faktor pengambilan operasi

Status kesehatn fisik merupakan faktor yang sangat penting bagi pasien yang akan mengalami pembedahan, keadaan

umum yang baik akan

mendukungh dan mempengaruhi proses penyembuhan. Sebaliknya, berbagai kondisi fisiologis dapat mempengaruhi proses pembedahan. Demikian juga faktor usia/penuaan dapat mengakibatkan komplikasi dan merupakan faktor resiko pembedahan. Oleh karena itu sangatlah penting u ntuk mempersiapkan fisik pasien sebelum dilakukan pembedahan/operasi. Faktor resiko terhadap pembedahan antara lain: 1. Usia Pasien dengan usia yang terlalu muda (bayi/anak -anak) dan usia lanjut mempunyai resiko lebih besar. Hal ini diakibatkan cadangan fisiologis pada usia tua sudah sangat menurun . sedangkan pada bayi dan anak-anak disebabkan oleh karena belu m matur-nya semua fungsi organ.

2. Nutrisi Kondisi malnutris dan obesitas/kegemukan lebih beresiko terhadap pembedahan dibandingakan dengan orang normal dengan gizi baik terutama pada fase penyembuhan. Pada orang malnutisi maka orang tersebut mengalami de fisiensi nutrisi yang sangat diperlukan untuk proses penyembuhan luka. Nutrisi -nutrisi tersebut antara lain adalah protein, kalori, air, vitamin C, vitamin B kompleks, vitamin A, Vitamin K, zat besi dan seng (diperlukan untuk sintesis protein).

Pada pasien yang mengalami obesitas. Selama pembedahan jaringan lemak, terutama sekali sangat rentan terhadap infeksi. Selain itu, obesitas meningkatkan permasalahan teknik dan mekanik. Oleh karenanya dehisiensi dan infeksi luka, umum terjadi. Pasien obes sering sulit dirawat karena tambahan berat badan; pasien bernafas tidak optimal saat berbaring miring dan karenanya mudah mengalami hipoventilasi dan komplikasi pulmonari pascaoperatif. Selain itu,

Pasien yang mendapat terapi kortikosteroid beresiko mengalami insufisinsi adrenal. yang akan meningkatkan tekanan darah sistemiknya. seperti dibetes mellitus yang tidak terkontrol. bahaya utama yang mengancam hidup pasien saat dilakukan pembedahan adalah terjadinya hipoglikemia yang mungkin terjadi selama pembiusan akibat agen anstesi. endokrin. 5. sperti gangguan ginjal dan hepar yang akan meningkatkan resiko pembedahan. Penyakit Kronis Pada pasien yang menderita penyakit kardiovaskuler. Pada kasus kecelakaan lalu . 3. 4. flebitis dan kardiovaskuler. PPOM. diabetes. terutama terjadi arterosklerosis pembuluh darah. Alkohol dan obat -obatan Individu dengan riwayat alkoholi k kronik seringkali menderita malnutrisi dan masalah-masalah sistemik. Bahaya lain yang mengancam adalah asidosis atau glukosuria. Dan j uga pada penyakit ini banyak masalah sistemik yang mengganggu sehingga komplikasi pembedahan maupun pasca pembedahan sangat tinggi. Penggunaan oabat -obatan kortikosteroid harus sepengetahuan dokter anastesi dan dok ter bedahnya. dan insufisiensi ginjal menjadi lebih sukar terkait dengan pemakian energi kalori untuk penyembuhan primer. Atau juga akibat masukan karbohidrat yang tidak adekuat pasca operasi atau pemberian insulin yang berlebihan. Ketidaksempurnaan respon neuroendokrin Pada pasien yang mengalami gangguan fungsi endokrin. hepatik dan penyakit biliari terjadi lebih sering pada pasien obes.distensi abdomen. Merokok Pasien dengan riwayat merokok biasanya akan mengalami gangguan vaskuler. 6.

CT scan (computerized Tomography Scan). maka dokte r bedah tidak meungkin bisa menentukan tindakan operasi yang harus dilakukan pada pasien. dan hasil pemeriksaan radiologi berupa foto thoraks dan EKG. seperti : Foto thoraks. elektrolit serum. Hemoglobin. CIL (Colon . laboratorium maupun pemeriksaan lain seperti ECG. namun tergantung pada jenis penyakit dan operasi yang dijalani oleh pasien). MRI (Magnrtic Resonance Imagine). Cystoscopy. II. Setelah dokter bedah memutuskan untuk dilakukan operasi maka dokter anstesi berperan untuk menentukan apakan kondisi pasien layak menjalani operasi. Mammografi. Maka sebelum dilakukan operasi darurat perlu dilakukan pengosongan lambung untuk menghindari asprirasi dengan pemasang an NGT. Untuk itu dokter anastesi juga memerlukan berbagai macam pemrikasaan laboratorium terutama pemeriksaan masa perdarahan (bledding time) dan masa pembekuan (clotting time) darah pasien. USG (Ultra Sono Grafi). Dibawah ini adalah berbagai jenis pemeriksaan penunjang yang sering dilakukan pada pasien sebelum operasi (tidak semua jenis pemeriksaan dilakukan terhadap pasien. protein darah. BNO-IVP. Sebelum dokter mengambil k eputusan untuk melakukan operasi pada pasien. Renogram. Pemeriksaan penunjang yang dimaksud adalah berbagai pemeriksaan radiologi. dokter melakukan berbagai pemeriksaan terkait dengan keluhan penyakit pasien sehingga dokter bisa menyimpulkan penyakit yang diderita pasien.lintas yang seringkali dialami oleh pemabuk. foto tulang (daerah fraktur). Pemeriksaan Radiologi dan diagnostik. PERSIAPAN PENUNJANG Persiapan penunjang merupakan bagian yang tidak dapat dipisahkan dari tindakan pembedahan. abdomen. Tanpa adanya hasil pemeriksaan penunjang. dan lain -lain. Peme riksaan penunjang antara lain : a.

CT BT. EKG/ECG (Electro Cardio Grafi). c. Sebelum dilakukan anastesi demi kepentingan pembedahan. LED (laju enap darah).in Loop). natrium. dll. b. jumlah trombosit. dll. Uji KGD biasanya dilakukan dengan puasa 10 jam (puasa jam 10 malam dan diambil darahnya jam 8 pagi) dan juga dilakukan pemeriksaa n KGD 2 jam PP (ppst prandial). angka leukosit. EEG (Electro Enchephalo Grafi). PEMERIKSAAN STATUS ANASTESI Pemeriksaaan status fisik untuk dilakukan pembiuasan dilakukan untuk keselamatan selama pembedahan. Biopsi biasanya dilakukan untuk memastikan apakah ada tumor ganas/jinak atau hanya berupa infeksi kronis saja. yaitu tindakan sebelum operasi berupa pengambilan bahan jaringan tubuh untuk memastikan penyakit pasien sebelum operasi. dan chlorida). ureum kretinin. pasien akan mengalami pemeriksaan status fisik yang diperlukan untuk menilai sejauh mana resiko pembiusan terhadap diri pasien. protein total (albumin dan globulin). limfosit. d. Bisa juga dilakukan pemeriksaan pada sumsun tulang jika penyakit terkaut dengan kelainan darah. peredaran darah dan sistem saraf. ECHO. Pemeriksaan Kadar Gula Darah (KGD). berupa pemeriksan darah : hemoglobin. elektrolit (kalium. Biopsi. Pemeriksaan ini dilakukan karena obat dan teknik anastesi pada umumnya akan mengganggu fungsi pernafasan. . Berikut adalah tabel pemeriksaan ASA. Pemeriksaan Laboratorium. Pemeriksaan yang biasa digunakan adalah pemeriksaan dengan menggunakan metode ASA (American Society of Anasthesiologist). BUN. Pemeriksaan KGD dilakukan untuk mengetahui apakah kadar gula darah pasien dalan rentang normal atau tidak.

Misal: penderita dengan herinia ingunalis tanpa kelainan lain. hal lain yang sangat penting terkait dengan aspek hukum dan tanggung jawab dan tanggung gugat. operasi sekecil apapun mempunyai resiko. Baik pasien maupun keluarganya harus menyadari bahwa tindakan medis. yaitu Inform Consent. 50 INFORM CONSENT Selain dilakukannya berbagai macam pemeriksaan penunjang terhadap pasien. biokimia dan psikiatri.5 IV Penyakit/gangguan sistemik berat yang menbahayakan jiwa yang tidak selalu dapat diperbaiki dengan pembedahan. 4. pembedahan dilakukan sebagai pilihan terakhir. . misalnya penderita diabetes mellitus dengan komplikasi pembuluh darah dan datang dengan appendisitis akut. Meskipun mengandung resiko tinggi tetapi seringkali tindakan operasi tidak dapat dihindari dan merupakan satu -satunya pilihan bagi pasien. penderita dengan bronkitis dan penderita dengan diabetes mellitus ringan yang akan mengalami appendiktomi 0. wajib menuliskan surat pernyataan persetujuan dilakukan tindakan m edis (pembedahan dan anastesi).ASA grade Status Fisik Mortality (%) I Tidak ada gangguan organik. Misal: penderita dengan obesitas. mis alnya : insufisiensi koroner atau infark miokard 25 V Keadaan terminal dengan kemungkinan hidup kecil.05 II Gangguan sistemik ringan sampai sedang yang bukan diseababkan oleh penyakit yang akan dibedah. Oleh karena itu setiap pasien yang akan menjalani tindakan medis. orang tua s ehat.4 III Penyakit sistemik berat. Misal: penderita syok berat karena perdarahan akibat ke hamilan di luar rahim pecah. bayi muda yang sehat 0.

kepatuhan terhadap pengobatan. Berikut ini merupakan contoh f orm inform consent : PERNYATAAN PERSETUJUAN TINDAKAN MEDIS/OPERASI NAMA PASIEN : (L/P) No. Bahkan seringkali pasien dapat pulang kembali ke rumah dalam keadaan sehat tanpa komplikasi atau resiko apapun segera setelah mengalami operasi. maka pasien atau orang yang bertanggung jawab terhdap pasien wajib untuk menandatangani surat pernyataan persetujuan operasi. . pembedahan serta pembiusan yang akan dijalani. cukup istirahat. Artinya apapun tindakan yang dilakukan pada pasien terkait dengan pembedahan. Hal ini sangat penti ng untuk dilakukan karena jika tidak meka penyesalan akan dialami oleh pasien/keluarga setelah tindakan operasi yang dilakukan ternyata tidak sesuai dengan gambaran keluarga.Dan dalam kondisi nyata. RM : UNIT RAWAT : Saya yang bertnda tangan di bawah ini : Nama : «««««««««. Pasien maupun keluarganya sebelum menandatangani surat pernyataan tersut akan mendapatkan informasi yang de tail terkait dengan segala macam prosedur pemeriksaan. keluarga mengetahui manfaat dan tujuan serta segala resiko dan konsekuensinya. maka pihak pasien/keluarganya berhak untuk menanyakan kembali sampai betul betul paham. Tentunya hal ini terkait dengan berbagai faktor seperti: kondisi nutrisi pasien yang baik. Inform Consent sebagai wujud dari upaya rumah sakit menjunjung tinggi aspek etik hukum. tidak semua tindakan operasi mengakibatkan komplikasi yang berlebihan bagi klien. Jika petugas belum menjelaskan secara detail. kerjasama yang baik dengan perawa t dan tim selama dalam perawatan.

3. ______________________ _______________________________ (tanda tangan dan nama lengkap) (tanda tangan dan nama lengkap) coret yang tidak perlu . Saya juga mengerti dan memahami tujuan dan kemungkinan resiko akibat pembiusan yang dapat terjadi sehingga bi la terjadi sesuatu diluar kemampuan dokter sebagai manusia ddan dalam batas batas etik kedokteran sehingga terjadi kematian/kecacatan pada pasien maka saya tidak akan menuntut siapapun baik dokter maupu Rumah sakit. 2. Alamat : ««««««««« Suami/istri/ayah/ibu /keluarga dari pasien yang bernama : ««««««««««««««««««««««««««««««. Saksi dari keluarga. tahun Jenis kelamin : «««««. Suami/istri/ayah/ibu /keluarga ____________________________________________________ (tanda tangan dan nama lengkap) (tanda tangan dan nama lengkap) Saksi dari Rumah Sakit. 1. ««««««««2007 Mengetahui. Saya juga menyetujui dilakukannya tindakan pembiusan baik lokal maupun umum dalam kaitannya dengan tindakan medis/operasi tersebut. Dokter yang merawat. Yogyakarta.Umur : «««««««««. Saya yang menyatakan. Saya mengerti dan memahami tujuan serta resiko/komplikasi yang mungkin terjadi dari tindakan medis/operasi yang dilakukan terhadap pasien dan oleh karena itu bila terjadi sesuatu diluar kemapuan dokter sebagai manusia dan dalam batas -batas etik kedokteran sehingga terjadi kematian/kecacatan pada pasien maka saya tidak akan menuntut siapapun baik dokter maupun R umah Sakit. Menyatakan SETUJU/TIDAK SETUJU bahwa pasien tersebut akan dilakukan tindakan medis operasi dalam rangka penyembuhan pasien..

Long) Contoh perubahan fisiologis yang muncul akibat kecemasan/ketakutan antara lain: 1. sehingga operasi terpaksa harus ditunda Setiap orang mempunyai pandangan yang berbeda dalam menghadapi pengalaman operasi sehingga akan memb erikan respon yang berbeda pula. . Takut/cemas mengalami kondisi yang dama dengan orang lan yan g mempunyai penyakit yang sama. Berbagai alasan yang dapat menyebabkan ketakutan/kecemasan pasien dalam meng hadapi pembedahan antara lain : a. Pasien dengan riwayat hipertensi jika mengalami kecemasan sebelum operasi dapat mengakibatkan pasien sulit tidur dan tekanan darahnya akan meningkat sehingga operasi bisa dibat alkan. Tindakan pembedahan merupakan ancaman potensial maupun aktual pada integeritas seseorang yang dapat membangkitkan reaksi stres fisiologis maup un psikologis (Barbara C. Takut terjadi perubahan fisik. 2.III. Takut keganasan (bila diagno sa yang ditegakkan belum pasti) d. akan tetapi sesungguhnya perasaan takut dan cemas selalu dialami setiap orang dalam menghadapi pembedahan. PERSIAPAN MENTAL/PSIKIS Persiapan mental merupakan hal yang tidak kalah pentingnya dalam proses persiapan operasi karena mental pasien yang tidak siap atau labil dapat berpengaruh terhadap kondisi fisiknya. Pasien wanita yang terlalu cemas menghadapi operasi dapat mengalami menstruasi lebih cepat dari biasanya. menjadi buruk rupa dan tida k berfungsi normal (body image) c. Takut nyeri setelah pembedahan b.

sulit tidur. Disamping itu perawat perlu mengkaji hal -hal yang bisa digunakan untuk membantu pasien dalam menghadapi masalah ketakutan dan kecemasan ini. g. Persiapan mental yang kurang memadai dapat mempengaruhi pengambilan keputusan pasien dan keluarganya. ROM. post operasi) ‡ Pengetahuan tentang latihan -latihan yang harus dilakukan sebelum operasi dan harus dijalankan setalah operasi. telapak tangan yang lembab.e. intra. batuk efektif. Untuk mengurangi dan mengatasi kecemasan pasien. gelisah. Takut/ngeri menghadapi ruang operasi. gerakan -gerakan tangan yang tidak terkontrol. perawat dapat menanyakan hal -hal yang terkait dengan per siapan operasi. tingkat perkemb angan pasien. dll. Ketakutan dan kecemasan yang mungkin dialami pasien dapat dideteksi dengan adanya perubahan -perubahan fisik seperti: meningkatnya frekuensi nadi dan pernafasan. sering berkemih. menayakan pertanyaan yang sama berulang kali. Takut operasi gagal. Perawat perlu mengkaji mekan isme koping yang biasa digunakan oleh pasien dalam menghadapi stres. antara lain : ‡ Pengalaman operasi sebelumnya ‡ Pengertian pasien tentang tujuan/alasan ti ndakan operasi ‡ Pengetahuan pasien tentang persiapan opera si baik fisik maupun penunjang. ‡ Pengetahuan pasien tentang situasi/kondisi kamar ope rasi dan petugas kamar operasi. Takut mati saat dibius/tidak sadar lagi. seperti adanya orang terdekat. pe ralatan pembedahan dan petugas. Sehingga tidak jarang pasien menolak operasi yang sebelumnya telah disetujui dan biasanya pasien pulang . f. seperti : latihan nafas da lam. ‡ Pengetahuan pasien tentang prosedur (pre. faktor pendukung/support system.

