P. 1
Ikhtisar Peraturan Pencucian Uang

Ikhtisar Peraturan Pencucian Uang

4.0

|Views: 4,674|Likes:
Published by vafranci
From NLRP. Helping for publish.
From NLRP. Helping for publish.

More info:

Categories:Types, Business/Law
Published by: vafranci on Jun 09, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

05/10/2015

pdf

text

original

Sections

IKHTISAR KETENTUAN

PENCEGAHAN DAN PEMBERANTASAN TINDAK PIDANA PENCUCIAN UANG

PENCEGAHAN DAN PEMBERANTASAN TINDAK PIDANA PENCUCIAN UANG DAN PENDANAAN TERORISME

IKHTISAR KETENTUAN

Penerbit The Indonesia Netherlands National Legal Reform Program (NLRP) Setiabudi Building 2, 2nd floor, Suite 207C Jl. H.R. Rasuna Said Kav 62, Jakarta 12920

IKHTISAR KETENTUAN PENCEGAHAN DAN PEMBERANTASAN TINDAK PIDANA PENCUCIAN UANG
Penyusun: Muhammad Yusuf Edi M Yunus Fithriadi Muslim Riono Budisantoso Mohammad Irfan Rachmawati Azamul Fadhly Noor Nella Hendriyetty Said Imran Ferti Srikandi Sumanthi Dini Rahayu Editor: Sebastian Pompe Gregory Churchill Mardjono Reksodiputro Binziad Kadafi Fritz Edward Siregar Design & Setting: Fruit Indonesia PT Buah Karya Gemilang fruit@fruitindonesia.com

Hak cipta dilindungi oleh Undang-Undang. Diterbitkan pertama kali oleh Nasional Legal Reform Program , Jakarta, 2011

Dilarang mengutip atau memperbanyak sebagian atau seluruh isi buku ini dalam bentuk apa pun (seperti cetak, fotokopi, mikrofilm, VCD, CD-ROM, dan rekaman suara) tanpa izin tertulis dari Penerbit.

Sanksi Pelanggaran Pasal 72 Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2002 tentang Hak Cipta. (1) Barangsiapa dengan sengaja dan tanpa hak melakukan perbuatan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat (1) atau Pasal 49 ayat (1) dan ayat (2) dipidana dengan pidana penjara masing-masing paling singkat 1 (satu) bulan dan/atau denda paling sedikit Rp1.000.000,00 (satu juta rupiah), atau pidana penjara paling lama 7 (tujuh) tahun dan/atau denda paling banyak Rp5.000.000.000,00 (lima miliar rupiah). (2) Barangsiapa dengan sengaja menyiarkan, memamerkan, mengedarkan, atau menjual kepada umum suatu ciptaan atau barang hasil pelanggaran Hak Cipta atau Hak Terkait sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dipidana dengan pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun dan/atau denda paling banyak Rp500.000.000,00 (lima ratus juta rupiah).

Dicetak oleh Percetakan PT Gramedia, Jakarta Isi di luar tanggung jawab Percetakan

KATAPEN GANTAR
Dengan hormat, National Legal Reform Program (NLRP) dibentuk dengan tujuan mendukung pemerintah dan masyarakat Indonesia dalam upaya memperkokoh Indonesia sebagai negara hukum, terutama upaya meningkatkan kepastian hukum dan memajukan lembaga-lembaga hukum. Peningkatan kepastian hukum serta kinerja, keterbukaan, dan akuntabilitas lembaga-lembaga hukum diharapkan menyumbang langsung kepada upaya pemerintah dan masyarakat Indonesia untuk mencapai pengentasan kemiskinan, perbaikan iklim usaha, dan pertumbuhan ekonomi. Dalam rangka mencapai tujuan tersebut, NLRP bekerja sama dengan berbagai pihak, baik kalangan lembaga negara/pemerintah, maupun universitas dan masyarakat sipil, telah menyelenggarakan dan membantu kegiatan pembaruan hukum di Indonesia. Salah satu keluaran dari kegiatan tersebut merupakan suatu seri dokumen regulatory manual atau ikhtisar ketentuan pada bidang hukum tertentu yang memiliki dampak pada investasi dan pertumbuhan ekonomi di Indonesia. Untuk tahap pertama NLRP bersama dengan Hukumonline, Pusat Kajian Regulasi dan Indonesia Working Group for Forestry Finance berhasil menyusun Ikhtisar Ketentuan Penanaman Modal, Ikhtisar Ketentuan Pasar Modal, Ikhtisar Ketentuan Persaingan Usaha dan Ikhtisar Ketentuan Pencegahan & Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang. Ikhtisar ketentuan dirancang sebagai suatu dokumen yang dapat dijadikan acuan untuk memperoleh informasi pokok terkait dengan peraturan perundang-undangan baik yang berupa undang-undang, peraturan pemerintah, dan peraturan presiden, maupun peraturan menteri, peraturan komisi atau lembaga, petunjuk teknis, peraturan pelaksanaan serta surat pada bidang yang bersangkutan. Agar ikhtisar ketentuan ini mudah dimanfaatkan oleh siapa saja, maka tidak disusun berdasarkan alfabetis, namun disusun secara sistematis berdasarkan proses. Ikhtisar ketentuan tentu saja tidak dimaksudkan untuk menjadi landasan bagi pemberlakuan suatu peraturan atau sebagai rujukan penafsiran, tetapi lebih merupakan cara penerbitan yang memudahkan pihak-pihak yang berkepentingan dalam memahami ketentuan hukum. Untuk mempermudah proses penelusuran, ikhtisar ketentuan ini juga dilengkapin dengan CD e-regulatory manual software berisi semua ketentuan yang diikhtisarkan serta perangkat lunak penemuan kembali yang dapat dipasang pada komputer atau notebook. NLRP mengucapkan terima kasih kepada Pimpinan serta seluruh jajaran Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK), Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU), Badan Pengawas Pasar Modal & Lembaga Keuangan (BAPEPAMLK) dan Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Republik Indonesia yang secara proaktif mendukung terwujudnya Ikhtisar Ketentuan ini. Kami anggap bahwa penerbitan peraturan perundang-undangan dengan cara ikhtisar ketentuan merupakan terobosan besar dalam upaya penyediaan informasi hukum kepada publik dan kami berharap agar Ikhtisar Ketentuan serupa dapat disusun di lembaga Negara lainnya. Kami persembahkan karya ini kepada Ibu Pertiwi Indonesia.

Hormat kami,

Sebastiaan Pompe Program Manager

SAMBUTAN
KEPALA PUSAT PELAPORAN DAN ANALISIS TRANSAKSI KEUANGAN

Alhamdulillahi Robbil’alamin, puji dan syukur kehadirat Allah SWT, Tuhan Yang Maha Esa atas selesainya penyusunan buku Ikthisar Ketentuan Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang ini. Buku ini disusun dengan semangat dan idealisme yang kuat untuk menyajikan sebuah referensi yang komprehensif, sistematis dan utuh sehingga dapat langsung digunakan oleh setiap orang khususnya para pemangku kepentingan (stakeholders), baik di sektor industri/keuangan (financial sector), Lembaga Pengawas dan Pengatur (LPP) maupun di sektor penegakan hukum (law enforcement sector) dalam memahami dan ikut serta dalam upaya menegakkan rezim anti-pencucian uang yang kokoh dan efektif di Indonesia. Sebagai focal point, Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK) menjadi poros dalam mekanisme komunikasi dan koordinasi antar instansi atau lembaga yang terlibat dalam upaya menegakkan rezim antipencucian uang di Indonesia. Berdasarkan pengalaman menjalankan fungsi sebagai focal point tersebut, PPATK melihat masih terdapat berbagai persoalan yang dihadapi baik oleh Pihak Pelapor, Penyedia Jasa Keuangan (PJK) maupun Penyedia Barang dan Jasa (PBJ) dalam mendeteksi dan menyampaikan laporan yang diamanatkan Undang-Undang dan LPP dalam melakukan pengawasan kepatuhan Pihak Pelapor, maupun oleh aparat penegak hukum dalam menindaklanjuti laporan hasil analisis atau pemeriksaan PPATK dan menangani perkara tindak pidana pencucian uang.

v

Salah satu kendala majemuk yang dihadapi oleh para pemangku kepentingan dalam menegakkan rezim anti-pencucian uang di Indonesia adalah karena belum lengkap dan meratanya pengetahuan mengenai berbagai peraturan perundang-undangan atau ketentuan yang mengatur tentang pencegahan dan pemberantasan tindak pidana pencucian uang. Kendala tersebut antara lain disebabkan oleh beragamnya bentuk dan lingkup berbagai ketentuan yang ada. Selain itu, dalam beberapa kondisi ditemukan kendala berupa sulitnya mendapatkan akses informasi terkait peraturan perundangundangan maupun ketentuan teknis tertentu yang sangat dibutuhkan dalam melaksanakan upaya-upaya pencegahan dan pemberantasan tindak pidana pencucian uang yang semakin kompleks. Penyusunan buku Iktisar Ketentuan Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang dan Pendanaan Terorisme ini sesungguhnya merupakan upaya untuk memecahkan persoalan tersebut di atas. Dengan sistematisasi materi berdasarkan urutan proses pelaksanaan masing-masing tugas dari para pemangku kepentingan yang ada, buku ikthisar ini diharapkan dapat menjadi semacam “manual book” yang memuat rujukan normatif dan praktis bagi para pemangku kepentingan baik di sektor industri/keuangan maupun di sektor penegak hukum dalam melaksanakan rezim anti pencucian uang dan pendanaan terorisme di Indonesia. Buku ikthisar ketentuan ini merupakan kompilasi mengenai berbagai ketentuan di bidang pencegahan dan pemberantasan tindak pidana pencucian uang yang terdokumentasi secara sistematis dan utuh. Buku ini juga telah menempatkan Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2010 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang yang disahkan dan diundangkan pada tanggal 22 Oktober 2010 sebagai salah satu sumber utama dalam penyusunan buku ikthisar ketentuan ini. Pemberlakuan Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2010 telah mendorong kami untuk segera menyusun kembali buku serupa yang pertama kali telah diluncurkan pada tanggal 14 April 2010 serta diterbitkan secara terbatas. Buku ikthisar ketentuan ini diharapkan tetap digunakan sebagai rujukan utama para pemangku kepentingan dalam melaksanakan tugas pencegahan dan pemberantasan tindak pidana pencucian uang sebagaimana tertuang dalam “Pernyataan Bersama” yang ditandatangani oleh Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia, Jaksa Agung, Menteri Keuangan, Gubernur Bank Indonesia, Kepala PPATK serta Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum dan Keamanan. Terlepas dari berbagai kelebihannya, tentu saja buku ikthisar ketentuan ini masih memiliki berbagai kekurangan dan keterbatasan apalagi mengingat

vi

perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang begitu cepat dan tidak sebanding dengan pembangunan hukum khususnya penyusunan peraturan perundang-undangan. Oleh karena itu, masukan dan saran dari seluruh pemangku kepentingan sangat penting demi menjaga dan meningkatkan kualitas dari buku Ikthisar Ketentuan Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang ini. Akhir kata, saya mengucapkan terima kasih dan selamat kepada tim penyusun dari PPATK yang telah bekerja keras dalam menyusun buku ini. Ucapan terima kasih dan penghargaan disampaikan kepada National Legal Reform Program (NLRP) yang telah mendukung dan membantu penyusunan dan penerbitan buku ikthisar ketentuan ini. Semoga apa yang telah dilakukan bersama dapat dinilai sebagai ibadah oleh Allah SWT, Tuhan Yang Maha Esa serta memberikan manfaat yang sebesar-besarnya bagi semua pihak, demi terwujudnya Indonesia yang bersih dan bebas dari tindak pidana pencucian uang.

Jakarta, 22 November 2010 Kepala Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan,

YUNUS HUSEIN

vii

SAMBUTAN
PJS GUBERNUR BANK INDONESIA

Penerbitan Buku Ikhtisar Ketentuan-Ketentuan di Bidang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang dan Pendanaan Terorisme

Dalam kesempatan yang baik ini, Bank Indonesia sebagai Regulator Perbankan, menyambut baik penerbitan Buku Ikhtisar Ketentuan-Ketentuan di Bidang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang (TPPU) dan Pendanaan Terorisme. Buku ini diyakini akan sangat membantu meningkatkan pemehaman Penyedia Jasa Keuangan khususnya industri perbankan dalam upaya-upaya pencegahan dan pemberantasan TPPU dan Pendanaan Terorisme. Buku menyajikan referensi yang akurat dan komprehensif mengenai ketentuan-ketentuan di bidang pencegahan dan pemberantasan TPPU dan Pendanaan Terorisme yang sangat diperlukan oleh industri perbankan. Dalam era dimana keterbukaan informasi begitu luas, kehadiran ikhtisar ini sangat monumental. Ikhtisar ini menyajikan informasi-informasi yang tersebar dalam beberapa bentuk peraturan perundang-undangan sehingga menjadi sistematis dan terdokumentasikan secara utuh. Sistematisasi informasi mengenai ketentuan-ketentuan di bidang pencegahan dan pemberantasan TPPU dan Pendanaan Terorisme sangat dibutuhkan dalam pelaksanaan tugas kalangan pelaku pada industri keuangan khususnya yang memiliki tanggung jawab terkait dengan pelaporan atas Transaksi Keuangan Mencurigakan ataupun Transaksi Keuangan Tunai kepada Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK). Ikhtisar ini memuat juga

viii

ketentuan-ketentuan yang bersifat ”teknis-normatif” yang belum banyak diketahui oleh para pemangku kepentingan (stakeholder). Ikhtisar ini akan mampu menyajikan informasi yang sistematis dan bermanfaat bagi para praktisi di bidang industri keuangan dan para praktisi di bidang lainnya dalam melakukan pengkajian, analisa, dan proses hukum terhadap kasus-kasus TPPU dan tindak pidana asalnya (predicate crimes) untuk dapat memenuhi kewajiban terkait pencegahan dan pemberantasan TPPU dan Pendanaan Terorisme. Saya berharap, penyusunan buku ikhtisar ini juga dapat memacu khususnya para praktisi di bidang industri perbankan dan para praktisi di bidang lainnya untuk melanjutkan dan/atau memutakhirkan proses pendokumentasian ketentuan-ketentuan di bidang anti pencucian uang dan pendanaan terorisme yang sangat dibutuhkan oleh para praktisi di bidang industri perbankan dalam pelaksanaan tugas yang semakin berat dan menuntut profesionalisme yang tinggi. Sebagai penutup, saya ingin menyampaikan selamat kepada Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK) yang telah mengkkordinir penyusunan buku ikhtisar ini. Semoga harapan untuk mewujudkan Indonesia yang bersih dan bebas dari TPPU dan Pendanaan Terorisme dapat menjadi kenyataan.

Jakarta, April 2010 PJS GUBERNUR BANK INDONESIA

DARMIN NASUTION
~ salinan ~

ix

SAMBUTAN
JAKSAAGUNG REPUBLIK INDONESIA

Penerbitan Buku Ikhtisar Ketentuan-Ketentuan di Bidang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang dan Pendanaan Terorisme

Saya menyambut baik penerbitan buku Ikhtisar Ketentuan yang memuat rujukan Ketentuan di Bidang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang (TPPU) dan Pendanaan terorisme. Dengan materi yang terpilih dan disusun secara sistematis sesuai dengan proses atau tahapan penanganan perkaranya, Ikhtisar Ketentuan ini diharapkan dapat menjadi rujukan teoritis dan praktis dalam pelaksanan tugas sehari-hari, baik di kalangan praktisi perbankan, penyedia jasa keuangan lainnya, maupun aparat penegak hukum khususnya di lingkungan Kejaksaan R.I. Setelah saya teliti, Ikhtisar Ketentuan ini telah memuat berbagai sumber peraturan perundang-undangan maupun ketentuan teknis yang berserakan dan luas sehingga menjadi suatu produk kompilasi yang sistematis dan terdokumentasi secara utuh. Kompilasi dan sistematisasi informasi mengenai ketententuan-ketentuan di bidang pencegahan dan pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang dan Pendanaan Terorisme sangat dibutuhkan dalam pelaksanaan tugas kejaksaan khususnya di bidang penuntutan Tindak Pidana Pencucian Uang dan Pendanaan terorisme mengingat masih banyak pemangku kepentingan (stakeholder) yang tidak menguasai berbagai peraturan perundang-undangan maupun ketentuan teknis tersebut secara utuh sekaligus praktis dalam penggunaannya.

x

Agar Ikhtisar Ketentuan ini dapat menjadi rujukan bagi para penegak hukum dan pemangku kepentingan lainnya, saya berharap terus dilaksanakan pemutakhiran ketentuan yang terdapat di dalamnya. Semoga dengan terbitnya Ikhtisar Ketentuan ini tidak terjadi lagi perbedaan persepsi dalam penanganan perkara TPPU, sehingga harapan untuk mewujudkan Indonesia yang bersih dan bebas dari TPPU dan Pendanaan Terorisme dapat menjadi kenyataan. Jakarta, April 2010 JAKSA AGUNG REPUBLIK INDONESIA,

HENDARMAN SUPANDJI

~ salinan ~

xi

SAMBUTAN
KEPALA KEPOLISIAN REPUBLIK INDONESIA

Penerbitan Buku Ikhtisar Ketentuan-Ketentuan di Bidang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang dan Pendanaan Terorisme

Assalamu’alaikum Wr.Wb. Salam sejahtera bagi kita sekalian Kepolisian Negara Republik Indonesia menyambut baik penerbitan buku Ikhtisar Ketentuan di bidang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang (TPPU) dan Pendanaan Terorisme. Buku ini hadir pada saat yang tepat dimana tuntutan terhadap profesionalisme Polisi begitu kuat, tidak hanya dari publik tetapi juga dari internal Kepolisian sendiri, yang akan sangat membantu pelaksanaan tugas-tugas Kepolisian secara profesional. Karena menyajikan referensi yang akurat dan komprehensif mengenai ketentuan-ketentuan di bidang pencegahan dan pemberantasan TPPU dan Pendanaan Terorisme. Dalam era keterbukaan informasi saat ini, kehadiran Ikhtisar Ketentuan sangat bermanfaat, karena menyajikan informasi-informasi yang masih berserakan dan luas kemudian disajikan secara sistematis dan terdokumentasikan secara utuh. Sistematisasi informasi mengenai ketentuanketentuan di bidang di bidang pencegahan dan pemberantasan TPPU dan Pendanaan Terorisme sangat dibutuhkan dalam pelaksanaan tugas pokok Polri dalam rangka penegakan hukum, termasuk sebagai penyidik TPPU dan Pendanaan Terorisme, sebagaimana diatur dalam Pasal 30 Undang-

xii

Undang Nomor 15 Tahun 2002 tentang TPPU, yang telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2003. Ikhtisar Ketentuan ini juga memuat ketentuan-ketentuan yang bersifat ”tehnis-normatif” yang belum banyak diketahui oleh para pemangku kepentingan (stakeholder). Yang bermanfaat bagi aparat penegak hukum dalam melakukan pengkajian, analisa, dan proses hukum terhadap kasus-kasus TPPU dan tindak pidana asalnya. Saya berharap, penyusunan Ikhtisar Ketentuan ini juga dapat memacu Kepolisian untuk melanjutkan dan/atau memutakhirkan proses pendokumentasian ketentuan-ketentuan di bidang anti pencucian uang dan pendanaan terorisme yang sangat dibutuhkan oleh Kepolisian dalam pelaksanaan tugas yang semakin berat, kompleks serta menuntut profesionalisme yang tinggi. Saya mengucapkan selamat kepada Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK) yang telah mengkoordinir penyusunan buku Ikhtisar Ketentuan ini. Semoga bermanfaat dalam upaya pencegahan, pemberantasan dan penegakan hukum TPPU maupun pendanaan terorisme di Indonesia. Sekian dan terima kasih. Wassalamu’alaikum Wr.Wb.

KEPALA KEPOLISIAN NEGARAREPUBLIK INDONESIA

Drs. H. BAMBANG HENDARSO DANURI, M.M. JENDERAL POLISI

~ salinan ~

xiii

PERNYATAAN BERSAMA
Menteri Keuangan, Jaksa Agung, KAPOLRI, Gubernur BI dan Kepala PPATK Kami, Menteri Keuangan, Jaksa Agung, KAPOLRI, dan Gubernur Bank Indonesia, pada hari ini, Rabu tanggal 14 April 2010, dalam rangka Peluncuran Buku Ijktisar Ketentuan Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang dan Pendanaan Teroris, dengan menyatakan: 1. bahwa tindak pidana pencucian uang tidak saja mengancam stabilitas perekonomian dan integritas sistem keuangan melainkan mengancam sendi-sendi kehidupan berbangsa dan bernegara disebabkan maraknya tindak pidana yang terorganisir, bersifat transnasional dan menghasilkan harta kekayaan yang tidak sah dalam jumlah yang besar. bahwa dalam menangani permasalahan tersebut diatas mutlak diperlukan kerjasama antar lembaga yang dilandasi oleh semngat dan komitmen bersama yang kuat untuk menegakkan hukum dan keadilan serta dibingkai dalam suatu pemahaman bersama terhadap pelaksanaan tugas dan tanggung jawab masing-masing dengan tetap memperhatikan tertib administrasi dan kepatuhan terhadap peraturan perundang-undangan yang berlaku. sebagai upaya untuk meningkatkan pemahaman terhadap fungsi masing-masing lembaga dalam rezim anti pencucian uang dan pendanaan terorisme, kami sepakat untuk menjadikan buku Ikhtisar Ketentuan Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang dan Pendanaan Teroris sebagai rujukan utama dalam setiap pelaksanaan tugas dalam rangka pencegahan dan pemberantasan tindak pidana pencucian uang dan pendanaan teroris.

2.

3.

xiv xv

DAFTAR ISI

Sambutan Kepala Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan .. Sambutan PJS Gubernur Bank Indonesia .................................... Sambutan Jaksa Agung Republik Indonesia ................................. Sambutan Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia ............... Pernyataan Bersama Menteri Keuangan, Jaksa Agung, KAPOLRI, Gubernur BI dan Kepala PPATK ................................................. Daftar Isi ................................................................................ Daftar Singkatan ..................................................................... PENGANTAR ......................................................................... A. Praktik Pencucian Uang ...................................................... B. Alasan Kriminalisasi Pencucian Uang .................................... BAB I I.1 I.1.1 I.1.2 I.1.3 I.1.4 I.1.5 I.1.6 I.1.7 I.1.8 REZIM ANTI PENCUCIAN UANG DAN PENDANAAN TERORISME ............................................................ Lembaga-lembaga Terkait ............................................ Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan ........... Pihak Pelapor.............................................................. Lembaga Pengawas dan Pengatur ................................. Penegak Hukum ......................................................... Komite TPPU ............................................................. Dewan Perwakilan Rakyat ........................................... Presiden .................................................................... Masyarakat ...............................................................

v viii x xii xiv xv xix 1 2 16

19 24 24 24 44 46 49 52 53 53

xv

I.2 I.3 I.4

Kedudukan, Tugas, Fungsi, dan Kewenangan PPATK .... Kerjasama Domestik dan Internasional ......................... Strategi Nasional Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang ...............................................

53 58 61

BAB II TINDAK PIDANA PENCUCIAN UANG DAN TINDAK PIDANA ASAL.......................................................... II.1 Tindak Pidana Pencucian Uang ..................................... II.2 Tindak Pidana Asal ...................................................... II.3 Jenis-jenis Tindak Pidana Asal ...................................... II.4 Tindak Pidana Pendanaan Terorisme ............................. II.5 Tindak Pidana Lain Terkait Tindak Pidana Pencucian Uang .. BAB III PELAPORAN ............................................................ III.1 Definisi ..................................................................... III.1.1 Transaksi ................................................................... III.1.2 Transaksi Keuangan .................................................... III.1.3 Transaksi dengan Pihak Pelapor.................................... III.2 Jenis Laporan ............................................................. III.2.1 Transaksi Keuangan Mencurigakan ((TKM) ................... III.2.2 Transaksi Keuangan Tunai (TKT) ................................. III.2.3 International Fund Transfer Instruction (IFTI) .............. III.3 Sanksi Administratif terkait kewajiban pelaporan oleh pihak pelapor....................................................................... III.4 Kerahasiaan Bank ........................................................ III.5 Sanksi Terkait Pelanggaran Pembawaan Uang Tunai dan BNI ......................................................................... BAB IV PENGAWASAN KEPATUHAN..................................... IV.1 Pengawasan Kepatuhan Terhadap Prinsip Mengenal Pengguna Jasa ........................................................... IV.1.1 Pihak yang berwenang untuk mengeluarkan pedoman dan melakukan pengawasan terhadap prinsip mengenali pengguna jasa ............................................................ IV.1.2 Prinsip Mengenali Pengguna Jasa ................................. IV. 2 Pengawasan Kepatuhan Terhadap Kewajiban Pelaporan ... IV.2.1 Pelaksanaan Audit ....................................................... IV.2.1.1 Audit Kepatuhan ......................................................... IV.2.1.2 Audit Khusus ............................................................. IV.2.2 Penyampaian hasil audit dan temuan TKM .....................

85 96 97 98 292 297 301 307 307 307 307 308 308 351 363 370 379 379 383 388

388 388 458 458 458 459 461

xvi

IV.2.3 IV.2.4 IV.2.5 BAB V V.1. V.1.1 V.1.2

Tata Cara Pelaksanaan Audit ......................................... Pengecualian Kerahasiaan Bagi Auditor........................... Lain-lain ....................................................................

461 462 462 463 468 468

PENEGAKAN HUKUM............................................... Ruang Lingkup Penanganan Perkara TPPU .................... Sistem Peradilan Pidana Terpadu .................................. Penyidikan, penuntutan dan pemeriksaan di sidang pengadilan terhadap tindak pidana dilakukan berdasarkan peraturan perundang-undangan ..................................... V.1.3 Hasil Analisis atau Hasil Pemeriksaan PPATK .................. V.1.4 Tindak lanjut atas adanya laporan ................................. V.1.5 Pembuatan berita acara ................................................ V.1.6 Pemberitahuan kepada penuntut umum (SPDP)............... V.2 Penyidikan oleh Kepolisian Negara Republik Indonesia .... V.3 Penyidikan oleh Kejaksaan ........................................... V.4 Penyidikan oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).... V.5 Penyidikan oleh Badan Narkotika Nasional (BNN) ........... V.6 Penyidikan oleh Direktorat Jenderal Pajak ...................... V.7 Penyidikan oleh Direktorat Jenderal Bea dan Cukai .......... V.8 Pra Penuntutan ........................................................... V.8.1 Penerimaan Surat Pemberitahuan Dimulainya Penyidikan (SPDP) ..................................................................... V.8.2 Penyerahan Berkas Perkara .......................................... V.9 Penuntutan ................................................................. V.9.1 Penyusunan Surat Dakwaan ......................................... V.9.2 Pelimpahan perkara ke pengadilan ................................. V.9.2.1 Pembuktian ................................................................ V.9.2.2 Tuntutan Pidana.......................................................... V.9.2.3 Sanksi Pidana ............................................................. V.10 Pelaksanaan Putusan ................................................... V.10.1 Eksekusi terhadap badan .............................................. V.10.2 Denda........................................................................ V.10.3 Barang bukti ............................................................... V.10.4 Biaya perkara.............................................................. V.11 Perampasan hasil kejahatan tanpa tuntutan pidana ........... BAB VI KERAHASIAAN DAN PELINDUNGAN ...................... VI.1 Kerahasiaan ................................................................ VI.1.1 Kewajiban merahasiakan ..............................................

468 470 471 471 472 473 546 547 560 597 627 640 641 642 654 656 663 664 684 690 694 695 696 696 697 698 701 703 703

xvii

VI.1.2 VI.2 VI.2.1 VI.2.2 VI.2.3 VI.2.4

Sanksi sengaja membocorkan rahasia oleh direksi, pejabat atau pegawai penyedia jasa keuangan ............................ Pelindungan ............................................................... Pelapor ...................................................................... Saksi ......................................................................... Imunitas..................................................................... Perlindungan khusus....................................................

706 706 706 706 706 707 712 721 725

KEPUSTAKAAN .................................................................... INDEKS ................................................................................. LAMPIRAN ...........................................................................

~o~

xviii

DAFTAR SINGKATAN
A ADB ~ Asia Development Bank AML ~ Anti-money Laundering AMLAT ~ ASEAN Mutual Legal Assistance Treaty APG ~ Asia-Pacific Group APGML ~ Asia Pacific Group on Money Laundering APU ~ Anti Pencucian Uang ARS ~ Alternative Remittance System ASPAL ~ Asli Tapi Palsu B B-10 ~ Label Barang Bukti B-11 ~ Kartu Barang Bukti B-17 ~ Berita Acara Penitipan Barang Bukti B-5 ~ Surat Perintah Penitipan Barang Bukti BA-15 ~ Berita Acara Penerimaan dan Penelitian Tersangka BAPEPAM-LK ~ Badan Pengawas Pasar Modal-Lembaga Keuangan BI ~ Bank Indonesia BIN ~ Badan Intelijen Negara BNI ~ Bearer Negotiable Instruments BNN ~ Badan Narkotika Nasional BPK ~ Badan Pemeriksa Keuangan BPR ~ Bank Perkreditan Rakyat C CBCC ~ Cross Border Cash Carrying CDD ~ Consumer Due Diligence CIF ~ Single Customer Identification File CTED ~ Counter Terrorism Executive Directorate D DJBC ~ Direktorat Jenderal Bea dan Cukai DJKL ~ Direktorat Jenderal Kekayaan Negara DPD ~ Dewan Perwakilan Daerah DPNP ~ DPR ~ Dewan Perwakilan Rakyat DPRD ~ Dewan Perwakilan Rakyat Daerah F FATF ~ Financial Action Task Force FIU ~ Financial Intelligent Unit H HAM ~ Hak Asasi Manusia I IATA ~ International Air Transport Association IFTI ~ International Fund Transfer Instruction IMF ~ International Monetary Fund IUP ~ Ijin Usaha Pertambangan J JPU ~ Jaksa Penuntut Umum K Komite TPPU ~ Komite Koordinasi Nasional Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang dan Pendanaan Terorisme KPK ~ Komisi Pemberantasan Korupsi KTKLN ~ Kartu Tenaga Kerja Luar Negeri KTP ~ Kartu Tanda Penduduk KUHAP ~ Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana KUHP ~ Kitab Undang-Undang Hukum Pidana KUPU ~ Kegiatan Usaha Pengiriman Uang KYC ~ Know Your Customer L LKNB ~ Lembaga Keuangan Non Bank

xix

LPP ~ Lembaga Pengawas dan Pengatur LPS ~ Lembaga Penjamin Simpanan LPSK ~ Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban LPUT ~ Laporan Pembawaan Uang Tunai LSM ~ Lembaga Swadaya Masyarakat M ME ~ Mutual Evaluation MLA ~ Mutual Legal Assistance MoU ~ Memorandum of Understanding MPR ~ Majelis Permusyawaratan Rakyat N NIK ~ Nomor Induk Kependudukan NKRI ~ Negara Kesatuan Republik Indonesia NPO ~ Non Profit Organization NPWP ~ Nomor Pokok Wajib Pajak O OPAC ~ The Office of Foreign Assets Controls P P-18 ~ Surat Pemberitahuan Hasil Penyidikan belum Lengkap P-19) berkas perkara dikembalikan disertai dengan petunjuk guna melengkapi hasil penyidikan P-21 ~ Surat Pemberitahuan Hasil Penyidikan Sudah Lengkap PBB ~ Perserikatan Bangsa-Bangsa PBI ~ Peraturan Bank Indonesia PERPU ~ Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang PERUM ~ Perusahaan Umum PJK ~ Penyedia Jasa Keuangan PMK ~ Peraturan Menteri Keuangan PMN ~ Prinsip Mengenal Nasabah PNS ~ Pegawai Negeri Sipil POLRI ~ Polisi Republik Indonesia PP ~ Peraturan Pemerintah PPT ~ Pemberantasan Pendanaan Terorisme PPATK ~ Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan PPNS ~ Penyidik Pegawai Negeri Sipil PPT ~ Pemberantasan Pendanaan Terorisme PT ~ Perseroan Terbatas PVA ~ Pedagang Valuta Asing

R RB-2 ~ Pencatatan dalam Register Barang Bukti RI ~ Republik Indonesia RP-10 ~ Register Penerimaan Berkas Perkara Tahap Pertama RP-12 ~ Register Perkara Tahap Penuntutan RT/RW ~ Rukun Tetangga/Rukun Warga RTGS ~ Real Time Gross Settlement RUTAN ~ Rumah Tahanan Negara RUU ~ Rancangan Undang-Undang S SDM ~ Sumber Daya Manusia SIAK ~ Sistem Informasi Administrasi Kependudukan SIM ~ Surat Ijin Mengemudi SIPPTKI ~ Surat Izin Pelaksana Penempatan TKI SKB ~ Surat Kesepakatam Bersama SKEP ~ Surat Keputusan SLTP ~ Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama SPBU ~ Stasiun Pengisain Bahan Bakar Umum SPDP ~ Penerimaan Surat Pemberitahuan Dimulainya Penyidikan SPPT ~ Surat Pemberitahuan Pajak Tahunan SR ~ Special Recommendation T TC ~ Traveller’s Cheque TKI ~ Tenaga Kerja Indonesia TKM ~ Transaksi Keuangan Mencurigakan TKP ~ Tempat Kejadian Perkara TKT ~ Transaksi Keuangan Tunai TNI ~ Tentara Nasional Indonesia TPPU ~ Tindak Pidana Pencucian Uang U UJPU ~ Usaha Jasa Pengiriman Uang UU TPPU ~ Undang-Undang Tindak Pidana Pencucian Uang W WIC ~ Walk In Customer WNA ~ Warga Negara Asing Z ZEEI ~ Zona Ekonomi Eksklusif Indonesia

~o~

xx

Pengantar

1

PENGANTAR
Bagian Pengantar ini menguraikan secara ringkas tentang sejarah, metode, tipologi, faktor-faktor yang membuat maraknya praktik pencucian uang, dampak negatif yang ditimbulkannya dan beberapa alasan pengkriminalisasian praktik pencucian uang

2

Ikhtisar Ketentuan AML & CFT

Daftar Isi Halaman A. Praktik Pencucian Uang ....................................................................... 1. 2. 3. B. Sejarah Ringkas ............................................................................... Penyebab Maraknya Pencucian Uang ......................................... Metode dan Tahapan Pencucian Uang ....................................... 2 2 7 14 16

Alasan Kriminalisasi Pencucian Uang ...............................................

Pengantar

3

A. Praktik Pencucian Uang 1. Sejarah Ringkas1

Sejak tahun 1980-an praktik pencucian uang sebagai suatu tindak kejahatan telah menjadi pusat perhatian dunia barat, terutama dalam konteks kejahatan peredaran obat-obat terlarang (psikotropika dan narkotika). Perhatian yang cukup besar itu muncul karena besarnya hasil atau keuntungan yang dapat diperoleh dari penjualan obat-obat terlarang tersebut. Selain itu juga karena adanya kekhawatiran akan dampak negatif dari penyalahgunaan obat-obat terlarang di masyarakat serta dampak lain yang mungkin ditimbulkannya. Keadaan ini kemudian menjadi perhatian serius banyak negara untuk melawan para pengedar obat-obat terlarang melalui hukum dan peraturan perundang-undangan agar mereka tidak dapat menikmati uang haram hasil penjualan obatobat terlarang tersebut. Sementara itu, pemerintah negara-negara tersebut juga menyadari bahwa organisasi kejahatan melalui uang haram yang dihasilkannya dari penjualan obat-obat terlarang tersebut bisa mengkontaminasi dan menimbulkan distorsi di segala aspek kehidupan baik pemerintahan, ekonomi, politik dan sosial. Sekarang ini fakta menunjukkan bahwa pencucian uang sudah menjadi suatu fenomena global melalui infrastuktur finansial internasional yang beroperasi selama 24 jam sehari. Pengedar obat-obat terlarang di beberapa negara dan wilayah perbatasan internasional telah memberikan kontribusi yang besar terhadap internasionalisasi kejahatan. Negara-negara penghasil obat terlarang seperti kokain dan heroin umumnya bukanlah negara-negara yang mengkonsumsinya, melainkan mereka menjualnya ke negara lain dengan menggunakan sarana transportasi baik darat, laut ataupun udara. Setiap pengangkutan barang atau pendistribusian obat-obat terlarang tersebut selalu berhadapan dengan petugas bea dan cukai di masingmasing negara. Kasus-kasus baru di AS, terutama di wilayah perbatasan dengan Meksiko, mengungkapkan adanya jaringan-jaringan yang menghubungan kedua negara tersebut. Penyelundupan melalui pesawat swasta merupakan cara yang umum untuk memindahkan obat-obat terlarang antara kedua negara, termasuk juga penggunaan jasa kurir untuk mengangkut obat-obat terlarang sampai ke pesawat komersial.

1 Priyanto, dkk, Rezim Anti Pencucian Uang Indonesia: Perjalanan 5 Tahun, Jakarta: PPATK, 2007, hal. 14-30.

4

Ikhtisar Ketentuan AML & CFT

Dengan demikian pola-pola penyelundupan obat-obatan terlarang sebenarnya cukup mudah untuk dideteksi oleh petugas bea dan cukai. Kesadaran akan berbagai dampak buruk yang ditimbulkan oleh praktik pencucian uang telah mengangkat persoalan pencucian uang menjadi isu yang lebih penting daripada era sebelumnya. Kemajuan komunikasi dan transportasi membuat dunia terasa semakin sempit, sehingga penyembunyian kejahatan dan hasil-hasilnya menjadi lebih mudah dilakukan. Pelaku kejahatan memiliki kemampuan untuk berpindah-pindah tempat termasuk memindahkan kekayaannya ke negara-negara lain dalam hitungan hari, jam, menit, bahkan dalam hitungan detik. Dana dapat ditransfer dari satu pusat keuangan dunia ke tempat lain secara real time melalui sarana online system. Laporan PBB tahun 1993 mengungkapkan bahwa ciri khas mendasar pencucian harta kekayaan hasil kejahatan yang juga meliputi operasi kejahatan terorganisir dan transnasional adalah bersifat global, fleksibel dan sistem operasinya selalu berubah-ubah, pemanfaatan fasilitas teknologi canggih serta bantuan tenaga profesional, kelihaian para operator dan sumber dana yang besar untuk memindahkan danadana haram itu dari satu negara ke negara lain. Namun selain itu, satu karakteristik yang jarang dicermati adalah deteksi secara terus-menerus atas profit dan ekspansi ke area-area baru untuk melakukan kegiatan kejahatan. Berdasarkan studi yang dilakukan terhadap arsip-arsip polisi Kanada menunjukkan bahwa lebih dari 80 persen dari semua skema pencucian uang memiliki dimensi internasional. ”Operation Green Ice” yang dilakukan pada tahun 1992 menunjukkan adanya sifat transnasional dari praktik pencucian uang dalam dunia modern sekarang. Di Amerika Serikat, investigasi tindak pidana yang berdimensi pencucian uang mulai dilakukan pertama kali pada awal tahun 1920, yaitu terhadap kejahatan narkotika di Hawai yang pelakunya hanya dituntut tindak pidana penghindaran pajak. Pada saat itu, jutaan dolar dicuci melalui beberapa lembaga keuangan, tidak membayar pajak dan digunakan untuk membeli asset. Tidak ada jejak dokumen yang tersedia yang bisa diperoleh dari lembaga keuangan kecuali dari rekening bank. Hal ini dikarenakan pada masa itu bank tidak memiliki kewajiban untuk melapor atas transaksi-transaksi yang dilakukan dalam jumlah besar. Baru pada tahun 1970 Kongres AS membuat Bank Secrecy Act (BSA). Berdasarkan BSA tersebut, pemerintah Amerika Serikat memberlakukan Currency Transaction Report (CTR, Form 4789), Report of International Transportation of Currency or Monetary Instruments

Pengantar

5

(CMIR, Form 4790) dan Report of Foreign Bank and Financial Accounts (FBAR, Form TD F 90-22.1). Dengan adanya BSA tersebut maka terdapat jejak dokumen bagi aparat penegak hukum untuk melacak uang-uang yang pajaknya tidak dibayarkan dan jutaan dolar yang dicuci melalui bank-bank Amerika. Dalam perkembangannya, IRS telah dapat melakukan penelusuran jejak dokumen guna mengacaukan atau memecah-belah organisasi kejahatan pencucian uang dan pengedar obat terlarang melalui investigasi, penuntutan, dan perampasan aset hasil kejahatan. Upaya-upaya pemberantasan kejahatan dan terutama jaringan teroris memicu terjadinya saling kejar antara aparat penegak hukum dengan pelaku pencucian uang. Hingga kini, pelaku pencuci uang sepertinya menjadi pemenang. Di berbagai belahan dunia ada sejumlah negara yang memiliki keterbatasan regulasi di bidang perbankan tetapi menerapkan undang-undang rahasia bank dan privasi dengan ketat sehingga bank-bank di negara-negara tersebut merupakan tempat ideal bagi pencuci uang untuk melakukan kegiatannya. Meskipun adanya tekanan masyarakat internasional untuk memaksa bank-bank di dunia untuk lebih transparan, namun hal itu hanya akan memberikan progres yang terbatas, kecuali apabila payung hukumnya telah diciptakan secara komprehensif. Tidak dipungkiri lagi, bahwa organisasi kejahatan dan pelaku teroris telah mengembangkan berbagai macam “trik” untuk mengecohkan para investigator di bidang kejahatan finansial agar mereka kesulitan mengungkapnya. Salah satunya dengan cara “starburst”, yaitu suatu bank menerima setoran uang dari kegiatan kejahatan dalam jumlah besar dan kemudian secara otomatis uang didistribusikan dalam beberapa ”parcel kecil” ke beberapa rekening bank yang berbeda-beda di lokasi yang berbeda pula sesuai instruksi pemilik uang. Cara lain adalah “boomerang”, yaitu uang dikirim melalui beberapa rekening yang berbeda-beda kepada rekening-rekening bank di seluruh dunia dengan melewati negara yang ketentuan rahasia banknya sangat ketat, sehingga investigasi atas transaksi keuangan sangat sulit dilakukan secara pasti untuk dapat mengidentifikasi uang yang telah dikirim itu kembali ke rekening semula. Di samping isu pencucian uang, pendanaan teroris juga telah terangkat menjadi isu global khususnya saat terjadi kasus runtuhnya gedung World Trade Centre (WTC) pada tanggal 11 September 2001. Mulai sejak itu, tindak pidana pendanaan teroris telah “dipaksakan” masuk dalam konteks

6

Ikhtisar Ketentuan AML & CFT

pencucian uang. Memang, pada tahap awal uang bisa terlihat “tidak haram” sama sekali, uang tetap akan “bersih” sampai uang tersebut digunakan untuk melakukan suatu kegiatan teroris. Teroris lebih cenderung tergantung pada uang tunai karena itu lebih sulit dideteksi. Sudah menjadi tradisi lama bahwa uang tunai dapat diperoleh dengan cara merampok atau melakukan kejahatan lain, atau berasal dari sumbangan partisipan. Josef Stalin, salah seorang teroris terkenal, memulai aksinya dengan merampok suatu bank untuk kepentingan Communist Party. Sebagian kecil uang dikirim ke para simpatisan yang kemudian menyimpannya dalam rekening koran untuk digunakan oleh jaringan organisasi berdasarkan permintaan. Sedangkan teroris tradisional tergantung pada metode berteknologi rendah seperti cara Hawala agar mereka tidak perlu menyimpan uang tunai dalam jumlah besar. Dalam penggunaan jasa pengiriman uang secara Hawala, yaitu praktek pendanaan model Middle Eastern kuno, di mana seorang pemilik usaha Hawala (underground banking system) menyebarkan uang dengan ucapan verbal (janji) bahwa uang telah disetorkan di tempat tertentu dan apabila diperlukan setiap saat dapat diambil kembali baik di tempat yang sama maupun di tempat lain sesuai kesepakatan. Integritas Hawala telah lama diberlakukan secara tradisi, yang dalam prakteknya dilakukan dengan sangat hati-hati dan karena itu sangat sulit dilacak oleh aparat penegak hukum. Kejahatan terorganisir dengan bentuk dan latar belakang etnik yang berbeda-beda juga merupakan suatu masalah tersendiri bagi negaranegara di dunia. Home-grown syndicate telah memberikan andil penting bagi kelangsungan organisasi kejahatan dan kejahatan itu sendiri. Misalnya, mereka dapat memindahkan hasil kejahatan dari satu tempat ke tempat lain, dari satu kota ke kota lain, serta bisa menghubungi dan memberikan fasilitas di negara-negara asing seperti anggota Japan’s Boryokudan, Sicily’s Mafia, atau kartel obat terlarang Kolombia. Home-grown syndicate menjadi tantangan serius bagi aparat penegak hukum di berbagai negara. Saat ini, seorang pencuri perhiasan di Perancis dapat menemui penadahnya di New York pada hari kerja yang sama, dan dapat memperoleh uang di Hong Kong sehari sebelumnya. Begitupun, bukanlah hal yang mustahil lagi bagi apara penegak hukum untuk mengetahui pola-pola kejahatan terorganisir tersebut dan mengidentifikasi serta menangkap semua orang yang terlibat di dalamnya. Istilah pencucian uang (money laundering) pertama kali muncul pada tahun 1920-an ketika para mafia di Amerika Serikat mengakusisi atau membeli usaha Laundromats (mesin pencuci otomatis). Ketika itu anggota mafia mendapatkan uang dalam jumlah besar dari kegiatan

Pengantar

7

pemerasan, prostitusi, perjudian dan penjualan minuman beralkohol illegal serta perdagangan narkotika. Oleh karena anggota mafia diminta menunjukkan sumber dananya agar seolah-olah sah atas perolehan uang tersebut maka mereka melakukan praktik pencucian uang. Salah satu cara yang dilakukan adalah dengan seolah-olah membeli perusahaanperusahaan yang sah dan menggabungkan uang haram dengan uang yang diperoleh secara sah dari kegiatan usaha (Laundromats) tersebut. Alasan pemanfaatan usaha Laundromats tersebut karena sejalan dengan hasil kegiatan usaha laundromats yaitu dengan menggunakan uang tunai (cash). Cara seperti ini ternyata dapat memberikan keuntungan yang menjanjikan bagi pelaku kejahatan seperti Alphonse Capone. Jeffrey Robinson mengemukakan bahwa kasus Al Capone seolaholah menggambarkan bahwa istilah pencucian uang muncul sejak kasus tersebut ada, padahal itu hanya sebagai mitos belaka. Pencucian uang dikenal demikian karena dengan jelas melibatkan tindakan penempatan uang haram atau tidak sah melalui suatu rangkaian transaksi, atau dicuci, sehingga uang tersebut keluar menjadi seolah-olah uang sah atau bersih. Artinya, sumber dana yang diperoleh secara tidak sah disamarkan atau disembunyikan melalui serangkaian transfer dan transaksi agar uang tersebut pada akhirnya terlibat menjadi pendapatan yang sah. Pendapat lain mengatakan bahwa money laundering sebagai sebutan sebenarnya belum lama dipakai. Billy Steel mengemukakan, istilah money laundering pertama kali digunakan pada surat kabar di Amerika Serikat sehubungan dengan pemberitaan skandal Watergate pada tahun 1973 di Amerika Serikat. Sedangkan penggunaannya dalam konteks pengadilan atau hukum muncul pertama kali pada tahun 1982 dalam kasus US v $4.255.625,39 (1982) 551 F Supp, 314. Sejak itulah istilah money laundering diterima dan digunakan secara luas di seluruh dunia.

2.

Penyebab Maraknya Pencucian Uang

Paling sedikit ada 9 (sembilan) faktor yang menjadi pendorong maraknya kegiatan pencucian uang di suatu negara. Pertama, globalisasi sistem keuangan, dimana Pino Arlacchi, Executive Director UN Offices for Drug Control and Crime Prevention, pernah mengungkapkan bahwa “globalisation has turned the international financial system into a money launderer’s dream, and this criminal process siphons away billions of dollars per year from economic growth at a time when the financial health of every country

8

Ikhtisar Ketentuan AML & CFT

affects the stability of the global marketplace”.2 Kedua, kemajuan di bidang teknologi-informasi. Dengan kemajuan teknologi informasi tersebut, seperti kemunculan internet di dunia maya (cyber space) pada era sekarang telah membuat batas-batas negara menjadi tidak berarti lagi. Dunia menjadi satu kesatuan tanpa batas. Akibatnya, kejahatan-kejahatan terorganisir (organized crime) yang diselenggarakan organisasi-organisasi kejahatan (criminal organizations) menjadi mudah dilakukan secara lintas batas negara. Kejahatan-kejahatan tersebut kemudian berkembang menjadi kejahatan-kejahatan transnasional. Dalam hubungan ini, William C. Gilmore mengemukakan, bahwa “among the factors which have contributed to the growth of cross border criminal activity pride of place must go to the technological revolution witnessed since the end of the second world war”. Pada saat ini, individu ataupun organisasi kejahatan dapat secara mudah dan cepat memindahkan jumlah uang yang sangat besar dari satu yurisdiksi ke yurisdiksi yang lain melalui Automated Teller Machines (ATMs), sehingga dimungkinkan untuk memindahkan dana (to wire funds) ke rekening-rekening bank mereka di negara-negara lain. Penarikan uang melalui ATMs di seluruh dunia dapat dilakukan seketika dan tanpa diketahui siapa pelakunya.3 Ketiga, ketentuan rahasia bank yang sangat ketat. Sehubungan dengan reformasi di bidang perpajakan (tax reforms), Uni Eropa pernah menghimbau negara-negara anggotanya untuk meniadakan ketentuanketentuan yang menyangkut rahasia bank. Menurut delegasi Inggris, Uni Eropa hanya dapat secara serius memerangi tax evasion (sebagai kejahatan asal pencucian uang) apabila Uni Eropa mempertimbangkan mengenai dihapuskannya ketentuan rahasia bank. Gagasan ini telah ditentang dengan keras oleh Luxembourg dan Austria. Perdana Menteri dan Menteri Keuangan Luxembourg, Jean Claude Juncker, mengemukakan bahwa perdebatan mengenai hal ini tidak bernalar. Menteri Keuangan Austria, Karl-Heinz Grasser mengemukakan “The proposal from Britain certainly will not meet with our approval”.4 Keempat, penggunaan nama samaran atau anonim. Di suatu negara
2 3

Lihat http://www.fas.org/irp/news/2000/04/20000414, diakses pada tanggal 15 April 2008.

William C. Gilmore, Dirty Money: The Evolution of International Measures to Counter Money Laundering and the Financing of Terrorism, third edition, Germany: KoelblinFortuna-Druck, 2004.
4

Priyanto, dkk, Op.Cit., hal. 30-42/

Pengantar

9

terdapat ketentuan perbankan yang memperbolehkan penggunaan nama samaran atau anonim bagi nasabah (indvidu dan korporasi) yang menyimpan dana di suatu bank. Contoh misalnya negara Austria pernah ditengarai sebagai salah satu negara yang banyak dijadikan pangkalan untuk kegiatan pencucian uang dari para koruptor dan berbagai organisasi yang bergerak dalam perdagangan narkoba. Oleh sebab itu, The Financial Action Task Force on money laundering (FATF), telah menyampaikan rekomendasinya agar Austria dibekukan (suspended) sebagai anggota FATF terhitung 15 Juni 2000, karena Austria tidak bertindak apa pun untuk meniadakan dilakukannya penyimpanan dana tanpa nama (anonymous saving “passbook” accounts). Bertahun-tahun lamanya FATF sangat prihatin terhadap masalah anonymous passbook di Austria dan telah menjadikan masalah ini sebagai agenda yang penting. Pembekuan (suspension) keanggotaan Austria tersebut akan terjadi secara otomatis kecuali apabila sebelum tanggal 20 Mei 2000 Pemerintah Austria: (i) mengeluarkan pernyataan politik yang jelas bahwa pemerintah Austria akan melakukan semua langkah yang diperlukan untuk meniadakan sistem anonymous passbook sesuai dengan the 40 FATF Recommendations selambat-lambatnya Juni 2002; dan (ii) mengajukan kepada Parlemen dan mendukung RUU untuk melarang pembukaan anonymous passbook baru dan meniadakan anonymous passbook yang telah ada sesuai dengan butir (i) tersebut. Selanjutnya, tidak boleh dilakukan tindakan-tindakan lain oleh Austria yang akan merongrong pemberantasan pencucian uang, misalnya memperketat ketentuan rahasia bank sedemikian rupa sehingga bertentangan dengan the Forty Recommendations FATF. Delegasi Austria ke FATF meminta untuk dicatat bahwa ketentuan yang diusulkan sehubungan dengan peniadaan anonymous passbook tersebut berkaitan dengan putusan politik yang hanya dapat dipertimbangkan pada tingkat politik. Oleh karena itu delegasi Austria hanya dapat mencatat saja dan segera mengkomunikasikan hal tersebut kepada Pemerintah Austria. Ketentuan untuk melarang pembukaan anonymous accounts di Swiss telah ditiadakan pada Juli 1992 ketika otoritas Swiss mengeluarkan peraturan perbankan yang baru. Menurut ketentuan yang baru itu, nasabah bank atau kuasa hukumnya harus secara penuh disebut identitasnya. Klien diharuskan pula untuk menyampaikan dokumen yang membuktikan asal-usul dana yang didepositokan dengan cara menunjukkan fakturfaktur (invoices) atau perjanjian-perjanjian bisnis yang mendasarinya.5
5

Lihat OECD News Release, 3 Februari 2000.

10

Ikhtisar Ketentuan AML & CFT

Kelima, penggunaan electronic money (e-money).6 Munculnya jenis uang baru yang disebut electronic money (e-money), yang tidak terlepaskan dengan maraknya electronic commerce (e-commerce) melalui internet. Praktik pencucian uang yang dilakukan dengan menggunakan jaringan internet (Cyberspace) ini disebut Cyberlaundering. Produkproduk e-money yang telah dikembangkan terutama untuk digunakan melalui jaringan komputer terbuka (open computer networks), tanpa melakukan face-to-face purchases (pembelian yang dilakukan dengan langsung hadirnya penjual dan pembeli di tempat berlangsungnya kegiatan jual-beli). Fasilitas ini baru tersedia secara terbatas di sebagian negara-negara yang termasuk anggota G-10. Sistem tersebut dapat menyediakan cara untuk membeli barang dan/atau jasa melalui internet. Peningkatan e-commerce yang dilakukan melalui jaringan komputer pada gilirannya dapat pula mendorong pertumbuhan e-money. Para ahli FATF telah menemukan beberapa contoh kegiatan pencucian uang dengan menggunakan on-line banking. Denmark pernah mengemukakan bahwa sebuah webside dalam dunia maya di yuridiksi lain digunakan untuk menawarkan jasa-jasa pencucian uang dan menggunakan nama lembaga keuangan tertentu sebagai samaran bagi kegiatan tersebut. Beberapa negara anggota FATF juga mengemukakan contoh-contoh digunakannya internet untuk melakukan kegiatan-kegiatan melanggar hukum (frauds). Mengingat perkembangan yang pesat dari jasa-jasa on-line banking sekarang ini, menurut FATF sulit sekali untuk dapat mengemukakan apakah berkurangnya kasus-kasus pencucian uang yang melibatkan on-line banking adalah karena memang kehadiran praktik pencucian uang tidak ada lagi atau karena ketidakmampuan aparat penegakan hukum untuk mendeteksi kegiatan tersebut. Keenam, praktik pencucian uang secara layering. Dengan cara layering, pihak yang menyimpan dana di bank (nasabah penyimpan dana atau deposan bank) bukanlah pemilik yang sesungguhnya dari dana itu. Deposan tersebut hanyalah sekedar bertindak sebagai kuasa atau pelaksana amanah dari pihak lain yang menugasinya untuk mendepositokan uang di sebuah bank. Sering pula terjadi bahwa pihak lain tersebut juga bukan pemilik yang sesungguhnya dari dana itu, tetapi hanya sekadar menerima amanah atau kuasa dari seseorang atau pihak lain yang menerima kuasa dari pemilik yang sesungguhnya. Dengan kata lain, penyimpan dana tersebut juga tidak mengetahui siapa pemilik

6

Priyanto, dkk, Op.Cit., hal. 32-33.

Pengantar

11

yang sesungguhnya dari dana tersebut, karena dia hanya mendapat amanah dari kuasa pemiliknya. Bahkan sering terjadi bahwa orang yang memberi amanat kepada penyimpan dana yang memanfaatkan uang itu di bank ternyata adalah lapis yang kesekian sebelum sampai kepada pemilik yang sesungguhnya. Dengan kata lain, terjadi estafet secara berlapis-lapis. Biasanya para penerima kuasa yang bertindak berlapislapis secara estafet itu adalah kantor-kantor pengacara. Penegak hukum seringkali mengalami kesulitan untuk mendeteksi penyembunyian hasilhasil kejahatan secara layering. Dalam hal ini, uang yang telah ditempatkan pada sebuah bank dipindahkan ke bank lain, baik bank yang ada di negara tersebut maupun di negara lain. Pemindahan itu dilakukan beberapa kali, sehingga sangat sulit dilacak sekalipun telah ada kerjasama antar penegak hukum secara nasional, regional dan internasional. Ketujuh, berlakunya ketentuan hukum terkait kerahasiaan hubungan antara lawyer dan akuntan dengan kliennya masing-masing. Dalam hal ini, dana simpanan di bank-bank sering diatasnamakan suatu kantor pengacara. Menurut hukum di kebanyakan negara yang telah maju, kerahasiaan hubungan antara klien dan lawyer dilindungi oleh undang-undang. Para lawyer yang menyimpan dana simpanan di bank atas nama kliennya tidak dapat dipaksa oleh otoritas yang berwenang untuk mengungkapkan identitas kliennya. Kedelapan, pemerintah dari suatu negara kurang bersungguhsungguh untuk memberantas praktik pencucian uang yang dilakukan melalui sistem perbankan. Dengan kata lain, pemerintah yang bersangkutan memang dengan sengaja membiarkan praktik pencucian uang berlangsung di negaranya guna memperoleh keuntungan dengan penempatan uang-uang haram di industri perbankan guna membiayai pembangunan. Seperti negara Swiss, meskipun negara ini telah memiliki peraturan perbankan yang baru, tetapi otoritas Swiss sangat enggan mengambil tindakan terhadap nasabah-nasabah yang dicurigai. Tindakan otoritas Swiss hanya akan dilakukan apabila pemerintah negara asing dapat menyampaikan fakta atau bukti yang kuat atas tuntutannya dan memenuhi prosedur yang sangat ketat berkenaan dengan tuntutan tersebut.7

7 James Petras, “Dirty Money: Foundation of US Growth and Empire Size and Scope of Money Laundering by US Bank”, http://www.globalresearch.ca/articles/ PET1 08A.html, diakses pada tanggal 15 April 2008.

12

Ikhtisar Ketentuan AML & CFT

Kesembilan, tidak dikriminalisasinya perbuatan pencucian uang di suatu negara. Dengan kata lain, negara tersebut tidak memiliki undangundang tentang pemberantasan tindak pidana pencucian uang yang menentukan perbuatan pencucian uang sebagai tindak pidana. Belum adanya undang-undang tentang pemberantasan tindak pencucian uang di negara tersebut biasanya juga karena adanya keengganan dari negara tersebut untuk bersungguh-sungguh ikut aktif memberantas praktik pencucian uang secara internasional dan di negaranya sendiri.8 Praktik pencucian uang menimbulkan dampak negatif. Menurut John McDowell & Gary Novis (2001)9 , kegiatan pencucian uang dapat merongrong sektor swasta yang sah. Untuk menyembunyikan dan mengaburkan hasil-hasil kejahatannya, para pencuci uang seringkali menggunakan perusahaan-perusahaan tertentu untuk mencampuradukkan uang haram dengan uang yang sah. Perusahaanperusahaan yang diciptakan untuk melakukan pencucian uang, mengelola dana dalam jumlah besar, yang digunakan untuk mensubsidi barang dan/atau jasa yang akan dijual di bawah harga pasar. Bahkan, perusahaan-perusahaan tersebut dapat menawarkan barang-barang pada harga di bawah biaya poduksi. Dengan demikian perusahaan-perusahaan tersebut memiliki competitive advantage terhadap perusahaanperusahaan sejenis yang bekerja secara sah. Sebagai konsekuensinya bisnis yang sah kalah bersaing dengan perusahaan-perusahaan tersebut sehingga dapat mengaki-batkan perusahaan-perusahaan yang sah menjadi bangkrut atau gulung tikar. Kegiatan pencucian uang juga dapat merongrong integritas pasarpasar keuangan. Likuiditas dari lembaga-lembaga keuangan (financial institutions) seperti bank akan menjadi buruk apabila dalam operasionalnya cenderung mengandalkan dana hasil kejahatan. Misalnya, hasil kejahatan pencucian uang dalam jumlah besar yang baru saja ditempatkan pada suatu bank, namun tiba-tiba ditarik dari bank tersebut tanpa pemberitahuan terlebih dahulu. Akibatnya bank tersebut mengalami masalah likuiditas yang cukup serius (liquidity risk). Michel Camdessus, mantan Managing Director IMF, memperkirakan bahwa jumlah uang haram yang terlibat dalam kegiatan pencucian uang sekitar 2 hingga 5 persen dari gross domestic product
8 9

Sutan Remy Sjahdeini, Seluk-Beluk Pencucian Uang, Jakarta: Grafiti Press, 2007.

John McDowell & Gary Novis, “The Consequences of Money and Financial Crime”, May 2001, lihat www.usteas.gov, dikases pada tanggal 15 April 2008.

Pengantar

13

dunia, atau sekurang-kurangnya US$ 600.000 juta. Apabila uang haram dalam jumlah besar ini masuk dalam sirkulasi ekonomi dan perdagangan suatu negara, khususnya negara berkembang atau negara ketiga, hal ini akan mengakibatkan hilangnya kendali pemerintah terhadap kebijakan ekonominya. Selain itu, pencucian uang dapat pula menimbulkan dampak negatif terhadap nilai mata uang dan tingkat suku bunga karena uang haram yang telah diinvestasikan secara cepat ditarik untuk ditempatkan kembali di negara-negara yang tingkat keamanan atau kerahasiaannya cukup ketat. Dana investasi yang bersifat sementara itu akan menyulitkan otoritas dalam mewujudkan nilai mata uang dan suku bunga yang stabil. Dalam pada itu, praktik pencucian uang juga dapat meningkatkan ancaman terhadap ketidakstabilan moneter sebagai akibat terjadinya misalokasi sumber daya (misallocation of resources) karena distorsi-distorsi aset dan harga-harga komoditas banyak yang direkayasa. Singkatnya, pencucian uang dan kejahatan di bidang keuangan (financial crime) dapat mengakibatkan terjadinya perubahanperubahan yang tidak dapat dijelaskan penyebabnya terhadap jumlah permintaan terhadap uang (money demand) dan meningkatkan volatilitas dari arus modal internasional (international capital flows), suku bunga, dan nilai tukar mata uang. Sifat pencucian uang yang tidak dapat diduga itu menyebabkan hilangnya kendali pemerintah terhadap kebijakan ekonominya, sehingga kebijakan ekonomi yang sehat sulit tercapai. Ada tendensi bahwa penanaman dana hasil kejahatan untuk tujuan pencucian uang bukan semata-mata untuk mencari keuntungan, tetapi para pelaku lebih tertarik untuk melindungi hasil kejahatannya. Pencuci uang tidak pernah mempertimbangkan apakah dana yang diinvestasikan tersebut bermanfaat bagi negara penerima dana atau investasi. Akibat sikap mereka seperti itu mengakibatkan pertumbuhan ekonomi suatu negara dapat terganggu. Misalnya, industri konstruksi dan perhotelan di suatu negara dibiayai oleh pelaku pencuci uang bukan karena adanya permintaan yang nyata (actual demand) di sektor-sektor tersebut, tetapi karena terdorong oleh adanya kepentingan-kepentingan jangka pendek. Dalam hal pencuci uang merasa terganggu kepentingannya, setiap saat mereka dapat menarik investasinya yang pada akhirnya mengakibatkan sektor-sektor usaha tersebut ambruk dan memperparah kondisi ekonomi negara bersangkutan. Pendapatan pajak pemerintah bisa berkurang karena kaburnya dana hasil kejahatan. Biasanya pemerintah setiap tahun telah mentargetkan pendapatan pajaknya. Dalam hal harta kekayaan yang menjadi objek pajak dipindahkan ke luar yuridiksi mengakibatkan target perolehan

14

Ikhtisar Ketentuan AML & CFT

pajak tidak tercapai. Untuk memenuhi target ini, pemerintah membuat kebijakan untuk meningkatkan tarif pengenaan pajak yang dapat merugikan wajib pajak lainnya (higher tax rates). Pelaku pencucian uang juga dapat mengancam upaya-upaya terencana pemerintah dalam melaksanakan program privatisasi. Dengan kepemilikan dana yang cukup besar, mereka dapat membeli sahamsaham perusahaan negara yang diprivatisasi meskipun harganya jauh lebih tinggi daripada calon-calon pembeli yang lain. Hal ini dilakukan semata-mata untuk menyembunyikan atau menyamarkan hasil kejahatannya, dan bukan untuk memperoleh keuntungan melalui investasi tersebut. Maraknya kegiatan pencucian uang dan kejahatan di bidang keuangan (financial crimes) di suatu negara dapat mengakibatkan terkikisnya kepercayaan pasar terhadap sistem dan institusi keuangan negara yang bersangkutan. Rusaknya reputasi tersebut dapat mengakibatkan hilangnya peluang-peluang bisnis yang sah. Hal tersebut pada gilirannya bisa mengganggu kesinambungan pembangunan dan pertumbuhan ekonomi. Hasil-hasil kejahatan yang telah dicuci oleh pelaku kejahatan, besar kemungkinan akan dimanfaatkan kembali untuk memperluas aksi-aksi kejahatan mereka. Sebagai konsekuensinya, pemerintah akan mengeluarkan biaya tambahan untuk kegiatan penegakan hukum dan damak-dampak lain yang ditimbulkannya. Apabila hasil kegiatan pencucian uang itu jumlahnya besar, dapat dimanfaatkan oleh pelaku pencuci uang mengalihkan kekuatan ekonomi, bahkan mengendalikan atau bahkan mengambil alih pemerintah berkuasa.

3.

Metode dan Tahapan Pencucian Uang

Ada tiga metode pencucian uang yang telah cukup dikenal oleh masyarakat internasional, yaitu buy and sell conversions, offshore conversions, dan Legitimate business conversions. 10 Buy and sell conversions dilakukan melalui jual-beli barang dan jasa. Sebagai contoh, real estate atau aset lainnya dapat dibeli dan dijual kepada co-conspirator yang menyetujui untuk membeli atau menjual dengan harga yang lebih

10 Yunus Husein, Bunga Rampai Anti Pencucian Uang, Bandung: Books Terrace & Library, 2007.

Pengantar

15

tinggi daripada harga yang sebenarnya dengan tujuan untuk memperoleh fee atau discount. Kelebihan harga dibayar dengan menggunakan uang i1egal dan kemudian dicuci melalui transaksi bisnis. Dengan cara ini setiap aset, barang atau jasa dapat diubah seolah-seolah menjadi hasil yang legal melalui rekening pribadi atau perusahaan yang ada di suatu bank Dalam offshore conversions dana ilegal dialihkan ke wilayah yang merupakan tax haven money laundering centers dan kemudian disimpan di bank atau lembaga keuangan yang ada di wilayah tersebut. Dana tersebut lalu digunakan antara lain untuk membeli aset dan investasi (fund investments). Di wilayah atau negara yang merupakan tax heaven terdapat kecenderungan hukum perpajakan yang lebih longgar, ketentuan rahasia bank yang cukup ketat dan prosedur bisnis yang sangat mudah sehingga memungkinkan adanya perlindungan bagi kerahasiaan suatu transaksi bisnis, pembentukan dan kegiatan usaha trust fund maupun badan usaha lainnya. Kerahasiaan inilah yang memberikan ruang gerak yang leluasa bagi pergerakan ”dana kotor” melalui berbagai pusat keuangan di dunia. Dalam metode offshore conversions ini, para pengacara, akuntan, dan pengelola dana biasanya sangat berperan dengan memanfaatkan celah yang ditawarkan oleh ketentuan rahasia bank dan rahasia perusahaan. Metode legitimate business conversions dipraktekkan melalui bisnis atau kegiatan usaha yang sah sebagai sarana untuk memindahkan dan memanfaatkan hasil kejahatan. Hasil kejahatan dikonversikan melalui transfer, cek, atau instrumen pembayaran lainnya, yang kemudian disimpan di rekening bank atau ditarik atau ditransfer kembali ke rekening bank lainnya. Metode ini memungkinkan pelaku kejahatan menjalankan usaha atau bekerja sama dengan mitra bisnisnya dan menggunakan rekening perusahaan yang bersangkutan sebagai tempat penampungan untuk hasil kejahatan yang dilakukan. Dalam melakukan pencucian uang, pelaku tidak terlalu mempertimbangkan hasil yang akan diperoleh, dan besarnya biaya yang harus dikeluarkan, karena tujuan utamanya adalah untuk menyamarkan atau menghilangkan asal-usul uang sehingga hasil akhirnya dapat dinikmati atau digunakan secara aman. Sekalipun terdapat berbagai macam tipologi atau modus operandi pencucian uang, namun pada dasarnya proses pencucian uang dapat dikelompokkan ke dalam tiga tahap kegiatan yaitu placement, layering

16

Ikhtisar Ketentuan AML & CFT

dan integration.11 Dalam praktiknya ketiga kegiatan tersebut dapat terjadi secara terpisah atau simultan, namun pada umumnya dilakukan secara tumpang tindih. Placement adalah upaya menempatkan dana yang dihasilkan dari suatu kegiatan tindak pidana ke dalam sistem keuangan. Bentuk kegiatan ini antara lain : (a) menempatkan dana pada bank. Kadang-kadang kegiatan ini diikuti dengan pengajuan kredit/ pembiayaan; (b) menyetorkan uang pada PJK sebagai pemba-yaran kredit untuk mengaburkan adit trail; (c) menyelundupkan uang tunai dari suatu negara ke negara lain; (d) membiayai suatu usaha yang seolah-olah sah atau terkait dengan usaha yang sah berupa kredit/pembiayaan, sehingga mengubah kas menjadi kredit/pembiayaan; dan (e) membeli barangbarang berharga yang bernilai tinggi untuk keperluan pribadi, membelikan hadiah yang nilainya mahal sebagai penghar-gaan/hadiah kepada pihak lain yang pemba-yarannya dilakukan melalui PJK. Layering adalah upaya memisahkan hasil tindak pidana dari sumbernya yaitu tindak pidananya melalui beberapa tahap transaksi keuangan untuk menyembunyikan atau menyamarkan asal-usul dana. Dalam kegiatan ini terdapat proses pemindahan dana dari beberapa rekening atau lokasi tertentu sebagai hasil placement ke tempat lain melalui serangkaian transaksi yang kompleks dan didesain untuk menyamarkan dan menghilangkan jejak sumber dana tersebut. Bentuk kegiatan ini antara lain: (a) transfer dana dari satu bank ke bank lain dan atau antar wilayah/negara; (b) penggunaan simpanan tunai sebagai agunan untuk mendukung transaksi yang sah; dan (c) memindahkan uang tunai lintas batas negara melalui jaringan kegiatan usaha yang sah maupun shell company. Integration adalah upaya menggunakan harta kekayaan yang telah tampak sah, baik untuk dinikmati langsung, diinvestasikan ke dalam berbagai bentuk kekayaan material maupun keuangan, dipergunakan untuk membiayai kegiatan bisnis yang sah, ataupun untuk membiayai kembali kegiatan tindak pidana.

B. Alasan Kriminalisasi Pencucian Uang Secara umum ada tiga alasan pokok mengapa praktik pencucian
11 Lihat Pedoman I: Pedoman Umum Pencegahan dan Pemberantasan TPPU Bagi PJK, Jakarta: PPATK, 2003.

Pengantar

17

uang diperangi dan dinyatakan sebagai tindak pidana.12 Pertama, karena pengaruhnya pada sistem keuangan dan ekonomi diyakini berdampak negatif bagi perekonomian dunia, misalnya dampak negatif terhadap efektifitas penggunaan sumber daya dan dana. Dengan adanya praktik pencucian uang maka sumber daya dan dana banyak digunakan untuk kegiatan yang tidak sah dan dapat merugikan masyarakat, di sam ping itu dana-dana banyak yang kurang dimanfaatkan secara optimal. Hal ini terjadi karena uang hasil tindak pidana terutama diinvestasikan pada negara-negara yang dirasakan aman untuk mencuci uangnya, walaupun hasilnya lebih rendah. Uang hasil tindak pidana ini dapat saja beralih dari suatu negara yang perekonomiannya baik ke negara yang perekonomiannya kurang baik. Karena pengaruh negatifnya pada pasar finansial dan dampaknya dapat mengurangi kepercayaan publik terhadap sistem keuangan internasional, praktik pencucian uang dapat mengakibatkan ketidakstabilan pada perekonomian internasional, dan kejahatan terorganisir yang melakukan pencucian uang dapat juga membuat ketidakstabilan pada ekonomi nasional. Fluktuasi yang tajam pada nilai tukar dan suku bunga mungkin juga merupakan akibat negatif dari praktik pencucian uang. Dengan berbagai dampak negatif itu diyakini bahwa praktik pencucian uang dapat mempengaruhi pertumbuhan ekonomi dunia. Kedua, dengan ditetapkannya pencucian uang sebagai tindak pidana akan lebih memudahkan bagi aparat penegak hukum untuk menyita hasil tindak pidana yang kadangkala sulit untuk disita, misalnya aset yang susah dilacak atau sudah dipindahtangankan kepada pihak ketiga. Dengan pendekatan follow the money, kegiatan menyembunyikan atau menyamarkan uang hasil tindak pidana dapat dicegah dan diberantas. Dengan kata lain, orientasi pemberantasan tindak pidana sudah beralih dari “menindak pelakunya” ke arah menyita “hasil tindak pidana”. Di banyak negara dengan menyatakan praktik pencucian uang sebagai tindak pidana merupakan dasar bagi penegak hukum untuk mempidanakan pihak ketiga yang dianggap menghambat upaya penegakan hukum. Ketiga, dengan dinyatakannya praktik pencucian uang sebagai tindak pidana dan dengan adanya kewajiban pelaporan transaksi keuangan yang mencurigakan bagi penyedia jasa keuangan, maka hal
12 Lihat Guy Stessen, Money Laundering, A New International Law Enforcement Model, Cambridge Studies in International and Comparative Law, Cambridge University Press, 2000.

18

Ikhtisar Ketentuan AML & CFT

ini akan lebih memudahkan bagi para penegak hukum untuk menyelidiki kasus pidana pencucian uang sampai kepada tokoh-tokoh yang ada dibelakangnya. Tokoh-tokoh ini sulit dilacak dan ditangkap karena pada umumnya mereka tidak kelihatan pada pelaksanaan suatu tindak pidana, tetapi banyak menikmati hasil-hasil tindak pidana.

~o~

Rezim AML & CFT

19

BAB I REZIM ANTI PENCUCIAN UANG DAN PENDANAAN TERORISME
Bab I ini memberi gambaran mengenai rezim anti pencucian uang dan kelembagaan terkait, kerjasama domestik dan internasional, serta Strategi Nasional Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang dan Pendanaan Terorisme

20

Ikhtisar Ketentuan AML & CFT

Daftar Isi Halaman I.1 Lembaga-lembaga Terkait ............................................. I.1.1 Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan .. I.1.2 Pihak Pelapor ......................................................... I.1.2.1 Penyedia Jasa Keuangan ................................. I.1.2.1.1 Bank ......................................... I.1.2.1.1.1 Bank Umum ........................... I.1.2.1.1.2 Bank Perkreditam Rakyat ............. I.1.2.1.2 Non Bank .................................. I.1.2.1.2.1 Perusahaan Pembiayaan .............. I.1.2.1.2.2 Perusahaan Asuransi dan Perusahaan Pialang Asuransi ........ I.1.2.1.2.3 Dana Pensiun Lembaga Keuangan . I.1.2.1.2.4 Perusahaan efek ......................... I.1.2.1.2.4.1 Pengertian Efek ......................... I.1.2.1.2.4.2 Pengertian Perusahaan Efek ......... I.1.2.1.2.5 Manajer investasi ........................ I.1.2.1.2.6 Kustodian .................................. I.1.2.1.2.7 Wali amanat ............................... I.1.2.1.2.8 Perposan sebagai penyedia jasa giro ........................................... I.1.2.1.2.9 Pedagang Valuta Asing.................. I.1.2.1.2.10 Lembaga Penyimpan dan Pembiyaan .......................................... I.1.2.1.2.11 Modal Ventura ............................ I.1.2.1.2.12 Perusahaan Pembiyaan Infrastruktur...................................... I.1.2.1.2.13 Kegiatan Usaha Pengiriman Uang .. I.1.2.1.2.14 Penyelenggara alat pembayaran menggunakan kartu .................... I.1.2.1.2.15 Penyelenggara e-money dan/atau e-wallet ..................................... I.1.2.1.2.16 Koperasi yang melakukan kegiatan simpan pinjam ............................ I.1.2.1.2.17 Pegadaian .................................. I.1.2.1.2.18 Perusahaan yang bergerak di bidang perdagangan berjangka komoditas.. 24 24 24 24 25 26 26 26 26 27 28 29 29 30 31 32 32 32 33 33 34 34 34 36 37 38 38 39

Rezim AML & CFT

21

I.1.3

I.1.4

I.1.5

I.1.6 I.1.7 I.1.8

I.1.2.2 Pengadaan Barang dan/atau Jasa ................. I.1.2.2.1 Perusahaan properti/agen properti.. I.1.2.2.2 Pedagang kendaraan bermotor ...... I.1.2.2.3 Pedagang permata dan perhiasan/ logam mulia ............................... I.1.2.2.4 Pedagang barang seni dan antik .... I.1.2.2.5 Balai lelang ................................ Lembaga Pengawas dan Pengatur............................ I.1.3.1 Bank Indonesia .............................................. I.1.3.2 Bapepam-LK ................................................. I.1.3.3 Kementerian Komunikasi dan Informatika RI..... I.1.3.4 Bappebti ....................................................... I.1.3.5 Direktorat Jenderal Kekayaan Negara ............... I.1.3.6 Direktorat Jenderal Bea dan Cukai.................... Penegak Hukum .................................................... I.1.4.1 Kepolisian ...................................................... I.1.4.2 Kejaksaan ..................................................... I.1.4.3 Komisi Pemberantasa Korupsi ......................... I.1.4.4 Badan Narkotika Nasional ............................... I.1.4.5 Direktorat Jenderal Pajak ................................ I.1.4.6 Direktorat Jenderal Bea dan Cukai ................... I.1.4.7 Pengadilan .................................................... Komite TPPU .......................................................... I.1.5.1 Susunan Keanggotaan Komite TPPU ................ I.1.5.2 Tugas Komite TPPU ...................................... I.1.5.3 Tim Kerja ..................................................... I.1.5.4 Tim Teknis.................................................... Dewan Perwakilan Rakyat ...................................... Presiden ............................................................... Masyarakat ............................................................

41 41 42 43 43 43 44 101 44 45 45 45 45 46 46 47 48 48 49 49 49 49 50 51 51 52 52 53 53 53 53 54 54 54 55 101

I.2 Kedudukan, Tugas, Fungsi, dan Kewenangan PPATK ....... I.2.1 Kedudukan ............................................................. I.2.2 Tugas ...................................................................... I.2.3 Fungsi dan Kewenangan .......................................... I.2.3.1 Pencegahan dan pemberantasan tindak pidana pencucian uan ............................................... I.2.3.2 Pengelolaan data dan informasi yang diperoleh PPATK ......................................................... I.2.3.3 Pengawasan terhadap kepatuhan Pihak Pelapor..

22

Ikhtisar Ketentuan AML & CFT

I.2.3.4 Analisis atau pemeriksaan laporan dan informasi Transaksi Keuangan yang berindikasi tindak pidana pencucian uang dan/atau tindak pidana lain ...... I.2.4 Penghentian Transaksi berdasarkan permintaan PPATK .................................................................... I.3 Kerjasama Domestik dan Internasional .......................... I.4 Strategi Nasional Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang .................................................... I.4.1 Pembuatan Single Identity Number ......................... I.4.1.1 Masalah yang dihadapi.................................... I.4.1.2 Langkah/Strategi yang harus ditempuh ............ I.4.1.3 Tujuan strategi .............................................. I.4.1.4 Peraturan Perundang-undangan Terkait ............ I.4.1.5 Instansi yang terlibat ...................................... I.4.2 Penyelesaian Pembahasan RUU TPPU, Peraturan Pelaksanaan dan Implementasinya ................... I.4.2.1 Masalah yang dihadapi ................................... I.4.2.2 Langkah/Strategi yang harus ditempuh ............. I.4.2.3 Tujuan strategi .............................................. I.4.2.4 Peraturan Perundang-undangan Terkait ............ I.4.2.5 Instansi yang terlibat ...................................... I.4.3 Pengelolaan Database secara Elektronis dan Ketersam bungan (Connectivity) Database yang Dimiliki oleh Beberapa Instansi Terkait ............................... I.4.3.1 Masalah yang dihadapi ................................... I.4.3.2 Langkah/Strategi yang harus ditempuh ............. I.4.3.3 Tujuan strategi .............................................. I.4.3.4 Peraturan Perundang-undangan Terkait ............ I.4.3.5 Instansi yang terlibat ...................................... I.4.4 Peningkatan Pengawasan Kepatuhan Penyedia Jasa Keuangan (PJK) ..................................................... I.4.4.1 Masalah yang dihadapi .................................. I.4.4.2 Langkah/Strategi yang harus ditempuh ............. I.4.4.3 Tujuan strategi .............................................. I.4.4.4 Peraturan Perundang-undangan Terkait ............ I.4.4.5 Instansi yang terlibat ..................................... I.4.5 Pengefektifan Penerapan Penyitaan Aset (Asset Forfeiture) dan Pengembalian Aset (Asset Recovery) ..

56 57 58

61 61 61 62 63 63 63 64 64 65 66 67 67

68 68 68 69 69 69 69 69 70 71 7 71 72

Rezim AML & CFT

23

I.4.6

I.4.7

I.4.8

I.4.9

I.4.5.1 Masalah yang dihadapi ................................... I.4.5.2 Langkah/Strategi yang harus ditempuh ............. I.4.5.3 Tujuan strategi .............................................. I.4.5.4 Peraturan Perundang-undangan Terkait ............ I.4.5.5 Instansi yang terlibat ...................................... Peningkatan Peran Serta Masyarakat Melalui Kampanye Publik ................................................... I.4.6.1 Masalah yang dihadapi ................................... I.4.6.2 Langkah/Strategi yang harus ditempuh ............. I.4.6.3 Tujuan strategi .............................................. I.4.6.4 Peraturan Perundang-undangan Terkait ............ I.4.6.5 Instansi yang terlibat ...................................... Peningkatan Kerjasama Internasional ................... I.4.7.1 Masalah yang dihadapi ................................... I.4.7.2 Langkah/Strategi yang harus ditempuh ............. I.4.7.3 Tujuan Strategi .............................................. I.4.7.4 Peraturan Perundang-undangan Terkait ............ I.4.7.5 Instansi yang terlibat ...................................... Penguatan Peraturan Tentang Pengiriman Uang Alternatif (Alternative Remmitance System) dan Pengiriman Uang Secara Elektronis (Wire Transfer) ................................................................. I.4.8.1 Masalah yang dihadapi ................................... I.4.8.2 Langkah/Strategi yang harus ditempuh ............. I.4.8.3 Tujuan strategi .............................................. I.4.8.4 Peraturan Perundang-undangan Terkait ............ I.4.8.5 Instansi yang terlibat ...................................... Penanganan Sektor Non Profit Organization secara Komprehensif ......................................................... I.4.9.1 Masalah yang dihadapi.................................... I.4.9.2 Langkah/Strategi yang harus ditempuh ............. I.4.9.3 Tujuan strategi .............................................. I.4.9.4 Peraturan Perundang-undangan Terkait ............ I.4.9.5 Instansi yang terlibat ......................................

72 73 73 73 74 74 74 74 75 75 75 76 76 77 77 77 78

78 78 79 80 80 80 80 80 82 82 83 83

24

Ikhtisar Ketentuan AML & CFT

I.1 Lembaga-lembaga Terkait I.1.1 Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan yang selanjutnya disingkat PPATK adalah lembaga independen yang dibentuk dalam rangka mencegah dan memberantas tindak pidana Pencucian Uang.13 I.1.2 Pihak Pelapor Pihak Pelapor adalah setiap orang yang menurut Undang-Undang ini (Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2010 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang) wajib menyampaikan laporan kepada PPATK.14 Pihak Pelapor meliputi15 : a. Penyedia Jasa Keuangan 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. 12. 13. 14. 15. Bank; Perusahaan Pembiayaan; Perusahaan Asuransi dan Perusahaan Pialang Asuransi; Dana Pensiun Lembaga Keuangan; Perusahaan Efek; Manajer Investasi; Kustodian; Wali Amanat; Perposan sebagai Penyedia Jasa Giro; Pedagang Valuta Asing; Penyelenggara alat pembayaran menggunakan kartu; Penyelenggara e-money dan/atau e-wallet; Koperasi yang melakukan kegiatan simpan pinjam; Pegadaian; Perusahaan yang bergerak di bidang perdagangan berjangka komoditi; atau 16. Penyelenggara kegiatan usaha pengiriman uang.

13 Pasal 1 angka 2 Undang-Undang RI No. 8 Tahun 2010 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang. 14 Pasal 1 angka 11 Undang-Undang RI No. 8 Tahun 2010 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang. 15 Pasal 17 ayat (1) Undang-Undang RI No. 8 Tahun 2010 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang.

Rezim AML & CFT

25

b. Penyedia Barang dan/atau Jasa Lain 1. 2. 3. 4. 5. Perusahaan properti/agen properti; Pedagang kendaraan bermotor; Pedagang permata dan perhiasan/logam mulia; Pedagang barang seni dan antik; atau Balai Lelang.

Ketentuan mengenai Pihak Pelapor selain sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dengan Peraturan Pemerintah.16 Pelaksanaan kewajiban pelaporan oleh Pihak Pelapor dikecualikan dari ketentaun kerahasiaan yang berlaku bagi Pihak Pelapor yang bersangkutan.17 I.1.2.1 Penyedia Jasa Keuangan (PJK) Termasuk dalam pengertian “penyedia jasa keuangan” adalah setiap orang yang menyediakan jasa di bidang keuangan atau jasa lainnya yang terkait dengan keuangan baik secara formal maupun nonformal.18 I.1.2.1.1 Bank Bank adalah badan usaha yang menghimpun dana dari masyarakat dalam bentuk simpanan dan menyalur-kannya kepada masyarakat dalam bentuk kredit dan atau bentuk-bentuk lainnya dalam rangka meningkatkan taraf hidup rakyat banyak.19 Bank adalah Bank Umum sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 7 Tahun 1992 tentang Perbankan sebagaimana telah diubah

16 Pasal 17 ayat (2) Undang-Undang RI No. 8 Tahun 2010 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang. 17 Pasal 28 Undang-Undang RI No. 8 Tahun 2010 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang. 18 Pasal 17 ayat (1) huruf a Undang-Undang RI No. 8 Tahun 2010 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang. 19 Pasal 1 angka 2 Undang-Undang RI No. 10 Tahun 1998 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1992 tentang Perbankan.

26

Ikhtisar Ketentuan AML & CFT

dengan Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 10 Tahun 1998.20 I.1.2.1.1.1 Bank Umum Bank yang melaksanakan kegiatan usaha secara konvensional dan atau berdasarkan Prinsip Syariah yang dalam kegiatannya memberikan jasa dalam lalu lintas pembayaran.21 I.1.2.1.1.2 Bank Perkreditam Rakyat (BPR) Bank Perkreditan Rakyat adalah bank yang melaksanakan kegiatan usaha secara konvensional atau berdasarkan Prinsip Syariah yang dalam kegiatannya tidak memberikan jasa dalam lalu lintas pembayaran.22 I.1.2.1.2 Non Bank Lembaga Keuangan Non Bank antara lain adalah Perasuransian, Dana Pensiun, dan Lembaga Pembiayaan.23 I.1.2.1.2.1 Lembaga Pembiayaan Lembaga Pembiayaan adalah badan usaha yang melakukan kegiatan pembiayaan dalam bentuk penyediaan dana atau barang modal.24 Perusahaan Pembiayaan adalah badan usaha yang khusus didirikan untuk melakukan sewa guna usaha, anjak
20 Pasal 1 angka 4 Peraturan Bank Indonesia No. 8/28/PBI/2006 tentang Kegiatan Usaha Pengiriman Uang.

Pasal 1 angka 3 Undang-Undang RI No. 8 Tahun 2010 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang.
22 Pasal 1 angka 4 Undang-Undang RI No. 8 Tahun 2010 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang. 23 Peraturan Ketua Bapepam-LK No. V.D.10 tentang Prinsip Mengenal Nasabah oleh Penyedia Jasa Keuangan di Bidang Pasar Modal. 24

21

Pasal 1 Peraturan Presiden RI No. 9 Tahun 2009 tentang Lembaga Pembiayaan.

Rezim AML & CFT

27

piutang, pembiayaan konsumen, dan/atau usaha kartu kredit.25 I.1.2.1.2.2 Perusahaan Asuransi dan Perusahaan Pialang Asuransi Asuransi atau Pertanggungan adalah perjanjian antara dua pihak atau lebih, dengan mana pihak penanggung mengikat kan diri kepada tertanggung,dengan menerima premi asuransi, untuk memberikan penggantian kepada tertanggung karena kerugian, kerusakan atau kehilangan keuntungan yang diharapkan, atau tanggung jawab hukum kepada pihak ketiga yang mungkin akan diderita tertanggung, yang timbul dari suatu peristiwa yang tidak pasti, atau untuk memberikan suatu pembayaran yang didasarkan atas meninggal atau hidupnya seseorang yang dipertanggungkan. (asuransi kerugian dan asuransi jiwa).26 a. Pengertian Usaha Asuransi Usaha asuransi, yaitu usaha jasa keuangan yang dengan menghimpun dana masyarakat melalui pengumpulan premi asuransi memberikan perlindungan kepada anggota masyarakat pemakai jasa asuransi terhadap kemungkinan timbulnya kerugian karena suatu peristiwa yang tidak pasti atau terhadap hidup atau meninggalnya seseorang.27 1) Usaha asuransi kerugian yang memberikan jasa dalam penanggu-langan risiko atas
25 26 27

Pasal 1 Peraturan Presiden RI No. 9 Tahun 2009 tentang Lembaga Pembiayaan. Pasal 1 Undang-Undang RI No. 2 Tahun 1992 tentang Usaha Perasuransian. Pasal 2 ayat (1) Undang-Undang RI No. 2 Tahun 1992 tentang Usaha Perasuransian.

28

Ikhtisar Ketentuan AML & CFT

kerugian, kehilangan manfaat, dan tanggung jawab hukum kepada pihak ketiga, yang timbul dari peristiwa yang tidak pasti.28 2) Usaha asuransi jiwa yang memberikan jasa dalam penanggulangan risiko yang dikaitkan dengan hidup atau meninggalnya seseorang yang diper-tanggungkan.29 b. Usaha Penunjang Usaha Asuransi 1) Usaha pialang asuransi yang memberikan jasa keperantaraan dalam penutupan asuransi dan penanganan penyelesaian ganti rugi asuransi dengan bertindak untuk kepentingan tertanggung.30 I.1.2.1.2.3 Dana Pensiun Lembaga Keuangan Dana Pensiun adalah badan hukum yang mengelola dan menjalankan program yang menjanjikan manfaat pensiun.31 · Pengertian Dana Pensiun Pemberi Kerja Dana Pensiun Pemberi Kerja adalah Dana Pensiun yang dibentuk oleh orang atau badan yang mempekerjakan karyawan, selaku pendiri, untuk menyelenggarakan Program Pensiun Manfaat Pasti atau Program Pensiun Iuran Pasti, bagi kepentingan sebagian atau seluruh karyawannya sebagai

28 Pasal 3 huruf a angka 1 Undang-Undang RI No. 2 Tahun 1992 tentang Usaha Perasuransian. 29 Pasal 3 huruf a angka 2 Undang-Undang RI No. 2 Tahun 1992 tentang Usaha Perasuransian. 30 Pasal 3 huruf b angka 1 Undang-Undang RI No. 2 Tahun 1992 tentang Usaha Perasuransian. 31

Pasal 1 Undang-Undang RI No.11 Tahun 1992 tentang Dana Pensiun.

Rezim AML & CFT

29

peserta, dan yang menimbulkan kewajiban terhadap Pemberi Kerja. · Pengertian Dana Pensiun Berdasarkan Keuntungan Dana Pensiun Berdasarkan Keuntungan adalah Dana Pensiun Pemberi Kerja yang menyeleng-garakan Program Pensiun Iuran Pasti, dengan iuran hanya dari pemberi kerja yang didasarkan pada rumus yang dikaitkan dengan keuntungan pemberi kerja. · Pengertian Dana Pensiun Lembaga Keuangan Dana Pensiun Lembaga Keuangan adalah Dana Pensiun yang dibentuk oleh bank atau perusahaan asuransi jiwa untuk menyelenggarakan Program Pensiun Iuran Pasti bagi perorangan, baik karyawan maupun pekerja mandiri yang terpisah dari Dana Pensiun pemberi kerja bagi karyawan bank atau perusahaan asuransi jiwa yang bersangkutan.
Catatan: Hingga saat ini, Dana Pensiun yang dikenakan kewajiban terkait penerapan prinsip mengenali nasabah adalah dana pensiun lembaga keuangan.

I.1.2.1.2.4 Perusahaan Efek · Pengertian Efek Efek adalah surat berharga, yaitu surat pengakuan utang, surat berharga komersial, saham, obligasi, tanda bukti utang, Unit Penyertaan kontrak investasi kolektif, kontrak berjangka atas Efek, dan setiap derivatif dari Efek.32
32

Pasal 1 Angka 5 Undang-Undang RI No. 8 Tahun 1995 tentang Pasar Modal.

30

Ikhtisar Ketentuan AML & CFT

· Pengertian Perusahaan Efek. Perusahaan Efek adalah Pihak yang melakukan kegiatan usaha sebagai Penjamin Emisi Efek, Perantara Pedagang Efek, dan atau Manajer Investasi.33 a. Pengertian Perantara Pedagang Efek Perantara Pedagang Efek adalah Pihak yang melakukan kegiatan usaha jual beli Efek untuk kepentingan sendiri atau Pihak lain.34 b. Pengertian Manajer Investasi Manajer Investasi adalah Pihak yang kegiatan usahanya mengelola Portofolio Efek untuk para nasabah atau mengelola portofolio investasi kolektif untuk sekelompok nasabah, kecuali perusahaan asuransi, dana pensiun, dan bank yang melakukan sendiri kegiatan usahanya berdasarkan peraturan perundangundangan yang berlaku.35 c. Pengertian Penjamin Emisi Efek Penjamin Emisi Efek adalah Pihak yang membuat kontrak dengan Emiten untuk melakukan Penawaran Umum bagi kepentingan Emiten dengan atau tanpa kewajiban untuk membeli sisa Efek yang tidak terjual.36

33 34 35 36

Pasal 1 angka 21 Undang-Undang RI No. 8 Tahun 1995 tentang Pasar Modal. Pasal 1 angka 18 Undang-Undang RI No. 8 Tahun 1995 tentang Pasar Modal. Pasal 1 angka 11 Undang-Undang RI No. 8 Tahun 1995 tentang Pasar Modal. Pasal 1 angka 17 Undang-Undang RI No. 8 Tahun 1995 tentang Pasar Modal.

Rezim AML & CFT

31

I.1.2.1.2.5 Reksa Dana Manajer Investasi adalah pihak yang mengelola Reksa Dana dan mendapatkan ijin dari Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan (BAPEPAM-LK). · Pengertian Reksa Dana Reksa Dana adalah wadah yang dipergunakan untuk menghimpun dana dari masyarakat pemodal untuk selanjutnya diinvestasikan dalam Portofolio Efek oleh Manajer Investasi.37 a. Pengertian Unit Penyertaan Unit Penyertaan adalah satuan ukuran yang menunjukkan bagian kepentingan setiap Pihak dalam portofolio investasi kolektif.38 b. Pengertian Kontrak Investasi Kolektif Kontrak Investasi Kolektif adalah kontrak antara Manajer Investasi dan Bank Kustodian yang mengikat pemegang Unit Penyertaan dimana Manajer Investasi diberi wewenang untuk mengelola portofolio investasi kolektif dan Bank Kustodian diberi wewenang untuk melaksanakan Penitipan Kolektif.39 c. Pengertian Penitipan Kolektif Penitipan Kolektif adalah jasa penitipan atas Efek yang dimiliki bersama oleh lebih dari satu Pihak

37 38

Pasal 1 Undang-Undang RI No. 8 Tahun 1995 tentang Pasar Modal. Pasal 1 angka 29 Undang-Undang RI No. 8 Tahun 1995 tentang Pasar Modal.

39 Penjelasan Pasal 18 ayat (1) huruf b Undang-Undang RI No. 8 Tahun 1995 tentang Pasar Modal.

32

Ikhtisar Ketentuan AML & CFT

yang kepentingannya diwakili oleh Kustodian.40 I.1.2.1.2.6 Kustodian Kustodian adalah Pihak yang memberikan jasa penitipan Efek dan harta lain yang berkaitan dengan Efek serta jasa lain, termasuk menerima dividen, bunga, dan hak-hak lain, menyelesaikan transaksi Efek, dan mewakili pemegang rekening yang menjadi nasabahnya.41 I.1.2.1.2.7 Wali Amanat Wali Amanat adalah Pihak yang mewakili kepentingan pemegang Efek yang bersifat utang.42 I.1.2.1.2.8 Perposan sebagai Penyedia Jasa Giro Pos adalah layanan komunikasi tertulis dan/ atau surat elektronik, layanan paket, layanan logistik, layanan transaksi keuangan, dan layanan keagenan pos untuk kepentingan umum.43 Penyelenggara Pos adalah suatu badan usaha yang menyelenggarakan pos.44 Penyelenggaraan Pos adalah keseluruhan kegiatan pengelolaan dan penatausahaan layanan pos.45 Layanan transaksi keuangan berupa kegiatan penyetoran, penyimpanan, pemindahbukuan, pendistribusian, dan pembayaran uang dari dan/atau untuk
40 41 42 43 44 45

Pasal 1 Angka 16 Undang-Undang RI No. 8 Tahun 1995 tentang Pasar Modal. Pasal 1 Undang-Undang RI No. 8 Tahun 1995 tentang Pasar Modal. Pasal 1 Undang-Undang RI No. 8 Tahun 1995 tentang Pasar Modal. Pasal 1 angka 1 Undang-Undang RI No. 38 Tahun 2009 tentang Pos. Pasal 1 angka 2 Undang-Undang RI No. 38 Tahun 2009 tentang Pos. Pasal 1 angka 3 Undang-Undang RI No. 38 Tahun 2009 tentang Pos.

Rezim AML & CFT

33

pengguna jasa sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.46 I.1.2.1.2.9 Pedagang Valuta Asing Pedagang Valuta Asing (money changer), yang selanjutnya disebut PVA, adalah perusahaan yang melakukan jual beli Uang Kertas Asing dan pembelian Traveller’s Cheque.47 PVA Bukan Bank adalah perusahaan berbadan hukum Perseroan Terbatas bukan bank yang maksud dan tujuan perseroan adalah melakukan kegiatan usaha jual beli UKA dan pembelian TC yang telah memenuhi ketentuan dan persyaratan dalam Peraturan Bank Indonesia ini.48 PVA Bank adalah bank umum bukan bank devisa yang melaksanakan kegiatan usaha secara konvensional dan/atau berdasarkan prinsip syariah, Bank Perkreditan Rakyat, dan Bank Perkreditan Rakyat Syariah, yang melakukan kegiatan usaha jual beli UKA dan pembelian TC yang telah memenuhi ketentuan dan persyaratan dalam Peraturan Bank Indonesia ini.49 I.1.2.1.2.10 Lembaga Penyimpan dan Penyelesaian Lembaga Penyimpanan dan Penyelesaian adalah Pihak yang menyelenggarakan kegiatan Kustodian sentral bagi Bank Kustodian, Perusahaan Efek, dan Pihak lain. (Misalnya dalam industri Pasar Modal
46

Penjelasan Pasal 5 ayat (1) huruf d Undang-Undang RI No. 38 Tahun 2009 tentang

Pos.
47 Pasal 1 angka 4 Peraturan Bank Indonesia No. 9/11/PBI/2007 tentang Pedagang Valuta Asing. 48 Pasal 1 angka 5 Peraturan Bank Indonesia No. 9/11/PBI/2007 tentang Pedagang Valuta Asing. 49 Pasal 1 angka 6 Peraturan Bank Indonesia No. 9/11/PBI/2007 tentang Pedagang Valuta Asing.

34

Ikhtisar Ketentuan AML & CFT

yang dikenal bertindak sebagai Lembaga Penyimpanan dan Penyelesaian adalah: PT. Kustodian Sentral Efek Indonesia).50 I.1.2.1.2.11 Modal Ventura Perusahaan Modal Ventura (Venture Capital Company) adalah badan usaha yang melakukan usaha pembiayaan/ penyertaan modal ke dalam suatu perusahaan yang menerima bantuan pembiayaan (investee company) untuk jangka waktu tertentu dalam bentuk penyertaan saham, penyertaan melalui pembelian obligasi konversi, dan/atau pembiayaan berdasarkan pembagian atas hasil usaha.51 I.1.2.1.2.12 Perusahaan Pembiyaan Infrastruktur Perusahaan Pembiyaan Infrastruktur adalah badan usaha yang didirikan khusus untuk melakukan pembiayaan dalam bentuk penyediaan dana pada proyek inftrastruktur. I.1.2.1.2.13 Kegiatan Usaha Pengiriman Uang Pengiriman Uang adalah kegiatan yang dilakukan penyelenggara Pengiriman Uang untuk melaksanakan perintah tidak bersyarat dari pengirim kepada penyelenggara pengiriman uang untuk mengirim uang kepada penerima.52 · Pengertian Penyelenggara Pengiriman Uang Penyelenggara Pengiriman Uang, yang selanjutnya disebut Penyelenggara,
50 51 52

Pasal 1 Undang-Undang RI No. 8 Tahun 1995 tentang Pasar Modal. Pasal 1 Peraturan Presiden RI No. 9 Tahun 2009 tentang Lembaga Pembiayaan.

Pasal 1 angka 2 Peraturan Bank Indonesia No. 8/28/PBI/2006 tentang Kegiatan Usaha Pengiriman Uang.

Rezim AML & CFT

35

adalah perorangan, badan usaha berbadan hukum dan badan usaha tidak berbadan hukum di Indonesia yang bertindak sebagai agen pengirim dan/ atau agen penerima Pengiriman Uang.53 · Pengertian Agen Pengirim Agen Pengirim adalah perorangan, badan usaha berbadan hukum atau badan usaha tidak berbadan hukum yang menerima sejumlah Uang dari pengirim untuk disampaikan kepada penerima melalui agen penerima.54 · Pengertian Agen Penerima Agen Penerima adalah perorangan, badan usaha berbadan hukum atau badan usaha tidak berbadan hukum yang menerima sejumlah Uang dari Agen Pengirim untuk disampaikan kepada penerima.55 · Pengertian Pengirim Pengirim adalah perorangan, badan usaha berbadan hukum atau badan usaha tidak berbadan hukum yang memberikan perintah Pengiriman Uang kepada Agen Pengirim.56 · Pengertian Penerima Penerima adalah perorangan, badan usaha berbadan hukum atau badan

53 Pasal 1 angka 3 Peraturan Bank Indonesia No. 8/28/PBI/2006 tentang Kegiatan Usaha Pengiriman Uang. 54 Pasal 1 angka 5 Peraturan Bank Iindonesia No. 8/28/PBI/2006 tentang Kegiatan Usaha Pengiriman Uang. 55 Pasal 1 angka 6 Peraturan Bank Iindonesia No. 8/28/PBI/2006 tentang Kegiatan Usaha Pengiriman Uang. 56 Pasal 1 angka 7 Peraturan Bank Iindonesia No. 8/28/PBI/2006 tentang Kegiatan Usaha Pengiriman Uang.

36

Ikhtisar Ketentuan AML & CFT

usaha tidak berbadan hukum yang disebut dalam perintah Pengiriman Uang untuk menerima Uang hasil Pengiriman Uang.57 · Pengertian Money Transfer Operator Money Transfer Operator, yang selanjutnya disebut Operator, adalah perorangan, badan usaha berbadan hukum atau badan usaha tidak berbadan hukum yang menyediakan sarana dan prasarana, termasuk sistem, yang digunakan sebagai media dalam penyelenggaraan kegiatan usaha Pengiriman Uang, dan/atau melakukan kegiatan penerimaan dan penerusan data dan/atau informasi terkait dari suatu Penyelenggara kepada Penyelenggara lain untuk disampaikan kepada Penerima.58 I.1.2.1.2.14 Penyelenggara Alat Pembayaran Menggunakan Kartu I.1.2.1.2.14.1 Bank Bank adalah Bank Umum dan Bank Perkreditan Rakyat sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1992 tentang Perbankan sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1998, termasuk kantor cabang bank asing di Indonesia, dan Bank Umum Syariah dan Bank Pembiayaan Rakyat Syariah sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang Nomor 21
57 Pasal 1 angka 8 Peraturan Bank Iindonesia No. 8/28/PBI/2006 tentang Kegiatan Usaha Pengiriman Uang. 58 Pasal 1 angka 9 Peraturan Bank Iindonesia No. 8/28/PBI/2006 tentang Kegiatan Usaha Pengiriman Uang.

Rezim AML & CFT

37

Tahun 2008 tentang Perbankan Syariah.59 I.1.2.1.2.14.2 Lembaga Selain Bank Lembaga Selain Bank adalah badan usaha bukan Bank yang berbadan hukum dan didirikan berdasarkan hukum Indonesia.60 I.1.2.1.2.15 Penyelenggara e-money dan/atau ewallet I.1.2.1.2.15.1 Bank Bank adalah Bank Umum dan Bank Perkreditan Rakyat sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1992 tentang Perbankan sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1998 termasuk kantor cabang bank asing di Indonesia dan Bank Umum Syariah dan Bank Pembiayaan Rakyat Syariah sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2008 tentang Perbankan Syariah.61 I.1.2.1.2.15.2 Lembaga Selain Bank Lembaga Selain Bank adalah badan usaha bukan Bank yang berbadan hukum dan didirikan berdasarkan hukum Indonesia.62

59 Pasal 1 angka 1 Peraturan Bank Iindonesia No. 11/11/PBI/2009 tentang Penyelenggaraan Kegiatan Alat Pembayaran dengan Menggunakan Kartu. 60 Pasal 1 angka 2 Peraturan Bank Iindonesia No.11/11/PBI/2009 tentang Penyelenggaraan Kegiatan Alat Pembayaran dengan Menggunakan Kartu 61 Pasal 1 angka 1 Peraturan Bank Iindonesia No.11/12/PBI/2009 tentang Uang Elektronik (Electronic Money). 62 Pasal 1 angka 2 Peraturan Bank Iindonesia No.11/12/PBI/2009 tentang Uang Elektronik (Electronic Money).

38

Ikhtisar Ketentuan AML & CFT

I.1.2.1.2.16 Koperasi yang melakukan kegiatan simpan-pinjam Koperasi adalah badan usaha yang beranggotakan orang-seorang atau badan hukum Koperasi dengan melandaskan kegiatannya berdasarkan prinsip Koperasi sekaligus sebagai gerakan ekonomi rakyat yang berdasar atas asas kekeluargaan.63 Kegiatan usaha simpan pinjam adalah kegiatan yang dilakukan untuk menghimpun dana dan menyalurkannya melalui kegiatan usaha simpan pinjam dari dan untuk anggota koperasi yang bersangkutan, calon anggota koperasi yang bersangkutan, koperasi lain dan atau anggotanya.64 Koperasi Simpan Pinjam adalah koperasi yang kegiatannya hanya usaha simpan pinjam.65 Unit Simpan Pinjam adalah unit koperasi yang bergerak di bidang usaha simpan pinjam, sebagai bagian dari kegiatan usaha Koperasi yang bersangkutan.66 I.1.2.1.2.17 Pegadaian Perusahaan Umum (PERUM) Pegadaian, yang selanjutnya dalam Peraturan Pemerintah ini disebut Perusahaan, adalah Badan Usaha Milik Negara sebagaimana diatur dalam Undang-undang Nomor 9 Tahun 1969, yang bidang usahanya berada
63 64

Pasal 1 angka 1 Undang-Undang RI No. 25 Tahun 1992 tentang Perkoperasian.

Pasal 1 angka 1 Peraturan Pemerintah RI No. 9/95 tentang Kegiatan Usaha Simpan Pinjam oleh Koperasi. Pasal 1 angka 2 Peraturan Pemerintah RI No. 9/95 tentang Kegiatan Usaha Simpan Pinjam oleh Koperasi.
66 Pasal 1 angka 3 Peraturan Pemerintah RI No. 9/95 tentang Kegiatan Usaha Simpan Pinjam oleh Koperasi. 65

Rezim AML & CFT

39

dalam lingkup tugas dan kewenangan Menteri Keuangan, dimana seluruh modalnya dimiliki Negara berupa kekayaan Negara yang dipisahkan dan tidak terbagi atas saham.67 I.1.2.1.2.18 Perusahaan yang bergerak di bidang perdagangan berjangka komoditas Komoditi adalah barang dagangan yang menjadi subjek Kontrak Berjangka yang diperdagangkan di Bursa Berjangka.68 Bursa Berjangka adalah badan usaha yang menyelenggarakan dan menyediakan sistem dan/atau sarana untuk kegiatan jual beli Komoditi berdasarkan Kontrak Berjangka dan Opsi atas Kontrak Berjangka.69 Lembaga Kliring dan Penjaminan Berjangka, yang selanjutnya disebut Lembaga Kliring Berjangka, adalah badan usaha yang menyelenggarakan dan menyediakan sistem dan/atau sarana untuk pelaksanaan kliring dan penjaminan transaksi di Bursa Berjangka.70 Anggota Bursa Berjangka adalah Pihak yang mempunyai hak untuk menggunakan sistem dan/atau sarana Bursa Berjangka, sesuai dengan peraturan dan tata tertib Bursa Berjangka.71
67 Pasal 1 angka 1 Peraturan Pemerintah RI No. 103 Tahun 2000 tentang Perusahaan Umum (PERUM) Pegadaian. 68 Pasal 1 angka 2 Undang-Undang RI No. 32 Tahun 1997 tentang Perdagangan Berjangka Komoditi. 69 Pasal 1 angka Undang-Undang RI No.32 Tahun 1997 tentang Perdagangan Berjangka Komoditi. 70 Pasal 1 angka 7 Undang-Undang RI No. 32 Tahun 1997 tentang Perdagangan Berjangka Komoditi. 71 Pasal 1 angka 10 Undang-Undang RI No. 32 Tahun 1997 tentang Perdagangan Berjangka Komoditi.

40

Ikhtisar Ketentuan AML & CFT

Anggota Lembaga Kliring dan Penjaminan Berjangka, yang selanjutnya disebut Anggota Kliring Berjangka, adalah Anggota Bursa Berjangka yang mendapat hak dari Lembaga Kliring Berjangka untuk melakukan kliring dan mendapatkan penjaminan dalam rangka penyelesaian transaksi Kontrak Berjangka.72 Pialang Perdagangan Berjangka, yang selanjutnya dis ebut Pialang Berjangka, adalah badan usaha yang melakukan kegiatan jual beli Komoditi berdasarkan Kontrak Berjangka atas amanat Nasabah dengan menarik sejumlah uang dan/atau surat berharga tertentu sebagai margin untuk menjamin transaksi tersebut.73 Penasihat Perdagangan Berjangka, yang selanjutnya disebut Penasihat Berjangka, adalah Pihak yang memberikan nasihat kepada pihak lain mengenai jual beli Komoditi berdasarkan Kontrak Berjangka dengan menerima imbalan.74 Sentra Dana Perdagangan Berjangka, yang selanjutnya disebut Sentra Dana Berjangka, adalah wadah yang digunakan untuk menghimpun dana secara kolektif dari masyarakat untuk diinvestasikan dalam Kontrak Berjangka.75 Pengelola Sentra Dana Perdagangan Berjangka, yang selanjutnya disebut
Pasal 1 angka 11 Undang-Undang RI No. 32 Tahun 1997 tentang Perdagangan Berjangka Komoditi.
73 Pasal 1 angka 12 Undang-Undang RI No. 32 Tahun 1997 tentang Perdagangan Berjangka Komoditi. 72

Pasal 1 angka 13 Undang-Undang RI No. 32 Tahun 1997 tentang Perdagangan Berjangka Komoditi.
75 Pasal 1 angka 14 Undang-Undang RI No. 32 Tahun 1997 tentang Perdagangan Berjangka Komoditi.

74

Rezim AML & CFT

41

Pengelola Sentra Dana Berjangka, adalah Pihak yang melakukan usaha yang berkaitan dengan penghimpunan dan pengelolaan dana dari peserta Sentra Dana Berjangka untuk diinvestasikan dalam Kontrak Berjangka.76 Pedagang Kontrak Berjangka, yang selanjutnya disebut Pedagang Berjangka, adalah Anggota Bursa Berjangka yang hanya berhak melakukan transaksi Kontrak Berjangka di Bursa Berjangka untuk diri sendiri atau kelompok usahanya.77 I.1.2.2 Penyedia Barang dan/atau Jasa (PBJ) Yang dimaksud dengan “penyedia barang dan/atau jasa lainnya” meliputi baik berizin maupun tidak berizin.78 I.1.2.2.1 Perusahaan properti/agen properti Perusahaan perantara perdagangan properti yang selanjutnya disebut perusahaan adalah badan usaha yang menjalankan kegiatan sebagai perantara jual beli, perantara sewamenyewa, penelitian dan pengkajian, pemasaran, serta konsultasi dan penyebaran informasi yang berkaitan dengan properti berdasarkan perintah pemberi tugas yang diatur dalam perjanjian tertulis.79 Properti adalah harta berupa tanah dan/atau bangunan serta sarana dan prasarana lain yang merupakan bagian tidak terpisahkan
76 Pasal 1 angka 15 Undang-Undang RI No. 32 Tahun 1997 tentang Perdagangan Berjangka Komoditi. 77 Pasal 1 angka 16 Undang-Undang RI No. 32 Tahun 1997 tentang Perdagangan Berjangka Komoditi 78 Pasal 1 ayat (17) Undang-Undang RI No. 8 Tahun 2010 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang. 79 Pasal 1 angka 1 Peraturan Menteri Perdagangan No. 33/M-DAG/PER/8/2008 tentang Perusahaan Perantara Perdagangan Properti

42

Ikhtisar Ketentuan AML & CFT

dari tanah dan/atau bangunan tersebut.80 Perantara perdagangan properti yang selanjutnya disebut tenaga ahli adalah seseorang yang memiliki keahlian khusus di bidang properti yang dibuktikan dengan sertifikat yang diterbitkan oleh lembaga sertifikasi yang terakreditasi.81 I.1.2.2.2 Pedagang kendaraan bermotor Agen adalah perusahaan perdagangan nasional yang bertindak sebagai perantara untuk dan atas nama prinsipal berdasarkan perjanjian untuk melakukan pemasaran tanpa melakukan pemindahan hak atas fisik barang dan/atau jasa yang dimiliki/dikuasai oleh prinsipal yang menunjuknya.82 Distributor adalah perusahaan perdagangan nasional yang bertindak untuk dan atas namanya sendiri berdasarkan perjanjian yang melakukan pembelian, penyimpanan, penjualan serta pemasaran barang dan/atau jasa yang dimiliki/dikuasai.83 Agen Tunggal adalah perusahaan perdagangan nasional yang mendapatkan hak eksklusif dari prinsipal berdasarkan perjanjian sebagai satu-satunya agen di Indonesia atau wilayah pemasaran tertentu.84
80 Pasal 1 angka 2 Peraturan Menteri Perdagangan No. 33/M-DAG/PER/8/2008 tentang Perusahaan Perantara Perdagangan Properti. 81 Pasal 1 angka 3 Peraturan Menteri Perdagangan No. 33/M-DAG/PER/8/2008 tentang Perusahaan Perantara Perdagangan Properti. 82 Pasal 1 angka 4 Peraturan Menteri Perdagangan No. 11/M-DAG/PER/3/2006 tentang Ketentuan dan Tata Cara Penerbitan Surat Tanda Pendaftaran Agen atau Distributor Barang dan/atau Jasa. 83 Pasal 1 angka 5 Peraturan Menteri Perdagangan No. 11/M-DAG/PER/3/2006 tentang Ketentuan dan Tata Cara Penerbitan Surat Tanda Pendaftaran Agen atau Distributor Barang dan/atau Jasa. 84 Pasal 1 angka 7 Peraturan Menteri Perdagangan No. 11/M-DAG/PER/3/2006 tentang Ketentuan dan Tata Cara Penerbitan Surat Tanda Pendaftaran Agen atau Distributor Barang dan/atau Jasa.

Rezim AML & CFT

43

Distributor Tunggal adalah perusahaan perdagangan nasional yang mendapatkan hak eksklusif dari prinsipal berdasarkan perjanjian sebagai satu-satunya distributor di Indonesia atau wilayah pemasaran tertentu.85 Sub Agen adalah perusahaan perdagangan nasional yang bertindak sebagai perantara untuk dan atas nama prinsipal berdasarkan penunjukan atau perjanjian dari agen atau agen tunggal untuk melakukan pemasaran.86 Sub Distributor adalah perusahaan perdagangan nasional yang bertindak sebagai perantara untuk dan atas namanya sendiri berdasarkan penunjukan atau perjanjian dari distributor atau distributor tunggal untuk melakukan pemasaran.87 I.1.2.2.3 I.1.2.2.4 I.1.2.2.5 Pedagang permata dan perhiasan/ logam mulia Pedagang barang seni dan antik Balai Lelang Balai Lelang adalah Badan Hukum Indonesia berbentuk Perseroan Terbatas (PT) yang khusus didirikan untuk melakukan kegiatan usaha di bidang lelang.88

85 Pasal 1 angka 8 Peraturan Menteri Perdagangan No. 11/M-DAG/PER/3/2006 tentang Ketentuan dan Tata Cara Penerbitan Surat Tanda Pendaftaran Agen atau Distributor Barang dan/atau Jasa. 86 Pasal 1 angka 9 Peraturan Menteri Perdagangan No. 11/M-DAG/PER/3/2006 tentang Ketentuan dan Tata Cara Penerbitan Surat Tanda Pendaftaran Agen atau Distributor Barang dan/atau Jasa. 87 Pasal 1 angka 10 Peraturan Menteri Perdagangan Nomor 11/M-DAG/PER/3/2006 tentang Ketentuan dan Tata Cara Penerbitan Surat Tanda Pendaftaran Agen atau Distributor Barang dan/atau Jasa. 88 Pasal 1 angka 10 Peraturan Menteri Keuangan Nomor 176/PMK.06/2010 tentang Balai Lelang.

44

Ikhtisar Ketentuan AML & CFT

I.1.3 Lembaga Pengawas dan Pengatur (LPP) Lembaga Pengawas dan Pengatur adalah lembaga yang memiliki kewenangan pengawasan, pengaturan, dan/atau pengenaan sanksi terhadap Pihak Pelapor.89 I.1.3.1 Bank Indonesia Merupakan pengawas industri perbankan (Bank Umum dan Bank Perkreditan Rakyat), Pedagang Valuta Asing, dan Kegiatan Usaha Pengiriman Uang (KUPU). Terkait dengan pelaksanaan rezim AML, Bank Indonesia mengeluarkan ketentuan penerapan PMN bagi industri perbankan (Bank Umum dan Bank Perkreditan Rakyat), Pedagang Valuta Asing, dan Kegiatan Usaha Pengiriman Uang (KUPU). Bank Indonesia juga melakukan audit kepatuhan terkait penerapan KYC tersebut.90 I.1.3.2 BAPEPAM-LK Merupakan pengawas di bidang Pasar Modal dan Lembaga Keuangan Non Bank. Terkait dengan pelaksanaan rezim AML, Bapepam-LK mengeluarkan ketentuan Prinsip Mengenal Nasabah (PMN) pada industri pasar modal dan asuransi.91 Terkait dengan fungsi Bapepam-LK sebagai regulator, yang mengeluarkan kebijakan tidak hanya regulator di bidang pasar modal dan asuransi, tetapi juga regulator untuk dana pensiun dan lembaga pembiayaan dan penyelesaian.92 Penyedia Jasa Keuangan di Bidang Pasar Modal antara lain adalah Perusahaan Efek, Pengelola Reksa Dana, Kustodian.93
89 Pasal 17 ayat (1) huruf b Undang-Undang RI No. 8 Tahun 2010 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang. 90 Lihat Undang-Undang RI No. 9 Tahun 1999 tentang Bank Indonesia dan Peraturan Bank Iindonesia No. 11/11/PBI/2009 tentang Penyelenggaraan Kegiatan Alat Pembayaran dengan Menggunakan Kartu. 91 92

Undang-Undang RI No. 8 Tahun 1995 tentang Pasar Modal.

Peraturan Ketua Bapepam-LK No. V.D.10 tentang Prinsip Mengenal Nasabah oleh Penyedia Jasa Keuangan di Bidang Pasar Modal.
93 Peraturan Ketua Bapepam-LK No. V.D.10 tentang Prinsip Mengenal Nasabah oleh Penyedia Jasa Keuangan di Bidang Pasar Modal.

Rezim AML & CFT

45

I.1.3.3 Kementerian Komunikasi dan Informatika Republik Indonesia Merupakan regulator/pengawas penyelenggaraan pos.94 I.1.3.4 Bapebbti Merupakan regulator/pengawas perdagangan berjangka komoditi.95 I.1.3.5 Direktorat Lelang, Direktorat Jenderal Kekayaan Negara, Kementerian Keuangan Republik Indonesia Direktorat Jenderal Kekayaan Negara, yang selanjutnya disingkat DJKN, adalah unit Eselon I di lingkungan Kementerian Keuangan yang mempunyai tugas merumuskan serta melaksanakan kebijakan dan standardisasi teknis di bidang kekayaan negara, piutang negara dan lelang sesuai dengan kebijakan yang ditetapkan oleh Menteri Keuangan dan berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku.96 Direktur Lelang, yang selanjutnya disebut Direktur, adalah salah satu Pejabat unit Eselon II di lingkungan Direktorat Jenderal Kekayaan Negara yang mempunyai tugas melaksanakan penyiapan perumusan kegiatan, standardisasi dan bimbingan teknis, evaluasi serta pelaksanaan pembinaan perencanaan lelang, pemeriksaan, pengawasan, dan pembinaan kinerja di bidang lelang berdasarkan kebijakan teknis yang ditetapkan oleh Direktur Jenderal.97 I.1.3.6 Direktorat Jenderal Bea dan Cukai Merupakan salah satu unit di bawah Departemen Keuangan yang juga bagian dari rezim anti pencucian

94 95 96

Undang-Undang RI Nomor 38 Tahun 2009 tentang Pos. Undang-Undang RI No. 32 Tahun 1997 tentang Perdagangan Berjangka Komoditi. Pasal 1 angka 3 Peraturan Menteri Keuangan No. 176/PMK.06/2010 tentang Balai Pasal 1 angka 5 Peraturan Menteri Keuangan No. 176/PMK.06/2010 tentang Balai

Lelang
97

Lelang

46

Ikhtisar Ketentuan AML & CFT

uang terkait dengan pelaporan Cross Border Cash Carrying (CBCC). 98 Pengaturan lebih lanjut mengenai Pelaporan Pembawaan Uang Tunai (LPUT/CBCC) diatur dalam Peraturan Dirjen Bea Cukai Nomor 1 Tahun 2005.99 I.1.4 Penegak Hukum I.1.4.1 Kepolisian Kepolisian adalah segala hal-ihwal yang berkaitan dengan fungsi dan lembaga polisi sesuai dengan peraturan perundang-undangan.100 Anggota Kepolisian Negara Republik Indonesia adalah pegawai negeri pada Kepolisian Negara Republik Indonesia.101 Pejabat Kepolisian Negara Republik Indonesia adalah anggota Kepolisian Negara Republik Indonesia yang berdasarkan undang-undang memiliki wewenang umum Kepolisian.102 Fungsi kepolisian adalah salah satu fungsi pemerintahan negara di bidang pemeliharaan keamanan dan ketertiban masyarakat, penegakan hukum, perlindungan, pengayoman, dan pelayanan kepada masyarakat.103 Kepolisian Negara Republik Indonesia bertujuan untuk mewujudkan keamanan dalam negeri yang meliputi terpeliharanya keamanan dan ketertiban masyarakat, tertib dan tegaknya hukum, terselenggaranya perlindungan, pengayoman, dan pelayanan kepada masyarakat, serta terbinanya ketenteraman masyarakat dengan menjunjung tinggi hak asasi manusia.104
98 Undang-Undang RI No. 10 Tahun 1995 tentang Cukai dan Undang-Undang RI Nomor 11 Tahun 1995 tentang Kepabeanan. 99 Undang-Undang RI No. 10 Tahun 1995 tentang Cukai dan Undang-Undang RI Nomor 11 Tahun 1995 tentang Kepabeanan. 100 101 101 103 104

Pasal 1 ayat (1) Undang-Undang RI No. 2 Tahun 2002 tentang Kepolisian Negara. Pasal 1 ayat (2) Undang-Undang RI No. 2 Tahun 2002 tentang Kepolisian Negara. Pasal 1 ayat (3) Undang-Undang RI No. 2 Tahun 2002 tentang Kepolisian Negara. Pasal 2 Undang-Undang RI No. 2 Tahun 2002 tentang Kepolisian Negara. Pasal 4 Undang-Undang RI No. 2 Tahun 2002 tentang Kepolisian Negara.

Rezim AML & CFT

47

Kepolisian Negara Republik Indonesia merupakan alat negara yang berperan dalam memelihara keamanan dan ketertiban masyarakat, menegakkan hukum, serta memberikan perlindungan, pengayoman, dan pelayanan kepada masyarakat dalam rangka terpeliharanya keamanan dalam negeri.105 Kepolisian Negara Republik Indonesia adalah Kepolisian Nasional yang merupakan satu kesatuan dalam melaksanakan peran sebagaimana dimaksud dalam ayat (1).106 I.1.4.2 Kejaksaan Jaksa adalah pejabat fungsional yang diberi wewenang oleh undang-undang untuk bertindak sebagai penuntut umum dan pelaksana putusan pengadilan yang telah memperoleh kekuatan hukum tetap serta wewenang lain berdasarkan undang-undang.107 Penuntut Umum adalah jaksa yang diberi wewenang oleh Undang-Undang ini untuk melakukan penuntutan dan melaksanakan penetapan hakim.108 Penuntutan adalah tindakan penuntut umum untuk melimpahkan perkara ke pengadilan negeri yang berwenang dalam hal dan menurut cara yang diatur dalam Hukum Acara Pidana dengan permintaan supaya diperiksa dan diputus oleh hakim di sidang pengadilan.109 Jabatan Fungsional Jaksa adalah jabatan yang bersifat keahlian teknis dalam organisasi kejaksaan yang karena fungsinya memungkinkan kelancaran pelaksanaan tugas kejaksaan.110 Kejaksaan Republik Indonesia yang selanjutnya dalam Undang-Undang ini disebut kejaksaan adalah lembaga
105 106 107 108 109 110

Pasal 5 ayat (1) Undang-Undang RI No. 2 Tahun 2002 tentang Kepolisian Negara. Pasal 5 ayat (2) Undang-Undang RI No. 2 Tahun 2002 tentang Kepolisian Negara. Pasal 1 ayat (1) Undang-Undang RI No. 16 Tahun 2004 tentang Kejaksaan. Pasal 1 ayat (2) Undang-Undang RI No. 16 Tahun 2004 tentang Kejaksaan. Pasal 1 ayat (3) Undang-Undang RI No. 16 Tahun 2004 tentang Kejaksaan. Pasal 1 ayat (4) Undang-Undang RI No. 16 Tahun 2004 tentang Kejaksaan.

48

Ikhtisar Ketentuan AML & CFT

pemerintahan yang melaksanakan kekuasaan negara di bidang penuntutan serta kewenangan lain berdasarkan undang-undang.111 Kekuasaan negara sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilaksanakan secara merdeka.112 Kejaksaan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) adalah satu dan tidak terpisahkan.113 Pelaksanaan kekuasaan negara sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2, diselenggarakan oleh Kejaksaan Agung, kejaksaan tinggi, dan kejaksaan negeri.114 I.1.4.3 Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Komisi Pemberantasan Korupsi dibentuk dengan tujuan meningkatkan daya guna dan hasil guna terhadap upaya pemberantasan tindak pidana korupsi.115 Komisi Pemberantasan Korupsi mempunyai tugas: a. koordinasi dengan instansi yang berwenang melakukan pemberantasan tindak pidana korupsi; b. supervisi terhadap instansi yang berwenang melakukan pemberantasan tindak pidana korupsi; c. melakukan penyelidikan, penyidikan, dan penuntutan terhadap tindak pidana korupsi; d. melakukan tindakan-tindakan pencegahan tindak pidana korupsi; dan e. melakukan monitor terhadap penyelenggaraan pemerintahan negara.116 I.1.4.4 Badan Narkotika Nasional (BNN) Dalam rangka pencegahan dan pemberantasan penyalahgunaan dan peredaran gelap Narkotika dan
111 112 113 114 115

Pasal 2 ayat (1) Undang-Undang RI No. 16 Tahun 2004 tentang Kejaksaan. Pasal 2 ayat (2) Undang-Undang RI No. 16 Tahun 2004 tentang Kejaksaan. Pasal 2 ayat (3) Undang-Undang RI No. 16 Tahun 2004 tentang Kejaksaan. Pasal 3 Undang-Undang RI No. 16 Tahun 2004 tentang Kejaksaan.

Pasal 4 Undang-Undang RI No. 30 Tahun 2002 tentang Komisi Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi.
116 Pasal 6 Undang-Undang RI No. 30 Tahun 2002 tentang Komisi Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi.

Rezim AML & CFT

49

Prekursor Narkotika, dengan Undang-Undang ini dibentuk Badan Narkotika Nasional, yang selanjutnya disingkat BNN.117 I.1.4.5 Direktorat Jenderal Pajak Penyidikan tindak pidana di bidang perpajakan hanya dapat dilakukan oleh Pejabat Pegawai Negeri Sipil tertentu di lingkungan Direktorat Jenderal Pajak yang diberi wewenang khusus sebagai penyidik tindak pidana di bidang perpajakan.118 I.1.4.6 Direktorat Jenderal Bea dan Cukai Penyidikan terhadap tindak pidana di bidang Kepabeanan dan Cukai dilakukan oleh Penyidik Pegawai Negeri Sipil Direktorat Jenderal Bea dan Cukai.119 I.1.4.7 Pengadilan120 Pengadilan mengadili menurut hukum dengan tidak membeda-bedakan orang. Pengadilan membantu pencari keadilan dan berusaha mengatasi segala hambatan dan rintangan untuk dapat tercapainya peradilan yang sederhana, cepat dan biaya ringan. I.1.5 Komite Koordinasi Nasional Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang dan Pendanaan Terorisme (Komite TPPU) Untuk meningkatkan koordinasi antarlembaga terkait dalam pencegahan dan pemberantasan tindak pidana pencucian uang, dibentuk Komite Koordinasi Nasional Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang. 121
117 118

Pasal 64 ayat (1) Undang-Undang RI No. 35 Tahun 2009 tentang Narkotika.

Pasal 44 Undang-Undang RI No. 28 Tahun 2007 tentang Perubahan Atas UndangUndang RI No. 6 Tahun 1983 tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan.
119 Pasal 1 ayat (1) Peraturan Pemerintah RI No. 55 Tahun 1996 tentang Penyidikan Tindak Pidana di Bidang Kepabeanan dan Cukai.

Pasal 4 ayat (1), ayat (2) Undang-Undang RI No. 48 Tahun 2009 tentang Kekuasaan Kehakiman.
121 Pasal 92 ayat (1) Undang-Undang RI No. 8 Tahun 2010 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang.

120

50

Ikhtisar Ketentuan AML & CFT

Pembentukan Komite Koordinasi Nasional Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang diatur dengan Peraturan Presiden.122 Komite Koordinasi Nasional Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang yang dibentuk berdasarkan Keputusan Presiden Nomor 1 Tahun 2004 tetap menjalankan tugas, fungsi, dan wewenangnya sampai dibentuk Komite Koordinasi Nasional Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang berdasarkan Undang-Undang ini.123 Untuk menunjang efektifnya pelaksanaan rezim anti pencucian uang di Indonesia, pemerintah RI membentuk Komite Koordinasi Nasional Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang (Komite TPPU) yang diketuai oleh Menko Politik, Hukum dan Keamanan dengan wakil Menko Perekonomian dan Kepala PPATK sebagai Sekretaris Komite.124 I.1.5.1 Susunan Keanggotaan Komite TPPU125 : Ketua : Menteri Koordinator Bidang Politik dan Keamanan; Wakil Ketua : Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Sekretaris : Kepala PPATK Anggota : 1. Menteri Luar Negeri; 2. Menteri Kehakiman dan Hak Asasi Manusia; 3. Menteri Keuangan; 4. Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia; 5. Jaksa Agung Republik Indonesia; 6. Kepala Badan Intelijen Negara; 7. Gubernur Bank Indonesia.
122 Pasal 92 ayat (2) Undang-Undang RI No. 8 Tahun 2010 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang. 123 Pasal 94 huruf e Undang-Undang RI No. 8 Tahun 2010 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang. 124 Keputusan Presiden RI No. 1 Tahun 2004 tentang Komite Koordinasi Nasional Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang. 125 Keputusan Presiden RI No. 1 Tahun 2004 tentang Komite Koordinasi Nasional Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang.

Rezim AML & CFT

51

I.1.5.2 Tugas Komite TPPU26 : I.1.5.2.1 mengkoordinasikan upaya penanganan pencegahan dan pemberantasan tindak pidana pencucian uang; memberikan rekomendasi kepada Presiden mengenai arah dan kebijakan penanganan pencegahan dan pemberantasan tindak pidana pencucian uang secara nasional; mengevaluasi pelaksanaan penanganan pencegahan dan pemberantasan tindak pidana pencucian uang; melaporkan perkembangan penanganan pencegahan dan pemberantasan tindak pidana pencucian uang kepada Presiden.

I.1.5.2.2

I.1.5.2.3

I.1.5.2.4

I.1.5.3 Tim Kerja Dalam melaksanakan tugasnya, Komite TPPU dibantu oleh Tim Kerja yang terdiri dari127 : I.1.5.3.1 I.1.5.3.2 Kepala Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (sebagai Ketua). Deputi Menteri Koordinator Bidang Politik dan Keamanan Bidang Keamanan Nasional (sebagai Wakil Ketua). Deputi Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Bidang Kerjasama Ekonomi Internasional. Direktur Jenderal Multilateral Politik Sosial Keamanan-Departemen Luar Negeri. Direktur Jenderal Administrasi Hukum Umum-Departemen Kehakiman dan HAM. Direktur Jenderal Imigrasi-Departemen Kehakiman dan HAM.

I.1.5.3.3

I.1.5.3.4 I.1.5.3.5 I.1.5.3.6
126

Keputusan Presiden RI No. 1 Tahun 2004 tentang Komite Koordinasi Nasional Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang.
127 Keputusan Presiden RI No. 1 Tahun 2004 tentang Komite Koordinasi Nasional Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang.

52

Ikhtisar Ketentuan AML & CFT

I.1.5.3.7

Direktur Jenderal Bea dan CukaiDepartemen Keuangan, Direktur Jenderal Pajak-Departemen Keuangan. Direktur Jenderal Lembaga KeuanganDepartemen Keuangan. Ketua Badan Pengawas Pasar ModalDepartemen Keuangan.

I.1.5.3.8 I.1.5.3.9

I.1.5.3.10 Kepala Badan Reserse Kriminal-Kepolisian Negara Republik Indonesia. I.1.5.3.11 Jaksa Agung Muda Tindak Pidana Umum. I.1.9.3.12 Deputi Kepala Badan Intelijen Negara Bidang Pengamanan. I.1.9.3.13 Deputi Gubernur Bidang Perbankan Bank Indonesia. I.1.5.4 Tim Teknis Dibentuk berdasarkan Keputusan Menko Bidang Politik, Hukum dan Keamanan. Tim Teknis bertugas melaksanakan Keoutusan dan Rekomendasi Tim Kerja.128 I.1.6 Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia PPATK membuat dan menyampaikan laporan pelaksanaan tugas, fungsi, dan wewenangnya secara berkala setiap 6 (enam) bulan.129 Laporan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) disampaikan kepada Presiden dan Dewan Perwakilan Rakyat.130 Dalam rangka melaksanakan fungsi pengawasan, DPR RI sewaktu-waktu berhak meminta laporan PPATK.131
128 Keputusan Presiden RI No. 1 Tahun 2004 tentang Komite Koordinasi Nasional Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang. 129 Pasal 47 ayat (1) Undang-Undang RI No. 8 Tahun 2010 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang.

Pasal 47 ayat (2) Undang-Undang RI No. 8 Tahun 2010 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang.
131 Penjelasan Pasal 47 ayat (2) Undang-Undang RI No. 8 Tahun 2010 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang.

130

Rezim AML & CFT

53

I.1.7 Presiden Republik Indonesia PPATK bertanggung jawab kepada Presiden.132 I.1.8 Masyarakat PPATK menerima laporan dan/atau informasi dari masyarakat mengenai adanya dugaan tindak pidana pencucian uang.133 I.2 Kedudukan, Tugas, Fungsi dan Kewenangan PPATK I.2.1 Kedudukan PPATK dalam melaksanakan tugas dan kewenangannya bersifat independen dan bebas dari campur tangan dan pengaruh kekuasaan mana pun.134 PPATK bertanggung jawab kepada Presiden.135 Setiap orang dilarang melakukan segala bentuk campur tangan terhadap pelaksanaan tugas dan kewenangan PPATK.136 PPATK wajib menolak dan/atau mengabaikan segala bentuk campur tangan dari pihak mana pun dalam rangka pelaksanaan tugas dan kewenangannya.137 PPATK berkedudukan di Ibukota Negara Kesatuan Republik Indonesia.138 Dalam hal diperlukan, perwakilan PPATK dapat dibuka di daerah.139
132 Pasal 37 ayat (2) Undang-Undang RI No. 8 Tahun 2010 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang. 133 Pasal 44 ayat (1) huruf f Undang-Undang RI No. 8 Tahun 2010 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang. 134 Pasal 37 ayat (1) Undang-Undang RI No. 8 Tahun 2010 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang. 135 Pasal 37 ayat (2) Undang-Undang RI No. 8 Tahun 2010 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang. 136 Pasal 37 ayat (3) Undang-Undang RI No. 8 Tahun 2010 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang. 137 Pasal 37 ayat (4) Undang-Undang RI No. 8 Tahun 2010 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang.

Pasal 38 ayat (1) Undang-Undang RI No. 8 Tahun 2010 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang.
139 Pasal 38 ayat (2) Undang-Undang RI No. 8 Tahun 2010 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang.

138

54

Ikhtisar Ketentuan AML & CFT

I.2.2 Tugas PPATK mempunyai tugas mencegah dan memberantas tindak pidana pencucian uang.140 I.2.3 Fungsi dan Kewenangan I.2.3.1 Pencegahan dan pemberantasan tindak pidana pencucian uang141 (1) Dalam melaksanakan fungsi pencegahan dan pemberantasan tindak pidana pencucian uang sebagaimana dimaksud dalam Pasal 40 huruf a, PPATK berwenang: a. meminta dan mendapatkan data dan informasi dari instansi pemerintah dan/atau lembaga swasta yang memiliki kewenangan mengelola data dan informasi, termasuk dari instansi pemerintah dan/atau lembaga swasta yang menerima laporan dari profesi tertentu; menetapkan pedoman identifikasi Transaksi Keuangan Mencurigakan; mengoordinasikan upaya pencegahan tindak pidana pencucian uang dengan instansi terkait; memberikan rekomendasi kepada pemerintah mengenai upaya pencegahan tindak pidana pencucian uang; mewakili pemerintah Republik Indonesia dalam organisasi dan forum internasional yang berkaitan dengan pencegahan dan pemberantasan tindak pidana pencucian uang; menyelenggarakan program pendidikan dan pelatihan antipencucian uang; dan menyelenggarakan sosialisasi pencegahan dan pemberantasan tindak pidana pencucian uang.

b. c. d.

e.

f. g.

(2) Penyampaian data dan informasi oleh instansi pemerintah dan/atau lembaga swasta kepada
140 Pasal 39 Undang-Undang RI No. 8 Tahun 2010 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang. 141 Pasal 41 Undang-Undang RI No. 8 Tahun 2010 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang.

Rezim AML & CFT

55

PPATK sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a dikecualikan dari ketentuan kerahasiaan. (3) Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara penyampaian data dan informasi oleh instansi pemerintah dan/atau lembaga swasta sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a diatur dengan Peraturan Pemerintah. I.2.3.2 Pengelolaan data dan informasi yang diperoleh PPATK142 Dalam melaksanakan fungsi pengelolaan data dan informasi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 40 huruf b, PPATK berwenang menyelenggarakan sistem informasi. I.2.3.3 Pengawasan terhadap kepatuhan Pihak Pelapor143 Dalam rangka melaksanakan fungsi pengawasan terhadap kepatuhan Pihak Pelapor sebagaimana dimaksud dalam Pasal 40 huruf c, PPATK berwenang: a. b. c. d. menetapkan ketentuan dan pedoman tata cara pelaporan bagi Pihak Pelapor; menetapkan kategori Pengguna Jasa yang berpotensi melakukan tindak pidana pencucian uang; melakukan audit kepatuhan atau audit khusus; menyampaikan informasi dari hasil audit kepada lembaga yang berwenang melakukan pengawasan terhadap Pihak Pelapor; memberikan peringatan kepada Pihak Pelapor yang melanggar kewajiban pelaporan; merekomendasikan kepada lembaga yang berwenang mencabut izin usaha Pihak Pelapor; dan menetapkan ketentuan pelaksanaan prinsip mengenali Pengguna Jasa bagi Pihak Pelapor yang tidak memiliki Lembaga Pengawas dan Pengatur.

e. f. g.

142 Pasal 42 Undang-Undang RI No. 8 Tahun 2010 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang. 143 Pasal 43 Undang-Undang RI No. 8 Tahun 2010 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang.

56

Ikhtisar Ketentuan AML & CFT

I.2.3.4 Analisis atau pemeriksaan laporan dan informasii Transaksi Keuangan yang berindikasi tindak pidana pencucian uang dan/atau tindak pidana asal144 (1) Dalam rangka melaksanakan fungsi analisis atau pemeriksaan laporan dan informasi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 40 huruf d, PPATK dapat: a. b. c. meminta dan menerima laporan dan informasi dari Pihak Pelapor; meminta informasi kepada instansi atau pihak terkait; meminta informasi kepada Pihak Pelapor berdasarkan pengembangan hasil analisis PPATK; meminta informasi kepada Pihak Pelapor berdasarkan permintaan dari instansi penegak hukum atau mitra kerja di luar negeri; meneruskan informasi dan/atau hasil analisis kepada instansi peminta, baik di dalam maupun di luar negeri; menerima laporan dan/atau informasi dari masyarakat mengenai adanya dugaan tindak pidana pencucian uang; meminta keterangan kepada Pihak Pelapor dan pihak lain yang terkait dengan dugaan tindak pidana pencucian uang; merekomendasikan kepada instansi penegak hukum mengenai pentingnya melakukan intersepsi atau penyadapan atas informasi elektronik dan/atau dokumen elektronik sesuai dengan ketentuan peraturan perundangundangan; meminta penyedia jasa keuangan untuk menghentikan sementara seluruh atau sebagian Transaksi yang diketahui atau dicurigai merupakan hasil tindak pidana;

d.

e.

f.

g.

h.

i.

144 Pasal 44 Undang-Undang RI No. 8 Tahun 2010 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang.

Rezim AML & CFT

57

j.

meminta informasi perkembangan penyelidikan dan penyidikan yang dilakukan oleh penyidik tindak pidana asal dan tindak pidana Pencucian Uang; k. mengadakan kegiatan administratif lain dalam lingkup tugas dan tanggung jawab sesuai dengan ketentuan Undang-Undang ini; dan l. meneruskan hasil analisis atau pemeriksaan kepada penyidik. (2) Penyedia jasa keuangan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf i harus segera menindaklanjuti setelah menerima permintaan dari PPATK. I.2.4 Penghentian Transaksi berdasarkan permintaan PPATK PPATK dapat meminta penyedia jasa keuangan untuk menghentikan sementara seluruh atau sebagian Transaksi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 44 ayat (1) huruf i.145 Dalam hal penyedia jasa keuangan memenuhi permintaan PPATK sebagaimana dimaksud pada ayat (1), pelaksanaan penghentian sementara dicatat dalam berita acara penghentian sementara transaksi.146 Penghentian sementara transaksi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 65 ayat (1) dilaksanakan dalam waktu paling lama 5 (lima) hari kerja setelah menerima berita acara penghentian sementara Transaksi.147 PPATK dapat memperpanjang penghentian sementara transaksi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dalam waktu paling lama 15 (lima belas) hari kerja untuk melengkapi hasil analisis atau pemeriksaan yang akan disampaikan kepada penyidik.148

145 Pasal 65 ayat (1) Undang-Undang RI No. 8 Tahun 2010 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang. 146 Pasal 65 ayat (2) Undang-Undang RI No. 8 Tahun 2010 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang. 147 Pasal 66 ayat (1) Undang-Undang RI No. 8 Tahun 2010 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang. 148 Pasal 66 ayat (2) Undang-Undang RI No. 8 Tahun 2010 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang.

58

Ikhtisar Ketentuan AML & CFT

Dalam hal tidak ada orang dan/atau pihak ketiga yang mengajukan keberatan dalam waktu 20 (dua puluh) hari sejak tanggal penghentian sementara Transaksi, PPATK menyerahkan penanganan Harta Kekayaan yang diketahui atau patut diduga merupakan hasil tindak pidana tersebut kepada penyidik untuk dilakukan penyidikan.149 Dalam hal yang diduga sebagai pelaku tindak pidana tidak ditemukan dalam waktu 30 (tiga puluh) hari, penyidik dapat mengajukan permohonan kepada pengadilan negeri untuk memutuskan Harta Kekayaan tersebut sebagai aset negara atau dikembalikan kepada yang berhak.150 Pengadilan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) harus memutus dalam waktu paling lama 7 (tujuh) hari.151 I.3 Kerjasama Domestik dan Internasional Kerja sama nasional yang dilakukan PPATK dengan pihak yang terkait dituangkan dengan atau tanpa bentuk kerja sama formal.152 Pihak yang terkait sebagaimana dimaksud pada ayat (1) adalah pihak yang mempunyai keterkaitan langsung atau tidak langsung dengan pencegahan dan pemberantasan tindak pidana pencucian uang di Indonesia. 153 Kerja sama internasional dilakukan oleh PPATK dengan lembaga sejenis yang ada di negara lain dan lembaga internasional yang terkait dengan pencegahan dan pemberantasan tindak pidana pencucian uang.154 Kerja sama internasional yang dilakukan PPATK dapat dilaksanakan dalam bentuk kerja sama formal atau berdasarkan bantuan timbal balik

149 Pasal 67 ayat (1) Undang-Undang RI No. 8 Tahun 2010 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang. 150 Pasal 67 ayat (2) Undang-Undang RI No. 8 Tahun 2010 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang. 151 Pasal 67 ayat (3) Undang-Undang RI No. 8 Tahun 2010 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang. 152 Pasal 88 ayat (1) Undang-Undang RI No. 8 Tahun 2010 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang. 153 Pasal 88 ayat (2) Undang-Undang RI No. 8 Tahun 2010 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang. 154 Pasal 89 ayat (1) Undang-Undang RI No. 8 Tahun 2010 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang.

Rezim AML & CFT

59

atau prinsip resiprositas. 155 Dalam melakukan pencegahan dan pemberantasan tindak pidana pencucian uang, PPATK dapat melakukan kerja sama pertukaran informasi berupa permintaan, pemberian, dan penerimaan informasi dengan pihak, baik dalam lingkup nasional maupun internasional, yang meliputi: a. instansi penegak hukum; b. lembaga yang berwenang melakukan pengawasan terhadap penyedia jasa keuangan; c. lembaga yang bertugas memeriksa pengelolaan dan tanggung jawab keuangan negara; d. lembaga lain yang terkait dengan pencegahan dan pemberantasan tindak pidana pencucian uang atau tindak pidana lain terkait dengan tindak pidana pencucian uang; dan e. financial intelligence unit negara lain.156 Permintaan, pemberian, dan penerimaan informasi dalam pertukaran informasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat dilakukan atas inisiatif sendiri atau atas permintaan pihak yang dapat meminta informasi kepada PPATK.157 Permintaan informasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) kepada PPATK diajukan secara tertulis dan ditandatangani oleh: a. hakim ketua majelis; b. Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia atau kepala kepolisian daerah; c. Jaksa Agung atau kepala kejaksaan tinggi; d. pimpinan instansi atau lembaga atau komisi dalam hal permintaan diajukan oleh penyidik, selain penyidik Kepolisian Negara Republik Indonesia; e. pemimpin, direktur atau pejabat yang setingkat, atau pemimpin satuan kerja atau kantor di lembaga yang berwenang melakukan pengawasan terhadap penyedia jasa keuangan;

155 Pasal 89 ayat (2) Undang-Undang RI No. 8 Tahun 2010 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang. 156 Pasal 90 ayat (1) Undang-Undang RI No. 8 Tahun 2010 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang. 157 Pasal 90 ayat (2) Undang-Undang RI No. 8 Tahun 2010 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang.

60

Ikhtisar Ketentuan AML & CFT

f.

pimpinan lembaga yang bertugas memeriksa pengelolaan dan tanggung jawab keuangan negara; g. pimpinan dari lembaga lain yang terkait dengan pencegahan dan pemberantasan tindak pidana pencucian uang atau tindak pidana lain terkait dengan tindak pidana pencucian uang; atau h. pimpinan financial intelligence unit negara lain.158 Dalam rangka mencegah dan memberantas tindak pidana pencucian uang, dapat dilakukan kerja sama bantuan timbal balik dalam masalah pidana dengan negara lain melalui forum bilateral atau multilateral sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.159 Kerja sama bantuan timbal balik sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat dilaksanakan jika negara dimaksud telah mengadakan perjanjian kerja sama bantuan timbal balik dengan Negara Kesatuan Republik Indonesia atau berdasarkan prinsip resiprositas. 160 Untuk dapat membangun rezim anti pencucian uang dan pendanaan terorisme yang kuat dan efektif di dalam negeri, PPATK sebagai national vocal point telah menjalin kerjasama dengan lembaga/instansi pemerintah terkait, perguruan tinggi/universitas, dan Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) berlandaskan Memorandum of Understanding (MoU).161 Meskipun Indonesia bukan anggota Financial Action Task Force (FATF), namun Indonesia telah bergabung dengan salah satu special body FATF untuk kawasan Asia-Pasifik yaitu Asia-Pacific Group on Money Laundering (APG) pada tahun 2000, yang hingga saat ini APG memiliki anggota sebanyak 32 negara, 13 negara peninjau dan 16 organisasi peninjau. APG didirikan pada tahun 1997 dalam the Fourth Asia/Pacific Money Laundering Symposium yang diselenggarakan di Bangkok, Thailand, sebagai suatu badan regional anti-pencucian yang bersifat otonom. Setelah pendirian APG dan menyelenggarakan pertemuan pertamanya di Tokyo, Jepang, untuk selanjutnya pertemuan APG diselenggarakan setiap tahun. Adapun tujuan pembentukan APG adalah untuk memastikan pengadopsian, pelaksanaan, dan ditegakkannya
158 Pasal 90 ayat (3) Undang-Undang RI No. 8 Tahun 2010 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang. 159 Pasal 91 ayat (1) Undang-Undang RI No. 8 Tahun 2010 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang. 160 Pasal 91 ayat (2) Undang-Undang RI No. 8 Tahun 2010 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang. 161

MoU antara PPATK dengan instansi terkait terlampir.

Rezim AML & CFT

61

standar internasional dan best practice anti-pencucian uang dan pendanaan terorisme sebagaimana telah ditetapkan dalam 40+9 recommendations FATF. The Egmont Group adalah asosiasi dari Financial Intelligence Unit (FIU), yaitu suatu lembaga yang dibentuk oleh masing-masing negara sebagai focal point untuk mencegah dan memberantas tindak pidana pencucian uang, seperti Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK) di Indonesia. Sekarang anggota The Egmont Group terdiri dari 117 negara dan teritori. The Egmont Group didirikan pada tahun 1995 di Egmont-Arenberg Palace di Belgia. Maksud dari pendirian The Egmont Group adalah menyediakan forum untuk FIU agar dukungan dapat ditingkatkan antara satu sama lain dalam rangka mencegah dan memberantas TPPU. The Egmont Group juga menerbitkan kompilasi ratusan kasus yang berkaitan dengan TPPU. Indonesia telah menjadi anggota The Egmont Group, dan hubungan kerjasama dengan FIU negara lain berdasarkan Memorandum of Understanding (MoU), khususnya dalam hal pertukaran informasi intelijen di bidang keuangan dalam rangka pencegahan dan pemberantasan TPPU.162 I.4 Strategi Nasional Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang163 I.4.1 Pembuatan Single Identity Number I.4.1.1 Masalah yang dihadapi Setiap individu di Indonesia dapat memiliki lebih dari beberapa data yang masing-masing punya nomor identitas sendiri-sendiri, mulai dari identitas yang bersifat personal seperti KTP (Kartu Tanda Penduduk) dan SIM (Surat Ijin Mengemudi), kemudian yang bersifat transactional seperti nomer rekening bank dan asuransi, sampai pada nomer identitas yang sifatnya spasial seperti sertifikat tanah, IMB, dan lain-lain. Hal ini ditambah lagi dengan adanya fenomena “mudah”nya seseorang untuk memperoleh identitas personal lebih dari 1 (satu), seperti KTP dan SIM yang dapat diperoleh di wilayah yang berbeda-beda.
162 163

MoU antara PPATK dengan FIU negara lain terlampir.

Komite TPPU, Strategi Nasional Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang, (PPATK: Jakarta, 2007).

62

Ikhtisar Ketentuan AML & CFT

Mudahnya memperoleh identitas personal tersebut dapat membuka peluang disalahgunakan untuk melakukan tindak pidana, khususnya pencucian uang dan upaya untuk mengelabui otoritas yang berwenang. Individuindividu tersebut dapat menggunakan identitas “asli tapi palsu” (“aspal”) untuk pembukaan rekening di Bank, melakukan transaksi, baik dengan industri keuangan maupun dengan industri jasa lainnya, mengurus passport dan dokumen-dokumen penting lainnya. Berdasarkan laporan yang disampaikan oleh penyedia jasa keuangan kepada PPATK, penggunaan “false identity” tersebut termasuk yang cukup dominan. Belum lagi apabila dikaitkan dengan upaya pendanaan terorisme, penggunaan identitas palsu tersebut sangat dimungkinkan, yang mengakibatkan sulitnya bagi aparat penegak hukum untuk menelusuri dan melakukan penindakan. I.4.1.2 Langkah/Strategi yang harus ditempuh Untuk mengatasi banyaknya identitas palsu, termasuk penyalahgunaan identitas tersebut, diperlukan adanya Single Identity Number bagi setiap warga negara. Dengan demikian, tidak ada lagi seorang individu yang memiliki identitas pribadi lebih dari 1 (satu). Mulai dari KTP, SIM, asuransi kesehatan dan lain-lain cukup menggunakan satu nomor identitas pribadi. Berdasarkan Undang Undang No. 23 Tahun 2006 Tentang Administrasi Kependudukan, sesuai Pasal 13 ayat 1 dinyatakan bahwa setiap penduduk wajib memiliki Nomor Induk Kependudukan (NIK) yang selanjutnya dalam pasal 13 ayat 3 disebutkan bahwa Nomor Induk Kependudukan dicantumkan dalam setiap dokumen kependudukan dan dijadikan dasar penerbitan Passport, Surat Izin Mengemudi, Nomor Pokok Wajib Pajak, Polis Asuransi, Sertifikat Hak Atas Tanah dan penerbitan dokumen identitas lainnya. Selanjutnya Undang Undang No. 23 Tentang Administrasi Kependudukan dalam pasal 82 ayat 1 dan 2 menyatakan bahwa pengelolaan informasi administrasi kependudukan dilakukan oleh Menteri Dalam Negeri dan

Rezim AML & CFT

63

dilakukan melalui pembangunan Sistem Informasi Administrasi Kependudukan (SIAK). Untuk mewujudkan amanat Undang-undang tersebut maka langkah/ strategi yang sedang dan akan ditempuh adalah : a. Pembangunan database penduduk tingkat Kabupaten/Kota, Propinsi dan Pusat. b. Pemberlakuan NIK Nasional. c. Pemutakhiran data penduduk Kabupaten/ Kota. d. Pemutihan KTP dalam rangka penerapan KTP berbasis NIK Nasional. e. Pengembangan data center dan jaringan komunikasi data SIAK (Sistem Informasi Administrasi Kependudukan) di pusat dan daerah. f. Penataan Sistem Koneksitas NIK dengan Departemen/Lembaga terkait untuk kepentingan layanan publik. I.4.1.3 Tujuan strategi. Dengan dimilikinya 1 (satu) nomor identitas pribadi, maka sulit bagi individu untuk berhubungan dengan industri keuangan atau melakukan transaksi dengan menggunakan “identitas asli tapi palsu”. Dengan demikian penyalahgunaan identitas palsu untuk kejahatan pun dapat dieliminir seminim mungkin. I.4.1.4 Peraturan Perundang-undangan Terkait · · Undang-Undang RI No. 9 Tahun 1992 tentang Keimigrasian. Undang-Undang RI No. Nomor 16 Tahun 2000 tentang Perubahan Kedua Atas Undang-Undang Nomor 6 Tahun 1983 tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan. Undang-Undang RI No. 12 Tahun 2006 tentang Kewarganegaraan Republik Indonesia. Undang-Undang RI No. 23 Tahun 2006 tentang Administrasi Kependudukan

· ·

I.4.1.5 Instansi yang terlibat Departemen Dalam Negeri, Kantor Menteri Koordinator

64

Ikhtisar Ketentuan AML & CFT

Politik, Hukum dan HAM, Departemen Keuangan, Kementerian Pemberdayaan Aparatur Negara, dan Departemen Hukum dan HAM. I.4.2 Penyelesaian Pembahasan RUU TPPU, Peraturan Pelaksanaan dan Implementasinya I.4.2.1 Masalah yang dihadapi Dari aspek domestik, pelaksanaan rezim anti pencucian uang saat ini masih dihadapkan pada kendala adanya permasalahan dalam UU TPPU, antara lain keterbatasan dalam upaya pendeteksian TPPU, adanya beragam penafsiran atas beberapa rumusan norma peraturan perundang-undangan yang dapat menimbulkan “celah hukum”, terbatasnya instrumen formal untuk melakukan pentrasiran dan penyitaan aset hasil kejahatan, serta masih terbatasnya kewenangan yang dimiliki oleh beberapa institusi terkait dalam penerapan UU TPPU. Sementara itu dari aspek internasional, terdapat kebutuhan untuk menyelaraskan dan menyesuaikan peraturan perundang-undangan yang ada dengan norma yang berlaku secara internasional, yaitu Revised 40+9 FATF Recommendation. Masih terdapat beberapa norma dari recommendation tersebut yang belum diadopsi dalam peraturan perundang-undangan di Indonesia. Hal ini tentunya akan menjadi beban yang lebih berat bagi Indonesia apabila dikaitkan dengan Mutual Evaluation yang akan dilakukan oleh FATF/ APG pada triwulan IV tahun 2007 ini untuk mengetahui tingkat kepatuhan Indonesia terhadap FATF recommendations tersebut. Naskah RUU tentang Pencegahan dan Pemberantasan TPPU telah disampaikan oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono ke DPR pada tanggal 10 Oktober 2006. Sidang paripurna DPR tangggal 27 Pebruari 2007, juga telah menyetujui untuk memasukkan RUU tentang Pencegahan dan Pemberantasan TPPU dalam daftar RUU Prolegnas Prioritas Tahun 2007. Secara umum, jangkauan atau arah pengaturan dari RUU ini mencakup 5 (lima) hal utama, yaitu:

Rezim AML & CFT

65

a.

memperluas deteksi TPPU antara lain dengan memperluas pihak pelapor (reporting parties) dan jenis pelaporan; b. mengakhiri multi tafsir atau menutup celah hukum (loopholes) yang ada dalam UU-TPPU saat ini seperti dengan menyempurnakan rumusan delik dan pengaturan mengenai hukum acara pemeriksaan TPPU; c. memperluas jangkauan aparat penegak hukum dalam penanganan TPPU antara lain dengan memberikan kewenangan kepada penyidik tindak pidana asal untuk melakukan penyidikan TPPU; d. menata kembali hubungan dan kewenangan dari pihak-pihak yang terkait dengan pelaksanaan rezim anti pencucian uang, dan e. memperkuat kelembagaan PPATK antara lain dengan memberikan kewenangan untuk melakukan penyelidikan, penelusuran dan penyitaan aset hasil tindak pidana guna dirampas sebagai aset negara. Pembahasan RUU ini di DPR harus dapat berjalan secara efektif. Pengesahan dan pengundangan RUU tersebut sedapat mungkin dilakukan sebelum “mutual evaluation” oleh FATF/APG yang direncanakan akan dilakukan pada triwulan IV 2007. Apabila pengesahan dan pengundangan RUU terhambat, maka Indonesia dapat dipandang sebagai negara yang tidak sepenuhnya menggunakan standar internasional (partially comply) dalam pencegahan dan pemberantasan TPPU. Penyusunan berbagai peraturan yang merupakan amanat dari (R) UU juga harus segera dimulai dan diselesaikan sehingga UU yang baru tersebut dapat diimplementasikan secara penuh dan efektif. I.4.2.2 Langkah/Strategi yang harus ditempuh a. RUU TPPU yang telah diserahkan oleh Presiden RI kepada DPR-RI bulan Oktober 2006 yang lalu harus segera dibahas oleh pemerintah dan parlemen serta dapat segera diundangkan pula. b. Peraturan pelaksana yang menunjang pelak-sanaan UU TPPU harus segera dibuat pula, sehingga dapat

66

Ikhtisar Ketentuan AML & CFT

diimplementasikan dengan baik. Peraturan pelaksana yang mendesak untuk segera diselesaikan guna mendukung pengimplemen-tasian UU yang baru adalah : c. Penyusunan Rancangan Peraturan Pemerintah tentang Manajemen SDM PPATK; d. Penyusunan Rancangan Peraturan Presiden tentang Susunan Organisasi dan Tata Kerja PPATK; e. Penyusunan Rancangan Keputusan Bersama tentang Pedoman Penyelidikan dan Penyidikan TPPU; dan f. Penyusunan Rancangan Peraturan Kepala PPATK tentang Pedoman Pelaporan bagi Pihak Pelapor Baru (Profesi dan Penyedia Barang dan/atau Jasa).

I.4.2.3 Tujuan strategi Dengan diundangkannya RUU TPPU ini, diharapkan Indonesia dapat segera memiliki UU TPPU yang lebih komprehensif, yang bukan saja mengakomodir normanorma internasional, namun juga memenuhi kebutuhan domestik. Hal tersebut sejalan dengan tujuan pengesahan RUU ini, yaitu (i) memperkokoh komitmen bangsa Indonesia untuk menegakkan rezim anti tindak pidana pencucian uang; (ii) mendukung dan meningkatkan efektivitas upaya penegakan hukum dalam pencegahan dan pemberantasan tindak pidana pencucian uang dan tindak pidana asal; (iii) memberikan dasar yang kuat dan kemudahan dalam penelusuran dan penyitaan aset hasil tindak pidana sehingga dapat menimbulkan efek jera bagi pelakunya, (iv) menyesuaikan pengaturan mengenai tindak pidana pencucian uang dengan standard internasional yang telah mengalami perubahan serta ketentuan anti-money laundering regime yang berlaku secara internasional (international best practice); dan (v) untuk lebih meningkatkan kepercayaan masyarakat baik dalam maupun luar negeri terhadap penegakan hukum di Indonesia khususnya dalam kasus-kasus tindak pidana pencucian uang.

Rezim AML & CFT

67

I.4.2.4 Peraturan Perundang-undangan Terkait · · · · · · · Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP). Undang-Undang RI No. 8 Tahun 1981 tentang Hukum Acara Pidana. Undang-Undang RI No. 22 Tahun 1997 tentang Narkotika. Undang-Undang RI No. 5 Tahun 1997 tentang Psikotropika. Undang-Undang RI No. 23 Tahun 1999 Tentang Bank Indonesia. Undang-Undang RI No. 24 tahun 1999 tentang Lalu Lintas Devisa dan Sistem Nilai Tukar. Undang-Undang RI No. 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi sebagaimana telah diubah dengan Undang-undang No. 20 Tahun 2001. Undang-Undang RI No. 15 Tahun 2002 tentang Tindak Pidana Pencucian Uang sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang No.25 Tahun 2003. Undang-Undang RI No. 15 Tahun 2003 tentang Penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti Undangundang (Perpu) No.1 Tahun 2002 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme sebagai UU. Undang-Undang RI No. 1 Tahun 2006 tentang Bantuan Timbal Balik dalam Masalah Pidana. Undang-Undang RI No. 6 Tahun 2006 tentang pengesahan International Convention for the Suppression of the Financing of Terrorism, 1999 (Konvensi Internasional Pemberantasan Pendanaan Terorisme Tahun 1999). Undang-Undang RI No. 7 Tahun 2006 tentang pengesahan United Nations Convention Against Corruption, 2003 (Konvensi Perserikatan BangsaBangsa Anti Korupsi). Undang-Undang RI No. 13 Tahun 2006 tentang Perlindungan Saksi dan Korban.

·

·

· ·

·

·

I.4.2.5 Instansi yang terlibat Departemen Hukum dan HAM, Departemen Keuangan, dan PPATK.

68

Ikhtisar Ketentuan AML & CFT

I.4.3 Pengelolaan Database secara Elektronis dan Ketersam-bungan (Connectivity) Database yang Dimiliki oleh Beberapa Instansi Terkait I.4.3.1 Masalah yang dihadapi Dalam menunjang pelaksanaan tugasnya, masingmasing instansi di Indonesia sudah barang tentu telah memiliki database. Selain untuk pelaksanaan tugas instansi itu sendiri, pada dasarnya database yang dimiliki tersebut dapat berguna pula untuk kepentingan pelaksanaan tugas instansi lain yang terkait. Demikian pula dalam rangka pencegahan dan pemberantasan tindak pidana pencucian uang (TPPU), database yang dimiliki oleh instansi terkait akan sangat membantu pelaksanaan tugas instansi tertentu, seperti PPATK, Kepolisian RI, Kejaksaan RI, dan lain-lain. Saat ini akses terhadap database instansi lain dapat dilakukan atas dasar permintaan (request basis) yang sebelumnya didahului dengan adanya Memorandum of Understanding (MoU). Namun mekanisme ini dirasakan membutuhkan waktu yang cukup lama, mengingat seluruhnya proses dilakukan dengan manual dan surat menyurat, sehingga efektifitas ketersediaan informasi dirasakan belum maksimal. Selain itu masih terdapat instansi belum menerapkan pengelolaan database secara elektronis dan tersentralisasi yang memungkinkan dapat melihat seluruh data secara mudah dan cepat. Dengan mempertimbangkan semakin kompleks dan cepatnya informasi yang didapat maupun yang beredar, tampaknya eletronisasi dan sentralisasi database serta akses secara elektronis kiranya sudah sangat diperlukan. I.4.3.2 Langkah/Strategi yang harus ditempuh Untuk instansi yang belum mengelola database secara elektronis dan tersentralisasi, harus segera membenahi pengelolaan database-nya menjadi elektronis dan tersentralisasi. b. Untuk instansi yang telah mengelola database secara elektronis dapat dihubungkan satu dengan yang lain, sehingga suatu instansi dapat mempunyai akses a.

Rezim AML & CFT

69

langsung terhadap database instansi. Ketersambungan ini dapat dilakukan secara gradual sesuai dengan tingkat kebutuhan. I.4.3.3 Tujuan strategi Adanya pengelolaan database secara elektronis dan tersentralisasi serta ketersambungan database diantara instansi terkait diharapkan kebutuhan informasi diantara instansi yang membutuhkan dapat dipenuhi dengan cepat, sehingga dapat mengefektifkan upaya penanganan tindak pidana pencucian uang. I.4.3.4 Peraturan Perundang-undangan Terkait · · · · Undang-Undang RI No. 36 Tahun 1999 tentang Telekomunikasi. Undang-Undang RI No. 23 Tahun 2006 tentang Administrasi Kependudukan. Instruksi Presiden RI No. 3 Tahun 2003 tentang Strategi Nasional Pembangunan e-Government. Undang-Undang RI No. 15 Tahun 2002 tentang Tindak Pidana Pencucian Uang sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang RI No. 25 Tahun 2003.

I.4.3.5 Instansi yang terlibat Departemen Komunikasi dan Informasi; PPATK; Kepolisian RI; Kejaksaan Agung RI; KPK; Departemen Dalam Negeri; Departemen Keuangan; Departemen Hukum dan HAM; dan Instansi teknis lain. I.4.4 Peningkatan Pengawasan Kepatuhan Penyedia Jasa Keuangan (PJK) I.4.4.1 Masalah yang dihadapi Peningkatan jumlah laporan ke PPATK hingga periode akhir tahun 2006 telah mengalami kemajuan, namun tidak diikuti dengan peningkatan jumlah penyedia jasa keuangan (PJK) yang melaporkan. Dari keseluruhan jumlah PJK yang mencapai lebih dari 3.500, tercatat baru sekitar 160 PJK yang telah menyampaikan laporan, sementara sisanya belum pernah mengirim. Di lihat dari

70

Ikhtisar Ketentuan AML & CFT

kelompok industri, PJK pelapor yang jumlah laporannya relatif minim adalah BPR, industri pasar modal, asuransi, dana pensiun, dan Pedagang Valuta Asing (PVA). Sedangkan untuk PJK yang hingga akhir tahun 2006 belum melaksanakan kewajiban pelaporan adalah kantor pos. Salah satu kendala yang menyebabkan masih sedikitnya PJK yang menyampaikan laporan yaitu belum semua PJK menerapkan Prinsip Mengenal Nasabah (PMN) secara efektif dan benar, bahkan masih ada PJK yang belum memiliki aturan PMN, seperti kantor pos. Sedangkan, untuk dapat mengetahui adanya transaksi keuangan yang mencurigakan, PJK harus mengetahui profil, karakteristik serta kebiasaan pola transaksi nasabahnya yang merupakan cakupan dari PMN. Apabila ketentuan-ketentuan yang telah dikeluarkan oleh regulator dapat diterapkan secara baik dan benar oleh PJK, maka diharapkan tingkat kepatuhan PJK atas kewajiban pelaporan dapat dilaksanakan secara optimal. Dalam hal ini, peran aktif regulator sangat diperlukan termasuk di dalamnya upaya meningkatkan kepatuhan PJK yang diawasinya. I.4.4.2 Langkah/Strategi yang harus ditempuh Regulator harus meningkatkan pengawasan untuk dapat mengidentifikasi PJK-PJK yang berada di bawah pengawasannya masih belum secara efektif menerapkan PMN. Selain itu, untuk menumbuhkan efek jera bagi PJK yang lalai dalam penerapan PMN dan kewajiban pelaporan kepada PPATK, regulator harus bersikap tegas berdasarkan kewenangan yang dimilikinya untuk memberikan sanksi administratif. Untuk mendukung hal tersebut, diperlukan pula pelaksanaan program sosialisasi secara terencana dan berkesinambungan untuk membangun kesadaran kepatuhan PJK. Selanjutnya terhadap ketentuan yang sudah dikeluarkan, perlu dilakukan evaluasi secara berkala untuk disesuaikan dengan ketentuan yang terkini.

Rezim AML & CFT

71

I.4.4.3 Tujuan strategi Meningkatkan kepatuhan PJK dalam menerapkan PMN secara optimal yang pada akhirnya akan memudahkan PJK dalam melaksanakan kewajiban pelaporan kepada PPATK, khususnya bagi PJK yang jumlah pelaporannya masih minim, seperti sebagian bank umum, BPR dan industri keuangan non-bank. Dengan meningkatnya kepatuhan dari PJK tersebut, maka jumlah pelaporan dan informasi yang diterima oleh PPATK akan semakin banyak pula yang pada akhirnya dapat mempermudah melakukan pendeteksian adanya indikasi tindak pidana tertentu melalui pelacakan aliran dana yang mencurigakan. I.4.4.4 Peraturan Perundang-undangan Terkait · · · · Undang-Undang RI No. 8 Tahun 1995 Tentang Pasar Modal. Undang-Undang RI No. 23 Tahun 1999 Tentang Bank Indonesia. Undang-Undang RI No. 7 Tahun 1992 tentang Perbanakan. Undang-Undang RI No. 15 Tahun 2002 tentang Tindak Pidana Pencucian Uang sebagaimana telah diubah dengan Undang-undang No. 25 Tahun 2003. Peraturan Menteri Keuangan RI No. 74/PMK. 012/ 2006 tanggal 31 Agustus 2006 tentang Penerapan Prinsip Mengenal Nasabah bagi Lembaga Keuangan Non Bank. Keputusan Ketua Bapepam No. Kep-02/PM/ 2003 tanggal 15 Januari 2003 tentang Prinsip Mengenal Nasabah. PBI No. 3/10/PBI/2001 tanggal 18 Juni 2001 tentang Penerapan Prinsip Mengenal Nasabah bagi Bank Umum sebagaimana telah diubah dengan PBI No. 2/23/PBI/2001 tanggal 13 Desember 2001 dan PBI No. 5/21/PBI/2003 tanggal 17 Oktober 2003. PBI No. 5/23/PBI/2003 tanggal 23 Oktober 2003 tentang Prinsip Mengenal Nasabah bagi BPR. Surat Edaran No. 2/23/DPNP tanggal 13 Desember 2001 tentang Pedoman Standar Penerapan Prinsip

·

·

·

· ·

72

Ikhtisar Ketentuan AML & CFT

·

·

·

·

Mengenal Nasabah (PMN) sebagaimana telah diubah dengan Surat Edaran No. 5/32/DPNP tanggal 4 Desember 2003. Keputusan Kepala PPATK No. 2/4/KEP. PPATK/ 2003 tanggal 15 Oktober 2003 tentang Pedoman Identifikasi Transaksi Keuangan Mencurigakan bagi Penyedia Jasa Keuangan. Keputusan Kepala PPATK No. 2/6/KEP. PPATK/ 2003 tanggal 9 Mei 2003 tentang Pedoman Tata Cara Pelaporan Transaksi Keuangan Mencurigakan bagi Penyedia Jasa Keuangan. Keputusan Kepala PPATK No. 3/1/KEP. PPATK/ 2004 tanggal 10 Februari 2004 tentang Pedoman Laporan Transaksi Keuangan Tunai dan Tata Cara Pelaporannya bagi Penyedia Jasa Keuangan. Keputusan Kepala PPATK No. 3/9/KEP. PPATK/ 2004 tanggal 25 Mei 2004 tentang Transaksi Keuangan Tunai yang Dikecua-likan dari Kewajiban Pelaporan.

I.4.4.5 Insatansi yang terlibat Bank Indonesia, Bapepam-LK, PPATK, dan PT Pos Indonesia. I.4.5 Pengefektifan Penerapan Penyitaan Aset (Asset Forfeiture) Dan Pengembalian Aset (Asset Recovery) I.4.5.1 Masalah yang dihadapi Dapat dipahami bahwa pelaksanaan tugas penelusuran, penyitaan pengembalian dan pengelolaan harta hasil tindak pidana yang disita masih belum berjalan secara efektif dan memberikan hasil yang maksimal bagi bangsa Indonesia. Hal ini antara lain disebabkan: a. Belum adanya undang-undang yang mengatur secara komprehensif mengenai keseluruhan pelaksanaan penelusuran, pengambilalihan dan pengelolaan harta hasil kejahatan yang telah disita. Memang benar bahwa masalah penyitaan dan pengambilalihan telah diatur di beberapa undangundang, seperti KUHAP, UU Korupsi, UU TPPU dan lainnya. Namun hal tersebut masih belum dapat

Rezim AML & CFT

73

dijalankan secara maksimal karena masih adanya “benturan” ketentuan dan belum adanya aturan mengenai acara untuk pembuktian terbalik. b. Belum adanya unit khusus yang mengelola hasil kejahatan yang disita. Saat ini terdapat beberapa instansi yang mempunyai kewenangan untuk menyita hasil kejahatan dan melakukan pengelolaan sendiri. Hal ini menyebabkan tidak suatu data yang komprehensif atas seluruh harta kekayaan yang telah disita yang berasal dari berbagai kejahatan dan pengelolaannya. I.4.5.2 Langkah/Strategi yang harus ditempuh a. Perlu dibuat undang-undang yang mengatur secara komprehensif mengenai keseluruhan pelaksanaan penelusuran, pengambilalihan dan pengelolaan harta hasil kejahatan yang telah disita. b. Perlu dibentuk unit khusus yang menangani pengambilalihan dan pengelolaan harta kekayaan hasil kejahatan. Antara unit penelusuran dan pengambilalihan (asset tracing and asset forfeiture) dengan unit pengelolaan asset (asset management unit) dapat dibentuk secara terpisah. Mengingat adanya keterkaitan tugas, maka asset tracing and asset forfeiture unit dapat dibentuk dengan beranggotakan gabungan dari beberapa instansi terkait, seperti Kepolisian, Kejaksaan, KPK, dan PPATK. I.4.5.3 Tujuan strategi Strategi yang ditempuh ini bertujuan agar harta kekayaan hasil kejahatan yang kembali ke negara dapat lebih maksimal dan sebisa mungkin dapat memberikan kontribusi yang positif bagi perekonomian negara. I.4.5.4 Peraturan Perundang-undangan Terkait · · Undang-Undang RI No. 8 Tahun 1981 tentang Hukum Acara Pidana (KUHAP). Undang-Undang RI No. 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi sebagaimana telah diubah dengan Undang-undang No. 20 Tahun 2001.

74

Ikhtisar Ketentuan AML & CFT

·

·

Undang-Undang RI No. 15 Tahun 2002 tentang Tindak Pidana Pencucian Uang sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang No. 25 Tahun 2003. Undang-Undang RI No. 16 Tahun 2004 tentang Kejaksaan.

I.4.5.5 Instansi yang terlibat Kepolisian; Kejaksaan; KPK; PPATK; dan Departemen Hukum & HAM. I.4.6 Peningkatan Peran Serta Masyarakat Melalui Kampanye Publik I.4.6.1 Masalah yang dihadapi Pengembangan rejim anti tindak pidana pencucian uang tidak dapat terlepas dari peran serta masyarakat dan seluruh pihak terkait. Masyarakat perlu memahami dengan baik pentingnya upaya pencegahan dan pemberantasan tindak pidana pencucian uang di Indonesia. Kesadaran masyarakat Indonesia saat ini masih sangat minim terkait dengan rejim anti tindak pidana pencucian uang di Indonesia. Minimnya kesadaran akan rejim anti tindak pidana pencuaian uang berdampak terhadap. Minimnya kesadaran masyarakat akan berdampak terhadap kesulitan bagi penyedia jasa keuangan khususnya ataupun upaya pemberantasan tindak pidana pencucian uang pada umumnya dalam membangun rejim anti tindak pidana pencucian uang. Selain itu, minimnya kesadaran akan pemahaman anti tindak pidana pencucian uang menimbulkan keengganan dari penguna jasa keuangan untuk menyampaikan datadata dalam kaitannya kebutuhan dari Penyedia Jasa Keuangan untuk menerapkan Prinsi Mengenal Nasabah (PMN). I.4.6.2 Langkah/Strategi yang harus ditempuh Upaya membangun kesadaran hanya dapat ditempuh dengan upaya melaksanakan kampanye kepada publik secara terus menerus, terarah dan berkesinambungan, yang dapat dilakukan baik terhadap seluruh masyarakat ataupun pihak-pihak yang berkepentingan (stake

Rezim AML & CFT

75

holder). Kampanye publik antara lain dapat dilaksanakan dengan cara: a. Meningkatkan intensitas sosialisasi baik melalui kegiatan yang bersifat tatap muka langsung maupun melalui media massa serta forum-forum khusus lainnya. b. Menjadikan topik tindak pidana pencucian uang sebagai materi pembelajaran pada pendidikan formal tingkat atas dan lanjutan di Indonesia termasuk pendidikan kepega-waian di setiap lembaga pemerintah. c. Melakukan pembelajaran kepada masyarakat lewat media massa. Membuat iklan layanan masyarakat melalui media cetak, media elektronik, radio, serta penempelan poster-poster di fasilitas umum. I.4.6.3 Tujuan strategi Kampanye publik dirancang sepenuhnya untuk meningkatkan pengetahuan, kesadaran masyarakat dan menjadi budaya masyarakat untuk ikut serta mencegah dan memberantas tindak pidana pencucian uang. I.4.6.4 Peraturan Perundang-undangan Terkait · Undang-Undang RI No. 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi sebagaimana telah diubah dengan Undang-undang No. 20 Tahun 2001. Undang-Undang RI No. 15 Tahun 2002 tentang Tindak Pidana Pencucian Uang sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang No. 25 Tahun 2003. Keputusan Presiden RI No. 82 Tahun 2003 tentang Tata Cara Pelaksanaan Kewenangan PPATK.

·

·

I.4.6.5 Instansi yang terlibat PPATK; Bank Indonesia, Departemen Keuangan (Bapepam-LK, Ditjen Bea & Cukai, Ditjen Pajak), Kejaksaan; Kepolisian, Departemen Dalam Negeri, Departemen Hukum dan HAM (Ditjen AHU, Ditjen Imigrasi), dan Departemen Luar Negeri.

76

Ikhtisar Ketentuan AML & CFT

I.4.7 Peningkatan Kerjasama Internasional I.4.7.1 Masalah yang dihadapi Sebagai bagian dari komunitas internasional, Indonesia dituntut pula untuk turut aktif berpartisipasi dalam berbagai upaya internasional untuk pencegahan dan pemberantasan berbagai kejahatan transnasional. Berbagai konvensi PBB (UN Convention) berkaitan dengan upaya pencegahan dan pemberantasan kejahatan telah dikeluarkan, antara lain : the 1988 United Nations Convention against Illicit Traffic in Narcotic Drugs and Psychotropic Substances (Vienna Convention), the 2000 United Nations Convention on Transnational Organized Crime (Palermo Convention), the 2003 UN Convention against Corruption, dan International Convention for the Suppression of the Financing of Terrorism, 1999. Di antara konvensi-konvensi PBB tersebut, masih terdapat 1 (satu) konvensi yang belum diratifikasi yaitu the 2000 United Nations Convention on Transnational Organized Crime (Palermo Convention). Dalam FATF rekomendasi 35 secara eksplisit dinyatakan bahwa setiap negara diharapkan segera meratifikasi konvensi PBB dimaksud. Selain UN Convention, juga terdapat berbagai perjanjian internasional yang dilakukan baik secara bilateral, regional, maupun multilateral. Dalam hal ini, Indonesia telah ikut berpartisipasi dengan menandatangani ASEAN Mutual Legal Assistance Treaty (AMLAT) pada November 2005 dan perjanjian MLA secara bilateral lainnya yaitu dengan Korea Selatan. Namun perjanjianperjanjian tersebut tersebut belum diratifikasi hingga saat ini. Adanya konvensi ataupun treaty yang masih belum diratifikasi tersebut, tentunya akan berpengaruh pada penerapannya di Indonesia, selain juga akan merugikan posisi Indonesia di kancah internasional. Dengan belum meratifikasi perjanjian MLA tersebut, Indonesia akan mengalami kesulitan dalam permintaan bantuan hukum

Rezim AML & CFT

77

timbal balik dengan negara-negara ASEAN. Selain itu, Indonesia dapat dinilai sebagai negara yang tidak “kooperatif” dalam penanganan tindak pidana tertentu. Selain upaya-upaya tersebut di atas, dalam upaya pencegahan dan pemberantasan tindak pidana uang yang sifatnya lintas batas negara, Indonesia dituntut pula untuk dapat semakin mengembangkan kerjasama internasionalnya, baik yang bersifat bilateral maupun multilateral. Kerjasama formal antara PPATK dengan FIU lain yang hingga saat ini telah berjalan dengan baik. I.4.7.2 Langkah/Strategi yang harus ditempuh UN Convention Against Transnational Organized Crime dan ASEAN Mutual Legal Assistance Treaty (AMLAT) telah lama menjadi prioritas Pemerintah untuk segera diratifikasi. Dengan telah diratifikasinya konvensi dan treaty tersebut maka diharapkan kerjasama internasional di bidang kejahatan lintas negara khususnya pencucian uang dapat lebih ditingkatkan utamanya dalam konteks bilateral (kerjasama antar financial intelligence unit), regional (Asia Pacific Group on Money Laundering) dan multilateral (Egmont Group). I.4.7.3 Tujuan Strategi Strategi ini ditempuh agar konvensi dan treaty yang telah ditandatangani tersebut dapat segera diterapkan di Indonesia. Hal ini tentunya akan sangat membantu penerapan rezim anti pencucian uang yang efektif di Indonesia sekaligus penanganan tindak pidana lainnya. I.4.7.4 Peraturan Perundang-undangan Terkait · · · Undang-Undang RI No.5 Tahun 1997 tentang Psikotropika. Undang-Undang RI No. 22 Tahun 1997 tentang Narkotika. Undang-Undang RI No. 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi sebagaimana telah diubah dengan Undang-undang No. 20 Tahun 2001. Undang-Undang RI No. 15 Tahun 2002 tentang

·

78

Ikhtisar Ketentuan AML & CFT

·

· ·

·

Tindak Pidana Pencucian Uang sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang No. 25 Tahun 2003. Undang-Undang RI No. 15 Tahun 2003 tentang Penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti Undangundang (Perpu) No. 1 Tahun 2002 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme sebagai UU. Undang-Undang RI No. 1 Tahun 2006 tentang Bantuan Timbal Balik Dalam Masalah Pidana. Undang-Undang RI No. 6 Tahun 2006 tentang pengesahan International Convention for the Suppression of the Financing of Terrorism, 1999 (Konvensi Internasional Pemberantasan Pendanaan Terorisme Tahun 1999). Undang-Undang RI No. 7 Tahun 2006 tentang pengesahan United Nations Convention Against Corruption, 2003 (Konvensi Perserikatan BangsaBangsa Anti Korupsi).

I.4.7.5 Instansi yang terlibat Departemen Luar Negeri, Departemen Hukum & HAM, dan PPATK. I.4.8 Penguatan Peraturan Tentang Pengiriman Uang Alternatif (Alternative Remmitance System) Dan Pengiriman Uang Secara Elektronis (Wire Transfer) I.4.8.1 Masalah yang dihadapi Alternative Remittance System (ARS) dapat diartikan sebagai jasa pengiriman uang (transfer) yang dilakukan diluar jasa keuangan resmi seperti bank. Pada dasarnya ARS ini dapat membantu proses pengiriman uang antar negara yang dilakukan oleh orang yang mengalami kesulitan untuk memperoleh akses ke jasa keuangan resmi seperti bank. Dipilihnya ARS sebagai alternatif dalam pengiriman uang disebabkan oleh beberapa faktor antara lain relatif rendahnya biaya pengiriman dan relatif lebih cepatnya waktu penyampaian uang kepada penerima dibandingkan dengan jasa transfer yang disediakan secara resmi oleh industri keuangan.

Rezim AML & CFT

79

Dalam perkembangannya, jasa ARS dapat disalahgunakan oleh sebagian orang untuk kegiatan pencucian uang atau pendanaan kegiatan terorisme, mengingat ARS tidak terdeteksi dalam sistem keuangan. Sebagai antisipasi dampak negatif yang ditimbulkannya, FATF mengeluarkan Special Recommendation (SR) 6 dan 7 yaitu mengenai Alternative Remittance System dan Wire Transfer. Dalam SR 6 ditegaskan bahwa setiap orang atau badan usaha yang menyelenggarakan jasa pengiriman uang harus memiliki ijin dan terdaftar di otoritas. Sementara itu untuk SR 7, setiap kegiatan transfer harus dilengkapi dengan informasi identitas pengirim dan penerima dana, termasuk penerapan KYC. Di Indonesia dewasa ini cukup banyak perorangan atau badan usaha non-keuangan yang menyediakan jasa pengiriman uang, seperti jasa pengiriman barang (courier service) yang juga menyediakan jasa pengiriman uang pula. Selain itu, usaha jasa pengiriman tersebut kadangkala tidak dilengkapi dengan identitas pengirim maupun penerima dana secara lengkap. I.4.8.2 Langkah/Strategi yang harus ditempuh Untuk mengurangi atau mengeliminir dampak negatif yang ditimbulkan dari kegiatan jasa pengiriman uang, maka upaya yang telah dilakukan oleh Bank Indonesia adalah memberikan dasar hukum yang kuat atas kegiatan pengiriman uang dalam bentuk Peraturan Bank Indonesia dan Surat Edaran Bank Indonesia. Tujuan utama dari pengaturan kegiatan pengiriman uang tersebut antara lain untuk mendorong shifting kegiatan pengiriman uang (money remittances) dari kegiatan usaha informal menjadi kegiatan formal. Dengan terjadinya shifting kegiatan pengiriman uang tersebut diharapkan akan tercipta transparansi dan kepastian hukum bagi para pihak dalam kegiatan pengiriman uang. Selain itu, dengan adanya kewajiban pelaporan atas kegiatan pengiriman uang, termasuk pula pelaporan atas transaksi yang mencurigakan kepada instansi yang berwenang, serta kewajiban penerapan prinsip KYC dalam ketentuan kegiatan usaha pengiriman uang tersebut, diharapkan

80

Ikhtisar Ketentuan AML & CFT

penggunaan ARS sebagai sarana untuk kejahatan money laundering dan financing of terrorism dapat dihindari. Sedangkan untuk wire transfer, Bank Indonesia telah menyusun draft RUU Transfer Dana yang saat ini draft RUU tersebut sedang dibahas pada level antar departemen. Sementara itu, untuk transfer dana antar bank baik untuk kepentingan bank yang bersangkutan maupun untuk kepentingan nasabah, Bank Indonesia telah menerbitkan ketentuan Bank Indonesia mengenai sistem Bank Indonesia Real Time Gross Settlement (RTGS) dan sistem kliring nasional. I.4.8.3 Tujuan strategi Strategi ini ditempuh agar kegiatan jasa pengiriman uang, khususnya yang diselenggarakan oleh industri nonkeuangan, dapat dikontrol dengan baik oleh otoritas sehingga dapat negatif yang ditimbulkannya dapat dieliminir. I.4.8.4 Peraturan Perundang-undangan Terkait · · Undang-Undang RI No. 23 Tahun 1999 tentang Bank Indonesia. Undang-Undang RI No. 15 Tahun 2003 tentang Penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti Undangundang (Perpu) No. 1 Tahun 2002 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme sebagai UU. Undang-Undang RI No. 6 Tahun 2006 tentang pengesahan International Convention for the Suppression of the Financing of Terrorism, 1999 (Konvensi Internasional Pemberantasan Pendanaan Terorisme Tahun 1999).

·

I.4.8.5 Instansi yang terlibat PPATK, Bank Indonesia, Departemen Hukum & HAM, dan Ditjen Postel. I.4.9 Penanganan Sektor Non Profit Organization secara Komprehensif I.4.9.1 Masalah yang dihadapi

Rezim AML & CFT

81

Non Profit Organization (NPO), baik NPO domestik maupun afiliasi dengan NPO luar negeri, yang ada di Indonesia saat ini cukup banyak dan tersebar di berbagai sektor dalam lingkup kewenangan beberapa instansi terkait dengan sektor yang dibidanginya. Namun demikian, terdapat indikasi bahwa banyaknya jumlah NPO tersebut belum diimbangi dengan pengaturan dan pengawasan yang memadai dari berbagai pemangku kepentingan yang ada di Indonesia. Hal ini tercermin dari hasil penilaian Tim Evaluator Asia Pacific Group on Money Laundering (APGML) terhadap pelaksanaan Financial Action Task Force on Money Laundering (FATF) 40+9 Rekomendasi dalam rangka pembangunan rezim anti pencucian uang dan pendanaan teroris di Indonesia dan Tim Counter Terrorism Executive Directorate (CTED) Dewan Keamanan PBB, yang keduanya antara lain menyatakan bahwa Indonesia masih dinilai lemah dalam pengaturan dan pengawasan NPO. Pada Workshop on Non Profit Organization Sector yang diselenggarakan di Bogor pada tanggal 17-18 November 2008 dan diikuti oleh seluruh pemangku kepentingan yang terkait dengan NPO, dapat diidentifikasikan sejumlah kelemahan utama dalam penanganan sektor NPO di Indonesia, yaitu: a. belum adanya persamaan persepsi mengenai keragaman sektor NPO. b. regulasi yang bersifat tumpang tindih terkait dengan sektor NPO antara lain yayasan, organisasi masyarakat, organisasi sosial, organisasi keagamaan, dan lain-lain. c. lemahnya koordinasi di tingkat nasional baik pusat maupun daerah. d. lemahnya pengawasan dan pemantauan aliran dana yang berisiko terhadap pencucian uang dan pendanaan terorisme; dan e. belum adanya pemetaan yang komprehensif terhadap sektor NPO yang beroperasi di Indonesia.

82

Ikhtisar Ketentuan AML & CFT

I.4.9.2 Langkah/Strategi yang harus ditempuh a. Dalam jangka pendek (sampai dengan satu tahun ke depan), melakukan pengkajian domestik (domestic review) terhadap sektor NPO di Indonesia yang dilakukan untuk memperoleh sejumlah gambaran umum, antara lain : i) ii) iii) iv) peraturan dan ketentuan terkait; jenis, jumlah dan besar NPO; pengawasan yang dilakukan; kerentanan NPO terhadap tindak pidana.

b. Adapun langkah-langkah penyusunan pengkajian domestik adalah sebagai berikut: i) ii) iii) meningkatkan efektivitas kemitraan dengan sektor NPO; mengumpulkan informasi-informasi menge-nai berbagai ragam NPO di Indonesia; membentuk suatu forum/tim kerja yang terdiri dari pemangku kepen-tingan, baik dari sektor pemerintahan sektor NPO, maupun masyarakat dengan tugas untuk memonitor dan memberikan arahan dalam tahap pelaksanaan pengkajian domestik; melaksanakan program outreach kepada sektor NPO; melakukan penilaian (assessment) terhadap berbagai peraturan perundang-undangan yang terkait dengan sektor NPO

iv) v)

c. Dalam jangka menengah dan panjang, berdasarkan hasil Domestic Review, disusun strategi dan langkah-langkah yang paling tepat dalam penanganan sektor NPO. I.4.9.3 Tujuan strategi Penanganan yang komprehensif untuk sektor NPO ini bertujuan agar peranan dan konstribusi NPO sebagai mitra Pemerintah dalam proses pembangunan di Indonesia dapat lebih ditingkatkan dengan mengedepankan good governance (transparansi dan

Rezim AML & CFT

83

akuntabilitas) dan mengeliminir digunakannya NPO sebagai sarana dan sasaran pencucian uang dan pendanaan terorisme. I.4.9.4 Peraturan Perundang-undangan Terkait · · · · Undang-Undang RI No. 3 Tahun 1982 tentang Wajib Daftar Perusahaan Undang-Undang RI No.8 Tahun 1985 tentang Organisasi Kemasyarakatan Undang-Undang RI No.8 Tahun 1997 tentang Dokumen Perusahaan Undang-Undang RI No.31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi sebagaimana telah diubah dengan Undang-undang No. 20 Tahun 2001. Undang-Undang RI No. 16 tahun 2001 tentang Yayasan sebagaimana telah diubah dengan UndangUndang No. 28 Tahun 2004. Undang-Undang RI No. 15 Tahun 2002 tentang Tindak Pidana Pencucian Uang sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang No. 25 Tahun 2003. Undang-Undang RI No. 15 Tahun 2003 tentang Penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti Undangundang (Perppu) No.1 Tahun 2002 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme sebagai UU. Undang-Undang RI No. 6 Tahun 2006 tentang pengesahan International Convention for the Suppression of the Financing of Terrorism, 1999 (Konvensi Internasional Pemberantasan Pendanaan Terorisme Tahun 1999). Undang-Undang RI No. 7 Tahun 2006 tentang pengesahan United Nations Convention Against Corruption, 2003 (Konvensi Perserikatan BangsaBangsa Anti Korupsi Tahun 2003). Keputusan Presiden RI No. 82 Tahun 2003 tentang Tata Cara Pelaksanaan Kewenangan PPATK.

·

·

·

·

·

·

I.4.9.5 Instansi yang terlibat PPATK; Departemen Luar Negeri; Departemen Dalam Negeri; Departemen Sosial; Departemen Pendidikan Nasional; Departemen Kesehatan; Departemen Agama;

84

Ikhtisar Ketentuan AML & CFT

Departemen Perdagangan; Departemen Tenaga Kerja dan Transmigrasi; Departemen Hukum dan HAM; Sekretariat Negara; Badan Nasional Penanggulangan Bencana; Desk Koordinasi Pemberantasan Terorisme Kantor Kementerian Koordinator Politik Hukum dan Keamanan; Kepolisian Negara Republik Indonesia dan Badan Intelijen Negara (BIN).

~o~

TPPU & TPA

85

BAB II TINDAK PIDANA PENCUCIAN UANG DAN TINDAK PIDANA ASAL
Bab II ini meliputi hal-hal yang berkaitan dengan tindak pidana pencucian uang dan pendanaan terorisme serta berbagai jenis kejahatan asal (predicate crime) sebagaimana ketentuan perundang-undangan yang berlaku di Indonesia

86

Ikhtisar Ketentuan AML & CFT

Daftar Isi Halaman II.1 Tindak Pidana Pencucian Uang ......................................................... II.1.1 Definisi ...................................................................................... II.1.2 Kriminalisasi Pencucian Uang ............................................... II.2 Tindak Pidana Asal ............................................................................... II.2. 1 Definisi ...................................................................................... II.2. 2 Pengertian Hasil Tindak Pidana ............................................ II.2. 3 Pengertian Harta Kekayaan ................................................... II.2. 4 Penggunaan Harta Kekayaan untuk Kegiatan Terorisme.. II.3 Jenis-jenis Tindak Pidana Asal .......................................................... II.3.1 Korupsi...................................................................................... II.3.1.1 Kerugian Keuangan Negara .................................. II.3.1.2 Penggelapan dalam Jabatan .................................. II.3.1.2.1 Penggelapan Uang atau Surat berharga ................................................ II.3.1.2.2 Pemalsuan buku-buku atau daftardaftar yang khusus .............................. II.3.1.2.3 Menggelapkan atau merusakkan barang, akta, surat, atau daftar ........... II.3.1.3 Pemerasan ................................................................ II.3.1.3.1 Penyalahgunaan kekuasaan untuk melakukan pemaksaan ......................... II.3.1.3.2 Meminta, menerima, atau memotong pembayaran .......................................... II.3.1.3.3 Menjadikan seolah-olah hutang ........ II.3.1.4 Perbuatan curang .................................................... II.3.1.4.1 Terkait bangunan dan barang TNI/ POLRI ..................................................... II.3.1.4.2 Terkait penggunaan tanah negara oleh Pegawai Negeri/ Penyeleng-gara Negara .................................................... II.3.1.5 Benturan kepentingan dalam pengadaan ............ II.3.1.6 Gratifikasi .................................................................. II.3.1.7 Tindak pidana lain terkait dengan korupsi .......... II.3.1.7.1 Upaya mencegah, merintangi, atau menggagalkan penyidikan, penuntutan, dan pemeriksaan di sidang pengadilan ............................................ II.3.1.7.2 Sengaja tidak memberi keterangan atau memberi keterangan yang tidak benar ...................................................... 96 96 96 97 97 97 98 98 98 98 98 99 99 99 100 100 100 101 101 102 102

103 103 104 105

105

105

TPPU & TPA

87

II.3.2

II.3.3

II.3.1.7.3 Terkait perkara korupsi ........................ II.3.1.7.4 Saksi yang tidak memenuhi ketentuan ............................................... II.3.1.7.5 Percobaan perbantuan atau permufakatan jahat ............................... II.3.1.7.6 Pemberian bantuan, kesempatan, sarana, atau keterangan ...................... Penyuapan ............................................................................... II.3.2.1 Definisi ..................................................................... II.3.2.2 Sanksi pidana .......................................................... II.3.2.3 Praktik suap dilakukan di luar wilayah RI ............ II.3.2.4 Kriminalisasi praktik suap ...................................... II.3.2.5 Terkait Pegawai Negeri atau Penyelenggara Negara ...................................................................... II.3.2.6 Pegawai Negeri atau Penyelenggara Negara menerima pemberian atau janji............................... II.3.2.7 Memberi atau menjanjikan sesuatu kepada hakim dan advokat .................................................. II.3.2.8 Hakim yang menerima pemberian atau janji......... II.3.2.9 Sanksi bagi Pegawai Negeri atau Penyelenggara Negara yang menerima hadiah atau janji ............ II.3.2.9.1 Kewenangan sehubungan dengan jabatan ................................................... II.3.2.9.2 Melakukan atau tidak melakukan sesuatu dalam jabatan ........................ II.3.2.9.3 Karena telah melakukan atau tidak melakukan sesuatu .............................. II.3.2.9.4 Hadiah atau janji yang mempengaruhi putusan hakim ...................................... II.3.2.9.5 Hadiah atau janji untuk mempengaruhi nasihat atau pendapat advokat .......... II.3.2.9.6 Hadiah atau janji yang diberikan kepada Pegawai Negeri ..................................... II.3.2.9.7 Percobaan pembantuan atau permufakatan jahat ............................... II.3.2.9.8 Pemberian bantuan, kesempatan, sarana, atau keterangan ...................... Narkotika .................................................................................. II.3.3.1 Definisi ...................................................................... II.3.3.2 Sanksi menanam memelihara, memiliki, menyimpan atau menguasai narkotik Golongan I ................................................................

105 106 106 106 107 107 107 107 108 108 108 109 109 109 109 110 111 111

112 112 113 113 113

114

88

Ikhtisar Ketentuan AML & CFT

II.3.4

Sanksi memiliki, menyimpan untuk dimiliki atau untuk persediaan, atau menguasai narkotika Golongan II .............................................................. II.3.3.4 Sanksi memproduksi, mengolah, mengekstraksi, mengkonversi, merakit, atau menyediakan narkotika Golongan I .............................................. II.3.3.5 Sanksi membawa, mengirim, mengangkut, atau mentransito narkotika Golongan I ........................ II.3.3.6 Sanksi mengimpor, mengekspor, menawarkan untuk dijual, menyalurkan, menjual, membeli, menyerahkan, menerima, menjadi perantara dalam jual beli, atau menukar narkotika Golongan I dan II .................................................... II.3.3.7 Sanksi menggunakan narkotika terhadap orang lain atau memberikan narkotika Golongan I untuk digunakan orang lain ............................................. II.3.3.8 Sanksi menggunakan narkotika Golongan I bagi diri sendiri ........................................................ II.3.3.9 Sanksi bagi pengurus pabrik obat yang tidak melaksanakan kewajiban ........................................ II.3.3.10 Perampasan narkotika dan hasil kejahatan narkotika .................................................................. II.3.3.11 Pidana tambahan ..................................................... II.3.3.12 Sanksi menghalang-halangi atau mempersulit penyidikan, penuntutan, atau pemeriksaan perkara tindak pidana nakotika di sidang pengadilan ............................................................... II.3.3.13 Sanksi bagi Nakhoda atau kapten penerbang, penyidik PPNS, Penyidik Polri, dan saksi ............ II.3.3.14 Sanksi terhadap pengulangan tindak pidana narkotika ................................................................... II.3.3.15 Sanksi bagi warga negara asing terkait tindak pidana narkotika ...................................................... Psikotropika ............................................................................. II.3.4.1 Sanksi bagi yang menggunakan, memproduksi dan/atau menggunakan dalam proses produksi, mengedarkan, mengimpor, secara tanpa hak memiliki, menyimpan dan/atau membawa psikotropika golongan I ...... II.3.4.2 Sanksi bagi yang melanggar ketentuan Pasal 5, Pasal 7, Pasal 19 ayat (1), Pasal 12 ayat (2), Pasal 14 ayat (1), (2), (3) dan (4) ............................

II.3.3.3

114

116 117

119

121 122 123 124 124

124 124 125 126 127

127

128

TPPU & TPA

89

II.3.5

II.3.6

Ketentuan bagi pabrik obat yang memproduksi psikotropika ..................................... II.3.4.4 Ketentuan pengedaran dan penyaluran psikotropika ............................................................. II.3.4.5 Surat persetujuan ekspor atau impor ................... II.3.4.6 Pencantuman label .................................................. II.3.4.7 Pemusnahan psikotropika ...................................... II.3.4.8 Pengobatan dan perawatan penderita psikotropika ............................................................. II.3.4.9 Pelaporan penyalahgunaan dan/atau pemilikan psikotropika ............................................ II.3.4.10 Warga negara asing yang melakukan tindak pidana psikotropika ................................................ II.3.4.11 Percobaan atau perbantuan melakukan tindak pidana psikotropika ................................................ Penyeludupan Tenaga Kerja .................................................. II.3.5.1 Kartu Tenaga Kerja Luar Negeri ........................... II.3.5.2 Surat Izin Pelaksana Penempatan TKI.................. II.3.5.3 Syarat-syarat perekrutan TKI ................................ II.3.5.4 Program Asuransi .................................................... II.3.5.5 Sanksi pidana .......................................................... II.3.5.6 Perdagangan wanita dan perdagangan anak laki-laki yang belum dewasa .................................. II.3.5.7 Mempekerjakan tenaga kerja asing ...................... II.3.5.8 Sanksi Pidana .......................................................... II.3.5.8.1 Umum .................................................. II.3.5.8.2 Penempatan TKI tanpa ijin ............... II.3.5.8.3 Eksploitasi orang di wilayah Indonesia dan atau negara lain ....... II.3.5.8.3.1 Di wilayah Indonesia ........................ II.3.5.8.3.2 Di wilayah Indonesia atau negara lain ...................................................... II.3.5.8.3.3 Pengekslpotasian anak .................... II.3.5.8.3.4 Penyalahgunaan kekuasaan oleh penyelenggara negara ...................... II.3.5.8.3.5 Peran aktor intelektual ...................... Penyelundupan Imigran ......................................................... II.3.6.1 Keluar atau masuk wilayah RI ............................... II.3.6.2 Orang asing yang melanggar ketetuan keimigrasian ............................................................. II.3.6.3 Penggunaan surat perjalanan palsu ..................... II.3.6.4 Pemberian keterangan palsu pada dokumen negara ......................................................................

II.3.4.3

130 130 131 134 136 136 137 138 138 139 139 140 141 142 142 143 143 143 143 144 144 144 145 146 146 147 149 149 149 151 152

90

Ikhtisar Ketentuan AML & CFT

II.3.7

II.3.8

Di Bidang Perbankan .............................................................. II.3.7.1 Perizinan.................................................................... II.3.7.2 Rahasia bank ............................................................ II.3.7.3 Pembinaan dan pengawasan bank ....................... II.3.7.4 Kewajiban bank menjadi peserta penjaminan ..... II.3.7.5 Likuidasi bank .......................................................... II.3.7.6 Sanksi pidana atau denda ...................................... Di Bidang Pasar Modal ........................................................... II.3.8.1 Kegiatan tanpa ijin, persetujuan atau pendaftaran .............................................................. II.3.8.2 Kegiatan wakil perusahaan efek tanpa ijin .......... II.3.8.3 Kegiatan usaha sebagai bursa .............................. II.3.8.3.1 Ijin Usaha dari Bapepam ...................... II.3.8.3.2 Persyaratan dan Tata Cara Perijinan ... II.3.8.3.3 Kegiatan Usaha LKP dan LPP.............. II.3.8.3.3.1 Umum .................................................. II.3.8.3.3.2 Tata cara ............................................. II.3.8.4 Reksa Dana .............................................................. II.3.8.4.1 Bentuk Reksa Dana ............................. II.3.8.4.2 Sifat Reksa Dana Perseroan ................ II.3.8.4.3 Reksa Dana Perseroan ......................... II.3.8.4.4 Reksa Dana Kontrak Investasi Kolektif ................................................... II.3.8.4.5 Tata Cara Perijinan ............................... II.3.8.5 Perusahaan Efek ...................................................... II.3.8.5.1 Ketentuan Umum ................................ II.3.8.5.2 Kegiatan Perusahaan Efek .................. II.3.8.5.3 Pengecualian ........................................ II.3.8.5.4 Persyaratan dan Tata Cara Perijinan .. II.3.8.6 Perijinan Wakil Perusahaan Efek ............................ II.3.8.6.1 Ketentuan umum ................................. II.3.8.6.2 Persyaratan dan Tata Cara Perijinan .. II.3.8.7 Penasihat Investasi ................................................ II.3.8.7.1 Ketentuan Umum ................................. II.3.8.7.2 Persyaratan dan Tata Cara Perijinan .. II.3.8.8 Kustodian ................................................................ II.3.8.8.1 Ketentuan Umum ................................ II.3.8.8.2 Persyaratan dan Tata Cara .................. Pemberian Persetujuan ........................ II.3.8.9 Biro Administrasi Efek ........................................... II.3.8.9.1 Ketentuan Umum ................................. II.3.8.9.2 Persyaratan dan Tata Cara Perijinan ..

153 153 154 155 158 161 161 163 163 163 163 163 164 164 164 164 165 165 165 165 165 165 166 166 166 166 167 167 167 167 168 168 168 168 168 169 169 169 169 169

TPPU & TPA

91

II.3.8.10 Wali Amanat ............................................................. II.3.8.10.1 Ketentuan Umum ................................. II.3.8.10.2 Persyaratan dan Tata Cara Pendaftaran ........................................... II.3.8.11 Profesi Penunjang Pasar Modal ........................... II.3.8.11.1 Jenis Profesi Penunjang Pasar Modal II.3.8.11.2 Kewajiban Pendaftaran Profesi Penunjang ............................................. II.3.8.11.3 Persyaratan dan Tata Cara Pendaftaran ........................................... II.3.8.12 Penipuan ................................................................... II.3.8.13 Manipulasi Pasar ..................................................... II.3.8.14 Perdagangan Orang Dalam (Insider Trading)..... II.3.8.15 Sanksi bagi pihak yang melakukan kegiatan di Pasar Modal tanpa izin, persetujuan, atau pendaftaran .............................................................. II.3.8.16 Sanksi Pidana Penipuan, Manipulasi Pasar dan Perdagangan Orang Dalam ............................ II.3.8.17 Larangan Bagi Manajer Investasi atau Pihak terafiliasinya ............................................................ II.3.8.18 Pelanggaran Larangan bagi Manajer Investasi dan Pihak Terafiliasi ................................................ II.3.8.19 Penawaran Umum ................................................... II.3.8.19.1 Ketentuan Umum ................................ II.3.8.19.2 Pengecualian ........................................ II.3.8.19.3 Pelanggaran dalam Penawaran Umum ................................................... II.3.8.20 Pernyataan Pendaftaran ......................................... II.3.8.20.1 Ketentuan Umum ................................. II.3.8.20.2 Sanksi Pidana ....................................... II.3.8.21 Sanksi Pidana Lainnya ........................................... II.3.8.22 Ancaman pidana bagi pihak yang mempengaruhi.......................................................... II.3.8.23 Sanksi bagi pihak yang tidak mematuhi atau menghambat pemeriksaan ...................................... II.3.8.24 Pelanggaran ............................................................. II.3.8.25 Kriminalisasi ............................................................ II.3.8.26 Pemeriksaan Bapepam ............................................ II.3.8.26.1 Ketentuan Umum .............................. II.3.8.26.2 Kewenangan dalam rangka pemeriksaan ........................................ II.3.8.26.3 Tata Cara Pemeriksaan ...................... II.3.8.26.4 Larangan Bagi Pegawai Bapepam ...

170 170 170 171 171 171 171 172 172 173

175 175 176 176 176 176 177 177 177 177 178 178 178 179 179 179 179 179 180 180 181

92

Ikhtisar Ketentuan AML & CFT

II.3.9

II.3.10 II.3.11 II.3.12

II.3.13 II.3.14

II.3.15

Di Bidang Perasuransian ........................................................ II.3.9.1 Ketentuan Umum .................................................... II.3.9.2 Syarat-syarat permohonan izin usaha ................. II.3.9.3 Sanksi-sanksi .......................................................... II.3.9.3.1 Perasuransian tanpa izin usaha ......... II.3.9.3.2 Penggelapan premi ............................... II.3.9.3.3 Penggelapan kekayaan asuransi ........ II.3.9.3.4 Penadah atau pembeli kekayaan asuransi .................................................. II.3.9.3.5 Pemalsuan dokumen ........................... II.3.9.3.6 Sanksi adminsitratif, ganti rugi, atau denda ..................................................... II.3.9.3.7 Kriminalisasi ......................................... II.3.9.4 Tindak pidana yang dilakukan oleh atau atas nama suatu badan hukum atau badan usaha yang bukan badan hukum ..................................... II.3.9.5 Kepemilikan Asing .................................................. Kepabeanan ............................................................................. Cukai ......................................................................................... Perdagangan Orang ................................................................ II.3.12.1 Definisi ...................................................................... II.3.12.2 Larangan perdagangan dan eksploitasi wanita dan anak laki-laki yang belum dewasa ................. II.3.12.3 Pidana tambahan ..................................................... II.3.12.4 Percobaan, perbantuan dan permukatan jahat dalam perdagangan manusia ................................. II.3.12.5 Tindak pidana perdagangan orang oleh korporasi .................................................................. Perdagangan Senjata Gelap ................................................... Terorisme .................................................................................. II.3.14.1 Definisi ...................................................................... II.3.14.2 Sanksi bagi setiap orang yang melakukan teror .......................................................................... II.3.14.3 Sanksi terkait penggunaan bahan peledak .......... II.3.14.4 Sanksi terhadap setiap orang yang membantu pelaku terorisme ...................................................... II.3.14.5 Sanksi terhadap setiap orang yang merencanakan dan melakukan permufakatan jahat terkait terorime ............................................... II.3.14.6 Sanksi terhadap korporasi terkait terorisme ........ Penculikan................................................................................... II.3.15.1 Membawa pergi seseorang dari tempat tinggalnya ................................................................

181 181 181 182 182 182 183 183 183 183 183

184 184 184 188 190 190 191 194 194 195 195 196 196 196 200 202

203 203 204 204

TPPU & TPA

93

II.3.15.2 Menarik dan menyembunyikan seseorang yang belum cukup umur ........................................ II.3.16 Pencurian .................................................................................. II.3.16.1 Sanksi terhadap seseorang yang mengambil barang bukan miliknya .......................................... II.3.16.2 Sanksi terhadap pelaku pencurian yang disertai dengan tindakan kekerasan dan mengakibatkan kematian orang lain ................................................. II.3.17 Penggelapan ............................................................................. II.3.18 Penipuan .................................................................................. II.3.18.1 Sanksi terhadap seseorang yang secara melawan hukum menguntungkan diri sendiri atau orang lain ......................................................... II.3.18.2 Sanksi terhadap setiap orang yang menjadikan praktek penipuan sebagai mata pencarian atau kebiasaan ................................................................. II.3.18.3 Sanksi terhadap setiap orang yang melakukan penipuan atas hasil kesusastraan, keilmuan, kesenian atau kerajinan ......................................... II.3.18.4 Tindak pidana penipuan terkait asuransi ............ II.3.18.5 Perbuatan curang untuk menyesatkan publik atau orang tertentu ................................................. II.3.18.6 Sanksi terkait makanan, minuman dan obatobatan yang dipalsukan ......................................... II.3.18.7 Sanksi terkait ahli dan barang bangunan............. II.3.18.8 Sanksi terkait barang keperluan Angkatan Laut atau Angkatan Darat ..................................... II.3.18.9 Sanksi terkait pemindahan dan penghancuran batas pekarangan .................................................... II.3.18.10 Sanksi terkait penyiaran kabar bohong ............... II.3.18.11 Sanksi terkait surat hutang sesuatu negara, perkumpulan, yayasan atau perseroan ................ II.3.18.12 Sanksi terkait pengumuman daftar atau neraca yang tidak benar ...................................................... II.3.18.13 Sanksi terkait pembungkus palsu ........................ Pasal 393 Ayat (2) KUHP Jika pada waktu melakukan kejahatan belurn lewat lima tahun sejak adanya pemidanaan yang menjadi tetap karena kejahatan semacam itu juga dapat dijatuhkan pidana penjara paling lama sembilan bulan .................................... II.3.18.14 Sanksi terkait pemberian keterangan yang tidak benar dalam surat atau dokumen ...............

205 205 205

207 208 208

208

209

209 209 210 213 213 214 214 214 215 215 215

216 216

94

Ikhtisar Ketentuan AML & CFT

II.3.19 Pemalsuan Uang ...................................................................... II.3.19.1 Larangan memalsukan uang dan mengedarkannya ..................................................... II.3.19.2 Larangan mengurangi nilai mata uang ................. II.3.19.3 Larangan membuat dan memiliki persedian bahan untuk meniru, memalsu atau mengurangi nilai mata uang ................................................................. II.3.20 Perjudian ................................................................................... II.3.21 Prostitusi ................................................................................... II.3.21.1 Larangan perbuatan cabul ..................................... II.3.21.2 Larangan memperdagangkan wanita dan anak laki-laki yang belum dewasa .................................. II.3.22 Di Bidang Perpajakan ............................................................. II.3.22.1 Sanksi terkait SPPT dan NPWP............................. II.3.22.2 Sanksi terkait kerahasiaan wajib pajak ................. II.3.22.3 Sanksi terkait penyelidikan, penyidikan dan penuntutan ............................................................... II.3.23 Di Bidang Kehutanan ............................................................. II.3.23.1 Sanksi terkait kelalaian dan pelanggaran di bidang kehutanan ................................................... II.3.23.2 Tuntutan dan sanksi pidana terhadap pengurus badan hukum atau badan usaha .......................... II.3.23.3 Larangan dan sanksi pidana pengrusakan hutan ......................................................................... II.3.23.4 Perlindungan terhadap satwa yang dilindungi ... II.3.24 Di Bidang Lingkungan Hidup ................................................ II.3.24.1 Sanksi pidana terhadap pencemaran dan/atau perusakan lingkungan hidup ................................. II.3.24.2 Sanksi pidana terkait pemberian keterangan palsu ......................................................................... II.3.24.3 Sanksi pidana terkait badan hukum ..................... II.3.24.4 Tindakan penertiban .............................................. II.3.25 Di Bidang Kelautan atau Perikanan ...................................... II.3.25.1 Larangan penggunaan bahan kimia, biologis, atau peledak ............................................................. II.3.25.2 Ketentuan alat penangkap ikan dan alat-alat bantunya ................................................................. II.3.25.3 Sanksi pidana terkait pencemaran dan/atau pengrusakan sumber daya ikan dan/atau lingkungannya ........................................................ II.3.25.4 Larangan melakukan rekayasa genetika dan penggunaan obat-obatan terlarang .....................

216 216 217

218 218 220 220 220 222 222 224 224 227 227 230 230 234 235 235 236 237 239 239 239 242

243 244

TPPU & TPA

95

II.3.25.5 Sanksi pidana terkait rusaknya plasma nutfah ....................................................................... II.3.25.6 Ketentuan penanganan dan pengolahan ikan II.3.25.7 Ketentuan memasukkan ke dan............................ mengeluarkan ikan dari wilayah Republik Indonesia................................................................. II.3.25.8 Ketentuan penggunaan bahan makanan ikan ... II.3.25.9 Ketentuan pembudibudayaan ikan ..................... II.3.25.10 Ketentuan terkait kapal penangkap ikan dan pengangkutannya ................................................. II.3.25.11 Ketentuan terkait penelitian di bidang perikanan ................................................................ II.3.25.12 Ketentuan terkait usaha dan/atau pengelolaan perikanan .......................................... II.3.25.13 Perampasan hasil kejahatan perikanan untuk negara ..................................................................... II.3.25.14 Pemberian insentif kepada aparat penegak hukum ...................................................................... II.3.26 Tindak pidana lainnya yang diancam dengan pidana penjara 4 (empat) tahun atau lebih ....................................... II.3.26.1 Paling lama 4 (empat) tahun ................................. II.3.26.2 Paling lama 5 (lima) tahun ..................................... II.3.26.3 Paling lama 6 (enam) tahun .................................. II.3.26.4 Paling lama 7 (tujuh) tahun .................................. II.3.26.5 Paling lama 8 (delapan) tahun .............................. II.3.26.6 Paling lama 10 (sepuluh) tahun ........................... II.3.26.7 Paling lama 12 (dua belas) tahun ......................... II.3.26.8 Paling lama 15 (lima belas) tahun ........................ II.3.26.9 Paling lama 20 (dua puluh) tahun ........................ II.3.26.10 Pidana mati, seumur hidup atau penjara paling lama 25 (dua puluh lima) tahun ............... II.3.26.11 Pidana mati atau seumur hidup ............................ II.4 Tindak Pidana Pendanaan Terorisme ................................................ II.4.1 Definisi ...................................................................................... II.4.2 Kriminalisasi Pendanaan Terorisme ...................................... II.4.3 Sansi Pidana ............................................................................. II.5 Tindak Pidana Lain terkait TPPU .....................................................

245 246 246 247 247 248 251 252 254 254 254 254 259 273 275 277 278 283 283 286 289 290 292 292 292 296 297

96

Ikhtisar Ketentuan AML & CFT

II.1 Tindak Pidana Pencucian Uang (TPPU) II.1.1 Definisi Pencucian Uang adalah segala perbuatan yang memenuhi unsur-unsur tindak pidana sesuai dengan ketentuan dalam Undang-Undang ini.164 II.1.2 Kriminalisasi Pencucian Uang Setiap orang yang menempatkan, mentransfer, mengalihkan, membelanjakan, membayarkan, menghibahkan, menitipkan, membawa ke luar negeri, mengubah bentuk, menukarkan dengan mata uang atau surat berharga atau perbuatan lain atas Harta Kekayaan yang diketahuinya atau patut diduganya merupakan hasil tindak pidana sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat (1) dengan tujuan menyembunyikan atau menyamarkan asal usul Harta Kekayaan dipidana karena tindak pidana pencucian uang dengan pidana penjara paling lama 20 (dua puluh) tahun dan denda paling banyak Rp10.000.000.000,00 (sepuluh miliar rupiah).165 Setiap orang yang menyembunyikan atau menyamarkan asal usul, sumber, lokasi, peruntukan, pengalihan hak-hak, atau kepemilikan yang sebenarnya atas Harta Kekayaan yang diketahuinya atau patut diduganya merupakan hasil tindak pidana sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat (1) dipidana karena tindak pidana pencucian uang dengan pidana penjara paling lama 20 (dua puluh) tahun dan denda paling banyak Rp5.000.000.000,00 (lima miliar rupiah).166 Setiap orang yang menerima atau menguasai penempatan, pentransferan, pembayaran, hibah, sumbangan, penitipan, penukaran, atau menggunakan Harta Kekayaan yang diketahuinya atau patut diduganya merupakan hasil tindak pidana sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat (1) dipidana dengan pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun dan denda
164 Pasal 1 ayat (1) Undang-Undang RI No. 8 Tahun 2010 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang. 165 Pasal 3 Undang-Undang RI No. 8 Tahun 2010 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang. 166 Pasal 4 Undang-Undang RI No. 8 Tahun 2010 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang.

TPPU & TPA

97

paling banyak Rp1.000.000.000,00 (satu miliar rupiah).167 Ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tidak berlaku bagi Pihak Pelapor yang melaksanakan kewajiban pelaporan sebagaimana diatur dalam Undang-Undang ini.168 II.2 Tindak Pidana Asal II.2.1 Definisi Tindak pidana asal (predicate crime) adalah tindak pidana yang memicu (sumber) terjadinya tindak pidana pencucian uang. II.2.2 Pengertian Hasil Tindak Pidana Hasil tindak pidana adalah Harta Kekayaan yang diperoleh dari tindak pidana: a. korupsi; b. penyuapan; c. narkotika; d. psikotropika; e. penyelundupan tenaga kerja; f. penyelundupan migran; g. di bidang perbankan; h. di bidang pasar modal; i. di bidang perasuransian; j. kepabeanan; k. cukai; l. perdagangan orang; m.perdagangan senjata gelap; n. terorisme; o. penculikan; p. pencurian; q. penggelapan; r. penipuan; s. pemalsuan uang; t. perjudian; u. prostitusi; v. di bidang perpajakan;
167 Pasal 5 ayat (1) Undang-Undang RI No. 8 Tahun 2010 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang. 168 Pasal 5 ayat (2) Undang-Undang RI No. 8 Tahun 2010 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang.

98

Ikhtisar Ketentuan AML & CFT

w. di bidang kehutanan; x. di bidang lingkungan hidup; y. di bidang kelautan dan perikanan; atau z. tindak pidana lain yang diancam dengan pidana penjara 4 (empat) tahun atau lebih, yang dilakukan di wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia atau di luar wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia dan tindak pidana tersebut juga merupakan tindak pidana menurut hukum Indonesia.169 II.2. 3 Pengertian Harta Kekayaan Harta Kekayaan adalah semua benda bergerak atau benda tidak bergerak, baik yang berwujud maupun yang tidak berwujud, yang diperoleh baik secara langsung maupun tidak langsung.170 II.2. 4 Penggunaan Harta Kekayaan untuk Kegiatan Terorisme Harta Kekayaan yang diketahui atau patut diduga akan digunakan dan/atau digunakan secara langsung atau tidak langsung untuk kegiatan terorisme, organisasi teroris, atau teroris perseorangan disamakan sebagai hasil tindak pidana sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf n.171 II.3 Jenis-jenis Tindak Pidana Asal II.3.1 Korupsi II.3.1.1 Kerugian Keuangan Negara Setiap orang yang secara melawan hukum melakukan perbuatan memperkaya diri sendiri atau orang lain yang suatu korporasi yang dapat merugikan keuangan negara atau perekonomian negara, dipidana dengan pidana penjara seumur hidup atau pidana penjara paling singkat 4 (empat) tahun dan paling lama 20 (dua puluh) tahun dan denda paling sedikit Rp.
Pasal 2 ayat (1) Undang-Undang RI No. 8 Tahun 2010 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang.
170 Pasal 1 ayat (13) Undang-Undang RI No. 8 Tahun 2010 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang. 171 Pasal 2 ayat (2) Undang-Undang RI No. 8 Tahun 2010 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang. 169

TPPU & TPA

99

200.000.000.00 (dua ratus juta rupiah) dan paling banyak Rp. 1.000.000.000,00 (satu miliar rupiah).172 Dalam hal tindak pidana korupsi sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dilakukan dalam keadaan tertentu pidana mati dapat dijatuhkan.173 II.3.1.2 Penggelapan dalam Jabatan II.3.1.2.1 Penggelapan Uang atau Surat berharga Dipidana dengan pidana penjara paling singkat 3 (tiga) tahun dan paling lama 15 (lima belas) tahun dan pidana denda paling sedikit Rp 150.000.000,00 (seratus lima puluh juta rupiah) dan paling banyak Rp 750.000.000,00 (tujuh ratus lima puluh juta rupiah), pegawai negeri atau orang selain pegawai negeri yang ditugaskan menjalankan suatu jabatan umum secara terus menerus atau untuk sementara waktu, dengan sengaja menggelapkan uang atau surat berharga yang disimpan karena jabatannya, atau membiarkan uang atau surat berharga tersebut diambil atau digelapkan oleh orang lain, atau membantu dalam melakukan perbuatan tersebut.174 II.3.1.2.2 Pemalsuan buku-buku atau daftar-daftar yang khusus Dipidana dengan pidana penjara paling singkat 1 (satu) tahun dan paling lama 5 (lima) tahun dan pidana denda paling sedikit Rp 50.000.000,00 (lima puluh juta rupiah) dan paling banyak Rp 250.000.000,00 (dua ratus lima puluh juta rupiah) pegawai negeri atau orang selain pegawai negeri yang diberi tugas menjalankan suatu jabatan umum
172 Pasal 2 ayat (1) Undang-Undang RI No. 31 Tahun 1999 tentang Penberantasan Tindak Pidana Korupsi sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang RI No. 20 Tahun 2001. 173 Pasal 2 ayat (2) Undang-Undang RI No. 31 Tahun 1999 tentang Penberantasan Tindak Pidana Korupsi sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang RI No. 20 Tahun 2001. 174 Pasal 8 Undang-Undang RI No. 31 Tahun 1999 tentang Penberantasan Tindak Pidana Korupsi sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang RI No. 20 Tahun 2001.

100 Ikhtisar Ketentuan AML & CFT

secara terus menerus atau untuk sementara waktu, dengan sengaja memalsu buku-buku atau daftardaftar yang khusus untuk pemeriksaan administrasi.175 II.3.1.2.3 Menggelapkan atau merusakkan barang, akta, surat, atau daftar Dipidana dengan pidana penjara paling singkat 2 (dua) tahun dan paling lama 7 (tujuh) tahun dan pidana denda paling sedikit Rp 100.000.000,00 (seratus juta rupiah) dan paling banyak Rp 350.000.000,00 (tiga ratus lima puluh juta rupiah) pegawai negeri atau orang selain pegawai negeri yang diberi tugas menjalankan suatu jabatan umum secara terus menerus atau untuk sementara waktu, dengan sengaja: a. menggelapkan, menghancurkan, meru-sakkan, atau membuat tidak dapat dipakai barang, akta, surat, atau daftar yang digunakan untuk meyakinkan atau membuktikan di muka pejabat yang berwenang, yang dikuasai karena jabatannya; atau b. membiarkan orang lain menghilangkan, menghancur-kan, merusakkan, atau membuat tidak dapat dipakai barang, akta, surat, atau daftar tersebut; atau c. membantu orang lain menghilangkan, menghancurkan, merusakkan, atau membuat tidak dapat dipakai barang, akta, surat, atau daftar tersebut.176 II.3.1.3 Pemerasan II.3.1.3.1 Penyalahgunaan kekuasaan untuk melakukan pemaksaan Dipidana dengan pidana penjara seumur hidup atau
175 Pasal 9 Undang-Undang RI No. 31 Tahun 1999 tentang Penberantasan Tindak Pidana Korupsi sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang RI No. 20 Tahun 2001. 176 Pasal 10 huruf a, b, atau c Undang-Undang RI No. 31 Tahun 1999 tentang Penberantasan Tindak Pidana Korupsi sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang RI No. 20 Tahun 2001.

TPPU & TPA

101

pidana penjara paling singkat 4 (empat) tahun dan paling lama 20 (dua puluh) tahun dan pidana denda paling sedikit Rp 200.000.000,00 (dua ratus juta rupiah) dan paling banyak Rp 1.000.000.000,00 (satu miliar rupiah): pegawai negeri atau penyelenggara negara yang dengan maksud menguntungkan diri sendiri atau orang lain secara melawan hukum, atau dengan menyalahgunakan kekuasaan-nya memaksa seseorang memberikan sesuatu, membayar, atau menerima pembayaran dengan potongan, atau untuk mengerjakan sesuatu bagi dirinya sendiri.177 II.3.1.3.2 Meminta, menerima, atau memotong pembayaran Dipidana dengan pidana penjara seumur hidup atau pidana penjara paling singkat 4 (empat) tahun dan paling lama 20 (dua puluh) tahun dan pidana denda paling sedikit Rp 200.000.000,00 (dua ratus juta rupiah) dan paling banyak Rp 1.000.000.000,00 (satu miliar rupiah): pegawai negeri atau penyelenggara negara yang pada waktu menjalankan tugas, meminta, menerima, atau memotong pembayaran kepada pegawai negeri atau penyelenggara negara yang lain atau kepada kas umum, seolah-olah pegawai negeri atau penyelenggara negara yang lain atau kas umum tersebut mempunyai utang kepadanya, padahal diketahui bahwa hal tersebut bukan merupakan utang.178 II.3.1.3.3 Menjadikan seolah-olah hutang Dipidana dengan pidana penjara seumur hidup atau pidana penjara paling singkat 4 (empat) tahun dan paling lama 20 (dua puluh) tahun dan pidana denda
177 Pasal 12 huruf e Undang-Undang RI No. 31 Tahun 1999 tentang Penberantasan Tindak Pidana Korupsi sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang RI No. 20 Tahun 2001.

Pasal 12 huruf f Undang-Undang RI No. 31 Tahun 1999 tentang Penberantasan Tindak Pidana Korupsi sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang RI No. 20 Tahun 2001.

178

102 Ikhtisar Ketentuan AML & CFT

paling sedikit Rp 200.000.000,00 (dua ratus juta rupiah) dan paling banyak Rp 1.000.000.000,00 (satu miliar rupiah) pegawai negeri atau penyelenggara negara yang pada waktu menjalankan tugas, meminta atau menerima pekerjaan, atau penyerahan barang, seolah-olah merupakan utang kepada dirinya, padahal diketahui bahwa hal tersebut bukan merupakan utang.179 II.3.1.4 Perbuatan curang II.3.1.4.1 Terkait bangunan dan barang TNI/POLRI Dipidana dengan pidana penjara paling singkat 2 (dua) tahun dan paling lama 7 (tujuh) tahun dan atau pidana denda paling sedikit Rp 100.000.000,00 (seratus juta rupiah) dan paling banyak Rp 350.000.000,00 (tiga ratus lima puluh juta rupiah): a. pemborong, ahli bangunan yang pada waktu membuat bangunan, atau penjual bahan bangunan yang pada waktu menyerahkan bahan bangunan, melakukan perbuatan curang yang dapat membahayakan keamanan orang atau barang, atau keselamatan negara dalam keadaan perang; b. setiap orang yang bertugas mengawasi pembangunan atau penyerahan bahan bangunan, sengaja membiarkan perbu-atan curang sebagaimana dimaksud dalam huruf a; c. setiap orang yang pada waktu menyerahkan barang keperluan Tentara Nasional Indonesia dan atau Kepolisian Negara Republik Indonesia melakukan perbuatan curang yang dapat membaha-yakan keselamatan negara dalam keadaan perang; atau d. Setiap orang yang bertugas mengawasi penyerahan barang keperluan Tentara Nasional Indonesia dan atau Kepolisian Negara Republik
Pasal 12 huruf g Undang-Undang RI No. 31 Tahun 1999 tentang Penberantasan Tindak Pidana Korupsi sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang RI No. 20 Tahun 2001.
179

TPPU & TPA

103

Indonesia dengan sengaja membiarkan perbuatan curang sebagaimana dimaksud dalam huruf c.180 e. Bagi orang yang menerima penyerahan bahan bangunan atau orang yang menerima penyerahan barang keperluan Tentara Nasional Indonesia dan atau Kepolisian Negara Republik Indonesia dan membiarkan perbuatan curang sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) huruf a atau huruf c, dipidana dengan pidana yang sama sebagaimana dimaksud dalam ayat (1).181 II.3.1.4.2 Terkait penggunaan tanah negara oleh Pegawai Negeri/Penyelenggara Negara Dipidana dengan pidana penjara seumur hidup atau pidana penjara paling singkat 4 (empat) tahun dan paling lama 20 (dua puluh) tahun dan pidana denda paling sedikit Rp 200.000.000,00 (dua ratus juta rupiah) dan paling banyak Rp 1.000.000.000,00 (satu miliar rupiah) pegawai negeri atau penyelenggara negara yang pada waktu menjalankan tugas, telah menggunakan tanah negara yang di atasnya terdapat hak pakai, seolah-olah sesuai dengan peraturan perundang-undangan, telah merugikan orang yang berhak, padahal diketahuinya bahwa perbuatan tersebut bertentangan dengan peraturan perundangundangan.182 II.3.1.5 Benturan kepentingan dalam pengadaan Dipidana dengan pidana penjara seumur hidup atau pidana penjara paling singkat 4 (empat) tahun dan paling lama 20 (dua puluh) tahun dan pidana denda paling sedikit Rp 200.000.000,00 (dua ratus juta
180 Pasal 7 ayat (1) huruf a,b,c atau d Undang-Undang RI No. 31 Tahun 1999 tentang Penberantasan Tindak Pidana Korupsi sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang RI No. 20 Tahun 2001. 181 Pasal 7 ayat (2) Undang-Undang RI No. 31 Tahun 1999 tentang Penberantasan Tindak Pidana Korupsi sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang RI No. 20 Tahun 2001. 182 Pasal 12 huruf h Undang-Undang RI No. 31 Tahun 1999 tentang Penberantasan Tindak Pidana Korupsi sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang RI No. 20 Tahun 2001.

104 Ikhtisar Ketentuan AML & CFT

rupiah) dan paling banyak Rp 1.000.000.000,00 (satu miliar rupiah) pegawai negeri atau penyelenggara negara baik langsung maupun tidak langsung dengan sengaja turut serta dalam pemborongan, pengadaan, atau persewaan, yang pada saat dilakukan perbuatan, untuk seluruh atau sebagian ditugaskan untuk mengurus atau mengawasinya.183 II.3.1.6 Gratifikasi Setiap gratifikasi kepada pegawai negeri atau penyelenggara negara dianggap pemberian suap, apabila berhubungan dengan jabatannya dan yang berlawanan dengan kewajiban atau tugasnya, dengan ketentuan sebagai berikut : 1) yang nilainya Rp 10.000.000,00 (sepuluh juta rupiah) atau lebih, pembuktian bahwa gratifikasi tersebut bukan merupakan suap dilakukan oleh penerima gratifikasi; 2) yang nilainya kurang dari Rp 10.000.000,00 (sepuluh juta rupiah), pembuktian bahwa gratifikasi tersebut suap dilakukan oleh penuntut umum.184 Pidana bagi pegawai negeri atau penyelenggara negara sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) adalah pidana penjara seumur hidup atau pidana penjara paling singkat 4 (empat) tahun dan paling lama 20 (dua puluh) tahun, dan pidana denda paling sedikit Rp 200.000.000,00 (dua ratus juta rupiah) dan paling banyak Rp 1.000.000.000,00 (satu miliar rupiah).185
Pasal 12 huruf i Undang-Undang RI No. 31 Tahun 1999 tentang Penberantasan Tindak Pidana Korupsi sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang RI No. 20 Tahun 2001.
184 Pasal 12B ayat (1) Undang-Undang RI No. 31 Tahun 1999 tentang Penberantasan Tindak Pidana Korupsi sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang RI No. 20 Tahun 2001. 185 Pasal 12B ayat (2) Undang-Undang RI No. 31 Tahun 1999 tentang Penberantasan Tindak Pidana Korupsi sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang RI No. 20 Tahun 2001. 183

TPPU & TPA

105

II.3.1.7 Tindak pidana lain terkait dengan korupsi II.3.1.7.1 Upaya mencegah, merintangi, atau menggagalkan penyidikan, penuntutan, dan pemeriksaan di sidang pengadilan Setiap orang yang dengan sengaja mencegah, merintangi, atau menggagalkan secara langsung atau tidak langsung penyidikan, penuntutan, dan pemeriksaan disidang pengadilan terhadap tersangka atau terdakwa ataupun para saksi dalam perkara korupsi, dipidana dengan pidana penjara paling singkat 3 (tiga) tahun dan paling lama 12 (dua belas) tahun dan atau denda paling sedikit Rp. 150.000.000,00 (seratus lima puluh juta rupiah) dan paling banyak Rp. 600.000.000,00 (enam ratus juta rupiah).186 II.3.1.7.2 Sengaja tidak memberi keterangan atau memberi keterangan yang tidak benar Setiap orang sebagaimana dimaksud dalam Pasal 28, Pasal 29, Pasal 35, atau Pasal 36 yang dengan sengaja tidak memberi keterangan atau memberi keterangan yang tidak benar dipidana dengan pidana penjara paling singkat 3 (tiga) tahun dan paling lama 12 (dua belas) tahun dan atau denda paling sedikit Rp. 150.000.000,00 (seratus lima puluh juta rupiah) dan paling banyak Rp. 600.000.000,00 (enam ratus juta rupiah).187 II.3.1.7.3 Terkait perkara korupsi Dalam perkara korupsi, pelanggaran terhadap ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 220, Pasal 231, Pasal 241, Pasal 422, Pasal 429 atau Pasal 430 Kitab Undang-undang Hukum Pidana, dipidana dengan pidana penjara paling singkat 1 (satu) tahun dan paling lama 6 (enam) tahun dan
186 Pasal 21 Undang-Undang RI No. 31 Tahun 1999 tentang Penberantasan Tindak Pidana Korupsi sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang RI No. 20 Tahun 2001. 187 Pasal 22 Undang-Undang RI No. 31 Tahun 1999 tentang Penberantasan Tindak Pidana Korupsi sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang RI No. 20 Tahun 2001.

106 Ikhtisar Ketentuan AML & CFT

atau denda paling sedikit Rp. 50.000.000,00 (lima puluh juta rupiah) dan paling banyak Rp. 300.000.000,00 (tiga ratus juta rupiah).188 II.3.1.7.4 Saksi yang tidak memenuhi ketentuan Saksi yang tidak memenuhi ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 31, dipidana dengan pidana penjara paling lama 3 (tiga) tahun dan atau denda paling banyak Rp. 150.000.000,00 (seratus lima puluh juta rupiah).189 II.3.1.7.5 Percobaan perbantuan atau permufakatan jahat Setiap orang yang melakukan percobaan pembantuan atau permufakatan jahat untuk melakukan tindak pidana korupsi, dipidana dengan pidana yang sama sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2. Pasal 3, Pasal 5 sampai dengan Pasal 14.190 Permufakatan Jahat adalah perbuatan dua orang atau lebih yang bersepakat untuk melakukan tindak pidana pencucian uang. 191 II.3.1.7.6 Pemberian bantuan, kesempatan, sarana, atau keterangan Setiap orang di dalam wilayah negara Republik Indonesia yang memberikan bantuan, kesempatan, sarana, atau keterangan untuk terjadinya tindak pidana korupsi dipidana dengan pidana yang sama sebagai pelaku tindak pidana korupsi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2. Pasal 3, Pasal 5 sampai dengan Pasal (7).192
188 Pasal 23 Undang-Undang RI No. 31 Tahun 1999 tentang Penberantasan Tindak Pidana Korupsi sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang RI No. 20 Tahun 2001. 189 Pasal 24 Undang-Undang RI No. 31 Tahun 1999 tentang Penberantasan Tindak Pidana Korupsi sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang RI No. 20 Tahun 2001. 190 Pasal 15 Undang-Undang RI No. 31 Tahun 1999 tentang Penberantasan Tindak Pidana Korupsi sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang RI No. 20 Tahun 2001. 191 Pasal 1 angka 15 Undang-Undang RI No. 8 Tahun 2010 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang. 192 Pasal 16 Undang-Undang RI No. 31 Tahun 1999 tentang Penberantasan Tindak Pidana Korupsi sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang RI No. 20 Tahun 2001.

TPPU & TPA

107

II.3.2

Penyuapan II.3.2.1 Definisi Yang dimaksud dengan tindak pidana suap di dalam undang-undang ini adalah tindak pidana suap di luar ketentuan peraturan perundang-undangan yang sudah ada.193 II.3.2.2 Sanksi pidana Barangsiapa memberi atau menjanjikan sesuatu kepada seseorang dengan maksud untuk membujuk supaya orang itu berbuat sesuatu atau tidak berbuat sesuatu dalam tugasnya, yang berlawanan dengan kewenangan atau kewajibannya yang menyangkut kepentingan umum, dipidana karena memberi suap dengan pidana penjara selama-lamanya 5 (lima) tahun dan denda sebanyak-banyaknya Rp. 15.000.000, 00 (lima belasjuta rupiah).194 Barangsiapa menerima sesuatu atau janji, sedangkan ia mengetahui atau patut dapat menduga bahwa pemberian sesuatu atau janji itu dimaksudkan supaya ia berbuat sesuatu atau tidak berbuat sesuatu dalam tugasnya, yang berlawanan dengan kewenangan atau kewajibannya yang menyangkut kepentingan umum, dipidana karena menerima suap dengan pidana penjara selama-lamanya 3 (tiga) tahun atau denda sebanyak-banyaknya Rp. 15.000.000.00 (lima belas juta rupiah).195 II.3.2.3 Praktik suap dilakukan di luar wilayah RI. Apabila tindak pidana tersebut dalam Pasal 2 dan Pasal 3 dilakukan di luar wilayah Republik Indonesia, maka ketentuan dalam undang-undang ini berlaku juga terhadapnya.196

193 194 195 196

Pasal 1 Undang-Undang RI No. 11 Tahun 1980 tentang Tindak Pidana Suap. Pasal 2 Undang-Undang RI No. 11 Tahun 1980 tentang Tindak Pidana Suap. Pasal 3 Undang-Undang RI No. 11 Tahun 1980 tentang Tindak Pidana Suap. Pasal 4 Undang-Undang RI No. 11 Tahun 1980 tentang Tindak Pidana Suap.

108 Ikhtisar Ketentuan AML & CFT

II.3.2.4 Kriminalisasi praktik suap Tindak pidana dalam undang-undang ini merupakan kejahatan.197 II.3.2.5 Terkait Pegawai Negeri atau Penyelenggara Negara Dipidana dengan pidana penjara paling singkat 1 (satu) tahun dan paling lama 5 (lima) tahun dan atau pidana denda paling sedikit Rp 50.000.000,00 (lima puluh juta rupiah) dan paling banyak Rp 250.000.000,00 (dua ratus lima puluh juta rupiah) setiap orang yang : a. memberi atau menjanjikan sesuatu kepada pegawai negeri atau penyelenggara negara dengan maksud supaya pegawai negeri atau penyelenggara negara tersebut berbuat atau tidak berbuat sesuatu dalam jabatannya, yang bertentangan dengan kewajiban-nya; atau b. memberi sesuatu kepada pegawai negeri atau penyelenggara negara karena atau berhubungan dengan sesuatu yang bertentangan dengan kewajiban, dilakukan atau tidak dilakukan dalam jabatannya.198 II.3.2.6 Pegawai Negeri atau Penyelenggara Negara menerima pemberian atau janji Bagi pegawai negeri atau penyelenggara negara yang menerima pemberian atau janji sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) huruf a atau huruf b, dipidana dengan pidana yang sama sebagaimana dimaksud dalam ayat (1).199

197 198

Pasal 5 Undang-Undang RI No. 11 Tahun 1980 tentang Tindak Pidana Suap.

Pasal 5 ayat (1) huruf a atau b Undang-Undang RI No. 31 Tahun 1999 tentang Penberantasan Tindak Pidana Korupsi sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang RI No. 20 Tahun 2001.
199 Pasal 5 ayat (2) Undang-Undang RI No. 31 Tahun 1999 tentang Penberantasan Tindak Pidana Korupsi sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang RI No. 20 Tahun 2001.

