TEKNIK PEMBENIHAN IKAN KERAPU TIKUS (Cromileptes altivelis) DI BALAI BUDIDAYA AIR PAYAU SITUBONDO

PRAKTEK KERJA LAPANG
PROGRAM STUDI BUDIDAYA PERAIRAN

Oleh :
ERLINA DWI TUNGGAL SPIKADHARA SURABAYA - JAWA TIMUR

FAKULTAS PERIKANAN DAN KELAUTAN UNIVERSITAS AIRLANGGA SURABAYA 2010

TEKNIK PEMBENIHAN IKAN KERAPU TIKUS (Cromileptes altivelis)
DI BALAI BUDIDAYA AIR PAYAU SITUBONDO

Praktek Kerja Lapang Sebagai Salah Satu Syarat untuk Memperoleh Gelar Sarjana Perikanan pada Program Studi S-1 Budidaya Perairan Fakultas Perikanan dan Kelautan Universitas Airlangga

Oleh : ERLINA DWI TUNGGAL SPIKADHARA NIM. 060710177P

Mengetahui, Dekan, Fakultas Perikanan dan Kelautan

Menyetujui, Dosen Pembimbing,

Prof.Dr.Drh.Hj. Sri Subekti, B.S.,DEA. NIP. 19520517 197803 2 001

Muhammad Arief., Ir. M.Kes. NIP. 19600823 198601 1 001

Setelah mempelajari dan menguji dengan sungguh–sungguh, kami berpendapat bahwa Praktek Kerja Lapang (PKL) ini, baik ruang lingkup maupun kualitasnya dapat diajukan sebagai Salah Satu untuk Memperoleh Gelar Sarjana Perikanan.

Tanggal Ujian : 25 November 2010

Menyetujui, Panitia Penguji, Ketua

Ir. Muhammad Arief, M.Kes NIP. 19600823 198601 1 001

Sekretaris

Anggota

Prayogo, S. Pi., MP NIP. 19750522 200312 1 002

Ir. Moch. Amin Alamsjah, M. Si., Ph. D NIP. 19700116 199503 1 002

Surabaya, 24 Desember 2010 Fakultas Perikanan dan Kelautan Universitas Airlangga Dekan,

Prof.Dr.Drh.Hj. Sri Subekti, B.S.,DEA. NIP. 19520517 197803 2 001

Rotifier 8 gram/pemberian 3 kali/hari. Otohime B2 15 gram/pemberian 3 kali/hari.Kes. wawancara dan studi pustaka.31 agustus 2010. Teknik pembenihan ikan kerapu tikus meliputi. Praktek Kerja Lapang ini dilaksanakan pada tanggal 19 juli . penetasan telur. persiapan induk. pemberian pakan sesuai dosis baik berupa pakan alami(Nannochloropsis sp 50. seleksi telur.000 sel/ml 1 kali/hari dan Rotifer 3-5 individu/ml 2 kali/hari) maupun pakan buatan(Nosan R-1 8 gram/pemberian 2 kali/hari. Metode yang digunakan dalam Praktek Kerja Lapang ini adalah metode dekskriptif dengan pengambilan data meliputi data primer dan data sekunder. Tujuan dari Praktek kerja Lapang (PKL) untuk mengetahui tentang teknik pembenihan ikan kerapu tikus (Cromileptes altivelis) di Balai Budidaya Air Payau di Situbondo.RINGKASAN ERLINA DWI TUNGGAL SPIKADHARA. Ikan kerapu tikus lebih memiliki nilai jual yang tinggi di banding dengan ikan kerapu yang lainnya. Teknik Pembenihan Ikan Kerapu Tikus (Cromileptes altivelis) di Balai Budidaya Air Payau Situbondo Desa Pecaron Kecamatan Panarukan Kabupaten Situbondo Propinsi Jawa Timur. Ketersediaan benih ikan kerapu di alam tidak akan terancam punah dengan memanfaatkan dan mengembangkan suatu usaha untuk menghasilkan benih ikan kerapu tikus yang dapat memenuhi permintaan pasar. Dosen Pembimbing : Ir. seleksi induk.000-100. Pengambilan data dilakukan dengan cara partisi aktif. Tujuan lainnya adalah untuk mengetahui permasalahan yang sering dihadapi pada usaha pembenihan ikan kerapu tikus (Cromileptes altivelis).Muhammad Arief. Ikan kerapu tikus memiliki nilai jual yang tinggi dan permintaan yang banyak sedangkan permintaan pasar akan ikan kerapu tikus belum dapat dipenuhi secara keseluruhan karena belum banyak pembudidaya. observasi. Otohime B1 10 gram/pemberian 3 kali/hari. persiapan bak pemeliharaan larva. Otohime EP-1 15 . penebaran telur. M. Jawa Timur. pemijahan.

Kematian massal sering terjadi pada larva yang diakibatkan oleh penyakit VNN(Viral Nervous Necrosis).01 ppm.9%. pH 7. Memerlukan fasilitas penyimpanan bersuhu dingin agar kualitas pakan ikan rucah untuk indukan tidak menurun. .8-8. pencegahan penyakit dengan menggunakan probiotik Sanolife. nitrit < 1 ppm.3. SR ikan kerapu tikus 12. DO > 5 ppm. pengelolaan kualitas air dengan salinitas 31-33 ppt.gram/pemberian 4-6 kali/hari). belum ada pengobatan terhadap penyakit. Induk masih berasal dari alam sehingga ketersediaan induk terbatas dan tergantung dari tangkapan nelayan. Grading dilakukan apabila terlihat perbedaan ukuran yang mencolok pada benih dan munculnya sifat kanibalisme. Nitrat < 150 ppm. suhu 30o-31oC. amoniak < 0.

East Java. hatching eggs. Otohime B2 15 grams / feeding 3 times / day. temperature 30o-31oC. Broodstock selection. M. The method used in this Field Work Practice is dekskriptif with data collection methods include primary data and secondary data. The availability of grouper seed in nature will not be threatened with extinction by exploiting and developing a business to produce panther fish fry that can meet demand of market. Rotifier 8 grams / feeding 3 times / day. Broodstock preparation. Otohime EP-1 15 grams / administration 4-6 times / day). spawning. interview and literature study. Field Work Practice was held on 19 July . Supervising lecture: Ir. preparation for larval rearing tanks. egg selection. Polka-dot Grouper Hatchery Techniques (Cromileptes altivelis) in Balai Budidaya Air Payau Situbondo Pecaron Panarukan Situbondo District of East Java Province. Kes. The purpose of the work practice of Field (PKL) to find out about grouper hatchery techniques (Cromileptes altivelis) in Balai Budidaya Air Payau Situbondo. observation. Polka-dot Grouper has a high selling value and demand a lot while the demand of market for Polka-dot Grouper can not be fulfilled as a whole because not many farmers. DO> 5 ppm.8 to 8. 3. Nitrate <150 ppm. Data collection was performed by the active partition. disease prevention . Polka-dot Grouper hatchery techniques include. Polka-dot Grouper over a high selling price compared with other groupers.01 ppm. ammonia <0. the management of water quality with salinity 31-33 ppt.Muhammad Arief. pH 7. feeding according to the dosage form of natural food (Nannochloropsis sp 50000-100000 cells / ml 1 time / day and rotifers 3-5 individuals / ml. 2 times / day) or artificial diets (Nosan R-1 8 g / generous 2 times / day.SUMMARY ERLINA DWI TUNGGAL SPIKADHARA. Otohime B1 10 grams / feeding 3 times / day . nitrite <1 ppm. stocking eggs. Another aim is to discover the problems that are often encountered in the hatchery business grouper (Cromileptes altivelis).31 August 2010.

SR of Polka-dot Grouper is 12. Broodstock still come from nature so that availability is limited and dependent parent from the catch of fisherman. Requires cold-temperature storage facilities for feed quality trash fish for broodstock did not decline.using probiotics Sanolife.9%. there is no treatment against the disease. Mass mortality of larvae often occur in diseases caused by VNN (Viral Nervous Necrosis). . Grading conducted if the striking visible differences in seed size and appearance of cannibalism.

Laporan ini disusun berdasarkan hasil Praktek Kerja Lapang yang dilaksanakan di Balai Budidaya Air Payau Situbondo pada tanggal 19 Juli – 31 Agustus 2010. sehingga kritik dan saran yang membangun sangat penulis harapkan demi perbaikan dan kesempurnaan laporan atau kegiatan selanjutnya. khususnya Mahasiswa Program Studi S-1 Budidaya Perairan Fakultas Perikanan dan Kelautan Universitas Airlangga Surabaya. mendidik dan memberi motivasi serta semangat hingga selesainya Praktek Kerja Lapang ini. atas segala limpahan rahmat dan karunia-Nya sehingga penyusunan Praktek Kerja Lapang tentang Teknik Pembenihan Ikan Kerapu Tikus (Chromileptes altivelis) di Balai Bududaya Air Payau Situbondo ini dapat terselesaikan.KATA PENGANTAR Segala puji kahadirat Allah SWT. Penulis menghanturkan terima kasih yang tak terhingga kepada kedua orang tua dan keluarga yang telah mendoakan. Desember 2010 Penulis . Surabaya. Penulis menyadari bahwa Praktek Kerja Lapang ini masih sangat jauh dari kesempurnaan. Praktek Kerja Lapang ini sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Perikanan pada Program Studi S-1 Budidaya Perairan Fakultas Perikanan dan Kelautan Universitas Airlangga Surabaya. Semoga Praktek Kerja Lapang ini bermanfaat dan dapat memberi informasi bagi semua pihak.

Allah SWT yang telah memberikan nikmat dan amanah dalam kehidupan ini. 2. M. 7. Drh.Si. Ir.Muhammad Arief. Bapak Prayogo. . DEA. selaku Dosen Pembimbing yang telah banyak membantu terlaksananya Praktek Kerja Lapang dari penyusunan usulan proposal hingga terselesainya laporan Praktek Kerja Lapang. S.UCAPAN TERIMAKASIH Pada kesempatan kali ini. 9. M. Moch. 5. selaku Dekan Fakultas Perikanan dan Kelautan Universitas Airlangga Surabaya. 8.Si sebagai Kepala Balai Budidaya Air Payau Situbondo. Si. Dr. D selaku dosen penguji yang telah memberi banyak masukan dan saran atas perbaikan Praktek Kerja Lapang ini.Pi selaku koordinator pelaksana Praktek Kerja Lapang. Prof. S. Bapak saya Anthonius Wiwiek Dwiriyantho Bayudharana Feysholly. 6. Slamet Subiyakto. S. Amin Alamsjah. Bapak Akhmad Taufiq. 3.amin allahuma amin.. Ph. M.. MP dan Ir. ibu saya Partini yang saya cintai yang telah memberikan seluruh ia punya baik dukungan secara moril dan materi.. Hj.. Dr.Kes. Nabi besar Muhammad SAW semoga kita semua akan mendapatkan syafaat di akhirat kelak. Pi. Kakak pertamaku Andri Bahtera Tunggal Prisma Dharana dan kakak kedua Erlita Dwi Tunggal Spikadhara yang telah memberi semangat. M. 4. Sri Subekti. Bapak Ir. tidak lupa penulis haturkan terima kasih yang sebesar-besarnya : 1. B.

12. Sahabatku (Yulia Kartika. UNDANA. Setyana Meirnawati. 16. Rekan-rekan yang melaksanakan magang dan PKL di BBAP Situbondo dari UMI. Teman-teman BUPER’07 yang memberikan dukungan sehingga dapat terselesaikannya laporan PKL ini. Semua pihak yang tidak dapat disebutkan satu persatu yang telah membantu penulis dalam pelaksanaan maupu penyelesaian laporan PKL ini. IPB. 11. Dian Respati. Ir. Seluruh pegawai BBAP Situbondo khususnya pegawai Pembenihan Timur. Hangtuah. . Galih Adi Pratama yang telah banyak membantu. Adhe Puspawari Hardhanny) yang telah banyak membantu dan memberi semangat. 14.10. 15. Nurdiana Rachmasari. 13. Nining Khoirunniza. UNSOED. sofiati selaku pembimbing lapangan dari Balai Budidaya Air Payau (BBAP) Situbondo.

..................................................... 2............................... .............................. DAFTAR LAMPIRAN......7 Teknik Pembenihan.....................................7.....3 Habitat............................ 1................ ............................ RINGKASAN.. ........................................ i ii iii iv vi xiii ix xi xii xiii 1 1 2 3 4 4 5 5 6 7 7 8 9 9 9 ......................................................................7.................................................4 Reproduksi... 2.................................. 2.......... ........................................ HALAMAN PENGESAHAN………………………………………….................. 2...................................................... .............................................. 2......3 Pemeliharaan Induk....... 2.....7........... UCAPAN TERIMAKASIH ..... ....................... DAFTAR GAMBAR........... 2..………………………….......... HALAMAN PERSETUJUAN...... ..... SUMMARY................................................................................ II .................................................................................. DAFTAR TABEL..................................................................................................................... ................................................................. TINJAUAN PUSTAKA.................................. 1...............1 Sarana Pembenihan....................................2 Morfologi............... KATA PENGANTAR…………………………………………………............. ..........2 Tujuan.....................2 Metode.....DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL…………………………………………………… ........................................................................ I PENDAHULUAN............... 1..... 2.....3 Manfaat.................................................................................5 Perkembangan Embrio............... 2................................................................................................................................... 2......................................................6 Kebiasaan Makan Larva ............................ ..........................1 Latar Belakang....................................1 Tinjauan Umum................................................

..........................................8......... 2.................. 13 2.....................1 Waktu dan Tempat……………………………………...................... 25 25 .................................................................................................. 2...... 2.....12.................................................................................5 Salinitas...............................10....................................................8.9...........11 Survival Rate..... 14 2.......................................12........7.12 Penyakit.......................................................8...................................10. 3................................... 2..7............................................... 2....................3 Cryptocaryonosis...8 Pemeliharaan Larva.....................7..............2 Vibrio anguillarum.12.....8...........2 Frekuensi Pemberian pakan..........................................................8......5 Seleksi Induk................................ 14 14 15 15 16 16 17 18 18 19 19 19 19 20 21 21 21 22 23 24 III PELAKSANAAN……………………………………………………...... 2.......4 Infestasi Trichodina sp............................................................................2 Kecerahan.............................................4 Sex Reserval......... 2................. 2............6 Nitrit...................................................8......10.............7........3 derajat keasaman.......................................................7...12................................10 Pemberian Pakan......... 2..........2 Artemia spp........ 2........................7 Penetasan Telur....... 2.............................................................................................................................................................. 2.............................4 Oksigen terlarut.......9 Penyediaan Pakan untuk Pemeliharaan Larva.......8 Parameter Kualitas Air Pemeliharaan................. 2............ 2................................12................ 2.. 10 10 10 11 12 13 2.......6 Pemijahan...3 Waktu Pemberian Pakan........... 2................2....................................9.......................... 2....................1 Suhu...........12.............................1 Nannochloropsis oculata.5 Caligus sp parasit golongan Crustacea.....................................................6 Virus... 2........ 2........................................9.......................3 Rotifer.........................................................1 Rasio pakan......... 2.................................................1 Vibrio alginolyticus.......... 2........ 2...................................................... 2........................ 2...

.........3 Metode pengumpulan ………………………………………......................... 4..................... 4................................................. Perhitungan Derajat Penetasan(Hatcging Rate).............. 4.......................................1 Persiapan Induk ……………………………………................................ d.......................................................................................... a.................................... 4........... 4...........................................................................Perkembangan Larva............................................................4 Pemanenan Telur........................................3.................. pencegahan hama dan penyakit……………………….............. 4.. c....3..............................3 Teknik Pembenihan Kerapu Tikus……………………….............................. 3...... 4.... b....... a...........3.................... ciri-ciri induk matang gonad…………………………......... B.... Observasi.. Persiapan Wadah...........................4 Kepegawaian.........………………………………......1.......3............................ 4........ 4... Wawancara............................................6 Pemeliharaan Larva dan Benih.... 4...............................3....................................1.....3... b....3 Struktur Organisasi......3.....5 Penetasan Telur.........3.............2 Sarana dan Prasarana Umum BBAP Situbondo............. a........ c.... a............................. Persiapan Wadah................ A.3........ Bangunan………………......................................................2 Materi dan Metode Kerja…………………………………..Penebaran dan Penetasan Telur........... 4............1 Sarana Umum............................................. Aerasi.................................................................. B....................................................................... pemijahan dengan rangsangan hormon.......................... D................. pengelolaan air………………………………………… c......2............1 Keadaan Umum Lokasi Praktek Kerja Lapang…………...........................2 Data Sekunder……………………………………………… IV HASIL DAN PEMBAHASAN…………………………….1......................................................... pemberian pakan……………………………………… b........2 Seleksi Induk………………………………………………................. 4.................................... 3............................................2 Prasarana .............................. 25 25 25 26 26 27 27 28 28 28 29 30 32 32 32 32 33 34 34 35 35 36 36 36 38 40 41 42 43 44 44 45 46 48 48 50 51 52 52 53 55 56 57 .............. 4.3.........................................................2 Letak dan Keadaan Lokasi...7 Kualitas air.... a......................2............1..... pemijahan alami... Sarana Budidaya......... 4............................. Pemberian Pakan Alami.. a............................................. Air Tawar............................ 4........8 Pakan............ b........1 Sejarah Berdirinya………………………….. 4.......................... C.. A.. Partisipasi Aktif...............1 Data Primer……………………………………..3.......... 3... 4... Air Laut ............ b................ Sumber Tenaga Listrik.........3 Pemijahan......

................4 Pemanenan......................................................... 5...... 57 57 58 60 60 61 61 63 64 65 65 66 67 67 68 68 V SIMPULAN DAN SARAN........... 4........................................................................ 4...................................................................................... dan Pemasaran....................................................................... 4........................ 70 70 71 72 74 ..................1 Nannochloropsis sp.....2 Kemungkinan Pengembangan Usaha.. 4......................5.......................a............ 4............... Produksi........................................ Pemberian Pakan Buatan..........................................................4 Udang Rebon...................................... b.............................. c.......................... Kultur Pakan Alami..... 4...........3 Artemia sp...............................2 Produksi dan Pemasaran.............. DAFTAR PUSTAKA.......................... 4........... a...... a............................. LAMPIRAN.......................5.........1 Masalah yang Dihadapi........ a................................................................................................................................................................2 Kultur Rotifer..........................................1 Simpulan.1 Kultur Nannochloropsis sp....................................................2 Rotifera...................................... c............6 Analisis Usaha ....................................................4..............9 Pengendalian Hama dan Penyakit...3.......................... c..................................5 Masalah dan Kemungkinan Pengembangan Usaha........... 4........................ 5................................4.............2 Saran.....1 Pemanenan Benih..........

2009). Bila potensi perikanan yang sangat melimpah ini dapat di manfaatkan secara optimal maka dapat meningkatkan produktifitas perikanan. Ikan kerapu tikus lebih memiliki nilai jual yang tinggi di banding dengan ikan kerapu yang lainnya. Pakan alami yang digunakan harus sesuai dengan bukaan mulut larva dan alat pencernaan larva kerapu dapat mencerna kandungan nutrisi yang ada pada pakan alami (khordi. 2009). . 2005). Di Indonesia perkembangan budidaya ikan sangat mendukung karena di Indonesia merupakan wilayah berkepulauan yang banyak memiliki sumber daya ikan yang melimpah.1 Latar Belakang Usaha – usaha pengembangan perikanan yang dilakukan di Indonesia mulai banyak dilakukan. Pakan alami untuk larva dan benih pada budidaya ikan dalam bentuk pakan alami dan pakan buatan (mikropartikel pelet). meningkatkan devisa negara. pakan alami sangat diperlukan saat pemeliharaan larva. Pada saat ini Ikan kerapu tikus memiliki nilai jual yang tinggi dan permintaan yang banyak sedangkan permintaan pasar akan ikan kerapu tikus belum dapat dipenuhi secara keseluruhan karena belum banyak pembudidaya. dan membantu menjaga kelestarian sumber daya hayati perikanan (Salim.I PENDAHULUAN 1. Kegiatan pembenihan ikan kerapu tikus. Ketersediaan benih ikan kerapu di alam tidak akan terancam punah dengan memanfaatkan dan mengembangkan suatu usaha untuk menghasilkan benih ikan kerapu tikus yang dapat memenuhi permintaan pasar (Salim.

Jawa Timur. sedangkan SR kerapu tikus 5%. Kebanyakan ikan kerapu tinggal didaerah karang. kecuali sewaktu makan dan saat memijah. Lokasi budidaya yang ideal harus memenuhi persyaratanpersyaratan kualitas airnya. Jenis penyakit bakterial yang ditemukan pada ikan kerapu. Ikan Kerapu Tikus selama bertelur induk tidak boleh di beri pakan. Ikan kerapu juga sering ditemukan di daerah pasang dan di laut dengan kedalaman sekitar 40 cm (Salim. atau karang berlumpur. Dari jumlah diperkirakan hanya 30% saja yang dibuahi (Darwisito. diantaranya adalah penyakit borok pangkal sirip ekor dan penyakit mulut merah. Telur yang telah dibuahi berjumlah lebih kurang 1. Permasalahan penyakit yang paling banyak pada ikan bersirip (finfish) dijumpai pada budidaya ikan kerapu. Ikan kerapu ini merupakan jenis ikan laut yang dapat ditemukan didaerah subtropika dan tropika dari seluruh daerah lautan. karang mati. DO.200. 2002). nitrit dan salinitas. Faktor kualitas air yang perlu dipertimbangkan untuk pemeliharaan pembenihan Kerapu tikus meliputi sifat fisika : suhu dan kecerahan. 2009). dan kimia meliputi : pH. . dan apabila induk telah memijah harus segera dipindahkan ke tangki yang lain.2 Tujuan Tujuan dari praktek kerja lapang ini adalah: 1. 1.000 butir.Kerapu lebih suka menghindar dari sinar matahari langsung. Mengetahui tentang teknik pembenihan ikan kerapu tikus (Cromileptes altivelis) di Balai Budidaya Air Payau di Situbondo.

1. Jawa Timur. Jawa Timur. . Memperoleh pengetahuan tentang teknik pembenihan ikan kerapu tikus (Cromileptes altivelis) di Balai Budidaya Air Payau di Situbondo. Dapat memadukan teori yang diperoleh dengan kenyataan yang terjadi dilapangan. Mengetahui permasalahan yang sering dihadapi pada usaha pembenihan ikan kerapu tikus (Cromileptes altivelis) di Balai Budidaya Air Payau di Situbondo.2. Jawa Timur. sehingga dapat lebih memahami dan mengatasi permasalahan yang timbul dalam usaha pembenihan ikan kerapu tikus (Cromileptes altivelis) di Balai Budidaya Air Payau di Situbondo.3 Manfaat Manfaat dari praktek kerja lapang ini adalah : 1. 2.

Gambar 1. klasifikasi ikan kerapu tikus adalah : Phylum Subphylum Class Subclass Ordo Subordo Genus Spesies : Chordata : Vertebrata : Osteichtyes : Actinopterigi : Percomorphi : Percoidea : Cromileptes : Cromileptes altivelis Kerapu bebek. 2010). Cromileptes altivelis (Octopus. Kerapu Tikus.II TINJAUAN PUSTAKA 2. 2008) . (1940) dalam Ahmad (1991). Lantaran warnanya yang menarik. Pada ikan kerapu tikus yang masih muda. bintik tersebut lebih besar dan lebih sedikit jumlahnya. dalam perdagangan internasional dikenal dengan nama polka-dot grouper atau hump-backed rocked. ikan ini biasa ditempatkan di akuarium sebagai ikan hias (Khordi dan Andi Tamsil. mempunyai tubuh agak pipih dengan warna dasar abu-abu berbintik hitam.1 Tinjauan Umum Menurut Weber and Beofort. biasa juga disebut kerapu tikus(Cromileptes altivelis).

sirip perut dengan 3 duri keras dan 10 duri lunak (Khordi dan Andi Tamsil. 2009). Lembaran operculum mempunyai pinggiran yang bergerigi tajam dan halus. A. tubuh. bintik hitam lebih besar dengan jumlah bintik yang sedikit. Panjang kepala seperempat panjang total. Sisik punggung sangat halus dan licin (Salim. Sedangkan sirip ekor memiliki 1 duri keras dan 70 duri lunak.6 – 3. semakin tua bertambah banyak. sisik pada lateral line berjumlah 54 – 60 dan pyloric 13. Bintik – bintik tersebut pada kerapu muda lebih besar dan sedikit.2. tubuhnya memanjang gepeng (compressed) dengan panjang tubuh 2. Pada kerapu bebek muda. dan sirip. . 2010).2 Morfologi Ikan kerapu tergolong jenis ikan air laut yang berjual nilai tinggi. tetapi yang lebih memiliki harga jual yang lebih tinggi dibandingkan dengan ikan kerapu jenis yang lainnya adalah ikan kerapu tikus (Cromileptes altivelis). Seluruh permukaan tubuh kerapu bebek berwarna putih dilengkapi sirip renang berbentuk melebar serta moncong kepala lancip menyerupai bebek atau tikus. Warna ikan kerapu tikus coklat kehijauan dengan dengan bintik – bintik atau bulat – bulat coklat di kepala. leher bagian atas cekung dan semakin tua semakin cekung. Sirip punggung semakin melebar kebelakang. Pada sirip dorsal memiliki 10 duri keras dan 17 – 19 duri lunak. Ikan kerapu tikus termasuk dalam famili Serranidae.0 kali panjang standard ikan ( panjang standard ikan 12 – 37 cm). Lubang hidung bagian posterior besar.

2010). Kebanyakan ikan kerapu tinggal didaerah karang. dan spesiesnya. berkelamin jantan (Khordi dan Andi Tamsil. Pada umur 1.0-2.0 m. Sifat kerapu tikus umumnya soliter tetapi pada saat akan memijah berlangsung beberapa hari sebelumnya bulan purnama yaitu pada malam hari.5 .5-2.umur.2. Ikan kerapu juga sering ditemukan di daerah pasang dan di laut dengan kedalaman sekitar 40 cm. 2.4 Reproduksi Kerapu tikus memiliki sifat hermaprodit protogini yaitu perubahan kelamin (change sex) dari betina ke jantan dipengaruhi oleh ukuran. Adapun ikan-ikan yang berumur 2. Transformasi dari dari betina ke jantan ini memerlukan waktu yang cukup lama dalam kondisi alami. Kerapu lebih suka menghindar dari sinar matahari langsung. musim – musim pemijahan ikan kerapu terjadi pada bulan Juni – September dan November – Februari. Dalam siklus hidupnya kerapu muda hidup di perairan karang pantai dengan kedalaman 0.3.5 tahun. kecuali sewaktu makan dan saat memijah. Dari hasil pengamatan di Indonesia. transisi dari betina ke jantan terjadi setelah mencapai umur 2.5 tahun ke atas. setelah dewasa kerapu ke daerah perairan yang lebih dalam yaitu antara 7.5 tahun biasanya ikan masih berkelamin betina. Pada kerapu tikus. Beberapa jenis . Ikan kerapu ini merupakan jenis ikan laut yang dapat ditemukan didaerah subtropika dan tropika dari seluruh daerah lautan.0 – 40 m.3 Habitat Ikan kerapu lebih sering terlihat menyendiri dan menyukai naungan sebagai tempat bersembunyi.

Pembelahan sel berikutnya berlangsung 15 – 30 menit sampai mencapai multi sel salama 2 jam 25 menit. mulut dan anus belum terbuka. Pembentukan sirip punggung mulai terjadi pada hari pertama. grastula. pembelahan sel pertama kali terjadi 40 menit setelah pembuahan.5 Perkembangan Embrio Berdasarkan pengamatan mikroorganisme dapat diketahui bahwa telur kerapu berbentuk bulat tanpa kerutan. Gerakan pertama embrio terjadi pada jam ke-16 setelah pembuahan selanjutnya telur menetas menjadi larva pada jam ke-19 pada suhu 27 – 29 oC (Salim. Perkembangan tubuhnya semakin memanjang sedangkan kantong telur dan gelembung minyak semakin mengecil. Setelah tahap multi sel tahap berikutnya adalah blastula. 2009). Perkembangan embrional telur sejak pembuahan sampai penetasan membutuhkan kurang lebih 19 jam.78 mm. Pada hari ke tiga mulai terjadi pigmentasi saluran pencernaan bagian atas dan bukaan mulut berukuran sekitar 125 µ. 2009). Telur kerapu transparan dengan diameter ± 850 mikron dan tidak memiliki ruang perivitellin. pada hari kedua sirip dada mulai terbentuk dan jaringan usus telah berkembang sampai ke anus. Dan hari ke empat kuning telur telah .70 – 1. neorula. damn embrio. cenderung menggerombol pada kondisi tanpa aerasi dan kuning telur tersebar merata.kerapu mempunyai musim pemijahan 6 – 8 kali/tahun sedangkan pemijahan pertama 1 – 2 kali/tahun (Salim. 2. mata belum berpigmen.6 Kebiasaan Makan Larva Pada kerapu tikus menetas mempunyai panjang total 1. 2.

Setelah itu mendapatkan makan secara eksogenus pada hari ke tiga dengan mulai terbukanya mulut. dapat pula terjadi karena kesalahan dalam menentukan jadwal pemberian pakan dan rendahnya mutu pakan (Salim. krustacea dan cepalophoda. Ikan kerapu memiliki kebiasaan makan pada siang hari dan malam hari dan lebih aktif pada waktu fajar dan senja hari. Kematian yang terjadi pada larva hari ke lima dan seterusnya dapat terjadi karena disebabkan oleh suatu keadaan hanya 50 % larva yang mampu makan pada kondisi dimana jumlah pakan optimal. dan zooplankton. 2009).29 ºC (Salim. rotifera merupakan pakan pertama. 2009). 2. Pada periode perkembangan larva kerapu tikus sampai tahap metamorfosis penuh membutuhkan waktu 35 – 40 hari pada suhu 27 .habis terabsorbsi. Ikan kerapu biasanya mencari makan dengan cara menyergap mangsanya dari tempat persembunyiannya. Ikan kerapu tikus bersifat karnivora terutama larva molusca. sedangkan sisanya tidak mampu lagi memangsa pakan yang tersedia. Setelah telur menetas sampai dengan hari ke tiga larva dapat makan secara endragenus yaitu dengan mengabsorsi kuning telur yang di bawanya. krustacea kecil. rotifera. Ikan kerapu sebagai ikan karnivora juga sebagai ikan pemangsa yang aktif bergerak pada malam hari. Sesuai dengan bukaan mulut ikan kerapu tikus. kopepoda. Sedangkan untuk ikan kerapu tikus yang dewasa menyukai ikan – ikan kecil.7 Teknik pembenihan Menurut Anonim (2010) pada teknik pembenihan ada beberapa tahap untuk melaksanakannya berupa: .

2.7. berbentuk empat persegi panjang (Anonim. Teknik pemijahan dengan manipulasi lingkungan ini dikembangkan berdasarkan pemijahan ikan kerapu di alam. 2. sedangkan pada musim pemijahan diturunkan menjadi 1%.10 kg/m 3 .2. Bak pemijahan dengan kapasitas 100 ton.7. 2. Pakan yang diberikan berupa ikan rucah segar berkadar lemak rendah.3. Disamping itu diberikan pula vitamin E dengan dosis 10 . . (Anonim. Pemijahan mengikuti fase peredaran bulan.5 . 2010). 3. kadar garam. 2010). Kurungan apung untuk pemeliharaan induk berukuran 3 x 3 x 3 m3.Metode Metode yang digunakan adalah manipulasi lingkungan.Pemeliharaan Induk Induk ikan kerapu yang dipijahkan dipelihara dengan padat penebaran induk 7.7.15 mg/ekor/minggu. yaitu dengan rangsangan atau kejutan faktor-faktor lingkungan seperti suhu.Sarana Pembenihan 1. pada saat bulan terang atau bulan gelap.2. takaran pakan yang diberikan sebesar 3 5% dari total berat badan ikan/hari. (Anonim. Untuk merangsang terjadinya perkawinan antara jantan dengan induk betina matang kelamin digunakan metoda manipulasi lingkungan di bak terkontrol. Bak penetasan sekaligus juga merupakan bak pemeliharaan larva yang berukuran 4 x 1 x 1 m 3 terbuat dari beton. kedalaman air dan lain-lain. Diluar pemijahan ikan.1. 2010).

Pemijahan 1. kemudian dihisap. 2. diikuti dengan penambahan multivitamin.4.7. . Telur yang diperoleh diamati untuk mengetahui tingkat kematangannya. garis tengah (diameter) telur diatas 450 mikron. Sel kelamin betina berubah menjadi sel kelamin jantan pada umur 4 tahun dengan panjang tubuh sekitar 70 cm dan berat 11 kg. 2010). Induk kerapu matang kelamin dipindahkan ke bak pemijahan yang sebelumnya telah diisi air laut bersih dengan ketingian 1.5. 2010).7. (Anonim. Ada kenyataannya lebih banyak ditemui ikan kerapu jantan atau mempercepat perubahan kelamin dari betina ke jantan dapat dipacu/dirangsang dengan hormon testosteron. Kematangannya kelamin induk betina diketahui dengan cara kanulasi.2. Takaran yang diberikan adalah : Hormon testosteron 2 mg/kg induk Multivitamin 10 mg/kg induk.7.Seleksi Induk Kematangan kelamin induk jantan ikan kerapu diketahui dengan cara mengurut bagian perut ikan (stripping) ke arah awal sperma yang keluar warna putih susu dan jumlahnya banyak diamati untuk menentukan kualitasnya. 2. Pemberian hormon testosteron dilakukan secara oral melalui makan setiap minggu.6.Sex reversal Kerapu termasuk ikan yang "hermaprodit protogyni". yaitu pada kehidupan awal belum ditentukan jenis kelaminnya. yaitu memasukkan selang plastik ke dalam lubang kelamin ikan.5 m dan salinitas + 32 ‰. (Anonim. Sel kelamin betina terbentuk setelah berumur 2 tahun dengan panjang 50 cm dan berat 5 kg.

Penetasan telur Menurut (Anonim. berbentuk empat persegi panjang dengan ukuran 4 x 1 x 1 m³ . 2010) bak yang dipergunakan untuk penetasan telur sekaligus juga merupakan bak pemeliharaan larva.000 IU/kg induk Puberogen 150 .200.24. Rangsangan hormonal induk kerapu matang kelamin disuntik dengan hormon Human Chorionic Gonadotropin (HCG) dan Puberogen untuk merangsang terjadinya pemijahan. Takaran hormon yang diberikan : o o HCG 1.7. Ikan Kerapu Tikus selama bertelur induk tidak boleh di beri pakan. Telur yang telah dibuahi berjumlah lebih kurang 1. Perlakuan ini dilakukan terus menerus sampai induk memijah secara alami.2. Tiga hari sebelum bak penetasan/bak pemeliharaan larva digunakan. Pengamatan pemijahan ikan dilakukan setiap hari setelah senja sampai malam hari.5 m). 5. terbuat dari beton. dan apabila induk telah memijah harus segera dipindahkan ke tangki yang lain. 3.225 RU/kg induk 4. Pemijahan umumnya terjadi pada malam hari antara jam 22.00 WIB.bak pemeliharaan larva.000 butir.7.000 . Bila diketahui telah terjadi pemijahan. 2010). Setelah 7 jam permukaan air dikembangkan ke possisi semula (tinggi air 1. perlu dipersiapkan dahulu dengan . 2. Manipulasi lingkungan dilakukan menjelang bulan gelap yaitu dengan cara menaikkan dan menurunkan permukaan/tinggi air setiap hari selama 5-7 jam.2. (Anonim. telur segera dipanen dan dipindahkan ke bak penetasan.00 .

cara dibersihkan dan dicuci hamakan memakai larutan chlorine (Na OCI) 50 - 100 ppm. Setelah itu dinetralkan dengan penambahan larutan Natrium thiosulfat sampai bau yang ditimbulkan oleh chlorine hilang. Air laut dengan kadar garam 32 ‰ dimasukkan ke dalam bak, satu hari sebelum larva dimasukkan dengan maksud agar suhu badan stabil berkisar antara 27 - 28°C. Sebelum telur ditetaskan perlu direndam dalam larutan 1 - 5 ppm acriflavin untuk mencegah serangan bakteri. Telur hasil pemijahan dikumpulkan dengan sistim air mengalir. Telur yang dibuahi akan mengapung dipermukaan air dan berwarna jernih (transparan). Telur akan menetas dalam waktu 18 - 22 jam setelah pemijahan pada suhu 27 - 28°C dan kadar garam 30 - 32 ‰. Telur yang telah dibuahi berjumlah lebih kurang 1.200.000 butir. Jumlah telur diperkirakan hanya 30% saja yang dibuahi (Suria D, 2002). Telur yang telah dibuahi tidak berwarna (transparan) sedangkan yang tidak dibuahi dan yang mati berwarna putih susu. 2.7.8 Pemeliharaan Larva Larva kerapu yang baru menetas mempunyai cadangan makanan berupa kuning telur. Pakan ini akan dimanfaatkan sampai hari ke 2 (D2) setelah menetas dan selama kurun waktu tersebut larva tidak memerlukan dari luar. Umur 3 hari (D3) kuning telur mulai terserap habis, perlu segera diberi pakan dari luar berupa Rotifera Brachionus Plicatilis dengan kepadatan 1 - 3 ekor/ml. Disamping itu ditambahkan pula Chlorella sp dengan kepadatan antara 50.000-100.000 sel/ml. Pemberian pakan ini sampai larva berumur 16 hari (D16). Pada hari kesembilan (D9) mulai diberi pakan naupli artemia yang baru menetas dengan kepadatan 0,25

- 0,75 ekor/ml media. Pemberian pakan naupli artemia ini dilakukan sampai larva berumur 25 hari (D25) dengan peningkatan kepadatan hingga mencapai 2 - 5 ekor/ml media. Disamping itu pada hari ke tujuh belas (D17) larva mulai diberi pakan Artemia yang telah berumur 1 hari, kemudian secara bertahap pakan yang diberikan diubah dari Artemia umur 1 hari ke Artemia setengah dewasa dan akhirnya dewasa sampai larva berumur 50 hari (Anonim, 2010).

2.8 Parameter Kualitas Air Pemeliharaan Lokasi budidaya yang ideal, selain pertimbangan umum di atas, juga harus memenuhi persyaratan-persyaratan kualitas airnya. Faktor kualitas air yang perlu diperhatikan untuk pemeliharaan pembenihan Kerapu tikus meliputi sifat fisika : Suhu dan Kecerahan, dan kimia meliputi : pH, DO dan Salinitas. Pemenuhan akan kebutuhan air harus diupayakan agar produksi benih ikan laut yang berkualitas, dalam jumlah yang cukup, dan kontunu dapat berhasil (Ghufran, M dan Andi Tamsil. 2010). 2.8.1 Suhu Suhu mempengaruhi aktivitas metabolisme organisme, karena itu penyebaran organisme baik di lautan maupun di perairan air tawar dibatasi oleh suhu perairan tersebut. Secara umum laju pertumbuhan meningkat sejalan dengan kenaikan suhu, dapat menekan kehidupan biota bahkan dapat menyebabkan kematian bila peningkatan suhu sampai ekstrem (drastis) (Kordi, 2005). Suhu optimal untuk pertumbuhan kerapu tikus adalah 27oC-32oC (Octopus, 2008).

2.8.2 Kecerahan Perairan yang memiliki tingkat kecerahan sangat tinggi dapat menembus ke dasar perairan adalah indikator yang perairannya cukup jernih dan sangat baik untuk digunakan sebagai lokasi pembesaran. Kecerahan perairan yang sangat cocok untuk pembesaran kerapu bebek adalah lebih dari 2 meter, artinya secara visual dapat dilihat benda-benda di dalam air yang kedalamannya hingga lebih dari 2 meter (Octopus, 2008). 2.8.3 Derajat Keasaman (pH) Pada pH air dapat mempengarui tingkat kesuburan perairan karena mempengaruhi kehidupan jasad renik. Perairan asam akan kurang produktif, malah dapat membunuh ikan. Pada saat pH rendah kandungan oksigen terlarut akan berkurang, sebagai akibatnya konsumsi oksigen menurun, aktifitas pernapasan naik dan selera makan akan berkurang (Kordi, 2005). Kerapu tikus sangat baik bila dipelihara pada air laut dengan pH 7-9. 2.8.4 Oksigen Terlarut (DO) Konsentrasi oksigen dalam air dapat berpengaruh terhadap pertumbuhan dan konversi pakan. Konsentrasi oksigen terlarut merupakan salah satu faktor yang membatasi bagi ikan yang dibudidayakan, karena sangat diperlukan untuk kehidupan ikan. Pertumbuhan ikan-ikan laut, kandungan oksigen terlarut dalam air minimal 4 ppm, sedangkan kandungan optimum antara 5-6 ppm (Kordi, 2005), menambahkan bahwa ikan Kerapu tikus dan macan dapat hidup optimal pada konsentrasi oksigen lebih dari 5 ppm.

8. kemudian dioksidasikan menjadi nitrit dan nitrat. Konsentrasi nitrit maximum yang diperbolehkan dalam kegiatan budidaya ikan adalah < 0. .6 Nitrit Nitrat (NO3-) dan nitrit (NO2-) adalah ion-ion anorganik alami.5 Salinitas Lokasi yang berdekatan dengan muara tidak dianjurkan karena terpengaruh oleh masuknya air tawar dari sungai sehingga salinitas dapat berubah dan akan mempengaruhi pertumbuhan dan nafsu makan ikan yang dipelihara. pembentukan nitrit pada intestinum mempunyai arti klinis yang penting terhadap keracunan. yang merupakan bagian dari siklus nitrogen.06 mg/l (Wahyudhy H. NO2. 2.dalam darah memicu terjadinya oksidasi Fe2+. Aktifitas mikroba di tanah atau air menguraikan sampah yang mengandung nitrogen organik pertama-pertama menjadi ammonia. maka banyaknya zat makanan akan menghambat absorbsi dari kedua zat ini dan baru akan diabsorbsi di traktus digestivus bagian bawah. 2008). yang menyebabkan kemampuan hemoglobil darah untuk mengikat oksigen rendah. Hal ini akan mengakibatkan mikroba usus mengubah nitrat menjadi nitrit sebagai senyawa yang lebih berbahaya. Apabila nitrat dan nitrit yang masuk bersamaan dengan makanan. Salinitas yang ideal untuk pembesaran ikan Kerapu tikus adalah 30-33 ppt (Octopus. Karena itu.2.8. 2007).

9. S. Mn. pupuk yang digunakan harus mengandung unsur hara yang dibutuhkan seperti N. Zn. Jasad pakan merupakan faktor penentu dalam keberhasilan pemeliharaan larva. 2.5 liter-1 liter air yang akan disiapkan sebagai media tumbuh plankton sebelumnya disterilkan terlebih dahulu dengan menggunakan klorine kemudian air laut di biarkan selama 3-5 hari sampai residu klorine hilang. Budidaya plankton dilakukan pada botol dengan volume 0. K dan Mg sebagai unsure hara makro serta unsure hara mikro Fe. selanjutnya ditambah pupuk cair sebanyak 1 ml/lt. Jasad pakan untuk keperluan ini meliputi alga (Nannochloropsis oculata). Salinitas air laut yang diharapkan adalah 2528 ppt. P. persediaan pakan berupa jasad pakan dan pakan buatan yang nantinya diberikan kepada larva harus siap dalam jumlah dan mutu gizinya. dengan mengatur rasio N/P supaya Nannochloropsis dapat mendominasi yang lainnya. rotifera (Branchionus sp) yang dipeoleh dari usaha kultur massal (Pramu S dan Mustahal.1 Nannochloropsis oculata Domain Kingdom Phylum Class Genus Spesies : Eukaryota : Chomalveolata : Heterokontophyta : Eustigmatophyceae : Nannochloropsis : Nannochloropsis oculata Membudidaya Chlorella dapat diambil langsung dari tambak budidaya.9 Penyediaan Pakan untuk Pemeliharaan Larva Sebelum mengawinkan ikan.2. S dan . Air laut tersebut kemudian dimasukkan kedalam botol-botol yang telah disiapkan. 2002). artemia.

2.9.sebagainya. Selanjutnya. 2003). nauplii dan kotoran dicuci dengan air laut dan dimasukkan ke dalam 15 menit. Aerasi dihentikan dan bagian bawah wadah diberi sinar agar nauplii mengumpul didasar. Baru setelah itu kumpulan nauplii artemia yang tampak hidup atau bergerak disipon sambil disarin dan dicuci. Jangka waktu penetasan tergantung pada asal produk kista artemia. Komposisi 5 gram kista artemia per liter cukup untuk menetaskan kista tersebut. Abbas. 1995). tetapi tidak dapat dicerna oleh larva (Siregar. Kista-kista yang tidak menetas sebaiknya tidak dicampur dengan nauplii karena bila diberikan sebagai pakan larva maka kista akan termakan. . Ukuran panjang nauplius artemia yang baru ditetaskan sekitar 200-300 atau tergantung pada strainnya. Penetasan kista dilakukan dengan menggunakan bak-bak kerucut yang berisi air laut dan dipasok aerasi kuat padatingkat 10-20 liter per menit. Pemisahan nauplius artemia dari cangkang serta kista yang tidak menetas dilakukan dengan cara mengumpulkan nauplii dan kotoran lalu disaring dengan saringan 120µ. sedangkan kotoran akan mengapung.2 Artemia sp Kingdom Class Ordo Family Genus Spesies : Animalia : Crustacea : Anostraca : Artemidae : Artemia : Artemia sp Artemia dalam bentuk nauplius mudah diperoleh. Setelah media siap bibit plankton dimsukkan 1/3 bagian dan siap dipanen 5-6 hari (Edhy W dkk. yaitu dengan cara menetaskan kistanya yang tersedia dipasar dalam bentuk kemasan kalengan.

frekuensi pemberian pakan dan waktu pemberian pakan. dan kaki / ekor. betina memproduksi 20 butir telur atau lebih selama 7-10 hari masa hidupnya.3 Rotifer Phyllum Kelas Ordo Famili Genus Spesies : Avertebrata : Eurotaria : Ploima : Brachionidae : Brachionus : Brachionus sp. Abbas. Tubuh yaitu. 1995). Pada kondisi normal. Kultur missal rotifera dilakukan pada bak volume 5-12 m3. Kultur dilakukan dalam ruang terbuka yang cukup mendapatkan cahaya matahari. Untuk tujuan ini dilakukan dengan memanipulasi lingkungan hidupnya agar artemia terpaksa melangsungkan perkembangbiakan secara ovipar uang menghasilkan telur (Siregar. . 2. Siregar.10 Pemberian Pakan Pada pemberian pakan perlu beberapa hal yang diperhatikan. Abbas (1995).9. Secara umum dikenal 2 metode kultur rotifera yaitu metode panen harian lebih praktis dan mudah sedangkan pada metode transfer diperlukan bak kultur yang lebih banyak. Organisme rotifer berbentuk simetris bilateral manyerupai piala. Rotifer merupakan salah satu jenis rotifer yang biasa diproduksi secara massal. namun rotifera yang dihasilkan dari metode transfer lebih bersih. tetapi secara teknis siste atermia dapat diproduksi secara massal dalam tempat (wadah) yang terkendali.Meskipun secara ekonomis kurang menguntungkan. kepala. badan. seperti rasio pakan. 2. Branchionus memiliki kecepatan pertumbuhan dan reproduksi tinggi.

rasio pemberian pakan kerapu 4 6% (Salim.200. 2. 2. Frekuensi pemberian pakan yang optimal tergantung dari jenis ikan yang dipelihara. Pada pemelihara ikan. 2. Ikan Kerapu Tikus selama bertelur induk tidak boleh di beri pakan.3. Pada ikan yang hidup di dasar perairan dan bergerak altif pada malam hari seperti ikan kerapu. 2009). pemberian pakan setiap dua hari sekali. waktu pemberian pakan biasanya dilakukan pagi dan sore hari (Salim. 2009).2.sifat makan organisme yang dipelihara. Dari jumlah diperkirakan hanya 30% saja .1. Telur yang telah dibuahi berjumlah lebih kurang 1. Rasio Pakan Rasio pemberian pakan harus tepat agar pakan yang di berikan dapat efisien dikonvesikan oleh ikan/udang sehingga kelangsungan hidup yang optimal.10.2.11 Survival Rate Survival Rate atau SR adalah tingkat kelangsungan hidup. Pakan yang dimakan ikan kerapu telah dicerna 95% setelah 36 jam (Salim.10. Rasio pemberian pakan yang optimal ditentukan oleh jenis ikan yang dipelihara. 2009). Frekuensi Pemberian Pakan Frekuensi pemberian pakan yang tepat akan menghasilkan pertumbuhan yang optimal dan penggunaan pakan yang efisien. Jenis ikan/udang yang aktif bergerak memerlukan lebih banyak makanan dibandingkan jenis ikan yang bergerak pasif. dan apabila induk telah memijah harus segera dipindahkan ke tangki yang lain. Waktu Pemberian Pakan Waktu pemberian pakan di sesuaikan dengan sifat.10.000 butir.

diantaranya adalah penyakit borok pangkal sirip ekor dan penyakit mulut merah. V anguillarum dan V fuscus. yaitu Vibrio alginolyticus. 2009).yang dibuahi. Telur yang telah dibuahi tidak berwarna (transparan) sedangkan yang tidak dibuahi dan yang mati berwarna putih susu.12 Penyakit Permasalahan penyakit yang paling banyak pada ikan bersirip (finfish) dijumpai pada budidaya ikan kerapu. sebaliknya telur yang tidak terbuahi akan tenggelam didasar tangki. V algosus. SR kerapu tikus 5% (Darwisito. Hasil isolasi dan identifikasi bakteri ditemukan beberapa jenis bakteri yang diduga berkaitan erat dengan kasus penyakit bakterial. Telur yang terbuahi melayang atau terapung pada salinitas 33 permil. rumus untuk mencari SR adalah (Jatilaksono. Jenis penyakit bakterial yang ditemukan pada ikan kerapu. 2007). Diantara jenis bakteri tersebut bakteri V alginolyticus dan V fuscus merupakan jenis yang sangat patogen pada ikan kerapu tikus (Salim. . 2007): SR = Nt/No x 100% Keterangan : SR : Survival Rate Nt : Jumlah ikan akhir (saat pemanenan) No : Jumlah ikan awal (saat penebaran) 2.

12. Stadia parasit yang menginfeksi . 2.12.8-1. Diagnosis penyakit dapat dilakukan dengan melakukan isolasi dan identifikasi bakteri. Ciri lain adalah gram negatif.12.2 cm yang berwarna kuning pada media TCBS.3. 2009). Penumbuhan bakteri pada media selektif TCBS akan didapatkan koloni yang kekuningan dengan ukuran yang hampir sama dengan koloni V alginolyticus akan tetapi bakteri ini tidak tumbuh swarm pada media padat non-selektif seperti NA (Salim.2. Kematian masal pada benih diduga disebabkan oleh infeksi bakteri V alginolyticus. sukrosa dan maltosa. bentuk batang. Sifat lain yang tidak kalah penting adalah sifat proteolitik yang berkaitan dengan mekanisme infeksi bakteri (Salim.Vibrio anguillarum Dibandingkan dengan V alginolyticus.1. Pada uji patogenisitas ikan kerapu tikus ukuran 5 gram yang diinfeksi bakteri dengan kepadatan tinggi hingga 108 CFU/ikan hanya mengakibatkan mortalitas 20%. membentuk kolom berukuran 0. motil. eritromisina dan oksitetrasiklin. V anguillarum merupakan spesies yang kurang patogen terhadap ikan air payau. dengan tanda ikan yang tersering terlihat bercak putih.Cryptocaryonosis Penyakit ini sering ditemukan pada ikan kerapu bebek dan macan. Pengendalian penyakit dapat dilakukan dengan penggunaan berbagai jenis antibiotika seperti Chloramfenikol. laktosa.Vibrio alginolyticus Vibrio alginolyticus dicirikan dengan pertumbuhannya yang bersifat swarm pada media padat non selektif.2. Bakteri ini merupakan jenis bakteri yang paling patogen pada ikan kerapu tikus dibandingkan jenis bakteri lainnya.2009). fermentasi glukosa. 2.

Tanda klinis ikan yang terserang adalah ikan seperti ada gangguan pernafasan. produksi mukus yang berlebihan. 2. kehilangan nafsu makan sehingga ikan menjadi kurus. 2009). bercak putih pada kulit.5 mm. Trichodina yang merupakan .12. Tetapi karena pelekatan yang kuat dan terdapatnya kait pada cakram.ikan dan menimbulkan penyakit adalah disebut trophont berbentuk seperti kantong atau genta berukuran antara 0. Erosi (borok) dapat terjadi karena infeksi sekunder dari bakteri. mengakibatkan seringkali timbul luka. Pada kondisi ini maka Trichodina merupakan ektoparasit sejati. kadang disertai dengan hemoragi. mengerok dari lendir. Serangan penyakit dapat diatasi dengan penjagaan kualitas air.Diagnosis dapat dilakukan dengan melihat gejala seperti adanya bercak putih. Perlakuan bahan kimia pengendali parasit dapat dilakukan seperti perendaman dalam larutan formalin 25 ppm. sementara parasit ini mengambil partikel organik dan bakteri yang menempel di kulit ikan.Infestasi Trichodina sp Penempelan Trichodina pada tubuh ikan sebenarnya hanya sebagai tempat pelekatan (substrat). perendaman ikan dalam air bersalinitas 8 ppt selama beberapa jam dan memindahkan ikan yang sudah diperlakukan ke dalam wadah baru bebas parasit (Salim.4. dan dilengkapi dengan silia. tetapi untuk lebih memantapkan (diagnosis definitif) perlu dilakukan pengamatan secara mikroskopis dengan cara memotong insang.3-0. terutama pada benih dan ikan muda. Pelekatan pada insang juga seringkali disertai luka dan sering ditemukan set darah merah dalam vakuola makanan Trichodina.

contohnya adalah Trichodinella. Perlakuan terhadap ikan yang terinfeksi oleh parasit adalah dengan cara perendaman dalam larutan formalin 200-300 ppm (Salim. produksi lendir yang berlebihan dan terlihat kurus. Timbulnya luka akan diikuti dengan infeksi bakteri Caligus sp. berukuran cukup besar sehingga dapat diamati dengan tanpa bantuan mikroskop.12. dan akan lebih parah lagi karena ikan yang terinfeksi dengan parasit sering menggosok-gosokkan tubuhnya ke dinding bak atau substrat keras lainnya. ditemukan baik pada induk ikan maupun di tambak. Perlakuan . yaitu hanya merendamnya dalam air tawar selama beberapa menit.5. Ikan yang terserang Trichodina biasanya warna tubuhnya terlihat pucat.ektoparasit pada ikan air laut mempakan spesies yang bersifat sebetulnya lebih bersifat komensal daripada ektoparasit (Salim. Trichodina spp. Perlakuan ikan terserang parasit cukup mudah.Pencegahan terhadap wabah penyakit adalah dengan cara pengendalian kualitas lingkungan. karena mewabahnya penyakit berkaitan dengan rendahnya kualitas lingkungan. Trichodina yang menempel di insang umunmya berukuran lebih kecil dibandingkan yang hidup di kulit. Diagnosis dapat dilakukan dengan cara melakukan pengerokan (scraping) pada kulit. atau mengambil lembaran insang dan melakukan pemeriksaan secara mikroskopis.2009). 2. Penempelan ektoparasit ini dapat menimbulkan luka. 2009). yang didapatkan pada ikan air payau merupakan spesies yang memiliki toleransi yang luas terhadap kisaran salinitas.Caligus sp parasit golongan Crustacea Parasit jenis ini sering.

yaitu virus penyebab VNN (Viral Nervous Necrosis).6 Virus Jenis viral atau virus yang telah teridentifikasi menyerang ikan laut adalah Iridovirus/ DNA. Hingga kini belum ditemukan obat yang efektif untuk mengatasi virus. Virus lain yang menyerang ikan laut adalah Nodavirus. 2010). baik iridovirus maupun nodavirus. terutama menyerang larva dan juwana ikan laut (Khordi. . VNN merupakan virus yang mematikan. 2009).12. Virus ini menyebabkan hypertrophy(penebalan) dari sel-sel jaringan ikan.dengan formalin 200-250 ppm juga cukup efektif. sehingga ikan yang terserang penyakit ini sebaiknya dimusnahkan agar tidak menular ke ikan lain (Khordi. 2010). 2. menimbulkan tonjolan pada daerah sirip atau kulit (nodul)yang dapat terjadi secara sata-satu atau kelompok. Penggunaan bahan seperti Triclorvon (Dyvon 95 SP) hingga 2 ppm dapat mematikan parasit (Salim.

1 Data Primer Data Primer merupakan data yang diperoleh langsung dari sumbernya.2 Metode Kerja Metode yang digunakan dalam praktek kerja lapang ini adalah metode deskriptif. 3. faktual dan akurat mengenai fakta-fakta dan sifat-sifat populasi atau daerah tertentu. Kecamatan Panarukan.3 Metode Pengumpulan Data Data yang diambil dalam Praktek Kerja Lapangan ini berupa data primer dan data sekunder yang yang diperoleh melalui beberapa metode atau cara atau cara pengambilan. yaitu metode yang menggambarkan keadaan atau kejadian pada suatu daerah tertentu. 3. 3. Kabupaten Situbondo. Propinsi Jawa Timur (Lampiran 1). diamati dan dicatat untuk pertama kalinya melalui prosedur dan teknik .III PELAKSANAAN 3. Kegiatan ini dilaksanakan mulai pertengahan 19 Juli – 31 Agustus 2010.1 Tempat dan Waktu Praktek kerja lapang ini akan dilaksanakan di Balai Budidaya Air Payau terletak di Desa Pecaron. Suryabrata (1993) mengatakan bahwa metode deskriptif adalah metode untuk membuat pencandraan secara sistematis.3.

penebaran bibit. observasi. Dalam proses wawancara dengan menggunakan pedoman umum wawancara ini. bahkan mungkin tidak terbentuk pertanyaan yang eksplisit (Patton. Observasi Observasi atau pengamatan secara langsung adalah pengambilan data dengan menggunakan indera mata tanpa ada pertolongan alat standart lain untuk keperluan tersebut (Nazir. B. pengisian media. 1998). interview dilengkapi pedoman wawancara yang sangat umum serta mencantumkan isu-isu yang harus diliput tanpa menentukan urutan pertanyaan. pemeliharaan dan pemanenan. partisipasi aktif maupun memakai instrumen pengukuran yang khusus sesuai tujuan (Azwar. 1998). Observasi pada Praktek Kerja Lapang ini dilakukan terhadap berbagai hal yang berhubungan dengan kegiatan pembenihan meliputi persiapan alat dan wadah budidaya. Pada Praktek Kerja Lapang ini wawancara akan dilakukan dengan menggunakan pedoman wawancara. Wawancara Wawancara merupakan cara mengumpulkan data dengan cara tanya jawab sepihak yang dikerjakan secara sistematis dan berlandaskan pada tujuan penelitian. A. 1988).pengambilan data yang berupa interview. pembuatan pupuk. 1998) Patton dalam Poerwandari (1998) menjelaskan pedoman wawancara digunakan untuk mengingatkan interviewer mengenai aspek-aspek apa yang harus . Wawancara memerlukan komunikasi yang baik dan lancar antara peneliti dengan subyek sehingga pada akhirnya bisa didapatkan data yang dapat dipertanggungjawabkan secara keseluruhan (Nazir.

C. penebaran bibit. pengisian media. pustaka-pustaka. Dengan pedoman demikian interviwer harus memikirkan bagaimana pertanyaan tersebut akan dijabarkan secara kongkrit dalam kalimat tanya. Partisipasi Aktif Partisipasi aktif adalah keterlibatan dalam suatu kegiatan yang dilakukan secara langsung di lapangan (Nazir.2 Data Sekunder Data sekunder adalah data yang diperoleh dari sumber tidak langsung dan telah dikumpulkan serta dilaporkan oleh orang diluar dari penelitian itu sendiri (Azwar. laporan-laporan pihak swasta. 1988). pemeliharaan dan pemanenan serta kegiatan lainnya yang yang berkaitan dengan Praktek Kerja Lapang yang dilakukan. Kegiatan yang dilakukan adalah pembenihan ikan Kerapu Tikus.3. . Kegiatan tersebut diikuti secara langsung mulai dari persiapan alat dan wadah budidaya.1998). Data ini dapat diperoleh dari data dokumentasi. masyarakat dan pihak lain yang berhubungan dengan usaha pembenihan ikan Kerapu Tikus. lembaga penelitian. dinas perikanan. juga menjadi daftar pengecek (check list) apakah aspek-aspek relevan tersebut telah dibahas atau ditanyakan. 3.dibahas. sekaligus menyesuaikan pertanyaan dengan konteks aktual saat wawancara berlangsung.

Sub Senter Udang Windu ini terletak di Desa Blitok. Kecamatan Mlandingan. Jawa Tengah. Departemen Pertanian. Sub Senter Udang Windu ini kemudian melepaskan diri dari Balai Budidaya Air Payau Jepara dan berganti nama menjadi Loka Balai Budidaya Air Payau Situbondo yang ditetapkan pada tanggal 18 April 1994 melalui Surat Keputusan Menteri Pertanian Nomor: 264/Kpts/OT.1 Keadaan Umum Lokasi Praktek Kerja Lapang 4.1. Pada awalnya balai ini bernama Proyek Sub Senter Udang Windu Jawa Timur yang pada saat itu masih berupa fasilitas pemeliharaan benur udang windu di bawah naungan Direktorat Jenderal Perikanan.1 Sejarah Berdirinya Balai Budidaya Air Payau Situbondo didirikan pada tahun 1986.210/4/94. Loka Balai Budidaya Air Payau Situbondo merupakan Unit Pelaksana Teknis (UPT) Direktorat Jenderal Perikanan di bidang pengembangan produksi budidaya perikanan air payau yang berada di bawah dan bertanggung jawab kepada Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya.IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4. Loka Balai Budidaya Air Payau Situbondo terdiri dari tiga divisi meliputi divisi ikan. Dengan beban tugas dan tanggung jawab yang semakin berat. Kabupaten Situbondo dan merupakan cabang dari BBAP Jepara. divisi udang dan divisi budidaya. maka pada tanggal 1 Mei 2001 status Loka Balai Budidaya Air Payau dinaikkan menjadi Balai Budidaya Air Payau .

Situbondo berdasarkan Surat Keputusan Menteri Perikanan dan Kelautan No. udang. Panarukan Situbondo. Sebelah Utara berbatasan dengan Selat Madura.1. BBAP ini terdiri dari 3 divisi yaitu : divisi udang. Unit Blitok. dan ikan bandeng. 4. Divisi udang terletak di 3 lokasi yang berbeda yaitu : 1. Divisi ikan terletak di Dusun Pecaron.45 Ha. Divisi budidaya terletak di Desa Pulokerto Kecamatan Kraton Kabupaten Pasuruan dengan luas areal 30 Ha yang merupakan areal untuk produksi rumput laut Glacilaria. 2. Kabupaten Situbondo yang merupakan kantor utama dengan luas areal 4. divisi ikan. Central Pertiwi Bahari (CPB).39 Ha. Unit Tuban yang terletak di Kabupaten Tuban dengan luas areal 7 Ha. Kecamatan Kendit. . 260/MEN/2001. 3. dan divisi budidaya. Unit Gelung yang terletak di desa Gelung Kecamatan Panarukan sekitar 25 Km ke arah Timur dari kantor utama dengan luas areal 8 Ha. Sebelah Barat berbatasan dengan usaha pembenihan Kelola Benih Ungul (KBU) dan pemukiman penduduk. Lokasi Balai Budidaya Air Payau (BBAP) Situbondo ini berbatasan dengan: a.2 Letak dan Keadaan Lokasi Balai Budidaya Air Payau (BBAP) Situbondo teletak di jalan raya Pecaron. Desa Klatakan. b. KEP. Kecamatan Mlandingan sekitar 10 Km ke arah Barat dari kantor utama dengan luas areal 1. Sebelah Timur berbatasan dengan hatchery udang milik PT. c. Jawa Timur.

Kepala Bagian Tata Usaha 3. BBAP Situbondo berada di tepi pantai utara Pulau Jawa dan lokasi ini dipengaruhi oleh dua musim. Kepala Balai Budidaya Air Payau (BBAP) Situbondo 2. 4. terdiri dari: 1. . Kelompok Jabatan Fungsional Susunan organisasi BBAP Situbondo secara lengkap dapat dilihat pada gambar 1 dengan uraian tugas sebagai berikut: 1.Kep. Seksi Standarisasi dan Informasi 4. Seksi Pelayan Teknis 5. Peta wilayah kabupaten Situbondo.3 Struktur Organisasi Berdasarkan Surat Keputusan Mentri Kelautan dan Perikanan RI. yaitu musim penghujan (November-Maret) dan musim kemarau (April-Oktober). Kepala Balai Budidaya Air Payau (BBAP) Situbondo Kepala BBAP Situbondo memiliki tugas dan wewenang seperti : merumuskan kegiatan. Secara geografis. BBAP Situbondo terletak pada 113o55’66”BT-114”BT dan 07o41’32” LS-07o42’35”LS. mengkoordinasi dan mengarahkan tugas penerapan teknik pembenihan dan pembudidayaan ikan air payau maupun laut serta pelestarian sumber daya induk atau benih sesuai dengan prosedur dan peraturan yang berlaku untuk kelancaran pelaksanaan kegiatan. Sebelah Selatan berbatasan dengan pemukiman desa Klatakan.d.1. No.260/MEM/2001 tentang organisasi dan tata kerja BBAP Situbondo. Jawa Timur dapat dilihat pada lampiran.

dan rumah tangga BBAP Situbondo serta pelaporan.2. 5. . pengendalian hama dan penyakit serta lingkungan. pengujian. budidaya dan penyuluhan. 4. 3. Kelompok Jabatan Fungsional Kelompok jabatan fungsional bertugas melaksanakan kegiatan perekayasaan. serta kegiatan lain yang sesuai dengan tugas masing-masing jabatan fungsional berdasarkan peraturan perundangundangan yang berlaku. perlengkapan. Seksi Standarisasi dan Informasi Seksi standarisasi dan informasi mempunyai tugas menyiapkan bahan standar teknik dan pengawasan pembenihan dan budidaya ikan air payau dan laut. Kepala bagian tata usaha Kepala bagian tata usaha bertugas melakukan administrasi keuangan. sumber daya induk dan benih. penerapan dan bimbingan penerapan standar/sertifikasi pembenihan dan pembudidayaan ikan air payau dan laut. penerapan serta pengawasan teknik pembenihan dan budidaya ikan air payau dan laut. Seksi Pelayaan Teknik Seksi pelayanan teknik bertugas melakukan pelayanan teknik kegiatan pengembangan. kepegawaian. serta pengelolahan jaringan informasi dan perpustakaan. pengendalian hama dan penyakit ikan. persuratan.

2. dan wadah inkubasi telur yang berbentuk akuarium kaca.1 Sarana Umum A.2 Sarana dan Prasarana Umum BBAP Situbondo 4. Sarana Budidaya Sarana budidaya merupakan factor utama yang mendukung kegiatan pembenihan sehingga perlu diperhatikan bentuk dan posisisnya.4 Kepegawaian Dalam melakukan tugasnya Balai Budidaya Air Payau Situbondo didukung sumberdaya manusia sebanyak 143 orang karyawan berstatus pegawai negeri sipil dengan berbagai tingkat pendidikan. pemeliharaan benih. penetasan telur. . kultur mikroalga. wadah pemeliharaan induk. Sarana Budidaya yang digunakan di Balai Budidaya Air Payau Situbondo untuk kegiatan pembenihan meliputi wadah tandon air yang terbuat dari beton.1. pemeliharaan larva.4. Dukungan Sumberdaya Manusia di BBAP Situbondo. kultur rotifer. Tabel 1. No Klasifikasi Kualifikasi 1 Tingkat pendidikan Master (S2) Sarjana (S1) Lainnya Jumlah 2 Fungsional Perekayasa Litkayasa Pengawas Pranata Humas Umum Lainnya Jumlah Jumlah (orang) 10 45 88 143 17 16 27 3 26 54 143 4. Tabel berikut memperlihatkan dukungan sumberdaya manusia di BBAP Situbondo.

25 m 2 m x 5 m x 1. Sand filter di BBAP Situbondo tersusun dari bawah ke atas berupa batu kali. Sedangkan untuk mendistribusian air laut ke bak pembenihan dan bak kultur pakan alami.454 m 3 3 Jumlah 3 unit 5 unit 24.2 m x 1.5 m 12.5 m3 235.5 m 3 4 unit 10 unit 8 unit 1 unit 8 unit 5 unit 21 m3 39.25 m 2 m x 5 m x 1. Pengambilan air laut menggunakan pipa berdiameter 8 inchi yang bagian ujungnya dilengkapi dengan filter hisap dan dihubungkan langsung dengan pompa electromotor berkapasitas 21 PK. yang berjarak 200 m dari balai. air laut tersebut terlebih dahulu disaring dengan menggunakan saringna fisik atau sand filter ukuran 225 cm x 100 cm x 100 cm.5 m 2 m x 5 m x 1.125 m3 12.5 m 3 3 3 Kultur Pakan Alami Rotifer Chlorella Beton Beton Beton Beton Bak Karantina Egg Collector Beton PVC Persegi Persegi Persegi Lingkaran Persegi Persegi 2 m x 5 m x 1.5 m 12.2 m x 4.5 m3 12.2 m x 2.35 m 4.875 m Penetasan Telur 0. ijuk. t = 3 m d = 15 m.5 m x 0.25 m 2 m x 5 m x 1. Air laut langsung dilarikan ke bak pemeliharaan induk melalui pipa saluran berupa pipa berdiameter 4 inchi.5 m 5 m x 3 m x 1. t = 2 m 2 m x 5 m x 1.25 m 135 cm x 50 cm x 130 cm 12. t = 3 m 0. Suplai air di BBAP Situbondo berasal dari selat Madura.25 m 12. bungkusan arang.25 m 235.1668 m Pemeliharaan dan Pemijahan Induk Kerapu Bawal Bintang Bandeng Akuarium Bak Pemeliharaan Larva Pemeliharaan Benih Beton Beton Beton Kaca Beton Beton Beton Lingkaran Lingkaran Lingkaran Persegi Persegi Persegi Persegi d = 10 m.2 m x 4.4 m d = 5 m. waring dan .5 m 3 3 3 877500 cm B. Sarana Budidaya Di BBAP Situbondo Bak/Wadah Tandon Bak Filter Fisik Bahan Beton Beton Bentuk Persegi Persegi Dimensi 4. Air Laut Air laut merupakan faktor penting dalam kegiatan pembenihan.5 m 3 3 4 unit 1 unit 2 unit 5 unit 24 unit 24 unit 24 unit 529.5 m x 0.37 m Volume 41.Tabel 2. kerikil. t = 3 m d = 10 m.

pasir. laboratorium. Setelah air melewati saringan tersebut. Tandon air laut inilah yang menjadi sumber air yag nantinya akan dialirkan ke bak-bak pembenihan. maka air akan terbebas dari kotoran air yang berukuran besar. keperluan karyawan BBAP Situbondo dan asrama. Air tawar didapatkan dari 3 sumber sumur dengan kedalaman 10 m. Tandon air laut untuk pembenihan timur terdapat di bagian belakang pembenihan yang menjadi satu dengan tandon air laut pembenihan tengah. akuarium inkubasi telur dan bak kultur pakan alami. dan asrama. Udara dari blower dialirkan langsung dengan menggunakan pipa PVC ukuran 3 inchi dan 1 inchi dengan sistem tertutup yang dilengkapi dengan . Antara kedua tandon tersebut hanya dipisah dengan dinding beton.5 PK melalui pipa yang berdiameter 4 inchi. Air Tawar Penyediaan air tawar digunakan untuk kebutuhan kegiatan pembenihan. Air dialirkan dengan sistem gravitasi sebab posisi tandon berada lebih tinggi dari bak-bak yang lainnya dan dibantu dengan menggunakan pompa. Aerasi Ketersediaan oksigen di BBAP Situbondo disuplai dengan menggunakan high blower. lalu ditampung dalam tandon dengan ketinggian 3 m dari permukaan tanah ke unit pembenihan. perumahan karyawan. kantor. C. air minum. Air yang telah melalui tahap penyaringan dipompa ke tendon air laut pada ketinggian 2 m di atas permukaan tanah menggunakan pompa yang berkapasitas 7. Air tersebut dipompa. D.

selang aerasi. ruang kuliah. Pembenihan barat. pos jaga. Tabel 4.2. laboratorium kesehatan ikan dan kualitas air. aula (auditorium). Bangunan Jenis bangunan yang terdapat di BBAP Situbondo terdiri dari kantor utama. dan perumahan untuk karyawan BBAP Situbondo. laboratorium pakan alami. batu aerasi dan pemberat yang terbuat dari timah agar selang aerasi berada di bawah permukaan air. kantor tata usaha. Distribusi Sistem Aerasi di BBAP Situbondo No Sumber Aerasi Spesifikasi 1 Blower Vortex Daya 7 PK Distribusi 2 Rood Blower Daya 5 PK 3 Blower Vortex Daya 7 PK Bak penggelondongan dan bak induk di pembenihan timur. dan pembenihan tengah. Uraian dari fasilitas pendukung di BBAP Situbondo dapat dilihat pada tabel 5. mushola. Tabel 3. Fasilitas Pendukung di BBAP Situbondo Uraian Spesifikasi Listrik PLN 60 KVA Genset 80 KVA Bangunan Kantor Kantor Utama (Kepala Balai) Kantor Tata Usaha Laboratorium Nutrisi dan Teknologi Pakan Jumlah 1 unit 1 unit 1 unit 1 unit 1 unit . 4. kultur pakan alami barat. Bak karantina.2 Prasarana A. perpustakaan. pembenihan timur dan sebagian pembenihan tengah dan kultur pakan alami timur. laboratorium nutrisi.

Saat terjadi pemadaman listrik. Setelah itu. Sumber tenaga listrik di BBAP Situbondo berasal dari Perusahaan Listrik Negara (PLN) dengan daya 60 KVA.Toyota Kijang 1 unit 1 unit 1 unit 1 unit 1 unit 1 unit 1 unit 1 unit 1 unit 1 unit 1 unit 1 unit 1 unit 1 unit 1 unit B.Rumah Karyawan Rumah Genset Rumah Blower Asrama Bangsal Pakan Lainnya Kesehatan Ikan dan Lingkungan Pakan Alami Rumah Karyawan Rumah Tamu Genset dan Panel Listrik Blower Mahasiswa dan Peserta Magang Tempat Pembuatan Pakan Perpustakaan Aula (auditorium) Ruang Kuliah Alat Angkut (transportasi) .Suzuki Future . . generator set akan segera difungsikan untuk tetap mendukung suplai listrik bagi kegiatan budidaya. blower dan peralatan lainnya yang membutuhkan energi listrik. BBAP Situbondo menyediakan generator set berdaya 80 KVA. Tenaga Listrik Listrik merupakan komponen yang sangat vital untuk kegiatan budidaya.Pick up L – 300 . Energi listrik digunakan untuk penerangan. akan terdengar tanda dari sirine secara otomatis.Isuzu Panther . Sebagai antisipasi jika terjadi pemutusan arus listrik. menjalankan pompa.

5 kg dan bobot induk jantan lebih dari 5 kg.5% dari total berat badan ikan/hari.4.15 mg/ekor/minggu. Sedangkan induk yang berasal dari budidaya didapatkan dari hasil budidaya (F1) yang dilakukan oleh balai. Induk jantan memiliki ukuran bobot yang lebih besar dibandingkan dengan induk betina.5 . Induk yang berasal dari alam didapatkan dari alam didapatkan dari hasil penangkapan para nelayan daerah perairan laut bali dan Lombok. Disamping itu diberikan pula vitamin E dengan dosis 10 . 2010).3.5-5 kg. Diluar pemijahan ikan. Induk-induk yang baru datang dikarantina dalam bak karantina selama 1-2 bulan untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan baru yang terdapat di BBAP Situbondo. . Induk kerapu bebek Cromileptes altivelis yang dimiliki oeh BBAP Situbondo berasal dari alam dan hasil budidaya. Untuk masa peralihan kelamin biasanya induk memiliki berat 3. ikan kerapu memiliki sifat hemaprodit protogini yaitu pada tahap menuju perkembangan dewasa berjenis kelamin betina kemudian berubah menjadi jantan setelah tumbuh besar dan bertambah tua. Pakan yang diberikan berupa ikan rucah segar berkadar lemak rendah.1 Persiapan Induk Induk ikan kerapu yang dipijahkan dipelihara di laut dalam kurungan apung dengan padat penebaran induk 7. BBAP Situbondo memiliki jumlah induk 65 ekor yang terdiri dari 17 ekor induk jantan dan 48 ekor induk betina. takaran pakan yang diberikan sebesar 3 . (Anonim. sedangkan pada musim pemijahan diturunkan menjadi 1%.10 kg/m3 . Bobot induk betina sebesar 1-3.3 Teknik Pembenihan Kerapu Tikus 4.

Selang aerasi pun harus dicuci dengan menggunakan detergen lalu dibilas dan dipasang kembali. Tujuan dari pemasangan jaring ini adalah untuk menjaga agar induk tidak melompat keluar dari bak.3.5 – 2 kg yang dilarutkan dalam 25 liter air sebagai upaya desinfeksi wadah dan disikat kembali hingga benar-benar bersih. Hal tersebut dilakukan dengan cara membuka outlet seluruhnya. bagian atas bak dipasang jaring yang berbahan polyethylene yang disanggah dengan menggunakan tiang kayu. induk tersebut dipelihara selama hingga menjadi indukan kerapu tikus yang siap memijah. Bak tersebut dibersihkan dari lumut-lumut yang menempel. Setelah semua tahapan di atas selesai. ataupun pancing. Indukan tersebut ditangkap dengan menggunakan bubu. dinding-dinding bak disiram dengan kaporit 60% sebanyak 1. dan kotoran ikan dengan menggunakan sikat.Proses persiapan wadah indukan dilakukan dengan cara membuang semua air yang terdapat dalam bak induk.2 Seleksi Induk Induk kerapu tikus di BBAP Situbondo berasal dari hasil budidaya dan tangkapan alam yang ditangkap oleh nelayan. Setelah ditangkap. Setelah itu. Setelah bak tersebut bersih. Selanjutnya. bak sudah dapat diisi kembali dengan air laut. Tahap ini dilakukan untuk mendapatkan induk yang . jaring. induk yang akan memijah diseleksi terlebih dahulu dan diaklimatisasikan. Bak tersebut dikeringkan selama 3 – 6 hari. 4. Sebelum dilakukan penebaran. Induk betina yang digunakan adalah yang berumur 1 – 2 tahun. sedangkan induk jantan yang telah berumur 3 tahun. sisa pakan. bak disiram kembali dengan air tawar sampai bau kaporitnya hilang.

Rasio jantan dan betina yang ideal adalah 1 : 2. Seleksi yang dilakukan adalah menentukan jenis kelamin induk agar rasio jantan dan betina dapat mendekati ideal. Pemeriksaan alat kelamin dilakukan dengan cara mengurut bagian perut ke arah anus. et al (2005). Aklimatisasi induk dilakukan dengan cara memelihara induk pada wadah yang berbeda. maka induk tersebut adalah betina. berat badan. Pemeriksaan dilakukan dengan cara menimbang berat badan induk.. yang terdiri dari 17 ekor jantan. jika keluar sperma maka induk tersebut adalah jantan. Induk betina kerapu tikus berumur 1 – 3 tahun.berkualitas dan sudah dapat untuk dipijahkan. dan pemeriksaan alat kelamin. Tujuan aklimatisasi adalah untuk mengadaptasikan ikan pada wadah budidaya dan dilakukan pengobatan jika induk terserang penyakit sampai benar-benar sembuh. Induk betina umumnya mempunyai berat tubuh 1–2. . Proses aklimatisasi berakhir jika induk sudah mau makan dan benar-benar terbebas dari penyakit. dan 48 ekor betina. Menurut Cholik.5 kg dengan panjang tubuh lebih dari 40 cm. dapat dilakukan dengan kanulasi. Induk yang telah diseleksi dan diaklimatisasi kemudian disatukan dalam wadah pemijahan. Perbedaan antara jantan dan betina dapat dibedakan dari umur. Jumlah induk yang terdapat di Balai Budidaya Air Payau Situbondo adalah 65 ekor. sedangkan jika tidak keluar. sedangkan induk jantan lebih dari 3 tahun. Ikan kerapu tikus merupakan hewan yang bersifat “protogynous hermaphrodite” yaitu pada awalnya berkelamin betina lalu berubah menjadi jantan dengan jangka waktu tertentu. Jika terdapat telur.

Jenis ikan/udang yang aktif bergerak memerlukan lebih banyak makanan dibandingkan jenis ikan yang bergerak pasif. dan cumi-cumi. seperti rasio pakan. Pakan tersebut didapatkan dari nelayan yang menangkap langsung di laut. Rasio pemberian pakan harus tepat agar pakan yang di berikan dapat efisien dikonvesikan oleh ikan/udang sehingga kelangsungan hidup yang optimal. induk kerapu tikus diberi pakan rucah berupa ikan segar dengan kandungan lemak rendah dan memiliki kadar protein yang tinggi (lebih dari 70%) seperti ikan layur. kemudian dihisap.Hal ini sependapat dengan Anonim (2010) yang menyatakan bahwa kematangan kelamin induk jantan ikan kerapu diketahui dengan cara mengurut bagian perut ikan (stripping) ke arah awal sperma yang keluar warna putih susu dan jumlahnya banyak diamati untuk menentukan kualitasnya. yaitu memasukkan selang plastik ke dalam lubang kelamin ikan. Kematangannya kelamin induk betina diketahui dengan cara kanulasi. frekuensi pemberian pakan dan waktu pemberian pakan. Rasio pemberian pakan yang optimal ditentukan oleh jenis ikan yang dipelihara. Pemberian Pakan Pada pemberian pakan perlu beberapa hal yang diperhatikan.1986). ekor kuning. lemuru. (Menurut Danakusumah dan Imanishi. garis tengah (diameter) telur diatas 450 mikron. A. Selama pemeliharaan ikan kerapu tikus di BBAP Situbondo. nelanak. Untuk . Telur yang diperoleh diamati untuk mengetahui tingkat kematangannya.6%. kembung tongkol. rasio pemberian pakan kerapu 4 .

pergantian jenis rucah yang diberikan juga bertujuan untuk menambah nafsu makan induk. maka pakan tersebut disimpan di dalam freezer. bau amis pada ikan serta melepaskan ektoparasit yang menempel pada tubuh ikan. Jadwal pemberian pakan dan vitamin dapat dilihat pada tabel 6.mempertahankan kesegaran pakan. Selain pakan ikan rucah. Vitamin E diberikan untuk mempercepat kematangan gonad induk. Pemberian vitamin B berguna untuk menambah nafsu makan ikan. Vitamin yang diberikan adalah vitamin B. Pemberian vitamin tersebut dilakukan selama dua kali seminggu. Selain itu. Kemudian ikan dipotong-potong sesuai dengan ukuran bukaan mulut induk. Tujuannya adalah untuk menjaga kesehatan ikan dan untuk mempercepat perkembangan dan kematangan gonad. . Vitamin C berguna untuk meningkatkan daya tahan tubuh terhadap serangan penyakit. C dan E. hal ini bertujuan agar induk tidak jenuh dengan ikan yang diberikan. 50 mg/kg induk. Proses pemberian vitamin adalah dengan cara memasukkan vitamin tersebut ke dalam daging ikan rucah. Setiap hari ikan rucah yang diberikan dibedakan jenisnya. pemberian vitamin juga dilakukan terhadap indukan kerapu tikus. Dosis vitamin tersebut masing-masing adalah 50 mg/kg induk. Cara memasukkannya adalah dengan menyayat tubuh ikan pada bagian bawah sirip dorsal ataupun pada bagian daging atas perut.00-08. dan 100 IU dengan merek dagang Natur E. Pakan yang akan diberikan pada induk terlebih dahulu direndam dalam air tawar untuk menghilangkan es. Pemberan dilakukan pada pagi hari sekitar pukul 07.00 WIB dengan frekuensi pemberian pakan 1 kali sehari yang diberikan secara perlahan hingga induk kenyang.

Pengelolaan Air Lokasi budidaya yang ideal. Setelah pemberian pakan di pagi hari. dan kontunu dapat berhasil (Ghufran.B. Setelah mencapai ketinggian tersebut. M dan Andi Tamsil. dapat juga dilakukan penggelontoran pada bak induk. Hal ini penting untuk menjaga kualitas air tetap baik. Oleh karena itu kualitas air sangat menentukan kelangsugan hidup ikan. Pergantian air untuk indukan kerapu tikus dilakukan setiap hari. 2010). Pemenuhan akan kebutuhan air harus diupayakan agar produksi benih ikan laut yang berkualitas. Penggelontoran dilakukan dengan cara mendorong kotoran di dasar bak menggunakan sikat yang telah diberi kayu yang cukup panjang hingga mencapai dasar bak menuju pipa . selain pertimbangan umum di atas. Pembuangan air bawah berfungsi sebagai pembuangan kotoran hasil metabolisme dan sisa-sisa pakan. dan kimia meliputi : pH. Di BBAP Situbondo sendiri air merupakan media utama bagi kehidupan ikan. juga harus memenuhi persyaratan-persyaratan kualitas airnya. Selain itu kualitas air yang terjaga juga sangat menentukan proses pemijahan induk dan kualitas telur yang dihasilkan oleh induk. dalam jumlah yang cukup. Pada bak induk terdapat dua buah outlet yaitu pembuangan air bawah dan pembuangan air atas. DO dan Salinitas. air di bak indukan diturunkan sampai ketinggian air mencapai 30 % dari volume bak. Sedangkan pembuangan air atas berfungsi sebagai pengatur ketinggian air pada bak dan untuk mengalirkan telur hasil pemijahan ke arah bak penampungan telur (egg collector). Faktor kualitas air yang perlu dipertimbangkan untuk pemeliharaan pembenihan Kerapu tikus meliputi sifat fisika : Suhu dan Kecerahan.

protozoa. 2009). warna kulit pucat. Virus yang sering menyerang adalah VNN (Viral Nervous Necrosis). Penggelontoran bak induk dilakukan setiap 4 – 6 hari sekali atau disesuaikan dengan kondisi bak. Setelah dilakukan penggelontoran atau hanya menurunkan air hingga 30 %. pukul 16. jamur. Gejala yang timbul saat induk kerapu tikus terkena Argulus adalah nafsu makan menurun. Jenis penyakit bakterial yang ditemukan pada ikan kerapu. pipa outlet dipasang setengahnya. Pencegahan Hama dan Penyakit Permasalahan penyakit yang paling banyak pada ikan bersirip (finfish) dijumpai pada budidaya ikan kerapu.00 WIB pipa outlet dipasang seluruhnya. diantaranya adalah penyakit borok pangkal sirip ekor dan penyakit mulut merah. Penyakit yang umumnya menyerang induk kerapu tikus disebabkan oleh trematoda. Selain itu. V anguillarum dan V fuscus.00 – 17. serta produksi lendir meningkat. Hasil isolasi dan identifikasi bakteri ditemukan beberapa jenis bakteri yang diduga berkaitan erat dengan kasus penyakit bakterial. Sirkulasi dengan cara ini dapat mengganti air sebanyak 200 – 300 % dari total volume bak.outlet sehingga keluar bersama dengan air. Diantara jenis bakteri tersebut bakteri V alginolyticus dan V fuscus merupakan jenis yang sangat patogen pada ikan kerapu tikus (Salim. yaitu Vibrio alginolyticus. Bakteri dan virus menyerang ketika induk terdapat luka. C. ikan akan cenderung mengosok-gosokan tubuhnya ke dinding bak dan berenang di permukaan air dengan tingkah laku bernafas dengan cepat dengan tutup insang . bakteri. V algosus. Pada sore hari. dan virus. Jenis parasit yang sering menyerang adalah Argulus sp.

Furazolidone (10–15 ppm selama 2 jam). prefuran (0.5 ppm selama 2 jam). Pengukuran sampling tingkat kematangan gonad dapat dilakukan dengan teknik kanulasi pada induk betina. dan hidrogen peroksida (1–2 ppm selama 2 jam). Biasanya sebelum memijah nafsu makan induk menurun. Kemudian kekentalan dan pergerakkan sperma diamati..terbuka. Bakteri ini menyebabkan kerusakan pada sirip ikan. Larutan yang biasa digunakan adalah Furazolidone karena tingkat efektifitasnya paling tinggi. Induk jantan terlihat lebih cerah dan alat kelaminnya menjadi kemerah-merahan. Ciri-ciri Induk Matang Gonad Ciri induk kerapu tikus yang akan memijah ditandai dengan berenang vertikal dan induk jantan mengejar induk betina. Bakteri yang menyerang induk kerapu disebabkan oleh bakteri Vibrio sp.3–0. Hal ini sependapat dengan Anonim (2010) yang menyatakan bahwa kematangan kelamin induk jantan ikan kerapu diketahui dengan cara mengurut bagian perut ikan (stripping) ke arah awal sperma yang keluar warna putih susu dan jumlahnya banyak diamati untuk menentukan kualitasnya. Pengendalian penyakit ini dilakukan dengan cara merendam induk kerapu di dalam air tawar selama 15 menit. D. Pengendalian penyakit ini adalah dengan merendam induk dalam salah satu larutan ini yaitu Arciflavin (1–2 ppm selama 2 jam). Sedangkan pada ikan jantan dapat dilakukan stripping/diurut hingga mengeluarkan sperma. Induk betina perutnya terlihat lebih besar terutama setengah bagian belakang. Kematangannya . Telur yang diambil menggunakan kateter diukur diameter telurnya.

000 – 300. Manipulasi ini mengikuti keadaan pasang surut di alam sehingga ikan akan terangsang untuk melakukan pemijahan. Pemijahan ikan kerapu biasanya terjadi pada bulan gelap (antara tanggal 6– 17). Pemijahan Alami Metode pemijahan alami (nature spawning) dilakukan dengan cara memanipulasi lingkungan dengan menurunkan ketinggian air dalam bak pemeliharaan induk sampai ± 100 cm dan dibiarkan selama 5 – 7 jam.00 – 02. Telur yang mengapung akan mengikuti arus ke pembuangan atas dan ditampung di dalam egg collector. (Anonim. A. Induk kerapu tergolong ikan yang melakukan pemijahan sepanjang tahun. Menurut Cholik.3 Pemijahan Metode pemijahan induk kerapu tikus yang dilakukan di BBAP Situbondo dilakukan dengan dua cara. 4. kemudian dihisap. et al (2005) satu induk betina dapat menghasilkan telur rata-rata 200.kelamin induk betina diketahui dengan cara kanulasi. yaitu pemijahan alami dan pemijahan dengan rangsangan hormon. garis tengah (diameter) telur diatas 450 mikron.3. 2010).000 butir telur pada ukuran 3-4 kg. . Perlakuan ini dapat menaikkan suhu air pada bak pemijahan sekitar 1 – 3 0C. Proses pemijahan ikan kerapu diawali dengan induk betina mengeluarkan telur kemudian disusul induk jantan yang mengeluarkan sperma sehingga terjadi pembuahan. Pemijahan terjadi pada malam hari antara pukul 22.00 WIB. yaitu memasukkan selang plastik ke dalam lubang kelamin ikan. Telur yang diperoleh diamati untuk mengetahui tingkat kematangannya.

Perlakuan ini dilakukan terus menerus sampai induk memijah secara alami.5 m dan salinitas + 32 ‰. yaitu dengan rangsangan atau kejutan faktor-faktor lingkungan seperti suhu. Pengamatan pemijahan ikan dilakukan setiap hari setelah senja sampai malam hari. Pemijahan mengikuti fase peredaran bulan.00 sampai jam 14.00 permukaan air dikembangkan ke possisi semula (tinggi air 1.00 permukaan air diturunkan sampai kedalaman 40 cm dari dasar bak. Pemijahan dengan Rangsangan Hormon Induk kerapu matang kelamin dipindahkan ke bak pemijahan yang sebelumnya telah diisi air laut bersih dengan ketingian 1.Hal ini sependapat dengan Anonim (2010) yang menyatakan bahwa Metode yang digunakan adalah manipulasi lingkungan.5 m). kadar garam. Teknik pemijahan dengan manipulasi lingkungan ini dikembangkan berdasarkan pemijahan ikan kerapu di alam. Mulai jam 09. Untuk merangsang terjadinya perkawinan antara jantan dengan induk betina matang kelamin digunakan metoda manipulasi lingkungan di bak terkontrol. pemijahan dengan rangsangan hormon dilakukan karena kondisi lingkungan tidak memungkinkan untuk proses . B. Manipulasi lingkungan dilakukan menjelang bulan gelap yaitu dengan cara menaikkan dan menurunkan permukaan/tinggi air setiap hari. pada saat bulan terang atau bulan gelap. Pemijahan umumnya terjadi pada malam hari antara jam 22. Rangsangan hormonal induk kerapu matang kelamin disuntik dengan hormon Human Chorionic Gonadotropin (HCG) dan Puberogen untuk merangsang terjadinya pemijahan. Setelah jam 14. kedalaman air dan lain-lain. Hasil pengamatan di lapangan.00 WIB.24.00 .

4 mm yang berarti induk telah mencapai tingkat kematangan gonad dan siap untuk dikawinkan. Penyuntikan dilakukan pada induk ikan yang diameter oocyte (bulatan telur) mencapai 0. 4. satu hari sebelum larva dimasukkan dengan maksud agar suhu badan stabil berkisar antara 27 . 2010) bak yang dipergunakan untuk penetasan telur sekaligus juga merupakan bak pemeliharaan larva. Penyuntikan dilakukan pada pagi hari.5 ppm acriflavin untuk mencegah serang bakteri. Telur yang dibuahi akan mengapung dipermukaan air dan berwarna jernih (transparan). Sebelum telur ditetaskan perlu direndam dalam larutan 1 . Telur hasil pemijahan dikumpulkan dengan sistim air mengalir.3. Induk ikan dibius.28°C. berbentuk empat persegi panjang dengan ukuran 4 x 1 x 1 m³ .4 Pemanenan Telur Menurut (Anonim.kematangn gonad dan pemijahan. Air laut dengan kadar garam 32 ‰ dimasukkan ke dalam bak. Hormon yang digunakan untuk pemijahan metode ini dengan menggunakan hormon HCG (Human Chrionic Gonadotropin). Setelah itu dinetralkan dengan penambahan larutan Natrium thiosulfat sampai bau yang ditimbulkan oleh chlorine hilang. terbuat dari beton. perlu dipersiapkan dahulu dengan cara dibersihkan dan dicuci hamakan memakai larutan chlorine (Na OCI) 50 . Penyuntikan dilakukan dengan dosis 250 dan 50 IU per kilogram bobot badan. Tiga hari sebelum bak penetasan/bak pemeliharaan larva digunakan. . kemudian disuntik pada bagian punggung dibawah duri ketiga atau pada bagian dibawah sirip dada terutama untuk induk yang berukuran besar dan membutuhkan hormon yang lebih banyak.100 ppm.

00 WIB. maka telur telah dapat ditebar ke tiap pembenihan yang ada di BBAP Situbondo maupun dijual dan didistribusikan ke .Hasil pengamatan di lapangan telur ikan kerapu bersifat melayang di atas permukaan air. Telur ikan yang telah terkumpul di egg collector dipanen dengan menggunakan saringan yang bermata jaring 300 µm. Di ujung pipa pembuangan atas tersebut dipasang bak penampungan telur atau yang disebut pengumpul telur (egg collector). telur tersebut ditampung sementara di dalam ember. dengan pemberian arus maka telur yang melayang akan ikut terbawa arus air menuju penampungan atas. Pemanenan telur dilakukan pada pagi hari antara pukul 06. et al. Perhitungan telur dilakukan dengan menggunakan alat sampling yang berbentuk sendok dengan ujungn berbentuk seperti setengah bola pimpong yang dapat dilihat pada gambar 3. Pemindahan telur dari akuarium menuju ember dilakukan dengan cara penyiponan. sedangkan telur yang digunakan adalah telur yang melayang. Telur yang baik dan terbuahi akan melayang di permukaan dan berwarna transparan.5 m x 0. Telur yang akan dibagi ke unit pembenihan merupakan telur yang baik. Satu sendok tersebut dapat menampung sebanyak 25000 butir telur.5 m untuk dihitung. Telur yang buruk dan tidak terbuahi akan mengendap di dasar dan bewarna putih keruh (Cholik. lalu ditampung kembali di akuarium berukuran 0. penghitungan telur seperti ini dikenal sebagai metode penghitungan telur secara kering. Setelah itu. Egg collector terbuat dari saringan 40 mikron dengan ukuran 135 cm x 80 cm x 80 cm. 2005). Setelah jumlah telur diketahui.00 – 07. telur mengendap yang terdapat di dalam akuarium disipon dan dibuang..5 m x 0.

000.000 4.25 m dengan kapasitas air 10 m3.pembeli.5.000 10 Agustus 2010 275. Masing-masing bak tersebut memiliki dimensi 5x2x1.000 butir telur per 9 ton pada tanggal 10 agustus 2010 dan 100.000 11 Agustus 2010 450.000 butir telur per 9 ton yang diambil pada saat panen telur tanggal 8 agustus 2010. 100. tebar telur untuk pembenihan sebanyak 150. Persiapan Wadah Wadah penetasan telur yang terdapat di Unit Pembenihan Timur BBAP Situbondo yaitu berupa bak beton berbentuk persegi panjang sebanyak 6 buah. . Pada saat pemanenan telur.000 butir telur per 9 ton pada tanggal 11 agustus 2010.000 13 Agustus 2010 450.000 12 Agustus 2010 350. Data hasil telur selama pemijahan di bulan Agustus dapat dilihat pada tabel 6.000 Total 3. Tabel 5. Jumlah Telur Kerapu Tikus di BBAP Situbondo (Bulan Agustus 2010) Tanggal Jumlah Telur (butir) 7 Agustus 2010 75.000 8 Agustus 2010 150.3. Setiap bak dilengkapi dengan saluran inlet dan outlet yang terbuat dari pipa PVC. Harga tiap butir telur kerapu tikus adalah Rp 1.200.000 14 Agustus 2010 1.000 15 Agustus 2010 16 Agustus 2010 100.000 17 Agustus 2010 150.000 9 Agustus 2010 200. Saluran inlet di setiap bak terdapat 2 buah yaitu saluran pemasukan Chlorella sp dengan ukuran pipa 3/4 inchi dan saluran pemasukan air laut dengan ukuran pipa 2 inchi.5 Penetasan Telur A.000 butir telur per 9 ton pada tanggal 9 agustus 2010.5 inchi. sedangkan untuk pipa saluran outlet adalah 3. 100.

satu hari sebelum larva dimasukkan dengan maksud agar suhu badan stabil berkisar antara 27 . bak dicuci kembali dengan detergen untuk menghilangkan sisa klorin yang menempel pada dinding dan dasar bak lalu bak dibilas dengan menggunakan air tawar hingga bersih dan bau klorin hilang. Air laut dengan kadar garam 32 ‰ dimasukkan ke dalam bak.28°C. Hal ini bertujuan untuk menyaring kotoran (pasir dan partikel tanah yang halus) agar tidak ikut terbawa ke dalam media lalu air tersebut ditreatment menggunakan larutan formalin dengan dosis 20 ppm dan diaerasi kuat selama 24 jam selanjutnya air dapat digunakan untuk penebaran telur. perlu dipersiapkan dahulu dengan cara dibersihkan dan dicuci hamakan memakai larutan chlorine (Na OCI) 50 . Apabila telur menetas aerasi dikecilkan karena larva masih bersifat planktonik yaitu bergerak dengan mengikuti pergerakan air.Wadah yang akan digunakan untuk penetasan terlebih dahulu didesinfeksi dengan menggunakan larutan klorin 15 ppm dan dibiakan selama 1-2 hari. Aerai yang digunakan untuk menyuplai oksigen dalam bak penetasan telur berjumlah 11 titik aerasi yang dilengkapi engan selang aerasi. Setelah itu bak diisi air laut sebanyak 9 m3 melalui saluran inlet air laut yang telah diberi filter bag (50 mikron). Setelah itu. batu dan pemberat aerasi diletakkan di bagin dasar bak. Hal ini sependapat dengan Anonim (2010) yang menyatakan bahwa tiga hari sebelum bak penetasan/bak pemeliharaan larva digunakan.100 ppm. Setelah itu dinetralkan dengan penambahan larutan Natrium thiosulfat sampai bau yang ditimbulkan oleh chlorine hilang. Telur hasil pemijahan dikumpulkan dengan sistim air mengalir. Telur yang . Bak yang telah dibersihkan lalu dikeringkan selama 1-2 hari.

Telur akan menetas dalam waktu 18 22 jam setelah pemijahan pada suhu 27 . Penebaran dan Penetasan Telur Padat penebaran telur di Bak Penetasan berkisar 20 . Ke dalam bak penetasan perlu ditambahkan Chlorella sp sebanyak 50.5 ppm acriflavin untuk mencegah serang bakteri. Saat proses penetasan. Hal ini dilakukan karena larva yang . Telur yang telah dibuahi tidak berwarna (transparan) sedangkan yang tidak dibuahi dan yang mati berwarna putih susu. Telur kerapu tikus akan menetas dalam kisaran waktu antara 17-19 jam setelah pembuahan. media penetasan diberi erasi kecil yang bertujuan agar suplai oksigen tetap terpenuhi serta agar telur tidak mengalami guncangan kuat yang dapat menyebabkan gangguan fisik pada telur. setelah larva menetas. 2002). Suhu optimum untuk penetasan telur ikan kerapu yaitu antara 27-31oC.dibuahi akan mengapung dipermukaan air dan berwarna jernih (transparan).000 sel/ml untuk menjaga kualitas air. Sebelum telur ditetaskan perlu direndam dalam larutan 1 .000 100. B. Untuk padat penebaran telur saat penulis melakukan PKL yaitu sebesar 112. Penebaran biasanya dilakukan pada pagi hari yaitu antara 08. Telur yang telah dibuahi berjumlah lebih kurang 1.200.500 butir per bak dengan kapasitas air dalam bak sebanyak 9 m3 dan dengan derajat penetasan (HR) 44 %.000 butir. Dari hasil di lapangan penebaran telur dilakukan secara merata ke dalam bak penetasan telur yang telah dipersiapkan sebelumnya.28°C dan kadar garam 30 .32 ‰. pada D1 media diberi aerasi kecil.00-09.60 butir/liter air media. Dari jumlah diperkirakan hanya 30% saja yang dibuahi (Suria D.00 WIB.

Larva umur D1 diambil dengan menggunakan pipa paralon berdiameter 1. Perhitungan Derajat Penetasan (Hatching Rate) Perhitungan derajat penetasan (Hatching Rate) dilakukan pada saat larva berumur satu hari (D1) dengan metode sampling. 5. dasar bak disipon secara perlahan dan hati-hati untuk membuang telur yang tidak menetas. Setelah dimasukkan ke dalam air berketinggian 80 cm.00 WIB karena pada pagi hari larva yang bersifat fotoaksis positif akan bergerak menyebar mencari matahari. 3. Sebelum melakukn sampling. maka Hatching Rate (HR) dapat dihitung dengan menggunakan rumus : . Larva yang berhasil menetas dihitung satu persatu dalam gelas beaker tersebut.00-07. Biasanya sampling larva dilakukan pada pagi hari yaitu pada pukul 06. 4. 2. bagian atas pipa ditutup dengan tangan. Proses tersebut dilakuka di lima titik sampel Setelah dilakukan sampling.baru menetas masih bersifat planktonik yaitu larva bergerak dengan mengikuti pergerakan dan arus air.5 inchi dengan panjang 150 cm. Pipa tersebut lalu diangkat dan air di dalam paralon segera dimasukkan ke dalam gelas ukur bervolume 250 ml. Cara menghitung HR adalah: 1. C.

Persiapan Wadah Wadah atau bak yang digunakan untuk pemeliharaan larva sama dengan bak yang digunakan untuk penetasan telur sehinga tidak dilakukan penebaran larva.00 WIB. Pada saat larva berumur D3.6 Pemeliharaan Larva dan Benih A.3. aerasi diatur agak kecil karena larva bersifat planktonik (melayang di permukaan air dan bergerak mengikuti pergerakan arus air). Hal ini dilakukan untuk mengurangi stress pada larva akibat proses pemindahan dan perubahan lingkungan yang baru. Data Hatching Rate HR Ikan Kerapu Tikus di Pembenihan Timur Nomor Bak Tanggal Tebar Telur Pada Tebar Telur HR 1 8 Agustus 2010 150.1 ml/m2 atau 3-5 tetes disetiap titik aerasi agar larva tidak naik ke permukaan air. larva telah diberi pakan alami berupa chlorella dan rotifer.000 butir 2 9 Agustus 2010 100. Tabel 6. Untuk mencegah hal tersebut D1-D10 diberi minyak cumi sebanyak 0.00 WIB dan sore hari pada pukul 16.000 butir 33% 46% 52% 45% 4.Berikut ini adalah data HR pembenihan timur setelah beberapa kali dilakukan penebaran telur.000 butir 6 11 Agustus 2010 100. Pemberian minyak cumi dilakukan dalam sehari sebanyak dua kali yaitu pada hari pukul 06. Pada saat larva berumur 1 hari (D1).000 butir 4 10 Agustus 2010 100. .

Hal ini sependapat dengan Anonim (2010) uang menyatakan bahwa larva kerapu yang baru menetas mempunyai cadangan makanan berupa kuning telur. Pakan ini akan dimanfaatkan sampai hari ke 2 (D2) setelah menetas dan selama kurun waktu tersebut larva tidak memerlukan dari luar. Umur 3 hari (D3) kuning telur mulai terserap habis, perlu segera diberi pakan dari luar berupa Rotifera Brachionus Plicatilis dengan kepadatan 1 - 3 ekor/ml. Disamping itu ditambahkan pula Phytoplankton chlorella sp dengan kepadatan antara 5.10-10 sel/ml. Pemberian pakan ini sampai larva berumur 16 hari (D16) dengan penambahan secara bertahap hingga mencapai kepadatan 5 - 10 ekor/ml plytoplankton 10 2.10 sel/ml media. Pada hari kesembilan (D9) mulai diberi pakan naupli artemia yang baru menetas dengan kepadatan 0,25 - 0,75 ekor/ml media. Pemberian pakan naupli artemia ini dilakukan sampai larva berumur 25 hari (D25) dengan peningkatan kepadatan hingga mencapai 2 - 5 ekor/ml media. Disamping itu pada hari ke tujuh belas (D17) larva mulai diberi pakan Artemia yang telah berumur 1 hari, kemudian secara bertahap pakan yang diberikan diubah dari Artemia umur 1 hari ke Artemia setengah dewasa dan akhirnya dewasa sampai larva berumur 50 hari.

B. Perkembangan Larva Berikut merupakan perkembangan larva hingga mencapai juvenil :

a

b

c

d

e

f

gambar 2. Perkembangan larva ikan kerapu tikus a) D-0 Telur dalam masa perkembangan hingga menetas dengan panjang

tubuh 1,69 – 1,79 mm. b) D-1 Saluran pencernaan sudah mulai terlihat, akan tetapi mulut dan

anus masih tertutup, pakan yang dimakan masih mengandalkan kuning telur (yolk sac) c) D-2 Cadangan makanan pada beberapa ikan sudah mulai habis

sehingga larva membutuhkan pakan dari luar yaitu rotifera (Branchionus plicitalis). d) D-8 Bakal sirip punggung dari perut sudah mulai tampak berupa

tonjolan e) D-10 Tonjolan tersebut sudah terlihat panjang dan berbentuk spina. Pertambahan panjang spina ini berlanjut hingga D-21 f) D21 – D25 Terjadi metamorfosis, spina tereduksi menjadi duri keras

pertama pada sirip punggung dan sirip perut pada kerapu muda.

Hal ini sependapat dengan Akbar dan Syamsul (2001) yang menyatakan bahwa perkembangan larva hingga mencapai juvenil : a) D-0 Telur dalam masa perkembangan hingga menetas dengan panjang

tubuh 1,69 – 1,79 mm.

b) D-1

Saluran pencernaan sudah mulai terlihat, akan tetapi mulut dan

anus masih tertutup, pakan yang dimakan masih mengandalkan kuning telur (yolk sac) c) D-2 Cadangan makanan pada beberapa ikan sudah mulai habis

sehingga larva membutuhkan pakan dari luar yaitu rotifera (Branchionus plicitalis). d) D-8 Bakal sirip punggung dari perut sudah mulai tampak berupa

tonjolan e) D-10 Tonjolan tersebut sudah terlihat panjang dan berbentuk spina. Pertambahan panjang spina ini berlanjut hingga D-21 f) D21 – D25 Terjadi metamorfosis, spina tereduksi menjadi duri keras

pertama pada sirip punggung dan sirip perut pada kerapu muda. g) D-25 Mulai muncul bintik hitam dan itu akan merata di sekujur tubuh

ikan hingga pertumbuhan D-45. h) D-45 Larva telah berubah sempurna menjadi juvenil dan siap untuk

dijual (ukuran 2,7 – 5 cm)

4.3.7 Kualitas Air Lokasi budidaya yang ideal, selain pertimbangan umum di atas, juga harus memenuhi persyaratan-persyaratan kualitas airnya. Faktor kualitas air yang perlu dipertimbangkan untuk pemeliharaan pembenihan Kerapu tikus meliputi sifat fisika : Suhu dan Kecerahan, dan kimia meliputi : pH, DO dan Salinitas. Pemenuhan akan kebutuhan air harus diupayakan agar produksi benih ikan laut yang berkualitas, dalam jumlah yang cukup, dan kontunu dapat berhasil (Ghufran, M dan Andi Tamsil. 2010). Pengelolaan kualitas air di BBAP Situbondo dilakukan dengan pergantian air dan penyiponan. Penambahan air dimulai ketika larva berumur 8 hari (D8).

3 31-33 >5 <1 < 0. Air yang digunakan untuk penambahan air berasal dari tandon yang sebelumnya didesinfeksi terlebih dahulu dengan formalin 10-30 ppm dan diareasi kuat minimal selama 12 jam.000 L kemudian ditambah air dilakukan hingga 9.3. sumber air yang diganti tidak lagi berasal dari tandon. namum berasal dari air laut yang langsung disedot menggunakan pompa. Setelah bersih.Sebelum dilakukan pergantian air. Penggunaan air tandon dimaksudkan untuk menggunakan air yang bebas dari penyakit dan kualitas air yang lebih baik daripada menggunakan air laut yang langsung diambil dari laut. terlebih dahulu dilakukan penyiponan. Pada larva berumur 25 hari (D25) diganti sebanyak 3 m3 dan pada larva yang berumur lebih dari 45 hari pergantian air dilakukan secara terus menerus. Data kualitas air dapat dilihat pada tabel 7. Pada larva yang berumur 45 hari. air dikurangi hingga bersisa 8.8-8. Penyiponan dilakukan untuk membersihkan kotoran-kotoran yang berada di dasar. Data Kualitas Air Pemeliharaan Larva Kerapu Tikus Pembenihan Timur BBAP Situbondo No 1 2 3 4 5 6 4.8 Pakan Hasil pengamatan di lapangan memperlihatkan bahwa larva kerapu tikus D1 masih transparan.500 L untuk menjaga kualitas air pada wadah pemeliharaan tetap prima.01 . Larva D1 belum membutuhkan pakan dari luar (exogenous feeding) karena masih memiliki cadangan makanan dari dalam (endogenous Parameter Suhu pH Salinitas Oksigen Terlarut(DO) Nitrit Amoniak Satuan o C ppt ppm ppm ppm Kisaran 30-31 7. Tabel 7.

sejak larva berumur D2.) A. Jenis pakan yang diberikan kepada larva kerapu tikus ada dua macam yakni pakan alami (live feed) dan pakan buatan (artificial feed). Otohime B2. Sebelum diberikan. Pemberian Nannochloropsis sp disalurkan langsung dari bak kultur massal menggunakan pompa celup melalui pipa paralon ¾ inchi yang pada bagian ujungnya diberi saringan 200 µm untuk mencegah masuknya kotoran yang terbawa dari kultur massal Nannochloropsis sp.000-100. Pemberian Pakan Alami A. Selain Nannochloropsis sp. Larva D1-D10 sangat peka terhadap cahaya sehingga cenderung untuk naik ke permukaan air.). Larva yang sudah berumur dua hari (D2) sudah diberi Nannochloropsis sp. Otohime B1. Maka dari itu. larva sudah mulai diberi Nannochloropsis sp.000 sel/ml atau . larva D2 juga diberikan rotifer di sore hari dengan dosis 3-5 ind/ml. dan udang rebon (jambret). Sedangkan pakan buatan yang diberikan adalah Nosan R-1. Rotofier. Pakan alami yang diberikan adalah Nannochloropsis sp. rotifera (Branchionus sp.. biasanya kepadatan Nannochloropsis sp yang ditebar berkisar 50.1 Nannochloropsis sp Selama kuning telur larva masih ada. Tujuan dari pemberian Nannochloropsis sp ini adalah untuk menjaga keseimbangan kualitas air dan Nannochloropsis sp juga merupakan pakan untuk rotifera (Branchionus sp. Otohime C1 dan Otohime C2. larva kerapu tikus belum mau untuk mengambil makanan dari luar. Nannochloropsis sp harus dicek terlebih dahulu kepadatannya. naupli Artemia sp.feeding) yang berupa kuning telur.

banyaknya pemberian rotifer tergantung dari kepadatan rotifer maka dilakukan pengecekan setiap hari menggunakan gelas piala. Setelah itu.5 gram taurin dan dibiarkan selama 2 jam. A.s Emulsion sebanyak 10 ml (satu tutup botol Scoutt’s Emulsion) dalam 20 L air dan 0. Nannochloropsis sp biasanya diberikan sebanyak 1 kali dalam satu hari yaitu pada pagi hari. tetapi secara teknis siste atermia dapat diproduksi secara massal dalam tempat (wadah) yang . Pemberian rotifer hanya dilakukan sekali dalam sehari yaitu pada pukul 09. dalam hal ini adalah dimana dengan melihat pertumbuhan ikan yang lambat masih membutuhkan rotifer sebagai pakannya.3 Artemia sp. Meskipun secara ekonomis kurang menguntungkan. Hal ini bertujuan untuk memperbaiki kandungn nutrisi rotifer dan meningkatkan daya tahan tubuh larva dan benih terhadap penyakit. rotifer dapat diberikan pada larva. Rotifer diberikan dengan menggunakan gayung dan disebarkan pada setiap titik aerasi.100-150 liter/bak pemeliharaan larva.2 Rotifera (Branchionus plicatilis) Pemberian rotifer pada saat di lapangan diberi pada larva berumur D3-D35 dan juga dengan melihat kondisi ikan. rotifer yang akan diberikan dilakukan pengkayaan terlebih dehulu menggunakan Scout’.00 WIB dengan kepadatan 3-5 individu/ml. Pemberian Nannochloropsis sp berfungsi sebagai Greeen Water Sistem atau sebagai keseimbangan media untuk mengatur kecerahan air dan juga untuk pakan rotifer. A. Sebelumnya. namun. Pemberian Nannochloropsis sp dihentikan pada saat larva berumur D30 atau dengan melihat kondisi larva.

00 dan 17. . 5. Setelah terjadi perubahan warna. 3. Siste disaring dan ditambah air tawar. kemudian di tambahkan klorin sebanyak 250 ml. Pemberian naupli artemia dilakukan sebanyak tiga kali dalam satu hari yaitu pukul 08. Untuk tujuan ini dilakukan dengan memanipulasi lingkungan hidupnya agar artemia terpaksa melangsungkan perkembangbiakan secara ovipar uang menghasilkan telur (Siregar. segera disaring dan dibilas dengan air tawar sampai bersih dan tidak ada bau klorin.00 WIB. Siste artemia tersebut diaduk dengan cepat. 6. Tahap no 2 dan 3 diulangi sampai warna siste berubah menjadi oranye ataupun tergantung dari produk sistenya. Beberapa butir thiosulfat ditambahkan ke siste yang sebelumnya telah ditambahkan air tawar dan diaduk. Jaga suhu di bawah 40 0C. 13. Sebelum diberikan pada larva naupli yang berasal dari siste didekapsulasi terlebih dahulu. Proses dekapsulasi dilakukan dengan cara sebagai berikut: 1. Siste direndam dalam air tawar selama 5 menit sambil diaduk dengan cepat. Saring dan bilas dengan air tawar sampai bersih 4. Pemberian Naupli artemia di BBAP Situbondo pada saat berumur D18 atau tergantung bukaan mulut larva. Proses dekapsulasi tersebut memakan waktu antara 5 – 15 menit.terkendali. 1995). 2. Abbas.00.

7. Pemberian Pakan Buatan Pemberian pakan buatan bagi larva kerapu tikus dilakukan saat larva telah berumur 8 hari. Awal pemberian dilakukan dengan mencairkan pakan untuk . Sebelum diberikan ke larva. Setelah itu artemia disipon menggunakan selang dan ditampung di dalam saringan 300 µm. Udang ini berfungsi sebagai pakan selingan. siste artemia tersebut ditetaskan sesuai dengan kebutuhan larva. B. Panen dimulai dengan cara menghentikan aerasi dan tunggu selama 15 menit agar telur-telur artemia mengendap. naupli artemia siap diberikan ke larva. Penetasan siste yang didekapsulasi memerlukan waktu antara 18 – 30 jam pada air laut. Cara penetasannya adalah wadah plastik diisi dengan air dan diaerasi kuat. artemia disterilisasi dengan akriflavin sebagai anti ektoparasit. Setelah itu. Sebelum diberikan ke larva. A. pertahankan suhu kisaran 25 – 30 0C dan pH 8 – 9. Untuk hasil optimum. Jumlah pemberian pakan rebon secara at satiation (sekenyangnya). Siste disaring dan dibiarkan mengering sejenak dan masukkan ke dalam kantong plastik untuk disimpan pada suhu dingin selama maksimal 1 minggu Setelah didekapsulasi. artemia disterilisasi dengan akriflavin sebagai anti ektoparasit. Setelah itu.4 Udang Rebon Udang rebon mulai diberikan pada saat ikan kerapu menjelang lepas sensor sampai awal lepas sensor (D25 sampai D45). satu bungkus artemia yang telah didekapsulasi dimasukkan ke dalam air tersebut.

weaning pakan bagi larva. Data mengenai pemberian pakan buatan dapat dilihat pada tabel 8. Pakan alami . kultur pakan alami Pakan alami yang digunakan selama pemeliharaan larva dan benih ikan kerapu bebek baik fitoplankton maupun zooplankton di BBAP Situbondo yaitu Nannochloropsis sp. Tahapan Pemberian Pakan Buatan bagi Larva Kerapu Tikus Stadia larva Jumlah pakan yang diberikan 8 D8-D17 gram/pemberian 2 kali µm) Frekuensi pemberian Merek pakan Gambar (ukuran pakan) Nosan R-1 (20–50 D18D20 8 3 kali gram/pemberian Rotifier (50 – 100 µm) D21D30 10 3 kali gram/pemberian Otohime B1 (200 – 300 µm) D31D45 15 3 kali gram/pemberian Otohime B2 (300 – 600 µm) 15 >D50 gram/pemberian 4-6 kali EP-1 C. Rotifera (Branchionus sp) dan Artemia sp. Tabel 8.

pupuk yang digunakan harus mengandung unsur hara yang dibutuhkan seperti N.5 liter-1 liter air yang akan disiapkan sebagai media tumbuh plankton sebelumnya disterilkan terlebih dahulu dengan menggunakan klorine kemudian air laut di biarkan selama 3-5 hari sampai residu klorine hilang. Setelah itu.5 m (gambar) dengan kapasitas volume air maksimal sebesar 18 m3. selanjutnya ditambah pupuk cair sebanyak 1 ml/lt. Kultur Nannochloropsis sp skala massal dilakukan pada ruangan terbuka (outdoor) dengan ukuran wadah 5x3x1. P. Zn.sangat penting peranannya bagi larva dan benih sebagai sumber makanan dengan kandungan nutrisi yang sangat tinggi. media disterilisasi dengan menggunakan kaporit 10 ppm dan didiamkan selama 2 . 2003). Salinitas air laut yang diharapkan adalah 25-28 ppt. C. Persiapan wadah dilakukan dengan cara menyikat dasar dan dinding wadah kemudian wadah diisi air laut sebanyak 15 m3. S. Mn. Budidaya plankton dilakukan pada botol dengan volume 0.1 Kultur Nannochloropsis sp Membudidaya Nannochloropsis sp dapat diambil langsung dari tambak budidaya. Setelah media siap bibit plankton dimsukkan 1/3 bagian dan siap dipanen 5-6 hari (Edhy W dkk. Kultur pakan alami bertujuan untuk menjamin ketersediaan pakan alami secara berkesinambungan sesuai kebutuhan dalam larva dan benih ikan kerapu tikus. S dan sebagainya. dengan mengatur rasio N/P supaya Nannochloropsis sp dapat mendominasi yang lainnya. Air laut tersebut kemudian dimasukkan kedalam botol-botol yang telah disiapkan. K dan Mg sebagai unsure hara makro serta unsure hara mikro Fe.

kepala. Pada kondisi normal. Pemupukan dilakukan setelah bibit masuk ke dalam media. kemudian media dinetralkan dengan menggunakan natrium thiosulfat (Na2S2O3) ≤ 5 ppm. dilakukan pembibitan dengan cara mengalirkan Nannochloropsis sp sebanyak 20 % dari total volume air yang ada dalam bak dengan menggunakan pompa celup. Setelah 12 jam. Secara umum dikenal 2 metode kultur rotifera yaitu metode panen harian lebih praktis dan . dimana umur Nannochloropsis sp telah mencapai 5-7 hari dengan kepadatan 1-5 juta sel/ml. dan TSP 20 ppm. Abbas (1995). Kultur dilakukan dalam ruang terbuka yang cukup mendapatkan cahaya matahari. ZA 30 ppm. Bibit yang digunakan berasal dari skala intermediet atau dari bak kultur skala massal lainnya. Pupuk yang digunakan terdiri dari Urea 40 ppm. Pemberian pupuk dilakukan dengan cara dilarutkan dalam 10 liter air laut lalu disebar merata dalam bak kultur.2 Kultur Rotifera Organisme rotifer berbentuk simetris bilateral manyerupai piala. betina memproduksi 20 butir telur atau lebih selama 7-10 hari masa hidupnya. Chlorella sp dapat dipanen setelah berumur 5-7 hari dengan cara disedot menggunakan pompa celup lalu dialirkan langsung kedalam bak rotifer dan unit pembenihan melalui pipa PVC ukuran 3/4 inchi. dan kaki / ekor. C. Branchionus memiliki kecepatan pertumbuhan dan reproduksi tinggi.jam dan diberi aerasi kuat. Tubuh yaitu. Kultur missal rotifera dilakukan pada bak volume 5-12 m3. badan. Rotifer merupakan salah satu jenis rotifer yang biasa diproduksi secara massal. Siregar.

bibit rotifer ditebar dengan kepadatan 30-40 individu/ml yang diperoleh dari bak kultur rotifer yang lainnya yang siap panen atau dari kultur skala intermediet. Kultur rotifer di BBAP Situbondo dilakukan skala massal dalam bak beton yang berukuran 5x2x1. Namun. Rotifer yang telah dipanen dapat langsung diberikan ke larva. Metode ini dilakukan dengan cara mengalirkan air media kultur dengan menggunakan selang spiral 1 inchi yang bagian ujungnya diberi planktonnet 300 mesh size sebanyak 20-30% dari volume media kultur dan ditampung dalam drum 150 liter yang diberi aerasi. Metode pemanenan yang dilakukan adalah metode panen harian. Persiapan wadah dilakukan dengan cara menyikat dasar dan dinding bak hingga bersih dan dikeringkan hingga keesokan harinya. Pemanenan dilakukan setiap hari pada bak kultur yang sama dan dapat berlangsung selama 3-4 minggu. Keesokan harinya. 4. kepadatan kultur massal dapat dilihat dari kondisi perairan yang bening. namun rotifera yang dihasilkan dari metode transfer lebih bersih.5 m dengan kapasitas maksimal 12 m3. pengambilan rotifer disaring kembali dapat saringan agar kotoran tidak ikut terbawa. Setelah itu.9 Pengendalian dan Pencegahan Hama dan Penyakit . Kepadatan rotifer akan mencapai puncak pada hari ke 4-7 dengan kepadatan 150-250 individu/ml. bak diisi dengan Chlorella sp untuk pakan rotifera sebanyak 2-3 m3 yang telah berumur 5-7 hari kemudiam bak ditambahkan dengan air laut dengan volume yang sama (perbandingan 1:1).mudah sedangkan pada metode transfer diperlukan bak kultur yang lebih banyak.3.

Penggunaan probiotik sekarang sudah banyak digunakan untuk menggantikan peran antibiotik untuk mencegah penyakit yang menyerang larva atau benih. Bakteri yang digunakan sebagai probiotik adalah jenis Bacillus sp. Bakteri patogen membutuhkan jumlah bakteri yang cukup untuk membuat ikan menjadi sakit. Perlakuan untuk pencegahan penyakit pada pembenihan kerapu tikus di BBAP Situbondo dilakukan dengan penggunaan probiotik. diantaranya adalah penyakit borok pangkal sirip ekor dan penyakit mulut merah. Hasil isolasi dan identifikasi bakteri ditemukan beberapa jenis bakteri yang diduga berkaitan erat dengan kasus penyakit bakterial. Penggunaan probitiotik diharapkan dapat menekan jumlah bakteri patogen di dalam wadah budidaya. V anguillarum dan V fuscus. dengan merek dagang Sanolife buatan PT. Jika jumlah bakteri belum mencukupi untuk membuat ikan menjadi sakit maka ikan atau larva tersebut tidak akan menjadi sakit. 2009). V algosus. Kematian massal sering terjadi . Namun. setiap unit pembenihan di BBAP Situbondo memiliki cara dan teknik yang berbeda-beda.Permasalahan penyakit yang paling banyak pada ikan bersirip (finfish) dijumpai pada budidaya ikan kerapu. INVE. yaitu Vibrio alginolyticus. Jenis penyakit bakterial yang ditemukan pada ikan kerapu. Pada saat melaksanakan PKL dalam rangka pencegahan dan pemberantasan hama penyakit. Diantara jenis bakteri tersebut bakteri V alginolyticus dan V fuscus merupakan jenis yang sangat patogen pada ikan kerapu tikus (Salim. pada saat penulis melakukan kegiatan PKL di unit pembenihan timur BBAP Situbondo sempat terjadi kematian massal menyebabkan kematian pada larva atau benih.

biasanya benih di grading terlebih dahulu.4 Pemanenan. pakan alami pada Nannochloropsis sp yang sempat kontaminan terhadap rotifera serta penyakit yang disebabkan oleh VNN(Viral Nervous Necrosis). Produksi. Ukuran pasar benih yang dijual biasanya berkisar antara 2. Benih dapat dipanen pada umur D60 atau jika ukurannya sudah mencapai ukuran pasar (minat pembeli).1 Pemanenan Benih Sebelum dilakukan pemanenan. dilakukan treatment pada air yang akan digunakan.4.pada larva yang diakibatkan oleh kualitas air pada suhu yang sempat turun mencapai 29oC. proses pemanenan biasanya dilakukan pagi hari belum terlalu tinggi sehingga tidak menyebabkan stress pada benih yang akan dipanen dan digrading. Proses pemanenan dilakukan dengan menggunakan baskom plastik yang dialiri air dari pipa paralon. pencegahan penyakit dapat dilakukan dengan berbagai cara seperti dilakukannya desinfeksi pada wadah yang akan digunakan. dilakukan pergantian air pada pagi dan sore hari. Juvenil yang telah dipanen dipisahkan berdasarkan ukurannya (grading). 4. Hal ini bertujuan untuk menyeragamkan ukuran benih yang akan dipasarkan dan juga untuk memisahkan benih yang masuk pasaran karena cacat (abnormalitas).7-4 cm. dan penyiponan pada pagi dan sore hari. Setelah ketinggian air mencapai 30 cm benih kerapu dapat dipanen dengan menggunakan keranjang plastik. Air pada bak pemeliharaan diturunkan secara perlahan sampai tingginya sekitar 30 cm. Sehingga dilakukan pencegahan hama penyakit yang rutin dan terkontrol. dan Pemasaran 4. sirkulasi air selama 24 jam untuk benih yang sudah berukuran 2-4 cm. Grading (pemilihan .

Sulawesi Tengah. sehingga aspek pemasaran tidak boleh dianggap ringan. Kepulauan Riau (Batam). dan lain-lain. Bali. Harga benih ikan kerapu memiliki fluktuasi di pasar tingkat produsen di Jawa Timur (Situbondo). Cina. Irian Jaya. Lampung. Dewasa ini. . Sumatera Barat. pemasaran benih ikan kerapu tikus untuk segala ukuran (3 – 10 cm) dan berapapun jumlahnya tidak terlalu sulit.500 per sentimeter. Sumatera Utara. Pemasaran merupakan rantai akhir dalam usaha pembenihan ikan kerapu. Kalimantan Selatan. Sumatera Selatan. Taiwan. NTT. Jawa Tengah. maka ikan tersebut pun akan dipasarkan.2 Produksi dan Pemasaran Setelah kerapu tikus telah mencapai ukuran pasar. Kepulauan Bangka Belitung. Kalimantan Timur. Sifat kanibalisme pada kerapu terjadi pada saat kondisi kekurangan makanan dan perbedaan ukuran. Sulawesi Selatan. Jawa Timur. bak terkontrol maupun di tambak di dalam maupun di luar negeri sudah banyak dilakukan. 4. NTB. Hal ini disebabkan karena usaha pembesaran ikan kerapu baik di Karamba Jaring Apung (KJA). BBAP Situbondo menjual dengan harga ikan kerapu tikus seharga Rp 1.4. Sulawesi Tenggara. Daerah pemasaran ikan kerapu diantaranya adalah Lampung. Malaysia. Ikan yang berukuran lebih besar akan selalu memangsa ikan yang lebih kecil dalam satu wadah pemeliharaan. Bali (Gondol) dan Lampung. Informasi mengenai permintaan konsumen sangat penting.ukuran) merupakan salah satu cara untuk menyeragamkan pertumbuhan dan mengurangi kematian benih pasca lepas sensor akibat sifat kanibal pada ikan kerapu. Singapura. Jawa Barat. Kalimantan Barat.

pakan. c. dan 21-24 hari baik yang diakibatkan oleh kualitas air. penyakit maupun kemampuan dalam melewati masa kritis menyebabkan tingkat kelulushidupan larva sangat rendah dan pertumbuhannya lambat serta belum ada tindak lanjut terhadap serangan penyakit.2 Kemungkinan Pengembangan Usaha Kebutuhan dan harga kerapu tikus yang tinggi memberikan potensi tersendiri bagi usaha kerapu jenis ini yang merupakan penyokong untuk usaha budidaya selanjutnya (pendederan dan pembesaran). . sehingga perlu penanganan upaya pencegahan seperti pemberian probiotik dan mejaga kualitas air. 11-12 hari. b. benih kerapu tikus disamping digunakan dalam pembesaran. sehingga perlu penambahan budidaya untuk pemeliharaan induk.1 Masalah yang Dihadapi Permasalahan yang dihadapi dalam pembenihan kerapu tikus selama di Balai Budidaya Air Payau Situbondo adalah : a. Ketersediaan pakan ikan rucah untuk induk yang menyesuaikan musim. sehingga perlu pembuatan pakan buatan untuk indukan.5. 4. aktivitas penangkapan serta memerlukan fasilitas penyimpanan bersuhu dingin karena kualitasnya mudah menurun dan mudah terkontaminasi dengan mikroba pathogen.4. Kematian massal yang sering terjadi pada larva terutama pada umur 3-5 hari (D3-D5).5. Induk masih berasal dari alam sehingga ketersediaan induk terbatas dan tergantung dari tangkapan nelayan. juga digunakan sebagai ikan hias. Selain itu.5 Masalah dan Kemungkinan Pengembangan Usaha 4.

Perhitungan analisis usaha pada produksi benih ikan kerapu tikus dapat dilihat pada lampiran 5. beberapa hal yang dapat dilakukan adalah : peningkatan kinerja melalui penerapan ilmuatau teknologi yang tepat tentang pembenihan kerapu tikus maupun semangat kerja bagi para staf (peningkatan sumberdaya manusia). keuntungan yang diperoleh per siklusya adalah sebesar Rp 51. Biaya tetap yang dibutuhkan untuk usaha pembenihan kerapu tikus sebesar Rp 129. Diketahui dari hasil perhitungan R/C Ratio >1.900. Mengendalikan penangkapan ikan kerapu di alam secar bijaksana.595.469. menjaga mutu atau kualitas benih yang dihasilkan.400 per tahun sehingga biaya operasional yang dibutuhkan sebesar 190. dengan penebaran 112.733. menjalin kerjasama dengan berbagai pihak terutama dalam kegiatan pemasaran.483.9 %.064. perbaikan sarana dan prasarana yang memadai. 4. Perhitungan payback period yaitu dalam pengembalian investasi .6 Analisa Usaha Pembenihan Kerapu Tikus (Chromileptes altivelis) Skala Rumah Tangga Analisa usaha dalam produksi benih ikan kerapu tikus dalam 1 siklus.Dalam rangka pengembangan usaha dan peningkatan produksi pembenihan. Biaya investasi yang dibutuhkan untuk usaha pembenihan ikan kerapu tikus skala rumah tangga sebesar Rp 215.-. yaitu 2.815. sehingga terjamin kelestarian sumber daya ikan di laut.740 per tahun.340 Per tahun dan biaya variabel yang dibutuhkan sebesar 60.500/bak beton berkapasitas 9 ton didapatkan tingkat Survival Rate (SR) mencapai 12.1 maka usaha produksi ikan kerapu tikus tersebut merupakan usaha yang layak dilakukan dan menguntungkan untuk dikembangkan.

Jawa Tengah. Kalimantan Selatan.2 ekor. Kalimantan Timur. Perhitungan BEP produksi benih didapatkan sebesar 9. Sulawesi Tenggara. Lampung. Jawa Barat. Hasil perhitungan analisis usaha ini maka dapat diartikan bahwa usaha produksi ikan kerapu skala rumah tangga ini layak untuk di usahakan dan akan menguntungkan apabila usaha ini dikembangkan. Sulawesi Selatan.4 bulan. Sumatera Utara. BEP harga benih Rp 719/cm artinya bahwa titik impas akan dicapai pada saat harga jual benih Rp 719/cm. Kepulauan Bangka Belitung. dan lain-lain. Malaysia. Daerah pemasaran ikan kerapu diantaranya adalah Lampung. NTT. Sulawesi Tengah.599. Singapura. Sumatera Selatan. Irian Jaya. Kalimantan Barat. Taiwan. Sumatera Barat.599. NTB. maka kondisi tersebut tercapai titik impas sehingga perusahaan tersebut tidak mengalami untung maupun rugi. Jawa Timur. Bali.2 ekor yang artinya apabila perusahaan mampu untuk menjual produk yang dihasilkan sebesar 9. . Cina. Kepulauan Riau (Batam).yang ditanam akan kembali dalam waktu 4 tahun 2.

9%. Teknik pembenihan ikan kerapu tikus meliputi. Rotifier 8 gram/pemberian 3 kali/hari. pencegahan penyakit dengan menggunakan probiotik Sanolife.V KESIMPULAN DAN SARAN 5. pengelolaan kualitas air dengan salinitas 31-33 ppt.3. persiapan bak pemeliharaan larva. suhu 30o31oC. penebaran telur. Kematian massal sering terjadi pada larva yang diakibatkan oleh penyakit VNN(Viral Nervous Necrosis). seleksi induk. Otohime B1 10 gram/pemberian 3 kali/hari. nitrit < 1 ppm. amoniak < 0. Otohime B2 15 gram/pemberian 3 kali/hari.01 ppm. pemijahan. Memerlukan fasilitas penyimpanan bersuhu dingin agar kualitas pakan ikan rucah untuk indukan tidak menurun.000-100. DO > 5 ppm. Grading dilakukan apabila terlihat perbedaan ukuran yang mencolok pada benih dan munculnya sifat kanibalisme. SR ikan kerapu tikus 12. 2. belum ada pengobatan terhadap penyakit. Otohime EP-1 15 gram/pemberian 4-6 kali/hari). . pH 7.1 Kesimpulan 1. penetasan telur.8-8. pemberian pakan sesuai dosis baik berupa pakan alami(Nannochloropsis 50. Nitrat < 150 ppm. persiapan induk. Induk masih berasal dari alam sehingga ketersediaan induk terbatas dan tergantung dari tangkapan nelayan.000 sel/ml 1 kali/hari dan Rotifer 3-5 individu/ml 2 kali/hari) maupun pakan buatan(Nosan R-1 8 gram/pemberian 2 kali/hari. seleksi telur.

2 Saran 1. 2. Ketersediaan pakan ikan rucah untuk induk yang menyesuaikan musim. 3. disarankan supaya ada penambahan budidaya pada pemeliharaan induk.5. disarankan perlu adanya pembuatan pakan buatan untuk indukan. Induk yang masih berasal dari alam sehingga ketersediaan induk terbatas dan tergantung dari tangkapan dari nelayan. Belum adanya pengobatan terhadap penyakit VNN(Viral Nervous Necrosis) yang dapat menyebabkan kematian massal terhadap larva ikan kerapu tikus. disarankan ada studi-studi lebih lanjut untuk menemukan formula yang tepat untuk meningkatkan kekebalan benih dan menghasilkan benih yang tahan penyakit. .

Central Pertiwi Bahari..H. Departemen Kelautan dan Perikanan Direktorat Jendaral Perikanan Budidaya Balai Budidaya Air Payau.A dkk. Penerbit Lily Publisher. Budidaya Ikan Kerapu http://octopus39. 2009.. 188 halaman Murtiati. 2005. Produksi Pakan Alami. M. Budidaya Ikan Laut di Kramba Jaring Apung.com/2007/10/parameter-dasar-budidayaperairan. 24:19-26 Nazir. http://rudyct. 07/06/2010. M. http://www.com/2008/11/budidaya-ikan-keraputikus. Yogyakarta. T.. 99 hal Effendie.iptek. Edhy. Strategi Reproduksi pada Ikan Kerapu.G. Jakarta. 2010. 135 hal. 2007. Pembenihan ikan kerapu macan (Epinephelus fuscoguttatus). Octopus.H. M.id/ind/warintek/?mnu=6&ttg=3&doc=3b7. Loka Budidaya Air Payau. 233 hal Kordi K. 2007.H. 2003. Penggunaan Biokatalisator pada Budidaya Udang Galah. Darwisito. 2010. Jakarta. http://groups. S. http://jlcome. 2001. Penerbit Kanisius. 1988.net. 115 halaman Kordi K. K. Kordi K. Yogyakarta. dkk. Biologi Perikanan. P.htm.I. Pembenihan Ikan Laut Ekonomis Secara Buatan.G. Penerbit Rineka Cipta.yahoo. 2002. 2002. 2008. W.VI DAFTAR PUSTAKA Anonim. S. Yogyakarta. Yogyakarta. Central Pertiwi Bahari.html. Pustaka Pelajar. Metodologi Penelitian. 159 hal Jatilaksono. Tikus. .G. Plankton di Lingkungan PT.com/group/mmaipb/message/2070. 12/05/2010. Wahyuni. Metode Penelitian. Penerbit Yayasan Pustaka Nusatama. M. 1999. 1998. Simbolon dan J.com/PPS702-ipb/05123/suria_darwisito. 07/06/2010. Anonim. Parameter Dasar Budidaya Perairan. 07/05/2010. PT. 146 hal.blogspot. Pantai Timur. Azwar. M. S. Ghalia Indonesia. Cahyaningsih. 07/06/2010.html. Usaha Pembesaran Ikan Kerapu di Tambak. M.blogspot.

Balai Budidaya Air Tawar Jambi. Kakap. 2002. P.com/2009/04/laporan-magangperikanan.V.blogspot. Penerbit Penebar Swadaya.2007. Wahyudhy. Pembenihan Ikan Laut Ekonomis : Kerapu.html?zx=769a8d327799ce15. 2007. Beronang. Ilmu Pengetahuan Tentang Biota Laut. 2003. Biologi Laut . Metode Penelitian. Pakan Ikan Alami. C. Penerbit Kanisius. http://klikharry. Keracunan Nitrit-nitrat. Jakarta. 84 halaman Suryabrata. Panduan Diagnosa Penyakit Ikan. A. 1993. Kei.com/2007/02/21/keracunan-nitrit-nitrat/. 12/05/2010. Abbas. 540 hal Salim. Yogyakarta. 26/05/2010. H. dan S.Romimohtarto. dkk. Juwana. Jakarta. Laporan Magang Perikanan. Penerbit Djambatan. http://mandala- Siregar. Yuasa. Rajawali. S.wordpress. DKP dan JICA . Jakarta. K. 1995. 2009. manik. dan Mustahal. Ditjen Perikanan Budidaya. 87 halaman Sunyoto.

Peta Lokasi Kerja Praktek Lapangan Desa Pecaron. Kecamatan Panarukan. Kabupaten Situbondo.LAMPIRAN Lampiran 1. Propinsi Jawa Timur .

Denah Balai Budidaya Air Payau Situbondo 1 6 3 4 23 1 1 5 7 9 11 1 23 23 10 10 30 7 23 28 29 23 30 31 7 7 9 12 13 14 23 8 16 15 19 17 25 26 27 23 32 23 33 17 34 17 19 8 18 9 15 35 24 23 21 23 23 18 20 22 21 U .Lampiran 2.

35. Bak kultur Chlorella sp 9. Asrama 22. 2. Rumah genset. Musholla. Laboratorium penyakit dan kualitas air. Bak tandon air laut 20. Bak penampungan telur 3. . 6. Dapur. 8. 21. Pompa air laut. 32. Bak kultur Brachionus plicatilis 10. 23. Bak induk bandeng 18. Rumah blower. 7. Bak tandon air tawar. 24. Ruang pembuatan pellet. Rumah karyawan. 25. Bak pembenihan timur 13. 27. Bak induk kerapu. Bak calon induk kerapu. 4. 33. Auditorium. Garasi mobil. Ruang kuliah. Bak pembenihan Abalone 15. 31. Laboratorium pakan alami 14. Ruang staf teknis dan Laboratorium Bioteknologi 28. Koperasi dan workshop. Broodstock Center Udang Vanname 5. Bak pembenihan tengah 17. Perpustakaan 30. Bak pembesaran udang Vanname 19. Bak karantina 12.Keterangan : 1. Laboratorium nutrisi dan pakan buatan 26. Bak pembenihan barat. Bak pemeliharaan nener 11. 34. Kantor. Bak filter sand 16. 29.

Made Yooriksa Kepala Seksi Pelayanan Teknis Dede Sutende Kepala Seksi Stand.Si. M. Akhmad Romadlon. M. Perekayasa Pengawas Benih Pranata Humas Pengawas Budidaya Peng. M. Hama dan Peny. Slamet Subyakto.PT. S.Si. & Info. Struktur Organisasi Balai Budidaya Air Payau (BBAP) Situbondo Kepala Balai Ir. Kepala Seksi Bag. : Ir. Ikan Litkayasa Fungsional Lainnya .Si.Lampiran 3. Siti Zubaidah. Kelompok Jabatan Fungsional Koord. Tata Usaha Ir.

30 16.00 09.00 15.400 µm 1.000 µm 1.200 µm 1. Daftar Ukuran Pakan dan Jadwal Pemberian a.200 µm .D 36) Larva-Benih Benih Larva-Benih Benih Larva-Benih Larva (D2-D8) Larva-Benih Benih Ukuran pakan 20 – 50 µm 100 – 200 µm 200 – 300 µm 200 – 400 µm 300 – 500 µm 400 – 600 µm 500 – 800 µm 800 – 1.00 11.00 10.400 µm 1.00 14.00 12. Daftar Ukuran Pakan Uraian Rotemia NRD ½ NRD 2/3 NRD 2/4 NRD 3/5 NRD 4/6 NRD 5/8 NRD G8 (8/12) NRD G12 (12/20) Nosan R-1 Rotifier Love Larva Otohime B-1 Otohime B-2 Otohime C-1 Otohime C-2 Otohime S-1 Otohime S-2 Otohime EP1 Otohime EP2 b.00 07.000 µm 20 – 50 µm 50 – 100 µm 100 – 200 µm 200 – 300 µm 300 – 600 µm 500 – 900 µm 900 – 1.200 – 2.Lampiran 4.500 µm 2.00 Jenis Pakan Minyak cumi Pakan buatan (Rotofera/Rotemia) Pakan Buatan Rotifer Artemia Pakan Buatan Pakan Buatan Artemia Pakan Buatan Rotifer Artemia Udang rebon Keterangan Larva (D2-D8) Larva -Benih Benih Larva (D 2. Jadwal Pemberian Pakan Waktu 06.00 15.

Biaya investasi No.5 m3 . 1 2 Uraian Lahan 500 m2 Borongan Bangunan .000.Ember 20 liter .Bak filter air laut 18 m3 .000 200.000/m2 15.000/unit 3.Bak kultur Chlorella sp 12.000/buah 200.750.117.000.000.000 40.000/unit 3.000/unit 10.000.000.000.Rumah jaga 25 m2 Pompa air laut 7.000 24.5 PK Pompa air tawar5 PK Pompa celup(dab) Hi-blow 5 PK Instalasi air laut Instalasi air tawar Instalasi aerasi Instalasi listrik Genset 3000 watt Bak fiber Bak fiber Tabung gas Peralatan pembenihan: .000/unit 4.000 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 .000 16.000.000.000 40.000.Bak kultur rotifer 12.000.Runah genset 6m2 .000.000 10.000 400.082.000 1.000/unit 25.000.Bak larva .000 2.000 3.5 m3 .000/buah 3.000.000.000/unit 10.000.000 2.000 30.000/unit 2. .000.000.117.Rumah pompa air laut 6 m2 .000/buah 300.000 300.000/unit 1.000/unit 2.000 15.000/unit 2.000 4.000 10.500/unit 1.000/buah 10.000 24.000.000 600.Lampiran 5.750.000/unit 6.000.000 3.000 25.000/unit 10.Ember 5 liter .400/unit 1.000 10.000.000.400 1.500 1.Baskom sedang .000/unit 450.000.Ember 30 liter .000.Hatchery 140 m2 .000 3.000 900.000 3.000/unit 600. Analisis Usaha dalam Produksi Benih Kerapu Tikus di Balai Budidaya Air Payau Situbondo.000.Rumah Hi-blow .Saringan rotifera 300 mikron .000/unit 5.Saringan artemia 200 mikron Jumlah 1 unit 1 unit 6 unit 10 unit 4 unit 1 unit 1 unit 1 unit 1 unit 1 unit 1 unit 1 unit 2 buah 1 unit 1 unit 1 unit 1 unit 1 unit 1 unit 2 buah 2 buah 1 buah 8 buah 3 buah 1 buah 8 buah 20 buah 1 buah 2 buah Harga Satuan (Rp) 100.000/unit 4.082.000 2.000.000/buah 3.000/unit 4.000.000/buah Jumlah (Rp) 50.600.000/unit 3.Gayung 2 liter .000.000.000.000 6.000/unit 10.600.000/unit 1.000.000. a.

500.500/buah 2.398.000/buah 25.000/buah 35.500/buah 2.340 .000 250.000 200.000/m 300.000/buah 60. Biaya Tetap 1 2 3 4 5 6 Penyusutan investasi) Gaji Pegawai Biaya Listrik Perawatan Peralatan (5% dari investasi) Pajak Pulsa Handphone Total Biaya Tetap Biaya Tetap Selam 1 Tahun 100.000 350.000 550.890 4.000/buah 3.000 150.000/buah 145.000 215.000 200.000 145.000/buah 200.000 Jumlah Harga Satuan (Rp) Jumlah (Rp) 32.682.000 200.000/buah 300.000/buah 100.000 200.0000/buah 200.000/roll 10.000 1.000 150. Biaya Tetap dan Variabel No Uraian I.000/buah 75.- Saringan udang 1 buah rebon Saringan pakan 150 2 buah mikron Filter bag 6 buah Selang aersi 1 roll Batu aerasi 100 buah Kran aerasi 100 buah Pemberat aerasi 100 buah Plastic penutup 1 roll Keranjang koli 20 buah Gelas piala 1000 ml 1 buah Gelas piala 200 ml 1 buah Gelas piala 50 ml 1 buah Tong plastik 60 ml 2 buah Tong plastik 80 ml 2 buah Piring kecil (teplek) 1 lusin Kulkas 1 pintu 1 unit Lemari plastic 1 unit Selang 1” 20 m Spon (busa kasar) 1 roll White board 1 buah Total Biaya Investasi 100.000 60.000 75.250.000/buah 175.000/roll 75.000/unit 550.000/bln/org 500/bln (10% dari 17.945 50.000/unit 20.000 300.000 1.000 300.000/buah 1.733.365.835 129.000 35.000 8.000/bln 2 orang 800.900 b.595.800.000 50.000 400.000 300.250.000/buah 75.000 700.

469.200.000 4 kg 6 kg 500 bks 300. Udang rebon Total Biaya Variabel Biaya Variabel Selama 1 tahun Total Biaya Operasional (TC) 1 siklus Biaya Operasional (TC) 1 Tahun 15.000 Formalin Chlorine Na-thiosulfate Scott’s Emullsion 3 btl 20 L 20 L 300.000/bks 1.000 2.000/kg 1.000/kg 600.350 60.II.000/kaleng 3.000/kg 5.000 2 kg 275.000/kg 550.450/botol 300/000/kaleng 300. Artemia b.000 37.780.200.000/kg 600.400 47.000 2 kg 300.000 3. Biaya Variabel 1 2 Telur Obat-obatan : 3 Pakan : a.064.117.000 btr 1.185 190.000 300.000 4 kg 300.000 c.500.350 450.000 40 kaleng 300.000 100.000 300.740 .5 675.000 112. Pakan buuatan : Ukuran mikron Ukuran mikron Ukuran mikron Ukuran mikron Ukuran mikron Ukuran 800 mikron 400-600 300-500 200-400 200-300 100-200 1 kg 600.000/kg 630.516.200.

000.000 .000 154.000.1 Penerimaan (TR) Penerimaan adalah jumlah uang yang diperoleh dari hasil penjualan benih. penerimaan (TR) TR = Benih yang dihasilkan x ukuran x harga jual = 20.c.9% b. Jadi kelangsungan hidup (SR) yang didapatkan adalah sebagai berikut : SR (%) = Jumlah benih yang hidup Jumlah larva yang tebar X 100 % = 20.000 x 3.000 butir HR = 44% x 450.000 butir Jumlah benih yang hidup hingga pemanenan yaitu sebanyak 20. Rincian penerimaan yang diperoleh usaha pembenihan ikan kerapu dapat dilihat pada perhitungan berikut : a.000 = 154. Penghasilan c. Jumlah telur yang tebar yaitu sebanyak 450.000 ekor.000 per siklus Penerimaan yang diperoleh untuk per siklus yaitu sebesar Rp 99.3 cm x Rp 1.000 x 100% = 12.500/cm = 99.

815 Jadi.185 = 51.483.000.516.- c.1 R/C > 1 yaitu 2. Semakin tinggi nilai R/C ratio. keuntungan yang diperoleh per siklus adalah sebesar Rp 51.2 Keuntungan Keuntungan merupakan selisih antara pendapatan dengan total biaya prosuksi (biaya operasional).1 sehingga usaha dalam produksi benih kerapu tikus ini layak untuk dilaksanakan.000. tingkat keuntungan suatu usaha akan semakin tinggi. Keutungan diperoleh jika selisih antara pendapatan dengan total biaya adalah positif.483. Suatu usaha dikatakan layak jika nilai R/C ratio lebih dari 1 (R/C > 1).000 47.000 – 47. Keuntungan yang diperoleh dalam produksi benih kerapu tikus yaitu sebagai berikut : Keuntungan = Penerimaan-Biaya Operasional = 99.815.516. . Nilai R/C ratio untuk pembenihan ikan kerapu tiku dapat dilihat pada perhitungan sebagai berikut : R/C ratio = Hasil penjualan Total biaya per siklus = 99.185 = Rp 2.c.3 R/C Ratio Analisis ratio merupakan parameter analisis yang digunakan untuk melihat pendapatan relative suatu usaha dalam 1 tahun terhadap biaya yang dipakai dalam kegiatan tersebut.

000 = = Rp 2.3 cm = Rp 719/cm Artinya kegiatan pembenihan ikan kerapu tikus akan mengalami titik impas apabila telah menjual sebanyak 9. Nilai BEP (unit) dan BEP (Rp) pada usaha pembenihan ikan kerapu tikus dapat dilihat pada perhitungan berikut ini : BEP unit = Biaya total Harga Satuan = 47.516.185 4.2 ekor BEP (Rp) = Biaya total Total produksi 47.599. Sementara itu.599. Usaha dinyatakan layak apabila nilai BEP produksi lebih besar dari jumlah unit yang sedag diproduksi saat ini.375/3.2 ekor benih atau dengan harga jual benih seharga Rp 719/cm. seperti usaha .950 = 9. yaitu tidak untung atau rugi.516.5 Payback Periode (PP) Analisis Payback Periode (PP) bertujuan untuk mengetahui waktu tingkat pengembalian investasi yang telh ditanamkan pada suatu usaha.4 Break Event Poin (BEP) BEP merupakan parameter analisis yang digunakan untuk mengetahui batas nilai produksi atau volume produksi suatu usaha mencapai titik impas.185 20. c.c. nilai BEP harga lebih rendah dari pada harga sat ini.

2 tahun atau dalam jangka 4 tahun 2.pembenihan ikan kerapu tikus. Nilai PP pada usaha pembenihan ikan kerapu tikus dapat dilihat pada perhitungna berikut ini : PP = Biaya Investasi Keuntungan x 1 tahun = 215.2 tahun Jadi. biaya investasi yang dikeluarkan untuk usaha pembenihan ikan kerapu tikus akan kembali dalam jangka waktu 4.900 51. .815 x 1 tahun = 4.4 bulan.483.733.

7 Tandon Air Tawar a.5 Bak Karantina Ikan a. Sarana dan Prasarana Pembenihan Ikan Kerapu Tikus Budidaya di Balai Budidaya Air Payau Situbondo a.8 Pompa Air Laut .2 Bak Rotifer a.1Bak Pemeliharaan Larva Kerapu Tikus a.6 Tandon Air Laut a.Lampiran 6.4 Bak Pemeliharaan induk ikan Kerapu Tikus a.3 Bak Chlorella sp a. Gedung a.

5 Scott’s Emulsion b.1 Egg Colector c.4 Vitamin b.2 Alat Taging c.4 Akuarium c. Peralatan c.6 Saringan .5 sendok takaran Pengambilan Telur c.3 Minyak Cumi b.1 Pakan Ikan Rucah b.6 Artemia Cysts c.b.3 HCG(Human Chorionic Gonadotropin c. Pakan Ikan b.2 Udang Rebon b.

00 30 C 30oC 30 C 30 C 31oC 31oC 31oC 30oC 30oC 30oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 30oC 30oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC o o o bak 1 12.00 30 C 31oC 31 C 31 C 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC o o o suhu harian kolam ikan kerapu tikus bak 2 bak 4 12.00 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 08-Agust-10 o o 09-Agust-10 30 C 29 C 29oC 29oC 30oC 30oC 29oC 30oC 30oC 30oC 29oC 29oC 29oC 30oC 30oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 30oC 31oC 31oC 30oC o 10-Agust-10 31 C o 31 C 11-Agust-10 12-Agust-10 3-Agust-10 14-Agust-10 15-Agust-10 16-Agust-10 17-Agust-10 18-Agust-10 19-Agust-10 20-Agust-10 21-Agust-10 22-Agust-10 23-Agust-10 24-Agust-10 .00 06.Lampiran 7. Suhu Harian pada Kolam Ikan Kerapu Tikus tanggal 06.00 31oC 31 C 31 C o o 16.00 30oC 30 C 30 C o o 12.00 31 C 31 C 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC o o 16.00 31 C 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC o 16.00 31oC 31 C 31 C o o 06.00 - 16.00 31 C 31oC 31 C 31 C 30oC 30oC 30oC 30oC 30oC 31oC 30oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 30oC 30oC 30oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 30oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 30oC 30oC 31oC o o o 06.00 31 C 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 30oC 30oC 31oC 31oC o bak 6 12.

25-Agust-10 29oC 30oC 29oC 29oC 29oC 29oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 30oC 31oC 30oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 30oC 31oC 30oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 30oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 30oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 30oC 31oC 31oC 30oC 31oC 31oC 30oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 26-Agust-10 27-Agust-10 28-Agust-10 29-Agust-10 30-Agust-10 31-Agust-10 .