P. 1
skripsi

skripsi

|Views: 308|Likes:
Published by Geusan Oge

More info:

Published by: Geusan Oge on Jun 07, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

03/18/2014

pdf

text

original

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Sejak Berle and Means (1932:11-12) menginvestigasi struktur kepemilikan perusahaan publik masalah keagenan merupakan isu sentral dalam literatur keuangan. Dengan semakin besarnya perusahaan dan luasan usahanya, maka pemilik tidak bisa mengelola sendiri

perusahaannya secara langsung sehingg a inilah yang memicu munculnya masalah keagenan. Dalam kaitannya dengan kepemilikan terdapat dua masalah keagenan, yaitu masalah keagenan antara manajemen dan

pemegang saham (Jensen and Meckling, 1976) dan masalah keagenan antara pemegang saham mayoritas dan pemegang saham minoritas (Shleifer and Vishny, 1997). Masalah keagenan pertama terjadi apabila kepemilikan saham tersebar, sehingga pemegang saham secara

individual tidak dapat mengendalikan manajemen. Akibatnya perusahaan bisa dijalankan sesuai keinginan manajemen itu sendiri. Masalah keagenan kedua terjadi jika terdapat pemegang saham mayoritas (konsentrasi kepemilikan), sehingga terdapat pemegang saham mayoritas yang dapat mengendalikan manajemen atau bahkan menjadi bagian dari manajemen itu sendiri. Akibatnya pemegang saham mayoritas memiliki kendali mutlak dibanding pemegang bisa saham minoritas, sehingga yang

pemegang

saham

mayoritas

melakukan

tindakan

menguntungkan dirinya, tetapi kemungkinan merugikan pemegang saham minoritas.

1

La Porta et al. (1999) menunjukkan bahwa perusahaan -perusahaan publik di Indonesia memiliki konsentrasi kepemilikan atau dikendalikan oleh pemegang saham besar. Oleh karena itu masalah keagenan dalam studi ini atau masalah keagenan pada perusahaan publik di Indonesia adalah konflik antara pemegang saham mayoritas dan minoritas. Jika tidak terdapat perlindungan hukum yang memadai, pemegang saham mayoritas dapat melakukan aktivitas yang menguntungkan dirinya sendiri dan merugikan pemegang saham minoritas. Shleifer and Vishny (1997) menyatakan bahwa untuk mengatasi konflik keagenan seperti tersebut di atas, maka salah satu caranya adalah melalui pengelolaan perusahaan yang baik (goodcorporate governance ). Dengan prinsip-prinsip

pengelolaan tersebut diharapkan pemegang saham mayoritas selalu berbagi informasi dengan pemegang minoritas. Sehingga tidak ada lagi pihak yang dirugikan karena tidak ada pihak yang memiliki informasi superior dibanding yang lainnya. Konsentrasi kepemilikan bisa memicu terjadinya risiko ekspropriasi terhadap pemegang saham minoritas. Ekspropriasi merupakan cara memaksimumkan kesejahteraan sendiri dengan distribusi kekayaan dari pihak lain (Claessens et al., 2000). Ekspropriasi dapat dilakukan oleh pemegang saham mayoritas melalui kebijakan perusahaan. S alah satu kebijakan tersebut adalah kebijakan manajer untuk melakukan

manajemen laba. Karena manajemen laba bisa dilakukan oleh manajer atas dasar keinginan pemegang saham mayoritas yang menguntungkan dirinya sendiri. Namun demikian nampaknya pemilik mayoritas akan meminimalisasi risiko ekspropriasi terhadap pemegang saham minoritas.

2

Karena jika ekspropriasi dilakukan maka pemegang saham minoritas dan pasar saham akan mendiskon harga pasar saham yang justru akan merugikan pemegang saham mayoritas itu sendiri. Beberapa bukti empiris berikut ini menjelaskan kepemilikan institusional dengan manajemen laba. Pertama, kepemilikan institusional menurunkan manajemen laba (Jiambalvo et al., 1996), (Xu and Wang, 1997), (Bushee, 1998a, 1998b), (Rajgopal et al., 1999), (Mitra, 2002), (Midiastuty dan Machfoedz, 2003), (Hsu and Koh, 2005), dan (Herawati, 2007). Namun demikian Demsetz and Lehn (1985), Darmawati (2003), serta (Ujiyantho dan Pramuka, 2007) tidak menemukan hubungan antara kepemilikan institusional dengan man ajemen laba. Kedua, pemilik mayoritas sangat berkepentingan terhadap nilai pemegang saham. Pernyataan Slovin and Sushka (1993), temuan empiris Smith (1996), Xu and Wang (1997), Pizarro et al. (2006) dan Bjuggren et al. (2007) menunjukkan bahwa konsentrasi kepemilikan mampu meningkatkan nilai perusahaan yang berarti juga nilai pemegang saham. Namun demikian Demsetz and Lehn (1985) dan Demsetz and Villalonga (2001) tidak menemukan hubungan kepemilikan institusional denga n nilai perusahaan. Ketiga, pemilik mayoritas sangat berkepentingan untuk menjaga reputasi perusahaan dan dirinya sebagai pemegang saham pengendali. Hal tersebut diwujudkan dengan adanya pengungkapan informasi mengenai kondisi perusahaan, walaupun memiliki konsekuensi terhadap biaya yang dikeluarkan untuk menyediakan informasi bagi publik ( cost of equity capital). Brush et al. (2000) menunjukkan bahwa kepemilikan institusional seiring dengan meningkatnya cost of equity capital. Di sisi lain Ashbaugh

3

et al. (2004) dan Haque (2006) tidak menemukan adanya hubungan antara kepemilikan institusional dengan cost of equity capital. Kebijakan hutang merupakan salah satu alternatif pendanaan perusahaan selain menjual saham di pasar modal. Tetapi keberadaan hutang justru bisa menjadi cerminan bahwa kinerja saham perusahaan kurang bagus. Artinya kalau memang saham perusahaan diminati oleh pasar saham (investor) yang ditunjukkan oleh peningkatan yang signifikan volume perdagangan dan harga saham, seharusnya perusahaan t idak perlu lagi mencari pendanaan melalui hutang. Tetapi masalahnya saham yang benar-benar dimiliki oleh publik hanya sekitar 14,40%. Selebihnya didominasi oleh insider atau terkonsentrasi oleh pemilik institusional maupun individual. Hutang yang dipergunakan secara efektif dan efisien maka akan meningkatkan nilai perusahaan. Herry dan Hamin (2005) menunjukkan bahwa leverage menyebabkan peningkatan nilai perusahaan ( value enchancing). Tetapi apabila dilakukan dengan dalih untuk menarik perhatian para kreditur, maka justru memicu bagi manajer untuk melakukan manajemen laba (Defond and Jiambalvo, 1994), (Sweeney, 1994), (Dechowet al., 1995), (Jones and Sharma, 2001), (Widyaningdyah, 2001), dan (Achmad et al., 2007). Di sisi lain kreditur minta laporan keuangan yang lebih dipercaya, oleh karenanya kreditur meningkatkan pengawasan yang lebih ketat dan melakukan tekanan kepada manajer sehingga manajer tidak memiliki kesempatan untuk melakukan

manajemen laba (Lee, 1999), (Bao and Bao, 2004) dan (Wasilah, 2005). Ketika risiko perusahaan tinggi yang diukur dengan rasio hutang yang

4

tinggi, maka manajemen berusaha untuk menurunkan risiko persepsian bagi kreditur dengan cara menyajikan laporan laba yang relatif lebih stabil, artinya manajer tidak melakukan rekayasa laba. Praktek manajemen laba dapat dipandang dari dua perspektif yang berbeda, yaitu sebagai tindakan yang salah (negatif) dan tindakan yang seharusnya dilakukan manajemen (positif). Suh (1990) dan Healy and Wahlen (1998) menganggap manajem en laba sebagai tindakan yang menyesatkan dan menipu pemegang saham. Hal ini disebabkan manajemen memiliki informasi asimetrik mengenai kondisi perusahaan. Pandangan yang lain menganggap bahwa manajemen laba merupakan upaya untuk memuaskan pemegang saham. Manajemen laba dilakukan untuk memaksimumkan nilai perusahaan ketika terdapat asimetri

informasi antara manajer dan pemilik (Chaney and Lewis, 1994). Hal ini dapat menurunkan risiko persepsian investor karena ketidakpastian return di masa depan sehingga diharapkan dapat memperbaiki nilai pemegang saham. Manajemen laba menyebabkan banyak informasi yang harus diungkap oleh perusahaan, biaya yang sehingga dikeluarkan berkonsekuensi oleh terhadap untuk

meningkatnya

perusahaan

menyediakan informasi bagi publik (cost of equity capital). Manajemen laba seiring dengan meningkatnya biaya modal ekuitas (cost of equity capital) yang dikeluarkan perusahaan ( Utami, 2005). Nilai perusahaan yang juga nilai pemegang saham mencerminkan ukuran reaksi pasar saham terhadap perusahaan. Semakin besar nilai perusahaan yang juga nilai pemegang saham mencerminkan publik telah

5

Berdasarkan Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 10 tahun 1998. Untuk itu p emilik mayoritas sangat berkepentingan terhadap nilai perusahaan yang juga nilai pemegang saham yang dapat dilakukan dengan cara menekan manajemen untuk menjaga reputasi perusahaan yang berdampak terhadap naiknya biaya yang dikeluarkan oleh perusahaan unt uk menyediakan informasi bagi publik. perlu suatu penelitian tentang konsentrasi kepemilikan institusional pada industry perbankan yang berbeda dengan sektor lain. tentang perubahan atas UU Nomor 7 tahun 1992 tentang perbankandisebutkan bahwa bank adalah badan usaha yang menghi mpun dana dari masyarakat dalam bentuk simpanan dan menyalurkannya kepada masyarakat dalam bentuk kredit atau bentuk lain dalam rangka meningkatkan taraf hidup rakyat banyak. sehingga apabila perusahaan diketahui melakukan tindak manajemen laba otomatis kepercayaan investor akan berkurang dan satu persatu ataupun bersama sama akan melakukan penarikan dana sehingga bisa menimbulkan rush (penarikan dana secara besar-besaran) yang kemudian akan merugikan 6 . Perbankan adalah perusahaan ³kepercayaan´. Beberapa penelitian di atas merupakan penelitian terhadap perusahaan-perusahaan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) selain sektor perbankan. Berdasarkan pengertian tersebut maka untuk menjalankan aktivitasnya perbankan harus mempunyai integritas tinggi supaya masyarakat memiliki kepercayaan dalam rangka menjalin hubungan kerja . Oleh karena itu.menilai harga pasar saham di atas nilai bukunya.

2001). Apakah konsentrasi kepemilikan institusional berpengaruh terhadap manajemen laba. nilai pemegang saham. maka penulis mengidentifikasikan masalah sebagai berikut : 1. Identifikasi Masalah Berdasarkan dari latar belakang masalah yang dikemukakan diatas. Bank Indonesia sebagai pengawas semua bank yang ada diIndonesia menerapkan cara penilaian kesehatan bank dengan berdasarkan pada laporan keuangan keuangan.bank tersebut bahkan menyebabkan bank tersebut collapse (bangkrut). dan cos of equity capital? 2. Berdasarkan uraian latar belakang di atas maka penulis tertarik untuk mengambil dan judul µ´Pengaruh Leverage Terhadap Konsentrasi Manajemen Kepemilikan Laba. Nilai Institusional Pemegang Saham serta Cost of Equity Capital (Studi pada Perusahaan Perbankan yang Terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) Tahun 2006-2008)´ B. nilai pemegang saham. Penilaian atas status suatu bank (apakah bank tersebut merupakan bank yang sehat atau tidak) dengan mengg unakan laporan keuangan itulah yang menyebabkan manajer memiliki inisiatif untuk melakukan manajemen laba supaya perusahaan mereka dapat memenuhi kriteria yang disyaratkan oleh BI (Setiawati dan Na¶im. dan cost of equity capital? 7 . Apakah leverage berpengaruh terhadap manajemen laba.

3. identifikasi. maka penelitian ini dirumuskan sebagai berikut : 1. Apakah konsentrasi kepemilikan instutisional dan leverage berpengaruh terhadap manajemen laba. dan cost of equity capital? E. maka dalam hal ini permasalahan hanya dibatasi pada penelitian pengaruh konsentrasi kepemilikan institusional dan leverage terhadap manajemen la ba. Pembatasan Masalah Mengingat luasnya cakupan pembahasan yang ada dan untuk menghindari penyimpangan pembahasan yang akan di tulis. nilai pemegang saham serta cost of equity capital pada perusahaan Perbankan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) Tahun 2006 -2008 D. dan cost of equity capital? C. nilai pemegang saham. tujuan yang ingin di capai dari penelitian ini adalah untuk menguji dan memeperoleh bukti empiris tentang konsentrasi 8 . Tujuan Peneliitian Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis data dan informasi dalam rangka penyusunan skripsi sebagai salah satu syarat untuk menempuh ujian sarjana ekonomi jurusan akuntansi S -1 pada Universitas Persada Indonesia (Yayasan Administrasi Indonesia) ber dasarkan identifikasi masalah di atas. batasan masalah yang dikemukakan di atas. nilai pemegang saham. Apakah konsentrasi kepemilikan instutisional dan leverage berpengaruh terhadap manajemen laba. Perumusan masalah Berdasarkan dari latar belakang.

Manfaat Penelitian 1. Aspek teoritis (keilmuan) Secara teoriis penelitian ini diharapkan dapat memperluas pengetahuan akuntansi biaya terutama mengenai peng aruhnya konsentrasi kepemilikan institusional dan leverage terhadap manajemen laba. Aspek praktis (guna laksana) a) bagi penulis Dapat menambah wawasan dan pengetahuan yang luas tentang pengaruh konsentrasi kepemilikan institusional dan leverage terhadap manajemen laba. nilai pemegang saham serta cost of equity capital 2. Selain itu sebagai langkah implementasi ilmu pengetahuan yang di peroleh di lingkungan perkuliahan yang berupa teori-teori dengan kenyataan yang terjadi di lapangan. nilai pemegang saham serta cost of equity capital pada perusahaan Perbankan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) Tahun 2006 -2008 F.kepemilikan institusional dan leverage terhadap manajemen laba. nilai pemegang saham serta cost of equity capital. sehingga teori yang di peroleh dapat digunakan pada kondisi yang sesungguhnya. b) bagi perusahaan gambaran factual yang diperoleh dari penulis dan skripsi ini diharapakan dapat berguna bagi perusahaan. sebagai bahan masukan untuk melihat pengaruh konsentrasi kepemilikan 9 .

juga sebagai penambah wawasan bagi peneliti sejenis yang yang dilakukan pembaca. 10 .institusional dan leverage terhadap manajemen laba. nilai pemegang saha m serta cost of equity capital. c) bagi pembaca Untuk memberi wawasan dan pengetahuan tentang pengaruh penggunaan pengawasan konsentrasi kepemilikan institusional dan leverage terhadap manajemen laba. nilai pemegang saham serta cost of equity capital yang dapat digunakan dalam kegiatan perusahaan.

2005).Konflik inilah 11 . Tinjauan Teori 1. maka prinsipal tidak pernah dapa t merasa pasti bagaimana usaha agen memberikan kontribusi pada hasil aktual perusahaan. dan CEO (Chief Executive Officer ) sebagai agen mereka.Hal ini dikarenakan prinsipal tidak dapat mengamati kegiatan yang dilakukan agen secara terus -menerus dan berkala.Prinsipal mempekerjakan agen untuk melakukan tugas untuk kepentingan prinsipal.Karena prinsipal tidak memiliki informasi yang cukup mengenai kinerja agen. pemegang saham bertindak sebagai prinsipal. Pemegang saham mempekerjakan CEO untuk bertindak sesuai dengan kepentingan prinsipal.Pada perusahaan yang modalnya terdiri atas saham. Teori agensi mengasumsikan bahwa CEO (agen) memiliki lebih banyak informasi daripada prinsipal.BAB II LANDASAN TEORI A.Situasi inilah yang disebut asimetri informasi. Teori Agensi (Agency Theory) Konsep teori agensi adalah hubungan atau kontrak antara prinsipal dan agen. termasuk pendelegasian otorisasi pengambilan keputusan dari prinsipal kepada agen (Anthony dan Govindarajan.

BI bertugas untuk mengawasi kegiatan dan kinerja perbankan di Indonesia. atau un tuk meyakinkan bahwa prinsipal akan memberikan kompensasi jika agen benar-benar melakukan tindakan yang tepat. yang mengakibatkan penerapan teori agensi dalam akuntansi perbankan dapat berbeda dengan akuntansi untuk perusahaan non perbankan. aplikasi teori agensi menjadi unik karena sektor ini berbeda dengan industri yang lain. pengeluaran biaya yang dirancang untuk mengawasi aktivitas-aktivitas yang dilakukan oleh agen. Teori agensi menyatakan bahwa konflik antara prinsipal dan agen dapat dikurangi dengan mekanisme pengawasan yang da pat 12 .yang kemudian dapat memicu biaya agensi. untuk menjamin bahwa agen tidak akan bertindak yang dapat merugikan prinsipal. Kerugian residual (residual cost). Dengan adanya regulasi tersebut maka ada pihak lain yang terlibat dalam hubungan keagenan. yaitu regulator dalam hal ini pemerintah melalui Bank Indonesia (BI) yang berperan sebagai prinsipal dan bank-bank yang terdapat di Indonesia sebagai agennya. Biaya bonding (bonding cost). Dalam sektor perbankan. 3. Biaya monitoring (monitoring cost). Salah satunya adalah adanya regulasi yang sangat ketat. Jensen dan Meckling (1976) mendefinisikan biaya agensi dalam tiga jenis: 1. 2. merupakan nilai uang yang ekuivalen dengan pengurangan kemakmuran yang dialami oleh prinsipal sebagai akibat d ari perbedaan kepentingan.

Menurut Midiastuty dan Machfoedz (2003). M ereka menemukan bahwa ukuran dan independensi dewan direksi mempengaruhi kemampuan mereka dalam memonitoring proses pelaporan keuangan. Memperbesar kepemilikan saham perusahaan oleh manajemen (managerial ownership). Konsentrasi Kepemilikan Institusional 13 . perlakuan manipulasi oleh manajer yang berawal dari konflik kepentingan dapat diminimumkan melalui mekanisme monitoring yang bertujuan menyelaraskan (alignment) berbagai kepentingan tersebut. 2003) menyatakan bahwa investor institusional merupakan pihak yang dapat memonitor agen dengan kepemilikannya yang besar. Selain itu. (dalam Midiastuty dan Machfoedz. Moh¶d et al. investor institusional dianggap sophisticated investors yang tidak mudah ³dibodohi´ oleh tindakan manajer.menyelaraskan (alignment) berbagai kepentingan yang ada dalam perusahaan. yaitu dengan: 1. 3. Beberapa penelitian empiris telah menunjukkan hubungan yang signifikan antara peran dewan direksi dengan pelaporan keuangan. 2. Kepemilikan saham oleh investor institusi. saham dapat disejajarkan dengan kepentingan 2. Melalui monitoring dewan direksi (board of directors). sehingga kepentingan pemilik atau pemegang manajer.

Konsentrasi kepemilikan institusional merupakan saham perusahaan yang dimiliki oleh institusi atau lembaga (perusahaan asuransi. La Porta et al. (2000a). bank. dan Facio and Lang (2002) menunjukkan bahwa kepemilikan perusahaan publik di hampir semua negara adalah terkonsentrasi. kecuali di Amerika Serikat. Claessens et al. Zhang menemukan bahwa perusahaan di luar Amerika Serikat umumnya dikendalikan oleh pemegang saham besar. (1999 dan 2000) menunjukkan bahwa struktur kepemilikan yang terkonsentrasi terjadi di negara-negara dengan tingkat corporate governance yang rendah. Kepemilikan perusahaan publik dulu dipandang tersebar diantara banyak pemegang saham sesuai model Berle and Means (1932:1112). (1999). Inggris dan Jepang. Masalah keagenan utama dalam perusahaan dengan konsentrasi kepemilik an seperti ini adalah konflik antara pemegang saham pengendali dengan pemegang saham minoritas. Apabila tidak terdapat perlindungan hukum yang memadai. perusahaan investasi dan kepemilikan institusi lain). Dengan demikian Indonesia termasuk dalam kelompok negara yang kepemilikan saham perusahaan publiknya adalah terkonsentrasi. Kenyataannya untuk saat ini hal tersebut tidak menunjukkan (2005) kebenarannya diluar Amerika Serikat. pemegang saham pengendali dapat melakukan aktifitas yang menguntungkan dirinya sendiri dan merugikan pem egang saham minoritas. 14 . Penelitian La Porta et al.

Persentase saham tertentu yang dimiliki oleh institusi dapat mempengaruhi proses penyusunan laporan keuangan yang tidak menutup kemungkinan terdapat akrualisasi sesuai kepentingan pihak manajemen (Boediono. Penelitian Smith (1996) (dalam Suranta dan Midiastuty..Investor institusional sering disebut sebagai investor yang canggih (sophisticated) seharusnya lebih dapat menggunakan informasi periode sekarang dalam memprediksi laba masa depan dibandingkan dengan investor non institusional. Balsam et al. 2004) menunjukkan bahwa aktivitas monitoring institusi mampu mengubah struktur pengelolaan perusahaan dan mampu meningkatkan kemakmuran pemegang saham. 2005) menyatakan bahwa kepemilikan institusional yang tinggi dapat meminimalisir earnings management tergantung pada tingkat kecanggihan investor tersebut. 2005). 15 . (dalam Veronica dan Utama. 2) Memiliki motivasi yang kuat untuk melaksanakan pengawasan lebih ketat atas aktivitas yang terjadi di dalam perusahaan. Kepemilikan institusional memiliki kelebihan antara lain: 1) Memiliki profesionalisme dalam menganalisis informasi sehingga dapat menguji keandalan informasi. Pernyataan ini sesuai dengan Ujiyantho dan Pramuka (2007) yang menyatakan bahwa kepemilikan saham oleh institusional karena mereka dianggap sebagai sophisticated investor dengan jumlah kepemilikan yang cukup signifikan dapat memonitor manajemen yang berdampak mengurangi motivasi manajer untuk melakukan earnings management. Hal ini didukung oleh Cruthley et al.

3. Jensen and Meckling (1976) berargumen tentang moral hazard untuk menjelaskan agency cost of debt. Artinya hutang dapat digunakan untuk memprediksi keuntungan yang kemungkinan bisa diperoleh bagi investor jika berinvestasi pada suatu perusahaan. mereka berharap memperoleh pendanaan dari pihak luar untuk mengganti investor atas kemungkinan menemukan perusahaan yang 16 . 2004) yang menemukan bahwa monitoring yang dilakukan institusi mampu mensubstutisi biay a keagenan lain sehingga biaya keagenan menurun dan nilai perusahaan meningkat. Semakin besar risiko yang dihadapi oleh perusahaan maka ketidakpastian untuk menghasilkan laba di masa depan juga akan makin meningkat. Leverage Rasio leverage menggambarkan sumber dana operasi yang digunakan oleh perusahaan. Masalah kerugian juga dapat memberikan kontribusi atas kebijakan pendanaan melalui hutang. Myers and Majluf (1984) menyatakan bahwa jika manajer -manajer mempunyai informasi privat mengenai proyek-proyek investasinya. Foster (1986:65 -66) mengungkapkan bahwa terdapat hubungan antara rasio leverage dengan return perusahaan.(dalam Suranta dan Midiastuty. Rasio leverage juga menunjukkan risiko yang dihadapi perusahaan. bahwa level hutang tinggi akan menyebabkan perusahaan untuk memilih pada proyek -proyek investasi berisiko secara berlebihan.

semakin tinggi kemungkinan trasfer kemakmuran dari kreditur kepada pemegang saham dan manajer (Meek et al. Perusahaan yang memiliki proporsi utang lebih tinggi dalam struktur modal akan mempunyai biaya keagenan yang lebih tinggi. dan para kreditur tidak mempunyai hak memilih.Perusahaan memperoleh tambahan modal dari kreditur. Oleh karena itu.kinerjanya buruk pada proyek-proyek yang mempunyai net present value negatif. 1996). Semakin tinggi leverage perusahaan. Zweibel. 1995). perusahaan yang mempunyai 17 . mereka cenderung menginginkan return hasil dari investasi tersebut. Peningkatan investasi relatif lebih mudah pada saat perusahaan mempunyai likuiditas (Jensen. Perusahaan dengan rasio leverage yang lebih tinggi berusaha menyampaikan lebih banyak informasi sebagai instrumen untuk mengurangi monitoring costs bagi investor.Sedangkan utang obligasi dapat menurunkan investasi dalam pengeluaran untuk corporate social responsibility.Bank dan pemberi utang (kreditur) mempunyai investasi di perusahaan. Gilson (1990) menyatakan bahwa Bank di USA berperan penting dalam organisasi perusahaan yang mana dapat mengganti manajer dan direktur. Mereka memberikan informasi yang lebih detail dalam laporan tahunan untuk memenuhi kebutuhan tersebut dibandingkan dengan perusahaan yang leverage nya lebih rendah. maka kreditur mempunyai kekuasaan untuk mempengaruhi manajemen perusahaan dalam pengambilan keputusan dan menginformasikan kepada investor. 1986.

atau meminimumkan laba. meskipun tidak signifikan. yang tidak signifikan antara leverage dan kecenderungan pengungkapan informasi dalam laporan tahunan.leverage tinggi mempunyai kewajiban lebih untuk mem enuhi kebutuhan informasi kreditur jangka panjang (Wallace et al. 1994). Sedangkan Chow dan Wong Boren (1987). 4. Inchausty (1997) menemukan adanya pengaruh positif. Ini berarti bahwa manajemen laba mencakup usaha manajemen untuk memaksimumkan. yang mana akan menambah beban tetap perusahaan.. dalam Alsaeed. Hossain et al (1995). Wallace dan Naser (1995). tetapi tidak signifikan antara leverage dan luasnya information voluntary disclousure. Wallace et al. Naser et al (2002) menemukan adanya pengaruh positif signifikan antara leverage dengan luasnya information voluntary disclousure. dan Sabarudin (2004) menemukan hubungan negative. Raffournies (1997). Manajemen Laba Copeland (1968:10) mendefinisikan manajemen laba sebagai. Ahmed dan Courtis (1999. maka untuk program corporate social responsibility menjadi terbatas atau semakin tinggi leverage. ³some ability to increase or decrease reported net income at will´. (1994). Bradbury (1992). maka semakin rendah program corporate social responsibility. termasuk perataan laba sesuai dengan keinginan manajemen 18 .2005). Dengan semakin tinggi leverage. Rahman dan Hamdan (2000) juga menemukan adanya hubungan yang positif.

19 . Dalam praktek para manajer dapat memilih kebijakan akuntansi sesuai standar akuntansi keuangan. dimana manajemen laba memberi manajer suatu fleksibilitas untuk melindungi diri mereka dan perusahaan dalam mengantisipasi kejadian-kejadian yang tak terduga untuk keuntungan pihak pihak yang terlibat dalam kontrak. Oleh sebab itu.Manajemen laba (earnings mangement) merupakan fenomena yang sukar untuk dihindari karena fenomena ini merupakan dampak dari penggunaan dasar akrual dalam penyusunan laporan keuangan. Scott (1997) membagi cara pemahaman atas manajemen laba menjadi dua : 1) melihatnya sebagai perilaku oportunistik dalam manajer untuk kontrak akuntansi oleh memaksimumkan utilitasnya menghadapi kompensasi. kontak utang. Jadi earnings management adalah pilihan kebijakan manajer dalam rangka mencapai tujuan tertentu. 2) Dengan memandang manajemen laba dari perspektif efficient contracting (Efficient Earnings Management). misalnya dengan membuat pe rataan laba (income smoothing) dan pertumbuhan laba sepanjang waktu. Dengan demikian. Inilah yang oleh Scott (2003:368-369) disebut dengan earnings management. manajer dapat mempengaruhi nilai pasar saham perusahaannya melalui manajemen laba. dan political costs (Opportunistic Earnings Management). sangat wajar bahwa para manajer memilih kebijakan-kebijakan tersebut untuk memaksimalkan utilitinya dan nilai pasar perusahaan.

Perusahaan yang memiliki rencana pemberian bonus. demikian pula jika laba berada di atas cap. sehingga d apat menaikkan laba saat ini. Hal ini dikarenakan manajer lebih menyukai pemberian upah yang lebih tinggi untuk masa kini. Jika laba berada di bawah bogey. hipotesis inimenyatakan bahwa manajer pada perusahaan dengan bonus plan cenderung untuk menggunakan metode akuntansi yang akan meningkatkan income saat ini.Perilaku manajemen laba dapat dijelaskan melalui Positive Accounting Theory (PAT) dan Agency Theory. 20 . manajer cenderung memperkecil laba dengan harapan memperoleh bonus lebih besar pada periode berikutnya. manajer tidak akan mendapat bonus tambahan. Jadi hanya jika laba bersih berada di antara bogey dan cap. Dalam kontrak bonus dikenal dua istilah yaitu bogey (tingkat laba terendah untuk mendapatkan bonus) dan cap (tingkat laba tertinggi) . Tiga hipotesis PAT yang dapat dijadikan dasar pemahaman tindakan manajemen laba yang dirumuskan Watts and Zimmerman (1986:257-262) yang ditegaskan kembali oleh Scott (2003:276 -278). yaitu : a) the bonus plan hypothesis. manajer perusahaan akan lebih memilih metode akuntansi yang dapat menggeser laba dari masa depan ke masa kini. maka tidak ada bonus yang diperoleh manajer sedangkan jika laba berada di atas cap. Jika laba bersih berada di bawah bogey. manajer akan berusaha menaikkan laba bersih perusahaan.

dan 21 . Untuk mendeteksi ada tidaknya manajamen la ba. hipotesis inimenyebutkan bahwa pada perusahaan yang mempunyai rasio debt to equity besar maka manajer perusahaan tersebut cenderung menggunakan metode akuntansi yang akan meningkatkan pendapatan maupun laba.b) the debt covenant hypothesis . Biaya politik muncul dikarenakan profitabilitas perusahaan yang tinggi dapat menarik perhatian media dan konsumen. hipotesis inimenyatakan bahwa pada perusahaan yang besar yang memiliki biaya politik tinggi. disebut normal accruals atau non discretionary accruals. Total akrual dapat dibedakan menjadi dua bagian. manajer akan lebih memilih metode akuntansi yang menangguhkan laba yang dilaporkan dari periode sekarang ke periode masa mendatang sehingga dapat memperkecil laba yang dilaporkan. c) the political cost hypothesis . yaitu: (1) bagian akrual yang memang sewajarnya ada dalam prosespenyusunan laporan keuangan. maka pengukuran atas akrual adalah hal yang sangat penting untuk diperhatikan. Total akrual adalah selisih antara laba dan arus kas yang berasal dari aktivitas operasi.

sedangkan para praktisi lebih melihat manajemen laba dalam prespektif insentif pasar modal (capital market incentives). Alasan pemakaianpenjualan sebagai deflator akrual modal kerja adalah karena manajemen laba banyak terjadi pada akun penjualan sebagaimana yang diungkapkan oleh Nelson et al. (2000).(2) bagian akrual yang merupakan manipulasi data akuntansi yang disebut denganabnormal accruals atau discretionary accruals. (2000). oleh karena itu digunakan proksi rasio akrual modal kerja dengan penjualan. Berdasarkan pada kajian McNichols (2000) serta Dechow dan Skinner (2000)maka proksi manajemen laba yang digunakan penulis ada lah model spesifik akrual yaitu akrual modal kerja. Akrual diskresion er tidak diestimasi berdasarkan kesalahan residual karena teknik tersebut dianggap relatif rumit. Penggunaan akrual modal kerja lebih tepat sebagaiman a yang telah dikaji oleh Peasnell et al. Nilai Pemegang Saham 22 . Penggunaan penjualan sebagai deflator juga dila kukan oleh Friedlan (1994) yang memodifikasi model DeAngelo (1986) menjadi rasio antara perubahan total akrual dengan penjualan. Para akademisi menggunakan model statistik yang rumit untuk mengidentifikasipraktik manajemen laba. Para akademisi melakukan riset manajemen laba berdasarkan pada perilaku manajemen untuk memenuhi tujuan tertentu sebagaimana dijelaskan dalam teori akuntansi positip. sedangkan model tersebut tidak difahami oleh praktisi. 5.

Harga saham perusahaan merupakan reaksi pasar terhadap keseluruhan kondisi perusahaan yang juga merupakan sebagai cerminan nilai pemegang saham yang diwujudkan dalam bentuk harga saham. Selanjutnya dalam rangka untuk pembatasan pada studi ini. maka nilai pemegang saham merupakan peningkatan atau penurunan harga pasar saham yang beredar dibandingkan dengan nilai buku per lembar saham . 23 . yaitu nilai yang diberikan oleh pelaku pasar saham terhadap kinerja perusahaan. Nilai pemegang saham merupakan nilai perusahaan dikurangi hutang. Penman (2004:43) menyatakan bahwa salah satu tujuan perusahaan adalah memaksimalkan kekayaan pemegang saham melalui dividen dan meningkatkan harga saham. Dalam rangka untuk kepentingan studi ini batasan nilai pemegang saham mengikuti Brigham (1999:92).Salah satu tujuan perusahaan adalah memaksimalkan nilai pemegang saham. Dalam studi ini ukuran nilai pemegang saham dengan menggunakan nilai pasar saham terhadap nilai buku saham. Sebaliknya nilai tersebut merupakan depresiasi pasar saham jika harga saham di bawah nilai buku per lembar saham. Nilai perusahaan yang juga nilai pemegang saham dalam bentuk harga saham. Nilai pemegang saham merupakan nilai ekuitas yang menjadi bagian dari nilai perusahaan. Nilai tersebut merupakan apresiasi pasar saham jika harga saham di atas nilai buku per lembar saham.

1958). pemerintah. Cost of Equity Capital Cost of equity capital (COC)merupakan cost yang dikeluarkan untuk membiayai sumber pembelanjaan (source of financing) (Modigliani and Miller. 2002). Cost of equity capital dapat diidentifikasi sebagai tingkat return minimum yang disyaratkan oleh penggunaan modal ekuitas atas investasi (Mardiyah. Cost of equity capital berkaitan dengan risiko investasi saham perusahaan. Perusahaan mempunyai kewajiban untuk mengungkap mengenai perusahaan yang tentunya berdampak terhadap biaya yang dikeluarkan. kreditur. dan masyarakat secara umum). Oleh karena itu cost of equity capitalyang dimaksud dalam studi ini adalah biaya yang dikeluarkan oleh perusahaan untuk menyediakan informasi bagi publik (pemegang saham. yaitu laba ditahan dan mengeluarkan saham baru Weston and Copeland (1996:86). B.6. investor. Perusahaan dapat memperoleh modal ekuitas dengan dua cara. Hipotesis 1. Pengaruh Konsentrasi Kepemilikan Institusional terhadap Manajemen Laba 24 . Sesuai dengan beberapa definisi sebagaimana tersebut di atas bahwa cost of equity capitalpada dasarnya merupakan cerminan biaya yang ditanggung perusahaan untuk kepentingan publik. Kedua orang tersebut merupakan pihak yang pertama kali mendefinisikan cost of equity capital dalam literatur keuangan.

dan memiliki kemampuan untuk mempengaruhi maupun mengubah tindakan serta keputusan manajemen. sehingga pemilik mayoritas dapat memantau perkembangan investasinya dengan baik.Dari sisi pendanaan pemilik institusional lebih kuat dibanding pemilik individual.Jika manajer tidak bisa memajukan perusahaan yang hal ini tidak disukai oleh pemilik. maka mereka memiliki insentif untuk melakukan pengawasan secara efektif terhadap manajemen (agen).Pada umumnya pemegang saham mayoritas (konsentrasi kepemilikan institusional) menyerahkan pengelolaan investasinya pada divisi khusus dengan menunjuk profesional yang memiliki keahlian dibidang analis dan keuangan.Alasannya pemilik institusional sebagai pemegang saham mayoritas memiliki kelebihan dibanding investor individual. pemegang saham yang memiliki kemampuan untuk melakukan pengawasan yang handal adalah pemegang saham mayoritas (terkonsentrasi). tentunya hasil analisis tersebut dapat digunakan untuk menilai apa kah manajer tersebut dapat memajukan perusahaan atau tidak.Easterbrook (1984) menyatakan bahwa pemegang saham akan melakukan pengawasan terhadap manajemen.Kalau analis dapat menganalisis dengan baik. institusional atau terkonsentrasi pada pemilik institusional. Sesuai dengan pernyataan tersebut. namun bila biaya pengawasan tersebut tinggi maka pemegang saham akan menggunakan pihak ketiga (debtholders atau bondholders) untuk membantu melakukan pengawasan.Jadi jika persentase kepemilikan cukup besar (mayoritas). maka bisa 25 .

Temuan Jiambalvo et al. Konsentrasi kepemilikan institusional menjadikan pemilik bisa bertindak sesuai kepentingan dirinya sendiri. Hasil penelitian yang berlawanan dengan yang tersebut di atas antara lain Demsetz and Lehn (1985). Mereka tidak menemukan hubungan antara konsentrasi kepemilikan institusional dan manajemen laba. 1998b). Midiastuty dan Machfoedz (2003) dan Hsu and Koh (2005) menunjukkan bahwa kepemilikan institusional berpengaruh negatif terhadap manajemen laba. (1996). dan Ujiyantho dan Pramuka (2007). Namun pemilik institusional sebagai pemegang saham mayoritas tidak akan meminta orang orangnya yang ditempatkan pada jajaran manajemen atau bahkan yang menjadi manajer untuk melakukan rekayasa laba atau 26 . Dari temuan tersebut di atas menunjukkan bahwa kepemilikan institusional menjadi mekanisme yang efektif dalam mengawasi kinerja manajer. Konsentrasi kepemilikan institusional tidak berpengaruh terhadap tingkat laba akuntansi. Darmawati (2003).berakibat manajer tersebut diganti dan inilah salah satu bentuk pengawasan yang efektif. Pemilik mayoritas bisa menjadi bagian dari jajaran manajemen atau bahkan menemp atkan orangnya menjadi manajer itu sendiri. Konsentrasi kepemilikan institusional yang memasukkan orang-orangnya kedalam jajaran manajemen perusahaan dapat melakukan rekayasa laba yang menguntungkan pemegang saham mayoritas dan manajemen tetapi merugikan pemegang saham minoritas. (1999). Rajgopal et al. Mitra (2002). Bushee (1998a.

karena jika pemilik institusional sebagai pemegang saham mayoritas meminta manajer melakukan rekayasa laba yang menguntungkan dirinya. 2. (2007) menemukan bahwa kepemilikan institusional berpengaruh secara positif terhadap nilai perusahaan dan kinerja perusahaan. Temuan tersebut menunjukkan bahwa kepemilikan institusional menjadi mekanisme yang handal sehingga mampu memotivasi manajer dalam meningkatkan kinerjanya. maka pemegang saham minoritas dan pasar saham akan mendiskon harga saham perusahaan yang justru a kan merugikan pemegang saham mayoritas itu sendiri. (2006) dan Bjuggren et al. Pengaruh Konsentrasi Kepemilikan Institusional terhadapNilai Pemegang Saham Pada umumnya investor institusional merupakan pemegang saham yang cukup besar sekaligus memiliki pendanaan yang besar. konsentrasi kepemilikan institusional identik dengan rendahnya manajemen laba. Jadi. Ada anggapan bahwa perusahaan yang memiliki pendanaan besar. Xu and Wang (1997). Pizarro et al. Sehingga keberadaannya akan meningkatkan kepercayaan publik terhadap perusahaan. Berdasarkan uraian tersebut di atas h ipotesis yang diajukan adalah : H1 : Konsentrasi kepemilikan institusional berpeng aruh terhadap manajemen laba.setidaknya hanya akan meminimalisasi rekayasa laba. 27 . maka kecil kemungkinan berisiko mengalami kebangkrutan.

Kalau kepemilikan sahamnya menyebar. Hal ini disebabkan investor institusional bukan pemilik mayoritas sehingga tidak mampu memonitor kinerja manajer secara baik. maka tidak ada yang memiliki kendali khusus sehingga manajer dapat melakukan tindakan yang menguntungkan dirinya sendiri dan kemungkinan merugikan pemegang saham. Penelitian tersebut dilakukan di Amerika Serikat yang pasar modalnya terdapat kepemilikan menyebar. Akibatnya pasar saham mereaksi negatif yang berupa turunnya volume perdagangan saham dan harga saham. sehingga menurunkan nilai pemegang saham. 28 . sehingga keberadaan struktur kepemilikan tidak terlalu penting. Pasar modal Amerika Serikat merupakan pasar modal yang efisien dan regulasinya sangat ketat. yaitu kepemilikan institusional menurunkan nilai perusahaan. Sehingga kinerja perusahaan lebih banyak ditentukan oleh strategi dan kebijakan manajemen yang telah memperoleh amanah dari para pemegang saham.Demsetz and Lehn (1985) dan Demsetz and Villalonga (2001) menemukan hasil yang berbeda dari penelitian sebe lumnya yaitu bahwa tidak ada hubungan antara struktur kepemilikan dan profit perusahaan sebagai proksi firm value. Keberadaan institusional justru menurunkan kepercayaan publik terhadap perusahaan. Sedangkan penelitian Jennings (2002) menunjukkan bahwa kepemilikan institusional tidak berhasil meningkatkan nilai perusahaan. Para investor dapat dengan mudah mengakses informasi mengenai perusahaan yang mereka butuhkan.

Ada anggapan bahwa pemilik mayoritas memiliki pendanaan yang sangat kuat sehingga aman bagi pemegang saham maupun calon investor jika membeli saham perusahaan tersebut.Brush et al. sehingga akan merugikan pemegang saham mayoritas itu sendiri. Kegagalan ini ternyata disebabkan tidak berhasil meningkatkan pertumbuhan penjualan. (2000) memberikan hasil yang berbeda dengan penelitian yang lain. menunjukkan bahwa kepemilikan saham oleh pihak eksternal dalam hal ini kepemilikan institusional tidak berhasil meningkatkan kinerja keuangan perusahaan. Dengan demikian konsentrasi kepemilikan institusional akan meningkatkan kepercayaan publik terhadap perusahaan berupa meningkatnya volume perdagangan saham dan harga saham sehingga akan meningkatkan nilai pemegang saham. Hasil penelitian Brush et al. Dengan demikian keberadaan kepemilikan institusional gagal meningkatkan kinerja manajer. Komitmen pemegang saham mayoritas untuk meningkatkan nilai perusahaan yang juga nilai pemegang saham ini sangat kuat karena apabila pemegang saham mayoritas melakukan ekspropriasi pada saat dia memegang saham dalam jumlah besar. Investor institusional sebagai pemilik mayoritas sangat berkepentingan untuk membangun reputasi perusahaan tanpa harus melakukan ekspropriasi terhadap pemegang saham minoritas. maka para pemegang saham minoritas dan pasar saham akan mendiskon harga pasar saham perusahaan tersebut. Berdasarkan uraian tersebut di atas hipotesis yang diajukan adalah : 29 .

Penelitian Ashbaugh et al. (2004) dan Haque (2006) menemukan bahwa kepemilikan institusional berpengaruh negatif terhadap cost of equity capital. adanya jaminan keamanan berarti mengurangi risiko. Ada anggapan bahwa peningkatan kinerja pasar saham justru akan mengurangi informasi yang harus diungkap oleh perusahaan. sehingga berdampak terhadap turunnya biaya yang dikeluarkan untuk menyediakan informasi bagi publik ( cost of equity capital). Dari temuan tersebut menunjukkan bahwa keberadaan struktur kepemilikan mampu meningkatkan kinerja pasar saham dan harga saham. Atas dasar anggapan tersebut investor institusional sebagai pemilik mayoritas merasa tertantang dan ingin menunjukkan jika dirinya tidak melakukan ekspropriasi terhadap pemilik minoritas maupun publik secara keseluruhan.H2 : Konsentrasi kepemilikan institusional berpengaruh terhadap nilai pemegang saham. Jika suatu perusahaan terdapat pemilik mayoritas. 3. Pengaruh Konsentrasi kepemilikan institusional terhadap cost of equity capital Kepemilikan institusional yang dilandasi praktik good corporate governance berarti adanya jaminan bagi investor atas investasi yang telah ditanamkan. Untuk itu pemilik mayoritas memiliki kekuatan untuk menekan manajer untuk mengungkap informasi mengenai kondisi perusahaan walaupun itu 30 . maka pemilik mayoritas ada kecenderungan akan melakukan ekspropriasi terhadap pemilik minoritas.

Alasannya bahwa motivasi debt covenant merupakan praktik manajemen laba berlaku umum. Hasil investigasi Achmad et al. Berdasarkan uraian tersebut di atas hipotesis yang diajukan adalah : H3 : Konsentrasi kepemilikan institusional berpengaruh terhadap cost of equity capital. (2007) menunjukkan bahwa peningkatan motivasi perjanjian hutang ( debt covenant)meningkatkan praktik manajemen laba. Temuan tersebut menunjukkan bahwa manajer berusaha untuk memperlihatkan bahwa kinerja tahun sebelumnya adalah lebih baik. Studi Defond and Jiambalvo (1994) dan Sweeney (1994) menunjukkan bahwa perusahaan pelanggar perjanjian hutang menggunakan akrual untuk meningkatkan laba tahun seb elumnya.perlu biaya yang cukup besar. maka manajer bersedia untuk mengeluarkan biaya yang dipergunakan untuk menyediakan informasi bagi publik (cost of equity capital). 4. Pengaruh Leverage terhadap Manajemen Laba Scott (2003:384) menyatakan bahwa praktik perataan laba yang merupakan salah satu bentuk manajemen laba sering dilakukan oleh perusahaan ketika mereka menghadapi paksaan dari kreditor dengan cara mengubah metode akuntansinya. Jadi. Dengan semakin besarnya rasio leverage mengakibatkan risiko yang ditanggung oleh pemilik modal juga akan semakin meningkat. atas dasar untuk menjaga reputasi investor institusional sebagai pemilik mayoritas. Ada pandangan bahwa manajemen laba dianggap sebagai sesuatu yang pantas 31 .

maka manajemen menggunakan risiko yang bukan dalam bentuk rekayasa laba karena 32 . Jones and Sharma (2001). Temuan tersebut sesuai dengan debt covenant hypothesis yang menyatakan bahwa jika semua hal yang lain tetap sama dan semakin dekat perusahaan dengan pelanggaran perjanjian hutang yang berbasis akuntansi. (1995). Temuannya menunjukkan bahwa rasio hu tang tidak berpengaruh terhadap manajemen laba. karena dimotivasi untuk mencari pendanaan perusahaan dan terkesan bahwa perusahaan kesulitan menjual sahamnya di pasar modal. 2003:277). Hasil penelitian Lee (1999). Di sisi lain penelitian Dechowet al. Naiknya laba yang dilaporkan bisa menarik perhatian bagi kreditur untuk memberikan tambahan pinjaman. Bao and Bao (2004) dan Wasilah (2005) berbeda dengan penelitian sebelumnya.dilakukan oleh manajer. Hal tersebut dilakukan karena laba bersih yang dilaporkan naik akan mengurangi kemungkinan kegagalan membayar hutang-hutangnya pada masa mendatang (Scott . Perusahaan yang memiliki rasio hutang yang tinggi. oleh karenanya kreditur meningkatkan pengawasan yang lebih ketat dan melakukan tekanan kepada manajer sehingga manajer tidak memiliki kesempatan untuk melakukan manajemen laba. Kreditur minta laporan keuangan yang lebih dipercaya. dan Widyaningdyah (2001) menemukan bahwa leverage berpengaruh signifikan terhadap manajemen laba . maka lebih mungkin manajer perusahaan untuk memilih prosedur akuntansi yang memindahkan laba yang dilaporkan dari periode mendatang ke periode sekarang.

Kreditur sebagai pihak eksternal tidak dapat mengobs ervasi operasional perusahaan secara langsung. Di sisi lain pihak kreditur hanya melihat bahwa perusahaan memiliki varian laba yang lebih rendah dan hal inilah yang mendorong pihak manajer perusahaan untuk melakukan manajemen laba yang berdampak terhadap kepercayaan kreditur terhadap perusahaan. artinya manajer tidak melakukan rekayasa laba. sehingga tidak dapat memastikan fleksibilitas yang dimiliki oleh perusahaan untuk melakukan rekayasa laba yang dilaporkan. Jika manajemen laba tersebut dimotivasi oleh kreditur dengan maksud untuk memperoleh tambahan pinjaman dan apabila dilakukan terus-menerus maka ada kemungkinan perusahaan tidak mampu membayar hutangnya dan berisiko menimbulkan kebangkrutan perusahaan. Ketika risiko perusahaan tinggi yang diukur dengan rasio hutang yang tinggi.adanya pengawasan yang insentif dari kreditur. maka manajemen berusaha untuk menurunkan risiko persepsian bagi kreditur dengan cara menyajikan laporan laba yang relatif lebih stabil. Suatu perusahaan yang memiliki fleksibilitas tinggi untuk melakukan manajemen laba akan menggeser laba perusahaan antar periode sehingga laba yang dilaporkan tidak mencerminkan keadaan yang sesungguhnya. tetapi tidak dapat memastikan apakah manajemen laba tersebut merupakan upaya yang sengaja dilakukan oleh perusahaan atau memang suatu kenyataan yang terjadi secara alamiah. 33 . Para pengguna laporan keuangan ada kemungkinan dapat mendeteksi adanya manajemen laba.

Temuan Soliha dan Taswan (2002) menunjukkan bahwa kebijakan hutang tidak berhasil mempengaruhi nilai perusahaan. Pengaruh ini disebabkan oleh penggunaan aktiva perusahaan yang sebagian besar dibiayai dengan hutang secara efektif. Penggunaan secara efektif ini akan menghasilkan profit yang akhirnya berdampak pada meningkatnya nilai perusaha an. 5. Di sisi lain penelitian Herry dan Hamin (2005) menunjukkan bahwa leverage berhasil meningkatkan nilai perusahaan (value enchancing). Pengaruh Leverage terhadap Nilai Pemegang Saham Hutang adalah instrumen yang sangat sensitif terhadap perubahan nilai perusahaan. Hasil kajian Kinsman and Newman (1998) melakukan review pada beberapa penelitian yang menggunakan data selama periode sembilan tahun (1987-1995) menunjukkan bahwa semakin tinggi tingkat hutang ternyata berkorelasi negatif dengan kinerja perusahaan. Namun dalam hal arah hubunganny a penelitian Soliha dan Taswan mendukung pernyataan Modigliani and Miller (1963). semakin besar leverage berarti semakin besar aktiva atau pendanaan perusahaan yang diperoleh dari hutang.Berdasarkan uraian tersebut di atas hipotesis yang diajukan adalah : H4 : Leverage berpengaruh terhadap manajemen laba. yaitu penggunaan hutang berhubungan positif dengan nilai perusahaan. Semakin besar hutang maka semakin besar kemungkinan kegagalan perusahaan untuk tidak mampu membayar hutangnya. sehingga berisiko mengalami 34 .

Temuan tersebut menunjukkan bahwa semakin tinggi manajemen laba maka semakin rendah nilai 35 . maka semakin besar perusahaan tersebut untuk tidak diminati oleh para investor maupun calon investor pasar saham. Penelitian Zhang et al. Penelitian tersebut juga menunjukkan bahwa walaupun manajemen laba bisa dideteksi oleh pasar saham namun pasar saham atau investor mengabaikan informasi adanya rekayasa la ba tersebut. Pengaruh Manajemen Laba terhadap Nilai Pemegang Saham Hasil penelitian Bitner and Dolan (1996) menunjukkan bahwa pasar ekuitas mengabaikan manajemen laba melalui transaksi riil dan manajemen laba melalui perubahan prosedur atau metode akuntansi . Akibatnya pasar saham akan mereaksi secara negatif yang berupa turunnya volume perdagangan saham dan harga saham yang berdampak terhadap turunnya nilai pemegang saham. Berdasarkan uraian tersebut di atas hipotesis yang diajukan adalah : H5 : Leverage berpengaruh terhadap nilai pemegang saham 6. (2004) menemukan bahwa nilai perusahaan berhubungan terbalik dengan perataan laba yang merupakan proksi manajemen laba. Di samping itu ada kesan bahwa semakin besar hutang mencerminkan perusahaan tersebut kesulitan mencari pendanaan melalui penjualan saham di pasar saham dan ada anggapan bahwa semakin besar hutang.kebangkrutan. Hal tersebut mencerminkan bahwa manajemen laba dianggap oleh investor sebagai suatu hal yang umum atau dianggap sebagai strategi manajemen yang tidak akan berisiko terhadap investasinya.

Hal tersebut mencerminkan bahwa manajemen laba untuk kepentingan kemakmuran para pemegang saham. dampak yang jelas pasar akan mereaksi dengan turunnya likuiditas pasar dan harga saham sehingga akan berdampak terhadap nilai perusahaan dan nilai pemegang saham. Ada kesan bahwa manajer tidak bertindak oportunistik untuk kepentingan di rinya sendiri tetapi justru lebih mementingkan kemakmuran pemegang saham. Bao and Bao (2004) menunjukkan bahwa perataan laba yang merupakan salah satu proksi manajemen laba berhubungan positif dengan laba per lembar saham sebagai proksi nilai pemegang saham. karena harapannya mendapat tambahan bonus dari pemilik. Studi Mursalim (2005) menunjukkan secara empiris bahwa perataan laba melalui transaksi akrual sebagai salah satu proksi manajemen laba tidak berpengaruh terhadap minat investor untuk 36 . Manajer melaporkan kinerjanya seolah -olah bagus padahal kinerja sesungguhnya adalah sebaliknya. Akibat tindakan manajer mengelabuhi pasar. Sehingga dapat disimpulkan bahwa semakin besar manajemen laba. Manajemen laba tersebut menunjuk kan manajer dengan sengaja mengelabuhi pemilik dengan tujuan untuk kepentingannya sendiri. Kalau demikian yang terjadi artinya tindakan manajer melakukan manajemen laba dianggap perilaku yang oportunistik yang hanya cenderung menguntungkan dirinya sendiri.perusahaan. maka semakin besar pula nilai pemegang saham. Manajemen laba justru dapat menaikkan produktifitas dan volume penjualan sehingga laba perusahaan meningkat.

Temuan empiris tersebut mengindikasikan bahwa pasar saham tidak mempertimbangkan informasi adanya manajemen laba yang digunakan untuk mengambil keputusan untuk berinvestasi pada pasar saham. tetapi justru ada agenda besar untuk menguntungkan para pemilik karena manajer berharap mendapatkan tambahan bonus dari 37 . Hal ini dalam jangka panjang berakibat terhadap kerugian para investor di pasar saham jika manajemen laba tersebut benar-benar untuk kepentingan sepihak manajemen. Peneliti menyimpulkan bahwa kondisi pasar modal Indonesia belum efisien bentuk setengah kuat secara keputusan. Manajemen laba bisa digunakan sebagai strategi bagi manajer untuk meningkatkan kemakmuran para pemegang saham. Hal tersebut mencerminkan bahwa manajemen laba bukan semata-mata perilaku oportunistik manajer untuk mengejar keuntungan dirinya sendiri. Ada kecenderungan bahwa investor melihat dari sisi kemampuan perusahaan dalam menghasilkan laba. Hasil penelitian Subekti (2005) menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan reaksi pasar modal yang diukur dengan abnormal return dan volume perdagangan saham antara perusahaan perata laba dengan bukan perata laba yang merupakan salah satu proksi manajemen laba ketika perusahaan mengumumkan laporan keuangan.berinvestasi pada pasar saham. Sehingga informasi adanya manajemen laba lambat diantisipasi oleh pelaku pasar saham. Karena dengan semakin besa r laba mencerminkan bahwa perusahaan memiliki prospek yang lebih bagus di masa yang akan datang.

Manajemen laba menyebabkan banyak informasi yang harus diungkap oleh perusahaan. Karena ternyata pasar mereaksi secara negatif. Manajemen laba yang didasarkan bukan atas perilaku oportunistik manajer.pemilik. maka direaksi oleh pasar saham yang berupa naiknya volume perdagangan saham dan harga saham. artin ya manajemen laba ditanggapi buruk oleh para pelaku pasar saham sehingga menurunkan likuiditas dan 38 . sehingga dengan demikian akan meningkatkan nilai pemegang saham. Berdasarkan uraian tersebut di atas hipotesis yang diajukan adalah : H6 : Manajemen laba berpengaru h terhadap nilai pemegang saham 7. (2004. Dari temuan tersebut bisa dikatakan bahwa tindakan manajer melakukan manajemen laba merupakan sinyal yang buruk di masa depan. (1996) menemukan bahwa pada perusahaan di pasar modal Amerika Serikat yang mendapat sanksi dari Securities Exchange Commission (SEC) yang diduga melakukan manajemen laba ternyata memiliki cost of capital yang lebih tinggi dibandingkan dengan yang tidak mendapat sanksi dari SEC. 2005) dan Utami (2005) menunjukkan bahwa kualitas akrual yang merupakan proksi manajemen laba berpengaruh terhadap biaya modal ekuitas(cost of equity capital) dengan hubungan positif. Francis et al. sehingga berkonsekuensi terhadap meningkatnya biaya yang dikeluarkan oleh perusahaan u ntuk menyediakan informasi bagi publik. Pengaruh Manajemen Laba terhadap Cost Of Equity Capital Manajemen laba akan meningkatkan risiko kalau tindakan tersebut ternyata untuk menutupi kinerja manajer yang buruk. Dechow et al.

untuk itu diperlukan upaya dari pihak manajemen perusahaan yang dipergunakan untuk meyakinkan para investor untuk membeli saham perusahaannya. maka dengan adanya manajemen laba akan banyak informasi yang akan diungkap oleh manajer. sehingga diperlukan biaya yang dikeluarkan untuk menutupi kecurangan yang dilakukan oleh manajer. Karena manajemen laba dianggap sebagai suatu kecurangan dan walaupun belum ada standar yang mengatur. Manajemen laba bisa dianggap sebagai suatu rekayasa negatif.harga saham yang selanjutnya berdampak terhadap meningkatnya cost of equity capital. Pengaruh Nilai Pemegang Saham terhadap Cost Of Equity Capital Huang (2004) melakukan penelitian di pasar modal Amerika Serikat menemukan bahwa hak pemegang saham yang lemah sesungguhnya menjadi faktor yang merugikan perusahaan selanjutnya akan meningkatkan cost of equity capital. Semakin banyak informasi yang diungkap oleh manajer. 8. maka semakin besar juga biaya yang dikeluarkan. Lemahnya hak pemegang saham menyebabkan saham perusahaan kurang diminati oleh investor. Berdasarkan uraian tersebut di atas hipotesis yang diajukan adalah : H7 : Manajemen laba berpengaruh terhadap cost of equity capital. Jadi dengan adanya manajemen laba memaksa bagi manajer untuk mengungkap informasi mengenai perusahaan yang berarti juga semakin besar biaya yang dikeluarkan untuk menyediakan informasi bagi publik ( cost of equity capital). Hal tersebut dilakukan dengan 39 .

(2004) menunjukkan bahwa hak pemegang saham mayoritas berhubungan positif dengan cost of equity capital.caramengungkap informasi mengenai kondisi perusahaan dan strategi perusahaan ke depan sehingga diperlukan biaya yang cukup besar. Jadi bisa disimpulkan bahwa hak pemegang saham mayoritas yang terlalu dominan yang merupakan 40 . (2000) menemukan bahwa pengungkapan sukarela yang diproksikan dengan peramalan estimasi nilai pasar saham yang dilakukan manajemen dapat menurunkan cost of equity capital. Hasil penelitian Ashbaugh et al. Jika ini yang terjadi maka akan mengurangi kepercayaan pu blik. Jadi. Kendali yang dominan oleh pemegang saham mayoritas bisa merugikan pemegang saham minoritas. hak pemegang saham yang lemah. Temuan tersebut menunjukkan bahwa semakin banyak yang diungkap maka akan meningkatkan likuiditas pasar saham dan harga saha m yang berarti ada harapan risiko perusahaan bisa turun sehingga dapat menurunkan biaya yang dikeluarkan oleh perusahaan untuk menyediakan informasi bagi publik (cost of equity capital). Studi yang dilakukan oleh Clement et al. tetapi ada niatan baik dari jajaran manajemen untuk mengungkap kondisi perusahaan dan strategi perusahaan ke depan yang bertujuan untuk menarik para investor yang berujung untuk meningkatkan nilai pemegang saham berhubungan positif dengan cost of equity capital. sehingga bisa mengurangi likuiditas pasar saham perusahaan yaitu turunnya volume perdagangan saham dan harga saham yang berdampak terhadap turunnya nilai pemegang saham.

perusahaan berupaya mengungkap mengenai kondisi perusahaan untuk menarik para investor atau calon investor dengan cara meyakinkan bahwa perusahaannya memiliki prospek yang menguntungkan pada masa depan. Artinya semakin kuat hak yang diberikan kepada para pemegang saham semakin rendah cost of equity capital. Karena perusahaan harus menghadapi tuntutan karyawan yang meminta kenaikan kesejahteraannya.bagian dari nilai pemegang saham berdampak positif terhadap cost of equity capital. (2006) menunjukkan bahwa hak yang diberikan kepada pemegang saham berpengaruh negatif terhadap cost of equity capital. Semakin tinggi nilai pemegang saham berarti 41 . sehingga diperlukan biaya-biaya yang besar yang digunakan untuk lobi -lobi dengan pihak yang Di terkait. (2005) menyatakan bahwa perusahaan - perusahaan yang tingkat kesejahteraannya rendah menghadapi cost of capital yang semakin bahwa tinggi. Nilai pemegang saham yang rendah berdampak positif terhadap cost of equity capital. Hasil penelitian Cheng et al. Namun penelitian Cheng et al. Dari pernyata an yang kurang tersebut berarti mengindikasikan kesejahteraan menurunkan nilai perusahaan yang juga nilai pemegang saham. Gomes et al. belum mengungkap lebih jauh tentang nilai pemegang saham dan belum banyak peneliti yang mengkaji keterkaitan langsung antara nilai pemegang saham dengan cost of equity capital. samping misalnya itu dengan pihak juga Dinas Ketenagakerjaan.

Untuk itulah perusahaan perlu menjaga kepercayaan dan kredibilitas perusahaan di mata publik dengan cara berbagi informasi mengenai perusahaan kepada pihak-pihak yang berkepentingan terhadap perusahaan antara lain pemilik mayoritas maupun minoritas dan publik secara umum. Nilai pemegang saham yang meningkat artinya menurunkan risiko yang ditanggung para investor di pasar saham. Semakin besar nilai perusahaan yang juga nilai pemegang saha m mencerminkan publik telah menilai harga pasar saham di atas nilai bukunya. Untuk itu pemilik mayoritas sangat berkepentingan terhadap nilai perusahaan yang juga 42 .ada jaminan bahwa hak para pemegan g saham tidak terabaikan. yaitu pasar saham dan pemilik minoritas akan mendiskon harga pasar saham yang hal ini akan sangat merugikan terutama pemilik mayoritas. Hak yang diberikan kepada para pemegang saham akan meningkatkan nilai perusahaan yang secara otomatis nilai pemegang saham juga meningkat. Artinya perusahaan dalam hal ini manajemen harus mengungkap tentang kondisi perusahaan kepada publik agar tidak terjadi asimetri informasi antara pemilik mayoritas dan minoritas maupun antara manajemen dan pemilik minoritas. Nilai perusahaan yang juga nilai pemegang saham mencerminkan ukuran reaksi pasar saham terhadap perusahaan. Semakin besar nilai pemegang saham menandakan semakin besar juga kepercayaan publik terhadap perusahaan. Karena di dalam nilai pemegang saham terdapat hak para pemegang saham. Karena jika terjadi asimetri informasi akibatnya fatal.

manajemen laba. Berdasarkan kriteria 43 . Tarjo (2008) Universitas Trunojoyo Bangkalan Madura mengenai ³Pengaruh konsentrasi kepemilikan institusional dan aliran kas bebas terhadap leverage. Penelitian Terdahulu Penelitian tentang kepemilikan institusional. Laporan keuangan auditan periode 2004 digunakan sebagai dasar untuk menentukan kriteria sampel penelitian. leverage. manajemen laba. cost of equity capital telah banyak dilakukan oleh banyak peneliti. nilai pemegang saham. berikut adalah peneliti -peneliti yang telah saya kutip beberapa teori dan metodenya untuk penyusunan skripsi saya : 1. nilai pemegang saham serta cost of equity capital´ Data penelitian berasal dari laporan keuangan auditan perusahaan manufaktur yang terdaftar di PT. maka semakin besar nilai pemegang saham semakin besar juga biaya yang dipergunakan untuk menyediakan informasi bagi publik (cost of equity capital). Bursa Efek Jakarta (BEJ) pada periode 2004 -2005 yang dicocokkan dengan data Indonesian Capital Market Directory (ICMD) pada periode yang sama. Jadi dalam rangka untuk menjaga reputasi dan kredibilitas perusahaan. Berdasarkan uraian tersebut di atas hipotesis yang diajukan adalah : H8 : Nilai pemegang sahamberpengaruh terhadap cost of equity capital.nilai pemegang saham yang dapat dilakukan dengan cara menekan manajemen untuk menjaga reputasi perusahaan yang berdampak terhadap naiknya biaya yang dikeluarkan oleh perusahaan untuk menyediakan informasi bagi publik. C.

kepemilikan institusi. 44 . Manajemen laba berpengaruh signifikan terhadap cost of equity capital dan nilai pemegang saham. tetapi tidak berpengaruh signifikan terhadap leverage.Leverage berpengaruh signifikan terhadap manajemen laba dan nilai pemegang saham. dan yang memenuhi kriteria pemilihan sampel. 2. Hasil analisis berdasarkan penggunaan semua variabel control menunjukkan bahwa kepemilikan manajemenberpengaruh signifikan terhadap CSR.Aliran kas bebas berpengaruh signifikan terhadap nilai pemegang saham. nilai pemegang saham serta cost of equity capital. Rawi (2008) program pascasarjana Universitas Diponegoro . Semarang. dan leverage terhadap Corporate Social Responsibility ´ Sampel yang digunakan adalah data sekunder dari Bursa Efek Indonesia(BEI) yaitu Annual Report perusahaan manufaktur yang listing pada tahun 2005sampai dengan tahun 2007 di BEI. Sampel diambil dengan metode purposivesampling. sedangkan kepemilikan institusi dan leveragetidak berpengaruh signifikan terhadap CSR. Mengenai ³pengaruh kepemilikan manajemen.sampel yang telah ditentukan maka diperoleh total sampel studi sebanyak 102 data observasian perusahaan manufaktur Hasil pengujian menunjuk kan bahwa konsentrasi kepemilikan institusional berpengaruh signifikan terhadap manajemen laba. Sampel yang digunakansebanyak 81 perusahaan. Nilai pemegang saham berpengaruh signifikan terhadap cost of equity capital.

3.Manajemen laba yang diproksi dengan rasio akrual modal kerja dengan penjualan (model Utami) terbukti memberikan kontribusi yang paling besardalam menjelaskan variasi biaya modal ekuitas. Mengenai ³Pengaruh Manajemen Laba Terhadap Biaya Modal Ekuitas´ Data penelitian berasal dari perusahaan publik sector manufaktur yang terdaftar di PT. Universitas Mercu Buana. Kerangka Pemikiran Konsentrasi Kepemilikan Institusional (KKI) Manajemen Laba (ML) Leverage (LEV) Nilai Pemegang Saham (NPS) Cost of Equity Capital (COC ) Gambar 1 45 . Bursa Efek Jakarta (BEJ) Hasil penelitian memberikan bukti empirik b ahwa manajemen laba berpengaruh positip dan signifikan terhadap biaya modal ekuitas. Temuan ini sejalan denganpendapat McNichols (2000) serta Dechow dan Skinner (2000) yang menyatakanbahwa manajemen laba lebih baik diproksi dengan spesifik akrual danmenggunakan model yang sederhana (tidak rumit) D. Wiwik utami (2005).

dalam penuli san skripsi ini. penulis melakukan penelitian pada sebuah perusahaan pengaruh konsentrasi kepemilikan institusional dan leverage terhadap manajemen laba. data yang diperoleh akan dianalisis untuk mengetahui sampai sejauh mana konsentrasi kepemilikan institusional dan 46 . nilai pemegang saham serta cost of equity capital. 2006:1). nilai pemegang saham serta cost of equity capital pada perusahaan Perbankan yang terdaftar di Bursa Ef ek Indonesia (BEI) Tahun 2006 -2008 Melalui penelitian ini. Masalah yang akan diteliti oleh penulis adalah mengenai pengaruh konsentrasi kepemilikan institusional dan leverage terhadap manajemen laba.Berdasarkan gambar di atas maka konsekuensi kepemilikan institusional. nilai pemegang saham dan cost of equity capital. dan Leverage akan dianalisis pengaruhya terhadap manajemen laba. BAB III METODOLOGI PENELITIAN A. Objek dan Tujuan Metode Penelitian Metode penelitian pada dasarnya ³merupakan cara ilmiah untukmendapatkan data dengan tujuan dan kegunaan tertentu´ (Sugiyono.

Dalam penelitian ini variabel eksogen (independen) adalah konsentrasi kepemilikan institusional dan leverage. nilai pemegang saham serta cost of equity capital Tujuan penelitian ini adalah menganalisis hubungan kausal antar variab el eksogen (exogenous variables) dan variabel endogen (endogenous variables). Penelitian kepustakaan (library research) Penelitian kepustakaan yaitu metode penelitian yang dilakukan untuk memperoleh data sekunder yang akan digunakan dan berfungsi sebagai landasan teoritis mengenai masalah yang diteliti dan juga menjadi dasar dalam melakukan analisis terhadap operasi perusah aan. Penelitian Lapangan (Field Research) Dalam penyusunan skripsi ini. Hal ini dilakukan dengan cara membaca literatur -literatur.leverage berpengaruh terhadap manajemen laba. diktat-diktat. Teknik Pengumpulan Data Dalam pengumpulan data yang diperlukan. Sementara variabel endogen (dependen) adalah cost of equity capital B. penulis mengumpulkan data-data yang diperlukan dan keterangan tambahan lainnya dengan cara 47 . buku-buku yang berhubungan erat dengan topic yang dibahas dalam penulisan skripsi ini 2. Sedangkan variabel endogen (intervening) adalah manajemen laba dan n ilai pemegang saham. teknik yang dipergunakan oleh penulis adalah : 1.

Perusahaan perbankan yang terdaftar di BEI tahun 2006 -2008.melakukan riset lapangan (Field Research) yaitu suatu cara memperoleh data dengan menggunakan penelitian terhadap objek yang akan diteliti. Konsentrasi kepemilikan institusional Konsentrasi kepemilikan institusional adalah saham perusahaan yang dimiliki oleh institusi atau lembaga (perusahaan asuransi. Dimana dalam penelitian ini. 3. Missal dengan populasi dan sample : Populasi yang digunakan dalam penelitian ini adalah seluruh perusahaan perbankan yang terdaftar pada Bursa Efek Indonesia (BEI) pada tahun 2006-2008. Data-data mengenai variabel penelitian yang akan diteliti tersedia lengkap dalam laporan keuangan tahunan perusahaan yang diterbitkan pada tahun 2006 -2008.Penentuan sampel perusahaan dilakukan dengan metode purposive sampling. kegiatan penelitian ini melakukan riset secara langsung. Operasionalisasi Variabel 1. Perusahaan yang menerbitkan laporan keuangan yang telah diaudit untuk periode yang berakhir 31 Desember tahun 2006 -2008. dana pensiun. atau perusahaan lain). Hal ini sesuai dengan penelitian La Porta et al. (1999) dan Faccio and Lang (2002) yang menunjukkan bahwa terjadi konsentrasi kepemilikan perusahaan publik di Indonesia. 2. pemilihan anggota sampel penelitian didasarkan pada kriteria sebagai berikut: 1. C. Variabel konsentrasi kepemilikan institusional diukur dengan persentase jumlah saham yang dimiliki oleh institusi minimal 20% terhadap total saham 48 .

Berikut adalah rumus untuk menghitung leverage sebagai berikut: Total Debt L= Equity x 100% Keterangan: L Total debt Equity = Leverage = Total hutang perusahaan = Jumlah modal perusahaan 3. (1999) yang menyatakan bahwa kepemilikan saham di negara yang tidak terdapat kepemilikan terkonsentrasi (Amerika Serikat. Rasio leverage diukur dengan membagi total utang dengan jumlah modal perusahaan. Inggris dan Jepang) maksimal 20%. Sehingga konsentrasi kepemilikan institusional minimal 20% 2. Manajemen laba Manajemen laba yang dimaksud dalam studi ini adalah rekayasa laba dengan menaikkan (menurunkan) laba pada komponen akrual yang 49 . Leverage Leverage yang dimaksud dalam penelitian ini adalah jumlah aset yang tidak dibiayai oleh ekuitas pemegang saham. Pengukuran variabel ini mengacu La Porta et al.perusahaan.

dilaporkan saat kini dari suatu unit yang menjadi tanggung jawab manajer. Manajemen laba diproksi berdasarkan rasio akrual modal kerja dengan penjualan. Nilai pemegang saham diukur dengan rasio nilai pasar saham terhadap nilai buku (price to book value) dengan menggunakan rumus Brigham and Houston (1999:92) seperti berikut ini: HPS NPS = ------50 .Manajemen laba (earnings discretionary accruals (DA). Nilai pemegang saham Nilai pemegang saham yang dimaksud dalam studi ini adalah peningkatan atau penurunan harga pasar saham yang beredar dibandingkan dengan nilai buku per lembar saham. mangement) diukur dengan proksi Manajemen laba (ML) = Akrual Modal kerja (t) / Penjualan periode (t) Akrual modal kerja = (AL -( HL -( Kas Keterangan: (AL = Perubahan aktiva lancar pada periode t (HL = Perubahan hutang lancar pada periode t (Kas = Perubahan kas dan ekuivalen kas pada periode t 4.

RMt : return pasar yang diperoleh dari indeks harga saham gabungan (IHSG) pada hari t ditambah IHSG pada hari t ±1 dibagi dengan IHSG pada hari t -1. Pengukuran COC dengan CAPM pernah digunakan oleh Komalasari dan Baridwan (2001) dan Mardiyah (2002). Model COC dengan pendekatan Capital Asset Pricing Model (CAPM) dengan rumus sebagai berikut: COC = Rft + Fi (RMt ± Rft) Keterangan: Rft : return bebas risiko yang diproksikan dengan tingkat suku bunga Sertifikat Bank Indonesia (SBI) 1 bulan.BV Keterangan: NPS HPS = Nilai Pemegang Saham = Harga Pasar per Lembar Saham BV = Nilai Buku per Lembar Saham 5. Cost of equity capital Cost of equity capital (COC) yang dimaksud dalam studi inimerupakan biaya yang dikeluarkan oleh perusahaan untuk menyediakan informasi bagi publik. 51 . Selanjutnya pengukuran COC pada penelitian ini dengan pendekatan Capital Asset Pricing Model (CAPM).

misalnya data yang digunakan tidak harus berdistribusi normal multivariat 52 . minimum. multinormalitas. Fornell et al.Fi : risiko tidak sistematis untuk setiap saham perusahaan i. PLS merupakan metode analisis yang kuat (powerfull) karena tidak didasarkan banyak asumsi. 1. maksimum. Rancangan analisis Data yang akan diuji dengan beberapa uji statistik sebagai berikut. Partial Least Square (PLS). dan standar deviasi) digunakan untuk menggambarkan profil data sampel Teknik analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah pengujian hipotesis dengan menggunakan teknik 2. D. Model Empiris Model empiris yang telah dibangun melalui kajian teori selanjutnya dianalisis dengan menggunakan analisis jalur ( path analysis) yaitu Statistik deskriptif (nilai rata -rata. Data metrik berisi nilai kuantitatif dan yang termasuk data metrik adalah tipe data interval dan rasio. (1985) menyatakan bahwa estimasi PLS tidak memerlukan asumsi-asumsi mengenai data metrik.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->