TPPU & TPA

109

II.3.2.7 Memberi atau menjanjikan sesuatu kepada hakim dan advokat Dipidana dengan pidana penjara paling singkat 3 (tiga) tahun dan paling lama 15 (lima belas) tahun dan pidana denda paling sedikit Rp 150.000.000,00 (seratus lima puluh juta rupiah) dan paling banyak Rp 750.000.000,00 (tujuh ratus lima puluh juta rupiah) setiap orang yang: a. memberi atau menjanjikan sesuatu kepada hakim dengan maksud untuk mempengaruhi putusan perkara yang diserahkan kepadanya untuk diadili; atau b. memberi atau menjanjikan sesuatu kepada seseorang yang menurut ketentuan peraturan perundang-undangan ditentukan menjadi advokat untuk menghadiri sidang pengadilan dengan maksud untuk mempengaruhi nasihat atau pendapat yang akan diberikan berhubung dengan perkara yang diserahkan kepada pengadilan untuk diadili.200 II.3.2.8 Hakim yang menerima pemberian atau janji. Bagi hakim yang menerima pemberian atau janji sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) huruf a atau advokat yang menerima pemberian atau janji sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) huruf b, dipidana dengan pidana yang sama sebagaimana dimaksud dalam ayat (1).201 II.3.2.9 Sanksi bagi Pegawai Negeri atau Penyelenggara Negara yang menerima hadiah atau janji II.3.2.9.1 Kewenangan sehubungan dengan jabatan
200 Pasal 6 ayat (1) huruf a atau b Undang-Undang RI No. 31 Tahun 1999 tentang Penberantasan Tindak Pidana Korupsi sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang RI No. 20 Tahun 2001. 201 Pasal 6 ayat (2) Undang-Undang RI No. 31 Tahun 1999 tentang Penberantasan Tindak Pidana Korupsi sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang RI No. 20 Tahun 2001.

110 Ikhtisar Ketentuan AML & CFT

Dipidana dengan pidana penjara paling singkat 1 (satu) tahun dan paling lama 5 (lima) tahun dan atau pidana denda paling sedikit Rp 50.000.000,00 (lima puluh juta rupiah) dan paling banyak Rp 250.000.000,00 (dua ratus lima puluh juta rupiah) pegawai negeri atau penyelenggara negara yang menerima hadiah atau janji padahal diketahui atau patut diduga, bahwa hadiah atau janji tersebut diberikan karena kekuasaan atau kewenangan yang berhubungan dengan jabatannya, atau yang menurut pikiran orang yang memberikan hadiah atau janji tersebut ada hubungan dengan jabatannya.202 II.3.2.9.2 Melakukan atau tidak melakukan sesuatu dalam jabatan Dipidana dengan pidana penjara seumur hidup atau pidana penjara paling singkat 4 (empat) tahun dan paling lama 20 (dua puluh) tahun dan pidana denda paling sedikit Rp 200.000.000,00 (dua ratus juta rupiah) dan paling banyak Rp 1.000.000.000,00 (satu miliar rupiah) pegawai negeri atau penyelenggara negara yang menerima hadiah atau janji, padahal diketahui atau patut diduga bahwa hadiah atau janji tersebut diberikan untuk menggerakkan agar melakukan atau tidak melakukan sesuatu dalam jabatannya, yang bertentangan dengan kewajibannya.203

202 Pasal 11 Undang-Undang RI No. 31 Tahun 1999 tentang Penberantasan Tindak Pidana Korupsi sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang RI No. 20 Tahun 2001. 203 Pasal 12 huruf a Undang-Undang RI No. 31 Tahun 1999 tentang Penberantasan Tindak Pidana Korupsi sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang RI No. 20 Tahun 2001.

TPPU & TPA

111

II.3.2.9.3 Karena telah melakukan atau tidak melakukan sesuatu Dipidana dengan pidana penjara seumur hidup atau pidana penjara paling singkat 4 (empat) tahun dan paling lama 20 (dua puluh) tahun dan pidana denda paling sedikit Rp 200.000.000,00 (dua ratus juta rupiah) dan paling banyak Rp 1.000.000.000,00 (satu miliar rupiah) pegawai negeri atau penyelenggara negara yang menerima hadiah, padahal diketahui atau patut diduga bahwa hadiah tersebut diberikan sebagai akibat atau disebabkan karena telah melakukan atau tidak melakukan sesuatu dalam jabatannya yang bertentangan dengan kewajibannya.204 II.3.2.9.4 Hadiah atau janji yang mempengaruhi putusan hakim Dipidana dengan pidana penjara seumur hidup atau pidana penjara paling singkat 4 (empat) tahun dan paling lama 20 (dua puluh) tahun dan pidana denda paling sedikit Rp 200.000.000,00 (dua ratus juta rupiah) dan paling banyak Rp 1.000.000.000,00 (satu miliar rupiah) hakim yang menerima hadiah atau janji, padahal diketahui atau patut diduga bahwa hadiah atau janji tersebut diberikan untuk mempengaruhi putusan perkara yang diserahkan kepadanya untuk diadili.205
204 Pasal 12 huruf b Undang-Undang RI No. 31 Tahun 1999 tentang Penberantasan Tindak Pidana Korupsi sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang RI No. 20 Tahun 2001. 205 Pasal 12 huruf c Undang-Undang RI No. 31 Tahun 1999 tentang Penberantasan Tindak Pidana Korupsi sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang RI No. 20 Tahun 2001.

112 Ikhtisar Ketentuan AML & CFT

II.3.2.9.5 Hadiah atau janji untuk mempengaruhi nasihat atau pendapat advokat Dipidana dengan pidana penjara seumur hidup atau pidana penjara paling singkat 4 (empat) tahun dan paling lama 20 (dua puluh) tahun dan pidana denda paling sedikit Rp 200.000.000,00 (dua ratus juta rupiah) dan paling banyak Rp 1.000.000.000,00 (satu miliar rupiah) seseorang yang menurut ketentuan peraturan perundang-undangan ditentukan menjadi advokat untuk menghadiri sidang pengadilan, menerima hadiah atau janji, padahal diketahui atau patut diduga bahwa hadiah atau janji tersebut untuk mempengaruhi nasihat atau pendapat yang akan diberikan, berhubung dengan perkara yang diserahkan kepada pengadilan untuk diadili.206 II.3.2.9.6 Hadiah atau janji yang diberikan kepada Pegawai Negeri Setiap orang yang memberikan hadiah atau janji kepada pegawai negeri dengan mengingat kekuasaan atau wewenang yang melekat pada jabatan atau kedudukannya, atau oleh pemberi hadiah atau janji dianggap melekat pada jabatan atau kedudukan tersebut, dipidana dengan pidana penjara paling lama 3 (tiga) dan atau denda paling banyak Rp. 150.000.000,00 (seratus lima puluh juta rupiah).207
206 Pasal 12 huruf d Undang-Undang RI No. 31 Tahun 1999 tentang Penberantasan Tindak Pidana Korupsi sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang RI No. 20 Tahun 2001. 207 Pasal 13 Undang-Undang RI No. 31 Tahun 1999 tentang Penberantasan Tindak Pidana Korupsi sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang RI No. 20 Tahun 2001.

TPPU & TPA

113

II.3.2.9.7 Percobaan pembantuan permufakatan jahat

atau

Setiap orang yang melakukan percobaan pembantuan atau permufakatan jahat untuk melakukan tindak pidana korupsi, dipidana dengan pidana yang sama sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2. Pasal 3, Pasal 5 sampai dengan Pasal 14.208 II.3.2.9.8 Pemberian bantuan, kesempatan, sarana, atau keterangan. Setiap orang di dalam wilayah negara Republik Indonesia yang memberikan bantuan, kesempatan, sarana, atau keterangan untuk terjadinya tindak pidana korupsi dipidana dengan pidana yang sama sebagai pelaku tindak pidana korupsi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2. Pasal 3, Pasal 5 sampai dengan Pasal (7).209 II.3.3 Narkotika II.3.3.1Definisi Prekursor Narkotika adalah zat atau bahan pemula atau bahan kimia yang dapat digunakan dalam pembuatan Narkotika yang dibedakan dalam tabel sebagaimana terlampir dalam Undang-Undang ini.210 Peredaran Gelap Narkotika dan Prekursor Narkotika adalah setiap kegiatan atau serangkaian kegiatan yang dilakukan secara tanpa hak atau melawan hukum yang ditetapkan sebagai tindak pidana Narkotika dan Prekursor Narkotika.211
208 Pasal 15 Undang-Undang RI No. 31 Tahun 1999 tentang Penberantasan Tindak Pidana Korupsi sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang RI No. 20 Tahun 2001. 209 Pasal 16 Undang-Undang RI No. 31 Tahun 1999 tentang Penberantasan Tindak Pidana Korupsi sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang RI No. 20 Tahun 2001. 210 211

Pasal 1 angka 2 Undang-Undang RI No. 35 Tahun 2009 tentang Narkotika. Pasal 1 angka 6 Undang-Undang RI No. 35 Tahun 2009 tentang Narkotika.

114 Ikhtisar Ketentuan AML & CFT

II.3.3.2 Sanksi menanam memelihara, memiliki, menyimpan atau menguasai narkotik Golongan I Barang siapa tanpa hak dan melawan hukum : a. menanam, memelihara, mempunyai dalam persediaan, memiliki, menyimpan, atau menguasai narkotika Golongan I dalam bentuk tanaman; atau b. memiliki, menyimpan untuk dimiliki atau untuk persediaan, atau menguasai narkotika Golongan I bukan tanaman, dipidana dengan pidana penjara paling lama 10 (sepuluh) tahun dan denda paling banyak Rp 500.000.000,00 (lima ratus juta rupiah).212 Apabila tindak pidana sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) didahului dengan permufakatan jahat, dipidana dengan pidana penjara paling singkat 2 (dua) tahun dan paling lama 12 (dua belas) tahun dan denda paling sedikit Rp 25.000.000,00 (dua puluh lima juta rupiah) dan paling banyak Rp750.000.000,00 (tujuh ratus lima puluh juta rupiah).213 Apabila tindak pidana sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dilakukan secara terorganisasi, dipidanadengan pidana penjara paling singkat 3 (tiga) tahun dan paling lama 15 (limabelas) tahun dan denda paling sedikit Rp 100.000.000,00 (seratus juta rupiah)dan paling banyak Rp 2.500.000.000,00 (dua milyar lima ratus juta rupiah). 214 Apabila tindak pidana sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dilakukan oleh korporasi, dipidana denda paling banyak Rp 5.000.000.000,00 (lima milyar rupiah).215 II.3.3.3 Sanksi memiliki, menyimpan untuk dimiliki atau untuk persediaan, atau menguasai narkotika Golongan II
212 213 214 215

Pasal 78 Ayat (1) Undang-Undang RI No. 22 Tahun 1997 tentang Narkotika. Pasal 78 Ayat (2) Undang-Undang RI No. 22 Tahun 1997 tentang Narkotika. Pasal 78 Ayat (3) Undang-Undang RI No. 22 Tahun 1997 tentang Narkotika. Pasal 78 Ayat (4) Undang-Undang RI No. 22 Tahun 1997 tentang Narkotika.

TPPU & TPA

115

Barang siapa tanpa hak dan melawan hukum : a. memiliki, menyimpan untuk dimiliki atau untuk persediaan, atau menguasai narkotika Golongan II, dipidana dengan pidana penjara paling lama 7 (tujuh) tahun dan denda paling banyak Rp 250.000.000,00 (dua ratus lima puluh juta rupiah); b. memiliki, menyimpanuntuk dimiliki atau untuk persediaan, atau menguasai narkotika Golongan III, dipidana dengan pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun dan denda palingbanyak Rp 100.000.000,00 (seratus juta rupiah).216 Apabila tindak pidana sebagaimana dimaksud dalam: a. ayat (1) huruf a didahului dengan permufakatan jahat, dipidana dengan pidana penjara paling lama 10 (sepuluh) tahun dan denda paling banyak Rp 400.000.000,00 (empat ratus jutarupiah); b. ayat (1) huruf b didahului dengan permufakatan jahat, dipidana dengan pidana penjara paling lama 7 (tujuh) tahun dan denda paling banyak Rp 150.000.000,00 (seratus lima puluhjuta rupiah).217 Apabila tindak pidana sebagaimana dimaksud dalam: a. ayat (1) huruf a dilakukan secara terorga-nisasi, dipidana dengan pidana penjara paling lama 12 (dua belas) tahun dan denda paling banyak Rp 2.000.000.000,00 (dua milyarrupiah); b. ayat (1) huruf b dilakukan secara terorganisasi, dipidana dengan pidana penjara paling lama 10 (sepuluh) tahun dan denda paling banyak Rp 400.000.000,00 (empat ratus jutarupiah).218 Apabila tindak pidana sebagaimana dimaksud dalam: a. ayat (1) huruf a dilakukan oleh korporasi, dipidana denda paling banyak Rp 3.000.000.000,00 (tiga milyar rupiah);
216 217 218

Pasal 79 Ayat (1) Undang-Undang RI No. 22 Tahun 1997 tentang Narkotika. Pasal 79 Ayat (2) Undang-Undang RI No. 22 Tahun 1997 tentang Narkotika. Pasal 79 Ayat (3) Undang-Undang RI No. 22 Tahun 1997 tentang Narkotika.

116 Ikhtisar Ketentuan AML & CFT

b. ayat (1) huruf b dilakukan oleh korporasi, dipidana denda paling banyak Rp 1.000.000.000,00 (satu milyar rupiah).219 II.3.3.4 Sanksi memproduksi, mengolah, mengekstraksi, mengkonversi, merakit, atau menyediakan narkotika Golongan I. Barang siapa tanpa hak dan melawan hukum : a. memproduksi, mengolah, mengekstraksi, mengkonversi, merakit, atau menyediakan narkotika Golongan I, dipidana dengan pidana mati atau pidana penjara seumur hidup, atau pidanapenjara paling lama 20 (dua puluh) tahun dan denda paling banyak Rp1.000.000.000,00 (satu milyar rupiah); b. memproduksi, mengolah, mengkonversi, merakit, atau menyediakan narkotika Golongan II, dipidana denganpidana penjara paling lama 15 (lima belas) tahun dan denda paling banyak Rp500.000.000,00 (lima ratus juta rupiah); c. memproduksi, mengolah,mengkonversi, merakit, atau menyediakan narkotika Golongan III, dipidana denganpidana penjara paling lama 7 (tujuh) tahun dan denda paling banyak Rp200.000.000,00 (dua ratus juta rupiah).220 Apabila tindak pidana sebagaimana dimaksud dalam: a. ayat (1) huruf a didahului dengan permufakatan jahat, dipidana dengan pidana mati atau pidanapenjara seumur hidup atau pidana penjara paling singkat 4 (empat) tahun danpaling lama 20 (dua puluh) tahun dan denda paling sedikit Rp 200.000.000,00(dua ratus juta rupiah) dan paling banyak Rp 2.000.000.000,00 (dua milyar rupiah); b. ayat (1) huruf b didahului dengan permufakatan jahat, dipidana dengan pidana penjara paling lama18 (delapan belas) tahun, dan denda paling
219 220

Pasal 79 Ayat (4) Undang-Undang RI No. 22 Tahun 1997 tentang Narkotika. Pasal 80 Ayat (1) Undang-Undang RI No. 22 Tahun 1997 tentang Narkotika.

TPPU & TPA

117

banyak Rp 1.000.000.000,00 (satu milyar rupiah); c. ayat (1) huruf c didahului dengan permufakatan jahat, dipidana dengan pidana penjara paling lama10 (sepuluh) tahun, dan denda paling banyak Rp 400.000.000,00 (empat ratus juta rupiah).221 Apabila tindak pidana sebagaimana dimaksud dalam: a. ayat (1) huruf a dilakukan secara terorga-nisasi, dipidana dengan pidana mati atau pidana penjaraseumur hidup atau pidana penjara paling singkat 5 (lima) tahun dan paling lama20 (dua puluh) tahun dan denda paling sedikit Rp 500.000.000,00 (lima ratus juta rupiah) dan paling banyak Rp 5.000.000.000,00 (lima milyar rupiah); b. ayat (1) huruf b dilakukan secara terorga-nisasi, dipidana dengan pidana penjara paling lama 20(dua puluh) tahun dan denda paling banyak Rp 3.000.000.000,00 (tiga milyar rupiah); c. ayat (1) huruf c dilakukan secara terorga-nisasi, dipidana dengan pidana penjara paling lama 15 (lima belas) tahun dan denda paling banyak Rp 2.000.000.000,00 (dua milyar rupiah).222 Apabila tindak pidana sebagaimana dimaksud dalam: a. ayat (1) huruf a dilakukan oleh korporasi, dipidana denda paling banyak Rp 7.000.000.000,00 (tujuh milyar rupiah); b. ayat (1) huruf b dilakukan oleh korporasi, dipidana denda paling banyak Rp 4.000.000.000,00 (empat milyar rupiah); c. ayat (1) huruf c dilakukan oleh korporasi, dipidana denda paling banyak Rp 3.000.000.000,00 (tiga milyar rupiah).223 II.3.3.5 Sanksi membawa, mengirim, mengangkut, atau mentransito narkotika Golongan I

221 222 223

Pasal 80 Ayat (2) Undang-Undang RI No. 22 Tahun 1997 tentang Narkotika. Pasal 80 Ayat (3) Undang-Undang RI No. 22 Tahun 1997 tentang Narkotika. Pasal 80 Ayat (4) Undang-Undang RI No. 22 Tahun 1997 tentang Narkotika.

118 Ikhtisar Ketentuan AML & CFT

Barang siapa tanpa hak dan melawan hukum : a. membawa, mengirim, mengangkut, atau mentransito narkotika Golongan I, dipidana dengan pidana penjara paling lama 15 (lima belas) tahun dan denda paling banyak Rp750.000.000,00 (tujuh ratus lima puluh juta rupiah); b. membawa, mengirim, mengangkut, atau mentransito narkotika Golongan II, dipidana dengan pidana penjara paling lama 10 (sepuluh) tahun dan denda paling banyak Rp500.000.000,00 (lima ratus juta rupiah); c. membawa, mengirim, mengangkut, atau mentransito narkotika Golongan III, dipidana dengan pidana penjara paling lama 7 (tujuh) tahun dan denda paling banyak Rp 200.000.000,00 (dua ratus juta rupiah).224 Apabila tindak pidana sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) didahului dengan permufakatan jahat, maka terhadap tindak pidana sebagaimana dimaksud dalam: a. ayat (1) huruf a, dipidana dengan pidana penjara paling singkat 2 (dua) tahun dan paling lama 18(delapan belas) tahun dan denda paling sedikit Rp 100.000.000,00 (seratus jutarupiah) dan paling banyak Rp 2.000.000.000,00 (dua milyar rupiah); b. ayat (1) huruf b, dipidana dengan pidana penjara paling lama 12 (dua belas belas) tahun dan dendapaling banyak Rp 1.000.000.000,00 (satu milyar rupiah); c. ayat (1) huruf c, dipidana dengan pidana penjara paling lama 9 (sembilan) tahun dan denda palingbanyak Rp. 500.000.000,00 (lima ratus juta rupiah).225 Apabila tindak pidana sebagaimana dimaksud dalam: a. ayat (1) huruf a dilakukan secara terorganisasi, dipidana dengan pidana mati atau pidana
224 225

Pasal 81 Ayat (1) Undang-Undang RI No. 22 Tahun 1997 tentang Narkotika. Pasal 81 Ayat (2) Undang-Undang RI No. 22 Tahun 1997 tentang Narkotika.

TPPU & TPA

119

penjaraseumur hidup, atau pidana penjara paling singkat 4 (empat) tahun dan palinglama 20 (dua puluh) tahun dan denda paling sedikit Rp 500.000.000,00 (limaratus juta rupiah) dan paling banyak Rp 4.000.000.000,00 (empat milyar rupiah). b. ayat (1) huruf b dilakukan secara terorganisasi, dipidana dengan pidana penjara paling lama 15 (lima belas) tahun dan denda paling banyak Rp 2.000.000.000,00 (dua milyarrupiah). c. ayat (1) huruf c dilakukan secara terorganisasi, dipidana dengan pidana penjara paling lama 10 (sepuluh) tahun dan denda paling banyak Rp 1.000.000.000,00 (satu milyarrupiah).226 Apabila tindak pidana sebagaimana dimaksud dalam: a. ayat (1) huruf a dilakukan oleh korporasi, dipidana denda paling banyak Rp 5.000.000.000,00(lima milyar rupiah); b. ayat (1) huruf b dilakukan oleh korporasi, dipidana denda paling banyak Rp 3.000.000.000,00(tiga milyar rupiah); c. ayat (1) huruf c dilakukan oleh korporasi, dipidana denda paling banyak Rp 2.000.000.000,00 (dua milyar rupiah).227 II.3.3.6 Sanksi mengimpor, mengekspor, menawarkan untuk dijual, menyalurkan, menjual, membeli, menyerahkan, menerima, menjadi perantara dalam jual beli, atau menukar narkotika Golongan I dan II Barang siapa tanpa hak dan melawan hukum : a. mengimpor, mengekspor, menawarkan untuk dijual, menyalurkan, menjual, membeli, menyerahkan, menerima,menjadi perantara dalam jual beli, atau menukar narkotika Golongan I, dipidanadengan pidana mati atau pidana penjara

226 227

Pasal 81 Ayat (3) Undang-Undang RI No. 22 Tahun 1997 tentang Narkotika. Pasal 81 Ayat (4) Undang-Undang RI No. 22 Tahun 1997 tentang Narkotika.

120 Ikhtisar Ketentuan AML & CFT

seumur hidup, atau pidana penjara paling lama 20 (dua puluh) tahun dan denda paling paling banyak Rp 1.000.000.000,00 (satu milyar rupiah); b. mengimpor, mengekspor, menawarkan untuk dijual, menyalurkan, menjual, membeli, menyerahkan, menerima, menjadi perantara dalam jual beli, atau menukar narkotika Golongan II, dipidanadengan pidana penjara paling lama 15 (lima belas) tahun dan denda paling banyakRp 500.000.000,00 (lima ratus juta rupiah); c. mengimpor, mengekspor, menawarkan untuk dijual, menyalurkan, menjual, membeli, menyerahkan, menerima,menjadi perantara dalam jual beli, atau menukar narkotika Golongan III, dipidana dengan pidana penjara paling lama 10 (sepuluh) tahun dan denda palingbanyak Rp 300.000.000,00 (tiga ratus juta rupiah).228 Apabila tindak pidana sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) didahului dengan permufakatan jahat, maka terhadap tindak pidana sebagaimana dimaksud dalam: a. ayat (1) huruf a,dipidana dengan pidana mati atau pidana penjara seumur hidup atau pidanapenjara paling singkat 4 (empat) tahun dan paling lama 20 (dua puluh) tahun dandenda paling sedikit Rp 200.000.000,00 (dua ratus juta rupiah) dan denda palingbanyak Rp 2.000.000.000,00 (dua milyar rupiah); b. ayat (1) huruf b,dipidana dengan pidana penjara paling lama 18 (delapan belas) tahun dan dendapaling banyak Rp 1.000.000.000,00 (satu milyar rupiah); c. ayat (1) huruf c,dipidana dengan pidana penjara paling lama 12 (dua belas) tahun dan dendapaling banyak Rp 750.000.000,00 (tujuh ratus lima puluh juta rupiah).229

228 229

Pasal 82 Ayat (1) Undang-Undang RI No. 22 Tahun 1997 tentang Narkotika. Pasal 82 Ayat (2) Undang-Undang RI No. 22 Tahun 1997 tentang Narkotika.

TPPU & TPA

121

Apabila tindak pidana sebagaimana dimaksud dalam: a. ayat (1) huruf a dilakukan secara terorganisasi, dipidana dengan pidana mati atau pidana penjara seumur hidup, atau pidana penjara paling singkat 5 (lima) tahun dan paling lama20 (dua puluh) tahun dan denda paling sedikit Rp 500.000.000,00 (lima ratus juta rupiah) dan paling banyak Rp 3.000.000.000,00 (tiga milyar rupiah). b. ayat (1) huruf b dilakukan secara terorganisasi, dipidana dengan pidana penjara paling lama 20(dua puluh) tahun dan denda paling banyak Rp 4.000.000.000,00 (empat milyarrupiah). c. ayat (1) huruf c dilakukan secara terorganisasi, dipidana dengan pidana penjara paling lama 15 (lima belas) tahun dan denda paling banyak Rp 2.000.000.000,00 (dua milyar rupiah).230 Apabila tindak pidana sebagaimana dimaksud dalam: a. ayat (1) huruf a dilakukan oleh korporasi, dipidana denda paling banyak Rp 7.000.000.000,00 (tujuh milyar rupiah); b. ayat (1) huruf b dilakukan oleh korporasi, dipidana denda paling banyak Rp 4.000.000.000,00 (empat milyar rupiah); c. ayat (1) huruf c dilakukan oleh korporasi, dipidana denda paling banyak Rp 3.000.000.000,00 (tiga milyar rupiah).231 Percobaan atau permufakatan jahat untuk melakukan tindak pidana narkotika sebagaimana diatur dalam Pasal 78, 79, 80, 81, dan Pasal 82, diancam dengan pidana yang sama sesuai dengan ketentuan sebagaimana diatur dalam pasal-pasal tersebut.232 II.3.3.7 Sanksi menggunakan narkotika terhadap orang lain atau memberikan narkotika Golongan I untuk digunakan orang lain
230 231 232

Pasal 82 Ayat (3) Undang-Undang RI No. 22 Tahun 1997 tentang Narkotika. Pasal 82 Ayat (4) Undang-Undang RI No. 22 Tahun 1997 tentang Narkotika. Pasal 83 Undang-Undang RI No. 22 Tahun 1997 tentang Narkotika.

122 Ikhtisar Ketentuan AML & CFT

Barang siapa tanpa hak dan melawan hukum : a. menggunakan narkotika terhadap orang lain atau memberikan narkotika Golongan I untuk digunakan orang lain, dipidana dengan pidana penjara paling lama 15 (lima belas) tahun dan denda paling banyak Rp 750.000.000,00 (tujuh ratus lima puluh juta rupiah); b. menggunakan narkotika terhadap orang lain atau memberikan narkotika Golongan II untuk digunakan oranglain, dipidana dengan pidana penjara paling lama 10 (sepuluh) tahun dan dendapaling banyak Rp 500.000.000,00 (lima ratus juta rupiah); c. menggunakan narkotika terhadap orang lain atau memberikan narkotika Golongan III untuk digunakan orang lain, dipidana dengan pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun dan dendapaling banyak Rp 250.000.000,00 (dua ratus lima puluh juta rupiah).233 II.3.3.8 Sanksi menggunakan narkotika Golongan I bagi diri sendiri Barang siapa tanpa hak dan melawan hukum : a. menggunakan narkotika Golongan I bagi diri sendiri, dipidana dengan pidana penjara paling lama 4(empat) tahun; b. menggunakan narkotika Golongan II bagi diri sendiri, dipidana dengan pidana penjara paling lama 2(dua) tahun; c. menggunakan narkotika Golongan III bagi diri sendiri, dipidana dengan pidana penjara paling lama 1(satu) tahun.234 Orang tua atau wali pecandu yang belum cukup umur sebagaimana dimaksud dalam Pasal 46 ayat (1) yang sengaja tidak melapor, dipidana dengan pidana

223 234

Pasal 84 Undang-Undang RI No. 22 Tahun 1997 tentang Narkotika. Pasal 85 Undang-Undang RI No. 22 Tahun 1997 tentang Narkotika.

TPPU & TPA

123

kurungan paling lama 6 (enam) bulan atau denda paling banyak Rp 1.000.000,00 (satu juta rupiah).235 Pecandu narkotika yang belum cukup umur dan telah dilaporkan oleh orang tua atau walinya sebagaimana dimaksud dalam Pasal 46 ayat (1) tidak dituntut pidana.246 Barang siapa menyuruh, memberi atau menjanjikan sesuatu, memberikan kesempatan, menganjurkan, memberikan kemudahan, memaksa, memaksa dengan ancaman, memaksa dengan kekerasan, melakukan tipu muslihat, atau membujuk anak yang belum cukup umur untuk melakukan tindak pidana sebagaimana dimaksud dalam Pasal 78, 79, 80,81, 82, 83Â dan Pasal 84, dipidana dengan pidana penjara seumur hidup atau pidana penjara paling singkat 5 (lima)tahun dan paling lama 20 (dua puluh) tahun dan denda paling sedikit Rp20.000.000,00 (dua puluh juta rupiah) dan paling banyak Rp 600.000.000,00 (enam ratus juta rupiah).237 Pecandu narkotika yang telah cukup umur dan dengan sengaja tidak melaporkan diri sebagaimana dimaksud dalam Pasal 46 ayat (2) dipidana dengan pidana kurungan paling lama 6 (enam) bulan atau denda paling banyak Rp 2.000.000,00 (dua juta rupiah).238 Keluarga pecandu narkotika sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) yang dengan sengaja tidak melaporkan pecandu narkotika tersebut dipidana dengan pidana kurungan palinglama 3 (tiga) bulan atau denda paling banyak Rp 1.000.000,00 (satu juta rupiah).239 II.3.3.9 Sanksi bagi pengurus pabrik obat yang tidak melaksanakan kewajiban
235 236 237 238 239

Pasal 86 Ayat (1) Undang-Undang RI No. 22 Tahun 1997 tentang Narkotika. Pasal 86 Ayat (2) Undang-Undang RI No. 22 Tahun 1997 tentang Narkotika. Pasal 87 Undang-Undang RI No. 22 Tahun 1997 tentang Narkotika. Pasal 88 Ayat (1) Undang-Undang RI No. 22 Tahun 1997 tentang Narkotika. Pasal 88 Ayat (2) Undang-Undang RI No. 22 Tahun 1997 tentang Narkotika.

124 Ikhtisar Ketentuan AML & CFT

Pengurus pabrik obat yang tidak melaksanakan kewajiban sebagaimana dimaksud dalam Pasal 41 dan Pasal 42, dipidana dengan pidana penjara paling lama 7 (tujuh) tahun dandenda paling banyak Rp 200.000.000,00 (dua ratus juta rupiah).240 II.3.3.10 Perampasan narkotika dan hasil kejahatan narkotika Narkotika dan hasil-hasil yang diperoleh dari tindak pidana narkotika serta barang-barang atau peralatan yang digunakan untuk melakukan tindak pidana narkotika, dirampas untuk negara.241 II.3.3.11 Pidana tambahan Penjatuhan pidana terhadap segala tindak pidana narkotika dalam Undang-undang ini kecuali yang dijatuhi pidana kurungan atau pidana denda tidak lebih dari Rp5.000.000,00 (lima juta rupiah) dapat pula dipidana dengan pidana tambahan berupa pencabutan hak sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku.242 II.3.3.12 Sanksi menghalang-halangi atau mempersulit penyidikan, penuntutan, atau pemeriksaan perkara tindak pidana nakotika di sidang pengadilan Barang siapa tanpa hak dan melawan hukum menghalang-halangi atau mempersulit penyidikan, penuntutan, atau pemeriksaan perkara tindak pidana nakotika di muka sidang pengadilan, dipidana dengan pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun dan dendapaling banyak Rp 150.000.000,00 (seratus lima puluh juta rupiah).243 II.3.3.13 Sanksi bagi Nakhoda atau kapten penerbang, penyidik PPNS, Penyidik Polri, dan saksi Nakhoda atau kapten penerbang yang tanpa hak dan melawan hukum tidak melaksanakan ketentuan
240 241 242 243

Pasal 89 Undang-Undang RI No. 22 Tahun 1997 tentang Narkotika. Pasal 90 Undang-Undang RI No. 22 Tahun 1997 tentang Narkotika. Pasal 91 Undang-Undang RI No. 22 Tahun 1997 tentang Narkotika. Pasal 92 Undang-Undang RI No. 22 Tahun 1997 tentang Narkotika.

TPPU & TPA

125

sebagaimana dimaksud dalam Pasal 24 atau Pasal 25, dipidana dengan pidanapenjara paling lama 10 (sepuluh) tahun dan denda paling banyak Rp150.000.000,00 (seratus lima puluh juta rupiah).244 Penyidik Pejabat Pegawai Negeri Sipil yang secara melawan hukum tidak melaksanakan ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 69 dan Pasal 71 dipidana dengan pidanakurungan paling lama 6 (enam) bulan atau denda Rp 1.000.000,00 (satu juta rupiah).245 Penyidik Pejabat Polisi Negara Republik Indonesia yang secara melawan hukum tidak melaksanakan ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 69 dan Pasal 71 dikenakan sanksi sesuai dengan peraturanperundang-undangan yang berlaku.246 Saksi yang memberi keterangan tidak benar dalam pemeriksaan perkara tindak pidana narkotika di muka siding pengadilan, dipidana dengan pidana penjara paling lama 10 (sepuluh) tahun dandenda paling banyak Rp 300.000.000,00 (tiga ratus juta rupiah).247 II.3.3.14 Sanksi terhadap pengulangan tindak pidana narkotika Barang siapa dalam jangka waktu 5 (lima) tahun melakukan pengulangan tindak pidana sebagaimana dimaksud dalamPasal 78, 79, 80, 81, 82, 83, 84, 85 dan Pasal 87 pidananya dapat ditambahdengan sepertiga dari pidana pokok, kecuali yang dipidana dengan pidana mati,seumur hidup atau pidana penjara 20 (dua puluh) tahun.248 Barang siapa melakukan tindak pidana narkotika sebagaimana dimaksud dalam Pasal 78, 79, 80,81, 82, 83, 84 dan Pasal 87, di luar wilayah Negara

244 245 246 247 248

Pasal 93 Undang-Undang RI No. 22 Tahun 1997 tentang Narkotika. Pasal 94 Ayat (1) Undang-Undang RI No. 22 Tahun 1997 tentang Narkotika. Pasal 94 Ayat (2) Undang-Undang RI No. 22 Tahun 1997 tentang Narkotika. Pasal 95 Undang-Undang RI No. 22 Tahun 1997 tentang Narkotika. Pasal 96 Undang-Undang RI No. 22 Tahun 1997 tentang Narkotika.

126 Ikhtisar Ketentuan AML & CFT

Republik Indonesia diberlakukan pula ketentuan Undang-undang ini.249 II.3.3.15 Sanksi bagi warga negara asing terkait tindak pidana narkotika Terhadap warga negara asing yang melakukan tindak pidana narkotika dan telah menjalani pidananya sebagaimana diatur dalam Undang-undang ini, dilakukan pengusiran keluar wilayah Negara Republik Indonesia.250 Warga negara asing yang telah diusir sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dilarang masuk kembali kewilayah Negara Republik Indonesia.251 Warga negara asing yang pernah melakukan tindak pidana narkotika di luar negeri, dilarang memasuki wilayah Negara Republik Indonesia.252 Dipidana dengan pidana penjara paling lama 10 (sepuluh) tahun dan denda paling banyak Rp200.000.000,00 (dua ratus juta rupiah), bagi : a. pimpinan rumah sakit, puskesmas, balai pengobatan, sarana penyimpanan sediaan farmasi milik pemerintah, apotik, dan dokter yang mengedarkan narkotika Golongan II dan III bukan untuk kepentingan pelayanan kesehatan; b. pimpinan lembaga ilmu pengetahuan yang menanam, membeli, menyimpan, atau menguasai tanaman narkotika bukan untuk kepentingan pengembangan ilmu pengetahuan; c. pimpinan pabrik obattertentu yang memproduksi narkotika Golongan I bukan untuk kepentingan pengembangan ilmu pengetahuan; atau d. pimpinan pedagang besar farmasi yang mengedarkan narkotika Golongan I yang bukan

249 250 251 252

Pasal 96 Undang-Undang RI No. 22 Tahun 1997 tentang Narkotika. Pasal 98 Ayat (1) Undang-Undang RI No. 22 Tahun 1997 tentang Narkotika. Pasal 98 Ayat (2) Undang-Undang RI No. 22 Tahun 1997 tentang Narkotika. Pasal 98 Ayat (3) Undang-Undang RI No. 22 Tahun 1997 tentang Narkotika.

TPPU & TPA

127

untuk kepentingan pengembangan ilmu pengetahuan atau mengedarkan narkotika golonganII dan III bukan untuk kepentingan pelayanan kesehatan dan/atau bukan untuk kepentingan pengembangan ilmu pengetahuan.253 Apabila putusan pidana denda sebagaimana diatur dalam Undang-undang ini tidak dapatdibayar oleh pelaku tindak pidana narkotika, dijatuhkan pidana kurunganpengganti denda sebagaimana diatur dalam peraturan perundang-undangan yang berlaku.254 II.3.4 Psikotropika II.3.4.1 Sanksi bagi yang menggunakan, memproduksi dan/atau menggunakan dalam proses produksi, mengedarkan, mengimpor, secara tanpa hak memiliki, menyimpan dan/atau membawa psikotropika golongan I Barang siapa : a. menggunakan psikotropika golongan 1 selain dimaksud dalam Pasal 4 ayat (2); atau b. memproduksi dan/atau menggunakan dalam proses produksi psikotropika golongan 1 sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6; atau c. mengedarkan psikotropika golongan 1 tidak memenuhi ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 12 ayat (3); atau d. mengimpor psikotropika golongan 1 selain untuk kepentingan llmu Pengetahuan; atau e. secara tanpa hak memiliki, menyimpan dan/ atau membawa psikotropika golongan 1 dipidana dengan pidana penjara paling singkat 4 (empat) tahun, paling lama 15 (lima belas) tahun dan pidana denda paling sedikit Rp. 150.000.000,00 (seratus lima puluh juta rupiah),

253 254

Pasal 99 Undang-Undang RI No. 22 Tahun 1997 tentang Narkotika. Pasal 100 Undang-Undang RI No. 22 Tahun 1997 tentang Narkotika.

128 Ikhtisar Ketentuan AML & CFT

dan paling banyak Rp.750.000 000,00 (tujuh ratus lima puluh juta rupiah).255 Jika tindak pidana sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan secara terorganisasi dipidana dengan pidana mati atau pidana penjara seumur hidup atau pidana penjara selama 20 (dua puluh) tahun dan pidana denda sebesar Rp. 750.000.000,00 (tujuh ratus lima puluh juta rupiah).256 Jika tindak pidana dalam pasal ini dilakukan oleh korporasi, maka di samping dipidananya pelaku tindak pidana, kepada korporasi dikenakan pidana denda sebesar Rp. 5.000.000.000,00 (lima milyar rupiah).257 Psikotropika golongan 1 hanya dapat digunakan untuk tujuan ilmu pengetahuan.258 Psikotropika golongan 1 dilarang diproduksi dan/ atau digunakan dalam proses produksi.259 Psikotropika golongan 1 hanya dapat disalurkan oleh pabrik obat dan pedagang besar farmasi kepada lembaga penelitian dan/atau lembaga pendidikan guna kepentingan ilmu pengetahuan.260 II.3.4.2 Sanksi bagi yang melanggar ketentuan Pasal 5, Pasal 7, Pasal 19 ayat (1), Pasal 12 ayat (2), Pasal 14 ayat (1), (2), (3) dan (4) Barang siapa : a. memproduksi psikotropika selain yang ditetapkan dalam ketentuan Pasal 5; atau

255 256 257 258 259 260

Pasal 59 Ayat (1) Undang-Undang RI No. 5 Tahun 1997 tentang Psikotropika. Pasal 59 Ayat (2) Undang-Undang RI No. 5 Tahun 1997 tentang Psikotropika. Pasal 59 Ayat (3) Undang-Undang RI No. 5 Tahun 1997 tentang Psikotropika. Pasal 4 Ayat (2) Undang-Undang RI No. 5 Tahun 1997 tentang Psikotropika. Pasal 6 Undang-Undang RI No. 5 Tahun 1997 tentang Psikotropika. Pasal 12 Ayat (3) Undang-Undang RI No. 5 Tahun 1997 tentang Psikotropika.

TPPU & TPA

129

b. memproduksi atau mengedarkan psikotropika dalam bentuk obat yang tidak memenuhi standar dan/atau persyaratan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7; atau c. memproduksi atau mengedarkan psikotropika yang berupa obat yang tidak terdaftar pada departemen yang bertanggung jawab di bidang kesehatan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 9 ayat (1); dipidana dengan pidana penjara paling lama 15 (lima belas) tahun dan pidana denda paling banyak Rp. 200.000.000,00 (dua ratus juta rupiah).261 Barang siapa menyalurkan psikotropika selain yang ditetapkan dalam Pasal 12 ayat (2) dipidana dengan pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun dan pidana denda paling banyak Rp. 100.000.000,00 (seratus juta rupiah).262 Barang siapa menerima penyaluran psikotropika selain yang ditetapkan Pasal 12 ayat (2) dipidana penjara paling lama 3 (tiga) tahun dan pidana denda paling banyak Rp. 60.000.000,00 (enam puluh juta rupiah).263 Barang siapa menyerahkan psikotropika selain yang ditetapkan dalam Pasal 14 ayat (1), Pasal 14 ayat (2), Pasal 14 ayat (3), dan Pasal 14 ayat (4) dipidana dengan pidana penjara paling lama 3 (tiga) tahun dan pidana denda paling banyak Rp. 60.000.000,00 (enam puluh juta rupiah).264 Barang siapa menerima penyerahan psikotropika selain yang ditetapkan dalam Pasal 14 ayat (3), Pasal 14 ayat (4) dipidana dengan pidana penjara paling lama 3 (tiga) tahun dan pidana denda paling banyak Rp. 60.000.000,00 (enam puluh juta
261 262 263 264

Pasal 60 Ayat (1) Undang-Undang RI No. 5 Tahun 1997 tentang Psikotropika. Pasal 60 Ayat (2) Undang-Undang RI No. 5 Tahun 1997 tentang Psikotropika. Pasal 60 Ayat (3) Undang-Undang RI No. 5 Tahun 1997 tentang Psikotropika. Pasal 60 Ayat (4) Undang-Undang RI No. 5 Tahun 1997 tentang Psikotropika.

130 Ikhtisar Ketentuan AML & CFT

rupiah). Apabila yang menerima penyerahan itu pengguna, maka dipidana dengan pidana penjara paling lama 3 (tiga) bulan.265 II.3.4.3 Ketentuan bagi pabrik obat yang memproduksi psikotropika Psikotropika hanya dapat diproduksi oleh pabrik obat yang telah memiliki izin sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku.266 II.3.4.4 Ketentuan pengedaran psikotropika dan penyaluran

Psikotropika yang diproduksi untuk diedarkan berupa obat, harus memenuhi standar dan/atau persyaratan farmakope Indonesia atau buku standar lainnya.267 Peredaran psikotropika terdiri dari penyaluran dan penyerahan.268 Psikotropika yang berupa obat hanya dapat diedarkan setelah terdaftar pada departemen yang bertanggung jawab di bidang kesehatan.269 Penyaluran psikotropika sebagaimana dimaksud pada ayat (2) hanya dapat dilakukan oleh : a. Pabrik obat kepada pedagang besar farmasi, apotek, sarana penyimpanan sediaan farmasi Pemerintah, rumah sakit dan lembaga penelitian dan/atau lembaga pendidikan. b. Pedagang besar farmasi kepada pedagang besar farmasi lainnya, apotek, sarana penyimpanan sediaan farmasi Pemerintah, rumah sakit, dan/ atau lembaga penelitian dan/atau lembaga pendidikan.
265 266 267 268 269

Pasal 60 Ayat (5) Undang-Undang RI No. 5 Tahun 1997 tentang Psikotropika. Pasal 5 Undang-Undang RI No. 5 Tahun 1997 tentang Psikotropika. Pasal 7 Undang-Undang RI No. 5 Tahun 1997 tentang Psikotropika. Pasal 8 Undang-Undang RI No. 5 Tahun 1997 tentang Psikotropika. Pasal 9 Ayat (1) U Undang-Undang RI No. 5 Tahun 1997 tentang Psikotropika.

TPPU & TPA

131

c. Sarana penyimpanan sediaan farmasi Pemerintah kepada rumah sakit Pemerintah, puskesmas dan balai pengobatan Pemerintah.270 Penyerahan psikotropika dalam rangka peredaran sebagaimana dimaksud dalam Pasal 8 hanya dapat dilakukan oleh apotek, rumah sakit, puskesmas, balai pengobatan, dan dokter.271 Penyerahan psikotropika oleh apotek hanya dapat dilakukan kepada apotek lainnya, rumah sakit, puskesmas, balai pengobatan, dokter dan kepada pengguna/pasien.272 Penyerahan psikotropika oleh apotek, rumah sakit, puskesmas, dan balai pengobatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) hanya dapat dilakukan kepada pengguna/pasien.273 Penyerahan psikotropika oleh apotek, rumah sakit, puskesmas, dan balai pengobatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilaksanakan berdasarkan resep dokter.274 II.3.4.5 Surat persetujuan ekspor atau impor Barang siapa : a. mengekspor atau mengimpor psikotropika selain yang ditentukan dalam Pasal 16, atau b. mengekspor atau mengimpor psikotropika tanpa surat persetujuan ekspor atau surat persetujuan impor sebagaimana dimaksud dalam Pasal 17; atau c. melaksanakan pengangkutan ekspor atau impor psikotropika tanpa dilengkapi dengan surat persetujuan ekspor atau surat persetujuan impor sebagaimana dimaksud dalam Pasal 22
270 271 272 273 274

Pasal 12 Ayat (2) Undang-Undang RI No. 5 Tahun 1997 tentang Psikotropika. Pasal 14 Ayat (1) Undang-Undang RI No. 5 Tahun 1997 tentang Psikotropika. Pasal 14 Ayat (2) Undang-Undang RI No. 5 Tahun 1997 tentang Psikotropika. Pasal 14 Ayat (3) Undang-Undang RI No. 5 Tahun 1997 tentang Psikotropika. Pasal 14 Ayat (4) Undang-Undang RI No. 5 Tahun 1997 tentang Psikotropika.

132 Ikhtisar Ketentuan AML & CFT

ayat (3) atau Pasal 22 ayat (4); dipidana dengan pidana penjara paling lama 10 (sepuluh) tahun dan pidana denda paling banyak Rp. 300.000.000,00 (tiga ratus juta rupiah).275 Barang siapa tidak menyerahkan surat persetujuan ekspor kepada orang yang bertanggung jawab atas pengangkutan ekspor sebagaimana dimaksud dalam Pasal 22 ayat (1) atau Pasal 22 ayat (2) dipidana dengan pidana penjara paling lama 3 (tiga) tahun dan pidana denda paling banyak Rp 60.000.000,00 (enam puluh juta rupiah).276 Ekspor psikotropika hanya dapat dilakukan oleh pabrik obat atau pedagang besar farmasi yang telah memiliki izin sebagai eksportir sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku.277 Impor psikotropika hanya dapat dilakukan oleh pabrik obat pedagang besar farmasi yang memiliki izin sebagai importir sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku, serta lembaga penelitian atau lembaga pendidikan.278 Lembaga penelitian dan/atau lembaga pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dilarang untuk mengedarkan psikotropika.279 Eksportir psikotropika sebagaimana dimaksud dalam Pasal 16 ayat (1) harus memiliki surat persetujuan ekspor untuk setiap kali melakukan ekspor psikotropika.280 Importir psikotropika sebagaimana dimaksud dalam Pasal 16 ayat (2) harus memiliki surat persetujuan impor psikotropika golongan 1 hanya

275 276 277 278 279 280

Pasal 61 Ayat (1) Undang-Undang RI No. 5 Tahun 1997 tentang Psikotropika. Pasal 61 Ayat (2) Undang-Undang RI No. 5 Tahun 1997 tentang Psikotropika. Pasal 16 Ayat (1) Undang-Undang RI No. 5 Tahun 1997 tentang Psikotropika. Pasal 16 Ayat (2) Undang-Undang RI No. 5 Tahun 1997 tentang Psikotropika. Pasal 16 Ayat (3) Undang-Undang RI No. 5 Tahun 1997 tentang Psikotropika. Pasal 17 Ayat (1) Undang-Undang RI No. 5 Tahun 1997 tentang Psikotropika.

TPPU & TPA

133

dapat diberikan untuk kepentingan ilmu pengetahuan.281 Surat persetujuan impor psikotropika golongan I hanya dapat diberikan untuk kepentingan ilmu pengetahuan. 282 Eksportir psikotropika wajib memberikan surat persetujuan ekspor psikotropika dari Menteri dan Surat Persetujuan Impor Psikotropika dari Pemerintah negara pengimpor kepada orang yang bertanggung jawab atas perusahaan pengangkutan ekspor.283 Orang yang bertanggung jawab atas perusahaan pengangkutan ekspor wajib memberikan surat persetujuan impor psikotropika dari pemerintah negara pengimpor kepada penanggung jawab pengangkut.284 Penanggung jawab pengangkut ekspor psikotropika wajib membawa dan bertanggung jawab pengangkut.285 Penanggung jawab pengangkut impor psikotropika yang memasuki wilayah Republik Indonesia wajib membawa dan bertanggung jawab atas kelengkapan surat persetujuan impor psikotropika dari Menteri dan surat persetujuan ekspor psikotropika dari pemerintah negara pengekspor.286 Barang siapa secara tanpa hak, memiliki, menyimpan dan/atau membawa psikotropika dipidana dengan pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun dan pidana

281 282 283 284 285 286

Pasal 17 Ayat (2) Undang-Undang RI No. 5 Tahun 1997 tentang Psikotropika. Pasal 17 Ayat (3) Undang-Undang RI No. 5 Tahun 1997 tentang Psikotropika. Pasal 22 Ayat (1) Undang-Undang RI No. 5 Tahun 1997 tentang Psikotropika. Pasal 22 Ayat (2) Undang-Undang RI No. 5 Tahun 1997 tentang Psikotropika. Pasal 22 Ayat (3) Undang-Undang RI No. 5 Tahun 1997 tentang Psikotropika. Pasal 22 Ayat (4) Undang-Undang RI No. 5 Tahun 1997 tentang Psikotropika.

134 Ikhtisar Ketentuan AML & CFT

denda paling banyak Rp. 100.000.000,00 (seratus juta rupiah).287 Barang siapa : a. melakukan pengangkutan psikotropika tanpa dilengkapi dokumen pengangkutan sebagaimana dimaksud dalam pasal 10; atau b. melakukan perubahan negara tujuan ekspor yang tidak memenuhi ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 24; atau c. melakukan pengemasan kembali psikotropika tidak memenuhi ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 25; dipidana dengan pidana penjara paling lama 3 (tiga) tahun dan pidana denda paling banyak Rp. 600.000.000,00 (enam ratus juta rupiah).288 II.3.5.6 Pencantuman label Barang siapa : a. tidak mencantumkan label sebagaimana dimaksud dalam Pasal 29; atau b. mencantumkan tulisan berupa keterangan dalam label yang tidak memenuhi ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 30 ayat (1); atau c. mengiklankan psikotropika selain yang ditentukan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 31 ayat (1); atau d. melakukan pemusnahan psikotropika tidak sesuai dengan ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 53 ayat (2) atau Pasal 53 ayat (3): dipidana dengan pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun dan pidana denda paling banyak Rp. 100.000.000,00 (seratus juta rupiah).289

287 288 289

Pasal 62 Undang-Undang RI No. 5 Tahun 1997 tentang Psikotropika. Pasal 63 Ayat (1) Undang-Undang RI No. 5 Tahun 1997 tentang Psikotropika. Pasal 63 Ayat (2) Undang-Undang RI No. 5 Tahun 1997 tentang Psikotropika.

TPPU & TPA

135

Setiap pengangkutan dalam rangka peredaran psikotropika, wajib dilengkapi dengan dokumen pengangkutan psikotropika.290 Setiap perubahan negara tujuan ekspor psikoterapika pada transito psikoterapika hanya dapat dilakukan setelah adanya persetujuan dari a. pemerintah negara pengekspor psikoterapika; b. pemerintah negara pengimpor atau tujuan semua ekspor psikoterapika; dan c. pemerintah negara tujuan perubahan ekspor psikoterapika.291 Pengemasan kembali psikoterapika di dalam gedung penyimpanan atau sarana angkutan pada transito psikoterapika, hanya dapat dilakukan terhadap kemasan asli psikoterapika yang mengalami kerusakan dan harus dilakukan di bawah pengawasan dari pejabat yang berwenang.292 Pabrik obat wajib mencantumkan label pada kemasan psikotropika.293 Label psikotropika adalah setiap keterangan mengenai psikoterapika yang dapat berbentuk tulisan, kombinasi gambar dan tulisan, atau bentuk lain yang disertakan pada kemasan atau dimasukkan dalam kemasan, ditempelkan, atau merupakan bagian dari wadah dan/atau kemasannya.294 Setiap tulisan berupa keterangan yang dicantumkan pada label psikoterapika harus lengkap dan tidak menyesatkan.295

290 291 292 293 294 295

Pasal 10 Undang-Undang RI No. 5 Tahun 1997 tentang Psikotropika. Pasal 24 Undang-Undang RI No. 5 Tahun 1997 tentang Psikotropika. Pasal 25 Undang-Undang RI No. 5 Tahun 1997 tentang Psikotropika. Pasal 29 Ayat (1) Undang-Undang RI No. 5 Tahun 1997 tentang Psikotropika. Pasal 29 Ayat (2) Undang-Undang RI No. 5 Tahun 1997 tentang Psikotropika. Pasal 30 Ayat (1) Undang-Undang RI No. 5 Tahun 1997 tentang Psikotropika.

136 Ikhtisar Ketentuan AML & CFT

Psikoterapika hanya dapat dijalankan pada media cetak ilmiah kedokteran dan/atau media cetak ilmiah farmasi.296 II.3.4.7 Pemusnahan psikotropika Pemusnahan psikotropika sebagaimana dimaksud: a. pada ayat (1) butir a dilakukan oleh suatu tim yang terdiri dari pejabat yang mewakili departemen yang bertanggung jawab di bidang kesehatan, Kepolisian Negara Republik Indonesia, dan Kejaksaan sesuai dengan HukumAcaraPidanayangberlaku, dan ditambah pejabat dari instansi terkait dengan tempat terungkapnya tindak pidana tersebut, dalam waktu tujuh hari setelah mendapat kekuatan hukum tetap; b. pada ayat (1) butir a, khusus golongan 1, wajib dilaksanakan paling lambat tujuh hari setelah dilakukan penyitaan; dan c. pada ayat (1) butir b, c dan d dilakukan oleh Pemerintah, orang, atau badan yang bertanggung jawab atas produksi dan/atau peredaran psikotropika, sarana kesehatan tertentu, serta lembaga pendidikan dan/atau lembaga penelitian dengan disaksikan oleh pejabat departemen yang bertanggung jawab di bidang kesehatan, dalam waktu tujuh hari setelah mendapat kepastian sebagaimana dimaksud pada ayat tersebut.297 Setiap pemusnahan psikotropika, wajib dibuatkan berita acara.298 II.3.4.8 Pengobatan dan perawatan penderita psikotropika Barang siapa : a. menghalang-halangi penderita sindroma
296 297 298

Pasal 31 Ayat (1) Undang-Undang RI No. 5 Tahun 1997 tentang Psikotropika. Pasal 53 Ayat (2) Undang-Undang RI No. 5 Tahun 1997 tentang Psikotropika. Pasal 53 Ayat (3) Undang-Undang RI No. 5 Tahun 1997 tentang Psikotropika.

TPPU & TPA

137

ketergantungan untuk menjalani pengobatan dan/atau perawatan pada fasilitas rehabilitasi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 37;atau b. menyelenggarakan fasilitas rehabilitasi yang tidak memiliki izin sebagaimana dimaksud dalam Pasal 39 ayat (3); dipidana penjara paling lama 1 (satu tahun dan/atau pidana denda paling banyak Rp. 20.000.000.00 (dua puluh juta rupiah).299 Pengguna psikotropika yang menderita sindroma ketergantungan berkewajiban untuk ikut serta dalam pengobatan dan/atau perawatan.300 Pengobatan dan/atau perawatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan pada fasilitas rehabilitasi.301 Penyelenggaraan fasilitas rehabilitasi medis sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) hanya dapat dilakukan atas dasar izin dari Menteri.302 II.3.4.9 Pelaporan penyalahgunaan dan/atau pemilikan psikotropika Barang siapa tidak melaporkan penyalahgunaan dan/atau pemilikan psikotropika secara tidak sah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 54 ayat (2) dipidana dengan pidana penjara paling lama 1 (satu) tahun dan/atau pidana denda paling banyak Rp. 20.000.000,00 (dua puluh juta rupiah).303 Masyarakat wajib melaporkan kepada pihak yang berwenang bila mengetahui tentang psikotropika yang disalahgunakan dan/atau dimiliki secara tidak sah.304
299 300 301 302 303 304

Pasal 64 Undang-Undang RI No. 5 Tahun 1997 tentang Psikotropika. Pasal 37 ayat (1) Undang-Undang RI No. 5 Tahun 1997 tentang Psikotropika. Pasal 37 ayat (2) Undang-Undang RI No. 5 Tahun 1997 tentang Psikotropika. Pasal 39 ayat (3) Undang-Undang RI No. 5 Tahun 1997 tentang Psikotropika. Pasal 65 Undang-Undang RI No. 5 Tahun 1997 tentang Psikotropika. Pasal 54 ayat (2) Undang-Undang RI No. 5 Tahun 1997 tentang Psikotropika.

138 Ikhtisar Ketentuan AML & CFT

Di depan pengadilan, saksi dan/atau orang lain dalam perkara psikotropika yang sedang dalam pemeriksaan, dilarang menyebut nama, alamat, atau hal-hal yang memberikan kemungkinan dapat terungkapnya identitas pelapor.305 Saksi dan orang lain yang bersangkutan dengan perkara psikotropika yang sedang dalam pemeriksaan di sidang pengadilan yang menyebut nama, alamat atau hal-hal yang dapat terungkapnya identitas pelapor sebagaimana dimaksud dalam Pasal 57 ayat (1), dipidana dengan pidana penjara paling lama 1 (satu) tahun.306 II.3.4.10 Warga negara asing yang melakukan tindak pidana psikotropika Kepada warga asing yang melakukan tindak pidana psikotropika dan telah selesai menjalani hukuman pidana dengan putusan pengadilan sekurangkurangnya 3 (tiga) tahun sebagaimana diatur dalam Undang-Undang ini dilakukan pengusiran keluar wilayah negara Republik Indonesia.307 Warga negara asing sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat kembali ke Indonesia setelah jangka waktu tertentu sesuai dengan putusan pengadilan.308 II.3.4.11 Percobaan atau perbantuan melakukan tindak pidana psikotropika Percobaan atau perbantuan untuk melakukan tindak pidana psikotropika sebagaimana diatur dalam Undang-Undang ini dipidana sama dengan jika tindak pidana tersebut dilakukan.309 Jika tindak pidana psikotropika sebagaimana dimaksud dalam Pasal 60, Pasal 61, Pasal 62, Pasal
305 306 307 308 309

Pasal 57 ayat (1) Undang-Undang RI No. 5 Tahun 1997 tentang Psikotropika. Pasal 66 Undang-Undang RI No. 5 Tahun 1997 tentang Psikotropika. Pasal 67 Ayat (1) Undang-Undang RI No. 5 Tahun 1997 tentang Psikotropika. Pasal 67 Ayat (2) Undang-Undang RI No. 5 Tahun 1997 tentang Psikotropika. Pasal 69 Undang-Undang RI No. 5 Tahun 1997 tentang Psikotropika.

TPPU & TPA

139

63, dan Pasal 64 dilakukan oleh korporasi, maka di samping dipidananya pelaku tindak pidana, kepada korporasi dikenakan pidana denda sebesar 2 (dua) kali pidana denda yang berlaku untuk tindak pidana tersebut dan dapat dijatuhkan pidana tambahan berupa pencabutan izin usaha.310 Barang siapa bersekongkol atau bersepakat untuk melakukan, melaksanakan, membantu, menyuruh turut melakukan, menganjurkan atau mengorganisasikan suatu tindak pidana sebagaimana dimaksud dalam Pasal 60, Pasal 61, Pasal 62, atau Pasal 63 dipidana sebagai permufakatan jahat.311 Pelaku tindak pidana sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dipidana dengan ditambah sepertiga pidana yang berlaku untuk tindak pidana tersebut.312 Jika tindak pidana psikotropika dilakukan dengan menggunakan anak yang belum berumur 18 (delapan belas) tahun dan belum menikah atau orang yang di bawah pengampunan atau ketika melakukan tindak pidana belum lewat dua tahun sejak selesai menjalani seluruhnya atau sebagian pidana penjarayang dijatuhkan kepadanya, ancaman pidana ditambah sepertiga pidana yang berlaku untuk tindak pidana tersebut.313 II.3.5 Penyeludupan Tenaga Kerja II.3.5.1 Kartu Tenaga Kerja Luar Negeri Kartu Tenaga Kerja Luar Negeri yang selanjutnya disebut dengan KTKLN adalah kartu identitas bagi TKI yang memenuhi persyaratan dan prosedur untuk bekerja di luar negeri.314

310 311 312 313 314

Pasal 70 Undang-Undang RI No. 5 Tahun 1997 tentang Psikotropika. Pasal 71 Ayat (1) Undang-Undang RI No. 5 Tahun 1997 tentang Psikotropika. Pasal 71 Ayat (2) Undang-Undang RI No. 5 Tahun 1997 tentang Psikotropika. Pasal 72 Undang-Undang RI No. 5 Tahun 1997 tentang Psikotropika. Pasal 1 angka 11 Undang-Undang RI No. 5 Tahun 1997 tentang Psikotropika.

140 Ikhtisar Ketentuan AML & CFT

II.3.5.2 Surat Izin Pelaksana Penempatan TKI Surat Izin Pelaksana Penempatan TKI yang selanjutnya disebut SIPPTKI adalah izin tertulis yang diberikan oleh Menteri kepada Perusahaan yang akan menjadi pelaksana penempatan TKI swasta.315 Surat Izin Pengerahan yang selanjutnya disebut SIP adalah izin yang diberikan Pemerintah kepada pelaksana penempatan TKI swasta untuk merekrut calon TKI dari daerah tertentu untuk jabatan tertentu, dan untuk dipekerjakan kepada calon Pengguna tertentu dalam jangka waktu tertentu.316 Pelaksanaan penempatan TKI swasta dilarang mengalihkan atau memindahtangankan SIPTKI kepada pihak lain.317 Pelaksana penempatan TKI swasta dilarang mengalihkan atau memindahkan SIP kepada pihak lain untuk melakukan perekrutan calon TKI.318 Pelaksana penempatan TKI swasta dilarang menempatkan calon TKI yang tidak lulus dalam uji kompetensi kerja.319 Pelaksana penempatan TKI swasta dilarang menempatkan calon TKI yang tidak memenuhi syarat kesehatan dan psikologi.320 Pelaksana penempatan TKI swasta wajib menginstruksikan TKI yang diberangkatkan ke luar

315 316

Pasal 1 angka 13 Undang-Undang RI No. 5 Tahun 1997 tentang Psikotropika.

Pasal 1 angka 14 Undang-Undang RI No. 39 Tahun 2004 tentang Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia di Luar Negeri. Pasal 19 Undang-Undang RI No. 39 Tahun 2004 tentang Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia di Luar Negeri.
318 Pasal 33 Undang-Undang RI No. 39 Tahun 2004 tentang Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia di Luar Negeri. 319 Pasal 45 Undang-Undang RI No. 39 Tahun 2004 tentang Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia di Luar Negeri. 320 Pasal 50 Undang-Undang RI No. 39 Tahun 2004 tentang Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia di Luar Negeri. 317

TPPU & TPA

141

negeri dalam program asuransi.321 II.3.5.3 Syarat-syarat perekrutan TKI Perekrutan calon TKI oleh pelaksana penempatan TKI swasta wajib dilakukan terhadap calon TKI yang telah memenuhi persyaratan : a. berusia sekurang-kurangnya 18 (delapan belas) tahun kecuali bagi calon TKI yang akan dipekerjakan pada Pengguna perseorangan sekurang-kurangnya berusia 21 (dua puluh satu) tahun; b. sehat jasmani dan rohani; c. tidak dalam keadaan hamil bagi calon tenaga kerja perempuan; dan d. berpendidikan sekurang-kurangnya lulus Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama (SLTP) atau yang sederajat.322 Untuk dapat ditempatkan di luar negeri, calon TKI harus memiliki dokumen yang meliputi : a. Kartu Tanda Penduduk, Ijazah pendidikan terakhir, akte kelahiran atau surat keterangan kenal lahir; b. surat keterangan status perkawinan bagi yang telah menikah melampirkan copy buku nikah; c. surat keterangan izin suami atau istri, izin orang tua, atau izin wali; d. surat keterangan sehat berdasarkan hasil hasil pemeriksaan kesehatan dan psikologi; e. paspor yang diterbitkan oleh Kantor Imigrasi setempat; f. visa kerja; g. perjanjian penempatan kerja; h. perjanjian kerja, dan i. KTKLN.323
321 Pasal 68 ayat (1) Undang-Undang RI No. 39 Tahun 2004 tentang Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia di Luar Negeri. 322 Pasal 35 Undang-Undang RI No. 39 Tahun 2004 tentang Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia di Luar Negeri. 323 Pasal 51 Undang-Undang RI No. 39 Tahun 2004 tentang Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia di Luar Negeri.

142 Ikhtisar Ketentuan AML & CFT

Selama masa penampungan, pelaksana penempatan TKI swasta wajib memperlakukan calon TKI secara wajar dan manusiawi.324 II.3.5.4 Program Asuransi Jenis program asuransi yang wajib diikuti oleh TKI sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur lebih lanjut dengan Peraturan Menteri.325 II.3.5.5 Sanksi pidana Dipidana dengan pidana penjara paling singkat 2 (dua) tahun dan paling lama 10 (sepuluh) tahun dan/atau denda paling sedikit Rp. 2.000.000.000,00 (dua milyar rupiah) dan paling banyak Rp. 15.000.000.000,00 (lima belas milyar rupiah), setiap orang yang: a. mengalihkan atau memindahtangankan SIPPTKI sebagaimana dimaksud dalam Pasal 19; b. mengalihkan atau memindahtangankan SIP kepada pihak lain sebagaimana dimaksud dalam Pasal 33; c. melakukan perekrutan calon TKI yang tidak memenuhi persyaratan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 35; d. menempatkan TKI yang tidak lulus dalam uji kompetensi kerja sebagaimana dimaksud dalam Pasal 45; e. menempatkan TKI tidak memenuhi persyaratan kesehatan dan psikologi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 50; f. menempatkan calon TKI/TKI yang tidak memiliki dokumen sebagaimana dimaksud dalam Pasal 51; g. menempatkan TKI di luar negeri tanpa perlindungan program asuransi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 68; atau

324 Pasal 70 ayat (3) Undang-Undang RI No. 39 Tahun 2004 tentang Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia di Luar Negeri. 325 Pasal 68 ayat (2) Undang-Undang RI No. 39 Tahun 2004 tentang Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia di Luar Negeri.

TPPU & TPA

143

h. memperlakukan calon TKI secara tidak wajar dan tidak manusiawi selama masa di penampungan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 70 ayat (3).326 Tindak pidana sebagaimana dimaksud pada ayat (1) merupakan tindak pidana kejahatan.327 II.3.5.6 Perdagangan wanita dan perdagangan anak laki-laki yang belum dewasa Perdagangan wanita dan perdagangan anak laki laki yang belum dewasa, diancam dengan pidana penjara paling lama enam tahun.328 II.3.5.7 Mempekerjakan tenaga kerja asing Setiap pemberi kerja yang mempekerjakan tenaga kerja asing wajib memiliki izin tertulis dari Menteri atau pejabat yang ditunjuk.329 Pemberi kerja orang perseorangan dilarang mempekerjakan tenaga kerja asing.330 II.3.5.8 Sanksi Pidana II.3.5.8.1 Umum Barang siapa melanggar ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 42 ayat (1) dan ayat (2), Pasal 68, Pasal 69 ayat (2), Pasal 80, Pasal 82, Pasal 90 ayat (1), Pasal 139, Pasal 143, dan Pasal 160 ayat (4) dan ayat (7), dikenakan sanksi pidana penjara paling singkat 1 (satu) tahun dan paling lama 4 (empat) tahun dan/atau denda paling sedikit Rp100.000.000,00 (seratus juta rupiah) dan paling banyak

326 Pasal 102 ayat (1) Undang-Undang RI No. 39 Tahun 2004 tentang Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia di Luar Negeri. 327 Pasal 102 ayat (2) Undang-Undang RI No. 39 Tahun 2004 tentang Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia di Luar Negeri. 328 329 330

Pasal 297 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP). Pasal 42 ayat (1) Undang-Undang RI No. 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan. Pasal 42 ayat (2) Undang-Undang RI No. 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan.

144 Ikhtisar Ketentuan AML & CFT

Rp400.000.000,00 (empat ratus juta rupiah).331 II.3.5.8.2 Penempatan TKI tanpa ijin Dipidana dengan pidana penjara paling singkat 2 (dua) tahun dan paling lama 10 (sepuluh) tahun dan/atau denda paling sedikit Rp 2.000.000.000,00 (dua miliar rupiah) dan paling banyak Rp 15.000.000.000,00 (lima belas miliar rupiah), setiap orang yang: menempatkan TKI tanpa izin sebagaimana dimaksud dalam Pasal 12.332 II.3.5.8.3 Eksploitasi orang di wilayah Indonesia dan atau negara lain II.3.5.8.3.1 Di wilayah Indonesia Setiap orang yang melakukan perekrutan, pengangkutan, penampungan, pengiriman, pemindahan, atau penerimaan seseorang dengan ancaman kekerasan, penggunaan kekerasan, penculikan, penye-kapan, pemalsuan, penipuan, penyalahgunaan kekuasaan atau posisi rentan, penjeratan utang atau memberi bayaran atau manfaat walaupun memperoleh persetujuan dari orang yang memegang kendali atas orang lain, untuk tujuan mengeksploitasi orang tersebut di wilayah negara Republik Indonesia, dipidana dengan pidana penjara paling singkat 3 (tiga) tahun dan paling lama 15 (lima belas) tahun dan pidana denda paling sedikit Rp120.000.000, 00 (seratus dua puluh

331 332

Pasal 185 ayat (1) Undang-Undang RI No. 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan.

Pasal 102 ayat (1) huruf a Undang-Undang RI No. 39 Tahun 2004 tentang Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia di Luar Negeri.

TPPU & TPA

145

juta rupiah) dan paling banyak Rp600.000.000, 00 (enam ratus juta rupiah).333 Jika perbuatan sebagaimana dimak-sud pada ayat (1) mengakibatkan orang tereksploitasi, maka pelaku dipidana dengan pidana yang sama sebagaimana dimaksud pada ayat (1).334 II.3.5.8.3.2 Di wilayah Indonesia atau negara lain Setiap orang yang memasukkan orang ke wilayah negara Republik Indonesia dengan maksud untuk dieksploitasi di wilayah negara Republik Indonesia atau dieksploitasi di negara lain dipidana dengan pidana penjara paling singkat 3 (tiga) tahun dan paling lama 15 (lima belas) tahun dan pidana denda paling sedikit Rp120.000.000, 00 (seratus dua puluh juta rupiah) dan paling banyak Rp600.000.000, 00 (enam ratus juta rupiah).335 Setiap orang yang membawa warga negara Indonesia ke luar wilayah negara Republik Indonesia dengan maksud untuk dieksploitasi di luar wilayah negara Republik Indonesia dipidana dengan pidana penjara paling singkat 3 (tiga) tahun dan paling lama 15 (lima belas) tahun dan pidana denda paling sedikit Rp120.000.000, 00 (seratus dua puluh juta rupiah) dan paling banyak Rp600.000.000,

Pasal 2 ayat (1) Undang-Undang RI No. 21 Tahun 2007 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Perdagangan Orang.
334 Pasal 2 ayat (2) Undang-Undang RI No. 21 Tahun 2007 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Perdagangan Orang. 335 Pasal 3 Undang-Undang RI No. 21 Tahun 2007 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Perdagangan Orang.

333

146 Ikhtisar Ketentuan AML & CFT

00 (enam ratus juta rupiah).336 II.3.5.8.3.3 Pengekslpotasian anak Setiap orang yang melakukan pengiriman anak ke dalam atau ke luar negeri dengan cara apa pun yang mengakibatkan anak tersebut tereksploitasi dipidana dengan pidana penjara paling singkat 3 (tiga) tahun dan paling lama 15 (lima belas) tahun dan pidana denda paling sedikit Rp120.000.000, 00 (seratus dua puluh juta rupiah) dan paling banyak Rp600.000.000, 00 (enam ratus juta rupiah).337 II.3.5.8.3.4 Penyalahgunaan kekuasaan oleh penyelenggara negara • Penambahan 1/3 pidana (1) Setiap penyelenggara negara yang menyalahgu-nakan kekuasaan yang mengakibatkan terjadinya tindak pidana perdagangan orang sebagai-mana dimak-sud dalam Pasal 2, Pasal 3, Pasal 4, Pasal 5, dan Pasal 6 maka pidananya ditambah 1/3 (sepertiga) dari ancaman pidana dalam Pasal 2, Pasal 3, Pasal 4, Pasal 5, dan Pasal 6.338 • Pidana tambahan pemberhentian berupa

Selain sanksi pidana sebagai-mana dimaksud pada ayat (1) pelaku dapat
336 Pasal 4 Undang-Undang RI No. 21 Tahun 2007 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Perdagangan Orang. 337 Pasal 6 Undang-Undang RI No. 21 Tahun 2007 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Perdagangan Orang. 338 Pasal 8 ayat (1) Undang-Undang RI No. 21 Tahun 2007 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Perdagangan Orang.

TPPU & TPA

147

dikenakan pidana tambahan berupa pemberhen-tian secara tidak dengan hormat dari jabatannya.339 • Pencatuman dalam Amar Putusan Pengadilan Pidana tambahan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dicantumkan sekaligus dalam amar putusan pengadilan.340 II.3.5.8.3.5 Peran aktor intelektual Setiap orang yang berusaha menggerakkan orang lain supaya melakukan tindak pidana perda-gangan orang, dan tindak pidana itu tidak terjadi, dipidana dengan pidana penjara paling singkat 1 (satu) tahun dan paling lama 6 (enam) tahun dan pidana denda paling sedikit Rp40.000.000, 00 (empat puluh juta rupiah) dan paling banyak Rp240.000.000, 00 (dua ratus empat puluh juta rupiah).341 Setiap orang yang merencanakan atau melakukan permufakatan jahat untuk melakukan tindak pidana perdagangan orang, dipidana dengan pidana yang sama sebagai pelaku sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2, Pasal 3, Pasal 4, Pasal 5, dan Pasal 6.342

339 Pasal 8 ayat (2) Undang-Undang RI No. 21 Tahun 2007 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Perdagangan Orang. 340 Pasal 8 ayat (3) Undang-Undang RI No. 21 Tahun 2007 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Perdagangan Orang. 341 Pasal 9 Undang-Undang RI No. 21 Tahun 2007 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Perdagangan Orang. 342 Pasal 11 Undang-Undang RI No. 21 Tahun 2007 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Perdagangan Orang.

148 Ikhtisar Ketentuan AML & CFT

Setiap orang yang menggunakan atau meman-faatkan korban tindak pidana perdagangan orang dengan cara melakukan persetubuhan atau perbuatan cabul lainnya dengan korban tindak pidana perdagangan orang, mempekerjakan korban tindak pidana perdagangan orang untuk meneruskan praktik eksploitasi, atau mengambil keuntungan dari hasil tindak pidana perdagangan orang dipidana dengan pidana yang sama sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2, Pasal 3, Pasal 4, Pasal 5, dan Pasal 6.343 Tindak pidana perdagangan orang dianggap dilakukan oleh korporasi apabila tindak pidana tersebut dilakukan oleh orang-orang yang bertindak untuk dan/atau atas nama korporasi atau untuk kepentingan korporasi, baik berdasarkan hubungan kerja maupun hubungan lain, bertindak dalam lingkungan korporasi tersebut baik sendiri maupun bersama-sama.344 Dalam hal tindak pidana perdagangan orang dilakukan oleh suatu korporasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1), maka penyidikan, penuntutan, dan pemidanaan dilakukan terhadap korporasi dan/atau pengurusnya.345

343 Pasal 12 Undang-Undang RI No. 21 Tahun 2007 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Perdagangan Orang. 344 Pasal 13 ayat (1) Undang-Undang RI No. 21 Tahun 2007 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Perdagangan Orang. 345 Pasal 13 ayat (2) Undang-Undang RI No. 21 Tahun 2007 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Perdagangan Orang.

TPPU & TPA

149

II.3.6

Penyelundupan Imigran II.3.6.1 Keluar atau masuk wilayah RI Setiap orang yang masuk atau keluar wilayah Indonesia tanpa melalui pemeriksaan oleh Pejabat Imigrasi di tempat Pemeriksaan Imigrasi dipidana dengan pidana penjara paling lama 3 (tiga) tahun atau denda paling banyak Rp. 15.000.000,00 (lima belas juta rupiah).346 Dipidana dengan pidana penjara paling lama 6 (enam) tahun dan denda paling banyak Rp. 30.000.000,00 (tiga puluh juta rupiah): a. orang asing yang dengan sengaja membuat palsu atau memalsukan Visa atau izin keimigrasian; atau b. orang asing yang dengan sengaja menggunakan Visa atau izin keimigrasian palsu atau yang dipalsukan untuk masuk atau berada di Wilayah Indonesia.347 Setiap orang yang memasukkan orang ke wilayah negara Republik Indonesia dengan maksud untuk dieksploitasi di wilayah negara Republik Indonesia atau dieksploitasi di negara lain dipidana dengan pidana penjara paling singkat 3 (tiga) tahun dan paling lama 15 (lima belas) tahun dan pidana denda paling sedikit Rp. 120.000.000,00 (seratus dua puluh juta rupiah) dan paling banyak Rp. 600.000.000,00 (enam ratus juta rupiah).348 II.3.6.2 Orang asing yang melanggar ketetuan keimigrasian Orang asing yang dengan sengaja menyalahgunakan atau melakukan kegiatan yang tidak sesuai dengan maksud pemberian izin keimigrasian yang diberikan kepadanya, dipidana dengan pidana penjara paling

346 347 348

Pasal 48 Undang-Undang RI No. 9 Tahun 1992 tentang Keimigrasian. Pasal 49 Undang-Undang RI No. 9 Tahun 1992 tentang Keimigrasian.

Pasal 3 Undang-Undang RI No. 21 Tahun 2007 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Perdagangan Orang.

150 Ikhtisar Ketentuan AML & CFT

lama 5 (lima) tahun atau denda paling banyak Rp. 25.000.000,00 (dua puluh lima juta rupiah).349 Orang asing yang izin keimigrasiannya habis berlaku dan masih berada dalam wilayah Indonesia melampaui 60 (enam puluh) hari batas waktu izin yang diberikan, dipidana dengan pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun atau denda paling banyak Rp. 25.000.000,00 (dua puluh lima juta rupiah).350 Orang asing yang berada diwilayah Indonesia secara tidak sah atau yang pernah diusir atau dideportasi dan berada kembali di wilayah Indonesia secara tidak sah, dipidana dengan pidana penjara paling lama 6 (enam) tahun dan/atau denda paling banyak Rp. 30.000.000,00 (tiga puluh juta rupiah).351 Setiap orang yang dengan sengaja menyembunyikan, melindungi, memberi pemondokan, memberi penghidupan atau pekerjaan kepada orang asing yang diketahui atau patut diduga : a. pernah diusir atau dideportasi dan berada kembali di wilayah Indonesia secara tidak sah, dipidana dengan pidana penjara paling lama 6 (enam) tahun dan/atau denda paling banyak Rp 30.000.000,(tiga puluh juta rupiah); b. berada di wilayah Indonesia secara tidak sah, dipidana dengan pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun dan/atau denda paling banyak Rp 25.,000.000,- (dua puluh lima juta rupiah); c. izin keimigrasiannya habis berlaku, dipidana dengan pidana penjara paling lama 1 (satu) tahun atau denda paling banyak Rp 5.000.000,- (lima juta rupiah).352

349 350 351 252

Pasal 50 Undang-Undang RI No. 9 Tahun 1992 tentang Keimigrasian. Pasal 52 Undang-Undang RI No. 9 Tahun 1992 tentang Keimigrasian. Pasal 53 Undang-Undang RI No. 9 Tahun 1992 tentang Keimigrasian. Pasal 54 Undang-Undang RI No. 9 Tahun 1992 tentang Keimigrasian.

TPPU & TPA

151

II.3.6.3 Penggunaan surat perjalanan palsu Setiap orang yang dengan sengaja: a. menggunakan Surat Perjalanan Republik Indonesia sedangkan ia mengetahui atau sepatutnya menduga bahwa Surat Perjalanan itu palsu atau dipalsukan, dipidana dengan pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun atau denda paling banyak Rp. 25.000.000,00 (dua puluh lima juta rupiah). b. menggunakan Surat Perjalanan orang lain atau Surat Perjalanan Republik Indonesia yang sudah dicabut atau dinyatakan batal, atau menyerahkan kepada orang lain Surat Perjalanan Republik Indonesia yang diberikan kepadanya, dengan maksud digunakan secara tidak berhak, dipidana dengan pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun atau denda paling banyak Rp. 25.000.000,00 (dua puluh lima juta rupiah). c. memberikan data yang tidak sah atau keterangan yang tidak benar untuk memperoleh Surat Perjalanan Republik Indonesia bagi dirinya sendiri atau orang lain, dipidana dengan pidana penjara paling lama (dua) tahun atau denda paling banyak Rp. 10.000.000,00 (sepuluh juta rupiah). d. memiliki atau menggunakan secara melawan hukum 2 (dua) atau lebih Surat Perjalanan Republik Indonesia yang semuanya berlaku, dipidana dengan pidana penjara selama 2 (dua) tahun atau denda paling banyak Rp. 10.000.000,00 (sepuluh juta rupiah).353 Dipidana dengan pidana penjara paling lama 6 (enam) tahun dan/atau denda paling banyak Rp. 30.000.000,(tiga puluh juta rupiah). a. setiap orang yang dengan sengaja dan melawan hukum mencetak, mempunyai, menyimpan blanko Surat Perjalanan Republik Indonesia atau blanko dokumen keimigrasian; atau
353

Pasal 55 Undang-Undang RI No. 9 Tahun 1992 tentang Keimigrasian.

152 Ikhtisar Ketentuan AML & CFT

b. Setiap orang yang dengan sengaja dan melawan hukum membuat, mempunyai atau menyimpan cap yang dipergunakan untuk mensahkan Surat Perjalanan Republik Indonesia atau dokumen keimigrasian.354 Setiap orang yang dengan sengaja dan melawan hukum untuk kepentingan diri sendiri atau orang lain merusak, menghilangkan atau mengubah baik sebagian maupun seluruhnya keterangan atau cap yang terdapat dalam Surat Perjalanan Republik Indonesia, dipidana dengan pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun dan/atau denda paling banyak Rp. 25.000.000,00 (dua puluh juta rupiah).355 Setiap orang yang dengan sengaja dan melawan hukum untuk kepentingan diri sendiri atau orang lain mempunyai, menyimpan, mengubah atau menggunakan data keimigrasian baik secara manual maupun elektronik, dipidana dengan pidana penjara paling lama 3 (tiga) tahun.356 Pejabat yang dengan sengaja dan melawan hukum memberikan atau memperjuangkan berlakunya Surat Perjalanan Republik Indonesia atau dokurnen keimigrasian kepada seseorang yang diketahuinya tidak berhak, dipidana dengan pidana penjara paling lama 7 (tujuh) tahun.357 II.3.6.4 Pemberian keterangan palsu pada dokumen negara Setiap orang yang memberikan atau memasukkan keterangan palsu pada dokumen negara atau dokumen lain atau memalsukan dokumen negara atau dokumen lain, untuk mempermudah terjadinya tindak pidana perdagangan orang, dipidana dengan pidana penjara paling singkat 1 (satu) tahun dan paling lama
354 355 356 357

Pasal 56 Undang-Undang RI No. 9 Tahun 1992 tentang Keimigrasian. Pasal 57 Undang-Undang RI No. 9 Tahun 1992 tentang Keimigrasian. Pasal 58 Undang-Undang RI No. 9 Tahun 1992 tentang Keimigrasian. Pasal 59 Undang-Undang RI No. 9 Tahun 1992 tentang Keimigrasian.

TPPU & TPA

153

7 (tujuh) tahun dan pidana denda paling sedikit Rp40.000.000, 00 (empat puluh juta rupiah) dan paling banyak Rp280.000.000, 00 (dua ratus delapan puluh juta rupiah).358 II.3.7 Di Bidang Perbankan II.3.7.1 Perizinan Setiap pihak yang melakukan kegiatan menghimpun dana dari masyarakat dalam bentuk simpanan wajib terlebih dahulu memperoleh izin usaha sebagai Bank Umum atau Bank Perkreditan Rakyat dari Pimpinan Bank Indonesia, kecuali apabila kegiatan menghimpun dana dari masyarakat dimaksud diatur dengan Undang-undang tersendiri.359 Untuk memperoleh izin usaha Bank Umum dan Bank Perkreditan Rakyat sebagaimana dimaksud dalam ayat (1), wajib dipenuhi persyaratan sekurang-kurangnya tentang : a. b. c. d. e. susunan organisasi dan kepengurusan permodalan kepemilikan keahlian di bidang Perbankan kelayakan rencana kerja.160

Persyaratan dan tata cara perizinan bank sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) ditetapkan oleh Bank Indonesia.361 Barang siapa menghimpun dana dari masyarakat dalam bentuk simpanan tanpa izin usaha dari Pimpinan Bank Indonesia sebagaimana dimaksud
358 Pasal 19 Undang-Undang RI No. 21 Tahun 2007 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Perdagangan Orang. 359 Pasal 16 ayat (1) Undang-Undang RI No. 7 Tahun 1992 tentang Perbankan sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang RI No. 10 Tahun 1998. 360 Pasal 16 ayat (2) Undang-Undang RI No. 7 Tahun 1992 tentang Perbankan sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang RI No. 10 Tahun 1998. 361 Pasal 16 ayat (3) Undang-Undang RI No. 7 Tahun 1992 tentang Perbankan sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang RI No. 10 Tahun 1998.

154 Ikhtisar Ketentuan AML & CFT

dalam Pasal 16, diancam dengan pidana penjara sekurang-kurangnya 5 (lima) tahun dan paling lama 15 (lima belas) tahun serta denda sekurangkurangnya Rp. 10.000.000.000,00 (sepuluh miliar rupiah) dan paling banyak Rp. 20.000.000.000,00 (dua puluh miliar rupiah).362 Dalam hal kegiatan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dilakukan oleh badan hukum yang berbentuk perseroan terbatas, perserikatan, yayasan atau koperasi, maka penuntutan terhadap badan-badan dimaksud dilakukan baik terhadap badan-badan dimaksud dilakukan baik terhadap mereka yang memberikan perintah melakukan perbuatan itu atau yang bertindak sebagai pimpinan dalam perbuatan itu atau terhadap kedua-duanya.363 II.3.7.2 Rahasia bank Barang siapa tanpa membawa perintah tertulis atau izin dari Pimpinan Bank Indonesia sebagaimana dimaksud dalam Pasal 41, Pasal 41 A, dan Pasal 42, dengan sengaja memaksa bank atau Pihak Terafiliasi untuk memberikan keterangan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 40, diancam dengan pidana penjara sekurang-kurangnya 2 (dua) tahun dan paling lama 4 (empat) tahun serta denda sekurangkurangnya Rp. 10.000.000.000,00 (sepuluh miliar rupiah) dan paling banyak Rp. 200.000.000.000,00 (dua ratus miliar rupiah).364 Anggota Dewan Komisaris, Direksi, pegawai bank atau Pihak Terafiliasi lainnya dengan sengaja memberikan keterangan yang wajib dirahasiakan menurut Pasal 40, diancam dengan pidana penjara

362 Pasal 46 ayat (1) Undang-Undang RI No. 7 Tahun 1992 tentang Perbankan sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang RI No. 10 Tahun 1998. 363 Pasal 46 ayat (2) Undang-Undang RI No. 7 Tahun 1992 tentang Perbankan sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang RI No. 10 Tahun 1998. 364 Pasal 47 ayat (1) Undang-Undang RI No. 7 Tahun 1992 tentang Perbankan sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang RI No. 10 Tahun 1998.

TPPU & TPA

155

sekurang-kurangnya 2 (dua) tahun serta denda sekurang-kurangnya Rp. 4.000.000.000,00 (empat miliar rupiah) dan paling banyak Rp. 8.000.000.000,00 (delapan miliar rupiah).365 Anggota Dewan Komisaris, Direksi, atau pegawai bank yang dengan sengaja tidak memberikan keterangan yang wajib dipenuhi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 42 A dan Pasal 44 A, diancam dengan pidana penjara sekurang-kurangnya 2 (dua) tahun dan paling lama 7 (tujuh) tahun serta denda sekurang-kurangnya Rp. 4.000.000.000,00 (empat miliar rupiah) dan paling banyak Rp. 15.000.000.000,00 (lima belas miliar rupiah).366 II.3.7.3 Pembinaan dan pengawasan bank Anggota Dewan Komisaris, Direksi, atau pegawai bank yang dengan sengaja tidak memberikan keterangan yang wajib dipenuhi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 30 ayat (1) dan ayat (2) dan Pasal 34 ayat (1) dan ayat (2), diancam dengan pidana penjara sekurang-kurangnya 2 (dua) tahun dan paling lama 10 (sepuluh) tahun serta denda sekurangkurangnya Rp. 5.000.000.000,00 (lima miliar rupiah) dan paling banyak Rp. 100.000.000.000,00 (seratus miliar rupiah).367 Anggota Dewan Komisaris, Direksi, atau pegawai bank yang dengan lalai memberikan keterangan yang wajib dipenuhi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 30 ayat (1) dan ayat (2) dan Pasal 34 ayat (1) dan ayat (2), diancam dengan pidana penjara sekurangkurangnya 1 (satu) tahun dan paling lama 2 (dua) tahun dan atau denda sekurang-kurangnya Rp.
Pasal 47 ayat (2) Undang-Undang RI No. 7 Tahun 1992 tentang Perbankan sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang RI No. 10 Tahun 1998.
366 Pasal 47A Undang-Undang RI No. 7 Tahun 1992 tentang Perbankan sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang RI No. 10 Tahun 1998. 367 Pasal 48 ayat (1) Undang-Undang RI No. 7 Tahun 1992 tentang Perbankan sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang RI No. 10 Tahun 1998. 365

156 Ikhtisar Ketentuan AML & CFT

1.000.000.000,00 (satu miliar rupiah) dan paling banyak Rp. 2.000.000.000,00 (dua miliar rupiah).368 Anggota Dewan Komisaris, Direksi, atau pegawai bank yang dengan sengaja : 1) membuat atau menyebabkan adanya pencatatan palsu dalam pembukuan atau dalam proses laporan, maupun dalam dokumen atau laporan kegiatan usaha, laporan transaksi atau rekening suatu bank; 2) menghilangkan atau tidak memasukkan atau menyebabkan tidak dilakukannya pencatatan dalam pembukuan atau dalam laporan, maupun dalam dokumen atau laporan kegiatan usaha, laporan transaksi atau rekening suatu bank ; 3) mengubah, mengaburkan, menyembunyikan, menghapus, atau menghilangkan adanya suatu pencatatan dalam pembukuan atau dalam laporan, maupun dalam dokumen atau laporan kegiatan usaha, laporan transaksi atau rekening suatu bank, atau dengan sengaja mengubah, mengaburkan, menghilangkan, menyem-bunyi-kan atau merusak catatan pembukuan tersebut, diancam dengan pidana penjara sekurang-kurangnya 5 (lima) tahun dan paling lama 15 (lima belas) tahun serta denda sekurang-kurangnya Rp. 10.000.000. 000,00 (sepuluh miliar rupiah) dan paling banyak Rp. 200.000.000.000,00 (dua ratus miliar rupiah).369 Anggota Dewan Komisaris, Direksi, atau pegawai bank yang dengan sengaja : 1) meminta atau menerima, mengizinkan atau menyetujui untuk menerima suatu imbalan, komisi, uang tambahan, pelayanan, uang atau barang berharga, untuk keuntungan pribadinya atau untuk keuntungan keluarganya, dalam
368 Pasal 48 ayat (2) Undang-Undang RI No. 7 Tahun 1992 tentang Perbankan sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang RI No. 10 Tahun 1998. 369 Pasal 49 ayat (1) Undang-Undang RI No. 7 Tahun 1992 tentang Perbankan sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang RI No. 10 Tahun 1998.

TPPU & TPA

157

rangka mendapatkan atau berusaha mendapatkan bagi orang lain dalam memperoleh uang muka, bank garansi, atau fasilitas kredit dari bank, atau dalam rangka pembelian atau pendiskontoan oleh bank atas surat-surat wesel, surat promes, cek, dan kertas dagang atau bukti kewajiban lainnya, ataupun dalam rangka memberikan persetujuan bagi orang lain untuk melaksanakan penarikan dana yang melebihi batas kreditnya pada bank; 2) tidak melaksanakan langkah-langkah yang diperlukan untuk memastikan ketaatan bank terhadap ketentuan dalam Undang-undang ini dan ketentuan peraturan perundang-undangan lainnya yang berlaku bagi bank, diancam dengan pidana penjara sekurang-kurangnya 3 (tiga) tahun dan paling lama 8 (delapan) tahun serta denda sekurang-kurangnya Rp. 5.000.000.000,00 (lima miliar rupiah) dan paling banyak Rp. 100.000.000.000,00 (seratus miliar rupiah).370 Pihak Terafiliasi yang dengan sengaja tidak melaksanakan langkah-langkah yang diperlukan untuk memastikan ketaatan bank terhadap ketentuan dalam Undang-undang ini dan peraturan perundang-undangan lainnya yang berlaku bagi bank, diancam dengan pidana penjara sekurangkurangnya 3 (tiga) tahun dan paling lama 8 (delapan) tahun serta denda sekurang-kurangnya Rp. 5.000.000.000,00 (lima miliar rupiah) dan paling banyak Rp. 100.000.000.000,00 (seratus miliar rupiah).371 Pemegang saham yang dengan sengaja menyuruh Dewan Komisaris, Direksi, atau pegawai bank
370 Pasal 49 ayat (2) Undang-Undang RI No. 7 Tahun 1992 tentang Perbankan sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang RI No. 10 Tahun 1998. 371 Pasal 50 Undang-Undang RI No. 7 Tahun 1992 tentang Perbankan sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang RI No. 10 Tahun 1998.

158 Ikhtisar Ketentuan AML & CFT

untuk melakukan atau tidak melakukan tindakan yang mengakibatkan bank tidak melaksanakan langkah-langkah yang diperlukan untuk memastikan ketaatan bank terhadap ketentuan dalam Undang-undang ini dan ketentuan peraturan perundang-undangan lainnya yang berlaku bagi bank, diancam dengan pidana penjara sekurangkurangnya 7 (tujuh) tahun dan paling lama 15 (lima belas) tahun serta denda sekurang-kurangnya Rp. 10.000.000.000,00 (sepuluh miliar rupiah) dan paling banyak Rp. 200.000.000.000,00 (dua ratus miliar rupiah).372 II.3.7.4 Kewajiban bank menjadi peserta penjaminan Dalam menjalankan tugas dan wewenangnya, LPS dapat meminta data, informasi, dan/atau dokumen kepada pihak lain.373 Setiap pihak yang dimintai data, informasi, dan/atau dokumen sebagaimana dimaksud pada ayat (1), wajib memberikannya kepada LPS.374 Setiap Bank yang melakukan kegiatan usaha di wilayah Negara Republik Indonesia wajib menjadi peserta Penjaminan.375 Kewajiban bank menjadi peserta Penjaminan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tidak termasuk Badan Kredit Desa.376 Sebagai peserta Penjaminan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 8, setiap Bank wajib:
372 Pasal 50 A Undang-Undang RI No. 7 Tahun 1992 tentang Perbankan sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang RI No. 10 Tahun 1998. 373 Pasal 7 ayat (1) Undang-Undang RI No. 24 Tahun 2004 tentang Lembaga Penjamin Simpanan. 374 Pasal 7 ayat (2) Undang-Undang RI No. 24 Tahun 2004 tentang Lembaga Penjamin Simpanan. 375 Pasal 8 ayat (1) Undang-Undang RI No. 24 Tahun 2004 tentang Lembaga Penjamin Simpanan. 376 Pasal 8 ayat (1) Undang-Undang RI No. 24 Tahun 2004 tentang Lembaga Penjamin Simpanan.

TPPU & TPA

159

a. menyerahkan dokumen sebagai berikut: 1) salinan anggaran dasar dan/atau akta pendirian bank; 2) salinan dokumen perizinan bank; 3) surat keterangan tingkat kesehatan bank yang dikeluarkan oleh LPP yang dilengkapi dengan data pendukung; 4) surat pernyataan dari direksi, komisaris, dan pemegang saham bank, yang memuat: i. komitmen dan kesediaan direksi, komisaris, dan pemegang saham bank untuk mematuhi seluruh ketentuan sebagaimana ditetapkan dalam Peraturan LPS; ii. kesediaan untuk bertanggung jawab secara pribadi atas kelalaian dan/atau perbuatan yang melanggar hukum yang mengakibatkan kerugian atau membahayakan kelangsungan usaha bank; iii. kesediaan untuk melepaskan dan menyerahkan kepada LPS segala hak, kepemilikan, kepengurusan, dan atau kepentingan apabila bank menjadi Bank Gagal dan diputuskan untuk diselamatkan atau dilikuidasi; b. membayar kontribusi kepesertaan sebesar 0,1% (satu perseribu) dari modal sendiri (ekuitas) bank pada akhir tahun fiskal sebelumnya atau dari modal disetor bagi bank baru; c. membayar premi Penjaminan; d. menyampaikan laporan secara berkala dalam format yang ditentukan; e. memberikan data, informasi, dan dokumen yang dibutuhkan dalam rangka penyelenggaraan Penjaminan; dan f. menempatkan bukti kepesertaan atau salinannya di dalam kantor bank atau tempat lainnya sehingga dapat diketahui dengan mudah oleh masyarakat.377
377

Pasal 9 Undang-Undang RI No. 24 Tahun 2004 tentang Lembaga Penjamin Simpanan.

160 Ikhtisar Ketentuan AML & CFT

Premi Penjaminan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 9 huruf c dibayarkan 2 (dua) kali dalam 1 (satu) tahun untuk: a. pembayaran periode 1 Januari sampai dengan 30 Juni; dan b. pembayaran periode 1 Juli sampai dengan 31 Desember.378 Premi untuk masing-masing periode sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dibayarkan selambatlambatnya tanggal: a. 31 Januari untuk periode sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a;dan b. 31 Juli untuk periode sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b; berdasarkan rata-rata saldo bulanan total Simpanan pada periode sebelumnya.379 LPS wajib menentukan Simpanan yang layak dibayar, setelah melakukan rekonsiliasi dan verifikasi atas data sebagaimana dimaksud pada ayat (2) selambatlambatnya 90 (sembilan puluh) hari kerja terhitung sejak izin usaha bank dicabut.380 Dalam rangka rekonsiliasi dan verifikasi sebagaimana dimaksud pada ayat (3), pemegang saham, dewan komisaris, direksi, dan pegawai bank yang dicabut izin usahanya, serta pihak lain yang terkait dengan bank dimaksud, wajib membantu memberikan segala data dan informasi yang diperlukan oleh LPS.381

378 Pasal 12 ayat (1) Undang-Undang RI No. 24 Tahun 2004 tentang Lembaga Penjamin Simpanan. 379 Pasal 12 ayat (2) Undang-Undang RI No. 24 Tahun 2004 tentang Lembaga Penjamin Simpanan. 380 Pasal 16 ayat (3) Undang-Undang RI No. 24 Tahun 2004 tentang Lembaga Penjamin Simpanan. 381 Pasal 16 ayat (5) Undang-Undang RI No. 24 Tahun 2004 tentang Lembaga Penjamin Simpanan.

TPPU & TPA

161

II.3.7.5 Likuidasi bank Sejak terbentuknya tim likuidasi, direksi dan dewan komisaris bank dalam likuidasi menjadi non-aktif.382 Pemegang saham, direksi, dan dewan komisaris serta pegawai dan mantan pegawai bank dalam likuidasi berkewajiban untuk setiap saat membantu memberikan segala data dan informasi yang diperlukan oleh tim likuidasi.383 Pemegang saham, direksi, dan dewan komisaris serta pegawai bank dalam likuidasi dilarang secara langsung atau tidak langsung menghambat proses likuidasi.384 Dewan Komisioner, Kepala Eksekutif, pegawai LPS, atau setiap pihak yang bertugas untuk dan atas nama LPS wajib merahasiakan semua dokumen, informasi, dan catatan yang diperoleh atau dihasilkan dalam pelaksanaan tugasnya yang harus dirahasiakan berdasarkan peraturan perundang-undangan.385 II.3.7.6 Sanksi pidana atau denda 1) Direksi, komisaris, dan/atau pemegang saham bank yang tidak memenuhi ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 9 huruf a, huruf b, huruf e, dan huruf f dan/atau menyebabkan bank tidak memenuhi ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 9 huruf a, huruf b, huruf e, dan huruf f serta Pasal 92, dipidana dengan pidana penjara paling singkat 2 (dua) tahun dan paling lama 10 (sepuluh) tahun, serta denda paling sedikit Rp 2.000.000.000,00 (dua miliar rupiah) dan paling banyak Rp 3.000.000.000,00 (tiga miliar rupiah).
382 Pasal 47 ayat (1) Undang-Undang RI No. 24 Tahun 2004 tentang Lembaga Penjamin Simpanan. 383 Pasal 47 ayat (2) Undang-Undang RI No. 24 Tahun 2004 tentang Lembaga Penjamin Simpanan. 384 Pasal 47 ayat (3) Undang-Undang RI No. 24 Tahun 2004 tentang Lembaga Penjamin Simpanan. 385 Pasal 91 ayat (1) Undang-Undang RI No. 24 Tahun 2004 tentang Lembaga Penjamin Simpanan.

162 Ikhtisar Ketentuan AML & CFT

2) Direksi, komisaris, dan/atau pemegang saham bank yang menyebabkan bank tidak memenuhi ketentuan sebagai-mana dimaksud dalam Pasal 9 huruf c dalam jangka waktu 12 (dua belas) bulan sejak batas waktu sebagaimana dimaksud dalam Pasal 12 ayat (2), dipidana dengan pidana penjara paling singkat 2 (dua) tahun dan paling lama 10 (sepuluh) tahun, serta denda paling sedikit Rp 2.000.000.000,00 (dua miliar rupiah) dan paling banyak Rp 3.000.000.000,00 (tiga miliar rupiah).386 1) Pemegang saham, direksi, dewan komisaris, pegawai, dan/atau pihak lain yang terkait dengan bank yang dicabut izin usahanya atau bank dalam likuidasi yang melanggar ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 16 ayat (5) dan/atau Pasal 47 ayat (2) atau ayat (3) dipidana dengan pidana penjara paling singkat 1 (satu) tahun dan paling lama 3 (tiga) tahun, serta denda paling sedikit Rp 2.000.000.000,00 (dua miliar rupiah) dan paling banyak Rp 3.000.000.000,00 (tiga miliar rupiah). 2) Anggota Dewan Komisioner, Kepala Eksekutif dan pegawai LPS, atau pihak lain yang ditunjuk atau disetujui oleh LPS untuk melakukan tugas tertentu, yang melanggar ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 91 ayat (1), dipidana dengan pidana penjara paling singkat 1 (satu) tahun dan paling lama 3 (tiga) tahun, serta denda paling sedikit Rp2.000.000.000,00 (dua miliar rupiah) dan paling banyak Rp 3.000.000.000,00 (tiga miliar rupiah). 3) Setiap orang atau badan yang memberikan data, informasi, dan/atau laporan, yang berkaitan dengan penjaminan simpanan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 9 dan Pasal 7 yang tidak benar, palsu, dan/atau menyesatkan, dipidana dengan pidana penjara paling singkat 1 (satu) tahun dan paling lama 3 (tiga) tahun, serta denda paling sedikit Rp 2.000.000.000,00 (dua
386 Pasal 94 ayat (1) dan (2) Undang-Undang RI No. 24 Tahun 2004 tentang Lembaga Penjamin Simpanan.

TPPU & TPA

163

miliar rupiah) dan paling banyak Rp3.000.000.000,00 (tiga miliar rupiah). 4) Setiap orang atau badan yang menolak memberikan kepada LPS data, informasi, dan/atau dokumen sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7 ayat (2) dipidana dengan pidana penjara paling singkat 1 (satu) tahun dan paling lama 3 (tiga) tahun, serta denda paling sedikit Rp 2.000.000.000,00 (dua miliar rupiah) dan paling banyak Rp3.000.000.000,00 (tiga miliar rupiah). 387 II.3.8 Di Bidang Pasar Modal II.3.8.1 Kegiatan tanpa ijin, persetujuan atau pendaftaran Setiap Pihak yang melakukan kegiatan di Pasar Modal tanpa izin, persetujuan, atau pendaftaran sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6, Pasal 13, Pasal 18, Pasal 30, Pasal 34, Pasal 43, Pasal 48, Pasal 50, dan Pasal 64 diancam dengan pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun dan denda paling banyak Rp5.000.000.000,00 (lima miliar rupiah).388 II.3.8.2 Kegiatan wakil perusahaan efek tanpa ijin Setiap Pihak yang melakukan kegiatan tanpa memperoleh izin sebagaimana dimaksud dalam Pasal 32 diancam dengan pidana kurungan paling lama 1 (satu) tahun dan denda paling banyak Rp1.000.000.000,00 (satu miliar rupiah).389 II.3.8.3 Kegiatan usaha sebagai bursa II.3.8.3.1 Ijin Usaha dari Bapepam Yang dapat menyelenggarakan kegiatan usaha sebagai Bursa Efek adalah

387 Pasal 95 Undang-Undang RI No. 24 Tahun 2004 tentang Lembaga Penjamin Simpanan. 388 389

Pasal 103 Ayat (1) Undang-Undang RI No. 8 Tahun 1995 tentang Pasar Modal. Pasal 103 Ayat (2) Undang-Undang RI No. 8 Tahun 1995 tentang Pasar Modal.

164 Ikhtisar Ketentuan AML & CFT

Perseroan yang telah memperoleh izin usaha dari Bapepam.390 II.3.8.3.2 Persyaratan dan Tata Cara Perijinan Persyaratan dan tata cara perizinan Bursa Efek sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah. • Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 45 Tahun 1995 Tentang Penyelenggaraan Kegiatan Di Bidang Pasar Modal. • Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 12 Tahun 2004 Tentang Perubahan Atas Peraturan Pemerintah Nomor 45 Tahun 1995 Tentang Penyelenggaraan Kegiatan Di Bidang Pasar Modal.391 II.3.8.3.3 Kegiatan Usaha LKP dan LPP II.3.8.3.3.1 Umum Yang dapat menyelenggarakan kegiatan usaha sebagai Lembaga Kliring dan Penjaminan atau Lembaga Penyimpanan dan Penyelesaian adalah Perseroan yang telah memperoleh izin usaha dari Bapepam.392 II.3.8.3.3.2 Tata cara Persyaratan dan tata cara perizinan Lembaga Kliring dan Penjaminan serta Lembaga Penyimpanan dan Penyelesaian sebagaimana dimaksud dalam ayat (1)

390 391 392

Pasal 6 Ayat (1) Undang-Undang RI No. 8 Tahun 1995 tentang Pasar Modal. Pasal 6 Ayat (2) Undang-Undang RI No. 8 Tahun 1995 tentang Pasar Modal. Pasal 13 Ayat (1) Undang-Undang RI No. 8 Tahun 1995 tentang Pasar Modal.

TPPU & TPA

165

diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah.393 II.3.8.4 Reksa Dana II.3.8.4.1 Bentuk Reksa Dana Reksa Dana dapat berbentuk : a. Perseroan; atau b. kontrak investasi kolektif.394 II.3.8.4.2 Sifat Reksa Dana Perseroan Reksa Dana sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) huruf a dapat bersifat terbuka atau tertutup.395 II.3.8.4.3 Reksa Dana Perseroan Yang dapat menjalankan usaha Reksa Dana sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) huruf a adalah Perseroan yang telah memperoleh izin usaha dari Bapepam.396 II.3.8.4.4 Reksa Dana Kontrak Investasi Kolektif Reksa Dana sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) huruf b hanya dapat dikelola oleh Manajer Investasi berdasarkan kontrak.397 II.3.8.4.5 Tata Cara Perijinan Persyaratan dan tata cara perizinan Reksa Dana sebagaimana dimaksud dalam ayat (3) diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah.

393 394 395 396 397

Pasal 13 Ayat (2) Undang-Undang RI No. 8 Tahun 1995 tentang Pasar Modal. Pasal 18 Ayat (1) Undang-Undang RI No. 8 Tahun 1995 tentang Pasar Modal. Pasal 18 Ayat (2) Undang-Undang RI No. 8 Tahun 1995 tentang Pasar Modal. Pasal 18 Ayat (3) Undang-Undang RI No. 8 Tahun 1995 tentang Pasar Modal. Pasal 18 Ayat (4) Undang-Undang RI No. 8 Tahun 1995 tentang Pasar Modal.

166 Ikhtisar Ketentuan AML & CFT

• Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 45 Tahun 1995 Tentang Penyelenggaraan Kegiatan Di Bidang Pasar Modal. • Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 12 Tahun 2004 Tentang Perubahan Atas Peraturan Pemerintah Nomor 45 Tahun 1995 Tentang Penyelenggaraan Kegiatan Di Bidang Pasar Modal.398 II.3.8.5 Perusahaan Efek

II.3.8.5.1 Ketentuan Umum Yang dapat melakukan kegiatan usaha sebagai Perusahaan Efek adalah Perseroan yang telah memperoleh izin usaha dari Bapepam.399 II.3.8.5.2 Kegiatan Perusahaan Efek Perusahaan Efek yang telah memperoleh izin usaha sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dapat melakukan kegiatan sebagai Penjamin Emisi Efek, Perantara Pedagang Efek, dan atau Manajer Investasi serta kegiatan lain sesuai dengan ketentuan yang ditetapkan oleh Bapepam.400 II.3.8.5.3 Pengecualian Pihak yang melakukan kegiatan usaha sebagai Penjamin Emisi Efek, Perantara Pedagang Efek, dan atau Manajer Investasi hanya untuk Efek yang bersifat utang yang jatuh temponya tidak lebih dari satu tahun, sertifikat deposito, polis asuransi, Efek yang diterbitkan atau
398 399 400

Pasal 18 Ayat (5) Undang-Undang RI No. 8 Tahun 1995 tentang Pasar Modal. Pasal 30 Ayat (1) Undang-Undang RI No. 8 Tahun 1995 tentang Pasar Modal. Pasal 30 Ayat (2) Undang-Undang RI No. 8 Tahun 1995 tentang Pasar Modal.

TPPU & TPA

167

dijamin Pemerintah Indonesia, atau Efek lain yang ditetapkan oleh Bapepam tidak diwajibkan untuk memperoleh izin usaha sebagai Perusahaan Efek.401 II.3.8.5.4 Persyaratan dan Tata Cara Perijinan Persyaratan dan tata cara perizinan Perusahaan Efek diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah. • Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 45 Tahun 1995 Tentang Penyelenggaraan Kegiatan Di Bidang Pasar Modal. • Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 12 Tahun 2004 Tentang Perubahan Atas Peraturan Pemerintah Nomor 45 Tahun 1995 Tentang Penyelenggaraan Kegiatan Di Bidang Pasar Modal.402 II.3.8.6 Perijinan Wakil Perusahaan Efek

II.3.8.6.1 Ketentuan umum Yang dapat melakukan kegiatan sebagai Wakil Penjamin Emisi Efek, Wakil Perantara Pedagang Efek, atau Wakil Manajer Investasi hanya orang perseorangan yang telah memperoleh izin dari Bapepam.403 II.3.8.6.2 Persyaratan dan Tata Cara Perijinan. Persyaratan dan tata cara perizinan Wakil Perusahaan Efek diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah.

401 402 403

Pasal 30 Ayat (3) Undang-Undang RI No. 8 Tahun 1995 tentang Pasar Modal. Pasal 30 Ayat (4) Undang-Undang RI No. 8 Tahun 1995 tentang Pasar Modal. Pasal 32 Ayat (1) Undang-Undang RI No. 8 Tahun 1995 tentang Pasar Modal.

168 Ikhtisar Ketentuan AML & CFT

• Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 45 Tahun 1995 Tentang Penyelenggaraan Kegiatan Di Bidang Pasar Modal. • Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 12 Tahun 2004 Tentang Perubahan Atas Peraturan Pemerintah Nomor 45 Tahun 1995 Tentang Penyelenggaraan Kegiatan Di Bidang Pasar Modal.404 II.3.8.7 Penasihat Investasi

II.3.8.7.1 Ketentuan Umum Yang dapat melakukan kegiatan sebagai Penasihat Investasi adalah Pihak yang telah memperoleh izin usaha dari Bapepam.405 II.3.8.7.2 Persyaratan dan Tata Cara Perijinan Persyaratan dan tata cara perizinan Penasihat Investasi diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah. • Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 45 Tahun 1995 Tentang Penyelenggaraan Kegiatan Di Bidang Pasar Modal. • Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 12 Tahun 2004 Tentang Perubahan Atas Peraturan Pemerintah Nomor 45 Tahun 1995 Tentang Penyelenggaraan Kegiatan Di Bidang Pasar Modal.406 II.3.8.8 Kustodian

II.3.8.8.1 Ketentuan Umum
404 405 406

Pasal 32 Ayat (2) Undang-Undang RI No. 8 Tahun 1995 tentang Pasar Modal. Pasal 34 Ayat (1) Undang-Undang RI No. 8 Tahun 1995 tentang Pasar Modal. Pasal 34 Ayat (2) Undang-Undang RI No. 8 Tahun 1995 tentang Pasar Modal.

TPPU & TPA

169

Yang dapat menyelenggarakan kegiatan usaha sebagai Kustodian adalah Lembaga Penyimpanan dan Penyelesaian, Perusahaan Efek, atau Bank Umum yang telah mendapat persetujuan Bapepam.407 II.3.8.8.2 Persyaratan dan Tata Cara Pemberian Persetujuan Persyaratan dan tata cara pemberian persetujuan bagi Bank Umum sebagai Kustodian diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah. • Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 45 Tahun 1995 Tentang Penyelenggaraan Kegiatan Di Bidang Pasar Modal. • Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 12 Tahun 2004 Tentang Perubahan Atas Peraturan Pemerintah Nomor 45 Tahun 1995 Tentang Penyelenggaraan Kegiatan Di Bidang Pasar Modal.408 II.3.8.9 Biro Administrasi Efek

II.3.8.9.1 Ketentuan Umum Yang dapat menyelenggarakan kegiatan usaha sebagai Biro Administrasi Efek adalah Perseroan yang telah memperoleh izin usaha dari Bapepam.409 II.3.8.9.2 Persyaratan dan Tata Cara Perijinan Persyaratan dan tata cara perizinan Biro Administrasi Efek sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah.
407 408 409

Pasal 43 Ayat (1) Undang-Undang RI No. 8 Tahun 1995 tentang Pasar Modal. Pasal 43 Ayat (2) Undang-Undang RI No. 8 Tahun 1995 tentang Pasar Modal. Pasal 48 Ayat (1) Undang-Undang RI No. 8 Tahun 1995 tentang Pasar Modal.

170 Ikhtisar Ketentuan AML & CFT

• Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 45 Tahun 1995 Tentang Penyelenggaraan Kegiatan Di Bidang Pasar Modal. • Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 12 Tahun 2004 Tentang Perubahan Atas Peraturan Pemerintah Nomor 45 Tahun 1995 Tentang Penyelenggaraan Kegiatan Di Bidang Pasar Modal.410 II.3.8.10 Wali Amanat

II.3.8.10.1 Ketentuan Umum Kegiatan usaha sebagai Wali Amanat dapat dilakukan oleh : a. Bank Umum; dan b. Pihak lain yang ditetapkan dengan Peraturan Pemerintah.411 Untuk dapat menyelenggarakan kegiatan usaha sebagai Wali Amanat, Bank Umum atau Pihak lain sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) wajib terlebih dahulu terdaftar di Bapepam.412 II.3.8.10.2 Persyaratan dan Tata Cara Pendaftaran Persyaratan dan tata cara pendaftaran Wali Amanat diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah. • Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 45 Tahun 1995 Tentang Penyelenggaraan Kegiatan Di Bidang Pasar Modal. • Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 12 Tahun 2004
410 411 412

Pasal 48 Ayat (2) Undang-Undang RI No. 8 Tahun 1995 tentang Pasar Modal. Pasal 50 Ayat (1) Undang-Undang RI No. 8 Tahun 1995 tentang Pasar Modal. Pasal 50 Ayat (2) Undang-Undang RI No. 8 Tahun 1995 tentang Pasar Modal.

TPPU & TPA

171

Tentang Perubahan Atas Peraturan Pemerintah Nomor 45 Tahun 1995 Tentang Penyelenggaraan Kegiatan Di Bidang Pasar Modal.413 II.3.8.11 Profesi Penunjang Pasar Modal

II.3.8.11.1 Jenis Profesi Penunjang Pasar Modal Profesi Penunjang Pasar Modal terdiri dari: a. b. c. d. e. Akuntan; Konsultan Hukum; Penilai; Notaris; dan Profesi lain yang ditetapkan dengan Peraturan Pemerintah.414 Pendaftaran Profesi

II.3.8.11.2 Kewajiban Penunjang

Untuk dapat melakukan kegiatan di bidang Pasar Modal, Profesi Penunjang Pasar Modal sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) wajib terlebih dahulu terdaftar di Bapepam.415 II.3.8.11.3 Persyaratan dan Tata Cara Pendaftaran Persyaratan dan tata cara pendaftaran Profesi Penunjang Pasar Modal ditetapkan dengan Peraturan Pemerintah. • Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 45 Tahun 1995 Tentang Penyelenggaraan Kegiatan Di Bidang Pasar Modal. • Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 12 Tahun 2004
413 414 415

Pasal 51 Ayat (3) Undang-Undang RI No. 8 Tahun 1995 tentang Pasar Modal. Pasal 64 Ayat (1) Undang-Undang RI No. 8 Tahun 1995 tentang Pasar Modal. Pasal 64 Ayat (2) Undang-Undang RI No. 8 Tahun 1995 tentang Pasar Modal.

172 Ikhtisar Ketentuan AML & CFT

Tentang Perubahan Atas Peraturan Pemerintah Nomor 45 Tahun 1995 Tentang Penyelenggaraan Kegiatan Di Bidang Pasar Modal.416 II.3.8.12 Penipuan Dalam kegiatan perdagangan Efek, setiap Pihak dilarang secara langsung atau tidak langsung : a. menipu atau mengelabui Pihak lain dengan menggunakan sarana dan atau cara apa pun; b. turut serta menipu atau mengelabui Pihak lain; dan c. membuat pernyataan tidak benar mengenai fakta yang material atau tidak mengung-kapkan fakta yang material agar pernyataan yang dibuat tidak menyesatkan mengenai keadaan yang terjadi pada saat pernyataan dibuat dengan maksud untuk menguntungkan atau menghindarkan kerugian untuk diri sendiri atau Pihak lain atau dengan tujuan mempengaruhi Pihak lain untuk membeli atau menjual Efek.417 II.3.8.13 Manipulasi Pasar Setiap Pihak dilarang melakukan tindakan, baik langsung maupun tidak langsung, dengan tujuan untuk menciptakan gambaran semu atau menyesatkan mengenai kegiatan perdagangan, keadaan pasar, atau harga Efek di Bursa Efek.418

416 417 418

Pasal 64 Ayat (3) Undang-Undang RI No. 8 Tahun 1995 tentang Pasar Modal. Pasal 90 Undang-Undang RI No. 8 Tahun 1995 tentang Pasar Modal. Pasal 91 Undang-Undang RI No. 8 Tahun 1995 tentang Pasar Modal.

TPPU & TPA

173

Setiap Pihak, baik sendiri-sendiri maupun bersama-sama dengan Pihak lain, dilarang melakukan 2 (dua) transaksi Efek atau lebih, baik langsung maupun tidak langsung, sehingga menyebabkan harga Efek di Bursa Efek tetap, naik, atau turun dengan tujuan mempengaruhi Pihak lain untuk membeli, menjual, atau menahan Efek.419 Setiap Pihak dilarang, dengan cara apa pun, membuat pernyataan atau memberikan keterangan yang secara material tidak benar atau menyesatkan sehingga mempengaruhi harga Efek di Bursa Efek apabila pada saat pernyataan dibuat atau keterangan diberikan: a. Pihak yang bersangkutan mengetahui atau sepatutnya mengetahui bahwa pernyataan atau keterangan tersebut secara material tidak benar atau menyesatkan; atau b. Pihak yang bersangkutan tidak cukup berhati-hati dalam menentukan kebenaran material dari pernyataan atau keterangan tersebut.420 II.3.8.14 Perdagangan Orang Dalam (Insider Trading) Orang dalam dari Emiten atau Perusahaan Publik yang mempunyai informasi orang dalam dilarang melakukan pembelian atau penjualan atas Efek: a. Emiten atau Perusahaan Publik dimaksud; atau

419 420

Pasal 92 Undang-Undang RI No. 8 Tahun 1995 tentang Pasar Modal. Pasal 93 Undang-Undang RI No. 8 Tahun 1995 tentang Pasar Modal.

174 Ikhtisar Ketentuan AML & CFT

b perusahaan lain yang melakukan transaksi dengan Emiten atau Perusahaan Publik yang bersangkutan.421 Orang dalam sebagaimana dimaksud dalam Pasal 95 dilarang: a. mempengaruhi Pihak lain untuk melakukan pembelian atau penjualan atas Efek dimaksud; atau b. memberi informasi orang dalam kepada Pihak mana pun yang patut diduganya dapat menggunakan informasi dimaksud untuk melakukan pembelian atau penjualan atas Efek.422 Setiap Pihak yang berusaha untuk memperoleh informasi orang dalam dari orang dalam secara melawan hukum dan kemudian memperolehnya dikenakan larangan yang sama dengan larangan yang berlaku bagi orang dalam sebagaimana dimaksud dalam Pasal 95 dan Pasal 96.423 Setiap Pihak yang berusaha untuk memperoleh informasi orang dalam dan kemudian memperolehnya tanpa melawan hukum tidak dikenakan larangan yang berlaku bagi orang dalam sebagaimana dimaksud dalam Pasal 95 dan Pasal 96, sepanjang informasi tersebut disediakan oleh Emiten atau Perusahaan Publik tanpa pembatasan.424 Perusahaan Efek yang memiliki informasi orang dalam mengenai Emiten atau
421 422 423 424

Pasal 95 Undang-Undang RI No. 8 Tahun 1995 tentang Pasar Modal. Pasal 96 Undang-Undang RI No. 8 Tahun 1995 tentang Pasar Modal. Pasal 97 Ayat (1) Undang-Undang RI No. 8 Tahun 1995 tentang Pasar Modal. Pasal 97 Ayat (2) Undang-Undang RI No. 8 Tahun 1995 tentang Pasar Modal.

TPPU & TPA

175

Perusahaan Publik dilarang melakukan transaksi Efek Emiten atau Perusahaan Publik tersebut, kecuali apabila: a. transaksi tersebut dilakukan bukan atas tanggungannya sendiri, tetapi atas perintah nasabahnya; dan b. Perusahaan Efek tersebut tidak membe-rikan rekomendasi kepada nasabahnya mengenai Efek yang bersangkutan.425 II.3.8.15 Sanksi bagi pihak yang melakukan kegiatan di Pasar Modal tanpa izin, persetujuan, atau pendaftaran Setiap Pihak yang melakukan kegiatan di Pasar Modal tanpa izin, persetujuan, atau pendaftaran sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6, Pasal 13, Pasal 18, Pasal 30, Pasal 34, Pasal 43, Pasal 48, Pasal 50, dan Pasal 64 diancam dengan pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun dan denda paling banyak Rp5.000.000.000,00 (lima miliar rupiah).426 Setiap Pihak yang melakukan kegiatan tanpa memperoleh izin sebagaimana dimaksud dalam Pasal 32 diancam dengan pidana kurungan paling lama 1 (satu) tahun dan denda paling banyak Rp1.000.000.000,00 (satu miliar rupiah).427 II.3.8.16 Sanksi Pidana Penipuan, Manipulasi Pasar dan Perdagangan Orang Dalam Setiap Pihak yang melanggar ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 90,
425 426 427

Pasal 98 Undang-Undang RI No. 8 Tahun 1995 tentang Pasar Modal. Pasal 103 Ayat (1) Undang-Undang RI No. 8 Tahun 1995 tentang Pasar Modal. Pasal 103 Ayat (2 Undang-Undang RI No. 8 Tahun 1995 tentang Pasar Modal.

