TEKNIK PEMBENIHAN IKAN KERAPU TIKUS (Cromileptes altivelis) DI BALAI BUDIDAYA AIR PAYAU SITUBONDO

PRAKTEK KERJA LAPANG
PROGRAM STUDI BUDIDAYA PERAIRAN

Oleh :
ERLINA DWI TUNGGAL SPIKADHARA SURABAYA - JAWA TIMUR

FAKULTAS PERIKANAN DAN KELAUTAN UNIVERSITAS AIRLANGGA SURABAYA 2010

TEKNIK PEMBENIHAN IKAN KERAPU TIKUS (Cromileptes altivelis)
DI BALAI BUDIDAYA AIR PAYAU SITUBONDO

Praktek Kerja Lapang Sebagai Salah Satu Syarat untuk Memperoleh Gelar Sarjana Perikanan pada Program Studi S-1 Budidaya Perairan Fakultas Perikanan dan Kelautan Universitas Airlangga

Oleh : ERLINA DWI TUNGGAL SPIKADHARA NIM. 060710177P

Mengetahui, Dekan, Fakultas Perikanan dan Kelautan

Menyetujui, Dosen Pembimbing,

Prof.Dr.Drh.Hj. Sri Subekti, B.S.,DEA. NIP. 19520517 197803 2 001

Muhammad Arief., Ir. M.Kes. NIP. 19600823 198601 1 001

Setelah mempelajari dan menguji dengan sungguh–sungguh, kami berpendapat bahwa Praktek Kerja Lapang (PKL) ini, baik ruang lingkup maupun kualitasnya dapat diajukan sebagai Salah Satu untuk Memperoleh Gelar Sarjana Perikanan.

Tanggal Ujian : 25 November 2010

Menyetujui, Panitia Penguji, Ketua

Ir. Muhammad Arief, M.Kes NIP. 19600823 198601 1 001

Sekretaris

Anggota

Prayogo, S. Pi., MP NIP. 19750522 200312 1 002

Ir. Moch. Amin Alamsjah, M. Si., Ph. D NIP. 19700116 199503 1 002

Surabaya, 24 Desember 2010 Fakultas Perikanan dan Kelautan Universitas Airlangga Dekan,

Prof.Dr.Drh.Hj. Sri Subekti, B.S.,DEA. NIP. 19520517 197803 2 001

Dosen Pembimbing : Ir. Tujuan lainnya adalah untuk mengetahui permasalahan yang sering dihadapi pada usaha pembenihan ikan kerapu tikus (Cromileptes altivelis). penebaran telur. seleksi telur. seleksi induk. observasi. Jawa Timur.31 agustus 2010. Ikan kerapu tikus memiliki nilai jual yang tinggi dan permintaan yang banyak sedangkan permintaan pasar akan ikan kerapu tikus belum dapat dipenuhi secara keseluruhan karena belum banyak pembudidaya.Muhammad Arief. wawancara dan studi pustaka.RINGKASAN ERLINA DWI TUNGGAL SPIKADHARA. Praktek Kerja Lapang ini dilaksanakan pada tanggal 19 juli .000-100. Ikan kerapu tikus lebih memiliki nilai jual yang tinggi di banding dengan ikan kerapu yang lainnya. persiapan bak pemeliharaan larva.Kes. Otohime EP-1 15 . Pengambilan data dilakukan dengan cara partisi aktif. pemijahan. Otohime B1 10 gram/pemberian 3 kali/hari. Otohime B2 15 gram/pemberian 3 kali/hari. Teknik Pembenihan Ikan Kerapu Tikus (Cromileptes altivelis) di Balai Budidaya Air Payau Situbondo Desa Pecaron Kecamatan Panarukan Kabupaten Situbondo Propinsi Jawa Timur. M.000 sel/ml 1 kali/hari dan Rotifer 3-5 individu/ml 2 kali/hari) maupun pakan buatan(Nosan R-1 8 gram/pemberian 2 kali/hari. Rotifier 8 gram/pemberian 3 kali/hari. penetasan telur. Tujuan dari Praktek kerja Lapang (PKL) untuk mengetahui tentang teknik pembenihan ikan kerapu tikus (Cromileptes altivelis) di Balai Budidaya Air Payau di Situbondo. Metode yang digunakan dalam Praktek Kerja Lapang ini adalah metode dekskriptif dengan pengambilan data meliputi data primer dan data sekunder. Teknik pembenihan ikan kerapu tikus meliputi. Ketersediaan benih ikan kerapu di alam tidak akan terancam punah dengan memanfaatkan dan mengembangkan suatu usaha untuk menghasilkan benih ikan kerapu tikus yang dapat memenuhi permintaan pasar. pemberian pakan sesuai dosis baik berupa pakan alami(Nannochloropsis sp 50. persiapan induk.

nitrit < 1 ppm. DO > 5 ppm. pencegahan penyakit dengan menggunakan probiotik Sanolife. .9%.01 ppm. pengelolaan kualitas air dengan salinitas 31-33 ppt.gram/pemberian 4-6 kali/hari). pH 7.8-8. Kematian massal sering terjadi pada larva yang diakibatkan oleh penyakit VNN(Viral Nervous Necrosis). suhu 30o-31oC. Memerlukan fasilitas penyimpanan bersuhu dingin agar kualitas pakan ikan rucah untuk indukan tidak menurun. Grading dilakukan apabila terlihat perbedaan ukuran yang mencolok pada benih dan munculnya sifat kanibalisme. Induk masih berasal dari alam sehingga ketersediaan induk terbatas dan tergantung dari tangkapan nelayan. Nitrat < 150 ppm. belum ada pengobatan terhadap penyakit.3. SR ikan kerapu tikus 12. amoniak < 0.

Supervising lecture: Ir. Polka-dot Grouper has a high selling value and demand a lot while the demand of market for Polka-dot Grouper can not be fulfilled as a whole because not many farmers. M. Broodstock preparation. preparation for larval rearing tanks. Data collection was performed by the active partition. The availability of grouper seed in nature will not be threatened with extinction by exploiting and developing a business to produce panther fish fry that can meet demand of market. ammonia <0. The method used in this Field Work Practice is dekskriptif with data collection methods include primary data and secondary data. interview and literature study. spawning.8 to 8. Polka-dot Grouper Hatchery Techniques (Cromileptes altivelis) in Balai Budidaya Air Payau Situbondo Pecaron Panarukan Situbondo District of East Java Province. Rotifier 8 grams / feeding 3 times / day. Another aim is to discover the problems that are often encountered in the hatchery business grouper (Cromileptes altivelis). hatching eggs. temperature 30o-31oC. 2 times / day) or artificial diets (Nosan R-1 8 g / generous 2 times / day. Polka-dot Grouper hatchery techniques include. Otohime B1 10 grams / feeding 3 times / day . DO> 5 ppm. pH 7. feeding according to the dosage form of natural food (Nannochloropsis sp 50000-100000 cells / ml 1 time / day and rotifers 3-5 individuals / ml. Field Work Practice was held on 19 July . the management of water quality with salinity 31-33 ppt. egg selection. Otohime EP-1 15 grams / administration 4-6 times / day).SUMMARY ERLINA DWI TUNGGAL SPIKADHARA.Muhammad Arief. The purpose of the work practice of Field (PKL) to find out about grouper hatchery techniques (Cromileptes altivelis) in Balai Budidaya Air Payau Situbondo. stocking eggs. nitrite <1 ppm. East Java. Broodstock selection. 3. disease prevention . Otohime B2 15 grams / feeding 3 times / day. observation.01 ppm. Nitrate <150 ppm.31 August 2010. Polka-dot Grouper over a high selling price compared with other groupers. Kes.

Mass mortality of larvae often occur in diseases caused by VNN (Viral Nervous Necrosis). Grading conducted if the striking visible differences in seed size and appearance of cannibalism.using probiotics Sanolife. SR of Polka-dot Grouper is 12. . there is no treatment against the disease. Requires cold-temperature storage facilities for feed quality trash fish for broodstock did not decline. Broodstock still come from nature so that availability is limited and dependent parent from the catch of fisherman.9%.

Praktek Kerja Lapang ini sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Perikanan pada Program Studi S-1 Budidaya Perairan Fakultas Perikanan dan Kelautan Universitas Airlangga Surabaya. khususnya Mahasiswa Program Studi S-1 Budidaya Perairan Fakultas Perikanan dan Kelautan Universitas Airlangga Surabaya. Surabaya. Penulis menghanturkan terima kasih yang tak terhingga kepada kedua orang tua dan keluarga yang telah mendoakan. Laporan ini disusun berdasarkan hasil Praktek Kerja Lapang yang dilaksanakan di Balai Budidaya Air Payau Situbondo pada tanggal 19 Juli – 31 Agustus 2010. Desember 2010 Penulis . sehingga kritik dan saran yang membangun sangat penulis harapkan demi perbaikan dan kesempurnaan laporan atau kegiatan selanjutnya.KATA PENGANTAR Segala puji kahadirat Allah SWT. Semoga Praktek Kerja Lapang ini bermanfaat dan dapat memberi informasi bagi semua pihak. Penulis menyadari bahwa Praktek Kerja Lapang ini masih sangat jauh dari kesempurnaan. atas segala limpahan rahmat dan karunia-Nya sehingga penyusunan Praktek Kerja Lapang tentang Teknik Pembenihan Ikan Kerapu Tikus (Chromileptes altivelis) di Balai Bududaya Air Payau Situbondo ini dapat terselesaikan. mendidik dan memberi motivasi serta semangat hingga selesainya Praktek Kerja Lapang ini.

. DEA.Muhammad Arief. Sri Subekti. selaku Dekan Fakultas Perikanan dan Kelautan Universitas Airlangga Surabaya. Kakak pertamaku Andri Bahtera Tunggal Prisma Dharana dan kakak kedua Erlita Dwi Tunggal Spikadhara yang telah memberi semangat. 7. Slamet Subiyakto. 5. M. Ir. tidak lupa penulis haturkan terima kasih yang sebesar-besarnya : 1. Dr. Bapak Akhmad Taufiq. MP dan Ir. Drh. . 6. S.Si. M. Hj. 3. S. Bapak saya Anthonius Wiwiek Dwiriyantho Bayudharana Feysholly. M. Dr.Si sebagai Kepala Balai Budidaya Air Payau Situbondo. Allah SWT yang telah memberikan nikmat dan amanah dalam kehidupan ini.. Prof.Pi selaku koordinator pelaksana Praktek Kerja Lapang. S.UCAPAN TERIMAKASIH Pada kesempatan kali ini. Bapak Prayogo.amin allahuma amin. ibu saya Partini yang saya cintai yang telah memberikan seluruh ia punya baik dukungan secara moril dan materi.. Pi. B. Amin Alamsjah. 8. M. Moch. 2. selaku Dosen Pembimbing yang telah banyak membantu terlaksananya Praktek Kerja Lapang dari penyusunan usulan proposal hingga terselesainya laporan Praktek Kerja Lapang. Nabi besar Muhammad SAW semoga kita semua akan mendapatkan syafaat di akhirat kelak. D selaku dosen penguji yang telah memberi banyak masukan dan saran atas perbaikan Praktek Kerja Lapang ini. Bapak Ir.. Si. 4.Kes. 9. Ph.

sofiati selaku pembimbing lapangan dari Balai Budidaya Air Payau (BBAP) Situbondo. Seluruh pegawai BBAP Situbondo khususnya pegawai Pembenihan Timur. Sahabatku (Yulia Kartika.10. Dian Respati. Ir. . Nining Khoirunniza. Nurdiana Rachmasari. 15. 11. Rekan-rekan yang melaksanakan magang dan PKL di BBAP Situbondo dari UMI. Galih Adi Pratama yang telah banyak membantu. 14. Teman-teman BUPER’07 yang memberikan dukungan sehingga dapat terselesaikannya laporan PKL ini. Hangtuah. UNDANA. UNSOED. Setyana Meirnawati. Adhe Puspawari Hardhanny) yang telah banyak membantu dan memberi semangat. 16. IPB. Semua pihak yang tidak dapat disebutkan satu persatu yang telah membantu penulis dalam pelaksanaan maupu penyelesaian laporan PKL ini. 13. 12.

................................................................................... DAFTAR GAMBAR.............. SUMMARY..... HALAMAN PERSETUJUAN..................................................................................................................2 Morfologi...............................5 Perkembangan Embrio....... ..................................... I PENDAHULUAN................................. 2................................2 Metode..................................... 2...........4 Reproduksi................................... 1......................... HALAMAN PENGESAHAN…………………………………………...........2 Tujuan............................................... KATA PENGANTAR…………………………………………………............................................................................................. DAFTAR LAMPIRAN......... ..................................... 1. 2...............1 Sarana Pembenihan...1 Latar Belakang........................................................DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL…………………………………………………… ......................... DAFTAR TABEL......................................................................... UCAPAN TERIMAKASIH ..............................................................………………………….............. 2............................................................................................................................ 2.................. 2........... .... ............. 2.............. II ....... ..........3 Pemeliharaan Induk...................................................................6 Kebiasaan Makan Larva .................................................................................. 2................................................................................................................7 Teknik Pembenihan........7............ .3 Manfaat..... .......7. TINJAUAN PUSTAKA.................................. . 2.................................3 Habitat.................................................... RINGKASAN......... 1.................................................7............................................................ . i ii iii iv vi xiii ix xi xii xiii 1 1 2 3 4 4 5 5 6 7 7 8 9 9 9 ........................ ......... 2........1 Tinjauan Umum..............

.................1 Vibrio alginolyticus.................................. 2... 2..................................9 Penyediaan Pakan untuk Pemeliharaan Larva.... 14 14 15 15 16 16 17 18 18 19 19 19 19 20 21 21 21 22 23 24 III PELAKSANAAN……………………………………………………...........2 Artemia spp........10....................................1 Waktu dan Tempat……………………………………....... 2.................5 Caligus sp parasit golongan Crustacea................................... 2....................................9.......................................... 13 2...............................................................................8...............................................................3 Waktu Pemberian Pakan............................................ 2.8................... 25 25 ......................1 Nannochloropsis oculata.............1 Rasio pakan...................10 Pemberian Pakan.2 Kecerahan...........................6 Virus...................3 derajat keasaman............ 2.................................. 2................ 2...................9..8...................12 Penyakit........................................4 Sex Reserval............. 2.......7..................... 2...... 2...7. 10 10 10 11 12 13 2.................. 2.....................................5 Seleksi Induk.................1 Suhu....................12.....7................................................................ 3....8...........................................................6 Pemijahan..3 Rotifer...8.............. 2......................................... 2........ 2.....................10...................................................................................12...................8.............................................8 Parameter Kualitas Air Pemeliharaan....6 Nitrit..... 2.....7.12...............................................................8 Pemeliharaan Larva............ 2.. 2..........................................4 Infestasi Trichodina sp........................................10. 2........................................................ 2..................................2............4 Oksigen terlarut..........................................9.............. 2..3 Cryptocaryonosis.......................................11 Survival Rate..12..........................................12....................................................................... 2................................. 2.. 2..........................2 Frekuensi Pemberian pakan.............................7........2 Vibrio anguillarum....................5 Salinitas...................7 Penetasan Telur.........12....................................... 14 2.........................................................

........... d............3 Metode pengumpulan ……………………………………….. 4......2............ a........ pemijahan dengan rangsangan hormon............................................ Persiapan Wadah.................6 Pemeliharaan Larva dan Benih...................1..................... 25 25 25 26 26 27 27 28 28 28 29 30 32 32 32 32 33 34 34 35 35 36 36 36 38 40 41 42 43 44 44 45 46 48 48 50 51 52 52 53 55 56 57 ...... Observasi...............................................3 Struktur Organisasi... 3............................ Perhitungan Derajat Penetasan(Hatcging Rate)...................... 4....................... a............................................. Pemberian Pakan Alami. a..................... Sumber Tenaga Listrik......................... b.... Aerasi.................. pencegahan hama dan penyakit………………………......1 Data Primer……………………………………............................1 Keadaan Umum Lokasi Praktek Kerja Lapang…………...... 4..... Persiapan Wadah................................................... pengelolaan air………………………………………… c........................1..................................1.8 Pakan.... 4....3 Teknik Pembenihan Kerapu Tikus………………………................ Air Laut ...........................3.........1 Sejarah Berdirinya………………………….Perkembangan Larva....... 4.3............. Bangunan………………..................................2 Prasarana ...........2 Seleksi Induk………………………………………………...... Partisipasi Aktif................................. D................... 4..................5 Penetasan Telur......................3...........................1.... 4.2 Materi dan Metode Kerja…………………………………......... 4...........................2 Sarana dan Prasarana Umum BBAP Situbondo.. 4..............4 Kepegawaian..................................... 4.............................………………………………... A........ C.....................1 Persiapan Induk ……………………………………........... ciri-ciri induk matang gonad………………………….. B..Penebaran dan Penetasan Telur.........2 Data Sekunder……………………………………………… IV HASIL DAN PEMBAHASAN……………………………........................................... b........3....... 4................... 4...... B......4 Pemanenan Telur............................ 4............................. 4......... a........................................................2.................................................................................3.................... b...3.............................1 Sarana Umum.................... 3.......3..... 4.........2 Letak dan Keadaan Lokasi......... c.................7 Kualitas air............... b........................................................... Air Tawar......... Sarana Budidaya................. 4...... A.............. pemberian pakan……………………………………… b.............................................................................3 Pemijahan...... c......................................................................3..................................... Wawancara...................................................................... pemijahan alami............. 4...3............................................ 3............. a..................... a................3...........3........

............... 5................................ 57 57 58 60 60 61 61 63 64 65 65 66 67 67 68 68 V SIMPULAN DAN SARAN............... DAFTAR PUSTAKA............2 Kemungkinan Pengembangan Usaha...................................................3 Artemia sp.................. Produksi...............1 Pemanenan Benih.4 Pemanenan..1 Kultur Nannochloropsis sp............................................................. 4..................................................2 Kultur Rotifer.........................................2 Produksi dan Pemasaran......................6 Analisis Usaha ........................................5......... a.................... 4................... dan Pemasaran........1 Masalah yang Dihadapi...........................4........................5....................4.... 5............. 4....................... LAMPIRAN................................................... 4...............................................9 Pengendalian Hama dan Penyakit........4 Udang Rebon............... b..............................................1 Simpulan............a.............. c............................................................................ c..........2 Saran. 70 70 71 72 74 ......................2 Rotifera............... 4...... c......... 4......................... a......................................................1 Nannochloropsis sp.................5 Masalah dan Kemungkinan Pengembangan Usaha........... 4...................................................................... 4......................................................... Pemberian Pakan Buatan.............................................................................................................3......... a........................ Kultur Pakan Alami....................................................................................

Pakan alami yang digunakan harus sesuai dengan bukaan mulut larva dan alat pencernaan larva kerapu dapat mencerna kandungan nutrisi yang ada pada pakan alami (khordi. 2005). 2009). . Di Indonesia perkembangan budidaya ikan sangat mendukung karena di Indonesia merupakan wilayah berkepulauan yang banyak memiliki sumber daya ikan yang melimpah. Bila potensi perikanan yang sangat melimpah ini dapat di manfaatkan secara optimal maka dapat meningkatkan produktifitas perikanan. Pakan alami untuk larva dan benih pada budidaya ikan dalam bentuk pakan alami dan pakan buatan (mikropartikel pelet). meningkatkan devisa negara.I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Usaha – usaha pengembangan perikanan yang dilakukan di Indonesia mulai banyak dilakukan. Pada saat ini Ikan kerapu tikus memiliki nilai jual yang tinggi dan permintaan yang banyak sedangkan permintaan pasar akan ikan kerapu tikus belum dapat dipenuhi secara keseluruhan karena belum banyak pembudidaya. dan membantu menjaga kelestarian sumber daya hayati perikanan (Salim. Ketersediaan benih ikan kerapu di alam tidak akan terancam punah dengan memanfaatkan dan mengembangkan suatu usaha untuk menghasilkan benih ikan kerapu tikus yang dapat memenuhi permintaan pasar (Salim. Kegiatan pembenihan ikan kerapu tikus. Ikan kerapu tikus lebih memiliki nilai jual yang tinggi di banding dengan ikan kerapu yang lainnya. 2009). pakan alami sangat diperlukan saat pemeliharaan larva.

