P. 1
All

All

|Views: 662|Likes:
Published by galih_pratama

More info:

Published by: galih_pratama on Jun 08, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

03/28/2013

pdf

text

original

TEKNIK PEMBENIHAN IKAN KERAPU TIKUS (Cromileptes altivelis) DI BALAI BUDIDAYA AIR PAYAU SITUBONDO

PRAKTEK KERJA LAPANG
PROGRAM STUDI BUDIDAYA PERAIRAN

Oleh :
ERLINA DWI TUNGGAL SPIKADHARA SURABAYA - JAWA TIMUR

FAKULTAS PERIKANAN DAN KELAUTAN UNIVERSITAS AIRLANGGA SURABAYA 2010

TEKNIK PEMBENIHAN IKAN KERAPU TIKUS (Cromileptes altivelis)
DI BALAI BUDIDAYA AIR PAYAU SITUBONDO

Praktek Kerja Lapang Sebagai Salah Satu Syarat untuk Memperoleh Gelar Sarjana Perikanan pada Program Studi S-1 Budidaya Perairan Fakultas Perikanan dan Kelautan Universitas Airlangga

Oleh : ERLINA DWI TUNGGAL SPIKADHARA NIM. 060710177P

Mengetahui, Dekan, Fakultas Perikanan dan Kelautan

Menyetujui, Dosen Pembimbing,

Prof.Dr.Drh.Hj. Sri Subekti, B.S.,DEA. NIP. 19520517 197803 2 001

Muhammad Arief., Ir. M.Kes. NIP. 19600823 198601 1 001

Setelah mempelajari dan menguji dengan sungguh–sungguh, kami berpendapat bahwa Praktek Kerja Lapang (PKL) ini, baik ruang lingkup maupun kualitasnya dapat diajukan sebagai Salah Satu untuk Memperoleh Gelar Sarjana Perikanan.

Tanggal Ujian : 25 November 2010

Menyetujui, Panitia Penguji, Ketua

Ir. Muhammad Arief, M.Kes NIP. 19600823 198601 1 001

Sekretaris

Anggota

Prayogo, S. Pi., MP NIP. 19750522 200312 1 002

Ir. Moch. Amin Alamsjah, M. Si., Ph. D NIP. 19700116 199503 1 002

Surabaya, 24 Desember 2010 Fakultas Perikanan dan Kelautan Universitas Airlangga Dekan,

Prof.Dr.Drh.Hj. Sri Subekti, B.S.,DEA. NIP. 19520517 197803 2 001

Otohime B2 15 gram/pemberian 3 kali/hari.Kes. Metode yang digunakan dalam Praktek Kerja Lapang ini adalah metode dekskriptif dengan pengambilan data meliputi data primer dan data sekunder. Ketersediaan benih ikan kerapu di alam tidak akan terancam punah dengan memanfaatkan dan mengembangkan suatu usaha untuk menghasilkan benih ikan kerapu tikus yang dapat memenuhi permintaan pasar.000-100. Teknik pembenihan ikan kerapu tikus meliputi. persiapan bak pemeliharaan larva. Otohime EP-1 15 . Dosen Pembimbing : Ir. pemijahan. Tujuan dari Praktek kerja Lapang (PKL) untuk mengetahui tentang teknik pembenihan ikan kerapu tikus (Cromileptes altivelis) di Balai Budidaya Air Payau di Situbondo. Jawa Timur. pemberian pakan sesuai dosis baik berupa pakan alami(Nannochloropsis sp 50. M. penebaran telur. Ikan kerapu tikus lebih memiliki nilai jual yang tinggi di banding dengan ikan kerapu yang lainnya. Teknik Pembenihan Ikan Kerapu Tikus (Cromileptes altivelis) di Balai Budidaya Air Payau Situbondo Desa Pecaron Kecamatan Panarukan Kabupaten Situbondo Propinsi Jawa Timur.Muhammad Arief. seleksi telur. Tujuan lainnya adalah untuk mengetahui permasalahan yang sering dihadapi pada usaha pembenihan ikan kerapu tikus (Cromileptes altivelis). Ikan kerapu tikus memiliki nilai jual yang tinggi dan permintaan yang banyak sedangkan permintaan pasar akan ikan kerapu tikus belum dapat dipenuhi secara keseluruhan karena belum banyak pembudidaya.31 agustus 2010. Praktek Kerja Lapang ini dilaksanakan pada tanggal 19 juli . seleksi induk. persiapan induk. Rotifier 8 gram/pemberian 3 kali/hari. penetasan telur. wawancara dan studi pustaka. Pengambilan data dilakukan dengan cara partisi aktif.000 sel/ml 1 kali/hari dan Rotifer 3-5 individu/ml 2 kali/hari) maupun pakan buatan(Nosan R-1 8 gram/pemberian 2 kali/hari. Otohime B1 10 gram/pemberian 3 kali/hari. observasi.RINGKASAN ERLINA DWI TUNGGAL SPIKADHARA.

9%. SR ikan kerapu tikus 12.gram/pemberian 4-6 kali/hari). Induk masih berasal dari alam sehingga ketersediaan induk terbatas dan tergantung dari tangkapan nelayan. Grading dilakukan apabila terlihat perbedaan ukuran yang mencolok pada benih dan munculnya sifat kanibalisme. Memerlukan fasilitas penyimpanan bersuhu dingin agar kualitas pakan ikan rucah untuk indukan tidak menurun.01 ppm.8-8. Kematian massal sering terjadi pada larva yang diakibatkan oleh penyakit VNN(Viral Nervous Necrosis). nitrit < 1 ppm. pH 7.3. amoniak < 0. suhu 30o-31oC. pengelolaan kualitas air dengan salinitas 31-33 ppt. belum ada pengobatan terhadap penyakit. . Nitrat < 150 ppm. DO > 5 ppm. pencegahan penyakit dengan menggunakan probiotik Sanolife.

The method used in this Field Work Practice is dekskriptif with data collection methods include primary data and secondary data. Otohime B2 15 grams / feeding 3 times / day.Muhammad Arief. ammonia <0. Broodstock selection. interview and literature study. The availability of grouper seed in nature will not be threatened with extinction by exploiting and developing a business to produce panther fish fry that can meet demand of market. DO> 5 ppm. Polka-dot Grouper over a high selling price compared with other groupers. nitrite <1 ppm.01 ppm. egg selection. Polka-dot Grouper hatchery techniques include. 2 times / day) or artificial diets (Nosan R-1 8 g / generous 2 times / day. M. Kes. disease prevention . Nitrate <150 ppm. The purpose of the work practice of Field (PKL) to find out about grouper hatchery techniques (Cromileptes altivelis) in Balai Budidaya Air Payau Situbondo. Field Work Practice was held on 19 July .8 to 8. Otohime B1 10 grams / feeding 3 times / day .SUMMARY ERLINA DWI TUNGGAL SPIKADHARA. Another aim is to discover the problems that are often encountered in the hatchery business grouper (Cromileptes altivelis). hatching eggs. Supervising lecture: Ir. Polka-dot Grouper has a high selling value and demand a lot while the demand of market for Polka-dot Grouper can not be fulfilled as a whole because not many farmers. spawning. feeding according to the dosage form of natural food (Nannochloropsis sp 50000-100000 cells / ml 1 time / day and rotifers 3-5 individuals / ml.31 August 2010. Otohime EP-1 15 grams / administration 4-6 times / day). observation. East Java. Rotifier 8 grams / feeding 3 times / day. preparation for larval rearing tanks. Broodstock preparation. Polka-dot Grouper Hatchery Techniques (Cromileptes altivelis) in Balai Budidaya Air Payau Situbondo Pecaron Panarukan Situbondo District of East Java Province. Data collection was performed by the active partition. 3. pH 7. stocking eggs. temperature 30o-31oC. the management of water quality with salinity 31-33 ppt.

there is no treatment against the disease. SR of Polka-dot Grouper is 12. Grading conducted if the striking visible differences in seed size and appearance of cannibalism.9%. Mass mortality of larvae often occur in diseases caused by VNN (Viral Nervous Necrosis). Broodstock still come from nature so that availability is limited and dependent parent from the catch of fisherman. Requires cold-temperature storage facilities for feed quality trash fish for broodstock did not decline. .using probiotics Sanolife.

Laporan ini disusun berdasarkan hasil Praktek Kerja Lapang yang dilaksanakan di Balai Budidaya Air Payau Situbondo pada tanggal 19 Juli – 31 Agustus 2010. khususnya Mahasiswa Program Studi S-1 Budidaya Perairan Fakultas Perikanan dan Kelautan Universitas Airlangga Surabaya. Semoga Praktek Kerja Lapang ini bermanfaat dan dapat memberi informasi bagi semua pihak. mendidik dan memberi motivasi serta semangat hingga selesainya Praktek Kerja Lapang ini. Penulis menghanturkan terima kasih yang tak terhingga kepada kedua orang tua dan keluarga yang telah mendoakan. sehingga kritik dan saran yang membangun sangat penulis harapkan demi perbaikan dan kesempurnaan laporan atau kegiatan selanjutnya. Desember 2010 Penulis . Penulis menyadari bahwa Praktek Kerja Lapang ini masih sangat jauh dari kesempurnaan. Surabaya. atas segala limpahan rahmat dan karunia-Nya sehingga penyusunan Praktek Kerja Lapang tentang Teknik Pembenihan Ikan Kerapu Tikus (Chromileptes altivelis) di Balai Bududaya Air Payau Situbondo ini dapat terselesaikan. Praktek Kerja Lapang ini sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Perikanan pada Program Studi S-1 Budidaya Perairan Fakultas Perikanan dan Kelautan Universitas Airlangga Surabaya.KATA PENGANTAR Segala puji kahadirat Allah SWT.

Sri Subekti.. S. S. MP dan Ir. 5. S. Bapak Akhmad Taufiq. Pi. 9. Prof. M. .UCAPAN TERIMAKASIH Pada kesempatan kali ini. DEA. Hj. Bapak Prayogo. Bapak saya Anthonius Wiwiek Dwiriyantho Bayudharana Feysholly.. M. 6. Kakak pertamaku Andri Bahtera Tunggal Prisma Dharana dan kakak kedua Erlita Dwi Tunggal Spikadhara yang telah memberi semangat. Ir. Slamet Subiyakto. 7. M. Ph.Pi selaku koordinator pelaksana Praktek Kerja Lapang.Muhammad Arief. ibu saya Partini yang saya cintai yang telah memberikan seluruh ia punya baik dukungan secara moril dan materi. B. 3. Dr. tidak lupa penulis haturkan terima kasih yang sebesar-besarnya : 1. Nabi besar Muhammad SAW semoga kita semua akan mendapatkan syafaat di akhirat kelak. D selaku dosen penguji yang telah memberi banyak masukan dan saran atas perbaikan Praktek Kerja Lapang ini. Drh. Moch. Dr. M.Kes. selaku Dekan Fakultas Perikanan dan Kelautan Universitas Airlangga Surabaya.. Allah SWT yang telah memberikan nikmat dan amanah dalam kehidupan ini..Si. 2. Amin Alamsjah. Si. Bapak Ir. selaku Dosen Pembimbing yang telah banyak membantu terlaksananya Praktek Kerja Lapang dari penyusunan usulan proposal hingga terselesainya laporan Praktek Kerja Lapang. 8.Si sebagai Kepala Balai Budidaya Air Payau Situbondo. 4.amin allahuma amin.

Nurdiana Rachmasari. Setyana Meirnawati. UNSOED. sofiati selaku pembimbing lapangan dari Balai Budidaya Air Payau (BBAP) Situbondo. Sahabatku (Yulia Kartika. 12. 11. Semua pihak yang tidak dapat disebutkan satu persatu yang telah membantu penulis dalam pelaksanaan maupu penyelesaian laporan PKL ini. Adhe Puspawari Hardhanny) yang telah banyak membantu dan memberi semangat. 16. 15. . Seluruh pegawai BBAP Situbondo khususnya pegawai Pembenihan Timur. Ir. Teman-teman BUPER’07 yang memberikan dukungan sehingga dapat terselesaikannya laporan PKL ini. Rekan-rekan yang melaksanakan magang dan PKL di BBAP Situbondo dari UMI. Galih Adi Pratama yang telah banyak membantu. Hangtuah. 13. Nining Khoirunniza.10. IPB. 14. Dian Respati. UNDANA.

........................... ..............................................1 Tinjauan Umum..................................3 Pemeliharaan Induk...... ..........................................3 Habitat.........................................................................................7 Teknik Pembenihan....................................................................................... 2........ 1......6 Kebiasaan Makan Larva ........................ DAFTAR TABEL..............…………………………........................................................... ........................................... ................... 2............................ ......................................................................................................................... DAFTAR LAMPIRAN..... RINGKASAN.................. 2... II ................................................................................. 1.......7. ............. 2........................................................................................... 2.............................. I PENDAHULUAN......................................... UCAPAN TERIMAKASIH ............................................................3 Manfaat.................. ............... 2...................................................................5 Perkembangan Embrio........................................................................................2 Morfologi................................ SUMMARY......2 Metode..................................... HALAMAN PENGESAHAN…………………………………………........... KATA PENGANTAR…………………………………………………............ 2.. 1.......DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL…………………………………………………… ......4 Reproduksi.1 Sarana Pembenihan...................... 2.............7..................1 Latar Belakang..................................................... TINJAUAN PUSTAKA...............7............................ 2........................................... DAFTAR GAMBAR....................................... i ii iii iv vi xiii ix xi xii xiii 1 1 2 3 4 4 5 5 6 7 7 8 9 9 9 ................... .................................... .................................................... HALAMAN PERSETUJUAN....... 2.... .......................2 Tujuan.......................

. 2.9................................................................1 Rasio pakan......8.... 2......................2 Frekuensi Pemberian pakan............................................4 Oksigen terlarut....7.....12............. 2.........................................................3 Waktu Pemberian Pakan.12.10 Pemberian Pakan................2 Kecerahan........................9.. 2........10..3 derajat keasaman.......6 Nitrit...............12 Penyakit........ 2.....................8............................7 Penetasan Telur....................7.8.........................................12................................................ 2........... 2....................................................... 2....................................................................................................... 13 2........................7.......... 2...8 Parameter Kualitas Air Pemeliharaan............... 2.................................................................................8..............7................................................. 10 10 10 11 12 13 2...............10............................... 2...........6 Virus.....9............................... 2................................ 2....................5 Caligus sp parasit golongan Crustacea............5 Seleksi Induk............................1 Waktu dan Tempat…………………………………….......2.........3 Cryptocaryonosis....... 2.. 25 25 ...1 Nannochloropsis oculata............................................................1 Suhu.................. 14 2...................5 Salinitas...............4 Sex Reserval.2 Vibrio anguillarum............................... 2....................2 Artemia spp............................................... 2.......................................................... 14 14 15 15 16 16 17 18 18 19 19 19 19 20 21 21 21 22 23 24 III PELAKSANAAN…………………………………………………….........8 Pemeliharaan Larva.................................................................. 2..........3 Rotifer......................................................11 Survival Rate............................. 2.............7........... 2.................................................................................. 2....................................................................................... 2..8.................................. 2.. 2.....12.4 Infestasi Trichodina sp.9 Penyediaan Pakan untuk Pemeliharaan Larva.....8..........10.................................1 Vibrio alginolyticus.........................12...............6 Pemijahan.................................. 3.................................. 2..................12....................................................................................

..1 Keadaan Umum Lokasi Praktek Kerja Lapang…………......... pencegahan hama dan penyakit……………………….................................. pengelolaan air………………………………………… c...... pemijahan alami.....................................................1 Persiapan Induk ……………………………………....................4 Pemanenan Telur..... 4.............. 4.....3................................. 3.......3................3...............................5 Penetasan Telur.......................................3.............. 3......................................3............................................3.....1.............. d............. Aerasi............... a............................. pemberian pakan……………………………………… b.............. C....................... b.......3 Struktur Organisasi...............................7 Kualitas air......... 4................................ B....... ciri-ciri induk matang gonad………………………….... Sarana Budidaya............... 4.. 4...... b. a.......3 Pemijahan............ A...................3....................2............2 Materi dan Metode Kerja………………………………….... Wawancara....................8 Pakan................ 4......2 Prasarana .. a.................................... a...........................................3 Teknik Pembenihan Kerapu Tikus………………………............................................................... c..................... D..... 4.......................... a........................ Observasi..... 4..........................................Perkembangan Larva................... b............................. Pemberian Pakan Alami......................... Sumber Tenaga Listrik.........................1....………………………………........2 Letak dan Keadaan Lokasi.............. Persiapan Wadah.................................................. 4............................ 4..... Air Laut .............4 Kepegawaian.. A...................................Penebaran dan Penetasan Telur.2 Sarana dan Prasarana Umum BBAP Situbondo......... pemijahan dengan rangsangan hormon......1........................................................................ 4.......... Air Tawar............................................................ c......... 4.................................... B............ Persiapan Wadah...1 Sejarah Berdirinya…………………………........ 4...... 4................1 Data Primer……………………………………........1 Sarana Umum......3......3 Metode pengumpulan ………………………………………....... 4...... 4.......................6 Pemeliharaan Larva dan Benih........................2 Data Sekunder……………………………………………… IV HASIL DAN PEMBAHASAN……………………………........................................1............ 25 25 25 26 26 27 27 28 28 28 29 30 32 32 32 32 33 34 34 35 35 36 36 36 38 40 41 42 43 44 44 45 46 48 48 50 51 52 52 53 55 56 57 ............................................................................................................. Partisipasi Aktif.. Perhitungan Derajat Penetasan(Hatcging Rate)...2 Seleksi Induk………………………………………………...................... 4..3.... b........... 3......2....... a..3.......................... Bangunan………………............................................3..............................................

.................................................................................................................. LAMPIRAN..1 Pemanenan Benih................................................. 5.............. 4.............. Kultur Pakan Alami.................. 4............................................................ dan Pemasaran........6 Analisis Usaha .... Pemberian Pakan Buatan.......... 4..........................2 Produksi dan Pemasaran.2 Kultur Rotifer..................................2 Saran.....................................................1 Simpulan.....................3 Artemia sp..............................................................4........................................1 Kultur Nannochloropsis sp.............................................a.9 Pengendalian Hama dan Penyakit.. c. c.............1 Masalah yang Dihadapi........... 57 57 58 60 60 61 61 63 64 65 65 66 67 67 68 68 V SIMPULAN DAN SARAN..................... DAFTAR PUSTAKA...........................................................................................5.................4 Pemanenan..... 4...................................... 4.................. a..........5 Masalah dan Kemungkinan Pengembangan Usaha........................................... 4... 4..................... Produksi....................................................................................2 Kemungkinan Pengembangan Usaha................... 70 70 71 72 74 . b................. a.................................................................................................4 Udang Rebon.....2 Rotifera...... 4................................................................. 5.3................................................1 Nannochloropsis sp........... c......... a.........................................4.....................................................5.......

Pakan alami untuk larva dan benih pada budidaya ikan dalam bentuk pakan alami dan pakan buatan (mikropartikel pelet). 2005). Bila potensi perikanan yang sangat melimpah ini dapat di manfaatkan secara optimal maka dapat meningkatkan produktifitas perikanan. Di Indonesia perkembangan budidaya ikan sangat mendukung karena di Indonesia merupakan wilayah berkepulauan yang banyak memiliki sumber daya ikan yang melimpah. pakan alami sangat diperlukan saat pemeliharaan larva. Pakan alami yang digunakan harus sesuai dengan bukaan mulut larva dan alat pencernaan larva kerapu dapat mencerna kandungan nutrisi yang ada pada pakan alami (khordi. Pada saat ini Ikan kerapu tikus memiliki nilai jual yang tinggi dan permintaan yang banyak sedangkan permintaan pasar akan ikan kerapu tikus belum dapat dipenuhi secara keseluruhan karena belum banyak pembudidaya. Ketersediaan benih ikan kerapu di alam tidak akan terancam punah dengan memanfaatkan dan mengembangkan suatu usaha untuk menghasilkan benih ikan kerapu tikus yang dapat memenuhi permintaan pasar (Salim. 2009). Kegiatan pembenihan ikan kerapu tikus. . Ikan kerapu tikus lebih memiliki nilai jual yang tinggi di banding dengan ikan kerapu yang lainnya. dan membantu menjaga kelestarian sumber daya hayati perikanan (Salim. meningkatkan devisa negara. 2009).I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Usaha – usaha pengembangan perikanan yang dilakukan di Indonesia mulai banyak dilakukan.

Lokasi budidaya yang ideal harus memenuhi persyaratanpersyaratan kualitas airnya. Permasalahan penyakit yang paling banyak pada ikan bersirip (finfish) dijumpai pada budidaya ikan kerapu. Telur yang telah dibuahi berjumlah lebih kurang 1. karang mati. DO. Dari jumlah diperkirakan hanya 30% saja yang dibuahi (Darwisito.000 butir. Kebanyakan ikan kerapu tinggal didaerah karang. 1. nitrit dan salinitas.200. Ikan kerapu juga sering ditemukan di daerah pasang dan di laut dengan kedalaman sekitar 40 cm (Salim. Jawa Timur. Jenis penyakit bakterial yang ditemukan pada ikan kerapu. dan apabila induk telah memijah harus segera dipindahkan ke tangki yang lain. kecuali sewaktu makan dan saat memijah. dan kimia meliputi : pH.Kerapu lebih suka menghindar dari sinar matahari langsung.2 Tujuan Tujuan dari praktek kerja lapang ini adalah: 1. 2002). 2009). sedangkan SR kerapu tikus 5%. Faktor kualitas air yang perlu dipertimbangkan untuk pemeliharaan pembenihan Kerapu tikus meliputi sifat fisika : suhu dan kecerahan. . atau karang berlumpur. diantaranya adalah penyakit borok pangkal sirip ekor dan penyakit mulut merah. Ikan Kerapu Tikus selama bertelur induk tidak boleh di beri pakan. Ikan kerapu ini merupakan jenis ikan laut yang dapat ditemukan didaerah subtropika dan tropika dari seluruh daerah lautan. Mengetahui tentang teknik pembenihan ikan kerapu tikus (Cromileptes altivelis) di Balai Budidaya Air Payau di Situbondo.

sehingga dapat lebih memahami dan mengatasi permasalahan yang timbul dalam usaha pembenihan ikan kerapu tikus (Cromileptes altivelis) di Balai Budidaya Air Payau di Situbondo. Mengetahui permasalahan yang sering dihadapi pada usaha pembenihan ikan kerapu tikus (Cromileptes altivelis) di Balai Budidaya Air Payau di Situbondo. Jawa Timur. Jawa Timur. . Memperoleh pengetahuan tentang teknik pembenihan ikan kerapu tikus (Cromileptes altivelis) di Balai Budidaya Air Payau di Situbondo. 1.2. 2.3 Manfaat Manfaat dari praktek kerja lapang ini adalah : 1. Jawa Timur. Dapat memadukan teori yang diperoleh dengan kenyataan yang terjadi dilapangan.

Pada ikan kerapu tikus yang masih muda. biasa juga disebut kerapu tikus(Cromileptes altivelis). mempunyai tubuh agak pipih dengan warna dasar abu-abu berbintik hitam. Lantaran warnanya yang menarik. klasifikasi ikan kerapu tikus adalah : Phylum Subphylum Class Subclass Ordo Subordo Genus Spesies : Chordata : Vertebrata : Osteichtyes : Actinopterigi : Percomorphi : Percoidea : Cromileptes : Cromileptes altivelis Kerapu bebek. (1940) dalam Ahmad (1991). ikan ini biasa ditempatkan di akuarium sebagai ikan hias (Khordi dan Andi Tamsil.1 Tinjauan Umum Menurut Weber and Beofort. 2010). dalam perdagangan internasional dikenal dengan nama polka-dot grouper atau hump-backed rocked. 2008) .II TINJAUAN PUSTAKA 2. bintik tersebut lebih besar dan lebih sedikit jumlahnya. Cromileptes altivelis (Octopus. Gambar 1. Kerapu Tikus.

semakin tua bertambah banyak.0 kali panjang standard ikan ( panjang standard ikan 12 – 37 cm). dan sirip. sisik pada lateral line berjumlah 54 – 60 dan pyloric 13. tubuh. A. bintik hitam lebih besar dengan jumlah bintik yang sedikit. Lubang hidung bagian posterior besar. Sirip punggung semakin melebar kebelakang. 2010). Ikan kerapu tikus termasuk dalam famili Serranidae. tubuhnya memanjang gepeng (compressed) dengan panjang tubuh 2. Warna ikan kerapu tikus coklat kehijauan dengan dengan bintik – bintik atau bulat – bulat coklat di kepala. tetapi yang lebih memiliki harga jual yang lebih tinggi dibandingkan dengan ikan kerapu jenis yang lainnya adalah ikan kerapu tikus (Cromileptes altivelis). sirip perut dengan 3 duri keras dan 10 duri lunak (Khordi dan Andi Tamsil.2. . leher bagian atas cekung dan semakin tua semakin cekung. Sisik punggung sangat halus dan licin (Salim. Pada kerapu bebek muda.2 Morfologi Ikan kerapu tergolong jenis ikan air laut yang berjual nilai tinggi. Pada sirip dorsal memiliki 10 duri keras dan 17 – 19 duri lunak. Panjang kepala seperempat panjang total. Bintik – bintik tersebut pada kerapu muda lebih besar dan sedikit. Seluruh permukaan tubuh kerapu bebek berwarna putih dilengkapi sirip renang berbentuk melebar serta moncong kepala lancip menyerupai bebek atau tikus. 2009).6 – 3. Lembaran operculum mempunyai pinggiran yang bergerigi tajam dan halus. Sedangkan sirip ekor memiliki 1 duri keras dan 70 duri lunak.

Sifat kerapu tikus umumnya soliter tetapi pada saat akan memijah berlangsung beberapa hari sebelumnya bulan purnama yaitu pada malam hari.0 – 40 m.5-2.0 m.2. Kerapu lebih suka menghindar dari sinar matahari langsung. 2010). setelah dewasa kerapu ke daerah perairan yang lebih dalam yaitu antara 7. Beberapa jenis . Pada umur 1.3 Habitat Ikan kerapu lebih sering terlihat menyendiri dan menyukai naungan sebagai tempat bersembunyi. transisi dari betina ke jantan terjadi setelah mencapai umur 2.5 . Ikan kerapu ini merupakan jenis ikan laut yang dapat ditemukan didaerah subtropika dan tropika dari seluruh daerah lautan. Pada kerapu tikus. Kebanyakan ikan kerapu tinggal didaerah karang.5 tahun ke atas.5 tahun. Ikan kerapu juga sering ditemukan di daerah pasang dan di laut dengan kedalaman sekitar 40 cm. 2. musim – musim pemijahan ikan kerapu terjadi pada bulan Juni – September dan November – Februari.5 tahun biasanya ikan masih berkelamin betina. berkelamin jantan (Khordi dan Andi Tamsil.3. dan spesiesnya. Dari hasil pengamatan di Indonesia. Transformasi dari dari betina ke jantan ini memerlukan waktu yang cukup lama dalam kondisi alami. Dalam siklus hidupnya kerapu muda hidup di perairan karang pantai dengan kedalaman 0. Adapun ikan-ikan yang berumur 2.umur. kecuali sewaktu makan dan saat memijah.4 Reproduksi Kerapu tikus memiliki sifat hermaprodit protogini yaitu perubahan kelamin (change sex) dari betina ke jantan dipengaruhi oleh ukuran.0-2.

Setelah tahap multi sel tahap berikutnya adalah blastula. mata belum berpigmen. cenderung menggerombol pada kondisi tanpa aerasi dan kuning telur tersebar merata. 2. Pada hari ke tiga mulai terjadi pigmentasi saluran pencernaan bagian atas dan bukaan mulut berukuran sekitar 125 µ. mulut dan anus belum terbuka.5 Perkembangan Embrio Berdasarkan pengamatan mikroorganisme dapat diketahui bahwa telur kerapu berbentuk bulat tanpa kerutan. Pembentukan sirip punggung mulai terjadi pada hari pertama. pada hari kedua sirip dada mulai terbentuk dan jaringan usus telah berkembang sampai ke anus. pembelahan sel pertama kali terjadi 40 menit setelah pembuahan. 2009). neorula. damn embrio.78 mm. Perkembangan tubuhnya semakin memanjang sedangkan kantong telur dan gelembung minyak semakin mengecil. Gerakan pertama embrio terjadi pada jam ke-16 setelah pembuahan selanjutnya telur menetas menjadi larva pada jam ke-19 pada suhu 27 – 29 oC (Salim. Telur kerapu transparan dengan diameter ± 850 mikron dan tidak memiliki ruang perivitellin. grastula. Pembelahan sel berikutnya berlangsung 15 – 30 menit sampai mencapai multi sel salama 2 jam 25 menit.70 – 1.kerapu mempunyai musim pemijahan 6 – 8 kali/tahun sedangkan pemijahan pertama 1 – 2 kali/tahun (Salim. Perkembangan embrional telur sejak pembuahan sampai penetasan membutuhkan kurang lebih 19 jam. 2009). Dan hari ke empat kuning telur telah . 2.6 Kebiasaan Makan Larva Pada kerapu tikus menetas mempunyai panjang total 1.

sedangkan sisanya tidak mampu lagi memangsa pakan yang tersedia. 2009). Ikan kerapu tikus bersifat karnivora terutama larva molusca. dapat pula terjadi karena kesalahan dalam menentukan jadwal pemberian pakan dan rendahnya mutu pakan (Salim. Setelah itu mendapatkan makan secara eksogenus pada hari ke tiga dengan mulai terbukanya mulut. 2009). Ikan kerapu biasanya mencari makan dengan cara menyergap mangsanya dari tempat persembunyiannya.habis terabsorbsi. krustacea kecil.7 Teknik pembenihan Menurut Anonim (2010) pada teknik pembenihan ada beberapa tahap untuk melaksanakannya berupa: . kopepoda. Kematian yang terjadi pada larva hari ke lima dan seterusnya dapat terjadi karena disebabkan oleh suatu keadaan hanya 50 % larva yang mampu makan pada kondisi dimana jumlah pakan optimal. Sedangkan untuk ikan kerapu tikus yang dewasa menyukai ikan – ikan kecil. krustacea dan cepalophoda. Pada periode perkembangan larva kerapu tikus sampai tahap metamorfosis penuh membutuhkan waktu 35 – 40 hari pada suhu 27 . 2. Setelah telur menetas sampai dengan hari ke tiga larva dapat makan secara endragenus yaitu dengan mengabsorsi kuning telur yang di bawanya. Sesuai dengan bukaan mulut ikan kerapu tikus. Ikan kerapu sebagai ikan karnivora juga sebagai ikan pemangsa yang aktif bergerak pada malam hari.29 ºC (Salim. rotifera. dan zooplankton. rotifera merupakan pakan pertama. Ikan kerapu memiliki kebiasaan makan pada siang hari dan malam hari dan lebih aktif pada waktu fajar dan senja hari.

Bak penetasan sekaligus juga merupakan bak pemeliharaan larva yang berukuran 4 x 1 x 1 m 3 terbuat dari beton.Sarana Pembenihan 1.Metode Metode yang digunakan adalah manipulasi lingkungan.3. kadar garam. kedalaman air dan lain-lain. 3. sedangkan pada musim pemijahan diturunkan menjadi 1%. Untuk merangsang terjadinya perkawinan antara jantan dengan induk betina matang kelamin digunakan metoda manipulasi lingkungan di bak terkontrol.1. Pemijahan mengikuti fase peredaran bulan.15 mg/ekor/minggu. Pakan yang diberikan berupa ikan rucah segar berkadar lemak rendah. 2. Kurungan apung untuk pemeliharaan induk berukuran 3 x 3 x 3 m3. takaran pakan yang diberikan sebesar 3 5% dari total berat badan ikan/hari.10 kg/m 3 . Disamping itu diberikan pula vitamin E dengan dosis 10 . Diluar pemijahan ikan. 2010).Pemeliharaan Induk Induk ikan kerapu yang dipijahkan dipelihara dengan padat penebaran induk 7.7. (Anonim. 2.2.5 . (Anonim. Bak pemijahan dengan kapasitas 100 ton. 2. berbentuk empat persegi panjang (Anonim. 2010). Teknik pemijahan dengan manipulasi lingkungan ini dikembangkan berdasarkan pemijahan ikan kerapu di alam.7. .2. pada saat bulan terang atau bulan gelap.7. 2010). yaitu dengan rangsangan atau kejutan faktor-faktor lingkungan seperti suhu.

Sex reversal Kerapu termasuk ikan yang "hermaprodit protogyni". garis tengah (diameter) telur diatas 450 mikron.4. Sel kelamin betina berubah menjadi sel kelamin jantan pada umur 4 tahun dengan panjang tubuh sekitar 70 cm dan berat 11 kg.7. Induk kerapu matang kelamin dipindahkan ke bak pemijahan yang sebelumnya telah diisi air laut bersih dengan ketingian 1.2. diikuti dengan penambahan multivitamin. Pemberian hormon testosteron dilakukan secara oral melalui makan setiap minggu. 2010). (Anonim. kemudian dihisap. yaitu pada kehidupan awal belum ditentukan jenis kelaminnya. 2. Takaran yang diberikan adalah : Hormon testosteron 2 mg/kg induk Multivitamin 10 mg/kg induk.5 m dan salinitas + 32 ‰.Seleksi Induk Kematangan kelamin induk jantan ikan kerapu diketahui dengan cara mengurut bagian perut ikan (stripping) ke arah awal sperma yang keluar warna putih susu dan jumlahnya banyak diamati untuk menentukan kualitasnya. Pemijahan 1. yaitu memasukkan selang plastik ke dalam lubang kelamin ikan. Ada kenyataannya lebih banyak ditemui ikan kerapu jantan atau mempercepat perubahan kelamin dari betina ke jantan dapat dipacu/dirangsang dengan hormon testosteron. Sel kelamin betina terbentuk setelah berumur 2 tahun dengan panjang 50 cm dan berat 5 kg.5. 2.7. (Anonim. 2010). Kematangannya kelamin induk betina diketahui dengan cara kanulasi. Telur yang diperoleh diamati untuk mengetahui tingkat kematangannya.7. .6.

Penetasan telur Menurut (Anonim.200. 2010).bak pemeliharaan larva.000 IU/kg induk Puberogen 150 . Manipulasi lingkungan dilakukan menjelang bulan gelap yaitu dengan cara menaikkan dan menurunkan permukaan/tinggi air setiap hari selama 5-7 jam. Takaran hormon yang diberikan : o o HCG 1. berbentuk empat persegi panjang dengan ukuran 4 x 1 x 1 m³ . perlu dipersiapkan dahulu dengan . Tiga hari sebelum bak penetasan/bak pemeliharaan larva digunakan. Pemijahan umumnya terjadi pada malam hari antara jam 22. Bila diketahui telah terjadi pemijahan. 2010) bak yang dipergunakan untuk penetasan telur sekaligus juga merupakan bak pemeliharaan larva.7.00 .000 butir.5 m). dan apabila induk telah memijah harus segera dipindahkan ke tangki yang lain.24. 2. Setelah 7 jam permukaan air dikembangkan ke possisi semula (tinggi air 1. 5. Rangsangan hormonal induk kerapu matang kelamin disuntik dengan hormon Human Chorionic Gonadotropin (HCG) dan Puberogen untuk merangsang terjadinya pemijahan. Perlakuan ini dilakukan terus menerus sampai induk memijah secara alami.225 RU/kg induk 4. terbuat dari beton.00 WIB. telur segera dipanen dan dipindahkan ke bak penetasan. Telur yang telah dibuahi berjumlah lebih kurang 1. (Anonim.2.000 . Pengamatan pemijahan ikan dilakukan setiap hari setelah senja sampai malam hari. 3.2.7. Ikan Kerapu Tikus selama bertelur induk tidak boleh di beri pakan.

cara dibersihkan dan dicuci hamakan memakai larutan chlorine (Na OCI) 50 - 100 ppm. Setelah itu dinetralkan dengan penambahan larutan Natrium thiosulfat sampai bau yang ditimbulkan oleh chlorine hilang. Air laut dengan kadar garam 32 ‰ dimasukkan ke dalam bak, satu hari sebelum larva dimasukkan dengan maksud agar suhu badan stabil berkisar antara 27 - 28°C. Sebelum telur ditetaskan perlu direndam dalam larutan 1 - 5 ppm acriflavin untuk mencegah serangan bakteri. Telur hasil pemijahan dikumpulkan dengan sistim air mengalir. Telur yang dibuahi akan mengapung dipermukaan air dan berwarna jernih (transparan). Telur akan menetas dalam waktu 18 - 22 jam setelah pemijahan pada suhu 27 - 28°C dan kadar garam 30 - 32 ‰. Telur yang telah dibuahi berjumlah lebih kurang 1.200.000 butir. Jumlah telur diperkirakan hanya 30% saja yang dibuahi (Suria D, 2002). Telur yang telah dibuahi tidak berwarna (transparan) sedangkan yang tidak dibuahi dan yang mati berwarna putih susu. 2.7.8 Pemeliharaan Larva Larva kerapu yang baru menetas mempunyai cadangan makanan berupa kuning telur. Pakan ini akan dimanfaatkan sampai hari ke 2 (D2) setelah menetas dan selama kurun waktu tersebut larva tidak memerlukan dari luar. Umur 3 hari (D3) kuning telur mulai terserap habis, perlu segera diberi pakan dari luar berupa Rotifera Brachionus Plicatilis dengan kepadatan 1 - 3 ekor/ml. Disamping itu ditambahkan pula Chlorella sp dengan kepadatan antara 50.000-100.000 sel/ml. Pemberian pakan ini sampai larva berumur 16 hari (D16). Pada hari kesembilan (D9) mulai diberi pakan naupli artemia yang baru menetas dengan kepadatan 0,25

- 0,75 ekor/ml media. Pemberian pakan naupli artemia ini dilakukan sampai larva berumur 25 hari (D25) dengan peningkatan kepadatan hingga mencapai 2 - 5 ekor/ml media. Disamping itu pada hari ke tujuh belas (D17) larva mulai diberi pakan Artemia yang telah berumur 1 hari, kemudian secara bertahap pakan yang diberikan diubah dari Artemia umur 1 hari ke Artemia setengah dewasa dan akhirnya dewasa sampai larva berumur 50 hari (Anonim, 2010).

2.8 Parameter Kualitas Air Pemeliharaan Lokasi budidaya yang ideal, selain pertimbangan umum di atas, juga harus memenuhi persyaratan-persyaratan kualitas airnya. Faktor kualitas air yang perlu diperhatikan untuk pemeliharaan pembenihan Kerapu tikus meliputi sifat fisika : Suhu dan Kecerahan, dan kimia meliputi : pH, DO dan Salinitas. Pemenuhan akan kebutuhan air harus diupayakan agar produksi benih ikan laut yang berkualitas, dalam jumlah yang cukup, dan kontunu dapat berhasil (Ghufran, M dan Andi Tamsil. 2010). 2.8.1 Suhu Suhu mempengaruhi aktivitas metabolisme organisme, karena itu penyebaran organisme baik di lautan maupun di perairan air tawar dibatasi oleh suhu perairan tersebut. Secara umum laju pertumbuhan meningkat sejalan dengan kenaikan suhu, dapat menekan kehidupan biota bahkan dapat menyebabkan kematian bila peningkatan suhu sampai ekstrem (drastis) (Kordi, 2005). Suhu optimal untuk pertumbuhan kerapu tikus adalah 27oC-32oC (Octopus, 2008).

2.8.2 Kecerahan Perairan yang memiliki tingkat kecerahan sangat tinggi dapat menembus ke dasar perairan adalah indikator yang perairannya cukup jernih dan sangat baik untuk digunakan sebagai lokasi pembesaran. Kecerahan perairan yang sangat cocok untuk pembesaran kerapu bebek adalah lebih dari 2 meter, artinya secara visual dapat dilihat benda-benda di dalam air yang kedalamannya hingga lebih dari 2 meter (Octopus, 2008). 2.8.3 Derajat Keasaman (pH) Pada pH air dapat mempengarui tingkat kesuburan perairan karena mempengaruhi kehidupan jasad renik. Perairan asam akan kurang produktif, malah dapat membunuh ikan. Pada saat pH rendah kandungan oksigen terlarut akan berkurang, sebagai akibatnya konsumsi oksigen menurun, aktifitas pernapasan naik dan selera makan akan berkurang (Kordi, 2005). Kerapu tikus sangat baik bila dipelihara pada air laut dengan pH 7-9. 2.8.4 Oksigen Terlarut (DO) Konsentrasi oksigen dalam air dapat berpengaruh terhadap pertumbuhan dan konversi pakan. Konsentrasi oksigen terlarut merupakan salah satu faktor yang membatasi bagi ikan yang dibudidayakan, karena sangat diperlukan untuk kehidupan ikan. Pertumbuhan ikan-ikan laut, kandungan oksigen terlarut dalam air minimal 4 ppm, sedangkan kandungan optimum antara 5-6 ppm (Kordi, 2005), menambahkan bahwa ikan Kerapu tikus dan macan dapat hidup optimal pada konsentrasi oksigen lebih dari 5 ppm.

Hal ini akan mengakibatkan mikroba usus mengubah nitrat menjadi nitrit sebagai senyawa yang lebih berbahaya.2. . Aktifitas mikroba di tanah atau air menguraikan sampah yang mengandung nitrogen organik pertama-pertama menjadi ammonia. yang menyebabkan kemampuan hemoglobil darah untuk mengikat oksigen rendah.6 Nitrit Nitrat (NO3-) dan nitrit (NO2-) adalah ion-ion anorganik alami. Konsentrasi nitrit maximum yang diperbolehkan dalam kegiatan budidaya ikan adalah < 0. 2007).8. Karena itu.dalam darah memicu terjadinya oksidasi Fe2+. 2008).5 Salinitas Lokasi yang berdekatan dengan muara tidak dianjurkan karena terpengaruh oleh masuknya air tawar dari sungai sehingga salinitas dapat berubah dan akan mempengaruhi pertumbuhan dan nafsu makan ikan yang dipelihara. yang merupakan bagian dari siklus nitrogen. maka banyaknya zat makanan akan menghambat absorbsi dari kedua zat ini dan baru akan diabsorbsi di traktus digestivus bagian bawah. kemudian dioksidasikan menjadi nitrit dan nitrat. 2. NO2. Apabila nitrat dan nitrit yang masuk bersamaan dengan makanan.8. Salinitas yang ideal untuk pembesaran ikan Kerapu tikus adalah 30-33 ppt (Octopus.06 mg/l (Wahyudhy H. pembentukan nitrit pada intestinum mempunyai arti klinis yang penting terhadap keracunan.

P. Jasad pakan untuk keperluan ini meliputi alga (Nannochloropsis oculata). rotifera (Branchionus sp) yang dipeoleh dari usaha kultur massal (Pramu S dan Mustahal.9 Penyediaan Pakan untuk Pemeliharaan Larva Sebelum mengawinkan ikan. artemia. Mn.1 Nannochloropsis oculata Domain Kingdom Phylum Class Genus Spesies : Eukaryota : Chomalveolata : Heterokontophyta : Eustigmatophyceae : Nannochloropsis : Nannochloropsis oculata Membudidaya Chlorella dapat diambil langsung dari tambak budidaya. 2002). Jasad pakan merupakan faktor penentu dalam keberhasilan pemeliharaan larva. Salinitas air laut yang diharapkan adalah 2528 ppt. S. S dan . pupuk yang digunakan harus mengandung unsur hara yang dibutuhkan seperti N.2.5 liter-1 liter air yang akan disiapkan sebagai media tumbuh plankton sebelumnya disterilkan terlebih dahulu dengan menggunakan klorine kemudian air laut di biarkan selama 3-5 hari sampai residu klorine hilang. Zn. dengan mengatur rasio N/P supaya Nannochloropsis dapat mendominasi yang lainnya. Budidaya plankton dilakukan pada botol dengan volume 0. 2. persediaan pakan berupa jasad pakan dan pakan buatan yang nantinya diberikan kepada larva harus siap dalam jumlah dan mutu gizinya. Air laut tersebut kemudian dimasukkan kedalam botol-botol yang telah disiapkan. K dan Mg sebagai unsure hara makro serta unsure hara mikro Fe.9. selanjutnya ditambah pupuk cair sebanyak 1 ml/lt.

Kista-kista yang tidak menetas sebaiknya tidak dicampur dengan nauplii karena bila diberikan sebagai pakan larva maka kista akan termakan. Setelah media siap bibit plankton dimsukkan 1/3 bagian dan siap dipanen 5-6 hari (Edhy W dkk. Jangka waktu penetasan tergantung pada asal produk kista artemia. Ukuran panjang nauplius artemia yang baru ditetaskan sekitar 200-300 atau tergantung pada strainnya.2 Artemia sp Kingdom Class Ordo Family Genus Spesies : Animalia : Crustacea : Anostraca : Artemidae : Artemia : Artemia sp Artemia dalam bentuk nauplius mudah diperoleh. 1995). . sedangkan kotoran akan mengapung. 2. 2003). tetapi tidak dapat dicerna oleh larva (Siregar. Baru setelah itu kumpulan nauplii artemia yang tampak hidup atau bergerak disipon sambil disarin dan dicuci. Selanjutnya. Penetasan kista dilakukan dengan menggunakan bak-bak kerucut yang berisi air laut dan dipasok aerasi kuat padatingkat 10-20 liter per menit. yaitu dengan cara menetaskan kistanya yang tersedia dipasar dalam bentuk kemasan kalengan. Aerasi dihentikan dan bagian bawah wadah diberi sinar agar nauplii mengumpul didasar. nauplii dan kotoran dicuci dengan air laut dan dimasukkan ke dalam 15 menit.9. Pemisahan nauplius artemia dari cangkang serta kista yang tidak menetas dilakukan dengan cara mengumpulkan nauplii dan kotoran lalu disaring dengan saringan 120µ. Komposisi 5 gram kista artemia per liter cukup untuk menetaskan kista tersebut. Abbas.sebagainya.

Branchionus memiliki kecepatan pertumbuhan dan reproduksi tinggi. 1995).10 Pemberian Pakan Pada pemberian pakan perlu beberapa hal yang diperhatikan. seperti rasio pakan. kepala. Siregar. Organisme rotifer berbentuk simetris bilateral manyerupai piala. Tubuh yaitu. 2. Secara umum dikenal 2 metode kultur rotifera yaitu metode panen harian lebih praktis dan mudah sedangkan pada metode transfer diperlukan bak kultur yang lebih banyak. dan kaki / ekor. . badan. 2. betina memproduksi 20 butir telur atau lebih selama 7-10 hari masa hidupnya. Abbas (1995).9. Untuk tujuan ini dilakukan dengan memanipulasi lingkungan hidupnya agar artemia terpaksa melangsungkan perkembangbiakan secara ovipar uang menghasilkan telur (Siregar. frekuensi pemberian pakan dan waktu pemberian pakan.3 Rotifer Phyllum Kelas Ordo Famili Genus Spesies : Avertebrata : Eurotaria : Ploima : Brachionidae : Brachionus : Brachionus sp. tetapi secara teknis siste atermia dapat diproduksi secara massal dalam tempat (wadah) yang terkendali. Abbas. Kultur missal rotifera dilakukan pada bak volume 5-12 m3. Pada kondisi normal. namun rotifera yang dihasilkan dari metode transfer lebih bersih. Rotifer merupakan salah satu jenis rotifer yang biasa diproduksi secara massal.Meskipun secara ekonomis kurang menguntungkan. Kultur dilakukan dalam ruang terbuka yang cukup mendapatkan cahaya matahari.

3. Frekuensi Pemberian Pakan Frekuensi pemberian pakan yang tepat akan menghasilkan pertumbuhan yang optimal dan penggunaan pakan yang efisien. Rasio pemberian pakan yang optimal ditentukan oleh jenis ikan yang dipelihara.10.200. dan apabila induk telah memijah harus segera dipindahkan ke tangki yang lain. 2. Waktu Pemberian Pakan Waktu pemberian pakan di sesuaikan dengan sifat. Telur yang telah dibuahi berjumlah lebih kurang 1. 2009).10.10. Rasio Pakan Rasio pemberian pakan harus tepat agar pakan yang di berikan dapat efisien dikonvesikan oleh ikan/udang sehingga kelangsungan hidup yang optimal.000 butir.2. Pada ikan yang hidup di dasar perairan dan bergerak altif pada malam hari seperti ikan kerapu.11 Survival Rate Survival Rate atau SR adalah tingkat kelangsungan hidup.sifat makan organisme yang dipelihara. 2009). Pakan yang dimakan ikan kerapu telah dicerna 95% setelah 36 jam (Salim.2. Frekuensi pemberian pakan yang optimal tergantung dari jenis ikan yang dipelihara. Ikan Kerapu Tikus selama bertelur induk tidak boleh di beri pakan. Pada pemelihara ikan. pemberian pakan setiap dua hari sekali.1. 2. waktu pemberian pakan biasanya dilakukan pagi dan sore hari (Salim. Dari jumlah diperkirakan hanya 30% saja . Jenis ikan/udang yang aktif bergerak memerlukan lebih banyak makanan dibandingkan jenis ikan yang bergerak pasif. rasio pemberian pakan kerapu 4 6% (Salim. 2. 2009).

SR kerapu tikus 5% (Darwisito. Hasil isolasi dan identifikasi bakteri ditemukan beberapa jenis bakteri yang diduga berkaitan erat dengan kasus penyakit bakterial. V anguillarum dan V fuscus. yaitu Vibrio alginolyticus. . Jenis penyakit bakterial yang ditemukan pada ikan kerapu. sebaliknya telur yang tidak terbuahi akan tenggelam didasar tangki. 2007). Telur yang terbuahi melayang atau terapung pada salinitas 33 permil.12 Penyakit Permasalahan penyakit yang paling banyak pada ikan bersirip (finfish) dijumpai pada budidaya ikan kerapu. Telur yang telah dibuahi tidak berwarna (transparan) sedangkan yang tidak dibuahi dan yang mati berwarna putih susu. 2009). diantaranya adalah penyakit borok pangkal sirip ekor dan penyakit mulut merah. rumus untuk mencari SR adalah (Jatilaksono.yang dibuahi. V algosus. Diantara jenis bakteri tersebut bakteri V alginolyticus dan V fuscus merupakan jenis yang sangat patogen pada ikan kerapu tikus (Salim. 2007): SR = Nt/No x 100% Keterangan : SR : Survival Rate Nt : Jumlah ikan akhir (saat pemanenan) No : Jumlah ikan awal (saat penebaran) 2.

3.2. Stadia parasit yang menginfeksi . 2. sukrosa dan maltosa. Pengendalian penyakit dapat dilakukan dengan penggunaan berbagai jenis antibiotika seperti Chloramfenikol. 2009). membentuk kolom berukuran 0.2009).12. Diagnosis penyakit dapat dilakukan dengan melakukan isolasi dan identifikasi bakteri. laktosa.8-1. Sifat lain yang tidak kalah penting adalah sifat proteolitik yang berkaitan dengan mekanisme infeksi bakteri (Salim. motil.Vibrio alginolyticus Vibrio alginolyticus dicirikan dengan pertumbuhannya yang bersifat swarm pada media padat non selektif. V anguillarum merupakan spesies yang kurang patogen terhadap ikan air payau. Ciri lain adalah gram negatif. bentuk batang. Pada uji patogenisitas ikan kerapu tikus ukuran 5 gram yang diinfeksi bakteri dengan kepadatan tinggi hingga 108 CFU/ikan hanya mengakibatkan mortalitas 20%. Bakteri ini merupakan jenis bakteri yang paling patogen pada ikan kerapu tikus dibandingkan jenis bakteri lainnya. eritromisina dan oksitetrasiklin.2 cm yang berwarna kuning pada media TCBS.2. 2. Penumbuhan bakteri pada media selektif TCBS akan didapatkan koloni yang kekuningan dengan ukuran yang hampir sama dengan koloni V alginolyticus akan tetapi bakteri ini tidak tumbuh swarm pada media padat non-selektif seperti NA (Salim.Cryptocaryonosis Penyakit ini sering ditemukan pada ikan kerapu bebek dan macan.Vibrio anguillarum Dibandingkan dengan V alginolyticus. Kematian masal pada benih diduga disebabkan oleh infeksi bakteri V alginolyticus.1. fermentasi glukosa.12. dengan tanda ikan yang tersering terlihat bercak putih.12.

Infestasi Trichodina sp Penempelan Trichodina pada tubuh ikan sebenarnya hanya sebagai tempat pelekatan (substrat). Trichodina yang merupakan . dan dilengkapi dengan silia. produksi mukus yang berlebihan.3-0. 2. perendaman ikan dalam air bersalinitas 8 ppt selama beberapa jam dan memindahkan ikan yang sudah diperlakukan ke dalam wadah baru bebas parasit (Salim. Pada kondisi ini maka Trichodina merupakan ektoparasit sejati. mengerok dari lendir. Tetapi karena pelekatan yang kuat dan terdapatnya kait pada cakram. Perlakuan bahan kimia pengendali parasit dapat dilakukan seperti perendaman dalam larutan formalin 25 ppm. Pelekatan pada insang juga seringkali disertai luka dan sering ditemukan set darah merah dalam vakuola makanan Trichodina. sementara parasit ini mengambil partikel organik dan bakteri yang menempel di kulit ikan.4. kehilangan nafsu makan sehingga ikan menjadi kurus. Tanda klinis ikan yang terserang adalah ikan seperti ada gangguan pernafasan. Erosi (borok) dapat terjadi karena infeksi sekunder dari bakteri.ikan dan menimbulkan penyakit adalah disebut trophont berbentuk seperti kantong atau genta berukuran antara 0.12.5 mm. tetapi untuk lebih memantapkan (diagnosis definitif) perlu dilakukan pengamatan secara mikroskopis dengan cara memotong insang.Diagnosis dapat dilakukan dengan melihat gejala seperti adanya bercak putih. terutama pada benih dan ikan muda. kadang disertai dengan hemoragi. 2009). mengakibatkan seringkali timbul luka. Serangan penyakit dapat diatasi dengan penjagaan kualitas air. bercak putih pada kulit.

berukuran cukup besar sehingga dapat diamati dengan tanpa bantuan mikroskop. atau mengambil lembaran insang dan melakukan pemeriksaan secara mikroskopis. 2. Penempelan ektoparasit ini dapat menimbulkan luka. dan akan lebih parah lagi karena ikan yang terinfeksi dengan parasit sering menggosok-gosokkan tubuhnya ke dinding bak atau substrat keras lainnya. Perlakuan ikan terserang parasit cukup mudah. contohnya adalah Trichodinella. Perlakuan . ditemukan baik pada induk ikan maupun di tambak. yang didapatkan pada ikan air payau merupakan spesies yang memiliki toleransi yang luas terhadap kisaran salinitas.ektoparasit pada ikan air laut mempakan spesies yang bersifat sebetulnya lebih bersifat komensal daripada ektoparasit (Salim. karena mewabahnya penyakit berkaitan dengan rendahnya kualitas lingkungan.2009). Diagnosis dapat dilakukan dengan cara melakukan pengerokan (scraping) pada kulit. produksi lendir yang berlebihan dan terlihat kurus.12.Pencegahan terhadap wabah penyakit adalah dengan cara pengendalian kualitas lingkungan. yaitu hanya merendamnya dalam air tawar selama beberapa menit. 2009).Caligus sp parasit golongan Crustacea Parasit jenis ini sering. Timbulnya luka akan diikuti dengan infeksi bakteri Caligus sp. Ikan yang terserang Trichodina biasanya warna tubuhnya terlihat pucat. Trichodina yang menempel di insang umunmya berukuran lebih kecil dibandingkan yang hidup di kulit.5. Perlakuan terhadap ikan yang terinfeksi oleh parasit adalah dengan cara perendaman dalam larutan formalin 200-300 ppm (Salim. Trichodina spp.

menimbulkan tonjolan pada daerah sirip atau kulit (nodul)yang dapat terjadi secara sata-satu atau kelompok.6 Virus Jenis viral atau virus yang telah teridentifikasi menyerang ikan laut adalah Iridovirus/ DNA. 2009). Virus lain yang menyerang ikan laut adalah Nodavirus. 2010).dengan formalin 200-250 ppm juga cukup efektif. Penggunaan bahan seperti Triclorvon (Dyvon 95 SP) hingga 2 ppm dapat mematikan parasit (Salim. Virus ini menyebabkan hypertrophy(penebalan) dari sel-sel jaringan ikan. 2. sehingga ikan yang terserang penyakit ini sebaiknya dimusnahkan agar tidak menular ke ikan lain (Khordi. yaitu virus penyebab VNN (Viral Nervous Necrosis). VNN merupakan virus yang mematikan. baik iridovirus maupun nodavirus. . 2010). Hingga kini belum ditemukan obat yang efektif untuk mengatasi virus. terutama menyerang larva dan juwana ikan laut (Khordi.12.

faktual dan akurat mengenai fakta-fakta dan sifat-sifat populasi atau daerah tertentu. 3. 3. Kecamatan Panarukan. Kabupaten Situbondo.III PELAKSANAAN 3. Propinsi Jawa Timur (Lampiran 1).1 Data Primer Data Primer merupakan data yang diperoleh langsung dari sumbernya. Suryabrata (1993) mengatakan bahwa metode deskriptif adalah metode untuk membuat pencandraan secara sistematis.3 Metode Pengumpulan Data Data yang diambil dalam Praktek Kerja Lapangan ini berupa data primer dan data sekunder yang yang diperoleh melalui beberapa metode atau cara atau cara pengambilan.2 Metode Kerja Metode yang digunakan dalam praktek kerja lapang ini adalah metode deskriptif. Kegiatan ini dilaksanakan mulai pertengahan 19 Juli – 31 Agustus 2010.3.1 Tempat dan Waktu Praktek kerja lapang ini akan dilaksanakan di Balai Budidaya Air Payau terletak di Desa Pecaron. yaitu metode yang menggambarkan keadaan atau kejadian pada suatu daerah tertentu. diamati dan dicatat untuk pertama kalinya melalui prosedur dan teknik . 3.

Dalam proses wawancara dengan menggunakan pedoman umum wawancara ini. pemeliharaan dan pemanenan.pengambilan data yang berupa interview. partisipasi aktif maupun memakai instrumen pengukuran yang khusus sesuai tujuan (Azwar. bahkan mungkin tidak terbentuk pertanyaan yang eksplisit (Patton. 1998). 1998) Patton dalam Poerwandari (1998) menjelaskan pedoman wawancara digunakan untuk mengingatkan interviewer mengenai aspek-aspek apa yang harus . Wawancara memerlukan komunikasi yang baik dan lancar antara peneliti dengan subyek sehingga pada akhirnya bisa didapatkan data yang dapat dipertanggungjawabkan secara keseluruhan (Nazir. Observasi Observasi atau pengamatan secara langsung adalah pengambilan data dengan menggunakan indera mata tanpa ada pertolongan alat standart lain untuk keperluan tersebut (Nazir. interview dilengkapi pedoman wawancara yang sangat umum serta mencantumkan isu-isu yang harus diliput tanpa menentukan urutan pertanyaan. Wawancara Wawancara merupakan cara mengumpulkan data dengan cara tanya jawab sepihak yang dikerjakan secara sistematis dan berlandaskan pada tujuan penelitian. B. pembuatan pupuk. observasi. penebaran bibit. pengisian media. A. 1998). Pada Praktek Kerja Lapang ini wawancara akan dilakukan dengan menggunakan pedoman wawancara. Observasi pada Praktek Kerja Lapang ini dilakukan terhadap berbagai hal yang berhubungan dengan kegiatan pembenihan meliputi persiapan alat dan wadah budidaya. 1988).

pustaka-pustaka. sekaligus menyesuaikan pertanyaan dengan konteks aktual saat wawancara berlangsung. pengisian media.1998). Data ini dapat diperoleh dari data dokumentasi. juga menjadi daftar pengecek (check list) apakah aspek-aspek relevan tersebut telah dibahas atau ditanyakan. Partisipasi Aktif Partisipasi aktif adalah keterlibatan dalam suatu kegiatan yang dilakukan secara langsung di lapangan (Nazir. Kegiatan tersebut diikuti secara langsung mulai dari persiapan alat dan wadah budidaya. dinas perikanan. lembaga penelitian. penebaran bibit. . 1988).dibahas. C. Dengan pedoman demikian interviwer harus memikirkan bagaimana pertanyaan tersebut akan dijabarkan secara kongkrit dalam kalimat tanya.3.2 Data Sekunder Data sekunder adalah data yang diperoleh dari sumber tidak langsung dan telah dikumpulkan serta dilaporkan oleh orang diluar dari penelitian itu sendiri (Azwar. masyarakat dan pihak lain yang berhubungan dengan usaha pembenihan ikan Kerapu Tikus. pemeliharaan dan pemanenan serta kegiatan lainnya yang yang berkaitan dengan Praktek Kerja Lapang yang dilakukan. Kegiatan yang dilakukan adalah pembenihan ikan Kerapu Tikus. 3. laporan-laporan pihak swasta.

Sub Senter Udang Windu ini terletak di Desa Blitok. Dengan beban tugas dan tanggung jawab yang semakin berat. Pada awalnya balai ini bernama Proyek Sub Senter Udang Windu Jawa Timur yang pada saat itu masih berupa fasilitas pemeliharaan benur udang windu di bawah naungan Direktorat Jenderal Perikanan. Loka Balai Budidaya Air Payau Situbondo terdiri dari tiga divisi meliputi divisi ikan. Jawa Tengah.IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4. Kabupaten Situbondo dan merupakan cabang dari BBAP Jepara. Departemen Pertanian. Loka Balai Budidaya Air Payau Situbondo merupakan Unit Pelaksana Teknis (UPT) Direktorat Jenderal Perikanan di bidang pengembangan produksi budidaya perikanan air payau yang berada di bawah dan bertanggung jawab kepada Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya. Kecamatan Mlandingan. Sub Senter Udang Windu ini kemudian melepaskan diri dari Balai Budidaya Air Payau Jepara dan berganti nama menjadi Loka Balai Budidaya Air Payau Situbondo yang ditetapkan pada tanggal 18 April 1994 melalui Surat Keputusan Menteri Pertanian Nomor: 264/Kpts/OT.1 Sejarah Berdirinya Balai Budidaya Air Payau Situbondo didirikan pada tahun 1986. maka pada tanggal 1 Mei 2001 status Loka Balai Budidaya Air Payau dinaikkan menjadi Balai Budidaya Air Payau .1 Keadaan Umum Lokasi Praktek Kerja Lapang 4.210/4/94.1. divisi udang dan divisi budidaya.

Lokasi Balai Budidaya Air Payau (BBAP) Situbondo ini berbatasan dengan: a. 260/MEN/2001. . 4. b. 2. Kecamatan Mlandingan sekitar 10 Km ke arah Barat dari kantor utama dengan luas areal 1.1. Unit Blitok. Jawa Timur. Central Pertiwi Bahari (CPB). Sebelah Barat berbatasan dengan usaha pembenihan Kelola Benih Ungul (KBU) dan pemukiman penduduk.2 Letak dan Keadaan Lokasi Balai Budidaya Air Payau (BBAP) Situbondo teletak di jalan raya Pecaron. KEP. Panarukan Situbondo.Situbondo berdasarkan Surat Keputusan Menteri Perikanan dan Kelautan No. Sebelah Timur berbatasan dengan hatchery udang milik PT. Divisi udang terletak di 3 lokasi yang berbeda yaitu : 1. BBAP ini terdiri dari 3 divisi yaitu : divisi udang.39 Ha. 3. Unit Tuban yang terletak di Kabupaten Tuban dengan luas areal 7 Ha. Divisi budidaya terletak di Desa Pulokerto Kecamatan Kraton Kabupaten Pasuruan dengan luas areal 30 Ha yang merupakan areal untuk produksi rumput laut Glacilaria. dan divisi budidaya. Desa Klatakan. Kabupaten Situbondo yang merupakan kantor utama dengan luas areal 4. divisi ikan. Unit Gelung yang terletak di desa Gelung Kecamatan Panarukan sekitar 25 Km ke arah Timur dari kantor utama dengan luas areal 8 Ha. Kecamatan Kendit. Sebelah Utara berbatasan dengan Selat Madura. dan ikan bandeng. udang. Divisi ikan terletak di Dusun Pecaron.45 Ha. c.

yaitu musim penghujan (November-Maret) dan musim kemarau (April-Oktober). BBAP Situbondo terletak pada 113o55’66”BT-114”BT dan 07o41’32” LS-07o42’35”LS. Kelompok Jabatan Fungsional Susunan organisasi BBAP Situbondo secara lengkap dapat dilihat pada gambar 1 dengan uraian tugas sebagai berikut: 1. Sebelah Selatan berbatasan dengan pemukiman desa Klatakan. . Secara geografis. Jawa Timur dapat dilihat pada lampiran. Peta wilayah kabupaten Situbondo.3 Struktur Organisasi Berdasarkan Surat Keputusan Mentri Kelautan dan Perikanan RI. BBAP Situbondo berada di tepi pantai utara Pulau Jawa dan lokasi ini dipengaruhi oleh dua musim.d. Kepala Balai Budidaya Air Payau (BBAP) Situbondo Kepala BBAP Situbondo memiliki tugas dan wewenang seperti : merumuskan kegiatan.Kep. Seksi Standarisasi dan Informasi 4.1. terdiri dari: 1.260/MEM/2001 tentang organisasi dan tata kerja BBAP Situbondo. Seksi Pelayan Teknis 5. No. Kepala Bagian Tata Usaha 3. 4. Kepala Balai Budidaya Air Payau (BBAP) Situbondo 2. mengkoordinasi dan mengarahkan tugas penerapan teknik pembenihan dan pembudidayaan ikan air payau maupun laut serta pelestarian sumber daya induk atau benih sesuai dengan prosedur dan peraturan yang berlaku untuk kelancaran pelaksanaan kegiatan.

4. . Seksi Standarisasi dan Informasi Seksi standarisasi dan informasi mempunyai tugas menyiapkan bahan standar teknik dan pengawasan pembenihan dan budidaya ikan air payau dan laut. Kepala bagian tata usaha Kepala bagian tata usaha bertugas melakukan administrasi keuangan. serta pengelolahan jaringan informasi dan perpustakaan. Kelompok Jabatan Fungsional Kelompok jabatan fungsional bertugas melaksanakan kegiatan perekayasaan. perlengkapan. penerapan serta pengawasan teknik pembenihan dan budidaya ikan air payau dan laut. pengendalian hama dan penyakit ikan. budidaya dan penyuluhan. kepegawaian. penerapan dan bimbingan penerapan standar/sertifikasi pembenihan dan pembudidayaan ikan air payau dan laut. serta kegiatan lain yang sesuai dengan tugas masing-masing jabatan fungsional berdasarkan peraturan perundangundangan yang berlaku.2. 3. 5. dan rumah tangga BBAP Situbondo serta pelaporan. pengendalian hama dan penyakit serta lingkungan. persuratan. Seksi Pelayaan Teknik Seksi pelayanan teknik bertugas melakukan pelayanan teknik kegiatan pengembangan. pengujian. sumber daya induk dan benih.

dan wadah inkubasi telur yang berbentuk akuarium kaca. penetasan telur. wadah pemeliharaan induk. pemeliharaan benih. Sarana Budidaya yang digunakan di Balai Budidaya Air Payau Situbondo untuk kegiatan pembenihan meliputi wadah tandon air yang terbuat dari beton.2.1 Sarana Umum A. pemeliharaan larva. kultur mikroalga. No Klasifikasi Kualifikasi 1 Tingkat pendidikan Master (S2) Sarjana (S1) Lainnya Jumlah 2 Fungsional Perekayasa Litkayasa Pengawas Pranata Humas Umum Lainnya Jumlah Jumlah (orang) 10 45 88 143 17 16 27 3 26 54 143 4.1.4. kultur rotifer. Tabel 1. . Sarana Budidaya Sarana budidaya merupakan factor utama yang mendukung kegiatan pembenihan sehingga perlu diperhatikan bentuk dan posisisnya. Tabel berikut memperlihatkan dukungan sumberdaya manusia di BBAP Situbondo. Dukungan Sumberdaya Manusia di BBAP Situbondo.4 Kepegawaian Dalam melakukan tugasnya Balai Budidaya Air Payau Situbondo didukung sumberdaya manusia sebanyak 143 orang karyawan berstatus pegawai negeri sipil dengan berbagai tingkat pendidikan.2 Sarana dan Prasarana Umum BBAP Situbondo 4.

5 m 3 3 3 877500 cm B. Pengambilan air laut menggunakan pipa berdiameter 8 inchi yang bagian ujungnya dilengkapi dengan filter hisap dan dihubungkan langsung dengan pompa electromotor berkapasitas 21 PK. t = 3 m d = 10 m.25 m 235. air laut tersebut terlebih dahulu disaring dengan menggunakan saringna fisik atau sand filter ukuran 225 cm x 100 cm x 100 cm.5 m 3 3 4 unit 1 unit 2 unit 5 unit 24 unit 24 unit 24 unit 529. t = 3 m 0.25 m 12.5 m 5 m x 3 m x 1.5 m 12.5 m 12.2 m x 4.4 m d = 5 m.Tabel 2.5 m 2 m x 5 m x 1. Sand filter di BBAP Situbondo tersusun dari bawah ke atas berupa batu kali. Air laut langsung dilarikan ke bak pemeliharaan induk melalui pipa saluran berupa pipa berdiameter 4 inchi.37 m Volume 41. ijuk. bungkusan arang.25 m 2 m x 5 m x 1.125 m3 12.5 m 3 4 unit 10 unit 8 unit 1 unit 8 unit 5 unit 21 m3 39.5 m3 235. t = 2 m 2 m x 5 m x 1. Suplai air di BBAP Situbondo berasal dari selat Madura. waring dan .2 m x 1. Sarana Budidaya Di BBAP Situbondo Bak/Wadah Tandon Bak Filter Fisik Bahan Beton Beton Bentuk Persegi Persegi Dimensi 4.1668 m Pemeliharaan dan Pemijahan Induk Kerapu Bawal Bintang Bandeng Akuarium Bak Pemeliharaan Larva Pemeliharaan Benih Beton Beton Beton Kaca Beton Beton Beton Lingkaran Lingkaran Lingkaran Persegi Persegi Persegi Persegi d = 10 m. Sedangkan untuk mendistribusian air laut ke bak pembenihan dan bak kultur pakan alami.25 m 2 m x 5 m x 1.2 m x 2.454 m 3 3 Jumlah 3 unit 5 unit 24.875 m Penetasan Telur 0.5 m x 0. t = 3 m d = 15 m.5 m 3 3 3 Kultur Pakan Alami Rotifer Chlorella Beton Beton Beton Beton Bak Karantina Egg Collector Beton PVC Persegi Persegi Persegi Lingkaran Persegi Persegi 2 m x 5 m x 1.25 m 135 cm x 50 cm x 130 cm 12.35 m 4.5 m x 0.2 m x 4.5 m3 12. kerikil. yang berjarak 200 m dari balai. Air Laut Air laut merupakan faktor penting dalam kegiatan pembenihan.25 m 2 m x 5 m x 1.

Antara kedua tandon tersebut hanya dipisah dengan dinding beton.5 PK melalui pipa yang berdiameter 4 inchi. Aerasi Ketersediaan oksigen di BBAP Situbondo disuplai dengan menggunakan high blower. D. akuarium inkubasi telur dan bak kultur pakan alami. Udara dari blower dialirkan langsung dengan menggunakan pipa PVC ukuran 3 inchi dan 1 inchi dengan sistem tertutup yang dilengkapi dengan . perumahan karyawan. maka air akan terbebas dari kotoran air yang berukuran besar. laboratorium. Air yang telah melalui tahap penyaringan dipompa ke tendon air laut pada ketinggian 2 m di atas permukaan tanah menggunakan pompa yang berkapasitas 7.pasir. kantor. Air tawar didapatkan dari 3 sumber sumur dengan kedalaman 10 m. Air Tawar Penyediaan air tawar digunakan untuk kebutuhan kegiatan pembenihan. keperluan karyawan BBAP Situbondo dan asrama. dan asrama. C. Air tersebut dipompa. Setelah air melewati saringan tersebut. lalu ditampung dalam tandon dengan ketinggian 3 m dari permukaan tanah ke unit pembenihan. Tandon air laut untuk pembenihan timur terdapat di bagian belakang pembenihan yang menjadi satu dengan tandon air laut pembenihan tengah. Air dialirkan dengan sistem gravitasi sebab posisi tandon berada lebih tinggi dari bak-bak yang lainnya dan dibantu dengan menggunakan pompa. Tandon air laut inilah yang menjadi sumber air yag nantinya akan dialirkan ke bak-bak pembenihan. air minum.

pembenihan timur dan sebagian pembenihan tengah dan kultur pakan alami timur.2. batu aerasi dan pemberat yang terbuat dari timah agar selang aerasi berada di bawah permukaan air. Tabel 4. mushola. ruang kuliah. perpustakaan. Distribusi Sistem Aerasi di BBAP Situbondo No Sumber Aerasi Spesifikasi 1 Blower Vortex Daya 7 PK Distribusi 2 Rood Blower Daya 5 PK 3 Blower Vortex Daya 7 PK Bak penggelondongan dan bak induk di pembenihan timur. Uraian dari fasilitas pendukung di BBAP Situbondo dapat dilihat pada tabel 5.selang aerasi. aula (auditorium).2 Prasarana A. laboratorium nutrisi. pos jaga. dan perumahan untuk karyawan BBAP Situbondo. Fasilitas Pendukung di BBAP Situbondo Uraian Spesifikasi Listrik PLN 60 KVA Genset 80 KVA Bangunan Kantor Kantor Utama (Kepala Balai) Kantor Tata Usaha Laboratorium Nutrisi dan Teknologi Pakan Jumlah 1 unit 1 unit 1 unit 1 unit 1 unit . laboratorium pakan alami. dan pembenihan tengah. Tabel 3. kantor tata usaha. kultur pakan alami barat. Pembenihan barat. laboratorium kesehatan ikan dan kualitas air. Bangunan Jenis bangunan yang terdapat di BBAP Situbondo terdiri dari kantor utama. Bak karantina. 4.

Suzuki Future .Toyota Kijang 1 unit 1 unit 1 unit 1 unit 1 unit 1 unit 1 unit 1 unit 1 unit 1 unit 1 unit 1 unit 1 unit 1 unit 1 unit B. Tenaga Listrik Listrik merupakan komponen yang sangat vital untuk kegiatan budidaya. Sumber tenaga listrik di BBAP Situbondo berasal dari Perusahaan Listrik Negara (PLN) dengan daya 60 KVA.Isuzu Panther . blower dan peralatan lainnya yang membutuhkan energi listrik. menjalankan pompa.Rumah Karyawan Rumah Genset Rumah Blower Asrama Bangsal Pakan Lainnya Kesehatan Ikan dan Lingkungan Pakan Alami Rumah Karyawan Rumah Tamu Genset dan Panel Listrik Blower Mahasiswa dan Peserta Magang Tempat Pembuatan Pakan Perpustakaan Aula (auditorium) Ruang Kuliah Alat Angkut (transportasi) . Saat terjadi pemadaman listrik. Sebagai antisipasi jika terjadi pemutusan arus listrik. BBAP Situbondo menyediakan generator set berdaya 80 KVA. .Pick up L – 300 . generator set akan segera difungsikan untuk tetap mendukung suplai listrik bagi kegiatan budidaya. Energi listrik digunakan untuk penerangan. akan terdengar tanda dari sirine secara otomatis. Setelah itu.

Induk kerapu bebek Cromileptes altivelis yang dimiliki oeh BBAP Situbondo berasal dari alam dan hasil budidaya. Induk yang berasal dari alam didapatkan dari alam didapatkan dari hasil penangkapan para nelayan daerah perairan laut bali dan Lombok. sedangkan pada musim pemijahan diturunkan menjadi 1%.5 . Sedangkan induk yang berasal dari budidaya didapatkan dari hasil budidaya (F1) yang dilakukan oleh balai.5 kg dan bobot induk jantan lebih dari 5 kg.3 Teknik Pembenihan Kerapu Tikus 4. Diluar pemijahan ikan. takaran pakan yang diberikan sebesar 3 . Untuk masa peralihan kelamin biasanya induk memiliki berat 3.15 mg/ekor/minggu. ikan kerapu memiliki sifat hemaprodit protogini yaitu pada tahap menuju perkembangan dewasa berjenis kelamin betina kemudian berubah menjadi jantan setelah tumbuh besar dan bertambah tua. . Bobot induk betina sebesar 1-3.5-5 kg. BBAP Situbondo memiliki jumlah induk 65 ekor yang terdiri dari 17 ekor induk jantan dan 48 ekor induk betina.1 Persiapan Induk Induk ikan kerapu yang dipijahkan dipelihara di laut dalam kurungan apung dengan padat penebaran induk 7.5% dari total berat badan ikan/hari. Pakan yang diberikan berupa ikan rucah segar berkadar lemak rendah. (Anonim. Induk-induk yang baru datang dikarantina dalam bak karantina selama 1-2 bulan untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan baru yang terdapat di BBAP Situbondo.3. Induk jantan memiliki ukuran bobot yang lebih besar dibandingkan dengan induk betina.10 kg/m3 . Disamping itu diberikan pula vitamin E dengan dosis 10 . 2010).4.

jaring. Sebelum dilakukan penebaran. dan kotoran ikan dengan menggunakan sikat. induk yang akan memijah diseleksi terlebih dahulu dan diaklimatisasikan.5 – 2 kg yang dilarutkan dalam 25 liter air sebagai upaya desinfeksi wadah dan disikat kembali hingga benar-benar bersih. bagian atas bak dipasang jaring yang berbahan polyethylene yang disanggah dengan menggunakan tiang kayu. bak sudah dapat diisi kembali dengan air laut. Selang aerasi pun harus dicuci dengan menggunakan detergen lalu dibilas dan dipasang kembali. Bak tersebut dibersihkan dari lumut-lumut yang menempel. sisa pakan. Selanjutnya. ataupun pancing. Tujuan dari pemasangan jaring ini adalah untuk menjaga agar induk tidak melompat keluar dari bak. Setelah bak tersebut bersih. sedangkan induk jantan yang telah berumur 3 tahun. Hal tersebut dilakukan dengan cara membuka outlet seluruhnya. Indukan tersebut ditangkap dengan menggunakan bubu. induk tersebut dipelihara selama hingga menjadi indukan kerapu tikus yang siap memijah. Setelah ditangkap.3. bak disiram kembali dengan air tawar sampai bau kaporitnya hilang. Setelah semua tahapan di atas selesai.2 Seleksi Induk Induk kerapu tikus di BBAP Situbondo berasal dari hasil budidaya dan tangkapan alam yang ditangkap oleh nelayan. Setelah itu. Tahap ini dilakukan untuk mendapatkan induk yang . 4. Induk betina yang digunakan adalah yang berumur 1 – 2 tahun.Proses persiapan wadah indukan dilakukan dengan cara membuang semua air yang terdapat dalam bak induk. Bak tersebut dikeringkan selama 3 – 6 hari. dinding-dinding bak disiram dengan kaporit 60% sebanyak 1.

dapat dilakukan dengan kanulasi.5 kg dengan panjang tubuh lebih dari 40 cm. Proses aklimatisasi berakhir jika induk sudah mau makan dan benar-benar terbebas dari penyakit. dan 48 ekor betina. Pemeriksaan dilakukan dengan cara menimbang berat badan induk. berat badan. sedangkan jika tidak keluar. Pemeriksaan alat kelamin dilakukan dengan cara mengurut bagian perut ke arah anus. Ikan kerapu tikus merupakan hewan yang bersifat “protogynous hermaphrodite” yaitu pada awalnya berkelamin betina lalu berubah menjadi jantan dengan jangka waktu tertentu.berkualitas dan sudah dapat untuk dipijahkan. jika keluar sperma maka induk tersebut adalah jantan. Aklimatisasi induk dilakukan dengan cara memelihara induk pada wadah yang berbeda. sedangkan induk jantan lebih dari 3 tahun. Jumlah induk yang terdapat di Balai Budidaya Air Payau Situbondo adalah 65 ekor. Menurut Cholik. . Induk betina kerapu tikus berumur 1 – 3 tahun.. Induk yang telah diseleksi dan diaklimatisasi kemudian disatukan dalam wadah pemijahan. Rasio jantan dan betina yang ideal adalah 1 : 2. Jika terdapat telur. maka induk tersebut adalah betina. Seleksi yang dilakukan adalah menentukan jenis kelamin induk agar rasio jantan dan betina dapat mendekati ideal. Tujuan aklimatisasi adalah untuk mengadaptasikan ikan pada wadah budidaya dan dilakukan pengobatan jika induk terserang penyakit sampai benar-benar sembuh. dan pemeriksaan alat kelamin. Perbedaan antara jantan dan betina dapat dibedakan dari umur. Induk betina umumnya mempunyai berat tubuh 1–2. et al (2005). yang terdiri dari 17 ekor jantan.

Rasio pemberian pakan yang optimal ditentukan oleh jenis ikan yang dipelihara. Telur yang diperoleh diamati untuk mengetahui tingkat kematangannya. nelanak. Kematangannya kelamin induk betina diketahui dengan cara kanulasi. induk kerapu tikus diberi pakan rucah berupa ikan segar dengan kandungan lemak rendah dan memiliki kadar protein yang tinggi (lebih dari 70%) seperti ikan layur. seperti rasio pakan. Untuk . yaitu memasukkan selang plastik ke dalam lubang kelamin ikan. A. Selama pemeliharaan ikan kerapu tikus di BBAP Situbondo. garis tengah (diameter) telur diatas 450 mikron. Rasio pemberian pakan harus tepat agar pakan yang di berikan dapat efisien dikonvesikan oleh ikan/udang sehingga kelangsungan hidup yang optimal. dan cumi-cumi. frekuensi pemberian pakan dan waktu pemberian pakan.6%. rasio pemberian pakan kerapu 4 . Jenis ikan/udang yang aktif bergerak memerlukan lebih banyak makanan dibandingkan jenis ikan yang bergerak pasif. (Menurut Danakusumah dan Imanishi. kembung tongkol. lemuru. ekor kuning.1986). Pemberian Pakan Pada pemberian pakan perlu beberapa hal yang diperhatikan. Pakan tersebut didapatkan dari nelayan yang menangkap langsung di laut. kemudian dihisap.Hal ini sependapat dengan Anonim (2010) yang menyatakan bahwa kematangan kelamin induk jantan ikan kerapu diketahui dengan cara mengurut bagian perut ikan (stripping) ke arah awal sperma yang keluar warna putih susu dan jumlahnya banyak diamati untuk menentukan kualitasnya.

dan 100 IU dengan merek dagang Natur E. Tujuannya adalah untuk menjaga kesehatan ikan dan untuk mempercepat perkembangan dan kematangan gonad. Selain pakan ikan rucah. Dosis vitamin tersebut masing-masing adalah 50 mg/kg induk. Pemberian vitamin B berguna untuk menambah nafsu makan ikan. Vitamin yang diberikan adalah vitamin B. bau amis pada ikan serta melepaskan ektoparasit yang menempel pada tubuh ikan. Selain itu.00 WIB dengan frekuensi pemberian pakan 1 kali sehari yang diberikan secara perlahan hingga induk kenyang. Cara memasukkannya adalah dengan menyayat tubuh ikan pada bagian bawah sirip dorsal ataupun pada bagian daging atas perut. Setiap hari ikan rucah yang diberikan dibedakan jenisnya. Vitamin C berguna untuk meningkatkan daya tahan tubuh terhadap serangan penyakit. Pakan yang akan diberikan pada induk terlebih dahulu direndam dalam air tawar untuk menghilangkan es. 50 mg/kg induk. Pemberan dilakukan pada pagi hari sekitar pukul 07. Kemudian ikan dipotong-potong sesuai dengan ukuran bukaan mulut induk. Proses pemberian vitamin adalah dengan cara memasukkan vitamin tersebut ke dalam daging ikan rucah. hal ini bertujuan agar induk tidak jenuh dengan ikan yang diberikan. maka pakan tersebut disimpan di dalam freezer. . Vitamin E diberikan untuk mempercepat kematangan gonad induk.mempertahankan kesegaran pakan. C dan E.00-08. Jadwal pemberian pakan dan vitamin dapat dilihat pada tabel 6. pemberian vitamin juga dilakukan terhadap indukan kerapu tikus. pergantian jenis rucah yang diberikan juga bertujuan untuk menambah nafsu makan induk. Pemberian vitamin tersebut dilakukan selama dua kali seminggu.

dapat juga dilakukan penggelontoran pada bak induk. juga harus memenuhi persyaratan-persyaratan kualitas airnya. Selain itu kualitas air yang terjaga juga sangat menentukan proses pemijahan induk dan kualitas telur yang dihasilkan oleh induk. Sedangkan pembuangan air atas berfungsi sebagai pengatur ketinggian air pada bak dan untuk mengalirkan telur hasil pemijahan ke arah bak penampungan telur (egg collector). DO dan Salinitas. 2010). Pergantian air untuk indukan kerapu tikus dilakukan setiap hari. Oleh karena itu kualitas air sangat menentukan kelangsugan hidup ikan. Setelah mencapai ketinggian tersebut. Pembuangan air bawah berfungsi sebagai pembuangan kotoran hasil metabolisme dan sisa-sisa pakan. Penggelontoran dilakukan dengan cara mendorong kotoran di dasar bak menggunakan sikat yang telah diberi kayu yang cukup panjang hingga mencapai dasar bak menuju pipa . dan kontunu dapat berhasil (Ghufran. air di bak indukan diturunkan sampai ketinggian air mencapai 30 % dari volume bak. Setelah pemberian pakan di pagi hari. Pemenuhan akan kebutuhan air harus diupayakan agar produksi benih ikan laut yang berkualitas. Pengelolaan Air Lokasi budidaya yang ideal.B. dan kimia meliputi : pH. selain pertimbangan umum di atas. Pada bak induk terdapat dua buah outlet yaitu pembuangan air bawah dan pembuangan air atas. dalam jumlah yang cukup. Di BBAP Situbondo sendiri air merupakan media utama bagi kehidupan ikan. Faktor kualitas air yang perlu dipertimbangkan untuk pemeliharaan pembenihan Kerapu tikus meliputi sifat fisika : Suhu dan Kecerahan. Hal ini penting untuk menjaga kualitas air tetap baik. M dan Andi Tamsil.

Penyakit yang umumnya menyerang induk kerapu tikus disebabkan oleh trematoda. Penggelontoran bak induk dilakukan setiap 4 – 6 hari sekali atau disesuaikan dengan kondisi bak. Setelah dilakukan penggelontoran atau hanya menurunkan air hingga 30 %. warna kulit pucat. diantaranya adalah penyakit borok pangkal sirip ekor dan penyakit mulut merah. Virus yang sering menyerang adalah VNN (Viral Nervous Necrosis). protozoa. Pencegahan Hama dan Penyakit Permasalahan penyakit yang paling banyak pada ikan bersirip (finfish) dijumpai pada budidaya ikan kerapu.00 WIB pipa outlet dipasang seluruhnya. serta produksi lendir meningkat. 2009). Gejala yang timbul saat induk kerapu tikus terkena Argulus adalah nafsu makan menurun. yaitu Vibrio alginolyticus. Sirkulasi dengan cara ini dapat mengganti air sebanyak 200 – 300 % dari total volume bak.00 – 17. Jenis parasit yang sering menyerang adalah Argulus sp. bakteri. Pada sore hari.outlet sehingga keluar bersama dengan air. C. pukul 16. Selain itu. ikan akan cenderung mengosok-gosokan tubuhnya ke dinding bak dan berenang di permukaan air dengan tingkah laku bernafas dengan cepat dengan tutup insang . V anguillarum dan V fuscus. dan virus. jamur. V algosus. pipa outlet dipasang setengahnya. Diantara jenis bakteri tersebut bakteri V alginolyticus dan V fuscus merupakan jenis yang sangat patogen pada ikan kerapu tikus (Salim. Bakteri dan virus menyerang ketika induk terdapat luka. Hasil isolasi dan identifikasi bakteri ditemukan beberapa jenis bakteri yang diduga berkaitan erat dengan kasus penyakit bakterial. Jenis penyakit bakterial yang ditemukan pada ikan kerapu.

Ciri-ciri Induk Matang Gonad Ciri induk kerapu tikus yang akan memijah ditandai dengan berenang vertikal dan induk jantan mengejar induk betina. Sedangkan pada ikan jantan dapat dilakukan stripping/diurut hingga mengeluarkan sperma. Kematangannya . Pengendalian penyakit ini dilakukan dengan cara merendam induk kerapu di dalam air tawar selama 15 menit. Bakteri ini menyebabkan kerusakan pada sirip ikan. Kemudian kekentalan dan pergerakkan sperma diamati. Induk jantan terlihat lebih cerah dan alat kelaminnya menjadi kemerah-merahan. Bakteri yang menyerang induk kerapu disebabkan oleh bakteri Vibrio sp. dan hidrogen peroksida (1–2 ppm selama 2 jam). Pengukuran sampling tingkat kematangan gonad dapat dilakukan dengan teknik kanulasi pada induk betina. Biasanya sebelum memijah nafsu makan induk menurun. Furazolidone (10–15 ppm selama 2 jam).3–0. D. Larutan yang biasa digunakan adalah Furazolidone karena tingkat efektifitasnya paling tinggi.terbuka. Hal ini sependapat dengan Anonim (2010) yang menyatakan bahwa kematangan kelamin induk jantan ikan kerapu diketahui dengan cara mengurut bagian perut ikan (stripping) ke arah awal sperma yang keluar warna putih susu dan jumlahnya banyak diamati untuk menentukan kualitasnya. prefuran (0.. Induk betina perutnya terlihat lebih besar terutama setengah bagian belakang. Pengendalian penyakit ini adalah dengan merendam induk dalam salah satu larutan ini yaitu Arciflavin (1–2 ppm selama 2 jam). Telur yang diambil menggunakan kateter diukur diameter telurnya.5 ppm selama 2 jam).

000 butir telur pada ukuran 3-4 kg. Telur yang mengapung akan mengikuti arus ke pembuangan atas dan ditampung di dalam egg collector. yaitu pemijahan alami dan pemijahan dengan rangsangan hormon. A. et al (2005) satu induk betina dapat menghasilkan telur rata-rata 200. (Anonim. Perlakuan ini dapat menaikkan suhu air pada bak pemijahan sekitar 1 – 3 0C. Menurut Cholik. Pemijahan ikan kerapu biasanya terjadi pada bulan gelap (antara tanggal 6– 17).00 – 02.kelamin induk betina diketahui dengan cara kanulasi. . garis tengah (diameter) telur diatas 450 mikron.3. Induk kerapu tergolong ikan yang melakukan pemijahan sepanjang tahun.3 Pemijahan Metode pemijahan induk kerapu tikus yang dilakukan di BBAP Situbondo dilakukan dengan dua cara. Pemijahan Alami Metode pemijahan alami (nature spawning) dilakukan dengan cara memanipulasi lingkungan dengan menurunkan ketinggian air dalam bak pemeliharaan induk sampai ± 100 cm dan dibiarkan selama 5 – 7 jam. kemudian dihisap.000 – 300.00 WIB. Pemijahan terjadi pada malam hari antara pukul 22. Telur yang diperoleh diamati untuk mengetahui tingkat kematangannya. 2010). yaitu memasukkan selang plastik ke dalam lubang kelamin ikan. Proses pemijahan ikan kerapu diawali dengan induk betina mengeluarkan telur kemudian disusul induk jantan yang mengeluarkan sperma sehingga terjadi pembuahan. 4. Manipulasi ini mengikuti keadaan pasang surut di alam sehingga ikan akan terangsang untuk melakukan pemijahan.

00 permukaan air dikembangkan ke possisi semula (tinggi air 1. Perlakuan ini dilakukan terus menerus sampai induk memijah secara alami. Pemijahan mengikuti fase peredaran bulan. Untuk merangsang terjadinya perkawinan antara jantan dengan induk betina matang kelamin digunakan metoda manipulasi lingkungan di bak terkontrol.5 m). pada saat bulan terang atau bulan gelap.00 sampai jam 14. pemijahan dengan rangsangan hormon dilakukan karena kondisi lingkungan tidak memungkinkan untuk proses . Pengamatan pemijahan ikan dilakukan setiap hari setelah senja sampai malam hari.5 m dan salinitas + 32 ‰.00 WIB. kedalaman air dan lain-lain.Hal ini sependapat dengan Anonim (2010) yang menyatakan bahwa Metode yang digunakan adalah manipulasi lingkungan. kadar garam. Mulai jam 09. Setelah jam 14. B. Rangsangan hormonal induk kerapu matang kelamin disuntik dengan hormon Human Chorionic Gonadotropin (HCG) dan Puberogen untuk merangsang terjadinya pemijahan. Teknik pemijahan dengan manipulasi lingkungan ini dikembangkan berdasarkan pemijahan ikan kerapu di alam.24. Manipulasi lingkungan dilakukan menjelang bulan gelap yaitu dengan cara menaikkan dan menurunkan permukaan/tinggi air setiap hari.00 . Pemijahan dengan Rangsangan Hormon Induk kerapu matang kelamin dipindahkan ke bak pemijahan yang sebelumnya telah diisi air laut bersih dengan ketingian 1. Pemijahan umumnya terjadi pada malam hari antara jam 22.00 permukaan air diturunkan sampai kedalaman 40 cm dari dasar bak. yaitu dengan rangsangan atau kejutan faktor-faktor lingkungan seperti suhu. Hasil pengamatan di lapangan.

kematangn gonad dan pemijahan. berbentuk empat persegi panjang dengan ukuran 4 x 1 x 1 m³ .4 Pemanenan Telur Menurut (Anonim. Induk ikan dibius. kemudian disuntik pada bagian punggung dibawah duri ketiga atau pada bagian dibawah sirip dada terutama untuk induk yang berukuran besar dan membutuhkan hormon yang lebih banyak. Hormon yang digunakan untuk pemijahan metode ini dengan menggunakan hormon HCG (Human Chrionic Gonadotropin). Penyuntikan dilakukan dengan dosis 250 dan 50 IU per kilogram bobot badan. Tiga hari sebelum bak penetasan/bak pemeliharaan larva digunakan. Air laut dengan kadar garam 32 ‰ dimasukkan ke dalam bak. terbuat dari beton. Penyuntikan dilakukan pada induk ikan yang diameter oocyte (bulatan telur) mencapai 0.4 mm yang berarti induk telah mencapai tingkat kematangan gonad dan siap untuk dikawinkan.5 ppm acriflavin untuk mencegah serang bakteri.3. 4. Telur yang dibuahi akan mengapung dipermukaan air dan berwarna jernih (transparan). perlu dipersiapkan dahulu dengan cara dibersihkan dan dicuci hamakan memakai larutan chlorine (Na OCI) 50 . Telur hasil pemijahan dikumpulkan dengan sistim air mengalir.28°C. . satu hari sebelum larva dimasukkan dengan maksud agar suhu badan stabil berkisar antara 27 . Sebelum telur ditetaskan perlu direndam dalam larutan 1 .100 ppm. 2010) bak yang dipergunakan untuk penetasan telur sekaligus juga merupakan bak pemeliharaan larva. Penyuntikan dilakukan pada pagi hari. Setelah itu dinetralkan dengan penambahan larutan Natrium thiosulfat sampai bau yang ditimbulkan oleh chlorine hilang.

maka telur telah dapat ditebar ke tiap pembenihan yang ada di BBAP Situbondo maupun dijual dan didistribusikan ke . 2005). dengan pemberian arus maka telur yang melayang akan ikut terbawa arus air menuju penampungan atas. Egg collector terbuat dari saringan 40 mikron dengan ukuran 135 cm x 80 cm x 80 cm. Telur yang baik dan terbuahi akan melayang di permukaan dan berwarna transparan.5 m untuk dihitung.5 m x 0. lalu ditampung kembali di akuarium berukuran 0. Di ujung pipa pembuangan atas tersebut dipasang bak penampungan telur atau yang disebut pengumpul telur (egg collector). telur tersebut ditampung sementara di dalam ember. Telur yang akan dibagi ke unit pembenihan merupakan telur yang baik. Pemindahan telur dari akuarium menuju ember dilakukan dengan cara penyiponan.00 WIB.. Telur ikan yang telah terkumpul di egg collector dipanen dengan menggunakan saringan yang bermata jaring 300 µm.5 m x 0. Satu sendok tersebut dapat menampung sebanyak 25000 butir telur.00 – 07. sedangkan telur yang digunakan adalah telur yang melayang. Perhitungan telur dilakukan dengan menggunakan alat sampling yang berbentuk sendok dengan ujungn berbentuk seperti setengah bola pimpong yang dapat dilihat pada gambar 3. Setelah jumlah telur diketahui. penghitungan telur seperti ini dikenal sebagai metode penghitungan telur secara kering. et al. Telur yang buruk dan tidak terbuahi akan mengendap di dasar dan bewarna putih keruh (Cholik. Pemanenan telur dilakukan pada pagi hari antara pukul 06.Hasil pengamatan di lapangan telur ikan kerapu bersifat melayang di atas permukaan air. Setelah itu. telur mengendap yang terdapat di dalam akuarium disipon dan dibuang.

Tabel 5. 100.25 m dengan kapasitas air 10 m3. Saluran inlet di setiap bak terdapat 2 buah yaitu saluran pemasukan Chlorella sp dengan ukuran pipa 3/4 inchi dan saluran pemasukan air laut dengan ukuran pipa 2 inchi.5 Penetasan Telur A.000 15 Agustus 2010 16 Agustus 2010 100.5.000 butir telur per 9 ton yang diambil pada saat panen telur tanggal 8 agustus 2010. Setiap bak dilengkapi dengan saluran inlet dan outlet yang terbuat dari pipa PVC.000 butir telur per 9 ton pada tanggal 11 agustus 2010. 100. . Harga tiap butir telur kerapu tikus adalah Rp 1.000 9 Agustus 2010 200.000 11 Agustus 2010 450.000 13 Agustus 2010 450.000 14 Agustus 2010 1.5 inchi.000 12 Agustus 2010 350.000 17 Agustus 2010 150. Data hasil telur selama pemijahan di bulan Agustus dapat dilihat pada tabel 6. Persiapan Wadah Wadah penetasan telur yang terdapat di Unit Pembenihan Timur BBAP Situbondo yaitu berupa bak beton berbentuk persegi panjang sebanyak 6 buah.000 10 Agustus 2010 275. Masing-masing bak tersebut memiliki dimensi 5x2x1.000 Total 3. Jumlah Telur Kerapu Tikus di BBAP Situbondo (Bulan Agustus 2010) Tanggal Jumlah Telur (butir) 7 Agustus 2010 75. sedangkan untuk pipa saluran outlet adalah 3.3. Pada saat pemanenan telur.000 butir telur per 9 ton pada tanggal 10 agustus 2010 dan 100. tebar telur untuk pembenihan sebanyak 150.000 butir telur per 9 ton pada tanggal 9 agustus 2010.000 4.000.000 8 Agustus 2010 150.200.pembeli.

Aerai yang digunakan untuk menyuplai oksigen dalam bak penetasan telur berjumlah 11 titik aerasi yang dilengkapi engan selang aerasi. Setelah itu dinetralkan dengan penambahan larutan Natrium thiosulfat sampai bau yang ditimbulkan oleh chlorine hilang. Setelah itu bak diisi air laut sebanyak 9 m3 melalui saluran inlet air laut yang telah diberi filter bag (50 mikron). Air laut dengan kadar garam 32 ‰ dimasukkan ke dalam bak.28°C. Hal ini bertujuan untuk menyaring kotoran (pasir dan partikel tanah yang halus) agar tidak ikut terbawa ke dalam media lalu air tersebut ditreatment menggunakan larutan formalin dengan dosis 20 ppm dan diaerasi kuat selama 24 jam selanjutnya air dapat digunakan untuk penebaran telur.Wadah yang akan digunakan untuk penetasan terlebih dahulu didesinfeksi dengan menggunakan larutan klorin 15 ppm dan dibiakan selama 1-2 hari. satu hari sebelum larva dimasukkan dengan maksud agar suhu badan stabil berkisar antara 27 . perlu dipersiapkan dahulu dengan cara dibersihkan dan dicuci hamakan memakai larutan chlorine (Na OCI) 50 . Telur yang . Hal ini sependapat dengan Anonim (2010) yang menyatakan bahwa tiga hari sebelum bak penetasan/bak pemeliharaan larva digunakan. bak dicuci kembali dengan detergen untuk menghilangkan sisa klorin yang menempel pada dinding dan dasar bak lalu bak dibilas dengan menggunakan air tawar hingga bersih dan bau klorin hilang. batu dan pemberat aerasi diletakkan di bagin dasar bak. Setelah itu. Telur hasil pemijahan dikumpulkan dengan sistim air mengalir.100 ppm. Apabila telur menetas aerasi dikecilkan karena larva masih bersifat planktonik yaitu bergerak dengan mengikuti pergerakan air. Bak yang telah dibersihkan lalu dikeringkan selama 1-2 hari.

Telur kerapu tikus akan menetas dalam kisaran waktu antara 17-19 jam setelah pembuahan.60 butir/liter air media. Suhu optimum untuk penetasan telur ikan kerapu yaitu antara 27-31oC.000 100.5 ppm acriflavin untuk mencegah serang bakteri. Untuk padat penebaran telur saat penulis melakukan PKL yaitu sebesar 112.000 butir.32 ‰.00 WIB. Penebaran dan Penetasan Telur Padat penebaran telur di Bak Penetasan berkisar 20 . Telur yang telah dibuahi tidak berwarna (transparan) sedangkan yang tidak dibuahi dan yang mati berwarna putih susu. Dari jumlah diperkirakan hanya 30% saja yang dibuahi (Suria D. media penetasan diberi erasi kecil yang bertujuan agar suplai oksigen tetap terpenuhi serta agar telur tidak mengalami guncangan kuat yang dapat menyebabkan gangguan fisik pada telur.000 sel/ml untuk menjaga kualitas air. Sebelum telur ditetaskan perlu direndam dalam larutan 1 . Telur yang telah dibuahi berjumlah lebih kurang 1. Dari hasil di lapangan penebaran telur dilakukan secara merata ke dalam bak penetasan telur yang telah dipersiapkan sebelumnya. setelah larva menetas. pada D1 media diberi aerasi kecil. 2002).200.500 butir per bak dengan kapasitas air dalam bak sebanyak 9 m3 dan dengan derajat penetasan (HR) 44 %. Ke dalam bak penetasan perlu ditambahkan Chlorella sp sebanyak 50. Hal ini dilakukan karena larva yang . B. Telur akan menetas dalam waktu 18 22 jam setelah pemijahan pada suhu 27 .28°C dan kadar garam 30 . Penebaran biasanya dilakukan pada pagi hari yaitu antara 08.00-09.dibuahi akan mengapung dipermukaan air dan berwarna jernih (transparan). Saat proses penetasan.

Cara menghitung HR adalah: 1.00 WIB karena pada pagi hari larva yang bersifat fotoaksis positif akan bergerak menyebar mencari matahari. Biasanya sampling larva dilakukan pada pagi hari yaitu pada pukul 06. Perhitungan Derajat Penetasan (Hatching Rate) Perhitungan derajat penetasan (Hatching Rate) dilakukan pada saat larva berumur satu hari (D1) dengan metode sampling. Setelah dimasukkan ke dalam air berketinggian 80 cm. 4.5 inchi dengan panjang 150 cm. 5. bagian atas pipa ditutup dengan tangan. Proses tersebut dilakuka di lima titik sampel Setelah dilakukan sampling. 2. Pipa tersebut lalu diangkat dan air di dalam paralon segera dimasukkan ke dalam gelas ukur bervolume 250 ml. Larva yang berhasil menetas dihitung satu persatu dalam gelas beaker tersebut.baru menetas masih bersifat planktonik yaitu larva bergerak dengan mengikuti pergerakan dan arus air.00-07. dasar bak disipon secara perlahan dan hati-hati untuk membuang telur yang tidak menetas. maka Hatching Rate (HR) dapat dihitung dengan menggunakan rumus : . C. 3. Larva umur D1 diambil dengan menggunakan pipa paralon berdiameter 1. Sebelum melakukn sampling.

000 butir 4 10 Agustus 2010 100. Pada saat larva berumur D3. Persiapan Wadah Wadah atau bak yang digunakan untuk pemeliharaan larva sama dengan bak yang digunakan untuk penetasan telur sehinga tidak dilakukan penebaran larva. Pemberian minyak cumi dilakukan dalam sehari sebanyak dua kali yaitu pada hari pukul 06.1 ml/m2 atau 3-5 tetes disetiap titik aerasi agar larva tidak naik ke permukaan air. Data Hatching Rate HR Ikan Kerapu Tikus di Pembenihan Timur Nomor Bak Tanggal Tebar Telur Pada Tebar Telur HR 1 8 Agustus 2010 150.000 butir 2 9 Agustus 2010 100. aerasi diatur agak kecil karena larva bersifat planktonik (melayang di permukaan air dan bergerak mengikuti pergerakan arus air). Pada saat larva berumur 1 hari (D1). larva telah diberi pakan alami berupa chlorella dan rotifer.3. Tabel 6. .Berikut ini adalah data HR pembenihan timur setelah beberapa kali dilakukan penebaran telur.000 butir 33% 46% 52% 45% 4.00 WIB. Hal ini dilakukan untuk mengurangi stress pada larva akibat proses pemindahan dan perubahan lingkungan yang baru. Untuk mencegah hal tersebut D1-D10 diberi minyak cumi sebanyak 0.00 WIB dan sore hari pada pukul 16.6 Pemeliharaan Larva dan Benih A.000 butir 6 11 Agustus 2010 100.

Hal ini sependapat dengan Anonim (2010) uang menyatakan bahwa larva kerapu yang baru menetas mempunyai cadangan makanan berupa kuning telur. Pakan ini akan dimanfaatkan sampai hari ke 2 (D2) setelah menetas dan selama kurun waktu tersebut larva tidak memerlukan dari luar. Umur 3 hari (D3) kuning telur mulai terserap habis, perlu segera diberi pakan dari luar berupa Rotifera Brachionus Plicatilis dengan kepadatan 1 - 3 ekor/ml. Disamping itu ditambahkan pula Phytoplankton chlorella sp dengan kepadatan antara 5.10-10 sel/ml. Pemberian pakan ini sampai larva berumur 16 hari (D16) dengan penambahan secara bertahap hingga mencapai kepadatan 5 - 10 ekor/ml plytoplankton 10 2.10 sel/ml media. Pada hari kesembilan (D9) mulai diberi pakan naupli artemia yang baru menetas dengan kepadatan 0,25 - 0,75 ekor/ml media. Pemberian pakan naupli artemia ini dilakukan sampai larva berumur 25 hari (D25) dengan peningkatan kepadatan hingga mencapai 2 - 5 ekor/ml media. Disamping itu pada hari ke tujuh belas (D17) larva mulai diberi pakan Artemia yang telah berumur 1 hari, kemudian secara bertahap pakan yang diberikan diubah dari Artemia umur 1 hari ke Artemia setengah dewasa dan akhirnya dewasa sampai larva berumur 50 hari.

B. Perkembangan Larva Berikut merupakan perkembangan larva hingga mencapai juvenil :

a

b

c

d

e

f

gambar 2. Perkembangan larva ikan kerapu tikus a) D-0 Telur dalam masa perkembangan hingga menetas dengan panjang

tubuh 1,69 – 1,79 mm. b) D-1 Saluran pencernaan sudah mulai terlihat, akan tetapi mulut dan

anus masih tertutup, pakan yang dimakan masih mengandalkan kuning telur (yolk sac) c) D-2 Cadangan makanan pada beberapa ikan sudah mulai habis

sehingga larva membutuhkan pakan dari luar yaitu rotifera (Branchionus plicitalis). d) D-8 Bakal sirip punggung dari perut sudah mulai tampak berupa

tonjolan e) D-10 Tonjolan tersebut sudah terlihat panjang dan berbentuk spina. Pertambahan panjang spina ini berlanjut hingga D-21 f) D21 – D25 Terjadi metamorfosis, spina tereduksi menjadi duri keras

pertama pada sirip punggung dan sirip perut pada kerapu muda.

Hal ini sependapat dengan Akbar dan Syamsul (2001) yang menyatakan bahwa perkembangan larva hingga mencapai juvenil : a) D-0 Telur dalam masa perkembangan hingga menetas dengan panjang

tubuh 1,69 – 1,79 mm.

b) D-1

Saluran pencernaan sudah mulai terlihat, akan tetapi mulut dan

anus masih tertutup, pakan yang dimakan masih mengandalkan kuning telur (yolk sac) c) D-2 Cadangan makanan pada beberapa ikan sudah mulai habis

sehingga larva membutuhkan pakan dari luar yaitu rotifera (Branchionus plicitalis). d) D-8 Bakal sirip punggung dari perut sudah mulai tampak berupa

tonjolan e) D-10 Tonjolan tersebut sudah terlihat panjang dan berbentuk spina. Pertambahan panjang spina ini berlanjut hingga D-21 f) D21 – D25 Terjadi metamorfosis, spina tereduksi menjadi duri keras

pertama pada sirip punggung dan sirip perut pada kerapu muda. g) D-25 Mulai muncul bintik hitam dan itu akan merata di sekujur tubuh

ikan hingga pertumbuhan D-45. h) D-45 Larva telah berubah sempurna menjadi juvenil dan siap untuk

dijual (ukuran 2,7 – 5 cm)

4.3.7 Kualitas Air Lokasi budidaya yang ideal, selain pertimbangan umum di atas, juga harus memenuhi persyaratan-persyaratan kualitas airnya. Faktor kualitas air yang perlu dipertimbangkan untuk pemeliharaan pembenihan Kerapu tikus meliputi sifat fisika : Suhu dan Kecerahan, dan kimia meliputi : pH, DO dan Salinitas. Pemenuhan akan kebutuhan air harus diupayakan agar produksi benih ikan laut yang berkualitas, dalam jumlah yang cukup, dan kontunu dapat berhasil (Ghufran, M dan Andi Tamsil. 2010). Pengelolaan kualitas air di BBAP Situbondo dilakukan dengan pergantian air dan penyiponan. Penambahan air dimulai ketika larva berumur 8 hari (D8).

Data Kualitas Air Pemeliharaan Larva Kerapu Tikus Pembenihan Timur BBAP Situbondo No 1 2 3 4 5 6 4. Pada larva berumur 25 hari (D25) diganti sebanyak 3 m3 dan pada larva yang berumur lebih dari 45 hari pergantian air dilakukan secara terus menerus.Sebelum dilakukan pergantian air. air dikurangi hingga bersisa 8.000 L kemudian ditambah air dilakukan hingga 9.500 L untuk menjaga kualitas air pada wadah pemeliharaan tetap prima.3 31-33 >5 <1 < 0.8-8. Data kualitas air dapat dilihat pada tabel 7. Larva D1 belum membutuhkan pakan dari luar (exogenous feeding) karena masih memiliki cadangan makanan dari dalam (endogenous Parameter Suhu pH Salinitas Oksigen Terlarut(DO) Nitrit Amoniak Satuan o C ppt ppm ppm ppm Kisaran 30-31 7. Tabel 7.01 . Air yang digunakan untuk penambahan air berasal dari tandon yang sebelumnya didesinfeksi terlebih dahulu dengan formalin 10-30 ppm dan diareasi kuat minimal selama 12 jam. terlebih dahulu dilakukan penyiponan.8 Pakan Hasil pengamatan di lapangan memperlihatkan bahwa larva kerapu tikus D1 masih transparan. Pada larva yang berumur 45 hari. namum berasal dari air laut yang langsung disedot menggunakan pompa. Penggunaan air tandon dimaksudkan untuk menggunakan air yang bebas dari penyakit dan kualitas air yang lebih baik daripada menggunakan air laut yang langsung diambil dari laut.3. sumber air yang diganti tidak lagi berasal dari tandon. Penyiponan dilakukan untuk membersihkan kotoran-kotoran yang berada di dasar. Setelah bersih.

Rotofier. biasanya kepadatan Nannochloropsis sp yang ditebar berkisar 50. naupli Artemia sp. larva sudah mulai diberi Nannochloropsis sp. Maka dari itu. Pakan alami yang diberikan adalah Nannochloropsis sp. Tujuan dari pemberian Nannochloropsis sp ini adalah untuk menjaga keseimbangan kualitas air dan Nannochloropsis sp juga merupakan pakan untuk rotifera (Branchionus sp. Nannochloropsis sp harus dicek terlebih dahulu kepadatannya. Jenis pakan yang diberikan kepada larva kerapu tikus ada dua macam yakni pakan alami (live feed) dan pakan buatan (artificial feed). Otohime B2. Sebelum diberikan.feeding) yang berupa kuning telur. larva D2 juga diberikan rotifer di sore hari dengan dosis 3-5 ind/ml. rotifera (Branchionus sp. Selain Nannochloropsis sp. Sedangkan pakan buatan yang diberikan adalah Nosan R-1.) A.000 sel/ml atau ..1 Nannochloropsis sp Selama kuning telur larva masih ada. Otohime C1 dan Otohime C2. dan udang rebon (jambret). Otohime B1. Pemberian Nannochloropsis sp disalurkan langsung dari bak kultur massal menggunakan pompa celup melalui pipa paralon ¾ inchi yang pada bagian ujungnya diberi saringan 200 µm untuk mencegah masuknya kotoran yang terbawa dari kultur massal Nannochloropsis sp. Pemberian Pakan Alami A. sejak larva berumur D2. larva kerapu tikus belum mau untuk mengambil makanan dari luar.). Larva yang sudah berumur dua hari (D2) sudah diberi Nannochloropsis sp. Larva D1-D10 sangat peka terhadap cahaya sehingga cenderung untuk naik ke permukaan air.000-100.

s Emulsion sebanyak 10 ml (satu tutup botol Scoutt’s Emulsion) dalam 20 L air dan 0. rotifer dapat diberikan pada larva. tetapi secara teknis siste atermia dapat diproduksi secara massal dalam tempat (wadah) yang .2 Rotifera (Branchionus plicatilis) Pemberian rotifer pada saat di lapangan diberi pada larva berumur D3-D35 dan juga dengan melihat kondisi ikan.5 gram taurin dan dibiarkan selama 2 jam. rotifer yang akan diberikan dilakukan pengkayaan terlebih dehulu menggunakan Scout’.100-150 liter/bak pemeliharaan larva. banyaknya pemberian rotifer tergantung dari kepadatan rotifer maka dilakukan pengecekan setiap hari menggunakan gelas piala. Hal ini bertujuan untuk memperbaiki kandungn nutrisi rotifer dan meningkatkan daya tahan tubuh larva dan benih terhadap penyakit. Meskipun secara ekonomis kurang menguntungkan.3 Artemia sp. Pemberian Nannochloropsis sp berfungsi sebagai Greeen Water Sistem atau sebagai keseimbangan media untuk mengatur kecerahan air dan juga untuk pakan rotifer. A. Rotifer diberikan dengan menggunakan gayung dan disebarkan pada setiap titik aerasi. Pemberian Nannochloropsis sp dihentikan pada saat larva berumur D30 atau dengan melihat kondisi larva. dalam hal ini adalah dimana dengan melihat pertumbuhan ikan yang lambat masih membutuhkan rotifer sebagai pakannya. namun.00 WIB dengan kepadatan 3-5 individu/ml. Sebelumnya. A. Setelah itu. Pemberian rotifer hanya dilakukan sekali dalam sehari yaitu pada pukul 09. Nannochloropsis sp biasanya diberikan sebanyak 1 kali dalam satu hari yaitu pada pagi hari.

Beberapa butir thiosulfat ditambahkan ke siste yang sebelumnya telah ditambahkan air tawar dan diaduk. 1995). Pemberian naupli artemia dilakukan sebanyak tiga kali dalam satu hari yaitu pukul 08.00 dan 17.00 WIB. Saring dan bilas dengan air tawar sampai bersih 4. 3. Pemberian Naupli artemia di BBAP Situbondo pada saat berumur D18 atau tergantung bukaan mulut larva. kemudian di tambahkan klorin sebanyak 250 ml. 5. Sebelum diberikan pada larva naupli yang berasal dari siste didekapsulasi terlebih dahulu. Siste artemia tersebut diaduk dengan cepat. Siste disaring dan ditambah air tawar. segera disaring dan dibilas dengan air tawar sampai bersih dan tidak ada bau klorin. 2. 6. Proses dekapsulasi dilakukan dengan cara sebagai berikut: 1. Siste direndam dalam air tawar selama 5 menit sambil diaduk dengan cepat. Jaga suhu di bawah 40 0C. 13.00. . Abbas. Tahap no 2 dan 3 diulangi sampai warna siste berubah menjadi oranye ataupun tergantung dari produk sistenya.terkendali. Proses dekapsulasi tersebut memakan waktu antara 5 – 15 menit. Untuk tujuan ini dilakukan dengan memanipulasi lingkungan hidupnya agar artemia terpaksa melangsungkan perkembangbiakan secara ovipar uang menghasilkan telur (Siregar. Setelah terjadi perubahan warna.

Cara penetasannya adalah wadah plastik diisi dengan air dan diaerasi kuat. A. artemia disterilisasi dengan akriflavin sebagai anti ektoparasit. Siste disaring dan dibiarkan mengering sejenak dan masukkan ke dalam kantong plastik untuk disimpan pada suhu dingin selama maksimal 1 minggu Setelah didekapsulasi. Awal pemberian dilakukan dengan mencairkan pakan untuk . Penetasan siste yang didekapsulasi memerlukan waktu antara 18 – 30 jam pada air laut. siste artemia tersebut ditetaskan sesuai dengan kebutuhan larva. Udang ini berfungsi sebagai pakan selingan. Jumlah pemberian pakan rebon secara at satiation (sekenyangnya). satu bungkus artemia yang telah didekapsulasi dimasukkan ke dalam air tersebut. Setelah itu. artemia disterilisasi dengan akriflavin sebagai anti ektoparasit. pertahankan suhu kisaran 25 – 30 0C dan pH 8 – 9. Sebelum diberikan ke larva. B. Setelah itu artemia disipon menggunakan selang dan ditampung di dalam saringan 300 µm.4 Udang Rebon Udang rebon mulai diberikan pada saat ikan kerapu menjelang lepas sensor sampai awal lepas sensor (D25 sampai D45). Pemberian Pakan Buatan Pemberian pakan buatan bagi larva kerapu tikus dilakukan saat larva telah berumur 8 hari. Sebelum diberikan ke larva.7. naupli artemia siap diberikan ke larva. Setelah itu. Panen dimulai dengan cara menghentikan aerasi dan tunggu selama 15 menit agar telur-telur artemia mengendap. Untuk hasil optimum.

Data mengenai pemberian pakan buatan dapat dilihat pada tabel 8. Rotifera (Branchionus sp) dan Artemia sp. Tahapan Pemberian Pakan Buatan bagi Larva Kerapu Tikus Stadia larva Jumlah pakan yang diberikan 8 D8-D17 gram/pemberian 2 kali µm) Frekuensi pemberian Merek pakan Gambar (ukuran pakan) Nosan R-1 (20–50 D18D20 8 3 kali gram/pemberian Rotifier (50 – 100 µm) D21D30 10 3 kali gram/pemberian Otohime B1 (200 – 300 µm) D31D45 15 3 kali gram/pemberian Otohime B2 (300 – 600 µm) 15 >D50 gram/pemberian 4-6 kali EP-1 C. kultur pakan alami Pakan alami yang digunakan selama pemeliharaan larva dan benih ikan kerapu bebek baik fitoplankton maupun zooplankton di BBAP Situbondo yaitu Nannochloropsis sp. Tabel 8.weaning pakan bagi larva. Pakan alami .

Kultur pakan alami bertujuan untuk menjamin ketersediaan pakan alami secara berkesinambungan sesuai kebutuhan dalam larva dan benih ikan kerapu tikus. Mn. Salinitas air laut yang diharapkan adalah 25-28 ppt.1 Kultur Nannochloropsis sp Membudidaya Nannochloropsis sp dapat diambil langsung dari tambak budidaya. Setelah media siap bibit plankton dimsukkan 1/3 bagian dan siap dipanen 5-6 hari (Edhy W dkk. selanjutnya ditambah pupuk cair sebanyak 1 ml/lt.5 liter-1 liter air yang akan disiapkan sebagai media tumbuh plankton sebelumnya disterilkan terlebih dahulu dengan menggunakan klorine kemudian air laut di biarkan selama 3-5 hari sampai residu klorine hilang.5 m (gambar) dengan kapasitas volume air maksimal sebesar 18 m3. Zn. Setelah itu.sangat penting peranannya bagi larva dan benih sebagai sumber makanan dengan kandungan nutrisi yang sangat tinggi. 2003). P. Kultur Nannochloropsis sp skala massal dilakukan pada ruangan terbuka (outdoor) dengan ukuran wadah 5x3x1. Air laut tersebut kemudian dimasukkan kedalam botol-botol yang telah disiapkan. C. Budidaya plankton dilakukan pada botol dengan volume 0. S dan sebagainya. K dan Mg sebagai unsure hara makro serta unsure hara mikro Fe. S. Persiapan wadah dilakukan dengan cara menyikat dasar dan dinding wadah kemudian wadah diisi air laut sebanyak 15 m3. dengan mengatur rasio N/P supaya Nannochloropsis sp dapat mendominasi yang lainnya. pupuk yang digunakan harus mengandung unsur hara yang dibutuhkan seperti N. media disterilisasi dengan menggunakan kaporit 10 ppm dan didiamkan selama 2 .

Siregar. C. Kultur missal rotifera dilakukan pada bak volume 5-12 m3. Abbas (1995). Branchionus memiliki kecepatan pertumbuhan dan reproduksi tinggi. betina memproduksi 20 butir telur atau lebih selama 7-10 hari masa hidupnya.2 Kultur Rotifera Organisme rotifer berbentuk simetris bilateral manyerupai piala. Setelah 12 jam. Pemupukan dilakukan setelah bibit masuk ke dalam media.jam dan diberi aerasi kuat. dan kaki / ekor. kemudian media dinetralkan dengan menggunakan natrium thiosulfat (Na2S2O3) ≤ 5 ppm. Pemberian pupuk dilakukan dengan cara dilarutkan dalam 10 liter air laut lalu disebar merata dalam bak kultur. Bibit yang digunakan berasal dari skala intermediet atau dari bak kultur skala massal lainnya. Pada kondisi normal. ZA 30 ppm. badan. Rotifer merupakan salah satu jenis rotifer yang biasa diproduksi secara massal. dilakukan pembibitan dengan cara mengalirkan Nannochloropsis sp sebanyak 20 % dari total volume air yang ada dalam bak dengan menggunakan pompa celup. Kultur dilakukan dalam ruang terbuka yang cukup mendapatkan cahaya matahari. Chlorella sp dapat dipanen setelah berumur 5-7 hari dengan cara disedot menggunakan pompa celup lalu dialirkan langsung kedalam bak rotifer dan unit pembenihan melalui pipa PVC ukuran 3/4 inchi. dimana umur Nannochloropsis sp telah mencapai 5-7 hari dengan kepadatan 1-5 juta sel/ml. Tubuh yaitu. Secara umum dikenal 2 metode kultur rotifera yaitu metode panen harian lebih praktis dan . kepala. Pupuk yang digunakan terdiri dari Urea 40 ppm. dan TSP 20 ppm.

Rotifer yang telah dipanen dapat langsung diberikan ke larva. Kultur rotifer di BBAP Situbondo dilakukan skala massal dalam bak beton yang berukuran 5x2x1. pengambilan rotifer disaring kembali dapat saringan agar kotoran tidak ikut terbawa. bak diisi dengan Chlorella sp untuk pakan rotifera sebanyak 2-3 m3 yang telah berumur 5-7 hari kemudiam bak ditambahkan dengan air laut dengan volume yang sama (perbandingan 1:1). Persiapan wadah dilakukan dengan cara menyikat dasar dan dinding bak hingga bersih dan dikeringkan hingga keesokan harinya. namun rotifera yang dihasilkan dari metode transfer lebih bersih. Metode ini dilakukan dengan cara mengalirkan air media kultur dengan menggunakan selang spiral 1 inchi yang bagian ujungnya diberi planktonnet 300 mesh size sebanyak 20-30% dari volume media kultur dan ditampung dalam drum 150 liter yang diberi aerasi.9 Pengendalian dan Pencegahan Hama dan Penyakit . bibit rotifer ditebar dengan kepadatan 30-40 individu/ml yang diperoleh dari bak kultur rotifer yang lainnya yang siap panen atau dari kultur skala intermediet.5 m dengan kapasitas maksimal 12 m3. Keesokan harinya.3. kepadatan kultur massal dapat dilihat dari kondisi perairan yang bening. Metode pemanenan yang dilakukan adalah metode panen harian. 4. Namun. Kepadatan rotifer akan mencapai puncak pada hari ke 4-7 dengan kepadatan 150-250 individu/ml. Setelah itu. Pemanenan dilakukan setiap hari pada bak kultur yang sama dan dapat berlangsung selama 3-4 minggu.mudah sedangkan pada metode transfer diperlukan bak kultur yang lebih banyak.

yaitu Vibrio alginolyticus. diantaranya adalah penyakit borok pangkal sirip ekor dan penyakit mulut merah.Permasalahan penyakit yang paling banyak pada ikan bersirip (finfish) dijumpai pada budidaya ikan kerapu. Perlakuan untuk pencegahan penyakit pada pembenihan kerapu tikus di BBAP Situbondo dilakukan dengan penggunaan probiotik. Jika jumlah bakteri belum mencukupi untuk membuat ikan menjadi sakit maka ikan atau larva tersebut tidak akan menjadi sakit. Bakteri yang digunakan sebagai probiotik adalah jenis Bacillus sp. V algosus. pada saat penulis melakukan kegiatan PKL di unit pembenihan timur BBAP Situbondo sempat terjadi kematian massal menyebabkan kematian pada larva atau benih. INVE. setiap unit pembenihan di BBAP Situbondo memiliki cara dan teknik yang berbeda-beda. dengan merek dagang Sanolife buatan PT. Hasil isolasi dan identifikasi bakteri ditemukan beberapa jenis bakteri yang diduga berkaitan erat dengan kasus penyakit bakterial. Penggunaan probiotik sekarang sudah banyak digunakan untuk menggantikan peran antibiotik untuk mencegah penyakit yang menyerang larva atau benih. Penggunaan probitiotik diharapkan dapat menekan jumlah bakteri patogen di dalam wadah budidaya. V anguillarum dan V fuscus. Kematian massal sering terjadi . Diantara jenis bakteri tersebut bakteri V alginolyticus dan V fuscus merupakan jenis yang sangat patogen pada ikan kerapu tikus (Salim. 2009). Bakteri patogen membutuhkan jumlah bakteri yang cukup untuk membuat ikan menjadi sakit. Jenis penyakit bakterial yang ditemukan pada ikan kerapu. Namun. Pada saat melaksanakan PKL dalam rangka pencegahan dan pemberantasan hama penyakit.

Produksi.1 Pemanenan Benih Sebelum dilakukan pemanenan. 4. Juvenil yang telah dipanen dipisahkan berdasarkan ukurannya (grading).7-4 cm. dilakukan pergantian air pada pagi dan sore hari. biasanya benih di grading terlebih dahulu. sirkulasi air selama 24 jam untuk benih yang sudah berukuran 2-4 cm. Ukuran pasar benih yang dijual biasanya berkisar antara 2. dan penyiponan pada pagi dan sore hari. pakan alami pada Nannochloropsis sp yang sempat kontaminan terhadap rotifera serta penyakit yang disebabkan oleh VNN(Viral Nervous Necrosis). Benih dapat dipanen pada umur D60 atau jika ukurannya sudah mencapai ukuran pasar (minat pembeli). Proses pemanenan dilakukan dengan menggunakan baskom plastik yang dialiri air dari pipa paralon. Air pada bak pemeliharaan diturunkan secara perlahan sampai tingginya sekitar 30 cm.4 Pemanenan. Grading (pemilihan . pencegahan penyakit dapat dilakukan dengan berbagai cara seperti dilakukannya desinfeksi pada wadah yang akan digunakan. dilakukan treatment pada air yang akan digunakan. Sehingga dilakukan pencegahan hama penyakit yang rutin dan terkontrol. Setelah ketinggian air mencapai 30 cm benih kerapu dapat dipanen dengan menggunakan keranjang plastik.4. proses pemanenan biasanya dilakukan pagi hari belum terlalu tinggi sehingga tidak menyebabkan stress pada benih yang akan dipanen dan digrading.pada larva yang diakibatkan oleh kualitas air pada suhu yang sempat turun mencapai 29oC. dan Pemasaran 4. Hal ini bertujuan untuk menyeragamkan ukuran benih yang akan dipasarkan dan juga untuk memisahkan benih yang masuk pasaran karena cacat (abnormalitas).

Sulawesi Selatan. pemasaran benih ikan kerapu tikus untuk segala ukuran (3 – 10 cm) dan berapapun jumlahnya tidak terlalu sulit. Harga benih ikan kerapu memiliki fluktuasi di pasar tingkat produsen di Jawa Timur (Situbondo). bak terkontrol maupun di tambak di dalam maupun di luar negeri sudah banyak dilakukan. Kepulauan Riau (Batam). Kalimantan Barat. dan lain-lain. Jawa Tengah. Kalimantan Selatan. sehingga aspek pemasaran tidak boleh dianggap ringan. Sulawesi Tenggara. Hal ini disebabkan karena usaha pembesaran ikan kerapu baik di Karamba Jaring Apung (KJA). Bali. NTB. NTT. Ikan yang berukuran lebih besar akan selalu memangsa ikan yang lebih kecil dalam satu wadah pemeliharaan. 4. Singapura. .2 Produksi dan Pemasaran Setelah kerapu tikus telah mencapai ukuran pasar.500 per sentimeter. Lampung. Cina. Sifat kanibalisme pada kerapu terjadi pada saat kondisi kekurangan makanan dan perbedaan ukuran. Bali (Gondol) dan Lampung. Sulawesi Tengah. Taiwan. Jawa Barat. Sumatera Barat. Sumatera Selatan. Informasi mengenai permintaan konsumen sangat penting. Jawa Timur. Pemasaran merupakan rantai akhir dalam usaha pembenihan ikan kerapu. Malaysia. Irian Jaya.4. Kepulauan Bangka Belitung. BBAP Situbondo menjual dengan harga ikan kerapu tikus seharga Rp 1. Daerah pemasaran ikan kerapu diantaranya adalah Lampung.ukuran) merupakan salah satu cara untuk menyeragamkan pertumbuhan dan mengurangi kematian benih pasca lepas sensor akibat sifat kanibal pada ikan kerapu. Sumatera Utara. Dewasa ini. maka ikan tersebut pun akan dipasarkan. Kalimantan Timur.

2 Kemungkinan Pengembangan Usaha Kebutuhan dan harga kerapu tikus yang tinggi memberikan potensi tersendiri bagi usaha kerapu jenis ini yang merupakan penyokong untuk usaha budidaya selanjutnya (pendederan dan pembesaran). pakan. aktivitas penangkapan serta memerlukan fasilitas penyimpanan bersuhu dingin karena kualitasnya mudah menurun dan mudah terkontaminasi dengan mikroba pathogen. Induk masih berasal dari alam sehingga ketersediaan induk terbatas dan tergantung dari tangkapan nelayan. sehingga perlu penambahan budidaya untuk pemeliharaan induk. b. c.5 Masalah dan Kemungkinan Pengembangan Usaha 4.5. sehingga perlu penanganan upaya pencegahan seperti pemberian probiotik dan mejaga kualitas air.5. . Kematian massal yang sering terjadi pada larva terutama pada umur 3-5 hari (D3-D5). Selain itu. 4.1 Masalah yang Dihadapi Permasalahan yang dihadapi dalam pembenihan kerapu tikus selama di Balai Budidaya Air Payau Situbondo adalah : a. benih kerapu tikus disamping digunakan dalam pembesaran. Ketersediaan pakan ikan rucah untuk induk yang menyesuaikan musim. dan 21-24 hari baik yang diakibatkan oleh kualitas air. 11-12 hari. sehingga perlu pembuatan pakan buatan untuk indukan.4. juga digunakan sebagai ikan hias. penyakit maupun kemampuan dalam melewati masa kritis menyebabkan tingkat kelulushidupan larva sangat rendah dan pertumbuhannya lambat serta belum ada tindak lanjut terhadap serangan penyakit.

740 per tahun. keuntungan yang diperoleh per siklusya adalah sebesar Rp 51. dengan penebaran 112.900. Perhitungan analisis usaha pada produksi benih ikan kerapu tikus dapat dilihat pada lampiran 5.064.9 %. menjaga mutu atau kualitas benih yang dihasilkan.Dalam rangka pengembangan usaha dan peningkatan produksi pembenihan. Perhitungan payback period yaitu dalam pengembalian investasi . perbaikan sarana dan prasarana yang memadai.-. sehingga terjamin kelestarian sumber daya ikan di laut. Biaya tetap yang dibutuhkan untuk usaha pembenihan kerapu tikus sebesar Rp 129.595.500/bak beton berkapasitas 9 ton didapatkan tingkat Survival Rate (SR) mencapai 12. Mengendalikan penangkapan ikan kerapu di alam secar bijaksana.340 Per tahun dan biaya variabel yang dibutuhkan sebesar 60.815.400 per tahun sehingga biaya operasional yang dibutuhkan sebesar 190.469.733.483. Biaya investasi yang dibutuhkan untuk usaha pembenihan ikan kerapu tikus skala rumah tangga sebesar Rp 215. 4. menjalin kerjasama dengan berbagai pihak terutama dalam kegiatan pemasaran. Diketahui dari hasil perhitungan R/C Ratio >1.6 Analisa Usaha Pembenihan Kerapu Tikus (Chromileptes altivelis) Skala Rumah Tangga Analisa usaha dalam produksi benih ikan kerapu tikus dalam 1 siklus. beberapa hal yang dapat dilakukan adalah : peningkatan kinerja melalui penerapan ilmuatau teknologi yang tepat tentang pembenihan kerapu tikus maupun semangat kerja bagi para staf (peningkatan sumberdaya manusia).1 maka usaha produksi ikan kerapu tikus tersebut merupakan usaha yang layak dilakukan dan menguntungkan untuk dikembangkan. yaitu 2.

599. Hasil perhitungan analisis usaha ini maka dapat diartikan bahwa usaha produksi ikan kerapu skala rumah tangga ini layak untuk di usahakan dan akan menguntungkan apabila usaha ini dikembangkan. Sumatera Utara. Bali. BEP harga benih Rp 719/cm artinya bahwa titik impas akan dicapai pada saat harga jual benih Rp 719/cm. Perhitungan BEP produksi benih didapatkan sebesar 9. Jawa Tengah. Taiwan.4 bulan. Sulawesi Selatan. NTT. Kalimantan Timur. Sulawesi Tenggara.2 ekor yang artinya apabila perusahaan mampu untuk menjual produk yang dihasilkan sebesar 9. Kalimantan Barat. Malaysia. . Singapura. Cina.2 ekor. Sulawesi Tengah. Kepulauan Riau (Batam). Sumatera Barat. Lampung. Kepulauan Bangka Belitung. dan lain-lain. Kalimantan Selatan.yang ditanam akan kembali dalam waktu 4 tahun 2. maka kondisi tersebut tercapai titik impas sehingga perusahaan tersebut tidak mengalami untung maupun rugi. Irian Jaya. Jawa Timur. Sumatera Selatan. NTB. Daerah pemasaran ikan kerapu diantaranya adalah Lampung. Jawa Barat.599.

persiapan induk. Otohime B2 15 gram/pemberian 3 kali/hari.000 sel/ml 1 kali/hari dan Rotifer 3-5 individu/ml 2 kali/hari) maupun pakan buatan(Nosan R-1 8 gram/pemberian 2 kali/hari.V KESIMPULAN DAN SARAN 5. pengelolaan kualitas air dengan salinitas 31-33 ppt. Rotifier 8 gram/pemberian 3 kali/hari. Kematian massal sering terjadi pada larva yang diakibatkan oleh penyakit VNN(Viral Nervous Necrosis). belum ada pengobatan terhadap penyakit. Otohime EP-1 15 gram/pemberian 4-6 kali/hari). persiapan bak pemeliharaan larva. pemijahan. Induk masih berasal dari alam sehingga ketersediaan induk terbatas dan tergantung dari tangkapan nelayan. Otohime B1 10 gram/pemberian 3 kali/hari.01 ppm. . nitrit < 1 ppm.000-100. penetasan telur. pemberian pakan sesuai dosis baik berupa pakan alami(Nannochloropsis 50. Teknik pembenihan ikan kerapu tikus meliputi. seleksi telur. penebaran telur.9%. Nitrat < 150 ppm. pH 7. DO > 5 ppm. Memerlukan fasilitas penyimpanan bersuhu dingin agar kualitas pakan ikan rucah untuk indukan tidak menurun.3. 2. seleksi induk. Grading dilakukan apabila terlihat perbedaan ukuran yang mencolok pada benih dan munculnya sifat kanibalisme. suhu 30o31oC.8-8. pencegahan penyakit dengan menggunakan probiotik Sanolife. SR ikan kerapu tikus 12. amoniak < 0.1 Kesimpulan 1.

5. 3. disarankan supaya ada penambahan budidaya pada pemeliharaan induk. . 2. disarankan ada studi-studi lebih lanjut untuk menemukan formula yang tepat untuk meningkatkan kekebalan benih dan menghasilkan benih yang tahan penyakit.2 Saran 1. Ketersediaan pakan ikan rucah untuk induk yang menyesuaikan musim. disarankan perlu adanya pembuatan pakan buatan untuk indukan. Belum adanya pengobatan terhadap penyakit VNN(Viral Nervous Necrosis) yang dapat menyebabkan kematian massal terhadap larva ikan kerapu tikus. Induk yang masih berasal dari alam sehingga ketersediaan induk terbatas dan tergantung dari tangkapan dari nelayan.

Penerbit Yayasan Pustaka Nusatama. S. Plankton di Lingkungan PT. Penerbit Rineka Cipta. Penggunaan Biokatalisator pada Budidaya Udang Galah. M. 2007. Usaha Pembesaran Ikan Kerapu di Tambak.H. http://jlcome. M. Pantai Timur. 233 hal Kordi K. 1998. Pembenihan Ikan Laut Ekonomis Secara Buatan. Edhy. Octopus. 2001. Parameter Dasar Budidaya Perairan. 2010. Ghalia Indonesia.htm.html. PT. 2007. Central Pertiwi Bahari. 115 halaman Kordi K.G. S. Cahyaningsih. Produksi Pakan Alami..com/PPS702-ipb/05123/suria_darwisito. 1988. Jakarta. Wahyuni. Central Pertiwi Bahari. P.VI DAFTAR PUSTAKA Anonim.G.blogspot. Budidaya Ikan Laut di Kramba Jaring Apung.com/2007/10/parameter-dasar-budidayaperairan. Yogyakarta. M. Pustaka Pelajar. S.I. 2002. 07/06/2010. 12/05/2010. Tikus. 188 halaman Murtiati. 2002. 1999.G. K.iptek. 07/06/2010. Darwisito. Azwar.net. Loka Budidaya Air Payau.. W. 2005. Biologi Perikanan.com/group/mmaipb/message/2070. 146 hal.id/ind/warintek/?mnu=6&ttg=3&doc=3b7. M. dkk. 07/06/2010. 2009. Anonim.A dkk. Simbolon dan J. 2010. Yogyakarta. Penerbit Lily Publisher. 159 hal Jatilaksono..blogspot.H. . Jakarta. 2008. T. 99 hal Effendie. Budidaya Ikan Kerapu http://octopus39. Penerbit Kanisius.html. M.H. http://groups. Yogyakarta. 07/05/2010. Metode Penelitian. Metodologi Penelitian. Yogyakarta.com/2008/11/budidaya-ikan-keraputikus. 24:19-26 Nazir. Pembenihan ikan kerapu macan (Epinephelus fuscoguttatus). Departemen Kelautan dan Perikanan Direktorat Jendaral Perikanan Budidaya Balai Budidaya Air Payau. M. 2003. Strategi Reproduksi pada Ikan Kerapu. Kordi K. 135 hal. http://rudyct.yahoo. http://www.

Romimohtarto. dkk. Beronang.com/2009/04/laporan-magangperikanan. P.2007. Biologi Laut . Jakarta. H. S. Penerbit Djambatan. 87 halaman Sunyoto. 2007. manik. Penerbit Kanisius.com/2007/02/21/keracunan-nitrit-nitrat/. Laporan Magang Perikanan. Panduan Diagnosa Penyakit Ikan. dan S. 1993. Penerbit Penebar Swadaya. Jakarta.blogspot. Jakarta. Pembenihan Ikan Laut Ekonomis : Kerapu. 540 hal Salim. Kakap. Juwana. http://mandala- Siregar. Rajawali. Abbas. Wahyudhy. http://klikharry. C. Balai Budidaya Air Tawar Jambi. 2002.V. 1995. Kei. Metode Penelitian. A. Yogyakarta. Yuasa. 26/05/2010. 84 halaman Suryabrata. Pakan Ikan Alami.wordpress. 2009. 12/05/2010.html?zx=769a8d327799ce15. dan Mustahal. Keracunan Nitrit-nitrat. 2003. Ilmu Pengetahuan Tentang Biota Laut. DKP dan JICA . K. Ditjen Perikanan Budidaya.

LAMPIRAN Lampiran 1. Peta Lokasi Kerja Praktek Lapangan Desa Pecaron. Kabupaten Situbondo. Kecamatan Panarukan. Propinsi Jawa Timur .

Denah Balai Budidaya Air Payau Situbondo 1 6 3 4 23 1 1 5 7 9 11 1 23 23 10 10 30 7 23 28 29 23 30 31 7 7 9 12 13 14 23 8 16 15 19 17 25 26 27 23 32 23 33 17 34 17 19 8 18 9 15 35 24 23 21 23 23 18 20 22 21 U .Lampiran 2.

29. 23. . Bak filter sand 16. 32. Bak pembenihan Abalone 15. Rumah karyawan. 7. Bak pembenihan timur 13. Musholla. Laboratorium nutrisi dan pakan buatan 26. 24. 33. Bak kultur Brachionus plicatilis 10. 8. 2. Dapur. Ruang kuliah.Keterangan : 1. Bak kultur Chlorella sp 9. Bak pemeliharaan nener 11. Asrama 22. Bak tandon air laut 20. Laboratorium pakan alami 14. 25. Bak induk kerapu. 35. Bak pembenihan tengah 17. Rumah genset. Bak calon induk kerapu. Ruang staf teknis dan Laboratorium Bioteknologi 28. Rumah blower. Kantor. 34. Pompa air laut. Koperasi dan workshop. 21. Bak pembenihan barat. Garasi mobil. Auditorium. Perpustakaan 30. Bak karantina 12. Ruang pembuatan pellet. Laboratorium penyakit dan kualitas air. 27. Bak pembesaran udang Vanname 19. 6. 4. Bak induk bandeng 18. Broodstock Center Udang Vanname 5. 31. Bak penampungan telur 3. Bak tandon air tawar.

Perekayasa Pengawas Benih Pranata Humas Pengawas Budidaya Peng. M. : Ir. Hama dan Peny. Made Yooriksa Kepala Seksi Pelayanan Teknis Dede Sutende Kepala Seksi Stand. Akhmad Romadlon. & Info. S. M. Siti Zubaidah.Si.Si. Kepala Seksi Bag. Struktur Organisasi Balai Budidaya Air Payau (BBAP) Situbondo Kepala Balai Ir. M.Lampiran 3. Ikan Litkayasa Fungsional Lainnya . Slamet Subyakto. Kelompok Jabatan Fungsional Koord.PT. Tata Usaha Ir.Si.

00 15.00 09. Daftar Ukuran Pakan dan Jadwal Pemberian a.00 12.000 µm 1.400 µm 1.500 µm 2.30 16.00 07.200 – 2.00 15.00 14.200 µm 1.00 11.Lampiran 4.400 µm 1.00 10.00 Jenis Pakan Minyak cumi Pakan buatan (Rotofera/Rotemia) Pakan Buatan Rotifer Artemia Pakan Buatan Pakan Buatan Artemia Pakan Buatan Rotifer Artemia Udang rebon Keterangan Larva (D2-D8) Larva -Benih Benih Larva (D 2.D 36) Larva-Benih Benih Larva-Benih Benih Larva-Benih Larva (D2-D8) Larva-Benih Benih Ukuran pakan 20 – 50 µm 100 – 200 µm 200 – 300 µm 200 – 400 µm 300 – 500 µm 400 – 600 µm 500 – 800 µm 800 – 1. Daftar Ukuran Pakan Uraian Rotemia NRD ½ NRD 2/3 NRD 2/4 NRD 3/5 NRD 4/6 NRD 5/8 NRD G8 (8/12) NRD G12 (12/20) Nosan R-1 Rotifier Love Larva Otohime B-1 Otohime B-2 Otohime C-1 Otohime C-2 Otohime S-1 Otohime S-2 Otohime EP1 Otohime EP2 b.200 µm .000 µm 20 – 50 µm 50 – 100 µm 100 – 200 µm 200 – 300 µm 300 – 600 µm 500 – 900 µm 900 – 1. Jadwal Pemberian Pakan Waktu 06.

400/unit 1.600.000 40.000.000.Saringan artemia 200 mikron Jumlah 1 unit 1 unit 6 unit 10 unit 4 unit 1 unit 1 unit 1 unit 1 unit 1 unit 1 unit 1 unit 2 buah 1 unit 1 unit 1 unit 1 unit 1 unit 1 unit 2 buah 2 buah 1 buah 8 buah 3 buah 1 buah 8 buah 20 buah 1 buah 2 buah Harga Satuan (Rp) 100.000.000 300.5 m3 .750.000.000 200.000.000.Runah genset 6m2 .000 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 .000.000 10.Rumah pompa air laut 6 m2 .Bak kultur rotifer 12.000/unit 4.000 24.000.000/unit 2.117.000 15.5 PK Pompa air tawar5 PK Pompa celup(dab) Hi-blow 5 PK Instalasi air laut Instalasi air tawar Instalasi aerasi Instalasi listrik Genset 3000 watt Bak fiber Bak fiber Tabung gas Peralatan pembenihan: .000. Biaya investasi No.000.Ember 5 liter . a.500 1.000 3.000/unit 2.000.000/unit 3.Ember 30 liter .000 10.000/unit 2.000/unit 5.000/unit 1.000/unit 10.000.000.000 25.000 6.000.000 600.000/unit 4.Saringan rotifera 300 mikron .000.000/unit 10.082.000/buah 300.Rumah Hi-blow .000/buah 3.Bak filter air laut 18 m3 .000.000/buah Jumlah (Rp) 50.000 2.000.000/m2 15.000 4.000.Hatchery 140 m2 .000.000 900.000/unit 10.000/unit 1.Gayung 2 liter .Baskom sedang . Analisis Usaha dalam Produksi Benih Kerapu Tikus di Balai Budidaya Air Payau Situbondo.500/unit 1.000.400 1.000. 1 2 Uraian Lahan 500 m2 Borongan Bangunan .Ember 20 liter .000.117.000.750.000/unit 10.000 16.000.000 3.600.Bak larva .000 24.000/buah 3.Rumah jaga 25 m2 Pompa air laut 7.000/unit 6.000 10.000/buah 200.000 3.000/buah 10.000.082.Lampiran 5.000 3.000.000 2.000.000 30.000/unit 600.000/unit 3.000/unit 4.Bak kultur Chlorella sp 12.000.000 400.000. .000 40.000/unit 25.000.000 2.000/unit 450.000.5 m3 .000 1.000/unit 3.

000 200.398.365.000 215.000 1.000 400.000/m 300.0000/buah 200.000 250.250.733.000/buah 35.000 60.000 700.000/unit 20.000/buah 3.000/bln/org 500/bln (10% dari 17.000 145.000 8.000/unit 550.000/roll 75.000/buah 175.835 129.000 200.000 50.800.000 1.340 .000 75.000 300.500/buah 2.945 50.000 550. Biaya Tetap dan Variabel No Uraian I.000 35.500/buah 2.000/buah 25.000 300.000/roll 10.000 150.000 Jumlah Harga Satuan (Rp) Jumlah (Rp) 32.900 b.595.000/buah 75.000 200.890 4.000/buah 200.000/buah 60.000 350.682. Biaya Tetap 1 2 3 4 5 6 Penyusutan investasi) Gaji Pegawai Biaya Listrik Perawatan Peralatan (5% dari investasi) Pajak Pulsa Handphone Total Biaya Tetap Biaya Tetap Selam 1 Tahun 100.500.000 300.000 150.000/buah 1.000/buah 300.- Saringan udang 1 buah rebon Saringan pakan 150 2 buah mikron Filter bag 6 buah Selang aersi 1 roll Batu aerasi 100 buah Kran aerasi 100 buah Pemberat aerasi 100 buah Plastic penutup 1 roll Keranjang koli 20 buah Gelas piala 1000 ml 1 buah Gelas piala 200 ml 1 buah Gelas piala 50 ml 1 buah Tong plastik 60 ml 2 buah Tong plastik 80 ml 2 buah Piring kecil (teplek) 1 lusin Kulkas 1 pintu 1 unit Lemari plastic 1 unit Selang 1” 20 m Spon (busa kasar) 1 roll White board 1 buah Total Biaya Investasi 100.000/buah 75.000/buah 100.000/buah 145.250.000/bln 2 orang 800.000 200.

200.5 675.000/kg 1.000 2 kg 300.200.117. Biaya Variabel 1 2 Telur Obat-obatan : 3 Pakan : a.000/bks 1. Udang rebon Total Biaya Variabel Biaya Variabel Selama 1 tahun Total Biaya Operasional (TC) 1 siklus Biaya Operasional (TC) 1 Tahun 15.350 60.000/kg 600.780.740 .000 37.500.200.400 47.469.516.000/kg 550.000 2.000 4 kg 6 kg 500 bks 300.000 4 kg 300.000 2 kg 275.350 450.000 Formalin Chlorine Na-thiosulfate Scott’s Emullsion 3 btl 20 L 20 L 300.II. Artemia b.000/kg 5.000 300.000 3. Pakan buuatan : Ukuran mikron Ukuran mikron Ukuran mikron Ukuran mikron Ukuran mikron Ukuran 800 mikron 400-600 300-500 200-400 200-300 100-200 1 kg 600.000 c.000/kg 600.000 btr 1.000 40 kaleng 300.185 190.000 112.000/kg 630.450/botol 300/000/kaleng 300.000 100.000/kaleng 3.000 300.064.

Penghasilan c.9% b.500/cm = 99. Jumlah telur yang tebar yaitu sebanyak 450. Jadi kelangsungan hidup (SR) yang didapatkan adalah sebagai berikut : SR (%) = Jumlah benih yang hidup Jumlah larva yang tebar X 100 % = 20.000 = 154.000.000 . penerimaan (TR) TR = Benih yang dihasilkan x ukuran x harga jual = 20.c.000 x 3.000 x 100% = 12.000 154.000 butir HR = 44% x 450.1 Penerimaan (TR) Penerimaan adalah jumlah uang yang diperoleh dari hasil penjualan benih. Rincian penerimaan yang diperoleh usaha pembenihan ikan kerapu dapat dilihat pada perhitungan berikut : a.000 butir Jumlah benih yang hidup hingga pemanenan yaitu sebanyak 20.3 cm x Rp 1.000 ekor.000 per siklus Penerimaan yang diperoleh untuk per siklus yaitu sebesar Rp 99.000.

815 Jadi. .483.3 R/C Ratio Analisis ratio merupakan parameter analisis yang digunakan untuk melihat pendapatan relative suatu usaha dalam 1 tahun terhadap biaya yang dipakai dalam kegiatan tersebut.1 R/C > 1 yaitu 2.1 sehingga usaha dalam produksi benih kerapu tikus ini layak untuk dilaksanakan. Suatu usaha dikatakan layak jika nilai R/C ratio lebih dari 1 (R/C > 1). Nilai R/C ratio untuk pembenihan ikan kerapu tiku dapat dilihat pada perhitungan sebagai berikut : R/C ratio = Hasil penjualan Total biaya per siklus = 99.815.- c. keuntungan yang diperoleh per siklus adalah sebesar Rp 51.c.000. tingkat keuntungan suatu usaha akan semakin tinggi. Keuntungan yang diperoleh dalam produksi benih kerapu tikus yaitu sebagai berikut : Keuntungan = Penerimaan-Biaya Operasional = 99. Semakin tinggi nilai R/C ratio.185 = 51.516.516.2 Keuntungan Keuntungan merupakan selisih antara pendapatan dengan total biaya prosuksi (biaya operasional). Keutungan diperoleh jika selisih antara pendapatan dengan total biaya adalah positif.185 = Rp 2.000 – 47.000.000 47.483.

c.c. Usaha dinyatakan layak apabila nilai BEP produksi lebih besar dari jumlah unit yang sedag diproduksi saat ini.599.516.185 20. nilai BEP harga lebih rendah dari pada harga sat ini.516.599.185 4.2 ekor BEP (Rp) = Biaya total Total produksi 47.5 Payback Periode (PP) Analisis Payback Periode (PP) bertujuan untuk mengetahui waktu tingkat pengembalian investasi yang telh ditanamkan pada suatu usaha. seperti usaha .4 Break Event Poin (BEP) BEP merupakan parameter analisis yang digunakan untuk mengetahui batas nilai produksi atau volume produksi suatu usaha mencapai titik impas.3 cm = Rp 719/cm Artinya kegiatan pembenihan ikan kerapu tikus akan mengalami titik impas apabila telah menjual sebanyak 9. Sementara itu.000 = = Rp 2. Nilai BEP (unit) dan BEP (Rp) pada usaha pembenihan ikan kerapu tikus dapat dilihat pada perhitungan berikut ini : BEP unit = Biaya total Harga Satuan = 47. yaitu tidak untung atau rugi.375/3.2 ekor benih atau dengan harga jual benih seharga Rp 719/cm.950 = 9.

733.pembenihan ikan kerapu tikus.483.2 tahun atau dalam jangka 4 tahun 2. biaya investasi yang dikeluarkan untuk usaha pembenihan ikan kerapu tikus akan kembali dalam jangka waktu 4. Nilai PP pada usaha pembenihan ikan kerapu tikus dapat dilihat pada perhitungna berikut ini : PP = Biaya Investasi Keuntungan x 1 tahun = 215.900 51.815 x 1 tahun = 4.2 tahun Jadi.4 bulan. .

Gedung a.1Bak Pemeliharaan Larva Kerapu Tikus a.6 Tandon Air Laut a.3 Bak Chlorella sp a.7 Tandon Air Tawar a.2 Bak Rotifer a.5 Bak Karantina Ikan a.4 Bak Pemeliharaan induk ikan Kerapu Tikus a.Lampiran 6.8 Pompa Air Laut . Sarana dan Prasarana Pembenihan Ikan Kerapu Tikus Budidaya di Balai Budidaya Air Payau Situbondo a.

3 HCG(Human Chorionic Gonadotropin c.b.6 Saringan . Peralatan c.5 sendok takaran Pengambilan Telur c.3 Minyak Cumi b.4 Vitamin b.1 Pakan Ikan Rucah b.6 Artemia Cysts c.4 Akuarium c.5 Scott’s Emulsion b. Pakan Ikan b.2 Udang Rebon b.2 Alat Taging c.1 Egg Colector c.

00 31 C 31 C 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC o o 16.00 30 C 30oC 30 C 30 C 31oC 31oC 31oC 30oC 30oC 30oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 30oC 30oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC o o o bak 1 12.00 31oC 31 C 31 C o o 06.Lampiran 7.00 31 C 31oC 31 C 31 C 30oC 30oC 30oC 30oC 30oC 31oC 30oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 30oC 30oC 30oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 30oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 30oC 30oC 31oC o o o 06.00 31 C 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC o 16.00 30 C 31oC 31 C 31 C 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC o o o suhu harian kolam ikan kerapu tikus bak 2 bak 4 12.00 30oC 30 C 30 C o o 12.00 06. Suhu Harian pada Kolam Ikan Kerapu Tikus tanggal 06.00 - 16.00 31 C 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 30oC 30oC 31oC 31oC o bak 6 12.00 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 08-Agust-10 o o 09-Agust-10 30 C 29 C 29oC 29oC 30oC 30oC 29oC 30oC 30oC 30oC 29oC 29oC 29oC 30oC 30oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 30oC 31oC 31oC 30oC o 10-Agust-10 31 C o 31 C 11-Agust-10 12-Agust-10 3-Agust-10 14-Agust-10 15-Agust-10 16-Agust-10 17-Agust-10 18-Agust-10 19-Agust-10 20-Agust-10 21-Agust-10 22-Agust-10 23-Agust-10 24-Agust-10 .00 31oC 31 C 31 C o o 16.

25-Agust-10 29oC 30oC 29oC 29oC 29oC 29oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 30oC 31oC 30oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 30oC 31oC 30oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 30oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 30oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 30oC 31oC 31oC 30oC 31oC 31oC 30oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 26-Agust-10 27-Agust-10 28-Agust-10 29-Agust-10 30-Agust-10 31-Agust-10 .

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->