TEKNIK PEMBENIHAN IKAN KERAPU TIKUS (Cromileptes altivelis) DI BALAI BUDIDAYA AIR PAYAU SITUBONDO

PRAKTEK KERJA LAPANG
PROGRAM STUDI BUDIDAYA PERAIRAN

Oleh :
ERLINA DWI TUNGGAL SPIKADHARA SURABAYA - JAWA TIMUR

FAKULTAS PERIKANAN DAN KELAUTAN UNIVERSITAS AIRLANGGA SURABAYA 2010

TEKNIK PEMBENIHAN IKAN KERAPU TIKUS (Cromileptes altivelis)
DI BALAI BUDIDAYA AIR PAYAU SITUBONDO

Praktek Kerja Lapang Sebagai Salah Satu Syarat untuk Memperoleh Gelar Sarjana Perikanan pada Program Studi S-1 Budidaya Perairan Fakultas Perikanan dan Kelautan Universitas Airlangga

Oleh : ERLINA DWI TUNGGAL SPIKADHARA NIM. 060710177P

Mengetahui, Dekan, Fakultas Perikanan dan Kelautan

Menyetujui, Dosen Pembimbing,

Prof.Dr.Drh.Hj. Sri Subekti, B.S.,DEA. NIP. 19520517 197803 2 001

Muhammad Arief., Ir. M.Kes. NIP. 19600823 198601 1 001

Setelah mempelajari dan menguji dengan sungguh–sungguh, kami berpendapat bahwa Praktek Kerja Lapang (PKL) ini, baik ruang lingkup maupun kualitasnya dapat diajukan sebagai Salah Satu untuk Memperoleh Gelar Sarjana Perikanan.

Tanggal Ujian : 25 November 2010

Menyetujui, Panitia Penguji, Ketua

Ir. Muhammad Arief, M.Kes NIP. 19600823 198601 1 001

Sekretaris

Anggota

Prayogo, S. Pi., MP NIP. 19750522 200312 1 002

Ir. Moch. Amin Alamsjah, M. Si., Ph. D NIP. 19700116 199503 1 002

Surabaya, 24 Desember 2010 Fakultas Perikanan dan Kelautan Universitas Airlangga Dekan,

Prof.Dr.Drh.Hj. Sri Subekti, B.S.,DEA. NIP. 19520517 197803 2 001

wawancara dan studi pustaka. penetasan telur.000 sel/ml 1 kali/hari dan Rotifer 3-5 individu/ml 2 kali/hari) maupun pakan buatan(Nosan R-1 8 gram/pemberian 2 kali/hari. Otohime B1 10 gram/pemberian 3 kali/hari. Jawa Timur.Muhammad Arief. Teknik pembenihan ikan kerapu tikus meliputi. Rotifier 8 gram/pemberian 3 kali/hari.000-100. Metode yang digunakan dalam Praktek Kerja Lapang ini adalah metode dekskriptif dengan pengambilan data meliputi data primer dan data sekunder. Praktek Kerja Lapang ini dilaksanakan pada tanggal 19 juli .Kes.31 agustus 2010. seleksi induk. Tujuan lainnya adalah untuk mengetahui permasalahan yang sering dihadapi pada usaha pembenihan ikan kerapu tikus (Cromileptes altivelis). M. seleksi telur. Ketersediaan benih ikan kerapu di alam tidak akan terancam punah dengan memanfaatkan dan mengembangkan suatu usaha untuk menghasilkan benih ikan kerapu tikus yang dapat memenuhi permintaan pasar. persiapan bak pemeliharaan larva. pemijahan. Ikan kerapu tikus memiliki nilai jual yang tinggi dan permintaan yang banyak sedangkan permintaan pasar akan ikan kerapu tikus belum dapat dipenuhi secara keseluruhan karena belum banyak pembudidaya. Teknik Pembenihan Ikan Kerapu Tikus (Cromileptes altivelis) di Balai Budidaya Air Payau Situbondo Desa Pecaron Kecamatan Panarukan Kabupaten Situbondo Propinsi Jawa Timur. Otohime EP-1 15 . Ikan kerapu tikus lebih memiliki nilai jual yang tinggi di banding dengan ikan kerapu yang lainnya. Pengambilan data dilakukan dengan cara partisi aktif. Tujuan dari Praktek kerja Lapang (PKL) untuk mengetahui tentang teknik pembenihan ikan kerapu tikus (Cromileptes altivelis) di Balai Budidaya Air Payau di Situbondo.RINGKASAN ERLINA DWI TUNGGAL SPIKADHARA. persiapan induk. observasi. Dosen Pembimbing : Ir. pemberian pakan sesuai dosis baik berupa pakan alami(Nannochloropsis sp 50. Otohime B2 15 gram/pemberian 3 kali/hari. penebaran telur.

belum ada pengobatan terhadap penyakit. pengelolaan kualitas air dengan salinitas 31-33 ppt.gram/pemberian 4-6 kali/hari).3. Grading dilakukan apabila terlihat perbedaan ukuran yang mencolok pada benih dan munculnya sifat kanibalisme. Memerlukan fasilitas penyimpanan bersuhu dingin agar kualitas pakan ikan rucah untuk indukan tidak menurun. Nitrat < 150 ppm. Kematian massal sering terjadi pada larva yang diakibatkan oleh penyakit VNN(Viral Nervous Necrosis).01 ppm. SR ikan kerapu tikus 12. nitrit < 1 ppm.8-8.9%. suhu 30o-31oC. . amoniak < 0. Induk masih berasal dari alam sehingga ketersediaan induk terbatas dan tergantung dari tangkapan nelayan. DO > 5 ppm. pencegahan penyakit dengan menggunakan probiotik Sanolife. pH 7.

interview and literature study. DO> 5 ppm. egg selection. Data collection was performed by the active partition.31 August 2010. Broodstock preparation. Field Work Practice was held on 19 July . disease prevention . spawning.8 to 8. Rotifier 8 grams / feeding 3 times / day. Broodstock selection. Nitrate <150 ppm. M. Otohime B2 15 grams / feeding 3 times / day. Polka-dot Grouper hatchery techniques include. Supervising lecture: Ir. Polka-dot Grouper Hatchery Techniques (Cromileptes altivelis) in Balai Budidaya Air Payau Situbondo Pecaron Panarukan Situbondo District of East Java Province. feeding according to the dosage form of natural food (Nannochloropsis sp 50000-100000 cells / ml 1 time / day and rotifers 3-5 individuals / ml. East Java. stocking eggs.01 ppm. Kes. 2 times / day) or artificial diets (Nosan R-1 8 g / generous 2 times / day. The availability of grouper seed in nature will not be threatened with extinction by exploiting and developing a business to produce panther fish fry that can meet demand of market. The purpose of the work practice of Field (PKL) to find out about grouper hatchery techniques (Cromileptes altivelis) in Balai Budidaya Air Payau Situbondo. The method used in this Field Work Practice is dekskriptif with data collection methods include primary data and secondary data. preparation for larval rearing tanks. 3.SUMMARY ERLINA DWI TUNGGAL SPIKADHARA. hatching eggs. nitrite <1 ppm. temperature 30o-31oC. Polka-dot Grouper has a high selling value and demand a lot while the demand of market for Polka-dot Grouper can not be fulfilled as a whole because not many farmers. Otohime B1 10 grams / feeding 3 times / day . ammonia <0. pH 7.Muhammad Arief. Polka-dot Grouper over a high selling price compared with other groupers. Another aim is to discover the problems that are often encountered in the hatchery business grouper (Cromileptes altivelis). Otohime EP-1 15 grams / administration 4-6 times / day). the management of water quality with salinity 31-33 ppt. observation.

Mass mortality of larvae often occur in diseases caused by VNN (Viral Nervous Necrosis). Requires cold-temperature storage facilities for feed quality trash fish for broodstock did not decline. Broodstock still come from nature so that availability is limited and dependent parent from the catch of fisherman.using probiotics Sanolife. . Grading conducted if the striking visible differences in seed size and appearance of cannibalism. SR of Polka-dot Grouper is 12.9%. there is no treatment against the disease.

sehingga kritik dan saran yang membangun sangat penulis harapkan demi perbaikan dan kesempurnaan laporan atau kegiatan selanjutnya. Desember 2010 Penulis . atas segala limpahan rahmat dan karunia-Nya sehingga penyusunan Praktek Kerja Lapang tentang Teknik Pembenihan Ikan Kerapu Tikus (Chromileptes altivelis) di Balai Bududaya Air Payau Situbondo ini dapat terselesaikan. Praktek Kerja Lapang ini sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Perikanan pada Program Studi S-1 Budidaya Perairan Fakultas Perikanan dan Kelautan Universitas Airlangga Surabaya. Penulis menghanturkan terima kasih yang tak terhingga kepada kedua orang tua dan keluarga yang telah mendoakan. Surabaya. Semoga Praktek Kerja Lapang ini bermanfaat dan dapat memberi informasi bagi semua pihak. khususnya Mahasiswa Program Studi S-1 Budidaya Perairan Fakultas Perikanan dan Kelautan Universitas Airlangga Surabaya. Laporan ini disusun berdasarkan hasil Praktek Kerja Lapang yang dilaksanakan di Balai Budidaya Air Payau Situbondo pada tanggal 19 Juli – 31 Agustus 2010. Penulis menyadari bahwa Praktek Kerja Lapang ini masih sangat jauh dari kesempurnaan.KATA PENGANTAR Segala puji kahadirat Allah SWT. mendidik dan memberi motivasi serta semangat hingga selesainya Praktek Kerja Lapang ini.

Ir. M. 9. Slamet Subiyakto.amin allahuma amin..UCAPAN TERIMAKASIH Pada kesempatan kali ini. M. Bapak Prayogo.. S. Amin Alamsjah. Pi.Pi selaku koordinator pelaksana Praktek Kerja Lapang. Sri Subekti. 8. Moch. 7. Drh.Kes. Bapak saya Anthonius Wiwiek Dwiriyantho Bayudharana Feysholly. Hj.. ibu saya Partini yang saya cintai yang telah memberikan seluruh ia punya baik dukungan secara moril dan materi. Prof. Kakak pertamaku Andri Bahtera Tunggal Prisma Dharana dan kakak kedua Erlita Dwi Tunggal Spikadhara yang telah memberi semangat. MP dan Ir. DEA. 5. M. Si. 3.Si.Muhammad Arief.Si sebagai Kepala Balai Budidaya Air Payau Situbondo. Bapak Akhmad Taufiq. selaku Dosen Pembimbing yang telah banyak membantu terlaksananya Praktek Kerja Lapang dari penyusunan usulan proposal hingga terselesainya laporan Praktek Kerja Lapang. tidak lupa penulis haturkan terima kasih yang sebesar-besarnya : 1. Bapak Ir. 6. M. Ph.. . 4. S. S. Allah SWT yang telah memberikan nikmat dan amanah dalam kehidupan ini. Dr. D selaku dosen penguji yang telah memberi banyak masukan dan saran atas perbaikan Praktek Kerja Lapang ini. selaku Dekan Fakultas Perikanan dan Kelautan Universitas Airlangga Surabaya. 2. B. Dr. Nabi besar Muhammad SAW semoga kita semua akan mendapatkan syafaat di akhirat kelak.

14. 12. sofiati selaku pembimbing lapangan dari Balai Budidaya Air Payau (BBAP) Situbondo. Rekan-rekan yang melaksanakan magang dan PKL di BBAP Situbondo dari UMI. 15. Teman-teman BUPER’07 yang memberikan dukungan sehingga dapat terselesaikannya laporan PKL ini. UNSOED. 11. Seluruh pegawai BBAP Situbondo khususnya pegawai Pembenihan Timur. Hangtuah. Sahabatku (Yulia Kartika. IPB. Dian Respati.10. Nurdiana Rachmasari. . Adhe Puspawari Hardhanny) yang telah banyak membantu dan memberi semangat. 16. 13. Semua pihak yang tidak dapat disebutkan satu persatu yang telah membantu penulis dalam pelaksanaan maupu penyelesaian laporan PKL ini. UNDANA. Nining Khoirunniza. Ir. Setyana Meirnawati. Galih Adi Pratama yang telah banyak membantu.

..................2 Morfologi.............. 2............... 1................................................ 2........................................................................ HALAMAN PENGESAHAN………………………………………….....6 Kebiasaan Makan Larva ...................…………………………........ 2..............3 Habitat.............................. 1......................7 Teknik Pembenihan............. .................................................................. DAFTAR GAMBAR.............. ................................... i ii iii iv vi xiii ix xi xii xiii 1 1 2 3 4 4 5 5 6 7 7 8 9 9 9 ...2 Metode...1 Sarana Pembenihan......................................................... DAFTAR TABEL.................................................................................................................................................................................................5 Perkembangan Embrio...........................DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL…………………………………………………… .. 2....................................... RINGKASAN.............. ............................... ....... TINJAUAN PUSTAKA......................................................................... 2.......................................................................................................... ...........................................................3 Pemeliharaan Induk........................................ .3 Manfaat.......... ...7.............................................. SUMMARY........................................................................................................................ 2... HALAMAN PERSETUJUAN................ 2........ 2.... II ........ I PENDAHULUAN.... ............................... ............ DAFTAR LAMPIRAN.......... UCAPAN TERIMAKASIH ........................................ 2...................... 1.................................................1 Latar Belakang..........................2 Tujuan...................................................4 Reproduksi................................................ ..................7.............................................................. KATA PENGANTAR………………………………………………….........7..........1 Tinjauan Umum................................... 2.......

............. 2.... 2.........................................12.............................. 2.................................... 2....... 2....................8......... 13 2......................................... 2..............1 Waktu dan Tempat……………………………………..............................................................10................................3 derajat keasaman............................10 Pemberian Pakan.... 2.........2 Vibrio anguillarum.................6 Pemijahan............9................. 25 25 ...... 2.....................3 Rotifer.................................................................................5 Caligus sp parasit golongan Crustacea............... 3.......................................8 Parameter Kualitas Air Pemeliharaan............8...9.......................8................................................................................................7......12..4 Sex Reserval........................ 14 2..............12...................6 Virus.................................................7....8....................3 Cryptocaryonosis.8.....8.......................................................................12 Penyakit.....1 Suhu...5 Salinitas......................................................9 Penyediaan Pakan untuk Pemeliharaan Larva............................................ 2... 2........7 Penetasan Telur............................................................................................................. 2.....2 Frekuensi Pemberian pakan.......................1 Vibrio alginolyticus........................... 2............................................ 2..............1 Rasio pakan.9..................... 14 14 15 15 16 16 17 18 18 19 19 19 19 20 21 21 21 22 23 24 III PELAKSANAAN……………………………………………………....................................4 Infestasi Trichodina sp.........11 Survival Rate........5 Seleksi Induk........6 Nitrit........... 2... 2.......12..............................................2 Kecerahan.................................................................................2...............................7.................3 Waktu Pemberian Pakan............ 2.. 2......... 2.......................................................... 2....................... 2.7.............................. 2..............................................4 Oksigen terlarut. 2..... 2.......................................................1 Nannochloropsis oculata.....10................8 Pemeliharaan Larva......................7.................................... 10 10 10 11 12 13 2...............12....12........................2 Artemia spp.................. 2...........................................................10.........

...................... Air Tawar.................3 Teknik Pembenihan Kerapu Tikus………………………..................... Sumber Tenaga Listrik................. pemijahan dengan rangsangan hormon...............5 Penetasan Telur....................... Bangunan……………….6 Pemeliharaan Larva dan Benih. b.................................. Air Laut ......... b.......................... 4...... 4.................. 4... Observasi............................. 4................................. D... 4.......... A.....3 Struktur Organisasi...........................2 Seleksi Induk……………………………………………….................. pemijahan alami............. a......... c...............1.3........................................................ 3..7 Kualitas air.......... 3............................3................................3.......... Aerasi......1..................................... pemberian pakan……………………………………… b................... Wawancara...........................................................................................................2........... C...............................................4 Pemanenan Telur....................................3..........................2 Data Sekunder……………………………………………… IV HASIL DAN PEMBAHASAN……………………………........................... 4.......................Perkembangan Larva.....1.......................................4 Kepegawaian........ a.................... 4.....................................................1 Persiapan Induk …………………………………….............3 Metode pengumpulan ………………………………………........... A............3..................................2 Materi dan Metode Kerja………………………………….... Persiapan Wadah......... b.............. 3................. pengelolaan air………………………………………… c......................... 4..................1 Keadaan Umum Lokasi Praktek Kerja Lapang………….......... Partisipasi Aktif.........………………………………....... 4..........3.................................... 4..................... a................1 Data Primer……………………………………..3...... ciri-ciri induk matang gonad…………………………............ b..1 Sarana Umum........8 Pakan..........................2 Letak dan Keadaan Lokasi............................. Perhitungan Derajat Penetasan(Hatcging Rate)....3................1 Sejarah Berdirinya…………………………...............................................................................3 Pemijahan.......3..... a........................ B................................. Persiapan Wadah.. 4.......................................... 4......... 4.. 4..... a................2 Prasarana ..... d.........2 Sarana dan Prasarana Umum BBAP Situbondo..............Penebaran dan Penetasan Telur............................... B... c......................... Sarana Budidaya........................ a................................. 25 25 25 26 26 27 27 28 28 28 29 30 32 32 32 32 33 34 34 35 35 36 36 36 38 40 41 42 43 44 44 45 46 48 48 50 51 52 52 53 55 56 57 ............. 4...................................................... 4.1...........................3........................ pencegahan hama dan penyakit………………………....... 4..... Pemberian Pakan Alami...............2.............3.........................

............................4 Udang Rebon.......................2 Rotifera..........1 Simpulan........................3 Artemia sp......................................... 4.. 4................................................................................. c......................................................... Kultur Pakan Alami. 5........5.........................2 Kemungkinan Pengembangan Usaha..........5.................................... 5........................6 Analisis Usaha ..................................................................... a......................................................9 Pengendalian Hama dan Penyakit.............................................1 Kultur Nannochloropsis sp...................... 4..............4...................................................................... LAMPIRAN....................4....... c..........................................................................................................................................5 Masalah dan Kemungkinan Pengembangan Usaha............... 4................... a......................................... DAFTAR PUSTAKA..................2 Produksi dan Pemasaran....................................... b...... dan Pemasaran..................... 57 57 58 60 60 61 61 63 64 65 65 66 67 67 68 68 V SIMPULAN DAN SARAN..... a.................................2 Saran...........1 Pemanenan Benih......................................4 Pemanenan.......1 Nannochloropsis sp............................................. 4...2 Kultur Rotifer.. 4.............. Produksi.............................. Pemberian Pakan Buatan.3........................................................ 4.............................................. c.................. 4... 70 70 71 72 74 .........a..........................1 Masalah yang Dihadapi...................

Di Indonesia perkembangan budidaya ikan sangat mendukung karena di Indonesia merupakan wilayah berkepulauan yang banyak memiliki sumber daya ikan yang melimpah. . 2009). dan membantu menjaga kelestarian sumber daya hayati perikanan (Salim. 2005). meningkatkan devisa negara. pakan alami sangat diperlukan saat pemeliharaan larva. Ketersediaan benih ikan kerapu di alam tidak akan terancam punah dengan memanfaatkan dan mengembangkan suatu usaha untuk menghasilkan benih ikan kerapu tikus yang dapat memenuhi permintaan pasar (Salim. Bila potensi perikanan yang sangat melimpah ini dapat di manfaatkan secara optimal maka dapat meningkatkan produktifitas perikanan. Pada saat ini Ikan kerapu tikus memiliki nilai jual yang tinggi dan permintaan yang banyak sedangkan permintaan pasar akan ikan kerapu tikus belum dapat dipenuhi secara keseluruhan karena belum banyak pembudidaya. Ikan kerapu tikus lebih memiliki nilai jual yang tinggi di banding dengan ikan kerapu yang lainnya.I PENDAHULUAN 1. Pakan alami untuk larva dan benih pada budidaya ikan dalam bentuk pakan alami dan pakan buatan (mikropartikel pelet). 2009). Pakan alami yang digunakan harus sesuai dengan bukaan mulut larva dan alat pencernaan larva kerapu dapat mencerna kandungan nutrisi yang ada pada pakan alami (khordi.1 Latar Belakang Usaha – usaha pengembangan perikanan yang dilakukan di Indonesia mulai banyak dilakukan. Kegiatan pembenihan ikan kerapu tikus.

karang mati. kecuali sewaktu makan dan saat memijah.2 Tujuan Tujuan dari praktek kerja lapang ini adalah: 1. Ikan kerapu juga sering ditemukan di daerah pasang dan di laut dengan kedalaman sekitar 40 cm (Salim. Faktor kualitas air yang perlu dipertimbangkan untuk pemeliharaan pembenihan Kerapu tikus meliputi sifat fisika : suhu dan kecerahan. DO. 1. Lokasi budidaya yang ideal harus memenuhi persyaratanpersyaratan kualitas airnya. Kebanyakan ikan kerapu tinggal didaerah karang.200. 2009).Kerapu lebih suka menghindar dari sinar matahari langsung.000 butir. . nitrit dan salinitas. Jawa Timur. Permasalahan penyakit yang paling banyak pada ikan bersirip (finfish) dijumpai pada budidaya ikan kerapu. dan kimia meliputi : pH. Telur yang telah dibuahi berjumlah lebih kurang 1. Jenis penyakit bakterial yang ditemukan pada ikan kerapu. atau karang berlumpur. Ikan kerapu ini merupakan jenis ikan laut yang dapat ditemukan didaerah subtropika dan tropika dari seluruh daerah lautan. Ikan Kerapu Tikus selama bertelur induk tidak boleh di beri pakan. 2002). dan apabila induk telah memijah harus segera dipindahkan ke tangki yang lain. diantaranya adalah penyakit borok pangkal sirip ekor dan penyakit mulut merah. Dari jumlah diperkirakan hanya 30% saja yang dibuahi (Darwisito. sedangkan SR kerapu tikus 5%. Mengetahui tentang teknik pembenihan ikan kerapu tikus (Cromileptes altivelis) di Balai Budidaya Air Payau di Situbondo.

. Jawa Timur. sehingga dapat lebih memahami dan mengatasi permasalahan yang timbul dalam usaha pembenihan ikan kerapu tikus (Cromileptes altivelis) di Balai Budidaya Air Payau di Situbondo.3 Manfaat Manfaat dari praktek kerja lapang ini adalah : 1. Mengetahui permasalahan yang sering dihadapi pada usaha pembenihan ikan kerapu tikus (Cromileptes altivelis) di Balai Budidaya Air Payau di Situbondo. Dapat memadukan teori yang diperoleh dengan kenyataan yang terjadi dilapangan. Jawa Timur. Jawa Timur. 1. Memperoleh pengetahuan tentang teknik pembenihan ikan kerapu tikus (Cromileptes altivelis) di Balai Budidaya Air Payau di Situbondo. 2.2.

mempunyai tubuh agak pipih dengan warna dasar abu-abu berbintik hitam.II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Tinjauan Umum Menurut Weber and Beofort. Gambar 1. ikan ini biasa ditempatkan di akuarium sebagai ikan hias (Khordi dan Andi Tamsil. bintik tersebut lebih besar dan lebih sedikit jumlahnya. Pada ikan kerapu tikus yang masih muda. Cromileptes altivelis (Octopus. Kerapu Tikus. dalam perdagangan internasional dikenal dengan nama polka-dot grouper atau hump-backed rocked. Lantaran warnanya yang menarik. klasifikasi ikan kerapu tikus adalah : Phylum Subphylum Class Subclass Ordo Subordo Genus Spesies : Chordata : Vertebrata : Osteichtyes : Actinopterigi : Percomorphi : Percoidea : Cromileptes : Cromileptes altivelis Kerapu bebek. (1940) dalam Ahmad (1991). biasa juga disebut kerapu tikus(Cromileptes altivelis). 2008) . 2010).

6 – 3. Panjang kepala seperempat panjang total. sirip perut dengan 3 duri keras dan 10 duri lunak (Khordi dan Andi Tamsil. Lubang hidung bagian posterior besar. Pada kerapu bebek muda.2. Sisik punggung sangat halus dan licin (Salim. Warna ikan kerapu tikus coklat kehijauan dengan dengan bintik – bintik atau bulat – bulat coklat di kepala. Sedangkan sirip ekor memiliki 1 duri keras dan 70 duri lunak. Sirip punggung semakin melebar kebelakang.0 kali panjang standard ikan ( panjang standard ikan 12 – 37 cm). Seluruh permukaan tubuh kerapu bebek berwarna putih dilengkapi sirip renang berbentuk melebar serta moncong kepala lancip menyerupai bebek atau tikus. Bintik – bintik tersebut pada kerapu muda lebih besar dan sedikit. tubuh. bintik hitam lebih besar dengan jumlah bintik yang sedikit. A. Ikan kerapu tikus termasuk dalam famili Serranidae. sisik pada lateral line berjumlah 54 – 60 dan pyloric 13.2 Morfologi Ikan kerapu tergolong jenis ikan air laut yang berjual nilai tinggi. dan sirip. 2009). 2010). semakin tua bertambah banyak. leher bagian atas cekung dan semakin tua semakin cekung. . tetapi yang lebih memiliki harga jual yang lebih tinggi dibandingkan dengan ikan kerapu jenis yang lainnya adalah ikan kerapu tikus (Cromileptes altivelis). tubuhnya memanjang gepeng (compressed) dengan panjang tubuh 2. Pada sirip dorsal memiliki 10 duri keras dan 17 – 19 duri lunak. Lembaran operculum mempunyai pinggiran yang bergerigi tajam dan halus.

berkelamin jantan (Khordi dan Andi Tamsil. Dalam siklus hidupnya kerapu muda hidup di perairan karang pantai dengan kedalaman 0.0 m.5 tahun. setelah dewasa kerapu ke daerah perairan yang lebih dalam yaitu antara 7. 2010). Adapun ikan-ikan yang berumur 2.5 . Ikan kerapu ini merupakan jenis ikan laut yang dapat ditemukan didaerah subtropika dan tropika dari seluruh daerah lautan. Dari hasil pengamatan di Indonesia. Transformasi dari dari betina ke jantan ini memerlukan waktu yang cukup lama dalam kondisi alami.5 tahun ke atas.3 Habitat Ikan kerapu lebih sering terlihat menyendiri dan menyukai naungan sebagai tempat bersembunyi. Kebanyakan ikan kerapu tinggal didaerah karang. Ikan kerapu juga sering ditemukan di daerah pasang dan di laut dengan kedalaman sekitar 40 cm. Beberapa jenis .3.2.0 – 40 m. musim – musim pemijahan ikan kerapu terjadi pada bulan Juni – September dan November – Februari.umur.4 Reproduksi Kerapu tikus memiliki sifat hermaprodit protogini yaitu perubahan kelamin (change sex) dari betina ke jantan dipengaruhi oleh ukuran. Pada umur 1.0-2. Sifat kerapu tikus umumnya soliter tetapi pada saat akan memijah berlangsung beberapa hari sebelumnya bulan purnama yaitu pada malam hari. 2. kecuali sewaktu makan dan saat memijah. dan spesiesnya. Kerapu lebih suka menghindar dari sinar matahari langsung.5-2. Pada kerapu tikus. transisi dari betina ke jantan terjadi setelah mencapai umur 2.5 tahun biasanya ikan masih berkelamin betina.

grastula. pada hari kedua sirip dada mulai terbentuk dan jaringan usus telah berkembang sampai ke anus. Pembelahan sel berikutnya berlangsung 15 – 30 menit sampai mencapai multi sel salama 2 jam 25 menit. mata belum berpigmen. Dan hari ke empat kuning telur telah . mulut dan anus belum terbuka. 2. Telur kerapu transparan dengan diameter ± 850 mikron dan tidak memiliki ruang perivitellin. neorula. 2009).6 Kebiasaan Makan Larva Pada kerapu tikus menetas mempunyai panjang total 1. 2.78 mm. Perkembangan embrional telur sejak pembuahan sampai penetasan membutuhkan kurang lebih 19 jam. Pembentukan sirip punggung mulai terjadi pada hari pertama. cenderung menggerombol pada kondisi tanpa aerasi dan kuning telur tersebar merata. Perkembangan tubuhnya semakin memanjang sedangkan kantong telur dan gelembung minyak semakin mengecil. pembelahan sel pertama kali terjadi 40 menit setelah pembuahan.5 Perkembangan Embrio Berdasarkan pengamatan mikroorganisme dapat diketahui bahwa telur kerapu berbentuk bulat tanpa kerutan. damn embrio.kerapu mempunyai musim pemijahan 6 – 8 kali/tahun sedangkan pemijahan pertama 1 – 2 kali/tahun (Salim. Setelah tahap multi sel tahap berikutnya adalah blastula. Gerakan pertama embrio terjadi pada jam ke-16 setelah pembuahan selanjutnya telur menetas menjadi larva pada jam ke-19 pada suhu 27 – 29 oC (Salim. 2009). Pada hari ke tiga mulai terjadi pigmentasi saluran pencernaan bagian atas dan bukaan mulut berukuran sekitar 125 µ.70 – 1.

7 Teknik pembenihan Menurut Anonim (2010) pada teknik pembenihan ada beberapa tahap untuk melaksanakannya berupa: . krustacea dan cepalophoda. 2. sedangkan sisanya tidak mampu lagi memangsa pakan yang tersedia. Sesuai dengan bukaan mulut ikan kerapu tikus. Kematian yang terjadi pada larva hari ke lima dan seterusnya dapat terjadi karena disebabkan oleh suatu keadaan hanya 50 % larva yang mampu makan pada kondisi dimana jumlah pakan optimal. Setelah telur menetas sampai dengan hari ke tiga larva dapat makan secara endragenus yaitu dengan mengabsorsi kuning telur yang di bawanya. rotifera.29 ºC (Salim. Ikan kerapu sebagai ikan karnivora juga sebagai ikan pemangsa yang aktif bergerak pada malam hari. dapat pula terjadi karena kesalahan dalam menentukan jadwal pemberian pakan dan rendahnya mutu pakan (Salim. rotifera merupakan pakan pertama.habis terabsorbsi. 2009). Sedangkan untuk ikan kerapu tikus yang dewasa menyukai ikan – ikan kecil. dan zooplankton. Ikan kerapu tikus bersifat karnivora terutama larva molusca. Pada periode perkembangan larva kerapu tikus sampai tahap metamorfosis penuh membutuhkan waktu 35 – 40 hari pada suhu 27 . Ikan kerapu memiliki kebiasaan makan pada siang hari dan malam hari dan lebih aktif pada waktu fajar dan senja hari. krustacea kecil. 2009). Ikan kerapu biasanya mencari makan dengan cara menyergap mangsanya dari tempat persembunyiannya. Setelah itu mendapatkan makan secara eksogenus pada hari ke tiga dengan mulai terbukanya mulut. kopepoda.

3. Pakan yang diberikan berupa ikan rucah segar berkadar lemak rendah.10 kg/m 3 .7. 2. 2.7. pada saat bulan terang atau bulan gelap. Diluar pemijahan ikan. Bak pemijahan dengan kapasitas 100 ton. Teknik pemijahan dengan manipulasi lingkungan ini dikembangkan berdasarkan pemijahan ikan kerapu di alam.2. Disamping itu diberikan pula vitamin E dengan dosis 10 . 2010). berbentuk empat persegi panjang (Anonim.1. Untuk merangsang terjadinya perkawinan antara jantan dengan induk betina matang kelamin digunakan metoda manipulasi lingkungan di bak terkontrol. yaitu dengan rangsangan atau kejutan faktor-faktor lingkungan seperti suhu. 2010). (Anonim. 2.Metode Metode yang digunakan adalah manipulasi lingkungan. sedangkan pada musim pemijahan diturunkan menjadi 1%.2. . Bak penetasan sekaligus juga merupakan bak pemeliharaan larva yang berukuran 4 x 1 x 1 m 3 terbuat dari beton. kedalaman air dan lain-lain. takaran pakan yang diberikan sebesar 3 5% dari total berat badan ikan/hari. (Anonim. Pemijahan mengikuti fase peredaran bulan.Pemeliharaan Induk Induk ikan kerapu yang dipijahkan dipelihara dengan padat penebaran induk 7. 3.5 . Kurungan apung untuk pemeliharaan induk berukuran 3 x 3 x 3 m3.Sarana Pembenihan 1. 2010). kadar garam.15 mg/ekor/minggu.7.

5 m dan salinitas + 32 ‰. 2010). Sel kelamin betina berubah menjadi sel kelamin jantan pada umur 4 tahun dengan panjang tubuh sekitar 70 cm dan berat 11 kg. Induk kerapu matang kelamin dipindahkan ke bak pemijahan yang sebelumnya telah diisi air laut bersih dengan ketingian 1. yaitu memasukkan selang plastik ke dalam lubang kelamin ikan. Pemberian hormon testosteron dilakukan secara oral melalui makan setiap minggu.Seleksi Induk Kematangan kelamin induk jantan ikan kerapu diketahui dengan cara mengurut bagian perut ikan (stripping) ke arah awal sperma yang keluar warna putih susu dan jumlahnya banyak diamati untuk menentukan kualitasnya.5. Sel kelamin betina terbentuk setelah berumur 2 tahun dengan panjang 50 cm dan berat 5 kg. Kematangannya kelamin induk betina diketahui dengan cara kanulasi. Pemijahan 1.7. 2010).7. kemudian dihisap. diikuti dengan penambahan multivitamin. yaitu pada kehidupan awal belum ditentukan jenis kelaminnya. Takaran yang diberikan adalah : Hormon testosteron 2 mg/kg induk Multivitamin 10 mg/kg induk. .7. 2.4. (Anonim. garis tengah (diameter) telur diatas 450 mikron. Ada kenyataannya lebih banyak ditemui ikan kerapu jantan atau mempercepat perubahan kelamin dari betina ke jantan dapat dipacu/dirangsang dengan hormon testosteron. (Anonim. 2.2.Sex reversal Kerapu termasuk ikan yang "hermaprodit protogyni". Telur yang diperoleh diamati untuk mengetahui tingkat kematangannya.6.

000 IU/kg induk Puberogen 150 .7. Tiga hari sebelum bak penetasan/bak pemeliharaan larva digunakan.00 WIB.000 butir. dan apabila induk telah memijah harus segera dipindahkan ke tangki yang lain.2.bak pemeliharaan larva.00 . Manipulasi lingkungan dilakukan menjelang bulan gelap yaitu dengan cara menaikkan dan menurunkan permukaan/tinggi air setiap hari selama 5-7 jam.2. perlu dipersiapkan dahulu dengan . terbuat dari beton. Takaran hormon yang diberikan : o o HCG 1. Perlakuan ini dilakukan terus menerus sampai induk memijah secara alami. 2. Bila diketahui telah terjadi pemijahan. Penetasan telur Menurut (Anonim. Pengamatan pemijahan ikan dilakukan setiap hari setelah senja sampai malam hari. Ikan Kerapu Tikus selama bertelur induk tidak boleh di beri pakan. berbentuk empat persegi panjang dengan ukuran 4 x 1 x 1 m³ .000 . 5. 2010) bak yang dipergunakan untuk penetasan telur sekaligus juga merupakan bak pemeliharaan larva.225 RU/kg induk 4. Telur yang telah dibuahi berjumlah lebih kurang 1. Pemijahan umumnya terjadi pada malam hari antara jam 22.200. telur segera dipanen dan dipindahkan ke bak penetasan.5 m). 3. (Anonim.24. Rangsangan hormonal induk kerapu matang kelamin disuntik dengan hormon Human Chorionic Gonadotropin (HCG) dan Puberogen untuk merangsang terjadinya pemijahan. Setelah 7 jam permukaan air dikembangkan ke possisi semula (tinggi air 1. 2010).7.

cara dibersihkan dan dicuci hamakan memakai larutan chlorine (Na OCI) 50 - 100 ppm. Setelah itu dinetralkan dengan penambahan larutan Natrium thiosulfat sampai bau yang ditimbulkan oleh chlorine hilang. Air laut dengan kadar garam 32 ‰ dimasukkan ke dalam bak, satu hari sebelum larva dimasukkan dengan maksud agar suhu badan stabil berkisar antara 27 - 28°C. Sebelum telur ditetaskan perlu direndam dalam larutan 1 - 5 ppm acriflavin untuk mencegah serangan bakteri. Telur hasil pemijahan dikumpulkan dengan sistim air mengalir. Telur yang dibuahi akan mengapung dipermukaan air dan berwarna jernih (transparan). Telur akan menetas dalam waktu 18 - 22 jam setelah pemijahan pada suhu 27 - 28°C dan kadar garam 30 - 32 ‰. Telur yang telah dibuahi berjumlah lebih kurang 1.200.000 butir. Jumlah telur diperkirakan hanya 30% saja yang dibuahi (Suria D, 2002). Telur yang telah dibuahi tidak berwarna (transparan) sedangkan yang tidak dibuahi dan yang mati berwarna putih susu. 2.7.8 Pemeliharaan Larva Larva kerapu yang baru menetas mempunyai cadangan makanan berupa kuning telur. Pakan ini akan dimanfaatkan sampai hari ke 2 (D2) setelah menetas dan selama kurun waktu tersebut larva tidak memerlukan dari luar. Umur 3 hari (D3) kuning telur mulai terserap habis, perlu segera diberi pakan dari luar berupa Rotifera Brachionus Plicatilis dengan kepadatan 1 - 3 ekor/ml. Disamping itu ditambahkan pula Chlorella sp dengan kepadatan antara 50.000-100.000 sel/ml. Pemberian pakan ini sampai larva berumur 16 hari (D16). Pada hari kesembilan (D9) mulai diberi pakan naupli artemia yang baru menetas dengan kepadatan 0,25

- 0,75 ekor/ml media. Pemberian pakan naupli artemia ini dilakukan sampai larva berumur 25 hari (D25) dengan peningkatan kepadatan hingga mencapai 2 - 5 ekor/ml media. Disamping itu pada hari ke tujuh belas (D17) larva mulai diberi pakan Artemia yang telah berumur 1 hari, kemudian secara bertahap pakan yang diberikan diubah dari Artemia umur 1 hari ke Artemia setengah dewasa dan akhirnya dewasa sampai larva berumur 50 hari (Anonim, 2010).

2.8 Parameter Kualitas Air Pemeliharaan Lokasi budidaya yang ideal, selain pertimbangan umum di atas, juga harus memenuhi persyaratan-persyaratan kualitas airnya. Faktor kualitas air yang perlu diperhatikan untuk pemeliharaan pembenihan Kerapu tikus meliputi sifat fisika : Suhu dan Kecerahan, dan kimia meliputi : pH, DO dan Salinitas. Pemenuhan akan kebutuhan air harus diupayakan agar produksi benih ikan laut yang berkualitas, dalam jumlah yang cukup, dan kontunu dapat berhasil (Ghufran, M dan Andi Tamsil. 2010). 2.8.1 Suhu Suhu mempengaruhi aktivitas metabolisme organisme, karena itu penyebaran organisme baik di lautan maupun di perairan air tawar dibatasi oleh suhu perairan tersebut. Secara umum laju pertumbuhan meningkat sejalan dengan kenaikan suhu, dapat menekan kehidupan biota bahkan dapat menyebabkan kematian bila peningkatan suhu sampai ekstrem (drastis) (Kordi, 2005). Suhu optimal untuk pertumbuhan kerapu tikus adalah 27oC-32oC (Octopus, 2008).

2.8.2 Kecerahan Perairan yang memiliki tingkat kecerahan sangat tinggi dapat menembus ke dasar perairan adalah indikator yang perairannya cukup jernih dan sangat baik untuk digunakan sebagai lokasi pembesaran. Kecerahan perairan yang sangat cocok untuk pembesaran kerapu bebek adalah lebih dari 2 meter, artinya secara visual dapat dilihat benda-benda di dalam air yang kedalamannya hingga lebih dari 2 meter (Octopus, 2008). 2.8.3 Derajat Keasaman (pH) Pada pH air dapat mempengarui tingkat kesuburan perairan karena mempengaruhi kehidupan jasad renik. Perairan asam akan kurang produktif, malah dapat membunuh ikan. Pada saat pH rendah kandungan oksigen terlarut akan berkurang, sebagai akibatnya konsumsi oksigen menurun, aktifitas pernapasan naik dan selera makan akan berkurang (Kordi, 2005). Kerapu tikus sangat baik bila dipelihara pada air laut dengan pH 7-9. 2.8.4 Oksigen Terlarut (DO) Konsentrasi oksigen dalam air dapat berpengaruh terhadap pertumbuhan dan konversi pakan. Konsentrasi oksigen terlarut merupakan salah satu faktor yang membatasi bagi ikan yang dibudidayakan, karena sangat diperlukan untuk kehidupan ikan. Pertumbuhan ikan-ikan laut, kandungan oksigen terlarut dalam air minimal 4 ppm, sedangkan kandungan optimum antara 5-6 ppm (Kordi, 2005), menambahkan bahwa ikan Kerapu tikus dan macan dapat hidup optimal pada konsentrasi oksigen lebih dari 5 ppm.

Apabila nitrat dan nitrit yang masuk bersamaan dengan makanan.dalam darah memicu terjadinya oksidasi Fe2+. kemudian dioksidasikan menjadi nitrit dan nitrat. NO2. Karena itu. Hal ini akan mengakibatkan mikroba usus mengubah nitrat menjadi nitrit sebagai senyawa yang lebih berbahaya.06 mg/l (Wahyudhy H. yang merupakan bagian dari siklus nitrogen.2. Aktifitas mikroba di tanah atau air menguraikan sampah yang mengandung nitrogen organik pertama-pertama menjadi ammonia.5 Salinitas Lokasi yang berdekatan dengan muara tidak dianjurkan karena terpengaruh oleh masuknya air tawar dari sungai sehingga salinitas dapat berubah dan akan mempengaruhi pertumbuhan dan nafsu makan ikan yang dipelihara. 2007). Konsentrasi nitrit maximum yang diperbolehkan dalam kegiatan budidaya ikan adalah < 0.8. .6 Nitrit Nitrat (NO3-) dan nitrit (NO2-) adalah ion-ion anorganik alami. pembentukan nitrit pada intestinum mempunyai arti klinis yang penting terhadap keracunan. yang menyebabkan kemampuan hemoglobil darah untuk mengikat oksigen rendah. maka banyaknya zat makanan akan menghambat absorbsi dari kedua zat ini dan baru akan diabsorbsi di traktus digestivus bagian bawah. Salinitas yang ideal untuk pembesaran ikan Kerapu tikus adalah 30-33 ppt (Octopus. 2008).8. 2.

9. S. pupuk yang digunakan harus mengandung unsur hara yang dibutuhkan seperti N. persediaan pakan berupa jasad pakan dan pakan buatan yang nantinya diberikan kepada larva harus siap dalam jumlah dan mutu gizinya. dengan mengatur rasio N/P supaya Nannochloropsis dapat mendominasi yang lainnya. Salinitas air laut yang diharapkan adalah 2528 ppt. Budidaya plankton dilakukan pada botol dengan volume 0. rotifera (Branchionus sp) yang dipeoleh dari usaha kultur massal (Pramu S dan Mustahal. K dan Mg sebagai unsure hara makro serta unsure hara mikro Fe. S dan . 2002).9 Penyediaan Pakan untuk Pemeliharaan Larva Sebelum mengawinkan ikan. artemia. Mn. Air laut tersebut kemudian dimasukkan kedalam botol-botol yang telah disiapkan. selanjutnya ditambah pupuk cair sebanyak 1 ml/lt.2. P. Jasad pakan untuk keperluan ini meliputi alga (Nannochloropsis oculata). Zn.1 Nannochloropsis oculata Domain Kingdom Phylum Class Genus Spesies : Eukaryota : Chomalveolata : Heterokontophyta : Eustigmatophyceae : Nannochloropsis : Nannochloropsis oculata Membudidaya Chlorella dapat diambil langsung dari tambak budidaya. Jasad pakan merupakan faktor penentu dalam keberhasilan pemeliharaan larva. 2.5 liter-1 liter air yang akan disiapkan sebagai media tumbuh plankton sebelumnya disterilkan terlebih dahulu dengan menggunakan klorine kemudian air laut di biarkan selama 3-5 hari sampai residu klorine hilang.

Setelah media siap bibit plankton dimsukkan 1/3 bagian dan siap dipanen 5-6 hari (Edhy W dkk.9. Ukuran panjang nauplius artemia yang baru ditetaskan sekitar 200-300 atau tergantung pada strainnya.2 Artemia sp Kingdom Class Ordo Family Genus Spesies : Animalia : Crustacea : Anostraca : Artemidae : Artemia : Artemia sp Artemia dalam bentuk nauplius mudah diperoleh. 2. . Kista-kista yang tidak menetas sebaiknya tidak dicampur dengan nauplii karena bila diberikan sebagai pakan larva maka kista akan termakan. Jangka waktu penetasan tergantung pada asal produk kista artemia. Baru setelah itu kumpulan nauplii artemia yang tampak hidup atau bergerak disipon sambil disarin dan dicuci. Komposisi 5 gram kista artemia per liter cukup untuk menetaskan kista tersebut. Selanjutnya. 2003). tetapi tidak dapat dicerna oleh larva (Siregar. Penetasan kista dilakukan dengan menggunakan bak-bak kerucut yang berisi air laut dan dipasok aerasi kuat padatingkat 10-20 liter per menit. Aerasi dihentikan dan bagian bawah wadah diberi sinar agar nauplii mengumpul didasar. yaitu dengan cara menetaskan kistanya yang tersedia dipasar dalam bentuk kemasan kalengan. 1995). nauplii dan kotoran dicuci dengan air laut dan dimasukkan ke dalam 15 menit. sedangkan kotoran akan mengapung. Abbas. Pemisahan nauplius artemia dari cangkang serta kista yang tidak menetas dilakukan dengan cara mengumpulkan nauplii dan kotoran lalu disaring dengan saringan 120µ.sebagainya.

3 Rotifer Phyllum Kelas Ordo Famili Genus Spesies : Avertebrata : Eurotaria : Ploima : Brachionidae : Brachionus : Brachionus sp. Secara umum dikenal 2 metode kultur rotifera yaitu metode panen harian lebih praktis dan mudah sedangkan pada metode transfer diperlukan bak kultur yang lebih banyak. Pada kondisi normal. seperti rasio pakan. Branchionus memiliki kecepatan pertumbuhan dan reproduksi tinggi. Organisme rotifer berbentuk simetris bilateral manyerupai piala. Kultur missal rotifera dilakukan pada bak volume 5-12 m3. Rotifer merupakan salah satu jenis rotifer yang biasa diproduksi secara massal. dan kaki / ekor. namun rotifera yang dihasilkan dari metode transfer lebih bersih.10 Pemberian Pakan Pada pemberian pakan perlu beberapa hal yang diperhatikan. frekuensi pemberian pakan dan waktu pemberian pakan. 2. betina memproduksi 20 butir telur atau lebih selama 7-10 hari masa hidupnya.9. 1995). Abbas (1995). badan. . tetapi secara teknis siste atermia dapat diproduksi secara massal dalam tempat (wadah) yang terkendali. Kultur dilakukan dalam ruang terbuka yang cukup mendapatkan cahaya matahari. kepala. Untuk tujuan ini dilakukan dengan memanipulasi lingkungan hidupnya agar artemia terpaksa melangsungkan perkembangbiakan secara ovipar uang menghasilkan telur (Siregar.Meskipun secara ekonomis kurang menguntungkan. Abbas. Siregar. 2. Tubuh yaitu.

Pada pemelihara ikan. Waktu Pemberian Pakan Waktu pemberian pakan di sesuaikan dengan sifat. Pakan yang dimakan ikan kerapu telah dicerna 95% setelah 36 jam (Salim. 2.200. Frekuensi pemberian pakan yang optimal tergantung dari jenis ikan yang dipelihara. waktu pemberian pakan biasanya dilakukan pagi dan sore hari (Salim. Rasio pemberian pakan yang optimal ditentukan oleh jenis ikan yang dipelihara. Dari jumlah diperkirakan hanya 30% saja . Pada ikan yang hidup di dasar perairan dan bergerak altif pada malam hari seperti ikan kerapu.3. 2009). 2009). dan apabila induk telah memijah harus segera dipindahkan ke tangki yang lain.11 Survival Rate Survival Rate atau SR adalah tingkat kelangsungan hidup.sifat makan organisme yang dipelihara. Ikan Kerapu Tikus selama bertelur induk tidak boleh di beri pakan. rasio pemberian pakan kerapu 4 6% (Salim.2.2. Frekuensi Pemberian Pakan Frekuensi pemberian pakan yang tepat akan menghasilkan pertumbuhan yang optimal dan penggunaan pakan yang efisien. 2.000 butir.10. Jenis ikan/udang yang aktif bergerak memerlukan lebih banyak makanan dibandingkan jenis ikan yang bergerak pasif. pemberian pakan setiap dua hari sekali. 2009). 2.10.1.10. Telur yang telah dibuahi berjumlah lebih kurang 1. Rasio Pakan Rasio pemberian pakan harus tepat agar pakan yang di berikan dapat efisien dikonvesikan oleh ikan/udang sehingga kelangsungan hidup yang optimal.

Telur yang telah dibuahi tidak berwarna (transparan) sedangkan yang tidak dibuahi dan yang mati berwarna putih susu. diantaranya adalah penyakit borok pangkal sirip ekor dan penyakit mulut merah. Diantara jenis bakteri tersebut bakteri V alginolyticus dan V fuscus merupakan jenis yang sangat patogen pada ikan kerapu tikus (Salim.yang dibuahi. SR kerapu tikus 5% (Darwisito. 2007): SR = Nt/No x 100% Keterangan : SR : Survival Rate Nt : Jumlah ikan akhir (saat pemanenan) No : Jumlah ikan awal (saat penebaran) 2.12 Penyakit Permasalahan penyakit yang paling banyak pada ikan bersirip (finfish) dijumpai pada budidaya ikan kerapu. Hasil isolasi dan identifikasi bakteri ditemukan beberapa jenis bakteri yang diduga berkaitan erat dengan kasus penyakit bakterial. yaitu Vibrio alginolyticus. V algosus. V anguillarum dan V fuscus. sebaliknya telur yang tidak terbuahi akan tenggelam didasar tangki. Telur yang terbuahi melayang atau terapung pada salinitas 33 permil. 2009). . Jenis penyakit bakterial yang ditemukan pada ikan kerapu. 2007). rumus untuk mencari SR adalah (Jatilaksono.

Diagnosis penyakit dapat dilakukan dengan melakukan isolasi dan identifikasi bakteri.2 cm yang berwarna kuning pada media TCBS.2009).2. 2. laktosa. Pengendalian penyakit dapat dilakukan dengan penggunaan berbagai jenis antibiotika seperti Chloramfenikol.Cryptocaryonosis Penyakit ini sering ditemukan pada ikan kerapu bebek dan macan. Sifat lain yang tidak kalah penting adalah sifat proteolitik yang berkaitan dengan mekanisme infeksi bakteri (Salim. Bakteri ini merupakan jenis bakteri yang paling patogen pada ikan kerapu tikus dibandingkan jenis bakteri lainnya.12. bentuk batang. Stadia parasit yang menginfeksi . dengan tanda ikan yang tersering terlihat bercak putih. fermentasi glukosa.12. V anguillarum merupakan spesies yang kurang patogen terhadap ikan air payau. eritromisina dan oksitetrasiklin. Penumbuhan bakteri pada media selektif TCBS akan didapatkan koloni yang kekuningan dengan ukuran yang hampir sama dengan koloni V alginolyticus akan tetapi bakteri ini tidak tumbuh swarm pada media padat non-selektif seperti NA (Salim.Vibrio anguillarum Dibandingkan dengan V alginolyticus. motil.1. Ciri lain adalah gram negatif.12. sukrosa dan maltosa. 2.3.8-1. 2009). membentuk kolom berukuran 0. Kematian masal pada benih diduga disebabkan oleh infeksi bakteri V alginolyticus. Pada uji patogenisitas ikan kerapu tikus ukuran 5 gram yang diinfeksi bakteri dengan kepadatan tinggi hingga 108 CFU/ikan hanya mengakibatkan mortalitas 20%.Vibrio alginolyticus Vibrio alginolyticus dicirikan dengan pertumbuhannya yang bersifat swarm pada media padat non selektif.2.

5 mm.4.Diagnosis dapat dilakukan dengan melihat gejala seperti adanya bercak putih. Trichodina yang merupakan . Pada kondisi ini maka Trichodina merupakan ektoparasit sejati. kehilangan nafsu makan sehingga ikan menjadi kurus. produksi mukus yang berlebihan. perendaman ikan dalam air bersalinitas 8 ppt selama beberapa jam dan memindahkan ikan yang sudah diperlakukan ke dalam wadah baru bebas parasit (Salim. mengerok dari lendir.3-0. tetapi untuk lebih memantapkan (diagnosis definitif) perlu dilakukan pengamatan secara mikroskopis dengan cara memotong insang. kadang disertai dengan hemoragi. Perlakuan bahan kimia pengendali parasit dapat dilakukan seperti perendaman dalam larutan formalin 25 ppm. Tanda klinis ikan yang terserang adalah ikan seperti ada gangguan pernafasan. Erosi (borok) dapat terjadi karena infeksi sekunder dari bakteri. Tetapi karena pelekatan yang kuat dan terdapatnya kait pada cakram. 2. dan dilengkapi dengan silia. Serangan penyakit dapat diatasi dengan penjagaan kualitas air.12. 2009). terutama pada benih dan ikan muda.ikan dan menimbulkan penyakit adalah disebut trophont berbentuk seperti kantong atau genta berukuran antara 0.Infestasi Trichodina sp Penempelan Trichodina pada tubuh ikan sebenarnya hanya sebagai tempat pelekatan (substrat). mengakibatkan seringkali timbul luka. bercak putih pada kulit. Pelekatan pada insang juga seringkali disertai luka dan sering ditemukan set darah merah dalam vakuola makanan Trichodina. sementara parasit ini mengambil partikel organik dan bakteri yang menempel di kulit ikan.

karena mewabahnya penyakit berkaitan dengan rendahnya kualitas lingkungan. Perlakuan ikan terserang parasit cukup mudah. 2009).12. Perlakuan . 2. atau mengambil lembaran insang dan melakukan pemeriksaan secara mikroskopis. Timbulnya luka akan diikuti dengan infeksi bakteri Caligus sp. contohnya adalah Trichodinella. yang didapatkan pada ikan air payau merupakan spesies yang memiliki toleransi yang luas terhadap kisaran salinitas. Perlakuan terhadap ikan yang terinfeksi oleh parasit adalah dengan cara perendaman dalam larutan formalin 200-300 ppm (Salim. ditemukan baik pada induk ikan maupun di tambak. yaitu hanya merendamnya dalam air tawar selama beberapa menit.5. Trichodina yang menempel di insang umunmya berukuran lebih kecil dibandingkan yang hidup di kulit. produksi lendir yang berlebihan dan terlihat kurus. berukuran cukup besar sehingga dapat diamati dengan tanpa bantuan mikroskop. Trichodina spp. Penempelan ektoparasit ini dapat menimbulkan luka.ektoparasit pada ikan air laut mempakan spesies yang bersifat sebetulnya lebih bersifat komensal daripada ektoparasit (Salim.Caligus sp parasit golongan Crustacea Parasit jenis ini sering. Diagnosis dapat dilakukan dengan cara melakukan pengerokan (scraping) pada kulit.2009).Pencegahan terhadap wabah penyakit adalah dengan cara pengendalian kualitas lingkungan. dan akan lebih parah lagi karena ikan yang terinfeksi dengan parasit sering menggosok-gosokkan tubuhnya ke dinding bak atau substrat keras lainnya. Ikan yang terserang Trichodina biasanya warna tubuhnya terlihat pucat.

2.12. baik iridovirus maupun nodavirus. Penggunaan bahan seperti Triclorvon (Dyvon 95 SP) hingga 2 ppm dapat mematikan parasit (Salim. Virus lain yang menyerang ikan laut adalah Nodavirus. 2009). terutama menyerang larva dan juwana ikan laut (Khordi. VNN merupakan virus yang mematikan. menimbulkan tonjolan pada daerah sirip atau kulit (nodul)yang dapat terjadi secara sata-satu atau kelompok.dengan formalin 200-250 ppm juga cukup efektif. yaitu virus penyebab VNN (Viral Nervous Necrosis). Hingga kini belum ditemukan obat yang efektif untuk mengatasi virus. 2010). 2010).6 Virus Jenis viral atau virus yang telah teridentifikasi menyerang ikan laut adalah Iridovirus/ DNA. . sehingga ikan yang terserang penyakit ini sebaiknya dimusnahkan agar tidak menular ke ikan lain (Khordi. Virus ini menyebabkan hypertrophy(penebalan) dari sel-sel jaringan ikan.

3. faktual dan akurat mengenai fakta-fakta dan sifat-sifat populasi atau daerah tertentu. 3.3 Metode Pengumpulan Data Data yang diambil dalam Praktek Kerja Lapangan ini berupa data primer dan data sekunder yang yang diperoleh melalui beberapa metode atau cara atau cara pengambilan. diamati dan dicatat untuk pertama kalinya melalui prosedur dan teknik . Kecamatan Panarukan. Propinsi Jawa Timur (Lampiran 1).1 Data Primer Data Primer merupakan data yang diperoleh langsung dari sumbernya. 3. yaitu metode yang menggambarkan keadaan atau kejadian pada suatu daerah tertentu.III PELAKSANAAN 3.2 Metode Kerja Metode yang digunakan dalam praktek kerja lapang ini adalah metode deskriptif. Kabupaten Situbondo.3. Suryabrata (1993) mengatakan bahwa metode deskriptif adalah metode untuk membuat pencandraan secara sistematis.1 Tempat dan Waktu Praktek kerja lapang ini akan dilaksanakan di Balai Budidaya Air Payau terletak di Desa Pecaron. Kegiatan ini dilaksanakan mulai pertengahan 19 Juli – 31 Agustus 2010.

Dalam proses wawancara dengan menggunakan pedoman umum wawancara ini. interview dilengkapi pedoman wawancara yang sangat umum serta mencantumkan isu-isu yang harus diliput tanpa menentukan urutan pertanyaan. Wawancara memerlukan komunikasi yang baik dan lancar antara peneliti dengan subyek sehingga pada akhirnya bisa didapatkan data yang dapat dipertanggungjawabkan secara keseluruhan (Nazir. 1998). 1998). pembuatan pupuk. Observasi Observasi atau pengamatan secara langsung adalah pengambilan data dengan menggunakan indera mata tanpa ada pertolongan alat standart lain untuk keperluan tersebut (Nazir. observasi.pengambilan data yang berupa interview. Wawancara Wawancara merupakan cara mengumpulkan data dengan cara tanya jawab sepihak yang dikerjakan secara sistematis dan berlandaskan pada tujuan penelitian. Observasi pada Praktek Kerja Lapang ini dilakukan terhadap berbagai hal yang berhubungan dengan kegiatan pembenihan meliputi persiapan alat dan wadah budidaya. 1998) Patton dalam Poerwandari (1998) menjelaskan pedoman wawancara digunakan untuk mengingatkan interviewer mengenai aspek-aspek apa yang harus . Pada Praktek Kerja Lapang ini wawancara akan dilakukan dengan menggunakan pedoman wawancara. pemeliharaan dan pemanenan. B. bahkan mungkin tidak terbentuk pertanyaan yang eksplisit (Patton. pengisian media. A. 1988). penebaran bibit. partisipasi aktif maupun memakai instrumen pengukuran yang khusus sesuai tujuan (Azwar.

Kegiatan yang dilakukan adalah pembenihan ikan Kerapu Tikus. sekaligus menyesuaikan pertanyaan dengan konteks aktual saat wawancara berlangsung.2 Data Sekunder Data sekunder adalah data yang diperoleh dari sumber tidak langsung dan telah dikumpulkan serta dilaporkan oleh orang diluar dari penelitian itu sendiri (Azwar. Kegiatan tersebut diikuti secara langsung mulai dari persiapan alat dan wadah budidaya. C. Partisipasi Aktif Partisipasi aktif adalah keterlibatan dalam suatu kegiatan yang dilakukan secara langsung di lapangan (Nazir. dinas perikanan. masyarakat dan pihak lain yang berhubungan dengan usaha pembenihan ikan Kerapu Tikus.dibahas. Dengan pedoman demikian interviwer harus memikirkan bagaimana pertanyaan tersebut akan dijabarkan secara kongkrit dalam kalimat tanya. 1988). pustaka-pustaka.1998). 3. laporan-laporan pihak swasta. pemeliharaan dan pemanenan serta kegiatan lainnya yang yang berkaitan dengan Praktek Kerja Lapang yang dilakukan. penebaran bibit. Data ini dapat diperoleh dari data dokumentasi. lembaga penelitian.3. juga menjadi daftar pengecek (check list) apakah aspek-aspek relevan tersebut telah dibahas atau ditanyakan. pengisian media. .

IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4. Kabupaten Situbondo dan merupakan cabang dari BBAP Jepara. maka pada tanggal 1 Mei 2001 status Loka Balai Budidaya Air Payau dinaikkan menjadi Balai Budidaya Air Payau . Sub Senter Udang Windu ini kemudian melepaskan diri dari Balai Budidaya Air Payau Jepara dan berganti nama menjadi Loka Balai Budidaya Air Payau Situbondo yang ditetapkan pada tanggal 18 April 1994 melalui Surat Keputusan Menteri Pertanian Nomor: 264/Kpts/OT. Sub Senter Udang Windu ini terletak di Desa Blitok. Loka Balai Budidaya Air Payau Situbondo terdiri dari tiga divisi meliputi divisi ikan. divisi udang dan divisi budidaya.210/4/94.1 Keadaan Umum Lokasi Praktek Kerja Lapang 4. Kecamatan Mlandingan.1. Dengan beban tugas dan tanggung jawab yang semakin berat.1 Sejarah Berdirinya Balai Budidaya Air Payau Situbondo didirikan pada tahun 1986. Loka Balai Budidaya Air Payau Situbondo merupakan Unit Pelaksana Teknis (UPT) Direktorat Jenderal Perikanan di bidang pengembangan produksi budidaya perikanan air payau yang berada di bawah dan bertanggung jawab kepada Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya. Pada awalnya balai ini bernama Proyek Sub Senter Udang Windu Jawa Timur yang pada saat itu masih berupa fasilitas pemeliharaan benur udang windu di bawah naungan Direktorat Jenderal Perikanan. Jawa Tengah. Departemen Pertanian.

dan ikan bandeng. udang. 260/MEN/2001. Sebelah Utara berbatasan dengan Selat Madura. Unit Gelung yang terletak di desa Gelung Kecamatan Panarukan sekitar 25 Km ke arah Timur dari kantor utama dengan luas areal 8 Ha. Unit Blitok.2 Letak dan Keadaan Lokasi Balai Budidaya Air Payau (BBAP) Situbondo teletak di jalan raya Pecaron. . 2.Situbondo berdasarkan Surat Keputusan Menteri Perikanan dan Kelautan No. 3. Divisi budidaya terletak di Desa Pulokerto Kecamatan Kraton Kabupaten Pasuruan dengan luas areal 30 Ha yang merupakan areal untuk produksi rumput laut Glacilaria. dan divisi budidaya. Kabupaten Situbondo yang merupakan kantor utama dengan luas areal 4. KEP. b. Sebelah Timur berbatasan dengan hatchery udang milik PT. BBAP ini terdiri dari 3 divisi yaitu : divisi udang. Lokasi Balai Budidaya Air Payau (BBAP) Situbondo ini berbatasan dengan: a. Kecamatan Kendit. Jawa Timur. Central Pertiwi Bahari (CPB). Panarukan Situbondo.1. Kecamatan Mlandingan sekitar 10 Km ke arah Barat dari kantor utama dengan luas areal 1. Divisi udang terletak di 3 lokasi yang berbeda yaitu : 1. Unit Tuban yang terletak di Kabupaten Tuban dengan luas areal 7 Ha. Divisi ikan terletak di Dusun Pecaron. Desa Klatakan.39 Ha.45 Ha. c. 4. divisi ikan. Sebelah Barat berbatasan dengan usaha pembenihan Kelola Benih Ungul (KBU) dan pemukiman penduduk.

260/MEM/2001 tentang organisasi dan tata kerja BBAP Situbondo. 4. Sebelah Selatan berbatasan dengan pemukiman desa Klatakan. mengkoordinasi dan mengarahkan tugas penerapan teknik pembenihan dan pembudidayaan ikan air payau maupun laut serta pelestarian sumber daya induk atau benih sesuai dengan prosedur dan peraturan yang berlaku untuk kelancaran pelaksanaan kegiatan. Kelompok Jabatan Fungsional Susunan organisasi BBAP Situbondo secara lengkap dapat dilihat pada gambar 1 dengan uraian tugas sebagai berikut: 1. .3 Struktur Organisasi Berdasarkan Surat Keputusan Mentri Kelautan dan Perikanan RI.d.Kep. Peta wilayah kabupaten Situbondo. Kepala Bagian Tata Usaha 3. terdiri dari: 1. Kepala Balai Budidaya Air Payau (BBAP) Situbondo 2. Seksi Pelayan Teknis 5. Seksi Standarisasi dan Informasi 4. yaitu musim penghujan (November-Maret) dan musim kemarau (April-Oktober). Secara geografis. No. Jawa Timur dapat dilihat pada lampiran.1. BBAP Situbondo berada di tepi pantai utara Pulau Jawa dan lokasi ini dipengaruhi oleh dua musim. BBAP Situbondo terletak pada 113o55’66”BT-114”BT dan 07o41’32” LS-07o42’35”LS. Kepala Balai Budidaya Air Payau (BBAP) Situbondo Kepala BBAP Situbondo memiliki tugas dan wewenang seperti : merumuskan kegiatan.

Kepala bagian tata usaha Kepala bagian tata usaha bertugas melakukan administrasi keuangan. persuratan. 4. budidaya dan penyuluhan. Seksi Pelayaan Teknik Seksi pelayanan teknik bertugas melakukan pelayanan teknik kegiatan pengembangan. 5. Seksi Standarisasi dan Informasi Seksi standarisasi dan informasi mempunyai tugas menyiapkan bahan standar teknik dan pengawasan pembenihan dan budidaya ikan air payau dan laut. serta pengelolahan jaringan informasi dan perpustakaan. Kelompok Jabatan Fungsional Kelompok jabatan fungsional bertugas melaksanakan kegiatan perekayasaan.2. penerapan serta pengawasan teknik pembenihan dan budidaya ikan air payau dan laut. pengendalian hama dan penyakit ikan. 3. . pengendalian hama dan penyakit serta lingkungan. serta kegiatan lain yang sesuai dengan tugas masing-masing jabatan fungsional berdasarkan peraturan perundangundangan yang berlaku. pengujian. sumber daya induk dan benih. dan rumah tangga BBAP Situbondo serta pelaporan. perlengkapan. kepegawaian. penerapan dan bimbingan penerapan standar/sertifikasi pembenihan dan pembudidayaan ikan air payau dan laut.

4. No Klasifikasi Kualifikasi 1 Tingkat pendidikan Master (S2) Sarjana (S1) Lainnya Jumlah 2 Fungsional Perekayasa Litkayasa Pengawas Pranata Humas Umum Lainnya Jumlah Jumlah (orang) 10 45 88 143 17 16 27 3 26 54 143 4. dan wadah inkubasi telur yang berbentuk akuarium kaca. Tabel 1. Sarana Budidaya yang digunakan di Balai Budidaya Air Payau Situbondo untuk kegiatan pembenihan meliputi wadah tandon air yang terbuat dari beton. Dukungan Sumberdaya Manusia di BBAP Situbondo. penetasan telur.4 Kepegawaian Dalam melakukan tugasnya Balai Budidaya Air Payau Situbondo didukung sumberdaya manusia sebanyak 143 orang karyawan berstatus pegawai negeri sipil dengan berbagai tingkat pendidikan. pemeliharaan larva. .2 Sarana dan Prasarana Umum BBAP Situbondo 4. kultur mikroalga.1. Tabel berikut memperlihatkan dukungan sumberdaya manusia di BBAP Situbondo. kultur rotifer. wadah pemeliharaan induk. Sarana Budidaya Sarana budidaya merupakan factor utama yang mendukung kegiatan pembenihan sehingga perlu diperhatikan bentuk dan posisisnya. pemeliharaan benih.2.1 Sarana Umum A.

Air Laut Air laut merupakan faktor penting dalam kegiatan pembenihan.4 m d = 5 m. waring dan .2 m x 1.25 m 2 m x 5 m x 1. t = 3 m 0.25 m 12.5 m 3 4 unit 10 unit 8 unit 1 unit 8 unit 5 unit 21 m3 39.5 m 5 m x 3 m x 1.125 m3 12.25 m 235.5 m3 12.5 m 2 m x 5 m x 1. yang berjarak 200 m dari balai.25 m 2 m x 5 m x 1. t = 3 m d = 10 m. bungkusan arang.5 m x 0. Air laut langsung dilarikan ke bak pemeliharaan induk melalui pipa saluran berupa pipa berdiameter 4 inchi.Tabel 2. ijuk.1668 m Pemeliharaan dan Pemijahan Induk Kerapu Bawal Bintang Bandeng Akuarium Bak Pemeliharaan Larva Pemeliharaan Benih Beton Beton Beton Kaca Beton Beton Beton Lingkaran Lingkaran Lingkaran Persegi Persegi Persegi Persegi d = 10 m. Sand filter di BBAP Situbondo tersusun dari bawah ke atas berupa batu kali.35 m 4. Pengambilan air laut menggunakan pipa berdiameter 8 inchi yang bagian ujungnya dilengkapi dengan filter hisap dan dihubungkan langsung dengan pompa electromotor berkapasitas 21 PK. Sarana Budidaya Di BBAP Situbondo Bak/Wadah Tandon Bak Filter Fisik Bahan Beton Beton Bentuk Persegi Persegi Dimensi 4.37 m Volume 41.5 m 12. air laut tersebut terlebih dahulu disaring dengan menggunakan saringna fisik atau sand filter ukuran 225 cm x 100 cm x 100 cm. t = 2 m 2 m x 5 m x 1.5 m x 0.25 m 2 m x 5 m x 1.875 m Penetasan Telur 0. t = 3 m d = 15 m. Sedangkan untuk mendistribusian air laut ke bak pembenihan dan bak kultur pakan alami.25 m 135 cm x 50 cm x 130 cm 12. Suplai air di BBAP Situbondo berasal dari selat Madura.5 m 12.5 m 3 3 4 unit 1 unit 2 unit 5 unit 24 unit 24 unit 24 unit 529.5 m 3 3 3 877500 cm B.5 m3 235.2 m x 2.2 m x 4.5 m 3 3 3 Kultur Pakan Alami Rotifer Chlorella Beton Beton Beton Beton Bak Karantina Egg Collector Beton PVC Persegi Persegi Persegi Lingkaran Persegi Persegi 2 m x 5 m x 1. kerikil.454 m 3 3 Jumlah 3 unit 5 unit 24.2 m x 4.

Tandon air laut inilah yang menjadi sumber air yag nantinya akan dialirkan ke bak-bak pembenihan. perumahan karyawan. Air tawar didapatkan dari 3 sumber sumur dengan kedalaman 10 m. Air dialirkan dengan sistem gravitasi sebab posisi tandon berada lebih tinggi dari bak-bak yang lainnya dan dibantu dengan menggunakan pompa. akuarium inkubasi telur dan bak kultur pakan alami. Setelah air melewati saringan tersebut. Air tersebut dipompa.pasir. kantor. D. Air Tawar Penyediaan air tawar digunakan untuk kebutuhan kegiatan pembenihan. maka air akan terbebas dari kotoran air yang berukuran besar. Air yang telah melalui tahap penyaringan dipompa ke tendon air laut pada ketinggian 2 m di atas permukaan tanah menggunakan pompa yang berkapasitas 7. air minum. dan asrama. Aerasi Ketersediaan oksigen di BBAP Situbondo disuplai dengan menggunakan high blower. C.5 PK melalui pipa yang berdiameter 4 inchi. Udara dari blower dialirkan langsung dengan menggunakan pipa PVC ukuran 3 inchi dan 1 inchi dengan sistem tertutup yang dilengkapi dengan . keperluan karyawan BBAP Situbondo dan asrama. Tandon air laut untuk pembenihan timur terdapat di bagian belakang pembenihan yang menjadi satu dengan tandon air laut pembenihan tengah. lalu ditampung dalam tandon dengan ketinggian 3 m dari permukaan tanah ke unit pembenihan. Antara kedua tandon tersebut hanya dipisah dengan dinding beton. laboratorium.

Uraian dari fasilitas pendukung di BBAP Situbondo dapat dilihat pada tabel 5. pos jaga. ruang kuliah. Tabel 4. Bangunan Jenis bangunan yang terdapat di BBAP Situbondo terdiri dari kantor utama. kultur pakan alami barat.2 Prasarana A. Tabel 3. Pembenihan barat. laboratorium pakan alami. 4. Distribusi Sistem Aerasi di BBAP Situbondo No Sumber Aerasi Spesifikasi 1 Blower Vortex Daya 7 PK Distribusi 2 Rood Blower Daya 5 PK 3 Blower Vortex Daya 7 PK Bak penggelondongan dan bak induk di pembenihan timur. Fasilitas Pendukung di BBAP Situbondo Uraian Spesifikasi Listrik PLN 60 KVA Genset 80 KVA Bangunan Kantor Kantor Utama (Kepala Balai) Kantor Tata Usaha Laboratorium Nutrisi dan Teknologi Pakan Jumlah 1 unit 1 unit 1 unit 1 unit 1 unit . kantor tata usaha. dan perumahan untuk karyawan BBAP Situbondo. pembenihan timur dan sebagian pembenihan tengah dan kultur pakan alami timur. dan pembenihan tengah. Bak karantina.selang aerasi.2. batu aerasi dan pemberat yang terbuat dari timah agar selang aerasi berada di bawah permukaan air. laboratorium kesehatan ikan dan kualitas air. laboratorium nutrisi. perpustakaan. aula (auditorium). mushola.

Sebagai antisipasi jika terjadi pemutusan arus listrik. Sumber tenaga listrik di BBAP Situbondo berasal dari Perusahaan Listrik Negara (PLN) dengan daya 60 KVA. Tenaga Listrik Listrik merupakan komponen yang sangat vital untuk kegiatan budidaya. Energi listrik digunakan untuk penerangan.Rumah Karyawan Rumah Genset Rumah Blower Asrama Bangsal Pakan Lainnya Kesehatan Ikan dan Lingkungan Pakan Alami Rumah Karyawan Rumah Tamu Genset dan Panel Listrik Blower Mahasiswa dan Peserta Magang Tempat Pembuatan Pakan Perpustakaan Aula (auditorium) Ruang Kuliah Alat Angkut (transportasi) .Isuzu Panther . BBAP Situbondo menyediakan generator set berdaya 80 KVA. Saat terjadi pemadaman listrik.Pick up L – 300 . akan terdengar tanda dari sirine secara otomatis. generator set akan segera difungsikan untuk tetap mendukung suplai listrik bagi kegiatan budidaya. blower dan peralatan lainnya yang membutuhkan energi listrik. menjalankan pompa. . Setelah itu.Suzuki Future .Toyota Kijang 1 unit 1 unit 1 unit 1 unit 1 unit 1 unit 1 unit 1 unit 1 unit 1 unit 1 unit 1 unit 1 unit 1 unit 1 unit B.

5% dari total berat badan ikan/hari. Untuk masa peralihan kelamin biasanya induk memiliki berat 3.3. 2010). Induk yang berasal dari alam didapatkan dari alam didapatkan dari hasil penangkapan para nelayan daerah perairan laut bali dan Lombok.5-5 kg. (Anonim.10 kg/m3 . .4. Induk-induk yang baru datang dikarantina dalam bak karantina selama 1-2 bulan untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan baru yang terdapat di BBAP Situbondo. BBAP Situbondo memiliki jumlah induk 65 ekor yang terdiri dari 17 ekor induk jantan dan 48 ekor induk betina. Bobot induk betina sebesar 1-3.1 Persiapan Induk Induk ikan kerapu yang dipijahkan dipelihara di laut dalam kurungan apung dengan padat penebaran induk 7. ikan kerapu memiliki sifat hemaprodit protogini yaitu pada tahap menuju perkembangan dewasa berjenis kelamin betina kemudian berubah menjadi jantan setelah tumbuh besar dan bertambah tua. Induk jantan memiliki ukuran bobot yang lebih besar dibandingkan dengan induk betina. Induk kerapu bebek Cromileptes altivelis yang dimiliki oeh BBAP Situbondo berasal dari alam dan hasil budidaya. Pakan yang diberikan berupa ikan rucah segar berkadar lemak rendah. sedangkan pada musim pemijahan diturunkan menjadi 1%.3 Teknik Pembenihan Kerapu Tikus 4.15 mg/ekor/minggu. takaran pakan yang diberikan sebesar 3 . Disamping itu diberikan pula vitamin E dengan dosis 10 . Sedangkan induk yang berasal dari budidaya didapatkan dari hasil budidaya (F1) yang dilakukan oleh balai. Diluar pemijahan ikan.5 .5 kg dan bobot induk jantan lebih dari 5 kg.

4. Setelah bak tersebut bersih. bak disiram kembali dengan air tawar sampai bau kaporitnya hilang. induk yang akan memijah diseleksi terlebih dahulu dan diaklimatisasikan. Setelah itu. jaring. Sebelum dilakukan penebaran.2 Seleksi Induk Induk kerapu tikus di BBAP Situbondo berasal dari hasil budidaya dan tangkapan alam yang ditangkap oleh nelayan.3. Selanjutnya. Induk betina yang digunakan adalah yang berumur 1 – 2 tahun.Proses persiapan wadah indukan dilakukan dengan cara membuang semua air yang terdapat dalam bak induk. sisa pakan. Tujuan dari pemasangan jaring ini adalah untuk menjaga agar induk tidak melompat keluar dari bak. Selang aerasi pun harus dicuci dengan menggunakan detergen lalu dibilas dan dipasang kembali. ataupun pancing. Setelah semua tahapan di atas selesai.5 – 2 kg yang dilarutkan dalam 25 liter air sebagai upaya desinfeksi wadah dan disikat kembali hingga benar-benar bersih. bak sudah dapat diisi kembali dengan air laut. Hal tersebut dilakukan dengan cara membuka outlet seluruhnya. Tahap ini dilakukan untuk mendapatkan induk yang . Bak tersebut dibersihkan dari lumut-lumut yang menempel. Bak tersebut dikeringkan selama 3 – 6 hari. dinding-dinding bak disiram dengan kaporit 60% sebanyak 1. Indukan tersebut ditangkap dengan menggunakan bubu. induk tersebut dipelihara selama hingga menjadi indukan kerapu tikus yang siap memijah. bagian atas bak dipasang jaring yang berbahan polyethylene yang disanggah dengan menggunakan tiang kayu. sedangkan induk jantan yang telah berumur 3 tahun. dan kotoran ikan dengan menggunakan sikat. Setelah ditangkap.

. Jumlah induk yang terdapat di Balai Budidaya Air Payau Situbondo adalah 65 ekor. Menurut Cholik. Induk yang telah diseleksi dan diaklimatisasi kemudian disatukan dalam wadah pemijahan.5 kg dengan panjang tubuh lebih dari 40 cm. Rasio jantan dan betina yang ideal adalah 1 : 2. Seleksi yang dilakukan adalah menentukan jenis kelamin induk agar rasio jantan dan betina dapat mendekati ideal. Ikan kerapu tikus merupakan hewan yang bersifat “protogynous hermaphrodite” yaitu pada awalnya berkelamin betina lalu berubah menjadi jantan dengan jangka waktu tertentu. et al (2005). yang terdiri dari 17 ekor jantan. Tujuan aklimatisasi adalah untuk mengadaptasikan ikan pada wadah budidaya dan dilakukan pengobatan jika induk terserang penyakit sampai benar-benar sembuh. dapat dilakukan dengan kanulasi. jika keluar sperma maka induk tersebut adalah jantan. Induk betina kerapu tikus berumur 1 – 3 tahun. Perbedaan antara jantan dan betina dapat dibedakan dari umur. Proses aklimatisasi berakhir jika induk sudah mau makan dan benar-benar terbebas dari penyakit. Pemeriksaan dilakukan dengan cara menimbang berat badan induk.. dan pemeriksaan alat kelamin. sedangkan jika tidak keluar. sedangkan induk jantan lebih dari 3 tahun. dan 48 ekor betina. Aklimatisasi induk dilakukan dengan cara memelihara induk pada wadah yang berbeda. Jika terdapat telur.berkualitas dan sudah dapat untuk dipijahkan. Pemeriksaan alat kelamin dilakukan dengan cara mengurut bagian perut ke arah anus. berat badan. Induk betina umumnya mempunyai berat tubuh 1–2. maka induk tersebut adalah betina.

(Menurut Danakusumah dan Imanishi. kemudian dihisap.1986). Telur yang diperoleh diamati untuk mengetahui tingkat kematangannya. Selama pemeliharaan ikan kerapu tikus di BBAP Situbondo.6%. ekor kuning. Jenis ikan/udang yang aktif bergerak memerlukan lebih banyak makanan dibandingkan jenis ikan yang bergerak pasif. Rasio pemberian pakan yang optimal ditentukan oleh jenis ikan yang dipelihara. Kematangannya kelamin induk betina diketahui dengan cara kanulasi.Hal ini sependapat dengan Anonim (2010) yang menyatakan bahwa kematangan kelamin induk jantan ikan kerapu diketahui dengan cara mengurut bagian perut ikan (stripping) ke arah awal sperma yang keluar warna putih susu dan jumlahnya banyak diamati untuk menentukan kualitasnya. Untuk . garis tengah (diameter) telur diatas 450 mikron. kembung tongkol. induk kerapu tikus diberi pakan rucah berupa ikan segar dengan kandungan lemak rendah dan memiliki kadar protein yang tinggi (lebih dari 70%) seperti ikan layur. seperti rasio pakan. nelanak. frekuensi pemberian pakan dan waktu pemberian pakan. Rasio pemberian pakan harus tepat agar pakan yang di berikan dapat efisien dikonvesikan oleh ikan/udang sehingga kelangsungan hidup yang optimal. Pakan tersebut didapatkan dari nelayan yang menangkap langsung di laut. lemuru. rasio pemberian pakan kerapu 4 . dan cumi-cumi. yaitu memasukkan selang plastik ke dalam lubang kelamin ikan. Pemberian Pakan Pada pemberian pakan perlu beberapa hal yang diperhatikan. A.

Setiap hari ikan rucah yang diberikan dibedakan jenisnya. . Pemberan dilakukan pada pagi hari sekitar pukul 07. C dan E. dan 100 IU dengan merek dagang Natur E. Vitamin yang diberikan adalah vitamin B. maka pakan tersebut disimpan di dalam freezer. 50 mg/kg induk. Tujuannya adalah untuk menjaga kesehatan ikan dan untuk mempercepat perkembangan dan kematangan gonad. Vitamin C berguna untuk meningkatkan daya tahan tubuh terhadap serangan penyakit.00 WIB dengan frekuensi pemberian pakan 1 kali sehari yang diberikan secara perlahan hingga induk kenyang. Jadwal pemberian pakan dan vitamin dapat dilihat pada tabel 6. pergantian jenis rucah yang diberikan juga bertujuan untuk menambah nafsu makan induk. Kemudian ikan dipotong-potong sesuai dengan ukuran bukaan mulut induk.mempertahankan kesegaran pakan. Selain itu. Dosis vitamin tersebut masing-masing adalah 50 mg/kg induk. bau amis pada ikan serta melepaskan ektoparasit yang menempel pada tubuh ikan. Pemberian vitamin tersebut dilakukan selama dua kali seminggu. Cara memasukkannya adalah dengan menyayat tubuh ikan pada bagian bawah sirip dorsal ataupun pada bagian daging atas perut. Selain pakan ikan rucah.00-08. Vitamin E diberikan untuk mempercepat kematangan gonad induk. Pakan yang akan diberikan pada induk terlebih dahulu direndam dalam air tawar untuk menghilangkan es. pemberian vitamin juga dilakukan terhadap indukan kerapu tikus. Pemberian vitamin B berguna untuk menambah nafsu makan ikan. hal ini bertujuan agar induk tidak jenuh dengan ikan yang diberikan. Proses pemberian vitamin adalah dengan cara memasukkan vitamin tersebut ke dalam daging ikan rucah.

Penggelontoran dilakukan dengan cara mendorong kotoran di dasar bak menggunakan sikat yang telah diberi kayu yang cukup panjang hingga mencapai dasar bak menuju pipa .B. Pembuangan air bawah berfungsi sebagai pembuangan kotoran hasil metabolisme dan sisa-sisa pakan. Faktor kualitas air yang perlu dipertimbangkan untuk pemeliharaan pembenihan Kerapu tikus meliputi sifat fisika : Suhu dan Kecerahan. Sedangkan pembuangan air atas berfungsi sebagai pengatur ketinggian air pada bak dan untuk mengalirkan telur hasil pemijahan ke arah bak penampungan telur (egg collector). Selain itu kualitas air yang terjaga juga sangat menentukan proses pemijahan induk dan kualitas telur yang dihasilkan oleh induk. air di bak indukan diturunkan sampai ketinggian air mencapai 30 % dari volume bak. DO dan Salinitas. Setelah mencapai ketinggian tersebut. Di BBAP Situbondo sendiri air merupakan media utama bagi kehidupan ikan. Pergantian air untuk indukan kerapu tikus dilakukan setiap hari. Setelah pemberian pakan di pagi hari. Pemenuhan akan kebutuhan air harus diupayakan agar produksi benih ikan laut yang berkualitas. dalam jumlah yang cukup. dan kontunu dapat berhasil (Ghufran. dan kimia meliputi : pH. selain pertimbangan umum di atas. Oleh karena itu kualitas air sangat menentukan kelangsugan hidup ikan. 2010). Pada bak induk terdapat dua buah outlet yaitu pembuangan air bawah dan pembuangan air atas. Hal ini penting untuk menjaga kualitas air tetap baik. M dan Andi Tamsil. juga harus memenuhi persyaratan-persyaratan kualitas airnya. Pengelolaan Air Lokasi budidaya yang ideal. dapat juga dilakukan penggelontoran pada bak induk.

Selain itu. Gejala yang timbul saat induk kerapu tikus terkena Argulus adalah nafsu makan menurun.00 WIB pipa outlet dipasang seluruhnya. Sirkulasi dengan cara ini dapat mengganti air sebanyak 200 – 300 % dari total volume bak. C. pukul 16. Penyakit yang umumnya menyerang induk kerapu tikus disebabkan oleh trematoda. Pencegahan Hama dan Penyakit Permasalahan penyakit yang paling banyak pada ikan bersirip (finfish) dijumpai pada budidaya ikan kerapu. bakteri. ikan akan cenderung mengosok-gosokan tubuhnya ke dinding bak dan berenang di permukaan air dengan tingkah laku bernafas dengan cepat dengan tutup insang . serta produksi lendir meningkat. V anguillarum dan V fuscus. Jenis parasit yang sering menyerang adalah Argulus sp. Penggelontoran bak induk dilakukan setiap 4 – 6 hari sekali atau disesuaikan dengan kondisi bak. Setelah dilakukan penggelontoran atau hanya menurunkan air hingga 30 %. 2009). protozoa. pipa outlet dipasang setengahnya. diantaranya adalah penyakit borok pangkal sirip ekor dan penyakit mulut merah. yaitu Vibrio alginolyticus. V algosus. warna kulit pucat. Bakteri dan virus menyerang ketika induk terdapat luka. Jenis penyakit bakterial yang ditemukan pada ikan kerapu. Pada sore hari.outlet sehingga keluar bersama dengan air. Hasil isolasi dan identifikasi bakteri ditemukan beberapa jenis bakteri yang diduga berkaitan erat dengan kasus penyakit bakterial. dan virus.00 – 17. Virus yang sering menyerang adalah VNN (Viral Nervous Necrosis). jamur. Diantara jenis bakteri tersebut bakteri V alginolyticus dan V fuscus merupakan jenis yang sangat patogen pada ikan kerapu tikus (Salim.

Larutan yang biasa digunakan adalah Furazolidone karena tingkat efektifitasnya paling tinggi. Hal ini sependapat dengan Anonim (2010) yang menyatakan bahwa kematangan kelamin induk jantan ikan kerapu diketahui dengan cara mengurut bagian perut ikan (stripping) ke arah awal sperma yang keluar warna putih susu dan jumlahnya banyak diamati untuk menentukan kualitasnya.terbuka. Pengendalian penyakit ini adalah dengan merendam induk dalam salah satu larutan ini yaitu Arciflavin (1–2 ppm selama 2 jam)..3–0. Bakteri yang menyerang induk kerapu disebabkan oleh bakteri Vibrio sp. prefuran (0. Bakteri ini menyebabkan kerusakan pada sirip ikan. Pengukuran sampling tingkat kematangan gonad dapat dilakukan dengan teknik kanulasi pada induk betina. dan hidrogen peroksida (1–2 ppm selama 2 jam). Sedangkan pada ikan jantan dapat dilakukan stripping/diurut hingga mengeluarkan sperma. Induk jantan terlihat lebih cerah dan alat kelaminnya menjadi kemerah-merahan. D.5 ppm selama 2 jam). Kemudian kekentalan dan pergerakkan sperma diamati. Pengendalian penyakit ini dilakukan dengan cara merendam induk kerapu di dalam air tawar selama 15 menit. Ciri-ciri Induk Matang Gonad Ciri induk kerapu tikus yang akan memijah ditandai dengan berenang vertikal dan induk jantan mengejar induk betina. Furazolidone (10–15 ppm selama 2 jam). Kematangannya . Biasanya sebelum memijah nafsu makan induk menurun. Induk betina perutnya terlihat lebih besar terutama setengah bagian belakang. Telur yang diambil menggunakan kateter diukur diameter telurnya.

Manipulasi ini mengikuti keadaan pasang surut di alam sehingga ikan akan terangsang untuk melakukan pemijahan. .3 Pemijahan Metode pemijahan induk kerapu tikus yang dilakukan di BBAP Situbondo dilakukan dengan dua cara. A. Telur yang diperoleh diamati untuk mengetahui tingkat kematangannya. Pemijahan Alami Metode pemijahan alami (nature spawning) dilakukan dengan cara memanipulasi lingkungan dengan menurunkan ketinggian air dalam bak pemeliharaan induk sampai ± 100 cm dan dibiarkan selama 5 – 7 jam. yaitu pemijahan alami dan pemijahan dengan rangsangan hormon. Perlakuan ini dapat menaikkan suhu air pada bak pemijahan sekitar 1 – 3 0C.000 – 300. Pemijahan ikan kerapu biasanya terjadi pada bulan gelap (antara tanggal 6– 17). et al (2005) satu induk betina dapat menghasilkan telur rata-rata 200.000 butir telur pada ukuran 3-4 kg.3. Menurut Cholik. Telur yang mengapung akan mengikuti arus ke pembuangan atas dan ditampung di dalam egg collector. 4. 2010).kelamin induk betina diketahui dengan cara kanulasi. garis tengah (diameter) telur diatas 450 mikron. Proses pemijahan ikan kerapu diawali dengan induk betina mengeluarkan telur kemudian disusul induk jantan yang mengeluarkan sperma sehingga terjadi pembuahan. kemudian dihisap. yaitu memasukkan selang plastik ke dalam lubang kelamin ikan.00 – 02. (Anonim. Induk kerapu tergolong ikan yang melakukan pemijahan sepanjang tahun.00 WIB. Pemijahan terjadi pada malam hari antara pukul 22.

Hal ini sependapat dengan Anonim (2010) yang menyatakan bahwa Metode yang digunakan adalah manipulasi lingkungan. Pemijahan mengikuti fase peredaran bulan. yaitu dengan rangsangan atau kejutan faktor-faktor lingkungan seperti suhu. pemijahan dengan rangsangan hormon dilakukan karena kondisi lingkungan tidak memungkinkan untuk proses . Pengamatan pemijahan ikan dilakukan setiap hari setelah senja sampai malam hari.00 sampai jam 14. Teknik pemijahan dengan manipulasi lingkungan ini dikembangkan berdasarkan pemijahan ikan kerapu di alam. Hasil pengamatan di lapangan. B. kedalaman air dan lain-lain. Rangsangan hormonal induk kerapu matang kelamin disuntik dengan hormon Human Chorionic Gonadotropin (HCG) dan Puberogen untuk merangsang terjadinya pemijahan.00 WIB.24. Mulai jam 09. Manipulasi lingkungan dilakukan menjelang bulan gelap yaitu dengan cara menaikkan dan menurunkan permukaan/tinggi air setiap hari. kadar garam. Pemijahan dengan Rangsangan Hormon Induk kerapu matang kelamin dipindahkan ke bak pemijahan yang sebelumnya telah diisi air laut bersih dengan ketingian 1.00 permukaan air diturunkan sampai kedalaman 40 cm dari dasar bak. pada saat bulan terang atau bulan gelap. Pemijahan umumnya terjadi pada malam hari antara jam 22.5 m). Setelah jam 14.5 m dan salinitas + 32 ‰.00 permukaan air dikembangkan ke possisi semula (tinggi air 1.00 . Perlakuan ini dilakukan terus menerus sampai induk memijah secara alami. Untuk merangsang terjadinya perkawinan antara jantan dengan induk betina matang kelamin digunakan metoda manipulasi lingkungan di bak terkontrol.

4. Penyuntikan dilakukan pada pagi hari. terbuat dari beton. satu hari sebelum larva dimasukkan dengan maksud agar suhu badan stabil berkisar antara 27 .kematangn gonad dan pemijahan. Hormon yang digunakan untuk pemijahan metode ini dengan menggunakan hormon HCG (Human Chrionic Gonadotropin).3. perlu dipersiapkan dahulu dengan cara dibersihkan dan dicuci hamakan memakai larutan chlorine (Na OCI) 50 . 2010) bak yang dipergunakan untuk penetasan telur sekaligus juga merupakan bak pemeliharaan larva.4 Pemanenan Telur Menurut (Anonim. berbentuk empat persegi panjang dengan ukuran 4 x 1 x 1 m³ .5 ppm acriflavin untuk mencegah serang bakteri.28°C. Setelah itu dinetralkan dengan penambahan larutan Natrium thiosulfat sampai bau yang ditimbulkan oleh chlorine hilang. Telur hasil pemijahan dikumpulkan dengan sistim air mengalir.4 mm yang berarti induk telah mencapai tingkat kematangan gonad dan siap untuk dikawinkan. Induk ikan dibius. Penyuntikan dilakukan pada induk ikan yang diameter oocyte (bulatan telur) mencapai 0. . Penyuntikan dilakukan dengan dosis 250 dan 50 IU per kilogram bobot badan. Tiga hari sebelum bak penetasan/bak pemeliharaan larva digunakan. Air laut dengan kadar garam 32 ‰ dimasukkan ke dalam bak. Sebelum telur ditetaskan perlu direndam dalam larutan 1 . Telur yang dibuahi akan mengapung dipermukaan air dan berwarna jernih (transparan).100 ppm. kemudian disuntik pada bagian punggung dibawah duri ketiga atau pada bagian dibawah sirip dada terutama untuk induk yang berukuran besar dan membutuhkan hormon yang lebih banyak.

Telur yang buruk dan tidak terbuahi akan mengendap di dasar dan bewarna putih keruh (Cholik. 2005). dengan pemberian arus maka telur yang melayang akan ikut terbawa arus air menuju penampungan atas.5 m untuk dihitung. sedangkan telur yang digunakan adalah telur yang melayang. telur mengendap yang terdapat di dalam akuarium disipon dan dibuang. Setelah itu.Hasil pengamatan di lapangan telur ikan kerapu bersifat melayang di atas permukaan air. Telur yang baik dan terbuahi akan melayang di permukaan dan berwarna transparan. Pemanenan telur dilakukan pada pagi hari antara pukul 06.5 m x 0. penghitungan telur seperti ini dikenal sebagai metode penghitungan telur secara kering.. telur tersebut ditampung sementara di dalam ember. Satu sendok tersebut dapat menampung sebanyak 25000 butir telur. Di ujung pipa pembuangan atas tersebut dipasang bak penampungan telur atau yang disebut pengumpul telur (egg collector). lalu ditampung kembali di akuarium berukuran 0. et al. Setelah jumlah telur diketahui. maka telur telah dapat ditebar ke tiap pembenihan yang ada di BBAP Situbondo maupun dijual dan didistribusikan ke . Perhitungan telur dilakukan dengan menggunakan alat sampling yang berbentuk sendok dengan ujungn berbentuk seperti setengah bola pimpong yang dapat dilihat pada gambar 3. Telur ikan yang telah terkumpul di egg collector dipanen dengan menggunakan saringan yang bermata jaring 300 µm. Egg collector terbuat dari saringan 40 mikron dengan ukuran 135 cm x 80 cm x 80 cm. Telur yang akan dibagi ke unit pembenihan merupakan telur yang baik.00 – 07.00 WIB.5 m x 0. Pemindahan telur dari akuarium menuju ember dilakukan dengan cara penyiponan.

000 12 Agustus 2010 350.000 11 Agustus 2010 450. 100. Setiap bak dilengkapi dengan saluran inlet dan outlet yang terbuat dari pipa PVC.000 butir telur per 9 ton yang diambil pada saat panen telur tanggal 8 agustus 2010. Jumlah Telur Kerapu Tikus di BBAP Situbondo (Bulan Agustus 2010) Tanggal Jumlah Telur (butir) 7 Agustus 2010 75. Pada saat pemanenan telur.000 Total 3.5 inchi.25 m dengan kapasitas air 10 m3.3. Saluran inlet di setiap bak terdapat 2 buah yaitu saluran pemasukan Chlorella sp dengan ukuran pipa 3/4 inchi dan saluran pemasukan air laut dengan ukuran pipa 2 inchi. tebar telur untuk pembenihan sebanyak 150.000 17 Agustus 2010 150.000 10 Agustus 2010 275.000 butir telur per 9 ton pada tanggal 11 agustus 2010. sedangkan untuk pipa saluran outlet adalah 3.000 8 Agustus 2010 150.000 butir telur per 9 ton pada tanggal 9 agustus 2010.000 13 Agustus 2010 450.000.000 9 Agustus 2010 200.pembeli.000 4.5. 100. Persiapan Wadah Wadah penetasan telur yang terdapat di Unit Pembenihan Timur BBAP Situbondo yaitu berupa bak beton berbentuk persegi panjang sebanyak 6 buah.000 14 Agustus 2010 1.000 butir telur per 9 ton pada tanggal 10 agustus 2010 dan 100.5 Penetasan Telur A. Tabel 5. Masing-masing bak tersebut memiliki dimensi 5x2x1. Harga tiap butir telur kerapu tikus adalah Rp 1. Data hasil telur selama pemijahan di bulan Agustus dapat dilihat pada tabel 6.200. .000 15 Agustus 2010 16 Agustus 2010 100.

100 ppm. batu dan pemberat aerasi diletakkan di bagin dasar bak. Hal ini sependapat dengan Anonim (2010) yang menyatakan bahwa tiga hari sebelum bak penetasan/bak pemeliharaan larva digunakan. satu hari sebelum larva dimasukkan dengan maksud agar suhu badan stabil berkisar antara 27 . Bak yang telah dibersihkan lalu dikeringkan selama 1-2 hari. Hal ini bertujuan untuk menyaring kotoran (pasir dan partikel tanah yang halus) agar tidak ikut terbawa ke dalam media lalu air tersebut ditreatment menggunakan larutan formalin dengan dosis 20 ppm dan diaerasi kuat selama 24 jam selanjutnya air dapat digunakan untuk penebaran telur.Wadah yang akan digunakan untuk penetasan terlebih dahulu didesinfeksi dengan menggunakan larutan klorin 15 ppm dan dibiakan selama 1-2 hari. Aerai yang digunakan untuk menyuplai oksigen dalam bak penetasan telur berjumlah 11 titik aerasi yang dilengkapi engan selang aerasi. Telur hasil pemijahan dikumpulkan dengan sistim air mengalir. Setelah itu bak diisi air laut sebanyak 9 m3 melalui saluran inlet air laut yang telah diberi filter bag (50 mikron). bak dicuci kembali dengan detergen untuk menghilangkan sisa klorin yang menempel pada dinding dan dasar bak lalu bak dibilas dengan menggunakan air tawar hingga bersih dan bau klorin hilang. Apabila telur menetas aerasi dikecilkan karena larva masih bersifat planktonik yaitu bergerak dengan mengikuti pergerakan air. perlu dipersiapkan dahulu dengan cara dibersihkan dan dicuci hamakan memakai larutan chlorine (Na OCI) 50 . Telur yang . Air laut dengan kadar garam 32 ‰ dimasukkan ke dalam bak. Setelah itu dinetralkan dengan penambahan larutan Natrium thiosulfat sampai bau yang ditimbulkan oleh chlorine hilang.28°C. Setelah itu.

000 sel/ml untuk menjaga kualitas air. Sebelum telur ditetaskan perlu direndam dalam larutan 1 .00-09. Hal ini dilakukan karena larva yang . Telur kerapu tikus akan menetas dalam kisaran waktu antara 17-19 jam setelah pembuahan. Dari hasil di lapangan penebaran telur dilakukan secara merata ke dalam bak penetasan telur yang telah dipersiapkan sebelumnya. Ke dalam bak penetasan perlu ditambahkan Chlorella sp sebanyak 50.200. Suhu optimum untuk penetasan telur ikan kerapu yaitu antara 27-31oC. Dari jumlah diperkirakan hanya 30% saja yang dibuahi (Suria D. Penebaran biasanya dilakukan pada pagi hari yaitu antara 08.32 ‰. Telur yang telah dibuahi berjumlah lebih kurang 1. media penetasan diberi erasi kecil yang bertujuan agar suplai oksigen tetap terpenuhi serta agar telur tidak mengalami guncangan kuat yang dapat menyebabkan gangguan fisik pada telur.000 100.60 butir/liter air media. Telur yang telah dibuahi tidak berwarna (transparan) sedangkan yang tidak dibuahi dan yang mati berwarna putih susu.00 WIB. Untuk padat penebaran telur saat penulis melakukan PKL yaitu sebesar 112. B. Saat proses penetasan.500 butir per bak dengan kapasitas air dalam bak sebanyak 9 m3 dan dengan derajat penetasan (HR) 44 %. pada D1 media diberi aerasi kecil. Penebaran dan Penetasan Telur Padat penebaran telur di Bak Penetasan berkisar 20 .dibuahi akan mengapung dipermukaan air dan berwarna jernih (transparan).5 ppm acriflavin untuk mencegah serang bakteri.000 butir.28°C dan kadar garam 30 . Telur akan menetas dalam waktu 18 22 jam setelah pemijahan pada suhu 27 . setelah larva menetas. 2002).

4. 3. Larva yang berhasil menetas dihitung satu persatu dalam gelas beaker tersebut. 2.5 inchi dengan panjang 150 cm. bagian atas pipa ditutup dengan tangan. Biasanya sampling larva dilakukan pada pagi hari yaitu pada pukul 06.baru menetas masih bersifat planktonik yaitu larva bergerak dengan mengikuti pergerakan dan arus air. C. Proses tersebut dilakuka di lima titik sampel Setelah dilakukan sampling. Perhitungan Derajat Penetasan (Hatching Rate) Perhitungan derajat penetasan (Hatching Rate) dilakukan pada saat larva berumur satu hari (D1) dengan metode sampling. Larva umur D1 diambil dengan menggunakan pipa paralon berdiameter 1. maka Hatching Rate (HR) dapat dihitung dengan menggunakan rumus : . Cara menghitung HR adalah: 1. 5. Setelah dimasukkan ke dalam air berketinggian 80 cm. Sebelum melakukn sampling.00-07. dasar bak disipon secara perlahan dan hati-hati untuk membuang telur yang tidak menetas. Pipa tersebut lalu diangkat dan air di dalam paralon segera dimasukkan ke dalam gelas ukur bervolume 250 ml.00 WIB karena pada pagi hari larva yang bersifat fotoaksis positif akan bergerak menyebar mencari matahari.

6 Pemeliharaan Larva dan Benih A.000 butir 33% 46% 52% 45% 4.000 butir 2 9 Agustus 2010 100.Berikut ini adalah data HR pembenihan timur setelah beberapa kali dilakukan penebaran telur.000 butir 6 11 Agustus 2010 100. Untuk mencegah hal tersebut D1-D10 diberi minyak cumi sebanyak 0. aerasi diatur agak kecil karena larva bersifat planktonik (melayang di permukaan air dan bergerak mengikuti pergerakan arus air).00 WIB. Data Hatching Rate HR Ikan Kerapu Tikus di Pembenihan Timur Nomor Bak Tanggal Tebar Telur Pada Tebar Telur HR 1 8 Agustus 2010 150.000 butir 4 10 Agustus 2010 100. Tabel 6. Pemberian minyak cumi dilakukan dalam sehari sebanyak dua kali yaitu pada hari pukul 06.1 ml/m2 atau 3-5 tetes disetiap titik aerasi agar larva tidak naik ke permukaan air.3. larva telah diberi pakan alami berupa chlorella dan rotifer. Hal ini dilakukan untuk mengurangi stress pada larva akibat proses pemindahan dan perubahan lingkungan yang baru. Pada saat larva berumur 1 hari (D1).00 WIB dan sore hari pada pukul 16. Pada saat larva berumur D3. Persiapan Wadah Wadah atau bak yang digunakan untuk pemeliharaan larva sama dengan bak yang digunakan untuk penetasan telur sehinga tidak dilakukan penebaran larva. .

Hal ini sependapat dengan Anonim (2010) uang menyatakan bahwa larva kerapu yang baru menetas mempunyai cadangan makanan berupa kuning telur. Pakan ini akan dimanfaatkan sampai hari ke 2 (D2) setelah menetas dan selama kurun waktu tersebut larva tidak memerlukan dari luar. Umur 3 hari (D3) kuning telur mulai terserap habis, perlu segera diberi pakan dari luar berupa Rotifera Brachionus Plicatilis dengan kepadatan 1 - 3 ekor/ml. Disamping itu ditambahkan pula Phytoplankton chlorella sp dengan kepadatan antara 5.10-10 sel/ml. Pemberian pakan ini sampai larva berumur 16 hari (D16) dengan penambahan secara bertahap hingga mencapai kepadatan 5 - 10 ekor/ml plytoplankton 10 2.10 sel/ml media. Pada hari kesembilan (D9) mulai diberi pakan naupli artemia yang baru menetas dengan kepadatan 0,25 - 0,75 ekor/ml media. Pemberian pakan naupli artemia ini dilakukan sampai larva berumur 25 hari (D25) dengan peningkatan kepadatan hingga mencapai 2 - 5 ekor/ml media. Disamping itu pada hari ke tujuh belas (D17) larva mulai diberi pakan Artemia yang telah berumur 1 hari, kemudian secara bertahap pakan yang diberikan diubah dari Artemia umur 1 hari ke Artemia setengah dewasa dan akhirnya dewasa sampai larva berumur 50 hari.

B. Perkembangan Larva Berikut merupakan perkembangan larva hingga mencapai juvenil :

a

b

c

d

e

f

gambar 2. Perkembangan larva ikan kerapu tikus a) D-0 Telur dalam masa perkembangan hingga menetas dengan panjang

tubuh 1,69 – 1,79 mm. b) D-1 Saluran pencernaan sudah mulai terlihat, akan tetapi mulut dan

anus masih tertutup, pakan yang dimakan masih mengandalkan kuning telur (yolk sac) c) D-2 Cadangan makanan pada beberapa ikan sudah mulai habis

sehingga larva membutuhkan pakan dari luar yaitu rotifera (Branchionus plicitalis). d) D-8 Bakal sirip punggung dari perut sudah mulai tampak berupa

tonjolan e) D-10 Tonjolan tersebut sudah terlihat panjang dan berbentuk spina. Pertambahan panjang spina ini berlanjut hingga D-21 f) D21 – D25 Terjadi metamorfosis, spina tereduksi menjadi duri keras

pertama pada sirip punggung dan sirip perut pada kerapu muda.

Hal ini sependapat dengan Akbar dan Syamsul (2001) yang menyatakan bahwa perkembangan larva hingga mencapai juvenil : a) D-0 Telur dalam masa perkembangan hingga menetas dengan panjang

tubuh 1,69 – 1,79 mm.

b) D-1

Saluran pencernaan sudah mulai terlihat, akan tetapi mulut dan

anus masih tertutup, pakan yang dimakan masih mengandalkan kuning telur (yolk sac) c) D-2 Cadangan makanan pada beberapa ikan sudah mulai habis

sehingga larva membutuhkan pakan dari luar yaitu rotifera (Branchionus plicitalis). d) D-8 Bakal sirip punggung dari perut sudah mulai tampak berupa

tonjolan e) D-10 Tonjolan tersebut sudah terlihat panjang dan berbentuk spina. Pertambahan panjang spina ini berlanjut hingga D-21 f) D21 – D25 Terjadi metamorfosis, spina tereduksi menjadi duri keras

pertama pada sirip punggung dan sirip perut pada kerapu muda. g) D-25 Mulai muncul bintik hitam dan itu akan merata di sekujur tubuh

ikan hingga pertumbuhan D-45. h) D-45 Larva telah berubah sempurna menjadi juvenil dan siap untuk

dijual (ukuran 2,7 – 5 cm)

4.3.7 Kualitas Air Lokasi budidaya yang ideal, selain pertimbangan umum di atas, juga harus memenuhi persyaratan-persyaratan kualitas airnya. Faktor kualitas air yang perlu dipertimbangkan untuk pemeliharaan pembenihan Kerapu tikus meliputi sifat fisika : Suhu dan Kecerahan, dan kimia meliputi : pH, DO dan Salinitas. Pemenuhan akan kebutuhan air harus diupayakan agar produksi benih ikan laut yang berkualitas, dalam jumlah yang cukup, dan kontunu dapat berhasil (Ghufran, M dan Andi Tamsil. 2010). Pengelolaan kualitas air di BBAP Situbondo dilakukan dengan pergantian air dan penyiponan. Penambahan air dimulai ketika larva berumur 8 hari (D8).

Tabel 7.3.8 Pakan Hasil pengamatan di lapangan memperlihatkan bahwa larva kerapu tikus D1 masih transparan. sumber air yang diganti tidak lagi berasal dari tandon. Setelah bersih.01 . terlebih dahulu dilakukan penyiponan. Data kualitas air dapat dilihat pada tabel 7. Penggunaan air tandon dimaksudkan untuk menggunakan air yang bebas dari penyakit dan kualitas air yang lebih baik daripada menggunakan air laut yang langsung diambil dari laut.8-8. namum berasal dari air laut yang langsung disedot menggunakan pompa. Data Kualitas Air Pemeliharaan Larva Kerapu Tikus Pembenihan Timur BBAP Situbondo No 1 2 3 4 5 6 4.Sebelum dilakukan pergantian air.3 31-33 >5 <1 < 0.500 L untuk menjaga kualitas air pada wadah pemeliharaan tetap prima. Larva D1 belum membutuhkan pakan dari luar (exogenous feeding) karena masih memiliki cadangan makanan dari dalam (endogenous Parameter Suhu pH Salinitas Oksigen Terlarut(DO) Nitrit Amoniak Satuan o C ppt ppm ppm ppm Kisaran 30-31 7.000 L kemudian ditambah air dilakukan hingga 9. Air yang digunakan untuk penambahan air berasal dari tandon yang sebelumnya didesinfeksi terlebih dahulu dengan formalin 10-30 ppm dan diareasi kuat minimal selama 12 jam. Pada larva yang berumur 45 hari. air dikurangi hingga bersisa 8. Pada larva berumur 25 hari (D25) diganti sebanyak 3 m3 dan pada larva yang berumur lebih dari 45 hari pergantian air dilakukan secara terus menerus. Penyiponan dilakukan untuk membersihkan kotoran-kotoran yang berada di dasar.

Sedangkan pakan buatan yang diberikan adalah Nosan R-1.feeding) yang berupa kuning telur.000 sel/ml atau .) A. Larva yang sudah berumur dua hari (D2) sudah diberi Nannochloropsis sp. Otohime B2. Otohime B1.1 Nannochloropsis sp Selama kuning telur larva masih ada.). Maka dari itu. Pemberian Pakan Alami A.. Tujuan dari pemberian Nannochloropsis sp ini adalah untuk menjaga keseimbangan kualitas air dan Nannochloropsis sp juga merupakan pakan untuk rotifera (Branchionus sp. naupli Artemia sp. Pakan alami yang diberikan adalah Nannochloropsis sp. Selain Nannochloropsis sp. larva sudah mulai diberi Nannochloropsis sp. Larva D1-D10 sangat peka terhadap cahaya sehingga cenderung untuk naik ke permukaan air. larva kerapu tikus belum mau untuk mengambil makanan dari luar. Pemberian Nannochloropsis sp disalurkan langsung dari bak kultur massal menggunakan pompa celup melalui pipa paralon ¾ inchi yang pada bagian ujungnya diberi saringan 200 µm untuk mencegah masuknya kotoran yang terbawa dari kultur massal Nannochloropsis sp. Otohime C1 dan Otohime C2. larva D2 juga diberikan rotifer di sore hari dengan dosis 3-5 ind/ml. Nannochloropsis sp harus dicek terlebih dahulu kepadatannya. Sebelum diberikan. sejak larva berumur D2. Jenis pakan yang diberikan kepada larva kerapu tikus ada dua macam yakni pakan alami (live feed) dan pakan buatan (artificial feed). Rotofier.000-100. biasanya kepadatan Nannochloropsis sp yang ditebar berkisar 50. rotifera (Branchionus sp. dan udang rebon (jambret).

dalam hal ini adalah dimana dengan melihat pertumbuhan ikan yang lambat masih membutuhkan rotifer sebagai pakannya. A.2 Rotifera (Branchionus plicatilis) Pemberian rotifer pada saat di lapangan diberi pada larva berumur D3-D35 dan juga dengan melihat kondisi ikan.100-150 liter/bak pemeliharaan larva. Setelah itu. rotifer yang akan diberikan dilakukan pengkayaan terlebih dehulu menggunakan Scout’. Pemberian Nannochloropsis sp dihentikan pada saat larva berumur D30 atau dengan melihat kondisi larva. tetapi secara teknis siste atermia dapat diproduksi secara massal dalam tempat (wadah) yang . Pemberian Nannochloropsis sp berfungsi sebagai Greeen Water Sistem atau sebagai keseimbangan media untuk mengatur kecerahan air dan juga untuk pakan rotifer. banyaknya pemberian rotifer tergantung dari kepadatan rotifer maka dilakukan pengecekan setiap hari menggunakan gelas piala. rotifer dapat diberikan pada larva.00 WIB dengan kepadatan 3-5 individu/ml. Nannochloropsis sp biasanya diberikan sebanyak 1 kali dalam satu hari yaitu pada pagi hari. namun.3 Artemia sp. Hal ini bertujuan untuk memperbaiki kandungn nutrisi rotifer dan meningkatkan daya tahan tubuh larva dan benih terhadap penyakit.s Emulsion sebanyak 10 ml (satu tutup botol Scoutt’s Emulsion) dalam 20 L air dan 0. A. Rotifer diberikan dengan menggunakan gayung dan disebarkan pada setiap titik aerasi. Pemberian rotifer hanya dilakukan sekali dalam sehari yaitu pada pukul 09. Sebelumnya. Meskipun secara ekonomis kurang menguntungkan.5 gram taurin dan dibiarkan selama 2 jam.

Siste artemia tersebut diaduk dengan cepat. 2. Abbas. Tahap no 2 dan 3 diulangi sampai warna siste berubah menjadi oranye ataupun tergantung dari produk sistenya. 3. 13. Proses dekapsulasi dilakukan dengan cara sebagai berikut: 1.00 WIB. Jaga suhu di bawah 40 0C. 5. . Setelah terjadi perubahan warna. Untuk tujuan ini dilakukan dengan memanipulasi lingkungan hidupnya agar artemia terpaksa melangsungkan perkembangbiakan secara ovipar uang menghasilkan telur (Siregar. 6. 1995). Proses dekapsulasi tersebut memakan waktu antara 5 – 15 menit. Pemberian Naupli artemia di BBAP Situbondo pada saat berumur D18 atau tergantung bukaan mulut larva. Siste disaring dan ditambah air tawar. segera disaring dan dibilas dengan air tawar sampai bersih dan tidak ada bau klorin. kemudian di tambahkan klorin sebanyak 250 ml. Siste direndam dalam air tawar selama 5 menit sambil diaduk dengan cepat. Pemberian naupli artemia dilakukan sebanyak tiga kali dalam satu hari yaitu pukul 08. Sebelum diberikan pada larva naupli yang berasal dari siste didekapsulasi terlebih dahulu.00.terkendali. Beberapa butir thiosulfat ditambahkan ke siste yang sebelumnya telah ditambahkan air tawar dan diaduk.00 dan 17. Saring dan bilas dengan air tawar sampai bersih 4.

Pemberian Pakan Buatan Pemberian pakan buatan bagi larva kerapu tikus dilakukan saat larva telah berumur 8 hari. artemia disterilisasi dengan akriflavin sebagai anti ektoparasit.4 Udang Rebon Udang rebon mulai diberikan pada saat ikan kerapu menjelang lepas sensor sampai awal lepas sensor (D25 sampai D45). Awal pemberian dilakukan dengan mencairkan pakan untuk . siste artemia tersebut ditetaskan sesuai dengan kebutuhan larva. B. A. Udang ini berfungsi sebagai pakan selingan.7. pertahankan suhu kisaran 25 – 30 0C dan pH 8 – 9. artemia disterilisasi dengan akriflavin sebagai anti ektoparasit. Siste disaring dan dibiarkan mengering sejenak dan masukkan ke dalam kantong plastik untuk disimpan pada suhu dingin selama maksimal 1 minggu Setelah didekapsulasi. naupli artemia siap diberikan ke larva. Cara penetasannya adalah wadah plastik diisi dengan air dan diaerasi kuat. Sebelum diberikan ke larva. Sebelum diberikan ke larva. Setelah itu. Setelah itu artemia disipon menggunakan selang dan ditampung di dalam saringan 300 µm. Penetasan siste yang didekapsulasi memerlukan waktu antara 18 – 30 jam pada air laut. Setelah itu. Jumlah pemberian pakan rebon secara at satiation (sekenyangnya). satu bungkus artemia yang telah didekapsulasi dimasukkan ke dalam air tersebut. Untuk hasil optimum. Panen dimulai dengan cara menghentikan aerasi dan tunggu selama 15 menit agar telur-telur artemia mengendap.

Tahapan Pemberian Pakan Buatan bagi Larva Kerapu Tikus Stadia larva Jumlah pakan yang diberikan 8 D8-D17 gram/pemberian 2 kali µm) Frekuensi pemberian Merek pakan Gambar (ukuran pakan) Nosan R-1 (20–50 D18D20 8 3 kali gram/pemberian Rotifier (50 – 100 µm) D21D30 10 3 kali gram/pemberian Otohime B1 (200 – 300 µm) D31D45 15 3 kali gram/pemberian Otohime B2 (300 – 600 µm) 15 >D50 gram/pemberian 4-6 kali EP-1 C. Pakan alami .weaning pakan bagi larva. Rotifera (Branchionus sp) dan Artemia sp. Data mengenai pemberian pakan buatan dapat dilihat pada tabel 8. Tabel 8. kultur pakan alami Pakan alami yang digunakan selama pemeliharaan larva dan benih ikan kerapu bebek baik fitoplankton maupun zooplankton di BBAP Situbondo yaitu Nannochloropsis sp.

K dan Mg sebagai unsure hara makro serta unsure hara mikro Fe. Air laut tersebut kemudian dimasukkan kedalam botol-botol yang telah disiapkan. C. Salinitas air laut yang diharapkan adalah 25-28 ppt. S dan sebagainya. dengan mengatur rasio N/P supaya Nannochloropsis sp dapat mendominasi yang lainnya. Setelah media siap bibit plankton dimsukkan 1/3 bagian dan siap dipanen 5-6 hari (Edhy W dkk. Kultur Nannochloropsis sp skala massal dilakukan pada ruangan terbuka (outdoor) dengan ukuran wadah 5x3x1. selanjutnya ditambah pupuk cair sebanyak 1 ml/lt.1 Kultur Nannochloropsis sp Membudidaya Nannochloropsis sp dapat diambil langsung dari tambak budidaya. Kultur pakan alami bertujuan untuk menjamin ketersediaan pakan alami secara berkesinambungan sesuai kebutuhan dalam larva dan benih ikan kerapu tikus. 2003). Zn. pupuk yang digunakan harus mengandung unsur hara yang dibutuhkan seperti N. Setelah itu.5 liter-1 liter air yang akan disiapkan sebagai media tumbuh plankton sebelumnya disterilkan terlebih dahulu dengan menggunakan klorine kemudian air laut di biarkan selama 3-5 hari sampai residu klorine hilang. Persiapan wadah dilakukan dengan cara menyikat dasar dan dinding wadah kemudian wadah diisi air laut sebanyak 15 m3.5 m (gambar) dengan kapasitas volume air maksimal sebesar 18 m3. media disterilisasi dengan menggunakan kaporit 10 ppm dan didiamkan selama 2 . S. P. Budidaya plankton dilakukan pada botol dengan volume 0. Mn.sangat penting peranannya bagi larva dan benih sebagai sumber makanan dengan kandungan nutrisi yang sangat tinggi.

jam dan diberi aerasi kuat. Abbas (1995). betina memproduksi 20 butir telur atau lebih selama 7-10 hari masa hidupnya. Pemupukan dilakukan setelah bibit masuk ke dalam media. kepala. dimana umur Nannochloropsis sp telah mencapai 5-7 hari dengan kepadatan 1-5 juta sel/ml. Kultur missal rotifera dilakukan pada bak volume 5-12 m3. badan.2 Kultur Rotifera Organisme rotifer berbentuk simetris bilateral manyerupai piala. dilakukan pembibitan dengan cara mengalirkan Nannochloropsis sp sebanyak 20 % dari total volume air yang ada dalam bak dengan menggunakan pompa celup. Kultur dilakukan dalam ruang terbuka yang cukup mendapatkan cahaya matahari. dan TSP 20 ppm. Siregar. Pemberian pupuk dilakukan dengan cara dilarutkan dalam 10 liter air laut lalu disebar merata dalam bak kultur. dan kaki / ekor. Pada kondisi normal. C. kemudian media dinetralkan dengan menggunakan natrium thiosulfat (Na2S2O3) ≤ 5 ppm. ZA 30 ppm. Branchionus memiliki kecepatan pertumbuhan dan reproduksi tinggi. Pupuk yang digunakan terdiri dari Urea 40 ppm. Setelah 12 jam. Tubuh yaitu. Chlorella sp dapat dipanen setelah berumur 5-7 hari dengan cara disedot menggunakan pompa celup lalu dialirkan langsung kedalam bak rotifer dan unit pembenihan melalui pipa PVC ukuran 3/4 inchi. Bibit yang digunakan berasal dari skala intermediet atau dari bak kultur skala massal lainnya. Secara umum dikenal 2 metode kultur rotifera yaitu metode panen harian lebih praktis dan . Rotifer merupakan salah satu jenis rotifer yang biasa diproduksi secara massal.

3. Pemanenan dilakukan setiap hari pada bak kultur yang sama dan dapat berlangsung selama 3-4 minggu. Keesokan harinya. namun rotifera yang dihasilkan dari metode transfer lebih bersih. bak diisi dengan Chlorella sp untuk pakan rotifera sebanyak 2-3 m3 yang telah berumur 5-7 hari kemudiam bak ditambahkan dengan air laut dengan volume yang sama (perbandingan 1:1). Persiapan wadah dilakukan dengan cara menyikat dasar dan dinding bak hingga bersih dan dikeringkan hingga keesokan harinya.5 m dengan kapasitas maksimal 12 m3. Namun. Kepadatan rotifer akan mencapai puncak pada hari ke 4-7 dengan kepadatan 150-250 individu/ml. bibit rotifer ditebar dengan kepadatan 30-40 individu/ml yang diperoleh dari bak kultur rotifer yang lainnya yang siap panen atau dari kultur skala intermediet. 4. Rotifer yang telah dipanen dapat langsung diberikan ke larva.9 Pengendalian dan Pencegahan Hama dan Penyakit . Kultur rotifer di BBAP Situbondo dilakukan skala massal dalam bak beton yang berukuran 5x2x1. kepadatan kultur massal dapat dilihat dari kondisi perairan yang bening. Metode pemanenan yang dilakukan adalah metode panen harian. Metode ini dilakukan dengan cara mengalirkan air media kultur dengan menggunakan selang spiral 1 inchi yang bagian ujungnya diberi planktonnet 300 mesh size sebanyak 20-30% dari volume media kultur dan ditampung dalam drum 150 liter yang diberi aerasi.mudah sedangkan pada metode transfer diperlukan bak kultur yang lebih banyak. pengambilan rotifer disaring kembali dapat saringan agar kotoran tidak ikut terbawa. Setelah itu.

Namun. dengan merek dagang Sanolife buatan PT. Diantara jenis bakteri tersebut bakteri V alginolyticus dan V fuscus merupakan jenis yang sangat patogen pada ikan kerapu tikus (Salim. Penggunaan probitiotik diharapkan dapat menekan jumlah bakteri patogen di dalam wadah budidaya. Bakteri yang digunakan sebagai probiotik adalah jenis Bacillus sp. Penggunaan probiotik sekarang sudah banyak digunakan untuk menggantikan peran antibiotik untuk mencegah penyakit yang menyerang larva atau benih. Bakteri patogen membutuhkan jumlah bakteri yang cukup untuk membuat ikan menjadi sakit. pada saat penulis melakukan kegiatan PKL di unit pembenihan timur BBAP Situbondo sempat terjadi kematian massal menyebabkan kematian pada larva atau benih. V algosus. Hasil isolasi dan identifikasi bakteri ditemukan beberapa jenis bakteri yang diduga berkaitan erat dengan kasus penyakit bakterial. yaitu Vibrio alginolyticus. Jenis penyakit bakterial yang ditemukan pada ikan kerapu. Perlakuan untuk pencegahan penyakit pada pembenihan kerapu tikus di BBAP Situbondo dilakukan dengan penggunaan probiotik. V anguillarum dan V fuscus.Permasalahan penyakit yang paling banyak pada ikan bersirip (finfish) dijumpai pada budidaya ikan kerapu. 2009). Kematian massal sering terjadi . Jika jumlah bakteri belum mencukupi untuk membuat ikan menjadi sakit maka ikan atau larva tersebut tidak akan menjadi sakit. diantaranya adalah penyakit borok pangkal sirip ekor dan penyakit mulut merah. Pada saat melaksanakan PKL dalam rangka pencegahan dan pemberantasan hama penyakit. setiap unit pembenihan di BBAP Situbondo memiliki cara dan teknik yang berbeda-beda. INVE.

Setelah ketinggian air mencapai 30 cm benih kerapu dapat dipanen dengan menggunakan keranjang plastik. Produksi. dan penyiponan pada pagi dan sore hari. Juvenil yang telah dipanen dipisahkan berdasarkan ukurannya (grading). Air pada bak pemeliharaan diturunkan secara perlahan sampai tingginya sekitar 30 cm. Grading (pemilihan . Benih dapat dipanen pada umur D60 atau jika ukurannya sudah mencapai ukuran pasar (minat pembeli). proses pemanenan biasanya dilakukan pagi hari belum terlalu tinggi sehingga tidak menyebabkan stress pada benih yang akan dipanen dan digrading. Hal ini bertujuan untuk menyeragamkan ukuran benih yang akan dipasarkan dan juga untuk memisahkan benih yang masuk pasaran karena cacat (abnormalitas). dan Pemasaran 4. dilakukan pergantian air pada pagi dan sore hari. Ukuran pasar benih yang dijual biasanya berkisar antara 2.4 Pemanenan.1 Pemanenan Benih Sebelum dilakukan pemanenan.7-4 cm. biasanya benih di grading terlebih dahulu. sirkulasi air selama 24 jam untuk benih yang sudah berukuran 2-4 cm.pada larva yang diakibatkan oleh kualitas air pada suhu yang sempat turun mencapai 29oC. pakan alami pada Nannochloropsis sp yang sempat kontaminan terhadap rotifera serta penyakit yang disebabkan oleh VNN(Viral Nervous Necrosis).4. pencegahan penyakit dapat dilakukan dengan berbagai cara seperti dilakukannya desinfeksi pada wadah yang akan digunakan. Sehingga dilakukan pencegahan hama penyakit yang rutin dan terkontrol. dilakukan treatment pada air yang akan digunakan. Proses pemanenan dilakukan dengan menggunakan baskom plastik yang dialiri air dari pipa paralon. 4.

Harga benih ikan kerapu memiliki fluktuasi di pasar tingkat produsen di Jawa Timur (Situbondo). bak terkontrol maupun di tambak di dalam maupun di luar negeri sudah banyak dilakukan.500 per sentimeter. Sumatera Selatan. Jawa Timur. Cina. Bali (Gondol) dan Lampung. Taiwan. Dewasa ini. Sifat kanibalisme pada kerapu terjadi pada saat kondisi kekurangan makanan dan perbedaan ukuran. NTB. Ikan yang berukuran lebih besar akan selalu memangsa ikan yang lebih kecil dalam satu wadah pemeliharaan.2 Produksi dan Pemasaran Setelah kerapu tikus telah mencapai ukuran pasar. Sulawesi Selatan. Daerah pemasaran ikan kerapu diantaranya adalah Lampung. Jawa Tengah. NTT. Informasi mengenai permintaan konsumen sangat penting. Irian Jaya. . Lampung. dan lain-lain. Pemasaran merupakan rantai akhir dalam usaha pembenihan ikan kerapu. Singapura.ukuran) merupakan salah satu cara untuk menyeragamkan pertumbuhan dan mengurangi kematian benih pasca lepas sensor akibat sifat kanibal pada ikan kerapu. Kepulauan Riau (Batam). Sumatera Utara. Sulawesi Tenggara. maka ikan tersebut pun akan dipasarkan. BBAP Situbondo menjual dengan harga ikan kerapu tikus seharga Rp 1. Kalimantan Timur. Jawa Barat. Kalimantan Selatan. Kalimantan Barat. Malaysia. pemasaran benih ikan kerapu tikus untuk segala ukuran (3 – 10 cm) dan berapapun jumlahnya tidak terlalu sulit. 4. Sumatera Barat. Hal ini disebabkan karena usaha pembesaran ikan kerapu baik di Karamba Jaring Apung (KJA). Kepulauan Bangka Belitung. sehingga aspek pemasaran tidak boleh dianggap ringan.4. Sulawesi Tengah. Bali.

Selain itu. sehingga perlu penanganan upaya pencegahan seperti pemberian probiotik dan mejaga kualitas air. b. juga digunakan sebagai ikan hias. sehingga perlu penambahan budidaya untuk pemeliharaan induk. Induk masih berasal dari alam sehingga ketersediaan induk terbatas dan tergantung dari tangkapan nelayan. c.4. 11-12 hari.2 Kemungkinan Pengembangan Usaha Kebutuhan dan harga kerapu tikus yang tinggi memberikan potensi tersendiri bagi usaha kerapu jenis ini yang merupakan penyokong untuk usaha budidaya selanjutnya (pendederan dan pembesaran).5. pakan. benih kerapu tikus disamping digunakan dalam pembesaran.1 Masalah yang Dihadapi Permasalahan yang dihadapi dalam pembenihan kerapu tikus selama di Balai Budidaya Air Payau Situbondo adalah : a. Ketersediaan pakan ikan rucah untuk induk yang menyesuaikan musim. .5. sehingga perlu pembuatan pakan buatan untuk indukan. aktivitas penangkapan serta memerlukan fasilitas penyimpanan bersuhu dingin karena kualitasnya mudah menurun dan mudah terkontaminasi dengan mikroba pathogen. dan 21-24 hari baik yang diakibatkan oleh kualitas air.5 Masalah dan Kemungkinan Pengembangan Usaha 4. penyakit maupun kemampuan dalam melewati masa kritis menyebabkan tingkat kelulushidupan larva sangat rendah dan pertumbuhannya lambat serta belum ada tindak lanjut terhadap serangan penyakit. Kematian massal yang sering terjadi pada larva terutama pada umur 3-5 hari (D3-D5). 4.

6 Analisa Usaha Pembenihan Kerapu Tikus (Chromileptes altivelis) Skala Rumah Tangga Analisa usaha dalam produksi benih ikan kerapu tikus dalam 1 siklus.-. menjaga mutu atau kualitas benih yang dihasilkan.815. 4. keuntungan yang diperoleh per siklusya adalah sebesar Rp 51. Diketahui dari hasil perhitungan R/C Ratio >1. yaitu 2. dengan penebaran 112.469.1 maka usaha produksi ikan kerapu tikus tersebut merupakan usaha yang layak dilakukan dan menguntungkan untuk dikembangkan. beberapa hal yang dapat dilakukan adalah : peningkatan kinerja melalui penerapan ilmuatau teknologi yang tepat tentang pembenihan kerapu tikus maupun semangat kerja bagi para staf (peningkatan sumberdaya manusia). perbaikan sarana dan prasarana yang memadai. menjalin kerjasama dengan berbagai pihak terutama dalam kegiatan pemasaran. Biaya tetap yang dibutuhkan untuk usaha pembenihan kerapu tikus sebesar Rp 129. Mengendalikan penangkapan ikan kerapu di alam secar bijaksana.064.9 %.483.Dalam rangka pengembangan usaha dan peningkatan produksi pembenihan.595. Perhitungan analisis usaha pada produksi benih ikan kerapu tikus dapat dilihat pada lampiran 5.340 Per tahun dan biaya variabel yang dibutuhkan sebesar 60. Biaya investasi yang dibutuhkan untuk usaha pembenihan ikan kerapu tikus skala rumah tangga sebesar Rp 215. sehingga terjamin kelestarian sumber daya ikan di laut.500/bak beton berkapasitas 9 ton didapatkan tingkat Survival Rate (SR) mencapai 12.400 per tahun sehingga biaya operasional yang dibutuhkan sebesar 190.900. Perhitungan payback period yaitu dalam pengembalian investasi .733.740 per tahun.

Kepulauan Riau (Batam). Perhitungan BEP produksi benih didapatkan sebesar 9.yang ditanam akan kembali dalam waktu 4 tahun 2. Bali. NTB.599. Kalimantan Barat. Kalimantan Timur. Jawa Barat.4 bulan. Cina.2 ekor yang artinya apabila perusahaan mampu untuk menjual produk yang dihasilkan sebesar 9. Malaysia. BEP harga benih Rp 719/cm artinya bahwa titik impas akan dicapai pada saat harga jual benih Rp 719/cm. Taiwan. Sulawesi Tenggara. Jawa Timur. Sulawesi Selatan. dan lain-lain. Sumatera Utara. Daerah pemasaran ikan kerapu diantaranya adalah Lampung.2 ekor. Sumatera Barat. Kalimantan Selatan. Sulawesi Tengah.599. Hasil perhitungan analisis usaha ini maka dapat diartikan bahwa usaha produksi ikan kerapu skala rumah tangga ini layak untuk di usahakan dan akan menguntungkan apabila usaha ini dikembangkan. Sumatera Selatan. NTT. . Lampung. Kepulauan Bangka Belitung. Jawa Tengah. Singapura. maka kondisi tersebut tercapai titik impas sehingga perusahaan tersebut tidak mengalami untung maupun rugi. Irian Jaya.

Memerlukan fasilitas penyimpanan bersuhu dingin agar kualitas pakan ikan rucah untuk indukan tidak menurun. penebaran telur.1 Kesimpulan 1. DO > 5 ppm. Teknik pembenihan ikan kerapu tikus meliputi. Rotifier 8 gram/pemberian 3 kali/hari.V KESIMPULAN DAN SARAN 5. pencegahan penyakit dengan menggunakan probiotik Sanolife. Otohime B1 10 gram/pemberian 3 kali/hari. seleksi induk. suhu 30o31oC. 2.9%. belum ada pengobatan terhadap penyakit. nitrit < 1 ppm. pengelolaan kualitas air dengan salinitas 31-33 ppt. pH 7. Otohime EP-1 15 gram/pemberian 4-6 kali/hari). Grading dilakukan apabila terlihat perbedaan ukuran yang mencolok pada benih dan munculnya sifat kanibalisme.000-100.8-8.01 ppm. . Kematian massal sering terjadi pada larva yang diakibatkan oleh penyakit VNN(Viral Nervous Necrosis). Otohime B2 15 gram/pemberian 3 kali/hari.000 sel/ml 1 kali/hari dan Rotifer 3-5 individu/ml 2 kali/hari) maupun pakan buatan(Nosan R-1 8 gram/pemberian 2 kali/hari. penetasan telur. seleksi telur.3. amoniak < 0. Nitrat < 150 ppm. persiapan bak pemeliharaan larva. Induk masih berasal dari alam sehingga ketersediaan induk terbatas dan tergantung dari tangkapan nelayan. pemberian pakan sesuai dosis baik berupa pakan alami(Nannochloropsis 50. pemijahan. SR ikan kerapu tikus 12. persiapan induk.

Ketersediaan pakan ikan rucah untuk induk yang menyesuaikan musim.5. . 2.2 Saran 1. Belum adanya pengobatan terhadap penyakit VNN(Viral Nervous Necrosis) yang dapat menyebabkan kematian massal terhadap larva ikan kerapu tikus. disarankan perlu adanya pembuatan pakan buatan untuk indukan. 3. Induk yang masih berasal dari alam sehingga ketersediaan induk terbatas dan tergantung dari tangkapan dari nelayan. disarankan supaya ada penambahan budidaya pada pemeliharaan induk. disarankan ada studi-studi lebih lanjut untuk menemukan formula yang tepat untuk meningkatkan kekebalan benih dan menghasilkan benih yang tahan penyakit.

Wahyuni. S.H. Azwar. Plankton di Lingkungan PT. 07/05/2010. Jakarta. 2007.. Penerbit Rineka Cipta. P. 2007.blogspot. S. Yogyakarta. Usaha Pembesaran Ikan Kerapu di Tambak. Pembenihan ikan kerapu macan (Epinephelus fuscoguttatus).com/PPS702-ipb/05123/suria_darwisito. 2008.com/2007/10/parameter-dasar-budidayaperairan. http://rudyct..H. Kordi K. 2003. PT.I. Pantai Timur. M. 1988.VI DAFTAR PUSTAKA Anonim. 2005.G. http://groups.id/ind/warintek/?mnu=6&ttg=3&doc=3b7. M. 12/05/2010. M. Parameter Dasar Budidaya Perairan. 2009. Cahyaningsih. 2002. Metode Penelitian. Penerbit Kanisius. Pembenihan Ikan Laut Ekonomis Secara Buatan. 07/06/2010. M. 99 hal Effendie. Penerbit Lily Publisher.net. Pustaka Pelajar. Jakarta.G. Budidaya Ikan Laut di Kramba Jaring Apung. Biologi Perikanan. . K. Octopus.. 159 hal Jatilaksono. Ghalia Indonesia.com/2008/11/budidaya-ikan-keraputikus. M. 146 hal. T. 07/06/2010. 233 hal Kordi K. Yogyakarta. W. 1999. 2002.htm.blogspot. 115 halaman Kordi K. Penerbit Yayasan Pustaka Nusatama. Yogyakarta.html. 2010. Simbolon dan J. 07/06/2010. Tikus. 1998.iptek. dkk. M.H.com/group/mmaipb/message/2070. Central Pertiwi Bahari.G. Central Pertiwi Bahari.A dkk. Loka Budidaya Air Payau. Departemen Kelautan dan Perikanan Direktorat Jendaral Perikanan Budidaya Balai Budidaya Air Payau. S. Budidaya Ikan Kerapu http://octopus39. Edhy. Anonim.yahoo. 2001. Metodologi Penelitian. http://www. Produksi Pakan Alami.html. Penggunaan Biokatalisator pada Budidaya Udang Galah. Darwisito. 135 hal. 188 halaman Murtiati. Strategi Reproduksi pada Ikan Kerapu. http://jlcome. 2010. Yogyakarta. 24:19-26 Nazir.

html?zx=769a8d327799ce15. dan S. 2002. Penerbit Djambatan. Abbas. Penerbit Kanisius. Rajawali. 2003. Penerbit Penebar Swadaya. Yogyakarta. 12/05/2010. Keracunan Nitrit-nitrat.blogspot. Kakap. Kei. Metode Penelitian. 2007. 26/05/2010. H. Balai Budidaya Air Tawar Jambi. http://mandala- Siregar.Romimohtarto. dan Mustahal. C. Ditjen Perikanan Budidaya. Beronang. http://klikharry. Biologi Laut . Jakarta. Wahyudhy. Yuasa. P.V. Ilmu Pengetahuan Tentang Biota Laut. Juwana. 1993. A. Jakarta. K.wordpress. dkk. 84 halaman Suryabrata. Laporan Magang Perikanan. Panduan Diagnosa Penyakit Ikan. Pembenihan Ikan Laut Ekonomis : Kerapu. 2009. Jakarta. Pakan Ikan Alami. S. manik.com/2007/02/21/keracunan-nitrit-nitrat/.2007. 1995.com/2009/04/laporan-magangperikanan. 87 halaman Sunyoto. DKP dan JICA . 540 hal Salim.

Peta Lokasi Kerja Praktek Lapangan Desa Pecaron. Propinsi Jawa Timur . Kabupaten Situbondo.LAMPIRAN Lampiran 1. Kecamatan Panarukan.

Lampiran 2. Denah Balai Budidaya Air Payau Situbondo 1 6 3 4 23 1 1 5 7 9 11 1 23 23 10 10 30 7 23 28 29 23 30 31 7 7 9 12 13 14 23 8 16 15 19 17 25 26 27 23 32 23 33 17 34 17 19 8 18 9 15 35 24 23 21 23 23 18 20 22 21 U .

21. Rumah blower. Kantor. 7. Pompa air laut. 25. Bak filter sand 16. Bak tandon air laut 20. Perpustakaan 30. 35. Bak kultur Chlorella sp 9. 2. Laboratorium penyakit dan kualitas air. Broodstock Center Udang Vanname 5. 4. Bak kultur Brachionus plicatilis 10. Laboratorium nutrisi dan pakan buatan 26. Garasi mobil. Laboratorium pakan alami 14. Bak pembenihan timur 13. 33. Dapur. Bak tandon air tawar. Bak penampungan telur 3. Asrama 22. Bak pembesaran udang Vanname 19. 32. 31. Rumah karyawan. Auditorium.Keterangan : 1. 24. Rumah genset. Bak pembenihan barat. Bak induk kerapu. Ruang kuliah. 27. 34. 8. Koperasi dan workshop. Bak pembenihan Abalone 15. 29. Bak pemeliharaan nener 11. Bak pembenihan tengah 17. Ruang pembuatan pellet. Bak calon induk kerapu. 6. Bak induk bandeng 18. . 23. Musholla. Ruang staf teknis dan Laboratorium Bioteknologi 28. Bak karantina 12.

Lampiran 3. M.Si. Siti Zubaidah. Tata Usaha Ir. Struktur Organisasi Balai Budidaya Air Payau (BBAP) Situbondo Kepala Balai Ir. Slamet Subyakto. Akhmad Romadlon. M. : Ir. Ikan Litkayasa Fungsional Lainnya . Made Yooriksa Kepala Seksi Pelayanan Teknis Dede Sutende Kepala Seksi Stand.Si. Kepala Seksi Bag. Perekayasa Pengawas Benih Pranata Humas Pengawas Budidaya Peng. & Info. M. Hama dan Peny. Kelompok Jabatan Fungsional Koord. S.PT.Si.

400 µm 1.30 16.200 µm .00 11.00 Jenis Pakan Minyak cumi Pakan buatan (Rotofera/Rotemia) Pakan Buatan Rotifer Artemia Pakan Buatan Pakan Buatan Artemia Pakan Buatan Rotifer Artemia Udang rebon Keterangan Larva (D2-D8) Larva -Benih Benih Larva (D 2.00 12.D 36) Larva-Benih Benih Larva-Benih Benih Larva-Benih Larva (D2-D8) Larva-Benih Benih Ukuran pakan 20 – 50 µm 100 – 200 µm 200 – 300 µm 200 – 400 µm 300 – 500 µm 400 – 600 µm 500 – 800 µm 800 – 1. Jadwal Pemberian Pakan Waktu 06.00 10.00 14.000 µm 20 – 50 µm 50 – 100 µm 100 – 200 µm 200 – 300 µm 300 – 600 µm 500 – 900 µm 900 – 1.00 07.000 µm 1. Daftar Ukuran Pakan dan Jadwal Pemberian a.00 15.200 – 2.00 15.400 µm 1.500 µm 2.200 µm 1.Lampiran 4. Daftar Ukuran Pakan Uraian Rotemia NRD ½ NRD 2/3 NRD 2/4 NRD 3/5 NRD 4/6 NRD 5/8 NRD G8 (8/12) NRD G12 (12/20) Nosan R-1 Rotifier Love Larva Otohime B-1 Otohime B-2 Otohime C-1 Otohime C-2 Otohime S-1 Otohime S-2 Otohime EP1 Otohime EP2 b.00 09.

000.Runah genset 6m2 .500/unit 1.000/unit 3.000/buah 300.Bak kultur rotifer 12.500 1.000.000.000 2.117.400 1.000.000 6.000.000 600.000.000.5 m3 .Rumah jaga 25 m2 Pompa air laut 7.000/unit 600.082.000 10.000 4.000 3.000/buah Jumlah (Rp) 50.000.000 40.000/buah 10.750.Bak larva .000/unit 1.000 2.600.000 2.000/unit 10.000.000.000 3.000/unit 10.000.000 200.000/buah 200.000/m2 15.000.000/unit 25.000.5 PK Pompa air tawar5 PK Pompa celup(dab) Hi-blow 5 PK Instalasi air laut Instalasi air tawar Instalasi aerasi Instalasi listrik Genset 3000 watt Bak fiber Bak fiber Tabung gas Peralatan pembenihan: .000 16.Baskom sedang .400/unit 1.000.Rumah pompa air laut 6 m2 .000.000 40.Saringan artemia 200 mikron Jumlah 1 unit 1 unit 6 unit 10 unit 4 unit 1 unit 1 unit 1 unit 1 unit 1 unit 1 unit 1 unit 2 buah 1 unit 1 unit 1 unit 1 unit 1 unit 1 unit 2 buah 2 buah 1 buah 8 buah 3 buah 1 buah 8 buah 20 buah 1 buah 2 buah Harga Satuan (Rp) 100. Analisis Usaha dalam Produksi Benih Kerapu Tikus di Balai Budidaya Air Payau Situbondo. Biaya investasi No.000/unit 1.000/unit 10.000/unit 10.000 15.000 24.000.000.000 30.Gayung 2 liter .000/unit 3.000/unit 4.000/unit 5.000 10.000.000.000/unit 450.000 900.000 3.000.000 25.000/unit 4. 1 2 Uraian Lahan 500 m2 Borongan Bangunan .Ember 30 liter .600.000.000/unit 2.000 400.000/unit 2.000 24.000 3.Bak kultur Chlorella sp 12.000/unit 6.000.Lampiran 5.Saringan rotifera 300 mikron .000/unit 4.5 m3 .117.000.000.750.000/unit 2.000.000 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 .000/buah 3.000.082. a.000 10.Ember 5 liter .000/unit 3.Ember 20 liter .000.000.000.000 1. .000 300.Rumah Hi-blow .000.Hatchery 140 m2 .000/buah 3.000.Bak filter air laut 18 m3 .

000 200.000 200. Biaya Tetap 1 2 3 4 5 6 Penyusutan investasi) Gaji Pegawai Biaya Listrik Perawatan Peralatan (5% dari investasi) Pajak Pulsa Handphone Total Biaya Tetap Biaya Tetap Selam 1 Tahun 100.000 300.000/buah 75.000 200.000 60.595.000/buah 35. Biaya Tetap dan Variabel No Uraian I.000/roll 75.000/buah 175.000 8.000/buah 60.000/buah 3.000/buah 200.000/bln 2 orang 800.733.000 1.835 129.000/buah 300.000/buah 75.000 250.000 35.000 700.000/bln/org 500/bln (10% dari 17.340 .500/buah 2.000/m 300.000/roll 10.000 75.800.250.000 300.000/buah 145.000/unit 20.500.500/buah 2.000 Jumlah Harga Satuan (Rp) Jumlah (Rp) 32.000 50.0000/buah 200.000 400.000/buah 25.000/buah 1.000 300.890 4.- Saringan udang 1 buah rebon Saringan pakan 150 2 buah mikron Filter bag 6 buah Selang aersi 1 roll Batu aerasi 100 buah Kran aerasi 100 buah Pemberat aerasi 100 buah Plastic penutup 1 roll Keranjang koli 20 buah Gelas piala 1000 ml 1 buah Gelas piala 200 ml 1 buah Gelas piala 50 ml 1 buah Tong plastik 60 ml 2 buah Tong plastik 80 ml 2 buah Piring kecil (teplek) 1 lusin Kulkas 1 pintu 1 unit Lemari plastic 1 unit Selang 1” 20 m Spon (busa kasar) 1 roll White board 1 buah Total Biaya Investasi 100.250.000 215.398.000 350.000/buah 100.000/unit 550.000 550.900 b.000 145.365.000 150.000 1.682.000 200.000 150.945 50.

000 2 kg 300.000/kg 1.740 .000/kg 600.000 c.000/kg 550. Udang rebon Total Biaya Variabel Biaya Variabel Selama 1 tahun Total Biaya Operasional (TC) 1 siklus Biaya Operasional (TC) 1 Tahun 15.000/kaleng 3.450/botol 300/000/kaleng 300.000/kg 5.780.185 190.200.000 112.000/kg 630.5 675.117.000 300.000 2.516.200.350 60. Artemia b.II.000 40 kaleng 300.000 300.000 2 kg 275. Biaya Variabel 1 2 Telur Obat-obatan : 3 Pakan : a. Pakan buuatan : Ukuran mikron Ukuran mikron Ukuran mikron Ukuran mikron Ukuran mikron Ukuran 800 mikron 400-600 300-500 200-400 200-300 100-200 1 kg 600.350 450.000 btr 1.000 37.000/kg 600.000 4 kg 300.064.000 100.000/bks 1.400 47.000 3.000 4 kg 6 kg 500 bks 300.500.469.000 Formalin Chlorine Na-thiosulfate Scott’s Emullsion 3 btl 20 L 20 L 300.200.

1 Penerimaan (TR) Penerimaan adalah jumlah uang yang diperoleh dari hasil penjualan benih.500/cm = 99.c.9% b. Jumlah telur yang tebar yaitu sebanyak 450.3 cm x Rp 1. Jadi kelangsungan hidup (SR) yang didapatkan adalah sebagai berikut : SR (%) = Jumlah benih yang hidup Jumlah larva yang tebar X 100 % = 20.000 .000 x 100% = 12. penerimaan (TR) TR = Benih yang dihasilkan x ukuran x harga jual = 20.000 154.000 ekor.000 x 3.000.000 per siklus Penerimaan yang diperoleh untuk per siklus yaitu sebesar Rp 99.000. Penghasilan c.000 butir HR = 44% x 450.000 butir Jumlah benih yang hidup hingga pemanenan yaitu sebanyak 20.000 = 154. Rincian penerimaan yang diperoleh usaha pembenihan ikan kerapu dapat dilihat pada perhitungan berikut : a.

.1 R/C > 1 yaitu 2. tingkat keuntungan suatu usaha akan semakin tinggi.- c.185 = 51.3 R/C Ratio Analisis ratio merupakan parameter analisis yang digunakan untuk melihat pendapatan relative suatu usaha dalam 1 tahun terhadap biaya yang dipakai dalam kegiatan tersebut.185 = Rp 2.483.1 sehingga usaha dalam produksi benih kerapu tikus ini layak untuk dilaksanakan.000.516.c. Keuntungan yang diperoleh dalam produksi benih kerapu tikus yaitu sebagai berikut : Keuntungan = Penerimaan-Biaya Operasional = 99.000 47. Semakin tinggi nilai R/C ratio.483. Suatu usaha dikatakan layak jika nilai R/C ratio lebih dari 1 (R/C > 1). keuntungan yang diperoleh per siklus adalah sebesar Rp 51.815. Keutungan diperoleh jika selisih antara pendapatan dengan total biaya adalah positif.000.000 – 47.516. Nilai R/C ratio untuk pembenihan ikan kerapu tiku dapat dilihat pada perhitungan sebagai berikut : R/C ratio = Hasil penjualan Total biaya per siklus = 99.2 Keuntungan Keuntungan merupakan selisih antara pendapatan dengan total biaya prosuksi (biaya operasional).815 Jadi.

3 cm = Rp 719/cm Artinya kegiatan pembenihan ikan kerapu tikus akan mengalami titik impas apabila telah menjual sebanyak 9. yaitu tidak untung atau rugi. nilai BEP harga lebih rendah dari pada harga sat ini. seperti usaha .c.516. Usaha dinyatakan layak apabila nilai BEP produksi lebih besar dari jumlah unit yang sedag diproduksi saat ini. Nilai BEP (unit) dan BEP (Rp) pada usaha pembenihan ikan kerapu tikus dapat dilihat pada perhitungan berikut ini : BEP unit = Biaya total Harga Satuan = 47.599.2 ekor BEP (Rp) = Biaya total Total produksi 47.2 ekor benih atau dengan harga jual benih seharga Rp 719/cm.4 Break Event Poin (BEP) BEP merupakan parameter analisis yang digunakan untuk mengetahui batas nilai produksi atau volume produksi suatu usaha mencapai titik impas. Sementara itu.950 = 9.599.185 20. c.375/3.185 4.5 Payback Periode (PP) Analisis Payback Periode (PP) bertujuan untuk mengetahui waktu tingkat pengembalian investasi yang telh ditanamkan pada suatu usaha.516.000 = = Rp 2.

pembenihan ikan kerapu tikus.2 tahun Jadi.483. .2 tahun atau dalam jangka 4 tahun 2.733. biaya investasi yang dikeluarkan untuk usaha pembenihan ikan kerapu tikus akan kembali dalam jangka waktu 4. Nilai PP pada usaha pembenihan ikan kerapu tikus dapat dilihat pada perhitungna berikut ini : PP = Biaya Investasi Keuntungan x 1 tahun = 215.4 bulan.900 51.815 x 1 tahun = 4.

1Bak Pemeliharaan Larva Kerapu Tikus a.7 Tandon Air Tawar a. Gedung a. Sarana dan Prasarana Pembenihan Ikan Kerapu Tikus Budidaya di Balai Budidaya Air Payau Situbondo a.3 Bak Chlorella sp a.6 Tandon Air Laut a.4 Bak Pemeliharaan induk ikan Kerapu Tikus a.8 Pompa Air Laut .5 Bak Karantina Ikan a.2 Bak Rotifer a.Lampiran 6.

2 Alat Taging c. Peralatan c.6 Saringan . Pakan Ikan b.1 Egg Colector c.3 HCG(Human Chorionic Gonadotropin c.5 sendok takaran Pengambilan Telur c.2 Udang Rebon b.6 Artemia Cysts c.b.5 Scott’s Emulsion b.4 Akuarium c.3 Minyak Cumi b.1 Pakan Ikan Rucah b.4 Vitamin b.

00 30 C 30oC 30 C 30 C 31oC 31oC 31oC 30oC 30oC 30oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 30oC 30oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC o o o bak 1 12.00 31oC 31 C 31 C o o 16.00 30oC 30 C 30 C o o 12.00 31oC 31 C 31 C o o 06. Suhu Harian pada Kolam Ikan Kerapu Tikus tanggal 06.00 31 C 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 30oC 30oC 31oC 31oC o bak 6 12.Lampiran 7.00 31 C 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC o 16.00 - 16.00 31 C 31 C 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC o o 16.00 30 C 31oC 31 C 31 C 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC o o o suhu harian kolam ikan kerapu tikus bak 2 bak 4 12.00 06.00 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 08-Agust-10 o o 09-Agust-10 30 C 29 C 29oC 29oC 30oC 30oC 29oC 30oC 30oC 30oC 29oC 29oC 29oC 30oC 30oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 30oC 31oC 31oC 30oC o 10-Agust-10 31 C o 31 C 11-Agust-10 12-Agust-10 3-Agust-10 14-Agust-10 15-Agust-10 16-Agust-10 17-Agust-10 18-Agust-10 19-Agust-10 20-Agust-10 21-Agust-10 22-Agust-10 23-Agust-10 24-Agust-10 .00 31 C 31oC 31 C 31 C 30oC 30oC 30oC 30oC 30oC 31oC 30oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 30oC 30oC 30oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 30oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 30oC 30oC 31oC o o o 06.

25-Agust-10 29oC 30oC 29oC 29oC 29oC 29oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 30oC 31oC 30oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 30oC 31oC 30oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 30oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 30oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 30oC 31oC 31oC 30oC 31oC 31oC 30oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 26-Agust-10 27-Agust-10 28-Agust-10 29-Agust-10 30-Agust-10 31-Agust-10 .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful