P. 1
Pengalihan Hak Atas Tanah Terlantar

Pengalihan Hak Atas Tanah Terlantar

|Views: 2,271|Likes:
Published by sandmus

More info:

Published by: sandmus on Jun 06, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

12/27/2012

pdf

text

original

PENGALIHAN HAK ATAS TANAH TERLANTAR DENGAN STUDI KASUS PT.

WANAWISATA ALAM HAYATI MAKALAH Ditujukan Untuk Memenuhi Salah Satu Kriteria Penilaian Dalam Mata Kuliah Hukum Agraria

KELOMPOK VIII: Rio Steva Christyardo Hari Pamungkas Sandy Muslim Hery Purnomo Alif Bam Al Ikhlas 0910611037 0910611044 0910611047 0910611052 0910611054

Strata Satu Ilmu Hukum FAKULTAS HUKUM UNIVERSITAS PEMBANGUNAN NASIONAL “VETERAN” JAKARTA

2011 KATA PENGANTAR Puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah memberikan karunia-Nya sehingga penyusunan makalah ini dapat terselesaikan. Adapun judul dari makalah ini adalah ”Pengalihan Hak Atas Tanah Terlantar Dengan Studi Kasus PT. Wanawisata Alam Hayati”. Penyusunan makalah ini ditujukan intuk memenuhi salah satu kriteria penilaian dalam mata kuliah Hukum Agraria semester genap di Universitas Pembangunan Nasional ”Veteran” Jakarta. Makalah ini tidak mungkin dapat terselesaikan dengan baik tanpa adanya dukungan moril dan materiil dari berbagai pihak. Karena itu, penyusun mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada:
1. Kedua orang tua, yang telah memberi dukungan dan membantu dalam

pembuatan makalah ini. 2. Hj. Devi Kantini Rolaswati, S.H, M.Kn, selaku dosen Hukum Agraria. 3. Serta semua pihak yang telah membantu penulis dalam penulisan makalah ini, yang namanya tidak bisa penulis sebutkan satu-persatu. Penyusunan makalah ini diharapkan dapat memberikan manfaat bagi para pembaca. Namun, makalah ini mungkin memiliki kekurangan. Karena itu, sangat diperlukannya kritik dan saran yang dapat membangun makalah ini sehingga menjadi lebih baik lagi. Akhir kata, penyusun mengucapkan maaf yang sebesar-besarnya atas segala kesalahan yang mungkin ada didalam makalah ini. Jakarta, Mei 2011 Penyusun

DAFTAR ISI KATA PENGANTAR....................................................................................................... i

DAFTAR ISI.................................................................................................................... ii BAB I PENDAHULUAN
1.1.

Latar Belakang.......................................................................................... 1 Rumusan Masalah.................................................................................... 2 Tujuan Penulisan...................................................................................... 4 Metode dan Teknik Penulisan.................................................................. 5

1.2. 1.3. 1.4.

BAB II PEMBAHASAN 2.1. Tinjauan Umum Mengenai Penguasaan 2.1.1 Hak Penguasaan Atas Tanah........................................................ 7 2.1.2. Macam Hak Penguasaan Atas Tanah.......................................... 10 2.2. 2.3. Fungsi Sosial Tanah................................................................................. 12 Tinjauan Umum Mengenai Tanah Terlantar............................................ 12
2.3.1. Menurut UUPA (UU No. 5 Tahun 1960)........................................ 13 2.3.2. Peraturan Pemerintah Nomor 40 Tahun 1996…………………….14 2.3.3. Peraturan Pemerintah No. 11 Tahun 2010………………………. 16

2.4. 2.5.

Sistematika Penetapan Tanah Terlantar…………………………………. 17 Akibat Hukum Tanah Yang Diterlantarkan………………………………. 21

BAB III PENUTUP.......................................................................................................... 24 Daftar Pustaka................................................................................................................ 28 Lampiran......................................................................................................................... 29

BAB I PENDAHULUAN

1.1.

Latar Belakang Munculnya kasus dan sengketa tanah banyak yang berawal dari tanah terlantar. Disisi lain pemerintah sulit melakukan kebijakan peralihan tanah terlantar menjadi tanah Negara,karena pelaku tanah terlantar umumnya orang yang bermodal besar, akibatnya.bidang tanah terlantar terus terjadi,sehingga menyebabkan ketimpangan kepemilikan dan penguasaan tanah. Pada akhirnya menambah problematika tanah sebagai kebutuhan pokok manusia,padahal prinsip fungsi social, mewajibkan setiap individu atau badan hukum wajib memelihara tanah,menambah kesuburan,mencegah terjadinya kerusakan,sehingga tanah bermanfaat untuk kesejahteraan rakyat.akibatnya banyak timbul slogan “banyak orang tidak memiliki tanah dan sedikit orang menguasai banyak tanah”. Undang-Undang Dasar 1945 pasal 33 ayat 3 telah menyatakan bahwa “bumi dan air dan kekayaan alam yang terkandung didalamnya dikuasai oleh Negara dan dipergunakan sebesar-besarnya untuk kemakmuran rakyat”. Secara filososfis pasal 1 ayat 3 Undang Undang No. 5 Tahun 1960 tentang Peraturan Dasar Pokok-Pokok Agraria (UUPA) menyatakan bahwa hubungan antara bangsa Indonesia dan bumi, air serta ruang angkasa termaksud dalam ayat (2) pasal ini adalah hubungan yang bersifat abadi. Hal itu berarti bahwa hubungan antara bangsa Indonesia dengan bumi, air, dan kekayaan yang terkandung didalamnya bukan hanya berhubungan dengan generasi saat ini saja, melainkan juga untuk generasi yang akan datang. Oleh karena itu sumber daya alam yang ada harus dijaga dan dimanfaatkan sebaik mungkin, sebab jika suber daya tersebut dalam hal ini hak

atas tanah tidak dilaksanakan sesuai peruntukan dan tujuan dari hak atas tanah tersebut. Maka hak atas tanah tersebut akan dicabut dan dikategorikan sebagai tanah terlantar sehingga Negara akan mengambil alih hak atas tanah tersebut menjadi tanah Negara. Secara yuridis ketentuan mengenai tanah terlantar ternyata dalam pasal 27, 34, dan 40 UUPA . hal inilah yang melatarbelakangi pemilihan judul “Pengalihan Hak Atas Tanah Terlantar dengan Studi Kasus PT Wanawisata Alam Hayati” 1.2. Rumusan Masalah Penelantaran tanah di pedesaan dan perkotaan, selain merupakan tindakan yang tidak bijaksana, tidak ekonomis (hilangnya peluang untuk mewujudnyatakan potensi ekonomi tanah), dan tidak berkeadilan, serta juga merupakan pelanggaran terhadap kewajiban yang harus dijalankan para Pemegang Hak atau pihak yang telah memperoleh dasar penguasaan tanah. Penelantaran tanah juga berdampak pada terhambatnya pencapaian berbagai tujuan program pembangunan, rentannya ketahanan pangan dan ketahanan ekonomi nasional, tertutupnya akses sosial-ekonomi masyarakat khususnya petani pada tanah, serta terusiknya rasa keadilan dan harmoni sosial. Negara memberikan hak atas tanah atau Hak Pengelolaan kepada Pemegang Hak untuk diusahakan, dipergunakan, dan dimanfaatkan serta dipelihara dengan baik selain untuk kesejahteraan bagi Pemegang Haknya juga harus ditujukan untuk kesejahteraan masyarakat, bangsa dan negara. Ketika Negara memberikan hak kepada orang atau badan hukum selalu diiringi kewajiban-kewajiban yang ditetapkan dalam Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1960 tentang Peraturan Dasar Pokok-Pokok Agraria dan surat keputusan pemberian haknya. Karena itu Pemegang Hak dilarang menelantarkan tanahnya, dan jika Pemegang Hak menelantarkan tanahnya, Peraturan Dasar Pokok-Pokok Agraria telah mengatur akibat hukumnya yaitu hapusnya hak atas tanah yang bersangkutan dan pemutusan hubungan hukum serta ditegaskan sebagai tanah yang dikuasai langsung oleh Negara. Bagi tanah yang belum ada hak atas tanahnya, tetapi ada dasar penguasaannya, penggunaan atas tanah tersebut harus dilandasi dengan

sesuatu hak atas tanah sesuai Pasal 4 juncto Pasal 16 Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1960 tentang Peraturan Dasar Pokok-Pokok Agraria. Oleh karena itu orang atau badan hukum yang telah memperoleh dasar penguasaan atas tanah, baik dengan pengadaan tanah itu dari hak orang lain, memperoleh penunjukan dari pemegang Hak Pengelolaan, karena memperoleh izin lokasi, atau memperoleh keputusan pelepasan kawasan hutan berkewajiban memelihara tanahnya, mengusahakannya dengan baik, tidak menelantarkannya, serta mengajukan permohonan untuk mendapatkan hak atas tanah. Meskipun yang bersangkutan belum mendapat hak atas tanah, apabila menelantarkan tanahnya maka hubungan hukum yang bersangkutan dengan tanahnya akan dihapuskan dan ditegaskan sebagai tanah yang dikuasai langsung oleh Negara. Permasalahan mengenai tanah terlantar ini merupakan problematika mengenai peruntukan tanah maupun penguasaan atas tanah. Sebagaimana kita ketahui bahwa UUPA belum menjelaskan secara rinci deskripsi mengenai penelantaran tanah yang dimaksud, bahkan Peraturan Pemerintah No.36 Tahun 1998 Juncto Peraturan Pemerintah No.11 Tahun 2010 yang belum juga memberikan batasan-batasan yang jelas mengenai penetapan suatu tanah yang telah diberi hak penguasaan atas tanah kepada subyek hukum oleh pemerintah sebagai regulator. Dari uraian di atas, penyusun dapat mengemukakan beberapa permasalahan sebagai berikut : 1. Apakah tanah terlantar itu, dan bagaimanakah sebidang tanah dapat dikategorikan sebagai tanah terlantar? 2. Bagaimanakah sistematika peralihan hak penguasaan atas tanah menjadi tanah terlantar yang dikuasai langsung oleh negara? 1.3. Tujuan Penulisan Tujuan penulisan makalah ini adalah sebagai berikut: 1. Untuk mengetahui penyebab permasalahan terjadinya penelantaran tanah. 2. Untuk mengetahui cara peralihan hak penguasaan atas tanah terlantar.

3. Untuk memberi pemahaman terhadap hak penguasaan atas tanah beserta batas-batas penetapan suatu hak penguasaan atas tanah. 1.4. Metode dan Teknik Penulisan Metode dan teknik penulisan yang digunakan dalam penulisan karya tulis ini adalah metode studi pustaka. Studi pustaka dilakukan untuk mendapatkan data dan informasi yang bersifat teoritis yang kemudian data tersebut akan dijadikan dasar atau pedoman untuk melihat adanya ketidaksesuaian antara teori dengan kenyataan sebagai penyebab dari permasalahan yang dibahas dalam karya tulis ini. Sumber – sumber yang dijadikan sebagai rujukan untuk studi pustaka diperoleh dari berbagai sumber bacaan. Baik itu buku maupun situs – situs yang ada di internet.

BAB II PEMBAHASAN

2.1.

Tinjauan Umum Mengenai Penguasaan Secara etimologi penguasaan berasal dari kata “kuasa” yang berarti kemampuan atau kesanggupan untuk berbuat sesuatu, kuatan atau wewenang atas sesuatu untuk menentukan (memerintah, mewakili, mengurus dan sebagainya) sesuatu itu, sedangkan “penguasaan” dapat diartikan sebagai suatu proses, cara, perbuatan menguasai atau kesanggupan untuk menggunakan sesuatu (Kamus Besar Bahasa

Indonesia). Jadi menurut bahasa, penguasaan atas tanah dapat diartikan sebagai proses, cara atau perbuatan untuk menguasai sebidang tanah yang berisikan wewenang dan kesanggupan dalam menggunakan dan memanfaatkannya untuk kelangsungan hidup. Pengertian penguasaan dan menguasai dapat dipakai dalam arti fisik juga dalam arti yuridis. Dalam arti fisik secara nyata pemegang hak menguasai tanah (tanah dalam penguasaan). Penguasaan dalam arti yuridis, dilandasi oleh “hak” yang dilindungi oleh hukum dan umumnya member kewenangan kepada pemegang hak untuk menguasai secara fisik tanah yang menjadi haknya. Tetapi ada juga penguasaan yuridis yang biarpun member kewenangan untuk menguasai tanah haknya secara fisik, pada kenyataannya penguasaan fisiknya dilakukan pihak lain. Dalam hal ini peran hukum menjadi sangat penting peranannya untuk memutuskan, apakah penguasaan seseorang terhadap benda, termasuk tanah, akan memperoleh perlindungan hukum atau tidak. Oleh karena penguasaan bersifat faktual, maka ukuran untuk memberikan perlindungan hukum pun bersifat faktual pula, nyata-nyata barang itu berada di bawah kekuasaannya.
2.1.1. Hak Penguasaan Atas Tanah

Hak penguasaan atas tanah adalah suatu hubungan hukum yang memberi wewenang untuk berbuat sesuatu kepada subyek hukum (orang / badan hukum) terhadap obyek hukumnya, yaitu tanah yang dikuasainya. Dalam konteks penguasaan hak atas tanah, penguasaan yang telah memperoleh pengakuan dan perlindungan hukum disebut sebagai penguasaan dalam arti yuridis, yaitu penguasaan yang dilandasi hak, dilindungi oleh hukum dan umumnya memberikan kewenangan kepada pemegang hak untuk menguasai secara fisik tanah yang dihaki. Penguasaan masyarakat terhadap tanah merupakan sebuah keniscayaan, hal ini menjadi sangat penting artinya karena tanah

merupakan sumber hidup dan kehidupan manusia. Dari segi kehidupan masyarakat Indonesia yang sampai sekarang masih bercorak agraris, maka hubungan antara manusia dengan tanah sampai saat ini masih menunjukan adanya pertalian yang erat. Hal ini dirasa wajar, karena selama hayatnya manusia mempunyai hubungan dengan tanah, baik sebagai tempat tinggal maupun sebagai sumber makanan juga penghasilan untuk kelangsungan hidupnya. Tabel Hak dan Kewajiban Penerima (Pemegang) Hak Atas Tanah dalam Pengelolaan Pertanahan Hak Kewajiban 1. Mempergunakan tanahnya sesuai dengan jenis hak atas tanah yang dimilikinya, yaitu: a) Hak milik : member kewenangan kepada pemegang hak secara turun temurun mempergunakan tanahnya untuk berbagai jenis keperluan dengan jangka waktu yang tidak terbatas; b) Hak Guna Usaha : memberi kewenangan kepada pemegang hak untuk mempergunakan tanah negara untuk keperluan pertanian, perikanan dan peternakan dalam jangka waktu tertentu; c) Hak Guna Bangunan : member kewenangan kepada pemegang hak untuk mendirikan bangunan di atas tanah negara atau milik orang lain selama jangka waktu tertentu; d) Hak Pakai : member kewenangan kepada pemegang hak untuk menggunakan atau memungut hasil dari tanah negara atau tanah milik orang lain dalam jangka waktu tertentu e) Hak Pengelolaan : memberi kewenangan yang lebih luas kepada pemegang daripada hak untuk 1. Hak atas tanah mempunyai fungsi sosial. Hak atas tanah tidak dibenarkan apabila hanya dipergunakan semata-mata untuk kepentingan pribadinya, apalagi kalau hal tersebut merugikan masyarakat. Penggunaan dan pemanfaatan tanah haruslah disesuaikan dengan keadaan dan sifat haknya, sehingga bermanfaat bagi kesejahteraan masyarakat dan negara. Namun demikian tidaklah berarti hak-hak individu dari pemegang hak atas tanah menjadi berkurang, akan tetapi antara hak dan kewajiban haruslah terjadi keseimbangan dalam pelaksanaannya. 2. Kewajiban pemeliharaan tanah. Kewajiban yang diatur dalam Pasal 15 UUPA berkaitan dengan fungsi social hak atas tanah, yaitu bahwa berhubungan dengan fungsi sosialnya, adalah hal yang wajar suatu bidang tanah harus dipelihara dengan sebaik-baiknya, agar bertambah kesuburannya serta dicegah kerusakannya. Kewajiban ini tidak hanya dibebankan kepada pemiliknya, tetapi juga merupakan

mempergunakan sendiri tanah negara yang dikuasainya atau memberikannya kepada pihak lain atas dasar perjanjian antara pemegang hak dengan pihak ketiga 2. hak atau kewenangan untuk mempergunakan tanah tersebut meliputi juga sebagian tubuh bumi yang ada di bawahnya dan sebagian ruang yang ada di atasnya, dalam batas-batas tertentu dan sepanjang hal tersebut dipergunakan untuk kegiatan yang berhubungan dengan jenis hak atas tanah yang dimilikinya. 3. hak atau kewenangan lainnya: a) mengalihkan hak atas tanahnya kepada pihak lain b) membebani tanahnya dengan hak tanggungan c) mewariskan tanahnya kepada ahli warisnya d) membuat wasiat atas tanahnya e) menghibahkan tanahnya kepada pihak lain f) Mewakafkan tanahnya sesuai ketentuan peraturan perundangundangan.

kewajiban bagi setiap orang, badan hukum atau instansi yang mempunyai hubungan hukum dengan tanah. 3. Pembatasan luas maksimum penguasaan tanah. Penetapan maksimum dan minimum yang dapat dimiliki oleh perorangan dalam satu keluarga telah ditetapkan dalam Pasal 7 dan17 UUPA yang ditindaklanjuti dengan UU No. 56 Prp. Tahun 1960 tentang Penetapan Luas Tanah Pertanian, sedangkan untuk badan hukum sementara mengacu pada Peraturan Menteri Negara graria/Kepala BPN Nomor 2 Tahun 1999 tentang Ijin Lokasi. 4. Larangan penguasaan tanah secara absentee (guntai). Prinsip dasar yang melatarbelakangi pengaturan norma larangan penguasaan tanah secara absentee adalah bahwa tanah pertanian wajib dikerjakan sendiri oleh pemiliknya dan pengelolaan tanah pertanian tersebut hanya dapat didayagunakan secara maksimal apabila dikerjakan secara aktif oleh pemiliknya, sehingga ditetapkan suatu ketentuan bahwa pemilik tanah pertanian harus bertempat tinggal di wilayah kecamatan tempat lokasi tanah tersebut berada. 5. Penggunaan tanah harus sesuai dengan RT/RW. Pemberian hak atas tanah pada dasarnya memberi wewenang kepada pemegang hak untuk mempergunakan tanahnya Sesuai dengan keadaan, sifat dan tujuan pemberiannya. Dalam memberikan hak atas tanah kepada perorangan atau badan hukum harus sesuai dengan kondisi dan tata ruang wilayah setempat, agar penggunaan dan pemanfaatan suatu bidang tanah tetap dilaksanakan dalam kerangka menjaga keharmonisan dan

kelestarian lingkungan. 6. Larangan penelantaran tanah. Dalam UUPA telah diatur secara tegas bahwa pemegang hak atas tanah yang menelantarkan tanahnya, tanahnya hapus karena hukum dan tanahnya menjadi tanah yang dikuasai langsung oleh negara. Tindak lanjut dari ketentuan tersebut telah dikeluarkan dengan terbitnya PP No. 36 tahun 1998 dan Keputusan Kepala BPN No. 24 tahun 2002 yang mengatur langkah penertiban dan pendayagunaantanah terlantar. 2.1.2. Macam Hak Penguasaan Atas Tanah A. Hak penguasaan atas tanah yang mempunyai kewenangan khusus yaitu kewenangan yang bersifat public dan perdata, yang meliputi antara lain : • • • Hak Bangsa Indonesia (pasal 1 UUPA) Hak Menguasai Negara (pasal 2 UUPA) Hak Ulayat Pada Masyarakat Adat (pasal 3 UUPA)

B. Hak penguasaan atas tanah yang member kewenangan yang

bersifat umum yaitu kewenangan di bidang perdata dalam penguasaan dan penggunaan tanah sesuai dengan jenis-jenis hak atas tanah yang diberikan (hak perorangan atas tanah) yang terdiri dari : • Hak atas tanah orisinil atau primer, yaitu hak atas tanah yang bersumber pada hak bangsa Indonesia dan yang diberikan oleh Negara dengan cara memperolehnya melalui permohonan hak. Hak atas tanah yang termasuk hak primer adalah :  Hak Milik  Hak Guna Bangunan  Hak Guna Usaha  Hak Pakai

 Hak Pengelolaan • Hak atas tanah derivative atau sekunder, yaitu hak atas tanah yang tidak langsung bersumber kepada hak bangsa Indonesia pemilik adalah :  Hak Guna Bangunan  Hak Pakai  Hak Sewa  Hak Usaha Bagi Hasil  Hak Gadai  Hak Menumpang • Hak jaminan atas tanah, yaitu hak penguasaan atas tanah yang tidak memberikan wewenang kepada pemegangnya untuk apabila menggunakan pemilik tanah yang dikuasainya (debitur) tetapi memberikan wewenang untuk menjual lelang tanah tersebut tanah tersebut melakukan wanprestasi. dan diberikan dengan pemilik calon tanah dengan hak cara yang memperolehnya melalui perjanjian pemberian hak antara tanah pemegang bersangkutan. Hak atas tanah yang termasuk sekunder

2.2.

Fungsi Sosial Tanah Ketentuan Pasal 6 Undang-Undang Pokok Agraria menyebutkan bahwa : “Semua hak atas tanah mempunyai fungsi sosial”. Hal tersebut menjelaskan bahwa hak atas tanah apapun yang ada pada seseorang, tidaklah dapat dibenarkan bahwa tanahnya itu akan dipergunakan atau tidak dipergunakan semata-mata untuk kepentingan pribadinya, apalagi

kalau hal itu menimbulkan kerugian bagi masyarakat luas. Dalam arti bahwa tanah tidak hanya berfungsi bagi pemegang hak atas tanahnya saja tetapi juga bagi bangsa Indonesia seluruhnya, dengan konsekuensi bahwa penggunaan hak atas sebidang tanah juga harus meperhatikan kepentingan masyarakat. Penggunaan tanah harus disesuaikan dengan keadaan dan sifat daripada haknya sehingga bermanfaat baik bagi kesejahteraan dan kebahagian yang mempunyainya maupun bermanfaat pula bagi masyarakat dan Negara. Namun hal tersebut bukan berarti kepentingan seseorang terdesak oleh kepentingan masyarakat atau Negara, dan diantara dua kepentingan tersebut haruslah seimbang. 2.3. Tinjauan Umum Mengenai Tanah Terlantar Tanah terlantar adalah tanah yang diterlantarkan oleh pemegang hak atas tanah, pemegang Hak Pengelolaan atau pihak yang telah memperoleh dasar penguasaan atas tanah tetapi belum memperoleh hak atas tanah sesuain ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku. (Pasal 1 ayat (5) PP No.36 Tahun 1998 tentang Penertiban dan Pendayagunaan Tanah Terlantar).
2.3.1. Menurut UUPA (UU NO.5 Tahun 1960)

Sebagaimana

tercantum

didalam

fungsi

UUPA

yang

menghapuskan dualisme hukum tanah yang lama dan menciptakan unifikasi serta kodifikasi teradap hukum tanah Nasional yang didasarkan kepada hukum tanah adat yang bersifat komunalistik religius, hal ini memiliki maksud bahwa penguasaan tanah bersama memungkinkan penguasaan tanah secara individu dengan hak-hak atas pribadi dengan memperhatikan unsur kebersamaan didalam pelaksanaan daripada hak-hak individual tersebut. Hukum agrarian nasional bercirikan pengelolaan sumber daya tanah untuk kesejahteraan rakyat. Alasan filosofisnya bahwa tanah merupakan karunia Tuhan kepada manusia untuk diusahakan dan dikelola

demi memenuhi kebutuhan hidupnya, agar tercapai kesejahteraan dan kemakmuran bersama dengan berkeadilan. Jadi dapat dikatakan bahwa adanya kewajiban bagi individu untuk mengerjakan atau mengusahakan tanah dengan sebaikbaiknya sesuai dengan apa yang telah ditentukan atau sesuai dengan tujuan dari hukum Agraria Nasional itu. Berdasarkan hakekat yang ada pada UUPA semua pihak sudah seharusnya menjaga agar tanah tidak diterlantarkan. Beberapa ketentuan UUPA yang berkaitan dengan hal ini, dapat dikemukakan sebagai berikut:
1. Hak milik atas tanah hapus bila tanahnya jatuh kepada

Negara karena diterlantarkan. (Pasal 27 poin a. 3). Penjelasan Pasal 27 menyatakan, “Tanah diterlantarkan kalau dengan sengaja tidak dipergunakan sesuai dengan keadaannya atau sifat dan tujuan daripada haknya”. 2. Hak Guna Usaha hapus karena diterlantarkan (Pasal 34e). 3. Hak Guna Bangunan hapus karena diterlantarkan (Pasal 40e). Dari ketentuan-ketentuan tersebut di atas, menunjukkan bahwa setiap hak atas tanah yang diberikan atau diperoleh dari negara (HM; HGU; HGB) haknya hapus apabila diterlantarkan. Artinya terdapat unsur kesengajaan melakukan perbuatan tidak mempergunakan sesuai dengan keadaannya atau sifat dan tujuan dari pada haknya. 2.3.2. Peraturan Pemerintah Nomor 40 Tahun 1996 tentang Hak Guna Usaha, Hak Guna Bangunan Dan Hak Pakai Atas Tanah Negara Peraturan Pemerintah No. 40 Tahun 1996 tentang Hak Guna Usaha, Hak Guna Bangunan dan Hak Pakai atas tanah.

Dalam ketentuan Menimbang poin b Peraturan Pemerintah ini menyatakan: “bahwa oleh karena itu pengakuan penguasaan pemilikan dan penggunaan tanah perlu lebih diarahkan bagi semakin terjaminnya tertib di bidang hukum pertanahan, administrasi pertanahan, penggunaan tanah, ataupun pemeliharaan tanah dan lingkungan hidup, sehingga adanya kepastian hukum di bidang pertanahan pada umumnya dapat terwujud”. Dari ketentuan di atas pemerintah menegaskan kembali bahwa penguasaan tanah berdasarkan pada HGU, HGB, Hak Pakai dalam rangka pembangunan nasional, diarahkan untuk terjaminnya atau terwujudnya masyarakat yang adil dan makmur. Oleh karena itu Pasal-Pasal dalam PP No. 40 Tahun 1996 secara rinci dan jelas mengatur mengenai pemberian hak (HGU, HGB dan Hak Pakai), obyek hak, jangka waktu dan lamanya suatu hak, diberikan oleh negara kepada subyek hak. Apabila kewajiban pemegang hak tidak dilaksanakan maka berdasarkan ketentuan dalam Pasal 17e bahwa Hak Guna Usaha hapus karena diterlantarkan; Dalam penjelasannya dinyatakan sesuai dengan penjelasan yang ada dalam UUPA. Demikian juga tentang hapusnya HGB dalam Pasal 35e yang dinyatakan bahwa Hak Guna Bangunan hapus karena diterlantarkan. Untuk pemberian Hak Pakai, juga diikuti dengan ketentuan tentang hapusnya Hak Pakai. Dalam Pasal 55e dinyatakan bahwa, Hak Pakai hapus karena diterlantarkan. Hapusnya hak pakai tidak diatur oleh UUPA. Dari ketentuan-ketentuan yang telah disebutkan tentang hapusnya hak atas tanah (HGU, HGB, Hak Pakai) dapat disimpulkan bahwa PP No. 40 Tahun 1996 menggunakan istilah diterlantarkan, pengertian diterlantarkan mengikuti penjelasan dari UUPA tentang hapusnya HM, HGU, HGB. Sedangkan Hak Pakai tidak diatur adanya tanah diterlantarkan Hal yang perlu diperhatikan

selanjutnya adalah ketentuan Pasal 14 Ayat (3), Pasal 35 Ayat (2) PP No. 40 Tahun 1996 yang mengatakan, “Ketentuan lebih lanjut mengenai hapusnya HGB sebagaimana dimaksud dalam ayat 1 diatur dengan Keputusan Presiden”. 2.3.3. Peraturan Pemerintah No. 11 Tahun 2010 tentang Penertiban dan Pendayagunaan Tanah Terlantar Berkaitan dengan tanah – tanah yang tidak difungsikan, tidak diolah, tidak diusahakan, tidak dimanfaatkan sesuai dengan keadaan atau sifat dan tujuan haknya atau dasar penguasaannya, maka Pemerintah kemudian mengeluarkan Peraturan Pemerintah Nomor 11 tahun 2010 tentang Penertiban dan Pendayagunaan Tanah Terlantar (“PP Tanah Terlantar”). Peraturan ini diundangkan di Jakarta pada tanggal 22 Januari 2010 mulai berlaku pada tanggal diundangkannya. Maksud dari dikeluarkannya PP ini adalah untuk memaksimalkan penggunaan tanah dan menjadi acuan untuk penyelesaian penertiban dan pendayagunaan tanah terlantar. Obyek penertiban dari tanah terlantar meliputi tanah yang sudah diberikan hak oleh Negara berupa Hak Milik, Hak Guna Usaha, Hak Guna Bangunan, Hak Pakai, dan Hak Pengelolaan, atau dasar penguasaan atas tanah yang tidak diusahakan, tidak dipergunakan, atau tidak dimanfaatkan sesuai dengan keadaannya atau sifat serta tujuan (pasal 2 dari ) pemberian dengan hak atau dasar penguasaannya. ditetapkan ketentuan

pengecualian bahwa tidak termasuk sebagai obyek penertiban tanah terlantar adalah (pasal 3) : 1. Tanah Hak Milik atau HGU yang secara tidak sengaja tidak dipergunakan sesuai keadaan atau sifat dan tujuan pemberian haknya.

2. Tanah yang dikuasai pemerintah, sudah berstatus maupun tidak berstatus milik Negara atau daerah yang tidak sengaja tidak dipergunakan sesuai dengan keadaan atau sifat dan tujuan pemberian haknya. Tanah Hak Milik atau HGU yang secara tidak sengaja tidak dipergunakan sesuai keadaan atau sifat dan tujuan pemberian haknya. Tanah yang dikuasai pemerintah, sudah berstatus maupun tidak berstatus milik Negara atau daerah yang tidak sengaja tidak dipergunakan sesuai dengan keadaan atau sifat dan tujuan pemberian haknya. 2.4. Sistematika Penetapan Tanah Terlantar

Tahap Identifikasi dan Penelitian (pasal 4 sampai dengan pasal

7 PP No.11 Tahun 2010 Tentang Penertiban dan Pendayagunaan tanah Terlantar) Identifikasi dan penelitian atas tanah yang teridentifikasi terlantar dilaksanakan oleh Panitia yang diatur oleh Kepala Badan Pertanahan Nasional ( Kepala BPN). Pengertian tanah yang teridentifikasi terlantar adalah tanah hak atau dasar penguasaan atas tanah yang tidak diusahakan, tidak dipergunakan, atau tidak dimanfaatkan sesuai dengan keadaan atau sifat dan tujuan pemberian hak atau dasar penguasaannya yang belum dilakukan identifikasi dan penelitian. Identifikasi dan penelitian dilaksanakan terhitung mulai 3 (tiga) bulan sejak diterbitkan Hak Milik, HGU, HGB, Hak Pakai atau sejak berakhirnya izin/keputusan/surat dasar penguasaan atas tanah dari pejabat yang berwenang. Kegiatan identifikasi dan penelitian tanah terlantar meliputi :

1. Nama dan alamat Pemegang Hak. 2. Letak, luas, status hak atau dasar penguasaan atas tanah dan keadaan fisik tanah yang dikuasai pemegang hak. 3. Keadaan yang mengakibatkan tanah terlantar.

Tahap Peringatan Kepada Pemegang Hak Atas Tanah (pasal 8

PP No.11 Tahun 2010 Tentang Penertiban dan Pendayagunaan tanah Terlantar) Apabila hasil dari laporan kegiatan identifikasi dan penelitian menyimpulkan terdapat tanah terlantar, maka Kepala Kantor Wilayah BPN akan memberitahukan dan sekaligus memberikan peringatan tertulis pertama kepada pemegang hak atas tanah agar dalam jangka waktu 1 (satu) bulan sejak tanggal diterbitkannya peringatan tertulis pertama tersebut, menggunakan tanahnya sesuai keadaanya atau menurut sifat dan tujuan pemberian haknya atau sesuai izin/keputusan/surat sebagai dasar penguasaannya. Apabila pemegang hak tidak melaksanakannya, maka akan diberikan lagi peringatan tertulis kedua sampai peringatan tertulis ketiga dengan jangka waktu yang sama seperti peringatan tertulis pertama. Dalam surat peringatan pertama pertama, kedua dan ketiga perlu disebutkan hal-hal yang secara konkret harus dilakukan oleh pemegang hak dan sanksi yang dapat dijatuhkan apabila pemegang hak tidak mengindahkan atau tidak melaksanakan peringatan tersebut. Dan apabila tanah tersebut dibebani hak tanggungan, maka surat peringatan tertulis tersebut juga diberitahukan kepada pemegang hak tanggungan. Konsekuensi yang diterima dari pengabaian ketiga surat peringatan tertulis ini adalah Kepala Kantor Wilayah BPN mengusulkan kepada Kepala BPN untuk menetapkan tanah yang bersangkutan sebagai tanah terlantar.

Tahap Penetapan Tanah Terlantar Kepala BPN akan menetapkan tanah terlantar berdasarkan

usulan Kepala Kantor Wilayah BPN dan menyatakan tanah terlantar tersebut dalam keadaan status quo sejak tanggal pengusulan. Tanah yang dinyatakan dalam keadaan status quo sebagaimana dimaksudkan diatas tidak dapat dilakukan perbuatan hukum atas bidang tanah tersebut sampai diterbitkan penetapan tanah terlantar yang memuat juga penetapan hapusnya hak atas tanah, sekaligus memutuskan hubungan hukum serta ditegaskan sebagai tanah yang dikuasai oleh negara. Dalam hal tanah yang akan ditetapkan sebagai tanah terlantar merupakan tanah hak, penetapan tanah terlantar memuat juga penetapan hapusnya hak atas tanah, sekaligus memutuskan hubungan hukum serta ditegaskan sebagai tanah yang dikuasai langsung oleh negara. Sedangkan dalam hal tanah yang akan ditetapkan sebagai tanah terlantar adalah tanah yang telah diberikan dasar penguasaan, penetapan tanah terlantar memuat juga pemutusan hubungan hukum serta penegasan sebagai tanah yang dikuasai langsung oleh negara. Terhadap tanah yang ditetapkan sebagai tanah terlantar yang merupakan keseluruhan hamparan, maka Kepala BPN memutuskan penghapusan hak atas tanah dan pemutusan hubungan hukum dan ditegaskan menjadi tanah yang dikuasai langsung oleh negara. Apabila tanah yang ditetapkan sebagai tanah terlantar merupakan sebagian hamparan yang diterlantarkan, maka hak atas tanahnya dihapuskan, diputuskan hubungan hukumnya dan ditegaskan menjadi tanah yang dikuasai langsung oleh negara dan selanjutnya kepada bekas pemegang hak atas tanah diberikan kembali atas bagian tanah

yang benar-benar diusahakan, dipergunakan, dan dimanfaatkan sesuai dengan keputusan pemberian haknya. Bekas pemegang hak atas tanah wajib untuk mengosongkan benda – benda di atas tanah yang ditetapkan sebagai tanah terlantar dalam jangka waktu 1 (satu) bulan sejak penetapan tersebut. Dan dalam hal apabila bekas pemegang hak atas tanah tidak melaksanakan kewajiban tersebut, maka benda-benda di atas tanah tersebut tidak lagi menjadi miliknya dan dikuasai langsung oleh negara. 2.5. Akibat Hukum Tanah Yang Diterlantarkan Akibat hukum apapun yang ditimbulkan dari tanah yang

diterlantarkan oleh pemegang haknya, harus tetap memperhatikan hakhak pemegang hak atas tanah tersebut. untuk itu dalam menyelesaikan permasalahan ini tidak boleh men-generalisasikan tanah-tanah yang diterlantarkan tanpa melihat sebab-sebab tanah tersebut diterlantarkan. Dalam hal ini PP. No. 36 Tahun 1998, pasal 11 ayat (2) menentukan bahwa tanah yang dimiliki perorangan yang diterlantarkan karena faktor ekonomi memiliki perbedaan akibat hukum dengan tanah yang diterlantarkan karena memang tidak digunakan sesuai dengan keadaannya atau menurut sifat dan tujuan pemberian haknya (pasal 11 ayat (3) huruf b), begitu juga dengan tanah yang diterlantarkan yang dimiliki oleh suatu badan hukum. Akibat hukum yang ditimbulkan dari tanah perorangan yang diterlantarkan karena faktor ekonomi memberikan hak kepada pemegang hak atas tanah terhadap pembinaan dalam mendayagunakan tanahnya, sedangkan akibat hukum dari tanah yang dimiliki suatu badan hukum atau perorangan yang diterlantarkan atau digunakan tidak sesuai dengan

keadaannya atau sifat pemberian haknya dapat menyebabkan hapusnya atau beralihnya hak atas tanah kedalam penguasaan negara. Namun untuk sampai pada penetapan bahwa tanah diterlantarkan, negara tidak serta merta menetapkan tanpa memberikan kesempatan waktu kepada perorangan atau badan hukum untuk segera menggunakan tanah sesuai dengan keadaannya atau menurut sifat dan tujuan pemberian haknya. dalam hal ini badan hukum dan perorangan yang bersangkutan diberikan kesempatan untuk hal tersebut diatas dengan adanya peringatan 1 sampai dengan peringatan iii, dimana masingmasing peringatan berlaku satu tahun. Selain hal tersebut didalam PP No 36 tahun 1998 juga memberikan perlindungan hukum lain bagi pemegang hak atas tanah, yaitu adanya pemberian hak ganti rugi atas tanah yang telah dikuasai negara denganganti rugi sebesar harga perolehan yang telah dibayar oleh yang bersangkutan, harga yang diberikan juga dengan memperhatikan biaya yang telah dikeluarkan untuk membuat prasarana fisik di atas tanah yang diterlantarkan. Namun dengan terbitnya PP No. 11 Tahun 2010 tentang Penertiban dan Pendayagunaan Tanah Terlantar yang tercantum dalam klausula BAB VII Ketentuan Penutup pasal 19 yang mengatakan bahwa “Pada saat Peraturan Pemerintah ini mulai berlaku, Peraturan Pemerintah Nomor 36 Tahun 1998 tentang Penertiban dan Pendayagunaan Tanah Terlantar dan peraturan pelaksanaannya dicabut dan dinyatakan tidak berlaku”. Tentunya hukum hal ini menjadi polemik hak tersendiri atas terhadap tidak perlindungan kepada pemegang tanah

sebagaimana tercantum didalam peraturan sebelumnya. Berkaitan dengan perlindungan hukum terhadap pemilik hak atas tanah yang diterlantarkan, perlu kiranya dipertegas mengenai kriteria tanah terlantar, sehingga jelas tanah-tanah mana yang termasuk tanah

terlantar yang pada akhirnya akan memberikan jaminan kepastian hukum kepada pemiliknya. Kriteria tanah terlantar ini dapat ditemukan dengan cara mensistematisasi unsur-unsur yang ada dalam tanah terlantar, kemudian menyusunnya dalam struktur hukum tanah nasional. Adapun unsur-unsur yang ada pada tanah terlantar: 1. Adanya pemilik atau pemegang hak atas tanah (subyek) 2. Adanya tanah hak yang diusahakan/atau tidak (obyek) 3. Adanya tanah yang teridentifikasi telah menjadi hutan kembali atau kesuburannya tidak terjaga. 4. Adanya jangka waktu tertentu dimana tanah menjadi tidak produktif. 5. Adanya perbuatan yang sengaja tidak menggunakan tanah. 6. Status tanah kembali kepada hak ulayat atau kepada negara. .

BAB III PENUTUP

Hak penguasaan atas tanah adalah suatu hubungan hukum yang memberi wewenang untuk berbuat sesuatu kepada subyek hukum (orang / badan hukum) terhadap obyek hukumnya, yaitu tanah yang dikuasainya. Di dalam penguasaan atas tanah ada 2 macam yakni : A. Hak penguasaan atas tanah yang bersifat khusus yaitu : • • • • Hak Bangsa Indonesia (pasal 1 UUPA) Hak Menguasai Negara (pasal 2 UUPA) Hak Ulayat Pada Masyarakat Adat (pasal 3 UUPA) Hak atas tanah orisinil atau primer, yaitu hak atas tanah yang bersumber pada bangsa Indonesia dan yang diberikan oleh Negara dengan cara

B. Hak penguasaan atas tanah yang bersifat umum yaitu : hak •

memperolehnya melalui permohonan hak. Hak atas tanah derivative atau sekunder, yaitu hak atas tanah yang tidak langsung bersumber kepada hak bangsa Indonesia dan diberikan pemilik tanah dengan cara memperolehnya melalui perjanjian pemberian hak antara pemilik tanah dengan calon pemegang hak yang bersangkutan • Hak jaminan atas tanah, yaitu hak penguasaan atas tanah yang tidak memberikan wewenang kepada pemegangnya untuk menggunakan tanah yang dikuasainya tetapi memberikan wewenang untuk menjual lelang tanah tersebut apabila pemilik tanah tersebut (debitur) melakukan wanprestasi. Tanah tidak hanya untuk sebagai tempat hidup dan berkembangnya makhluk hidup tetapi tanah juga memiliki peranan terpenting bagi kegunaan dan pemanfaatannya, di dalam Undang-Undang Pokok Agraria pasal 6 menyebutkan bahwa tanah memiliki fungsi sosial yang dimana tanah tersebut tidak hanya berguna bagi si pemilik tanah saja tapi bagi sekitarnya. Tanah yang tidak terurus atau tanah terlantar adalah tanah yang diterlantarkan oleh pemegang hak atas tanah, pemegang Hak Pengelolaan atau pihak yang telah memperoleh dasar penguasaan atas tanah tetapi belum memperoleh hak atas tanah sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Dalam hal ini Peraturan Pemerintah No. 11 Tahun 2010 tentang Penertiban dan Pendayagunaan Tanah

Terlantar, obyek didalam penertiban tanah terlantar yakni tanah yang sudah diberikan hak oleh Negara berupa : 1. Hak Milik (Hak milik atas tanah hapus bila tanahnya jatuh kepada Negara karena diterlantarkan. (UUPA Pasal 27 poin a. 3) 2. Hak Guna Usaha (Hak Guna Usaha hapus karena diterlantarkan (UUPA Pasal 34e) 3. Hak Guna Bangunan (Hak Guna Bangunan hapus karena diterlantarkan (UUPA Pasal 40e) 4. Hak Pakai, dan 5. Hak Pengelolaan Kriteria tanah terlantar ini dapat ditemukan dengan cara mensistematisasi unsurunsur yang ada dalam tanah terlantar, kemudian menyusunnya dalam struktur hukum tanah nasional. Adapun unsur-unsur yang ada pada tanah terlantar: 1. Adanya pemilik atau pemegang hak atas tanah (subyek) 2. Adanya tanah hak yang diusahakan/atau tidak (obyek) 3. Adanya tanah yang teridentifikasi telah menjadi hutan kembali atau kesuburannya tidak terjaga. 4. Adanya jangka waktu tertentu dimana tanah menjadi tidak produktif. 5. Adanya perbuatan yang sengaja tidak menggunakan tanah. 6. Status tanah kembali kepada hak ulayat atau kepada negara. Didalam kasus adanya perselisihan antara PT. WAH (Wanawisata Alam Hayati) dengan Pansus Trawangan dan BPN Lombok Barat yang dimana PT. WAH tersebut telah menelantarkan tanahnya, didalam klausula perjanjian pemberian hak atas tanah dengan pemerintah PT. WAH memiliki jangka waktu membangun hotel melati dengan 35 kamar dalam 1 tahun. Tapi, adanya suatu kelalaian dalam menjalankan tugas dan tujuannya PT. WAH tidak dapat menyelesaikan apa yang menjadi kehendak dan tujuan diberikannya hak atas tanah oleh pemerintah dan telah menelantarkan (menyianyiakan) tanahnya, Sehingga dengan sendirinya, HGB PT. WAH itu batal. Kata Ketua Pansus Trawangan Jasman Hadi dan BPN Lombok Barat. Temuan pada tahun 2003, di atas lahan itu ternyata ada perumahan seluas 40 are, dan 1,1 hektare sejenis bungalow. Di dalam lahan itu juga ditemukan 10 orang

warga yang tinggal. Temuan ini membuktikan bahawa adanya unsur pembagian tanahtanah, tanah HGB yang diberikan haknya oleh Negara saat pemberian haknya kepada PT WAH telah diperjanjikan bahwa hak atas tanah tersebut tidak dapat dibagi-bagi . Di dalam UUPA Hak Guna Bangunan memiliki jangka waktu paling lama 30 tahun dan dapat diperpanjang selama 20 tahun. Tapi, HGB dapat di hapuskan karena adanya suatu unsur yakni : a. Jangka waktunya berakhir b. Dihentikan sebelum jangka waktunya berakhir karena sesuatu syarat tidak dipenuhi c. Dilepaskan oleh pemegang haknya sebelum jangka waktunya berakhir; d. Dicabut untuk kepentingan umum e. Diterlantarkan f. Tanahnya musnah Di dalam hal ini, point b dan point e yang memperkuat alasan kenapa panitia khusus (Pansus) serta pihak BPN menetapkan lahan tersebut batal demi hukum serta memutuskan Hak Guna Bangunan PT.WAH yang tidak berjalan sesuai dengan tujuan dan kegiatannya. Walaupun di dalam ketentuan UUPA HGB memiliki jangka waktu paling lama 30 tahun dan dapat diperpanjang selama 20 tahun, tapi, bisa kita lihat dalam kasus PT. WAH ini memiliki izin membangun hotel dengan 35 kamar dalam jangka waktu 1 tahun sejak diterbitkannya HGB tahun 1996 dan kenyataanya tujuan dari pemberian hak atas tanah tersebut belum tercapai sampai waktu yang ditentukan oleh pemerintah, melainkan pada tahun 2003 di temukannya 10 keluarga yang bertempat tinggal di dalam lahan tersebut. Dengan demikian, PT.WAH telah membagibagikan lahan tersebut dan dapat dikatakan bahwa PT. WAH wan prestasi terhadap perjanjian dengan pemerintah. Tidak hanya itu saja lahan tersebut tidak dimanfaatkan, digunakan, dan di olah sebaik mungkin melainkan ditelantarkan.

Sebagai pemegang hak atas tanah seyogyanya mengurus dan memperhatikan tanahnya sesuai dengan tujuannya, di Indonesia banyak ketidak jelasan tanah/lahan sehingga timbulnya sengketa antara pemerintah dan masyarakat. Banyak masyarakat yang memiliki modal besar hanya menguasai lahan secara yuridis saja, namun penguasaan lahan secara fisik tidak terlaksana sehingga tanah diterlantarkan. Sebagaimana halnya tertera pada pasal 6 UUPA mengenai fungsi sosial tanah, tentunya tanah yang terlantarkan tersebut mencederai rasa keadilan masyarakat yang hingga saat ini banyak masyarakat belum memiliki tanah sehingga tujuan pelaksanaan dari landreform tidak terlaksana yaitu redistribusi tanah kepada segenap bangsa Indonesia sehingga tercapainya tujuan Negara dalam konstitusi kita (pasal 33 ayat 3 UUD 1945) Daftar Pustaka

Undang-undang Negara Republik Indonesia No. 5 Tahun 1960 tentang Peraturan Dasar Pokok-pokok Agraria. Peraturan Pemerintah No. 36 Tahun 1998 tentang Penertiban dan Pendayagunaan Tanah Terlantar. Peraturan Pemerintah No. 11 Tahun 2010 tentang Penertiban dan Pendayagunaan Tanah Terlantar. Peraturan Pemerintah No. 40 Tahun 1996 tentang Hak Guna Usaha, Hak Guna Bangunan, dan Hak Pakai Atas Tanah. Peraturan Kepala Badan Pertanahan Nasional No. 4 Tahun 2010 tentang Tata Cara Penertiban Tanah Terlantar. Hutagalung.Arie.S, S.H. dkk. 2001. Asas-asas Hukum Agraria. Jakarta. http://d5er.wordpress.com/2011/03/10/kebijakan-tanah-terlantar/

http://isjd.pdii.lipi.go.id/admin/jurnal/17108153164.pdf http://joeharry-serihukumbisnis.blogspot.com/2009/06/penyelesaian-masalah-tanahterlantar.html http://lombokpost.co.id/index.php?option=com_k2&view=item&id=3472:mengarahpada-tanah-terlantar&Itemid=543

Lampiran Kamis, 12 May 2011 10:30

Mengarah Pada Tanah Terlantar
Hasil Pertemuan Pansus dengan BPN TANJUNG—Panitia Khusus (Pansus) Trawangan terus mengumpulkan bukti dan keteranganketerangan terkait sengketa yang terjadi di Trawangan. Kemarin siang, Pansus memanggil pihak Badan Pertanahan Nasional (BPN) untuk sharing informasi terkait persoalan di Trawangan. Dari pertemuan itu, kesimpulannya akan mengarah pada pemberian status terlantar atas tanah yang dikuasai PT Wanawisata Alam Hayati (WAH). Dalam pertemuan yang juga berjalan alot selama dua jam sejak pukul 12.00 hingga pukul 14.00 wita itu, Pansus Trawangan dan BPN Lombok Barat (Lobar) yang diwakili oleh H Darman saling berbagi data. Kedua belah pihak ini samasama memaparkan berbagi dokumen, temuan lapangan dan bukti-bukti lainnya. ‘’Salah satu poin penting di sini, pihak PT WAH tidak mampu mengerjakan seperti apa yang diamanatkan pada izin mereka itu,’’ kata Ketua Pansus Trawangan Jasman Hadi. Dalam izin yang diberikan, PT WAH akan membangun hotel melati dengan 35 kamar. Namun hingga saat ini, PT WAH tidak mampu melakukan itu. Sehingga dengan sendirinya, HGB PT WAH itu batal. ‘’Satu tahun setelah mendapatkannya itu, PT WAH harus membangun sesuai

dengan izinnya,’’ katanya. Pada kesempatan tersebut, Jasman juga mempertajam tentang klaim tanah seluas 75 hektare yang menjadi milik Pemerintah Provinsi NTB. Hak Pengelolaan Lahan (HPL) yang menjadi dasar pemprov itu patut dipertanyakan. Dari HPL itu pulah lah pemprov NTB melakukan perjanjian dengan investor dalam hal ini PT GTI untuk mengelola lahan. Namun faktanya lahan itu juga ditelantarkan. Sementara itu menyikapi tawaran PT WAH untuk membagi-bagi tanah yang ada di Trawangan itu dinilai Jasman sebagai sebuah pelanggaran. Sebagai pihak yang hanya memegang HGB, PT WAH hanya diperkenankan untuk mengerjakan sesuai dengan ketentuan di HGB itu, yaitu membangun hotel melati. ‘Tidak boleh membagi-bagi tanah,’’ kata politisi Hanura ini. Dari perwakilan BPN yang diwakili oleh Koordinator Pengaturan dan Penataan Pertanahan di KLU H Darman juga membenarkan jika tanah HGB itu tidak bisa dibagi-bagikan sebagai opsi yang selama ini diberikan PT WAH. ‘’PT WAH mendapat izin untuk membangun hotel melati, bukan untuk membagi-bagi tanah,’’ kata pria berjenggot ini. Dalam kesempatan tersebut, H Darman mengatakan tidak menyalahkan pihak siapa pun dalam persoalan tanah di Trawangan maupun di kawasan pariwisata lainnya di KLU. Persoalan di Trawangan khususnya PT WAH itu merupakan bagian kecil dari persoalan pertanahan yang ada. Menjawab pertanyaan terkait dengan dokumen-dokumen PT WAH, H Darman mengatakan perusahaan tersebut sudah melalui prosedur. Namun fakta di lapangan setelah berjalan beberapa tahun, ada temuan yang menjadi catatan BPN terkait realisasi izin yang pernah dikeluarkan itu. Dituturkan, pada tahun 2003 BPN Lobar turun untuk memantau kondisi dilahan yang diberikan izin pada PT WAH. Seperti diketahui, tahun 1996 PT WAH diberikan izin HGB untuk membangun hotel melati dengan 35 kamar. Temuan pada tahun 2003 itu, di atas lahan itu ternyata ada perumahan seluas 40 are, dan 1,1 hektare sejenis bungalow. Di dalam lahan itu juga ditemukan 10 orang warga yang tinggal. ‘’Izinnya untuk membangun hotel melati,’’ katanya. Dalam temuan itu memang PT WAH tidak dapat menjalankan sebagaimana yang disebutkan dalam izin. Dengan kondisi seperti itu, dengan menggunakan PP Nomor 11 tahu 2010, maka tanah tersebut bisa diusulkan menjadi tanah terlantar. Anggota Pansus Trawangan Ardianto mengatakan, dalam fakta empirik di lapangan sejak awal PT WAH sudah menelantarkan lahan itu. Sudah jelas disebutkan bahwa PT WAH harus membangun dalam jangka waktu 1 tahun. ‘’Tanah itu ditelantarkan oleh PT WAH,’’ katanya. (fat)

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->