TEKNIK PEMBENIHAN IKAN KERAPU TIKUS (Cromileptes altivelis) DI BALAI BUDIDAYA AIR PAYAU SITUBONDO

PRAKTEK KERJA LAPANG
PROGRAM STUDI BUDIDAYA PERAIRAN

Oleh :
ERLINA DWI TUNGGAL SPIKADHARA SURABAYA - JAWA TIMUR

FAKULTAS PERIKANAN DAN KELAUTAN UNIVERSITAS AIRLANGGA SURABAYA 2010

TEKNIK PEMBENIHAN IKAN KERAPU TIKUS (Cromileptes altivelis)
DI BALAI BUDIDAYA AIR PAYAU SITUBONDO

Praktek Kerja Lapang Sebagai Salah Satu Syarat untuk Memperoleh Gelar Sarjana Perikanan pada Program Studi S-1 Budidaya Perairan Fakultas Perikanan dan Kelautan Universitas Airlangga

Oleh : ERLINA DWI TUNGGAL SPIKADHARA NIM. 060710177P

Mengetahui, Dekan, Fakultas Perikanan dan Kelautan

Menyetujui, Dosen Pembimbing,

Prof.Dr.Drh.Hj. Sri Subekti, B.S.,DEA. NIP. 19520517 197803 2 001

Muhammad Arief., Ir. M.Kes. NIP. 19600823 198601 1 001

Setelah mempelajari dan menguji dengan sungguh–sungguh, kami berpendapat bahwa Praktek Kerja Lapang (PKL) ini, baik ruang lingkup maupun kualitasnya dapat diajukan sebagai Salah Satu untuk Memperoleh Gelar Sarjana Perikanan.

Tanggal Ujian : 25 November 2010

Menyetujui, Panitia Penguji, Ketua

Ir. Muhammad Arief, M.Kes NIP. 19600823 198601 1 001

Sekretaris

Anggota

Prayogo, S. Pi., MP NIP. 19750522 200312 1 002

Ir. Moch. Amin Alamsjah, M. Si., Ph. D NIP. 19700116 199503 1 002

Surabaya, 24 Desember 2010 Fakultas Perikanan dan Kelautan Universitas Airlangga Dekan,

Prof.Dr.Drh.Hj. Sri Subekti, B.S.,DEA. NIP. 19520517 197803 2 001

RINGKASAN ERLINA DWI TUNGGAL SPIKADHARA. M. wawancara dan studi pustaka. Rotifier 8 gram/pemberian 3 kali/hari.31 agustus 2010.000 sel/ml 1 kali/hari dan Rotifer 3-5 individu/ml 2 kali/hari) maupun pakan buatan(Nosan R-1 8 gram/pemberian 2 kali/hari. persiapan induk. Otohime B2 15 gram/pemberian 3 kali/hari.Muhammad Arief. seleksi induk. Teknik pembenihan ikan kerapu tikus meliputi. pemberian pakan sesuai dosis baik berupa pakan alami(Nannochloropsis sp 50. Metode yang digunakan dalam Praktek Kerja Lapang ini adalah metode dekskriptif dengan pengambilan data meliputi data primer dan data sekunder. Dosen Pembimbing : Ir. penebaran telur. persiapan bak pemeliharaan larva. Tujuan dari Praktek kerja Lapang (PKL) untuk mengetahui tentang teknik pembenihan ikan kerapu tikus (Cromileptes altivelis) di Balai Budidaya Air Payau di Situbondo. Ketersediaan benih ikan kerapu di alam tidak akan terancam punah dengan memanfaatkan dan mengembangkan suatu usaha untuk menghasilkan benih ikan kerapu tikus yang dapat memenuhi permintaan pasar. seleksi telur. Jawa Timur. penetasan telur. Pengambilan data dilakukan dengan cara partisi aktif. Praktek Kerja Lapang ini dilaksanakan pada tanggal 19 juli . Ikan kerapu tikus memiliki nilai jual yang tinggi dan permintaan yang banyak sedangkan permintaan pasar akan ikan kerapu tikus belum dapat dipenuhi secara keseluruhan karena belum banyak pembudidaya.Kes. observasi.000-100. Ikan kerapu tikus lebih memiliki nilai jual yang tinggi di banding dengan ikan kerapu yang lainnya. Teknik Pembenihan Ikan Kerapu Tikus (Cromileptes altivelis) di Balai Budidaya Air Payau Situbondo Desa Pecaron Kecamatan Panarukan Kabupaten Situbondo Propinsi Jawa Timur. Tujuan lainnya adalah untuk mengetahui permasalahan yang sering dihadapi pada usaha pembenihan ikan kerapu tikus (Cromileptes altivelis). Otohime B1 10 gram/pemberian 3 kali/hari. pemijahan. Otohime EP-1 15 .

belum ada pengobatan terhadap penyakit. Nitrat < 150 ppm. suhu 30o-31oC. pencegahan penyakit dengan menggunakan probiotik Sanolife. DO > 5 ppm. nitrit < 1 ppm.01 ppm. Kematian massal sering terjadi pada larva yang diakibatkan oleh penyakit VNN(Viral Nervous Necrosis). Grading dilakukan apabila terlihat perbedaan ukuran yang mencolok pada benih dan munculnya sifat kanibalisme. pengelolaan kualitas air dengan salinitas 31-33 ppt. amoniak < 0.8-8. Memerlukan fasilitas penyimpanan bersuhu dingin agar kualitas pakan ikan rucah untuk indukan tidak menurun. Induk masih berasal dari alam sehingga ketersediaan induk terbatas dan tergantung dari tangkapan nelayan. pH 7.9%.gram/pemberian 4-6 kali/hari). SR ikan kerapu tikus 12.3. .

Broodstock selection. Supervising lecture: Ir. M. Polka-dot Grouper hatchery techniques include.01 ppm. stocking eggs. Broodstock preparation. Rotifier 8 grams / feeding 3 times / day. Otohime EP-1 15 grams / administration 4-6 times / day). 3. nitrite <1 ppm. Polka-dot Grouper has a high selling value and demand a lot while the demand of market for Polka-dot Grouper can not be fulfilled as a whole because not many farmers. East Java. interview and literature study.8 to 8. spawning. Nitrate <150 ppm.Muhammad Arief.SUMMARY ERLINA DWI TUNGGAL SPIKADHARA. preparation for larval rearing tanks. Otohime B2 15 grams / feeding 3 times / day. egg selection. The availability of grouper seed in nature will not be threatened with extinction by exploiting and developing a business to produce panther fish fry that can meet demand of market. Kes. Polka-dot Grouper Hatchery Techniques (Cromileptes altivelis) in Balai Budidaya Air Payau Situbondo Pecaron Panarukan Situbondo District of East Java Province. disease prevention . The purpose of the work practice of Field (PKL) to find out about grouper hatchery techniques (Cromileptes altivelis) in Balai Budidaya Air Payau Situbondo. 2 times / day) or artificial diets (Nosan R-1 8 g / generous 2 times / day. feeding according to the dosage form of natural food (Nannochloropsis sp 50000-100000 cells / ml 1 time / day and rotifers 3-5 individuals / ml. temperature 30o-31oC. observation. hatching eggs.31 August 2010. Otohime B1 10 grams / feeding 3 times / day . Another aim is to discover the problems that are often encountered in the hatchery business grouper (Cromileptes altivelis). The method used in this Field Work Practice is dekskriptif with data collection methods include primary data and secondary data. Polka-dot Grouper over a high selling price compared with other groupers. DO> 5 ppm. Data collection was performed by the active partition. pH 7. ammonia <0. Field Work Practice was held on 19 July . the management of water quality with salinity 31-33 ppt.

using probiotics Sanolife. Grading conducted if the striking visible differences in seed size and appearance of cannibalism. Requires cold-temperature storage facilities for feed quality trash fish for broodstock did not decline. . SR of Polka-dot Grouper is 12. Mass mortality of larvae often occur in diseases caused by VNN (Viral Nervous Necrosis).9%. there is no treatment against the disease. Broodstock still come from nature so that availability is limited and dependent parent from the catch of fisherman.

sehingga kritik dan saran yang membangun sangat penulis harapkan demi perbaikan dan kesempurnaan laporan atau kegiatan selanjutnya. Penulis menyadari bahwa Praktek Kerja Lapang ini masih sangat jauh dari kesempurnaan. Praktek Kerja Lapang ini sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Perikanan pada Program Studi S-1 Budidaya Perairan Fakultas Perikanan dan Kelautan Universitas Airlangga Surabaya. Desember 2010 Penulis . atas segala limpahan rahmat dan karunia-Nya sehingga penyusunan Praktek Kerja Lapang tentang Teknik Pembenihan Ikan Kerapu Tikus (Chromileptes altivelis) di Balai Bududaya Air Payau Situbondo ini dapat terselesaikan. khususnya Mahasiswa Program Studi S-1 Budidaya Perairan Fakultas Perikanan dan Kelautan Universitas Airlangga Surabaya. Laporan ini disusun berdasarkan hasil Praktek Kerja Lapang yang dilaksanakan di Balai Budidaya Air Payau Situbondo pada tanggal 19 Juli – 31 Agustus 2010.KATA PENGANTAR Segala puji kahadirat Allah SWT. Semoga Praktek Kerja Lapang ini bermanfaat dan dapat memberi informasi bagi semua pihak. mendidik dan memberi motivasi serta semangat hingga selesainya Praktek Kerja Lapang ini. Surabaya. Penulis menghanturkan terima kasih yang tak terhingga kepada kedua orang tua dan keluarga yang telah mendoakan.

6. Bapak saya Anthonius Wiwiek Dwiriyantho Bayudharana Feysholly. 8. B. S.Muhammad Arief. Dr. Nabi besar Muhammad SAW semoga kita semua akan mendapatkan syafaat di akhirat kelak. selaku Dosen Pembimbing yang telah banyak membantu terlaksananya Praktek Kerja Lapang dari penyusunan usulan proposal hingga terselesainya laporan Praktek Kerja Lapang. Si.Si.Kes.amin allahuma amin. ibu saya Partini yang saya cintai yang telah memberikan seluruh ia punya baik dukungan secara moril dan materi. S.. Sri Subekti. M. Bapak Prayogo. 7. M. Allah SWT yang telah memberikan nikmat dan amanah dalam kehidupan ini.. Pi. Bapak Ir. tidak lupa penulis haturkan terima kasih yang sebesar-besarnya : 1. Ph. Prof. selaku Dekan Fakultas Perikanan dan Kelautan Universitas Airlangga Surabaya. 9. Bapak Akhmad Taufiq. Slamet Subiyakto. DEA. MP dan Ir. M.. Hj.. D selaku dosen penguji yang telah memberi banyak masukan dan saran atas perbaikan Praktek Kerja Lapang ini. 2. 4. Ir. Kakak pertamaku Andri Bahtera Tunggal Prisma Dharana dan kakak kedua Erlita Dwi Tunggal Spikadhara yang telah memberi semangat.Pi selaku koordinator pelaksana Praktek Kerja Lapang. Drh. 5. M. Moch. Dr. Amin Alamsjah.UCAPAN TERIMAKASIH Pada kesempatan kali ini. S. . 3.Si sebagai Kepala Balai Budidaya Air Payau Situbondo.

. UNDANA. Adhe Puspawari Hardhanny) yang telah banyak membantu dan memberi semangat. Nurdiana Rachmasari. Dian Respati. Nining Khoirunniza. Setyana Meirnawati. UNSOED. Hangtuah. Sahabatku (Yulia Kartika. Galih Adi Pratama yang telah banyak membantu. 16. Semua pihak yang tidak dapat disebutkan satu persatu yang telah membantu penulis dalam pelaksanaan maupu penyelesaian laporan PKL ini. IPB. 15.10. Rekan-rekan yang melaksanakan magang dan PKL di BBAP Situbondo dari UMI. sofiati selaku pembimbing lapangan dari Balai Budidaya Air Payau (BBAP) Situbondo. 13. 12. Teman-teman BUPER’07 yang memberikan dukungan sehingga dapat terselesaikannya laporan PKL ini. 14. 11. Seluruh pegawai BBAP Situbondo khususnya pegawai Pembenihan Timur. Ir.

...................................... 1....................... 1........... ..................................2 Metode............... .....................…………………………............................ KATA PENGANTAR…………………………………………………....... 2..........2 Morfologi.........7........................................................ 2....... SUMMARY.................. DAFTAR GAMBAR............................................................ I PENDAHULUAN........................... ..4 Reproduksi...1 Sarana Pembenihan....3 Habitat......................... 2..................................1 Tinjauan Umum.............. ............................................................................................... 2............................................................ TINJAUAN PUSTAKA...1 Latar Belakang............... HALAMAN PERSETUJUAN...................................................... 2.....................................................DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL…………………………………………………… .....3 Pemeliharaan Induk............. HALAMAN PENGESAHAN………………………………………….......................................................................................................... 2............................................ 2.................... RINGKASAN................................................ .................................................6 Kebiasaan Makan Larva .........................7........................... DAFTAR LAMPIRAN...........................3 Manfaat................................. 2...................... 1.................7.................................................................. i ii iii iv vi xiii ix xi xii xiii 1 1 2 3 4 4 5 5 6 7 7 8 9 9 9 ..... ................................................................ ........................... UCAPAN TERIMAKASIH . 2.........................2 Tujuan.......7 Teknik Pembenihan............................ ................................................................... 2...................................................... ...........5 Perkembangan Embrio................................................ II .................. DAFTAR TABEL........................................... ..........................................................................

............................ 2.......1 Suhu....... 2.8......1 Nannochloropsis oculata............................................ 2....8.............................6 Pemijahan...............................................7..2 Kecerahan................. 25 25 .......................9........ 2..............8..........8 Pemeliharaan Larva..........................4 Infestasi Trichodina sp............................................ 2................................................10..............................7.............................. 2........................................3 Rotifer.....5 Salinitas........ 13 2...................................... 14 14 15 15 16 16 17 18 18 19 19 19 19 20 21 21 21 22 23 24 III PELAKSANAAN…………………………………………………….............................10................5 Seleksi Induk........ 2......3 derajat keasaman..................................... 2...... 2.9 Penyediaan Pakan untuk Pemeliharaan Larva.....................4 Oksigen terlarut..........................................................3 Cryptocaryonosis............................. 2..... 2.................... 2................................ 2.....2 Artemia spp.................5 Caligus sp parasit golongan Crustacea...............2..............................................................................................................9...............12.................................... 2.....................................................1 Rasio pakan. 2...... 2.... 2.........12......................... 10 10 10 11 12 13 2......7...................................................................................................10 Pemberian Pakan..............................8..............................8.... 14 2.....7....................7...................2 Frekuensi Pemberian pakan....................................1 Vibrio alginolyticus......................12.............8.11 Survival Rate......................12................................2 Vibrio anguillarum.................12....... 2..............6 Nitrit.........7 Penetasan Telur................1 Waktu dan Tempat…………………………………….............................4 Sex Reserval.......12 Penyakit..........................9.........6 Virus....... 2................................. 2.. 2.................................................................................................................3 Waktu Pemberian Pakan..........................................................10...... 2.........12...................................................... 2. 3.........................................................8 Parameter Kualitas Air Pemeliharaan................................ 2..................................................

.................................................................5 Penetasan Telur.......................................... C....................................3 Metode pengumpulan ………………………………………..................................3...........................2........ D.................................................................3.............................. Pemberian Pakan Alami.......................... 4....................... 4..3 Teknik Pembenihan Kerapu Tikus………………………. A........3..................... 4.. 4............3................ 4..................... Aerasi...6 Pemeliharaan Larva dan Benih.............………………………………..............................3................................4 Kepegawaian........... b.1 Keadaan Umum Lokasi Praktek Kerja Lapang…………...................................2......................................................... a...........3. Persiapan Wadah. A..................... a.................2 Seleksi Induk………………………………………………......................... 3........... Sarana Budidaya.................... pengelolaan air………………………………………… c.............................. Bangunan………………..... 3....... 4...... b...... 4...... 4....................3..... Air Laut ........................ 4........Penebaran dan Penetasan Telur......................................1......2 Sarana dan Prasarana Umum BBAP Situbondo............................ Perhitungan Derajat Penetasan(Hatcging Rate)............ a..............................7 Kualitas air...............3..... ciri-ciri induk matang gonad…………………………............. 4.1 Persiapan Induk …………………………………….....................1 Data Primer…………………………………….............................................................2 Data Sekunder……………………………………………… IV HASIL DAN PEMBAHASAN……………………………..................... b...............3 Pemijahan. 4..... Wawancara..........................3........... a....... c................................. 4................... Observasi.......................................1 Sarana Umum........ Sumber Tenaga Listrik....8 Pakan.... 4... 3.........................2 Materi dan Metode Kerja…………………………………........... pemijahan alami. 4.................3 Struktur Organisasi........... a........................................ 25 25 25 26 26 27 27 28 28 28 29 30 32 32 32 32 33 34 34 35 35 36 36 36 38 40 41 42 43 44 44 45 46 48 48 50 51 52 52 53 55 56 57 ............................. Partisipasi Aktif............ d... pemijahan dengan rangsangan hormon........... 4.........................1.............. B......................1.............................. pencegahan hama dan penyakit……………………….........................1 Sejarah Berdirinya………………………….............. 4............3...... c.......................1.................................................................................................2 Prasarana ..... Persiapan Wadah........................ b................................................... pemberian pakan……………………………………… b.......3...............................Perkembangan Larva.. Air Tawar... a......4 Pemanenan Telur................................................2 Letak dan Keadaan Lokasi......... 4............. B...

.............................. c.................................. 4................................................ Pemberian Pakan Buatan.................................. 4...............9 Pengendalian Hama dan Penyakit...2 Kemungkinan Pengembangan Usaha.1 Nannochloropsis sp............................. LAMPIRAN..4 Udang Rebon................ Produksi..... dan Pemasaran..................... Kultur Pakan Alami........ DAFTAR PUSTAKA...............1 Pemanenan Benih........................... 70 70 71 72 74 .6 Analisis Usaha .......... 57 57 58 60 60 61 61 63 64 65 65 66 67 67 68 68 V SIMPULAN DAN SARAN...2 Saran.....a.....................................5....................... c.. 5............................................................................. a........................5 Masalah dan Kemungkinan Pengembangan Usaha...... 4..................................................2 Kultur Rotifer................................................................2 Rotifera................. 4...............................................................................................3...................................................................................... a.............................. 5...................................1 Masalah yang Dihadapi................4...................................................................................................................... a....................1 Kultur Nannochloropsis sp........................4 Pemanenan.............3 Artemia sp....................4....... 4........................ c.............................................................. b.................2 Produksi dan Pemasaran.................................................... 4..........5...............................1 Simpulan............. 4........................................ 4..............

Kegiatan pembenihan ikan kerapu tikus. Pakan alami yang digunakan harus sesuai dengan bukaan mulut larva dan alat pencernaan larva kerapu dapat mencerna kandungan nutrisi yang ada pada pakan alami (khordi. meningkatkan devisa negara. pakan alami sangat diperlukan saat pemeliharaan larva. Di Indonesia perkembangan budidaya ikan sangat mendukung karena di Indonesia merupakan wilayah berkepulauan yang banyak memiliki sumber daya ikan yang melimpah. Pada saat ini Ikan kerapu tikus memiliki nilai jual yang tinggi dan permintaan yang banyak sedangkan permintaan pasar akan ikan kerapu tikus belum dapat dipenuhi secara keseluruhan karena belum banyak pembudidaya.1 Latar Belakang Usaha – usaha pengembangan perikanan yang dilakukan di Indonesia mulai banyak dilakukan.I PENDAHULUAN 1. Pakan alami untuk larva dan benih pada budidaya ikan dalam bentuk pakan alami dan pakan buatan (mikropartikel pelet). Ketersediaan benih ikan kerapu di alam tidak akan terancam punah dengan memanfaatkan dan mengembangkan suatu usaha untuk menghasilkan benih ikan kerapu tikus yang dapat memenuhi permintaan pasar (Salim. 2005). 2009). Ikan kerapu tikus lebih memiliki nilai jual yang tinggi di banding dengan ikan kerapu yang lainnya. Bila potensi perikanan yang sangat melimpah ini dapat di manfaatkan secara optimal maka dapat meningkatkan produktifitas perikanan. 2009). . dan membantu menjaga kelestarian sumber daya hayati perikanan (Salim.

1. Faktor kualitas air yang perlu dipertimbangkan untuk pemeliharaan pembenihan Kerapu tikus meliputi sifat fisika : suhu dan kecerahan. Jawa Timur. dan apabila induk telah memijah harus segera dipindahkan ke tangki yang lain. Kebanyakan ikan kerapu tinggal didaerah karang. Permasalahan penyakit yang paling banyak pada ikan bersirip (finfish) dijumpai pada budidaya ikan kerapu. nitrit dan salinitas. diantaranya adalah penyakit borok pangkal sirip ekor dan penyakit mulut merah.2 Tujuan Tujuan dari praktek kerja lapang ini adalah: 1. karang mati. Mengetahui tentang teknik pembenihan ikan kerapu tikus (Cromileptes altivelis) di Balai Budidaya Air Payau di Situbondo. Ikan Kerapu Tikus selama bertelur induk tidak boleh di beri pakan. Dari jumlah diperkirakan hanya 30% saja yang dibuahi (Darwisito.000 butir.200. Telur yang telah dibuahi berjumlah lebih kurang 1. kecuali sewaktu makan dan saat memijah. Ikan kerapu ini merupakan jenis ikan laut yang dapat ditemukan didaerah subtropika dan tropika dari seluruh daerah lautan. Ikan kerapu juga sering ditemukan di daerah pasang dan di laut dengan kedalaman sekitar 40 cm (Salim. DO. dan kimia meliputi : pH. 2009). sedangkan SR kerapu tikus 5%. Lokasi budidaya yang ideal harus memenuhi persyaratanpersyaratan kualitas airnya. . Jenis penyakit bakterial yang ditemukan pada ikan kerapu. atau karang berlumpur. 2002).Kerapu lebih suka menghindar dari sinar matahari langsung.

.3 Manfaat Manfaat dari praktek kerja lapang ini adalah : 1. 2. Mengetahui permasalahan yang sering dihadapi pada usaha pembenihan ikan kerapu tikus (Cromileptes altivelis) di Balai Budidaya Air Payau di Situbondo. 1. Jawa Timur. Jawa Timur. Dapat memadukan teori yang diperoleh dengan kenyataan yang terjadi dilapangan. sehingga dapat lebih memahami dan mengatasi permasalahan yang timbul dalam usaha pembenihan ikan kerapu tikus (Cromileptes altivelis) di Balai Budidaya Air Payau di Situbondo. Memperoleh pengetahuan tentang teknik pembenihan ikan kerapu tikus (Cromileptes altivelis) di Balai Budidaya Air Payau di Situbondo.2. Jawa Timur.

Kerapu Tikus. Gambar 1.1 Tinjauan Umum Menurut Weber and Beofort. mempunyai tubuh agak pipih dengan warna dasar abu-abu berbintik hitam. 2008) . klasifikasi ikan kerapu tikus adalah : Phylum Subphylum Class Subclass Ordo Subordo Genus Spesies : Chordata : Vertebrata : Osteichtyes : Actinopterigi : Percomorphi : Percoidea : Cromileptes : Cromileptes altivelis Kerapu bebek. Cromileptes altivelis (Octopus. 2010). ikan ini biasa ditempatkan di akuarium sebagai ikan hias (Khordi dan Andi Tamsil. bintik tersebut lebih besar dan lebih sedikit jumlahnya. Pada ikan kerapu tikus yang masih muda. (1940) dalam Ahmad (1991). biasa juga disebut kerapu tikus(Cromileptes altivelis). Lantaran warnanya yang menarik.II TINJAUAN PUSTAKA 2. dalam perdagangan internasional dikenal dengan nama polka-dot grouper atau hump-backed rocked.

dan sirip. Pada sirip dorsal memiliki 10 duri keras dan 17 – 19 duri lunak. tubuhnya memanjang gepeng (compressed) dengan panjang tubuh 2. sisik pada lateral line berjumlah 54 – 60 dan pyloric 13.2. Panjang kepala seperempat panjang total. . sirip perut dengan 3 duri keras dan 10 duri lunak (Khordi dan Andi Tamsil. bintik hitam lebih besar dengan jumlah bintik yang sedikit. semakin tua bertambah banyak. Sisik punggung sangat halus dan licin (Salim. 2010).2 Morfologi Ikan kerapu tergolong jenis ikan air laut yang berjual nilai tinggi. tubuh. Sirip punggung semakin melebar kebelakang. Seluruh permukaan tubuh kerapu bebek berwarna putih dilengkapi sirip renang berbentuk melebar serta moncong kepala lancip menyerupai bebek atau tikus.6 – 3.0 kali panjang standard ikan ( panjang standard ikan 12 – 37 cm). A. Bintik – bintik tersebut pada kerapu muda lebih besar dan sedikit. Lubang hidung bagian posterior besar. leher bagian atas cekung dan semakin tua semakin cekung. Lembaran operculum mempunyai pinggiran yang bergerigi tajam dan halus. Pada kerapu bebek muda. tetapi yang lebih memiliki harga jual yang lebih tinggi dibandingkan dengan ikan kerapu jenis yang lainnya adalah ikan kerapu tikus (Cromileptes altivelis). Warna ikan kerapu tikus coklat kehijauan dengan dengan bintik – bintik atau bulat – bulat coklat di kepala. Ikan kerapu tikus termasuk dalam famili Serranidae. 2009). Sedangkan sirip ekor memiliki 1 duri keras dan 70 duri lunak.

2010).3. Adapun ikan-ikan yang berumur 2. kecuali sewaktu makan dan saat memijah.0-2. Pada umur 1.5 tahun ke atas.5 tahun. Transformasi dari dari betina ke jantan ini memerlukan waktu yang cukup lama dalam kondisi alami. Pada kerapu tikus.umur. Kebanyakan ikan kerapu tinggal didaerah karang. Dari hasil pengamatan di Indonesia. setelah dewasa kerapu ke daerah perairan yang lebih dalam yaitu antara 7. berkelamin jantan (Khordi dan Andi Tamsil. Sifat kerapu tikus umumnya soliter tetapi pada saat akan memijah berlangsung beberapa hari sebelumnya bulan purnama yaitu pada malam hari. Beberapa jenis . Kerapu lebih suka menghindar dari sinar matahari langsung.5-2. Dalam siklus hidupnya kerapu muda hidup di perairan karang pantai dengan kedalaman 0. transisi dari betina ke jantan terjadi setelah mencapai umur 2.5 .4 Reproduksi Kerapu tikus memiliki sifat hermaprodit protogini yaitu perubahan kelamin (change sex) dari betina ke jantan dipengaruhi oleh ukuran.0 m. musim – musim pemijahan ikan kerapu terjadi pada bulan Juni – September dan November – Februari. Ikan kerapu juga sering ditemukan di daerah pasang dan di laut dengan kedalaman sekitar 40 cm. dan spesiesnya. Ikan kerapu ini merupakan jenis ikan laut yang dapat ditemukan didaerah subtropika dan tropika dari seluruh daerah lautan.3 Habitat Ikan kerapu lebih sering terlihat menyendiri dan menyukai naungan sebagai tempat bersembunyi.5 tahun biasanya ikan masih berkelamin betina. 2.2.0 – 40 m.

Pembentukan sirip punggung mulai terjadi pada hari pertama. 2. cenderung menggerombol pada kondisi tanpa aerasi dan kuning telur tersebar merata. mata belum berpigmen. mulut dan anus belum terbuka. Perkembangan tubuhnya semakin memanjang sedangkan kantong telur dan gelembung minyak semakin mengecil. damn embrio. Telur kerapu transparan dengan diameter ± 850 mikron dan tidak memiliki ruang perivitellin.6 Kebiasaan Makan Larva Pada kerapu tikus menetas mempunyai panjang total 1. Pembelahan sel berikutnya berlangsung 15 – 30 menit sampai mencapai multi sel salama 2 jam 25 menit.5 Perkembangan Embrio Berdasarkan pengamatan mikroorganisme dapat diketahui bahwa telur kerapu berbentuk bulat tanpa kerutan.78 mm. Perkembangan embrional telur sejak pembuahan sampai penetasan membutuhkan kurang lebih 19 jam. pembelahan sel pertama kali terjadi 40 menit setelah pembuahan. Gerakan pertama embrio terjadi pada jam ke-16 setelah pembuahan selanjutnya telur menetas menjadi larva pada jam ke-19 pada suhu 27 – 29 oC (Salim. Pada hari ke tiga mulai terjadi pigmentasi saluran pencernaan bagian atas dan bukaan mulut berukuran sekitar 125 µ. pada hari kedua sirip dada mulai terbentuk dan jaringan usus telah berkembang sampai ke anus. Dan hari ke empat kuning telur telah . grastula.70 – 1. 2009). 2009). neorula. 2. Setelah tahap multi sel tahap berikutnya adalah blastula.kerapu mempunyai musim pemijahan 6 – 8 kali/tahun sedangkan pemijahan pertama 1 – 2 kali/tahun (Salim.

Setelah telur menetas sampai dengan hari ke tiga larva dapat makan secara endragenus yaitu dengan mengabsorsi kuning telur yang di bawanya. 2009). 2. rotifera merupakan pakan pertama. Ikan kerapu sebagai ikan karnivora juga sebagai ikan pemangsa yang aktif bergerak pada malam hari. Ikan kerapu tikus bersifat karnivora terutama larva molusca. dapat pula terjadi karena kesalahan dalam menentukan jadwal pemberian pakan dan rendahnya mutu pakan (Salim. krustacea kecil. dan zooplankton. Pada periode perkembangan larva kerapu tikus sampai tahap metamorfosis penuh membutuhkan waktu 35 – 40 hari pada suhu 27 . 2009). Setelah itu mendapatkan makan secara eksogenus pada hari ke tiga dengan mulai terbukanya mulut. Sedangkan untuk ikan kerapu tikus yang dewasa menyukai ikan – ikan kecil.habis terabsorbsi. Ikan kerapu biasanya mencari makan dengan cara menyergap mangsanya dari tempat persembunyiannya. Ikan kerapu memiliki kebiasaan makan pada siang hari dan malam hari dan lebih aktif pada waktu fajar dan senja hari. kopepoda. rotifera.29 ºC (Salim.7 Teknik pembenihan Menurut Anonim (2010) pada teknik pembenihan ada beberapa tahap untuk melaksanakannya berupa: . krustacea dan cepalophoda. Kematian yang terjadi pada larva hari ke lima dan seterusnya dapat terjadi karena disebabkan oleh suatu keadaan hanya 50 % larva yang mampu makan pada kondisi dimana jumlah pakan optimal. sedangkan sisanya tidak mampu lagi memangsa pakan yang tersedia. Sesuai dengan bukaan mulut ikan kerapu tikus.

10 kg/m 3 . 2. Pemijahan mengikuti fase peredaran bulan. Teknik pemijahan dengan manipulasi lingkungan ini dikembangkan berdasarkan pemijahan ikan kerapu di alam.7.3. yaitu dengan rangsangan atau kejutan faktor-faktor lingkungan seperti suhu. kadar garam. Disamping itu diberikan pula vitamin E dengan dosis 10 . (Anonim.7. . 3. 2. 2010). Bak pemijahan dengan kapasitas 100 ton. 2010).2. 2.Metode Metode yang digunakan adalah manipulasi lingkungan. Kurungan apung untuk pemeliharaan induk berukuran 3 x 3 x 3 m3.5 . Pakan yang diberikan berupa ikan rucah segar berkadar lemak rendah.2.1. takaran pakan yang diberikan sebesar 3 5% dari total berat badan ikan/hari.7. Bak penetasan sekaligus juga merupakan bak pemeliharaan larva yang berukuran 4 x 1 x 1 m 3 terbuat dari beton. (Anonim. pada saat bulan terang atau bulan gelap. berbentuk empat persegi panjang (Anonim.Sarana Pembenihan 1. 2010).Pemeliharaan Induk Induk ikan kerapu yang dipijahkan dipelihara dengan padat penebaran induk 7. kedalaman air dan lain-lain. sedangkan pada musim pemijahan diturunkan menjadi 1%. Diluar pemijahan ikan. Untuk merangsang terjadinya perkawinan antara jantan dengan induk betina matang kelamin digunakan metoda manipulasi lingkungan di bak terkontrol.15 mg/ekor/minggu.

yaitu memasukkan selang plastik ke dalam lubang kelamin ikan.7. Induk kerapu matang kelamin dipindahkan ke bak pemijahan yang sebelumnya telah diisi air laut bersih dengan ketingian 1. kemudian dihisap. 2010). Pemijahan 1. . (Anonim. garis tengah (diameter) telur diatas 450 mikron. yaitu pada kehidupan awal belum ditentukan jenis kelaminnya. diikuti dengan penambahan multivitamin.Seleksi Induk Kematangan kelamin induk jantan ikan kerapu diketahui dengan cara mengurut bagian perut ikan (stripping) ke arah awal sperma yang keluar warna putih susu dan jumlahnya banyak diamati untuk menentukan kualitasnya.5. Ada kenyataannya lebih banyak ditemui ikan kerapu jantan atau mempercepat perubahan kelamin dari betina ke jantan dapat dipacu/dirangsang dengan hormon testosteron.4. Sel kelamin betina terbentuk setelah berumur 2 tahun dengan panjang 50 cm dan berat 5 kg. Telur yang diperoleh diamati untuk mengetahui tingkat kematangannya. Kematangannya kelamin induk betina diketahui dengan cara kanulasi. 2010). Pemberian hormon testosteron dilakukan secara oral melalui makan setiap minggu.7.6. 2. Takaran yang diberikan adalah : Hormon testosteron 2 mg/kg induk Multivitamin 10 mg/kg induk. (Anonim.Sex reversal Kerapu termasuk ikan yang "hermaprodit protogyni". 2.2.5 m dan salinitas + 32 ‰.7. Sel kelamin betina berubah menjadi sel kelamin jantan pada umur 4 tahun dengan panjang tubuh sekitar 70 cm dan berat 11 kg.

2. Ikan Kerapu Tikus selama bertelur induk tidak boleh di beri pakan.000 IU/kg induk Puberogen 150 . telur segera dipanen dan dipindahkan ke bak penetasan. 3.2.225 RU/kg induk 4. Perlakuan ini dilakukan terus menerus sampai induk memijah secara alami. 5.7.5 m). (Anonim. Setelah 7 jam permukaan air dikembangkan ke possisi semula (tinggi air 1. dan apabila induk telah memijah harus segera dipindahkan ke tangki yang lain. Penetasan telur Menurut (Anonim. Telur yang telah dibuahi berjumlah lebih kurang 1. perlu dipersiapkan dahulu dengan . 2010).00 WIB.24.200.000 butir.bak pemeliharaan larva.2.00 . Rangsangan hormonal induk kerapu matang kelamin disuntik dengan hormon Human Chorionic Gonadotropin (HCG) dan Puberogen untuk merangsang terjadinya pemijahan. Tiga hari sebelum bak penetasan/bak pemeliharaan larva digunakan.7. 2010) bak yang dipergunakan untuk penetasan telur sekaligus juga merupakan bak pemeliharaan larva. Takaran hormon yang diberikan : o o HCG 1.000 . Manipulasi lingkungan dilakukan menjelang bulan gelap yaitu dengan cara menaikkan dan menurunkan permukaan/tinggi air setiap hari selama 5-7 jam. Pemijahan umumnya terjadi pada malam hari antara jam 22. terbuat dari beton. Bila diketahui telah terjadi pemijahan. berbentuk empat persegi panjang dengan ukuran 4 x 1 x 1 m³ . Pengamatan pemijahan ikan dilakukan setiap hari setelah senja sampai malam hari.

cara dibersihkan dan dicuci hamakan memakai larutan chlorine (Na OCI) 50 - 100 ppm. Setelah itu dinetralkan dengan penambahan larutan Natrium thiosulfat sampai bau yang ditimbulkan oleh chlorine hilang. Air laut dengan kadar garam 32 ‰ dimasukkan ke dalam bak, satu hari sebelum larva dimasukkan dengan maksud agar suhu badan stabil berkisar antara 27 - 28°C. Sebelum telur ditetaskan perlu direndam dalam larutan 1 - 5 ppm acriflavin untuk mencegah serangan bakteri. Telur hasil pemijahan dikumpulkan dengan sistim air mengalir. Telur yang dibuahi akan mengapung dipermukaan air dan berwarna jernih (transparan). Telur akan menetas dalam waktu 18 - 22 jam setelah pemijahan pada suhu 27 - 28°C dan kadar garam 30 - 32 ‰. Telur yang telah dibuahi berjumlah lebih kurang 1.200.000 butir. Jumlah telur diperkirakan hanya 30% saja yang dibuahi (Suria D, 2002). Telur yang telah dibuahi tidak berwarna (transparan) sedangkan yang tidak dibuahi dan yang mati berwarna putih susu. 2.7.8 Pemeliharaan Larva Larva kerapu yang baru menetas mempunyai cadangan makanan berupa kuning telur. Pakan ini akan dimanfaatkan sampai hari ke 2 (D2) setelah menetas dan selama kurun waktu tersebut larva tidak memerlukan dari luar. Umur 3 hari (D3) kuning telur mulai terserap habis, perlu segera diberi pakan dari luar berupa Rotifera Brachionus Plicatilis dengan kepadatan 1 - 3 ekor/ml. Disamping itu ditambahkan pula Chlorella sp dengan kepadatan antara 50.000-100.000 sel/ml. Pemberian pakan ini sampai larva berumur 16 hari (D16). Pada hari kesembilan (D9) mulai diberi pakan naupli artemia yang baru menetas dengan kepadatan 0,25

- 0,75 ekor/ml media. Pemberian pakan naupli artemia ini dilakukan sampai larva berumur 25 hari (D25) dengan peningkatan kepadatan hingga mencapai 2 - 5 ekor/ml media. Disamping itu pada hari ke tujuh belas (D17) larva mulai diberi pakan Artemia yang telah berumur 1 hari, kemudian secara bertahap pakan yang diberikan diubah dari Artemia umur 1 hari ke Artemia setengah dewasa dan akhirnya dewasa sampai larva berumur 50 hari (Anonim, 2010).

2.8 Parameter Kualitas Air Pemeliharaan Lokasi budidaya yang ideal, selain pertimbangan umum di atas, juga harus memenuhi persyaratan-persyaratan kualitas airnya. Faktor kualitas air yang perlu diperhatikan untuk pemeliharaan pembenihan Kerapu tikus meliputi sifat fisika : Suhu dan Kecerahan, dan kimia meliputi : pH, DO dan Salinitas. Pemenuhan akan kebutuhan air harus diupayakan agar produksi benih ikan laut yang berkualitas, dalam jumlah yang cukup, dan kontunu dapat berhasil (Ghufran, M dan Andi Tamsil. 2010). 2.8.1 Suhu Suhu mempengaruhi aktivitas metabolisme organisme, karena itu penyebaran organisme baik di lautan maupun di perairan air tawar dibatasi oleh suhu perairan tersebut. Secara umum laju pertumbuhan meningkat sejalan dengan kenaikan suhu, dapat menekan kehidupan biota bahkan dapat menyebabkan kematian bila peningkatan suhu sampai ekstrem (drastis) (Kordi, 2005). Suhu optimal untuk pertumbuhan kerapu tikus adalah 27oC-32oC (Octopus, 2008).

2.8.2 Kecerahan Perairan yang memiliki tingkat kecerahan sangat tinggi dapat menembus ke dasar perairan adalah indikator yang perairannya cukup jernih dan sangat baik untuk digunakan sebagai lokasi pembesaran. Kecerahan perairan yang sangat cocok untuk pembesaran kerapu bebek adalah lebih dari 2 meter, artinya secara visual dapat dilihat benda-benda di dalam air yang kedalamannya hingga lebih dari 2 meter (Octopus, 2008). 2.8.3 Derajat Keasaman (pH) Pada pH air dapat mempengarui tingkat kesuburan perairan karena mempengaruhi kehidupan jasad renik. Perairan asam akan kurang produktif, malah dapat membunuh ikan. Pada saat pH rendah kandungan oksigen terlarut akan berkurang, sebagai akibatnya konsumsi oksigen menurun, aktifitas pernapasan naik dan selera makan akan berkurang (Kordi, 2005). Kerapu tikus sangat baik bila dipelihara pada air laut dengan pH 7-9. 2.8.4 Oksigen Terlarut (DO) Konsentrasi oksigen dalam air dapat berpengaruh terhadap pertumbuhan dan konversi pakan. Konsentrasi oksigen terlarut merupakan salah satu faktor yang membatasi bagi ikan yang dibudidayakan, karena sangat diperlukan untuk kehidupan ikan. Pertumbuhan ikan-ikan laut, kandungan oksigen terlarut dalam air minimal 4 ppm, sedangkan kandungan optimum antara 5-6 ppm (Kordi, 2005), menambahkan bahwa ikan Kerapu tikus dan macan dapat hidup optimal pada konsentrasi oksigen lebih dari 5 ppm.

. Karena itu. Salinitas yang ideal untuk pembesaran ikan Kerapu tikus adalah 30-33 ppt (Octopus. Hal ini akan mengakibatkan mikroba usus mengubah nitrat menjadi nitrit sebagai senyawa yang lebih berbahaya.6 Nitrit Nitrat (NO3-) dan nitrit (NO2-) adalah ion-ion anorganik alami. Aktifitas mikroba di tanah atau air menguraikan sampah yang mengandung nitrogen organik pertama-pertama menjadi ammonia. 2. Apabila nitrat dan nitrit yang masuk bersamaan dengan makanan.8. kemudian dioksidasikan menjadi nitrit dan nitrat. pembentukan nitrit pada intestinum mempunyai arti klinis yang penting terhadap keracunan. NO2. yang merupakan bagian dari siklus nitrogen.06 mg/l (Wahyudhy H. yang menyebabkan kemampuan hemoglobil darah untuk mengikat oksigen rendah.dalam darah memicu terjadinya oksidasi Fe2+. Konsentrasi nitrit maximum yang diperbolehkan dalam kegiatan budidaya ikan adalah < 0.2. 2008). 2007). maka banyaknya zat makanan akan menghambat absorbsi dari kedua zat ini dan baru akan diabsorbsi di traktus digestivus bagian bawah.5 Salinitas Lokasi yang berdekatan dengan muara tidak dianjurkan karena terpengaruh oleh masuknya air tawar dari sungai sehingga salinitas dapat berubah dan akan mempengaruhi pertumbuhan dan nafsu makan ikan yang dipelihara.8.

P. S.5 liter-1 liter air yang akan disiapkan sebagai media tumbuh plankton sebelumnya disterilkan terlebih dahulu dengan menggunakan klorine kemudian air laut di biarkan selama 3-5 hari sampai residu klorine hilang. persediaan pakan berupa jasad pakan dan pakan buatan yang nantinya diberikan kepada larva harus siap dalam jumlah dan mutu gizinya. Jasad pakan merupakan faktor penentu dalam keberhasilan pemeliharaan larva.1 Nannochloropsis oculata Domain Kingdom Phylum Class Genus Spesies : Eukaryota : Chomalveolata : Heterokontophyta : Eustigmatophyceae : Nannochloropsis : Nannochloropsis oculata Membudidaya Chlorella dapat diambil langsung dari tambak budidaya. Air laut tersebut kemudian dimasukkan kedalam botol-botol yang telah disiapkan. Mn.9.9 Penyediaan Pakan untuk Pemeliharaan Larva Sebelum mengawinkan ikan. 2002).2. 2. dengan mengatur rasio N/P supaya Nannochloropsis dapat mendominasi yang lainnya. Budidaya plankton dilakukan pada botol dengan volume 0. Jasad pakan untuk keperluan ini meliputi alga (Nannochloropsis oculata). artemia. selanjutnya ditambah pupuk cair sebanyak 1 ml/lt. S dan . K dan Mg sebagai unsure hara makro serta unsure hara mikro Fe. pupuk yang digunakan harus mengandung unsur hara yang dibutuhkan seperti N. Salinitas air laut yang diharapkan adalah 2528 ppt. rotifera (Branchionus sp) yang dipeoleh dari usaha kultur massal (Pramu S dan Mustahal. Zn.

yaitu dengan cara menetaskan kistanya yang tersedia dipasar dalam bentuk kemasan kalengan. Setelah media siap bibit plankton dimsukkan 1/3 bagian dan siap dipanen 5-6 hari (Edhy W dkk. Baru setelah itu kumpulan nauplii artemia yang tampak hidup atau bergerak disipon sambil disarin dan dicuci. 2.9. Komposisi 5 gram kista artemia per liter cukup untuk menetaskan kista tersebut. sedangkan kotoran akan mengapung.2 Artemia sp Kingdom Class Ordo Family Genus Spesies : Animalia : Crustacea : Anostraca : Artemidae : Artemia : Artemia sp Artemia dalam bentuk nauplius mudah diperoleh. Pemisahan nauplius artemia dari cangkang serta kista yang tidak menetas dilakukan dengan cara mengumpulkan nauplii dan kotoran lalu disaring dengan saringan 120µ. Abbas. tetapi tidak dapat dicerna oleh larva (Siregar. Jangka waktu penetasan tergantung pada asal produk kista artemia. Selanjutnya. Aerasi dihentikan dan bagian bawah wadah diberi sinar agar nauplii mengumpul didasar. . Kista-kista yang tidak menetas sebaiknya tidak dicampur dengan nauplii karena bila diberikan sebagai pakan larva maka kista akan termakan. Penetasan kista dilakukan dengan menggunakan bak-bak kerucut yang berisi air laut dan dipasok aerasi kuat padatingkat 10-20 liter per menit. 2003). nauplii dan kotoran dicuci dengan air laut dan dimasukkan ke dalam 15 menit. Ukuran panjang nauplius artemia yang baru ditetaskan sekitar 200-300 atau tergantung pada strainnya. 1995).sebagainya.

Organisme rotifer berbentuk simetris bilateral manyerupai piala. Untuk tujuan ini dilakukan dengan memanipulasi lingkungan hidupnya agar artemia terpaksa melangsungkan perkembangbiakan secara ovipar uang menghasilkan telur (Siregar. Pada kondisi normal.Meskipun secara ekonomis kurang menguntungkan. Abbas. kepala. betina memproduksi 20 butir telur atau lebih selama 7-10 hari masa hidupnya. 2. Tubuh yaitu. Rotifer merupakan salah satu jenis rotifer yang biasa diproduksi secara massal. Abbas (1995). dan kaki / ekor.9. Kultur dilakukan dalam ruang terbuka yang cukup mendapatkan cahaya matahari. Kultur missal rotifera dilakukan pada bak volume 5-12 m3. seperti rasio pakan. namun rotifera yang dihasilkan dari metode transfer lebih bersih. badan. . Siregar. frekuensi pemberian pakan dan waktu pemberian pakan. 2.10 Pemberian Pakan Pada pemberian pakan perlu beberapa hal yang diperhatikan. 1995). tetapi secara teknis siste atermia dapat diproduksi secara massal dalam tempat (wadah) yang terkendali. Secara umum dikenal 2 metode kultur rotifera yaitu metode panen harian lebih praktis dan mudah sedangkan pada metode transfer diperlukan bak kultur yang lebih banyak.3 Rotifer Phyllum Kelas Ordo Famili Genus Spesies : Avertebrata : Eurotaria : Ploima : Brachionidae : Brachionus : Brachionus sp. Branchionus memiliki kecepatan pertumbuhan dan reproduksi tinggi.

2009). 2009).10.200. rasio pemberian pakan kerapu 4 6% (Salim. Pada ikan yang hidup di dasar perairan dan bergerak altif pada malam hari seperti ikan kerapu. Telur yang telah dibuahi berjumlah lebih kurang 1. Dari jumlah diperkirakan hanya 30% saja . 2. 2. Rasio Pakan Rasio pemberian pakan harus tepat agar pakan yang di berikan dapat efisien dikonvesikan oleh ikan/udang sehingga kelangsungan hidup yang optimal. 2009). Rasio pemberian pakan yang optimal ditentukan oleh jenis ikan yang dipelihara. dan apabila induk telah memijah harus segera dipindahkan ke tangki yang lain.2. Pada pemelihara ikan. Ikan Kerapu Tikus selama bertelur induk tidak boleh di beri pakan.10. 2. Pakan yang dimakan ikan kerapu telah dicerna 95% setelah 36 jam (Salim. Jenis ikan/udang yang aktif bergerak memerlukan lebih banyak makanan dibandingkan jenis ikan yang bergerak pasif.10. Waktu Pemberian Pakan Waktu pemberian pakan di sesuaikan dengan sifat.2.3.000 butir. Frekuensi Pemberian Pakan Frekuensi pemberian pakan yang tepat akan menghasilkan pertumbuhan yang optimal dan penggunaan pakan yang efisien. Frekuensi pemberian pakan yang optimal tergantung dari jenis ikan yang dipelihara.sifat makan organisme yang dipelihara.11 Survival Rate Survival Rate atau SR adalah tingkat kelangsungan hidup. pemberian pakan setiap dua hari sekali.1. waktu pemberian pakan biasanya dilakukan pagi dan sore hari (Salim.

sebaliknya telur yang tidak terbuahi akan tenggelam didasar tangki. Diantara jenis bakteri tersebut bakteri V alginolyticus dan V fuscus merupakan jenis yang sangat patogen pada ikan kerapu tikus (Salim. Telur yang terbuahi melayang atau terapung pada salinitas 33 permil.yang dibuahi. V algosus. yaitu Vibrio alginolyticus. 2009). Jenis penyakit bakterial yang ditemukan pada ikan kerapu. V anguillarum dan V fuscus. diantaranya adalah penyakit borok pangkal sirip ekor dan penyakit mulut merah. SR kerapu tikus 5% (Darwisito. 2007): SR = Nt/No x 100% Keterangan : SR : Survival Rate Nt : Jumlah ikan akhir (saat pemanenan) No : Jumlah ikan awal (saat penebaran) 2. 2007).12 Penyakit Permasalahan penyakit yang paling banyak pada ikan bersirip (finfish) dijumpai pada budidaya ikan kerapu. Telur yang telah dibuahi tidak berwarna (transparan) sedangkan yang tidak dibuahi dan yang mati berwarna putih susu. rumus untuk mencari SR adalah (Jatilaksono. Hasil isolasi dan identifikasi bakteri ditemukan beberapa jenis bakteri yang diduga berkaitan erat dengan kasus penyakit bakterial. .

Bakteri ini merupakan jenis bakteri yang paling patogen pada ikan kerapu tikus dibandingkan jenis bakteri lainnya.1.2 cm yang berwarna kuning pada media TCBS.12. sukrosa dan maltosa.Vibrio anguillarum Dibandingkan dengan V alginolyticus. eritromisina dan oksitetrasiklin. laktosa. Penumbuhan bakteri pada media selektif TCBS akan didapatkan koloni yang kekuningan dengan ukuran yang hampir sama dengan koloni V alginolyticus akan tetapi bakteri ini tidak tumbuh swarm pada media padat non-selektif seperti NA (Salim.8-1. membentuk kolom berukuran 0. Stadia parasit yang menginfeksi .12. Kematian masal pada benih diduga disebabkan oleh infeksi bakteri V alginolyticus.2. bentuk batang. V anguillarum merupakan spesies yang kurang patogen terhadap ikan air payau. Sifat lain yang tidak kalah penting adalah sifat proteolitik yang berkaitan dengan mekanisme infeksi bakteri (Salim. Pengendalian penyakit dapat dilakukan dengan penggunaan berbagai jenis antibiotika seperti Chloramfenikol. dengan tanda ikan yang tersering terlihat bercak putih.3. 2. 2009).2009). Diagnosis penyakit dapat dilakukan dengan melakukan isolasi dan identifikasi bakteri.Vibrio alginolyticus Vibrio alginolyticus dicirikan dengan pertumbuhannya yang bersifat swarm pada media padat non selektif.Cryptocaryonosis Penyakit ini sering ditemukan pada ikan kerapu bebek dan macan. fermentasi glukosa. Pada uji patogenisitas ikan kerapu tikus ukuran 5 gram yang diinfeksi bakteri dengan kepadatan tinggi hingga 108 CFU/ikan hanya mengakibatkan mortalitas 20%. motil. Ciri lain adalah gram negatif.2.12. 2.

sementara parasit ini mengambil partikel organik dan bakteri yang menempel di kulit ikan. Pelekatan pada insang juga seringkali disertai luka dan sering ditemukan set darah merah dalam vakuola makanan Trichodina. Erosi (borok) dapat terjadi karena infeksi sekunder dari bakteri. produksi mukus yang berlebihan. kadang disertai dengan hemoragi.5 mm. Serangan penyakit dapat diatasi dengan penjagaan kualitas air. Perlakuan bahan kimia pengendali parasit dapat dilakukan seperti perendaman dalam larutan formalin 25 ppm. dan dilengkapi dengan silia. mengerok dari lendir. bercak putih pada kulit. perendaman ikan dalam air bersalinitas 8 ppt selama beberapa jam dan memindahkan ikan yang sudah diperlakukan ke dalam wadah baru bebas parasit (Salim. mengakibatkan seringkali timbul luka.4.Diagnosis dapat dilakukan dengan melihat gejala seperti adanya bercak putih. kehilangan nafsu makan sehingga ikan menjadi kurus. tetapi untuk lebih memantapkan (diagnosis definitif) perlu dilakukan pengamatan secara mikroskopis dengan cara memotong insang. Pada kondisi ini maka Trichodina merupakan ektoparasit sejati. Trichodina yang merupakan . 2009). 2.Infestasi Trichodina sp Penempelan Trichodina pada tubuh ikan sebenarnya hanya sebagai tempat pelekatan (substrat).12. Tanda klinis ikan yang terserang adalah ikan seperti ada gangguan pernafasan.3-0.ikan dan menimbulkan penyakit adalah disebut trophont berbentuk seperti kantong atau genta berukuran antara 0. Tetapi karena pelekatan yang kuat dan terdapatnya kait pada cakram. terutama pada benih dan ikan muda.

yang didapatkan pada ikan air payau merupakan spesies yang memiliki toleransi yang luas terhadap kisaran salinitas. 2009). Trichodina yang menempel di insang umunmya berukuran lebih kecil dibandingkan yang hidup di kulit. Trichodina spp. ditemukan baik pada induk ikan maupun di tambak. Diagnosis dapat dilakukan dengan cara melakukan pengerokan (scraping) pada kulit. Timbulnya luka akan diikuti dengan infeksi bakteri Caligus sp. Ikan yang terserang Trichodina biasanya warna tubuhnya terlihat pucat.Caligus sp parasit golongan Crustacea Parasit jenis ini sering. produksi lendir yang berlebihan dan terlihat kurus. Perlakuan ikan terserang parasit cukup mudah. Perlakuan terhadap ikan yang terinfeksi oleh parasit adalah dengan cara perendaman dalam larutan formalin 200-300 ppm (Salim. dan akan lebih parah lagi karena ikan yang terinfeksi dengan parasit sering menggosok-gosokkan tubuhnya ke dinding bak atau substrat keras lainnya. karena mewabahnya penyakit berkaitan dengan rendahnya kualitas lingkungan.12. berukuran cukup besar sehingga dapat diamati dengan tanpa bantuan mikroskop.2009). contohnya adalah Trichodinella.ektoparasit pada ikan air laut mempakan spesies yang bersifat sebetulnya lebih bersifat komensal daripada ektoparasit (Salim. yaitu hanya merendamnya dalam air tawar selama beberapa menit.5.Pencegahan terhadap wabah penyakit adalah dengan cara pengendalian kualitas lingkungan. Perlakuan . Penempelan ektoparasit ini dapat menimbulkan luka. 2. atau mengambil lembaran insang dan melakukan pemeriksaan secara mikroskopis.

Hingga kini belum ditemukan obat yang efektif untuk mengatasi virus. terutama menyerang larva dan juwana ikan laut (Khordi. .dengan formalin 200-250 ppm juga cukup efektif. VNN merupakan virus yang mematikan. 2009). 2010). Virus lain yang menyerang ikan laut adalah Nodavirus.12. yaitu virus penyebab VNN (Viral Nervous Necrosis). 2. Virus ini menyebabkan hypertrophy(penebalan) dari sel-sel jaringan ikan.6 Virus Jenis viral atau virus yang telah teridentifikasi menyerang ikan laut adalah Iridovirus/ DNA. Penggunaan bahan seperti Triclorvon (Dyvon 95 SP) hingga 2 ppm dapat mematikan parasit (Salim. baik iridovirus maupun nodavirus. menimbulkan tonjolan pada daerah sirip atau kulit (nodul)yang dapat terjadi secara sata-satu atau kelompok. 2010). sehingga ikan yang terserang penyakit ini sebaiknya dimusnahkan agar tidak menular ke ikan lain (Khordi.

Propinsi Jawa Timur (Lampiran 1). Kegiatan ini dilaksanakan mulai pertengahan 19 Juli – 31 Agustus 2010.3 Metode Pengumpulan Data Data yang diambil dalam Praktek Kerja Lapangan ini berupa data primer dan data sekunder yang yang diperoleh melalui beberapa metode atau cara atau cara pengambilan. 3.1 Data Primer Data Primer merupakan data yang diperoleh langsung dari sumbernya. diamati dan dicatat untuk pertama kalinya melalui prosedur dan teknik .1 Tempat dan Waktu Praktek kerja lapang ini akan dilaksanakan di Balai Budidaya Air Payau terletak di Desa Pecaron. Suryabrata (1993) mengatakan bahwa metode deskriptif adalah metode untuk membuat pencandraan secara sistematis. Kabupaten Situbondo. 3.III PELAKSANAAN 3.2 Metode Kerja Metode yang digunakan dalam praktek kerja lapang ini adalah metode deskriptif. faktual dan akurat mengenai fakta-fakta dan sifat-sifat populasi atau daerah tertentu. yaitu metode yang menggambarkan keadaan atau kejadian pada suatu daerah tertentu.3. Kecamatan Panarukan. 3.

1998) Patton dalam Poerwandari (1998) menjelaskan pedoman wawancara digunakan untuk mengingatkan interviewer mengenai aspek-aspek apa yang harus .pengambilan data yang berupa interview. B. Observasi pada Praktek Kerja Lapang ini dilakukan terhadap berbagai hal yang berhubungan dengan kegiatan pembenihan meliputi persiapan alat dan wadah budidaya. pengisian media. pembuatan pupuk. Wawancara Wawancara merupakan cara mengumpulkan data dengan cara tanya jawab sepihak yang dikerjakan secara sistematis dan berlandaskan pada tujuan penelitian. Pada Praktek Kerja Lapang ini wawancara akan dilakukan dengan menggunakan pedoman wawancara. bahkan mungkin tidak terbentuk pertanyaan yang eksplisit (Patton. 1998). Observasi Observasi atau pengamatan secara langsung adalah pengambilan data dengan menggunakan indera mata tanpa ada pertolongan alat standart lain untuk keperluan tersebut (Nazir. A. observasi. Wawancara memerlukan komunikasi yang baik dan lancar antara peneliti dengan subyek sehingga pada akhirnya bisa didapatkan data yang dapat dipertanggungjawabkan secara keseluruhan (Nazir. penebaran bibit. interview dilengkapi pedoman wawancara yang sangat umum serta mencantumkan isu-isu yang harus diliput tanpa menentukan urutan pertanyaan. 1998). 1988). pemeliharaan dan pemanenan. partisipasi aktif maupun memakai instrumen pengukuran yang khusus sesuai tujuan (Azwar. Dalam proses wawancara dengan menggunakan pedoman umum wawancara ini.

pustaka-pustaka.3.1998). masyarakat dan pihak lain yang berhubungan dengan usaha pembenihan ikan Kerapu Tikus. sekaligus menyesuaikan pertanyaan dengan konteks aktual saat wawancara berlangsung.dibahas. 3. Dengan pedoman demikian interviwer harus memikirkan bagaimana pertanyaan tersebut akan dijabarkan secara kongkrit dalam kalimat tanya. juga menjadi daftar pengecek (check list) apakah aspek-aspek relevan tersebut telah dibahas atau ditanyakan. Data ini dapat diperoleh dari data dokumentasi. Partisipasi Aktif Partisipasi aktif adalah keterlibatan dalam suatu kegiatan yang dilakukan secara langsung di lapangan (Nazir. . pengisian media. laporan-laporan pihak swasta. pemeliharaan dan pemanenan serta kegiatan lainnya yang yang berkaitan dengan Praktek Kerja Lapang yang dilakukan. 1988). dinas perikanan. lembaga penelitian. Kegiatan tersebut diikuti secara langsung mulai dari persiapan alat dan wadah budidaya. C.2 Data Sekunder Data sekunder adalah data yang diperoleh dari sumber tidak langsung dan telah dikumpulkan serta dilaporkan oleh orang diluar dari penelitian itu sendiri (Azwar. penebaran bibit. Kegiatan yang dilakukan adalah pembenihan ikan Kerapu Tikus.

Loka Balai Budidaya Air Payau Situbondo merupakan Unit Pelaksana Teknis (UPT) Direktorat Jenderal Perikanan di bidang pengembangan produksi budidaya perikanan air payau yang berada di bawah dan bertanggung jawab kepada Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya. Kecamatan Mlandingan. Sub Senter Udang Windu ini terletak di Desa Blitok. Departemen Pertanian.210/4/94. Dengan beban tugas dan tanggung jawab yang semakin berat.1 Sejarah Berdirinya Balai Budidaya Air Payau Situbondo didirikan pada tahun 1986.1.1 Keadaan Umum Lokasi Praktek Kerja Lapang 4. Sub Senter Udang Windu ini kemudian melepaskan diri dari Balai Budidaya Air Payau Jepara dan berganti nama menjadi Loka Balai Budidaya Air Payau Situbondo yang ditetapkan pada tanggal 18 April 1994 melalui Surat Keputusan Menteri Pertanian Nomor: 264/Kpts/OT. divisi udang dan divisi budidaya. Pada awalnya balai ini bernama Proyek Sub Senter Udang Windu Jawa Timur yang pada saat itu masih berupa fasilitas pemeliharaan benur udang windu di bawah naungan Direktorat Jenderal Perikanan. Loka Balai Budidaya Air Payau Situbondo terdiri dari tiga divisi meliputi divisi ikan.IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4. maka pada tanggal 1 Mei 2001 status Loka Balai Budidaya Air Payau dinaikkan menjadi Balai Budidaya Air Payau . Kabupaten Situbondo dan merupakan cabang dari BBAP Jepara. Jawa Tengah.

Divisi ikan terletak di Dusun Pecaron. Divisi budidaya terletak di Desa Pulokerto Kecamatan Kraton Kabupaten Pasuruan dengan luas areal 30 Ha yang merupakan areal untuk produksi rumput laut Glacilaria. dan divisi budidaya. divisi ikan.Situbondo berdasarkan Surat Keputusan Menteri Perikanan dan Kelautan No. b. Sebelah Utara berbatasan dengan Selat Madura. Central Pertiwi Bahari (CPB). Sebelah Timur berbatasan dengan hatchery udang milik PT. Unit Gelung yang terletak di desa Gelung Kecamatan Panarukan sekitar 25 Km ke arah Timur dari kantor utama dengan luas areal 8 Ha. Lokasi Balai Budidaya Air Payau (BBAP) Situbondo ini berbatasan dengan: a. 2.45 Ha. . Jawa Timur. udang. 260/MEN/2001. Divisi udang terletak di 3 lokasi yang berbeda yaitu : 1. c. Unit Blitok. Kabupaten Situbondo yang merupakan kantor utama dengan luas areal 4. Unit Tuban yang terletak di Kabupaten Tuban dengan luas areal 7 Ha.2 Letak dan Keadaan Lokasi Balai Budidaya Air Payau (BBAP) Situbondo teletak di jalan raya Pecaron. Sebelah Barat berbatasan dengan usaha pembenihan Kelola Benih Ungul (KBU) dan pemukiman penduduk.1. Kecamatan Mlandingan sekitar 10 Km ke arah Barat dari kantor utama dengan luas areal 1. Desa Klatakan. Panarukan Situbondo. 4. BBAP ini terdiri dari 3 divisi yaitu : divisi udang.39 Ha. 3. Kecamatan Kendit. KEP. dan ikan bandeng.

BBAP Situbondo terletak pada 113o55’66”BT-114”BT dan 07o41’32” LS-07o42’35”LS. Kepala Balai Budidaya Air Payau (BBAP) Situbondo Kepala BBAP Situbondo memiliki tugas dan wewenang seperti : merumuskan kegiatan.Kep. yaitu musim penghujan (November-Maret) dan musim kemarau (April-Oktober). 4.1.260/MEM/2001 tentang organisasi dan tata kerja BBAP Situbondo. Seksi Standarisasi dan Informasi 4.d. . terdiri dari: 1. mengkoordinasi dan mengarahkan tugas penerapan teknik pembenihan dan pembudidayaan ikan air payau maupun laut serta pelestarian sumber daya induk atau benih sesuai dengan prosedur dan peraturan yang berlaku untuk kelancaran pelaksanaan kegiatan. Kepala Bagian Tata Usaha 3. Peta wilayah kabupaten Situbondo. Seksi Pelayan Teknis 5. Secara geografis. Kepala Balai Budidaya Air Payau (BBAP) Situbondo 2. Kelompok Jabatan Fungsional Susunan organisasi BBAP Situbondo secara lengkap dapat dilihat pada gambar 1 dengan uraian tugas sebagai berikut: 1. Sebelah Selatan berbatasan dengan pemukiman desa Klatakan. No. BBAP Situbondo berada di tepi pantai utara Pulau Jawa dan lokasi ini dipengaruhi oleh dua musim. Jawa Timur dapat dilihat pada lampiran.3 Struktur Organisasi Berdasarkan Surat Keputusan Mentri Kelautan dan Perikanan RI.

. 3. serta kegiatan lain yang sesuai dengan tugas masing-masing jabatan fungsional berdasarkan peraturan perundangundangan yang berlaku. pengendalian hama dan penyakit ikan. 5. penerapan serta pengawasan teknik pembenihan dan budidaya ikan air payau dan laut. Kepala bagian tata usaha Kepala bagian tata usaha bertugas melakukan administrasi keuangan. persuratan. Kelompok Jabatan Fungsional Kelompok jabatan fungsional bertugas melaksanakan kegiatan perekayasaan. 4. pengujian. perlengkapan. kepegawaian. dan rumah tangga BBAP Situbondo serta pelaporan. penerapan dan bimbingan penerapan standar/sertifikasi pembenihan dan pembudidayaan ikan air payau dan laut. Seksi Pelayaan Teknik Seksi pelayanan teknik bertugas melakukan pelayanan teknik kegiatan pengembangan.2. serta pengelolahan jaringan informasi dan perpustakaan. pengendalian hama dan penyakit serta lingkungan. Seksi Standarisasi dan Informasi Seksi standarisasi dan informasi mempunyai tugas menyiapkan bahan standar teknik dan pengawasan pembenihan dan budidaya ikan air payau dan laut. budidaya dan penyuluhan. sumber daya induk dan benih.

2. Dukungan Sumberdaya Manusia di BBAP Situbondo.1 Sarana Umum A. No Klasifikasi Kualifikasi 1 Tingkat pendidikan Master (S2) Sarjana (S1) Lainnya Jumlah 2 Fungsional Perekayasa Litkayasa Pengawas Pranata Humas Umum Lainnya Jumlah Jumlah (orang) 10 45 88 143 17 16 27 3 26 54 143 4. pemeliharaan benih. Sarana Budidaya Sarana budidaya merupakan factor utama yang mendukung kegiatan pembenihan sehingga perlu diperhatikan bentuk dan posisisnya. Tabel berikut memperlihatkan dukungan sumberdaya manusia di BBAP Situbondo. . Tabel 1.1. kultur rotifer. kultur mikroalga. Sarana Budidaya yang digunakan di Balai Budidaya Air Payau Situbondo untuk kegiatan pembenihan meliputi wadah tandon air yang terbuat dari beton. pemeliharaan larva.4. wadah pemeliharaan induk.4 Kepegawaian Dalam melakukan tugasnya Balai Budidaya Air Payau Situbondo didukung sumberdaya manusia sebanyak 143 orang karyawan berstatus pegawai negeri sipil dengan berbagai tingkat pendidikan. dan wadah inkubasi telur yang berbentuk akuarium kaca. penetasan telur.2 Sarana dan Prasarana Umum BBAP Situbondo 4.

t = 3 m 0.5 m3 12.125 m3 12. Air laut langsung dilarikan ke bak pemeliharaan induk melalui pipa saluran berupa pipa berdiameter 4 inchi. Sand filter di BBAP Situbondo tersusun dari bawah ke atas berupa batu kali.1668 m Pemeliharaan dan Pemijahan Induk Kerapu Bawal Bintang Bandeng Akuarium Bak Pemeliharaan Larva Pemeliharaan Benih Beton Beton Beton Kaca Beton Beton Beton Lingkaran Lingkaran Lingkaran Persegi Persegi Persegi Persegi d = 10 m. Pengambilan air laut menggunakan pipa berdiameter 8 inchi yang bagian ujungnya dilengkapi dengan filter hisap dan dihubungkan langsung dengan pompa electromotor berkapasitas 21 PK.5 m 5 m x 3 m x 1. Sedangkan untuk mendistribusian air laut ke bak pembenihan dan bak kultur pakan alami.25 m 135 cm x 50 cm x 130 cm 12.4 m d = 5 m.5 m x 0. Sarana Budidaya Di BBAP Situbondo Bak/Wadah Tandon Bak Filter Fisik Bahan Beton Beton Bentuk Persegi Persegi Dimensi 4.25 m 235. t = 3 m d = 10 m.5 m 3 3 4 unit 1 unit 2 unit 5 unit 24 unit 24 unit 24 unit 529. yang berjarak 200 m dari balai. Air Laut Air laut merupakan faktor penting dalam kegiatan pembenihan.25 m 2 m x 5 m x 1. air laut tersebut terlebih dahulu disaring dengan menggunakan saringna fisik atau sand filter ukuran 225 cm x 100 cm x 100 cm.2 m x 1.2 m x 2.5 m 12.5 m x 0.5 m 3 4 unit 10 unit 8 unit 1 unit 8 unit 5 unit 21 m3 39. Suplai air di BBAP Situbondo berasal dari selat Madura.37 m Volume 41.Tabel 2. waring dan .5 m 12.25 m 2 m x 5 m x 1.875 m Penetasan Telur 0.2 m x 4.25 m 2 m x 5 m x 1. bungkusan arang.5 m 3 3 3 877500 cm B.25 m 12.2 m x 4.5 m 2 m x 5 m x 1.35 m 4. t = 3 m d = 15 m.5 m 3 3 3 Kultur Pakan Alami Rotifer Chlorella Beton Beton Beton Beton Bak Karantina Egg Collector Beton PVC Persegi Persegi Persegi Lingkaran Persegi Persegi 2 m x 5 m x 1.5 m3 235.454 m 3 3 Jumlah 3 unit 5 unit 24. kerikil. ijuk. t = 2 m 2 m x 5 m x 1.

Air yang telah melalui tahap penyaringan dipompa ke tendon air laut pada ketinggian 2 m di atas permukaan tanah menggunakan pompa yang berkapasitas 7. perumahan karyawan. keperluan karyawan BBAP Situbondo dan asrama. lalu ditampung dalam tandon dengan ketinggian 3 m dari permukaan tanah ke unit pembenihan. akuarium inkubasi telur dan bak kultur pakan alami. Udara dari blower dialirkan langsung dengan menggunakan pipa PVC ukuran 3 inchi dan 1 inchi dengan sistem tertutup yang dilengkapi dengan .5 PK melalui pipa yang berdiameter 4 inchi. Setelah air melewati saringan tersebut. Air Tawar Penyediaan air tawar digunakan untuk kebutuhan kegiatan pembenihan. Antara kedua tandon tersebut hanya dipisah dengan dinding beton. Air tawar didapatkan dari 3 sumber sumur dengan kedalaman 10 m. laboratorium. dan asrama. Air tersebut dipompa. maka air akan terbebas dari kotoran air yang berukuran besar. air minum. kantor. Tandon air laut inilah yang menjadi sumber air yag nantinya akan dialirkan ke bak-bak pembenihan. Tandon air laut untuk pembenihan timur terdapat di bagian belakang pembenihan yang menjadi satu dengan tandon air laut pembenihan tengah. C. Aerasi Ketersediaan oksigen di BBAP Situbondo disuplai dengan menggunakan high blower.pasir. Air dialirkan dengan sistem gravitasi sebab posisi tandon berada lebih tinggi dari bak-bak yang lainnya dan dibantu dengan menggunakan pompa. D.

dan pembenihan tengah. Distribusi Sistem Aerasi di BBAP Situbondo No Sumber Aerasi Spesifikasi 1 Blower Vortex Daya 7 PK Distribusi 2 Rood Blower Daya 5 PK 3 Blower Vortex Daya 7 PK Bak penggelondongan dan bak induk di pembenihan timur. Uraian dari fasilitas pendukung di BBAP Situbondo dapat dilihat pada tabel 5. batu aerasi dan pemberat yang terbuat dari timah agar selang aerasi berada di bawah permukaan air. pos jaga. Tabel 4. Pembenihan barat. Fasilitas Pendukung di BBAP Situbondo Uraian Spesifikasi Listrik PLN 60 KVA Genset 80 KVA Bangunan Kantor Kantor Utama (Kepala Balai) Kantor Tata Usaha Laboratorium Nutrisi dan Teknologi Pakan Jumlah 1 unit 1 unit 1 unit 1 unit 1 unit . 4. dan perumahan untuk karyawan BBAP Situbondo. pembenihan timur dan sebagian pembenihan tengah dan kultur pakan alami timur. kantor tata usaha.2 Prasarana A.2.selang aerasi. perpustakaan. aula (auditorium). mushola. laboratorium nutrisi. Bak karantina. Tabel 3. Bangunan Jenis bangunan yang terdapat di BBAP Situbondo terdiri dari kantor utama. ruang kuliah. laboratorium kesehatan ikan dan kualitas air. laboratorium pakan alami. kultur pakan alami barat.

Sebagai antisipasi jika terjadi pemutusan arus listrik. Setelah itu.Rumah Karyawan Rumah Genset Rumah Blower Asrama Bangsal Pakan Lainnya Kesehatan Ikan dan Lingkungan Pakan Alami Rumah Karyawan Rumah Tamu Genset dan Panel Listrik Blower Mahasiswa dan Peserta Magang Tempat Pembuatan Pakan Perpustakaan Aula (auditorium) Ruang Kuliah Alat Angkut (transportasi) . menjalankan pompa.Pick up L – 300 . generator set akan segera difungsikan untuk tetap mendukung suplai listrik bagi kegiatan budidaya. Saat terjadi pemadaman listrik.Suzuki Future . Tenaga Listrik Listrik merupakan komponen yang sangat vital untuk kegiatan budidaya.Isuzu Panther . blower dan peralatan lainnya yang membutuhkan energi listrik. akan terdengar tanda dari sirine secara otomatis. Energi listrik digunakan untuk penerangan. Sumber tenaga listrik di BBAP Situbondo berasal dari Perusahaan Listrik Negara (PLN) dengan daya 60 KVA.Toyota Kijang 1 unit 1 unit 1 unit 1 unit 1 unit 1 unit 1 unit 1 unit 1 unit 1 unit 1 unit 1 unit 1 unit 1 unit 1 unit B. . BBAP Situbondo menyediakan generator set berdaya 80 KVA.

sedangkan pada musim pemijahan diturunkan menjadi 1%. ikan kerapu memiliki sifat hemaprodit protogini yaitu pada tahap menuju perkembangan dewasa berjenis kelamin betina kemudian berubah menjadi jantan setelah tumbuh besar dan bertambah tua. .4. 2010). Induk yang berasal dari alam didapatkan dari alam didapatkan dari hasil penangkapan para nelayan daerah perairan laut bali dan Lombok.10 kg/m3 . Untuk masa peralihan kelamin biasanya induk memiliki berat 3. Sedangkan induk yang berasal dari budidaya didapatkan dari hasil budidaya (F1) yang dilakukan oleh balai. BBAP Situbondo memiliki jumlah induk 65 ekor yang terdiri dari 17 ekor induk jantan dan 48 ekor induk betina.15 mg/ekor/minggu.5-5 kg. (Anonim. Induk-induk yang baru datang dikarantina dalam bak karantina selama 1-2 bulan untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan baru yang terdapat di BBAP Situbondo. takaran pakan yang diberikan sebesar 3 .5 kg dan bobot induk jantan lebih dari 5 kg. Induk jantan memiliki ukuran bobot yang lebih besar dibandingkan dengan induk betina. Bobot induk betina sebesar 1-3. Disamping itu diberikan pula vitamin E dengan dosis 10 .5% dari total berat badan ikan/hari.1 Persiapan Induk Induk ikan kerapu yang dipijahkan dipelihara di laut dalam kurungan apung dengan padat penebaran induk 7. Pakan yang diberikan berupa ikan rucah segar berkadar lemak rendah. Induk kerapu bebek Cromileptes altivelis yang dimiliki oeh BBAP Situbondo berasal dari alam dan hasil budidaya.3. Diluar pemijahan ikan.3 Teknik Pembenihan Kerapu Tikus 4.5 .

Selang aerasi pun harus dicuci dengan menggunakan detergen lalu dibilas dan dipasang kembali.3. dinding-dinding bak disiram dengan kaporit 60% sebanyak 1.5 – 2 kg yang dilarutkan dalam 25 liter air sebagai upaya desinfeksi wadah dan disikat kembali hingga benar-benar bersih. Bak tersebut dikeringkan selama 3 – 6 hari. dan kotoran ikan dengan menggunakan sikat. Setelah itu. Setelah bak tersebut bersih. bagian atas bak dipasang jaring yang berbahan polyethylene yang disanggah dengan menggunakan tiang kayu.Proses persiapan wadah indukan dilakukan dengan cara membuang semua air yang terdapat dalam bak induk. sedangkan induk jantan yang telah berumur 3 tahun. bak disiram kembali dengan air tawar sampai bau kaporitnya hilang. ataupun pancing.2 Seleksi Induk Induk kerapu tikus di BBAP Situbondo berasal dari hasil budidaya dan tangkapan alam yang ditangkap oleh nelayan. Bak tersebut dibersihkan dari lumut-lumut yang menempel. Hal tersebut dilakukan dengan cara membuka outlet seluruhnya. Tujuan dari pemasangan jaring ini adalah untuk menjaga agar induk tidak melompat keluar dari bak. Setelah semua tahapan di atas selesai. jaring. Indukan tersebut ditangkap dengan menggunakan bubu. Induk betina yang digunakan adalah yang berumur 1 – 2 tahun. 4. Tahap ini dilakukan untuk mendapatkan induk yang . Setelah ditangkap. Selanjutnya. sisa pakan. induk yang akan memijah diseleksi terlebih dahulu dan diaklimatisasikan. induk tersebut dipelihara selama hingga menjadi indukan kerapu tikus yang siap memijah. Sebelum dilakukan penebaran. bak sudah dapat diisi kembali dengan air laut.

Tujuan aklimatisasi adalah untuk mengadaptasikan ikan pada wadah budidaya dan dilakukan pengobatan jika induk terserang penyakit sampai benar-benar sembuh. Induk yang telah diseleksi dan diaklimatisasi kemudian disatukan dalam wadah pemijahan. Menurut Cholik. dan 48 ekor betina. . Pemeriksaan alat kelamin dilakukan dengan cara mengurut bagian perut ke arah anus. berat badan. sedangkan induk jantan lebih dari 3 tahun. et al (2005). Perbedaan antara jantan dan betina dapat dibedakan dari umur.. Seleksi yang dilakukan adalah menentukan jenis kelamin induk agar rasio jantan dan betina dapat mendekati ideal. Rasio jantan dan betina yang ideal adalah 1 : 2. Induk betina umumnya mempunyai berat tubuh 1–2. dapat dilakukan dengan kanulasi. dan pemeriksaan alat kelamin. Ikan kerapu tikus merupakan hewan yang bersifat “protogynous hermaphrodite” yaitu pada awalnya berkelamin betina lalu berubah menjadi jantan dengan jangka waktu tertentu. Pemeriksaan dilakukan dengan cara menimbang berat badan induk. maka induk tersebut adalah betina. sedangkan jika tidak keluar. Induk betina kerapu tikus berumur 1 – 3 tahun. Jika terdapat telur. Jumlah induk yang terdapat di Balai Budidaya Air Payau Situbondo adalah 65 ekor. yang terdiri dari 17 ekor jantan. Aklimatisasi induk dilakukan dengan cara memelihara induk pada wadah yang berbeda. jika keluar sperma maka induk tersebut adalah jantan.berkualitas dan sudah dapat untuk dipijahkan. Proses aklimatisasi berakhir jika induk sudah mau makan dan benar-benar terbebas dari penyakit.5 kg dengan panjang tubuh lebih dari 40 cm.

Jenis ikan/udang yang aktif bergerak memerlukan lebih banyak makanan dibandingkan jenis ikan yang bergerak pasif. Selama pemeliharaan ikan kerapu tikus di BBAP Situbondo. seperti rasio pakan. rasio pemberian pakan kerapu 4 . (Menurut Danakusumah dan Imanishi. Pakan tersebut didapatkan dari nelayan yang menangkap langsung di laut. lemuru.1986). Untuk . Kematangannya kelamin induk betina diketahui dengan cara kanulasi.6%. dan cumi-cumi.Hal ini sependapat dengan Anonim (2010) yang menyatakan bahwa kematangan kelamin induk jantan ikan kerapu diketahui dengan cara mengurut bagian perut ikan (stripping) ke arah awal sperma yang keluar warna putih susu dan jumlahnya banyak diamati untuk menentukan kualitasnya. Rasio pemberian pakan harus tepat agar pakan yang di berikan dapat efisien dikonvesikan oleh ikan/udang sehingga kelangsungan hidup yang optimal. nelanak. induk kerapu tikus diberi pakan rucah berupa ikan segar dengan kandungan lemak rendah dan memiliki kadar protein yang tinggi (lebih dari 70%) seperti ikan layur. frekuensi pemberian pakan dan waktu pemberian pakan. kemudian dihisap. ekor kuning. garis tengah (diameter) telur diatas 450 mikron. A. kembung tongkol. Rasio pemberian pakan yang optimal ditentukan oleh jenis ikan yang dipelihara. Pemberian Pakan Pada pemberian pakan perlu beberapa hal yang diperhatikan. Telur yang diperoleh diamati untuk mengetahui tingkat kematangannya. yaitu memasukkan selang plastik ke dalam lubang kelamin ikan.

00-08. Pemberan dilakukan pada pagi hari sekitar pukul 07. Cara memasukkannya adalah dengan menyayat tubuh ikan pada bagian bawah sirip dorsal ataupun pada bagian daging atas perut.mempertahankan kesegaran pakan.00 WIB dengan frekuensi pemberian pakan 1 kali sehari yang diberikan secara perlahan hingga induk kenyang. Tujuannya adalah untuk menjaga kesehatan ikan dan untuk mempercepat perkembangan dan kematangan gonad. 50 mg/kg induk. Vitamin C berguna untuk meningkatkan daya tahan tubuh terhadap serangan penyakit. C dan E. Selain pakan ikan rucah. hal ini bertujuan agar induk tidak jenuh dengan ikan yang diberikan. dan 100 IU dengan merek dagang Natur E. Pakan yang akan diberikan pada induk terlebih dahulu direndam dalam air tawar untuk menghilangkan es. Dosis vitamin tersebut masing-masing adalah 50 mg/kg induk. Selain itu. Pemberian vitamin tersebut dilakukan selama dua kali seminggu. Jadwal pemberian pakan dan vitamin dapat dilihat pada tabel 6. Vitamin E diberikan untuk mempercepat kematangan gonad induk. Vitamin yang diberikan adalah vitamin B. bau amis pada ikan serta melepaskan ektoparasit yang menempel pada tubuh ikan. Proses pemberian vitamin adalah dengan cara memasukkan vitamin tersebut ke dalam daging ikan rucah. pergantian jenis rucah yang diberikan juga bertujuan untuk menambah nafsu makan induk. maka pakan tersebut disimpan di dalam freezer. Pemberian vitamin B berguna untuk menambah nafsu makan ikan. Kemudian ikan dipotong-potong sesuai dengan ukuran bukaan mulut induk. pemberian vitamin juga dilakukan terhadap indukan kerapu tikus. . Setiap hari ikan rucah yang diberikan dibedakan jenisnya.

Setelah pemberian pakan di pagi hari. Setelah mencapai ketinggian tersebut. Pembuangan air bawah berfungsi sebagai pembuangan kotoran hasil metabolisme dan sisa-sisa pakan. Sedangkan pembuangan air atas berfungsi sebagai pengatur ketinggian air pada bak dan untuk mengalirkan telur hasil pemijahan ke arah bak penampungan telur (egg collector). juga harus memenuhi persyaratan-persyaratan kualitas airnya. Pengelolaan Air Lokasi budidaya yang ideal. Pergantian air untuk indukan kerapu tikus dilakukan setiap hari. Pemenuhan akan kebutuhan air harus diupayakan agar produksi benih ikan laut yang berkualitas. Selain itu kualitas air yang terjaga juga sangat menentukan proses pemijahan induk dan kualitas telur yang dihasilkan oleh induk. M dan Andi Tamsil. Di BBAP Situbondo sendiri air merupakan media utama bagi kehidupan ikan. dan kontunu dapat berhasil (Ghufran. Oleh karena itu kualitas air sangat menentukan kelangsugan hidup ikan. Penggelontoran dilakukan dengan cara mendorong kotoran di dasar bak menggunakan sikat yang telah diberi kayu yang cukup panjang hingga mencapai dasar bak menuju pipa . DO dan Salinitas.B. selain pertimbangan umum di atas. air di bak indukan diturunkan sampai ketinggian air mencapai 30 % dari volume bak. 2010). dan kimia meliputi : pH. dalam jumlah yang cukup. Hal ini penting untuk menjaga kualitas air tetap baik. dapat juga dilakukan penggelontoran pada bak induk. Faktor kualitas air yang perlu dipertimbangkan untuk pemeliharaan pembenihan Kerapu tikus meliputi sifat fisika : Suhu dan Kecerahan. Pada bak induk terdapat dua buah outlet yaitu pembuangan air bawah dan pembuangan air atas.

Jenis parasit yang sering menyerang adalah Argulus sp. Selain itu. V algosus. Sirkulasi dengan cara ini dapat mengganti air sebanyak 200 – 300 % dari total volume bak. Pada sore hari.00 – 17. Diantara jenis bakteri tersebut bakteri V alginolyticus dan V fuscus merupakan jenis yang sangat patogen pada ikan kerapu tikus (Salim.outlet sehingga keluar bersama dengan air. ikan akan cenderung mengosok-gosokan tubuhnya ke dinding bak dan berenang di permukaan air dengan tingkah laku bernafas dengan cepat dengan tutup insang . Penggelontoran bak induk dilakukan setiap 4 – 6 hari sekali atau disesuaikan dengan kondisi bak. serta produksi lendir meningkat. Virus yang sering menyerang adalah VNN (Viral Nervous Necrosis). Penyakit yang umumnya menyerang induk kerapu tikus disebabkan oleh trematoda. Bakteri dan virus menyerang ketika induk terdapat luka. Setelah dilakukan penggelontoran atau hanya menurunkan air hingga 30 %. jamur.00 WIB pipa outlet dipasang seluruhnya. V anguillarum dan V fuscus. Pencegahan Hama dan Penyakit Permasalahan penyakit yang paling banyak pada ikan bersirip (finfish) dijumpai pada budidaya ikan kerapu. Gejala yang timbul saat induk kerapu tikus terkena Argulus adalah nafsu makan menurun. protozoa. diantaranya adalah penyakit borok pangkal sirip ekor dan penyakit mulut merah. C. bakteri. pipa outlet dipasang setengahnya. 2009). Jenis penyakit bakterial yang ditemukan pada ikan kerapu. warna kulit pucat. pukul 16. Hasil isolasi dan identifikasi bakteri ditemukan beberapa jenis bakteri yang diduga berkaitan erat dengan kasus penyakit bakterial. dan virus. yaitu Vibrio alginolyticus.

Larutan yang biasa digunakan adalah Furazolidone karena tingkat efektifitasnya paling tinggi. Ciri-ciri Induk Matang Gonad Ciri induk kerapu tikus yang akan memijah ditandai dengan berenang vertikal dan induk jantan mengejar induk betina. Bakteri ini menyebabkan kerusakan pada sirip ikan. Induk jantan terlihat lebih cerah dan alat kelaminnya menjadi kemerah-merahan. Kemudian kekentalan dan pergerakkan sperma diamati.. D.5 ppm selama 2 jam).3–0. Kematangannya . Telur yang diambil menggunakan kateter diukur diameter telurnya. Pengukuran sampling tingkat kematangan gonad dapat dilakukan dengan teknik kanulasi pada induk betina. Sedangkan pada ikan jantan dapat dilakukan stripping/diurut hingga mengeluarkan sperma. prefuran (0. Biasanya sebelum memijah nafsu makan induk menurun.terbuka. Furazolidone (10–15 ppm selama 2 jam). dan hidrogen peroksida (1–2 ppm selama 2 jam). Bakteri yang menyerang induk kerapu disebabkan oleh bakteri Vibrio sp. Hal ini sependapat dengan Anonim (2010) yang menyatakan bahwa kematangan kelamin induk jantan ikan kerapu diketahui dengan cara mengurut bagian perut ikan (stripping) ke arah awal sperma yang keluar warna putih susu dan jumlahnya banyak diamati untuk menentukan kualitasnya. Induk betina perutnya terlihat lebih besar terutama setengah bagian belakang. Pengendalian penyakit ini adalah dengan merendam induk dalam salah satu larutan ini yaitu Arciflavin (1–2 ppm selama 2 jam). Pengendalian penyakit ini dilakukan dengan cara merendam induk kerapu di dalam air tawar selama 15 menit.

Menurut Cholik. Pemijahan terjadi pada malam hari antara pukul 22. 2010). kemudian dihisap. Telur yang diperoleh diamati untuk mengetahui tingkat kematangannya. Induk kerapu tergolong ikan yang melakukan pemijahan sepanjang tahun. .00 WIB. (Anonim. Telur yang mengapung akan mengikuti arus ke pembuangan atas dan ditampung di dalam egg collector.kelamin induk betina diketahui dengan cara kanulasi. 4.3. Pemijahan ikan kerapu biasanya terjadi pada bulan gelap (antara tanggal 6– 17).00 – 02. Proses pemijahan ikan kerapu diawali dengan induk betina mengeluarkan telur kemudian disusul induk jantan yang mengeluarkan sperma sehingga terjadi pembuahan.000 butir telur pada ukuran 3-4 kg. Perlakuan ini dapat menaikkan suhu air pada bak pemijahan sekitar 1 – 3 0C. garis tengah (diameter) telur diatas 450 mikron. Manipulasi ini mengikuti keadaan pasang surut di alam sehingga ikan akan terangsang untuk melakukan pemijahan.3 Pemijahan Metode pemijahan induk kerapu tikus yang dilakukan di BBAP Situbondo dilakukan dengan dua cara.000 – 300. A. Pemijahan Alami Metode pemijahan alami (nature spawning) dilakukan dengan cara memanipulasi lingkungan dengan menurunkan ketinggian air dalam bak pemeliharaan induk sampai ± 100 cm dan dibiarkan selama 5 – 7 jam. yaitu pemijahan alami dan pemijahan dengan rangsangan hormon. yaitu memasukkan selang plastik ke dalam lubang kelamin ikan. et al (2005) satu induk betina dapat menghasilkan telur rata-rata 200.

00 permukaan air dikembangkan ke possisi semula (tinggi air 1. pemijahan dengan rangsangan hormon dilakukan karena kondisi lingkungan tidak memungkinkan untuk proses . Untuk merangsang terjadinya perkawinan antara jantan dengan induk betina matang kelamin digunakan metoda manipulasi lingkungan di bak terkontrol. Manipulasi lingkungan dilakukan menjelang bulan gelap yaitu dengan cara menaikkan dan menurunkan permukaan/tinggi air setiap hari.5 m). Pemijahan umumnya terjadi pada malam hari antara jam 22. Pemijahan mengikuti fase peredaran bulan. pada saat bulan terang atau bulan gelap. Pengamatan pemijahan ikan dilakukan setiap hari setelah senja sampai malam hari. B. Mulai jam 09. kadar garam.24.00 sampai jam 14. Rangsangan hormonal induk kerapu matang kelamin disuntik dengan hormon Human Chorionic Gonadotropin (HCG) dan Puberogen untuk merangsang terjadinya pemijahan.Hal ini sependapat dengan Anonim (2010) yang menyatakan bahwa Metode yang digunakan adalah manipulasi lingkungan. Perlakuan ini dilakukan terus menerus sampai induk memijah secara alami. kedalaman air dan lain-lain.00 permukaan air diturunkan sampai kedalaman 40 cm dari dasar bak. Hasil pengamatan di lapangan. Setelah jam 14. Teknik pemijahan dengan manipulasi lingkungan ini dikembangkan berdasarkan pemijahan ikan kerapu di alam.00 WIB. yaitu dengan rangsangan atau kejutan faktor-faktor lingkungan seperti suhu. Pemijahan dengan Rangsangan Hormon Induk kerapu matang kelamin dipindahkan ke bak pemijahan yang sebelumnya telah diisi air laut bersih dengan ketingian 1.00 .5 m dan salinitas + 32 ‰.

berbentuk empat persegi panjang dengan ukuran 4 x 1 x 1 m³ .28°C.4 Pemanenan Telur Menurut (Anonim.100 ppm. Telur hasil pemijahan dikumpulkan dengan sistim air mengalir. Tiga hari sebelum bak penetasan/bak pemeliharaan larva digunakan. Setelah itu dinetralkan dengan penambahan larutan Natrium thiosulfat sampai bau yang ditimbulkan oleh chlorine hilang. Air laut dengan kadar garam 32 ‰ dimasukkan ke dalam bak.kematangn gonad dan pemijahan. satu hari sebelum larva dimasukkan dengan maksud agar suhu badan stabil berkisar antara 27 .3. 4. terbuat dari beton. Induk ikan dibius. 2010) bak yang dipergunakan untuk penetasan telur sekaligus juga merupakan bak pemeliharaan larva. Penyuntikan dilakukan pada induk ikan yang diameter oocyte (bulatan telur) mencapai 0. kemudian disuntik pada bagian punggung dibawah duri ketiga atau pada bagian dibawah sirip dada terutama untuk induk yang berukuran besar dan membutuhkan hormon yang lebih banyak. Telur yang dibuahi akan mengapung dipermukaan air dan berwarna jernih (transparan).4 mm yang berarti induk telah mencapai tingkat kematangan gonad dan siap untuk dikawinkan. perlu dipersiapkan dahulu dengan cara dibersihkan dan dicuci hamakan memakai larutan chlorine (Na OCI) 50 . . Penyuntikan dilakukan pada pagi hari.5 ppm acriflavin untuk mencegah serang bakteri. Sebelum telur ditetaskan perlu direndam dalam larutan 1 . Hormon yang digunakan untuk pemijahan metode ini dengan menggunakan hormon HCG (Human Chrionic Gonadotropin). Penyuntikan dilakukan dengan dosis 250 dan 50 IU per kilogram bobot badan.

Egg collector terbuat dari saringan 40 mikron dengan ukuran 135 cm x 80 cm x 80 cm.5 m untuk dihitung. Satu sendok tersebut dapat menampung sebanyak 25000 butir telur. sedangkan telur yang digunakan adalah telur yang melayang.Hasil pengamatan di lapangan telur ikan kerapu bersifat melayang di atas permukaan air. telur mengendap yang terdapat di dalam akuarium disipon dan dibuang. Di ujung pipa pembuangan atas tersebut dipasang bak penampungan telur atau yang disebut pengumpul telur (egg collector). maka telur telah dapat ditebar ke tiap pembenihan yang ada di BBAP Situbondo maupun dijual dan didistribusikan ke . 2005). penghitungan telur seperti ini dikenal sebagai metode penghitungan telur secara kering.00 WIB. Setelah itu. dengan pemberian arus maka telur yang melayang akan ikut terbawa arus air menuju penampungan atas. Telur yang baik dan terbuahi akan melayang di permukaan dan berwarna transparan. Telur yang buruk dan tidak terbuahi akan mengendap di dasar dan bewarna putih keruh (Cholik. Setelah jumlah telur diketahui. Telur ikan yang telah terkumpul di egg collector dipanen dengan menggunakan saringan yang bermata jaring 300 µm. Pemindahan telur dari akuarium menuju ember dilakukan dengan cara penyiponan. Pemanenan telur dilakukan pada pagi hari antara pukul 06. lalu ditampung kembali di akuarium berukuran 0.00 – 07. telur tersebut ditampung sementara di dalam ember. Perhitungan telur dilakukan dengan menggunakan alat sampling yang berbentuk sendok dengan ujungn berbentuk seperti setengah bola pimpong yang dapat dilihat pada gambar 3.5 m x 0. Telur yang akan dibagi ke unit pembenihan merupakan telur yang baik..5 m x 0. et al.

000 4. Harga tiap butir telur kerapu tikus adalah Rp 1.000 9 Agustus 2010 200.000 17 Agustus 2010 150. 100.000 butir telur per 9 ton yang diambil pada saat panen telur tanggal 8 agustus 2010. 100. Tabel 5. Jumlah Telur Kerapu Tikus di BBAP Situbondo (Bulan Agustus 2010) Tanggal Jumlah Telur (butir) 7 Agustus 2010 75. sedangkan untuk pipa saluran outlet adalah 3.200.5. Saluran inlet di setiap bak terdapat 2 buah yaitu saluran pemasukan Chlorella sp dengan ukuran pipa 3/4 inchi dan saluran pemasukan air laut dengan ukuran pipa 2 inchi.000 11 Agustus 2010 450.3.000 15 Agustus 2010 16 Agustus 2010 100. Data hasil telur selama pemijahan di bulan Agustus dapat dilihat pada tabel 6.000 13 Agustus 2010 450. Setiap bak dilengkapi dengan saluran inlet dan outlet yang terbuat dari pipa PVC.000 10 Agustus 2010 275. .25 m dengan kapasitas air 10 m3.000 butir telur per 9 ton pada tanggal 10 agustus 2010 dan 100.5 inchi.000 butir telur per 9 ton pada tanggal 11 agustus 2010.000 butir telur per 9 ton pada tanggal 9 agustus 2010.000 Total 3.000 14 Agustus 2010 1.000 12 Agustus 2010 350.pembeli. Masing-masing bak tersebut memiliki dimensi 5x2x1.000. Pada saat pemanenan telur. Persiapan Wadah Wadah penetasan telur yang terdapat di Unit Pembenihan Timur BBAP Situbondo yaitu berupa bak beton berbentuk persegi panjang sebanyak 6 buah.000 8 Agustus 2010 150. tebar telur untuk pembenihan sebanyak 150.5 Penetasan Telur A.

batu dan pemberat aerasi diletakkan di bagin dasar bak. Hal ini bertujuan untuk menyaring kotoran (pasir dan partikel tanah yang halus) agar tidak ikut terbawa ke dalam media lalu air tersebut ditreatment menggunakan larutan formalin dengan dosis 20 ppm dan diaerasi kuat selama 24 jam selanjutnya air dapat digunakan untuk penebaran telur. Setelah itu bak diisi air laut sebanyak 9 m3 melalui saluran inlet air laut yang telah diberi filter bag (50 mikron). perlu dipersiapkan dahulu dengan cara dibersihkan dan dicuci hamakan memakai larutan chlorine (Na OCI) 50 . Setelah itu. Setelah itu dinetralkan dengan penambahan larutan Natrium thiosulfat sampai bau yang ditimbulkan oleh chlorine hilang. Telur yang . Hal ini sependapat dengan Anonim (2010) yang menyatakan bahwa tiga hari sebelum bak penetasan/bak pemeliharaan larva digunakan. Telur hasil pemijahan dikumpulkan dengan sistim air mengalir. Aerai yang digunakan untuk menyuplai oksigen dalam bak penetasan telur berjumlah 11 titik aerasi yang dilengkapi engan selang aerasi. satu hari sebelum larva dimasukkan dengan maksud agar suhu badan stabil berkisar antara 27 . bak dicuci kembali dengan detergen untuk menghilangkan sisa klorin yang menempel pada dinding dan dasar bak lalu bak dibilas dengan menggunakan air tawar hingga bersih dan bau klorin hilang.100 ppm.Wadah yang akan digunakan untuk penetasan terlebih dahulu didesinfeksi dengan menggunakan larutan klorin 15 ppm dan dibiakan selama 1-2 hari. Apabila telur menetas aerasi dikecilkan karena larva masih bersifat planktonik yaitu bergerak dengan mengikuti pergerakan air.28°C. Air laut dengan kadar garam 32 ‰ dimasukkan ke dalam bak. Bak yang telah dibersihkan lalu dikeringkan selama 1-2 hari.

000 100.dibuahi akan mengapung dipermukaan air dan berwarna jernih (transparan). Dari jumlah diperkirakan hanya 30% saja yang dibuahi (Suria D. Dari hasil di lapangan penebaran telur dilakukan secara merata ke dalam bak penetasan telur yang telah dipersiapkan sebelumnya. Hal ini dilakukan karena larva yang . Telur yang telah dibuahi berjumlah lebih kurang 1.5 ppm acriflavin untuk mencegah serang bakteri.00-09.60 butir/liter air media.28°C dan kadar garam 30 .00 WIB. media penetasan diberi erasi kecil yang bertujuan agar suplai oksigen tetap terpenuhi serta agar telur tidak mengalami guncangan kuat yang dapat menyebabkan gangguan fisik pada telur.200. Saat proses penetasan. Penebaran dan Penetasan Telur Padat penebaran telur di Bak Penetasan berkisar 20 . B. Penebaran biasanya dilakukan pada pagi hari yaitu antara 08. setelah larva menetas.500 butir per bak dengan kapasitas air dalam bak sebanyak 9 m3 dan dengan derajat penetasan (HR) 44 %. Suhu optimum untuk penetasan telur ikan kerapu yaitu antara 27-31oC. 2002). pada D1 media diberi aerasi kecil.32 ‰. Telur yang telah dibuahi tidak berwarna (transparan) sedangkan yang tidak dibuahi dan yang mati berwarna putih susu. Ke dalam bak penetasan perlu ditambahkan Chlorella sp sebanyak 50. Untuk padat penebaran telur saat penulis melakukan PKL yaitu sebesar 112.000 butir.000 sel/ml untuk menjaga kualitas air. Sebelum telur ditetaskan perlu direndam dalam larutan 1 . Telur akan menetas dalam waktu 18 22 jam setelah pemijahan pada suhu 27 . Telur kerapu tikus akan menetas dalam kisaran waktu antara 17-19 jam setelah pembuahan.

00-07. Perhitungan Derajat Penetasan (Hatching Rate) Perhitungan derajat penetasan (Hatching Rate) dilakukan pada saat larva berumur satu hari (D1) dengan metode sampling. Cara menghitung HR adalah: 1. 4. dasar bak disipon secara perlahan dan hati-hati untuk membuang telur yang tidak menetas. Pipa tersebut lalu diangkat dan air di dalam paralon segera dimasukkan ke dalam gelas ukur bervolume 250 ml. Larva yang berhasil menetas dihitung satu persatu dalam gelas beaker tersebut.5 inchi dengan panjang 150 cm. Proses tersebut dilakuka di lima titik sampel Setelah dilakukan sampling. 2. maka Hatching Rate (HR) dapat dihitung dengan menggunakan rumus : . bagian atas pipa ditutup dengan tangan.00 WIB karena pada pagi hari larva yang bersifat fotoaksis positif akan bergerak menyebar mencari matahari. Larva umur D1 diambil dengan menggunakan pipa paralon berdiameter 1. Setelah dimasukkan ke dalam air berketinggian 80 cm. Biasanya sampling larva dilakukan pada pagi hari yaitu pada pukul 06. C. 5.baru menetas masih bersifat planktonik yaitu larva bergerak dengan mengikuti pergerakan dan arus air. 3. Sebelum melakukn sampling.

000 butir 2 9 Agustus 2010 100. Data Hatching Rate HR Ikan Kerapu Tikus di Pembenihan Timur Nomor Bak Tanggal Tebar Telur Pada Tebar Telur HR 1 8 Agustus 2010 150.00 WIB dan sore hari pada pukul 16. Tabel 6.3. .000 butir 4 10 Agustus 2010 100.6 Pemeliharaan Larva dan Benih A.000 butir 33% 46% 52% 45% 4. Pada saat larva berumur 1 hari (D1).000 butir 6 11 Agustus 2010 100. Untuk mencegah hal tersebut D1-D10 diberi minyak cumi sebanyak 0. Hal ini dilakukan untuk mengurangi stress pada larva akibat proses pemindahan dan perubahan lingkungan yang baru. larva telah diberi pakan alami berupa chlorella dan rotifer. Pemberian minyak cumi dilakukan dalam sehari sebanyak dua kali yaitu pada hari pukul 06.00 WIB. Pada saat larva berumur D3.1 ml/m2 atau 3-5 tetes disetiap titik aerasi agar larva tidak naik ke permukaan air. aerasi diatur agak kecil karena larva bersifat planktonik (melayang di permukaan air dan bergerak mengikuti pergerakan arus air). Persiapan Wadah Wadah atau bak yang digunakan untuk pemeliharaan larva sama dengan bak yang digunakan untuk penetasan telur sehinga tidak dilakukan penebaran larva.Berikut ini adalah data HR pembenihan timur setelah beberapa kali dilakukan penebaran telur.

Hal ini sependapat dengan Anonim (2010) uang menyatakan bahwa larva kerapu yang baru menetas mempunyai cadangan makanan berupa kuning telur. Pakan ini akan dimanfaatkan sampai hari ke 2 (D2) setelah menetas dan selama kurun waktu tersebut larva tidak memerlukan dari luar. Umur 3 hari (D3) kuning telur mulai terserap habis, perlu segera diberi pakan dari luar berupa Rotifera Brachionus Plicatilis dengan kepadatan 1 - 3 ekor/ml. Disamping itu ditambahkan pula Phytoplankton chlorella sp dengan kepadatan antara 5.10-10 sel/ml. Pemberian pakan ini sampai larva berumur 16 hari (D16) dengan penambahan secara bertahap hingga mencapai kepadatan 5 - 10 ekor/ml plytoplankton 10 2.10 sel/ml media. Pada hari kesembilan (D9) mulai diberi pakan naupli artemia yang baru menetas dengan kepadatan 0,25 - 0,75 ekor/ml media. Pemberian pakan naupli artemia ini dilakukan sampai larva berumur 25 hari (D25) dengan peningkatan kepadatan hingga mencapai 2 - 5 ekor/ml media. Disamping itu pada hari ke tujuh belas (D17) larva mulai diberi pakan Artemia yang telah berumur 1 hari, kemudian secara bertahap pakan yang diberikan diubah dari Artemia umur 1 hari ke Artemia setengah dewasa dan akhirnya dewasa sampai larva berumur 50 hari.

B. Perkembangan Larva Berikut merupakan perkembangan larva hingga mencapai juvenil :

a

b

c

d

e

f

gambar 2. Perkembangan larva ikan kerapu tikus a) D-0 Telur dalam masa perkembangan hingga menetas dengan panjang

tubuh 1,69 – 1,79 mm. b) D-1 Saluran pencernaan sudah mulai terlihat, akan tetapi mulut dan

anus masih tertutup, pakan yang dimakan masih mengandalkan kuning telur (yolk sac) c) D-2 Cadangan makanan pada beberapa ikan sudah mulai habis

sehingga larva membutuhkan pakan dari luar yaitu rotifera (Branchionus plicitalis). d) D-8 Bakal sirip punggung dari perut sudah mulai tampak berupa

tonjolan e) D-10 Tonjolan tersebut sudah terlihat panjang dan berbentuk spina. Pertambahan panjang spina ini berlanjut hingga D-21 f) D21 – D25 Terjadi metamorfosis, spina tereduksi menjadi duri keras

pertama pada sirip punggung dan sirip perut pada kerapu muda.

Hal ini sependapat dengan Akbar dan Syamsul (2001) yang menyatakan bahwa perkembangan larva hingga mencapai juvenil : a) D-0 Telur dalam masa perkembangan hingga menetas dengan panjang

tubuh 1,69 – 1,79 mm.

b) D-1

Saluran pencernaan sudah mulai terlihat, akan tetapi mulut dan

anus masih tertutup, pakan yang dimakan masih mengandalkan kuning telur (yolk sac) c) D-2 Cadangan makanan pada beberapa ikan sudah mulai habis

sehingga larva membutuhkan pakan dari luar yaitu rotifera (Branchionus plicitalis). d) D-8 Bakal sirip punggung dari perut sudah mulai tampak berupa

tonjolan e) D-10 Tonjolan tersebut sudah terlihat panjang dan berbentuk spina. Pertambahan panjang spina ini berlanjut hingga D-21 f) D21 – D25 Terjadi metamorfosis, spina tereduksi menjadi duri keras

pertama pada sirip punggung dan sirip perut pada kerapu muda. g) D-25 Mulai muncul bintik hitam dan itu akan merata di sekujur tubuh

ikan hingga pertumbuhan D-45. h) D-45 Larva telah berubah sempurna menjadi juvenil dan siap untuk

dijual (ukuran 2,7 – 5 cm)

4.3.7 Kualitas Air Lokasi budidaya yang ideal, selain pertimbangan umum di atas, juga harus memenuhi persyaratan-persyaratan kualitas airnya. Faktor kualitas air yang perlu dipertimbangkan untuk pemeliharaan pembenihan Kerapu tikus meliputi sifat fisika : Suhu dan Kecerahan, dan kimia meliputi : pH, DO dan Salinitas. Pemenuhan akan kebutuhan air harus diupayakan agar produksi benih ikan laut yang berkualitas, dalam jumlah yang cukup, dan kontunu dapat berhasil (Ghufran, M dan Andi Tamsil. 2010). Pengelolaan kualitas air di BBAP Situbondo dilakukan dengan pergantian air dan penyiponan. Penambahan air dimulai ketika larva berumur 8 hari (D8).

Data Kualitas Air Pemeliharaan Larva Kerapu Tikus Pembenihan Timur BBAP Situbondo No 1 2 3 4 5 6 4.01 .8 Pakan Hasil pengamatan di lapangan memperlihatkan bahwa larva kerapu tikus D1 masih transparan. Pada larva berumur 25 hari (D25) diganti sebanyak 3 m3 dan pada larva yang berumur lebih dari 45 hari pergantian air dilakukan secara terus menerus. Air yang digunakan untuk penambahan air berasal dari tandon yang sebelumnya didesinfeksi terlebih dahulu dengan formalin 10-30 ppm dan diareasi kuat minimal selama 12 jam. namum berasal dari air laut yang langsung disedot menggunakan pompa. Data kualitas air dapat dilihat pada tabel 7.000 L kemudian ditambah air dilakukan hingga 9. air dikurangi hingga bersisa 8. Larva D1 belum membutuhkan pakan dari luar (exogenous feeding) karena masih memiliki cadangan makanan dari dalam (endogenous Parameter Suhu pH Salinitas Oksigen Terlarut(DO) Nitrit Amoniak Satuan o C ppt ppm ppm ppm Kisaran 30-31 7. sumber air yang diganti tidak lagi berasal dari tandon.3.8-8. terlebih dahulu dilakukan penyiponan. Setelah bersih.500 L untuk menjaga kualitas air pada wadah pemeliharaan tetap prima. Penggunaan air tandon dimaksudkan untuk menggunakan air yang bebas dari penyakit dan kualitas air yang lebih baik daripada menggunakan air laut yang langsung diambil dari laut. Pada larva yang berumur 45 hari. Penyiponan dilakukan untuk membersihkan kotoran-kotoran yang berada di dasar. Tabel 7.Sebelum dilakukan pergantian air.3 31-33 >5 <1 < 0.

Sebelum diberikan. Larva D1-D10 sangat peka terhadap cahaya sehingga cenderung untuk naik ke permukaan air.1 Nannochloropsis sp Selama kuning telur larva masih ada.. Tujuan dari pemberian Nannochloropsis sp ini adalah untuk menjaga keseimbangan kualitas air dan Nannochloropsis sp juga merupakan pakan untuk rotifera (Branchionus sp. Rotofier. Otohime B1. Otohime B2. Pakan alami yang diberikan adalah Nannochloropsis sp. Larva yang sudah berumur dua hari (D2) sudah diberi Nannochloropsis sp. Pemberian Pakan Alami A. larva sudah mulai diberi Nannochloropsis sp. dan udang rebon (jambret).). Selain Nannochloropsis sp. Maka dari itu. biasanya kepadatan Nannochloropsis sp yang ditebar berkisar 50. rotifera (Branchionus sp. larva kerapu tikus belum mau untuk mengambil makanan dari luar. Jenis pakan yang diberikan kepada larva kerapu tikus ada dua macam yakni pakan alami (live feed) dan pakan buatan (artificial feed). larva D2 juga diberikan rotifer di sore hari dengan dosis 3-5 ind/ml. sejak larva berumur D2.) A. Nannochloropsis sp harus dicek terlebih dahulu kepadatannya. Sedangkan pakan buatan yang diberikan adalah Nosan R-1. Otohime C1 dan Otohime C2. Pemberian Nannochloropsis sp disalurkan langsung dari bak kultur massal menggunakan pompa celup melalui pipa paralon ¾ inchi yang pada bagian ujungnya diberi saringan 200 µm untuk mencegah masuknya kotoran yang terbawa dari kultur massal Nannochloropsis sp.000-100.feeding) yang berupa kuning telur. naupli Artemia sp.000 sel/ml atau .

tetapi secara teknis siste atermia dapat diproduksi secara massal dalam tempat (wadah) yang .00 WIB dengan kepadatan 3-5 individu/ml. Meskipun secara ekonomis kurang menguntungkan.5 gram taurin dan dibiarkan selama 2 jam.2 Rotifera (Branchionus plicatilis) Pemberian rotifer pada saat di lapangan diberi pada larva berumur D3-D35 dan juga dengan melihat kondisi ikan. Hal ini bertujuan untuk memperbaiki kandungn nutrisi rotifer dan meningkatkan daya tahan tubuh larva dan benih terhadap penyakit. Setelah itu.100-150 liter/bak pemeliharaan larva. banyaknya pemberian rotifer tergantung dari kepadatan rotifer maka dilakukan pengecekan setiap hari menggunakan gelas piala. Nannochloropsis sp biasanya diberikan sebanyak 1 kali dalam satu hari yaitu pada pagi hari. namun. rotifer dapat diberikan pada larva. dalam hal ini adalah dimana dengan melihat pertumbuhan ikan yang lambat masih membutuhkan rotifer sebagai pakannya.3 Artemia sp. A. Pemberian Nannochloropsis sp dihentikan pada saat larva berumur D30 atau dengan melihat kondisi larva. Pemberian rotifer hanya dilakukan sekali dalam sehari yaitu pada pukul 09. rotifer yang akan diberikan dilakukan pengkayaan terlebih dehulu menggunakan Scout’. Rotifer diberikan dengan menggunakan gayung dan disebarkan pada setiap titik aerasi. Pemberian Nannochloropsis sp berfungsi sebagai Greeen Water Sistem atau sebagai keseimbangan media untuk mengatur kecerahan air dan juga untuk pakan rotifer. A.s Emulsion sebanyak 10 ml (satu tutup botol Scoutt’s Emulsion) dalam 20 L air dan 0. Sebelumnya.

Siste disaring dan ditambah air tawar. 1995). Setelah terjadi perubahan warna. Proses dekapsulasi dilakukan dengan cara sebagai berikut: 1. Sebelum diberikan pada larva naupli yang berasal dari siste didekapsulasi terlebih dahulu. Siste direndam dalam air tawar selama 5 menit sambil diaduk dengan cepat. Proses dekapsulasi tersebut memakan waktu antara 5 – 15 menit. .00 WIB. Beberapa butir thiosulfat ditambahkan ke siste yang sebelumnya telah ditambahkan air tawar dan diaduk.00.00 dan 17. kemudian di tambahkan klorin sebanyak 250 ml. 6. Saring dan bilas dengan air tawar sampai bersih 4. Abbas. 3. Jaga suhu di bawah 40 0C. 5. 13. 2. Siste artemia tersebut diaduk dengan cepat. Pemberian Naupli artemia di BBAP Situbondo pada saat berumur D18 atau tergantung bukaan mulut larva. segera disaring dan dibilas dengan air tawar sampai bersih dan tidak ada bau klorin. Pemberian naupli artemia dilakukan sebanyak tiga kali dalam satu hari yaitu pukul 08.terkendali. Tahap no 2 dan 3 diulangi sampai warna siste berubah menjadi oranye ataupun tergantung dari produk sistenya. Untuk tujuan ini dilakukan dengan memanipulasi lingkungan hidupnya agar artemia terpaksa melangsungkan perkembangbiakan secara ovipar uang menghasilkan telur (Siregar.

Penetasan siste yang didekapsulasi memerlukan waktu antara 18 – 30 jam pada air laut. Sebelum diberikan ke larva.4 Udang Rebon Udang rebon mulai diberikan pada saat ikan kerapu menjelang lepas sensor sampai awal lepas sensor (D25 sampai D45). siste artemia tersebut ditetaskan sesuai dengan kebutuhan larva. Jumlah pemberian pakan rebon secara at satiation (sekenyangnya). Panen dimulai dengan cara menghentikan aerasi dan tunggu selama 15 menit agar telur-telur artemia mengendap.7. Sebelum diberikan ke larva. naupli artemia siap diberikan ke larva. A. pertahankan suhu kisaran 25 – 30 0C dan pH 8 – 9. Setelah itu artemia disipon menggunakan selang dan ditampung di dalam saringan 300 µm. Cara penetasannya adalah wadah plastik diisi dengan air dan diaerasi kuat. artemia disterilisasi dengan akriflavin sebagai anti ektoparasit. satu bungkus artemia yang telah didekapsulasi dimasukkan ke dalam air tersebut. Setelah itu. Udang ini berfungsi sebagai pakan selingan. Siste disaring dan dibiarkan mengering sejenak dan masukkan ke dalam kantong plastik untuk disimpan pada suhu dingin selama maksimal 1 minggu Setelah didekapsulasi. B. Untuk hasil optimum. Setelah itu. artemia disterilisasi dengan akriflavin sebagai anti ektoparasit. Pemberian Pakan Buatan Pemberian pakan buatan bagi larva kerapu tikus dilakukan saat larva telah berumur 8 hari. Awal pemberian dilakukan dengan mencairkan pakan untuk .

kultur pakan alami Pakan alami yang digunakan selama pemeliharaan larva dan benih ikan kerapu bebek baik fitoplankton maupun zooplankton di BBAP Situbondo yaitu Nannochloropsis sp. Pakan alami .weaning pakan bagi larva. Data mengenai pemberian pakan buatan dapat dilihat pada tabel 8. Tahapan Pemberian Pakan Buatan bagi Larva Kerapu Tikus Stadia larva Jumlah pakan yang diberikan 8 D8-D17 gram/pemberian 2 kali µm) Frekuensi pemberian Merek pakan Gambar (ukuran pakan) Nosan R-1 (20–50 D18D20 8 3 kali gram/pemberian Rotifier (50 – 100 µm) D21D30 10 3 kali gram/pemberian Otohime B1 (200 – 300 µm) D31D45 15 3 kali gram/pemberian Otohime B2 (300 – 600 µm) 15 >D50 gram/pemberian 4-6 kali EP-1 C. Tabel 8. Rotifera (Branchionus sp) dan Artemia sp.

2003).5 liter-1 liter air yang akan disiapkan sebagai media tumbuh plankton sebelumnya disterilkan terlebih dahulu dengan menggunakan klorine kemudian air laut di biarkan selama 3-5 hari sampai residu klorine hilang. Persiapan wadah dilakukan dengan cara menyikat dasar dan dinding wadah kemudian wadah diisi air laut sebanyak 15 m3. S dan sebagainya. Setelah itu. Setelah media siap bibit plankton dimsukkan 1/3 bagian dan siap dipanen 5-6 hari (Edhy W dkk. Zn.5 m (gambar) dengan kapasitas volume air maksimal sebesar 18 m3. Salinitas air laut yang diharapkan adalah 25-28 ppt. Budidaya plankton dilakukan pada botol dengan volume 0. K dan Mg sebagai unsure hara makro serta unsure hara mikro Fe. pupuk yang digunakan harus mengandung unsur hara yang dibutuhkan seperti N. S. P. Air laut tersebut kemudian dimasukkan kedalam botol-botol yang telah disiapkan. Kultur pakan alami bertujuan untuk menjamin ketersediaan pakan alami secara berkesinambungan sesuai kebutuhan dalam larva dan benih ikan kerapu tikus. selanjutnya ditambah pupuk cair sebanyak 1 ml/lt. C.sangat penting peranannya bagi larva dan benih sebagai sumber makanan dengan kandungan nutrisi yang sangat tinggi. Mn. dengan mengatur rasio N/P supaya Nannochloropsis sp dapat mendominasi yang lainnya. Kultur Nannochloropsis sp skala massal dilakukan pada ruangan terbuka (outdoor) dengan ukuran wadah 5x3x1.1 Kultur Nannochloropsis sp Membudidaya Nannochloropsis sp dapat diambil langsung dari tambak budidaya. media disterilisasi dengan menggunakan kaporit 10 ppm dan didiamkan selama 2 .

Kultur missal rotifera dilakukan pada bak volume 5-12 m3. Pada kondisi normal. Tubuh yaitu. dilakukan pembibitan dengan cara mengalirkan Nannochloropsis sp sebanyak 20 % dari total volume air yang ada dalam bak dengan menggunakan pompa celup. Siregar. Abbas (1995). Pemupukan dilakukan setelah bibit masuk ke dalam media.2 Kultur Rotifera Organisme rotifer berbentuk simetris bilateral manyerupai piala. betina memproduksi 20 butir telur atau lebih selama 7-10 hari masa hidupnya. C. Bibit yang digunakan berasal dari skala intermediet atau dari bak kultur skala massal lainnya. Rotifer merupakan salah satu jenis rotifer yang biasa diproduksi secara massal. dimana umur Nannochloropsis sp telah mencapai 5-7 hari dengan kepadatan 1-5 juta sel/ml. Branchionus memiliki kecepatan pertumbuhan dan reproduksi tinggi. dan kaki / ekor.jam dan diberi aerasi kuat. Pemberian pupuk dilakukan dengan cara dilarutkan dalam 10 liter air laut lalu disebar merata dalam bak kultur. Chlorella sp dapat dipanen setelah berumur 5-7 hari dengan cara disedot menggunakan pompa celup lalu dialirkan langsung kedalam bak rotifer dan unit pembenihan melalui pipa PVC ukuran 3/4 inchi. Kultur dilakukan dalam ruang terbuka yang cukup mendapatkan cahaya matahari. badan. Setelah 12 jam. ZA 30 ppm. kepala. kemudian media dinetralkan dengan menggunakan natrium thiosulfat (Na2S2O3) ≤ 5 ppm. Secara umum dikenal 2 metode kultur rotifera yaitu metode panen harian lebih praktis dan . dan TSP 20 ppm. Pupuk yang digunakan terdiri dari Urea 40 ppm.

Pemanenan dilakukan setiap hari pada bak kultur yang sama dan dapat berlangsung selama 3-4 minggu. Keesokan harinya.3. kepadatan kultur massal dapat dilihat dari kondisi perairan yang bening.mudah sedangkan pada metode transfer diperlukan bak kultur yang lebih banyak. Metode ini dilakukan dengan cara mengalirkan air media kultur dengan menggunakan selang spiral 1 inchi yang bagian ujungnya diberi planktonnet 300 mesh size sebanyak 20-30% dari volume media kultur dan ditampung dalam drum 150 liter yang diberi aerasi. bibit rotifer ditebar dengan kepadatan 30-40 individu/ml yang diperoleh dari bak kultur rotifer yang lainnya yang siap panen atau dari kultur skala intermediet. bak diisi dengan Chlorella sp untuk pakan rotifera sebanyak 2-3 m3 yang telah berumur 5-7 hari kemudiam bak ditambahkan dengan air laut dengan volume yang sama (perbandingan 1:1). Kultur rotifer di BBAP Situbondo dilakukan skala massal dalam bak beton yang berukuran 5x2x1. Namun. Kepadatan rotifer akan mencapai puncak pada hari ke 4-7 dengan kepadatan 150-250 individu/ml. pengambilan rotifer disaring kembali dapat saringan agar kotoran tidak ikut terbawa.5 m dengan kapasitas maksimal 12 m3. Setelah itu. Rotifer yang telah dipanen dapat langsung diberikan ke larva.9 Pengendalian dan Pencegahan Hama dan Penyakit . Metode pemanenan yang dilakukan adalah metode panen harian. namun rotifera yang dihasilkan dari metode transfer lebih bersih. 4. Persiapan wadah dilakukan dengan cara menyikat dasar dan dinding bak hingga bersih dan dikeringkan hingga keesokan harinya.

Penggunaan probitiotik diharapkan dapat menekan jumlah bakteri patogen di dalam wadah budidaya. Namun. INVE. Jika jumlah bakteri belum mencukupi untuk membuat ikan menjadi sakit maka ikan atau larva tersebut tidak akan menjadi sakit. 2009). V anguillarum dan V fuscus. Perlakuan untuk pencegahan penyakit pada pembenihan kerapu tikus di BBAP Situbondo dilakukan dengan penggunaan probiotik. Kematian massal sering terjadi .Permasalahan penyakit yang paling banyak pada ikan bersirip (finfish) dijumpai pada budidaya ikan kerapu. Pada saat melaksanakan PKL dalam rangka pencegahan dan pemberantasan hama penyakit. dengan merek dagang Sanolife buatan PT. pada saat penulis melakukan kegiatan PKL di unit pembenihan timur BBAP Situbondo sempat terjadi kematian massal menyebabkan kematian pada larva atau benih. Penggunaan probiotik sekarang sudah banyak digunakan untuk menggantikan peran antibiotik untuk mencegah penyakit yang menyerang larva atau benih. Bakteri yang digunakan sebagai probiotik adalah jenis Bacillus sp. Bakteri patogen membutuhkan jumlah bakteri yang cukup untuk membuat ikan menjadi sakit. yaitu Vibrio alginolyticus. Hasil isolasi dan identifikasi bakteri ditemukan beberapa jenis bakteri yang diduga berkaitan erat dengan kasus penyakit bakterial. Diantara jenis bakteri tersebut bakteri V alginolyticus dan V fuscus merupakan jenis yang sangat patogen pada ikan kerapu tikus (Salim. diantaranya adalah penyakit borok pangkal sirip ekor dan penyakit mulut merah. Jenis penyakit bakterial yang ditemukan pada ikan kerapu. V algosus. setiap unit pembenihan di BBAP Situbondo memiliki cara dan teknik yang berbeda-beda.

4.7-4 cm. Grading (pemilihan . Proses pemanenan dilakukan dengan menggunakan baskom plastik yang dialiri air dari pipa paralon. Sehingga dilakukan pencegahan hama penyakit yang rutin dan terkontrol. Produksi.1 Pemanenan Benih Sebelum dilakukan pemanenan. dilakukan pergantian air pada pagi dan sore hari. pakan alami pada Nannochloropsis sp yang sempat kontaminan terhadap rotifera serta penyakit yang disebabkan oleh VNN(Viral Nervous Necrosis).pada larva yang diakibatkan oleh kualitas air pada suhu yang sempat turun mencapai 29oC. proses pemanenan biasanya dilakukan pagi hari belum terlalu tinggi sehingga tidak menyebabkan stress pada benih yang akan dipanen dan digrading. Ukuran pasar benih yang dijual biasanya berkisar antara 2. Juvenil yang telah dipanen dipisahkan berdasarkan ukurannya (grading). biasanya benih di grading terlebih dahulu. pencegahan penyakit dapat dilakukan dengan berbagai cara seperti dilakukannya desinfeksi pada wadah yang akan digunakan.4 Pemanenan. Benih dapat dipanen pada umur D60 atau jika ukurannya sudah mencapai ukuran pasar (minat pembeli). Air pada bak pemeliharaan diturunkan secara perlahan sampai tingginya sekitar 30 cm. dan Pemasaran 4. 4. dilakukan treatment pada air yang akan digunakan. dan penyiponan pada pagi dan sore hari. Setelah ketinggian air mencapai 30 cm benih kerapu dapat dipanen dengan menggunakan keranjang plastik. sirkulasi air selama 24 jam untuk benih yang sudah berukuran 2-4 cm. Hal ini bertujuan untuk menyeragamkan ukuran benih yang akan dipasarkan dan juga untuk memisahkan benih yang masuk pasaran karena cacat (abnormalitas).

Singapura. Kalimantan Selatan. Kepulauan Bangka Belitung. NTT. pemasaran benih ikan kerapu tikus untuk segala ukuran (3 – 10 cm) dan berapapun jumlahnya tidak terlalu sulit. Kalimantan Barat. Ikan yang berukuran lebih besar akan selalu memangsa ikan yang lebih kecil dalam satu wadah pemeliharaan. Kepulauan Riau (Batam). Hal ini disebabkan karena usaha pembesaran ikan kerapu baik di Karamba Jaring Apung (KJA).4. Dewasa ini. bak terkontrol maupun di tambak di dalam maupun di luar negeri sudah banyak dilakukan. Daerah pemasaran ikan kerapu diantaranya adalah Lampung. Informasi mengenai permintaan konsumen sangat penting. maka ikan tersebut pun akan dipasarkan. Sifat kanibalisme pada kerapu terjadi pada saat kondisi kekurangan makanan dan perbedaan ukuran. Cina. 4.500 per sentimeter. Kalimantan Timur. NTB. Sumatera Selatan. Jawa Timur. Irian Jaya. Bali (Gondol) dan Lampung. Harga benih ikan kerapu memiliki fluktuasi di pasar tingkat produsen di Jawa Timur (Situbondo). Jawa Tengah. dan lain-lain.ukuran) merupakan salah satu cara untuk menyeragamkan pertumbuhan dan mengurangi kematian benih pasca lepas sensor akibat sifat kanibal pada ikan kerapu. sehingga aspek pemasaran tidak boleh dianggap ringan. Sumatera Barat. Bali. Sulawesi Tenggara. Sulawesi Tengah. . Taiwan. Sulawesi Selatan. BBAP Situbondo menjual dengan harga ikan kerapu tikus seharga Rp 1.2 Produksi dan Pemasaran Setelah kerapu tikus telah mencapai ukuran pasar. Sumatera Utara. Lampung. Malaysia. Pemasaran merupakan rantai akhir dalam usaha pembenihan ikan kerapu. Jawa Barat.

aktivitas penangkapan serta memerlukan fasilitas penyimpanan bersuhu dingin karena kualitasnya mudah menurun dan mudah terkontaminasi dengan mikroba pathogen. sehingga perlu penanganan upaya pencegahan seperti pemberian probiotik dan mejaga kualitas air.5.5 Masalah dan Kemungkinan Pengembangan Usaha 4. Kematian massal yang sering terjadi pada larva terutama pada umur 3-5 hari (D3-D5). penyakit maupun kemampuan dalam melewati masa kritis menyebabkan tingkat kelulushidupan larva sangat rendah dan pertumbuhannya lambat serta belum ada tindak lanjut terhadap serangan penyakit. Ketersediaan pakan ikan rucah untuk induk yang menyesuaikan musim. 4. juga digunakan sebagai ikan hias. sehingga perlu penambahan budidaya untuk pemeliharaan induk. benih kerapu tikus disamping digunakan dalam pembesaran. sehingga perlu pembuatan pakan buatan untuk indukan.2 Kemungkinan Pengembangan Usaha Kebutuhan dan harga kerapu tikus yang tinggi memberikan potensi tersendiri bagi usaha kerapu jenis ini yang merupakan penyokong untuk usaha budidaya selanjutnya (pendederan dan pembesaran). dan 21-24 hari baik yang diakibatkan oleh kualitas air. Selain itu. c.1 Masalah yang Dihadapi Permasalahan yang dihadapi dalam pembenihan kerapu tikus selama di Balai Budidaya Air Payau Situbondo adalah : a. 11-12 hari. b. pakan. Induk masih berasal dari alam sehingga ketersediaan induk terbatas dan tergantung dari tangkapan nelayan.5. .4.

064. perbaikan sarana dan prasarana yang memadai. 4. Biaya tetap yang dibutuhkan untuk usaha pembenihan kerapu tikus sebesar Rp 129. Diketahui dari hasil perhitungan R/C Ratio >1.Dalam rangka pengembangan usaha dan peningkatan produksi pembenihan.340 Per tahun dan biaya variabel yang dibutuhkan sebesar 60. Mengendalikan penangkapan ikan kerapu di alam secar bijaksana. Biaya investasi yang dibutuhkan untuk usaha pembenihan ikan kerapu tikus skala rumah tangga sebesar Rp 215.815. menjalin kerjasama dengan berbagai pihak terutama dalam kegiatan pemasaran.900. Perhitungan analisis usaha pada produksi benih ikan kerapu tikus dapat dilihat pada lampiran 5.500/bak beton berkapasitas 9 ton didapatkan tingkat Survival Rate (SR) mencapai 12.483. Perhitungan payback period yaitu dalam pengembalian investasi .400 per tahun sehingga biaya operasional yang dibutuhkan sebesar 190.595. keuntungan yang diperoleh per siklusya adalah sebesar Rp 51. beberapa hal yang dapat dilakukan adalah : peningkatan kinerja melalui penerapan ilmuatau teknologi yang tepat tentang pembenihan kerapu tikus maupun semangat kerja bagi para staf (peningkatan sumberdaya manusia). dengan penebaran 112.9 %.-.740 per tahun. yaitu 2.1 maka usaha produksi ikan kerapu tikus tersebut merupakan usaha yang layak dilakukan dan menguntungkan untuk dikembangkan. sehingga terjamin kelestarian sumber daya ikan di laut.469.733.6 Analisa Usaha Pembenihan Kerapu Tikus (Chromileptes altivelis) Skala Rumah Tangga Analisa usaha dalam produksi benih ikan kerapu tikus dalam 1 siklus. menjaga mutu atau kualitas benih yang dihasilkan.

Perhitungan BEP produksi benih didapatkan sebesar 9. Irian Jaya.599. NTB. maka kondisi tersebut tercapai titik impas sehingga perusahaan tersebut tidak mengalami untung maupun rugi. Jawa Tengah. Sulawesi Selatan. Singapura. Cina. NTT. Sulawesi Tenggara. Kalimantan Selatan. Malaysia. Jawa Barat. Sumatera Barat.4 bulan. dan lain-lain.yang ditanam akan kembali dalam waktu 4 tahun 2.599. Jawa Timur. Sumatera Selatan. Kepulauan Riau (Batam). Sulawesi Tengah. Hasil perhitungan analisis usaha ini maka dapat diartikan bahwa usaha produksi ikan kerapu skala rumah tangga ini layak untuk di usahakan dan akan menguntungkan apabila usaha ini dikembangkan. BEP harga benih Rp 719/cm artinya bahwa titik impas akan dicapai pada saat harga jual benih Rp 719/cm.2 ekor. Bali. Lampung. Kepulauan Bangka Belitung. Kalimantan Timur. Taiwan. .2 ekor yang artinya apabila perusahaan mampu untuk menjual produk yang dihasilkan sebesar 9. Daerah pemasaran ikan kerapu diantaranya adalah Lampung. Kalimantan Barat. Sumatera Utara.

Teknik pembenihan ikan kerapu tikus meliputi. suhu 30o31oC. Otohime B1 10 gram/pemberian 3 kali/hari. 2.9%. penetasan telur.01 ppm. Otohime B2 15 gram/pemberian 3 kali/hari. amoniak < 0. .8-8. Grading dilakukan apabila terlihat perbedaan ukuran yang mencolok pada benih dan munculnya sifat kanibalisme. pemijahan. seleksi induk. Rotifier 8 gram/pemberian 3 kali/hari. SR ikan kerapu tikus 12. Memerlukan fasilitas penyimpanan bersuhu dingin agar kualitas pakan ikan rucah untuk indukan tidak menurun.3. Nitrat < 150 ppm. Induk masih berasal dari alam sehingga ketersediaan induk terbatas dan tergantung dari tangkapan nelayan. penebaran telur. DO > 5 ppm.V KESIMPULAN DAN SARAN 5. pH 7. Otohime EP-1 15 gram/pemberian 4-6 kali/hari). pengelolaan kualitas air dengan salinitas 31-33 ppt. nitrit < 1 ppm. seleksi telur.000 sel/ml 1 kali/hari dan Rotifer 3-5 individu/ml 2 kali/hari) maupun pakan buatan(Nosan R-1 8 gram/pemberian 2 kali/hari. pemberian pakan sesuai dosis baik berupa pakan alami(Nannochloropsis 50. persiapan induk. persiapan bak pemeliharaan larva. belum ada pengobatan terhadap penyakit. pencegahan penyakit dengan menggunakan probiotik Sanolife.000-100. Kematian massal sering terjadi pada larva yang diakibatkan oleh penyakit VNN(Viral Nervous Necrosis).1 Kesimpulan 1.

. disarankan ada studi-studi lebih lanjut untuk menemukan formula yang tepat untuk meningkatkan kekebalan benih dan menghasilkan benih yang tahan penyakit.5.2 Saran 1. disarankan supaya ada penambahan budidaya pada pemeliharaan induk. Belum adanya pengobatan terhadap penyakit VNN(Viral Nervous Necrosis) yang dapat menyebabkan kematian massal terhadap larva ikan kerapu tikus. Induk yang masih berasal dari alam sehingga ketersediaan induk terbatas dan tergantung dari tangkapan dari nelayan. 2. disarankan perlu adanya pembuatan pakan buatan untuk indukan. Ketersediaan pakan ikan rucah untuk induk yang menyesuaikan musim. 3.

12/05/2010. 2001. Loka Budidaya Air Payau.H. 2005.VI DAFTAR PUSTAKA Anonim. Penerbit Rineka Cipta.H. M. 1999. 159 hal Jatilaksono. Metode Penelitian. 2010. 1988. Parameter Dasar Budidaya Perairan. P. Simbolon dan J. http://www.yahoo.. 99 hal Effendie. http://rudyct. Yogyakarta. Anonim. T. Pantai Timur. M. Octopus. Plankton di Lingkungan PT. 07/05/2010. 2002. 146 hal. Wahyuni. 188 halaman Murtiati.. Yogyakarta. Penerbit Lily Publisher.blogspot. Cahyaningsih. 07/06/2010. http://groups. 2007. Usaha Pembesaran Ikan Kerapu di Tambak. PT.G. 2003. Metodologi Penelitian. Central Pertiwi Bahari.H.net. Central Pertiwi Bahari.html. 2010.id/ind/warintek/?mnu=6&ttg=3&doc=3b7. 135 hal. K. Strategi Reproduksi pada Ikan Kerapu.html. http://jlcome. Yogyakarta. Pembenihan Ikan Laut Ekonomis Secara Buatan. 115 halaman Kordi K. Edhy. Penerbit Kanisius. Pembenihan ikan kerapu macan (Epinephelus fuscoguttatus). 24:19-26 Nazir. Tikus. Ghalia Indonesia. Jakarta.com/2008/11/budidaya-ikan-keraputikus. M. Darwisito.com/2007/10/parameter-dasar-budidayaperairan.blogspot. dkk. Pustaka Pelajar. Jakarta. Penggunaan Biokatalisator pada Budidaya Udang Galah.iptek. M. M. 233 hal Kordi K. Budidaya Ikan Kerapu http://octopus39.. M. Departemen Kelautan dan Perikanan Direktorat Jendaral Perikanan Budidaya Balai Budidaya Air Payau.G.I. 2008. 07/06/2010. 2009. Kordi K. 2002.com/PPS702-ipb/05123/suria_darwisito. Biologi Perikanan. 2007. Penerbit Yayasan Pustaka Nusatama. Budidaya Ikan Laut di Kramba Jaring Apung. 1998. S. Azwar.com/group/mmaipb/message/2070. .htm. Produksi Pakan Alami. S. S. W.G. 07/06/2010.A dkk. Yogyakarta.

Pembenihan Ikan Laut Ekonomis : Kerapu. http://mandala- Siregar. 26/05/2010. Penerbit Penebar Swadaya. Juwana. Kakap.com/2007/02/21/keracunan-nitrit-nitrat/. P. H. Wahyudhy. K. 1993. 2002. Jakarta. 540 hal Salim. Keracunan Nitrit-nitrat. Beronang. Yogyakarta.2007. Penerbit Kanisius. S. Jakarta. Laporan Magang Perikanan. dan S. 2007. Balai Budidaya Air Tawar Jambi. 87 halaman Sunyoto.V. Ditjen Perikanan Budidaya. Yuasa. Rajawali. 2009. 1995. Abbas.blogspot. DKP dan JICA . 2003. Ilmu Pengetahuan Tentang Biota Laut. Jakarta. 84 halaman Suryabrata. Biologi Laut . Penerbit Djambatan. manik. Kei.html?zx=769a8d327799ce15. http://klikharry. 12/05/2010. dkk. dan Mustahal.com/2009/04/laporan-magangperikanan. A. C. Metode Penelitian.wordpress.Romimohtarto. Pakan Ikan Alami. Panduan Diagnosa Penyakit Ikan.

Kabupaten Situbondo. Kecamatan Panarukan.LAMPIRAN Lampiran 1. Peta Lokasi Kerja Praktek Lapangan Desa Pecaron. Propinsi Jawa Timur .

Denah Balai Budidaya Air Payau Situbondo 1 6 3 4 23 1 1 5 7 9 11 1 23 23 10 10 30 7 23 28 29 23 30 31 7 7 9 12 13 14 23 8 16 15 19 17 25 26 27 23 32 23 33 17 34 17 19 8 18 9 15 35 24 23 21 23 23 18 20 22 21 U .Lampiran 2.

29. Musholla. 31. Ruang staf teknis dan Laboratorium Bioteknologi 28. 21. Laboratorium nutrisi dan pakan buatan 26. 8. 25. 4. Pompa air laut. 2. Bak pembenihan Abalone 15. Ruang pembuatan pellet. Bak filter sand 16. Koperasi dan workshop. Bak pembenihan tengah 17. . Kantor. Bak tandon air tawar. Garasi mobil. Bak karantina 12. Broodstock Center Udang Vanname 5. Ruang kuliah. 7. Bak kultur Brachionus plicatilis 10. Bak tandon air laut 20. 6. Rumah karyawan. Bak pembesaran udang Vanname 19. 33. Bak induk kerapu. 24.Keterangan : 1. Bak induk bandeng 18. Bak pembenihan barat. Perpustakaan 30. Asrama 22. Laboratorium penyakit dan kualitas air. Laboratorium pakan alami 14. 35. 23. Bak penampungan telur 3. Rumah blower. Bak pembenihan timur 13. 32. Auditorium. Dapur. 34. Bak calon induk kerapu. Bak kultur Chlorella sp 9. 27. Bak pemeliharaan nener 11. Rumah genset.

Si. M. Ikan Litkayasa Fungsional Lainnya . Kepala Seksi Bag. & Info. Slamet Subyakto. Tata Usaha Ir. Siti Zubaidah.Si. Perekayasa Pengawas Benih Pranata Humas Pengawas Budidaya Peng. Made Yooriksa Kepala Seksi Pelayanan Teknis Dede Sutende Kepala Seksi Stand. Struktur Organisasi Balai Budidaya Air Payau (BBAP) Situbondo Kepala Balai Ir. M.Lampiran 3. Akhmad Romadlon.PT. : Ir. Kelompok Jabatan Fungsional Koord. S. M.Si. Hama dan Peny.

00 09.200 – 2.00 10.00 15.00 07. Daftar Ukuran Pakan dan Jadwal Pemberian a.30 16.00 15.Lampiran 4.D 36) Larva-Benih Benih Larva-Benih Benih Larva-Benih Larva (D2-D8) Larva-Benih Benih Ukuran pakan 20 – 50 µm 100 – 200 µm 200 – 300 µm 200 – 400 µm 300 – 500 µm 400 – 600 µm 500 – 800 µm 800 – 1. Daftar Ukuran Pakan Uraian Rotemia NRD ½ NRD 2/3 NRD 2/4 NRD 3/5 NRD 4/6 NRD 5/8 NRD G8 (8/12) NRD G12 (12/20) Nosan R-1 Rotifier Love Larva Otohime B-1 Otohime B-2 Otohime C-1 Otohime C-2 Otohime S-1 Otohime S-2 Otohime EP1 Otohime EP2 b.00 Jenis Pakan Minyak cumi Pakan buatan (Rotofera/Rotemia) Pakan Buatan Rotifer Artemia Pakan Buatan Pakan Buatan Artemia Pakan Buatan Rotifer Artemia Udang rebon Keterangan Larva (D2-D8) Larva -Benih Benih Larva (D 2. Jadwal Pemberian Pakan Waktu 06.500 µm 2.000 µm 1.200 µm .00 11.00 14.400 µm 1.200 µm 1.400 µm 1.000 µm 20 – 50 µm 50 – 100 µm 100 – 200 µm 200 – 300 µm 300 – 600 µm 500 – 900 µm 900 – 1.00 12.

Biaya investasi No.000 40.000 24.000.000 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 .000.750.000 30.000.000/buah 10.000/unit 10.000/buah 3.Ember 5 liter .000/unit 1.000 16.Runah genset 6m2 .5 m3 .000/unit 2.Bak larva .000.Saringan rotifera 300 mikron .000/unit 10.Bak filter air laut 18 m3 .000. .000 25.000.000.000/m2 15.000 15.000 400.Bak kultur rotifer 12.000.Baskom sedang .000 2.000 10.000/unit 5.000.000/unit 4.400/unit 1.Ember 30 liter .000/unit 2.000/buah 3. 1 2 Uraian Lahan 500 m2 Borongan Bangunan .000.000/unit 3.000/unit 600.000.000 3.117.000 10.000.Saringan artemia 200 mikron Jumlah 1 unit 1 unit 6 unit 10 unit 4 unit 1 unit 1 unit 1 unit 1 unit 1 unit 1 unit 1 unit 2 buah 1 unit 1 unit 1 unit 1 unit 1 unit 1 unit 2 buah 2 buah 1 buah 8 buah 3 buah 1 buah 8 buah 20 buah 1 buah 2 buah Harga Satuan (Rp) 100.000/unit 2.000.5 PK Pompa air tawar5 PK Pompa celup(dab) Hi-blow 5 PK Instalasi air laut Instalasi air tawar Instalasi aerasi Instalasi listrik Genset 3000 watt Bak fiber Bak fiber Tabung gas Peralatan pembenihan: .000/unit 10.000/unit 450.000/unit 1.000.000 2.000 6.500 1.000/unit 3.000 3.Bak kultur Chlorella sp 12.Ember 20 liter .000 3.Hatchery 140 m2 . Analisis Usaha dalam Produksi Benih Kerapu Tikus di Balai Budidaya Air Payau Situbondo.000 10.600.000 300.000.000.000 40.Rumah jaga 25 m2 Pompa air laut 7. a.000.000/unit 4.000 3.000.000 200.000.117.000.Lampiran 5.Rumah Hi-blow .000.000 2.000.000/unit 3.000.400 1.000.000/buah Jumlah (Rp) 50.000 4.000/buah 200.082.600.000.000/unit 6.000/unit 25.500/unit 1.750.000 24.000 900.000.000/unit 4.000.5 m3 .000.Rumah pompa air laut 6 m2 .082.000.000/buah 300.000/unit 10.Gayung 2 liter .000.000.000 1.000 600.

000 215.733.835 129.000 8.000 150.000 300.000/bln 2 orang 800.398.000/buah 75.000/m 300.000 200.500/buah 2.000 250.340 .000 200.000/buah 25.000 Jumlah Harga Satuan (Rp) Jumlah (Rp) 32.000 1.000 75. Biaya Tetap dan Variabel No Uraian I.000/buah 35.900 b.682.000 1.000 550.000 200.000 400.000/roll 10.000/unit 550.000/buah 145.945 50.000 350.365.000 700.000 300.000 35. Biaya Tetap 1 2 3 4 5 6 Penyusutan investasi) Gaji Pegawai Biaya Listrik Perawatan Peralatan (5% dari investasi) Pajak Pulsa Handphone Total Biaya Tetap Biaya Tetap Selam 1 Tahun 100.0000/buah 200.000/buah 1.500/buah 2.800.000 60.000/buah 3.000/buah 200.000 300.000 50.000/buah 300.000/roll 75.890 4.000/bln/org 500/bln (10% dari 17.000 200.000/unit 20.250.000/buah 60.- Saringan udang 1 buah rebon Saringan pakan 150 2 buah mikron Filter bag 6 buah Selang aersi 1 roll Batu aerasi 100 buah Kran aerasi 100 buah Pemberat aerasi 100 buah Plastic penutup 1 roll Keranjang koli 20 buah Gelas piala 1000 ml 1 buah Gelas piala 200 ml 1 buah Gelas piala 50 ml 1 buah Tong plastik 60 ml 2 buah Tong plastik 80 ml 2 buah Piring kecil (teplek) 1 lusin Kulkas 1 pintu 1 unit Lemari plastic 1 unit Selang 1” 20 m Spon (busa kasar) 1 roll White board 1 buah Total Biaya Investasi 100.000 150.595.000 145.000/buah 100.500.000/buah 175.250.000/buah 75.

469.780.000 2 kg 300.516.000/kg 1.II.000/kg 630.000 112.5 675.350 450.200.200.740 .200.000/bks 1. Artemia b.000/kg 600.000 c.000/kaleng 3.000/kg 600.500.000 3.000 100.000 2.000 btr 1.000 2 kg 275.185 190. Udang rebon Total Biaya Variabel Biaya Variabel Selama 1 tahun Total Biaya Operasional (TC) 1 siklus Biaya Operasional (TC) 1 Tahun 15.000 300. Pakan buuatan : Ukuran mikron Ukuran mikron Ukuran mikron Ukuran mikron Ukuran mikron Ukuran 800 mikron 400-600 300-500 200-400 200-300 100-200 1 kg 600.000 Formalin Chlorine Na-thiosulfate Scott’s Emullsion 3 btl 20 L 20 L 300.350 60.000/kg 550.000 4 kg 6 kg 500 bks 300.000/kg 5. Biaya Variabel 1 2 Telur Obat-obatan : 3 Pakan : a.400 47.000 37.000 4 kg 300.450/botol 300/000/kaleng 300.064.000 40 kaleng 300.000 300.117.

penerimaan (TR) TR = Benih yang dihasilkan x ukuran x harga jual = 20.000 154.000 butir Jumlah benih yang hidup hingga pemanenan yaitu sebanyak 20.000 butir HR = 44% x 450.000 x 100% = 12.3 cm x Rp 1.000.000 per siklus Penerimaan yang diperoleh untuk per siklus yaitu sebesar Rp 99.1 Penerimaan (TR) Penerimaan adalah jumlah uang yang diperoleh dari hasil penjualan benih.000. Penghasilan c.c.000 = 154.000 .9% b. Jumlah telur yang tebar yaitu sebanyak 450.000 x 3. Rincian penerimaan yang diperoleh usaha pembenihan ikan kerapu dapat dilihat pada perhitungan berikut : a. Jadi kelangsungan hidup (SR) yang didapatkan adalah sebagai berikut : SR (%) = Jumlah benih yang hidup Jumlah larva yang tebar X 100 % = 20.000 ekor.500/cm = 99.

483. Keuntungan yang diperoleh dalam produksi benih kerapu tikus yaitu sebagai berikut : Keuntungan = Penerimaan-Biaya Operasional = 99.516.000. tingkat keuntungan suatu usaha akan semakin tinggi. Semakin tinggi nilai R/C ratio.1 R/C > 1 yaitu 2. Nilai R/C ratio untuk pembenihan ikan kerapu tiku dapat dilihat pada perhitungan sebagai berikut : R/C ratio = Hasil penjualan Total biaya per siklus = 99.1 sehingga usaha dalam produksi benih kerapu tikus ini layak untuk dilaksanakan.516.2 Keuntungan Keuntungan merupakan selisih antara pendapatan dengan total biaya prosuksi (biaya operasional).815 Jadi.185 = Rp 2. . Suatu usaha dikatakan layak jika nilai R/C ratio lebih dari 1 (R/C > 1).3 R/C Ratio Analisis ratio merupakan parameter analisis yang digunakan untuk melihat pendapatan relative suatu usaha dalam 1 tahun terhadap biaya yang dipakai dalam kegiatan tersebut.- c.000 – 47.815.c.000.000 47. keuntungan yang diperoleh per siklus adalah sebesar Rp 51. Keutungan diperoleh jika selisih antara pendapatan dengan total biaya adalah positif.483.185 = 51.

950 = 9.185 4.c.516.2 ekor BEP (Rp) = Biaya total Total produksi 47.599. nilai BEP harga lebih rendah dari pada harga sat ini.2 ekor benih atau dengan harga jual benih seharga Rp 719/cm.3 cm = Rp 719/cm Artinya kegiatan pembenihan ikan kerapu tikus akan mengalami titik impas apabila telah menjual sebanyak 9. Sementara itu.375/3.185 20.599. Nilai BEP (unit) dan BEP (Rp) pada usaha pembenihan ikan kerapu tikus dapat dilihat pada perhitungan berikut ini : BEP unit = Biaya total Harga Satuan = 47.516. seperti usaha .000 = = Rp 2.5 Payback Periode (PP) Analisis Payback Periode (PP) bertujuan untuk mengetahui waktu tingkat pengembalian investasi yang telh ditanamkan pada suatu usaha. yaitu tidak untung atau rugi. Usaha dinyatakan layak apabila nilai BEP produksi lebih besar dari jumlah unit yang sedag diproduksi saat ini.4 Break Event Poin (BEP) BEP merupakan parameter analisis yang digunakan untuk mengetahui batas nilai produksi atau volume produksi suatu usaha mencapai titik impas. c.

2 tahun atau dalam jangka 4 tahun 2. .pembenihan ikan kerapu tikus.483.733.4 bulan. biaya investasi yang dikeluarkan untuk usaha pembenihan ikan kerapu tikus akan kembali dalam jangka waktu 4.2 tahun Jadi.900 51. Nilai PP pada usaha pembenihan ikan kerapu tikus dapat dilihat pada perhitungna berikut ini : PP = Biaya Investasi Keuntungan x 1 tahun = 215.815 x 1 tahun = 4.

7 Tandon Air Tawar a.4 Bak Pemeliharaan induk ikan Kerapu Tikus a.5 Bak Karantina Ikan a.1Bak Pemeliharaan Larva Kerapu Tikus a. Gedung a.3 Bak Chlorella sp a.6 Tandon Air Laut a.8 Pompa Air Laut .2 Bak Rotifer a.Lampiran 6. Sarana dan Prasarana Pembenihan Ikan Kerapu Tikus Budidaya di Balai Budidaya Air Payau Situbondo a.

6 Saringan .3 HCG(Human Chorionic Gonadotropin c.4 Vitamin b.2 Udang Rebon b.5 sendok takaran Pengambilan Telur c.4 Akuarium c.2 Alat Taging c.1 Egg Colector c.6 Artemia Cysts c. Peralatan c.3 Minyak Cumi b. Pakan Ikan b.5 Scott’s Emulsion b.1 Pakan Ikan Rucah b.b.

00 30 C 30oC 30 C 30 C 31oC 31oC 31oC 30oC 30oC 30oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 30oC 30oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC o o o bak 1 12.00 31 C 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC o 16.00 06.00 31 C 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 30oC 30oC 31oC 31oC o bak 6 12.00 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 08-Agust-10 o o 09-Agust-10 30 C 29 C 29oC 29oC 30oC 30oC 29oC 30oC 30oC 30oC 29oC 29oC 29oC 30oC 30oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 30oC 31oC 31oC 30oC o 10-Agust-10 31 C o 31 C 11-Agust-10 12-Agust-10 3-Agust-10 14-Agust-10 15-Agust-10 16-Agust-10 17-Agust-10 18-Agust-10 19-Agust-10 20-Agust-10 21-Agust-10 22-Agust-10 23-Agust-10 24-Agust-10 .00 31oC 31 C 31 C o o 16.00 30 C 31oC 31 C 31 C 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC o o o suhu harian kolam ikan kerapu tikus bak 2 bak 4 12.00 31 C 31 C 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC o o 16.Lampiran 7. Suhu Harian pada Kolam Ikan Kerapu Tikus tanggal 06.00 30oC 30 C 30 C o o 12.00 31 C 31oC 31 C 31 C 30oC 30oC 30oC 30oC 30oC 31oC 30oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 30oC 30oC 30oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 30oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 30oC 30oC 31oC o o o 06.00 31oC 31 C 31 C o o 06.00 - 16.

25-Agust-10 29oC 30oC 29oC 29oC 29oC 29oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 30oC 31oC 30oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 30oC 31oC 30oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 30oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 30oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 30oC 31oC 31oC 30oC 31oC 31oC 30oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 26-Agust-10 27-Agust-10 28-Agust-10 29-Agust-10 30-Agust-10 31-Agust-10 .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful