Kecemasan Primigravida Menghadapi Proses Persalinan / Melahirkan

Sat, 19/06/2010 - 9:59am — ekoaguscahyono Pengantar Seorang primigravida dalam menghadapi persalinan sebagian besar selalu mengalami kecemasan. Kecemasan ini terjadi karena berbagai faktor. Kecemasan itu sendiri adalah ketegangan, rasa tidak aman dan kekawatiran yang timbul karena dirasakan terjadi sesuatu yang tidak menyenangkan tetapi sumbernya sebagian besar tidak diketahui dan berasal dari dalam (DepKes RI, 1990). Kecemasan dapat didefininisikan suatu keadaan perasaan keprihatinan, rasa gelisah, ketidak tentuan, atau takut dari kenyataan atau persepsi ancaman sumber aktual yang tidak diketahui atau dikenal (Stuart and Sundeens, 1998). Berdasarkan definisi tersebut dapat diambil kesimpulan bahwa kecemasan adalah perasaan yang tidak menyenangkan, tidak enak, khawatir dan gelisah. Keadaan emosi ini tanpa objek yang spesifik, dialami secara subjektif dipacu oleh ketidak tahuan yang didahului oleh pengalaman baru, dan dikomunikasikan dalam hubungan interpersonal. Primigravida adalah Wanita yang baru hamil untuk pertama kalinya. seorang ibu primigravida biasanya mendapatkan kesulitan dalam mengenali perubahan-perubahan yang terjadi dalam tubuhnya yang menyebabkan ketidaknyamanan selama kehamilannya berlangsung. Hal ini mempengaruhi psikologis ibu, karena kurangnya pengetahuan ibu hamil tersebut. Kurangnya pengetahuan ini juga menyebabkan ibu primigravida tidak tahu cara mengatasi ketidaknyamanan yang ibu rasakan (Ulfah, 2009). Faktor Predisposisi Kecemasan Setiap perubahan dalam kehidupan atau peristiwa kehidupan yang dapat menimbulkan keadaan stres disebut stresor. Stres yang dialami seseorang dapat menimbulkan kecemasan, atau kecemasan merupakan manifestasi langsung dari stres kehidupan dan sangat erat kaitannya dengan pola hidup (Wibisono, 1990). Berbagai faktor predisposisi yang dapat menimbulkan kecemasan (Roan, 1989) yaitu faktor genetik, faktor organik dan faktor psikologi. Pada pasien yang akan menjalani operasi, faktor predisposisi kecemasan yang sangat berpengaruh adalah faktor psikologis, terutama ketidak pastian tentang prosedur dan operasi yang akan dijalani. Seorang primigravida yang pertama kali akan mengalami proses persalinan cenderung mengalami kecemasan. Hal ini dikarenakan proses persalinan adalah sesuatu hal baru yang akan dialaminya. Gejala Kecemasan Penderita yang mengalami kecemasan biasanya memiliki gejala-gejala yang khas dan terbagi dalam beberapa fase, yaitu : - Fase 1 Keadan fisik sebagaimana pada fase reaksi peringatan, maka tubuh mempersiapkan diri untuk fight (berjuang), atau flight (lari secepat-cepatnya). Pada fase ini tubuh merasakan tidak enak sebagai akibat dari peningkatan sekresi hormon adrenalin dan non adrenalin. Oleh karena itu, maka gejala adanya kecemasan dapat berupa rasa tegang di otot dan kelelahan, terutama di otot-otot dada, leher dan punggung. Dalam persiapannya untuk berjuang, menyebabkan otot akan menjadi lebih kaku dan akibatnya akan menimbulkan nyeri dan spasme di otot dada, leher dan punggung. Ketegangan dari kelompok agonis dan antagonis akan menimbulkan tremor dan gemetar yang dengan mudah dapat dilihat pada jari-jari tangan (Wilkie, 1985). Pada fase ini kecemasan

sedang. .Fase 3 Keadaan kecemasan fase satu dan dua yang tidak teratasi sedangkan stresor tetap saja berlanjut.Kecemasan berat. kemampuan konsentrasi menurun. lahan persepsi menyempit. 1988). kecepatan denyut jantung dan pernapasan meningkat. sering kencing. lahan persepsi menyempit. . 1988). diare. motivasi meningkat dan tingkah laku sesuai situasi. Berbeda dengan gejala-gejala yang terlihat pada fase satu dan dua yang mudah di identifikasi kaitannya dengan stres. . disorientasi. 1988). Panik berhubungan dengan terperangah. marah dan menangis. perasaan tidak berdaya. Klasifikasi Tingkat Kecemasan Ada empat tingkat kecemasan. Kecemasan ringan berhubungan dengan ketegangan dalam kehidupan sehari-hari dan menyebabkan seseorang menjadi waspada dan meningkatkan persepsi atas keadaan yang dialaminya. mudah tersinggung. kehilangan kemampuan toleransi terhadap sesuatu yang sebelumnya telah mampu ia tolerir. seperti gelisah. perhatian selektif dan terfokus pada rangsangan yang tidak menambah ansietas. Akan tetapi kadangkadang dari cara tertawa yang agak keras dapat menunjukkan tanda adanya gangguan kecemasan fase dua (Asdie. . namun dapat melakukan sesuatu yang terarah. ketegangan otot. lapang persepsi meningkat. kemudian ia berdiam diri saja beberapa lama dengan hanya melihat barang yang jatuh tanpa berbuat sesuatu (Asdie. Memungkinkan seseorang untuk memusatkan pada masalah yang penting dan mengesampingkan yang lain sehingga seseorang mengalami perhatian yang selektif.mudah lupa. iritabel. tidak sabar. mampu untuk belajar namun tidak optimal. sakit kepala. 1996). berfokus pada dirinya sendiri dan keinginan untuk menghilangkan kecemasan tinggi. Manifestasi yang muncul pada tingkat ini adalah mengeluh pusing. bicara cepat dengan volume tinggi. 1988). palpitasi. tidak mau belajar secara efektif. serta tidak dapat berpikir tentang hal lain.merupakan mekanisme peningkatan dari sistem syaraf yang mengingatkan kita bahwa system syaraf fungsinya mulai gagal mengolah informasi yang ada secara benar (Asdie. kesadaran tinggi. penderita juga mulai tidak bisa mengontrol emosinya dan tidak ada motifasi diri (Wilkie. Mudah menangis yang berkaitan dengan stres mudah diketahui.Manifestasi yang muncul pada tingkat ini adalah kelelahan. bingung. yang beberapa saat kemudian menjadi tertawa. yaitu ringan. Pada fase tiga ini dapat terlihat gejala seperti : intoleransi dengan rangsang sensoris. 1985). Kehilangan motivasi diri bisa terlihat pada keadaan seperti seseorang yang menjatuhkan barang ke tanah. .Panik. gangguan tidur dan keluhan perut.Kecemasan sedang. gangguan reaksi terhadap sesuatu yang sepintas terlihat sebagai gangguan kepribadian (Asdie. Manifestasi yang terjadi pada tingkat ini yaitu kelelahan meningkat. tidak dapat tidur (insomnia). gejala kecemasan pada fase tiga umumnya berupa perubahan dalam tingkah laku dan umumnya tidak mudah terlihat kaitannya dengan stres.Kecemasan ringan. Orang tersebut memerlukan banyak pengarahan untuk dapat memusatkan pada suatu area yang lain. ketakutan dan teror karena mengalami kehilangan kendali.Fase 2 Disamping gejala klinis seperti pada fase satu. Labilitas emosi dapat bermanifestasi mudah menangis tanpa sebab. mampu untuk belajar. ketegangan otot meningkat. Seseorang dengan kecemasan berat cenderung untuk memusatkan pada sesuatu yang terinci dan spesifik. Sangat mengurangi lahan persepsi seseorang. berat dan panik (Townsend. nausea. penderita akan jatuh kedalam kecemasan fase tiga. . .

tingkat ringan sebesar 15%. tingkat sedang sebesar 55%. banyak hal mengkhawatirkan muncul dalam pikiran ibu. Kontraksi yang lama-kelamaan meningkat menambah beban ibu. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui tingkat kecemasan pada ibu bersalin (primi dan multigravida) di BPS Idawati. pembicaraan inkoheren. Pada kondisi inilah perasaan khawatir. http://organisasi.4%. Kesimpulan penelitian tingkat kecemasan pada ibu bersalin di dapat tingkat berat sebesar 30%. Pada penelitian ini telah disarankan agar KIE yang baik dan benar dalam masa kehamilan. berantakan akibat ibu panik. berteriak. dan sebagainya.6% dan pada ibu multigravida didapatkan kecemasan tingkat berat sebesar 7%. rasa tidak aman dan kekhawatiran yang timbul karena dirasakan terjadi sesuatu yang tidak menyenangkan tapi sumbernya sebagian besar tidak diketahui dan berasal dari dalam (intra psikis) dapat mengakibatkan persalinan menjadi lama/partus lama atau perpanjangan Kala III ini masih ditemukan pada Ibu Primigravida dan Multigravida. bila tidak ditangani dengan baik.org/kecemasan-primigravida-menghadapi-proses-persalinan-melahirkan Gambaran Tingkat Kecemasan Ibu Menghadapi Persalinan Diposkan oleh Bascom Label: Judul KTI Dimasyarakat.5% dan tingkat ringan sebesar 21. dapat diterapkan dan diberikan kepada ibu dan mengikutsertakan peranan orang terdekat dalam menghadapi persalinan. paradigma persalinan masih menganggap persalinan itu merupakan pertaruhan hidup dan mati. Permasalahannya tidak semua wanita siap secara fisik dan mental. tingkat sedang sebesar 71. sehingga wanita yang akan melahirkan mengalami ketakutan. Faktor psikis dalam menghadapi persalinan merupakan faktor yang sangat mempengaruhi lancar tidaknya proses kelahiran dimana kecemasan atau ketegangan. Tingkat kecemasan masing-masing primigravida dipengaruhi oleh banyak faktor seperti tingkat pendidikan. http://www. takut persalinannya lama. Menjelang persalinan.html . Tanda dan gejala yang terjadi pada keadaan ini adalah susah bernapas. dilatasi pupil. khususnya takut mati baik bagi dirinya sendiri ataupun bayi yang akan dilahirkan. Penelitian ini adalah penelitian deskriptif. menjerit. tidak dapat berespon terhadap perintah yang sederhana.5%. dukungan suami dan faktor-faktor lain yang menjadi pemicu untuk terjadinya kecemasan Wanita hamil yang siap secara fisik dan mental akan menjalani proses kehamilan hingga proses persalinan dengan lancar. pekerjaan. bisa merusak konsentrasi ibu sehingga persalinan yang diperkirakan lancar. sumber informasi. sehingga kekhawatiran pun bertambah. Dari berbagai penjelasan diatas dapat ditarik kesimpulan bahwasanya seorang primigravida yang akan mengalami proses persalinan pertama kali cenderung mengalami kecemasan.bascommetro.com/2011/03/gambaran-tingkat-kecemasan-ibu. Analisa penelitian ini menggunakan presentase dengan hasil penelitian pada ibu primigravida di dapatkan kecemasan tingkat berat sebesar 83. Takut bayi cacat. Puncak kekhawatiran muncul bersamaan dengan dimulainya tanda-tanda akan melahirkan. populasi adalah ibu primigravida dan multigravida sejumlah 20 orang dengan menggunakan teknik pengumpulan data angket dan alat ukur Tmast yang telah dikembangkan. tingkat sedang sebesar 16. mengalami halusinasi dan delusi. Terlebih bila sebelumnya ada teman atau kerabat yang menceritakan pengalaman bersalin mereka. takut harus operasi.Orang yang sedang panik tidak mampu melakukan sesuatu walaupun dengan pengarahan. pucat. palpitasi. diaphoresis. lengkap dengan komentar yang menyeramkan.

com/2011/03/psikologis-dalam-persalinan. A. memberikan perhatian total pada klien. 8.blogspot. Kontak fisik dapat dilakukan dengan menggosok punggung. Ketika his menghilang. 4. karena suatu ketika bidan harus memberikan perimbangan. 6. Memberikan ucapan selamat pada klien atas kelahiran putranya dan menyatakan ikut berbahagia. B. 7. Sentuhan bidan terhadap klien akan memberi rasa nyaman dan dapat membantu relaksasi. Mendengarkan. Bidan menerima klien apa adanya dan memberikan dorongan verbal yang positif. 3.html . Tujuan Komunikasi terapeutik Pada Ibu Dengan Gangguan Psikologi Saat Persalinan 1. Misalnya : bidan meminta klien ketika ada his untuk meneran. Hal ini diupayakan untuk memberi rasa percaya diri bahwa klien dapat menyelesaikan persalinan. 1. Sentuhan dalam pendampingan klien yang bersalin. berelaksasi dan posisi postur tubuh. Komunikasi terapeutik pada ibu dengan gangguan psikologi saat persalinan dilaksanakan oleh bidan dengan sikap sebagai seorang tua dewasa. Pendekatan Komunikasi Terapeutik. Bila memungkinkan anjurkan pendamping untuk mengambil peran aktif dalam asuhan. Memandu persalinan dengan memandu intruksi khusus tentang bernafas. Memberi informasi tentang kemajuan persalinan. lingkungan fisik dan diri sendiri untuk kesejahteraan ibu dan proses persalinan agar dapat berjalan dengan semestinya. Mengadakan kontak fisik dengan klien. Bidan selalu mendengarkan dan memperhatikan keluhan klien. Pujian diberikan pada klien atas usaha yang telah dilakukannya. Kehadiran merupakan bentuk tindakan aktif ketrampilan yang meliputi mengayasi semua kekacauan/kebingungan. Komunikasi non verbal kadang-kadang lebih bernilai dari pada kata-kata. Pemahaman dapat mengerangi kecemasan dan dapat mempersiapkan diri untuk menghadapi apa yang akan terjadi. Informasi yang diberikan diulang beberapa kali dan jika mungkin berikan secara tertulis. Memberikan pujian. memeluk dan menyeka keringat serta membersihkan wajah klien. Kehadiran. bidan mengatakan pada ibu untuk bernafas pajang dan rileks. 5.Membantu mengambil tindakan yang efektif untuk pasien. Membantu pasien memperjelas serta mengurangi beban perasaan dan pikiran selama Proses persalinan 2.PSIKOLOGIS DALAM PERSALINAN Kegiatan komunikasi terapeutik pada ibu melahirkan merupakan pemberian bantuan pada ibu yang akan melahirkan dengan kegiatan bimbingan proses persalinan. 3. 9. Membantu mempengaruhi orang lain. Menjalin hubungan yang mengenakkan (rapport) dengan klien. 2. http://tutorialkuliah.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful