BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Sejauh ini Indonesia memang belum mengatur secara spesifik mengenai euthanasia(Mercy Killing). Euthanasia atau menghilangkan nyawa orang atas permintaan dirinya sendiri[1] sama dengan perbuatan pidana menghilangkan nyawa seseorang. Dan halini masih menjadi perdebatan pada beberapa kalangan yang menyetujui tentang euthanasia dan pihak yang tidak setuju tentang euthanasia.

Pihak yang menyetujui euthanasia dapat dilakukan, hal ini berdasarkan bahwa setiap manusia memiliki hak untuk hidup dan hak untuk mengakhiri hidupnya dengan segera dan hal ini dilakukan dengan alasan yang cukup mendukung yaitu alasan kemanusian. Dengan keadaan dirinya yang tidak lagi memungkinkan untuk sembuh atau bahkan hidup, maka ia dapat melakukan permohonan untuk segera diakhiri hidupnya. Sementara sebagian pihak yang tidak membolehkan euthanasia beralasan bahwa setiap manusia tidak memiliki hak untuk mengakhiri hidupnya, karena masalah hidup dan mati adalah kekuasaan mutlak Tuhan yang tidak bisa diganggu gugat oleh manusia. Perdebatan ini tidak akan pernah berakhir, karena sudut pandang yang dipakai sangatlah bertolak belakang, dan lagi-lagi alasan perdebatan tersebut adalah masalah legalitas dari perbuatan euthanasia. Walaupun pada dasarnya tindakan euthanasia termasuk dalam perbuatan tindak pidana yang diatur dalam pasal 344 Kitab Undang- undang Hukum Pidana (KUHP). Di Negara-negara Eropa (Belanda) dan Amerika tindakan euthanasia mendapatkan tempat tersendiri yang diakui legalitasnya, hal ini juga dilakukan oleh Negara Jepang. Tentunya dalam melakukan tindakan euthanasia harus melalui prosedur dan persyaratan persyaratan yang harus dipenuhi agar euthanasia bisa dilakukan. Ada tiga petunjuk yang dapat digunakan untuk menentukan syarat prasarana luar biasa. Pertama, dari segi medis ada kepastian bahwa penyakit sudah tidak dapat disembuhkan lagi. Kedua, harga
1

Permasalahan Menyangkut feomena yang ada akan menimbulkan beberapa permasalahan yang harus kita selesaikan dengan seksama. bagaimana Euthanasia menurut persepektif hukum Pidana Indonesia? 2 . Jika memang dokter sudah angkat tangan dan memastikan secara medis penyakit tidak dapat disembuhkan serta masih butuh biaya yang sangat besar jika masih harus dirawat. sementara dokter pun sudah angkat tangan? 2. semoga tetap diperhatikan dan dipertimbangkan sisi nilai-nilainya. baik sosial. Apakah dimungkinkan adanya terobosan baru dalam hukum berdasarkan kasus-kasus berat. 1. Di Indonesia masalah euthanasia masih belum mandapatkan tempat yang diakui secara yuridis dan mungkinkah dalam perkembangan Hukum Positif Indonesia. etika. euthanasia dengan menyuntik mati disamakan dengan tindakan pidana pembunuhan. dan sebelum permohonan dikabulkan korban sembuh dari komanya dan dinyatakan sehat oleh dokter. euthanasia akan mendapatkan tempat yang diakui secara yuridis. seperti secara medis penyakit sudah tidak bisa lagi disembuhkan. Ketiga. dibutuhkan usaha ekstra untuk mendapatkan obat atau tindakan medis tersebut. Bahkan. Dari latar belakang demikian ini penulis mendapatkan beberapa permasalahan yang akan kita bahas dalam bab-bab berikutnya antara lain. Apabila hukum di Indonesia kelak mau menjadikan persoalan euthanasia sebagai salah satu materi pembahasan. Alternatif terakhir yang mungkin bisa diambil adalah penggunaan sarana via extraordinaria. Dalam kasus kasus seperti inilah orang sudah tidak diwajibkan lagi untuk mengusahakan obat atau tindakan medis. Kasus yang terakhir yang pengajuan permohonan euthanasia oleh suami Again ke Pengadilan Negeri Jakarta. maka yang dapat dilakukan adalah memberhentikan proses pengobatan dan tindakan medis di rumah sakit.obat dan biaya tindakan medis sudah terlalu mahal. Dan akhirnya korban yang mengalami koma dan ganguan permanen pada otaknya sempat dimintakan untuk dilakukan euthanasia. apalagi perawatan harus diusahakan secara ekstra. maupun moral. belum dikabulkan. Mengingat hukum kita menganut positifistik.

Perawat mampumemahami konsep euthanasia 2. Mengetahui beberapa pandangan pendapat tentang euthanasia BAB II PEMBAHASAN 3 .B. Tujuan Penulisan 1.

Bebrapa konsep tentang mati yakni: 1. mati sebagai berhentinya darah mengalir. maka hal tersebut bukanlah euthanasia. Pengertian euthanasia ialah tindakan memudahkan kematian seseorang dengan sengaja tanpa merasakan sakit. hilangnya kemampuan tubuh secara permanen. Konsep tentang Kematian Perkembangan euthanasia tidak terlepas dari konsep tentang kematian. Jenis Euthanasia 4 . agar pasien tersebut dapat meninggal secara wajar. Kata kuncinya adalah disengaja. budi. hilangnya manusia secara pemanen untuk kembali sadar dan melakukan interaksi sosial.1999) Aksi ini dilakukan secara legal menurut undang-undang untuk pertama kali adalah di negara Belanda. dengan tujuan meringankan penderitaan si sakit. negara pertama di dunia yang telah secara hukum menyetujui euthanasia. 3. aksi tersebut dilakukan dengan sangat hati-hati dan dengan berbagai perhitungan terlebih dahulu.A. karena kasih sayang. artinya jika aksi tersebut dilakukan dengan tidak sengaja.2011) B. mati sebagai terlepasnya nyawa dari tubuh. Meskipun begitu. dan biasanya tindakan ini dilakukan oleh kalangan medis. baik dengan cara positif maupun negative. 2. C. Pengertian Euthanasia Euthanasia adalah pembunuhan dalam segi medis yang disengaja. terutama berkenaan terutama penentuan kapan seseorang dinyatakan telah mati. dengan aksi atau dengan penghilangan suatu hak pengobatan yang seharusnya didapatkan oleh pasien.(Hanafi dan Amir. 4. Usaha manusia untuk memperpanjang kehidupan dan menghindari kematian dengan menggunakan kemajuan tenaga kesehatan telah membawa masalah baru dalam euthanasia. ( Setiawan.

Seseorang menderita kanker ganas dengan rasa sakit yang luar biasa hingga penderita sering pingsan. namun mengetahui resiko tersebut dapat memp-erpendek atau menggakhiri hidup pasien. Euthanasia aktif dapat dibedakan: 1. misalnya karena bagian otaknya terserang penyakit atau bagian kepalanya mengalami benturan yang sangat keras. 2. Contoh dari kasus ini adalah memberikan suntik mati. Euthanasia aktif menjabarkan kasus ketika suatu tindakan dilakukan dengan tujuan untuk menimbulkan kematian. Pembunuhan berdasarkan belas kasihan (mercy killing) Eutanasia hewan 5 . dalam hal ini dokter yakin bahwa yang bersangkutan akan meningggal dunia. Hal ini ilegal di Britania Raya dan Indonesia. Disebut juga mercy killing. Euthanasia aktif langsung adalah dilakukanya tindakan medik secara terarahyang diperhitungkan akan mengakhiri hidup pasien. 2. Euthanasia pasif menjabarkan kasus ketika kematian diakibatkan oleh penghentian tindakan medis. Euthanasia aktif tak langsung adalah dimana dokter atau tenaga kesehatan melakukan tindakan medik untuk meringankan penderitaan pasien. Beberapa tujuan pokok dari dilakukannya eutanasia antara lain yaitu : 1. Euthanasia dapat di bedakan: 1. Contoh dari kasus ini adalah penghentian pemberian nutrisi. 2. dan ventilator. Kemudian dokter memberinya obat dengan takaran tinggi (overdosis) yang sekiranya dapat menghilangkan rasa sakitnya. tetapi menghentikan pernapasannya sekaligus. Dalam keadaan demikian ia hanya mungkin dapat hidup dengan mempergunakan alat pernafasan. sedangkan dokter ahli berkeyakinan bahwa penderita tidak akan dapat disembuhkan.Dillihat dari cara pelaksanaanya. 2. Beberapa contoh kasus ethanisia aktif diantaranya: 1. Orang yang mengalami keadaan koma yang sangat lama. air.

Hal ini terjadi ketika seorang individu diberikan informasi dan wacana untuk membunuh dirinya sendiri. Sebagai contoh dari kasus ini adalah menghentikan bantuan makanan dan minuman untuk pasien yang berada di dalam keadaan vegetatif (koma). Jack Kevorkian. Namun pemberian morfin tidak dimaksukan untuk menimbulkan kematian. Di Amerika Serikat. Euthanasia sukarela: ini dilakukan oleh individu yang secara sadar menginginkan kematian. dapat memperpendek umur pasien. Ada kasus ketika meningkatkan dosis pengurang rasa sakit. D. ketidak mampuan fisik dan mental. Jika dokter terlibat dalam euthanasia tipe ini.3. Euthanasia dalam persepektif Medis 6 . Prinsip ini berasal dari filsafat moral Immanuel Kant. kasus ini pernah dilakukan oleh dr. namun hal ini tidak dilakukan. Pihak ketiga dapat dilibatkan. Euthanasia tidak sukarela: ini terjadi ketika pasien yang sedang sekarat dapat ditanyakan persetujuan. seperti pemberian Morfin. namun tidak harus hadir dalam aksi bunuh diri tersebut. ini adalah bentuk lain daripada eutanasia agresif secara sukarela Ditinjau dari segi permintaan euthanasia dibedakan menjadi: 1. Kasus serupa dapat terjadi ketika permintaan untuk melanjutkan perawatan ditolak. 4. Falsafah ‘efek ganda’ menekankan bahwa suatu efek tindakan tidak akan bisa diterima secara moral ketika ia terjadi secara sengaja. sehingga dipandang secara moral berbeda. yang juga dipopulerkan oleh Gereja Katholik. biasanya disebut sebagai ‘bunuh diri atas pertolongan dokter’. Bantuan bunuh diri: ini sering diklasifikasikan sebagai salah satu bentuk euthanasia. Kasus ini juga dapat dilihat dari perspektif falsafah ‘efek ganda’. Eutanasia berdasarkan bantuan dokter. Euthanasia non sukarela: ini terjadi ketika individu tidak mampu untuk menyetujui karena faktor umur. 2. 3. namun tindakan itu akan diterima jika tidak disengaja.

Namun. Kemudian dokter memberinya obat dengan takaran tinggi (overdosis) yang sekiranya dapat menghilangkan rasa sakitnya. Orthothansia. maka tanpa alat tersebut pasien tidak akan bisa hidup. Maka memberhentikan alat pernapasan itu sebagai cara yang positif untuk memudahkan proses kematiannya. penghentian pertolongan tersebut merupakan salah satu bentuk euthanasia. Dysthanasia.Dalam kemajuan ilmu pengetahuan dan tenologi di bidang medik. merupakan kematian yang terjadi karena proses alamiah. orang sakit yang sudah dalam keadaan koma. 1. Euthanasia. ada yang menganggap bahwa orang sakit seperti ini sebagai "orang mati" yang tidak mampu melakukan aktivitas. Hal tersebut adalah contoh dari yang namanya euthanasia positif yang dilakukan secara aktif oleh medis. tetapi justru menghentikan pernapasannya sekaligus. Nah. yang sebenarnya dokter sudah tahu bahwa seseorang tersebut tidak akan hidup lama lagi. 7 . ilmu pengetahuan membedakan kematian kedalam tiga jenis: 1. 2. 2. Penderita kanker yang sudah kritis. adalah kematian yang terjadi dengan pertolongan atau tidak dengan pertolongan dokter. Tugas seorang dokter adalah untuk menolong jiwa seorang pasien. Seseorang yang sedang menderita kangker ganas atau sakit yang mematikan. padahal jika dilihat lagi hal itu sudah tidak bisa dilanjutkan lagi dan jika hal itu diteruskan maka kadang akan menambah penderitaan seorang pasien. berikut adalah contoh-contoh euthanasia: 1. Berbeda dengan euthanasia negative yang dalam proses tersebut tidak dilakukan tindakan secara aktif (medis bersikap pasif) oleh seorang medis dan contohnya sebagai berikut. Dan jika alat pernafasan tersebut di cabut otomatis jantungnya akan behenti memompakan darahnya keseluruh tubuh. Bardasarkan pada cara terjadinya. Seperti yang dialami oleh Nyonya Again (istri hasan) yang mengalami koma selama tiga bulan dan dalam hidupnya membutuhkan alat bantu pernafasan. 3. adalah kematian yang terjadi secara tidak wajar. kehidupan seorang pasien bisa diperpanjang dan hal ini seringkali membuat para dokter dihadapkan pada sebuah dilema untuk memberikan bantuan tersebut apa tidak dan jika sudah terlanjur diberikan bolehkah untuk dihentikan. Sehingga dia akan bisa melakukan pernafasan dengan otomatis dengan bantuan alat pernafasan.

Jadi dalam menjalankan prifesinya seorang dokter tidak boleh melakukan. mengakhiri kehidupan seorang pasien yang menurut ilmu dan pengetahuan tidak mungkin akan sembuh lagi (euthanasia). 2. anak-anak yang menderita penyakit seperti itu tidak berumur panjang. maka menghentikan pengobatan dan mempermudah kematian secara pasif (eutanasia negatif) itu mencegah perpanjangan penderitaan si anak yang sakit atau kedua orang tuanya. Menurut gambaran umum. Menggugurkan kandungan (Abortus Provocatus). hukum dan agama.disebabkan benturan pada bagian kepalanya atau terkena semacam penyakit pada otak yang tidak ada harapan untuk sembuh. 1. Dari contoh tersebut. Artinya dalam setiap tindakan dokter harus bertujuan untuk memelihara kesehatan dan kebahagiaaan manusia. Atau orang yang terkena serangan penyakit paru-paru yang jika tidak diobati (padahal masih ada kemungkinan untuk diobati) akan dapat mematikan penderita. KODEKI pasal 7d juga menjelaskan bahwa “setiap dokter harus senantiasa mengingat akan kewajiban melindungi hidup insani”. Kede etik kedokteran Indonesia Dalam KODEKI pasal 2 dijelaskan bahwa. 2. yang mungkin akan dapat membawa kematian anak tersebut. “seorang dokter harus senantiasa berupaya melaksanakan profesinya sesuai dengan standar profesi tertinggi”. Dalam hal ini. dapat digunakan dalam tiga arti . Seorang anak yang kondisinya sangat buruk karena menderita kelumpuhan tulang belakang atau kelumpuhan otak. jika pengobatan terhadapnya dihentikan akan dapat mempercepat kematiannya. Jelasnya bahwa seorang dokter dalam melakukan kegiatan kedikterannya sebagai seorang profesi dikter harus sesuai dengan ilmu kedikteran mutakhir. Waktu hidup akan berakhir (sakaratul maut) penderitaan pasien diperingan dengan memberikan obat penenang. buat yang beriman dengan nama Allah di bibir. "penghentian pengobatan" merupakan salah satu bentuk eutanasia negatif. Mengenai euthanasia. 3.[2] Adapun unsur-unsur dalam pengertian euthanasia dalam pengertian diatas adalah: 8 . Mengakhiri penderitaan dari seorang sakit dengan sengaja atas permintaan pasien sendiri dan keluarganya. Berpindahnya ke alam baka dengan tenang dan aman tanpa penderitaan. Dalam keadaan demikian ia dapat saja dibiarkan (tanpa diberi pengobatan) apabila terserang penyakit paru-paru atau sejenis penyakit otak.

2003 :44). Sementara itu menurut Kamus Kedokteran Dorland euthanasia mengandung dua pengertian. 5. Konsepsi Euthanasia Euthanasia dalam Oxford English Dictionary dirumuskan sebagai “kematian yang lembut dan nyaman. dilakukan terutama dalam kasus penyakit yang penuh penderitaan dan tak tersembuhkan”. mengandaikan. pembunuhan dengan kemurahan hati. Atas permintaan pasien dan keluarganya. Kedua. yaitu voluntary euthanasia (euthanasia yang dilakukan atas permintaan pasien itu sendiri karena penyakitnya tidak dapat disembuhkan dan dia tidak sanggup menahan rasa sakit yang diakibatkannya). naamun cuma kebingungan dalam berfikir. pengakhiran kehidupan seseorang yang menderita penyakit yang tak dapat disembuhkan dan sangat menyakitkan secara hati-hati dan disengaja. atau tidak memperpanjang hidup pasien. Mengakhiri hidup.1. disuntik mati saja. bahwa euthanasia adalah pilihan yang akan diambil oleh pasien yang berada dalam keadaan tidak sadar tersebut jika si pasien dapat menyatakan 9 . Demi kepentingan pasien dan keluarganya. Secara konseptual dikenal tiga bentuk euthanasia. Hal ini dialami oleh Hasan yang mengajukan euthanasia terhadap istrinya dan hal yang sama juga terjadi pada Siti Zulaekha yang akan diajukan euthanasia oleh keluarganya. Panca Satrya Hasan Kusuma memohon agar istrinya (Agian Isna Nauli) yang sudah koma sekitar tiga bulan setelah melahirkan putra keduanya. 3. 2. Pasien menderita suatu penyakit yang sulit untuk disembuhkan. Istilah yang sangat populer untuk menyebut jenis pembunuhan ini adalah mercy killing (Tongat. non voluntary euthanasia (di sini orang lain. bukan pasien. suatu kematian yang mudah atau tanpa rasa sakit. Ini merupaka perubahan dalam dinamika masyarakat yang kian mengglobal yang ditandai semakin mudahnya masyarakat mengakses informasi dari berbagai belahan dunia maka semakin sering masyarakat bersentuhan dengan nilai-nilai asing (di luar kebiasaan/norma-norma komunitasnya). Euthanasia dalam persepektif Hukum Melihat penderitaan istrinya yang tidak kunjung berakhir. Namun perubahan paradigma berfikir masyarakat bukanlah sebagai arah sebuah kemajuan berfikir. 4. Pertama. mempercepat kematian. Berbuat seauatu atau tidak berbuat sesuatu.

Dengan demikian dalam konteks hukum positif di Indonesia. Lebih-lebih di tengah kebingungan kultural karena munculnya pro dan kontra tentang legalitasnya. Kedua kasus ini secara konseptual dikualifikasi sebagai non voluntary euthanasia. Sebab. Dengan demikian. yaitu euthanasia yang dilakukan atas permintaan pasien/korban itu sendiri (voluntary euthanasia) sebagaimana secara eksplisit diatur dalam Pasal 344 KUHP.permintaannya). Patut menjadi catatan. Siti Zuleha) perlu dicermati secara hukum. Bertolak dari ketentuan Pasal 344 KUHP tersebut tersimpul. maka munculnya kasus permintaan tindakan medis untuk mengakhiri kehidupan yang muncul akhir-akhir ini (kasus Hasan Kesuma yang mengajukan suntik mati untuk istrinya. pada persoalan “legalitas” inilah persoalan euthanasia akan bermuara. dalam konteks hukum positif di Indonesia euthanasia tetap dianggap sebagai perbuatan yang dilarang. Pasal 344 KUHP secara tegas menyatakan :“Barang siapa merampas nyawa orang lain atas permintaan orang itu sendiri yang jelas dinyatakan dengan kesungguhan hati diancam dengan pidana penjara paling lama dua belas tahun”. tetapi secara yuridis formal (dalam KUHP) dua kasus ini tidak bisa dikualifikasi sebagai euthanasia sebagaimana diatur dalam Pasal 344 KUHP. Perbuatan tersebut tetap dikualifikasi sebagai tindak pidana. bahwa pembunuhan atas permintaan korban sekalipun tetap diancam pidana bagi pelakunya. Secara yuridis formal kualifikasi (yang paling mungkin) untuk kedua kasus ini adalah 10 . Kejelasan tentang sejauh mana hukum (pidana) positif memberikan regulasi/pengaturan terhadap persoalan euthanasia akan sangat membantu masyarakat di dalam menyikapi persoalan tersebut. bahwa secara yuridis formal dalam hukum pidana positif di Indonesia hanya dikenal satu bentuk euthanasia. Mengacu pada ketentuan tersebut di atas. Konstruksi Yuridis Euthanasia Munculnya pro dan kontra seputar persoalan euthanasia menjadi beban tersendiri bagi komunitas hukum. tidak dimungkinkan dilakukan “pengakhiran hidup seseorang” sekalipun atas permintaan orang itu sendiri. involuntary euthanasia (merupakan pengakhiran kehidupan pada pasien tanpa persetujuannya). yaitu sebagai perbuatan yang diancam dengan pidana bagi siapa yang melanggar larangan tersebut. Agian dan terakhir kasus Rudi Hartono yang mengajukan hal yang sama untuk istrinya. Ny.

dia wajib memberikan kehidupan. bahwa dalam konteks hukum positif di Indonesia. yaitu ketentuan Pasal 356 (3) KUHP yang juga mengancam terhadap “Penganiayaan yang dilakukan dengan memberikan bahan yang berbahaya bagi nyawa dan kesehatan untuk dimakan atau diminum”. meninggalkan orang yang perlu ditolong juga dikualifikasi sebagai tindak pidana. karena pembunuhan dengan pidana penjara paling lama lima belas tahun”. mengingat kematian menjadi tujuan. karena pembunuhan berencana. “ Barang siapa sengaja merampas nyawa orang lain diancam. “ Barang siapa dengan sengaja dan dengan rencana lebih dulu merampas nyawa orang lain diancam. perawatan atau pemeliharaan kepada orang itu.“Barang siapa dengan sengaja menempatkan atau membiarkan seorang dalam keadaan sengsara. Selain itu patut juga diperhatikan adanya ketentuan dalam Bab XV KUHP khususnya Pasal 304 dan Pasal 306 (2). Dalam ketentuan Pasal 338 KUHP secara tegas dinyatakan. Dalam ketentuan Pasal 304 KUHP dinyatakan. dengan pidana mati atau pidana penjara seumur hidup atau selama waktu tertentu paling lama dua puluh tahun”. Selain hukum. Dua pasal terakhir ini juga bermakna melarang terjadinya euthanasia pasif yang sering terjadi di Indonesia. perbuatan tersebut dikenakan pidana penjara maksimal sembilan tahun”. atau pembunuhan berencana sebagaimana dimaksud dalam Pasal 340 KUHP. praktik eutanasia tentu saja berbenturan dengan nilai-nilai etika dan moral yang menjunjung 11 . moral karena termasuk perbuatan yang merendahkan martabat manusia dan perbuatannya tergolong pembunuhan. Kiranya persoalan euthanasia.[4] Sementara dalam ketentuan Pasal 306 (2) KUHP dinyatakan.[3] Di luar dua ketentuan di atas juga terdapat ketentuan lain yang dapat digunakan untuk menjerat pelaku euthanasia.pembunuhan biasa sebagaimana dimaksud dalam Pasal 338 KUHP. merupakan sebuah persoalan dilematis. Sementara dalam ketentuan Pasal 340 KUHP dinyatakan. padahal menurut hukum yang berlaku baginya atau karena persetujuan. Dua ketentuan terakhir tersebut di atas memberikan penegasan. meskipun pelaksanaannya tidak harus dan tidak selalu dengan suntikan. diancam dengan pidana penjara paling lama dua tahun delapan bulan atau denda paling banyak tiga ratus rupiah”. Euthanasia di Negara lain bertentangan dengan nilai-nilai etika. “Jika mengakibatkan kematian.

Islam mengakui hak seseorang untuk hidup dan mati. dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan. Hanya Allah yang dapat menentukan kapan seseorang lahir dan kapan ia mati (QS 22: 66. Oleh karena itu. dan dalam ayat lain disebutkan." Dengan demikian. Adanya indikasi-indikasi baik medis maupun ekonomis tidak secara otomatis melegitimasi praktik eutanasia mengingat eutanasia berhadapan dengan faham nilai menyangkut hak dan kewajiban menghormati dan membela kehidupan." (QS 4: 29).[25] Eutanasia dalam ajaran Islam disebut qatl ar-rahmah atau taisir al-maut (eutanasia). karena sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik. seorang Muslim (dokter) yang membunuh seorang Muslim lainnya (pasien) disetarakan dengan membunuh dirinya sendiri." (QS 2: 195). Seperti dalam agama-agama Ibrahim lainnya (Yahudi dan Kristen). yaitu suatu tindakan memudahkan kematian seseorang dengan sengaja tanpa merasakan sakit. namun hak tersebut merupakan anugerah Allah kepada manusia. “Seseorang yang membunuh orang lain atas permintaan yang jelas dan sungguhsungguh terhadap korban dianggap bersalah melakukan delik berat pembunuhan manusia atas permintaan akan dipidana dengan pidana penjara berat dari lima sampai sepuluh tahun”. Didalam KUHP Austria Pasal 139 a berbunyi . ada sebuah ayat yang menyiratkan hal tersebut. karena kasih sayang. "Janganlah engkau membunuh dirimu sendiri. dengan tujuan meringankan penderitaan si sakit. hal ini juga dilakukan oleh Negara Jepang. baik dengan cara positif maupun negatif. yang makna langsungnya adalah "Janganlah kamu saling berbunuhan. bunuh diri diharamkan dalam hukum Islam meskipun tidak ada teks dalam Al Quran maupun Hadis yang secara eksplisit melarang bunuh diri. 12 . dan berbuat baiklah. "Dan belanjakanlah (hartamu) di jalan Allah. 2: 243). Di Negara-negara Eropa (Belanda) dan Amerika tindakan euthanasia mendapatkan tempat tersendiri yang diakui legalitasnya. Kendati demikian. Tentunya dalam melakukan tindakan euthanasia harus melalui prosedur dan persyaratan-persyaratan yang harus dipenuhi agar euthanasia bisa dilakukan.tinggi harkat dan martabat kehidupan manusia.

Dalam hal ini hanya segolongan kecil yang mewajibkannya seperti yang dikatakan oleh sahabat-sahabat Imam Syafi'i dan Imam Ahmad sebagaimana dikemukakan oleh Syekhul Islam Ibnu Taimiyah. tetapi ia hanya dibiarkan tanpa diberi pengobatan untuk memperpanjang hayatnya. Hal ini didasarkan pada keyakinan dokter bahwa pengobatan yang dilakukan itu tidak ada gunanya dan tidak memberikan harapan kepada si sakit. karena Dia-lah yang memberi kehidupan kepada manusia dan yang mencabutnya apabila telah tiba ajal yang telah ditetapkan-Nya. Di antara masalah yang sudah terkenal di kalangan ulama syara' ialah bahwa mengobati atau berobat dari penyakit tidak wajib hukumnya menurut jumhur fuqaha dan imam-imam mazhab.[28] 13 . Bahkan menurut mereka. Perbuatan demikian itu adalah termasuk dalam kategori pembunuhan meskipun yang mendorongnya itu rasa kasihan kepada si sakit dan untuk meringankan penderitaannya. Memudahkan proses kematian secara aktif (eutanasia positif) adalah tidak diperkenankan oleh syara'. bahkan termasuk dosa besar yang membinasakan.[27] Eutanasia negatif disebut dengan taisir al-maut al-munfa'il. Pada eutanasia negatif tidak dipergunakan alat-alat atau langkah-langkah aktif untuk mengakhiri kehidupan si sakit. Karena itu serahkanlah urusan tersebut kepada Allah Ta'ala. Sebab dalam tindakan ini seorang dokter melakukan suatu tindakan aktif dengan tujuan membunuh si sakit dan mempercepat kematiannya melalui pemberian obat secara overdosis dan ini termasuk pembunuhan yang haram hukumnya.Pada konferensi pertama tentang kedokteran Islam di Kuwait tahun 1981. dan sebagian ulama lagi menganggapnya mustahab (sunnah). Karena bagaimanapun si dokter tidaklah lebih pengasih dan penyayang daripada Yang Menciptakannya. sesuai dengan sunnatullah (hukum Allah terhadap alam semesta) dan hukum sebab-akibat. mengobati atau berobat ini hanya berkisar pada hukum mubah.[26] eutanasia positif ialah tindakan memudahkan kematian si sakit karena kasih sayang yang dilakukan oleh dokter dengan mempergunakan instrumen (alat). dinyatakan bahwa tidak ada suatu alasan yang membenarkan dilakukannya eutanasia ataupun pembunuhan berdasarkan belas kasihan (mercy killing) dalam alasan apapun juga .

Dari beberapa survey negara dan penyaringan sumber. namun juga dapat mengatasi 14 . Hampir semua rasa sakit bisa dihilangkan. Tapi euthanasia bukalah jawaban dari skandal tersebut. Jika hal ini terjadi. Solusi terbaik untuk masalah ini adalah dengan meningkatkan mutu para profesional medis dan dengan menginformasikan pada setiap pasien. Karena itulah kita bisa menyimpulkan bahwa sebenarnya tidak ada rasa sakit yang tidak terkendali. Alasan Dilakukan Euthanasia Euthanasia adalah sebuah aksi pencabutan nyawa seseorang. Euthanasia memang sekilas merupakan jawaban dari stress yang disebabkan oleh rasa sakit yang semakin menjadi. apa saja hak-hak mereka sebagai seorang pasien. beberapa dokter tidak dibekali dengan “pain management” atau cara medis menghilangkan rasa sakit. tapi mereka tetap harus di-euthanasia-kan karena cara tersebut tidak terpuji. bukan yang akan membunuh sang pasien.E. Namun ada juga yang dinamakan “drugged state” atau suatu saat dimana kita tak merasakan rasa sakit apapun karena pengaruh obat. Meskipun begitu. Namun pada zaman ini. Dengan catatan dokter tersebut haruslah seseorang yang akan mengontrol rasa sakit itu. Rasa Sakit yang Tidak Tertahankan Mungkin argumen terbesar dalam konflik euthanasia adalah jika si pasien tersebut mengalami rasa sakit yang amat besar. sehingga mereka tidak tahu bagaimana harus bertindak apabila seorang pasien mengalami rasa sakit yang luar biasa. Ada banyak spesialis yang sudah dibekali dengan keahlian tersebut yang tidak hanya dapat mengontrol rasa sakit fisik seseorang. adapun yang sudah sebegitu parah bisa dikurang jika perawatan yang dibutuhkan tersedia dengan baik. hendaklah pasien tersebut mencari doketr lain. namun beberapa pendapat menyatakan bahwa hal tersebut memang bisa dilakukan dengan mengirim seseorang ke keadaan tanpa rasa sakit. Karena itu dilakukannya aksi tersebut harus didukung dengan alasan yang kuat. penemuan semakin gencar untuk mengatasi rasa sakit tersebut. berikut adalah tiga alasan utama mengapa euthanasia itu bisa dilakukan: 1. yang secara langsung menyebabkan presentase terjadinya “assisted suicide” berkurang.

menunda kematian dengan alasan hukum dan sebagainya juga bisa dinilai kejam dan tidak berperikemanusiaan. tetapi hak untuk membunuh. Euthanasia bukanlah memberikan seseorang hak untuk mengakhiri hidupnya.depresi dan penderitaan mental yang biasanya mengiringi rasa sakit luar biasa tersebut. tidak bijak. Saat itulah perawatan lebih lanjut menjadi tindakan yang tanpa rasa kasihan. Desakan. atau tidak terdengar sebagai perilaku medis. Manusia memang punya hak untuk bunuh diri. euthanasia bukanlah hak seseorang untuk mati. Bunuh diri adalah suatu tragedi. Hal yang harus dilakukan adalah dengan menyediakan perawatan di rumah. bantuan dukungan emosional dan spiritual bagi pasien dan membiarkan sang pasien merasa nyaman dengan sisa waktuny 15 . Hak untuk Melakukan Bunuh Diri Mungkin hal kedua bagi para pro-euthanasia adalah jika kita mengangkat hal paling dasar dari semuanya. aksi sendiri. atau orang lain dapat dengan sengaja mengakhiri hidup seseorang. kerabat. Ini bisa mengarah ke suatu tindakan penyiksaan pada akhirnya. 2. Haruskah Seseorang Dipaksa untuk Hidup? Jawabannya adalah tidak. melainkan membiarkan seseorang memfasilitasi kematian orang lain. yang kita bicarakan di sini bukanlah memberi hak untuk seseorang yang dibunuh. tapi sebaliknya. Bahkan tidak ada hukum atau etika medis yang menyatakan bahwa apapun akan dilakukan untuk mempertahankan pasien tetap hidup. hal seperti itu tidak melanggar hukum. Euthanasia bukanlah aksi pribadi. yaitu “hak”. 3. Tapi jika kita teliti lebih dalam. Dengan kata lain. ini adalah persoalan mengubah hukum agar dokter. melawan permintaan pasien. tetapi memberikan hak pada orang yang melakukan pembunuhan tersebut.

baik bagi si pasien maupun bagi pihak keluarga. Kesimpulan Mengingat kondisi demikian. bukan lagi bagi 16 . yang dibutuhkan kemudian adalah perawatan dan pendampingan.BAB III PENUTUP A. Perhatian dan kasih sayang sangat diperlukan bagi penderita sakit terminal.

dan juga dengan pandangan bahwa apabila dilegalisir. Namun demikian. Argumen terakhir adalah sulitnya untuk melegalisir euthanasia karena sulitnya membuat standar prosedur yang efektif. Dasar agama adalah argumen berikutnya. Dari segi respek moral. Lebih jauh lagi. argumen-argumen yang telah dikemukakan di atas lebih kuat. pilihan untuk membunuh. tugas seorang dokter adalah untuk menyembuhkan. melegalisir voluntary euthanasia dapat mengarah kepada dilakukannya involuntary euthanasia dan membuat orang-orang lemah seperti orang lanjut usia dan para cacat berada dalam risiko. Jelas bahwa hukum (pidana) positif di Indonesia belum memberikan ruang bagi euthanasia baik euthanasia aktif maupun euthanasia pasif. betapa masyarakat sedang mengalami pergeseran nilai kultural. autonomi dan inkonsistensi hukum. munculnya permintaan tindakan medis euthanasia hakikatnya menjadi indikasi. Tanpa harus mengesampingkan pendapat lain. Penulis menentang dilakukannya euthanasia atas dasar etika. sehingga baik secara langsung maupun tidak kita dapat membantu si pasien menyelesaikan persoalan-persoalan pribadinya dan kemudian hari siap menerima kematian penuh penyerahan kepada penyelenggaraan Tuhan Yang Maha Esa. Pertama. untuk mempertahankan hidup. Saran 17 . Selanjutnya hal ini juga dapat memberikan tekanan kepada mereka yang merasa diabaikan atau merasa sebagai beban keluarga atau teman. tetapi lebih pada kebutuhan psikis dan emosional. Bagaimanapun si pasien adalah manusia yang masih hidup. seorang dokter yang melakukan euthanasia atau membantu orang yang bunuh diri telah melakukan tindakan melanggar hukum. di mana dokter percaya kesucian dan kemuliaan kehidupan manusia. Dari segi legal. bukan membunuh. maka perlakuan yang seharusnya adalah perlakuan yang manusiawi kepadanya. B. bukan untuk mengakhirinya. kesimpulan normatif ini urgen untuk disampaikan mengingat berbagai hal. Pengalaman di negeri Belanda telah membuktikan konsep slippery slope. moral dan legal. euthanasia dapat disalahgunakan. agama. Kelompok pro-euthanasia mungkin akan menentang pendapat ini dengan menggunakan argumen quality of life.kebutuhan fisik. Argumen pertama yaitu secara etika. baik orang lain maupun diri sendiri adalah imoral karena merupakan tindak sengaja untuk membunuh seorang manusia.

DAFTAR PUSTAKA Hanafiah. dari 18 . (1999) Etika Kedokteran dan Hukum Kesehatan. (2011). semoga tetap diperhatikan dan dipertimbangkan sisi nilai-nilainya.M. etika. Setiawan Budi Utomo.p.jusuf & Amir. oleh endang.Apabila hukum di Indonesia kelak mau menjadikan persoalan eutanasia sebagai salah satu materi pembahasan. maupun moral. Diakses pada tanggal 7 April 2011. Hukum Euthanasia dan Etika Kedokteran. Jakarta: EGC Dr. baik sosial.amri.

scribd.com/doc/11639357/Euthanasia-Persepetif-Medis-DanHukum-Pidana-Indonesia 19 . diakses pada tanggal 7 April 2011.com/konsultasi/fikih-kontemporer/hukum-euthanasia-dankode-etik-kedokteran. oleh ahttp://www.(2011). Euthanasi .eramuslim.http://www.htm Lady perona.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful