P. 1
lengkap2

lengkap2

|Views: 35|Likes:

More info:

Published by: Monicca Fauziie Ariezz on Jun 08, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

06/08/2011

pdf

text

original

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Sejauh ini Indonesia memang belum mengatur secara spesifik mengenai euthanasia(Mercy Killing). Euthanasia atau menghilangkan nyawa orang atas permintaan dirinya sendiri[1] sama dengan perbuatan pidana menghilangkan nyawa seseorang. Dan halini masih menjadi perdebatan pada beberapa kalangan yang menyetujui tentang euthanasia dan pihak yang tidak setuju tentang euthanasia.

Pihak yang menyetujui euthanasia dapat dilakukan, hal ini berdasarkan bahwa setiap manusia memiliki hak untuk hidup dan hak untuk mengakhiri hidupnya dengan segera dan hal ini dilakukan dengan alasan yang cukup mendukung yaitu alasan kemanusian. Dengan keadaan dirinya yang tidak lagi memungkinkan untuk sembuh atau bahkan hidup, maka ia dapat melakukan permohonan untuk segera diakhiri hidupnya. Sementara sebagian pihak yang tidak membolehkan euthanasia beralasan bahwa setiap manusia tidak memiliki hak untuk mengakhiri hidupnya, karena masalah hidup dan mati adalah kekuasaan mutlak Tuhan yang tidak bisa diganggu gugat oleh manusia. Perdebatan ini tidak akan pernah berakhir, karena sudut pandang yang dipakai sangatlah bertolak belakang, dan lagi-lagi alasan perdebatan tersebut adalah masalah legalitas dari perbuatan euthanasia. Walaupun pada dasarnya tindakan euthanasia termasuk dalam perbuatan tindak pidana yang diatur dalam pasal 344 Kitab Undang- undang Hukum Pidana (KUHP). Di Negara-negara Eropa (Belanda) dan Amerika tindakan euthanasia mendapatkan tempat tersendiri yang diakui legalitasnya, hal ini juga dilakukan oleh Negara Jepang. Tentunya dalam melakukan tindakan euthanasia harus melalui prosedur dan persyaratan persyaratan yang harus dipenuhi agar euthanasia bisa dilakukan. Ada tiga petunjuk yang dapat digunakan untuk menentukan syarat prasarana luar biasa. Pertama, dari segi medis ada kepastian bahwa penyakit sudah tidak dapat disembuhkan lagi. Kedua, harga
1

Ketiga. Bahkan. belum dikabulkan. euthanasia dengan menyuntik mati disamakan dengan tindakan pidana pembunuhan. Permasalahan Menyangkut feomena yang ada akan menimbulkan beberapa permasalahan yang harus kita selesaikan dengan seksama. Jika memang dokter sudah angkat tangan dan memastikan secara medis penyakit tidak dapat disembuhkan serta masih butuh biaya yang sangat besar jika masih harus dirawat. maupun moral. semoga tetap diperhatikan dan dipertimbangkan sisi nilai-nilainya. dan sebelum permohonan dikabulkan korban sembuh dari komanya dan dinyatakan sehat oleh dokter. 1. Di Indonesia masalah euthanasia masih belum mandapatkan tempat yang diakui secara yuridis dan mungkinkah dalam perkembangan Hukum Positif Indonesia. sementara dokter pun sudah angkat tangan? 2. Dan akhirnya korban yang mengalami koma dan ganguan permanen pada otaknya sempat dimintakan untuk dilakukan euthanasia. baik sosial. euthanasia akan mendapatkan tempat yang diakui secara yuridis.obat dan biaya tindakan medis sudah terlalu mahal. Apakah dimungkinkan adanya terobosan baru dalam hukum berdasarkan kasus-kasus berat. Apabila hukum di Indonesia kelak mau menjadikan persoalan euthanasia sebagai salah satu materi pembahasan. bagaimana Euthanasia menurut persepektif hukum Pidana Indonesia? 2 . Dalam kasus kasus seperti inilah orang sudah tidak diwajibkan lagi untuk mengusahakan obat atau tindakan medis. maka yang dapat dilakukan adalah memberhentikan proses pengobatan dan tindakan medis di rumah sakit. Alternatif terakhir yang mungkin bisa diambil adalah penggunaan sarana via extraordinaria. Dari latar belakang demikian ini penulis mendapatkan beberapa permasalahan yang akan kita bahas dalam bab-bab berikutnya antara lain. Kasus yang terakhir yang pengajuan permohonan euthanasia oleh suami Again ke Pengadilan Negeri Jakarta. dibutuhkan usaha ekstra untuk mendapatkan obat atau tindakan medis tersebut. apalagi perawatan harus diusahakan secara ekstra. etika. seperti secara medis penyakit sudah tidak bisa lagi disembuhkan. Mengingat hukum kita menganut positifistik.

B. Tujuan Penulisan 1. Perawat mampumemahami konsep euthanasia 2. Mengetahui beberapa pandangan pendapat tentang euthanasia BAB II PEMBAHASAN 3 .

dengan tujuan meringankan penderitaan si sakit. 3. C. ( Setiawan. hilangnya manusia secara pemanen untuk kembali sadar dan melakukan interaksi sosial. baik dengan cara positif maupun negative. 2. mati sebagai terlepasnya nyawa dari tubuh. dan biasanya tindakan ini dilakukan oleh kalangan medis. Bebrapa konsep tentang mati yakni: 1.2011) B. Usaha manusia untuk memperpanjang kehidupan dan menghindari kematian dengan menggunakan kemajuan tenaga kesehatan telah membawa masalah baru dalam euthanasia. hilangnya kemampuan tubuh secara permanen. mati sebagai berhentinya darah mengalir. agar pasien tersebut dapat meninggal secara wajar. Pengertian euthanasia ialah tindakan memudahkan kematian seseorang dengan sengaja tanpa merasakan sakit. budi. dengan aksi atau dengan penghilangan suatu hak pengobatan yang seharusnya didapatkan oleh pasien. terutama berkenaan terutama penentuan kapan seseorang dinyatakan telah mati. aksi tersebut dilakukan dengan sangat hati-hati dan dengan berbagai perhitungan terlebih dahulu. negara pertama di dunia yang telah secara hukum menyetujui euthanasia. Kata kuncinya adalah disengaja. Meskipun begitu. Konsep tentang Kematian Perkembangan euthanasia tidak terlepas dari konsep tentang kematian. maka hal tersebut bukanlah euthanasia. artinya jika aksi tersebut dilakukan dengan tidak sengaja. karena kasih sayang.(Hanafi dan Amir. 4.1999) Aksi ini dilakukan secara legal menurut undang-undang untuk pertama kali adalah di negara Belanda. Pengertian Euthanasia Euthanasia adalah pembunuhan dalam segi medis yang disengaja.A. Jenis Euthanasia 4 .

sedangkan dokter ahli berkeyakinan bahwa penderita tidak akan dapat disembuhkan. dalam hal ini dokter yakin bahwa yang bersangkutan akan meningggal dunia. Beberapa tujuan pokok dari dilakukannya eutanasia antara lain yaitu : 1. 2. namun mengetahui resiko tersebut dapat memp-erpendek atau menggakhiri hidup pasien. Contoh dari kasus ini adalah penghentian pemberian nutrisi. Contoh dari kasus ini adalah memberikan suntik mati. Euthanasia aktif langsung adalah dilakukanya tindakan medik secara terarahyang diperhitungkan akan mengakhiri hidup pasien. 2.Dillihat dari cara pelaksanaanya. Orang yang mengalami keadaan koma yang sangat lama. tetapi menghentikan pernapasannya sekaligus. Pembunuhan berdasarkan belas kasihan (mercy killing) Eutanasia hewan 5 . Euthanasia dapat di bedakan: 1. Kemudian dokter memberinya obat dengan takaran tinggi (overdosis) yang sekiranya dapat menghilangkan rasa sakitnya. Hal ini ilegal di Britania Raya dan Indonesia. dan ventilator. Seseorang menderita kanker ganas dengan rasa sakit yang luar biasa hingga penderita sering pingsan. Disebut juga mercy killing. Euthanasia aktif dapat dibedakan: 1. air. Euthanasia aktif tak langsung adalah dimana dokter atau tenaga kesehatan melakukan tindakan medik untuk meringankan penderitaan pasien. Euthanasia aktif menjabarkan kasus ketika suatu tindakan dilakukan dengan tujuan untuk menimbulkan kematian. Beberapa contoh kasus ethanisia aktif diantaranya: 1. 2. Dalam keadaan demikian ia hanya mungkin dapat hidup dengan mempergunakan alat pernafasan. 2. misalnya karena bagian otaknya terserang penyakit atau bagian kepalanya mengalami benturan yang sangat keras. Euthanasia pasif menjabarkan kasus ketika kematian diakibatkan oleh penghentian tindakan medis.

kasus ini pernah dilakukan oleh dr. Eutanasia berdasarkan bantuan dokter. namun tindakan itu akan diterima jika tidak disengaja. ini adalah bentuk lain daripada eutanasia agresif secara sukarela Ditinjau dari segi permintaan euthanasia dibedakan menjadi: 1. 4. Di Amerika Serikat. Prinsip ini berasal dari filsafat moral Immanuel Kant. Jika dokter terlibat dalam euthanasia tipe ini. namun hal ini tidak dilakukan. Jack Kevorkian. 2.3. ketidak mampuan fisik dan mental. D. Kasus serupa dapat terjadi ketika permintaan untuk melanjutkan perawatan ditolak. Euthanasia sukarela: ini dilakukan oleh individu yang secara sadar menginginkan kematian. Euthanasia dalam persepektif Medis 6 . Euthanasia non sukarela: ini terjadi ketika individu tidak mampu untuk menyetujui karena faktor umur. Pihak ketiga dapat dilibatkan. dapat memperpendek umur pasien. Falsafah ‘efek ganda’ menekankan bahwa suatu efek tindakan tidak akan bisa diterima secara moral ketika ia terjadi secara sengaja. seperti pemberian Morfin. yang juga dipopulerkan oleh Gereja Katholik. Hal ini terjadi ketika seorang individu diberikan informasi dan wacana untuk membunuh dirinya sendiri. Kasus ini juga dapat dilihat dari perspektif falsafah ‘efek ganda’. Namun pemberian morfin tidak dimaksukan untuk menimbulkan kematian. biasanya disebut sebagai ‘bunuh diri atas pertolongan dokter’. namun tidak harus hadir dalam aksi bunuh diri tersebut. 3. Euthanasia tidak sukarela: ini terjadi ketika pasien yang sedang sekarat dapat ditanyakan persetujuan. Ada kasus ketika meningkatkan dosis pengurang rasa sakit. Bantuan bunuh diri: ini sering diklasifikasikan sebagai salah satu bentuk euthanasia. Sebagai contoh dari kasus ini adalah menghentikan bantuan makanan dan minuman untuk pasien yang berada di dalam keadaan vegetatif (koma). sehingga dipandang secara moral berbeda.

1. penghentian pertolongan tersebut merupakan salah satu bentuk euthanasia. Orthothansia. kehidupan seorang pasien bisa diperpanjang dan hal ini seringkali membuat para dokter dihadapkan pada sebuah dilema untuk memberikan bantuan tersebut apa tidak dan jika sudah terlanjur diberikan bolehkah untuk dihentikan. Bardasarkan pada cara terjadinya. Namun. 2. Seseorang yang sedang menderita kangker ganas atau sakit yang mematikan. maka tanpa alat tersebut pasien tidak akan bisa hidup. Euthanasia. Dan jika alat pernafasan tersebut di cabut otomatis jantungnya akan behenti memompakan darahnya keseluruh tubuh. yang sebenarnya dokter sudah tahu bahwa seseorang tersebut tidak akan hidup lama lagi. merupakan kematian yang terjadi karena proses alamiah. 3. Dysthanasia. 7 . Hal tersebut adalah contoh dari yang namanya euthanasia positif yang dilakukan secara aktif oleh medis. ilmu pengetahuan membedakan kematian kedalam tiga jenis: 1. berikut adalah contoh-contoh euthanasia: 1. orang sakit yang sudah dalam keadaan koma. adalah kematian yang terjadi dengan pertolongan atau tidak dengan pertolongan dokter. Sehingga dia akan bisa melakukan pernafasan dengan otomatis dengan bantuan alat pernafasan. Nah. Berbeda dengan euthanasia negative yang dalam proses tersebut tidak dilakukan tindakan secara aktif (medis bersikap pasif) oleh seorang medis dan contohnya sebagai berikut. 2. Seperti yang dialami oleh Nyonya Again (istri hasan) yang mengalami koma selama tiga bulan dan dalam hidupnya membutuhkan alat bantu pernafasan. adalah kematian yang terjadi secara tidak wajar. Kemudian dokter memberinya obat dengan takaran tinggi (overdosis) yang sekiranya dapat menghilangkan rasa sakitnya. Penderita kanker yang sudah kritis. tetapi justru menghentikan pernapasannya sekaligus. Tugas seorang dokter adalah untuk menolong jiwa seorang pasien. Maka memberhentikan alat pernapasan itu sebagai cara yang positif untuk memudahkan proses kematiannya. padahal jika dilihat lagi hal itu sudah tidak bisa dilanjutkan lagi dan jika hal itu diteruskan maka kadang akan menambah penderitaan seorang pasien.Dalam kemajuan ilmu pengetahuan dan tenologi di bidang medik. ada yang menganggap bahwa orang sakit seperti ini sebagai "orang mati" yang tidak mampu melakukan aktivitas.

2. buat yang beriman dengan nama Allah di bibir. Jadi dalam menjalankan prifesinya seorang dokter tidak boleh melakukan. mengakhiri kehidupan seorang pasien yang menurut ilmu dan pengetahuan tidak mungkin akan sembuh lagi (euthanasia). Berpindahnya ke alam baka dengan tenang dan aman tanpa penderitaan. Kede etik kedokteran Indonesia Dalam KODEKI pasal 2 dijelaskan bahwa. Mengakhiri penderitaan dari seorang sakit dengan sengaja atas permintaan pasien sendiri dan keluarganya.disebabkan benturan pada bagian kepalanya atau terkena semacam penyakit pada otak yang tidak ada harapan untuk sembuh. jika pengobatan terhadapnya dihentikan akan dapat mempercepat kematiannya. KODEKI pasal 7d juga menjelaskan bahwa “setiap dokter harus senantiasa mengingat akan kewajiban melindungi hidup insani”. Dalam hal ini. 1. “seorang dokter harus senantiasa berupaya melaksanakan profesinya sesuai dengan standar profesi tertinggi”. yang mungkin akan dapat membawa kematian anak tersebut. maka menghentikan pengobatan dan mempermudah kematian secara pasif (eutanasia negatif) itu mencegah perpanjangan penderitaan si anak yang sakit atau kedua orang tuanya. Waktu hidup akan berakhir (sakaratul maut) penderitaan pasien diperingan dengan memberikan obat penenang. 2. anak-anak yang menderita penyakit seperti itu tidak berumur panjang. Menggugurkan kandungan (Abortus Provocatus). Jelasnya bahwa seorang dokter dalam melakukan kegiatan kedikterannya sebagai seorang profesi dikter harus sesuai dengan ilmu kedikteran mutakhir. 3.[2] Adapun unsur-unsur dalam pengertian euthanasia dalam pengertian diatas adalah: 8 . Mengenai euthanasia. Seorang anak yang kondisinya sangat buruk karena menderita kelumpuhan tulang belakang atau kelumpuhan otak. Atau orang yang terkena serangan penyakit paru-paru yang jika tidak diobati (padahal masih ada kemungkinan untuk diobati) akan dapat mematikan penderita. dapat digunakan dalam tiga arti . Dari contoh tersebut. hukum dan agama. "penghentian pengobatan" merupakan salah satu bentuk eutanasia negatif. Artinya dalam setiap tindakan dokter harus bertujuan untuk memelihara kesehatan dan kebahagiaaan manusia. Dalam keadaan demikian ia dapat saja dibiarkan (tanpa diberi pengobatan) apabila terserang penyakit paru-paru atau sejenis penyakit otak. Menurut gambaran umum.

Ini merupaka perubahan dalam dinamika masyarakat yang kian mengglobal yang ditandai semakin mudahnya masyarakat mengakses informasi dari berbagai belahan dunia maka semakin sering masyarakat bersentuhan dengan nilai-nilai asing (di luar kebiasaan/norma-norma komunitasnya). Pertama. mengandaikan. Secara konseptual dikenal tiga bentuk euthanasia. Berbuat seauatu atau tidak berbuat sesuatu. non voluntary euthanasia (di sini orang lain. Euthanasia dalam persepektif Hukum Melihat penderitaan istrinya yang tidak kunjung berakhir. Atas permintaan pasien dan keluarganya. pengakhiran kehidupan seseorang yang menderita penyakit yang tak dapat disembuhkan dan sangat menyakitkan secara hati-hati dan disengaja. 5. suatu kematian yang mudah atau tanpa rasa sakit. Hal ini dialami oleh Hasan yang mengajukan euthanasia terhadap istrinya dan hal yang sama juga terjadi pada Siti Zulaekha yang akan diajukan euthanasia oleh keluarganya. bukan pasien. bahwa euthanasia adalah pilihan yang akan diambil oleh pasien yang berada dalam keadaan tidak sadar tersebut jika si pasien dapat menyatakan 9 . Panca Satrya Hasan Kusuma memohon agar istrinya (Agian Isna Nauli) yang sudah koma sekitar tiga bulan setelah melahirkan putra keduanya. Mengakhiri hidup. 2003 :44). 3. dilakukan terutama dalam kasus penyakit yang penuh penderitaan dan tak tersembuhkan”. 4.1. Istilah yang sangat populer untuk menyebut jenis pembunuhan ini adalah mercy killing (Tongat. atau tidak memperpanjang hidup pasien. disuntik mati saja. Konsepsi Euthanasia Euthanasia dalam Oxford English Dictionary dirumuskan sebagai “kematian yang lembut dan nyaman. Kedua. Sementara itu menurut Kamus Kedokteran Dorland euthanasia mengandung dua pengertian. 2. Pasien menderita suatu penyakit yang sulit untuk disembuhkan. naamun cuma kebingungan dalam berfikir. Namun perubahan paradigma berfikir masyarakat bukanlah sebagai arah sebuah kemajuan berfikir. Demi kepentingan pasien dan keluarganya. yaitu voluntary euthanasia (euthanasia yang dilakukan atas permintaan pasien itu sendiri karena penyakitnya tidak dapat disembuhkan dan dia tidak sanggup menahan rasa sakit yang diakibatkannya). pembunuhan dengan kemurahan hati. mempercepat kematian.

Konstruksi Yuridis Euthanasia Munculnya pro dan kontra seputar persoalan euthanasia menjadi beban tersendiri bagi komunitas hukum. Sebab. involuntary euthanasia (merupakan pengakhiran kehidupan pada pasien tanpa persetujuannya).permintaannya). dalam konteks hukum positif di Indonesia euthanasia tetap dianggap sebagai perbuatan yang dilarang. Lebih-lebih di tengah kebingungan kultural karena munculnya pro dan kontra tentang legalitasnya. tidak dimungkinkan dilakukan “pengakhiran hidup seseorang” sekalipun atas permintaan orang itu sendiri. Pasal 344 KUHP secara tegas menyatakan :“Barang siapa merampas nyawa orang lain atas permintaan orang itu sendiri yang jelas dinyatakan dengan kesungguhan hati diancam dengan pidana penjara paling lama dua belas tahun”. Siti Zuleha) perlu dicermati secara hukum. Perbuatan tersebut tetap dikualifikasi sebagai tindak pidana. bahwa secara yuridis formal dalam hukum pidana positif di Indonesia hanya dikenal satu bentuk euthanasia. Patut menjadi catatan. yaitu euthanasia yang dilakukan atas permintaan pasien/korban itu sendiri (voluntary euthanasia) sebagaimana secara eksplisit diatur dalam Pasal 344 KUHP. Agian dan terakhir kasus Rudi Hartono yang mengajukan hal yang sama untuk istrinya. maka munculnya kasus permintaan tindakan medis untuk mengakhiri kehidupan yang muncul akhir-akhir ini (kasus Hasan Kesuma yang mengajukan suntik mati untuk istrinya. yaitu sebagai perbuatan yang diancam dengan pidana bagi siapa yang melanggar larangan tersebut. tetapi secara yuridis formal (dalam KUHP) dua kasus ini tidak bisa dikualifikasi sebagai euthanasia sebagaimana diatur dalam Pasal 344 KUHP. pada persoalan “legalitas” inilah persoalan euthanasia akan bermuara. Dengan demikian. Dengan demikian dalam konteks hukum positif di Indonesia. Secara yuridis formal kualifikasi (yang paling mungkin) untuk kedua kasus ini adalah 10 . Mengacu pada ketentuan tersebut di atas. Ny. Kedua kasus ini secara konseptual dikualifikasi sebagai non voluntary euthanasia. Bertolak dari ketentuan Pasal 344 KUHP tersebut tersimpul. Kejelasan tentang sejauh mana hukum (pidana) positif memberikan regulasi/pengaturan terhadap persoalan euthanasia akan sangat membantu masyarakat di dalam menyikapi persoalan tersebut. bahwa pembunuhan atas permintaan korban sekalipun tetap diancam pidana bagi pelakunya.

atau pembunuhan berencana sebagaimana dimaksud dalam Pasal 340 KUHP.[3] Di luar dua ketentuan di atas juga terdapat ketentuan lain yang dapat digunakan untuk menjerat pelaku euthanasia. perawatan atau pemeliharaan kepada orang itu. padahal menurut hukum yang berlaku baginya atau karena persetujuan. Euthanasia di Negara lain bertentangan dengan nilai-nilai etika. Dua ketentuan terakhir tersebut di atas memberikan penegasan.“Barang siapa dengan sengaja menempatkan atau membiarkan seorang dalam keadaan sengsara. Dalam ketentuan Pasal 338 KUHP secara tegas dinyatakan. mengingat kematian menjadi tujuan. “ Barang siapa sengaja merampas nyawa orang lain diancam. bahwa dalam konteks hukum positif di Indonesia. moral karena termasuk perbuatan yang merendahkan martabat manusia dan perbuatannya tergolong pembunuhan. praktik eutanasia tentu saja berbenturan dengan nilai-nilai etika dan moral yang menjunjung 11 . Sementara dalam ketentuan Pasal 340 KUHP dinyatakan.pembunuhan biasa sebagaimana dimaksud dalam Pasal 338 KUHP. karena pembunuhan dengan pidana penjara paling lama lima belas tahun”. Selain itu patut juga diperhatikan adanya ketentuan dalam Bab XV KUHP khususnya Pasal 304 dan Pasal 306 (2). meninggalkan orang yang perlu ditolong juga dikualifikasi sebagai tindak pidana. Dalam ketentuan Pasal 304 KUHP dinyatakan. Dua pasal terakhir ini juga bermakna melarang terjadinya euthanasia pasif yang sering terjadi di Indonesia. perbuatan tersebut dikenakan pidana penjara maksimal sembilan tahun”. “Jika mengakibatkan kematian. yaitu ketentuan Pasal 356 (3) KUHP yang juga mengancam terhadap “Penganiayaan yang dilakukan dengan memberikan bahan yang berbahaya bagi nyawa dan kesehatan untuk dimakan atau diminum”. dengan pidana mati atau pidana penjara seumur hidup atau selama waktu tertentu paling lama dua puluh tahun”. merupakan sebuah persoalan dilematis. “ Barang siapa dengan sengaja dan dengan rencana lebih dulu merampas nyawa orang lain diancam. dia wajib memberikan kehidupan. meskipun pelaksanaannya tidak harus dan tidak selalu dengan suntikan. diancam dengan pidana penjara paling lama dua tahun delapan bulan atau denda paling banyak tiga ratus rupiah”.[4] Sementara dalam ketentuan Pasal 306 (2) KUHP dinyatakan. Kiranya persoalan euthanasia. karena pembunuhan berencana. Selain hukum.

Islam mengakui hak seseorang untuk hidup dan mati. Seperti dalam agama-agama Ibrahim lainnya (Yahudi dan Kristen). 2: 243). dan berbuat baiklah. dengan tujuan meringankan penderitaan si sakit. Oleh karena itu. "Janganlah engkau membunuh dirimu sendiri. namun hak tersebut merupakan anugerah Allah kepada manusia. Tentunya dalam melakukan tindakan euthanasia harus melalui prosedur dan persyaratan-persyaratan yang harus dipenuhi agar euthanasia bisa dilakukan. karena sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik. 12 . Hanya Allah yang dapat menentukan kapan seseorang lahir dan kapan ia mati (QS 22: 66. Kendati demikian. hal ini juga dilakukan oleh Negara Jepang. karena kasih sayang. Adanya indikasi-indikasi baik medis maupun ekonomis tidak secara otomatis melegitimasi praktik eutanasia mengingat eutanasia berhadapan dengan faham nilai menyangkut hak dan kewajiban menghormati dan membela kehidupan. Di Negara-negara Eropa (Belanda) dan Amerika tindakan euthanasia mendapatkan tempat tersendiri yang diakui legalitasnya. Didalam KUHP Austria Pasal 139 a berbunyi . yang makna langsungnya adalah "Janganlah kamu saling berbunuhan. "Dan belanjakanlah (hartamu) di jalan Allah. ada sebuah ayat yang menyiratkan hal tersebut.[25] Eutanasia dalam ajaran Islam disebut qatl ar-rahmah atau taisir al-maut (eutanasia). yaitu suatu tindakan memudahkan kematian seseorang dengan sengaja tanpa merasakan sakit." (QS 4: 29). dan dalam ayat lain disebutkan. bunuh diri diharamkan dalam hukum Islam meskipun tidak ada teks dalam Al Quran maupun Hadis yang secara eksplisit melarang bunuh diri. “Seseorang yang membunuh orang lain atas permintaan yang jelas dan sungguhsungguh terhadap korban dianggap bersalah melakukan delik berat pembunuhan manusia atas permintaan akan dipidana dengan pidana penjara berat dari lima sampai sepuluh tahun”. baik dengan cara positif maupun negatif.tinggi harkat dan martabat kehidupan manusia." (QS 2: 195). seorang Muslim (dokter) yang membunuh seorang Muslim lainnya (pasien) disetarakan dengan membunuh dirinya sendiri. dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan." Dengan demikian.

Karena bagaimanapun si dokter tidaklah lebih pengasih dan penyayang daripada Yang Menciptakannya.[26] eutanasia positif ialah tindakan memudahkan kematian si sakit karena kasih sayang yang dilakukan oleh dokter dengan mempergunakan instrumen (alat). Hal ini didasarkan pada keyakinan dokter bahwa pengobatan yang dilakukan itu tidak ada gunanya dan tidak memberikan harapan kepada si sakit.Pada konferensi pertama tentang kedokteran Islam di Kuwait tahun 1981. dinyatakan bahwa tidak ada suatu alasan yang membenarkan dilakukannya eutanasia ataupun pembunuhan berdasarkan belas kasihan (mercy killing) dalam alasan apapun juga . mengobati atau berobat ini hanya berkisar pada hukum mubah. Karena itu serahkanlah urusan tersebut kepada Allah Ta'ala.[28] 13 . Di antara masalah yang sudah terkenal di kalangan ulama syara' ialah bahwa mengobati atau berobat dari penyakit tidak wajib hukumnya menurut jumhur fuqaha dan imam-imam mazhab. Perbuatan demikian itu adalah termasuk dalam kategori pembunuhan meskipun yang mendorongnya itu rasa kasihan kepada si sakit dan untuk meringankan penderitaannya. dan sebagian ulama lagi menganggapnya mustahab (sunnah). Memudahkan proses kematian secara aktif (eutanasia positif) adalah tidak diperkenankan oleh syara'. bahkan termasuk dosa besar yang membinasakan. Sebab dalam tindakan ini seorang dokter melakukan suatu tindakan aktif dengan tujuan membunuh si sakit dan mempercepat kematiannya melalui pemberian obat secara overdosis dan ini termasuk pembunuhan yang haram hukumnya. Dalam hal ini hanya segolongan kecil yang mewajibkannya seperti yang dikatakan oleh sahabat-sahabat Imam Syafi'i dan Imam Ahmad sebagaimana dikemukakan oleh Syekhul Islam Ibnu Taimiyah. Pada eutanasia negatif tidak dipergunakan alat-alat atau langkah-langkah aktif untuk mengakhiri kehidupan si sakit. karena Dia-lah yang memberi kehidupan kepada manusia dan yang mencabutnya apabila telah tiba ajal yang telah ditetapkan-Nya. tetapi ia hanya dibiarkan tanpa diberi pengobatan untuk memperpanjang hayatnya. sesuai dengan sunnatullah (hukum Allah terhadap alam semesta) dan hukum sebab-akibat.[27] Eutanasia negatif disebut dengan taisir al-maut al-munfa'il. Bahkan menurut mereka.

adapun yang sudah sebegitu parah bisa dikurang jika perawatan yang dibutuhkan tersedia dengan baik. bukan yang akan membunuh sang pasien. Namun pada zaman ini. Jika hal ini terjadi. hendaklah pasien tersebut mencari doketr lain. Hampir semua rasa sakit bisa dihilangkan. Solusi terbaik untuk masalah ini adalah dengan meningkatkan mutu para profesional medis dan dengan menginformasikan pada setiap pasien. Alasan Dilakukan Euthanasia Euthanasia adalah sebuah aksi pencabutan nyawa seseorang. sehingga mereka tidak tahu bagaimana harus bertindak apabila seorang pasien mengalami rasa sakit yang luar biasa. penemuan semakin gencar untuk mengatasi rasa sakit tersebut. Rasa Sakit yang Tidak Tertahankan Mungkin argumen terbesar dalam konflik euthanasia adalah jika si pasien tersebut mengalami rasa sakit yang amat besar. Dari beberapa survey negara dan penyaringan sumber. Namun ada juga yang dinamakan “drugged state” atau suatu saat dimana kita tak merasakan rasa sakit apapun karena pengaruh obat.E. beberapa dokter tidak dibekali dengan “pain management” atau cara medis menghilangkan rasa sakit. yang secara langsung menyebabkan presentase terjadinya “assisted suicide” berkurang. apa saja hak-hak mereka sebagai seorang pasien. Tapi euthanasia bukalah jawaban dari skandal tersebut. namun juga dapat mengatasi 14 . Meskipun begitu. Dengan catatan dokter tersebut haruslah seseorang yang akan mengontrol rasa sakit itu. Euthanasia memang sekilas merupakan jawaban dari stress yang disebabkan oleh rasa sakit yang semakin menjadi. namun beberapa pendapat menyatakan bahwa hal tersebut memang bisa dilakukan dengan mengirim seseorang ke keadaan tanpa rasa sakit. Ada banyak spesialis yang sudah dibekali dengan keahlian tersebut yang tidak hanya dapat mengontrol rasa sakit fisik seseorang. tapi mereka tetap harus di-euthanasia-kan karena cara tersebut tidak terpuji. berikut adalah tiga alasan utama mengapa euthanasia itu bisa dilakukan: 1. Karena itulah kita bisa menyimpulkan bahwa sebenarnya tidak ada rasa sakit yang tidak terkendali. Karena itu dilakukannya aksi tersebut harus didukung dengan alasan yang kuat.

melainkan membiarkan seseorang memfasilitasi kematian orang lain. hal seperti itu tidak melanggar hukum. tetapi memberikan hak pada orang yang melakukan pembunuhan tersebut. atau tidak terdengar sebagai perilaku medis. Tapi jika kita teliti lebih dalam. aksi sendiri. kerabat. Ini bisa mengarah ke suatu tindakan penyiksaan pada akhirnya. euthanasia bukanlah hak seseorang untuk mati. atau orang lain dapat dengan sengaja mengakhiri hidup seseorang. yaitu “hak”. Manusia memang punya hak untuk bunuh diri.depresi dan penderitaan mental yang biasanya mengiringi rasa sakit luar biasa tersebut. melawan permintaan pasien. tetapi hak untuk membunuh. 3. Haruskah Seseorang Dipaksa untuk Hidup? Jawabannya adalah tidak. Bunuh diri adalah suatu tragedi. yang kita bicarakan di sini bukanlah memberi hak untuk seseorang yang dibunuh. ini adalah persoalan mengubah hukum agar dokter. Euthanasia bukanlah memberikan seseorang hak untuk mengakhiri hidupnya. Dengan kata lain. Hak untuk Melakukan Bunuh Diri Mungkin hal kedua bagi para pro-euthanasia adalah jika kita mengangkat hal paling dasar dari semuanya. menunda kematian dengan alasan hukum dan sebagainya juga bisa dinilai kejam dan tidak berperikemanusiaan. Hal yang harus dilakukan adalah dengan menyediakan perawatan di rumah. 2. bantuan dukungan emosional dan spiritual bagi pasien dan membiarkan sang pasien merasa nyaman dengan sisa waktuny 15 . tidak bijak. Desakan. Saat itulah perawatan lebih lanjut menjadi tindakan yang tanpa rasa kasihan. Bahkan tidak ada hukum atau etika medis yang menyatakan bahwa apapun akan dilakukan untuk mempertahankan pasien tetap hidup. tapi sebaliknya. Euthanasia bukanlah aksi pribadi.

Perhatian dan kasih sayang sangat diperlukan bagi penderita sakit terminal. yang dibutuhkan kemudian adalah perawatan dan pendampingan. baik bagi si pasien maupun bagi pihak keluarga. Kesimpulan Mengingat kondisi demikian. bukan lagi bagi 16 .BAB III PENUTUP A.

Pengalaman di negeri Belanda telah membuktikan konsep slippery slope. Penulis menentang dilakukannya euthanasia atas dasar etika. bukan membunuh. moral dan legal. kesimpulan normatif ini urgen untuk disampaikan mengingat berbagai hal. dan juga dengan pandangan bahwa apabila dilegalisir. Namun demikian. euthanasia dapat disalahgunakan. Kelompok pro-euthanasia mungkin akan menentang pendapat ini dengan menggunakan argumen quality of life. Bagaimanapun si pasien adalah manusia yang masih hidup. bukan untuk mengakhirinya. Argumen pertama yaitu secara etika. Jelas bahwa hukum (pidana) positif di Indonesia belum memberikan ruang bagi euthanasia baik euthanasia aktif maupun euthanasia pasif. Argumen terakhir adalah sulitnya untuk melegalisir euthanasia karena sulitnya membuat standar prosedur yang efektif. Dasar agama adalah argumen berikutnya. melegalisir voluntary euthanasia dapat mengarah kepada dilakukannya involuntary euthanasia dan membuat orang-orang lemah seperti orang lanjut usia dan para cacat berada dalam risiko. baik orang lain maupun diri sendiri adalah imoral karena merupakan tindak sengaja untuk membunuh seorang manusia. betapa masyarakat sedang mengalami pergeseran nilai kultural. munculnya permintaan tindakan medis euthanasia hakikatnya menjadi indikasi. tugas seorang dokter adalah untuk menyembuhkan. Selanjutnya hal ini juga dapat memberikan tekanan kepada mereka yang merasa diabaikan atau merasa sebagai beban keluarga atau teman. Dari segi respek moral. Lebih jauh lagi. seorang dokter yang melakukan euthanasia atau membantu orang yang bunuh diri telah melakukan tindakan melanggar hukum. pilihan untuk membunuh. maka perlakuan yang seharusnya adalah perlakuan yang manusiawi kepadanya. Saran 17 . untuk mempertahankan hidup. agama. tetapi lebih pada kebutuhan psikis dan emosional. B. Tanpa harus mengesampingkan pendapat lain. Dari segi legal. sehingga baik secara langsung maupun tidak kita dapat membantu si pasien menyelesaikan persoalan-persoalan pribadinya dan kemudian hari siap menerima kematian penuh penyerahan kepada penyelenggaraan Tuhan Yang Maha Esa.kebutuhan fisik. Pertama. di mana dokter percaya kesucian dan kemuliaan kehidupan manusia. autonomi dan inkonsistensi hukum. argumen-argumen yang telah dikemukakan di atas lebih kuat.

Hukum Euthanasia dan Etika Kedokteran.amri. (2011).jusuf & Amir. maupun moral. etika. baik sosial. Setiawan Budi Utomo. Jakarta: EGC Dr. semoga tetap diperhatikan dan dipertimbangkan sisi nilai-nilainya. DAFTAR PUSTAKA Hanafiah. dari 18 .p.Apabila hukum di Indonesia kelak mau menjadikan persoalan eutanasia sebagai salah satu materi pembahasan.M. oleh endang. (1999) Etika Kedokteran dan Hukum Kesehatan. Diakses pada tanggal 7 April 2011.

eramuslim.htm Lady perona.scribd.com/doc/11639357/Euthanasia-Persepetif-Medis-DanHukum-Pidana-Indonesia 19 . Euthanasi .http://www.com/konsultasi/fikih-kontemporer/hukum-euthanasia-dankode-etik-kedokteran. diakses pada tanggal 7 April 2011.(2011). oleh ahttp://www.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->