Faktor kualitas air yang perlu dipertimbangkan untuk pemeliharaan pembenihan Kerapu tikus meliputi sifat fisika : suhu dan kecerahan. 2009). karang mati. sedangkan SR kerapu tikus 5%. DO. Jawa Timur. diantaranya adalah penyakit borok pangkal sirip ekor dan penyakit mulut merah. kecuali sewaktu makan dan saat memijah. Lokasi budidaya yang ideal harus memenuhi persyaratanpersyaratan kualitas airnya. atau karang berlumpur. nitrit dan salinitas. Dari jumlah diperkirakan hanya 30% saja yang dibuahi (Darwisito.000 butir. Ikan Kerapu Tikus selama bertelur induk tidak boleh di beri pakan.200. dan kimia meliputi : pH. dan apabila induk telah memijah harus segera dipindahkan ke tangki yang lain. Mengetahui tentang teknik pembenihan ikan kerapu tikus (Cromileptes altivelis) di Balai Budidaya Air Payau di Situbondo. 2002). .2 Tujuan Tujuan dari praktek kerja lapang ini adalah: 1. 1. Permasalahan penyakit yang paling banyak pada ikan bersirip (finfish) dijumpai pada budidaya ikan kerapu. Ikan kerapu ini merupakan jenis ikan laut yang dapat ditemukan didaerah subtropika dan tropika dari seluruh daerah lautan. Telur yang telah dibuahi berjumlah lebih kurang 1. Kebanyakan ikan kerapu tinggal didaerah karang. Ikan kerapu juga sering ditemukan di daerah pasang dan di laut dengan kedalaman sekitar 40 cm (Salim.Kerapu lebih suka menghindar dari sinar matahari langsung. Jenis penyakit bakterial yang ditemukan pada ikan kerapu.

Jawa Timur.2. Jawa Timur. Memperoleh pengetahuan tentang teknik pembenihan ikan kerapu tikus (Cromileptes altivelis) di Balai Budidaya Air Payau di Situbondo.3 Manfaat Manfaat dari praktek kerja lapang ini adalah : 1. 2. . Mengetahui permasalahan yang sering dihadapi pada usaha pembenihan ikan kerapu tikus (Cromileptes altivelis) di Balai Budidaya Air Payau di Situbondo. Jawa Timur. 1. sehingga dapat lebih memahami dan mengatasi permasalahan yang timbul dalam usaha pembenihan ikan kerapu tikus (Cromileptes altivelis) di Balai Budidaya Air Payau di Situbondo. Dapat memadukan teori yang diperoleh dengan kenyataan yang terjadi dilapangan.

1 Tinjauan Umum Menurut Weber and Beofort.II TINJAUAN PUSTAKA 2. Gambar 1. 2008) . klasifikasi ikan kerapu tikus adalah : Phylum Subphylum Class Subclass Ordo Subordo Genus Spesies : Chordata : Vertebrata : Osteichtyes : Actinopterigi : Percomorphi : Percoidea : Cromileptes : Cromileptes altivelis Kerapu bebek. Lantaran warnanya yang menarik. ikan ini biasa ditempatkan di akuarium sebagai ikan hias (Khordi dan Andi Tamsil. biasa juga disebut kerapu tikus(Cromileptes altivelis). mempunyai tubuh agak pipih dengan warna dasar abu-abu berbintik hitam. (1940) dalam Ahmad (1991). Kerapu Tikus. Pada ikan kerapu tikus yang masih muda. Cromileptes altivelis (Octopus. 2010). bintik tersebut lebih besar dan lebih sedikit jumlahnya. dalam perdagangan internasional dikenal dengan nama polka-dot grouper atau hump-backed rocked.

Pada kerapu bebek muda. Bintik – bintik tersebut pada kerapu muda lebih besar dan sedikit. Warna ikan kerapu tikus coklat kehijauan dengan dengan bintik – bintik atau bulat – bulat coklat di kepala. Lembaran operculum mempunyai pinggiran yang bergerigi tajam dan halus.2. Lubang hidung bagian posterior besar. tubuhnya memanjang gepeng (compressed) dengan panjang tubuh 2.2 Morfologi Ikan kerapu tergolong jenis ikan air laut yang berjual nilai tinggi. 2010). Pada sirip dorsal memiliki 10 duri keras dan 17 – 19 duri lunak. dan sirip. sirip perut dengan 3 duri keras dan 10 duri lunak (Khordi dan Andi Tamsil. . Ikan kerapu tikus termasuk dalam famili Serranidae. tubuh. Sedangkan sirip ekor memiliki 1 duri keras dan 70 duri lunak. bintik hitam lebih besar dengan jumlah bintik yang sedikit. leher bagian atas cekung dan semakin tua semakin cekung. Sisik punggung sangat halus dan licin (Salim. Seluruh permukaan tubuh kerapu bebek berwarna putih dilengkapi sirip renang berbentuk melebar serta moncong kepala lancip menyerupai bebek atau tikus. A. sisik pada lateral line berjumlah 54 – 60 dan pyloric 13. 2009). Panjang kepala seperempat panjang total.0 kali panjang standard ikan ( panjang standard ikan 12 – 37 cm). tetapi yang lebih memiliki harga jual yang lebih tinggi dibandingkan dengan ikan kerapu jenis yang lainnya adalah ikan kerapu tikus (Cromileptes altivelis). semakin tua bertambah banyak.6 – 3. Sirip punggung semakin melebar kebelakang.

Dalam siklus hidupnya kerapu muda hidup di perairan karang pantai dengan kedalaman 0. berkelamin jantan (Khordi dan Andi Tamsil.3 Habitat Ikan kerapu lebih sering terlihat menyendiri dan menyukai naungan sebagai tempat bersembunyi. 2010). Ikan kerapu ini merupakan jenis ikan laut yang dapat ditemukan didaerah subtropika dan tropika dari seluruh daerah lautan.3.4 Reproduksi Kerapu tikus memiliki sifat hermaprodit protogini yaitu perubahan kelamin (change sex) dari betina ke jantan dipengaruhi oleh ukuran. Pada kerapu tikus.5 tahun ke atas.5 .5 tahun.5-2. musim – musim pemijahan ikan kerapu terjadi pada bulan Juni – September dan November – Februari. Kebanyakan ikan kerapu tinggal didaerah karang.umur.0 m. transisi dari betina ke jantan terjadi setelah mencapai umur 2. Transformasi dari dari betina ke jantan ini memerlukan waktu yang cukup lama dalam kondisi alami. Ikan kerapu juga sering ditemukan di daerah pasang dan di laut dengan kedalaman sekitar 40 cm. Beberapa jenis . Dari hasil pengamatan di Indonesia. dan spesiesnya. 2.0-2. kecuali sewaktu makan dan saat memijah.2. Pada umur 1. Adapun ikan-ikan yang berumur 2.5 tahun biasanya ikan masih berkelamin betina. Sifat kerapu tikus umumnya soliter tetapi pada saat akan memijah berlangsung beberapa hari sebelumnya bulan purnama yaitu pada malam hari.0 – 40 m. Kerapu lebih suka menghindar dari sinar matahari langsung. setelah dewasa kerapu ke daerah perairan yang lebih dalam yaitu antara 7.

grastula. Perkembangan embrional telur sejak pembuahan sampai penetasan membutuhkan kurang lebih 19 jam. 2009). Pada hari ke tiga mulai terjadi pigmentasi saluran pencernaan bagian atas dan bukaan mulut berukuran sekitar 125 µ. 2. 2. 2009). mata belum berpigmen. Setelah tahap multi sel tahap berikutnya adalah blastula.5 Perkembangan Embrio Berdasarkan pengamatan mikroorganisme dapat diketahui bahwa telur kerapu berbentuk bulat tanpa kerutan. Perkembangan tubuhnya semakin memanjang sedangkan kantong telur dan gelembung minyak semakin mengecil.6 Kebiasaan Makan Larva Pada kerapu tikus menetas mempunyai panjang total 1. Pembelahan sel berikutnya berlangsung 15 – 30 menit sampai mencapai multi sel salama 2 jam 25 menit.78 mm. cenderung menggerombol pada kondisi tanpa aerasi dan kuning telur tersebar merata. Telur kerapu transparan dengan diameter ± 850 mikron dan tidak memiliki ruang perivitellin. neorula. pembelahan sel pertama kali terjadi 40 menit setelah pembuahan. pada hari kedua sirip dada mulai terbentuk dan jaringan usus telah berkembang sampai ke anus. mulut dan anus belum terbuka.70 – 1. Gerakan pertama embrio terjadi pada jam ke-16 setelah pembuahan selanjutnya telur menetas menjadi larva pada jam ke-19 pada suhu 27 – 29 oC (Salim. Pembentukan sirip punggung mulai terjadi pada hari pertama.kerapu mempunyai musim pemijahan 6 – 8 kali/tahun sedangkan pemijahan pertama 1 – 2 kali/tahun (Salim. Dan hari ke empat kuning telur telah . damn embrio.

Setelah itu mendapatkan makan secara eksogenus pada hari ke tiga dengan mulai terbukanya mulut.habis terabsorbsi. rotifera. Sedangkan untuk ikan kerapu tikus yang dewasa menyukai ikan – ikan kecil. dapat pula terjadi karena kesalahan dalam menentukan jadwal pemberian pakan dan rendahnya mutu pakan (Salim. dan zooplankton. krustacea dan cepalophoda. Setelah telur menetas sampai dengan hari ke tiga larva dapat makan secara endragenus yaitu dengan mengabsorsi kuning telur yang di bawanya. Ikan kerapu sebagai ikan karnivora juga sebagai ikan pemangsa yang aktif bergerak pada malam hari. Sesuai dengan bukaan mulut ikan kerapu tikus. Kematian yang terjadi pada larva hari ke lima dan seterusnya dapat terjadi karena disebabkan oleh suatu keadaan hanya 50 % larva yang mampu makan pada kondisi dimana jumlah pakan optimal. Pada periode perkembangan larva kerapu tikus sampai tahap metamorfosis penuh membutuhkan waktu 35 – 40 hari pada suhu 27 . 2009). krustacea kecil.7 Teknik pembenihan Menurut Anonim (2010) pada teknik pembenihan ada beberapa tahap untuk melaksanakannya berupa: . rotifera merupakan pakan pertama.29 ºC (Salim. 2009). 2. Ikan kerapu memiliki kebiasaan makan pada siang hari dan malam hari dan lebih aktif pada waktu fajar dan senja hari. sedangkan sisanya tidak mampu lagi memangsa pakan yang tersedia. Ikan kerapu biasanya mencari makan dengan cara menyergap mangsanya dari tempat persembunyiannya. kopepoda. Ikan kerapu tikus bersifat karnivora terutama larva molusca.

15 mg/ekor/minggu.Pemeliharaan Induk Induk ikan kerapu yang dipijahkan dipelihara dengan padat penebaran induk 7. 2010). Pakan yang diberikan berupa ikan rucah segar berkadar lemak rendah.2. Pemijahan mengikuti fase peredaran bulan. Untuk merangsang terjadinya perkawinan antara jantan dengan induk betina matang kelamin digunakan metoda manipulasi lingkungan di bak terkontrol.10 kg/m 3 . berbentuk empat persegi panjang (Anonim. Kurungan apung untuk pemeliharaan induk berukuran 3 x 3 x 3 m3.7. Bak penetasan sekaligus juga merupakan bak pemeliharaan larva yang berukuran 4 x 1 x 1 m 3 terbuat dari beton. 2010).7. (Anonim.5 . Diluar pemijahan ikan. .Sarana Pembenihan 1. kadar garam.2. (Anonim. 3. 2. sedangkan pada musim pemijahan diturunkan menjadi 1%. Disamping itu diberikan pula vitamin E dengan dosis 10 . Bak pemijahan dengan kapasitas 100 ton. Teknik pemijahan dengan manipulasi lingkungan ini dikembangkan berdasarkan pemijahan ikan kerapu di alam. pada saat bulan terang atau bulan gelap. yaitu dengan rangsangan atau kejutan faktor-faktor lingkungan seperti suhu.3.7. 2. 2.1. takaran pakan yang diberikan sebesar 3 5% dari total berat badan ikan/hari. kedalaman air dan lain-lain. 2010).Metode Metode yang digunakan adalah manipulasi lingkungan.

Kematangannya kelamin induk betina diketahui dengan cara kanulasi. Induk kerapu matang kelamin dipindahkan ke bak pemijahan yang sebelumnya telah diisi air laut bersih dengan ketingian 1. 2. 2010).7. . Takaran yang diberikan adalah : Hormon testosteron 2 mg/kg induk Multivitamin 10 mg/kg induk. (Anonim. Ada kenyataannya lebih banyak ditemui ikan kerapu jantan atau mempercepat perubahan kelamin dari betina ke jantan dapat dipacu/dirangsang dengan hormon testosteron. Pemijahan 1. Pemberian hormon testosteron dilakukan secara oral melalui makan setiap minggu.5. diikuti dengan penambahan multivitamin. 2.7.6. yaitu pada kehidupan awal belum ditentukan jenis kelaminnya.5 m dan salinitas + 32 ‰.7. garis tengah (diameter) telur diatas 450 mikron. Telur yang diperoleh diamati untuk mengetahui tingkat kematangannya. Sel kelamin betina berubah menjadi sel kelamin jantan pada umur 4 tahun dengan panjang tubuh sekitar 70 cm dan berat 11 kg.2. yaitu memasukkan selang plastik ke dalam lubang kelamin ikan. kemudian dihisap.Seleksi Induk Kematangan kelamin induk jantan ikan kerapu diketahui dengan cara mengurut bagian perut ikan (stripping) ke arah awal sperma yang keluar warna putih susu dan jumlahnya banyak diamati untuk menentukan kualitasnya.4.Sex reversal Kerapu termasuk ikan yang "hermaprodit protogyni". (Anonim. 2010). Sel kelamin betina terbentuk setelah berumur 2 tahun dengan panjang 50 cm dan berat 5 kg.

24.bak pemeliharaan larva.2.000 .7.200. Rangsangan hormonal induk kerapu matang kelamin disuntik dengan hormon Human Chorionic Gonadotropin (HCG) dan Puberogen untuk merangsang terjadinya pemijahan. Manipulasi lingkungan dilakukan menjelang bulan gelap yaitu dengan cara menaikkan dan menurunkan permukaan/tinggi air setiap hari selama 5-7 jam.00 . Takaran hormon yang diberikan : o o HCG 1.2. Pengamatan pemijahan ikan dilakukan setiap hari setelah senja sampai malam hari. perlu dipersiapkan dahulu dengan .7. 2. 2010) bak yang dipergunakan untuk penetasan telur sekaligus juga merupakan bak pemeliharaan larva.5 m). terbuat dari beton.000 butir.00 WIB. dan apabila induk telah memijah harus segera dipindahkan ke tangki yang lain. Telur yang telah dibuahi berjumlah lebih kurang 1. (Anonim. 2010). Pemijahan umumnya terjadi pada malam hari antara jam 22. Perlakuan ini dilakukan terus menerus sampai induk memijah secara alami.000 IU/kg induk Puberogen 150 . 3. Penetasan telur Menurut (Anonim. 5. Ikan Kerapu Tikus selama bertelur induk tidak boleh di beri pakan. telur segera dipanen dan dipindahkan ke bak penetasan. Setelah 7 jam permukaan air dikembangkan ke possisi semula (tinggi air 1. berbentuk empat persegi panjang dengan ukuran 4 x 1 x 1 m³ .225 RU/kg induk 4. Tiga hari sebelum bak penetasan/bak pemeliharaan larva digunakan. Bila diketahui telah terjadi pemijahan.

cara dibersihkan dan dicuci hamakan memakai larutan chlorine (Na OCI) 50 - 100 ppm. Setelah itu dinetralkan dengan penambahan larutan Natrium thiosulfat sampai bau yang ditimbulkan oleh chlorine hilang. Air laut dengan kadar garam 32 ‰ dimasukkan ke dalam bak, satu hari sebelum larva dimasukkan dengan maksud agar suhu badan stabil berkisar antara 27 - 28°C. Sebelum telur ditetaskan perlu direndam dalam larutan 1 - 5 ppm acriflavin untuk mencegah serangan bakteri. Telur hasil pemijahan dikumpulkan dengan sistim air mengalir. Telur yang dibuahi akan mengapung dipermukaan air dan berwarna jernih (transparan). Telur akan menetas dalam waktu 18 - 22 jam setelah pemijahan pada suhu 27 - 28°C dan kadar garam 30 - 32 ‰. Telur yang telah dibuahi berjumlah lebih kurang 1.200.000 butir. Jumlah telur diperkirakan hanya 30% saja yang dibuahi (Suria D, 2002). Telur yang telah dibuahi tidak berwarna (transparan) sedangkan yang tidak dibuahi dan yang mati berwarna putih susu. 2.7.8 Pemeliharaan Larva Larva kerapu yang baru menetas mempunyai cadangan makanan berupa kuning telur. Pakan ini akan dimanfaatkan sampai hari ke 2 (D2) setelah menetas dan selama kurun waktu tersebut larva tidak memerlukan dari luar. Umur 3 hari (D3) kuning telur mulai terserap habis, perlu segera diberi pakan dari luar berupa Rotifera Brachionus Plicatilis dengan kepadatan 1 - 3 ekor/ml. Disamping itu ditambahkan pula Chlorella sp dengan kepadatan antara 50.000-100.000 sel/ml. Pemberian pakan ini sampai larva berumur 16 hari (D16). Pada hari kesembilan (D9) mulai diberi pakan naupli artemia yang baru menetas dengan kepadatan 0,25

- 0,75 ekor/ml media. Pemberian pakan naupli artemia ini dilakukan sampai larva berumur 25 hari (D25) dengan peningkatan kepadatan hingga mencapai 2 - 5 ekor/ml media. Disamping itu pada hari ke tujuh belas (D17) larva mulai diberi pakan Artemia yang telah berumur 1 hari, kemudian secara bertahap pakan yang diberikan diubah dari Artemia umur 1 hari ke Artemia setengah dewasa dan akhirnya dewasa sampai larva berumur 50 hari (Anonim, 2010).

2.8 Parameter Kualitas Air Pemeliharaan Lokasi budidaya yang ideal, selain pertimbangan umum di atas, juga harus memenuhi persyaratan-persyaratan kualitas airnya. Faktor kualitas air yang perlu diperhatikan untuk pemeliharaan pembenihan Kerapu tikus meliputi sifat fisika : Suhu dan Kecerahan, dan kimia meliputi : pH, DO dan Salinitas. Pemenuhan akan kebutuhan air harus diupayakan agar produksi benih ikan laut yang berkualitas, dalam jumlah yang cukup, dan kontunu dapat berhasil (Ghufran, M dan Andi Tamsil. 2010). 2.8.1 Suhu Suhu mempengaruhi aktivitas metabolisme organisme, karena itu penyebaran organisme baik di lautan maupun di perairan air tawar dibatasi oleh suhu perairan tersebut. Secara umum laju pertumbuhan meningkat sejalan dengan kenaikan suhu, dapat menekan kehidupan biota bahkan dapat menyebabkan kematian bila peningkatan suhu sampai ekstrem (drastis) (Kordi, 2005). Suhu optimal untuk pertumbuhan kerapu tikus adalah 27oC-32oC (Octopus, 2008).

