P. 1
Fungi

Fungi

|Views: 169|Likes:
Published by Powerdog Eqiupment

More info:

Published by: Powerdog Eqiupment on Jun 07, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

03/31/2015

pdf

text

original

Media Unika Tahun 20 No.

73 Edisi Ke·4

. Yunasfi, Invantarisasi {dantifikasi 8arbagai Janis Fungsi

INVENTARISASI DAN IDENTIFlKASI BERBAGAI JENIS FUNGI YANG TERDAPAT PADA KAYU MATI DI LABAN GAM BUT Yunasfi Departemen Kehutanan Fakultas Pertanian Unversitas Sumatera Utara Email: yunasfijamhar@yahoo.co.id ABSTRAK Tujuan penelitian ini adalah untuk menginventarisasi dan indentifikasi berbagai jenis fungi yang terdapat pada jaringan kayu mati di lahan gambut desa Sei. Siarti Kecanmatan Labuhan Batu Provinsi Sumatera Utara. Kayu lapuk yang digunakan sebagai sampel penelitian diperoleh dari pohon-pohon yang telah mengalami pelapukan. Pada berbagai jenis kayu lapuk yang diisolasi terdapat berbagai jenis fungi yang tumbuh dan berkembang. Hasil inventarisasi dan identifikasi menunjukkan bahwa terdapat berbagai jenis fungi pada kayu yang telah mengalami pelapukkan, yaitu Trichoderma harzianum, Trichoderma sp., Gliocladium sp., Absidia sp., Penicillium sp., Fusarium sp. dan satujenis fungi tidak teridentifikasi. Kata Kunci: Absidia, fungi, Fusarium, jaringan kayu mati, lahan gambut, Penicillium dan Trichoderma.

Pendahuluan
Latar Belakang Hutan pada lahan gambutmempunyai peran penting dalam menyiropan karbon (30% kapasitas penyimpanan karbon global dalam tanah) dan moderasi iklim sekaligus memberikan manfaat keanekaragaman hayati, pengatur tata air, dan pendukung kehidupan masyarakat. Indonesia memiliki 20 juta Ha lahan gambut yang terutama terletak di Sumatera dan Kalimantan (Heriri, 2008). Laban gam but merupakan suatu ekosistem laban basah yang dibentuk oleh adanya penim-bunan/akumulasi bahan organik eli lantai hutan yang berasal dari reruntuhan vegetasi di atasnya dalam kurun waktu lama. Akumulasi bahan organik terjadi, karena lambatnya laju dekomposisi dibanding dengan laju penimbunan bahan organik eli lantai hutan yang basah tersebut. Gambut di Indonesia dibentuk oleh akumulasi residu vegetasi tropis yang kaya kandungan lignin dan nitrogen. Proses dekomposisi yang berlangsung lambat, pada ekosistem gambut menyebabkan masih dapat dijumpai batang, cabang dan akar besar (Admin, 2008). . Sejalan dengan pertambahan penduduk dan keterbatasan lahan pertanian menyebabkan pilihan diarabkan pada lahan gambut baik untuk kepentingan pertanian maupun untuk pemukiman penduduk. Penggunaan lahan gambut untuk pertanian dengan semestinya dan efisien akan memberikan sumbangan bagi kelangsungan pertumbuhan ekonomi suatu negara. Pemanfaatan lahan gambut yang tidak

326

dan selanjutnya dilakukan analisis laboratorium di Labo-ratorium Hama dan Penyakit Tumbuhan Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara pada bulan November sampai dengan bulan Desember 2008. Dap at memeperc epat pro ses dekomposisi bahan-bahan organik yang terdapat pada lahan gambut dengan pemberianjenis-jenis fungi yang sesuai. Gambut terbentuk oleh lingkungan yang khas. lampu bunsen. Alat yang digunakan dalam penelitian ini adalah eawan Petri digunakan untuk pembiakan fungi pada media PDA. labu Erlenmeyer. 2. kompor. sehingga mampu menjaga keberadaan lahan gambut tersebut. karena laban gambut merupakan lahan marginal dan merupakan sumber daya yang tidak dapat diperbaharui. Satu diantara beberapa komponen yang dapat digunakan untuk pelestarian lahan gambut adalah dengan mengembangbiakkan fungifungi decomposer. dengan kata lain pada kondisi ini laju penimbunan bahan organik lebih besar daripada mineralisasinya. 327 . Diharapkan fungi yang teridentifikasi bermanfaat bagi perbaikan pengelolaan lahan gambut. kaea objek. Manfaat Penelitian 1. alumunium foil. terutama pada kayu-kayu yang telah mengalami pelapukkan. Berdasarkan hal-hal yang diuraikan di atsa maka perlu dilakukan inventarisasi dan identiikasi berbagai jenis fungi di lahan gambut. yaitu rawa atau suasana genangan yang terjadi hampir sepanjang tahun. Oleh karena itu diperlukan pemikiran bagaimana eara untuk mempereepat laju dekomposisi di laban gambut. gelas ukur. mikroskop cahaya. Bahan danAlat Bahan dan alat yang digunakan dalam penelitian ini adalah PDA (Potato Dextro Agar). Kondisi kekurangan oksigen(anaerob) akibat keadaan hidro-topografi berupa genangan. Tujuan Penelitian Tujuan penelitian ini adalah untuk menginventarisasi. alumunium foil. autoklaf. Jika hal ini terjadi dan lahan gambut terus diubah menj adi lahan pertanian tanpa adanya kepedulian dalam memperbaiki lahan gambut maka dapat dipastikan akan terjadi bencana yang begitu besar menimpa lingkungan kita. pertumbuhan tanaman 3. sehingga unsur hara dapat tersedia untuk. /nventarisasi /dentifikasi Barbagai Janis Fungsi semestinya akan menyebabkan kehilangan salah satu sumber daya yang berharga. kloroks 1%. . Laminar Flow. mengiden-tifikasi dan mendapatkan berbagai jenis 'fungi pada jaringan kayu mati yang telah mengalami . atau keadaan yang selalu basah telah menghambat aktivitas mikro-organisme yang diperlukan dalam perombakan. label nama. Provinsi Sumatera Utara pada Bulan Oktober 2008. metil blue. kamera digital dan alattulis. tissue. Dekstrosa alkohol 70%. ayunan pasang surut. kapas. inkubator. Memberi infonnasibagi masyarakat untuk pengelolaan lahan gambut dengan rneman-faatkan berbagai jenis fungi yang berasal dari lahan gambut. 73 Edisi Ke-4 Yunasfi. kaca penutup. pinset. tabung reaksi. air steril. pelapukan di laban gambut desa Sei Siarti.Media Unika Tahun 20 No. Fungi-fungi dekmposer yang didapat diharapkan dapat mempercepat proses dekomposisi bahan-bahan organic yang terdapat di lahan gambut. Metode Penelitian Tempat dan Waktu Penelitian Pengambilan sampel kayu dilakukan di lahan gambut Desa Sei Siarti Kecamatan Labuhan Batu.mikrometer.

Sutton. Mengamati seeara langsung kayu yang te1ah lapuk. 1983.5 x 0.Isolasi Fungi Bagian batang kayu yang terinfeksi diambil. Tricho-derma sp.. 1991. Setelah fungi tumbuh dan eukup berkembang selanjtnya dilakukan pengamatan mik-roskopik dengan mikroskop eahaya. Fusarium sp. Bisset. Kultur selanjutnya dirnasuk-kan ke dalam kotak plastik yang telah diberi pelembab yang terbuat dari kapas yang dibasahi air 5. 1969 ~ Gams. Kaea objek yang berisi miselium fungi tersebut ditutup dengan kaca penutup 4. Fungi yang berasal dari kayu diidentifikasi untuk menge-tahui jenisnya.2 em laiu disterilkan dengan ehlorox 1 % selama 15 30 detik laiu potongan tersebut diambil dengan menggunakan pinset dan dieuei dengan air dan dikeringkan di atas kertas tissue steril. Trichoderma sp. Gliocladium sp. 6. diameter 15-30 em 3. Fungi-fungi yang didapat diisolasi kembali sampai didapat biakanmurni. Fusarium sp. 1.5 em dan diletakkan di atas kaca objek 3. dan telah mengalami pelapukan. 2.5 x 0. 1. 1987. Data-data dan identitas fungi yang diidentifikasi selanjut-nya ditabulasi dan dicoeokan dengan kunci identifkasi fungi (Rifai. Selanjutnya bagian batang kayu tersebut ditanam dalam media PDA. 1975a dan 1975b.Media Uilika Tahun 20 No. Hasil dan Pembahasan Hasil Berdasarkan hasil isolasi dan identifikasi yang telah dilak:ukan. pada tiap eawan Petri dibuat tiga ulangan dan dibiarkan sampai miselium fungi tumbuh pada media biakan tersebut. Samuels. Kriteria Sampel Sampel kayu diambil dad pohon yang tidak dapat tumbuh lagi.. Penicillium sp. kemudian dibersihkan dengan menggunakan air steril. terdapat 9 jenis fungi pada kayu lapuk di lahan gambut dan 1 jenis tidak teridentifikasi. dipotong persegi 0. Pelaksanaan Penelitian . 2. 1995). Ciri-eiri fungi yang didapat seeara rincidapat dijelaskan sebagai berikut 328 . Ellis. dan dapat dilihat seeara visual bentuk kayu lapuk tersebut 2. Miselium fungi yang tumbuh pada cawan Petri diambil dengan ukuran 0. Absidia sp. 'White. 1980. 73 Edisi Ke-4 . 1990. 2 dan satujenis fungi tidak terldentiflkasi. Singh dkk. 1.. 1976 . Sampel kayu lapuk diambil sebanyak 5 potong dengan panjang 20-25 em.. Kaea objek yang akan digunakan untuk mebuat kultur dieuei dengan alkohol dankemudian dikeringkan 2.5 x 0. Adapun jen is-j ens fungi tersebut adalah Trichoderma harzianum. Hal itu dapat dilihat dari warna kayu coklat kehitaman dan jika ditekan kayu terse but lunak dan di dalamnya terdapat kandungan air. 1993 dan Lowen. Identifikasi Fungi Setelah tahap isolasi fungi selanjutnya funngi yang tumbuh diidentifikasi dengan mikroskop melalui prosedur sebagai berikut: 1.Yunasfi. Penicillium sp. Inventarisasi Identifikasi Berbagai Janis Fungsi Pengambilan Sampel Pengambilan sampel dilaku-kan sebagai berikut: 1. 1991.

Bentuk mikros-kopisnya memperlihatkan Rhizoid . namun yang terjadi penebalan warna yang disebabkan oleh hifa-hifa Gloiocladium sp. Ciri-eiri koloni pada media PDA dalam suhu ruang pada awal pertumbuhannya (umur dua hari) terbentuk koloni tipis.5 m. ada yang 5 buahatau lebih. sehingga koloni terlihat seperti kapas. Umur 3 hari diameter koloni bertambah menjadi 5. Diameter koloni 2. hifa berwarna hijau transparan dengan diameter .50m-3. l pada hari ke lima koloni berwarna hij au tua dan penyebarannya tidak merata.25 m. Hifa mempunyai diameter 6. Diameter koloni pada hari ke dua. Tidak terjadi perubahan wama sampai koloni berumur empat belas hari. 3. dengan panjang konidiofor adalah56m.45 em. warna hijau sudah menutupi keseluruhan keseluruhan kolni pada eawan Petri. Pada umur 7 hari pada bagian tengah koloni terbentuk warna hijau. 4. Jumlah konidia yang mengumpul pada eabang konidiofor tidak menentu. dengan diameter koloni 4.05 em.9 em.Media Unika Tahun 20·No. Glioc1adium sp. Pada umur 6 hari diameter koloni meneapai 9. dan pereabangannya tidak teratur.20 em. 1 Koloni Trichoderma sp. Warna terdapat pada bagian tengah koloni sedang pada bagian pinggir koloni berwama putih. panjang fialid 6 m-7 m dengan warna hijau dan memiliki konidia yang terbentuk semi bulat hingga oval pendek dan berdinding halus dengan diameter2. Fialid berbentuk botol panjang berukuran 5 m-7 m. Pengamatan mikroskopisnya dapat diketahui bahwa dudukan konidiofornya membentuk: sudut 901l• Konidiofor memiliki pereabangan menyerupai piramida.unpul dan menempel pada eabang konidiospora. Trichoderma sp.5 m.37 m. Koloni fungi pada umur dua hari mempunyai diameter 2. Koloni berwarna putih seperti kapas. sporangia berbentuk bulat dengan diameter 45 m. /nvantarisasi /dentifikasi Barbagai Janis Fungsi 1. dimana ke arah ujung akan bertambah pendek. diameter koloni pada umur dua hari 4.fungi dalam eawan Petri berdiameter 7. Umur delapan hari wama koloni berubah dati putih menjadi berwarna hijau. 2. Cirieiri mikroskopik yang diperoleh adalah konidiofomya membentuk sudut sekitar 45°. dan pada pinggir kloni masih berwarna 329 . sangat cepat. Pada koloni berumur dua belas hari terbentuk warna hijau menggumpal. memiliki ukuran 12.70 em. Trichoderma harzianum Koloni pada hari kedua putih keabuabuan dan pada hari ke tujuh bagian tengah koloni berwama hijau. diameter konidia rata-rata 4. Ukuran konidia ratarata 4-6 m.25. fialid tampak langsing. . 4. 5.20 em. Pengamatan pada hari berikutnya memperlihatan terj adi petubahan warna koloni dari putih menjadi hijau sampai mendekati pinggiran koloni.l yaitu. yaitu pada bagian bawah eabang lateral yang berulang-ulang. Pertumbuhan koloni Gliocla-dium sp. konidia memiliki diameter 2 m-4.75 em. Umur empat hari koloni sudah menutupi semua eawan Petri. ada yang terdiri atas 4 buah. tekstumya berwama putih. 2 Trichoderma sp. Bentuk mikros-kopisnya menunjukkan adanya konidia-konidia yang mengi. Koloni berumur tiga hari mempunyai diameter 8. Absidia sp.25 m. koloni berwama putih dan bagian tengah terbentu wamakeeoklatan. Pada hari ke sepuluh.75 m. Bentuk mikroskopis Trichoderma sp. putih. yaitu 3. 73 Edisi Ke-4 Yunasfi. em. Pada umur lima hari koloni .85 em.

13 Edisi Ke-4 Yunasfi.50 em. Wama koloni putih dan di bagian tengah mengarah kecoklatan. Pertumbuhan koloni sangat eepat diameter koloni meneapai 9.7m . dan bagian tengah berwarna hijau. (2006) derajat keasaman Iingkungan (PH) sangat penting untuk pertumbuhan fungi. Panjang konidiofor 500 m dan fialidnya berbentuk bulat silindris. Inventarisasi Identifikasi 8srbagai Janis Fungsi 6.25 em pada umur 8 hari. Penicillium sp. Pembahasan Fungi pada lahan gambut dapat tumbuh karena adanya substrat yang dihasilkan oleh kayu-kayu yang mengandung selulosa. Konidia rnempunyai diameter 2. Berdasarkan pengamatan mikros-kopisnya . Suhu yang terdapat di lahan gambut tersebut sekitar 28 °c yang memungkinkan tumbuhnya fungi termofil. Umur tiga hari diameter koloni 7. Bentuk konidia semi bulat berwarna hijau dengan ukuran 2.Media Unika Tahun 20 No. 7. Umur duabelas hari warna koloni berubah dimana pada bagian tengahnya berwama eoklat k e p u t i hvp u t i h a n . karena enzim-enzim tertentu hanya akan menguraikan suatu substrat sesuai dengan aktivitas tertentu. sebagian masih kelihatan warna putih yang terdapat pada bagian pinggir eawan. dan sebagian Iagi wamahijau yang menebal dan menipis pada bagian tengah.8. .25 em pada umur dua hari. dan Fusarium sp.50 em pada umur 2 hari. Pada tahap awal koloni berwarna putih.. Ukuran malcrokonidia rata-rata 27 ~54 m.25 em. Fusarium sp. hemiselulosa dan lignin.5 m. Beberapa j enis fungi termorfil yang berhasil 8. Penicillium sp. Umur empat hari warna koloni berubah bintik-bintik putih dan sebagian warna hijau. Umur 10 hari diameter koloni 8. makrokonidia mempunyai ukuran 35m. Pengamatan mikroskopisnya memperlihatkan 330 diisolasi. yaitu Trichoderma sp. Menurut Gandjar et al. Peng-amatan mikroskopisnya memper-lihatkan makrokonidia berbentuk sabit dan ada yang lurus denganjumlah sekat 3 buah. Peniotiltum sp. 1 tumbuh pada cawan Petri dengan diameter koloni pada umur dua hari 3.20 cm. malcrokonidia mem-punyai 3 sekat yang berbentuk hampir seperti sabit dan lurus.f Koloni pada media PDA berdiameter 3. Perubahan wama koloni dalam eawan Petri ini tidak merata.5 m.75 em pada umur tiga hari. dapat diketahui panj ang konidiofor 400-500 ill. Dad pengamtana mikroskopisnya dapat diketahui bahwa konidia memiliki sekat.· 10. 2 Penicilium sp. Fungi Tidak Teridentifikasi Koloni pada PDA perkembangannya lamb at. 2 mempunyai diameter awal 2. dengan ukuran 6 m-I 0 m. Fusarium sp. 9. Koloni ini membentuk warna putih seperti tepung membentuk lingkaran Diameter koloni fungi ini meneapai 7. pada umur 3 hari diameter koloni 9.80 mberbentuk lingkaran yang tidak sempuma.. Hifa pertama yang muneul dalam eawan Petri berwama kuning ke abu-abuan. Puncak perubahan wama koloni ketika terbentuknya serbuk-serbuk berwarna hijau yang menyebar keseluruh cawan Petri. 1 Penicillium sp. 2 Koloni pada media PDA mencapai diameter 2. di bagian pinggimya terdapat wama putih yang menggumpal. Konidia mempunyai 4 buah sekat.8 em umur dua hari.20 cm. Wama koloni yang terbentuk pada umur 5 hari berwarna laming keabu-abuan. bentuk fialidnya agak silindris dengan ukuran 4.

yang menye-babkan kerusakan pada kayu. Hasil yang diperoleh menunjukkan pertumbuhan fungi ini sangat cepat. Gliocladium sp. Inventarisasi Identifikasi Berbagai Janis Fungsi Umumnya fungi dapat hidup pada pH dibawah7. sayuran. Fungi jenis ini dapat hidup dan berkembang pada pohon yang hidup dan pohon yang sudah mati. Diperolehnya fungi seperti Trichoderma sp. Dalam persaingan nutrisi atau unsur lain j enis fungi yang lemah atau lambat pertumbuhannya akan kalah bersaing dan j enis fungi yang mempunyai kemampuan berkompetisi besar akan mampu mempertahankan hidupnya. Cladosporium sp. dari sampel kayu. pulp kayu dan kertas. fungi-fungi tersebut dapat menyebabkan kerusakan dan melapukkan kayu. Perbedaan diameter pada hari ke dua dengan had ke tigasangat nyata dan tampak koloni memenuhi permukaan media cawan Petri. Fungi ini juga dapat menekan pertumbuhan fungi patogen yang terdapat pada tanaman. yang diperoleh dad sampel yangdiamati menunjukkan bahwa fungi tersebut merupakan fungi yang dapat berkembang di dalam tanah-tanah asam.Media Unlka Tahun 20 No. Penicillium sp. merupakan fungi yang menguntungkan bagi masyarakat. dapat menyebabkan penyakit layu pada pohon sonokeling dan rebah semai pada jenis konifer. yang memiliki pH yang rendah. sarang burung dan bulu 331 .. termasuk dalam kelas Deuteromycetes. Fungi ini mudah di temukan di lahan pertanian karena terdapat hampir semua jenis tanah.. Hal ini didukung oleh pemyataan Gandjar. namun jumlahnya sangat sedikit. 1982).. serasah. dimana lahan gambut tersebut memiliki 30% bahan organik yang ada. Fungi ini dapat mengeluarkan giovirin dan vtridian yangmerupakan antibiotik yang bersifat fungistatik. Perkembangan koloni yang cepat menunjukkan kemampuan hidup dan penyebarannya sangat cepat. 73 Edisi Ke-4 Yunasfi. Fungi yang didapat berdasarkan beberapa acuan memiliki aktivitas selulotik yang sangat kuat seperti Trichoderma sp. diduga hal inilah yang menyebabkan kayu yang terdapat di lahan gambut tersebut rusak. et al (2006) bahwa sejumlah besar fungi dapat ditemukan pada kayu. Fusarium sp. terutama tanah yang mengandung bahan organik. karena fungi tersebut memilikiaktivitas selulotik yang sangat kuat.. hal itu dapat diHhat dari pertambahan diameter koloni yang begitu cepat pada media PDA.. Gliocladium sp. dan dapat hidup pada sere alia. Fungi tersebut dapat mendegrasi selulosa dan lignin yang ada pada kayu. hifa dapat tumbuh memanjang (Stanier et al. netral dan alkali beberapa diantaranya akan menyukai pH yang rendah. akibatnya di tanah asamjumlahnya banyak. Fungi tersebut terdapat dalam tanah dimana jumlah yang terbanyak terdapat di lapisan permukaan tempat bahan organik yang tersedia. Fungi-fungi tersebut akan mendegradasi selulosa dan lignin. Jenis fungi ini mudah terbawa oleh udara. Hal ini sesuai dengan pendapat Buckman dan Nyle (1982) fungi akan berkembang baik dalam tanah-tanah asam. Penicilium sp.. mudah ditemukan dalam tanah. J enis fungi lain yang ditemukan adalah Fusarium sp. Chaetonium sp. adanya senyawa tersebut akan menghambat pertumbuhan fungi lain. ordo Moniliales dan famili Moniliaceae. rempah-rempah. Hal ini akan menimbulkan lebih banyak fungi lagi. Alternaria sp. Selama nutrisi bagi fungi cukup tersedia.. dan Fusarium sp. Sehingga tidak mengherankan j ika fungi ini bisa di temukan pada lahan gambut. merupakan jenis fungi yang kosmopolit dan umum yang terdapat pada daerah tropis. Fungi Giocladium sp.

bahan makanan dari tepung. kondisi yang cocok bagi fungi untuk tumbuh dan.. Jenis-jenis fungi yang ditemukan pada tegakan kayu mati di lahan gambut adalah Trichoderma sp.pada jaringan batang pohon karena permukaan pohon tersebut langsung dengan sinar matahari. dan Absidia sp. sedangkan kisaran suhu yang rendah akan menghambat metabolisme yang akan menye-babkan kerapuhan.. Kisaran suhu yang tinggi dapat menciptakan luka . 2. Pembentukan konidianya sangat cepat pada suhu 30De (Gandj ar. sehingga dapat digunakan untuk memperbaiki lahan gambut. Diharapkan fungi yang teridentifikasi bermanfaat bagi perbaikan lahan gambut. Fungi ini akan berperan dalam proses dekomposisi bahan-nbahan organik yang pada lahan gambut. Saran PerIu dilakukan penelitian lanjutan untuk mengetahui sifat-sifat fungi yang ada pada daerah gambut.. Penicilium . diantaranya ada yang bersifat dekomposer dan bersifat patogen Ada kesamaan fungi yang ditemukan pada tegakan kayu mati dan di lahan gambut. Kelembaban sangat berpengaruh terhadap perkecambahan spora fungi. Yunasfi. Jika memang hal ini terjadi dapat diambil kesimpulan bahwa adanya asosiasi antara fungi dan faktor iklim dapat mempercepat terjadinya proses penguraian bahan-bahan organik..berkem-bang. Kesimpulan dan Saran Kesimpulan 1. Pengaruh dari suhu akan mempengaruhi kelembaban. Lahan gambut yang lembab merupakan . Fusarium sp. 73 Edisi Ke-4 . Gliocladium sp.sp. dan buah-buahan.Media Unika Tahun 20 No. Inventarisasi Identifikasi 8erbagai Janis Fungsl bunmg. Suasana yang lembab akan mengktivasi fungi untuk mudah menginfeksi mango Kelembaban yang tinggi akan menyebabkan jaringan muda pada batang pohon menjadi rentan terhadap patogen. dengan demikian diketahui apakah fungi tersebut bersifat dekomposisi. 332 . 1999)..

J. B. Oetari. Bronx. J. 1983. 1975 a. 1 56 dalam Mycological Papers No. 333 . United Kingdom. Ophiodictyon and Peristomialis. Mikologi Dasar dan Terapan. dan I. 1999. Gandjar.google. 116. England. Samson. 1975 b. 1995. 64: 389 404. Mycol. Longibrachiatum sect. 2008. Can.co. Samuels. G. Sjamsuridjal. M. 73 Edisi Ke-4 Yunasfi. Bot.260. 1991. Dematiaceous Hyphomycetes. dan A.Herbarium Bogoriense. Lowen. Contributions Toward A Mycobiota of Indonesia: Hypocreales. 62: 924 931. 2006. Santoso. Bissett. Ellis. Kebakaran Hutan dan Lahan. Karin VanderTweel-vennruten. And Pronectria Oligospora SpeciesNov. Acremonium Section Lichenoidea Section Nov. The New YorkBotanical Garden. B.Phragmobasidiomycetes and Myxo-mycetes. [26April 2008] Indonesia.Diterjemahkan oleh Soegiman. New Zealand Joumal of Botany 14: 231. Jakarta. CAB International. Detrasi.Yayasan Ekosistem Lestari http://www. Bot. RA... Penerbit BhrataraKaryaAksara. II. 1990. Ijuhya. J. W. Lahan Gambut: Pemanasan Global dan Perdagangan Karbon. W. Cephalosporium-Like Hyphomycetes : Some Tropical Species. Section Infrageneric Bucman dan Nyle. New York. 69: 2357 2420. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia. A Revision of The Genus Trichoderma. R. Pengenalan Kapang Tropik Umum. Soc. J. Mycotaxon53: 81 95. 2008. Br. W. G. 1. J. Actiniopsis. J. C. Heriri. 1969. 1976. The Perfect State of Tilachilidium brachiatum.Ilmu Tanah.co. WWF http://www. Neohenningsia. Aphyllophorales. Invantarisasi /dentifikas/ Berbagal Janis Fungsi Daftar Pus taka Admin. nov.idllahan gambut [26Apri12008] Bissett. I. Classification. M. 1993. Bogor. Persoonia 8: 329 333. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia. A Revision of The Genus Trichoderma. Samuels. Synnematous Hyphomycetes. A Revision of The Genus Trichoderma. Can. Gandjar. A. Trans.google. I. Gams. Perfect States of Acremonium The Genera Nectria.A.idllahan gambut. HIm. 1982.Media Unlka Tahun 20 No. D. Rifai. Gams.

L.Media Unika Tahun 20No~ 73 Edisi Ke·4 Yunasfi. 1991. Thrane dan S. Frisvad. Singh. J.J~ual 334 . Cultural Studies on Some Species of Acremonium Sect. Stanier. A.A. X. The Coelomycetes Fw{giImp¢rfecti with Pycnidia Acervult and Stomata. Penicillia and their Mycotoxins. Fusaria. Mathur . Commonwealth Mycological Institute. An Illustrated on Identification of some Seed-BomeAspergilli. JR. Penerbit Bhratara KaryaAksara. C. B.. H. 1982. K. Including A New Species. England. R.Y. White. Jakarta Sutton. AiD Tryk as Odense.J. Ingraham.. Albo-Lanosa.C. 1987. Adelberg dan J.Demmark. 1980. Invantarisasi /dantifikasi 8erbagai Janis Fungsi . Endophyte-HostAssociations in Forage Grasses. U. Kew. F.. starrii. Surrey. . Dunia Mikrobe I. Mycotaxon 30: 87 95.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->