P. 1
Sebelum Tenaga Kesehatan Dapat Mematuhi Prosedur Kewasapadaan Standar

Sebelum Tenaga Kesehatan Dapat Mematuhi Prosedur Kewasapadaan Standar

|Views: 325|Likes:
Published by Fitri Dwi Purwanti

More info:

Published by: Fitri Dwi Purwanti on Jun 07, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

11/24/2012

pdf

text

original

Sebelum tenaga kesehatan dapat mematuhi prosedur kewasapadaan standar, otoritas nasional dan lembaga pelayanan kesehatan harus

menjamin bahwa semua pedoman dan kebijakan mereka cocok diterapkan di lokasi dan bahwa peralatan dan persediaannya mencukupi.

Untuk memudahkan tenaga kesehatan mematuhi praktek pengendalian infeksi, kebijakan dan pedoman tingkat nasional dan lembaga pemerintah harus: Memastikan bahwa stafnya telah dididik untuk memperlakukan semua zat/substansi tubuh sebagai bahan yang infeksius. Tenaga kesehatan harus dididik mengenai risiko pekerjaannya dan harus memahami kebutuhan menggunakan kewaspadaan standar bagi semua orang, di setiap waktu, tanpa memandang diagnosisnya. Pendidikan selama pelayanan secara reguler harus disediakan bagi semua tenaga medis maupun nonmedis di lingkungan perawatan kesehatan. Sebagai tambahan, pendidikan pra-pelayanan untuk semua tenaga kesehatan harus juga mengagendakan aspek kewaspadaan standar. Memastikan bahwa tersedia para staf, pasokan dan sarana yang memadai. Sementara pendidikan bagi tenaga kesehatan adalah esensial, hal itu tidak cukup untuk menjamin bahwa kewaspadaaan standar telah diperhatikan dengan baik. Untuk mencegah bahaya dan infeksi kepada pasien dan karyawan, sarana kesehatan harus menyediakan bahan-bahan yang diperlukan perawatan klinis. Sebagai contoh, pasokan yang steril dan bersih, harus tersedia dengan cukup, walau di lingkungan dengan sumber daya yang terbatas.
y

y

y

Penggunaan peralatan injeksi sekali pakai, yang langsung dibuang harus tersedia dalam jumlah yang cukup bagi setiap obat-obat injeksi yang ada dalam persediaan. Air, sarung tangan, bahan-bahan pencuci, alat-alat untuk disinfeski dan sterilisasi termasuk alatalat untuk memantau dan mengawasi proses ulang yang harus dilakukan. Persediaan air yang cukup dan mudah didapat adalah kunci bagi upaya pencegahan infeksi yang berkaitan dengan tempat pelayanan kesehatan. (Walaupun air mengalir tidak tersedia di semua tempat, tetapi semua cara untuk mendapatkan air yang cukup harus terjamin). Alat-alat untuk pembuagan yang aman bagi limbah medis dan laboratorium, dan tinja harus tersedia. Mengadopsi standar-standar lokal yang cocok untuk menjamin keselamatan pasien dan karyawan, merupakan upaya yang berdasarkan bukti dan efektif. Penggunaan yang tepat dari

y

persediaan, kebutuhan pendidikan dan pengawasan staf, harus digambarkan dengan jelas dalam kebijakan dan pedoman lembaga. Lebih lanjut, kebijakan dan pedoman harus didukung oleh ketersediaan pasokan dan standar untuk memantau dan mengawasi upaya yang telah ditetapkan. (Pengawasan reguler pada lingkungan perawatan kesehatan dapat membantu menghambat atau mengurangi risiko bahaya yang berhubungan dengan perawatan kesehatan di tempat kerja). Jika terjadi cedera atau kontaminasi yang mengakibatkan terpajan dengan bahan yang telah terinfeksi HIV, konseling, pengobatan, tindak lanjut dan perawatan pasca pajanan, harus tersedia. Mencari upaya untuk mengurangi prosedur-prosedur yang tidak diperlukan. Sarana kesehatan harus menentukan kapan prosedur berisiko telah terlihat, dan tenaga kesehatan butuh untuk dilatih untuk menjalankan prosedur yang hanya dilakukan saat benar-benar diperlukan. Sebagai contoh, pekerja harus menghindari transfusi darah saat tidak diperlukan dan harus mengganti dengan prosedur yang lebih aman jika memungkinkan (seperti penggunaan larutan pengganti). Injeksi yang tidak perlu harus juga dihilangkan. Bilamana pengobatan dibutuhkan, pedoman harus merekomendasikan penggunaan obat oral bila sesuai. Kepatuhan terhadap pedoman ini tetap harus dipantau.
y

y

y

Membentuk suatu kelompok multidisiplin untuk menilai dan mengagendakan penggunaan kewaspadaan standar. Sebuah kelompok multidisiplin harus disusun untuk menyampaikan masalah pencegahan, menilai cara dan sumber daya yang ada sekarang untuk pencegahan, membangun sistem surveilen untuk mendeteksi pasien dan tenaga kesehatan dari akuisisi infeksi, membangun kebijakan dan prosedur, mendidk personil dan memantau kepatuhan. Menciptakan tuntutan konsumen terhadap praktek perawatan kesehatan yang lebih aman. Tuntutan untuk prosedur kerja yang aman, seperti penggunaan peralatan injeksi yang baru, langsung dibuang, sekali pakai dan pengobatan oral, dapat membantu memepercepat pelembagaan kewaspadaan standar.

y

Sumber daya manusia, infrastuktur dan pasokan yang dibutuhkan

Sebagai tambahan bagi pedoman institusional dalam pengendalian infeksi, persediaan dan sarana yang dijelaskan diatas harus tersedia: tempat mencuci tangan, penigkatan persediaan air, peningkatan sistem ventilasi, sarana sterilisasi, persediaan pencucian, obat-obat oral, jarum dan spuit steril sekali pakai, wadah benda tajam, desinfektan, kapasitas leboratorium, peralatan dan reagen laboratorium, dan obat anti-retroviral. Pengelolaan limbah pelayanan kesehatan mungkin membutuhkan konstruksi khusus, seperti inienerator dan pilihan lain dari insinerator. Mengangkat seorang spesialis pengendalian infeksi atau seorang staf administratif untuk mengurangi angka infeksi yang berkaitan dengan pelayanan kesehatan akan sangat menguntungkan. Upaya-upaya pencegahan infeksi harus menjadi bagian dari pelatihan tenaga kesehatan tersebut, yang harus diawasi secara rutin dalam pekerjaannya. Usaha-usaha khusus harus dibuat untuk memantau dan mengurangi prosedur invasif yang tidak diperlukan. Sebagai tambahan, asosiasi profesi, termasuk asosiasi perawat nasional dan asosiasi kedokteran nasional, harus bersatu dalam melindungi tenaga kesehatan dan mendukung prinsip kerjakan sejak pertama tanpa membahayakan .

Informasi biaya Biaya peralatan yang dibutuhkan untuk memastikan kewaspadaan standar (sarung tangan, sabun, desinfektan, dll) secara pasti akan menambahkan dalam biaya operasional pelayanan perawatan kesehatan dan akan berbeda-beda sesuai dengan persediaan dan peralatan yang perlu ditambahkan, besarnya institusi dan populasi pasien yang dilayani. Bagaimanapun juga, keuntungan bagi keduanya baik pegawai dan pasien dapat mengizinkan pengeluaran ini. Memastikan kewaspadaan standar harus dilihat sebagai tanggungjawab institusi pelayanan kesehatan yang tidak perlu dinegosiasikan untuk pegawai kesehatan tersebut dan pasiennya. Dimana tingkat prevalensi infeksi HIV, hepatitis dan penyakit infeksi menular lainnya tinggi, keefektifan biaya karena melakukan kewaspadaan standar juga akan bertambah besar.

LATAR BELAKANG: Bahwa pembangunan kesehatan ditujukan untuk meningkatkan kesadaran, kemauan dan kemampuan hidup sehat bagi setiap orang dalam rangka mewujudkan derajat kesehatan masyarakat yang optimal sebagai salah satu unsur kesejahteraan sebagaimana dimaksud dalam Pembukaan Undang Undang Dasar 1945 Rumah Sakit Penyakit Infeks Prof. Dr. Sulianti Saroso Jakarta adalah unit organik dilingkungan Departemen Kesehatan Republik Indonesia yang merupakan Pusat Rujukan Nasional Penyakit Infeksi dan Penyakit Menular. Dalam memberikan dan menjelaskan fungsi sebagai Pusat Rujukan Nasional untuk Penyakit Infeksi RSPI - SS senantiasa berusaha meningkatkan mutu pelayanan, salah satu upaya adalah mengurangi angka kejadian Infeksi Nosokomial di seluruh Rumah Sakit dan Sarana Pelayanan kesehatan di Indonesia.

Infeksi merupakan interaksi antara mikroorganisme dengan pejamu rentan yang terjadi melalui kode transmisi kuman yang tertentu. Cara transmisi mikroorganisme dapat terjadi melalui darah,

Sementara itu jenis infeksi yang dialami dapat berupa berbagai jenis infeksi yang baru diketahui misalnya infeksi HIV / AIDS atau Ebola dan infeksi lama yang semakin virulen. Berbagai prosedur penanganan pasien memungkinkan petugas terpajan dengan kuman yang berasal dari pasien.udara baik droplet maupun airbone. Untuk seorang petugas pertama dalam pemberian pelayanan yang bermutu. untuk penyebarluasan pengetahuan tentang KU melalui pelatihan diperlukan pengembangan pedoman pelatihan yang dapat digunakan di seluruh Indonesia. dari pasien ke petugas. Kebutuhan untuk pengendalian infeksi nosokomial akan semakin meningkat terlebih lagi dalam keadaan sosial ekonomi yang kurang menguntungkan seperti yang telah dihadapi Indonesia saat ini. SASARAN Setiap petugas kesehatan yang kontak langsung dengan pasien dan atau bahan yang berasal dari pasien yaitu : 1. Dengan berbekal pengetahuan tentang patogenesis infeksi yang meliputi interaksi mikroorganisme dan pejamu. Resiko infeksi nosokomial selain terjadi pada pasien yang dirawat di Rumah Sakit. dari petugas ke pasien dan antar petugas. maka perlu dilakukan pelatihan yang menyeluruh untuk meningkatkan kemampuan petugas dalam pencegahan ineksi di Rumah Sakit. dan upaya pencegahan infeksi adalah tingkatan pertama dalam pemberian pelayanan yang bermutu. maka segala bentuk infeksi dapat dicegah. sarana. dan pendukung lainnya. serta cara transmisi atau penularan infeksi. misalnya tuberkulosis yang resisten terhadap pengobatan. Petugas Sanitasi . Untuk seorang petugas kesehatan. kemampuan mencegah infeksi memiliki keterkaitan yang tinggi dengan pekerjaan. pasien akan datang dalam keadaan yang semakin parah. Mutu pelayanan di Rumah Sakit dapat berpengaruh karena pasien bertambah sakit akibat infeksi nosokomial. Pengetahuan tentang pencegahan ineksi sangat penting untuk petugas Rumah Sakit dan sarana kesehatan lainnya merupakan sarana umum yang sangat berbahaya. sehingga perlu perawatan yang lebih lama yang juga berarti pasien dapat memerlukan tindakan invasif yang lebih banyak. karena mencakup setiap aspek penanganan pasien. dalam artian rawan. penggunaan alat pelindung. Salah satu strategi yang sudah terbukti bermanfaat dalam pengendalian infeksi nosokomial adalah peningkatan kemampuan petugas kesehatan dalam metode Universal Precautions atau dalam bahasa Indonesia Kewaspadan Universal ( KU ) yaitu suatu cara penanganan baru untuk meminimalkan pajanan darah dan cairan tubuh dari semua pasien. Peran petugas adalah sebagai pelaksana langsung dalam upaya pencegahan infeksi. dan dengan kontak langsung. Strategi inti meningkatkan kemampuan petugas kesehatan dalam KU adalah dengan pelatihan KU di seluruh Indonesia sehingga merupakan langkah strategis dalam peningkatan kemampuan petugas / SDM. dalam upaya mencegah transmisi mikroorganisme melalui darah dan cairan tubuh. Upaya pencegahan penularan infeksi di Rumah Sakit melibatkan berbagai unsur. Indikasi rawat pasien akan semakin ketat. infeksi dapat terjadi antar pasien. Dasar KU adalah cuci tangan secara benar. Di Rumah Sakit dan sarana kesehatan lainnya. tanpa memperdulikan status infeksi. Secara keseluruhan berarti daya tahan pasien lebih rendah dan pasien cenderung untuk mengalami berbagai tindakan invasif yang akan memudahkan masuknya mikroorganisme penyebab infeksi nosokomial. Tenaga Medis dan Paramedis. Dengan berpedoman pada perlunya peningkatan mutu pelayanan di Rumah Sakit dan sarana kesehatan lainnya. dari petugas ke petugas. dan dengan kemampuan memutuskan interaksi antara mikroorganisme dan pejamu maka segala kemampuan memutuskan interaksi antara mikoorganisme dan pejamu. untuk terjadi infeksi. Peran pimpinan adalah penyediaan sistem. termasuk laboratorium 2. desinfeksi dan mencegah tusukan alat tajam. Tenaga penunjang 3. mulai dari peran pimpinan sampai petugas kesehatan sendiri. Kemampuan untuk mencegah transmisi infeksi di Rumah Sakit. Infeksi petugas juga berpengaruh pada mutu pelayanan karena petugas menjadi sakit sehingga tidak dapat melayani pasien. dapat juga terjadi pada para petugas Rumah Sakit tersebut.

Kewaspadaan Universal pada pengelolaan alat tajam 5. dan infeksi yang baru menunjukkan gejala setelah 72 jam pasien berada dirumah sakit baru disebut infeksi nosokomial 1. Antiseptik dan Dekontaminasi 4.PERAN DAN FUNGSI PELATIHAN Setelah pelatihan diharapkan seorang petugas kesehatan mampu mengubah sikap dalam bekerja sehingga dapat melindungi pasien. pasien yang masuk rumah sakit dan menunjukkan tanda infeksi yang kurang dari 72 jam menunjukkan bahwa masa inkubasi penyakit telah terjadi sebelum pasien masuk rumah sakit. Infeksi endogen disebabkan oleh mikroorganisme yang semula memang sudah ada didalam tubuh dan berpindah ke tempat baru yang kita sebut dengan self infection atau auto infection. menggunakan alat pelindung ) dan tes laboratorium 3. Selesai mengikuti pelatihan. sementara I . Surveilance METODE ° Ceramah ° Diskusi ° Peragaan ° Pre-post test ° Kunjungan lapangan PESERTA ° Pengelola Pengendalian Infeks Nosokomial / Kewaspadaan Universal ° Dokter ° Perawat ° Penanggung Jawab unit penunjang / unit pelayanan ° Kepala Ruangan Perawatan ° Setiap pelatihan peserta jumlahnya : 30 Peserta BAB PENDAHULUAN I. Kewaspadaan Universal di Unit tertentu 7.KOMPETENSI width=254> Petugas kesehatan yang selesai mengikuti pelatihan diharapkan memahami dasar Kewaspadaan Universal dan dapat menilai keadaan yang potensial untuk terjadi penularan infeksi bagi pasien. Sterilisasi. Berbagai masalah infeksi di Sarana Kesehatan 2. dirinya dan lingkungan kerja terhadap infeksi nosokomial dengan penerapan Kewaspadaan Universal secara bak.4 Infeksi nosokomial ini dapat berasal dari dalam tubuh penderita maupun luar tubuh. Tindakan prophylaxis pada kecelakaan kerja 8. Seorang petugas yang telah mengikuti pelatihan diarahkan untuk menjadi agen perubahan sehingga dapat menjamin tersedianya tempat kerja yang sehat dan aman. Secara umum. petugas juga diharapkan dapat merencanakan kebutuhan sistem. Kewaspadaan Universal ( Cuci tangan. Infeksi yang muncul selama seseorang tersebut dirawat di rumah sakit dan mulai menunjukkan suatu gejala selama seseorang itu dirawat atau setelah selesai dirawat disebut infeksi nosokomial. MATERI YANG DIBAHAS 1. dirinya dan orang lain.2. sarana dan penunjang lainnya sehingga dapat menyediakan tempat kerja yang aman terhadap infeksi. Pengelolaan limbah dan lingkungan 6.3. Kewaspadaan Universal pada tindakan intravaskular 9. Desinfeksi.1 Definisi Infeksi adalah adanya suatu organisme pada jaringan atau cairan tubuh yang disertai suatu gejala klinis baik lokal maupun sistemik.

3 ± 11. kasa pembalut atau perban. atau pasien dengan penyakit tertentu yaitu penyakit yang memerlukan kemoterapi. jarum injeksi. Asia Tenggara dan Pasifik tetap menunjukkan adanya infeksi nosokomial dengan Asia Tenggara sebanyak 10. terutama di bagian penyakit dalam dalam.7% dari 55 rumah sakit dari 14 negara yang berasal dari Eropa. antara lain : ‡ lama hari perawatan bertambah panjang ‡ penderitaan bertambah ‡ biaya meningkat Dari hasil studi deskriptif Suwarni.06%.5 I.3 Walaupun ilmu pengetahuan dan penelitian tentang mikrobiologi meningkat pesat pada 3 dekade .infeksi eksogen (cross infection) disebabkan oleh mikroorganisme yang berasal dari rumah sakit dan dari satu pasien ke pasien lainnya. berbaring lama. infus yang lama dan kateter urin yang lama.7 Di beberapa bagian. dengan rata-rata keseluruhan 6.3. udara. Untuk rerata lama perawatan berkisar antara 4.0% hingga 12. dinegara-negara miskin dan berkembang. Timur Tengah. dengan penyakit yang sangat parah.2.26%.4 I. dan dibeberapa negara. seperti. juga merupakan depot bagi berbagai macam penyakit yang berasal dari penderita maupun dari pengunjung yang berstatus karier. 1. kondisinya justru sangat memprihatinkan. atau beberapa tindakan seperti prosedur diagnostik invasif. pencegahan infeksi nosokomial lebih diutamakan untuk dapat meningkatkan kualitas pelayanan pasien dirumah sakit dan fasilitas kesehatan lainnya.2 Rumah Sakit Rumah sakit merupakan suatu tempat dimana orang yang sakit dirawat dan ditempatkan dalam jarak yang sangat dekat.7 hari. Setelah diteliti lebih lanjut maka didapatkan bahwa angka kuman lantai ruang perawatan mempunyai hubungan bermakna dengan infeksi nosokomial. Di tempat ini pasien mendapatkan terapi dan perawatan untuk dapat sembuh. penyakit autoimun dan penggunaan imuno supresan atau steroid didapatkan bahwa resiko terkena infeksi lebih besar. Terjadinya infeksi nosokomial akan menimbulkan banyak kerugian. diabetes. Kuman penyakit ini dapat hidup dan berkembang di lingkungan rumah sakit. kateter iv..3 Epidemiologi Infeksi nosokomial banyak terjadi di seluruh dunia dengan kejadian terbanyak di negara miskin dan negara yang sedang berkembang karena penyakit-penyakit infeksi masih menjadi penyebab utama. terdapat banyak prosedur dan tindakan yang dilakukan baik untuk membantu diagnosa maupun memonitor perjalanan penyakit dan terapi yang dapat menyebabkan pasien cukup rentan terkena infeksi nosokomial. Karena itulah. anemia. lantai. kateter urin. makanan dan benda-benda medis maupun non medis. A di semua rumah sakit di Yogyakarta tahun 1999 menunjukkan bahwa proporsi kejadian infeksi nosokomial berkisar antara 0.8 Selama 10-20 tahun belakang ini telah banyak perkembangan yang telah dibuat untuk mencari masalah utama terhadap meningkatnya angka kejadian infeksi nosokomial di banyak negara. Infeksi nosokomial ini pun tidak hanya mengenai pasien saja. tetapi juga dapat mengenai seluruh personil rumah sakit yang berhubungan langsung dengan pasien maupun penunggu dan para pengunjung pasien. Tetapi. Keadaan ini justru memperlama waktu perawatan dan perubahan pengobatan dengan obat-obatan mahal.2. serta penggunaan jasa di luar rumah sakit. Pasien dengan umur tua.5 Sumber penularan dan cara penularan terutama melalui tangan dan dari petugas kesehatan maupun personil kesehatan lainnya. penyakit keganasan. dengan rata-rata keseluruhan 4.0%. air. rumah sakit selain untuk mencari kesembuhan. Suatu penelitian yang yang dilakukan oleh WHO menunjukkan bahwa sekitar 8. dan cara yang keliru dalam menangani luka.2 hari.

Semua kondisi ini dapat meningkatkan resiko infeksi kepada si pasien. Contohnya : ‡ Anaerobik Gram-positif. Clostridium yang dapat menyebabkan gangren ‡ Bakteri gram-positif: Staphylococcus aureus yang menjadi parasit di kulit dan hidung dapat menyebabkan gangguan pada paru. Infeksi ini dapat disebabkan oleh mikroorganisme yang didapat dari orang lain (cross infection) atau disebabkan oleh flora normal dari pasien itu sendiri (endogenous infection).3.1.000 kasus setiap tahunnya walaupun. contohnya Escherichia coli. karena itu diperlukan antibiotik yang lebih poten atau suatu kombinasi antibiotik. Kemungkinan terjadinya infeksi tergantung pada:3 ‡ karakteristik mikroorganisme. Keberadaan bakteri disini sangat penting dalam melindungi tubuh dari datangnya bakteri patogen. ‡ Bakteri gram negatif: Enterobacteriacae. super infeksi virus dan jamur.5 BAB ISI II II. Bakteri Bakteri dapat ditemukan sebagai flora normal dalam tubuh manusia yang sehat. jika kita bandingkan kuman yang ada di masyarakat. jamur dan parasit dapat menyebabkan infeksi nosokomial. .1 Faktor Penyebab Perkembangan Infeksi Nosokomial II. Kontak antara pasien dan berbagai macam mikroorganisme ini tidak selalu menimbulkan gejala klinis karena banyaknya faktor lain yang dapat menyebabkan terjadinya infeksi nosokomial. jantung dan infeksi pembuluh darah serta seringkali telah resisten terhadap antibiotika. bakteri yang resisten antibiotik. ‡ resistensi terhadap zat-zat antibiotika.3 1. ‡ tingkat virulensi.4 Selain itu. tetapi semakin meningkatnya pasien-pasien dengan penyakit immunocompromised. Semua mikroorganisme termasuk bakteri. ‡ dan banyaknya materi infeksius. pulang. mikroorganisme yang berada di rumah sakit lebih berbahaya dan lebih resisten terhadap obat. masih menyebabkan infeksi nosokomial menimbulkan kematian sebanyak 88.terakhir dan sedikit demi sedikit resiko infeksi dapat dicegah. Proteus. Kebanyakan infeksi yang terjadi di rumah sakit ini lebih disebabkan karena faktor eksternal. dan prosedur invasif.2. yaitu penyakit yang penyebarannya melalui makanan dan udara dan benda atau bahanbahan yang tidak steril. virus. Tetapi pada beberapa kasus dapat menyebabkan infeksi jika manusia tersebut mempunyai toleransi yang rendah terhadap mikroorganisme.1 Agen Infeksi Pasien akan terpapar berbagai macam mikroorganisme selama ia rawat di rumah sakit. Contohnya Escherichia coli paling banyak dijumpai sebagai penyebab infeksi saluran kemih. Penyakit yang didapat dari rumah sakit saat ini kebanyakan disebabkan oleh mikroorganisme yang umumnya selalu ada pada manusia yang sebelumnya tidak atau jarang menyebabkan penyakit pada orang normal. Klebsiella. Bakteri patogen lebih berbahaya dan menyebabkan infeksi baik secara sporadik maupun endemik.

Virus lain yang sering menyebabkan infeksi nosokomial adalah cytomegalovirus. dan diphtheria memerlukan hal sebagai berikut. anemia. herpes simplex virus. Obat-obatan yang bersifat immunosupresif dapat menurunkan pertahanan tubuh terhadap infeksi. II. Pseudomonas sering sekali ditemukan di air dan penampungan air yang menyebabkan infeksi di saluran pencernaan dan pasien yang dirawat. Virus Banyak kemungkinan infeksi nosokomial disebabkan oleh berbagai macam virus. Contohnya bacterial meningitis. Cryptosporidium. Cryptococcus neoformans. penyakit kulit dan dari darah.Enterobacter. tidak ditemukan terpapar suatu penyakit Sedang Pasien yang terinfeksi dan dengan beberapa faktor resiko Berat Pasien dengan immunocompromised berat.9 Tabel 1. rotavirus.11 3. Rute penularan untuk virus sama seperti mikroorganisme lainnya. dialisis.2 Respon dan toleransi tubuh pasien Faktor terpenting yang mempengaruhi tingkat toleransi dan respon tubuh pasien dalam hal ini adalah: 3. Ruangan tersendiri untuk tiap pasiennya. dapat menyebabkan infeksi serius pada luka bekas jahitan. contohnya infeksi dari Candida albicans.9 ‡ Umur ‡ status imunitas penderita ‡ penyakit yang diderita ‡ Obesitas dan malnutrisi ‡ Orang yang menggunakan obat-obatan immunosupresan dan steroid ‡ Intervensi yang dilakukan pada tubuh untuk melakukan diagnosa dan terapi. dan enteroviruses yang ditularkan dari kontak tangan ke mulut atau melalui rute faecal-oral. Banyaknya prosedur pemeriksaan penunjang dan terapi seperti biopsi. termasuk virus hepatitis B dan C dengan media penularan dari transfusi. Respiratory syncytial virus (RSV). Bakteri gram negatif ini bertanggung jawab sekitar setengah dari semua infeksi di rumah sakit. 2. Infeksi gastrointestinal. Hepatitis dan HIV ditularkan melalui pemakaian jarum suntik. Ebola. influenza virus. gagal ginjal. Keadaan-keadaan ini akan meningkatkan toleransi tubuh terhadap infeksi dari kuman yang semula bersifat opportunistik. diabetes mellitus.3. SLE dan AIDS. Parasit dan Jamur Beberapa parasit seperti Giardia lamblia dapat menular dengan mudah ke orang dewasa maupun anak-anak. dan peritoneum. suntikan dan endoskopi.1. leukemia. (5 µm. endoskopi. Masker . infeksi traktus respiratorius. Aspergillus spp. Banyak jamur dan parasit dapat timbul selama pemberian obat antibiotika bakteri dan obat immunosupresan. kateterisasi. Usia muda dan usia tua berhubungan dengan penurunan resistensi tubuh terhadap infeksi kondisi ini lebih diperberat bila penderita menderita penyakit kronis seperti tumor. intubasi dan tindakan pembedahan juga meningkatkan resiko infeksi. Resiko terjadinya infeksi nosokomial pada pasien Resiko infeksi Tipe pasien Minimal Tidak immunocompromised. juga dapat ditularkan. dan varicella-zoster virus. ‡ Serratia marcescens. paru.3. dan transfusi darah.

Banyak strains dari pneumococci. pasien harus memakai masker jika meninggalkan ruangan. Penggunaan antibiotika secara besar-besaran untuk terapi dan profilaksis adalah faktor utama terjadinya resistensi. banyak penyakit yang serius dan fatal ketika itu dapat diterapi dan disembuhkan.3. Penularan infeksi ini dapat melalui tangan. dan tuberculosis telah resisten terhadap banyak antibiotikaa.9 II. infeksi saluran nafas. Dapat juga melalui cairan yang diberikan intravena dan jarum suntik. Pemakaian infus dan kateter urin lama yang tidak diganti-ganti.5 Ekstravasasi infiltrat : cairan infus masuk ke jaringan sekitar insersi kanula . Keadaan ini sangat nyata terjadi terutama di negara-negara berkembang dimana antibiotika lini kedua belum ada atau tidak tersedia. mengakibatkan timbulnya multiresistensi kuman terhadap obat-obatan tersebut.1. Meningkatnya resistensi bakteri dapat meningkatkan angka mortalitas terutama terhadap pasien yang immunocompromised. infeksi dari luka operasi dan septikemia. hepatitis dan HIV. begitu juga klebsiella dan pseudomonas aeruginosa juga telah bersifat multiresisten.4 Resistensi Antibiotika Seiring dengan penemuan dan penggunaan antibiotika penicillin antara tahun 1950-1970. Bagaimana pun juga. pengobatan atau umur ‡ Mikororganisme yang baru (mutasi) ‡ Meningkatnya resistensi bakteri terhadap antibiotika II. dan menjadi sangat penting karena: ‡ Meningkatnya jumlah penderita yang dirawat ‡ Seringnya imunitas tubuh melemah karena sakit. Infeksi nosokomial sangat mempengaruhi angka morbiditas dan mortalitas di rumah sakit. Makanan yang tidak steril. Peralatan dan instrumen kedokteran. Penyebab utamanya karena: ‡ Penggunaan antibiotika yang tidak sesuai dan tidak terkontrol ‡ Dosis antibiotika yang tidak optimal ‡ Terapi dan pengobatan menggunakan antibiotika yang terlalu singkat ‡ Kesalahan diagnosa Banyaknya pasien yang mendapat obat antibiotika dan perubahan dari gen yang resisten terhadap antibiotika. infeksi jarum infus. 4 Infection by direct or indirect contact Infeksi yang terjadi karena kontak secara langsung atau tidak langsung dengan penyebab infeksi. fisis dan kimiawi.1. Resitensi dari bakteri di transmisikan antar pasien dan faktor resistensinya di pindahkan antara bakteri. diperkirakan 20-25% pasien memerlukan terapi infus.5 Faktor alat Dari suatu penelitian klinis. Komplikasi kanulasi intravena ini dapat berupa gangguan mekanis. Penggunaan antibiotika yang terus-menerus ini justru meningkatkan multipikasi dan penyebaran strain yang resistan. enterococci. keberhasilan ini menyebabkan penggunaan berlebihan dan pengunsalahan dari antibiotika. infeksi nosokomial tertama disebabkan infeksi dari kateter urin. kulit dan baju. tidak dimasak dan diambil menggunakan tangan yang menyebabkan terjadinya cross infection. infeksi kulit.untuk petugas kesehatan. Banyak mikroorganisme yang kini menjadi lebih resisten. Diruang penyakit dalam. Pembatasan area bagi pasien. seperti golongan staphylococcus aureus. Komplikasi tersebut berupa:3. staphylococci.

sedangkan infeksi yang terjadi setelah beberapa waktu yang lama biasanya karena mikroorganisme eksogen. dan terapi inhalasi. Organisme yang biaa menginfeksi biasanya E.Penyumbatan : Infus tidak berfungsi sebagaimana mestinya tanpa dapat dideteksi adanya gangguan lain Flebitis : Terdapat pembengkakan.2 Macam penyakit yang disebabkan oleh infeksi nosokomial II.3. intubasi. kerongkongan. dan perut. tetapi dapat menyebabkan terjadinya bakteremia dan mengakibatkan kematian.2. II.4. influenza virus. Pseudomonas.9.2 Pneumonia Nosokomial Pneumonia nosokomial dapat muncul.1 Infeksi saluran kemih Infeksi ini merupakan kejadian tersering. Organisme ini sering berada di mulut. Penyebab paling utama adalah kontaminasi tangan atau sarung tangan ketika pemasangan kateter. Proteus. pemasangan NGT. cairan infus yang hipertonik dan darah transfusi karena merupakan media pertumbuhan mikroorganisme. Klebsiella. kateter yang terpasang lebih dari 72 jam. tindakan trakeostomi. Walaupun tidak terlalu berbahaya. enterovirus dan corona virus. adeno virus. Kolonisasi kuman pada ujung kateter merupakan awal infeksi tempat infus dan bakteremia. Infeksi yang terjadi lebih awal lebih disebabkan karena mikroorganisme endogen.9 Dari kelompok virus dapat disebabkan olehcytomegalovirus. Dapat juga karena sterilisasi yang gagal dan teknik septik dan aseptik. Keberadaan organisme ini dapat menyebabkan infeksi karena adanya aspirasi oleh organisme ke traktus respiratorius bagian bawah.9 II. hidung. kateter yang dipasang pada tungkai bawah. sekitar 40% dari infeksi nosokomial. kemerahan dan nyeri sepanjang vena Trombosis : Terdapat pembengkakan di sepanjang pembuluh vena yang menghambat aliran infus Kolonisasi kanul : Bila sudah dapat dibiakkan mikroorganisme dari bagian kanula yang ada dalam pembuluh darah Septikemia : Bila kuman menyebar hematogen dari kanul Supurasi : Bila telah terjadi bentukan pus di sekitar insersi kanul Beberapa faktor dibawah ini berperan dalam meningkatkan komplikasi kanula intravena yaitu: jenis kateter.2.dan Pseudomonas. peralatan tambahan pada tempat infus untuk pengaturan tetes obat. para influenza virus. manipulasi terlalu sering pada kanula. 80% infeksinya dihubungkan dengan penggunaan kateter urin. pemasangan melalui venaseksi. ukuran kateter. tidak mengindahkan pronsip anti sepsis.Coli. terutama pasien yang menggunakan ventilator.11 Sangat sulit untuk dapat mencegah penyebaran mikroorganisme sepanjang uretra yang melekat dengan permukaan dari kateter. Kuman penyebab infeksi ini tersering berasal dari gram negatif seperti Klebsiella. Kebanyakan pasien akan terinfeksi setelah 1-2 minggu pemasangan kateter. 11 Faktor resiko terjadinya infeksi ini adalah:9 ‡ Tipe dan jenis pernapasan ‡ Perokok berat ‡ Tidak sterilnya alat-alat bantu ‡ Obesitas ‡ Kualitas perawatan . atau Enterococcus. atau air yang digunakan untuk membesarkan balon kateter.

dan HIV. kebersihan udara harus sangat diperhatikan. rotavirus.3 Bakteremi Nosokomial Infeksi ini hanya mewakili sekitar 5 % dari total infeksi nosokomial. Virus yang dapat menular dari cara ini adalah virus hepatitis B. ‡ Faktor ekstrinsik: Pemasangan nasogastric tube dan mengkonsumsi obat-obatan saluran cerna. Vibrio Cholerae dan Clostridium. kateter urin dan infus. Pada pasien dengan sistem imun yang rendah. 4. Sedangkan dinegara dengan prevalensi penderita tuberkulosis yang tinggi. dan o perubahan pada flora normal. Salmonella. Infeksi dapat muncul di tempat masuknya alat-alat seperti jarum suntik. Faktor utama penyebab infeksi ini adalah panjangnya kateter.2. memproduksi endotoksin yang .4 Infeksi Nosokomial lainnya 1. Kontrol terpenting untuk penyakit ini adalah identifikasi yang baik. kateter jantung dan suntikan. muncul tanpa adanya tanda infeksi sebelumnya. isolasi. dan hepatitis A. Dipteri. dan perawatan dari pemasangan kateter atau infus. Infeksi pembuluh darah11 Infeksi ini sangat berkaitan erat dengan penggunaan infus.coli.‡ Penyakit ‡ Penyakit ‡ Beratnya kondisi ‡ Tingkat ‡ Penggunaan ‡ Penurunan kesadaran pasien jantung paru pasien dan penggunaan ventilator kegagalan dan kronis kronis organ antibiotika intubasi Penyakit yang biasa ditemukan antara lain: respiratory syncytial virus dan influenza. muncul sebagai akibat dari infeksi dari organisme yang sama dari sisi tubuh yang lain. adenovirus. Tuberkulosis11 Penyebab utama adalah adanya strain bakteri yang multi. 3. Bedakan antara diarrhea dan gastroenteritis. suhu tubuh saat melakukan prosedur invasif. Infeksi ini dibagi menjadi dua kategori utama: ‡ Infeksi pembuluh darah primer. terutama disebabkan oleh bakteri yang resistan antibiotika seperti Staphylococcus dan Candida. dari gologan virus lebih banyak disebabkan oleh golongan enterovirus. II. tetanus dan pertusis11 ‡ Corynebacterium diptheriae. diarrhea dan gastroenteritis11 Mikroorganisme tersering berasal dari E. gram negatif pleomorfik. virus hepatitis C. 2.2. tetapi dengan resiko kematian yang sangat tinggi. dan pengobatan serta tekanan negatif dalam ruangan. Faktor resiko dari gastroenteritis nosokomial dapat dibagi menjadi faktor intrinsik dan faktor ekstrinsik. seperti achlorhydria o lemahnya motilitas intestinal. dan berbeda dengan organisme yang ditemukan dibagian tubuhnya yang lain ‡ Infeksi sekunder. II. ‡ Faktor intrinsik: o abnormalitas dari pertahanan mukosa. Selain itu. pneumonia lebih disebabkan karena Legionella dan Aspergillus.drugs resisten.

varicella zooster. sterilisasi dan disinfektan. ‡ Infeksi pada saluran pencernaan Gastroenteritis. Infeksi ini termasuk:1 ‡ Infeksi pada tulang dan sendi Osteomielitis. tindakan septik dan aseptik. sinusitis. infeksi tulang atau sendi dan discus vertebralis ‡ Infeksi sistem Kardiovaskuler Infeksi arteri atau vena. dan waktu mencuci tangan yang lama. dan vaksinasi. Luka terbuka seperti ulkus. dan rubella. perbedaan fasilitas yang dimiliki dan perbedaan negara yang didiami. Dari golongan virus yaitu herpes simplek. Hal yang perlu diingat adalah: Memakai sarung tangan ketika akan mengambil . penularan terutama melalui sistem pernafasan. hal ini sulit dilakukan dengan benar. bekas terbakar. II. miokarditis. ‡ Bordetella Pertusis. otitis interna. yang menyebabkan batuk rejan. otitis eksterna. perikarditis dan mediastinitis ‡ Infeksi sistem saraf pusat Meningitis atau ventrikulitis. mastoiditis. dan infeksi saluran nafas atas. dan infeksi lainnya ‡ Infeksi pada sistem reproduksi Endometriosis dan luka bekas episiotomi II. Siklus tiap 3-5 tahun dan infeksi muncul sebanyak 50 dalam 100% individu yang tidak imun. Infeksi kulit dan jaringan lunak. ‡ Mengontrol resiko penularan dari lingkungan. monitoring dan program yang termasuk: ‡ Membatasi transmisi organisme dari atau antar pasien dengan cara mencuci tangan dan penggunaan sarung tangan. dan mulut Konjunctivitis.3 Pencegahan terjadinya Infeksi Nosokomial Pencegahan dari infeksi nosokomial ini diperlukan suatu rencana yang terintegrasi. trakeitis. Organisme yang menginfeksi akan berbeda pada tiap populasi karena perbedaan pelayanan kesehatan yang diberikan. nutrisi yang cukup. absess spinal dan infeksi intra kranial ‡ Infeksi mata. ‡ Clostridium tetani. infeksi intra abdominal ‡ Infeksi sistem pernafasan bawah Bronkhitis. endokarditis. ‡ Pengawasan infeksi. trakeobronkhitis. necrotizing enterocolitis. otitis media. alergi produk pencuci tangan. sedikitnya pengetahuan mengenai pentingnya hal ini.menyebabkan timbulnya penyakit.1 Dekontaminasi tangan Transmisi penyakit melalui tangan dapat diminimalisasi dengan menjaga hiegene dari tangan. hepatitis. identifikasi penyakit dan mengontrol penyebarannya. Tetapi pada kenyataannya. ‡ Membatasi resiko infeksi endogen dengan meminimalkan prosedur invasif.3. gram positif anaerobik yang menyebabkan trismus dan kejang otot. ‡ Melindungi pasien dengan penggunaan antibiotika yang adekuat. dan luka bekas operasi memperbesar kemungkinan terinfeksi bakteri dan berakibat terjadinya infeksi sistemik. hidung. penggunaan sarung tangan sangat dianjurkan bila akan melakukan tindakan atau pemeriksaan pada pasien dengan penyakitpenyakit infeksi. karena banyaknya alasan seperti kurangnya peralatan. infeksi mata. Selain itu. telinga.

tempat tidur. kamar mandi. Begitupun dengan pasien yang menderita infeksi saluran nafas.3 Mencegah penularan dari lingkungan rumah sakit Pembersihan yang rutin sangat penting untuk meyakinkan bahwa rumah sakit sangat bersih dan benar-benar bersih dari debu.11 Baju khusus juga harus dipakai untuk melindungi kulit dan pakaian selama kita melakukan suatu tindakan untuk mencegah percikan darah. Selain itu. Perlu diingat bahwa sekitar 90 persen dari kotoran yang terlihat pasti mengandung kuman. feses maupun urine. II. cairan tubuh. Sterilisasi air pada rumah sakit dengan prasarana yang terbatas dapat menggunakan panas matahari. Usahakan adanya pemakaian penyaring udara. membran mukosa dan bahan yang kita anggap telah terkontaminasi. lantai. Kamar dengan pengaturan udara yang baik akan lebih banyak menurunkan resiko terjadinya penularan tuberkulosis.2 Instrumen yang sering digunakan Rumah Sakit Simonsen et al (1999) menyimpulkan bahwa lebih dari 50% suntikan yang dilakukan di negara berkembang tidaklah aman (contohnya jarum. dapat melarutkan minyak dan protein. sebagai pelindung terhadap penyakit yang ditularkan melalui udara. tirai. minyak dan kotoran.3. Disinfeksi yang dipakai adalah: ‡ Mempunyai kriteria membunuh kuman ‡ Mempunyai efek sebagai detergen ‡ Mempunyai efek terhadap banyak bakteri. urin. dan segera mencuci tangan setelah melepas sarung tangan. Sarung tangan harus selalu diganti untuk tiap pasiennya. cairan tubuh.11 Disinfektan akan membunuh kuman dan mencegah penularan antar pasien. atau keringat.3.11 Toilet rumah sakit juga harus dijaga.atau menyentuh darah. dan alat-alat medis yang telah dipakai berkali-kali. Sarung tangan. ‡ Tidak sulit digunakan ‡ Tidak mudah menguap ‡ Bukan bahan yang mengandung zat yang berbahaya baik untuk petugas maupun pasien ‡ Efektif ‡ tidak berbau. Masker. Permukaan toilet harus selalu bersih dan diberi disinfektan. tabung atau keduanya yang dipakai berulangulang) dan banyaknya suntikan yang tidak penting (misalnya penyuntikan antibiotika). jendela. Harus ada waktu yang teratur untuk membersihkan dinding. urin dan feses. pintu. mereka harus menggunakan masker saat keluar dari kamar penderita. sanrung tangan harus segera diganti. Setelah membalut luka atau terkena benda yang kotor.11 II. Pengaturan udara yang baik sukar dilakukan di banyak fasilitas kesehatan. rumah sakit harus membangun suatu fasilitas penyaring air dan menjaga kebersihan pemrosesan serta filternya untuk mencegahan terjadinya pertumbuhan bakteri. terutama bagi penderita dengan status imun yang rendah atau bagi penderita yang dapat menyebarkan penyakit melalui udara. sebaiknya digunakan terutama ketika menyentuh darah. tinja. cairan tubuh. atau tidak berbau tak enak . terutama pada unit perawatan pasien diare untuk mencegah terjadinya infeksi antar pasien.7 Untuk mencegah penyebaran penyakit melalui jarum suntik maka diperlukan: ‡ Pengurangan penyuntikan yang kurang diperlukan ‡ Pergunakan jarum steril ‡ Penggunaan alat suntik yang disposabel.

misalnya seperti apa yang terjadi di dalam saluran cerna manusia. respon dan toleransi tubuh. beberapa pasien dalam satu ruangan tidaklah apa-apa selama mereka menderita penyakit yang sama. terutama karena pemakaian ventilator.5 Ruangan Isolasi Penyebaran dari infeksi nosokomial juga dapat dicegah dengan membuat suatu pemisahan pasien. Tetapi menjaga kebersihan tangan dan makanan. pemasangan NGT. banyaknya pasien yang keluar masuk. contohnya DHF dan HIV.4 Perbaiki ketahanan tubuh Di dalam tubuh manusia. orang yang menggunakan obat-obatan immunosupresan dan steroid. faktor lingkungan. Resistensi Antibiotika disebabkan karena: Penggunaan antibiotika yang tidak sesuai dan tidak terkontrol. tingkat virulensi. dosis antibiotika yang tidak optimal. Dengan demikian bahaya infeksi dengan bakteri oportunis pada penderita penyakit berat dapat diatasi tanpa harus menggunakan antibiotika. Nosokomial pneumonia. intubasi. dan kesalahan diagnosa. Ruang isolasi ini harus selalu tertutup dengan ventilasi udara selalu menuju keluar. dan faktor alat. dihubungkan dengan penggunaan kateter urin. resistensi terhadap zat-zat antibiotika. dipengaruhi oleh pemakaian infus dan kateter urin lama yang tidak diganti-ganti. pasien yang mempunyai resistensi rendah eperti leukimia dan pengguna obat immunosupresan juga perlu diisolasi agar terhindar dari infeksi. penggabungan kamar pasien yang terkena infeksi dengan pengguna obatobat immunosupresan. Respon dan toleransi tubuh pasien dipengaruhi oleh: Umur. tetapi bila sedang terjadi kejadian luar biasa dan penderita melebihi kapasitas. penyakit yang diderita. alat. Faktor lingkungan dipengaruhi oleh padatnya kondisi rumah sakit. Biasanya. intervensi yang dilakukan pada tubuh untuk melakukan diagnosa dan terapi. resistensi antibiotika. terapi dan pengobatan menggunakan antibiotika yang terlalu singkat. dan terapi inhalasi.3. dan banyaknya materi infeksius. . sehingga dapat dipakai dalam mempertahankan ketahanan tubuh tersebut pada penderita penyakit berat. contohnya tuberkulosis. obesitas dan malnutrisi. selain ada bakteri yang patogen oportunis.II. 6 II. Sebaiknya satu pasien berada dalam satu ruang isolasi. Penularan yang melibatkan virus. Ruang isolasi sangat diperlukan terutama untuk penyakit yang penularannya melalui udara. ‡ Agen Infeksi yang kemungkinan terjadinya infeksi tergantung pada: karakteristik mikroorganisme. dan membantu ketahanan tubuh melawan invasi jasad renik patogen serta menjaga keseimbangan di antara populasi jasad renik komensal pada umumnya. dan materi yang sering digunakan tidak hanya pada satu orang pasien.faktor yang menyebabkan perkembangan infeksi nosokomial tergantung dari agen yang menginfeksi. kontaminasi benda. dan SARS. ada pula bakteri yang secara mutualistik yang ikut membantu dalam proses fisiologis tubuh. tindakan trakeostomy.9 BAB KESIMPULAN DAN SARAN III III. Infeksi ini merupakan kejadian tersering. Faktor alat. Nosokomial bakteremi yang memiliki resiko kematian yang sangat tinggi. ‡ Macam penyakit yang disebabkan oleh infeksi nosokomial.1 Kesimpulan ‡ Faktor. status imunitas penderita.3. misalnya Infeksi saluran kemih. yang mengakibatkan kontaminasi berat. Pengetahuan tentang mekanisme ketahanan tubuh orang sehat yang dapat mengendalikan jasad renik oportunis perlu diidentifikasi secara tuntas. peralatan kesehatan di dalam ruang isolasi juga sangat penting.

agussur@hotmail.com 7. Yogyakarta. identifikasi penyakit dan mengontrol penyebarannya. Light RW.louisiana. ‡ Mengurangi prosedur-prosedur invasif untuk menghindari terjadinya infeksi nosokomial. 2nd edition. London. Boston. St Louis. Redaksi Intisari. noscomial infection. Harrison¶s Principle of Internal Medicine 15 Edition.in International society for infectious diseases. Cleveland Street. Suwarni. www. Ilmu Penyakit Dalam Jilid II. Jakarta. second ed. et al. G.2 Saran ‡ Eliminasi dan kurangi perkembangan agen penyebab infeksi dan faktor lainnya yang menyebabkan perkembangan infeksi nosokomial. Current Diagnosis and Treatment in Internal Medicine. monitoring dan program untuk mengawasi kejadian infeksi. DAFTAR PUSTAKA 1. A practical guide. Badan Litbang Kesehatan Departemen Kesehatan dan Kesejahteraan Sosial. Balai Penerbit FKUI. Pocket Reference to Hospital Acquired infection. Babb.-CD Room. Olmsted RN. 2002 4.Louisiana. dkk. ‡ Pencegahan terjadinya Infeksi Nosokomial memerlukan suatu rencana yang terintegrasi. Surveillance and Response. dan alat-alat medis yang telah dipakai berkali-kali.2004 11. AJ.gov 3. A. Liffe. pintu. A. Pohan. tirai. Science Press limited. Ducel. anonymus. Studi Diskriptif Pola Upaya Penyehatan Lingkungan Hubungannya dengan Rerata Lama Hari Perawatan dan Kejadian Infeksi Nosokomial Studi Kasus: Penderita Pasca Bedah Rawat Inap di Rumah Sakit Pemerintah dan Swasta Provinsi DIY Tahun 1999. Infectious Disease Epidemiology Section. ‡ Penybaran infeksi nosokomial terutama dari udara dan air harus menjadi perhatian utama agar infeksi tidak meluas. Department of Communicable disease. Infection control in the hospital. Soeparman. Infectious disease. 2001 6.dhh.‡ Mencegah penularan dari lingkungan rumah sakit terutama dari dinding. Mosby. 2002 Profilaksis Pascapajanan Apa Profilaksis Pascapajanan Itu? Unduh versi PDF . APIC Infection Control and Applied Epidemiology: Principles and Practice. III. 2002 8. lantai. 2001 9. Preventing Nosocomial Infection. Jakarta. 1996 2. Prevention of hospital-acquired infections.oph. 2001 5. Anonymus. tempat tidur. kamar mandi. 1995 10. Wenzel. Pusat Informasi dan Penerbitan Departemen Ilmu Penyakit Dalam FKUI. jendela. Surono. JR. HT. World Health Organization.

ada tiga macam pajanan itu: Pajanan di tempat kerja. Pajanan adalah peristiwa yang menimbulkan risiko penularan. Jadi profilaksis pascapajanan (atau PPP) berarti penggunaan obat untuk mencegah infeksi setelah terjadi peristiwa yang berisiko. Risiko lebih tinggi jika: y y y y tusukan dalam. jarum atau alat sebelumnya ditempatkan pada pembuluh darah pasien. atau mulut. Pajanan akibat perkosaan. dalam hal ini biasanya petugas perawatan kesehatan. Terkait dengan PPP. dan jangan ditekan karena ini tidak berguna. Peristiwa yang termaksud biasanya kecelakaan akibat tertusuk jarum suntik bekas pakai secara tidak sengaja pada petugas. Tambahannya. Pajanan akibat hubungan seks berisiko. cairan vagina atau ASI dari seorang yang terinfeksi HIV masuk ke aliran darah orang lain. . Pajanan mata: bilas selama beberapa menit dengan air bersih. yang sering disertai kekerasan. atau pasien sumber mempunyai viral load HIV yang tinggi. bila tidak dilakukan tindakan pencegahan. hidung atau mata petugas atau orang lain. Pajanan hidung: hembuskan keluar dan bersihkan dengan air. Pajanan juga dapat terjadi dengan pisau bedah. Jangan dihisap dengan mulut. atau jika darah atau cairan lain pasien kena luka terbuka. Risiko Penularan Akibat Pajanan di Tempat Kerja Kemungkinan terjadinya penularan akibat tertusuk jarum suntik adalah rendah: rata-rata 0. air mani.3%. Pajanan mulut: ludahkan dan berkumur.Profilaksis berarti pencegahan infeksi dengan obat. dan berasal jika darah. Apa yang Harus Dilakukan Setelah Pajanan? Jangan panik! Namun segera lakukan tindakan. darah dapat terlihat pada alat yang menyebabkan luka. Luka tusuk: bilas dengan air mengalir dan sabun atau antiseptik. risikonya lebih tinggi. Pajanan ini biasa terjadi dalam sarana medis. Pemerkosa hampir pasti tidak memakai kondom. Kurang lebih satu dari 300 kasus akan menghasilkan infeksi HIV pada petugas kesehatan. misalnya bila kondom pecah atau lepas saat seorang Odha berhubungan seks dengan pasangan HIV-negatif. Desinfeksi luka dan daerah sekitar kulit dengan betadine selama lima menit atau alkohol selama tiga menit. jika hubungan seks terjadi secara paksa.

dan jika risiko dianggap sangat tinggi. Bagaimana PPP Dipakai? PPP dilakukan dengan penggunaan obat antiretroviral (ARV) ± lihat Lembaran Informasi (LI) 403. darah dapat terlihat pada jarum yang menusuk. kerahasiaannya harus dijamin. Saat ini di Indonesia. Diusulkan orang yang terpajan melakukan tes HIV pada awal (tidak lebih dari 24 jam). berdasarkan hasil penyelidikan. diusulkan ditambah satu jenis obat lagi. PPP hanya disediakan untuk petugas layanan kesehatan yang mengalami kecelakaan kerja. Kapan PPP Diusulkan? Keputusan harus diambil apakah PPP akan dimulai. biasanya protease inhibitor. sebaiknya dalam 1-2 jam dan tidak lebih dari 72 jam. PPP dapat dihentikan. darah bersentuh pada luka yang terbuka. yaitu AZT. misalnya lopinavir/r (Kaletra/Aluvia). Penelitian menunjukkan penurunan 79% pada risiko tertular dengan penggunaan obat tunggal ini.Hubungan seks: jangan bilas vagina. Orang yang terpajan harus segera diberi konseling. Terakhir ini. beberapa pakar mengusulkan dipakai tenofovir + 3TC/FTC. tetapi boleh dihentikan jika ada efek samping yang berat. dan setelah 4. 12. Efek Samping PPP . Jelas. Setelah dibersihkan. ditambah Aluvia untuk yang berisiko tinggi. PPP harus dimulai secepatnya setelah pajanan. Nevirapine dan efavirenz tidak diusulkan untuk PPP. PPP harus dilangsungkan selama empat minggu. Namun sekarang. Namun tes HIV pada pasien sumber harus dilaksanakan sesuai dengan peraturan ± lihat LI 102. dan konseling harus tersedia lagi selama masa memakai PPP. Namun rejimen ini belum disetujui dalam pedoman nasional. dan tidak ada kemungkinan dia masih dalam masa jendela. dipakai. Jika pasien sumber pajanan ternyata HIV-negatif. air mani atau cairan vagina seseorang dengan viral load yang tinggi. Dahulu. dan 24 minggu. hanya satu jenis obat. Keadaan yang dianggap cukup berat untuk mulai PPP termasuk: y y y y pajanan pada banyak darah. atau pajanan pada darah. dua jenis obat (AZT + 3TC) biasanya dipakai. laporkan pajanan agar dapat segera diselidiki.

disebabkan oleh virus hepatitis C. untuk mencegah infeksi HIV. 1. atau "hep C". Hepatitis C. Anda bisa mendapatkan vaksinasi untuk pencegahan hep A dan hep . Semua infeksi ini dapat dicegah dengan penggunaan kewaspadaan universal (lihat LI 811). PPP tidak 100% efektif. Infeksi ini termasuk virus hepatitis B dan C.Efek samping yang paling umum termasuk mual dan rasa tidak nyaman.3% pajanan menghasilkan infeksi HIV. Efek samping lain dapat dilihat pada lembaran informasi masing-masing obat. 1. sebaiknya PPP hanya dipakai jika benar-benar dibutuhkan. Cara terbaik untuk mencegah terjadinya penularan pada sarana medis adalah melaksanakan kewaspadaan universal pada semua pasien. Cara penularannya juga berbeda.1 Apakah hepatitis C itu ? Istilah 'hepatitis' berarti radang hati. Hanya 0. yang sering menyertai HIV pada orang yang terinfeksi melalui penggunaan jarum suntik bergantian. PPP dapat mengurangi risiko terinfeksi hingga 79%. Garis Dasar Profilaksis pascapajanan (PPP) adalah penggunaan ARV secepatnya setelah terjadi peristiwa yang berisiko penularan HIV. dengan daya menular yang jauh lebih tinggi dibandingkan HIV. Kewaspadaan ini termasuk penggunaan sarung tangan lateks dan pelindung lain waktu melaksanakan tindakan yang berisiko pada semua pasien. Pajanan pada Infeksi Lain Harus diingat bahwa ada beberapa infeksi lain yang diangkut darah. obat bius. PPP terdiri dari dua atau tiga obat yang dipakai dua kali sehari selama empat minggu. Karena ARV dapat menyebabkan efek samping yang cukup berat. PPP hanya dipakai setelah penyelidikan menunjukkan ada risiko pada orang yang terpajan. Peradangan ini bisa disebabkan oleh zat kimia. bukan hanya mereka yang diketahui terinfeksi penyakit tersebut. hep B dan hep C adalah virus yang berlainan yang menyebabkan peradangan hati. terlalu banyak minum alkohol atau beberapa jenis virus. berarti PPP tidak menjamin pajanan pada HIV tidak akan menghasilkan infeksi.2 Apakah hep C itu sama dengan hep A dan hep B ? Hep A.

‡ Batuk.3 Bagaimanakah hep C ditularkan ? Hep C ditularkan sewaktu darah yang terinfeksi masuk ke aliran darah orang yang belum terinfeksi. demikian juga di negara anda dan negara lainnya. Resiko rendah ‡ Luka tertusuk jarum bagi petugas kesehatan. ‡ Pemakaian bersama alat makan dan alat minum . ‡ Penularan dari Ibu ke anak mungkin bisa terjadi selama mengandung atau setelah melahirkan jika Ibu terinfeksi hep C. bersin. Seseorang bisa terinfeksi hep C tanpa mengetahuinya karena gejalanya bisa memakan waktu bertahun-tahun. Donor darah.4 Apa akibat dari hep C? . berciuman atau berpelukan. contohnya pisau cukur dan sikat gigi. ‡ Gigitan nyamuk atau serangga lainnya. vaksinasi. Banyak mitos tentang bagaimana penularannya hep C. ‡ Transfusi dan produk darah di Australia sebelum tahun 1990.C lebih banyak disebabkan oleh penggunaan alat-alat suntik obat bius yang sudah dipakai orang lain. dan banyak orang tidak tahu bahwa mereka terinfeksi. Cara penularan hep C yang disebut diatas pada umumnya terjadi di banyak negara. ‡ Di Australia kasus penularan Hep. Hep C TIDAK DAPAT ditularkan melalui: ‡ Pemakaian toilet secara bersama. ‡ Kolam renang. Walaupun jumlah darahnya sangat kecil untuk dilihat dengan mata biasa. dan prosedur medis sudah aman di Australia. 1. Hep C terjadi di semua Negara di dunia. termasuk juga steroid. Ada kemungkinan terjangkit virus hepatitis yang berlainan pada waktu yang bersamaan. maka sangat penting untuk diingat bahwa: Hep C DAPAT ditularkan dengan: Resiko tinggi ‡ Alat-alat medis yang tidak steril atau alat-alat medis di dokter gigi dan pengobatan tradisional dengan cara menindik tubuh. ‡ Menggunakan barang orang lain yang mungkin ada darah yang tertinggal. ‡ Hubungan darah ke darah selama hubungan seks. Satu dari seratus orang di Australia dan diseluruh dunia terinfeksi hep C. ‡ Tato dan menindik tubuh yang tidak steril. Sampai saat ini di Australia masih beresiko.B. ‡ Luka tertusuk jarum dari jarum bekas obat bius yang dibuang ditempat umum. tetapi belum ada vaksin pencegahan untuk hep C. 1. masih bisa menularkan virus.

‡ Apabila mereka terinfeksi hep C. atau pemakaian bersama alat-alatnya. menggunakan pisau cukur dan pemakaian bersama sikat gigi. Kebanyakan penderita tidak mengalami gejala hep C. Anda bisa mendapatkan tes secara gratis dan rahasia di klinik kesehatan seksual. ‡ Pernah menggunakan narkoba yang disuntikan. ‡ Pernah mendapatkan perawatan tradisional. Jika penderita mengalami gejala. kira-kira 30 dari mereka akan terlihat gejalanya. termasuk steroid. Bisa juga menanyakan ke dokter tentang hep C dan tes hep C. tanpa adanya pengobatan . yang akan dirasakan dalam waktu 10 sampai 15 tahun. ‡ Kurang pasti bahwa alat-alat tato dan menindik tubuh tidak steril ‡ Menerima transfusi atau produk darah sebelum Februari 1990 di Australia. Dewan Hepatitis C di daerah Anda (Hepatitis C Council) akan memberikan dukungan dan informasi tentang hidup dengan hep C. tanpa kartu kesehatan ("medicare card"). atau membantu seseorang menggunakan suntikan narkoba (termasuk steroid) ‡ Pernah di penjara dan menggunakan narkoba yang disuntikan. setidaknya 1 dari 4 orang dapat disembuhkan secara bertahap. vaksinasi atau prosedur medis. Anda bisa meminta dokter untuk menjalani tes ini. dan mungkin secara tidak steril di negara lain. Page 2 1. biasanya gejala yang lazim ialah: selalu lelah. atau pemakaian bersama alat-alatnya . ‡ Setelah 20 tahun. 1. dan menjaga kesehatannya sebaik mungkin. 5 dari mereka akan terkena kanker hati. mendapatkan tato atau menindik tubuh. yang akan menjaga kerahasiaan. 1. rasa mual dan rasa sakit di bagian perut bawah. tato atau menindik tubuh secara tidak steril.‡ Dari 100 orang penderita hep C. dalam masa kurun waktu 12 bulan. ‡ Sisa yang 75% lagi masih terjangkit virus pada tubuhnya.5 Tes hep C Tes hep C perlu dijalankan apabila: ‡ Anda telah menerima tranfusi atau produk darah. Satu-satunya cara untuk menentukan apakah anda mempunyai hep C adalah menjalani tes darah. tetapi kemungkinan penderita tidak merasakan gejalanya.6 Hep C dan kesehatan pribadi Sangat penting bagi penderita hep C melakukan pemeriksaan rutin oleh dokter.7 Perawatan hep C . kira-kira 10 akan terserang kegagalan hati tanpa adanya pengobatan. Anda berhak meminta penterjemah.

‡ Menyediakan alat-alat suntikan yang steril dan pendidikan bagi pemakai suntikan narkoba ( mengurangi resiko).. Termasuk juga pekerjaan. Ada beberapa penderita hep C yang menggunakan obat-obatan tradisional untuk mengurangi gejala-gejala dan efek samping dari perawatan. Sudah terbukti "NSP" di Australia cukup sukses dalam pencegahan penularan hep C. Dukungan dan pengertian untuk penyandang hep C. Untuk keterangan lebih lanjut anda bisa menghubungi Dewan Hepatitis C di daerah Anda ("Hepatitis C Council") atau ahli medis tradisional yang terdaftar untuk obat-obatan tradisional. Di seluruh dunia. penularan hep C dapat dicegah melalui: ‡ Donasi darah yang sudah di seleksi ("screening"). yang bisa menyembuhkan infeksi hep C yang kira-kira melingkupi -50-80% kasus.9 Dukungan dan pengertian Hep C bisa membawa aib dan salah pengertian. jangan memberi tahu orang lain kecuali jika Anda diizinkandari penderita. Jika seseorang mengatakan kepada anda bahwa dia menyandang hep C. Untuk keterangan lebih lanjut anda bisa menghubungi dokter anda atau dari Dewan Hepatitis C di daerah Anda ("Hepatitis C Council"). dan masyarakat kita. Program jarum dan alat-alat semprot ("Needle and Syringe Programs" atau "NSP') membantu mengurangi bahaya dari pengguna suntikan narkoba di Australia dan di seluruh dunia. . yaitu perawatan kombinasi ("Combination Therapy').8 Pencegahan hep C di kalangan masyarakat. ada beberapa kondisi yang memerlukan pemeriksaan untuk perawatan. keluarga dan masyarakat yang disebabkan oleh penyakit ini dan juga menghemat milyaran dolar bagi masyarakat. Klinik. Perawatan kombinasi ini hanya terdapat di dokter ahli bagian klinik ("specialist") hati. . akan memudahkan bagi keluarga. 1. Membuat orang merasa malu dan terkucil. Masalah terbesar bagi penderita hep C adalah kepada siapa kita bisa mengatakannya (menyingkapkan). Tidak semua penderita hep C memerlukan perawatan.* 1. ‡ Praktek medis umum dan traditional yang steril. Program tersebut mengurangi pengaruh buruk bagi pribadi.klinik ini hanya tersedia di beberapa Rumah Sakit pilihan dan pusat layanan khusus masyarakat. Di Australia diskriminasi terhadap penyandang hep C dianggap melanggar hukum. Beberapa tempat ahli hati juga menyediakan ruangan khusus pribadi.Ada perawatan untuk hep C. Dokter anda atau Dewan hep C juga dapat memberikan keterangan mengenai lokasi daerah tersedianya klinik. Merusak kepercayaan seseorang mengakibatkan tekanan batin yang berat bagi penderita. teman. ‡ Tempat praktek tato dan menindik tubuh yang steril.

dan infeksi yang baru menunjukkan gejala setelah 72 jam pasien berada dirumah sakit baru disebut infeksi nosokomial 1. bisa menelepon penterjemah atau "Translating and Interpreting Service" ("TIS") di nomor 131 450 (sama ongkos lokal). juga merupakan depot bagi berbagai macam penyakit yang berasal dari penderita maupun dari pengunjung yang berstatus karier.2.1 Definisi Infeksi adalah adanya suatu organisme pada jaringan atau cairan tubuh yang disertai suatu gejala klinis baik lokal maupun sistemik. Infeksi yang muncul selama seseorang tersebut dirawat di rumah sakit dan mulai menunjukkan suatu gejala selama seseorang itu dirawat atau setelah selesai dirawat disebut infeksi nosokomial.Penyandang hep C tidak perlu memberi tahu keadaannya kepada siapapun juga. Tetapi. seperti.10 Informasi lebih lanjut Jika Anda ingin menghubungi pelayanan tersebut dalam bahasa Indonesia. Terjadinya infeksi nosokomial akan menimbulkan banyak kerugian.2 Rumah Sakit Rumah sakit merupakan suatu tempat dimana orang yang sakit dirawat dan ditempatkan dalam jarak yang sangat dekat. makanan dan benda-benda medis maupun non medis. Infeksi endogen disebabkan oleh mikroorganisme yang semula memang sudah ada didalam tubuh dan berpindah ke tempat baru yang kita sebut dengan self infection atau auto infection.4 Infeksi nosokomial ini dapat berasal dari dalam tubuh penderita maupun luar tubuh. pasien yang masuk rumah sakit dan menunjukkan tanda infeksi yang kurang dari 72 jam menunjukkan bahwa masa inkubasi penyakit telah terjadi sebelum pasien masuk rumah sakit. Di tempat ini pasien mendapatkan terapi dan perawatan untuk dapat sembuh. Pekerja pelayanan kesehatan tidak diperbolehkan mengungkapkan keadaan kesehatan anda kepada siapapun tanpa persetujuan anda.5 I. kecuali untuk pengajuan asuransi hidup atau kalau Anda menyumbangkan darah. rumah sakit selain untuk mencari kesembuhan. 1. I. diskriminasi dan pekerjaan. Dan anda bisa berbicara dengan pelayanan yang anda inginkan. Kuman penyakit ini dapat hidup dan berkembang di lingkungan rumah sakit. Secara umum.3. udara. sementara infeksi eksogen (cross infection) disebabkan oleh mikroorganisme yang berasal dari rumah sakit dan dari satu pasien ke pasien lainnya. 1. Dewan Hepatitis C di daerah Anda ("Hepatitis C Council") dapat memberi Anda informasi secara rahasia dan dukungan tentang pengungkapan. Dengan bantuan penterjemah anda bisa disambungkan ke nomor telpon yang anda minta. antara lain : ‡ lama hari perawatan bertambah panjang ‡ penderitaan bertambah .2. air. lantai.

Timur Tengah. dengan rata-rata keseluruhan 6.5 Sumber penularan dan cara penularan terutama melalui tangan dan dari petugas kesehatan maupun personil kesehatan lainnya.2 hari. kondisinya justru sangat memprihatinkan. Untuk rerata lama perawatan berkisar antara 4.3 Walaupun ilmu pengetahuan dan penelitian tentang mikrobiologi meningkat pesat pada 3 dekade terakhir dan sedikit demi sedikit resiko infeksi dapat dicegah. atau beberapa tindakan seperti prosedur diagnostik invasif. anemia.4 Selain itu. penyakit autoimun dan penggunaan imuno supresan atau steroid didapatkan bahwa resiko terkena infeksi lebih besar. Infeksi nosokomial ini pun tidak hanya mengenai pasien saja. Asia Tenggara dan Pasifik tetap menunjukkan adanya infeksi nosokomial dengan Asia Tenggara sebanyak 10. tetapi juga dapat mengenai seluruh personil rumah sakit yang berhubungan langsung dengan pasien maupun penunggu dan para pengunjung pasien.26%. terdapat banyak prosedur dan tindakan yang dilakukan baik untuk membantu diagnosa maupun memonitor perjalanan penyakit dan terapi yang dapat menyebabkan pasien cukup rentan terkena infeksi nosokomial.5 BAB II ISI .06%.4 I.7% dari 55 rumah sakit dari 14 negara yang berasal dari Eropa.7 hari.3.2. infus yang lama dan kateter urin yang lama. dinegara-negara miskin dan berkembang.000 kasus setiap tahunnya walaupun. dengan rata-rata keseluruhan 4.2. tetapi semakin meningkatnya pasien-pasien dengan penyakit immunocompromised. dan dibeberapa negara.3 ± 11. serta penggunaan jasa di luar rumah sakit. berbaring lama.0%. Pasien dengan umur tua. terutama di bagian penyakit dalam dalam. dan cara yang keliru dalam menangani luka. mikroorganisme yang berada di rumah sakit lebih berbahaya dan lebih resisten terhadap obat. dengan penyakit yang sangat parah. kateter iv. penyakit keganasan. Keadaan ini justru memperlama waktu perawatan dan perubahan pengobatan dengan obat-obatan mahal. Karena itulah. A di semua rumah sakit di Yogyakarta tahun 1999 menunjukkan bahwa proporsi kejadian infeksi nosokomial berkisar antara 0. pencegahan infeksi nosokomial lebih diutamakan untuk dapat meningkatkan kualitas pelayanan pasien dirumah sakit dan fasilitas kesehatan lainnya. Semua kondisi ini dapat meningkatkan resiko infeksi kepada si pasien..3. dan prosedur invasif. bakteri yang resisten antibiotik.8 Selama 10-20 tahun belakang ini telah banyak perkembangan yang telah dibuat untuk mencari masalah utama terhadap meningkatnya angka kejadian infeksi nosokomial di banyak negara. Suatu penelitian yang yang dilakukan oleh WHO menunjukkan bahwa sekitar 8.3 Epidemiologi Infeksi nosokomial banyak terjadi di seluruh dunia dengan kejadian terbanyak di negara miskin dan negara yang sedang berkembang karena penyakit-penyakit infeksi masih menjadi penyebab utama. masih menyebabkan infeksi nosokomial menimbulkan kematian sebanyak 88.7 Di beberapa bagian. diabetes. kasa pembalut atau perban. atau pasien dengan penyakit tertentu yaitu penyakit yang memerlukan kemoterapi.‡ biaya meningkat Dari hasil studi deskriptif Suwarni. super infeksi virus dan jamur. kateter urin. Setelah diteliti lebih lanjut maka didapatkan bahwa angka kuman lantai ruang perawatan mempunyai hubungan bermakna dengan infeksi nosokomial.0% hingga 12. jarum injeksi. jika kita bandingkan kuman yang ada di masyarakat. karena itu diperlukan antibiotik yang lebih poten atau suatu kombinasi antibiotik.

Bakteri gram negatif ini bertanggung jawab sekitar setengah dari semua infeksi di rumah sakit. Bakteri patogen lebih berbahaya dan menyebabkan infeksi baik secara sporadik maupun endemik. Bakteri Bakteri dapat ditemukan sebagai flora normal dalam tubuh manusia yang sehat. Kemungkinan terjadinya infeksi tergantung pada:3 ‡ karakteristik mikroorganisme.II. Enterobacter. dialisis. pulang. Penyakit yang didapat dari rumah sakit saat ini kebanyakan disebabkan oleh mikroorganisme yang umumnya selalu ada pada manusia yang sebelumnya tidak atau jarang menyebabkan penyakit pada orang normal. virus. Infeksi ini dapat disebabkan oleh mikroorganisme yang didapat dari orang lain (cross infection) atau disebabkan oleh flora normal dari pasien itu sendiri (endogenous infection). contohnya Escherichia coli. Clostridium yang dapat menyebabkan gangren ‡ Bakteri gram-positif: Staphylococcus aureus yang menjadi parasit di kulit dan hidung dapat menyebabkan gangguan pada paru. Semua mikroorganisme termasuk bakteri. Contohnya Escherichia coli paling banyak dijumpai sebagai penyebab infeksi saluran kemih. Hepatitis dan HIV ditularkan melalui pemakaian jarum suntik. dan peritoneum. yaitu penyakit yang penyebarannya melalui makanan dan udara dan benda atau bahanbahan yang tidak steril.1 Agen Infeksi Pasien akan terpapar berbagai macam mikroorganisme selama ia rawat di rumah sakit. ‡ resistensi terhadap zat-zat antibiotika. suntikan dan endoskopi. termasuk virus hepatitis B dan C dengan media penularan dari transfusi. 2. Respiratory syncytial virus (RSV). ‡ dan banyaknya materi infeksius. Keberadaan bakteri disini sangat penting dalam melindungi tubuh dari datangnya bakteri patogen. dan transfusi darah. Rute penularan untuk virus sama seperti mikroorganisme . Contohnya : ‡ Anaerobik Gram-positif. jamur dan parasit dapat menyebabkan infeksi nosokomial. ‡ Serratia marcescens. jantung dan infeksi pembuluh darah serta seringkali telah resisten terhadap antibiotika. Kontak antara pasien dan berbagai macam mikroorganisme ini tidak selalu menimbulkan gejala klinis karena banyaknya faktor lain yang dapat menyebabkan terjadinya infeksi nosokomial.1. ‡ tingkat virulensi. dapat menyebabkan infeksi serius pada luka bekas jahitan. Proteus. rotavirus. Kebanyakan infeksi yang terjadi di rumah sakit ini lebih disebabkan karena faktor eksternal.3 1. Tetapi pada beberapa kasus dapat menyebabkan infeksi jika manusia tersebut mempunyai toleransi yang rendah terhadap mikroorganisme. paru. Pseudomonas sering sekali ditemukan di air dan penampungan air yang menyebabkan infeksi di saluran pencernaan dan pasien yang dirawat. ‡ Bakteri gram negatif: Enterobacteriacae. Virus Banyak kemungkinan infeksi nosokomial disebabkan oleh berbagai macam virus.1 Faktor Penyebab Perkembangan Infeksi Nosokomial II. Klebsiella. dan enteroviruses yang ditularkan dari kontak tangan ke mulut atau melalui rute faecal-oral.

1.3. Aspergillus spp.9 Tabel 1. Parasit dan Jamur Beberapa parasit seperti Giardia lamblia dapat menular dengan mudah ke orang dewasa maupun anak-anak. Cryptococcus neoformans.4 Resistensi Antibiotika Seiring dengan penemuan dan penggunaan antibiotika penicillin antara tahun 1950-1970. herpes simplex virus.lainnya.2 Respon dan toleransi tubuh pasien Faktor terpenting yang mempengaruhi tingkat toleransi dan respon tubuh pasien dalam hal ini adalah: 3. Ebola. pasien harus memakai masker jika meninggalkan ruangan. anemia. II. tidak ditemukan terpapar suatu penyakit Sedang Pasien yang terinfeksi dan dengan beberapa faktor resiko Berat Pasien dengan immunocompromised berat. penyakit kulit dan dari darah. Usia muda dan usia tua berhubungan dengan penurunan resistensi tubuh terhadap infeksi kondisi ini lebih diperberat bila penderita menderita penyakit kronis seperti tumor. dan diphtheria memerlukan hal sebagai berikut. Cryptosporidium. Obat-obatan yang bersifat immunosupresif dapat menurunkan pertahanan tubuh terhadap infeksi.1. Virus lain yang sering menyebabkan infeksi nosokomial adalah cytomegalovirus. seperti golongan staphylococcus aureus. Makanan yang tidak steril. Banyak jamur dan parasit dapat timbul selama pemberian obat antibiotika bakteri dan obat immunosupresan. SLE dan AIDS.3.9 II. kateterisasi. Masker untuk petugas kesehatan. banyak . dan varicella-zoster virus.11 3. Banyaknya prosedur pemeriksaan penunjang dan terapi seperti biopsi. kulit dan baju. Resiko terjadinya infeksi nosokomial pada pasien Resiko infeksi Tipe pasien Minimal Tidak immunocompromised. juga dapat ditularkan.3. Keadaan-keadaan ini akan meningkatkan toleransi tubuh terhadap infeksi dari kuman yang semula bersifat opportunistik. Ruangan tersendiri untuk tiap pasiennya. diabetes mellitus. Infeksi gastrointestinal. gagal ginjal. leukemia. endoskopi. influenza virus. Dapat juga melalui cairan yang diberikan intravena dan jarum suntik. Pembatasan area bagi pasien.9 ‡ Umur ‡ status imunitas penderita ‡ penyakit yang diderita ‡ Obesitas dan malnutrisi ‡ Orang yang menggunakan obat-obatan immunosupresan dan steroid ‡ Intervensi yang dilakukan pada tubuh untuk melakukan diagnosa dan terapi. tidak dimasak dan diambil menggunakan tangan yang menyebabkan terjadinya cross infection. hepatitis dan HIV. Contohnya bacterial meningitis. infeksi traktus respiratorius. intubasi dan tindakan pembedahan juga meningkatkan resiko infeksi. Peralatan dan instrumen kedokteran. (5 µm. Penularan infeksi ini dapat melalui tangan. contohnya infeksi dari Candida albicans. 4 Infection by direct or indirect contact Infeksi yang terjadi karena kontak secara langsung atau tidak langsung dengan penyebab infeksi.

staphylococci. tidak mengindahkan pronsip anti sepsis. mengakibatkan timbulnya multiresistensi kuman terhadap obat-obatan tersebut. Komplikasi kanulasi intravena ini dapat berupa gangguan mekanis. Diruang penyakit dalam. cairan . fisis dan kimiawi. infeksi jarum infus. Penyebab utamanya karena: ‡ Penggunaan antibiotika yang tidak sesuai dan tidak terkontrol ‡ Dosis antibiotika yang tidak optimal ‡ Terapi dan pengobatan menggunakan antibiotika yang terlalu singkat ‡ Kesalahan diagnosa Banyaknya pasien yang mendapat obat antibiotika dan perubahan dari gen yang resisten terhadap antibiotika.5 Faktor alat Dari suatu penelitian klinis. dan menjadi sangat penting karena: ‡ Meningkatnya jumlah penderita yang dirawat ‡ Seringnya imunitas tubuh melemah karena sakit. ukuran kateter. Komplikasi tersebut berupa:3. kateter yang terpasang lebih dari 72 jam. infeksi nosokomial tertama disebabkan infeksi dari kateter urin. Meningkatnya resistensi bakteri dapat meningkatkan angka mortalitas terutama terhadap pasien yang immunocompromised. kemerahan dan nyeri sepanjang vena Trombosis : Terdapat pembengkakan di sepanjang pembuluh vena yang menghambat aliran infus Kolonisasi kanul : Bila sudah dapat dibiakkan mikroorganisme dari bagian kanula yang ada dalam pembuluh darah Septikemia : Bila kuman menyebar hematogen dari kanul Supurasi : Bila telah terjadi bentukan pus di sekitar insersi kanul Beberapa faktor dibawah ini berperan dalam meningkatkan komplikasi kanula intravena yaitu: jenis kateter. infeksi saluran nafas. enterococci. Pemakaian infus dan kateter urin lama yang tidak diganti-ganti.5 Ekstravasasi infiltrat : cairan infus masuk ke jaringan sekitar insersi kanula Penyumbatan : Infus tidak berfungsi sebagaimana mestinya tanpa dapat dideteksi adanya gangguan lain Flebitis : Terdapat pembengkakan. kateter yang dipasang pada tungkai bawah. infeksi kulit. Penggunaan antibiotika yang terus-menerus ini justru meningkatkan multipikasi dan penyebaran strain yang resistan.penyakit yang serius dan fatal ketika itu dapat diterapi dan disembuhkan. dan tuberculosis telah resisten terhadap banyak antibiotikaa. Infeksi nosokomial sangat mempengaruhi angka morbiditas dan mortalitas di rumah sakit. Banyak strains dari pneumococci. pengobatan atau umur ‡ Mikororganisme yang baru (mutasi) ‡ Meningkatnya resistensi bakteri terhadap antibiotika II. Bagaimana pun juga. Resitensi dari bakteri di transmisikan antar pasien dan faktor resistensinya di pindahkan antara bakteri. diperkirakan 20-25% pasien memerlukan terapi infus. begitu juga klebsiella dan pseudomonas aeruginosa juga telah bersifat multiresisten. Keadaan ini sangat nyata terjadi terutama di negara-negara berkembang dimana antibiotika lini kedua belum ada atau tidak tersedia. pemasangan melalui venaseksi. keberhasilan ini menyebabkan penggunaan berlebihan dan pengunsalahan dari antibiotika. Penggunaan antibiotika secara besar-besaran untuk terapi dan profilaksis adalah faktor utama terjadinya resistensi. Banyak mikroorganisme yang kini menjadi lebih resisten.1. infeksi dari luka operasi dan septikemia.

atau Enterococcus. Walaupun tidak terlalu berbahaya. Organisme ini sering berada di mulut. 11 Faktor resiko terjadinya infeksi ini adalah:9 ‡ Tipe dan jenis pernapasan ‡ Perokok berat ‡ Tidak sterilnya alat-alat bantu ‡ Obesitas ‡ Kualitas perawatan ‡ Penyakit jantung kronis ‡ Penyakit paru kronis ‡ Beratnya kondisi pasien dan kegagalan organ ‡ Tingkat penggunaan antibiotika ‡ Penggunaan ventilator dan intubasi ‡ Penurunan kesadaran pasien Penyakit yang biasa ditemukan antara lain: respiratory syncytial virus dan influenza. influenza virus.9 II. terutama pasien yang menggunakan ventilator. adeno virus. Dapat juga karena sterilisasi yang gagal dan teknik septik dan aseptik.4. pneumonia lebih disebabkan karena Legionella dan Aspergillus. . sekitar 40% dari infeksi nosokomial.2 Pneumonia Nosokomial Pneumonia nosokomial dapat muncul.3.infus yang hipertonik dan darah transfusi karena merupakan media pertumbuhan mikroorganisme. Kuman penyebab infeksi ini tersering berasal dari gram negatif seperti Klebsiella. kebersihan udara harus sangat diperhatikan. dan terapi inhalasi. Keberadaan organisme ini dapat menyebabkan infeksi karena adanya aspirasi oleh organisme ke traktus respiratorius bagian bawah.Coli. Sedangkan dinegara dengan prevalensi penderita tuberkulosis yang tinggi. hidung.2 Macam penyakit yang disebabkan oleh infeksi nosokomial II. Kolonisasi kuman pada ujung kateter merupakan awal infeksi tempat infus dan bakteremia.9. peralatan tambahan pada tempat infus untuk pengaturan tetes obat. tetapi dapat menyebabkan terjadinya bakteremia dan mengakibatkan kematian. intubasi. Organisme yang biaa menginfeksi biasanya E. enterovirus dan corona virus. kerongkongan. Penyebab paling utama adalah kontaminasi tangan atau sarung tangan ketika pemasangan kateter. Pseudomonas. Kebanyakan pasien akan terinfeksi setelah 1-2 minggu pemasangan kateter. Pada pasien dengan sistem imun yang rendah.1 Infeksi saluran kemih Infeksi ini merupakan kejadian tersering.dan Pseudomonas. Infeksi yang terjadi lebih awal lebih disebabkan karena mikroorganisme endogen.2. Proteus. dan perut. para influenza virus.11 Sangat sulit untuk dapat mencegah penyebaran mikroorganisme sepanjang uretra yang melekat dengan permukaan dari kateter. tindakan trakeostomi. Klebsiella. pemasangan NGT. II. manipulasi terlalu sering pada kanula. sedangkan infeksi yang terjadi setelah beberapa waktu yang lama biasanya karena mikroorganisme eksogen.2. atau air yang digunakan untuk membesarkan balon kateter. 80% infeksinya dihubungkan dengan penggunaan kateter urin.9 Dari kelompok virus dapat disebabkan olehcytomegalovirus.

Faktor resiko dari gastroenteritis nosokomial dapat dibagi menjadi faktor intrinsik dan faktor ekstrinsik. Infeksi pembuluh darah11 Infeksi ini sangat berkaitan erat dengan penggunaan infus. dan luka bekas operasi memperbesar kemungkinan terinfeksi bakteri dan berakibat terjadinya infeksi sistemik. Tuberkulosis11 Penyebab utama adalah adanya strain bakteri yang multi. terutama disebabkan oleh bakteri yang resistan antibiotika seperti Staphylococcus dan Candida. muncul sebagai akibat dari infeksi dari organisme yang sama dari sisi tubuh yang lain. dan berbeda dengan organisme yang ditemukan dibagian tubuhnya yang lain ‡ Infeksi sekunder. 4. perbedaan fasilitas yang dimiliki dan perbedaan negara yang didiami. yang menyebabkan batuk rejan.drugs resisten. Infeksi kulit dan jaringan lunak. Virus yang dapat menular dari cara ini adalah virus hepatitis B. Vibrio Cholerae dan Clostridium. muncul tanpa adanya tanda infeksi sebelumnya. ‡ Clostridium tetani. Faktor utama penyebab infeksi ini adalah panjangnya kateter.2. varicella zooster. 2.coli. ‡ Faktor ekstrinsik: Pemasangan nasogastric tube dan mengkonsumsi obat-obatan saluran cerna. dari gologan virus lebih banyak disebabkan oleh golongan enterovirus. Infeksi ini dibagi menjadi dua kategori utama: ‡ Infeksi pembuluh darah primer. diarrhea dan gastroenteritis11 Mikroorganisme tersering berasal dari E. Bedakan antara diarrhea dan gastroenteritis. dan perawatan dari pemasangan kateter atau infus. seperti achlorhydria o lemahnya motilitas intestinal. Infeksi ini termasuk:1 ‡ Infeksi pada tulang dan sendi . isolasi. memproduksi endotoksin yang menyebabkan timbulnya penyakit. adenovirus.2. ‡ Bordetella Pertusis. penularan terutama melalui sistem pernafasan. gram positif anaerobik yang menyebabkan trismus dan kejang otot. dan o perubahan pada flora normal. bekas terbakar.3 Bakteremi Nosokomial Infeksi ini hanya mewakili sekitar 5 % dari total infeksi nosokomial. gram negatif pleomorfik.4 Infeksi Nosokomial lainnya 1. tetanus dan pertusis11 ‡ Corynebacterium diptheriae. rotavirus.II. Selain itu. suhu tubuh saat melakukan prosedur invasif. 3. Dipteri. ‡ Faktor intrinsik: o abnormalitas dari pertahanan mukosa. dan rubella. kateter urin dan infus. Organisme yang menginfeksi akan berbeda pada tiap populasi karena perbedaan pelayanan kesehatan yang diberikan. dan pengobatan serta tekanan negatif dalam ruangan. dan hepatitis A. dan HIV. Siklus tiap 3-5 tahun dan infeksi muncul sebanyak 50 dalam 100% individu yang tidak imun. Kontrol terpenting untuk penyakit ini adalah identifikasi yang baik. II. Salmonella. Dari golongan virus yaitu herpes simplek. Luka terbuka seperti ulkus. kateter jantung dan suntikan. tetapi dengan resiko kematian yang sangat tinggi. virus hepatitis C. Infeksi dapat muncul di tempat masuknya alat-alat seperti jarum suntik.

infeksi mata. sebagai pelindung terhadap penyakit yang ditularkan melalui udara. necrotizing enterocolitis. dan infeksi lainnya ‡ Infeksi pada sistem reproduksi Endometriosis dan luka bekas episiotomi II. hidung. Tetapi pada kenyataannya. membran mukosa dan bahan yang kita anggap telah terkontaminasi. monitoring dan program yang termasuk: ‡ Membatasi transmisi organisme dari atau antar pasien dengan cara mencuci tangan dan penggunaan sarung tangan. trakeitis. penggunaan sarung tangan sangat dianjurkan bila akan melakukan tindakan atau pemeriksaan pada pasien dengan penyakitpenyakit infeksi.1 Dekontaminasi tangan Transmisi penyakit melalui tangan dapat diminimalisasi dengan menjaga hiegene dari tangan. otitis media. Masker. dan vaksinasi.3 Pencegahan terjadinya Infeksi Nosokomial Pencegahan dari infeksi nosokomial ini diperlukan suatu rencana yang terintegrasi. ‡ Pengawasan infeksi. otitis eksterna.3. sterilisasi dan disinfektan. Begitupun dengan pasien yang menderita infeksi saluran nafas. alergi produk pencuci tangan. II.7 Untuk mencegah penyebaran penyakit melalui jarum suntik maka diperlukan: ‡ Pengurangan penyuntikan yang kurang diperlukan ‡ Pergunakan jarum steril ‡ Penggunaan alat suntik yang disposabel. Hal yang perlu diingat adalah: Memakai sarung tangan ketika akan mengambil atau menyentuh darah. sedikitnya pengetahuan mengenai pentingnya hal ini.3. nutrisi yang cukup. perikarditis dan mediastinitis ‡ Infeksi sistem saraf pusat Meningitis atau ventrikulitis. II. endokarditis.Osteomielitis. Selain itu. identifikasi penyakit dan mengontrol penyebarannya. cairan tubuh. dan mulut Konjunctivitis. mereka harus menggunakan masker saat keluar dari . dan segera mencuci tangan setelah melepas sarung tangan. atau keringat. telinga. karena banyaknya alasan seperti kurangnya peralatan. hal ini sulit dilakukan dengan benar. tabung atau keduanya yang dipakai berulangulang) dan banyaknya suntikan yang tidak penting (misalnya penyuntikan antibiotika). ‡ Melindungi pasien dengan penggunaan antibiotika yang adekuat. mastoiditis. hepatitis. tinja. urin. dan waktu mencuci tangan yang lama. sinusitis.2 Instrumen yang sering digunakan Rumah Sakit Simonsen et al (1999) menyimpulkan bahwa lebih dari 50% suntikan yang dilakukan di negara berkembang tidaklah aman (contohnya jarum. infeksi tulang atau sendi dan discus vertebralis ‡ Infeksi sistem Kardiovaskuler Infeksi arteri atau vena. dan infeksi saluran nafas atas. ‡ Mengontrol resiko penularan dari lingkungan. otitis interna. tindakan septik dan aseptik. ‡ Membatasi resiko infeksi endogen dengan meminimalkan prosedur invasif. miokarditis. ‡ Infeksi pada saluran pencernaan Gastroenteritis. trakeobronkhitis. infeksi intra abdominal ‡ Infeksi sistem pernafasan bawah Bronkhitis. absess spinal dan infeksi intra kranial ‡ Infeksi mata.

terutama bagi penderita dengan status imun yang rendah atau bagi penderita yang dapat menyebarkan penyakit melalui udara. Sterilisasi air pada rumah sakit dengan prasarana yang terbatas dapat menggunakan panas matahari.11 Baju khusus juga harus dipakai untuk melindungi kulit dan pakaian selama kita melakukan suatu tindakan untuk mencegah percikan darah. Usahakan adanya pemakaian penyaring udara. Dengan demikian bahaya infeksi dengan bakteri oportunis pada penderita penyakit berat dapat diatasi tanpa harus menggunakan antibiotika.3. feses maupun urine. dapat melarutkan minyak dan protein. cairan tubuh. urin dan feses.11 II.11 Disinfektan akan membunuh kuman dan mencegah penularan antar pasien. Permukaan toilet harus selalu bersih dan diberi disinfektan. rumah sakit harus membangun suatu fasilitas penyaring air dan menjaga kebersihan pemrosesan serta filternya untuk mencegahan terjadinya pertumbuhan bakteri. dan membantu ketahanan tubuh melawan invasi jasad renik patogen serta menjaga keseimbangan di antara populasi jasad renik komensal pada umumnya. Harus ada waktu yang teratur untuk membersihkan dinding. tempat tidur. terutama pada unit perawatan pasien diare untuk mencegah terjadinya infeksi antar pasien. Sarung tangan.11 Toilet rumah sakit juga harus dijaga.4 Perbaiki ketahanan tubuh Di dalam tubuh manusia. sebaiknya digunakan terutama ketika menyentuh darah. jendela. sehingga dapat dipakai dalam mempertahankan ketahanan tubuh tersebut pada penderita penyakit berat.3. lantai. Setelah membalut luka atau terkena benda yang kotor.3 Mencegah penularan dari lingkungan rumah sakit Pembersihan yang rutin sangat penting untuk meyakinkan bahwa rumah sakit sangat bersih dan benar-benar bersih dari debu. selain ada bakteri yang patogen oportunis. tirai. atau tidak berbau tak enak II. Perlu diingat bahwa sekitar 90 persen dari kotoran yang terlihat pasti mengandung kuman. ‡ Tidak sulit digunakan ‡ Tidak mudah menguap ‡ Bukan bahan yang mengandung zat yang berbahaya baik untuk petugas maupun pasien ‡ Efektif ‡ tidak berbau.kamar penderita. Pengaturan udara yang baik sukar dilakukan di banyak fasilitas kesehatan. Selain itu. ada pula bakteri yang secara mutualistik yang ikut membantu dalam proses fisiologis tubuh.3. cairan tubuh. Disinfeksi yang dipakai adalah: ‡ Mempunyai kriteria membunuh kuman ‡ Mempunyai efek sebagai detergen ‡ Mempunyai efek terhadap banyak bakteri. 6 II. Sarung tangan harus selalu diganti untuk tiap pasiennya. dan alat-alat medis yang telah dipakai berkali-kali. Pengetahuan tentang mekanisme ketahanan tubuh orang sehat yang dapat mengendalikan jasad renik oportunis perlu diidentifikasi secara tuntas. minyak dan kotoran.5 Ruangan Isolasi Penyebaran dari infeksi nosokomial juga dapat dicegah dengan membuat suatu pemisahan . kamar mandi. misalnya seperti apa yang terjadi di dalam saluran cerna manusia. Kamar dengan pengaturan udara yang baik akan lebih banyak menurunkan resiko terjadinya penularan tuberkulosis. sanrung tangan harus segera diganti. pintu.

kontaminasi benda. ‡ Pencegahan terjadinya Infeksi Nosokomial memerlukan suatu rencana yang terintegrasi. Infeksi ini merupakan kejadian tersering. dan banyaknya materi infeksius. ‡ Agen Infeksi yang kemungkinan terjadinya infeksi tergantung pada: karakteristik mikroorganisme. dan faktor alat. yang mengakibatkan kontaminasi berat. banyaknya pasien yang keluar masuk. ‡ Mencegah penularan dari lingkungan rumah sakit terutama dari dinding. intervensi yang dilakukan pada tubuh untuk melakukan diagnosa dan terapi. dan alat-alat medis yang telah dipakai berkali-kali.faktor yang menyebabkan perkembangan infeksi nosokomial tergantung dari agen yang menginfeksi. status imunitas penderita. Ruang isolasi sangat diperlukan terutama untuk penyakit yang penularannya melalui udara. obesitas dan malnutrisi. pintu. Sebaiknya satu pasien berada dalam satu ruang isolasi. Ruang isolasi ini harus selalu tertutup dengan ventilasi udara selalu menuju keluar. tindakan trakeostomy. Nosokomial bakteremi yang memiliki resiko kematian yang sangat tinggi. pemasangan NGT. dipengaruhi oleh pemakaian infus dan kateter urin lama yang tidak diganti-ganti. faktor lingkungan. Faktor alat. terapi dan pengobatan menggunakan antibiotika yang terlalu singkat. alat. tirai. lantai. orang yang menggunakan obat-obatan immunosupresan dan steroid.1 Kesimpulan ‡ Faktor. dan kesalahan diagnosa. penyakit yang diderita. dan terapi inhalasi. intubasi. . beberapa pasien dalam satu ruangan tidaklah apa-apa selama mereka menderita penyakit yang sama. respon dan toleransi tubuh. Biasanya. resistensi terhadap zat-zat antibiotika. contohnya DHF dan HIV. dihubungkan dengan penggunaan kateter urin.9 BAB III KESIMPULAN DAN SARAN III. ‡ Penybaran infeksi nosokomial terutama dari udara dan air harus menjadi perhatian utama agar infeksi tidak meluas. Tetapi menjaga kebersihan tangan dan makanan. tingkat virulensi. III. dan materi yang sering digunakan tidak hanya pada satu orang pasien. jendela. dan SARS. monitoring dan program untuk mengawasi kejadian infeksi.2 Saran ‡ Eliminasi dan kurangi perkembangan agen penyebab infeksi dan faktor lainnya yang menyebabkan perkembangan infeksi nosokomial. kamar mandi. contohnya tuberkulosis. tetapi bila sedang terjadi kejadian luar biasa dan penderita melebihi kapasitas. Nosokomial pneumonia. Faktor lingkungan dipengaruhi oleh padatnya kondisi rumah sakit. identifikasi penyakit dan mengontrol penyebarannya. dosis antibiotika yang tidak optimal. Penularan yang melibatkan virus. ‡ Mengurangi prosedur-prosedur invasif untuk menghindari terjadinya infeksi nosokomial. resistensi antibiotika. ‡ Macam penyakit yang disebabkan oleh infeksi nosokomial. misalnya Infeksi saluran kemih. peralatan kesehatan di dalam ruang isolasi juga sangat penting. Respon dan toleransi tubuh pasien dipengaruhi oleh: Umur.pasien. Resistensi Antibiotika disebabkan karena: Penggunaan antibiotika yang tidak sesuai dan tidak terkontrol. penggabungan kamar pasien yang terkena infeksi dengan pengguna obatobat immunosupresan. pasien yang mempunyai resistensi rendah eperti leukimia dan pengguna obat immunosupresan juga perlu diisolasi agar terhindar dari infeksi. tempat tidur. terutama karena pemakaian ventilator.

Infeksi Nosokomial adalah Infeksi yang secara potensial dapat dicegah atau sebaliknya dapat juga merupakan infeksi yang tidak dapat dicegah. serta alat-alat kedokteran dan perawatan. petugas laboratorium. berhubungan dengan system imun pasien serta kulit ataupun membrane yang rusak. lantai. perawat. Terjadinya infeksi nosokomial akan menimbulkan banyak kerugian. rumah sakit selain untuk mencari kesembuhan. Beberapa kejadian Infeksi Nosokomial mungkin tidak menyebabkan kematian pasien akan tetapi menjadi penyebab penting bagi pasien yang dirawat lebih lama di Rumah Sakit. antara lain : lama hari perawatan bertambah panjang penderitaan bertambah biaya meningkat Ada tiga faktor ataupun hal yang saling berinteraksi yaitu : Mikroorganisme di dalam lingkungan rumah sakit Keadaan pasien yang lemah. berbagai jenis mikroorganisme terdapat dalam lingkungan rumah sakit. Rantai penularan dalam rumah sakit. juga merupakan depot bagi berbagai macam penyakit yang berasal dari penderita maupun dari pengunjung yang berstatus karier. Tetapi. Di tempat ini pasien mendapatkan terapi dan perawatan untuk dapat sembuh. seperti. makanan dan benda-benda medis maupun non medis. petugas kebersihan. Bagi pasien yang dirawat di Rumah Sakit ini merupakan persoalan serius yang dapat menjadi penyebab langsung atau tidak langsung terhadap kematian pasien. Beberapa cara pencegahan dari infeksi nosokomial yaitu : Melalui teknik sterilisasi dan disinfeksi yang harus benar-benar diperhatikan . petugas bagian gizi. pengunjung. Kuman penyakit ini dapat hidup dan berkembang di lingkungan rumah sakit.Infeksi Nosokomial Infeksi Nosokomial adalah Infeksi yang didapat atau timbul pada waktu pasien dirawat di Rumah Sakit. Rumah sakit merupakan suatu gudang dari berbagai jenis bakteri pathogen. udara. bisa berasal dari dokter. Rumah sakit merupakan suatu tempat dimana orang yang sakit dirawat dan ditempatkan dalam jarak yang sangat dekat. air. pasien.

dan infeksi kulit. bakteri Enterococcus dengan presentase 10%. seperti halnya pada komite pengendalian infeksi (Infection Control Committee) Semua mikroorganisme termasuk bakteri. bakteri S. sehingga perlu perawatan yang lebih lama yang juga berarti pasien dapat memerlukan tindakan invasif yang lebih banyak. dan bakteri P. Jenis bakteri yang dapat menyebabkan infeksi nosokomial adalah bakteri Enterobakteriaceae dengan presentase sebesar >40%. dan infeksi kulit dengan presentase yang jarang. Sementara itu jenis infeksi yang dialami dapat berupa berbagai jenis infeksi yang baru diketahui misalnya infeksi HIV / AIDS atau Ebola dan infeksi lama yang semakin virulen. Berbagai tipe dari infeksi nosokomial yaitu infeksi saluran kemih. Dari jenis bakteri tersebut. Penyakit yang didapat dari rumah sakit saat ini kebanyakan disebabkan oleh mikroorganisme yang umumnya selalu ada pada manusia yang sebelumnya tidak atau jarang menyebabkan penyakit pada orang normal. Kebanyakan infeksi yang terjadi di rumah sakit ini lebih disebabkan karena faktor eksternal. infeksi saluran nafas bawah. jamur dan parasit dapat menyebabkan infeksi nosokomial. Kebutuhan untuk pengendalian infeksi nosokomial akan semakin meningkat terlebih lagi dalam keadaan sosial ekonomi yang kurang menguntungkan seperti yang telah dihadapi Indonesia saat ini. Mutu pelayanan di Rumah Sakit dapat . Indikasi rawat pasien akan semakin ketat. misalnya tuberkulosis yang resisten terhadap pengobatan.aeruginosa dengan presentase 9%. Secara keseluruhan berarti daya tahan pasien lebih rendah dan pasien cenderung untuk mengalami berbagai tindakan invasif yang akan memudahkan masuknya mikroorganisme penyebab infeksi nosokomial. Infeksi ini dapat disebabkan oleh mikroorganisme yang didapat dari orang lain (cross infection) atau disebabkan oleh flora normal dari pasien itu sendiri (endogenous infection).- Pemakaian antibiotic harus sesuai indikasi Apabila dimungkinkan menghindari prosedur invasive Meminimalisasi pemakaian obat imunosupresif Pemanfaatan kamaar ataupun ruanagn isolasi Melengkapi rumah sakit dengan tenaga khusus yang menangani infeksi nosokomial. pasien akan datang dalam keadaan yang semakin parah. infeksi luka operasi. Infeksi saluran kemih menduduki presentase paling besar yaitu 50%. virus. bakteremia.aureus dengan presentase 11%. yang merupakan penyebab paling sering dari infeksi nosokomial adalah bakteri jenis Enterobacteriaceae. yaitu penyakit yang penyebarannya melalui makanan dan udara dan benda atau bahan-bahan yang tidak steril.

sarana. lantai. kamar mandi. Pencegahan penularan infeksi nosokomial di rumah sakit yaitu dengan Pembersihan yang rutin sangat penting untuk meyakinkan bahwa rumah sakit sangat bersih dan benar-benar bersih dari debu. minyak dan kotoran. mulai dari peran pimpinan sampai petugas kesehatan sendiri. Usahakan adanya pemakaian penyaring udara. dan pendukung lainnya. tempat tidur. Perlu diingat bahwa sekitar 90 persen dari kotoran yang terlihat pasti mengandung kuman. Selain itu.berpengaruh karena pasien bertambah sakit akibat infeksi nosokomial. dan alat-alat medis yang telah dipakai. tirai. faktor petugas ataupun perawat juga perlu mendapatka perhatian dalam menjalankan tugasnya. identifikasi penyakit dan mengontrol penyebarannya. Dengan berpedoman pada perlunya peningkatan mutu pelayanan di Rumah Sakit dan sarana kesehatan lainnya. Harus ada waktu yang teratur untuk membersihkan dinding. Mengontrol resiko penularan dari lingkungan Melindungi pasien dengan menggunakan antibiotic yang adekuat serta nutrisi yang cukup maupun dengan vaksinasi Membatasi resiko infeksi endogen dengan meminimalkan prrosedur invasive Pengawasan infeksi. pada hakikatnya ditujukan pada tindakan pencegahan. Pengaturan udara yang baik sukar dilakukan di banyak fasilitas kesehatan. Kamar dengan pengaturan udara yang baik akan lebih . tindakan septic dan aseptic seperti yang telah dijelaskan sebelumnya dan tindakan sterilisasi maupun disinfektan. Pengendalian infeksi nosokomial. Peran petugas adalah sebagai pelaksana langsung dalam upaya pencegahan infeksi. Peran pimpinan adalah penyediaan sistem. terutama bagi penderita dengan status imun yang rendah atau bagi penderita yang dapat menyebarkan penyakit melalui udara. Upaya pencegahan penularan infeksi di Rumah Sakit melibatkan berbagai unsur. Pencagahan dari infeksi nosokomial ini diperlukan suatu rencana yang terintegrasi dengan memonitoring melalui program yang termasuk : Membatasi transmisi organism dari ataupun antar pasien dengan cara mencuci tangan dan menggunakan sarung tangan. jendela. terutama mengenai pengetahuan tentang tindakan septic dan aseptic. maka perlu dilakukan pelatihan yang menyeluruh untuk meningkatkan kemampuan petugas dalam pencegahan ineksi di Rumah Sakit. Namun untuk tindakan pencegahannya terdapat beberapa kendala antara lain faktor biaya baik yang disediakan oleh rumah sakit maupun yang ditanggung oleh pasien itu sendiri. pintu.

Permukaan toilet harus selalu bersih dan diberi disinfektan. Cuci tangan dilakukan . dan pengunjung rumah sakit untuk meyakinkan mereka dan bertanggung jawab dalam menjalankan nya 2. Sterilisasi air pada rumah sakit dengan prasarana yang terbatas dapat menggunakan panas matahari. petugas. a. Administrative Controls 1. Adherence to Precaution (Ketaatan terhadap tindakan pencegahan) Secara periodic menilai ketaatan terhadap tindakan pencegahan dan adanya perbaikan langsung B. Cuci tangan Cuci tangan 1) Melakukan cuci tangan dengan menggunakan sabun biasa pada cuci tangan rutin/social 2) Melakukan cuci tangan dengan menggunakan antiseptik pada cuci tangan prosedural 3) Pada kondisi tertentu cuci tangan dapat dilakukan dengan menggunakan ³handrubs´ ( kontak diantara pasien) b. rumah sakit harus membangun suatu fasilitas penyaring air dan menjaga kebersihan pemrosesan serta filternya untuk mencegahan terjadinya pertumbuhan bakteri. terutama pada unit perawatan pasien diare untuk mencegah terjadinya infeksi antar pasien. Pendidikan. Mengembangkan sistem pendidikan tentang tindakan pencegahan kepada pasien. Toilet rumah sakit juga harus dijaga. Standard Precautions Laksanakan Standard Precaution untuk semua pasien yang masuk ke rumah sakit 1.banyak menurunkan resiko terjadinya penularan tuberkulosis. Selain itu.

Memakai gaun selama melakukan tindakan atau perawatan pasien yang memungkinkan terkena percikan darah atau cairan tubuh pasien b. sebelum menyentuh peralatan atau permukaan lingkungan yang tidak terkontaminasi dan sebelum ke pasien berikutnya 3. Melepaskan masker setelah dipakai dan segera mencuci tangan 4. cairan tubuh dan peralatan yang terkontaminasi dan saat menangani peralatan yang habis dipakai b. Ganti sarung tangan diantara prosedur pada pasien yang sama Melepaskan sarung tangan segera setelah dipakai. walaupun menggunakan sarung tangan 2) 3) 4) 5) 6) 7) 2. Pelindung mata dan wajah a. ekskresi dan peralatan yang terkontaminasi. Gaun/apron a. c. cairan tubuh. Memakai masker selama melakukan tindakan atau perawatan pasien yang memungkinkan terkena percikan darah atau cairan tubuh pasien b. Segera melepas gaun dancuci tangan untuk mencegah berpindahnya mikroorganisme ke pasien dan lingkungannya . Segera setelah melepas sarung tangan Jika kontak diantara satu pasien dengan pasien lainnya Diantara prosedur berbeda pada pasien yang sama Sebelum dan sesudah kontak dengan pasien Sebelum dan sesudah melakukan tindakan Setelah tiba di rumahsakit dansebelum meninggalkanrumah sakit Sarung tangan a. Memakai sarung tangan bersih/non steril pada saat menyentuh darah.1) Setelah menyentuh darah. Masker. sekresi.

Penanganan limbah Pemisahan limbah sesuai jenisnya diawali sejak limbah tersebut dihasilkan . b. Segera melakukan dekontaminasi peralatan yang dipakai setelah dibersihkan dahulu dari noda darah atau cairan tubuh pasien b. Memisahkan linen ternoda darah atau cairan tubuh dengan linen kotor tanpa noda. meja petugas. Membersihkan dan memproses kembali peralatan yang dipakai ulang sesuai prosedur sebelum digunakan ke pasien berikutnya c. Linen a. c. Memisahkan linen kotor pasien terinfeksi dengan pasien non infeksi. Peralatan yang sekali pakai segera dibuang sesuai prosedur pembuangan limbah. tempat tidur. 6. standard infus. Membersihkan dan mengepel lantai dengan cairan desinfektan dua kali sehari atau bila perlu. pegangan pintu. Peralatan perawatan pasien a. peralatan samping tempat tidur pasien. Pengendalian lingkungan a. e. b.5. Membatasi jumlah pengunjung pada waktu yang bersamaan. Tidak melakukan ³fogging´ untuk tujuan menurunkan rate infeksi nosokomial pengendalian lingkungan. Melakukan pembersihan dengan cairan desinfektan setiap hari atau bila perlu pada semua permukaaan lingkungan seperti meja pasien. Membatasi jumlah personil pada waktu yang sama di ruangan perawatan 7. d. Tidak meletakkan linen dilantai dan mengibas-ngibaskan linen 8. c.

dan tempatkan pada area yang mudah dijangkau dari area tindakan. c. instrumen yang tajam atau alat kesehatan lainnya dengan permukaaan tajam.a. 10. . Limbah padat terkontaminasi dengan darah . Limbah benda tajam atau jarum dibuang ke kontainer yang berwarna kuning tahan tusuk dan tahan air 9. cairan tubuh dibuang ke tempat sampah kantong plastik kuning b. Gunakan mouthpieces. Penempatan pasien Tempatkan pasien yang dapat menkontaminasi lingkungan atau yang tidak dapat memelihara kebersihan lingkungannya di ruangan tersendiri. Limbah padat tidak terkontaminasi dengan darah. cairan tubuh dibuang ke tempat sampah kantong plastik hitam c. Jangan pernah menutup kembali jarum bekas pakai atau memanipulasinya dengan kedua tangan. resussitasi bags atau peralatan ventilasi lain sebagai alternatif mulut ke mulut. scapel. Jangan pernah membengkokkan atau mematahkan jarum Buanglah benda tajam atau jarum bekas pakai kedalam wadah yang tahan tusuk dan air. e. d. b. Kesehatan karyawan dan darah yang terinfeksi patogen Untuk mencegah luka tusuk benda tajam: a. Jika ruangan tersendiri tidak ada konsultasikan dengan petugas pengendalian infeksi mengenai penempatan pasien tesebut untuk mencari alternatif. Berhati-hati saat menangani jarum.

Orang yang immune terhadap measles rubeola) atau varicella tidak perlu memakai perlindungan pernapaasan 3. Tempatkan pasien di kamar tersendiri yang mempuyai persyaratan sebagai berikut: 1) 2) 3) Tekanan udara kamar negatif dibandingkan dengan area sekitarnya Pertukaran udara 6-12 kali/jam Pengeluaran udara keluar yang tepat atau mempunyai penyaringan udara yang efisien sebelum udara dialirkan ke area lain di rumah sakit 4) 5) Selalu tutup pintu dan pasien berada di dalam kamar Bila kamar tersendiri tidak ada. mereka harus memakai respiratory proctection( N 95) respirator d. 6) Tidak boleh menempatkan pasien satu kamar dengan infeksi yang berbeda 2. Penempatan pasien a. Patient Trasnport . Jika orang yang rentan harus memasuki ruangan pasien yang diketahui atau di duga mempunyai measles (rubeola) atau varicella. Gunakan perlindungan pernapasan (N 95 respirator) ketika memasuki ruangan pasien yang diketahui infeksi pulmonary tuberculosis b. Orang yang rentan tidak dibenarkan memasuki ruangan pasien yang diketahui atau diduga mempunyai measles ( rubeola) atau varicella ( Chickenpox) c. Respiratory Protection a.C. tempatkan pasien dalam satu kamar dengan pasien lain dengan infeksi mikroorganisme yang sama atau ditempatkan secara kohort. Airborne Precaution 1.

Droplet Precaution Penempatan pasien a. b. 1. Tempatkan pasien di kamar tersendiri Bila tidak ada kamar tersendiri tempatkan pasien secara kohort 2. Pemindahan pasien a. b. kecuali untuk tujuan yang perlu b. Tempatkan pasien di kamar tersendiri Bila pasien tidak mungkin di kamar tersendiri tempatkan pasien secara kohort Bila hal ini tidak memungkinkan tempatkan pasien dengan jarak 3 ft dengan pasien lainnya. b. Batasi area gerak pasien dan transportasi pasien dari kamar .a. b. Jika harusppindah atau transportasi gunakan masker bedah pada pasien D. 2. Untuk meminimalkan penyebaran droplet selama transporasi pasien dianjurkan pakai masker E. hanya tujuan yang penting saja. Sarung tangan dan cuci tangan . Masker a. Batasi pemindahan dan transportasi pasien dari kamar pasien. Gunakan masker bila bekerja dengan jarak 3 ft Beberapa rumah sakit menggunakan masker jika memasuki ruangan 3. c. 1. Contact Precaution Penempatan pasien a.

b. hanya untuk tujuan yang penting saja. Lepas gaun setelah meninggalkan ruangan Setelah melepas gaun pastikan bahwa pakaian tidak mungkin kontak dengan permukaan lingkungan untuk menghindari berpindahnya mikroorganisme ke pasien atau lingkungan lain 4. Peralatan perawatan pasien . Gunakan sarung tangan sesuai prosedur Ganti sarung tangan jika sudah kontak dengan paralatan yang terkontaminasi dengan mikroorganisme c. untuk mencegah berpindahnya mikroorganisme ke pasien atau lingkungan lain 3. c. Transport pasien Batasi pemindahan dan transportasi pasien dari kamar. Gaun a. Pakai gaun bersih/non steril bila memasuki kamar pasien bila diantisipasi bahwa pakaian akan kontak dengan pasien. colonostomy. e. ileostomy. luka terbuka b. permukaan lingkungan atau peralatan pasien didalam kamar atau jika pasien menderita inkontenensia.a. Lepaskan sarung tangan sebelum meningalkan ruangan Segera cuci tangan dengan antiseptik/antimikrobial atau handsrub Setelah melepas sarung tangan dan cuci tangan yakinkan bahwa tangan tidak menyentuh peralatan atau lingkungan yang mungkin terkontaminas. d. diare. Jika pasien harus pindah atau keluar dari kamarnya pastikan bahwa tindakan pencegahan di pelihara untuk mencegah atau meminimalkan resiko transmisi mikroorganisme ke pasien lain atau permukaan lingkungan dan peralatan 5.

a. Semua benda tajam yang telah selesai digunakan harus ditempatkan di suatu wadah khusus yang tahan tusukan dan dimasukkan ke dalam kantung khusus (Bio Hazzard Bag). memakai baju praktek khusus pada waktu melakukan tindakan yang dapat menimbulkan percikan darah atau cairan tubuh lainnya. pada saat membersihkan peralatan. Tangan dan bagian tubuh lainnya harus dicuci sebersih mungkin dengan sabun antiseptik bila tercemar darah atau cairan tubuh lainnya. Menggunakan masker dan pelindung mata (kacamata) atau pelindung wajah (face shield) bila mengerjakan prosedur yang memungkinkan terjadinya percikan darah atau cairan tubuh agar mukosa mulut. c. a. Jika memungkinkan gunakan peralatan non kritikal kepada pasein sendiri atau secara kohort b. b. Masker dipakai hanya dalam waktu 20 menit. satu masker untuk satu pasien. permukaan luar masker akan menjadi tempat perlekatan bakteri patogen dan tidak lagi berfungsi sebagai barrier. Petugas yang mempunyai luka atau lesi yang mengeluarkan cairan. membuang sampah atau ketika membereskan peralatan setelah berlangsungnya prosedur/tindakan. pisau dan benda tajam lainnya selama pelaksanaan tindakan. serta harus terjamin aman untuk dibawa ke tempat pemrosesan alat atau ke tempat pemusnahannya (incinerator). 5. Harus menggunakan sarung tangan bila : menyentuh darah atau cairan tubuh. Bila dipakai lebih dari 20 menit. Sarung tangan harus diganti setiap selesai kontak dengan seorang pasien. mengerjakan semua prosedur yang menyangkut pembuluh darah. 2. sehingga perlu disediakan alat resusitasi di setiap tempat yang mungkin memerlukan tindakan resusitasi. mengelola alat kedokteran/kedokteran gigi yang tercemar darah atau cairan tubuh. 3. Tangan harus segera dicuci segera setelah melepas sarung tangan. Semua petugas kesehatan harus rutin menggunakan sarana yang dapat mencegah kontak kulit dan selaput lendir dengan darah atau cairan tubuh lainnya dari setiap pasien. selaput lendir atau kulit yang tidak utuh. misalnya dermatitis basah. Tindakan resusitasi dari mulut ke mulut harus dihindarkan. . Jika tidak memungkinkan pakai sendiri atau kohort lakukan pembersihan atau disinfeksi sebelum dipakai kepada pasien lain Pedoman pencegahan tersebut adalah sebagai berikut : 1. hidung dan mata terhindar dari percikan. 4. Semua petugas kesehatan harus memakai sarung tangan khusus (heavy duty) untuk mencegah kemungkinan tertusuk jarum.

.Kontak langsung antara pasien yang menjadi sumber infeksi dengan pasien lainnya. Terjadinya infeksi nosokomial dipengaruhi oleh beberapa factor. Kegiatannya dilakukan secara baik dan benar di semua sarana rumah sakit.harus menghindari tugas yang bersifat kontak langsung dengan peralatan yang telah digunakan untuk pasien. Bila dokter gigi/perawat gigi memiliki luka pada jarinya. peralatan medis dan non medis.Kondisi pasien yang lemah akibat penyakit yang dideritanya. Pengendalian Infeksi Nosokomial merupakan suatu upaya penting dalam meningkatkan mutu pelayanan medis rumah sakit. . . maka luka tersebut harus ditutup dengan plester sebelum memakai sarung tangan.Penggunaan alat / peralatan medis yang tercemar oleh kuman. Diperlukan adanya prosedur baku untuk setiap tindakan yang berkaitan dengan pengendalian infeksi nosokomial. Hasil akhir yang diharapkan adalah peningkatan mutu pelayanan kesehatan secara menyeluruh oleh RS. ruang perawatan dan prosedur serta lingkungan. Prosedur baku yang dituangkan dalam tata laksana pengendalian infeksi nosokomial ini merupakan prosedur maksimal yang harus diupayakan untuk dilaksanakan seluruhnya sesuai dengan situasi pada saat dan tempat pelaksanaannya. Diharapkan dengan adanya tata laksana pengendalian infeksi nosokomial yang merupakan pelengkap dari pedoman pengendalian infeksi nosokomial ini seluruh personil RS. Mengingat kegiatan yang penting ini melibatkan berbagai disiplin dan tingkatan personil rumah sakirt. .Kontak langsung antara petugas rumah sakit yang tercemar kuman dengan pasien.Banyaknya pasien yang dirawat yang menjadi sumber infeksi bagi lingkungan dan pasien lainnya. Islam Klaten memiliki sikap dan perilaku yang sama dalam mengendalikan infeksi nosokomial. Islam Klaten terhadap pasien. mulai dari petugas kebersihan sampai dengan dokter dan mulai dari pekarya sampai dengan jajaran Direksi. . . Hal ini hanya dapat dicapai dengan keterlibatan secara aktif semua personil rumah sakit. BAB I PENDAHULUAN Infeksi Nosokomial merupakan masalah serius bagi semua rumah sakit. Kerugian yang ditimbulkan sangat membebani rumah sakit maupun pasien. antara lain : .

Menyentuh darah atau cairan tubuh. Pelaksanaan Kewaspadaan Universal. .Mengerjakan fungsi vena atau segala prosedur yang menyangkut pembuluh darah.Mengelola berbagai peralatan dan sarana kesehatan / kedokteran yang tercemar darah atau cairan tubuh. Semua petugas kesehatan harus rutin menggunakan sarana yang dapat mencegah kontak kulit dan selaput lender dengan darah atau cairan tubuh lainnya dari setiap pasien yang dilayani. Sarung tangan harus selalu diganti setiap selesai kontak dengan seorang pasien. selaput lender atau kulit yang tidak utuh.BAB II PENCEGAHAN INFEKSI NOSOKOMIAL Pencegahan terhadap terjadinya infeksi nosokomial di rumah sakit dimaksud untuk menghindari terjadinya infeksi selama pasien dirawat di rumah sakit. Adapun konsep yang dianut adalah bahwa semua darah dan cairan tubuh tertentu harus dikelola sebagai sumber yang dapat menularkan HIV. . Dengan demikian setiap petugas kesehatan harus : Menggunakani sarung tangan bila : . Menggunakan masker dani pelindung mata atau pelindung wajah bila mengerjakan prosedur . Pelaksanaan upaya pencegahan infeksi nosokomial terdiri atas : Kewaspadaan Universal Tindakan Invasif Tindakan Non invasive Tindakan terhadap anak dan neonatus Sterilisasi dan Desinfeksi KEWASPADAAN Definisi : Universal Precautions atau Kewaspadaan Universal adalah suatu pedoman yang ditetapkan oleh Centers for Disease Cotrol ( CDC ) ( 1985 ) untuk mencegah penyebaran dari berbagai penyakit yang ditularkan melalui darah di lingkungan rumah sakit maupun sarana pelayanan kesehatan lainnya. Secara singkat. HBV dan berbagai penyakit lain yang ditularkan melalui darah. kebijaksanaan pelaksanaan UP adalah seperti apa yang dikemukakan dibawah ini : 1.

Setelah segala benda tajam digunakan. saat membuang sampah atau ketika membenahi peralatan setelah berlangsungnya prosedur / tindakan. pisau dan benda / alat tajam lainnya selama pelaksanaan tindakan. hidung dan mata. 5. Walaupun air liur belum terbukti menularkan HIV. Petugas kesehatan yang sedang mengalami perlukaan atau ada lesi yang mengeluarkan cairan misalnya menderita dermatitis basah harus menghindari tugas tugas yang bersifat kontak langsung dengan pasien ataupun kontak langsung dengan peralatan bebas pakai pasien. jangan sengaja membengkokkan atau mematahkan jarum suntik dengan tangan. Memakai jubah ( pakaian kerja ) khususi selama melaksanakan tindakan yang mungkin akan menimbulkan cipratan darah atau cairan tubuh ainnya. Akan tetapi atas dasar berbagai pertimbangan sampai saat ini penapisan ( . Untuk mencapai tujuan ini. Setiap saat setelah melepaskan sarung tangan. tindakan resusitasi dengan cara dari mulut ke mulut harus dihindari. Dengan menerapkan KU setiap petugas kesehatan dapat terlindung semaksimal mungkin dari kemungkinan terpapar oleh infeksi penyakit yang ditularkan melalui darah atau cairan tubuh baik dari kasus yang terdiagnosis maupun yang tidak terdiagnose. transmisi dari kebanyakan infeksi yang ditularkan dengan cara lainpun terhadap petugas kesehatan dan pasiennya akan dikurangi pula. khususnya infeksi virus seperti HIV. Tangan dan bagian tubuhlainnya harus segera dicuci sebersih mungkin bila terkontaminasi oleh darah dan cairan tubuh lainnya. perlu disediakan alat resusitasi. tangan harus segera dicuci. Hepatitis B dll. penting peranannya dalam manajemen kasus. Dengan demikian di setiap tempat yang mungkin akan kedapatan kasus yang memerlukan resusitasi. Semua petugas harus selalu waspada terhadap kemungkinan tertusuk jarum. janin yang dikandungnya mempunyai resiko untuk mengalami transmisi perinatal. maka jangan menutup kembali jarum suntik setelah selesai dipakai. 4. Beberapa petunjuk khusus dalam pelaksanaan KU Kita menyadari bahwa diagnosis dini adanya infeksi oleh berbagai mikroorganisme pada seorang pasien. Oleh karena itu. petugas kesehatan yang sedang hamil harus lebih memperhatikan pelaksanaan segala prosedur yang dapat menghindari penularan HIV. 3. Petugas kesehatan yang sedang hamil tidak mempunyai resiko lebih besar untuk tertular HIV bila dibandingkan dengan petugas kesehatan yang tidak hamil. saat membersihkan / mencuci peralatan. Kemudian wadah kumpulan benda tajam tersebut harus menjamin aman untuk transportasi ke tempat pemrosesan alat ataupun dalam proses pengenyahan. Wadah ini harus berada sedekat mungkin atau mudah dicapai disekitar arena tindakan.yang memungkinkan terjadinya cipratan darah atau cairan tubuh guna mencegah terpaparnya selaput lender pada mulut. 6. Namun demikian bila terjadi infeksi HIV selama kehamilan. 2. Sebagai keuntungan tambahan. jangan melepaskan jarum suntik dari tabungnya atau melakukan apapun pada jarum suntik dengan menggunakan tangan. maka harus ditempatkan di suatu wadah khusus yang tahan / anti tusukan.

sudah dapat menularkan infeksi akan tetapi HIV belum dapat terdeteksi melalui pemeriksaan laboratorium. Bahkan pada infeksi oleh HIV terdapat masa jendela yang mana pada masa tersebut darah atau cairan tubuh penderita. 1. Perlu diingatkan bahwa langkah langkah di bawah ini tidak mengabaikan pentingnya pelaksanaan prosedur standar dalam tiap tiap tindakan pemrosesan alat / instrument secara tepat. b. Kegiatan di Unit Gawat Darurat Unit Gawat Darurat yang umumnya melayani kasus kecelakaan maupun kasus emergensi lainnya harus menyediakan segala peralatan yang berkaitan dengan pelaksanaan KU. Alat resusitasi harus tersedia dalam keadaan siap pakai dan ada petugas yang terlatih untuk menggunakannya. Untuk memudahkan hal ini dipakai nampan guna menyerahkan instrument tajam tersebut ataupun mengembalikannya. Kegiatan di Kamar Operasi a. Oleh karena itu instrument yang tajam jangan diberikan secara langsung ked an dari operator oleh asisten atau instrumentator. . c. pertolongan persalinan maupun tindakan abortus prosedur hemodialisis dan prosedur operasi gigi mulut termasuk dalam tindak medik invasive beresiko tinggi untuk menularkan HIV bagi tenaga dokter atau pelaksana lainnya. d. mudah dicapai dan mudah dipakai. Sarana seperti sarung tangan. Plastik penutup badan ( skort ) untuk mencegah kontak cairan tubuh pasien dengan penolong. masker dan gaun khusus harus selalu ada.screening ) terhadap berbagai infeksi virus tidak mungkin dilakukan secara rutin. 3. Kacamata pelindung untuk menghindari persikan cairan tubuh pada mata. pembuangan sampah / limbah secara aman dan menjamin kebersihan ruangan tindakan dan lingkungan sekitarnya. Dalam Prosedur Operasi Selain oleh darah secara kontak langsung tertusuknya bagian dari tubuh oleh benda benda tajam merupakan kecelakaan yang harus dicegah. Operator bertanggung jawab untuk menempatkan benda tajam secara aman. Sarung tangan yang tepat untuk melindungi tangan yang aktif melakukan tindak medik invasive. Oleh karena itu prinsip KU dalam upaya pencegahan infeksi merupakan kunci utama keberhasilan memutuskan rantai transmisi penyakit yang ditularkan melalui darah maupun cairan lainnya. Untuk memutuskan rantai penularan diperlukan barier berupa : a. Di bawah ini disampaikan langkah langkah yang perlu diperhatikan sebagai prosedur pencegahan infeksi. Penutup kaki untuk melindungi kaki dari kemungkinan terpapar cairan yang infektis. Masker penutup pelindung hidung dan mulut untuk mencegah percikan pada mukosa hidung dan mulut. 2. e. Disetiap tempat tindakan pelayanan emergency harus tersedia wadah khusus untuk mengelola peralatan tajam. pembuluh darah. khususnya infeksi HIV. Kewaspadaan dalam tindak medik Sebagai prosedur pembedahan yang membuka jaringan organ.

4. d. Lokasi kagiatan lainnya yang memerlukan perhatian adalah di mobil ambulan. Prosedur Anesthesi Prosedur Anasthesi merupakan salah satu aktifitas yang dapat memaparkan HIV pada tenaga kesehatan pula. Penolong bayi baru lahir harus menggunakan sarung tangan. laboratorium serta kamar jenazah. Cara pengisapan lender bayi dengan mulut penolong harus ditinggalkan. akan tetapi tidak beresiko untuk tenaga kesehatan. b. Pencucian instrument bekas pakai sebaiknya secara mekanik. ruang emergency. Pakailah obat obatan sedapat dapatnya untuk dosis dengan 1 kali pemberian. . Pada saat menjahit dilakukan prosedur sedemikian rupa sehingga jari / tangan terhindar dari tusukan. petugas harus menggunakan sarung tangan rumah tangga dan instrument tersebut sebelumnya telah mengalami proses dekontaminasi dengan merendam dalam larutan clorin 0. 6. hindari terjadinya cipratan darah. Menutup spuit adalah prosedur resiko tinggi. Pada saat menjahit. d. perlu diingatkan bahwa : a. Operasi Sulit. Untuk operasi operasi yang membutuhkan waktu lebih dari 60 menit dan lapangan kerjanya sulit ( sempit ) dianjurkan untuk menggunakan sarung tangan ganda. g. Melepaskan baju operasi dilakukan sebelum membuka sarung tangan agar tidak terpapar oleh darah / cairan tubuh dari baju operasi tersebut. e. Jarum harus dibuang sesegera mungkin setelah pemakaian ke dalam wadah yang aman. Beberapa hal yang perlu diperhatikan adalah : a. Bila mencuci instrument secara manual. ASI dari ibu yang terinfeksi HIV mempunyai resiko untuk bayi baru lahir. c. Kegiatan di Kamar Bersalin yang membutuhkan lengan / tangan untuk manipulasi instrauterin tentunya harus menggunakan skor dan sarung tangan yang mencapai siku. Seorang dokter yang akan melakukan prosedur pembedahan sebaiknya telah diuji kelayakannya untuk melakukan tindakan tersebut secara khusus sebelumnya. c. Memisahkan jaringan Jangan menggunakan tangan untuk memisahkan jaringan karena tindakan ini akan menambah resiko. Perlu disediakan nampan /troli untuk alat alat yang sudah dipergunakan. f. d. b. Sangat dianjurkan agar petugas anasthesi melewati uji kelayakan terlebih dahulu untuk meminimalkan resiko terluka oleh jarum suntik dan alat lain yang tercemar darah dan cairan tubuh.b. e. 5. e. Kegiatan di Kamar Bersalin Disamping memperhatikan kebutuhan barier yang telah disebutkan diatas. Potonglah tali pusat bayi segera setelah lahir. c.5% selama 10 menit.

Tindakan Invasif Sederhana. menilai fasilitas dan kebiasaan yang berlangsung. 2. 6. Tentunya individu tersebut diingatkan untuk tidak menjadi donor darah ataupun jaringan. Paparan pada membrane mukosa melalui cipratan kemata : Cuci mata secara gentle dengan mata dalam keadaan terbuka menggunakan air cairan NaCL. Selama pemantauan. Untuk mencapai tujuan tersebut perlu diselenggarakan langkah langkah sebagai berikut : 1. 4. Paparan pada mulut : Keluarkan cairan infektif tersebut dengan cara berludah kemudian kumur kumur dengan air beberapa kali. 2. 4. 5. mengadakan pendidikan dan pelatihan. Tindakan Invasif Operasi. Paparan pada kulit yang utuh maupun kulit sedang mengalami perlukaan. Tindakan Invasif Sederhana Tindakan invasive sederhana adalah suatu tindakan memasukkan alat kesehatan kedalam tubuh . Pemantauan dan supervise pelaksanaan KU secara berkala. terpotong dan lain lain : Keluarkan darah sebanyak banyaknya. Dibeberapa Negara seperti Australia. 1. tenaga kesehatan yang terpapar tersebut memerlukan konseling mengenai resiko infeksi dan pencegahan transmisi selanjutnya. TINDAKAN INVASIF A. 3. menjalankan rencana yang telah disusun. A. 3. 5 kali / hari selama 6 minggu. B. melakukan hubungan seksual yang aman dan mencegah kehamilan. Upaya untuk melaksanakan KU di lingkungan kita. 7. diberikan zidovudine ( AZT ) profilaksis 200 mg oral. Meninjau kembali kebijakan dan prosedur yang telah ada. Identitas unsure unsure yang terkait. Pejamu pun harus terus dimonitor kemungkinan infeksinya. Paparan secara parenteral melalui tusukan jarum.Manajemen untuk tenaga kesehatan yang terpapar darah atau cairan tubuh. lecet atau dermatitis : cucilah sebersih mungkin dengan air dan sabun antiseptic. Membuat perencanaan ( menyusun proposal ). cuci dengan sabun dan air atau dengan air saja sebanyak banyaknya. Sebagai petugas kesehatan khususnya yang bekerja di lingkungan rumah sakit sudah selayaknya kita menerapkan UP dalam melaksanakan tugas kita sehari hari. Selanjutnya mereka yang terpapar ini perlu mendapatkan pemantauan pemeriksaan HIV yang adekuat dan kondisi kesehatannya pun harus diperhatikan.

Tidak menguasai tindakan yang dilakukan. . b.Tidak memperhatikan hygiene perorangan. kateter intravena. . .Bekerja ceroboh dan masa bodoh terhadap lingkungan. kateter jantung.Tidak mematuhi tata tertib di kamar operasi.Mempunyai penyakit infeksi / menular / karier. pungsi ( vena.Tidak memperhatikan hygiene perorangan.Tidak memperhatikan tehnik aseptic / antiseptic. . .Kotor. Tindakan Invasif Operasi Tindakan invasive oeprasi adalah suatu tindakan yang melakukan penyayatan pada tubuh pasien dan dengan demikian memungkinkan mikroorganisme masuk kedalam tubuh dan menyebar.Tidak memahami cara penularan / penyebaran kuman pathogen.Diluar batas waktu yang ditetapkan ( kadaluwarsa ) tanpa disterilkan lagi.Tidak mencuci tangan. .Ceroboh dalam bekerja. pipa nasogastrik. pericardial.Rusak / karatan. . lumbal.Tidak memperhatikan kebersihan perorangan. . .Tidak memperhatikan tehnik aseptic / antiseptic. . . pacu jantung ).Tidak steril. Contoh : Suntikan. . bronkoskopi. . . pleura suprapubik ). B.Kuku panjang . . Petugas umum adalah semua petugas yang bekerja sekitar ruang tindakan . .Menderita penyakit menular / infeksi / karier. angiografi.pasien sehingga memungkinkan mikroorganisme masuk kedalam tubuh dan menyebar ke jaringan. pipa endotrakeal. Alat .Mencuci tangan dengan cara yang tidak benar. Petugas khusus adalah semua petugas yang bekerja didalam kamar tindakan.Tidak mematuhi tata tertib yang berlaku di kamar operasi. .Bekerja tanpa memperhatikan tehnik aseptic dan antiseptic. .Penyimpanan tidak baik. Sumber Infeksi pada Tindakan Invasive a. . . pemasangan alat ( kontrasepsi. .Untuk pemakaian berulang tanpa disterilkan lagi.

.Dipisahkan lalu lintas untuk petugas. . kering dan tidak berbau.Penerangan / sinar matahari tidak cukup. .Sudut ruangan tidak tajam. pengukuran tekanan darah. .Ruangan dibersihkan secara rutin. pasien.Mengatur system sirkuasi udara dalam kamar operasi. 1. pengukuran suhu tubuh. tidak lembab dan berdebu. missal : sakit kulit. pemasangan holter dan lain lain.Tidak ada serangga. .Keadaan gizi tidak baik.Menderita penyakit infeksi / menular / karier. Lingkungan .Menderita penyakit kronis. USG.Higiene pasien tidak baik. 2. . . .Persiapan pasien dari ruang rawat tidak baik.c. d. barang bersih dan kotor. . dsb. .Sirkulasi udara harus cukup.Menghindari serangga. . Pasien yang menderita penyakit infeksi / menular / karier dapat menularkan penyakit yang diderita kepada pasien lain.Permukaan lantai harus rata dan tidak berlubang.Dinding kamar operasi harus licin mudah dibersihkan.Cahaya cukup terang. Pasien dengan petugas. .Jumlah petugas yang keluar masuk ke kamar operasi dibatasi.Dijaga kebersihannya. .Daerah sekitarnya terdapat tanda tanda infeksi. mingguan atau pada kasus infeksi tertentu. TINDAKAN NON INVASIF Tindakan non invasive adalah suatu tindakan medis dengan menggunakan alat kesehatan tanpa memasukkan kedalam tubuh pasien yang memungkinkan mikroorganisme masuk ke dalam jaringan. Pasien . . . . pemeriksaan reflek tonus treadmill tes. .Ruangan bersih. Contoh : Tindakan EKG. . Sumber Infeksi pada tindakan non invasif Infeksi pada tindakan non invasive dapat terjadi karena kontak langsung antara : 1. pengukuran nadi. . .Mencegah air tergenang.Sedang menapatkan pengobatan imunosupresif. .Tempat sampah selalu dalam keadaan tertutup. .

. Pasien dengan Alat .Sirkulasi udara dalam kamar harus lancar. . 2. 2. .3.Mencuci tangan lebih dahulu sebelum dan sesudah kontak dengan pasien (lampiran 1 ). Pasien dengan air.. 3. .Isolasi pasien yang diduga menderita penyakit infeksi atau menular. . 4.Pasien dapat menularkan kuman penyakit yang diderita ke makanan atau sebaliknya. Pasien dengan lingkungan. .4. 2. . 2.Pasien dapat menularkan penyakit yang dideritanya kepada pengunjung atau sebaliknya.Jumlah dibatasi. . 5.Pasien dapat menularkan kuman penyakit yang dideritanya ke lingkungan sekitarnya atau sebaliknya. Alat . Pasien dengan pengunjung . . .2. 2.Yang telah terkontaminasi segera dibersihkan dengan bahan desinfektan dan kemudian disterilkan.Yang digunakan harus bersih dan kering. .5.Yang sedang menderita sakit tidak diperkenankan mengunjungi pasien.6.Pasien dapat menularkan kuman penyakit yang dideritanya ke air yang dipergunakan atau sebaliknya.Lingkungan pasien / kamar dijaga selalu dalam keadaan bersih dan kering.Pasien dapat menularkan kuman penyakit yang diderita ke alat alat yang telah digunakan atau sebalikya. 7.Penerangan / sinar matahari dalam kamar harus cukup. Pencegahan Infeksi pada Tindakan Non Invasif 2.Yang terkontaminasi oleh pasien dengan penyakit tertentu ( misalnya gas gangrene ) dimusnahkan.1. 2. Air. Lingkungan . Pasien .Menggunakan barrier nursing sewaktu mengunjungi pasien yang berpenyakit infeksi / menular.Tidak ada serangga didalam kamar pasien.Petugas dapat menjadi perantara penularan penyakit.Tempat sampah selalu dalam keadaan tertutup. Petugas . Pasien dengan makanan . .Untuk penyakit tertentu ( misalnya gas gangrene ) ruangan dihapus hamakan sebelum dipakai kembali. Pengunjung . 6.Petugas yang menderita penyakit infeksi / menular / karier dapat menularkan penyakit yang diderita kepada pasien atau sebaliknya. .

ganti darah.Bak tempat penampungan air dibersihkan secara rutin minimal 2 kali seminggu. . . masker dan sarung tangan hanya dipakai pada waktu melakukan tindakan invasive seperti fungsi lumbal.Inkubator / tempat tidur bersih dan kering kalau mungkin disterilkan dengan desinfektan / detergen.Kuku harus pendek.Bayi / anak hanya boleh disatu tempat tidur selama 1 minggu. Petugas .Sebelum dan sesudah kontak dengan pasien harus mencuci tangan dengan antiseptic atau sabun serta air mengalir. invasive operasi maupun tindakan non invasive. Penyakit gastro intestinal. 1. . topi. . . Alat .Pemberian dari luar rumah sakit harus dicegah. tidak berwarna.Harus dalam keadaan steril kalau mungkin alat disterilkan dengan autoklaf atau dapat juga dengan menggunakan desinfektan setelah alat dibersihkan. . memperhatikan kebersihan diri dan lingkungan.7. . . jernih dan bersih. 2.Diberikan sesuai dengan diet yang dianjurkan.Semua alat yang dipakai selalu dalam keadaan bersih dan kering. TINDAKAN TERHADAP ANAK DAN NEONATUS Tindakan terhadap anak / neonatus dapat berupa tindakan invasive.Air minum harus dimasak sampai mendidih.Sebelum masuk ke bangsal neonatus.Tidak menderita penyakit menular seperti tuberkulosa.Kualitas air tersedia memenuhi syarat kesehatan yaitu batas bebas kuman.. .Jumlah air yang tersedia memenuhi kebutuhan pasien. kateterisasi umbilical / jantung. . . .Yang sudah rusak / terkontaminasi dibuang. . . .Khusus bila kontak dengan neonatus tangan harus dicuci sampai ke siku dengan sabun dan air mengalir serta digosok dengan sikat ( pertama kali masuk bangsal ) kemudian dapat dipakai larutan antiseptic. . Tempat tidur / incubator dibersihkan setiap bayi / anak dipulangkan / dipindah / meninggal.Harus dalam keadaan sehat. penyakit saluran nafas lainnya.Pakaian petugas yang bekerja dibangsal anak / neonatus berlengan pendek agar mudah untuk mencuci tangan.Dicegah adanya genangan air limbah. penyakit kulit atau mukokutaneus seperti herpes dan lain lain. Pencegahan infeksi pada tindakan terhadap anak / neonatus meliputi : 1. .Selalu dalam keadaan tertutup. tidak berbau. Makanan .

. 2. .Menampung / memeriksa urine.Susu.Bahan / zat yang dipakai untuk membersihkan pakaian bayi harus diketahui oleh dokter ruangan bayi / anak untuk mencegah kelainan yang mungkin timbul terhadap bayi. Pengertian . demikian juga tali pusat. Khusus untuk neonatus sebaiknya pakaiannya dipakai yang disposibel. dot.Kamar / ruang harus ada penerangan / sinar yang diperlukan untuk menghangatkan ruangan. selimut bayi / anak sebaiknya disediakan setiap 8 jam untuk sekali pakai. .. .Memeriksa pasien. . .Pemakaian alat prosedur. .Pemeriksaan genital. .Penyediaan air bersih untuk keperluan pasien.Perlengkapan bayi / anak harus dibawa ketempat perawatan dalam keadaan steril dan tertutup. inmfus. . .Tempat tidur tidak boleh dibersihkan selama anak berada ditempat tidur.Pakaian / alas tempt tidur.Kamar / ruang peralatan cukup sinar matahari yang masuk ketempat perawatan sehingga secara tidak langsung bayi yang kuning mendapatkan terapi sinar. Urine merupakan sumber infeksi. Lingkungan . 4.Kulit harus dalam keadaan bersih dan kering. . .Isolasi / memisahkan bayi yang sehat dari bayi yang diduga ada infeksi. Bagian yang harus dibersihkan adalah sekitar pasien dan lingkungan tempat perawatan. botol susu sebaiknya disetrilkan diautoklaf sub atmospheric pressure ( proses pasteurisasi ) yang khusus dipkai di dapur susu.Pakaian kotor harus dikumpulkan dalam plastic tertutup dan diganti dengan yang bersih setiap 8 jam.Bayi / anak masing masing harus mempunyai perlengkapan sendiri dan sebaliknya dicuci dibangsal bayi. . dinding dan jendela dibersihkan dengan desinfektan / detergen atau penghisap debu kering yang diikuti dengan wet vaccum pick up machine. lumbal pungsi ) harus dibersihkan dulu dengan zat antiseptic.Kulit tempat tindakan invasive ( pengambilan darah.Lantai. oleh sebab itu perlu : Mencuci tangan sebelum dan sesudah : .Penyediaan air bersih untuk keperluan pasien. Pasien anak / neonatus . STERILISASI DAN DESINFEKSI STERILISASI 1. . .

pengawasan. rambut dan saluran nafas yang terinfeksi ). 5. 3. Air yang tidak disuling dan tidak disterilkan. Keberhasilan usaha tersebut akan tercermin pada kualitas dan kuantitas mikroorganisme yang terdapat bahan. Pasien yang telah terinfeksi. Untuk kerja yang bertanggung jawab terhadap proses sterilisasi di rumah sakit adalah Instalasi Sterilisasi Sentral. 2. Efisiensi tenaga. Ruang yang tidak dibersihkan dan di desinfektan. instalasi dan pemeliharaannya. Proses sterilisasi di rumah sakit sangat penting sekali dalam rangka pengawasan pencegahan infeksi nosokomial. pengadaan. Penyederhanaan dalam pengembangan prosedur kerja. 2. Kontaminasi terjadi karena adanya perpindahan mikroorganisme yang berasal dari berbagai macam sumber kontaminasi. 5.1. standarisasi dan peningkatan pengawasan mutu. Instalasi Sterilisasi Sentral mempunyai kegiatan mengelola semua kebutuhan peralatan dan perlengkapan tindakan bedah serta non bedah. Tehnik sterilisasi ada beberapa cara : 1. Mulai dari penerimaan. tangan. Sumber kontaminasi dapat berasal dari : 1. Menghemat biaya investasi. Tehnik Sterilisasi Sebelum memilih tehnik sterilisasi yang tepat dan efisien diperlukan pemahaman terhadap kemungkinan adanya kontaminasi dari bahan dan alat yang akan disterilkan. 4. Perlengkapan dan peralatan di rumah sakit. Udara yang lembab atau uap air. 6. Sebaiknya proses sterilisasi di RS dilaksanakan secara sentralisasi dengan tujuan agar tercapainya : 1. Sterilisasi dengan pemanasan : a.Sterilisasi adalah proses pengolahan suatu alat atau bahan dengan tujuan mematikan semua mikroorganisme termasuk endospora pada suatu alat / bahan. Sterilisasi dimaksudkan untuk membunuh atau memisahkan semua mikroorganisme ditetntukan oleh daya mikroorganisme terhadap tehnik sterilisasi. pencucian. pemberian tanda steril penyusunan dan pengeluaran barang barang hasil sterilisasi ke unit pemakaian di RS. 4. Efisiensi dalam menggunakan peralatan dan sarana. alat serta lingkungan kerja rumah sakit. Pemanasan basah dengan Autoklaf . 3. Sterilisasi bahan dan alat yang disterilkan dapat dipertanggung jawabkan. Personalia yang di rumah sakit ( kulit. 2.

b. c. cepat dan sederhana. Sterilisasi dengan penyaringan.2. 3. c. Pengawasan terhadap proses sterilisasi dapat dilakukan dengan cara mentest bahan atau alat yang dianggap masih steril dengan memakai indicator fisika.b. 1. 3.4. Pemanasan sample langsung pada media pembenihan. Pemilihan tehnik sterilisasi berdasarkan pertimbangan a. Sterilisasi dengan penyinaran. c. Jaminan hasil penguian dapat dicapai jika pengawasan dimulai semenjak pemilihan bahan dan alat yang akan disterilkan. DESINFEKSI 1. kimia dan biologi tergantung pada tehnik sterilisasi yang digunakan waktu mensterilkan bahan / alat tersebut. Penambahan media pembenihan paket ke dalam larutan yang akan diuji kemudian diinkubasi. Hasil yang diperoleh benar benar steril. 1. Pemanasan kering dengan pemijatan dan udara panas. Pengujian Ada tiga pilihan yang dapat digunakan sebagai tehnik dalam pengujian sterilisasi : a. Pembilasan penyaring. Pemanasan dengan bactericid. 1. Pengawasan Suatu bahan steril yang dihasilkan selama dalam penggunaan harus dapat dijamin kualitas dan kuantitasnya. Bahan yang disterilkan tidak boleh mengalami perubahan. Tehnik yang murah. . Antiseptik adalah zat zat yang dapat membunuh atau menghambat pertumbuhan mikroorganisme pada jaringan hidup. Tehnik sterilisasi yang akan dipakai sampai dengan proses penyimpanan dan pendistribusian bahan / alat yang sudah steril.3. Waktu kadaluwarsa suatu bahan steril sangat tergantung kepada tehnik sterilisasi. Pengertian Desinfeksi adalah suatu proses baik secara kimia atau secara fisika dimana bahan yang patogenik atau mikroba yang menyebabkan penyakit dihancurkan dengan suatu desinfeksi dan antiseptic. hasil pembilasan diinkubasikan setelah ditanam dalam media pembenihan. b. 4. Sterilisasi dengan menggunakan zat kimia. Desinfektan adalah senyawa atau zat yang bebas dari infeksi yang umumnya berupa zat kimia yang dapat membunuh kuman penyakit atau mikroorganisme yang membahayakan menginaktifkan virus.

Spektrum luas. e. dapat mematikan berbagai macam mikroorganisme. Biaya murah dan persediaannya tetap ada dipasaran. h. b. Tidak merusak bahan yang didesinfeksi. 2. jumlah mikroorganisme dan adanya zat zat yang mengganggu pada waktu mempergunakan desinfektan. pencemaran. pembuatan. pengadaan. BAB III SURVEILANS . f. g. Instalasi Farmasi mempunyai kegiatan mulai dari perencanaan.Unit kerja yang bertanggung jawab terhadap penyediaan desinfektan dan antiseptic di rumah sakit adalah Instalasi Farmasi. Desinfektannya sederhana dan tidak sulit pemakaiannya. Tehnik Desinfeksi Tehnik desinfeksi yang dilakukan tidak mutlak bebas dari mikroorganisme hidup seperti pada sterilisasi karena desinfektan / antiseptic tidak menghasilkan sterilisasi. d. Faktor yang mempengaruhi pemilihan desinfektan yaitu sifat sifat zat kimia yang akan digunakan seperti konsentrasi. Tidak mengeluarkan bau yang mengganggu. pH. Macam macam desinfektan yang dapat dipakai dalam tehnik desinfeksi digolongkan berdasarkan struktur kimia senyawa : LIHAT LEMBAR DESINFEKSI 2. Stabil selama dalam penyimpanan. Daya bunuh kuman yang tinggi dengan toksisitas yang rendah. pH dan bentuk formulasinya disamping itu kepekaan mikroorganisme terhadap kerja zat kimia serta lingkungan dimana desinfektan tersebut akan digunakan. aktifitas permukaan. c. Pengawasan Desinfeksi Pengawasan desinfeksi dilakukan terhadap penggunaan desinfeksi sangat tergantung kepada pengaruh suhu. Pemilihan desinfetan yang tepat seharusnya memenuhi criteria berikut : a. temperature. penyusunan dan penyaluran desinfektan / antiseptic ke unit pemakai di rumah sakit. Dalam waktu singkat dapat mendesinfeksi dengan baik.

Salah satu dari criteria berikut : .Dan Infeksi terjadi pada luka insisi. atau pada infeksi dapat di kultur kuman yang berasal dari rumah sakit. .Meskipun berbagai upaya pencegahan infeksi nosokomial di rumah sakit telah dilaksanakan secara optimal. .Infeksi terjadi dalam waktu 30 hari setelah operasi. Oleh karena itu. MERUMUSKAN KASUS / KRITERIA DIAGNOSTIK Kasus yang akan disurvei perlu dirumuskan atau dibuat suatu criteria diagnostic yang jelas dan teliti yang perlu ditaati secar konsisten dalam proses pengumpulan data terutama beberapa jenis penyakit infeksi yang sering terjadi di rumah sakit. . Surveilans adalah pengamatan yang sistematis aktif dan terus menerus terhadap timbulnya penyebaran penyakit pada suatu populasi serta keadaan atau peristiwa yang menyebabkan meningkat atau menurunnya resiko untuk terjadinya penyebaran penyakit.Pus dari luka atau dren diatas fasia. .Meliputi kulit. Analisa data dan penyebaran data yang teratur merupakan bagian penting dalam prose situ.Ahli bedah membuka luka operasi karena ada tanda inflamasi. Infeksi Luka Operasi Infeksi luka operasi nosokomial adalah infeksi yang terjadi pada operasi bersih atau operasi bersih tercemar.Infeksi ada hubungannya dengan operasi tersebut. namun demikian jumlah kejadian yang lebih sedikit. Infeksi luka operasi dibedakan menjadi : 1. untuk mengadakan evaluasi terhadap keberhasilan program pengendalian infeksi nosokomial serta upaya penanggulangannya bila terjadi wabah atau kejadian luar biasa. .1.Meliputi jaringan atau rongga dibawah fasia. agaknya infeksi nosokomial di rumah sakit akan tetap terjadi. subkutan atau otot diatas fasia. Luka operasi profunda .. . perlu dilaksanakan surveilans infeksi nosokomial di rumah sakit. . Luka operasi superficial : . Kegiatan surveilans eliputi : A. .Infeksi terjadi dalam waktu 30 hari setelah operasi bila tak ada implant / protheses atau infeksi terjadi dalam satu tahun bila dipasang implant. Ada beberapa rumusan kasus / criteria diagnostic yang akan dibicarakan dibawah ini : 1.Biarkan mikroorganisme positif dari cairan luka.Salah satu criteria berikut : .

- Pus dari drain dibawah fasia. - Luka operasi dihisensi secara spontan atau dibuka oleh ahli bedah sewaktu pasien demam 380C dan atau terdapat nyeri local. - Abses atau tanda infeksi lain yang langsung terlibat waktu pemeriksaan, waktu operasi atau secara histopatologis. 1.3. Infeksi luka operasi pada neonatus - Gejala timbul dalam 1 2 minggui berupa tanda tanda radang ditempat / disekitar luka operasi seperti panas, merah, bengkak, bernanah dan disertai gejala umum : malas minum,, hipotermi / hipertermi, takikardia / apnea, hipoglikemia, muntah dan sebagainya. - Tanda tanda infeksi terdapat dipermukaan atau lebih dalam sehingga menimbulkan gejala sepsis. - Biakan dari nanah didapat Gram positif atau Gram negative. 1.4. Infeksi luka operasi pada anak - Ada tanda radang seperti panas, bengkak, merah dan adanya pus ditempat operasi, selulitus atau sepsis pada infeksi yang lebih dalam dengan gejala panas, muntah, anak gelisah. - Biakan kuman : Gram positif atau Gram negative. Jenis Operasi : a. Operasi Bersih : - Operasi pada kasus non trauma. - Operasi yang tak mengenal daerah dengan tanda infeksi. - Operasi yang tak membuka respiratori, urinarius. - Umumnya luka operasi ditutup primer dan tak dipasang drain. Mis : FAM, hernia, lipoma, tiroid, internal fixasi pada fraktur fraktur tertutup.

b. Operasi bersih tercemar : - Operasi membuka disgestivus dengan pencemaran nyata. - Operasi membuka biliair dengan empedu yang terinfeksi. - Operasi membuka urinarius dengan urine yang terinfeksi. - Operasi membuka respiratorius dengan infeksi respiratoris. - Operasi pada luka karena trauma yang bersih dan kurang dari 6 jam. Mis : Appendektomi akut dan kronis, kholesistektomi, section alta. c. Operasi Tercemar : - Operasi membuka getivus dengan pencemaran nyata. - Operasi membuka billiard dengan empedu yang terinfeksi. - Operasi membuka urinarius dengan urine yang terinfeksi. - Operasi membuka respiratorius dengan infeksi respiratoris.

- Operasi pada luka karena trauma yang bersih dan kurang dari 6 jam. Mis : Kholesistektomi pada empyeme KE, operasi membuka kolon dengan pencemaran isi usus luka tusuk tanpa menembus. d. Operasi kotor : - Operasi perforasi digestivus, billair, urinarius, respiratosius. - Operasi yang mengenai daerah inflamaasi bakteriel. - Operasi melalui daerah bersih untuk membuka bases. - Operasi luka trauma dengan ada jaringan yang non vital / benda asing / kontaminasi feces, kejadian ditempat yang kotor, pertolongan / operasi dilakukan 6 jam setelah trauma. Mis : Traimatic mputasi, trauma tumpul abdomen dengan perforasi usus, trauma kotor dengan korpus alineum. 2. Infeksi Saluran Kemih ( ISK ) Infeksi saluran kemih nosokomial ialah infeksi saluran kemih yang pada pasien masuk rumah sakit belum ada atau tidak dalam masa inkubasi dan didapat sewaktu dirawat atau sesudah dirawat. Infeksi saluran kemih dapat disebabkan : a. Endogen : - perubahan flora normal. b. Eksogen : - prosedur yang tidak bersih / steril - tangan yang tidak dicuci sebelum prosedur. 2.1. Infeksi Saluran Kemih Simtomatik. Dengan salah satu kriteria dibawah ini : * Salah satu gejala ini : - Demam > 380C - Disuria - Nikuria ( urgency ) - Polakisuria - Nyeri Suprapubik. Dan biakan urin > 100.000 kuman / ml dengan tidak lebih dari dua jenis mikroorganisme : * Dua dari gejala : - Demam 380C - Disuria - Nikuria - Polakisuria - Nyeri Suprapubik * dan salah satu tanda :

- Tes carik celup ( dipstick ) positif untuk leukosit esterase dan atau nitrit. - Pluria ( 10 lekosit/ml atau > 3 lekosit /LPB pada urine yang tidak disentrifus. - Mikroorganisme positif pada pewarnaan gram pada urine yang tidak disentlifus. - Biakan urine dua kali dengan hasil kuman uropatogen yang sama dengan jumlah > 100.000 kuman/ml dari urin yang diambil secara steril. - Biakan urin dengan hasil satu jenis kuman uropatogen dengan jumlah 100.000 kuman/ml dan pasien diberi antibiotic yang sesuai. - Diagnosis oleh dokter. - Dokter memberikan terapi antibiotika yang sesuai. 2.2. Infeksi saluran kemih asimtomatik Dengan salah satu criteria dibawah ini : * memakai kateter dower selama 7 hari sebelum biakan urin dan tak ada gejala : - Demam 380C - Disuria - Nikuria - Polakisuria - Nyeri suprapubik Biakan urin dengan jumlah > 100.000 kuman/ml urin dengan tak lebih dari dua jenis kuman. * tidak memakai kateter dower selama 7 hari sebelum biakan urin dengan dua kali hasil biakan > 100.000/ml dengan mikroorganisme yang sama yang tak lebih dari dua jenis dan tak ada gejala : - Demam 380C - Disuria - Nikuria - Polakisuria - Nyeri Suprapubik 2.3. Infeksi Saluran Kemih lain. ( dari ginjal, ureter, kandung kemih, uretra atau jaringan retroperito neal atau rongga perinefrik ) dengan salah satu criteria dibawah ini : Biakan positif dari cairan atau jaringan yang diambil dari lokasi yang dicurigai. Ditemukan abses atau tanda infeksi pada pemeriksaan atau operasi atau secara hispatologis. Dua dari gejala : - Demam 380C - Nyeri local pada daerah yang dicurigai. - Nyeri tekan pada daerah yang bersangkutan. Dan salah satu dari tanda : - Drenase purulen dari daerah yang dicurigai. - Biakan darah positif

hipertermi/ hipotermi. kateterisasi buli buli. Infeksi Aliran Darah Primer ( IADP ) 3. .Pemeriksaan lainnya : sediment urin terdapat piuria. panas. .Diagnosis dokter . kadang kadang diare atau kencing yang sangat berbau. 2. gagal tumbuh ( gejala sama dengan sepsis ). . Definisi Infeksi Aliran Darah Primer . Infeksi Saluran Kemih pada neonatus . .1.Radiologi terdapat tanda infeksi .000/ml urin..4.Laboratorium : pemeriksaan mikroskopik dan biakan urin dari punksi suprapubik. nafsu makan berkurang. sering kencing dan ngompol. Infeksi Saluran Kemih pada Anak . . Makin muda usia anak makin tidak khas. gangguan pertumbuhan. .Apabila biakan kuman dalam urin pada waktu masuk dan saat diperiksa berbeda.Bayi tampak tidak sehat. Pada anak yang lebih besar gejala spesifik makin jelas seperti ngompol.000 atau lebih/ml urin. Biakan urin positif kalau ditemukan kuman lebih dari 100. sering kencing.Bradikardi .Muntah Dan salah satu dari tanda : .Demam 380C . sakit waktu kencing atau nyeri pinggang.Radiologi terdapat tanda infeksi .Gejala infeksi timbul sesudah dilakukan punksi suprapubik.Diagnosis : Klinik dan laboratorik.Dokter memberikan terapi antibiotika yang sesuai Pasien berumur < 12 bulan dengan salah satu gejala : . muntah. muntah. . . .Drenase purulen dari daerah yang dicurigai.Hipotermia . 2.5. kuning.Letargi .Gejala : panas.Biakan darah positif .Laboratorik : hasil biakan urin yang diambil melalui suprapubik dikatakan positif apabila jumlah kuman sama atau lebih dari 200/ml urin.Pada usia prasekolah gejala klinis berupa sakit perut.Infeksi ini dapat pula disebabkan oleh sepsis. Dan apabila melalui urin pancaran tengah atau kateterisasi kandung kemih maka jumlah kuman dalam urin 100.Dapat dengan atau tanpa gejala.Diagnosis dokter .Dokter memberikan terapi antibiotika yang sesuai.Apneu .Disuria . 3. .

.Infeksi Aliran Darah Primer adalah infeksi aliran darah yang timbul tanpa ada organ atau jaringan lain yang dicurigai sebagai sumber infeksi.Hipotermi < 370C . Untuk bayi umur 12 bulan.Sistem kardiovaskuler antara lain : tanda renjatan yaitu takikardi. Ditemukan salah satu gejala / tanda berikut tanpa penyebab lain : . 100/mnt dan sirkulasi perifer buruk.1.Demam > 380C .Tidak terdapat tanda tanda infeksi ditempat lain. splenomegali dan perdarahan.Sistem saraf dan pusat antara lain : hipertermi otot. . jumlah urin < 0.Diberikan terapi antimikroba sesuai dengan sepsis. . .Bradikardi < 100x/mnt Dan Semua gejala / tanda di bawah ini : . . sistolik < 90 mmHg.Keadaan umum menurun antara lain : malas minum. Oliguri. hipotermi (< 370C) hipertermi ( 380C ) dan sklerema.Hipotesi.Telah diberikan antimikroba sesuai dengan sepsis. 2). 3) Untuk Neonatus Dinyatakan menderita infeksi aliran darah primer apabila terdapat 3 atau lebih diantara enam gejala berikut : . suhu tubuh diukur secara oral atau rectal. kuning. CATATAN : .Sistem pencernaan antara lain : distensi lambung. Ditemukan salah satu diantara gejala berikut tanpa penyebab lain : .Tidak ada tanda tanda infeksi di tempat lain.Suhu > 380C.Suhu badan diukur secara aksiler selama 5 menit dan diulang setiap 3 jam. Criteria infeksi aliran darah primer dapat ditetapkan secara klinis dan laboratories dengan gejala / tanda berikut : 3. bertahan minimal 24 jam dengan atau tanpa pemberian antipiretika.Apabila pasien menunjukkan gejala. Untuk Dewasa dan anak > 12 bulan.5 cc/kbBB/jam Dan Semua gejala / tanda yang disebut dibawah ini : . sesak. 160/mnt atau bradikardi.Manifestasi hematology antara lain : pucat. . mencret. iritabel.1.Apnea . Klinis 1).Sistem pernafasan antara lain : nafas tak teratur. . apnea dan takipnea. kejang dan letargi. muntah dan hepatomegali. . Dan . .

Terdapat kontaminan kulit dari 2 biakan berturut turut dan kuman tersebut tidak ada hubungannya dengan infeksi ditempat ( organ / jaringan ) lain. 2).Demam > 380C. Laboratorik Untuk orang dewasa dan anak umur > 12 bulan. .Semua gejala / tanda di bawah ini : . .Oliguri Dan Satu diantara tanda berikut : . 3.Menggigil . 2. PENGUMPULAN DATA SURVEILANS INFEKSI NOSOKOMIAL .Diberikan terapi antimikroba sesuai dengan sepsis. Untuk bayi < 12 bulan.Hipotermi < 370C .Terdapat kontaminan kulit dari biakan darah pasien yang menggunakan alat intravascular ( kateter intravena ) dan dokter telah memberikan antimikroba yang sesuai dengan sepsis.Biakan darah tidak dikerjakan atau dikerjakan tetapi tidak ada pertumbuhan kuman.Demam > 380C . Kuman pathogen dari biakan darah dan kuman tersebut tidak ada hubungannya dengan infeksi ditempat lain.Terdapat kontaminan kulit dari biakan darah pasien yang menggunakan alat intravaskuler ( kateter intravena ) dan dokter telah memberikan antimikroba yang sesuai dengan infeksi CATATAN : Untuk neonatus digolongkan infeksi nosokomial apabila : 1. Ditemukan satu diantara gejala klinis berikut : . Pada partus normal di rumah sakit infeksi terjadi setelah lebih dari 3 hari.Bradikardi < 100/mnt Dan Satu diantara tanda berikut : .Apnea . Ditemukan satu diantara 2 kriteria berikut : 1).2.Terdapat kontaminan kulit dari 2 biakan berturut turut dan kuman tersebut tidak ada hubungannya dengan infeksi ditempat ( organ / jaringan lain ) . B.Hipotensi . Pintu masuk kuman jelas misalnya luka infuse. . 3. .Tidak terdapat tanda tanda infeksi ditempat lain.1. Terjadi 3 hari setelah partus patologik. ditemukan satu diantara gejalaberikut : . tanpa didapatkan pintu masuk kuman.

Pelaksanaan pengumpulan data untuk infeksi luka operasi : 1. tembusan kepada ketua PPMK / Bidang Keperawatan dan Panitia Dalin RS. 4. 7. Data lain dapat dikumpulkan hanya apabila akan dilakukan analisis. nomor rekam medik. 6. umur. nama ruang. 5. Kepala ruang melaporkan kepada manajer sistem rawat inap. 2. 3. Kepala ruangan melaporkan kepada panitia Dalin. Manajer sistem rawat inap melaporkan kepada Direktur untuk menjadi laporan sasaran mutu. Tiap awal bulan kepala ruang / anggota panitia Dalin yang ditunjuk merekap kejadian infeksi luka infus. 4. 7. 4. Perawat mencatat kejadian infeksi luka infus pada format yang tersedia. Panitia Dalin mengevaluasi dan menganalisa serta membuat laporan kepada Direktur. . Manajer Sistem Rawat Inap melapokan kepada Direktur untuk menjadi laporan sasaran mutu. SKF mengarsip laporan tersebut. Perawat pelaksana mencatat pasien yang tirah baring pada format check list monitoring infeksi pasien rawat inap . Perawat IBS mengisi check list monitoring infeksi pasien rawat inap terhadap semua pasien yang dilakukan tindakan operasi. 2. 2. Perawat ruangan memonitor tanda tanda infeksi yang terjadi pada luka operasi bersih selama dirawat di rumah sakit. 6. 3. kadang kadang dicatat juga diagnosis primer invasive yang dilakukan sebelum terjadi infeksi dan antibiotika yang diberikan. tanggal kejadian. Perawat pelaksana mencatat pasien yang terpasang infus dan setiap mengganti infus pada format cek list monitoring infeksi pasien rawat inap . Ketua PPMK / Ka. 5. Perawat IBS / ruangan mempunyai pengetahuan tentang Operasi Bersih. Kepala ruang melaporkan kepada manajer sistem rawat inap. Perawat mencatat kejadian infeksi luka operasi bersih pada format yang tersedia.Data minimal yang perlu dikumpulkan antara lain adalah nama pasien. Operasi Bersih Terkontaminasi dan operasi kotor. 6. 3. 5. Perawat mencatat kejadian decubitus pada format yang tersedia . Panitia Dalin mengevaluasi dan menganalisa serta membuat laporan kepada Direktur. Tiap awal bulan kepala ruang / anggota panitia Dalin yang ditunjuk merekap kejadian infeksi luka operasi bersih. 1. Tiap awal bulan kepala ruang / anggota panitia Dalin yang ditunjuk merekap kejadian decubitus. tembusan kepada ketua PPMK / Bidang Keperawatan dan Panitia Dalin RS. SKF mengarsip laporan tersebut. jenis kelamin. Ketua PPMK / Ka. Pelaksanaan pengumpulan data untuk angka kejadian decubitus : 1. Pengumpulan data monitoring pengendalian infeksi nosokomial Pelaksanaan pengumpulan data untuk infeksi luka infus ( infeksi jarum infus ) : 1.

menganalisa terjadi infeksi nosokomial bersama sama dengan perawat dan dokter. 2. Untuk KLB ( Kejadian Luar Biasa ) dilaporkan setiap saat / setiap kejadian. . 3. Mencari penyebab. instalasi terkait dan semua SMF. Membuat laporan rekapitulasi infeksi nosokomial setiap 6 bulan. sekretaris dan anggota Panitia Pengendalian Infeksi Nosokomial : a.7. Mengevaluasi laporan / data monitoring pengendalian infeksi yang sudah tersedia. laporan di sebarluaskan atau di informasikan ke panitia pengendalian infeksi nosokomial. C. Membuat kesimpulan terjadinya infeksi kepada Direktur melalui Komite Medis. e. PENYEBARAN DATA / INFORMASI Data infeksi nosokomial yang sudah tersedia dan di analisa oleh Ketua Panitia Pengendalian Infeksi Nosokomial di lakukan evaluasi setiap bulan dan di analisis dalam 2 tahun sekali. Setelah ada tindak lanjut dari Direktur. Ketua. Direktur menerima laporan dari Panitia Pengendalian Infeksi Nosokomial melalui Komite Medis dan menindak lanjuti laporan tersebut. d. meneliti. b. Panitia Dalin mengevaluasi dan menganalisa serta membuat laporan kepada Direktur. c.

jenis maupun mutu. Perkembangan yang pesat di bidang Farmasi mengingkatkan produksi obat obatan baru khususnya antibiotic.BAB IV PENGGUNAAN ANTIBIOTIK Penyakit infeksi masih merupakan penyakit yang banyak dijumpai di Indonesia sampai saat ini. biaya pelayanan kesehatan menjadi tinggi yang pada gilirannya akan merugikan pasien. PRINSIP PENGGUNAAN ANTIBIOTIK Pemilihan antibiotic hendaknya didasarkan atas pertimbangan berbagai factor yaitu spectrum antibiotic. pengalaman klinik sebelumnya. super infeksi dan harga yang terjangkau. Atas dasar semuanya ini perlu ada kebijakan rumah sakit tentang pengaturan penggunaan antibiotic agar dapat menekan serendah rendahnya efek yang merugikan dalam pekamaian / penggunaan antibiotic. kemungkinan terjadinya resistensi kuman. TUJUAN Untuk membudayakan penggunaan antibiotic secara rasional di rumah sakit sebagai upaya dalam meningkatkan mutu pelayanan sesuai dengan fungsi rumah sakit dengan tidak mengurangi tanggung jawab professional dari dokter dan apoteker dalam pengobatan terhadap pasien. meningkatnya kejadian efek samping obat. sifat sifat farmakokinetik. oleh akrena itu antibiotic masih tetap diperlukan. atau kurang rasional maka perlu dibuat suatu pedoman pemakai antibiotic. efektifitas. keamanan. Oleh karena penggunaan antibiotic yang tidak rasional akan menyebabkan timbulnya dampak negative seperti terjadinya kekebalan kuman terhadap beberapa antibiotic. Untuk mencegah pemakaian antibiotic yang tidak tepat sasaran. . Produksi antibiotic yang meningkat menyebabkan banyaknya antibiotic yang beredar dipasaran baik dalam jumlah.

Dalam memilih antibiotic profilaksis hendaknya diperhatikan hal hal sebagai berikut : Spektrum bakterisida.Arti penting dari pertimbangan factor factor ini tergantung dari derajat penyakit dan tujuan pemberian antibiotic apakah untuk profilaksis atau untuk terapi. Kemungkinan terjadinya infeksi sistemik yang berat pada pasien yang beresiko tinggi. PEMBERIAN ANTIBIOTIK 1. ISPA. Syarat pemberian profilaksis adalah antibiotic yang tepat. Profilaksis Bedah Medik 3. pemilihan antibiotika ditentukan berdasarkan penilaian klinik penderita. tidak boleh menyebabkan kekebalan dan harganya murah. Idealnya setiap pasien infeksi perlu dilakukan pemeriksaan mikrobiologis yaitu pembuatan sediaan Gram. salmonelosis. Kemungkinan resistensi Cara pemberian dan penyerapannya. keracunan makanan karena bakteri. Diagnose penyebab infeksi sedapat mungkin ditegakkan melalui tata laksana pemeriksaan mikrobiologi klinik yang relevan beserta interprestasi antibiogram yang memadai dan informasi klinik / farmasi klinik mengenai jenis jenis antibiotic yang tersedia. Terapetik Secara Empirik ( educated guess ) Secara definitive ( pasti) Pada antibiotic profilaksis bedah tujuan utama adalah untuk mengurangi terjadinya ILO dengan mengupayakan konsentrasi antibiotic yang mematikan mikroorganisme pada saat sayatan dimulai sampai operasi selesai. harus diberikan dalam jangka waktu yang tepat pada lokasi yang tepat dan konsentrasi yang tepat. Terjadi infeksi local yang berat ( pada protesis sendi. tuberculosis dan kandidiasis. Pengambilan spesiman pemeriksaan mikrobiologis dilakukan sebelum pengobatan. Dalam hal uji biakan dan uji kepekaan kuman belum ada hasilnya atau tidak bisa dikerjakan. meningitis. Kultur kuman dan uji kepekaan terhadap antibiotic harus dilakukan pada penyakit penyakit berikut : sepsis. peritonitis. sigelosis. Antibiotik haus diberikan dengan cara yang tepat tidak boleh mengganggu pasien atau lingkungannya. . jadi bukan semata mata atas dasar hasil biakan kuman. kultur kuman dan uji kepekaannya untuk menunjang diagnose klinis dan pemberian pengobatan yang tepat. Kemungkinan infeksi fatal ( operasi penggantian katup jantung ). protesis vaskuler ). Secara spesifik antibiotic profilaksis bedah adalah untuk mencegah : Infeksi yang sering terjadi.

... Mampu mengambil keputusan-keputusan pribadi yang berkaitan dengan HIV/AIDS Kapan Harus Tes HIV ?. disarankan untuk melakukan tes HIV Kenapa Harus Tahu Status HIV Saya?. Jika positif kamu bisa membuat komitmen untuk menjaga hidupmu tetap sehat selamanya Tujuan VCT Membuat Klien agar mampu menghadapi isu-isu yg berkaitan dengan HIV/AIDS dan membuat rencana-rencana yg berkaitan dengan HIV/AIDS Memfasilitasi perilaku-perilaku pencegahan . Islam Klaten.. Dengan memiliki pengetahuan dan sikap yang memadai. Namun keterbatasan ini tidak dapat dipergunakan sebagai alas an untuk menurunkan baku prosedur pelayanan kesehatan yang harus dberikan kepada pasien... Disadari bahwa keterbatasan sarana dan prasarana serta sumber daya dan dana masih merupakan kendala di RS.. Dengan mengetahui status HIV kamu.Konsentrasi pada lokasi infeksi. dapat membantu membuat keputusan tentang hidupmu.. Sekarang atau kapanpun... Lama bekerja Metabolisme Bukti klinis yang baik Toksisitas yang rendah Efek samping Harga. jika kita memiliki perilaku resiko tinggi atau ketika kita mengalami kecelakaan kerja yang memungkinkan terinfeksi HIV.. BAB V PENUTUP Tata laksana yang dicantumkan merupakan prosedur baku maksimal yang harus diupayakan untuk dilaksanakan seluruhnya oleh setiap personil Rumah Sakit yang terlibat dan berlaku sietiap ruang terkait. (Voluntary Counselling and Testing) VCT (Konseling dan Tes HIV Sukarela) merupakan layanan konseling dan test HIV secara sukarela dan konfidensial kepada individu sehubungan dengan permasalahan HIV/AIDS dengan menempatkan individu/Klien sebagai pusat pelayanan berdasarkan kebutuhannya. diharapkan semua personil Rumah Sakit akan memeiliki perilaku dan kemampuan yang memadai pula dalam memanfaatkan sarana dan prasarana yang tersedia secara bertepat guna dan berhasil guna dalam pengendalian infeksi nosokomial secara berencana dan terorganisir dengan baik merupakan suatu keharusan bagi setiap rumah sakit.

. dll... Prinsip VCT Kerahasiaan = Terjamin Kerahasiaan proses dan hasil tes.. Konseling Tindak Lanjut: Jika hasilnya positif konselor pun dapat merujuk anda ke pusat layanan kesehatan lain yang dianggap lebih memadai untuk klien Keuntungan dalam melakukan VCT Secara umum dapat memutus mata rantai penularan HIV dalam masyarakat. Anda berhubungan dengan seks anal. VCT dilakukan oleh Konselor layanan VCT. Konseling Pra Tes: Anda akan bertemu dengan konselor.C atau HTLV-I/II (virus-virus ini menular dengan cara yang sama dengan HIV). pencegahan penularan IMS. Klinik. bisa di Rumah Sakit Pemerintah dan Swasta... vaginal atau oral tanpa kondom dengan seseorang yang mungkin atau diketahui status HIV positif Anda memakai jarum suntik. serta pencegahan dan penanganan TB maupun infeksi oportunistik lainnya. VCT memfasilitasi rujukan dini ke layanan klinik yang komprehensif dan layanan berbasis masyarakat. Konselor akan memberikan penjelasan selengkap-lengkapnya makna dari hasil tes. dll Tahapan dalam VCT. maka sampel darah anda akan diambil untuk keperluan tes di laboratorium Konseling pasca tes: Setelah hasil tes didapat (bisa ditunggu kurang dari 1 jam) Andadan konselor akan mengambil hasilnya.. VCT mendorong perubahan perilaku dan mempertahankannya dan menjembatanai intervensi seperti. pencegahan penularan ibu ke bayi. sifilis. layanan perawatan dan dukungan. tindik. diketahui oleh klien dan konselor serta orang lain yang dikehendaki klien Sukarela = Klien melakukan VCT berdasarkan kesadaran dan keinginan pribadi Konseling = VCT tidak boleh dilakukan tanpa konseling atau dilakukan secara diam-diam Persetujuan = Harus diadakan persetujuan antara klien dengan konselor dalam bentuk ³lembar persetujuan´ (Informed consent) Siapa yang menyediakan layanan VCT?. Laboratorium. Konselor akan mengajak anda melakukan proses tanyajawab dan meberikan informasi selengkap-lengkapnya tentang test ini dan informasi seputar HIV/AIDS Keputusan Tes: Anda akan diberi waktu untuk memutuskan apakah tetap tes setelah proses konseling atau tidak.. maka anda akan diminta menandatangani sebuah lembar persetujuan sebagai tanda bahwa anda telah mengerti dan setuju dilakukannya tes HIV Pengambilan sampel darah: Jika anda tetap akan tes... Anda mengikuti survai penelitian perkiraan resiko HIV atau IMS. mengurangi stigma dan diskriminasi terhadap ODHA (orang dengan HIV/AIDS) dan dengan VCT kita dapat mengurangi atau menghilangkan perilaku beresiko untuk terkena HIV/AIDS . Lembaga Swadaya Masyarakat. termasuk akses terapi antiretroviral (ARV) VCT memperbaiki kualitas hidup dan memainkan peran yang menentukan dalam penurunan stigma dan diskriminasi Secara umum VCT dianjurkan Bila. tato. hasil tes bisa positif atau negatif dan meragukan. dll bersama dengan seseorang yang mungkin atau diketahui terinfeksi HIV positif Anda didiagnosis IMS seperti Klamedia.Peranan VCT VCT dalam hal HIV merupakan jembatan yang sangat penting antara pencegahan HIV dengan perawatan dan dukungan. dan hasil survey mengesankan anda mungkin beresiko terinfeksi HIV dan IMS Anak yang lahir dari ibu yang diketahui terinfeksi HIV atau diketahui beresiko HIV Anda terpajan darah pada waktu bekerja (contoh: petugas perawat kesehatan tertusuk jarum suntik bekas) Dokter mengatakan pada anda bahwa anda mempunyai infeksi opportunistik Dokter mengatakan pada anda bahwa gejala anda mengesankan adanya HIV/AIDS (harus diingat ada kemungkinan penyakit lain juga bisa menimbulkan gejala serupa). atau menunda pelaksanaan tes dilain waktu Penandatangan: Lembar persetujuan tes jika anda memutuskan tetap melakukan tes. kencing nanah. Dan didiagnosis Hepatitis B.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->