2.8.2 Kecerahan Perairan yang memiliki tingkat kecerahan sangat tinggi dapat menembus ke dasar perairan adalah indikator yang perairannya cukup jernih dan sangat baik untuk digunakan sebagai lokasi pembesaran. Kecerahan perairan yang sangat cocok untuk pembesaran kerapu bebek adalah lebih dari 2 meter, artinya secara visual dapat dilihat benda-benda di dalam air yang kedalamannya hingga lebih dari 2 meter (Octopus, 2008). 2.8.3 Derajat Keasaman (pH) Pada pH air dapat mempengarui tingkat kesuburan perairan karena mempengaruhi kehidupan jasad renik. Perairan asam akan kurang produktif, malah dapat membunuh ikan. Pada saat pH rendah kandungan oksigen terlarut akan berkurang, sebagai akibatnya konsumsi oksigen menurun, aktifitas pernapasan naik dan selera makan akan berkurang (Kordi, 2005). Kerapu tikus sangat baik bila dipelihara pada air laut dengan pH 7-9. 2.8.4 Oksigen Terlarut (DO) Konsentrasi oksigen dalam air dapat berpengaruh terhadap pertumbuhan dan konversi pakan. Konsentrasi oksigen terlarut merupakan salah satu faktor yang membatasi bagi ikan yang dibudidayakan, karena sangat diperlukan untuk kehidupan ikan. Pertumbuhan ikan-ikan laut, kandungan oksigen terlarut dalam air minimal 4 ppm, sedangkan kandungan optimum antara 5-6 ppm (Kordi, 2005), menambahkan bahwa ikan Kerapu tikus dan macan dapat hidup optimal pada konsentrasi oksigen lebih dari 5 ppm.

Karena itu. kemudian dioksidasikan menjadi nitrit dan nitrat.8.5 Salinitas Lokasi yang berdekatan dengan muara tidak dianjurkan karena terpengaruh oleh masuknya air tawar dari sungai sehingga salinitas dapat berubah dan akan mempengaruhi pertumbuhan dan nafsu makan ikan yang dipelihara. 2007). Hal ini akan mengakibatkan mikroba usus mengubah nitrat menjadi nitrit sebagai senyawa yang lebih berbahaya.dalam darah memicu terjadinya oksidasi Fe2+. pembentukan nitrit pada intestinum mempunyai arti klinis yang penting terhadap keracunan. 2008).6 Nitrit Nitrat (NO3-) dan nitrit (NO2-) adalah ion-ion anorganik alami. Konsentrasi nitrit maximum yang diperbolehkan dalam kegiatan budidaya ikan adalah < 0.8. Salinitas yang ideal untuk pembesaran ikan Kerapu tikus adalah 30-33 ppt (Octopus. maka banyaknya zat makanan akan menghambat absorbsi dari kedua zat ini dan baru akan diabsorbsi di traktus digestivus bagian bawah. 2. yang merupakan bagian dari siklus nitrogen. yang menyebabkan kemampuan hemoglobil darah untuk mengikat oksigen rendah. Apabila nitrat dan nitrit yang masuk bersamaan dengan makanan.2. NO2.06 mg/l (Wahyudhy H. Aktifitas mikroba di tanah atau air menguraikan sampah yang mengandung nitrogen organik pertama-pertama menjadi ammonia. .

Mn. persediaan pakan berupa jasad pakan dan pakan buatan yang nantinya diberikan kepada larva harus siap dalam jumlah dan mutu gizinya.9. Salinitas air laut yang diharapkan adalah 2528 ppt.1 Nannochloropsis oculata Domain Kingdom Phylum Class Genus Spesies : Eukaryota : Chomalveolata : Heterokontophyta : Eustigmatophyceae : Nannochloropsis : Nannochloropsis oculata Membudidaya Chlorella dapat diambil langsung dari tambak budidaya. Zn. P. artemia. 2002).9 Penyediaan Pakan untuk Pemeliharaan Larva Sebelum mengawinkan ikan. rotifera (Branchionus sp) yang dipeoleh dari usaha kultur massal (Pramu S dan Mustahal. dengan mengatur rasio N/P supaya Nannochloropsis dapat mendominasi yang lainnya.5 liter-1 liter air yang akan disiapkan sebagai media tumbuh plankton sebelumnya disterilkan terlebih dahulu dengan menggunakan klorine kemudian air laut di biarkan selama 3-5 hari sampai residu klorine hilang. Jasad pakan untuk keperluan ini meliputi alga (Nannochloropsis oculata).2. Jasad pakan merupakan faktor penentu dalam keberhasilan pemeliharaan larva. selanjutnya ditambah pupuk cair sebanyak 1 ml/lt. S. S dan . pupuk yang digunakan harus mengandung unsur hara yang dibutuhkan seperti N. 2. K dan Mg sebagai unsure hara makro serta unsure hara mikro Fe. Air laut tersebut kemudian dimasukkan kedalam botol-botol yang telah disiapkan. Budidaya plankton dilakukan pada botol dengan volume 0.

. tetapi tidak dapat dicerna oleh larva (Siregar. Jangka waktu penetasan tergantung pada asal produk kista artemia. Selanjutnya. Baru setelah itu kumpulan nauplii artemia yang tampak hidup atau bergerak disipon sambil disarin dan dicuci. Kista-kista yang tidak menetas sebaiknya tidak dicampur dengan nauplii karena bila diberikan sebagai pakan larva maka kista akan termakan. Ukuran panjang nauplius artemia yang baru ditetaskan sekitar 200-300 atau tergantung pada strainnya.sebagainya.9. Pemisahan nauplius artemia dari cangkang serta kista yang tidak menetas dilakukan dengan cara mengumpulkan nauplii dan kotoran lalu disaring dengan saringan 120µ. Setelah media siap bibit plankton dimsukkan 1/3 bagian dan siap dipanen 5-6 hari (Edhy W dkk. Aerasi dihentikan dan bagian bawah wadah diberi sinar agar nauplii mengumpul didasar. Abbas. Komposisi 5 gram kista artemia per liter cukup untuk menetaskan kista tersebut. 2. Penetasan kista dilakukan dengan menggunakan bak-bak kerucut yang berisi air laut dan dipasok aerasi kuat padatingkat 10-20 liter per menit. 1995). 2003). sedangkan kotoran akan mengapung.2 Artemia sp Kingdom Class Ordo Family Genus Spesies : Animalia : Crustacea : Anostraca : Artemidae : Artemia : Artemia sp Artemia dalam bentuk nauplius mudah diperoleh. nauplii dan kotoran dicuci dengan air laut dan dimasukkan ke dalam 15 menit. yaitu dengan cara menetaskan kistanya yang tersedia dipasar dalam bentuk kemasan kalengan.

Abbas.10 Pemberian Pakan Pada pemberian pakan perlu beberapa hal yang diperhatikan. Tubuh yaitu.9. Rotifer merupakan salah satu jenis rotifer yang biasa diproduksi secara massal. 1995).3 Rotifer Phyllum Kelas Ordo Famili Genus Spesies : Avertebrata : Eurotaria : Ploima : Brachionidae : Brachionus : Brachionus sp. seperti rasio pakan. Secara umum dikenal 2 metode kultur rotifera yaitu metode panen harian lebih praktis dan mudah sedangkan pada metode transfer diperlukan bak kultur yang lebih banyak. Siregar. dan kaki / ekor.Meskipun secara ekonomis kurang menguntungkan. . Branchionus memiliki kecepatan pertumbuhan dan reproduksi tinggi. badan. namun rotifera yang dihasilkan dari metode transfer lebih bersih. Organisme rotifer berbentuk simetris bilateral manyerupai piala. betina memproduksi 20 butir telur atau lebih selama 7-10 hari masa hidupnya. Kultur missal rotifera dilakukan pada bak volume 5-12 m3. Abbas (1995). 2. kepala. 2. Untuk tujuan ini dilakukan dengan memanipulasi lingkungan hidupnya agar artemia terpaksa melangsungkan perkembangbiakan secara ovipar uang menghasilkan telur (Siregar. Kultur dilakukan dalam ruang terbuka yang cukup mendapatkan cahaya matahari. Pada kondisi normal. tetapi secara teknis siste atermia dapat diproduksi secara massal dalam tempat (wadah) yang terkendali. frekuensi pemberian pakan dan waktu pemberian pakan.

11 Survival Rate Survival Rate atau SR adalah tingkat kelangsungan hidup. Pada ikan yang hidup di dasar perairan dan bergerak altif pada malam hari seperti ikan kerapu.200. 2009). waktu pemberian pakan biasanya dilakukan pagi dan sore hari (Salim. 2. 2. Jenis ikan/udang yang aktif bergerak memerlukan lebih banyak makanan dibandingkan jenis ikan yang bergerak pasif.10.1. pemberian pakan setiap dua hari sekali.sifat makan organisme yang dipelihara. Pada pemelihara ikan. 2009).3. rasio pemberian pakan kerapu 4 6% (Salim. dan apabila induk telah memijah harus segera dipindahkan ke tangki yang lain. Telur yang telah dibuahi berjumlah lebih kurang 1. Dari jumlah diperkirakan hanya 30% saja .10.2. Rasio pemberian pakan yang optimal ditentukan oleh jenis ikan yang dipelihara. 2. Rasio Pakan Rasio pemberian pakan harus tepat agar pakan yang di berikan dapat efisien dikonvesikan oleh ikan/udang sehingga kelangsungan hidup yang optimal. Waktu Pemberian Pakan Waktu pemberian pakan di sesuaikan dengan sifat. Pakan yang dimakan ikan kerapu telah dicerna 95% setelah 36 jam (Salim.000 butir.10. Frekuensi pemberian pakan yang optimal tergantung dari jenis ikan yang dipelihara. Ikan Kerapu Tikus selama bertelur induk tidak boleh di beri pakan. 2009). Frekuensi Pemberian Pakan Frekuensi pemberian pakan yang tepat akan menghasilkan pertumbuhan yang optimal dan penggunaan pakan yang efisien.2.

yang dibuahi.12 Penyakit Permasalahan penyakit yang paling banyak pada ikan bersirip (finfish) dijumpai pada budidaya ikan kerapu. sebaliknya telur yang tidak terbuahi akan tenggelam didasar tangki. rumus untuk mencari SR adalah (Jatilaksono. SR kerapu tikus 5% (Darwisito. . V anguillarum dan V fuscus. 2007): SR = Nt/No x 100% Keterangan : SR : Survival Rate Nt : Jumlah ikan akhir (saat pemanenan) No : Jumlah ikan awal (saat penebaran) 2. Diantara jenis bakteri tersebut bakteri V alginolyticus dan V fuscus merupakan jenis yang sangat patogen pada ikan kerapu tikus (Salim. 2009). Telur yang terbuahi melayang atau terapung pada salinitas 33 permil. Telur yang telah dibuahi tidak berwarna (transparan) sedangkan yang tidak dibuahi dan yang mati berwarna putih susu. yaitu Vibrio alginolyticus. Jenis penyakit bakterial yang ditemukan pada ikan kerapu. 2007). diantaranya adalah penyakit borok pangkal sirip ekor dan penyakit mulut merah. V algosus. Hasil isolasi dan identifikasi bakteri ditemukan beberapa jenis bakteri yang diduga berkaitan erat dengan kasus penyakit bakterial.

2. motil. 2009). bentuk batang.12.2.8-1.1. fermentasi glukosa. laktosa.2009).3. Pada uji patogenisitas ikan kerapu tikus ukuran 5 gram yang diinfeksi bakteri dengan kepadatan tinggi hingga 108 CFU/ikan hanya mengakibatkan mortalitas 20%.12. Kematian masal pada benih diduga disebabkan oleh infeksi bakteri V alginolyticus. Penumbuhan bakteri pada media selektif TCBS akan didapatkan koloni yang kekuningan dengan ukuran yang hampir sama dengan koloni V alginolyticus akan tetapi bakteri ini tidak tumbuh swarm pada media padat non-selektif seperti NA (Salim. eritromisina dan oksitetrasiklin. V anguillarum merupakan spesies yang kurang patogen terhadap ikan air payau. 2.Vibrio anguillarum Dibandingkan dengan V alginolyticus. membentuk kolom berukuran 0. Diagnosis penyakit dapat dilakukan dengan melakukan isolasi dan identifikasi bakteri. dengan tanda ikan yang tersering terlihat bercak putih.12.Cryptocaryonosis Penyakit ini sering ditemukan pada ikan kerapu bebek dan macan. Ciri lain adalah gram negatif. Bakteri ini merupakan jenis bakteri yang paling patogen pada ikan kerapu tikus dibandingkan jenis bakteri lainnya. Sifat lain yang tidak kalah penting adalah sifat proteolitik yang berkaitan dengan mekanisme infeksi bakteri (Salim. sukrosa dan maltosa. Pengendalian penyakit dapat dilakukan dengan penggunaan berbagai jenis antibiotika seperti Chloramfenikol.Vibrio alginolyticus Vibrio alginolyticus dicirikan dengan pertumbuhannya yang bersifat swarm pada media padat non selektif. Stadia parasit yang menginfeksi .2.2 cm yang berwarna kuning pada media TCBS.

Erosi (borok) dapat terjadi karena infeksi sekunder dari bakteri.3-0. kadang disertai dengan hemoragi. mengakibatkan seringkali timbul luka.Infestasi Trichodina sp Penempelan Trichodina pada tubuh ikan sebenarnya hanya sebagai tempat pelekatan (substrat). Tetapi karena pelekatan yang kuat dan terdapatnya kait pada cakram. dan dilengkapi dengan silia. kehilangan nafsu makan sehingga ikan menjadi kurus. Trichodina yang merupakan . Pada kondisi ini maka Trichodina merupakan ektoparasit sejati. 2009). sementara parasit ini mengambil partikel organik dan bakteri yang menempel di kulit ikan.5 mm. mengerok dari lendir. terutama pada benih dan ikan muda. Pelekatan pada insang juga seringkali disertai luka dan sering ditemukan set darah merah dalam vakuola makanan Trichodina. bercak putih pada kulit.12. perendaman ikan dalam air bersalinitas 8 ppt selama beberapa jam dan memindahkan ikan yang sudah diperlakukan ke dalam wadah baru bebas parasit (Salim. Serangan penyakit dapat diatasi dengan penjagaan kualitas air. Perlakuan bahan kimia pengendali parasit dapat dilakukan seperti perendaman dalam larutan formalin 25 ppm. Tanda klinis ikan yang terserang adalah ikan seperti ada gangguan pernafasan. produksi mukus yang berlebihan.ikan dan menimbulkan penyakit adalah disebut trophont berbentuk seperti kantong atau genta berukuran antara 0. 2.Diagnosis dapat dilakukan dengan melihat gejala seperti adanya bercak putih.4. tetapi untuk lebih memantapkan (diagnosis definitif) perlu dilakukan pengamatan secara mikroskopis dengan cara memotong insang.

Trichodina spp. Timbulnya luka akan diikuti dengan infeksi bakteri Caligus sp. Penempelan ektoparasit ini dapat menimbulkan luka. dan akan lebih parah lagi karena ikan yang terinfeksi dengan parasit sering menggosok-gosokkan tubuhnya ke dinding bak atau substrat keras lainnya. 2009).5.ektoparasit pada ikan air laut mempakan spesies yang bersifat sebetulnya lebih bersifat komensal daripada ektoparasit (Salim. karena mewabahnya penyakit berkaitan dengan rendahnya kualitas lingkungan. contohnya adalah Trichodinella. 2. produksi lendir yang berlebihan dan terlihat kurus. Diagnosis dapat dilakukan dengan cara melakukan pengerokan (scraping) pada kulit. Perlakuan terhadap ikan yang terinfeksi oleh parasit adalah dengan cara perendaman dalam larutan formalin 200-300 ppm (Salim. Trichodina yang menempel di insang umunmya berukuran lebih kecil dibandingkan yang hidup di kulit.Caligus sp parasit golongan Crustacea Parasit jenis ini sering. yang didapatkan pada ikan air payau merupakan spesies yang memiliki toleransi yang luas terhadap kisaran salinitas. Ikan yang terserang Trichodina biasanya warna tubuhnya terlihat pucat. ditemukan baik pada induk ikan maupun di tambak. Perlakuan ikan terserang parasit cukup mudah. yaitu hanya merendamnya dalam air tawar selama beberapa menit. atau mengambil lembaran insang dan melakukan pemeriksaan secara mikroskopis. Perlakuan .12.2009).Pencegahan terhadap wabah penyakit adalah dengan cara pengendalian kualitas lingkungan. berukuran cukup besar sehingga dapat diamati dengan tanpa bantuan mikroskop.

VNN merupakan virus yang mematikan. . Virus lain yang menyerang ikan laut adalah Nodavirus. 2010). baik iridovirus maupun nodavirus.12. sehingga ikan yang terserang penyakit ini sebaiknya dimusnahkan agar tidak menular ke ikan lain (Khordi. 2010). 2009). menimbulkan tonjolan pada daerah sirip atau kulit (nodul)yang dapat terjadi secara sata-satu atau kelompok.6 Virus Jenis viral atau virus yang telah teridentifikasi menyerang ikan laut adalah Iridovirus/ DNA. terutama menyerang larva dan juwana ikan laut (Khordi.dengan formalin 200-250 ppm juga cukup efektif. 2. Penggunaan bahan seperti Triclorvon (Dyvon 95 SP) hingga 2 ppm dapat mematikan parasit (Salim. yaitu virus penyebab VNN (Viral Nervous Necrosis). Hingga kini belum ditemukan obat yang efektif untuk mengatasi virus. Virus ini menyebabkan hypertrophy(penebalan) dari sel-sel jaringan ikan.

2 Metode Kerja Metode yang digunakan dalam praktek kerja lapang ini adalah metode deskriptif.3. yaitu metode yang menggambarkan keadaan atau kejadian pada suatu daerah tertentu. Kecamatan Panarukan. 3. Propinsi Jawa Timur (Lampiran 1).3 Metode Pengumpulan Data Data yang diambil dalam Praktek Kerja Lapangan ini berupa data primer dan data sekunder yang yang diperoleh melalui beberapa metode atau cara atau cara pengambilan. Suryabrata (1993) mengatakan bahwa metode deskriptif adalah metode untuk membuat pencandraan secara sistematis. diamati dan dicatat untuk pertama kalinya melalui prosedur dan teknik . Kabupaten Situbondo. 3. Kegiatan ini dilaksanakan mulai pertengahan 19 Juli – 31 Agustus 2010. faktual dan akurat mengenai fakta-fakta dan sifat-sifat populasi atau daerah tertentu. 3.III PELAKSANAAN 3.1 Tempat dan Waktu Praktek kerja lapang ini akan dilaksanakan di Balai Budidaya Air Payau terletak di Desa Pecaron.1 Data Primer Data Primer merupakan data yang diperoleh langsung dari sumbernya.

1998) Patton dalam Poerwandari (1998) menjelaskan pedoman wawancara digunakan untuk mengingatkan interviewer mengenai aspek-aspek apa yang harus . Wawancara Wawancara merupakan cara mengumpulkan data dengan cara tanya jawab sepihak yang dikerjakan secara sistematis dan berlandaskan pada tujuan penelitian.pengambilan data yang berupa interview. observasi. pengisian media. Pada Praktek Kerja Lapang ini wawancara akan dilakukan dengan menggunakan pedoman wawancara. Observasi Observasi atau pengamatan secara langsung adalah pengambilan data dengan menggunakan indera mata tanpa ada pertolongan alat standart lain untuk keperluan tersebut (Nazir. A. Wawancara memerlukan komunikasi yang baik dan lancar antara peneliti dengan subyek sehingga pada akhirnya bisa didapatkan data yang dapat dipertanggungjawabkan secara keseluruhan (Nazir. B. 1998). pemeliharaan dan pemanenan. Observasi pada Praktek Kerja Lapang ini dilakukan terhadap berbagai hal yang berhubungan dengan kegiatan pembenihan meliputi persiapan alat dan wadah budidaya. 1988). pembuatan pupuk. bahkan mungkin tidak terbentuk pertanyaan yang eksplisit (Patton. partisipasi aktif maupun memakai instrumen pengukuran yang khusus sesuai tujuan (Azwar. 1998). interview dilengkapi pedoman wawancara yang sangat umum serta mencantumkan isu-isu yang harus diliput tanpa menentukan urutan pertanyaan. Dalam proses wawancara dengan menggunakan pedoman umum wawancara ini. penebaran bibit.

Dengan pedoman demikian interviwer harus memikirkan bagaimana pertanyaan tersebut akan dijabarkan secara kongkrit dalam kalimat tanya. dinas perikanan. 3. Partisipasi Aktif Partisipasi aktif adalah keterlibatan dalam suatu kegiatan yang dilakukan secara langsung di lapangan (Nazir. lembaga penelitian.3. Kegiatan yang dilakukan adalah pembenihan ikan Kerapu Tikus. . C. penebaran bibit. Kegiatan tersebut diikuti secara langsung mulai dari persiapan alat dan wadah budidaya. sekaligus menyesuaikan pertanyaan dengan konteks aktual saat wawancara berlangsung. laporan-laporan pihak swasta. 1988). masyarakat dan pihak lain yang berhubungan dengan usaha pembenihan ikan Kerapu Tikus.1998). pengisian media. Data ini dapat diperoleh dari data dokumentasi.dibahas. pustaka-pustaka. pemeliharaan dan pemanenan serta kegiatan lainnya yang yang berkaitan dengan Praktek Kerja Lapang yang dilakukan.2 Data Sekunder Data sekunder adalah data yang diperoleh dari sumber tidak langsung dan telah dikumpulkan serta dilaporkan oleh orang diluar dari penelitian itu sendiri (Azwar. juga menjadi daftar pengecek (check list) apakah aspek-aspek relevan tersebut telah dibahas atau ditanyakan.

Sub Senter Udang Windu ini kemudian melepaskan diri dari Balai Budidaya Air Payau Jepara dan berganti nama menjadi Loka Balai Budidaya Air Payau Situbondo yang ditetapkan pada tanggal 18 April 1994 melalui Surat Keputusan Menteri Pertanian Nomor: 264/Kpts/OT. Kecamatan Mlandingan.1. Kabupaten Situbondo dan merupakan cabang dari BBAP Jepara.1 Sejarah Berdirinya Balai Budidaya Air Payau Situbondo didirikan pada tahun 1986.1 Keadaan Umum Lokasi Praktek Kerja Lapang 4. maka pada tanggal 1 Mei 2001 status Loka Balai Budidaya Air Payau dinaikkan menjadi Balai Budidaya Air Payau . Departemen Pertanian. Dengan beban tugas dan tanggung jawab yang semakin berat. Loka Balai Budidaya Air Payau Situbondo merupakan Unit Pelaksana Teknis (UPT) Direktorat Jenderal Perikanan di bidang pengembangan produksi budidaya perikanan air payau yang berada di bawah dan bertanggung jawab kepada Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya. Sub Senter Udang Windu ini terletak di Desa Blitok. Loka Balai Budidaya Air Payau Situbondo terdiri dari tiga divisi meliputi divisi ikan.210/4/94. divisi udang dan divisi budidaya. Pada awalnya balai ini bernama Proyek Sub Senter Udang Windu Jawa Timur yang pada saat itu masih berupa fasilitas pemeliharaan benur udang windu di bawah naungan Direktorat Jenderal Perikanan. Jawa Tengah.IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.

Lokasi Balai Budidaya Air Payau (BBAP) Situbondo ini berbatasan dengan: a. Divisi ikan terletak di Dusun Pecaron. Kecamatan Kendit. 2.39 Ha. BBAP ini terdiri dari 3 divisi yaitu : divisi udang. KEP. Kabupaten Situbondo yang merupakan kantor utama dengan luas areal 4. b. Panarukan Situbondo. dan divisi budidaya. 4.2 Letak dan Keadaan Lokasi Balai Budidaya Air Payau (BBAP) Situbondo teletak di jalan raya Pecaron. Divisi budidaya terletak di Desa Pulokerto Kecamatan Kraton Kabupaten Pasuruan dengan luas areal 30 Ha yang merupakan areal untuk produksi rumput laut Glacilaria.1. Divisi udang terletak di 3 lokasi yang berbeda yaitu : 1. Sebelah Barat berbatasan dengan usaha pembenihan Kelola Benih Ungul (KBU) dan pemukiman penduduk. 260/MEN/2001. Jawa Timur. . Unit Blitok. Sebelah Utara berbatasan dengan Selat Madura. 3. Central Pertiwi Bahari (CPB).45 Ha. divisi ikan. Desa Klatakan. Kecamatan Mlandingan sekitar 10 Km ke arah Barat dari kantor utama dengan luas areal 1. Sebelah Timur berbatasan dengan hatchery udang milik PT.Situbondo berdasarkan Surat Keputusan Menteri Perikanan dan Kelautan No. udang. dan ikan bandeng. Unit Gelung yang terletak di desa Gelung Kecamatan Panarukan sekitar 25 Km ke arah Timur dari kantor utama dengan luas areal 8 Ha. c. Unit Tuban yang terletak di Kabupaten Tuban dengan luas areal 7 Ha.

d. Kepala Balai Budidaya Air Payau (BBAP) Situbondo Kepala BBAP Situbondo memiliki tugas dan wewenang seperti : merumuskan kegiatan. Seksi Pelayan Teknis 5.3 Struktur Organisasi Berdasarkan Surat Keputusan Mentri Kelautan dan Perikanan RI. mengkoordinasi dan mengarahkan tugas penerapan teknik pembenihan dan pembudidayaan ikan air payau maupun laut serta pelestarian sumber daya induk atau benih sesuai dengan prosedur dan peraturan yang berlaku untuk kelancaran pelaksanaan kegiatan. BBAP Situbondo terletak pada 113o55’66”BT-114”BT dan 07o41’32” LS-07o42’35”LS. Secara geografis.Kep. Sebelah Selatan berbatasan dengan pemukiman desa Klatakan. Kepala Bagian Tata Usaha 3. .260/MEM/2001 tentang organisasi dan tata kerja BBAP Situbondo. Peta wilayah kabupaten Situbondo. BBAP Situbondo berada di tepi pantai utara Pulau Jawa dan lokasi ini dipengaruhi oleh dua musim. Kepala Balai Budidaya Air Payau (BBAP) Situbondo 2. No. yaitu musim penghujan (November-Maret) dan musim kemarau (April-Oktober). Kelompok Jabatan Fungsional Susunan organisasi BBAP Situbondo secara lengkap dapat dilihat pada gambar 1 dengan uraian tugas sebagai berikut: 1. Seksi Standarisasi dan Informasi 4.1. terdiri dari: 1. 4. Jawa Timur dapat dilihat pada lampiran.

Seksi Standarisasi dan Informasi Seksi standarisasi dan informasi mempunyai tugas menyiapkan bahan standar teknik dan pengawasan pembenihan dan budidaya ikan air payau dan laut. Kepala bagian tata usaha Kepala bagian tata usaha bertugas melakukan administrasi keuangan. . budidaya dan penyuluhan. perlengkapan. Seksi Pelayaan Teknik Seksi pelayanan teknik bertugas melakukan pelayanan teknik kegiatan pengembangan. sumber daya induk dan benih. 4. persuratan. serta kegiatan lain yang sesuai dengan tugas masing-masing jabatan fungsional berdasarkan peraturan perundangundangan yang berlaku. pengendalian hama dan penyakit ikan. 3. penerapan serta pengawasan teknik pembenihan dan budidaya ikan air payau dan laut. 5. Kelompok Jabatan Fungsional Kelompok jabatan fungsional bertugas melaksanakan kegiatan perekayasaan.2. serta pengelolahan jaringan informasi dan perpustakaan. dan rumah tangga BBAP Situbondo serta pelaporan. pengujian. pengendalian hama dan penyakit serta lingkungan. penerapan dan bimbingan penerapan standar/sertifikasi pembenihan dan pembudidayaan ikan air payau dan laut. kepegawaian.

. Sarana Budidaya Sarana budidaya merupakan factor utama yang mendukung kegiatan pembenihan sehingga perlu diperhatikan bentuk dan posisisnya. Dukungan Sumberdaya Manusia di BBAP Situbondo. No Klasifikasi Kualifikasi 1 Tingkat pendidikan Master (S2) Sarjana (S1) Lainnya Jumlah 2 Fungsional Perekayasa Litkayasa Pengawas Pranata Humas Umum Lainnya Jumlah Jumlah (orang) 10 45 88 143 17 16 27 3 26 54 143 4.4 Kepegawaian Dalam melakukan tugasnya Balai Budidaya Air Payau Situbondo didukung sumberdaya manusia sebanyak 143 orang karyawan berstatus pegawai negeri sipil dengan berbagai tingkat pendidikan. pemeliharaan larva.2. Tabel 1. kultur mikroalga. penetasan telur.2 Sarana dan Prasarana Umum BBAP Situbondo 4.1. dan wadah inkubasi telur yang berbentuk akuarium kaca. wadah pemeliharaan induk. Tabel berikut memperlihatkan dukungan sumberdaya manusia di BBAP Situbondo. kultur rotifer.4. Sarana Budidaya yang digunakan di Balai Budidaya Air Payau Situbondo untuk kegiatan pembenihan meliputi wadah tandon air yang terbuat dari beton.1 Sarana Umum A. pemeliharaan benih.

875 m Penetasan Telur 0.Tabel 2. t = 3 m 0.35 m 4.2 m x 2.2 m x 4.1668 m Pemeliharaan dan Pemijahan Induk Kerapu Bawal Bintang Bandeng Akuarium Bak Pemeliharaan Larva Pemeliharaan Benih Beton Beton Beton Kaca Beton Beton Beton Lingkaran Lingkaran Lingkaran Persegi Persegi Persegi Persegi d = 10 m. Sand filter di BBAP Situbondo tersusun dari bawah ke atas berupa batu kali.5 m 3 4 unit 10 unit 8 unit 1 unit 8 unit 5 unit 21 m3 39.5 m 3 3 3 Kultur Pakan Alami Rotifer Chlorella Beton Beton Beton Beton Bak Karantina Egg Collector Beton PVC Persegi Persegi Persegi Lingkaran Persegi Persegi 2 m x 5 m x 1. ijuk.25 m 2 m x 5 m x 1. kerikil.25 m 2 m x 5 m x 1. t = 3 m d = 15 m.5 m x 0.5 m 5 m x 3 m x 1.25 m 2 m x 5 m x 1.5 m 3 3 3 877500 cm B.5 m 2 m x 5 m x 1. Air Laut Air laut merupakan faktor penting dalam kegiatan pembenihan.2 m x 4.25 m 135 cm x 50 cm x 130 cm 12. bungkusan arang. t = 3 m d = 10 m. t = 2 m 2 m x 5 m x 1.454 m 3 3 Jumlah 3 unit 5 unit 24. Sedangkan untuk mendistribusian air laut ke bak pembenihan dan bak kultur pakan alami. Air laut langsung dilarikan ke bak pemeliharaan induk melalui pipa saluran berupa pipa berdiameter 4 inchi. air laut tersebut terlebih dahulu disaring dengan menggunakan saringna fisik atau sand filter ukuran 225 cm x 100 cm x 100 cm.5 m 12. Suplai air di BBAP Situbondo berasal dari selat Madura. yang berjarak 200 m dari balai. waring dan .37 m Volume 41.5 m 12.5 m 3 3 4 unit 1 unit 2 unit 5 unit 24 unit 24 unit 24 unit 529. Sarana Budidaya Di BBAP Situbondo Bak/Wadah Tandon Bak Filter Fisik Bahan Beton Beton Bentuk Persegi Persegi Dimensi 4.25 m 12.125 m3 12. Pengambilan air laut menggunakan pipa berdiameter 8 inchi yang bagian ujungnya dilengkapi dengan filter hisap dan dihubungkan langsung dengan pompa electromotor berkapasitas 21 PK.4 m d = 5 m.5 m3 235.5 m3 12.2 m x 1.5 m x 0.25 m 235.

Udara dari blower dialirkan langsung dengan menggunakan pipa PVC ukuran 3 inchi dan 1 inchi dengan sistem tertutup yang dilengkapi dengan . maka air akan terbebas dari kotoran air yang berukuran besar. Antara kedua tandon tersebut hanya dipisah dengan dinding beton. kantor.5 PK melalui pipa yang berdiameter 4 inchi. Air tersebut dipompa. lalu ditampung dalam tandon dengan ketinggian 3 m dari permukaan tanah ke unit pembenihan. perumahan karyawan. akuarium inkubasi telur dan bak kultur pakan alami.pasir. Setelah air melewati saringan tersebut. Air yang telah melalui tahap penyaringan dipompa ke tendon air laut pada ketinggian 2 m di atas permukaan tanah menggunakan pompa yang berkapasitas 7. Air Tawar Penyediaan air tawar digunakan untuk kebutuhan kegiatan pembenihan. air minum. dan asrama. D. Tandon air laut untuk pembenihan timur terdapat di bagian belakang pembenihan yang menjadi satu dengan tandon air laut pembenihan tengah. laboratorium. Air dialirkan dengan sistem gravitasi sebab posisi tandon berada lebih tinggi dari bak-bak yang lainnya dan dibantu dengan menggunakan pompa. Tandon air laut inilah yang menjadi sumber air yag nantinya akan dialirkan ke bak-bak pembenihan. keperluan karyawan BBAP Situbondo dan asrama. Air tawar didapatkan dari 3 sumber sumur dengan kedalaman 10 m. Aerasi Ketersediaan oksigen di BBAP Situbondo disuplai dengan menggunakan high blower. C.

Tabel 3. laboratorium kesehatan ikan dan kualitas air. perpustakaan. Tabel 4. kantor tata usaha. batu aerasi dan pemberat yang terbuat dari timah agar selang aerasi berada di bawah permukaan air. Fasilitas Pendukung di BBAP Situbondo Uraian Spesifikasi Listrik PLN 60 KVA Genset 80 KVA Bangunan Kantor Kantor Utama (Kepala Balai) Kantor Tata Usaha Laboratorium Nutrisi dan Teknologi Pakan Jumlah 1 unit 1 unit 1 unit 1 unit 1 unit .selang aerasi. Bak karantina. pembenihan timur dan sebagian pembenihan tengah dan kultur pakan alami timur.2 Prasarana A. aula (auditorium). dan pembenihan tengah. Bangunan Jenis bangunan yang terdapat di BBAP Situbondo terdiri dari kantor utama. laboratorium nutrisi. Pembenihan barat.2. mushola. laboratorium pakan alami. ruang kuliah. 4. kultur pakan alami barat. Uraian dari fasilitas pendukung di BBAP Situbondo dapat dilihat pada tabel 5. dan perumahan untuk karyawan BBAP Situbondo. pos jaga. Distribusi Sistem Aerasi di BBAP Situbondo No Sumber Aerasi Spesifikasi 1 Blower Vortex Daya 7 PK Distribusi 2 Rood Blower Daya 5 PK 3 Blower Vortex Daya 7 PK Bak penggelondongan dan bak induk di pembenihan timur.

blower dan peralatan lainnya yang membutuhkan energi listrik. akan terdengar tanda dari sirine secara otomatis. Saat terjadi pemadaman listrik.Suzuki Future . BBAP Situbondo menyediakan generator set berdaya 80 KVA. generator set akan segera difungsikan untuk tetap mendukung suplai listrik bagi kegiatan budidaya. .Isuzu Panther . Tenaga Listrik Listrik merupakan komponen yang sangat vital untuk kegiatan budidaya. Energi listrik digunakan untuk penerangan. Setelah itu.Rumah Karyawan Rumah Genset Rumah Blower Asrama Bangsal Pakan Lainnya Kesehatan Ikan dan Lingkungan Pakan Alami Rumah Karyawan Rumah Tamu Genset dan Panel Listrik Blower Mahasiswa dan Peserta Magang Tempat Pembuatan Pakan Perpustakaan Aula (auditorium) Ruang Kuliah Alat Angkut (transportasi) . Sumber tenaga listrik di BBAP Situbondo berasal dari Perusahaan Listrik Negara (PLN) dengan daya 60 KVA. Sebagai antisipasi jika terjadi pemutusan arus listrik.Pick up L – 300 . menjalankan pompa.Toyota Kijang 1 unit 1 unit 1 unit 1 unit 1 unit 1 unit 1 unit 1 unit 1 unit 1 unit 1 unit 1 unit 1 unit 1 unit 1 unit B.

5 kg dan bobot induk jantan lebih dari 5 kg. (Anonim. BBAP Situbondo memiliki jumlah induk 65 ekor yang terdiri dari 17 ekor induk jantan dan 48 ekor induk betina. Induk-induk yang baru datang dikarantina dalam bak karantina selama 1-2 bulan untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan baru yang terdapat di BBAP Situbondo. takaran pakan yang diberikan sebesar 3 .4.15 mg/ekor/minggu.3 Teknik Pembenihan Kerapu Tikus 4.5% dari total berat badan ikan/hari. Untuk masa peralihan kelamin biasanya induk memiliki berat 3.5-5 kg.1 Persiapan Induk Induk ikan kerapu yang dipijahkan dipelihara di laut dalam kurungan apung dengan padat penebaran induk 7. Induk kerapu bebek Cromileptes altivelis yang dimiliki oeh BBAP Situbondo berasal dari alam dan hasil budidaya.5 . Sedangkan induk yang berasal dari budidaya didapatkan dari hasil budidaya (F1) yang dilakukan oleh balai.3. ikan kerapu memiliki sifat hemaprodit protogini yaitu pada tahap menuju perkembangan dewasa berjenis kelamin betina kemudian berubah menjadi jantan setelah tumbuh besar dan bertambah tua. Diluar pemijahan ikan. Induk jantan memiliki ukuran bobot yang lebih besar dibandingkan dengan induk betina. 2010). sedangkan pada musim pemijahan diturunkan menjadi 1%. Disamping itu diberikan pula vitamin E dengan dosis 10 . Bobot induk betina sebesar 1-3. Pakan yang diberikan berupa ikan rucah segar berkadar lemak rendah. Induk yang berasal dari alam didapatkan dari alam didapatkan dari hasil penangkapan para nelayan daerah perairan laut bali dan Lombok. .10 kg/m3 .

Tahap ini dilakukan untuk mendapatkan induk yang . Bak tersebut dibersihkan dari lumut-lumut yang menempel. Hal tersebut dilakukan dengan cara membuka outlet seluruhnya. bak disiram kembali dengan air tawar sampai bau kaporitnya hilang. induk yang akan memijah diseleksi terlebih dahulu dan diaklimatisasikan. Setelah ditangkap. Induk betina yang digunakan adalah yang berumur 1 – 2 tahun. induk tersebut dipelihara selama hingga menjadi indukan kerapu tikus yang siap memijah. sisa pakan. Setelah itu. Indukan tersebut ditangkap dengan menggunakan bubu. Bak tersebut dikeringkan selama 3 – 6 hari. Selanjutnya. Selang aerasi pun harus dicuci dengan menggunakan detergen lalu dibilas dan dipasang kembali. dan kotoran ikan dengan menggunakan sikat. sedangkan induk jantan yang telah berumur 3 tahun.Proses persiapan wadah indukan dilakukan dengan cara membuang semua air yang terdapat dalam bak induk. bagian atas bak dipasang jaring yang berbahan polyethylene yang disanggah dengan menggunakan tiang kayu.3. bak sudah dapat diisi kembali dengan air laut.5 – 2 kg yang dilarutkan dalam 25 liter air sebagai upaya desinfeksi wadah dan disikat kembali hingga benar-benar bersih.2 Seleksi Induk Induk kerapu tikus di BBAP Situbondo berasal dari hasil budidaya dan tangkapan alam yang ditangkap oleh nelayan. ataupun pancing. Tujuan dari pemasangan jaring ini adalah untuk menjaga agar induk tidak melompat keluar dari bak. 4. Setelah semua tahapan di atas selesai. Setelah bak tersebut bersih. Sebelum dilakukan penebaran. jaring. dinding-dinding bak disiram dengan kaporit 60% sebanyak 1.

dan 48 ekor betina. Jika terdapat telur. Jumlah induk yang terdapat di Balai Budidaya Air Payau Situbondo adalah 65 ekor. Proses aklimatisasi berakhir jika induk sudah mau makan dan benar-benar terbebas dari penyakit. maka induk tersebut adalah betina.berkualitas dan sudah dapat untuk dipijahkan. et al (2005). Ikan kerapu tikus merupakan hewan yang bersifat “protogynous hermaphrodite” yaitu pada awalnya berkelamin betina lalu berubah menjadi jantan dengan jangka waktu tertentu. . jika keluar sperma maka induk tersebut adalah jantan. sedangkan jika tidak keluar. Seleksi yang dilakukan adalah menentukan jenis kelamin induk agar rasio jantan dan betina dapat mendekati ideal. sedangkan induk jantan lebih dari 3 tahun. Perbedaan antara jantan dan betina dapat dibedakan dari umur. Induk yang telah diseleksi dan diaklimatisasi kemudian disatukan dalam wadah pemijahan. Induk betina kerapu tikus berumur 1 – 3 tahun. dan pemeriksaan alat kelamin. dapat dilakukan dengan kanulasi. Aklimatisasi induk dilakukan dengan cara memelihara induk pada wadah yang berbeda.5 kg dengan panjang tubuh lebih dari 40 cm. yang terdiri dari 17 ekor jantan.. berat badan. Tujuan aklimatisasi adalah untuk mengadaptasikan ikan pada wadah budidaya dan dilakukan pengobatan jika induk terserang penyakit sampai benar-benar sembuh. Induk betina umumnya mempunyai berat tubuh 1–2. Pemeriksaan dilakukan dengan cara menimbang berat badan induk. Pemeriksaan alat kelamin dilakukan dengan cara mengurut bagian perut ke arah anus. Menurut Cholik. Rasio jantan dan betina yang ideal adalah 1 : 2.

lemuru. Jenis ikan/udang yang aktif bergerak memerlukan lebih banyak makanan dibandingkan jenis ikan yang bergerak pasif. A. nelanak. garis tengah (diameter) telur diatas 450 mikron. (Menurut Danakusumah dan Imanishi. kemudian dihisap. induk kerapu tikus diberi pakan rucah berupa ikan segar dengan kandungan lemak rendah dan memiliki kadar protein yang tinggi (lebih dari 70%) seperti ikan layur. Untuk . dan cumi-cumi. rasio pemberian pakan kerapu 4 .Hal ini sependapat dengan Anonim (2010) yang menyatakan bahwa kematangan kelamin induk jantan ikan kerapu diketahui dengan cara mengurut bagian perut ikan (stripping) ke arah awal sperma yang keluar warna putih susu dan jumlahnya banyak diamati untuk menentukan kualitasnya. Rasio pemberian pakan harus tepat agar pakan yang di berikan dapat efisien dikonvesikan oleh ikan/udang sehingga kelangsungan hidup yang optimal. seperti rasio pakan. kembung tongkol. Telur yang diperoleh diamati untuk mengetahui tingkat kematangannya. Selama pemeliharaan ikan kerapu tikus di BBAP Situbondo. ekor kuning. Pakan tersebut didapatkan dari nelayan yang menangkap langsung di laut.1986). Kematangannya kelamin induk betina diketahui dengan cara kanulasi.6%. Pemberian Pakan Pada pemberian pakan perlu beberapa hal yang diperhatikan. yaitu memasukkan selang plastik ke dalam lubang kelamin ikan. frekuensi pemberian pakan dan waktu pemberian pakan. Rasio pemberian pakan yang optimal ditentukan oleh jenis ikan yang dipelihara.

hal ini bertujuan agar induk tidak jenuh dengan ikan yang diberikan.00 WIB dengan frekuensi pemberian pakan 1 kali sehari yang diberikan secara perlahan hingga induk kenyang.00-08. C dan E. bau amis pada ikan serta melepaskan ektoparasit yang menempel pada tubuh ikan. Proses pemberian vitamin adalah dengan cara memasukkan vitamin tersebut ke dalam daging ikan rucah. .mempertahankan kesegaran pakan. Vitamin E diberikan untuk mempercepat kematangan gonad induk. Tujuannya adalah untuk menjaga kesehatan ikan dan untuk mempercepat perkembangan dan kematangan gonad. Kemudian ikan dipotong-potong sesuai dengan ukuran bukaan mulut induk. pergantian jenis rucah yang diberikan juga bertujuan untuk menambah nafsu makan induk. Vitamin yang diberikan adalah vitamin B. Vitamin C berguna untuk meningkatkan daya tahan tubuh terhadap serangan penyakit. Cara memasukkannya adalah dengan menyayat tubuh ikan pada bagian bawah sirip dorsal ataupun pada bagian daging atas perut. Selain pakan ikan rucah. Pemberian vitamin B berguna untuk menambah nafsu makan ikan. Jadwal pemberian pakan dan vitamin dapat dilihat pada tabel 6. Setiap hari ikan rucah yang diberikan dibedakan jenisnya. Pemberian vitamin tersebut dilakukan selama dua kali seminggu. Pemberan dilakukan pada pagi hari sekitar pukul 07. Selain itu. pemberian vitamin juga dilakukan terhadap indukan kerapu tikus. Pakan yang akan diberikan pada induk terlebih dahulu direndam dalam air tawar untuk menghilangkan es. 50 mg/kg induk. Dosis vitamin tersebut masing-masing adalah 50 mg/kg induk. maka pakan tersebut disimpan di dalam freezer. dan 100 IU dengan merek dagang Natur E.

Setelah pemberian pakan di pagi hari. 2010). Pengelolaan Air Lokasi budidaya yang ideal. Pemenuhan akan kebutuhan air harus diupayakan agar produksi benih ikan laut yang berkualitas. juga harus memenuhi persyaratan-persyaratan kualitas airnya. dan kimia meliputi : pH. Faktor kualitas air yang perlu dipertimbangkan untuk pemeliharaan pembenihan Kerapu tikus meliputi sifat fisika : Suhu dan Kecerahan. Hal ini penting untuk menjaga kualitas air tetap baik. Setelah mencapai ketinggian tersebut. Selain itu kualitas air yang terjaga juga sangat menentukan proses pemijahan induk dan kualitas telur yang dihasilkan oleh induk. Sedangkan pembuangan air atas berfungsi sebagai pengatur ketinggian air pada bak dan untuk mengalirkan telur hasil pemijahan ke arah bak penampungan telur (egg collector). M dan Andi Tamsil. Oleh karena itu kualitas air sangat menentukan kelangsugan hidup ikan.B. Penggelontoran dilakukan dengan cara mendorong kotoran di dasar bak menggunakan sikat yang telah diberi kayu yang cukup panjang hingga mencapai dasar bak menuju pipa . selain pertimbangan umum di atas. dalam jumlah yang cukup. Pada bak induk terdapat dua buah outlet yaitu pembuangan air bawah dan pembuangan air atas. dan kontunu dapat berhasil (Ghufran. Pembuangan air bawah berfungsi sebagai pembuangan kotoran hasil metabolisme dan sisa-sisa pakan. dapat juga dilakukan penggelontoran pada bak induk. Pergantian air untuk indukan kerapu tikus dilakukan setiap hari. air di bak indukan diturunkan sampai ketinggian air mencapai 30 % dari volume bak. DO dan Salinitas. Di BBAP Situbondo sendiri air merupakan media utama bagi kehidupan ikan.

2009). C.outlet sehingga keluar bersama dengan air. Sirkulasi dengan cara ini dapat mengganti air sebanyak 200 – 300 % dari total volume bak. pipa outlet dipasang setengahnya.00 – 17. Setelah dilakukan penggelontoran atau hanya menurunkan air hingga 30 %. Bakteri dan virus menyerang ketika induk terdapat luka. yaitu Vibrio alginolyticus. warna kulit pucat. V anguillarum dan V fuscus. ikan akan cenderung mengosok-gosokan tubuhnya ke dinding bak dan berenang di permukaan air dengan tingkah laku bernafas dengan cepat dengan tutup insang . Virus yang sering menyerang adalah VNN (Viral Nervous Necrosis). Penggelontoran bak induk dilakukan setiap 4 – 6 hari sekali atau disesuaikan dengan kondisi bak. jamur. V algosus. Pada sore hari. Jenis parasit yang sering menyerang adalah Argulus sp. serta produksi lendir meningkat. pukul 16. bakteri. Pencegahan Hama dan Penyakit Permasalahan penyakit yang paling banyak pada ikan bersirip (finfish) dijumpai pada budidaya ikan kerapu.00 WIB pipa outlet dipasang seluruhnya. Selain itu. Gejala yang timbul saat induk kerapu tikus terkena Argulus adalah nafsu makan menurun. Jenis penyakit bakterial yang ditemukan pada ikan kerapu. Diantara jenis bakteri tersebut bakteri V alginolyticus dan V fuscus merupakan jenis yang sangat patogen pada ikan kerapu tikus (Salim. diantaranya adalah penyakit borok pangkal sirip ekor dan penyakit mulut merah. dan virus. Hasil isolasi dan identifikasi bakteri ditemukan beberapa jenis bakteri yang diduga berkaitan erat dengan kasus penyakit bakterial. Penyakit yang umumnya menyerang induk kerapu tikus disebabkan oleh trematoda. protozoa.

Induk jantan terlihat lebih cerah dan alat kelaminnya menjadi kemerah-merahan. Larutan yang biasa digunakan adalah Furazolidone karena tingkat efektifitasnya paling tinggi. Biasanya sebelum memijah nafsu makan induk menurun. dan hidrogen peroksida (1–2 ppm selama 2 jam). Pengukuran sampling tingkat kematangan gonad dapat dilakukan dengan teknik kanulasi pada induk betina. Ciri-ciri Induk Matang Gonad Ciri induk kerapu tikus yang akan memijah ditandai dengan berenang vertikal dan induk jantan mengejar induk betina. Sedangkan pada ikan jantan dapat dilakukan stripping/diurut hingga mengeluarkan sperma.terbuka. Kematangannya . D. Bakteri yang menyerang induk kerapu disebabkan oleh bakteri Vibrio sp.5 ppm selama 2 jam).3–0. Bakteri ini menyebabkan kerusakan pada sirip ikan. Hal ini sependapat dengan Anonim (2010) yang menyatakan bahwa kematangan kelamin induk jantan ikan kerapu diketahui dengan cara mengurut bagian perut ikan (stripping) ke arah awal sperma yang keluar warna putih susu dan jumlahnya banyak diamati untuk menentukan kualitasnya. Pengendalian penyakit ini dilakukan dengan cara merendam induk kerapu di dalam air tawar selama 15 menit. Kemudian kekentalan dan pergerakkan sperma diamati. prefuran (0. Pengendalian penyakit ini adalah dengan merendam induk dalam salah satu larutan ini yaitu Arciflavin (1–2 ppm selama 2 jam). Telur yang diambil menggunakan kateter diukur diameter telurnya.. Induk betina perutnya terlihat lebih besar terutama setengah bagian belakang. Furazolidone (10–15 ppm selama 2 jam).

A.3 Pemijahan Metode pemijahan induk kerapu tikus yang dilakukan di BBAP Situbondo dilakukan dengan dua cara. . Induk kerapu tergolong ikan yang melakukan pemijahan sepanjang tahun. et al (2005) satu induk betina dapat menghasilkan telur rata-rata 200. Telur yang mengapung akan mengikuti arus ke pembuangan atas dan ditampung di dalam egg collector.000 – 300.000 butir telur pada ukuran 3-4 kg. (Anonim. Pemijahan terjadi pada malam hari antara pukul 22. kemudian dihisap. garis tengah (diameter) telur diatas 450 mikron. yaitu pemijahan alami dan pemijahan dengan rangsangan hormon. Perlakuan ini dapat menaikkan suhu air pada bak pemijahan sekitar 1 – 3 0C. Menurut Cholik. 2010). Proses pemijahan ikan kerapu diawali dengan induk betina mengeluarkan telur kemudian disusul induk jantan yang mengeluarkan sperma sehingga terjadi pembuahan. Manipulasi ini mengikuti keadaan pasang surut di alam sehingga ikan akan terangsang untuk melakukan pemijahan. Telur yang diperoleh diamati untuk mengetahui tingkat kematangannya.00 – 02.kelamin induk betina diketahui dengan cara kanulasi. Pemijahan Alami Metode pemijahan alami (nature spawning) dilakukan dengan cara memanipulasi lingkungan dengan menurunkan ketinggian air dalam bak pemeliharaan induk sampai ± 100 cm dan dibiarkan selama 5 – 7 jam.00 WIB. yaitu memasukkan selang plastik ke dalam lubang kelamin ikan.3. 4. Pemijahan ikan kerapu biasanya terjadi pada bulan gelap (antara tanggal 6– 17).

00 permukaan air diturunkan sampai kedalaman 40 cm dari dasar bak.00 WIB.5 m).Hal ini sependapat dengan Anonim (2010) yang menyatakan bahwa Metode yang digunakan adalah manipulasi lingkungan.00 sampai jam 14. kedalaman air dan lain-lain. yaitu dengan rangsangan atau kejutan faktor-faktor lingkungan seperti suhu. pada saat bulan terang atau bulan gelap. Untuk merangsang terjadinya perkawinan antara jantan dengan induk betina matang kelamin digunakan metoda manipulasi lingkungan di bak terkontrol. pemijahan dengan rangsangan hormon dilakukan karena kondisi lingkungan tidak memungkinkan untuk proses .00 permukaan air dikembangkan ke possisi semula (tinggi air 1.5 m dan salinitas + 32 ‰. Hasil pengamatan di lapangan. Mulai jam 09. Setelah jam 14. Manipulasi lingkungan dilakukan menjelang bulan gelap yaitu dengan cara menaikkan dan menurunkan permukaan/tinggi air setiap hari. Pengamatan pemijahan ikan dilakukan setiap hari setelah senja sampai malam hari. Pemijahan dengan Rangsangan Hormon Induk kerapu matang kelamin dipindahkan ke bak pemijahan yang sebelumnya telah diisi air laut bersih dengan ketingian 1. Rangsangan hormonal induk kerapu matang kelamin disuntik dengan hormon Human Chorionic Gonadotropin (HCG) dan Puberogen untuk merangsang terjadinya pemijahan. Teknik pemijahan dengan manipulasi lingkungan ini dikembangkan berdasarkan pemijahan ikan kerapu di alam.00 .24. Pemijahan mengikuti fase peredaran bulan. Pemijahan umumnya terjadi pada malam hari antara jam 22. kadar garam. B. Perlakuan ini dilakukan terus menerus sampai induk memijah secara alami.

kematangn gonad dan pemijahan.3. Penyuntikan dilakukan pada induk ikan yang diameter oocyte (bulatan telur) mencapai 0. satu hari sebelum larva dimasukkan dengan maksud agar suhu badan stabil berkisar antara 27 .100 ppm. 4. Sebelum telur ditetaskan perlu direndam dalam larutan 1 . perlu dipersiapkan dahulu dengan cara dibersihkan dan dicuci hamakan memakai larutan chlorine (Na OCI) 50 .28°C.5 ppm acriflavin untuk mencegah serang bakteri. Tiga hari sebelum bak penetasan/bak pemeliharaan larva digunakan.4 mm yang berarti induk telah mencapai tingkat kematangan gonad dan siap untuk dikawinkan. Air laut dengan kadar garam 32 ‰ dimasukkan ke dalam bak. .4 Pemanenan Telur Menurut (Anonim. Setelah itu dinetralkan dengan penambahan larutan Natrium thiosulfat sampai bau yang ditimbulkan oleh chlorine hilang. Telur hasil pemijahan dikumpulkan dengan sistim air mengalir. 2010) bak yang dipergunakan untuk penetasan telur sekaligus juga merupakan bak pemeliharaan larva. Penyuntikan dilakukan pada pagi hari. Telur yang dibuahi akan mengapung dipermukaan air dan berwarna jernih (transparan). Penyuntikan dilakukan dengan dosis 250 dan 50 IU per kilogram bobot badan. Hormon yang digunakan untuk pemijahan metode ini dengan menggunakan hormon HCG (Human Chrionic Gonadotropin). Induk ikan dibius. terbuat dari beton. kemudian disuntik pada bagian punggung dibawah duri ketiga atau pada bagian dibawah sirip dada terutama untuk induk yang berukuran besar dan membutuhkan hormon yang lebih banyak. berbentuk empat persegi panjang dengan ukuran 4 x 1 x 1 m³ .

00 – 07. Pemanenan telur dilakukan pada pagi hari antara pukul 06. maka telur telah dapat ditebar ke tiap pembenihan yang ada di BBAP Situbondo maupun dijual dan didistribusikan ke . Telur yang baik dan terbuahi akan melayang di permukaan dan berwarna transparan. telur tersebut ditampung sementara di dalam ember. Telur yang akan dibagi ke unit pembenihan merupakan telur yang baik. Setelah jumlah telur diketahui.. penghitungan telur seperti ini dikenal sebagai metode penghitungan telur secara kering. Satu sendok tersebut dapat menampung sebanyak 25000 butir telur.5 m x 0. Telur ikan yang telah terkumpul di egg collector dipanen dengan menggunakan saringan yang bermata jaring 300 µm. Pemindahan telur dari akuarium menuju ember dilakukan dengan cara penyiponan. sedangkan telur yang digunakan adalah telur yang melayang.00 WIB.Hasil pengamatan di lapangan telur ikan kerapu bersifat melayang di atas permukaan air. Egg collector terbuat dari saringan 40 mikron dengan ukuran 135 cm x 80 cm x 80 cm. dengan pemberian arus maka telur yang melayang akan ikut terbawa arus air menuju penampungan atas. lalu ditampung kembali di akuarium berukuran 0.5 m x 0. et al. 2005). Telur yang buruk dan tidak terbuahi akan mengendap di dasar dan bewarna putih keruh (Cholik. Perhitungan telur dilakukan dengan menggunakan alat sampling yang berbentuk sendok dengan ujungn berbentuk seperti setengah bola pimpong yang dapat dilihat pada gambar 3. Di ujung pipa pembuangan atas tersebut dipasang bak penampungan telur atau yang disebut pengumpul telur (egg collector).5 m untuk dihitung. Setelah itu. telur mengendap yang terdapat di dalam akuarium disipon dan dibuang.

200.000 13 Agustus 2010 450.000 17 Agustus 2010 150. Harga tiap butir telur kerapu tikus adalah Rp 1. Persiapan Wadah Wadah penetasan telur yang terdapat di Unit Pembenihan Timur BBAP Situbondo yaitu berupa bak beton berbentuk persegi panjang sebanyak 6 buah.000 14 Agustus 2010 1. Pada saat pemanenan telur. tebar telur untuk pembenihan sebanyak 150.000 9 Agustus 2010 200.000 4.000 butir telur per 9 ton pada tanggal 10 agustus 2010 dan 100.000 15 Agustus 2010 16 Agustus 2010 100.5 Penetasan Telur A. Jumlah Telur Kerapu Tikus di BBAP Situbondo (Bulan Agustus 2010) Tanggal Jumlah Telur (butir) 7 Agustus 2010 75. Saluran inlet di setiap bak terdapat 2 buah yaitu saluran pemasukan Chlorella sp dengan ukuran pipa 3/4 inchi dan saluran pemasukan air laut dengan ukuran pipa 2 inchi.000.000 butir telur per 9 ton pada tanggal 11 agustus 2010. Masing-masing bak tersebut memiliki dimensi 5x2x1.3.5.000 11 Agustus 2010 450.000 Total 3. Setiap bak dilengkapi dengan saluran inlet dan outlet yang terbuat dari pipa PVC. sedangkan untuk pipa saluran outlet adalah 3.000 12 Agustus 2010 350. Data hasil telur selama pemijahan di bulan Agustus dapat dilihat pada tabel 6. Tabel 5.000 butir telur per 9 ton yang diambil pada saat panen telur tanggal 8 agustus 2010.5 inchi.000 butir telur per 9 ton pada tanggal 9 agustus 2010.pembeli. 100. .25 m dengan kapasitas air 10 m3.000 10 Agustus 2010 275.000 8 Agustus 2010 150. 100.

Setelah itu dinetralkan dengan penambahan larutan Natrium thiosulfat sampai bau yang ditimbulkan oleh chlorine hilang. Hal ini sependapat dengan Anonim (2010) yang menyatakan bahwa tiga hari sebelum bak penetasan/bak pemeliharaan larva digunakan. Bak yang telah dibersihkan lalu dikeringkan selama 1-2 hari. Telur hasil pemijahan dikumpulkan dengan sistim air mengalir.28°C.100 ppm. Apabila telur menetas aerasi dikecilkan karena larva masih bersifat planktonik yaitu bergerak dengan mengikuti pergerakan air. Hal ini bertujuan untuk menyaring kotoran (pasir dan partikel tanah yang halus) agar tidak ikut terbawa ke dalam media lalu air tersebut ditreatment menggunakan larutan formalin dengan dosis 20 ppm dan diaerasi kuat selama 24 jam selanjutnya air dapat digunakan untuk penebaran telur. Telur yang . Aerai yang digunakan untuk menyuplai oksigen dalam bak penetasan telur berjumlah 11 titik aerasi yang dilengkapi engan selang aerasi. batu dan pemberat aerasi diletakkan di bagin dasar bak. Setelah itu. bak dicuci kembali dengan detergen untuk menghilangkan sisa klorin yang menempel pada dinding dan dasar bak lalu bak dibilas dengan menggunakan air tawar hingga bersih dan bau klorin hilang. satu hari sebelum larva dimasukkan dengan maksud agar suhu badan stabil berkisar antara 27 . Setelah itu bak diisi air laut sebanyak 9 m3 melalui saluran inlet air laut yang telah diberi filter bag (50 mikron).Wadah yang akan digunakan untuk penetasan terlebih dahulu didesinfeksi dengan menggunakan larutan klorin 15 ppm dan dibiakan selama 1-2 hari. Air laut dengan kadar garam 32 ‰ dimasukkan ke dalam bak. perlu dipersiapkan dahulu dengan cara dibersihkan dan dicuci hamakan memakai larutan chlorine (Na OCI) 50 .

Dari jumlah diperkirakan hanya 30% saja yang dibuahi (Suria D.00-09.dibuahi akan mengapung dipermukaan air dan berwarna jernih (transparan). pada D1 media diberi aerasi kecil.5 ppm acriflavin untuk mencegah serang bakteri. setelah larva menetas. Dari hasil di lapangan penebaran telur dilakukan secara merata ke dalam bak penetasan telur yang telah dipersiapkan sebelumnya.60 butir/liter air media. media penetasan diberi erasi kecil yang bertujuan agar suplai oksigen tetap terpenuhi serta agar telur tidak mengalami guncangan kuat yang dapat menyebabkan gangguan fisik pada telur.000 sel/ml untuk menjaga kualitas air.500 butir per bak dengan kapasitas air dalam bak sebanyak 9 m3 dan dengan derajat penetasan (HR) 44 %. 2002).00 WIB. Hal ini dilakukan karena larva yang . Penebaran dan Penetasan Telur Padat penebaran telur di Bak Penetasan berkisar 20 .000 100. Telur yang telah dibuahi tidak berwarna (transparan) sedangkan yang tidak dibuahi dan yang mati berwarna putih susu. Ke dalam bak penetasan perlu ditambahkan Chlorella sp sebanyak 50. Telur akan menetas dalam waktu 18 22 jam setelah pemijahan pada suhu 27 . Saat proses penetasan. Telur yang telah dibuahi berjumlah lebih kurang 1. Sebelum telur ditetaskan perlu direndam dalam larutan 1 . B.28°C dan kadar garam 30 . Penebaran biasanya dilakukan pada pagi hari yaitu antara 08. Telur kerapu tikus akan menetas dalam kisaran waktu antara 17-19 jam setelah pembuahan. Untuk padat penebaran telur saat penulis melakukan PKL yaitu sebesar 112.000 butir.32 ‰.200. Suhu optimum untuk penetasan telur ikan kerapu yaitu antara 27-31oC.

5.00 WIB karena pada pagi hari larva yang bersifat fotoaksis positif akan bergerak menyebar mencari matahari. 4. 2. Proses tersebut dilakuka di lima titik sampel Setelah dilakukan sampling. Larva umur D1 diambil dengan menggunakan pipa paralon berdiameter 1. Pipa tersebut lalu diangkat dan air di dalam paralon segera dimasukkan ke dalam gelas ukur bervolume 250 ml. maka Hatching Rate (HR) dapat dihitung dengan menggunakan rumus : . Sebelum melakukn sampling. Biasanya sampling larva dilakukan pada pagi hari yaitu pada pukul 06. C. 3. Perhitungan Derajat Penetasan (Hatching Rate) Perhitungan derajat penetasan (Hatching Rate) dilakukan pada saat larva berumur satu hari (D1) dengan metode sampling. Setelah dimasukkan ke dalam air berketinggian 80 cm.baru menetas masih bersifat planktonik yaitu larva bergerak dengan mengikuti pergerakan dan arus air. Cara menghitung HR adalah: 1.5 inchi dengan panjang 150 cm.00-07. Larva yang berhasil menetas dihitung satu persatu dalam gelas beaker tersebut. bagian atas pipa ditutup dengan tangan. dasar bak disipon secara perlahan dan hati-hati untuk membuang telur yang tidak menetas.

000 butir 4 10 Agustus 2010 100.Berikut ini adalah data HR pembenihan timur setelah beberapa kali dilakukan penebaran telur.3.6 Pemeliharaan Larva dan Benih A.000 butir 33% 46% 52% 45% 4. Hal ini dilakukan untuk mengurangi stress pada larva akibat proses pemindahan dan perubahan lingkungan yang baru. aerasi diatur agak kecil karena larva bersifat planktonik (melayang di permukaan air dan bergerak mengikuti pergerakan arus air). larva telah diberi pakan alami berupa chlorella dan rotifer.000 butir 2 9 Agustus 2010 100.000 butir 6 11 Agustus 2010 100. . Pada saat larva berumur 1 hari (D1). Data Hatching Rate HR Ikan Kerapu Tikus di Pembenihan Timur Nomor Bak Tanggal Tebar Telur Pada Tebar Telur HR 1 8 Agustus 2010 150. Untuk mencegah hal tersebut D1-D10 diberi minyak cumi sebanyak 0. Pada saat larva berumur D3.1 ml/m2 atau 3-5 tetes disetiap titik aerasi agar larva tidak naik ke permukaan air. Persiapan Wadah Wadah atau bak yang digunakan untuk pemeliharaan larva sama dengan bak yang digunakan untuk penetasan telur sehinga tidak dilakukan penebaran larva. Tabel 6.00 WIB. Pemberian minyak cumi dilakukan dalam sehari sebanyak dua kali yaitu pada hari pukul 06.00 WIB dan sore hari pada pukul 16.

Hal ini sependapat dengan Anonim (2010) uang menyatakan bahwa larva kerapu yang baru menetas mempunyai cadangan makanan berupa kuning telur. Pakan ini akan dimanfaatkan sampai hari ke 2 (D2) setelah menetas dan selama kurun waktu tersebut larva tidak memerlukan dari luar. Umur 3 hari (D3) kuning telur mulai terserap habis, perlu segera diberi pakan dari luar berupa Rotifera Brachionus Plicatilis dengan kepadatan 1 - 3 ekor/ml. Disamping itu ditambahkan pula Phytoplankton chlorella sp dengan kepadatan antara 5.10-10 sel/ml. Pemberian pakan ini sampai larva berumur 16 hari (D16) dengan penambahan secara bertahap hingga mencapai kepadatan 5 - 10 ekor/ml plytoplankton 10 2.10 sel/ml media. Pada hari kesembilan (D9) mulai diberi pakan naupli artemia yang baru menetas dengan kepadatan 0,25 - 0,75 ekor/ml media. Pemberian pakan naupli artemia ini dilakukan sampai larva berumur 25 hari (D25) dengan peningkatan kepadatan hingga mencapai 2 - 5 ekor/ml media. Disamping itu pada hari ke tujuh belas (D17) larva mulai diberi pakan Artemia yang telah berumur 1 hari, kemudian secara bertahap pakan yang diberikan diubah dari Artemia umur 1 hari ke Artemia setengah dewasa dan akhirnya dewasa sampai larva berumur 50 hari.

B. Perkembangan Larva Berikut merupakan perkembangan larva hingga mencapai juvenil :

a

b

c

d

e

f

gambar 2. Perkembangan larva ikan kerapu tikus a) D-0 Telur dalam masa perkembangan hingga menetas dengan panjang

tubuh 1,69 – 1,79 mm. b) D-1 Saluran pencernaan sudah mulai terlihat, akan tetapi mulut dan

anus masih tertutup, pakan yang dimakan masih mengandalkan kuning telur (yolk sac) c) D-2 Cadangan makanan pada beberapa ikan sudah mulai habis

sehingga larva membutuhkan pakan dari luar yaitu rotifera (Branchionus plicitalis). d) D-8 Bakal sirip punggung dari perut sudah mulai tampak berupa

tonjolan e) D-10 Tonjolan tersebut sudah terlihat panjang dan berbentuk spina. Pertambahan panjang spina ini berlanjut hingga D-21 f) D21 – D25 Terjadi metamorfosis, spina tereduksi menjadi duri keras

pertama pada sirip punggung dan sirip perut pada kerapu muda.

Hal ini sependapat dengan Akbar dan Syamsul (2001) yang menyatakan bahwa perkembangan larva hingga mencapai juvenil : a) D-0 Telur dalam masa perkembangan hingga menetas dengan panjang

tubuh 1,69 – 1,79 mm.

b) D-1

Saluran pencernaan sudah mulai terlihat, akan tetapi mulut dan

anus masih tertutup, pakan yang dimakan masih mengandalkan kuning telur (yolk sac) c) D-2 Cadangan makanan pada beberapa ikan sudah mulai habis

sehingga larva membutuhkan pakan dari luar yaitu rotifera (Branchionus plicitalis). d) D-8 Bakal sirip punggung dari perut sudah mulai tampak berupa

tonjolan e) D-10 Tonjolan tersebut sudah terlihat panjang dan berbentuk spina. Pertambahan panjang spina ini berlanjut hingga D-21 f) D21 – D25 Terjadi metamorfosis, spina tereduksi menjadi duri keras

pertama pada sirip punggung dan sirip perut pada kerapu muda. g) D-25 Mulai muncul bintik hitam dan itu akan merata di sekujur tubuh

ikan hingga pertumbuhan D-45. h) D-45 Larva telah berubah sempurna menjadi juvenil dan siap untuk

dijual (ukuran 2,7 – 5 cm)

4.3.7 Kualitas Air Lokasi budidaya yang ideal, selain pertimbangan umum di atas, juga harus memenuhi persyaratan-persyaratan kualitas airnya. Faktor kualitas air yang perlu dipertimbangkan untuk pemeliharaan pembenihan Kerapu tikus meliputi sifat fisika : Suhu dan Kecerahan, dan kimia meliputi : pH, DO dan Salinitas. Pemenuhan akan kebutuhan air harus diupayakan agar produksi benih ikan laut yang berkualitas, dalam jumlah yang cukup, dan kontunu dapat berhasil (Ghufran, M dan Andi Tamsil. 2010). Pengelolaan kualitas air di BBAP Situbondo dilakukan dengan pergantian air dan penyiponan. Penambahan air dimulai ketika larva berumur 8 hari (D8).

Penyiponan dilakukan untuk membersihkan kotoran-kotoran yang berada di dasar. Air yang digunakan untuk penambahan air berasal dari tandon yang sebelumnya didesinfeksi terlebih dahulu dengan formalin 10-30 ppm dan diareasi kuat minimal selama 12 jam. terlebih dahulu dilakukan penyiponan.3. Tabel 7. Larva D1 belum membutuhkan pakan dari luar (exogenous feeding) karena masih memiliki cadangan makanan dari dalam (endogenous Parameter Suhu pH Salinitas Oksigen Terlarut(DO) Nitrit Amoniak Satuan o C ppt ppm ppm ppm Kisaran 30-31 7. namum berasal dari air laut yang langsung disedot menggunakan pompa.000 L kemudian ditambah air dilakukan hingga 9. Setelah bersih.Sebelum dilakukan pergantian air. Pada larva berumur 25 hari (D25) diganti sebanyak 3 m3 dan pada larva yang berumur lebih dari 45 hari pergantian air dilakukan secara terus menerus. air dikurangi hingga bersisa 8.8-8. sumber air yang diganti tidak lagi berasal dari tandon. Data kualitas air dapat dilihat pada tabel 7. Data Kualitas Air Pemeliharaan Larva Kerapu Tikus Pembenihan Timur BBAP Situbondo No 1 2 3 4 5 6 4. Penggunaan air tandon dimaksudkan untuk menggunakan air yang bebas dari penyakit dan kualitas air yang lebih baik daripada menggunakan air laut yang langsung diambil dari laut.500 L untuk menjaga kualitas air pada wadah pemeliharaan tetap prima. Pada larva yang berumur 45 hari.8 Pakan Hasil pengamatan di lapangan memperlihatkan bahwa larva kerapu tikus D1 masih transparan.01 .3 31-33 >5 <1 < 0.

Otohime B2. Sebelum diberikan. Larva D1-D10 sangat peka terhadap cahaya sehingga cenderung untuk naik ke permukaan air. Maka dari itu.1 Nannochloropsis sp Selama kuning telur larva masih ada.000 sel/ml atau .). naupli Artemia sp. Otohime B1. Jenis pakan yang diberikan kepada larva kerapu tikus ada dua macam yakni pakan alami (live feed) dan pakan buatan (artificial feed). Nannochloropsis sp harus dicek terlebih dahulu kepadatannya. Pakan alami yang diberikan adalah Nannochloropsis sp. Rotofier. biasanya kepadatan Nannochloropsis sp yang ditebar berkisar 50. Pemberian Nannochloropsis sp disalurkan langsung dari bak kultur massal menggunakan pompa celup melalui pipa paralon ¾ inchi yang pada bagian ujungnya diberi saringan 200 µm untuk mencegah masuknya kotoran yang terbawa dari kultur massal Nannochloropsis sp. Selain Nannochloropsis sp. dan udang rebon (jambret). rotifera (Branchionus sp. sejak larva berumur D2. Tujuan dari pemberian Nannochloropsis sp ini adalah untuk menjaga keseimbangan kualitas air dan Nannochloropsis sp juga merupakan pakan untuk rotifera (Branchionus sp.feeding) yang berupa kuning telur. Sedangkan pakan buatan yang diberikan adalah Nosan R-1.000-100.) A. Pemberian Pakan Alami A. larva kerapu tikus belum mau untuk mengambil makanan dari luar. larva D2 juga diberikan rotifer di sore hari dengan dosis 3-5 ind/ml. larva sudah mulai diberi Nannochloropsis sp. Otohime C1 dan Otohime C2. Larva yang sudah berumur dua hari (D2) sudah diberi Nannochloropsis sp..

s Emulsion sebanyak 10 ml (satu tutup botol Scoutt’s Emulsion) dalam 20 L air dan 0. Pemberian Nannochloropsis sp dihentikan pada saat larva berumur D30 atau dengan melihat kondisi larva. tetapi secara teknis siste atermia dapat diproduksi secara massal dalam tempat (wadah) yang . rotifer yang akan diberikan dilakukan pengkayaan terlebih dehulu menggunakan Scout’. rotifer dapat diberikan pada larva. Pemberian rotifer hanya dilakukan sekali dalam sehari yaitu pada pukul 09. A. A. banyaknya pemberian rotifer tergantung dari kepadatan rotifer maka dilakukan pengecekan setiap hari menggunakan gelas piala. Hal ini bertujuan untuk memperbaiki kandungn nutrisi rotifer dan meningkatkan daya tahan tubuh larva dan benih terhadap penyakit. namun.3 Artemia sp. Setelah itu. Nannochloropsis sp biasanya diberikan sebanyak 1 kali dalam satu hari yaitu pada pagi hari. dalam hal ini adalah dimana dengan melihat pertumbuhan ikan yang lambat masih membutuhkan rotifer sebagai pakannya.5 gram taurin dan dibiarkan selama 2 jam. Sebelumnya. Rotifer diberikan dengan menggunakan gayung dan disebarkan pada setiap titik aerasi.2 Rotifera (Branchionus plicatilis) Pemberian rotifer pada saat di lapangan diberi pada larva berumur D3-D35 dan juga dengan melihat kondisi ikan.100-150 liter/bak pemeliharaan larva.00 WIB dengan kepadatan 3-5 individu/ml. Pemberian Nannochloropsis sp berfungsi sebagai Greeen Water Sistem atau sebagai keseimbangan media untuk mengatur kecerahan air dan juga untuk pakan rotifer. Meskipun secara ekonomis kurang menguntungkan.

Sebelum diberikan pada larva naupli yang berasal dari siste didekapsulasi terlebih dahulu. 2. Untuk tujuan ini dilakukan dengan memanipulasi lingkungan hidupnya agar artemia terpaksa melangsungkan perkembangbiakan secara ovipar uang menghasilkan telur (Siregar. Proses dekapsulasi dilakukan dengan cara sebagai berikut: 1. segera disaring dan dibilas dengan air tawar sampai bersih dan tidak ada bau klorin. 5. Proses dekapsulasi tersebut memakan waktu antara 5 – 15 menit. 6. Siste disaring dan ditambah air tawar. Siste artemia tersebut diaduk dengan cepat. Beberapa butir thiosulfat ditambahkan ke siste yang sebelumnya telah ditambahkan air tawar dan diaduk. Tahap no 2 dan 3 diulangi sampai warna siste berubah menjadi oranye ataupun tergantung dari produk sistenya. Setelah terjadi perubahan warna. Pemberian Naupli artemia di BBAP Situbondo pada saat berumur D18 atau tergantung bukaan mulut larva. 13.00. kemudian di tambahkan klorin sebanyak 250 ml. Siste direndam dalam air tawar selama 5 menit sambil diaduk dengan cepat. Pemberian naupli artemia dilakukan sebanyak tiga kali dalam satu hari yaitu pukul 08. Abbas. Jaga suhu di bawah 40 0C.00 WIB. 1995). . 3.terkendali. Saring dan bilas dengan air tawar sampai bersih 4.00 dan 17.

Pemberian Pakan Buatan Pemberian pakan buatan bagi larva kerapu tikus dilakukan saat larva telah berumur 8 hari. Udang ini berfungsi sebagai pakan selingan. A. naupli artemia siap diberikan ke larva. Penetasan siste yang didekapsulasi memerlukan waktu antara 18 – 30 jam pada air laut.4 Udang Rebon Udang rebon mulai diberikan pada saat ikan kerapu menjelang lepas sensor sampai awal lepas sensor (D25 sampai D45). satu bungkus artemia yang telah didekapsulasi dimasukkan ke dalam air tersebut. Sebelum diberikan ke larva. artemia disterilisasi dengan akriflavin sebagai anti ektoparasit. Awal pemberian dilakukan dengan mencairkan pakan untuk . Panen dimulai dengan cara menghentikan aerasi dan tunggu selama 15 menit agar telur-telur artemia mengendap. Sebelum diberikan ke larva.7. siste artemia tersebut ditetaskan sesuai dengan kebutuhan larva. Siste disaring dan dibiarkan mengering sejenak dan masukkan ke dalam kantong plastik untuk disimpan pada suhu dingin selama maksimal 1 minggu Setelah didekapsulasi. B. Setelah itu. Untuk hasil optimum. artemia disterilisasi dengan akriflavin sebagai anti ektoparasit. Setelah itu artemia disipon menggunakan selang dan ditampung di dalam saringan 300 µm. pertahankan suhu kisaran 25 – 30 0C dan pH 8 – 9. Cara penetasannya adalah wadah plastik diisi dengan air dan diaerasi kuat. Setelah itu. Jumlah pemberian pakan rebon secara at satiation (sekenyangnya).

kultur pakan alami Pakan alami yang digunakan selama pemeliharaan larva dan benih ikan kerapu bebek baik fitoplankton maupun zooplankton di BBAP Situbondo yaitu Nannochloropsis sp. Tahapan Pemberian Pakan Buatan bagi Larva Kerapu Tikus Stadia larva Jumlah pakan yang diberikan 8 D8-D17 gram/pemberian 2 kali µm) Frekuensi pemberian Merek pakan Gambar (ukuran pakan) Nosan R-1 (20–50 D18D20 8 3 kali gram/pemberian Rotifier (50 – 100 µm) D21D30 10 3 kali gram/pemberian Otohime B1 (200 – 300 µm) D31D45 15 3 kali gram/pemberian Otohime B2 (300 – 600 µm) 15 >D50 gram/pemberian 4-6 kali EP-1 C.weaning pakan bagi larva. Rotifera (Branchionus sp) dan Artemia sp. Tabel 8. Data mengenai pemberian pakan buatan dapat dilihat pada tabel 8. Pakan alami .

S. selanjutnya ditambah pupuk cair sebanyak 1 ml/lt.5 m (gambar) dengan kapasitas volume air maksimal sebesar 18 m3.5 liter-1 liter air yang akan disiapkan sebagai media tumbuh plankton sebelumnya disterilkan terlebih dahulu dengan menggunakan klorine kemudian air laut di biarkan selama 3-5 hari sampai residu klorine hilang. 2003). dengan mengatur rasio N/P supaya Nannochloropsis sp dapat mendominasi yang lainnya. S dan sebagainya.1 Kultur Nannochloropsis sp Membudidaya Nannochloropsis sp dapat diambil langsung dari tambak budidaya. Kultur Nannochloropsis sp skala massal dilakukan pada ruangan terbuka (outdoor) dengan ukuran wadah 5x3x1. Kultur pakan alami bertujuan untuk menjamin ketersediaan pakan alami secara berkesinambungan sesuai kebutuhan dalam larva dan benih ikan kerapu tikus. Budidaya plankton dilakukan pada botol dengan volume 0. K dan Mg sebagai unsure hara makro serta unsure hara mikro Fe. media disterilisasi dengan menggunakan kaporit 10 ppm dan didiamkan selama 2 . Setelah media siap bibit plankton dimsukkan 1/3 bagian dan siap dipanen 5-6 hari (Edhy W dkk. Setelah itu. C. Persiapan wadah dilakukan dengan cara menyikat dasar dan dinding wadah kemudian wadah diisi air laut sebanyak 15 m3.sangat penting peranannya bagi larva dan benih sebagai sumber makanan dengan kandungan nutrisi yang sangat tinggi. Mn. Air laut tersebut kemudian dimasukkan kedalam botol-botol yang telah disiapkan. Zn. P. Salinitas air laut yang diharapkan adalah 25-28 ppt. pupuk yang digunakan harus mengandung unsur hara yang dibutuhkan seperti N.

C. Abbas (1995). Bibit yang digunakan berasal dari skala intermediet atau dari bak kultur skala massal lainnya. Chlorella sp dapat dipanen setelah berumur 5-7 hari dengan cara disedot menggunakan pompa celup lalu dialirkan langsung kedalam bak rotifer dan unit pembenihan melalui pipa PVC ukuran 3/4 inchi. Pada kondisi normal.2 Kultur Rotifera Organisme rotifer berbentuk simetris bilateral manyerupai piala. Pemberian pupuk dilakukan dengan cara dilarutkan dalam 10 liter air laut lalu disebar merata dalam bak kultur. Siregar. Branchionus memiliki kecepatan pertumbuhan dan reproduksi tinggi. Kultur dilakukan dalam ruang terbuka yang cukup mendapatkan cahaya matahari. Secara umum dikenal 2 metode kultur rotifera yaitu metode panen harian lebih praktis dan . badan. Pupuk yang digunakan terdiri dari Urea 40 ppm. Pemupukan dilakukan setelah bibit masuk ke dalam media. kepala. dimana umur Nannochloropsis sp telah mencapai 5-7 hari dengan kepadatan 1-5 juta sel/ml.jam dan diberi aerasi kuat. ZA 30 ppm. dan kaki / ekor. dan TSP 20 ppm. kemudian media dinetralkan dengan menggunakan natrium thiosulfat (Na2S2O3) ≤ 5 ppm. dilakukan pembibitan dengan cara mengalirkan Nannochloropsis sp sebanyak 20 % dari total volume air yang ada dalam bak dengan menggunakan pompa celup. Rotifer merupakan salah satu jenis rotifer yang biasa diproduksi secara massal. Kultur missal rotifera dilakukan pada bak volume 5-12 m3. betina memproduksi 20 butir telur atau lebih selama 7-10 hari masa hidupnya. Setelah 12 jam. Tubuh yaitu.

Pemanenan dilakukan setiap hari pada bak kultur yang sama dan dapat berlangsung selama 3-4 minggu. Kultur rotifer di BBAP Situbondo dilakukan skala massal dalam bak beton yang berukuran 5x2x1. Rotifer yang telah dipanen dapat langsung diberikan ke larva.9 Pengendalian dan Pencegahan Hama dan Penyakit .5 m dengan kapasitas maksimal 12 m3.3. 4. Setelah itu. namun rotifera yang dihasilkan dari metode transfer lebih bersih. Metode ini dilakukan dengan cara mengalirkan air media kultur dengan menggunakan selang spiral 1 inchi yang bagian ujungnya diberi planktonnet 300 mesh size sebanyak 20-30% dari volume media kultur dan ditampung dalam drum 150 liter yang diberi aerasi. Persiapan wadah dilakukan dengan cara menyikat dasar dan dinding bak hingga bersih dan dikeringkan hingga keesokan harinya. Metode pemanenan yang dilakukan adalah metode panen harian. pengambilan rotifer disaring kembali dapat saringan agar kotoran tidak ikut terbawa. bak diisi dengan Chlorella sp untuk pakan rotifera sebanyak 2-3 m3 yang telah berumur 5-7 hari kemudiam bak ditambahkan dengan air laut dengan volume yang sama (perbandingan 1:1). Keesokan harinya. kepadatan kultur massal dapat dilihat dari kondisi perairan yang bening. Namun.mudah sedangkan pada metode transfer diperlukan bak kultur yang lebih banyak. bibit rotifer ditebar dengan kepadatan 30-40 individu/ml yang diperoleh dari bak kultur rotifer yang lainnya yang siap panen atau dari kultur skala intermediet. Kepadatan rotifer akan mencapai puncak pada hari ke 4-7 dengan kepadatan 150-250 individu/ml.

diantaranya adalah penyakit borok pangkal sirip ekor dan penyakit mulut merah. Perlakuan untuk pencegahan penyakit pada pembenihan kerapu tikus di BBAP Situbondo dilakukan dengan penggunaan probiotik. Penggunaan probitiotik diharapkan dapat menekan jumlah bakteri patogen di dalam wadah budidaya. Pada saat melaksanakan PKL dalam rangka pencegahan dan pemberantasan hama penyakit. Bakteri yang digunakan sebagai probiotik adalah jenis Bacillus sp. Namun. Jika jumlah bakteri belum mencukupi untuk membuat ikan menjadi sakit maka ikan atau larva tersebut tidak akan menjadi sakit. Diantara jenis bakteri tersebut bakteri V alginolyticus dan V fuscus merupakan jenis yang sangat patogen pada ikan kerapu tikus (Salim. Kematian massal sering terjadi . INVE. pada saat penulis melakukan kegiatan PKL di unit pembenihan timur BBAP Situbondo sempat terjadi kematian massal menyebabkan kematian pada larva atau benih. Jenis penyakit bakterial yang ditemukan pada ikan kerapu.Permasalahan penyakit yang paling banyak pada ikan bersirip (finfish) dijumpai pada budidaya ikan kerapu. V anguillarum dan V fuscus. Bakteri patogen membutuhkan jumlah bakteri yang cukup untuk membuat ikan menjadi sakit. Penggunaan probiotik sekarang sudah banyak digunakan untuk menggantikan peran antibiotik untuk mencegah penyakit yang menyerang larva atau benih. Hasil isolasi dan identifikasi bakteri ditemukan beberapa jenis bakteri yang diduga berkaitan erat dengan kasus penyakit bakterial. 2009). yaitu Vibrio alginolyticus. V algosus. dengan merek dagang Sanolife buatan PT. setiap unit pembenihan di BBAP Situbondo memiliki cara dan teknik yang berbeda-beda.

dan Pemasaran 4. sirkulasi air selama 24 jam untuk benih yang sudah berukuran 2-4 cm. biasanya benih di grading terlebih dahulu. Setelah ketinggian air mencapai 30 cm benih kerapu dapat dipanen dengan menggunakan keranjang plastik. Benih dapat dipanen pada umur D60 atau jika ukurannya sudah mencapai ukuran pasar (minat pembeli). dilakukan treatment pada air yang akan digunakan. Juvenil yang telah dipanen dipisahkan berdasarkan ukurannya (grading). Hal ini bertujuan untuk menyeragamkan ukuran benih yang akan dipasarkan dan juga untuk memisahkan benih yang masuk pasaran karena cacat (abnormalitas). dilakukan pergantian air pada pagi dan sore hari. Air pada bak pemeliharaan diturunkan secara perlahan sampai tingginya sekitar 30 cm. proses pemanenan biasanya dilakukan pagi hari belum terlalu tinggi sehingga tidak menyebabkan stress pada benih yang akan dipanen dan digrading. 4. Ukuran pasar benih yang dijual biasanya berkisar antara 2. Proses pemanenan dilakukan dengan menggunakan baskom plastik yang dialiri air dari pipa paralon.pada larva yang diakibatkan oleh kualitas air pada suhu yang sempat turun mencapai 29oC.4 Pemanenan. Sehingga dilakukan pencegahan hama penyakit yang rutin dan terkontrol. Produksi. dan penyiponan pada pagi dan sore hari. pakan alami pada Nannochloropsis sp yang sempat kontaminan terhadap rotifera serta penyakit yang disebabkan oleh VNN(Viral Nervous Necrosis).4. pencegahan penyakit dapat dilakukan dengan berbagai cara seperti dilakukannya desinfeksi pada wadah yang akan digunakan.7-4 cm.1 Pemanenan Benih Sebelum dilakukan pemanenan. Grading (pemilihan .

Bali (Gondol) dan Lampung. Sulawesi Selatan. Informasi mengenai permintaan konsumen sangat penting. Sulawesi Tengah. . Kepulauan Riau (Batam). BBAP Situbondo menjual dengan harga ikan kerapu tikus seharga Rp 1. dan lain-lain. Bali.4. Kalimantan Selatan. pemasaran benih ikan kerapu tikus untuk segala ukuran (3 – 10 cm) dan berapapun jumlahnya tidak terlalu sulit. Kalimantan Barat. Sumatera Utara. Cina. Singapura. Sumatera Barat. sehingga aspek pemasaran tidak boleh dianggap ringan. Jawa Barat. maka ikan tersebut pun akan dipasarkan. Hal ini disebabkan karena usaha pembesaran ikan kerapu baik di Karamba Jaring Apung (KJA). Dewasa ini.2 Produksi dan Pemasaran Setelah kerapu tikus telah mencapai ukuran pasar. Sumatera Selatan. Pemasaran merupakan rantai akhir dalam usaha pembenihan ikan kerapu. Sulawesi Tenggara.ukuran) merupakan salah satu cara untuk menyeragamkan pertumbuhan dan mengurangi kematian benih pasca lepas sensor akibat sifat kanibal pada ikan kerapu. bak terkontrol maupun di tambak di dalam maupun di luar negeri sudah banyak dilakukan. Daerah pemasaran ikan kerapu diantaranya adalah Lampung. Lampung. Sifat kanibalisme pada kerapu terjadi pada saat kondisi kekurangan makanan dan perbedaan ukuran. Taiwan. Jawa Timur. Irian Jaya.500 per sentimeter. 4. Kalimantan Timur. Jawa Tengah. Harga benih ikan kerapu memiliki fluktuasi di pasar tingkat produsen di Jawa Timur (Situbondo). Malaysia. Kepulauan Bangka Belitung. NTT. NTB. Ikan yang berukuran lebih besar akan selalu memangsa ikan yang lebih kecil dalam satu wadah pemeliharaan.

Selain itu. penyakit maupun kemampuan dalam melewati masa kritis menyebabkan tingkat kelulushidupan larva sangat rendah dan pertumbuhannya lambat serta belum ada tindak lanjut terhadap serangan penyakit. Ketersediaan pakan ikan rucah untuk induk yang menyesuaikan musim. juga digunakan sebagai ikan hias. benih kerapu tikus disamping digunakan dalam pembesaran. sehingga perlu pembuatan pakan buatan untuk indukan.1 Masalah yang Dihadapi Permasalahan yang dihadapi dalam pembenihan kerapu tikus selama di Balai Budidaya Air Payau Situbondo adalah : a. c. Kematian massal yang sering terjadi pada larva terutama pada umur 3-5 hari (D3-D5). 4. 11-12 hari.2 Kemungkinan Pengembangan Usaha Kebutuhan dan harga kerapu tikus yang tinggi memberikan potensi tersendiri bagi usaha kerapu jenis ini yang merupakan penyokong untuk usaha budidaya selanjutnya (pendederan dan pembesaran). b.5. pakan.5 Masalah dan Kemungkinan Pengembangan Usaha 4. sehingga perlu penambahan budidaya untuk pemeliharaan induk.5. sehingga perlu penanganan upaya pencegahan seperti pemberian probiotik dan mejaga kualitas air. dan 21-24 hari baik yang diakibatkan oleh kualitas air.4. Induk masih berasal dari alam sehingga ketersediaan induk terbatas dan tergantung dari tangkapan nelayan. aktivitas penangkapan serta memerlukan fasilitas penyimpanan bersuhu dingin karena kualitasnya mudah menurun dan mudah terkontaminasi dengan mikroba pathogen. .

340 Per tahun dan biaya variabel yang dibutuhkan sebesar 60. dengan penebaran 112.-.740 per tahun.Dalam rangka pengembangan usaha dan peningkatan produksi pembenihan. Biaya tetap yang dibutuhkan untuk usaha pembenihan kerapu tikus sebesar Rp 129.469.483.1 maka usaha produksi ikan kerapu tikus tersebut merupakan usaha yang layak dilakukan dan menguntungkan untuk dikembangkan.400 per tahun sehingga biaya operasional yang dibutuhkan sebesar 190. keuntungan yang diperoleh per siklusya adalah sebesar Rp 51. Perhitungan analisis usaha pada produksi benih ikan kerapu tikus dapat dilihat pada lampiran 5. menjalin kerjasama dengan berbagai pihak terutama dalam kegiatan pemasaran.6 Analisa Usaha Pembenihan Kerapu Tikus (Chromileptes altivelis) Skala Rumah Tangga Analisa usaha dalam produksi benih ikan kerapu tikus dalam 1 siklus. menjaga mutu atau kualitas benih yang dihasilkan. Perhitungan payback period yaitu dalam pengembalian investasi . beberapa hal yang dapat dilakukan adalah : peningkatan kinerja melalui penerapan ilmuatau teknologi yang tepat tentang pembenihan kerapu tikus maupun semangat kerja bagi para staf (peningkatan sumberdaya manusia).500/bak beton berkapasitas 9 ton didapatkan tingkat Survival Rate (SR) mencapai 12. yaitu 2. Mengendalikan penangkapan ikan kerapu di alam secar bijaksana. 4.733.064. Biaya investasi yang dibutuhkan untuk usaha pembenihan ikan kerapu tikus skala rumah tangga sebesar Rp 215.900. perbaikan sarana dan prasarana yang memadai. Diketahui dari hasil perhitungan R/C Ratio >1.9 %. sehingga terjamin kelestarian sumber daya ikan di laut.815.595.

dan lain-lain.2 ekor. Kalimantan Barat.yang ditanam akan kembali dalam waktu 4 tahun 2. Kalimantan Timur. Sumatera Utara. Jawa Tengah. Singapura.599. Sulawesi Tengah. Sumatera Barat. Kepulauan Bangka Belitung. NTT. Kalimantan Selatan. Lampung. Hasil perhitungan analisis usaha ini maka dapat diartikan bahwa usaha produksi ikan kerapu skala rumah tangga ini layak untuk di usahakan dan akan menguntungkan apabila usaha ini dikembangkan.2 ekor yang artinya apabila perusahaan mampu untuk menjual produk yang dihasilkan sebesar 9. Cina. Irian Jaya. Kepulauan Riau (Batam). . Bali. Jawa Barat. Taiwan. Daerah pemasaran ikan kerapu diantaranya adalah Lampung.4 bulan. NTB. BEP harga benih Rp 719/cm artinya bahwa titik impas akan dicapai pada saat harga jual benih Rp 719/cm. Perhitungan BEP produksi benih didapatkan sebesar 9. Sulawesi Selatan. Sulawesi Tenggara. Sumatera Selatan.599. maka kondisi tersebut tercapai titik impas sehingga perusahaan tersebut tidak mengalami untung maupun rugi. Jawa Timur. Malaysia.

penebaran telur. Otohime B2 15 gram/pemberian 3 kali/hari. Teknik pembenihan ikan kerapu tikus meliputi.3. Grading dilakukan apabila terlihat perbedaan ukuran yang mencolok pada benih dan munculnya sifat kanibalisme.9%. pencegahan penyakit dengan menggunakan probiotik Sanolife. pemijahan.V KESIMPULAN DAN SARAN 5. pH 7. Otohime EP-1 15 gram/pemberian 4-6 kali/hari). nitrit < 1 ppm. Memerlukan fasilitas penyimpanan bersuhu dingin agar kualitas pakan ikan rucah untuk indukan tidak menurun. suhu 30o31oC. Otohime B1 10 gram/pemberian 3 kali/hari. belum ada pengobatan terhadap penyakit. Induk masih berasal dari alam sehingga ketersediaan induk terbatas dan tergantung dari tangkapan nelayan. 2. SR ikan kerapu tikus 12.1 Kesimpulan 1. seleksi telur.000-100. persiapan induk.8-8. Nitrat < 150 ppm. penetasan telur.01 ppm. amoniak < 0. Kematian massal sering terjadi pada larva yang diakibatkan oleh penyakit VNN(Viral Nervous Necrosis). Rotifier 8 gram/pemberian 3 kali/hari. seleksi induk. pemberian pakan sesuai dosis baik berupa pakan alami(Nannochloropsis 50. DO > 5 ppm. pengelolaan kualitas air dengan salinitas 31-33 ppt.000 sel/ml 1 kali/hari dan Rotifer 3-5 individu/ml 2 kali/hari) maupun pakan buatan(Nosan R-1 8 gram/pemberian 2 kali/hari. . persiapan bak pemeliharaan larva.

2. .5. disarankan ada studi-studi lebih lanjut untuk menemukan formula yang tepat untuk meningkatkan kekebalan benih dan menghasilkan benih yang tahan penyakit. disarankan supaya ada penambahan budidaya pada pemeliharaan induk.2 Saran 1. Belum adanya pengobatan terhadap penyakit VNN(Viral Nervous Necrosis) yang dapat menyebabkan kematian massal terhadap larva ikan kerapu tikus. Induk yang masih berasal dari alam sehingga ketersediaan induk terbatas dan tergantung dari tangkapan dari nelayan. 3. disarankan perlu adanya pembuatan pakan buatan untuk indukan. Ketersediaan pakan ikan rucah untuk induk yang menyesuaikan musim.

http://rudyct. Produksi Pakan Alami. Edhy. 2007. Yogyakarta. Penerbit Rineka Cipta. 159 hal Jatilaksono.. 07/06/2010.H. M. Yogyakarta.I. Usaha Pembesaran Ikan Kerapu di Tambak. 2009. 2010.A dkk. Tikus.html. S. Metode Penelitian. 1998. Simbolon dan J.html. Anonim. Penerbit Kanisius.id/ind/warintek/?mnu=6&ttg=3&doc=3b7. 07/06/2010. 24:19-26 Nazir.com/2008/11/budidaya-ikan-keraputikus. http://groups.blogspot. Biologi Perikanan. K. Pustaka Pelajar.com/group/mmaipb/message/2070.net. http://jlcome.G.G. Darwisito.. Loka Budidaya Air Payau. Azwar.H. 2002.. M. Strategi Reproduksi pada Ikan Kerapu. Central Pertiwi Bahari. M. W. 1999. P. PT.G.iptek. Cahyaningsih. 2008. Budidaya Ikan Kerapu http://octopus39. 99 hal Effendie. Parameter Dasar Budidaya Perairan. 115 halaman Kordi K. 188 halaman Murtiati. 2007. 07/05/2010.yahoo. S. dkk. 135 hal. Penggunaan Biokatalisator pada Budidaya Udang Galah. Pantai Timur. http://www. Pembenihan ikan kerapu macan (Epinephelus fuscoguttatus). M. Central Pertiwi Bahari. Jakarta. Octopus. Yogyakarta. 2003.blogspot. 2001.H. Penerbit Yayasan Pustaka Nusatama. 1988. Yogyakarta. . Budidaya Ikan Laut di Kramba Jaring Apung. 2005.com/2007/10/parameter-dasar-budidayaperairan. Wahyuni. M. Jakarta. Metodologi Penelitian. Kordi K. Penerbit Lily Publisher. Plankton di Lingkungan PT. T. 146 hal. Ghalia Indonesia. M. 2002. Pembenihan Ikan Laut Ekonomis Secara Buatan. 233 hal Kordi K. 07/06/2010. 12/05/2010. S.VI DAFTAR PUSTAKA Anonim. Departemen Kelautan dan Perikanan Direktorat Jendaral Perikanan Budidaya Balai Budidaya Air Payau.htm.com/PPS702-ipb/05123/suria_darwisito. 2010.

Beronang. Penerbit Kanisius.Romimohtarto. Yuasa. Balai Budidaya Air Tawar Jambi. Panduan Diagnosa Penyakit Ikan. S. C. Jakarta. Laporan Magang Perikanan. DKP dan JICA .V. Metode Penelitian. 1995. Rajawali. A. Pakan Ikan Alami. 2003. P. http://klikharry. Pembenihan Ikan Laut Ekonomis : Kerapu. 12/05/2010. 26/05/2010. Kei. Abbas. 540 hal Salim. 1993. K. Penerbit Penebar Swadaya. http://mandala- Siregar. 2009. Ditjen Perikanan Budidaya. Yogyakarta. 84 halaman Suryabrata. dan S.2007.com/2007/02/21/keracunan-nitrit-nitrat/.wordpress.com/2009/04/laporan-magangperikanan. H. Ilmu Pengetahuan Tentang Biota Laut. 2002. 2007.blogspot. Biologi Laut . Wahyudhy. dan Mustahal. Kakap. 87 halaman Sunyoto. Jakarta. Penerbit Djambatan. manik. Juwana. Keracunan Nitrit-nitrat. Jakarta. dkk.html?zx=769a8d327799ce15.

Kabupaten Situbondo. Kecamatan Panarukan. Propinsi Jawa Timur . Peta Lokasi Kerja Praktek Lapangan Desa Pecaron.LAMPIRAN Lampiran 1.

Lampiran 2. Denah Balai Budidaya Air Payau Situbondo 1 6 3 4 23 1 1 5 7 9 11 1 23 23 10 10 30 7 23 28 29 23 30 31 7 7 9 12 13 14 23 8 16 15 19 17 25 26 27 23 32 23 33 17 34 17 19 8 18 9 15 35 24 23 21 23 23 18 20 22 21 U .

2. 29. Bak kultur Chlorella sp 9. Bak pembenihan Abalone 15. 24. Bak induk bandeng 18. Bak filter sand 16. Rumah genset. 27. 32. Ruang staf teknis dan Laboratorium Bioteknologi 28. Bak pembenihan tengah 17. 35. Garasi mobil. Dapur. 7. 33. 8. Koperasi dan workshop. Musholla. Kantor. Ruang pembuatan pellet. Bak pembenihan barat. Auditorium. Laboratorium pakan alami 14. Perpustakaan 30. Bak penampungan telur 3. 21. 31.Keterangan : 1. . Rumah karyawan. Bak tandon air tawar. Pompa air laut. Bak induk kerapu. 6. Bak calon induk kerapu. Ruang kuliah. Bak tandon air laut 20. Asrama 22. Bak pembesaran udang Vanname 19. 34. 25. Bak pemeliharaan nener 11. Broodstock Center Udang Vanname 5. Rumah blower. 4. Bak kultur Brachionus plicatilis 10. Bak pembenihan timur 13. Bak karantina 12. Laboratorium nutrisi dan pakan buatan 26. Laboratorium penyakit dan kualitas air. 23.

Si. Kepala Seksi Bag. Tata Usaha Ir. Akhmad Romadlon. Kelompok Jabatan Fungsional Koord. M. Struktur Organisasi Balai Budidaya Air Payau (BBAP) Situbondo Kepala Balai Ir. Siti Zubaidah. Made Yooriksa Kepala Seksi Pelayanan Teknis Dede Sutende Kepala Seksi Stand. Hama dan Peny. M.Si. Ikan Litkayasa Fungsional Lainnya . : Ir. S. & Info. Perekayasa Pengawas Benih Pranata Humas Pengawas Budidaya Peng.PT. M. Slamet Subyakto.Si.Lampiran 3.

400 µm 1.000 µm 20 – 50 µm 50 – 100 µm 100 – 200 µm 200 – 300 µm 300 – 600 µm 500 – 900 µm 900 – 1.200 – 2. Jadwal Pemberian Pakan Waktu 06. Daftar Ukuran Pakan Uraian Rotemia NRD ½ NRD 2/3 NRD 2/4 NRD 3/5 NRD 4/6 NRD 5/8 NRD G8 (8/12) NRD G12 (12/20) Nosan R-1 Rotifier Love Larva Otohime B-1 Otohime B-2 Otohime C-1 Otohime C-2 Otohime S-1 Otohime S-2 Otohime EP1 Otohime EP2 b.00 15.00 10.200 µm .30 16.00 Jenis Pakan Minyak cumi Pakan buatan (Rotofera/Rotemia) Pakan Buatan Rotifer Artemia Pakan Buatan Pakan Buatan Artemia Pakan Buatan Rotifer Artemia Udang rebon Keterangan Larva (D2-D8) Larva -Benih Benih Larva (D 2. Daftar Ukuran Pakan dan Jadwal Pemberian a.Lampiran 4.000 µm 1.00 15.00 14.00 07.D 36) Larva-Benih Benih Larva-Benih Benih Larva-Benih Larva (D2-D8) Larva-Benih Benih Ukuran pakan 20 – 50 µm 100 – 200 µm 200 – 300 µm 200 – 400 µm 300 – 500 µm 400 – 600 µm 500 – 800 µm 800 – 1.500 µm 2.00 12.00 09.200 µm 1.400 µm 1.00 11.

000/unit 10.000 25.000.Bak larva .000.000/unit 6.000 300.000 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 .000/unit 4.000.000.000/unit 450.Bak kultur rotifer 12.000 2.000 24.000 10.000 400.000 15.000/unit 2.Saringan artemia 200 mikron Jumlah 1 unit 1 unit 6 unit 10 unit 4 unit 1 unit 1 unit 1 unit 1 unit 1 unit 1 unit 1 unit 2 buah 1 unit 1 unit 1 unit 1 unit 1 unit 1 unit 2 buah 2 buah 1 buah 8 buah 3 buah 1 buah 8 buah 20 buah 1 buah 2 buah Harga Satuan (Rp) 100.000.000/buah 200.000/buah Jumlah (Rp) 50.000.000.000 16.5 PK Pompa air tawar5 PK Pompa celup(dab) Hi-blow 5 PK Instalasi air laut Instalasi air tawar Instalasi aerasi Instalasi listrik Genset 3000 watt Bak fiber Bak fiber Tabung gas Peralatan pembenihan: .000/unit 600.000/unit 10.Rumah pompa air laut 6 m2 . Biaya investasi No.Ember 20 liter .000 40.000.Hatchery 140 m2 .000.000.000.000 900.000. a.000.Rumah jaga 25 m2 Pompa air laut 7.000 1.000 2.500/unit 1.000/unit 10.000.Gayung 2 liter .000.000/unit 5.000.600.000/unit 1.750.000.000.000 3.000/unit 10.Saringan rotifera 300 mikron .Ember 30 liter .000.Rumah Hi-blow . Analisis Usaha dalam Produksi Benih Kerapu Tikus di Balai Budidaya Air Payau Situbondo.000 3.000.000/unit 25.000/buah 3.000 200.000/unit 2.000 2.000/buah 3. .Baskom sedang .000/unit 4.000.000/unit 3.082.000.000 30.Runah genset 6m2 .000 40.000 24.000 3.000.400 1.000.000/unit 2.000/unit 4.Ember 5 liter .082.000 10.000.000/buah 10.Lampiran 5.000 10.000 3.5 m3 .000.500 1.000 4.000 600. 1 2 Uraian Lahan 500 m2 Borongan Bangunan .000/buah 300.5 m3 .000.Bak filter air laut 18 m3 .400/unit 1.000.000/unit 3.000.000/unit 1.117.000/m2 15.Bak kultur Chlorella sp 12.117.600.750.000 6.000/unit 3.000.000.

000 1.250.000 350.500/buah 2.595.000 150.000/buah 100.500/buah 2.000 700.000/unit 550.000/unit 20.340 .- Saringan udang 1 buah rebon Saringan pakan 150 2 buah mikron Filter bag 6 buah Selang aersi 1 roll Batu aerasi 100 buah Kran aerasi 100 buah Pemberat aerasi 100 buah Plastic penutup 1 roll Keranjang koli 20 buah Gelas piala 1000 ml 1 buah Gelas piala 200 ml 1 buah Gelas piala 50 ml 1 buah Tong plastik 60 ml 2 buah Tong plastik 80 ml 2 buah Piring kecil (teplek) 1 lusin Kulkas 1 pintu 1 unit Lemari plastic 1 unit Selang 1” 20 m Spon (busa kasar) 1 roll White board 1 buah Total Biaya Investasi 100.000 75.000/buah 300.000 400.000 300.250.500.000/roll 10.000 1.000 60. Biaya Tetap 1 2 3 4 5 6 Penyusutan investasi) Gaji Pegawai Biaya Listrik Perawatan Peralatan (5% dari investasi) Pajak Pulsa Handphone Total Biaya Tetap Biaya Tetap Selam 1 Tahun 100.0000/buah 200.000/m 300.000/buah 75.000 Jumlah Harga Satuan (Rp) Jumlah (Rp) 32.000 550.365.900 b.000 300.000/buah 1.890 4. Biaya Tetap dan Variabel No Uraian I.000/buah 60.000/buah 175.000/buah 75.000/buah 3.000/buah 25.000/buah 35.000 145.945 50.800.000/roll 75.000 200.000/buah 200.000/bln 2 orang 800.000 35.398.000/bln/org 500/bln (10% dari 17.000 50.000 200.000 215.000/buah 145.000 300.835 129.733.000 8.000 200.682.000 150.000 200.000 250.

5 675.000 2.000 3. Udang rebon Total Biaya Variabel Biaya Variabel Selama 1 tahun Total Biaya Operasional (TC) 1 siklus Biaya Operasional (TC) 1 Tahun 15.000 112.200.740 .185 190. Artemia b.780.000 c.000 37.064.000/kg 630.350 450.117.000/kg 600.000 Formalin Chlorine Na-thiosulfate Scott’s Emullsion 3 btl 20 L 20 L 300.000 40 kaleng 300.000 btr 1.000/kg 600.400 47.000 4 kg 6 kg 500 bks 300. Pakan buuatan : Ukuran mikron Ukuran mikron Ukuran mikron Ukuran mikron Ukuran mikron Ukuran 800 mikron 400-600 300-500 200-400 200-300 100-200 1 kg 600.516.000 2 kg 275.000 4 kg 300.II.500.000/kg 550.469.000 2 kg 300.000 300.200.000 100.000/kaleng 3.000/kg 1. Biaya Variabel 1 2 Telur Obat-obatan : 3 Pakan : a.000/bks 1.000/kg 5.450/botol 300/000/kaleng 300.000 300.200.350 60.

000 .9% b. penerimaan (TR) TR = Benih yang dihasilkan x ukuran x harga jual = 20.000 154.000 per siklus Penerimaan yang diperoleh untuk per siklus yaitu sebesar Rp 99.000. Jadi kelangsungan hidup (SR) yang didapatkan adalah sebagai berikut : SR (%) = Jumlah benih yang hidup Jumlah larva yang tebar X 100 % = 20.000. Jumlah telur yang tebar yaitu sebanyak 450.000 x 100% = 12.000 x 3. Rincian penerimaan yang diperoleh usaha pembenihan ikan kerapu dapat dilihat pada perhitungan berikut : a.000 butir Jumlah benih yang hidup hingga pemanenan yaitu sebanyak 20.000 butir HR = 44% x 450.000 = 154.c.000 ekor.3 cm x Rp 1.500/cm = 99.1 Penerimaan (TR) Penerimaan adalah jumlah uang yang diperoleh dari hasil penjualan benih. Penghasilan c.

keuntungan yang diperoleh per siklus adalah sebesar Rp 51.483.000. Keuntungan yang diperoleh dalam produksi benih kerapu tikus yaitu sebagai berikut : Keuntungan = Penerimaan-Biaya Operasional = 99.1 sehingga usaha dalam produksi benih kerapu tikus ini layak untuk dilaksanakan. Suatu usaha dikatakan layak jika nilai R/C ratio lebih dari 1 (R/C > 1). .185 = 51.2 Keuntungan Keuntungan merupakan selisih antara pendapatan dengan total biaya prosuksi (biaya operasional).3 R/C Ratio Analisis ratio merupakan parameter analisis yang digunakan untuk melihat pendapatan relative suatu usaha dalam 1 tahun terhadap biaya yang dipakai dalam kegiatan tersebut.185 = Rp 2.000 47.- c.815 Jadi.516.000.1 R/C > 1 yaitu 2. Nilai R/C ratio untuk pembenihan ikan kerapu tiku dapat dilihat pada perhitungan sebagai berikut : R/C ratio = Hasil penjualan Total biaya per siklus = 99.483. Semakin tinggi nilai R/C ratio.516. tingkat keuntungan suatu usaha akan semakin tinggi.815. Keutungan diperoleh jika selisih antara pendapatan dengan total biaya adalah positif.c.000 – 47.

516.599. nilai BEP harga lebih rendah dari pada harga sat ini.4 Break Event Poin (BEP) BEP merupakan parameter analisis yang digunakan untuk mengetahui batas nilai produksi atau volume produksi suatu usaha mencapai titik impas. yaitu tidak untung atau rugi.5 Payback Periode (PP) Analisis Payback Periode (PP) bertujuan untuk mengetahui waktu tingkat pengembalian investasi yang telh ditanamkan pada suatu usaha.950 = 9.000 = = Rp 2.185 20. Usaha dinyatakan layak apabila nilai BEP produksi lebih besar dari jumlah unit yang sedag diproduksi saat ini.2 ekor benih atau dengan harga jual benih seharga Rp 719/cm.3 cm = Rp 719/cm Artinya kegiatan pembenihan ikan kerapu tikus akan mengalami titik impas apabila telah menjual sebanyak 9. seperti usaha . Nilai BEP (unit) dan BEP (Rp) pada usaha pembenihan ikan kerapu tikus dapat dilihat pada perhitungan berikut ini : BEP unit = Biaya total Harga Satuan = 47.c.375/3.599.516. c.185 4.2 ekor BEP (Rp) = Biaya total Total produksi 47. Sementara itu.

pembenihan ikan kerapu tikus.900 51.733. biaya investasi yang dikeluarkan untuk usaha pembenihan ikan kerapu tikus akan kembali dalam jangka waktu 4.483.815 x 1 tahun = 4.2 tahun Jadi. Nilai PP pada usaha pembenihan ikan kerapu tikus dapat dilihat pada perhitungna berikut ini : PP = Biaya Investasi Keuntungan x 1 tahun = 215.2 tahun atau dalam jangka 4 tahun 2.4 bulan. .

2 Bak Rotifer a. Sarana dan Prasarana Pembenihan Ikan Kerapu Tikus Budidaya di Balai Budidaya Air Payau Situbondo a.6 Tandon Air Laut a.7 Tandon Air Tawar a.5 Bak Karantina Ikan a.3 Bak Chlorella sp a.8 Pompa Air Laut . Gedung a.Lampiran 6.1Bak Pemeliharaan Larva Kerapu Tikus a.4 Bak Pemeliharaan induk ikan Kerapu Tikus a.

1 Pakan Ikan Rucah b. Peralatan c.5 sendok takaran Pengambilan Telur c.2 Alat Taging c.6 Saringan .b.6 Artemia Cysts c. Pakan Ikan b.4 Vitamin b.3 HCG(Human Chorionic Gonadotropin c.3 Minyak Cumi b.4 Akuarium c.2 Udang Rebon b.5 Scott’s Emulsion b.1 Egg Colector c.

00 31 C 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC o 16.Lampiran 7.00 - 16.00 31oC 31 C 31 C o o 06.00 31 C 31oC 31 C 31 C 30oC 30oC 30oC 30oC 30oC 31oC 30oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 30oC 30oC 30oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 30oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 30oC 30oC 31oC o o o 06.00 31 C 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 30oC 30oC 31oC 31oC o bak 6 12.00 06.00 31 C 31 C 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC o o 16.00 31oC 31 C 31 C o o 16.00 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 08-Agust-10 o o 09-Agust-10 30 C 29 C 29oC 29oC 30oC 30oC 29oC 30oC 30oC 30oC 29oC 29oC 29oC 30oC 30oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 30oC 31oC 31oC 30oC o 10-Agust-10 31 C o 31 C 11-Agust-10 12-Agust-10 3-Agust-10 14-Agust-10 15-Agust-10 16-Agust-10 17-Agust-10 18-Agust-10 19-Agust-10 20-Agust-10 21-Agust-10 22-Agust-10 23-Agust-10 24-Agust-10 .00 30oC 30 C 30 C o o 12.00 30 C 30oC 30 C 30 C 31oC 31oC 31oC 30oC 30oC 30oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 30oC 30oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC o o o bak 1 12.00 30 C 31oC 31 C 31 C 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC o o o suhu harian kolam ikan kerapu tikus bak 2 bak 4 12. Suhu Harian pada Kolam Ikan Kerapu Tikus tanggal 06.

25-Agust-10 29oC 30oC 29oC 29oC 29oC 29oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 30oC 31oC 30oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 30oC 31oC 30oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 30oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 30oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 30oC 31oC 31oC 30oC 31oC 31oC 30oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 31oC 26-Agust-10 27-Agust-10 28-Agust-10 29-Agust-10 30-Agust-10 31-Agust-10 .