tanpa operasi dan beberapa hari kemudian datang lagi ke rumah sakit setalah merasa sudah siap dan hal ini berarti telah menunda operasi yang mestinya sudah dilakukan beberapa hari/minggu yang lalu. Membantu pasien mengetahui tentang tindakan -tindakan yang dialami pasien sebelum operasi. dll. Kehadiran dan keterlibatan keluarga sangat mendukung persiapan mental pasien. meskipun demikian ada keluarga yang tidak menghendaki pasien mengetahui tentang berbagai hal yang terkait dengan operasi yang akan dialami pasien. perawat akan menjelaskan kapan mulai puasa dan samapai kapan. dan jika diambil darahnya. Gunakan bahasa yang sederhana dan jelas. manfaatnya untuk apa. Dan memberi . memberikan doa dan dukungan pasien dengan kata -kata yang menenangkan hati pasien dan meneguhkan keputusan pasien untuk menjala ni operasi. Memberi kesempatan pada pasien dan keluarganya untuk menanyakan tentang segala prosedur yang ada. Dengan mengetahui berbagai informasi selama operasi maka diharapkan pasien mejadi lebih siap menghadapi operasi. Diharapkan dengan pemberian inf ormasi yang lengkap. Misaln ya: jika pasien harus puasa. Persiapan mental dapat dilakukan dengan bantuan keluarga dan perawat. menunju kkan tempat kamar operasi. dll. memberikan informasi pada pasien tentang waktu operasi. 2. Peranan perawat dalam memberikan dukungan mental dapat dilakukan dengan berbagai cara: 1. pasien perlu diberikan penjelasan tujuan dari pemeriksaan darah yang dilakukan. Memberikan penjelasan terlebih dahulu sebelum setiap tindakan persiapan operasi sesuai dengan tingkat perkembangan. hal -hal yang akan dialami oleh pasien selama proses operasi. Oleh karena itu persiapan mental pasien menjadi hal yang penting untuk diperhatikan dan didukung oleh keluarga/orang terdekat pasien. Keluarga hanya perlu mendampingi pasien sebelum operasi. kecemasan yang dialami oleh pasien akan dapat diturunkan dan mempersiapkan mental pasien dengan ba ik 3.

Pada saat pasien telah berada di ruang serah terima pasien di kamar operasi. . Kolaborasi dengan dokter terkait dengan pemberian obat pre medikasi. Untuk memberikan ketenangan pada pasien. petugas kesehatan di situ akan memperkenalkan diri sehingga membuat pasien merasa lebih tenang. Mengoreksi pengertian yang saah tentang tindakan pembedahan dan hal-hal lain karena pengertian yang salah akan menimb ulkan kecemasan pada pasien. keluarga juga diberikan kesempatn untuk mengantar pasien samapi ke batas kamar operasi dan diperkenankan untuk menunggu di ruang tunggu yang terletak di depan kamar operasi. seperti valium dan diazepam tablet sebelum pasien tidur untuk menurunkan kecemasan dan pasien dapat tidur sehingga kebutuhan istirahatnya terpenuhi.kesempatan pada pasien dan keluarga untuk berdoa bersama sama sebelum pasien di antar ke kamar operasi. 4. 5.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful