SOSIALISASI POLITIK DALAM MASYARAKAT BERKEMBANG

SOSIALISASI POLITIK DALAM MASYARAKAT BERKEMBANG I. Pendahuluan. Studi tentang sosialisasi politik telah menjadi bidang kajian yang sangat menarik akhir-akhir ini. Ada dua alasan yang melatarbelakangi sehingga sosialisasi politik menjadi kajian tersendiri dalam politik kenegaraan: Pertama, Sosialisasi politik dapat berfungsi untuk memelihara agar suatu system berjalan dengan baik dan positif. Dengan demikian, sosialisasi merupakan latihan agar individu sadar dan merasa cocok dengan system serta kultur (budaya) politik yang ada. Kedua, Sosialisasi politik ingin menunjukkan relevansinya dengan sistem politik dan data mengenai orientasi anak-anak terhadap kultur politik orang dewasa, dan pelaksanaannya di masa mendatang mengenai sistem politik. Di dalam kehidupan politik sosialisasi merupakan suatu kunci bagi perilaku. Yang berarti bahwa sosialisasi politik merupakan suatu proses bagaimana memperkenalkan sistem politik pada seseorang, dan bagaimana orang tersebut menentukan tanggapan serta reaksi ± reaksinya terhadap gejala-gejala politik. Melalui sosialisasi politik , individu-individu diharapkan mau dan mampu berpartisipasi secara bertanggung jawab dalam kehidupan politik. Dalam hal ini sosialisasi merupakan suatu proses pedagogis ( proses pendidikan ), atau suatu proses pembudayaan insan-insan politik. Sosialisasi politik juga harus berjalan secara benar, dalam arti semua nilai, pengetahuan, dan orientasi politik yang diinternalisasikan kepada seluruh warga negara jangan sampai menyesatkan atau menyimpang dari hakikat keindonesiaan sesuai dasar negara dan konstitusi. Sedangkan sosialisasi politik yang baik, itu berarti upaya-upaya yang dilakukan dalam rangka itu haruslah bersifat dialogis dan bukan indoktriner seperti yang terjadi di era Orde Baru. Lalu, siapakah yang menjadi agen-agen sosialisasi politik itu? Masalah apa saja yang ada dalam sosialisasi politik di masyarakat berkembang? Dimana budaya masyarakat Indonesia yang masih bercorak bapakisme, maka umumnya rakyat lebih mendengar apa kata para pemimpin, elit politik, dan mereka yang dianggap sebagai tokoh masyarakat. II. Pembahasan A. SOSIALISASI POLITIK 1. Pengertian Sosialisasi Politik Sosialisasi Politik, merupakan salah satu dari fungsi-fungsi input sistem politik yang berlaku di negara-negara manapun juga baik yang menganut sistem politik demokratis, otoriter, diktator dan sebagainya. Sosialisasi politik, merupakan proses pembentukan sikap dan orientasi politik pada anggota masyarakat. Keterlaksanaan sosialisasi politik, sangat ditentukan oleh lingkungan sosial, ekonomi, dan kebudayaan di mana seseorang/individu berada. Selain itu, juga ditentukan oleh interaksi pengalaman¬-pengalaman serta kepribadian seseorang. Sosialsiasi politik, merupakan proses yang ber¬langsung lama dan rumit yang dihasilkan dari usaha saling mempengaruhi di antara kepribadian individu dengan pengalaman-pengalaman politik yang relevan yang memberi bentuk terhadap tingkah laku politiknya. Pengetahuan, nilai-nilai, dan sikap¬-sikap yang diperoleh seseorang itu membentuk satu layar persepsi, melalui mana individu menerima rangsanganrangsangan politik. Tingkah laku politik seseorang berkembang secara berangsur-angsur. 2. Pengertian Menurut Para ahli

dengan siapa individu-individu yang secara bertahap memasuki beberapa jenis relasi-relasi umum. pertama: sosialisasi politik hendaknya dilihat sebagai suatu proses yang berjalan terus-menerus selama peserta itu hidup. Irvin L. dan saranasarana sosialisasi yang lainnya kepada warga negara baru dan mereka yang menginjak dewasa. Sosialisasi politik menunjukkan pada proses dimana sikap-sikap politik dan pola-pola tingkah laku politik diperoleh atau dibentuk. Berikut ini akan dikemukana beberapa pengertian sosialisasi politik menurut para ahli. atau aspek-aspek tingkah laku. Sosialisasi secara fundamental merupakan proses hasil belajar. sejauh peranan-peranan baru masih harus terus dipelajari. c. dan bersamaan dengan itu lahir pulalah kebudayaan politik baru. Sosialisasi politik adalah komunikasi dengan dan dipelajari oleh manusia lain. guru. Eisentadt. Hasil dari penghayatan itu akan melahirkan sikap dan perilaku politik baru yang mendukung sistem politik yang ideal tersebut. Alfian. b. . David F. Sosialisasi politik merupakan suatu proses dimana seseorang mempelajari dan menumbuhkan pandangannya tentang politik. e. Richard E. Dari pandangan Alfian. yang menanamkan pada individu-individu keterampilan-keterampilan (termasuk ilmu pengetahuan). Mengartikan pendidikan politik sebagai usaha sadar untuk mengubah proses sosialisasi politik masyarakat. nilai-nilai dan pandangan-pandangan politik dari orang tua. dituntut untuk mengembangkan tingkah laku aktualnya yang dibatasi di dalam satu jajaran yang menjadi kebiasaannya dan bisa diterima olehnya sesuai dengan standar-standar dari kelompoknya. sehingga mereka mengalami dan menghayati betul nilai-nilai yang terkandung dalam suatu sistem politik yang ideal yang hendak dibangun. dan lebih khusus lagi. namun pada umumnya tetap pada prinsip-prinsip dan koridor yang sama. yang dilahirkan dengan banyak sekali jajaran potensi tingkah laku. Almond. f. a. nilai-nilai atau perasaan-perasaan mengenai politik secara tegas. dalam ³Culture and Socialization´. memberikan indikasi umum hasil belajar tingkah laku individu dan kelompok dalam batasbatas yang luas. Dari sekian banyak definisi ini nampak mempunyai banyak kesamaan dalam mengetengah-kan beberapa segi penting sosialisasi politik.Berbagai pengertian atau batasan mengenai sosialisasi politik telah banyak dilakukan oleh para ilmuwan terkemuka. Kedua : sosialisasi politik dapat berwujud transmisi yang berupa pengajaran secara langsung dengan melibatkan komunikasi informasi. Dawson dkk. Oleh Mochtar Mas¶oed disebut dengan transmisi kebudayaan. d. Proses mana berlangsung dalam keluarga. Child. ada dua hal yang perlu diperhatikan.N. berkenaan pengetahuan atau informasi. Denis Kavanagh. dan juga merupakan sarana bagi suatu generasi untuk menyampaikan patokan-patokan politik dan keyakinan-keyakinan politik kepada generasi berikutnya. Aberle. motif-motif dan sikap-sikap yang perlu untuk menampilkan peranan-peranan yang sekarang atau yang tengah diantisipasikan (dan yang terus berkelanjutan) sepanjang kehidupan manusia normal. motif-motif (nilainilai) dan sikap-sikap. a. kelompok pergaulan. dalam From Generation to Ganeration. b. kelompok kerja. sistem politik dan seterusnya. S. Sama halnya dengan pengertian-pengertian tentang budaya politik. belajar dari pengalaman/ polapola aksi. Sosialisasi politik dapat dipandang sebagai suatu pewarisan pengetahuan. Sosialisasi politik adalah segenap proses dengan mana individu. sebagai berikut. meskipun diantara para ahli politik terdapat perbedaan. media massa. atau kontak politik langsung. Sosialisasi politik adalah pola-pola mengenai aksi sosial. g. sekolah. Gabriel A.

Kiranya kita dapat memahami bahwa sosialisasi politik adalah proses.. tertutup. tidak perlu disangsikan. dengan mana individuindividu dapat memperoleh pengetahuan. merupakan hasil eksperimen. d. tidak bisa diakui dan tidak bisa dkenali. dan baik secara implisit maupun eksplisit memberikan penjelasan mengenai tingkah laku sosial.c. seperti "keterikatan kepada sekolahsekolah mereka". sebagai pemeliharaan sistem. Dalam kenyataan tidak ada alasan sama sekali untuk menyatakan mengapa suatu teori mengenai sosialisasi politik itu tidak mampu memperhitungkan: ada atau tidaknya perubahan sistematik dan perubahan sosial. menyediakan satu teori yang memungkin pencantuman dua variabel penting. PROSES SOSIALISASI POLITIK Perkembangan sosiologi politik diawali pada masa kanak-kanak atau remaja. Hasil riset David Easton dan Robert Hess mengemukakan bahwa di Amerika Serikat. Anak muda itu mempunyai . Apabila tidak adanya legitimasi itu disertai dengan sikap bermusuhan yang aktif terhadap sistem politiknya. nilai-nilai dan sikap-sikap terhadap sistem politik masyarakatnya. akan tetapi apabila legitimasi itu dibarengi dengan sikap apatis terhadap sistem politiknya. baik yang terbuka maupun yang tertutup. Jadi. negara bisa secara berhati-hati menyebarkan ideologi-ideologi resminya. Tahap lebih awal dari belajar politik mencakup perkembangan dari ikatan-ikatan lingkungan. siapa yang mengajar dan hasil-hasil apa yang diperoleh. Peristiwa ini tidak menjamin bahwa masyarakat mengesahkan sistem politiknya. Instruksi merupakan bagian penting dari sosialisasi. bahwa satu bagian besar bahkan sebagian terbesar sosialisasi. Akan tetapi tidak bisa terlalu ditekankan. Dari sekian banyak pendapat di atas. bahwa sosialisasi merupakan prakondisi yang diperlukan bagi aktivitas sosial. maka perubahan mungkin saja terjadi. sistematik dan disengaja. tergantung pada keadaan yang menyebabkan pengingkaran tersebut. Kedua : adalah berkaitan dengan keluasan. tetapi sosialisasi berlangsung sepanjang hidup. akan tetapi apakah hal ini menuju pada stagnasi atau pada perubahan. orang tua bisa mengajarkan kepada anak-anaknya beberapa cara tingkah laku sosial tertentu. dapat memasukkan sejumlah ketentuan mengenai pendidikan kewarganegaraan. pengalaman dan kepribadian individu. Dua variabel penting adalah pengalaman dan kepribadian dan kemudian akan dibuktikan bahwa kedua-duanya. atau istilah kaum fungsionalis. Sebab hal ini bisa saja menyebabkan pengingkaran terhadap legitimasi. yang diakses yang dipelajari dan juga bahwa berupa instruksi. bukan tidak mungkin terjadi stagnasi. sekalipun hal ini mungkin terjadi. yang mencakup tingkah laku. walaupun kenyataan bahwa sosialisasi itu sebagian bersifat terbuka. dengan siapa yang diajar. bahwa mereka berdiam di suatu daerah tertentu. sistem-sistem pendidikan kemasyarakatan. atau oleh yang melakukan tindakan yang menyangkut pengalaman tersebut. belajar politik dimulai pada usia tiga tahun dan menjadi mantap pada usia tujuh tahun. namun secara total adalah tidak realistis untuk berasumsi bahwa makna setiap pengalaman harus diakui oleh pelakunya. sosialisasi itu tidak perlu dibatasi pada usia anak-anak dan remaja saja (walaupun periode ini paling penting). lebih-lebih lagi pengalaman dan kepribadian kelompok-kelompok individu. B. karena semua itu berlangsung secara tidak sadar. dan tidak membatasi diri dengan segala sesuatu yang telah dipelajari. ada dua masalah yang berasosiasi dengan definisi-definisi tersebut di atas. menurut Michael Rush & Phillip Althoff.adalah fundamental bagi proses sosialisasi dan bagi proses perubahan. Pertama : seluas manakah sosialisasi itu merupakan proses pelestarian yang sistematis? Hal ini penting sekali untuk menguji hubungan antara sosialisasi dan perubahan sosial.

tetapi juga termasuk ikatan-ikatan kekeluargaan dan tradisi pada umumnya b. 3. Adapun sarana alat yang dapat dijadikan sebagai perantara/sarana dalam sosialisasi politik. 1. kejujuran. dan pemungutan suara (pemilu). Di mulai dari keluarga inilah antara orang tua dengan anak. nilai-nilai. dan kepercayaan berkaitan dengan pemerin¬tahan. antara lain : 1. pencapaian/perolehan. agar mendapat dukungan luas dari masyarakat dan senantiasa dapat memenangkan pemilu. seperti pemberian suara.kepercayaan pada keindahan negerinva. demokrasi. Perkembangan pembedaan antara institusi-institusi politik dan mereka yang terlibat dalam aktivitas yang diasosiasikan dengan institusi-institusi ini. 4. Pada usia sembilan dan sepuluh tahun timbul kesadaran akan konsep yang lebih abstrak. menjaga keamanan dan ketentraman. presiden. Proses ini melibatkan orang-orang baik dari generasi tua maupun dari generasi muda. presiden dan polisi. ketulusan. mampu menanamkan nilai-nilai dan norma-norma dari satu generasi ke generasi berikutnya. Politik. sehingga tanpa disadari terjadi tranfer pengetahuan dan nilai-nilai politik tertentu yang diserap oleh si anak. Ini berarti partai politik tersebut setelah merekrut anggota kader maupun simpati-sannya secara periodik maupun pada saat kampanye. Easton dan Dennis mengutarakan ada 4 (empat) tahap dalam proses sosialisasi politik dari anak. ganjaran-ganjaran material mobilitas sosial. yaitu sebagai berikut. siswa telah memperoleh pengetahuan awal tentang kehidupan berpolitik secara dini dan nilai-nilai politik yang benar dari sudut pandang akademis. Keluarga (family). mahkamah agung. dan peranan warga negara dalam sistem politik. dan kemurahan hati. Menurut Easton dan Hess. Dengan demikian. sering terjadi ³obrolan´ politik ringan tentang segala hal. menjauhkan diri dari kericuhan. d. keadilan. 2. Selain . Prestasi. Suatu penelitian secara khusus telah dilakukan guna menyelidiki nilai-nilai pengasuhan anak yang dilakukan oleh berbagai generasi orang tua. bergaul dengan balk. Sosialisasi politik adalah istilah yang digunakan untuk menggambarkan proses dengan jalan mana orang belajar tentang politik dan mengembangkan orientasi pada politik. Intelektual. Salah satu fungsi dari partai politik adalah dapat memainkan peran sebagai sosialisasi politik. kebaikan serta kebersihan rakyatnya. Nilai-nilai itu adalah sebagai berikut : a. Di sekolah melalui pelajaran civics education (pendidikan kewarganegaraan). Peranan keluarga dalam sosialisasi politik sangat penting. Pengenalan mengenai institusi-institusi politik yang impersonal. Partai politik harus mampu menciptakan ³ image ´ memperjuangkan kepentingan umum. Tradisi. e. seperti orang tua anak. Partai Politik. f. yaitu antara pejabat swasta dan pejabat pemerintah. Sekolah. Pribadi. Pengenalan otoritas melalui individu tertentu. ketekunan. seperti kongres (parlemen). Penyesuaian diri. Manifestasi ini diikuti oleh simbol-simbol otoritas umum. c. 3. Wadah penanaman (sosialisasi) nilai-nilai politik yang paling efisien dan efektif adalah di dalam keluarga. 2. Perkembangan pembedaan antara otoritas internal dan yang ekternal. siswa dan gurunya saling bertukar informasi dan berinteraksi dalam membahas topik-topik tertentu yang mengandung nilai-nilai politik teoritis maupun praktis. kebebasan sipil. Keduanya dianggap sebagai tokoh kekuasaan. seperti agen polisi. terutama agama. belajar dan pengetahuan sebagai tujuan. sikap-sikap. anak-anak mempunyai gambaran yang sama mengenai ayahnya dan presiden selama bertahun-tahun di sekolah awal. dan bendera nasional.

Pertumbuhan penduduk di negara-negara berkembang dapat melampaui kapasitas mereka untuk "memodernisasi" keluarga tradisonal lewat indus¬trialisasi dan pendidikan. sedikitnya ada tiga alasan utama mengapa pendidikan politik . tidak hanya secara material. terdapat 3 (tiga) faktor masalah penting dalam sosialisasi politik pada masyarakat berkembang. sekolah (mulai dari taman kanak-kanak sampai perguruan tinggi). maka masyarakat dalam kehidupan politik kenegaraan sebagai satu sistem akan melahirkan budaya politik yang bertanggung jawab. seperti keluarga. 3. Yaitu suatu masyarakat yang mandiri. sehingga menghasilkan masyarakat yang mempunyai kesadaran dan budaya politik "etis" dan "normatif" dalam mewujudkan partisipasi politiknya. Contoh yang sama dapat juga dilihat pada negara Ghana. teman bermain. seperti radio. dan media massa serta peristiwa sejarah yang telah berlangsung ( pengalaman tokoh-tokoh politik yang telah tiada) berperan sebagai agen atau pelaku sosialisasi. saudara. surat kabar. dan sebagainya yang disiarkan ke masyarakat. TV. si Ibu dapat memainkan satu peranan penting pada saat sosialisasi dini dari anak. tokoh-tokoh politik juga secara tidak langsung melakukan sosialisasi politik. debat. Di Indonesia proses sosialisasi atau pendidikan politik tidak memberikan ruang yang cukup untuk memunculkan masyarakat madani (civil society). individu dalam negara akan menerima norma. Ini berarti tanggung jawab masyarakat sesuai dengan hak dan kewajibannya. Paling sedikitnya secara parsial juga terimbangi oleh peralihan dari nilai-nilai ke dalam daerah-daerah perkotaan. Hal ini dilukiskan dengan jelas oleh contoh negara Turki. Sosialisasi Politik dalam Masyarakat Berkembang Masalah sentral sosialisasi politik dalam masyarakat berkembang ialah menyang¬kut perubahan. Namun. Tolak ukur keberhasilan sosialisasi politik terletak pada sejauh mana pendidikan politik yang telah dilakukan. Sering terdapat perbedaan yang besar dalam pendidikan dan nilai-nilai tradisional antara jenisjenis kelamin. dan nilai-nilai dari generasi sebelumnya. kelompok agama. di mana satu usaha yang sistematis telah dilakukan untuk mempengaruhi maupun untuk mempermudah mencocokkan perubahan yang berlangsung sesudah Perang Dunia Pertama. dan dilakukan oleh bermacam-macam agens. Adalah mungkin pengaruh urbanisasi. yaitu bagaimana dirinya mampu berperan dan berpartisipasi dalam kehidupan politik kenegaraan atas dasar kesadaran politik yang baik dan tinggi. tetapi juga melalui proses-proses sosialisasi. sehingga kaum wanita lebih erat terikat pada nilai tradisonal. Apabila sosialisasi politik bisa dilaksanakan dengan baik melalui berbagai sarana yang ada. 2. dan partai politik. sosialisasi politik juga dapat dilakukan melalui kelompok kerja. khususnya dengan pembentukan komunitas-¬komunitas kesukuan dan etnis di daerah-daerah ini. yang dilakukan melalui berbagai tahap. Mustapha Kemal (Kemal Ataturk) berusaha untuk memodernisasi Turki. yang selalu dianggap sebagai satu kekuatan perkasa untuk menumbangkan nilai-nilai tradisional. yang mampu mengisi ruang publik sehingga mampu membatasi kekuasaan negara yang berlebihan. sistem keyakinan. C. Dalam kaitan ini. yaitu sebagai berikut : 1. lingkungan pekerjaan. Masyarakat madani merupakan gambaran tingkat partisipasi politik pada takaran yang maksimal.melalui sarana keluarga. Dan juga melalui berbagai seminar. majalah. dan juga internet. dan tentu saja media massa. sekolah. kelompok sebaya. Dengan sosialisasi politik. dialog. Menurut Robert Le Vine.

Akibatnya anak akan tetap bergantung kepada orang tua. Demikian juga keputusan tentang siapa yang menjadi pilihan jodoh si anak. kecuali anak sudah menjadi ³orang´ seperti kedua orang tuanya. bukan menyangkut dimensi-dimensi yang bersifat evaluatif. tingkat sosialisasi politik warga masyarakat seperti ini baru pada tingkat kongnitif. karena mereka lebih terpaku kepada kehidupan ekonomi dari pada memikirkan segala sesuatu yang bermakna politik. Sementara itu di Indonesia sering tidak ada hubungan antara bertambah umur anak dengan tingkat ketergantungan kepada orang tua. semakin bertambah umur anak. bahkan setelah memasuki dunia kerja. Pertama. Di sana anak diajarkan untuk mandiri dan terlibat dalam diskusi keluarga menyangkut hal-hal tertentu. wacana tentang kebijakan pemerintah menyangkut masalah penting bagi masyarakat menjadi tidak penting buat mereka. Berbeda dengan negara yang sudah maju seperti Amerika. dalam masyarakat kita anak-anak tidak dididik untuk menjadi insan mandiri. Oleh karena itu.dan sosialisasi politik di Indonesia tidak memberi peluang yang cukup untuk meningkatkan partisipasi politik masyarakat. yaitu pemenuhan kebutuhan dasar. Karena ada hal lain yang lebih penting. tingkat politisasi sebagian besar masyarakat kita sangat rendah. Anakanak tidak dilibatkan sama sekali. surat kabar tertentu yang ditujukan . Hal ini berbeda sekali di barat. pendidikan politik di Indonesia lebih merupakan sebuah proses penanaman nilai-nilai dan keyakinan yang diyakini oleh penguasa negara. akan semakin sedikit bergantung kepada orang tuanya. barangkali. bukanlah skala prioritas yang penting. memulai kuliah di PT. Setiap warga negara secara individual sejak usia dini sudah dicekoki keyakinan yang sebenarnya adalah keyakinan kalangan penguasa. Kedua. Para elite politik pemerintahan mungkin mempunyai sumber-sumber informasi khusus melalui badan-badan birokrasi tertentu. Inggris. merupakan domain orang dewasa. Di kalangan keluarga miskin. sedikit lebih terbuka dan individu-individu dapat lebih leluasa untuk menentukan pilihannya menyangkut informasi yang mana yang dapat dipertanggung-jawabkan kebenaran dan ketepatannya. Di sana. pengaruh media masa (radio. petani. buruh. Anakanak bahkan mengalami alienasi dalam politik keluarga. termasuk dalam hal pendidikan politik. bahwa setiap individu wajib mengikuti pendidikan politik melalui program-program yang diciptakan pemerintah. Yaitu mereka harus mengikuti sejak memasuki SLTP. Proses pendidikan politik melalui media massa. Heterogenitas informasi ini memperkuat perbedaan orientasi dan sikap (attitude) diantara kelompok-kelompok yang mengalami sosialisasi primer yang amat berbeda dari kelompok ataupun teman sebaya. Ketiga. Hal itu terlihat dengan jelas. Oleh karena itu. kemudian ketika memasuki SMU. informasi yang diterima oleh aneka unsur masyarakat akan berlainan karena faktor geografis baik yang di kota maupun di desa. setiap individu yang berhubungan secara langsung dengan negara tidak mempunyai alternatif lain kecuali mengikuti kehendak negara. memasuki dunia kerja. Pada sebagian besar negara berkembang. surat kabar dan televisi) di pedesaan sangat terbatas. tidak memiliki kesadaran politik yang tinggi. Dalam suatu bangsa yang majemuk dan besar seperti Indonesia. Jerman dan sebagainya arus informasi relatif homogen. dan lain sebagainya. Keputusan anak untuk memasuki sekolah. atau universitas banyak ditentukan oleh orang tua atau orang dewasa dalam keluarga. dan lain sebagainya. termasuk keputusan tentang nasib si anak. Tidak hanya setelah selesai pendidikan. Bagi mereka. hak asasi manusia dan sejenisnya. Oleh karena itu. Jika kita amati. pengaruh struktur-struktur sosial tradisional dalam menterjemahkan informasi yang menjangkau wilayah tersebut amatlah besar. Sejumlah keputusan penting dalam keluarga. ikut terlibat dalam wacana politik tentang hak-hak dan kewajiban warga negara.

dialog. yang mampu mengisi ruang publik sehingga mampu membatasi kekuasaan negara yang berlebihan. pengaruh struktur-struktur sosial tradisional dalam menterjemahkan informasi yang menjangkau wilayah tersebut amatlah besar. Heterogenitas informasi ini memperkuat perbedaan orientasi dan sikap (attitude) diantara kelompok-kelompok yang mengalami sosialisasi primer yang amat berbeda dari kelompok ataupun teman sebaya. sangat ditentukan oleh lingkungan sosial. Yaitu suatu masyarakat yang mandiri. yaitu sebagai berikut : a. si Ibu dapat memainkan satu peranan penting pada saat sosialisasi dini dari anak. tokoh-tokoh politik juga secara tidak langsung melakukan sosialisasi politik. kelompok kerja. khususnya dengan pembentukan komunitas¬komunitas kesukuan dan etnis di daerah-daerah ini. terdapat 3 (tiga) faktor masalah penting dalam sosialisasi politik pada masyarakat berkembang. ekonomi. c. nilai-nilai dan sikap-sikap terhadap sistem politik masyarakatnya. Sering terdapat perbedaan yang besar dalam pendidikan dan nilai-nilai tradisional antara jenisjenis kelamin. dan kebudayaan di mana seseorang/individu berada. dan media massa. sekolah. semua kelompok masyarakat mempunyai akses ke suatu arus informasi dan media massa yang relatif homogen dan otonom sehingga hambatan-hambatan bahasa atau orientasi kultural sangat minim. partai politik. Masyarakat dapat melakukan kontrol terhadap para elite politik dan sebaliknya kaum elite-pun dapat segera mengetahui tuntutan masyarakat dan konsekuensi dari segala macam tindakan pemerintah. dengan mana individu-individu dapat memperoleh pengetahuan. b. Pertumbuhan penduduk di negara-negara berkembang dapat melampaui kapasitas mereka untuk "memodernisasi" keluarga tradisonal lewat indus¬trialisasi dan pendidikan. Dengan demikian. Namun. Oleh karena itu. Pada sebagian besar negara berkembang. Keterlaksanaan sosialisasi politik. termasuk dalam hal pendidikan politik. juga ditentukan oleh interaksi pengalaman¬-pengalaman serta kepribadian seseorang. kelompok sebaya. Penutup Sosialisasi politik adalah proses. setiap individu yang berhubungan secara langsung dengan negara tidak mempunyai alternatif lain kecuali mengikuti kehendak negara. Jadi. yang selalu dianggap sebagai satu kekuatan perkasa untuk menumbangkan nilai-nilai tradisional. tingkat politisasi sebagian besar masyarakat kita sangat rendah. Kedua. Ketiga. kelompok agama. pengaruh media masa (radio. Proses sosialisasi politik melibatkan agen seperti keluarga. debat. kualitas hasil pemilu sangatlah dipengaruhi oleh tingkat pemahaman pemilih terhadap siapa . surat kabar dan televisi) di pedesaan sangat terbatas. Selain itu. dalam masyarakat kita anak-anak tidak dididik untuk menjadi insan mandiri. Dan juga melalui berbagai seminar. Hal ini karena: Pertama. Di Indonesia proses sosialisasi atau pendidikan politik tidak memberikan ruang yang cukup untuk memunculkan masyarakat madani (civil society). Menurut Robert Le Vine. sehingga kaum wanita lebih erat terikat pada nilai tradisonal. III.pada kelompok kelas atau politik tertentu. Paling sedikitnya secara parsial juga terimbangi oleh peralihan dari nilai-nilai ke dalam daerah-daerah perkotaan. Adalah mungkin pengaruh urbanisasi. dan sebagainya yang disiarkan ke masyarakat.

yang dipilih dan tentang pemilu itu sendiri. Maka sangatlah penting adanya sosialisasi politik yang baik. Dan hal itu dipengaruhi oleh pelaksanaan sosialisasi politik dalam masysrakat. Sehingga penting rasanya tingkat pengetahuan politik masyarakat suatu bangsa demi kemajuan bangsanya. Jakarta: Rineka Cipta. luas. Rafael Maran. media elektronik . DAFTAR PUSTAKA Maran. 2007. Pengantar Sosiologi Politik. dan mencakup semua lapisan masyarakat agar masyarakat dapat melakukan kontrol terhadap para elite politik dan sebaliknya kaum elite-pun dapat segera mengetahui tuntutan masyarakat dan konsekuensi dari segala macam tindakan pemerintah.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful