P. 1
TEKNOLOGI PEMBUATAN PELET

TEKNOLOGI PEMBUATAN PELET

|Views: 3,453|Likes:
Published by Euis Sugihartina

More info:

Published by: Euis Sugihartina on Jun 08, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

06/20/2013

pdf

text

original

TEKNOLOGI PEMBUATAN PELET

Pelet merupakan bentuk bahan pakan yang dipadatkan sedemikian rupa dari bahan konsentrat atau hijauan dengan tujuan untuk mengurangi sifat keambaan pakan. Patrick dan Schaible (1980) menjelaskan keuntungan pakan bentuk pelet adalah meningkatkan konsumsi dan efisiensi pakan, meningkatkan kadar energi metabolis pakan, membunuh bakteri patogen, menurunkan jumlah pakan yang tercecer, memperpanjang lama penyimpanan, menjamin keseimbangan zat-zat nutrisi pakan dan mencegah oksidasi vitamin. Stevent (1981) menjelaskan lebih lanjut keuntungan pakan bentuk pelet adalah 1) meningkatkan densitas pakan sehingga mengurangi keambaan, mengurangi tempat penyimpanan, menekan biaya transportasi, memudahkan penanganan dan penyajian pakan; 2) densitas yang tinggi akan meningkatkan konsumsi pakan dan mengurangi pakan yang tercecer; 3) mencegah ³de-mixing´ yaitu peruraian kembali komponen penyusun pelet sehingga konsumsi pakan sesuai dengan kebutuhan standar. Proses pengolahan pelet merujuk pada Pujaningsih (2006) terdiri dari 3 tahap, yaitu pengolahan pendahuluan, pembuatan pelet dan perlakuan akhir.

Pengolahan Pendahuluan
Proses pendahuluan ditujukan untuk pemecahan dan pemisahan bahan-bahan pencemar atau kotoran dari bahan yang akan digunakan. Setelah seluruh bahan baku disiapkan, tahap selanjutnya adalah menggiling bahan baku tersebut. Tujuannya adalah untuk mendapatkan ukuran partikel yang seragam--berbentuk tepung (mash) (McEllhiary, 1994). Seluruh bahan yang telah digiling, ditimbang dengan menggunakan timbangan duduk. Selanjutnya, bahan±bahan tersebut dicampurkan.

Pembuatan Pelet

Pembuatan pelet terdiri dari proses pencetakan, pendinginan dan pengeringan. Perlakuan akhir terdiri dari proses sortasi, pengepakan dan pergudangan. Menurut Pfost (1964), proses penting dalam pembuatan pelet adalah pencampuran (mixing), pengaliran uap (conditioning), pencetakan (extruding) dan pendinginan (cooling).

Proses kondisioning adalah proses pemanasan dengan uap air pada bahan yang ditujukan untuk gelatinisasi agar terjadi perekatan antar partikel bahan penyusun sehingga penampakan pelet menjadi kompak, durasinya mantap, tekstur dan kekerasannya bagus (Pujaningsih, 2006). Proses kondisioning ditujukan untuk gelatinisasi dan melunakkan bahan agar mempermudah pencetakan. Disamping itu juga bertujuan untuk membuat : (1) Pakan menjadi steril, terbebas dari kuman atau bibit penyakit; (2) Menjadikan pati dari bahan baku yang ada sebagai perekat; (3) Pakan menjadi lebih lunak sehingga ternak mudah mencernanya dan (4) Menciptakan aroma pakan yang lebih merangsang nafsu makan ternak.

Walker (1984) menjelaskan bahwa selama proses kondisioning terjadi penurunan kandungan bahan kering sampai 20% akibat peningkatan kadar air bahan dan menguapnya sebagian bahan organik. Proses kondisioning akan optimal bila kadar air bahan berkisar 15 ± 18%. Winarno (1997) menjelaskan lebih lanjut bahwa kadar air yang lebih dari 20% akan menurunkan kekentalan larutan gel hasil gelatinisasi.

Efek lain dari proses kondisioning yaitu menguapnya asam lemak rantai pendek, denaturasi protein, kerusakan vitamin bahkan terjadinya reaksi ³Maillard´. Reaksi µMaillard¶ yaitu polimerisasi gula pereduksi dengan asam amino primer membentuk senyawa melanoidin berwarna coklat, proses ini terjadi akibat adanya pemanasan (Muller, 1988). Warna coklat pada bahan ini menurut Muller (1988) menurunkan mutu penampakan warna pelet. Nikersond dan

Louis (1978) menambahkan bahwa pemanasan dapat menyebabkan dehidrasi pada gula. Gula yang terdehidrasi membentuk polimer sesama gula yang diikuti oleh gugus amina membentuk senyawa coklat.

Gelatinasi merupakan sumber perekat alami pada proses ³pelleting´. Pencetakan merupakan tahap pemadatan bentuk melalui alat extruder. Temperatur bahan sebelum masuk ke dalam mesin pencetak sekitar 80°C dengan kelembaban 12±15%. Kelemahan sistem ini adalah diperlukannya tambahan air sebanyak 10 ± 20% ke dalam campuran pakan, sehingga diperlukan pengeringan setelah proses pencetakan tersebut. Penambahan air dimaksudkan untuk membuat campuran atau adonan pakan menjadi lunak, sehingga bisa keluar melalui cetakan. Jika dipaksakan tanpa menambahkan air ke dalam campuran, mesin akan macet dan pelet yang keluar dari mesin pencetak biasanya kurang padat (Pujaningsih, 2006).

Selama proses kondisioning terjadi peningkatan suhu dan kadar air dalam bahan sehingga perlu dilakukan pendinginan dan pengeringan (Walker, 1984). Proses pendinginan (cooling) merupakan proses penurunan temperatur pelet dengan menggunakan aliran udara sehingga pelet menjadi lebih kering dan keras. Proses ini meliputi pendinginan butiran-butiran pelet yang sudah terbentuk, agar kuat dan tidak mudah pecah. Pengeringan dan pendinginan dilakukan pada tahap ini untuk menghindarkan pelet itu dari serangan jamur selama penyimpanan

Pengeringan pada intinya adalah mengeluarkan kandungan air di dalam pakan menjadi kurang dari 14%, sesuai dengan syarat mutu pakan ternak pada umumnya. Proses pengeringan perlu dilakukan apabila pencetakan dilakukan dengan mesin sederhana. Jika pencetakan dilakukan dengan mesin pelet sistem kering, cukup dikering anginkan saja hingga uap panasnya hilang, sehingga pelet menjadi kering dan tidak mudah berubah kembali ke bentuk tepung (Pfost, 1964).

Proses pengeringan bisa dilakukan dengan penjemuran di bawah terik sinar matahari atau menggunakan mesin. Keduanya memiliki kelebihan dan kekurangan. Penjemuran secara alami tentu sangat tergantung kepada cuaca, higienitas atau kebersihan pakan harus dijaga dengan baik, jangan sampai tercemar debu atau kotoran dan gangguan hewan atau unggas yang dikhawatirkan akan membawa penyakit. Jika alat yang digunakan mesin pengering, tentu akan memerlukan biaya investasi dan biaya operasional yang cukup tinggi.

Perlakuan Akhir
Penentuan ukuran pelet disesuaikan dengan jenis ternak. Pujaningsih (2206) melaporkan bahwa diameter pelet untuk sapi perah dan sapi pedaging adalah 1,9 cm (0,75 inci), untuk anak babi 1,5 cm (0,59 inci) dan babi masa pertumbuhan 1,6 cm (0,62 inci), untuk ayam pedaging periode starter dan finisher 1,2 cm (0,48 inci). Garis tengah pelet untuk pakan dengan konsentrasi protein tinggi adalah 1,7 cm (0,67 inci) dan 0,97 cm (0,38 inci) untuk pakan yang mengandung urea.

PEMBUATAN PAKAN BENTUK PELLET
Karakterisasi Karakterisasi merupakantahap awal yang selalu digunakan dalam proses pengolahan. Karakterisasi yaitu pengumpulan dan evaluasi terhadap informasi yang dimiliki bahan meliputi:

1. 2. 3. 4.
Seleksi

sifat fisik, kimia dan biologis Fungsi bahan secara biologis dan social Nilai ekonomi bahan (harga dan kompetisi) Ketersediaan (produksi dan kelangkaan)

Seleksi adalah mempertimbangkan apa yang dimiliki dan apa yang dikehendaki. Seleksi ini dimulai dari informasi yang didapatkan dari karakterisasi merumuskan tujuan pengolahan bahan pakan, kemudian analisis dari bahan pakan dilihat dari segi positif dan negatif dari penggunaannya. Setelah dilkukakan seleksi maka akan dihasilkan bahan-bahan pilihan

Receiving y Pengadaan bahan pakan

Hal-hal yang harus diperhatikan dalam pengadaan bahan pakan adalah: o o o Bahan baku yang dibeli berkualitas bagus yang telah dilengkapi dengan hasil analisis laboratorium Daerah untuk penerimaan dan pembongkaran bahan baku harus bersih dan drainase yang baik Transportasi yang akan digunakan untuk mengangkut bahan baku harus diperiksa keadaan fisik dan kebersihannya. Kendaraan untuk mengangkut ternak tidak digunakan untuk mengangkut pakan.  Pengelolaan bahan pakan

y

y

y

Pengambilan sampel bahan pakan dilakukan pada saat awal, pertengahan dan di akhir pemuatan dan diambil pada 5 tempat pada kemasan material yaitu 4 sudut dan bagian tengah. Pengambilan sampel ini diambil dengan arah diagonal. Apabila bahan baku berupa cairan pengambilan sampel dapat dilakukan setelah bahan cair tersebut didiamkan 5 menit. Semua sampel harus diletakkan pada peti yang besar kemudian dicampur dan sebanyak ¼ sampai dengan ½ kg diletakkan pada temapat tertentu untuk identifikasi. Identifikasi yang dilakukan adalah tanggal, nomor kendaraan, bahan baku, jumlah penerimaan, nama pemasok dan nama pengambil sample. Semua sample dan produk harus dijaga dari kerusakan yang disebabkan oleh tikus, serangga, kelembaban dan jamur. Pencegahannya dapat ditempatkan di dalam freezer. o Penyimpanan bahan pakan

Hal-hal yang harus diperhatikan dalam penyimpanan bahan pakan adalah:    Tempat penyimpan pakan harus bersih dan kering Tipe penyimpan pakan harus mudah mengalirkan pakan dengan sudut kemiringan kurang lebih 260 Tempat penyimpan pakan/bin harus sering dibersihkan. Hal ini untuk menghindari pencemaran pakan. Pakan yang menempel pada bagian yang tidak terjangkau akan tertinggal di dalam bin untuk beberapa saat lamanya dan kemungkinan akan keluar sedikit demi sedikit terbawa oleh aliran bahan pakan berikutnya

Material Processing Berdasarkan sifat, fungsi dan tujuannya pengolahan bahan pakan terdiri atas: y Proses Fisik

Proses fisik yang dilakukan antara lain:

o

Proses thermal

Proses thermal yaitu proses pengubahan secara fisik bahan pakan dengan suhu dan dilakukan dengan melihat sifat kimiawi dari bahan pakan tersebut. Tujuannya adalah untuk menghilangkan komponen antinutrisi, meningkatkan kecernaan dan meningkatkan palatabilitas. Proses thermal dapat dilakukan secara basah atau kering. Kerugian dari proses thermal adalah non-enzymatic browning reaction untuk bahan tertentu.

o

Proses perubahan bentuk

Proses perubahan bentuk dilakukan untuk mengurangi reduksi ukuran bahan pakan sehingga lebih mudah dalam proses lanjutan. Tujuannya adalah untuk meningkatkan homogenitas, densitas dan memperluas permukaan bahan pakan. Proses perubahan bentuk ini antara lain dengan cara grinding (penggilingan), rolling (penghancuran), cracking (pemecahan) atau dengan cutting (pemotongan). Proses reduksi ukuran bahan pakan ini tergantung dari sifat fisik bahan pakan itu sendiri.

o

Perubahan densitas

Perubahan densitas yaitu proses pengubahan tingkat kepadatan dari bahan pakan yang nantinya akan lebih mempermudah dalam proses lanjutan produk intermediet maupun penggunaan produk

o

Pewarnaan

Pewarnaan dilakukan untuk meningkatkan nilai kompetitif dari produk. Pewarna yang digunakan biasanya pewarna alami yang dibuat dari tumbuhan seperti carotene dan cucurmin, juga yang paling banyak adalah pewarna sintetik baik yang berasal dari bahan organic maupun anorganik. Selain itu perlu diperhatikan efek samping dari penggunaan zat pewarna tersebut. Di satu sisi pewarna akan lebih memberikan nilai lebih dari segi tampilan produk namun bila ditinjau dari segi toksisitas, zat pewarna akn mempengaruhi nutrient yang ada dalam bahan pakan. 

Proses Kimiawi

Fortifikasi : Penambahan/pengayaan suatu bahan atau zat tambahan pada suatu produk untuk meningkatkan kualitas produk

tersebut

dalam proses digesti

Hidrolisis : Pemecahan struktur dengan zat kimia (asam dan alkali), dimaksudkan memberikan kemudahan pada aspek digesti  Proses Biologis

Kultur/budidaya : Pemanfaatan/peningkatan nilai ekonomi dan social suatu bahan dengan proses biologis (Kultur sel, Protein Sel Tunggal) Dekomposisi/ : Perubahan bentuk fisik/komposisi nutrisi bahan Fermentasi dengan bantuan aktivitas MO  Proses Gabungan

Mixing Sebelum memasuki tahap mixing, bahan pakan yang digunakan harus melalui proses grinding. Proses grinding ada dua macam yaitu:  Pregrind

Pada sistem pregrind, semua bahan baku kasar yang harus dihaluskan akan masing-masing menjalani proses grinding untuk kemudian ke tahap mixing. Kelemahan dari pregrind yaitu kurangnya homogenitas bahan pakan yang dicampur.  Postgrind

Pada sistem postgrind, hasil mixing akan disalurkan ke hammer mill untuk proses grinding yang kedua kalinya. Dengan cara ini akan diperoleh hasil pakan yang sangat halus dan kualitas pellet yang

 

oating : Pelapisan komponen nutrisi sehingga tidak terdegradsi

Proses ini merupakan gabungan diantara ketiga proses diatas, baik fisik-biologis, fisika-kimiawi atau biologi-kimiawi.

jauh lebih baik. Sistem post grinding cocok untuk feed mill dimana persentase pakan butiran sangat dominant. Proses mixing Pada proses mixing yang perlu diperhatikan adalah: 1. Proporsi bahan dan penimbangan Proporsi bahan harus sesuai dengan imbangan nutrient yang terkandung dalam pakan. Penimbangan bahan-bahan harus dilakukan dengan timbangan yang mempunyai tingkat ketelitian tinggi terutama untuk bahan-bahan dengan jumlah kecil seperti vitamin, mineral, kalsium karbonat, asam amino kristal, pemacu pertumbuhan, dll. 2. Alat y Mixer vertical

Digunakan untuk menggiling bahan pakan yang kasar. Mixer tipe ini mencampur bahan pakan dengan arah kebawah dan keatas. y Mixer horizontal

Digunakan untuk menggiling bahan pakan yang cair dan halus. Mixer tipe ini mencampur bahan pakan dengan arah samping. y Mixer tabung

Digunakan untuk menggiling campuran bahan pakan kasar, halus dan cair. Mixer ini mencampur bahan dengan arah rotasi Yang perlu diperhatikan dalam tahap mixing adalah untuk bahan-bahan yang penggunaannya dalam jumlah yang kecil ditambahkan pada bagian terakhir dari mixing. Proses Pembuatan Pelet Proses pengolahan pellet terdiri dari 3 tahap yaitu: y Pengolahan Pendahuluan

Ditujukan untuk pemecahan dan pemisahan bahan-bahan pencemar atau kotoran dari bahan yang akan digunakan. y y Pembuatan pellet terdiri atas proses pencetakan, pendinginan dan pengeringan. Perlakuan akhir terdiri dari proses sortasi, pengepakan dan pergudangan

Pada proses pembuatan pellet terdapat proses kondisioning dimana campuran bahan pakan dipanaskan dengan air dengantujuan untuk gelatinisasi. Tujuan gelatinisasi yaitu agar terjadi pencetakan antar partikel bahan penyusun sehingga penampakan pellet kompak, durasinya mantap, tekstur dan kekerasannya bagus. Gelatinisasi merupakan rangkaian proses yang dimulai dari imbibisi air, pembengkakan granula sampai granula pecah. Pecahnya granula pati disebabkan karena pemanasan melebihi batas pengembangan granula. Penguapan dalam proses pembuatan pakan berbentuk pellet bertujuan :

1. Pakan menjadi steril, terbebas dari kuman atau bibit penyakit. 2. Menjadikan pati dari bahan baku yang ada sebagai perekat. 3. Pakan menjadi lunak, sehingga apabila diberikan pada ternak ayam maka akan lebih mudah
mencernanya. 4. Menciptakan aroma pakan yang lebih merangsang nafsu makan ayam. Penguapan dilakukan dengan bantuan steam boiler yang uapnya diarahkan ke dalam campuran pakan. Apabila pencampuran dilakuakan dengan mixer jenis beton molen, proses penguapan dilakukan sambil mengaduk campuran pakan tersebut. Penguapan tidak boleh dilakukan diatas suhu yang diizinkan, yaitu sekitar 800C. Penguapan dengan suhu terlalu tinggi dalam waktu yang lama akan merusak atau setidaknya mengurangi kandungan beberapa nutrisi dalam pakan, khususnya vitamin dan asam amino. Beberapa mesin cetak pellet berkapasitas sedang dan besar mempunyai fasilitas penguapan ini. Jadi, penguapan atau steaming tidak dilakukan pada saat pencampuran, tetapi pada saat pencetakan. Pencetakan Setelah semua bahan baku tercampur secara homogen, langkah selanjutnya adalah mencetak campuran tadi menjadi bentuk pellet. Banyak jenis mesin yang dapat digunakan, mulai mesin sederhana hingga mesin yang biasa digunakan pada industri pakan. Mesin pencetakan sederhana bisa merupakan hasil modifikasi gillingan daging yang diberi penggerak berupa motor listrik atau motor bakar. Perbedaan mendasar antara mesin pencetak pellet sederhana dan mesin pencetak pellet yang digunakan di industri pakan terletak pada sistem kerja mesin tersebut. Sistem kerja mesin cetak sederhana adalah dengan mendorong bahan pakan campuran didalam sebuah tabung besi atau baja dengan menggunakan ulir (screw) menuju cetakan (die) berupa pelat berbentuk lingkaran dengan lubang-lubang berdiameter 2-3 mm, sehingga pakan akan keluar dari cetakan tersebut dalam bentuk pellet. Kelemahan sistem ini adalah diperlukan tambahan air sebanyak 10-20% kedalam campuran pakan, sehingga diperlukan pengeringan setelah pencetakan tersebut. Penambahan air dimaksudkan untuk membuat campuran atau adonan pakan menjadi lunak, sehingga bisa keluar melalui cetakan. Jika dipaksakan tanpa menambahkan air ke dalam campuran, mesin akan macet. Disamping itu, pellet yang keluar dari mesin pencetak biasanya kurang padat. Pengeringan

Pengeringan pada intinya adalah mengeluarkan kandungan air di dalam pakan menjadi kurang dari 14%. Proses pengeringan perlu dilakukan apabila pencetakan dilakukan dengan mesin sederhana. Jika pencetakan dilakukan dengan mesin pellet sistem kering, cukup dikering-anginkan sajahingga uap panasnya hilang, sehingga pellet menjadi kering dan tidak mudah berubah kembali ke bentuk tepung. Proses pengeringan bisa dilakukan dengan penjemuran dibawah terik matahari atau menggunakan mesin. Keduanya memiliki kelebihan dan kekurangan. Penjemuran secara alami tentu sangat tergantung kepada cuaca, higienitas atau kebersihan pakan harus dijaga dengan baik, jangan sampai tercemar debu, kotoran dan gangguan hewan atau unggas yang dikhawatirkan akan membawa bibit penyakit. Mesin pengering yang umum digunakan sangat beragam, diantaranya oven pengering. Dalam oven pengering, pellet basah disimpan dalam baki dan oven dipanaskan dengan bantuan kompor minyak tanah, batu bara atau bahan bakar lainnya. Penyimpanan pellet dalam baki tidak boleh terlalu tebal, supaya dihasilkan pengeringan yang merata dan harus sering dibalik supaya tidak gosong. Yang perlu diperhatikan apabila menggunakan alat pengering adalah suhu pemanasan tidak boleh lebih dari 800 C. Pemanasan dengan suhu yang terlalu tinggi akan merusak kandungan nutrisi pakan, serta membuat pakan menjadi terlalu keras. Packaging o Pengemasan

Fungsi pengemasan adalah melindungi pakan jadi dari cahaya dan embun serta zat pancemar lingkungan lain. Tujuan pengemasan yaitu:     Mencegah kerusakan Memudahkan dalam penanganan Menghindari kontaminasi Nilai estetika

Yang perlu diperhatikan dalam pengemasan yaitu:     o Bahan pengemas harus memperhatikan sifat fisika, kimia dan biologi bahan yang akan dikemas Derivat polistiren dan polietilen lebih banyak digunakan sebagai bahan pengemas karena tidak mudah dicerna mikroorganisme, kuat dan ringan Daya tahan suhu bahan pengemas Tidak mengandung logam beracun

Labelling

Pemberian label pada kemasan perlu dilakukan untuk memberitahukan petani mengenai identitas pabrik dan jenis pakan. Label juga menjelaskan isi dari kantong kemasan. Jika pakan dibubuhi obat, peringatan harus jelas tercantum bersama dengan aturan pakai untuk jenis ternak yang menjadi komoditas dari pakan tersebut.

Warehousing (Pergudangan) Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam penyimpanan dalam gudang yaitu:

1. Kadar air tidak lebih dari 14% 2. Pakan harus dikemas dengan menggunakan karung plastic supaya tidak terjadi kontak
langsung dengan udara 3. Pakan disimpan dalam ruangan yang sejuk, kering, tidak lembap, sirkulasi udara baik dan tidak terkena sinar matahari langsung 4. Tumpukan karung pakan sebaiknya tidak terlalu tinggi dan harus diberikan alas berupa platform dari kayu atau papan dengan ketinggian 10-15 cm dari lantai 5. Penerapan manajemen pergudangan, pakan yang akan digunakan adalah yang masuk ke gudang lebih awal (fifo-first in first out) Menjaga kualitas Pelet Menjaga kualitas pellet dapat kita lakukan dari beberapa segi yaitu: o Bahan Baku

Untuk membuat pakan yang bermutu diperlukan bahan baku yang berkualitas baik. Contohnya jagung kuning, kadar airnya tidak boleh berlebih karena jagung seperti ini kandungan nutrisinya akan menyimpang jauh dari nilai standar. Di samping itu, proses penggilingan menjadi bentuk tepung akan sulit dilakukan. Jagung yang terlalu lama disimpan tanpa ada upaya pengawetan tidak boleh digunakan karena kandungan nutrisinya akan menurun atau bahkan akan menghilang selama penyimpanan tersebut. Begitu juga bahan baku lainnya, seperti bungkil kelapa. Untuk bahan ini, jangan gunakan bahan yang telah tengik karena nutrisinya telah rusak. Apalagi menggunakan bahan baku yang telah berjamur, sangat tidak dianjurkan. Bahan demikian akan menimbulkan racun yang membahayakan ternak. Apabila penyimpanan bahan baku tidak sempurna, dapat dipastikan pakan yang dihasilakan akan berkualitas jelek. Karena itu, penyiapan bahan baku merupakan awal dari keberhasilan pembuatan pakan.

o

Formula pakan yang baik

Formula yang dibuat harus seimbang dengan kebutuhan nutrien yang diperlukan tidak berlebih atau kurang. Perlu dicermati apabila terjadi kesalahan pada penyusunan formula maka akan dapat mempengaruhi kualitas pellet dan itu juga akan mempengaruhi metabolisme dalam tubuh ternak yang mengkonsumsinya.

o

Proses Pembuatan pellet

Yang perlu diperhatikan dalam proses pembuatan pellet adalah pada saat proses conditioning. Efek samping yang ditimbulkan oleh proses conditioning yaitu menguapnya asam lemak rantai pendek, denaturasi protein, kerusakan vitamin dan terjadinya reaksi ´Maillardµ yaitu polimerisasi gula pereduksi dengan asam amino primer membentuk senyawa melanoidin berwarna coklat, prose ini terjadi karena adanya pemanasan. Warna coklat ini akan menurunkan kualitas pellet dari segi penampakan warna pellet. Antisipasi untuk mengatasi hal ini adalah:

1. Kualitas uap yang dihasilkan oleh steam boiler
Uap yang dihasilkan harus kering dan tidak mengandung uap air ketika masuk pada conditioner. Untuk pakan ruminansia dan pakan yang berserat tekanan uapnya berkisar 4 Bar dan 1 sampai 2 Bar untuk jenis pakan yang mengandung pati.

2. Percepatan uap air yang masuk dalam conditioner 3. Penempatan pipa uap airyang masuk ke dalam conditioner 4. volume bahan pakan yang ada dalam conditioner
Proses pembuatan pellet yang sempurna akan menghasilkan pellet dengan kualitas yang baik. Bentuk fisik pellet yang baik: 1. Hardness (tingkat kekerasan ) Pellet yang baik mempunyai tingkat kekerasan yang sedang. Pellet tidak boleh terlampau keras atau terlalu lunak. 2. Durabilitas Durabilitas yaitu kemampuan dari pellet untuk mempertahankan bentuknya dari penanganan atau pada saat pengiriman. Pellet yang baik tidak mudah pecah, tidak retak-retak dan tidak berdebu. 3. Appearance (penampilan) Pellet yang baik mempunyai ukuran yang agak panjang dan seragam, bentuk rupanya baik dan kompak serta tidak ditumbuhi oleh jamur.

o

Proses penyimpanan pellet

Pellet yang telah dikemas dijaga supaya tidak terjadi kerusakan selama penyimpanan. Untuk itu, Perlu memperhatikan hal-hal berikut: o o Kadar air tidak lebih dari 14% Pakan harus dikemas dengan menggunakan karung plastic supaya tidak terjadi kontak langsung dengan udara

o o o

Pakan disimpan dalam ruangan yang sejuk, kering, tidak lembap, sirkulasi udara baik dan tidak terkena sinar matahari langsung Tumpukan karung pakan sebaiknya tidak terlalu tinggi dan harus diberikan alas berupa platform dari kayu atau papan dengan ketinggian 10-15 cm dari lantai Penerapan manajemen pergudangan, pakan yang akan digunakan adalah yang masuk ke gudang lebih awal (fifo-first in first out)

Dengan melihat hal-hal diatas dapat disimpulkan bahwa kualitas pellet yang baik dimulai dari langkah awal pembuatan pellet yaitu pengadaan bahan baku hingga langkah akhir yaitu penyimpanan. Dengan menjaga kualitas pada setiap step pembuatan pellet.

Daftar Pustaka Pujoningsih, R. I. 2004. Teknologi Pengolahan Konsentrat. Fapet UNDIP *Yuni Primandini, S.Pt (dari beberapa sumber)
1. Mahasiswa Pasca Sarjana Program Magister Ilmu Ternak Fakultas Peternakan Universitas Diponegoro Semarang tahun 2007 2. Alumnus Program Studi S-1 Nutrisi dan Makanan Ternak Fakultas Peternakan Universitas Diponegoro Semarang tahun 2006

Abstrak Pellet merupakan pakan yang baik untuk digunakan sebagai pakan penambah berat badan pada unggas. Kualitas pellet bervariasi untuk jenis-jenis unggas pedaging. Kualitas pellet terutama penting untuk itik dimana index ketahanan pellet (PDI = pellet durability index) diupayakan 96 % untuk penampilan produksi yang optimum, sedangkan untuk pakan kalkun target PDI 90 % atau broiler PDI 80 %. Pada umumnya upaya mengoptimalkan PDI tetap merupakan alasan yang baik sepanjang perbaikan PDI bisa mengefisienkan biaya. Kendalanya adalah memastikan teknik manajemen dan teknologi pelleting mana yang paling efisien untuk diaplikasikan dalam produksi pakan unggas. Kebanyakan pakan unggas di banyak negara diproduksi dalam bentuk butiran maupun pellet. Keuntungan memproses pellet adalah: mengurangi pengambilan pakan secara seletif oleh unggas, meningkatkan ketersediaan nutrisi, menurunkan energi yang dibutuhkan sewaktu

mengkonsumsi pakan, mengurangi kandungan bakteri pathogen, meningkatkan kepadatan pakan sehingga dapat mengurangi biaya penggunaan truk, mengurangi penyusutan pakan karena debu, dan memperbaiki penanganan pakan pada penggunaan alat makan otomatis. Semua keuntungan ini akan secara dratis menurunkan biaya produksi. Kualitas pellet bagi ternak terrestrial, berbeda dengan spesies akuatik, sangat terkait dengan durabilitas, yaitu ketahanan fisik dari pakan pellet menghadapi proses penanganan dan transportasi sehingga dihasilkan tepung maupun patahan pellet dalam jumlah minimum. Durabilitas diukur dengan nilai persentase pellet ataupun tepung dalam pakan jadi disingkat sebagai PDI (³pellet durability index´). PDI menggambarkan persentase berat pellet yang tetap utuh setelah melewati alat uji standar (KSU tumbling cane, Holman tester, Kahl tester, dll). Dengan masih terbatasnya pengetahuan kita tentang pellet maka kita harus mencari, melihat membaca, mengetahui, dan memahami semua tentang pellet dari proses pengolahan, bentuk yang baik, menjaga kualitas,dsb. Kata Kunci : pellet, pakan, unggas. PENDAHULUAN : Pada dasarnya ada tiga hal utama yang harus diperhatikan dalam pemeliharaan ternak agar diperoleh berat badan yang diharapkan, yaitu faktor genetik, faktor lingkungan dan manajemen. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Pertambahan Berat Badan pada Unggas, Bentuk pakan pelet akan lebih efisien dalam menghasilkan berat badan jika dibadingkan dengan pakan dalam bentuk tepung. Pakan bentuk tepung akan banyak yang terbuang sebagai debu (urip santoso.2008). Salah satu faktor penting yang dapat mempengaruhi produksi unggas adalah pakan, pakan yang baik juga mempengaruhi kualitas dan pertumbuhan berat badan unggas. Pellet merupakan pakan yang sangat baik untuk pertambahan berat badan, walaupun kemungkinan-kemungkinan adanya ditemukan pakan- pakan yang lebih baik dari pada pellet yang harus melakukan penelitianpenelitian yang membutuhkan waktu yang lama dan sulit sebelumnya. Strain ayam pedaging final stock diperoleh dari keturunan parent stock dan merupakan hasil seleksi yang dilakukan secara terus menerus sehingga diperoleh hasil yang betul-betul produktif (Anonymous, l983). Kalaupun ada perbedaan pada berat badan, hal tersebut logis karena disebabkan oleh perbedaan genetik dan pengaruh faktor makanan yang diberikan serta seleksi telur yang ditetaskan (Aitken et al., l969) yang dikutip oleh Nathaneal (l975). Banyaknya penelitian-penelitian untuk mengetahui pakan yang baik dan dapat dijadikan pakan pengganti pellet untuk menambah berat badan unggas. Tetapi sampai saat ini pellet masih dianggap pakan yang paling baik, meskipun untuk proses pembuatannnya masih sulit untuk kita yang masih belum begitu mengetahui tentang ilmu tersebut. Tetapi sekarang pellet dengan mudah dapat kita temukan di tempat-tempat atau took-toko yang menjual pakan-pakan ternak di daerah-daerah kita tinggal. Dengan masih terbatasnya pengetahuan kita tentang pellet maka kita harus mencari, melihat membaca, mengetahui, dan memahami semua hal yang berhubungan dengan pellet dari proses

pengolahan, bentuk yang baik, menjaga kualitas,dsb. Karena itu merupakan hal yang harus kita pahami lebih dalam untuk dapat berternak dengan baik. Penampilan Ayam VS Kualitas Pellet Zatari et al (1990) membandingkan dua jenis pakan yang berbeda kualitas pellet (75 % pellet dan 25 % tepung versus 25 % pellet dan 75 % tepung) terhadap penampilan ayam broiler selama periode pemeliharaan 49 hari. Pakan 75 % pellet memberikan keuntungan dalam hal berat badan akhir dan nilai konversi pakan kumulatif dibandingkan pakan 25 % pellet. Dibandingkan dengan ayam broiler, kalkun bereaksi negatip terhadap peningkatan persentase tepung dalam pakan. Kualitas pellet merupakan faktor kritis bagi kalkun mengingat spesies ini menghabiskan banyak waktu mengkonsumsi pakan sehingga kualitas pellet yang kurang baik menyebabkan lebih banyak pakan sisa. Menggunakan kalkun jantan yang dipelihara sejak umur 7 sampai 18 minggu, Brewer et al (1990) memperlihatkan adanya perbaikan nilai konversi pakan sebesar 7 dan 10 point pada kalkun yang mengkonsumsi pakan 10 % tepung dibandingkan jika diberikan pakan 50 % tepung. Kualitas pellet memberikan pengaruh yang lebih beragam jika diberikan kepada itik, dibandingkan terhadap broiler dan kalkun. Seringkali ditemukan material lengket pada paruh itik yang diberi pakan tepung. Pengerasan sisa pakan tersebut mengurangi konsumsi pakan dan meningkatkan pakan yang terbuang sementara itik membersihkan paruhnya dengan air dalam upaya untuk menyingkirkan material yang melekat tersebut Dean (1986) menunjukkan bahwa penurunan kandungan tepung dalam pakan dari 16 % menjadi 0 % mengarah pada peningkatan 2,8 % nisbah konversi pakan. Tahap-tahap Memperbaiki Kualitas Pellet Bahan baku mempunyai pengaruh yang sangat nyata terhadap kualitas pellet. Kandungan perekat (binder) alami (misalnya pati), protein, serat, mineral dan lemak dari bahan baku akan mempengaruhi kualitas pellet. Barley, gandum, kanola dan rape seed meal mengandung perekat alami yang membentuk ikatan fisik ± kimia selama proses untuk menghasilkan pellet yang berkualitas lebih baik. Meskipun demikian, di luar kawasan Eropa dimana banyak menggunakan gandum dan rape seed meal sebagai bahan utama, pakan unggas yang banyak menggunakan bijian (jagung atau sorghum) dan bungkil kedele mempunyai daya rekat yang rendah. Dalam banyak hal, formulasi pakan ayam pedaging mendasarkan pada metoda ³least cost´ maupun ³optimal cost´ yang tidak memperhitungkan ³pelletabilitas´ setiap bahan baku. Selain pilihan bahan baku, teknik manajemen lainnya menawarkan upaya-upaya mengefektifkan biaya untuk memperbaiki kualitas pellet. Pakan mengandung bijian kasar dalam jumlah banyak membutuhkan penanganan yang ekstra dinitikberatkan pada ukuran partikel, kondisioner, kondisi die dan kandungan lemak (Tabel 1). Tabel 1. Pengaruh Faktor-faktor Pelleting terhadap Kualitas Pellet Faktor Perbaikan PDI (%)

Penambahan 15 % gandum ke pakan basis jagungbungkil kedele Penambahan perekat sintetis (binder) 1,25 % ke dalam pakan basis jagung ± bungkil kedele Meningkatkan suhu kondisioning 10oF (1) Mengurangi lemak dalam mixer dari 1 % ke 0 % Mengurangi ukuran partikel dari 665 menjadi 500 mikron (2) Meningkatkan kelembaban bahan tepung dalam mixer dari 12 ke 14,5 % (3) Menggunakan expander plus pelleting versus pelleting (4)
1)Winowiski,

11,6 12,5 10,0 5,0 14,5 10,0 15,0

1999 (2)McEllhiney, 1992 (3)Greer and Fairchild, 1999 (4)Smith et al., 1995

Menghindari Penggilingan Tidak Ekonomis Menggiling bijian menjadi ukuran partikel yang halus akan meningkatkan kualitas pellet. Semakin kecil partikel akan semakin besar luas permukaan yang memungkinkan penetrasi panas dan kelembaban lebih cepat ke inti partikel selama proses kondisioning sehingga dapat meningkatkan pemasakan dan gelatinasi sel-sel pati. Ukuran partikel yang optimum untuk meningkatkan durabilitas pellet pada pakan unggas dengan kandungan utama jagung-kedele haruslah dalam kisaran 650 ± 700 mikron. Memperkecil ukuran partikel jagung menjadi 500 mikron akan memperbaiki kualitas pellet dibandingkan ukuran 700 mikron, tetapi pengurangan ukuran partikel akan meningkatkan kebutuhan enerji penggilingan menjadi dua kali lipat (McEllhiney, 1992). Mengoptimalkan Kelembaban Tepung Riset terakhir dari Kansas State University (KSU) menunjukkan bahwa kandungan kelembaban dari tepung sebelum kondisioning mempunyai pengaruh yang linier (R=0,97) terhadap kualitas pellet (Geer and Fairchild, 1999). Teknik baru memungkinkan penambahan kelembaban sejak dari mixer, yang dapat menjadi cukup menguntungkan apabila menggunakan bijian dengan kelembaban yang rendah. Beyer et al (2000) pada penelitian terhadap broiler sampai umur 42 hari melaporkan bahwa peningkatan PDI (61,7 % vs 87,3 %) dengan cara mengendalikan kelembaban di mixer dapat memperbaiki konversi pakan. FCR diperbaiki 5 point pada fase umur 3 ± 6 minggu dan membaik 2 point selama umur 0 ± 6 minggu. Sebaliknya peneliti KSU juga menemukan beberapa kerugian yaitu bahwa penambahan kelembaban di mixer akan meningkatkan berat per volume pakan yang menjadikan tidak efektivifnya transportasi. Termasuk juga berakibat negatif terhadap densitas nutrisi. Kualitas Steam Pakan unggas dengan kandungan utama jagung atau sorghum membutuhkan kondisioning yang baik untuk mengaktifkan perekat alami dan meningkatkan kualitas pellet. Kondisioning yang

tepat membuka sel-sel pati dari jagung (sebagai contoh), mengubah susunan molekul-molekul amilosa dan amilopektin yang akan membentuk bulatan di sekeliling molekul bahan baku lain dalam proses yang dikenal sebagai gelatinasi. Amilopektin bebas dari kondisioning adalah yang paling berperan dalam hal kualitas pellet. Kondisioning yang cukup harus berlangsung dalam periode yang singkat, tidak lebih dari beberapa menit dalam sistem steam konvensional atau 30 detik dalam super conditioner atau sistem expander. Steam berkualitas baik akan membantu mengoptimalkan pengaruh panas dan kelembaban terhadap bahan tepung. Kualitas steam didefinisikan sebagai jumlah uap air dibagi campuran air bebas dan uap air. Steam jenuh terdiri atas 100 % uap air, sedangkan steam basah mengandung air bebas dan uap air sehingga kandungan uap air lebih kecil dari 100 %. Turner (1995) menyarankan bahwa dalam menggunakan steam jenuh (steam kualitas baik) suhu bahan tepung meningkat sekitar 16oC untuk setiap peningkatan 1 % kelembaban bahan tepung. Jika kualitas steam dikurangi menjadi 80 % (steam basah) maka suhu bahan tepung hanya meningkat 13,5oC untuk setiap peningkatan 1 % kelembaban. Kualitas steam yang jelek dapat mengurangi suhu kondisioning 6 ± 11oC tergantung pada jumlah kelembaban yang ditambahkan. Rendahnya kualitas steam bisa terjadi akibat kehilangan panas dalam saluran steam atau akibat masuknya buih-buih ke dalam saluran steam. Apabila steam menjadi masalah maka bisa dipasang steam trap untuk membuang kondensat ke luar saluran steam. Trap harus dipasang pada interval jarak 30 meter dan pada belokan steam. Sistem untuk menghasilkan steam berkualitas baik harus mengkombinasikan separator ± regulator ± steam trap pada jalur steam ke kondisioning untuk membuang tetesan ± tetesan air yang tidak bisa dibuang melalui steam trap sepanjang saluran steam. Dengan sistim steam yang konvensional diharapkan steam kualitas baik (97 %) yang masuk ke kondisioning untuk memungkinkan tercapainya suhu kondisioning 88oC. Dimana dan Bagaimana Aplikasi Lemak Dimana dan bagaimana mengaplikasikan lemak dalam proses produksi pakan membuat perbedaan yang besar dalam kualitas pellet. Pengalaman menunjukkan bahwa penambahan lemak lebih dari 2 % di mixer menyebabkan penurunan kualitas pellet. Kandungan lemak yang tinggi dalam bahan tepung cenderung mengurangi pergesekan antara pakan, die dan roller. Ini menghindari roller menekan pakan melewati die secara efektif dan berkompresi. Sebaliknya sistem aplikasi yang lebih moderen (untuk post pelleting) bisa menambahkan lemak tanpa mempengaruhi kualitas pellet. Lemak dapat ditambahkan di die meskipun ini akan menimbulkan masalah kebersihan di jalur setelah mesin pellet khususnya di dalam cooler. Belakangan ini adakecenderungan untuk menambahkan lemak pada fase akhir (load out) menggunakan sistem coating yang disemprotkan (bertekanan atau tidak). Apabila penambahan lemak di die hanya bisa mengaplikasikan 2 ± 3 %, maka teknologi terakhir (load out) memungkinkan penambahan lemak 6 ± 8 %. Teknologi ini memberikan waktu yang cukup bagi lemak untuk diserap ke dalam pellet tanpa masalah pelepasan panas dan kelembaban dari pellet seperti yang biasa terjadi pada die. Perawatan Die yang Hati-hati

Mempertahankan kondisi optimum dari die adalah vital untuk menghasilkan pellet berkualitas tinggi. Beberapa masalah umum yang mempengaruhi kualitas pellet adalah keausan pemukaan die, korosif, lubang melebar. Masalah ini menurunkan kualitas pellet akibat berkurangnya ketebalan efektif die dan rasio kompresi lubang die. Apabila kualita pellet terlihat menurun dalam waktu lama tanpa penyebab yang jelas, maka rekondisi die atau penggantian die perlu dilakukan. Rekondisi die dapat memperpanjang umur die dan memberikan kapasitas produksi tambahan, diperkirakan sebanyak 65.000 ton untuk pakan broiler, yang biayanya lebih murah dibandingkan mengganti dengan die baru. Meskipun demikian, keuntungan dari performans ayam sebagai konsekuensi kualitas pellet yang optimum harus seimbang dengan biaya pergantian die. Sebagai contoh, produsen pakan itik merekondisi die tiga kali lebih sering daripada produsen pakan broiler karena kepentingan untuk kualitas pellet yang lebih baik. Lubrikasi pellet mill yang lebih sering, membersihkan logam-logam yang terperangkap di atas mesin pellet, dan penyesuaian jarak antara roller dan die secara hati-harti dapat membantu mengurangi masalah die. Pengembalian Investasi Atas Penampilan Produksi Unggas Dari sudut pandang efektivitas biaya, maka kualitas steam, aplikasi lemak dan perawatan die adalah yang paling menguntungkan untuk optimalisasi kualitas pellet. Pilihan ± pilihan lain bisa juga memperbaiki kualitas pellet secara nyata tetapi akan membutuhkan peralatan baru atau modifikasi yang dapat meningkatkan biaya produksi. Juga adalah memungkinkan untuk meningkatkan kualitas pellet dengan menggunakan bahan baku yang mengandung perekat alami seperti gandum dan produk ikutannya. Jalan lain juga dengan menambahkan perekat pellet komersial. Manipulasi formula untuk meningkatkan kualitas pellet akan mengurangi keleluasaan dalam formulasi (³least cost´) dan dalam jangka panjang meningkatkan biaya. Proses pengolahan pellet terdiri dari 3 tahap yaitu: (1) Pengolahan Pendahuluan: Ditujukan untuk pemecahan dan pemisahan bahan-bahan pencemar atau kotoran dari bahan yang akan digunakan, (2) Pembuatan pellet terdiri atas proses penguapan, pencetakan, pendinginan dan pengeringan dan (3) Perlakuan akhir terdiri dari proses sortasi, pengepakan dan pergudangan. Pada proses pembuatan pellet terdapat proses kondisioning dimana campuran bahan pakan dipanaskan dengan air dengan tujuan untuk gelatinisasi. Tujuan gelatinisasi yaitu agar terjadi pencetakan antar partikel bahan penyusun sehingga penampakan pellet kompak, durasinya mantap, tekstur dan kekerasannya bagus. Penguapan dalam proses pembuatan pakan berbentuk pellet bertujuan: (1) Pakan menjadi steril, terbebas dari kuman atau bibit penyakit, (2) Menjadikan pati dari bahan baku yang ada sebagai perekat,

(3) Pakan menjadi lunak, sehingga apabila diberikan pada ternak ayam maka akan lebih mudah mencernanya dan (4) menciptakan aroma pakan yang lebih merangsang nafsu makan ayam (Pond and Church, 1995). Penguapan tidak boleh dilakukan diatas suhu yang diizinkan, yaitu sekitar 800C. Penguapan dengan suhu terlalu tinggi dalam waktu yang lama akan merusak atau setidaknya mengurangi kandungan beberapa nutrisi dalam pakan, khususnya vitamin dan asam amino. Bentuk fisik pellet yang baik: (1) Hardness (tingkat kekerasan): Pellet yang baik mempunyai tingkat kekerasan yang sedang. Pellet tidak boleh terlampau keras atau terlalu lunak, (2) Durabilitas: Durabilitas yaitu kemampuan dari pellet untuk mempertahankan bentuknya dari penanganan atau pada saat pengiriman. Pellet yang baik tidak mudah pecah, tidak retak-retak dan tidak berdebu dan (3) Appearance (penampilan): Pellet yang baik mempunyai ukuran yang agak panjang dan seragam, bentuk rupanya baik dan kompak serta tidak ditumbuhi oleh jamur. Menjaga kualitas Pelet Menjaga kualitas pellet dapat kita lakukan dari beberapa segi yaitu: 1.Bahan Baku Untuk membuat pakan yang bermutu diperlukan bahan baku yang berkualitas baik. Contohnya jagung kuning, kadar airnya tidak boleh berlebih karena jagung seperti ini kandungan nutrisinya akan menyimpang jauh dari nilai standar. 2.Formula pakan yang baik Formula yang dibuat harus seimbang dengan kebutuhan nutrien yang diperlukan tidak berlebih atau kurang (Sutardi, 2003). Perlu dicermati apabila terjadi kesalahan pada penyusunan formula maka akan dapat mempengaruhi kualitas pellet dan itu juga akan mempengaruhi metabolisme dalam tubuh ternak yang mengkonsumsinya. 3.Proses penyimpanan pellet: Pellet yang telah dikemas dijaga supaya tidak terjadi kerusakan selama penyimpanan. Untuk itu, Perlu memperhatikan hal-hal berikut: 4.Kadar air tidak lebih dari 14%: Pakan harus dikemas dengan menggunakan karung plastik supaya tidak terjadi kontak langsung dengan udara 5.Pakan disimpan dalam ruangan yang sejuk, kering, tidak lembap, sirkulasi udara baik dan tidak terkena sinar matahari langsung

6.Tumpukan karung pakan sebaiknya tidak terlalu tinggi dan harus diberikan alas berupa platform dari kayu atau papan dengan ketinggian 10-15 cm dari lantai 7.Penerapan manajemen pergudangan, pakan yang akan digunakan adalah yang masuk ke gudang lebih awal (fifo-first in first out). KESIMPULAN Pellet merupakan pakan yang baik untuk pertambahan berat badan ternak unggas. Khususnya unggas pedaging. Walaupun proses pembuatan pellet tersebut sulit tetapi sudah banyak dan dapat kita beli ditoko-toko yang menjual pakan-pakan ternak di daerah-daerah kita. Manipulasi formula untuk meningkatkan kualitas pellet akan mengurangi keleluasaan dalam formulasi (³least cost´) dan dalam jangka panjang meningkatkan biaya. Untuk mengoptimalkan kualitas pellet dengan biaya efektif, produsen pakan harus yakin bahwa pabrik sudah melakukan dengan benar penanganan steam, lemak dan die. Menyesuaikan perubahan-perubahan besar dalam formulasi pakan maupun proses produksi, pengembalian dari diperbaikinya penampilan produksi unggas akan harus melebihi dari peningkatan biaya dari produksi pakan. DAFTAR PUSTAKA Feed International, June 2001, W.A.Dozier, III. Phd Santoso Urip.2008.Faktor-faktor yang Mempengaruhi Pertambahan Berat Badan Pada Unggas. Universitas Bengkulu Anonymous. l983. Pedoman Beternak Ayam Negeri. Cetakan II. Penerbit Kanisius, Jakarta. Morrison, F.B. l96l. Feed and Feeding. Nine Ed. The Morrison Publ. Company, Clinton. Iowa. Morgan, J.T. and D. Lewis. l96l. Nutrition of Pigs and Poultry. Butter Worths. London. Mount. L.E. l979. Adaptation to Thermal Environment, Man and His Productive Animal. Edward Arnold Publishing, London. p. 333. Murtidjo, B.A. l987. Pedoman Beternak Ayam Broiler. Penerbit Kanisius Yogyakarta. Stell, R.G.D. and J.H. Torrie. l989. Principle and Procedures of Statistics. 2nd. McGraw-Hill International Book Company, London. United State Department of Agriculture. l977. Poultry Grading Manual. U.S. Goverment Printing Office Washington D.C. Wahju, J. l978. Cara Pemberian dan Penyusunan Ransum Unggas. Cetakan ke Empat, Fakultas Peternakan IPB., Bogor.

Wathes, C.M. l98l. Insulation of Animal Houses. In : J.A. Clark, Ed. Environmental Aspect of Housing for Animal Production. University of Nottingham. Winter, A.R., and E.M. Funk. l960. Poultry Science and Practices. Lippincott and Co. New York. PENDAHULUAN Latar Belakang Salah satu kendala dalam penyediaan pakan yang berkualitas adalah sangat beragamnya kualitas bahan pakan yang tersedia. Banyak hal yang mempengaruhi keadaan tersebut seperti faktor bervariasinya komoditas yang ditanam, kondisi tanah, ada tidaknya pemupukan, musim dan waktu panen yang berbeda. Faktor-faktor pembeda kualitas ini memicu beragamnya kualitas bahan pakan tersebut. Salah satunya adalah kadar air dari bahan pakan. Kadar air di dalam suatu bahan pakan menunjukan banyak tidaknya jumlah air yang terikat di dalam jaringan tumbuhan tersebut. Kadar air sangat menentukan dalam hal teknik dan lama penyimpanan suatu bahan pakan. Bahan pakan yang mempunyai kadar air yang tinggi merupakan tempat yang cocok untuk mikroorganisme berkembang biak. Penyimpanan bahan baku pakan menghendaki kadar air yang rendah dengan kisaran 12-15%. Hal ini bertujuan untuk menghindarkan paparan mikroorganisme yang dapat mengkontaminasi bahan pakan yang selanjutnya dapat merugikan industri peternakan yang memakain pakan tersebut. Banyak metode yang telah berkembang untuk mengukur kadar air suatu bahan pakan. Salah satu metode yang paling sering digunakan oleh masyarakat adalah dengan membandingkan bobot segar dengan bobot setelah mengalami penjemuran atau pengovenan. Cara lain yang efektif dan efisien untuk menghitung kadar air adalah menggunakan alat Rika meter yang dapat menentukan kadar air suatu bahan secara singkat. Tujuan Mengetahui kadar air yang terkandung pada berbagai macam bahan baku pakan ternak. Materi dan Metode Pengukuran Kadar Air Menggunakan Rika Moisture Meter Alat dan Bahan Bahan yang digunakan untuk pengukuran kadar air menggunakan rika moisture meter diantaranya jagung, kacang tanah, kacang hijau, pellet indigofera besar, kecil dan besar, serta ketan putih. Cara Kerja

Bahan yang akan diukur kadar airnya dimasukan kedalam rika moisture meter, kemudian kencangkan bagian penutup dari rika meter. Baca hasil pengukuran sesuai dengan angka yang ditunjukan jarum penunjuk dan sesuaikan dengan faktor koreksi. Keluarkan bahan yang sudah diukur kadar airnya dan bersihkan kembali rika meter yang sudah digunakan. 1. A. Uji Kadar Air Menggunakan Oven Alat dan Bahan Bahan yang digunakan untuk pengukuran kadar air menggunakan oven dan timbangan. Bahan yang dipakai diantaranya jagung, kacang tanah, kacang hijau, pellet indigofera besar, kecil dan besar, serta ketan putih. Cara Kerja Bahan yang akan diukur kadar airnya ditimbang terlebih dahulu. Jika sampel dalam keadaan segar hendaknya dilayukan terlebih dahulu sampai kadar air mencapai 60% dengan menggunakan bantuan sinar matahari. Setelah layu, bahan tersebut dioven selam 24 jam atau sampai beratnya stabil. Bandingkan berat awal sebelum pengeringan dengan setelah pengeringan. Pembahasan Kadar air dari suatu bahan pakan merupakan salah satu indikator kualitas dari suatu bahan pakan. Kadar air suatu bahan pakan akan sangat menentukan dalam hal teknis penyimpanan, penanganan dan pengolahan menjadi pakan. Bahan pakan yang mengandung kadar air yang lebih tinggi umumnya akan lebih rentan terkena kontaminasi mikroorganisme seperti jamur yang dapat menurunkan daya guna dari suatu bahan pakan tersebut. Dari ke tujuh bahan pakan yang diujikan memiliki kisaran kandungan kadar air sebesar 12-15%. Hal ini dikarenakan karena karakteristik dari ke tujuh bahan pakan tersbut berbeda-beda, sebagian dalam bentuk bijian dan sebagian yang lainnya dalam bentuk pakan olahan berupa pellet. Kadar air pada bahan pakan bentuk bijian memiliki kisaran kadar air sebesar 12-13,5% dengan kandungan kadar air terendah sebesar 11% dan tertinggi 13,5%. Komoditas kacang hijau dan kacang tanah memiliki tingkat kadar air yang lebih rendah dibandingkan bahan lainnya hal ini diduga karena susunan air yang terkandung dalam bijian tersebut mudah menguap. Untuk pakan olahan berupa pellet aneka bentuk mulai dari yang besar, sedang dan kecil memiliki kadar air antara 11,0-14,7%. Berdasarkan pengukuran dengan menggunakan rika meter, pellet indigofera berukuran sedang memilik kadar air yang tertinggi dibanding pellet lainnya. Hal ini diduga karena pellet tersbut berasal dari bahan baku yang memiliki kadar air yang tinggi, pada saat pembentukan pellet kandungan air pada bahan tersebut tinggi atau juga karena proses dan penyimpanan yang tidak baik sehingga mengakibatkan pellet tersebut memiliki jumlah kadar air yang lebih tinggi juga. KESIMPULAN

Berdasarkan hasil pengamatan dapat disimpulkan bahwa bahan pakan yang mempunyai kadar air yang tinggi akan memiliki kemungkinan terkontaminasi mikroorganisme merugikan lebih besar dibandingkan yang kadar airnya rendah. Kadar air pada suatu bahan pakan juga berpengaruh terhadap teknik penyimpanan, pengeringan dan pengolahan menjadi pakan,

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->