176 Ikhtisar Ketentuan AML & CFT

Pasal 91, Pasal 92, Pasal 93, Pasal 95, Pasal 96, Pasal 97 ayat (1), dan Pasal 98 diancam dengan pidana penjara paling lama 10 (sepuluh) tahun dan denda paling banyak Rp15.000.000.000,00 (lima belas miliar rupiah).428 II.3.8.17 Larangan Bagi Manajer Investasi atau Pihak terafiliasinya Perusahaan Efek yang bertindak sebagai Manajer Investasi atau Pihak terafiliasinya dilarang menerima imbalan dalam bentuk apa pun, baik langsung maupun tidak langsung, yang dapat mempengaruhi Manajer Investasi yang bersangkutan untuk membeli atau menjual Efek untuk Reksa Dana.429 II.3.8.18 Pelanggaran Larangan bagi Manajer Investasi dan Pihak Terafiliasi Manajer Investasi dan atau Pihak terafiliasinya yang melanggar ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 42 diancam dengan pidana kurungan paling lama 1 (satu) tahun dan denda paling banyak Rp1.000.000.000,00 (satu miliar rupiah).430 II.3.8.19 Penawaran Umum

II.3.8.19.1 Ketentuan Umum Yang dapat melakukan Penawaran Umum hanyalah Emiten yang telah menyampaikan Pernyataan Pendaftaran kepada Bapepam untuk menawarkan atau menjual Efek kepada masyarakat dan
428 429 430

Pasal 104 Undang-Undang RI No. 8 Tahun 1995 tentang Pasar Modal. Pasal 42 Undang-Undang RI No. 8 Tahun 1995 tentang Pasar Modal. Pasal 105 Undang-Undang RI No. 8 Tahun 1995 tentang Pasar Modal.

TPPU & TPA

177

Pernyataan Pendaftaran tersebut telah efektif.431 II.3.8.19.2 Pengecualian Ketentuan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) tidak berlaku bagi Pihak yang melakukan: a. penawaran Efek yang bersifat utang yang jatuh temponya tidak lebih dari satu tahun; b. penerbitan sertifikat deposito; c. penerbitan polis asuransi; d. penawaran Efek yang diterbitkan dan dijamin Pemerintah Indonesia; atau e. penawaran Efek lain yang ditetapkan oleh Bapepam.432 II.3.8.19.3 Pelanggaran dalam Penawaran Umum Setiap Pihak yang melakukan pelanggaran atas ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 70 diancam dengan pidana penjara paling lama 10 (sepuluh) tahun dan denda paling banyak Rp15.000.000.000,00 (lima belas miliar rupiah).433 II.3.8.20 Pernyataan Pendaftaran.

II.3.8.20.1 Ketentuan Umum Setiap Perusahaan Publik wajib menyampaikan Pernyataan Pendaftaran kepada Bapepam.434

431 432 433 434

Pasal 70 Ayat (1) Undang-Undang RI No. 8 Tahun 1995 tentang Pasar Modal. Pasal 70 Ayat (2) Undang-Undang RI No. 8 Tahun 1995 tentang Pasar Modal. Pasal 106 Ayat (1) Undang-Undang RI No. 8 Tahun 1995 tentang Pasar Modal. Pasal 73 Undang-Undang RI No. 8 Tahun 1995 tentang Pasar Modal.

178 Ikhtisar Ketentuan AML & CFT

II.3.8.20.2 Sanksi Pidana Setiap Pihak yang melakukan pelanggaran atas ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 73 diancam dengan pidana penjara paling lama 3 (tiga) tahun dan denda paling banyak Rp5.000.000.000,00 (lima miliar rupiah).435 II.3.8.21 Sanksi Pidana Lainnya Setiap Pihak yang dengan sengaja bertujuan menipu atau merugikan Pihak lain atau menyesatkan Bapepam, menghilangkan, memusnahkan, menghapuskan, mengubah, mengaburkan, menyembunyikan, atau memalsukan catatan dari Pihak yang memperoleh izin, persetujuan, atau pendaftaran termasuk Emiten dan Perusahaan Publik diancam dengan pidana penjara paling lama 3 (tiga) tahun dan denda paling banyak Rp5.000.000.000,00 (lima miliar rupiah).436 II.3.8.22 Ancaman pidana bagi pihak yang mempengaruhi Ancaman pidana penjara atau pidana kurungan dan denda sebagaimana dimaksud dalam Pasal 103, Pasal 104, Pasal 105, Pasal 106, dan Pasal 107 berlaku pula bagi Pihak yang, baik langsung maupun tidak langsung, mempengaruhi Pihak lain untuk melakukan pelanggaran Pasal-Pasal dimaksud.437
435 436 437

Pasal 106 Ayat (2) Undang-Undang RI No. 8 Tahun 1995 tentang Pasar Modal. Pasal 107 Undang-Undang RI No. 8 Tahun 1995 tentang Pasar Modal. Pasal 108 Undang-Undang RI No. 8 Tahun 1995 tentang Pasar Modal.

TPPU & TPA

179

II.3.8.23

Sanksi bagi pihak yang tidak mematuhi atau menghambat pemeriksaan Setiap Pihak yang tidak mematuhi atau menghambat pelaksanaan ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 100 diancam dengan pidana kurungan paling lama 1 (satu) tahun dan denda paling banyak Rp1.000.000.000,00 (satu miliar rupiah).438

II.3.8.24

Pelanggaran Setiap Pihak yang melakukan kegiatan di Pasar Modal tanpa izin, persetujuan, atau pendaftaran sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6, Pasal 13, Pasal 18, Pasal 30, Pasal 34, Pasal 43, Pasal 48, Pasal 50, dan Pasal 64 diancam dengan pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun dan denda paling banyak Rp5.000.000.000,00 (lima miliar rupiah).439

II.3.8.25

Kriminalisasi Setiap Pihak yang melakukan kegiatan tanpa memperoleh izin sebagaimana dimaksud dalam Pasal 32 diancam dengan pidana kurungan paling lama 1 (satu) tahun dan denda paling banyak Rp1.000.000.000,00 (satu miliar rupiah).440

II.3.8.26

Pemeriksaan Bapepam

II.3.8.26.1 Ketentuan Umum Bapepam dapat mengadakan pemeriksaan terhadap setiap Pihak yang diduga
438 439 440

Pasal 109 Undang-Undang RI No. 8 Tahun 1995 tentang Pasar Modal. Pasal 110 Ayat (1) Undang-Undang RI No. 8 Tahun 1995 tentang Pasar Modal. Pasal 110 Ayat (2) Undang-Undang RI No. 8 Tahun 1995 tentang Pasar Modal.

180 Ikhtisar Ketentuan AML & CFT

melakukan atau terlibat dalam pelanggaran terhadap Undang-undang ini dan atau peraturan pelaksanaannya.441 II.3.8.26.2 Kewenangan dalam rangka pemeriksaan Dalam rangka pemeriksaan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1), Bapepam mempunyai wewenang untuk: a. meminta keterangan dan atau konfirmasi dari Pihak yang diduga melakukan atau terlibat dalam pelanggaran terhadap Undang-undang ini dan atau peraturan pelaksanaannya atau Pihak lain apabila dianggap perlu; b. mewajibkan Pihak yang diduga melakukan atau terlibat dalam pelanggaran terhadap Undang-undang ini dan atau peraturan pelaksanaannya untuk melakukan atau tidak melakukan kegiatan tertentu; c. memeriksa dan atau membuat salinan terhadap catatan, pembukuan, dan atau dokumen lain, baik milik Pihak yang diduga melakukan atau terlibat dalam pelanggaran terhadap Undangundang ini dan atau peraturan pelaksanaannya maupun milik Pihak lain apabila dianggap perlu; dan atau d. menetapkan syarat dan atau mengizinkan Pihak yang diduga melakukan atau terlibat dalam pelanggaran terhadap Undang-undang ini dan atau peraturan pelaksanaannya untuk melakukan tindakan tertentu yang diperlukan dalam rangka penyelesaian kerugian yang timbul.442
441 442

Pasal 100 Ayat (1) Undang-Undang RI No. 8 Tahun 1995 tentang Pasar Modal. Pasal 100 Ayat (2) Undang-Undang RI No. 8 Tahun 1995 tentang Pasar Modal.

TPPU & TPA

181

II.3.8.26.3 Tata Cara Pemeriksaan Pengaturan mengenai tata cara pemeriksaan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah.443 • Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 46 Tahun 1995 Tentang Tata Cara Pemeriksaan Di Bidang Pasar Modal. II.3.8.26.4 Larangan Bagi Pegawai Bapepam Setiap pegawai Bapepam yang diberi tugas atau Pihak lain yang ditunjuk oleh Bapepam untuk melakukan pemeriksaan dilarang memanfaatkan untuk diri sendiri atau mengungkapkan informasi yang diperoleh berdasarkan Undang-undang ini kepada Pihak mana pun, selain dalam rangka upaya mencapai tujuan Bapepam atau jika diharuskan oleh Undang-undang lainnya.444 II.3.9 Di Bidang Perasuransian II.3.9.1 Ketentuan Umum Setiap pihak yang melakukan usaha perasuransian wajib mendapat izin usaha dari Menteri, kecuali bagi perusahaan yang menyelenggarakan Program Asuransi Sosial.445 II.3.9.2 Syarat-syarat permohonan izin usaha Untuk mendapatkan izin usaha sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) harus dipenuhi persyaratan mengenai: a. Anggaran dasar;
443 444 445

Pasal 100 Ayat (3) Undang-Undang RI No. 8 Tahun 1995 tentang Pasar Modal. Pasal 100 Ayat (4) Undang-Undang RI No. 8 Tahun 1995 tentang Pasar Modal. Pasal 9 Ayat (1) Undang-Undang RI No. 2 Tahun 1992 tentang Usaha Perasuransian.

182 Ikhtisar Ketentuan AML & CFT

b. c. d. e. f. g.

Susunan organisasi; Permodalan; Kepemilikan; Keahlian di bidang perasuransian; Kelayakan rencana kerja; Hal-hal lain yang diperlukan untuk mendukung pertumbuhan usaha perasuransian secara sehat.446

Ketentuan lebih lanjut mengenai persyaratan izin usaha sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) dan ayat (3) diatur dengan Peraturan Pemerintah.447 II.3.9.3Sanksi-sanksi II.3.9.3.1 Perasuransian tanpa izin usaha Barang siapa menjalankan atau menyuruh menjalankan kegiatan usaha perasuransian tanpa izin usaha sebagaimana dimaksud dalam Pasal 9, diancam dengan pidana penjara paling lama 15 (lima belas) tahun dan denda paling banyak Rp2.500.000.000,- (dua milyar lima ratus juta rupiah).448 II.3.9.3.2 Penggelapan premi Barang siapa menggelapkan premi asuransi diancam dengan pidana penjara paling lama 15 (lima belas) tahun dan denda paling banyak Rp2.500.000.000 (dua milyar lima ratus juta rupiah).449 II.3.9.3.3 Penggelapan kekayaan asuransi Barang siapa menggelapkan dengan cara mengalihkan, menjaminkan, dan atau mengagunkan tanpa hak, kekayaan Perusahaan Asuransi Jiwa atau Perusahaan Asuransi Kerugian atau Perusahaan Reasuransi, diancam dengan pidana penjara paling lama 15 (lima belas) tahun dan denda paling banyak
446 447 448 449

Pasal 9 Ayat (2) Undang-Undang RI No. 2 Tahun 1992 tentang Usaha Perasuransian. Pasal 9 Ayat (4) Undang-Undang RI No. 2 Tahun 1992 tentang Usaha Perasuransian. Pasal 21 Ayat (1) Undang-Undang RI No. 2 Tahun 1992 tentang Usaha Perasuransian. Pasal 21 Ayat (2) Undang-Undang RI No. 2 Tahun 1992 tentang Usaha Perasuransian.

TPPU & TPA

183

Rp2.500.000.000,- (dua milyar lima ratus juta rupiah).450 II.3.9.3.4 Penadah atau pembeli kekayaan asuransi Barang siapa menerima, menadah, membeli, atau mengagunkan, atau menjual kembali kekayaan perusahaan sebagaimana dimaksud dalam ayat (3) yang diketahuinya atau patut diketahuinya bahwa barang-barang tersebut adalah kekayaan Perusahaan Asuransi Kerugian atau Perusahaan Asuransi Jiwa atau Perusahaan Reasuransi, diancam dengan pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun dan denda paling banyak Rp500.000.000,- (lima ratus juta rupiah).451 II.3.9.3.5 Pemalsuan dokumen Barang siapa secara sendiri-sendiri atau bersamasama melakukan pemalsuan atas dokumen Perusahaan Asuransi Kerugian atau Perusahaan Asuransi Jiwa atau Perusahaan Reasuransi, diancam dengan pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun dan denda paling banyak Rp250.000.000,- (dua ratus lima puluh juta rupiah).452 II.3.9.3.6 Sanksi adminsitratif, ganti rugi, atau denda Dengan tidak mengurangi ketentuan pidana sebagaimana dimaksud dalam Pasal 21, terhadap perusahaan perasuransian yang tidak memenuhi ketentuan Undang-undang ini dan peraturan pelaksanaannya dapat dikenakan sanksi administratip, ganti rugi, atau denda, yang ketentuannya lebih lanjut akan ditetapkan dalam Peraturan Pemerintah. II.3.9.3.7 Kriminalisasi Tindak pidana sebagaimana dimaksud dalam Pasal 21 adalah kejahatan.453
450 451 452 453

Pasal 21 Ayat (3) Undang-Undang RI No. 2 Tahun 1992 tentang Usaha Perasuransian. Pasal 21 Ayat (4) Undang-Undang RI No. 2 Tahun 1992 tentang Usaha Perasuransian. Pasal 21 Ayat (5) Undang-Undang RI No. 2 Tahun 1992 tentang Usaha Perasuransian. Pasal 23 Undang-Undang RI No. 2 Tahun 1992 tentang Usaha Perasuransian.

184 Ikhtisar Ketentuan AML & CFT

II.3.9.4 Tindak pidana yang dilakukan oleh atau atas nama suatu badan hukum atau badan usaha yang bukan badan hukum Dalam hal tindak pidana sebagaimana dimaksud dalam Pasal 21 dilakukan oleh atau atas nama suatu badan hukum atau badan usaha yang bukan merupakan badan hukum, maka tuntutan pidana dilakukan terhadap badan tersebut atau terhadap mereka yang memberikan perintah untuk melakukan tindak pidana itu atau yang bertindak sebagai pimpinan dalam melakukan tindak pidana itu maupun terhadap keduaduanya.454 II.9.8.5 Kepemilikan Asing Dalam hal terdapat kepemilikan pihak asing sebagaimana dimaksud dalam Pasal 8 ayat (1) huruf b, maka untuk memperolch izin usaha sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) wajib dipenuhi persyaratan sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) serta ketentuan mengenai batas kepemilikan dan kepengurusan pihak asing.455 II.3.10 Kepabeanan456 II.3.10.1 Kegiatan ekspor-impor tanpa mengindahkan undang-undang Barangsiapa yang mengimpor atau mengekspor atau mencoba mengimpor atau mengekspor barang tanpa mengindahkan ketentuan Undang-undang ini dipidana karena melakukan penyelundupan dengan pidana penjara paling lama delapan tahun dan denda paling banyak Rp. 500.000.000,00 (lima ratus juta rupiah).

454 455 456

Pasal 24 Undang-Undang RI No. 2 Tahun 1992 tentang Usaha Perasuransian. Pasal 9 Ayat (3) Undang-Undang RI No. 2 Tahun 1992 tentang Usaha Perasuransian. Pasal 102 Undang-Undang RI No. 10 Tahun 1995 tentang Kepabeanan.

TPPU & TPA

185

II.3.10.2 Pemberian keterangan palsu, mengeluarkan barang impor dari wilayah pabean, dan memiliki barang impor yang berasal dari tindak pidana. Barangsiapa yang : a. menyerahkan Pemberitahuan Pabean dan/atau dokumen pelengkap pabean dan atau memberikan keterangan lisan atau tertulis yang palsu atau dipalsukan yang digunakan untuk pemenuhan kewajiban Pabean; b. mengeluarkan barang impor dari Kawasan Pabean atau dari Tempat Penimbunan Berikat, tanpa persetujuan Pejabat Bea dan Cukai dengan maksud untuk mengelakkan pembayaran Bea Masuk dan/atau pungutan negara lainnya dalam rangka impor; c. membuat, menyetujui, atau serta dalam penambahan data palsu ke dalam buku atau catatan; atau d. menimbun, menyimpan, memiliki, membeli, menjual, menukar, memperoleh, atau memberikan barang impor yang berasal dari tindak pidana sebagaimana dimaksud dalam Pasal 102, dipidana dengan pidana penjara paling lama lima tahun dan/atau denda paling banyak Rp. 250.000.000,00 (dua ratus lima puluh juta rupiah).457 II.3.3.3 Pembongkaran barang impor tidak pada tempatnya dan pembukaan segel Barangsiapa yang : a. membongkar barang impor di tempat lain dari tempat yang ditentukan menurut Undang-undang ini; b. tanpa izin membuka, melepas atau merusak kunci, segel, atau tanda pengaman yang telah dipasang oleh Pejabat Bea dan Cukai, dipidana
457

Pasal 103 Undang-Undang RI No. 10 Tahun 1995 tentang Kepabeanan.

186 Ikhtisar Ketentuan AML & CFT

dengan pidana penjara paling lama dua tahun dan/ atau denda paling banyak Rp. 150.000.000,00 (seratus lima puluh juta rupiah).458 II.3.3.4 Sanksi bagi pengusaha yang tidak melaksanakan ketentuan Importir, eksportir, pengusaha Tempat Penimbunan Sementara, pengusaha Tempat Penimbunan Berikat, pengusaha Pengurusan Jasa Kepabeanan, atau pengusaha pengangkutan yang tidak melaksanakan ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 49, Pasal 50, atau Pasal 51 dan perbuatan tersebut menyebabkan kerugian keuangan negara dipidana dengan pidana penjara paling lama dua tahun dan/ atau denda paling banyak Rp. 125.000.000,00 (seratus dua puluh lima juta rupiah).459 II.3.10.5 Tindak pidana yang dilakukan oleh badan hukum, perseroan atau perusahaan, perkumpulan, yayasan atau koperasi.460 Dalam hal suatu tindak pidana yang dapat dipidana menurut Undang-undang ini dilakukan oleh atau atas nama suatu badan hukum, perseroan atau perusahaan, perkumpulan, yayasan atau koperasi, tuntutan pidana ditujukan dan sanksi pidana dijatuhkan kepada: a. badan hukum, perseroan atau perusahaan, perkumpulan, yayasan atau koperasi tersebut; dan atau b. mereka yang memberikan perintah untuk melakukan tindak pidana tersebut atau yang bertindak sebagai pimpinan atau melalaikan pencegahannya. Tindak pidana menurut Undang-undang ini dilakukan juga oleh atas nama badan hukum,
458 459 460

Pasal 105 Undang-Undang RI No. 10 Tahun 1995 tentang Kepabeanan. Pasal 106 Undang-Undang RI No. 10 Tahun 1995 tentang Kepabeanan. Pasal 108 ayat (1) Undang-Undang RI No. 10 Tahun 1995 tentang Kepabeanan.

TPPU & TPA

187

perseroan atau perusahaan, perkumpulan, yayasan atau koperasi, apabila tindak pidana tersebut dilakukan oleh orang-orang yang baik berdasarkan hubungan kerja maupun berdasarkan hubungan lain bertindak dalam lingkungan badan hukum, perseroan atau perusahaan, perkumpulan, yayasan atau koperasi tersebut tanpa memperhatikan apakah orang tersebut masing-masing telah melakukan tindak secara sendiri-sendiri atau bersama-sama.461 II.3.10.6 Tuntutan pidana terhadap badan hukum, perseroan atau perusahaan, perkumpulan, yayasan atau koperasi. Dalam hal suatu tuntutan pidana dilakukan terhadap badan hukum, perseroan atau perusahaan, perkumpulan, yayasan atau koperasi yang dipidana dengan pidana sebagaimana dimaksud dalam Undang-undang ini, pidana pokok yang dijatuhkan senantiasa berupa pidana denda paling banyak Rp. 300.000.000,00 (tiga ratus juta rupiah) jika atas tindak pidana tersebut diancam dengan pidana penjara, dengan tidak menghapuskan pidana denda apabila atas tindak pidana tersebut diancam dengan pidana penjara dan pidana denda.462 II.3.10.7 Tindakan pelanggaran lainnya Barangsiapa yang : a. mengangkut barang yang berasal dari tindak pidana sebagaimana dimaksud dalam Pasal 102; b. memusnahkan, mengubah, memotong, menyembu-nyikan, atau membuang buku atau catatan yang menurut Undang-undang ini harus disimpan; c. menghilangkan, menyetujui, atau turut serta dalam penghilangan keterangan dari Pemberitahuan Pabean, dokumen pelengkap pabean, atau catatan; atau
461 462

Pasal 108 ayat (2) Undang-Undang RI No. 10 Tahun 1995 tentang Kepabeanan. Pasal 108 ayat (3) Undang-Undang RI No. 10 Tahun 1995 tentang Kepabeanan.

188 Ikhtisar Ketentuan AML & CFT

d. menyimpan dan/atau menyediakan blangko faktur dagang dari perusahaan yang berdomisili di luar negeri yang diketahui dapat digunakan sebagai kelengkapan Pemberitahuan Pabean menurut Undang-undang ini, dipidana dengan pidana penjara paling lama dua tahun dan/atau denda paling banyak Rp. 100.000.000,00 (seratus juta rupiah).463 II.3.10.8 Pengusaha pengurusan jasa kepabeanan Pengusaha pengurusan jasa kepabeanan yang melakukan pengurusan Pemberitahuan Pabean atas kuasa yang diterimanya dari importir atau eksportir, apabila melakukan perbuatan yang diancam dengan pidana berdasarkan Undang-undang ini, ancaman pidana tersebut berlaku juga terhadapnya.464 II.3.11 Cukai II.3.11.1 Usaha pabrik dan tempat penyimpanan Barangsiapa tanpa memiliki izin sebagaimana dimaksud dalam Pasal 14, menjalankan usaha Pabrik, Tempat Penyimpanan, atau mengimpor Barang Kena Cukai yang pelunasan cukainya dengan cara pelekatan pita cukai yang mengakibatkan kerugian negara, dipidana dengan pidana penjara paling lama empat tahun dan denda paling banyak sepuluhkali nilai cukai yang seharusnya dibayar.465 Pengusaha Pabrik yang tidak melakukan pencatatan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 16 ayat (1)huruf a atau Pengusaha Tempat Penyimpanan yang tidak melakukan pencatatan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 16 ayat (2), yang

463 464 464

Pasal 104 Undang-Undang RI No. 10 Tahun 1995 tentang Kepabeanan. Pasal 107 Undang-Undang RI No. 10 Tahun 1995 tentang Kepabeanan. Pasal 50 Undang-Undang RI No. 11 Tahun 1995 tentang Cukai.

TPPU & TPA

189

mengakibatkan kerugian negara, dipidana dengan pidana penjara paling lama empat tahun dan/atau dendapaling banyak sepuluh kali nilai cukai yang seharusnya dibayar.466 Pengusaha Pabrik wajib mencatat dalam Buku Persediaan mengenai Barang Kena Cukai yang dibuat di Pabrik, dimasukkan kePabrik atau dikeluarkan dari Pabrik; 467 Pengusaha Tempat Penyimpanan wajib mencatat dalam Buku Persediaan mengenai Barang Kena Cukai yang dimasukkan ke atau dikeluarkan dari Tempat Penyimpanan.468 Pengusaha Pabrik atau Pengusaha Tempat Penyimpanan yang mengeluarkan Barang Kena Cukai dari Pabrik atau Tempat Penyimpanan Tanpa mengindahkan ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 25 ayat (1), yang mengakibatkan kerugian negara, dipidana dengan pidana penjara paling lama empat tahun dan denda paling banyak sepuluhkali nilai cukai yang seharusnya dibayar.469 Pemasukan atau pengeluaran Barang Kena Cukai atau dari Pabrik atau Tempat Penyimpanan, wajib diberitahukan kepada Kepala Kantor dan dilindungi dengan dokumen cukai.470 II.3.11.2 Barang kena pajak dan pita cukai Barangsiapa menimbun, menyimpan, memiliki, menjual, menukar, memperoleh, atau memberikan Barang Kena Cukai yang berasal dari tindak pidana berdasarkan Undang-undang ini, dipidana dengan pidana penjara paling lama empat tahun dan/atau
466 467 468 469 470

Pasal 51 Pasal 50 Undang-Undang RI No. 11 Tahun 1995 tentang Cukai. Pasal 16 Ayat (1) Huruf a Pasal 50 Undang-Undang RI No. 11 Tahun 1995 tentang Cukai. Pasal 16 Ayat (2) Pasal 50 Undang-Undang RI No. 11 Tahun 1995 tentang Cukai. Pasal 52 Pasal 50 Undang-Undang RI No. 11 Tahun 1995 tentang Cukai. Pasal 25 Ayat (1) Pasal 50 Undang-Undang RI No. 11 Tahun 1995 tentang Cukai.

190 Ikhtisar Ketentuan AML & CFT

dendapaling banyak sepuluh kali nilai cukai yang seharusnya dibayar.471 Barangsiapa menawarkan, menjual, atau menyerahkan pita cukai kepada tidak berhak, atau membeli, menerima, atau menggunakan pita cukai yang bukan haknya, dipidana dengan pidana penjara paling lama empat tahun dan/atau denda paling banyaksepuluh kali nilai cukai yang seharusnya dibayar.472 Meminta keterangan lisan dan/atau tertulis kepada pengusaha pabrik, pengusaha tempat penyimpanan, importir barang kena cukai, penyalur, pengguna barang kena cukai yang mendapatkan fasilitas pembebasan cukai sebagaimana dimaksud dalam Pasal 9, dan/atau pihak lain yang terkait. 473 Setiap orang yang dengan sengaja memperlihatkan atau menyerahkan buku, catatan, dan/atau dokumen, sebagaimana dimaksud dalam Pasal 36 ayat (1) atau laporan keuangan, buku, catatan dan dokumen yang menjadi bukti dasar pembukuan, dan dokumen lain yang berkaitan dengan kegiatan usaha, termasuk data elektronik serta surat yang berkaitan dengan kegiatan di bidang cukai sebagaimana dimaksud dalam Pasal 39 ayat (1b) yang palsu atau dipalsukan, dipidana dengan pidana penjara paling singkat 1 (satu) tahun dan paling lama 6 (enam) tahun dan pidana denda paling sedikit Rp75.000.000,00 (tujuh puluh lima juta rupiah) dan paling banyak Rp750.000.000,00 (tujuh ratus lima puluh juta rupiah).474 II.3.12 Perdagangan Orang II.3.12.1
474 472 473

Definisi

Pasal 56 Pasal 50 Undang-Undang RI No. 11 Tahun 1995 tentang Cukai. Pasal 58 Pasal 50 Undang-Undang RI No. 11 Tahun 1995 tentang Cukai.

Pasal 39 ayat (1) huruf b Undang-Undang RI No. 39 Tahun 2007 tentang Perubahan Atas Undang-Undang RI No. 11 Tahun 1995 tentang Cukai.
474 Pasal 53 Undang-Undang RI No. 39 Tahun 2007 tentang Perubahan Atas UndangUndang RI No. 11 Tahun 1995 tentang Cukai.

TPPU & TPA

191

Tindak Pidana Perdagangan Orang adalah setiap tindakan atau serangkaian tindakan yang memenuhi unsur-unsur tindak pidana yang ditentukan dalam Undang-Undang ini.475 II.3.12.2 Larangan perdagangan dan eksploitasi wanita dan anak laki-laki yang belum dewasa Perdagangan wanita dan perdagangan anak laki laki yang belum dewasa, diancam dengan pidana penjara paling lama enam tahun.476 Setiap orang yang melakukan perekrutan, pengangkutan, penampungan, pengiriman, pemindahan, atau penerimaan seseorang dengan ancaman kekerasan, penggunaan kekerasan, penculikan, penyekapan, pemalsuan, penipuan, penyalahgunaan kekuasaan atau posisi rentan, penjeratan utang atau memberi bayaran atau manfaat walaupun memperoleh persetujuan dari orang yang memegang kendali atas orang lain, untuk tujuan mengeksploitasi orang tersebut di wilayah negara Republik Indonesia, dipidana dengan pidana penjara paling singkat 3 (tiga) tahun dan paling lama 15 (lima belas) tahun dan pidana denda paling sedikit Rp120.000.000, 00 (seratus dua puluh juta rupiah) dan paling banyak Rp600.000.000, 00 (enam ratus juta rupiah).477 Jika perbuatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) mengakibatkan orang tereksploitasi, maka pelaku dipidana dengan pidana yang sama sebagaimana dimaksud pada ayat (1).478 Setiap orang yang memasukkan orang ke wilayah negara Republik Indonesia dengan maksud untuk
Pasal 1 angka 2 Undang-Undang RI No. 21 Tahun 2007 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Perdagangan Orang.
476 477 475

Pasal 297 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP).

Pasal 2 Ayat (1) Undang-Undang RI No. 21 Tahun 2007 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Perdagangan Orang.
478 Pasal 2 Ayat (2) Undang-Undang RI No. 21 Tahun 2007 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Perdagangan Orang.

192 Ikhtisar Ketentuan AML & CFT

dieksploitasi di wilayah negara Republik Indonesia atau dieksploitasi di negara lain dipidana dengan pidana penjara paling singkat 3 (tiga) tahun dan paling lama 15 (lima belas) tahun dan pidana denda paling sedikit Rp120.000.000, 00 (seratus dua puluh juta rupiah) dan paling banyak Rp600.000.000, 00 (enam ratus juta rupiah).479 Setiap orang yang membawa warga negara Indonesia ke luar wilayah negara Republik Indonesia dengan maksud untuk dieksploitasi di luar wilayah negara Republik Indonesia dipidana dengan pidana penjara paling singkat 3 (tiga) tahun dan paling lama 15 (lima belas) tahun dan pidana denda paling sedikit Rp120.000.000, 00 (seratus dua puluh juta rupiah) dan paling banyak Rp600.000.000, 00 (enam ratus juta rupiah).480 Setiap orang yang melakukan pengangkatan anak dengan menjanjikan sesuatu atau memberikan sesuatu dengan maksud untuk dieksploitasi dipidana dengan pidana penjara paling singkat 3 (tiga) tahun dan paling lama 15 (lima belas) tahun dan pidana denda paling sedikit Rp. 120.000.000,00 (seratus dua puluh juta rupiah) dan paling banyak Rp. 600.000.00,00 (enam ratus juta rupiah).481 Setiap orang yang melakukan pengiriman anak ke dalam atau ke luar negeri dengan cara apa pun yang mengakibatkan anak tersebut tereksploitasi dipidana dengan pidana penjara paling singkat 3 (tiga) tahun dan paling lama 15 (lima belas) tahun dan pidana denda paling sedikit Rp120.000.000,

479 Pasal 3 Undang-Undang RI No. 21 Tahun 2007 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Perdagangan Orang. 480 Pasal 4 Undang-Undang RI No. 21 Tahun 2007 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Perdagangan Orang. 481 Pasal 5 Undang-Undang RI No. 21 Tahun 2007 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Perdagangan Orang.

TPPU & TPA

193

00 (seratus dua puluh juta rupiah) dan paling banyak Rp600.000.000, 00 (enam ratus juta rupiah).482 Jika tindak pidana sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat (2), Pasal 3, Pasal 4, Pasal 5, dan Pasal 6 mengakibatkan korban menderita luka berat, gangguan jiwa berat, penyakit menular lainnya yang membahayakan jiwanya, kehamilan, atau terganggu atau hilangnya fungsi reproduksinya, maka ancaman pidananya ditambah 1/3 (sepertiga) dari ancaman pidana dalam Pasal 2 ayat (2), Pasal 3, Pasal 4, Pasal 5, dan Pasal 6.483 Jika tindak pidana sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat (2), Pasal 3, Pasal 4, Pasal 5, dan Pasal 6 mengakibatkan matinya korban, dipidana dengan pidana penjara paling singkat 5 (lima) tahun dan paling lama penjara seumur hidup dan pidana denda paling sedikit Rp. 200.000.000,00 (dua ratus juta rupiah) dan paling banyak Rp. 5.00.000.000,00 (lima miyar rupiah).484 Setiap penyelenggara negara yang menyalahgunakan kekuasaan yang mengakibatkan terjadinya tindak pidana perdagangan orang sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2, Pasal 3, Pasal 4, Pasal 5, dan Pasal 6 maka pidananya ditambah 1/3 (sepertiga) dari ancaman pidana dalam Pasal 2, Pasal 3, Pasal 4, Pasal 5, dan Pasal 6.485

482 Pasal 6 Undang-Undang RI No. 21 Tahun 2007 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Perdagangan Orang. 483 Pasal 7 ayat (1) Undang-Undang RI No. 21 Tahun 2007 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Perdagangan Orang. 484 Pasal 7 ayat (2) Undang-Undang RI No. 21 Tahun 2007 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Perdagangan Orang. 485 Pasal 8 Ayat (1) Undang-Undang RI No. 21 Tahun 2007 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Perdagangan Orang.

194 Ikhtisar Ketentuan AML & CFT

II.3.12.3

Pidana tambahan Selain sanksi pidana sebagaimana dimaksud pada ayat (1) pelaku dapat dikenakan pidana tambahan berupa pemberhentian secara tidak dengan hormat dari jabatannya.486 Pidana tambahan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dicantumkan sekaligus dalam amar putusan pengadilan.487

II.3.12.4

Percobaan, perbantuan dan permukatan jahat dalam perdagangan manusia Setiap orang yang berusaha menggerakkan orang lain supaya melakukan tindak pidana perdagangan orang, dan tindak pidana itu tidak terjadi, dipidana dengan pidana penjara paling singkat 1 (satu) tahun dan paling lama 6 (enam) tahun dan pidana denda paling sedikit Rp40.000.000, 00 (empat puluh juta rupiah) dan paling banyak Rp240.000.000, 00 (dua ratus empat puluh juta rupiah).488 Setiap orang yang membantu atau melakukan percobaan untuk melakukan tindak pidana perdagangan orang, dipidana dengan pidana yang sama sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2, Pasal 3, Pasal 4, Pasal 5, dan Pasal 6.489 Setiap orang yang merencanakan atau melakukan permufakatan jahat untuk melakukan tindak pidana perdagangan orang, dipidana dengan pidana yang sama sebagai pelaku sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2, Pasal 3, Pasal 4, Pasal 5, dan Pasal 6.490

486 Pasal 8 Ayat (2) Undang-Undang RI No. 21 Tahun 2007 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Perdagangan Orang. 497 Pasal 8 Ayat (3) Undang-Undang RI No. 21 Tahun 2007 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Perdagangan Orang. 488 Pasal 9 Undang-Undang RI No. 21 Tahun 2007 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Perdagangan Orang. 489 Pasal 10 Undang-Undang RI No. 21 Tahun 2007 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Perdagangan Orang. 490 Pasal 11 Undang-Undang RI No. 21 Tahun 2007 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Perdagangan Orang.

TPPU & TPA

195

Setiap orang yang menggunakan atau memanfaatkan korban tindak pidana perdagangan orang dengan cara melakukan persetubuhan atau perbuatan cabul lainnya dengan korban tindak pidana perdagangan orang, mempekerjakan korban tindak pidana perdagangan orang untuk meneruskan praktik eksploitasi, atau mengambil keuntungan dari hasil tindak pidana perdagangan orang dipidana dengan pidana yang sama sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2, Pasal 3, Pasal 4, Pasal 5, dan Pasal 6.491 II.3.12.5 Tindak pidana perdagangan orang oleh korporasi Tindak pidana perdagangan orang dianggap dilakukan oleh korporasi apabila tindak pidana tersebut dilakukan oleh orang-orang yang bertindak untuk dan/atau atas nama korporasi atau untuk kepentingan korporasi, baik berdasarkan hubungan kerja maupun hubungan lain, bertindak dalam lingkungan korporasi tersebut baik sendiri maupun bersama-sama.492 Dalam hal tindak pidana perdagangan orang dilakukan oleh suatu korporasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1), maka penyidikan, penuntutan, dan pemidanaan dilakukan terhadap korporasi dan/atau pengurusnya.493 II.3.13 Perdagangan Senjata Gelap Barang siapa, yang tanpa hak memasukkan ke Indonesia membuat, menerima, mencoba memperoleh, menyerahkan atau mencoba menyerahkan, menguasai, membawa, mempunyai persediaan padanya atau mempunyai dalam miliknya, menyimpan, mengangkut, menyembunyikan,

491 Pasal 12 Undang-Undang RI No. 21 Tahun 2007 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Perdagangan Orang. 492 Pasal 13 Ayat (1) Undang-Undang RI No. 21 Tahun 2007 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Perdagangan Orang. 493 Pasal 13 Ayat (2) Undang-Undang RI No. 21 Tahun 2007 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Perdagangan Orang.

196 Ikhtisar Ketentuan AML & CFT

mempergunakan, atau mengeluarkan dari Indonesia sesuatu senjata api, amunisi atau sesuatu bahan peledak, dihukum dengan hukuman mati atau hukuman penjara seumur hidup atau hukuman penjara sementara setinggi-tingginya dua puluh tahun.494 Barang siapa yang tanpa hak memasukkan ke Indonesia, membuat, menerima, mencoba memperolehnya, menyerahkan atau mencoba menyerahkan, menguasai, membawa, mempunyai persediaan padanya atau mempunyai dalam miliknya, menyimpan, mengangkut, menyem-bunyikan, mempergunakan atau mengeluarkan dari Indonesia sesuatu senjata pemukul, senjata penikam, atau senjata penusuk (slag, steek-, of stootwapen), dihukum dengan hukuman penjara setinggi-tingginya sepuluh tahun.495 II.3.14 Terorisme II.3.14.1 Definisi Tindak Pidana Terorisme adalah segala perbuatan yang memenuhi unsur-unsur tindak pidana sesuai dengan ketentuan dalam Peraturan Pemerintah Pengganti undang-undang ini.496 II.3.14.2 Sanksi bagi setiap orang yang melakukan teror Setiap orang yang dengan sengaja menggunakan kekerasan atau ancaman kekerasan menimbulkan suasana teror atau rasa takut terhadap orang secara meluas atau menimbulkan korban yang bersifat massal, dengan cara merampas kemerdekaan atau hilangnya nyawa dan harta benda orang lain, atau mengakibatkan kerusakan atau kehancuran terhadap obyek-obyek vital yang strategis atau

494 Pasal 1 ayat (1) Undang-Undang Darurat No.12 Tahun 1951 tentang Mengubah “Ordonantietijdelijke Bijzondere Strafbepalingen” (STBL 1948 Nomor 17) dan UndangUndang RI Dahulu No. 8 Tahun 1948. 495 Pasal 1 ayat (2) Undang-Undang Darurat No.12 Tahun 1951 tentang Mengubah “Ordonantietijdelijke Bijzondere Strafbepalingen” (STBL 1948 Nomor 17) dan UndangUndang RI Dahulu No. 8 Tahun 1948. 496 Pasal 1 angka 1 Undang-Undang RI No.15 Tahun 2003 tentang Penetapan Perpu No. 1 Tahun 2002 tentang Tindak Pidana Terorisme.

TPPU & TPA

197

lingkungan hidup atau fasilitas publik atau fasilitas internasional, dipidana dengan pidana mati atau penjara seumur hidup atau pidana penjara paling singkat 4 (empat) tahun dan paling lama 20 (dua puluh) tahun.497 Setiap orang yang dengan sengaja menggunakan kekerasan atau ancaman kekerasan bermaksud untuk menimbulkan suasana teror atau rasa takut terhadap orang secara meluas atau menimbulkan korban yang bersifat massal dengan cara merampas kemerdekaan atau hilangnya nyawa atau harta benda orang lain, atau untuk menimbulkan kerusakan atau kehancuran terhadap obyek-obyek vital yang strategis, atau lingkungan hidup, atau fasilitas publik, atau fasilitas internasional, dipidana dengan pidana penjara paling lama seumur hidup.498 Dipidana karena melakukan tindak pidana terorisme dengan pidana yang sama sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6, setiap orang yang : a. menghancurkan, membuat tidak dapat dipakai atau merusak bangunan untuk pengamanan lalu lintas udara atau menggagalkan usaha untuk pengamanan bangunan tersebut; b. menyebabkan hancurnya, tidak dapat dipakainya atau rusaknya bangunan untuk pengamanan lalu lintas udara, atau gagalnya usaha untuk pengamanan bangunan tersebut; c. dengan sengaja dan melawan hukum menghancurkan, merusak, mengambil, atau memindahkan tanda atau alat untuk pengamanan penerbangan, atau mengga-galkan bekerjanya tanda atau alat tersebut, atau memasang tanda atau alat yang keliru;
497 Pasal 6 Undang-Undang RI No.15 Tahun 2003 tentang Penetapan Perpu No. 1 Tahun 2002 tentang Tindak Pidana Terorisme. 498 Pasal 7 Undang-Undang RI No.15 Tahun 2003 tentang Penetapan Perpu No. 1 Tahun 2002 tentang Tindak Pidana Terorisme.

198 Ikhtisar Ketentuan AML & CFT

d. karena kealpaannya menyebabkan tanda atau alat untuk pengamanan penerbangan hancur, rusak, terambil atau pindah atau menyebabkan terpasangnya tanda atau alat untuk pengamanan penerbangan yang keliru; e. dengan sengaja atau melawan hukum, menghancurkan atau membuat tidak dapat dipakainya pesawat udara yang seluruhnya atau sebagian kepunyaan orang lain; f. dengan sengaja dan melawan hukum mencelakakan, menghancurkan, membuat tidak dapat dipakai atau merusak pesawat udara; g. karena kealpaannya menyebabkan pesawat udara celaka, hancur, tidak dapat dipakai, atau rusak; h. dengan maksud untuk menguntungkan diri sendiri atau orang lain dengan melawan hukum, atas penanggung asuransi menimbulkan kebakaran atau ledakan, kecelakaan kehancuran, kerusakan atau membuat tidak dapat dipakainya pesawat udara yang dipertanggungkan terhadap bahaya atau yang dipertanggungkan muatannya maupun upah yang akan diterima untuk pengangkutan muatannya, ataupun untuk kepentingan muatan tersebut telah diterima uang tanggungan; i. dalam pesawat udara dengan perbuatan yang melawan hukum, merampas atau mempertahankan perampasan atau menguasai pesawat udara dalam penerbangan; j. dalam pesawat udara dengan kekerasan atau ancaman kekerasan atau ancaman dalam bentuk lainnya, merampas atau mempertahankan perampasan atau menguasai pengendalian pesawat udara dalam penerbangan; k. melakukan bersama-sama sebagai kelanjutan permufakatan jahat, dilakukan dengan direncanakan terlebih dahulu, mengakibatkan luka berat seseorang, mengakibatkan kerusakan

TPPU & TPA

199

pada pesawat udara sehingga dapat membahayakan penerbangannya, dilakukan dengan maksud untuk merampas kemerdekaan atau meneruskan merampas kemerdekaan seseorang; l. dengan sengaja dan melawan hukum melakukan perbuatan kekerasan terhadap seseorang di dalam pesawat udara dalam penerbangan, jika perbuatan itu dapat membahayakan keselamatan pesawat udara tersebut; m.dengan sengaja dan melawan hukum merusak pesawat udara dalam dinas atau menyebabkan kerusakan atas pesawat udara tersebut yang menyebabkan tidak dapat terbang atau membahayakan keamanan penerbangan; n. dengan sengaja dan melawan hukum menempatkan atau menyebabkan ditempatkannya di dalam pesawat udara dalam dinas, dengan cara apapun, alat atau bahan yang dapat menghancurkan pesawat udara yang membuatnya tidak dapat terbang atau menyebabkan kerusakan pesawat udara tersebut yang dapat membahayakan keamanan dalam penerbangan; o. melakukan secara bersama-sama 2 (dua) orang atau lebih, sebagai kelanjutan dari permufakatan jahat, melakukan dengan direncanakan lebih dahulu, dan mengakibatkan luka berat bagi seseorang dari perbuatan sebagaimana dimaksud dalam huruf l, huruf m, dan huruf n; p. memberikan keterangan yang diketahuinya adalah palsu dan karena perbuatan itu membahayakan keamanan pesawat udara dalam penerbangan; q. di dalam pesawat udara melakukan perbuatan yang dapat membahayakan keamanan dalam pesawat udara dalam penerbangan; r. di dalam pesawat udara melakukan perbuatan-

200 Ikhtisar Ketentuan AML & CFT

perbuatan yang dapat mengganggu ketertiban dan tata tertib di dalam pesawat udara dalam penerbangan.499 II.3.14.3 Sanksi terkait penggunaan bahan peledak Setiap orang yang secara melawan hukum memasukkan ke Indonesia, membuat, menerima, mencoba memperoleh, menyerahkan atau mencoba menyerahkan, menguasai, membawa, mempunyai persediaan padanya atau mempunyai dalam miliknya, menyimpan, mengangkut, menyembunyikan, mempergunakan, atau mengeluarkan ke dan/atau dari Indonesia sesuatu senjata api, amunisi, atau sesuatu bahan peledak dan bahan-bahan lainnya yang berbahaya dengan maksud untuk melakukan tindak pidana terorisme, dipidana dengan pidana mati atau penjara seumur hidup atau pidana penjara paling singkat 3 (tiga) tahun dan paling lama 20 (dua puluh) tahun.500 Dipidana dengan pidana yang sama dengan pidana sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6, setiap orang yang dengan sengaja menggunakan senjata kimia, senjata biologis, radiologi, mikroorganisme, radioaktif atau komponennya, sehingga menimbulkan suasana teror, atau rasa takut terhadap orang secara meluas, menimbulkan korban yang bersifat massal, membahayakan terhadap kesehatan, terjadi kekacauan terhadap kehidupan, keamanan, dan hak-hak orang, atau terjadi kerusakan, kehancuran terhadap obyekobyek vital yang strategis, lingkungan hidup, fasilitas publik, atau fasilitas internasional.501

499 Pasal 8 Undang-Undang RI No.15 Tahun 2003 tentang Penetapan Perpu No. 1 Tahun 2002 tentang Tindak Pidana Terorisme. 500 Pasal 9 Undang-Undang RI No.15 Tahun 2003 tentang Penetapan Perpu No. 1 Tahun 2002 tentang Tindak Pidana Terorisme. 501 Pasal 10 Undang-Undang RI No.15 Tahun 2003 tentang Penetapan Perpu No. 1 Tahun 2002 tentang Tindak Pidana Terorisme.

TPPU & TPA

201

Dipidana dengan pidana penjara paling singkat 3 (tiga) tahun dan paling lama 15 (lima belas) tahun, setiap orang yang dengan sengaja menyediakan atau mengumpulkan dana dengan tujuan akan digunakan atau patut diketahuinya akan digunakan sebagian atau seluruhnya untuk melakukan tindak pidana terorisme sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6, Pasal 7, Pasal 8, Pasal 9, dan Pasal 10. 502 Dipidana karena melakukan tindak pidana terorisme dengan pidana penjara paling singkat 3 (tiga) tahun dan paling lama 15 (lima belas) tahun, setiap orang yang dengan sengaja menyediakan atau mengumpulkan harta kekayaan dengan tujuan akan digunakan atau patut diketahuinya akan digunakan sebagian atau seluruhnya untuk melakukan : a. tindakan secara melawan hukum menerima, memiliki, menggunakan, menyerahkan, mengubah, membuang bahan nuklir, senjata kimia, senjata biologis, radiologi, mikroorganisme, radioaktif atau komponennya yang mengakibatkan atau dapat mengakibatkan kematian atau luka berat atau menimbulkan kerusakan harta benda; b. mencuri atau merampas bahan nuklir, senjata kimia, senjata biologis, radiologi, mikroorganisme, radioaktif, atau komponennya ; c. penggelapan atau memperoleh secara tidak sah bahan nuklir, senjata kimia, senjata biologis, radiologi, mikroorganisme, radioaktif atau komponennya; d. meminta bahan nuklir, senjata kimia, senjata biologis, radiologi, mikroorganisme, radioaktif, atau komponennya secara paksa atau ancaman kekerasan atau dengan segala bentuk intimidasi;
502 Pasal 11 Undang-Undang RI No.15 Tahun 2003 tentang Penetapan Perpu No. 1 Tahun 2002 tentang Tindak Pidana Terorisme.

202 Ikhtisar Ketentuan AML & CFT

e. mengancam : 1) menggunakan bahan nuklir, senjata kimia, senjata biologis, radiologi, mikroorganisme, radioaktif, atau komponennya untuk menimbulkan kematian atau luka berat atau kerusakan harta benda; atau 2) melakukan tindak pidana sebagaimana dimaksud dalam huruf b dengan tujuan untuk memaksa orang lain, organisasi internasional, atau negara lain untuk melakukan atau tidak melakukan sesuatu. f. mencoba melakukan tindak pidana sebagaimana dimaksud dalam huruf a, huruf b, atau huruf c; dan g. ikut serta dalam melakukan tindak pidana sebagaimana dimaksud dalam huruf a sampai dengan huruf f.503 II.3.14.4 Sanksi terhadap setiap orang yang membantu pelaku terorisme Setiap orang yang dengan sengaja memberikan bantuan atau kemudahan terhadap pelaku tindak pidana terorisme, dengan : a. memberikan atau meminjamkan uang atau barang atau harta kekayaan lainnya kepada pelaku tindak pidana terorisme; b. menyembunyikan pelaku tindak pidana terorisme; atau c. menyembunyikan informasi tentang tindak pidana terorisme, dipidana dengan pidana penjara paling singkat 3 (tiga) tahun dan paling lama 15 (lima belas) tahun.504

503 Pasal 12 Undang-Undang RI No.15 Tahun 2003 tentang Penetapan Perpu No. 1 Tahun 2002 tentang Tindak Pidana Terorisme. 504 Pasal 13 Undang-Undang RI No.15 Tahun 2003 tentang Penetapan Perpu No. 1 Tahun 2002 tentang Tindak Pidana Terorisme.

TPPU & TPA

203

II.3.14.5

Sanksi terhadap setiap orang yang merencanakan dan melakukan permufakatan jahat terkait terorime Setiap orang yang merencanakan dan/atau menggerakkan orang lain untuk melakukan tindak pidana terorisme sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6, Pasal 7, Pasal 8, Pasal 9, Pasal 10, Pasal 11, dan Pasal 12 dipidana dengan pidana mati atau pidana penjara seumur hidup.505 Setiap orang yang melakukan permufakatan jahat, percobaan, atau pembantuan untuk melakukan tindak pidana terorisme sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6, Pasal 7, Pasal 8, Pasal 9, Pasal 10, Pasal 11, dan Pasal 12 dipidana dengan pidana yang sama sebagai pelaku tindak pidananya.506 Setiap orang di luar wilayah negara Republik Indonesia yang memberikan bantuan, kemudahan, sarana, atau keterangan untuk terjadinya tindak pidana terorisme, dipidana dengan pidana yang sama sebagai pelaku tindak pidana sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6, Pasal 7, Pasal 8, Pasal 9, Pasal 10, Pasal 11, dan Pasal 12.507

II.3.14.6

Sanksi terhadap korporasi terkait terorisme Dalam hal tindak pidana terorisme dilakukan oleh atau atas nama suatu korporasi, maka tuntutan dan penjatuhan pidana dilakukan terhadap korporasi dan/atau pengurusnya.508 Tindak pidana terorisme dilakukan oleh korporasi apabila tindak pidana tersebut dilakukan oleh orang-orang baik berdasarkan hubungan kerja maupun hubungan lain, bertindak dalam

505 Pasal 14 Undang-Undang RI No.15 Tahun 2003 tentang Penetapan Perpu No. 1 Tahun 2002 tentang Tindak Pidana Terorisme. 506 Pasal 15 Undang-Undang RI No.15 Tahun 2003 tentang Penetapan Perpu No. 1 Tahun 2002 tentang Tindak Pidana Terorisme. 507 Pasal 16 Undang-Undang RI No.15 Tahun 2003 tentang Penetapan Perpu No. 1 Tahun 2002 tentang Tindak Pidana Terorisme.

Pasal 17 Ayat (1) Undang-Undang RI No.15 Tahun 2003 tentang Penetapan Perpu No. 1 Tahun 2002 tentang Tindak Pidana Terorisme.

508

204 Ikhtisar Ketentuan AML & CFT

lingkungan korporasi tersebut baik sendiri maupun bersama-sama.509 Dalam hal tuntutan pidana dilakukan terhadap suatu korporasi, maka korporasi tersebut diwakili oleh pengurus.510 Dalam hal tuntutan pidana dilakukan terhadap korporasi, maka panggilan untuk menghadap dan penyerahan surat panggilan tersebut disampaikan kepada pengurus di tempat tinggal pengurus atau di tempat pengurus berkantor.511 Pidana pokok yang dapat dijatuhkan terhadap korporasi hanya dipidana dengan pidana denda paling banyak Rp 1.000.000.000.000,- (satu triliun rupiah).512 Korporasi yang terlibat tindak pidana terorisme dapat dibekukan atau dicabut izinnya dan dinyatakan sebagai korporasi yang terlarang.513 II.3.15 Penculikan II.3.15.1 Membawa pergi seseorang dari tempat tinggalnya Barangsiapa membawa pergi seseorang dari tempat kediamannya atau tempat-tinggalsementaranya dengan maksud untuk menempatkan orang itu secara melawan hukum di bawah kekuasaannya atau kekuasaan orang lain, atau untuk menyengsarakan orang itu, diancam karena penculikan dengan pidana penjara paling lama dua belas tahun.514
509 Pasal 17 Ayat (2) Undang-Undang RI No.15 Tahun 2003 tentang Penetapan Perpu No. 1 Tahun 2002 tentang Tindak Pidana Terorisme. 510 Pasal 17 Ayat (3) Undang-Undang RI No.15 Tahun 2003 tentang Penetapan Perpu No. 1 Tahun 2002 tentang Tindak Pidana Terorisme. 511 Pasal 18 Ayat (1) Undang-Undang RI No.15 Tahun 2003 tentang Penetapan Perpu No. 1 Tahun 2002 tentang Tindak Pidana Terorisme. 512 Pasal 18 Ayat (2) Undang-Undang RI No.15 Tahun 2003 tentang Penetapan Perpu No. 1 Tahun 2002 tentang Tindak Pidana Terorisme. 513 Pasal 18 Ayat (3) Undang-Undang RI No.15 Tahun 2003 tentang Penetapan Perpu No. 1 Tahun 2002 tentang Tindak Pidana Terorisme. 514

Pasal 328 KUHP.

TPPU & TPA

205

II.3.15.2

Menarik dan menyembunyikan seseorang yang belum cukup umur. Barangsiapa dengan sengaja menarik seseorang yang belum cukup umur dari kekuasaan yang menurut undang-undang ditentukan atas dirinya, atau dati pengawasan orang yang berwenang untuk itu, diancam dengan pidana penjara paling lama tujuh tahun.515 Bila dalam hal ini dilakukan tipu-muslihat, kekerasan atau ancaman kekerasan, atau bila anak itu belum berumur dua belas tahun, maka dijatuhkan pidana penjara paling lama sembilan tahun.516 Barangsiapa dengan sengaja menyembunyikan orang yang belum dewasa yang ditarik atau menarik diri dari kekuasaan yang menurut undang-undang ditentukan atas dirinya, atau dari pengawasan orang yang berwenang untuk itu, atau dengan sengaja menariknya dari pengusutan pejabat kehakiman atau kepolisian, diancam dengan pidana penjara paling lama empat tahun, atau bila anak itu berumur di bawah dua belas tahun, dengan pidana penjara paling lama tujuh tahun.517

II.3.16 Pencurian II.3.16.1 Sanksi terhadap seseorang yang mengambil barang bukan miliknya Barang siapa mengambil barang sesuatu, yang seluruhnya atau sebagian kepunyaan orang lain, dengan maksud untuk dimiliki secara melawan hukum, diancam karena pencurian, dengan pidana penjara paling lama lima tahun atau pidana denda paling banyak sembilan ratus rupiah.518

515 516 517 518

Pasal 330 Ayat (1) KUHP. Pasal 330 Ayat (2) KUHP. Pasal 331 Kitab KUHP. Pasal 362 KUHP.

206 Ikhtisar Ketentuan AML & CFT

Diancam dengan pidana penjara paling lama tujuh tahun: 1) pencurian ternak; 2) pencurian pada waktu terjadi kebakaran, letusan, banjir, gempa bumi atau gempa laut, gunung meletus, kapal karam, kapal terdampar, kecelakaan kereta api, huru-hara, pemberontakan atau bahaya perang; 3) pencurian pada waktu malam dalam sebuah rumah atau di pekarangan tertutup yang ada rumahnya, yang dilakukan oleh orang yang ada di situ tanpa diketahui atau tanpa dikehendaki oleh yang berhak; 4) pencurian yang dilakukan oleh dua orang atau lebih dengan bersekutu; (KUHP 364, dst.) 5) pencurian yang untuk masuk ke tempat melakukan kejahatan, atau untuk dapat mengambil barang yang hendak dicuri itu, dilakukan dengan merusak, memotong atau memanjat, atau dengan memakai anak kunci palsu, perintah palsu atau pakaian jabatan palsu.519 Bila pencurian tersebut dalam nomor 3 disertai dengan salah satu hal dalam nomor 4 dan 5, maka perbuatan itu diancam dengan pidana penjara paling lama sembilan tahun.520 Perbuatan yang diterangkan dalam pasal 362 dan pasal 363 nomor 4, demikian juga perbuatan yang diterangkan dalam pasal 363 nomor 5, bila tidak dilakukan dalam sebuah rumah atau pekarangan tertutup yang ada rumahnya, jika harga barang yang dicuri tidak lebih dari dua ratus lima puluh rupiah, diancam karena pencurian ringan dengan pidana penjara paling lama tiga bulan atau pidana denda paling banyak sembilan ratus rupiah.521

519 520 521

Pasal 363 Ayat (1) KUHP. Pasal 363 Ayat (2) Kitab KUHP. Pasal 364 KUHP.

TPPU & TPA

207

II.3.16.2

Sanksi terhadap pelaku pencurian yang disertai dengan tindakan kekerasan dan mengakibatkan kematian orang lain Diancam dengan pidana penjara paling lama sembilan tahun pencurian yang didahului, disertai atau diikuti dengan kekerasan atau ancaman kekerasan terhadap orang dengan maksud untuk mempersiapkan atau mempermudah pencurian itu, atau bila tertangkap tangan, untuk memungkinkan diri sendiri atau peserta lainnya untuk melarikan diri, atau untuk tetap menguasai barang yang dicuri.522 Diancam dengan pidana penjara paling lama dua belas tahun: 1) bila perbuatan dilakukan pada waktu malam dalam sebuah rumah atau pekarangan tertutup yang ada rumahnya, dijalan umum, atau dalam kereta api atau trem yang sedang berjalan; (KUHP 89, 363). 2) bila perbuatan dilakukan oleh dua orang atau lebih dengan bersekutu; 3) bila yang bersalah masuk ke tempat melakukan kejahatan dengan merusak atau memanjat ataa dengan memakai anak kunci palsu, perintah palsu atau pakaian jabatan palsu; 4) bila perbuatan mengakibatkan luka berat. 423 Bila perbuatan itu mengakibatkan kematian, maka yang bersalah diancam dengan pidana penjara paling lama lima belas tahun.524 Diancam dengan pidana mati atau pidana penjara seumur hidup atau pidana penjara selama waktu tertentu paling lama dua puluh tahun, bila perbuatan itu mengakibatkan luka berat atau kematian dan dilakukan oleh dua orang atau lebih

522 523 524

Pasal 365 Ayat (1) KUHP. Pasal 365 Ayat (2) KUHP. Pasal 365 ayat (3) KUHP.

208 Ikhtisar Ketentuan AML & CFT

dengan bersekutu, disertai pula oleh salah satu hal yang diterangkan dalam nomor 1 dan 3.525 II.3.17 Penggelapan Barangsiapa dengan sengaja dan dengan melawan hukum memiliki barang sesuatu yang seluruhnya atau sebagian adalah kepunyaan orang lain, tetapi berada dalam kekuasaannya bukan karena kejahatan, diancam karena penggelapan, dengan pidana penjara paling lama empat tahun atau pidana denda paling banyak sembilan ratus rupiah.526 Perbuatan yang diterangkan dalam pasal 372, bila yang digelapkan bukan ternak dan harganya tidak lebih dari dua ratus lima puluh rupiah, diancam sebagai penggelapan ringan dengan pidana penjara paling lama tiga bulan atau pidana denda paling banyak sembilan ratus rupiah.527 Penggelapan yang dilakukan oleh orang yang menguasai barang itu karena jabatannya atau karena pekerjaannya atau karena mendapat upah untuk itu, diancam dengan pidana penjara paling lama lima tahun.528 Penggelapan yang dilakukan oleh orang yang kepadanya barang itu terpaksa diberikan untuk disimpan, atau yang dilakukan oleh wali pengampu, pengurus atau pelaksana surat wasiat, pengurus lembaga sosial atau yayasan, terhadap barang sesuatu yang dikuasainya selaku demikian diancam dengan pidana penjara paling lama enam tahun.529 II.3.18 Penipuan II.3.18.1 Sanksi terhadap seseorang yang secara melawan hukum menguntungkan diri sendiri atau orang lain Barang siapa dengan maksud untuk menguntungkan diri sendiri atau orang lain secara melawan hukum, dengan memakai nama palsu

525 526 527 528 529

Pasal 365 ayat (4) KUHP. Pasal 372 KUHP. Pasal 373 KUHP. Pasal 374 KUHP. Pasal 375 KUHP.

TPPU & TPA

209

atau martabat palsu, dengan tipu muslihat, ataupun rangkaian kebohongan, menggerakkan orang lain untuk menyerahkan barang sesuatu kepadanya, atau supaya memberi hutang rnaupun menghapuskan piutang diancam karena penipuan dengan pidana penjara paling lama empat tahun.530 Perbuatan yang dirumuskan dalam pasal 378, jika barang yang diserahkan itu bukan ternak dan harga daripada barang, hutang atau piutang itu tidak lebih dari dua puluh lima rupiah diancam sebagai penipuan ringan dengan pidana penjara paling lama tiga bulan atau pidana denda paling banyak dua ratus lima puluh rupiah.531 II.3.18.2 Sanksi terhadap setiap orang yang menjadikan praktek penipuan sebagai mata pencarian atau kebiasaan Barang siapa menjadikan sebagai mata pencarian atau kebiasaan untuk membeli barang-barang, dengan maksud supaya tanpa pembayaran seluruhnya memastikan penguasaan terhadap barang-barang itu untuk diri sendiri maupun orang lain diancam dengan pidana penjara paling lama empat tahun.532 II.3.18.3 Sanksi terhadap setiap orang yang melakukan penipuan atas hasil kesusastraan, keilmuan, kesenian atau kerajinan Diancam dengan pidana penjara paling lama dua tahun delapan bulan atau pidana denda paling banyak lima ribu rupiah: 1) barang siapa menaruh suatu nama atau tanda secara palsu di atas atau di dalam suatu hasil kesusastraan, keilmuan, kesenian atau kerajinan, atau memalsu nama atau tanda yang

530 531 532

Pasal 378 KUHP. Pasal 379 KUHP. Pasal 379a KUHP.

210 Ikhtisar Ketentuan AML & CFT

asli, dengan maksud supaya orang mengira bahwa itu benar-benar buah hasil orang yang nama atau tandanya ditaruh olehnya di atas atau di dalamnya tadi; 2) barang siapa dengan sengaja menjual menawarkan menyerahkan, mempunyai persediaan untuk dijual atau memasukkan ke Indonesia, hasil kesusastraan, keilmuan, kesenian atau kerajinan. yang di dalam atau di atasnya telah ditaruh nama at.au tanda yang palsu, atau yang nama atau tandanya yang asli telah dipalsu, seakan-akan itu benar-benar hasil orang yang nama atau tandanya telah ditaruh secara palsu tadi. 533 Jika hasil itu kepunyaan terpidana, maka boleh dirampas.534 II.3.18.4 Tindak pidana penipuan terkait asuransi Barang siapa dengan jalan tipu muslihat menyesatkan penanggung asuransi mengenai keadaan-keadaan yang berhubungan dengan pertanggungan sehingga disetujui perjanjian, hal mana tentu tidak akan disetujuinya atau setidaktidaknya tidak dengan syarat- syarat yang demikian, jika diketahuinya keadaan-keadaan sebenarnya diancam dengan pidana penjara paling lama satu tahun empat bulan.535 Barang siapa dengan maksud untuk menguntungkan diri sendiri atau orang lain secara melawan hukum. atas kerugian penanggung asuransi atau pemegang surat bodemerij yang sah. menimbulkan kebakaran atau ledakan pada suatu barang yang dipertanggungkan terhadap bahaya kebakaran, atau mengaramkan. mendamparkan. menghancurkan, merusakkan, atau membikin tak
533 534 535

Pasal 380 Ayat (1) KUHP. Pasal 380 Ayat (2) KUHP. Pasal 381 KUHP.

TPPU & TPA

211

dapat dipakai kapal yang dipertanggungkan atau yang muatannya maupun upah yang akan diterima untuk pengangkutan muatannya yang dipertanggungkan, ataupun yang atasnya telah diterima uang bodemerij diancarn dengan pidana penjara paling lama lima tahun.536 II.3.18.5 Perbuatan curang untuk menyesatkan publik atau orang tertentu Barang siapa untuk mendapatkan, melangsungkan atau memperluas hasil perdagangan atau perusahaan milik sendiri atau orang lain, melakukan perbuatan curang untuk menyesatkan khalayak umum atau seorang tertentu, diancam, jika perbuatan itu dapat menimbulkan kerugian bagi konkuren-konkurennya atau konkuren-konkuren orang lain, karena persaingan curang, dengan pidana penjara paling lama satu tahun empat bulan atau pidana denda paling banyak tiga belas ribu lima ratus rupiah.537 Diancam dengan pidana penjara paling lama satu tahun empat bulan, seorang penjual yang berbuat curang terhadap pembeli: 1) karena sengaja menyerahkan barang lain daripada yang ditunjuk untuk dibeli; 2) mengenai jenis, keadaan atau jumlah barang yang diserahkan, dengan menggunakan tipu muslihat.538 Seorang pemegang konosemen yang sengaja mempergunakan beberapa eksemplar dari surat tersebut dengan titel yang memberatkan, dan untuk beberapa orang penerima, diancam dengan pidana penjara paling lama dua tahun delapan bulan.539

536 537 538 539

Pasal 382 KUHP. Pasal 382bis KUHP. Pasal 383 KUHP. Pasal 383bis KUHP.

212 Ikhtisar Ketentuan AML & CFT

Perbuatan yang dirumuskan dalam pasal 383, diancam dengan pidana penjara paling lama tiga bulan atau denda paling banyak dua ratus lima puluh rupiah, jika jumlah keuntungan yang di peroleh tidak lebih dari dua puluh lima rupiah.540 Diancam dengan pidana penjara paling lama empat tahun: 1) barang siapa dengan maksud mengun-tungkan diri sendiri atau orang lain secara melawan hukum, menjual, menukarkan atau membebani dengan creditverband sesuatu hak tanah yang telah bersertifikat, sesuatu gedung, bangunan, penanaman atau pembenihan di atas tanah yang belum bersertifikat, padahal diketahui bahwa yang mempunyai atau turut mempunyai hak di atasnya adalah orang lain; 2) barang siapa dengan maksud yang sama menjual, menukarkan atau membebani dengan credietverband, sesuatu hak tanah yang belum bersertifikat yang telah dibehani credietverband atau sesuatu gedung bangunan. penanaman atau pembenihan di atas tanah yang juga telah dibebani demikian, tanpa mem beritahukan tentang adanya heban itu kepada pihak yang lain; 3) barang siapa dengan maksud yang sama mengadakan credietverband mengenai sesuatu hak tanah yang belum bersertifikat. dengan menyembunyikan kepada pihak lain bahwa tanah yanr bezhubungan dengan hak tadi sudah digadaikan; 4) barang siapa dengan maksud yang sama, menggadaikan atau menyewakan tanah dengan hak tanah yang belum bersertifikat padahal diketahui bahwa orang lain yang mempunyai atau turut mempunyai hak atas tanah itu;

540

Pasal 384 KUHP.

TPPU & TPA

213

5) barang siapa dengan maksud yang sama, menjual atau menukarkan tanah dengan hak tanah yang belum bersertifikat yang telah digadaikan, padahal tidak diberitahukannya kepada pihak yang lain bahwa tanah itu telah digadaikan; 6) barang siapa dengan maksud yang sama menjual atau menukarkan tanah dengan hak tanah yang belum bersertifikat untuk suatu masa, padahal diketahui, bahwa tanah itu telah disewakan kepada orang lain untuk masa itu juga.541 II.3.18.6 Sanksi terkait makanan, minuman dan obat-obatan yang dipalsukan Barang siapa menjual, menawarkan atau menyerahkan barang makanan, minuman atau obat-obatan yang diketahuinya bahwa itu dipalsu, dan menyembunyikan hal itu, diancan dengan pidana penjara paling lama empat tahun.542 Bahan makanan, minuman atau obat-obatan itu dipalsu jika nilainya atau faedahnya menjadi kurang karena sudah dicampur dengan sesuatu bahan lain.543 II.3.18.7 Sanksi terkait ahli dan barang bangunan Diancam dengan pidana penjara paling lama tujuh tahun seorang pemborong atau ahli bangunan atau penjual bahan-bahan bangunan, yang pada waktu membuat bangunan atau pada waktu menyerahkan bahan-bahan bangunan, melakukan sesuatu perhuatan curang yang dapat membahayakan keamanan orang atau barang, atau keselamatan negara dalam keadaan perang.544

541 542 543 544

Pasal 385 KUHP. Pasal 386 Ayat (1) KUHP. Pasal 386 Ayat (2) KUHP. Pasal 387 Ayat (1) KUHP.

214 Ikhtisar Ketentuan AML & CFT

Diancam dengan pidana yang sama, barang siapa yang bertugas mengawasi pemhangunan atau penyerahan barang-barang itu, sengaja membiarkan perbuatan yang curang itu.545 II.3.18.8 Sanksi terkait barang keperluan Angkatan Laut atau Angkatan Darat Barang siapa pada waktu menyerahkan barang keperluan Angkatan Laut atau Angkatan Darat melakukan perbuat.an curang yang dapat membahayakan kesempatan negara dalam keadaan perang diancam dengan pidana penjara paling lama tujuh tahun.546 Diancam dengan pidana yang sama, barang siapa yang bertugas mengawasi penyerahan barangbarang itu, dengan sengaja membiarkan perbuatan yang curang itu.547 II.3.18.9 Sanksi terkait pemindahan dan penghancuran batas pekarangan Barang siapa dengan maksud untuk menguntungkan diri sendiri atau orang lain secara melawan hukum, menghancurkan, memindahkan, membuang atau membikin tak dapat dipakai sesuatu yang digunakan untuk menentukan batas pekarangan, diancam dengan pidana penjara paling lama dua tahun delapan bulan.548 II.3.18.10 Sanksi terkait penyiaran kabar bohong Barang siapa dengan maksud untuk menguntungkan diri sendiri atau orang lain secara melawan hukum, dengan menyiarkan kabar bohong yang menyebabkan harga barang-barang dagangan, dana-dana atau surat-surat berharga menjadi turun atau naik diancam dengan pidana
545 546 547 548

Pasal 387 Ayat (2) KUHP. Pasal 388 Ayat (1) Kitab KUHP. Pasal 388 Ayat (2) KUHP. Pasal 389 KUHP.

TPPU & TPA

215

penjara paling lama dua tahun delapan bulan.549 II.3.18.11 Sanksi terkait surat hutang sesuatu negara, perkumpulan, yayasan atau perseroan Barang siapa menerima kewajiban untuk, atau memberi pertolongan pada penempatan surat hutang sesuatu negara atau bagiannya, atau sesuatu lembaga umum sero, atau surat hutang sesuatu perkumpulan, yayasan atau perseroan, mencoba menggerakkan khalayak umum untuk pendaftaran atau penyertaannya, dengan sengaja menyembunyikan atau mengurangkan keadaan yang sebenarnya atau dengan membayangbayangkan keadaan yang palsu, diancam dengan pidana penjara paling lama empat tahun.550 II.3.17.12 Sanksi terkait pengumuman daftar atau neraca yang tidak benar Seorang pengusaha, seorang pengurus atau komisaris persero terbatas, maskapai andil Indonesia atau koperasi, yang sengaja mengumumkan daftar atau neraca yang tidak benar, diancam dengan pidana penjara paling lama satu tahun empat bulan.551 II.3.18.13 Sanksi terkait pembungkus palsu Barang siapa memasukkan ke Indonesia tanpa tujuan jelas untuk mengeluarkan lagi dari Indonesia, menjual, menamarkan, menyerahkan, membagikan atau mempunyai persediaan untuk dijual atau dibagi-bagikan. barang-barang yang diketahui atau sepatutnya harus diduganya bahwa pada barangnya itu sendiri atau pada bungkusnya dipakaikan secara palsu, nama firma atau merek yang menjadi hak orang lain atau untuk menyatakan asalnya barang, nama sebuah tempat tertentu, dengan ditambahkan nama atau firma
549 550 551

Pasal 390 KUHP. Pasal 391 KUHP. Pasal 392 KUHP.

216 Ikhtisar Ketentuan AML & CFT

yang khayal, ataupun pada barangnya sendiri atau pada bungkusnya ditirukan nama, firma atau merek yang demikian sekalipun dengan sedikit perubahan, diancam dengan pidana penjara paling lama empat bulan dua minggu atau pidana denda paling banyak sembilan ribu rupiah.552 Jika pada waktu melakukan kejahatan belurn lewat lima tahun sejak adanya pemidanaan yang menjadi tetap karena kejahatan semacam itu juga dapat dijatuhkan pidana penjara paling lama sembilan bulan.553 II.3.18.14 Sanksi terkait pemberian keterangan yang tidak benar dalam surat atau dokumen Seorang pengacara yang sengaja memasukkan atau menyuruh masukkan dalam surat permohonan cerai atau pisah meja dan ranjang, atau dalam surat permohonan pailit, keteranganketerangan tentang tempat tinggal atau kediaman tergugat atau penghutang, padahal diketahui atau sepatutnya harus diduganya bahwa keteranganketerangan itu tertentangan dengan yang sebenarnya, diancam dengan pidana penjara paling lama satu tahun.554 Diancam dengan pidana yang sama ialah si suami (istri) yang mengajukan gugatan atau si pemiutang yang memasukkan permintaan pailit, yang sengaja memberi keterangan palsu kepada pengacara yang dimaksudkan dalam ayat pertama.555 II.3.19 Pemalsuan Uang II.3.19.1 Larangan memalsukan uang dan mengedarkannya Barang siapa meniru atau memalsu mata uang atau kertas yang dikeluarkan oleh Negara atau
552 553 554 555

Pasal 393 KUHP. Pasal 393 Ayat (2) KUHP. Pasal 393bis Ayat (1) KUHP. Pasal 393bis Ayat (2) KUHP.

TPPU & TPA

217

Bank, dengan maksud untuk mengedarkan atau menyuruh mengedarkan mata uang atau uang kertas itu sebagai asli dan tidak dipalsu, diancam dengan pidana penjara paling lama lima belas tahun.556 Barang siapa dengan sengaja mengedarkan mata uang atau uang kertas yang dikeluarkan oleh Negara atau Bank sebagai mata uang atau uang kertas asli dan tidak dipalsu, padahal ditiru atau dipalsu olehnya sendiri, atau waktu diterima diketahuinya bahwa tidak asli atau dipalsu, ataupun barang siapa menyimpan atau memasukkan ke Indonesia mata uang dan uang kertas yang demikian, dengan maksud untuk mengedarkan atau menyuruh mengedarkan sebagai uang asli dan tidak dipalsu, diancam dengan pidana penjara paling lama lima belas tahun.557 Barang siapa dengan sengaja mengedarkan mata uang yang tidak asli, dipalsu atau dirusak atau uang kertas Negara atau Bank yang palsu atau dipalsu, diancam, kecuali berdasarkan pasal 245 dan 247, dengan pidana penjara paling lama empat bulan dua minggu atau pidana denda paling banyak empat ribu lima ratus rupiah.558 II.3.19.2 Larangan mengurangi nilai mata uang Barang siapa mengurangi nilai mata uang dengan maksud untuk mengeluarkan atau menyuruh mengedarkan uang yang dikurangi nilainya itu, diancam karena merusak uang dengan pidana penjara paling lama dua belas tahun.559 Barang siapa dengan sengaja mengedarkan mata uang yang dikurangi nilai olehnya sendiri atau yang merusaknya waktu diterima diketahui sebagai uang
556 557 558 559

Pasal 244 KUHP. Pasal 245 KUHP. Pasal 249 KUHP. Pasal 246 KUHP.

218 Ikhtisar Ketentuan AML & CFT

yang tidak rusak, ataupun barang siapa menyimpan atau memasukkan ke Indonesia uang yang demikian itu dengan maksud untuk mengedarkan atau menyuruh mengedarkannya sebagai uang yang tidak rusak, diancam dengan pidana penjara paling lama dua belas tahun.560 II.3.19.3 Larangan membuat dan memiliki persedian bahan untuk meniru, memalsu atau mengurangi nilai mata uang. Barangsiapa membuat atau mempunyai persediaan bahan atau benda yang diketahuinya bahwa itu digunakan untuk meniru, memalsu atau mengurangi nilai mata uang, atau untuk meniru atau memalsu uang kertas negara atau bank, diancam dengan pidana penjara paling lama enam tahun atau pidana denda paling banyak empat ribu lima ratus rupiah.561 Diancam dengan pidana penjara paling lama satu tahun atau pidana denda paling banyak sepuluh ribu rupiah, barang siapa dengan sengaja dan tanpa izin Pemerintah, menyimpan atau memasukkan ke Indonesia keping-keping atau lembar-lembaran perak, baik yang ada maupun yang tidak ada capnya atau dikerjakan sedikit, mungkin dianggap sebagai mata uang, padahal tidak nyata-nyata akan digunakan sebagai perhiasan atau tanda peringatan.562 II.3.20 Perjudian Diancam dengan pidana penjara paling lama sepuluh tahun atau pidana denda paling banyak dua puluh lima juta rupiah, barang siapa tanpa mendapat izin: 1) dengan sengaja menawarkan atau memberikan kesempatan

560 561 562

Pasal 247 KUHP. Pasal 250 KUHP. Pasal 251 KUHP.

TPPU & TPA

219

untuk permainan judi dan menjadikannya sebagai mata pencaharian, atau dengan sengaja turut serta dalam suatu perusahaan perjudian; 2) dengan sengaja menawarkan atau memberi kesempatan kepada umum untuk bermain judi atau dengan sengaja turut serta dalam perusahaan perjudian, dengan tidak peduli apakah untuk menggunakan kesempatan itu diadakan suatu syarat atau dipenuhi suatu tata-cara; 3) turut serta pada permainan judi sebagai mata pencaharian. Kalau yang bersalah melakukan kejahatan tersebut dalam menjalankan pekerjaannya, maka haknya untuk menjalankan pekerjaan itu dapat dicabut.563 Yang dimaksud dengan permainan judi adalah tiap-tiap permainan, di mana kemungkinan untuk menang pada umumnya bergantung pada peruntungan belaka,juga karena pemainnya lebih terlatih atau lebih mahir. Dalam pengertian permainan judi termasuk juga segala pertaruhan tentang keputusan perlombaan atau permainan lainnya yang tidak diadakan antara mereka yang turut berlomba atau bermain, demikian juga segala pertaruhan lainnya.564 Diancam dengan pidana penjara paling lama empat tahun atau pidana denda paling banyak sepuluh juta rupiah: 1) barangsiapa menggunakan kesempatan main judi, yang diadakan dengan melanggar ketentuan pasal 303; 2) barangsiapa ikut serta main judi di jalan umum atau di pinggir jalan umum atau di tempat yang dapat dikunjungi umum, kecuali kalau penguasa yang berwenang telah memberi izin untuk mengadakan perjudian itu.565 Bila ketika melakukan pelanggaran belum lewat dua tahun sejak pemidanaannya yang menjadi tetap karena salah satu dari

563 Pasal 303 Ayat (2) KUHP jo. Undang-Undang RI No. 7 Tahun 1974 tentang Perkawinan. 564 Pasal 303 Ayat (3) KUHP jo. Undang-Undang RI No. 7 Tahun 1974 tentang Perkawinan. 565 Pasal 303bis Ayat (1) KUHP jo. Undang-Undang RI No. 7 Tahun 1974 tentang Perkawinan.

220 Ikhtisar Ketentuan AML & CFT

pelanggaran ini, maka ia dapat dikenakan pidana penjara paling lama enam tahun atau pidana denda paling banyak lima belas juta rupiah.566 II.3.21 Prostitusi II.3.21.1 Larangan perbuatan cabul Barangsiapa dengan kekerasan atau dengan ancaman kekerasan memaksa seseorang untuk melakukan atau membiarkan dilakukan perbuatan cabul, diancam karena melakukan perbuatan yang menyerang kehormatan kesusilaan, dengan pidana penjara paling lama sembilan tahun.567 Diancam dengan pidana penjara paling lama tujuh tahun barangsiapa membujuk seseorang yang diketahuinya atau sepatutnya harus diduganya bahwa umur orang itu belum lima belas tahun, atau kalau umurnya tidak jelas, yang bersangkutan belum waktunya untuk dikawinkan, untuk melakukan atau membiarkan dilakukan perbuatan cabul, atau bersetubuh di luar perkawinan dengan orang lain.568 Barangsiapa dengan sengaja menyebabkan atau memudahkan perbuatan cabul oleh orang lain dengan orang lain dan menjadikannya sebagai pekerjaan atau kebiasaan, diancam dengan pidana penjara paling lama satu tahun empat bulan atau pidana denda paling banyak lima belas ribu rupiah.569 II.3.21.2 Larangan memperdagangkan wanita dan anak lakilaki yang belum dewasa Perdagangan wanita dan perdagangan anak laki laki yang belum dewasa, diancam dengan pidana
566 Pasal 303bis Ayat (2) KUHP jo. Undang-Undang RI No. 7 Tahun 1974 tentang Perkawinan. 567 568 569

Pasal 289 KUHP. Pasal 290 angka 3 KUHP. Pasal 296 KUHP.

TPPU & TPA

221

penjara paling lama enam tahun.570 Setiap orang yang melakukan perekrutan, pengangkutan, penampungan, pengiriman, pemindahan, atau penerimaan seseorang dengan ancaman kekerasan, penggunaan kekerasan, penculikan, penyekapan, pemalsuan, penipuan, penyalahgunaan kekuasaan atau posisi rentan, penjeratan utang atau memberi bayaran atau manfaat walaupun memperoleh persetujuan dari orang yang memegang kendali atas orang lain, untuk tujuan mengeksploitasi orang tersebut di wilayah negara Republik Indonesia, dipidana dengan pidana penjara paling singkat 3 (tiga) tahun dan paling lama 15 (lima belas) tahun dan pidana denda paling sedikit Rp120.000.000, 00 (seratus dua puluh juta rupiah) dan paling banyak Rp600.000.000, 00 (enam ratus juta rupiah).571 Jika perbuatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) mengakibatkan orang tereksploitasi, maka pelaku dipidana dengan pidana yang sama sebagaimana dimaksud pada ayat (1).572 Setiap orang yang menggunakan atau memanfaatkan korban tindak pidana perdagangan orang dengan cara melakukan persetubuhan atau perbuatan cabul lainnya dengan korban tindak pidana perdagangan orang, mempekerjakan korban tindak pidana perdagangan orang untuk meneruskan praktik eksploitasi, atau mengambil keuntungan dari hasil tindak pidana perdagangan orang dipidana dengan pidana yang sama sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2, Pasal 3, Pasal 4, Pasal 5, dan Pasal 6.573
570 571

Pasal 297 KUHP.

Pasal 2 Ayat (1) Undang-Undang RI No.21 Tahun 2007 Pemberantasan Tindak Pidana Perdagangan Orang.
572 Pasal 2 Ayat (2) Undang-Undang RI No.21 Tahun 2007 Pemberantasan Tindak Pidana Perdagangan Orang. 573 Pasal 12 Undang-Undang RI No.21 Tahun 2007 Pemberantasan Tindak Pidana Perdagangan Orang.

222 Ikhtisar Ketentuan AML & CFT

II.3.22 Di Bidang Perpajakan II.3.22.1 Sanksi terkait SPPT dan NPWP Setiap orang yang karena kealpaannya: a. tidak menyampaikan Surat Pemberitahuan; atau b. menyampaikan Surat Pemberitahuan, tetapi isinya tidak benar atau tidak lengkap, atau melampirkan keterangan yang isinya tidak benar sehingga dapat menimbulkan kerugian pada pendapatan negara dan perbuatan tersebut merupakan perbuatan setelah perbuatan yang pertama kali sebagaimana dimaksud dalam Pasal 13A, didenda paling sedikit 1 (satu) kali jumlah pajak terutang yang tidak atau kurang dibayar dan paling banyak 2 (dua) kali jumlah pajak terutang yang tidak atau kurang dibayar, atau dipidana kurungan paling singkat 3 (tiga) bulan atau paling lama 1 (satu) tahun.574 Setiap orang yang dengan sengaja: a. tidak mendaftarkan diri untuk diberikan Nomor Pokok Wajib Pajak atau tidak melaporkan usahanya untuk dikukuhkan sebagai Pengusaha Kena Pajak; b. menyalahgunakan atau menggunakan tanpa hak Nomor Pokok Wajib Pajak atau c. tidak menyampaikan Surat Pemberitahuan; d. menyampaikan Surat Pemberitahuan dan/atau keterangan yang isinya tidak benar atau tidak lengkap; e. menolak untuk dilakukan pemeriksaan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 29; f. memperlihatkan pembukuan, pencatatan, atau dokumen lain yang palsu atau dipalsukan

574 Pasal 38 Undang-Undang RI No. 16 Tahun 2009 tentang Penetapan Peraturan Pengganti Undang-Undang No. 5 Tahun 2008 tentang Perubahan Keempat Atas UndangUndang No. 6 Tahun 1983 tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara Kerja Perpajakan Menjadi Undang-Undang.

TPPU & TPA

223

seolah-olah benar, atau tidak menggambarkan keadaan yang sebenarnya; g. tidak menyelenggarakan pembukuan atau pencatatan di Indonesia, tidak memperlihatkan atau tidak meminjamkan buku, catatan, atau dokumen lain; h. tidak menyimpan buku, catatan, atau dokumen yang menjadi dasar pembukuan atau pencatatan dan dokumen lain termasuk hasil pengolahan data dari pembukuan yang dikelola secara elektronik atau diselenggarakan secara program aplikasi on-line di Indonesia sebagaimana dimaksud dalam Pasal 28 ayat (11); atau i. tidak menyetorkan pajak yang telah dipotong atau dipungut sehingga dapat menimbulkan kerugian pada pendapatan negara, dipidana dengan pidana penjara paling singkat 6 (enam) bulan dan paling lama 6 (enam) tahun dan denda paling sedikit 2 (dua) kali jumlah pajak terutang yang tidak atau kurang dibayar dan paling banyak 4 (empat) kali jumlah pajak terutang yang tidak atau kurang dibayar.575 Pidana sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditambahkan 1 (satu) kali menjadi 2 (dua) kali sanksi pidana apabila seseorang melakukan lagi tindak pidana di bidang perpajakan sebelum lewat 1 (satu) tahun, terhitung sejak selesainya menjalani pidana penjara yang dijatuhkan.576 Setiap orang yang melakukan percobaan untuk melakukan tindak pidana menyalahgunakan atau menggunakan tanpa hak Nomor Pokok Wajib Pajak atau Pengukuhan Pengusaha Kena Pajak sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b, atau menyampaikan Surat Pemberitahuan dan/atau

575 Pasal 39 Ayat (1) Undang-Undang RI No. 6 Tahun 1983 tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara Kerja Perpajakan Menjadi Undang-Undang. 576 Pasal 39 Ayat (2) Undang-Undang RI No. 6 Tahun 1983 tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara Kerja Perpajakan Menjadi Undang-Undang.

224 Ikhtisar Ketentuan AML & CFT

keterangan yang isinya tidak benar atau tidak lengkap, sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf d, dalam rangka mengajukan permohonan restitusi atau melakukan kompensasi pajak atau pengkreditan pajak, dipidana dengan pidana penjara paling singkat 6 (enam) bulan dan paling lama 2 (dua) tahun dan denda paling sedikit 2 (dua) kali jumlah restitusi yang dimohonkan dan/atau kompensasi atau pengkreditan yang dilakukan dan paling banyak 4 (empat) kali jumlah restitusi yang dimohonkan dan/atau kompensasi atau pengkreditan yang dilakukan”.577 Setiap orang yang dengan sengaja : a. menerbitkan dan/atau menggunakan faktur pajak, bukti pemungutan pajak, bukti pemotongan pajak, dan/atau bukti setoran pajak yang tidak berdasarkan transaksi yang sebenarnya; atau b. menerbitkan faktur pajak tetapi belum dikukuhkan sebagai Pengusaha Kena Pajak, dipidana dengan pidana penjara paling singkat 2 (dua) tahun dan paling lama 6 (enam) tahun serta denda paling sedikit 2 (dua) kali jumlah pajak dalam faktur pajak, bukti pemungutan pajak, bukti pemotongan pajak, dan/atau bukti setoran pajak dan paling banyak 6 (enam) kali jumlah pajak dalam faktur pajak, bukti pemungutan pajak, bukti pemotongan pajak, dan/atau bukti setoran pajak”.578 Tindak pidana di bidang perpajakan tidak dapat dituntut setelah lampau waktu sepuluh tahun sejak saat terhutangnya pajak, berakhirnya Masa Pajak, berakhirnya Bagian Tahun Pajak, atau berakhirnya

577 Pasal 39 Ayat (3) Undang-Undang RI No. 6 Tahun 1983 tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara Kerja Perpajakan Menjadi Undang-Undang. 578 Pasal 39 A Undang-Undang RI No. 6 Tahun 1983 tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara Kerja Perpajakan Menjadi Undang-Undang.

TPPU & TPA

225

Tahun Pajak yang bersangkutan.579 II.3.22.2 Sanksi terkait kerahasiaan wajib pajak Pejabat yang karena kealpaanya tidak memenuhi kewajiban merahasiakan hal sebagaimana dimaksud dalam Pasal 34 dipidana dengan pidana kurungan paling lama 1 (satu) tahun dan denda paling banyak Rp25.000.000,00 (dua puluh lima juta rupiah).580 Pejabat yang dengan sengaja tidak memenuhi kewajibannya atau seseorang yang menyebabkan tidak dipenuhinya kewajiban pejabat sebagaimana dimaksud dalam Pasal 34 dipidana dengan pidana penjara paling lama 2 (dua) tahun dan denda paling banyak Rp50.000.000,00 (lima puluh juta rupiah).581 II.3.22.3 Sanksi terkait penyelidikan, penyidikan dan penuntutan Penuntutan terhadap tindak pidana sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) hanya dilakukan atas pengaduan orang yang kerahasiaannya dilanggar.582 Setiap orang yang wajib memberikan keterangan atau bukti yang diminta sebagaimana dimaksud dalam Pasal 35 tetapi dengan sengaja tidak memberi keterangan atau bukti, atau memberi keterangan atau bukti yang tidak benar dipidana dengan pidana kurungan paling lama 1 (satu) tahun dan denda paling banyak Rp25.000.000,00 (dua puluh lima juta rupiah).583
579 Pasal 40 Undang-Undang RI No. 6 Tahun 1983 tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara Kerja Perpajakan Menjadi Undang-Undang. 580 Pasal 41 Ayat (1) Undang-Undang RI No. 6 Tahun 1983 tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara Kerja Perpajakan Menjadi Undang-Undang. 581 Pasal 41 Ayat (2) Undang-Undang RI No. 6 Tahun 1983 tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara Kerja Perpajakan Menjadi Undang-Undang. 582 Pasal 41 Ayat (3) Undang-Undang RI No. 6 Tahun 1983 tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara Kerja Perpajakan Menjadi Undang-Undang. 583 Pasal 41 A Undang-Undang RI No. 6 Tahun 1983 tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara Kerja Perpajakan Menjadi Undang-Undang.

226 Ikhtisar Ketentuan AML & CFT

Setiap orang yang dengan sengaja menghalangi atau mempersulit penyidikan tindak pidana di bidang perpajakan dipidana dengan pidana penjara paling lama 3 (tiga) tahun dan denda paling banyak Rp75.000.000,00 (tujuh puluh lima juta rupiah).584 Setiap orang yang dengan sengaja tidak memenuhi kewajiban sebagaimana dimaksud dalam Pasal 35A ayat (1) dipidana dengan pidana kurungan paling lama 1 (satu) tahun atau denda paling banyak Rp1.000.000.000,00 (satu miliar rupiah).585 Setiap orang yang dengan sengaja menyebabkan tidak terpenuhinya kewajiban pejabat dan pihak lain sebagaimana dimaksud dalam Pasal 35A ayat (1) dipidana dengan pidana kurungan paling lama 10 (sepuluh) bulan atau denda paling banyak Rp800.000.000,00 (delapan ratus juta rupiah).586 Setiap orang yang dengan sengaja tidak memberikan data dan informasi yang diminta oleh Direktur Jenderal Pajak sebagaimana dimaksud dalam Pasal 35A ayat (2) dipidana dengan pidana kurungan paling lama 10 (sepuluh) bulan atau denda paling banyak Rp800.000.000,00 (delapan ratus juta rupiah).587 Setiap orang yang dengan sengaja menyalahgunakan data dan informasi perpajakan sehingga menimbulkan kerugian kepada negara dipidana dengan pidana kurungan paling lama 1 (satu) tahun atau denda paling banyak Rp500.000.000,00 (lima ratus juta rupiah)”.588
584 Pasal 41 B Undang-Undang RI No. 6 Tahun 1983 tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara Kerja Perpajakan Menjadi Undang-Undang. 585 Pasal 41 C Ayat (1) Undang-Undang RI No. 6 Tahun 1983 tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara Kerja Perpajakan Menjadi Undang-Undang. 586 Pasal 41 C Ayat (2) Undang-Undang RI No. 6 Tahun 1983 tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara Kerja Perpajakan Menjadi Undang-Undang. 587 Pasal 41 C Ayat (3) Undang-Undang RI No. 6 Tahun 1983 tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara Kerja Perpajakan Menjadi Undang-Undang.

Pasal 41 C Ayat (4) Undang-Undang RI No. 6 Tahun 1983 tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara Kerja Perpajakan Menjadi Undang-Undang.

588

TPPU & TPA

227

Ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 39 dan Pasal 39A, berlaku juga bagi wakil, kuasa, pegawai dari Wajib Pajak, atau pihak lain yang menyuruh melakukan, yang turut serta melakukan, yang menganjurkan, atau yang membantu melakukan tindak pidana di bidang perpajakan.589 Ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 41A dan Pasal 41B berlaku juga bagi yang menyuruh melakukan, yang menganjurkan, atau yang membantu melakukan tindak pidana di bidang perpajakan.590 II.3.23 Di Bidang Kehutanan II.3.23.1 Sanksi terkait kelalaian dan pelanggaran di bidang kehutanan Barang siapa dengan sengaja melanggar ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 50 ayat (1) atau Pasal 50 ayat (2), diancam dengan pidana penjara paling lama 10 (sepuluh) tahun dan denda paling banyak Rp 5.000.000.000,00 (lima milyar rupiah).591 Barang siapa dengan sengaja melanggar ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 50 ayat (3) huruf a, huruf b, atau huruf c, diancam dengan pidana penjara paling lama 10 (sepuluh) tahun dan denda paling banyak Rp5.000.000.000,00 (lima milyar rupiah).592 Barang siapa dengan sengaja melanggar ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 50 ayat (3)
589 Pasal 43 Ayat (1) Undang-Undang RI No. 6 Tahun 1983 tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara Kerja Perpajakan Menjadi Undang-Undang. 590 Pasal 43 Ayat (2) Undang-Undang RI No. 6 Tahun 1983 tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara Kerja Perpajakan Menjadi Undang-Undang. 591 Pasal 78 Ayat (1) Undang-Undang RI No. 19 Tahun 2004 tentang Penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang No. 1 Tahun 2004 tentang Perbahan Atas UndangUndang No. 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan Menjadi Undang-Undang. 592 Pasal 78 Ayat (2) Undang-Undang RI No. 19 Tahun 2004 tentang Penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang No. 1 Tahun 2004 tentang Perbahan Atas UndangUndang No. 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan Menjadi Undang-Undang.

228 Ikhtisar Ketentuan AML & CFT

huruf d, diancam dengan pidana penjara paling lama 15 (lima belas) tahun dan denda paling banyak Rp5.000.000.000,00 (lima milyar rupiah).593 Barang siapa karena kelalaiannya melanggar ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 50 ayat (3) huruf d, diancam dengan pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun dan denda paling banyak Rp1.500.000.000,00 (satu milyar lima ratus juta rupiah).594 Barang siapa dengan sengaja melanggar ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 50 ayat (3) huruf e atau huruf f, diancam dengan pidana penjara paling lama 10 (sepuluh) tahun dan denda paling banyak Rp5.000.000.000,00 (lima milyar rupiah).595 Barang siapa dengan sengaja melanggar ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 38 ayat (4) atau Pasal 50 ayat (3) huruf g, diancam dengan pidana penjara paling lama 10 (sepuluh) tahun dan denda paling banyak Rp5.000.000.000,00 (lima milyar rupiah).596 Barang siapa dengan sengaja melanggar ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 50 ayat (3) huruf h, diancam dengan pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun dan denda paling banyak Rp10.000.000.000,00 (sepuluh milyar rupiah).597

593 Pasal 78 Ayat (3) Undang-Undang RI No. 19 Tahun 2004 tentang Penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang No. 1 Tahun 2004 tentang Perbahan Atas UndangUndang No. 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan Menjadi Undang-Undang. 594 Pasal 78 Ayat (4) Undang-Undang RI No. 19 Tahun 2004 tentang Penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang No. 1 Tahun 2004 tentang Perbahan Atas UndangUndang No. 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan Menjadi Undang-Undang.2004 595 Pasal 78 Ayat (5) Undang-Undang RI No. 19 Tahun 2004 tentang Penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang No. 1 Tahun 2004 tentang Perbahan Atas UndangUndang No. 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan Menjadi Undang-Undang. 596 Pasal 78 Ayat (6) Undang-Undang RI No. 19 Tahun 2004 tentang Penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang No. 1 Tahun 2004 tentang Perbahan Atas UndangUndang No. 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan Menjadi Undang-Undang. 597 Pasal 78 Ayat (7) Undang-Undang RI No. 19 Tahun 2004 tentang Penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang No. 1 Tahun 2004 tentang Perbahan Atas UndangUndang No. 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan Menjadi Undang-Undang.

TPPU & TPA

229

Barang siapa yang melanggar ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 50 ayat (3) huruf i, diancam dengan pidana penjara paling lama 3 (tiga) bulan dan denda paling banyak Rp10.000.000,00 (sepuluh juta rupiah).598 Barang siapa dengan sengaja melanggar ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 50 ayat (3) huruf j, diancam dengan pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun dan denda paling banyak Rp5.000.000.000,00 (lima milyar rupiah).599 Barang siapa dengan sengaja melanggar ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 50 ayat (3) huruf k, diancam dengan pidana penjara paling lama 3 (tiga) tahun dan denda paling banyak Rp1.000.000.000,00 (satu milyar rupiah).600 Barang siapa dengan sengaja melanggar ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 50 ayat (3) huruf l, diancam dengan pidana penjara paling lama 3 (tiga) tahun dan denda paling banyak Rp1.000.000.000,00 (satu milyar rupiah).601 Barang siapa dengan sengaja melanggar ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 50 ayat (3) huruf m, diancam dengan pidana penjara paling lama 1 (satu) tahun dan denda paling banyak Rp50.000.000,00 (lima puluh juta rupiah).602
598 Pasal 78 Ayat (8) Undang-Undang RI No. 19 Tahun 2004 tentang Penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang No. 1 Tahun 2004 tentang Perbahan Atas UndangUndang No. 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan Menjadi Undang-Undang. 599 Pasal 78 Ayat (9) Undang-Undang RI No. 19 Tahun 2004 tentang Penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang No. 1 Tahun 2004 tentang Perbahan Atas UndangUndang No. 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan Menjadi Undang-Undang. 600 Pasal 78 Ayat (10) Undang-Undang RI No. 19 Tahun 2004 tentang Penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang No. 1 Tahun 2004 tentang Perbahan Atas Undang-Undang No. 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan Menjadi Undang-Undang. 601 Pasal 78 Ayat (11) Undang-Undang RI No. 19 Tahun 2004 tentang Penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang No. 1 Tahun 2004 tentang Perbahan Atas Undang-Undang No. 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan Menjadi Undang-Undang.

Pasal 78 Ayat (12) Undang-Undang RI No. 19 Tahun 2004 tentang Penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang No. 1 Tahun 2004 tentang Perbahan Atas Undang-Undang No. 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan Menjadi Undang-Undang.

602

230 Ikhtisar Ketentuan AML & CFT

Tindak pidana sebagaimana dimaksud pada ayat (1), ayat (2), ayat (3), ayat (4), ayat (5), ayat (6), ayat (7), ayat (9), ayat (10), dan ayat (11) adalah kejahatan, dan tindak pidana sebagaimana dimaksud pada ayat (8) dan ayat (12) adalah pelanggaran.603 II.3.23.2 Tuntutan dan sanksi pidana terhadap pengurus badan hukum atau badan usaha Tindak pidana sebagaimana dimaksud dalam Pasal 50 ayat (1), ayat (2), dan ayat (3) apabila dilakukan oleh dan atau atas nama badan hukum atau badan usaha, tuntutan dan sanksi pidananya dijatuhkan terhadap pengurusnya, baik sendirisendiri maupun bersama-sama, dikenakan pidana sesuai dengan ancaman pidana masing-masing ditambah dengan 1/3 (sepertiga) dari pidana yang dijatuhkan.604 II.3.23.3 Larangan dan sanksi pidana pengrusakan hutan Semua hasil hutan dari hasil kejahatan dan pelanggaran dan atau alat-alat termasuk alat angkutnya yang dipergunakan untuk melakukan kejahatan dan atau pelanggaran sebagaimana dimaksud dalam pasal ini dirampas untuk Negara.605 Setiap orang dilarang merusak prasarana dan sarana perlindungan hutan.606

603 Pasal 78 Ayat (13) Undang-Undang RI No. 19 Tahun 2004 tentang Penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang No. 1 Tahun 2004 tentang Perbahan Atas Undang-Undang No. 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan Menjadi Undang-Undang. 604 Pasal 78 Ayat (14) Undang-Undang RI No. 19 Tahun 2004 tentang Penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang No. 1 Tahun 2004 tentang Perbahan Atas Undang-Undang No. 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan Menjadi Undang-Undang. 605 Pasal 78 Ayat (15 Undang-Undang RI No. 19 Tahun 2004 tentang Penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang No. 1 Tahun 2004 tentang Perbahan Atas Undang-Undang No. 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan Menjadi Undang-Undang. 606 Pasal 50 Ayat (1) Undang-Undang RI No. 19 Tahun 2004 tentang Penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang No. 1 Tahun 2004 tentang Perbahan Atas UndangUndang No. 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan Menjadi Undang-Undang.

TPPU & TPA

231

Setiap orang yang diberikan izin usaha pemanfaatan kawasan, izin usaha pemanfaatan jasa lingkungan, izin usaha pemanfaatan hasil hutan kayu dan bukan kayu, serta izin pemungutan hasil hutan kayu dan bukan kayu, dilarang melakukan kegiatan yang menimbulkan kerusakan hutan.607 Setiap orang dilarang: a. mengerjakan dan atau menggunakan dan atau menduduki kawasan hutan secara tidak sah; b. merambah kawasan hutan; c. melakukan penebangan pohon dalam kawasan hutan dengan radius atau jarak sampai dengan: 1. 500 (lima ratus) meter dari tepi waduk atau danau; 2. 200 (dua ratus) meter dari tepi mata air dan kiri kanan sungai di daerah rawa; 3. 100 (seratus) meter dari kiri kanan tepi sungai; 4. 50 (lima puluh) meter dari kiri kanan tepi anak sungai; 5. 2 (da) kali kedalaman jurang dari tepi jurang; 6. 130 (seratus tiga puluh) kali selisih pasang tertinggi dan pasang terendah dari tepi pantai. d. membakar hutan; e. menebang pohon atau memanen atau memungut hasil hutan di dalam hutan tanpa memiliki hak atau izin dari pejabat yang berwenang; f. menerima, membeli atau menjual, menerima tukar, menerima titipan, menyimpan, atau memiliki hasil hutan yang diketahui atau patut diduga berasal dari kawasan hutan yang diambil atau dipungut secara tidak sah; g. melakukan kegiatan penyelidikan umum atau eksplorasi atau eksploitasi bahan tambang di dalam kawasan hutan, tanpa izin Menteri;
607 Pasal 50 Ayat (2) Undang-Undang RI No. 19 Tahun 2004 tentang Penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang No. 1 Tahun 2004 tentang Perbahan Atas UndangUndang No. 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan Menjadi Undang-Undang.

232 Ikhtisar Ketentuan AML & CFT

h. mengangkut, menguasai, atau memiliki hasil hutan yang tidak dilengkapi bersama-sama dengan surat keterangan sahnya hasil hutan; i. menggembalakan ternak di dalam kawasan hutan yang tidak ditunjuk secara khusus untuk maksud tersebut oleh pejabat yang berwenang; j. membawa alat-alat berat dan atau alat-alat lainnya yang lazim atau patut diduga akan digunakan untuk mengangkut hasil hutan di dalam kawasan hutan, tanpa izin pejabat yang berwenang; k. membawa alat-alat yang lazim digunakan untuk menebang, memotong, atau membelah pohon di dalam kawasan hutan tanpa izin pejabat yang berwenang; l. membuang benda-benda yang dapat menyebabkan kebakaran dan kerusakan serta membahayakan keberadaan atau kelangsungan fungsi hutan ke dalam kawasan hutan; dan m.mengeluarkan, membawa, dan mengangkut tumbuh-tumbuhan dan satwa liar yang tidak dilindungi undang-undang yang berasal dari kawasan hutan tanpa izin pejabat yang berwenang.608 Barangsiapa dengan sengaja melakukan pelanggaran terhadap ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 19 ayat (1) dan Pasal 33 ayat (1) dipidana dengan pidana penjara paling lama 10 (sepuluh) tahun dan denda paling banyak Rp 200.000.000,00 (dua ratus juta rupiah).609 Barangsiapa dengan sengaja melakukan pelanggaran terhadap ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 21 ayat (1) dan ayat (2)
608 Pasal 50 Ayat (3) Undang-Undang RI No. 19 Tahun 2004 tentang Penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang No. 1 Tahun 2004 tentang Perbahan Atas UndangUndang No. 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan Menjadi Undang-Undang.

Pasal 40 Ayat (1) Undang-Undang RI No. 19 Tahun 2004 tentang Penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang No. 1 Tahun 2004 tentang Perbahan Atas UndangUndang No. 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan Menjadi Undang-Undang.

609

TPPU & TPA

233

serta Pasal 33 ayat (3) dipidana dengan pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun dan denda paling banyak Rp100.000.000,00(seratus juta rupiah).610 Barangsiapa karena kelalaiannya melakukan pelanggaran terhadap ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 19 ayat (1) dan Pasal 32 ayat (1) dipidana dengan pidana kurungan paling lama 1 (satu) tahun dan denda paling banyak Rp. 100.000.000,00 (seratusjuta rupiah).611 Barangsiapa karena kelalaiannya melakukan pelanggaran terhadap ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 21 ayat (1) dan ayat (2) serta Pasal 33 ayat (3) dipidana dengan pidana kurungan paling lama 1 (satu) tahun dan denda paling banyak Rp50.000.000,00 (lima puluh juta rupiah).612 Tindak pidana sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dan ayat (2) adalah kejahatan dan tindak pidana sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) dan ayat (4) adalah pelanggaran.613 Setiap orang dilarang melakukatn kegiatan yang dapat mengakibatkan perubahan terhadap keutuhan kawasan suaka alam.614 Setiap orang dilarang untuk : a. mengambil, menebang, memiliki, merusak, memusnahkan, memelihara, mengangkut, dan memperniagakan tumbuhan yang dilindungi

Pasal 40 Ayat (2) Undang-Undang RI No.5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistemnya.
611 Pasal 40 Ayat (3) Undang-Undang RI No.5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistemnya. 612 Pasal 40 Ayat (4) Undang-Undang RI No.5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistemnya. 613 Pasal 40 Ayat (5) Undang-Undang RI No.5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistemnya. 614 Pasal 19 Ayat (1) Undang-Undang RI No.5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistemnya.

610

234 Ikhtisar Ketentuan AML & CFT

atau bagianbagiannya dalam keadaan hidup atau mati; b. mengeluarkan tumbuhan yang dilindungi atau bagian-bagiannya dalam keadaan hidup atau mati dari suatu tempat di Indonesia ke tempat lain di dalam atau di luar Indonesia.615 II.3.23.4 Perlindungan terhadap satwa yang dilindungi Setiap orang dilarang untuk : a. menangkap, melukai, membunuh, menyimpan, memiliki, memelihara, mengangkut, dan memperniagakan satwa yang dilindungi dalam keadaan hidup; b. menyimpan, memiliki, memelihara, mengangkut, dan meperniagakan satwa yang dilindungi dalam keadaan mati; c. mengeluarkan satwa yang dilindungi dari suatu tempat di Indonesia ke tempat lain di dalam atau di luar Indonesia; d. memperniagakan, menyimpan atau memiliki kulit, tubuh atau bagian-bagian lain satwa yang dilindungi atau barang-barang yang dibuat dari bagian-bagian satwa tersebut atau mengeluarkannya dari suatu tempat di Indonesia ke tempat lain di dalam atau di luar Indonesia; e. mengambil, merusak, memusnahkan, memperniagakan, menyimpan atau memiliki telur dan/atau sarang satwa yang dilindungi.616 Setiap orang dilarang melakukan kegiatan yang dapat mengakibatkan perubahan terhadap keutuhan zona inti taman nasional.617
615 Pasal 21 Ayat (1) Undang-Undang RI No.5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistemnya. 616 Pasal 21 Ayat (2) Undang-Undang RI No.5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistemnya. 617 Pasal 33 Ayat (1) Undang-Undang RI No.5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistemnya.

TPPU & TPA

235

Setiap orang dilarang melakukan kegiatan yang tidak sesuai dengan fungsi zona pemanfaatan dan zona lain dari taman nasional, taman hutan raya, dan taman wisata alam.618 II.3.24 Di Bidang Lingkungan Hidup II.3.24.1 Sanksi pidana terhadap pencemaran dan/atau perusakan lingkungan hidup Barangsiapa yang secara melawan hukum dengan sengaja melakukan perbuatan yang mengakibatkan pencemaran dan/atau perusakan lingkungan hidup, diancam dengan pidana penjara paling lama 10 (sepuluh) tahun dan denda paling banyak Rp. 500.000.000,00 (lima ratus juta rupiah).619 Jika tindak pidana sebagaimana dimaksud pada ayat (1) mengakibatkan orang mati atau luka berat, pelaku tindak pidana diancam dengan pidana penjara paling lama 15 (lima belas) tahun dan denda paling banyak Rp. 750.000.000,00 (tujuh ratus lima puluh juta rupiah).620 Barangsiapa yang karena kealpaannya melakukan perbuatan yang mengakibatkan pencemaran dan/ atau perusakan lingkungan hidup, diancam dengan pidana penjara paling lama 3 (tiga) tahun dan denda paling banyak Rp. 100.000.000,00 (seratus juta rupiah).621 Jika tindak pidana sebagaimana dimaksud pada ayat (1) mengakibatkan orang mati atau luka berat, pelaku tindak pidana diancam dengan pidana

618 Pasal 33 Ayat (3) Undang-Undang RI No.5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistemnya. 619 Pasal 41 Ayat (1) Undang-Undang RI No.5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistemnya. 620 Pasal 41 Ayat (2) Undang-Undang RI No.5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistemnya. 621

Pasal 42 Ayat (1) Undang-Undang RI No. 23 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan

Hidup.

236 Ikhtisar Ketentuan AML & CFT

penjara paling lama 5 (lima) tahun dan denda paling banyak Rp. 150.000.000,00 (seratus lima puluh juta rupiah).622 Barangsiapa yang dengan melanggar ketentuan perundang-undangan yang berlaku, sengaja melepaskan atau membuang zat, energi, dan/atau komponen lain yang berbahaya atau beracun masuk di atas atau ke dalam tanah, ke dalam udara atau ke dalam air permukaan, melakukan impor, ekspor, memperdagangkan, mengangkut, menyimpan bahan tersebut, menjalankan instalasi yang berbahaya, padahal mengetahui atau sangat beralasan untuk menduga bahwa perbuatan tersebut dapat menimbulkan pencemaran dan/atau perusakan lingkungan hidup atau membahayakan kesehatan umum atau nyawa orang lain, diancam dengan pidana penjara paling lama 6 (enam) tahun dan denda paling banyak Rp. 300.000.000,00 (tiga ratus juta rupiah).623 II.3.24.2 Sanksi pidana terkait pemberian keterangan palsu Diancam dengan pidana yang sama dengan pidana sebagaimana dimaksud pada ayat (1), barang siapa yang dengan sengaja memberikan informasi palsu atau menghilangkan atau menyembunyikan atau merusak informasi yang diperlukan dalam kaitannya dengan perbuatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1), padahal mengetahui atau sangat beralasan untuk menduga bahwa perbuatan tersebut dapat menimbulkan pencemaran dan/atau perusakan lingkungan hidup atau membahayakan kesehatan umum atau nyawa orang lain.624

622

Pasal 42 Ayat (2) Undang-Undang RI No. 23 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Pasal 43 Ayat (1) Undang-Undang RI No. 23 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Pasal 43 Ayat (2) Undang-Undang RI No. 23 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan

Hidup.
623

Hidup.
624

Hidup.

TPPU & TPA

237

Jika tindak pidana sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) mengakibatkan orang mati atau luka berat, pelaku tindak pidana diancam dengan pidana penjara paling lama 9 (sembilan) tahun dan denda paling banyak Rp. 450.000.000,00 (empat ratus lima puluh juta rupiah).625 Barang siapa yang dengan melanggar ketentuan perundang-undangan yang berlaku, karena kealpaannya melakukan perbuatan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 43, diancam dengan pidana penjara paling lama 3 (tiga) tahun dan denda paling banyak Rp. 100.000.000,00 (seratus juta rupiah).626 Jika tindak pidana sebagaimana dimaksud pada ayat (1) mengakibatkan orang mati atau luka berat, pelaku tindak pidana diancam dengan pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun dan denda paling banyak Rp. 150.000.000,00 (seratus lima puluh juta rupiah).627 Jika tindak pidana sebagaimana dimaksud dalam Bab ini dilakukan oleh atau atas nama suatu badan hukum, perseroan, perserikatan, yayasan atau organisasi lain, ancaman pidana denda diperberat dengan sepertiganya.628 II.3.24.3 Sanksi pidana terkait badan hukum Jika tindak pidana sebagaimana dimaksud dalam Bab ini dilakukan oleh atau atas nama badan hukum, perseroan, perserikatan, yayasan atau organisasi lain, tuntutan pidana dilakukan dan

625

Pasal 43 Ayat (3) Undang-Undang RI No. 23 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Pasal 44 Ayat (1) Undang-Undang RI No. 23 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Pasal 44 Ayat (2) Undang-Undang RI No. 23 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Pasal 45 Undang-Undang RI No. 23 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup.

Hidup.
626

Hidup.
627

Hidup.
628

238 Ikhtisar Ketentuan AML & CFT

sanksi pidana serta tindakan tata tertib sebagaimana dimaksud dalam Pasal 47 dijatuhkan baik terhadap badan hukum, perseroan, perserikatan, yayasan atau organisasi lain tersebut maupun terhadap mereka yang memberi perintah untuk melakukan tindak pidana tersebut atau yang bertindak sebagai pemimpin dalam perbuatan itu atau terhadap kedua-duanya.629 Jika tindak pidana sebagaimana dimaksud dalam Bab ini, dilakukan oleh atau atas nama badan hukum, perseroan, perserikatan, yayasan atau organisasi lain, dan dilakukan oleh orang-orang, baik berdasarkan hubungan kerja maupun berdasar hubungan lain, yang bertindak dalam lingkungan badan hukum, perseroan, perserikatan, yayasan atau organisasi lain, tuntutan pidana dilakukan dan sanksi pidana dijatuhkan terhadap mereka yang memberi perintah atau yang bertindak sebagai pemimpin tanpa mengingat apakah orang-orang tersebut, baik berdasa hubungan kerja maupun berdasar hubungan lain, melakukan tindak pidana secara sendiri atau bersama-sama.630 Jika tuntutan dilakukan terhadap badan hukum, perseroan, perserikatan, yayasan atau organisasi lain, panggilan untuk menghadap dan penyerahan surat-surat panggilan itu ditujukan kepada pengurus di tempat tinggal mereka, atau di tempat pengurus melakukan pekerjaan yang tetap. 631 Jika tuntutan dilakukan terhadap badan hukum, perseroan, perserikatan, yayasan atau organisasi lain, yang pada saat penuntutan diwakili oleh bukan

629

Pasal 46 Ayat (1) Undang-Undang RI No. 23 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Pasal 46 Ayat (2) Undang-Undang RI No. 23 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Pasal 46 Ayat (3) Undang-Undang RI No. 23 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan

Hidup.
630

Hidup.
631

Hidup.

TPPU & TPA

239

pengurus, hakim dapat memerintahkan supaya pengurus menghadap sendiri di pengadilan. 632 II.3.24.4 Tindakan penertiban Selain ketentuan pidana sebagaimana dimaksud dalam Kitab Undang-undang Hukum Pidana dan Undang-undang ini, terhadap pelaku tindak pidana lingkungan hidup dapat pula dikenakan tindakan tata tertib berupa: a. Perampasan keuntungan yang diperoleh dari tindak pidana; dan atau b. Penutupan seluruhnya atau sebagian perusahaan; dan/atau c. Perbaikan akibat tindak pidana; dan/atau d. Mewajibkan mengerjakan apa yang dilalaikan tanpa hak; dan/atau e. Meniadakan apa yang dilalaikan tanpa hak; dan/ atau f. Menempatkan perusahaan di bawah pengampunan paling lama 3 (tiga) tahun.633 II.3.25 Di Bidang Kelautan dan/atau Perikanan II.3.25.1 Larangan penggunaan bahan kimia, biologis, atau peledak Setiap orang yang dengan sengaja di wilayah pengelolaan perikanan Republik Indonesia melakukan penangkapan ikan dan/atau pembudidayaan ikan dengan menggunakan bahan kimia, bahan biologis, bahan peledak, alat dan/ atau cara, dan/atau bangunan yang dapat merugikan dan/atau membahayakan kelestarian sumber daya ikan dan/atau lingkungannya sebagaimana dimaksud dalam Pasal 8 ayat (1), dipidana dengan pidana penjara paling lama 6 (enam) tahun dan denda paling banyak
632

Pasal 46 Ayat (4) Undang-Undang RI No. 23 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Pasal 47 Undang-Undang RI No. 23 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup.

Hidup.
633

240 Ikhtisar Ketentuan AML & CFT

Rp1.200.000.000, 00 (satu miliar dua ratus juta rupiah).634 Nakhoda atau pemimpin kapal perikanan, ahli penangkapan ikan, dan anak buah kapal yang dengan sengaja di wilayah pengelolaan perikanan Republik Indonesia melakukan penangkapan ikan dengan menggunakan bahan kimia, bahan biologis, bahan peledak, alat dan/atau cara, dan/atau bangunan yang dapat merugikan dan/atau membahayakan kelestarian sumber daya ikan dan/ atau lingkungannya sebagaimana dimaksud dalam Pasal 8 ayat (2), dipidana dengan pidana penjara paling lama 10 (sepuluh) tahun dan denda paling banyak Rp1.200.000.000, 00 (satu miliar dua ratus juta rupiah).635 Pemilik kapal perikanan, pemilik perusahaan perikanan, penanggung jawab perusahaan perikanan, dan/atau operator kapal perikanan yang dengan sengaja di wilayah pengelolaan perikanan Republik Indonesia melakukan usaha penangkapan ikan dengan menggunakan bahan kimia, bahan biologis, bahan peledak, alat dan/atau cara, dan/ atau bangunan yang dapat merugikan dan/atau membahayakan kelestarian sumber daya ikan dan/ atau lingkungannya sebagaimana dimaksud dalam Pasal 8 ayat (3), dipidana dengan pidana penjara paling lama 10 (sepuluh) tahun dan denda paling banyak Rp2.000.000.000, 00 (dua miliar rupiah).636 Pemilik perusahaan pembudidayaan ikan, kuasa pemilik perusahaan pembudidayaan ikan, dan/atau penanggung jawab perusahaan pembudidayaan ikan yang dengan sengaja melakukan usaha pembudidayaan ikan di wilayah pengelolaan perikanan Republik Indonesia menggunakan bahan
634 635 636

Pasal 84 Ayat (1) Undang-Undang RI No.31Tahun 2004 tentang Perikanan. Pasal 84 Ayat (2) Undang-Undang RI No.31Tahun 2004 tentang Perikanan. Pasal 84 Ayat (3) Undang-Undang RI No.31Tahun 2004 tentang Perikanan.

TPPU & TPA

241

kimia, bahan biologis, bahan peledak, alat dan/ atau cara, dan/atau bangunan yang dapat merugikan dan/atau membahayakan kelestarian sumber daya ikan dan/atau lingkungannya sebagaimana dimaksud dalam Pasal 8 ayat (4), dipidana dengan pidana penjara paling lama 10 (sepuluh) tahun dan denda paling banyak Rp2.000.000.000, 00 (dua miliar rupiah).637 Setiap orang dilarang melakukan penangkapan ikan dan/atau pembudidayaan ikan dengan menggunakan bahan kimia, bahan biologis, bahan peledak, alat dan/atau cara, dan/atau bangunan yang dapat merugikan dan/atau membahayakan kelestarian sumber daya ikan dan/atau lingkungannya di wilayah pengelolaan perikanan Republik Indonesia.638 Nakhoda atau pemimpin kapal perikanan, ahli penangkapan ikan, dan anak buah kapal yang melakukan penangkapan ikan dilarang menggunakan bahan kimia, bahan biologis, bahan peledak, alat dan/atau cara, dan/atau bangunan yang dapat merugikan dan/ atau membahayakan kelestarian sumber daya ikan dan/atau lingkungannya di wilayah pengelolaan perikanan Republik Indonesia.639 Pemilik kapal perikanan, pemilik perusahaan perikanan, penanggung jawab perusahaan perikanan, dan/atau operator kapal perikanan dilarang menggunakan bahan kimia, bahan biologis, bahan peledak, alat dan/atau cara, dan/ atau bangunan yang dapat merugikan dan/atau membahayakan kelestarian sumber daya ikan dan/ atau lingkungannya di wilayah pengelolaan perikanan Republik Indonesia.640
637 638 639 640

Pasal 84 Ayat (4) Undang-Undang RI No.31Tahun 2004 tentang Perikanan. Pasal 8 Ayat (1) Undang-Undang RI No.31Tahun 2004 tentang Perikanan. Pasal 8 Ayat (2) Undang-Undang RI No.31Tahun 2004 tentang Perikanan. Pasal 8 Ayat (3) Undang-Undang RI No.31Tahun 2004 tentang Perikanan.

242 Ikhtisar Ketentuan AML & CFT

Pemilik perusahaan pembudidayaan ikan, kuasa pemilik perusahaan pembudidayaan ikan, dan/atau penanggung jawab perusahaan pembudidayaan ikan yang melakukan usaha pembudidayaan ikan dilarang menggunakan bahan kimia, bahan biologis, bahan peledak, alat dan/atau cara, dan/ atau bangunan yang dapat merugikan dan/atau membahayakan kelestarian sumber daya ikan dan/ atau lingkungannya di wilayah pengelolaan perikanan Republik Indonesia.641 II.3.25.2 Ketentuan alat penangkap ikan dan alat-alat bantunya Setiap orang yang dengan sengaja di wilayah pengelolaan perikanan Republik Indonesia memiliki, menguasai, membawa, dan/atau menggunakan alat penangkapan ikan dan/atau alat bantu penangkapan ikan yang berada di kapal penangkap ikan yang tidak sesuai dengan ukuran yang ditetapkan, alat penangkapan ikan yang tidak sesuai dengan persyaratan, atau standar yang ditetapkan untuk tipe alat tertentu dan/atau alat penangkapan ikan yang dilarang sebagaimana dimaksud dalam Pasal 9, dipidana dengan pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun dan denda paling banyak Rp2.000.000.000, 00 (dua miliar rupiah).642 Setiap orang dilarang memiliki, menguasai, membawa, dan/atau menggunakan di kapal penangkap ikan di wilayah pengelolaan perikanan Republik Indonesia: a. alat penangkapan ikan dan/atau alat bantu penangkapan ikan yang tidak sesuai dengan ukuran yang ditetapkan; b. alat penangkapan ikan yang tidak sesuai dengan persyaratan atau standar yang ditetapkan untuk tipe alat tertentu; dan/atau
641 642

Pasal 8 Ayat (4) Undang-Undang RI No.31Tahun 2004 tentang Perikanan. Pasal 85 Undang-Undang RI No.31Tahun 2004 tentang Perikanan.

TPPU & TPA

243

c. alat penangkapan ikan yang dilarang.643 II.3.25.3 Sanksi pidana terkait pencemaran dan/atau pengrusakan sumber daya ikan dan/atau lingkungannya Setiap orang yang dengan sengaja di wilayah pengelolaan perikanan Republik Indonesia melakukan perbuatan yang mengakibatkan pencemaran dan/atau kerusakan sumber daya ikan dan/atau lingkungannya sebagaimana dimaksud dalam Pasal 12 ayat (1), dipidana dengan pidana penjara paling lama 10 (sepuluh) tahun dan denda paling banyak Rp2.000.000.000, 00 (dua miliar rupiah).644 Setiap orang yang dengan sengaja di wilayah pengelolaan perikanan Republik Indonesia membudidayakan ikan yang dapat membahayakan sumber daya ikan dan/atau lingkungan sumber daya ikan dan/atau kesehatan manusia sebagaimana dimaksud dalam Pasal 12 ayat (2), dipidana dengan pidana penjara paling lama 6 (enam) tahun dan denda paling banyak Rp1.500.000.000, 00 (satu miliar lima ratus juta rupiah).645 Setiap orang yang dengan sengaja di wilayah pengelolaan perikanan Republik Indonesia membudidayakan ikan hasil rekayasa genetika yang dapat membahayakan sumber daya ikan dan/ atau lingkungan sumber daya ikan dan/atau kesehatan manusia sebagaimana dimaksud dalam Pasal 12 ayat (3), dipidana dengan pidana penjara paling lama 6 (enam) tahun dan denda paling banyak Rp1.500.000.000, 00 (satu miliar lima ratus juta rupiah).646

643 644 645 646

Pasal 9 Undang-Undang RI No.31Tahun 2004 tentang Perikanan. Pasal 86 Ayat (1) Undang-Undang RI No.31Tahun 2004 tentang Perikanan. Pasal 86 Ayat (1) Undang-Undang RI No.31Tahun 2004 tentang Perikanan. Pasal 86 Ayat (1) Undang-Undang RI No.31Tahun 2004 tentang Perikanan.

244 Ikhtisar Ketentuan AML & CFT

Setiap orang yang dengan sengaja di wilayah pengelolaan perikanan Republik Indonesia menggunakan obat-obatan dalam pembudidayaan ikan yang dapat membahayakan sumber daya ikan dan/atau lingkungan sumber daya ikan dan/atau kesehatan manusia sebagaimana dimaksud dalam Pasal 12 ayat (4), dipidana dengan pidana penjara paling lama 6 (enam) tahun dan denda paling banyak Rp1.500.000.000, 00 (satu miliar lima ratus juta rupiah).647 Setiap orang dilarang melakukan perbuatan yang mengakibatkan pencemaran dan/atau kerusakan sumber daya ikan dan/atau lingkungannya di wilayah pengelolaan perikanan Republik Indonesia.648 Setiap orang dilarang membudidayakan ikan yang dapat membahayakan sumber daya ikan, lingkungan sumber daya ikan, dan/atau kesehatan manusia di wilayah pengelolaan perikanan Republik Indonesia.649 II.3.25.4 Larangan melakukan rekayasa genetika dan penggunaan obat-obatan terlarang Setiap orang dilarang membudidayakan ikan hasil rekayasa genetika yang dapat membahayakan sumber daya ikan, lingkungan sumber daya ikan, dan/atau kesehatan manusia di wilayah pengelolaan perikanan Republik Indonesia.650 Setiap orang dilarang menggunakan obat-obatan dalam pembudidayaan ikan yang dapat membahayakan sumber daya ikan, lingkungan sumber daya ikan, dan/atau kesehatan manusia di wilayah pengelolaan perikanan Republik Indonesia.651
647 648 649 650 651

Pasal 86 Ayat (1) Undang-Undang RI No.31Tahun 2004 tentang Perikanan. Pasal 12 Ayat (1) Undang-Undang RI No.31Tahun 2004 tentang Perikanan. Pasal 12 Ayat (2) Undang-Undang RI No.31Tahun 2004 tentang Perikanan. Pasal 12 Ayat (3) Undang-Undang RI No.31Tahun 2004 tentang Perikanan. Pasal 12 Ayat (4) Undang-Undang RI No.31Tahun 2004 tentang Perikanan.

TPPU & TPA

245

Setiap orang yang dengan sengaja di wilayah pengelolaan perikanan Republik Indonesia merusak plasma nutfah yang berkaitan dengan sumber daya ikan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 14 ayat (4), dipidana dengan pidana penjara paling lama 2 (dua) tahun dan denda paling banyak Rp1.000.000.000, 00 (satu miliar rupiah).652 Setiap orang yang dengan sengaja memasukkan, megeluarkan, mengadakan, mengedarkan, dan/ atau memelihara ikan yang merugikan masyarakat, pembudidayaan ikan, sumber daya ikan, dan/atau lingkungan sumber daya ikan ke dalam dan/atau ke luar wilayah pengelolaan perikanan Republik Indonesia sebagaimana dimaksud dalam Pasal 16 ayat (1), dipidana dengan pidana penjara paling lama 6 (enam) tahun dan denda paling banyak Rp1.500.000.000, 00 (satu miliar lima ratus juta rupiah).653 Setiap orang dilarang memasukkan, mengeluarkan mengadakan, mengedarkan, dan/atau memelihara ikan yang merugikan masyarakat, pembudidayaan ikan, sumber daya ikan, dan/atau lingkungan sumber daya ikan ke dalam dan/atau ke luar wilayah pengelolaan perikanan Republik Indonesia.654 II.3.25.5 Sanksi pidana terkait rusaknya plasma nutfah Setiap orang yang karena kelalaiannya di wilayah pengelolaan perikanan Republik Indonesia mengakibatkan rusaknya plasma nutfah yang berkaitan dengan sumber daya ikan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 14 ayat (4), dipidana dengan pidana penjara paling lama 1 (satu) tahun dan denda paling banyak Rp500.000.000, 00 (lima ratus juta rupiah).655
652 653 654 655

Pasal 87 Ayat (1) Undang-Undang RI No.31Tahun 2004 tentang Perikanan. Pasal 88 Undang-Undang RI No.31Tahun 2004 tentang Perikanan. Pasal 16 Ayat (1) Undang-Undang RI No.31Tahun 2004 tentang Perikanan. Pasal 87 Ayat (2) Undang-Undang RI No.31Tahun 2004 tentang Perikanan.

246 Ikhtisar Ketentuan AML & CFT

Setiap orang dilarang merusak plasma nutfah yang berkaitan dengan sumber daya ikan.656 II.3.25.6 Ketentuan penanganan dan pengolahan ikan Setiap orang yang melakukan penanganan dan pengolahan ikan yang tidak memenuhi dan tidak menerapkan persyaratan kelayakan pengolahan ikan, sistem jaminan mutu, dan keamanan hasil perikanan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 20 ayat (3), dipidana dengan pidana penjara paling lama 1 (satu) tahun dan denda paling banyak Rp800.000.000, 00 (delapan ratus juta rupiah).657 Setiap orang yang melakukan penanganan dan pengolahan ikan wajib memenuhi dan menerapkan persyaratan kelayakan pengolahan ikan, sistem jaminan mutu, dan keamanan hasil perikanan.658 II.3.25.7 Ketentuan memasukkan ke dan mengeluarkan ikan dari wilayah Republik Indonesia Setiap orang yang dengan sengaja melakukan pemasukan atau pengeluaran ikan dan/atau hasil perikanan dari dan/atau ke wilayah Republik Indonesia yang tidak dilengkapi sertifikat kesehatan untuk konsumsi manusia sebagaimana dimaksud dalam Pasal 21, dipidana dengan pidana penjara paling lama 1 (satu) tahun dan denda paling banyak Rp800.000.000, 00 (delapan ratus juta rupiah).659 Setiap orang yang melakukan pemasukan atau pengeluaran ikan dan/atau hasil perikanan dari dan/ atau ke wilayah Republik Indonesia harus melengkapinya dengan sertifikat kesehatan untuk konsumsi manusia.660

656 657 658 659 660

Pasal 14 Ayat (4) Undang-Undang RI No.31Tahun 2004 tentang Perikanan. Pasal 89 Undang-Undang RI No.31Tahun 2004 tentang Perikanan. Pasal 20 Ayat (3) Undang-Undang RI No.31Tahun 2004 tentang Perikanan. Pasal 90 Undang-Undang RI No.31Tahun 2004 tentang Perikanan. Pasal 21 Undang-Undang RI No.31Tahun 2004 tentang Perikanan.

TPPU & TPA

247

II.3.25.8

Ketentuan penggunaan bahan makanan ikan Setiap orang yang dengan sengaja menggunakan bahan baku, bahan tambahan makanan, bahan penolong, dan/atau alat yang membahayakan kesehatan manusia dan/atau lingkungan dalam melaksanakan penanganan dan pengolahan ikan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 23 ayat (1), dipidana dengan pidana penjara paling lama 6 (enam) tahun dan denda paling banyak Rp1.500.000.000, 00 (satu miliar lima ratus juta rupiah).661 Setiap orang dilarang menggunakan bahan baku, bahan tambahan makanan, bahan penolong, dan/ atau alat yang membahayakan kesehatan manusia dan/atau lingkungan dalam melaksanakan penanganan dan pengolahan ikan.662

II.3.25.9

Ketentuan pembudibudayaan ikan Setiap orang yang dengan sengaja di wilayah pengelolaan perikanan Republik Indonesia melakukan usaha perikanan di bidang penangkapan, pembudidayaan, pengangkutan, pengolahan, dan pemasaran ikan, yang tidak memiliki SIUP sebagaimana dimaksud dalam Pasal 26 ayat (1), dipidana dengan pidana penjara paling lama 8 (delapan) tahun dan denda paling banyak Rp1.500.000.000, 00 (satu miliar lima ratus juta rupiah).663 Setiap orang yang melakukan usaha perikanan di bidang penangkapan, pembudidayaan, pengangkutan, pengolahan, dan pemasaran ikan di wilayah pengelolaan perikanan Republik Indonesia wajib memiliki SIUP.664

661 552 663 664

Pasal 91 Undang-Undang RI No.31Tahun 2004 tentang Perikanan. Pasal 23 Ayat (1) Undang-Undang RI No.31Tahun 2004 tentang Perikanan. Pasal 92 Undang-Undang RI No.31Tahun 2004 tentang Perikanan. Pasal 26 Ayat (1) Undang-Undang RI No.31Tahun 2004 tentang Perikanan.

248 Ikhtisar Ketentuan AML & CFT

II.3.25.10 Ketentuan terkait kapal penangkap ikan dan pengangkutannya Setiap orang yang memiliki dan/atau mengoperasikan kapal penangkap ikan berbendera Indonesia melakukan penangkapan ikan di wilayah pengelolaan perikanan Republik Indonesia dan/atau di laut lepas, yang tidak memiliki SIPI sebagaimana dimaksud dalam Pasal 27 ayat (1), dipidana dengan pidana penjara paling lama 6 (enam) tahun dan denda paling banyak Rp2.000.000.000, 00 (dua miliar rupiah).665 Setiap orang yang memiliki dan/atau mengoperasikan kapal penangkap ikan berbendera asing melakukan penangkapan ikan di wilayah pengelolaan perikanan Republik Indonesia, yang tidak memiliki SIPI sebagaimana dimaksud dalam Pasal 27 ayat (2), dipidana dengan pidana penjara paling lama 6 (enam) tahun dan denda paling banyak Rp20.000.000.000, 00 (dua puluh miliar rupiah).666 Setiap orang yang memiliki dan/atau mengoperasikan kapal penangkap ikan berbendera Indonesia yang dipergunakan untuk melakukan penangkapan ikan di wilayah pengelolaan perikanan Republik Indonesia dan/atau laut lepas wajib memiliki SIPI.667 Setiap orang yang memiliki dan/atau mengoperasikan kapal penangkap ikan berbendera asing yang dipergunakan untuk melakukan penangkapan ikan di wilayah pengelolaan perikanan Republik Indonesia wajib memiliki SIPI.668

665 666 667 668

Pasal 93 Ayat (1) Undang-Undang RI No.31Tahun 2004 tentang Perikanan. Pasal 93 Ayat (2) Undang-Undang RI No.31Tahun 2004 tentang Perikanan. Pasal 27 Ayat (1) Undang-Undang RI No.31Tahun 2004 tentang Perikanan. Pasal 27 Ayat (2) Undang-Undang RI No.31Tahun 2004 tentang Perikanan.

TPPU & TPA

249

Setiap orang yang memiliki dan/atau mengoperasikan kapal pengangkut ikan di wilayah pengelolaan perikanan Republik Indonesia yang melakukan pengangkutan ikan atau kegiatan yang terkait yang tidak memiliki SIKPI sebagaimana dimaksud dalam Pasal 28 ayat (1), dipidana dengan pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun dan denda paling banyak Rp1.500.000.000, 00 (satu miliar lima ratus juta rupiah).669 Setiap orang yang memiliki dan/atau mengoperasikan kapal pengangkut ikan di wilayah pengelolaan perikanan Republik Indonesia wajib memiliki SIKPI.670 Setiap orang yang membangun, mengimpor, atau memodifikasi kapal perikanan yang tidak mendapat persetujuan terlebih dahulu sebagaimana dimaksud dalam Pasal 35 ayat (1), dipidana dengan pidana penjara paling lama 1 (satu) tahun dan denda paling banyak Rp600.000.000, 00 (enam ratus juta rupiah).671 Setiap orang yang membangun, mengimpor, atau memodifikasi kapal perikanan wajib terlebih dahulu mendapat persetujuan Menteri.672 Setiap orang yang mengoperasikan kapal perikanan di wilayah pengelolaan perikanan Republik Indonesia yang tidak mendaftarkan kapal perikanannya sebagai kapal perikanan Indonesia sebagaimana dimaksud dalam Pasal 36 ayat (1), dipidana dengan pidana penjara paling lama 1 (satu) tahun dan denda paling banyak Rp800.000.000, 00 (delapan ratus juta rupiah).673 Kapal perikanan milik orang Indonesia yang
669 670 671 672 673

Pasal 94 Undang-Undang RI No.31Tahun 2004 tentang Perikanan. Pasal 28 Ayat (1) Undang-Undang RI No.31Tahun 2004 tentang Perikanan. Pasal 95 Undang-Undang RI No.31Tahun 2004 tentang Perikanan. Pasal 35 Ayat (1) Undang-Undang RI No.31Tahun 2004 tentang Perikanan. Pasal 96 Undang-Undang RI No.31Tahun 2004 tentang Perikanan.

250 Ikhtisar Ketentuan AML & CFT

dioperasikan di wilayah pengelolaan perikanan Republik Indonesia wajib didaftarkan terlebih dahulu sebagai kapal perikanan Indonesia.674 Nakhoda yang mengoperasikan kapal penangkap ikan berbendera asing yang tidak memiliki izin penangkapan ikan, yang selama berada di wilayah pengelolaan perikanan Republik Indonesia tidak menyimpan alat penangkapan ikan di dalam palka sebagaimana dimaksud dalam Pasal 38 ayat (1), dipidana dengan pidana denda paling banyak Rp500.000.000, 00 (lima ratus juta rupiah).675 Nakhoda yang mengoperasikan kapal penangkap ikan berbendera asing yang telah memiliki izin penangkapan ikan dengan 1 (satu) jenis alat penangkapan ikan tertentu pada bagian tertentu di ZEEI yang membawa alat penangkapan ikan lainnya sebagaimana dimaksud dalam Pasal 38 ayat (2), dipidana dengan pidana denda paling banyak Rp1.000.000.000, 00 (satu miliar rupiah).676 Nakhoda yang mengoperasikan kapal penangkap ikan berbendera asing yang telah memiliki izin penangkapan ikan, yang tidak menyimpan alat penangkapan ikan di dalam palka selama berada di luar daerah penangkapan ikan yang diizinkan di wilayah pengelolaan perikanan Republik Indonesia sebagaimana dimaksud dalam Pasal 38 ayat (3), dipidana dengan pidana denda paling banyak Rp500.000.000, 00 (lima ratus juta rupiah).677 Setiap kapal penangkap ikan berbendera asing yang tidak memiliki izin penangkapan ikan selama berada di wilayah pengelolaan perikanan Republik Indonesia wajib menyimpan alat penangkapan ikan di dalam palka.678
674 675 676 677 678

Pasal 36 Ayat (1) Undang-Undang RI No.31Tahun 2004 tentang Perikanan. Pasal 97 Ayat (1) Undang-Undang RI No.31Tahun 2004 tentang Perikanan. Pasal 97 Ayat (2) Undang-Undang RI No.31Tahun 2004 tentang Perikanan. Pasal 97 Ayat (3) Undang-Undang RI No.31Tahun 2004 tentang Perikanan. Pasal 38 Ayat (1) Undang-Undang RI No.31Tahun 2004 tentang Perikanan.

TPPU & TPA

251

Setiap kapal penangkap ikan berbendera asing yang telah memiliki izin penangkapan ikan dengan 1 (satu) jenis alat penangkapan ikan tertentu pada bagian tertentu di ZEEI dilarang membawa alat penangkapan ikan lainnya.679 Setiap kapal penangkap ikan berbendera asing yang telah memiliki izin penangkapan ikan wajib menyimpan alat penangkapan ikan di dalam palka selama berada di luar daerah penangkapan ikan yang diizinkan di wilayah pengelolaan perikanan Republik Indonesia.680 Nakhoda yang berlayar tidak memiliki surat izin berlayar kapal perikanan yang dikeluarkan oleh syahbandar sebagaimana dimaksud dalam Pasal 42 ayat (2), dipidana dengan pidana penjara paling lama 1 (satu) tahun dan denda paling banyak Rp200.000.000, 00 (dua ratus juta rupiah).681 Setiap kapal perikanan yang akan berlayar dari pelabuhan perikanan wajib memiliki surat izin berlayar kapal perikanan yang dikeluarkan oleh syahbandar.682 II.3.25.11 Ketentuan terkait penelitian di bidang perikanan Setiap orang asing yang melakukan penelitian perikanan di wilayah pengelolaan perikanan Republik Indonesia yang tidak memiliki izin dari Pemerintah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 55 ayat (1), dipidana dengan pidana penjara paling lama 1 (satu) tahun dan denda paling banyak Rp1.000.000.000, 00 (satu miliar rupiah).683 Setiap orang asing yang melakukan penelitian perikanan di wilayah pengelolaan perikanan

679 680 681 682 683

Pasal 38 Ayat (2) Undang-Undang RI No.31Tahun 2004 tentang Perikanan. Pasal 38 Ayat (2) Undang-Undang RI No.31Tahun 2004 tentang Perikanan. Pasal 98 Undang-Undang RI No.31Tahun 2004 tentang Perikanan. Pasal 42 Ayat (2) Undang-Undang RI No.31Tahun 2004 tentang Perikanan. Pasal 99 Undang-Undang RI No.31Tahun 2004 tentang Perikanan.

252 Ikhtisar Ketentuan AML & CFT

Republik Indonesia wajib terlebih dahulu memperoleh izin dari Pemerintah.684 Setiap orang yang melanggar ketentuan yang ditetapkan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7 ayat (2) dipidana dengan pidana denda paling banyak Rp250.000.000, 00 (dua ratus lima puluh juta rupiah).685 II.3.25.12 Ketentuan terkait usaha dan/atau pengelolaan perikanan Setiap orang yang melakukan usaha dan/atau kegiatan pengelolaan perikanan wajib mematuhi ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) mengenai: a. jenis, jumlah, dan ukuran alat penangkapan ikan; b. jenis, jumlah, ukuran, dan penempatan alat bantu penangkapan ikan; c. daerah, jalur, dan waktu atau musim penangkapan ikan; d. persyaratan atau standar prosedur operasional penangkapan ikan; e. sistem pemantauan kapal perikanan; f. jenis ikan baru yang akan dibudidayakan; g. jenis ikan dan wilayah penebaran kembali serta penangkapan ikan berbasis budi daya; h. pembudidayaan ikan dan perlindungan-nya; i. pencegahan pencemaran dan kerusakan sumber daya ikan serta lingkungannya; j. ukuran atau berat minimum jenis ikan yang boleh ditangkap; k. suaka perikanan; l. wabah dan wilayah wabah penyakit ikan; m.jenis ikan yang dilarang untuk diperdagangkan, dimasukkan, dan dikeluarkan ke dan dari wilayah Republik Indonesia; dan n. jenis ikan yang dilindungi.686
684 685 686

Pasal 55 Ayat (1) Undang-Undang RI No.31Tahun 2004 tentang Perikanan. Pasal 100 Undang-Undang RI No.31Tahun 2004 tentang Perikanan. Pasal 7 Ayat (2) Undang-Undang RI No.31Tahun 2004 tentang Perikanan.

TPPU & TPA

253

Dalam hal tindak pidana sebagaimana dimaksud dalam Pasal 84 ayat (1), Pasal 85, Pasal 86, Pasal 87, Pasal 88, Pasal 89, Pasal 90, Pasal 91, Pasal 92, Pasal 93, Pasal 94, Pasal 95, dan Pasal 96 dilakukan oleh korporasi, tuntutan dan sanksi pidananya dijatuhkan terhadap pengurusnya dan pidana dendanya ditambah 1/3 (sepertiga) dari pidana yang dijatuhkan.687 Ketentuan tentang pidana penjara dalam UndangUndang ini tidak berlaku bagi tindak pidana di bidang perikanan yang terjadi di wilayah pengelolaan perikanan Republik Indonesia sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5 ayat (1) huruf b, kecuali telah ada perjanjian antara Pemerintah Republik Indonesia dengan pemerintah negara yang bersangkutan.688 Wilayah pengelolaan perikanan Republik Indonesia untuk penangkapan ikan dan/atau pembudidayaan ikan meliputi: a. perairan Indonesia; b. ZEEI; dan c. sungai, danau, waduk, rawa, dan genangan air lainnya yang dapat diusahakan serta lahan pembudidayaan ikan yang potensial di wilayah Republik Indonesia.689 Permohonan untuk membebaskan kapal dan/atau orang yang ditangkap karena melakukan tindak pidana di wilayah pengelolaan perikanan Republik Indonesia sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5 ayat (1) huruf b, dapat dilakukan setiap waktu sebelum ada keputusan dari pengadilan perikanan dengan menyerahkan sejumlah uang jaminan yang layak, yang penetapannya dilakukan oleh pengadilan perikanan.690
687 688 689 690

Pasal 101 Undang-Undang RI No.31Tahun 2004 tentang Perikanan. Pasal 102 Undang-Undang RI No.31Tahun 2004 tentang Perikanan. Pasal 5 Ayat (1) Undang-Undang RI No.31Tahun 2004 tentang Perikanan. Pasal 104 Ayat (1) Undang-Undang RI No.31Tahun 2004 tentang Perikanan.

254 Ikhtisar Ketentuan AML & CFT

II.3.25.13 Perampasan hasil kejahatan perikanan untuk negara Benda dan/atau alat yang dipergunakan dalam dan/ atau yang dihasilkan dari tindak pidana perikanan dapat dirampas untuk negara.691 Benda dan/atau alat yang dirampas dari hasil tindak pidana perikanan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 104 dilelang untuk negara.692 II.3.25.14 Pemberian insentif kepada aparat penegak hukum. Kepada aparat penegak hukum di laut yang berhasil menjalankan tugasnya dengan baik dan pihakpihak yang berjasa dalam upaya penyelamatan kekayaan negara sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diberikan insentif yang disisihkan dari hasil lelang.693 Ketentuan lebih lanjut mengenai pemberian insentif diatur dengan Peraturan Menteri.694 II.3.26 Tindak pidana lainnya yang diancam dengan pidana penjara 4 (empat) tahun atau lebih II.3.26.1 Paling lama 4 (empat) tahun a) Hak desain industri Pemegang Hak Desain Industri memiliki hak eksklusif untuk melaksanakan Hak Desain Industri yang dimilikinya dan untuk melarang orang lain yang tanpa persetujuannya membuat, memakai, menjual, mengimpor, mengekspor, dan/atau mengedarkan barang yang diberi Hak Desain Industri.695

691 692 693 694 695

Pasal 104 Ayat (2) Undang-Undang RI No.31Tahun 2004 tentang Perikanan. Pasal 105 Ayat (1) Undang-Undang RI No.31Tahun 2004 tentang Perikanan. Pasal 105 Ayat (2) Undang-Undang RI No.31Tahun 2004 tentang Perikanan. Pasal 105 Ayat (3) Undang-Undang RI No.31Tahun 2004 tentang Perikanan. Pasal 9 Ayat (1) Undang-Undang RI No. 11Tahun 1995 tentang Cukai.

TPPU & TPA

255

Barangsiapa dengan sengaja dan tanpa hak melakukan perbuatan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 9 dipidana dengan pidana penjara paling lama 4 (empat) tahun dan/atau denda paling banyak Rp 300.000.000,00 (tiga ratus juta rupiah).696 Pemegang Hak Desain Industri memiliki hak eksklusif untuk melaksanakan Hak Desain Industri yang dimilikinya dan untuk melarang orang lain yang tanpa persetujuannya membuat, memakai, menjual, mengimpor, mengekspor, dan/atau mengedarkan barang yang diberi Hak Desain Industri.697 Dikecualikan dari ketentuan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) adalah pemakaian Desain Industri untuk kepentingan penelitian dan pendidikan sepanjang tidak merugikan kepentingan yang wajar dari pemegang hak Desain Industri.698 b) Pelanggaran hak paten Barangsiapa dengan sengaja dan tanpa hak melanggar hak Pemegang Paten dengan melakukan salah satu tindakan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 16 dipidana dengan pidana penjara paling lama 4 (empat) tahun dan/atau denda paling banyak Rp 500.000.000,00 (lima ratus juta rupiah).699 Pemegang Paten memiliki hak eksklusif untuk melaksanakan Paten yang dimilikinya dan melarang pihak lain yang tanpa persetujuannya: 1) dalam hal Paten-produk: membuat, menggunakan, menjual, mengimpor,
696 697 698 699

Pasal 54 ayat (1) Undang-Undang RI No. 31 Tahun 2000 tentang Desain Industri. Pasal 9 ayat (1) Undang-Undang RI No. 31 Tahun 2000 tentang Desain Industri. Pasal 9 ayat (2) Undang-Undang RI No. 31 Tahun 2000 tentang Desain Industri. Pasal 130 Undang-Undang RI No. 14 Tahun 2001 tentang Paten.

256 Ikhtisar Ketentuan AML & CFT

menyewakan, menyerahkan, atau menyediakan untuk dijual atau disewakan atau diserahkan produk yang diberi Paten; 2) dalam hal Paten-proses: menggunakan proses produksi yang diberi Paten untuk membuat barang dan tindakan lainnya sebagaimana dimaksud dalam huruf a.700 Dalam hal Paten-proses, larangan terhadap pihak lain yang tanpa persetujuannya melakukan impor sebagaimana dimaksud pada ayat (1) hanya berlaku terhadap impor produk yang semata-mata dihasilkan dari penggunaan Paten-proses yang dimilikinya.701 Dikecualikan dari ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) apabila pemakaian Paten tersebut untuk kepentingan pendidikan, penelitian, percobaan, atau analisis sepanjang tidak merugikan kepentingan yang wajar dari Pemegang Paten.702 e) Pelanggaran terkait merek. Barangsiapa dengan sengaja dan tanpa hak menggunakan Merek yang sama pada pokoknya dengan Merek terdaftar milik pihak lain untuk barang dan/atau jasa sejenis yang diproduksi dan/atau diperdagangkan, dipidana penjara paling lama 4 (empat) tahun dan/atau denda paling banyak Rp 800.000.000,00 (delapan ratus juta rupiah).703 c) Penggunaan tanda milik pihak lain Barangsiapa dengan sengaja dan tanpa hak menggunakan tanda yang pada pokoknya dengan indikasi demografis milik pihak lain
700 701 702 703

Pasal 16 Ayat (1) Undang-Undang RI No. 14 Tahun 2001 tentang Paten. Pasal 16 Ayat (2) Undang-Undang RI No. 14 Tahun 2001 tentang Paten. Pasal 16 Ayat (3) Undang-Undang RI No. 14 Tahun 2001 tentang Paten. Pasal 91 Undang-Undang RI No. 15 Tahun 2001 tentang Merek.

TPPU & TPA

257

untuk barang yang sama atau sejenis dengan barang yang terdafatra, dipidana dengan pidana penjara paling lama 4 (empat) tahun dan/atau denda paling banyak Rp 800.000.000,00 (delapan ratus juta rupiah).704 Barangsiapa dengan sengaja dan tanpa hak menggunakan tanda yang dilindungi berdasarkan indikasi asal pada barang atau jasa sehingga dapat memperdaya atau menyesatkan masyarakat mengenai asal barang atau asal jasa tersebut, dipidana dengan pidana penjara paling lama 4 (empat) tahun dan / atau denda paling banyak Rp 800.000.000,00 (delapan ratus juta rupiah).705 d) Merubah peruntukan harta benda wakaf tanpa izin Setiap orang yang dengan sengaja mengubah peruntukan harta benda wakaf tanpa izin sebagaimana dimaksud dalam Pasal 44, dipidana dengan pidana paling lama 4 (empat) tahun dan/atau pidana denda paling banyak Rp 400.000.000,00 (empat ratus juta rupiah).706 Jika perbuatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) menimbulkan kerugian harta benda dipidana dengan pidana penjara paling lama 4 (empat) tahun atau denda paling banyak Rp2.000.000.000,00 (dua miliar rupiah).707 Barang siapa melanggar ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 35 ayat (2) dan ayat (3), Pasal 93 ayat (2), Pasal 137 dan Pasal 138 ayat (1), dikenakan sanksi pidana penjara paling singkat 1 (satu) bulan
704 705 706 707

Pasal 92 ayat (2) Undang-Undang RI No. 15 Tahun 2001 tentang Merek. Pasal 93 Undang-Undang RI No. 15 Tahun 2001 tentang Merek. Pasal 67 ayat (2) Undang-Undang RI No.41 Tahun 2004 tentang Wakaf. Pasal 406 Undang-Undang RI No.1 Tahun 2009 tentang Penerbangan.

258 Ikhtisar Ketentuan AML & CFT

dan paling lama 4 (empat) tahun dan/atau denda paling sedikit Rp10.000.000,00 (sepuluh juta rupiah) dan paling banyak Rp400.000.000,00 (empat ratus juta rupiah).708 e) Pencetakan surat suara Pemilu Setiap perusahaan pencetak surat suara yang dengan sengaja mencetak surat suara melebihi jumlah yang ditetapkan oleh KPU sebagaimana dimaksud dalam Pasal 146 ayat (1) dipidana dengan pidana penjara paling singkat 24 (dua puluh empat) bulan dan paling lama 48 (empat puluh delapan) bulan dan denda paling sedikit Rp500.000.000,00 (lima ratus juta rupiah) dan paling banyak Rp10.000.000.000,00 (sepuluh miliar rupiah).709 Setiap perusahaan pencetak surat suara yang tidak menjaga kerahasiaan, keamanan, dan keutuhan surat suara sebagaimana dimaksud dalam Pasal 146 ayat (1), dipidana dengan pidana penjara paling singkat 24 (dua puluh empat) bulan dan paling lama 48 (empat puluh delapan) bulan dan denda paling sedikit Rp500.000.000,00 (lima ratus juta rupiah) dan paling banyak Rp10.000.000.000,00 (sepuluh miliar rupiah).710 Barangsiapa melanggar ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 42 ayat (1) dan ayat (2), Pasal 68, Pasal 69 ayat (2), Pasal 80, Pasal 82, Pasal 90 ayat (1), Pasal 139, Pasal 143, dan Pasal 160 ayat (4) dan ayat (7), dikenakan sanksi pidana penjara
708 709

Pasal 186 ayat (1) Undang-Undang RI No.13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan.

Pasal 284 Undang-Undang RI No. 10 Tahun 2008 tentang Pemilihan Umum Anggota Dewan Perwakilan Rakyat, Dewan Perwakilan Daerah, dan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah. Pasal 285 Undang-Undang RI No. 10 Tahun 2008 tentang Pemilihan Umum Anggota Dewan Perwakilan Rakyat, Dewan Perwakilan Daerah, dan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah.
710

TPPU & TPA

259

paling singkat 1 (satu) tahun dan paling lama 4 (empat) tahun dan/atau denda paling sedikit Rp100.000.000,00 (seratus juta rupiah) dan paling banyak Rp400.000.000,00 (empat ratus juta rupiah).711 II.3.26.2 Paling lama 5 (lima) tahun a) Penyalahgunaan izin keimigrasian oleh orang asing Orang asing yang dengan sengaja menyalahgunakan atau melakukan kegiatan yang tidak sesuai dengan maksud pemberian izin keimigrasian yang diberikan kepadanya, dipidana dengan pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun atau denda paling banyak Rp. 25.000.000,- (dua puluh lima juta rupiah).712 Orang asing yang izin keimigrasiannya habis berlaku dan masih berada dalam wilayah Indonesia melampaui 60 (enam puluh) hari dari batas waktu izin yang diberikan, dipidana dengan pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun atau denda paling banyak Rp 25.000.000,- (dua puluh lima juta rupiah).713 Setiap orang yang dengan sengaja menyembunyikan, melindungi, memberi pemondokan, memberi penghidupan atau pekerjaan kepada orang asing yang diketahui atau patut diduga: berada di wilayah Indonesia secara tidak sah, dipidana dengan pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun dan/atau denda paling banyak Rp 25.,000.000,- (dua puluh lima juta rupiah).714

711 712 713 714

Pasal 185 ayat (1) Undang-Undang RI No.13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan. Pasal 50 Undang-Undang RI No. 9 Tahun 1992 tentang Keimigrasian. Pasal 52 Undang-Undang RI No. 9 Tahun 1992 tentang Keimigrasian. Pasal 54 huruf b Undang-Undang RI No. 9 Tahun 1992 tentang Keimigrasian.

260 Ikhtisar Ketentuan AML & CFT

b) Pemalsuan Surat Perjalanan RI Setiap orang yang dengan sengaja: menggunakan Surat Perjalanan Republik Indonesia sedangkan ia mengetahui atau sepatutnya menduga bahwa Surat Perjalanan itu palsu atau dipalsukan, dipidana dengan pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun atau denda paling banyak Rp 25.000.000,- (dua puluh lima juta rupiah);715 Setiap orang yang dengan sengaja: menggunakan Surat Perjalanan orang lain atau Surat Perjalanan Republik Indonesia yang sudah dicabut atau dinyatakan batal, atau menyerahkan kepada orang lain Surat Perjalanan Republik Indonesia yang diberikan kepadanya, dengan maksud digunakan secara tidak berhak, dipidana dengan pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun atau denda paling banyak Rp 25.000.000,- (dua puluh lima juta rupiah);716 Setiap orang yang dengan sengaja dan melawan hukum untuk kepentingan diri sendiri atau orang lain merusak, menghilangkan atau mengubah baik sebagian maupun seluruhnya keterangan atau cap yang terdapat dalam Surat Perjalanan Republik Indonesia, dipidana dengan pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun dan/ atau denda paling banyak Rp 25.000.000,- (dua puluh lima juta rupiah).717 c) Pencatutan usaha kecil Barangsiapa dengan maksud untuk menguntungkan diri sendiri atau orang lain secara melawan hukum dengan mengaku atau memakai nama usaha kecil sehingga
715 716 717

Pasal 55 huruf a Undang-Undang RI No. 9 Tahun 1992 tentang Keimigrasian. Pasal 55 huruf b Undang-Undang RI No. 9 Tahun 1992 tentang Keimigrasian. Pasal 57 Undang-Undang RI No. 9 Tahun 1992 tentang Keimigrasian.

TPPU & TPA

261

memperoleh fasilitas kemudahan dana, keringanan tarif, tempat usaha, bidang dan kegiatan usaha, atau pengadaan barang dan jasa atau pemborongan pekerjaan Pemerintah yang diperuntukan dan dicadangkan bagi Usaha Kecil yang secara langsung atau tidak langsung menimbulkan kerugian bagi Usaha Kecil diancam dengan pidana penjara paling lama lima tahun atau pidana denda paling banyak Rp.2.000.000.000,- (dua milyar rupiah).718 Pelaku usaha yang melanggar ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 8, Pasal 9, Pasal 10, Pasal 13 ayat (2), Pasal 15, Pasal 17 ayat (1) huruf a, huruf b, huruf c, huruf e, ayat (2), dan Pasal 18 dipidana dengan pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun atau pidana denda paling banyak Rp 2.000.000.000,00 (dua miliar rupiah).719 d) Pemakaian merek milik pihak lain Barangsiapa dengan sengaja dan tanpa hak menggunakan Merek yang sama pada keseluruhannya dengan Merek terdaftar milik pihak lain untuk barang dan/atau jasa sejenis yang diproduksi dan/atau diperdagangkan, dipidana dengan pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun dan/atau denda paling banyak Rp 1.000.000.000,00 (satu miliar rupiah).720 e) Pemakaian tanda milik pihak lain Barangsiapa dengan sengaja dan tanpa hak menggunakan tanda yang sama pada keseluruhan dengan indikasi-geografis milik pihak lain untuk barang yang sama atau sejenis dengan barang yang terdaftar, dipidana dengan
718 719

Pasal 34 Undang-Undang RI No. 9 Tahun 1995 tentang Usaha Kecil.

Pasal 62 ayat (1) Undang-Undang RI No. 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen.
720

Pasal 90 Undang-Undang RI No. 15 Tahun 2001 tentang Merek.

262 Ikhtisar Ketentuan AML & CFT

pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun dan/ atau denda paling banyak Rp 1.000.000.000,00 (satu miliar rupiah).721 f) Pelanggaran hak cipta Barangsiapa dengan sengaja menyiarkan, memamerkan, mengedarkan, atau menjual kepada umum suatu Ciptaan atau barang hasil pelanggaran Hak Cipta atau Hak Terkait sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dipidana dengan pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun dan/atau denda paling banyak Rp 500.000.000,00 (lima ratus juta rupiah).722 g) Memperbanyak penggunaan program komputer untuk kepentingan komersial Barangsiapa dengan sengaja dan tanpa hak memperbanyak penggunaan untuk kepentingan komersial suatu Program Komputer dipidana dengan pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun dan/atau denda paling banyak 723 Barangsiapa dengan sengaja melanggar Pasal 17 dipidana dengan pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun dan/atau denda paling banyak Rp 1.000.000.000,00 (satu miliar rupiah).724 Barangsiapa dengan sengaja melanggar Pasal 28 dipidana dengan pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun dan/atau denda paling banyak Rp 1.500.000.000,00 (satu miliar lima ratus juta rupiah).725 h) Diskriminasi dan penelantaran anak Setiap orang yang dengan sengaja melakukan tindakan :
721 722 723 724 725

Pasal 92 ayat (1) Undang-Undang RI No. 15 Tahun 2001 tentang Merek. Pasal 72 ayat (2) Undang-Undang RI No. 19 Tahuhn 2002 tentang Hak Cipta. Pasal 72 ayat (3) Undang-Undang RI No. 19 Tahuhn 2002 tentang Hak Cipta. Pasal 72 ayat (4) Undang-Undang RI No. 19 Tahuhn 2002 tentang Hak Cipta. Pasal 72 ayat (9) Undang-Undang RI No. 19 Tahuhn 2002 tentang Hak Cipta.

TPPU & TPA

263

1) diskriminasi terhadap anak yang mengakibatkan anak mengalami kerugian, baik materiil maupun moril sehingga menghambat fungsi sosialnya; atau 2) penelantaran terhadap anak yang mengakibatkan anak mengalami sakit atau penderitaan, baik fisik, mental, maupun sosial; 3) dipidana dengan pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun dan/atau denda paling banyak Rp 100.000.000,00 (seratus juta rupiah).726 Setiap orang yang mengetahui dan sengaja membiarkan anak dalam situasi darurat sebagaimana dimaksud dalam Pasal 60, anak yang berhadapan dengan hukum, anak dari kelompok minoritas dan terisolasi, anak yang tereksploitasi secara ekonomi dan/atau seksual, anak yang diperdagangkan, anak yang menjadi korban penyalahgunaan narkotika, alkohol, psikotropika, dan zat adiktif lainnya (napza), anak korban penculikan, anak korban perdagangan, atau anak korban kekerasan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 59, padahal anak tersebut memerlukan pertolongan dan harus dibantu, dipidana dengan pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun dan/ atau denda paling banyak Rp 100.000.000,00 (seratus juta rupiah).727 i) Pengangkatan anak secara tidak sah Setiap orang yang melakukan pengangkatan anak yang bertentangan dengan ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 39 ayat (1), ayat (2), dan ayat (4), dipidana dengan pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun dan/atau denda paling banyak Rp 100.000.000,00 (seratus juta rupiah).728
726 727 728

Pasal 77 Undang-Undang RI No.23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak. Pasal 78 Undang-Undang RI No.23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak. Pasal 79 Undang-Undang RI No.23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak.

264 Ikhtisar Ketentuan AML & CFT

Dalam hal anak sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) luka berat, maka pelaku dipidana dengan pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun dan/atau denda paling banyak Rp 100.000.000,00 (seratus juta rupiah).729 j) Membujuk anak untuk memilih agama tertentu Setiap orang yang dengan sengaja menggunakan tipu muslihat, rangkaian kebohongan, atau membujuk anak untuk memilih agama lain bukan atas kemauannya sendiri, padahal diketahui atau patut diduga bahwa anak tersebut belum berakal dan belum bertanggung jawab sesuai dengan agama yang dianutnya dipidana dengan pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun dan/atau denda paling banyak Rp 100.000.000,00 (seratus juta rupiah).730 k) Merekrut atau memperalat anak untuk kepentingan militer Setiap orang yang secara melawan hukum merekrut atau memperalat anak untuk kepentingan militer sebagaimana dimaksud dalam Pasal 63 atau penyalahgunaan dalam kegiatan politik atau pelibatan dalam sengketa bersenjata atau pelibatan dalam kerusuhan sosial atau pelibatan dalam peristiwa yang mengandung unsur kekerasan atau pelibatan dalam peperangan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 15 dipidana dengan pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun dan/atau denda paling banyak Rp 100.000.000,00 (seratus juta rupiah).731 Dipidana dengan pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun dan/atau denda paling banyak
729 730 731

Pasal 80 ayat (2) Undang-Undang RI No.23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak. Pasal 86 Undang-Undang RI No.23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak. Pasal 87 Undang-Undang RI No.23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak.

TPPU & TPA

265

Rp1.000.000.000,00 (satu miliar rupiah) untuk penyiaran radio dan dipidana dengan pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun dan/atau denda paling banyak Rp10.000.000.000,00 (sepuluh miliar rupiah) untuk penyiaran televisi, setiap orang yang: 1) melanggar ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 17 ayat (3); 2) melanggar ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 18 ayat (2); 3) melanggar ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 30 ayat (1); 4) melanggar ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 36 ayat (5); 5) melanggar ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 36 ayat (6).732 l) Orang yang bukan advokat berpraktek sebagai advokat Setiap orang yang dengan sengaja menjalankan pekerjaan profesi Advokat dan bertindak seolah-olah sebagai Advokat, tetapi bukan Advokat sebagaimana diatur dalam UndangUndang ini, dipidana dengan pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun dan denda paling banyak Rp50.000.000,00 (lima puluh juta) rupiah.733 m) Membantu memberikan ijazah, sertifikat kompetensi, gelar akademik, profesi, dan/atau vokasi dari satuan pendidikan kepada orang yang tidak memenuhi persyaratan Setiap orang yang membantu memberikan ijazah, sertifikat kompetensi, gelar akademik, profesi, dan/atau vokasi dari satuan pendidikan yang tidak memenuhi persyaratan dipidana dengan pidana penjara paling lama lima tahun
732 733

Pasal 57 Undang-Undang RI No.23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak. Pasal 31 Undang-Undang RI No.23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak.

266 Ikhtisar Ketentuan AML & CFT

dan/atau pidana denda paling banyak Rp 500.000.000,00 (lima ratus juta rupiah).734 Setiap orang yang menggunakan ijazah, sertifikat kompetensi, gelar akademik, profesi, dan/atau vokasi yang diperoleh dari satuan pendidikan yang tidak memenuhi persyaratan dipidana dengan pidana penjara paling lama lima tahun dan/atau pidana denda paling banyak Rp 500.000.000,00 (lima ratus juta rupiah).735 Setiap orang yang memperoleh dan/atau menggunakan sebutan guru besar yang tidak sesuai dengan Pasal 23 ayat (1) dan/atau ayat (2) dipidana dengan pidana penjara paling lama lima tahun dan/atau pidana denda paling banyak Rp 500.000.000,00 (lima ratus juta rupiah).736 Setiap orang yang menggunakan ijazah, sertifikat kompetensi, gelar akademik, profesi, dan/atau vokasi yang terbukti palsu dipidana dengan pidana penjara paling lama lima tahun dan/atau pidana denda paling banyak Rp 500.000.000,00 (lima ratus juta rupiah).737 Setiap orang yang dengan sengaja tanpa hak menggunakan ijazah dan/atau sertifikat kompetensi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 61 ayat (2) dan ayat (3) yang terbukti palsu dipidana dengan pidana penjara paling lama lima tahun dan/atau pidana denda paling banyak Rp 500.000.000,00 (lima ratus juta rupiah).738 n) Kekerasan dalam rumah tangga
734

Pasal 68 ayat (1) Undang-Undang RI No.23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Pasal 68 ayat (2) Undang-Undang RI No.23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak. Pasal 68 ayat (4) Undang-Undang RI No.23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak. Pasal 69 Ayat (1) Undang-Undang RI No.23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Pasal 69 Ayat (2) Undang-Undang RI No.23 Tahun 2002 tentang Perlindungan

Anak.
735 736 737

Anak.
738

Anak.

TPPU & TPA

267

Setiap orang yang melakukan perbuatan kekerasan fisik dalam lingkup rumah tangga sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5 huruf a dipidana dengan pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun atau denda paling banyak Rp15.000.000,00 (lima belas juta rupiah).739 o) Kesengajaan menggunakan identitas berupa gelar atau bentuk lain Setiap orang yang dengan sengaja menggunakan identitas berupa gelar atau bentuk lain yang menimbulkan kesan bagi masyarakat seolah-olah yang bersangkutan adalah dokter atau dokter gigi yang telah memiliki surat tanda registrasi dokter atau surat tanda. registrasi dokter gigi dan/atau surat izin praktik sebagaimana dimaksud dalam Pasal 73, ayat (1) dipidana dengan pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun atau denda paling banyak Rp 150.000.000,00 (seratus lima puluh juta rupiah).740 Setiap orang yang dengan sengaja menggunakan alat, metode atau cara lain dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat yang menimbulkan kesan seolah-olah yang bersangkutan adalah dokter atau dokter gigi yang telah memiliki surat tanda registrasi dokter atau surat tanda registrasi dokter gigi atau surat izin praktik sebagaimana dimaksud dalam Pasal 73 ayat (2) dipidana dengan pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun atau denda paling banyak Rp 150.000.000,00 (seratus lima puluh juta rupiah).741 p) Pengalihan hak atas harta benda wakaf Setiap orang yang dengan sengaja menjaminkan, menghibahkan, menjual,
739 Pasal 44 ayat (1) Undang-Undang RI No. 23 Tahun 2004 tentang Penghapusan Kekerasam Dalam Rumah Tangga. 740 741

Pasal 77 Undang-Undang RI No. 29 Tahun 2004 tentang Praktek Kedokteran. Pasal 78 Undang-Undang RI No. 29 Tahun 2004 tentang Praktek Kedokteran.

268 Ikhtisar Ketentuan AML & CFT

mewariskan, mengalihkan dalam bentuk pengalihan hak lainnya harta benda wakaf yang telah diwakafkan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 40 atau tanpa izin menukar harta benda wakaf yang telah diwakafkan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 41, dipidana dengan pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun dan/ atau pidana denda paling banyak Rp 500.000.000, 00 (lima ratus juta rupiah).742 Apabila perbuatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) menimbulkan kerusakan dan/atau gangguan keselamatan pihak lain, setiap orang dipidana dengan pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun dan/atau denda paling banyak Rp5.000.000.000,00 (lima miliar rupiah).743 q) Pengalihfungsian atau meniadakan prasarana olahraga Setiap orang yang mengalihfungsikan atau meniadakan prasarana olahraga yang telah ada, baik sebagian maupun seluruhnya tanpa izin sebagaimana diatur dalam Pasal 67 ayat (7), dipidana dengan pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun dan/atau denda paling banyak Rp20.000.000.000,00 (dua puluh miliar rupiah).744 r) Penerapan Sistem Resi Gudang tanpa persetujuan pihak berwenang Setiap orang yang melakukan kegiatan Sistem Resi Gudang tanpa memiliki persetujuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat (2), Pasal 23 ayat (1), Pasal 28, dan Pasal 34, diancam dengan pidana penjara paling lama 5
742 743

Pasal 67 ayat (1) Undang-Undang RI No.41 Tahun 2004 tentang Wakaf.

Pasal 89 Ayat (2) Undang-Undang RI No. 3 Tahun 2005 tentang Sistem Keolahragaan Nasional. Pasal 89 Ayat (3) Undang-Undang RI No. 3 Tahun 2005 tentang Sistem Keolahragaan Nasional.
744

TPPU & TPA

269

(lima) tahun dan pidana denda paling banyak Rp6.500.000.000, 00 (enam miliar lima ratus juta rupiah).745 s) Pengoperasian pesawat udara yang tidak mempunyai tanda pendaftaran Setiap orang yang mengoperasikan pesawat udara yang tidak mempunyai tanda pendaftaran sebagaimana dimaksud dalam Pasal 24 dipidana dengan pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun atau denda paling banyak Rp1.000.000.000,00 (satu miliar rupiah).746 Barang siapa melanggar ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 167 ayat (5), dikenakan sanksi pidana penjara paling singkat 1 (satu) tahun dan paling lama 5 (lima) tahun dan atau denda paling sedikit Rp100.000.000.00 (seratus juta rupiah) dan paling banyak Rp500.000.000.00 (lima ratus juta rupiah).747 t) Pelanggaran terkait hak pekerja/buruh Dalam hal pengusaha tidak mengikutsertakan pekerja/buruh yang mengalami pemutusan hubungan kerja karena usia pensiun pada program pensiun maka pengusaha wajib memberikan kepada pekerja/buruh uang pesangon sebesar 2 (dua) kali ketentuan Pasal 156 ayat (2), uang penghargaan masa kerja 1 (satu) kali ketentuan Pasal 156 ayat (3) dan uang penggantian hak sesuai ketentuan Pasal 156 ayat (4).748 Dipidana dengan pidana penjara paling singkat 1 (satu) tahun dan paling lama 5 (lima) tahun

745 746 747 748

Pasal 43 Undang-Undang RI No.9 Tahun 2006 tentang Sistem Resi Gudang. Pasal 404 Undang-Undang RI No.1 Tahun 2009 tentang Penerbangan. Pasal 184 (1) Undang-Undang RI No. 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan. Pasal 167 (5) Undang-Undang RI No. 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan.

270 Ikhtisar Ketentuan AML & CFT

dan/atau denda paling sedikit Rp l.000.000.000,00 (satu miliar rupiah) dan paling banyak Rp 5.000.000.000,00 (lima miliar rupiah), setiap orang yang: 1) mengalihkan atau memindahtangankan SIPPTKI sebagaimana dimaksud dalam Pasal 19; 2) mengalihkan atau memindahtangankan SIP kepada pihak lain sebagaimana dimaksud dalam Pasal 33; 3) melakukan perekrutan calon TKI yang tidak memenuhi persyaratan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 35; 4) menempatkan TKI yang tidak lulus dalam uji kompetensi kerja sebagaimana dimaksud dalam Pasal 45; 5)menempatkan TKI tidak memenuhi persyaratan kesehatan dan psikologi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 50; 6) menempatkan calon TKI-TKI yang tidak memiliki dokumen sebagaimana dimaksud dalam Pasal 51; 7) menempatkan TKI di luar negeri tanpa perlindungan program asuransi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 68; atau 8) memperlakukan calon TKI secara tidak wajar dan tidak manusiawi selama masa di penampungan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 70 ayat (3).749 u) Perlindungan saksi dan/atau korban Setiap orang yang memaksakan kehendaknya baik menggunakan kekerasan maupun caracara tertentu, yang menyebabkan Saksi dan/ atau Korban tidak memperoleh perlindungan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5 ayat (1) huruf a atau huruf d sehingga Saksi dan/atau
749 Pasal 103 ayat (1) Undang-Undang RI No. 39 Tahun 2004 tentang Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia di Luar Negeri.

TPPU & TPA

271

Korban tidak memberikan kesaksiannya pada tahap pemeriksaan tingkat mana pun, dipidana dengan pidana penjara paling singkat 1 (satu) tahun dan paling lama 5 (lima) tahun dan pidana denda paling sedikit Rp40.000.000,(empat puluh juta rupiah) dan paling banyak Rp200.000,000,- (dua ratus juta rupiah).750 v) Pelanggaran terkait pelaksanaan tugas BPK Anggota BPK yang mempergunakan keterangan bahan data informasi dan/atau dokumen lainnya yang diperolehnya pada waktu melaksanakan tugas BPK dengan melampaui batas wewenangnya sebagaimana dimaksud dalam Pasal 28 huruf b dipidana dengan pidana penjara paling singkat 1 (satu) tahun dan paling lama 5 (lima) tahun dan/atau denda paling sedikit Rp1.000.000.000 (satu miliar rupiah) dan paling banyak Rp5.000.000.000 (lima miliar rupiah).751 w)Kelalaian terkait hasil pemungutan suara Setiap orang yang karena kelalaiannya menyebabkan rusak atau hilangnya berita acara pemungutan dan penghitungan suara dan sertifikat hasil penghitungan suara yang sudah disegel, dipidana dengan pidana penjara paling singkat 12 (dua belas) bulan dan paling lama 60 (enam puluh) bulan dan denda paling sedikit Rp500.000.000,00 (lima ratus juta rupiah) dan paling banyak Rp1.000.000.000,00 (satu miliar rupiah).752 Setiap orang yang dengan sengaja menggagalkan pemungutan suara, dipidana dengan pidana
750 Pasal 37 ayat (1) Undang-Undang RI No.13 Tahun 2006 tentang Perlindungan Saksi dan Korban. 751 Pasal 36 ayat (2) Undang-Undang RI No. 15 Tahun 2006 tentang Badan Pemeriksa Keuangan. 752 Pasal 297 Undang-Undang RI No. 10 Tahun 2008 tentang Pemilihan Umum Anggota Dewan Perwakilan Rakyat, Dewan Perwakilan Daerah, dan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah.

272 Ikhtisar Ketentuan AML & CFT

penjara paling singkat 24 (dua puluh empat) bulan dan paling lama 60 (enam puluh) bulan dan denda paling sedikit Rp24.000.000,00 (dua puluh empat juta rupiah) dan paling banyak Rp60.000.000,00 (enam puluh juta rupiah).753 x) Menjalankan kegiatan Dana Pensiun tanpa pengesahan Menteri dan pelanggaran ketentuan Barangsiapa dengan sengaja, dengan atau tanpa iuran, mengelola dan menjalankan program uang menjanjikan sejumlah uang yang pembayarannya dikaitkan dengan pencapaian usia tertentu, atau menjalankan kegiatan Dana Pensiun, tanpa mendapat pengesahan Menteri sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4, Pasal 6, dan Pasal 40, diancam dengan pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun dan denda paling banyak Rp 5.000.000.000,- (lima milyar rupiah).754 Ketentuan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) tidak berlaku bagi penyelenggaraan Dana Pensiun dan Tabungan Hari Tua Pegawai Negeri Sipil, dan Anggota Angkatan Bersenjata Republik Indonesia, yang dikelola oleh Badan Usaha Milik Negara berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku.755 Barangsiapa dengan sengaja melanggar ketentuan Pasal 31 ayat (2) dan ayat (3), diancam denganpidana penjara paling lama 5 (lima) tahun dan denda paling banyak Rp 5.000.000.000,- (lima milyar rupiah).756 Barangsiapa dengan sengaja menyebabkan pembayaran suatu jumlah uang Dana Pensiun yang menyimpang dari peraturan Dana Pensiun
753 Pasal 291 Undang-Undang RI No. 10 Tahun 2008 tentang Pemilihan Umum Anggota Dewan Perwakilan Rakyat, Dewan Perwakilan Daerah, dan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah. 754 755 756

Pasal 56 Ayat (1) Undang-Undang RI No. 11 Tahun 1992 tentang Dana Pensiun. Pasal 56 Ayat (2) Undang-Undang RI No. 11 Tahun 1992 tentang Dana Pensiun. Pasal 57 Undang-Undang RI No. 11 Tahun 1992 tentang Dana Pensiun.

TPPU & TPA

273

atau ikut serta dalam transaksi-transaksi yang melibatkan kekayaan Dana Pensiun yang bertentangan dengan ketentuan Undangundang ini atau peraturan pelaksanaannya, diancam dengan pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun dan denda paling banyak Rp 5.000.000.000,- (lima milyar rupiah).757 Barangsiapa dengan sengaja : a. membuat atau menyebabkan adanya suatu laporan palsu dalam buku catatan atau dalam laporan, maupun dalam dokumen atau laporan kegiatan usaha, atau laporan transaksi Dana Pensiun; b. menghilangkan atau tidak memasukkan atau menyebabkan dihapuskannya suatu laporan dalam buku catatan atau dalam laporan, dokumen atau laporan kegiatan usaha, atau laporan transaksi Dana Pensiun; c. mengubah, mengaburkan, menyembunyikan, menghapus atau menghilangkan adanya suatu pencatatan dalam pembukuan atau dalam laporan, maupun dalam dokumen atau laporan kegiatan usaha, laporan transaksi atau merusak catatan pembukuan Dana Pensiun tersebut diancam dengan pidana penjara paling lama 6 (enam) tahun dan denda paling banyak Rp 6.000.000.000,(enam milyar rupiah).758 Tindak pidana sebagaimana dimaksud dalam Pasal 56, Pasal 57, Pasal 58, dan Pasal 59 adalah kejahatan.759 II.3.26.3 Paling lama 6 (enam) tahun a) Penggunaan Visa atau izin keimigrasian palsu oleh orang asing
757 758 759

Pasal 58 Undang-Undang RI No. 11 Tahun 1992 tentang Dana Pensiun. Pasal 59 Undang-Undang RI No. 11 Tahun 1992 tentang Dana Pensiun. Pasal 60 Undang-Undang RI No. 11 Tahun 1992 tentang Dana Pensiun.

274 Ikhtisar Ketentuan AML & CFT

Dipidana dengan pidana penjara paling lama 6 (enam) tahun dan denda paling banyak Rp. 30.000.000,- (tiga puluh juta rupiah): 1) orang asing yang dengan sengaja membuat palsu atau memalsukan Visa atau izin keimigrasian; atau 2) orang asing yang dengan sengaja menggunakan Visa atau izin keimigrasian palsu atau yang dipalsukan untuk masuk atau berada di wilayah Indonesia.760 b) Mencetak, mempunyai, menyimpan blanko Surat Perjalanan RI atau blanko dokumen keimigrasian Dipidana dengan pidana penjara paling lama 6 (enam) tahun dan/atau denda paling banyak Rp 30.000.000,- (tiga puluh juta rupiah): 1) setiap orang yang dengan sengaja dan melawan hukum mencetak, mempunyai, menyimpan blanko Surat Perjalanan Republik Indonesia atau blanko dokumen keimigrasian; atau 2) setiap orang yang dengan sengaja dan melawan hukum membuat, mempunyai atau menyimpan cap yang dipergunakan untuk mensahkan Surat Perjalanan Republik Indonesia atau dokumen keimigrasian.761 c) Pemalsuan dikumen cukai Barangsiapa membuat, menggunakan, atau menyerahkan buku sebagaimana dimaksud dalam Pasal 16, Pasal 17, dan Pasal 19, atau dokumen cukai yang palsu atau dipalsukan,dipidana dengan pidana penjara
760 761

Pasal 49 Undang-Undang RI No.9 Tahun 1992 tentang Keimigrasian. Pasal 56 Undang-Undang RI No.9 Tahun 1992 tentang Keimigrasian.

TPPU & TPA

275

paling lama enam tahun dan denda paling banyakRp 150.000.000,00 (seratus lima puluh juta rupiah).762 d) Kegiatan Usaha Pertambangan Panas Bumi tanpa IUP Setiap orang yang melakukan kegiatan Usaha Pertambangan Panas Bumi tanpa IUP sebagaimana dimaksud dalam Pasal 11 ayat (3) dipidana dengan pidana penjara paling singkat 6 (enam) bulan dan paling lama 6 (enam) tahun dan/atau pidana denda paling sedikit Rp 2.000.000.000,00 (dua miliar rupiah) dan paling banyakRp 50.000.000.000,00 (lima puluh miliar rupiah).763 e) Pemalsuan dokumen bakal calon DPR, DPD dan DPRD Provinsi Setiap orang yang dengan sengaja membuat surat atau dokumen dengan maksud untuk memakai atau menyuruh orang memakai, atau setiap orang yang dengan sengaja menggunakan surat atau dokumen yang dipalsukan untuk menjadi bakal calon anggota DPR, DPD, DPRD provinsi, DPRD kabupaten/ kota atau calon Peserta Pemilu sebagaimana dimaksud dalam Pasal 63 dan dalam Pasal 73, dipidana dengan pidana penjara paling singkat 36 (tiga puluh enam) bulan dan paling lama 72 (tujuh puluh dua) bulan dan denda paling sedikit Rp36.000.000,00 (tiga puluh enam juta rupiah) dan paling banyak Rp72.000.000,00 (tujuh puluh dua juta rupiah).764 II.3.26.4
762 763

Paling lama 7 (tujuh) tahun

Pasal 53 Undang-Undang RI No.11 Tahun 1995 tentang Cukai. Pasal 35 Undang-Undang RI No.27 Tahun 2003 tentang Panas Bumi.

764 Pasal 266 Undang-Undang RI No. 10 Tahun 2008 tentang Pemilihan Umum Anggota Dewan Perwakilan Rakyat, Dewan Perwakilan Daerah, dan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah.

276 Ikhtisar Ketentuan AML & CFT

a) Perpanjangan berlakunya Surat Perjalanan RI atau dokumen keimigrasian bagi orang yang tidak berhak Pejabat yang dengan sengaja dan melawan hukum memberikan atau memperpanjang berlakunya Surat Perjalanan Republik Indonesia atau dokumen keimigrasian kepada seseorang yang diketahuinya tidak berhak, dipidana dengan pidana penjara paling lama 7 (tujuh) tahun.765 Barangsiapa dengan sengaja dan tanpa hak melakukan perbuatan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat (1) atau Pasal 49 ayat (1) dan ayat (2) dipidana dengan pidana penjara masing-masing paling singkat 1 (satu) bulan dan/atau denda paling sedikit Rp 1.000.000,00 (satu juta rupiah), atau pidana penjara paling lama 7 (tujuh) tahun dan/atau denda paling banyak Rp 5.000.000.000,00 (lima miliar rupiah).766 b) Perlindungan Saksi dan/atau Korban Setiap orang yang melakukan pemaksaan kehendak sebagaimana dimaksud pada ayat (1) sehingga menimbulkan luka berat pada Saksi dan/atau Korban, dipidana dengan pidana penjara paling singkat 2 (dua) tahun dan paling lama 7 (tujuh) tahun dan pidana denda paling sedikit Rp80.000.000,- (delapan puluh juta rupiah) dan paling banyak Rp500.000.000,(lima ratus juta rupiah).767 Setiap orang yang menghalang-halangi dengan cara apapun, sehingga Saksi dan/atau Korban tidak memperoleh perlindungan atau bantuan,
765 766 767

Pasal 59 Undang-Undang RI No. 9 Tahun 1992 tentang Keimigrasian. Pasal 72 ayat (1) Undang-Undang RI No. 19 Tahun 2002 tentang Hak Cipta.

Pasal 37 ayat (2) Undang-Undang RI No.13 Tahun 2006 tentang Perlindungan Saksi dan Korban.

TPPU & TPA

277

sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5 ayat (1) huruf a dan huruf d, Pasal 6, atau Pasal 7 ayat (1) dipidana dengan pidana penjara paling singkat 2 (dua) tahun dan paling lama 7 (tujuh) tahun dan pidana denda paling sedikit Rp80.000.000,- (delapan puluh juta rupiah) dan paling banyak Rp500.000.000,- (lima ratus juta rupiah).768 Setiap orang yang menyebabkan Saksi dan/atau Korban atau keluarganya kehilangan pekerjaan karena Saksi dan/atau Korban tersebut memberikan kesaksian yang benar dalam proses peradilan, dipidana dengan pidana penjara paling singkat 2 (dua) tahun dan paling lama 7 (tujuh) tahun dan pidana denda paling sedikit Rp80.000.000,- (delapan puluh juta rupiah) dan paling banyak Rp500.000.000,(lima ratus juta rupiah).769 Setiap orang yang memberitahukan keberadaan Saksi dan/atau Korban yang tengah dilindungi dalam suatu tempat khusus yang dirahasiakan oleh LPSK sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5 ayat (1) huruf j, dipidana dengan pidana penjara paling singkat 3 (tiga) tahun dan paling lama 7 (tujuh) tahun dan pidana denda paling sedikit Rp80.000.000,- (delapan puluh juta rupiah) dan paling banyak Rp500.000.000,(lima ratus juta rupiah).770 II.3.26.5 Paling lama 8 (delapan) tahun a) Mengimpor pita cukai yang sudah dipakai Barangsiapa secara melawan hukum: mempergunakan, menjual, menawarkan, menyerahkan,
768 769

Pasal 38 Undang-Undang RI No.13 Tahun 2006 tentang Perlindungan Saksi dan Korban.

Pasal 39 Undang-Undang RI No.13 Tahun 2006 tentang Perlindungan Saksi dan Korban.
770 Pasal 41 Undang-Undang RI No.13 Tahun 2006 tentang Perlindungan Saksi dan Korban.

278 Ikhtisar Ketentuan AML & CFT

menyediakan untuk dijual, atau mengimpor pita cukai yang sudah dipakai, dipidana dengan pidana penjara paling lama delapan tahun dan denda paling banyak dua puluh kali nilai cukai yang seharusnya dibayar.771 b) Manipulasi data yang berkaitan dengan Resi Gudang dan Derivatif Resi Gudang Setiap orang yang melakukan manipulasi data atau keterangan yang berkaitan dengan Resi Gudang dan Derivatif Resi Gudang sebagaimana dimaksud dalam Pasal 35 diancam dengan pidana penjara paling lama 8 (delapan) tahun dan pidana denda paling banyak Rp10.000.000.000, 00 (sepuluh miliar rupiah).772 c) Pengoperasian pesawat udara memasuki kawasan udara terlarang Setiap orang yang mengoperasikan pesawat udara Indonesia atau pesawat udara asing yang memasuki kawasan udara terlarang sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7 ayat (2) dipidana dengan pidana penjara paling lama 8 (delapan) tahun dan denda paling banyak Rp500.000.000,00 (lima ratus juta rupiah).773 II.3.26.6 Paling lama 10 (sepuluh) tahun a) Anak Nakal yang diancam pidana mati atau penjara seumur hidup Apabila Anak Nakal sebagaimana dimaksud dalam Pasal 1 angka 2 huruf a, melakukan tindak pidana yang diancam dengan pidana mati atau pidana penjara seumur hidup, maka pidana

771 772 773

Pasal 55 c Undang-Undang RI No.11 Tahun 1995 tentang Cukai. Pasal 42 Undang-Undang RI No. 9 Tahun 2006 tentang Sistem Resi Gudang. Pasal 401 Undang-Undang RI No. 1 Tahun 2009 tentang Penerbangan.

TPPU & TPA

279

penjara yang dapat dijatuhkan kepada anak tersebut paling lama 10 (sepuluh) tahun.774 Dalam hal anak sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) mati, maka pelaku dipidana dengan pidana penjara paling lama 10 (sepuluh) tahun dan/atau denda paling banyak Rp 200.000.000,00 (dua ratus juta rupiah).775 b) Pemanfaatan organ dan/atau jaringan tubuh anak untuk pihak lain dengan maksud untuk menguntungkan diri sendiri atau orang lain Setiap orang yang secara melawan hukum melakukan transplantasi organ dan/atau jaringan tubuh anak untuk pihak lain dengan maksud untuk menguntungkan diri sendiri atau orang lain, dipidana dengan pidana penjara paling lama 10 (sepuluh) tahun dan/atau denda paling banyak Rp 200.000.000,00 (dua ratus juta rupiah).776 Setiap orang yang secara melawan hukum melakukan pengambilan organ tubuh dan/atau jaringan tubuh anak tanpa memperhatikan kesehatan anak, atau penelitian kesehatan yang menggunakan anak sebagai objek penelitian tanpa seizin orang tua atau tidak mengutamakan kepentingan yang terbaik bagi anak, dipidana dengan pidana penjara paling lama 10 (sepuluh) tahun dan/atau denda paling banyak Rp 200.000.000,00 (dua ratus juta rupiah).777 c) Melibatkan anak-anak dalam produksi dan distribusi alkohol dan zat adiktif lainnya

774 775

Pasal 26 ayat (2) Undang-Undang RI No. 3 Tahun 1997 tentang Pengadilan Anak. Pasal 80 ayat (3) Undang-Undang RI No. 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Pasal 84 Undang-Undang RI No. 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak. Pasal 85 ayat (2) Undang-Undang RI No. 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan

Anak.
776 777

Anak.

280 Ikhtisar Ketentuan AML & CFT

Setiap orang yang dengan sengaja menempatkan, membiarkan, melibatkan, menyuruh melibatkan anak dalam penyalahgunaan, produksi, atau distribusi alkohol dan zat adiktif lainnya dipidana dengan pidana penjara paling lama 10 (sepuluh) tahun dan paling singkat 2 (dua) tahun dan denda paling banyak Rp 200.000.000,00 (dua ratus juta rupiah) dan denda paling sedikit Rp 20.000.000,00 (dua puluh juta rupiah).778 d) Pemalsuan Surat Utang Negara (SUN) Setiap orang yang meniru Surat Utang Negara atau memalsukan Surat Utang Negara dengan maksud memperdagangkan atau dengan sengaja memper-dagangkan Surat Utang Negara tiruan atau Surat Utang Negara palsu, dipidana dengan pidana penjara paling singkat 5 (lima) tahun dan paling lama 10 (sepuluh) tahun dan denda paling sedikit Rp10.000.000.000,00 (sepuluh miliar rupiah) dan paling banyak Rp20.000.000.000,00 (dua puluh miliar rupiah).779 e) Pemberian ijazah, sertifikat kompetensi, gelar akademik, profesi, dan/ atau vokasi tanpa hak Perseorangan, organisasi, atau penyelenggara pendidikan yang memberikan ijazah, sertifikat kompetensi, gelar akademik, profesi, dan/ atau vokasi tanpa hak dipidana dengan pidana penjara paling lama sepuluh tahun dan/atau pidana denda paling banyak Rp 1.000.000.000,00 (satu miliar rupiah).780

778

Pasal 89 ayat (2) Undang-Undang RI No. 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Pasal 19 ayat (1) Undang-Undang RI No. 24 Tahun 2002 tentang Surat Utang

Anak.
779

Negara.
780 Pasal 67 ayat (1) Undang-Undang RI No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional.

TPPU & TPA

281

f) Pelanggaran oleh penyelenggara perguruan tinggi Penyelenggara perguruan tinggi yang dinyatakan ditutup berdasarkan Pasal 21 ayat (5) dan masih beroperasi dipidana dengan pidana penjara paling lama sepuluh tahun dan/ atau pidana denda paling banyak Rp1.000.000.000,00 (satu miliar rupiah).781 Penyelenggara pendidikan yang memberikan sebutan guru besar atau profesor dengan melanggar Pasal 23 ayat (1) dipidana dengan pidana penjara paling lama sepuluh tahun dan/ atau pidana denda paling banyak Rp 1.000.000.000,00 (satu miliar rupiah).782 Penyelenggara pendidikan jarak jauh yang tidak memenuhi persyaratan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 31 ayat (3) dipidana dengan pidana penjara paling lama sepuluh tahun dan/atau pidana denda paling banyak Rp 1.000.000.000,00 (satu miliar rupiah).783 Penyelenggara satuan pendidikan yang didirikan tanpa izin Pemerintah atau Pemerintah Daerah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 62 ayat (1) dipidana dengan pidana penjara paling lama sepuluh tahun dan/atau pidana denda paling banyak Rp 1.000.000.000,00 (satu miliar rupiah).784 g) Pelanggaran terkait perlindungan saksi dan/atau korban Dalam hal perbuatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) mengakibatkan korban mendapat jatuh
781 Pasal 67 ayat (2) Undang-Undang RI No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. 782 Pasal 67 ayat (3) Undang-Undang RI No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. 783 Pasal 67 ayat (4) Undang-Undang RI No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. 784

Pasal 71 Undang-Undang RI No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional.

282 Ikhtisar Ketentuan AML & CFT

sakit atau luka berat, dipidana dengan pidana penjara paling lama 10 (sepuluh) tahun atau denda paling banyak Rp 30.000.000,00 (tiga puluh juta rupiah).785 h) Mempekerjakan dokter atau dokter gigi yang tidak terdaftar Setiap orang yang dengan sengaja mempekerjakan dokter atau dokter gigi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 42, dipidana dengan pidana penjara paling lama 10 (sepuluh) tahun atau denda paling banyak Rp 300.000.000,00 (tiga ratus juta rupiah).786 i) Pelanggaran terkait perlindungan TKI Dipidana dengan pidana penjara paling singkat 2 (dua) tahun dan paling lama 10 (sepuluh) tahun dan/atau denda paling sedikit Rp 2.000.000.000,00 (dua miliar rupiah) dan paling banyak Rp 15.000.000.000,00 (lima belas miliar rupiah), setiap orang yang: menempatkan warga negara Indonesia untuk bekerja di luar negeri sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4;787 Dipidana dengan pidana penjara paling singkat 2 (dua) tahun dan paling lama 10 (sepuluh) tahun dan/atau denda paling sedikit Rp 2.000.000.000,00 (dua miliar rupiah) dan paling banyak Rp 15.000.000.000,00 (lima belas miliar rupiah), setiap orang yang: menempatkan calon TKI pada jabatan atau tempat pekerjaan yang bertentangan dengan nilai-nilai kemanusiaan dan norma kesusilaan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 30.788
785 Pasal 44 ayat (2) Undang-Undang RI No.23 Tahun 2004 tentang Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga. 786 787

Pasal 80 ayat (1) Undang-Undang RI No.29 Tahun 2004 tentang Praktik Kedokteran.

Pasal 102 ayat (1) huruf a Undang-Undang RI No.39 Tahun 2004 tentang Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia di Luar Negeri.
788 Pasal 102 ayat (1) huruf c Undang-Undang RI No.39 Tahun 2004 tentang Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia di Luar Negeri.

TPPU & TPA

283

j) Keterlambatan pelaporan hasil pemeriksaan oleh anggota BPK kepada instansi yang berwenang Anggota BPK yang memperlambat atau tidak melaporkan hasil pemeriksaan yang mengandung unsur pidana kepada instansi yang berwenang sebagaimana dimaksud dalam Pasal 28 huruf a dipidana dengan pidana penjara paling singkat 3 (tiga) tahun dan paling lama 10 (sepuluh) tahun dan/atau denda paling sedikit Rp3.000.000.000 (tiga miliar rupiah) dan paling banyak Rp10.000.000.000 (sepuluh miliar rupiah).789 II.3.26.7 Paling lama 12 (dua belas) tahun Barangsiapa yang secara melawan hukum di muka umum dengan lisan, tulisan, dan atau melalui media apapun, menyebarkan atau mengembangkan ajaran Komunisme/ Marxisme-Leninisme dalam segala bentuk dan perwujudan, dipidana dengan pidana penjara paling lama 12 (dua belas) tahun.790 II.3.26.8 Paling lama 15 (lima belas) tahun a) Larangan penggunaan media apapun untuk menyebarkan atau mengembangkan ajaran Kumunisme (Marxisme-Leninisme) Barangsiapa yang secara melawan hukum di muka umum dengan lisan, tulisan dan atau melalui media apapun, menyebarkan atau mengembangkan ajaran Komunisnie/ Marxisme-Leninismce yang berakibat timbulnya kerusuhan dalam masyarakat, atau menimbulkan korban jiwa atau kerugian harta benda, dipidana dengan pidana penjara paling lama 15 (lima belas) tahun.791
Pasal 36 ayat (1) Undang-Undang RI No. 15 Tahun 2006 tentang Badan Pemeriksa Keuangan.
790 Pasal 107 a Undang-Undang RI No. 27 Tahun 1999 tentang Perubahan Kitab UndangUndang Hukum Pidana Yang Berkaitan Dengan Kejahatan Terhadap Keamanan Negara. 791 Pasal 107 c Undang-Undang RI No. 27 Tahun 1999 tentang Perubahan Kitab UndangUndang Hukum Pidana Yang Berkaitan Dengan Kejahatan Terhadap Keamanan Negara. 789

284 Ikhtisar Ketentuan AML & CFT

Dipidana dcngan pidana penjara paling lama 15 (lima belas tahun: 1) barang siapa yang mendirikan organisasi yang diketahui atau patut diduga menganut ajaran Komunisme/Marxisme-Leninisme atas dalam segala bentuk dan perwujudannya; atau 2) barang siapa yang mengadakan hubungan dengan atau memberikan bantuan kepada organisasi, baik didalam maupun di luar tiegeri, yang diketahuinya berasaskan ajaran Komunisme/Marxisme-Leninisme atau dalam segala, bentuk dan perwujudannya dengan maksud mengubah dasar negara atau menggulingkan Pemerintah yang sah.792 Setiap orang yang melakukan perbuatan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 9 huruf c, dipidana dengan pidana penjara paling lama 15 (lima belas) tahun dan paling singkat 5 (lima).793 Setiap orang yang melakukan perbuatan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 9 huruf f, dipidana dengan pidana penjara paling lama 15 (lima belas) tahun dan paling singkat 5 (lima) tahun.794 b) Perlindungan terhadap anak Setiap orang yang dengan sengaja melakukan kekerasan atau ancaman kekerasan memaksa anak melakukan persetubuhan dengannya atau dengan orang lain, dipidana dengan pidana penjara paling lama 15 (lima belas) tahun dan
792 Pasal 107 e Undang-Undang RI No. 27 Tahun 1999 tentang Perubahan Kitab UndangUndang Hukum Pidana Yang Berkaitan Dengan Kejahatan Terhadap Keamanan Negara. 793 Pasal 38 Undang-Undang RI No. 26 Tahun 2000 tentang Pengadilan Hak Asasi Manusia. 794 Pasal 39 Undang-Undang RI No. 26 Tahun 2000 tentang Pengadilan Hak Asasi Manusia.

TPPU & TPA

285

paling singkat 3 (tiga) tahun dan denda paling banyak Rp 300.000.000,00 (tiga ratus juta rupiah) dan paling sedikit Rp 60.000.000,00 (enam puluh juta rupiah).795 Setiap orang yang dengan sengaja melakukan kekerasan atau ancaman kekerasan, memaksa, melakukan tipu muslihat, serangkaian kebohongan, atau membujuk anak untuk melakukan atau membiarkan dilakukan perbuatan cabul, dipidana dengan pidana penjara paling lama 15 (lima belas) tahun dan paling singkat 3 (tiga) tahun dan denda paling banyak Rp 300.000.000,00 (tiga ratus juta rupiah) dan paling sedikit Rp 60.000.000,00 (enam puluh juta rupiah).796 Setiap orang yang memperdagangkan, menjual, atau menculik anak untuk diri sendiri atau untuk dijual, dipidana dengan pidana penjara paling lama 15 (lima belas) tahun dan paling singkat 3 (tiga) tahun dan denda paling banyak Rp 300.000.000,00 (tiga ratus juta rupiah) dan paling sedikit Rp 60.000.000,00 (enam puluh juta rupiah).797 Setiap orang yang melakukan jual beli organ tubuh dan/atau jaringan tubuh anak dipidana dengan pidana penjara paling lama 15 (lima belas) tahun dan/atau denda paling banyak Rp 300.000.000,00 (tiga ratus juta rupiah).798 Dalam hal perbuatan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) mengakibatkan matinya korban, dipidana dengan pidana penjara paling lama 15 (lima belas) tahun atau denda paling banyak

795

Pasal 81 ayat (1) Undang-Undang RI No. 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Pasal 82 Undang-Undang RI No. 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak. Pasal 83 Undang-Undang RI No. 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak. Pasal 85 ayat (1) Undang-Undang RI No. 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak.

Anak.
786 797 798

286 Ikhtisar Ketentuan AML & CFT

Rp45.000.000,00 (empat puluh lima juta rupiah).799 c) Sanksi terhadap pelaku kekerasan dalam rumah tangga Setiap orang yang memaksa orang yang menetap dalam rumah tangganya melakukan hubungan seksual sebagaimana dimaksud dalam Pasal 8 huruf b dipidana dengan pidana penjara paling singkat 4 (empat) tahun dan pidana penjara paling lama 15 (lima belas) tahun atau denda paling sedikit Rp12.000.000,00 (dua belas juta rupiah) atau denda paling banyak Rp300.000.000,00 (tiga ratus juta rupiah).800 d) Kegiatan pengusahaan jalan tol Setiap orang yang dengan sengaja melakukan kegiatan pengusahaan jalan tol sebagaimana dimaksud dalam Pasal 54, dipidana dengan pidana penjara paling lama 15 (lima belas) tahun atau denda paling banyak Rp 15.000.000.000,00 (lima belas miliar rupiah).801 II.3.25.9 Paling lama 20 (dua puluh) tahun a) Larangan menggunakan media apapun untuk menyatakan keinginan meniadakan atau mengganti Pancasila sebagai dasar negara NKRI Barang siapa yang secara melawan hukum di muka umum dengan lisan, tulisan dari atau melalui media apapun, menyatakan keinginan untuk meniadakan atau mengganti Pancasila sebagai dasar negara yang berakibat timbulnya kerusuhan dalam masyarakat, atau

799 Pasal 44 ayat (3) Undang-Undang RI No. 23 Tahun 2004 tentang Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga. 800 Pasal 47 Undang-Undang RI No. 23 Tahun 2004 tentang Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga. 801

Pasal 63 ayat (5) Undang-Undang RI No. 38 Tahun 2004 tentang Jalan.

TPPU & TPA

287

menimbulkan korban jiwa atau kerugian harta benda, dipidana dengan pidana penjara paling lama 20 (dua puluh) tahun.802 Barangsiapa yang secara melawan hukum di muka umum dengan lisan, tulisan dan atau melalui media apapun, menyebarkan atau mengembangkan ajaran Komunisme/ Marxisme-Leninisme dengan maksud mengubah atau mengganti Pancasila sebagai dasar Negara, dipidana dengan pidana penjara paling lama 20 (dua puluh) tahun.803 b) Melakukan sabotase terhadap NKRI Dipidana karena sabotase dengan pidana penjara seumur hidup atau paling lama 20 (dua puluh) tahun: 1) barangsiapa yang secara melawan hukum merusak, membuat tidak dapat dipakai, menghancurkan atau memusnahkan instalasi negara atau militer; atau 2) barangsiapa yang secara melawan hukum menghalangi atau menggagalkan pengadaan atau distribusi bahan pokok yang mcnguasai hajat hidup orang hanyak sesuai dengan kebijakan Pemerintah.8040 Setiap orang yang melakukan perbuatan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 9 huruf g, h, atau i dipidana dengan pidana penjara paling lama 20 (dua puluh) tahun dan paling singkat 10 (sepuluh) tahun.805

802 Pasal 107 b Undang-Undang RI No. 27 Tahun 1999 tentang Perubahan Kitab UndangUndang Hukum Pidana Yang Berkaitan Dengan Kejahatan Terhadap Keamanan Negara. 803 Pasal 107 d Undang-Undang RI No. 27 Tahun 1999 tentang Perubahan Kitab UndangUndang Hukum Pidana Yang Berkaitan Dengan Kejahatan Terhadap Keamanan Negara. 804 Pasal 107 f Undang-Undang RI No. 27 Tahun 1999 tentang Perubahan Kitab UndangUndang Hukum Pidana Yang Berkaitan Dengan Kejahatan Terhadap Keamanan Negara. 805 Pasal 40 Undang-Undang RI No. 26 Tahun 2000 tentang Pengadilan Hak Asasi Manusia.

288 Ikhtisar Ketentuan AML & CFT

c) Larangan melibatkan anak dengan tindak pidana narkotika dan/atau psikotropika Setiap orang yang dengan sengaja menempatkan, membiarkan, melibatkan, menyuruh melibatkan anak dalam penyalahgunaan, produksi atau distribusi narkotika dan/atau psikotropika dipidana dengan pidana mati atau pidana penjara seumur hidup atau pidana penjara paling lama 20 (dua puluh) tahun dan pidana penjara paling singkat 5 (lima) tahun dan denda paling banyak Rp 500.000.000,00 (lima ratus juta rupiah) dan paling sedikit Rp 50.000.000,00 (lima puluh juta rupiah).806 d) Sanksi pidana penerbitan Surat Utang Negara (SUN) secara tidak sah Setiap orang yang dengan sengaja menerbitkan Surat Utang Negara tidak berdasarkan Undangundang ini, dipidana dengan pidana penjara paling singkat 10 (sepuluh) tahun dan paling lama 20 (dua puluh) tahun dan denda paling sedikit Rp 20.000.000.000,00 (dua puluh miliar rupiah) dan paling banyak Rp40.000.000.000,00 (empat puluh miliar rupiah).807 e) Larangan melakukan kekerasasan dalam rumah tangga Dalam hal perbuatan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 46 dan Pasal 47 mengakibatkan korban mendapat luka yang tidak memberi harapan akan sembuh sama sekali, mengalami gangguan daya pikir atau kejiwaan sekurangkurangnya selama 4 (empat) minggu terus
806

Pasal 89 ayat (1) Undang-Undang RI No. 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Pasal 19 ayat (2) Undang-Undang RI No. 24 Tahun 2002 tentang Surat Utang

Anak.
807

Negara.

TPPU & TPA

289

menerus atau 1 (satu) tahun tidak berturutturut, gugur atau matinya janin dalam kandungan, atau mengakibatkan tidak berfungsinya alat reproduksi, dipidana dengan pidana penjara paling singkat 5 (lima) tahun dan pidana penjara paling lama 20 (dua puluh) tahun atau denda paling sedikit Rp25.000.000,00 (dua puluh lima juta rupiah) dan denda paling banyak Rp500.000.000,00 (lima ratus juta rupiah).808 II.3.25.10 Pidana mati, seumur hidup atau penjara paling lama 25 (dua puluh lima) tahun a) Pelanggaran terkait perlindungan saksi dan/atau korban Setiap orang yang melakukan perbuatan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 8 huruf a, b, c, d, atau e dipidana dengan pidana mati atau pidana penjara seumur hidup atau pidana penjara paling lama 25 (dua puluh lima) tahun dan paling singkat 10 (sepuluh) tahun.809 Setiap orang yang melakukan perbuatan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 9 huruf a, b, d, e, atau j dipidana dengan pidana mati atau pidana penjara seumur hidup atau pidana penjara paling lama 25 (dua puluh lima) tahun dan paling singkat 10 (sepuluh) tahun.810 Setiap orang yang melakukan pemaksaan kehendak sebagaimana dimaksud pada ayat (1) sehingga mengakibatkan matinya Saksi dan/ atau Korban, dipidana dengan pidana penjara paling singkat 5 (lima) tahun dan paling lama seumur hidup dan pidana denda paling sedikit Rp80.000.000,- (delapan puluh juta rupiah) dan
808 Pasal 48 Undang-Undang RI No. 23 Tahun 2004 tentang Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga. 809 810

Pasal 36 Undang-Undang RI No. 26 Tahun 2000 tentang Pengadilan Hak Asasi Manusia. Pasal 37 Undang-Undang RI No. 26 Tahun 2000 tentang Pengadilan Hak Asasi Manusia.

290 Ikhtisar Ketentuan AML & CFT

paling banyak Rp500.000.000,- (lima ratus juta rupiah).811 II.3.25.11 Pidana mati atau seumur hidup a) Pidana terkait tindakan permusuhan atau terjadi perang Bila tindakan permusuhan dilakukan atau terjadi perang, diancam dengan pidana mati atau pidana penjara seumur hidup atau pidana penjara selama waktu tertentu paling lama dua puluh tahun.812 Pidana mati atau pidana penjara seumur hidup atau selama waktu tertentu paling lama dua puluh tahun dijatuhkan bila si pelaku: 1) memberitahukan atau menyerahkan kepada musuh, menghancurkan atau merusak suatu tempat atau pos yang diperkuat atau diduduki, suatu alat perhubungan, gudang, perbekalan perang, atau kas perang ataupun Angkatan Laut, Angkatan Darat atau bagian daripadanya, merintangi, menghalang-halangi atau menggagalkan suatu usaha untuk menggenangi air atau karya tentara lainnya yang direncanakan atau diselenggarakan untuk menangkis atau menyerang; 2) menyebabkan atau memperlancar terjadinya huru-hara, pemberontakan atau desersi di kalangan Angkatan Bersenjata.813 b) Pidana terkait tindakan makar Bila makar terhadap nyawa dilakukan dengan rencana terlebih dahulu serta berakibat kematian, diancam dengan pidana mati atau pidana penjara seumur hidup atau pidana
Pasal 37 ayat (3) Undang-Undang RI No. 13 Tahun 2006 tentang Perlindungan Saksi dan Korban.
812 813 811

Pasal 111 ayat (2) Kitab Undang-Undang Hukum Pidana. Pasal 124 ayat (3) Kitab Undang-Undang Hukum Pidana.

TPPU & TPA

291

penjara selama waktu tertentu paling lama dua puluh tahun.814 c) Pidana terkait pembunuhan berencana Barangsiapa dengan sengaja dan dengan direncanakan terlebih dahulu merampas nyawa orang lain, diancam karena pembunuhan berencana, dengan pidana mati atau pidana penjara seumur hidup atau pidana penjara selama waktu tertentu paling lama dua puluh tahun.815 d) Sanksi pidana terhadap nakhoda atau komandan kapal dan orang yang turut membantu melakukan kekerasan Bila perbuatan kekerasan yang tersebut dalam pasal 438-441 mengakibatkan seseorang di kapal yang diserang atau seseorang yang diserang itu mati, maka nakhoda, komandan atau pemimpin kapal dan mereka yang turut serta melakukan perbuatan kekerasan itu, diancam dengan pidana mati, pidana penjara seumur hidup, atau pidana penjara selama waktu tertentu paling lama dua puluh tahun.816 e) Sanksi terkait terorisme Jika perbuatan itu mengakibatkan matinya seseorang atau hancumya pesawat udara itu, dipidana dengan pidana mati atau pidana penjara seumur hidup atau pidana penjara selama-lamanya dua puluh tahun.817 Jika perbuatan itu mengakibatkan matinya seseorang atau hancurnya pesawat udara itu, dipidana dengan pidana mati atau pidana

814 815 816 817

Pasal 140 ayat (3) Kitab Undang-Undang Hukum Pidana. Pasal 340 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana. Pasal 444 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana. Pasal 479 k ayat (2) Kitab Undang-Undang Hukum Pidana.

292 Ikhtisar Ketentuan AML & CFT

penjara seumur hidup atau pidana penjara selama-lamanya dua puluh tahun. 818 II.4 Tindak Pidana Pendanaan Terorisme II.4.1 Definisi Setiap orang yang dengan sengaja menyediakan atau mengumpulkan dana dengan tujuan akan digunakan atau patut diketahuinya akan digunakan sebagian atau seluruhnya untuk melakukan tindak pidana terorisme sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6, Pasal 7, Pasal 8, Pasal 9, dan Pasal 10.819 II.4.2 Kriminalisasi Pendanaan Terorisme Setiap orang yang dengan sengaja menggunakan kekerasan atau ancaman kekerasan menimbulkan suasana teror atau rasa takut terhadap orang secara meluas atau menimbulkan korban yang bersifat massal, dengan cara merampas kemerdekaan atau hilangnya nyawa dan harta benda orang lain, atau mengakibatkan kerusakan atau kehancuran terhadap obyekobyek vital yang strategis atau lingkungan hidup atau fasilitas publik atau fasilitas internasional, dipidana dengan pidana mati atau penjara seumur hidup atau pidana penjara paling singkat 4 (empat) tahun dan paling lama 20 (dua puluh) tahun.820 Setiap orang yang dengan sengaja menggunakan kekerasan atau ancaman kekerasan bermaksud untuk menimbulkan suasana teror atau rasa takut terhadap orang secara meluas atau menimbulkan korban yang bersifat massal dengan cara merampas kemerdekaan atau hilangnya nyawa atau harta benda orang lain, atau untuk menimbulkan kerusakan atau kehancuran terhadap obyek-obyek vital yang strategis, atau lingkungan hidup, atau fasilitas publik, atau fasilitas internasional, dipidana dengan pidana penjara paling lama seumur hidup.821
818 819

Pasal 479 o ayat (2) Kitab Undang-Undang Hukum Pidana.

Undang-Undang RI No 15 Tahun 2003 tentang Pengesahan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang No. 1 Tahun 2002 Tentang Tindak Pidana Terorisme.
120 Pasal 6 Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang No. 1 Tahun 2002 Tentang Tindak Pidana Terorisme. 821 Pasal 7 Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang No. 1 Tahun 2002 Tentang Tindak Pidana Terorisme.

TPPU & TPA

293

Dipidana karena melakukan tindak pidana terorisme dengan pidana yang sama sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6, setiap orang yang : a. menghancurkan, membuat tidak dapat dipakai atau merusak bangunan untuk pengamanan lalu lintas udara atau menggagalkan usaha untuk pengamanan bangunan tersebut; b. menyebabkan hancurnya, tidak dapat dipakainya atau rusaknya bangunan untuk pengamanan lalu lintas udara, atau gagalnya usaha untuk pengamanan bangunan tersebut; c. dengan sengaja dan melawan hukum menghancurkan, merusak, mengambil, atau memindahkan tanda atau alat untuk pengamanan penerbangan, atau menggagalkan bekerjanya tanda atau alat tersebut, atau memasang tanda atau alat yang keliru; d. karena kealpaannya menyebabkan tanda atau alat untuk pengamanan penerbangan hancur, rusak, terambil atau pindah atau menyebabkan terpasangnya tanda atau alat untuk pengamanan penerbangan yang keliru; e. dengan sengaja atau melawan hukum, menghancurkan atau membuat tidak dapat dipakainya pesawat udara yang seluruhnya atau sebagian kepunyaan orang lain; f. dengan sengaja dan melawan hukum mencelakakan, menghancurkan, membuat tidak dapat dipakai atau merusak pesawat udara; g. karena kealpaannya menyebabkan pesawat udara celaka, hancur, tidak dapat dipakai, atau rusak; h. dengan maksud untuk menguntungkan diri sendiri atau orang lain dengan melawan hukum, atas penanggung asuransi menimbulkan kebakaran atau ledakan, kecelakaan kehancuran, kerusakan atau membuat tidak dapat dipakainya pesawat udara yang dipertanggungkan terhadap bahaya atau yang dipertanggungkan muatannya maupun upah yang akan diterima untuk pengangkutan muatannya, ataupun untuk kepentingan muatan tersebut telah diterima uang tanggungan; i. dalam pesawat udara dengan perbuatan yang melawan hukum, merampas atau memper-tahankan perampasan atau menguasai pesawat udara dalam penerbangan; j. dalam pesawat udara dengan kekerasan atau ancaman

294 Ikhtisar Ketentuan AML & CFT

kekerasan atau ancaman dalam bentuk lainnya, merampas atau mempertahankan perampasan atau menguasai pengendalian pesawat udara dalam penerbangan; k. melakukan bersama-sama sebagai kelanjutan permufakatan jahat, dilakukan dengan direncanakan terlebih dahulu, mengakibatkan luka berat seseorang, mengakibatkan kerusakan pada pesawat udara sehingga dapat membahayakan penerbangannya, dilakukan dengan maksud untuk merampas kemerdekaan atau meneruskan merampas kemerdekaan seseorang; l. dengan sengaja dan melawan hukum melakukan perbuatan kekerasan terhadap seseorang di dalam pesawat udara dalam penerbangan, jika perbuatan itu dapat membahayakan keselamatan pesawat udara tersebut; m.dengan sengaja dan melawan hukum merusak pesawat udara dalam dinas atau menyebabkan kerusakan atas pesawat udara tersebut yang menyebabkan tidak dapat terbang atau membahayakan keamanan penerbangan; n. dengan sengaja dan melawan hukum menem-patkan atau menyebabkan ditempatkannya di dalam pesawat udara dalam dinas, dengan cara apapun, alat atau bahan yang dapat menghan-curkan pesawat udara yang membuatnya tidak dapat terbang atau menyebabkan kerusakan pesawat udara tersebut yang dapat memba-hayakan keamanan dalam penerbangan; o. melakukan secara bersama-sama 2 (dua) orang atau lebih, sebagai kelanjutan dari permufakatan jahat, melakukan dengan direncanakan lebih dahulu, dan mengakibatkan luka berat bagi seseorang dari perbuatan sebagaimana dimaksud dalam huruf l, huruf m, dan huruf n; p. memberikan keterangan yang diketahuinya adalah palsu dan karena perbuatan itu membahayakan keamanan pesawat udara dalam penerbangan; q. di dalam pesawat udara melakukan perbuatan yang dapat membahayakan keamanan dalam pesawat udara dalam penerbangan; r. di dalam pesawat udara melakukan perbuatan-perbuatan yang dapat mengganggu ketertiban dan tata tertib di dalam pesawat udara dalam penerbangan.822
659 Pasal 8 Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang No. 1 Tahun 2002 Tentang Tindak Pidana Terorisme.

TPPU & TPA

295

II.4.3

Sansi Pidana Setiap orang yang secara melawan hukum memasukkan ke Indonesia, membuat, menerima, mencoba memperoleh, menyerahkan atau mencoba menyerahkan, menguasai, membawa, mempunyai persediaan padanya atau mempunyai dalam miliknya, menyimpan, mengangkut, menyembunyikan, mempergunakan, atau mengeluarkan ke dan/atau dari Indonesia sesuatu senjata api, amunisi, atau sesuatu bahan peledak dan bahan-bahan lainnya yang berbahaya dengan maksud untuk melakukan tindak pidana terorisme, dipidana dengan pidana mati atau penjara seumur hidup atau pidana penjara paling singkat 3 (tiga) tahun dan paling lama 20 (dua puluh) tahun.823 Dipidana dengan pidana yang sama dengan pidana sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6, setiap orang yang dengan sengaja menggunakan senjata kimia, senjata biologis, radiologi, mikroorganisme, radioaktif atau komponennya, sehingga menimbulkan suasana teror, atau rasa takut terhadap orang secara meluas, menimbulkan korban yang bersifat massal, membahayakan terhadap kesehatan, terjadi kekacauan terhadap kehidupan, keamanan, dan hak-hak orang, atau terjadi kerusakan, kehancuran terhadap obyek-obyek vital yang strategis, lingkungan hidup, fasilitas publik, atau fasilitas internasional.824 Dipidana dengan pidana penjara paling singkat 3 (tiga) tahun dan paling lama 15 (lima belas) tahun, setiap orang yang dengan sengaja menyediakan atau mengumpulkan dana dengan tujuan akan digunakan atau patut diketahuinya akan digunakan sebagian atau seluruhnya untuk melakukan tindak pidana terorisme sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6, Pasal 7, Pasal 8, Pasal 9, dan Pasal 10.825

823 Pasal 9 Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang No. 1 Tahun 2002 Tentang Tindak Pidana Terorisme. 624 Pasal 10 Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang No. 1 Tahun 2002 Tentang Tindak Pidana Terorisme. 825 Pasal 11 Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang No. 1 Tahun 2002 Tentang Tindak Pidana Terorisme.

296 Ikhtisar Ketentuan AML & CFT

Dipidana karena melakukan tindak pidana terorisme dengan pidana penjara paling singkat 3 (tiga) tahun dan paling lama 15 (lima belas) tahun, setiap orang yang dengan sengaja menyediakan atau mengumpulkan harta kekayaan dengan tujuan akan digunakan atau patut diketahuinya akan digunakan sebagian atau seluruhnya untuk melakukan : a. tindakan secara melawan hukum menerima, memiliki, menggunakan, menyerahkan, mengubah, membuang bahan nuklir, senjata kimia, senjata biologis, radiologi, mikroorganisme, radioaktif atau komponennya yang mengakibatkan atau dapat mengakibatkan kematian atau luka berat atau menimbulkan kerusakan harta benda; b. mencuri atau merampas bahan nuklir, senjata kimia, senjata biologis, radiologi, mikroorganisme, radioaktif, atau komponennya ; c. penggelapan atau memperoleh secara tidak sah bahan nuklir, senjata kimia, senjata biologis, radiologi, mikroorganisme, radioaktif atau komponennya; d. meminta bahan nuklir, senjata kimia, senjata biologis, radiologi, mikroorganisme, radioaktif, atau komponennya secara paksa atau ancaman kekerasan atau dengan segala bentuk intimidasi; e. mengancam : 1) menggunakan bahan nuklir, senjata kimia, senjata biologis, radiologi, mikroorganisme, radioaktif, atau komponennya untuk menimbulkan kematian atau luka berat atau kerusakan harta benda; atau 2) melakukan tindak pidana sebagaimana dimaksud dalam huruf b dengan tujuan untuk memaksa orang lain, organisasi internasional, atau negara lain untuk melakukan atau tidak melakukan sesuatu. f. mencoba melakukan tindak pidana sebagaimana dimaksud dalam huruf a, huruf b, atau huruf c; dan g. ikut serta dalam melakukan tindak pidana sebagaimana dimaksud dalam huruf a sampai dengan huruf f.826 Setiap orang yang dengan sengaja memberikan bantuan atau kemudahan terhadap pelaku tindak pidana terorisme, dengan:
826 Pasal 12 Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang No. 1 Tahun 2002 Tentang Tindak Pidana Terorisme.

TPPU & TPA

297

a. memberikan atau meminjamkan uang atau barang tau harta kekayaan lainnya kepada pelaku tindak pidana terorisme; b. menyembunyikan pelaku tindak pidana terorisme; atau c. menyembunyikan informasi tentang tindak pidana terorisme, dipidana dengan pidana penjara paling singkat 3 (tiga) tahun dan paling lama 15 (lima belas) tahun.827 Setiap orang yang merencanakan dan/atau menggerakkan orang lain untuk melakukan tindak pidana terorisme sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6, Pasal 7, Pasal 8, Pasal 9, Pasal 10, Pasal 11, dan Pasal 12 dipidana dengan pidana mati atau pidana penjara seumur hidup.828 Setiap orang yang melakukan permufakatan jahat, percobaan, atau pembantuan untuk melakukan tindak pidana terorisme sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6, Pasal 7, Pasal 8, Pasal 9, Pasal 10, Pasal 11, dan Pasal 12 dipidana dengan pidana yang sama sebagai pelaku tindak pidananya.829 Setiap orang di luar wilayah negara Republik Indonesia yang memberikan bantuan, kemudahan, sarana, atau keterangan untuk terjadinya tindak pidana terorisme, dipidana dengan pidana yang sama sebagai pelaku tindak pidana sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6, Pasal 7, Pasal 8, Pasal 9, Pasal 10, Pasal 11, dan Pasal 12.830 II.5 Tindak pidana lain terkait tindak pidana pencucian uang Pejabat atau pegawai PPATK, penyidik, penuntut umum, hakim, dan setiap orang yang memperoleh Dokumen atau keterangan dalam rangka pelaksanaan tugasnya menurut Undang-Undang ini wajib merahasiakan Dokumen atau keterangan tersebut, kecuali untuk memenuhi kewajiban menurut Undang-Undang ini.831
817 Pasal 13 Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang No. 1 Tahun 2002 Tentang Tindak Pidana Terorisme. 828 Pasal 14 Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang No. 1 Tahun 2002 Tentang Tindak Pidana Terorisme. 829 Pasal 15 Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang No. 1 Tahun 2002 Tentang Tindak Pidana Terorisme. 830 Pasal 16 Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang No. 1 Tahun 2002 Tentang Tindak Pidana Terorisme. 831 Pasal 11 ayat (1) Undang-Undang RI No.8 Tahun 2010 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang.

298 Ikhtisar Ketentuan AML & CFT

Setiap orang yang melanggar ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dipidana dengan pidana penjara paling lama 4 (empat) tahun.832 Ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tidak berlaku bagi pejabat atau pegawai PPATK, penyidik, penuntut umum, dan hakim jika dilakukan dalam rangka memenuhi kewajiban sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.833 Direksi, komisaris, pengurus atau pegawai Pihak Pelapor dilarang memberitahukan kepada Pengguna Jasa atau pihak lain, baik secara langsung maupun tidak langsung, dengan cara apa pun mengenai laporan Transaksi Keuangan Mencurigakan yang sedang disusun atau telah disampaikan kepada PPATK.834 Ketentuan mengenai larangan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tidak berlaku untuk pemberian informasi kepada Lembaga Pengawas dan Pengatur.835 Pejabat atau pegawai PPATK atau Lembaga Pengawas dan Pengatur dilarang memberitahukan laporan Transaksi Keuangan Mencurigakan yang akan atau telah dilaporkan kepada PPATK secara langsung atau tidak langsung dengan cara apa pun kepada Pengguna Jasa atau pihak lain. 836 Ketentuan mengenai larangan sebagaimana dimaksud pada ayat (3) tidak berlaku dalam rangka pemenuhan kewajiban menurut UndangUndang ini. 837 Pelanggaran atas ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (3) dipidana dengan pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun dan pidana denda paling banyak Rp1.000.000.000,00 (satu miliar rupiah).838
Pasal 11 ayat (2) Undang-Undang RI No.8 Tahun 2010 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang.
833 Pasal 11 ayat (3) Undang-Undang RI No.8 Tahun 2010 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang. 834 Pasal 12 ayat (1) Undang-Undang RI No.8 Tahun 2010 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang. 835 Pasal 12 ayat (2) Undang-Undang RI No.8 Tahun 2010 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang. 836 Pasal 12 ayat (3) Undang-Undang RI No.8 Tahun 2010 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang. 837 Pasal 12 ayat (4) Undang-Undang RI No.8 Tahun 2010 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang. 838 Pasal 12 ayat (5) Undang-Undang RI No.8 Tahun 2010 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang. 832

TPPU & TPA

299

Setiap orang yang berada di dalam atau di luar wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia yang turut serta melakukan percobaan, pembantuan, atau Permufakatan Jahat untuk melakukan tindak pidana pencucian uang dipidana dengan pidana yang sama sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3, Pasal 4, dan Pasal 5.839

~o~

839 Pasal 10 Undang-Undang RI No.8 Tahun 2010 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang. (839)

300 Ikhtisar Ketentuan AML & CFT

Halaman ini sengaja dikosongkan

Pelaporan

301

BAB III PELAPORAN
Bab III ini memberi gambaran mengenai transaski keuangan dan pelaporan oleh penyedia jasa keuangan kepada PPATK dalam hal jenis dan bentuk laporan, tenggang waktu dan tata cara pelaporan, serta sanksi pelanggaran kewajiban pelaporan

302 Ikhtisar Ketentuan AML & CFT

Daftar Isi Halaman III.1 Definisi …….......................................................................................…. III.1.1 Transaksi ................................................................................... III.1.2 Transaksi Keuangan ............................................................... III.1.3 Transaksi dengan Pihak Pelapor ........................................... III.2 Jenis Laporan ......................................................................................... III.2.1 Transaksi Keuangan Mencurigakan (TKM) ..................... III.2.1.1 Pengertian................................................................. III.2.1.2 Tindakan Pemutusan hubungan Usaha .............. III.2.1.3 Identifikasi TKM ..................................................... III.2.1.3.1 Unsur-unsur TKM pada PJK .......... III.2.1.3.2 Indikator TKM pada PJK ................. III.2.1.3.3 Unsur-unsur TKM pada PVA dan UJPU .................................................... III.2.1.3.4 Indikator TKM pada PVA dan UJPU III.2.1.4 Laporan TKM untuk PJK-Bank ............................. III.2.1.4.1 Identitas Pelaku Transaksi ............... III.2.1.4.2 Pemegang Rekening Perusahaan .... III.2.1.4.3 Beneficial Owner/Perantara/ Pemegang Kuasa/Walk-in Customer ........ III.2.1.4.3.1 Perorangan ......................................... III.2.1.4.3.2 Perusahaan ......................................... III.2.1.4.4 Rincian Tentang TKM ...................... III.2.1.4 Laporan TKM untuk PJK- Perasuransian ........... III.2.1.5.1 Identitas Pemegang Polis ................. III.2.1.5.1.1 Pemegang Polis Perorangan ............ III.2.1.5.1.2 Pemegang Polis Perusahaan ........... III.2.1.5.1.3 Pemegang Kuasa Polis ..................... III.2.1.5.1.3.1 Pemegang Kuasa Polis Perorangan III.2.1.5.1.3.2 Pemegang Kuasa Polis Perusahaan III.2.1.5.2 Rincian Tentang Transaksi Keuangan Mencurigakan .................................... III.2.1.6 Laporan TKM untuk PJK-Dana Pensiun dan Lembaga Pembiayaan .............................................. III.2.1.6.1 Identitas Pelaku Transaksi ................. III.2.1.6.1.1 Pemegang Rekening Perora-ngan ... III.2.1.6.2.2 Pemegang Rekening Peru-sahaan .. III.2.1.6.2.2.1 Beneficial Owner/Perantara/ Pemegang Kuasa ........................... 307 307 307 307 308 308 308 309 310 310 310 314 315 318 318 318 319 321 321 322 323 325 325 325 326 328 329 330 332 332 332 333 334

Pelaporan

303

III.2.1.6.2.2.2 Beneficial Owner/Perantara/ Pemegang Kuasa Perorangan ....... III.2.1.6.3 Rincian Tentang TKM ......................... III.2.1.7 Laporan TKM untuk PJK-Perusahaan Efek, Manejer Investasi dan Bank Kustodian ............... III.2.1.7.1 Identifikasi Pelaku Transaksi .............. III.2.1.7.1.1 Pemegang Rekening Perora-ngan.. III.2.1.7.1.2 Pemegang Rekening Perusa-haan III.2.1.7.1.3 Pemegang Kuasa/Perantara ........... III. 2.1.7.1.3.1 Pemegang Kuasa/Perantara Perorangan ...................................... III. 2.1.7.1.3.2 Pemegang Kuasa/Perantara Perusahaan ..................................... III.2.1.7.2 Rincian Tentang TK ............................ III.2.1.8 Laporan TKM Bagi PJK-Pedagang Valuta Asing dan Usaha Jasa Pengiriman Uang ........................ III.2.1.8.1 Identifikasi Pelaku Transaksi .............. III.2.1.8.1.1 Perorangan .......................................... III.2.1.8.1.2 Perusahaan ......................................... III.2.1.8.2 Rincian Tentang TKM .......................... III.2.1.9 Kewajiban Pelaporan oleh Usaha Jasa Pengiriman Uang ..................................................... III.2.1.10 Tenggang Waktu dan Cara Penyampaian Pelaporan ................................................................. III.2.1.8.1 Tenggang Waktu Pelaporan TKM ..... III.2.1.8.2 Cara Penyampaian Pelaporan ............. III.2.1.8.2.1 Elektronis............................................ III.2.1.8.2.2 Manual ............................................... III.2.2 Transaksi Keuangan Tunai (TKT) ........................................ III.2.2.1 Pengertian ................................................................ III.2.2.2 Pilihan Laporan ........................................................ III.2.2.3 Isi Laporan ............................................................... III.2.2.4 Pengecualian ............................................................ III.2.2.4.1 TKT yang Dikecualikan ...................... III.2.2.4.2 Jenis-jenis Transaksi Tunai Yang Dikecualikan .......................................... III.2.2.4.3 Jenis usaha atau pihak tertentu yang dikecualikan .......................................... III.2.2.4.4 Cara Penetapan Transaksi Yang Dikecualikan .........................................

334 337 338 338 339 339 341 341 342 344 345 345 345 346 348 349 350 350 350 350 350 351 352 352 352 355 355 356 357 357

304 Ikhtisar Ketentuan AML & CFT

III.2.2.4.5 Permintaan Permohonan Pengecualian LTKT....................................................... III.2.2.4.5.1 Penetapan Transaksi Yang Dikecualikan ...................................... III.2.2.4.5.2 PJK Dapat Mengajukan Permintaan Pengecualian .................................... III.2.2.4.6 Jawaban PPATK ................................... III.2.2.4.7 Alamat Permintaan ............................... III.2.2.4.8 Kriteria Transaksi Keuangan Tunai Yang Dapat Diajukan Untuk Dikecualikan .......................................... III.2.2.4.9 Kewajiban Menyimpan Daftar Transaksi Yang Dikecualikan ............. III.2.3 III.2.4 International Fund Transfer Instruction (IFTI) ……….... Laporan Transaksi oleh Penyedia Barang dan/atau Jasa ........................................................................................... Laporan Pembawaan Uang Tunai dan Bearer Negotiable Instruments (BNI) ................................................................... III.2.5.1 Pengertian Umum .................................................. III.2.5.2 Kewajiban Pelaporan ............................................ III.2.5.3 Kewajiban Pelaporan oleh Bea dan Cukai Kepada PPATK .......................................... III.2.5.4 Permintaan Informasi oleh PPATK Kepada Bea dan Cukai ............................................. III.2.5.5 Kewajiban Lainnya Terkait Pembawaan Uang Tunai dan BNI............................................. III.2.5.5.1 Ijin Bank Indonesia .............................................. III.2.5.5.2 Wajib Memeriksa Keaslian Uang ....................... III.2.5.5.3 Penyampaian oleh Bea Cukai Kepada PPATK.. III.2.5.5.4 Jangka waktu Penyampaian Oleh Bea Cukai Kepada PPATK ..................................................... III.2.5.6 Pencegahan oleh Bea dan Cukai ........................ III.2.5.7 Kewajiban Bea Cukai Terkait Pencegahan ....... III.2.5.8 Kewajiban Bea Cukai Menyampaikan Laporan Kepada Bank Indonesia ......................................

359 359 360 361 361

361 362 363

363

III.2.5

363 364 366 366 367 367 367 368 368 368 369 369 369

III.3 Sanksi Administratif terkait kewajiban pelaporan oleh pihak pelapor ..................................................................................................... III.3.1 Pihak yang berwenang ...........................................................

370 370

Pelaporan

305

III.3.1.1 Dilakukan oleh LPP.................................................. a. Bank ................................................................... 1) Bank Umum .............................................. i. Sanksi Bagi Bank yang Terlambat Melaporkan........................................ ii. Sanksi Bagi Bank yang Belum Menyampaikan Pedoman atau LTKM ................................................. iii. Sanksi Bagi Bank yang Tidak Melaksanakan Komitmen Hasil Temuan BI .......................................... iv. Sanksi Administratif Bagi Bank ...... 2) Bank Prekreditan Rakyat ......................... b. Pasar Modal ..................................................... 1) Sanksi administratif .................................. 2) Kemungkinan Pengenaan Sanksi Pidana ....................................................... c. Lembaga Keuangan Non Bank 1) Ketentuan Umum ..................................... 2) Tata Cara Pengenaan Sanksi Administratif ............................................. d. Pedagang Valuta Asing .................................. 1) Ketentuan Umum ..................................... 2) Pengenaan Sanksi Bagi PVA................... e. Kegiatan Usaha Pengiriman Uang (KUPU).... 1) Kewajiban ................................................. 2) Sanksi ........................................................ III.3.1.2 Dilakukan oleh PPATK ........................................... III.4 Kerahasiaan Perbankan ....................................................................... III.5 Sanksi Terkait Pelanggaran Pembawaan Uang Tunai dan BNI ... III.4.1 Sanksi Administratif ............................................................... III.4.1.1 Pelanggaran Pasal 2 PBI No. 2/PBI/2002 ................ III.4.1.2 Pelanggaran Pasal 3 PBI No. 2/PBI/2002 ................ III.4.1.3 Pelanggaran Pasal 4 ayat (2) PBI No. 2/PBI/ 2002 .............................................................................. III.4.1.4 Pengembalian Sisa Uang .......................................... III.4.1.5 Denda di Setor ke Kas Negara ................................ III.4.1.6 Sanksi Pembawaan Uang Tunai Tanpa Ijin Bank Indonesia ....................................................................

370 370 371 370

370

371 371 371 371 371 373 374 374 375 375 375 376 376 377 378 379 379 379 379 380 380 380 381 381

306 Ikhtisar Ketentuan AML & CFT

III.4.1.7 Sanksi Jika Dana Yang Dibawa Lebih Besar dari yang Dimohonkan Ijin .............................................. III.4.1.8 Sanksi Pembawaan uang Tunai tanpa Pemeriksaan keaslian Uang ...................................... III.4.1.9 Batas Maksimal Pengenaan Sanksi ...........................

381 381 382

Pelaporan

307

III.1 Defenisi III.1.1 Transaksi Transaksi adalah seluruh kegiatan yang menimbulkan hak dan/atau kewajiban atau menyebabkan timbulnya hubungan hukum antara dua pihak atau lebih.840 III.1.2 Transaksi Keuangan Transaksi Keuangan adalah Transaksi untuk melakukan atau menerima penempatan, penyetoran, penarikan, pemindahbukuan, pentransferan, pembayaran, hibah, sumbangan, penitipan, dan/ atau penukaran atas sejumlah uang atau tindakan dan/atau kegiatan lain yang berhubungan dengan uang.841 III.1.3 Transaksi dengan Pihak Pelapor Setiap orang yang melakukan Transaksi dengan Pihak Pelapor wajib memberikan identitas dan informasi yang benar yang dibutuhkan oleh Pihak Pelapor dan sekurangkurangnya memuat identitas diri, sumber dana, dan tujuan Transaksi dengan mengisi formulir yang disediakan oleh Pihak Pelapor dan melampirkan Dokumen pendukungnya.842 Dalam hal Transaksi dilakukan untuk kepentingan pihak lain, setiap orang sebagaimana dimaksud pada ayat (1) wajib memberikan informasi mengenai identitas diri, sumber dana, dan tujuan Transaksi pihak lain tersebut. 843 Pihak Pelapor wajib mengetahui bahwa Pengguna Jasa yang melakukan Transaksi dengan Pihak Pelapor bertindak untuk diri sendiri atau untuk dan atas nama orang lain. 844

840 Pasal 1 ayat (3) Undang-Undang RI No. 10 Tahun 2010 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang. 841 Pasal 1 ayat (4) Undang-Undang RI No. 10 Tahun 2010 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang. 842 Pasal 19 ayat (1) Undang-Undang RI No. 10 Tahun 2010 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang. 843 Pasal 19 ayat (2) Undang-Undang RI No. 10 Tahun 2010 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang. 844 Pasal 20 ayat (1) Undang-Undang RI No. 10 Tahun 2010 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang.

308 Ikhtisar Ketentuan AML & CFT

Dalam hal Transaksi dengan Pihak Pelapor dilakukan untuk diri sendiri atau untuk dan atas nama orang lain, Pihak Pelapor wajib meminta informasi mengenai identitas dan Dokumen pendukung dari Pengguna Jasa dan orang lain tersebut. 845 Dalam hal identitas dan/atau Dokumen pendukung yang diberikan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) tidak lengkap, Pihak Pelapor wajib menolak Transaksi dengan orang tersebut. 846 Identitas dan Dokumen pendukung yang diminta oleh Pihak Pelapor harus sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang ditetapkan oleh setiap Lembaga Pengawas dan Pengatur. 847 Pihak Pelapor wajib menyimpan catatan dan Dokumen mengenai identitas pelaku Transaksi paling singkat 5 (lima) tahun sejak berakhirnya hubungan usaha dengan Pengguna Jasa tersebut. 848 Pihak Pelapor yang tidak melakukan kewajiban sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dikenai sanksi sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. 849 III.2 Jenis Laporan III.2.1 Transaksi Keuangan Mencurigakan (TKM) III.2.1.1 Pengertian Transaksi Keuangan Mencurigakan adalah850 :

845 Pasal 20 ayat (2) Undang-Undang RI No. 10 Tahun 2010 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang. 846 Pasal 20 ayat (3) Undang-Undang RI No. 10 Tahun 2010 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang. 847 Pasal 21 ayat (1) Undang-Undang RI No. 10 Tahun 2010 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang. 848 Pasal 21 ayat (2) Undang-Undang RI No. 10 Tahun 2010 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang. 849 Pasal 21 ayat (3) Undang-Undang RI No. 10 Tahun 2010 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang. 850 Pasal 1 ayat (5) huruf a, huruf b, huruf c, dan huruf d Undang-Undang RI No. 10 Tahun 2010 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang.

Pelaporan

309

a. Transaksi Keuangan yang menyimpang dari profil, karakteristik, atau kebiasaan pola Transaksi dari Pengguna Jasa yang bersangkutan. b. Transaksi Keuangan oleh Pengguna Jasa yang patut diduga dilakukan dengan tujuan untuk menghindari pelaporan Transaksi yang bersangkutan yang wajib dilakukan oleh Pihak Pelapor sesuai dengan ketentuan UndangUndang ini. c. Transaksi Keuangan yang dilakukan atau batal dilakukan dengan menggunakan Harta Kekayaan yang diduga berasal dari hasil tindak pidana. c. Transaksi Keuangan yang diminta oleh PPATK untuk dilaporkan oleh Pihak Pelapor karena melibatkan harta kekayaan yang diduga berasal dari hasil tindak pidana. III.2.1.2 Tindakan pemutusan hubungan usaha Penyedia jasa keuangan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 17 ayat (1) huruf a wajib memutuskan hubungan usaha dengan Pengguna Jasa jika: (a) Pengguna Jasa menolak untuk mematuhi prinsip mengenali Pengguna Jasa; atau (b) Pihak Pelapor meragukan kebenaran informasi yang disampaikan oleh Pengguna Jasa.851 Penyedia jasa keuangan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) wajib melaporkannya kepada PPATK mengenai tindakan pemutusan hubungan usaha tersebut sebagai Transaksi Keuangan Mencurigakan. 852

851 Pasal 22 ayat (1) huruf d Undang-Undang RI No. 10 Tahun 2010 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang. 852 Pasal 22 ayat (2) huruf d Undang-Undang RI No. 10 Tahun 2010 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang.

310 Ikhtisar Ketentuan AML & CFT

III.2.1.3 Identifikasi TKM III.2.1.3.1Unsur-unsur TKM pada PJK853 Berdasarkan Pasal 1 ayat 5 UU PP TPPU, Transaksi Keuangan Mencurigakan pada prinsipnya memiliki unsur-unsur di bawah ini: a. Transaksi yang menyimpang dari: profil; karakteristik; atau kebiasaan pola transaksi dari nasabah yang bersangkutan. b. Transaksi yang patut diduga dilakukan dengan tujuan untuk menghindari pelaporan yang wajib dilakukan oleh PJK. c. Transaksi keuangan yang dilakukan atau batal dilakukan dengan menggunakan Harta Kekayaan yang diduga berasal dari Hasil Tindak Pidana. d. Transaksi keuangan yang melibatkan Harta Kekayaan yang yang diduga berasal dari hasil tindak pidana. Apabila suatu transaksi keuangan telah memenuhi satu atau lebih dari unsur-unsur di atas maka PJK wajib menetapkannya sebagai Transaksi Keuangan Mencurigakan dan melaporkannya kepada PPATK. III.2.1.3.2Indikator TKM pada PJK854 Dalam mengidentifikasi apakah suatu transaksi keuangan memenuhi satu

853 Keputusan Kepala PPATK No. 2/4/Kep.PPATK/2003, Pedoman II: Identifikasi Transaksi Keuangan Mencurigakan Bagi Penyedia Jasa Keuangan. 854 Keputusan Kepala PPATK No. 2/4/Kep.PPATK/2003, Pedoman II: Identifikasi Transaksi Keuangan Mencurigakan Bagi Penyedia Jasa Keuangan.

Pelaporan

311

atau lebih dari unsur-unsur tersebut di atas, PJK dapat menggunakan indikator-indikator Transaksi Keuangan Mencurigakan, antara lain a. Transaksi 1) Tunai : i. Transaksi yang dilakukan secara tunai dalam jumlah di luar kebiasaan yang dilakukan nasabah. ii. Transaksi yang dilakukan dalam jumlah relatif kecil namun dengan frekuensi yang tinggi (structuring). iii. Transaksi dilakukan dengan menggunakan beberapa rekening atas nama individu yang berbeda-beda untuk kepentingan satu orang tertentu (smurfing). iv. Pertukaran atau pembelian mata uang asing dalam jumlah relatif besar. v. Pembelian travellers checks secara tunai dalam jumlah relatif besar. vi. Pembelian secara tunai beberapa produk asuransi dalam jangka waktu berdekatan atau bersamaan dengan pembayaran premi sekaligus dalam jumlah besar yang kemudian diikuti pencairan polis sebelum jatuh tempo. vii. Pembelian efek dengan menggu-nakan uang tunai, transfer atau cek atas nama orang lain.

312 Ikhtisar Ketentuan AML & CFT

2) Transaksi yang tidak rasional secara ekonomis : i. Transaksi-transaksi yang tidak sesuai dengan tujuan pembukaan rekening; ii. Transaksi yang tidak ada hubungannya dengan usaha nasabah; iii. Jumlah dan frekuensi transaksi diluar kebiasaan yang normal. 3) Transfer dana : i. Transfer dana untuk dan dari offshore financial centre yang berisiko tinggi (high risk) tanpa alasan usaha yang jelas. ii. Penerimaan transfer dana dalam beberapa tahap dan setelah mencapai akumulasi jumlah tertentu yang cukup besar kemudian ditransfer ke luar secara sekaligus. iii. Penerimaan dan pengiriman dana dalam jumlah yang sama atau hampir sama serta dilakukan dalam jangka waktu yang relatif singkat (pass-by). iv. Pembayaran dana dalam kegiatan ekspor impor tanpa dokumen yang lengkap. v. Transfer dana dari atau ke negara yang tergolong berisiko tinggi (high risk). vi. Transfer dana dari atau ke pihak yang tergolong berisiko tinggi (high risk).

Pelaporan

313

vii. Penerimaan/pembayaran dana dengan menggunakan lebih dari 1 (satu) rekening baik atas nama yang sama atau atas nama yang berbeda. viii. Transfer dana dengan menggunakan rekening atas nama pegawai PJK dalam jumlah yang diluar kewajaran. b. Perilaku Nasabah : 1) Perilaku nasabah yang tidak wajar pada saat melakukan transaksi (gugup, tergesa-gesa, rasa kurang percaya diri, dll) 2) Nasabah/calon nasabah memberikan informasi yang tidak benar mengenai hal-hal yang berkaitan dengan identitas, sumber penghasilan atau usahanya. 3) Nasabah/calon nasabah mengguna-kan dokumen identitas yang diragukan kebenarannya atau diduga palsu seperti tanda tangan yang berbeda atau foto yang tidak sama. 4) Nasabah/calon nasabah enggan atau menolak untuk memberikan nformasi/ dokumen yang diminta oleh petugas PJK tanpa alasan yang jelas. 5) Nasabah atau kuasanya mencoba mempengaruhi petugas PJK untuk tidak

314 Ikhtisar Ketentuan AML & CFT

melaporkan sebagai Transaksi Keuangan Mencurigakan dengan berbagai cara. 6) Nasabah membuka rekening hanya untuk jangka pendek saja. 7) Nasabah tidak bersedia memberikan informasi yang benar atau segera memutuskan hubungan usaha/ menutup rekening pada saat petugas PJK meminta informasi atas transaksi yang dilakukannya. Apabila setelah melakukan proses identifikasi Transaksi Keuangan Mencurigakan PJK masih merasa ragu, sebaiknya PJK tetap melaporkannya kepada PPATK sebagai Transaksi Keuangan Mencurigakan agar terhindar dari risiko yang tidak diharapkan termasuk kemungkinan terkena sanksi sebagaimana diatur dalam Pasal 30 UU PP TPPU. III.2.1.3.3 Unsur-unsur TKM pada PVA dan UJPU Berdasarkan Pasal 1 ayat 5 UU PP TPPU, Transaksi Keuangan Mencurigakan pada prinsipnya memiliki unsur-unsur di bawah ini: a. Transaksi yang menyimpang dari: profil; karakteristik; atau kebiasaan pola transaksi dari nasabah yang bersangkutan. b. Transaksi yang patut diduga dilakukan dengan tujuan untuk menghindari pelaporan yang wajib

Pelaporan

315

dilakukan oleh PJK. c. Transaksi keuangan yang dilakukan atau batal dilakukan dengan menggunakan Harta Kekayaan yang diduga berasal dari Hasil Tindak Pidana. d. Transaksi keuangan yang melibatkan Harta Kekayaan yang yang diduga berasal dari hasil tindak pidana. Apabila suatu transaksi keuangan telah memenuhi satu atau lebih dari unsurunsur di atas maka PVA dan UJPU wajib menetapkannya sebagai Transaksi Keuangan Mencurigakan dan melaporkannya kepada PPATK. III.2.1.3.4 Indikator TKM pada PVA dan UJPU Dalam mengidentifikasi apakah suatu transaksi keuangan memenuhi satu atau lebih dari unsur-unsur tersebut di atas, PVA dan UJPU dapat menggunakan indikator-indikator Transaksi Keuangan Mencuri-gakan, antara lain : a. Transaksi 1) Transaksi jual beli valuta asing i. Transaksi yang dilakukan dalam jumlah di luar kebiasaan pengguna jasa (untuk pengguna jasa yang seringkali melakukan transaksi dengan PVA yang sama). ii. Transaksi yang dilakukan dalam jumlah relatif kecil namun dengan frekuensi yang tinggi. iii. Transaksi dilakukan

316 Ikhtisar Ketentuan AML & CFT

dengan menggunakan beberapa nama individu yang berbeda-beda untuk kepentingan satu orang tertentu. iv. Penjualan dan pembelian mata uang asing dalam jumlah relatif besar. v. Pengguna jasa menjual travellers checks dalam jumlah relatif besar. vi. Transaksi yang tidak ada hubungannya dengan usaha pengguna jasa. vii. Pengguna jasa meminta pembayaran hasil penjualan valas dengan menggunakan cek. viii. Pengguna jasa meminta pembayaran hasil penjualan/pembelian valas ditransfer ke rekening bank yang bersangkutan atau pihak lain. ix. Pengguna jasa meminta agar pembayaran hasil penjualan/ pembelian valas diserahkan kepada pihak lain. x. Pengguna jasa meminta pembayaran hasil penjualan/pembelian valas dengan pecahan besar. xi. Pengguna jasa bersedia dikenakan nilai tukar yang lebih rendah dari nilai tukar yang berlaku. 2) Transaksi pengiriman dan penerimaan uang : i. Pengiriman dan atau penerimaan uang ke dan

Pelaporan

317

ii.

iii.

iv.

v.

vi.

dari offshore financial centre yang berisiko tinggi (high risk) tanpa alasan usaha yang jelas. Pengiriman dan atau penerimaan uang dilakukan dalam jumlah relatif kecil namun dengan frekuensi yang tinggi. Pengiriman dan atau penerimaan uang beberapa tahap dalam jumlah yang relatif besar. Pengiriman dan penerimaan uang dalam jumlah yang sama atau hampir sama serta dilakukan dalam jangka waktu yang relatif singkat. Pengiriman dan atau penerimaan uang ke dan dari negara yang tergolong berisiko tinggi (high risk countries). Pengiriman dan atau penerimaan uang ke dan dari pihak yang tergolong berisiko tinggi (high risk customers).

b. Perilaku pengguna jasa PVA dan UJPU 1) Perilaku pengguna jasa yang tidak wajar pada saat melakukan transaksi (gugup, tergesa-gesa, rasa kurang percaya diri, dll) 2) Pengguna jasa memberikan informasi yang tidak benar mengenai hal-hal yang berkaitan dengan identitas dirinya.

318 Ikhtisar Ketentuan AML & CFT

3) Pengguna jasa menggunakan dokumen identitas yang diragukan kebenarannya atau diduga palsu seperti tanda tangan yang berbeda atau foto yang tidak sama. 4) Pengguna jasa enggan atau menolak untuk memberikan informasi/dokumen yang diminta oleh petugas PVA dan UJPU tanpa alasan yang jelas. 5) Pengguna jasa mencoba mempengaruhi petugas PVA dan UJPU untuk tidak melaporkan sebagai Transaksi Keuangan Mencurigakan dengan berbagai cara. Apabila setelah melakukan proses identifikasi Transaksi Keuangan Mencurigakan PVA dan UJPU masih merasa ragu, sebaiknya PVA dan UJPU tetap melaporkannya kepada PPATK sebagai Transaksi Keuangan Mencurigakan agar terhindar dari risiko yang tidak diharapkan termasuk kemungkinan terkena sanksi sebagaimana diatur dalam Pasal 30 UU PP TPPU. III.2.1.4 Laporan TKM untuk PJK-Bank855 III.2.1.4.1 Identitas Pelaku Transaksi III.2.1.4.1.1 Pemegang Perorangan Rekening

Apabila pelaku adalah Pemegang Rekening Perorangan maka yang
855 Keputusan Kepala PPATK No. 2/6/Kep.PPATK/ 2003, Pedoman III: Tata Cara Pelaporan Transaksi Keuangan Bagi Penyedia Jasa Keuangan.

Pelaporan

319

diisi adalah isian No. 1 sampai dengan 11. 1. Nama Lengkap. Nama lengkap dari pemegang rekening perorangan sebagai pelaku transaksi. 2. Nama Panggilan/ Alias. 3. Jenis Kelamin. 4. Tempat dan Tanggal Lahir. 5. Kewarganegaraan. 6. Alamat lengkap domisili (tidak diperkenankan menggunakan P.O. BOX) Alamat tempat tinggal yang terkini dari pemegang rekening. 7. No. Telp (dapat lebih dari satu). 8. Pekerjaan. Termasuk pekerjaan seperti pelajar, mahasiswa dan ibu rumah tangga. 9. Alamat Tempat Kerja. Apabila pelajar/ mahasiswa diisi dengan alamat sekolah/perguruan tinggi. Apabila ibu rumah tangga diisi dengan alamat rumah yang bersangkutan. 10. NPWP. 11. Bukti Identitas yang dimiliki (dapat lebih dari satu). III.2.1.4.1.2 Pemegang Rekening Perusahaan Apabila pelaku adalah Pemegang Rekening Perusahaan maka yang diisi adalah isian No. 12 sampai dengan 21. 12. Nama Perusahaan. 13. Jenis Badan Hukum/Badan lainnya. Contoh jenis badan hukum/badan lainnya adalah

320 Ikhtisar Ketentuan AML & CFT

14.

15. 16.

17. 18.

19.

20.

21.

Perseroan Terbatas (PT), CV, Firma, Usaha Dagang, Yayasan, Koperasi, Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM), Partai Politik. Domisili Badan Hukum/ Badan lainnya. Diisi negara asal badan hukum/badan lain pemegang rekening. Untuk badan hukum/ badan lain yang berasal dari Indonesia tetap harus diiisi dengan “Indonesia”. NPWP. Alamat Perusahaan (tidak diperkenankan menggunakan P.O. BOX). No Telp (dapat lebih dari satu). Bidang Usaha Utama. Sesuai dengan kegiatan usaha utama dari perusahaan. Izin usaha/izin lainnya dari instansi yang berwenang. Diisi Jenis dan No. Izin sesuai dengan yang dimiliki oleh perusahaan tersebut. Dapat lebih dari satu. Nama Pengurus Perusahaan. Diisi sesuai dengan Anggaran Dasar perusahaan terkini yang ada di Bank. Bank dapat menambahkan jumlah isian Pengurus Perusahaan sesuai dengan kebutuhan. Nama Pemilik/Pemegang Saham Mayoritas. Diisi sesuai dengan Anggaran Dasar perusahaan terkini yang ada di Bank. Bank dapat menambahkan jumlah isian Pemilik/ Pemegang Saham Mayoritas

Pelaporan

321

sesuai dengan kebutuhan. III.2.1.4.1.3 Beneficial Owner/Perantara/ Pemegang Kuasa/Walk-in Customer. Apabila transaksi keuangan mencurigakan melibatkan Beneficial Owner/Perantara/ Pemegang Kuasa/Walk-in Customer. III.2.1.4.3.3.1 Perorangan

Apabila Beneficial Owner/ Perantara/Pemegang Kuasa/ Walkin Customer adalah Perorangan maka yang diisi adalah isian No. 22 sampai dengan 32. 22. Nama Lengkap. Nama lengkap dari Beneficial Owner/ Perantara/Pemegang Kuasa/ Walk-in Customer. 23. Nama Panggilan. 24. Jenis Kelamin. 25. Tempat dan Tanggal Lahir. 26. Kewarganegaraan. 27. Alamat lengkap domisili (tidak diperkenankan meng-gunakan P.O. BOX). Alamat tempat tinggal dan no telepon yang terkini dari pemegang rekening. 28. No. Telp (dapat lebih dari satu). 29. Pekerjaan. Termasuk pekerjaan seperti pelajar, mahasiswa dan ibu rumah tangga. 30. Alamat Tempat Kerja. Apabila pelajar/mahasiswa diisi dengan alamat dan no telepon sekolah/ perguruan tinggi. Apabila ibu rumah tangga diisi dengan

322 Ikhtisar Ketentuan AML & CFT

alamat dan nomor telepon rumah yang bersangkutan. 31. NPWP 32. Bukti Identitas yang dimiliki (dapat lebih dari satu). III.2.1.4.3.3.2 Perusahaan Apabila Beneficial Owner/ Perantara/ Pemegang Kuasa/ Walk-in Customer adalah Perusahaan maka yang diisi adalah isian No. 33 sampai dengan 42. 33. Nama Perusahaan. 34. Jenis Badan Hukum/Badan lainnya. Contoh jenis badan hukum/badan lainnya adalah Perseroan Terbatas (PT), CV, Firma, Usaha Dagang, Yayasan, Koperasi, Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM), Partai Politik. 35. Domisili Badan Hukum/ Badan lainnya. Diisi negara asal badan hukum/badan lain pemegang rekening. Untuk badan hukum/ badan lain yang berasal dari Indonesia tetap harus diiisi dengan “Indonesia”. 36. NPWP. Khusus bagi yang tidak wajib memiliki NPWP diisi dengan “Tidak wajib memiliki NPWP”. 37. Alamat Perusahaan (tidak diperkenankan mengguna-kan P.O.BOX) 38. No. Telp (dapat lebih dari satu). 39. Bidang Usaha Utama. Sesuai dengan kegiatan usaha utama dari perusahaan.

Pelaporan

323

40. Izin usaha/izin lainnya dari instansi yang berwenang. Diisi Jenis dan No. Izin sesuai dengan yang dimiliki oleh perusahaan tersebut. Dapat lebih dari satu. 41. Nama Pengurus Perusahaan. Diisi sesuai dengan Anggaran Dasar perusahaan terkini yang ada di Bank. Bank dapat menambahkan jumlah isian Pengurus Perusahaan sesuai dengan kebutuhan. 42. Nama Pemilik/Pemegang Saham Mayoritas. Diisi sesuai dengan Anggaran Dasar perusahaan terkini yang ada di Bank. Bank dapat menambahkan jumlah isian Pemilik/ Pemegang Saham Mayoritas sesuai dengan kebutuhan. III.2.1.4.2 Rincian tentang TKM a. Jenis Transaksi (mis: penyetoran, penarikan, transfer, pembelian TC, dll). Apabila Transaksi Keuangan Mencurigakan yang dilakukan terdiri dari rangkaian beberapa transaksi, agar diuraikan pada No. 54 Formulir Pelaporan. b. Tanggal Transaksi. Tanggal transaksi yang memicu terjadinya kecurigaan atau yang memiliki indikator Transaksi Keuangan Mencurigakan. Apabila Transaksi Keuangan Mencurigakan yang dilakukan terdiri dari rangkaian beberapa transaksi, agar diuraikan pada No. 54 Formulir Pelaporan. c. Nilai Transaksi (dalam Rupiah). Nilai (dalam rupiah) transaksi yang memicu terjadinya kecurigaan atau yang memiliki indikator Transaksi Keuangan Mencurigakan. Apabila

324 Ikhtisar Ketentuan AML & CFT

Transaksi Keuangan Mencurigakan yang dilakukan terdiri dari rangkaian beberapa transaksi, agar diuraikan pada No. 54 Formulir Pelaporan. d. Instrument pembayaran yang digunakan. Contoh: Cek, Bilyet Giro, Traveller Cheque atau kas/tunai/ banknotes, dan lain-lain. Apabila Transaksi Keuangan Mencurigakan yang dilakukan terdiri dari rangkaian beberapa transaksi, harap diuraikan pada No. 54 Formulir Pelaporan. e. Apakah menggunakan valuta asing? Pilih “Ya” atau “Tidak”. e. Apakah transaksi menggunakan uang tunai? Pilih “Ya” atau “Tidak”. f. Apakah walk-in customer? Pilih “Ya” atau “Tidak”. g. Rekening yang digunakan bertransaksi. Contoh jenis rekening: Rekening Giro, Tabungan, Deposito dan lainnya. h. Kantor Bank Pelapor tempat kejadian transaksi. Adalah di kantor Bank tempat terjadinya Transaksi Keuangan Mencurigakan. i. Bank lain yang terkait dengan transaksi (bila ada). Bank lain sebagai pengirim atau penerima dana. Apabila Transaksi Keuangan Mencurigakan melibatkan beberapa bank, agar diuraikan pada No. 54 Formulir Pelaporan. j. Pihak ketiga yang terkait dengan transaksi (bila ada). Nama pihak yang mengirim dana dari bank lain atau menerima dana pada bank lain. Apabila Transaksi Keuangan Mencurigakan melibatkan beberapa pihak, agar diuraikan pada No. 54 Formulir Pelaporan.

Pelaporan

325

k. Rincian dan uraian Transaksi Keuangan Mencurigakan. Uraian rinci mengenai latarbelakang, data pelaku dan transaksi serta indikator-indikator dan unsur-unsur Transaksi Keuangan Mencurigakan yang dapat diidentifikasikan oleh bank. Termasuk dalam uraian ini adalah hal-hal lain yang berkaitan dengan transaksi nasabah antara lain tujuan nasabah membuka rekening, profil nasabah, PJK lain, pihak lain dan informasi mengenai orang yang melakukan transaksi atas nama nasabah. l. Kode Bank. Sesuai dengan kode (sandi) bank yang diberikan oleh PPATK kepada masing-masing bank. m.Nama Bank n. Nama dan tandatangan Pejabat Bank III.2.1.5 Laporan TKM untuk PJK-Perasuransian856 III.2.1.5.1Identitas Pemegang Polis III.2.1.5.1.1 Pemegang Polis Perorangan Apabila pelaku adalah pemegang polis perorangan maka yang diisi adalah isian No. 1 sampai dengan 11. 1. Nama Lengkap. Nama lengkap dari pemegang polis perorangan sebagai pelaku transaksi. 2. Nama Panggilan/Alias. 3. Jenis Kelamin. 4. Tempat dan Tanggal Lahir. 5. Kewarganegaraan. 6. Alamat lengkap domisili (tidak diperkenankan
856 Keputusan Kepala PPATK No. 2/6/Kep.PPATK/2003, Pedoman III: Tata Cara Pelaporan Transaksi Keuangan Bagi Penyedia Jasa Keuangan.

326 Ikhtisar Ketentuan AML & CFT

7. 8.

9.

10. 11.

menggunakan P.O. BOX). Alamat tempat tinggal yang terkini dari pemegang polis. No. Telp (dapat lebih dari satu). Pekerjaan. Termasuk pekerjaan seperti pelajar, mahasiswa dan ibu rumah tangga. Alamat Tempat Kerja. Apabila pelajar/mahasiswa diisi dengan alamat sekolah/ perguruan tinggi. Apabila ibu rumah tangga diisi dengan alamat rumah yang bersangkutan. NPWP. Bukti Identitas yang dimiliki (dapat lebih dari satu).

III.2.1.5.2.2 Pemegang Polis Perusahaan Apabila pelaku adalah Pemegang Polis Perusahaan maka yang diisi adalah isian No. 12 sampai dengan 21. 12. Nama Perusahaan. 13. Jenis Badan Hukum/Badan lainnya. Contoh jenis badan hukum/badan lainnya adalah Perseroan Terbatas (PT), CV, Firma, Usaha Dagang, Yayasan, Koperasi, Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM), Partai Politik. 14. Domisili Badan Hukum/ Badan lainnya. Diisi negara asal badan hukum/badan lain pemegang rekening. Untuk badan hukum/badan lain yang berasal dari Indonesia

Pelaporan

327

tetap harus diiisi dengan “Indonesia”. 15. NPWP 16. Alamat Perusahaan (tidak diperkenankan menggunakan P.O. BOX). 17. No. Telp (dapat lebih dari satu). 18. Bidang Usaha Utama. Sesuai dengan kegiatan usaha utama dari perusahaan. 19. Izin usaha/izin lainnya dari instansi yang berwenang. Diisi Jenis dan No. Izin sesuai dengan yang dimiliki oleh perusahaan tersebut. Dapat lebih dari satu. 20. Nama Pengurus Perusahaan. Diisi sesuai dengan Anggaran Dasar perusahaan terkini yang ada di Asuransi. Asuransi dapat menambahkan jumlah isian Pengurus Perusahaan sesuai dengan kebutuhan. 21. Nama Pemilik/Pemegang Saham Mayoritas. Diisi sesuai dengan Anggaran Dasar perusahaan terkini yang ada di Asuransi. Asuransi dapat menambahkan jumlah isian Pemilik/Pemegang Saham Mayoritas sesuai dengan kebutuhan. III.2.1.5.2.3 Pemegang Kuasa Polis Adalah pihak yang diberi kuasa oleh Pemegang Polis untuk melakukan transaksi yang dalam hal ini diindikasikan sebagai

328 Ikhtisar Ketentuan AML & CFT

Transaksi Keuangan Mencurigakan. III.2.1.5.2.3.1 Pemegang Perorangan Kuasa Polis

22. Nama Lengkap. Nama lengkap dari Pemegang Kuasa Polis. 23. Nama Panggilan. 24. Jenis Kelamin. 25. Tempat dan Tanggal Lahir. 26. Kewarganegaraan. 27. Alamat lengkap domisili (tidak diperkenankan menggunakan P.O. BOX). Alamat tempat tinggal dan no telepon yang terkini dari pemegang kuasa polis. 28. No. Telp (dapat lebih dari satu). 29. Pekerjaan. Termasuk pekerjaan seperti pelajar, mahasiswa dan ibu rumah tangga. 30. Alamat Tempat Kerja. Apabila pelajar/mahasiswa diisi dengan alamat dan no telepon sekolah/perguruan tinggi. Apabila ibu rumah tangga diisi dengan alamat dan no telepon rumah yang bersangkutan. 31. NPWP. 32. Bukti Identitas yang dimiliki (dapat lebih dari satu). III.2.1.5.2.3.2 Pemegang Kuasa Perusahaan. Polis

Apabila Pemegang Kuasa Polis adalah Perusahaan maka yang diisi adalah isian No. 33 sampai

Pelaporan

329

dengan 42. 33. Nama Perusahaan. 34. Jenis Badan Hukum/Badan lainnya. Contoh jenis badan hukum/badan lainnya adalah Perseroan Terbatas (PT), CV, Firma, Usaha Dagang, Yayasan, Koperasi, Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM), Partai Politik. 35. Domisili Badan Hukum/ Badan lainnya. Diisi negara asal badan hukum/badan lain pemegang rekening. Untuk badan hukum/ badan lain yang berasal dari Indonesia tetap harus diiisi dengan “Indonesia”. 36. NPWP. Khusus bagi yang tidak wajib memiliki NPWP diisi dengan “Tidak wajib memiliki NPWP”. 37. Alamat Perusahaan (tidak diperkenankan menggunakan P.O.BOX). 38. No. Telp (dapat lebih dari satu). 39. Bidang Usaha Utama. 40. Sesuai dengan kegiatan usaha utama dari perusahaan. 41. Izin usaha/izin lainnya dari instansi yang berwenang. Diisi Jenis dan No. Izin sesuai dengan yang dimiliki oleh perusahaan tersebut. Dapat lebih dari satu. 42. Nama Pengurus Perusahaan. Diisi sesuai dengan Anggaran Dasar perusahaan terkini yang ada di Asuransi.

330 Ikhtisar Ketentuan AML & CFT

Asuransi dapat menambahkan jumlah isian Pengurus Perusahaan sesuai dengan kebutuhan. 43. Nama Pemilik/Pemegang Saham Mayoritas. Diisi sesuai dengan Anggaran Dasar perusahaan terkini yang ada di Asuransi. Asuransi dapat menambahkan jumlah isian Pemilik/ Pemegang Saham Mayoritas sesuai dengan kebutuhan. III.2.1.5.2 Rincian Tentang TKM a. Jenis Asuransi/Polis. b. Tanggal Transaksi. Tanggal transaksi yang memicu terjadinya kecurigaan atau yang memiliki indikator Transaksi Keuangan Mencurigakan. Apabila Transaksi Keuangan Mencurigakan yang dilakukan terdiri dari rangkaian beberapa transaksi, agar diuraikan pada No. 54 Formulir Pelaporan. c. Nilai Transaksi (dalam Rupiah). Nilai (dalam rupiah) transaksi yang memicu terjadinya kecurigaan atau yang memiliki indikator Transaksi Keuangan Mencurigakan. Apabila Transaksi Keuangan Mencurigakan yang dilakukan terdiri dari rangkaian beberapa transaksi, agar diuraikan pada No. 54 Formulir Pelaporan. d. Instrument pembayaran yang digunakan. Contoh: Cek, Bilyet Giro, lalu lintas giral (transfer) atau kas/tunai/banknotes, dan lainlain. Apabila Transaksi Keuangan Mencurigakan yang dilakukan terdiri dari rangkaian beberapa transaksi, agar diuraikan pada No. 54 Formulir Pelaporan.

Pelaporan

331

e. Apakah menggunakan valuta asing? Pilih “Ya” atau “Tidak”. f. Apakah transaksi menggunakan uang tunai? Pilih “Ya” atau “Tidak”. g. Rekening yang digunakan bertransaksi. Informasi mengenai rekening di bank yang digunakan dalam melakukan transaksi keuangan mencurigakan yang terkait dengan Asuransi. h. Kantor Asuransi Pelapor tempat kejadian transaksi. Adalah kantor pusat atau kantor cabang asuransi tempat terjadinya Transaksi Keuangan Mencurigakan. Apabila Transaksi Keuangan Mencurigakan yang dilakukan terdiri dari rangkaian beberapa transaksi, agar diuraikan pada No. 54 Formulir Pelaporan. i. Nama Penerima Manfaat j. Alamat Penerima Manfaat k. No. Rekening dan Bank Penerima Manfaat l. Rincian dan uraian Transaksi Keuangan Mencurigakan. Uraian rinci mengenai latarbelakang, data pelaku dan transaksi serta indikator-indikator dan unsur-unsur Transaksi Keuangan Mencurigakan yang dapat diidentifikasikan oleh Perusahaan Asuransi. Termasuk dalam uraian ini adalah hal-hal lain yang berkaitan dengan transaksi nasabah antara lain tujuan penutupan polis, profil nasabah, PJK lain, pihak lain dan informasi mengenai orang yang melakukan transaksi atas nama nasabah. m. Kode Asuransi. Sesuai dengan kode (sandi) Asuransi yang diberikan oleh PPATK kepada masing-masing Asuransi.

332 Ikhtisar Ketentuan AML & CFT

n. Nama Perusahaan Asuransi o. Nama dan tandatangan Pejabat Asuransi III.2.1.6 Laporan TKM untuk PJK-Dana Pensiun dan Lembaga Pembiayaan857 III.2.1.6.1 Identitas Pelaku Transaksi III.2.1.6.1.1 Pemegang Perorangan Rekening

Apabila pelaku adalah Pemegang Rekening Perorangan maka yang diisi adalah isian No. 1 sampai dengan 11. 1. Nama Lengkap. Nama lengkap dari pemegang rekening perorangan sebagai pelaku transaksi. 2. Nama Panggilan/Alias. 3. Jenis Kelamin. 4. Tempat dan Tanggal Lahir. 5. Kewarganegaraan. 6. Alamat lengkap domisili (tidak diperkenankan menggunakan P.O. BOX). Alamat tempat tinggal yang terkini dari pemegang rekening. 7. No. Telp (dapat lebih dari satu). 8. Pekerjaan. Termasuk pekerjaan seperti pelajar, mahasiswa dan ibu rumah tangga. 9. Alamat Tempat Kerja. Apabila pelajar/ mahasiswa diisi dengan alamat sekolah/ perguruan tinggi. Apabila ibu rumah tangga diisi dengan alamat

857 Keputusan Kepala PPATK No. 2/6/Kep.PPATK/ 2003, Pedoman III: Tata Cara Pelaporan Transaksi Keuangan Bagi Penyedia Jasa Keuangan.

Pelaporan

333

rumah yang bersangkutan. 10. NPWP. 11. Bukti Identitas yang dimiliki (dapat lebih dari satu). III.2.1.6.1.2 Pemegang Rekening Perusahaan Apabila pelaku adalah Pemegang Rekening Perusahaan maka yang diisi adalah isian No. 12 sampai dengan 21. 12. Nama Perusahaan. 13. Jenis Badan Hukum/Badan lainnya. Contoh jenis badan hukum/badan lainnya adalah Perseroan Terbatas (PT), CV, Firma, Usaha Dagang, Yayasan, Koperasi, Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM), Partai Politik. 14. Domisili Badan Hukum/ Badan lainnya. Diisi negara asal badan hukum/badan lain pemegang rekening. Untuk badan hukum/ badan lain yang berasal dari Indonesia tetap harus diiisi dengan “Indonesia”. 15. NPWP. 16. Alamat Perusahaan (tidak diperkenankan menggunakan P.O. BOX). 17. No Telp (dapat lebih dari satu). 18. Bidang Usaha Utama. Sesuai dengan kegiatan usaha utama dari perusahaan. 19. Izin usaha/izin lainnya dari instansi yang berwenang. Diisi Jenis dan No. Izin sesuai dengan yang dimiliki oleh

334 Ikhtisar Ketentuan AML & CFT

perusahaan tersebut. Dapat lebih dari satu. 20. Nama Pengurus Perusahaan. Diisi sesuai dengan Anggaran Dasar perusahaan terkini yang ada di PJK. PJK dapat menambahkan jumlah isian Pengurus Perusahaan sesuai dengan kebutuhan. 21. Nama Pemilik/Pemegang Saham Mayoritas Diisi sesuai dengan Anggaran Dasar perusahaan terkini yang ada di PJK. PJK dapat menambahkan jumlah isian Pemilik/ Pemegang Saham Mayoritas sesuai dengan kebutuhan. III.2.1.6.1.2.1 Beneficial Owner/ Perantara/ Pemegang Kuasa. Apabila transaksi keuangan mencurigakan melibatkan Beneficial Owner/Perantara/ Pemegang Kuasa. III.2.1.6.1.2.1.1 Beneficial Owner/Perantara/ Pemegang Kuasa Perorangan. Apabila pelaku adalah Beneficial Owner/ Perantara/ Pemegang Kuasa Perorangan maka yang diisi adalah isian No. 22 sampai dengan 32. 22. Nama Lengkap. Nama lengkap dari Beneficial Owner/ Perantara/Pemegang Kuasa. 23. Nama Panggilan. 24. Jenis Kelamin. 25. Tempat dan Tanggal Lahir. 26. Kewarganegaraan. 27. Alamat lengkap domisili (tidak

Pelaporan

335

28. 29.

30.

31. 32.

diperkenankan menggunakan P.O. BOX). Alamat tempat tinggal dan no telepon yang terkini dari Beneficial Owner/ Perantara/Pemegang Kuasa. No. Telp (dapat lebih dari satu). Pekerjaan. Termasuk pekerjaan seperti pelajar, mahasiswa dan ibu rumah tangga. Alamat Tempat Kerja. Apabila pelajar/ mahasiswa diisi dengan alamat dan no telepon sekolah/ perguruan tinggi. Apabila ibu rumah tangga diisi dengan alamat dan no telepon rumah yang bersangkutan. NPWP. Bukti Identitas yang dimiliki (dapat lebih dari satu).

III.2.1.6.1.2.1.2 Beneficial Owner/Perantara/ Pemegang Kuasa Perusahaan. Pelaku adalah Beneficial Owner/ Perantara/Pemegang Kuasa Perusahaan maka yang diisi adalah isian No. 33 sampai dengan 42. 33. Nama Perusahaan. 34. Jenis Badan Hukum/Badan lainnya. Contoh jenis badan hukum/badan lainnya adalah Perseroan Terbatas (PT), CV, Firma, Usaha Dagang, Yayasan, Koperasi, Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM), Partai Politik. 35. Domisili Badan Hukum/Badan lainnya. Diisi negara asal badan hukum/badan lain pemegang rekening. Untuk badan hukum/

336 Ikhtisar Ketentuan AML & CFT

36.

37.

38. 39.

40.

41.

42.

badan lain yang berasal dari Indonesia tetap harus diiisi dengan “Indonesia”. NPWP. Khusus bagi yang tidak wajib memiliki NPWP diisi dengan “Tidak wajib memiliki NPWP” Alamat Perusahaan (tidak diperkenankan menggunakan P.O.BOX). No. Telp (dapat lebih dari satu). Bidang Usaha Utama. Sesuai dengan kegiatan usaha utama dari perusahaan. Izin usaha/izin lainnya dari instansi yang berwenang. Diisi Jenis dan No. Izin sesuai dengan yang dimiliki oleh perusahaan tersebut. Dapat lebih dari satu. Nama Pengurus Perusahaan. Diisi sesuai dengan Anggaran Dasar perusahaan terkini yang ada di PJK. PJK dapat menambahkan jumlah isian Pengurus Perusahaan sesuai dengan kebutuhan. Nama Pemilik/Pemegang Saham Mayoritas. Diisi sesuai dengan Anggaran Dasar perusahaan terkini yang ada di PJK. PJK dapat menambahkan jumlah isian Pemilik/ Pemegang Saham Mayoritas sesuai dengan kebutuhan.

III.2.1.6.2 Rincian Tentang Transaksi Keuangan Mencurigakan a. Jenis Transaksi. Antara lain transaksi pelunasan dan transaksi pembayaran iuran.

Pelaporan

337

Apabila Transaksi Keuangan Mencurigakan yang dilakukan terdiri dari rangkaian beberapa transaksi, agar diuraikan pada No. 53 Formulir Laporan. b..Tanggal Transaksi. Tanggal transaksi yang memicu terjadinya kecurigaan atau yang memiliki indikator Transaksi Keuangan Mencurigakan. Apabila Transaksi Keuangan Mencurigakan yang dilakukan terdiri dari rangkaian beberapa transaksi, agar diuraikan pada No. 53 Formulir Laporan. c. Nilai Transaksi (dalam Rupiah). Nilai (dalam rupiah) transaksi yang memicu terjadinya kecurigaan atau yang memiliki indikator Transaksi Keuangan Mencurigakan. Apabila Transaksi Keuangan Mencurigakan yang dilakukan terdiri dari rangkaian beberapa transaksi, agar diuraikan pada No. 53 Formulir Laporan. d. Instrument pembayaran yang digunakan. Contoh: Cek, Bilyet Giro, Traveller Cheque atau kas/tunai/banknotes, dan lain-lain. Apabila Transaksi Keuangan Mencurigakan yang dilakukan terdiri dari rangkaian beberapa transaksi, agar diuraikan pada No. 53 Formulir Laporan. e. Apakah menggunakan valuta asing? Pilih “Ya” atau “Tidak”. f. Apakah transaksi menggunakan uang tunai? Pilih “Ya” atau “Tidak”. g. Rekening yang digunakan Bertransaksi. Untuk Lembaga Pembiayaan contohnya adalah Consumer, Leasing, Factoring dan Credit. Untuk Dana Pensiun contohnya adalah Rekening Kepesertaan. h. Kantor PJK Pelapor tempat kejadian transaksi. Adalah kantor pusat atau kantor cabang PJK

338 Ikhtisar Ketentuan AML & CFT

tempat terjadinya Transaksi Keuangan Mencurigakan. Apabila Transaksi Keuangan Mencurigakan yang dilakukan terdiri dari rangkaian beberapa transaksi, agar diuraikan pada No. 53 Formulir Laporan. i. PJK lain yang terkait dengan transaksi (bila ada). PJK lain yang terkait dengan transaksi. j. Pihak ketiga yang terkait dengan transaksi (bila ada). Nama individu lain yang terkait dengan transaksi. k. Rincian dan uraian Transaksi Keuangan Mencurigakan. Uraian rinci mengenai latarbelakang, data pelaku dan transaksi serta indikator-indikator dan unsur-unsur Transaksi Keuangan Mencurigakan yang dapat diidentifikasikan oleh PJK. Termasuk dalam uraian ini adalah hal-hal lain yang berkaitan dengan transaksi nasabah antara lain, profil nasabah, PJK lain, pihak lain dan informasi mengenai orang yang melakukan transaksi atas nama nasabah. l. Kode PJK. Sesuai dengan kode (sandi) PJK yang diberikan oleh PPATK kepada masingmasing PJK. m. Nama PJK n. Nama dan tandatangan Pejabat PJK III.2.1.7 Laporan TKM untuk PJK-Perusahaan Efek, Manajer Investasi dan Bank Kustodian858 III.2.1.7.1 Identitas Pelaku Transaksi III.2.1.7.1.1 Pemegang Rekening Perorangan Apabila pelaku adalah Pemegang Rekening Perorangan maka yang
Keputusan Kepala PPATK No. 2/6/Kep.PPATK/ 2003, Pedoman III: Tata Cara Pelaporan Transaksi Keuangan Bagi Penyedia Jasa Keuangan.
858

Pelaporan

339

diisi adalah isian No. 1 sampai dengan 11. 1. Nama Lengkap. Nama lengkap dari pemegang rekening perorangan sebagai pelaku transaksi. 2. Nama Panggilan/Alias. 3. Jenis Kelamin. 4. Tempat dan Tanggal Lahir. 5. Kewarganegaraan. 6. Alamat lengkap domisili (tidak diperkenankan menggunakan P.O. BOX). Alamat tempat tinggal yang terkini dari pemegang rekening. 7. No. Telp (dapat lebih dari satu). 8. Pekerjaan. Termasuk pekerjaan seperti pelajar, mahasiswa dan ibu rumah tangga. 9. Alamat Tempat Kerja. Apabila pelajar/mahasiswa diisi dengan alamat sekolah/ perguruan tinggi. Apabila ibu rumah tangga diisi dengan alamat rumah yang bersangkutan. 10. NPWP. 11. Bukti Identitas yang dimiliki (dapat lebih dari satu). III.2.1.7.1.2 Pemegang Rekening Perusahaan Apabila pelaku adalah Pemegang Rekening Perusahaan maka yang diisi adalah isian No. 12 sampai dengan 21. 12. Nama Perusahaan.

340 Ikhtisar Ketentuan AML & CFT

13. Jenis Badan Hukum/Badan lainnya. Contoh jenis badan hukum/badan lainnya adalah Perseroan Terbatas (PT), CV, Firma, Usaha Dagang, Yayasan, Koperasi, Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM), Partai Politik. 14. Domisili Badan Hukum/ Badan lainnya. Diisi negara asal badan hukum/badan lain pemegang rekening. Untuk badan hukum/badan lain yang berasal dari Indonesia tetap harus diiisi dengan “Indonesia”. 15. NPWP. 16. Alamat Perusahaan (tidak diperkenankan menggunakan P.O. BOX). 17. No Telp (dapat lebih dari satu). 18. Bidang Usaha Utama. Sesuai dengan kegiatan usaha utama dari perusahaan. 19. Izin usaha/izin lainnya dari instansi yang berwenang. Diisi Jenis dan No. Izin sesuai dengan yang dimiliki oleh perusahaan tersebut. Dapat lebih dari satu. 20. Nama Pengurus Perusahaan. Diisi sesuai dengan Anggaran Dasar perusahaan terkini yang ada di PJK. PJK dapat menambahkan jumlah isian Pengurus Perusahaan sesuai dengan kebutuhan. 21. Nama Pemilik/Pemegang Saham Mayoritas Diisi sesuai

Pelaporan

341

dengan Anggaran Dasar perusahaan terkini yang ada di PJK. PJK dapat menambahkan jumlah isian Pemilik/Pemegang Saham Mayoritas sesuai dengan kebutuhan. III.2.1.7.1.3 Pemegang Kuasa/Perantara Adalah pihak yang diberi kuasa oleh atau Perantara Pemegang Rekening untuk melakukan transaksi yang dalam hal ini diindikasikan sebagai Transaksi Keuangan Mencurigakan. III.2.1.7.1.3.1 Pemegang Kuasa/Perantara Perorangan Apabila pelaku adalah Pemegang Kuasa/ Perantara Perorangan maka yang diisi adalah isian No. 22 sampai dengan 32. 22. Nama Lengkap. Nama lengkap dari Pemegang Kuasa/Perantara. 23. Nama Panggilan. 24. Jenis Kelamin. 25. Tempat dan Tanggal Lahir. 26. Kewarganegaraan. 27. Alamat lengkap domisili (tidak diperkenankan menggunakan P.O. BOX). Alamat tempat tinggal dan no telepon yang terkini dari pemegang rekening. 28. No. Telp (dapat lebih dari satu). 29. Pekerjaan. Termasuk pekerjaan seperti pelajar,

342 Ikhtisar Ketentuan AML & CFT

mahasiswa dan ibu rumah tangga. 30. Alamat Tempat Kerja. Apabila pelajar/ mahasiswa diisi dengan alamat dan no telepon sekolah/perguruan tinggi. Apabila ibu rumah tangga diisi dengan alamat dan no telepon rumah yang bersangkutan. 31. NPWP. 32. Bukti Identitas yang dimiliki (dapat lebih dari satu). III.2.1.7.1.3.2 Pemegang Kuasa/Perantara Perusahaan. Apabila pelaku adalah Pemegang Kuasa/Perantar Perusahaan maka yang diisi adalah isian No. 33 sampai dengan 42. 33. Nama Perusahaan. 34. Jenis Badan Hukum/ Badan lainnya. Contoh jenis badan hukum/badan lainnya adalah Perseroan Terbatas (PT), CV, Firma, Usaha Dagang, Yayasan, Koperasi, Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM), Partai Politik. 35. Domisili Badan Hukum/ Badan lainnya. Diisi negara asal badan hukum/badan lain pemegang rekening. Untuk badan hukum/badan lain yang berasal dari Indonesia tetap harus diiisi dengan “Indonesia”.

Pelaporan

343

36. NPWP. Khusus bagi yang tidak wajib memiliki NPWP diisi dengan “Tidak wajib memiliki NPWP” 37. Alamat Perusahaan (tidak diperkenankan menggunakan P.O.BOX). 38. No. Telp (dapat lebih dari satu). 39. Bidang Usaha Utama. Sesuai dengan kegiatan usaha utama dari perusahaan. 40. Izin usaha/izin lainnya dari instansi yang berwenang. Diisi Jenis dan No. Izin sesuai dengan yang dimiliki oleh perusahaan tersebut. Dapat lebih dari satu. 41. Nama Pengurus Perusahaan. Diisi sesuai dengan Anggaran Dasar perusahaan terkini yang ada di PJK. PJK dapat menambahkan jumlah isian Pengurus Perusahaan sesuai dengan kebutuhan. 42. Nama Pemilik/Pemegang Saham Mayoritas. Diisi sesuai dengan Anggaran Dasar perusahaan terkini yang ada di PJK. PJK dapat menambahkan jumlah isian Pemilik/ Pemegang Saham Mayoritas sesuai dengan kebutuhan. III.2.1.7.2 Rincian tentang TKM a. Jenis Transaksi. Antara lain transaksi pembelian efek atau saham. Apabila Transaksi Keuangan Mencurigakan yang dilakukan

344 Ikhtisar Ketentuan AML & CFT

terdiri dari rangkaian beberapa transaksi, agar diuraikan pada No. 53 Formulir Laporan. b. Tanggal Transaksi. Tanggal transaksi yang memicu terjadinya kecurigaan atau yang memiliki indikator Transaksi Keuangan Mencurigakan. Apabila Transaksi Keuangan Mencurigakan yang dilakukan terdiri dari rangkaian beberapa transaksi, agar diuraikan pada No. 53 Formulir Laporan. c. Nilai Transaksi (dalam Rupiah). Nilai (dalam rupiah) transaksi yang memicu terjadinya kecurigaan atau yang memiliki indikator Transaksi Keuangan Mencurigakan. Apabila Transaksi Keuangan Mencurigakan yang dilakukan terdiri dari rangkaian beberapa transaksi, agar diuraikan pada No. 53 Formulir Laporan. d. Instrument pembayaran yang digunakan. Contoh: Cek, Bilyet Giro, transfer, dan lainlain. Apabila Transaksi Keuangan Mencurigakan yang dilakukan terdiri dari rangkaian beberapa transaksi, agar diuraikan pada No. 53 Formulir Laporan. e. Apakah menggunakan valuta asing? Pilih “Ya” atau “Tidak”. f. Apakah walk-in customer? Pilih “Ya” atau “Tidak”. g. Rekening yang digunakan Bertransaksi. Contoh jenis rekening: Rekening Efek Reguler atau Rekening Efek Margin. h. Kantor PJK Pelapor tempat kejadian transaksi. Adalah di kantor pusat atau kantor cabang PJK tempat terjadi Transaksi Keuangan Mencurigakan. Apabila Transaksi Keuangan Mencurigakan yang dilakukan terdiri dari rangkaian beberapa transaksi, agar diuraikan pada No. 53 Formulir Laporan.

Pelaporan

345

i. PJK lain yang terkait dengan transaksi (bila ada). PJK lain yang terkait dengan transaksi keuangan mencurigakan. j. Pihak ketiga yang terkait dengan transaksi (bila ada). Nama pihak lain yang terkait dengan transaksi keuangan mencurigakan. k. Rincian dan uraian Transaksi Keuangan Mencurigakan. Uraian lengkap mengenai latar-belakang, data-data pelaku dan transaksi serta indikator-indikator mengenai sebabsebab digolongkannya transaksi tersebut menjadi Transaksi Keuangan Mencurigakan. l. Kode PJK. Sesuai dengan kode (sandi) PJK yang diberikan oleh PPATK kepada masingmasing PJK. m.Nama PJK n. Nama dan tandatangan Pejabat PJK III.2.1.8 Laporan TKM untuk PJK-Pedagang Valuta Asing dan Usaha Jasa Pengiriman Uang859 III.2.1.8.1Identitas Pelaku Transaksi III.2.1.8.1.1 Perorangan. Apabila pelaku adalah Pengguna Jasa Perorangan maka yang diisi adalah isian No. 1 sampai dengan 11. 1. Nama Lengkap. Nama lengkap dari Pengguna Jasa Perorangan sebagai pelaku transaksi. 2. Nama Panggilan/Alias. 3. Jenis Kelamin. 4. Tempat dan Tanggal Lahir. 5. Kewarganegaraan.
859 Keputusan Kepala PPATK No. 2/6/Kep.PPATK/2003, Pedoman III: Tata Cara Pelaporan Transaksi Keuangan Bagi Penyedia Jasa Keuangan.

346 Ikhtisar Ketentuan AML & CFT

6. Alamat lengkap domisili (tidak diperkenankan menggunakan P.O. BOX). Alamat tempat tinggal yang terkini dari pemegang rekening. 7. No. Telp (dapat lebih dari satu). 8. Pekerjaan. Termasuk pekerjaan seperti pelajar, mahasiswa dan ibu rumah tangga. 9. Alamat Tempat Kerja. Apabila pelajar/mahasiswa diisi dengan alamat sekolah/ perguruan tinggi. Apabila ibu rumah tangga diisi dengan alamat rumah yang bersangkutan. 10. NPWP. 11. Bukti Identitas yang dimiliki (dapat lebih dari satu). III.2.1.8.1.2 Perusahaan Apabila pelaku adalah Pengguna Jasa Perusahaan maka yang diisi adalah isian No. 12 sampai dengan 21. 12. Nama Perusahaan. 13. Jenis Badan Hukum/Badan lainnya. Contoh jenis badan hukum/badan lainnya adalah Perseroan Terbatas (PT), CV, Firma, Usaha Dagang, Yayasan, Koperasi, Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM), Partai Politik. 14. Domisili Badan Hukum/ Badan lainnya. Diisi negara asal badan hukum/badan lain

Pelaporan

347

15. 16.

17. 18.

19.

20.

21.

pemegang rekening. Untuk badan hukum/badan lain yang berasal dari Indonesia tetap harus diiisi dengan “Indonesia”. NPWP. Alamat Perusahaan (tidak diperkenankan menggunakan P.O. BOX). No Telp (dapat lebih dari satu). Bidang Usaha Utama. Sesuai dengan kegiatan usaha utama dari perusahaan. Izin usaha/izin lainnya dari instansi yang berwenang. Diisi Jenis dan No. Izin sesuai dengan yang dimiliki oleh perusahaan tersebut. Dapat lebih dari satu. Nama Pengurus Perusahaan. Diisi sesuai dengan Anggaran Dasar perusahaan terkini yang ada di Bank. Bank dapat menambahkan jumlah isian Pengurus Perusahaan sesuai dengan kebutuhan. Nama Pemilik/Pemegang Saham Mayoritas. Diisi sesuai dengan Anggaran Dasar perusahaan terkini yang ada di Bank. Bank dapat menambahkan jumlah isian Pemilik/Pemegang Saham Mayoritas sesuai dengan kebutuhan.

III.2.1.8.2 Rincian tentang TKM a. Jenis Transaksi. (misal: pembelian valas, penjualan valas, pembelian TC, pengiriman

348 Ikhtisar Ketentuan AML & CFT

uang, penerimaan uang, dll). Apabila Transaksi Keuangan Mencurigakan yang dilakukan terdiri dari rangkaian beberapa transaksi, agar diuraikan pada No. 31 Formulir Laporan. b. Tanggal Transaksi. Tanggal transaksi yang memicu terjadinya kecurigaan atau yang memiliki indikator Transaksi Keuangan Mencurigakan. Apabila Transaksi Keuangan Mencurigakan yang dilakukan terdiri dari rangkaian beberapa transaksi, agar diuraikan pada No. 31 Formulir Laporan. c. Nilai Transaksi (dalam Rupiah). Nilai (dalam rupiah) transaksi yang memicu terjadinya kecurigaan atau yang memiliki indikator Transaksi Keuangan Mencurigakan. Apabila Transaksi Keuangan Mencurigakan yang dilakukan terdiri dari rangkaian beberapa transaksi, agar diuraikan pada No. 31. d. Instrument pembayaran yang digunakan. Contoh: Cek, Bilyet Giro, Traveller Cheque atau kas/tunai/ banknotes, dan lain-lain. Apabila Transaksi Keuangan Mencurigakan yang dilakukan terdiri dari rangkaian beberapa transaksi, harap diuraikan pada No. 31. e. Apakah menggunakan valuta asing? Pilih “Ya” atau “Tidak”. f. Apakah transaksi menggunakan uang tunai? Pilih “Ya” atau “Tidak”. g. Rekening yang digunakan bertransaksi (bila ada). Dicantumkan jenis rekening misalnya Rekening Giro atau Tabungan, nama pemilik rekening, No. rekening dan nama bank. h. Kantor PVA atau UJPU tempat kejadian transaksi. Adalah di kantor PVA atau UJPU tempat terjadinya Transaksi Keuangan Mencurigakan.

Pelaporan

349

i. PJK lain yang terkait dengan transaksi (bila ada). PJK lain yang terkait dengan Transaksi Keuangan Mencurigakan. j. Pihak ketiga yang terkait dengan transaksi (bila ada). Nama pihak lain yang terkait dengan Transaksi Keuangan Mencurigakan. k. Rincian dan uraian Transaksi Keuangan Mencurigakan. Uraian rinci mengenai latarbelakang, data pelaku dan transaksi serta indikator-indikator dan unsur-unsur Transaksi Keuangan Mencurigakan yang dapat diidentifikasikan oleh PVA dan UJPU. Termasuk dalam uraian ini adalah hal-hal lain yang berkaitan dengan transaksi pengguna jasa diantaranya PJK lain, pihak lain dan informasi mengenai orang yang melakukan transaksi atas nama pengguna jasa. l. Kode PVA dan UJPU. Sesuai dengan kode (sandi) masing-masing PVA dan UJPU yang diberikan oleh PPATK. m.Nama PVA dan UJPU. n. Nama dan tandatangan Pejabat PVA atau Pejabat UJPU. III.2.1.8.3 Kewajiban Pelaporan oleh Usaha Jasa Pengiriman Uang Dalam melakukan kegiatan usaha Pengiriman Uang, Penyelenggara wajib melakukan hal-hal sebagai berikut: “melaporkan transaksi yang mencurigakan kepada lembaga yang berwenang sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang mengatur mengenai tindak pidana pencucian uang”.860 III.2.1.9 Tenggang Waktu dan Cara Penyampaian Laporan
860 Pasal 14 huruf g Peraturan Bank Indonesia No. 8/28/PBI/2006 tentang Kegiatan Usaha Pengiriman Uang.

350 Ikhtisar Ketentuan AML & CFT

III.2.1.9.1 Tenggang Waktu Pelaporan TKM Penyampaian laporan Transaksi Keuangan Mencurigakan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 23 ayat (1) huruf a dilakukan sesegera mungkin paling lama 3 (tiga) hari kerja setelah Pihak Pelapor mengetahui adanya unsur Transaksi Keuangan Mencurigakan.861 III.2.1.9.2 Cara Penyampaian Pelaporan TKM Ketentuan lebih lanjut mengenai bentuk, jenis, dan tata cara penyampaian laporan sebagaimana dimaksud pada ayat (1), ayat (2), dan ayat (3) diatur dengan Peraturan Kepala PPATK.862 Dalam menyampaikan laporan Transaksi Keuangan Mencurigakan (TKM), PJK dapat melakukannya dengan cara elektronis dan manual.863 III.2.1.8.2.1 Elektronis864 Yaitu menyampaikan Laporan Transaksi keuangan Mencurigakan secara on-line dengan mengakses server PPATK dengan menggunakan user id dan password yang ditentukan oleh PPATK. PJK yang akan menyampaikan Laporan Transaksi Keuangan secara elektronis, harus terlebih dahulu mengajukan ”Permoho861 Pasal 25 ayat (1) Undang-Undang RI No. 8 Tahun 2010 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang. 862 Pasal 25 ayat (5) Undang-Undang RI No. 8 Tahun 2010 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang. 863 Keputusan Kepala PPATK No. 2/6/KEP. PPATK/ 2003, Pedoman III: Tata Cara Pelaporan Transaksi Keuangan Bagi Penyedia Jasa Keuangan. 864 Peraturan Kepala PPATK No. 2/7/KEP. PPATK/2003, Pedoman IIIA: Tata Cara Pelaporan Transaksi Keuangan Bagi Pedagang Valuta Asing dan Usaha Jasa Pengiriman Uang.

Pelaporan

351

nan Pelaporan Secara Elektronis” melalui e-mail ke alamat : helpline@ppatk.go.id PPAK akan memberikan user id dan password dan alamat server Laporan Transaksi Keuangan Mencurigakan secara individual kepada masing-masing PJK. Sepanjang PJK belum menerima user id dan password, maka penyampaian LTKM dilakukan secara Manual. III.2.1.8.2.2 Manual Yaitu mengirimkan hardcopy LTKM yang telah diisi oleh PJK (sesuai dengan contoh formulir Laporan Transaksi Keuangan yang terlampir dalam Pedoman III: Tata Cara Pelaporan Transaksi Keuangan Mencurigakan bagi PJK) kepada PPATK dengan alamat: Jln. Ir. H. Juanda No. 35 Jakarta 10120. III.2.2 Transaksi Keuangan Tunai (TKT)865 Penyedia jasa keuangan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 17 ayat (1) huruf a wajib menyampaikan laporan kepada PPATK antara lain TKT dalam jumlah paling sedikit Rp500.000.000,00 (lima ratus juta rupiah) atau dengan mata uang asing yang nilainya setara yang dilakukan, baik dalam satu kali Transaksi maupun beberapa kali Transaksi dalam 1 (satu) hari kerja.866 III.2.2.1 Pengertian
865 Keputusan Kepala PPATK No. 3/1/Kep.PPATK/2004, Pedoman IV: Pedoman Laporan Transaksi Keuangan Tunai dan Tata Cara Pelaporannya Bagi Penyedia Jasa Keuangan. 866 Pasal 23 ayat (1) huruf b Undang-Undang RI No. 8 Tahun 2010 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang.

352 Ikhtisar Ketentuan AML & CFT

Transaksi Keuangan Tunai adalah Transaksi Keuangan yang dilakukan dengan menggunakan uang kertas dan/atau uang logam.867 III.2.2.2 Pilihan Laporan Laporan terdiri dari pilihan : a. Laporan Baru Apabila laporan ini merupakan laporan TKT baru yang disampaikan oleh PJK. b. Laporan Koreksi Apabila laporan ini merupakan koreksi dari laporan TKT yang pernah disampaikan oleh PJK sebelumnya. III.2.2.3 Isi Laporan Isi laporan TKT terdiri dari beberapa bagian sebagai berikut: a. Identitas Pemegang Rekening/Pelaku Transaksi 1) Pelaku Transaksi Pemegang Rekening i. Identitas pelaku transaksi yang sekaligus pemegang rekening di PJK tersebut. Apabila transaksi dilakukan oleh pesuruh/kurir/messenger maka yang dilaporkan adalah data pemegang rekening Nama Lengkap atau Nama Perusahaan Pemegang Rekening. Nama lengkap dari pemegang perorangan atau perusahaan sebagai pelaku transaksi. Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP). Alamat. Kota. Propinsi.

ii.

iii. iv. v. vi.

867 Pasal 1 ayat (6) Undang-Undang RI No. 8 Tahun 2010 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang.

Pelaporan

353

vii. Tanggal Lahir (tgl/bln/thn). Hanya diisi bagi pemegang rekening perorangan. viii. Pekerjaan/Profesi/Bidang Usaha (bila perusahaan). Termasuk pekerjaan seperti pelajar, mahasiswa dan ibu rumah tangga. Bagi Perusahaan diisi sesuai dengan kegiatan usaha utama dari perusahaan. ix. Jenis Identitas. Bagi perusahaan diisi dengan No. Izin sesuai dengan yang dimiliki oleh perusahaan tersebut (dalam kolom “Lainnya”). x. Data Rekening. (a) Jenis Rekening. o Untuk Bank contohnya Rekening Giro, Tabungan, Deposito dan lainnya. o Untuk Asuransi contoh-nya jenis asuransi/ polis. o Untuk Lembaga Pem-biayaan contohnya Con-sumer, Leasing, Factoring dan Credit. o Untuk Dana Pensiun contohnya Rekening Kepesertaan. o Untuk Perusahaan Efek, Manajer Investasi dan Bank Kustodian contohnya Rekening Efek Reguler atau Rekening Efek Margin. (b) Nomor Rekening. 2) Pelaku Transaksi yang merupakan Perantara, Pemegang Kuasa atau Walk-in Customer. Diisi apabila pelaku transaksi merupakan Perantara, Pemegang Kuasa atau Walk-in Customer yang berbeda dengan pemegang rekening pada huruf A tersebut di atas. i. Nama Pelaku Transaksi. Nama lengkap orang atau perusahaan

354 Ikhtisar Ketentuan AML & CFT

pelaku transaksi. ii. Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP). iii. Alamat. iv. Kota. v. Propinsi. vi. Propinsi. vii. Tanggal Lahir (tgl/bln/thn). Diisi bagi pelaku transaksi perorangan. viii. Jenis Identitas. Bagi pelaku transaksi perusahaan diisi dengan No. Izin sesuai dengan yang dimiliki oleh perusahaan tersebut (dalam kolom “Lainnya”). b. Transaksi 1) Kas Masuk (dalam Rupiah). Nominal transaksi penyetoran/pembayaran tunai dalam rupiah. 2) Kas Masuk dalam valuta asing equivalen dalam Rupiah Nominal transaksi penyetoran/pembayaran tunai dalam valuta asing disetarakan dalam Rupiah. Nilai tukar yang digunakan adalah nilai tukar yang ditetapkan oleh PJK dalam bertransaksi. Disebutkan jenis valuta asing yang digunakan. 3) Total Seluruh Kas Masuk. 4) Kas Keluar (dalam Rupiah). Nominal transaksi penarikan/penerimaan tunai dalam rupiah. 5) Kas Keluar dalam valuta asing eq. dlm Rupiah. Nominal transaksi penarikan/ pembelian tunai dalam valuta asing disetarakan dalam Rupiah. Nilai tukar yang digunakan adalah nilai tukar yang ditetapkan oleh PJK dalam bertransaksi. Disebutkan jenis valuta asing yang digunakan. 6) Total Seluruh Kas Keluar. 7) Tanggal Transaksi (tgl/bln/thn). 8) Sebutkan rekening yang terkait dengan transaksi. Apabila transaksi keuangan tunai yang dilakukan melibatkan rekening pihak

Pelaporan

355

lain dan PJK memiliki informasi tersebut. 9) Sebutkan informasi lainnya (bila ada). c. Tempat terjadinya Transaksi 1) Nama Kantor PJK tempat terjadinya transaksi. 2) Alamat PJK tempat terjadinya transaksi. 3) Nama dan Pejabat PJK yang Melaporkan. 4) Tanda tangan Pejabat PJK. III.2.2.4 Pengecualian Kewajiban pelaporan TKT sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b tidak berlaku untuk Transaksi yang dikecualikan.868 III.2.2.4.1 TKT yang dikecualikan869 a. Transaksi yang dilakukan oleh penyedia jasa keuangan dengan pemerintah dan bank sentral; b. Transaksi untuk pembayaran gaji atau pensiun; dan c. Transaksi lain yang ditetapkan oleh Kepala PPATK atau atas permintaan penyedia jasa keuangan yang disetujui oleh PPATK. Yang dimaksud dengan “Transaksi dengan pemerintah” adalah Transaksi yang menggunakan rekening pemerintah, dan dilakukan untuk dan atas nama pemerintah yaitu pemerintah pusat, pemerintah daerah, kementerian, lembaga pemerintah non-kementerian atau badan-badan pemerintah lainnya, namun tidak

868 Pasal 23 ayat (5) Undang-Undang RI No. 8 Tahun 2010 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang. 869 Pasal 23 ayat (4) huruf a, huruf b dan huruf c Undang-Undang RI No. 8 Tahun 2010 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang.

356 Ikhtisar Ketentuan AML & CFT

termasuk badan usaha milik negara/ daerah. 870 Yang dimaksud dengan “Transaksi lain” adalah transaksi-transaksi yang dikecualikan sesuai dengan karakteristiknya selalu dilakukan dalam bentuk tunai dan dalam jumlah yang besar, misalnya setoran rutin oleh pengelola jalan tol atau pengelola supermarket. Selain berdasarkan jenis transaksi, Kepala PPATK dapat menetapkan transaksi lain yang dikecualikan berdasarkan besarnya jumlah transaksi, bentuk atau wilayah kerja Pihak Pelapor tertentu. Pemberlakukan pengecualian tersebut dapat dilakukan baik untuk waktu yang tidak terbatas (permanen) maupun untuk waktu tertentu.871 III.2.2.4.2 Jenis-jenis TKT yang dikecualikan III.2.2.4.2.1 Kewajiban pelaporan atas Transaksi Keuangan Tunai sebagaimana dimaksud pada pasal 23 ayat (1) huruf b UU PP TPPU dikecualikan terhadap: 872 a. Transaksi yang dilakukan oleh penyedia jasa keuangan dengan pemerintah dan bank sentral; b. Transaksi untuk pembayaran gaji atau pensiun; dan

870 Penjelasan Pasal 23 ayat (4) huruf a Undang-Undang RI No. 8 Tahun 2010 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang. 871 Penjelasan Pasal 23 ayat (4) huruf c Undang-Undang RI No. 8 Tahun 2010 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang. 872 Pasal 23 ayat (4) Undang-Undang RI No. 8 Tahun 2010 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang.

Pelaporan

357

c. Transaksi lain yang ditetapkan oleh Kepala PPATK atau atas permintaan penyedia jasa keuangan yang disetujui oleh PPATK. III.2.2.4.2.2 Kewajiban pelaporan sebagai-mana dimaksud pada pasal 23 ayat (1) huruf b tidak berlaku untuk Transaksi yang dikecualikan. 873 III.2.2.4.3 Jenis usaha atau pihak tertentu yang dikecualikan Jenis usaha atau pihak tertentu yang dikecualikan dari kewajiban pelaporan Transaksi Keuangan Tunai : a. Pengelola jalan tol; b. Supermaket, hypermarket, department store dan usaha sejenis dengan nama lain; c. Pengelola jasa perparkiran; d. Stasiun pengisain bahan bakar umum (SPBU); e. International Air Transport Association (IATA); f. Perwakilan negara asing; g. Organisasi organisasi internasional yang anggotanya misalnya PBB, IMF, ADB, World Bank; h. Maskapai penerbangan; i. Lembaga pendidikan formal; j. Operator telekomunikasi; k. Pengelola rumah sakit; l. Penyedia tenaga listrik III.2.2.4.4 Cara Penetapan Transaksi Yang Dikecualikan Penetapan
873

Transaksi

Yang

Pasal 23 ayat (5) Undang-Undang RI No. 8 Tahun 2010 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang.

358 Ikhtisar Ketentuan AML & CFT

Dikecualikan sebagaimana dimaksud pada angka 1 huruf e dilakukan dengan cara: a. Berdasarkan keputusan Kepala PPATK untuk menetapkan suatu transaksi dikecualikan dari Laporan Transaksi Keuangan Tunai. Keputusan Kepala PPATK ditentukan dengan berdasarkan pada besarnya jumlah transaksi, bentuk PJK tertentu, atau wilayah kerja PJK tertentu. Pemberlakuan pengecualian tersebut dapat dilakukan untuk seluruh PJK dan/ atau PJK tertentu baik untuk jangka waktu yang tidak terbatas (permanen) maupun untuk jangka waktu tertentu. b. Berdasarkan permohonan dari PJK karena pertimbangan nasabah dari PJK tersebut secara rutin melakukan transaksi tunai dan dalam jumlah besar yang sesuai dengan profil nasabah dan karakteristik usahanya. Kepala PPATK dengan berbagai pertimbangan dapat menyetujui atau menolak permohonan pengecualian Pelaporan Transaksi Keuangan Tunai yang diajukan oleh PJK. Transaksi Keuangan Tunai lainnya yang dikecualikan dari kewajiban pelaporan kepada PPATK adalah874 : a. Transaksi antar PJK dalam rangka kegiatan usahanya masing-masing.
874 Keputusan Kepala PPATK No. 3/1/Kep.PPATK/2004, Pedoman IV: Pedoman Laporan Transaksi Keuangan Tunai dan Tata Cara Pelaporannya Bagi Penyedia Jasa Keuangan.

Pelaporan

359

b. Transaksi rutin yang dilakukan secara harian, mingguan, dan bulanan dari jenis usaha atau pihak tertentu. III.2.2.4.5 Permintaan Permohonan Pengecualian TKT III.2.2.4.5.1 Penetapan Transaksi Yang Dikecualikan sebagaimana dimaksud pada angka 1 huruf e dilakukan dengan cara: a. Berdasarkan keputusan Kepala PPATK untuk menetapkan suatu transaksi dikecualikan dari Laporan Transaksi Keuangan Tunai. Keputusan Kepala PPATK ditentukan dengan berdasarkan pada besarnya jumlah transaksi, bentuk PJK tertentu, atau wilayah kerja PJK tertentu. Pemberlakuan pengecualian tersebut dapat dilakukan untuk seluruh PJK dan/atau PJK tertentu baik untuk jangka waktu yang tidak terbatas (permanen) maupun untuk jangka waktu tertentu. b. Berdasarkan permohonan dari PJK karena pertimbangan nasabah dari PJK tersebut secara rutin melakukan transaksi tunai dan dalam jumlah besar yang sesuai dengan profil nasabah dan karakteristik usahanya. Kepala PPATK dengan berbagai pertimbangan dapat menyetujui atau menolak permohonan pengecualian Pelaporan Transaksi Keuangan Tunai yang diajukan oleh PJK.

360 Ikhtisar Ketentuan AML & CFT

III.2.2.4.5.2 PJK Dapat Mengajukan Permintaan Pengecualian.875 a. Ketentuan Umum PJK dapat mengajukan permintaan pengecualian kewajiban pelaporan Transaksi Keuangan Tunai kepada Kepala PPATK.876 b. Prosedur Permintaan pengecualian kewajiban pelaporan Transaksi Keuangan Tunai disampaikan oleh PJK kepada Kepala PPATK.877 c. Dokumen pendukung Permintaan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) disertai dokumen pendukung sebagai berikut: 1) Profil lengkap nasabah sesuai dengan persyaratan minimal yang diatur dalam ketentuan tentang Prinsip Mengenal Nasabah yang meliputi identitas nasabah, pekerjaan atau bidang usaha, jumlah penghasilan, rekening yang dimiliki, aktivitas transaksi normal dan tujuan pembukaan rekening; 2) Data salinan transaksi atau rekening koran 3 (tiga) bulan terakhir;
875 876 877

Pasal 8 ayat 2 Keputusan Kepala PPATK No. 3/9/KEP.PPATK/2004. Pasal 6 Keputusan Kepala PPATK No. 3/9/KEP.PPATK/2004. Pasal 8 ayat 1 Keputusan Kepala PPATK No. 3/9/KEP.PPATK/2004.

Pelaporan

361

3) Pertimbangan yang mendasari permintaan pengecualian Laporan Transaksi Keuangan Tunai yang didasarkan kepada hasil analisis dan due-dilligence oleh PJK. III.2.2.4.6 Jawaban PPATK Jawaban terhadap permintaan PJK sebagaimana dimaksud dalam Pasal 8 ayat (1) tidak diberikan kepada individual permohonan PJK, tetapi dalam bentuk penyempurnaan Pasal 5 Keputusan ini.878 Sebelum perubahan Keputusan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dikeluarkan oleh PPATK, PJK tetap wajib melaporkan Transaksi Keuangan Tunai lainnya kepada PPATK.879 III.2.2.4.7 Alamat Permintaan880 Permintaan pengecualian sebagaimana dimaksud dalam Pasal 8 dikirimkan kepada PPATK dengan alamat: Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK): Jl. Ir. H. Juanda No. 35, Jakarta 10120. III.2.2.4.8 Kriteria Transaksi Keuangan Tunai Yang Dapat Diajukan Untuk Dikecualikan Kriteria Transaksi Keuangan Tunai yang dapat diajukan oleh PJK kepada
878 879 880

Pasal 9 ayat 1 Keputusan Kepala PPATK No. 3/9/KEP.PPATK/2004. Pasal 9 ayat 2 Keputusan Kepala PPATK No. 3/9/KEP.PPATK/2004. Pasal 10 Keputusan Kepala PPATK No. 3/9/KEP.PPATK/2004.

362 Ikhtisar Ketentuan AML & CFT

Kepala PPATK untuk dikecualikan dari kewajiban pelaporan adalah sebagai berikut: a. Transaksi Keuangan Tunai dilakukan oleh nasabah yang telah menjadi nasabah PJK sekurangkurangnya 6 (enam) bulan secara terus menerus; b. Transaksi Keuangan Tunai yang merupakan transaksi rutin yaitu transaksi yang dilakukan secara harian, mingguan atau bulanan; dan c. Transaksi Keuangan Tunai yang terkait secara langsung dengan kegiatan usaha nasabah dan sesuai dengan karakteristik usaha yang umumnya dilakukan secara tunai.881 III.2.2.4.9 Kewajiban Menyimpan Daftar Transaksi Yang dikecualikan. Penyedia jasa keuangan wajib membuat dan menyimpan daftar Transaksi yang dikecualikan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 23 ayat (4). 882 Penyedia jasa keuangan yang tidak membuat dan menyimpan daftar Transaksi yang dikecualikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dikenai sanksi administratif . 883

881 882

Pasal 7 Keputusan Kepala PPATK No. 3/9/KEP.PPATK/2004.

Pasal 24 ayat (1) Undang-Undang RI No. 8 Tahun 2010 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang.
883 Pasal 24 ayat (2) Undang-Undang RI No. 8 Tahun 2010 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang.

Pelaporan

363

III.2.3 International Fund Transfer Iinstruction (IFTI) Transaksi Keuangan Transfer Dana dari dan ke luar negeri. 884 Besarnya jumlah Transaksi Keuangan transfer dana dari dan ke luar negeri yang wajib dilaporkan sebagaimana dimaksud pada pasal 23 ayat (1) huruf c diatur dengan Peraturan Kepala PPATK. 885 Penyampaian laporan Transaksi transfer dana dari dan ke luar negeri sebagaimana dimaksud dalam Pasal 23 ayat (1) huruf c dilakukan paling lama 14 (empat belas) hari kerja terhitung sejak tanggal Transaksi dilakukan.886 III.2.4 Laporan Transaksi oleh Penyedia Barang dan/atau Jasa Penyedia barang dan/atau jasa lain sebagaimana dimaksud dalam Pasal 17 ayat (1) huruf b wajib menyampaikan laporan Transaksi yang dilakukan oleh Pengguna Jasa dengan mata uang rupiah dan/ atau mata uang asing yang nilainya paling sedikit atau setara dengan Rp500.000.000,00 (lima ratus juta rupiah) kepada PPATK.887 Laporan Transaksi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) disampaikan paling lama 14 (empat belas) hari kerja terhitung sejak tanggal Transaksi dilakukan.888 Penyedia barang dan/atau jasa lain yang tidak menyampaikan laporan kepada PPATK sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) dikenai sanksi administratif.889 III.2.5 Laporan Pembawaan Uang Tunai (LPUT) dan Bearer Negotiabel Instrument (BNI) III.2.5.1 Pengertian Umum

884 Pasal 23 ayat (1) huruf c Undang-Undang RI No. 8 Tahun 2010 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang. 885 Pasal 23 ayat (3) Undang-Undang RI No. 8 Tahun 2010 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang. 885 Pasal 25 ayat (3) Undang-Undang RI No. 8 Tahun 2010 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang. 887 Pasal 27 ayat (1) Undang-Undang RI No. 8 Tahun 2010 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang. 888 Pasal 27 ayat (2) Undang-Undang RI No. 8 Tahun 2010 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang. 889 Pasal 27 ayat (3) Undang-Undang RI No. 8 Tahun 2010 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang.

364 Ikhtisar Ketentuan AML & CFT

III.2.5.1.1 Uang tunai Adalah uang kertas maupun uang logam, baik berupa uang rupiah maupun mata uang asing yang dikeluarkan oleh suatu otoritas tertentu yang berlaku sebagai alat pembayaran yang sah.890 III.2.5.1.2 Uang rupiah Adalah uang kertas maupun uang logam yang merupakan alat pembayaran yang sah di negara Republik Indonesia. III.2.5.1.3 Mata uang asing Adalah uang kertas maupun uang logam yang merupakan alat pembayaran yang sah di negara asal mata uang bersangkutan. III.2.5.1.4 Setiap orang Adalah orang perseorangan atau korporasi yaitu kumpulan orang dan/atau kekayaan yang terorganisasi, baik merupakan badan hukum maupun bukan badan hukum. III.2.5.1.5 Membawa uang tunai Adalah mengeluarkan atau memasukkan uang tunai yang dilakukan dengan cara membawa sendiri atau melalui pihak lain, dengan atau tanpa menggunakan sarana pengangkut. III.2.5.1.6 Daerah pabean Adalah wilayah Republik Indonesia yang meliputi wilayah darat, perairan dan ruang udara di atasnya serta tempat-tempat tertentu di zona ekonomi eksklusif dan landas kontinen yang di dalamnya berlaku

890 Peraturan Direktur Jenderal Bea Dan Cukai Nomor: 01/BC/2005 tentang Tata Laksana Pengeluaran dan Pemasukan Uang Tunai.

Pelaporan

365

Undang-undang Nomor 10 Tahun 1995 tentang Kepabeanan. III.2.5.1.7 Izin Bank Indonesia Adalah surat izin tertulis dari Bank Indonesia atas pembawaan uang rupiah dalam jumlah tertentu keluar Daerah Pabean sebagaimana diatur dalam Peraturan Bank Indonesia Nomor 4/8/PBI/2002 tentang Persyaratan dan Tata Cara Membawa Uang Rupiah Keluar atau masuk Wilayah Pabean Republik Indonesia. III.2.5.1.8 Customs Declaration (BC 2.2) Adalah pemberitahuan pabean oleh awak sarana pengangkut dan penumpang yang masuk ke dalam Daerah Pabean. III.2.5.1.9 Pemberitahuan Pembawaan Uang Tunai Keluar Daerah Pabean (BC 3.2) Adalah dokumen yang wajib diisi oleh setiap pemegang paspor yang pada saat keberangkatannya membawa uang tunai berupa rupiah sejumlah Rp. 100.000.000,00 (seratus juta rupiah) atau lebih, atau mata uang asing yang nilainya setara dengan itu, keluar dari Daerah Pabean. III.2.5.1.10 Pejabat Bea dan Cukai Adalah pegawai Diraktorat Jenderal Bea dan Cukai yang ditunjuk dalam jabatan tertentu untuk melaksanakan tugas tertentu berdasarkan Undang-undang Nomor 10 Tahun 1995. III.2.5.1.11 Bilyet giro Adalah suatu alat pembayaran berbentuk surat perintah nasabah yang telah distandarisir bentuknya, kepada bank penyimpan dana untuk memindahbukukan sejumlah dana dari rekening yang

366 Ikhtisar Ketentuan AML & CFT

bersangkutan kepada pihak penerima yang disebutkan namanya pada bank yang sama atau pada bank lainnya.891 III.2.5.2 Kewajiban Pelaporan Setiap orang yang membawa uang tunai dalam mata uang rupiah dan/atau mata uang asing, dan/atau instrumen pembayaran lain dalam bentuk cek, cek perjalanan, surat sanggup bayar, atau bilyet giro paling sedikit Rp100.000.000,00 (seratus juta rupiah) atau yang nilainya setara dengan itu ke dalam atau ke luar daerah pabean Indonesia wajib memberitahukannya kepada Direktorat Jenderal Bea dan Cukai.892 III.2.5.3 Kewajiban Pelaporan oleh Bea dan Cukai Kepada PPATK Direktorat Jenderal Bea dan Cukai wajib membuat laporan mengenai pembawaan uang tunai dan/atau instrumen pembayaran lain sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan menyampaikannya kepada PPATK paling lama 5 (lima) hari kerja sejak diterimanya pemberitahuan.893 PPATK dapat meminta informasi tambahan dari Direktorat Jenderal Bea dan Cukai mengenai pembawaan uang tunai dan/atau instrumen pembayaran lain sebagaimana dimaksud pada ayat (1).894 Direktorat Jenderal Bea dan Cukai harus membuat laporan mengenai pengenaan sanksi administratif sebagaimana dimaksud pada pasal 35 ayat (1) dan ayat (2) dan menyampaikannya kepada PPATK paling lama 5 (lima) hari kerja sejak sanksi administratif ditetapkan.895
891

Surat Keputusan Direksi Bank Indonesia No. 28/32/Kep/Dir/1995 tentang Bilyet

Giro.
892 Pasal 34 Ayat (1) Undang-Undang RI No. 8 Tahun 2010 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang. 893 Pasal 34 Ayat (2) Undang-Undang RI No. 8 Tahun 2010 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang. 894 Pasal 34 Ayat (3) Undang-Undang RI No. 8 Tahun 2010 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang. 895 Pasal 35 Ayat (4) Undang-Undang RI No. 8 Tahun 2010 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang.

Pelaporan

367

Kantor Pelayanan Bea dan Cukai wajib menyampaikan laporan tentang informasi pembawan uang tunai berupa rupiah sejumlah Rp. 100.000.000,00 (seratus juta rupiah) atau lebih, atau mata uang asing yang nilainya setara dengan itu, kepada Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan sebagaimana contoh dalam Lampiran II Keputusan Direktur Jenderal ini.896 III.2.5.4 Permintaan Informasi oleh PPATK Kepada Bea dan Cukai PPATK dapat meminta informasi tambahan dari Direktorat Jenderal Bea dan Cukai mengenai pembawaan uang tunai dan/atau instrumen pembayaran lain sebagaimana dimaksud pada pasal 34 ayat (1).897 III.2.5.5 Kewajiban Lainnya Terkait Pembawaan Uang Tunai III.2.5.5.1 Ijin Bank Indonesia Setiap orang yang membawa Uang Rupiah sebesar Rp.100.000.000,00 (seratus juta Rupiah) atau lebih keluar wilayah pabean Republik Indonesia, wajib terlebih dahulu memperoleh izin dari Bank Indonesia.898 Kewajiban pelaporan atas pembawaan Uang Rupiah keluar atau masuk wilayah Republik Indonesia sebesar Rp. 100.000.000,00 (seratus juta Rupiah) atau lebih, sebagaimana diatur dalam Pasal 16 ayat (1) Undang-undang Nomor 15 tahun 2002 tentang Tindak Pidana Pencucian Uang, tidak menghapuskan kewajiban untuk memperoleh izin Bank Indonesia, sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 dan kewajiban untuk memeriksakan keaslian uang, sebagaimana dimaksud dalam pasal 3.899
896 897

Pasal 11 ayat 1 Peraturan Direktur Jenderal Bea Dan Cukai Nomor : 01/BC/2005.

Pasal 34 Ayat (3) Undang-Undang RI No. 8 Tahun 2010 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang. Pasal 2 Peraturan Bank Indonesia No. 2/PBI/2002 tentang Pemantauan Kegiatan Lalu Lintas Devisa Perusahaan Bukan Lembaga Keuangan.
899 Pasal 10 Peraturan Bank Indonesia No. 2/PBI/2002 tentang Pemantauan Kegiatan Lalu Lintas Devisa Perusahaan Bukan Lembaga Keuangan. 898

368 Ikhtisar Ketentuan AML & CFT

III.2.5.5.2 Wajib Memeriksa Keaslian Uang Setiap orang yang membawa Uang Rupiah sebesar Rp.100.000.000,00 (seratus juta Rupiah) atau lebih masuk wilayah pabean Republik Indonesia, wajib terlebih dahulu memeriksakan keaslian uang tersebut kepada petugas Bea dan Cukai di tempat kedatangan.900 III.2.5.5.3 Penyampaian oleh Bea Cukai Kepada PPATK Kantor Pelayanan Bea dan Cukai wajib menyampaikan laporan tentang pelanggaran atas Pasal 2 ayat (1) dan Pasal 3 ayat (1) kepada Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan sebagaimana contoh dalam Lampiran III Keputusan Direktur Jenderal ini.901 III.2.5.5.4 Jangka waktu Penyampaian Oleh Bea Cukai Kepada PPATK Penyampaian laporan tentang informasi pembawaan uang tunai, sebagaimana dimaksud pada ayat (1), dilakukan paling lambat dalam jangka waktu 5 (lima) hari kerja.902 Penyampaian laporan tentang adanya pelanggaran, sebagaimana dimaksud pada ayat (2), dilakukan paling lambat 5 (lima) hari kerja setelah terjadinya pelanggaran.903 III.2.5.6 Pencegahan oleh Bea dan Cukai Pejabat Bea dan Cukai mencegah setiap uang tunai berupa rupiah sejumlah Rp.
900 Pasal 3 Peraturan Peraturan Bank Indonesia No. 2/PBI/2002 tentang Pemantauan Kegiatan Lalu Lintas Devisa Perusahaan Bukan Lembaga Keuangan. 901 Pasal 11 ayat (2) Peraturan Direktur Jenderal Bea Dan Cukai Nomor: 01/BC/2005 tentang Tata Laksana Pengeluaran dan Pemasukan Uang Tunai. 902 Pasal 11 ayat (4) Peraturan Direktur Jenderal Bea Dan Cukai Nomor: 01/BC/2005 tentang Tata Laksana Pengeluaran dan Pemasukan Uang Tunai. 903 Pasal 11 ayat (5) Peraturan Direktur Jenderal Bea Dan Cukai Nomor: 01/BC/2005 tentang Tata Laksana Pengeluaran dan Pemasukan Uang Tunai.

Pelaporan

369

100.000.000,00 (seratus juta rupiah) atau lebih, atau mata uang asing yang nilainya setara dengan itu, yang dimasukkan ke dalam atau dikeluarkan dari Daerah Pabean dengan tidak mengikuti ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 dan Pasal 3.904 III.2.5.7 Kewajiban Bea Cukai Terkait Pencegahan Pejabat Bea dan Cukai yang melaksanakan pencegahan wajib: a. membuat Berita Acara Pencegahan; b. menyampaikan Surat Bukti Pencegahan kepada Pemberitahu dengan tanda penerimaan berupa pembubuhan tanggal dan tanda tangan setelah dilakukan tindakan pencegahan; c. membuat catatan atau keterangan seperlunya dalam hal pemberitahu tidak bersedia membubuhkan tanda tangan; d. menyerahkan uang dan pemberitahu kepada Kepolisian Republik Indonesia dengan Berita Acara Serah Terima.905 III.2.5.8 Kewajiban Bea Cukai Menyampaikan Laporan Kepada Bank Indonesia. Kantor Pelayanan Bea dan Cukai menyampaikan laporan tentang pengenaan sanksi administrasi terhadap pembawaan uang tunai berupa rupiah, sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7 ayat (1), (2) dan (3) kepada Bank Indonesia yang wilayahnya meliputi Kantor Pelayanan Bea dan Cukai yang bersangkutan sebagaimana contoh dalam

904 Pasal 10 ayat (2) Peraturan Direktur Jenderal Bea Dan Cukai Nomor: 01/BC/2005 tentang Tata Laksana Pengeluaran dan Pemasukan Uang Tunai. 905 Pasal 10 ayat (3) Peraturan Direktur Jenderal Bea Dan Cukai Nomor: 01/BC/2005 tentang Tata Laksana Pengeluaran dan Pemasukan Uang Tunai.

370 Ikhtisar Ketentuan AML & CFT

Lampiran IV Keputusan Direktur Jenderal Nomor –01/Bc/2005.906 III.3 Sanksi Administratif terkait kewajiban pelaporan oleh pihak pelapor III.3.1 Pihak yang berwenang Pengenaan sanksi administratif sebagaimana dimaksud dalam Pasal 25 ayat (4) dan Pasal 27 ayat (3) dilakukan oleh Lembaga Pengawas dan Pengatur sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.907 Dalam hal Lembaga Pengawas dan Pengatur sebagaimana dimaksud pada ayat (1) belum dibentuk, pengenaan sanksi administratif terhadap Pihak Pelapor dilakukan oleh PPATK.908 III.3.1.1 Dilakukan oleh Lembaga Pengawas dan Pengatur (LPP) terhadap : a. Bank 1) Bank Umum i. Sanksi Bagi Bank yang Terlambat Melaporkan Bank yang terlambat menyampaikan pedoman sebagaimana dimaksud dalam Pasal 45 huruf b serta laporan Transaksi Keuangan Mencurigakan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 46 ayat (1), dikenakan sanksi kewajiban membayar sebesar Rp1.000.000,00 (satu juta rupiah) per hari keterlambatan per laporan.909
906 Pasal 11 ayat (3) Peraturan Direktur Jenderal Bea Dan Cukai Nomor: 01/BC/2005 tentang Tata Laksana Pengeluaran dan Pemasukan Uang Tunai. 907 Pasal 30 ayat (1) Undang-Undang RI No. 8 Tahun 2010 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang. 908 Pasal 30 ayat (2) Undang-Undang RI No. 8 Tahun 2010 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang. 909 Pasal 50 ayat (1) Peraturan Bank Indonesia No. 11/28/PBI/2009 tentang Penerapan Program Anti Pencucian Uang dan Pencegahan Pendanaan Terorisme Bagi Bank Umum.

Pelaporan

371

ii.

Sanksi Bagi Bank yang Belum Menyampaikan Pedoman atau LTKM Bank yang belum menyampaikan pedoman atau laporan Transaksi Keuangan Mencurigakan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dalam waktu lebih 1 (satu) bulan sejak batas akhir waktu penyampaian dikenakan sanksi berupa teguran tertulis dan kewajiban membayar sebesar Rp50.000.000,00 (lima puluh juta rupiah).910

iii. Sanksi Bagi Bank yang Tidak Melaksanakan Komitmen Hasil Temuan BI Bank yang: (1) tidak melaksanakan komitmen penyelesaian hasil temuan pemeriksaan Bank Indonesia dalam kurun waktu waktu 2 (dua) kali pemeriksaan; dan/atau (2) tidak melaksanakan komitmen yang telah dituangkan dalam rencana kegiatan pengkinian data sebagaimana dimaksud dalam Pasal 27 ayat (2) huruf b, dikenakan sanksi administratif berupa kewajiban membayar paling banyak sebesar Rp100.000.000,00 (seratus juta rupiah).911 iv. Sanksi Administratif Bagi Bank Bank yang tidak melaksanakan ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2, Pasal 4, Pasal 5, Pasal 6
910 Pasal 50 ayat (2) Peraturan Bank Indonesia No. 11/28/PBI/2009 tentang Penerapan Program Anti Pencucian Uang dan Pencegahan Pendanaan Terorisme Bagi Bank Umum. 911 Pasal 50 ayat (3) Peraturan Bank Indonesia No. 11/28/PBI/2009 tentang Penerapan Program Anti Pencucian Uang dan Pencegahan Pendanaan Terorisme Bagi Bank Umum.

372 Ikhtisar Ketentuan AML & CFT

ayat (3), Pasal 7, Pasal 8, Pasal 9, Pasal 11, Pasal 12, Pasal 13, Pasal 14, Pasal 15, Pasal 16, Pasal 17, Pasal 18, Pasal 19, Pasal 21 ayat (1), ayat (4), dan ayat (6), Pasal 22 ayat (2), Pasal 23 ayat (1), ayat (3), dan ayat (4), Pasal 24, Pasal 25 ayat (3), Pasal 26 ayat (1), Pasal 27, Pasal 28, Pasal 29 ayat (1), ayat (2), dan ayat (4), Pasal 30, Pasal 31, Pasal 32, Pasal 33, Pasal 34, Pasal 35, Pasal 36, Pasal 38, Pasal 39, Pasal 40, Pasal 41, Pasal 42, Pasal 43, Pasal 44, Pasal 45, Pasal 48, Pasal 49, dan/ atau Pasal 51 Peraturan Bank Indonesia ini dan ketentuan pelaksanaan terkait lainnya dapat dikenakan sanksi administratif sebagaimana dimaksud dalam Pasal 52 Undang-undang Nomor 7 Tahun 1992 tentang Perbankan sebagaimana telah diubah dengan Undang-undang Nomor 10 Tahun 1998 dan Pasal 58 Undang-undang Nomor 21 Tahun 2008 tentang Perbankan Syariah, antara lain berupa: a. b. c. d. teguran tertulis; penurunan tingkat kesehatan Bank; pembekuan kegiatan usaha tertentu; pencantuman anggota pengurus, pegawai Bank, dan/atau pemegang saham dalam daftar pihak-pihak yang mendapat predikat tidak lulus dalam penilaian kemampuan dan kepatutan atau dalam catatan administrasi Bank Indonesia sebagaimana diatur dalam ketentuan Bank Indonesia yang berlaku; dan/atau e. pemberhentian pengurus Bank.912
912 Pasal 50 ayat (4) Peraturan Bank Indonesia No. 11/28/PBI/2009 tentang Penerapan Program Anti Pencucian Uang dan Pencegahan Pendanaan Terorisme Bagi Bank Umum.

Pelaporan

373

2) Bank Perkreditan Rakyat (BPR) b. Pasar Modal i. Sanksi administratif Bapepam mengenakan sanksi administratif atas pelanggaran Undang-undang ini dan atau peraturan pelaksanaannya yang dilakukan oleh setiap Pihak yang memperoleh izin, persetujuan, atau pendaftaran dari Bapepam.913 Sanksi administratif sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dapat berupa: a. peringatan tertulis; b. denda yaitu kewajiban untuk membayar sejumlah uang tertentu; c. pembatasan kegiatan usaha; d. pembekuan kegiatan usaha e. pencabutan izin usaha f. pembatalan persetujuan g. pembatalan pendaftaran.914 Ketentuan lebih lanjut mengenai sanksi administratif sebagaimana dimaksud dalam pasal 102 ayat (1) dan ayat (2) ditetapkan dengan Peraturan Pemerintah.915 ii. Kemungkinan Pengenaan Sanksi Pidana Dengan tidak mengurangi ketentuan pidana di bidang Pasar Modal dan peraturan perundang-undangan terkait lainnya, Bapepam dan LK dapat mengenakan sanksi terhadap setiap Pihak yang melanggar ketentuan peraturan ini termasuk Pihak yang menyebabkan terjadinya pelanggaran tersebut.

913 914 915

Pasal 102 ayat (1) Undang-Undang RI No. 8 Tahun 1995 tentang Pasar Modal. Pasal 102 ayat (2) Undang-Undang RI No. 8 Tahun 1995 tentang Pasar Modal. Pasal 102 ayat (3) Undang-Undang RI No. 8 Tahun 1995 tentang Pasar Modal.

374 Ikhtisar Ketentuan AML & CFT

c. Lembaga Keuangan Non Bank (LKNB) 1) Ketentuan Umum Pelanggaran terhadap ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2, Pasal 3, Pasal 4, Pasal 5, Pasal 7, Pasal 8, Pasal 9, Pasal 10, , Pasal 12, Pasal 13, Pasal 15, Pasal 16, Pasal 17, Pasal 18, Pasal 19 ayat (I), Pasal 19 ayat (2) , Pasal 19 ayat (3), Pasal 20, pasal 21, pasal 22, pasal 23, pasal 24, pasal 25, pasal 26, pasal 27, Pasal 28, Pasal 29, Pasal 30, Pasal 31, Pasal 32, pasal 33, pasal 34, dan pasal 40 Peraturan Menteri Keuangan ini dikenakan sanksi administratif.916 Lembaga Pembiayaan dan Perusahaan Perasuransian yang melanggar ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dikenakan sanksi administratif secara bertahap berupa917 : a. Peringatan; b. Pembatasan/Pembekuan Kegiatan Usaha; c. Pencabutan izin usaha Dana Pensiun yang melanggar ketentuan ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) kecuali pasal 9 dan pasal 10 dikenakan sanksi administratif berupa918 : a. Peringatan; b. Penggantian pelaksana tugas pengurus. 2) Tata Cara Pengenaan Sanksi Administratif Tata cara dan jangka waktu pengenaan
916 Pasal 36 ayat (1) Peraturan Menteri Keuangan Nomor: 30/2010 tentang Penerapan Prinsip Mengenal Nasabag Bagi Lembaga Keuangan Non Bank. 917 Pasal 36 ayat (2) Peraturan Menteri Keuangan Nomor: 30/2010 tentang Penerapan Prinsip Mengenal Nasabag Bagi Lembaga Keuangan Non Bank. 918 Pasal 36 ayat (3) Peraturan Menteri Keuangan Nomor: 30/2010 tentang Penerapan Prinsip Mengenal Nasabag Bagi Lembaga Keuangan Non Bank.

Pelaporan

375

setiap sanksi administratif sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dan ayat (3), disesuaikan dengan jenis Lembaga Keuangan Non Bank dan jenis pelanggarannya.919 Segala sanksi yang telah dikenakan berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan No.74/PMK.012/2006 tentang Penerapan Prinsip Mengenal Nasabah bagi Lembaga Keuangan Non Bank dinyatakan tetap sah dan berlaku.920 LKNB yang belum dapat mengatasi penyebab dikenankannya sanksi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dikenakan sanksi lanjutan sesuai dengan peraturan perundang-undangan.921 d. Pedagang Valuta Asing (PVA) 1) Sanksi Pelanggaran oleh PVA. i. Ketentuan Umum Dalam hal PVA bank melakukan pelanggaran terhadap ketentuan yang diatur dalam Peraturan Bank Indonesia ini, Bank Indonesia mengenakan sanksi sesuai peraturan perundang-undangan yang berlaku.922 ii. Pengenaan Sanksi Bagi PVA PVA yang melakukan pelanggaran terhadap ketentuan sebagaimana

919 Pasal 36 ayat (4) Peraturan Menteri Keuangan Nomor: 30/2010 tentang Penerapan Prinsip Mengenal Nasabag Bagi Lembaga Keuangan Non Bank. 920 Pasal 37 ayat (1) Peraturan Menteri Keuangan Nomor: 30/2010 tentang Penerapan Prinsip Mengenal Nasabag Bagi Lembaga Keuangan Non Bank.

Pasal 37 ayat (2) Peraturan Menteri Keuangan Nomor: 30/2010 tentang Penerapan Prinsip Mengenal Nasabag Bagi Lembaga Keuangan Non Bank.
922

921

Pasal 33 Peraturan Bank Indonesia No. 6/1/PBI/2004 tentang Pedagang Valuta

Asing.

376 Ikhtisar Ketentuan AML & CFT

dimaksud dalam Pasal 30 dikenakan sanksi sesuai peraturan perundangundangan yang berlaku.923 e. Kegiatan Usaha Pengiriman Uang (KUPU) 1) Dalam melakukan kegiatan usaha Pengiriman Uang, Penyelenggara wajib melakukan hal-hal sebagai berikut: a. melakukan pencatatan transaksi Pengiriman Uang; b. menyampaikan laporan secara berkala maupun insidentil kepada Bank Indonesia; c. menyampaikan laporan secara tertulis kepada Bank Indonesia apabila terjadi perubahan pengurus, dengan dilengkapi surat pernyataan dari pengurus baru yang dituangkan dalam akta otentik sebagaimana dimaksud dalam Pasal 10 huruf b dan Pasal 11 huruf b; d. menjamin bahwa Uang yang diserahkan oleh Pengirim disampaikan dan diterima oleh Penerima yang berhak dalam waktu yang telah disepakati; e. memberikan informasi kepada Pengirim sehubungan dengan Pengiriman Uang yang bersangkutan; f. menyimpan dokumen yang terkait dengan Pengiriman Uang sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang mengatur dokumen perusahaan; dan g. melaporkan transaksi yang mencurigakan kepada lembaga yang berwenang sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang mengatur mengenai tindak pidana pencucian uang.924
923 924

Pasal 32 Peraturan Bank Indonesia No. 6/1/PBI/2004 tentang Pedagang Valuta Asing.

Pasal 14 Peraturan Bank Indonesia No. 8/28/PBI/2006 tentang Kegiatan Usaha Pengirimann Uang.

Pelaporan

377

2) Sanksi Tidak Melakukan Pencatatan Transaksi Pengiriman Uang (Pasal 14, Pasal 26, 27). Penyelenggara yang melanggar ketentuan Pasal 13, Pasal 14 huruf a sampai dengan huruf f, dan Pasal 23 dikenakan sanksi berupa teguran tertulis.925 Apabila dalam jangka waktu 30 (tiga puluh) hari kalender sejak tanggal teguran tertulis sebagaimana dimaksud pada ayat (1) Penyelenggara tetap tidak melaksanakan ketentuan Pasal 13, Pasal 14 huruf a sampai dengan huruf f, dan Pasal 23, Penyelenggara dikenakan sanksi berupa teguran tertulis kedua.926 Apabila dalam jangka waktu 30 (tiga puluh) hari kalendar sejak tanggal teguran tertulis kedua sebagaimana dimaksud pada ayat (2) Penyelenggara tetap tidak memenuhi ketentuan dalam Pasal 13, Pasal 14 huruf a sampai dengan huruf f, dan Pasal 23, Penyelenggara dikenakan sanksi sebagai berikut: a. Dalam hal Penyelenggara sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 ayat (1) huruf b berupa Bank maka dikenakan sanksi dalam rangka pengawasan bank sesuai ketentuan yang berlaku. b. Dalam hal Penyelenggara sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 ayat (1) huruf a, b, dan huruf c berupa selain Bank maka dikenakan sanksi berupa pencabutan izin kegiatan usaha

925 Pasal 26 ayat (1) Peraturan Bank Indonesia No. 8/28/PBI/2006 tentang Kegiatan Usaha Pengirimann Uang. 926 Pasal 26 ayat (2) Peraturan Bank Indonesia No. 8/28/PBI/2006 tentang Kegiatan Usaha Pengirimann Uang.

378 Ikhtisar Ketentuan AML & CFT

Pengiriman Uang dan penghapusan dari Daftar Penyelenggara.927 Penyelenggara yang melanggar ketentuan Pasal 14 huruf g, dikenakan sanksi oleh lembaga yang berwenang sesuai peraturan perundang-undangan yang mengatur mengenai tindak pidana pencucian uang.928 Bank Indonesia dapat mengenakan sanksi pencabutan izin kegiatan usaha Pengiriman Uang terhadap Penyelenggara sebagaimana dimaksud pada ayat (1).929 3) Sanksi Tidak Memberikan Data atau Keterangan dalam rangka penagawasan Penyelenggara yang tidak memberikan keterangan, data, hal-hal lain yang diperlukan dalam rangka pengawasan, dan/ atau tidak memberi kesempatan pengawas untuk melakukan pengawasan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 21 ayat (2), dikenakan sanksi penghentian kegiatan sebagai Penyelenggara.930 III.3.1.2 Dilakukan oleh PPATK Dalam hal Pengawasan Kepatuhan atas kewajiban pelaporan sebagaimana dimaksud pada pasal 30 ayat (1) tidak dilakukan atau belum terdapat Lembaga Pengawas dan Pengatur, Pengawasan Kepatuhan atas kewajiban pelaporan dilakukan oleh PPATK.931
927 Pasal 26 ayat (3) Peraturan Bank Indonesia No. 8/28/PBI/2006 tentang Kegiatan Usaha Pengirimann Uang. 928 Pasal 27 ayat (1) Peraturan Bank Indonesia No. 8/28/PBI/2006 tentang Kegiatan Usaha Pengirimann Uang. 929 Pasal 27 ayat (2) Peraturan Bank Indonesia No. 8/28/PBI/2006 tentang Kegiatan Usaha Pengirimann Uang. 930 Pasal 29 Peraturan Bank Indonesia No. 8/28/PBI/2006 tentang Kegiatan Usaha Pengirimann Uang. 931 Pasal 30 ayat (2) Undang-Undang RI No. 8 Tahun 2010 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang.

Pelaporan

379

Hasil pelaksanaan Pengawasan Kepatuhan yang dilakukan oleh Lembaga Pengawas dan Pengatur sebagaimana dimaksud pada pasal 30 ayat (1) disampaikan kepada PPATK.932 Tata cara pelaksanaan Pengawasan Kepatuhan sebagaimana dimaksud pada pasal 30 ayat (1) dan ayat (2) diatur oleh Lembaga Pengawas dan Pengatur dan/atau PPATK sesuai dengan kewenangannya.933 III.4 Kerahasiaan Perbankan Pelaksanaan kewajiban pelaporan oleh Penyedia Jasa Keuangan yang berbentuk bank, dikecualikan dari ketentuan rahasia bank sebagaimana dimaksud dalam Undang-undang yang mengatur mengenai rahasia bank.934 Penyedia Jasa Keuangan, pejabat, serta pegawainya tidak dapat dituntut baik secara perdata maupun pidana atas pelaksanaan kewajiban pelaporan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 13.935 III.5 Sanksi terkait Pelanggaran Pembawaan Uang Tunai dan BNI. III.5.1 Sanksi administratif III.5.1.1 Pelanggaran Pasal 2 PBI No. 2/PBI/2002 Setiap orang yang melanggar ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2, dikenakan sanksi administratif berupa denda sebesar 10% (sepuluh per seratus) dari jumlah Uang Rupiah yang dibawa, dengan batas maksimal pengenaan sanksi sebesar Rp.300.000.000,00 (tiga ratus juta Rupiah).936
932 Pasal 30 ayat (3) Undang-Undang RI No. 8 Tahun 2010 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang. 933 Pasal 30 ayat (4) Undang-Undang RI No. 8 Tahun 2010 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang. 934 Pasal 14 Undang-Undang RI No. 8 Tahun 2010 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang. 935 Pasal 15 Undang-Undang RI No. 8 Tahun 2010 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang. 936 Pasal 6 ayat (1) Peraturan Bank Indonesia No. 2/PBI/2002 tentang Pemantauan Kegiatan Lalu Lintas Devisa Perusahaan Bukan Lembaga Keuangan.

380 Ikhtisar Ketentuan AML & CFT

III.4.1.2 Pelanggaran Pasal 3 PBI No. 2/PBI/2002 Setiap orang yang melanggar ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3, dikenakan sanksi administratif berupa denda sebesar 10% (sepuluh per seratus) dari jumlah Uang Rupiah yang dibawa, dengan batas maksimal pengenaan sanksi sebesar Rp. 300.000.000,00 (tiga ratus juta Rupiah).937 III.4.1.3 Pelanggaran Pasal 4 ayat (2) PBI No. 2/PBI/ 2002 Setiap orang yang melanggar ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 ayat (2) huruf c, dikenakan sanksi administratif berupa denda sebesar 10% (sepuluh per seratus) dari jumlah yang dibawa setelah dikurangi dengan jumlah yang diberikan izin, dengan batas maksimal pengenaan sanksi sebesar Rp. 300.000.000,00 (tiga ratus juta Rupiah).938 III.4.1.4 Pengembalian Sisa Uang Sisa Uang Rupiah setelah dikenakan sanksi administratif berupa denda sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6 dikembalikan kepada pihak yang dikenakan sanksi.939 Uang Rupiah yang dikembalikan sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) hanya dapat dibawa keluar wilayah pabean Republik Indonesia setelah memenuhi ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2.940

937 Pasal 6 ayat (2) Peraturan Bank Indonesia No. 2/PBI/2002 tentang Pemantauan Kegiatan Lalu Lintas Devisa Perusahaan Bukan Lembaga Keuangan. 938 Pasal 6 ayat (3) Peraturan Bank Indonesia No. 2/PBI/2002 tentang Pemantauan Kegiatan Lalu Lintas Devisa Perusahaan Bukan Lembaga Keuangan. 939 Pasal 7 ayat (2) Peraturan Bank Indonesia No. 2/PBI/2002 tentang Pemantauan Kegiatan Lalu Lintas Devisa Perusahaan Bukan Lembaga Keuangan. 940 Pasal 7 ayat (3) Peraturan Bank Indonesia No. 2/PBI/2002 tentang Pemantauan Kegiatan Lalu Lintas Devisa Perusahaan Bukan Lembaga Keuangan.

Pelaporan

381

III.4.1.5 Denda di Setor ke Kas Negara Sanksi administratif berupa denda sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6 merupakan penerimaan negara yang harus disetor ke Kantor Kas Negara.941 III.4.1.6 Sanksi Pembawaan Uang Tunai Tanpa Ijin Bank Indonesia Setiap orang yang membawa uang tunai berupa rupiah sejumlah Rp.100.000.000,00 (seratus juta rupiah) atau lebih keluar Daerah Pabean tanpa dilengkapi dengan izin Bank Indonesia dikenai sanksi administrasi berupa denda sebesar 10% dari jumlah uang yang dibawa.942 III.4.1.7 Sanksi Jika Dana Yang Dibawa Lebih Besar dari yang Dimohonkan Ijin Setiap orang yang membawa uang tunai berupa rupiah sejumlah Rp 100.000.000,00 (seratus juta rupiah) atau lebih keluar Daerah Pabean yang dilengkapi dengan izin Bank Indonesia, tetapi jumlah uang yang dibawa lebih besar daripada jumlah uang yang tertera dalam izin tersebut, dikenai sanksi administrasi berupa denda sebesar 10% dari jumlah selisih uang yang dibawa dengan jumlah uang yang tertera dalam izin Bank Indonesia.943 III.4.1.8 Sanksi Pembawaan uang Tunai tanpa Pemeriksaan keaslian Uang Setiap orang yang membawa uang tunai berupa rupiah sejumlah Rp 100.000.000,00 (seratus juta rupiah) atau lebih ke dalam Daerah Pabean yang

Pasal 8 Peraturan Bank Indonesia No. 2/PBI/2002 tentang Pemantauan Kegiatan Lalu Lintas Devisa Perusahaan Bukan Lembaga Keuangan.
942 Pasal 7 ayat (1) Peraturan Direktur Jenderal Bea dan Cukai Nomor: 01/Bc/2005 tentang Tata Laksana Pengeluaran dan Pemasukan Uang Tunai. 943 Pasal 7 ayat (2) Peraturan Direktur Jenderal Bea dan Cukai Nomor: 01/Bc/2005 tentang Tata Laksana Pengeluaran dan Pemasukan Uang Tunai.

941

382 Ikhtisar Ketentuan AML & CFT

tidak memeriksakan keasliannya kepada Pejabat Bea dan Cukai, sebagaimana dimaksud pada Pasal 3 ayat (3), dikenai sanksi administrasi berupa denda sebesar 10% dari jumlah uang ytang dibawa.944 III.4.1.9 Batas Maksimal Pengenaan Sanksi Batas maksimal pengenaan sanksi administrasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1), (2) dan (3) adalah sebesar Rp. 300.000.000,00 (tiga ratus juta rupiah).945

~o~

944 Pasal 7 ayat (3) Peraturan Direktur Jenderal Bea dan Cukai Nomor: 01/Bc/2005 tentang Tata Laksana Pengeluaran dan Pemasukan Uang Tunai. 945 Pasal 7 ayat (4) Peraturan Direktur Jenderal Bea dan Cukai Nomor: 01/Bc/2005 tentang Tata Laksana Pengeluaran dan Pemasukan Uang Tunai.

Pengawasan Kepatuhan

383

BAB IV PENGAWASAN KEPATUHAN
Bab IV ini memberi gambaran mengenai pengawasan kepatuhan oleh Lembaga Pengawas dan Pengatur (LPP) dan Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK) terhadap Penyedia Jasa Keuangan (PJK) dalam penerapan prinsip mengenali pengguna jasa dan kewajiban pelaporan

384 Ikhtisar Ketentuan AML & CFT

Daftar Isi Halaman IV.1 Pengawasan Kepatuhan Terhadap Prinsip Mengenal Pengguna Jasa ........................................................................................................ IV.1.1 Pihak yang berwenang untuk mengeluarkan pedoman dan melakukan pengawasan terhadap prinsip mengenali pengguna jasa ......................................................................... IV.1.1.1 Lembaga Pengawas dan Pengatur (LPP).............. IV.1.1.2 Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi keuangan (PPATK).................................................. IV.1.2 Prinsip mengenali pengguna jasa ....................................... IV.1.2.1 Ketentuan Umum Mengenali Prinsip Pengguna Jasa ........................................................................... IV.1.2.1.1 Identifikasi pengguna jasa ............... IV.1.2.1.1.1 Jika melakukan hubungan usaha, setiap orang wajib memberikan identintas lengkap kepada PJK ........ IV.1.2.1.1.2 PJK wajib memastikan peng-guna jasa bertindak untuk siapa ............... IV.1.2.1.1.3 PJK wajib menyimpan catatan dan dokumen ............................................. IV.1.2.1.2 Verifikasi pengguna jasa ................... IV.1.2.1.2.1 Bukti identitas nasabah .................... IV.1.2.1.2.2 Pemutusan hubungan usaha ........... IV.1.2.1.3 Pemantauan transaksi pengguna jasa ...................................................... IV.1.2.1.3.1 Hal-hal pokok untuk menganalisis suatu transaksi ................................... IV.1.2.1.3.2 Penundaan Transaksi oleh PJK atas inisiatif sendiri .................................... IV.1.2.2 PJK-Industri Perbankan: Bank Umum .................. IV.1.2.2.1 Identifikasi Nasabah .......................... IV.1.2.2.2 Identifikasi Transaksi ........................ IV.1.2.2.2.1 Pemantauan dan Penentuan transaksi keuangan yang mencu-rigakan ....... IV.1.2.2.3 Kewajiban untuk membuat sistem informasi ............................................. IV.1.2.2.4 Kewajiban pembentukan unit kerja khusus/pejabat APU dan PPT.......... IV.1.2.2.5 Tanggung Jawab unit kerja khusus/ pejabat APU dan PPT ......................

388

388 388 388 388 389 389

389 390 390 391 391 392 392 392 393 395 395 398 398 403 407 407

Pengawasan Kepatuhan

385

Kewajiban Membuat Pedoman Anti Pencucian Uang dan Pencegahan Pendanaan Tero-risme ........... IV.1.2.2.7 Kewajiban Melaksanakan Program Pelatihan Prinsip Mengenal Nasabah .............................................. IV.1.2.3 PJK- Industri Perbankan: Bank Perkreditan Rakyat ....................................................................... IV.1.2.3.1 Identifikasi Nasabah ......................... IV.1.2.3.2 Identifikasi Transaksi ........................ 1) Pemantauan dan Penentuan transaksi keuangan yang mencurigakan ............................... 2) Memperhatikan anti tipping-off 3) Kewajiban untuk membuat sistem pencatatan .................................... 4) Kewajiban pembentukan unit kerja khusus/pejabat APU dan PPT .. 5) Tanggung Jawab unit kerja khusus/pejabat APU dan PPT.......... 6) Kewajiban Membuat Pedoman Anti Pencucian Uang dan Pencegahan Pendanaan Terorisme.... 7) Kewajiban Melaksanakan Program Pelatihan Prinsip Mengenal Nasabah ..................... IV.1.2.4 PJK- Pasar Modal ................................................... IV.1.2.4.1 Identifikasi Nasabah ......................... IV.1.2.4.2 Identifikasi Transaksi ........................ 1) Penentuan transaksi keuangan yang mencurigakan ..................... IV.1.2.4.3 Kewajiban untuk membuat sistem informasi ............................................. IV.1.2.4.4 Kewajiban Membentuk Unit kerja atau Menugaskan Anggota Direksi atau Pejabat Setingkat di bawah Direksi ................................................ IV.1.2.4.5 Upaya Kewajiban Membuat Pedoman Pengenal Mengenal Nasabah .......... IV.1.2.4.6 Kewajiban Melaksanakan Program Pelatihan Prinsip Mengenal Nasabah ..............................................

IV.1.2.2.6

408

409 413 413 416

416 417 418 418 420

422

422 422 425 425 425 425

426 426

426

386 Ikhtisar Ketentuan AML & CFT

IV .1.2.5 PJK- Lembaga Keuangan Non Bank .................... IV.1.2.5.1 Identifikasi Nasabah ........................ IV.1.2.5.2 Identifikasi Transaksi ....................... IV.1.2.5.2.1 Penentuan transaksi keuangan yang mencurigakan ..................................... IV.1.2.5.3 Kewajiban untuk membuat sistem informasi .............................................. IV.1.2.5.4 Kewajiban membentuk unit kerja khusus atau menugaskan anggota direksi atau pengurus atau pejabat setingkat di bawah direksi atau pengurus ............................................. IV.1.2.5.5 Upaya Kewajiban Membuat Pedoman Pengenal Mengenal Nasabah .............................................. IV.1.2.5.6 Kewajiban Melaksanakan Program Pelatihan Prinsip Mengenal Nasabah .............................................. IV.1.2.6 PJK – Pedagang Valuta Asing Bukan Bank (PVA Bukan Bank) ................................................... IV.1.2.6.1 Identifikasi Nasabah ............................ IV.1.2.6.2 Identifikasi Transaksi ........................ IV.1.2.6.2.1 Pemantauan dan Penentuan transaksi keuangan yang mencurigakan ........ IV.1.2.6.3 Kewajiban untuk membuat pencatatan transaksi ........................ IV.1.2.6.4 Penunjukan pegawai dalam rangka pelaksanaan program APU dan PPT ...................................................... IV.1.2.6.5 Tanggung Jawab pegawai dalam rangka pelaksanaan program APU dan PPT .............................................. IV.1.2.6.6 Kewajiban Membuat Pedoman Program APU dan PPT ...................... IV.1.2.6.7 Kewajiban Melaksanakan Program Pelatihan Prinsip Mengenal Nasabah .............................................. IV.1.2.7 PJK – Kegiatan Usaha Pengiriman Uang............. IV.1.2.7.1 Identifikasi Nasabah .......................... IV.1.2.7.2 Pencatatan Transaksi ........................ IV.1.2.7.3 Contoh Transaksi Keuangan Mencurigakan.....................................

428 428 439 439 440

441

442

443 444 444 445 445 448

450

452 454

454 455 455 457 458

Pengawasan Kepatuhan

387

IV. 2 Pengawasan Kepatuhan Terhadap Kewajiban Pelaporan ............... IV.2.1 Pelaksanaan Audit ................................................................... IV.2.1.1 Audit Kepatuhan..................................................... IV.2.1.1.1 Audit Kepatuhan yang memiliki LPP ....................................................... IV.2.1.1.2 Audit Kepatuhan yang tidak memiliki LPP/diserahkan kepada PPATK ................................................ IV.2.1.2 Audit Khusus .......................................................... IV.2.1.2.1 Audit khusus terkait pelaporan ....... IV.2.1.2.2 Audit khusus dalam rangka meminta keterangan .......................................... IV.2.2 Penyampaian hasil audit dan temuan TKM ...................... IV.2.3 Tata Cara Pelaksanaan Audit ............................................... IV.2.4 Pengecualian Kerahasiaan Bagi Auditor ........................... IV.2.5 Lain-lain ...................................................................................

458 458 458 458

459 459 459 460 461 461 462 462

388 Ikhtisar Ketentuan AML & CFT

IV.1

Pengawasan Kepatuhan Terhadap Prinsip Mengenali Pengguna Jasa IV.1.1 Pihak yang berwenang untuk mengeluarkan pedoman dan melakukan pengawasan terhadap prinsip mengenali pengguna jasa IV.1.1.1 Lembaga Pengawas dan Pengatur (LPP) Lembaga Pengawas dan Pengatur menetapkan ketentuan prinsip mengenali Pengguna Jasa.946 Lembaga Pengawas dan Pengatur wajib melaksanakan pengawasan atas kepatuhan Pihak Pelapor dalam menerapkan prinsip mengenali Pengguna Jasa.947 IV.1.1.2 Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK) Dalam hal belum terdapat Lembaga Pengawas dan Pengatur, ketentuan mengenai prinsip mengenali Pengguna Jasa dan pengawasannya diatur dengan Peraturan Kepala PPATK.948 IV.1.2 Prinsip mengenali pengguna jasa Kewajiban menerapkan prinsip mengenali Pengguna Jasa dilakukan pada saat: a. melakukan hubungan usaha dengan Pengguna Jasa; b. terdapat Transaksi Keuangan dengan mata uang rupiah dan/ atau mata uang asing yang nilainya paling sedikit atau setara dengan Rp100.000.000,00 (seratus juta rupiah); c. terdapat Transaksi Keuangan Mencurigakan yang terkait tindak pidana pencucian uang dan tindak pidana pendanaan terorisme; atau

946 Pasal 18 ayat (1) Undang-Undang RI No. 8 Tahun 2010 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang. 947 Pasal 18 ayat (4) Undang-Undang RI No. 8 Tahun 2010 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang. 948 Pasal 18 ayat (6) Undang-Undang RI No. 8 Tahun 2010 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang.

Pengawasan Kepatuhan

389

d. Pihak Pelapor meragukan kebenaran informasi yang dilaporkan Pengguna Jasa.949 Prinsip mengenali Pengguna Jasa sekurang-kurangnya memuat: a. identifikasi Pengguna Jasa; b. verifikasi Pengguna Jasa; dan c. pemantauan transaksi Pengguna Jasa.950 IV.1.2.1 Ketentuan Umum Prinsip Mengenali Pengguna Jasa IV.1.2.1.1 Identifikasi pengguna jasa

IV.1.2.1.1.1 Jika melakukan hubungan usaha, setiap orang wajib memberikan identitas lengkap kepada PJK. Setiap Orang yang melakukan Transaksi dengan Pihak Pelapor wajib memberikan identitas dan informasi yang benar yang dibutuhkan oleh Pihak Pelapor dan sekurang-kurangnya memuat identitas diri, sumber dana, dan tujuan Transaksi dengan mengisi formulir yang disediakan oleh Pihak Pelapor dan melampirkan Dokumen pendukungnya.951 Dalam hal Transaksi dilakukan untuk kepentingan pihak lain, setiap orang wajib memberikan informasi mengenai identitas diri, sumber

Pasal 18 ayat (3) Undang-Undang RI No. 8 Tahun 2010 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang.
950 Pasal 18 ayat (5) Undang-Undang RI No. 8 Tahun 2010 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang. 951 Pasal 19 ayat (1) Undang-Undang RI No. 8 Tahun 2010 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang.

949

390 Ikhtisar Ketentuan AML & CFT

dana, dan tujuan Transaksi pihak lain tersebut.952 IV.1.2.1.1.2 PJK wajib memastikan pengguna jasa bertindak untuk siapa. Pihak Pelapor wajib mengetahui bahwa Pengguna Jasa yang melakukan Transaksi dengan Pihak Pelapor bertindak untuk diri sendiri atau untuk dan atas nama orang lain.953 Dalam hal Transaksi dengan Pihak Pelapor dilakukan untuk diri sendiri atau untuk dan atas nama orang lain, Pihak Pelapor wajib meminta informasi mengenai identitas dan Dokumen pendukung dari Pengguna Jasa dan orang lain tersebut.954 Dalam hal identitas dan/atau Dokumen pendukung yang diberikan tidak lengkap, Pihak Pelapor wajib menolak Transaksi dengan orang tersebut.955 IV.1.2.1.1.3 PJK wajib menyimpan catatan dan dokumen. Pihak Pelapor wajib menyimpan catatan dan Dokumen mengenai identitas pelaku Transaksi paling
952 Pasal 19 ayat (2) Undang-Undang RI No. 8 Tahun 2010 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang.

Pasal 20 ayat (1) Undang-Undang RI No. 8 Tahun 2010 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang.
954 Pasal 20 ayat (2) Undang-Undang RI No. 8 Tahun 2010 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang.

953

Pasal 20 ayat (3) Undang-Undang RI No. 8 Tahun 2010 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang.

955

Pengawasan Kepatuhan

391

singkat 5 (lima) tahun sejak berakhirnya hubungan usaha dengan Pengguna Jasa tersebut.956 IV.1.2.1.2 Verifikasi pengguna jasa

IV.1.2.1.2.1 Bukti identitas nasabah Identitas dan Dokumen pendukung yang diminta oleh Pihak Pelapor harus sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang ditetapkan oleh setiap Lembaga Pengawas dan Pengatur.957 PJK harus memperoleh keyakinan mengenai identitas nasabah baik perorangan maupun perusahaan. Selain itu, PJK juga harus melakukan verifikasi terhadap identitas nasabah. Apabila nasabah bertindak untuk dan atas nama pihak lain maka identitas pihak lain tersebut juga wajib diminta dan diverifikasi.958 Prosedur pembuktian identitas nasabah berlaku sama untuk setiap produk yang dikeluarkan oleh PJK. Hal yang perlu diperhatikan dari dokumen pendukung bukti diri calon nasabah antara lain masa berlakunya dan instansi yang

956 Pasal 21 ayat (2) Undang-Undang RI No. 8 Tahun 2010 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang. 957 Pasal 20 ayat (1) Undang-Undang RI No. 8 Tahun 2010 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang. 958 Lampiran Keputusan Kepala PPATK Nomor: 2/1/KEP.PPATK/2003 tentang Pedoman Umum Pencegahan Dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang Bagi Penyedia Jasa Keuangan.

392 Ikhtisar Ketentuan AML & CFT

berwenang mengeluarkan dokumen tersebut. PJK harus memiliki salinan dokumen tersebut dan menatausahakannya dengan baik.959 IV.1.2.1.2.2 Pemutusan hubungan usaha Penyedia jasa keuangan wajib memutuskan hubungan usaha dengan Pengguna Jasa jika: a. Pengguna Jasa menolak untuk mematuhi prinsip mengenali Pengguna Jasa; atau b. Penyedia jasa keuangan meragukan kebenaran informasi yang disampaikan oleh Pengguna Jasa. Penyedia jasa keuangan wajib melaporkannya kepada PPATK mengenai tindakan pemutusan hubungan usaha tersebut sebagai Transaksi Keuangan Mencurigakan.960 IV.1.2.1.3 Pemantauan transaksi pengguna jasa

IV.1.2.1.3.1 Hal-hal pokok untuk menganalisis suatu transaksi961 a. Apakah jumlah nominal dan frekwensi transaksi konsisten
959 Lampiran Keputusan Kepala PPATK Nomor: 2/1/KEP.PPATK/2003 tentang Pedoman Umum Pencegahan Dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang Bagi Penyedia Jasa Keuangan. 960 Pasal 22 Undang-Undang RI No. 8 Tahun 2010 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang. 961 Lampiran Keputusan Kepala PPATK Nomor: 2/1/KEP.PPATK/2003 tentang Pedoman Umum Pencegahan Dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang Bagi Penyedia Jasa Keuangan.

Pengawasan Kepatuhan

393

b.

c.

d.

e.

dengan kegiatan normal yang selama ini dilakukan oleh nasabah? Apakah transaksi yang dilakukan wajar dan sesuai dengan kegiatan usaha, aktivitas dan kebutuhan nasabah? Apakah pola transaksi yang dilakukan oleh nasabah tidak menyimpang dari pola transaksi umum untuk nasabah sejenis? Apabila transaksi yang dilakukan nsifatnya internasional, apakahnasabah memiliki alasan yang kuat untuk menjalin usaha dengan pihak di luar negeri. Apakah nasabah melakukan transaksi dengan nasabah yang tergolong dalam nasabah berisiko tinggi (high risk customer)?

IV.1.2.1.3.2 Penundaan Transaksi oleh PJK atas inisiatif sendiri.962 Penyedia jasa keuangan dapat melakukan penundaan Transaksi paling lama 5 (lima) hari kerja terhitung sejak penundaan Transaksi dilakukan.963 Penundaan Transaksi dilakukan dalam hal Pengguna Jasa: a. melakukan Transaksi yang patut diduga menggunakan Harta
Pasal Undang-Undang RI No. 8 Tahun 2010 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang.
963 Pasal 26 ayat (1) Undang-Undang RI No. 8 Tahun 2010 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang. 962

394 Ikhtisar Ketentuan AML & CFT

Kekayaan yang berasal dari hasil tindak pidana; b. memiliki rekening untuk menampung Harta Kekayaan yang berasal dari hasil tindak pidana; atau c. diketahui dan/atau patut diduga menggunakan Dokumen palsu.964 Pelaksanaan penundaan Transaksi dicatat dalam berita acara penundaan Transaksi.965 Penyedia jasa keuangan memberikan salinan berita acara penundaan Transaksi kepada Pengguna Jasa.966 Penyedia jasa keuangan wajib melaporkan penundaan Transaksi kepada PPATK dengan melampirkan berita acara penundaan Transaksi dalam waktu paling lama 24 (dua puluh empat) jam terhitung sejak waktu penundaan Transaksi dilakukan.967 Setelah menerima laporan penundaan Transaksi PPATK, wajib memastikan pelaksanaan penundaan Transaksi dilakukan sesuai dengan Undang-Undang ini.968
964 Pasal 26 ayat (2) Undang-Undang RI No. 8 Tahun 2010 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang. 965 Pasal 26 ayat (3) Undang-Undang RI No. 8 Tahun 2010 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang. 966 Pasal 26 ayat (4) Undang-Undang RI No. 8 Tahun 2010 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang. 967 Pasal 26 ayat (5) Undang-Undang RI No. 8 Tahun 2010 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang. 968 Pasal 26 ayat (6) Undang-Undang RI No. 8 Tahun 2010 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang.

Pengawasan Kepatuhan

395

Dalam hal penundaan Transaksi telah dilakukan sampai dengan hari kerja kelima, penyedia jasa keuangan harus memutuskan akan melaksanakan Transaksi atau menolak Transaksi tersebut.969 IV.1.2.2 PJK-Industri Perbankan: Bank Umum IV.1.2.2.1 Identifikasi Nasabah Bagi Penyedia Jasa Keuangan yang berbentuk bank umum, identitas dan dokumen pendukung yang diminta dari pengguna jasa keuangan harus sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan 1. Bank wajib melakukan prosedur CDD (Consumer Due Diligence) pada saat 970 : a. melakukan hubungan usaha dengan calon Nasabah; b. melakukan hubungan usaha dengan WIC (Walk In Customer); c. Bank meragukan kebenaran informasi yang diberikan oleh Nasabah, penerima kuasa, dan/atau Beneficial Owner; atau d. terdapat transaksi keuangan yang tidak wajar yang terkait dengan pencucian uang dan/ atau pendanaan terorisme

969 Pasal 26 ayat (7) Undang-Undang RI No. 8 Tahun 2010 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang. 970 Pasal 9 Peraturan Bank Indonesia No. 11/28/PBI/2009 tentang Penerapan Program Anti Pencucian Uang dan Pencegahan Pendanaan Terorisme Bagi Bank Umum.

396 Ikhtisar Ketentuan AML & CFT

2. Pendekatan berdasarkan risiko (Risk Based Approached).971 Dalam melakukan penerimaan Nasabah, Bank wajib menggunakan pendekatan berdasarkan risiko dengan mengelompokkan Nasabah berdasarkan tingkat risiko terjadinya pencucian uang atau pendanaan terorisme. 3. Pengelompokan Nasabah Pengelompokan Nasabah berdasarkan tingkat risiko paling kurang dilakukan dengan melakukan analisis terhadap972 : a. b. c. d. e. f. identitas Nasabah; lokasi usaha Nasabah; profil Nasabah; jumlah transaksi; kegiatan usaha Nasabah; struktur kepemilikan bagi Nasabah perusahaan; dan g. informasi lainnya yang dapat digunakan untuk mengukur tingkat risiko Nasabah. 4. Bank wajib meminta informasi Sebelum melakukan hubungan usaha dengan Nasabah, Bank wajib meminta informasi yang memungkinkan Bank untuk dapat mengetahui profil calon

971 Pasal 10 ayat (1) Peraturan Bank Indonesia No. 11/28/PBI/2009 tentang Penerapan Program Anti Pencucian Uang dan Pencegahan Pendanaan Terorisme Bagi Bank Umum. 972 Pasal 10 ayat (2) Peraturan Bank Indonesia No. 11/28/PBI/2009 tentang Penerapan Program Anti Pencucian Uang dan Pencegahan Pendanaan Terorisme Bagi Bank Umum.

Pengawasan Kepatuhan

397

Nasabah.973 5. Identitas Nasabah dibuktikan dengan dokumen Identitas calon Nasabah harus dapat dibuktikan dengan keberadaan dokumen-dokumen pendukung.974 Bank wajib meneliti kebenaran dokumen pendukung identitas calon Nasabah.975 6. Larangan rekening anonim. Bank dilarang untuk membuka atau memelihara rekening anonim atau rekening yang menggunakan nama fiktif.976 7. Pertemuan langsung (Face to Face) Bank wajib melakukan pertemuan langsung (face to face) dengan calon Nasabah pada awal melakukan hubungan usaha dalam rangka meyakini kebenaran identitas calon Nasabah.977

973 Pasal 11 ayat (1) Peraturan Peraturan Bank Indonesia No. 11/28/PBI/2009 tentang Penerapan Program Anti Pencucian Uang dan Pencegahan Pendanaan Terorisme Bagi Bank Umum. 974 Pasal 11 ayat (2) Peraturan Bank Indonesia No. 11/28/PBI/2009 tentang Penerapan Program Anti Pencucian Uang dan Pencegahan Pendanaan Terorisme Bagi Bank Umum. 975 Pasal 11 ayat (3) Peraturan Bank Indonesia No. 11/28/PBI/2009 tentang Penerapan Program Anti Pencucian Uang dan Pencegahan Pendanaan Terorisme Bagi Bank Umum. 976 Pasal 11 ayat (4) Peraturan Bank Indonesia No. 11/28/PBI/2009 tentang Penerapan Program Anti Pencucian Uang dan Pencegahan Pendanaan Terorisme Bagi Bank Umum. 977 Pasal 11 ayat (5) Peraturan Bank Indonesia No. 11/28/PBI/2009 tentang Penerapan Program Anti Pencucian Uang dan Pencegahan Pendanaan Terorisme Bagi Bank Umum.

398 Ikhtisar Ketentuan AML & CFT

8. Bank wajib mewaspadai transaksi atau hubungan usaha dengan Nasabah yang berasal atau terkait dengan negara yang belum memadai dalam melaksanakan rekomendasi FATF.978 IV.1.2.2.2 Identifikasi Transaksi

IV.1.2.2.2.1 Pemantauan dan Penentuan transaksi keuangan yang mencurigakan. 1. Bank wajib melakukan pemantauan secara berkesinambungan untuk mengidentifikasi kesesuaian antara transaksi Nasabah dengan profil Nasabah dan menatausahakan dokumen.979 2. Bank wajib melakukan analisis terhadap seluruh transaksi yang tidak sesuai dengan profil Nasabah.980 3. Bank dapat meminta informasi tentang latar belakang dan tujuan transaksi terhadap transaksi yang tidak sesuai dengan profil Nasabah, dengan memperhatikan ketentuan anti tipping-off sebagaimana diatur dalam Undang-undang tentang Tindak Pidana Pencucian Uang.981
978 Pasal 11 ayat (6) Peraturan Bank Indonesia No. 11/28/PBI/2009 tentang Penerapan Program Anti Pencucian Uang dan Pencegahan Pendanaan Terorisme Bagi Bank Umum. 979 Pasal 29 ayat (1) Peraturan Bank Indonesia No. 11/28/PBI/2009 tentang Penerapan Program Anti Pencucian Uang dan Pencegahan Pendanaan Terorisme Bagi Bank Umum. 980 Pasal 29 ayat (2) Peraturan Peraturan Bank Indonesia No. 11/28/PBI/2009 tentang Penerapan Program Anti Pencucian Uang dan Pencegahan Pendanaan Terorisme Bagi Bank Umum. 981 Peraturan Bank Indonesia No. 11/28/PBI/2009 tentang Penerapan Program Anti Pencucian Uang dan Pencegahan Pendanaan Terorisme Bagi Bank Umum.

Pengawasan Kepatuhan

399

4. Bank wajib melakukan pemantauan yang berkesinambungan terhadap hubungan usaha/transaksi dengan Nasabah dan/atau Bank dari negara yang program APU dan PPT kurang memadai.982 5. Bank wajib melakukan kegiatan pemantauan yang sekurangkurangnya mencakup hal-hal sebagai berikut983 : a. Dilakukan secara berkesinambungan untuk mengidentifikasi kesesuaian antara transaksi Nasabah dengan profil Nasabah dan menatausahakan dokumen tersebut, terutama terhadap hubungan usaha/transaksi dengan Nasabah dan/atau Bank dari negara yang program APU dan PPT kurang memadai. b. Melakukan analisis terhadap seluruh transaksi yang tidak sesuai dengan profil Nasabah. Contoh transaksi, aktivitas, dan perilaku yang tidak sesuai dengan profil Nasabah adalah sebagaimana terlampir dalam Lampiran III. c. Apabila diperlukan, meminta informasi tentang latar belakang dan tujuan transaksi terhadap transaksi yang tidak

982 Pasal 29 ayat (4) Peraturan Bank Indonesia No. 11/28/PBI/2009 tentang Penerapan Program Anti Pencucian Uang dan Pencegahan Pendanaan Terorisme Bagi Bank Umum. 983 Surat Edaran Bank Indonesia No. 11/31/DPNP tentang Pedoman Standar Penerapan Program Anti Pencucian Uang dan Pencegahan Pendanaan Terorisme.

400 Ikhtisar Ketentuan AML & CFT

sesuai dengan profil Nasabah, dengan memperhatikan ketentuan anti tipping-off sebagaimana diatur dalam Undang-undang tentang Tindak Pidana Pencucian Uang. 6. Kegiatan pemantauan profil dan transaksi Nasabah yang dilakukan secara berkesinambungan meliputi kegiatan984 : a. memastikan kelengkapan informasi dan dokumen Nasabah; b. meneliti kesesuaian antara profil transaksi dengan profil Nasabah; c. meneliti kemiripan atau kesamaan nama dengan nama yang tercantum dalam database daftar teroris; dan d. meneliti kemiripan atau kesamaan nama dengan nama tersangka atau terdakwa yang dipublikasikan dalam media massa atau oleh otoritas yang berwenang. 7. Sumber informasi yang dapat digunakan untuk memantau Nasabah Bank yang ditetapkan sebagai status tersangka atau terdakwa dapat diperoleh antara lain melalui985 :

984 Surat Edaran Bank Indonesia No. 11/31/DPNP tentang Pedoman Standar Penerapan Program Anti Pencucian Uang dan Pencegahan Pendanaan Terorisme. 985 Surat Edaran Bank Indonesia No. 11/31/DPNP tentang Pedoman Standar Penerapan Program Anti Pencucian Uang dan Pencegahan Pendanaan Terorisme.

Pengawasan Kepatuhan

401

a. database yang dikeluarkan oleh pihak berwenang seperti PPATK; atau b. media massa, seperti koran dan majalah. 8. Pemantauan terhadap profil dan transaksi Nasabah harus dilakukan secara berkala dengan menggunakan pendekatan berdasarkan risiko.986 9. Apabila berdasarkan hasil pemantauan terdapat kemiripan atau kesamaan nama maka Bank harus melakukan klarifikasi untuk memastikan kemiripan tersebut.987 10. Dalam hal nama dan identitas Nasabah sesuai dengan nama tersangka atau terdakwa yang diinformasikan dalam media massa dan/atau sesuai dengan daftar teroris maka Bank wajib melaporkan Nasabah tersebut dalam LTKM .988 11. Pemantauan terhadap rekening Nasabah harus dipantau lebih ketat apabila terdapat antara lain989 : a. transaksi pengiriman uang yang terkait dengan Nasabah yang tinggal di

986 Surat Edaran Bank Indonesia No. 11/31/DPNP tentang Pedoman Standar Penerapan Program Anti Pencucian Uang dan Pencegahan Pendanaan Terorisme. 987 Surat Edaran Bank Indonesia No. 11/31/DPNP tentang Pedoman Standar Penerapan Program Anti Pencucian Uang dan Pencegahan Pendanaan Terorisme.

Surat Edaran Bank Indonesia No. 11/31/DPNP tentang Pedoman Standar Penerapan Program Anti Pencucian Uang dan Pencegahan Pendanaan Terorisme.
989 Surat Edaran Bank Indonesia No. 11/31/DPNP tentang Pedoman Standar Penerapan Program Anti Pencucian Uang dan Pencegahan Pendanaan Terorisme.

988

402 Ikhtisar Ketentuan AML & CFT

Negara yang berisiko tinggi; b. kartu kredit dengan over payment dengan nilai yang signifikan; c. debitur berbadan hukum asing menggunakan jaminan sepeti back to back LC dan/atau standby L/C. 12. Seluruh kegiatan pemantauan didokumentasikan dengan tertib.990 13. Berdasarkan hasil pemantauan atas profil dan transaksi Nasabah, Bank wajib melaporkan dalam LTKM apabila991 : a. Nasabah memenuhi ketentuan sebagaimana dimaksud pada huruf B angka 6; b. Nasabah yang ditutup hubungan usahanya karena tidak bersedia melengkapi informasi dan dokumen pendukung dan berdasarkan penilaian Bank transaksi yang dilakukan tidak wajar atau mencurigakan; c. Nasabah/WIC yang ditolak atau dibatalkan transaksinya karena tidak bersedia melengkapi informasi yang diminta oleh Bank dan berdasarkan penilaian Bank

990 Surat Edaran Bank Indonesia No. 11/31/DPNP tentang Pedoman Standar Penerapan Program Anti Pencucian Uang dan Pencegahan Pendanaan Terorisme. 991 Surat Edaran Bank Indonesia No. 11/31/DPNP tentang Pedoman Standar Penerapan Program Anti Pencucian Uang dan Pencegahan Pendanaan Terorisme.

Pengawasan Kepatuhan

403

transaksi yang dilakukan tidak wajar atau mencurigakan; atau d. Transaksi yang memenuhi kriteria mencurigakan sebagaimana dimaksud dalam Undang-undang tentang Tindak Pidana Pencucian Uang. IV.1.2.2.3 Kewajiban untuk membuat sistem informasi Bank wajib memiliki sistem informasi yang dapat mengidentifikasi, menganalisa, memantau, dan menyediakan laporan secara efektif mengenai karakteristik transaksi yang dilakukan oleh Nasabah Bank.992 Bank wajib memiliki dan memelihara profil Nasabah secara terpadu (Single Customer Identification File), yang meliputi informasi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 13, Pasal 16, dan Pasal 17 ayat (1).993 Untuk keperluan pemantauan profil dan transaksi Nasabah, Bank wajib memiliki sistem informasi yang dapat mengidentifikasi, menganalisa, memantau dan menyediakan laporan secara efektif mengenai karakteristik transaksi yang dilakukan oleh Nasabah Bank.994

992 Pasal 41 Ayat (1) Peraturan Bank Indonesia No. 11/28/PBI/2009 tentang Penerapan Program Anti Pencucian Uang dan Pencegahan Pendanaan Terorisme Bagi Bank Umum. 993 Pasal 41 Ayat (2) Peraturan Bank Indonesia No. 11/28/PBI/2009 tentang Penerapan Program Anti Pencucian Uang dan Pencegahan Pendanaan Terorisme Bagi Bank Umum. 994 Surat Edaran Ban Indonesia No. 11/31/DPNP tentang Pedoman Standar Penerapan Program Anti Pencucian Uang dan Pencegahan Pendanaan Terorisme.

404 Ikhtisar Ketentuan AML & CFT

Sistem informasi yang dimiliki harus dapat memungkinkan Bank untuk menelusuri setiap transaksi (individual transaction), baik untuk keperluan intern dan atau Bank Indonesia, maupun dalam kaitannya dengan kasus peradilan.995 Tingkat kecanggihan sistem informasi untuk mengidentifikasi transaksi keuangan yang mencurigakan disesuaikan dengan kompleksitas, volume transaksi, dan risiko yang dimiliki Bank.996 Bank wajib dan melakukan penyesuaian parameter secara berkala terhadap parameter yang digunakan untuk mengidentifikasi transaksi keuangan yang mencurigakan.997 Untuk memudahkan pemantauan dalam rangka menganalisis transaksi keuangan yang mencurigakan, Bank wajib memiliki dan memelihara profil Nasabah secara terpadu (Single Customer Identification File/CIF), paling kurang meliputi informasi sebagaimana dimaksud dalam Tabel 1 pada Bab V.998

995 Surat Edaran Ban Indonesia No. 11/31/DPNP tentang Pedoman Standar Penerapan Program Anti Pencucian Uang dan Pencegahan Pendanaan Terorisme. 896 Surat Edaran Ban Indonesia No. 11/31/DPNP tentang Pedoman Standar Penerapan Program Anti Pencucian Uang dan Pencegahan Pendanaan Terorisme. 997 Surat Edaran Ban Indonesia No. 11/31/DPNP tentang Pedoman Standar Penerapan Program Anti Pencucian Uang dan Pencegahan Pendanaan Terorisme. 998 Surat Edaran Ban Indonesia No. 11/31/DPNP tentang Pedoman Standar Penerapan Program Anti Pencucian Uang dan Pencegahan Pendanaan Terorisme.

Pengawasan Kepatuhan

405

Informasi yang terdapat dalam single CIF mencakup seluruh rekening yang dimiliki oleh Nasabah pada suatu Bank yaitu tabungan, deposito, giro dan kredit.999 Untuk rekening joint account terdapat dua pendekatan, yaitu: a. Apabila pemilik dari joint account (Rek A dan B) juga memiliki rekening lainnya atas nama masing-masing (Rek. A dan Rek. B), maka CIF yang dibuat adalah 2 (dua) CIF yaitu CIF atas nama A dan CIF atas nama B.Dalam setiap CIF harus menginformasikan bahwa baik A maupun B memiliki rekening joint account. b. Apabila pemilik dari joint account (Rek A dan B) tidak memiliki rekening lainnya, maka CIF yang dibuat mencakup informasi A dan B.1000 Untuk keperluan pemeliharaan single CIF, Bank harus menetapkan kebijakan bahwa untuk setiap penambahan rekening oleh Nasabah yang sudah ada, Bank wajib mengkaitkan rekening tambahan tersebut dengan nomor informasi Nasabah dari Nasabah yang bersangkutan. 1001
999 Surat Edaran Ban Indonesia No. 11/31/DPNP tentang Pedoman Standar Penerapan Program Anti Pencucian Uang dan Pencegahan Pendanaan Terorisme. 1000 Surat Edaran Ban Indonesia No. 11/31/DPNP tentang Pedoman Standar Penerapan Program Anti Pencucian Uang dan Pencegahan Pendanaan Terorisme. 1001 Surat Edaran Ban Indonesia No. 11/31/DPNP tentang Pedoman Standar Penerapan Program Anti Pencucian Uang dan Pencegahan Pendanaan Terorisme.

406 Ikhtisar Ketentuan AML & CFT

Dalam hal terdapat Nasabah yang selain tercatat sebagai Nasabah pada Bank konvensional juga tercatat sebagai Nasabah pada Unit Usaha Syariah dari Bank yang sama, maka Nasabah tersebut memiliki dua CIF yang berbeda.1002 IV.1.2.2.4 Kewajiban pembentukan unit kerja khusus/pejabat APU dan PPT Bank wajib membentuk unit kerja khusus dan/atau menunjuk pejabat Bank yang bertanggungjawab atas penerapan program APU dan PPT.1003 Unit kerja khusus dan/atau pejabat Bank bertanggungjawab kepada Direktur Kepatuhan.1004 Bank wajib memastikan bahwa unit kerja khusus dan/atau pejabat Bank yang bertanggungjawab atas penerapan program APU dan PPT memiliki kemampuan yang memadai dan memiliki kewenangan untuk mengakses seluruh data Nasabah dan informasi lainnya yang terkait.1005 IV.1.2.2.5 Tanggung Jawab unit kerja khusus/pejabat APU dan PPT Pejabat unit kerja khusus atau pejabat yang bertanggungjawab terhadap
1002 Surat Edaran Ban Indonesia No. 11/31/DPNP tentang Pedoman Standar Penerapan Program Anti Pencucian Uang dan Pencegahan Pendanaan Terorisme.

Pasal 6 Ayat (1) Peraturan Bank Indonesia No. 11/28/PBI/2009 tentang Penerapan Program Anti Pencucian Uang dan Pencegahan Pendanaan Terorisme Bagi Bank Umum.
1004 Pasal 6 Ayat (2) Peraturan Bank Indonesia No. 11/28/PBI/2009 tentang Penerapan Program Anti Pencucian Uang dan Pencegahan Pendanaan Terorisme Bagi Bank Umum.

1003

Pasal 6 Ayat (3) Peraturan Bank Indonesia No. 11/28/PBI/2009 tentang Penerapan Program Anti Pencucian Uang dan Pencegahan Pendanaan Terorisme Bagi Bank Umum.

1005

Pengawasan Kepatuhan

407

program APU dan PPT wajib1006 : a. memantau adanya sistem yang mendukung program APU dan PPT; b. memantau pengkinian profil Nasabah dan profil transaksi Nasabah; c. melakukan koordinasi dan pemantauan terhadap pelaksanaan kebijakan program APU dan PPT dengan unit kerja terkait yang berhubungan dengan Nasabah; d. memastikan bahwa kebijakan dan prosedur telah sesuai dengan perkembangan program APU dan PPT yang terkini, risiko produk Bank, kegiatan dan kompleksitas usaha Bank, dan volume transaksi Bank; e. menerima laporan transaksi keuangan yang berpotensi mencurigakan (red flag) dari unit kerja terkait yang berhubungan dengan Nasabah dan melakukan analisis atas laporan tersebut; f. menyusun laporan Transaksi Keuangan Mencurigakan dan laporan lainnya sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Tindak Pidana Pencucian Uang untuk disampaikan kepada PPATK berdasarkan persetujuan Direktur Kepatuhan; g. memantau bahwa: 1) terdapat mekanisme komunikasi yang baik dari

1006 Pasal 7 Peraturan Bank Indonesia No. 11/28/PBI/2009 tentang Penerapan Program Anti Pencucian Uang dan Pencegahan Pendanaan Terorisme Bagi Bank Umum.

408 Ikhtisar Ketentuan AML & CFT

setiap unit kerja terkait kepada unit kerja khusus atau kepada pejabat yang bertanggungjawab terhadap penerapan program APU dan PPT dengan menjaga kerahasiaan informasi; 2) Unit kerja terkait melakukan fungsi dan tugas dalam rangka mempersiapkan laporan mengenai dugaan Transaksi Keuangan Mencurigakan sebelum menyampaikannya kepada unit kerja khusus atau pejabat yang bertanggungjawab terhadap penerapan program APU dan PPT; 3) area yang berisiko tinggi yang terkait dengan APU dan PPT dapat teridentifikasi dengan baik dengan mengacu pada ketentuan yang berlaku dan sumber informasi yang memadai; dan h. memantau, menganalisis, dan merekomendasikan kebutuhan pelatihan program APU dan PPT bagi pegawai Bank. IV.1.2.2.6 Kewajiban Membuat Pedoman Anti Pencucian Uang dan Pencegahan Pendanaan Terorisme1007 1. Dalam menerapkan program APU dan PPT, Bank wajib memiliki kebijakan dan prosedur tertulis yang paling kurang mencakup:
1007 Pasal 8 Peraturan Bank Indonesia No. 11/28/PBI/2009 tentang Penerapan Program Anti Pencucian Uang dan Pencegahan Pendanaan Terorisme Bagi Bank Umum.

Pengawasan Kepatuhan

409

a. permintaan informasi dan dokumen; b. Beneficial Owner; c. verifikasi dokumen; d. CDD yang lebih sederhana; e. penutupan hubungan dan penolakan transaksi; f. ketentuan mengenai area berisiko tinggi dan PEP; g. pelaksanaan CDD oleh pihak ketiga; h. pengkinian dan pemantauan; i. Cross Border Correspondent Banking; j. transfer dana; dan k. penatausahaan dokumen. 2. Kebijakan dan prosedur wajib mempertimbangkan faktor teknologi informasi yang berpotensi disalahgunakan oleh pelaku pencucian uang atau pendanaan terorisme. 3. Bank wajib menuangkan kebijakan dan prosedur program APU dan PPT dalam Pedoman Pelaksanaan Program APU dan PPT. 4. Bank wajib menerapkan kebijakan dan prosedur tertulis secara konsisten dan berkesinambungan. 5. Pedoman Pelaksanaan Program APU dan PPT wajib mendapat persetujuan dari Dewan Komisaris. IV.1.2.2.7 Kewajiban Melaksanakan Program Pelatihan Prinsip Mengenal Nasabah 1. Bank wajib menyelenggarakan pelatihan yang berkesinambu-

410 Ikhtisar Ketentuan AML & CFT

ngan tentang 1008 : a. implementasi peraturan perundang-undangan yang terkait dengan program APU dan PPT; b. Teknik, metode, dan tipologi pencucian uang atau pendanaan terorisme; dan c. Kebijakan dan prosedur penerapan program APU dan PPT serta peran dan tanggungjawab pegawai dalam memberantas pencucian uang atau pendanaan terorisme. 2. Peserta Pelatihan a. Seluruh karyawan harus mendapatkan pengetahuan mengenai kebijakan, prosedur, dan penerapan Program APU dan PPT. b. Karyawan yang memenuhi kriteria sebagai berikut: 1) berhadapan langsung dengan Nasabah (pelayanan Nasabah); 2) pelaksanaan tugas seharihari terkait dengan pengawasan pelaksanaan penerapan Program APU dan PPT; atau 3) pelaksanaan tugas seharihari terkait dengan pelaporan kepada PPATK dan Bank Indonesia, mendapatkan prioritas untuk memperoleh pelatihan.

1008 Pasal 43 Peraturan Bank Indonesia No. 11/28/PBI/2009 tentang Penerapan Program Anti Pencucian Uang dan Pencegahan Pendanaan Terorisme Bagi Bank Umum.

Pengawasan Kepatuhan

411

c. Karyawan yang mendapatkan prioritas harus mendapatkan pelatihan secara berkala, sedangkan karyawan lainnya yang tidak memenuhi kriteria harus mendapatkan pelatihan paling kurang 1 (satu) kali dalam masa kerjanya. d. Karyawan yang berhadapan langsung dengan Nasabah (front liner) harus mendapatkan pelatihan sebelum penempatan. 3. Metode Pelatihan a. Pelatihan dapat dilakukan secara elekronik (online base) maupun melalui pertemuan. b. Pelatihan secara elektronik (online base) dapat menggunakan media e-learning baik yang disediakan oleh otoritas berwenang seperti PPATK atau yang disediakan secara mandiri oleh Bank. c. Pelatihan melalui tatap muka dilakukan dengan menggunakan pendekatan antara lain: 1) Tatap muka secara interaktif (misal workshop) dengan topik pelatihan disesuaikan dengan kebutuhan peserta. Pendekatan ini digunakan untuk karyawan yang mendapatkan prioritas dan dilakukan secara berkala, misal setiap tahun. 2) Tatap muka satu arah (misal seminar) dengan topik

412 Ikhtisar Ketentuan AML & CFT

pelatihan adalah berupa gambaran umum dari penerapan Program APU dan PPT. Pendekatan ini diberikan kepada karyawan yang tidak mendapatkan prioritas dan dilakukan apabila terdapat perubahan ketentuan yang signifikan. 4. Topik dan Evaluasi Pelatihan a. Topik pelatihan paling kurang mengenai: 1) implementasi peraturan perundang-undangan yang terkait dengan program APU dan PPT; 2) Teknik, metode, dan tipologi pencucian uang atau pendanaan terorisme termasuk trend dan perkembangan profil risiko produk perbankan; dan 3) Kebijakan dan prosedur penerapan Program APU dan PPTserta peran dan tanggungjawab pegawai dalam memberantas pencucian uang atau pendanaan terorisme, termasuk konsekuensi apabila karyawan melakukan tipping off. b. Bank harus melakukan evaluasi terhadap setiap pelatihan yang telah diselenggarakan untuk mengetahui tingkat pemahaman peserta pelatihan dan kesesuaian materi yang diberikan.

Pengawasan Kepatuhan

413

c. Evaluasi dapat dilakukan secara langsung melalui wawancara atau tidak secara langsung melalui penyediaan soal d. Bank harus melakukan upaya tindak lanjut dari hasil evaluasi pelatihan melalui penyempurnaan materi dan metode pelatihan. IV.1.2.3 PJK-Industri Perbankan: Bank Perkreditan Rakyat IV.1.2.3.1 Identifikasi Nasabah Bagi Penyedia Jasa Keuangan yang berbentuk BPR/BPRS, identitas dan dokumen pendukung yang diminta dari pengguna jasa keuangan harus sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan 1. BPR/BPRS wajib melakukan prosedur CDD (Consumer Due Diligence) pada saat1009 : a. melakukan hubungan usaha dengan calon Nasabah; b. melakukan hubungan usaha dengan WIC (Walk In Customer); c. terdapat keraguan atas kebenaran informasi yang diberikan oleh Nasabah, penerima kuasa, dan/atau Beneficial Owner; atau d. terdapat transaksi keuangan yang tidak wajar yang terkait

1009 Pasal 9 ayat (1) dan ayat (2) Peraturan Bank Indonesia No. 12/20/PBI/2010 tentang Penerapan Program Anti Pencucian Uang (APU) dan Pencegahan Pendanaan Terorisme (PPT) bagi Bank Perkreditan Rakyat dan Bank Pembiayaan Rakyat.

414 Ikhtisar Ketentuan AML & CFT

dengan pencucian uang dan/ atau pendanaan terorisme 2. Pendekatan berdasarkan risiko (Risk Based Approached).1010 Dalam melakukan penerimaan Nasabah, BPR/BPRS wajib menggunakan pendekatan berdasarkan risiko dengan mengelompokkan Nasabah berdasarkan tingkat risiko terjadinya pencucian uang atau pendanaan terorisme. 3. Pengelompokan Nasabah Pengelompokan Nasabah berdasarkan tingkat risiko paling kurang dilakukan dengan melakukan analisis terhadap1011 : a. b. c. d. e. f. identitas Nasabah; lokasi usaha Nasabah; profil Nasabah; nilai transaksi; kegiatan usaha Nasabah; struktur kepemilikan bagi Nasabah perusahaan; dan g. informasi lainnya yang dapat digunakan untuk mengukur tingkat risiko Nasabah. 4. BPR/BPRS wajib meminta informasi dan dibuktikan dengan dokumen meminta informasi
1010 Pasal 10 ayat (1) Peraturan Bank Indonesia No. 12/20/PBI/2010 tentang Penerapan Program Anti Pencucian Uang (APU) dan Pencegahan Pendanaan Terorisme (PPT) bagi Bank Perkreditan Rakyat dan Bank Pembiayaan Rakyat. 1011 Pasal 10 ayat (2) Peraturan Bank Indonesia No. 12/20/PBI/2010 tentang Penerapan Program Anti Pencucian Uang (APU) dan Pencegahan Pendanaan Terorisme (PPT) bagi Bank Perkreditan Rakyat dan Bank Pembiayaan Rakyat.

Pengawasan Kepatuhan

415

calon Nasabah dan WIC sebelum melakukan hubungan usaha, termasuk identitas calon Nasabah yang dibuktikan dengan keberadaan dokumen pendukung;.1012 5. BPR/BPRS wajib meneliti kebenaran dokumen pendukung identitas calon Nasabah.1013 6. Larangan rekening anonim. Bank dilarang untuk membuka atau memelihara rekening anonim atau rekening yang menggunakan nama fiktif.1014 7. Pertemuan langsung (Face to Face) BPR/BPR wajib melakukan pertemuan langsung/tatap muka dengan calon Nasabah padaawal melakukan hubungan usaha dalam rangka meyakini kebenaran identitas calon Nasabah.1015 Dalam hal pertemuan langsung/ tatap muka dengan calon Nasabah tidak dapat dilakukan pada awal
1012 Pasal 11 ayat (1) huruf a Peraturan Bank Indonesia No. 12/20/PBI/2010 tentang Penerapan Program Anti Pencucian Uang (APU) dan Pencegahan Pendanaan Terorisme (PPT) bagi Bank Perkreditan Rakyat dan Bank Pembiayaan Rakyat. 1013 Pasal 11 ayat (1) huruf b Peraturan Bank Indonesia No. 12/20/PBI/2010 tentang Penerapan Program Anti Pencucian Uang (APU) dan Pencegahan Pendanaan Terorisme (PPT) bagi Bank Perkreditan Rakyat dan Bank Pembiayaan Rakyat. 1014 Pasal 11 ayat (3) Peraturan Bank Indonesia No. 12/20/PBI/2010 tentang Penerapan Program Anti Pencucian Uang (APU) dan Pencegahan Pendanaan Terorisme (PPT) bagi Bank Perkreditan Rakyat dan Bank Pembiayaan Rakyat. 1015 Pasal 11 ayat (1) huruf c Peraturan Bank Indonesia No. 12/20/PBI/2010 tentang Penerapan Program Anti Pencucian Uang (APU) dan Pencegahan Pendanaan Terorisme (PPT) bagi Bank Perkreditan Rakyat dan Bank Pembiayaan Rakyat.

416 Ikhtisar Ketentuan AML & CFT

hubungan usaha, maka pertemuan dapat dilakukan di kemudian hari sepanjang memenuhi ketentuan sebagai berikut: a. calon Nasabah tergolong berisiko rendah; atau b. dokumen pendukung yang memuat identitas telah dilegalisir oleh pihak yang berwenang.116 8. BPR dan BPRS memberikan perhatian khusus terhadap transaksi atau hubungan usaha dengan Nasabah yang kegiatan usahanya terkait dengan negara yang belum memadai dalam melaksanakan rekomendasi FATF.117 IV.1.2.3.2 Identifikasi Transaksi 1. Pemantauan dan Penentuan transaksi keuangan yang mencurigakan. BPR dan BPRS wajib melakukan1018 : a. pemantauan secara berkesinambungan untuk mengidentifikasi kesesuaian antara transaksi Nasabah dengan
1016 Pasal 11 ayat (2) Peraturan Bank Indonesia No. 12/20/PBI/2010 tentang Penerapan Program Anti Pencucian Uang (APU) dan Pencegahan Pendanaan Terorisme (PPT) bagi Bank Perkreditan Rakyat dan Bank Pembiayaan Rakyat. 1017 Pasal 11 ayat (4) Peraturan Bank Indonesia No. 12/20/PBI/2010 tentang Penerapan Program Anti Pencucian Uang (APU) dan Pencegahan Pendanaan Terorisme (PPT) bagi Bank Perkreditan Rakyat dan Bank Pembiayaan Rakyat. 1018 Pasal 22 Peraturan Bank Indonesia No. 12/20/PBI/2010 tentang Penerapan Program Anti Pencucian Uang (APU) dan Pencegahan Pendanaan Terorisme (PPT) bagi Bank Perkreditan Rakyat dan Bank Pembiayaan Rakyat.

Pengawasan Kepatuhan

417

profil Nasabah dan menatausahakan dokumen. b. analisis terhadap seluruh transaksi yang tidak sesuai dengan profil Nasabah. 2. BPR dan BPRS dapat meminta informasi tentang latar belakang dan tujuan transaksi terhadap transaksi yang tidak sesuai dengan profil Nasabah, dengan memperhatikan ketentuan anti tipping-off sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang yang mengatur mengenai Tindak Pidana Pencucian Uang. 3. Kewajiban untuk membuat sistem pencatatan1019 BPR dan BPRS wajib memiliki sistem pencatatan yang dapat mengidentifikasi, menganalisa, memantau dan menyediakan laporan secara efektif mengenai karakteristik transaksi yang dilakukan oleh Nasabah. BPR dan BPRS wajib memelihara profil Nasabah paling kurang meliputi informasi mengenai: a. pekerjaan atau bidang usaha; b. jumlah penghasilan; c. rekening lain yang dimiliki, apabila ada; d. aktivitas transaksi normal; dan e. tujuan pembukaan rekening.

1019 Pasal 23 Peraturan Bank Indonesia No. 12/20/PBI/2010 tentang Penerapan Program Anti Pencucian Uang (APU) dan Pencegahan Pendanaan Terorisme (PPT) bagi Bank Perkreditan Rakyat dan Bank Pembiayaan Rakyat.

418 Ikhtisar Ketentuan AML & CFT

4. Kewajiban pembentukan unit kerja khusus/pejabat APU dan PPT BPR dan BPRS wajib membentuk unit kerja khusus dan/atau menunjuk pegawai BPR dan BPRS yang bertanggungjawab atas penerapan program APU dan PPT. Unit kerja khusus atau pegawai BPR dan BPRS bertanggungjawab kepada Direktur. BPR dan BPRS memastikan bahwa pegawai di unit kerja khusus atau pegawai yang bertanggungjawab atas penerapan program APU dan PPT memiliki kemampuan yang memadai dan memiliki kewenangan untuk mengakses seluruh data Nasabah dan informasi lainnya yang terkait. Dalam hal BPR dan BPRS tidak dapat membentuk unit kerja khusus atau menunjuk pegawai yang bertanggungjawab atas penerapan program APU dan PPT maka fungsi dimaksud dilaksanakan oleh salah satu anggota Direksi.1020 5. Tanggung Jawab unit kerja khusus/pejabat APU dan PPT Unit kerja khusus atau pegawai BPR dan BPRS yang
1020 Pasal 6 Peraturan Bank Indonesia No. 12/20/PBI/2010 tentang Penerapan Program Anti Pencucian Uang (APU) dan Pencegahan Pendanaan Terorisme (PPT) bagi Bank Perkreditan Rakyat dan Bank Pembiayaan Rakyat.

Pengawasan Kepatuhan

419

bertanggungjawab terhadap program APU dan PPT wajib1021 : a. memantau adanya sistem yang mendukung program APU dan PPT; b. memantau pengkinian profil Nasabah dan profil transaksi Nasabah; c. melakukan koordinasi dan pemantauan terhadap pelaksanaan kebijakan program APU dan PPT dengan unit kerja/pegawai terkait yang berhubungan dengan Nasabah; d. memastikan bahwa kebijakan dan prosedur telah sesuai dengan perkembangan program APU dan PPT yang terkini, risiko produk BPR dan BPRS, kegiatan dan kompleksitas usaha BPR dan BPRS, dan volume transaksi BPR dan BPRS; e. menerima laporan transaksi keuangan yang berpotensi mencurigakan dari unit kerja atau pegawai terkait yang berhubungan dengan Nasabah dan melakukan analisis atas laporan tersebut; f. menyusun laporan Transaksi Keuangan Mencurigakan dan laporan lainnya sebagaimana diatur dalam Undang-Undang yang mengatur mengenai

1021 Pasal 7 Peraturan Bank Indonesia No. 12/20/PBI/2010 tentang Penerapan Program Anti Pencucian Uang (APU) dan Pencegahan Pendanaan Terorisme (PPT) bagi Bank Perkreditan Rakyat dan Bank Pembiayaan Rakyat.

420 Ikhtisar Ketentuan AML & CFT

Tindak Pidana Pencucian Uang untuk disampaikan kepada PPATK berdasarkan persetujuan Direktur; g. memantau bahwa: 1) terdapat mekanisme komunikasi yang baik dari setiap unit kerja atau pegawai terkait kepada unit kerja khusus atau pegawai yang bertanggungjawab terhadap penerapan program APU dan PPT dengan menjaga kerahasiaan informasi; 2) unit kerja atau pegawai terkait mempersiapkan laporan mengenai dugaan Transaksi Keuangan Mencurigakan sebelum menyampaikannya kepada unit kerja khusus atau pegawai yang ditunjuk yang bertanggungjawab terhadap penerapan program APU dan PPT; 3) area yang berisiko tinggi, terkait dengan APU dan PPT dengan mengacu pada ketentuan yang berlaku dan sumber informasi yang memadai. 6. Kewajiban Membuat Pedoman Anti Pencucian Uang dan Pencegahan Pendanaan Terorisme Dalam menerapkan program APU dan PPT, BPR dan BPRS wajib memiliki kebijakan dan prosedur

Pengawasan Kepatuhan

421

tertulis yang paling kurang mencakup hal-hal sebagai berikut1022 : a. Pelaksanaan CDD, yang terdiri dari: 1) permintaan informasi dan dokumen; 2) verifikasi dokumen; dan 3) pengkinian dan pemantauan. b. penatausahaan dokumen; c. pemindahan dana; d. penutupan hubungan dan penolakan transaksi; e. ketentuan mengenai Beneficial Owner; f. ketentuan mengenai area berisiko tinggi dan PEP; g. pelaksanaan CDD yang lebih sederhana; dan h. pelaksanaan CDD oleh pihak ketiga. Kebijakan dan prosedur tersebut wajib: a. dituangkan ke dalam Pedoman Pelaksanaan Program APU dan PPT; b. mendapat persetujuan dari Dewan Komisaris; dan c. diterapkan secara konsisten dan berkesinambungan. Kebijakan dan prosedur tersebut harus mempertimbangkan faktor teknologi informasi yang berpotensi disalahgunakan oleh
Pasal 8 Peraturan Bank Indonesia No. 12/20/PBI/2010 tentang Penerapan Program Anti Pencucian Uang (APU) dan Pencegahan Pendanaan Terorisme (PPT) bagi Bank Perkreditan Rakyat dan Bank Pembiayaan Rakyat.
1022

422 Ikhtisar Ketentuan AML & CFT

pelaku pencucian uang atau pendanaan terorisme. 7. Kewajiban Melaksanakan Program Pelatihan Prinsip Mengenal Nasabah1023 BPR dan BPRS wajib menyelenggarakan pelatihan mengenai program APU dan PPT. Pelatihan tersebut dapat dilakukan dengan cara antara lain: a. menyelenggarakan in house training; b. mengikutsertakan pegawai dalam pelatihan yang diselenggarakan oleh pihak lain; c. menyelenggarakan forum tukar-menukar informasi (knowledge sharing); dan/atau d. melakukan pembelajaran dengan menggunakan sarana elektronik (elearning). IV.1.2.4 PJK- Industri Pasar Modal IV.1.2.4.1 Identifikasi Nasabah Penyedia Jasa Keuangan di bidang Pasar Modal wajib melakukan identifikasi dan verifikasi atas informasi dan dokumen pendukung mengenai calon Nasabah (customer due diligence) dengan melakukan halhal antara lain:

1023 Pasal 38 Peraturan Bank Indonesia No. 12/20/PBI/2010 tentang Penerapan Program Anti Pencucian Uang (APU) dan Pencegahan Pendanaan Terorisme (PPT) bagi Bank Perkreditan Rakyat dan Bank Pembiayaan Rakyat.

Pengawasan Kepatuhan

423

(1) meneliti kebenaran informasi dan dokumen dan mengidentifikasi adanya kemungkinan hal-hal yang tidak wajar atau mencurigakan; (2) dalam hal terdapat keraguan atas informasi dan dokumen yang diterima, Penyedia Jasa Keuangan di bidang Pasar Modal wajib memastikan kebenaran identitas, informasi, dan dokumen calon Nasabah, antara lain dengan cara: (a) melakukan wawancara dengan calon Nasabah untuk meneliti dan meyakini keabsahan dan kebenaran dokumen; (b) meminta dokumen identitas lain yang dikeluarkan oleh pihak yang berwenang; (c) melakukan konfirmasi mengenai kebenaran mengenai kewenangan Pihak yang mewakili atau bertindak untuk dan atas nama Pihak lain (beneficial owner), jika calon Nasabah bertindak sebagai kuasa dari atau mewakili Pihak lain (beneficial owner); (3) melakukan pemeriksaan silang untuk memastikan adanya konsistensi dari berbagai informasi yang disampaikan oleh calon Nasabah; dan

424 Ikhtisar Ketentuan AML & CFT

(4) melakukan penelaahan mengenai pengendali calon Nasabah.1024 Penyedia Jasa Keuangan di bidang Pasar Modal wajib melakukan verifikasi yang lebih ketat (enhanced due diligence) terhadap calon Nasabah dan pengendali calon Nasabah yang dianggap dan/atau diklasifikasikan mempunyai risiko tinggi terhadap praktik pencucian uang dan/atau risiko tinggi terkait dengan Pendanaan Kegiatan Terorisme. Tingkat risiko tersebut dapat dilihat dari: (1) latar belakang atau profil calon Nasabah dan pengendali calon Nasabah yang termasuk Orang yang Populer Secara Politis (politically exposed person) atau Nasabah yang Berisiko Tinggi (high risk customer); (2) bidang usaha calon Nasabah yang termasuk Usaha yang Berisiko Tinggi (high risk business); (3) negara atau teritori asal calon Nasabah, domisili calon Nasabah, atau dilakukannya transaksi yang termasuk Negara yang Berisiko Tinggi (high risk countries); dan/atau (4) pihak-pihak yang tercantum dalam daftar nama-nama teroris.1025
1024 Peraturan Bapepam-LK V.D.10 tentang Prinsip Mengenal Nasabah oleh Penyedia Jasa Keuangan di Bidang Pasar Modal, Lampiran Keputusan Ketua Bapepam-LK No : Kep476/BL/2009. 1025 Peraturan Bapepam-LK V.D.10 tentang Prinsip Mengenal Nasabah oleh Penyedia Jasa Keuangan di Bidang Pasar Modal, Lampiran Keputusan Ketua Bapepam-LK No : Kep476/BL/2009.

Pengawasan Kepatuhan

425

IV.1.2.4.2 Identifikasi Transaksi (1) Penentuan transaksi keuangan yang mencurigakan. Penyedia Jasa Keuangan di bidang Pasar Modal wajib melakukan pemantauan rekening Efek dan transaksi Nasabah termasuk pemantauan dan analisa terkait dengan kemungkinan tindak pidana asal (predicate offense) dan Pendanaan Kegiatan Terorisme.1026 Penyedia Jasa Keuangan di bidang Pasar Modal wajib melakukan evaluasi terhadap hasil pemantauan rekening Efek dan transaksi Nasabah untuk memastikan ada tidaknya transaksi yang mencurigakan yang tidak dapat dijelaskan oleh Nasabah secara meyakinkan serta melaporkan temuan tersebut kepada PPATK.1027 IV.1.2.4.3 Kewajiban untuk membuat sistem informasi Penyedia Jasa Keuangan di bidang Pasar Modal wajib memiliki sistem informasi yang dapat mengidentifikasi, menganalisa, memantau, dan menyediakan laporan secara efektif mengenai karakteristik

Butir ke 12 huruf c LAMPIRAN Keputusan Ketua Bapepam dan LK Nomor : Kep476/BL/2009.
1027 Butir ke 12 huruf d LAMPIRAN Keputusan Ketua Bapepam dan LK Nomor : Kep476/BL/2009.

1026

426 Ikhtisar Ketentuan AML & CFT

transaksi yang dilakukan oleh Nasabah Penyedia Jasa Keuangan di bidang Pasar Modal.1028 Sistem informasi sebagaimana dimaksud pada huruf a harus dapat memungkinkan Penyedia Jasa Keuangan di bidang Pasar Modal untuk menelusuri setiap transaksi, apabila diperlukan, termasuk untuk penelusuran atas identitas Nasabah, bentuk transaksi, tanggal transaksi, jumlah dan denominasi transaksi, serta sumber dana yang digunakan untuk transaksi.1029 IV.1.2.4.4 Kewajiban Membentuk Unit kerja atau Menugaskan Anggota Direksi atau Pejabat Setingkat di bawah Direksi Dalam rangka pelaksanaan Prinsip Mengenal Nasabah, Penyedia Jasa Keuangan di bidang Pasar Modal wajib: ”membentuk unit kerja atau menugaskan anggota direksi atau pejabat setingkat di bawah direksi yang menangani penerapan Prinsip Mengenal Nasabah”.1030 IV.1.2.4.5 Kewajiban Membuat Pedoman Pengenal Mengenal Nasabah Dalam rangka pelaksanaan Prinsip
1028 Butir ke 12 huruf a LAMPIRAN Keputusan Ketua Bapepam dan LK Nomor : Kep476/BL/2009.

Butir ke 12 huruf b LAMPIRAN Keputusan Ketua Bapepam dan LK Nomor : Kep476/BL/2009.
1030 Butir ke 3 huruf a LAMPIRAN Keputusan Ketua Bapepam dan LK Nomor : Kep476/BL/2009.

1029

Pengawasan Kepatuhan

427

Mengenal Nasabah, Penyedia Jasa Keuangan di bidang Pasar Modal wajib: “menetapkan kebijakan dan prosedur tertulis tentang: 1) penerimaan, identifikasi, dan verifikasi Nasabah; 2) pemantauan rekening Efek dan transaksi Nasabah, pengkinian data Nasabah, dan penatausahaan dokumen; 3) manajemen risiko yang berkaitan dengan penerapan Prinsip Mengenal Nasabah; dan 4) pelaporan dalam rangka pemenuhan peraturan perundangundangan yang terkait dengan tindak pidana pencucian uang khususnya pelaporan mengenai transaksi keuangan mencurigakan dan transaksi keuangan yang dilakukan secara tunai termasuk transaksi keuangan yang terkait dengan Pendanaan Kegiatan Terorisme, yang dituangkan dalam Pedoman Pelaksanaan Penerapan Prinsip Mengenal Nasabah”.1031 IV.1.2.4.6 Kewajiban Melaksanakan Program Pelatihan Prinsip Mengenal Nasabah Penyedia Jasa Keuangan di bidang Pasar Modal wajib melaksanakan program pelatihan penerapan Prinsip
1031 Butir ke 2 huruf b LAMPIRAN Keputusan Ketua Bapepam dan LK Nomor : Kep476/BL/2009.

428 Ikhtisar Ketentuan AML & CFT

Mengenal Nasabah kepada semua karyawan yang terkait dengan penerapan Prinsip Mengenal Nasabah, yang dilakukan dengan cara sebagai berikut: 1) menyusun program pelatihan; 2) menyampaikan program pelatihan kepada Bapepam dan LK; 3) melaksanakan program pelatihan sesuai dengan jadwal program yang telah disusun; dan 4) melaporkan pelaksanaan program pelatihan kepada Bapepam dan LK.1032 IV.1.2.5 PJK-Lembaga Keuangan Non Bank (Perasuransian, Dana Pensiun, dan Lembaga Pembiayaan) IV.1.2.5.1 Identifikasi Nasabah Nasabah adalah pihak yang menggunakan jasa LKNB, termasuk tetapi tidak terbatas pada: a. pemegang polis dan/atau tertanggung pada perusahaan asuransi kerugian dan perusahaan asuransi jiwa; b. klien pada perusahaan pialang asuransi; c. peserta dan/atau pihak yang berhak atas manfaat pensiun pada Dana Pensiun; d. klien atau penjual piutang pada kegiatan anjak piutang; e. konsumen pada kegiatan pembiayaan konsumen;
1032 Butir ke 15 huruf b LAMPIRAN Keputusan Ketua Bapepam dan LK Nomor : Kep476/BL/2009

Pengawasan Kepatuhan

429

f. lessee atau penyewa guna usaha pada kegiatan leasing atau sewa guna usaha; g. pemegang kartu kredit pada usaha kartu kredit; h. perusahaan pasangan usaha pada kegiatan modal ventura; dan i. debitur pada perusahaan pembiayaan infrastruktur.1033 LKNB wajib menerapkan Prinsip Mengenal Nasabah.1034 Dalam rangka menerapkan Prinsip Mengenal Nasabah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2, LKNB wajib: a. menetapkan kebijakan dan prosedur penerimaan Nasabah; b. menetapkan kebijakan dan prosedur dalam mengiden-tifikasi Nasabah; c. menetapkan kebijakan dan prosedur pemantauan Rekening dan pelaksanaan transaksi Nasabah; dan d. menetapkan kebijakan dan prosedur manajemen risiko yang berkaitan dengan penerapan Prinsip Mengenal Nasabah.1035 (1) Dalam rangka pelaksanaan Prinsip Mengenal Nasabah, LKNB wajib:

1033 Pasal 1 Angka 6 Peraturan Menteri Keuangan No. 30/PMK.010/2010 tentang Penerapan Prinsip Mengenal Nasabah Bagi Lembaga Keuangan Non Bank. 1034 Pasal 2 Peraturan Menteri Keuangan No. 30/PMK.010/2010 tentang Penerapan Prinsip Mengenal Nasabah Bagi Lembaga Keuangan Non Bank. 1035 Pasal 3 Peraturan Menteri Keuangan No. 30/PMK.010/2010 tentang Penerapan Prinsip Mengenal Nasabah Bagi Lembaga Keuangan Non Bank.

430 Ikhtisar Ketentuan AML & CFT

a. membentuk unit kerja khusus atau menugaskan anggota direksi atau pengurus atau pejabat setingkat di bawah direksi atau pengurus yang bertanggung jawab menangani penerapan Prinsip Mengenal Nasabah. b. menetapkan kebijakan dan prosedur tertulis tentang penerimaan Nasabah, identifikasi dan verifikasi Nasabah, pemantauan terhadap Rekening dan transaksi Nasabah, dan manajemen risiko yang berkaitan dengan penerapan Prinsip Mengenal Nasabah, yang dituangkan dalam pedoman pelaksanaan penerapan Prinsip Mengenal Nasabah. c. menyampaikan pedoman pelaksanaan penerapan Prinsip Mengenal Nasabah sebagaimana dimaksud pada huruf b kepada Menteri Keuangan c.q. Ketua Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan. d. menyampaikan setiap perubahan atas pedoman pelaksanaan penerapan Prinsip Mengenal Nasabah sebagaimana dimaksud pada huruf b kepada Menteri Keuangan c.q. Ketua Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan paling lama 7 (tujuh) hari kerja sejak

Pengawasan Kepatuhan

431

ditetapkannya perubahan tersebut. (2) Unit kerja khusus, anggota direksi atau pengurus atau pejabat setingkat di bawah direksi atau pengurus yang bertanggung jawab menangani penerapan Prinsip Mengenal Nasabah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a ditetapkan sebagai bagian dari struktur organisasi LKNB. (3) Unit kerja khusus, anggota direksi atau pengurus atau pejabat setingkat di bawah direksi atau pengurus yang bertanggung jawab menangani penerapan Prinsip Mengenal Nasabah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a bertanggung jawab langsung kepada direktur utama, ketua pengurus atau yang setara dengan pimpinan tertinggi LKNB. (4) LKNB yang melakukan kegiatan usaha di lokasi lain selain kantor pusat wajib menerapkan kebijakan Prinsip Mengenal Nasabah yang ditetapkan oleh kantor pusat di bawah koordinasi unit kerja khusus, anggota direksi atau pengurus atau pejabat setingkat di bawah direksi atau pengurus yang menangani penerapan Prinsip Mengenal Nasabah kantor pusat LKNB.

432 Ikhtisar Ketentuan AML & CFT

(5) Ketentuan mengenai pedoman pelaksanaan penerapan Prinsip Mengenal Nasabah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b diatur lebih lanjut dengan Peraturan Ketua Badan Pengawas Pasar Modal Dan Lembaga Keuangan.1036 LKNB wajib memastikan bahwa unit kerja khusus dan/atau anggota direksi atau pengurus atau pejabat setingkat di bawah direksi atau pengurus LKNB yang bertanggung jawab atas penerapan Prinsip Mengenal Nasabah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 ayat (1) huruf a, memiliki kemampuan dan kewenangan untuk mengakses seluruh data Nasabah dan informasi lainnya yang terkait.1037 Pihak yang mengajukan permohonan untuk mendapatkan izin usaha bagi Perusahaan Perasuransian dan Lembaga Pembiayaan atau pengesahan peraturan Dana Pensiun untuk pertama kali bagi Dana Pensiun, wajib menyampaikan pedoman pelaksanaan penerapan Prinsip Mengenal Nasabah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 ayat (1) huruf b, bersama dengan permohonannya.1038

1036 Pasal 4 Peraturan Menteri Keuangan No. 30/PMK.010/2010 tentang Penerapan Prinsip Mengenal Nasabah Bagi Lembaga Keuangan Non Bank. 1037 Pasal 5 Peraturan Menteri Keuangan No. 30/PMK.010/2010 tentang Penerapan Prinsip Mengenal Nasabah Bagi Lembaga Keuangan Non Bank. 1038 Pasal 6 Peraturan Menteri Keuangan No. 30/PMK.010/2010 tentang Penerapan Prinsip Mengenal Nasabah Bagi Lembaga Keuangan Non Bank.

Pengawasan Kepatuhan

433

(1) Sebelum melakukan Perikatan dengan Nasabah, LKNB wajib meminta informasi mengenai: a. latar belakang dan identitas calon Nasabah; b. maksud dan tujuan calon Nasabah melakukan Perikatan; c. profil keuangan calon Nasabah; d. informasi lain yang memungkinkan LKNB untuk dapat mengetahui profil calon Nasabah termasuk Perikatan yang telah dimiliki sebelumnya dengan LKNB yang bersangkutan; dan e. identitas penerima kuasa yang bertindak untuk dan atas nama calon Nasabah. (2) LKNB wajib melakukan konfirmasi mengenai kebenaran kewenangan pihak yang mewakili atau bertindak untuk dan atas nama pihak lain, jika calon Nasabah diwakili pihak lain. (3) Informasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) harus dapat dibuktikan dengan keberadaan dokumen-dokumen pendukung sebagai berikut: a. calon Nasabah perorangan paling kurang terdiri dari: 1) identitas Nasabah yang memuat: a) nama; b) alamat atau tempat tinggal sesuai KTP/

434 Ikhtisar Ketentuan AML & CFT

SIM/Paspor dan nomor telepon; c) alamat tempat tinggal terkini dan nomor telepon (jika ada); d) tempat dan tanggal lahir; dan e) kewarganegaraan; 2) keterangan mengenai pekerjaan; 3) spesimen tanda tangan; dan 4) keterangan mengenai sumber dana dan tujuan penggunaan dana; 5) rata-rata penghasilan; 6) nama dan nomor rekening bank calon Nasabah, jika ada; dan 7) dokumen-dokumen lain yang memungkin-kan LKNB untuk dapat mengetahui profil calon Nasabah; b. calon Nasabah yang berbentuk perusahaan paling kurang terdiri dari: 1) dokumen mengenai perusahaan: a) keterangan mengenai nama, alamat, dan nomor telepon perusahaan; b) akte pendirian atau anggaran dasar bagi perusahaan yang bentuknya diatur dalam peraturan perundangundangan yang berlaku

Pengawasan Kepatuhan

435

berikut perubahan anggaran dasar yang terakhir; c) izin usaha atau izin lainnya dari instansi yang berwenang; d) surat keterangan domisili; e) laporan keuangan terkini; dan f) Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP); 2) nama, spesimen tanda tangan dan kuasa kepada pihak-pihak yang ditunjuk mempunyai wewenang bertindak untuk dan atas nama perusahaan dalam melakukan hubungan usaha dengan LKNB; 3) dokumen identitas pihakpihak yang ditunjuk mempunyai wewenang bertindak untuk dan atas nama perusahaan; 4) keterangan mengenai sumber dana dan tujuan penggunaan dana, bagi calon Nasabah pada Lembaga Pembiayaan dan Perusahaan Perasuransian; dan 5) dokumen-dokumen lain yang memungkinkan LKNB untuk dapat mengetahui profil calon Nasabah. (4) Ketentuan customer due diligence sebaimana dimaksud pada ayat (1), ayat (2), dan ayat

436 Ikhtisar Ketentuan AML & CFT

(3), tidak berlaku bagi calon Nasabah berupa: a. Lembaga pemerintah; atau b. Lembaga keuangan multilateral.1039 LKNB wajib melakukan identifikasi dan verifikasi atas dokumen pendukung (customer due diligence) dengan melakukan hal-hal antara lain: a. meneliti kemungkinan adanya hal-hal yang tidak wajar atau mencurigakan. b. memastikan kebenaran dokumen calon Nasabah, dalam hal terdapat kecurigaan atas dokumen yang diterima, antara lain dengan cara: 1) melakukan wawancara dengan calon Nasabah; 2) meminta dokumen lain yang dikeluarkan oleh pihak yang berwenang; 3) melakukan pemeriksaan silang dari berbagai informasi yang disampaikan oleh calon Nasabah. c. melakukan penelaahan mengenai Beneficial owner.1040 (1) LKNB wajib memastikan bahwa calon Nasabah mewakili Beneficial owner atau bertindak untuk diri sendiri dalam
1039 Pasal 7 Peraturan Menteri Keuangan No. 30/PMK.010/2010 tentang Penerapan Prinsip Mengenal Nasabah Bagi Lembaga Keuangan Non Bank. 1040 Pasal 8 Peraturan Menteri Keuangan No. 30/PMK.010/2010 tentang Penerapan Prinsip Mengenal Nasabah Bagi Lembaga Keuangan Non Bank.

Pengawasan Kepatuhan

437

membuka hubungan usaha atau melakukan transaksi. (2) Dalam hal calon Nasabah mewakili Beneficial owner untuk membuka hubungan usaha atau melakukan transaksi, LKNB wajib melakukan prosedur customer due diligence terhadap Beneficial owner yang sama dengan prosedur customer due diligence bagi calon Nasabah.1041 (1) Dalam hal calon Nasabah mewakili Beneficial owner sebagaimana dimaksud dalam Pasal 9 ayat (2), LKNB wajib meminta dokumen atau bukti atas identitas dan/atau informasi lain mengenai Beneficial owner. (2) Dalam hal Beneficial owner merupakan perorangan, identitas dan/atau informasi antara lain berupa: a. dokumen identitas sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7 ayat (3) huruf a; b. hubungan hukum antar calon Nasabah dengan Beneficial owner yang ditunjukkan dengan surat penugasan, surat perjanjian, surat kuasa, atau bentuk lainnya; dan c. pernyataan dari calon Nasabah mengenai identitas maupun sumber dana dari Beneficial owner.

Pasal 9 Peraturan Menteri Keuangan No. 30/PMK.010/2010 tentang Penerapan Prinsip Mengenal Nasabah Bagi Lembaga Keuangan Non Bank.

1041

438 Ikhtisar Ketentuan AML & CFT

(3) Dalam hal Beneficial owner berbentuk perusahaan, yayasan atau perkumpulan, identitas dan/ atau informasi antara lain berupa: a. dokumen sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7 ayat (3) huruf b; b. dokumen dan/atau informasi identitas pemilik atau pengendali akhir perusahaan, yayasan, atau perkumpulan; dan c. pernyataan dari calon Nasabah mengenai kebenaran identitas maupun sumber dana dari Beneficial owner. (4) Dalam hal calon Nasabah merupakan bank atau LKNB lain di dalam negeri yang mewakili Beneficial owner, LKNB wajib meminta dokumen berupa pernyataan tertulis dari bank atau LKNB lain dalam negeri yang telah melakukan verifikasi terhadap identitas Beneficial owner. (5) Dalam hal calon Nasabah merupakan bank atau LKNB lain di luar negeri yang menerapkan Prinsip Mengenal Nasabah yang paling kurang setara dengan Peraturan Menteri Keuangan ini yang mewakili Beneficial owner, LKNB wajib meminta dokumen berupa pernyataan tertulis dari bank atau LKNB lain luar negeri yang telah melakukan verifikasi terhadap identitas Beneficial owner.

Pengawasan Kepatuhan

439

(6) Dalam hal LKNB meragukan atau tidak dapat meyakini dokumen atau bukti atas identitas dan/ atau informasi lain mengenai Beneficial owner, LKNB wajib menolak hubungan usaha atau transaksi dengan calon Nasabah.1042 IV.1.2.5.2 Identifikasi Transaksi Penentuan transaksi keuangan yang mencurigakan. Dalam rangka mengidentifikasi, menganalisis, memantau, dan menyediakan laporan secara efektif untuk dapat memastikan bahwa transaksi yang dilakukan Nasabah konsisten dengan profil, karakteristik dan pola transaksi Nasabah yang bersangkutan, LKNB wajib memiliki sistem informasi yang memadai.1043 Sistem informasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) harus memungkinkan LKNB untuk dapat menelusuri setiap transaksi, termasuk untuk penelusuran atas identitas Nasabah, bentuk transaksi, tanggal transaksi, jumlah dan denominasi transaksi, sumber dana yang digunakan untuk transaksi, dan Perikatan lain yang dimiliki Nasabah pada bank dan LKNB lain.1044

1042 Pasal 10 Peraturan Menteri Keuangan No. 30/PMK.010/2010 tentang Penerapan Prinsip Mengenal Nasabah Bagi Lembaga Keuangan Non Bank. 1043 Pasal 23 Ayat (1) Peraturan Menteri Keuangan No. 30/PMK.010/2010 tentang Penerapan Prinsip Mengenal Nasabah Bagi Lembaga Keuangan Non Bank. 1044 Pasal 23 Ayat (2) Peraturan Menteri Keuangan No. 30/PMK.010/2010 tentang Penerapan Prinsip Mengenal Nasabah Bagi Lembaga Keuangan Non Bank.

440 Ikhtisar Ketentuan AML & CFT

LKNB wajib melakukan evaluasi terhadap hasil pemantauan dan analisis sebagaimana dimaksud dalam Pasal 23 untuk memastikan ada tidaknya transaksi yang mencurigakan serta melaporkan temuan tersebut kepada Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan.1045 LKNB wajib menatausahakan hasil pemantauan dan evaluasi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 24, baik yang dilaporkan maupun yang tidak dilaporkan kepada Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan.1046 LKNB wajib memenuhi ketentuan pelaporan Transaksi Keuangan Mencurigakan dan Transaksi Keuangan yang Dilakukan Secara Tunai termasuk transaksi keuangan yang terkait dengan Pendanaan Kegiatan Terorisme kepada Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan sesuai dengan undangundang mengenai tindak pidana pencucian uang dan peraturan pelaksanaannya.1047 IV.1.2.5.3 Kewajiban untuk membuat sistem informasi Dalam rangka mengidentifikasi, menganalisis, memantau, dan
1045 Pasal 24 Peraturan Menteri Keuangan No. 30/PMK.010/2010 tentang Penerapan Prinsip Mengenal Nasabah Bagi Lembaga Keuangan Non Bank. 1046 Pasal 25 Peraturan Menteri Keuangan No. 30/PMK.010/2010 tentang Penerapan Prinsip Mengenal Nasabah Bagi Lembaga Keuangan Non Bank. 1047 Pasal 28 Peraturan Menteri Keuangan No. 30/PMK.010/2010 tentang Penerapan Prinsip Mengenal Nasabah Bagi Lembaga Keuangan Non Bank.

Pengawasan Kepatuhan

441

menyediakan laporan secara efektif untuk dapat memastikan bahwa transaksi yang dilakukan Nasabah konsisten dengan profil, karakteristik dan pola transaksi Nasabah yang bersangkutan, LKNB wajib memiliki sistem informasi yang memadai.148 Sistem informasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) harus memungkinkan LKNB untuk dapat menelusuri setiap transaksi, termasuk untuk penelusuran atas identitas Nasabah, bentuk transaksi, tanggal transaksi, jumlah dan denominasi transaksi, sumber dana yang digunakan untuk transaksi, dan Perikatan lain yang dimiliki Nasabah pada bank dan LKNB lain.1049 IV.1.2.5.4 Kewajiban membentuk unit kerja khusus atau menugaskan anggota direksi atau pengurus atau pejabat setingkat di bawah direksi atau pengurus Dalam rangka pelaksanaan Prinsip Mengenal Nasabah, LKNB wajib : a. membentuk unit kerja khusus atau menugaskan anggota direksi atau pengurus atau pejabat setingkat di bawah direksi atau pengurus yang bertanggung jawab menangani penerapan Prinsip Mengenal Nasabah.1050
1048 Pasal 23 Ayat (1) Peraturan Menteri Keuangan No. 30/PMK.010/2010 tentang Penerapan Prinsip Mengenal Nasabah Bagi Lembaga Keuangan Non Bank.

Pasal 23 Ayat (2) Peraturan Menteri Keuangan No. 30/PMK.010/2010 tentang Penerapan Prinsip Mengenal Nasabah Bagi Lembaga Keuangan Non Bank.
1050 Pasal 4 Ayat (1) huruf a Peraturan Menteri Keuangan No. 30/PMK.010/2010 tentang Penerapan Prinsip Mengenal Nasabah Bagi Lembaga Keuangan Non Bank.

1049

442 Ikhtisar Ketentuan AML & CFT

IV.1.2.5.5

Upaya Kewajiban Membuat Pedoman Pengenal Mengenal Nasabah Dalam rangka pelaksanaan Prinsip Mengenal Nasabah, LKNB wajib : b. menetapkan kebijakan dan prosedur tertulis tentang penerimaan Nasabah, identifikasi dan verifikasi Nasabah, pemantauan terhadap Rekening dan transaksi Nasabah, dan manajemen risiko yang berkaitan dengan penerapan Prinsip Mengenal Nasabah, yang dituangkan dalam pedoman pelaksanaan penerapan Prinsip Mengenal Nasabah. c. menyampaikan pedoman pelaksanaan penerapan Prinsip Mengenal Nasabah sebagaimana dimaksud pada huruf b kepada Menteri Keuangan c.q. Ketua Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan. d. menyampaikan setiap perubahan atas pedoman pelaksanaan penerapan Prinsip Mengenal Nasabah sebagaimana dimaksud pada huruf b kepada Menteri Keuangan c.q. Ketua Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan paling lama 7 (tujuh) hari kerja sejak ditetapkannya perubahan tersebut.1051

1051 Pasal 4 Ayat (1) huruf b, c, dan d Peraturan Menteri Keuangan No. 30/PMK.010/ 2010 tentang Penerapan Prinsip Mengenal Nasabah Bagi Lembaga Keuangan Non Bank.

Pengawasan Kepatuhan

443

IV.1.2.5.6

Kewajiban Melaksanakan Program Pelatihan Prinsip Mengenal Nasabah Program pelatihan mengenai penerapan Prinsip Mengenal Nasabah bagi pejabat, karyawan, dan tenaga pemasar yang bukan karyawan LKNB.1052 (1) LKNB wajib menyusun dan melaksanakan program pelatihan penerapan Prinsip Mengenal Nasabah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 30 ayat (2) huruf e. (2) Pelaksanaan program pelatihan Prinsip Mengenal Nasabah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) wajib dilakukan paling sedikit 1 (satu) kali dalam 1 (satu) tahun. (3) Laporan pelaksanaan program pelatihan Prinsip Mengenal Nasabah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) memuat seluruh kegiatan pelatihan Prinsip Mengenal Nasabah yang dilakukan untuk periode 1 Januari sampai 31 Desember tahun yang bersangkutan. (4) LKNB wajib menyampaikan laporan pelaksanaan program pelatihan Prinsip Mengenal Nasabah sebagaimana dimaksud pada ayat (3) kepada Menteri Keuangan c.q Ketua Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan pada

1052 Pasal 30 huruf e Peraturan Menteri Keuangan No. 30/PMK.010/2010 tentang Penerapan Prinsip Mengenal Nasabah Bagi Lembaga Keuangan Non Bank.

444 Ikhtisar Ketentuan AML & CFT

tanggal 15 Januari tahun berikutnya.1053 IV.1.2.6 PJK – Pedagang Valuta Asing Bukan Bank (PVA Bukan Bank) IV.1.2.6.1 Identifikasi Nasabah Bagi Penyedia Jasa Keuangan yang berbentuk PVA Bukan Bank, identitas dan dokumen pendukung yang diminta dari pengguna jasa keuangan harus sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. PVA Bukan Bank wajib melakukan CDD pada saat1054 : a. melakukan transaksi dengan dan/ atau memberikan jasa kepada Nasabah dan/atau Beneficial Owner; atau b. meragukan kebenaran informasi yang disampaikan oleh Nasabah dan/atau Beneficial Owner; PVA Bukan Bank wajib melakukan CDD pada saat1055 : a. melakukan transaksi dengan dan/ atau memberikan jasa kepada Nasabah dan/atau Beneficial Owner yang tergolong berisiko tinggi termasuk PEP; atau b. terdapat transaksi yang tidak wajar yang diduga terkait dengan
1053 Pasal 33 Peraturan Menteri Keuangan No. 30/PMK.010/2010 tentang Penerapan Prinsip Mengenal Nasabah Bagi Lembaga Keuangan Non Bank. 1054 Pasal 7 Peraturan Bank Indonesia No. 12/3/PBI/2010 tentang Penerapan Program Anti Pencucian Uang dan Pencegahan Pendanaan Terorisme Pada Pedagang Valuta Asing. 1055 Pasal 11 Peraturan Bank Indonesia No. 12/3/PBI/2010 tentang Penerapan Program Anti Pencucian Uang dan Pencegahan Pendanaan Terorisme Pada Pedagang Valuta Asing.

Pengawasan Kepatuhan

445

pencucian uang dan/atau pendanaan terorisme. IV.1.2.6.2 Identifikasi Transaksi a. Pemantauan dan Penentuan transaksi keuangan yang mencurigakan. PVA Bukan Bank melakukan pengkinian informasi dan dokumen terkait dengan profil Nasabah dan profil transaksi Nasabah sesuai hasil pemantauan terhadap informasi dan dokumen Nasabah agar identifikasi dan pemantauan transaksi keuangan yang mencurigakan dapat berjalan secara efektif. 1056 Pengkinian informasi dan dokumen Nasabah dilakukan secara berkala berdasarkan tingkat risiko Nasabah atau transaksi. Untuk keperluan pemantauan informasi terkait dengan profil Nasabah dan profil transaksi Nasabah, PVA Bukan Bank perlu memiliki prosedur pemantauan dan pengkinian informasi yang dapat mengidentifikasi, menganalisis, memantau dan menyediakan laporan secara efektif. Prosedur pemantauan dan pengkinian informasi disesuaikan
1056 BAB III huruf E Surat Edaran Bank Indonesia No. 12/10/DPM tentang Pedoman Standar Penerapan Program Anti Pencucian Uang dan Pencegahan Pendanaan Terorisme pada Pedagang Valuta Asing Bukan Bank.

446 Ikhtisar Ketentuan AML & CFT

dengan kompleksitas, volume transaksi, dan risiko yang dimiliki PVA Bukan Bank. Kegiatan pemantauan oleh PVA Bukan Bank dilakukan paling kurang sebagai berikut: a. Pemantauan terhadap kesesuaian antara transaksi dengan profil transaksi Nasabah, dengan cara: 1) melakukan identifikasi atas kesesuaian antara transaksi Nasabah dengan profil Nasabah; dan 2) melakukan analisis terhadap seluruh transaksi Nasabah yang tidak sesuai dengan profil transaksi Nasabah yang bersangkutan. b. Pemantauan profil Nasabah terkait dengan daftar teroris, dengan cara: 1) Melakukan pengecekan secara berkala terdapat atau tidaknya nama-nama Nasabah PVA Bukan Bank yang memiliki kesamaan atau kemiripan dengan nama yang tercantum dalam database daftar teroris. 2) Dalam hal terdapat kemiripan nama Nasabah dengan identitas yang tercantum dalam database daftar teroris, PVA Bukan Bank melakukan pengecekan lebih lanjut kemiripan identitas Nasabah tersebut

Pengawasan Kepatuhan

447

dengan informasi lain yang terkait. 3) Dalam hal terdapat kesamaan nama Nasabah atau kesamaan informasi lainnya dengan nama yang tercantum dalam database daftar teroris, PVA Bukan Bank melaporkan Nasabah tersebut dalam Laporan Transaksi Keuangan Mencurigakan (LTKM) kepada PPATK. c. Sumber informasi yang dapat digunakan untuk memantau profil Nasabah yang ditetapkan sebagai status tersangka atau terdakwa terkait tindak pidana pencucian uang dan/atau terorisme, dapat diperoleh antara lain melalui: 1) database yang dikeluarkan oleh pihak berwenang seperti PPATK; atau 2) media massa, seperti koran dan majalah. d. Sumber informasi mengenai daftar teroris sebagaimana dimaksud pada huruf b antara lain dapat diperoleh melalui: 1) website PBB : http://
www.un.org/sc/committees/ 1267/consolist.shtml;

2) sumber lainnya yang lazim digunakan oleh perbankan dan merupakan data publik antara lain The Office of Foreign Assets Controls List

448 Ikhtisar Ketentuan AML & CFT

(OFAC List) dengan alamat situs internet:
http://www.treas.gov/offices/ enforcement/ofac/index.shtml;

atau 3) pihak berwenang seperti PPATK atau Kepolisian. IV.1.2.6.3 Kewajiban untuk membuat pencatatan transaksi Pada saat melakukan transaksi dengan dan/atau memberikan jasa kepada Nasabah, PVA Bukan Bank wajib meminta dan mencatat informasi Nasabah. Informasi Nasabah tersebut dicocokkan terhadap dokumen pendukung yang memuat informasi Nasabah yang dimaksud. PVA Bukan Bank wajib memperoleh informasi bahwa Nasabah bertindak untuk diri sendiri atau untuk dan atas nama Beneficial Owner. Pada saat meragukan kebenaran informasi yang disampaikan oleh Nasabah dan/atau Beneficial Owner, PVA Bukan Bank wajib meminta informasi tambahan lain dari Nasabah untuk mendukung identifikasi Nasabah. a. Bagi Nasabah yang melakukan transaksi dengan dan/atau menggunakan jasa dengan nilai kurang dari Rp100.000.000,00 (seratus juta rupiah) atau ekuivalen dalam mata uang asing, paling kurang mencakup permintaan informasi antara lain:

Pengawasan Kepatuhan

449

1) bagi Nasabah perorangan: a) identitas Nasabah yang memuat: (1) nama lengkap termasuk alias apabila ada; (2) nomor dokumen identitas yang dibuktikan dengan menunjukkan dokumen dimaksud; dan (3) alamat tempat tinggal yang tercantum pada kartu identitas; b) informasi mengenai Beneficial Owner, apabila Nasabah mewakili Beneficial Owner; dan c) nilai dan tanggal transaksi. 2) bagi Nasabah selain perorangan: a) nama badan usaha; b) nomor izin usaha dari instansi yang berwenang; c) alamat kedudukan badan usaha; d) informasi mengenai Beneficial Owner, apabila Nasabah mewakili Beneficial Owner; dan e) nilai dan tanggal transaksi. b. Bagi Nasabah yang melakukan transaksi dengan dan/atau menggunakan jasa dengan nilai Rp100.000.000,00 (seratus juta rupiah) atau lebih atau ekuivalen dalam mata uang asing, yang dilakukan dalam 1 (satu) kali maupun beberapa kali transaksi dalam 1 (satu) hari kerja, paling

450 Ikhtisar Ketentuan AML & CFT

kurang mencakup: 1) bagi Nasabah perorangan: a) identitas Nasabah yang disertai dengan fotokopi dokumen yang memuat: (1) nama lengkap termasuk alias apabila ada; (2) nomor dokumen identitas yang dibuktikan dengan menunjukkan dokumen dimaksud; (3) alamat tempat tinggal yang tercantum pada kartu identitas; (4) alamat tempat tinggal terkini termasuk nomor telepon apabila ada; (5) tempat dan tanggal lahir; (6) kewarganegaraan; (7) pekerjaan; (8) jenis kelamin; dan (9) NPWP apabila ada; b) informasi mengenai Beneficial Owner, apabila Nasabah mewakili Beneficial Owner; c) nilai dan tanggal transaksi; d) maksud dan tujuan transaksi dan/atau penggunaan jasa; dan e) informasi lain yang memungkinkan PVA Bukan Bank untuk dapat mengetahui profil Nasabah. 2) bagi Nasabah selain perorangan: a) identitas badan usaha disertai dengan fotokopi

Pengawasan Kepatuhan

451

dokumen pendukung yang memuat: (1) nama badan usaha; (2) nomor izin usaha dari instansi yang berwenang ; (3) NPWP badan usaha; (4) alamat kedudukan badan usaha; (5) jenis atau bidang usaha; b) informasi mengenai Beneficial Owner, apabila Nasabah mewakili Beneficial Owner; c) nilai dan tanggal transaksi; d) maksud dan tujuan transaksi dan/atau hubungan usaha; dan e) informasi lain yang memungkinkan PVA Bukan Bank untuk dapat mengetahui profil Nasabah. IV.1.2.6.4 Penunjukan pegawai dalam rangka pelaksanaan program APU dan PPT1057 Penunjukan Pegawai yang Menangani Penerapan Program APU dan PPT a. Dalam hal PVA Bukan Bank membutuhkan pegawai yang secara khusus menangani penerapan program APU dan PPT, Direksi dapat menunjuk pegawai PVA Bukan dalam rangka

1057 BAB II huruf C angka 1 Surat Edaran Bank Indonesia No. 12/10/DPM tentang Pedoman Standar Penerapan Program Anti Pencucian Uang dan Pencegahan Pendanaan Terorisme pada Pedagang Valuta Asing Bukan Bank.

452 Ikhtisar Ketentuan AML & CFT

melaksanakan Program APU dan PPT. b. Dalam hal terdapat keterbatasan sumber daya manusia, pegawai yang ditunjuk dalam rangka penerapan Program APU dan PPT dapat merangkap tugas lain. c. Dalam menjalankan tugasnya, pegawai yang ditunjuk dalam rangka penerapan Program APU dan PPT melapor dan bertanggung jawab kepada Direksi. d. PVA Bukan Bank yang memiliki kantor cabang dapat juga menunjuk pegawai dalam rangka penerapan program APU dan PPT di kantor cabang. IV.1.2.6.5 Tanggung Jawab pegawai dalam rangka pelaksanaan program APU dan PPT1058 Tugas pokok pegawai yang ditunjuk untuk menangani penerapan Program APU dan PPT adalah: a. memantau pelaksanaan kebijakan dan prosedur penerapan program APU dan PPT; b. memantau pengkinian profil Nasabah dan profil transaksi Nasabah; c. melakukan koordinasi pelaksanaan kebijakan Program APU dan PPT dengan unit kerja terkait yang berhubungan dengan Nasabah;
1058 BAB II huruf C angka 2 Surat Edaran Bank Indonesia No. 12/10/DPM tentang Pedoman Standar Penerapan Program Anti Pencucian Uang dan Pencegahan Pendanaan Terorisme pada Pedagang Valuta Asing Bukan Bank.

Pengawasan Kepatuhan

453

d. memantau kesesuaian kebijakan dan prosedur dengan perkembangan Program APU dan PPT terkini, kegiatan dan kompleksitas usaha PVA Bukan Bank, dan volume transaksi PVA Bukan Bank; e. menerima laporan transaksi keuangan yang berindikasi mencurigakan (red flag) dari bagian/unit kerja terkait (misalnya teller atau kantor cabang) yang berhubungan dengan Nasabah; f. mengidentifikasikan transaksi yang memenuhi kriteria mencurigakan; g. menyusun Laporan Transaksi Keuangan Mencurigakan, Laporan Transaksi Keuangan Tunai dan laporan lainnya sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Tindak Pidana Pencucian Uang untuk disampaikan kepada PPATK berdasarkan persetujuan Direksi; h. memantau, menganalisis, dan merekomendasi kebutuhan pelatihan penerapan Program APU dan PPT bagi pegawai PVA Bukan Bank secara berkala dan berkesinambungan; dan i. berperan sebagai contact person bagi otoritas yang berwenang terkait dengan kebijakan penerapan Program APU dan PPT antara lain Bank Indonesia, PPATK, dan Penegak Hukum. Persyaratan Pegawai yang Ditunjuk untuk Menangani Penerapan Program APU dan PPT Pegawai

454 Ikhtisar Ketentuan AML & CFT

PVA Bukan Bank dimaksud harus memenuhi persyaratan sebagai berikut: a. memiliki pengetahuan yang memadai mengenai penerapan program APU dan PPT dan peraturan lainnya; dan b. memiliki kewenangan untuk mengakses seluruh data Nasabah dan informasi lainnya yang terkait dalam rangka pelaksanaan tugas. IV.1.2.6.6 Kewajiban Membuat Pedoman Program APU dan PPT1059 Dalam menerapkan program APU dan PPT, PVA Bukan Bank wajib memiliki kebijakan dan prosedur tertulis yang paling kurang mencakup: a. b. c. d. e. pelaksanaan CDD; Beneficial Owner; pelaksanaan EDD; penolakan transaksi; pengkinian informasi dan dokumen; f. penatausahaan dokumen; dan g. pelaporan kepada PPATK. PVA Bukan Bank wajib menerapkan kebijakan dan prosedur tertulis IV.1.2.6.7 Kewajiban Melaksanakan Program Pelatihan Prinsip Mengenal Nasabah PVA Bukan Bank wajib memberikan
1059 Pasal 6 Peraturan Bank Indonesia No. 12/3/PBI/2010 tentang Penerapan Program Anti Pencucian Uang dan Pencegahan Pendanaan Terorisme Pada Pedagang Valuta Asing Bukan Bank.

Pengawasan Kepatuhan

455

pengetahuan dan/atau memberikan pelatihan secara berkesinambungan mengenai penerapan program APU dan PPT bagi seluruh pegawai.1060 Seluruh pegawai harus mendapatkan pengetahuan mengenai kebijakan, prosedur, dan penerapan Program APU dan PPT.1061 Pegawai-pegawai tertentu, yaitu: 1) pegawai yang berhadapan langsung dengan Nasabah (pelayanan Nasabah); 2) pegawai yang melaksanakan fungsi pengawasan pelaksanaan penerapan Program APU dan PPT; atau 3) pegawai yang melaksanakan tugas sehari-hari terkait dengan pelaporan kepada PPATK, wajib mendapatkan pelatihan secara berkala/berkesinambungan baik melalui seminar, workshop, training, yang diselenggarakan oleh pihak eksternal maupun internal PVA Bukan Bank mengenai kebijakan, prosedur, dan penerapan Program APU dan PPT. IV.1.2.7 PJK – Kegiatan Usaha Pengiriman Uang IV.1.2.7.1 Identifikasi Nasabah Perorangan Warga Negara Indonesia yang telah memperoleh izin sebagai
Pasal 18 Peraturan Bank Indonesia No. 12/3/PBI/2010 tentang Penerapan Program Anti Pencucian Uang dan Pencegahan Pendanaan Terorisme Pada Pedagang Valuta Asing Bukan Bank.
1061 Huruf B Surat Edaran Bank Indonesia No. 12/10/DPM tentang Penerapan Program Anti Pencucian Uang dan Pencegahan Pendanaan Terorisme Pada Pedagang Valuta Asing Bukan Bank. 1060

456 Ikhtisar Ketentuan AML & CFT

Penyelenggara kegiatan usaha Pengiriman Uang harus mengetahui dan mengenal identitas pihak-pihak yang akan menggunakan jasanya.1062 Pengetahuan dan pengenalan identitas pihak-pihak yang menggunakan jasa Penyelenggara ini dimaksudkan sebagai penerapan Prinsip Mengenal Nasabah. 1063 Pengenalan terhadap Nasabah mencakup hal-hal sebagai berikut1064 : a. Penelitian identitas Nasabah 1) Perorangan a) Meminta Nasabah untuk memperlihatkan identitas diri antara lain Kartu Tanda Penduduk (KTP), Surat Izin Mengemudi (SIM), atau Paspor. b) Meneliti bahwa Nasabah telah sesuai dengan identitas Nasabah, antara lain kesamaan wajah Pengirim/ Penerima dengan foto yang ada dalam identitas dan/atau tanda tangan. 2) Perusahaan a) Meminta Nasabah untuk memperlihatkan identitas seperti izin usaha atau NPWP.
1062 Pasal 9 ayat (2) Peraturan Bank Indonesia No. 8/28/PBI/2006 tentang Kegiatan Usaha Pengiriman Uang. 1063 Penjelasan Pasal 9 ayat (2) Peraturan Bank Indonesia No. 8/28/PBI/2006 tentang Kegiatan Usaha Pengiriman Uang. 1064 Lampiran Surat Edaran No. 8/32 /DASP tanggal 20 Desember 2006 perihal Pendaftaran Kegiatan Usaha Pengiriman Uang.

Pengawasan Kepatuhan

457

b) Meneliti bahwa Nasabah telah sesuai dengan identitas Nasabah. Dalam hal Nasabah tidak dapat menunjukkan bukti identitas atau identitas Nasabah tidak sesuai dengan data yang tertulis dalam formulir pengiriman atau data penerimaan, dan/ atau petugas Penyelenggara kegiatan usaha Pengiriman Uang meragukan keaslian atau kebenaran dari identitas Nasabah maka transaksi dengan Nasabah tersebut tidak boleh dilakukan. IV.1.2.7.2 Pencatatan Transaksi1065 Penyelenggara harus melakukan pencatatan transaksi setiap Nasabah yang sekurang-kurangnya meliputi : 1) Perorangan: a) nama dan alamat Nasabah; b) tempat dan tanggal lahir; c) pekerjaan; d) kewarganegaraan; e) nomor bukti identitas; f) nilai transaksi; dan g) tanggal transaksi. 2) Perusahaan: a) nama dan alamat Nasabah; b) bidang usaha; c) nomor izin usaha; d) NPWP; e) nilai transaksi; dan f) tanggal transaksi.
1065 Lampiran Surat Edaran No. 8/32 /DASP tanggal 20 Desember 2006 perihal Pendaftaran Kegiatan Usaha Pengiriman Uang.

458 Ikhtisar Ketentuan AML & CFT

IV.1.2.7.3

Contoh Transaksi Keuangan Mencurigakan a. Pengiriman Uang tanpa disertai identitas yang jelas dari Pengirim dan/atau Penerima. b. Pengiriman Uang tidak sesuai atau menyimpang dari profile, karakteristik, atau kebiasaan pola transaksi dari Nasabah yang bersangkutan. c. Uang yang dikirim diduga berasal dari hasil tindak pidana.

IV. 2 Pengawasan Kepatuhan Terhadap Kewajiban Pelaporan IV.2.1 Pelaksanaan Audit IV.2.1.1 Audit Kepatuhan IV.2.1.1.1 Audit Kepatuhan yang memiliki LPP Pengawasan Kepatuhan atas kewajiban pelaporan bagi Pihak Pelapor dilakukan oleh Lembaga Pengawas dan Pengatur dan/atau PPATK.1066 Dalam hal Pengawasan Kepatuhan atas kewajiban pelaporan tidak dilakukan atau belum terdapat Lembaga Pengawas dan Pengatur, Pengawasan Kepatuhan atas kewajiban pelaporan dilakukan oleh PPATK.1067 Tata cara pelaksanaan Pengawasan Kepatuhan diatur oleh Lembaga Pengawas dan Pengatur dan/atau

1066 Pasal 31 ayat (1) Undang-Undang RI No. 8 Tahun 2010 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang. 1067 Pasal 31 ayat (2) Undang-Undang RI No. 8 Tahun 2010 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang.

Pengawasan Kepatuhan

459

PPATK sesuai dengan kewenangannya.168 IV.2.1.1.2 Audit Kepatuhan yang tidak memiliki LPP/diserahkan kepada PPATK Dalam melaksanakan tugas mencegah dan memberantas tindak pidana pencucian uang, PPATK mempunyai fungsi pengawasan terhadap kepatuhan Pihak Pelapor.1069 Pengawasan kepatuhan dilakukan oleh PPATK terhadap Pihak Pelapor yang belum memiliki Lembaga Pengawas dan Pengatur, atau terhadap Pihak Pelapor yang pengawasannya telah diserahkan oleh Lembaga Pengawas dan Pengatur kepada PPATK.1070 Dalam rangka melaksanakan fungsi pengawasan terhadap kepatuhan Pihak Pelapor, PPATK berwenang melakukan audit kepatuhan atau audit khusus.1071 IV.2.1.2 Audit Khusus IV.2.1.2.1 Audit khusus terkait pelaporan Dalam rangka melaksanakan fungsi pengawasan terhadap kepatuhan Pihak Pelapor, PPATK berwenang

1068 Pasal 31 ayat (4) Undang-Undang RI No. 8 Tahun 2010 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang. 1069 Pasal 40 huruf c Undang-Undang RI No. 8 Tahun 2010 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang. 1070 Penjelasan Pasal 40 huruf c Undang-Undang RI No. 8 Tahun 2010 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang. 1071 Pasal dan Penjelasan Pasal 43 huruf c Undang-Undang RI No. 8 Tahun 2010 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang.

460 Ikhtisar Ketentuan AML & CFT

melakukan audit kepatuhan atau audit khusus.1072 Audit khusus dapat dilakukan terhadap: 1. penyedia jasa keuangan yang pengawasan kepatuhan atas kewajiban pelaporan bagi penyedia jasa keuangan tersebut dilakukan oleh Lembaga Pengawas dan Pengatur dan/atau PPATK; 2. penyedia jasa keuangan berdasarkan permintaan lembaga atau instansi yang berwenang meminta informasi kepada PPATK sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan. IV.2.1.2.2 Audit khusus dalam rangka meminta keterangan Dalam rangka melaksanakan fungsi analisis atau pemeriksaan laporan dan informasi PPATK dapat meminta keterangan kepada Pihak Pelapor dan pihak lain yang terkait dengan dugaan tindak pidana pencucian uang.1073 Meminta keterangan kepada Pihak Pelapor dan pihak lain yang terkait dengan dugaan tindak pidana pencucian uang, dapat berupa melakukan audit khusus baik yang dilakukan sendiri oleh PPATK maupun dilakukan bersama-sama dengan Lembaga Pengawas dan Pengatur.1074
1072 Pasal dan Penjelasan Pasal 43 huruf c Undang-Undang RI No. 8 Tahun 2010 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang. 1073 Pasal 44 huruf g Undang-Undang RI No. 8 Tahun 2010 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang. 1074 Penjelasan Pasal 44 huruf g Undang-Undang RI No. 8 Tahun 2010 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang.

Pengawasan Kepatuhan

461

IV.2.2 Penyampaian hasil audit dan temuan TKM Hasil pelaksanaan Pengawasan Kepatuhan yang dilakukan oleh Lembaga Pengawas dan Pengatur disampaikan kepada PPATK.1075 Dalam hal Lembaga Pengawas dan Pengatur menemukan Transaksi Keuangan Mencurigakan yang tidak dilaporkan oleh Pihak Pelapor kepada PPATK, Lembaga Pengawas dan Pengatur segera menyampaikan temuan tersebut kepada PPATK.1076 Lembaga Pengawas dan Pengatur wajib memberitahukan kepada PPATK setiap kegiatan atau Transaksi Pihak Pelapor yang diketahuinya atau patut diduganya dilakukan baik langsung maupun tidak langsung dengan tujuan melakukan tindak pidana pencucian uang sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3, Pasal 4, dan Pasal 5 UU TPPU.1077 IV.2.3 Tata Cara Pelaksanaan audit IV.2.3.1 Tujuan Audit Tujuan audit kepatuhan adalah untuk memastikan tingkat kepatuhan dan kemampuan dari penyedia jasa keuangan dalam memenuhi kewajiban pelaporan kepada Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan sesuai dengan Undang Undang Tindak Pidana Pencucian Uang dan pedoman yang dikeluarkan oleh Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan.1078

1075 Pasal 31 ayat (3) Undang-Undang RI No. 8 Tahun 2010 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang. 1076 Pasal 32 Undang-Undang RI No. 8 Tahun 2010 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang. 1077 Pasal 33 Undang-Undang RI No. 8 Tahun 2010 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang. 1078 Peraturan Kepala PPATK No. 4/1/PER.PPATK/2005/INTERN tentang Audit Kepatuhan Terhadap Penyedia Jasa Keuangan.

462 Ikhtisar Ketentuan AML & CFT

IV.2.4 Pengecualian Kerahasiaan Bagi Auditor Dalam melaksanakan kewenangannya sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang ini, terhadap PPATK tidak berlaku ketentuan peraturan perundang-undangan dan kode etik yang mengatur kerahasiaan.1079 IV.2.5 Lain-lain Dalam rangka melaksanakan kewenangan tersebut, PPATK dapat: o melakukan audit sewaktu-waktu apabila diperlukan;1080 o meminta dan mewajibkan Penyedia Jasa Keuangan untuk memberikan dokumen, data, keterangan, dan informasi yang dimiliki dan atau dikuasai oleh Penyedia Jasa Keuangan; o memasuki pekarangan, lahan, gedung atau properti yang dimiliki atau dikuasai oleh Penyedia Jasa Keuangan.

~o~

1079 Pasal 45 Undang-Undang RI No. 8 Tahun 2010 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang. 1080 Pasal 5 ayat (1) Keputusan Presiden RI No. 82 Tahun 2003 tentang Tata Cara Pelaksanaan Wewenang Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan.

Penegakan Hukum

463

BAB V PENEGAKAN HUKUM
Bab V ini menguraikan tahapan atau proses penegakan hukum tindak pidana pencucian uang mulai dari penyampaian hasil pemeriksaan dan analisis oleh PPATK kepada penegak hukum, penyelidikan dan penyidikan oleh penyidik, penuntutan oleh penuntut umum, pemeriksaan perkara di sidang pengadilan dan putusan hakim. Dengan pendekatan seperti ini diharapkan semua pemangku kepentingan dapat lebih memahami tahapan atau proses penanganan perkara tindak pidana uang sesuai hukum dan peraturan perundang-undangan yang berlaku

464 Ikhtisar Ketentuan AML & CFT

Daftar Isi Halaman V.1 Ruang Lingkup Penanganan Perkara TPPU ................................... V.1.1 Sistem Peradilan Pidana Terpadu .......................................... V.1.2 Penyidikan, penuntutan dan pemeriksaan di sidang pengadilan terhadap tindak pidana dilakukan berdasarkan peraturan perundang-undangan .................... V.1.3 Hasil Analisis atau Hasil Pemeriksaan PPATK .................... V.1.4 Tindak lanjut atas adanya laporan ........................................ V.1.5 Pembuatan berita acara ........................................................... V.1.6 Pemberitahuan kepada penuntut umum (SPDP).................. V.2 Penyidikan oleh Kepolisian Negara Republik Indonesia ............... V.2.1 Penyelidikan ............................................................................. V.2.1.1 Pengertian penyelidikan ......................................... V.2.1.2 Pengertian penyelidik ............................................. V.2.1.3 Sasaran penyelidikan .............................................. V.2.1.4 Proses penyelidikan ................................................ V.2.1.5 Penyelidikan merupakan kegiatan yang tidak terhenti ...................................................................... V.2.1.6 Bukti permulaan yang cukup ................................. V.2.1.7 Pengumpulan dan pemeriksaan alat bukti TPPU (catatan: termasuk dokumen yang harus diuraikan) .................................................................. V.2.2 Penyidikan ................................................................................ V.2.2.1 Pengertian penyidikan ........................................... V.2.2.2 Pengertian penyidik ................................................ V.2.2.3 Kewenangan penyidik ............................................ V.2.2.4 Dimulainya penyidikan ........................................... V.2.2.5 Penindakan dan Pemeriksaan ................................ V.2.2.5.1 Penundaan Transaksi .......................... V.2.2.5.2 Pemblokiran ........................................... V.2.2.5.3 Permintaan keterangan dari Penyedia Jasa Keuangan .................... V.2.2.5.4 Pemeriksaan Surat ................................ V.2.2.5.4.1 Pengertian surat ................................. V.2.2.5.4.2 Tata Cara Pemeriksaan Surat ............ V.2.2.5.5 Penggeledahan ..................................... V.2.2.5.6 Penyitaan ............................................... V.2.2.5.7 Penitipan Barang Bukti ....................... V.2.2.5.8 Pelelangan Barang Bukti ..................... 468 468

468 470 471 471 472 473 473 473 474 474 475 477 477

478 479 479 479 480 481 482 482 483 485 487 487 488 489 493 503 504

Penegakan Hukum

465

V.3 V.4

V.2.2.5.9 Pemusnahan Barang Bukti .................. V.2.2.5.10 Penangkapan ......................................... V.1.2.5.11 Penahanan .............................................. V.2.2.5.12 Pemanggilan saksi, tersangka, ahli, juru bahasa, penterjemah .................... V.2.2.5.13 Pemeriksaan Alat Bukti ........................ V.2.2.5.13.1 Pemeriksaan Saksi ............................. V.2.2.5.13.2 Pemeriksaan Ahli ............................... V.2.2.5.13.3 Pemeriksaan Surat ............................. V.2.2.5.13.4 Alat Bukti Lain ................................... V.2.2.5.13.5 Petunjuk .............................................. V.2.2.5.13.6 Pemeriksaan Tersang-ka ................... V.2.2.5.13.7 Konfrontasi dan rekonstruksi ......... V.2.2.5.13.8 Evaluasi Hasil Peme-riksaan ............ V.2.2.5.14 Permintaan keterangan kepada PPATK ........................................... V.2.2.5.15 Pemberkasan Perkara ..................... V.2.2.5.16 Penyerahan Berkas Perkara ............ V.2.2.5.17 Penghentian Penyidikan ................. Penyidikan oleh Kejaksaan ................................................................. Penyidikan oleh Komisi Pemberantasan Korupsi ........................... V .4.1 Penyelidikan ............................................................................ V.4.1.1 Pengertian Penyelidik ............................................. V.4.1.2 Bukti Permulaan yang Cukup ................................ V .4.2 Penyidikan ............................................................................... V.4.2.1 Pengertian Penyidik ................................................ V.4.2.2 Pemeriksaan ............................................................. V.4.2.2.1 Penundaan Transaksi .......................... V.4.2.2.2 Pemblokiran ........................................... V.4.2.2.3 Permintaan Keterangan ....................... V.4.2.2.4 Penyadapan dan Merekam Pembicaraan .......................................... V.4.2.2.5 Melarang seseorang berpergian ke luar negeri ............................................. V.4.2.2.6 Memerintahkan untuk memberhentikan Tersangka dari jabatannya ........ V.4.2.2.7 Meminta Data ....................................... V.4.2.2.8 Meminta Bantuan Instansi Lain ......... V.4.2.2.9 Pemeriksaan Tersangka ....................... V.4.2.2.10 Penyitaan ............................................... V.4.2.2.11 Penyampaian Hasil Penyidikan ..........

505 506 508 512 515 516 518 519 521 521 522 528 531 533 542 543 544 546 547 548 548 548 549 549 549 549 551 553 555 555 556 556 556 557 558 559

466 Ikhtisar Ketentuan AML & CFT

V.4.2.2.12 Tidak Berwenang Melakukan Penghentian Penyidikan ............................... V.4.2.2.13 Koordinasi dengan instansi lain ........ V.5 Penyelidikan dan Penyidikan oleh Badan Narkotika Nasional V.5.1 Penyelidikan ............................................................................. V.5.1.1 Pejabat/Anggota BNN sebagai Penyelidik ......... V.5.1.2 Proses Penyelidikan ................................................ V.5.1.3 Sasaran Penyelidikan............................................... V.5.1.4 Penyelidikan merupakan kegiatan yang tidak terhenti ...................................................................... V.5.2 Penyidikan ................................................................................ V.5.2.1 Penindakan dan Pemeriksaan ................................ V.5.2.2 Penundaan Transaksi ............................................. V.5.2.3 Pemblokiran .............................................................. V.5.2.4 Permintaan keterangan dari Penyedia Jasa Keuangan ................................................................. V.5.2.5 Pemanggilan ............................................................. V.5.2.5.1 Wewenang Pemanggilan ...................... V.5.2.5.1.1 Pemanggilan Saksi ............. V.5.2.5.1.2 Pemanggilan terhadap Pejabat Tertentu ................. V.5.2.5.2 Penang................................. V.5.2.5.2.1 Wewenang Penangkapan V.5.2.5.3 Penahanan .......................... V.5.2.5.3.1 Wewenang Penahanan ..... V.5.2.5.3.2 Jenis Penahanan ................ V.5.2.5.3.3 Jangka Waktu Penahanan. V.5.2.5.4 Penggeledahan................... V.5.2.5.4.1 Wewenang Penggeledahan ................................. V.5.2.5.4.2 Sasaran Penggeledahan ... V.5.2.5.5 Penyitaa .............................. V.5.2.5.4.1 Wewenang Penyitaan ....... V.5.2.5.4.2 Sasaran Penyitaan ............. V.5.2.5.6 Pemeriksaan ........................ V.5.2.5.6.1 Wewenang Pemeriksaan ... V.5.2.5.6.2 Pemeriksaan Alat Bukti ..... V.5.2.5.6.2.1 Konfrontasi dan rekonstruksi ..................... V.5.2.5.6.2.2 Evaluasi Hasil Pemeriksaan ..................................

560 560 560 561 561 561 561 564 564 564 564 565 567 568 568 571 571 574 574 575 575 576 576 577 577 577 579 579 581 582 583 585 585 588

Penegakan Hukum

467

V.5.2.6

Pemusnahan Barang Bukti .................................... V.5.2.5.8 Pemanfaatan Barang Bukti .................................... Penyelesaian dan Penyerahan Berkas Perkara ... V.5.2.6.1 Pembuatan Berita Acara Pendapat/ Resume ................................................... V.5.2.6.2 Penyusunan Isi Berkas Perkara .......... V.5.2.6.3 Pemberkasan ......................................... V.5.2.6.4 Penyerahan Berkas Perkara ................ V.5.2.6.5 Penghentian Penyidikan .....................

V.5.2.5.7

590 593 594 595 595 596 596 596 597 597 600 616 627 627 627 627 629 630 631 632 632 633 633 634 634 635 635 635 636 636 637 637 637

V.6

Penyidikan oleh Direktorat Jenderal Pajak .................................... V .6.1 Kewenangan Penyidikan ......................................................... V .6.2 Pemeriksaan Bukti Permulaan ................................................. V .6.3 Penyidikan.................................................................................. Penyidikan oleh Direktorat Jenderal Bea dan Cukai .................... V .7.1 Pengertian Penyidik .................................................................. V .7.2 Pengertian Penyidikan.............................................................. V .7.3 Kewenangan Penyidikan ......................................................... V.7.3.1 Penundaan Transaksi ............................................. V.7.3.2 Pemblokiran ............................................................. V.7.3.3 Permintaan keterangan dari Penyedia Jasa Keuangan ................................................................. V.7.3.4 Menerima Laporan/Keterangan ............................ V.7.3.5 Memanggil Orang ................................................... V.7.3.6 Penangkapan ........................................................... V.7.3.7 Penahanan ................................................................ V.7.3.8 Memotret dan/atau Merekam Melalui Media Audio Visual ............................................................ V.7.3.9 Memeriksa Catatan dan Pembukuan .................... V.7.3.10 Mengambil Sidik Jari ............................................... V.7.3.11 Penggeledahan ....................................................... V.7.3.12 Penyitaan .................................................................. V.7.3.13 Mengamankan Barang Bukti ................................. V.7.3.14 Mendatangkan Tenaga Ahli .................................. V.7.3.15 Menyuruh Berhenti Tersangka ............................. V.7.3.16 Meneliti, Mencari, dan Mengumpulkan Keterangan ............................................................... V.7.3.17 Meminta Keterangan .............................................. V.7.3.18 Tindakan Lain ..........................................................

V.7

468 Ikhtisar Ketentuan AML & CFT

V.7.3.19 Penghentian Penyidikan ........................................ V.7.3.20 Penyampaian Hasil Penyidikan ............................. V.8. Pra Penuntutan ...................................................................................... V.8.1 Penerimaan Surat Pemberitahuan Dimulainya Penyidikan (SPDP) ....................................................................................... V.8.2 Penyerahan Berkas Perkara ................................................... V.8.2.1 Penyerahan Berkas Perkara Tahap Pertama ........ V.8.2.2 Penyerahan Berkas Perkara Tahap Kedua ........... V.9 Penuntutan ............................................................................................. V .9.1 Penyusunan Surat dakwaan .................................................. V.9.1.1 Fungsi Surat Dakwaan ........................................... V.9.1.2 Dasar Pembuatan Surat Dakwaan ........................ V.9.1.3 Syarat-syarat Surat Dakwaan ................................ V.9.1.4 Bentuk Surat Dakwaan ........................................... V.9.1.5 Teknik Pembuatan Surat Dakwaan ....................... V .9.2 Pelimpahan perkara ke pengadilan ....................................... V.9.2.1 Pembuktian .............................................................. V.9.2.1.1 Pemeriksaan Saksi ................................................... V.9.2.1.2 Pemeriksaan Ahli...................................................... V.9.2.1.3 Pemeriksaan Surat ................................ V.9.2.1.4 Pemeriksaan Petunjuk ......................... V.9.2.1.5 Pemeriksaan Alat Bukti Lain .............. V.9.2.1.6 Pemeriksaan Terdakwa ........................ V.9.2.1.7 Pemeriksaan Barang Bukti .................. V.9.2.1.8 Pembuktian Terbalik ............................ V.9.2.2 Tuntutan Pidana ...................................................... V.9.2.3 Sanksi Pidana ........................................................... V.10 Pelaksanaan Putusan ........................................................................... V.10.1 Eksekusi terhadap badan ....................................................... V.10.2 Denda ........................................................................................ V.10.3 Barang bukti ............................................................................. V.10.4 Biaya perkara ............................................................................ V.11 Perampasan hasil kejahatan tanpa tuntutan pidana ........................

638 639 640 641 642 643 650 654 656 656 656 657 659 659 663 664 666 677 678 681 681 682 686 686 689 690 694 695 696 696 697 698

Penegakan Hukum

469

V.1 Ruang Lingkup Penanganan Perkara TPPU V.1.1 Sistem Peradilan Pidana Terpadu1081 Dalam rangka penegakan hukum sesuai Sistem Peradilan Pidana Terpadu, Polri bertugas melakukan penyidikan tindak pidana yang dilaksanakan oleh Penyidik/Penyidik Pembantu pada Fungsi Reserse Kriminal Polri maupun Fungsi Operasional Polri lainnya yang diberi wewenang untuk melakukan penyidikan serta melakukan koordinasi dan pengawasan terhadap PPNS. Penyidikan tindak pidana dilakukan dalam 3 (tiga) tahapan kegiatan, yaitu: (1) penyelidikan; (2) penindakan dan pemeriksaan; dan (3) penyelesaian dan penyerahan berkas perkara. V.1.2 Penyidikan, penuntutan dan pemeriksaan di sidang pengadilan terhadap tindak pidana dilakukan berdasarkan peraturan perundang-undangan Penyidikan, penuntutan, dan pemeriksaan di sidang pengadilan serta pelaksanaan putusan yang telah memperoleh kekuatan hukum tetap terhadap tindak pidana sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang ini dilakukan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan, kecuali ditentukan lain dalam Undang-Undang ini.1082 Untuk dapat dilakukan penyidikan, penuntutan, dan pemeriksaan di sidang pengadilan terhadap tindak pidana pencucian uang tidak wajib dibuktikan terlebih dahulu tindak pidana asalnya.1083 Penyidikan tindak pidana pencucian uang dilakukan oleh penyidik tindak pidana asal sesuai dengan ketentuan hukum acara dan ketentuan peraturan perundang-undangan, kecuali ditentukan lain menurut Undang-Undang ini.1084

1081 Lampiran SKEP Kabareskrim No.Pol.: SKEP/82/XII/2006/BARESKRIM tanggal 15 Desember 2006. 1082 Pasal 68 Undang-Undang RI No. 8 Tahun 2010 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang. 1083 Pasal 69 Undang-Undang RI No. 8 Tahun 2010 Tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang. 1084 Pasal 74 Undang-Undang RI No. 8 Tahun 2010 Tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang.

470 Ikhtisar Ketentuan AML & CFT

Dalam hal penyidik menemukan bukti permulaan yang cukup terjadinya tindak pidana pencucian uang dan tindak pidana asal, penyidik menggabungkan penyidikan tindak pidana asal dengan penyidikan tindak pidana pencucian uang dan memberitahukannya kepada PPATK.1085 Pemeriksaan adalah proses identifikasi masalah, analisis, dan evaluasi Transaksi Keuangan Mencurigakan yang dilakukan secara independen, objektif, dan profesional untuk menilai dugaan adanya tindak pidana.1086 Tindak Pidana Pencucian Uang yang dilakukan sebelum berlakunya Undang-Undang ini, diperiksa dan diputus dengan Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2002 tentang Tindak Pidana Pencucian Uang sebagaimana telah diubah dengan UndangUndang Nomor 25 Tahun 2003 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2002 tentang Tindak Pidana Pencucian Uang.1087 V.1.3 Hasil Analisis atau Hasil Pemeriksaan PPATK Hasil Pemeriksaan adalah penilaian akhir dari seluruh proses identifikasi masalah, analisis dan evaluasi Transaksi Keuangan Mencurigakan yang dilakukan secara independen, objektif, dan profesional yang disampaikan kepada penyidik.1088 Dalam rangka melaksanakan fungsi analisis atau pemeriksaan laporan dan informasi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 40 huruf d, PPATK dapat: “meneruskan hasil analisis atau pemeriksaan kepada penyidik”.1089 PPATK melakukan pemeriksaan terhadap Transaksi Keuangan Mencurigakan terkait dengan adanya indikasi tindak pidana
1085 Pasal 75 Undang-Undang RI No. 8 Tahun 2010 Tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang. 1086 Pasal 1 ayat (7) Undang-Undang RI No. 8 Tahun 2010 Tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang. 1087 Pasal 95 Undang-Undang RI No. 8 Tahun 2010 Tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang. 1088 Pasal 1 ayat (8) Undang-Undang RI No. 8 Tahun 2010 Tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang. 1089 Pasal 44 huruf l Undang-Undang RI No. 8 Tahun 2010 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang.

Penegakan Hukum

471

pencucian uang atau tindak pidana lain.1090 Dalam hal ditemukan adanya indikasi tindak pidana pencucian uang atau tindak pidana lain, PPATK menyerahkan Hasil Pemeriksaan kepada penyidik untuk dilakukan penyidikan. 1091 Dalam melaksanakan penyidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (2), penyidik melakukan koordinasi dengan PPATK.1092 V.1.4 Tindak lanjut atas adanya laporan Penyidik yang mengetahui, menerima laporan atau pengaduan tentang terjadinya suatu peristiwa yang patut diduga merupakan tindak pidana wajib segera melakukan tindakan penyidikan yang diperlukan.1093 V.1.5 Pembuatan berita acara Berita acara dibuat untuk setiap tindakan tentang : a. b. c. d. e. f. g. h. i. j. k. pemeriksaan tersangka; penangkapan; penahanan; penggeledahan; pemasukan rumah; penyitaan benda; pemeriksaan surat; pemeriksaan saksi; pemeriksaan di tempat kejadian; pelaksanaan penetapan dan putusan pengadilan; pelaksanaan tindakan lain sesuai dengan ketentuan dalam undang-undang ini.1094

Berita acara dibuat oleh pejabat yang bersangkutan dalam melakukan tindakan tersebut pada ayat (1) dan dibuat atas kekuatan sumpah jabatan.1095
1090 Pasal 64 ayat (1) Undang-Undang RI No. 8 Tahun 2010 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang. 1091 Pasal 64 ayat (2) Undang-Undang RI No. 8 Tahun 2010 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang. 1092 Pasal 64 ayat (3) Undang-Undang RI No. 8 Tahun 2010 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang. 1093 1094 1095

Pasal 106 KUHAP. Pasal 75 ayat 1 KUHAP. Pasal 75 ayat 2 KUHAP.

472 Ikhtisar Ketentuan AML & CFT

Berita acara tersebut selain ditandatangani oleh pejabat tersebut pada ayat (2) ditandatangani pula oleh semua pihak yang terlibat dalam tindakan tersebut pada ayat (1).1096 Penyidik membuat berita acara tentang pelaksanaan tindakan sebagaimana dimaksud dalam PasaI 75 dengan tidak mengurangi ketentuan lain dalam undang-undang ini. 1097 Penyidik menyerahkan berkas perkara kepada penuntut umum.1098 Penyerahan berkas perkara sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) dilakukan: a. pada tahap pertama penyidik hanya menyerahkan berkas perkara; b. dalam hal penyidikan sudah dianggap selesai, penyidik menyerahkan tanggung jawab atas tersangka dan barang bukti kepada penuntut umum.1099 V.1.6 Pemberitahuan kepada penuntut umum (SPDP) Dalam hal penyidik telah mulai melakukan penyidikan suatu peristiwa yang merupakan tindak pidana, penyidik memberitahukan hal itu kepada penuntut umum. 1100 Dalam hal penyidik menghentikan penyidikan karena tidak terdapat cukup bukti atau peristiwa tersebut ternyata bukan merupakan tindak pidana atau penyidikan dihentikan demi hukum, maka penyidik memberitahukan hal itu kepada penuntut umum, tersangka atau keluarganya. 1101 Dalam hal penghentian tersebut pada ayat (2) dilakukan oleh penyidik sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6 ayat (1) huruf b, pemberitahuan mengenai hal itu segera disampaikan kepada penyidik dan penuntut umum.1102

1096 1097 1098 1099 1100 1101 1102

Pasal 75 ayat 3 KUHAP. Pasal 8 ayat (1) KUHAP. Pasal 8 ayat (2) KUHAP. Pasal 8 ayat (3) KUHAP. Pasal 109 ayat (1) KUHAP. Pasal 109 ayat (2) KUHAP. Pasal 109 ayat (3) KUHAP.

Penegakan Hukum

473

Sesuai ketentuan dalam Pasal 109 ayat (1) Undang-undang Nomor 8 Tahun 1981 tentang KUHAP, agar: (1) Penyidik segera mengirimkan SPDP ke Jaksa Penuntut Umum. (2) Sejak Kejaksaan menerima SPDP agar menunjuk Jaksa Peneliti yang memantau perkembangan penyidikan. (3) Penunjukan Jaksa Peneliti sekaligus sebagai petugas yang melakukan koordinasi dan konsultasi dalam penanganan penyidikan perkara. (4) Agar memperoleh kesempurnaan Berkas Perkara yang memadai untuk dapat ditingkatkan ke tahap penuntutan maka langkah koordinasi dan konsultasi perlu ditingkatkan. (5) Perlu ditentukan waktu secara limitatif dalam pengiriman SPDP oleh Penyidik yaitu selambat-lambatnya 3 (tiga) hari sejak diterbitkannya Surat Perintah Penyidikan dan untuk daerah terpencil selambat-lambatnya 7 (tujuh) hari.1103

V.2 Penyidikan oleh Kepolisian Negara Republik Indonesia V.2.1 Penyelidikan V.2.1.1 Pengertian penyelidikan Penyelidikan adalah serangkaian tindakan penyelidik untuk mencari dan menemukan suatu peristiwa yang diduga sebagai tindak pidana guna menentukan dapat atau tidaknya dilakukan penyidikan menurut cara yang diatur dalam undang-undang ini.1104 V.2.1.2 Pengertian penyelidik Penyelidik adalah pejabat polisi negara Republik Indonesia yang diberi wewenang oleh undangundang ini untuk melakukan penyelidikan.1105

1103 Lampiran Keputusan Bersama Ketua Mahkamah Agung RI, Menteri Kehakiman RI, Jaksa Agung RI dan Kepala Kepolisian RINomor: KMA/003/ SKB/II/1998Nomor: M.02.PW. 07.03.Th.1998Nomor: Kep/007/ JA/2/1998Nomor: Kep 02/11/1998Tanggal 5 Pebruari 1998. 1104 1105

Pasal 1 butir 5 KUHAP. Pasal 1 butir 4 KUHAP.

474 Ikhtisar Ketentuan AML & CFT

Penyelidik adalah setiap pejabat polisi negara Republik Indonesia.1106 (1) Penyelidik sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4: a. Karena kewajibannya mempunyai wewenang: i. menerima laporan atau pengaduan dari seorang tentang adanya tindak pidana; ii. mencari keterangan dan barang bukti; iii.. menyuruh berhenti seorang yang dicurigai dan menanyakan serta memeriksa tanda pengenal diri; iv. mengadakan tindakan lain menurut hukum yang bertanggung jawab.

b. atas perintah penyidik dapat melakukan tindakan berupa: i. penangkapan, larangan meninggalkan tempat, penggeledahan dan penyitaan; ii. pemeriksaan dan penyitaan surat; iii. mengambil sidik jari dan memotret seorang; iv. membawa dan menghadapkan seorang pada penyidik. (2) Penyelidik membuat dan menyampaikan laporan hasil pelaksanaan tindakan sebagaimana tersebut pada ayat (1) huruf a dan huruf b kepada penyidik.1107 V.2.1.3 Sasaran penyelidikan Sasaran Penyelidikan adalah1108 : (1) (2) (3) (4)
1106 1107 1108

Orang; Benda/barang; Tempat/lokasi; Peristiwa/kejadian.

