TEKNIK PEMBENIHAN IKAN KERAPU TIKUS (Cromileptes altivelis) DI BALAI BUDIDAYA AIR PAYAU SITUBONDO

PRAKTEK KERJA LAPANG
PROGRAM STUDI BUDIDAYA PERAIRAN

Oleh :
ERLINA DWI TUNGGAL SPIKADHARA SURABAYA - JAWA TIMUR

FAKULTAS PERIKANAN DAN KELAUTAN UNIVERSITAS AIRLANGGA SURABAYA 2010

TEKNIK PEMBENIHAN IKAN KERAPU TIKUS (Cromileptes altivelis)
DI BALAI BUDIDAYA AIR PAYAU SITUBONDO

Praktek Kerja Lapang Sebagai Salah Satu Syarat untuk Memperoleh Gelar Sarjana Perikanan pada Program Studi S-1 Budidaya Perairan Fakultas Perikanan dan Kelautan Universitas Airlangga

Oleh : ERLINA DWI TUNGGAL SPIKADHARA NIM. 060710177P

Mengetahui, Dekan, Fakultas Perikanan dan Kelautan

Menyetujui, Dosen Pembimbing,

Prof.Dr.Drh.Hj. Sri Subekti, B.S.,DEA. NIP. 19520517 197803 2 001

Muhammad Arief., Ir. M.Kes. NIP. 19600823 198601 1 001

Setelah mempelajari dan menguji dengan sungguh–sungguh, kami berpendapat bahwa Praktek Kerja Lapang (PKL) ini, baik ruang lingkup maupun kualitasnya dapat diajukan sebagai Salah Satu untuk Memperoleh Gelar Sarjana Perikanan.

Tanggal Ujian : 25 November 2010

Menyetujui, Panitia Penguji, Ketua

Ir. Muhammad Arief, M.Kes NIP. 19600823 198601 1 001

Sekretaris

Anggota

Prayogo, S. Pi., MP NIP. 19750522 200312 1 002

Ir. Moch. Amin Alamsjah, M. Si., Ph. D NIP. 19700116 199503 1 002

Surabaya, 24 Desember 2010 Fakultas Perikanan dan Kelautan Universitas Airlangga Dekan,

Prof.Dr.Drh.Hj. Sri Subekti, B.S.,DEA. NIP. 19520517 197803 2 001

wawancara dan studi pustaka. Metode yang digunakan dalam Praktek Kerja Lapang ini adalah metode dekskriptif dengan pengambilan data meliputi data primer dan data sekunder. Ikan kerapu tikus memiliki nilai jual yang tinggi dan permintaan yang banyak sedangkan permintaan pasar akan ikan kerapu tikus belum dapat dipenuhi secara keseluruhan karena belum banyak pembudidaya. Pengambilan data dilakukan dengan cara partisi aktif. M. Tujuan lainnya adalah untuk mengetahui permasalahan yang sering dihadapi pada usaha pembenihan ikan kerapu tikus (Cromileptes altivelis). Praktek Kerja Lapang ini dilaksanakan pada tanggal 19 juli . Otohime B1 10 gram/pemberian 3 kali/hari. Otohime EP-1 15 .000 sel/ml 1 kali/hari dan Rotifer 3-5 individu/ml 2 kali/hari) maupun pakan buatan(Nosan R-1 8 gram/pemberian 2 kali/hari. Ikan kerapu tikus lebih memiliki nilai jual yang tinggi di banding dengan ikan kerapu yang lainnya. Tujuan dari Praktek kerja Lapang (PKL) untuk mengetahui tentang teknik pembenihan ikan kerapu tikus (Cromileptes altivelis) di Balai Budidaya Air Payau di Situbondo. penetasan telur.Kes. pemijahan. Rotifier 8 gram/pemberian 3 kali/hari. seleksi induk.000-100. Dosen Pembimbing : Ir. persiapan bak pemeliharaan larva. Jawa Timur.Muhammad Arief. persiapan induk. seleksi telur.31 agustus 2010. Teknik Pembenihan Ikan Kerapu Tikus (Cromileptes altivelis) di Balai Budidaya Air Payau Situbondo Desa Pecaron Kecamatan Panarukan Kabupaten Situbondo Propinsi Jawa Timur. Teknik pembenihan ikan kerapu tikus meliputi. Otohime B2 15 gram/pemberian 3 kali/hari. pemberian pakan sesuai dosis baik berupa pakan alami(Nannochloropsis sp 50.RINGKASAN ERLINA DWI TUNGGAL SPIKADHARA. Ketersediaan benih ikan kerapu di alam tidak akan terancam punah dengan memanfaatkan dan mengembangkan suatu usaha untuk menghasilkan benih ikan kerapu tikus yang dapat memenuhi permintaan pasar. observasi. penebaran telur.

gram/pemberian 4-6 kali/hari). belum ada pengobatan terhadap penyakit. pH 7. suhu 30o-31oC. Grading dilakukan apabila terlihat perbedaan ukuran yang mencolok pada benih dan munculnya sifat kanibalisme. pengelolaan kualitas air dengan salinitas 31-33 ppt. Nitrat < 150 ppm. pencegahan penyakit dengan menggunakan probiotik Sanolife.8-8. Kematian massal sering terjadi pada larva yang diakibatkan oleh penyakit VNN(Viral Nervous Necrosis).3. nitrit < 1 ppm. .9%.01 ppm. Induk masih berasal dari alam sehingga ketersediaan induk terbatas dan tergantung dari tangkapan nelayan. amoniak < 0. DO > 5 ppm. SR ikan kerapu tikus 12. Memerlukan fasilitas penyimpanan bersuhu dingin agar kualitas pakan ikan rucah untuk indukan tidak menurun.

The method used in this Field Work Practice is dekskriptif with data collection methods include primary data and secondary data.Muhammad Arief. DO> 5 ppm. the management of water quality with salinity 31-33 ppt. disease prevention . Broodstock selection. nitrite <1 ppm. Nitrate <150 ppm. ammonia <0. The availability of grouper seed in nature will not be threatened with extinction by exploiting and developing a business to produce panther fish fry that can meet demand of market. preparation for larval rearing tanks. Polka-dot Grouper has a high selling value and demand a lot while the demand of market for Polka-dot Grouper can not be fulfilled as a whole because not many farmers. stocking eggs. Another aim is to discover the problems that are often encountered in the hatchery business grouper (Cromileptes altivelis). The purpose of the work practice of Field (PKL) to find out about grouper hatchery techniques (Cromileptes altivelis) in Balai Budidaya Air Payau Situbondo. Data collection was performed by the active partition. egg selection. Otohime EP-1 15 grams / administration 4-6 times / day). pH 7. feeding according to the dosage form of natural food (Nannochloropsis sp 50000-100000 cells / ml 1 time / day and rotifers 3-5 individuals / ml. hatching eggs. Supervising lecture: Ir. 2 times / day) or artificial diets (Nosan R-1 8 g / generous 2 times / day. Field Work Practice was held on 19 July . temperature 30o-31oC. Polka-dot Grouper Hatchery Techniques (Cromileptes altivelis) in Balai Budidaya Air Payau Situbondo Pecaron Panarukan Situbondo District of East Java Province.01 ppm.31 August 2010. Otohime B1 10 grams / feeding 3 times / day . observation. Polka-dot Grouper hatchery techniques include. Otohime B2 15 grams / feeding 3 times / day. Rotifier 8 grams / feeding 3 times / day. interview and literature study. 3. Broodstock preparation. East Java. Kes.SUMMARY ERLINA DWI TUNGGAL SPIKADHARA. M.8 to 8. spawning. Polka-dot Grouper over a high selling price compared with other groupers.

using probiotics Sanolife. Requires cold-temperature storage facilities for feed quality trash fish for broodstock did not decline. . Mass mortality of larvae often occur in diseases caused by VNN (Viral Nervous Necrosis). Broodstock still come from nature so that availability is limited and dependent parent from the catch of fisherman. Grading conducted if the striking visible differences in seed size and appearance of cannibalism. there is no treatment against the disease. SR of Polka-dot Grouper is 12.9%.

KATA PENGANTAR Segala puji kahadirat Allah SWT. Praktek Kerja Lapang ini sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Perikanan pada Program Studi S-1 Budidaya Perairan Fakultas Perikanan dan Kelautan Universitas Airlangga Surabaya. khususnya Mahasiswa Program Studi S-1 Budidaya Perairan Fakultas Perikanan dan Kelautan Universitas Airlangga Surabaya. Penulis menyadari bahwa Praktek Kerja Lapang ini masih sangat jauh dari kesempurnaan. Laporan ini disusun berdasarkan hasil Praktek Kerja Lapang yang dilaksanakan di Balai Budidaya Air Payau Situbondo pada tanggal 19 Juli – 31 Agustus 2010. sehingga kritik dan saran yang membangun sangat penulis harapkan demi perbaikan dan kesempurnaan laporan atau kegiatan selanjutnya. Desember 2010 Penulis . mendidik dan memberi motivasi serta semangat hingga selesainya Praktek Kerja Lapang ini. atas segala limpahan rahmat dan karunia-Nya sehingga penyusunan Praktek Kerja Lapang tentang Teknik Pembenihan Ikan Kerapu Tikus (Chromileptes altivelis) di Balai Bududaya Air Payau Situbondo ini dapat terselesaikan. Surabaya. Penulis menghanturkan terima kasih yang tak terhingga kepada kedua orang tua dan keluarga yang telah mendoakan. Semoga Praktek Kerja Lapang ini bermanfaat dan dapat memberi informasi bagi semua pihak.

Si. DEA. Bapak saya Anthonius Wiwiek Dwiriyantho Bayudharana Feysholly. Kakak pertamaku Andri Bahtera Tunggal Prisma Dharana dan kakak kedua Erlita Dwi Tunggal Spikadhara yang telah memberi semangat. selaku Dosen Pembimbing yang telah banyak membantu terlaksananya Praktek Kerja Lapang dari penyusunan usulan proposal hingga terselesainya laporan Praktek Kerja Lapang. Amin Alamsjah. . M. Bapak Akhmad Taufiq.Si sebagai Kepala Balai Budidaya Air Payau Situbondo. Sri Subekti. Ir. 8. M. Bapak Prayogo. Dr. 2. Slamet Subiyakto. 7. Nabi besar Muhammad SAW semoga kita semua akan mendapatkan syafaat di akhirat kelak. tidak lupa penulis haturkan terima kasih yang sebesar-besarnya : 1.. Pi.Pi selaku koordinator pelaksana Praktek Kerja Lapang. ibu saya Partini yang saya cintai yang telah memberikan seluruh ia punya baik dukungan secara moril dan materi. Moch. S.. 4.Kes.. 6. selaku Dekan Fakultas Perikanan dan Kelautan Universitas Airlangga Surabaya. B. S. MP dan Ir. 9. D selaku dosen penguji yang telah memberi banyak masukan dan saran atas perbaikan Praktek Kerja Lapang ini.Muhammad Arief. 5. Prof.. Si. M. 3. Ph. Allah SWT yang telah memberikan nikmat dan amanah dalam kehidupan ini. Hj.UCAPAN TERIMAKASIH Pada kesempatan kali ini. Bapak Ir.amin allahuma amin. Drh. S. M. Dr.

Semua pihak yang tidak dapat disebutkan satu persatu yang telah membantu penulis dalam pelaksanaan maupu penyelesaian laporan PKL ini. Seluruh pegawai BBAP Situbondo khususnya pegawai Pembenihan Timur. sofiati selaku pembimbing lapangan dari Balai Budidaya Air Payau (BBAP) Situbondo. Hangtuah. IPB. 16.10. . Ir. Sahabatku (Yulia Kartika. 12. UNSOED. Teman-teman BUPER’07 yang memberikan dukungan sehingga dapat terselesaikannya laporan PKL ini. Galih Adi Pratama yang telah banyak membantu. Nining Khoirunniza. Dian Respati. Adhe Puspawari Hardhanny) yang telah banyak membantu dan memberi semangat. Nurdiana Rachmasari. Rekan-rekan yang melaksanakan magang dan PKL di BBAP Situbondo dari UMI. UNDANA. 15. 11. Setyana Meirnawati. 14. 13.

.. HALAMAN PENGESAHAN…………………………………………...............................3 Habitat................................................... HALAMAN PERSETUJUAN........... 2..........4 Reproduksi................1 Sarana Pembenihan.............................................. 1........ DAFTAR TABEL..2 Metode......................2 Morfologi..................................................5 Perkembangan Embrio...... 2............................................ ........................................................................................1 Tinjauan Umum........................................................1 Latar Belakang...................... i ii iii iv vi xiii ix xi xii xiii 1 1 2 3 4 4 5 5 6 7 7 8 9 9 9 .................. ...................................... II .................. DAFTAR LAMPIRAN............................................................ 1.....2 Tujuan...................................................................... ......3 Manfaat..............................7 Teknik Pembenihan.................... 2................................................................................ ...............………………………….................... ................ .......................... 2... ...................................7..............................DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL…………………………………………………… .............................................................7................................. 2.................................................... ....6 Kebiasaan Makan Larva ...... UCAPAN TERIMAKASIH ............................................................3 Pemeliharaan Induk............................................................................................ .......... 2........................ 1...................... 2.................................. 2................7......................................................................... RINGKASAN....................... 2........................................................... KATA PENGANTAR…………………………………………………................................... SUMMARY..................................... ........................... I PENDAHULUAN.... TINJAUAN PUSTAKA.. DAFTAR GAMBAR.......... 2.............................................................

...... 2................9 Penyediaan Pakan untuk Pemeliharaan Larva...............9...............6 Virus.......................................................................12.......................................12.............................12................................6 Pemijahan..........................5 Salinitas........... 2......................................................... 2....................................................5 Caligus sp parasit golongan Crustacea......10.............. 2...............................4 Sex Reserval...........2..........8........................................................................... 2............. 2...............................11 Survival Rate.................... 2............8.....9.....................................3 Cryptocaryonosis.........7......5 Seleksi Induk...................... 10 10 10 11 12 13 2............................. 2.......7.1 Nannochloropsis oculata...1 Waktu dan Tempat…………………………………….....................................................8.....3 Rotifer...........1 Vibrio alginolyticus.........................................................................2 Kecerahan................................................................ 2.......................................3 derajat keasaman....2 Frekuensi Pemberian pakan........................................... 13 2....1 Suhu........................ 14 14 15 15 16 16 17 18 18 19 19 19 19 20 21 21 21 22 23 24 III PELAKSANAAN…………………………………………………….......................12.............................................................................................. 2...................12......... 2...............................................3 Waktu Pemberian Pakan......................................12....................... 2.................................. 14 2......................................8............7.............................10........................................10 Pemberian Pakan.......4 Oksigen terlarut........2 Vibrio anguillarum........4 Infestasi Trichodina sp..................... 2..8........ 2............................... 3................6 Nitrit..................................................7 Penetasan Telur........................ 2............ 2.....................................................................................................1 Rasio pakan...... 2....................7.........8 Pemeliharaan Larva............. 2...............8...........8 Parameter Kualitas Air Pemeliharaan....................... 2.10.................. 2.........................9.............. 2..... 25 25 ..........................12 Penyakit. 2................. 2........7.... 2.....................2 Artemia spp.............

..2 Data Sekunder……………………………………………… IV HASIL DAN PEMBAHASAN……………………………......3.... 4.............. 4................. 3.................................................................................................. 4........................ 25 25 25 26 26 27 27 28 28 28 29 30 32 32 32 32 33 34 34 35 35 36 36 36 38 40 41 42 43 44 44 45 46 48 48 50 51 52 52 53 55 56 57 ..........1 Data Primer…………………………………….................... 4......................................1...............................3 Pemijahan.......1 Keadaan Umum Lokasi Praktek Kerja Lapang………….............………………………………............ a..................... 4...................................................................................3.................. D......................................... pencegahan hama dan penyakit……………………….....3........ Persiapan Wadah.......1 Sejarah Berdirinya………………………….............3..2 Letak dan Keadaan Lokasi........4 Pemanenan Telur.................... a...... C............................................... Air Tawar... 4......3 Teknik Pembenihan Kerapu Tikus……………………….............2 Seleksi Induk………………………………………………..................3....................................... Sumber Tenaga Listrik..........4 Kepegawaian. c..Perkembangan Larva........... Persiapan Wadah... pemberian pakan……………………………………… b........................................5 Penetasan Telur....................... Perhitungan Derajat Penetasan(Hatcging Rate)......3 Metode pengumpulan ………………………………………................................................3................................... pemijahan alami........ pemijahan dengan rangsangan hormon....... A..........................................3.......3 Struktur Organisasi................................................................... a.............3.............2 Materi dan Metode Kerja…………………………………. 4... Sarana Budidaya.................................3.3..2......................3.......1 Sarana Umum...................................................... Air Laut ................ 4........................ Observasi.......... Partisipasi Aktif.............. 4...........................6 Pemeliharaan Larva dan Benih.. Aerasi.................... c......... B......... Pemberian Pakan Alami...................... pengelolaan air………………………………………… c...8 Pakan............ a..................... Wawancara....... d.....7 Kualitas air.......................1...2...1...... A................................. b....... 4............................................. Bangunan……………….............................................................................................. 4........................... 3..................... b...... b... a. 4...........1. b......................................................2 Prasarana .....1 Persiapan Induk ……………………………………..................................................Penebaran dan Penetasan Telur........ 4... 4........... B...2 Sarana dan Prasarana Umum BBAP Situbondo.................................................. 3........... ciri-ciri induk matang gonad…………………………................... a................................................. 4.... 4................................ 4....

............................................................3 Artemia sp............................................4 Pemanenan................ dan Pemasaran................................................................. 5...... c............................................. 5................ 4..........................2 Kultur Rotifer......4........... 4............. LAMPIRAN.....5 Masalah dan Kemungkinan Pengembangan Usaha...... 57 57 58 60 60 61 61 63 64 65 65 66 67 67 68 68 V SIMPULAN DAN SARAN..1 Pemanenan Benih......................... 4...............................................4................................................ Produksi........ a....2 Kemungkinan Pengembangan Usaha....................................... a...................................1 Masalah yang Dihadapi..................................2 Produksi dan Pemasaran.......................................... 4......................................................... DAFTAR PUSTAKA.....4 Udang Rebon.............6 Analisis Usaha ............................... 4..........................2 Rotifera...2 Saran.......................................................................................... Pemberian Pakan Buatan.... 4................................................... 70 70 71 72 74 ..3....................................................a..............1 Simpulan................... c............. 4.................... c..................................................................................................................1 Nannochloropsis sp................................. a.5.............. Kultur Pakan Alami........... b..................................................................................................5................................ 4..1 Kultur Nannochloropsis sp.........9 Pengendalian Hama dan Penyakit.................

meningkatkan devisa negara. Ikan kerapu tikus lebih memiliki nilai jual yang tinggi di banding dengan ikan kerapu yang lainnya. Ketersediaan benih ikan kerapu di alam tidak akan terancam punah dengan memanfaatkan dan mengembangkan suatu usaha untuk menghasilkan benih ikan kerapu tikus yang dapat memenuhi permintaan pasar (Salim. 2005). Kegiatan pembenihan ikan kerapu tikus.1 Latar Belakang Usaha – usaha pengembangan perikanan yang dilakukan di Indonesia mulai banyak dilakukan. Bila potensi perikanan yang sangat melimpah ini dapat di manfaatkan secara optimal maka dapat meningkatkan produktifitas perikanan. 2009). dan membantu menjaga kelestarian sumber daya hayati perikanan (Salim. . Di Indonesia perkembangan budidaya ikan sangat mendukung karena di Indonesia merupakan wilayah berkepulauan yang banyak memiliki sumber daya ikan yang melimpah. pakan alami sangat diperlukan saat pemeliharaan larva. Pakan alami untuk larva dan benih pada budidaya ikan dalam bentuk pakan alami dan pakan buatan (mikropartikel pelet).I PENDAHULUAN 1. Pakan alami yang digunakan harus sesuai dengan bukaan mulut larva dan alat pencernaan larva kerapu dapat mencerna kandungan nutrisi yang ada pada pakan alami (khordi. 2009). Pada saat ini Ikan kerapu tikus memiliki nilai jual yang tinggi dan permintaan yang banyak sedangkan permintaan pasar akan ikan kerapu tikus belum dapat dipenuhi secara keseluruhan karena belum banyak pembudidaya.

Permasalahan penyakit yang paling banyak pada ikan bersirip (finfish) dijumpai pada budidaya ikan kerapu. Lokasi budidaya yang ideal harus memenuhi persyaratanpersyaratan kualitas airnya. karang mati. Dari jumlah diperkirakan hanya 30% saja yang dibuahi (Darwisito.200. atau karang berlumpur. nitrit dan salinitas. 1. dan apabila induk telah memijah harus segera dipindahkan ke tangki yang lain. Ikan kerapu juga sering ditemukan di daerah pasang dan di laut dengan kedalaman sekitar 40 cm (Salim. Jawa Timur.Kerapu lebih suka menghindar dari sinar matahari langsung. Faktor kualitas air yang perlu dipertimbangkan untuk pemeliharaan pembenihan Kerapu tikus meliputi sifat fisika : suhu dan kecerahan. Jenis penyakit bakterial yang ditemukan pada ikan kerapu. Kebanyakan ikan kerapu tinggal didaerah karang. diantaranya adalah penyakit borok pangkal sirip ekor dan penyakit mulut merah. 2009). DO. sedangkan SR kerapu tikus 5%. dan kimia meliputi : pH. kecuali sewaktu makan dan saat memijah. Mengetahui tentang teknik pembenihan ikan kerapu tikus (Cromileptes altivelis) di Balai Budidaya Air Payau di Situbondo.2 Tujuan Tujuan dari praktek kerja lapang ini adalah: 1. . 2002). Telur yang telah dibuahi berjumlah lebih kurang 1. Ikan Kerapu Tikus selama bertelur induk tidak boleh di beri pakan.000 butir. Ikan kerapu ini merupakan jenis ikan laut yang dapat ditemukan didaerah subtropika dan tropika dari seluruh daerah lautan.

Jawa Timur. Dapat memadukan teori yang diperoleh dengan kenyataan yang terjadi dilapangan. Mengetahui permasalahan yang sering dihadapi pada usaha pembenihan ikan kerapu tikus (Cromileptes altivelis) di Balai Budidaya Air Payau di Situbondo.2. 1. sehingga dapat lebih memahami dan mengatasi permasalahan yang timbul dalam usaha pembenihan ikan kerapu tikus (Cromileptes altivelis) di Balai Budidaya Air Payau di Situbondo. 2. . Memperoleh pengetahuan tentang teknik pembenihan ikan kerapu tikus (Cromileptes altivelis) di Balai Budidaya Air Payau di Situbondo. Jawa Timur.3 Manfaat Manfaat dari praktek kerja lapang ini adalah : 1. Jawa Timur.

Kerapu Tikus.II TINJAUAN PUSTAKA 2. Cromileptes altivelis (Octopus.1 Tinjauan Umum Menurut Weber and Beofort. dalam perdagangan internasional dikenal dengan nama polka-dot grouper atau hump-backed rocked. 2010). Lantaran warnanya yang menarik. Pada ikan kerapu tikus yang masih muda. klasifikasi ikan kerapu tikus adalah : Phylum Subphylum Class Subclass Ordo Subordo Genus Spesies : Chordata : Vertebrata : Osteichtyes : Actinopterigi : Percomorphi : Percoidea : Cromileptes : Cromileptes altivelis Kerapu bebek. Gambar 1. biasa juga disebut kerapu tikus(Cromileptes altivelis). (1940) dalam Ahmad (1991). mempunyai tubuh agak pipih dengan warna dasar abu-abu berbintik hitam. bintik tersebut lebih besar dan lebih sedikit jumlahnya. 2008) . ikan ini biasa ditempatkan di akuarium sebagai ikan hias (Khordi dan Andi Tamsil.

sisik pada lateral line berjumlah 54 – 60 dan pyloric 13.2 Morfologi Ikan kerapu tergolong jenis ikan air laut yang berjual nilai tinggi. Pada kerapu bebek muda. Panjang kepala seperempat panjang total. tubuh.2. Warna ikan kerapu tikus coklat kehijauan dengan dengan bintik – bintik atau bulat – bulat coklat di kepala.0 kali panjang standard ikan ( panjang standard ikan 12 – 37 cm).6 – 3. 2009). Pada sirip dorsal memiliki 10 duri keras dan 17 – 19 duri lunak. sirip perut dengan 3 duri keras dan 10 duri lunak (Khordi dan Andi Tamsil. tubuhnya memanjang gepeng (compressed) dengan panjang tubuh 2. Bintik – bintik tersebut pada kerapu muda lebih besar dan sedikit. dan sirip. Sirip punggung semakin melebar kebelakang. 2010). semakin tua bertambah banyak. Ikan kerapu tikus termasuk dalam famili Serranidae. . Sisik punggung sangat halus dan licin (Salim. tetapi yang lebih memiliki harga jual yang lebih tinggi dibandingkan dengan ikan kerapu jenis yang lainnya adalah ikan kerapu tikus (Cromileptes altivelis). A. Sedangkan sirip ekor memiliki 1 duri keras dan 70 duri lunak. Lembaran operculum mempunyai pinggiran yang bergerigi tajam dan halus. leher bagian atas cekung dan semakin tua semakin cekung. Lubang hidung bagian posterior besar. bintik hitam lebih besar dengan jumlah bintik yang sedikit. Seluruh permukaan tubuh kerapu bebek berwarna putih dilengkapi sirip renang berbentuk melebar serta moncong kepala lancip menyerupai bebek atau tikus.

5 tahun ke atas. Transformasi dari dari betina ke jantan ini memerlukan waktu yang cukup lama dalam kondisi alami. Dari hasil pengamatan di Indonesia.5-2. berkelamin jantan (Khordi dan Andi Tamsil.4 Reproduksi Kerapu tikus memiliki sifat hermaprodit protogini yaitu perubahan kelamin (change sex) dari betina ke jantan dipengaruhi oleh ukuran.0 – 40 m. Adapun ikan-ikan yang berumur 2.0-2.3.5 tahun. Beberapa jenis .umur. Ikan kerapu ini merupakan jenis ikan laut yang dapat ditemukan didaerah subtropika dan tropika dari seluruh daerah lautan.2. Sifat kerapu tikus umumnya soliter tetapi pada saat akan memijah berlangsung beberapa hari sebelumnya bulan purnama yaitu pada malam hari. Ikan kerapu juga sering ditemukan di daerah pasang dan di laut dengan kedalaman sekitar 40 cm. Pada kerapu tikus. Pada umur 1. setelah dewasa kerapu ke daerah perairan yang lebih dalam yaitu antara 7.0 m. musim – musim pemijahan ikan kerapu terjadi pada bulan Juni – September dan November – Februari.5 tahun biasanya ikan masih berkelamin betina.5 .3 Habitat Ikan kerapu lebih sering terlihat menyendiri dan menyukai naungan sebagai tempat bersembunyi. transisi dari betina ke jantan terjadi setelah mencapai umur 2. Kerapu lebih suka menghindar dari sinar matahari langsung. Dalam siklus hidupnya kerapu muda hidup di perairan karang pantai dengan kedalaman 0. 2010). Kebanyakan ikan kerapu tinggal didaerah karang. kecuali sewaktu makan dan saat memijah. 2. dan spesiesnya.

mata belum berpigmen.kerapu mempunyai musim pemijahan 6 – 8 kali/tahun sedangkan pemijahan pertama 1 – 2 kali/tahun (Salim. 2. pada hari kedua sirip dada mulai terbentuk dan jaringan usus telah berkembang sampai ke anus.70 – 1. Perkembangan embrional telur sejak pembuahan sampai penetasan membutuhkan kurang lebih 19 jam. Telur kerapu transparan dengan diameter ± 850 mikron dan tidak memiliki ruang perivitellin. Pada hari ke tiga mulai terjadi pigmentasi saluran pencernaan bagian atas dan bukaan mulut berukuran sekitar 125 µ. 2.78 mm. Pembelahan sel berikutnya berlangsung 15 – 30 menit sampai mencapai multi sel salama 2 jam 25 menit. Setelah tahap multi sel tahap berikutnya adalah blastula.6 Kebiasaan Makan Larva Pada kerapu tikus menetas mempunyai panjang total 1.5 Perkembangan Embrio Berdasarkan pengamatan mikroorganisme dapat diketahui bahwa telur kerapu berbentuk bulat tanpa kerutan. Perkembangan tubuhnya semakin memanjang sedangkan kantong telur dan gelembung minyak semakin mengecil. Dan hari ke empat kuning telur telah . Pembentukan sirip punggung mulai terjadi pada hari pertama. pembelahan sel pertama kali terjadi 40 menit setelah pembuahan. Gerakan pertama embrio terjadi pada jam ke-16 setelah pembuahan selanjutnya telur menetas menjadi larva pada jam ke-19 pada suhu 27 – 29 oC (Salim. neorula. 2009). 2009). cenderung menggerombol pada kondisi tanpa aerasi dan kuning telur tersebar merata. grastula. mulut dan anus belum terbuka. damn embrio.

Ikan kerapu memiliki kebiasaan makan pada siang hari dan malam hari dan lebih aktif pada waktu fajar dan senja hari.29 ºC (Salim. Ikan kerapu sebagai ikan karnivora juga sebagai ikan pemangsa yang aktif bergerak pada malam hari.habis terabsorbsi. Setelah telur menetas sampai dengan hari ke tiga larva dapat makan secara endragenus yaitu dengan mengabsorsi kuning telur yang di bawanya. krustacea dan cepalophoda. Sedangkan untuk ikan kerapu tikus yang dewasa menyukai ikan – ikan kecil. dapat pula terjadi karena kesalahan dalam menentukan jadwal pemberian pakan dan rendahnya mutu pakan (Salim. Sesuai dengan bukaan mulut ikan kerapu tikus. krustacea kecil. sedangkan sisanya tidak mampu lagi memangsa pakan yang tersedia. 2009). Kematian yang terjadi pada larva hari ke lima dan seterusnya dapat terjadi karena disebabkan oleh suatu keadaan hanya 50 % larva yang mampu makan pada kondisi dimana jumlah pakan optimal. Setelah itu mendapatkan makan secara eksogenus pada hari ke tiga dengan mulai terbukanya mulut. kopepoda. dan zooplankton.7 Teknik pembenihan Menurut Anonim (2010) pada teknik pembenihan ada beberapa tahap untuk melaksanakannya berupa: . 2. Ikan kerapu tikus bersifat karnivora terutama larva molusca. 2009). rotifera merupakan pakan pertama. rotifera. Ikan kerapu biasanya mencari makan dengan cara menyergap mangsanya dari tempat persembunyiannya. Pada periode perkembangan larva kerapu tikus sampai tahap metamorfosis penuh membutuhkan waktu 35 – 40 hari pada suhu 27 .

3. 2010).7.10 kg/m 3 . kedalaman air dan lain-lain. Disamping itu diberikan pula vitamin E dengan dosis 10 . berbentuk empat persegi panjang (Anonim.15 mg/ekor/minggu. 2. Teknik pemijahan dengan manipulasi lingkungan ini dikembangkan berdasarkan pemijahan ikan kerapu di alam. Diluar pemijahan ikan.2.2. Bak pemijahan dengan kapasitas 100 ton. kadar garam. Bak penetasan sekaligus juga merupakan bak pemeliharaan larva yang berukuran 4 x 1 x 1 m 3 terbuat dari beton.Pemeliharaan Induk Induk ikan kerapu yang dipijahkan dipelihara dengan padat penebaran induk 7.5 . Pakan yang diberikan berupa ikan rucah segar berkadar lemak rendah. takaran pakan yang diberikan sebesar 3 5% dari total berat badan ikan/hari. Untuk merangsang terjadinya perkawinan antara jantan dengan induk betina matang kelamin digunakan metoda manipulasi lingkungan di bak terkontrol. (Anonim. . 2010).1.7. 2. Pemijahan mengikuti fase peredaran bulan. sedangkan pada musim pemijahan diturunkan menjadi 1%. pada saat bulan terang atau bulan gelap. 2010). 2.7. yaitu dengan rangsangan atau kejutan faktor-faktor lingkungan seperti suhu. Kurungan apung untuk pemeliharaan induk berukuran 3 x 3 x 3 m3.Sarana Pembenihan 1.3.Metode Metode yang digunakan adalah manipulasi lingkungan. (Anonim.

7. kemudian dihisap. 2. Sel kelamin betina terbentuk setelah berumur 2 tahun dengan panjang 50 cm dan berat 5 kg.7. Kematangannya kelamin induk betina diketahui dengan cara kanulasi. Takaran yang diberikan adalah : Hormon testosteron 2 mg/kg induk Multivitamin 10 mg/kg induk. garis tengah (diameter) telur diatas 450 mikron.5. diikuti dengan penambahan multivitamin.4.7. Pemberian hormon testosteron dilakukan secara oral melalui makan setiap minggu.5 m dan salinitas + 32 ‰. Pemijahan 1. (Anonim.Seleksi Induk Kematangan kelamin induk jantan ikan kerapu diketahui dengan cara mengurut bagian perut ikan (stripping) ke arah awal sperma yang keluar warna putih susu dan jumlahnya banyak diamati untuk menentukan kualitasnya. Telur yang diperoleh diamati untuk mengetahui tingkat kematangannya. (Anonim. 2. Sel kelamin betina berubah menjadi sel kelamin jantan pada umur 4 tahun dengan panjang tubuh sekitar 70 cm dan berat 11 kg. yaitu memasukkan selang plastik ke dalam lubang kelamin ikan. 2010).2. yaitu pada kehidupan awal belum ditentukan jenis kelaminnya.6. .Sex reversal Kerapu termasuk ikan yang "hermaprodit protogyni". 2010). Ada kenyataannya lebih banyak ditemui ikan kerapu jantan atau mempercepat perubahan kelamin dari betina ke jantan dapat dipacu/dirangsang dengan hormon testosteron. Induk kerapu matang kelamin dipindahkan ke bak pemijahan yang sebelumnya telah diisi air laut bersih dengan ketingian 1.

Rangsangan hormonal induk kerapu matang kelamin disuntik dengan hormon Human Chorionic Gonadotropin (HCG) dan Puberogen untuk merangsang terjadinya pemijahan. telur segera dipanen dan dipindahkan ke bak penetasan.225 RU/kg induk 4.7.200. terbuat dari beton. 2.000 butir. perlu dipersiapkan dahulu dengan .5 m).00 . Setelah 7 jam permukaan air dikembangkan ke possisi semula (tinggi air 1.2. 3. Perlakuan ini dilakukan terus menerus sampai induk memijah secara alami. Ikan Kerapu Tikus selama bertelur induk tidak boleh di beri pakan.bak pemeliharaan larva. 2010) bak yang dipergunakan untuk penetasan telur sekaligus juga merupakan bak pemeliharaan larva.24. Tiga hari sebelum bak penetasan/bak pemeliharaan larva digunakan.000 .000 IU/kg induk Puberogen 150 . 2010). Pemijahan umumnya terjadi pada malam hari antara jam 22.7. Takaran hormon yang diberikan : o o HCG 1.2. dan apabila induk telah memijah harus segera dipindahkan ke tangki yang lain. Manipulasi lingkungan dilakukan menjelang bulan gelap yaitu dengan cara menaikkan dan menurunkan permukaan/tinggi air setiap hari selama 5-7 jam. Telur yang telah dibuahi berjumlah lebih kurang 1. Bila diketahui telah terjadi pemijahan. (Anonim.00 WIB. berbentuk empat persegi panjang dengan ukuran 4 x 1 x 1 m³ . Pengamatan pemijahan ikan dilakukan setiap hari setelah senja sampai malam hari. Penetasan telur Menurut (Anonim. 5.

cara dibersihkan dan dicuci hamakan memakai larutan chlorine (Na OCI) 50 - 100 ppm. Setelah itu dinetralkan dengan penambahan larutan Natrium thiosulfat sampai bau yang ditimbulkan oleh chlorine hilang. Air laut dengan kadar garam 32 ‰ dimasukkan ke dalam bak, satu hari sebelum larva dimasukkan dengan maksud agar suhu badan stabil berkisar antara 27 - 28°C. Sebelum telur ditetaskan perlu direndam dalam larutan 1 - 5 ppm acriflavin untuk mencegah serangan bakteri. Telur hasil pemijahan dikumpulkan dengan sistim air mengalir. Telur yang dibuahi akan mengapung dipermukaan air dan berwarna jernih (transparan). Telur akan menetas dalam waktu 18 - 22 jam setelah pemijahan pada suhu 27 - 28°C dan kadar garam 30 - 32 ‰. Telur yang telah dibuahi berjumlah lebih kurang 1.200.000 butir. Jumlah telur diperkirakan hanya 30% saja yang dibuahi (Suria D, 2002). Telur yang telah dibuahi tidak berwarna (transparan) sedangkan yang tidak dibuahi dan yang mati berwarna putih susu. 2.7.8 Pemeliharaan Larva Larva kerapu yang baru menetas mempunyai cadangan makanan berupa kuning telur. Pakan ini akan dimanfaatkan sampai hari ke 2 (D2) setelah menetas dan selama kurun waktu tersebut larva tidak memerlukan dari luar. Umur 3 hari (D3) kuning telur mulai terserap habis, perlu segera diberi pakan dari luar berupa Rotifera Brachionus Plicatilis dengan kepadatan 1 - 3 ekor/ml. Disamping itu ditambahkan pula Chlorella sp dengan kepadatan antara 50.000-100.000 sel/ml. Pemberian pakan ini sampai larva berumur 16 hari (D16). Pada hari kesembilan (D9) mulai diberi pakan naupli artemia yang baru menetas dengan kepadatan 0,25

- 0,75 ekor/ml media. Pemberian pakan naupli artemia ini dilakukan sampai larva berumur 25 hari (D25) dengan peningkatan kepadatan hingga mencapai 2 - 5 ekor/ml media. Disamping itu pada hari ke tujuh belas (D17) larva mulai diberi pakan Artemia yang telah berumur 1 hari, kemudian secara bertahap pakan yang diberikan diubah dari Artemia umur 1 hari ke Artemia setengah dewasa dan akhirnya dewasa sampai larva berumur 50 hari (Anonim, 2010).

2.8 Parameter Kualitas Air Pemeliharaan Lokasi budidaya yang ideal, selain pertimbangan umum di atas, juga harus memenuhi persyaratan-persyaratan kualitas airnya. Faktor kualitas air yang perlu diperhatikan untuk pemeliharaan pembenihan Kerapu tikus meliputi sifat fisika : Suhu dan Kecerahan, dan kimia meliputi : pH, DO dan Salinitas. Pemenuhan akan kebutuhan air harus diupayakan agar produksi benih ikan laut yang berkualitas, dalam jumlah yang cukup, dan kontunu dapat berhasil (Ghufran, M dan Andi Tamsil. 2010). 2.8.1 Suhu Suhu mempengaruhi aktivitas metabolisme organisme, karena itu penyebaran organisme baik di lautan maupun di perairan air tawar dibatasi oleh suhu perairan tersebut. Secara umum laju pertumbuhan meningkat sejalan dengan kenaikan suhu, dapat menekan kehidupan biota bahkan dapat menyebabkan kematian bila peningkatan suhu sampai ekstrem (drastis) (Kordi, 2005). Suhu optimal untuk pertumbuhan kerapu tikus adalah 27oC-32oC (Octopus, 2008).

