P. 1
Makalah DETEKTOR LOGAM

Makalah DETEKTOR LOGAM

|Views: 2,229|Likes:
Published by Bakhtiyar Sierad
Pembuatan detektor logam tidaklah sesukar yang dibayangakan. Sensor pendeteksi logam saat ini sudah banyak yang menggunakan mikrokontroller untuk memberikan fungsi-fungsi pengaturan yang khusus. Hal ini tentunya akan meningkatkan kenyamanan dalam penggunaan detektor logam dalam pencarian logam yang diinginkan. Disini akan dibahas mengenai pembuatan detektor logam yang menggunakan dan tidak menggunakan mikrokontroller namun cukup efektif dalam mendeteksi logam, walaupun tidak pada semua logam. Yang paling penting, mudah dibuat dan cukup efektif pada penggunaanya
Pembuatan detektor logam tidaklah sesukar yang dibayangakan. Sensor pendeteksi logam saat ini sudah banyak yang menggunakan mikrokontroller untuk memberikan fungsi-fungsi pengaturan yang khusus. Hal ini tentunya akan meningkatkan kenyamanan dalam penggunaan detektor logam dalam pencarian logam yang diinginkan. Disini akan dibahas mengenai pembuatan detektor logam yang menggunakan dan tidak menggunakan mikrokontroller namun cukup efektif dalam mendeteksi logam, walaupun tidak pada semua logam. Yang paling penting, mudah dibuat dan cukup efektif pada penggunaanya

More info:

Published by: Bakhtiyar Sierad on Jun 06, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

12/18/2014

pdf

text

original

DETECTOR LOGAM

Dosen :Santi Anggraeni
Adalah sebuah alat yang digunakan untuk mendeteksi adanya benda logam pada suatu tempat dan dapat diembangkan untuk pendeteksian beberapa jenis logam yang berbeda sesuai tingkat magnetic yang diterima detector.

Kelompok Dika Anggara S. Bakhtiyar Sierad Vicky Andreas
[Pick the date]

7110040003 7110040007 7110040027

Abst P buatan detekt l am tidaklah sesukar yang dibayangakan. Sensor pendeteksi

logam saat ini sudah banyak yang menggunakan mikrokontroller untuk memberikan fungsi-fungsi pengaturan yang khusus. Hal ini tentunya akan meningkatkan kenyamanan dalam penggunaan detektor logam dalam pencarian logam yang diinginkan Disini akan . dibahas mengenai pembuatan detektor logam yang menggunakan dan tidak menggunakan mikrokontroller namun cukup efektif dalam mendeteksi logam, walaupun tidak pada semua logam. Yang paling penting, mudah dibuat dan cukup efektif pada penggunaanya.

Blok Di gr m Rangkaian Detektor Logam Metode yang digunakan dalam proyek ini adalah metode beat frequency. Pada metode ini, jika sensor (berupa lilitan/search coil) berdekatan dengan logam maka karakteristik dari rangkaian osilator akan berubah. Perubahan karakteristik ini tentunya akan mengakibatkan perubahan frekuensi output dari rangkaian osilator tersebut.

Blok Diagram Detktor Logam dengan Mengguakan Metode Beat Frequency Ketika sinyal dengan frekuensi tertentu yang dihasilkan oleh rangkaian osilator padasearch coil oscilator di-mix dengan sinyal dari blok Beat Frequency Oscilator maka akan menghasilkan suatu sinyal dengan frekuensi selisih dari frekuensi keduanya dan sinyal ini dapat didengarkan oleh pendengaran manusia. Suara yang dihasilkan seperti suara µketukan¶ dengan irama tertentu dan sering dikenal sebagai beat note. Perubahan frekuensi tergantung pada ukuran logam yang dideteksi dan jarak antara sensor dengan logam yang dideteksi. Dan ketika irama beat ini telah dikuatkan dengan amplifier maka dapat dihubungkan ke sebuah spekaer kecil untuk mendengarkan irama beat yang dihasilkan.

Cara Kerja Rangkaian

Blok Osilator Sensor dan Osilator Beat

Pada gambar 2 merupakan skematik untuk blok rangkaian osilator sensor dan osilator beat serta rangkaian power supply sederhana. LM7805 digunakan untuk menstabilkan tegangan input 12VDC (dapat juga digunakan 9VDC) untuk menjadi tegangan stabil 5 volt. Tegangan stabil mutlak diperlukan karena jika terjadi perubahan tegangan maka osilator akan menghasilkan sinyal dengan frekuensi yang berbeda. Nilai kapasitor C1 dan C2 dapat dibuat lebih besar agar dapat menghilangkan noise yang ditimbulkan oleh tegangan supply. L2 merupakan komponen sensor yang berupa lilitan kawat tembaga dengan email dan bersama-sama dengan komponen VC1, C3, dan C4 membentuk rangkaian resonansi paralel yang frekuensi kerjanya ditentukan dari nilai komponen-komponen tersebut, dalam hal ini yang diharapkan menyebabkan perubahan frekuensi kerja adalah komponen L2. Rangkaian tune circuit berfungsi untuk melakukan tuning (menentukan frekuensi kerja) osilator yang dibentuk oleh TR1. C3 dan C4 sebenarnya mempunyai fungsi yang khusus yaitu sebagai capacitive tap yang menentukan nilai feedback untuk rangkaiantune circuit tanpa menghubungkan ke tap pada search coil. R2 digunakan untuk memberikan arus DC kepada TR1 agar dapat bekerja dengan normal. TR2, T1, R3, R4 dan C7 merupakan osilator yang kedua yang nantinya akan dicampur dengan sinyal yang dihasilkan oleh rangkaian osilator yang pertama. Pada blok osilator ini, frekuensi kerjanya diatur oleh T1, yang merupakan rangkaian tuning IF

standar yang menggunakan integral kapasitor di dalamnya. Komponen potensimeter VR1 digunakan untuk mengatur level dari sinyal yang dihasilkan oleh blok osilator search coil. Sampai di kolekor TR3, sinyal mixing yang masih cukup lemah perlu dikuatkan lagi dengan menggunakan sebuah operational amplifier. Dalam proyek ini menggunakan LM324. LM324 mempunyai 4 buah operational amplifier dalam satu kemasan IC. Suplai tenaganya harus sekitar 9 ± 12 VDC.

Rangkaian Penguat Sinyal

Sinyal beat, output pada kolektor TR3 masih cukup lemah begitu pula ketika sinyal ini masuk ke diode D1 (sekitar mV) dan masih belum cukup untuk menggerakkan transduser. Rangkaian R12, R13, dan C14 menghasilkan sebuah referensi tegangan bagi operational amplifier dalam menguatkan sinyal beat agar tegangan referensinya terletak pada tegangan Vin/2. Sedangkan R14 dan R15 digunakan untuk mengatur penguatan (gain) operational amplifier. Komponen VR2 digunakan untuk mengatur volume (volume control) melalui sebuah kapasitor decoupling C16. Begitu pula untuk blok rangkaian buffer, gambar 4, R17 dan R16 berfungsi untuk mengatur tegangan referensi penguatan agar terletak di tengah-tengah tegangan suplai yaitu Vin/2. pada rangkaian ini LM324 dikonfigurasikan sehingga hanya membentuk rangkaian voltage follower yang berfungsi sebagai buffer sinyal.

Blok Rangkaian Buffer

Jika juga dinginkan agar dapat dilihat levelnya dalam sebuah VU meter analog maka perlu ditambahkan sebuah rangkaian penyearah sederhana yang dibangun dengan menggunakan operational amplifier dan dioda D2, D3 seperti tampak pada gambar 5. Penggunaan VU meter penting ketika terjadinya µzero beat¶ dan juga dapat berfungsi sebagai indikator kondisi baterai, walaupun tidak menunjukkan nilai tegangan dari batterai. Penurunan tegangan baterai tentunya akan menurunkan level sinyal audio yang disearahkan sehingga level tegangan DC yang masuk ke VU meter akan turun pada kondisi yang sama. R23 digunakan untuk mengatur simpangan maksimum pada VU meter.

Blok Rangkaian VU meter Walaupun disain layout PCB tidak terlalu kritis, namun pada proyek ini menggunakan sinyal dengan frekuensi yang cukup tinggi sehingga perlu diterapkannya beberapa aturan. 1. Usahakan tidak membuat jalur PCB yang panjang dalam menghubungkan komponen ke komponen yang lain.

2. Jangan membuat jalur di bawah komponen, terutama komponen yang membentuk rangkaian osilator karena akan menyebabkan stray capacitance. 3. Penempatan komponen sebisa mungkin diletakkan berdekatan untuk setiap blok rangkaian. 4. Penempatan kapasitor decoupling frekuensi tinggi sedekat mungkin dengan komponen yang dimaksud (seperti TR1) untuk mengurangi noise dan menjaga kestabilan sistem.

Konstruksi Detektor Menggunakan IC TL(555)

Dengan adanya pemakaian IC 555 ini memudahkan untuk perakitan sebuah rangkaian detector, karena beberapa komponen dan beberapa block rangkaian akan disederhanakan dalam 1IC yaitu pembangkit gelombang 555. Sebuah Koin kuningan dengan jarak 70mm, atau koin 25mm sampai 120mm akan bisa terdeteksi oleh rangkaian ini. Kemampuan untuk menemukan koin yang tertanam di tanah tentu saja tergantung pada kondisi tanah, pasir , dan tanah liat Transmiter dibangkitkan oleh IC 555 dengan frekuensi 700Hz. Penyetabil frekuensi output ditentukan oleh komponen R4, R3 dan C3. Output pulsa keluar melalui TX(transmitter) kumparan L1 melalui seri R8 C4, pulsa yang dihasilkan oleh 555 akan merangsang kumparan dan menyebabkan osilasi resonansi frekuensi sekitar 10 kHz.

Setalah Kumparan dari L1(TX) memancarkan gelombang, maka bila ada logam, akan menyebabkab frekuensi yang diterima L2(RX) berubah. Input yang diterima akan dikuatakan oleh OP AMP TL081 melewati C11 dan R9. Setelah dari OP AMP sinyal akan diproses oleh IC2. Logika yang masuk dari OP AMP akan meberikan sinyal kapan buzzer akan menyala atau tidak. Fungsi dari potensiometer pada rangkaian ini adalah untuk membuat sensor menjadi peka atau tergantung kondisi sekitar.

Skema Rangkaian Detektor dengan IC555

Konstruksi Search Coil

Ada beberapa metode dalam membuat search coil. Search coil dapat dibentuk dengan menggunakan kawat tembaga yang mempunyai lapisan email sebanyak 25 lilitan dengan diameter 18 cm. Bentuk dari lilitannya dapat dilihat pada gambar 6. Untuk bentuk lilitan Double Dmempunyai karakteristik yang cukup baik dalam hal penunjukkan lokasi, mempunyai daerah pencarian yang cukup besar dan sensitivitas yang baik. Biasanya digunakan untuk detektor yang besar. Sedangkan lilitan isearch coil Biasanya digunakan untuk detektor yang besar. Sedangkan lilitan search coil yang berupa persegi panjang mempunyai daerah pencarian yang lebih sempit.

Konstruksi Search Coil

Pembuatan pelindung search coil dan penggunaan poros berputar tergantung dari kebutuhan karena setiap aplikasi membutuhkan bentuk dari pelindung yang berbeda. Frekuensi yang dihasilkan oleh rangkaian osilator search coil adalah sekitar 400KHz sampai 500KHz atau lebih sehingga nilai L1 (seach coil) perlu disesuaikan dengan kondisi ini. Jika jumlah lilitan pada search coil kurang/lebih dapat mempengaruhi kerja dari detektor logam ini. Pengaturan µzero beat¶ harus dilakukan pertama kali dengan cara mengatur T1 agar didapatkan suara ketukan, VR1 agar didapatkan kualitas suara yang paling baik. Sampai di sini T1 perlu di atur ulang (perlahan) sampai tidak didapatkan suara ketukan (beat). Kecepatan irama (pitch) dapat diatur dengan mengatur VC1. Dalam pengaturan VU meter, simpangan maksimal perlu diatur. Atur sehingga VC1 menghasilkan output sekitar 1KHz dan atur VR3 sehingga menghasilkan pembacaan yang maksimal. Ketika kondisi µzero beat¶ terjadi maka VU meter juga tidak terjadi simpangan.

Pustaka http://elektronika-elektronika.blogspot.com/2007/07/detektor-logam-bagian-2.html http://www.scribd.com/doc/5062329/detektor -metal http://www.google.co.id/images?um=1&hl=id&biw=1366&bih=631&tbm=isch&sa=1 &q=rangkaian+detektor+logam&aq=f&aqi=&aql=&oq = file://G:/Pengaman/artikel/30924534 -low-cost-metal-detector.doc

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->