P. 1
Penulisan Naskah Untuk Radio

Penulisan Naskah Untuk Radio

|Views: 1,108|Likes:
Published by Samsul Ode II

More info:

Published by: Samsul Ode II on Jun 08, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

01/06/2013

pdf

text

original

PENULISAN NASKAH UNTUK RADIO

PENULISAN NASKAH UNTUK RADIO A. PENGANTAR Memasuki arena penulisan naskah radio, berarti memasuki sebuah dunia yang memadukan kemampuan “Wawasan” dan “Keterampilan” secara seimbang. Sama seperti tuntutan media cetak dan televisi, penulisan di medium radio siaran juga mempunyai beberapa spesifikasi. Memang ada hal-hal yang berlaku global dan berlaku di semua format media massa. Tapi tak terpungkiri, tetap ada hal-hal yang spesifik dan membutuhkan pemahaman secara khusus. Baik wawasan maupun keterampilan. Berbicara tentang radio siaran, berarti kita bicara sebuah medium untuk massa yang hanya mengeluarkan suara. Spesifikasi ini mempunyai beberapa akibat dan konsekuensi alamiah yang harus dihayati setiap orang yang berkecimpung di dalamnya. Yaitu bagaimana radio ditajamkan ke penulisan naskah untuk radio. Tuntutan dan rambu-rambunya terasa lebih rumit. Karena penanganan produksinya juga menuntut pemahanan atas spesifikasi produksi radio. Selain itu penulisan di radio juga tidak lepas dari disiplin ilmu lainnya. Karena itu dalam pengajaran tentang “Penulisan Naskah Di Radio” dilaksanakan secara bertahap, termasuk mempelajari materi-materi pendukung untuk mencapai penulisan yang baik di radio. Seperti : - Karakter Medium Radio - 5 Prinsip Menulis Untuk Radio - Menulis Untuk Telinga - Menulis Singkatan, Nama, Gelar dan Angka - Tanda Baca dan Tanda Kutip - Bimbingan Ejaan Fonetik B. HUBUNGAN PENULISAN DAN KARAKTERISTIK Pemahaman karakteristik medium radio, merupakan pengetahuan awal sebelum seorang penulis naskah melatih kemampuan menulisnya sesuai syarat-syarat radio sebagai medium “Auditif”. Apa hubungan antara pemahaman karakteristik radio dengan penulisan naskah ? a. Karateristik radio siaran memiliki keunggulan sekaligus kelemahan. Penting bagi penulis naskah mengetahui dimana letak kekuatan dan kelemahannya, karena menjadi rambu untuk penulisan. Misalnya, penulis akan tahu tabu-tabu dalam penulisan. Misalnya, penulis akan tahu apa yang harus diprioritaskan dengan memahami kekuatan karakter radio. b. Dengan memahami karakteristik radio, penulis naskah dapat menentukan cara pendekatan terhadap khalayak pendengar. Sehingga informasi yang disampaikan tepat pada sasaran seperti yang diharapkan.

1

Pengertian “Now” di sini adalah kesegeraannya. Memenuhi tuntutan kecepatan ini bagaimana penulis naskah mampu menulis dengan cepat agar dengan cepat pula disiarkan. Keberadaan radio dalam setiap kesempatan dirasakan tidak menggangu. berarti harus mengupas “Kekuatan” dan “Kelemahan”. dalam peran informasi.PENULISAN NASKAH UNTUK RADIO c. ada banyak sumber dan referensi yang menjelaskan hal tersebut. sambil mengemudikan kendaraan. KEKUATAN a. tetap dianggap sebagai keunggulan. Kalaupun TV bisa melakukannya. radio selain lebih murah dalam proses operasionalnya. Auditif Meski produksi radio hanya suara. tapi dari beberapa butir “Kekuatan” dan “Kelemahan” dapat ditengarai perbandingan tersebut sebagai upaya membuat tulisan yang sesuai dengan tuntutan model produksi siaran dan kemudahan bagi pendengar radio menyerap pesan yang disiarkan. dan punya kedudukan yang sama dengan media cetak dan TV. apa yang sedang terjadi saat ini. langsung dari lokasi kejadian berupa “Reportase”. belajar. Sumber Informasi Tercepat Ada yang menyebut radio dengan – Radio is The “Now” medium-. Meski bagian ini tidak membandingkan langsung karakter Radio dengan Media Cetak dan Televisi. Dia dapat didengar tanpa harus menghentikan aktifitas. Secara global. biaya operasionalnyan relatif mahal ketimbang radio. dimungkinkan untuk menyebarkan informasi seketika. b. dapat dirangkum sebagai berikut C. Alasannya. edukasi dan hiburannya. Mengurai karakteristik medium radio. tulisan naskah yang disiarkan mampu memikat dan sampai hanya dalam sekali ucap. Tapi dari sekian banyak sumber tersebut. Mengamati “Kekuatan” dan “Kelemahan” Radio. proses operasional relatif lebih mudah. Tentu saja modal reportase seperti ini sulit dilakukan Media Cetak karena harus melalui proses mencetak. bekerja dan sebagainya. biaya operasional juga lebih murah dan komunikasi dengan suara punya kelebihan dalam pendekatan 2 . radio akan menempatkan radio sebagai medium yang memiliki karakter khusus. Tantangannya. penulisan yang tepat sesuai karakteritik. bagaimana dalam mobilitas pendengar yang tinggi. Misalnya. maka saat ini pula radio dapat menyampaikan ke khalayak pendengar. c. Dibandingkan media Cetak dan Televisi. bukan visual seperti Media Cetak atau “visual bergerak” seperti Televisi. Menjaga Mobilitas Radio tetap menjaga mobilitas pendengar tetap tinggi. Contoh.

Tantangan penulis naskah. . Kekuatan imajinasi sering juga diistilahkan dengan “Theatre of Mind”.PENULISAN NASKAH UNTUK RADIO dengan khalayak pendengar. justru menciptakan “ imajinasi” yang sering menggoda rasa penasaran khalayak pendengar. atau televisi yang sudah gamblang menayangkan gambar. Sehingga dimungkinkan produksi radio berukuran saku dan dapat dibawa kemanapun. radio merupakan medium komunikasi massa yang murah dalam beberapa hal. Dimana dengan warna bunyi tertentu. Padahal belum tentu identifikasi itu sama persis dengan kenyataan. ketika mendengar suara penyiar. Murah Tidak dapat disangkal. 3 .Murah. Beda dengan media cetak yang harus dibeli. tanpa gambar. maka di benak pendengar akan muncul imajinasi tentang sosok sang penyiar sesuai dengan batasan fantasinya sendiri dengan mengolah karakter suara penyiar tersebut. bisakah fakta-fakta visual ditransformasikan ke dalam tulisan untuk dibunyikan menjadi hanya suara? d. Misalnya. Sehingga ikatan kebutuhan dan ketergantungan satu dengan yang lain jadi kuat. f.Biaya penyelenggaraan siaran yang relatif murah dibandingkan koran dan TV . Keuntungan lain dari penampilan suara. Imajinasi berdasarkan suara tidak mungkin dicapai lewat media cetak. Komunikasi Personal Sifat radio dengan komunikasi personalnya. terutama sesudah era transistor. e. bagaimana mampu membuat tulisan yang menggugah imajinasi pendengar melalui pilihan kosa kata dan kalimat yang mengandung “rasa bahasa” dan “imajinasi” yang kuat. Seperti : .Radio penerima juga relatif murah. mampukah naskahnya mengesankan pendekatan komunikasi personal sebagaimana layaknya kekuatan surat pribadi yang ditujukan kepada pribadi tertentu. sangat menguntungkan untuk menciptakan keakraban antara media dengan khalayak. intonasi dan aksentuasi dalam teknik “Announcing” sudah mampu membawa imajinas khalayak pendengar untuk mengidentifikasi suasana dan situasi berdasarkan suara tadi. karena khalayak pendengar pada umumnya tidak perlu membayar untuk mendengarkan radio. Tantangan penulis naskah. Tantangannya. Menciptakan “Theatre of Mind” Di atas sudah dijabarkan produksi radio berupa suara. dibandingkan media cetak dan televisi.

Bandingkan media cetak yang hanya nikmat dibaca satu orang saja dalam kesempatan yang sama.PENULISAN NASKAH UNTUK RADIO Tantangan penulis naskah. tapi umumnya siaran radio bersifat lokal dan regional saja. edukasi dan hiburan yang simultan. Karena itu radio menjadi efektif untuk raih khalayak pendengar. h. radio mudah membentuk citra diri. proses distribusi siaran radio terasa lebih unggul. Format dan Segmentasi Tajam Dalam perkembangan keradioan modern. Dibandingkan media cetak. karena tidak punya kepentingan. i. seperti melintasi samudra dan benua. Dan memberi pilihan beragam pada pendengar. Teknologinya dimungkinkan untuk mengatasi hambatanhambatan geografis. Tantangan penulis naskah. Termasuk tantangan bagi penulis naskah untuk menciptakan komuniksi naskah yang “segmented” dan komunikatif sesuai kebutuhan segmentasi tersebut. hanya ketajaman “Format-Segmentasi” inilah yang bisa jadi jalan keluar. Menyentuh Kepentingan Lokal dan Regional Meski siaran radio memungkinkan mencapai radius yang luas. radio bisa mengidentifikasikan kebutuhan khalayak pendengar secara jelas dan pasti. Konsep radio melayani seluruh lapisan sosial masyarakat dan mengudarakan segala macam format siaran dianggap sudah kuno dan mustahil meraup khalayak pendengar secara maksimal. Apalagi dalam rangka memenangkan kompetisi antar radio yang jumlahnya makin besar. Sehingga identitasnya mudah ditengarai khalayak pendengar. kecenderungan sebuah radio harus menajamkan “Format” dan “Segmentasi Pendengar” semakin menjadi keharusan. bagaimana dapat membuat proses dan produksi naskah siaran tidak terkesan rumit dan justru menjadi masalah bagi radio karena biayanya lebih mahal dibandingkan biaya operasional siaran sendiri. 4 . g. Paling tidak kebutuhan mengetahui situasi dan kondisi lokal dan regionalnya. Daya Jangkau Luas Dalam hal distribusi produksi. cuaca dan sistim distribusinya. Keuntungannya. Kecuali bila naskah siaran mampu menjembataninya dengan tepat. j. Bisakan keserempakan seperti ini dimanfaatkan penulis naskah melalui tulisan yang juta serempat dimengerti pendengar ketika disiarkan. Keuntungan lain penajaman ini. radio punya keunggulan untuk meraih areal sasaran yang luas. Dia bisa dinikmati sejumlah pendengar sekaligus. mampukah dia mengetengahkan hal-hal yang menyentuh nilai universal dan melayani kebutuhan mayoritas pendengar. Bersifat “Mass Distributor” Radio memiliki kekuatan sebagai distributor informasi. Pelayanan untuk hal-hal diluar itu sering terbentur pada masalah khalayak pendengar yang merasa tidak butuh.

dan atau hal-hal teknis tanpa menimbulkan salah paham. KELEMAHAN a. gambar lebih mampu mengkonsumsikan sesuatu ketimbang rangkain kata dan kalimat sebanyak apapun. Hanya Suara Meski suara dalam butir “Keunggulan” punya kharisma besar. Tapi pengertian “Anti Detil” bukan berarti radio tidak bisa menyajidkan sesuatu secara “Depth”. Penting bagi penulis naskah menyadari. Karena di radio dimungkinkan untuk menyajikan sesuatu dari tinjauan analisa prediksi atau ulasan latar belakang. Beda dengan media cetak yang tertulis dan tercetak. yang sangat mudah menjelaskan sesuatu dengan bantuan gambar. atau menjelaskan hal-hal yang sangat teknis ? Pasti khalayak pendengar merasakan lelah dan tak sanggup menyerap semua itu. bukan gambar. muaranya selalu berupa presentasi suara. Dalam beberapa hal. 5 PRINSIP MENULIS UNTUK RADIO 1. Jadi apapun sumber dan wujud materi siaran radio. data atau petunjuk instruksional. Bandingkan dengan televisi dan media cetak. Contoh.PENULISAN NASKAH UNTUK RADIO D. radio tidak mungkin menyajikan sesuatu secara detil. adalah sifat selintasnya. Mampukah penulis naskah menemukan hal-hal yang mungkin ditulisnya dan hal-hal yang justru harus melalui gambar. setiap kata dan kalimatnya harus mampu mengalihkan perhatian pendengar ke siaran radio dan mengerti pesan yang disampaikan hanya dengan sekali pengudaraan. Untuk Bicara Segala sesuatu yang diproduksi oleh radio. Dengan demikian bisa disimpulkan. seluruh materi tertulis yang akan disiarkan harus memenuhi 5 . Penulis naskah harus belajar bagaimana membuat tulisan yang tidak terjebak ke paparan detil yang sulit diingat pendengar. Beda dentgan radio yang mau tak mau harus pada saat materi diudarakan itulah khalayak pendengar dipaksa mendengarkan. Sehingga dalam kesempatan apapun pembaca dapat mengulang atau menunda membaca informasinya. c. Karena itu karakter komunikasinya terbatas pada “Komunikasi Lisan” atau “Komunikasi Tutur”. kecuali dengan membacanya. Artinya. Anti Detil Akibat dari kelemahan “Hanya Auditif” dan “Selintas”. Selintas Kelemahan menonjol dari produksi radio yang hanya suara. apa yang terjadi kalau radio menyiarkan jejeran angka. Suara tidak mampu menjelaskan gambar. elemen utamanya adalah suara. dalam beberapa hal kemampuan radio yang hanya mengeluarkan suara merupakan kelemahan. Selain itu khalayak pendengar tidak bisa minta materi diulang apabila ada sesuatu yang tidak jelas. grafik data. semua suara tersebut tidak terdokumentasi khalayak pendengar. b.

Karena itu hindari penulisan naskah radio yang modelnya “Literatur Tertulis”. Maka untuk mencapai keakraban komunikasi personal ini. Apalagi penyampaian pesan di radio tidak mungkin diminta 6 . Tulisan yang tidak beratmosfir komunikasi antar individu. Karena itu kesegaran menjadi kunci utama penulisan naskah radio. konsep penulisannya pun harus bertolak dari naskah bercorak “Bicara” bukan “Tulis”. Individu ke individu Pola komunikasi radio siaran adalah hubungan antar individu. Khalayak pendengar akan merasa gerakan komunikasi jadi lamban dan tidak menarik. Karena menulis di radio memang bukan “Orasi Spektakuler” b. Reporter dengan khalayak pendengar menjadi komunikasi langsung antar individu Komunikator dan Komunikan. Terasa komunikasi penyiar. Karena itu sudah bisa dibayangkan. yaitu yang digunakan dalam percakapan sehari-hari. Hindari bentuk tulisan sepertin pidato tertulis. apabila penyampaian pesan tidak jelas ditangkap khalayak pendengar dalam sekali ucap. maka pesan tidak akan sampai untuk selamanya. Untuk itu jangan ada kalimat-kalimat yang “Birokratis” d.PENULISAN NASKAH UNTUK RADIO tuntutan penampilan auditif. Langsung Dimengerti Ingat. Dianjurkan juga. Alur yang berbelit-belit sangat tidak menguntungkan untuk radio. Newscaster. Tuntutan untuk tetap ringkas dan padat harus dipenuhi 4. penulisan naskah radio harus juga mempertimbangkan pola komunikasi individu ke individu ini. Komunikasi Langsung Konsekuensi dari tuntutan tulisan untuk “Bicara”. Tulisan harus mengesankan suasana yang bersahabat. “Selintas” adalah salah satu kelemahan karakter radio. segera menuju pokok permasalahan. Jadi. Apalagi karakteristik medium radio punya keampuhan karena komunikasi yang dimungkinkan akrab. Pengertian langsung di sini. bukan berarti harus bertele-tele berputar atau menghamburkan kata dan kalimat. meskipun pelaksanaan siaran radio ditujukan kepada orang banyak secara serentak. berupa suara. maka alur penulisan di radio harus bersifat langsung. Karena tidak tercipta “sambung rasa”nya. Bunyi tulisan harus membentuk suasana “informal” c. pasti tidak cocok untuk radio. Sekali Ucap. Akibatnya. 3. 2. a. untuk menggunakan kalimat dan kata yang mudah dimengerti. Tapi karena tampilan auditifnya membuat radio bercitra medium komunikasi personal. Tulisan yang komunikatif secara personal.

Rumuskan kalimat dan penyataan secara sederhana. karena sedang sibuk memikirkan kalimat yang tidak jelas tadi b. Kalau informasi harus disajikan dalam kalimat yang panjang.PENULISAN NASKAH UNTUK RADIO mengulang oleh khalayak pendengar. Perkaya dengan kata-kata lain atau kata yang padanannya sama. Karena produksi radio hanya suara. tapi beda arti. c. jangan paksakan diri untuk menjelaskannya dalam kalimat yang panjang. dikuatirkan kalimat berikutnya sudah tidak dapat ditangkap khalayak pendengar. elemen kata dan kalimat dengan merupakan “Jembatan” antara penulis naskah dengan khalayak pendengar. Hindari hal-hal yang abstrak dan sulit dilukiskan dengan kata-kata c. Kata dan kalimat menjadi alat utama dalam komunikasi di radio. CLARITY HAS TOP PRIORITY Untuk mencapai tulisan yang sekali ucap langsung dimengerti. Untuk menghindarkan kalimat yang panjang. maka gangguan –gangguan dalam proses penyerapan suara tadi juga besar. produk radio hanya suara. Hati-hati dengan hal-hal yang bunyinya hampir sama. bisa diperkecil dengan a. Apabila anda menyampaikan ide anda dengan kalimat yang sulit dicerna. a. Radio Hanya Suara Sudah berulang kali dijelaskan. Misalnya menjadi 2 atau 3 kalimat. ketika pesan yang disampaikan tadi tidak jelas. Contoh : Bangunan itu dibangun oleh perusahaan bangunan lokal Gedung itu dibangun developer lokal d. Pemecahannya bisa dirumuskan dengan SATU IDE SATU KALIMAT 5. Karena itu. Contoh : Ronde dalam pertandingan tinju Ronde dalam arti jenis minuman 7 . biasakanlah untuk tidak menjejalkan seluruh data di satu kalimat. Dianjurkan untuk menjabarkan informasi tadi dalam beberapa kalimat. Jangan gunakan kata-kata yang bunyinya saling berbenturan. Untuk itu kunci yang harus dihayati penulis naskah di radio. Kelemahan karakteristik suara dan gangguan dalam proses komunikasinya. Malah lebih besar dari karakter media cetak. Gunakan kata – kata yang tepat dan mengandung arti kongkrit b.

maka rumusan penulisan untuk radio bermuara pada produk yang auditif. atau dibaca. Pola ini populer dengan rumusan WRITE THE WAY YOU TALK Jadi apa yang hendak anda katakan itulah yang muncul berupa tulisan di naskah. makin lebar topik yang dipilih. Penetapan topik dan dampak penting. semakin mudah khalayak pendengar menangkap kehendak penulis. termasuk kelebihan dan kekurangannya. Sebaliknya. ditentukan juga dampak apa yang hendak dicapai tulisan tersebut terhadap khalayak pendengar. Tahap ini sebenarnya merupakan proses bagi penulis untuk membuat tulisannya mencapai kondisi “bertutur”. Karena buka untuk konsumsi mata. karena keduanya merupakan kerangka utama alur penulisan. PERKATAAN Sesudah tahap pertama selesai. penulisan di radio diarahkan untuk konsumsi telinga. “Tulis seperti apa yang hendak anda bicarakan”. tetapi sudah melalui tahap pemolesan bahasa Indonesia yang menuntut “Baik” dan “Benar”. 2. Baik materi yang hendak ditulis ulang (rewrite) maupun materi yang didapat waktu meliput di lapangan. Dalam keadaan ini seakan-akan penulis tengah berhadapan dengan seseorang. maka filosofi penulisan di radio berbunyi. dampak dan menghimpun data yang dianggap penting unuk memperkuat tulisan. Bersamaan dengan itu. penulis harus membaca dulu dan memahami apa yang hendak ditulis. penulis dengan bersuara kemudian menceritakan tentang hal yang hendak ditulisnya. Pada tahap ini penulis harus memilih topik apa yang akan jadi inti informasinya. Atau “Tulis seperti apa yang hendak didengar”. sebagai tuntutan karya tulis untuk konsumsi telinga. yaitu menentukan topik.PENULISAN NASKAH UNTUK RADIO MENULIS UNTUK TELINGA Sesudah anda memahami karakteristik medium radio. PIKIRKAN Dalam tahap ini. 4 TAHAP PENULISAN BERTUTUR Untuk memudahkan penulisan gaya auditif. maka penulis membuat khalayak pendengar semakin tidak bisa menangkap maksud tulisan yang disiarkan. Semakin tajam topik yang dipilih. gunakan langkah-langkah 1. Tepatnya. Apabila penulis tidak melaksanakan 8 . Bukan untuk mata seperti konsep penulisan di media cetak. tentu saja tidak sama persis seperti cara dan gaya anda berbicara sehari-hari.

secara lengkap dijadikan tulisan. lebih kaku dan kalau dibaca dengan suara keras tidak enak karena tidak mengalir. sudah bisa dipastikan tulisannya berbelok menjadi naskah tulisan untuk kebutuhan mata. atau “newscaster”. Sesudah apa yang diperkatakan tadi ditulis apa adanya. Dan yang lebih penting. 3. membaca naskah. Karena itu pada tahap ini. Karena tulisan hasil perkataan tadi yang bunyinya sama dengan percakapan sehari-hari. boleh jadi memuat kata-kata yang tidak lazim di umum. reporter. sekarang diubah menjadi tulisan tanpa perubahan apapun. TULIS Sesudah tahap “Perkataan” maka sekarang giliran penulis untuk menulis apa yang diperkatakan tadi. siang dan ungkapan yang hanya dimengerti segelintir orang di sekitar kita. Sehingga gaya tulisan di media cetak cenderung lebih pendek. Tapi lebih terkesan seperti sedang menceritakan sesuatu dengan spontan. Mudahnya. Penulisan semacam ini juga akan mencapai target tulisan yang “mengalir”. Apabila ke 4 tahap ini sudah dilakukan penulis naskah. 9 . dan personal serta merta bisa dirasakan khalayak pendengar. kesan dan isinya sama dengan apa yang diperkatakan tadi. Hal semacam ini tidak mungkin dilakukan di media cetak. Terutama perbaikan di bahasa. dimana gaya percakapan itu dipakai. mencapai konsep karya yang auditif. Seperti istilah. Sekaligus berupaya menampilkan bahasa Indonesia secara baik dan benar. kesan akrab. Juga bunyi tulisan itu sama seperti orang yang sedang berbincang-bincang. Kesan “tanpa naskah” dan seperti “sedang bercerita” spontan merupakan keungguilan radio yang harus dipenuhi penulis naskah. PERBAIKAN Tahap ini merupakan langkah akhir untuk membawa naskah ke ruang siaran. Jadi apa yang diceritakan kepada seseorang secara imajinatif tadi. dijamin karya tulis yang dibacakan untuk siaran radio. bukan telinga. dengan pertimbangan kolom dan halaman yang terbatas. apa yang diceritakan dengan suara keras tadi. Sehingga kalau kita baca ulang hasil tulisan ini. Jadi waktu naskah itu dibacakan oleh penyiar. Padahal apa yang disampaikan itu semuanya tertulis dalam naskah. penulis punya kesempatan mengubah kata-kata yang ditengarai tidak akan dimengerti khalayak pendengar. 4. giliran penulis untuk melakukan perbaikan-perbaikan.PENULISAN NASKAH UNTUK RADIO tahap “Perkatakan” ini.

Seperti kantor kedutaan. pusat kebudayaan atau perwakilan asing dari mana kata sukar itu berasal. 1. yaitu membantu dan memudahkan pembaca naskah dengan memberikan bimbingan “Ejaan Fonetik” pada kata-kata yang sulit dan belum dikenal. apalagi kemudian harus mengeja dan membacanya. Mereka-reka dan menyebut dengan asal-asalan. Hubungi beberapa sumber yang bisa dipertanggung jawabkan. Boleh jadi dia sendiri belum pernah mendengar kata sulit itu. d. PELAKSANAANNYA a. Karena itu biasakanlah untuk selalu mengkonfirmasikan ke sumber yang tepat. 10 . menggambarkan kebijakan lembaga radio yang tidak teliti. adalah sistem teleks kantor berita Associated Press b. Penting untuk dihayati. Tulis bimbingan ejaan itu sesuai bunyi ucapan yang sesungguhnya. pengucapan yang benar merupakan tanggung jawab semua pihak. mulai dari penulis naskah. Tulis cara membaca kata sulit dalam tanda kurung. e. lantas merasa selesai waktu sudah diserahkan ke pembaca. Karena cara membaca yang benar. Apalagi yang menyangkut nama. Bentuknya berupa tulisan cara membaca kata-kata sulit tersebut.PENULISAN NASKAH UNTUK RADIO BIMBINGAN EJAAN FONETIK Tugas penulis naskah ternyata tidak cuma menulis naskah. tulis cara membaca kata sulit dalam huruf besar atau kapital. Sehigga siapapun yang membaca kata sulit itu tidak mendapat masalah Garis bawahi bagian-bagian kata yang perlu ditekan pengucapannya Patokan yang digunakan radio siaran untuk bimbingan ejaan fonetik. Gunakan kamus yang mencantumkan keterangan cara membaca b. pembaca hingga lembaga radio dalam kaitan dengan citra. Masih ada satu tugas penting lainnya. dibelakang kata sulit itu. cermat dan bersungguh-sungguh. c. Sumber lainnya bisa menghubungi ahli bahasa. a. 2. mencerminkan tuntutan akurasi yang harus diterapkan. dijamin tidak satupun bersedia disebut bukan seperti seharusnya. KENDALA Banyak kendala yang mungkin terjadi ketika penulis naskah harus memberi bimbingan ejaan fonentik. Berikut ini beberapa jalan keluar. Misal : GUANTANAMA (GWAHN-TAH-NAH-MOH) RIO DE JANEIRO (RIYO-DE-HENEIROU) Untuk kemudahan. konsulat. untuk mengetahui cara mengeja dan membaca dengan benar.

Prinsip awal ketika penulis naskah menghadapi singkatan. GELAR. a. Misal : Ir (Insinyur). Dalam penulisan pisahkan huruf-huruf yang digunakan dalam singkatan atau designasi alfabetis dengan tanda penghubung (-) waktu setiap huruf disebutkan Misal : Partai Demokrasi Indonesia dengan P-D-I Partai Persatuan Pembagunan dengan P-P-P 11 . Misal : Perserikatan Bangsa-bangsa atau P-B-B Golongan Karya atau Golkar d. negara bagian. Salah satunya mengenai singkatan-singkatan. Jangan singkat nama negara. propinsi. lembaga dan institusi. Untuk nama organisasi. Jangan pakai simbol sebagai pengganti kata Misal : & untuk DAN # untuk NOMOR/URUTAN f. Kalau singkatan tersebut dibaca.PENULISAN NASKAH UNTUK RADIO MENULIS SINGKATAN. pemerintahan dan keagamaan. Jangan memberi kesempatan singkatan tampil b. Dengan dugaan. bulan. Apakah singkatan yang diudarakan itu sudah dikenal khalayak pendengar atau belum b. tulis kepanjangannya. Prof (Professor) c. sebaiknya di awal dibaca lengkap dulu baru kemudian dibaca “Designasi Alfabetis”nya. hari. Peluang singkatan hanya dimungkinkan untuk yang sudah sangat lazim. dr (Dokter) . Masalah yang sering timbul dalam penulisan singkatan. semua orang pasti kenal singkatan tersebut. Lebih penting mana. SINGKATAN DAN PENULISAN SINGKATAN Ingat. gelar militer. NAMA. atau lebih baik dipanjangkan tapi jelas tertangkap maksudnya meski butuh waktu yang lebih panjang PENULISAN SINGKATAN a. hari-hari besar. apakah ada kata-kata yang bunyinya serupa tapi punya makna atau arti yang berbeda c. produksi auditif radio siaran punya banyak kelemahan. memilih singkatan supaya lebih ringkas tapi dengan resiko tidak dimengerti. DAN ANGKA 1. dan sebagainya Misal : US atau USA untuk Amerika Serikat OH untuk Ohio X’MAS untuk Christmas JR atau SR untuk Junior atau Senior e.

Karena penulisan nama lengkap dan gelarnya menjadi mubasir. Menyangkut nama seseorang yang terdiri dari beberapa kata. Penulisan yang salah. Karena dalam keadaan itu. salah satu kelemahan radio adalah ‘Anti Detil” sementara angka selalu menampilkan sifat detilnya. sering menggangu khalayak pendengar. PENULISAN NAMA a. diperlukan strategi khusus untuk bisa dipahami khalayak pendengar. Penulisan pencantuman gelar sebaiknya untukn gelar yang berlaku umum di masyarakat. ANGKA Penulisan angka merupakan bagian yang sangat rumit. Sehingga sering nama kemudian tidak tertangkap khalayak. e. ketika semua orang sudah tahu hal itu. Tulis nama lengkap dan gelarnya untuk orang yang belum dikenal c. kalau memang diperlukan maka tulislah gelar di muka nama. Untuk penulisan singkatan yang menjadi satu kata. Apalagi dalam karakteristik medium radio sudah dibahas. Tapi karena angka-angka itu disiarkan lewat radio siaran. 3. Bukan sebaliknya. Mengenai nama tengah tidak perlu ditulis. sehingga menjadi salah baca atau salah penguapan. Dalam hal semacam ini.PENULISAN NASKAH UNTUK RADIO g. Kecermatan untuk dua hal ini sering dijadikan ukuran untuk menilai profesionalisme penulis naskah. Karena pada beberapa institusi dan organisasi profesi. Sebaliknya. Organisasi Sosial f. anggotanya memiliki gelar yang hanya berlaku internal dan untuk kelompok itu saja. tidak dipisahkan tanda penghubung Misal : Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (ABRI) Asuransi Tenaga Kerja dengan ASTEK 2. Misal : Dunia Fotografi. maka penulisannya harus disatukan. tidak perlu menulis gelar dan nama lengkap untuk seseorang yang sudah sangat terkenal. Dan selanjutnya nama tersebut disambung dengan nama keluarga. cukup ditulis nama yang biasa dipakai untuk memanggilnya. kalau tidak mengganggu yang empunya nama dan gelar tersebut. Tentang pencantuman gelar. 12 . d. Hindarkan penulisan nama orang di awal naskah. b. 4. penulisan gelar tidak dibutuhkan karena khayak pendengar juga tidak dimengerti. khalayak pendengar belum siap betul mencerna informasi yang disampaikan. NAMA DAN GELAR Hal yang sering dilupakan atau tidak diperhatikan penulis naskah adalah Nama dan Gelar seseorang.

bisa ditulis dengan angka itu. Penulisan angka hanya dibutuhkan untuk angka yang perlu-perlu saja b. dimana kita berhenti. supaya teliga bisa bisa menangkapnya. berhenti 13 .555. Untuk angka yang lebih dari 3 desimal. Untuk angka yang lebih dari 3 desimal.1 Milyar) Rp. “sebanyak” dan sebagainya Misal : Rp. Mengenai keterangan uang jangan gunakan simbol-simbol Misal : $ untuk (Dollar) h. 156.122. Misal : Ulang Tahun X menjadi (Ulang Tahun ke 10) TANDA BACA DAN TANDA KUTIP Dalam penulisan naskah radio ada elemen-elemen lain yang dibutuhkan di luar penulisan itu sendiri.000 menjadi (Sepuluh Ribu atau 10 Ribu) f.000. Gunakan awal “ke” di depan angka yang akan dibacakan menunjukkan bilangan urutan. Daftar anggaran proyek c.289. Untuk itu bisa menggunakan kata-kata seperti “sekitar”.2 menjadi (Satu Koma Dua) g. 3. Karena tulisan angka yang besar dan panjang menyulitkan pembaca naskah Misal : 120. “kurang lebih”.890. Banyak penulis naskah radio yang mengabaikan kegunaan kedua hal ini. Karena tanda baca adalah rambu-rambu. Pembulatan ini merupakan usaha penyederhanaan. “hampir”. maka penulisannya sudah harus dieja. Untuk menyebutkan prosentase jangan menulis tanda (%) Misal : 5% menjadi (Lima Persen) i. Eja setiap angka pecahan Misal : ¾ menjadi (Tiga Perempat).PENULISAN NASKAH UNTUK RADIO a. Misal : angka 0 sampai 999 e. Padahal aksentuasi produksi auditif juga ditentukan oleh penempatan tanda-tanda tersebut. buat pembulatannya.. “sedikitnya”. Untuk angka yang besar dan terinci. 3.775.(Sekitar 156 juta orang) d. “lebih dari”. TANDA BACA Dalam penulisan naskah peran tanda baca sangat penting. Yaitu “tanda baca” dan “tanda kutip”. Tidak direkomendasikan menulis daftar angka atau urutan angka Misal : Daftar harga..000 menjadi (Satu Koma Dua Juta) 10. bukan ejaan. 1.(lebih dari Rp. 1.

. Apakah kalimat setelah kutipan itu masih termasuk kutipan. Tanda Baca Tradisional Yaitu menggunakan tanda-tanda baca yang berlaku umum selama ini. yang dibuat berdasarkan kesepakatan. Alasan-alasannya..). nada seru dan sebagainya. Tanda Baca Khusus Yaitu menggunakan tanda-tanda baca khusus.. a.PENULISAN NASKAH UNTUK RADIO sebentar. Misal : Garis miring satu (/) sebagai KOMA Garis miring dua (//) sebagai TITIK Garis miring tiga (///) sebagai AKHIR NASKAH Garis bawah (_) sebagai PENEKANAN NASKAH Deretan titik (…) sebagai ISYARAT STOP SEJENAK 2. Masalahnya. tapi tidak ada yang sangat baku. dan bisa hanya berlaku di kalangan tertentu saja. Secara auditif sulit untuk menandai kapan kutipan berakhir. Seperti titik (. koma (.. TANDA KUTIP Pengutipan dan pemakaian tanda kutip sering dijumpai dalam penulisan naskah media cetak. Apa tidak mungkin terjadi bias fakta kerena ekspresi yang beda antara pembaca dan kutipan sumber ? b. Maka untuk kutipan-kutipan dengan tanda kutip sering sulit untuk diekspresikan suara... Tanda kutip sering digunakan untuk memagari pernyataan nara sumber. pemakaian simbol-simbol tanda kutip (“.dalam hal ini lebih jelas media cetak. untuk memberi gambaran keadaan dan fakta. 14 . Pemakaian ini terasa sangat dibutuhkan media cetak. tapi untuk diperkatakan atau dituturkan. menggunakan nada tanya. tanda tanya (?). kolon (:) dan sebagainya b. Naskah di radio bukan untuk dibaca. Artinya tidak bersifat baku. penggunaan tanda kutip tidak sebebas dan semaksimal media cetak. Bagaimana spesifikasi penggunaanya di radio ? Khusus untuk radio siaran terdapat beberapa ketentuan penggunaan tanda-tanda baca. Tetapi lain di radio. ataukah sudah muk kalimat baru. Dikuatirkan. apakah kutipan itu kalau disuarakan langsung apakah bisa seekspresif yang empunya kutipan.). a.”) mendorong pembaca naskah terjerumus kesalahan dan kutipan sumber ? c.. Untuk itu bisa kita bagi menjadi.

Radio menjadi alat komunikasi kehidupan masyarakat yang paling besar yang dapat dipikirkan. Artinya radio bertugas tak hanya mengirim/menyiarkan tetapi juga menerima. Dimana bentuk kalimatnya menjadi menerangkan. 1932) 15 . Ini mengundang implikasi bahwa radio akan membuat pendengar tak hanya mendengar tapi juga berbicara dan tidak membuat pendengar terisolasi tetapi menghubungkannya dengan proses perubahan negara dan masyarakat. a. apalagi mengubah maksud isi pernyataan. Tujuannya supaya tidak terjadi pergeseran makna pernyataan. (Bertolt Brecht. PENULISAN NASKAH UNTUK RADIO Radio harus diubah dari alat distribusi menjadi sistem komunikasi. Sistem saluran yang besar. Ketika melaksanakan penyederhanaan pernyataan.PENULISAN NASKAH UNTUK RADIO Anjuran. dianjurkan kepada penulis naskah radio. b. berusaha menjadikan pernyataan-pernyataan langsung tadi menjadi kutipan “tidak langsung”. harus dilakukan dengan sangat hati-hati. Sehingga dimungkinlah menyederhanakan pernyataan langsung tadi dengan hanya mengutip esensinya saja. Untuk menghindari masalah seperti yang dipaparkan diatas.

PENULISAN NASKAH UNTUK RADIO Oleh: Hamdar Damang 16 .

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->