MAKALAH HUKUM PAJAK HUKUM PAJAK INTERNASIONAL

DISUSUN OLEH: Pingkan Octavia Najoan

SMP N 1 SONDER
PENDAHULUAN Dalam dunia yang serba modern seperti sekarang ini, tidaklah ada suatu negera yang dapat mengasingkan diri dari pergaulan internasional. Pergaulan antar negera-negara yang berdaulat dan merdeka sudah barang tentu harus diatur. Perhubungan-perhubungan hukum pada umumnya yang telah ada di antara negara-negara itu, telah diatar dalam himpunan peraturan-peraturan yang disebut “hukum antar negara”. Sebagai modernisasi dari nama lain yaitu “hukum bangsa-bangsa” yang merupakan terjemahan lurus dari nama-nama seperti volkerrect, droit de gens, law of nations, dan volkenrecht yang kesemuanya barasal dari istilah Romawi: ius gentium. Modernisasi nama itu membawa pula perubahan dalam artinya, yang kemudian hanya ditunjukkan kepada himpunan peraturan-peraturan yang bersangkutan saja; dengan perkataan lain lambat laun berubahlah tugasnya, sehingga dapatlah kini dikatakan bahwa hukum antar negara adalah hukum yang mengatur

untuk mengatur soal-soal perpajakan dan di mana dapat ditunjukkan adanya unsur-unsur asing. hukum pajak internasional adalah suatu kesatuan hukum yang mengupas suatu persoalan yang diatur dalam UU . yaitu: 1. Adriani. bahwa kepentingan bersama dari semua negara seperti perdamaian. Dr. bahwa hukum pajak internasional adalah hukum pajak nasional yang terdiri atas kaedah. Pengertian Hukum Pajak Internasional Pengertian hukum pajak ini dapat dibagi menjadi tiga bagian dari pendapat ahli hukum pajak. Rochmat Soemitro. menghendaki dengan mutlak adanya sopan santun dalam pergaulan antar negara yang merupakan peraturan-peraturan hukum. keamanan. Dr. 2. keadilan. PEMBAHASAN A. baik berupa kaedah-kaedah nasional maupun kaedah yang berasal dari traktat antar negara dan dari prinsif atau kebiasaan yang telah diterima baik oleh negeranegara di dunia.J. cooperation dan sebagainya. Menurut pendapat Prof. Menurut pendapat Prof.pergaulan internasional. Maka dicarilah kini olehnya salah satu undang-undang kesepakatan kerjasama yang erat dalam lapangan-lapangan perpajakan. kemakmuran. Demikian pula halnya yang dikehendaki oleh negara-negara burhubungan dengan tugasnya sebagai pemungut pajak. Dalam pada ini tidaklah dapat dibantah-bantah lagi. P.A.

J. Hukum Pajak Internasional dapat berkaitan dengan subjek maupun objek yang berada di luar wilayah Indonesia sepanjang ada hubungan yang erat dalam hal terdapat hubungan ekonomis atau hubungan kenegaraan dengan Indonesia.Nasional mengenai pemajakan terhadap orang-orang luar negeri. Dalam hukum antar negara terdapat suatu asas mengenai kedaulatan negara yang dinyatakan sebagai kedaulatan setiap negara untuk dengan bebas mengatur kepentingan-kepentingan rumah tangganya sendiri. B. . Persoalan yang terjadi dalam hukum pajak ini ialah apakah hukum pajak nasional akan diterapkan atau tidak? Hukum pajak internasional juga merupakan norma-norma yang mengatur perpajakan karena adanya unsur asing. Pasal ini menunjukkan bahwa contoh adanya hubungan ekonomis antara orang asing dengan penghasilan yang diperoleh di Indonesia. sewa. Mr. khususnya Hukum Pajak Internasional Indonesia secara umum dapat dikatakan barlaku terbatas hanya pada subjeknya dan objeknya yang berada di wilayah Indonesia saja. royalti. Hofstra. Namun demikian. hadiah dan penghargaan. 17 Tahun 2000 (UU PPh) khususnya dalam pasal 26 diatur bahwa terhadap WP luar negeri yang memperoleh penghasilan dari Indonesia antara lain berupa bunga. peraturanperaturan nasional untuk menghindarkan pajak ganda dan traktat-traktat. UU No. H. Sedangkan menurut pendapat Prof. akan dikenakan PPh sebesar 20% dari jumlah bruto. Dengan kata lain terhadap orang atau badan yang tidak bertempat tinggal atau berkedudukan di Indonesia pada dasarnya tidak akan dikenakan pajak berdasarkan UU Indonesia. dalam batas-batas yang ditentukan oleh hukum antar negara dan bebas dari pengaruh kekuasaan negara lain. 3. baik mengenai objeknya maupun subjeknya. hukum pajak internasional sebenarnya merupakan hukum pajak nasional yang di dalamnya mengacu pengenaan terhadap orang asing. Kedaulatan Hukum Pajak Internasional Berbicara masalah Hukum Pajak Internasional. 7 Tahun 1983 tentang PPh sebagaimana telah diubah dengan UU No.

Traktat-traktat (perjanjian) dengan negera lain. Rochmat Soemito dalam bukunya “Hukum Pajak Indonesia. Untuk meniadakan atau menghindarkan pajak berganda. seperti: a. Untuk mengatur pelakuan fiskal terhadap orang-orang asing. 2. Keputusan Hakim Nasional atau Komisi Internasional tentang pajak-pajak internasional. yaitu: 1. c. Hukum Pajak Nasional atau Unilateral yang mengandung unsur asing. Asas-asas yang terdapat dalam hukum antar negara 2. maka kedaulatan pemajakan sebagai spesial dari gengsi kedaulatan negera dapat dinyatakan sebagai kedaulatan suatu negara untuk bertindak merdeka dalam lapangan pajak. S. Peraturan-peraturan unilateral (sepihak) dari setiap negara yang maksudnya tidak ditujukan kepada negara lain. yaitu: 1. C. Santoso Brotodihardjo. b. Untuk mengatur soal pemecahan laba di dalam hal suatu perusahaan atau seseorang mempunyai cabang-cabang atau sumber-sumber pendapatan di negara asing. yaitu kaedah hukum yang dibuat menurut perjanjian antar negara baik secara bilateral maupun multilateral. Velkenbond memberikan pengertian bahwa pajak . menyatakan bahwa sumber-sumber formal dari hukum pajak internasional. Terjadinya Pajak Berganda Internasional Pajak berganda internasional umumnya terjadi karena pada dasarnya tidak ada hukum internasional yang mengatur hal tersebut sehingga terjadi bentrokan hukum antar dua negara atau lebih.Sesuai dengan asas yang dimaksud di muak. 3. Sedangkan dalam buku “Pengantar Ilmu Hukum Pajak” karangan R.H. Dr. menyebutkan bahwa ada bebarapa sumber hukum pajak internasional. 3. Sumber-sumber Hukum Pajak Internasional Prof. D. Trakat.

. Beban tambahan yang terjadi tidak semata-mata disebabkan karena perbedaan tarif dari negara-negara yang bersangkutan. Cara Penghindaran Pajak Berganda Internasional Ada dua cara untuk menghindari pajak berganda internasional.berganda internasional terjadi apabila pengenaan pajak dari dua negara atau lebih saling menindih sedemikian rupa. melainkan karena dua negara atau lebih secara bersamaan memungut pajak atas objek dan subjek yang sama. Bentrokan atas domisili dan asas kewarganegaraan. Rochmat Soemitro menjelaskan bahwa ada beberapa sebab terjadinya pajak berganda internasional. Subjek pajak yang sama dikenakan pajak di negara tempat tinggal berdasarkan atas wold wide incom. yaitu: 1. sehingga orang-orang yang dikenakan pajak di negara-negara yang lebih dari satu memikul beban pajak yang lebih besar daripada jika mereka dikenakan pajak di satu negara saja. Subjek pajak yang sama dikenakan pajak yang sama di beberapa negera. E. sedangkan di negera domisili dikenakan pajak berdasarkan asas sumber. Domisili rangkap b. 2. Objek pajak yang sama dikenakan pajak yang sama di beberapa negara. yaitu dengan cara sebagai berikut: 1. Cara Unilateral Cara ini dilakukan dengan memasukkan ketentuan untuk menghindari pajak berganda dalam UU suatu negara dengan suatu prosedur yang jelas. yang dapat terjadi karena: a. Dari pengertian di atas jelas bahwa pajak berganda internasional akan timbul karena atas suatu objek pajak dan subjek pajak yang sama dikenakan pajak lebih dari satu kali sehingga menimbulkan beban yang berat bagi subjek pajak yang dikenakan pajak tersebut. Kewarganegaraan rangkap c. Selanjutnya Prof. 3.

sedangkan multelateral dilakukan oleh lebih dari dua negara. Pajak-pajak yang diatur dalam perjanjian.Pengguanaan cara ini merupakan wujud kedaulatan suatu negara untuk mengatur sendiri masalah pemungutan pajak dalam suatu UU. Perjanjian Dalam Pajak Berganda Internasional Perjanjian seperti ini kebanyakan masih berusia muda. 3. dan karena lambannya prosedur perundingan untuk tidak berbicara tentang lambannya atau resikonya pengukuhan oleh kepala negara-negara peserta perjanjian. . Sengketa internasional. yang lebih dikenal dengan sebutan traktat atau tax treaty. 4. F. arti tempa kediaman fiskal. Orang-orang yang dapat menikmati keuntungan dari perjanjian-perjanjian. persetujuan untuk menetap. Proses terjadinya perjanjian secara bilateral maupun multilateral tentu akan membutuhkan waktu yang cukup lama karena masing-masing negara mempunyai prinsip pemajakannya masing-masing sesuai dengan kedaulatan negaranya sendiri. Ketentuan-ketentuan penting yang tercantum dalam perjanjian-perjanjian pajak berganda secara singkat adalah sebagai berikut: 1. 2. 2. dahulu hanya dikenakan persetujuan persahabatan. Cara Bilateral atau Multilateral Cara Bilateral atau Multilateral dilakukan melalui suatu perundingan antar negara yang berkepentingan untuk menghindarkan terjadinya pajak berganda. persetujuan dagangan dan peretujuan pelayanan yang kadang-kadang mencakup satu ketentuan yang ada hubungannya dengan beberapa macam pajak yang kebanyakan mencantumkan klausul tentang keharusan adanya perlakuan yang sama terhadap penduduk atau penguasa dari negara-negara yang mengadakan persetujuan. sistem dan asas perpajakan di berbagai negara. Prosedur dari perjanjian kolektif ternyata sukar untuk dilaksanakan karena bermacam-macam ragam. Perjanjian yang dilakukan secara bilateral oleh dua negara.

Kedudukan Hukum Perjanjian Perpajakan Bagaimana kedudukan hukum suatu perjanjian perpajakan yang diadakan antara Indonesia dengan negara lain? Bila ditelusuri dasar hukum bisa diadakannya perjanjian perpajakan antar negara. seorang ahli yang banyak menulis buku tentang perpajakan. maka kita kembali pada konstitusi yaitu pasal 11 ayat (1) UUD 1945 beserta perubahannya. maka dapat disimpulkan bahwa kedudukan hukum perjanjian perpajakan adalah sama dengan UU Nasional seperti UU tentang PPh. . tentu saja akan memerlukan waktu yang cukup lama. maka tidak diperlukan lagi persetujuan DPR tetapi cukup diberitahukan saja. KESIMPULAN Hukum Pajak Internasional merupakan norma-norma yang mengatur perpajakan karena adanya unsur asing. P. Adriani. dengan pertimbangan kepraktisan khusus dalam lalu lintas hukum internasional antara Indonesia dengan negara-negara lain yang cukup intensif. Hukum Pajak Nasional.A. Traktat Keputusan Hakim Nasional. Kedudukan hukum perjanjian perpajakan tidak lebih tinggi dari UU Perpajakan Nasional. 3. Prof. 2. baik mengenai subjek maupun objeknya. Dr.G. Mengacu pada dasar hukum tersebut. Oleh karenanya.J. Dan para ahli hukum pajak juga banyak memberikan definisi tentang hukum pajak internasional salah satunya yaitu. Berdasarkan ketentuan Pasal 11 UUD 1945 di atas. Kemudian sumber-sumber hukum pajak internasional terdiri dari: 1.

Wirawan. dkk. 2007. Jakarta: Salemba Empat. 2003.Dan kedudukan Hukum Perjanjian Perpajakan adalah sama dengan UU Nasional seperti UU tentang PPh. Hukum Pajak. DAFTAR PUSTAKA Brotodihardjo Santoso. . kedudukan hukum tax treaty tidak lebih tinggi dari UU Perpajakan Nasional. Pengantar Ilmu Hukum Pajak. Refika Aditama Ilyas B. Bandung: PT.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful