Problematika Ulumul hadis Metode yang digunakan oleh para sarjana Muslim klasik untuk menyandarkan sebuah hadis

kepada nabi tidak mendapat tantangan signifikan dari sarjana Muslim moderen. Memang terdapat sejumlah sarjana moderen yang mencoba menunjukkan resistensinya terhadap ulumul hadith, tetapi mereka gagal mendapatkan simpati mayoritas sarjana Muslim. Informasi tentang nabi yang terekam dalam buku-buku hadis laksana pecahan-pecahan kaca yang harus direkonstruksi supaya dapat memantulkan berita-berita akurat tentang nabi. Meskipun hadis-hadis tersebut telah diseleksi oleh para kolektornya (misalnya alBukhari, Muslim, Tirmizi, Ibn Majah, Abu Daud, Nasai dll). Namun, kenyataan bahwa para kolektor ini hidup pada abad ke tiga hijriah (dua ratus tahun lebih setelah nabi wafat), pertanyaan epistimologis muncul: sejauh mana tingkat akurasi metodologi para kolektor ini dalam menyeleksi hadis-hadisnya? Apakah metodologi mereka sama dengan metodologi yang populer kita kenal dengan ulum al-hadis? Al-Bukhari yang dikenal sebagai the man of hadis, misalnya, tidak pernah menjelaskan metodologinya secara detail. Ulum al-hadis yang menurut mayoritas sarjana Islam sangat akurat menyimpan sejumlah pertanyaan-pertanyaan epistimilogis yang tidak terjawab secara empiris. Ulum al-hadis diterima dan dianggap sesuatu yang taken for granted. Kecendrungan sebagian diantara kita adalah menolak atau menerima sebuah hadis tanpa meneliti historisitasnya. Apabila sebuah hadis disebutkan dalam Sahih al-Bukahi atau Muslim, apalagi kalau keduanya menyebutkannya, lebih-lebih lagi kalau disebutkan dalam kutub al-sitta, al-tis’a, maka tidak diragukan lagi hadis tersebut menurut mayoritas sarjana Islam, sahih, sehingga analisis historis terhadapnya tak lagi penting. Benarkah sikap seperti itu? Terdapatnya sebuah hadis dalam sejumlah kitab-kitab hadis bukanlah jaminan akan historisitasnya, karena boleh jadi hadis tersebut diriwayatkan secara massive pada generasi tertentu (paroh kedua abad kedua dan seterusnya sampai ke masa mukharrij), tapi pada generasi sebelumnya (paroh pertama abad kedua dan sebelumnya sampai masa nabi) diriwayatkan secara ahad (single strand). Singkatnya, semua hadis yang terekam dalam kitab hadis harus tunduk pada kritik sejarah. Secara umum literatur hadis kita memiliki karakter sebagai berikut: Nabi-----Satu Sahabat------satu Tabiin---satu fulan- satu fulan------sejumlah perawi sampai ke mukharrij (collector) Lihat diagram berikut Collector Collector 2 Collector 6 Transmitter Transmitter Transmitter Transmitter 7 Collector 4 Collector 5 Collector 1 Collector 8 Collector 3 Transmitter Transmitter Transmittter Transmitter Transmitter Transmitter

Transmitter Transmitter Transmitter Transmitter Transmitter Transmitter Transmitte

1

Transmitter Transmitter

Transmitter

Transmitter

Transmitter

Transmitter

Transmitter Transmitter

Pcl 1

Pcl 2

Pcl 3

Pcl 4 Pcl 5

Common link Successor Diving Companion Prophet Companion Successor Successor Single strand

Terdapat sejumlah inkonsistensi metode kritik hadis. Ada gap yang cukup menganga antara teori dan fakta, antara teori ulumul hadis dengan keadaan objektif literatur hadis. Kalau teori ulumul hadis di aplikasikan secara ketat, bisa jadi kualitas literatur hadis menurun secara sangat signifikan. Contoh sederhana, teori ulumul hadis mengajarkan kepada kita bahwa riwayat seorang mudallis tidak bisa dijadikan hujja apabila ia tidak berterus terang atau ia tidak menyatakan secara tegas sumber informantnya, misalnya dengan mengatakan ’an atau sejenisnya, kecuali kalau riwayat tersebut dikuatkan oleh riwayat perawi lain yang thiqa. Mari kita menguji teori ini secara praktis dalam literatur hadis dengan mengambil contoh kasus Abu Zubayr. Abu Zubayr, seorang Tabiin yang di klaim oleh mayoritas kritikus hadis sebagai mudallis.1 Dengan berpedoman pada teori tersebut di atas maka semua hadis yang diriwayatkannya secara tidak langsung (misalnya dengan menggunakan kata-kata ’an dan sejenisnya) tidak bisa dijadikan hujja (dalil yang kuat), kecuali kalau ada hadis lain yang menguatkannya. Dalam kitab-kitab hadis, kutub al-sitta, misalnya, ditemukan ratusan hadis yang diriwatkan oleh Abu Zubayr, dimana dia tidak menjelaskan cara penerimaannya apakah lansung dari informannya atau tidak. Dalam kutub al-sitta, Abu al-Zubayr meriwayatkan 360 hadis dari Sahabat Jabir b. Abdullah saja,2 belum termasuk hadis yang diriwayatkan Abu al-Zubayr dari Sahabat lain. Jumlah tersebut akan bertambah lagi apabila diteliti riwayat Abu al-Zubayr dalam kitab kitab hadis yang lain. Dari 360 hadis tersebut, Muslim merekam 194, Abu Dawud 83, Tirmizi 52, Nasai 141 dan Ibn Maja 78 hadis. Sebenarnya, jalur Abu Zubayr – Jabir
1 Al-Razi, al-Jarh wa al-tadil, vol. 8. hal. 75; Ibn Hajar, Tahdhib al-tahdhib, vol. 9, hal. 441 2 Penulis telah meneliti keseluruhan hadis tersebut, Lihat, Kamaruddin Amin, The Reliability of Hadith Transmission, A Reexamination of Hadith Critical Methods, Bonn 2005)

2

Kenyataan ini menunjukkan betapa pentingnya mencari metodologi alternatif disamping ulumul hadis dalam menentukan kualitas hadis. Oleh mayoritas kritikus hadis. hadis Hasan al-Basri dalam Sahih al-Bukhari adalah mursal. 14. Lihat Ibn Hajar. Tahdhib al-kamal. sejauhmana keakuratan penilaian penulis buku biografi terhadap seorang perawi. Dalam kutub al-sitta saja Hasan al-Basri meriwayatkan tidak kurang dari 281 hadis. The Relibility of Hadith Transmission…Bonn 2005. Selebihnya. Cairo 1322. lihat Kamaruddin Amin. atau paling tidak kehujjahannya harus di ”gantung” sampai ada hadis lain yang thiqa yang dapat menguatkannya. vol. vol. hanya 69 hadis dimana ia menggunakan kata kata haddathana dan sejenisnya. 4 Al-Mizzi. Namun demikian. 3 Ibn Hajar al-Asqalani memasukkannya dalam kelompok mudallis. metode membandingkan riwayat menurut versi ulumul hadis tidak selamanya diterapkan oleh para kolektor hadis. 43 hadis diantaranya terdapat dalam Sahih Bukari dan Muslim (the most highly appreciated hadith collections). Ibn Sa’d. The Relibility 3 . Penelitian empirispun membuktikan bahwa informasi yang ada dalam buku biografi perawi sangat berharga.dalam kutub al-sitta sebanyak 548. meskipun tetap harus didekati secara kritis. hal. Hasan al-Basri ber ’an’ana. 125 diantaranya Abu Zubayr menggunakan kata-kata ‘an dan sejenisnya. Kesimpulan apa yang dapat ditarik dari data data ini? Dengan menerapkan teori ulumul hadis pada kasus Hasan al-Basri. sehingga penentuan kualitas perawi yang hanya didasarkan atas buku biografi terkadang kurang meyakinkan. 7. Kalau demikian halnya maka menurut ulumul hadis. 8. 157-8.4 Terlepas dari apa yang disampaikan oleh para kritikus hadis tentang tokoh ini. Kasus yang sama juga terjadi pada perawi Hasan al-Basri. yang oleh para kritikus hadis dianggap tidak menerimanya secara langsung. 125. Dalam 17 hadis. Dari 194 hadis riwayat Abu al-Zubayr yang terdapat dalam Sahih Muslim. yang oleh para kritikus hadis dianggap mendengarnya secara langsung dari informantnya. Tabaqat almudallisisn. hal. 109. Cara menentukan kethiqahan perawi adalah dengan merujuk kepada buku-buku biografi perawi dan dengan membandingkan riwayatnya dengan riwayat yang lain. 5 Penulis telah meneliti semua hadis tersebut.6 Selanjutnya. 6 Tentang reliabilitas kitab biografi. Pertanyaannya. riwayat seperti ini tidak bisa di jadikan hujja.5 Dari 31 hadis yang terdapat dalam Sahih alBukhari. Tabaqat. hanya delapan kali Hasan al-Basari mengatakan haddathana dan sejenisnya. tapi ia tetap diklaim telah melakukan tadlis. Hal ini diketahui apabila riwayat para perawi dibandingkan dengan riwayat lain. Menurut teori ulumul hadis. Hasan al-Basri dianggap sebagai mudallis. Dalam Sahih Muslim hanya dua kali Hasan al-Basri mengatakan haddathana dari 12 hadis yang diriwayatkannya. kemunculannya sebagai perawi hadis yang begitu sering dalam kitab hadis menjadikannya sebagai tokoh yang terlalu penting untuk diabaikan.3 Meskipun ada juga yang memujinya sebagai faqih dan murua. 161. Ulumul hadis juga mengajarkan bahwa dalam transmisi (periwayatan) hadis seorang perawi harus thiqa (reliable). maka 17 hadis dalam al-Bukhari dan delapan hadis dalam Sahih Muslim harus ditolak. hal. kita harus menolak ratusan hadis yang terdapat dalam kitab hadis termasuk dalam sahih Buhari dan Muslim. 6. sementara masa hidup mereka sangat berjauhan? Penulusuran terhadap buku biografi mengindikasikan bahwa penilain tersebut sering kurang akurat. tapi beberapa diantaranya hadis hadis yang berulang. buku biografi bukan tidak penting untuk dikonsultasi. lihat Kamaruddin Amin. 31 hadis terdapat dalam Sahih al-Bukhari dan 12 terdapat dalam Sahih Muslim.

Malik. Apakah hadis tersebut hanya beredar pada abad kedua ketiga atau sudah beredar pada abad pertama hanya dengan cara ini kita dapat mengetahui apakah hadis tersebut berasal dari nabi. Sehinga penelitian terhadap historisitas dan otentisitasnya harus selalu dilakukan. misalnya Musnad al-Allama al-mujlisi.Tayalisi. Isnad cum matn analysis Benarkah ribuan hadis yang disandarkan kepada Abu Hurayra. Abu Hurayra hanya meriwayatkan 3370 dalam kutub al-sitta. Musnad Ibn Rahawayh. Dengan demikian akan kelihatan siapa yang menjadi madar atau common link dari setiap generasi. Sahabat. maka yang pertama kita lakukan adalah. Abdullah dan sahabat yang lain diriwayatkan oleh para Sahabat tersebut atau hanya disandarkan kepada mereka oleh generasi belakangan yang sesungguhnya hadis itu tidak ada kaitannya dengan Sahabat tersebut. kemudian dibuat diagram untuk melihat siapa perawi yang menerima hadis dari mana. Komentar ulama tentangnya menjadi sekunder. dstnya. juga Muwatta Malik. Abd Allah b. Abbas. Pertanyaan yang sangat menantang ini diajukan oleh sejumlah sarjana Barat. Ibn al-Jad dan lain lain (pre-canonical collections). benarkah B menerima hadis dari C seperti yang ia kutip. Abdullah b. karena sangat mungkin Sahabat yang dikutip memang tidak bertanggung jawab terhadap hadis yang disandarkan kepadanya. Sekali lagi. Bukan hanya dalam Sahih Buhari atau Muslim saja. Abbas 1243 dan Jabir 960. Anas b. Bagaimana proses metode isnad cum matn analysis ini bekerja. dan pertanyaan ini tidak pernah kita temukan dalam ulumul hadis. Disamping itu. Abdullah b. independensi dan interdependensi setiap riwayat harus kita buktikan. Siapa yang menjadi sumber hadis tersebut dari generasi kegenerasi. The Reliability of Hadith Transmission. Benarkah C menerima dari D seperti yang ia katakan. Ibn Khuzayma dan lain lain (post canonical collections).karena hemat penulis menyandarkan hadis kepada nabi yang sesungguhnya tidak pernah diucapkan olehnya sama dosanya dengan mendustakan hadis nabi. Untuk menjawab pertanyaan ini pendekatan isnad cum matn analysis menemukan urgensinya. Analisa sanad dan matn menjadi sangat menentukan. A Reexamination of Hadith Critical Methods. 13 Sahabat meriwayatkan hadis antara 100 sampai 500. tapi disamping kutub al-sitta (canonical collections). Musannaf Abd Razzaq. 18 Sahabat antara 50 sampai 100. Umar. Setelah terkumpul semua data yang dibutuhkan. Kalau kita meneliti sebuah hadis. Umar 1979. Karena klaim perawi telah menerima dari informan yang ia sebutkan boleh jadi hanya pengakuan belaka. Pertanyaan ini perlu dijawab. Dalam hal ini membandingkan matn antara para perawi segenarasi dan seperguruan menjadi mutlak. Mencari hadis tersebut keseluruh kitab hadis yang ada. Abdullah b. Anas b. Aisya 1999. Jabir b. selebihnya sahabat sahabat yang lain hanya meriyatkan satu sampai sepuluh hadis (Lihat Kamaruddin Amin. 68 Sahabat antara 10 sampai 50. al-Tabarani. bahkan kalau perlu dalam kitab hadis koleksi Shiah. Malik 1584. Apakah hadis yang kita cari itu terdapat dalam buku tersebut. Kualitas perawi primarily ditentukan terutama oleh matn atau teks dari perawi tersebut.7 Aisya. Musnad al. Bonn 2005) 4 . Diagram isnad yang dibuat harus diuji kebenarannya melalui analisis matn. tentu halaman ini sangat 7 Hasil pengecekan penulis. dimana sarjana Islam seakan alergi menjawabnya. al-Bayhaqi. Ibn Hibban. Diantara karakteristik pendekatan isnad cum matn analysis adalah kualitas seorang perawi tidak hanya didasarkan pada komentar ulama tentang perawi tersebut. Tabiin atau setelahnya. Benarkah si A menerima hadis dari B seperti yang ia klaim. juga dengan menguji matannya. al-Shamiyyin dll. Sunan al-Darimi. untuk tujuan tersebut maka pengembangan metodologi menjadi tuntutan yang sangat mendesak.

tabiin dan generasi setelahnya. sehingga riwayat dari al-Bukhari yang tanpa pendukung dapat dianggap lebih lemah dengan riwayat lain yang didukung oleh riwayat yang lain. Keempat orang ini menerima dari orang yang berbeda-beda sampai kepada nabi. metode ini nyaris tidak diterapkan dalam kajian hadis. dengan segala kerendahan hati dan tanpa ada maksud membuat sensasi dapat dikatakan bahwa dengan menggunakan metodologi isnad cum matn analysis. Dengan memiliki sumber berita yang tersedia. mengetahui sumber berita yang sesungguhnya. meskipun tidak 8 Untuk cara kerja. Kualitas hadis ditentukan terutama berdasarkan kualitas sanad. Sarjana abad ini dapat membandingkan riwayat al-Bukhari dengan riwayat lain untuk melihat tingkat akurasi setiap periwayatan. memunkinkan kita untuk merekonstruksi sejarah nabi. Adam. menanmbah dan mengurangi setiap periwayatan yang asli. sahabat. Secara teoritis. Hal ini terefleksi dari literatur hadis kita. metode isnad cum matn analysis bukan sesuatu yang baru. Kesimpulan Dalam sejarah umat Islam.terbatas untuk mengurainya secara detail. Bahkan dalam kasus tertentu perawi al-Bukhari bisa berbeda dengan perawi lain yang dikuatkan oleh riwayat yang lain. mekanisme dan pengujian metodologi ini lihat Kamaruddin Amin. Ada beberapa sarjana yang meragukan reliabilitasnya. kita dapat melihat tingkat kedabitan setiap perawi dari generasi kegenerasi. Kitapun dapat membandingkan anatara riwayat al-Bukhari dengan riwayat dari jalur yang lain untuk melihat tingkat akurasi setiap riwayat. tapi ada beberapa element substantif dalam ulumul hadis yang harus dipikirkan kembali. Secara umum tidak terdapat perbedaan perbedaan substantif. sejumlah buku hadis belum ada seperti sekarang ini. Dengan perbandingan ini. Bahkan. telah mengedit karya-karya masa lalu. prosedur. Tulisan inipun tidak bermaksud menggugat ulumul hadis secara umum. Kondisi kita dewasa ini jauh lebih bagus daripada kondisi al-Bukhari yang harus mencari dan mengumpulkan kepingan kepingan informasi tentang nabi dari suatu tempat ketempat yang lain. Musa dan Maslama. Ibrahim b. Sebagai contoh. Bonn 2005 5 . Meskipun dalam kritik hadis terdapat perbedaan-perbedaan pendapat.8 Kondisi kesarjanaan di abad 21 dewasa ini. ketika al-Bukhari menemukan sebuah hadis dari empat sumber mislanya. dimana para sarjana pendahulu kita telah mewariskan karya-karya masterpiece yang sangat berharga. kita mengetahui dengan jelas siapa di antara perawi yang telah melenceng. katakanlah dari Abu Nuaym. tapi tidak mendapat simpati berarti dari umat Islam. AlBukhari telah meninggalkan mutiara koleksi informasi tentang nabi. tapi secara praktis. Inilah yang saya maksudkan dengan adanya gap antara teori dan praktek. Dengan demikian kitapun dapat melihat tingkat keadabitan perawi dari teksnya. kondisi manusia diabad 21 secara fisik lebih bagus daripada kondisi abad ke dua dan ketiga hijriah. Pada masa al-Bukhari. The Reliability of Hadith Transmission…. sarjana abad ini lebih otoritatif untuk menentukan kualitas hadis daripada al-Bukhari dan para mukharrij lainnya. sehingga al-Bukhari menerima hadis tersebut hanya dari empat orang diatas. Sekali lagi dengan isnad cum matn analysis. reliabilitas ulumul hadis tidak pernah mendapat tantangan berarti dari sarjana Islam. Sejumlah sarjana sebelum dan setelah al-Bukhari telah melakukan hal yang sama. kitab-kitab hadis yang tersedia memungkinkan kita untuk menemukan jalur lain selain dari keempat sumber al-Bukhari. Pada saat ini.

Sunnah berarti Jalan. bahkan kwalitas sanadpun dapat ditaksir melalui matnnya. Dengan kata lain. Analysa matn yang dimaksud bukan apakah matn itu bertentangan dengan al-Quran atau riwayat yang dianggap lebih kuat. dan atsar.A. bisa dari kalangan sahabat atau tabiin. Yaitu hadits qudsi dan hadits nabawi. Hadits qudsi. disebut juga dengan istilah hadits Ilahi atau hadits Rabbani. puasa.W. yakni . seperti tata cara shalat. barulah Nabi SAW bertakbir. dan lain sebagainya Maka ada baiknya kita memperhatikan penggunaan istilah-istilah tersebut ketika mendengar atau membaca buku-buku keagamaan. yakni Khabar. atau Berita. haji. ulama salaf.W. kemudian Nabi SAW menerangkannya dengan menggunakan susunan katanya sendiri serta menyandarkannya kepada Allah SWT." (HR. tabiin. mulai dari mukharrij sampai ke perawi terahir (sahabat) atau pemilik berita (nabi). ULUMUL HADITS Difinisi Hadits Secara bahasa Hadits mempunyai arti Baru. melainkan sejauh mana riwayat teks seorang perawi melenceng. perbuatan. sahabat. berbeda secara tekstual dengan riwayat yang lain. 6 . serta perilaku dan ketetapan(peneguhan) Nabi Muhammad S. Rasulullah SAW terdiam ketika melihat apa yang kamilakukan. Disamping itu ada beberapa istilah sinonim yang sering dipakai oleh berbagaikalangan Ulama untuk menyebut Hadits. dan atsar berarti Bekas atau bisa juga Nukilan. Muslim) Hadits penetapan (taqririyah) yaitu berupa penetapan atau penilaian NabiSAW terhadap apa yang diucapkan atau dilakukan para sahabat yangperkataan atau perbuatan mereka tersebut diakui dan dibenarkan oleh NabiSAW. Berikut contoh haditsnya.yang satu sama lain saling menguatkan. Metode isnad cum matn analysis menaksir kualitas hadis berdasarkan matnnya. Makna yang terakhir inilah yang dipakai oleh para ulama untuk mendifinisikan Hadits sebagai : Segala ucapan.mengabaikan pertimbangan matnnya. Secara bahasa arti khabar adalah Berita. Namun sebelum analisa tekstual dilakukan terlebih dahulu dilakukan pemetaan siapa yang menerima riwayat darimana.A. (HR. Sedangkan Atsar dipakai untuk perkataan-perkataan selain Nabi SAW. Kami (Parasahabat) melakukan shalat dua rakaat sesudah terbenam matahari (sebelumshalat maghrib). Khabar di katakan sebagai Segala sesuatu yang disandarkan atau berasal dari Nabi S. Namun ada juga Ulama yang membedakan istilah Khabar dan Atsar tersebut dengan Hadits. Muslim)Berdasarkan sumbernya hadits ada dua macam .A. Sunnah. seorang sahabat berkata . hadits qudsiialah hadits yang maknanya berasal dari Allah SWT. contohnya hadits berikut. Dekat. keadaan. Seorang sahabat berkata : Nabi SAW menyamakan (meluruskan) saf-saf kami ketika kami melakukan shalat. Sesuai difinisinya ada tiga macam hadits : Hadits yang berupa perkataan (Qauliyah). sabda Nabi SAW . beliau tidak menyuruh juga tidak melarang kami (HR.W. dsb. adalah suatu hadits yang berisi firman Allah SWT yang disampaikan kepada Nabi SAW. atas berbagai peristiwa. maupun selain Nabi S. namun lafalnya berasal dari Nabi SAW. contohnya. Muslim) Hadits yang berupa perbuatan (fi'fliyah) mencakup perilaku beliau. "Orang mukmin dengan orang mukmin lainnya bagaikan sebuah bangunan. Apabila saf-saf kami telah lurus.

misalnya perintah shalat.. dan bertakwalah kepada Allah. baiklah Rasulullah beliau bersabda .Keduanya (hadits qudsi dan hadits nabawi) memang sama-sama bersumberkan Wahyu dan keduannya dapat menjadi landasan (dalil). Maka terimalah. sedangkan hadits qudsi tidak boleh dibaca di waktu salat. Alquran mengandung mukjizat. menyekutukan Allah. Menetapkan hukum aturan-aturan yang tidak didapati/diterangkan dalam Alquran.. Sesungguhnya shalat subuh itu disaksikan (oleh malaikat). Fungsi Hadits Hadits adalah sumber hukum kedua agama Islam sesuai firman Allah SWT "apa yang diberikan Rasul kepadamu. Dibandingkan dengan hadits qudsi. hadits nabawi jauh lebih banyak jumlahnya. sedangkan hadits qudsi boleh dipegang dan dibaca juga oleh orangorang yang punya hadas.. sedangkan membaca hadits qudsi tidak termasuk ibadah. Alquran tidak boleh dibaca atau bahkan disentuh oleh orang-orang yang berhadas.. 30) maka Rasulullah tegaskan lagi dalam hadits berikut . banyak sekali hadits-hadits tentang pernikahan yang hukumhukumnya tidak terdapat dalam Alquran misalnya soal haramnya menikahi saudara sepersusuan. sahut kami. sedangkan tidak semua hadits qudsi diriwayatkan secara mutawatir. hadits qudsi berbeda dengan Alquran.Sedangkan hadits nabawi. . Maka tinggalkanlah.. Kapan waktunya yang tepat. sedangkan hadits qudsi boleh diriwayatkan hanya dengan maknanya. Dalam Alquran perintah shalat hanya disebutkan dengan : dirikanlah shalat dari sesudah matahari tergelincir sampai gelap malam dan (dirikanlah pula shalat) subuh. sedangkan hadits qudsi hanya maknanya yang berasal dari Allah SWT. Perbedaannya antara lain: lafal dan makna Alquran berasal dari Allah SWT. Membaca Alquran termasuk perbuatan ibadah. haramnya mengumpulkan (poligami) antara seorang perempuan dengan bibinya.. dsb 7 . 78) di sana tidak ada rincian mengenai . cara pelaksanaannya. 7 & "Katakanlah: "Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah."QS Ali Imran . niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu. Kedudukan Haditsterhadap Alquran sedikitnya mempunyai tiga fungsi pokok : Memperkuat dan menetapkan hukum-hukum yang telah ditentukan oleh Alquran. Memberikan penafsiran terhadap ayat-ayat yang masih bersifat umum dan mutlak. kuberitahukan kepadamu sekalian tentang sebesar-besarnya dosa besar. ikutilah Aku. . misalnya tentang syirik Allah berfirman . Sesungguhnya Allah Amat keras hukumannya. Semua ayat Alquran disampaikan dengan cara mutawatir. 31 Allah memerintahkan kita untuk menaati Rasul SAW sebagaimana menaati Allah SWT.. Periwayatan Alquran tidak boleh hanya dengan maknanya saja." Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS Al Isra'f. yaitu hadits yang lafal maupun maknanya berasal dari Nabi Muhammad SAW sendiri.. Sebagai catatan."QS Al-Hasyr . Nah disinilah rasulullah SAW mengajarkan kita rinciannya yang dapat kita lihat dalam hadits-hadits. Alquran dibaca di waktu salat. namun dapat dikatakan hadits qudsi lebih istimewa ketimbang hadits nabawi. misalnya masalah nikah. jauhilah olehmu erhala-berhala yang najis itu dan jauhilah perkataan-perkataan dusta (QS Al-Haj . dan apa yang dilarangnya bagimu.

para sahabatpun saling berbagi pengetahuan dan hapalan hadits. ini beliau lakukan agar penulisan Hadits tidak tercampur dengan penulisan alquran. Kehati-hatian ini dipahami oleh para sahabat. yakni rawi (yang meriwayatkan hadits). perintah untuk penulisannya dikeluarkannya secara hati-hati. dan matan (teks hadits). Baru pada masa Khalifah Umar bin Abdul Aziz kira-kira tahun 100 H secara resmi perintah pembukuan Hadits dikeluarkannya secara resmi dari institusi pemerintahan. pada contoh tersebut rentetan mulai dari Imam Buchory sampai sahabat (C) disebut sanad Matan Adapun matan adalah materi atau teks hadits atau isi suatu hadits. Sanad Sanad adalah jalan yang menyampaikan kita pada matan hadits atau rentetan para rawi yang menyampaikan matan hadits. sejak inilah pembukuan Hadits gencar dilakukan. Misalnya Imam Buchory memberitakan dari tabiin (murid seorang sahabat Nabi SAW) A yang mendengar dari sahabat B yang mendengar dari sahabat C yang mendengar Nabi bersabda.. apalagi mereka mendengar langsung katakata Rasul SAW juga melihat secara langsung apapun yang Beliau SAW lakukan.. Unsur-unsur yang selalu terdapat dalam hadits Suatu hadits mengandung tiga unsur . ini karena sudah tidak ada kecemasan dan kekhawatirantercampurnya Alquran dengan Alhadits.. beliau bersabda. Rawi Rawi ialah orang yang menyampaikan atau menuliskan hadits dalam suatu kitab yang pernah didengarnya atau diterima dari seseorang (gurunya).dst Pembukuan Hadits Pembukuan Hadits dilakukan sejak masa Nabi SAW namun ketika itu hanyabeberapa sahabat saja yang melakukannya. aku mendengar dari fulan (seorang sahabat) dan dia mendengar dari fulan (sahabat yang lain) yang mendengar rasulullah SAW bersabda. baru penulisan dan pembukuan Hadits sangat gencar dilakukan. Menyampaikan hadits disebut merawikan hadits.. Oleh karena itu Rasulullah SAW secara khusus mengijinkan sahabat-sahabat tertentu yang beliau SAW yakin akan tingkat kecermatannya untuk melakukan penulisan hadits.. aku mendengar langsung dari Rasulullah SAW.. sedikitnya yang melakukan pembukuan hadits ini terus berlangsung sampai masa khulafaurrasyidin. Penghapalan Hadits Masyarakat Arab sudah terbiasa dengan kegiatan hapal-menghapal sehingga hadits dapat terekam dengan mudah dibenak para sahabat. berupa 8 ..Penulisan Hadits Berbeda dengan Alquran yang penghapalan dan penulisannya sangat ditekankan oleh rasulullah SAW kepada semua kalangan sahabatnya. Rasulullah SAW sangat berhati-hati dalam hal hadits. Seperti kebiasaan mereka dan memang telah diperintahkan oleh rasulullah SAW agar yang tahu menyampaikan kepada yang tidak tahu. Setelah Nabi SAW wafat dan setelah Alquran selesai di kumpulkan dan dikemas dalam bentuk mushaf secara sempurna... Penyampaian ini lengkap dengan sanadnya misalnya .dst atau .dst.sanad (sandaran hadits).

Ditinjau dari segi sedikit atau banyaknya rawi yang menjadi sumber berita. bukan hasil pemikiran terhadap sesuatu. Jumlah rawi-rawinya harus mencapai suatu ketentuan yang tidakmemungkinkan mereka bersepakat bohong. 9 . dapat diriwayatkan oleh seorang atau lebih. dan takrir. Hadis ini diriwayatkan oleh lebih dari 70 sahabat dengan teks yang sama (bahkan menurut as-Suyuti. Masing-masing teks hadis tentang berdoa tersebut berbeda satu dengan yang lainnya. perbuatan. para ulama berbeda pendapat tentang batasan yang diperlukan. yang menurut adat kebiasaan dan logika mustahil mereka berkumpul dan bersepakat untuk berdusta. Hadis mutawatir dibagi atas mutawatir lafzi dan mutawatir ma'fnawi.ucapan. 5. yaitu jumlah rawi. Hadits mutawatir adalah hadits yang dirwayatkan oleh sejumlah besar rawi. Adapun mutawatir ma'nawi ialah hadis mutawatir yang bunyi teks hadisnya berbeda-beda tetapi mengandung makna yang sama. Jadi andaikata ada dua hadits yangmemiliki keadaan rawi dan matan yang sama maka hadits yang diriwayatkan oleh rawi yang lebih banyaklah yang lebih baik tingkatannya. Adanya keseimbangan jumlah antara rawi-rawi dalam tingkatan sanadpertama dengan jumlah rawi-rawi dalam tingkatan sanad berikutnya. Hadis mengenai cara Nabi SAW berdoa tersebut diriwayatkan oleh lebih dari seratus sahabat. ada yang menetapkan 4. Bukhari dan Iainlain). dan keadaan matan. akan tetapi hadis-hadis tersebut mengandung pengertian yang sama. maka hadits yang diriwayatkan oleh rawi yang kuat ingatannya lebih tinggi tingkatannya daripada hadits yang diriwayatkan oleh rawi yang lemah ingatannya.Klasifikasi Hadis dari segi kualitas sanad dan matan hadits Penentuan tinggi rendahnya suatu hadits bergantung kepada tiga hal. Para Ulama membagi hadits ahad* dalam tiga tingkat. Matan dikatakan juga sabda Nabi SAW yang dinyatakan setelah menyebutkan sanad. tidak kurang dari 200 sahabat yang meriwayatkannya). Suatu hadits dapat dikatakan mutawatir apabila memenuhi tiga syarat berikut . hadits hasan. Klasifikasi hadits Klasifikasi hadits dari segi sedikit atau banyaknya rawi. maka tempatnya adalah neraka (HR.Adapun contoh mutawatir ma'nawi ialah hadis yang menyatakan bahwa Nabi SAW selalu mengangkat kedua tangannya dalam berdoa. 70 bahkan ada yang berpendapat 313 orang dua orang perempuan. yaitu hadits sahih.Hadits yang tinggi tingkatannya berarti memiliki tingkat kepastian yang tinggibahwa hadits itu berasal dari Rasulullah SAW. kualitas rawi. Apabila dua buah hadits memiliki keadaan matan dan jumlah rawi yang sama. Hadis ahad ialah hadis yang diriwayatkan oleh orang perorang (ahad = satu) yang tidak mencapai tingkat mutawatir. Tinggi rendahnya tingkatan hadits menentukan tinggi rendahnya kedudukan hadits sebagai sumber hukum atau sumber ajaran Islam. yaitu Nabi SAW mengangkat kedua tangannya dalam berdoa. 40. yang terletak setelah sanad terakhir. Bila dua hadits memiliki rawi yang sama keadaan dan jumlahnya. 10. maka hadits yang matannya paling selaras dengan Alquran lah yang lebih baik tingkatannya. Mutawdtir lafzi ialah hadis mutawatir yang bunyi teks atau lafal hadisnya sama antara satu riwayat dan riwayat-riwayat lainnya. hadits itu terbagi dua yakni Hadits Mutawatir dan Hadits Ahad. 20. Contoh mutawatir lafzi yang sering disebutkan dalam buku-buku hadis ialah Barangsiapa yang sengaja berdusta atas nama-ku. Warta yang disampaikan itu harus benar-benar hasil pendengaran atau penglihatan sendiri. dan hadits daif.

Keterangan lebih detail mengenai hadits sahih. yang lemah dinamakan hadits marjuh. Hadits nasikh Hadits rajih Hadits gairu maqmulun bihi ialah hadits maqbul yang tidak dapat diamalkan. Secara bahasa Sahih berarti bersih dari cacat. Hadits Hasan adalah hadits yang sanadnya baik. tidak diterima. Pembagian hadits dari segi kedudukan dalam hujah (dalil) Hadits ahad ditinjau dari segi dapat diterima atau tidaknya dia sebagai hujah terbagi dua. Klasifikasi Hadits dari segi perkembangan sanadnya. yaitu golongan Hadits maqbul dan Hadits mardud. Sedangkan menurut istilah hadits mardud ialah . * Mulai kini yang dibicarakan selalu hadits ahad. para ulama memiliki dugaan yang lemah (kecil/rendah) tentang benarnya hadits itu berasal dari Rasulullah SAW. "Hadits yang menunjuki suatu keterangan bahwa Nabi Muhammad Saw menyabdakannya. sedangkan secara istilah ulama hadits mendifinisikan hadits maqbul dengan. Maka menurut intruksi pengamalannya hadits maqbul terbagi dua . hasan dan daif ini akan disampaikan pada bab tersendiri. hadits maqmulun bihi adalah hadits yang dapat diamalkan. Penelitian terhadap keadaan sanaddan matan tidak diperlukan lagi terhadap hadits mutawatir. tidak terdapat rawi yang dicurigai berdusta.Hadits Sahih. atau ijmak. dan yang dibenarkan. hadits mutawatir." Para ulama mengatakan hadits ini wajib diterima namun demikian para ulamamenetapkan bahwa tidak semua hadits maqbul itu harus diamalkan karena dalam kenyataannya banyak juga hadits-hadits yang tidak berlaku lagi (hadits dalam golongan ini di sebut hadits mansukh) atau dihapuskan hukumnya oleh hadits yang datang sesudahnya (nasikh). Hadits Hasan Menurut bahasa. diriwayatkan melalui sanad yang lain pula -yang sederajat Hadits Daif Menurut bahasa daif berarti lemah. Hadits Maqbul secara bahasa berarti . Hadits dalam jenis ini tidak boleh diterima dan tidak boleh diamalkan. ditolak. yang termasuk hadits ini ialah: Hadits mutawaqaf. matan haditsnya tidak janggal. yang diambil. Menurut istilah . 10 . yaitu hadits yang tidak mempunyai perlawanan Hadits mukhtalif. hadits maqmulun bihi dan hadits gairu maqmulun bihi. selain itu terdapat juga hadits-hadits maqbul yang saling berlawanan maknanya. yang diterima. yaitu dua hadits yang pada lahirnya saling berlawanan yang mungkin dikompromikan dengan mudah. Secara istilah . dalam hal ini yang lebih kuat dinamakan hadits rajih. Hadits yang tidak menunjuki keterangan yang kuat akan adanya dan tidak menunjuki keterangan yang kuat atas ketiadaannya. yang termasuk hadits ini ialah: Hadits muhkam. tetapi adanya dengan ketiadaannya bersamaan. yakni . tidak dapat ditansikhkan dan tidak dapat ditarjihkan. serta para rawinya adil dan dabit. jadi hadits daif adalah hadits yang lemah. hadits ini tidak memenuhi persyaratan sebagai hadits sahih maupun hasan. Hadits mansukh Hadits marjuh Hadits Mardud Menurut bahasa mardud berarti . hasan berarti bagus atau baik. Hadits Sahih adalah hadits yang susunan lafadznya tidak cacat dan maknanya tidak menyalahi ayat Quran. yaitu hadits yang tidak dapat dikompromikan.

Contoh hadits masyhur : Rasulullah SAW bersabda . Hadits ini pada tingkat pertama diriwayatkan oleh dua orang sahabat Nabi. Lebih detail tentang Hadits Ahad. Dilihat dari segi rawi. tepat menggambarkan kondisi hadits Munqati ialah yang dikemukakan oleh Al-Hafizh Ibnu Abdil Barr . Ada ulama yang membedakan hadits mustafid dengan hadits masyhur jadi menurut mereka pembagian hadits ahad itu ada empat. Masyhur menurut bahasa artinya sudah tersebar atau populer. Rasulullah SAW bersabda. Sedangkan ulama yang membedakan hadits mustafid dari hadits masyhur mendifinisikan hadits mustafid dengan Hadits yang diriwayatkan oleh empat orang rawi atau lebih dan belum mencapai derajat mutawatir. Ada ulama yang memasukkan hadits maqtu (Hadits yang hanya sampai kepada tabiin) sebagai hadits Mausul ada pula yang tidak menggolongkannya sebagai hadits mausul. Hadits yang didengar oleh masing-masing rawinya dari rawi yang diatas sampai kepada ujung sanadnya baik hadits marfu (Hadits yang sampai kepada Nabi SAW) atau hadits mauquf (Hadits yang hanya sampai kepada sahabat). Munqati secara bahasa berarti terputus. Hadits Masyhur. Secara difinisi banyak terdapat perbedaan para Ulama. Hadits Munqati adalah setiap hadits yang tidak bersambung sanadnya baik yang disandarkan kepada Nabi SAW maupun disandarkan kepada yang lain. Hadits tersebut sejak tingkatan pertama (tingkat sahabat nabi) sampai ketingkat imam-imam yang membukukan hadits (Bukhari. Walaupun pada tingkat selanjutnya hadits tersebut diriwayatkan oleh lebih dari dua orang namun hadits tersebut tetap dipandang sebagai hadits aziz. Muslim dan Tirmizi) diriwayatkan oleh tidak kurang dari tiga rawi dalam setiap tingkatan. Secara istilah ulama hadits mendifinisikan hadits masyhur atau hadits mustafid dengan hadits yang diriwwayatkan oleh tiga rawi atau lebih. Hadits Muttasil kadang juga disebut Hadits Mausul artinya.Dari segi ini Hadits terbagi dua yakni . Hadits Muttasil dan Hadits Munqati. Hadits ahad terbagi dalam tiga bagian. hadits aziz. Hadits yang diriwayatkan oleh dua orang rawi kendati dua rawi itu pada satu tingkatan saja. karena hadits jenis ini memang jarang keberadaannya. namun yang paling. dan setelah itu diriwayatkan oleh banyak rawi Contoh hadits aziz . Kita adalah orang-orang yang paling akhir (di dunia) dan yang paling terdahulu di hari kiamat. Hadits Aziz. Menurut bahasa Hadits Aziz artinya hadits yang mulia atau hadits yang kuat atau hadits yang jarang. dan belum mencapai derajat mutawatir. 11 . Secara istilah para ulama hadits mendifinisikan hadits aziz sebagai . yaitu hadits masyhur (hadits mustafid). dan hadits garib. Inilah sebab banyak ulama yang menyamakan hadits masyhur dengan hadits mustafid. seorang muslim adalah orang yang muslim lain tidak terganggu oleh lidah dan tangannya. Mustafid juga berarti yang telah tersebar luas. Hadits Garib. Jadi Hadits dalam golongan ini memiliki masalah di sanadnya (Terputus) seorang atau beberapa Rawi di tingkatan (Tabaqat / generasi) manapun. yaitu Hudzaifah dan Abu hurairah.

Ad. artinya adalah perawi yang memiliki ingatan yang kuat. apabila telah memenuhi lima syarat : 1. Contoh hadits gharib . periwayat itu di juluki dlabithush shadri. Rawinya bersifat adil. Sempurna ingatannya. 5. Hadits Gharib adalah hadits yang diriwayatkan oleh satu orang rawi pada tingkatan maupun sanad.1. serta para rawinya adil dan dabit. Secara istilah para ulama memberikan difinisi sebagai berikut . Sebelumnya kita sudah sempat membahas tentang hadits sahih secara ringkas. menjauhi kebiasaan-kebiasaan melakukan dosa-dosa kecil dan meninggalkan perbuatanperbuatan mubah yang dapat menodai keperwiraan (muruah) seperti makan di jalan umum.Secara bahasa hadits gharib berarti hadits yang terpisah atau menyendiri dari yang lain. Keadilan seorang Rawi harus memenuhi empat syarat . 12 . Klasifikasi hadits ahad : Sahih. Sempurna ingatannya. Tidak janggal. (2)menjauhi dosa kecil yang dapat menodai agama dan sopan santun. 3. hadits mutawatir. Atau seperti yang diungkapkan oleh Ar Razi : adil ialah tenaga jiwa yang mendorong untuk selalu bertindak takwa. 2. (3)tidak melakukan perkara mubah yang dapat menggugurkan iman kepada kadar dan mengakibatkan penyesalan. Kalau apa yang disampaikannya itu berdasar pada buku catatan maka periwayat seperti ini disebut dlabithul kitab. buang air kecil di tempat yang bukan disediakan untuknya dan bergurau secara berlebihan. Rawinya bersifat adil. secara bahasa Sahih berarti bersih dari cacat. Dlabit adalah istilah yang diberikan oleh para ulama hadits. ia bukan seorang yang fasik dan cacat pribadinya. Jadi walaupun sebuah hadits memiliki rawi yang banyak di tingkatan yang lain namun hanya memiliki satu orang rawi di tingkat pertama maka hadits tersebut tetap tergolong hadits gharib. ia Mukallaf (dewasa/sudah baligh dan layak mendapat beban tanggung jawab syariat) karena periwayatan dari seorang anak yang belum dewasa tidak dapat diterima. Buhkhari dan Muslim). Syarat hadits sahih. sejak dari menerima hadits sampai kepada menyampaikan kepada orang lain dan ingatannya itu sanggup dikeluarkan kapan dan dimana saja dikehendaki. Dalam khazanah ilmu hadits seseorang memiliki ingatan yang kuat. Suatu hadits dapat dinilai sahih. (4)tidak mengikuti pendapat salah satu mazhab yang bertentangan dengan dasar syara. (1)selalu memelihara perbuatan taat dan menjauhi perbuatan maksiat. begitu pula periwayatan dari orang gila. Nah pada sesi berikut kita akan lebih detail membahas tentang hadits sahih ini. Malu itu salah satu cabang dari iman. atau ijmak. Hadits Sahih adalah hadits yang susunan lafadznya tidak cacat dan maknanya tidak menyalahi ayat Quran. Yang terakhir. Iman itu (bercabang-cabang menjadi 73 cabang). Hasan dan Dla'if. menjauhi dosa-dosa besar. Sanadnya tidak terputus. Nabi SAW bersabda . Ad. Adil dalam batasan seorang periwayat hadits adalah : Ia Islam. Tidak ber illat. Secara istilah .2. 4. periwayatan dari seorang kafir tidak dapat diterima. (HR.

Ada pula difinisi yang jadi pegangan umum oleh jumhur ulama hadits. Tidak janggal Kejanggalan suatu hadits terletak kepada adanya perlawanan antara suatu hadits yang diriwayatkan oleh rawi yang maqbul (yang dapat diterima periwayatannya) dengan hadits yang diriwayatkan oleh rawi yang lebih rajih (kuat) daripadanya. Terakhir kita telah membahas tentang hadits ahad sahih. bersambung-sambung sanadnya dan tidak terdapat illat serta kejanggalan pada 13 . Kita akan sedikit review supaya kesinambungan materi terjaga. Jadi seorang yang dlabit adalah . Menguasai hadits yang diriwayatkannya. ahli bidah. memahami maksudnya dan mengetahui maknanya.4. yakni bahwa tiaptiap rawi dapat saling bertemu (Hidup sezaman. kualitas sanad dan matan. yakni . kemudian sedikit kita singgung tentang kodifikasi hadits. kemudian pembagian hadits dari segi banyaknya rawi. dsb) dan menerima langsung dari guru yang memberinya hadits tersebut. kedudukannya sebagai hujah. dan terjaga buku catatannya apabila ia memberikan hadits itu dari sana. hendaklah diambil dari rawi yang bersifat adil lagi dlabit. tidak dapat diterima periwayatannya. baru kita lanjutkan sedikit ke teknis ilmu hadits yaitu diawali dengan unsur-unsur yang terdapat dalam hadits. menurut At-Turmudzy .5. Sanadnya tidak terputus Maksudnya ialah. Pertama kita bahas tentang difinisi hadits. Begitu pula orang yang pelupa dan banyak keliru.* Ad. Ad. disebabkan dengan adanya kelebihan jumlah sanad atau kelebihan dalam ke-dlabitan rawinnya atau adanya segi-segi tarjih yang lain. hadits yang pada sanadnya tidak terdapat orang yang tertuduh dusta.* *Masalah ini akan dibahas di bab lainnya.Para muhaditsin mensyaratkan dalam mengambil hadits. Orang fasik. tidak dapat diterima periwayatannya. dan terakhir yakni pembagian hadits berdasarkan perkembangan sanadnya. sekarang kita masuk dalam pembahasa hadits ahad berkategori hasan. Misalnya bila terdeteksi terdapat sisipan pada matan hadits tersebut. memungkinkan untuk bertemu. sanad hadits tersebut selamat dari keguguran. pada sesi-sesi berikutnya kita mulai lebih detail bicara tentang hadits Ahad. Tidak pelupa. yang dapat menodai keshahihan suatu hadits. walaupun ia seorang yang kuat ingatannya. tapi tak begitu kokoh ingatannya. Hasan dan Dlaif. Periwayat hadits yang memiliki kedua sifat itu disebut Tsiqah. Hafal terhadap hadits yang didiktekan kepada muridnya. Sebelumnya kita sudah cukup dengan hadits Mutawatir. Ad. kendatipun ia dikenal sebagai orang yang jujur lagi adil. mulai dari difinisinya sampai ke klasifikasinya yakni Sahih. Hadits yang dinukilkan oleh seorang adil. fungsi hadits sebagai penjelas dan perinci Quran. lalu kita kenal dengan hadits nabawi dan kudsi. Tidak berillat Dalam istilah ilmu hadits illat hadits artinya adalah suatu penyakit yang samar. dan orang yang tidak dikenal kelakuannya. Kita mulai dari difinisi hadits Hasan.3. tidak terdapat kejanggalan pada matannya dan hadits itu diriwayatkan tidak dari satu jurusan (diriwayatkan pula melalui sanad yang lain yang sederajat).

Hadits dlaif diklasifikasikan berdasarkan . Insya Allah. Hadits mushahhaf 10. Hadits Dlaif Difnisi Hadits Dlaif adalah : Hadits yang kehilangan satu syarat atau lebih dari syarat-syarat hadits shaih atau hadits hasan. Hadits mudallas 4. Hadits munqathi 5. Sifat matannya 1. Hadits multharrib 8. Hadits munkar dan ma'ruf 4. Hadits dlaif banyak macamnya. masing-masing memiliki derajat yang berbeda satu sama lain. Gugurnya Rawi. 1.matannya. tetapi para ulama berbeda pendapat tentang kedudukan hadits hasan sebagai sumber ajaran Islam atau sebagai hujjah dalam bidang hukum apalagi dalam bidang Aqidah. Hadits dlaif diklasifikasikan berdasarkan : 1. Hadits syadz dan mahfudh 12. Ada Muhaditsin (Ulama Ahli Hadits) yang membagi hadits Dlaif menjadi 42 bagian ada pula yang membaginya menjadi 129 bagian. pada hadits hasan kedlabitannya lebih rendah (tidak begitu kuat ingatannya) jika dibandingkan hadits shahih. Hadits mudlal 3. Hadits maqlub 7. Hadits maudlu 2. Hadits maqthu Minggu depan kita akan merinci secukupnya masing-masing klasifikasi tersebut. Hadits muallaq 2. ada yang menolak hadits hasan sebagai hujjah ada yang menerimanya sebagai hujjah baik untuk bidang hukum maupun bidang Aqidah. Kedudukan hadits hasan Tingkatan hadits hasan berada sedikit dibawah tingkatan hadits shahih. Hadits matruk 3. pendapat inilah yang paling banyak dianut. Hadits mauquf 2. 1. majhul dan mastur 11. Hadits mubham. 14 . Hadits mudraj 6. Hadits dlaif yang memiliki kekurangan 1 syarat dari syarat-syarat hadits shahih dan hasan lebih baik daripada Hadits dlaif yang memiliki kekurangan 2 syarat dari syarat-syarat hadits shahih dan hasan. Hadits dlaif diklasifikasikan berdasarkan . Jadi perbedaan antara hadis shahih dan hadits hasan ini terletak pada syarat kedlabitan rawi. Minggu depan kita masuk dalam bahasan tentang Hadits dlaif. Haddits muallal 5. Hadits mukhtalith 2. Kecacatan rawinya. Begitu seterusnya. Hadits mursal 3. Hadits maharraf 9.

Hadits yang mereka riwayatkan tidak dapat diterima. baik hal tersebut disengaja maupun tidak Yang dikatakan sebagai rawi yang berdusta kepasa Rasulullah SAW ialah mereka yang pernah berdusta dalam membuat hadits. Hadits yang setelah diadakan penelitian dan penyelidikan. biasanya terjadi dalam penerimaan hadits. Lengah. Adanya indikasi yang memperkuat. walaupun hanya sekali seumur hidupnya. atau tokoh tersebut sudah meninggal sebelum perawi itu lahir.Hadits Maudlu Ialah . Adanya pertentang makna hadits dengan Alquran. penyakit itu kadang terletak pada sanad terkadang juga pada matan Hadits Mudraj Ialah . 15 . Hadits yang menyendiri dalam periwayatan. Hadits Munkar Ialah . dengan mewashalkan (menganggap bersambung suatu sanad) hadits yang munqathi (terputus) atau memasukkan sebuah hadits pada suatu hadits yang lain. pernah seorang ulama menanyakan suatu hadits kepada perawinya dan perawi tersebut mengakui bahwa ia memang menciptakan hadits tersebut untuk suatu keperluan. menyampaikan hadits. padahal ia belum pernah bertemu dengan tokoh tersebut. sedangkan banyak salah biasanya terjadi dalam hal . Yang dimaksud dengan fasik ialah kecurangan dalam amal bukan itikad (keyakinan / aqidahnya) Hadits Mualal Ialah . 3. banyak kelengahannya. tampak adanya salah sangka dari rawinya. Hadits yang dicipta dan dibuat oleh seseorang (pendusta) yang ciptaannya itu di katakan sebagai kata-kata atau perilaku Rasulullah SAW. atau jelas kefasikannya yang bukan karena dusta. Yang disebut dengan rawi yang tertuduh dusta ialah seorang rawi yang terkenal dalam pembicaraan sebagai pendusta. misalnya seorang rawi mengaku menerima satu hadits dari seorang tokoh. yang diriwayatkan oleh orang yang banyak kesalahannya. Hadits Matruk Ialah . atau dengan ijmaatau dengan akal sehat. namun belum dapat dibuktikan bahwa ia sudah pernahh berdusta dalam membuat hadits. 4. Mengetahui hadits mualal ini sangat sulit karena hadits ini tampaknya tidak memiliki cacat tetapi setelah diteliti lebih mendalam terdapat penyakit. Hadits yang disadur dengan sesuatu yang bukan hadits atas perkiraan. adanya pengakuan si pembuat hadits maudlu itu sendiri. misalnya diketahui bahwa ada tingkah laku yang menyimpang dari diri sang perawi. walaupun mereka telah bertobat. banyak kelengahannya. atau dengan hadits mutawatir. yang diriwayatkan oleh orang yang tertuduh dusta dalam perhaditsan. Hadits yang menyendiri dalam periwayatan. dan jelas kefasikannya artinya yakni . Istilah banyak kesalahannya. diantarannya : 1. atau yang semisal dengan itu. Adanya indikasi dari sisi tingkah laku sang perawi. 2. Para ulama hadits menentukan beberapa ciri-ciri untuk mengetahui ke maudlu an sebuah hadits.

Ubay (bin kaab) telah dihujani panah pada perang Ahzab mengenai lengannya. ayahku). yakni pada kata "hingga tangan kananya tak mengetahui apa yang telah dibelanjakan oleh tangan kirinya. yang tidak mungkin dapat dikumpulkan dan ditarjihkan. Hadits Muharraf yaitu hadits yang mukhalafahnya (menyalahi hadits lain)terjadi disebabkan karena perubahan syakal kata (tanda baca . Ghandar mentahrifkan hadits tersebut dengan Aby (artinya . "hingga tangan kirinya tak mengetahui apa yang telah dibelanjakan oleh tangan kanannya. Misalnyakalimat basyir dibaca busyair atau kalimat nashir dibaca nushair. Abu Bakar dan Umar r. Hadits Maqlub. dengan masih tetapnya bentuk tulisan (huruf hijaiyahnya)." hal ini diketahui dari hadits hadits lain yang semakna. ini berarti ucapan rasul SAW menjadi bertambah redaksi yakni tersisipi atau tertambah kata-kata si periwayat hadits tersebut.a. Hadits Mudltharrib Yaitu hadits yang terjadi padanya mukhalafah (menyalahi hadits lain) tetapi tidak dapat disimpulkan mana yang benar. konon sama memulai bacaan shalat dengan bacaan Alhamdulillahirabbil alamin" hadits dengan makna seperti ini banyak (dengan lafadz yang berbeda-beda).bahwa saduran itu termasuk hadits Misalnya tercampurnya matan (kata-kata dalam hadits) yang tercampur dengan kata-kata si perawi. misalnya hadits berikut : "Dari Anas r." Hadits ini memiliki kesalahan redaksi dalam matannya ada kata yang terbalik." yang benar . dlomah.a. lantas Rasulullah mengobatinya dengan besi hangat. hadits Jabir ra . kasus ini terkadang terjadi pada matan maupun sanadnya. dsb). jadi hadits mudltharib ini adalah sebuah hadits yang diriwayatkan oleh seorang rawi dengan beberapa jalan yang berbeda-beda. "dan seseorang yang bersedekah dengan suatu sedekah yang disembunyikan. mengabarkan bahwa Rasulullah SAW. Yaitu hadits yang terjadi padanya mukhalafah (menyalahi hadits lain) dengan cara mendahulukan dan mengakhirkan. padahal ayah Jabir telah meninggal pada perang Uhud yakni perang yang terjadi sebelum perang Ahzab. berikut . Kekeliruan Ghandar Menjadi jelas karena apabila dibaca Aby artinya yang terkena panah itu adalah ayah Jabir. hingga tangan kananya tak mengetahui apa yang telah dibelanjakan oleh tangan kirinya. Hadits Mushahaf. 16 . kasroh. Contoh yang terjadi pada matan . padahal yang benar adalah Ubay. "Mereka sama mengeraskan bacaan Bismillahirrahmaanirrahiim" dengan demikian hadits tersebut adalah hadits mudltharrib tidak dapat dijadikan hujah oleh siapapun.a. fatah. Maksudnya hadits yang didalamnya entah matan atau sanad terjadi kesalahan yang sifatnya terbalik balik. misalnya hadits muslim dari Abu Hurairah berikut . dan ini bertentangan dengan hadis yang juga bersumber kepada Anas r. Disini terjadi kekeliruan mestinya fathah dibaca dlommah.

Hadits yang diriwayatkan oleh rawi yang seperti itu tidak dapat diterima sebagai hujah. Hadits Mukhtalith Yaitu hadits yang rawinya buruk hafalannya. sedangkan bentuk tulisannya tidak berubah.Ialah hadits yang mukhalafahnya karena perubahan titik kata. akan tetapi penilaian orang-orang tersebut belum mencapai kebulatan suara. tetapi hadits-hadits yang diriwayatkannya sebelum keadaan yang membuatnya jadi pelupa. ummun (ibu) dsb yang sebutan-sebutan itu belum menunjuk ke pribadi seseorang. terbakar atau hilang kitab-kitabnya.a. disebabkan sudah lanjut usia. atau hanya disebut pertalian keluarga seperti ibnun (anak laki-laki). Kesamaran tersebut dapat terjadi karena beberapa sebab . Mushahaf dalam hadits tersebut terjadi pada matan. dengan demikian rusaklah makna karenanya. ialah kamu merangsum makanan dan memberi salam kepada orang yang telah kamu kenal dan yang belum kamu kenal. dari Nabi Muhammad SAW. . perbuatan Islam yang manakah yang paling baik? Jawab Nabi ." Berikut adalah contoh hadits mubham pada sanad. Berikut adalah contoh hadits mubham pada matan. oleh Abu Bakar As-Shauly diubah dengan syai-an.a. kalau terjadi pada sanad disebut dengan mushahaf fis-sanad. hadits dari Abdullah bin Amr bin 'Ash r." perkataan "sittan" yang artinya enam. Hadits Mubham. oleh karena itu sulit sekali untuk menyelidikinya. Jika seorang rawi dikenal keadilannya dan kedlabithannya atas dasar periwayatan orang-orang yang tsiqah. hadits Abu Daud yang diterimanya dari "Hajaj dari seorang laki-lak dari Abu Hurairah r. Orang mukmin itu adalah orang yang mulia lagi dermawan. kesamaran ini dapat terjadi pada matan atau sanad. tetap dapat diterima. maka rawi tersebut dinamai Majhul'lhal. Jika nama seorang rawi disebutkan dengan jelas. dan hadits yang diriwayatkannya disebut dengan Hadits Majhul. maka rawi yang demikian eadaannya disebut dengan Majhulul'ain. "Nabi SAW bersabda: siapa yang berpuasa Ramadlan kemudian diikuti dengan puasa 6 hari pada bulan syawal. "Bahwa seorang laki-laki telah bertanya kepada Rasul SAW.selain seorang saja. akan tetapi ternyata ia bukan tergolong orang yang sudah dikenal kadilannya dan tidak ada rawi tsiqah yang meriwayatkan hadits daripadanya. majhul dan mastur Hadits Mubham adalah hadits yang di dalam matan atau sanadnya terdapat seorang (atau rawi) yang tidak jelas identitasnya atau tidak jelas apakah ia laki-laki atau perempuan. maka hadits yang diriwayatkannya tersebut harus ditolak. apabila ada hadits yang diriwayatkan oleh seorang rawi yang hafalannya telah buruk karena berusia lanjut atau karena adanya sebab yang lain. ialah hadits Abu Ayyub Al-Anshary . atau disebutkan sebuah nama tetapi tidak dapat dipastikan juga jenis kelaminnya dari nama tersebut. maka ia seperti puasa sepanjang masa. dan hadits yang diriwayatkannya disebut dengan Hadits Mastur. sabda Rasulullah . tertimpa bahaya." dalam hadits itu Hajaj tidak menerangkan nama rawi yang memberikan hadits kepadanya. yang berarti sedikit. tidak disebutkan namanya. 17 . katanya. contoh hadits mushahaf pada matan.

. ada hadits mu'allaq yang dibuang seluruh sanadnya oleh Imam hadits. seperti hadits mu'allaq yang terdapat dalam shahih buchory sebanyak 1341 buah. Hadits mursal terbagi tiga . dari B dari C. diperolehnya. yakni apabila seorang imam hadits secara langsung mengatakan . 3. "Rasulullah SAW bersabda. mursal jally. lantaran di saat Rasulullah hidup ia masih kecil atau terakhir masuknya ke dalam Islam. nah hadits yang dikeluarkan oleh Imam Buchory inilah yang disebut hadits Mu'allaq karena Imam menggugurkan seorang rawi dalam sanad hadits tersebut..dst". Mursal Jaly yaitu bila pengguguran yang telah dilakukan oleh rawi adalah jelas sekali. Tidak dapat dipakai hujjah secara mutlak. Hadits Mursal dapat dipakai hujjah secara mutlak.. Soal berhujah dengan hadits Mursal ini para Ulama berbeda pendapat menjadi enam golongan: 1. Hadits mursal Yaitu hadits yang gugur dari akhir sanadnya. kemudian Imam Buchori meriwayatkan hadits yang sama tapi hanya disebut sanadnya dari A. dan dalam shahih muslim sebanyak 3 buah telah disebutkan sanad yang digugurkan oleh Imam Buchory tersebut. mursal shahaby. Dapat. dari B tidak disebutnya si C. Mursal Khafy ialah hadits yang diriwayatkan oleh tabiiy dimana tabiin yang meriwayatkan hidup sezaman dengan sahabat tetapi ia tidak pernah mendengar sebuah haditspun daripadanya. juga harus dihukumi shahih apabila hadits-hadits yang digugurkan sanadnya oleh Imam Bushory tersebut ada pada kitab-kitab hadits lain yang telah dihukumi sebagai hadits sahih. Maksudnya apabila ada tabiin yang menegaskan tentang apa yang telah dikatakan atau diperintahkan oleh Rasul SAW tanpa menerangkan dari sahabat mana berita itu. Namun demikian hadits mu'allaq bisa dianggap sahih bila sanad yang digugurkan itu disebutkan oleh hadits yang bersanad lain. maka hadits tersebut di sebut sebagai hadits mursal. baik mengenai kedlabithannya maupun keadilannya. .macam hadits dlaif berdasarkan gugurnya rawi. 2. hadits mu'allaq pada prinsipnya digolongkan sebagai hadits dlaif disebabkan karena sanad yang di gugurkan itu tidak dapat diketahui sifat-sifat dan keadaannya secara meyakinkan. dan mursal khafy. asal yang meng-irsal-kan ulama abad ketiga.Macam . 18 .. ." maksudnya gugur yakni tidak disebutnya nama sang rawi dalam suatu periwayatan hadits. Mursal shahaby yaitu pemberitaan sahabat yang disandarkan kepada Rasul SAW tetapi ia tidak mendengar atau menyaksikan sendiri apa yang ia beritakan. seseorang setelah tabi'iy. bahwa orang yang menggugurkan itu tidak hidup sezaman dengan orang yang digugurkan yang mempunyai berita. kecuali bila yang digugurkan itu adalah seorang sahabat yang memang sudah tidak diragukan lagi keadilannya. Hadits mu'allaq "Ialah hadits-hadits yang gugur rawinya seorang atau lebih dari awal sanad. walau harus diberi catatan sebagai hadits yang shahihnya tidak mutlaq atau perlu diadakan penelitian lebih lanjut. dapat diketahui oleh umum. misalnya Imam muslim meriwayatkan suatu hadits sanadnya dari A.

mudallas dan munqathi adalah sebagai 19 . 10. dari Ismail bin Ibrahim.4. di satu tempat atau gugur dua orang pada dua tempat dalam keadaan tidak berturut turut. dari Fathimah Az-Zahra (putri rasul SAW). dan perbuatannya disebut dengan tadlis. shalawat dan salam atas Rasulullah. Dapat asal ada penguatnya. disebut hadits mudallas. Dapat. Ya Allah ampunilah dosa dosaku dan bukalahan rahmat untukku. sebab Fathimah binti Husein tidak pernah bertemu dengan Fathimah Az-Zahra yang telah wafat sebulan setelah Rasul SAW wafat. Di sanad tersebut terdapat pemutusan yakni rawi sebelum Fathimah Az-Zahra. motiv pengguguran rawi mungkin terdorong oleh maksud tetentu misalnya menutupi aib gurunya atau menutupi kelemahan haditsnya. Dengan nama Allah. baik sahabat bersama tabiiy. dari Fathimah binti Husein. tabiiy bersama tabiit-tabiin. berturutturut . Hadits Munqathi Adalah hadits yang gugur seorang perawi sebelum sahabat. 5. 7. 9. jadi hadits mudallas yaitu "hadits yang diriwayatkan menurut cara yang diperkirakan. 6. bahwa hadits itu tidak bernoda. hadits yang diriwayatkan oleh mudallis. 8. Hadits Mudlal Hadits Mudlal adalah Hadits yang gugur rawi-rawinya. dari Al-Laits. bila dalam bab tidak ada yang lain. Dapat. Misalnya hadits berikut Konon Rasulullah SAW apabila masuk masjid memanjatkan doa . bila yang meng-irsal-kan itu orang adil. Ia lebih buruk daripada hadits munqathi. sedang yang diriwayatkan oleh tabiin kecil disebut hadits munqati. maupun dua orang sebelum shahaby dan tabiiy. dari Abdullah bin hHasan. Hadits mudlal itu tak dapat dibuat hujah. Dapat. Hadits Mudallas Apabila hadits mursal khafy adalah pengguguran rawi karena tidak hidup sezaman. asal yang meng-irsal-kan itu sahabat. sanad hadits tersebut yaitu . Hadits seperti ini tidak dapat digunakan sebagai Hujah. maka dalam kasus hadits mudallas ini yang digugurkan dan yang menggugurkan hidup sezaman atau pernah bertemu. Dapat untuk amalan-amalan yang sunnat." Rawi yang berbuat cara demikian. Dapat apabila ia lebih kuat daripada musnad. bila yang meng-irsal-kan itu Said bin Musayyab. Perbedaan keguguran rawi dalam hadits mursal khafy. Dapat. Sebagian Ulama yang lainnya menyamakan keduanya. dua orang atau lebih. dari Abu Bakar Abi Syaibah. Sebagian Ulama membatasi hadits mursal itu kepada yang hanya diriwayatkan oleh tabiin besar saja. disebut mudallis.

perbuatan. A. atau pengguguran) dapat juga kedlaifan itu disebabkan karena matannya. baik matan maupun sanadnya. akan tetapi rawi yang meriwayatkan hadits enggan menyebutkan nama rawi yang telah memberikan hadiots padanya. pemeliharaan dan pendewanan apa-apa yang disandarkan kepada Nabi Muhammad SAW. Ilmu Ushuli'l Hadits : Suatu ilmu pengetahuan yang menjadi sarana untuk mengenal kesahihan.berikut : 1. baik keadilannya. 2) Ilmu Hadits Riwayah dan Ilmu Hadits Dirayah : (1) Ilmu Hadits Riwayah : Ilmu pengetahuan untuk mengetahui cara-cara penukilan. 2. beserta sanad-sanad dari ilmu pengetahuan untuk membedakan kesahihannya dan kedhaifannya dari pada lainnya. taqrir maupun lain sebagainya. (akan dijelaskan pada bahasan tentang hadits marfu). Dalam menyampaikan dan mendewakan hadits. perbuatan. Yakni apakah matannya hanya terhenti sampai kepada apa yang dikatakan dan diperbuat sahabat saja (Mauquf). Perintis pertama ilmu riwayah adalah Muhammad bin Syihab 20 . kedlabitanya. sedangkan hadits Mauquf masih dapat asalkan terdapat qarinah / indikasi yang menunjukanya marfu. dengan kata lain. gerak-gerik dan bentuk jasmaniah Rasulullah SAW. Dalam hadits munqathi keduanya tidak hidup sezaman dan tidak pernah berjumpa satu sama lain. 3. dalam hadits Mauquf dan Maqthu ini semua perkataan dan atau perbuatan yang dikabarkan itu tidak ada bukti dan petunjuk yang menegaskan bahwa perkataan dan atau perbuatan itu adalah perkataan dan atau perbuatan Rasul SAW. ULUMUL HADITS 1) Ilmu Hadits dan Ilmu Ushuli'l Hadits : Ilmu Hadits: Ilmu pengetahuan tentang sabda. keduanya tidak sampai kembali kepada Nabi SAW. Dalam hadits mudallas kedua rawi yang meriwayatkan hadits dan rawi yang memberikan hadits hidup sezaman dan pernah bertemu. kehasanan dan kedlaifan hadits. Hadits Mauquf & Hadits Maqthu Disamping kedlaifan suatu hadits itu terletak pada sanadnya (cacat rawinya. baik berupa perkataan. Obyek Ilmu Hadits Riwayah : bagaimana cara menerima. Faedah mempelajari ilmu ini : adalah untuk menghindari adanya kemungkinan salah kutip terhadap apa yang disandarkan kepada Nabi Muhammad SAW. Kalau hadits mursal khafy . matan maupun sanad dan untuk membedkan dengan yang lainnya. Hadits Maqthu tidak dapat digunakan sebagai hujah. menyampaikan kepada orang dan memindahkan atau mendewankan dalam suatu Dewan Hadits. baik mengenai matan maupun sanadnya. atau hanya terhenti sampai ke tabiin saja (Maqthu). rawi yang meriwayatkan hadits dengan rawi yang mempunyai hadits. hidup sejaman tetapi tidak pernah bertemu dan mendapat hadits dari rawi yang mempunyai hadits.

Faedahnya atau tujuan ilmu ini : untuk menetapkan maqbul (dapat diterima) atau mardudnya (tertolaknya) suatu hadits dan selanjutnya untuk diamalkannya yang maqbul dan ditinggalnya yang mardud. karena alQur'an telah dikumpulkan dalam satu mushaf dan telah merata diseluruh umat Islam. (2) Untuk membersihkan dan memelihara Hadits dari Hadits-hadits maudlu' (palsu) yang dibuat orang-orang untuk mempertahankan ideologi golongan dan mazhab. (b) Perintah menulis Hadits : di samping Rasulullah melarang menulis Hadits. sebab belum didewankannya dalam Dewan Hadits. mauquf dan maqthu. (d) Ilmu talfiqi'l hadits. telah hilang. (3) Hadits belum terdewankan secara resmi di zaman Rasulullah SAW dan Khulafau'r Rasyidin.mencantumkan 21 . Jawab Rasul tulis kamulah sekalian untuknya". Barang siapa menuliskan yang ia terima dariku selain al-Qur'an hendaklah dihapus". beliau juga memerintahkan kepada beberapa sahabat tertentu. Hal itu disebabkan karena mereka tidak ingat betul pada lafadh aslinya. ialah : Ilmu ilali'l hadits. dan antara hadits yang shahih. sifat-sifat rawi dan lain sebagainya. sedang redaksinya disusun sendiri oleh orang yang meriwayatkannya. 99 H .Imam Asy Syafi'i . 4) Priode Periwayatan dengan Lisan : (a) Larangan Menulis Hadits : Nabi sendiri melarang untuk menuliskan sabdanya "Jangan kamu tulis sesuatu yang telah kamu terima dariku selain al-Qur'an. (C) Kitab Hadits yang masyhur : (1) al-Muwaththa .Imam Malik pada 144 H . (d) Ilmu jarh wa ta'dil. Maka hadits diterima dengan hafalan. (c) Sistem meriwayatkan Hadits: dengan lafadh yang masih asli dari Rasulullah SAW. untuk menulis hadits. Misalnya Hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah.720 buah. (b) Ilmu thabaqati'r ruwah. caracara menerima dan menyampaikan al-Hadits.Bani Umayyah antara th. 3) Cabang-Cabang Ilmu Musthalahul Hadits : (1) Cabang yang berpangkal pada sanad antara lain : (a) Ilmu rijali'l hadits. antara lain : (a) Ilmu gharibi'l hadits.Az-Zuhry. (c) Ilmu tawarikhi'l hadits. karena mereka hanya mementingkan segi isinya yang benarbenar dibutuhkan pada saat itu. karena ada kekhawatiran bercampur dengan al-Qur'an. tiba-tiba seorang laki-laki dari Yaman Abu Syah bertanya kepada Rasulullah : "Ya Rasulullah! Tulislah untukku!. Jumlah hadits yang terkandung dalam kitab ini lebih kurang 1. Menurut sebagian ulama. Dengan makna saja.atas anjuran khalifah al-Mansur. (4) Ada kekhawatiran akan hilangnya hadits karena banyak ulama Hadits yang gugur dalam medan perang. (2) Cabang-cabang berpangkal pada matan. Obyek Ilmu Hadits Riwayah : meneliti kelakuan para rawi dan keadaan marwinya (sanad dan matannya). yang menjadi obyeknya ialah Rasulullah SAW sendiri dalam kedudukannya sebagai Rasul Allah. dan bercampur dengan hadits palsu. (2) Ilmu Hadits Dirayah : disebut dengan ilmu Musthalahul Hadits undang-undang (kaidah-kaidah) untuk mengetahui hal ihwal sanad. hasan dan dla'if.101 H : (1) Kemauan beliau untuk tidak membiarkan Hadits seperti waktu yang lalu. (c) Ilmu tarikh rijali'l hadits. Kitab hadits belum dipisahkan antara hadits-hadits yang marfu'. menerangkan bahwa sesaat Fathu Makkah Nabi berpidato dihadapan umat Islam. Karena ada kekhawatiran akan hilang Hadits dari perbendaharaan masyarakat. (B) Ciriciri Kitab Hadits yang didewankan pada abad kedua : Karya ulama abad kedua masih bercampur aduk antara hadits-hadits Rasulullah dengan fatwa-fatwa sahabat dan tabi'in. (3) Cabang-cabang yang berpangkal pada sanad dan matan. (b) Ilmu asbabi'l mutun. 5) Periode Pembukuan Hadits abad ke-2 (A) Motif Membukukan Hadits : pada zaman khalifah 'Umar bin 'Abdul 'Aziz . matan. (2) Musnadu'sy Syafi'i .

Sahabat adalah orang yang bertemu dan hidup bersama Rasul minimal setahun lamanya ( Ahli Ususl). Urgensi Asbabul Wurud : dapat membantu atau menolong dalam memahami hadits secara benar. Secara garis besar ilmu hadits dibagi menjadi dua yaitu ilmu hadits riwayah dan ilmu hadits diroyah. walaupun tidak meriwayatkan hadits. Loght dan 'Uruf . Misalnya sebuah hadits yang berbunyi : "Barang siapa menyerupai kaum maka termasuk golongan mereka" Menurut Muh.sahabat mereka yang sungguh-sungguh menyertai Nabi. bahkan bisa salah sama sekali. menjelaskan cara-cara mengkompromikan hadits-hadits yang kontradiksi satu sama lain. (4) Ada masalah atau pertanyaan dari para sahabat. 2. Fungsi hadits sebagai Tafsirul Qur'an bis Sunnah). Jika hadits tidak diketahui asbabul wurudnya. 4. hadits ini pernah dipahami.sahabat orang yang bertemu dengan Rasul dengan pertemuan yang wajar sewaktu rasul masih hidup. ASBABUL WURUD 1. akan mengaburkan pemikiran seseorang dalam memahamai hadits.karya Imam Syafi'i menjelaskan cara-cara menerima hadits sebagai hujjah. (3) Mukhtalifu'l Hadits . Asbabul wurud merupakan cabang dari ilmu hadits riwayah. 2. (2) Anggota Dar an-Nadwah yang memeluk 22 . Ulama Ushul . Al-Jahidh ulama beraliran Mu'tazilah sahabat orang yang pernah bergaul dengan dan meriwayatkan hadits dari padanya. Ada duabelas Thabaqot : (1) mereka yang lebih dulu masuk Islam.sahabat orang yang berjumpa dengan Rasul. Pembagian Asbabul Wurud : ada hadits yang mempunyai sebab disabdakan dan ada hadits yang tidak mempunyai sebab-sebab disabdakan. As-Suyuthi karyanya berjudul "al-Muma' fi Asb al-Hadits" 5. HADITS PADA MASA SAHABAT 1. misalnya : hadits yang menerangkan shalat yang paling utama bagi wanita adalah di rumah kecuali shalat fardhu.Zuhri. yaitu orang yang lebih dulu beriman di Makkah. B. (1) Hadits yang mempunyai sebab disebutkan dalam hadits itu sendiri.seluruh hadits ."al-Umm". sejalan dengan Nabi dalam sebagian waktu. berdasarkan hadits tersebut. Jumhur Muhadditsin . karena penjajah orang kafir itu bercelana panjang dan berdasi. Iman. dalam keadaan Islam lagi iman. Misalnya hadits yang timbul karena pertanyaan Jibril kepada Nabi SAW tentang pengertian Islam. Asbabul Wurud : ilmu yang menerangkan sebab-sebab Nabi menuturkan sabdanya dan masa-masanya Nabi menuturkan itu. seduduk. Hadits yang dijelaskan itu merupakan sababul wurud dari hadits berikutnya. dan Ihsan. (2) Hadits yang sebab tidak disebutkan dalam hadits tersebut tetapi disebutkan pada jalan (thuruq) hadits yang lain. lama pula bersahabat dengan beliau. Asbabul Wurud ditentukan oleh beberapa hal : (1) Ada ayat al-Qur'an yang perlu diterjemahkan Rasulullah. maka orang Islam yang berpakaian semacam itu termasuk kafir. Ulama yang mula-mula menyusun kitab mengenai asbabul wurud adalah Abu Hafsah al-'Akbari (380-456 H). (2) Ada matan hadits yang masih perlu dijelaskan oleh Rasulullah. 3. (3) Ada peristiwa yang timbul yang perlu dijelaskan oleh Rasulullah.

maka boleh meriwayatkan dengan maknawi. ketika Nabi masih berada di Quba. Dilihat dari segi periwayatannya. kajian terhadap periwayatan hadits ini kemudian melahirkan disiplin ilmu tersendiri. Sedang menurut Hasybi Asy-Siddiqiy. yaitu orang yang menyampaikan atau menuliskan hadis yang diterima dari gurunya dalam sebuah buku . (9) para sahabat yang melakukan bai'at di bawah pohon di Hudaibiyah. menjelang memasuki Madinah. yarwi. (12) anak-anak yang melihat Nabi pada hari penaklukan Makkah dan Haji Wada'. Apakah berasal dari nabi atau bukan. persamaan dan perbedaan ar-riwayah dan as-syahadah. riwayatan yang berarti membawa atau mengutip. Bisa dilakukan apabila mereka (sahabat) hafal benar apa yang disabdakan Rasul. Atsar.redaksinya .matannya persis seperti yang diwurudkan Rasul. dengan singkat merumuskan as-syahadah dapat 23 . Hadits dilihat dari segi periwayataanya berkedudukan sebagai zhanniy al wurud atau zhanniy as-tsubut. ar-riwayah adalah memindahlakn dari seorang guru kepada seorang yang lain aatau membukukannya ke dalam buku hadis. karena tidak ada lafal asli dari Rasul. bentuk riwayat. Semakna dengan itu adalah al-bayinah dan al yamin.www. kajian mereka tidak hanya menyangkut pemahaman kandungan dan pengamalannya. Berangkat dari arti bahsa ini Ibnu Faris yang dikutib oleh Hasybi Asy-Sidiqiy. Terhadap hadits. sesuai dengan yang dimaksudkan oleh Rasul tanpa ada perubahan sedikitpun. Tetapi juga periwayatannya. mereka berusaha agar dalam meriwayatkan hadits sesuai dengan redaksi Rasul. Karena. (11) para sahabat yang memeluk Islam pada saat penaklukan Makkah.alKhabar. (4) pengikut perjanjian 'aqobah pertama. as-syahadah berarti hadir. yang dikenal ilmu al-dirayah.Islam sesudah Umar masuk Islam. (2) Periwayatan Maknawi : sahabat berpendapat dalam keadaan darurat. Sumber: Hujair AH. bukti dan sumpah atau kesaksian. (8) para sahabat yang hijrah di antara peristiwa perang badar dan Hudaibiyah. metode-metode penerimaan. Sedangkan as-syahadah menurut bahasa berarti memberikan sesuatu dengan sebenarbenarnya. bukan redaksi dari mereka. (10) para sahabat yang hijrah sebelum penaklukan Makkah dan sesudah peristiwa Hudaibiyah. Cara meriwayatkan hadits : (1) Periwayatan Lafzi . Menurut istilah ahli hadis. Sanaky. Orang yang melakukan kegiatan ini disebut rawi.com PENDAHULUAN Hadits adalah sumber agama ke dua setelah al qur'an. 3. Makalah ini membahas aspek periwayatan hadits yang secara khusus membahas syarat-syarat penerimaan dan periwayatan hadits. hadits berbeda dengan al-qur'an. Artinya periwayatan hadits yang matannya tidak persis sama dengan yang dari Rasul akan tetapi isi atau makna akan tetap terjaga secara utuh. Para sahabat meriwayatkan hadits melalui cara ini. (5) pengikut perjanjian aqobah kedua yang memeluk Islam sesudah aqobah pertama. (6) sahabat muhajirin yang sampai di Madinah. PEMBAHASAN A.hadits nabi sebagian periwayatannya berlangsung secara mutawattir dan sebagian lagi berlangsung secara ahad. Dan disinilah kemudian dipakai riwayatul hadits yang artinya menyampaikan hadits. (3) para sahabat yang hijrah ke habasyah pada tahun k5-5 sesudah Rasulullah diutus.hadits nabi terutama yang dikategorikan hadits ahad masih diperlukan pengkajian serius untuk memperoleh kepastian periwayatannya. (7) pengikut perang badar.sanaky. Pengertian Ar-Riwayah Dan As-Syahadah Secara epistimologis ar-riawayah berasal dari kata rawa. Kajian-kajian tehadap al-qur'an adalah untuk memahami kandungan dan berusaha mengamalkannya. Kajian Hadits dan Perbedaannya dengan as-Sunnah.

pernyataan malik ini menunjukan bahwa bila pencari hadits belum mencapai tingkatan ini. Keempat hal itu berkaitan langsung dengan syarat syahnya periwayat dan saksi. Bersifat dhabit. C. sedangkan kesaksian harus dilakukan oleh orang-orangyang merdeka. D.berakal. dan periwayatan seperti ini menurut ijma’ boleh dilakukan. apakah cara ini berada satu tingkatan dengan al-sima’. Bersifat adil. maka pembacaan hadits di depan guru itu tidak mengungguli Al-Sima’. Cara-Cara Penerimaan Hadits a. sedangkan kesaksian lebih diutamakan laki-laki. syah dilakukan oleh orang yang buta. Bilangan periwayat tidak menjadi persyaratan syahnya periwayatan. Akan tetapi mereka berselisih pendapat. Persamaan Dan Perbedaan Ar-Riwayah Dan As-Syahadah Para ulama' berpendapat bahwa persamaan ar-riwayah dan as-syahadah terdapat pada empat hal. Periwayat boleh memiliki hinungan kerabat dengan orang yang dijelaskan dalam riwayat yang dikemukakanya. asalkan ketika meriwayatkannya ia telah masuk islam dan mukallaf. menurut al-Ghazali enam diantarannya adalah sebagai berikut: periwayat boleh dilakukan oleh hamba sahaya. yaitu: harus dilakukan oleh orang-orang yang beragama Islam. b.terhindar dari tingkah laku yang mengurangi dan menghilangkan kehormatan. sedangkan kesaksian tidak boleh dilakukan oleh orang yang mempunyai hubungan permusuhan dengan orang yang disaksikan perkaranya. semua cara ini menurut muhaditsin disebut sima’. Demikian menurut pendapat jumhur ulama’ dari kalangan muhaditsin dan lainnya. Al-‘Ardh (membaca hadits dihadapan guru) Para muhadtisin menempuh cara ini setelah pembukuan hadits banyak dilakukan dan tersebar di berbagai tempat. Maka tidak heran bila cara ini dinilai sebagai cara penerimaan hadits yang paling tinggi tingkatannya. Al-ijazah al-ijazah adalah izin guru hadits kepada muridnya untuk meriwayatkan hadits atau kitab hadits yang diriwayatkan darinya padahal murid itu tidak mendengar hadits tersebut atau tidak membaca hadits kitab tersebut dihadapaya. sedang kesaksian untuk peristiwa-peristiwa tetentu haruslah lebih dari satu orang. apakah lebih tinggi apa lebih rendah. c. sedangkan saksi tidak diperkenankan dari orang yang buta. tidak fasik. sedang kesaksian tidak boleh dilakukan oleh orang yang memiliki hubungan kekerabatan dengan orang yang memberikan kesaksian perkarannya. Kemudian mereka meriwayatkannya kepada generasi berikutnya dengan cara yang sama. baik dibacakan dengan selintas maupun dengan cara didiktekan. Cara penerimaan ini dibenarkan. Syarat-Syarat Penerimaan Dan Penyampaian Pada umumnya ulama' memperbolehkan penerimaan hadis dilakukan oleh orang kafir dan anakanak. Adapun perbedaannya cukup banyak. balig. Telah mukallaf. Kami dapatkan setelah kami menyatakan demikian al-hafidz ibnu abdi al-barr meriwayatkan dari malik bahwa ia ditanya apakah anda lebih suka bila orang pencari hadits membacakan hadits didepan anda ataukah anda lebih senang membacakan hadits kepadanya?” ia menjawab bila si pencari hadits membacakan hadits dihadapanku apabila bacaanya tepat. Jika periwayatan itu memiliki catatan.Periwayat syah sja dilakukan oleh laki-laki atau wanita. Al-Sima’ (mendengarkan hadits dari guru) Al-Sima’ adalah suatu cara yang ditempuh oleh para muhadditsin periode pertama untuk mendapatkan hadits dari Nabi Muhammad saw. maka catatan itu dapat dipercaya.Mampu menyampaikan hadis yang telah di hapalkan. Periwayat asalkan pendengarannya baik. karena boleh jadi dia salah atau lupa terhadap hadits yang dibacakan gurunya.dipahami sebagai kesaksian seseorang atau beberapa orang yang diberikan karena memiliki implilkai hukum tertentu. Sangat mengetahuai hal-hal yang merusak maksud hadis yang diriwayatkannya secara makna. B. Jumhur ulama muhadditsin dan lainnya 24 . dan baik dibacakan dari hafalan sang guru maupun dengan melihat kitabnya. Menurut ulama syaratsyarat yang ditetapkan untuk periwayatan hadis adalah: islam. Unsur yang dominan dalam cara ini adalah mendengarkan bacaan guru. Periwayat dapat mempunyai hubungan permusuhan dengan orang yang disinggung dalam berita yang diriwayatkannya. Makna Al-‘Ardh menurut mereka adalah membaca hadits dihadapan guru berdasarkan hapalan maupun dengan melihat kitab.

karena para penulis hadits dalam suatu negara telah melakukan pengadaan seperti layaknya para penerbit buku sekarang. Kitab atau lembaran itu kemudian diriwayatkandari para penyusunnya dengan sanad yang dapat dipercaya berdasarkan pembacaan kitab atau mendiskusikan lembaran itu dihadapan guru berkenaan dengan naskahnya. seperti ungkapan “saya ijazahkan kepadamu untuk kamu riwayatkan dari sesuatu yang akan kudengarnya”. Cara ini juga diperbolehkan oleh jumhur.”ijazah itu dipandang baik manakala pihak pemberi ijazah mengetahuai hadits yang diijazahkan. Para ulama menyandarkan dalil tentang dibolehkannya Al-ijazah itu setelah hadits disusun dalam beberapa lembaran dan dikumpulkan jadi beberapa kitab. karena ijazah itu suatu kemudahan dan kemurahan dan mestinya ditarima oleh orag berilmu karena mereka sangat memerlukakannya. Ijazah itu sendiri berfungsi sebagai periwayatan seluruh isi kitab. Dasar dilaksanakannya munawalah ini adalah hadits yang dikomentari oleh al-Bukhori dalam kitab al —‘ilm bahwa Rasulullah saw pernah menulis surat kepada pimpinan prajurui Sariyah (pasukan peranga yang tidak disertai Nabi). sebagaimana dibahas oleh qadhi iyadh dengan pembahasaya ia menyebutkan enam ijazah. Ijazah yang seperti ini menurut menurut pendapat yang shahih adalah batal 7. Al-ijazah itu banyak ragamnya. Ketika ia sampai ke tempat yang ditujuk itu ia membacanya dhadapan para prajuritnya dan menyampaikan perintah nabia saw.memperbolehkan periwayatan hadits dengan cara al-Ijazah. seperti saya ijazahkan kepadamu sesuatu yang saya riwayatkan untuk kamu riwayatkan dariku. Ijazah dengan majaz. Al-Munawalah Pengertian Al-Munawalah menurut muhaddisin adalah bahwa seorang guru menyerahkan kitab atau lembara catatan hadis kepada muridmya agar driwayatkan dengan sanad darinya. Maka sangatlah berat tanggung jawab seorang alim manakala dating kepadanyya salah seorang pencari hadits untuk membaca kitab dihadapannya. sehingga menjadi tujuh bentuk yakni: 1. Ijazah kepada orang tertentu dengan hadits yang tidak tertentu. 6. Guru member ijazah kepada seseorang atau beberapa orang tertentu dengan kitab atau kitabkitab yang telah disebutkan namanya. pada saat kedua pihak mengetahui kitab tersebut. lalu ia pulang dan berpendapat telah mendapatkan ijazah darinya. Ijazah umum seperti ungkapan “saya ijazahkan kepada kaum muslimin atau kepada orangorang yang hadir”. 4. Dalam surat itu beliau menyatakan janganlah kamu membacannya sebelum engkau sampai anu dan anu. 3. Al-Baihaqi dan al-Thabari meriwayatkan hadis ini dengan sanad yang bersambung dan baik. seperti ijazah kepada nank-anak yang masih berada didalam kandungan. serta tidak terdapat persoalan dalam isnad-nya. Ijazah kepada orang majhul atau dengan hadits majhul. Jadi sesungguhnya ijazah itu identik dengan periwayatan atau pemberian secara global tentang suatu kitab atau beberapa kitab. Oleh karena itu para ulama berkata. 5. 2. dan pihak yang diberi ijazah adalah orang berilmu. disamping itu ijazah harus diberikan berkenaan dengan hadits yang tertentu dan dikenal. Dalam ijazah seperti ini terpenuhi makna ikhbar dengan sempurna dan mantap. Cara ini diperbolehkan. Oleh karena itu. Namun ahli ilmu hadits menemukan kesulitan dalam menentukan dalil tentang bolehnya Al-ijazah. bahwasannya semua itu adalah hadits-hadits yang diriwayatkannya. Ibn Abd al-Barr menyatakan bahwa ijazah itu tidak boleh diberikan kecuali kepada orang-orang mahir dalam seluk beluk hadits dan mengetahui cara menerimanya. orang yang menyandang hak ijazah tidak boleh meriwayatkan haditsmya sebelum ia mencocokan naskahnya dengan naskah penyusunannya atau dengan naskah yang telah dicocokkan dengannya dan begitu selanjutnya. Cara ini tidak dibenarkan pula. Ijazah kepada orang yang tidak atau belum ada. Cara ini sama sekali tidak boleh. Kemudian dating Ibnu Sahalah menyimpulkan pendapat Qadhi dan menambah satu bentuk ijazah lagi. d. Menurut jumhur ulama cara ini diperbolehkan. Bentuk ijazah yang paling tinggi adalah guru mengijazahkan sesuatu kitab atau beberapa kitab tertentu kepada orang-orang tertentu. Macam-macam Al-Munawalah 25 . mengingat ada berbagai naskah. Al-Bukhori berhujjah dengan hadis ini atas keshahihan munawalah. Memberi ijazah dengan hadis yang belum didenganr. seperti perkataan “guru saya ijazahkan kepadamu ijazahku”.

” atau “Aku izinkan kamu meriwayatkannya.Pertama. Mukatabah terdiri atas dua macam. e.” Sebagian tokoh ulama ushul berpendapat bahwa periwayatan hadits yang didapat melalui alI’lam tidak boleh. karena ia benar-benar telah meriwayatkannya dan tindakan itu tidak dapat diralat kembali. Mukatabah Yang dimaksud dengan mukatabah adalah seorang muhadist menulis suatu hadist lalu mengirim lalu mengirimkannya kepada muridnya . “Fulan mengirimkan hadits kepadaku. Pendapat yang sahih menurut kalangan muhadditsin membolehkan periwayatan hadits dengan mukatabah bentuk kedua ini. dan tidak boleh dijadikan sebagai sarana periwayatan hadis. dan ia berkata: ‘Fulan mengabarkkan hadits kepadaku’. Pendapat ini disepakati pula oleh alRamahurmuzi. dalam hal banyaknya memberi faidah ilmu. Bentuk munawalah yang kedua ini tidak memiliki kelebihan atas ijazah. tidak dapat dibenarkan. Atau seorang murid datang kepadanya membawa naskah yang shahih berisi riwayat-riwayat yang dibawa oleh gurunya. “Pendapat ini benar dan tidak ada alternatif lain. mukatabah yang tidak disertai ijazah. “Riwayatkanlah hadits ini dariku. sejajar dengan al-Sima'. dan ulama ushul memperbolehkan periwayatan hadits yang diterima melalui al-I’lam meskipun tidak disertai ijazah. bahkan lebih akurat darinya sebab disertai dengan isyarat terhadap kitab secara jelas dan guru yang menunjukkan itu berkata “Ini adalah hadits yang aku dengar dari Polan. Sebagian ulama salaf memberi kelonggaran kepada orang yang ditunjuk dalam wasiyat itu untuk meriwayatkan kitab-kitab tersebut dari pemberi wasiyat sesuai dengan isi wasiyatnya. Alasannya dalam hadits atau kitab yang ditunjuk itu boleh jadi terdapat kekurangan yang menyebabkan hadits-haditsnya tidak boleh diriwayatkan begitu saja. menurut kebanyakan muhadditsin. Bentuk munawalah seperti ini mengendung cacat. yaitu: Bentuk pertama. karena 26 . Al-Washiyah (wasiyat) Wasiyat merupakan salah satu bentuk periwayatan hadits yang dipandang lemah. Demikian pendapat seluruh ahli periwayatan dan hasil penelitian para pemikir. munawalah yang disertai dengna ijazah namun tidak disertai dengan penyerahan naskah kitab. Mukatabah jenis ini dalam keshahihan dan validitasnya menyerupai munawwalah yang disertai dengan ijazah. Karena cara ini tidak berbeda dengan ijazah. Letak kebenaran pendapat Qadhi ‘Iyad ini adalah bahwa penerimaan hadits dengan ijazah itu terdapat pemberitahuan secara global. karena melarang seseorang meriwayatkan hadits yang telah diriwayatkan bukan karena ada cacat atau ada keraguan. tanpa disertai izin periwayatan kepadanya . I’lam Yakni pemberitahuan oleh seorang muhaddits kepada seorang pencari hadits bahwa hadits atau kitab yang ditunjuknya adalah hadits atau kitab yang telah didengarnya dari seseorang. Sebagian besar muhadditsin. Sedangkan sebagian ulama memperbolehkan dengan alasan yang akan kami ungkap dalam pembahasan peiwayatan dengan I'lam. Bentuk wasiyat dalam periwayatan adalah bahwa seorang muhaddits berwasiat kepada seseorang agar kitab-kitabnya diserahkan kepadanya ketika muhaddits itu meninggal atau dalam bepergian. Bentuk kedua. Qadhi ‘Iyad berkata. Cara-cara demikian itu menurut Imam Malik dan sekelompok Ulama. f. Pendapat ini dipilih oleh ibnu al-shalah. Yaitu bahwa muhaddits itu pada saat yang sama tidak berkata. Cara periwayatan hadits seperti ini banyak terdapat dalam sanad-sanad hadits. atau membawa sebagian hadisnya kemudian guru itu melihat mengenalnya serta membuktikan keahliannya lalu memberinya ijazah. Bentuk munawalah yang ketiga ini adalah guru menyerahkan kitabnya kepada muridnya dan hanya disetai kata-kata. Seperti seorang guru menyerahkan sebuah kitab yang ia riwayatkan atau salinannya yang telah diteliti dengan cermat atau hadits-hadits pilihan yang ia tulis atau ditulis orang lain dan ia mengetahuinya. g. Sering kita jumpai tindakan ulama salaf dan para guru hadits setelah mereka menyatakan . Ketiga munawalah yang tidak disertai ijazah. Kedua. sedang al-I’lam identik dengan ikhbar. akan tetapi para guru hadis berpendapat bahwa bentuk munawalah ini memiliki kelebihan atas ijazah. Qodhi Iyad berkata cara yang demikian merupakan cara periwayatan yang shahih menurut menurut kebanyakan imam dan muhaddisin. munawalah yang disertai dengan ijazah dan penjelasan tentang naskah. mukatabah yang disertai dengan ijazah.” Para muhadditsin sepakat atas kebenaran periwayatan hadits dengan cara demikian dan mengklasifikasikannnya sebagai hadits musnad. fuqoha.

fiqh. ibnu al-shalah tidak sependapat dengan hal ini. padahal mereka telah sepakat bahw aorang yang menemukan naskah hadits itu tidak boleh meriwayatkannya dengan kata-kata “haddatsana” atau “akhbarana” dan sebagainya. h. Akan 27 . ٌ ُ َ ُ ََّ َ ِ َ ُ ّ َ ِ ُ ْ َ َ ‫وجدت بخط فلن ؛ حدثنا فلن‬ ٍ ٍ Aku dapatkan pada tulisan Fulan bahwasannya Fulan menceritakan kepada kami…… Dapat pula ia berkata. Al-Wijadah Al-wijadah adalah kasus dimana seseorang menemukan suatu hadits atau kitab hasil tulisan orang lain lengkap dengan sanadnya. demikian pula pendapat sekelompok para pemikir diantara murid-muridnya serta para peneliti. seperti halnya jual beli. Akan tetapi. Akan tetapi. pernyataan ini tidak dapat menyelesaikan hukum wijadah. Barangkali hal ini merupakan kekeliruan seorang alim atau dapat dikatakan bahwa yang dikehendaki ialah periwayatan melalui jalan al-wijadah seperti yang akan dijelaskan kemudian.dalam penyerahan kitab-kitab itu terdapat satu bentuk izin dan sedikit menyerupai periwayatan melalui al-‘ardh dan al-munawalah. al-washiyah mendekati al-I’lam. dan beliau tidak membenarkan orang yang berpendapat memperbolehkan wasiyat dalam periwayatan hadits. Ia berkata: “Pendapat ini sangat jauh. Tidak pernah terjadi seorang ahli ilmu melakuan yang demikian dan mengkategorikannya sebagai hadits musnad. karena periwayatan hadits dengan wijadah itu – sebagaimana kita ketahui – tidak dapat dinilai sebagai periwayatan yang sahih dan bersambung sanadnya sampai kepada penyusunnya.” Pernyataan ibnu al-shalah ini – menurut hemat kami – adalah pernyataan yang benar dan akurat. “haddatsana” atau “akhbarana”atau kata-kata lain yang menunjukkan ketersambungan sanadnya. kandungan kitab itu wajib diamalkan bila ada bukti-bukti akurat bahwa kitab itu adalah milik penulisnya (atau salinannya yang sah) karena faktor keaslian itulah yang mewajibkan pengamalannya. Diriwayatkan dari al-Syafi’i bahwa ia membolehkan pengamalan terhadapnya. niscaya pintu pengamalan hadits dalam kitab-kitab itu jadi tertutup. Yakni dalam penyampaian hadits yang terdapat dalam kitab yang ditemukan itu tidak boleh dikatakan “akharani Fulan” atau “ haddatsani Fulan” dan sebagainya. karena wasiat itu hanya berfungsi sebagai pelimpahan hak milik atas naskah. Oleh karena itu. yang bersambung sanadnya. bila padanya tidak terdapat penipuan (tadlis) dan ucapan itu mengesankan perjumpaan antara pemilik naskah dan orang yang menemukannya. sebab syarat-syarat periwayatan pada masa kini sangat sulit terpenuhi. Jadi bila kitab yang kita temukan itu ternyata sahih maka kita wajib mengamalkannya. Dalam masalah ini ada hal baru yang harus diperhatikan. “Bahkan para ulama mutaakhirin tidak lagi memandang perlu mengadakan rihlah dengan segala konsekuensinya sejak mereka dibenarkan meriwayatkan setiap kitab atau manuskrip yang mereka dapatkan.” Namun. Jadi. karena tidak adanya cara penerimaan hadits yang dapat membenarkan penyampaian hadits dengan kata-kata itu. dan ushul berbeda pendapat sehubungan dengan hadits yang ditemukan itu bila berupa tulisan hasil penelitian seorang imam atau berupa salah satu kitab sumber yang dapat dipercaya. Jadi. Pendapat inilah yang bias diterima dan sesuai dengan petunjuk dalil. sama sekali ia tidak boleh meriwayatkannya dengan berkata. lebih-lebih keadaan darurat akhir-akhir ini telah mengharuskannya. Para ulama yang melarang periwayatan dengan al-I’lam juga berpendapat demikian. tidak sah periwayatan dengan wijadah. dan untuk itu ia berkata. Kemudian para tokoh ulama hadits. baik mereka pernah bertemu dengan para penyusunnya maupun tidak. karena kita dituntut secara yuridis untuk mengamalkan hadits yang nyata-nyata sahih. Orang yang menemukan hadits itu boleh meriwayatkannya darinya dengan cara menceritakannnya. dan oleh karenanya wasiat tidak dapat diterima sebagai ikhbar terhadap isi naskah tersebut. Beliau menganggap ada perbedaan yang sangat jauh antara wasiyat dan al-I’lam. yakni perbedaan antara kesahihan riwayat dan kewajiban mengamalkannya. Dari keterangan ini dapatlah kami nilai bahwa Dr. Namun. Subhi al-Shalih memberi kelonggaran yang cukup leluasa dengan pernyataanya. Kebanyakan muhadditsin dan fuqaha dari kalangan mazhab maliki serta kalangan mazhab lain tidak membolehkan pengamalan terhadap hadits yang diriwayatkan dengan cara demikian. “Fulan berkata”. Sebab apabila pengamalan terhadap kitab-kitab atau hadits-hadits itu hanya boleh dilakukan berdasarkan periwayatan.

Kelompk keempat adalah kata-kata haddatsana munawalatan wa’aradhan. manakala pengecekan dilakukan terhadap manuskrip. yang elukiskan metode mukatabah. misalnnya lupa susunan lafal. Redaksi matan itu ila diteliti sesuai denagan yang keluar dari ucapan nabi. qara’tu ‘ala fulanin wa ana asma’u fa aqrabahu. Para ulama mewajibkan periwayatan hadis dengan lafal. haddatsana. perbuatan sahabat yang didiamkan/atau ditolak nabi. takbir. Hadis Mu’an’an Dan Haits Muanan Jika seoran rawi meriwayatkan sesuatu hadis dengan lafad ‘an (dari). Kelompok ke tiga adalah kata-lata haddatsana ijazata. akhbarani bihi kitabatan. sedang tiga poin terakhir diriwaytkan dengan lafal. perbuatan dan akhlak nabi. dan ia disebut mu’an’in. Atau al-‘ardh. bukan sabda nabi tentang bentuk bacaan ibadah. do’a azan. Kata-kata yang dipakai dalam periwayata hadis Kelompok pertamaadalah kata-kata sami’tu. Karena itu kebanyakan ulama hadis memperbolehkan periwayatan hadis denganmakna. wajib diamalkan kandungannya bila kitab itu dapat diandalkan. dan secara mutlak mereka tidak membenarkan riwayat dengan makna. Para ulama sepakat bahwa pemakaian kata-kata ini telah menggambarkan cara metode periwayatan hadits dengan metode qira’ah. hadisnya disebut dengan hadis mu’an’a. Maka tampak empat poin pertama diriwayatkan dalam bentuk makna. 28 . dan ia disebut muannin. akhbarana mukatabatan. misalnya dzikir. dan syahadat. dan jika seorang rawi meriwayatkan dengan lafad anna (bahwasannya). Bentuk-bentuk riwayat yang diasampaikan dengan lafal dan makna Bila disepakati bahwa kategori hadis nabi meliputi: sifat-sifat nabi. Para ualama hadis telah menetapkan apabila satu dari kata-kata tersebut dipakai oleh para periwayat dalam rangkaian para periwayat hadis yang ia riwayatkan maka metode penerimaan dan periwayatan hadits tersebut al-sama’. Kata-kata akhbarana I’laman dipakai periwayatan hadis karena menunjukan pengertian bahwa metode yang dipakai dalam kegiatan menerima dan meriwayatkan hadis itu adalah I’lam. Kelompok kedua adalah kata-kata qara’tu ‘ala fulanin. Riwayat bi al-lafzhi adalah meriwayatkan hadis dengan redaksi matan yang telah didengar tanpa perubahan. sedang hadis jenis lain tidak mungkin dapat diriwayatkan. Jadi bila secara kukuh memegangi pendapat itu maka periwayatan hadis hanya dapat dilakukan terhadap hadis-hadis nabi yang sifatnya qaulan (ucapan saja). hadisnya disebut muannan. Ibnu Madiniy dan para muhaqqiqin . dengan bebrapa ketentuan sebagai berikut: periwayat benar-benar memiliki pengetahuan bahsa yang mendalam. E. serta bukan sabda nabi dalam bentuk jawawi al-karim. penambahan dan pengurangan. periwayatan secara makna dilakukan secara terpaksa. Yaitu bila suatu kitab itu telah ditinjau dari segi terpenuhi atau tridaknya syarat-syarat yang telah ditetapkan. akhbarana ijazatan. Kata-kata ini menunjukan bahwa metode penerimaan dan periwayatan hadits yang ditempuh seorang periwayat hadis adalah wijadah. diriwayatkan dengan makna seperti ini hanya terbatas pada masa sebelu dibukukannya hadis-hadis nabi secara resmi. Kata-kata ini menggambarkan suatu metoe penerimaan dan periwayatan hadits dengan metode ijazah. F. pendapat nabi terhadap masalah yang dihadapi sahabat. Suatu hadis yang diriwayatkan dengan cara tersbut agar dapat dihukumi sebagaimana hadis muttashil harus memenuhi syarat-syarat sebagai berikut: Menurut Bukhori. qala lana dan dzakara lana. Kelompok ketuju adalah kata-kata ausha ila fulanin melukiskan pengertian kepada metode ke tujuh yaitu metode al-wasiah. 2) Si mu’an’in harus pernah berjumpa dengan orangyang pernah memberinya. Kelompok kedelapan adalh kata-kata wajadtu fi kitabi fulanin atau qara’tu bi khaththi fulanin ‘an fulanin. akhbarana. periwayatnya itu atau yang lupa akan susunan lafalnya hendaknya ditambahkan kata aw kama qala atau aw nahwa dzalika atau yang semakna dengan itu. hendaknya: 1) Si mu’an’in bukan seorang mudallis. Kelompok kelima kata-kata akhbarana ila fulanin. akhbarana muawalatan yang merekam suatu penerimaan dan periwayatan hadits dengan metode munawalah. haddatsani. hadis qudsi dan surat-surat nabi yang dikirimkankepada penguasa dan sebagainya.tetapi. sabda nabi yang berkenaan dengan do’a-do’a dalam ibadah. G.

Ulumul Hadis. Ikhtisar mushthalahul hadits.Persyaratan ini disebut dengan “isytiratul liqa’”. Fatchur. Ulumul Hadis. AlFatih.M. Persyaratan in disebut dengan isytiratul mu’asyarah” Menurut sebagian ulama’ lain: Si mu’an’in atau si muannin harus diketahui dengan yakin bahwa ia benar-benar menerima hadis tersebut dari gurunya. Abdul Majid. Bandung: bulan bintang Khon. Bandung: pt rosada rosda karya Rahman. Hasybi. Penerjemah Drs Mujiyo. 2009. Bandung: pt alma’arif Suryadilaga. T. Yogyakarta: teras Asy-Siddiqi. 2006. Menurut imam muslim hendaknya: si mu’an’in itu harus hidup semasa dengan orang yang pernah memberiny. Nurudin. Ilmu-Ilmu Dirayah. DAFTAR PUSTAKA ‘Itr. 2010. Jilid I. Jakarta: amzah. 1996. 29 . Ulumul Hadits.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful