UPAYA MENUMBUHKAN MINAT BACA ANAK DALAM ERA DIGITALISASI Oleh Muhammad Yaumi muhammadyaumi@gmail.

com

A. Latar Belakang Kemajuan teknologi informasi dan komunikasi sering menjadi penghalang tumbuh dan berkembangnya minat baca anak. Media digital dan elektronik telah berhasil menarik perhatian kebanyakan anak Indonesia yang secara langsung dan tidak langsung memicu aktivitas keseharian mereka lebih terkonsentrasi pada pemanfaatan media tersebut. Bahkan media telah mengambialih peran orang tua dalam mengembangkan kepribadian anak. Hal ini sejalan dengan pandangan Yaumi (2008) yang mengatakan bahwa anak yang hidup di perkotaan memiliki kebiasaan nonton televisi dan bermain video game, playstation, dan Internet yang rasionya 19 kali berbanding 1 kali berbicara dengan orang tua. Selain itu, transformasi budaya lisan (percakapan) ke budaya tulisan di kalangan masyarakat secara umum masih dalam tahap transisi, karena kecenderungan menerima informasi melalui percakapan atau disebut bahasa lisan kenyataannya lebih mendominasi dari minat dan kebiasaan membaca di kalangan siswa dan masyarakat. Sehingga kebiasaan membaca dan menulis masih belum berkembang dengan baik (Konsultan Perpustakaan, 2010). Selanjutnya, sebagian besar orang Indonesia belum sampai pada tahap menjadikan kegiatan membaca sebagai kebutuhan yang mendasar (Kartika, 2010). Padahal membaca sangat perlu. Dengan membaca seseorang dapat memperluas wawasan dan pandangannya, dapat menambah dan membentuk sikap hidup yang baik, sebagai hiburan serta menambah ilmu pengetahuan, dengan membaca ibarat dapat

Salah satu faktor yang mempengaruhi rendahnya minat baca ini adalah terbatasnya jumlah perpustakaan sekolah. Dengan membaca dapat dihindari sikap picik dan fanatisme yang negatif. tertumpu pada kajian pengoptimalan perpustakaan sekolah melalui penglibatan peran serta masyarakat tersebut. Dengan demikian kualitas pendidikan di Indonesia masih menghadapi masalah dan bahkan ada indikasi keburaman. Untuk SMU. Bertolak dari berbagai fenomena seperti telah disebutkan di atas. cuma 54% yang memiliki perpustakaan standar.membuka “jendela dunia”. Makalah ini. Keburaman yang dimaksud dapat dilihat dari hasil survei World Competitiveness Year Book dari 55 negara yang disurvei kualitas pendidikan Indonesia berada pada urutan yang ke 53. Menurut International Association for Evaluation of Educational Achievement (IAEEA) minat baca anak-anak Indonesia selevel dengan Selandia Baru dan Afrika Selatan. Pengelolaan perpsutakaan sekolah masih pula tertumpu pada anggaran yang diberikan oleh pemerintah. ternyata dipengaruhi oleh minat baca siswa yang rendah. sebanyak 70 ribu SLTP cuma 36% yang memenuhi standar. maka perlu melakukan upaya dalam menumbuhkan minat bakat membaca menuju Lampung . Untuk mengatasi masalah ini. Kualitas pendidikan di Indonesia yang rendah. Dampak dari kualitas pendidikan yang rendah ini mempengaruhi Human Development Index (HDI). perlu mengembangkan perpustakaan sekolah berbasis masyarakat. Dapat disimpulkan bahwa perpustakaan sekolah selama ini belum dijadikan sebagai salah satu hal yang penting dalam meningkatkan mutu pendidikan. Dari 200 ribu sekolah dasar di Indonesia cuma 20 ribu yang memiliki perpustakaan standar. dari 177 negara HDI Indonesia berada pada urutan ke-107.

Sementara kehadiran televisi dan audiovisual lainnya begitu cepat dan inovatif. Dari 64. dalam hal ini pemerintah daerah. Optimalisasi Fungsi Perpustakaan Daerah Rendahnya minat baca masyarakat Indonesia salah satunya dipengaruhi oleh minimnya fasilitas pendukung. Sedangkan jumlah unit perpustakaan di berbagai departemen dan perusahaan. Lompatan budaya ini berlaku dalam kalangan anak didik di Indonesia.cerdas menghadapi derasnya arus globalisasi teknologi dan informasi dewasa ini. rumah tangga. Keminiman bahan bacaan juga menjadi salah satu hambatan bagi masyarakat .585 perpustakaan. sehingga keadaan ini semakin meminggirkan tradisi baca di kalangan masyarakat Indonesia dan tidak heran pula saat ini di dalam masyarakat Indonesia sedang terjadi lompatan budaya dari budaya praliterer ke masa pacaliterer tanpa melalui masa literer. B. Jika dirasional dengan jumlah penduduk Indonesia. Tulisan ini akan mencoba menyoroti peranan pemerintah. seperti jumlah perpustakaan yang tidak sesuai dengan rasio jumlah penduduk. Dilihat dari segi jumlah perpustakaan umum sebagai salah satu tempat mendapatkan bahan bacaan masyarakat sampai saat sekarang jumlahnya hanya 2. dan masyarakat lebih khusus pada media massa sebagai penopang tumbuhnya minat bakat membaca anak. ternyata yang mempunyai perpustakaan hanya 22%. maka satu perpustakaan umum harus sanggup melayani 85 ribu penduduk 14. sekolah.000 desa di Indonesia. baru sekitar 31% yang mempunyai perpustakaan. artinya melompat menjadi masyarakat yang senang menenton telivisi tanpa melalui budaya gemar membaca.

000 judul buku baru setiap tahun. diperkirakan baru 80% sampai 90% yang memiliki perpustakaan dengan kualitas standar (Republika. Dari 200 ribu unit sekolah dasar di Indonesia cuma 20 ribu yang memiliki perpustakaan standar.Indonesia menumbuhkan minat baca. Selanjutnya negara yang berjumlah 224 juta jiwa ini hanya mampu menerbitkan buku sebagai gudang ilmu pertahunnya sebanyak 10. dari 70 ribu unit SLTP. Paling tidak ada beberapa langkah yang perlu dilakukan dalam upaya optimalisasi fungsi perpustakaan. Rendahnya minat baca dikalangan siswa tidak dapat dipungkiri pula akibat dari perpustakaan sekolah yang tidak mencukupi dan memadai.000 instansi. cuma 54 % yang punya perpustakaan berkualitas standar. 2000). Kemudian untuk perguruan tinggi. Untuk SMU. Rasio ini masih di bawah Philippina 1: 30 dan Srilangka 1:38 (Media Indonesia.000 judul pertahunnya. 2006). fungsi perpustakaan perlu dioptimalkan sehingga minat baca dapat ditumbuhkembangkan.000 judul pertahun. Hal ini terlihat dari 110 ribu sekolah yang ada di Indonesia teridentifikasi hanya 18% yang mempunyai perpustakaan (Media Indonesia. Demikian pula dengan SLTP. cuma 36% yang memenuhi standar.3 miliar jiwa menerbitkan 140. Vietnam dengan 80 juta jiwa menerbitkan 15. Langkah-langkah yang dimaksud . dari 4 ribu perguruan tinggi di Indonesia. cuma 60 % yang memenuhi standar. Sedangkan Deputi Pengembangan Perpustakaan Nasional menyebutkan dari 3000 jumlah SD dan SLTP di Indonesia hanya baru 5 % yang memiliki perpustakaan (Media Indonesia. 2000). Sedangkan jumlah surat kabar pun juga mempunyai jumlah yang terbatas dengan rasio satu surat kabar dibaca oleh 45 orang. 2007). Oleh karena itu. Sedangkan dari sekitar 1. Malaysia dengan 26 juta jiwa menerbitkan 10. Jumlah ini tentu jauh tertinggal jika dibandingkan dengan Cina dengan penduduk 1.000 judul buku.

Ketiga. pengembangan sarana koleksi buku. suka membaca majalah dan buku-buku yang ada di rumah dan di perpustakaan sekolah. Sandjaja (2010) mengatakan bahwa . Kondisi sosial ekonomi keluarga dalam penelitian Morrow dan Young juga tergolong rendah. Melalui program membaca bersama antara orang tua dan anak. pertama.adalah. Kedua. pengembangan fasilitas perpustakaan. mereka suka membaca bersama orang dewasa yang lain. Rumah Tangga sebagai Fondasi Tumbuhnya Minat Baca Anak Penelitian Grolnick dkk ini berbeda dengan hasil penemuan Morrow dan Young (1997) yang menemukan bahwa kegiatan membaca bersama antara anak dan orang tuanya berpengaruh terhadap sikap dan minat membaca anak. namun mereka merasa mendapat dukungan sosial melalui program membaca keluarga. Koleksi buku tidak hanya menyangkut buku-buku teks semata. yang dilengkapi dengan berbagai fasilitas termasuk fasilitas ruangan baca yang terkesan rilek dan tidak menegangkan. C. orang tua. penyediaan sumber daya manusia yang mumpuni. anak-anak menjadi suka mengisi waktu luangnya dengan aktivitas membaca. dan sekolah dalam membangun kerja sama secara kolaboratif demi terwujudnya kegiatan baca tulis. Koleksi ilmu pengetahuan tidak hanya dalam bentuk buku dan kertas. masyarakat. tetapi harus tersedia dalam berbagai sarana teknologi seperti CD dan database online yang sangat mudah diakses. Sealin itu. Fasilitas pepustakaan juga sudah berbasis teknologi. melainkan juga harus diisi dengan koleksi bukubuku lain yang dapat membangkitkan minat baca siswa. yang dapat membuat kreativitas dan inovasi baru sehingga dapat melibatkan berbagai pihak seperti pemerintah.

Hal ini berarti jika orang tua dapat menyadari tentang tugas dan peranan dalam rumah tangga tentang pentingnya membaca dan menulis bagi pertumbuhan intelektual anak.buku-buku dan perlengkapan membaca merupakan dukungan instrumental untuk mendidik anak. Kegiatan rutin yang diterapkan di rumah juga ditularkan kepada masyarakat agar mereka juga mempunyai minat dan keinginan. utamanya generasi muda agar menumbuhkan minat baca dan kecintaan mereka akan buku dan perpustakaan. mengunjungi taman bacaan berupa perpustakaan sekolah dan daerah. Di samping itu. Lebih jauh. dan mengakses perpustakaan online yang dapat memberikan kontribusi besar dalam kegiatan membaca. orang tua juga dapat mengajak nonton bareng dan diharapkan anak dapat menceritakan atau menuliskan . program pelatihan untuk orang tua agar terlibat secara efektif dalam program membaca keluarga merupakan dukungan informatif yang sangat berguna bagi orang tua untuk memberikan dukungan penghargaan dan emosi kepada anak saat mereka membaca bersama. mengunjungi took-toko buku yang memiliki koleksi buku yang memadai. Subagio (2010) mengatakan bahwa untuk menarik dan menumbuhkan minat baca kepada anak-anak. selalu mengajak anak-anaknya sejak kecil ke toko buku dan membebaskan mereka mencari sendiri buku-buku yang mereka sukai. Selain ke took buku anak-anak juga dianjurkan untuk membiasakan diri berkunjung ke perpustakaan. maka paling tidak orang tua melakukan berbagai aktivitas yang dapat membangkitkan minat baca anak dengan membuat perpustakaan mini dalam rumah tangga dan mengatur jadwal untuk melaksanakan kegiatan membaca secara bersamasama berdasarkan waktu yang disepakati.

Para ahli merekomendasikan anak untuk membaca dengan suara keras kurang lebih 30 menit sehari. Keenam. merespon tentang cerita atau isi buku bersama sama. mmasak dengan anak untuk melatih anak belajar membaca. Kelima. Ketiga. model membaca dan menulis. Kedua.hasil pengalaman menonton sehingga berkembang kebiasaan membaca dan menulis dalam lingkungan keluarga. Biarkan anak memilih gaya membacanya sesuai kesukaan anak. ibu seharusnya melibatkan anak paling tidak untuk membaca resep masakan bersama–sama. Kiranawati (2010) memberikan sepluh tip dalam membangun kebiasaan membaca dalam rumah tangga. Kesepuluh tip tersebut. seharusnya buku bacaan disesuaikan dengan usia anak. Orang tua sedapat mungkin ciptakan suasana rumah penuh dengan bahan bacaan. dan bacaan yang bisa menarik minat baca anak. Keempat. anak diminta membaca dengan suara keras. ciptakan suasan rumah penuh dengan bahan bacaan. membaca dan menulis dengan anak-anak menggunakan bahasa keluarga. Orang tua dapat mengajukan pertanyaan kepada anak tentang isi buku . Membiasakan kegaiatan membaca dan menulis dapat membuat anak mampu melihat bagaimana mereka memiliki bahan bacaan sehingga dapat mengembangkan wawasan tentang berbagai permasalahan yang ada dan mampu membuat tulisan untuk menyelesaikan berbagai permasalah yang dihadapi. Sejalan dengan upaya orang tua dalam mengembangkan bakat dan minat membaca seperti disebutkan di atas. yaitu pertama. Ketika sedang memasak. Orang tua seharusnya memberikan kesempatan kepada anak seluas-luasnya untuk menulis apa saja tentang keluaraga dengan menggunakan bahasa mereka sendiri dan berikan kesempatan kepada mereka sendiri untuk membaca dan mendiskusikanya.

rekaman kegiatan keluarga. Orang tua seharusnya mengatur jadwal untuk mengunjungi perpustakaan atau taman bacaan.yang telah dibacanya. Upaya untuk melakukan komunikasi dengan guru untuk mengetahui apa yang sedang terjadi di sekolah dan menanyakan perkembangan dan kekurangan anak. Kesembilan. Di samping itu. membuat slogan-slogan yang isinya mendorong anak untuk belajar. kemudian dapat menanyakan kosa-kata apa saja yang belum dimengerti. Kemudian berikan kesempatan kepada anak untuk memilih buku sesuai kesukaannya. Berceritakan bersama – sama mengenai sejarah keluarga sambil melihat foto–foto keluarga. menulis bersama anak. menceritakan suatu kisah bersama. serta apa yang dapat dibantu oleh orang tua untuk mendukung meningkatkan kemampuan anak merupakan upaya yang seharusnya menjadi bagian dari tanggungjawab orang tua terhadap perkembangan kebribadian anak. Minat dan kemampuan anak . Kedelapan. mengkomunikasikan secara teratur dengan guru tentang perkembangan belajar anak di sekolah. mengunjungi perpustakaan. Kenalkan anak. Yulia (2010) juga berpendapat bahwa keluarga menjadi komunitas yang sangat berpengaruh bagi pertumbuhan dan perkembangan anak. Kesepuluh.anak dengan buku–buku karangan pengarang terkenal yang menjadi favorit bagi anak pada umumnya. Menyediakan waktu untuk melengkapi peralatan tulis-menulis atau menggambar. Dengan cara ini sedikit banya akan menumbuhkan sikap disiplin pada anak. cerita waktu liburan ataupun perjalan keluarga waktu keluar kota dapat member motivasi tersendiri untuk mempraktekan minat baca dan menulis bagi anakanak. Ketujuh. memberikan bimbinglah anak untuk menuliskan agenda harian mereka dan membacanya.

(12) jadikan kegiatan membaca sebagai kebiasaan setiap hari. (3) ajak anak ke toko buku atau perpustakaan. Peranan Guru dalam Meningkatkan Minat Baca Siswa Tidak dapat disangsikan lagi bahwa penanaman kebiasaan membaca harus dimulai pada usia dini. (10) beri hadiah (reward) yang memperbesar semangat membaca. Karena itu upaya pengembangan minat dan kebiasaan membaca juga diadakan di sekolah-sekolah. Kemudian dia gambarkan resep bagi orang tua dalam menumbuhkan minat baca dengan jalan (1) bacakan buku sejak anak lahir. (5) sisihkan uang untuk membeli buku. buku cerita yang digambar sendiri. (13) dramatisasi buku yang dibaca. Kartika (2010) mengambarkan kegiatan-kegiatan untuk meningkatkan minat dan kebiasaan membaca antara lain: (1) penyelenggaraan jam-jam cerita di . (6) nonton film dan beli bukunya. dan tidak dapat disangsikan pula bahwa sekolah merupakan tempat yang sangat tepat untuk memupuk minat dan kebiasaan membaca bagi anakanak. (15) jadilah teladan D. (7) ciptakan perpustakaan keluarga. (14) buatlah buku sendiri seperti buku biografi anak. (2) dorong anak bercerita tentang apa yang telah didengar atau dibacanya. dan anak membuat sendiri bukunya. (4) beli buku yang menarik minat anak.dibentuk dari keluarga di mana dia dibesarkan. (8) tukar buku dengan teman. (11) jadikan buku sebagai hadiah (reward) untuk anak. Salah satu minat dan kemampuan yang bisa ditumbuhkan dalam diri anak lewat keluarga ialah membaca. Salah satu dukungan yang dibutuhkan untuk menumbuhkan minat baca siswa adalah peran guru. (9) hilangkan penghambat seperti TV atau Playstation. buku tentang orang tua. Guru perlu memotivasi siswa untuk mencintai buku sejak awal.

(7) pemotivasian penerbitan majalah atau buletin sekolah. tidak memberikan motivasi (dorongan) pada anak didik untuk gemar membaca. . (5) penyelenggaraan lomba membaca. Guru yang tidak memberikan kesempatan atau tidak menciptakan suasana diskusi di dalam kelas. Guru mempunyai peranan penting untuk meningkatkan minat baca siswa-siswanya. Dari semua kegiatan yang dilaksanakan di atas. (9) penugasan siswa membantu pustakawan di perpustakaan sekolah. (10) penyelenggaraan program membaca. tidak akan ada artinya kalau tidak didukung oleh para guru. ternyata sarana pendukunglah yang menjadi penyebabnya. Jika guru salah atau kurang tepat dalam menggunakan metode mengajar maka akan membuat siswa malas membaca. akan menjadikan kelas itu kelas yang pasif. Kontribusi Media Massa dalam Menumbuhkan Minat Baca Rendahnya minat membaca masyarakat sebenarnya bukan berpangkal pada minat atau kemauannya.perpustakaan sekolah. Guru yang mengajar dengan metode ceramah saja atau yang lebih buruk lagi dengan menyalin saja (baik di papan tulis atau didiktekan). (4) pemotivasian penyelenggaraan majalah dinding. (6) penyelenggaraan lomba pembuatan kliping. Masyarakat belum secara merata menikmati kemudahan untuk mengakses bahan bacaan sehingga membaca belum menjadi suatu kebutuhan (Boeriswati. (11) pemberian bimbingan teknis membaca. kelas yang siswa-siswanya selalu menunggu apa yang akan diberikan oleh gurunya. (3) pemberian tugas pembuatan abstraksi. E. (8) penyelenggaraan pameran buku yang dikaitkan dengan peringatan hari-hari besar nasional dan agama. (2) pemberian tugas membaca. akan mematikan minat anak didik untuk ingin tahu atau mencari sesuatu jawaban.

Selanjutnya penyebutan media massa dibatasi hanya pada media cetak dan lebih khusus lagi koran. Atas dasar itu. kontribusi media massa dalam menumbuhkan minat baca berkorelasi positif dengan bahan bacaan. Dalam hal ini koran dapat . Kedua pilihan tersebut sangat berat. dan koran yang juga dapat dikatakan sebagai bahan bacaan. Saat ini koran telah terbit dengan spesifikasinya. Korelasinya antara lain melalui buku atau majalah. ada juga yang mengkhususkan berdasarkan tingkat pembacanya yang semuanya berorientasi profit. Kemudahan mengakses bahan bacaan dapat diperoleh melalui toko buku bagi masyarakat yang mampu membeli bahan bacaan atau melalui perpustakaan bagi yang tidak mampu untuk memiliki buku. Namun kelangkaan perpustakaan atau taman bacaan menjadi dilemma besar dalam masyarakat pada umumnya. Oleh karena itu. Jika melihat lebih jauh. peranan Koran begitu penting adalnya. lembaga pers sebenarnya harus memikirkan dari keuntungan produksi dapat disisihkan untuk memberikan subsidi koran bagi masyarakat dengan memberikan secara gratis entah untuk setiap RT yang harus ditempel di papan pengumuman. Dengan demikian yang diperlukan adalah relevansi isi bahan bacaan dengan kehidupan pembacanya.2010). ada yang mengkhususkan berdasarkan isi. Dari perspektif pemberdayaan masyarakat. Bagi masyarakat yang kurang mampu bisa memanfaatkan perpustakaan. Seperti kita ketahui bahwa yang mendorong masyarakat berminat membaca apabila membaca tersebut memberikan manfaat baginya. peranan koran telah tercatat dalam sejarah berperan menumbuhkan minat baca masyarakat. Mungkin dapat juga dilakukan dengan bekerja sama dengan Pemda menerbitkan koran gratis tidak setebal koran nasional.

Kegiatan yang membaca koran yang tanpa harus hadir di arena lomba. Keuntungan kegiatan ini bukan hanya menumbuhkan minat baca masyarakat tetapi juga membelajarkan masyarakat untuk bernalar. Bentuk lomba membaca bukan sekedar membaca teknis. tetapi membaca dengan memberikan tanggapan apa yang dibacanya yang dituangkan dalam bentuk tulisan. aktivitas membentuk suatu minat pada kelompok informal sangat sulit mengontrolnya. Dengan demikian. . tetapi dapat dilakukan di mana saja. birokrasi. dunia usaha maupun seluruh komponen lain dalam seluruh lapisan masyarakat. Dengan adanya rangsangan ini orang akan merespon berdasarkan persepsinya apa yang dilakukan dengan membaca. maka perlu adanya rangsangan yang menarik. Kegiatan ini merupakan kegiatan dengan tujuan jangka pendek yang dapat dilakukan oleh pelaku media massa. Di samping itu. dan hadiah. Untuk menumbuhkan minat membaca secara permanen dapat dilakukan melalui proses pembelajaran. seperti kemudahan. pengistimewaan. Untuk menarik minat orang lain. sehingga yang dapat dilakukan adalah imbauan atau penyadaran bukan tindakan menumbuhkan minat. Dengan demikian. anggota dapat menjadi motor yang dapat mempengaruhi orang lain berminat. Media massa dapat membentuk klub-klub baca pada setiap jenjang baik jenjang birokrasi di masyarakat atau berdasarkan keminatan objek bacaan. Dalam klub tersebut.digunakan sebagai sarana untuk menumbuhkan minat baca masyarakat. upaya untuk menjadikan Lampung Cerdas dapat dicapai melalui upaya peningkatan minat baca masyarakat baik masyarakat kampus dan sekolah. penumbuhan minat yang dapat terkontrol dan dapat secara nyata terlihat adalah penumbuhan minat pada kelompok formal melalui edukasi.

com/peran-perpustakan-dalammenumbuhkan-minat-baca-pdf/. 2010 dari http://search-pdf-books.konsultanperpustakaan.com/-sastra-pembebasan--Pendidikan-Literasi-SolusiKebangkitan-Nasional. Media Indonesia. Diakses pada tanggal 25 April. 2000.. 2008.php?file=1212551730. Konsultan Perpustakaan.com/2007/10/08/kontribusi-media-massamenumbuhkan-minat-baca/. . 2000. Minat Baca Mengkwatirkan. diakses pada Tanggal 28 April.742. Muhammad.wordpress. Boeriswati. Adwiyani. Republika. 89 ( 4). Journal of Educational Psychology.org/cara_menumbuhkan_minat_baca. 8 September. Tribun Timur. J. 2010 dari http://www. Dimuat dan Diakses pada tanggal Senin.sabda.gemari. Pengaruh Keterlibatan Orang Tua Terhdap Minat Membaca Anak Ditinjau dari Pendekatan Stes Lingkungan. 2006. Diakses pada tanggal 25 April. Media Indonesia. Kartika. 2010 dari http://johnherf. Sepuluh Tip untuk Menumbuhkan Minat Baca Pada Anak.id/file/gemari6932-33.-td17314052.html. Pendidikan Literasi Solusi Kebangkinan Nasional. Yulia. Esther. Anonim.M. L. Anna. Media Indonesia. 736 . 27 Agustus Morrow. Soejanto. Budaya Membaca dan Menulis Belum Berkembang dengan Baik. Kiranawati. 2007. 20 Mei. Diakses pada tanggal 27 April. Yaumi.com/bukutamu/bb. and Young.REFERENSI Anonim.PDF. Republika 28 Januari. Membaca Jadikan Kebiasaan Hidup. Subagio. Diakses pada tanggal 26 April 2010 dari http://www. Sandjaja.. 1997.wordpress.nabble. 27 Agustus.com/2007/11/02/10-tipsuntuk-menumbuhkan-minat-baca-pada-anak/. Anonim. 2010 dari http://gubuk. Motivation and Literacy Achievement. Endry. Memacu Minat Membaca Siswa Sekolah Dasar. 2010. Anonim. 19-05-2008 dari http://www.or. A Family Literacy Program Connecting School and home : Effects on Attitude. diakses pada tanggal 20 April 2010 dari http://gurupkn. Cara Menumbuhkan Minat Baca. Kontribusi Media Massa Menumbuhkan Minat Baca.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful