BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Sejauh ini Indonesia memang belum mengatur secara spesifik mengenai euthanasia(Mercy Killing). Euthanasia atau menghilangkan nyawa orang atas permintaan dirinya sendiri[1] sama dengan perbuatan pidana menghilangkan nyawa seseorang. Dan halini masih menjadi perdebatan pada beberapa kalangan yang menyetujui tentang euthanasia dan pihak yang tidak setuju tentang euthanasia.

Pihak yang menyetujui euthanasia dapat dilakukan, hal ini berdasarkan bahwa setiap manusia memiliki hak untuk hidup dan hak untuk mengakhiri hidupnya dengan segera dan hal ini dilakukan dengan alasan yang cukup mendukung yaitu alasan kemanusian. Dengan keadaan dirinya yang tidak lagi memungkinkan untuk sembuh atau bahkan hidup, maka ia dapat melakukan permohonan untuk segera diakhiri hidupnya. Sementara sebagian pihak yang tidak membolehkan euthanasia beralasan bahwa setiap manusia tidak memiliki hak untuk mengakhiri hidupnya, karena masalah hidup dan mati adalah kekuasaan mutlak Tuhan yang tidak bisa diganggu gugat oleh manusia. Perdebatan ini tidak akan pernah berakhir, karena sudut pandang yang dipakai sangatlah bertolak belakang, dan lagi-lagi alasan perdebatan tersebut adalah masalah legalitas dari perbuatan euthanasia. Walaupun pada dasarnya tindakan euthanasia termasuk dalam perbuatan tindak pidana yang diatur dalam pasal 344 Kitab Undang- undang Hukum Pidana (KUHP). Di Negara-negara Eropa (Belanda) dan Amerika tindakan euthanasia mendapatkan tempat tersendiri yang diakui legalitasnya, hal ini juga dilakukan oleh Negara Jepang. Tentunya dalam melakukan tindakan euthanasia harus melalui prosedur dan persyaratan persyaratan yang harus dipenuhi agar euthanasia bisa dilakukan. Ada tiga petunjuk yang dapat digunakan untuk menentukan syarat prasarana luar biasa. Pertama, dari segi medis ada kepastian bahwa penyakit sudah tidak dapat disembuhkan lagi. Kedua, harga
1

semoga tetap diperhatikan dan dipertimbangkan sisi nilai-nilainya. Ketiga. dibutuhkan usaha ekstra untuk mendapatkan obat atau tindakan medis tersebut. belum dikabulkan. baik sosial. Jika memang dokter sudah angkat tangan dan memastikan secara medis penyakit tidak dapat disembuhkan serta masih butuh biaya yang sangat besar jika masih harus dirawat. Dalam kasus kasus seperti inilah orang sudah tidak diwajibkan lagi untuk mengusahakan obat atau tindakan medis. Dan akhirnya korban yang mengalami koma dan ganguan permanen pada otaknya sempat dimintakan untuk dilakukan euthanasia. maupun moral. seperti secara medis penyakit sudah tidak bisa lagi disembuhkan. apalagi perawatan harus diusahakan secara ekstra. etika. Dari latar belakang demikian ini penulis mendapatkan beberapa permasalahan yang akan kita bahas dalam bab-bab berikutnya antara lain. Permasalahan Menyangkut feomena yang ada akan menimbulkan beberapa permasalahan yang harus kita selesaikan dengan seksama. Apabila hukum di Indonesia kelak mau menjadikan persoalan euthanasia sebagai salah satu materi pembahasan.obat dan biaya tindakan medis sudah terlalu mahal. Mengingat hukum kita menganut positifistik. Bahkan. euthanasia akan mendapatkan tempat yang diakui secara yuridis. maka yang dapat dilakukan adalah memberhentikan proses pengobatan dan tindakan medis di rumah sakit. sementara dokter pun sudah angkat tangan? 2. euthanasia dengan menyuntik mati disamakan dengan tindakan pidana pembunuhan. bagaimana Euthanasia menurut persepektif hukum Pidana Indonesia? 2 . Apakah dimungkinkan adanya terobosan baru dalam hukum berdasarkan kasus-kasus berat. Alternatif terakhir yang mungkin bisa diambil adalah penggunaan sarana via extraordinaria. 1. Kasus yang terakhir yang pengajuan permohonan euthanasia oleh suami Again ke Pengadilan Negeri Jakarta. Di Indonesia masalah euthanasia masih belum mandapatkan tempat yang diakui secara yuridis dan mungkinkah dalam perkembangan Hukum Positif Indonesia. dan sebelum permohonan dikabulkan korban sembuh dari komanya dan dinyatakan sehat oleh dokter.

Mengetahui beberapa pandangan pendapat tentang euthanasia BAB II PEMBAHASAN 3 . Tujuan Penulisan 1. Perawat mampumemahami konsep euthanasia 2.B.

1999) Aksi ini dilakukan secara legal menurut undang-undang untuk pertama kali adalah di negara Belanda. C. aksi tersebut dilakukan dengan sangat hati-hati dan dengan berbagai perhitungan terlebih dahulu. mati sebagai berhentinya darah mengalir. ( Setiawan. Kata kuncinya adalah disengaja. agar pasien tersebut dapat meninggal secara wajar. 4. Pengertian euthanasia ialah tindakan memudahkan kematian seseorang dengan sengaja tanpa merasakan sakit. maka hal tersebut bukanlah euthanasia. Bebrapa konsep tentang mati yakni: 1. dan biasanya tindakan ini dilakukan oleh kalangan medis. hilangnya kemampuan tubuh secara permanen. artinya jika aksi tersebut dilakukan dengan tidak sengaja. mati sebagai terlepasnya nyawa dari tubuh. Pengertian Euthanasia Euthanasia adalah pembunuhan dalam segi medis yang disengaja. dengan aksi atau dengan penghilangan suatu hak pengobatan yang seharusnya didapatkan oleh pasien. 3.(Hanafi dan Amir. 2. terutama berkenaan terutama penentuan kapan seseorang dinyatakan telah mati. Konsep tentang Kematian Perkembangan euthanasia tidak terlepas dari konsep tentang kematian.A. hilangnya manusia secara pemanen untuk kembali sadar dan melakukan interaksi sosial. dengan tujuan meringankan penderitaan si sakit. Usaha manusia untuk memperpanjang kehidupan dan menghindari kematian dengan menggunakan kemajuan tenaga kesehatan telah membawa masalah baru dalam euthanasia. Meskipun begitu.2011) B. budi. Jenis Euthanasia 4 . karena kasih sayang. baik dengan cara positif maupun negative. negara pertama di dunia yang telah secara hukum menyetujui euthanasia.

misalnya karena bagian otaknya terserang penyakit atau bagian kepalanya mengalami benturan yang sangat keras. 2. Euthanasia aktif menjabarkan kasus ketika suatu tindakan dilakukan dengan tujuan untuk menimbulkan kematian. Disebut juga mercy killing. dalam hal ini dokter yakin bahwa yang bersangkutan akan meningggal dunia. air. Hal ini ilegal di Britania Raya dan Indonesia. 2. Seseorang menderita kanker ganas dengan rasa sakit yang luar biasa hingga penderita sering pingsan. Beberapa contoh kasus ethanisia aktif diantaranya: 1. Beberapa tujuan pokok dari dilakukannya eutanasia antara lain yaitu : 1. Euthanasia aktif tak langsung adalah dimana dokter atau tenaga kesehatan melakukan tindakan medik untuk meringankan penderitaan pasien. Pembunuhan berdasarkan belas kasihan (mercy killing) Eutanasia hewan 5 . sedangkan dokter ahli berkeyakinan bahwa penderita tidak akan dapat disembuhkan. Orang yang mengalami keadaan koma yang sangat lama. Contoh dari kasus ini adalah penghentian pemberian nutrisi.Dillihat dari cara pelaksanaanya. Dalam keadaan demikian ia hanya mungkin dapat hidup dengan mempergunakan alat pernafasan. dan ventilator. Contoh dari kasus ini adalah memberikan suntik mati. 2. Euthanasia aktif langsung adalah dilakukanya tindakan medik secara terarahyang diperhitungkan akan mengakhiri hidup pasien. Euthanasia dapat di bedakan: 1. 2. Euthanasia aktif dapat dibedakan: 1. Kemudian dokter memberinya obat dengan takaran tinggi (overdosis) yang sekiranya dapat menghilangkan rasa sakitnya. Euthanasia pasif menjabarkan kasus ketika kematian diakibatkan oleh penghentian tindakan medis. namun mengetahui resiko tersebut dapat memp-erpendek atau menggakhiri hidup pasien. tetapi menghentikan pernapasannya sekaligus.

sehingga dipandang secara moral berbeda. Namun pemberian morfin tidak dimaksukan untuk menimbulkan kematian. dapat memperpendek umur pasien. Euthanasia dalam persepektif Medis 6 . Euthanasia tidak sukarela: ini terjadi ketika pasien yang sedang sekarat dapat ditanyakan persetujuan. ketidak mampuan fisik dan mental. Bantuan bunuh diri: ini sering diklasifikasikan sebagai salah satu bentuk euthanasia. Sebagai contoh dari kasus ini adalah menghentikan bantuan makanan dan minuman untuk pasien yang berada di dalam keadaan vegetatif (koma). Prinsip ini berasal dari filsafat moral Immanuel Kant. Ada kasus ketika meningkatkan dosis pengurang rasa sakit. biasanya disebut sebagai ‘bunuh diri atas pertolongan dokter’. seperti pemberian Morfin. 4. Kasus serupa dapat terjadi ketika permintaan untuk melanjutkan perawatan ditolak. Di Amerika Serikat. namun hal ini tidak dilakukan. namun tindakan itu akan diterima jika tidak disengaja. Pihak ketiga dapat dilibatkan. Falsafah ‘efek ganda’ menekankan bahwa suatu efek tindakan tidak akan bisa diterima secara moral ketika ia terjadi secara sengaja. namun tidak harus hadir dalam aksi bunuh diri tersebut. Jack Kevorkian. Euthanasia non sukarela: ini terjadi ketika individu tidak mampu untuk menyetujui karena faktor umur. Eutanasia berdasarkan bantuan dokter. Hal ini terjadi ketika seorang individu diberikan informasi dan wacana untuk membunuh dirinya sendiri. 3.3. Jika dokter terlibat dalam euthanasia tipe ini. yang juga dipopulerkan oleh Gereja Katholik. D. ini adalah bentuk lain daripada eutanasia agresif secara sukarela Ditinjau dari segi permintaan euthanasia dibedakan menjadi: 1. Kasus ini juga dapat dilihat dari perspektif falsafah ‘efek ganda’. 2. Euthanasia sukarela: ini dilakukan oleh individu yang secara sadar menginginkan kematian. kasus ini pernah dilakukan oleh dr.

penghentian pertolongan tersebut merupakan salah satu bentuk euthanasia. yang sebenarnya dokter sudah tahu bahwa seseorang tersebut tidak akan hidup lama lagi. berikut adalah contoh-contoh euthanasia: 1. Namun. Penderita kanker yang sudah kritis. Nah. ilmu pengetahuan membedakan kematian kedalam tiga jenis: 1. Hal tersebut adalah contoh dari yang namanya euthanasia positif yang dilakukan secara aktif oleh medis.Dalam kemajuan ilmu pengetahuan dan tenologi di bidang medik. tetapi justru menghentikan pernapasannya sekaligus. Sehingga dia akan bisa melakukan pernafasan dengan otomatis dengan bantuan alat pernafasan. Dan jika alat pernafasan tersebut di cabut otomatis jantungnya akan behenti memompakan darahnya keseluruh tubuh. Dysthanasia. Euthanasia. orang sakit yang sudah dalam keadaan koma. 7 . 1. Orthothansia. Berbeda dengan euthanasia negative yang dalam proses tersebut tidak dilakukan tindakan secara aktif (medis bersikap pasif) oleh seorang medis dan contohnya sebagai berikut. merupakan kematian yang terjadi karena proses alamiah. 2. adalah kematian yang terjadi dengan pertolongan atau tidak dengan pertolongan dokter. Seperti yang dialami oleh Nyonya Again (istri hasan) yang mengalami koma selama tiga bulan dan dalam hidupnya membutuhkan alat bantu pernafasan. Bardasarkan pada cara terjadinya. maka tanpa alat tersebut pasien tidak akan bisa hidup. padahal jika dilihat lagi hal itu sudah tidak bisa dilanjutkan lagi dan jika hal itu diteruskan maka kadang akan menambah penderitaan seorang pasien. Tugas seorang dokter adalah untuk menolong jiwa seorang pasien. Kemudian dokter memberinya obat dengan takaran tinggi (overdosis) yang sekiranya dapat menghilangkan rasa sakitnya. kehidupan seorang pasien bisa diperpanjang dan hal ini seringkali membuat para dokter dihadapkan pada sebuah dilema untuk memberikan bantuan tersebut apa tidak dan jika sudah terlanjur diberikan bolehkah untuk dihentikan. ada yang menganggap bahwa orang sakit seperti ini sebagai "orang mati" yang tidak mampu melakukan aktivitas. Seseorang yang sedang menderita kangker ganas atau sakit yang mematikan. adalah kematian yang terjadi secara tidak wajar. 3. Maka memberhentikan alat pernapasan itu sebagai cara yang positif untuk memudahkan proses kematiannya. 2.

Waktu hidup akan berakhir (sakaratul maut) penderitaan pasien diperingan dengan memberikan obat penenang. Berpindahnya ke alam baka dengan tenang dan aman tanpa penderitaan. Dari contoh tersebut. Dalam keadaan demikian ia dapat saja dibiarkan (tanpa diberi pengobatan) apabila terserang penyakit paru-paru atau sejenis penyakit otak. "penghentian pengobatan" merupakan salah satu bentuk eutanasia negatif. buat yang beriman dengan nama Allah di bibir. Artinya dalam setiap tindakan dokter harus bertujuan untuk memelihara kesehatan dan kebahagiaaan manusia. Atau orang yang terkena serangan penyakit paru-paru yang jika tidak diobati (padahal masih ada kemungkinan untuk diobati) akan dapat mematikan penderita. Menggugurkan kandungan (Abortus Provocatus). Menurut gambaran umum. KODEKI pasal 7d juga menjelaskan bahwa “setiap dokter harus senantiasa mengingat akan kewajiban melindungi hidup insani”.disebabkan benturan pada bagian kepalanya atau terkena semacam penyakit pada otak yang tidak ada harapan untuk sembuh. anak-anak yang menderita penyakit seperti itu tidak berumur panjang. Mengenai euthanasia. hukum dan agama. 2. yang mungkin akan dapat membawa kematian anak tersebut. Dalam hal ini. maka menghentikan pengobatan dan mempermudah kematian secara pasif (eutanasia negatif) itu mencegah perpanjangan penderitaan si anak yang sakit atau kedua orang tuanya. Jelasnya bahwa seorang dokter dalam melakukan kegiatan kedikterannya sebagai seorang profesi dikter harus sesuai dengan ilmu kedikteran mutakhir. jika pengobatan terhadapnya dihentikan akan dapat mempercepat kematiannya. Kede etik kedokteran Indonesia Dalam KODEKI pasal 2 dijelaskan bahwa. 1. 3. Jadi dalam menjalankan prifesinya seorang dokter tidak boleh melakukan. mengakhiri kehidupan seorang pasien yang menurut ilmu dan pengetahuan tidak mungkin akan sembuh lagi (euthanasia). Seorang anak yang kondisinya sangat buruk karena menderita kelumpuhan tulang belakang atau kelumpuhan otak. 2. dapat digunakan dalam tiga arti . Mengakhiri penderitaan dari seorang sakit dengan sengaja atas permintaan pasien sendiri dan keluarganya. “seorang dokter harus senantiasa berupaya melaksanakan profesinya sesuai dengan standar profesi tertinggi”.[2] Adapun unsur-unsur dalam pengertian euthanasia dalam pengertian diatas adalah: 8 .

Mengakhiri hidup. Pasien menderita suatu penyakit yang sulit untuk disembuhkan. Atas permintaan pasien dan keluarganya. Kedua. Hal ini dialami oleh Hasan yang mengajukan euthanasia terhadap istrinya dan hal yang sama juga terjadi pada Siti Zulaekha yang akan diajukan euthanasia oleh keluarganya. dilakukan terutama dalam kasus penyakit yang penuh penderitaan dan tak tersembuhkan”. suatu kematian yang mudah atau tanpa rasa sakit. 4. pembunuhan dengan kemurahan hati. atau tidak memperpanjang hidup pasien. Berbuat seauatu atau tidak berbuat sesuatu. 3. 5.1. Istilah yang sangat populer untuk menyebut jenis pembunuhan ini adalah mercy killing (Tongat. Pertama. naamun cuma kebingungan dalam berfikir. Demi kepentingan pasien dan keluarganya. bukan pasien. Sementara itu menurut Kamus Kedokteran Dorland euthanasia mengandung dua pengertian. Konsepsi Euthanasia Euthanasia dalam Oxford English Dictionary dirumuskan sebagai “kematian yang lembut dan nyaman. bahwa euthanasia adalah pilihan yang akan diambil oleh pasien yang berada dalam keadaan tidak sadar tersebut jika si pasien dapat menyatakan 9 . Panca Satrya Hasan Kusuma memohon agar istrinya (Agian Isna Nauli) yang sudah koma sekitar tiga bulan setelah melahirkan putra keduanya. mempercepat kematian. 2. disuntik mati saja. Namun perubahan paradigma berfikir masyarakat bukanlah sebagai arah sebuah kemajuan berfikir. mengandaikan. pengakhiran kehidupan seseorang yang menderita penyakit yang tak dapat disembuhkan dan sangat menyakitkan secara hati-hati dan disengaja. Euthanasia dalam persepektif Hukum Melihat penderitaan istrinya yang tidak kunjung berakhir. non voluntary euthanasia (di sini orang lain. 2003 :44). yaitu voluntary euthanasia (euthanasia yang dilakukan atas permintaan pasien itu sendiri karena penyakitnya tidak dapat disembuhkan dan dia tidak sanggup menahan rasa sakit yang diakibatkannya). Ini merupaka perubahan dalam dinamika masyarakat yang kian mengglobal yang ditandai semakin mudahnya masyarakat mengakses informasi dari berbagai belahan dunia maka semakin sering masyarakat bersentuhan dengan nilai-nilai asing (di luar kebiasaan/norma-norma komunitasnya). Secara konseptual dikenal tiga bentuk euthanasia.

Lebih-lebih di tengah kebingungan kultural karena munculnya pro dan kontra tentang legalitasnya. Secara yuridis formal kualifikasi (yang paling mungkin) untuk kedua kasus ini adalah 10 . Sebab. pada persoalan “legalitas” inilah persoalan euthanasia akan bermuara. Pasal 344 KUHP secara tegas menyatakan :“Barang siapa merampas nyawa orang lain atas permintaan orang itu sendiri yang jelas dinyatakan dengan kesungguhan hati diancam dengan pidana penjara paling lama dua belas tahun”. Patut menjadi catatan. Kedua kasus ini secara konseptual dikualifikasi sebagai non voluntary euthanasia. Siti Zuleha) perlu dicermati secara hukum. involuntary euthanasia (merupakan pengakhiran kehidupan pada pasien tanpa persetujuannya).permintaannya). Ny. Bertolak dari ketentuan Pasal 344 KUHP tersebut tersimpul. tidak dimungkinkan dilakukan “pengakhiran hidup seseorang” sekalipun atas permintaan orang itu sendiri. Agian dan terakhir kasus Rudi Hartono yang mengajukan hal yang sama untuk istrinya. Konstruksi Yuridis Euthanasia Munculnya pro dan kontra seputar persoalan euthanasia menjadi beban tersendiri bagi komunitas hukum. bahwa pembunuhan atas permintaan korban sekalipun tetap diancam pidana bagi pelakunya. Perbuatan tersebut tetap dikualifikasi sebagai tindak pidana. dalam konteks hukum positif di Indonesia euthanasia tetap dianggap sebagai perbuatan yang dilarang. Dengan demikian. Mengacu pada ketentuan tersebut di atas. Kejelasan tentang sejauh mana hukum (pidana) positif memberikan regulasi/pengaturan terhadap persoalan euthanasia akan sangat membantu masyarakat di dalam menyikapi persoalan tersebut. Dengan demikian dalam konteks hukum positif di Indonesia. bahwa secara yuridis formal dalam hukum pidana positif di Indonesia hanya dikenal satu bentuk euthanasia. yaitu euthanasia yang dilakukan atas permintaan pasien/korban itu sendiri (voluntary euthanasia) sebagaimana secara eksplisit diatur dalam Pasal 344 KUHP. maka munculnya kasus permintaan tindakan medis untuk mengakhiri kehidupan yang muncul akhir-akhir ini (kasus Hasan Kesuma yang mengajukan suntik mati untuk istrinya. yaitu sebagai perbuatan yang diancam dengan pidana bagi siapa yang melanggar larangan tersebut. tetapi secara yuridis formal (dalam KUHP) dua kasus ini tidak bisa dikualifikasi sebagai euthanasia sebagaimana diatur dalam Pasal 344 KUHP.

karena pembunuhan dengan pidana penjara paling lama lima belas tahun”. Selain itu patut juga diperhatikan adanya ketentuan dalam Bab XV KUHP khususnya Pasal 304 dan Pasal 306 (2).pembunuhan biasa sebagaimana dimaksud dalam Pasal 338 KUHP. padahal menurut hukum yang berlaku baginya atau karena persetujuan. Sementara dalam ketentuan Pasal 340 KUHP dinyatakan. bahwa dalam konteks hukum positif di Indonesia. Dua pasal terakhir ini juga bermakna melarang terjadinya euthanasia pasif yang sering terjadi di Indonesia. dengan pidana mati atau pidana penjara seumur hidup atau selama waktu tertentu paling lama dua puluh tahun”. atau pembunuhan berencana sebagaimana dimaksud dalam Pasal 340 KUHP. diancam dengan pidana penjara paling lama dua tahun delapan bulan atau denda paling banyak tiga ratus rupiah”. praktik eutanasia tentu saja berbenturan dengan nilai-nilai etika dan moral yang menjunjung 11 . “ Barang siapa sengaja merampas nyawa orang lain diancam. Dua ketentuan terakhir tersebut di atas memberikan penegasan.“Barang siapa dengan sengaja menempatkan atau membiarkan seorang dalam keadaan sengsara. meskipun pelaksanaannya tidak harus dan tidak selalu dengan suntikan. karena pembunuhan berencana.[3] Di luar dua ketentuan di atas juga terdapat ketentuan lain yang dapat digunakan untuk menjerat pelaku euthanasia. yaitu ketentuan Pasal 356 (3) KUHP yang juga mengancam terhadap “Penganiayaan yang dilakukan dengan memberikan bahan yang berbahaya bagi nyawa dan kesehatan untuk dimakan atau diminum”. merupakan sebuah persoalan dilematis. Dalam ketentuan Pasal 304 KUHP dinyatakan. perbuatan tersebut dikenakan pidana penjara maksimal sembilan tahun”. perawatan atau pemeliharaan kepada orang itu. meninggalkan orang yang perlu ditolong juga dikualifikasi sebagai tindak pidana. “ Barang siapa dengan sengaja dan dengan rencana lebih dulu merampas nyawa orang lain diancam. Kiranya persoalan euthanasia. mengingat kematian menjadi tujuan. “Jika mengakibatkan kematian. Selain hukum. Euthanasia di Negara lain bertentangan dengan nilai-nilai etika. dia wajib memberikan kehidupan.[4] Sementara dalam ketentuan Pasal 306 (2) KUHP dinyatakan. Dalam ketentuan Pasal 338 KUHP secara tegas dinyatakan. moral karena termasuk perbuatan yang merendahkan martabat manusia dan perbuatannya tergolong pembunuhan.

ada sebuah ayat yang menyiratkan hal tersebut.tinggi harkat dan martabat kehidupan manusia. Islam mengakui hak seseorang untuk hidup dan mati. Di Negara-negara Eropa (Belanda) dan Amerika tindakan euthanasia mendapatkan tempat tersendiri yang diakui legalitasnya. yang makna langsungnya adalah "Janganlah kamu saling berbunuhan. karena sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik. dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan. hal ini juga dilakukan oleh Negara Jepang. yaitu suatu tindakan memudahkan kematian seseorang dengan sengaja tanpa merasakan sakit. namun hak tersebut merupakan anugerah Allah kepada manusia." (QS 2: 195). dan dalam ayat lain disebutkan. seorang Muslim (dokter) yang membunuh seorang Muslim lainnya (pasien) disetarakan dengan membunuh dirinya sendiri. Seperti dalam agama-agama Ibrahim lainnya (Yahudi dan Kristen)." Dengan demikian. dan berbuat baiklah. "Janganlah engkau membunuh dirimu sendiri. dengan tujuan meringankan penderitaan si sakit. 12 . Tentunya dalam melakukan tindakan euthanasia harus melalui prosedur dan persyaratan-persyaratan yang harus dipenuhi agar euthanasia bisa dilakukan. karena kasih sayang. Oleh karena itu." (QS 4: 29). Didalam KUHP Austria Pasal 139 a berbunyi . baik dengan cara positif maupun negatif. “Seseorang yang membunuh orang lain atas permintaan yang jelas dan sungguhsungguh terhadap korban dianggap bersalah melakukan delik berat pembunuhan manusia atas permintaan akan dipidana dengan pidana penjara berat dari lima sampai sepuluh tahun”.[25] Eutanasia dalam ajaran Islam disebut qatl ar-rahmah atau taisir al-maut (eutanasia). 2: 243). Kendati demikian. Adanya indikasi-indikasi baik medis maupun ekonomis tidak secara otomatis melegitimasi praktik eutanasia mengingat eutanasia berhadapan dengan faham nilai menyangkut hak dan kewajiban menghormati dan membela kehidupan. Hanya Allah yang dapat menentukan kapan seseorang lahir dan kapan ia mati (QS 22: 66. "Dan belanjakanlah (hartamu) di jalan Allah. bunuh diri diharamkan dalam hukum Islam meskipun tidak ada teks dalam Al Quran maupun Hadis yang secara eksplisit melarang bunuh diri.

karena Dia-lah yang memberi kehidupan kepada manusia dan yang mencabutnya apabila telah tiba ajal yang telah ditetapkan-Nya.[26] eutanasia positif ialah tindakan memudahkan kematian si sakit karena kasih sayang yang dilakukan oleh dokter dengan mempergunakan instrumen (alat). dinyatakan bahwa tidak ada suatu alasan yang membenarkan dilakukannya eutanasia ataupun pembunuhan berdasarkan belas kasihan (mercy killing) dalam alasan apapun juga . Karena itu serahkanlah urusan tersebut kepada Allah Ta'ala. Pada eutanasia negatif tidak dipergunakan alat-alat atau langkah-langkah aktif untuk mengakhiri kehidupan si sakit. mengobati atau berobat ini hanya berkisar pada hukum mubah. Sebab dalam tindakan ini seorang dokter melakukan suatu tindakan aktif dengan tujuan membunuh si sakit dan mempercepat kematiannya melalui pemberian obat secara overdosis dan ini termasuk pembunuhan yang haram hukumnya. Karena bagaimanapun si dokter tidaklah lebih pengasih dan penyayang daripada Yang Menciptakannya. dan sebagian ulama lagi menganggapnya mustahab (sunnah). sesuai dengan sunnatullah (hukum Allah terhadap alam semesta) dan hukum sebab-akibat. Perbuatan demikian itu adalah termasuk dalam kategori pembunuhan meskipun yang mendorongnya itu rasa kasihan kepada si sakit dan untuk meringankan penderitaannya.[27] Eutanasia negatif disebut dengan taisir al-maut al-munfa'il. Bahkan menurut mereka. Dalam hal ini hanya segolongan kecil yang mewajibkannya seperti yang dikatakan oleh sahabat-sahabat Imam Syafi'i dan Imam Ahmad sebagaimana dikemukakan oleh Syekhul Islam Ibnu Taimiyah. Memudahkan proses kematian secara aktif (eutanasia positif) adalah tidak diperkenankan oleh syara'.[28] 13 . Di antara masalah yang sudah terkenal di kalangan ulama syara' ialah bahwa mengobati atau berobat dari penyakit tidak wajib hukumnya menurut jumhur fuqaha dan imam-imam mazhab.Pada konferensi pertama tentang kedokteran Islam di Kuwait tahun 1981. Hal ini didasarkan pada keyakinan dokter bahwa pengobatan yang dilakukan itu tidak ada gunanya dan tidak memberikan harapan kepada si sakit. tetapi ia hanya dibiarkan tanpa diberi pengobatan untuk memperpanjang hayatnya. bahkan termasuk dosa besar yang membinasakan.

Hampir semua rasa sakit bisa dihilangkan. Namun pada zaman ini. tapi mereka tetap harus di-euthanasia-kan karena cara tersebut tidak terpuji. bukan yang akan membunuh sang pasien. Ada banyak spesialis yang sudah dibekali dengan keahlian tersebut yang tidak hanya dapat mengontrol rasa sakit fisik seseorang. Dengan catatan dokter tersebut haruslah seseorang yang akan mengontrol rasa sakit itu. Karena itulah kita bisa menyimpulkan bahwa sebenarnya tidak ada rasa sakit yang tidak terkendali. Jika hal ini terjadi. adapun yang sudah sebegitu parah bisa dikurang jika perawatan yang dibutuhkan tersedia dengan baik. Rasa Sakit yang Tidak Tertahankan Mungkin argumen terbesar dalam konflik euthanasia adalah jika si pasien tersebut mengalami rasa sakit yang amat besar. hendaklah pasien tersebut mencari doketr lain. Solusi terbaik untuk masalah ini adalah dengan meningkatkan mutu para profesional medis dan dengan menginformasikan pada setiap pasien. apa saja hak-hak mereka sebagai seorang pasien. Meskipun begitu. namun beberapa pendapat menyatakan bahwa hal tersebut memang bisa dilakukan dengan mengirim seseorang ke keadaan tanpa rasa sakit. Alasan Dilakukan Euthanasia Euthanasia adalah sebuah aksi pencabutan nyawa seseorang. Euthanasia memang sekilas merupakan jawaban dari stress yang disebabkan oleh rasa sakit yang semakin menjadi. penemuan semakin gencar untuk mengatasi rasa sakit tersebut. berikut adalah tiga alasan utama mengapa euthanasia itu bisa dilakukan: 1. yang secara langsung menyebabkan presentase terjadinya “assisted suicide” berkurang. sehingga mereka tidak tahu bagaimana harus bertindak apabila seorang pasien mengalami rasa sakit yang luar biasa. Karena itu dilakukannya aksi tersebut harus didukung dengan alasan yang kuat. namun juga dapat mengatasi 14 . Tapi euthanasia bukalah jawaban dari skandal tersebut. Namun ada juga yang dinamakan “drugged state” atau suatu saat dimana kita tak merasakan rasa sakit apapun karena pengaruh obat. Dari beberapa survey negara dan penyaringan sumber.E. beberapa dokter tidak dibekali dengan “pain management” atau cara medis menghilangkan rasa sakit.

melawan permintaan pasien. menunda kematian dengan alasan hukum dan sebagainya juga bisa dinilai kejam dan tidak berperikemanusiaan. Bunuh diri adalah suatu tragedi. Haruskah Seseorang Dipaksa untuk Hidup? Jawabannya adalah tidak. yaitu “hak”. Euthanasia bukanlah memberikan seseorang hak untuk mengakhiri hidupnya. hal seperti itu tidak melanggar hukum. Manusia memang punya hak untuk bunuh diri. yang kita bicarakan di sini bukanlah memberi hak untuk seseorang yang dibunuh. kerabat. tapi sebaliknya. Bahkan tidak ada hukum atau etika medis yang menyatakan bahwa apapun akan dilakukan untuk mempertahankan pasien tetap hidup. Hak untuk Melakukan Bunuh Diri Mungkin hal kedua bagi para pro-euthanasia adalah jika kita mengangkat hal paling dasar dari semuanya. atau tidak terdengar sebagai perilaku medis. Saat itulah perawatan lebih lanjut menjadi tindakan yang tanpa rasa kasihan. tetapi memberikan hak pada orang yang melakukan pembunuhan tersebut. Desakan. 3. Euthanasia bukanlah aksi pribadi. Hal yang harus dilakukan adalah dengan menyediakan perawatan di rumah. atau orang lain dapat dengan sengaja mengakhiri hidup seseorang.depresi dan penderitaan mental yang biasanya mengiringi rasa sakit luar biasa tersebut. Tapi jika kita teliti lebih dalam. 2. aksi sendiri. ini adalah persoalan mengubah hukum agar dokter. melainkan membiarkan seseorang memfasilitasi kematian orang lain. tidak bijak. Ini bisa mengarah ke suatu tindakan penyiksaan pada akhirnya. euthanasia bukanlah hak seseorang untuk mati. Dengan kata lain. tetapi hak untuk membunuh. bantuan dukungan emosional dan spiritual bagi pasien dan membiarkan sang pasien merasa nyaman dengan sisa waktuny 15 .

baik bagi si pasien maupun bagi pihak keluarga. bukan lagi bagi 16 .BAB III PENUTUP A. Kesimpulan Mengingat kondisi demikian. Perhatian dan kasih sayang sangat diperlukan bagi penderita sakit terminal. yang dibutuhkan kemudian adalah perawatan dan pendampingan.

untuk mempertahankan hidup. autonomi dan inkonsistensi hukum. argumen-argumen yang telah dikemukakan di atas lebih kuat. Argumen terakhir adalah sulitnya untuk melegalisir euthanasia karena sulitnya membuat standar prosedur yang efektif. baik orang lain maupun diri sendiri adalah imoral karena merupakan tindak sengaja untuk membunuh seorang manusia. Bagaimanapun si pasien adalah manusia yang masih hidup. Penulis menentang dilakukannya euthanasia atas dasar etika. munculnya permintaan tindakan medis euthanasia hakikatnya menjadi indikasi. tugas seorang dokter adalah untuk menyembuhkan. bukan membunuh. Jelas bahwa hukum (pidana) positif di Indonesia belum memberikan ruang bagi euthanasia baik euthanasia aktif maupun euthanasia pasif. Dasar agama adalah argumen berikutnya. Argumen pertama yaitu secara etika. Dari segi legal. B. Dari segi respek moral. tetapi lebih pada kebutuhan psikis dan emosional. agama.kebutuhan fisik. Pengalaman di negeri Belanda telah membuktikan konsep slippery slope. euthanasia dapat disalahgunakan. Saran 17 . betapa masyarakat sedang mengalami pergeseran nilai kultural. moral dan legal. bukan untuk mengakhirinya. Pertama. di mana dokter percaya kesucian dan kemuliaan kehidupan manusia. maka perlakuan yang seharusnya adalah perlakuan yang manusiawi kepadanya. melegalisir voluntary euthanasia dapat mengarah kepada dilakukannya involuntary euthanasia dan membuat orang-orang lemah seperti orang lanjut usia dan para cacat berada dalam risiko. Kelompok pro-euthanasia mungkin akan menentang pendapat ini dengan menggunakan argumen quality of life. sehingga baik secara langsung maupun tidak kita dapat membantu si pasien menyelesaikan persoalan-persoalan pribadinya dan kemudian hari siap menerima kematian penuh penyerahan kepada penyelenggaraan Tuhan Yang Maha Esa. pilihan untuk membunuh. dan juga dengan pandangan bahwa apabila dilegalisir. seorang dokter yang melakukan euthanasia atau membantu orang yang bunuh diri telah melakukan tindakan melanggar hukum. Lebih jauh lagi. kesimpulan normatif ini urgen untuk disampaikan mengingat berbagai hal. Selanjutnya hal ini juga dapat memberikan tekanan kepada mereka yang merasa diabaikan atau merasa sebagai beban keluarga atau teman. Namun demikian. Tanpa harus mengesampingkan pendapat lain.

baik sosial. Setiawan Budi Utomo. etika. (1999) Etika Kedokteran dan Hukum Kesehatan. Jakarta: EGC Dr. DAFTAR PUSTAKA Hanafiah.M. (2011).amri. Diakses pada tanggal 7 April 2011.p. maupun moral. oleh endang.Apabila hukum di Indonesia kelak mau menjadikan persoalan eutanasia sebagai salah satu materi pembahasan.jusuf & Amir. Hukum Euthanasia dan Etika Kedokteran. semoga tetap diperhatikan dan dipertimbangkan sisi nilai-nilainya. dari 18 .

diakses pada tanggal 7 April 2011.scribd. Euthanasi .(2011).http://www.com/doc/11639357/Euthanasia-Persepetif-Medis-DanHukum-Pidana-Indonesia 19 . oleh ahttp://www.com/konsultasi/fikih-kontemporer/hukum-euthanasia-dankode-etik-kedokteran.eramuslim.htm Lady perona.