TEKNIK PEMBENIHAN IKAN KERAPU TIKUS (Cromileptes altivelis) DI BALAI BUDIDAYA AIR PAYAU SITUBONDO

PRAKTEK KERJA LAPANG
PROGRAM STUDI BUDIDAYA PERAIRAN

Oleh :
ERLINA DWI TUNGGAL SPIKADHARA SURABAYA - JAWA TIMUR

FAKULTAS PERIKANAN DAN KELAUTAN UNIVERSITAS AIRLANGGA SURABAYA 2010

TEKNIK PEMBENIHAN IKAN KERAPU TIKUS (Cromileptes altivelis)
DI BALAI BUDIDAYA AIR PAYAU SITUBONDO

Praktek Kerja Lapang Sebagai Salah Satu Syarat untuk Memperoleh Gelar Sarjana Perikanan pada Program Studi S-1 Budidaya Perairan Fakultas Perikanan dan Kelautan Universitas Airlangga

Oleh : ERLINA DWI TUNGGAL SPIKADHARA NIM. 060710177P

Mengetahui, Dekan, Fakultas Perikanan dan Kelautan

Menyetujui, Dosen Pembimbing,

Prof.Dr.Drh.Hj. Sri Subekti, B.S.,DEA. NIP. 19520517 197803 2 001

Muhammad Arief., Ir. M.Kes. NIP. 19600823 198601 1 001

Setelah mempelajari dan menguji dengan sungguh–sungguh, kami berpendapat bahwa Praktek Kerja Lapang (PKL) ini, baik ruang lingkup maupun kualitasnya dapat diajukan sebagai Salah Satu untuk Memperoleh Gelar Sarjana Perikanan.

Tanggal Ujian : 25 November 2010

Menyetujui, Panitia Penguji, Ketua

Ir. Muhammad Arief, M.Kes NIP. 19600823 198601 1 001

Sekretaris

Anggota

Prayogo, S. Pi., MP NIP. 19750522 200312 1 002

Ir. Moch. Amin Alamsjah, M. Si., Ph. D NIP. 19700116 199503 1 002

Surabaya, 24 Desember 2010 Fakultas Perikanan dan Kelautan Universitas Airlangga Dekan,

Prof.Dr.Drh.Hj. Sri Subekti, B.S.,DEA. NIP. 19520517 197803 2 001

Otohime B1 10 gram/pemberian 3 kali/hari. M. persiapan bak pemeliharaan larva. Rotifier 8 gram/pemberian 3 kali/hari.000 sel/ml 1 kali/hari dan Rotifer 3-5 individu/ml 2 kali/hari) maupun pakan buatan(Nosan R-1 8 gram/pemberian 2 kali/hari. wawancara dan studi pustaka. seleksi induk. Tujuan lainnya adalah untuk mengetahui permasalahan yang sering dihadapi pada usaha pembenihan ikan kerapu tikus (Cromileptes altivelis). penetasan telur. Metode yang digunakan dalam Praktek Kerja Lapang ini adalah metode dekskriptif dengan pengambilan data meliputi data primer dan data sekunder. pemijahan. Pengambilan data dilakukan dengan cara partisi aktif. Ikan kerapu tikus memiliki nilai jual yang tinggi dan permintaan yang banyak sedangkan permintaan pasar akan ikan kerapu tikus belum dapat dipenuhi secara keseluruhan karena belum banyak pembudidaya. Teknik pembenihan ikan kerapu tikus meliputi. observasi.000-100. Tujuan dari Praktek kerja Lapang (PKL) untuk mengetahui tentang teknik pembenihan ikan kerapu tikus (Cromileptes altivelis) di Balai Budidaya Air Payau di Situbondo. penebaran telur. pemberian pakan sesuai dosis baik berupa pakan alami(Nannochloropsis sp 50.RINGKASAN ERLINA DWI TUNGGAL SPIKADHARA. persiapan induk.31 agustus 2010.Muhammad Arief. Jawa Timur. Ketersediaan benih ikan kerapu di alam tidak akan terancam punah dengan memanfaatkan dan mengembangkan suatu usaha untuk menghasilkan benih ikan kerapu tikus yang dapat memenuhi permintaan pasar. Praktek Kerja Lapang ini dilaksanakan pada tanggal 19 juli . Dosen Pembimbing : Ir. Otohime B2 15 gram/pemberian 3 kali/hari. seleksi telur. Otohime EP-1 15 .Kes. Ikan kerapu tikus lebih memiliki nilai jual yang tinggi di banding dengan ikan kerapu yang lainnya. Teknik Pembenihan Ikan Kerapu Tikus (Cromileptes altivelis) di Balai Budidaya Air Payau Situbondo Desa Pecaron Kecamatan Panarukan Kabupaten Situbondo Propinsi Jawa Timur.

Memerlukan fasilitas penyimpanan bersuhu dingin agar kualitas pakan ikan rucah untuk indukan tidak menurun. Induk masih berasal dari alam sehingga ketersediaan induk terbatas dan tergantung dari tangkapan nelayan. amoniak < 0. belum ada pengobatan terhadap penyakit.gram/pemberian 4-6 kali/hari). Grading dilakukan apabila terlihat perbedaan ukuran yang mencolok pada benih dan munculnya sifat kanibalisme. pencegahan penyakit dengan menggunakan probiotik Sanolife.9%. . Nitrat < 150 ppm. pengelolaan kualitas air dengan salinitas 31-33 ppt. nitrit < 1 ppm. suhu 30o-31oC. DO > 5 ppm. SR ikan kerapu tikus 12.01 ppm.8-8. pH 7.3. Kematian massal sering terjadi pada larva yang diakibatkan oleh penyakit VNN(Viral Nervous Necrosis).

observation. spawning. Data collection was performed by the active partition.8 to 8. DO> 5 ppm. 3.01 ppm. Polka-dot Grouper over a high selling price compared with other groupers. interview and literature study. Another aim is to discover the problems that are often encountered in the hatchery business grouper (Cromileptes altivelis). disease prevention . pH 7. stocking eggs. Otohime B2 15 grams / feeding 3 times / day. East Java. M. feeding according to the dosage form of natural food (Nannochloropsis sp 50000-100000 cells / ml 1 time / day and rotifers 3-5 individuals / ml. ammonia <0.Muhammad Arief. temperature 30o-31oC. Kes. Broodstock preparation. Polka-dot Grouper has a high selling value and demand a lot while the demand of market for Polka-dot Grouper can not be fulfilled as a whole because not many farmers. 2 times / day) or artificial diets (Nosan R-1 8 g / generous 2 times / day. Broodstock selection. Otohime B1 10 grams / feeding 3 times / day . Field Work Practice was held on 19 July .SUMMARY ERLINA DWI TUNGGAL SPIKADHARA. The purpose of the work practice of Field (PKL) to find out about grouper hatchery techniques (Cromileptes altivelis) in Balai Budidaya Air Payau Situbondo. preparation for larval rearing tanks. Supervising lecture: Ir. Otohime EP-1 15 grams / administration 4-6 times / day). hatching eggs. The availability of grouper seed in nature will not be threatened with extinction by exploiting and developing a business to produce panther fish fry that can meet demand of market.31 August 2010. Nitrate <150 ppm. egg selection. Polka-dot Grouper Hatchery Techniques (Cromileptes altivelis) in Balai Budidaya Air Payau Situbondo Pecaron Panarukan Situbondo District of East Java Province. the management of water quality with salinity 31-33 ppt. Polka-dot Grouper hatchery techniques include. Rotifier 8 grams / feeding 3 times / day. The method used in this Field Work Practice is dekskriptif with data collection methods include primary data and secondary data. nitrite <1 ppm.

there is no treatment against the disease.using probiotics Sanolife. .9%. Mass mortality of larvae often occur in diseases caused by VNN (Viral Nervous Necrosis). SR of Polka-dot Grouper is 12. Requires cold-temperature storage facilities for feed quality trash fish for broodstock did not decline. Grading conducted if the striking visible differences in seed size and appearance of cannibalism. Broodstock still come from nature so that availability is limited and dependent parent from the catch of fisherman.

Laporan ini disusun berdasarkan hasil Praktek Kerja Lapang yang dilaksanakan di Balai Budidaya Air Payau Situbondo pada tanggal 19 Juli – 31 Agustus 2010.KATA PENGANTAR Segala puji kahadirat Allah SWT. Penulis menyadari bahwa Praktek Kerja Lapang ini masih sangat jauh dari kesempurnaan. sehingga kritik dan saran yang membangun sangat penulis harapkan demi perbaikan dan kesempurnaan laporan atau kegiatan selanjutnya. Penulis menghanturkan terima kasih yang tak terhingga kepada kedua orang tua dan keluarga yang telah mendoakan. Desember 2010 Penulis . atas segala limpahan rahmat dan karunia-Nya sehingga penyusunan Praktek Kerja Lapang tentang Teknik Pembenihan Ikan Kerapu Tikus (Chromileptes altivelis) di Balai Bududaya Air Payau Situbondo ini dapat terselesaikan. khususnya Mahasiswa Program Studi S-1 Budidaya Perairan Fakultas Perikanan dan Kelautan Universitas Airlangga Surabaya. Semoga Praktek Kerja Lapang ini bermanfaat dan dapat memberi informasi bagi semua pihak. Surabaya. Praktek Kerja Lapang ini sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Perikanan pada Program Studi S-1 Budidaya Perairan Fakultas Perikanan dan Kelautan Universitas Airlangga Surabaya. mendidik dan memberi motivasi serta semangat hingga selesainya Praktek Kerja Lapang ini.

Sri Subekti. MP dan Ir. 3. Hj. S.Muhammad Arief. Bapak saya Anthonius Wiwiek Dwiriyantho Bayudharana Feysholly. 7.Pi selaku koordinator pelaksana Praktek Kerja Lapang.Si sebagai Kepala Balai Budidaya Air Payau Situbondo. Drh. 2. S.. selaku Dosen Pembimbing yang telah banyak membantu terlaksananya Praktek Kerja Lapang dari penyusunan usulan proposal hingga terselesainya laporan Praktek Kerja Lapang. tidak lupa penulis haturkan terima kasih yang sebesar-besarnya : 1. Nabi besar Muhammad SAW semoga kita semua akan mendapatkan syafaat di akhirat kelak. Ir. selaku Dekan Fakultas Perikanan dan Kelautan Universitas Airlangga Surabaya. .. Bapak Akhmad Taufiq. ibu saya Partini yang saya cintai yang telah memberikan seluruh ia punya baik dukungan secara moril dan materi.Si. B.Kes. Amin Alamsjah. Moch.. DEA. M. 4.amin allahuma amin. 8. Bapak Prayogo.. Bapak Ir. Slamet Subiyakto. Dr. Ph. Kakak pertamaku Andri Bahtera Tunggal Prisma Dharana dan kakak kedua Erlita Dwi Tunggal Spikadhara yang telah memberi semangat. Prof. Dr. D selaku dosen penguji yang telah memberi banyak masukan dan saran atas perbaikan Praktek Kerja Lapang ini. 6. 5.UCAPAN TERIMAKASIH Pada kesempatan kali ini. 9. Si. M. M. S. Allah SWT yang telah memberikan nikmat dan amanah dalam kehidupan ini. Pi. M.

Nining Khoirunniza. 11. 13. UNDANA. Ir. Nurdiana Rachmasari. Adhe Puspawari Hardhanny) yang telah banyak membantu dan memberi semangat. . UNSOED. Teman-teman BUPER’07 yang memberikan dukungan sehingga dapat terselesaikannya laporan PKL ini. IPB. 14. Semua pihak yang tidak dapat disebutkan satu persatu yang telah membantu penulis dalam pelaksanaan maupu penyelesaian laporan PKL ini. Sahabatku (Yulia Kartika. 12. Hangtuah. Rekan-rekan yang melaksanakan magang dan PKL di BBAP Situbondo dari UMI. 15. sofiati selaku pembimbing lapangan dari Balai Budidaya Air Payau (BBAP) Situbondo. 16. Galih Adi Pratama yang telah banyak membantu. Dian Respati.10. Seluruh pegawai BBAP Situbondo khususnya pegawai Pembenihan Timur. Setyana Meirnawati.

.............2 Metode...............………………………….......................... 2......................................... TINJAUAN PUSTAKA.. I PENDAHULUAN............. ............6 Kebiasaan Makan Larva ............ KATA PENGANTAR…………………………………………………............ 2..........................................................................................................7................2 Tujuan............................ .................. i ii iii iv vi xiii ix xi xii xiii 1 1 2 3 4 4 5 5 6 7 7 8 9 9 9 ................................................................3 Pemeliharaan Induk...........................................5 Perkembangan Embrio.. DAFTAR LAMPIRAN........... 2............................................. .................................................... 2.................................................... 2................. ..........7.......................................DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL…………………………………………………… .................................4 Reproduksi........1 Latar Belakang........................................................................................... 2...................................... 2........................... ..7 Teknik Pembenihan............ 1....................................................................... SUMMARY................................ ........................................................... DAFTAR TABEL........................................................... 2...................................1 Sarana Pembenihan....2 Morfologi.............................................................................. UCAPAN TERIMAKASIH ............................. 2................................................. 1............................3 Manfaat..................................... ............1 Tinjauan Umum.......................................... RINGKASAN............... HALAMAN PENGESAHAN…………………………………………............................... .................................3 Habitat........................... ............................................................................. HALAMAN PERSETUJUAN.................... ........ 2..................................... DAFTAR GAMBAR................. 1......................... II .........7......

..................9.........................8 Parameter Kualitas Air Pemeliharaan............. 2...... 2..... 25 25 ..................................... 2..1 Nannochloropsis oculata.... 2............12....................... 2..........10..........................................................................12.......................... 2..................................8 Pemeliharaan Larva......... 2.......2 Artemia spp... 10 10 10 11 12 13 2.........4 Oksigen terlarut...........................................................................................................8.........9................................ 2...................12...................2.. 2....................................3 Waktu Pemberian Pakan.........5 Seleksi Induk.......3 Cryptocaryonosis........7................7...7.......... 2.......................................3 derajat keasaman..........................6 Virus..........................8................1 Rasio pakan............................ 2................ 2.....................................................................................................................................4 Sex Reserval...............................1 Suhu....................................2 Frekuensi Pemberian pakan...........................................2 Vibrio anguillarum................7............... 2................... 2.............................. 2....................................9 Penyediaan Pakan untuk Pemeliharaan Larva.5 Caligus sp parasit golongan Crustacea... 2................11 Survival Rate....................12 Penyakit.................6 Pemijahan........................8......... 14 2.....................10.......7.........2 Kecerahan........................... 2............................. 2.................... 2........... 3...7 Penetasan Telur..............................6 Nitrit.........................5 Salinitas........ 2........3 Rotifer..........................................................................8....................................9........................................................ 2......... 13 2............8....................................4 Infestasi Trichodina sp................................8................................................10.... 2.....................................................................12......... 2.... 14 14 15 15 16 16 17 18 18 19 19 19 19 20 21 21 21 22 23 24 III PELAKSANAAN……………………………………………………...............................12......... 2....1 Waktu dan Tempat……………………………………........................................................12.....................................................................1 Vibrio alginolyticus....10 Pemberian Pakan.....................

...... Perhitungan Derajat Penetasan(Hatcging Rate).... 4.................. Air Tawar.......2 Seleksi Induk………………………………………………..........3. 4............................................................................................8 Pakan..1 Sejarah Berdirinya………………………….... 4...................................................... pemijahan dengan rangsangan hormon....1 Keadaan Umum Lokasi Praktek Kerja Lapang…………...........................2 Data Sekunder……………………………………………… IV HASIL DAN PEMBAHASAN……………………………...........................4 Kepegawaian................................. 4....... Air Laut ........1 Data Primer…………………………………….................... d...................3...... Sarana Budidaya.......... b..3..2.... A.................... C........Perkembangan Larva........................... Wawancara.............................................. Partisipasi Aktif...................3...... pemberian pakan……………………………………… b................2 Prasarana ......................... Aerasi........................... 4.........1 Sarana Umum........... 3..... pencegahan hama dan penyakit………………………...1......................3 Pemijahan..............................................3 Teknik Pembenihan Kerapu Tikus………………………...3...... A.... 4....................................... c.................................................................... 4..............................1.............................1 Persiapan Induk ……………………………………..........................6 Pemeliharaan Larva dan Benih...3 Struktur Organisasi....................... Pemberian Pakan Alami...................................................... 4................... 25 25 25 26 26 27 27 28 28 28 29 30 32 32 32 32 33 34 34 35 35 36 36 36 38 40 41 42 43 44 44 45 46 48 48 50 51 52 52 53 55 56 57 .. Persiapan Wadah.. b.Penebaran dan Penetasan Telur..............................................................3........ a... 4.... Persiapan Wadah........ 4...... B... 4........ D.......3..7 Kualitas air.………………………………...4 Pemanenan Telur..2 Materi dan Metode Kerja…………………………………..5 Penetasan Telur..2 Letak dan Keadaan Lokasi.......................................................................................................... 4.... a........................................3................. pemijahan alami......................... a. 4...........1........ b.3....... a....3 Metode pengumpulan ……………………………………….................3........ 4...................................................................... ciri-ciri induk matang gonad…………………………........ c....... a..................................................... Bangunan……………….................................................................................... Sumber Tenaga Listrik................... B....... 3...... 4.......2 Sarana dan Prasarana Umum BBAP Situbondo............ Observasi..................................1...... 3..................................................................... 4........................................ a.......................... 4.............. b.........................................................................2...3......... pengelolaan air………………………………………… c..................

............... Kultur Pakan Alami...........................5.................................3.... a................................. Produksi.......................4 Udang Rebon..........................1 Masalah yang Dihadapi..............1 Kultur Nannochloropsis sp........................ Pemberian Pakan Buatan.................................................................................................. 4........................ 70 70 71 72 74 ......................... 4...........................2 Produksi dan Pemasaran................................ 4.............................. 57 57 58 60 60 61 61 63 64 65 65 66 67 67 68 68 V SIMPULAN DAN SARAN............. 4. 4.......................................6 Analisis Usaha ..................................................................a.5 Masalah dan Kemungkinan Pengembangan Usaha....... 5...............................................................................................4........................................... LAMPIRAN.......... 4...................................................1 Nannochloropsis sp............. DAFTAR PUSTAKA............. 5......................................................................... dan Pemasaran......4.................................................................. c........ a...........................1 Simpulan............. 4..........................2 Rotifera.......1 Pemanenan Benih.......... c....................................................... 4.. b................................. a.................................................................................................................4 Pemanenan.....2 Kultur Rotifer...............................9 Pengendalian Hama dan Penyakit.....................2 Saran...................5.. c...3 Artemia sp......................2 Kemungkinan Pengembangan Usaha.....

Ikan kerapu tikus lebih memiliki nilai jual yang tinggi di banding dengan ikan kerapu yang lainnya. Bila potensi perikanan yang sangat melimpah ini dapat di manfaatkan secara optimal maka dapat meningkatkan produktifitas perikanan. 2009). pakan alami sangat diperlukan saat pemeliharaan larva. Di Indonesia perkembangan budidaya ikan sangat mendukung karena di Indonesia merupakan wilayah berkepulauan yang banyak memiliki sumber daya ikan yang melimpah. Pakan alami yang digunakan harus sesuai dengan bukaan mulut larva dan alat pencernaan larva kerapu dapat mencerna kandungan nutrisi yang ada pada pakan alami (khordi. 2009).I PENDAHULUAN 1. dan membantu menjaga kelestarian sumber daya hayati perikanan (Salim. 2005). Kegiatan pembenihan ikan kerapu tikus. Pakan alami untuk larva dan benih pada budidaya ikan dalam bentuk pakan alami dan pakan buatan (mikropartikel pelet). Pada saat ini Ikan kerapu tikus memiliki nilai jual yang tinggi dan permintaan yang banyak sedangkan permintaan pasar akan ikan kerapu tikus belum dapat dipenuhi secara keseluruhan karena belum banyak pembudidaya. .1 Latar Belakang Usaha – usaha pengembangan perikanan yang dilakukan di Indonesia mulai banyak dilakukan. meningkatkan devisa negara. Ketersediaan benih ikan kerapu di alam tidak akan terancam punah dengan memanfaatkan dan mengembangkan suatu usaha untuk menghasilkan benih ikan kerapu tikus yang dapat memenuhi permintaan pasar (Salim.

Mengetahui tentang teknik pembenihan ikan kerapu tikus (Cromileptes altivelis) di Balai Budidaya Air Payau di Situbondo. kecuali sewaktu makan dan saat memijah. . Permasalahan penyakit yang paling banyak pada ikan bersirip (finfish) dijumpai pada budidaya ikan kerapu. diantaranya adalah penyakit borok pangkal sirip ekor dan penyakit mulut merah. DO.Kerapu lebih suka menghindar dari sinar matahari langsung.200. 2002). Jawa Timur. karang mati. Lokasi budidaya yang ideal harus memenuhi persyaratanpersyaratan kualitas airnya. Ikan Kerapu Tikus selama bertelur induk tidak boleh di beri pakan. Jenis penyakit bakterial yang ditemukan pada ikan kerapu. atau karang berlumpur. Faktor kualitas air yang perlu dipertimbangkan untuk pemeliharaan pembenihan Kerapu tikus meliputi sifat fisika : suhu dan kecerahan. Kebanyakan ikan kerapu tinggal didaerah karang.2 Tujuan Tujuan dari praktek kerja lapang ini adalah: 1. Dari jumlah diperkirakan hanya 30% saja yang dibuahi (Darwisito. Telur yang telah dibuahi berjumlah lebih kurang 1. nitrit dan salinitas. Ikan kerapu juga sering ditemukan di daerah pasang dan di laut dengan kedalaman sekitar 40 cm (Salim. 2009). dan kimia meliputi : pH. dan apabila induk telah memijah harus segera dipindahkan ke tangki yang lain. sedangkan SR kerapu tikus 5%.000 butir. Ikan kerapu ini merupakan jenis ikan laut yang dapat ditemukan didaerah subtropika dan tropika dari seluruh daerah lautan. 1.

3 Manfaat Manfaat dari praktek kerja lapang ini adalah : 1. 2. Jawa Timur. 1. Mengetahui permasalahan yang sering dihadapi pada usaha pembenihan ikan kerapu tikus (Cromileptes altivelis) di Balai Budidaya Air Payau di Situbondo. Jawa Timur. Jawa Timur.2. Dapat memadukan teori yang diperoleh dengan kenyataan yang terjadi dilapangan. sehingga dapat lebih memahami dan mengatasi permasalahan yang timbul dalam usaha pembenihan ikan kerapu tikus (Cromileptes altivelis) di Balai Budidaya Air Payau di Situbondo. . Memperoleh pengetahuan tentang teknik pembenihan ikan kerapu tikus (Cromileptes altivelis) di Balai Budidaya Air Payau di Situbondo.

ikan ini biasa ditempatkan di akuarium sebagai ikan hias (Khordi dan Andi Tamsil.1 Tinjauan Umum Menurut Weber and Beofort. Kerapu Tikus. bintik tersebut lebih besar dan lebih sedikit jumlahnya. (1940) dalam Ahmad (1991). biasa juga disebut kerapu tikus(Cromileptes altivelis). 2008) . mempunyai tubuh agak pipih dengan warna dasar abu-abu berbintik hitam.II TINJAUAN PUSTAKA 2. 2010). Gambar 1. klasifikasi ikan kerapu tikus adalah : Phylum Subphylum Class Subclass Ordo Subordo Genus Spesies : Chordata : Vertebrata : Osteichtyes : Actinopterigi : Percomorphi : Percoidea : Cromileptes : Cromileptes altivelis Kerapu bebek. Lantaran warnanya yang menarik. Cromileptes altivelis (Octopus. dalam perdagangan internasional dikenal dengan nama polka-dot grouper atau hump-backed rocked. Pada ikan kerapu tikus yang masih muda.

bintik hitam lebih besar dengan jumlah bintik yang sedikit. 2009). tubuhnya memanjang gepeng (compressed) dengan panjang tubuh 2. A. Pada kerapu bebek muda. semakin tua bertambah banyak. Warna ikan kerapu tikus coklat kehijauan dengan dengan bintik – bintik atau bulat – bulat coklat di kepala. Lembaran operculum mempunyai pinggiran yang bergerigi tajam dan halus. Pada sirip dorsal memiliki 10 duri keras dan 17 – 19 duri lunak. sisik pada lateral line berjumlah 54 – 60 dan pyloric 13. Bintik – bintik tersebut pada kerapu muda lebih besar dan sedikit. Seluruh permukaan tubuh kerapu bebek berwarna putih dilengkapi sirip renang berbentuk melebar serta moncong kepala lancip menyerupai bebek atau tikus. Ikan kerapu tikus termasuk dalam famili Serranidae. sirip perut dengan 3 duri keras dan 10 duri lunak (Khordi dan Andi Tamsil. Panjang kepala seperempat panjang total.0 kali panjang standard ikan ( panjang standard ikan 12 – 37 cm). Lubang hidung bagian posterior besar.2 Morfologi Ikan kerapu tergolong jenis ikan air laut yang berjual nilai tinggi. tubuh. dan sirip. Sedangkan sirip ekor memiliki 1 duri keras dan 70 duri lunak. Sirip punggung semakin melebar kebelakang. leher bagian atas cekung dan semakin tua semakin cekung.2. 2010). Sisik punggung sangat halus dan licin (Salim. . tetapi yang lebih memiliki harga jual yang lebih tinggi dibandingkan dengan ikan kerapu jenis yang lainnya adalah ikan kerapu tikus (Cromileptes altivelis).6 – 3.

Beberapa jenis .5-2. dan spesiesnya. 2010). musim – musim pemijahan ikan kerapu terjadi pada bulan Juni – September dan November – Februari. Ikan kerapu juga sering ditemukan di daerah pasang dan di laut dengan kedalaman sekitar 40 cm. setelah dewasa kerapu ke daerah perairan yang lebih dalam yaitu antara 7.0 – 40 m.0 m. Sifat kerapu tikus umumnya soliter tetapi pada saat akan memijah berlangsung beberapa hari sebelumnya bulan purnama yaitu pada malam hari.umur. Pada kerapu tikus.0-2. Pada umur 1. transisi dari betina ke jantan terjadi setelah mencapai umur 2. 2.3.5 .4 Reproduksi Kerapu tikus memiliki sifat hermaprodit protogini yaitu perubahan kelamin (change sex) dari betina ke jantan dipengaruhi oleh ukuran. Dari hasil pengamatan di Indonesia.5 tahun ke atas. Transformasi dari dari betina ke jantan ini memerlukan waktu yang cukup lama dalam kondisi alami. Adapun ikan-ikan yang berumur 2. Ikan kerapu ini merupakan jenis ikan laut yang dapat ditemukan didaerah subtropika dan tropika dari seluruh daerah lautan.2.5 tahun.3 Habitat Ikan kerapu lebih sering terlihat menyendiri dan menyukai naungan sebagai tempat bersembunyi. kecuali sewaktu makan dan saat memijah. Kebanyakan ikan kerapu tinggal didaerah karang. Dalam siklus hidupnya kerapu muda hidup di perairan karang pantai dengan kedalaman 0. berkelamin jantan (Khordi dan Andi Tamsil.5 tahun biasanya ikan masih berkelamin betina. Kerapu lebih suka menghindar dari sinar matahari langsung.

Pada hari ke tiga mulai terjadi pigmentasi saluran pencernaan bagian atas dan bukaan mulut berukuran sekitar 125 µ.kerapu mempunyai musim pemijahan 6 – 8 kali/tahun sedangkan pemijahan pertama 1 – 2 kali/tahun (Salim. 2009).78 mm.6 Kebiasaan Makan Larva Pada kerapu tikus menetas mempunyai panjang total 1. Perkembangan embrional telur sejak pembuahan sampai penetasan membutuhkan kurang lebih 19 jam. Pembelahan sel berikutnya berlangsung 15 – 30 menit sampai mencapai multi sel salama 2 jam 25 menit. 2. Telur kerapu transparan dengan diameter ± 850 mikron dan tidak memiliki ruang perivitellin. grastula.5 Perkembangan Embrio Berdasarkan pengamatan mikroorganisme dapat diketahui bahwa telur kerapu berbentuk bulat tanpa kerutan. Dan hari ke empat kuning telur telah . Perkembangan tubuhnya semakin memanjang sedangkan kantong telur dan gelembung minyak semakin mengecil. Gerakan pertama embrio terjadi pada jam ke-16 setelah pembuahan selanjutnya telur menetas menjadi larva pada jam ke-19 pada suhu 27 – 29 oC (Salim.70 – 1. damn embrio. 2. 2009). neorula. Setelah tahap multi sel tahap berikutnya adalah blastula. mata belum berpigmen. pada hari kedua sirip dada mulai terbentuk dan jaringan usus telah berkembang sampai ke anus. Pembentukan sirip punggung mulai terjadi pada hari pertama. mulut dan anus belum terbuka. cenderung menggerombol pada kondisi tanpa aerasi dan kuning telur tersebar merata. pembelahan sel pertama kali terjadi 40 menit setelah pembuahan.

7 Teknik pembenihan Menurut Anonim (2010) pada teknik pembenihan ada beberapa tahap untuk melaksanakannya berupa: . Ikan kerapu memiliki kebiasaan makan pada siang hari dan malam hari dan lebih aktif pada waktu fajar dan senja hari. Sesuai dengan bukaan mulut ikan kerapu tikus.29 ºC (Salim. 2.habis terabsorbsi. rotifera merupakan pakan pertama. krustacea kecil. Ikan kerapu sebagai ikan karnivora juga sebagai ikan pemangsa yang aktif bergerak pada malam hari. Setelah telur menetas sampai dengan hari ke tiga larva dapat makan secara endragenus yaitu dengan mengabsorsi kuning telur yang di bawanya. Ikan kerapu tikus bersifat karnivora terutama larva molusca. Setelah itu mendapatkan makan secara eksogenus pada hari ke tiga dengan mulai terbukanya mulut. dapat pula terjadi karena kesalahan dalam menentukan jadwal pemberian pakan dan rendahnya mutu pakan (Salim. 2009). Kematian yang terjadi pada larva hari ke lima dan seterusnya dapat terjadi karena disebabkan oleh suatu keadaan hanya 50 % larva yang mampu makan pada kondisi dimana jumlah pakan optimal. kopepoda. Sedangkan untuk ikan kerapu tikus yang dewasa menyukai ikan – ikan kecil. sedangkan sisanya tidak mampu lagi memangsa pakan yang tersedia. krustacea dan cepalophoda. 2009). Pada periode perkembangan larva kerapu tikus sampai tahap metamorfosis penuh membutuhkan waktu 35 – 40 hari pada suhu 27 . dan zooplankton. rotifera. Ikan kerapu biasanya mencari makan dengan cara menyergap mangsanya dari tempat persembunyiannya.

2. Teknik pemijahan dengan manipulasi lingkungan ini dikembangkan berdasarkan pemijahan ikan kerapu di alam.1. 2010). 2010).2. Diluar pemijahan ikan. 2. (Anonim.10 kg/m 3 .3. kadar garam.5 . berbentuk empat persegi panjang (Anonim. yaitu dengan rangsangan atau kejutan faktor-faktor lingkungan seperti suhu.7. 2. Kurungan apung untuk pemeliharaan induk berukuran 3 x 3 x 3 m3. Bak penetasan sekaligus juga merupakan bak pemeliharaan larva yang berukuran 4 x 1 x 1 m 3 terbuat dari beton. Pemijahan mengikuti fase peredaran bulan. Bak pemijahan dengan kapasitas 100 ton.15 mg/ekor/minggu. takaran pakan yang diberikan sebesar 3 5% dari total berat badan ikan/hari. (Anonim. Disamping itu diberikan pula vitamin E dengan dosis 10 . sedangkan pada musim pemijahan diturunkan menjadi 1%. . 3.Metode Metode yang digunakan adalah manipulasi lingkungan. kedalaman air dan lain-lain.7. 2010).Pemeliharaan Induk Induk ikan kerapu yang dipijahkan dipelihara dengan padat penebaran induk 7.7. 2. pada saat bulan terang atau bulan gelap. Untuk merangsang terjadinya perkawinan antara jantan dengan induk betina matang kelamin digunakan metoda manipulasi lingkungan di bak terkontrol.Sarana Pembenihan 1. Pakan yang diberikan berupa ikan rucah segar berkadar lemak rendah.

7. 2010).6. 2010). (Anonim.5. Sel kelamin betina terbentuk setelah berumur 2 tahun dengan panjang 50 cm dan berat 5 kg. Telur yang diperoleh diamati untuk mengetahui tingkat kematangannya. kemudian dihisap. yaitu pada kehidupan awal belum ditentukan jenis kelaminnya.2. Kematangannya kelamin induk betina diketahui dengan cara kanulasi. Takaran yang diberikan adalah : Hormon testosteron 2 mg/kg induk Multivitamin 10 mg/kg induk.7. .7. Pemijahan 1. garis tengah (diameter) telur diatas 450 mikron. Ada kenyataannya lebih banyak ditemui ikan kerapu jantan atau mempercepat perubahan kelamin dari betina ke jantan dapat dipacu/dirangsang dengan hormon testosteron. Pemberian hormon testosteron dilakukan secara oral melalui makan setiap minggu.5 m dan salinitas + 32 ‰. diikuti dengan penambahan multivitamin. Induk kerapu matang kelamin dipindahkan ke bak pemijahan yang sebelumnya telah diisi air laut bersih dengan ketingian 1.Seleksi Induk Kematangan kelamin induk jantan ikan kerapu diketahui dengan cara mengurut bagian perut ikan (stripping) ke arah awal sperma yang keluar warna putih susu dan jumlahnya banyak diamati untuk menentukan kualitasnya. 2. Sel kelamin betina berubah menjadi sel kelamin jantan pada umur 4 tahun dengan panjang tubuh sekitar 70 cm dan berat 11 kg. 2.4. (Anonim. yaitu memasukkan selang plastik ke dalam lubang kelamin ikan.Sex reversal Kerapu termasuk ikan yang "hermaprodit protogyni".

telur segera dipanen dan dipindahkan ke bak penetasan. Pengamatan pemijahan ikan dilakukan setiap hari setelah senja sampai malam hari. Tiga hari sebelum bak penetasan/bak pemeliharaan larva digunakan.bak pemeliharaan larva.000 . Pemijahan umumnya terjadi pada malam hari antara jam 22.24.00 .2. 5. 2. Penetasan telur Menurut (Anonim. dan apabila induk telah memijah harus segera dipindahkan ke tangki yang lain.000 butir.7. Ikan Kerapu Tikus selama bertelur induk tidak boleh di beri pakan.7. Bila diketahui telah terjadi pemijahan.200. (Anonim. Manipulasi lingkungan dilakukan menjelang bulan gelap yaitu dengan cara menaikkan dan menurunkan permukaan/tinggi air setiap hari selama 5-7 jam. berbentuk empat persegi panjang dengan ukuran 4 x 1 x 1 m³ . Perlakuan ini dilakukan terus menerus sampai induk memijah secara alami. Telur yang telah dibuahi berjumlah lebih kurang 1.000 IU/kg induk Puberogen 150 .5 m). 2010) bak yang dipergunakan untuk penetasan telur sekaligus juga merupakan bak pemeliharaan larva. Rangsangan hormonal induk kerapu matang kelamin disuntik dengan hormon Human Chorionic Gonadotropin (HCG) dan Puberogen untuk merangsang terjadinya pemijahan. 3. terbuat dari beton. Takaran hormon yang diberikan : o o HCG 1. 2010).00 WIB. Setelah 7 jam permukaan air dikembangkan ke possisi semula (tinggi air 1. perlu dipersiapkan dahulu dengan .2.225 RU/kg induk 4.

cara dibersihkan dan dicuci hamakan memakai larutan chlorine (Na OCI) 50 - 100 ppm. Setelah itu dinetralkan dengan penambahan larutan Natrium thiosulfat sampai bau yang ditimbulkan oleh chlorine hilang. Air laut dengan kadar garam 32 ‰ dimasukkan ke dalam bak, satu hari sebelum larva dimasukkan dengan maksud agar suhu badan stabil berkisar antara 27 - 28°C. Sebelum telur ditetaskan perlu direndam dalam larutan 1 - 5 ppm acriflavin untuk mencegah serangan bakteri. Telur hasil pemijahan dikumpulkan dengan sistim air mengalir. Telur yang dibuahi akan mengapung dipermukaan air dan berwarna jernih (transparan). Telur akan menetas dalam waktu 18 - 22 jam setelah pemijahan pada suhu 27 - 28°C dan kadar garam 30 - 32 ‰. Telur yang telah dibuahi berjumlah lebih kurang 1.200.000 butir. Jumlah telur diperkirakan hanya 30% saja yang dibuahi (Suria D, 2002). Telur yang telah dibuahi tidak berwarna (transparan) sedangkan yang tidak dibuahi dan yang mati berwarna putih susu. 2.7.8 Pemeliharaan Larva Larva kerapu yang baru menetas mempunyai cadangan makanan berupa kuning telur. Pakan ini akan dimanfaatkan sampai hari ke 2 (D2) setelah menetas dan selama kurun waktu tersebut larva tidak memerlukan dari luar. Umur 3 hari (D3) kuning telur mulai terserap habis, perlu segera diberi pakan dari luar berupa Rotifera Brachionus Plicatilis dengan kepadatan 1 - 3 ekor/ml. Disamping itu ditambahkan pula Chlorella sp dengan kepadatan antara 50.000-100.000 sel/ml. Pemberian pakan ini sampai larva berumur 16 hari (D16). Pada hari kesembilan (D9) mulai diberi pakan naupli artemia yang baru menetas dengan kepadatan 0,25

- 0,75 ekor/ml media. Pemberian pakan naupli artemia ini dilakukan sampai larva berumur 25 hari (D25) dengan peningkatan kepadatan hingga mencapai 2 - 5 ekor/ml media. Disamping itu pada hari ke tujuh belas (D17) larva mulai diberi pakan Artemia yang telah berumur 1 hari, kemudian secara bertahap pakan yang diberikan diubah dari Artemia umur 1 hari ke Artemia setengah dewasa dan akhirnya dewasa sampai larva berumur 50 hari (Anonim, 2010).

2.8 Parameter Kualitas Air Pemeliharaan Lokasi budidaya yang ideal, selain pertimbangan umum di atas, juga harus memenuhi persyaratan-persyaratan kualitas airnya. Faktor kualitas air yang perlu diperhatikan untuk pemeliharaan pembenihan Kerapu tikus meliputi sifat fisika : Suhu dan Kecerahan, dan kimia meliputi : pH, DO dan Salinitas. Pemenuhan akan kebutuhan air harus diupayakan agar produksi benih ikan laut yang berkualitas, dalam jumlah yang cukup, dan kontunu dapat berhasil (Ghufran, M dan Andi Tamsil. 2010). 2.8.1 Suhu Suhu mempengaruhi aktivitas metabolisme organisme, karena itu penyebaran organisme baik di lautan maupun di perairan air tawar dibatasi oleh suhu perairan tersebut. Secara umum laju pertumbuhan meningkat sejalan dengan kenaikan suhu, dapat menekan kehidupan biota bahkan dapat menyebabkan kematian bila peningkatan suhu sampai ekstrem (drastis) (Kordi, 2005). Suhu optimal untuk pertumbuhan kerapu tikus adalah 27oC-32oC (Octopus, 2008).

2.8.2 Kecerahan Perairan yang memiliki tingkat kecerahan sangat tinggi dapat menembus ke dasar perairan adalah indikator yang perairannya cukup jernih dan sangat baik untuk digunakan sebagai lokasi pembesaran. Kecerahan perairan yang sangat cocok untuk pembesaran kerapu bebek adalah lebih dari 2 meter, artinya secara visual dapat dilihat benda-benda di dalam air yang kedalamannya hingga lebih dari 2 meter (Octopus, 2008). 2.8.3 Derajat Keasaman (pH) Pada pH air dapat mempengarui tingkat kesuburan perairan karena mempengaruhi kehidupan jasad renik. Perairan asam akan kurang produktif, malah dapat membunuh ikan. Pada saat pH rendah kandungan oksigen terlarut akan berkurang, sebagai akibatnya konsumsi oksigen menurun, aktifitas pernapasan naik dan selera makan akan berkurang (Kordi, 2005). Kerapu tikus sangat baik bila dipelihara pada air laut dengan pH 7-9. 2.8.4 Oksigen Terlarut (DO) Konsentrasi oksigen dalam air dapat berpengaruh terhadap pertumbuhan dan konversi pakan. Konsentrasi oksigen terlarut merupakan salah satu faktor yang membatasi bagi ikan yang dibudidayakan, karena sangat diperlukan untuk kehidupan ikan. Pertumbuhan ikan-ikan laut, kandungan oksigen terlarut dalam air minimal 4 ppm, sedangkan kandungan optimum antara 5-6 ppm (Kordi, 2005), menambahkan bahwa ikan Kerapu tikus dan macan dapat hidup optimal pada konsentrasi oksigen lebih dari 5 ppm.

Salinitas yang ideal untuk pembesaran ikan Kerapu tikus adalah 30-33 ppt (Octopus.8. Hal ini akan mengakibatkan mikroba usus mengubah nitrat menjadi nitrit sebagai senyawa yang lebih berbahaya.5 Salinitas Lokasi yang berdekatan dengan muara tidak dianjurkan karena terpengaruh oleh masuknya air tawar dari sungai sehingga salinitas dapat berubah dan akan mempengaruhi pertumbuhan dan nafsu makan ikan yang dipelihara. yang merupakan bagian dari siklus nitrogen. yang menyebabkan kemampuan hemoglobil darah untuk mengikat oksigen rendah. Konsentrasi nitrit maximum yang diperbolehkan dalam kegiatan budidaya ikan adalah < 0.dalam darah memicu terjadinya oksidasi Fe2+. 2007). Aktifitas mikroba di tanah atau air menguraikan sampah yang mengandung nitrogen organik pertama-pertama menjadi ammonia. NO2. 2.06 mg/l (Wahyudhy H.8. maka banyaknya zat makanan akan menghambat absorbsi dari kedua zat ini dan baru akan diabsorbsi di traktus digestivus bagian bawah. . Karena itu. kemudian dioksidasikan menjadi nitrit dan nitrat. pembentukan nitrit pada intestinum mempunyai arti klinis yang penting terhadap keracunan.2.6 Nitrit Nitrat (NO3-) dan nitrit (NO2-) adalah ion-ion anorganik alami. Apabila nitrat dan nitrit yang masuk bersamaan dengan makanan. 2008).

S dan . 2. pupuk yang digunakan harus mengandung unsur hara yang dibutuhkan seperti N.9 Penyediaan Pakan untuk Pemeliharaan Larva Sebelum mengawinkan ikan. Mn. artemia. selanjutnya ditambah pupuk cair sebanyak 1 ml/lt. rotifera (Branchionus sp) yang dipeoleh dari usaha kultur massal (Pramu S dan Mustahal. Air laut tersebut kemudian dimasukkan kedalam botol-botol yang telah disiapkan. 2002). Budidaya plankton dilakukan pada botol dengan volume 0. S. P. dengan mengatur rasio N/P supaya Nannochloropsis dapat mendominasi yang lainnya.2.5 liter-1 liter air yang akan disiapkan sebagai media tumbuh plankton sebelumnya disterilkan terlebih dahulu dengan menggunakan klorine kemudian air laut di biarkan selama 3-5 hari sampai residu klorine hilang. Jasad pakan merupakan faktor penentu dalam keberhasilan pemeliharaan larva. K dan Mg sebagai unsure hara makro serta unsure hara mikro Fe.1 Nannochloropsis oculata Domain Kingdom Phylum Class Genus Spesies : Eukaryota : Chomalveolata : Heterokontophyta : Eustigmatophyceae : Nannochloropsis : Nannochloropsis oculata Membudidaya Chlorella dapat diambil langsung dari tambak budidaya. Jasad pakan untuk keperluan ini meliputi alga (Nannochloropsis oculata). persediaan pakan berupa jasad pakan dan pakan buatan yang nantinya diberikan kepada larva harus siap dalam jumlah dan mutu gizinya.9. Zn. Salinitas air laut yang diharapkan adalah 2528 ppt.

Selanjutnya. Jangka waktu penetasan tergantung pada asal produk kista artemia.9.sebagainya. Penetasan kista dilakukan dengan menggunakan bak-bak kerucut yang berisi air laut dan dipasok aerasi kuat padatingkat 10-20 liter per menit. 2. Ukuran panjang nauplius artemia yang baru ditetaskan sekitar 200-300 atau tergantung pada strainnya. 2003). nauplii dan kotoran dicuci dengan air laut dan dimasukkan ke dalam 15 menit. .2 Artemia sp Kingdom Class Ordo Family Genus Spesies : Animalia : Crustacea : Anostraca : Artemidae : Artemia : Artemia sp Artemia dalam bentuk nauplius mudah diperoleh. Setelah media siap bibit plankton dimsukkan 1/3 bagian dan siap dipanen 5-6 hari (Edhy W dkk. sedangkan kotoran akan mengapung. Baru setelah itu kumpulan nauplii artemia yang tampak hidup atau bergerak disipon sambil disarin dan dicuci. Komposisi 5 gram kista artemia per liter cukup untuk menetaskan kista tersebut. 1995). yaitu dengan cara menetaskan kistanya yang tersedia dipasar dalam bentuk kemasan kalengan. Aerasi dihentikan dan bagian bawah wadah diberi sinar agar nauplii mengumpul didasar. Kista-kista yang tidak menetas sebaiknya tidak dicampur dengan nauplii karena bila diberikan sebagai pakan larva maka kista akan termakan. Pemisahan nauplius artemia dari cangkang serta kista yang tidak menetas dilakukan dengan cara mengumpulkan nauplii dan kotoran lalu disaring dengan saringan 120µ. tetapi tidak dapat dicerna oleh larva (Siregar. Abbas.

Branchionus memiliki kecepatan pertumbuhan dan reproduksi tinggi. 2.10 Pemberian Pakan Pada pemberian pakan perlu beberapa hal yang diperhatikan. 2. Rotifer merupakan salah satu jenis rotifer yang biasa diproduksi secara massal. frekuensi pemberian pakan dan waktu pemberian pakan. badan. betina memproduksi 20 butir telur atau lebih selama 7-10 hari masa hidupnya. .3 Rotifer Phyllum Kelas Ordo Famili Genus Spesies : Avertebrata : Eurotaria : Ploima : Brachionidae : Brachionus : Brachionus sp. Siregar. Untuk tujuan ini dilakukan dengan memanipulasi lingkungan hidupnya agar artemia terpaksa melangsungkan perkembangbiakan secara ovipar uang menghasilkan telur (Siregar. Organisme rotifer berbentuk simetris bilateral manyerupai piala. dan kaki / ekor. Tubuh yaitu. Kultur dilakukan dalam ruang terbuka yang cukup mendapatkan cahaya matahari. Kultur missal rotifera dilakukan pada bak volume 5-12 m3. Pada kondisi normal. Abbas. namun rotifera yang dihasilkan dari metode transfer lebih bersih. Secara umum dikenal 2 metode kultur rotifera yaitu metode panen harian lebih praktis dan mudah sedangkan pada metode transfer diperlukan bak kultur yang lebih banyak. tetapi secara teknis siste atermia dapat diproduksi secara massal dalam tempat (wadah) yang terkendali.9. 1995). Abbas (1995). seperti rasio pakan. kepala.Meskipun secara ekonomis kurang menguntungkan.

Frekuensi pemberian pakan yang optimal tergantung dari jenis ikan yang dipelihara.3.11 Survival Rate Survival Rate atau SR adalah tingkat kelangsungan hidup.2. Jenis ikan/udang yang aktif bergerak memerlukan lebih banyak makanan dibandingkan jenis ikan yang bergerak pasif. Waktu Pemberian Pakan Waktu pemberian pakan di sesuaikan dengan sifat. rasio pemberian pakan kerapu 4 6% (Salim. dan apabila induk telah memijah harus segera dipindahkan ke tangki yang lain. Rasio Pakan Rasio pemberian pakan harus tepat agar pakan yang di berikan dapat efisien dikonvesikan oleh ikan/udang sehingga kelangsungan hidup yang optimal. pemberian pakan setiap dua hari sekali. 2. Dari jumlah diperkirakan hanya 30% saja .10. 2009). Frekuensi Pemberian Pakan Frekuensi pemberian pakan yang tepat akan menghasilkan pertumbuhan yang optimal dan penggunaan pakan yang efisien. 2009). Rasio pemberian pakan yang optimal ditentukan oleh jenis ikan yang dipelihara.10. Ikan Kerapu Tikus selama bertelur induk tidak boleh di beri pakan.10.sifat makan organisme yang dipelihara. Pada ikan yang hidup di dasar perairan dan bergerak altif pada malam hari seperti ikan kerapu.1. Telur yang telah dibuahi berjumlah lebih kurang 1. 2. Pada pemelihara ikan.2.000 butir.200. Pakan yang dimakan ikan kerapu telah dicerna 95% setelah 36 jam (Salim. waktu pemberian pakan biasanya dilakukan pagi dan sore hari (Salim. 2. 2009).

diantaranya adalah penyakit borok pangkal sirip ekor dan penyakit mulut merah.yang dibuahi. Hasil isolasi dan identifikasi bakteri ditemukan beberapa jenis bakteri yang diduga berkaitan erat dengan kasus penyakit bakterial. 2007). yaitu Vibrio alginolyticus. rumus untuk mencari SR adalah (Jatilaksono. Diantara jenis bakteri tersebut bakteri V alginolyticus dan V fuscus merupakan jenis yang sangat patogen pada ikan kerapu tikus (Salim. 2009). 2007): SR = Nt/No x 100% Keterangan : SR : Survival Rate Nt : Jumlah ikan akhir (saat pemanenan) No : Jumlah ikan awal (saat penebaran) 2. V algosus. SR kerapu tikus 5% (Darwisito. . Telur yang terbuahi melayang atau terapung pada salinitas 33 permil. Jenis penyakit bakterial yang ditemukan pada ikan kerapu.12 Penyakit Permasalahan penyakit yang paling banyak pada ikan bersirip (finfish) dijumpai pada budidaya ikan kerapu. sebaliknya telur yang tidak terbuahi akan tenggelam didasar tangki. V anguillarum dan V fuscus. Telur yang telah dibuahi tidak berwarna (transparan) sedangkan yang tidak dibuahi dan yang mati berwarna putih susu.

2. membentuk kolom berukuran 0. 2009). sukrosa dan maltosa. motil.8-1.2 cm yang berwarna kuning pada media TCBS. Bakteri ini merupakan jenis bakteri yang paling patogen pada ikan kerapu tikus dibandingkan jenis bakteri lainnya.Vibrio anguillarum Dibandingkan dengan V alginolyticus. 2. Penumbuhan bakteri pada media selektif TCBS akan didapatkan koloni yang kekuningan dengan ukuran yang hampir sama dengan koloni V alginolyticus akan tetapi bakteri ini tidak tumbuh swarm pada media padat non-selektif seperti NA (Salim. Pada uji patogenisitas ikan kerapu tikus ukuran 5 gram yang diinfeksi bakteri dengan kepadatan tinggi hingga 108 CFU/ikan hanya mengakibatkan mortalitas 20%. Stadia parasit yang menginfeksi .1.12. Ciri lain adalah gram negatif. Sifat lain yang tidak kalah penting adalah sifat proteolitik yang berkaitan dengan mekanisme infeksi bakteri (Salim.3. fermentasi glukosa. Pengendalian penyakit dapat dilakukan dengan penggunaan berbagai jenis antibiotika seperti Chloramfenikol.2. V anguillarum merupakan spesies yang kurang patogen terhadap ikan air payau.12.Cryptocaryonosis Penyakit ini sering ditemukan pada ikan kerapu bebek dan macan. bentuk batang.2. Kematian masal pada benih diduga disebabkan oleh infeksi bakteri V alginolyticus. eritromisina dan oksitetrasiklin.2009). laktosa.Vibrio alginolyticus Vibrio alginolyticus dicirikan dengan pertumbuhannya yang bersifat swarm pada media padat non selektif. Diagnosis penyakit dapat dilakukan dengan melakukan isolasi dan identifikasi bakteri.12. dengan tanda ikan yang tersering terlihat bercak putih.

sementara parasit ini mengambil partikel organik dan bakteri yang menempel di kulit ikan. Pelekatan pada insang juga seringkali disertai luka dan sering ditemukan set darah merah dalam vakuola makanan Trichodina.5 mm.12. 2. terutama pada benih dan ikan muda.3-0. dan dilengkapi dengan silia.Infestasi Trichodina sp Penempelan Trichodina pada tubuh ikan sebenarnya hanya sebagai tempat pelekatan (substrat). perendaman ikan dalam air bersalinitas 8 ppt selama beberapa jam dan memindahkan ikan yang sudah diperlakukan ke dalam wadah baru bebas parasit (Salim.Diagnosis dapat dilakukan dengan melihat gejala seperti adanya bercak putih. kadang disertai dengan hemoragi. 2009). Trichodina yang merupakan . Tetapi karena pelekatan yang kuat dan terdapatnya kait pada cakram. Pada kondisi ini maka Trichodina merupakan ektoparasit sejati. Erosi (borok) dapat terjadi karena infeksi sekunder dari bakteri. bercak putih pada kulit. Serangan penyakit dapat diatasi dengan penjagaan kualitas air. mengerok dari lendir. mengakibatkan seringkali timbul luka. tetapi untuk lebih memantapkan (diagnosis definitif) perlu dilakukan pengamatan secara mikroskopis dengan cara memotong insang. Tanda klinis ikan yang terserang adalah ikan seperti ada gangguan pernafasan.ikan dan menimbulkan penyakit adalah disebut trophont berbentuk seperti kantong atau genta berukuran antara 0. Perlakuan bahan kimia pengendali parasit dapat dilakukan seperti perendaman dalam larutan formalin 25 ppm. kehilangan nafsu makan sehingga ikan menjadi kurus.4. produksi mukus yang berlebihan.

Diagnosis dapat dilakukan dengan cara melakukan pengerokan (scraping) pada kulit.12. produksi lendir yang berlebihan dan terlihat kurus. dan akan lebih parah lagi karena ikan yang terinfeksi dengan parasit sering menggosok-gosokkan tubuhnya ke dinding bak atau substrat keras lainnya. berukuran cukup besar sehingga dapat diamati dengan tanpa bantuan mikroskop. Timbulnya luka akan diikuti dengan infeksi bakteri Caligus sp. Perlakuan terhadap ikan yang terinfeksi oleh parasit adalah dengan cara perendaman dalam larutan formalin 200-300 ppm (Salim. Perlakuan ikan terserang parasit cukup mudah. atau mengambil lembaran insang dan melakukan pemeriksaan secara mikroskopis.ektoparasit pada ikan air laut mempakan spesies yang bersifat sebetulnya lebih bersifat komensal daripada ektoparasit (Salim. Penempelan ektoparasit ini dapat menimbulkan luka. Ikan yang terserang Trichodina biasanya warna tubuhnya terlihat pucat.Pencegahan terhadap wabah penyakit adalah dengan cara pengendalian kualitas lingkungan. Perlakuan . yang didapatkan pada ikan air payau merupakan spesies yang memiliki toleransi yang luas terhadap kisaran salinitas. yaitu hanya merendamnya dalam air tawar selama beberapa menit. 2. karena mewabahnya penyakit berkaitan dengan rendahnya kualitas lingkungan. ditemukan baik pada induk ikan maupun di tambak. Trichodina yang menempel di insang umunmya berukuran lebih kecil dibandingkan yang hidup di kulit.2009). Trichodina spp.5.Caligus sp parasit golongan Crustacea Parasit jenis ini sering. 2009). contohnya adalah Trichodinella.

sehingga ikan yang terserang penyakit ini sebaiknya dimusnahkan agar tidak menular ke ikan lain (Khordi. Hingga kini belum ditemukan obat yang efektif untuk mengatasi virus. VNN merupakan virus yang mematikan. 2. baik iridovirus maupun nodavirus. Penggunaan bahan seperti Triclorvon (Dyvon 95 SP) hingga 2 ppm dapat mematikan parasit (Salim. 2010). yaitu virus penyebab VNN (Viral Nervous Necrosis). . 2009).dengan formalin 200-250 ppm juga cukup efektif. Virus lain yang menyerang ikan laut adalah Nodavirus. Virus ini menyebabkan hypertrophy(penebalan) dari sel-sel jaringan ikan.6 Virus Jenis viral atau virus yang telah teridentifikasi menyerang ikan laut adalah Iridovirus/ DNA. terutama menyerang larva dan juwana ikan laut (Khordi. 2010). menimbulkan tonjolan pada daerah sirip atau kulit (nodul)yang dapat terjadi secara sata-satu atau kelompok.12.

1 Tempat dan Waktu Praktek kerja lapang ini akan dilaksanakan di Balai Budidaya Air Payau terletak di Desa Pecaron.3 Metode Pengumpulan Data Data yang diambil dalam Praktek Kerja Lapangan ini berupa data primer dan data sekunder yang yang diperoleh melalui beberapa metode atau cara atau cara pengambilan. diamati dan dicatat untuk pertama kalinya melalui prosedur dan teknik . yaitu metode yang menggambarkan keadaan atau kejadian pada suatu daerah tertentu.2 Metode Kerja Metode yang digunakan dalam praktek kerja lapang ini adalah metode deskriptif.III PELAKSANAAN 3. Kabupaten Situbondo.1 Data Primer Data Primer merupakan data yang diperoleh langsung dari sumbernya. faktual dan akurat mengenai fakta-fakta dan sifat-sifat populasi atau daerah tertentu.3. Suryabrata (1993) mengatakan bahwa metode deskriptif adalah metode untuk membuat pencandraan secara sistematis. Kecamatan Panarukan. Propinsi Jawa Timur (Lampiran 1). 3. 3. 3. Kegiatan ini dilaksanakan mulai pertengahan 19 Juli – 31 Agustus 2010.

Dalam proses wawancara dengan menggunakan pedoman umum wawancara ini. partisipasi aktif maupun memakai instrumen pengukuran yang khusus sesuai tujuan (Azwar.pengambilan data yang berupa interview. pemeliharaan dan pemanenan. 1998) Patton dalam Poerwandari (1998) menjelaskan pedoman wawancara digunakan untuk mengingatkan interviewer mengenai aspek-aspek apa yang harus . 1988). 1998). Observasi pada Praktek Kerja Lapang ini dilakukan terhadap berbagai hal yang berhubungan dengan kegiatan pembenihan meliputi persiapan alat dan wadah budidaya. interview dilengkapi pedoman wawancara yang sangat umum serta mencantumkan isu-isu yang harus diliput tanpa menentukan urutan pertanyaan. A. pembuatan pupuk. penebaran bibit. Wawancara Wawancara merupakan cara mengumpulkan data dengan cara tanya jawab sepihak yang dikerjakan secara sistematis dan berlandaskan pada tujuan penelitian. Pada Praktek Kerja Lapang ini wawancara akan dilakukan dengan menggunakan pedoman wawancara. Wawancara memerlukan komunikasi yang baik dan lancar antara peneliti dengan subyek sehingga pada akhirnya bisa didapatkan data yang dapat dipertanggungjawabkan secara keseluruhan (Nazir. 1998). bahkan mungkin tidak terbentuk pertanyaan yang eksplisit (Patton. pengisian media. Observasi Observasi atau pengamatan secara langsung adalah pengambilan data dengan menggunakan indera mata tanpa ada pertolongan alat standart lain untuk keperluan tersebut (Nazir. B. observasi.

penebaran bibit. masyarakat dan pihak lain yang berhubungan dengan usaha pembenihan ikan Kerapu Tikus. Kegiatan yang dilakukan adalah pembenihan ikan Kerapu Tikus. lembaga penelitian. pengisian media. 3.2 Data Sekunder Data sekunder adalah data yang diperoleh dari sumber tidak langsung dan telah dikumpulkan serta dilaporkan oleh orang diluar dari penelitian itu sendiri (Azwar.3. dinas perikanan. C. Kegiatan tersebut diikuti secara langsung mulai dari persiapan alat dan wadah budidaya. Data ini dapat diperoleh dari data dokumentasi. laporan-laporan pihak swasta.1998). . Dengan pedoman demikian interviwer harus memikirkan bagaimana pertanyaan tersebut akan dijabarkan secara kongkrit dalam kalimat tanya. juga menjadi daftar pengecek (check list) apakah aspek-aspek relevan tersebut telah dibahas atau ditanyakan. pustaka-pustaka. 1988).dibahas. Partisipasi Aktif Partisipasi aktif adalah keterlibatan dalam suatu kegiatan yang dilakukan secara langsung di lapangan (Nazir. pemeliharaan dan pemanenan serta kegiatan lainnya yang yang berkaitan dengan Praktek Kerja Lapang yang dilakukan. sekaligus menyesuaikan pertanyaan dengan konteks aktual saat wawancara berlangsung.

1. Jawa Tengah. maka pada tanggal 1 Mei 2001 status Loka Balai Budidaya Air Payau dinaikkan menjadi Balai Budidaya Air Payau .1 Sejarah Berdirinya Balai Budidaya Air Payau Situbondo didirikan pada tahun 1986. Sub Senter Udang Windu ini terletak di Desa Blitok. Loka Balai Budidaya Air Payau Situbondo merupakan Unit Pelaksana Teknis (UPT) Direktorat Jenderal Perikanan di bidang pengembangan produksi budidaya perikanan air payau yang berada di bawah dan bertanggung jawab kepada Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya.IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Keadaan Umum Lokasi Praktek Kerja Lapang 4. divisi udang dan divisi budidaya. Sub Senter Udang Windu ini kemudian melepaskan diri dari Balai Budidaya Air Payau Jepara dan berganti nama menjadi Loka Balai Budidaya Air Payau Situbondo yang ditetapkan pada tanggal 18 April 1994 melalui Surat Keputusan Menteri Pertanian Nomor: 264/Kpts/OT. Dengan beban tugas dan tanggung jawab yang semakin berat. Kabupaten Situbondo dan merupakan cabang dari BBAP Jepara. Departemen Pertanian. Kecamatan Mlandingan. Pada awalnya balai ini bernama Proyek Sub Senter Udang Windu Jawa Timur yang pada saat itu masih berupa fasilitas pemeliharaan benur udang windu di bawah naungan Direktorat Jenderal Perikanan. Loka Balai Budidaya Air Payau Situbondo terdiri dari tiga divisi meliputi divisi ikan.210/4/94.

2. Divisi ikan terletak di Dusun Pecaron.1. 260/MEN/2001. Kecamatan Mlandingan sekitar 10 Km ke arah Barat dari kantor utama dengan luas areal 1. b. Unit Tuban yang terletak di Kabupaten Tuban dengan luas areal 7 Ha.Situbondo berdasarkan Surat Keputusan Menteri Perikanan dan Kelautan No.45 Ha. KEP. Sebelah Timur berbatasan dengan hatchery udang milik PT. Unit Blitok. divisi ikan. Panarukan Situbondo. Jawa Timur. Sebelah Barat berbatasan dengan usaha pembenihan Kelola Benih Ungul (KBU) dan pemukiman penduduk. Unit Gelung yang terletak di desa Gelung Kecamatan Panarukan sekitar 25 Km ke arah Timur dari kantor utama dengan luas areal 8 Ha. Divisi udang terletak di 3 lokasi yang berbeda yaitu : 1. dan divisi budidaya. Lokasi Balai Budidaya Air Payau (BBAP) Situbondo ini berbatasan dengan: a. Kabupaten Situbondo yang merupakan kantor utama dengan luas areal 4.39 Ha. . 3. Kecamatan Kendit. 4. Divisi budidaya terletak di Desa Pulokerto Kecamatan Kraton Kabupaten Pasuruan dengan luas areal 30 Ha yang merupakan areal untuk produksi rumput laut Glacilaria. dan ikan bandeng. Desa Klatakan. Sebelah Utara berbatasan dengan Selat Madura. c. Central Pertiwi Bahari (CPB). udang. BBAP ini terdiri dari 3 divisi yaitu : divisi udang.2 Letak dan Keadaan Lokasi Balai Budidaya Air Payau (BBAP) Situbondo teletak di jalan raya Pecaron.

mengkoordinasi dan mengarahkan tugas penerapan teknik pembenihan dan pembudidayaan ikan air payau maupun laut serta pelestarian sumber daya induk atau benih sesuai dengan prosedur dan peraturan yang berlaku untuk kelancaran pelaksanaan kegiatan. BBAP Situbondo berada di tepi pantai utara Pulau Jawa dan lokasi ini dipengaruhi oleh dua musim. Peta wilayah kabupaten Situbondo. Kepala Balai Budidaya Air Payau (BBAP) Situbondo Kepala BBAP Situbondo memiliki tugas dan wewenang seperti : merumuskan kegiatan. Kepala Bagian Tata Usaha 3. Seksi Pelayan Teknis 5. terdiri dari: 1. yaitu musim penghujan (November-Maret) dan musim kemarau (April-Oktober). Sebelah Selatan berbatasan dengan pemukiman desa Klatakan.260/MEM/2001 tentang organisasi dan tata kerja BBAP Situbondo. . No. 4.1. Jawa Timur dapat dilihat pada lampiran.3 Struktur Organisasi Berdasarkan Surat Keputusan Mentri Kelautan dan Perikanan RI.Kep. Seksi Standarisasi dan Informasi 4. Kelompok Jabatan Fungsional Susunan organisasi BBAP Situbondo secara lengkap dapat dilihat pada gambar 1 dengan uraian tugas sebagai berikut: 1.d. Secara geografis. BBAP Situbondo terletak pada 113o55’66”BT-114”BT dan 07o41’32” LS-07o42’35”LS. Kepala Balai Budidaya Air Payau (BBAP) Situbondo 2.

2. sumber daya induk dan benih. 5. perlengkapan. 4. persuratan. dan rumah tangga BBAP Situbondo serta pelaporan. Kepala bagian tata usaha Kepala bagian tata usaha bertugas melakukan administrasi keuangan. Seksi Standarisasi dan Informasi Seksi standarisasi dan informasi mempunyai tugas menyiapkan bahan standar teknik dan pengawasan pembenihan dan budidaya ikan air payau dan laut. Kelompok Jabatan Fungsional Kelompok jabatan fungsional bertugas melaksanakan kegiatan perekayasaan. serta pengelolahan jaringan informasi dan perpustakaan. penerapan dan bimbingan penerapan standar/sertifikasi pembenihan dan pembudidayaan ikan air payau dan laut. pengendalian hama dan penyakit serta lingkungan. penerapan serta pengawasan teknik pembenihan dan budidaya ikan air payau dan laut. pengujian. Seksi Pelayaan Teknik Seksi pelayanan teknik bertugas melakukan pelayanan teknik kegiatan pengembangan. kepegawaian. 3. budidaya dan penyuluhan. serta kegiatan lain yang sesuai dengan tugas masing-masing jabatan fungsional berdasarkan peraturan perundangundangan yang berlaku. . pengendalian hama dan penyakit ikan.

Sarana Budidaya yang digunakan di Balai Budidaya Air Payau Situbondo untuk kegiatan pembenihan meliputi wadah tandon air yang terbuat dari beton.1. . No Klasifikasi Kualifikasi 1 Tingkat pendidikan Master (S2) Sarjana (S1) Lainnya Jumlah 2 Fungsional Perekayasa Litkayasa Pengawas Pranata Humas Umum Lainnya Jumlah Jumlah (orang) 10 45 88 143 17 16 27 3 26 54 143 4. Sarana Budidaya Sarana budidaya merupakan factor utama yang mendukung kegiatan pembenihan sehingga perlu diperhatikan bentuk dan posisisnya.2 Sarana dan Prasarana Umum BBAP Situbondo 4. kultur rotifer.4 Kepegawaian Dalam melakukan tugasnya Balai Budidaya Air Payau Situbondo didukung sumberdaya manusia sebanyak 143 orang karyawan berstatus pegawai negeri sipil dengan berbagai tingkat pendidikan. pemeliharaan benih. wadah pemeliharaan induk. pemeliharaan larva. Dukungan Sumberdaya Manusia di BBAP Situbondo. dan wadah inkubasi telur yang berbentuk akuarium kaca.1 Sarana Umum A.4. Tabel 1. kultur mikroalga. penetasan telur. Tabel berikut memperlihatkan dukungan sumberdaya manusia di BBAP Situbondo.2.

25 m 12.1668 m Pemeliharaan dan Pemijahan Induk Kerapu Bawal Bintang Bandeng Akuarium Bak Pemeliharaan Larva Pemeliharaan Benih Beton Beton Beton Kaca Beton Beton Beton Lingkaran Lingkaran Lingkaran Persegi Persegi Persegi Persegi d = 10 m. ijuk. Sarana Budidaya Di BBAP Situbondo Bak/Wadah Tandon Bak Filter Fisik Bahan Beton Beton Bentuk Persegi Persegi Dimensi 4. Air laut langsung dilarikan ke bak pemeliharaan induk melalui pipa saluran berupa pipa berdiameter 4 inchi.454 m 3 3 Jumlah 3 unit 5 unit 24.25 m 2 m x 5 m x 1. yang berjarak 200 m dari balai.5 m3 235.5 m x 0. Air Laut Air laut merupakan faktor penting dalam kegiatan pembenihan. air laut tersebut terlebih dahulu disaring dengan menggunakan saringna fisik atau sand filter ukuran 225 cm x 100 cm x 100 cm.25 m 135 cm x 50 cm x 130 cm 12.37 m Volume 41.5 m 3 3 3 877500 cm B.2 m x 1.5 m 3 4 unit 10 unit 8 unit 1 unit 8 unit 5 unit 21 m3 39.2 m x 4.5 m3 12. kerikil.4 m d = 5 m.5 m 12.25 m 2 m x 5 m x 1. Suplai air di BBAP Situbondo berasal dari selat Madura.5 m x 0. t = 3 m d = 15 m. t = 2 m 2 m x 5 m x 1.25 m 235. Pengambilan air laut menggunakan pipa berdiameter 8 inchi yang bagian ujungnya dilengkapi dengan filter hisap dan dihubungkan langsung dengan pompa electromotor berkapasitas 21 PK.25 m 2 m x 5 m x 1.5 m 3 3 3 Kultur Pakan Alami Rotifer Chlorella Beton Beton Beton Beton Bak Karantina Egg Collector Beton PVC Persegi Persegi Persegi Lingkaran Persegi Persegi 2 m x 5 m x 1. Sand filter di BBAP Situbondo tersusun dari bawah ke atas berupa batu kali.5 m 5 m x 3 m x 1.125 m3 12.5 m 3 3 4 unit 1 unit 2 unit 5 unit 24 unit 24 unit 24 unit 529.35 m 4. waring dan .5 m 12. Sedangkan untuk mendistribusian air laut ke bak pembenihan dan bak kultur pakan alami.2 m x 2.Tabel 2.5 m 2 m x 5 m x 1. t = 3 m d = 10 m.2 m x 4.875 m Penetasan Telur 0. bungkusan arang. t = 3 m 0.

pasir. C. laboratorium. Air dialirkan dengan sistem gravitasi sebab posisi tandon berada lebih tinggi dari bak-bak yang lainnya dan dibantu dengan menggunakan pompa. Tandon air laut inilah yang menjadi sumber air yag nantinya akan dialirkan ke bak-bak pembenihan. D. Tandon air laut untuk pembenihan timur terdapat di bagian belakang pembenihan yang menjadi satu dengan tandon air laut pembenihan tengah. Air yang telah melalui tahap penyaringan dipompa ke tendon air laut pada ketinggian 2 m di atas permukaan tanah menggunakan pompa yang berkapasitas 7. Setelah air melewati saringan tersebut. Air tawar didapatkan dari 3 sumber sumur dengan kedalaman 10 m. kantor. akuarium inkubasi telur dan bak kultur pakan alami. Antara kedua tandon tersebut hanya dipisah dengan dinding beton. air minum. Air tersebut dipompa. Air Tawar Penyediaan air tawar digunakan untuk kebutuhan kegiatan pembenihan. Udara dari blower dialirkan langsung dengan menggunakan pipa PVC ukuran 3 inchi dan 1 inchi dengan sistem tertutup yang dilengkapi dengan . dan asrama. perumahan karyawan. Aerasi Ketersediaan oksigen di BBAP Situbondo disuplai dengan menggunakan high blower. keperluan karyawan BBAP Situbondo dan asrama. maka air akan terbebas dari kotoran air yang berukuran besar.5 PK melalui pipa yang berdiameter 4 inchi. lalu ditampung dalam tandon dengan ketinggian 3 m dari permukaan tanah ke unit pembenihan.

pos jaga. Bangunan Jenis bangunan yang terdapat di BBAP Situbondo terdiri dari kantor utama. Distribusi Sistem Aerasi di BBAP Situbondo No Sumber Aerasi Spesifikasi 1 Blower Vortex Daya 7 PK Distribusi 2 Rood Blower Daya 5 PK 3 Blower Vortex Daya 7 PK Bak penggelondongan dan bak induk di pembenihan timur.selang aerasi. Pembenihan barat. mushola. dan pembenihan tengah. 4. kantor tata usaha. kultur pakan alami barat. laboratorium nutrisi. aula (auditorium). laboratorium kesehatan ikan dan kualitas air. Uraian dari fasilitas pendukung di BBAP Situbondo dapat dilihat pada tabel 5.2 Prasarana A. pembenihan timur dan sebagian pembenihan tengah dan kultur pakan alami timur. perpustakaan. ruang kuliah. Tabel 4.2. dan perumahan untuk karyawan BBAP Situbondo. batu aerasi dan pemberat yang terbuat dari timah agar selang aerasi berada di bawah permukaan air. Fasilitas Pendukung di BBAP Situbondo Uraian Spesifikasi Listrik PLN 60 KVA Genset 80 KVA Bangunan Kantor Kantor Utama (Kepala Balai) Kantor Tata Usaha Laboratorium Nutrisi dan Teknologi Pakan Jumlah 1 unit 1 unit 1 unit 1 unit 1 unit . Tabel 3. Bak karantina. laboratorium pakan alami.

generator set akan segera difungsikan untuk tetap mendukung suplai listrik bagi kegiatan budidaya.Pick up L – 300 . Saat terjadi pemadaman listrik.Rumah Karyawan Rumah Genset Rumah Blower Asrama Bangsal Pakan Lainnya Kesehatan Ikan dan Lingkungan Pakan Alami Rumah Karyawan Rumah Tamu Genset dan Panel Listrik Blower Mahasiswa dan Peserta Magang Tempat Pembuatan Pakan Perpustakaan Aula (auditorium) Ruang Kuliah Alat Angkut (transportasi) . Tenaga Listrik Listrik merupakan komponen yang sangat vital untuk kegiatan budidaya. blower dan peralatan lainnya yang membutuhkan energi listrik. BBAP Situbondo menyediakan generator set berdaya 80 KVA.Suzuki Future . Sebagai antisipasi jika terjadi pemutusan arus listrik. Energi listrik digunakan untuk penerangan. . Setelah itu. akan terdengar tanda dari sirine secara otomatis. Sumber tenaga listrik di BBAP Situbondo berasal dari Perusahaan Listrik Negara (PLN) dengan daya 60 KVA. menjalankan pompa.Isuzu Panther .Toyota Kijang 1 unit 1 unit 1 unit 1 unit 1 unit 1 unit 1 unit 1 unit 1 unit 1 unit 1 unit 1 unit 1 unit 1 unit 1 unit B.

Induk kerapu bebek Cromileptes altivelis yang dimiliki oeh BBAP Situbondo berasal dari alam dan hasil budidaya. Diluar pemijahan ikan. Sedangkan induk yang berasal dari budidaya didapatkan dari hasil budidaya (F1) yang dilakukan oleh balai.5% dari total berat badan ikan/hari.10 kg/m3 . Bobot induk betina sebesar 1-3.3 Teknik Pembenihan Kerapu Tikus 4. ikan kerapu memiliki sifat hemaprodit protogini yaitu pada tahap menuju perkembangan dewasa berjenis kelamin betina kemudian berubah menjadi jantan setelah tumbuh besar dan bertambah tua. Induk-induk yang baru datang dikarantina dalam bak karantina selama 1-2 bulan untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan baru yang terdapat di BBAP Situbondo.3.15 mg/ekor/minggu. sedangkan pada musim pemijahan diturunkan menjadi 1%.5 . Untuk masa peralihan kelamin biasanya induk memiliki berat 3.5-5 kg.4.5 kg dan bobot induk jantan lebih dari 5 kg.1 Persiapan Induk Induk ikan kerapu yang dipijahkan dipelihara di laut dalam kurungan apung dengan padat penebaran induk 7. Pakan yang diberikan berupa ikan rucah segar berkadar lemak rendah. BBAP Situbondo memiliki jumlah induk 65 ekor yang terdiri dari 17 ekor induk jantan dan 48 ekor induk betina. . 2010). takaran pakan yang diberikan sebesar 3 . Induk jantan memiliki ukuran bobot yang lebih besar dibandingkan dengan induk betina. (Anonim. Disamping itu diberikan pula vitamin E dengan dosis 10 . Induk yang berasal dari alam didapatkan dari alam didapatkan dari hasil penangkapan para nelayan daerah perairan laut bali dan Lombok.

Tahap ini dilakukan untuk mendapatkan induk yang .5 – 2 kg yang dilarutkan dalam 25 liter air sebagai upaya desinfeksi wadah dan disikat kembali hingga benar-benar bersih. Indukan tersebut ditangkap dengan menggunakan bubu. Induk betina yang digunakan adalah yang berumur 1 – 2 tahun. Tujuan dari pemasangan jaring ini adalah untuk menjaga agar induk tidak melompat keluar dari bak. dan kotoran ikan dengan menggunakan sikat. 4. Bak tersebut dibersihkan dari lumut-lumut yang menempel. sedangkan induk jantan yang telah berumur 3 tahun. induk yang akan memijah diseleksi terlebih dahulu dan diaklimatisasikan. Hal tersebut dilakukan dengan cara membuka outlet seluruhnya. Setelah bak tersebut bersih.Proses persiapan wadah indukan dilakukan dengan cara membuang semua air yang terdapat dalam bak induk. Setelah itu. bagian atas bak dipasang jaring yang berbahan polyethylene yang disanggah dengan menggunakan tiang kayu. jaring. Sebelum dilakukan penebaran. dinding-dinding bak disiram dengan kaporit 60% sebanyak 1. bak disiram kembali dengan air tawar sampai bau kaporitnya hilang. ataupun pancing. Setelah ditangkap. Selanjutnya. induk tersebut dipelihara selama hingga menjadi indukan kerapu tikus yang siap memijah. bak sudah dapat diisi kembali dengan air laut.2 Seleksi Induk Induk kerapu tikus di BBAP Situbondo berasal dari hasil budidaya dan tangkapan alam yang ditangkap oleh nelayan. Selang aerasi pun harus dicuci dengan menggunakan detergen lalu dibilas dan dipasang kembali. Setelah semua tahapan di atas selesai.3. Bak tersebut dikeringkan selama 3 – 6 hari. sisa pakan.

Menurut Cholik. jika keluar sperma maka induk tersebut adalah jantan. sedangkan jika tidak keluar. Pemeriksaan alat kelamin dilakukan dengan cara mengurut bagian perut ke arah anus. Induk betina kerapu tikus berumur 1 – 3 tahun. sedangkan induk jantan lebih dari 3 tahun. . Proses aklimatisasi berakhir jika induk sudah mau makan dan benar-benar terbebas dari penyakit. Jika terdapat telur. Induk yang telah diseleksi dan diaklimatisasi kemudian disatukan dalam wadah pemijahan. dan 48 ekor betina. Ikan kerapu tikus merupakan hewan yang bersifat “protogynous hermaphrodite” yaitu pada awalnya berkelamin betina lalu berubah menjadi jantan dengan jangka waktu tertentu.5 kg dengan panjang tubuh lebih dari 40 cm. yang terdiri dari 17 ekor jantan. Induk betina umumnya mempunyai berat tubuh 1–2. Tujuan aklimatisasi adalah untuk mengadaptasikan ikan pada wadah budidaya dan dilakukan pengobatan jika induk terserang penyakit sampai benar-benar sembuh.. dapat dilakukan dengan kanulasi. Jumlah induk yang terdapat di Balai Budidaya Air Payau Situbondo adalah 65 ekor. berat badan. Pemeriksaan dilakukan dengan cara menimbang berat badan induk. Seleksi yang dilakukan adalah menentukan jenis kelamin induk agar rasio jantan dan betina dapat mendekati ideal. et al (2005). Perbedaan antara jantan dan betina dapat dibedakan dari umur. dan pemeriksaan alat kelamin. Rasio jantan dan betina yang ideal adalah 1 : 2. Aklimatisasi induk dilakukan dengan cara memelihara induk pada wadah yang berbeda.berkualitas dan sudah dapat untuk dipijahkan. maka induk tersebut adalah betina.

Pemberian Pakan Pada pemberian pakan perlu beberapa hal yang diperhatikan. seperti rasio pakan. dan cumi-cumi. Kematangannya kelamin induk betina diketahui dengan cara kanulasi. A. Telur yang diperoleh diamati untuk mengetahui tingkat kematangannya. ekor kuning. Pakan tersebut didapatkan dari nelayan yang menangkap langsung di laut. Selama pemeliharaan ikan kerapu tikus di BBAP Situbondo. Rasio pemberian pakan harus tepat agar pakan yang di berikan dapat efisien dikonvesikan oleh ikan/udang sehingga kelangsungan hidup yang optimal. (Menurut Danakusumah dan Imanishi. Rasio pemberian pakan yang optimal ditentukan oleh jenis ikan yang dipelihara. yaitu memasukkan selang plastik ke dalam lubang kelamin ikan.Hal ini sependapat dengan Anonim (2010) yang menyatakan bahwa kematangan kelamin induk jantan ikan kerapu diketahui dengan cara mengurut bagian perut ikan (stripping) ke arah awal sperma yang keluar warna putih susu dan jumlahnya banyak diamati untuk menentukan kualitasnya. induk kerapu tikus diberi pakan rucah berupa ikan segar dengan kandungan lemak rendah dan memiliki kadar protein yang tinggi (lebih dari 70%) seperti ikan layur.1986). lemuru. garis tengah (diameter) telur diatas 450 mikron. frekuensi pemberian pakan dan waktu pemberian pakan. nelanak. kemudian dihisap. kembung tongkol. Untuk . rasio pemberian pakan kerapu 4 .6%. Jenis ikan/udang yang aktif bergerak memerlukan lebih banyak makanan dibandingkan jenis ikan yang bergerak pasif.

00-08. Tujuannya adalah untuk menjaga kesehatan ikan dan untuk mempercepat perkembangan dan kematangan gonad. pemberian vitamin juga dilakukan terhadap indukan kerapu tikus. . Cara memasukkannya adalah dengan menyayat tubuh ikan pada bagian bawah sirip dorsal ataupun pada bagian daging atas perut.00 WIB dengan frekuensi pemberian pakan 1 kali sehari yang diberikan secara perlahan hingga induk kenyang.mempertahankan kesegaran pakan. Pakan yang akan diberikan pada induk terlebih dahulu direndam dalam air tawar untuk menghilangkan es. dan 100 IU dengan merek dagang Natur E. hal ini bertujuan agar induk tidak jenuh dengan ikan yang diberikan. 50 mg/kg induk. Vitamin yang diberikan adalah vitamin B. Kemudian ikan dipotong-potong sesuai dengan ukuran bukaan mulut induk. Proses pemberian vitamin adalah dengan cara memasukkan vitamin tersebut ke dalam daging ikan rucah. Jadwal pemberian pakan dan vitamin dapat dilihat pada tabel 6. Selain itu. pergantian jenis rucah yang diberikan juga bertujuan untuk menambah nafsu makan induk. Pemberian vitamin B berguna untuk menambah nafsu makan ikan. Vitamin C berguna untuk meningkatkan daya tahan tubuh terhadap serangan penyakit. Pemberan dilakukan pada pagi hari sekitar pukul 07. Selain pakan ikan rucah. maka pakan tersebut disimpan di dalam freezer. Setiap hari ikan rucah yang diberikan dibedakan jenisnya. Vitamin E diberikan untuk mempercepat kematangan gonad induk. Pemberian vitamin tersebut dilakukan selama dua kali seminggu. C dan E. Dosis vitamin tersebut masing-masing adalah 50 mg/kg induk. bau amis pada ikan serta melepaskan ektoparasit yang menempel pada tubuh ikan.

dan kontunu dapat berhasil (Ghufran. selain pertimbangan umum di atas. Pembuangan air bawah berfungsi sebagai pembuangan kotoran hasil metabolisme dan sisa-sisa pakan. Di BBAP Situbondo sendiri air merupakan media utama bagi kehidupan ikan. Hal ini penting untuk menjaga kualitas air tetap baik. air di bak indukan diturunkan sampai ketinggian air mencapai 30 % dari volume bak. Sedangkan pembuangan air atas berfungsi sebagai pengatur ketinggian air pada bak dan untuk mengalirkan telur hasil pemijahan ke arah bak penampungan telur (egg collector). Pada bak induk terdapat dua buah outlet yaitu pembuangan air bawah dan pembuangan air atas. DO dan Salinitas. Pergantian air untuk indukan kerapu tikus dilakukan setiap hari. Pengelolaan Air Lokasi budidaya yang ideal. 2010).B. Setelah mencapai ketinggian tersebut. dan kimia meliputi : pH. Oleh karena itu kualitas air sangat menentukan kelangsugan hidup ikan. dalam jumlah yang cukup. juga harus memenuhi persyaratan-persyaratan kualitas airnya. M dan Andi Tamsil. Faktor kualitas air yang perlu dipertimbangkan untuk pemeliharaan pembenihan Kerapu tikus meliputi sifat fisika : Suhu dan Kecerahan. Selain itu kualitas air yang terjaga juga sangat menentukan proses pemijahan induk dan kualitas telur yang dihasilkan oleh induk. dapat juga dilakukan penggelontoran pada bak induk. Pemenuhan akan kebutuhan air harus diupayakan agar produksi benih ikan laut yang berkualitas. Setelah pemberian pakan di pagi hari. Penggelontoran dilakukan dengan cara mendorong kotoran di dasar bak menggunakan sikat yang telah diberi kayu yang cukup panjang hingga mencapai dasar bak menuju pipa .

Sirkulasi dengan cara ini dapat mengganti air sebanyak 200 – 300 % dari total volume bak.outlet sehingga keluar bersama dengan air. Virus yang sering menyerang adalah VNN (Viral Nervous Necrosis). bakteri. Jenis penyakit bakterial yang ditemukan pada ikan kerapu. yaitu Vibrio alginolyticus. jamur. 2009). Selain itu. Setelah dilakukan penggelontoran atau hanya menurunkan air hingga 30 %. Penggelontoran bak induk dilakukan setiap 4 – 6 hari sekali atau disesuaikan dengan kondisi bak. dan virus. Pada sore hari. pukul 16. Penyakit yang umumnya menyerang induk kerapu tikus disebabkan oleh trematoda. V anguillarum dan V fuscus. serta produksi lendir meningkat. Gejala yang timbul saat induk kerapu tikus terkena Argulus adalah nafsu makan menurun. Diantara jenis bakteri tersebut bakteri V alginolyticus dan V fuscus merupakan jenis yang sangat patogen pada ikan kerapu tikus (Salim. diantaranya adalah penyakit borok pangkal sirip ekor dan penyakit mulut merah. Pencegahan Hama dan Penyakit Permasalahan penyakit yang paling banyak pada ikan bersirip (finfish) dijumpai pada budidaya ikan kerapu. pipa outlet dipasang setengahnya. ikan akan cenderung mengosok-gosokan tubuhnya ke dinding bak dan berenang di permukaan air dengan tingkah laku bernafas dengan cepat dengan tutup insang . Jenis parasit yang sering menyerang adalah Argulus sp. C. protozoa. warna kulit pucat.00 WIB pipa outlet dipasang seluruhnya. Hasil isolasi dan identifikasi bakteri ditemukan beberapa jenis bakteri yang diduga berkaitan erat dengan kasus penyakit bakterial. Bakteri dan virus menyerang ketika induk terdapat luka. V algosus.00 – 17.

Pengendalian penyakit ini dilakukan dengan cara merendam induk kerapu di dalam air tawar selama 15 menit.5 ppm selama 2 jam). prefuran (0. Pengendalian penyakit ini adalah dengan merendam induk dalam salah satu larutan ini yaitu Arciflavin (1–2 ppm selama 2 jam). D. Bakteri ini menyebabkan kerusakan pada sirip ikan. dan hidrogen peroksida (1–2 ppm selama 2 jam). Furazolidone (10–15 ppm selama 2 jam). Biasanya sebelum memijah nafsu makan induk menurun. Hal ini sependapat dengan Anonim (2010) yang menyatakan bahwa kematangan kelamin induk jantan ikan kerapu diketahui dengan cara mengurut bagian perut ikan (stripping) ke arah awal sperma yang keluar warna putih susu dan jumlahnya banyak diamati untuk menentukan kualitasnya. Ciri-ciri Induk Matang Gonad Ciri induk kerapu tikus yang akan memijah ditandai dengan berenang vertikal dan induk jantan mengejar induk betina. Kematangannya .3–0.terbuka. Larutan yang biasa digunakan adalah Furazolidone karena tingkat efektifitasnya paling tinggi. Bakteri yang menyerang induk kerapu disebabkan oleh bakteri Vibrio sp. Induk jantan terlihat lebih cerah dan alat kelaminnya menjadi kemerah-merahan. Induk betina perutnya terlihat lebih besar terutama setengah bagian belakang. Kemudian kekentalan dan pergerakkan sperma diamati. Telur yang diambil menggunakan kateter diukur diameter telurnya. Pengukuran sampling tingkat kematangan gonad dapat dilakukan dengan teknik kanulasi pada induk betina.. Sedangkan pada ikan jantan dapat dilakukan stripping/diurut hingga mengeluarkan sperma.

000 butir telur pada ukuran 3-4 kg.000 – 300. kemudian dihisap. Menurut Cholik. . Pemijahan terjadi pada malam hari antara pukul 22. Induk kerapu tergolong ikan yang melakukan pemijahan sepanjang tahun. 4.kelamin induk betina diketahui dengan cara kanulasi. Pemijahan Alami Metode pemijahan alami (nature spawning) dilakukan dengan cara memanipulasi lingkungan dengan menurunkan ketinggian air dalam bak pemeliharaan induk sampai ± 100 cm dan dibiarkan selama 5 – 7 jam. garis tengah (diameter) telur diatas 450 mikron. Telur yang diperoleh diamati untuk mengetahui tingkat kematangannya. 2010).00 – 02. Pemijahan ikan kerapu biasanya terjadi pada bulan gelap (antara tanggal 6– 17). Proses pemijahan ikan kerapu diawali dengan induk betina mengeluarkan telur kemudian disusul induk jantan yang mengeluarkan sperma sehingga terjadi pembuahan. yaitu memasukkan selang plastik ke dalam lubang kelamin ikan.3. et al (2005) satu induk betina dapat menghasilkan telur rata-rata 200. Perlakuan ini dapat menaikkan suhu air pada bak pemijahan sekitar 1 – 3 0C. A.3 Pemijahan Metode pemijahan induk kerapu tikus yang dilakukan di BBAP Situbondo dilakukan dengan dua cara.00 WIB. yaitu pemijahan alami dan pemijahan dengan rangsangan hormon. Telur yang mengapung akan mengikuti arus ke pembuangan atas dan ditampung di dalam egg collector. (Anonim. Manipulasi ini mengikuti keadaan pasang surut di alam sehingga ikan akan terangsang untuk melakukan pemijahan.

24.00 permukaan air diturunkan sampai kedalaman 40 cm dari dasar bak. Rangsangan hormonal induk kerapu matang kelamin disuntik dengan hormon Human Chorionic Gonadotropin (HCG) dan Puberogen untuk merangsang terjadinya pemijahan.00 WIB.Hal ini sependapat dengan Anonim (2010) yang menyatakan bahwa Metode yang digunakan adalah manipulasi lingkungan. B. Pengamatan pemijahan ikan dilakukan setiap hari setelah senja sampai malam hari. Untuk merangsang terjadinya perkawinan antara jantan dengan induk betina matang kelamin digunakan metoda manipulasi lingkungan di bak terkontrol. Pemijahan umumnya terjadi pada malam hari antara jam 22.5 m). Manipulasi lingkungan dilakukan menjelang bulan gelap yaitu dengan cara menaikkan dan menurunkan permukaan/tinggi air setiap hari. pada saat bulan terang atau bulan gelap.00 sampai jam 14.5 m dan salinitas + 32 ‰. Pemijahan dengan Rangsangan Hormon Induk kerapu matang kelamin dipindahkan ke bak pemijahan yang sebelumnya telah diisi air laut bersih dengan ketingian 1. yaitu dengan rangsangan atau kejutan faktor-faktor lingkungan seperti suhu. Pemijahan mengikuti fase peredaran bulan. Mulai jam 09. kadar garam. pemijahan dengan rangsangan hormon dilakukan karena kondisi lingkungan tidak memungkinkan untuk proses .00 .00 permukaan air dikembangkan ke possisi semula (tinggi air 1. Perlakuan ini dilakukan terus menerus sampai induk memijah secara alami. Teknik pemijahan dengan manipulasi lingkungan ini dikembangkan berdasarkan pemijahan ikan kerapu di alam. Setelah jam 14. kedalaman air dan lain-lain. Hasil pengamatan di lapangan.

100 ppm. perlu dipersiapkan dahulu dengan cara dibersihkan dan dicuci hamakan memakai larutan chlorine (Na OCI) 50 .28°C.5 ppm acriflavin untuk mencegah serang bakteri. terbuat dari beton. Tiga hari sebelum bak penetasan/bak pemeliharaan larva digunakan. satu hari sebelum larva dimasukkan dengan maksud agar suhu badan stabil berkisar antara 27 . Penyuntikan dilakukan pada pagi hari. Setelah itu dinetralkan dengan penambahan larutan Natrium thiosulfat sampai bau yang ditimbulkan oleh chlorine hilang. Telur hasil pemijahan dikumpulkan dengan sistim air mengalir. . berbentuk empat persegi panjang dengan ukuran 4 x 1 x 1 m³ .kematangn gonad dan pemijahan. Penyuntikan dilakukan pada induk ikan yang diameter oocyte (bulatan telur) mencapai 0. Induk ikan dibius. Hormon yang digunakan untuk pemijahan metode ini dengan menggunakan hormon HCG (Human Chrionic Gonadotropin).4 mm yang berarti induk telah mencapai tingkat kematangan gonad dan siap untuk dikawinkan. Penyuntikan dilakukan dengan dosis 250 dan 50 IU per kilogram bobot badan. Sebelum telur ditetaskan perlu direndam dalam larutan 1 .4 Pemanenan Telur Menurut (Anonim. 2010) bak yang dipergunakan untuk penetasan telur sekaligus juga merupakan bak pemeliharaan larva. Telur yang dibuahi akan mengapung dipermukaan air dan berwarna jernih (transparan). Air laut dengan kadar garam 32 ‰ dimasukkan ke dalam bak. kemudian disuntik pada bagian punggung dibawah duri ketiga atau pada bagian dibawah sirip dada terutama untuk induk yang berukuran besar dan membutuhkan hormon yang lebih banyak. 4.3.

Telur yang akan dibagi ke unit pembenihan merupakan telur yang baik. dengan pemberian arus maka telur yang melayang akan ikut terbawa arus air menuju penampungan atas.Hasil pengamatan di lapangan telur ikan kerapu bersifat melayang di atas permukaan air.. sedangkan telur yang digunakan adalah telur yang melayang. et al.00 WIB.5 m x 0. lalu ditampung kembali di akuarium berukuran 0. Telur ikan yang telah terkumpul di egg collector dipanen dengan menggunakan saringan yang bermata jaring 300 µm. Pemindahan telur dari akuarium menuju ember dilakukan dengan cara penyiponan. Egg collector terbuat dari saringan 40 mikron dengan ukuran 135 cm x 80 cm x 80 cm. Di ujung pipa pembuangan atas tersebut dipasang bak penampungan telur atau yang disebut pengumpul telur (egg collector).5 m x 0. Satu sendok tersebut dapat menampung sebanyak 25000 butir telur. Setelah itu. telur tersebut ditampung sementara di dalam ember. 2005).00 – 07. Telur yang buruk dan tidak terbuahi akan mengendap di dasar dan bewarna putih keruh (Cholik. maka telur telah dapat ditebar ke tiap pembenihan yang ada di BBAP Situbondo maupun dijual dan didistribusikan ke . Telur yang baik dan terbuahi akan melayang di permukaan dan berwarna transparan. Pemanenan telur dilakukan pada pagi hari antara pukul 06. Perhitungan telur dilakukan dengan menggunakan alat sampling yang berbentuk sendok dengan ujungn berbentuk seperti setengah bola pimpong yang dapat dilihat pada gambar 3. Setelah jumlah telur diketahui. telur mengendap yang terdapat di dalam akuarium disipon dan dibuang.5 m untuk dihitung. penghitungan telur seperti ini dikenal sebagai metode penghitungan telur secara kering.

000 17 Agustus 2010 150. Saluran inlet di setiap bak terdapat 2 buah yaitu saluran pemasukan Chlorella sp dengan ukuran pipa 3/4 inchi dan saluran pemasukan air laut dengan ukuran pipa 2 inchi. 100. Persiapan Wadah Wadah penetasan telur yang terdapat di Unit Pembenihan Timur BBAP Situbondo yaitu berupa bak beton berbentuk persegi panjang sebanyak 6 buah.000 10 Agustus 2010 275.000 15 Agustus 2010 16 Agustus 2010 100.25 m dengan kapasitas air 10 m3. sedangkan untuk pipa saluran outlet adalah 3.000 13 Agustus 2010 450. 100.200. tebar telur untuk pembenihan sebanyak 150.000 9 Agustus 2010 200. Harga tiap butir telur kerapu tikus adalah Rp 1. Setiap bak dilengkapi dengan saluran inlet dan outlet yang terbuat dari pipa PVC.3.000 14 Agustus 2010 1.pembeli. Pada saat pemanenan telur.000 butir telur per 9 ton pada tanggal 10 agustus 2010 dan 100.000 butir telur per 9 ton yang diambil pada saat panen telur tanggal 8 agustus 2010.5 Penetasan Telur A. Jumlah Telur Kerapu Tikus di BBAP Situbondo (Bulan Agustus 2010) Tanggal Jumlah Telur (butir) 7 Agustus 2010 75. .000 8 Agustus 2010 150.000 12 Agustus 2010 350.5 inchi.5.000 Total 3.000 butir telur per 9 ton pada tanggal 9 agustus 2010. Masing-masing bak tersebut memiliki dimensi 5x2x1.000 butir telur per 9 ton pada tanggal 11 agustus 2010. Tabel 5.000 11 Agustus 2010 450.000.000 4. Data hasil telur selama pemijahan di bulan Agustus dapat dilihat pada tabel 6.

Telur hasil pemijahan dikumpulkan dengan sistim air mengalir.100 ppm. perlu dipersiapkan dahulu dengan cara dibersihkan dan dicuci hamakan memakai larutan chlorine (Na OCI) 50 . Setelah itu bak diisi air laut sebanyak 9 m3 melalui saluran inlet air laut yang telah diberi filter bag (50 mikron). Hal ini sependapat dengan Anonim (2010) yang menyatakan bahwa tiga hari sebelum bak penetasan/bak pemeliharaan larva digunakan. Air laut dengan kadar garam 32 ‰ dimasukkan ke dalam bak. Bak yang telah dibersihkan lalu dikeringkan selama 1-2 hari. Setelah itu dinetralkan dengan penambahan larutan Natrium thiosulfat sampai bau yang ditimbulkan oleh chlorine hilang.28°C. satu hari sebelum larva dimasukkan dengan maksud agar suhu badan stabil berkisar antara 27 . Apabila telur menetas aerasi dikecilkan karena larva masih bersifat planktonik yaitu bergerak dengan mengikuti pergerakan air. Aerai yang digunakan untuk menyuplai oksigen dalam bak penetasan telur berjumlah 11 titik aerasi yang dilengkapi engan selang aerasi. Telur yang .Wadah yang akan digunakan untuk penetasan terlebih dahulu didesinfeksi dengan menggunakan larutan klorin 15 ppm dan dibiakan selama 1-2 hari. Hal ini bertujuan untuk menyaring kotoran (pasir dan partikel tanah yang halus) agar tidak ikut terbawa ke dalam media lalu air tersebut ditreatment menggunakan larutan formalin dengan dosis 20 ppm dan diaerasi kuat selama 24 jam selanjutnya air dapat digunakan untuk penebaran telur. bak dicuci kembali dengan detergen untuk menghilangkan sisa klorin yang menempel pada dinding dan dasar bak lalu bak dibilas dengan menggunakan air tawar hingga bersih dan bau klorin hilang. Setelah itu. batu dan pemberat aerasi diletakkan di bagin dasar bak.

Dari hasil di lapangan penebaran telur dilakukan secara merata ke dalam bak penetasan telur yang telah dipersiapkan sebelumnya. Suhu optimum untuk penetasan telur ikan kerapu yaitu antara 27-31oC. Penebaran biasanya dilakukan pada pagi hari yaitu antara 08. Ke dalam bak penetasan perlu ditambahkan Chlorella sp sebanyak 50. 2002).60 butir/liter air media. Saat proses penetasan.000 sel/ml untuk menjaga kualitas air. B. pada D1 media diberi aerasi kecil.000 butir. Penebaran dan Penetasan Telur Padat penebaran telur di Bak Penetasan berkisar 20 . Dari jumlah diperkirakan hanya 30% saja yang dibuahi (Suria D.5 ppm acriflavin untuk mencegah serang bakteri.dibuahi akan mengapung dipermukaan air dan berwarna jernih (transparan). Untuk padat penebaran telur saat penulis melakukan PKL yaitu sebesar 112. Telur yang telah dibuahi berjumlah lebih kurang 1.00 WIB. media penetasan diberi erasi kecil yang bertujuan agar suplai oksigen tetap terpenuhi serta agar telur tidak mengalami guncangan kuat yang dapat menyebabkan gangguan fisik pada telur.32 ‰.000 100.28°C dan kadar garam 30 . Sebelum telur ditetaskan perlu direndam dalam larutan 1 .200. Telur akan menetas dalam waktu 18 22 jam setelah pemijahan pada suhu 27 . setelah larva menetas.00-09. Hal ini dilakukan karena larva yang .500 butir per bak dengan kapasitas air dalam bak sebanyak 9 m3 dan dengan derajat penetasan (HR) 44 %. Telur kerapu tikus akan menetas dalam kisaran waktu antara 17-19 jam setelah pembuahan. Telur yang telah dibuahi tidak berwarna (transparan) sedangkan yang tidak dibuahi dan yang mati berwarna putih susu.

5 inchi dengan panjang 150 cm. dasar bak disipon secara perlahan dan hati-hati untuk membuang telur yang tidak menetas. Proses tersebut dilakuka di lima titik sampel Setelah dilakukan sampling. C. Perhitungan Derajat Penetasan (Hatching Rate) Perhitungan derajat penetasan (Hatching Rate) dilakukan pada saat larva berumur satu hari (D1) dengan metode sampling. Pipa tersebut lalu diangkat dan air di dalam paralon segera dimasukkan ke dalam gelas ukur bervolume 250 ml. Biasanya sampling larva dilakukan pada pagi hari yaitu pada pukul 06.00-07. 2. maka Hatching Rate (HR) dapat dihitung dengan menggunakan rumus : . 3. Sebelum melakukn sampling.baru menetas masih bersifat planktonik yaitu larva bergerak dengan mengikuti pergerakan dan arus air. bagian atas pipa ditutup dengan tangan. Setelah dimasukkan ke dalam air berketinggian 80 cm. Cara menghitung HR adalah: 1. Larva yang berhasil menetas dihitung satu persatu dalam gelas beaker tersebut. Larva umur D1 diambil dengan menggunakan pipa paralon berdiameter 1. 5.00 WIB karena pada pagi hari larva yang bersifat fotoaksis positif akan bergerak menyebar mencari matahari. 4.

Pada saat larva berumur D3.6 Pemeliharaan Larva dan Benih A.1 ml/m2 atau 3-5 tetes disetiap titik aerasi agar larva tidak naik ke permukaan air.000 butir 2 9 Agustus 2010 100. Data Hatching Rate HR Ikan Kerapu Tikus di Pembenihan Timur Nomor Bak Tanggal Tebar Telur Pada Tebar Telur HR 1 8 Agustus 2010 150.000 butir 6 11 Agustus 2010 100.3.00 WIB. Untuk mencegah hal tersebut D1-D10 diberi minyak cumi sebanyak 0. Pada saat larva berumur 1 hari (D1). Hal ini dilakukan untuk mengurangi stress pada larva akibat proses pemindahan dan perubahan lingkungan yang baru.000 butir 4 10 Agustus 2010 100.Berikut ini adalah data HR pembenihan timur setelah beberapa kali dilakukan penebaran telur. Persiapan Wadah Wadah atau bak yang digunakan untuk pemeliharaan larva sama dengan bak yang digunakan untuk penetasan telur sehinga tidak dilakukan penebaran larva. .00 WIB dan sore hari pada pukul 16. Tabel 6.000 butir 33% 46% 52% 45% 4. larva telah diberi pakan alami berupa chlorella dan rotifer. Pemberian minyak cumi dilakukan dalam sehari sebanyak dua kali yaitu pada hari pukul 06. aerasi diatur agak kecil karena larva bersifat planktonik (melayang di permukaan air dan bergerak mengikuti pergerakan arus air).

Hal ini sependapat dengan Anonim (2010) uang menyatakan bahwa larva kerapu yang baru menetas mempunyai cadangan makanan berupa kuning telur. Pakan ini akan dimanfaatkan sampai hari ke 2 (D2) setelah menetas dan selama kurun waktu tersebut larva tidak memerlukan dari luar. Umur 3 hari (D3) kuning telur mulai terserap habis, perlu segera diberi pakan dari luar berupa Rotifera Brachionus Plicatilis dengan kepadatan 1 - 3 ekor/ml. Disamping itu ditambahkan pula Phytoplankton chlorella sp dengan kepadatan antara 5.10-10 sel/ml. Pemberian pakan ini sampai larva berumur 16 hari (D16) dengan penambahan secara bertahap hingga mencapai kepadatan 5 - 10 ekor/ml plytoplankton 10 2.10 sel/ml media. Pada hari kesembilan (D9) mulai diberi pakan naupli artemia yang baru menetas dengan kepadatan 0,25 - 0,75 ekor/ml media. Pemberian pakan naupli artemia ini dilakukan sampai larva berumur 25 hari (D25) dengan peningkatan kepadatan hingga mencapai 2 - 5 ekor/ml media. Disamping itu pada hari ke tujuh belas (D17) larva mulai diberi pakan Artemia yang telah berumur 1 hari, kemudian secara bertahap pakan yang diberikan diubah dari Artemia umur 1 hari ke Artemia setengah dewasa dan akhirnya dewasa sampai larva berumur 50 hari.

B. Perkembangan Larva Berikut merupakan perkembangan larva hingga mencapai juvenil :

a

b

c

d

e

f

gambar 2. Perkembangan larva ikan kerapu tikus a) D-0 Telur dalam masa perkembangan hingga menetas dengan panjang

tubuh 1,69 – 1,79 mm. b) D-1 Saluran pencernaan sudah mulai terlihat, akan tetapi mulut dan

anus masih tertutup, pakan yang dimakan masih mengandalkan kuning telur (yolk sac) c) D-2 Cadangan makanan pada beberapa ikan sudah mulai habis

sehingga larva membutuhkan pakan dari luar yaitu rotifera (Branchionus plicitalis). d) D-8 Bakal sirip punggung dari perut sudah mulai tampak berupa

tonjolan e) D-10 Tonjolan tersebut sudah terlihat panjang dan berbentuk spina. Pertambahan panjang spina ini berlanjut hingga D-21 f) D21 – D25 Terjadi metamorfosis, spina tereduksi menjadi duri keras

pertama pada sirip punggung dan sirip perut pada kerapu muda.

Hal ini sependapat dengan Akbar dan Syamsul (2001) yang menyatakan bahwa perkembangan larva hingga mencapai juvenil : a) D-0 Telur dalam masa perkembangan hingga menetas dengan panjang

tubuh 1,69 – 1,79 mm.

b) D-1

Saluran pencernaan sudah mulai terlihat, akan tetapi mulut dan

anus masih tertutup, pakan yang dimakan masih mengandalkan kuning telur (yolk sac) c) D-2 Cadangan makanan pada beberapa ikan sudah mulai habis

sehingga larva membutuhkan pakan dari luar yaitu rotifera (Branchionus plicitalis). d) D-8 Bakal sirip punggung dari perut sudah mulai tampak berupa

tonjolan e) D-10 Tonjolan tersebut sudah terlihat panjang dan berbentuk spina. Pertambahan panjang spina ini berlanjut hingga D-21 f) D21 – D25 Terjadi metamorfosis, spina tereduksi menjadi duri keras

pertama pada sirip punggung dan sirip perut pada kerapu muda. g) D-25 Mulai muncul bintik hitam dan itu akan merata di sekujur tubuh

ikan hingga pertumbuhan D-45. h) D-45 Larva telah berubah sempurna menjadi juvenil dan siap untuk

dijual (ukuran 2,7 – 5 cm)

4.3.7 Kualitas Air Lokasi budidaya yang ideal, selain pertimbangan umum di atas, juga harus memenuhi persyaratan-persyaratan kualitas airnya. Faktor kualitas air yang perlu dipertimbangkan untuk pemeliharaan pembenihan Kerapu tikus meliputi sifat fisika : Suhu dan Kecerahan, dan kimia meliputi : pH, DO dan Salinitas. Pemenuhan akan kebutuhan air harus diupayakan agar produksi benih ikan laut yang berkualitas, dalam jumlah yang cukup, dan kontunu dapat berhasil (Ghufran, M dan Andi Tamsil. 2010). Pengelolaan kualitas air di BBAP Situbondo dilakukan dengan pergantian air dan penyiponan. Penambahan air dimulai ketika larva berumur 8 hari (D8).

Pada larva yang berumur 45 hari.8 Pakan Hasil pengamatan di lapangan memperlihatkan bahwa larva kerapu tikus D1 masih transparan.500 L untuk menjaga kualitas air pada wadah pemeliharaan tetap prima. Data kualitas air dapat dilihat pada tabel 7. terlebih dahulu dilakukan penyiponan. Penggunaan air tandon dimaksudkan untuk menggunakan air yang bebas dari penyakit dan kualitas air yang lebih baik daripada menggunakan air laut yang langsung diambil dari laut. Pada larva berumur 25 hari (D25) diganti sebanyak 3 m3 dan pada larva yang berumur lebih dari 45 hari pergantian air dilakukan secara terus menerus.01 . namum berasal dari air laut yang langsung disedot menggunakan pompa.8-8.Sebelum dilakukan pergantian air. air dikurangi hingga bersisa 8. Air yang digunakan untuk penambahan air berasal dari tandon yang sebelumnya didesinfeksi terlebih dahulu dengan formalin 10-30 ppm dan diareasi kuat minimal selama 12 jam.3 31-33 >5 <1 < 0. Tabel 7. Data Kualitas Air Pemeliharaan Larva Kerapu Tikus Pembenihan Timur BBAP Situbondo No 1 2 3 4 5 6 4.3. Larva D1 belum membutuhkan pakan dari luar (exogenous feeding) karena masih memiliki cadangan makanan dari dalam (endogenous Parameter Suhu pH Salinitas Oksigen Terlarut(DO) Nitrit Amoniak Satuan o C ppt ppm ppm ppm Kisaran 30-31 7. Penyiponan dilakukan untuk membersihkan kotoran-kotoran yang berada di dasar. sumber air yang diganti tidak lagi berasal dari tandon.000 L kemudian ditambah air dilakukan hingga 9. Setelah bersih.

Otohime C1 dan Otohime C2.000-100. biasanya kepadatan Nannochloropsis sp yang ditebar berkisar 50. Larva yang sudah berumur dua hari (D2) sudah diberi Nannochloropsis sp.) A. Sedangkan pakan buatan yang diberikan adalah Nosan R-1.feeding) yang berupa kuning telur.). Maka dari itu. naupli Artemia sp. Larva D1-D10 sangat peka terhadap cahaya sehingga cenderung untuk naik ke permukaan air. Nannochloropsis sp harus dicek terlebih dahulu kepadatannya. Jenis pakan yang diberikan kepada larva kerapu tikus ada dua macam yakni pakan alami (live feed) dan pakan buatan (artificial feed). Rotofier. Selain Nannochloropsis sp. larva D2 juga diberikan rotifer di sore hari dengan dosis 3-5 ind/ml.. sejak larva berumur D2.000 sel/ml atau . Tujuan dari pemberian Nannochloropsis sp ini adalah untuk menjaga keseimbangan kualitas air dan Nannochloropsis sp juga merupakan pakan untuk rotifera (Branchionus sp. larva sudah mulai diberi Nannochloropsis sp. Pemberian Nannochloropsis sp disalurkan langsung dari bak kultur massal menggunakan pompa celup melalui pipa paralon ¾ inchi yang pada bagian ujungnya diberi saringan 200 µm untuk mencegah masuknya kotoran yang terbawa dari kultur massal Nannochloropsis sp. larva kerapu tikus belum mau untuk mengambil makanan dari luar. Otohime B1. dan udang rebon (jambret).1 Nannochloropsis sp Selama kuning telur larva masih ada. Pakan alami yang diberikan adalah Nannochloropsis sp. Sebelum diberikan. rotifera (Branchionus sp. Otohime B2. Pemberian Pakan Alami A.

A. dalam hal ini adalah dimana dengan melihat pertumbuhan ikan yang lambat masih membutuhkan rotifer sebagai pakannya. Sebelumnya. Hal ini bertujuan untuk memperbaiki kandungn nutrisi rotifer dan meningkatkan daya tahan tubuh larva dan benih terhadap penyakit. Rotifer diberikan dengan menggunakan gayung dan disebarkan pada setiap titik aerasi. Setelah itu.100-150 liter/bak pemeliharaan larva. rotifer dapat diberikan pada larva. Nannochloropsis sp biasanya diberikan sebanyak 1 kali dalam satu hari yaitu pada pagi hari. Pemberian Nannochloropsis sp berfungsi sebagai Greeen Water Sistem atau sebagai keseimbangan media untuk mengatur kecerahan air dan juga untuk pakan rotifer. Pemberian Nannochloropsis sp dihentikan pada saat larva berumur D30 atau dengan melihat kondisi larva.s Emulsion sebanyak 10 ml (satu tutup botol Scoutt’s Emulsion) dalam 20 L air dan 0. Meskipun secara ekonomis kurang menguntungkan. rotifer yang akan diberikan dilakukan pengkayaan terlebih dehulu menggunakan Scout’. Pemberian rotifer hanya dilakukan sekali dalam sehari yaitu pada pukul 09.00 WIB dengan kepadatan 3-5 individu/ml. tetapi secara teknis siste atermia dapat diproduksi secara massal dalam tempat (wadah) yang .5 gram taurin dan dibiarkan selama 2 jam.3 Artemia sp.2 Rotifera (Branchionus plicatilis) Pemberian rotifer pada saat di lapangan diberi pada larva berumur D3-D35 dan juga dengan melihat kondisi ikan. namun. A. banyaknya pemberian rotifer tergantung dari kepadatan rotifer maka dilakukan pengecekan setiap hari menggunakan gelas piala.

Beberapa butir thiosulfat ditambahkan ke siste yang sebelumnya telah ditambahkan air tawar dan diaduk.00 dan 17. Saring dan bilas dengan air tawar sampai bersih 4. 13. Proses dekapsulasi tersebut memakan waktu antara 5 – 15 menit. Sebelum diberikan pada larva naupli yang berasal dari siste didekapsulasi terlebih dahulu. .terkendali. segera disaring dan dibilas dengan air tawar sampai bersih dan tidak ada bau klorin. Tahap no 2 dan 3 diulangi sampai warna siste berubah menjadi oranye ataupun tergantung dari produk sistenya. 3. kemudian di tambahkan klorin sebanyak 250 ml. 2. Siste artemia tersebut diaduk dengan cepat.00. Siste direndam dalam air tawar selama 5 menit sambil diaduk dengan cepat. Untuk tujuan ini dilakukan dengan memanipulasi lingkungan hidupnya agar artemia terpaksa melangsungkan perkembangbiakan secara ovipar uang menghasilkan telur (Siregar. Siste disaring dan ditambah air tawar. 1995).00 WIB. Setelah terjadi perubahan warna. Jaga suhu di bawah 40 0C. Proses dekapsulasi dilakukan dengan cara sebagai berikut: 1. 6. Pemberian Naupli artemia di BBAP Situbondo pada saat berumur D18 atau tergantung bukaan mulut larva. 5. Abbas. Pemberian naupli artemia dilakukan sebanyak tiga kali dalam satu hari yaitu pukul 08.

siste artemia tersebut ditetaskan sesuai dengan kebutuhan larva. Penetasan siste yang didekapsulasi memerlukan waktu antara 18 – 30 jam pada air laut. Pemberian Pakan Buatan Pemberian pakan buatan bagi larva kerapu tikus dilakukan saat larva telah berumur 8 hari. Panen dimulai dengan cara menghentikan aerasi dan tunggu selama 15 menit agar telur-telur artemia mengendap. Jumlah pemberian pakan rebon secara at satiation (sekenyangnya).7. Sebelum diberikan ke larva. Siste disaring dan dibiarkan mengering sejenak dan masukkan ke dalam kantong plastik untuk disimpan pada suhu dingin selama maksimal 1 minggu Setelah didekapsulasi.4 Udang Rebon Udang rebon mulai diberikan pada saat ikan kerapu menjelang lepas sensor sampai awal lepas sensor (D25 sampai D45). Udang ini berfungsi sebagai pakan selingan. Setelah itu. Sebelum diberikan ke larva. Untuk hasil optimum. Cara penetasannya adalah wadah plastik diisi dengan air dan diaerasi kuat. B. artemia disterilisasi dengan akriflavin sebagai anti ektoparasit. pertahankan suhu kisaran 25 – 30 0C dan pH 8 – 9. Setelah itu artemia disipon menggunakan selang dan ditampung di dalam saringan 300 µm. naupli artemia siap diberikan ke larva. Setelah itu. Awal pemberian dilakukan dengan mencairkan pakan untuk . artemia disterilisasi dengan akriflavin sebagai anti ektoparasit. A. satu bungkus artemia yang telah didekapsulasi dimasukkan ke dalam air tersebut.

Tahapan Pemberian Pakan Buatan bagi Larva Kerapu Tikus Stadia larva Jumlah pakan yang diberikan 8 D8-D17 gram/pemberian 2 kali µm) Frekuensi pemberian Merek pakan Gambar (ukuran pakan) Nosan R-1 (20–50 D18D20 8 3 kali gram/pemberian Rotifier (50 – 100 µm) D21D30 10 3 kali gram/pemberian Otohime B1 (200 – 300 µm) D31D45 15 3 kali gram/pemberian Otohime B2 (300 – 600 µm) 15 >D50 gram/pemberian 4-6 kali EP-1 C.weaning pakan bagi larva. Rotifera (Branchionus sp) dan Artemia sp. Pakan alami . Tabel 8. Data mengenai pemberian pakan buatan dapat dilihat pada tabel 8. kultur pakan alami Pakan alami yang digunakan selama pemeliharaan larva dan benih ikan kerapu bebek baik fitoplankton maupun zooplankton di BBAP Situbondo yaitu Nannochloropsis sp.

dengan mengatur rasio N/P supaya Nannochloropsis sp dapat mendominasi yang lainnya.sangat penting peranannya bagi larva dan benih sebagai sumber makanan dengan kandungan nutrisi yang sangat tinggi. S dan sebagainya. Setelah itu. media disterilisasi dengan menggunakan kaporit 10 ppm dan didiamkan selama 2 . P. Mn. Kultur pakan alami bertujuan untuk menjamin ketersediaan pakan alami secara berkesinambungan sesuai kebutuhan dalam larva dan benih ikan kerapu tikus. Zn. Setelah media siap bibit plankton dimsukkan 1/3 bagian dan siap dipanen 5-6 hari (Edhy W dkk. Salinitas air laut yang diharapkan adalah 25-28 ppt. S. 2003). Budidaya plankton dilakukan pada botol dengan volume 0. Kultur Nannochloropsis sp skala massal dilakukan pada ruangan terbuka (outdoor) dengan ukuran wadah 5x3x1. C. pupuk yang digunakan harus mengandung unsur hara yang dibutuhkan seperti N. K dan Mg sebagai unsure hara makro serta unsure hara mikro Fe.5 m (gambar) dengan kapasitas volume air maksimal sebesar 18 m3. Persiapan wadah dilakukan dengan cara menyikat dasar dan dinding wadah kemudian wadah diisi air laut sebanyak 15 m3. Air laut tersebut kemudian dimasukkan kedalam botol-botol yang telah disiapkan.5 liter-1 liter air yang akan disiapkan sebagai media tumbuh plankton sebelumnya disterilkan terlebih dahulu dengan menggunakan klorine kemudian air laut di biarkan selama 3-5 hari sampai residu klorine hilang.1 Kultur Nannochloropsis sp Membudidaya Nannochloropsis sp dapat diambil langsung dari tambak budidaya. selanjutnya ditambah pupuk cair sebanyak 1 ml/lt.

C. Kultur dilakukan dalam ruang terbuka yang cukup mendapatkan cahaya matahari. Setelah 12 jam. badan. Chlorella sp dapat dipanen setelah berumur 5-7 hari dengan cara disedot menggunakan pompa celup lalu dialirkan langsung kedalam bak rotifer dan unit pembenihan melalui pipa PVC ukuran 3/4 inchi.jam dan diberi aerasi kuat. kepala. Secara umum dikenal 2 metode kultur rotifera yaitu metode panen harian lebih praktis dan . Abbas (1995). dan TSP 20 ppm. Kultur missal rotifera dilakukan pada bak volume 5-12 m3. Pada kondisi normal. Branchionus memiliki kecepatan pertumbuhan dan reproduksi tinggi. Pupuk yang digunakan terdiri dari Urea 40 ppm. betina memproduksi 20 butir telur atau lebih selama 7-10 hari masa hidupnya. kemudian media dinetralkan dengan menggunakan natrium thiosulfat (Na2S2O3) ≤ 5 ppm.2 Kultur Rotifera Organisme rotifer berbentuk simetris bilateral manyerupai piala. Rotifer merupakan salah satu jenis rotifer yang biasa diproduksi secara massal. Pemberian pupuk dilakukan dengan cara dilarutkan dalam 10 liter air laut lalu disebar merata dalam bak kultur. ZA 30 ppm. dimana umur Nannochloropsis sp telah mencapai 5-7 hari dengan kepadatan 1-5 juta sel/ml. Pemupukan dilakukan setelah bibit masuk ke dalam media. Tubuh yaitu. Siregar. Bibit yang digunakan berasal dari skala intermediet atau dari bak kultur skala massal lainnya. dilakukan pembibitan dengan cara mengalirkan Nannochloropsis sp sebanyak 20 % dari total volume air yang ada dalam bak dengan menggunakan pompa celup. dan kaki / ekor.

Persiapan wadah dilakukan dengan cara menyikat dasar dan dinding bak hingga bersih dan dikeringkan hingga keesokan harinya. pengambilan rotifer disaring kembali dapat saringan agar kotoran tidak ikut terbawa.3. Rotifer yang telah dipanen dapat langsung diberikan ke larva. kepadatan kultur massal dapat dilihat dari kondisi perairan yang bening.5 m dengan kapasitas maksimal 12 m3. 4. Metode ini dilakukan dengan cara mengalirkan air media kultur dengan menggunakan selang spiral 1 inchi yang bagian ujungnya diberi planktonnet 300 mesh size sebanyak 20-30% dari volume media kultur dan ditampung dalam drum 150 liter yang diberi aerasi. Namun. Keesokan harinya.9 Pengendalian dan Pencegahan Hama dan Penyakit .mudah sedangkan pada metode transfer diperlukan bak kultur yang lebih banyak. bibit rotifer ditebar dengan kepadatan 30-40 individu/ml yang diperoleh dari bak kultur rotifer yang lainnya yang siap panen atau dari kultur skala intermediet. Pemanenan dilakukan setiap hari pada bak kultur yang sama dan dapat berlangsung selama 3-4 minggu. Kultur rotifer di BBAP Situbondo dilakukan skala massal dalam bak beton yang berukuran 5x2x1. Setelah itu. bak diisi dengan Chlorella sp untuk pakan rotifera sebanyak 2-3 m3 yang telah berumur 5-7 hari kemudiam bak ditambahkan dengan air laut dengan volume yang sama (perbandingan 1:1). Metode pemanenan yang dilakukan adalah metode panen harian. namun rotifera yang dihasilkan dari metode transfer lebih bersih. Kepadatan rotifer akan mencapai puncak pada hari ke 4-7 dengan kepadatan 150-250 individu/ml.

2009). dengan merek dagang Sanolife buatan PT. Jika jumlah bakteri belum mencukupi untuk membuat ikan menjadi sakit maka ikan atau larva tersebut tidak akan menjadi sakit. Diantara jenis bakteri tersebut bakteri V alginolyticus dan V fuscus merupakan jenis yang sangat patogen pada ikan kerapu tikus (Salim. Penggunaan probitiotik diharapkan dapat menekan jumlah bakteri patogen di dalam wadah budidaya. Jenis penyakit bakterial yang ditemukan pada ikan kerapu. Hasil isolasi dan identifikasi bakteri ditemukan beberapa jenis bakteri yang diduga berkaitan erat dengan kasus penyakit bakterial.Permasalahan penyakit yang paling banyak pada ikan bersirip (finfish) dijumpai pada budidaya ikan kerapu. Kematian massal sering terjadi . Penggunaan probiotik sekarang sudah banyak digunakan untuk menggantikan peran antibiotik untuk mencegah penyakit yang menyerang larva atau benih. Pada saat melaksanakan PKL dalam rangka pencegahan dan pemberantasan hama penyakit. V anguillarum dan V fuscus. setiap unit pembenihan di BBAP Situbondo memiliki cara dan teknik yang berbeda-beda. pada saat penulis melakukan kegiatan PKL di unit pembenihan timur BBAP Situbondo sempat terjadi kematian massal menyebabkan kematian pada larva atau benih. INVE. Namun. yaitu Vibrio alginolyticus. Bakteri yang digunakan sebagai probiotik adalah jenis Bacillus sp. Perlakuan untuk pencegahan penyakit pada pembenihan kerapu tikus di BBAP Situbondo dilakukan dengan penggunaan probiotik. Bakteri patogen membutuhkan jumlah bakteri yang cukup untuk membuat ikan menjadi sakit. diantaranya adalah penyakit borok pangkal sirip ekor dan penyakit mulut merah. V algosus.

Ukuran pasar benih yang dijual biasanya berkisar antara 2. Air pada bak pemeliharaan diturunkan secara perlahan sampai tingginya sekitar 30 cm.4. pencegahan penyakit dapat dilakukan dengan berbagai cara seperti dilakukannya desinfeksi pada wadah yang akan digunakan. Proses pemanenan dilakukan dengan menggunakan baskom plastik yang dialiri air dari pipa paralon. Setelah ketinggian air mencapai 30 cm benih kerapu dapat dipanen dengan menggunakan keranjang plastik. 4. sirkulasi air selama 24 jam untuk benih yang sudah berukuran 2-4 cm. Produksi.4 Pemanenan. dan penyiponan pada pagi dan sore hari. Benih dapat dipanen pada umur D60 atau jika ukurannya sudah mencapai ukuran pasar (minat pembeli).7-4 cm. proses pemanenan biasanya dilakukan pagi hari belum terlalu tinggi sehingga tidak menyebabkan stress pada benih yang akan dipanen dan digrading. pakan alami pada Nannochloropsis sp yang sempat kontaminan terhadap rotifera serta penyakit yang disebabkan oleh VNN(Viral Nervous Necrosis). dilakukan treatment pada air yang akan digunakan. Grading (pemilihan . Hal ini bertujuan untuk menyeragamkan ukuran benih yang akan dipasarkan dan juga untuk memisahkan benih yang masuk pasaran karena cacat (abnormalitas). dan Pemasaran 4. Juvenil yang telah dipanen dipisahkan berdasarkan ukurannya (grading).1 Pemanenan Benih Sebelum dilakukan pemanenan.pada larva yang diakibatkan oleh kualitas air pada suhu yang sempat turun mencapai 29oC. biasanya benih di grading terlebih dahulu. Sehingga dilakukan pencegahan hama penyakit yang rutin dan terkontrol. dilakukan pergantian air pada pagi dan sore hari.

Sumatera Barat. Kalimantan Barat. Hal ini disebabkan karena usaha pembesaran ikan kerapu baik di Karamba Jaring Apung (KJA). Singapura. dan lain-lain. Jawa Tengah. . Sulawesi Tengah. Taiwan. Daerah pemasaran ikan kerapu diantaranya adalah Lampung.500 per sentimeter. Sulawesi Tenggara. Jawa Barat. Kepulauan Riau (Batam).ukuran) merupakan salah satu cara untuk menyeragamkan pertumbuhan dan mengurangi kematian benih pasca lepas sensor akibat sifat kanibal pada ikan kerapu. Kalimantan Selatan. Bali. Harga benih ikan kerapu memiliki fluktuasi di pasar tingkat produsen di Jawa Timur (Situbondo). Sumatera Selatan. Jawa Timur. Pemasaran merupakan rantai akhir dalam usaha pembenihan ikan kerapu. Dewasa ini. Sumatera Utara. Cina. Kepulauan Bangka Belitung. Irian Jaya. bak terkontrol maupun di tambak di dalam maupun di luar negeri sudah banyak dilakukan. Informasi mengenai permintaan konsumen sangat penting.4. NTT. Sifat kanibalisme pada kerapu terjadi pada saat kondisi kekurangan makanan dan perbedaan ukuran. maka ikan tersebut pun akan dipasarkan.2 Produksi dan Pemasaran Setelah kerapu tikus telah mencapai ukuran pasar. Lampung. sehingga aspek pemasaran tidak boleh dianggap ringan. Kalimantan Timur. NTB. Bali (Gondol) dan Lampung. Malaysia. 4. pemasaran benih ikan kerapu tikus untuk segala ukuran (3 – 10 cm) dan berapapun jumlahnya tidak terlalu sulit. Ikan yang berukuran lebih besar akan selalu memangsa ikan yang lebih kecil dalam satu wadah pemeliharaan. BBAP Situbondo menjual dengan harga ikan kerapu tikus seharga Rp 1. Sulawesi Selatan.

Induk masih berasal dari alam sehingga ketersediaan induk terbatas dan tergantung dari tangkapan nelayan. Kematian massal yang sering terjadi pada larva terutama pada umur 3-5 hari (D3-D5). 4. b. pakan. Ketersediaan pakan ikan rucah untuk induk yang menyesuaikan musim.5. sehingga perlu pembuatan pakan buatan untuk indukan. aktivitas penangkapan serta memerlukan fasilitas penyimpanan bersuhu dingin karena kualitasnya mudah menurun dan mudah terkontaminasi dengan mikroba pathogen.5. .4.5 Masalah dan Kemungkinan Pengembangan Usaha 4. penyakit maupun kemampuan dalam melewati masa kritis menyebabkan tingkat kelulushidupan larva sangat rendah dan pertumbuhannya lambat serta belum ada tindak lanjut terhadap serangan penyakit. sehingga perlu penambahan budidaya untuk pemeliharaan induk. dan 21-24 hari baik yang diakibatkan oleh kualitas air.1 Masalah yang Dihadapi Permasalahan yang dihadapi dalam pembenihan kerapu tikus selama di Balai Budidaya Air Payau Situbondo adalah : a.2 Kemungkinan Pengembangan Usaha Kebutuhan dan harga kerapu tikus yang tinggi memberikan potensi tersendiri bagi usaha kerapu jenis ini yang merupakan penyokong untuk usaha budidaya selanjutnya (pendederan dan pembesaran). Selain itu. juga digunakan sebagai ikan hias. c. benih kerapu tikus disamping digunakan dalam pembesaran. sehingga perlu penanganan upaya pencegahan seperti pemberian probiotik dan mejaga kualitas air. 11-12 hari.

Perhitungan payback period yaitu dalam pengembalian investasi .483. Perhitungan analisis usaha pada produksi benih ikan kerapu tikus dapat dilihat pada lampiran 5. keuntungan yang diperoleh per siklusya adalah sebesar Rp 51. beberapa hal yang dapat dilakukan adalah : peningkatan kinerja melalui penerapan ilmuatau teknologi yang tepat tentang pembenihan kerapu tikus maupun semangat kerja bagi para staf (peningkatan sumberdaya manusia).469. Biaya investasi yang dibutuhkan untuk usaha pembenihan ikan kerapu tikus skala rumah tangga sebesar Rp 215. menjaga mutu atau kualitas benih yang dihasilkan.9 %.Dalam rangka pengembangan usaha dan peningkatan produksi pembenihan.740 per tahun.-.595.6 Analisa Usaha Pembenihan Kerapu Tikus (Chromileptes altivelis) Skala Rumah Tangga Analisa usaha dalam produksi benih ikan kerapu tikus dalam 1 siklus.500/bak beton berkapasitas 9 ton didapatkan tingkat Survival Rate (SR) mencapai 12.1 maka usaha produksi ikan kerapu tikus tersebut merupakan usaha yang layak dilakukan dan menguntungkan untuk dikembangkan.900.815. sehingga terjamin kelestarian sumber daya ikan di laut. dengan penebaran 112.733. 4. Diketahui dari hasil perhitungan R/C Ratio >1.064. yaitu 2. Biaya tetap yang dibutuhkan untuk usaha pembenihan kerapu tikus sebesar Rp 129. menjalin kerjasama dengan berbagai pihak terutama dalam kegiatan pemasaran.340 Per tahun dan biaya variabel yang dibutuhkan sebesar 60. Mengendalikan penangkapan ikan kerapu di alam secar bijaksana. perbaikan sarana dan prasarana yang memadai.400 per tahun sehingga biaya operasional yang dibutuhkan sebesar 190.

Hasil perhitungan analisis usaha ini maka dapat diartikan bahwa usaha produksi ikan kerapu skala rumah tangga ini layak untuk di usahakan dan akan menguntungkan apabila usaha ini dikembangkan. Sulawesi Selatan. Kalimantan Timur. . Taiwan. Daerah pemasaran ikan kerapu diantaranya adalah Lampung. Jawa Tengah. Bali. Kalimantan Selatan.599. Sulawesi Tengah. Kepulauan Bangka Belitung. Sumatera Utara. Sulawesi Tenggara. Sumatera Barat. Lampung.4 bulan. Sumatera Selatan.2 ekor. NTB. Kepulauan Riau (Batam). Jawa Barat. NTT. Cina.599.2 ekor yang artinya apabila perusahaan mampu untuk menjual produk yang dihasilkan sebesar 9. Malaysia. Perhitungan BEP produksi benih didapatkan sebesar 9. BEP harga benih Rp 719/cm artinya bahwa titik impas akan dicapai pada saat harga jual benih Rp 719/cm. Irian Jaya. Jawa Timur. Singapura.yang ditanam akan kembali dalam waktu 4 tahun 2. maka kondisi tersebut tercapai titik impas sehingga perusahaan tersebut tidak mengalami untung maupun rugi. Kalimantan Barat. dan lain-lain.

DO > 5 ppm.000-100. 2. Rotifier 8 gram/pemberian 3 kali/hari.3. Grading dilakukan apabila terlihat perbedaan ukuran yang mencolok pada benih dan munculnya sifat kanibalisme. seleksi telur. penetasan telur.9%. pH 7. SR ikan kerapu tikus 12. Otohime B1 10 gram/pemberian 3 kali/hari. . seleksi induk.01 ppm. penebaran telur. Otohime EP-1 15 gram/pemberian 4-6 kali/hari). pemberian pakan sesuai dosis baik berupa pakan alami(Nannochloropsis 50. persiapan bak pemeliharaan larva. belum ada pengobatan terhadap penyakit. amoniak < 0. pencegahan penyakit dengan menggunakan probiotik Sanolife. Nitrat < 150 ppm. Memerlukan fasilitas penyimpanan bersuhu dingin agar kualitas pakan ikan rucah untuk indukan tidak menurun. pemijahan. Induk masih berasal dari alam sehingga ketersediaan induk terbatas dan tergantung dari tangkapan nelayan. Otohime B2 15 gram/pemberian 3 kali/hari. Teknik pembenihan ikan kerapu tikus meliputi. pengelolaan kualitas air dengan salinitas 31-33 ppt.000 sel/ml 1 kali/hari dan Rotifer 3-5 individu/ml 2 kali/hari) maupun pakan buatan(Nosan R-1 8 gram/pemberian 2 kali/hari. persiapan induk. suhu 30o31oC. Kematian massal sering terjadi pada larva yang diakibatkan oleh penyakit VNN(Viral Nervous Necrosis).V KESIMPULAN DAN SARAN 5. nitrit < 1 ppm.1 Kesimpulan 1.8-8.

disarankan supaya ada penambahan budidaya pada pemeliharaan induk. disarankan perlu adanya pembuatan pakan buatan untuk indukan. Induk yang masih berasal dari alam sehingga ketersediaan induk terbatas dan tergantung dari tangkapan dari nelayan.2 Saran 1. 3. Belum adanya pengobatan terhadap penyakit VNN(Viral Nervous Necrosis) yang dapat menyebabkan kematian massal terhadap larva ikan kerapu tikus.5. disarankan ada studi-studi lebih lanjut untuk menemukan formula yang tepat untuk meningkatkan kekebalan benih dan menghasilkan benih yang tahan penyakit. 2. Ketersediaan pakan ikan rucah untuk induk yang menyesuaikan musim. .

com/2008/11/budidaya-ikan-keraputikus. Central Pertiwi Bahari. http://jlcome. 99 hal Effendie. 07/05/2010.iptek.blogspot. S. P.H. 2009. M. M. Metode Penelitian.VI DAFTAR PUSTAKA Anonim. PT. Kordi K. 07/06/2010. 24:19-26 Nazir.H. 115 halaman Kordi K. Ghalia Indonesia. Jakarta.html.G. 2008. Metodologi Penelitian. Strategi Reproduksi pada Ikan Kerapu. 146 hal. 2010. 2007. 233 hal Kordi K. Penggunaan Biokatalisator pada Budidaya Udang Galah.com/PPS702-ipb/05123/suria_darwisito.com/2007/10/parameter-dasar-budidayaperairan. Budidaya Ikan Kerapu http://octopus39. 135 hal. 2005.A dkk.H. M.com/group/mmaipb/message/2070. 2002.blogspot. Anonim. S. 1988. Pembenihan Ikan Laut Ekonomis Secara Buatan. Tikus. 12/05/2010. Plankton di Lingkungan PT. Penerbit Yayasan Pustaka Nusatama. 2007. Produksi Pakan Alami. M. S.html. 2003.net.G. Pustaka Pelajar. 2010. Biologi Perikanan. http://rudyct. Central Pertiwi Bahari.. Darwisito. M. M. Edhy. Usaha Pembesaran Ikan Kerapu di Tambak.id/ind/warintek/?mnu=6&ttg=3&doc=3b7.I. Pembenihan ikan kerapu macan (Epinephelus fuscoguttatus).. Departemen Kelautan dan Perikanan Direktorat Jendaral Perikanan Budidaya Balai Budidaya Air Payau.htm. 2001. . Yogyakarta. Penerbit Kanisius. 1998. 07/06/2010. 07/06/2010. Yogyakarta. K. Penerbit Lily Publisher. Yogyakarta. 159 hal Jatilaksono. Loka Budidaya Air Payau. Yogyakarta.. Budidaya Ikan Laut di Kramba Jaring Apung. Octopus. 188 halaman Murtiati. Parameter Dasar Budidaya Perairan. T. http://groups. Simbolon dan J.G. Pantai Timur. W. 2002. Wahyuni. Jakarta. http://www. Penerbit Rineka Cipta. Cahyaningsih. Azwar. dkk.yahoo. 1999.

540 hal Salim. Laporan Magang Perikanan. 26/05/2010. Juwana.2007. dan Mustahal.com/2009/04/laporan-magangperikanan. 1993. Balai Budidaya Air Tawar Jambi. 1995. manik. Penerbit Kanisius. H. Yogyakarta. http://klikharry. Ilmu Pengetahuan Tentang Biota Laut. Yuasa. Biologi Laut . dkk. 2003. Penerbit Djambatan. 2009. Pembenihan Ikan Laut Ekonomis : Kerapu. Beronang. Kei. Metode Penelitian. 2007. DKP dan JICA . S. A.Romimohtarto. Pakan Ikan Alami. Jakarta. Rajawali. C.blogspot.V. 87 halaman Sunyoto. K. Abbas.wordpress.html?zx=769a8d327799ce15. 12/05/2010. Penerbit Penebar Swadaya.com/2007/02/21/keracunan-nitrit-nitrat/. Panduan Diagnosa Penyakit Ikan. Kakap. http://mandala- Siregar. P. Keracunan Nitrit-nitrat. dan S. Wahyudhy. Jakarta. 84 halaman Suryabrata. 2002. Jakarta. Ditjen Perikanan Budidaya.

Kecamatan Panarukan. Propinsi Jawa Timur .LAMPIRAN Lampiran 1. Peta Lokasi Kerja Praktek Lapangan Desa Pecaron. Kabupaten Situbondo.

Lampiran 2. Denah Balai Budidaya Air Payau Situbondo 1 6 3 4 23 1 1 5 7 9 11 1 23 23 10 10 30 7 23 28 29 23 30 31 7 7 9 12 13 14 23 8 16 15 19 17 25 26 27 23 32 23 33 17 34 17 19 8 18 9 15 35 24 23 21 23 23 18 20 22 21 U .

Bak induk bandeng 18. Musholla. Bak karantina 12. 35. Bak induk kerapu. 21. 34. 4. 23. 25. Rumah blower. 24. 2. Auditorium.Keterangan : 1. Broodstock Center Udang Vanname 5. Ruang staf teknis dan Laboratorium Bioteknologi 28. Bak pembenihan tengah 17. Bak filter sand 16. Bak penampungan telur 3. Laboratorium pakan alami 14. Kantor. . Rumah genset. Bak calon induk kerapu. 7. 8. 32. Bak pembenihan timur 13. Bak tandon air laut 20. 33. Bak pembesaran udang Vanname 19. Laboratorium nutrisi dan pakan buatan 26. Bak pembenihan barat. Bak tandon air tawar. Laboratorium penyakit dan kualitas air. 31. Perpustakaan 30. Pompa air laut. Dapur. Ruang pembuatan pellet. Bak kultur Brachionus plicatilis 10. Koperasi dan workshop. 27. Bak pemeliharaan nener 11. 29. Garasi mobil. Bak pembenihan Abalone 15. 6. Ruang kuliah. Asrama 22. Bak kultur Chlorella sp 9. Rumah karyawan.

Siti Zubaidah.Si.Lampiran 3. S.PT. Akhmad Romadlon. Struktur Organisasi Balai Budidaya Air Payau (BBAP) Situbondo Kepala Balai Ir. Slamet Subyakto. M. M. : Ir.Si. Kelompok Jabatan Fungsional Koord. Tata Usaha Ir.Si. Hama dan Peny. Made Yooriksa Kepala Seksi Pelayanan Teknis Dede Sutende Kepala Seksi Stand. Perekayasa Pengawas Benih Pranata Humas Pengawas Budidaya Peng. Kepala Seksi Bag. & Info. Ikan Litkayasa Fungsional Lainnya . M.

D 36) Larva-Benih Benih Larva-Benih Benih Larva-Benih Larva (D2-D8) Larva-Benih Benih Ukuran pakan 20 – 50 µm 100 – 200 µm 200 – 300 µm 200 – 400 µm 300 – 500 µm 400 – 600 µm 500 – 800 µm 800 – 1.500 µm 2.00 14.400 µm 1.00 07.00 10.00 15.00 11.00 12.200 µm 1.Lampiran 4.000 µm 20 – 50 µm 50 – 100 µm 100 – 200 µm 200 – 300 µm 300 – 600 µm 500 – 900 µm 900 – 1.00 Jenis Pakan Minyak cumi Pakan buatan (Rotofera/Rotemia) Pakan Buatan Rotifer Artemia Pakan Buatan Pakan Buatan Artemia Pakan Buatan Rotifer Artemia Udang rebon Keterangan Larva (D2-D8) Larva -Benih Benih Larva (D 2. Daftar Ukuran Pakan dan Jadwal Pemberian a.400 µm 1.00 09.30 16. Daftar Ukuran Pakan Uraian Rotemia NRD ½ NRD 2/3 NRD 2/4 NRD 3/5 NRD 4/6 NRD 5/8 NRD G8 (8/12) NRD G12 (12/20) Nosan R-1 Rotifier Love Larva Otohime B-1 Otohime B-2 Otohime C-1 Otohime C-2 Otohime S-1 Otohime S-2 Otohime EP1 Otohime EP2 b.000 µm 1.200 µm . Jadwal Pemberian Pakan Waktu 06.200 – 2.00 15.

Saringan rotifera 300 mikron .117.000.000/unit 4.000.Lampiran 5.000/unit 2.Gayung 2 liter .000.000 3.000.000.000. 1 2 Uraian Lahan 500 m2 Borongan Bangunan .000.5 m3 .Saringan artemia 200 mikron Jumlah 1 unit 1 unit 6 unit 10 unit 4 unit 1 unit 1 unit 1 unit 1 unit 1 unit 1 unit 1 unit 2 buah 1 unit 1 unit 1 unit 1 unit 1 unit 1 unit 2 buah 2 buah 1 buah 8 buah 3 buah 1 buah 8 buah 20 buah 1 buah 2 buah Harga Satuan (Rp) 100.000 600.000 1.000.Rumah pompa air laut 6 m2 .000/unit 2.000. a.000.000 24.000/buah Jumlah (Rp) 50.000 6.000.117.082.500/unit 1.000/buah 300.000/m2 15.000.000/unit 1.000 30.000.000.000.000/unit 10.000.000.000. .600.000.000 15.000 2.Rumah jaga 25 m2 Pompa air laut 7.000.000/unit 2.000 40.5 PK Pompa air tawar5 PK Pompa celup(dab) Hi-blow 5 PK Instalasi air laut Instalasi air tawar Instalasi aerasi Instalasi listrik Genset 3000 watt Bak fiber Bak fiber Tabung gas Peralatan pembenihan: .000.Runah genset 6m2 .000/unit 4.000 200.000 3.000 10.000.000 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 .000/unit 25.000 10.000/unit 10.000/buah 3.000.000/unit 5.000/unit 4.000.000 16.000 300.5 m3 .600.400 1.000/buah 3.000 2.000.Ember 5 liter .000. Biaya investasi No.000 2.500 1.000/buah 200.000/unit 6.000 400.Ember 20 liter .400/unit 1.000/unit 10.Bak kultur Chlorella sp 12.000/unit 1.Ember 30 liter .000.000 10.750.Bak kultur rotifer 12.Baskom sedang .000/unit 3.000/unit 450.000 3.000/unit 10.000 4.Rumah Hi-blow .000 40.000.Bak filter air laut 18 m3 .Bak larva .000.000 900.000/unit 3.000.750.000/unit 600.000 3.Hatchery 140 m2 .082.000/buah 10.000/unit 3.000 25.000 24.000. Analisis Usaha dalam Produksi Benih Kerapu Tikus di Balai Budidaya Air Payau Situbondo.

250.000/unit 550.000 300.945 50.733.000 215. Biaya Tetap 1 2 3 4 5 6 Penyusutan investasi) Gaji Pegawai Biaya Listrik Perawatan Peralatan (5% dari investasi) Pajak Pulsa Handphone Total Biaya Tetap Biaya Tetap Selam 1 Tahun 100.000 300.000 Jumlah Harga Satuan (Rp) Jumlah (Rp) 32.000 50.000 400.000/buah 1.000/buah 75.800.000 35.890 4.000 300.900 b.000 200.000 200.000 145.000/roll 75.000/buah 75.000 200. Biaya Tetap dan Variabel No Uraian I.000/unit 20.000/buah 3.000 550.500/buah 2.000 350.000/bln/org 500/bln (10% dari 17.000/buah 145.000/buah 25.250.000 150.835 129.0000/buah 200.000 200.000/buah 60.595.000 75.000/buah 35.365.000/roll 10.000 700.000/m 300.000/bln 2 orang 800.682.000/buah 100.000 150.000 1.000 60.340 .000/buah 200.500.398.- Saringan udang 1 buah rebon Saringan pakan 150 2 buah mikron Filter bag 6 buah Selang aersi 1 roll Batu aerasi 100 buah Kran aerasi 100 buah Pemberat aerasi 100 buah Plastic penutup 1 roll Keranjang koli 20 buah Gelas piala 1000 ml 1 buah Gelas piala 200 ml 1 buah Gelas piala 50 ml 1 buah Tong plastik 60 ml 2 buah Tong plastik 80 ml 2 buah Piring kecil (teplek) 1 lusin Kulkas 1 pintu 1 unit Lemari plastic 1 unit Selang 1” 20 m Spon (busa kasar) 1 roll White board 1 buah Total Biaya Investasi 100.000 250.500/buah 2.000/buah 300.000/buah 175.000 1.000 8.

000 100.117.000/kg 1.000 3.000 300.740 .5 675. Biaya Variabel 1 2 Telur Obat-obatan : 3 Pakan : a.000 4 kg 300.000 btr 1.350 60.000/kg 5.000/kaleng 3.000 Formalin Chlorine Na-thiosulfate Scott’s Emullsion 3 btl 20 L 20 L 300.200.000 40 kaleng 300.000 2 kg 275.516.000 37. Udang rebon Total Biaya Variabel Biaya Variabel Selama 1 tahun Total Biaya Operasional (TC) 1 siklus Biaya Operasional (TC) 1 Tahun 15.450/botol 300/000/kaleng 300.000 2 kg 300.000/kg 550.500. Pakan buuatan : Ukuran mikron Ukuran mikron Ukuran mikron Ukuran mikron Ukuran mikron Ukuran 800 mikron 400-600 300-500 200-400 200-300 100-200 1 kg 600.000 4 kg 6 kg 500 bks 300.000 300. Artemia b.064.200.200.780.000/kg 600.000 c.000 112.000/kg 630.000/kg 600.000 2.400 47.000/bks 1.350 450.185 190.II.469.

000 = 154.000 per siklus Penerimaan yang diperoleh untuk per siklus yaitu sebesar Rp 99.500/cm = 99.000 .000.3 cm x Rp 1. Rincian penerimaan yang diperoleh usaha pembenihan ikan kerapu dapat dilihat pada perhitungan berikut : a.000 154.1 Penerimaan (TR) Penerimaan adalah jumlah uang yang diperoleh dari hasil penjualan benih. penerimaan (TR) TR = Benih yang dihasilkan x ukuran x harga jual = 20.000.9% b. Penghasilan c.000 butir Jumlah benih yang hidup hingga pemanenan yaitu sebanyak 20.000 ekor.000 x 100% = 12.c. Jadi kelangsungan hidup (SR) yang didapatkan adalah sebagai berikut : SR (%) = Jumlah benih yang hidup Jumlah larva yang tebar X 100 % = 20.000 x 3.000 butir HR = 44% x 450. Jumlah telur yang tebar yaitu sebanyak 450.

516.815.1 sehingga usaha dalam produksi benih kerapu tikus ini layak untuk dilaksanakan. Keutungan diperoleh jika selisih antara pendapatan dengan total biaya adalah positif. Keuntungan yang diperoleh dalam produksi benih kerapu tikus yaitu sebagai berikut : Keuntungan = Penerimaan-Biaya Operasional = 99.1 R/C > 1 yaitu 2. keuntungan yang diperoleh per siklus adalah sebesar Rp 51.185 = 51.000.3 R/C Ratio Analisis ratio merupakan parameter analisis yang digunakan untuk melihat pendapatan relative suatu usaha dalam 1 tahun terhadap biaya yang dipakai dalam kegiatan tersebut.2 Keuntungan Keuntungan merupakan selisih antara pendapatan dengan total biaya prosuksi (biaya operasional).815 Jadi. .483. Suatu usaha dikatakan layak jika nilai R/C ratio lebih dari 1 (R/C > 1).516.c. tingkat keuntungan suatu usaha akan semakin tinggi.000.- c. Semakin tinggi nilai R/C ratio.483. Nilai R/C ratio untuk pembenihan ikan kerapu tiku dapat dilihat pada perhitungan sebagai berikut : R/C ratio = Hasil penjualan Total biaya per siklus = 99.000 – 47.000 47.185 = Rp 2.

599.5 Payback Periode (PP) Analisis Payback Periode (PP) bertujuan untuk mengetahui waktu tingkat pengembalian investasi yang telh ditanamkan pada suatu usaha.185 4. Sementara itu.000 = = Rp 2.2 ekor BEP (Rp) = Biaya total Total produksi 47.599. c.3 cm = Rp 719/cm Artinya kegiatan pembenihan ikan kerapu tikus akan mengalami titik impas apabila telah menjual sebanyak 9.516. Nilai BEP (unit) dan BEP (Rp) pada usaha pembenihan ikan kerapu tikus dapat dilihat pada perhitungan berikut ini : BEP unit = Biaya total Harga Satuan = 47.185 20. Usaha dinyatakan layak apabila nilai BEP produksi lebih besar dari jumlah unit yang sedag diproduksi saat ini.2 ekor benih atau dengan harga jual benih seharga Rp 719/cm.4 Break Event Poin (BEP) BEP merupakan parameter analisis yang digunakan untuk mengetahui batas nilai produksi atau volume produksi suatu usaha mencapai titik impas. yaitu tidak untung atau rugi.516.375/3.950 = 9. nilai BEP harga lebih rendah dari pada harga sat ini. seperti usaha .c.

483. biaya investasi yang dikeluarkan untuk usaha pembenihan ikan kerapu tikus akan kembali dalam jangka waktu 4. Nilai PP pada usaha pembenihan ikan kerapu tikus dapat dilihat pada perhitungna berikut ini : PP = Biaya Investasi Keuntungan x 1 tahun = 215. .900 51.2 tahun atau dalam jangka 4 tahun 2.815 x 1 tahun = 4.4 bulan.pembenihan ikan kerapu tikus.733.2 tahun Jadi.

1Bak Pemeliharaan Larva Kerapu Tikus a.2 Bak Rotifer a.5 Bak Karantina Ikan a.4 Bak Pemeliharaan induk ikan Kerapu Tikus a. Gedung a.3 Bak Chlorella sp a.Lampiran 6.8 Pompa Air Laut .7 Tandon Air Tawar a.6 Tandon Air Laut a. Sarana dan Prasarana Pembenihan Ikan Kerapu Tikus Budidaya di Balai Budidaya Air Payau Situbondo a.

2 Udang Rebon b.6 Artemia Cysts c.b.3 HCG(Human Chorionic Gonadotropin c.5 Scott’s Emulsion b.1 Pakan Ikan Rucah b.4 Akuarium c.2 Alat Taging c.1 Egg Colector c.4 Vitamin b.6 Saringan .5 sendok takaran Pengambilan Telur c. Pakan Ikan b. Peralatan c.3 Minyak Cumi b.

00 31 C 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC o 16.00 31 C 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 30oC 30oC 31oC 31oC o bak 6 12.Lampiran 7.00 30 C 31oC 31 C 31 C 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC o o o suhu harian kolam ikan kerapu tikus bak 2 bak 4 12.00 06.00 30 C 30oC 30 C 30 C 31oC 31oC 31oC 30oC 30oC 30oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 30oC 30oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC o o o bak 1 12.00 31oC 31 C 31 C o o 06.00 30oC 30 C 30 C o o 12.00 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 08-Agust-10 o o 09-Agust-10 30 C 29 C 29oC 29oC 30oC 30oC 29oC 30oC 30oC 30oC 29oC 29oC 29oC 30oC 30oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 30oC 31oC 31oC 30oC o 10-Agust-10 31 C o 31 C 11-Agust-10 12-Agust-10 3-Agust-10 14-Agust-10 15-Agust-10 16-Agust-10 17-Agust-10 18-Agust-10 19-Agust-10 20-Agust-10 21-Agust-10 22-Agust-10 23-Agust-10 24-Agust-10 .00 - 16.00 31 C 31 C 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC o o 16. Suhu Harian pada Kolam Ikan Kerapu Tikus tanggal 06.00 31 C 31oC 31 C 31 C 30oC 30oC 30oC 30oC 30oC 31oC 30oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 30oC 30oC 30oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 30oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 30oC 30oC 31oC o o o 06.00 31oC 31 C 31 C o o 16.

25-Agust-10 29oC 30oC 29oC 29oC 29oC 29oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 30oC 31oC 30oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 30oC 31oC 30oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 30oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 30oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 30oC 31oC 31oC 30oC 31oC 31oC 30oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 26-Agust-10 27-Agust-10 28-Agust-10 29-Agust-10 30-Agust-10 31-Agust-10 .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful