UPAYA MENUMBUHKAN MINAT BACA ANAK DALAM ERA DIGITALISASI Oleh Muhammad Yaumi muhammadyaumi@gmail.

com

A. Latar Belakang Kemajuan teknologi informasi dan komunikasi sering menjadi penghalang tumbuh dan berkembangnya minat baca anak. Media digital dan elektronik telah berhasil menarik perhatian kebanyakan anak Indonesia yang secara langsung dan tidak langsung memicu aktivitas keseharian mereka lebih terkonsentrasi pada pemanfaatan media tersebut. Bahkan media telah mengambialih peran orang tua dalam mengembangkan kepribadian anak. Hal ini sejalan dengan pandangan Yaumi (2008) yang mengatakan bahwa anak yang hidup di perkotaan memiliki kebiasaan nonton televisi dan bermain video game, playstation, dan Internet yang rasionya 19 kali berbanding 1 kali berbicara dengan orang tua. Selain itu, transformasi budaya lisan (percakapan) ke budaya tulisan di kalangan masyarakat secara umum masih dalam tahap transisi, karena kecenderungan menerima informasi melalui percakapan atau disebut bahasa lisan kenyataannya lebih mendominasi dari minat dan kebiasaan membaca di kalangan siswa dan masyarakat. Sehingga kebiasaan membaca dan menulis masih belum berkembang dengan baik (Konsultan Perpustakaan, 2010). Selanjutnya, sebagian besar orang Indonesia belum sampai pada tahap menjadikan kegiatan membaca sebagai kebutuhan yang mendasar (Kartika, 2010). Padahal membaca sangat perlu. Dengan membaca seseorang dapat memperluas wawasan dan pandangannya, dapat menambah dan membentuk sikap hidup yang baik, sebagai hiburan serta menambah ilmu pengetahuan, dengan membaca ibarat dapat

Dapat disimpulkan bahwa perpustakaan sekolah selama ini belum dijadikan sebagai salah satu hal yang penting dalam meningkatkan mutu pendidikan. Salah satu faktor yang mempengaruhi rendahnya minat baca ini adalah terbatasnya jumlah perpustakaan sekolah. Makalah ini. cuma 54% yang memiliki perpustakaan standar. Dengan demikian kualitas pendidikan di Indonesia masih menghadapi masalah dan bahkan ada indikasi keburaman. tertumpu pada kajian pengoptimalan perpustakaan sekolah melalui penglibatan peran serta masyarakat tersebut. Dengan membaca dapat dihindari sikap picik dan fanatisme yang negatif. Dari 200 ribu sekolah dasar di Indonesia cuma 20 ribu yang memiliki perpustakaan standar. Dampak dari kualitas pendidikan yang rendah ini mempengaruhi Human Development Index (HDI). Bertolak dari berbagai fenomena seperti telah disebutkan di atas. Untuk SMU. Menurut International Association for Evaluation of Educational Achievement (IAEEA) minat baca anak-anak Indonesia selevel dengan Selandia Baru dan Afrika Selatan. ternyata dipengaruhi oleh minat baca siswa yang rendah. maka perlu melakukan upaya dalam menumbuhkan minat bakat membaca menuju Lampung . Kualitas pendidikan di Indonesia yang rendah. sebanyak 70 ribu SLTP cuma 36% yang memenuhi standar. perlu mengembangkan perpustakaan sekolah berbasis masyarakat. dari 177 negara HDI Indonesia berada pada urutan ke-107.membuka “jendela dunia”. Untuk mengatasi masalah ini. Pengelolaan perpsutakaan sekolah masih pula tertumpu pada anggaran yang diberikan oleh pemerintah. Keburaman yang dimaksud dapat dilihat dari hasil survei World Competitiveness Year Book dari 55 negara yang disurvei kualitas pendidikan Indonesia berada pada urutan yang ke 53.

Keminiman bahan bacaan juga menjadi salah satu hambatan bagi masyarakat . Dilihat dari segi jumlah perpustakaan umum sebagai salah satu tempat mendapatkan bahan bacaan masyarakat sampai saat sekarang jumlahnya hanya 2. Sementara kehadiran televisi dan audiovisual lainnya begitu cepat dan inovatif. dalam hal ini pemerintah daerah. artinya melompat menjadi masyarakat yang senang menenton telivisi tanpa melalui budaya gemar membaca. maka satu perpustakaan umum harus sanggup melayani 85 ribu penduduk 14. Sedangkan jumlah unit perpustakaan di berbagai departemen dan perusahaan. Lompatan budaya ini berlaku dalam kalangan anak didik di Indonesia. Jika dirasional dengan jumlah penduduk Indonesia. Optimalisasi Fungsi Perpustakaan Daerah Rendahnya minat baca masyarakat Indonesia salah satunya dipengaruhi oleh minimnya fasilitas pendukung. sekolah.cerdas menghadapi derasnya arus globalisasi teknologi dan informasi dewasa ini. Dari 64. sehingga keadaan ini semakin meminggirkan tradisi baca di kalangan masyarakat Indonesia dan tidak heran pula saat ini di dalam masyarakat Indonesia sedang terjadi lompatan budaya dari budaya praliterer ke masa pacaliterer tanpa melalui masa literer. rumah tangga. B. seperti jumlah perpustakaan yang tidak sesuai dengan rasio jumlah penduduk.000 desa di Indonesia.585 perpustakaan. Tulisan ini akan mencoba menyoroti peranan pemerintah. dan masyarakat lebih khusus pada media massa sebagai penopang tumbuhnya minat bakat membaca anak. baru sekitar 31% yang mempunyai perpustakaan. ternyata yang mempunyai perpustakaan hanya 22%.

Untuk SMU. Selanjutnya negara yang berjumlah 224 juta jiwa ini hanya mampu menerbitkan buku sebagai gudang ilmu pertahunnya sebanyak 10. Rasio ini masih di bawah Philippina 1: 30 dan Srilangka 1:38 (Media Indonesia. 2000).3 miliar jiwa menerbitkan 140. Dari 200 ribu unit sekolah dasar di Indonesia cuma 20 ribu yang memiliki perpustakaan standar. dari 70 ribu unit SLTP. Paling tidak ada beberapa langkah yang perlu dilakukan dalam upaya optimalisasi fungsi perpustakaan.Indonesia menumbuhkan minat baca.000 instansi. Malaysia dengan 26 juta jiwa menerbitkan 10. dari 4 ribu perguruan tinggi di Indonesia. Oleh karena itu. Sedangkan jumlah surat kabar pun juga mempunyai jumlah yang terbatas dengan rasio satu surat kabar dibaca oleh 45 orang. 2000). Jumlah ini tentu jauh tertinggal jika dibandingkan dengan Cina dengan penduduk 1. fungsi perpustakaan perlu dioptimalkan sehingga minat baca dapat ditumbuhkembangkan.000 judul buku baru setiap tahun. 2007).000 judul pertahun. Demikian pula dengan SLTP. diperkirakan baru 80% sampai 90% yang memiliki perpustakaan dengan kualitas standar (Republika. Sedangkan dari sekitar 1. Sedangkan Deputi Pengembangan Perpustakaan Nasional menyebutkan dari 3000 jumlah SD dan SLTP di Indonesia hanya baru 5 % yang memiliki perpustakaan (Media Indonesia. cuma 36% yang memenuhi standar. Vietnam dengan 80 juta jiwa menerbitkan 15.000 judul buku. Kemudian untuk perguruan tinggi. Langkah-langkah yang dimaksud . Rendahnya minat baca dikalangan siswa tidak dapat dipungkiri pula akibat dari perpustakaan sekolah yang tidak mencukupi dan memadai. Hal ini terlihat dari 110 ribu sekolah yang ada di Indonesia teridentifikasi hanya 18% yang mempunyai perpustakaan (Media Indonesia.000 judul pertahunnya. 2006). cuma 54 % yang punya perpustakaan berkualitas standar. cuma 60 % yang memenuhi standar.

Rumah Tangga sebagai Fondasi Tumbuhnya Minat Baca Anak Penelitian Grolnick dkk ini berbeda dengan hasil penemuan Morrow dan Young (1997) yang menemukan bahwa kegiatan membaca bersama antara anak dan orang tuanya berpengaruh terhadap sikap dan minat membaca anak. Koleksi buku tidak hanya menyangkut buku-buku teks semata. masyarakat. dan sekolah dalam membangun kerja sama secara kolaboratif demi terwujudnya kegiatan baca tulis. yang dilengkapi dengan berbagai fasilitas termasuk fasilitas ruangan baca yang terkesan rilek dan tidak menegangkan. Melalui program membaca bersama antara orang tua dan anak. penyediaan sumber daya manusia yang mumpuni. Kondisi sosial ekonomi keluarga dalam penelitian Morrow dan Young juga tergolong rendah. melainkan juga harus diisi dengan koleksi bukubuku lain yang dapat membangkitkan minat baca siswa. orang tua. pengembangan sarana koleksi buku. Kedua. namun mereka merasa mendapat dukungan sosial melalui program membaca keluarga. anak-anak menjadi suka mengisi waktu luangnya dengan aktivitas membaca. pertama. yang dapat membuat kreativitas dan inovasi baru sehingga dapat melibatkan berbagai pihak seperti pemerintah. Sandjaja (2010) mengatakan bahwa . Ketiga. pengembangan fasilitas perpustakaan. Fasilitas pepustakaan juga sudah berbasis teknologi. C. tetapi harus tersedia dalam berbagai sarana teknologi seperti CD dan database online yang sangat mudah diakses. Sealin itu. suka membaca majalah dan buku-buku yang ada di rumah dan di perpustakaan sekolah. mereka suka membaca bersama orang dewasa yang lain. Koleksi ilmu pengetahuan tidak hanya dalam bentuk buku dan kertas.adalah.

Hal ini berarti jika orang tua dapat menyadari tentang tugas dan peranan dalam rumah tangga tentang pentingnya membaca dan menulis bagi pertumbuhan intelektual anak. mengunjungi taman bacaan berupa perpustakaan sekolah dan daerah. program pelatihan untuk orang tua agar terlibat secara efektif dalam program membaca keluarga merupakan dukungan informatif yang sangat berguna bagi orang tua untuk memberikan dukungan penghargaan dan emosi kepada anak saat mereka membaca bersama. Lebih jauh. Di samping itu. Subagio (2010) mengatakan bahwa untuk menarik dan menumbuhkan minat baca kepada anak-anak. dan mengakses perpustakaan online yang dapat memberikan kontribusi besar dalam kegiatan membaca.buku-buku dan perlengkapan membaca merupakan dukungan instrumental untuk mendidik anak. Kegiatan rutin yang diterapkan di rumah juga ditularkan kepada masyarakat agar mereka juga mempunyai minat dan keinginan. selalu mengajak anak-anaknya sejak kecil ke toko buku dan membebaskan mereka mencari sendiri buku-buku yang mereka sukai. mengunjungi took-toko buku yang memiliki koleksi buku yang memadai. orang tua juga dapat mengajak nonton bareng dan diharapkan anak dapat menceritakan atau menuliskan . Selain ke took buku anak-anak juga dianjurkan untuk membiasakan diri berkunjung ke perpustakaan. utamanya generasi muda agar menumbuhkan minat baca dan kecintaan mereka akan buku dan perpustakaan. maka paling tidak orang tua melakukan berbagai aktivitas yang dapat membangkitkan minat baca anak dengan membuat perpustakaan mini dalam rumah tangga dan mengatur jadwal untuk melaksanakan kegiatan membaca secara bersamasama berdasarkan waktu yang disepakati.

Sejalan dengan upaya orang tua dalam mengembangkan bakat dan minat membaca seperti disebutkan di atas. merespon tentang cerita atau isi buku bersama sama. Kesepuluh tip tersebut.hasil pengalaman menonton sehingga berkembang kebiasaan membaca dan menulis dalam lingkungan keluarga. Orang tua dapat mengajukan pertanyaan kepada anak tentang isi buku . dan bacaan yang bisa menarik minat baca anak. Kelima. Kiranawati (2010) memberikan sepluh tip dalam membangun kebiasaan membaca dalam rumah tangga. yaitu pertama. Membiasakan kegaiatan membaca dan menulis dapat membuat anak mampu melihat bagaimana mereka memiliki bahan bacaan sehingga dapat mengembangkan wawasan tentang berbagai permasalahan yang ada dan mampu membuat tulisan untuk menyelesaikan berbagai permasalah yang dihadapi. mmasak dengan anak untuk melatih anak belajar membaca. Keempat. model membaca dan menulis. Kedua. Biarkan anak memilih gaya membacanya sesuai kesukaan anak. membaca dan menulis dengan anak-anak menggunakan bahasa keluarga. Orang tua seharusnya memberikan kesempatan kepada anak seluas-luasnya untuk menulis apa saja tentang keluaraga dengan menggunakan bahasa mereka sendiri dan berikan kesempatan kepada mereka sendiri untuk membaca dan mendiskusikanya. anak diminta membaca dengan suara keras. ciptakan suasan rumah penuh dengan bahan bacaan. Keenam. Ketika sedang memasak. ibu seharusnya melibatkan anak paling tidak untuk membaca resep masakan bersama–sama. seharusnya buku bacaan disesuaikan dengan usia anak. Para ahli merekomendasikan anak untuk membaca dengan suara keras kurang lebih 30 menit sehari. Orang tua sedapat mungkin ciptakan suasana rumah penuh dengan bahan bacaan. Ketiga.

Dengan cara ini sedikit banya akan menumbuhkan sikap disiplin pada anak. menulis bersama anak. serta apa yang dapat dibantu oleh orang tua untuk mendukung meningkatkan kemampuan anak merupakan upaya yang seharusnya menjadi bagian dari tanggungjawab orang tua terhadap perkembangan kebribadian anak. kemudian dapat menanyakan kosa-kata apa saja yang belum dimengerti. rekaman kegiatan keluarga. Yulia (2010) juga berpendapat bahwa keluarga menjadi komunitas yang sangat berpengaruh bagi pertumbuhan dan perkembangan anak. Kenalkan anak. Berceritakan bersama – sama mengenai sejarah keluarga sambil melihat foto–foto keluarga.anak dengan buku–buku karangan pengarang terkenal yang menjadi favorit bagi anak pada umumnya. membuat slogan-slogan yang isinya mendorong anak untuk belajar. memberikan bimbinglah anak untuk menuliskan agenda harian mereka dan membacanya. cerita waktu liburan ataupun perjalan keluarga waktu keluar kota dapat member motivasi tersendiri untuk mempraktekan minat baca dan menulis bagi anakanak.yang telah dibacanya. mengkomunikasikan secara teratur dengan guru tentang perkembangan belajar anak di sekolah. Orang tua seharusnya mengatur jadwal untuk mengunjungi perpustakaan atau taman bacaan. Kesepuluh. Kedelapan. Upaya untuk melakukan komunikasi dengan guru untuk mengetahui apa yang sedang terjadi di sekolah dan menanyakan perkembangan dan kekurangan anak. mengunjungi perpustakaan. Ketujuh. menceritakan suatu kisah bersama. Kesembilan. Di samping itu. Minat dan kemampuan anak . Menyediakan waktu untuk melengkapi peralatan tulis-menulis atau menggambar. Kemudian berikan kesempatan kepada anak untuk memilih buku sesuai kesukaannya.

(14) buatlah buku sendiri seperti buku biografi anak. (15) jadilah teladan D. Salah satu dukungan yang dibutuhkan untuk menumbuhkan minat baca siswa adalah peran guru. Salah satu minat dan kemampuan yang bisa ditumbuhkan dalam diri anak lewat keluarga ialah membaca. (4) beli buku yang menarik minat anak. Kemudian dia gambarkan resep bagi orang tua dalam menumbuhkan minat baca dengan jalan (1) bacakan buku sejak anak lahir. (13) dramatisasi buku yang dibaca. dan tidak dapat disangsikan pula bahwa sekolah merupakan tempat yang sangat tepat untuk memupuk minat dan kebiasaan membaca bagi anakanak. Peranan Guru dalam Meningkatkan Minat Baca Siswa Tidak dapat disangsikan lagi bahwa penanaman kebiasaan membaca harus dimulai pada usia dini. dan anak membuat sendiri bukunya. (10) beri hadiah (reward) yang memperbesar semangat membaca. Guru perlu memotivasi siswa untuk mencintai buku sejak awal. buku tentang orang tua. (11) jadikan buku sebagai hadiah (reward) untuk anak. (5) sisihkan uang untuk membeli buku. buku cerita yang digambar sendiri. (9) hilangkan penghambat seperti TV atau Playstation. (6) nonton film dan beli bukunya. (8) tukar buku dengan teman. (12) jadikan kegiatan membaca sebagai kebiasaan setiap hari. Kartika (2010) mengambarkan kegiatan-kegiatan untuk meningkatkan minat dan kebiasaan membaca antara lain: (1) penyelenggaraan jam-jam cerita di . (7) ciptakan perpustakaan keluarga. Karena itu upaya pengembangan minat dan kebiasaan membaca juga diadakan di sekolah-sekolah. (3) ajak anak ke toko buku atau perpustakaan. (2) dorong anak bercerita tentang apa yang telah didengar atau dibacanya.dibentuk dari keluarga di mana dia dibesarkan.

(3) pemberian tugas pembuatan abstraksi. (8) penyelenggaraan pameran buku yang dikaitkan dengan peringatan hari-hari besar nasional dan agama. Dari semua kegiatan yang dilaksanakan di atas. Kontribusi Media Massa dalam Menumbuhkan Minat Baca Rendahnya minat membaca masyarakat sebenarnya bukan berpangkal pada minat atau kemauannya. tidak memberikan motivasi (dorongan) pada anak didik untuk gemar membaca. Guru yang mengajar dengan metode ceramah saja atau yang lebih buruk lagi dengan menyalin saja (baik di papan tulis atau didiktekan). (10) penyelenggaraan program membaca. (7) pemotivasian penerbitan majalah atau buletin sekolah. Jika guru salah atau kurang tepat dalam menggunakan metode mengajar maka akan membuat siswa malas membaca. Guru mempunyai peranan penting untuk meningkatkan minat baca siswa-siswanya. (2) pemberian tugas membaca. Masyarakat belum secara merata menikmati kemudahan untuk mengakses bahan bacaan sehingga membaca belum menjadi suatu kebutuhan (Boeriswati. Guru yang tidak memberikan kesempatan atau tidak menciptakan suasana diskusi di dalam kelas. ternyata sarana pendukunglah yang menjadi penyebabnya. (9) penugasan siswa membantu pustakawan di perpustakaan sekolah. tidak akan ada artinya kalau tidak didukung oleh para guru. (11) pemberian bimbingan teknis membaca. (6) penyelenggaraan lomba pembuatan kliping. kelas yang siswa-siswanya selalu menunggu apa yang akan diberikan oleh gurunya. E.perpustakaan sekolah. . (5) penyelenggaraan lomba membaca. (4) pemotivasian penyelenggaraan majalah dinding. akan menjadikan kelas itu kelas yang pasif. akan mematikan minat anak didik untuk ingin tahu atau mencari sesuatu jawaban.

Selanjutnya penyebutan media massa dibatasi hanya pada media cetak dan lebih khusus lagi koran. Dari perspektif pemberdayaan masyarakat. kontribusi media massa dalam menumbuhkan minat baca berkorelasi positif dengan bahan bacaan. Dalam hal ini koran dapat . Mungkin dapat juga dilakukan dengan bekerja sama dengan Pemda menerbitkan koran gratis tidak setebal koran nasional. Bagi masyarakat yang kurang mampu bisa memanfaatkan perpustakaan. Kemudahan mengakses bahan bacaan dapat diperoleh melalui toko buku bagi masyarakat yang mampu membeli bahan bacaan atau melalui perpustakaan bagi yang tidak mampu untuk memiliki buku. Atas dasar itu. Jika melihat lebih jauh. peranan koran telah tercatat dalam sejarah berperan menumbuhkan minat baca masyarakat. Oleh karena itu. ada yang mengkhususkan berdasarkan isi. Kedua pilihan tersebut sangat berat. Seperti kita ketahui bahwa yang mendorong masyarakat berminat membaca apabila membaca tersebut memberikan manfaat baginya. Namun kelangkaan perpustakaan atau taman bacaan menjadi dilemma besar dalam masyarakat pada umumnya. Dengan demikian yang diperlukan adalah relevansi isi bahan bacaan dengan kehidupan pembacanya. Saat ini koran telah terbit dengan spesifikasinya. lembaga pers sebenarnya harus memikirkan dari keuntungan produksi dapat disisihkan untuk memberikan subsidi koran bagi masyarakat dengan memberikan secara gratis entah untuk setiap RT yang harus ditempel di papan pengumuman. ada juga yang mengkhususkan berdasarkan tingkat pembacanya yang semuanya berorientasi profit.2010). dan koran yang juga dapat dikatakan sebagai bahan bacaan. Korelasinya antara lain melalui buku atau majalah. peranan Koran begitu penting adalnya.

Bentuk lomba membaca bukan sekedar membaca teknis. dunia usaha maupun seluruh komponen lain dalam seluruh lapisan masyarakat. penumbuhan minat yang dapat terkontrol dan dapat secara nyata terlihat adalah penumbuhan minat pada kelompok formal melalui edukasi. Dengan demikian. birokrasi. maka perlu adanya rangsangan yang menarik. seperti kemudahan. Dengan adanya rangsangan ini orang akan merespon berdasarkan persepsinya apa yang dilakukan dengan membaca. tetapi membaca dengan memberikan tanggapan apa yang dibacanya yang dituangkan dalam bentuk tulisan. tetapi dapat dilakukan di mana saja. Untuk menarik minat orang lain.digunakan sebagai sarana untuk menumbuhkan minat baca masyarakat. Dengan demikian. pengistimewaan. Dalam klub tersebut. Kegiatan ini merupakan kegiatan dengan tujuan jangka pendek yang dapat dilakukan oleh pelaku media massa. dan hadiah. anggota dapat menjadi motor yang dapat mempengaruhi orang lain berminat. Di samping itu. upaya untuk menjadikan Lampung Cerdas dapat dicapai melalui upaya peningkatan minat baca masyarakat baik masyarakat kampus dan sekolah. sehingga yang dapat dilakukan adalah imbauan atau penyadaran bukan tindakan menumbuhkan minat. . Media massa dapat membentuk klub-klub baca pada setiap jenjang baik jenjang birokrasi di masyarakat atau berdasarkan keminatan objek bacaan. aktivitas membentuk suatu minat pada kelompok informal sangat sulit mengontrolnya. Kegiatan yang membaca koran yang tanpa harus hadir di arena lomba. Keuntungan kegiatan ini bukan hanya menumbuhkan minat baca masyarakat tetapi juga membelajarkan masyarakat untuk bernalar. Untuk menumbuhkan minat membaca secara permanen dapat dilakukan melalui proses pembelajaran.

J. Pengaruh Keterlibatan Orang Tua Terhdap Minat Membaca Anak Ditinjau dari Pendekatan Stes Lingkungan. 27 Agustus Morrow.php?file=1212551730. Adwiyani.PDF. 2010 dari http://search-pdf-books. Memacu Minat Membaca Siswa Sekolah Dasar. A Family Literacy Program Connecting School and home : Effects on Attitude. 1997. Yulia. 27 Agustus. Diakses pada tanggal 26 April 2010 dari http://www. 2010 dari http://gubuk. Diakses pada tanggal 27 April.com/2007/11/02/10-tipsuntuk-menumbuhkan-minat-baca-pada-anak/.742.com/peran-perpustakan-dalammenumbuhkan-minat-baca-pdf/.com/-sastra-pembebasan--Pendidikan-Literasi-SolusiKebangkitan-Nasional. Subagio.nabble. Yaumi.com/2007/10/08/kontribusi-media-massamenumbuhkan-minat-baca/. Sepuluh Tip untuk Menumbuhkan Minat Baca Pada Anak.REFERENSI Anonim. 2006. 736 . Diakses pada tanggal 25 April. Membaca Jadikan Kebiasaan Hidup. Cara Menumbuhkan Minat Baca.M. 2010 dari http://www. Media Indonesia. 2000. 2010 dari http://johnherf. Kartika. Konsultan Perpustakaan.gemari. Anna... Journal of Educational Psychology. Budaya Membaca dan Menulis Belum Berkembang dengan Baik. Kiranawati. L.wordpress. . Soejanto. Diakses pada tanggal 25 April. Kontribusi Media Massa Menumbuhkan Minat Baca.-td17314052. Media Indonesia. Anonim. Pendidikan Literasi Solusi Kebangkinan Nasional. Media Indonesia. Dimuat dan Diakses pada tanggal Senin.com/bukutamu/bb. 2008.org/cara_menumbuhkan_minat_baca. Anonim. Republika 28 Januari. 2000. Motivation and Literacy Achievement.konsultanperpustakaan. Tribun Timur. Republika. diakses pada tanggal 20 April 2010 dari http://gurupkn. 19-05-2008 dari http://www. Esther. 20 Mei. Anonim.or. Minat Baca Mengkwatirkan.wordpress. 2010. Sandjaja. Endry. 89 ( 4).html. 8 September.sabda. and Young. Boeriswati.id/file/gemari6932-33. Muhammad. 2007. diakses pada Tanggal 28 April.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful