You are on page 1of 9

Lembaga Hukum Islam Di Indonesia

A. PENGERTIAN LEMBAGA ISLAM

Sebelum masuk ke dalam pembahasan mengenai pengertian lembaga Islam, perlu di ketahui bahwa
ada beberapa istilah yang berhubungan dengan lembaga sosial atau lembaga kemasyarakatan.Istilah
lembaga kemasyarakatan merupakan terjemahan dari istilah asing social institution.Tetapi para
pakar menyatakan bahwa padanan dari istilah trsebut adalah pranata sosial, karena merujuk pada
adanya unsur-unsur yang mengatur tingkah laku masyarakat. Selain itu juga ada ahli ilmu sosial yang
menggambarkan padanan lain yaitu bangunan sosial, terjemahan dari bahasa Jerman Soziale
Gebilde.

Sedangkan pranata sosial adalah suatu sistem tata kelakuan dan tata hubungan yang berpusat pada
aktivitas-aktivitas manusia untuk memenuhi kebutuhan mereka di dalam masyarakat.

Dari sedikit uraian diatas, maka dapat kita simpulkan bahwa istilah lembaga mengandung dua
pengertian, yaitu pranata yang mengandung arti norma atau sistem, dan bangunan yang
menggambarkan bentuk dan susunan institusi sosial.

Pembahasan yang lebih khusus lagi tentang lembaga Islam, bahwa pengertian Lembaga Islam adalah
sistem norma yang didasarkan pada ajaran Islam, yang sengaja diadakan untuk memenuhi
kebutuhan umat Islam yang sangat beragam mengikuti perkembangan zaman.Kebutuhan tersebut
diantaranya adalah kebutuhan keluarga, kebutuhan pendidikan, kebutuhan hukum, kebutuhan
ekonomi, politik, sosial, dan budaya.

B. FUNGSI LEMBAGA ISLAM DI INDONESIA

Secara umum, lembaga Islam memiliki beberapa fungsi pokok, diantaranya adalah :

1. Memberikan pedoman pada anggota masyarakat muslim tentang bagaimana mereka harus
bersikap dalam menghadapi berbagai masalah yang timbul dan berkembang di masyarakat,
terutama kebutuhan yang menyangkut kebutuhan pokok.

2. Memberikan pegangan kepada masyarakat bersangkutan dalam melakukan pengendalian sosial


menurut sistem tertentu yaitu sistem pengawasan tingkah laku para anggotanya.

3. Menjaga keutuhan masyarakat.

Dari beberapa fungsi yang melekat pada lembaga sosial tersebut di atas, jelas bahwa apabila
seseorang hendak mempelajari dan memahami masyarakat tertentu, maka ia harus memperhatikan
dengan seksama lembaga yang terdapat dalam masyarakat yang bersangkutan.
Negara Indonesia adalah negara yang mayoritas penduduknya beragama Islam, yang kurang
lebih 88,09% mengaku beragama Islam. Oleh karena itu, untuk memahami tingkah laku masyarakat
yang ada di Indonesia, seyogyanya harus dipelajari dan di perhatikan dengan seksama mengenai
lembaga-lembaga Islam yang mempengaruhi bahkan menentukan pola tingkah laku dan sikap hidup
umat Islam.Dan perlu di garis bawahi bahwa tanpa adanya pembelajaran yang baik mengenai
lembaga-lembaga Islam, orang tidak mungkin dapat memberikan penilaian yang benar tentang umat
Islam.

Perlu kita ketahui bahwa kesalahan para ahli ilmu sosial dari Barat yang meneliti kemudian menulis
tentang umat Islam terletak pada kenyataan bahwa mereka pada umumnya tidak memahami
lembaga Islam yang bersumber dari ajaran Islam. Selain itu, metode yang mereka pergunakan tidak
selaras dengan ajaran Islam, karena tradisi dan filsafat yang mereka kembangkan dipengaruhi oleh
dua aliran pikiran, yaitu aliran Liberalis Kapitalis dan aliran Marxis.

Aliran kapitalis liberalis adalah aliran yang mengutamakan benda dan hanya bersifat duniawi
saja.Akal pikiran serta perasaan manusia yang dikembangkan secara bebas dan otonom oleh aliran
ini diputuskan hubungannya dengan sumber samawi yaitu sumber yang berasal dari Tuhan.

Aliran yang berpaham sekuler ini melepaskan diri dari agama.Hal ini tentu saja tidak sesuai dengan
Islam yang lembaganya bersumber dari ajaran agama Islam.

Aliran yang kedua yaitu aliran Marxis adalah aliran yang tumbuh dan kemudian menolak aliran
pertama yang liberalis kapitalis dan sekuler serta menolak segala sesuatu yang bersangkut paut
dengan Tuhan, agama, dan akhirat.

Dari kenyataan diatas, maka diperlukan metodologi yang selaras dengan ajaran Islam, yang tidak
bertentangan dengan ajaran Islam dan sejalan dengan sumber ajaran Islam. Perkembangan
selanjutnya, melihat hal-hal tersebut maka banyak metodologi yang dikembangkan oleh para sarjana
muslim sendiri.

Karena fungsinya yang sangat penting dalam masyarakat, dahulu lembaga Islam di perkenalkan
melalui kurikulum perguruan tinggi. Sebagai contoh yaitu pada Sekolah Tinggi Hukum yang didirikan
pada tahun 1925 di Batavia memasukkan lembaga Islam kedalam kurikulumnya dengan
namaMohammedansche Recht Instellingen van den Islam, yang artinya adalah Hukum Islam dan
Lembaga-lembaga Islam. Selain itu juga dahulu Sekolah Tinggi Hukum atau Recht Hogescool yang
menjadi cikal bakal Fakultas Hukum serta Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) dengan sadar
mencantumkan lembaga-lembaga Islam di dalam kurikulumnya

dengan maksud agar mereka yang bekerja di Hindia Belanda yang penduduknya beragama Islam
dapat memahami tingkah laku masyarakat Islam.

Dari sini dapat kita lihat dengan jelas betapa pentingnya lembaga-lembaga Islam. Di Indonesia
terdapat beberapa lembaga hukum islam, diantaranya adalah:

1. MAJELIS ULAMA INDONESIA


A. PENGERTIAN

Majelis Ulama Indonesia adalah wadah atau majelis yang menghimpun para ulama, zuama dan
cendekiawan muslim Indonesia untuk menyatukan gerak dan langkah-langkah umat Islam Indonesia
dalam mewujudkan cita-cita bersama. Majelis Ulama Indonesia berdiri pada tanggal, 7 Rajab 1395 H,
bertepatan dengan tanggal 26 Juli 1975 di Jakarta, sebagai hasil dari pertemuan atau musyawarah
para ulama, cendekiawan dan zu'ama yang datang dari berbagai penjuru tanah air.

Momentum berdirinya MUI bertepatan ketika bangsa Indonesia tengah berada pada fase
kebangkitan kembali, setelah 30 tahun merdeka, di mana energi bangsa telah banyak terserap dalam
perjuangan politik kelompok dan kurang peduli terhadap masalah kesejahteraan rohani umat.Dalam
perjalanannya, selama dua puluh lima tahun, Majelis Ulama Indonesia sebagai wadah musyawarah
para ulama, zu’ama dan cendekiawan muslim berusaha untuk:

1. Memberikan bimbingan dan tuntunan kepada umat Islam Indonesia dalam mewujudkan
kehidupan beragama dan bermasyarakat yang diridhoi Allah SWT.

2. Memberikan nasihat dan fatwa mengenai masalah keagamaan dan kemasyarakatan kepada
Pemerintah dan masyarakat, meningkatkan kegiatan bagi terwujudnya ukhwah Islamiyah dan
kerukunan antar-umat beragama dalam memantapkan persatuan dan kesatuan bangsa.

3. Menjadi penghubung antara ulama dan umaro (pemerintah).

4. Meningkatkan hubungan serta kerjasama antar organisasi, lembaga Islam dan cendekiawan
muslimin dalam memberikan bimbingan dan tuntunan kepada masyarakat khususnya umat Islam
dengan mengadakan konsultasi dan informasi secara timbal balik.

Sampai saat ini Majelis Ulama Indonesia mengalami beberapa kali kongres atau musyawarah
nasional, dan mengalami beberapa kali pergantian Ketua Umum, dimulai dengan Prof. Dr. Hamka,
KH. Syukri Ghozali, KH. Hasan Basri, Prof. KH. Ali Yafie dan kini KH. M. Sahal Mahfudz. Ketua Umum
MUI yang pertama, kedua dan ketiga telah meninggal dunia dan mengakhiri tugas-
tugasnya.Sedangkan dua yang terakhir masih terus berkhidmah untuk memimpin majelis para ulama
ini.

Di sisi lain umat Islam Indonesia menghadapi tantangan global yang sangat berat. Kemajuan sains
dan teknologi yang dapat menggoyahkan batas etika dan moral, serta budaya global yang didominasi
Barat, serta pendewaan kebendaan dan pendewaan hawa nafsu yang dapat melunturkan aspek
religiusitas masyarakat serta meremehkan peran agama dalam kehidupan umat manusia. Selain itu
kemajuan dan keragaman umat Islam Indonesia dalam alam pikiran keagamaan, organisasi sosial
dan kecenderungan aliran dan aspirasi politik, sering mendatangkan kelemahan dan bahkan dapat
menjadi sumber pertentangan di kalangan umat Islam sendiri.Akibatnya umat Islam dapat terjebak
dalam egoisme kelompok (ananiyah hizbiyah) yang berlebihan.Oleh karena itu kehadiran MUI, makin
dirasakan kebutuhannya sebagai sebuah organisasi kepemimpinan umat Islam yang bersifat kolektif
dalam rangka mewujudkan silaturrahmi, demi terciptanya persatuan dan kesatuan serta
kebersamaan umat Islam.
B. FUNGSI MAJELIS ULAMA INDONESIA

Terdapat lima fungsi dan peran utama MUI yaitu:

1. Sebagai pewaris tugas-tugas para Nabi (Warasatul Anbiya).

2. Sebagai pemberi fatwa (mufti).

3. Sebagai pembimbing dan pelayan umat (Ri’ayat wa khadim al ummah).

4. Sebagai penegak amar ma'ruf nahi munkar.

C. HUBUNGAN MUI DENGAN PIHAK LUAR

Sebagai organisasi yang dilahirkan oleh para ulama, zuama dan cendekiawan muslim serta tumbuh
berkembang di kalangan umat Islam, Majelis Ulama Indonesia adalah gerakan masyarakat. Dalam hal
ini, Majelis Ulama Indonesia tidak berbeda dengan organisasi-organisasi kemasyarakatan lain di
kalangan umat Islam, yang memiliki keberadaan otonom dan menjunjung tinggi semangat
kemandirian. Semangat ini ditampilkan dalam kemandirian kepada pihak-pihak lain di luar dirinya
dalam mengeluarkan pandangan, pikiran, sikap dan mengambil keputusan atas nama organisasi.
Dalam kaitan dengan organisasi-organisasi kemasyarakatan di kalangan umat Islam, Majelis Ulama
Indonesia tidak bermaksud dan tidak dimaksudkan untuk menjadi organisasi supra-struktur yang
membawahi organisasi-organisasi kemasyarakatan tersebut, dan apalagi memposisikan dirinya
sebagai wadah tunggal yang mewakili kemajemukan dan keragaman umat Islam.

Majelis Ulama Indonesia, sesuai niat kelahirannya, adalah wadah silaturrahmi ulama, zuama dan
cendekiawan Muslim dari berbagai kelompok di kalangan umat Islam. Namun perlu ditegaskna
bahwa kemandirian tidak berarti menghalangi Majelis Ulama Indonesia untuk menjalin hubungan
dan kerjasama dengan pihak-pihak lain baik dari dalam negeri maupun luar negeri, selama
dijalankan atas dasar saling menghargai posisi masing-masing serta tidak menyimpang dari visi, misi
dan fungsi Majelis Ulama Indonesia. Hubungan dan kerjasama itu menunjukkan kesadaran Majelis
Ulama Indonesia bahwa dirinya hidup dalam tatanan kehidupan bangsa yang sangat beragam
dimana dirinya menjadi bagian utuh dari tatanan tersebut yang harus hidupberdampingan dan
bekerjasama antarkomponen bangsa untuk kebaikan dan kemajuan bangsa.Sikap Majelis Ulama
Indonesia ini menjadi salah satu ikhtiar mewujudkan Islam sebagai rahmatan lil alamin (Rahmat bagi
Seluruh Alam).

D. FATWA MAJELIS ULAMA INDONESIA

1. Fatwa Majelis Ulama Indonesia Tentang Arah Kiblat

Majelis Ulama Indonesia (MUI) meralat fatwa No 03 Tahun 2010 tentang Kiblat. Arah kiblat yang
sebelumnya disebutkan menghadap barat kini telah direvisi menjadi ke arah barat laut. Letak
Indonesia tidak di timur pas Kabah tapi agak ke selatan, jadi arah kiblat kita juga tidak barat pas tapi
agak miring yaitu arah barat laut.
Fatwa yang diralat tersebut adalah fatwa yang dikeluarkan MUI Tanggal 22 Maret 2010 lalu. Adapun
diktum fatwa MUI No. 03 Tahun 2010 tentang Kiblat disebutkan:

1. Kiblat bagi orang shalat dan dapat melihat Kabah adalah menghadap ke bangunan Kabah (ainul
ka’bah).

2. Kiblat bagi orang yang salat dan tidak dapat melihat Kabah adalah arah Kabah (jihat al-Ka’bah).

3. Letak georafis Indonesia yang berada di bagian timur Kabah/Mekkah, maka kiblat umat Islam
Indonesia adalah menghadap ke arah barat.

2. Fatwa Majelis Ulama Indonesia Tentang Penghara

man Merokok

Majelis Ulama Indonesia (MUI) mengeluarkan fatwa kontroversial. Melalui Ijtima` Ulama Komisi
Fatwa MUI ke III mengenai pengharaman merokok.Ditetapkan bahwa merokok adalah haram bagi
anak-anak, ibu hamil, dan dilakukan di tempat-tempat umum. Sebagai bentuk keteladanan,
diharamkan bagi pengurus MUI untuk merokok dalam kondisi yang bagaimanapun. Alasan
pengharaman ini karena merokok termasuk perbuatan mencelakakan diri sendiri. Merokok lebih
banyak mudaratnya ketimbang manfaatnya (itsmuhu akbaru min naf`ihi).

Dengan fatwa ini, para ulama dan kiai pesantren terlibat dalam pro dan kontra. Beberapa guru besar
agama Islam dan ulama termasuk pengurus MUI daerah menolak pengharaman itu. Bahkan,
Institute For Social and Economic Studies (ISES) Indonesia menyelenggarakan pertemuan tandingan
yang diikuti para ulama kontra fatwa MUI, para buruh perusahaan rokok, dan petani tembakau, di
Padang Panjang. Mereka meminta pencabutan fatwa MUI tersebut, karena dikhawatirkan akan
menghancurkan ekonomi masyarakat yang menyandarkan hidupnya pada bisnis tembakau ini.

Dalam konteks itu, Ada beberapa hal yang perlu diketahui dan menjadi bahan pertimbangan:

Pertama, keharaman rokok tidak ditunjuk langsung oleh Alquran dan Hadits, melainkan merupakan
hasil produk penalaran para pengurus MUI, sehingga bisa benar atau keliru. Dengan demikian,
keharaman rokok tak sama dengan keharaman khamr. Jika haramnya meminum khamr bersifat
manshushah (ditunjuk langsung oleh teks Alquran), maka keharaman merokok bersifat
mustanbathah (hasil ijtihad para ulama). Menurut para ulama ushul fikih, kata haram biasanya
digunakan untuk jenis larangan yang tegas disebut Alquran dan Hadits. Sementara larangan yang tak
tegas, tak disebut haram melainkan makruh tahrim.

Kedua, yang menjadi causa hukumnya, menurut ulama MUI, merokok termasuk perbuatan yang
mencelakakan diri sendiri. Rokok mengandung zat yang merusak tubuh. Dengan menggunakan
mekanisme masalikul `illat dalam metode qiyas ushul fikih, alasan mencelakan diri sendiri tak
memenuhi syarat dan kualifikasi sebagai illat al-hukm. Ia terlalu umum (ghair mundhabith). Sebab,
sekiranya mencelakan diri sendiri ditetapkan sebagai causa hukum, maka semua barang yang
potensial menghancurkan tubuh bisa diharamkan. Gula yang dikonsumsi dalam waktu lama bisa
menimbulkan diabetes. Begitu juga makanan lain yang mengandung kolesterol tinggi bisa
diharamkan karena akan menyebabkan timbulnya beragam penyakit. Karena itu, diperlukan keahlian
sekaligus kehati-hatian dalam menentukan alasan hukum pengharaman sebuah tindakan. Para ahli
ushul fikih sepakat bahwa causa hukum sebuah perkara, di samping ditetapkan nash Alquran dan
Hadits, juga diputuskan oleh ulama yang telah memenuhi kualifikasi seorang mujtahid.

Ketiga, merumuskan hukum (istinbath al-hukm) dan menerapkan hukum (tathbiq al-hukm) adalah
dua subyek yang berbeda. Jika perumusan hukum membutuhkan perlengkapan teknis-intelektual
untuk menganalisa dalil-dalil normatif dalam Islam, maka menerapkan hukum memerlukan analisis
sosial,ekonomi dan politik.

2. MUHAMMADIYAH

A. Sejarah Muhammadiyah

Awal mula sebelum terbentuk oganisasi Muhammadiyah, Ahmad Dahlan membentuk


sebuah sekolah di Yogyakarta, yaitu Madrasah Ibtidaiyah Diniyah Islamiyah yang diresmikan pada
tanggal 1 Desember 1911. Ketika diresmikan,sekolah itu mempunyai 29 orang siswa dan enam bulan
kemudian terdapat 62 orang siswa yang belajar di sekolah itu.Sebagai lembagapendidikan yang baru
saja terbentuk, sekolah yang didirikan oleh AhmadDahlan memerlukan perhatian lebih lanjut agar
dapat terus dikembangkan.Dalam kondisi seperti itu, pengalaman Ahmad Dahlan berorganisasi
dalam BudiUtomo dan Jamiat Khair menjadi suatu hal yang sangat penting bagi munculnyaide dan
pembentukan satu organisasi untuk mengelola sekolah tersebut, disamping kondisi makro pada saat
itu yang telah menimbulkan kesadaran akanarti penting suatu organisasi modern maupun masukan
yang didapat dari parapendukung, termasuk dari para murid Kweekschool Jetis.Ide pembentukan
organisasi itu kemudian didiskusikan lebih lanjut dengan orang-orang yang selama ini telah
mendukung pembentukan dan pelaksanaan sekolah di Kauman, terutama para anggota dan
pengurus Budi Utomo serta guru dan murid Kweekschool Jetis.

Dalam satu kesempatan untuk mendapatkan dukungan dalam rangka merealisasi ide
pembentukan sebuah organisasi, Ahmad Dahlan melakukan pembicaraan dengan Budiharjo yang
menjadi kepala sekolah di Kweekschool Jetis dan R. Dwijosewoyo, seorang aktivis Budi utomo yang
sangat berpengaruh pada masa itu. Pembicaraan tersebut tidak hanya terbatas pada upaya mencari
dukungan, melainkan juga sudah difokuskan pada persoalan nama, tujuan, tempat kedudukan, dan
pengurus organisasi yang akan dibentuk. Pada bulan-bulan akhir tahun 1912 persiapan
pembentukan sebuah perkumpulan baru itu dilakukan dengan lebih intensif, melalui pertemuan-
pertemuan yang secara ekplisit membicarakan dan merumuskan masalah sepertinama dan tujuan
perkumpulan, serta peran Budi Utomo dalam proses formalitas yang berhubungan dengan
pemerintah Hindia Belanda.

Anggaran dasar organisasi ini dirumuskan dalam bahasa Belanda dan bahasa Melayu, yang
dalam penyusunannya mendapat bantuan dari R. Sosrosugondo, guru bahasa Melayu di
Kweekscbool Jetis.

Muhammadiyah apabila di tinjau dari segi bahasa berarti umat dan pengikut Nabi Muhammad.
Menurut pengertian istilah, penamaan muhammadiyah adalah agar para anggota dan pengikutnya
dapat menauladani jejak Nabi Muhammad SAW, sehingga masing-masing umat Muhammadiyah
merasa bangga dan terhormat dengan ajaran agamanya, dan tidak perlu merasa malu kepada
siapapun yang mengatakan bahwa dirinya sebagai orang Islam yang taat pada tuntunan Nabinya.

Pada hakekatnya, amalan-amalan Muhammadiyah telah dirintis oleh K.H. Ahmad Dahlan sejak tahun
1905, jauh sebelum Muhammadiyah secara resmi didirikan. Baru pada tanggal 8 Dzulhijjah 1330
bertepatan pada tanggal 18 November 1912 Muhammadiyah resmi berdiri.

B. FAKTOR-FAKTOR BERDIRINYA MUHMMADIYAH

Faktor-faktor penyebab didirikannya Muhammadiyah, antara lain :

1. Faktor Intern umat Islam Indonesia, yaitu :

a. Rusaknya umat baik dalam bidang politik, ekonomi, kebudayaan, sertakeagamaan

b. Tidak tegaknya kehidupan agama Islam dalam diri masyarakat.

c. Tidak bersihnya Islam akibat dari bercampurnya berbagai macam faham.

d. Tidak efisiennya berbagai macam lembaga-lembaga Islam yang ada.

e. Kurang adanya persatuan dan kesatuan umat Islam dalam membela kepentingan Islam.

2. Faktor Ekstern

a. Pengaruh gerakan reformasi dan modernisasi yang dipelopori oleh Djamalludin al-Afghani dan
Muhammad Abduh.

b. Kegiatan-kegiatan kristening politik, yaitu usaha mengkristenkan umat Islam.

c. Adanya penjajahan kolonialis Belanda yang membelenggu rakyat dan umat Islam.

d. Penetrasian kebudayaan barat, sehingga menimbulkan sikap acuh tak acuh bahkan
mencemoohkan ajaran Islam dari kalangan terpelajar Indonesia.

Muhammadiyah memiliki tugas menjaga amanat menjadi khalifah di muka bumi, melalui upaya
menciptakan lahan pendidikan yang mampu melahirkan kader-kader sesuai dengan kebutuhan dan
dinamika masyarakat yang lemah.

Tugas pokok Muhammadiyah adalah membimbing umat, atau memberikan arah untuk memberikan
penyegaran paham keagamaan. Muhammadiyah harus melihat secara tajam interaksi antara
dinamika ekonomi dengan gerakan dakwah yang tidak dapat di pisahkan satu sama lain.

Muhammadiyah juga harus mampu menyeimbangkan adanya ketidak seimbangan persaingan antara
kepentingan bisnis besar dengan ekonomi rakyat kecil.Karena kepentingan ekonomi rakyat kecil
yang di tandai oleh usaha kecil ini telah menyerap 83% dari kesempatan kerja di luar sektor
pertanian. Apabila ini tidak mendapat kesempatan secara seimbang dalam mengembangkan
ekonominya, maka akan berakibat pada semakin lemahnya ekonomi rakyat.
Perkembangan selanjutnya, Muhammadiyah terus berkembang dan hingga kini masih menunjukkan
eksistensinya di masyarakat.Kiprahnya di dalam masyarakat hingga membuat Nurcholis Madjid
menunjuk Muhammadiyah sebagai organisasi modern terbesar di dunia di kalangan umat Islam baik
level nasional ataupun internasional.

Nurcholis juga mengatakan bahwa Muhammadiyah merupakan organisasi yang solid, tetap utuh dari
atas ke bawah. Muhammadiyah adalah organisasi yang amaliyah yang terbesar, dilihat dari sejumlah
sekolah dan universitasnya.

Menurut Kuntowijoyo, seorang sejarawan dari UGM, menyatakan bahwa Muhammadiyah


merupakan sebuah gerakan Islam pembaharu, yang telah berhasil memadukan iman dan kemajuan
melalui gerakan rasionalisasi dan pemurnian agama yang merupakan ciri pembaruannya. Sehingga
Muhammadiyah di pandang sebagai suatu ideologi yang sering dihubungkan dengan perubahan
sosial, baik masyarakat kota, industri, dan modern.

Untuk selanjutnya, Muhammadiyah terus berkembang dan tantangan semakin banyak.Sehingga


kritik pun perlu di dalam perkembangannya.Maka dari itu, dalam perkembangan Muhammadiyah
terus bermunculan berbagai macam kritik, dan hal tersebut nyatanya mampu membuat
Muhammadiyah terus berkembang hingga saat ini.

C. FATWA MUHAMMMADIYAH

1. Fatwa Muhammadiyah Tentang Merokok

Pengurus Pusat (PP) Muhammadiyah mengeluarkan fatwa bahwa merokok adalah kegiatan haram
bagi umat Islam.Berbeda dengan fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI), fatwa haram yang
dikeluarkan Muhammadiyah itu tanpa batas umur tertentu.

Pada tahun 2005 Majelis Tarjih terlebih dahulu mengeluarkan fatwa yang berbunyi, merokok
hukumnya mubah, yang berarti boleh dikerjakan, tapi kalau ditinggalkan lebih baik. Namun, fatwa
itu kemudian direvisi karena dampak negatif merokok mulai dirasakan oleh semua lapisan
masyarakat, tidak hanya oleh perokok.

Keputusan yang dituangkan dalam fatwa No 6/SM/MTT/III/2010 itu menggunakan pertimbangan


dasar dalam Alquran dan hadis (hukum Islam), serta pertimbangan sebab-akibat. Merokok terbukti
sebagai upaya menyakiti dan membahayakan diri sendiri secara perlahan. Merokok juga
menimbulkan mudharat untuk orang lain, serta termasuk tindak pemborosan yang mubazir.

Dasar ketiga hal tersebut secara jelas tertuang dalam Surat An-Nisa ayat 29, surat Al Baqarah ayat
195.

Muhammadiyah sedang menyiapkan jalan keluar penyiapan tanaman alih fungsi bagi petani
tembakau. Pihaknya juga akan menekan pemerintah untuk membatasi impor tembakau yang
menyengsarakan petani kecil. Wacana pelarangan merokok akan menyengsarakan petani dan
mempengaruhi ekonomi bisa terbantahkan karena yang paling diuntungkan dari industri rokok
adalah pemilik perusahaan dan bukan petani.

Ketua Komnas Perlindungan Anak, Seto Mulyadi, menyambut baik fatwa haram tersebut. Dia
menjelaskan, tingkat perokok pada anak-anak saat ini telah menyentuh usia 5 tahun. Hal tersebut
menunjukkan bagaimana marketing rokok telah efektif menarik perhatian anak kecil.

You might also like