2.8.2 Kecerahan Perairan yang memiliki tingkat kecerahan sangat tinggi dapat menembus ke dasar perairan adalah indikator yang perairannya cukup jernih dan sangat baik untuk digunakan sebagai lokasi pembesaran. Kecerahan perairan yang sangat cocok untuk pembesaran kerapu bebek adalah lebih dari 2 meter, artinya secara visual dapat dilihat benda-benda di dalam air yang kedalamannya hingga lebih dari 2 meter (Octopus, 2008). 2.8.3 Derajat Keasaman (pH) Pada pH air dapat mempengarui tingkat kesuburan perairan karena mempengaruhi kehidupan jasad renik. Perairan asam akan kurang produktif, malah dapat membunuh ikan. Pada saat pH rendah kandungan oksigen terlarut akan berkurang, sebagai akibatnya konsumsi oksigen menurun, aktifitas pernapasan naik dan selera makan akan berkurang (Kordi, 2005). Kerapu tikus sangat baik bila dipelihara pada air laut dengan pH 7-9. 2.8.4 Oksigen Terlarut (DO) Konsentrasi oksigen dalam air dapat berpengaruh terhadap pertumbuhan dan konversi pakan. Konsentrasi oksigen terlarut merupakan salah satu faktor yang membatasi bagi ikan yang dibudidayakan, karena sangat diperlukan untuk kehidupan ikan. Pertumbuhan ikan-ikan laut, kandungan oksigen terlarut dalam air minimal 4 ppm, sedangkan kandungan optimum antara 5-6 ppm (Kordi, 2005), menambahkan bahwa ikan Kerapu tikus dan macan dapat hidup optimal pada konsentrasi oksigen lebih dari 5 ppm.

Apabila nitrat dan nitrit yang masuk bersamaan dengan makanan.8. yang merupakan bagian dari siklus nitrogen. 2.2. kemudian dioksidasikan menjadi nitrit dan nitrat. Aktifitas mikroba di tanah atau air menguraikan sampah yang mengandung nitrogen organik pertama-pertama menjadi ammonia. Konsentrasi nitrit maximum yang diperbolehkan dalam kegiatan budidaya ikan adalah < 0. 2008). pembentukan nitrit pada intestinum mempunyai arti klinis yang penting terhadap keracunan. yang menyebabkan kemampuan hemoglobil darah untuk mengikat oksigen rendah. Salinitas yang ideal untuk pembesaran ikan Kerapu tikus adalah 30-33 ppt (Octopus.6 Nitrit Nitrat (NO3-) dan nitrit (NO2-) adalah ion-ion anorganik alami.dalam darah memicu terjadinya oksidasi Fe2+.8. .06 mg/l (Wahyudhy H. NO2. Karena itu. Hal ini akan mengakibatkan mikroba usus mengubah nitrat menjadi nitrit sebagai senyawa yang lebih berbahaya. maka banyaknya zat makanan akan menghambat absorbsi dari kedua zat ini dan baru akan diabsorbsi di traktus digestivus bagian bawah.5 Salinitas Lokasi yang berdekatan dengan muara tidak dianjurkan karena terpengaruh oleh masuknya air tawar dari sungai sehingga salinitas dapat berubah dan akan mempengaruhi pertumbuhan dan nafsu makan ikan yang dipelihara. 2007).

2. Salinitas air laut yang diharapkan adalah 2528 ppt. 2002). Mn. Air laut tersebut kemudian dimasukkan kedalam botol-botol yang telah disiapkan. Zn. Budidaya plankton dilakukan pada botol dengan volume 0. artemia. S dan .9 Penyediaan Pakan untuk Pemeliharaan Larva Sebelum mengawinkan ikan. S. K dan Mg sebagai unsure hara makro serta unsure hara mikro Fe. 2.9. pupuk yang digunakan harus mengandung unsur hara yang dibutuhkan seperti N. dengan mengatur rasio N/P supaya Nannochloropsis dapat mendominasi yang lainnya. Jasad pakan untuk keperluan ini meliputi alga (Nannochloropsis oculata).5 liter-1 liter air yang akan disiapkan sebagai media tumbuh plankton sebelumnya disterilkan terlebih dahulu dengan menggunakan klorine kemudian air laut di biarkan selama 3-5 hari sampai residu klorine hilang.1 Nannochloropsis oculata Domain Kingdom Phylum Class Genus Spesies : Eukaryota : Chomalveolata : Heterokontophyta : Eustigmatophyceae : Nannochloropsis : Nannochloropsis oculata Membudidaya Chlorella dapat diambil langsung dari tambak budidaya. persediaan pakan berupa jasad pakan dan pakan buatan yang nantinya diberikan kepada larva harus siap dalam jumlah dan mutu gizinya. Jasad pakan merupakan faktor penentu dalam keberhasilan pemeliharaan larva. P. rotifera (Branchionus sp) yang dipeoleh dari usaha kultur massal (Pramu S dan Mustahal. selanjutnya ditambah pupuk cair sebanyak 1 ml/lt.

Jangka waktu penetasan tergantung pada asal produk kista artemia. Kista-kista yang tidak menetas sebaiknya tidak dicampur dengan nauplii karena bila diberikan sebagai pakan larva maka kista akan termakan. Aerasi dihentikan dan bagian bawah wadah diberi sinar agar nauplii mengumpul didasar. Selanjutnya. tetapi tidak dapat dicerna oleh larva (Siregar. 2003). Baru setelah itu kumpulan nauplii artemia yang tampak hidup atau bergerak disipon sambil disarin dan dicuci.2 Artemia sp Kingdom Class Ordo Family Genus Spesies : Animalia : Crustacea : Anostraca : Artemidae : Artemia : Artemia sp Artemia dalam bentuk nauplius mudah diperoleh. Abbas. Setelah media siap bibit plankton dimsukkan 1/3 bagian dan siap dipanen 5-6 hari (Edhy W dkk. nauplii dan kotoran dicuci dengan air laut dan dimasukkan ke dalam 15 menit.9. Ukuran panjang nauplius artemia yang baru ditetaskan sekitar 200-300 atau tergantung pada strainnya. Pemisahan nauplius artemia dari cangkang serta kista yang tidak menetas dilakukan dengan cara mengumpulkan nauplii dan kotoran lalu disaring dengan saringan 120µ. yaitu dengan cara menetaskan kistanya yang tersedia dipasar dalam bentuk kemasan kalengan. sedangkan kotoran akan mengapung.sebagainya. Komposisi 5 gram kista artemia per liter cukup untuk menetaskan kista tersebut. Penetasan kista dilakukan dengan menggunakan bak-bak kerucut yang berisi air laut dan dipasok aerasi kuat padatingkat 10-20 liter per menit. . 1995). 2.

tetapi secara teknis siste atermia dapat diproduksi secara massal dalam tempat (wadah) yang terkendali. frekuensi pemberian pakan dan waktu pemberian pakan. Kultur dilakukan dalam ruang terbuka yang cukup mendapatkan cahaya matahari. Rotifer merupakan salah satu jenis rotifer yang biasa diproduksi secara massal. kepala. namun rotifera yang dihasilkan dari metode transfer lebih bersih. Tubuh yaitu. . badan. Organisme rotifer berbentuk simetris bilateral manyerupai piala. 2. Abbas.3 Rotifer Phyllum Kelas Ordo Famili Genus Spesies : Avertebrata : Eurotaria : Ploima : Brachionidae : Brachionus : Brachionus sp. Secara umum dikenal 2 metode kultur rotifera yaitu metode panen harian lebih praktis dan mudah sedangkan pada metode transfer diperlukan bak kultur yang lebih banyak.10 Pemberian Pakan Pada pemberian pakan perlu beberapa hal yang diperhatikan. Kultur missal rotifera dilakukan pada bak volume 5-12 m3. seperti rasio pakan. Abbas (1995). Siregar.9. Untuk tujuan ini dilakukan dengan memanipulasi lingkungan hidupnya agar artemia terpaksa melangsungkan perkembangbiakan secara ovipar uang menghasilkan telur (Siregar. betina memproduksi 20 butir telur atau lebih selama 7-10 hari masa hidupnya. 1995). 2. Pada kondisi normal.Meskipun secara ekonomis kurang menguntungkan. dan kaki / ekor. Branchionus memiliki kecepatan pertumbuhan dan reproduksi tinggi.

Rasio Pakan Rasio pemberian pakan harus tepat agar pakan yang di berikan dapat efisien dikonvesikan oleh ikan/udang sehingga kelangsungan hidup yang optimal. Frekuensi pemberian pakan yang optimal tergantung dari jenis ikan yang dipelihara. Pada pemelihara ikan. waktu pemberian pakan biasanya dilakukan pagi dan sore hari (Salim. Rasio pemberian pakan yang optimal ditentukan oleh jenis ikan yang dipelihara. Waktu Pemberian Pakan Waktu pemberian pakan di sesuaikan dengan sifat. rasio pemberian pakan kerapu 4 6% (Salim.11 Survival Rate Survival Rate atau SR adalah tingkat kelangsungan hidup. 2009). 2. dan apabila induk telah memijah harus segera dipindahkan ke tangki yang lain. 2. Dari jumlah diperkirakan hanya 30% saja . Pada ikan yang hidup di dasar perairan dan bergerak altif pada malam hari seperti ikan kerapu. Jenis ikan/udang yang aktif bergerak memerlukan lebih banyak makanan dibandingkan jenis ikan yang bergerak pasif.2.10. 2.200.10.2. 2009). Pakan yang dimakan ikan kerapu telah dicerna 95% setelah 36 jam (Salim. Ikan Kerapu Tikus selama bertelur induk tidak boleh di beri pakan.sifat makan organisme yang dipelihara. pemberian pakan setiap dua hari sekali.3.10. Telur yang telah dibuahi berjumlah lebih kurang 1.000 butir. 2009). Frekuensi Pemberian Pakan Frekuensi pemberian pakan yang tepat akan menghasilkan pertumbuhan yang optimal dan penggunaan pakan yang efisien.1.

sebaliknya telur yang tidak terbuahi akan tenggelam didasar tangki. SR kerapu tikus 5% (Darwisito. V algosus. Jenis penyakit bakterial yang ditemukan pada ikan kerapu. diantaranya adalah penyakit borok pangkal sirip ekor dan penyakit mulut merah. 2009).yang dibuahi. Telur yang terbuahi melayang atau terapung pada salinitas 33 permil. Diantara jenis bakteri tersebut bakteri V alginolyticus dan V fuscus merupakan jenis yang sangat patogen pada ikan kerapu tikus (Salim. V anguillarum dan V fuscus. yaitu Vibrio alginolyticus.12 Penyakit Permasalahan penyakit yang paling banyak pada ikan bersirip (finfish) dijumpai pada budidaya ikan kerapu. Hasil isolasi dan identifikasi bakteri ditemukan beberapa jenis bakteri yang diduga berkaitan erat dengan kasus penyakit bakterial. 2007): SR = Nt/No x 100% Keterangan : SR : Survival Rate Nt : Jumlah ikan akhir (saat pemanenan) No : Jumlah ikan awal (saat penebaran) 2. 2007). rumus untuk mencari SR adalah (Jatilaksono. . Telur yang telah dibuahi tidak berwarna (transparan) sedangkan yang tidak dibuahi dan yang mati berwarna putih susu.

Ciri lain adalah gram negatif. Pengendalian penyakit dapat dilakukan dengan penggunaan berbagai jenis antibiotika seperti Chloramfenikol. motil.1. 2. Bakteri ini merupakan jenis bakteri yang paling patogen pada ikan kerapu tikus dibandingkan jenis bakteri lainnya. bentuk batang.12. laktosa.2.3. Penumbuhan bakteri pada media selektif TCBS akan didapatkan koloni yang kekuningan dengan ukuran yang hampir sama dengan koloni V alginolyticus akan tetapi bakteri ini tidak tumbuh swarm pada media padat non-selektif seperti NA (Salim. 2009).Vibrio anguillarum Dibandingkan dengan V alginolyticus. 2. Sifat lain yang tidak kalah penting adalah sifat proteolitik yang berkaitan dengan mekanisme infeksi bakteri (Salim.2. membentuk kolom berukuran 0. eritromisina dan oksitetrasiklin. Diagnosis penyakit dapat dilakukan dengan melakukan isolasi dan identifikasi bakteri. Kematian masal pada benih diduga disebabkan oleh infeksi bakteri V alginolyticus.12.2 cm yang berwarna kuning pada media TCBS.12. sukrosa dan maltosa.2009). Stadia parasit yang menginfeksi . fermentasi glukosa. V anguillarum merupakan spesies yang kurang patogen terhadap ikan air payau. Pada uji patogenisitas ikan kerapu tikus ukuran 5 gram yang diinfeksi bakteri dengan kepadatan tinggi hingga 108 CFU/ikan hanya mengakibatkan mortalitas 20%. dengan tanda ikan yang tersering terlihat bercak putih.Cryptocaryonosis Penyakit ini sering ditemukan pada ikan kerapu bebek dan macan.8-1.Vibrio alginolyticus Vibrio alginolyticus dicirikan dengan pertumbuhannya yang bersifat swarm pada media padat non selektif.

Diagnosis dapat dilakukan dengan melihat gejala seperti adanya bercak putih. sementara parasit ini mengambil partikel organik dan bakteri yang menempel di kulit ikan. dan dilengkapi dengan silia.12.ikan dan menimbulkan penyakit adalah disebut trophont berbentuk seperti kantong atau genta berukuran antara 0.Infestasi Trichodina sp Penempelan Trichodina pada tubuh ikan sebenarnya hanya sebagai tempat pelekatan (substrat). Serangan penyakit dapat diatasi dengan penjagaan kualitas air.4. perendaman ikan dalam air bersalinitas 8 ppt selama beberapa jam dan memindahkan ikan yang sudah diperlakukan ke dalam wadah baru bebas parasit (Salim. Pada kondisi ini maka Trichodina merupakan ektoparasit sejati. 2009). Pelekatan pada insang juga seringkali disertai luka dan sering ditemukan set darah merah dalam vakuola makanan Trichodina. mengerok dari lendir. Erosi (borok) dapat terjadi karena infeksi sekunder dari bakteri. terutama pada benih dan ikan muda. tetapi untuk lebih memantapkan (diagnosis definitif) perlu dilakukan pengamatan secara mikroskopis dengan cara memotong insang.5 mm.3-0. bercak putih pada kulit. Trichodina yang merupakan . kehilangan nafsu makan sehingga ikan menjadi kurus. produksi mukus yang berlebihan. Tetapi karena pelekatan yang kuat dan terdapatnya kait pada cakram. kadang disertai dengan hemoragi. Tanda klinis ikan yang terserang adalah ikan seperti ada gangguan pernafasan. Perlakuan bahan kimia pengendali parasit dapat dilakukan seperti perendaman dalam larutan formalin 25 ppm. 2. mengakibatkan seringkali timbul luka.

produksi lendir yang berlebihan dan terlihat kurus.Pencegahan terhadap wabah penyakit adalah dengan cara pengendalian kualitas lingkungan.ektoparasit pada ikan air laut mempakan spesies yang bersifat sebetulnya lebih bersifat komensal daripada ektoparasit (Salim. yang didapatkan pada ikan air payau merupakan spesies yang memiliki toleransi yang luas terhadap kisaran salinitas. Penempelan ektoparasit ini dapat menimbulkan luka. Timbulnya luka akan diikuti dengan infeksi bakteri Caligus sp. 2. ditemukan baik pada induk ikan maupun di tambak. atau mengambil lembaran insang dan melakukan pemeriksaan secara mikroskopis.2009). dan akan lebih parah lagi karena ikan yang terinfeksi dengan parasit sering menggosok-gosokkan tubuhnya ke dinding bak atau substrat keras lainnya.5. Trichodina yang menempel di insang umunmya berukuran lebih kecil dibandingkan yang hidup di kulit.12.Caligus sp parasit golongan Crustacea Parasit jenis ini sering. Trichodina spp. karena mewabahnya penyakit berkaitan dengan rendahnya kualitas lingkungan. contohnya adalah Trichodinella. 2009). Ikan yang terserang Trichodina biasanya warna tubuhnya terlihat pucat. berukuran cukup besar sehingga dapat diamati dengan tanpa bantuan mikroskop. Perlakuan terhadap ikan yang terinfeksi oleh parasit adalah dengan cara perendaman dalam larutan formalin 200-300 ppm (Salim. Diagnosis dapat dilakukan dengan cara melakukan pengerokan (scraping) pada kulit. Perlakuan . Perlakuan ikan terserang parasit cukup mudah. yaitu hanya merendamnya dalam air tawar selama beberapa menit.

baik iridovirus maupun nodavirus. Virus lain yang menyerang ikan laut adalah Nodavirus. 2009).dengan formalin 200-250 ppm juga cukup efektif. Virus ini menyebabkan hypertrophy(penebalan) dari sel-sel jaringan ikan. 2010). 2010). VNN merupakan virus yang mematikan. 2. Hingga kini belum ditemukan obat yang efektif untuk mengatasi virus.6 Virus Jenis viral atau virus yang telah teridentifikasi menyerang ikan laut adalah Iridovirus/ DNA. Penggunaan bahan seperti Triclorvon (Dyvon 95 SP) hingga 2 ppm dapat mematikan parasit (Salim.12. terutama menyerang larva dan juwana ikan laut (Khordi. sehingga ikan yang terserang penyakit ini sebaiknya dimusnahkan agar tidak menular ke ikan lain (Khordi. . menimbulkan tonjolan pada daerah sirip atau kulit (nodul)yang dapat terjadi secara sata-satu atau kelompok. yaitu virus penyebab VNN (Viral Nervous Necrosis).

Kecamatan Panarukan. 3.III PELAKSANAAN 3. diamati dan dicatat untuk pertama kalinya melalui prosedur dan teknik . faktual dan akurat mengenai fakta-fakta dan sifat-sifat populasi atau daerah tertentu.1 Data Primer Data Primer merupakan data yang diperoleh langsung dari sumbernya. Kabupaten Situbondo.3 Metode Pengumpulan Data Data yang diambil dalam Praktek Kerja Lapangan ini berupa data primer dan data sekunder yang yang diperoleh melalui beberapa metode atau cara atau cara pengambilan. yaitu metode yang menggambarkan keadaan atau kejadian pada suatu daerah tertentu.1 Tempat dan Waktu Praktek kerja lapang ini akan dilaksanakan di Balai Budidaya Air Payau terletak di Desa Pecaron.2 Metode Kerja Metode yang digunakan dalam praktek kerja lapang ini adalah metode deskriptif. 3. Suryabrata (1993) mengatakan bahwa metode deskriptif adalah metode untuk membuat pencandraan secara sistematis.3. Propinsi Jawa Timur (Lampiran 1). 3. Kegiatan ini dilaksanakan mulai pertengahan 19 Juli – 31 Agustus 2010.

A. 1988). Observasi pada Praktek Kerja Lapang ini dilakukan terhadap berbagai hal yang berhubungan dengan kegiatan pembenihan meliputi persiapan alat dan wadah budidaya. observasi. B. pembuatan pupuk. pengisian media. 1998) Patton dalam Poerwandari (1998) menjelaskan pedoman wawancara digunakan untuk mengingatkan interviewer mengenai aspek-aspek apa yang harus .pengambilan data yang berupa interview. 1998). pemeliharaan dan pemanenan. 1998). penebaran bibit. Observasi Observasi atau pengamatan secara langsung adalah pengambilan data dengan menggunakan indera mata tanpa ada pertolongan alat standart lain untuk keperluan tersebut (Nazir. interview dilengkapi pedoman wawancara yang sangat umum serta mencantumkan isu-isu yang harus diliput tanpa menentukan urutan pertanyaan. Wawancara memerlukan komunikasi yang baik dan lancar antara peneliti dengan subyek sehingga pada akhirnya bisa didapatkan data yang dapat dipertanggungjawabkan secara keseluruhan (Nazir. bahkan mungkin tidak terbentuk pertanyaan yang eksplisit (Patton. Wawancara Wawancara merupakan cara mengumpulkan data dengan cara tanya jawab sepihak yang dikerjakan secara sistematis dan berlandaskan pada tujuan penelitian. Pada Praktek Kerja Lapang ini wawancara akan dilakukan dengan menggunakan pedoman wawancara. partisipasi aktif maupun memakai instrumen pengukuran yang khusus sesuai tujuan (Azwar. Dalam proses wawancara dengan menggunakan pedoman umum wawancara ini.

1998). C. pengisian media. Partisipasi Aktif Partisipasi aktif adalah keterlibatan dalam suatu kegiatan yang dilakukan secara langsung di lapangan (Nazir.2 Data Sekunder Data sekunder adalah data yang diperoleh dari sumber tidak langsung dan telah dikumpulkan serta dilaporkan oleh orang diluar dari penelitian itu sendiri (Azwar. pemeliharaan dan pemanenan serta kegiatan lainnya yang yang berkaitan dengan Praktek Kerja Lapang yang dilakukan. 1988). juga menjadi daftar pengecek (check list) apakah aspek-aspek relevan tersebut telah dibahas atau ditanyakan. masyarakat dan pihak lain yang berhubungan dengan usaha pembenihan ikan Kerapu Tikus. pustaka-pustaka. Kegiatan yang dilakukan adalah pembenihan ikan Kerapu Tikus.dibahas. Data ini dapat diperoleh dari data dokumentasi. penebaran bibit. laporan-laporan pihak swasta. . dinas perikanan.3. sekaligus menyesuaikan pertanyaan dengan konteks aktual saat wawancara berlangsung. 3. lembaga penelitian. Dengan pedoman demikian interviwer harus memikirkan bagaimana pertanyaan tersebut akan dijabarkan secara kongkrit dalam kalimat tanya. Kegiatan tersebut diikuti secara langsung mulai dari persiapan alat dan wadah budidaya.

IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4. Dengan beban tugas dan tanggung jawab yang semakin berat. divisi udang dan divisi budidaya. Departemen Pertanian. Pada awalnya balai ini bernama Proyek Sub Senter Udang Windu Jawa Timur yang pada saat itu masih berupa fasilitas pemeliharaan benur udang windu di bawah naungan Direktorat Jenderal Perikanan. Kabupaten Situbondo dan merupakan cabang dari BBAP Jepara.1 Keadaan Umum Lokasi Praktek Kerja Lapang 4. Kecamatan Mlandingan. Sub Senter Udang Windu ini kemudian melepaskan diri dari Balai Budidaya Air Payau Jepara dan berganti nama menjadi Loka Balai Budidaya Air Payau Situbondo yang ditetapkan pada tanggal 18 April 1994 melalui Surat Keputusan Menteri Pertanian Nomor: 264/Kpts/OT. Loka Balai Budidaya Air Payau Situbondo terdiri dari tiga divisi meliputi divisi ikan.1 Sejarah Berdirinya Balai Budidaya Air Payau Situbondo didirikan pada tahun 1986. Loka Balai Budidaya Air Payau Situbondo merupakan Unit Pelaksana Teknis (UPT) Direktorat Jenderal Perikanan di bidang pengembangan produksi budidaya perikanan air payau yang berada di bawah dan bertanggung jawab kepada Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya. maka pada tanggal 1 Mei 2001 status Loka Balai Budidaya Air Payau dinaikkan menjadi Balai Budidaya Air Payau . Jawa Tengah.210/4/94. Sub Senter Udang Windu ini terletak di Desa Blitok.1.

4.39 Ha. KEP. Kecamatan Mlandingan sekitar 10 Km ke arah Barat dari kantor utama dengan luas areal 1. Sebelah Timur berbatasan dengan hatchery udang milik PT. BBAP ini terdiri dari 3 divisi yaitu : divisi udang.Situbondo berdasarkan Surat Keputusan Menteri Perikanan dan Kelautan No. Divisi udang terletak di 3 lokasi yang berbeda yaitu : 1. 3. divisi ikan. Divisi ikan terletak di Dusun Pecaron. 2.2 Letak dan Keadaan Lokasi Balai Budidaya Air Payau (BBAP) Situbondo teletak di jalan raya Pecaron. Unit Gelung yang terletak di desa Gelung Kecamatan Panarukan sekitar 25 Km ke arah Timur dari kantor utama dengan luas areal 8 Ha. Sebelah Barat berbatasan dengan usaha pembenihan Kelola Benih Ungul (KBU) dan pemukiman penduduk. Central Pertiwi Bahari (CPB). Kecamatan Kendit. Kabupaten Situbondo yang merupakan kantor utama dengan luas areal 4. Lokasi Balai Budidaya Air Payau (BBAP) Situbondo ini berbatasan dengan: a. Unit Tuban yang terletak di Kabupaten Tuban dengan luas areal 7 Ha. Desa Klatakan. Jawa Timur. udang.45 Ha. . Panarukan Situbondo. c. dan ikan bandeng. Divisi budidaya terletak di Desa Pulokerto Kecamatan Kraton Kabupaten Pasuruan dengan luas areal 30 Ha yang merupakan areal untuk produksi rumput laut Glacilaria. Unit Blitok.1. 260/MEN/2001. Sebelah Utara berbatasan dengan Selat Madura. b. dan divisi budidaya.

Secara geografis. mengkoordinasi dan mengarahkan tugas penerapan teknik pembenihan dan pembudidayaan ikan air payau maupun laut serta pelestarian sumber daya induk atau benih sesuai dengan prosedur dan peraturan yang berlaku untuk kelancaran pelaksanaan kegiatan. 4. Kepala Balai Budidaya Air Payau (BBAP) Situbondo Kepala BBAP Situbondo memiliki tugas dan wewenang seperti : merumuskan kegiatan. No.1. Peta wilayah kabupaten Situbondo.d.3 Struktur Organisasi Berdasarkan Surat Keputusan Mentri Kelautan dan Perikanan RI. . Kepala Balai Budidaya Air Payau (BBAP) Situbondo 2. Seksi Standarisasi dan Informasi 4. BBAP Situbondo terletak pada 113o55’66”BT-114”BT dan 07o41’32” LS-07o42’35”LS. Kepala Bagian Tata Usaha 3. Kelompok Jabatan Fungsional Susunan organisasi BBAP Situbondo secara lengkap dapat dilihat pada gambar 1 dengan uraian tugas sebagai berikut: 1. Seksi Pelayan Teknis 5. yaitu musim penghujan (November-Maret) dan musim kemarau (April-Oktober). BBAP Situbondo berada di tepi pantai utara Pulau Jawa dan lokasi ini dipengaruhi oleh dua musim. Sebelah Selatan berbatasan dengan pemukiman desa Klatakan. terdiri dari: 1.Kep. Jawa Timur dapat dilihat pada lampiran.260/MEM/2001 tentang organisasi dan tata kerja BBAP Situbondo.

3. pengujian. penerapan dan bimbingan penerapan standar/sertifikasi pembenihan dan pembudidayaan ikan air payau dan laut. kepegawaian. 4. Seksi Standarisasi dan Informasi Seksi standarisasi dan informasi mempunyai tugas menyiapkan bahan standar teknik dan pengawasan pembenihan dan budidaya ikan air payau dan laut. serta pengelolahan jaringan informasi dan perpustakaan. 5. pengendalian hama dan penyakit ikan. Kepala bagian tata usaha Kepala bagian tata usaha bertugas melakukan administrasi keuangan. dan rumah tangga BBAP Situbondo serta pelaporan. Seksi Pelayaan Teknik Seksi pelayanan teknik bertugas melakukan pelayanan teknik kegiatan pengembangan. sumber daya induk dan benih.2. perlengkapan. budidaya dan penyuluhan. serta kegiatan lain yang sesuai dengan tugas masing-masing jabatan fungsional berdasarkan peraturan perundangundangan yang berlaku. pengendalian hama dan penyakit serta lingkungan. penerapan serta pengawasan teknik pembenihan dan budidaya ikan air payau dan laut. . Kelompok Jabatan Fungsional Kelompok jabatan fungsional bertugas melaksanakan kegiatan perekayasaan. persuratan.

4. pemeliharaan larva. kultur rotifer.1 Sarana Umum A. Tabel 1. pemeliharaan benih. penetasan telur. dan wadah inkubasi telur yang berbentuk akuarium kaca. . Dukungan Sumberdaya Manusia di BBAP Situbondo. wadah pemeliharaan induk.4 Kepegawaian Dalam melakukan tugasnya Balai Budidaya Air Payau Situbondo didukung sumberdaya manusia sebanyak 143 orang karyawan berstatus pegawai negeri sipil dengan berbagai tingkat pendidikan.1. Tabel berikut memperlihatkan dukungan sumberdaya manusia di BBAP Situbondo. No Klasifikasi Kualifikasi 1 Tingkat pendidikan Master (S2) Sarjana (S1) Lainnya Jumlah 2 Fungsional Perekayasa Litkayasa Pengawas Pranata Humas Umum Lainnya Jumlah Jumlah (orang) 10 45 88 143 17 16 27 3 26 54 143 4.2 Sarana dan Prasarana Umum BBAP Situbondo 4. kultur mikroalga.2. Sarana Budidaya yang digunakan di Balai Budidaya Air Payau Situbondo untuk kegiatan pembenihan meliputi wadah tandon air yang terbuat dari beton. Sarana Budidaya Sarana budidaya merupakan factor utama yang mendukung kegiatan pembenihan sehingga perlu diperhatikan bentuk dan posisisnya.

yang berjarak 200 m dari balai.5 m 12.Tabel 2.5 m 2 m x 5 m x 1. Air Laut Air laut merupakan faktor penting dalam kegiatan pembenihan.25 m 235.5 m 3 3 3 Kultur Pakan Alami Rotifer Chlorella Beton Beton Beton Beton Bak Karantina Egg Collector Beton PVC Persegi Persegi Persegi Lingkaran Persegi Persegi 2 m x 5 m x 1.4 m d = 5 m. Pengambilan air laut menggunakan pipa berdiameter 8 inchi yang bagian ujungnya dilengkapi dengan filter hisap dan dihubungkan langsung dengan pompa electromotor berkapasitas 21 PK.125 m3 12. ijuk.1668 m Pemeliharaan dan Pemijahan Induk Kerapu Bawal Bintang Bandeng Akuarium Bak Pemeliharaan Larva Pemeliharaan Benih Beton Beton Beton Kaca Beton Beton Beton Lingkaran Lingkaran Lingkaran Persegi Persegi Persegi Persegi d = 10 m.5 m3 235. waring dan . Sarana Budidaya Di BBAP Situbondo Bak/Wadah Tandon Bak Filter Fisik Bahan Beton Beton Bentuk Persegi Persegi Dimensi 4.5 m 3 3 4 unit 1 unit 2 unit 5 unit 24 unit 24 unit 24 unit 529.25 m 2 m x 5 m x 1.25 m 2 m x 5 m x 1.25 m 12.5 m 3 4 unit 10 unit 8 unit 1 unit 8 unit 5 unit 21 m3 39.2 m x 2. t = 3 m d = 15 m.25 m 2 m x 5 m x 1. air laut tersebut terlebih dahulu disaring dengan menggunakan saringna fisik atau sand filter ukuran 225 cm x 100 cm x 100 cm. Suplai air di BBAP Situbondo berasal dari selat Madura.2 m x 4.2 m x 4. kerikil. Sedangkan untuk mendistribusian air laut ke bak pembenihan dan bak kultur pakan alami. t = 3 m 0. Sand filter di BBAP Situbondo tersusun dari bawah ke atas berupa batu kali.25 m 135 cm x 50 cm x 130 cm 12. bungkusan arang.5 m3 12.5 m 3 3 3 877500 cm B. Air laut langsung dilarikan ke bak pemeliharaan induk melalui pipa saluran berupa pipa berdiameter 4 inchi.454 m 3 3 Jumlah 3 unit 5 unit 24.2 m x 1.5 m x 0.35 m 4. t = 2 m 2 m x 5 m x 1.5 m 5 m x 3 m x 1.37 m Volume 41.5 m x 0.5 m 12. t = 3 m d = 10 m.875 m Penetasan Telur 0.

air minum. dan asrama. lalu ditampung dalam tandon dengan ketinggian 3 m dari permukaan tanah ke unit pembenihan. Antara kedua tandon tersebut hanya dipisah dengan dinding beton. perumahan karyawan. Tandon air laut inilah yang menjadi sumber air yag nantinya akan dialirkan ke bak-bak pembenihan. keperluan karyawan BBAP Situbondo dan asrama. Air yang telah melalui tahap penyaringan dipompa ke tendon air laut pada ketinggian 2 m di atas permukaan tanah menggunakan pompa yang berkapasitas 7. Air tawar didapatkan dari 3 sumber sumur dengan kedalaman 10 m. maka air akan terbebas dari kotoran air yang berukuran besar. Aerasi Ketersediaan oksigen di BBAP Situbondo disuplai dengan menggunakan high blower. Setelah air melewati saringan tersebut.pasir. C. laboratorium. D. akuarium inkubasi telur dan bak kultur pakan alami.5 PK melalui pipa yang berdiameter 4 inchi. Udara dari blower dialirkan langsung dengan menggunakan pipa PVC ukuran 3 inchi dan 1 inchi dengan sistem tertutup yang dilengkapi dengan . Air tersebut dipompa. Air Tawar Penyediaan air tawar digunakan untuk kebutuhan kegiatan pembenihan. kantor. Tandon air laut untuk pembenihan timur terdapat di bagian belakang pembenihan yang menjadi satu dengan tandon air laut pembenihan tengah. Air dialirkan dengan sistem gravitasi sebab posisi tandon berada lebih tinggi dari bak-bak yang lainnya dan dibantu dengan menggunakan pompa.

aula (auditorium). kantor tata usaha. mushola. Pembenihan barat.2. Tabel 3. perpustakaan. 4.2 Prasarana A.selang aerasi. batu aerasi dan pemberat yang terbuat dari timah agar selang aerasi berada di bawah permukaan air. dan pembenihan tengah. laboratorium kesehatan ikan dan kualitas air. Bangunan Jenis bangunan yang terdapat di BBAP Situbondo terdiri dari kantor utama. pos jaga. kultur pakan alami barat. Tabel 4. laboratorium pakan alami. Uraian dari fasilitas pendukung di BBAP Situbondo dapat dilihat pada tabel 5. laboratorium nutrisi. Bak karantina. ruang kuliah. dan perumahan untuk karyawan BBAP Situbondo. pembenihan timur dan sebagian pembenihan tengah dan kultur pakan alami timur. Distribusi Sistem Aerasi di BBAP Situbondo No Sumber Aerasi Spesifikasi 1 Blower Vortex Daya 7 PK Distribusi 2 Rood Blower Daya 5 PK 3 Blower Vortex Daya 7 PK Bak penggelondongan dan bak induk di pembenihan timur. Fasilitas Pendukung di BBAP Situbondo Uraian Spesifikasi Listrik PLN 60 KVA Genset 80 KVA Bangunan Kantor Kantor Utama (Kepala Balai) Kantor Tata Usaha Laboratorium Nutrisi dan Teknologi Pakan Jumlah 1 unit 1 unit 1 unit 1 unit 1 unit .

Toyota Kijang 1 unit 1 unit 1 unit 1 unit 1 unit 1 unit 1 unit 1 unit 1 unit 1 unit 1 unit 1 unit 1 unit 1 unit 1 unit B. Sumber tenaga listrik di BBAP Situbondo berasal dari Perusahaan Listrik Negara (PLN) dengan daya 60 KVA. Saat terjadi pemadaman listrik.Rumah Karyawan Rumah Genset Rumah Blower Asrama Bangsal Pakan Lainnya Kesehatan Ikan dan Lingkungan Pakan Alami Rumah Karyawan Rumah Tamu Genset dan Panel Listrik Blower Mahasiswa dan Peserta Magang Tempat Pembuatan Pakan Perpustakaan Aula (auditorium) Ruang Kuliah Alat Angkut (transportasi) . menjalankan pompa. Energi listrik digunakan untuk penerangan. . Tenaga Listrik Listrik merupakan komponen yang sangat vital untuk kegiatan budidaya. blower dan peralatan lainnya yang membutuhkan energi listrik.Isuzu Panther . generator set akan segera difungsikan untuk tetap mendukung suplai listrik bagi kegiatan budidaya.Suzuki Future . Sebagai antisipasi jika terjadi pemutusan arus listrik. akan terdengar tanda dari sirine secara otomatis.Pick up L – 300 . Setelah itu. BBAP Situbondo menyediakan generator set berdaya 80 KVA.

1 Persiapan Induk Induk ikan kerapu yang dipijahkan dipelihara di laut dalam kurungan apung dengan padat penebaran induk 7. 2010). Pakan yang diberikan berupa ikan rucah segar berkadar lemak rendah. .15 mg/ekor/minggu.5 kg dan bobot induk jantan lebih dari 5 kg. Induk-induk yang baru datang dikarantina dalam bak karantina selama 1-2 bulan untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan baru yang terdapat di BBAP Situbondo. Induk jantan memiliki ukuran bobot yang lebih besar dibandingkan dengan induk betina. Untuk masa peralihan kelamin biasanya induk memiliki berat 3.5-5 kg. ikan kerapu memiliki sifat hemaprodit protogini yaitu pada tahap menuju perkembangan dewasa berjenis kelamin betina kemudian berubah menjadi jantan setelah tumbuh besar dan bertambah tua. sedangkan pada musim pemijahan diturunkan menjadi 1%. Induk yang berasal dari alam didapatkan dari alam didapatkan dari hasil penangkapan para nelayan daerah perairan laut bali dan Lombok. Bobot induk betina sebesar 1-3.3 Teknik Pembenihan Kerapu Tikus 4. Induk kerapu bebek Cromileptes altivelis yang dimiliki oeh BBAP Situbondo berasal dari alam dan hasil budidaya.10 kg/m3 . Disamping itu diberikan pula vitamin E dengan dosis 10 .5% dari total berat badan ikan/hari. BBAP Situbondo memiliki jumlah induk 65 ekor yang terdiri dari 17 ekor induk jantan dan 48 ekor induk betina. Diluar pemijahan ikan.5 .4. takaran pakan yang diberikan sebesar 3 . (Anonim. Sedangkan induk yang berasal dari budidaya didapatkan dari hasil budidaya (F1) yang dilakukan oleh balai.3.

ataupun pancing. Induk betina yang digunakan adalah yang berumur 1 – 2 tahun. induk yang akan memijah diseleksi terlebih dahulu dan diaklimatisasikan. Selang aerasi pun harus dicuci dengan menggunakan detergen lalu dibilas dan dipasang kembali. jaring. Bak tersebut dikeringkan selama 3 – 6 hari. sedangkan induk jantan yang telah berumur 3 tahun. Tahap ini dilakukan untuk mendapatkan induk yang . Selanjutnya. Tujuan dari pemasangan jaring ini adalah untuk menjaga agar induk tidak melompat keluar dari bak. dan kotoran ikan dengan menggunakan sikat. Setelah semua tahapan di atas selesai. Hal tersebut dilakukan dengan cara membuka outlet seluruhnya. bagian atas bak dipasang jaring yang berbahan polyethylene yang disanggah dengan menggunakan tiang kayu.Proses persiapan wadah indukan dilakukan dengan cara membuang semua air yang terdapat dalam bak induk.5 – 2 kg yang dilarutkan dalam 25 liter air sebagai upaya desinfeksi wadah dan disikat kembali hingga benar-benar bersih. 4. Setelah ditangkap.3. Sebelum dilakukan penebaran.2 Seleksi Induk Induk kerapu tikus di BBAP Situbondo berasal dari hasil budidaya dan tangkapan alam yang ditangkap oleh nelayan. dinding-dinding bak disiram dengan kaporit 60% sebanyak 1. Setelah itu. bak disiram kembali dengan air tawar sampai bau kaporitnya hilang. Indukan tersebut ditangkap dengan menggunakan bubu. induk tersebut dipelihara selama hingga menjadi indukan kerapu tikus yang siap memijah. Bak tersebut dibersihkan dari lumut-lumut yang menempel. bak sudah dapat diisi kembali dengan air laut. sisa pakan. Setelah bak tersebut bersih.

dan 48 ekor betina. Menurut Cholik. berat badan.5 kg dengan panjang tubuh lebih dari 40 cm. Tujuan aklimatisasi adalah untuk mengadaptasikan ikan pada wadah budidaya dan dilakukan pengobatan jika induk terserang penyakit sampai benar-benar sembuh. Jumlah induk yang terdapat di Balai Budidaya Air Payau Situbondo adalah 65 ekor.. Perbedaan antara jantan dan betina dapat dibedakan dari umur. Jika terdapat telur. Pemeriksaan alat kelamin dilakukan dengan cara mengurut bagian perut ke arah anus. sedangkan jika tidak keluar. maka induk tersebut adalah betina. jika keluar sperma maka induk tersebut adalah jantan. Aklimatisasi induk dilakukan dengan cara memelihara induk pada wadah yang berbeda. Induk yang telah diseleksi dan diaklimatisasi kemudian disatukan dalam wadah pemijahan. Pemeriksaan dilakukan dengan cara menimbang berat badan induk. Induk betina umumnya mempunyai berat tubuh 1–2. Ikan kerapu tikus merupakan hewan yang bersifat “protogynous hermaphrodite” yaitu pada awalnya berkelamin betina lalu berubah menjadi jantan dengan jangka waktu tertentu.berkualitas dan sudah dapat untuk dipijahkan. dan pemeriksaan alat kelamin. . Proses aklimatisasi berakhir jika induk sudah mau makan dan benar-benar terbebas dari penyakit. Seleksi yang dilakukan adalah menentukan jenis kelamin induk agar rasio jantan dan betina dapat mendekati ideal. Induk betina kerapu tikus berumur 1 – 3 tahun. yang terdiri dari 17 ekor jantan. Rasio jantan dan betina yang ideal adalah 1 : 2. sedangkan induk jantan lebih dari 3 tahun. dapat dilakukan dengan kanulasi. et al (2005).

nelanak.6%. (Menurut Danakusumah dan Imanishi. A. Rasio pemberian pakan harus tepat agar pakan yang di berikan dapat efisien dikonvesikan oleh ikan/udang sehingga kelangsungan hidup yang optimal. yaitu memasukkan selang plastik ke dalam lubang kelamin ikan. Pakan tersebut didapatkan dari nelayan yang menangkap langsung di laut. kembung tongkol.Hal ini sependapat dengan Anonim (2010) yang menyatakan bahwa kematangan kelamin induk jantan ikan kerapu diketahui dengan cara mengurut bagian perut ikan (stripping) ke arah awal sperma yang keluar warna putih susu dan jumlahnya banyak diamati untuk menentukan kualitasnya. frekuensi pemberian pakan dan waktu pemberian pakan. seperti rasio pakan. Jenis ikan/udang yang aktif bergerak memerlukan lebih banyak makanan dibandingkan jenis ikan yang bergerak pasif. Kematangannya kelamin induk betina diketahui dengan cara kanulasi.1986). lemuru. induk kerapu tikus diberi pakan rucah berupa ikan segar dengan kandungan lemak rendah dan memiliki kadar protein yang tinggi (lebih dari 70%) seperti ikan layur. kemudian dihisap. Pemberian Pakan Pada pemberian pakan perlu beberapa hal yang diperhatikan. garis tengah (diameter) telur diatas 450 mikron. dan cumi-cumi. ekor kuning. rasio pemberian pakan kerapu 4 . Telur yang diperoleh diamati untuk mengetahui tingkat kematangannya. Rasio pemberian pakan yang optimal ditentukan oleh jenis ikan yang dipelihara. Selama pemeliharaan ikan kerapu tikus di BBAP Situbondo. Untuk .

Pakan yang akan diberikan pada induk terlebih dahulu direndam dalam air tawar untuk menghilangkan es. C dan E. Dosis vitamin tersebut masing-masing adalah 50 mg/kg induk. Kemudian ikan dipotong-potong sesuai dengan ukuran bukaan mulut induk. Selain itu. Vitamin C berguna untuk meningkatkan daya tahan tubuh terhadap serangan penyakit. dan 100 IU dengan merek dagang Natur E. Vitamin E diberikan untuk mempercepat kematangan gonad induk. 50 mg/kg induk. . Vitamin yang diberikan adalah vitamin B. pergantian jenis rucah yang diberikan juga bertujuan untuk menambah nafsu makan induk. Pemberan dilakukan pada pagi hari sekitar pukul 07. Tujuannya adalah untuk menjaga kesehatan ikan dan untuk mempercepat perkembangan dan kematangan gonad.mempertahankan kesegaran pakan. Pemberian vitamin B berguna untuk menambah nafsu makan ikan. Jadwal pemberian pakan dan vitamin dapat dilihat pada tabel 6. bau amis pada ikan serta melepaskan ektoparasit yang menempel pada tubuh ikan. hal ini bertujuan agar induk tidak jenuh dengan ikan yang diberikan. Cara memasukkannya adalah dengan menyayat tubuh ikan pada bagian bawah sirip dorsal ataupun pada bagian daging atas perut. Pemberian vitamin tersebut dilakukan selama dua kali seminggu.00 WIB dengan frekuensi pemberian pakan 1 kali sehari yang diberikan secara perlahan hingga induk kenyang. Proses pemberian vitamin adalah dengan cara memasukkan vitamin tersebut ke dalam daging ikan rucah. pemberian vitamin juga dilakukan terhadap indukan kerapu tikus. Selain pakan ikan rucah. Setiap hari ikan rucah yang diberikan dibedakan jenisnya. maka pakan tersebut disimpan di dalam freezer.00-08.

air di bak indukan diturunkan sampai ketinggian air mencapai 30 % dari volume bak. Pada bak induk terdapat dua buah outlet yaitu pembuangan air bawah dan pembuangan air atas. Faktor kualitas air yang perlu dipertimbangkan untuk pemeliharaan pembenihan Kerapu tikus meliputi sifat fisika : Suhu dan Kecerahan. Di BBAP Situbondo sendiri air merupakan media utama bagi kehidupan ikan. Sedangkan pembuangan air atas berfungsi sebagai pengatur ketinggian air pada bak dan untuk mengalirkan telur hasil pemijahan ke arah bak penampungan telur (egg collector). juga harus memenuhi persyaratan-persyaratan kualitas airnya. Setelah pemberian pakan di pagi hari. dalam jumlah yang cukup. Setelah mencapai ketinggian tersebut. Pergantian air untuk indukan kerapu tikus dilakukan setiap hari. Pengelolaan Air Lokasi budidaya yang ideal. dapat juga dilakukan penggelontoran pada bak induk. Selain itu kualitas air yang terjaga juga sangat menentukan proses pemijahan induk dan kualitas telur yang dihasilkan oleh induk. DO dan Salinitas. dan kontunu dapat berhasil (Ghufran. M dan Andi Tamsil. selain pertimbangan umum di atas. dan kimia meliputi : pH. Penggelontoran dilakukan dengan cara mendorong kotoran di dasar bak menggunakan sikat yang telah diberi kayu yang cukup panjang hingga mencapai dasar bak menuju pipa . Pembuangan air bawah berfungsi sebagai pembuangan kotoran hasil metabolisme dan sisa-sisa pakan. Pemenuhan akan kebutuhan air harus diupayakan agar produksi benih ikan laut yang berkualitas.B. 2010). Oleh karena itu kualitas air sangat menentukan kelangsugan hidup ikan. Hal ini penting untuk menjaga kualitas air tetap baik.

Virus yang sering menyerang adalah VNN (Viral Nervous Necrosis). Bakteri dan virus menyerang ketika induk terdapat luka. serta produksi lendir meningkat. Jenis penyakit bakterial yang ditemukan pada ikan kerapu. Penyakit yang umumnya menyerang induk kerapu tikus disebabkan oleh trematoda. V anguillarum dan V fuscus. Sirkulasi dengan cara ini dapat mengganti air sebanyak 200 – 300 % dari total volume bak. diantaranya adalah penyakit borok pangkal sirip ekor dan penyakit mulut merah. Pada sore hari. Penggelontoran bak induk dilakukan setiap 4 – 6 hari sekali atau disesuaikan dengan kondisi bak. Jenis parasit yang sering menyerang adalah Argulus sp. jamur.outlet sehingga keluar bersama dengan air. Pencegahan Hama dan Penyakit Permasalahan penyakit yang paling banyak pada ikan bersirip (finfish) dijumpai pada budidaya ikan kerapu. ikan akan cenderung mengosok-gosokan tubuhnya ke dinding bak dan berenang di permukaan air dengan tingkah laku bernafas dengan cepat dengan tutup insang . Diantara jenis bakteri tersebut bakteri V alginolyticus dan V fuscus merupakan jenis yang sangat patogen pada ikan kerapu tikus (Salim.00 WIB pipa outlet dipasang seluruhnya. dan virus. C. bakteri. 2009). protozoa. pukul 16.00 – 17. Setelah dilakukan penggelontoran atau hanya menurunkan air hingga 30 %. Hasil isolasi dan identifikasi bakteri ditemukan beberapa jenis bakteri yang diduga berkaitan erat dengan kasus penyakit bakterial. warna kulit pucat. V algosus. Selain itu. Gejala yang timbul saat induk kerapu tikus terkena Argulus adalah nafsu makan menurun. pipa outlet dipasang setengahnya. yaitu Vibrio alginolyticus.

Biasanya sebelum memijah nafsu makan induk menurun. Induk jantan terlihat lebih cerah dan alat kelaminnya menjadi kemerah-merahan. dan hidrogen peroksida (1–2 ppm selama 2 jam). Pengukuran sampling tingkat kematangan gonad dapat dilakukan dengan teknik kanulasi pada induk betina. Bakteri ini menyebabkan kerusakan pada sirip ikan.5 ppm selama 2 jam). Telur yang diambil menggunakan kateter diukur diameter telurnya. prefuran (0. Bakteri yang menyerang induk kerapu disebabkan oleh bakteri Vibrio sp. Pengendalian penyakit ini dilakukan dengan cara merendam induk kerapu di dalam air tawar selama 15 menit. Induk betina perutnya terlihat lebih besar terutama setengah bagian belakang. D. Larutan yang biasa digunakan adalah Furazolidone karena tingkat efektifitasnya paling tinggi.. Furazolidone (10–15 ppm selama 2 jam). Ciri-ciri Induk Matang Gonad Ciri induk kerapu tikus yang akan memijah ditandai dengan berenang vertikal dan induk jantan mengejar induk betina.terbuka. Sedangkan pada ikan jantan dapat dilakukan stripping/diurut hingga mengeluarkan sperma. Pengendalian penyakit ini adalah dengan merendam induk dalam salah satu larutan ini yaitu Arciflavin (1–2 ppm selama 2 jam).3–0. Kemudian kekentalan dan pergerakkan sperma diamati. Hal ini sependapat dengan Anonim (2010) yang menyatakan bahwa kematangan kelamin induk jantan ikan kerapu diketahui dengan cara mengurut bagian perut ikan (stripping) ke arah awal sperma yang keluar warna putih susu dan jumlahnya banyak diamati untuk menentukan kualitasnya. Kematangannya .

Pemijahan ikan kerapu biasanya terjadi pada bulan gelap (antara tanggal 6– 17).000 – 300.00 WIB. Telur yang mengapung akan mengikuti arus ke pembuangan atas dan ditampung di dalam egg collector. yaitu pemijahan alami dan pemijahan dengan rangsangan hormon. 2010).3. 4.00 – 02. Perlakuan ini dapat menaikkan suhu air pada bak pemijahan sekitar 1 – 3 0C. A. Pemijahan Alami Metode pemijahan alami (nature spawning) dilakukan dengan cara memanipulasi lingkungan dengan menurunkan ketinggian air dalam bak pemeliharaan induk sampai ± 100 cm dan dibiarkan selama 5 – 7 jam. Pemijahan terjadi pada malam hari antara pukul 22. et al (2005) satu induk betina dapat menghasilkan telur rata-rata 200. .000 butir telur pada ukuran 3-4 kg. (Anonim. Telur yang diperoleh diamati untuk mengetahui tingkat kematangannya. Proses pemijahan ikan kerapu diawali dengan induk betina mengeluarkan telur kemudian disusul induk jantan yang mengeluarkan sperma sehingga terjadi pembuahan. Menurut Cholik. garis tengah (diameter) telur diatas 450 mikron.3 Pemijahan Metode pemijahan induk kerapu tikus yang dilakukan di BBAP Situbondo dilakukan dengan dua cara. Induk kerapu tergolong ikan yang melakukan pemijahan sepanjang tahun.kelamin induk betina diketahui dengan cara kanulasi. kemudian dihisap. Manipulasi ini mengikuti keadaan pasang surut di alam sehingga ikan akan terangsang untuk melakukan pemijahan. yaitu memasukkan selang plastik ke dalam lubang kelamin ikan.

5 m dan salinitas + 32 ‰.Hal ini sependapat dengan Anonim (2010) yang menyatakan bahwa Metode yang digunakan adalah manipulasi lingkungan.00 permukaan air diturunkan sampai kedalaman 40 cm dari dasar bak. kedalaman air dan lain-lain. Pemijahan umumnya terjadi pada malam hari antara jam 22. Pemijahan mengikuti fase peredaran bulan.00 sampai jam 14.00 permukaan air dikembangkan ke possisi semula (tinggi air 1. Untuk merangsang terjadinya perkawinan antara jantan dengan induk betina matang kelamin digunakan metoda manipulasi lingkungan di bak terkontrol. yaitu dengan rangsangan atau kejutan faktor-faktor lingkungan seperti suhu. Manipulasi lingkungan dilakukan menjelang bulan gelap yaitu dengan cara menaikkan dan menurunkan permukaan/tinggi air setiap hari. Hasil pengamatan di lapangan. Teknik pemijahan dengan manipulasi lingkungan ini dikembangkan berdasarkan pemijahan ikan kerapu di alam. pada saat bulan terang atau bulan gelap. Mulai jam 09. pemijahan dengan rangsangan hormon dilakukan karena kondisi lingkungan tidak memungkinkan untuk proses .00 WIB. Pengamatan pemijahan ikan dilakukan setiap hari setelah senja sampai malam hari.24. Perlakuan ini dilakukan terus menerus sampai induk memijah secara alami. Rangsangan hormonal induk kerapu matang kelamin disuntik dengan hormon Human Chorionic Gonadotropin (HCG) dan Puberogen untuk merangsang terjadinya pemijahan.5 m). B. kadar garam. Setelah jam 14. Pemijahan dengan Rangsangan Hormon Induk kerapu matang kelamin dipindahkan ke bak pemijahan yang sebelumnya telah diisi air laut bersih dengan ketingian 1.00 .

Penyuntikan dilakukan pada pagi hari. Hormon yang digunakan untuk pemijahan metode ini dengan menggunakan hormon HCG (Human Chrionic Gonadotropin). Induk ikan dibius. Penyuntikan dilakukan dengan dosis 250 dan 50 IU per kilogram bobot badan. 2010) bak yang dipergunakan untuk penetasan telur sekaligus juga merupakan bak pemeliharaan larva.5 ppm acriflavin untuk mencegah serang bakteri.3. Air laut dengan kadar garam 32 ‰ dimasukkan ke dalam bak.28°C. satu hari sebelum larva dimasukkan dengan maksud agar suhu badan stabil berkisar antara 27 . kemudian disuntik pada bagian punggung dibawah duri ketiga atau pada bagian dibawah sirip dada terutama untuk induk yang berukuran besar dan membutuhkan hormon yang lebih banyak. Telur hasil pemijahan dikumpulkan dengan sistim air mengalir. 4. Tiga hari sebelum bak penetasan/bak pemeliharaan larva digunakan. berbentuk empat persegi panjang dengan ukuran 4 x 1 x 1 m³ . . terbuat dari beton.kematangn gonad dan pemijahan. Telur yang dibuahi akan mengapung dipermukaan air dan berwarna jernih (transparan). Sebelum telur ditetaskan perlu direndam dalam larutan 1 .4 mm yang berarti induk telah mencapai tingkat kematangan gonad dan siap untuk dikawinkan.100 ppm. perlu dipersiapkan dahulu dengan cara dibersihkan dan dicuci hamakan memakai larutan chlorine (Na OCI) 50 .4 Pemanenan Telur Menurut (Anonim. Penyuntikan dilakukan pada induk ikan yang diameter oocyte (bulatan telur) mencapai 0. Setelah itu dinetralkan dengan penambahan larutan Natrium thiosulfat sampai bau yang ditimbulkan oleh chlorine hilang.

Satu sendok tersebut dapat menampung sebanyak 25000 butir telur. Egg collector terbuat dari saringan 40 mikron dengan ukuran 135 cm x 80 cm x 80 cm. telur tersebut ditampung sementara di dalam ember. telur mengendap yang terdapat di dalam akuarium disipon dan dibuang..5 m x 0. Di ujung pipa pembuangan atas tersebut dipasang bak penampungan telur atau yang disebut pengumpul telur (egg collector).Hasil pengamatan di lapangan telur ikan kerapu bersifat melayang di atas permukaan air. 2005).5 m x 0. dengan pemberian arus maka telur yang melayang akan ikut terbawa arus air menuju penampungan atas. Perhitungan telur dilakukan dengan menggunakan alat sampling yang berbentuk sendok dengan ujungn berbentuk seperti setengah bola pimpong yang dapat dilihat pada gambar 3.00 WIB. Telur yang akan dibagi ke unit pembenihan merupakan telur yang baik. penghitungan telur seperti ini dikenal sebagai metode penghitungan telur secara kering. lalu ditampung kembali di akuarium berukuran 0. Setelah jumlah telur diketahui.5 m untuk dihitung. Setelah itu. sedangkan telur yang digunakan adalah telur yang melayang.00 – 07. maka telur telah dapat ditebar ke tiap pembenihan yang ada di BBAP Situbondo maupun dijual dan didistribusikan ke . et al. Telur yang baik dan terbuahi akan melayang di permukaan dan berwarna transparan. Telur yang buruk dan tidak terbuahi akan mengendap di dasar dan bewarna putih keruh (Cholik. Telur ikan yang telah terkumpul di egg collector dipanen dengan menggunakan saringan yang bermata jaring 300 µm. Pemindahan telur dari akuarium menuju ember dilakukan dengan cara penyiponan. Pemanenan telur dilakukan pada pagi hari antara pukul 06.

Persiapan Wadah Wadah penetasan telur yang terdapat di Unit Pembenihan Timur BBAP Situbondo yaitu berupa bak beton berbentuk persegi panjang sebanyak 6 buah.5.000.000 Total 3. sedangkan untuk pipa saluran outlet adalah 3.000 butir telur per 9 ton pada tanggal 10 agustus 2010 dan 100.000 13 Agustus 2010 450.000 butir telur per 9 ton pada tanggal 9 agustus 2010.000 11 Agustus 2010 450.5 inchi. . Setiap bak dilengkapi dengan saluran inlet dan outlet yang terbuat dari pipa PVC. 100.200. Pada saat pemanenan telur. Jumlah Telur Kerapu Tikus di BBAP Situbondo (Bulan Agustus 2010) Tanggal Jumlah Telur (butir) 7 Agustus 2010 75. 100. Masing-masing bak tersebut memiliki dimensi 5x2x1.3. Harga tiap butir telur kerapu tikus adalah Rp 1.000 14 Agustus 2010 1. Saluran inlet di setiap bak terdapat 2 buah yaitu saluran pemasukan Chlorella sp dengan ukuran pipa 3/4 inchi dan saluran pemasukan air laut dengan ukuran pipa 2 inchi.pembeli.000 butir telur per 9 ton pada tanggal 11 agustus 2010.000 17 Agustus 2010 150. Tabel 5.000 4.000 9 Agustus 2010 200.5 Penetasan Telur A.000 15 Agustus 2010 16 Agustus 2010 100.000 10 Agustus 2010 275. tebar telur untuk pembenihan sebanyak 150. Data hasil telur selama pemijahan di bulan Agustus dapat dilihat pada tabel 6.000 8 Agustus 2010 150.000 butir telur per 9 ton yang diambil pada saat panen telur tanggal 8 agustus 2010.25 m dengan kapasitas air 10 m3.000 12 Agustus 2010 350.

perlu dipersiapkan dahulu dengan cara dibersihkan dan dicuci hamakan memakai larutan chlorine (Na OCI) 50 . batu dan pemberat aerasi diletakkan di bagin dasar bak. satu hari sebelum larva dimasukkan dengan maksud agar suhu badan stabil berkisar antara 27 . Telur hasil pemijahan dikumpulkan dengan sistim air mengalir. Hal ini sependapat dengan Anonim (2010) yang menyatakan bahwa tiga hari sebelum bak penetasan/bak pemeliharaan larva digunakan. bak dicuci kembali dengan detergen untuk menghilangkan sisa klorin yang menempel pada dinding dan dasar bak lalu bak dibilas dengan menggunakan air tawar hingga bersih dan bau klorin hilang. Apabila telur menetas aerasi dikecilkan karena larva masih bersifat planktonik yaitu bergerak dengan mengikuti pergerakan air. Bak yang telah dibersihkan lalu dikeringkan selama 1-2 hari. Hal ini bertujuan untuk menyaring kotoran (pasir dan partikel tanah yang halus) agar tidak ikut terbawa ke dalam media lalu air tersebut ditreatment menggunakan larutan formalin dengan dosis 20 ppm dan diaerasi kuat selama 24 jam selanjutnya air dapat digunakan untuk penebaran telur. Air laut dengan kadar garam 32 ‰ dimasukkan ke dalam bak. Setelah itu.28°C. Setelah itu bak diisi air laut sebanyak 9 m3 melalui saluran inlet air laut yang telah diberi filter bag (50 mikron).Wadah yang akan digunakan untuk penetasan terlebih dahulu didesinfeksi dengan menggunakan larutan klorin 15 ppm dan dibiakan selama 1-2 hari.100 ppm. Aerai yang digunakan untuk menyuplai oksigen dalam bak penetasan telur berjumlah 11 titik aerasi yang dilengkapi engan selang aerasi. Telur yang . Setelah itu dinetralkan dengan penambahan larutan Natrium thiosulfat sampai bau yang ditimbulkan oleh chlorine hilang.

pada D1 media diberi aerasi kecil. Saat proses penetasan. Telur yang telah dibuahi berjumlah lebih kurang 1.500 butir per bak dengan kapasitas air dalam bak sebanyak 9 m3 dan dengan derajat penetasan (HR) 44 %.28°C dan kadar garam 30 .dibuahi akan mengapung dipermukaan air dan berwarna jernih (transparan). Untuk padat penebaran telur saat penulis melakukan PKL yaitu sebesar 112.32 ‰.5 ppm acriflavin untuk mencegah serang bakteri. setelah larva menetas. Penebaran biasanya dilakukan pada pagi hari yaitu antara 08. 2002).00 WIB. media penetasan diberi erasi kecil yang bertujuan agar suplai oksigen tetap terpenuhi serta agar telur tidak mengalami guncangan kuat yang dapat menyebabkan gangguan fisik pada telur. Dari hasil di lapangan penebaran telur dilakukan secara merata ke dalam bak penetasan telur yang telah dipersiapkan sebelumnya. Telur yang telah dibuahi tidak berwarna (transparan) sedangkan yang tidak dibuahi dan yang mati berwarna putih susu. Ke dalam bak penetasan perlu ditambahkan Chlorella sp sebanyak 50. Telur kerapu tikus akan menetas dalam kisaran waktu antara 17-19 jam setelah pembuahan. B. Penebaran dan Penetasan Telur Padat penebaran telur di Bak Penetasan berkisar 20 .00-09.000 butir.200.60 butir/liter air media. Hal ini dilakukan karena larva yang . Dari jumlah diperkirakan hanya 30% saja yang dibuahi (Suria D. Telur akan menetas dalam waktu 18 22 jam setelah pemijahan pada suhu 27 .000 100.000 sel/ml untuk menjaga kualitas air. Sebelum telur ditetaskan perlu direndam dalam larutan 1 . Suhu optimum untuk penetasan telur ikan kerapu yaitu antara 27-31oC.

maka Hatching Rate (HR) dapat dihitung dengan menggunakan rumus : . C. Pipa tersebut lalu diangkat dan air di dalam paralon segera dimasukkan ke dalam gelas ukur bervolume 250 ml.baru menetas masih bersifat planktonik yaitu larva bergerak dengan mengikuti pergerakan dan arus air. Perhitungan Derajat Penetasan (Hatching Rate) Perhitungan derajat penetasan (Hatching Rate) dilakukan pada saat larva berumur satu hari (D1) dengan metode sampling. 5. Sebelum melakukn sampling. dasar bak disipon secara perlahan dan hati-hati untuk membuang telur yang tidak menetas.00-07. Biasanya sampling larva dilakukan pada pagi hari yaitu pada pukul 06.5 inchi dengan panjang 150 cm. Larva umur D1 diambil dengan menggunakan pipa paralon berdiameter 1. Setelah dimasukkan ke dalam air berketinggian 80 cm. 2. Cara menghitung HR adalah: 1. Proses tersebut dilakuka di lima titik sampel Setelah dilakukan sampling. 4. bagian atas pipa ditutup dengan tangan. Larva yang berhasil menetas dihitung satu persatu dalam gelas beaker tersebut. 3.00 WIB karena pada pagi hari larva yang bersifat fotoaksis positif akan bergerak menyebar mencari matahari.

Data Hatching Rate HR Ikan Kerapu Tikus di Pembenihan Timur Nomor Bak Tanggal Tebar Telur Pada Tebar Telur HR 1 8 Agustus 2010 150. Hal ini dilakukan untuk mengurangi stress pada larva akibat proses pemindahan dan perubahan lingkungan yang baru. aerasi diatur agak kecil karena larva bersifat planktonik (melayang di permukaan air dan bergerak mengikuti pergerakan arus air). .1 ml/m2 atau 3-5 tetes disetiap titik aerasi agar larva tidak naik ke permukaan air.000 butir 2 9 Agustus 2010 100.000 butir 6 11 Agustus 2010 100.000 butir 33% 46% 52% 45% 4. Persiapan Wadah Wadah atau bak yang digunakan untuk pemeliharaan larva sama dengan bak yang digunakan untuk penetasan telur sehinga tidak dilakukan penebaran larva. Pada saat larva berumur 1 hari (D1).000 butir 4 10 Agustus 2010 100. larva telah diberi pakan alami berupa chlorella dan rotifer. Pemberian minyak cumi dilakukan dalam sehari sebanyak dua kali yaitu pada hari pukul 06.00 WIB. Pada saat larva berumur D3.Berikut ini adalah data HR pembenihan timur setelah beberapa kali dilakukan penebaran telur.3. Untuk mencegah hal tersebut D1-D10 diberi minyak cumi sebanyak 0.00 WIB dan sore hari pada pukul 16. Tabel 6.6 Pemeliharaan Larva dan Benih A.

Hal ini sependapat dengan Anonim (2010) uang menyatakan bahwa larva kerapu yang baru menetas mempunyai cadangan makanan berupa kuning telur. Pakan ini akan dimanfaatkan sampai hari ke 2 (D2) setelah menetas dan selama kurun waktu tersebut larva tidak memerlukan dari luar. Umur 3 hari (D3) kuning telur mulai terserap habis, perlu segera diberi pakan dari luar berupa Rotifera Brachionus Plicatilis dengan kepadatan 1 - 3 ekor/ml. Disamping itu ditambahkan pula Phytoplankton chlorella sp dengan kepadatan antara 5.10-10 sel/ml. Pemberian pakan ini sampai larva berumur 16 hari (D16) dengan penambahan secara bertahap hingga mencapai kepadatan 5 - 10 ekor/ml plytoplankton 10 2.10 sel/ml media. Pada hari kesembilan (D9) mulai diberi pakan naupli artemia yang baru menetas dengan kepadatan 0,25 - 0,75 ekor/ml media. Pemberian pakan naupli artemia ini dilakukan sampai larva berumur 25 hari (D25) dengan peningkatan kepadatan hingga mencapai 2 - 5 ekor/ml media. Disamping itu pada hari ke tujuh belas (D17) larva mulai diberi pakan Artemia yang telah berumur 1 hari, kemudian secara bertahap pakan yang diberikan diubah dari Artemia umur 1 hari ke Artemia setengah dewasa dan akhirnya dewasa sampai larva berumur 50 hari.

B. Perkembangan Larva Berikut merupakan perkembangan larva hingga mencapai juvenil :

a

b

c

d

e

f

gambar 2. Perkembangan larva ikan kerapu tikus a) D-0 Telur dalam masa perkembangan hingga menetas dengan panjang

tubuh 1,69 – 1,79 mm. b) D-1 Saluran pencernaan sudah mulai terlihat, akan tetapi mulut dan

anus masih tertutup, pakan yang dimakan masih mengandalkan kuning telur (yolk sac) c) D-2 Cadangan makanan pada beberapa ikan sudah mulai habis

sehingga larva membutuhkan pakan dari luar yaitu rotifera (Branchionus plicitalis). d) D-8 Bakal sirip punggung dari perut sudah mulai tampak berupa

tonjolan e) D-10 Tonjolan tersebut sudah terlihat panjang dan berbentuk spina. Pertambahan panjang spina ini berlanjut hingga D-21 f) D21 – D25 Terjadi metamorfosis, spina tereduksi menjadi duri keras

pertama pada sirip punggung dan sirip perut pada kerapu muda.

Hal ini sependapat dengan Akbar dan Syamsul (2001) yang menyatakan bahwa perkembangan larva hingga mencapai juvenil : a) D-0 Telur dalam masa perkembangan hingga menetas dengan panjang

tubuh 1,69 – 1,79 mm.

b) D-1

Saluran pencernaan sudah mulai terlihat, akan tetapi mulut dan

anus masih tertutup, pakan yang dimakan masih mengandalkan kuning telur (yolk sac) c) D-2 Cadangan makanan pada beberapa ikan sudah mulai habis

sehingga larva membutuhkan pakan dari luar yaitu rotifera (Branchionus plicitalis). d) D-8 Bakal sirip punggung dari perut sudah mulai tampak berupa

tonjolan e) D-10 Tonjolan tersebut sudah terlihat panjang dan berbentuk spina. Pertambahan panjang spina ini berlanjut hingga D-21 f) D21 – D25 Terjadi metamorfosis, spina tereduksi menjadi duri keras

pertama pada sirip punggung dan sirip perut pada kerapu muda. g) D-25 Mulai muncul bintik hitam dan itu akan merata di sekujur tubuh

ikan hingga pertumbuhan D-45. h) D-45 Larva telah berubah sempurna menjadi juvenil dan siap untuk

dijual (ukuran 2,7 – 5 cm)

4.3.7 Kualitas Air Lokasi budidaya yang ideal, selain pertimbangan umum di atas, juga harus memenuhi persyaratan-persyaratan kualitas airnya. Faktor kualitas air yang perlu dipertimbangkan untuk pemeliharaan pembenihan Kerapu tikus meliputi sifat fisika : Suhu dan Kecerahan, dan kimia meliputi : pH, DO dan Salinitas. Pemenuhan akan kebutuhan air harus diupayakan agar produksi benih ikan laut yang berkualitas, dalam jumlah yang cukup, dan kontunu dapat berhasil (Ghufran, M dan Andi Tamsil. 2010). Pengelolaan kualitas air di BBAP Situbondo dilakukan dengan pergantian air dan penyiponan. Penambahan air dimulai ketika larva berumur 8 hari (D8).

Tabel 7.8 Pakan Hasil pengamatan di lapangan memperlihatkan bahwa larva kerapu tikus D1 masih transparan. namum berasal dari air laut yang langsung disedot menggunakan pompa. Setelah bersih.500 L untuk menjaga kualitas air pada wadah pemeliharaan tetap prima. Pada larva berumur 25 hari (D25) diganti sebanyak 3 m3 dan pada larva yang berumur lebih dari 45 hari pergantian air dilakukan secara terus menerus.000 L kemudian ditambah air dilakukan hingga 9. Larva D1 belum membutuhkan pakan dari luar (exogenous feeding) karena masih memiliki cadangan makanan dari dalam (endogenous Parameter Suhu pH Salinitas Oksigen Terlarut(DO) Nitrit Amoniak Satuan o C ppt ppm ppm ppm Kisaran 30-31 7. Data Kualitas Air Pemeliharaan Larva Kerapu Tikus Pembenihan Timur BBAP Situbondo No 1 2 3 4 5 6 4. Penggunaan air tandon dimaksudkan untuk menggunakan air yang bebas dari penyakit dan kualitas air yang lebih baik daripada menggunakan air laut yang langsung diambil dari laut. Pada larva yang berumur 45 hari. air dikurangi hingga bersisa 8. Penyiponan dilakukan untuk membersihkan kotoran-kotoran yang berada di dasar. sumber air yang diganti tidak lagi berasal dari tandon.3.01 . Data kualitas air dapat dilihat pada tabel 7. terlebih dahulu dilakukan penyiponan. Air yang digunakan untuk penambahan air berasal dari tandon yang sebelumnya didesinfeksi terlebih dahulu dengan formalin 10-30 ppm dan diareasi kuat minimal selama 12 jam.3 31-33 >5 <1 < 0.Sebelum dilakukan pergantian air.8-8.

000-100. Otohime B2. dan udang rebon (jambret).feeding) yang berupa kuning telur.000 sel/ml atau . larva kerapu tikus belum mau untuk mengambil makanan dari luar.. larva D2 juga diberikan rotifer di sore hari dengan dosis 3-5 ind/ml. Rotofier. Maka dari itu. biasanya kepadatan Nannochloropsis sp yang ditebar berkisar 50.1 Nannochloropsis sp Selama kuning telur larva masih ada. Pemberian Pakan Alami A. Nannochloropsis sp harus dicek terlebih dahulu kepadatannya. Tujuan dari pemberian Nannochloropsis sp ini adalah untuk menjaga keseimbangan kualitas air dan Nannochloropsis sp juga merupakan pakan untuk rotifera (Branchionus sp. larva sudah mulai diberi Nannochloropsis sp. Larva yang sudah berumur dua hari (D2) sudah diberi Nannochloropsis sp. Selain Nannochloropsis sp. rotifera (Branchionus sp. Jenis pakan yang diberikan kepada larva kerapu tikus ada dua macam yakni pakan alami (live feed) dan pakan buatan (artificial feed). Larva D1-D10 sangat peka terhadap cahaya sehingga cenderung untuk naik ke permukaan air.). Sedangkan pakan buatan yang diberikan adalah Nosan R-1. Otohime B1. Sebelum diberikan. naupli Artemia sp. sejak larva berumur D2. Pakan alami yang diberikan adalah Nannochloropsis sp.) A. Pemberian Nannochloropsis sp disalurkan langsung dari bak kultur massal menggunakan pompa celup melalui pipa paralon ¾ inchi yang pada bagian ujungnya diberi saringan 200 µm untuk mencegah masuknya kotoran yang terbawa dari kultur massal Nannochloropsis sp. Otohime C1 dan Otohime C2.

banyaknya pemberian rotifer tergantung dari kepadatan rotifer maka dilakukan pengecekan setiap hari menggunakan gelas piala. Setelah itu. Pemberian rotifer hanya dilakukan sekali dalam sehari yaitu pada pukul 09.5 gram taurin dan dibiarkan selama 2 jam.2 Rotifera (Branchionus plicatilis) Pemberian rotifer pada saat di lapangan diberi pada larva berumur D3-D35 dan juga dengan melihat kondisi ikan. namun. dalam hal ini adalah dimana dengan melihat pertumbuhan ikan yang lambat masih membutuhkan rotifer sebagai pakannya.s Emulsion sebanyak 10 ml (satu tutup botol Scoutt’s Emulsion) dalam 20 L air dan 0. Rotifer diberikan dengan menggunakan gayung dan disebarkan pada setiap titik aerasi.100-150 liter/bak pemeliharaan larva.00 WIB dengan kepadatan 3-5 individu/ml. Meskipun secara ekonomis kurang menguntungkan. rotifer dapat diberikan pada larva. Pemberian Nannochloropsis sp berfungsi sebagai Greeen Water Sistem atau sebagai keseimbangan media untuk mengatur kecerahan air dan juga untuk pakan rotifer. Pemberian Nannochloropsis sp dihentikan pada saat larva berumur D30 atau dengan melihat kondisi larva. A. Sebelumnya. Nannochloropsis sp biasanya diberikan sebanyak 1 kali dalam satu hari yaitu pada pagi hari. Hal ini bertujuan untuk memperbaiki kandungn nutrisi rotifer dan meningkatkan daya tahan tubuh larva dan benih terhadap penyakit. A. tetapi secara teknis siste atermia dapat diproduksi secara massal dalam tempat (wadah) yang .3 Artemia sp. rotifer yang akan diberikan dilakukan pengkayaan terlebih dehulu menggunakan Scout’.

Pemberian Naupli artemia di BBAP Situbondo pada saat berumur D18 atau tergantung bukaan mulut larva. segera disaring dan dibilas dengan air tawar sampai bersih dan tidak ada bau klorin.terkendali.00 dan 17. 3. Setelah terjadi perubahan warna. Siste disaring dan ditambah air tawar. 1995). 13. Proses dekapsulasi tersebut memakan waktu antara 5 – 15 menit. Pemberian naupli artemia dilakukan sebanyak tiga kali dalam satu hari yaitu pukul 08. 5.00. Saring dan bilas dengan air tawar sampai bersih 4. . Abbas. Sebelum diberikan pada larva naupli yang berasal dari siste didekapsulasi terlebih dahulu. Proses dekapsulasi dilakukan dengan cara sebagai berikut: 1. Jaga suhu di bawah 40 0C.00 WIB. Siste artemia tersebut diaduk dengan cepat. 6. 2. Beberapa butir thiosulfat ditambahkan ke siste yang sebelumnya telah ditambahkan air tawar dan diaduk. Untuk tujuan ini dilakukan dengan memanipulasi lingkungan hidupnya agar artemia terpaksa melangsungkan perkembangbiakan secara ovipar uang menghasilkan telur (Siregar. kemudian di tambahkan klorin sebanyak 250 ml. Siste direndam dalam air tawar selama 5 menit sambil diaduk dengan cepat. Tahap no 2 dan 3 diulangi sampai warna siste berubah menjadi oranye ataupun tergantung dari produk sistenya.

4 Udang Rebon Udang rebon mulai diberikan pada saat ikan kerapu menjelang lepas sensor sampai awal lepas sensor (D25 sampai D45). Setelah itu. Penetasan siste yang didekapsulasi memerlukan waktu antara 18 – 30 jam pada air laut. satu bungkus artemia yang telah didekapsulasi dimasukkan ke dalam air tersebut. Setelah itu artemia disipon menggunakan selang dan ditampung di dalam saringan 300 µm. naupli artemia siap diberikan ke larva. Udang ini berfungsi sebagai pakan selingan. B. Jumlah pemberian pakan rebon secara at satiation (sekenyangnya). A. Sebelum diberikan ke larva. Setelah itu. artemia disterilisasi dengan akriflavin sebagai anti ektoparasit. Cara penetasannya adalah wadah plastik diisi dengan air dan diaerasi kuat. Awal pemberian dilakukan dengan mencairkan pakan untuk . siste artemia tersebut ditetaskan sesuai dengan kebutuhan larva. Sebelum diberikan ke larva. Siste disaring dan dibiarkan mengering sejenak dan masukkan ke dalam kantong plastik untuk disimpan pada suhu dingin selama maksimal 1 minggu Setelah didekapsulasi. Untuk hasil optimum. artemia disterilisasi dengan akriflavin sebagai anti ektoparasit. Panen dimulai dengan cara menghentikan aerasi dan tunggu selama 15 menit agar telur-telur artemia mengendap. Pemberian Pakan Buatan Pemberian pakan buatan bagi larva kerapu tikus dilakukan saat larva telah berumur 8 hari.7. pertahankan suhu kisaran 25 – 30 0C dan pH 8 – 9.

Tahapan Pemberian Pakan Buatan bagi Larva Kerapu Tikus Stadia larva Jumlah pakan yang diberikan 8 D8-D17 gram/pemberian 2 kali µm) Frekuensi pemberian Merek pakan Gambar (ukuran pakan) Nosan R-1 (20–50 D18D20 8 3 kali gram/pemberian Rotifier (50 – 100 µm) D21D30 10 3 kali gram/pemberian Otohime B1 (200 – 300 µm) D31D45 15 3 kali gram/pemberian Otohime B2 (300 – 600 µm) 15 >D50 gram/pemberian 4-6 kali EP-1 C. Data mengenai pemberian pakan buatan dapat dilihat pada tabel 8. Tabel 8.weaning pakan bagi larva. kultur pakan alami Pakan alami yang digunakan selama pemeliharaan larva dan benih ikan kerapu bebek baik fitoplankton maupun zooplankton di BBAP Situbondo yaitu Nannochloropsis sp. Pakan alami . Rotifera (Branchionus sp) dan Artemia sp.

Salinitas air laut yang diharapkan adalah 25-28 ppt. Mn. Zn.5 liter-1 liter air yang akan disiapkan sebagai media tumbuh plankton sebelumnya disterilkan terlebih dahulu dengan menggunakan klorine kemudian air laut di biarkan selama 3-5 hari sampai residu klorine hilang. S dan sebagainya. selanjutnya ditambah pupuk cair sebanyak 1 ml/lt. Setelah media siap bibit plankton dimsukkan 1/3 bagian dan siap dipanen 5-6 hari (Edhy W dkk. Persiapan wadah dilakukan dengan cara menyikat dasar dan dinding wadah kemudian wadah diisi air laut sebanyak 15 m3. Setelah itu.5 m (gambar) dengan kapasitas volume air maksimal sebesar 18 m3. K dan Mg sebagai unsure hara makro serta unsure hara mikro Fe. C. media disterilisasi dengan menggunakan kaporit 10 ppm dan didiamkan selama 2 . Air laut tersebut kemudian dimasukkan kedalam botol-botol yang telah disiapkan. Kultur Nannochloropsis sp skala massal dilakukan pada ruangan terbuka (outdoor) dengan ukuran wadah 5x3x1. S. dengan mengatur rasio N/P supaya Nannochloropsis sp dapat mendominasi yang lainnya. 2003). P.sangat penting peranannya bagi larva dan benih sebagai sumber makanan dengan kandungan nutrisi yang sangat tinggi. Kultur pakan alami bertujuan untuk menjamin ketersediaan pakan alami secara berkesinambungan sesuai kebutuhan dalam larva dan benih ikan kerapu tikus. pupuk yang digunakan harus mengandung unsur hara yang dibutuhkan seperti N.1 Kultur Nannochloropsis sp Membudidaya Nannochloropsis sp dapat diambil langsung dari tambak budidaya. Budidaya plankton dilakukan pada botol dengan volume 0.

dan kaki / ekor. Pada kondisi normal. Setelah 12 jam. C. Secara umum dikenal 2 metode kultur rotifera yaitu metode panen harian lebih praktis dan .jam dan diberi aerasi kuat. Tubuh yaitu. dilakukan pembibitan dengan cara mengalirkan Nannochloropsis sp sebanyak 20 % dari total volume air yang ada dalam bak dengan menggunakan pompa celup. Branchionus memiliki kecepatan pertumbuhan dan reproduksi tinggi. Bibit yang digunakan berasal dari skala intermediet atau dari bak kultur skala massal lainnya. Siregar. Kultur dilakukan dalam ruang terbuka yang cukup mendapatkan cahaya matahari. ZA 30 ppm. badan. betina memproduksi 20 butir telur atau lebih selama 7-10 hari masa hidupnya. Pemberian pupuk dilakukan dengan cara dilarutkan dalam 10 liter air laut lalu disebar merata dalam bak kultur. dan TSP 20 ppm. Rotifer merupakan salah satu jenis rotifer yang biasa diproduksi secara massal. Abbas (1995).2 Kultur Rotifera Organisme rotifer berbentuk simetris bilateral manyerupai piala. Kultur missal rotifera dilakukan pada bak volume 5-12 m3. dimana umur Nannochloropsis sp telah mencapai 5-7 hari dengan kepadatan 1-5 juta sel/ml. kemudian media dinetralkan dengan menggunakan natrium thiosulfat (Na2S2O3) ≤ 5 ppm. Chlorella sp dapat dipanen setelah berumur 5-7 hari dengan cara disedot menggunakan pompa celup lalu dialirkan langsung kedalam bak rotifer dan unit pembenihan melalui pipa PVC ukuran 3/4 inchi. Pemupukan dilakukan setelah bibit masuk ke dalam media. kepala. Pupuk yang digunakan terdiri dari Urea 40 ppm.

Metode ini dilakukan dengan cara mengalirkan air media kultur dengan menggunakan selang spiral 1 inchi yang bagian ujungnya diberi planktonnet 300 mesh size sebanyak 20-30% dari volume media kultur dan ditampung dalam drum 150 liter yang diberi aerasi. Pemanenan dilakukan setiap hari pada bak kultur yang sama dan dapat berlangsung selama 3-4 minggu. bak diisi dengan Chlorella sp untuk pakan rotifera sebanyak 2-3 m3 yang telah berumur 5-7 hari kemudiam bak ditambahkan dengan air laut dengan volume yang sama (perbandingan 1:1).5 m dengan kapasitas maksimal 12 m3. Setelah itu.9 Pengendalian dan Pencegahan Hama dan Penyakit . Namun. bibit rotifer ditebar dengan kepadatan 30-40 individu/ml yang diperoleh dari bak kultur rotifer yang lainnya yang siap panen atau dari kultur skala intermediet. 4. Keesokan harinya. namun rotifera yang dihasilkan dari metode transfer lebih bersih.3. Kepadatan rotifer akan mencapai puncak pada hari ke 4-7 dengan kepadatan 150-250 individu/ml. Persiapan wadah dilakukan dengan cara menyikat dasar dan dinding bak hingga bersih dan dikeringkan hingga keesokan harinya. pengambilan rotifer disaring kembali dapat saringan agar kotoran tidak ikut terbawa.mudah sedangkan pada metode transfer diperlukan bak kultur yang lebih banyak. Metode pemanenan yang dilakukan adalah metode panen harian. Kultur rotifer di BBAP Situbondo dilakukan skala massal dalam bak beton yang berukuran 5x2x1. kepadatan kultur massal dapat dilihat dari kondisi perairan yang bening. Rotifer yang telah dipanen dapat langsung diberikan ke larva.

Perlakuan untuk pencegahan penyakit pada pembenihan kerapu tikus di BBAP Situbondo dilakukan dengan penggunaan probiotik. Bakteri yang digunakan sebagai probiotik adalah jenis Bacillus sp. Bakteri patogen membutuhkan jumlah bakteri yang cukup untuk membuat ikan menjadi sakit. Pada saat melaksanakan PKL dalam rangka pencegahan dan pemberantasan hama penyakit. INVE. Jenis penyakit bakterial yang ditemukan pada ikan kerapu. 2009). V algosus. Penggunaan probiotik sekarang sudah banyak digunakan untuk menggantikan peran antibiotik untuk mencegah penyakit yang menyerang larva atau benih. Kematian massal sering terjadi .Permasalahan penyakit yang paling banyak pada ikan bersirip (finfish) dijumpai pada budidaya ikan kerapu. dengan merek dagang Sanolife buatan PT. diantaranya adalah penyakit borok pangkal sirip ekor dan penyakit mulut merah. Namun. Hasil isolasi dan identifikasi bakteri ditemukan beberapa jenis bakteri yang diduga berkaitan erat dengan kasus penyakit bakterial. Penggunaan probitiotik diharapkan dapat menekan jumlah bakteri patogen di dalam wadah budidaya. setiap unit pembenihan di BBAP Situbondo memiliki cara dan teknik yang berbeda-beda. Jika jumlah bakteri belum mencukupi untuk membuat ikan menjadi sakit maka ikan atau larva tersebut tidak akan menjadi sakit. Diantara jenis bakteri tersebut bakteri V alginolyticus dan V fuscus merupakan jenis yang sangat patogen pada ikan kerapu tikus (Salim. pada saat penulis melakukan kegiatan PKL di unit pembenihan timur BBAP Situbondo sempat terjadi kematian massal menyebabkan kematian pada larva atau benih. yaitu Vibrio alginolyticus. V anguillarum dan V fuscus.

Ukuran pasar benih yang dijual biasanya berkisar antara 2. Grading (pemilihan . dilakukan treatment pada air yang akan digunakan. 4.pada larva yang diakibatkan oleh kualitas air pada suhu yang sempat turun mencapai 29oC. sirkulasi air selama 24 jam untuk benih yang sudah berukuran 2-4 cm. Sehingga dilakukan pencegahan hama penyakit yang rutin dan terkontrol. dilakukan pergantian air pada pagi dan sore hari. Setelah ketinggian air mencapai 30 cm benih kerapu dapat dipanen dengan menggunakan keranjang plastik.4 Pemanenan. Benih dapat dipanen pada umur D60 atau jika ukurannya sudah mencapai ukuran pasar (minat pembeli).4.7-4 cm. biasanya benih di grading terlebih dahulu. proses pemanenan biasanya dilakukan pagi hari belum terlalu tinggi sehingga tidak menyebabkan stress pada benih yang akan dipanen dan digrading. dan Pemasaran 4. Proses pemanenan dilakukan dengan menggunakan baskom plastik yang dialiri air dari pipa paralon. Air pada bak pemeliharaan diturunkan secara perlahan sampai tingginya sekitar 30 cm. Juvenil yang telah dipanen dipisahkan berdasarkan ukurannya (grading).1 Pemanenan Benih Sebelum dilakukan pemanenan. dan penyiponan pada pagi dan sore hari. Hal ini bertujuan untuk menyeragamkan ukuran benih yang akan dipasarkan dan juga untuk memisahkan benih yang masuk pasaran karena cacat (abnormalitas). pakan alami pada Nannochloropsis sp yang sempat kontaminan terhadap rotifera serta penyakit yang disebabkan oleh VNN(Viral Nervous Necrosis). Produksi. pencegahan penyakit dapat dilakukan dengan berbagai cara seperti dilakukannya desinfeksi pada wadah yang akan digunakan.

Sumatera Selatan.500 per sentimeter. Kepulauan Riau (Batam). bak terkontrol maupun di tambak di dalam maupun di luar negeri sudah banyak dilakukan. Kalimantan Barat. NTB. Sulawesi Tenggara. Harga benih ikan kerapu memiliki fluktuasi di pasar tingkat produsen di Jawa Timur (Situbondo). Sulawesi Selatan.ukuran) merupakan salah satu cara untuk menyeragamkan pertumbuhan dan mengurangi kematian benih pasca lepas sensor akibat sifat kanibal pada ikan kerapu. Sumatera Barat. Bali (Gondol) dan Lampung. Informasi mengenai permintaan konsumen sangat penting. Malaysia. . maka ikan tersebut pun akan dipasarkan. Sifat kanibalisme pada kerapu terjadi pada saat kondisi kekurangan makanan dan perbedaan ukuran.2 Produksi dan Pemasaran Setelah kerapu tikus telah mencapai ukuran pasar. Daerah pemasaran ikan kerapu diantaranya adalah Lampung. Sulawesi Tengah. Jawa Tengah. Kalimantan Timur. Jawa Timur. pemasaran benih ikan kerapu tikus untuk segala ukuran (3 – 10 cm) dan berapapun jumlahnya tidak terlalu sulit. Jawa Barat. Sumatera Utara. NTT. dan lain-lain. Ikan yang berukuran lebih besar akan selalu memangsa ikan yang lebih kecil dalam satu wadah pemeliharaan. 4. Bali. Taiwan. BBAP Situbondo menjual dengan harga ikan kerapu tikus seharga Rp 1. Cina. Kepulauan Bangka Belitung.4. Irian Jaya. Dewasa ini. Hal ini disebabkan karena usaha pembesaran ikan kerapu baik di Karamba Jaring Apung (KJA). Kalimantan Selatan. Pemasaran merupakan rantai akhir dalam usaha pembenihan ikan kerapu. Singapura. sehingga aspek pemasaran tidak boleh dianggap ringan. Lampung.

2 Kemungkinan Pengembangan Usaha Kebutuhan dan harga kerapu tikus yang tinggi memberikan potensi tersendiri bagi usaha kerapu jenis ini yang merupakan penyokong untuk usaha budidaya selanjutnya (pendederan dan pembesaran). 11-12 hari. Induk masih berasal dari alam sehingga ketersediaan induk terbatas dan tergantung dari tangkapan nelayan. Kematian massal yang sering terjadi pada larva terutama pada umur 3-5 hari (D3-D5).5 Masalah dan Kemungkinan Pengembangan Usaha 4. c.5. Selain itu. sehingga perlu penambahan budidaya untuk pemeliharaan induk. 4. b. juga digunakan sebagai ikan hias. Ketersediaan pakan ikan rucah untuk induk yang menyesuaikan musim. aktivitas penangkapan serta memerlukan fasilitas penyimpanan bersuhu dingin karena kualitasnya mudah menurun dan mudah terkontaminasi dengan mikroba pathogen. pakan. benih kerapu tikus disamping digunakan dalam pembesaran. . sehingga perlu penanganan upaya pencegahan seperti pemberian probiotik dan mejaga kualitas air.4. penyakit maupun kemampuan dalam melewati masa kritis menyebabkan tingkat kelulushidupan larva sangat rendah dan pertumbuhannya lambat serta belum ada tindak lanjut terhadap serangan penyakit.5. dan 21-24 hari baik yang diakibatkan oleh kualitas air. sehingga perlu pembuatan pakan buatan untuk indukan.1 Masalah yang Dihadapi Permasalahan yang dihadapi dalam pembenihan kerapu tikus selama di Balai Budidaya Air Payau Situbondo adalah : a.

Biaya tetap yang dibutuhkan untuk usaha pembenihan kerapu tikus sebesar Rp 129. Mengendalikan penangkapan ikan kerapu di alam secar bijaksana. beberapa hal yang dapat dilakukan adalah : peningkatan kinerja melalui penerapan ilmuatau teknologi yang tepat tentang pembenihan kerapu tikus maupun semangat kerja bagi para staf (peningkatan sumberdaya manusia).-. yaitu 2.500/bak beton berkapasitas 9 ton didapatkan tingkat Survival Rate (SR) mencapai 12.733. 4.340 Per tahun dan biaya variabel yang dibutuhkan sebesar 60. sehingga terjamin kelestarian sumber daya ikan di laut. keuntungan yang diperoleh per siklusya adalah sebesar Rp 51. menjaga mutu atau kualitas benih yang dihasilkan. Diketahui dari hasil perhitungan R/C Ratio >1. dengan penebaran 112.469.Dalam rangka pengembangan usaha dan peningkatan produksi pembenihan. perbaikan sarana dan prasarana yang memadai. Biaya investasi yang dibutuhkan untuk usaha pembenihan ikan kerapu tikus skala rumah tangga sebesar Rp 215.9 %.740 per tahun.400 per tahun sehingga biaya operasional yang dibutuhkan sebesar 190.6 Analisa Usaha Pembenihan Kerapu Tikus (Chromileptes altivelis) Skala Rumah Tangga Analisa usaha dalam produksi benih ikan kerapu tikus dalam 1 siklus. Perhitungan analisis usaha pada produksi benih ikan kerapu tikus dapat dilihat pada lampiran 5.595.483.815.900.1 maka usaha produksi ikan kerapu tikus tersebut merupakan usaha yang layak dilakukan dan menguntungkan untuk dikembangkan. menjalin kerjasama dengan berbagai pihak terutama dalam kegiatan pemasaran.064. Perhitungan payback period yaitu dalam pengembalian investasi .

Kalimantan Selatan. maka kondisi tersebut tercapai titik impas sehingga perusahaan tersebut tidak mengalami untung maupun rugi. Kepulauan Bangka Belitung. Sulawesi Selatan. Jawa Tengah. Malaysia. Hasil perhitungan analisis usaha ini maka dapat diartikan bahwa usaha produksi ikan kerapu skala rumah tangga ini layak untuk di usahakan dan akan menguntungkan apabila usaha ini dikembangkan. Kalimantan Timur. Sumatera Barat.4 bulan. Taiwan. Sulawesi Tengah. Lampung.599.599. BEP harga benih Rp 719/cm artinya bahwa titik impas akan dicapai pada saat harga jual benih Rp 719/cm. NTB. . Sumatera Utara. Jawa Timur. Irian Jaya. Perhitungan BEP produksi benih didapatkan sebesar 9. Jawa Barat.2 ekor yang artinya apabila perusahaan mampu untuk menjual produk yang dihasilkan sebesar 9. NTT. Sumatera Selatan. Kalimantan Barat. Daerah pemasaran ikan kerapu diantaranya adalah Lampung. Kepulauan Riau (Batam).2 ekor.yang ditanam akan kembali dalam waktu 4 tahun 2. Bali. Cina. Sulawesi Tenggara. dan lain-lain. Singapura.

seleksi telur. Induk masih berasal dari alam sehingga ketersediaan induk terbatas dan tergantung dari tangkapan nelayan. pemijahan.01 ppm. belum ada pengobatan terhadap penyakit. Rotifier 8 gram/pemberian 3 kali/hari. Nitrat < 150 ppm. Memerlukan fasilitas penyimpanan bersuhu dingin agar kualitas pakan ikan rucah untuk indukan tidak menurun. suhu 30o31oC. Teknik pembenihan ikan kerapu tikus meliputi. SR ikan kerapu tikus 12. 2. amoniak < 0.8-8. Kematian massal sering terjadi pada larva yang diakibatkan oleh penyakit VNN(Viral Nervous Necrosis).3. persiapan bak pemeliharaan larva.9%.000 sel/ml 1 kali/hari dan Rotifer 3-5 individu/ml 2 kali/hari) maupun pakan buatan(Nosan R-1 8 gram/pemberian 2 kali/hari.1 Kesimpulan 1.000-100. pemberian pakan sesuai dosis baik berupa pakan alami(Nannochloropsis 50. DO > 5 ppm. Otohime EP-1 15 gram/pemberian 4-6 kali/hari). Grading dilakukan apabila terlihat perbedaan ukuran yang mencolok pada benih dan munculnya sifat kanibalisme. seleksi induk. Otohime B2 15 gram/pemberian 3 kali/hari. nitrit < 1 ppm. persiapan induk. penebaran telur. . pencegahan penyakit dengan menggunakan probiotik Sanolife. penetasan telur. pengelolaan kualitas air dengan salinitas 31-33 ppt. Otohime B1 10 gram/pemberian 3 kali/hari.V KESIMPULAN DAN SARAN 5. pH 7.

Belum adanya pengobatan terhadap penyakit VNN(Viral Nervous Necrosis) yang dapat menyebabkan kematian massal terhadap larva ikan kerapu tikus. . Induk yang masih berasal dari alam sehingga ketersediaan induk terbatas dan tergantung dari tangkapan dari nelayan. disarankan supaya ada penambahan budidaya pada pemeliharaan induk. disarankan ada studi-studi lebih lanjut untuk menemukan formula yang tepat untuk meningkatkan kekebalan benih dan menghasilkan benih yang tahan penyakit. disarankan perlu adanya pembuatan pakan buatan untuk indukan. 2.2 Saran 1.5. Ketersediaan pakan ikan rucah untuk induk yang menyesuaikan musim. 3.

2009.VI DAFTAR PUSTAKA Anonim.. Jakarta. 2003. Cahyaningsih. Pembenihan Ikan Laut Ekonomis Secara Buatan.com/group/mmaipb/message/2070. 135 hal.id/ind/warintek/?mnu=6&ttg=3&doc=3b7. 146 hal. http://www. W. Departemen Kelautan dan Perikanan Direktorat Jendaral Perikanan Budidaya Balai Budidaya Air Payau. M. P.I.G. T. Yogyakarta.blogspot. 2002.htm. 2001. 233 hal Kordi K.H. Darwisito. 07/05/2010. Penerbit Yayasan Pustaka Nusatama. 12/05/2010. Usaha Pembesaran Ikan Kerapu di Tambak. Penggunaan Biokatalisator pada Budidaya Udang Galah. 2005. Yogyakarta.H. Simbolon dan J. M. M. Yogyakarta. 07/06/2010. 2007. S. M.blogspot. Penerbit Lily Publisher.G. M. K. Wahyuni. 1999.html.G. Jakarta. Pembenihan ikan kerapu macan (Epinephelus fuscoguttatus). 24:19-26 Nazir. Penerbit Rineka Cipta. Budidaya Ikan Kerapu http://octopus39.com/2008/11/budidaya-ikan-keraputikus.net. http://groups. Ghalia Indonesia. . 2010. Central Pertiwi Bahari. Pantai Timur. Strategi Reproduksi pada Ikan Kerapu. Yogyakarta. Parameter Dasar Budidaya Perairan. Metode Penelitian. Metodologi Penelitian. Produksi Pakan Alami.A dkk.com/PPS702-ipb/05123/suria_darwisito. Biologi Perikanan. 07/06/2010. Kordi K. 2008. Tikus. 2007. 115 halaman Kordi K.yahoo. Central Pertiwi Bahari. 159 hal Jatilaksono. Budidaya Ikan Laut di Kramba Jaring Apung.iptek.H. 99 hal Effendie. Anonim. 1998. PT. Azwar. 2002. 07/06/2010. Loka Budidaya Air Payau. Edhy. 2010. http://rudyct. 188 halaman Murtiati..html. Plankton di Lingkungan PT. Octopus. M.. http://jlcome.com/2007/10/parameter-dasar-budidayaperairan. 1988. S. S. Penerbit Kanisius. dkk. Pustaka Pelajar.

manik. 12/05/2010. Pakan Ikan Alami.2007. http://klikharry. Penerbit Penebar Swadaya. http://mandala- Siregar. Penerbit Djambatan. Jakarta. Pembenihan Ikan Laut Ekonomis : Kerapu. Biologi Laut . 2007. Metode Penelitian. Keracunan Nitrit-nitrat. Panduan Diagnosa Penyakit Ikan. C. 26/05/2010. H.blogspot. Penerbit Kanisius. dkk. 1995.com/2009/04/laporan-magangperikanan.wordpress. 87 halaman Sunyoto.Romimohtarto. Balai Budidaya Air Tawar Jambi. S. Yuasa. Laporan Magang Perikanan. 2002. 84 halaman Suryabrata.com/2007/02/21/keracunan-nitrit-nitrat/. 2009. Abbas. DKP dan JICA . A. dan S. Ditjen Perikanan Budidaya. Ilmu Pengetahuan Tentang Biota Laut. Jakarta. Juwana. Yogyakarta.V. Jakarta. Rajawali. 2003. K. Kakap. Kei. 540 hal Salim. Wahyudhy. dan Mustahal. 1993. P.html?zx=769a8d327799ce15. Beronang.

LAMPIRAN Lampiran 1. Kabupaten Situbondo. Propinsi Jawa Timur . Kecamatan Panarukan. Peta Lokasi Kerja Praktek Lapangan Desa Pecaron.

Denah Balai Budidaya Air Payau Situbondo 1 6 3 4 23 1 1 5 7 9 11 1 23 23 10 10 30 7 23 28 29 23 30 31 7 7 9 12 13 14 23 8 16 15 19 17 25 26 27 23 32 23 33 17 34 17 19 8 18 9 15 35 24 23 21 23 23 18 20 22 21 U .Lampiran 2.

Bak kultur Chlorella sp 9. Rumah karyawan. 4. Asrama 22. Ruang pembuatan pellet. Laboratorium pakan alami 14. Garasi mobil. Bak karantina 12. Bak kultur Brachionus plicatilis 10. 32. Bak induk bandeng 18. Broodstock Center Udang Vanname 5. Rumah genset. 31. Laboratorium nutrisi dan pakan buatan 26. 8. Bak induk kerapu. Ruang kuliah. Musholla. Auditorium. 21. Bak tandon air tawar. Rumah blower. Bak pemeliharaan nener 11. Bak filter sand 16. 2. Bak calon induk kerapu. Laboratorium penyakit dan kualitas air.Keterangan : 1. Kantor. Pompa air laut. . Bak pembenihan tengah 17. 6. 23. 33. Perpustakaan 30. Ruang staf teknis dan Laboratorium Bioteknologi 28. Koperasi dan workshop. Bak tandon air laut 20. 24. Bak pembesaran udang Vanname 19. Bak penampungan telur 3. 29. 35. 25. Bak pembenihan barat. 34. 27. 7. Dapur. Bak pembenihan Abalone 15. Bak pembenihan timur 13.

Perekayasa Pengawas Benih Pranata Humas Pengawas Budidaya Peng. Kelompok Jabatan Fungsional Koord. Ikan Litkayasa Fungsional Lainnya .PT. M. Struktur Organisasi Balai Budidaya Air Payau (BBAP) Situbondo Kepala Balai Ir. Made Yooriksa Kepala Seksi Pelayanan Teknis Dede Sutende Kepala Seksi Stand. : Ir. Slamet Subyakto.Si. M. Tata Usaha Ir. M. & Info. Hama dan Peny. Akhmad Romadlon.Lampiran 3.Si. S.Si. Siti Zubaidah. Kepala Seksi Bag.

00 15.00 12.00 10.30 16.00 15.00 11. Daftar Ukuran Pakan dan Jadwal Pemberian a.00 07.Lampiran 4.D 36) Larva-Benih Benih Larva-Benih Benih Larva-Benih Larva (D2-D8) Larva-Benih Benih Ukuran pakan 20 – 50 µm 100 – 200 µm 200 – 300 µm 200 – 400 µm 300 – 500 µm 400 – 600 µm 500 – 800 µm 800 – 1. Daftar Ukuran Pakan Uraian Rotemia NRD ½ NRD 2/3 NRD 2/4 NRD 3/5 NRD 4/6 NRD 5/8 NRD G8 (8/12) NRD G12 (12/20) Nosan R-1 Rotifier Love Larva Otohime B-1 Otohime B-2 Otohime C-1 Otohime C-2 Otohime S-1 Otohime S-2 Otohime EP1 Otohime EP2 b.200 – 2.00 Jenis Pakan Minyak cumi Pakan buatan (Rotofera/Rotemia) Pakan Buatan Rotifer Artemia Pakan Buatan Pakan Buatan Artemia Pakan Buatan Rotifer Artemia Udang rebon Keterangan Larva (D2-D8) Larva -Benih Benih Larva (D 2.400 µm 1.400 µm 1.000 µm 20 – 50 µm 50 – 100 µm 100 – 200 µm 200 – 300 µm 300 – 600 µm 500 – 900 µm 900 – 1.200 µm .000 µm 1.00 09.200 µm 1. Jadwal Pemberian Pakan Waktu 06.500 µm 2.00 14.

Bak kultur Chlorella sp 12.000.000 3.000.000.000/unit 3.000.000.000 40.5 m3 .000/unit 10.Hatchery 140 m2 .500 1.000/unit 6.000/unit 10.000/buah 200.600.000.000. 1 2 Uraian Lahan 500 m2 Borongan Bangunan .000/unit 450.000 6.Bak larva .000.000/unit 5.000.082.000.Ember 20 liter .000 3.000 900.Ember 5 liter .000.000 30.000/unit 3.000/buah 300.000. Biaya investasi No.000.000/unit 25.000 2.000/unit 1.000 40.000/buah 3.000 300.000.400 1.000 3.000.000/unit 4.Rumah Hi-blow .000/buah 10.750.000/unit 10.000/unit 3.Rumah pompa air laut 6 m2 .000/unit 600.Gayung 2 liter .000/unit 4.000.000.000 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 .Bak kultur rotifer 12.000.Baskom sedang .000 10.750.600.000/unit 1.000/m2 15.117.Runah genset 6m2 .Bak filter air laut 18 m3 . .000.000/buah 3.000.Rumah jaga 25 m2 Pompa air laut 7.000.000 600.000.000 2.000/unit 10.000 3.000. Analisis Usaha dalam Produksi Benih Kerapu Tikus di Balai Budidaya Air Payau Situbondo.000 1.000 10.000.000 200.Saringan artemia 200 mikron Jumlah 1 unit 1 unit 6 unit 10 unit 4 unit 1 unit 1 unit 1 unit 1 unit 1 unit 1 unit 1 unit 2 buah 1 unit 1 unit 1 unit 1 unit 1 unit 1 unit 2 buah 2 buah 1 buah 8 buah 3 buah 1 buah 8 buah 20 buah 1 buah 2 buah Harga Satuan (Rp) 100.000 16.082.400/unit 1.000 400.5 PK Pompa air tawar5 PK Pompa celup(dab) Hi-blow 5 PK Instalasi air laut Instalasi air tawar Instalasi aerasi Instalasi listrik Genset 3000 watt Bak fiber Bak fiber Tabung gas Peralatan pembenihan: .000/unit 2.500/unit 1.5 m3 .000 2.000 25.Saringan rotifera 300 mikron .000.000/unit 2.000/unit 4.000/unit 2.000/buah Jumlah (Rp) 50.Lampiran 5.000 15. a.000.000.117.000 24.000.000.000.000 4.Ember 30 liter .000.000 10.000 24.

Biaya Tetap 1 2 3 4 5 6 Penyusutan investasi) Gaji Pegawai Biaya Listrik Perawatan Peralatan (5% dari investasi) Pajak Pulsa Handphone Total Biaya Tetap Biaya Tetap Selam 1 Tahun 100.595.500/buah 2.000/buah 75.000 700.250.000 300.000 Jumlah Harga Satuan (Rp) Jumlah (Rp) 32.000 215.000/buah 1.000 200.- Saringan udang 1 buah rebon Saringan pakan 150 2 buah mikron Filter bag 6 buah Selang aersi 1 roll Batu aerasi 100 buah Kran aerasi 100 buah Pemberat aerasi 100 buah Plastic penutup 1 roll Keranjang koli 20 buah Gelas piala 1000 ml 1 buah Gelas piala 200 ml 1 buah Gelas piala 50 ml 1 buah Tong plastik 60 ml 2 buah Tong plastik 80 ml 2 buah Piring kecil (teplek) 1 lusin Kulkas 1 pintu 1 unit Lemari plastic 1 unit Selang 1” 20 m Spon (busa kasar) 1 roll White board 1 buah Total Biaya Investasi 100.000/buah 145.398.000/buah 100.000 150.000/buah 175.000/buah 300.733.000 400.890 4.000/buah 35.000 250.000 300.000 1.000/m 300.000 350.000/bln/org 500/bln (10% dari 17.0000/buah 200.250.000 75.000 1.500/buah 2.900 b.000 145.000/roll 10.000/roll 75.800. Biaya Tetap dan Variabel No Uraian I.000 550.000/buah 60.000 150.000 200.340 .500.000/unit 550.682.000 35.000/bln 2 orang 800.000/buah 25.000/unit 20.000 200.365.835 129.000/buah 200.000 8.000 200.000 60.000 300.000/buah 75.000 50.945 50.000/buah 3.

516.000 100.500.000/kg 630.000 112.200.000 300.117.5 675.450/botol 300/000/kaleng 300.000/bks 1.000 2 kg 275.400 47.000/kg 600.000/kg 550.740 . Biaya Variabel 1 2 Telur Obat-obatan : 3 Pakan : a. Artemia b.200.000 Formalin Chlorine Na-thiosulfate Scott’s Emullsion 3 btl 20 L 20 L 300.000 300.000 4 kg 6 kg 500 bks 300.064.350 60.200.000/kg 600.350 450. Pakan buuatan : Ukuran mikron Ukuran mikron Ukuran mikron Ukuran mikron Ukuran mikron Ukuran 800 mikron 400-600 300-500 200-400 200-300 100-200 1 kg 600.000 c.780. Udang rebon Total Biaya Variabel Biaya Variabel Selama 1 tahun Total Biaya Operasional (TC) 1 siklus Biaya Operasional (TC) 1 Tahun 15.000/kaleng 3.469.000 2.000/kg 1.000 4 kg 300.185 190.000 btr 1.000/kg 5.000 40 kaleng 300.000 2 kg 300.000 37.000 3.II.

c.9% b.3 cm x Rp 1.000 . Jumlah telur yang tebar yaitu sebanyak 450.000.500/cm = 99.000.000 butir Jumlah benih yang hidup hingga pemanenan yaitu sebanyak 20.000 ekor. Jadi kelangsungan hidup (SR) yang didapatkan adalah sebagai berikut : SR (%) = Jumlah benih yang hidup Jumlah larva yang tebar X 100 % = 20.000 x 3. Rincian penerimaan yang diperoleh usaha pembenihan ikan kerapu dapat dilihat pada perhitungan berikut : a.000 = 154. penerimaan (TR) TR = Benih yang dihasilkan x ukuran x harga jual = 20.1 Penerimaan (TR) Penerimaan adalah jumlah uang yang diperoleh dari hasil penjualan benih.000 x 100% = 12.000 per siklus Penerimaan yang diperoleh untuk per siklus yaitu sebesar Rp 99. Penghasilan c.000 butir HR = 44% x 450.000 154.

c.1 sehingga usaha dalam produksi benih kerapu tikus ini layak untuk dilaksanakan. Nilai R/C ratio untuk pembenihan ikan kerapu tiku dapat dilihat pada perhitungan sebagai berikut : R/C ratio = Hasil penjualan Total biaya per siklus = 99.3 R/C Ratio Analisis ratio merupakan parameter analisis yang digunakan untuk melihat pendapatan relative suatu usaha dalam 1 tahun terhadap biaya yang dipakai dalam kegiatan tersebut. tingkat keuntungan suatu usaha akan semakin tinggi.483.- c. keuntungan yang diperoleh per siklus adalah sebesar Rp 51.185 = Rp 2.185 = 51.815.483.000. Keuntungan yang diperoleh dalam produksi benih kerapu tikus yaitu sebagai berikut : Keuntungan = Penerimaan-Biaya Operasional = 99.000.000 – 47.1 R/C > 1 yaitu 2. Suatu usaha dikatakan layak jika nilai R/C ratio lebih dari 1 (R/C > 1). Semakin tinggi nilai R/C ratio.516.516.815 Jadi. Keutungan diperoleh jika selisih antara pendapatan dengan total biaya adalah positif. .000 47.2 Keuntungan Keuntungan merupakan selisih antara pendapatan dengan total biaya prosuksi (biaya operasional).

000 = = Rp 2.3 cm = Rp 719/cm Artinya kegiatan pembenihan ikan kerapu tikus akan mengalami titik impas apabila telah menjual sebanyak 9.185 4.950 = 9. Nilai BEP (unit) dan BEP (Rp) pada usaha pembenihan ikan kerapu tikus dapat dilihat pada perhitungan berikut ini : BEP unit = Biaya total Harga Satuan = 47.2 ekor benih atau dengan harga jual benih seharga Rp 719/cm. c. Sementara itu.185 20. Usaha dinyatakan layak apabila nilai BEP produksi lebih besar dari jumlah unit yang sedag diproduksi saat ini.4 Break Event Poin (BEP) BEP merupakan parameter analisis yang digunakan untuk mengetahui batas nilai produksi atau volume produksi suatu usaha mencapai titik impas. yaitu tidak untung atau rugi. nilai BEP harga lebih rendah dari pada harga sat ini.516.c.2 ekor BEP (Rp) = Biaya total Total produksi 47.5 Payback Periode (PP) Analisis Payback Periode (PP) bertujuan untuk mengetahui waktu tingkat pengembalian investasi yang telh ditanamkan pada suatu usaha.516.375/3.599. seperti usaha .599.

4 bulan.2 tahun Jadi. Nilai PP pada usaha pembenihan ikan kerapu tikus dapat dilihat pada perhitungna berikut ini : PP = Biaya Investasi Keuntungan x 1 tahun = 215. biaya investasi yang dikeluarkan untuk usaha pembenihan ikan kerapu tikus akan kembali dalam jangka waktu 4.pembenihan ikan kerapu tikus.900 51. .733.483.815 x 1 tahun = 4.2 tahun atau dalam jangka 4 tahun 2.

3 Bak Chlorella sp a. Gedung a.7 Tandon Air Tawar a. Sarana dan Prasarana Pembenihan Ikan Kerapu Tikus Budidaya di Balai Budidaya Air Payau Situbondo a.Lampiran 6.1Bak Pemeliharaan Larva Kerapu Tikus a.6 Tandon Air Laut a.2 Bak Rotifer a.5 Bak Karantina Ikan a.4 Bak Pemeliharaan induk ikan Kerapu Tikus a.8 Pompa Air Laut .

1 Pakan Ikan Rucah b.5 Scott’s Emulsion b.3 Minyak Cumi b.b.3 HCG(Human Chorionic Gonadotropin c.4 Vitamin b. Pakan Ikan b.2 Udang Rebon b.1 Egg Colector c.4 Akuarium c.2 Alat Taging c.6 Artemia Cysts c.6 Saringan .5 sendok takaran Pengambilan Telur c. Peralatan c.

00 30 C 31oC 31 C 31 C 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC o o o suhu harian kolam ikan kerapu tikus bak 2 bak 4 12.00 30oC 30 C 30 C o o 12. Suhu Harian pada Kolam Ikan Kerapu Tikus tanggal 06.00 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 08-Agust-10 o o 09-Agust-10 30 C 29 C 29oC 29oC 30oC 30oC 29oC 30oC 30oC 30oC 29oC 29oC 29oC 30oC 30oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 30oC 31oC 31oC 30oC o 10-Agust-10 31 C o 31 C 11-Agust-10 12-Agust-10 3-Agust-10 14-Agust-10 15-Agust-10 16-Agust-10 17-Agust-10 18-Agust-10 19-Agust-10 20-Agust-10 21-Agust-10 22-Agust-10 23-Agust-10 24-Agust-10 .00 31 C 31oC 31 C 31 C 30oC 30oC 30oC 30oC 30oC 31oC 30oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 30oC 30oC 30oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 30oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 30oC 30oC 31oC o o o 06.00 31 C 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 30oC 30oC 31oC 31oC o bak 6 12.00 06.00 31oC 31 C 31 C o o 06.00 31oC 31 C 31 C o o 16.00 31 C 31 C 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC o o 16.00 30 C 30oC 30 C 30 C 31oC 31oC 31oC 30oC 30oC 30oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 30oC 30oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC o o o bak 1 12.00 - 16.Lampiran 7.00 31 C 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC o 16.

25-Agust-10 29oC 30oC 29oC 29oC 29oC 29oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 30oC 31oC 30oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 30oC 31oC 30oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 30oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 30oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 30oC 31oC 31oC 30oC 31oC 31oC 30oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 26-Agust-10 27-Agust-10 28-Agust-10 29-Agust-10 30-Agust-10 31-Agust-10 .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful