientasi pada substansi dan bersifat terbuka. Terakhir. Dua Paus bertahta. sedang secara horizontal berwatak demokratis. teologi dialektika empiris ini akan menerima perbedaan pendapat sebagai realitas kehidupan yang wajar. Dengan watak keterbukaannya. Pertentangan keduanya dan pengikutnya sampai kepada tingkat saling mengkafirkan.dan cenderung tertutup. 1950:544). sedangkan rekannya dari Roma mencukurnya. Leo mengekskomunikasikan Cerularius dan menggelari pengikut-pengikutnya sebagai "an assembly of heretics. Pembaptisan di Yunani dilakukan dengan penyelaman. kardinal-kardinal Perancis berkumpul di Anagui. Lebih dari tiga abad kemudian. tetapi diperbolehkan bagi pastor Yunani." Kristen Yunani berdoa sambil berdiri. Pada tahun 1043. teolog Yunani menolak tambahan filioque pada syahadat sex patre filioque procedit hasil perumusan Gereja Romawi. Patriarch Konstantinopel. (021) 7507174 Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota Please direct any suggestion to Media Team Dimensi sosial Artikel Yayasan Paramadina Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota VI. 7501983. "Kiai" Yunani memelihara janggut. maka kemungkinan menemukan pilihan "yang terbaik" menjadi tersedia. Pastor Romawi ahli politik. Justru dengan pendapat yang berbeda-beda itu. Dengan demikian. mengeluarkan manifesto yang mengatakan pemilihan Paus Urbanus VI tidak sah. . Pernikahan dilarang bagi pastor Romawi. Kristen Romawi sembahyang sambil berlutut. Metro Pondok Indah Pondok Indah Plaza I Kav. teologi dialektika empiris ini secara vertikal berwatak populis. dua sisi yang selama ini seperti cenderung terpisah. Sebagai balasan. (021) 7501969. di Barat Kristianitas terbelah dua pola: Gereja Romawi dan Gereja Yunani. masing-masing menyebut yang lain sebagai Judas. Paus St. 7507173 Fax.

Will Durant melukiskan skisme besar tahun 1054. 23:53. Seperti dalam dunia Kristiani. 21:92)? Bukanlah mereka seperti bangunan yang kokoh. Al-Syahrastani dalam al-Milal wa al-Nihal menulis. and that the children so baptized. "Kalian akan mengikuti tradisi umat sebelum kalian. "Ah. ia menulis. tradisi yang same telah diikuti umat Islam juga. Encyclopedisch Woordenbock voor Groot-Nederland (Ter laan." Peristiwa ini pun disebut sebagai Skisma Besar. sehingga kalau satu anggota sakit. 1378-1407. kemudian diperluas ke dalam bidang liturgi dan doktrin: begitu pula. de sheuring in de. William Occam menentang identifikasi Kristianitas dalam gereja . remained in a state of mortal sin. Pertama. apakah mereka itu Yahudi dan Nashara. Sahabat bertanya. Sebuah kamus klasik. and not the slight diversities of creed. de afscheiding van een deel van de Gr.1953:362) "Each side claimed the sacraments administered by priests of the opposite obedience are invalid. sesiku demi sesiku. mengapa kita tiba-tiba bicara tentang skisme dalam Islam. kamu pun akan mengikutinya. Pernahkan Islam mempunyai Paus dua dan di antara keduanya ada tuduhan saling mengkafirkan? Bukankah umat Islam adalah "ummatan wahidatan" (QS. 1937:648) menjelaskan makna skisme: Schisma. 1950:544). anggota-anggota lainnya ikut demam dan panas? Mula-mula saya menganggap istilah skisme dalam Islam sebagai mengada-ada. severed Christendom into East and West" (Durant. yang semula bersifat politis. (Gr. Nabi Muhammad berkata. "Siapa lagi. Kedua. ".K. the penitents so shriven. dalam Islam pun kaum politisi memperbesar perbedaan doktrinal yang kecil untuk menyuburkan fanatisme --saling mengkafirkan dan saling membid'ahkan. "Ya Rasullah. Bila skisme adalah istilah Kristiani. baik skisme dalam Kristen maupun skisme dalam Islam lebih banyak dilandasi pertikaian kepentingan politik daripada karena pertikaian aqidah.. Tidak jarang." Secara singkat. Skisma memang bukan istilah Islam.. ada-ada saja!." [1] Kata skisme tidak mengada-ada.= shedding). Pertikaian dalam gereja Katolik. the dying so anointed. pertikaian politik sering dicarikan legitimasinya dengan pengembangan teologi yang berlainan. sehingga bila mereka memasuki gua serigala. Walaupun skisme berasal dari dunia kristen. kerk. dalam Islam. R. di dunia Katolik pernah muncul gerakan konsiliasi (cinciliar movement) yang dipelopori oleh kaum cendekiawan. Ketiga. atau seperti tubuh yang satu. "Tidak pernah darah di tumpahkan dan pedang dihunus dalam Islam kecuali karena pertikaian masalah imamah (kepemimpinan). toen er verschillende pausaen tegelijk waren. 1054." Tetapi." Nabi menjawab. yang saling menguatkan satu same lain.these galling political events. Katholieke kerk van Rome. setelah saya merenungkan pertanyaan-pertanyaan di atas? terlintas dalam ingatan saya sebuah hadits. doomed to hell or limbo if death should supervene. Ada tiga kesamaan antara skisma Kristiani dengan perpecahan dalam Islam. saya segera berkomentar. legitimasi ini diperoleh dengan memalsukan sumber-sumber ajaran agama atau memberikan penatsiran yang diselewengkan. sehingga begitu saja mendengarnya.

Syi'ah menetapkan pemimpin lewat keterangan agama (nash) dan penunjukan (ta'yin). tokoh-tokoh cendekia seperti Syaikh Syaltut (dari ahl al-Sunnah). atau penobatan Syarif al-Husain sebagai Khalifah tandingan khalifah Utsmaniyah.tertentu. Wilayah dan 'ishmah merupakan karakteristik tak terpisahkan dari imamah. [2] Al-Syahrustani membedakan di antara kedua madzhab ini dalam hal kepemimpinan politik. sikap nonsektarian. Jadi. yang baru saja dihapuskan tiga hari sebelumnya. tetapi -anehnya menyebut kepemimpinan dengan istilah imamah). ingin mengikuti suara cendekiawan dan mengesampingkan suara politisi. menulis buku Concilium Pacis (1381). Sementara itu. Di antara semua skisme tersebut. perlawanan Husayn bin Ali terhadap Yazid. Sayang. Ketiga konsep kunci untuk pandangan politik Syi'ah . Kasyif Githa (dari Syi'ah). Dalam Islam.Islam tidak memisahkan aspek politik dan aspek intelektual. penunjukan imam sebelumnya" (Perlu dicatat di sini bahwa penulis-penulis di atas adalah ulama ahl al-Sunnah. imamah. makalah ini akan mengajukan rekomendasi apa yang seharusnya kita lakukan. walaupun membicarakan skisme. Walaupun --karena sifat ajarannya-. Heinrich von Langenstein. teolog dari Universitas Paris. "Kepemimpinan ditetapkan dengan dua cara: pertama. dalam Islam pun umat terbanyak lebih banyak mendengar suara politisi ketimbang cendekiawan. wilayat. Tulisan ini. ijma' dan bay'ah.Syi'ah (yaitu tiga skisme yang pertama). menggalakkan upaya-upaya taqrib. skisme yang tetap berpengaruh sampai sekarang adalah skisme-skisme yang melahirkan polarisasi Sunnah . atau penobatan Abdullah bin Zubair (681-692) sebagai Khalifah bersamaan dengan masa Khalifah Yazid. Karena itu. Ijma' dan bay'ah diterima juga dalam Syi'ah walaupun dalam arti yang terbatas. seperti dalam dunia Kristiani. Ahl al-Sunnah berpegang pada ketentuan syura sebagai landasan . dan 'ishmah. Bagian pertama makalah ini akan membicarakan skisme politik. tujuan akhirnya adalah menumbuhkan sikap persatuan --sikap nonskismatik. Pada bagian akhir. dan Jamaluddin al-Afgani (tidak jelas dari Sunnah atau Syi'ah). ANTARA KHALIFAH DAN IMAMAH Hamid Enayat menyebutkan tiga konsep kunci untuk pandangan politik Ahl al-Sunnah . Karena itu.yakni. untuk mudahnya saja. Ada beberapa kali terjadi skisme politik besar dalam sejarah Islam: pemberontakan 'Aisyah terhadap Khalifah Ali bin Abi Thalib. di sini kedua aspek itu dipisahkan.yakni Khalifah. dan kedua. di sini kita akan meneliti perbedaan konsep politik di antara kedua madzhab besar itu dan melacak penyebab-penyebabnya. Ahl al-Sunnah menetapkan pemimpin melalui kesepakatan (al-ittifaq) dan pemilihan (al-ikhtiyar). terus terang saja. pemilihan Ahl al-Hal wa al-'Aqd. dan lain-lain. dan bagian kedua skisme intelektual. Al-Mawardi dalam Al-Ahkam al-Sulthaniyah (450 H) dan Abu Ya'la dalam Al-Ahkam al-Sulthaniyah (458 H) semuanya menulis. abstraksi pandangan politik ahl al-Sunnah dapat disimpulkan hanya pada perbedaan konsep imamah dan khilafah yang dianut Syi'ah. pertentangan khalifah antara Mu'awiyah dan Ali bin Abi Thalib setelah perjanjian Shiffin.

pemimpin tidak perlu ditunjuk oleh nash. Nor does it appear likely that such a leader should accept someone as his deputy and successor and introduce him to others as such. but then throughout his life and religious call deprive his deputy of his duties as deputy." Sayyid Muhammad Husayn Tabatabai (t.t. but not introduce him to his completely loyal and devout aides and friends. and refuse to make any distinctions. Ahl al-Sunnah tidak mempunyai konsepsi yang jelas tentang ketentuan-ketentuan syura. pemimpin bahkan dapat disahkan tidak lewat ittifaq tetapi lewat al-ghalabah (kemenangan perang). dan Salim Mawla Abi Hudzaifah. Mawardi dalam bukunya. Umat boleh memiliki (ikhtiyar) pemimpin yang disepakatinya (ittifaq) Dalam kenyataan. yaitu: (1) sistem syura yang terbatas (seperti pemilihan Abu Bakar) (2) sistem istikhlaf (penunjukan pengganti seperti yang dilakukan Abu Bakar terhadap 'Umar (3) sistem syura dari dewan formatur yang ditunjuk khalifah sebelumnya (seperti pengangkatan Utsman bin Affan) (4) sistem al-ghalabah bi al-saif (penaklukan dengan kekuatan militer seperti yang dilakukan Mu'awiyah) Syi'ah berpendapat bahwa imamah hanya sah bila ditegaskan dalam nash. Pengangkatan Abu Bakar dipilih oleh Umar bin Khathab. menunjuk pengganti-pengganti sesudahnya untuk memimpin umat Islam. syura dan ittifaq cukup dilakukan oleh seorang saja (sic!). Ini pendapat fuqaha Bashrah. menurut Ahl al-Sunnah. seperti ketika 'Abbas mendatangi Ali untuk membai'atnya. Menurut Al-Mawardi.W. "Ia telah memikirkan dan merencanakan pelanjutnya . dikutip lagi dari Al-Askari. Begitu pula Umar mempercayakan Dewan Formatur yang terdiri dari enam orang untuk memilih satu di antaranya sebagai khalifah. Basyir bin Sa'ad.. Abu 'Ubaidah bin al-Jarah. untuk menegakkan masyarakat Islam. syura cukup tiga orang dan satu di antara mereka disepakati oleh dua orang yang lain. siapa yang memilih.: 39) menulis: From the Shi'ite point of view it appears as unlikely that the leader of a movement. 1406: 234-256). boleh dilakukan dalam jumlah terbatas dan ittifaq paling sedikit dilakukan lima orang. syura. 1406:147. should introduce to strangers one of his associates as his successor and deputy. Mereka beryakinan bahwa Rasulullah SA. Akhirnya. -------------------------------------------Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah Editor: Budhy Munawar-Rachman (bersambung 2/3) .. dan berapa jumlah orang yang sepakat." kata Al-Askari (1406:202). Menurut fuqaha Kufah. disregard the respect due to his position as successor. Al-Ahkam al-Sulthaniyah 6-7. during the first days of his activity. Empat imam mazhab Ahl al-Sunnah sepakat bahwa pemimpin sah dengan salah satu di antara empat cara (al-Yahfufi. Jadi karena pemimpin adalah hasil syura. Usaid bin Hudhair. al-Syura 38 dan Ali Imran 164 sebagai dalil.kepemimpinan dan menunjuk QS. Bukankah aqad nikah sah dengan dua saksi dan satu wali? Kata kelompok yang lain. "Sejak pertama kali ia mengajak orang pada Islam.

"Keluar memerangi mereka haram berdasarkan ijma' kaum muslimin. Al-Jumhur (yakni. menurut Syi'ah. maka tentu imam adalah orang yang terbaik. "Ketika Syi'ah menegaskan bahwa khilafah adalah hak ilahi bagi Ali dan keturunannya. Dengan begitu mereka menyalahi akal dan nash al-Kitab. dan mutakallimun bahwa imam tidak boleh di dimakzulkan karena kefasikan." Sebelum itu ia menulis (Syarh Muslim 12: 229). UA 20-21 Jakarta Selatan Telp. bahkan harus diberi petunjuk. Al-Qur'an menentang hal itu dengan berkata.52. Ahl al-Sunnah memilih yang pertama. "Berkata jumhur ahl al-Sunnah dari kalangan fuqaha. Al-Nawawi berkata dalam Syarh Muslim-nya. Sudah jelas sekali hadits-hadits yang menunjukkan pengertian yang saya sebut. atau pelanggaran hak.Penerbit Yayasan Paramadina Jln. yang menunjukkan Ali sebagai penggantinya dan sebelas orang imam dari keturunannya. dan kedzaliman. terjadilah kontroversi berikutnya. SKISME DALAM ISLAM SEBUAH TELAAH ULANG (2/3) oleh Jalaluddin Rakhmat Walhasil. Mazhab Imamiyah sepakat tentang hal itu. Ini melahirkan kontroversi al-fadhil dan al-mafdhul. Akan menganggap tidak baik mendahulukan al-mafdhul dan menghinakan al-fadhil. [3] Karena imam itu ditunjuk oleh nash. (021) 7501969. dan Syi'ah mengikuti yang kedua. Ahl al-Sunnah) membolehkan mendahulukan al-mafdhul di atas al-fadhil. Syi'ah melarang dan Ahl al-Sunnah mengharuskan petaatan pada penguasa yang zalim. ada nash-nash yang jelas dari Rasulullah saw. "Apakah orang yang memberi petunjuk kepada yang benar lebih berhak diikuti ataukah orang yang tidak dapat memberi petunjuk." Karena Syi'ah menetapkan al-fadhil dan Ahl al-Sunnah membolehkan al-mafdhul sebagai imam. mahaddtsin." Kontroversi selanjutnya adalah tindakan untuk menjawab pertanyaan manakah yang lebih utama. Bagaimana kalian menetapkan keputusan?. Syi'ah Jawad Mughnuyah (1406: 26) berpendapat. Wajib bagi rakyat menasihati dan memperingatkannya. 1396: 27) menulis: Imam mesti yang paling utama dari rakyatnya. Al-Hilli (dalam Al-Hasan. walaupun mereka fasik dan zalim. 7507173 Fax. (021) 7507174 Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota Please direct any suggestion to Media Team Artikel Yayasan Paramadina Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota VI. penguasa muslim yang dzalim atau penguasa kafir yang adil. Ahl al-Sunnah ijma' bahwa sulthan tidak boleh dimakzulkan karena kefasikan. Ia tidak boleh diturunkan dan tidak boleh orang keluar menentangnya. Metro Pondok Indah Pondok Indah Plaza I Kav. bahkan terpelihara dari dosa. 7501983. .

lazim disebut Sunnah. mereka mengikuti khalifah al-Manshur. teori ini berpijak pada dua asumsi: (1) Bangsa Arab adalah bangsa yang terorganisasi atas dasar kesukuan. perbedaan kualifikasi pemimpin (al-fadhil atau al-mafdhul). Dengan demikian.mereka telah bersikap ekstrem dalam toleransinya terhadap penguasa yang adil. Tidak mungkin dalam makalah ini. dan secara terperinci dijelaskan kembali oleh Jafri (1967). kesetiaan pada suku dan ketergantungan kehormatan pada sukunya menjadi sangat penting. lahirlah skisme politik besar Islam yang berlangsung sampai kini. Asumsi pertama menunjukkan bahwa status sosial seseorang sangat ditentukan oleh status marganya. orang mengikuti Imam Malik. Setiap anggota marga bangsa dalam menghitung-hitung prestasi nenek moyangnya. Nahnu ma'aman ghalab" (Kami bersama orang yang berkuasa). ahl al-bayt --di samping memegang hak kepemimpinan politis-juga menjadi rujukan dalam masalah-masalah keagamaan. ahl al-Sunnah berpegang pada kaidah yang diberikan Ibn Umar pada waktu ada pertikaian antara Ali dan para penentangnya. pada kata imamah (yang secara khusus berarti kepemimpinan ruhaniah) juga terkandung makna wilayah (secara khusus berarti kepemimpinan politis). Karena itu. dan perbedaan dalam memandang hubungan kekuasann politis dengan kekuasaan religius (digabungkan atau dipisahkan). Sementara itu. Di antara . Kita hanya akan mengulas dua teori saja: teori sosioantropologis Bangsa Arab dan teori pendekatan doktrinal. (2) Bangsa Arab yang membentuk umat Islam permulaan terdiri dari dua subkultur-subkultur Arab Selatan dan subkultur Arab Tengah-Utara. Mereka mengutamakan non-muslim jika ia adil daripada seorang penguasa Muslim yang dzalim. Teori ini dikemukakan oleh Nicholson (1969). Secara politis. Mengapa terjadi perbedaan itu. Perilaku yang menjadi tradisi suatu kabilah. perbedaan preferensi penguasa (kafir yang adil atau muslim yang dzalim). sejak berakhirnya Khulafa al-Rasyidun. Dari perbedaan pengangkatan pemimpin (ikhtiyar atau ta'yin). ahl al-Sunnah memisahkan kedua kepemimpinan itu. dan pada bidang politis. Ibn Thawus yang masyhur menegaskan. Menarik untuk dicatat bahwa khalq (karakteristik fisik) dan khuluq (perilaku) ditulis sama dalam bahasa Arab. Kontroversi lain --yang justru sangat esensial-. dan menjadi kebanggaan anggota kabilah. Bagi orang Syi'ah. kehormatan seseorang dalam bahasa Arab disebut hasab (dari akar kata hasiba yang berarti menghitung). Orang Syi'ah sering mendefinisikan diri mereka sebagai madzhab ahl al-bayt. Pada bidang religius. saya menguraikan teori ini secara lengkap. padahal kedua mazhab ini lahir dari Islam yang sama dan pengikut Nabi saw. karakteristik perilaku juga herediter. yang sama? Ada beberapa teori yang menjawab pertanyaan ini.adalah hubungan antara kepemimpinan relegius dengan kepemimpinan politis. kafir yang adil lebih baik dari Muslim yang dzalim. Wellhausen (1927). Orang Arab percaya bahwa selain karateristik fisikal. TEORI SOSIO-ANTROPOLOGIS BANGSA ARAB. Secara singkat. Goldziher (1967). misalnya.

Dalam pertentangan memperebutkan kedudukan ahl al-bayt. karena itu. karena itu pula. sejak Mu'awiyah merebut kekuasaan berupaya untuk menekan konsepsi kepemimpinan ahl al-bayt. Kabilah yang mendapat tugas secara turun temurun memelihara Ka'bah disebut sebagai "keluarga al-bayt" atau ahl al-bayt. Yang tidak mereka inginkan adalah gabungan antara kehormatan religius dengan kehormatan politik. of power" dari Bani Hasyim. muncullah Muhammad bin Abdullah bin Abd al-Muthalib. Karena itu. Pada masa Abu Thalib. Bila inskripsi pada monumen di Arab Utara memuja keberanian dan kepahlawanan. Bani "Umayyah tentu tidak rela dengan "return. Karena itu Bani Hasyim dikenal bangsa Arab sebagai Ahl al-Bayt. inskripsi pada monumen Arab Selatan menunjukkan perasaan syukur dan penyerahan diri pada Tuhan. Ali pernah memindahkan ibu kota pemerintahan Islam dari Madinah --yang sudah dikuasai Bani Ummayah-. Islam menyuruh menghormatiahl al-bayt (yang sekarang didefinisikan lebih terbatas lagi sebagai keturunan Rasulullah saw). Ia mengembalikan lagi wibawa kepemimpinan Bani Hasyim sebagai Ahl al-Bayt. Bani Hasyim menang dan menyisihkan lawannya dari Bani Abd al-Syams. datang paling banyak dari Bani Umayyah. argumentasi yang dikemukakan Umar bin Khathab kepada 'Abbas ketika bertengkar masalah kepemimpinan 'Ali. [4] TEORI PENDEKATAN DOKTRINAL Sayyid Baqr Shadr (1982:73-96) mengemukakan apa sebut sebagai teori pendekatan doktrinal. Tema ahl al-bayt memiliki "appeal" yang kuat bagi bangsa Arab. "Orang banyak tidak menginginkan nubuwwah dan khalifah bergabung pada Bani Hasyim" (Tarikh Thabari 1: 2769). Karena secara doktrinal. pemimpin dipilih berdasarkan kesucian keturunan (hereditary sanctity). Mungkin. kepemimpinan Arab dipegang oleh keturunan Qushayy. berkembang skisme Sunnah-Syi'ah. penguasa-penguasa yang bukan ahl al-bayt tidak menafikan kehormatan itu. khususnya Arab Selatan.ke Kufah. pemimpin umumnya dipilih berdasarkan usia atau senioritas. menemoi suku Aws dan Khazraj yang berasal dari Arab Selatan. pengurusan rumah suci (bayt) dan kehormatan (hasab) tidak dapat dipisahkan. misalnya. Ketika keturunan "Umayyah merasakan ada angin baru yang menguntungkan mereka. Perlawanan terhadap Islam. Sejak awal. pada Arab Selatan. menerjemahkan sebagian argumentasi Shadr ini tanpa komentar sedikitpun: yang kita Saya akan memberikan . Bagi bangsa Arab. Bani Abd al-Syams perlahan-lahan muncul sebagai kekuatan politik dan bani Hasyim mulai melemah.sunnah yang paling dihargai adalah mengurus dan memelihara tempat-tempat suci. Ahl al-Sunnah. Kepemimpinan ahl al-bayt menggabungkan dimensi temporal dan sakral sekaligus. Ka'bah adalah rumah suci yang dihormati semua kabilah Arab. Dari kedua subkultur inilah. Mereka adalah suku Arab yang memiliki sensitivitas religius yang tinggi. Pada suku-suku Arab Utara. Nabi saw menyadari betul aspek-aspek kultural dari kepemimpinan ahl al-bayt. Inilah. Ketika Nabi hijrah ke Madinah. sejak zaman jahiliyah orang Arab tidak mengenal pemisahan antara kepemimpinan temporal dan kepemimpinan sakral.

serta meninggalkan kecenderungan mengikuti kemaslahatan yang tidak dapat difahami tujuannya. sejak dini. Walaupun demikian. Nabi berkata: Mari aku tuliskan untuk kamu tulisan sehingga kamu tidak sesat sesudahnya. ada juga sahabat yang bertahkim dan bertaslim sepenuhnya pada nash-nash agama di semua bidang kehidupan. Dua aliran utama yang menyertai zaman Nabi sejak awal adalah: pertumbuhan umat Islam di (1) Aliran yang beriman sepenuhnya pada ta'abbud bi 'l-din berhukum dan berserah mutlak pada nash-nash agama dalam seluruh bidang kehidupan. Ia berkata: "Menjelang Rasulullah saw wafat. Yang mengikuti aliran ini terdiri dari sahabat-sahabat besar. dan tinggi dari generasi yang dilahirkan Rasulullah. kita temukan dua aliran utama yang berbeda. yang menyertai perkembangan umat dalam permulaan eksperimen Islam. dengan meyakini bahwa apa yang dilakukannya benar. Keduanya hidup bersama dalam lingkungan umat yang dilahirkan oleh Rasul sang Pemimpin. di rumahnya ada banyak orang. Minoritas ini adalah Syi'ah. Aliran kedua. sampai pada saat menjelang kematiannya (yang akan diuraikan nanti). membolehkan memalingkan nash agama pada bidang-bidang kehidupan di luar bidang-bidang kehidupan di atas. yang bertentangan dengan nash. sesuai dengan kemaslahatan masyarakat. Salah satu kelompok berhasil berkuasa dan sanggup berkembang sehingga mencakup mayoritas kaum muslimin. Di samping itu. Sebagian berkata: Dekatkan supaya Nabi menulis . dengan peralihan atau perubahan. benih yang paling utama pada saat pertumbuhan risalah. Pernah kedua aliran ini bertentangan di hadapan Rasul pada hari-hari terakhir kehidupannya. (2) Aliran yang hanya merasa tunduk pada agama pada bidang-bidang khusus seperti ibadah dan hal-hal yang ghaib. Penghuni rumah itu pun bertikai. Cukuplah bagi kita Kitab Allah. memisahkan umat dua kelompok besar. tampaknya lebih menyebar di kalangan kaum muslimin karena kecenderungan manusia untuk tunduk pada kemaslahatan yang dapat difahami dan diperkirakannya. di antaranya Umar bin Khathab.Bila kita mengikuti periode permulaan dari kehidupan umat Islam di zaman Nabi saw. sehingga sejarah manusia tidak pernah menyaksikan generasi aqidah yang lebih mulia. Perbedaan di antara kedua aliran ini telah menimbulkan perbedaan doktrinal sesudah wafat Rasulullah saw. Di hadapan kalian ada al-Qur'an. Kelompok yang lain tidak berhasil memperoleh kekuasann dan berkembang sebagai kelompok minoritas menghadapi lingkungan Islam yang umum. Rasul telah bertahan berkali-kali menghadapi aliran ini. aliran ijtihadi. Sahabat adalah kelompok Mukmin yang cemerlang. Bukhari meriwayatkan dalam shahihnya dari Ibn 'Abbas. Aliran ini meyakini kemungkinan ijtihad. para sahabat cenderung mendahulukan ijtihad untuk memperkirakan dan memperoleh maslahat daripada ta'abbud secara harfiyah pada nash-nash agama. lebih suci. Umar bin Khathab pernah melawan Rasulullah saw dan berijtihad pada banyak kejadian. karena harus tunduk pada adanya aliran yang luas pada bidang kehidupan. Berkata Umar: Nabi saw sedang dicengkram sakit.

tidak berlaku tayammum baginya.(wasiat) kitab sehingga kamu tidak sesat sesudahnya. Skisme intelektual (mungkin malah tidak tepat disebut skisme) memang bisa menjadi solid. (021) 7501969. ketika para politisi mulai masuk. (021) 7507174 Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota Please direct any suggestion to Media Team pertikaian dan Artikel Yayasan Paramadina Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan . ia berkata: Pergilah kalian. dan tidak wajib shalat.(bersambung 3/3) Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah Editor: Budhy Munawar-Rachman Penerbit Yayasan Paramadina Jln. atau kamu tak menemukan air." Peristiwa ini cukup menunjukkan dalamnya pertentangan di antara kedua aliran ini. SKISME INTELEKTUAL Dari kedua aliran ini kemudian berkembang aliran-aliran lainnya. Saya tidak akan memperinci kedua ikhtilaf ini. atau jika salah seorang di antara kamu datang dari jamban. Metro Pondok Indah Pondok Indah Plaza I Kav. tetapi hanya akan menunjukkan penyebab timbulnya ikhtilaf tersebut. Skisme ini dapat terjadi pacla bidang ilmu kalam atau bidang fiqh. Pertikaian justru terjadi ketika kaum Muslim berusaha memahami al-Qur'an dan al-Sunnah. Madzhab yang lain berpendapat bahwa syarat sah tayammum adalah salah satu di antara tiga kondisi: tidak ada air. dan sapulah muka kamu dan tangan kamu itu. Di dalam kedua sumber tasyri' ini terdapat kata-kata atau kalimat yang musytarak (mengandung makna ganda). Ayat tersebut hanya mewajibkan tayammum bila tidak ada air khusus pada yang sakit atau musafir. UA 20-21 Jakarta Selatan Telp. Kebanyakan aliran-aliran itu muncul sebagai hasil refleksi intelektual. atau bepergian. lafazh yang 'am (berlaku umum) dan khash (berlaku khusus). Lihatlah perbedaan pemahaman ayat tayamum ini." (al-Qur'an 5: 6). atau setelah kamu menjamah wanita. yang tidak mungkin semuanya dibahas di sini. maka bertayamumlah dengan debu yang suci. Sebagian lagi berkata seperti kata Umar. "Dan jika kamu sakit atau sedang bepergian. 7507173 Fax. Ketika sudah ramai perbincangan dan pertikaian di hadapan Nabi. yang muthlaq dan yang muqayyad (bersyarat). -------------------------------------------. atau sakit. 7501983. Banyak orang berpikir sederhana: pertikaian akan segera selesai bila kita kembali kepada al-Qur'an dan al-Sunnah. Kalimat ini dipahami Abu Hanifah sebagai berikut: Orang yang tidak bepergian. Abu Zuhrah (1987) menyebut yang pertama ikhtilaf 'aqaidi dan yang kedua ikhtilaf fiqhi. Sebab-sebab yang berkaitan dengan pemahaman al-Qur'an dan al-Sunnah. dan ada air. tidak sakit.

air itu termasuk air mutlak (H2O).ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota VI. dan menggunakan siwak adalah sunnah. SKISME DALAM ISLAM SEBUAH TELAAH ULANG (3/3) oleh Jalaluddin Rakhmat Apa yang dimaksud "air"? Kata mazhab Hanafi. dan batuan. 1986. dan ada yang berjumpa dengan Nabi sesaat saja. SEBAB-SEBAB YANG BERKENAAN DENGAN SUNNAH Masalah-masalah yang berkenaan dengan sunnah lebih musykil lagi. air mutlak saja. mengampuni para tawanan (seperti yang dilakukan Rasulullah saw. 1960). ketika kita memasuki pengkajian-pengkajian Islam yang lebih operasional seperti epistimologi Islam. Jamaat Tabligh berpendapat makan di bawah. kalian menangis. Kata mazhab yang lain. al-Mughniyah. Ayat yang berkenaan dengan tuduhan berzinah (QS. kata Hambali. Umar melaporkan bahwa mayit akan disiksa karena tangisan keluarganya. Apakah deraan harus dihilangkan bila orang taubat. kata Hanafi dan Hambali. tanah saja. Yang terakhir diambil oleh Hanafi.52. dan sebagainya. pasir. 'Aisyah berkata. tanah. Hambali. teologi Islam. Maliki. "Debu" meliputi pasir dan tanah. air teh). Kemusykilan pertama terjadi ketika kita mengambil pelajaran dari hadits: apakah yang diberitakan hadits itu Sunnah atau bukan. tanah. yang mempunyai lingkup pengalaman yang berlainan bersama Rasulullah saw. Ia mendengar sesuatu tetapi tidak menghafalnya. batuan. umat Islam yang lainnya tidak beranggapan begitu. Ketika Ibnu Umar melaporkan lagi hadits dari ayahnya. juga air mudhaf (seperti air jeruk. Manakah yang sunnah. "Semoga Allah meyayangi Abu Abd al-Rahman (yakni. Yang pertama dipilih oleh Syafi'i. kemana pengecualian itu berlaku? Kepada semua kalimat atau kepada kalimat yang terakhir. lalu di ujunguya ada kata yang mengecualikan (istitsna). Perbedaan ini akan makin melebar. Nabi berkata." Istitsna datang sesudah kalimat-kalimat itu. Ada yang menyertai Nabi hampir setiap saat. apakah kesaksian penuduh dapat diterima bila orang itu telah bertaubat? Semua mazhah --selain Hanafi-memilih rnenjawab "ya" untuk pertanyaan-pertanyaan di atas. salju dan logam." (2) "Jangan terima kesaksian mereka selama-lamanya. kata Maliki. padahal ia sedang disiksa." dan (3) "Mereka itulah orang-orang fasik. Pernah lewat jenazah Yahudi di depan Rasulullah saw. pasir. sebagian wajah oleh Ja'fari (al-Jaziri. 24:4) mengandung tiga kalimah: (1) "Deralah mereka 80 deraan. ia mencambuki orang yang menangisi mayat." [5] SEBAB-SEBAB BERKENAAN DENGAN PERBEDAAN KAIDAH USHUL FIQH Apabila ada rangkaian kalimat majemuk. pada Fath Makkah) atau membunuhnya (seperti yang dilakukan Nabi pada perang Khandaq). Dalam bidang ilmu kalam terjadi perbedaan pemahaman nash-nash yang berkenaan dengan qadha dan qadar. . kata Syafi'i. Mereka menangisi jenazah itu. sehingga kita mengenal Jabbariyah dan Qadariyah. Hadits dilaporkan oleh para sahabat. 'Aisyah menolak hadits 'Umar ini. Karena itu. Kemusykilan kedua adalah sampai atau tidak sampainya hadits. menjilati jari setelah makan. Ibn Umar).

Ini cara untuk menghindarkan "terburu-buru" menangkap ruh dari suatu nash. siap berbeda pada yang dzhann-i: Kita dapat membagi hukum-hukum fiqh ke dalam dua bagian besar. Ukuran aqli --yang saya definisikan sebagai metode dialektik untuk menguji konsistensi logis suatu proposisi-. Pertama. betapapun banyak dan sahihnya. misalnya. jumlah ruku' dan sujud. tidak ada perbedaan antara Ahl al-Sunnah dan Syi'ah dalam hal bilangan rakaat. berkenaan dengan pokok-pokok akidah. beramal dengan prinsip silaturahim: Bila terjadi perbedaan paham atau penafsiran pada hal-hal yang dzanni. istihsan. Sepakat pada yang qath'i. bila dalil-dalil yang dipergunakan sama-sama kuat. keyakinan kita harus diamalkan sejauh tidak merusak keutuhan umat atau tidak mendatangkan mudharat. . bertalian dengan cabang-cabang (furu') dari pokok-pokok di atas yang memungkinkan terjadinya perbedaan. dan Hari Kebangkitan. Dalam hal akidah --semuanya percaya kepada Allah yang Esa. Adalah kenyataan yang menakjubkan walaupun sering lolos dari perhatian kita bahwa dalam bagian pertama seluruh mazhab mencapai kesepakatan. Perbedaan mulai terjadi pada rincian dari pokok-pokok itu. qiyas. Mencurigai hadits-hadits tentang wasiat Nabi kepada keluarganya. pendapat itu tetap dzhanni. Muhammad Rasulullah. Misalnya. Kita akan segera menemukan bahwa bagian pertama berdasarkan dalil-dalil qath'i dan bagian kedua berdasarkan dalil-dalil dzanni. Demikian pula halnya dengan keberatan sementara orang terhadap hadits-hadits tentang Imam Mahdi. dan bagian-bagian shalat yang penting lainnya. dan sebagainya. APA YANG HARUS DILAKUKAN? Saya ingin mengakhiri makalah ini dengan menuliskan kembali apa yang saya sampaikan pada tempat lain (Rahmat.Inilah salah satu contoh perbedaan penggunaan kaidah Ushul Fiqh. Semua sepakat shalat dimulai dengan takbir. Seorang tidak dikatakan Muslim lagi bila berbeda pada bagian fiqh yang pertama. Di samping itu. kita harus menguji perbedaan paham itu lewat ukuran-ukuran naqli dan aqli. sebagai pertentangan dengan prinsip egalitarian al-Qur'an [6] adalah mendahulukan kritik 'aqli daripada kritik naqli. terdapat juga beberapa metode ijtihad yang tidak disepakati. Pada bagian yang kedua sepatutnya kita saling menghargai dan menggunakan perbedaan pendapat untuk pengembangan wawasan tentang Islam. Dengan ukuran naqli. 2. istishlah. mereka berbeda dalam cara mengangkat tangan dalam takbir. Di tengah-tengah umat. Tetapi betapapun kuatnya. 1986: 99-103). Memilih pendapat yang paling kuat inilah tarjih. apa pun mazhabnya. saya maksudkan. mencari dalil-dalil yang paling kuat lewat kritik hadits (yang secara konvensional telah disepakati oleh ulama ahli hadits) dan ilmu-ilmu al-Qur'an (kalau berkenaan dengan penafsiran al-Qur'an). Berpikir dengan prinsip tarjih. Orang yang menganggap bahwa setiap orang berhak ijtihad dan menafsirkan al-Qur'an karena ruh ajaran Islam itu egalitarian. jumlah shalat wajib. Tentang shalat. Kedua.hanya boleh dilakukan setelah pengujian naqli. terjebak dalam keterburu--buruan. 1. Misalnya. qaul shahabat. dan muamalah yang disetujui bersama.

seperti itu pula beragamnya perbedaan pendapat. Ijtihad bagi Ulama dan taqlid bagi orang awam: Membedakan mana yang qath'i dan dzanni. "Katakan. al-Zumar:9) "Allah mengangkat derajat orang yang beriman dan memiliki ilmu pengetahuan" (QS. Ketika Utsman shalat empat rakaat.dapat menimbulkan chaos. Seperti sangat beragamnya kemampuan dan pengetahuan orang. keyakinan kita terhadap paham kita terlalu tinggi sehingga kita cenderung eksklusivistis dan meninggalkan prinsip silaturrahim. Ali yakin ia paling berhak menjadi khalifah. Ibn Majah. tetapi ia menahan diri karena memikirkan kemaslahatan umat. apakah sama orang yang buta dengan orang yang melihat. Ilmu mengurangi perbedaan. "Katakan. Khamsun wa Mi-ah Shahabi Mukhtalaq. banyak paham timbul --barangkali setelah melakukan taryih. Ijtihad memerlukan pengetahuan yang komprehensif tentang Islam. 1974. dan ini berarti anarkhi. al-Thabrani. Beirut: Dar al-Turats al-Islami. Al-Mujadilah: 11). Bukan ijtihad bila dilakukan tanpa ilmu. hanya sekelompok kecil orang yang dapat melakukannya. al-Ra'd:16). Ahmad. Ijtihad sebetulnya secara inheren melibatkan banyak ilmu. 3. "Berijtihad" tanpa ilmu berarti membuang seluruh konvensi dan kriteria. Akibatnya. Di Indonesia. Ibnu Mas'ud shalat juga empat rakaat. karena ilmu meletakkan konvensi-konvensi yang disetujui bersama. melakukan tarjih bukanlah pekerjaan yang bisa dilakukan setiap orang. Salah satu penyebab perpecahan ialah pendekatan parsial yang pada gilirannya disebabkan kekurangan pengetahuan. 1406). Tidakkah kalian pikirkan itu?" (QS. mengkritik hadits. tetapi mengulang lagi shalatnya di rumah (para ulama menyebutnya ihtiyath). dan ini berarti. al-Turmidzi al-Hakim. "Perselisihan itu semua jelek" -(al-khilaf syarr kullah). CATATAN 1) Hadits ini diriwayatkan oleh Al-Bukhari. Ketika ditegur ia menjawab. Dan seterusnya sehingga terbentuk lingkaran setan yang tidak berujung. Al-Qur'an yang mengajarkan persamaan dengan tegas mengatakan. Ibnu Umar shalat empat rakaat. di samping membuat kendala-kendala yang berbentuk kriteria. Berbagai matan hadits ini dan penjelasannya dapat dibaca pada Al-Sayyid Murtadha al-Askari. Ia menyebut Ahl al Sunnah sebagai madrasah al-khilafah dan Syi'ah sebagai madrasah al-imamah. al-Bazzar. Sayang sekali. Mengizinkan setiap orang berijtihad --tanpa mempedulikan perbedaan mereka dalam pengetahuan agama-. Ibnu Mas'ud berpendapat shalat Dzuhur dan 'Ashar di Mina harus di qashar. 2) Al-Sayyid Murtadha al-'Askari menulis studi perbandingan antara Sunnah dan Syi'ah dalam Ma'alim al-Madrasatain (Teheran: Al-Bi'tsah.Ini saya sebut prinsip shilaturrahim. "Tidak sama orang buta dan orang yang melihat. Imam Syafi'i tidak membaca qunut pada shalat Shubuh karena menghormati makam Abu Hanifah yang tidak jauh dari situ. Ini mempertebal ketergantungan kepada paham fiqh kita. Tidak sama kegelapan dan cahaya" (QS. kita cenderung menerima informasi hanya lewat sumber-sumber yang kita setujui dan menutup diri dari informasi yang datang dari sumber lain. . apakah sama orang vang berpengetahuan dengan yang tidak berpengetahuan" (QS. Fathir:19).

Muslim Studies. Will. 6:84. 19:58. The story of Civilization.M. Shahih al-Turmudzi 2: 35: Mustadrak al-Shakihain 4: 501. Stern dan C. The story of Civilization. Jawad. Orang-orang Yaman adalah para pendukung Syi'ah. 19:6.V. Goldziher. Beirut: Dar al-Fikr al-Arabi.IV. I. Ma'alim at-Madrasatain. Muhammad. Al-Mughniyah. Shahih Muslim. Muhammedanische Studien. 1396. Kanz al-Ummal 6: 201. Dalam sunan al-Nasai dan Al-Turmudzi ada bab yang berjudul: Bab bolehnya menangisi mayit." dalam Al-Maqalat wa al-Dirasat. 4:54. Durant. Kitab al-Imarah. Lihat 3:33. 1967-1972. Teheran: Bittsah.3) Hadits tentang dua belas imam ini diriwayatkan juga dalam kitab-kitab shahih di kalangan Ahl al-Sunnah. Musthafa. 5) Hadits ini diriwayatkan Muslim dalam Kitab al-Jana-iz. Lihat Shahih al-Bukhari. Hadits-hadits yang melaporkan bolehnya menangisi mayat cukup banyak. 1406. Nabi menangisi putranya (Ibrahim). 1950. Murtadha. -------------. prinsip pewarisan kepemimpinan pada keturunan atau keluarga nabi-nabi sering ditegaskan. New York: Simon and Schuster. Kitab al-Ahkam. New York: Simon and Schuster. 1405. Barber. Mobtadiyah: Dar al-Mu'alim Al-Jaziri. "Ulu al-Amr 'inda Madzahib al-Islamiyah. pamannya (Hamzah). Al-fiqh 'ala al-Madzahib al-Arba'ah. 27:16. 4) Mayoritas penduduk Kufah adalah orang Yaman dari Arab Selatan. Karena mereka berasal dari kerajaan Saba. . Al-fiqh 'ala al-Madzahib al-Khaumsah. Vol. Al-Hasan. Beirut: Dar al-Jawad. sehingga Syi'ah sering disebut sebagai Sabaiyyah. Abd al-Rahman. DAFTAR PUSTAKA Abu Zuhrah. 1982. Al-Askari. Kita tidak bermaksud menunjukkan bahwa pendapat wasiat Nabi pada Ali adalah satu-satunya paham yang benar. dan ibunya (Aminah). 1405. Terjemahan Inggris oleh S. Begitu banyaknya Sabaiyyah yang mendukung Syi'ah. Teheran: Wizarat al-Irsyad al-Islamiyah. 1953. 1987. Musnad Ahmad 5:89. 20:30. mereka kemudian dikenal sebagai Sabaiyyah. Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiyah. 2:124. Vol. 14:37. 6) Padahal dalam banyak ayat al-Qur'an. Al-Syi'ah wa al-Hakimun. London. S. Al-Yahfufi. Tarikh al-Madzahib al-Islamiyah. 1986. tidak diketahui penerbitnya.R. -------------. Kita hanya ingin menunjukkan bahwa prinsip egalitarian hendaknya ditafsirkan dengan merujuk pada dalil-dalil yang sahih. Dalail al-Shidq.

S.M.. Sebuah Dilemma. sebagaimana telah sering dibicarakan. 7501983. S. M. Teheran: Maktabah al-Najah. Beirut: American University. Tarikh al-Umam wa al-Muluk. Kesadaran akan adanya skisme itu akhir-akhir ini.51. Rahmat. A Literary History of The Arabs.H. Metro Pondok Indah Pondok Indah Plaza I Kav. The Origins and Early Development of Shi'a Islam. "Ukhuwah Islamiyah: Perspektif al-Qur'an dan Sejarah" dalam Haidar Bagir (ed. Shi'a. Nicholson. Tanpa Tahun. Julius. Calcutta. Beirut: Dar al-Fikr. 1956. 7507173 Fax. Baqr. Tidak diketahui penerbitnya. Shadr. Thabari. 1979. Tabatabai. Weir. Satu Islam. Trans. Baths Hawl al-Wilayah. Wellhausen. (021) 7507174 Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota Please direct any suggestion to Media Team Artikel Yayasan Paramadina Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota VI. muncul dengan kuat di kalangan kaum muslimin Indonesia khususnya dan dunia umumnya karena adanya Revolusi Iran pada 1979. J. (021) 7501969. Husayn. 1986. The Arab Kingdom and Its Fall. Ibn Jarir.). SKISME DALAM ISLAM (1/4) Tinjauan Singkat Secara Kritis-Historis Proses Dini Perpecahan Sosial-Keagamaan Islam oleh Nurcholish Madjid Pembicaraan tentang Agama Islam kecuali jika dibatasi hanya kepada hal-hal yang sama sekali normatif belaka dengan tingkat idealisasi sejarah Islam yang tinggi pasti melibatkan pembicaraan tentang berbagai skisme atau perpecahan dalam agama itu. Revolusi Iran bagi sebagian orang-orang muslim menawarkan semacam "hikmah . 1976. Dengan mengesampingkan beberapa perorangan atau kelompok yang agaknya mengalami kesulitan besar untuk "mengakomodasi" kenyataan baru berupa peranan amat mengesankan dari kaum Syi'ah dalam percaturan keislaman internasional sekarang ini. 1927. Bandung: Mizan. RA. -------------------------------------------Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah Editor: Budhy Munawar-Rachman Penerbit Yayasan Paramadina Jln.Jafri. Cambridge.. UA 20-21 Jakarta Selatan Telp. 1982.

kiranya. maka bertaqwalah kamu sekalian kepada-Ku. Karena itu jika harus disebutkan kegunaan utama pembahasan kita sekarang ini. Berdasarkan itu semua. Dengan begitu diharap bahwa secara berangsur kita dapat mewujudkan dalam kenyataan berbagai angan-angan mengenai umat atau masyarakat Islam yang mendekati gambaran dalam Kitab suci sebagai "ruhama baynahum" (saling cinta kasih antara sesamanya). yaitu pesan suci keprasahan yang tulus kepada kehendak Ilahi (al-islam dalam makna generiknya). Termasuk ke dalam makna kedewasaan itu. Dan inilah pula dasar pandangan tentang Kesatuan Kemanusiaan (al-Wahdat al-Insaniyyah). UMAT YANG TUNGGAL Kenyataan historis pertama tentang agama Islam ialah bahwa umatnya telah terpecah dan bahkan saling menumpahkan darah sejak masa-masa amat dini perjalanan sejarahnya. Dan ini adalah umatmu semua. ialah kesediaan dan kemampuan untuk melihat berbagai kenyataan sejarah secara proporsional. Keadaan yang menyimpang dari seharusnya ini tidak saja karena berbagai usaha mereka memahami ajaran Tuhan dan menerapkannya dalam kehidupan nyata . Seorang muslim yang serius dan prihatin tentu merasakan adanya semacam anomali dalam kenyataan sejarah itu. umat yang tunggal. tidak saja kepada kaum muslim tetapi juga kepada para penganut agama para Nabi dan Rasul Allah keseluruhannya. dan dalam memandang keberagamaan "orang lain" (dalam pengertian yang seluas-luasnya). Namun justru secara historis masalah kesatuan itulah di antara hal-hal yang amat sulit dicapai oleh manusia. Tetapi berbagai pengalaman menunjukkan bahwa keadaan itu tidak akan tercipta jika kita tidak memiliki cukup kedewasann dalam sikap keberagamaan kita. agar waspada terhadap bahaya perpecahan dan pertentangan. Sesungguhnya Kami (Tuhan) maha mengetahui akan segala sesuatu yang kamu kerjakan. maka pembahasan kita dalam makalah ini insya Allah akan kita lakukan dalam semangat tinjauan kritis berdasarkan pandangan yang memperhitungkan berbagai faktor sejarah. Salah satu firman suci dalam al-Qur'an yang relevan dengan masalah ini terbaca: Wahai para Rasul. [1] Tafsir atas firman itu tidak bisa lain daripada penegasan bahwa semua Nabi dan Utusan Tuhan itu membentuk persaudaraan umat yang tunggal. Ini menjadi dasar pandangan tentang Kesatuan Kenabian (Wahdat al-Nubuwwah) dan Kesatuan Risalah atau pesan suci (Wahdat al-Risalah). dan apa yang sedang dan bakal terjadi. dan berbuatlah kebajikan. dengan mengakui dan memasukkannya ke dalam hitungan berbagai faktor sejarah sebagai ikut menentukan apa yang telah terjadi. Lebih menarik lagi sebagai bahan kajian bahwa manusia cenderung berpecah-belah justru setelah mereka menerima ajaran Tuhan yang dibawa oleh para Utusan-Nya. makanlah dari yang baik-baik. Apalagi al-Qur'an sendiri sejak dari semula menyatakan dan memperingatkan. sedangkan Aku adalah Pelindungmu semua.terselubung" (blessing in disguise) berupa cakrawala pandangan keagamaan (Islam) yang lebih meluas. yaitu mengabdi kepada Tuhan Yang Maha Esa yang mencintai dan melindungi mereka. maka kegunaan itu ialah sebagai bagian dari usaha bersama untuk mendorong lebih jauh kecenderungan positif tersebut. sebab Pesan Suci mereka pun tunggal.

Kemudian Allah mengutus para Nabi untuk membawa berita gembira dan peringatan. Maka Allah pun. Tetapi mereka itu akan tetap selalu berselisih. Maka dalam gabungannya dengan naf:su benar sendiri dan sektarianisme yang jelas selalu mengancam setiap orang atau golongan tanpa kecuali variasi pendekatan dan interpretasi itu. maka tentunya Dia jadikan manusia umat yang tunggal. Perpecahan dan pertentangan itu semakin destruktif sifatnya karena pembawaannya yang sering bergaya absolutistik dan tak kenal kompromi akibat watak dasar suatu keyakinan keagamaan. yang melengkapi firman-firman terkutip di atas sehingga menjadi pandangan dan pengertian yang bulat. dan Dia menurunkan bersama para Nabi itu Kitab Suci dengan sebenarnya untuk memutuskan perkara antara umat manusia berkenaan dengan masalah yang mereka perselisihkan. dari perspektif pesan suci semula agama bersangkutan sendiri. Jika seandainya tidak karena adanya "Sabda" (Kalimah) yang telah lewat dari Tuhanmu. memberi petunjuk tentang kebenaran yang mereka perselisihkan itu kepada mereka yang beriman.(jadi tentunya tumbuh dari niat yang baik dan ketulusan hati). [3] Juga firman Allah: Manusia itu tidak lain kecuali umat yang tunggal. tapi juga karena variasi cara pendekatan kepada ajaran itu membuahkan variasi dalam interpretasi. kemudian mereka berselisih. Keadaan menyedihkan ini pun secara ringkas digambarkan dalam Kitab Suci: Pada mulanya manusia adalah umat yang tunggal." Mungkin keterangan itu dapat diperoleh dari beberapa firman Ilahi juga. Dan mereka yang menerima Kitab Suci itu tidaklah berselisih mcngenai sesuatu (masalah Kebenaran) kecuali setelah datang berbagai penjelasan. dengan izin-Nya. yang jelas tanpa kecuali terbagi-bagi dan terpecah-pecah menjadi berbagai golongan dan sekte. Tapi mungkin kita harus mencoba mencari keterangan lain untuk membuat semuanya itu "make sense. termasuk yang ada dalam satu agama pun. Firman itu ialah. meskipun disertai dengan penuh niat baik dan tulus. maka barangkali kita hanya harus menyebutkan kenyataan tentang semua agama. [4] Firman-firman itu membuka kemungkinan berbagai interpretasi . kecuali mereka yang mendapatkan rahmat dari Tuhanmu. diselesaikan dengan pertumpahan darah dan penindasan. karena rasa permusuhan antara sesama mereka. misalnya: Kalau seandainya Tuhanmu menghendaki. acapkali malah menjuruskan orang banyak kepada perpecahan dan pertentangan. Lebih dari itu. Barangkali. Allah memberi petunjuk ke arah jalan yang lurus kepada siapa yang menghendakinya (atau. yang dikehendaki-Nya). Namun inilah yang sebenarnya terjadi dalam pengalaman hidup umat manusia. [2] Jika harus menyebutkan bukti kebenaran firman itu. tidak ada yang lebih absurd daripada penyelesaian perselisihan faham keagamaan melalui penindasan dan penumpahan darah. maka tentulah diputuskan (sekarang juga) antara mereka berkenaan dengan perkara yang mereka perselisihkan itu. kerapkali persengketaan di antara sesama mereka. dan untuk itulah Dia menciptakan mereka.

. misalnya.. Karena itu berlomba-lombalah kamu semua (dengan menggunakan kelebihan itu) untuk berbagai kebaikan. Kepada Allah-lah tempat kembalimu semua.. Ayat suci itu ialah firman-Nya: Jika seandainya Allah menghendaki. yang menyebutkan adanya Kehendak Ilahi tentang perbedaan antara sesama manusia.tentang apa yang ada dalam ajaran Kitab Suci mengenai hakikat manusia sebagai makhluk sejarah berkenaan dengan perkara persatuan dan perpecahan. TENTANG "AL-FITNAT AL-KUBRA" Mungkin bagi banyak orang cukup membosankan.. maka pastilah Dia menjadikan kamu sekalian umat yang tunggal. ditafsirkan sebagai berarti "Keputusan" Tuhan. yaitu tinjauan ulang secara kritis-historis terhadap perpecahan sosial keagamaan yang terjadi dalam Islam dalam perjalanan perkembangannya yang amat dini. namun pembicaraan tentang pembunuhan khalifah ketiga. Here we have again the mystic doctrine of "the Word. and thus pointing back to the ultimate Unity and Reality. Ketika manusia telah bersimpangan jalan satu dari yang lain. kemudian Dia akan menerangkan kepada kamu tentang segala sesuatu yang pernah kamu perselisihkan. Maka dengan sedikit melawan semacam "konsensus" di kalangan kaum Sunni untuk menghindari pembicaraan tentang tingkah laku historis para Sahabat yang kurang mencocoki beberapa ketentuan normatif. God made their very differences subserve the higher ends by increasing emulation in virtue and piety. the expression of His Universal Will or Wisdom in a particular case. Tetapi (Dia tidak menghendakinya) karena Dia hendak menguji kamu semua berkenaan dengan sesuatu (kelebihan. [6] Dan ayat suci itu bersesuaian dengan ayat suci yang lain. Mengenai "Sabda" (Kalimah) dalam firman yang dikutip terakhir itu. yaitu faktor terpenting yang membuat manusia berbeda-beda -NM) yang diberikan-Nya kepadamu. [7] Dari perspektif inilah kita akan memasuki bidang yang sebenarnya dari pembahasan makalah ini. emulation in virtue and piety). [8] kita akan melakukan tahap pembahasan ini dengan pembicaraan singkat tentang peristiwa menyedihkan yang kemudian dikenal sebagai al-fitnat al-kubra .. Tuhan membuat justru berbagai perbedaan mereka itu membantu mengarahkan manusia kepada tercapainya tujuan-tujuan yang lebih tinggi dengan meningkatnya perlombaan dalam kebaikan den kesalahan. Utsman ibn Affan. [5] Di sini (dalam ayat ini) kita mendapatkan lagi doktrin kesufian tentang "Sabda. yang merupakan ekspresi Iradat dan Hikmat-Nya yang universal dalam peristiwa tertentu. pernyataan Iradat atau Hikmat-Nya yang universal dalam suatu masalah tertentu. When men began to deverge from one another. dan dengan mengarah kembali kepada Kesatuan den Wujud yang mutlak Ayat suci dan tafsirnya itu mengingatkan kita kepada sebuah hadits yang sering dikutip orang bahwa perselisihan di antara orang yang beriman adalah suatu rahmat." "Sabda" adalah Keputusan Tuhan. sebagai fitnah besar yang mengawali skisme dalam Islam tidak mungkin dihindarkan."Word" is the Decree of God. dan adanya Kehendak agar dengan perbedaan itu manusia berlomba-lomba ke arah berbagai kebaikan (istibaq al-khayrat.".

(021) 7507174 Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota Please direct any suggestion to Media Team Artikel Yayasan Paramadina Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota VI. Namun setelah mereka mendapat berita yang benar bahwa ketua utusan mereka itu malah telah dibunuh. Sekelompok tentara (Arab Islam) dari Mesir datang Ke Madinah untuk mengajukan klaim kepada Khalifah tentang apa yang menjadi hak mereka.51. yang di situ kaum bukan-Umawi di Madinah menunjukkan sikap netral. mereka kembali ke Madinah untuk mengajukan tuntutan. Setelah beberapa saat perundingan dan musyawarah. Metro Pondok Indah Pondok Indah Plaza I Kav. Tapi mereka segera kembali pulang ke Mesir. bahkan sikap permusuhan mereka itu berlangsung terus sampai boleh dikata detik-detik terakhir sebelum Nabi wafat. Pertama ialah. -------------------------------------------. bahwa meskipun Utsman termasuk perintis pertama orang-orang Arab Makkah masuk Islam. UA 20-21 Jakarta Selatan Telp. Pembunuhan terhadap khalifah ketiga terjadi duapuluh empat tahun setelah wafat Nabi. tanpa pengawal. sebagaimana telah terjadi pada Umar sebelumnya dan kelak terjadi pula pada Ali). Meskipun akhirnya Abu Sufyan masuk Islam. sampai dengan saat Nabi menaklukkan Makkah. 7501983. SKISME DALAM ISLAM (2/4) Tinjauan Singkat Secara Kritis-Historis Proses Dini . delegasi tentera itu menyerbu Utsman di rumahnya. namun dia adalah seorang anggota klan Umayyah yang berkuasa di kota itu. misalnya. yang klan itu menjadi musuh utama Nabi. juga anaknya Mu'awiyah yang sedikit terlebih dahulu berbuat serupa. (Seperti halnya dengan Umar sebelumnya. Kebiasaan itu membantu memudahkan usaha membunuhnya. juga Ali sesudahnya. adalah seorang penguasa Makkah yang mengorganisasi dan memobilisasi orang-orang Quraisy melawan Nabi di Mekkah.("ujian besar") itu. (021) 7501969. tersedia tidak hanya satu keterangan. Utsman memerintah hanya dengan mengandalkan reputasi dan nama baik pribadi. sebagaimana layaknya adat kebiasaan para sesepuh (al-syaykh) suku-suku Arab menjalankan kepemimpinan mereka. 7507173 Fax. melainkan banyak dan cukup kompleks. namun hal itu terjadi lebih banyak hanya berkat kebijaksanaan diplomatik Nabi yang memberi dan mengakui hak istimewa dan kehormatan mereka.(bersambung 2/4) Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah Editor: Budhy Munawar-Rachman Penerbit Yayasan Paramadina Jln. Abu Sufyan. [9] Tentang mengapa delegasi tentara itu tidak puas terhadap Utsman dalam menjalankan tugas kekhalifahannya. karena telah diberi tahu (secara palsu) bahwa persoalan mereka telah diselesaikan dengan baik oleh Khalifah melalui perundingan dengan ketua utusan mereka. dan membunuhnya.

Bertindak sebagai penguasa pada kota-kota perbatasan itu ialah para gubernur (bekas) pedagang kaya yang cakap memerintah dari keluarga-keluarga Quraisy dan sekutu mereka dari Taif (klan Tsaqif). berbentuk proyek-proyek irigasi di berbagai oase. Ini tumbuh menjadi faktor penunjang bagi protes-protes yang mulai dilancarkan para tentara. yang pergi ke daerah-daerah taklukan. dalam suasana terpisah dari penduduk bukan-Arab sekelilingnya. Sebenarnya Utsman melanjutkan kebijakan Umar. Kebijaksanaan itu juga mengurangi ancaman bahwa budaya Arab akan terserap ke dalam budaya daerah-daerah Bulan Sabit Subur (Fertile Crescent. Mereka memegang pemerintahan menghadapi kecenderungan kesukuan dan semangat kedaerahan orang-orang Arab. seperti seorang "aktivis" Umawi. sementara perang sendiri. yakni para pedagang Mekkah. Sudah sejak masa Umar banyak orang Arab Quraisy yang kaya. khususnya orang-orang Arab setempat. Utsman pun tidak bisa mengatasi situasi warisan pendahulunya itu. (Harus diingat bahwa pada saat itu semua orang muslim adalah warga negara dan sekaligus tentara). Para tentera suku Arab (al-muqatilah) yang oleh Umar ditempatkan di berbagai kota garnizun di daerah-daerah taklukan dipertahankan oleh Utsman seperti keadaan mereka semasa Umar. Tetapi kebijaksanaan Utsman yang yang menghambat emigrasi dari Hijaz itu membuatnya tidak populer di kalangan orang-orang Makkah. ke Lembah Mesopotamia). dan ia pun terjerumus kedalam praktek-praktek nepotistik yang mengundang berbagai reaksi keras banyak kalangan. kaum Umawi segera melihat pada kekhalifahan Utsman suatu kesempatan untuk mengembalikan kedudukan mereka yang baru saja hilang. karena Umar melihat pada kaum Umawi itu kecakapan pemerintahan yang bisa dimanfaatkan. Para tentera ini hidup menetap di tempat-tempat tersebut. Tetapi tanpa keteguhan kepribadian Umar.Perpecahan Sosial-Keagamaan Islam oleh Nurcholish Madjid Sebagai klan dengan tradisi kekuasaan yang mapan. dan meneruskan usaha perdagangan mereka di sana. yang kebanyakan mereka itu terdiri dari kaum Umawi. yang menjadi alasan penempatan itu. terutama Mesopotamia di Irak. Sebagian dari hadirnya para penasehat dan tenaga ahli Umawi itu sebenarnya merupakan lanjutan kebijaksanaan Umar sebelumnya. Marwan ibn al-Hakam. Mereka mengelilingi Utsman dengan penasehat-penasehat dan tenaga-tenaga ahli. dan kekuasaan mereka itu diawasi oleh semangat ajaran umum Islam yang saat itu Islam telah menjadi ciri utama sifat ke-Arab-an mereka. meskipun sebenarnya ia berhasil sedikit mengubah keadaan dengan mengarahkan sebagian investasi dari Lembah Mesopotamia ke Hijaz. telah menjadi peristiwa sesekali saja. tapi tanpa mempunyai wibawa hebat seorang Umar. Utsman menjadi tidak banyak berdaya menghadapi klannya sendiri. Apalagi setelah ekspedisi menaklukkan Iran telah . daerah subur yang membentuk konfigurasi bulan sabit dari pantai timur Laut Tengah naik ke utara. ke daerah pegunungan Anatolia sebelah selatan membentang ke timur dan kembali ke selatan. Kebijaksanaan Utsman itu membantu mengurangi kecenderungan emigrasi ke luar Hijaz dan memperkuat kekuasaan pusat di Madinah secara fisik (sumber daya manusia). seperti Kufah. Ini acapkali menimbulkan rasa keberatan dari pihak orang-orang Arab yang kurang mampu.

sesungguhnya. tidak ada kebijakannya yang dapat diterima di sana. berkedudukan di Kufah. ketidakpuasan di kalangan tentara terhadap kebijakan Utsman semakin keras dinyatakan orang. sekalipun mereka agaknya juga mempunyai jalur penuturan dari Ali ibn Abi Thalib. karena tidak lagi bisa dialih-arahkan kepada kegiatan-kegiatan ekspedisi militer. Maka penduduk Syria puas dengan Mu'awiyah. tidak pernah memuaskan orang-orang setempat. khususnya lembaga atau sistem penggajian tentera dengan besar dan kecilnya gaji (sesungguhnya lebih tepat disebut lumpsum) itu menurut tingkat kepeloporan seseorang dan jasanya dalam agama Islam. karena dipandang kurang menunjukkan ukuran moral yang tinggi (konon suka minuman keras dan mabuk). Kebijaksanaan Utsman berkenaan dengan Kitab Suci itu sungguh patut dipuji. tindakannya untuk menyatukan sistem penulisan al-Qur'an itu pun dapat dikatakan sebagai kelanjutan kebijakan Umar sebelumnya. Maka untuk menunjang sistemnya inilah antara lain Umar tidak mengizinkan tentera memiliki . Tetapi gubernur yang ditempatkan di Mesir (di kota Fusthath. Tetapi kejadian itu tetap meninggalkan bekas. salah seorang ahli membaca al-Qur'an yang amat terkenal dan disegani. Demikian pula Kufah. dengan menyesuaikan dan mengikuti cara penulisan Kitab Suci menurut ejaan Utsman. (Bahkan kaum Syi'ah yang dikenal sangat anti Utsman itupun akhirnya juga mengakui jasa khalifah ketiga ini. maka sebagian besar keberuntungan itu adalah berkat jasa Utsman ibn Affan yang bergelar Jami' al-Qur'an. Basrah dengan Ibn Amir (yang di waktu damai giat berdagang untuk mengumpulkan kekayaan tapi bertindak cukup adil karena ia menganjurkan orang lain agar berbuat serupa pula). sempat menunjukkan perasaan tidak sukanya kepada kebijakan Utsman. bahkan gubernurnya pun ditolak orang. Ibn Mas'ud. Utsman dikenal sebagai amat berjasa menyatukan ejaan penulisan al-Qur'an dengan memerintahkan untuk membakar semua versi ejaan yang lain (sehingga sampai sekarang ejaan standar Kitab Suci agama Islam itu disebut ejaan atau "rasm Utsmani"). sekalipun akhirnya dapat dinetralisasikan melalui usaha akomodasi berbagai versi bacaan Kitab Suci dalam bentuk pengakuan keabsahan "bacaan tujuh" Al-qira'at al-sab'ah. Salah satu kebijakan lagi dari Umar yang dilanjutkan atau diwarisi oleh Utsman ialah yang berkenaan dengan sistem keuangan negara. Para gubernur yang melanjutkan tugas mereka semenjak diangkat oleh Umar banyak yang cakap dan sebagian dari mereka diterima baik oleh penduduk setempat. usaha Utsman itu tidak berjalan tanpa tantangan. Dan jika ummat Islam sesudah itu menikmati kesatuan penulisan dan pembukuan Kitab Suci-nya yang tidak ada bandingnya dalam sistim kepercayaan atau faham lainnya mana pun juga. Umar disebut sebagai "yang pertama menciptakan lembaga-lembaga" (Arab: awwal man dawwana al-dawawin). Namun. [10] Dan seperti hampir semua kebijaksanaan Utsman yang lain. Menurut para ahli akhirnya ia patuh juga kepada keputusan Khalifah. handalan utama mereka dalam masalah periwayatan). Kairo lama).rampung dan tuntas. sebuah kota garnizun yang didirikan Umar dan kerusuhan itu harus ditindas dengan penumpahan darah. (Pengumpul al al-Qur'an). Penyatuan ejaan al-Qur'an itu amat prinsipiil sebagai dasar penyatuan orang-orang Arab Muslim khususnya dan semua orang Muslim umumnya. Suatu kerusuhan muncul di Kufah.

Jadi berbeda dengan pandangan Umar yang tidak melihatnya demikian. dan tumbuh . lebih mirip tindakan darurat (emergency). hanya selang sekitar seperempat abad sejak wafat Nabi. serta pelopor mula pertama dalam Islam. ternyata sedikit demi sedikit sistem Umar itu mulai menunjukkan segi-segi kelemahannya. Mereka menginginkan untuk secara langsung mengontrol dan menguasai penghasilan daerahnya masing-masing itu.tanah-tanah produktif (pertanian) di daerah-daerah yang telah mereka bebaskan. SYI'AH DAN SUNNAH Kejadian pembunuhan Utsman hanyalah permulaan. yakni. GOLONGAN-GOLONGAN KHAWARIJ. Bagi banyak pihak di Madinah. seorang Sahabat Nabi yang amat dekat dan senior. seperti telah disinggung. Kebetulan Ali yang adalah kemenakan dan menantu Nabi. dan hanyalah salah satu. dari deretan fitnah yang amat besar pengaruhnya kepada terjadinya skisme dalam Islam. artinya orang yang berdiri di depan. memimpin. dengan pensponsoran kuat dari Umar. (Juga Umarlah yang memprakarsai pendirian lembaga keuangan yang dikenal dengan bayt al-mal --harfiah berarti "rumah harta"). khususnya dalam shalat berjama'ah) ummat Islam di Madinah itu. yang sampai sekarang masih menjadi bahan pembicaraan. Tetapi agaknya penunjukan Abu Bakr. ahli perang (warrior) yang tangkas. Baru di masa Umar sifat kedaruratan itu mulai hilang. maka. Dan dengan begitu dimulailah perang saudara selama lima tahun. tercermin dari penggunaan istilah Khalifah (pengganti) olehnya untuk tugasnya itu. tidak hanya sekarang sesudah Utsman. kalangan Sunni) dan diakui oleh para ahli bukan-Muslim sebagai suatu tindakan seorang genius dan bijak. Maka. adalah bahan kontroversi yang serius. khususnya di kawasan Bulan Sabit Subur. para bekas pembunuh itu atau simpatisan mereka mensponsori pengangkatan Ali (ibn Abi Thalib) sebagai khalifah. sebagaimana telah dikemukakan. ketokohan Ali membuatnya paling tepat sebagai pengganti (khalifah) Nabi. Segera setelah Utsman terbunuh. dengan gejala-gejala nepotisme Umawi yang semakin terasa pada masa Utsman. khususnya dalam bidang-bidang keuangan ini. dengan sikap hidup yang penuh kesalihan dan hikmah (wisdom) yang luas dan mendalam. [11] para tentera menghendaki agar tanah-tanah produktif itu langsung dibagikan kepada tentera penakluk bersangkutan. tentu saja. Tapi ketika Utsman mewarisinya. Ketidakpuasan ini masih harus ditambah. Ditambah lagi. menggantikan Utsman. Kebijakan Umar di bidang ini dan di bidang finansial pada umumnya sangat dihargai oleh para ahli sejarah Islam (khususnya. mengulangi perdebatan di masa Umar sekitar masalah tanah-tanah pertanian daerah taklukan itu. meskipun tidak disepakati oleh semua orang. Tentera di berbagai kota garnizun mulai merasakan tidak adilnya penghasilan daerah mereka dikontrol dan dibawa ke Madinah sebagai fay' (milik negara). salah seorang isteri beliau yang amat dicintainya) sebagai imam (imam. Utsman tidak memiliki wibawa dan kecakapan seperti pendahulunya itu. Tentang mengapa yang terjadi ialah pengangkatan Abu Bakr. menurut sementara ahli sejarah Islam. Akumulasi dari semua ketidakpuasan terhadap Utsman itu yang jelas sebagian bukan karena kesalahan Utsman sendiri berakhir dengan pembunuhan Khalifah. dan dilepaskan dari pengawasan Madinah. telah tumbuh sejak zaman Nabi sendiri sebagai seorang pahlawan. serta mertua beliau (ayahanda A'isyah. sama dengan harta rampasan perang mana pun juga. tapi sejak wafat Nabi sendiri.

musuh utama Nabi sampai penaklukan Mekkah). juga al-Zubayr ibn al-Awwam. tuntutan untuk pengusutan pembunuhan Utsman sangat keras. ialah permusuhan antara Ali dan Mu'awiyah. yakni. Program itu sendiri konon sebagai kelanjutan rintisan dan pelaksanaan pesan Nabi menjelang wafat. Ali secara iktikad baik dan "polos" menerima usul arbitrasi di Shiffin. dengan korban jiwa yang tidak sedikit. 'Ali yang seorang ahli perang (warrior) yang cakap dan berani agaknya dengan mudah mengalahkan A'isyah dan al-Zubayr di pertempuran dekat Basrah yang kemudian dikenal sebagai "Peristiwa Onta" (karena A'isyah memimpin pasukan dengan menunggang onta. ayah dari pada kakek Mu'awiyah) tetapi juga dari tokoh-tokoh seperti A'isyah. Tetapi mungkin sebagai gabungan antara kesalihan yang lebih mementingkan perdamaian dan sikap meremehkan kepintaran. meskipun jelas mustahil mendukung pembunuhannya. dibawa oleh sikapnya yang salih dan populis. diplomatik Mu'awiyah dan para pendukungnya. memilih nama atau gelar Amir al-Mu'minin. Komandan Orang-orang Beriman. lengkap dengan berbagai pelembagaannya yang sebagian besar sebagaimana telah disinggung. Sedangkan dari kalangan kaum Umawi. Yang lebih parah. Khalifah terbunuh. anak cucu Umayyah ibn 'Abd Syams. seperti dapat diduga. Maka kekhalifahan sebagai saat itu telah menjadi terlalu amat penting untuk dilewatkan begitu saja. Mu'awiyah (anak abu Sufyan. Kecurigaan itu mewujudkan diri dalam reaksi-reaksi tidak setuju kepada pengangkatan Ali sebagai khalifah. Tetapi ketokohannya itu menjadi problem karena kenyataan bahwa sejak semula ia. jika tidak bisa disebut kelicikan. untuk sebutan resmi jabatannya itu. Reaksi-reaksi itu segera menyeret masyarakat Islam ke dalam kancah peperangan sesama mereka. Akibatnya ialah bahwa ia justru . dan dibantu oleh 'Amr ibn al-'Ash. gubernur dan komandan militer yang menaklukkan Mesir. Berbagai reaksi kurang menguntungkan terhadap 'Ali itu tidak saja membuat situasi masyarakat Islam yang masih muda dilanda suasana tak menentu dan sedikit chaotik. Perkembangan pranata politik Islam pada saat pengangkatan Ali ialah bahwa sistem kekhalifahan telah berjalan dan tumbuh selama hampir seperempat abad. diletakkan oleh Umar. Maka suasana curiga kepada Ali dari banyak pihak menjadi tak terhindarkan. seorang anggota keluarga Abu Bakr. yaitu kalangan kaum Umawi (Umawi. dan onta itu terbunuh dalam pertempuran). tidak saja dari kalangan yang secara langsung mempunyai hubungan darah dengan Utsman. dipelopori oleh politikus dan gubernur yang cakap. Ali agaknya akan akhirnya memenangkan pertempurannya melawan Mu'awiyah. puteri Abu Bakr dan isteri Nabi yang sangat dicintainya. Juga disebabkan oleh kecakapan militernya. menunjukkan simpati kepada para pemrotes kebijaksanaan Utsman. Maka Umar." Telah disebutkan bahwa Ali sebenarnya adalah tokoh yang amat tepat menghadapi situasi kritis itu. dan di hadapan berbagai kritis yang mulai mengancam ummat Islam lembaga itu menjadi rebutan dalam tema-tema "to be or not to be.kesadaran padanya akan sifat kepermanenan jabatan pemimpin ummat Islam. karena memang program utama masyarakat Islam waktu itu ialah melancarkan ekspedisi-ekspedisi militer ke luar Jazirah Arabia. dengan akibat yang amat jauh dalam bidang sosial-keagamaan. Tetapi peristiwa itu sendiri menimbulkan luka sosial-keagamaan pada ummat Islam yang sampai sekarang belum seluruhnya tersembuhkan.

" tanpa ada pihak yang benar-benar diuntungkan.(bersambung 3/4) Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah Editor: Budhy Munawar-Rachman Penerbit Yayasan Paramadina Jln.kehilangan dukungan dari para sponsornya yang gigih dan militan. yang sejak semula menginginkan penyelesaian militer terhadap Mu'awiyah. dan menamakan diri mereka kaum al-Syurat. "Dan di antara manusia ada yang 'menjual' dirinya demi memperoleh ridla Allah. "orang-orang yang menjual diri (kepada Allah). 7501983. Korban yang paling tragis dari ekstremisme mereka ialah Ali sendiri." [12] -------------------------------------------. Egalitarianisme radikal kelompok ini membawa mereka kepada konsep-konsep sosialpolitik yang sesungguhnya lebih dekat kepada cita-cita Islam seperti diletakkan oleh Nabi dan merupakan kelanjutan cita-cita universal dalam tradisi bangsa-bangsa Irano-Semitik sejak ratusan tahun. dan yang dengan kuat sekali mewarnai pandangan-pandangan hidup di daerah Bulan Sabit Subur. Metro Pondok Indah Pondok Indah Plaza I Kav. untuk akhirnya melenyapkan diri mereka sendiri.51. 7507173 Fax. Tetapi karena dibawakan dengan militansi yang hampir tak terkendalikan. seorang tokoh yang pernah mereka unggulkan dengan penuh antusiasme. namun akhirnya mereka habisi dalam suatu pembunuhan politik. yaitu semua orang harus menyingkir dari tatanan mapan dan bergabung dengan mereka demi iman yang benar telah menjerumuskan masyarakat Islam kepada suasana "semua lawan semua. UA 20-21 Jakarta Selatan Telp." dengan secara total menyerahkan dan mengorbankan diri untuk agama yang benar. (021) 7501969. Mereka ini kemudian membentuk kelompok ketiga. . Dan Allah itu Maha Penyantun kepada para hamba-Nya. yakni. Karena kegiatan mereka yang selalu merongrong tatanan mapan. SKISME DALAM ISLAM (3/4) Tinjauan Singkat Secara Kritis-Historis Proses Dini Perpecahan Sosial-Keagamaan Islam oleh Nurcholish Madjid Maka sebutan al-Syurat itu sekaligus memberi gambaran tentang hakikat dan sifat gerakan mereka. maka konsep-konsep itu yang antara lain melahirkan doktrin hijrah. (021) 7507174 Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota Please direct any suggestion to Media Team Artikel Yayasan Paramadina Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota VI. yaitu gerakan dengan semangat sendirinya mereka berkembang menjadi kelompok dengan tingkat ekstremisme yang amat tinggi. (Sebutan ini merujuk kepada firman Allah. yang kemudian secara tak terhindarkan membawa mereka kepada situasi mudah sekali terpecah-belah dan saling bermusuhan.

kini menunjukkan daya tarik dan vitalitasnya di kalangan sebagian kaum Muslim "liberal" (dalam arti lebih banyak menunjukkan sikap kritis dan mungkin ingin lepas dari kukungan tatanan mapan sosial-keagamaan yang ada). meskipun ia tetap secara keseluruhan mengunggulkan Ali atas lawannya itu). sebagai penggantinya. mempertahankan klaim kekhalifahan. Tetapi sebenarnya hanya secara fisik mereka boleh dikata terhapus dari sejarah. Sebagian besar masyarakat Islam menyetujui ide itu. sudah sejak semula dalam kekhalifahannya Mu'awiyah meminta agar masyarakat menyetujui untuk mengangkat Yazid. yakni. dan orang dengan penuh harapan menyebut tahun itu sebagai "Tahun Persatuan" (Amal-Jama'ah). ummat Islam di bawah Mu'awiyah dapat dikatakan kembali kepada keutuhannya yang semula. justru banyak sekali faham-faham keagamaan yang kini berkembang dan mapan di kalangan kaum Muslimin dapat ditelusuri kembali sebagai asal dari problematika kaum Khawarij. keadaan kembali kepada kekacauannya yang semula. Tetapi kekhalifahan Yazid yang memang tidak banyak memenuhi gambaran ideal seorang penguasa Muslim itu segera mengundang munculnya kembali pertentangan-pertentangan laten. Mu'awiyah mendapat dukungan yang boleh dikata universal.mereka kemudian lebih dikenal sebagai kaum Khawarij (pemberontak). (Mereka juga dinamakan kaum al-Haruriyyun. dalam polemiknya dengan kaum Syi'ah. Sedangkan secara doktrinal. anak sendiri. Tantangan terhadap Yazid mula-mula datang dari para pendukung Ali yang memang nampak selalu siap menggunakan setiap kesempatan. Bahkan cukup menarik bahwa ibn Taymiyyah. Terutama pada tahun 41 Hijri. sekurang-kurangnya secara de facto. sepeninggal Ali. dalam pandangan Ibn Taymiyyah. mereka ini kemudian mengalami penghancuran diri sendiri (self annihilation) justru karena watak mereka yang sangat akstrem. Ini. . dan Yazid pun dinyatakan sebagai Khalifah. Dengan maksud untuk tidak mengambil risiko yang dapat mengganggu "keseimbangan rawan" (delicate balance) susunan masyarakat Islam yang ada dan yang diperoleh dengan banyak pengorbanan itu. Seperti telah dikatakan tadi. (Sesungguhnya mereka berharap. agar Hasan. masih sempat menunjuk kepada kenyataan bahwa sementara Ali mendapat dukungan bagi kekhalifahannya hanya dari sebagian umat Islam. [14] Tetapi setelah Mu'awiyah meninggal. menunjukkan segi tertentu kelebihan Mu'awiyah atas Ali. nisbat kepada oase al-Harura dekat Kufah. Akibatnya ialah bahwa mereka hampir-hampir praktis tidak tertahan untuk menyaksikan zaman modern sekarang ini. anaknya. sebagaimana dahulu muncul dalam sistem kalam kaum Mu'tazilah. Perkembangan lebih lanjut masyarakat Islam setelah terbunuhuya Ali oleh kaum Khawarij ialah pengakuan dan dukungan hampir universal masyarakat kepada kekuasaan Mu'awiyah di Damaskus. sesudah Umar ibn al-Khaththab. Bahkan ada tanda-tanda bahwa problematika kaum Khawarij itu. [13] Dengan modal persatuan itu Mu'awiyah dapat melanjutkan program-program ekspansi militer dan politik yang sempat tertunda beberapa lama oleh adanya fitnah. (Mu'awiyah ternyata menunjukkan kecakapan memerintah yang mengesankan. tempat mereka berpangkalan). sehingga para ahli sejarah ada yang mengatakan sebagai Khalifah Islam yang kedua terbesar.

Apalagi. setelah secaara singkat menjadi pendukung Abdullah ibn al-Zubayr pada saat permulaan penampilan khalifah Makkah . Maka harapan para pendukung Ali kini ditujukan kepada Husayn. Tentera Yazid menghancurkan mereka. Tetapi Yazid tidak hanya menghadapi tantangan dari kaum Syi'ah. dan mereka ini terkucilkan di padang pasir Karbala. merupakan peristiwa terpenting dalam fitnah kedua. Tetapi. Dengan menggunakan sentimen umum terhadap kematian tragis Husayn. kekuasaan berada di tangan kaum Khawarij yang seperti selama ini melancarkan perang "hit and run" terhadap Abdullah ibn al-Zubayr. meskipun selama fitnah kedua ini menguasai teritorial yang paling luas. Di Makkah bangkit Abdullah ibn al-Zubayr (ibn al-Awwam) yang ayahnya dahulu pernah menentang Ali bersama A'isyah dan kalah kini bangkit menentang Yazid dengan cukup efektif. putera Ali dan Fathimah. dengan Makkah sebagai ibukota.menghadapi Mu'awiyah di Damaskus. cucu Nabi. Tetapi Abdullah tidak menikmati kekuasaan yang mantap. meliputi sebagian besar pedalaman Jazirah Arabia. Abdullah oleh sebagian besar umat diakui sebagai khalifah yang sah. yang mempunyai dampak amat luas dan mendalam pada sistem sosial-keagamaan Islam sampai sekarang. yang mereka undang untuk memberontak di Kufah. telah membuat kaum Khawarij cukup favorable di mata kaum non-muslim. Tetapi kaum Khawarij gagal memperoleh dukungan dari kalangan Muslim yang lebih terorganisir di kota-kota. Husayn dengan kekuatan tenteranya yang kecil menolak untuk menyerah. tidak pernah efektif. terbunuh secara amat kejam dan tragis. banyak kalangan penduduk Kufah sendiri yang menarik dukungannya kepada Husayn. khususnya di daerah pedesaan atau badawah. Kebiasaan mereka untuk melakukan gerilya dalam kelompok-kelompok penyerang yang disusun seperti sistem kabilah sebelum Islam (masa Jahiliyah) telah mengundang antipati orang-orang kota. Adalah sejak peristiwa Karabala itu para pendukung setia Ali dan keturunannya dikenal dengan sebutan kaum Syi'ah (yang sebetulnya lengkapnya ialah syi'ah Ali. setelah berhasil dibujuk oleh gubernur Syria. Di luar kota Makkah sendiri. Ini membuat kekuasaan kaum Khawarij. Egalitarianisme mereka telah membuat mereka termasuk yang pertama dalam sejarah Islam yang tidak membeda bedakan antara Muslim Arab dan Muslim bukan-Arab. Terbunuhnya Husayn. Sebenarnya kaum Khawarij ini hampir berhasil menghidupkan beberapa nilai yang diajarkan oleh Nabi. "Partai Ali"). Dan politik mereka yang menerapkan prinsip nonintervensi terhadap kelompok-kelompok bukan-Muslim. dan Husayn. dengan membiarkan mereka dalam otonomi penuh mengurus kepentingan mereka sendiri. Tetapi Hasan mengecewakan mereka dengan sikapnya yang lebih senang turun dari klaim itu dan hidup hampir menyendiri secara damai di Madinah. dan setelah penguasa Damaskus ini meninggal sesudah menjabat sebagai khalifah selama sekitar tiga tahun saja. Yazid tidak bisa mengatasinya. kaum Syi'ah perlahan-lahan mengkonsolidasikan diri dan mengembangkan pandangan-pandangan sosial-politik keagamaan yang kelak menjadi dasar sistem doktrinal Syi'isme. khususnya faham persamaan umat manusia. Irak. saudara Hasan. seperti terbunuhnya Utsman sebelumnya. dekat Kufah. sebelum tentera Syria datang menyerbu.

yaitu Ibn al-Hanafiyyah. Sementara itu. Irak. yang berbasiskan Iran. Dengan tegas Abd al-Malik mendasarkan sistemnya di atas konsep kekuatan (force). menganggap siapa saja yang tidak bergabung dengan mereka sebagai murtad.itu. sehingga Mesir pun tidak lama jatuh ke tangan Marwan dan anaknya. yang oleh Hodgson disebut sebagai khalifah Islam terbesar ketiga setelah Umar dan Mu'awiyah. Juga penggantian kekhalifahan dengan tegas didasarkan kepada pewarisan. dalam bentuk suksesi melalui penunjukan oleh khalifah yang . Setelah menyusul Irak. Keberhasilan Ibn al-Zubayr mematahkan kaum Khawarij dan Syi'ah tidak berarti bahwa mereka benar-benar bebas dari oposisi. yang kemudian berpaling melawan mereka. Setelah mengalami kekalahan yang tragis oleh Yazid di padang Karbala. Kini kekhalifahan sepenuhnya pindah ke tangan anak Marwan. dan faham keagamaan diperhitungkan hanya setelah jelas siapa yang unggul melalui kekuatan itu. Dengan cepat kekuatan kaum Umawi di Syria sebagai salah satu kontestan untuk kekhalifahan tumbuh dan berkembang. Pemberontakan kaum Syi'ah ini dipimpin oleh Mukhtar ibn Abi Ubayd. juga ingin menegakkan prinsip persamaan manusia. dengan melakukan berbagai akomodasi. sebagai Khalifah. Maka negara menjadi negara kekuasan (macht staat). Mereka dengan tegas mengambil sikap yang menyamakan status antara orang-orang Muslim bukan-Arab dengan Muslim Arab. dengan akibat hukum bunuh yang mereka laksanakan secara konsekuen. Selain menghadapi kaum Khawarij. Ibn al-Zubayr masih harus menyelesaikan masalah Syi'ah. (Adalah Marwan ini yang dahulu bertindak sebagai penasehat utama Khalifah Utsman ibn Affan dan didakwa sebagai dalang pembunuhan pemimpin delegasi Mesir yang datang ke Madinah untuk mengadukan perkara mereka. Irak juga jatuh ke tangan kaum Umawi. Kaum Syi'ah. kaum Khawarij terpecah menjadi dua. kaum Syi'ah sekali lagi mencoba memobilisasi diri dan menemukan figur sentral mereka pada putera Ali yang lain. Hingga akhirnya kaum Umawi berhasil merebut Makkah sendiri (Ka'bah sempat hancur dan harus dibangun kembali karena pertempuran memperebutkan kota suci itu). Mereka ini akhirnya dikalahkan oleh tentara Ibn al-Zubayr yang berpangkalan di Basrah. Tantangan orang Kufah ini mempermudah pemberontakan kaum Syi'ah untuk dipatahkan oleh Ibn al-Zubayr dengan menggunakan kekuatan tentara dari Basrah yang saat itu telah bebas dari tugas menghadapi kaum Khawarij. Segi kebenaran Abd al-Malik ialah bahwa ia berhasil mengakhiri fitnah (kedua). Tetapi egalitarianisme mereka ini justru membuat marah orang-orang Muslim Arab Kufah. yang berarti hilangnya basis dukungan bagi Ibn al-Zubayr di Mekkah. sama halnya dengan kaum Khawarij. Abd al-Malik. Kota-kota garnizun di bawah kepemimpinan kaum Umawi yang tegar kini lebih efektif dalam melawan gerilya kaum Khawarij dari pedalaman dibanding keadaan mereka dibawah kepemimpinan Ibn al-Zubayr yang lunak. Kaum Umawi yang berkoalisi dengan kaum Banu Kalb (sandaran utama kekuatan Arab Syria bagi kaum Umawi sejak masa Mu'awiyah) mengangkat Marwan ibn al-Hakam. kekuatan-kekuatan oposisi kelanjutan kaum Umawi berhasil mengkonsolidasi diri. yang dikenal sehagai kaum Azariqah. Kaum Khawarij dan Syi'ah itu tetap merupakan ancaman yang laten. di utara. dan di situ Khalifah Abdullah ibn al-Zubayr (ibn al-Awwam) terbunuh. sepupu Mu'awiyah. Abd al-Malik (692-705). dan yang kemudian membangkitkan amarah mereka dengan akibat pembunuhan khalifah). di Syria. namun dengan cara-cara yang lebih moderat.

dengan dibantu oleh keahlian dan kesarjanaan al-Hajjaj ibn Yusuf. Sebagai dukungan asasi bagi konsep Jama'ah-Nya itu. suatu konsep atau idiologi yang meletakkan nilai-nilai persatuan dan kesatuan di atas semangat kesukuan dan bahkan di atas faham-faham keagamaan faksional. yang sebenarnya belum lama berselang itu. membunuh Ibn al-Zubayr. Kemudian dorongan untuk memahami lebih baik dan melaksanakan ajarannya secara lebih tepat tumbuh dengan pesat di kalangan umum. sepanjang mengenai pelaksanaan pemerintahan sehari-hari. dengan berbagai modifikasi dan penyesuaian. Maka dengan begitu secara berangsur tumbuhlah . yaitu sebagai lambang persatuan dan kesatuan (Jama'ah) yang tak tergugat. Kebesaran Abd al-Malik ibn Marwan yang lain terletak dalam kegairahannya untuk menegaskan supremasi Islam terhadap yang lain. Nampaknya masa lalu Islam itu yang paling otoritatif. [15] Dampak amat penting tindakan ini ialah penyatuan yang lebih meyakinkan seluruh kekuatan Islam (dan Arab). dan berfungsi terutama sebagai kode etik dan ajaran disiplin bagi kekuatan elite penakluk dan penguasa. Maka kaum Umawi di Damaskus itu. pada kalangan Banu Tsaqif (yang sebelumnya telah membantu menaklukkan Mekkah. Marwani.terdahulu. yang menjadi dasar kebesaran kekuasaan Umawi (lebih tepat. Di sisi lain tindakannya bisa disebut sebagai sejenis nasionalisme Arab. dalam masalah pemerintahan menurut pengertian seluas-luasnya. Abd al-Malik meneruskan usaha mempersatukan ummat Islam berkenaan dengan Kitab Suci mereka. Tetapi. Maka dalam usaha memahami lebih baik Kitab Suci itu dan melaksanakannya dalam kehidupan nyata. terlebih lagi para penguasa Umawi. sudah tentu. Tetapi ketika Abd al-Malik mengganti mata uang logam Yunani yang bergambar kepala raja mereka dengan mata uang logam khas Arab dan Islam dengan simbol kalimah syahadat. Bagi mereka Islam adalah lambang Arabisme yang dipersatukan. dan menghancurkan Ka'bah serta membangunnya kembali). banyak melanjutkan rintisan dan percontohan Umar ibn al-Khathab. maka efeknya ialah penegasan kedaulatan Islam. masa Umar ibn al-Khathab nampak paling banyak dijadikan rujukan. bekas guru madrasah di Thaif. ialah masa Nabi sendiri. banyak referensi dilakukan kepada preseden yang ada dalam sejarah Islam. Berbeda dengan pandangan keagamaan kaum Khawarij dan Syi'ah pandangan keagamaan kaum Umawi memang sangat berat berwarna ke-Arab-an. jika pemerintahan itu harus dijalankan dengan norma-norma keislaman. Karena itu ketika para qadli sebagai pemegang semacam kekuasaan yudikatif di daerah-daerah (Abd al-Malik adalah orang pertama melembagakan jabatan qadli itu). Melalui kebijaksanaan Abd al-Malik ibn Marwan ini maka al-Qur'an mempunyai fungsi lain. dengan memperbaiki cara penulisannya dan memastikan harakat bacaannya melalui penambahan beberapa diakritik dan vokalisasi (harakat). kaum Muslimin. sebagaimana sebutan pilihan sementara ahli sejarah Islam). Solidaritas Arab berdasarkan Islam melawan kecenderungan kesukuan lama (Jahiliyah) ini kemudian menjadi dasar ide tentang Jama'ah. semakin banyak merasakan perlunya bahan rujukan dari kebiasaan mapan (sunnah) masa lalu Islam. Berdasarkan pandangannya itu Abd al-Malik melihat pentingnya usaha lebih lanjut mempersatukan orang-orang Arab di bawah bendera Islam melawan kecenderungan kesukuan yang sampai saat itu masih menunjukkan potensi latennya.

Utsman. yang di situ setiap kelompok memperoleh kehormatannya. oleh para sarjana hadits seperti al-Bukhari. Dalam rangka ini. SKISME DALAM ISLAM (4/4) Tinjauan Singkat Secara Kritis-Historis Proses Dini Perpecahan Sosial-Keagamaan Islam oleh Nurcholish Madjid Keperluan kepada bahan rujukan dari masa lalu (preseden) untuk menetapkan hukum lambat-laun tumbuh manjadi kesadaran tentang otoritas tradisi (sunnah) yang sah (valid). 7507173 Fax. Dengan begitu kaum Marwani atau Umawi meletakkan landasan dialog intern Islam yang meliputi semua. Maka perhatian kepada cerita. Dorongan yang amat kuat untuk menyudahi berbagai fitnah yang telah meninggalkan kesan-kesan penuh trauma itu telah mengharuskan kaum Marwani atau Umawi untuk menunjukkan sikap-sikap yang lebih akomodatif dan kompromistis. (021) 7507174 Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota Please direct any suggestion to Media Team Artikel Yayasan Paramadina Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota VI.51. Metro Pondok Indah Pondok Indah Plaza I Kav. sedikit atau pun banyak. khususnya sejak kekhalifahan Abd al-Malik ibn Marwan. tapi juga tentang tokoh-tokoh generasi ketiga umat Islam. menjadi semakin besar. yaitu ilmu fiqh. untuk selanjutnya dikodifikasi. (021) 7501969.yurisprudensi Islam. Muslim. Tapi sejarah mencatat bahwa dorongan paling kuat ke arah sana itu dimulai oleh Khalifah Umar ibn Abd al-Aziz (ibn Marwan) yang dikenal sebagai Umar II (memerintah 717-720) karena mengingatkan orang kepada Khalifah Umar ibn al-Khaththab. pada urutan keempat (artinya. namun Ali lebih unggul daripada Mu'awiyah. rupanya malah sejak masa nabi sendiri. dll. juga anggota klan mereka tapi menjadi musuh Ali). 7501983. tindakan terpenting ialah mengakui Ali sebagai khalifah yang sah. [16] -------------------------------------------. yang kelak melahirkan disiplin terpisah dalam ilmu-ilmu keagamaan Islam.(bersambung 4/4) Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah Editor: Budhy Munawar-Rachman Penerbit Yayasan Paramadina Jln. anekdot. UA 20-21 Jakarta Selatan Telp. tetap lebih unggul daripada Ali. Ini semua kelak disistematisasi dan dikritik. Tradisi ini berkembang dan tumbuh kuat. dan menjadi dasar . khususnya tentang Nabi sendiri dan para Sahabat. Umar II sebenarnya hanya melanjutkan kecenderungan yang sudah ada pada kaum Marwani atau Umawi. anggota-anggota klan mereka. Para ahli mengatakan bahwa gerakan perorangan untuk mencatat hadits telah terjadi sejak masa sangat awal sejarah Islam. dan penuturan tentang para tokoh masa lalu itu.

sebagai tercermin dalam peringatan yang lain. kaum Marwani atau Umawi. mempunyai sistem dan teori pembenaran bagi pandangan masing-masing. betapa problematisnya kekhalifahan dan kedudukan seorang khalifah. dengan sendirinya. Masing-masing pecahan itu sesungguhnya pecah lagi ke dalam berbagai kelompok. (Patut diperhatikan. Syi'ah dan Sunnah." [19] Agaknya kita semua ditantang untuk memerangi sektarianisme yang kini masih menggejala. golongan Sunni. PENUTUP Dikarenakan terbatasaya ruang dan sifat pembahasan." [18] Semangat non-sektarianis itulah salah satu makna yang dimaksud bahwa agama Tawhid Nabi Ibrahim adalah hanif. [17] Sebenarnya semangat non-sektarianisme inilah salah satu pandangan dasar Islam yang dibawa Nabi. yakni. meskipun jauh dari sempurna dan lengkap. betapa kaum Syi'ah cenderung hanya mengakui Ali. Uraian di atas. Maka dengan jelas dapat dilihat betapa absurd-nya memutlakkan kebenaran suatu aliran paham dalam agama (Islam). "Sesungguhnya mereka yang memecah belah agama mereka kemudian menjadi bersekte-sekte. QS. plus Mu'awiyah. kaum Khawarij hanya Abu Bakr dan Umar.faham yang kini merupakan anutan terbesar kaum Muslim di dunia. CATATAN 1. sama dengan golongan Sunni. setiap golongan membanggakan apa yang ada pada mereka" (yakni. secara hanif. lebih singkat lagi. mungkin yang diperlukan sekarang ialah mengembangkan dasar fikiran nonsektarianisme. biasa disingkat dengan Ahl al-Sunnah. . engkau (Muhammad) tidak sedikit pun termasuk mereka. Utsman. sebagai jawab kecenderungan alami manusia untuk memihak yang baik dan benar: "Maka ikutilah olehmu semua agama Ibrahim. al-Baqarah/2:213. QS. lebih-lebih lagi jika kita perhitungkan pandangan semua kelompok mengenai masalah kekhalifahan itu. karena mengambil pelajaran dari pengalaman agama-agama sebelumnya. "Dan janganlah kamu termasuk orang-orang musyrik. maka disebut Ahl al-Sunnah wa 'l-Jama'ah. 2. kaum Umawi lama hanya Abu Bakr. mengakui semuanya namun dengan mengunggulkan Utsman atas Ali dan Ali atas Mu'awiyah. mengaku benar sendiri). Umar. Dan setiap kelompok itu. yang dapat dikemukakan di atas hanyalah masalah-masalah mendasar tentang faham-faham pecahan dini Islam. sesuai dengan peringatan. diharap dapat memberi gambaran (dan kesadaran) betapa relatifnya pangkal skisme dalam Islam (karena berakar dalam pertikaian sosial-politik yang sama sekali tidak mungkin lepas dari konteks ruang dan waktu dalam pengertian yang seluas-luasnya). yaitu Khawarij. yaitu mereka yang memecah belah agama mereka kemudian menjadi bersekte-sekte. tidak jarang dinyatakan dalam gaya-gaya absolutistik dan "pasti benar"). Juga bisa dilihat. antara lain. kemudian dibarengi atau disusul oleh munculnya berbagai pecahan yang lain lagi. al-Mu'minun/23:51-52. yaitu faham yang menggabungkan antara ideologi Jama'ah (persatuan dan kesatuan) dan ideologi Sunnah (faham yang memandang otoritas masa lalu dan tradisi yang sah sebagai bahan rujukan). Maka kesimpulannya. dan melihat sektarianisme sebagai jenis kemusyrikan.

1343 H. Teheran. H. memberi pengantar dengan semangat hadits itu untuk penerbitan risalah Ibn Taymiyyah. Tapi uraian berikut hanyak dibuat dengan bersandar kepada kepada Marshall G. Khilaf al-Ummah fi al-Ibadat wa Madzhab Ahl al-Sunnah wa al-Jama'ah (Perselisihan umat dalam ibadat dan Madzhab Ahl al-Sunnah wa al-Jama'ah). yang meskipun ditulis di bawah bayangan kuat idiologi Sunni namun sampai batas yang cukup jauh tidak kehilangan sifat ilmiahnya. Hud/11:118-119. al-Ma'idah 5:51. 1326 H. Translation and Commentary (Jeddah: Dar al Qibla. 10. QS. Mungkin bisa dikatakan sebagai suatu bentuk penghindaran dari kenyataan pahit dalam sejarah Islam. Rasyid Ridla. 1. The University of Chicago Press. 7. Hodgson. Tarjamah Sabil al-Abid ala Jawharat al-Tauhid [tanpa data penerbitan]. salah satu unsur dalam faham Sunni ialah semacam konsensus untuk tidak membicarakan peristiwa-peristiwa menyedihkan yang menyangkut peperangan dan perebutan posisi politik yang terjadi antara para Sahabat Nabi sekitar seperempat abad sesudah wafat beliau. Lafal lain terbaca. 4. (Cairo: Mathba'at al-Manar.). hh. A. jil. The Venture of Islam. Yang pertama diwakili oleh mushaf terbitan Mu'assasat Intisyarat Amir Kabir.3. Terdapat pandangan bahwa kalangan "awam" sebaiknya tidak membicarakan hal itu. 1974). The Holy Qur'an. 1405 Hijri qamari (lunar) atau 1363 Hijri Syamsi (solar). Banyak bahan rujuknya dari literatur klasik untuk pembahasan sekitar perkembangan dini sejarah Islam yang menyangkut fitnah besar ini. baik dari kesahihan sanadnya maupun dari segi lafalnya yang lebih persis. (Lihat. passim. yang dikenal dcngall "rasm al-mushaf" atau "rasm Utsmani. misalnya.241-242). Sabda Nabi yang terbaca.. Yusuf Ali. 488. Dalam kata penutup terbitan mushaf ini (h. seperti . 1403 H). h. QS. 6. Ikhtilaf al-a'immah rahmah li al-ummah (Perbedaan pendapat para imam adalah rahmat untuk ummat). baik yang diterbitkan pada masa pemerintahan Syah Reza Pahlewi maupun yang diterbitkan pada masa pemerintahan Islam revolusioner (Khumaini). Yunus/10:19. tiga jilid (Chicago. misalnya.S. Muhammad Shalih ibn Umar Samarani. QS. 8. misalnya. namun kenyataannya ia persis sama dengan mushaf ejaan Utsmani). Yang kedua diwakili oleh mushaf terbitan Mu'assasat Intisyarat Shabirin. Bukan saja samasekali tidak ada perbedaan antara al-Qur'an pada kaum Sunni dan al-Qur'an pada kaum Syi'i. 983) ditegaskan oleh penerbit bahwa mushaf itu menggunakan ejaan yang paling asli dan paling aktual. (Meskipun tidak disebutkan dalam pengantar atau lainnya bahwa mushaf itu ditulis dengan ejaan Utsmani./1965 M." Bahkan qira'at atau bacaannya disebutkan. 9. Tapi betapa pun diperselisihkan hadits itu nampaknya banyak dipercayai para ahli. Teheran.tb5. Bahkan al-Qur'an kaum Syi'i pun ditulis dengan mengikuti ejaan atau rasm Utsmani.tb5 5. Salah satunya ialah Tarikh at-Thabari yang terkenal. catatan 1407. Cukup ironis bahwa justru hadits ini pun diperselisihkan. Ikhtilaf ummati rahmah (Perbedaan pendapat ummatku adalah rahmat).

kecuali mereka yang benar-benar mengenal bahasa Arab karena dibesarkan sebagai orang Arab. salah seorang pemikir Sunni mazhab Hanbali yang sangat polemis terhadap golongan Syi'ah.pada mushaf. Dan kemudian konsep Jama'ah itu dikembangkan sebagai idiologi. Perdebatan itu terekam dalam karya seorang murid Imam Abu Hanifah. Dar al-Fikr. [Beirut. Tarikh al-Tasri al-Islami. serta kamu mengutuk mereka dan mereka mengutuk kamu. 194). Muhammad Hamidullah dengan izin majalah orientalisme Jerman. 14. (Lihat. ". Karena hampir semua kelompok Islam mengakui kekuasaan de facto Mu'awiyah. mengatakan. "Perilaku Mu'awiyah terhadap rakyatnya adalah termasuk sebaik-baik perilaku para penguasa. Abu Ya'quh Yusuf. dan rakyatnya mencintainya. Perlu diingat bahwa meskipun al-Qur'an telah dipersatukan kodifikasinya oleh Utsman namun orang masih mengalami kesulitan untuk memastikan pembacaannya. maka tahun 41 Hijri disebut "Tahun Persatuan" ('Am al Jama'ah). h. Padahal telah mantap dalam al-Shahihayn (Bukhari-Muslim) dari Nabi s. yang diturun oleh Dr. sekali lagi tidak akan mengizinkan. dan dalam kutipan kedua ia mau memperlihatkan betapa Ali pernah membuat hal yang menyakiti hati Nabi. 12. Sebagai contoh tulisan Arab tingkat awal itu berikut ini adalah (foto) kopi surat Rasulullah kepada al-Mundzir ibn Sawi.mushaf Sunni. 'Sebaik-baik para pemimpinmu ialah yang kamu cinta kepada mereka dan mereka cinta kepada kamu dan berdo'a untuk kebaikanmu. Dan sungguh aku tidak akan mengizinkan. 110. beliau (Nabi) bersabda. "yang dari jalur lain dari Imam Ali ibn Abi Thalib. al-Syaykh Muhammad al-Hudlari Bek. yang hanya mengenal konsonan. bahwa beliau bersabda. Sedangkan mereka yang tidak demikian keadaannya akan terbentur kepada sistem huruf Arab. tidak akan berkumpul menjadi satu anak perempuan Rasulullah dengan anak perempuan musuh Allah pada satu orang lelaki. juga h. Zeltschrift der Deutschen Morgenlandischen dalam Majmu'at al-Watsa'iq al-Siyasiyyah li al-Ahd al-Nabawi wa Khilaafat al-Rasyidah (Beirut: Dar al-Irsyad. 189). al-Baqarah 2:207. jil. 57 (antara hh. Ibn Taymiyyah masih sempat mencatat demikian. 1389 H/1969). Dan tatkala dia (Ali) melamar anak perempuan Abu Jahl. dokumen No. 87).a. 15. sebagai berasal dari riwayat Hafsh dari Ashim. sekali lagi tidak akan mengizinkan! Kecuali jika anak Abu Thalib itu menceraikan anak perempuanku (Fathimah) dan kemudian kawin dengan anak perempuan mereka. h. Sebaliknya tentang Ali. Bani al-Mughirah meminta izin kepadaku untuk mengawinkan anak perempuan mereka kepada Ali." (Minhaj al-Sunnah.. tanpa huruf hidup.. 1387 H/1967]." 11. Jadi dalam kutipan pertama Ibn Taymiyyah ingin mengesankan bahwa Mu'awiyah bertingkah laku sesuai dengan Sunnah. 114 dan 115): Tulisan seperti di masa Rasulullah itulah yang juga digunakan . Ibn Taymiyyah. Sedangkan seburuk-buruk pemimpinmu ialah yang kamu benci kepada mereka dan mereka benci kepadamu. Demi Allah. Kitab al-Kharaj. 13. 3. Misalnya.w.'" (ibid. sama dengan huruf-hurut Semitik yang lain.. QS. h. Sangat menarik sebagai bahan studi lebih mendalam mempelajari berbagai polemik sekitar Ali dan Mu'awiyah ini.

Perhatikan bahwa untuk perkembangan tulisan Arab saat itu. dan antara bunyi-bunyi jim. seperti untuk bunyi-bunyi ba'. akhirnya. al-An'am/6:161).. 17. Ali 'Imran/3:95.. tsa nun dan ya'.untuk kodifikasi al-Qur'an oleh Utsman dan menghasilkan mushaf rasmUtsmani. QS. khususnya pada masa dinasti Marwani itu (antara lain karena urgensi mengatasi dan menyudahi fitnah yang berkelarutan). al-Tawbah/9:122. al-An'am/6:169. kesulitan masih harus ditambah dengan tidak adanya perbedaan simbol untuk cukup banyak bunyi. "Katakan Muhammad. antara dal dan dzal. QS. Maka hendaklah dari setiap golongan ada satu kelompok orang yang pergi (mencurahkan perhatian) untuk memahami agama secara mendalam (ber-tafaqquh) . tiga titik. ta'. 18. "." (QS. antara tha' dan dha'. QS. Maka penambahan beberapa diakritik. ha' dan kha'. antara 'ayn dan ghayn. -------------------------------------------Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah Editor: Budhy Munawar-Rachman Penerbit Yayasan Paramadina Jln. Metro Pondok Indah Pondok Indah Plaza I Kav. 19. yaitu agama yang teguh (konsisten). 'Sesungguhnya aku diberi petunjuk oleh Tuhanku ke arah jalan yang lurus. di bawah dan di atas oleh al-Hajjaj merupakan fase amat penting dalam sejarah metode penulisan al-Qur'an. dan. dua. Perkataan Arab "fiqh" sendiri berarti "faham" (dalam makna "mengerti"). 7501983. seperti satu. maka segi hukum dari agama juga amat dominan dan supreme. Penggunaan perkataan "fiqh" sebenarnya merujuk kepada beberapa firman Allah. Keadaan serupa itu bertahan hampir sepanjang sejarah Islam sesudah masa Marwani. Tapi karena dominasi dan supremasi persoalan penataan kembali masyarakat saat-saat dini sejarah Islam. Jadi yang dimaksudkan dengan perkataan fiqh dalam firman-firman itu pendalaman ajaran keagamaan secara menyeluruh.. "Kami (Tuhan) telah merinci berbagai ayat untuk kaum yang mengerti" (ber-fiqh) (QS. UA 20-21 Jakarta Selatan Telp. (021) 7507174 Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota Please direct any suggestion to Media Team Artikel Yayasan Paramadina Indeks Islam | Indeks Paramadina | Indeks Artikel | Tentang Yayasan . sehingga pengetahuan mengenai masalah-masalah hukum pun dianggap fiqh par excellence. antara lain. 7507173 Fax. (021) 7501969. antara ra' dan za' antara sin dan syin." (QS. antara lain.. antara shad dan dlal. al-An'am 6:98). al-Rum/30:32. sampai sekarang. Ini tercermin dalam bagaimana sebagian besar kaum Muslim mempersepsi agamanya sebagai terutama sistem hukum. agama (Nabi) Ibrahim yang hanif . 16. Bahwa agama yang dibawa Nabi Muhammad adalah juga agama Ibrahim ditegaskan dalam cukup banyak ayat-ayat suci. antara fa' dan qaf.

" cukup beralasan dilihat dari segi pemakaian bahasa. Itulah pembahasan sepintas dari segi etimologis dan lexicologis. tugas (yang harus dilakukan). ia mempunyai arti yang lebih luas. kewenangan. kata ini berarti juga: penolong. Kata ini biasa diartikan "penguasa. pemelihara. Adapun kata "wali" juga sudah lazim dipakai dalam bahasa Indonesia. komando. menyuruh melakukan. atau wilayahnya). "imarah" (sifat keamiran. suruhan. Sesudah itu. Dalam kaitan masalah-masalah tersebut di atas terkait permasalahan wali al-amr. Dari akar kata "amr" ini. yaitu kata "amr" biasa dibunyikan "amar" yang berarti: perintah atau suruhan (misalnya: dengan amar raja diartikan: atas perintah raja). 47. timbul bentuk-bentuk kata "amir. teman atau sahabat. kata "wilayah" yang berarti kekuasaan. yaitu orang suci dan keramat (seperti Wali Songo). amirul mu'minin (khalifah)." Kedua bagian kata majemuk ini sudah lazim dipakai dalam bahasa Indonesia. Dan itu terlansir dalam sebuah Keputusan Presiden dan diperkuat Keputusan Menteri Agama.ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota VI. pemilik atau penguasa sesuatu barang. ingin kita melihat kaitan pengertian kata ini dengan persoalan hukum dalam rangka kajian fiqh." "amiral" (admiral). masalah penting. Dalam persoalan ini tentunya pada tingkat pertama kita . yang berarti: orang yang menurut hukum diserahi kewajiban mengurus anak yatim serta hartanya selama anak itu belum dewasa. selain berarti: order. PENGERTIAN WALI AL-AMR DAN PROBLEMATIKA (1/2) HUBUNGAN ULAMA DAN UMARA oleh Ali Yafie Pemerintah memandang perlu untuk mengeluarkan sebuah keputusan dalam kaitan hari libur Idul Fithri sebagai hari libur nasional. Kata "wali al-amr" (dalam sebutan Indonesia) berasal dari "waliy-u 'l-amr" (bahasa Arab). Maka dalam rangka urusan tersebut kita dapat memahami kehadiran Undang-undang Perkawinan dan Undang-undang Peradilan Agama (yang belum lama ini sudah diundangkan). Dalam bahasa asalnya. power. Dari akar kata ini berkembang bentuk-bentuk kata: wala yang berarti: cinta. Hal itu jelas memperlihatkan keterkaitan Pemerintah dengan urusan keagamaan (pelaksanaan ajaran agama). juga berarti: urusan. pelindung. wali negara). daerah yurisdiksi. petugas. kekeluargaan. Lebih lanjut kita melihat hal seperti itu dalam masalah perkawinan dan peradilan khusus yang menyangkut penyelesaian sengketa urusan kekeluargaan di kalangan kaum muslimin bangsa Indonesia. wali Allah atau waliullah. persoalan atau perkara." Maka kata "waliy-u 'l-amr" dengan pengertian "penguasa" atau "pemerintah. atau markasnya. tentang kata-kata "wali" dan "amr. loyalitas. pengasuh pengantin perempuan ketika nikah yaitu keluarga dekatnya yang melakukan janji atau akad nikah dengan pengantin laki-laki (dalam urusan nikah ini dikenal juga adanya wali hakim yaitu pejabat urusan agama yang bertindak sebagai wali). otoritas. kepala pemerintahan (seperti wali kota. persahabatan. Tetapi dalam kata asalnya. "amiralay (brigadier general). Mengamarkan: memerintahkan. Kalau ditambah dengan akhiran "an" maka menjadi "amaran" yang berarti: perintah.

. [2] ditambah dengan penjelasan hadits shahih yang diriwayatkan Abu Hurairah r.). (Lihat h. Teori Wilayah (Kekuasaan atau Kewenangan) Di dalam Fiqh (Ilmu Hukum Islam) ditemukan adanya dua jenis kekuasaan (wilayah) yang dikaitkan dengan sumbernya. lalu mereka menyiarkannya.. Ahli fiqh kenamaan yakni Imam Abul Hasan 'Ali al-Mawardi ketika mengulas jenis-jenis kewenangan yang disebut "imarah" yang pejabatnya disebut "amir" beliau mensitir juga ayat 59 surah an-Nisa tersebut di atas.: Barangsiapa mendurhakai aku berarti dia sudah taat kepada Allah dan barangsiapa mendurhakai amir yang saya angkat berarti dia telah mendurhakai aku. Ibn Katsir melanjutkan keterangannya bahwa yang jelas (wa 'l-Lah-u a'lam). [3] Maka semua penjelasan ini merupakan perintah untuk mentaati para ulama dan umara.berupaya mencari pokok persoalannya dalam al-Qur'an. atau suatu daerah kekuasaan tertentu.. Demikian pendapat Jabir. ialah amir-amir. yang semuanya mengacu kepada keharusan mentaati amir-amir (para petugas atau penguasa yang diangkat Nabi dalam berbagai urusan yang ditempatkan di berbagai daerah (yang telah dibebaskan ketika itu). Dari ulasan beliau dapat ditarik pengertian bahwa didalam kata "uli 'l-amr" termasuk penguasa atau pemimpin tertinggi pemerintahan sampai kepada pejabat-pejabat yang berwenang di daerah-daerah. Al Hasan Al Bashri dan Abul 'Aliyah (semuanya ulama Tabi'in) yakni al-'ulama" (yang dimaksud dengan uli 'l-amr adalah ulama). pendapat Mujahid. yaitu pada ayat 59 surah an-Nisa.a. dan pada ayat 83 dari surah yang sama. "yakni ahl-u 'l fiqh-i wa 'l-din" (yang dimaksud dengan uli 'l-amr yaitu ahli dalam masalah-masalah agama). bahwa yang dimaksud dengan kata ini ialah para ulama. dan ini pendapat Ibn Abbas r. lalu beliau menjelaskan bahwa didalam pengertian "uli. al-Hasan dan 'Atha.w. Maka disana kita akan menemukan pemakaian kata "uli 'l-amr" (yang artinya dengan "waliy-u 'l-amr"). 'Atha. Bahkan Imam al-Mawardi ini ketika membahas masalah Imamah atau Kekhalifahan (Bab Pertama dari bukunya yang berjudul al-Ahkam al-Shulthaniyah). dari sabda Rasulullah s. bahwa yang dimaksud dengan kata itu. Mereka itu disebut "wulat" (mufradnya wali sebagai singkatan dari waliy-u 'l-amr) dan umara (tunggalnya amir) yaitu penguasa yang diberi kewenangan dalam satu urusan tertentu. kata ini pengertian umumnya mencakup para amir (umara) ulama. Seandainya mereka mengembalikan persoalan itu kepada Rasul dan kepada "uli 'l-amri" dari mereka.a. Mufassir kenamaan yakni Imam 'Imaduddin Ibn Katsir menukilkan keterangan Ibn 'Abbas (Sahabat Nabi) r.517 Juz I Tafsir Ibn Katsir).a. beliau juga berpatokan dari ayat 59 (surah an-Nisa) tersebut. Pertama. Beberapa hadits lainnya dari berbagai sumber berita dari sejumlah sahabat Nabi telah dipaparkan oleh Ibn Katsir. [1] Yang pertama berbunyi (terjemahnya): Hai orang-orang yang beriman! Taatilah Allah dan taatilah rasulNya dan "ulil amri" dari kalian.). pada dua tempat.a. Pengertian ini diperkuat oleh ayat 63 surah al-Maidah dan ayat 43 surah an-Nahl. niscaya orang-orang yang meneliti diantara mereka mengetahui hal itu . atau dalam urusan-urusan yang diserahkan pengelolanya kepada mereka. Dan yang kedua berbunyi (Terjemahnya): Apabila mereka ditimpa sesuatu peristiwa keamanan atau ketakutan. Pendapat kedua. dan dua . Sama dengan itu..'l-amr" ada dua pendapat.

kelima. al-Imamah (al-Khilafah). al-Wizarah (Kementrian). yaitu: wilayah (perwalian). dimana yang bersangkutan tidak atau belum cakap dan mampu melakukan tindakan hukum yang berkaitan dengan hak-hak dan atau kewajibannya (faqid-u 'l-ahliyah atau naqish-u 'l-ahliyah). keenam. telah dirinci dalam 20 macam kewenangan. dan dalam keadaan tertentu d