Pasal 4 KUHAP. Pasal 5 KUHAP.

Lampiran SKEP Kabareskrim No.Pol. : SKEP/ 82/XII/2006/BARESKRIM tanggal 15 Desember 2006

Penegakan Hukum

475

V.2.1.4

Proses penyelidikan Proses penyelidikan sebagai berikut1109 : (1) Kegiatan Penyelidikan, dilakukan untuk: a. Mencari dan mengumpulkan keteranganketerangan dan bukti guna menentukan apakah suatu peristiwa yang terjadi/ diinformasikan, issue, dilaporkan atau diadukan, merupakan tindak pidana atau bukan. b. Melengkapi keterangan dan bukti-bukti yang telah diperoleh, sebelum maupun selama dilakukan tindakan proses penyidikan. c. Pemeriksaan/Pengolahan Tempat Kejadian Perkara. (2) Penyelidikan dilakukan dengan cara terbuka sepanjang hal itu dapat menghasilkan keteranganketerangan yang diperlukan dan dilakukan secara tertutup apabila keterangan yang diperlukan tidak mungkin diperoleh secara terbuka. (3) Hasil Penyelidikan dituangkan di dalam laporan Hasil Penyelidikan yang kemudian dipelajari, dianalisis/diolah sehingga merupakan keterangan-keterangan yang berguna untuk kepentingan penyidikan. (4) Dalam kasus-kasus tertentu penyelidikan dilakukan dalam bentuk pemeriksaan/pengolahan TKP (Crime Scene Processing) yaitu: a. Mencari keterangan, petunjuk, bukti serta identitas tersangka dan korban maupun saksi di dan sekitar TKP; b. Pencarian, pengambilan, pengumpulan dan pengawetan barang bukti dilakukan dengan metode-metode ilmiah tertentu/kriminalistik, melibatkan dukungan teknis Kepolisian,

1109 Lampiran SKEP Kabareskrim No.Pol. : SKEP/ 82/XII/2006/BARESKRIM tanggal 15 Desember 2006

476 Ikhtisar Ketentuan AML & CFT

Laboratorium Forensik, Identifikasi Polri, Kedokteran Foreksik dan bidang-bidang keahlian lainnya. 5) Tindakan pemeriksaan/pengolahan TKP sesuai kebutuhan dapat dilakukan berulang kali/secara tidak terbatas, pelaksanaan dan hasilnya dituangkan dalam Berita Acara Pemeriksaan di TKP yang ditandatangani Penyidik. 6) Hal-hal yang harus diperhatikan: a) Dalam melaksanakan penyelidikan, selain wewenang melakukan tindakan terbatas yang secara ilimitif diberikan kepada Penyelidik, Penyelidik juga diberi keleluasaan untuk melakukan ”tindakan lain” sebagaimana dimaksud Pasal 5 ayat (1) angka 4 KUHAP, sepanjang memenuhi persyaratan: b) Penyelidikan yang dilakukan dalam rangka pengembangan atau menyertai kegiatan penindakan dan pemeriksaan, harus selalu ada koordinasi, pengawasan dan pemberian petunjuk dari Penyidik sehingga penyelidikan terarah dan dapat dicegah timbulnya kekeliruan/bias dalam penyelidikan. c) Dalam melaksanakan penyelidikan secara terbuka, Penyidik wajib menunjukkan tanda pengenal serta menggunakan tehnik wawancara yang benar (mengandung 7 kah). d) Dalam melaksanakan penyelidikan secara tertutup penyelidik menggunakan tehniktehnik observasi, under cover, surveilance, Penyelidik harus menghindari tindakan yang dapat merugikan penyelidikan maupun tindakan penyidikan selanjutnya. e) Dalam kasus tertangkap tangan dan tertentu lainnya yang sejak awal telah dapat diketahui bahwa peristiwa tersebut cukup bukti

Penegakan Hukum

477

merupakan tindak pidana, maka tindakan penyidikan Tahap Kedua atau Penindakan dan Pemeriksaan, dapat segera dilakukan. V.2.1.5 Penyelidikan merupakan kegiatan yang tidak terhenti Penyelidikan merupakan kegiatan yang tidak terhenti, mulai dari awal proses penyidikan, penindakan dan pemeriksaaan, penyelesaian dan penyerahan berkas perkara kepada Penuntut Umum, pelaksanaan persidangan pengadilan sampai putusan sidang pengadilan mempunyai kekuatan hukum tetap.1110 V.2.1.6 Bukti permulaan yang cukup Bukti yang cukup ialah terdapat minimal 2 (dua) bukti baik berupa 2 (dua) barang bukti atau 2 (dua) alat bukti atau satu barang bukti dengan satu alat bukti.1111 Alat bukti yang sah dalam pembuktian tindak pidana pencucian uang ialah: a. alat bukti sebagaimana dimaksud dalam Hukum Acara Pidana; dan/atau b. alat bukti lain berupa informasi yang diucapkan, dikirimkan, diterima, atau disimpan secara elektronik dengan alat optik atau alat yang serupa optik dan Dokumen.1112 Dokumen adalah data, rekaman, atau informasi yang dapat dilihat, dibaca, dan/atau didengar, yang dapat dikeluarkan dengan atau tanpa bantuan suatu sarana, baik yang tertuang di atas kertas atau benda fisik apa pun selain kertas maupun yang terekam secara elektronik, termasuk tetapi tidak terbatas pada: a. tulisan, suara, atau gambar; b. peta, rancangan, foto, atau sejenisnya;
1110 Lampiran SKEP Kabareskrim No.Pol. : SKEP/ 82/XII/2006/BARESKRIM tanggal 15 Desember 2006.

Lampiran SKEP Kabareskrim No.Pol. : SKEP/ 82/XII/2006/BARESKRIM tanggal 15 Desember 2006.
1112 Pasal 73 Undang-Undang RI No. 8 Tahun 2010 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang.

1111

478 Ikhtisar Ketentuan AML & CFT

c. huruf, tanda, angka, simbol, atau perforasi yang memiliki makna atau dapat dipahami oleh orang yang mampu membaca atau memahaminya.1113 V.2.1.7 Pengumpulan dan pemeriksaan alat bukti TPPU (catatan: termasuk dokumen yang harus diuraikan) Alat bukti yang sah dalam pembuktian tindak pidana pencucian uang ialah: a. alat bukti sebagaimana dimaksud dalam Hukum Acara Pidana; dan/atau b. alat bukti lain berupa informasi yang diucapkan, dikirimkan, diterima, atau disimpan secara elektronik dengan alat optik atau alat yang serupa optik dan Dokumen.1114 Alat bukti pemeriksaan tindak pidana pencucian uang berupa: a. Alat bukti sebagaimana dimaksud dalam Hukum Acara Pidana meliputi ; 1. keterangan saksi; 2. keterangan ahli; 3. surat; 4. petunjuk; 5. keterangan terdakwa

b. alat bukti lain berupa informasi yang diucapkan, dikirimkan, diterima, atau disimpan secara elektronik dengan alat optik atau alat yang serupa optik dan Dokumen.1115 Dokumen adalah data, rekaman, atau informasi yang dapat dilihat, dibaca, dan/atau didengar, yang dapat dikeluarkan dengan atau tanpa bantuan suatu sarana, baik yang tertuang di atas kertas atau benda fisik

1113 Pasal 1 angka 16 Undang-Undang RI No. 8 Tahun 2010 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang. 1114 Pasal 73 Undang-Undang RI No. 8 Tahun 2010 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang. 1115

Pasal 38 UU Nomor 25 Tahun 2003 Jo Pasal 184 ayat (1) KUHAP.

Penegakan Hukum

479

apa pun selain kertas maupun yang terekam secara elektronik, termasuk tetapi tidak terbatas pada: a. tulisan, suara, atau gambar; b. peta, rancangan, foto, atau sejenisnya; c. huruf, tanda, angka, simbol, atau perforasi yang memiliki makna atau dapat dipahami oleh orang yang mampu membaca atau memahaminya.1116 V.2.2 V.2.2.1 Penyidikan Pengertian penyidikan Penyidikan adalah serangkaian tindakan penyidik dalam hal dan menurut cara yang diatur dalam undang-undang ini untuk mencari serta mengumpulkan bukti yang dengan bukti itu membuat terang tentang tindak pidana yang terjadi dan guna menemukan tersangkanya.1117 V.2.2.2 Pengertian penyidik Penyidik adalah pejabat polisi negara Republik Indonesia atau pejabat pegawai negeri sipil tertentu yang diberi wewenang khusus oleh undang-undang untuk melakukan penyidikan.1118 (1) Penyidik adalah: a. pejabat polisi negara Republik Indonesia; b. pejabat pegawai negeri sipil tertentu yang diberi wewenang khusus oleh undangundang. (2) Syarat kepangkatan pejabat sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) akan diatur Iebih lanjut dalam peraturan pemerintah. 1119

1116 Pasal 1 angka 16 Undang-Undang RI No. 8 Tahun 2010 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang. 1117 1118 1119

Pasal 1 butir 2 KUHAP. Pasal 1 butir 1 KUHAP. Pasal 6 KUHAP.

480 Ikhtisar Ketentuan AML & CFT

V.2.2.3

Kewenangan penyidik (1) Penyidik sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6 ayat (1) huruf a karena kewajibannya mempunyai wewenang : a. b. c. d. e. f. g. h. menerima Iaporan atau pengaduan dari seorang tentang adanya tindak pidana; melakukan tindakan pertama pada saat di tempat kejadian; menyuruh berhenti seorang tersangka dan memeriksa tanda pengenal diri tersangka; melakukan penangkapan, penahanan, penggeledahan dan penyitaan; melakukan pemeriksaan dan penyitaan surat; mengambil sidik jari dan memotret seorang; memanggil orang untuk didengar dan diperiksa sebagai tersangka atau saksi; mendatangkan orang ahli yang diperlukan dalam hubungannya dengan pemeriksaan perkara; mengadakan penghentian penyidikan; mengadakan tindakan lain menurut hukum yang bertanggung jawab.

i. j.

(2) Penyidik sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6 ayat (1) huruf b mempunyai wewenang sesuai dengan undang-undang yang menjadi dasar hukumnya masing-masing dan dalam pelaksanaan tugasnya berada di bawah koordinasi dan pengawasan penyidik tersebut dalam Pasal 6 ayat (1) huruf a. (3) Dalam melakukan tugasnya sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dan ayat (2), penyidik wajib menjunjung tinggi hukum yang berlaku.1120 Untuk kepentingan penyidikan, penyidik dan penyidik pembantu berwenang melakukan penangkapan.1121

1120 1121

Pasal 7 KUHAP. Pasal 16 ayat (2) KUHAP.

Penegakan Hukum

481

V.2.2.4

Dimulainya penyidikan1122 Penyidikan tindak pidana berawal dari terjadinya suatu peristiwa yang diketahui atau disampaikan kepada Penyidik, melalui adanya: a. Informasi;

b. Laporan atau Laporan Polisi; Laporan adalah pemberitahuan yang disampaikan oleh seseorang karena hak atau kewajiban berdasarkan Undang-Undang kepada pejabat yang berwenang tentang telah atau sedang atau diduga akan terjadinya peristiwa pidana. Laporan Polisi adalah laporan tertulis yang dibuat oleh petugas Polri tentang adanya pemberitahuan yang disampaikan oleh seseorang karena hak atau kewajiban berdasarkan UndangUndang, bahwa akan, sedang atau telah terjadi peristiwa pidana.1123 c. Pengaduan; d. Keadaan tertangkap tangan; e. Penyerahan tersangka dan atau barang bukti; dari masyarakat atau lembaga di luar Polri.

Setiap peristiwa yang diketahui, dilaporkan, diadukan kepada Polri atau Penyidik belum pasti tindak pidana, untuk itu diperlukan proses penyelidikan yang menetukan apakah peristiwa tersebut merupakan tindak pidana atau bukan. Apabila merupakan tindak pidana, Penyidik sesuai kewajibannya, memiliki kewenangan untuk melakukan tindakan penyidikan menurut cara yang ditentukan di dalam KUHAP. Sebaliknyan apabila bukan tindak pidana, maka

1122 Lampiran SKEP Kabareskrim No.Pol. : SKEP/ 82/XII/2006/BARESKRIM tanggal 15 Desember 2006 1123 Lampiran SKEP Kabareskrim No.Pol. : SKEP/ 82/XII/2006/BARESKRIM tanggal 15 Desember 2006

482 Ikhtisar Ketentuan AML & CFT

Penyidik tidak mempunyai kewajiban melakukan penyidikan dan secara bersamaan hukum/KUHAP tidak memberi kewenangan untuk bertindak selaku Penyidik. V.2.2.5 Penindakan dan Pemeriksaan V.2.2.5.1 Penundaan Transaksi (1) Penyidik, penuntut umum, atau hakim berwenang memerintahkan Pihak Pelapor untuk melakukan penundaan Transaksi terhadap Harta Kekayaan yang diketahui atau patut diduga merupakan hasil tindak pidana. (2) Perintah penyidik, penuntut umum, atau hakim sebagaimana dimaksud pada ayat (1) harus dilakukan secara tertulis dengan menyebutkan secara jelas mengenai: a. nama dan jabatan yang meminta penundaan Transaksi; b. identitas setiap orang yang Transaksinya akan dilakukan penundaan; c. alasan penundaan Transaksi; dan d. tempat Harta Kekayaan berada. (3) Penundaan Transaksi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan paling lama 5 (lima) hari kerja. (4) Pihak Pelapor wajib melaksanakan penundaan Transaksi sesaat setelah surat perintah/permintaan penundaan Transaksi diterima dari penyidik, penuntut umum, atau hakim. (5) Pihak Pelapor wajib menyerahkan berita acara pelaksanaan penundaan Transaksi kepada penyidik, penuntut

Penegakan Hukum

483

umum, atau hakim yang meminta penundaan Transaksi paling lama 1 (satu) hari kerja sejak tanggal pelaksanaan penundaan Transaksi.1124 V.2.2.5.2 Pemblokiran Perintah pemblokiran oleh penyidik, penuntut umum dan hakim (1) Penyidik, penuntut umum, atau hakim berwenang memerintahkan Pihak Pelapor untuk melakukan pemblokiran Harta Kekayaan yang diketahui atau patut diduga merupakan hasil tindak pidana dari: a. setiap orang yang telah dilaporkan oleh PPATK kepada penyidik; b. tersangka; atau c. terdakwa. (2) Perintah penyidik, penuntut umum, atau hakim sebagaimana dimaksud pada ayat (1) harus dilakukan secara tertulis dengan menyebutkan secara jelas mengenai: a. nama dan jabatan penyidik, penuntut umum, atau hakim; b. identitas setiap orang yang telah dilaporkan oleh PPATK kepada penyidik, tersangka, atau terdakwa; c. alasan pemblokiran; d. tindak pidana yang disangkakan atau didakwakan; dan e. tempat Harta Kekayaan berada.

1124 Pasal 70 Undang-Undang RI No. 8 Tahun 2010 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang.

484 Ikhtisar Ketentuan AML & CFT

(3) Pemblokiran sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan paling lama 30 (tiga puluh) hari kerja. (4) Dalam hal jangka waktu pemblokiran sebagaimana dimaksud pada ayat (3) berakhir, Pihak Pelapor wajib mengakhiri pemblokiran demi hukum. (5) Pihak Pelapor wajib melaksanakan pemblokiran sesaat setelah surat perintah pemblokiran diterima dari penyidik, penuntut umum, atau hakim. (6) Pihak Pelapor wajib menyerahkan berita acara pelaksanaan pemblokiran kepada penyidik, penuntut umum, atau hakim yang memerintahkan pemblokiran paling lama 1 (satu) hari kerja sejak tanggal pelaksanaan pemblokiran. (7) Harta Kekayaan yang diblokir harus tetap berada pada Pihak Pelapor yang bersangkutan.1125 Rekening yang diduga terkait tindak pidana (1) Dalam hal Penyidik menemukan adanya suatu rekening yang diduga terkait dengan tindak pidana di bidang perbankan, Penyidik menyampaikan surat permintaan pemblokiran rekening kepada bank dengan tembusan kepada Bank Indonesia; (2) Simpanan rekening nasabah yang diblokir sebagaimana dimaksud pada
1125 Pasal 71 Undang-Undang RI No. 8 Tahun 2010 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang.

Penegakan Hukum

485

ayat (1) yang akan ditindaklanjuti dengan penyitaan oleh Penyidik, tetap berada dan ditatausahakan pada bank yang bersangkutan atas nama pemilik rekening;1126 Rekening giro wajib Bank Umum Khusus terhadap rekening giro wajib minimum milik Bank Umum yang ditatausahakan pada Bank Indonesia, tidak dapat dilakukan pemblokiran dan atau penyitaan karena terkait dengan kepentingan stabilitas sistem perbankan.1127 V.2.2.5.3 Permintaan keterangan Penyedia Jasa Keuangan dari

(1) Untuk kepentingan pemeriksaan dalam perkara tindak pidana pencucian uang, penyidik, penuntut umum, atau hakim berwenang meminta Pihak Pelapor untuk memberikan keterangan secara tertulis mengenai Harta Kekayaan dari: a. orang yang telah dilaporkan oleh PPATK kepada penyidik; b. tersangka; atau c. terdakwa. (2) Dalam meminta keterangan sebagaimana dimaksud pada ayat (1), bagi penyidik, penuntut umum, atau hakim tidak berlaku ketentuan peraturan perundang-undangan yang
1126 Pasal 7 SKB Jaksa Agung RI, Kapolri, dan Gubernur BI Tahun 2004tentang Kerjasama Penanganan Tindak Pidana Di Bidang Perbankan. 1127 Lampiran SKB Jaksa Agung RI, Kapolri, dan Gubernur BI Tahun 2004 tentang Kerjasama Penanganan Tindak Pidana di Bidang Perbankan tentang Petunjuk Pelaksanaan Tata Cara Kerjasama Penanganan Tindak Pidana di Bidang Perbankan.

486 Ikhtisar Ketentuan AML & CFT

mengatur rahasia bank dan kerahasiaan Transaksi Keuangan lain. (3) Permintaan keterangan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) harus diajukan dengan menyebutkan secara jelas mengenai: a. nama dan jabatan penyidik, penuntut umum, atau hakim; b. identitas orang yang terindikasi dari hasil analisis atau pemeriksaan PPATK, tersangka, atau terdakwa; c. uraian singkat tindak pidana yang disangkakan atau didakwakan; dan d. tempat Harta Kekayaan berada. (4) Permintaan sebagaimana dimaksud pada ayat (3) harus disertai dengan: a. laporan polisi dan surat perintah penyidikan; b. surat penunjukan sebagai penuntut umum; atau c. surat penetapan majelis hakim. (5) Surat permintaan untuk memperoleh keterangan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (3) harus ditandatangani oleh: a. Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia atau kepala kepolisian daerah dalam hal permintaan diajukan oleh penyidik dari Kepolisian Negara Republik Indonesia; b. pimpinan instansi atau lembaga atau komisi dalam hal permintaan diajukan oleh penyidik selain penyidik Kepolisian Negara Republik Indonesia;

Penegakan Hukum

487

c. Jaksa Agung atau kepala kejaksaan tinggi dalam hal permintaan diajukan oleh jaksa penyidik dan/atau penuntut umum; atau d. hakim ketua majelis yang memeriksa perkara yang bersangkutan. Surat permintaan sebagaimana dimaksud pada ayat (4) ditembuskan kepada PPATK.1128 V.2.2.5.4 Pemeriksaan Surat

V.2.2.5.4.1 Pengertian surat Berita acara dan surat lain dalam bentuk resmi yang dibuat oleh pejabat umum yang berwenang atau yang dibuat di hadapannya, yang memuat keterangan tentang kejadian atau keadaan yang didengar, dilihat atau yang dialaminya sendiri, disertai dengan alasan yang jelas dan tegas tentang keterangannya itu;1129 Surat yang dibuat menurut ketentuan peraturan perundang-undangan atau surat yang dibuat oleh pejabat mengenai hal yang termasuk dalam tata laksana yang menjadi tanggung jawabnya dan yang diperuntukkan bagi pembuktian sesuatu hal atau sesuatu keadaan;1130 Surat keterangan dari seorang ahli yang memuat pendapat berdasarkan keahliannya mengenai sesuatu hal atau

1128 Pasal 72 Undang-Undang RI No. 8 Tahun 2010 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang. 1129 1130

Pasal 187 angka a KUHAP. Pasal 187 angka b KUHAP.

488 Ikhtisar Ketentuan AML & CFT

sesuatu keadaan yang diminta secara resmi dari padanya;1131 Surat lain yang hanya dapat berlaku jika ada hubungannya dengan isi dari alat pembuktian yang lain.1132 V.2.2.5.4.2 Tata Cara Pemeriksaan Surat Penyidik berhak membuka, memeriksa dan menyita surat lain yang dikirim melalui kantor pos dan. telekemunikasi, jawatan atau perusahaan komunikasi atau pengangkutan jika benda tersebut dicurigai dengan alasan yang kuat mempunyai hubungan dengan perkara pidana yang sedang diperiksa, dengan izin khusus yang diberikan untuk itu dari ketua pengadilan negeri.1133 Untuk kepentingan tersebut penyidik dapat meminta kepada kepala kantor pos dan telekomunikasi, kepala jawatan atau perusahaan komunikasi atau pengangkutan lain untuk menyerahkan kepadanya surat yang dimaksud dan untuk itu harus diberikan surat tanda penerimaan.1134 Hal sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dan ayat (2) pasal ini, dapat dilakukan pada semua tingkat pemeriksaan dalam proses peradilan menurut ketentuan yang diatur dalam ayat tersebut.1135

1131 1132 1133 1134 1335

Pasal 187 angka c KUHAP. Pasal 187 angka d KUHAP. Pasal 47 Ayat (1) KUHAP. Pasal 47 Ayat (2) KUHAP. Pasal 47 Ayat (3) KUHAP.

Penegakan Hukum

489

V.2.2.5.5

Penggeledahan Penggeledahan rumah adalah tindakan penyidik untuk memasuki rumah tempat tinggal dan tempat tertutup lainnya untuk melakukan tindakan pemeriksaan dan atau penyitaan dan atau penangkapan dalam hal dan menurut cara yang diatur dalam undang-undang ini.1136 Penggeledahan badan adalah tindakan penyidik untuk mengadakan pemeriksaan badan dan atau pakaian tersangka untuk mencari benda yang didup keras ada pada badannya atau dibawanya serta, untuk disita.1137 Untuk kepentingan penyidikan, penyidik dapat melakukan penggeledahan rumah atau penggeledahan pakaian atau penggeledahan badan menurut tatacara yang ditentukan dalam undang-undang ini.1138 Dengan surat izin Ketua Pengadilan Negeri setempat penyidik dalam melakukan penyidikan dapat mengadakan penggeledahan yang diperlukan.1139 Dalam hal yang diperlukan atas perintah tertulis dari penyidik, petugas kepolisian negara Republik Indonesia dapat memasuki rumah.1140

1136 1137 1138 1139 1140

Pasal 1 angka 17 KUHAP. Pasal 1 angka 18 KUHAP. Pasal 32 KUHAP. Pasal 33 Ayat (1) KUHAP. Pasal 33 Ayat (2) KUHAP.

490 Ikhtisar Ketentuan AML & CFT

Setiap kali memasuki rumah harus disaksikan oleh dua orang saksi dalam hal tersangka atau penghuni menyetujuinya.1141 Setiap kali memasuki rumah harus disaksikan oleh kepala desa atau ketua lingkungan dengan dua orang saksi, dalam hal tersangka atau penghuni menolak atau tidak hadir.1142 Dalam waktu dua hari setelah memasuki dan atau -menggeledah rumah, harus dibuat suatu berita acara dan turunannya disampaikan kepada pemilik atau penghuni rumah yang bersangkutan.1143 Dalam keadaan yang sangat perlu dan mendesak bilamana penyidik harus segera bertindak dan tidak mungkin untuk mendapatkan surat izin terlebih dahulu, dengan tidak mengurangi ketentuan Pasal 33 ayat (5) penyidik dapat melakukan penggeledahan : a. pada halaman rumah tersangka bertempat tinggal, berdiam atau ada dan yang ada di atasnya; b. pada setiap tempat lain tersangka bertempat tinggal, berdiam atau ada; c. di tempat tindak pidana dilakukan atau terdapat bekasnya; d. di tempat penginapan dan tempat umum lainnya.1144 Dalam hal penyidik melakukan penggeledahan seperti dimaksud dalam
1141 1142 1143 1144

Pasal 33 Ayat (3) KUHAP. Pasal 33 Ayat (4) KUHAP. Pasal 33 Ayat (5) KUHAP. Pasal 34 Ayat (1) KUHAP.

Penegakan Hukum

491

ayat (1) penyidik tidak diperkenankan memeriksa atau menyita surat, buku dan tulisan lain yang tidak merupakan benda yang berhubungan dengan tindak pidana yang bersangkutan, kecuali benda yang berhubungan dengan tindak pidana yang bersangkutan atau yang diduga telah dipergunakan untuk melakukan tindak pidana tersebut dan untuk itu wajib segera melaporkan kepada Ketua Pengadilan Negeri setempat guna memperoleh persetujuannya.1145 Kecuali dalam hal tertangkap tangan, penyidik tidak diperkenankan memasuki: a. ruang di mana sedang berlangsung sidang Majelis Permusyawaratan Rakyat , Dewan Perwakilan Rakyat atau Dewan Perwakilan Rakyat Daerah; b. tempat di mana sedang berlangsung ibadah dan atau upacara keagamaan; c. ruang dimana sedang berlangsung sidang pengadilan.1146 Dalam hal Penyidik harus melakukan penggeledahan rumah di luar daerah hukumnya, dengan tidak mengurangi ketentuan tersebut dalam Pasal 33, maka penggeledahan tersebut harus diketahui oleh Ketua Pengadilan Negeri dan didampingi oleh Penyidik dari daerah hukum di mana penggeledahan itu dilakukan.1147

1145 1146 1147

Pasal 34 Ayat (2) KUHAP. Pasal 35 KUHAP. Pasal 36 KUHAP.

492 Ikhtisar Ketentuan AML & CFT

Pada waktu menangkap tersangka, penyelidik hanya berwenang menggeledah pakaian termasuk benda yang dibawanya serta, apabila terdapat dugaan keras dengan alasan yang cukup bahwa pada tersangka tersebut terdapat benda yang dapat disita.1148 Pada waktu menangkap tersangka atau dalam hal tersangka sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dibawa kepada Penyidik, Penyidik berwenang menggeledah pakaian dan atau menggeledah badan tersangka.1149 Dalam hal Penyidik melakukan penggeledahan rumah terlebih dahulu menunjukkan tanda pengenalnya kepada tersangka atau keluarganya, selanjutnya berlaku ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 33 dan Pasal 34.1150 Penyidik membuat berita acara tentang jalannya dan hasil penggeledahan rumah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 33 ayat (5).1151 Penyidik membacakan lebih dahulu berita acara tentang penggeledahan rumah kepada yang bersangkutan, kemudian diberi tanggal dan ditandatangani oleh penyidik maupun tersangka atau keluarganya dan atau Kepala Desa atau Ketua Lingkungan dengan dua orang saksi.1152

1148 1149 1150 1151 1152

Pasal 37 Ayat (1) KUHAP. Pasal 37 Ayat (2) KUHAP. Pasal 125 KUHAP. Pasal 126 Ayat (1) KUHAP. Pasal 126 Ayat (2) KUHAP.

Penegakan Hukum

493

Dalam hal tersangka atau keluarganya tidak mau membubuhkan tandatangannya, hal itu dicatat dalam berita acara dengan menyebut alasannya.1153 Untuk keamanan dan ketertiban penggeledahan rumah, Penyidik dapat mengadakan penjagaan atau penutupan tempat yang bersangkutan.1154 Dalam hal ini Penyidik berhak memerintahkan setiap orang yang dianggap perlu tidak meninggalkan tempat tersebut selama penggeledahan berlangsung.1155 V.2.2.5.6 Penyitaan Penyitaan adalah serangkaian tindakan penyidik untuk mengambil alih dan atau menyimpan di bawah penguasaannya benda bergerak atau tidak bergerak, berwujud atau tidak berwujud untuk kepentingan pembuktian dalam penyidikan, penuntutan dan peradilan.1156 Penyitaan hanya dapat dilakukan oleh penyidik dengan surat izin ketua pengadilan negeri setempat.1157 Dalam keadaan yang sangat perlu dan mendesak bilamana Penyidik harus segera bertindak dan tidak mungkin untuk mendapatkan surat izin terlebih dahulu, tanpa mengurangi ketentuan ayat (1) Penyidik dapat melakukan penyitaan hanya atas benda bergerak

1153 1154 1155 1156 1157

Pasal 126 Ayat (3) KUHAP. Pasal 127 Ayat (1) KUHAP. Pasal 127 Ayat (2) KUHAP. Pasal 1 angka 16 KUHAP. Pasal 38 Ayat (1) KUHAP.

494 Ikhtisar Ketentuan AML & CFT

dan untuk itu wajib segera melaporkan kepada Ketua Pengadilan Negeri setempat guna memperoleh persetujuannya.1158 Pejabat yang berwenang melakukan penyitaan adalah: a) Penyidik. b) Penyidik Pembantu. c) Penyelidik atas perintah Penyidik melakukan penyitaan surat.1159 Yang dapat dikenakan penyitaan adalah: a. benda atau tagihan tersangka atau terdakwa yang seluruh atau sebagian diduga diperoleh dari tindakan pidana atau sebagai hasil dari tindak pidana; benda yang telah dipergunakan secara langsung untuk melakukan tindak pidana atau untuk mempersiapkannya; benda yang dipergunakan untuk menghalang-halangi penyidikan tindak pidana; benda yang khusus dibuat atau diperuntukkan melakukan tindak pidana; benda lain yang mempunyai hubungan lansung dengan tindak pidana yang dilakukan.1160

b.

c.

d.

e.

Benda yang berada dalam sitaan karena perkara perdata atau karena pailit dapat juga disita untuk kepentingan penyidikan, penuntutan dan mengadili
1158 1159

Pasal 38 Ayat (2) KUHAP.

Lampiran SKEP Kabareskrim No.Pol. : SKEP/ 82/XII/2006/BARESKRIM tanggal 15 Desember 2006.
1160

Pasal 39 Ayat (1) KUHAP.

Penegakan Hukum

495

perkara pidana, sepanjang memenuhi ketentuan ayat (1).1161 Sasaran penyitaan: (1) benda atau tagihan tersangka atau terdakwa yang seluruh atau sebagian diduga diperoleh dari tindakan pidana atau sebagai hasil dari tindak pidana; (2) benda yang telah dipergunakan secara langsung untuk melakukan tindak pidana atau untuk mempersiapkannya; (3) benda yang dipergunakan untuk menghalang-halangi penyidikan tindak pidana; (4) benda yang khusus dibuat atau diperuntukkan melakukan tindak pidana; (5) benda lain yang mempunyai hubungan lansung dengan tindak pidana yang dilakukan. (6) Benda yang berada dalam sitaan karena perkara perdata atau karena pailit sepanjang memenuhi ketentuan sebagaimana dimaksud butir (1) sampai dengan (5) tersebut di atas. (7) Surat, buku atau kitab, daftar dan sebagainya yang diduga kuat dapat diperoleh keterangan tentang sesuatu tindak pidana.1162

1161 1162

Pasal 39 Ayat (2) KUHAP.

Lampiran SKEP Kabareskrim No.Pol. : SKEP/ 82/XII/2006/BARESKRIM tanggal 15 Desember 2006.

496 Ikhtisar Ketentuan AML & CFT

Dalam hal tertangkap tangan penyidik dapat menyita benda dan alat yang ternyata atau yang patut diduga telah dipergunakan untuk melakukan tindak pidana atau benda lain yang dapat dipakai sebagai barang bukti.1163 Dalam hal tertangkap tangan penyidik berwenang menyita paket atau surat atau benda yang pengangkutannya atau pengirimannya dilakukan oleh kantor pos dan telekomunikasi, jawatan atau perusahaan komunikasi atau pengangkutan, sepanjang paket, surat atau benda tersebut diperuntukkan bagi tersangka atau yang berasal daripadanya dan untuk itu kepada tersangka dan atau kepada pejabat kantor pos dan telekomunikasi, jawatan atau perusahaan komunikasi atau pengangkutan yang bersangkutan, harus diberikan surat tanda penerimaan.1164 Penyidik berwenang memerintahkan kepada orang yang menguasai benda yang dapat disita, menyerahkan benda tersebut kepadanya untuk kepentingan pemeriksaan dan kepada yang menyerahkan benda itu harus diberikan surat tanda penerimaan.1165 (a) Yang berwenang mengeluarkan Surat Perintah Penyitaan adalah Penyidik dan Penyidik Pembantu. (b) Dalam hal Kepala Kesatuan atau Pejabat Struktural melakukan penyitaan maka Surat Perintah Penyitaan tersebut

1163 1164 1155

Pasal 40 KUHAP. Pasal 41 KUHAP. Pasal 42 Ayat (1) KUHAP.

Penegakan Hukum

497

ditanda tangani yang bersangkutan selaku Penyidik.1166 Surat atau tulisan lain hanya dapat diperintahkan untuk diserahkan kepada penyidik jika surat atau tulisan itu berasal dari tersangka atau terdakwa atau ditujukan kepadanya atau kepunyaannya atau diperuntukkan baginya atau jikalau benda tersebut merupakan alat untuk melakukan tindak pidana.1167 Penyitaan surat atau tulisan lain dari mereka yang berkewajiban menurut undang-undang untuk merahasiakannya, sepanjang tidak menyangkut rahasia negara, hanya dapat dilakukan atas persetujuan mereka atau atas izin khusus ketua pengadilan negeri setempat kecuali undang-undang menentukan lain.1168 Dalam hal penyidik melakukan penyitaan, terlebih dahulu ia menunjukkan tanda pengenalnya kepada orang dari mana benda itu disita.1169 Penyidik memperlihatkan benda yang akan disita kepada orang dari mana benda itu akan disita atau kepada keluarganya dan dapat minta keterangan tentang benda yang akan disita itu dengan disaksikan oleh kepala desa atau ketua lingkungan dengan dua orang saksi.1170
1166 Lampiran SKEP Kabareskrim No.Pol. : SKEP/ 82/XII/2006/BARESKRIM tanggal 15 Desember 2006. 1167 1168 1169 1170

Pasal 42 Ayat (2) KUHAP. Pasal 43 KUHAP. Pasal 128 KUHAP. Pasal 129 Ayat (1) KUHAP.

498 Ikhtisar Ketentuan AML & CFT

Dokumen yang terkait dengan tindak pidana di bidang perbankan yang diperlukan untuk pembuktian dan akan disita oleh Penyidik, tetap berada dan ditatausahakan pada bank yang bersangkutan sesuai dengan ketentuan yang berlaku.1171 1) Simpanan yang berasal dari rekening dan atau bukti simpanan yang disita oleh Penyidik dari pejabat bank yang berwenang guna dijadikan barang bukti, tetap berada pada rekening atas nama pemegang rekening dan atau atas nama pemegang bukti simpanan di bank yang bersangkutan dengan status barang sitaan yang dititipkan kepada bank dengan membuat Berita Acara Penitipan. 2) Dalam hal simpanan yang berstatus sitaan sebagaimana dimaksud pada angka 8 diserahkan oleh Penyidik kepada Jaksa Penuntut Umum pada tahap kedua (penyerahan tersangka dan barang bukti), simpanan tersebut tetap ditatausahakan pada rekening penyimpanan dengan dibuat Berita Acara Penitipan oleh Jaksa Penuntut Umum di bank yang bersangkutan. 3) Hak dan kewajiban yang melekat pada dana simpanan yang disita merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari dana yang disita sesuai dengan ketentuan yang berlaku pada bank. 4) Khusus terhadap rekening giro milik Bank Umum yang ditatausahakan pada Bank Indonesia tidak dapat dilakukan
1171 Pasal 7 ayat (3) SKB Jaksa Agung RI, Kapolri, dan Gubernur BI Tahun 2004 tentang Kerjasama Penanganan Tindak Pidana di Bidang Perbankan.

Penegakan Hukum

499

pemblokiran dan atau penyitaan karena terkait dengan kepentingan stabilitas sistem perbankan.1172 Penyidik membuat berita acara penyitaan yang dibacakan terlebih dahulu kepada orang dari mana benda itu disita atau keluarganya dengan diberi tanggal dan ditandatangani oleh penyidik maupun orang atau keluarganya dan atau kepala desa atau ketua lingkungan dengan dua orang saksi.1173 Dalam hal orang dari mana benda itu disita atau keluarganya tidak mau membubuhkan tandatangannya hal itu dicatat dalam berita acara dengan menyebut alasannya.1174 Turunan dari berita acara itu disampaikan oleh penyidik kepada atasannya, orang dari mana benda itu disita atau keluarganya dan kepala desa.1175 Benda sitaan sebelum dibungkus, dicatat berat dan.atau jumlah menurut jenis masing-masing, ciri maupun sifat khas, tempat, hari dan tanggal penyitaan, identitas orang dari mana benda itu disita dan lain-lainnya yang kemudian diberi lak dan cap jabatan dan ditandatangani oleh penyidik.1176

1172 Lampiran SKB Jaksa Agung RI, Kapolri, dan Gubernur BI Tahun 2004 tentang Kerjasama Penanganan Tindak Pidana di Bidang Perbankan tentang Petunjuk Pelaksanaan Tata Cara Kerjasama Penanganan Tindak Pidana di Bidang Perbankan. 1173 1174 1175 1176

Pasal 129 Ayat (2) KUHAP. Pasal 129 Ayat (3) KUHAP. Pasal 129 Ayat (4) KUHAP. Pasal 130 Ayat (1) KUHAP.

500 Ikhtisar Ketentuan AML & CFT

Dalam hal benda sitaan tidak mungkin dibungkus, penyidik memberi catatan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1), yang ditulis di atas label yang ditempelkan dan atau dikaitkan pada benda tersebut.1177 Dalam hal sesuatu tindak pidana sedemikian rupa sifatnya sehingga ada dugaan kuat dapat diperoleh keterangan dari berbagai surat, buku atau kitab, daftar dan sebagainya, penyidik segera pergi ke tempat yang dipersangkakan untuk menggeledah, memeriksa surat, buku atau kitab, daftar dan sebagainya dan jika perlu menyitanya.1178 Penyitaan tersebut dilaksanakan menurut ketentuan sebagaimana diatur dalam Pasal 129 undang-undang ini.1179 Benda sitaan disimpan dalam rumah penyimpanan benda sitaan negara.1180 Penyimpanan benda sitaan dilaksanakan dengan sebaik-baiknya dan tanggung jawab atasnya ada pada pejabat yang berwenang sesuai dengan tingkat pemeriksaan dalam proses peradilan dan benda tersebut di larang untuk dipergunakan oleh-siapapun juga.1181 Memperhatikan klasifikasi benda sitaan dan penanganan khusus, maka agar tidak hilang atau rusak harus diperhatikan pengawasannya, seperti:

1177 1178 1179 1180 1181

Pasal 130 Ayat (2) KUHAP. Pasal 131 Ayat (1) KUHAP. Pasal 131 Ayat (2) KUHAP. Pasal 44 Ayat (1) KUHAP. Pasal 44 Ayat (2) KUHAP.

Penegakan Hukum

501

(1) Benda-benda yang berbahaya (mudah terbakar, meledak). (2) Benda-benda yang perlu pengamatan (seperti sperma, darah, dll). (3) Benda-benda yang sangat berharga (perhiasan, uang, dan sebagainya).1182 Dalam hal benda sitaan terdiri atas benda yang dapat lekas rusak atau yang membahayakan, sehingga tidak mungkin untuk disimpan sampai putusan pengadilan terhadap perkara yang bersangkutan memperoleh kekuatan hukum tetap atau jika biaya penyimpanan benda tersebut akan menjadi terlalu tinggi, sejauh mungkin dengan persetujuan tersangka atau kuasanya dapat diambil tindakan sebagai berikut: a. apabila perkara masih ada ditangan penyidik atau penuntut umum,. benda tersebut dapat dijual lelang atau dapat diamankan oleh penyidik atau penuntut umum, dengan disaksikan oleh tersangka atau kuasanya; b. apabila perkara sudah ada ditangan pengadilan, maka benda tersebut dapat diamankan atau dijual lelang oleh penuntut umum atas izin hakim yang menyidangkan perkaranya dan disaksikan oleh terdakwa atau kuasanya.1183

1182 Lampiran SKEP Kabareskrim No.Pol. : SKEP/ 82/XII/2006/BARESKRIM tanggal 15 Desember 2006. 1183

Pasal 45 Ayat (1) KUHAP.

502 Ikhtisar Ketentuan AML & CFT

Hasil pelelangan benda yang bersangkutan yang berupa uang dipakai sebagai barang bukti.1184 Guna kepentingan pembuktian sedapat mungkin disisihkan sebagian dari benda sebagaimana dimaksud dalam ayat (1).1185 Benda sitaan yang bersifat terlarang atau dilarang untuk diedarkan, tidak termasuk ketentuan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1), dirampas untuk dipergunakan bagi kepentingan negara atau untuk dimusnahkan.1186 Benda yang dikenakan penyitaan dikembalikan kepada orang atau kepada mereka dari siapa benda itu disita, atau kepada orang atau kepada mereka yang paling berhak apabila : a. kepentingan penyidikan dan penuntutan tidak memerlukan lagi; b. perkara tersebut tidak jadi dituntut karena tidak cukup bukti atau ternyata tidak merupakan tindak pidana; c. perkara tersebut dikesampingkan untuk kepentingan umum atau perkara tersebut ditutup demi hukum, kecuali apabila benda itu diperoleh dari suatu tindak pidana atau yang dipergunakan untuk melakukan suatu tindak pidana.1187 Apabila perkara sudah diputus, maka benda yang dikenakan penyitaan
1184 1185 1186 1187

Pasal 45 Ayat (2) KUHAP. Pasal 45 Ayat (3) KUHAP. Pasal 45 Ayat (4) KUHAP. Pasal 46 Ayat (1) KUHAP.

Penegakan Hukum

503

dikembalikan kepada orang atau kepada mereka yang disebut dalam putusan tersebut, kecuali jika menurut putusan hakim benda itu dirampas untuk negara, untuk dimusnahkan atau untuk dirusakkan sampai tidak dapat dipergunakan lagi atau, jika benda tersebut masih diperlukan sebagai barang bukti dalam perkara lain.1188 V.2.2.5.7 Penitipan Barang Bukti Benda sitaan disimpan dalam rumah penyimpanan benda sitaan negara.1189 Penyimpanan benda sitaan dilaksanakan dengan sebaik-baiknya dan tanggung jawab atasnya ada pada pejabat yang berwenang sesuai dengan tingkat pemeriksaan dalam proses peradilan dan benda tersebut di larang untuk dipergunakan oleh-siapapun juga.1190 Dalam hal benda sitaan terdiri atas benda yang dapat lekas rusak atau yang membahayakan, sehingga tidak mungkin untuk disimpan sampai putusan pengadilan terhadap perkara yang bersangkutan memperoleh kekuatan hukum tetap atau jika biaya penyimpanan benda tersebut akan menjadi terlalu tinggi, sejauh mungkin dengan persetujuan tersangka atau kuasanya dapat diambil tindakan sebagai berikut1191 : Apabila perkara masih ada ditangan penyidik atau penuntut umum, benda
1188 1189 1190 1191

Pasal 46 Ayat (2) KUHAP. Pasal 44 Ayat (1) KUHAP. Pasal 44 Ayat (2) KUHAP. Pasal 45 Ayat (1) KUHAP.

504 Ikhtisar Ketentuan AML & CFT

tersebut dapat dijual lelang atau dapat diamankan oleh penyidik atau penuntut umum, dengan disaksikan oleh tersangka atau kuasanya;1192 Apabila perkara sudah ada ditangan pengadilan, maka benda tersebut dapat diamankan atau dijual lelang oleh penuntut umum atas izin hakim yang menyidangkan perkaranya dan disaksikan oleh terdakwa atau kuasanya.1193 V.2.2.5.8 Pelelangan Barang Bukti (1) Dalam hal benda sitaan terdiri atas benda yang dapat lekas rusak atau yang membahayakan, sehingga tidak mungkin untuk disimpan sampai putusan pengadilan terhadap perkara yang bersangkutan memperoleh kekuatan hukum tetap atau jika biaya penyimpanan benda tersebut akan menjadi terlalu tinggi, sejauh mungkin dengan persetujuan tersangka atau kuasanya dapat diambil tindakan sebagai berikut: a. apabila perkara masih ada ditangan penyidik atau penuntut umum, benda tersebut dapat dijual lelang atau dapat diamankan oleh penyidik atau penuntut umum, dengan disaksikan oleh tersangka atau kuasanya; b. apabila perkara sudah ada ditangan pengadilan, maka
1192 1193

Pasal 45 Ayat (1) Huruf a KUHAP. Pasal 45 Ayat (1) huruf b KUHAP.

Penegakan Hukum

505

benda tersebut dapat diamankan atau dijual yang oleh penuntut umum atas izin hakim yang menyidangkan perkaranya dan disaksikan oleh terdakwa atau kuasanya. (2) Hasil pelelangan benda yang bersangkutan yang berupa uang dipakai sebagai barang bukti. (3) Guna kepentingan pembuktian sedapat mungkin disisihkan sebagian kecil dan benda sebagaimana dimaksud dalam ayat (1). (4) Benda sitaan yang bersifat terlarang atau dilarang untuk diedarkan, tidak termasuk ketentuan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1), dirampas untuk dipergunakan bagi kepentingan negara atau untuk dimusnahkan.1194 V.2.2.5.9 Pemusnahan Barang Bukti (1) Benda yang dikenakan penyitaan dikembalikan kepada orang atau kepada mereka dan siapa benda itu disita, atau kepada orang atau kepada mereka yang paling berhak apabila: a. kepentingan penyidikan dan penuntutan tidak memerlukan lagi; b. perkara tersebut tidak jadi dituntut karena tidak cukup bukti atau ternyata tidak merupakan tindak pidana;

1194

Pasal 45 KUHAP.

506 Ikhtisar Ketentuan AML & CFT

c. perkara tersebut dikesampingkan untuk kepentingan umum atau perkara tersebut ditutup demi hukum, kecuali apabila benda itu diperoleh dan suatu tindak pidana atau yang dipergunakan untuk melakukan suatu tindak pidana. (2) Apabila perkara sudah diputus, maka benda yang dikenakan penyitaan dikembalikan kepada orang atau kepada mereka yang disebut dalam putusan tersebut kecuali jika menurut putusan hakim benda itu dirampas untuk negara, untuk dimusnahkan atau untuk dirusakkan sampai tidak dapat dipergunakan lagi atau jika benda tersebut masih diperlukan sebagal barang bukti dalam perkara lain. V.2.2.5.10 Penangkapan Penangkapan adalah suatu tindakan penyidik berupa pengekangan sementara waktu kebebasan tersangka atau terdakwa apabila terdapat cukup bukti guna kepentingan penyidikan atau penuntutan dan atau peradilan dalam hal serta menurut cara yang diatur dalam undang-undang ini.1195 Untuk kepentingan penyelidikan, penyelidik atas perintah penyidik berwenang melakukan penangkapan.1196 Untuk kepentingan penyidikan, penyidik dan penyidik pembantu berwenang melakukan penangkapan.1197
1195 1196 1197

Pasal 1 angka 20 KUHAP. Pasal 16 ayat (1) KUHAP. Pasal 16 ayat (2) KUHAP.

Penegakan Hukum

507

Perintah penangkapan dilakukan terhadap seorang yang diduga keras melakukan tindak pidana berdasarkan bukti permulaan yang cukup.1198 Bukti permulaan yang cukup ialah bukti yang ada minimal terdiri dari satu barang bukti atau satu bukti sehingga patut untuk menduga seseorang adalah pelaku tindak pidana.1199 Pelaksanaan tugas penangkapan dilakukan oleh petugas kepolisian negara Republik Indonesia dengan memperlihatkan surat tugas serta memberikan kepada tersangka surat perintah penangkapan yang mencantumkan identitas tersangka dan menyebutkan alasan penangkapan serta uraian singkat perkara kejahatan yang dipersangkakan serta tempat ia diperiksa.1200 Dalam hal tertangkap tangan penangkapan-dilakukan tanpa surat perintah, dengan ketentuan bahwa penangkap harus segera menyerahkan tertangkap beserta barang bukti yang ada kepada penyidik atau penyidik pembantu yang terdekat.1201 Tembusan surat perintah penangkapan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) harus diberikan kepada keluarganya segera setelah penangkapan dilakukan.1202
1198 1199

Pasal 17 KUHAP.

Lampiran SKEP Kabareskrim No.Pol. : SKEP/ 82/XII/2006/BARESKRIM tanggal 15 Desember 2006.
1200 1201 1202

Pasal 18 Ayat (1) KUHAP. Pasal 18 Ayat (2) KUHAP. Pasal 18 Ayat (3) KUHAP.

508 Ikhtisar Ketentuan AML & CFT

Penangkapan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 17, dapat dilakukan untuk paling lama satu hari.1203 Terhadap tersangka pelaku pelanggaran tidak diadakan penangkapan kecuali dalam hal ia telah dipanggil secara sah dua kali berturut-turut tidak memenuhi panggilan itu tanpa alasan yang sah.1204 V.1.2.5.11 Penahanan Penahanan adalah penempatan tersangka atau terdakwa di tempat tertentu oleh penyidik, atau penuntut umum atau hakim dengan penetapannya, dalam hal serta menurut cara yang diatur dalam undang-undang ini.1205 Untuk kepentingan penyidikan, penyidik atau penyidik pembantu atas perintah penyidik sebagaimana dimaksud dalam Pasal 11 berwenang melakukan penahanan.1206 Untuk kepentingan penuntutan, penuntut umum berwenang melakukan penahanan atau penahanan lanjutan.1207 Untuk kepentingan pemeriksaan hakim di sidang pengadilan dengan penetapannya berwenang melakukan penahanan.1208 Perintah penahanan atau penahanan lanjutan dilakukan terhadap seorang
1203 1204 1205 1206 1207 1208

Pasal 19 Ayat (1) KUHAP. Pasal 19 Ayat (2) KUHAP. Pasal 1 angka 21 KUHAP. Pasal 20 Ayat (1) KUHAP. Pasal 20 Ayat (2) KUHAP. Pasal 20 Ayat (3) KUHAP.

Penegakan Hukum

509

tersangka atau terdakwa yang diduga keras melakukan tindak pidana berdasarkan bukti yang cukup, dalam hal adanya keadaan yang menimbulkan kekhawatiran bahwa tersangka atau terdakwa akan melarikan diri, merusak atau menghilangkan barang bukti dan atau mengulangi tindak pidana.1209 Bukti yang cukup ialah terdapat minimal 2 (dua) bukti baik berupa 2 (dua) barang bukti atau 2 (dua) alat bukti atau satu barang bukti dengan satu alat bukti.1210 Penahanan atau penahanan lanjutan dilakukan oleh penyidik atau penuntut umum terhadap tersangka atau terdakwa dengan memberikan surat perintah penahanan atau penetapan hakim yang mencatumkan identitas tersangka atau terdakwa dan menyebutkan alasan penahanan serta uraian singkat perkara kejahatan yang dipersangkakan atau didakwakan serta tempat ia ditahan.1211 Tembusan surat perintah penahanan atau penahanan lanjutan atau penetapan hakim sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) harus diberikan kepada keluarganya.1212 Penahanan tersebut hanya dapat dikenakan terhadap tersangka atau terdakwa yang melakukan tindak pidana dan atau percobaan maupun pemberian bantuan dalam tindak pidana tersebut dalam hal :
1209 1210

Pasal 21 Ayat (1) KUHAP.

Lampiran SKEP Kabareskrim No.Pol. : SKEP/ 82/XII/2006/BARESKRIM tanggal 15 Desember 2006
1211 1212

Pasal 21 Ayat (2) KUHAP. Pasal 21 Ayat (3) KUHAP.

510 Ikhtisar Ketentuan AML & CFT

a.

tindak pidana itu diancam dengan pidana penjara lima tahun atau lebih; b. tindak pidana sebagaimana dimaksud dalam Pasal 282 ayat (3), Pasal 296, Pasal 335 ayat (1), Pasal 351 ayat (1), Pasal 353 ayat (1), Pasal 372, Pasal 378, Pasal 379 a, Pasal 453, Pasal 454, Pasal 455, Pasal 459, Pasal 480 dan Pasal 506 Kitab Undang-undang Hukum Pidana, Pasal 25 dan Pasal 26 Rechtenordonnantie (pelanggaran terhadap Ordonansi Bea dan Cukai, terakhir diubah dengan Staatsblad Tahun 1931 Nomor 471), Pasal 1, Pasal 2 dan Pasal 4 Undang-undang Tindak Pidana Imigrasi (Undangundang Nomor 8 Drt. Tahun 1955, Lembaran Negara Tahun 1955 Nomor 8), Pasal 36 ayat (7), Pasal 41, Pasal 42, Pasal 43, Pasal 47 dan Pasal 48 Undang-undang Nomor 9 Tahun 1976 tentang Narkotika (Lembaran Negara Tahun 1976 Nomor 37, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3086).1213

Jenis penahanan dapat berupa : a. penahanan rumah tahanan negara; b. penahanan rumah; c. penahanan kota. 1214 Penahanan rumah dilaksanakan di rumah tempat tinggal atau rumah kediaman tersangka atau terdakwa dengan mengadakan pengawasan terhadapnya untuk menghindarkan segala sesuatu yang dapat menimbulkan
1213 1214

Pasal 21 Ayat (4) KUHAP. Pasal 22 Ayat (1) KUHAP.

Penegakan Hukum

511

kesulitan dalam penyidikan, penuntutan atau pemeriksaan di sidang pengadilan.1215 Penahanan kota dilaksanakan di kota tempat tinggal atau tempat kediaman tersangka atau terdakwa, dengan kewajiban bagi tersangka atau terdakwa melapor diri pada waktu yang ditentukan.1216 Masa penangkapan dan atau penahanan dikurangkan seluruhnya dari pidana yang dijatuhkan.1217 Untuk penahanan kota pengurangan tersebut seperlima dari jumlah lamanya waktu penahanan sedangkan untuk penahanan rumah sepertiga dari jumlah lamanya waktu penahanan.1218 Penyidik atau penuntut umum atau hakim berwenang untuk meng alihkan jenis penahanan yang satu kepada jenis penahanan yang lain sebagaimana dimaksud dalam Pasal 22.1219 Pengalihan jenis penahanan dinyatakan secara tersendiri dengan surat perintah dari penyidik atau penuntut umum atau penetapan hakim yang tembusannya diberikan kepada tersangka atau terdakwa serta keluarganya dan kepada instansi yang berkepentingan.1220

1215 1216 1217 1218 1219 1220

Pasal 22 Ayat (2) KUHAP. Pasal 22 Ayat (3) KUHAP. Pasal 22 Ayat (4) KUHAP. Pasal 22 Ayat (5) KUHAP. Pasal 23 Ayat (1) KUHAP. Pasal 23 Ayat (2) KUHAP.

512 Ikhtisar Ketentuan AML & CFT

Perintah penahanan yang diberikan oleh penyidik sebagaimana dimaksud dalam Pasal 20, hanya berlaku paling lama dua puluh hari.1221 Jangka waktu sebagaimana tersebut pada ayat (1) apabila diperlukan guna kepentingan pemeriksaan yang belum selesai, dapat diperpanjang oleh penuntut umum yang berwenang untuk paling lama empat puluh hari.1222 Ketentuan sebagaimana tersebut pada ayat (1) dan ayat (2) tidak menutup kemungkinan dikeluarkannya tersangka dari tahanan sebelum berakhir waktu penahanan tersebut, jika kepentingan pemeriksaan sudah terpenuhi.1223 Setelah waktu enam puluh hari tersebut, penyidik harus sudah mengeluarkan tersangka dari tahanan demi hukum.1224 V.2.2.5.12 Pemanggilan saksi, tersangka, ahli, juru bahasa, penterjemah Penyidik yang melakukan pemeriksaan, dengan menyebutkan alasan pemanggilan secara jelas, berwenang memanggil tersangka dan saksi yang dianggap perlu untuk diperiksa dengan surat panggilan yang sah dengan memperhatikan tenggang waktu yang wajar antara diterimanya panggilan dan hari seorang itu diharuskan memenuhi panggilan tersebut.1225

1221 1222 1223 1224 1225

Pasal 24 Ayat (1) KUHAP. Pasal 24 Ayat (2) KUHAP. Pasal 24 Ayat (3) KUHAP. Pasal 24 Ayat (4) KUHAP. Pasal 112 Ayat (1) KUHAP.

Penegakan Hukum

513

Orang yang dipanggil wajib datang kepada penyidik dan jika ia tidak datang, penyidik memanggil sekali lagi, dengan perintah kepada petugas untuk membawa kepadanya.1226 Semua jenis pemberitahuan atau panggilan oleh pihak yang berwenang dalam semua tingkat pemeriksaan kepada terdakwa, saksi atau ahli disampaikan selambat-lambatnya tiga hari sebelum tanggal hadir yang ditentukan, ditempat tinggal mereka atau di tempat kediaman mereka terakhir.1227 Petugas yang melaksanakan panggilan tersebut harus bertemu sendiri dan berbicara langsung dengan orang yang dipanggil dan membuat catatan bahwa panggilan telah diterima oleh yang bersangkutan dengan membubuhkan tanggal serta tandatangan, baik oleh petugas maupun orang yang dipanggil dan apabila yang dipanggil tidak menandatangani maka petugas harus mencatat alasannya.1228 Sanksi dari pemanggilan: tidak menghadiri

Barang siapa dipanggil sebagai saksi, ahli, atau juru bahasa menurut UndangUndang dengan sengaja tidak memenuhi kewajiban berdasarkan Undang-Undang yang harus dipenuhinya diancam: 1. dalam perkara pidana, dengan pidana penjara paling lama sembilan bulan.
1226 1227 1228

Pasal 112 Ayat (2) KUHAP. Pasal 227 ayat 1 KUHAP. Pasal 227 ayat 2 KUHAP.

514 Ikhtisar Ketentuan AML & CFT

2. dalam perkara lain, dengan pidana penjara paling lama enam bulan. 1229 Tersangka dan atau saksi yang diperiksa harus dalam keadaan sehat. Oleh karena itu sebelum dimulainya pemeriksaan Penyidik terlebih dahulu menanyakan kesehatan tersangka/saksi serta kesediaannya untuk diperiksa.1230 Pemeriksaan terhadap tersangka anak dibawah umur, agar diperhatikan ketentuan-ketentuan mengenai peradilan anak.1231 Pada dasarnya Bentuk Berita Acara Pemeriksaan tersangka, saksi dan ahli berisikan gambaran/konstruksi suatu tindak pidana, dapat digolongkan menjadi tiga macam, yaitu bentuk cerita/pernyataan kronologis, tanya jawab dan gabungan antara bentuk cerita dengan tanya jawab : a) Bentuk cerita/pernyataan: Berita Acara Pemeriksaan dalam bentuk cerita/pernyataan adalah serangkaian jawaban atas pertanyaan lisan yang diajukan oleh pemeriksa kepada yang diperiksa disusun dalam kalimat sehingga merupakan Acara Pemeriksaan yang memenuhi jawaban-jawaban atas pertanyaan 7 KAH serta memenuhi unsur-unsur tindak pidananya yang biasanya digunakan dalam perkara-perkara/ tindak pidana ringan.
1229 1230

Pasal 224 KUHP.

Lampiran SKEP Kabareskrim No.Pol. : SKEP/ 82/XII/2006/BARESKRIM tanggal 15 Desember 2006
1231

Undang-Undang RI No. 3 Tahun 1997 tentang Pengadilan Anak.

Penegakan Hukum

515

b) Bentuk Tanya Jawab: Berita Acara Pemeriksaan dalam bentuk Tanya Jawab disusun dalam bentuk Tanya Jawab antara penyidik dengan yang diperiksa sehingga memberikan gambaran kejadian secara jelas dan memenuhi jawaban-jawaban atas pertanyaan 7 KAH serta unsur-unsur tindak pidananya. c) Bentuk Gabungan Ceritera dan Tanya Jawab: Berita Acara Pemeriksaan dalam bentuk gabungan cerita dan Tanya Jawab pada hakekatnya disusun dalam bentuk Tanya Jawab dan dalam hal tertentu diselingi dengan bentuk cerita/pernyataan.1232 Tersangka dan atau saksi yang diperiksa harus dalam keadaan sehat. Oleh karena itu sebelum dimulainya pemeriksaan Penyidik terlebih dahulu menanyakan kesehatan tersangka/saksi serta kesediaannya untuk diperiksa.1233 V.2.2.5.13 Pemeriksaan Alat Bukti Pemeriksaan alat bukti meliputi : a. b. c. d. e. saksi; ahli; surat; petunjuk; tersangka (disesuaikan dengan tingkatan pemeriksaan).1234

Lampiran SKEP Kabareskrim No.Pol. : SKEP/ 82/XII/2006/BARESKRIM tanggal 15 Desember 2006
1233 Lampiran SKEP Kabareskrim No.Pol. : SKEP/ 82/XII/2006/BARESKRIM tanggal 15 Desember 2006 1234

1232

Pasal 184 Ayat (1) KUHAP.

516 Ikhtisar Ketentuan AML & CFT

V.2.2.5.13.1 Pemeriksaan Saksi Saksi adalah orang yang dapat memberikan keterangan guna kepentingan penyidikan, penuntutan dan peradilan tentang suatu perkara pidana yang ia dengar sendiri, ia lihat sendiri dan ia alami sendiri.1235 Keterangan saksi adalah salah satu alat bukti dalam perkara pidana yang berupa keterangan dari saksi mengenai suatu peristiwa pidana yang ia dengar sendiri, ia lihat sendiri dan ia alami sendiri dengan menyebut alasan dari pengetahuannya itu.1236 Berita acara dibuat untuk setiap tindakan tentang : a. b. c. d. e. f. g. h. i. j. pemeriksaan tersangka; penangkapan; penahanan; penggeledahan; pemasukan rumah; penyitaan benda; pemeriksaan surat; pemeriksaan saksi; pemeriksaan di tempat kejadian; pelaksanaan penetapan dan putusan pengadilan; k. pelaksanaan tindakan lain sesuai dengan ketentuan dalam undangundang ini.1237 Berita acara dibuat oleh pejabat yang bersangkutan dalam melakukan tindakan tersebut pada ayat (1) dan dibuat atas kekuatan sumpah jabatan.1238
1235 1236 1237 1238

Pasal 1 angka 26 KUHAP. Pasal 1 angka 27 KUHAP. Pasal 75 ayat 1 KUHAP. Pasal 75 ayat 2 KUHAP.

Penegakan Hukum

517

Berita acara tersebut selain ditandatangani oleh pejabat tersebut pada ayat (2) ditandatangani pula oleh semua pihak yang terlibat dalam tindakan tersebut pada ayat (1).1239 Saksi diperiksa dengan tidak disumpah kecuali apabila ada cukup alasan untuk diduga bahwa ia tidak akan dapat hadir dalam pemeriksaan di pengadilan.1240 Saksi diperiksa secara tersendiri, tetapi boleh dipertemukan yang satu dengan yang lain dan mereka wajib memberikan keterangan yang sebenarnya.1241 Dalam pemeriksaan tersangka ditanya apakah ia menghendaki didengarnya saksi yang dapat menguntungkan baginya dan bilamana ada maka hal itu dicatat dalam berita acara.1242 Dalam hal sebagaimana dimaksud dalam ayat (3) penyidik wajib memanggil dan memeriksa saksi tersebut.1243 Keterangan tersangka dan atau saksi kepada penyidik diberikan tanpa tekanan dari siapa pun dan atau dalmn bentuk apapun.1244 Dalam hal tersangka memberi keterangan tentang apa yang sebenarnya ia telah lakukan sehubungan dengan tindak pidana yang dipersangkakan kepadanya, penyidik

1239 1240 1241 1242 1243 1244

Pasal 75 ayat 3 KUHAP. Pasal 116 Ayat (1) KUHAP. Pasal Ayat (2) 116 KUHAP. Pasal 116 Ayat (3) KUHAP. Pasal 116 Ayat (4) KUHAP. Pasal 117 Ayat (1) KUHAP.

518 Ikhtisar Ketentuan AML & CFT

mencatat dalam berita acara setelititelitinya sesuai dengan kata yang dipergunakan oleh tersangka sendiri.1245 Keterangan tersangka dan atau saksi dicatat dalam berita acara yang ditandatangani oleh penyidik dan oleh yang memberi keterangan itu setelah mereka menyetujui isinya.1246 Dalam hal tersangka dan atau saksi tidak mau membubuhkan tanda-tangannya, penyidik mencatat hal itu dalam berita acara dengan menyebut alasannya.1247 Dalam hal tersangka dan atau saksi yang harus didengar keterangannya berdiam atau bertempat tinggal di luar daerah hukum penyidik yang menjalankan penyidikan, pemeriksaan terhadap tersangka dan atau saksi dapat dibebankan kepada penyidik di tempat kediaman atau tempat tinggal tersangka dan atau saksi tersebut.1248 V.2.2.5.13.2 Pemeriksaan Ahli Keterangan ahli adalah keterangan yang diberikan oleh seorang yang memiliki keahlian khusus tentang hal yang diperlukan untuk membuat terang suatu perkara pidana guna kepentingan pemeriksaan.1249 Berita acara tersebut selain ditandatangani oleh pejabat tersebut pada ayat (2) ditandatangani pula oleh

1245 1246 1247 1248 1249

Pasal 117 Ayat (2) KUHAP. Pasal 118 Ayat (1) KUHAP. Pasal 118 Ayat (2) KUHAP. Pasal 119 KUHAP. Pasal 1 angka 28 KUHAP.

Penegakan Hukum

519

semua pihak yang terlibat dalam tindakan tersebut pada ayat (1).1250 Dalam hal penyidik menganggap perlu, ia dapat minta pendapat orang ahli atau orang yang memiliki keahlian khusus1251 Ahli tersebut mengangkat sumpah atau mengucapkan janji di muka penyidik bahwa ia akan memberi keterangan menurut pengetahuannya yang sebaikbaiknya kecuali bila disebabkan karena harkat serta martabat, pekerjaan atau jabatannya yang mewajibkan ia menyimpan rahasia dapat menolak untuk memberikan keterangan yang diminta.1252 V.2.2.5.13.3 Pemeriksaan Surat Penyidik berhak membuka, memeriksa dan menyita surat lain yang dikirim melalui kantor pos dan. telekemunikasi, jawatan atau perusahaan komunikasi atau pengangkutan jika benda tersebut dicurigai dengan alasan yang kuat mempunyai hubungan dengan perkara pidana yang sedang diperiksa, dengan izin khusus yang diberikan untuk itu dari ketua pengadilan negeri.1253 Untuk kepentingan tersebut penyidik dapat meminta kepada kepala kantor pos dan telekomunikasi, kepala jawatan atau perusahaan komunikasi atau pengangkutan lain untuk menyerahkan kepadanya surat yang dimaksud dan untuk itu harus diberikan surat tanda
1250 1251 1252 1253

Pasal 75 Ayat (3) KUHAP. Pasal 120 Ayat (1) KUHAP. Pasal 120 Ayat (2) KUHAP. Pasal 47 Ayat (1) KUHAP.

520 Ikhtisar Ketentuan AML & CFT

penerimaan.1254 Hal sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dan ayat (2) pasal ini, dapat dilakukan pada semua tingkat pemeriksaan dalam proses peradilan menurut ketentuan yang diatur dalam ayat tersebut.1255 Berita acara dan surat lain dalam bentuk resmi yang dibuat oleh pejabat umum yang berwenang atau yang dibuat di hadapannya, yang memuat keterangan tentang kejadian atau keadaan yang didengar, dilihat atau yang dialaminya sendiri, disertai dengan alasan yang jelas dan tegas tentang keterangannya itu;1256 Surat yang dibuat menurut ketentuan peraturan perundang-undangan atau surat yang dibuat oleh pejabat mengenai hal yang termasuk dalam tata laksana yang menjadi tanggung jawabnya dan yang diperuntukkan bagi pembuktian sesuatu hal atau sesuatu keadaan;1257 Surat keterangan dari seorang ahli yang memuat pendapat berdasarkan keahliannya mengenai sesuatu hal atau sesuatu keadaan yang diminta secara resmi dari padanya;1258 Surat lain yang hanya dapat berlaku jika ada hubungannya dengan isi dari alat pembuktian yang lain.1259

1254 1255 1256 1257 1258 1259

Pasal 47 Ayat (2) KUHAP. Pasal 47 Ayat (2) KUHAP. Pasal 187 angka a KUHAP. Pasal 187 angka b KUHAP. Pasal 187 angka c KUHAP. Pasal 187 angka d KUHAP.

Penegakan Hukum

521

Dokumen sebagaimana dimaksud dalam Pasal 1 angka 16. 1260 V.2.2.5.13.4 Alat Bukti Lain Alat bukti lain berupa informasi yang diucapkan, dikirimkan, diterima, atau disimpan secara elektronik dengan alat optik atau yang serupa dengan optik dan Dokumen;1261 Dokumen adalah data, rekaman, atau informasi yang dapat dilihat, dibaca, dan/atau didengar, yang dapat dikeluarkan dengan atau tanpa bantuan suatu sarana, baik yang tertuang di atas kertas atau benda fisik apa pun selain kertas maupun yang terekam secara elektronik, termasuk tetapi tidak terbatas pada: a. tulisan, suara, atau gambar; b. peta, rancangan, foto, atau sejenisnya; c. huruf, tanda, angka, simbol, atau perforasi yang memiliki makna atau dapat dipahami oleh orang yang mampu membaca atau memahaminya.1262 V.2.2.5.13.5 Petunjuk Petunjuk adalah perbuatan, kejadian atau keadaan, yang karena persesuaiannya, baik antara yang satu dengan yang lain, maupun dengan tindak pidana itu sendiri, menandakan bahwa telah terjadi
1260 Pasal 73 huruf b Undang-Undang RI No. 8 Tahun 2010 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang. 1261 Pasal 73 huruf b Undang-Undang RI No. 8 Tahun 2010 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang. 1262 Pasal 1 angka 16 Undang-Undang RI No. 8 Tahun 2010 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang.

522 Ikhtisar Ketentuan AML & CFT

suatu tindak pidana dan siapa pelakunya.1263 Petunjuk sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) hanya dapat diperoleh dari : a. keterangan saksi; b. surat; c. keterangan terdakwa.1264 Penilaian atas kekuatan pembuktian dari suatu petunjuk dalam setiap keadaan tertentu dilakukan oleh hakim dengan arif lagi bidjaksana setelah ia mengadakan pemeriksaan dengan penuh kecermatan dan kesaksamaan berdasarkan hati nuraninya.1265 V.2.2.5.13.6 Pemeriksaan Tersangka Tersangka adalah seorang yang karena perbuatannya atau keadaannya berdasarkan bukti permulaan patut diduga sebagai pelaku tindak pidana.186 Tersangka berhak segera mendapat pemeriksaan oleh penyidik dan selanjutnya dapat diajukan kepada penuntut umum.1267 Tersangka berhak perkaranya segera dimajukan ke pengadilan oleh penuntut umum.1268 Terdakwa berhak segera diadili oleh pengadilan.1269

1263 1264 1265 1266 1267 1268 1269

Pasal 188 Ayat (1) KUHAP. Pasal 188 Ayat (2) KUHAP. Pasal 188 Ayat (3) KUHAP. Pasal 1 butir 14 KUHAP. Pasal 50 Ayat (1) KUHAP. Pasal 50 Ayat (2) KUHAP. Pasal 50 Ayat (3) KUHAP.

Penegakan Hukum

523

Untuk mempersiapkan pembelaan : a. tersangka berhak untuk diberitahukan dengan jelas dalam bahasa yang dimengerti olehnya tentang apa yang disangkakan kepadanya pada waktu pemeriksaan dimulai; b. terdakwa berhak untuk diberitahukan dengan jelas dalam bahasa yang dimengerti olehnya tentang apa yang didakwakan kepadanya.1270 Dalam pemeriksaan pada tingkat penyidikan dan pengadilan, tersangka atau terdakwa berhak memberikan keterangan secara bebas keapada penyidik atau hakim.1271 Dalam pemeriksaan pada tingkat penyidikan dan pengadilan, tersangka atau terdakwa berhak untuk setiap waktu mendapat bantuan juru bahasa sebagaimana dimaksud dalam Pasal 177.1272 Dalam hal tersangka atau terdakwa bisu dan atau tuli diberlakukan ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 178.1273 Guna kepentingan pembelaan, tersangka atau terdakwa berhak mendapat bantuan hukum dari seorang atau lebih penasihat hukum selama dalam waktu dan pada setiap tingkat

1270 1271 1272 1273

Pasal 51 KUHAP. Pasal 52 KUHAP. Pasal 53 Ayat (1) KUHAP. Pasal 53 Ayaat (3) KUHAP.

524 Ikhtisar Ketentuan AML & CFT

pemeriksaan, menurut tatacara yang ditentukan dalam undang-undang ini.1274 Untuk mendapatkan penasihat hukum tersebut dalam Pasal 54, tersangka atau terdakwa berhak memilih sendiri penasihat hukumnya.1275 Dalam hal tersangka atau terdakwa disangka atau didakwa melakukan tindak pidana yang diancam dengan pidana mati atau ancaman pidana lima belas tahun atau lebih atau bagi mereka yang tidak mampu yang diancam dengan pidana lima tahun atau lebih yang tidak mempunyai penasihat hukum sendiri, pejabat yang bersangkutan pada semua tingkat pemeriksaan dalam proses peradilan wajib menunjuk penasihat hukum bagi mereka.1276 Setiap penasihat hukum yang ditunjuk untuk bertindak sebagaimana dimaksud dalam ayat (1), memberikan bantuannya dengan cuma-cuma.1277 Tersangka atau terdakwa yang dikenakan penahanan berhak menghubungi penasihat hukumnya sesuai dengan ketentuan undang-undang ini.1278 Tersangka atau terdakwa yang berkebangsaan asing yang dikenakan penahanan berhak menghubungi dan berbicara dengan perwakilan negaranya

1274 1275 1276 1277 1278

Pasal 54 KUHAP. Pasal 55 KUHAP. Pasal 56 Ayat (1) KUHAP. Pasal 56 Ayat (2) KUHAP. Pasal 57 Ayat (1) KUHAP.

Penegakan Hukum

525

dalam menghadapi proses perkaranya.1279 Tersangka atau terdakwa yang dikenakan penahanan berhak menghubungi dan menerima kunjungan dokter pribadinya untuk kepentingan kesehatan baik yang ada hubungannya dengan proses perkara maupun tidak.1280 Tersangka atau terdakwa yang dikenakan penahanan berhak diberitahukan tentang penahanan atas dirinya oleh pejabat yang berwenang, pada semua tingkat pemeriksaan dalam proses peradilan, kepada keluarganya atau orang lain yang serumah dengan tersangka atau terdakwa ataupun orang lain yang bantuannya dibutuhkan oleh tersangka atau terdakwa untuk mendapatkan bantuan hukum atau jaminan bagi penangguhannya.1281 Tersangka atau terdakwa berhak menghubungi dan menerima kunjungan dari pihak yang mempunyai hubungan kekeluargaan atau lainnya dengan tersangka atau terdakwa guna mendapatkan jaminan bagi penangguhan penahanan ataupun untuk usaha mendapatkan bantuan hukum.1282 Tersangka atau terdakwa berhak secara langsung atau dengan perantaraan penasihat hukumnya menghubungi dan menerima kunjungan sanak keluarganya dalam hal yang tidak ada hubungannya
1279 1280 1281 1282

Pasal 57 Ayat (1) KUHAP. Pasal 58 KUHAP. Pasal 59 KUHAP. Pasal 60 KUHAP.

526 Ikhtisar Ketentuan AML & CFT

dengan perkara tersangka atau terdakwa untuk kepentingan pekerjaan atau untuk kepentingan kekeluargaan.1283 Tersangka atau terdakwa berhak mengirim surat kepada penasihat hukumnya, dan menerima surat dari penasihat hukumnya dan sanak keluarga setiap kali yang diperlukan olehnya, untuk keperluan itu bagi tersangka atau terdakwa disediakan alat tulis menulis.1284 Surat menyurat antara tersangka atau terdakwa dengan penasihat hukumnya atau sanak keluarganya tidak diperiksa oleh penyidik, penuntut umum, hakim atau pejabat rumah tahanan negara kecuali jika terdapat cukup alasan untuk diduga bahwa surat menyurat itu disalahgunakan.1285 Dalam hal surat untuk tersangka atau tedakwa itu ditilik atau diperiksa oleh penyidik, penuntut umum, hakim atau pejabat rumah tahanan negara, hal itu diberitahukan kepada tersangka atau terdakwa dan surat tersebut dikirim kembali kepada pengirimnya setelah dibubuhi cap yang berbunyi ”telah ditilik”.1286 Tersangka atau terdakwa berhak menghubungi dan menerima kunjungan dari rohaniwan.1287

1283 1284 1285 1286 1287

Pasal 61 KUHAP. Pasal 62 Ayat (1) KUHAP. Pasal 62 Ayat (2) KUHAP. Pasal 62 Ayat (3) KUHAP. Pasal 63 KUHAP.

Penegakan Hukum

527

Terdakwa berhak untuk diadi!i di sidang pengadilan yang terbuka untuk umum.1288 Tersangka atau terdakwa berhak untuk mengusahakan dan mengajukan saksi dan atau seseorang yang memiliki keahlian khusus guna memberikan keterangan yang menguntungkan bagi dirinya.1289 Dalam hal penyidik sedang melakukan pemeriksaan terhadap tersangka, penasihat hukum dapat mengikuti jalannya pemeriksaan dengan cara melihat serta mendengar pemeriksaan.1290 Keterangan tersangka dan atau saksi kepada penyidik diberikan tanpa tekanan dari siapa pun dan atau dalmn bentuk apapun.1291 Dalam hal tersangka memberi keterangan tentang apa yang sebenarnya ia telah lakukan sehubungan dengan tindak pidana yang dipersangkakan kepadanya, penyidik mencatat dalam berita acara setelititelitinya sesuai dengan kata yang dipergunakan oleh tersangka sendiri.1292 Keterangan tersangka dan atau saksi dicatat dalam berita acara yang ditandatangani oleh penyidik dan oleh yang memberi keterangan itu setelah mereka menyetujui isinya.1293
1288 1289 1290 1291 1292 1293

Pasal 64 KUHAP. Pasal 65 KUHAP. Pasal 115 ayat (1) KUHAP. Pasal 117 Ayat (1) KUHAP. Pasal 117 Ayat (2) KUHAP. Pasal 118 Ayat (1) KUHAP.

528 Ikhtisar Ketentuan AML & CFT

Dalam hal tersangka dan atau saksi tidak mau membubuhkan tanda-tangannya, penyidik mencatat hal itu dalam berita acara dengan menyebut alasannya.1294 Dalam hal tersangka dan atau saksi yang harus didengar keterangannya berdiam atau bertempat tinggal di luar daerah hukum penyidik yang menjalankan penyidikan, pemeriksaan terhadap tersangka dan atau saksi dapat dibebankan kepada penyidik di tempat kediaman atau tempat tinggal tersangka dan atau saksi tersebut.1295 V.2.2.5.13.7 Konfrontasi dan rekonstruksi1296 1) Apabila dalam pemeriksaan, antara tersangka yang satu dengan tersangka yang lain, antara tersangka dengan saksi maupun antara saksi dengan saksi yang lain terdapat pertentangan atau ketidak cocokan keterangan yang diberikan kepada pemeriksa, maka bila dipandang perlu diadakan konfrontasi. 2) Demikian pula halnya untuk perkara tertentu, apabila dipandang perlu dalam pembuktiannya dapat dilakukan rekonstruksi. 3) Pelaksanaan Konfrontasi dan rekonstruksi: (a) Konfrontasi (1) Maksud
1294 1295

diadakannya

Pasal 118 Ayat (2) KUHAP. Pasal 119 KUHAP.

1296 Lampiran SKEP Kabareskrim No.Pol. : SKEP/82/XII/2006/BARESKRIM tanggal 15 Desember 2006.

Penegakan Hukum

529

konfrontasi ialah untuk mencari persesuaian diantara beberapa keterangan yang berasal baik dari tersangka maupun saksi dengan tujuan mendapatkan kepastian manakah diantara keteranganketerangan tersebut yang benar atau paling mendekati kebenaran. (2) cara melakukan konfrontasi i. Langsung Te r s a n g k a / p a r a tersangka dan atau saksi/para saksi yang keterangannya saling tidak ada kecocokan atau tidak terdapat persesuaian satu sama lain, dipertemukan satu sama lain dihadapan pemeriksa guna diuji manakah diantara keteranganketerangan tersebut yang benar atau paling mendekati kebenaran. ii. Tidak Langsung Te r s a n g k a / o r a n g yang dicari dicampur dengan beberapa orang (3 orang atau lebih) yang belum dikenal oleh saksi, berdiri atau duduk

530 Ikhtisar Ketentuan AML & CFT

berjajar dan masingmasing diberi nomor, ditempatkan didalam suatu ruangan yang dapat dilihat saksi. Sedangkan saksi bersama pemeriksa berada di luar ruangan tersebut, dapat melihat orang-orang tersebut. Manakah yang dimaksudkan dalam keterangannya tersebut, cara ini biasa disebut dengan link up. iii. Hasil konfrontasi supaya dituangkan dalam Berita Acara Konfrontasi. (b) Rekonstruksi (1) Maksud diadakannya rekonstruksi ialah untuk memberikan gambaran tentang terjadinya suatu tindak pidana dengan jalan memperagakan kembali cara tersangka melakukan tindak pidana dengan tujuan untuk lebih meyakinkan kepada pemeriksa tentang kebenaran keterangan tersangka atau saksi. (2) Rekonstruksi dapat dilakukan di tempat kejadian perkara (TKP). (3) Setiap peragaan perlu

Penegakan Hukum

531

diambil foto-fotonya dan jalannya peragaan dituangkan dalam Berita Acara. (4) Hasil rekonstruksi agar dianalisa terutama pada bagian-bagian yang sama dan berbeda dengan isi Berita Acara Pemeriksaan. V.2.2.5.13.8 Evaluasi Hasil Pemeriksaan1297 a) Agar memperoleh keterangan, petunjuk-petunjuk, bukti-bukti, data yang cukup dan benar, maka hasil pemeriksaan Tersangka/Saksi/Ahli yang dituangkan dalam Berita Acara Pemeriksaan baik secara sendirisendiri maupun secara keseluruhan dievaluasi guna mengembangkan dan mengarahkan pemeriksaan berikutnya ataupun untuk membuat suatu kesimpulan dari pemeriksaan sebagai salah satu kegiatan penyidikan yang dilakukan. Adapun proses dari evaluasi meliputi tahap-tahap sebagai berikut: (1) Tahap Inventarisasi Penyidik/Penyidik Pembantu berusaha menarik dan mengumpulkan semua keterangan-keterangan yang benar-benar yang mengarah kepada unsur-unsur Pasal tindak pidana sebanyak mungkin.
1297 Lampiran SKEP Kabareskrim No.Pol. : SKEP/ 82/XII/2006/BARESKRIM tanggal 15 Desember 2006.

532 Ikhtisar Ketentuan AML & CFT

(2) Tahap Seleksi Dari keterangan-keterangan yang telah dikumpulkan tersebut kemudian diseleksi untuk mencari keteranganketerangan yang ada relevansinya dengan peristiwa pidana yang terjadi dan mempunyai hubungan yang logis. (3) Tahap Pengkajian a) Dari keterangan-keterangan yang telah diseleksi tersebut penyidik/penyidik pembantu mengkaji, dan menguji kebenarannya dengan bukti-bukti serta petunjuk-petunjuk yang ada, sehingga dapat ditarik suatu kesimpulan apakah keterangan tersebut betulbetul dapat dipercaya, dengan cara: (1) Menilai adanya persesuaian untuk keterangan saksi. (2) Menilai adanya persesuaian keterangan saksi dengan keterangan ahli dan bukti yang ada. (3) Adanya alasan yang logis dari setiap keterangan saksi. b) Setelah diperoleh gambaran atau konstruksi perkara pidanya secara

Penegakan Hukum

533

bulat, maka dapat diketahui: (1) Bahwa benar peristiwa tindak pidana telah terjadi. (2) Peranan dari masingmasing tersangka yang terlibat. (3) Siapa-siapa saksinya, baik yang menguntungkan maupun yang merugikan. (4) Barang/benda yang menjadi barang bukti. c) Dari hasil-hasil evaluasi tersebut, penyidik/ penyidik pembantu dapat menyusun resume. V.2.2.5.14 Permintaan keterangan kepada PPATK (berdasarkan informasi PPATK maupun hasil penyidikan) (1) Dalam melakukan pencegahan dan pemberantasan tindak pidana pencucian uang, PPATK dapat melakukan kerja sama pertukaran informasi berupa permintaan, pemberian, dan penerimaan informasi dengan pihak, baik dalam lingkup nasional maupun internasional, yang meliputi: a. instansi penegak hukum; b. lembaga yang berwenang melakukan pengawasan terhadap penyedia jasa keuangan; c. lembaga yang bertugas memeriksa pengelolaan dan

534 Ikhtisar Ketentuan AML & CFT

tanggung jawab keuangan negara; d. lembaga lain yang terkait dengan pencegahan dan pemberantasan tindak pidana pencucian uang atau tindak pidana lain terkait dengan tindak pidana pencucian uang; dan e. financial intelligence unit negara lain. (2) Permintaan, pemberian, dan penerimaan informasi dalam pertukaran informasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat dilakukan atas inisiatif sendiri atau atas permintaan pihak yang dapat meminta informasi kepada PPATK. (3) Permintaan informasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) kepada PPATK diajukan secara tertulis dan ditandatangani oleh: a. hakim ketua majelis; b. Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia atau kepala kepolisian daerah. c. Jaksa Agung atau kepala kejaksaan tinggi; d. pimpinan instansi atau lembaga atau komisi dalam hal permintaan diajukan oleh penyidik, selain penyidik Kepolisian Negara Republik Indonesia; e. pemimpin, direktur atau pejabat yang setingkat, atau pemimpin satuan kerja atau kantor di lembaga yang berwenang melakukan pengawasan

Penegakan Hukum

535

f.

terhadap penyedia jasa keuangan; pimpinan lembaga yang bertugas memeriksa pengelolaan dan tanggung jawab keuangan negara;

g. pimpinan dari lembaga lain yang terkait dengan pencegahan dan pemberantasan tindak pidana pencucian uang atau tindak pidana lain terkait dengan tindak pidana pencucian uang; atau h. pimpinan financial intelligence unit negara lain.1298 Tata cara penyampaian informasi, jenis informasi, dan pihak-pihak yang dapat menerima informasi ditetapkan dengan Keputusan Kepala PPATK.1299 Informasi adalah keterangan yang meliputi data keuangan, harta kekayaan, dan keadaan diri setiap orang serta keterangan lainnya yang menurut sifatnya wajib dirahasiakan.1300 Financial Intelligence Unit yang selanjutnya disebut FIU adalah lembaga pemerintahan suatu negara yang mempunyai tugas pokok menerima Informasi terkait dengan transaksi atau harta kekayaan yang mencurigakan, melakukan analisis dan meneruskan hasil analisis yang berindikasi tindak
1298 Pasal 90 Undang-Undang RI No. 8 Tahun 2010 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang. 1299 Pasal 15 ayat (3) Keputusan Presiden RI 82 Tahun 2004 tentang Tata Cara Pelaksanaan Kewenangan Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan. 1300 Pasal 1 angka 2 Peraturan Kepala PPATK No. PER-09/1.02.1/11/2009 tentang Tata Cara Pertukaran Informasi.

536 Ikhtisar Ketentuan AML & CFT

pidana pencucian uang dan/atau pendanaan kegiatan terorisme dalam rangka pencegahan dan pemberantasan tindak pidana pencucian uang serta pendanaan kegiatan terorisme berdasarkan peraturan perundangundangan suatu negara.1301 Dalam rangka pelaksanaan fungsi, tugas dan wewenangnya, PPATK dapat meminta Informasi kepada penegak hukum, lembaga lain, dan FIU negara lain.1302 Permintaan Informasi disampaikan oleh Kepala PPATK atau pejabat lain yang ditunjuk.1303 Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara permintaan Informasi sebagaimana dimaksdu pada ayat (1) dan ayat (2) diatur dalam Standar Prosedur Operasi yang ditetapkan dengan Peraturan Kepala PPATK.1304 Sumber Informasi yang digunakan PPATK dalam memberikan Informasi berasal dari: a. Penyedia Jasa Keuangan dalam bentuk laporan transaksi keuangan mencurigakan dan laporan transaksi keuangan tunai; b. Direktorat Jenderal Bea dan Cukai

1301 Pasal 1 angka 4 Peraturan Kepala PPATK No. PER-09/1.02.1/11/2009 tentang Tata Cara Pertukaran Informasi. 1302 Pasal 3 ayat (1) Peraturan Kepala PPATK No. PER-09/1.02.1/11/2009 tentang Tata Cara Pertukaran Informasi. 1303 Pasal 3 ayat (2) Peraturan Kepala PPATK No. PER-09/1.02.1/11/2009 tentang Tata Cara Pertukaran Informasi. 1304 Pasal 3 ayat (3) Peraturan Kepala PPATK No. PER-09/1.02.1/11/2009 tentang Tata Cara Pertukaran Informasi.

Penegakan Hukum

537

dalam bentuk laporan pembawaan uang tunai; c. hasil audit kepatuhan; d. Informasi publik dalam media cetak dan elektronik; dan/atau e. Informasi dari pihak lain.1305 Pihak lain sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf e, meliputi: a. instansi penegak hukum; b. lembaga yang berwenang melakukan pengawasan terhadap Penyedia Jasa Keuangan; 226 c. Penyedia Jasa Keuangan; d. lembaga yang bertugas memeriksa pengelolaan dan tanggung jawab keuangan negara; e. lembaga lainnya; f. orang perseorangan; dan g. FIU negara lain.1306 Pihak-pihak yang dapat meminta Informasi kepada PPATK meliputi: a. instansi penegak hukum; b. lembaga yang berwenang melakukan pengawasan terhadap Penyedia Jasa Keuangan; c. lembaga yang bertugas memeriksa pengelolaan dan tanggung jawab keuangan negara; d. lembaga lainnya yang terkait dengan pencegahan dan pemberantasan tindak pidana pencucian uang atau tindak pidana lain terkait dengan tindak pidana pencucian uang; dan

1305 Pasal 4 ayat (1) Peraturan Kepala PPATK No. PER-09/1.02.1/11/2009 tentang Tata Cara Pertukaran Informasi. 1306 Pasal 4 ayat (2) Peraturan Kepala PPATK No. PER-09/1.02.1/11/2009 tentang Tata Cara Pertukaran Informasi.

538 Ikhtisar Ketentuan AML & CFT

e.

FIU negara lain.1307

Pihak-pihak yang dapat menerima Informasi dari PPATK meliputi: a. instansi penegak hukum; b. lembaga yang berwenang melakukan pengawasan terhadap PJK; c. lembaga yang bertugas memeriksa pengelolaan dan tanggung jawab keuangan negara; d. lembaga lainnya yang terkait dengan pencegahan dan pemberantasan tindak pidana pencucian uang atau tindak pidana lain terkait dengan tindak pidana pencucian uang; dan e. FIU negara lain.1308 PPATK dapat memberikan Informasi yang diminta oleh pihak-pihak sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5 huruf a sampai dengan huruf d.1309 Pengajuan permintaan Informasi kepada PPATK harus memenuhi syarat-syarat sebagai berikut : a. permintaan diajukan secara tertulis dan ditandatangani oleh: 1) Hakim Ketua Majelis yang menangani perkara; 2) Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia, Kepala Badan Reserse Kriminal, Kepala Kepolisian Daerah, atau pejabat
Pasal 5 Peraturan Kepala PPATK No. PER-09/1.02.1/11/2009 tentang Tata Cara Pertukaran Informasi.
1308 Pasal 6 Peraturan Kepala PPATK No. PER-09/1.02.1/11/2009 tentang Tata Cara Pertukaran Informasi. 1309 Pasal 7 ayat (1) Peraturan Kepala PPATK No. PER-09/1.02.1/11/2009 tentang Tata Cara Pertukaran Informasi. 1307

Penegakan Hukum

539

3)

4) 5)

6)

7)

setingkat direktur yang terkait dengan penanganan perkara; Jaksa Agung Republik Indonesia, Jaksa Agung Muda, pejabat setingkat direktur di Kejaksaan Agung, Kepala Kejaksaan Tinggi, atau pejabat setingkat Asisten Kejaksaan Tinggi yang terkait dengan penanganan perkara; Pimpinan Komisi Pemberantasan Korupsi; Pimpinan, pejabat setingkat direktur, atau pimpinan satuan kerja atau kantor di lembaga yang berwenang melakukan pengawasan terhadap PJK; Pimpinan lembaga yang bertugas memeriksa pengelolaan dan tanggung jawab keuangan negara; atau Pimpinan dari lembaga lainnya yang terkait dengan pencegahan dan pemberantasan tindak pidana pencucian uang atau tindak pidana lain terkait dengan tindak pidana pencucian uang.

b. permintaan Informasi harus mencantumkan: 1) identitas, nomor rekening nasabah dan/atau nama PJK; 2) tujuan dan alasan permintaan Informasi; 3) periode waktu dari Informasi yang diminta; 4) kasus posisi; 5) hubungan Informasi yang diminta dengan pencegahan dan pemberantasan tindak

540 Ikhtisar Ketentuan AML & CFT

pidana pencucian uang atau tindak pidana lain yang terkait dengan tindak pidana pencucian uang; dan 6) pernyataan untuk menjaga kerahasiaan Informasi dan menggunakan Informasi yang diterima sesuai dengan tujuan yang telah disetujui oleh PPATK.1310 Format permintaan Informasi sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf b tercantum dalam lampiran yang tidak terpisahkan dari Peraturan ini.1311 Ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf b dikecualikan bagi lembaga yang berwenang melakukan pengawasan terhadap PJK.1312 Dalam hal persyaratan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7 ayat (2) huruf b angka 5 tidak terpenuhi, PPATK dapat memberikan Informasi apabila Informasi yang diminta: a. terkait dengan kasus yang menarik perhatian masyarakat; b. melibatkan penyelenggara negara; c. menimbulkan kerugian negara; atau d. melibatkan transaksi dalam jumlah yang besar.1313

1310 Pasal 7 ayat (2) Peraturan Kepala PPATK No. PER-09/1.02.1/11/2009 tentang Tata Cara Pertukaran Informasi.

Pasal 7 ayat (3) Peraturan Kepala PPATK No. PER-09/1.02.1/11/2009 tentang Tata Cara Pertukaran Informasi.
1312 Pasal 7 ayat (3) Peraturan Kepala PPATK No. PER-09/1.02.1/11/2009 tentang Tata Cara Pertukaran Informasi.

1311

Pasal 8 ayat (1) Peraturan Kepala PPATK No. PER-09/1.02.1/11/2009 tentang Tata Cara Pertukaran Informasi.

1313

Penegakan Hukum

541

Pemberian Informasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) harus mendapatkan persetujuan dari Kepala PPATK setelah memperhatikan pertimbangan 1 (satu) orang Wakil Kepala PPATK.1314 Pertukaran Informasi dengan pihak luar negeri dilakukan oleh PPATK hanya dengan FIU negara lain.1315 Pertukaran Informasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan berdasarkan syarat-syarat dan prinsip umum yang berlaku secara internasional atau ketentuan yang diatur dalam nota kesepahaman.1316 Permintaan atau pemberian Informasi dibuat dalam bentuk tertulis atau dalam bentuk surat elektronis.1317 PPATK dapat meminta Informasi kepada FIU negara lain atas inisiatif sendiri atau dalam rangka memenuhi permintaan Informasi dari pihak lain sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 ayat (2) huruf a sampai dengan huruf f.1318 PPATK dapat memberi Informasi kepada FIU negara lain atas inisiatif sendiri atau dalam rangka memenuhi

Pasal 8 ayat (2) Peraturan Kepala PPATK No. PER-09/1.02.1/11/2009 tentang Tata Cara Pertukaran Informasi.
1315 Pasal 9 ayat (1) Peraturan Kepala PPATK No. PER-09/1.02.1/11/2009 tentang Tata Cara Pertukaran Informasi.

1314

Pasal 9 ayat (2) Peraturan Kepala PPATK No. PER-09/1.02.1/11/2009 tentang Tata Cara Pertukaran Informasi.
1317 Pasal 9 ayat (3) Peraturan Kepala PPATK No. PER-09/1.02.1/11/2009 tentang Tata Cara Pertukaran Informasi. 1318 Pasal 10 Peraturan Kepala PPATK No. PER-09/1.02.1/11/2009 tentang Tata Cara Pertukaran Informasi.

1316

542 Ikhtisar Ketentuan AML & CFT

permintaan Informasi FIU tersebut.1319 V.2.2.5.15 Pemberkasan Perkara Penyidik atas kekuatan sumpah jabatannya segera membuat berita acara yang diberi tanggal dan memuat tindak pidana yang dipersangkakan, dengan menyebut waktu, tempat dan keadaan pada waktu tindak pidana dilakukan, nama dan tempat tinggal dari tersangka dan atau saksi, keterangan mereka, catatan mengenai. akta dan atau benda serta segala sesuatu yang dianggap perlu untuk kepentingan penyelesaian perkara.1320 Penyidikan koneksitas 1. Penyidikan koneksitas dilakukan apabila tersangka terdiri dari anggota TNI dan masyarakat sipil; 2. Penyidikannya dilakukan bersamasama oleh Penyidik Polri, Polisi Militer dan Oditur Militer atau Oditur Militer Tinggi; 3. Tim Penyidik tersebut dibentuk dengan Surat Keputusan bersama Menteri Pertahanan dan Keamanan dan Menteri Kehakiman; 4. Untuk menetapkan Pengadilan Militer atau Pengadilan dalam lingkungan Peradilan Umum yang berhak menangani perkara itu, dilakukan penelitian bersama oleh Jaksa atau Jaksa Tinggi dan Oditur Militer atau Oditur Militer Tinggi berdasarkan berkas hasil Penyidikan koneksitas;
Pasal 11 Peraturan Kepala PPATK No. PER-09/1.02.1/11/2009 tentang Tata Cara Pertukaran Informasi.
1320 1319

Pasal 121 KUHAP.

Penegakan Hukum

543

5. Pendapat tersebut dituangkan dalam Berita Acara, untuk selanjutnya dilaporkan oleh Jaksa atau Jaksa Tinggi kepada Jaksa Agung dan oleh Oditur Militer atau Oditur Militer Tinggi kepada Oditur Jenderal TNI.1321 Pemberkasan merupakan kegiatan menyusun hasil penyidikan dalam bentuk tulisan dengan susunan dan syarat-syarat pengikatan, penjilidan serta penyegelan.1322 V.2.2.5.16 Penyerahan Berkas Perkara Dalam hal penyidik telah selesai melakukan penyidikan, penyidik wajib segera menyerahkan berkas perkara itu kepada penuntut umum.1323 Penyerahan Berkas Perkara merupakan kegiatan pengiriman Berkas Perkara berikut penyerahan tanggung jawab atas tersangka dan barang buktinya kepada Penuntut Umum yang dilakukan dalam dua tahap sebagai berikut: a) Pada tahap pertama, penyidik hanya menyerahkan Berkas Perkara. b) Tahap kedua, penyidik menyerahkan tanggung jawab tersangka dan barang buktinya kepada Penuntut Umum/setelah berkas perkara dinyatakan lengkap oleh Penuntut Umum. c) Apabila dalam waktu 14 hari berkas perkara tidak dikembalikan oleh
1321 1322

Pasal 89 sampai dengan Pasal 94 KUHAP.

Lampiran SKEP Kabareskrim No.Pol. : SKEP/82/XII/2006/BARESKRIM tanggal 15 Desember 2006
1323

Pasal 110 ayat (1) KUHAP.

544 Ikhtisar Ketentuan AML & CFT

Penuntut Umum, maka penyidikan dianggap selesai dan penyidik menyerahkan tanggung jawab tersangka dan barang buktinya kepada Penuntut Umum.1324 Di dalam surat pengantar pengiriman Berkas Perkara kepada Penuntut Umum agar dicantumkan permintaan: (1) Dalam hal Penuntut Umum menghentikan penuntutan, Surat Ketetapan mengenai Hal itu disampaikan kepada Penyidik. (2) Dalam hal Penuntut Umum melimpahkan perkara ke Pengadilan Negeri turunan surat pelimpahan perkara beserta dakwaan disampaikan kepada Penyidik. (3) Dalam hal Penuntut Umum mengubah surat dakwaan, disampaikan kepada Penyidik. V.2.2.5.17 Penghentian Penyidikan Dalam hal penyidik menghentikan penyidikan karena tidak terdapat cukup bukti atau peristiwa tersebut ternyata bukan merupakan tindak pidana atau penyidikan dihentikan demi hukum, maka penyidik memberitahukan hal itu kepada penuntut umum, tersangka atau keluarganya.1325 Dalam hal penghentian tersebut pada ayat (2) dilakukan oleh penyidik sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6 ayat (1) huruf b, pemberitahuan mengenai hal itu segera disampaikan
1324 Lampiran SKEP Kabareskrim No.Pol. : SKEP/82/XII/2006/BARESKRIM tanggal 15 Desember 2006 1325

Pasal 109 Ayat (2) KUHAP.

Penegakan Hukum

545

kepada penyidik dan penuntut umum.1326 Penghentian Penyidikan merupakan salah satu kegiatan penyelesaian perkara yang dilakukan apabila: a) Tidak terdapat cukup bukti. b) Peristiwa tersebut bukan merupakan tindak pidana. c) Demi hukum karena: (1) Tersangka meninggal dunia. (2) Tuntutan tindak pidana telah kadaluarsa. (3) Pengaduan dicabut bagi delik aduan. (4) Ne bis en Idem (Tindak Pidana tersebut telah memperoleh putusan Hakim yang mempunyai kekuatan hukum yang tetap dan pasti). d) Dalam hal penghentian penyidikan, berkas perkara tidak diserahkan kepada Penuntut Umum, tetapi Penyidik/Penyidik pembantu wajib mengirimkan Surat Pemberitahuan Penghentian Penyidikan kepada Penuntut Umum, tersangka dan pelapor. Dalam hal penghentian penyidikan dinyatakan tidak sah oleh putusan Pra peradilan dan atau ditemukan bukti baru maka penyidik harus melanjutkan penyidikan kembali dengan menerbitkan Surat Ketetapan Pencabutan Penghentian Penyidikan dan Surat Perintah Penyidikan Lanjutan.1327
1326 1327

Pasal 109 Ayat (3) KUHAP.

Lampiran SKEP Kabareskrim No.Pol. : SKEP/82/XII/2006/BARESKRIM tanggal 15 Desember 2006

546 Ikhtisar Ketentuan AML & CFT

V.3

Penyidikan oleh Kejaksaan Bahwa kewenangan melakukan Penyelidikan terhadap atau untuk Tindak Pidana, bagi Penyidik Kejaksaan didasarkan pada Pasal 30 Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2004 tentang Kejaksaan Republik Indonesia. Selanjutnya dasar hukum untuk melaksanakan Penyidikan untuk Tindak Pidana Pencucian Uang yang berasal dari tindak pidana yang penyidikannya ditangani oleh Penyidik Kejaksaan merujuk pada Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2004 tentang Kejaksaan Republik Indonesia dan selebihnya mengacu pada KUHAP. Penyidikan, penuntutan, dan pemeriksaan di sidang pengadilan serta pelaksanaan putusan yang telah memperoleh kekuatan hukum tetap terhadap tindak pidana sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang ini dilakukan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan, kecuali ditentukan lain dalam Undang-Undang ini.1328 (1) Dibidang pidana, kejaksaan mempunyai tugas dan wewenang: a. Melakukan penuntutan; b. Melaksanakan penetapan hakim dan putusan pengadilan yang telah memperoleh kekuatan hukum tetap; c. Melakukan pengawasan terhadap pelaksanaan putusan pidana bersyarat, putusan pidana pengawasan, dan keputusan lepas bersyarat; d. Melakukan penyelidikan terhadap tindak pidana tertentu berdasarkan undang-undang; e. Melengkapi berkas perkara tertentu dan untuk itu dapat melakukan pemeriksaan tambahan sebelum dilimpahkan ke pengadilan yang dalam pelaksanaannya dikoordinasikan dengan penyidik. (2) Di bidang perdata dan tata usaha negara, kejaksaan dengan kuasa khusus dapat bertindak baik di dalam maupun di luar pengadilan untuk dan atas nama negara atau pemerintah. (3) Dalam bidang ketertiban dan ketentraman umum, kejaksaan turut meyelenggarakan kegiatan: a. Peningkatan kesadaran hukum masyarakat; b. Pengamanan kebijakan penegakan hukum;

1328 Pasal 68 Undang-Undang RI No. 8 Tahun 2010 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang.

Penegakan Hukum

547

c. Pengawasan peredaran barang cetakan; d. Pengawasan kepercayaan yang dapat membahayakan masyarakat dan negara; e. Pencegahan penyalahgunaan dan/atau penodaan agama; f. Penelitian dan pengembangan hukum serta statik kriminal.1329 V.4 Penyidikan oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Bahwa kewenangan melakukan Penyelidikan terhadap atau untuk Tindak Pidana Korupsi, bagi Penyidik KPK didasarkan pada Pasal 6 Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2002 tentang Komisi Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi. Selanjutnya dasar hukum untuk melaksanakan Penyidikan untuk Tindak Pidana Pencucian Uang yang berasal dari tindak pidana Korupsi yang penyidikannya ditangani oleh Penyidik KPK merujuk pada Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2002 tentang Komisi Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi, UndangUndang Nomor 20 Tahun 2001 tentang Perubahan Atas UndangUndang Nomor 31 Tahun 1999 Tentang Pemberantasan Tindak 3 Pidana Korupsi dan selebihnya mengacu pada KUHAP. Penyidikan, penuntutan, dan pemeriksaan di sidang pengadilan serta pelaksanaan putusan yang telah memperoleh kekuatan hukum tetap terhadap tindak pidana sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang ini dilakukan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan, kecuali ditentukan lain dalam Undang-Undang ini.1330 Segala kewenangan yang berkaitan dengan penyelidikan, penyidikan, dan penuntutan yang diatur dalam Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1981 tentang Hukum Acara Pidana berlaku juga bagi penyelidik, penyidik, dan penuntut umum pada Komisi Pemberantasan Korupsi.1331 Ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7 ayat (2) UndangUndang Nomor 8 Tahun 1981 tentang Hukum Acara Pidana tidak berlaku bagi penyidik tindak pidana korupsi sebagaimana ditentukan dalam Undang-Undang ini.1332

1329 1330

Pasal 30 Undang-Undang RI No. 16 Tahun 2004 tentang Kejaksaan Republik Indonesia.

Pasal 68 Undang-Undang RI No. 8 Tahun 2010 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang.
1331 Pasal 38 ayat (1) Undang-Undang RI No. 30 Tahun 2002 tentang Komisi Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi. 1332 Pasal 38 ayat (2) Undang-Undang RI No. 30 Tahun 2002 tentang Komisi Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi.

548 Ikhtisar Ketentuan AML & CFT

V.4.1 Penyelidikan Komisi Pemberantasan Korupsi mempunyai tugas: “melakukan penyelidikan, penyidikan, dan penuntutan terhadap tindak pidana korupsi”.1333 V.4.1.1 Pengertian Penyelidik Penyelidik adalah Penyelidik pada Komisi Pemberantasan Korupsi yang diangkat dan diberhentikan oleh Komisi Pemberantasan Korupsi.1334 Penyelidik sebagaimana dimaksud pada ayat (1) melaksanakan fungsi penyelidikan tindak pidana korupsi.1335 V.4.2.2 Bukti Permulaan yang Cukup (1) Jika penyelidik dalam melakukan penyelidikan menemukan bukti permulaan yang cukup adanya dugaan tindak pidana korupsi, dalam waktu paling lambat 7 (tujuh) hari kerja terhitung sejak tanggal ditemukan bukti permulaan yang cukup tersebut, penyelidik melaporkan kepada Komisi Pemberantasan Korupsi. (2) Bukti permulaan yang cukup dianggap telah ada apabila telah ditemukan sekurang-kurangnya 2 (dua) alat bukti, termasuk dan tidak terbatas pada informasi atau data yang diucapkan, dikirim, diterima, atau disimpan baik secara biasa maupun elektronik atau optik. (3) Dalam hal penyelidik melakukan tugasnya tidak menemukan bukti permulaan yang cukup sebagaimana dimaksud pada ayat (1), penyelidik melaporkan kepada Komisi Pemberantasan Korupsi dan Komisi
1333 Pasal 6 huruf c Undang-Undang RI No. Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi.

30 Tahun 2002 tentang Komisi

1334 Pasal 43 ayat (1) Undang-Undang RI No. 30 Tahun 2002 tentang Komisi Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi. 1335 Pasal 43 ayat (2) Undang-Undang RI No. 30 Tahun 2002 tentang Komisi Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi.

Penegakan Hukum

549

Pemberantasan Korupsi menghentikan penyelidikan. (4) Dalam hal Komisi Pemberantasan Korupsi berpendapat bahwa perkara tersebut diteruskan, Komisi Pemberantasan Korupsi melaksanakan penyidikan sendiri atau dapat melimpahkan perkara tersebut kepada penyidik kepolisian atau kejaksaan. (5) Dalam hal penyidikan dilimpahkan kepada kepolisian atau kejaksaan sebagaimana dimaksud pada ayat (4), kepolisian atau kejaksaan wajib melaksanakan koordinasi dan melaporkan perkembangan penyidikan kepada Komisi Pemberantasan Korupsi.1336 V.4.2 Penyidikan Komisi Pemberantasan Korupsi mempunyai tugas: melakukan penyelidikan, penyidikan, dan penuntutan terhadap tindak pidana korupsi.1337 V.4.2.1 Pengertian Penyidik (1) Penyidik adalah Penyidik pada Komisi Pemberantasan Korupsi yang diangkat dan diberhentikan oleh Komisi Pemberantasan Korupsi. (2) Penyidik sebagaimana dimaksud pada ayat (1) melaksanakan fungsi penyidikan tindak pidana korupsi.1338 V.4.2.2 Pemeriksaan V.4.2.2.1 Penundaan Transaksi Dalam melaksanakan tugas penyelidikan, penyidikan, dan
Pasal 44 Undang-Undang RI No. 30 Tahun 2002 tentang Komisi Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi.
1337 Pasal 6 huruf c Undang-Undang RI No. Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi. 1336

30 Tahun 2002 tentang Komisi

1338 Pasal 45 Undang-Undang RI No. 30 Tahun 2002 tentang Komisi Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi.

550 Ikhtisar Ketentuan AML & CFT

penuntutan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6 huruf c, Komisi Pemberantasan Korupsi berwenang: menghentikan sementara suatu transaksi keuangan, transaksi perdagangan, dan perjanjian lainnya atau pencabutan sementara perizinan, lisensi serta konsesi yang dilakukan atau dimiliki oleh tersangka atau terdakwa yang diduga berdasarkan bukti awal yang cukup ada hubungannya dengan tindak pidana korupsi yang sedang diperiksa.1339 (1) Penyidik, penuntut umum, atau hakim berwenang memerintahkan Pihak Pelapor untuk melakukan penundaan Transaksi terhadap Harta Kekayaan yang diketahui atau patut diduga merupakan hasil tindak pidana. (2) Perintah penyidik, penuntut umum, atau hakim sebagaimana dimaksud pada ayat (1) harus dilakukan secara tertulis dengan menyebutkan secara jelas mengenai: a. nama dan jabatan yang meminta penundaan Transaksi; b. identitas setiap orang yang Transaksinya akan dilakukan penundaan; c. alasan penundaan Transaksi; dan d. tempat Harta Kekayaan berada.

1339 Pasal 12 huruf g Undang-Undang RI No. 30 Tahun 2002 tentang Komisi Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi.

Penegakan Hukum

551

(3) Penundaan Transaksi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan paling lama 5 (lima) hari kerja. (4) Pihak Pelapor wajib melaksanakan penundaan Transaksi sesaat setelah surat perintah/permintaan penundaan Transaksi diterima dari penyidik, penuntut umum, atau hakim. (5) Pihak Pelapor wajib menyerahkan berita acara pelaksanaan penundaan Transaksi kepada penyidik, penuntut umum, atau hakim yang meminta penundaan Transaksi paling lama 1 (satu) hari kerja sejak tanggal pelaksanaan penundaan Transaksi.1340 V.4.2.2.2 Pemblokiran Dalam melaksanakan tugas penyelidikan, penyidikan, dan penuntutan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6 huruf c, Komisi Pemberantasan Korupsi berwenang: memerintahkan kepada bank atau lembaga keuangan lainnya untuk memblokir rekening yang diduga hasil dari korupsi milik tersangka, terdakwa, atau pihak lain yang terkait.1341 (1) Penyidik, penuntut umum, atau hakim berwenang memerintahkan Pihak Pelapor untuk melakukan pemblokiran Harta Kekayaan yang

1340 Pasal 70 Undang-Undang RI No. 8 Tahun 2010 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang.

Pasal 12 huruf d Undang-Undang RI No. 30 Tahun 2002 tentang Komisi Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi.

1341

552 Ikhtisar Ketentuan AML & CFT

diketahui atau patut diduga merupakan hasil tindak pidana dari: a. setiap orang yang telah dilaporkan oleh PPATK kepada penyidik; b. tersangka; atau c. terdakwa. (2) Perintah penyidik, penuntut umum, atau hakim sebagaimana dimaksud pada ayat (1) harus dilakukan secara tertulis dengan menyebutkan secara jelas mengenai: a. nama dan jabatan penyidik, penuntut umum, atau hakim; b. identitas setiap orang yang telah dilaporkan oleh PPATK kepada penyidik, tersangka, atau terdakwa; c. alasan pemblokiran; d. tindak pidana yang disangkakan atau didakwakan; dan e. tempat Harta Kekayaan berada. (3) Pemblokiran sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan paling lama 30 (tiga puluh) hari kerja. (4) Dalam hal jangka waktu pemblokiran sebagaimana dimaksud pada ayat (3) berakhir, Pihak Pelapor wajib mengakhiri pemblokiran demi hukum. (5) Pihak Pelapor wajib melaksanakan pemblokiran sesaat setelah surat perintah pemblokiran diterima dari penyidik, penuntut umum, atau hakim.

Penegakan Hukum

553

(6) Pihak Pelapor wajib menyerahkan berita acara pelaksanaan pemblokiran kepada penyidik, penuntut umum, atau hakim yang memerintahkan pemblokiran paling lama 1 (satu) hari kerja sejak tanggal pelaksanaan pemblokiran. (7) Harta Kekayaan yang diblokir harus tetap berada pada Pihak Pelapor yang bersangkutan.1342 V.4.2.2.3 Permintaan Keterangan Dalam melaksanakan tugas penyelidikan, penyidikan, dan penuntutan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6 huruf c, Komisi Pemberantasan Korupsi berwenang: meminta keterangan kepada bank atau lembaga keuangan lainnya tentang keadaan keuangan tersangka atau terdakwa yang sedang diperiksa.1343 (1) Untuk kepentingan pemeriksaan dalam perkara tindak pidana pencucian uang, penyidik, penuntut umum, atau hakim berwenang meminta Pihak Pelapor untuk memberikan keterangan secara tertulis mengenai Harta Kekayaan dari: a. orang yang telah dilaporkan oleh PPATK kepada penyidik; b. tersangka; atau c. terdakwa.

1342 Pasal 71 Undang-Undang No. 8 Tahun 2010 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang. 1343 Pasal 12 huruf c Undang-Undang RI No. 30 Tahun 2002 tentang Komisi Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi.

554 Ikhtisar Ketentuan AML & CFT

(2) Dalam meminta keterangan sebagaimana dimaksud pada ayat (1), bagi penyidik, penuntut umum, atau hakim tidak berlaku ketentuan peraturan perundang-undangan yang mengatur rahasia bank dan kerahasiaan Transaksi Keuangan lain. (3) Permintaan keterangan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) harus diajukan dengan menyebutkan secara jelas mengenai: a. nama dan jabatan penyidik, penuntut umum, atau hakim; b. identitas orang yang terindikasi dari hasil analisis atau pemeriksaan PPATK, tersangka, atau terdakwa; c. uraian singkat tindak pidana yang disangkakan atau didakwakan; dan d. tempat Harta Kekayaan berada. (4) Permintaan sebagaimana dimaksud pada ayat (3) harus disertai dengan: a. laporan polisi dan surat perintah penyidikan; b. surat penunjukan sebagai penuntut umum; atau c. surat penetapan majelis hakim. (5) Surat permintaan untuk memperoleh keterangan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (3) harus ditandatangani oleh: a. Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia atau kepala kepolisian daerah dalam hal permintaan diajukan oleh penyidik dari Kepolisian Negara

Penegakan Hukum

555

Republik Indonesia; b. pimpinan instansi atau lembaga atau komisi dalam hal permintaan diajukan oleh penyidik selain penyidik Kepolisian Negara Republik Indonesia; c. Jaksa Agung atau kepala kejaksaan tinggi dalam hal permintaan diajukan oleh jaksa penyidik dan/atau penuntut umum; atau d. hakim ketua majelis yang memeriksa perkara yang bersangkutan. e. Surat permintaan sebagaimana dimaksud pada ayat (4) ditembuskan kepada PPATK.1344 V.4.2.2.4 Penyadapan Pembicaraan dan Merekam

Dalam melaksanakan tugas penyelidikan, penyidikan, dan penuntutan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6 huruf c, Komisi Pemberantasan Korupsi berwenang: “melakukan penyadapan dan merekam pembicaraan”.1345 V.4.2.2.5 Melarang seseorang berpergian ke luar negeri Dalam melaksanakan tugas penyelidikan, penyidikan, dan penuntutan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6 huruf c, Komisi

1344 Pasal 72 Undang-Undang RI No. 8 Tahun 2010 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang. 1345 Pasal 12 huruf a Undang-Undang RI No. 30 Tahun 2002 tentang Komisi Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi.

556 Ikhtisar Ketentuan AML & CFT

Pemberantasan Korupsi berwenang: “memerintahkan kepada instansi yang terkait untuk melarang seseorang bepergian ke luar negeri”.1346 V.4.2.2.6 Memerintahkan untuk memberhentikan Tersangka dari jabatannya Dalam melaksanakan tugas penyelidikan, penyidikan, dan penuntutan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6 huruf c, Komisi Pemberantasan Korupsi berwenang: “memerintahkan kepada pimpinan atau atasan tersangka untuk memberhentikan sementara tersangka dari jabatannya”.1347 V.4.2.2.7 Meminta Data Dalam melaksanakan tugas penyelidikan, penyidikan, dan penuntutan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6 huruf c, Komisi Pemberantasan Korupsi berwenang: “meminta data kekayaan dan data perpajakan tersangka atau terdakwa kepada instansi yang terkait”.1348 V.4.2.2.8 Meminta Bantuan Instansi Lain Dalam melaksanakan tugas penyelidikan, penyidikan, dan penuntutan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6 huruf c, Komisi Pemberantasan Korupsi berwenang:
1346 Pasal 12 huruf b Undang-Undang RI No. 30 Tahun 2002 tentang Komisi Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi.

Pasal 12 huruf e Undang-Undang RI No. 30 Tahun 2002 tentang Komisi Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi.
1348 Pasal 12 huruf f Undang-Undang RI No. 30 Tahun 2002 tentang Komisi Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi.

1347

Penegakan Hukum

557

a) meminta bantuan Interpol Indonesia atau instansi penegak hukum negara lain untuk melakukan pencarian, penangkapan, dan penyitaan barang bukti di luar negeri.1349 b) meminta bantuan kepolisian atau instansi lain yang terkait untuk melakukan penangkapan, penahanan, penggeledahan, dan penyitaan dalam perkara tindak pidana korupsi yang sedang ditangani.1350 V.4.2.2.9 Pemeriksaan Tersangka Dalam hal seseorang ditetapkan sebagai tersangka oleh Komisi Pemberantasan Korupsi, terhitung sejak tanggal penetapan tersebut prosedur khusus yang berlaku dalam rangka pemeriksaan tersangka yang diatur dalam peraturan perundang-undangan lain, tidak berlaku berdasarkan Undang-Undang ini.1351 Pemeriksaan tersangka sebagaimana dimaksud pada ayat (1), dilakukan dengan tidak mengurangi hak-hak tersangka.1352 Untuk kepentingan penyidikan, tersangka tindak pidana korupsi wajib memberikan keterangan kepada penyidik tentang seluruh harta bendanya
1349 Pasal 12 huruf h Undang-Undang RI No. 30 Tahun 2002 tentang Komisi Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi. 1350 Pasal 12 huruf i Undang-Undang RI No. 30 Tahun 2002 tentang Komisi Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi. 1351 Pasal 46 ayat (1) Undang-Undang RI No. 30 Tahun 2002 tentang Komisi Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi. 1352 Pasal 46 ayat (2) Undang-Undang RI No. 30 Tahun 2002 tentang Komisi Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi.

558 Ikhtisar Ketentuan AML & CFT

dan harta benda istri atau suami, anak, dan harta benda setiap orang atau korporasi yang diketahui dan atau yang diduga mempunyai hubungan dengan tindak pidana korupsi yang dilakukan oleh tersangka.1353 Untuk kepentingan penyidikan, tersangka wajib memberikan keterangan tentang seluruh harta bendanya dan harta benda istri atau suami, anak, dan harta benda setiap orang atau korporasi yang diketahui dan atau yang diduga mempunyai hubungan dengan tindak pidana korupsi yang dilakukan tersangka.1354 V.4.2.2.10 Penyitaan (1) Atas dasar dugaan yang kuat adanya bukti permulaan yang cukup, penyidik dapat melakukan penyitaan tanpa izin Ketua Pengadilan Negeri berkaitan dengan tugas penyidikannya. (2) Ketentuan peraturan perundangundangan yang berlaku yang mengatur mengenai tindakan penyitaan, tidak berlaku berdasarkan Undang- Undang ini. (3) Penyidik sebagaimana dimaksud pada ayat (1) wajib membuat berita acara penyitaan pada hari penyitaan yang sekurang-kurangnya memuat: a. nama, jenis, dan jumlah barang

1353 Pasal 48 Undang-Undang RI No. 30 Tahun 2002 tentang Komisi Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi. 1354 Pasal 28 Undang-Undang RI No. 30 Tahun 2002 tentang Komisi Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi.

Penegakan Hukum

559

atau benda berharga lain yang disita; b. keterangan tempat, waktu, hari, tanggal, bulan, dan tahun dilakukan penyitaan; c. keterangan mengenai pemilik atau yang menguasai barang atau benda berharga lain tersebut; d. tanda tangan dan identitas penyidik yang melakukan penyitaan; dan e. tanda tangan dan identitas dari pemilik atau orang yang menguasai barang tersebut. (4) Salinan berita acara penyitaan sebagaimana dimaksud pada ayat (3) disampaikan kepada tersangka atau keluarganya.1355 Dalam hal diperoleh bukti yang cukup bahwa masih ada Harta Kekayaan yang belum disita, hakim memerintahkan jaksa penuntut umum untuk melakukan penyitaan Harta Kekayaan tersebut.1356 V.4.2.2.11 Penyampaian Hasil Penyidikan Setelah penyidikan dinyatakan cukup, penyidik membuat berita acara dan disampaikan kepada Pimpinan Komisi Pemberantasan Korupsi untuk segera ditindaklanjuti.1357

Pasal 47 Undang-Undang RI No. 30 Tahun 2002 tentang Komisi Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi.
1356 Pasal 81 Undang-Undang RI No. 8 Tahun 2010 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang. 1357 Pasal 49 Undang-Undang RI No. 30 Tahun 2002 tentang Komisi Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi.

1355

560 Ikhtisar Ketentuan AML & CFT

V.4.2.2.12 Tidak Berwenang Melakukan Penghentian Penyidikan Komisi Pemberantasan Korupsi tidak berwenang mengeluarkan surat perintah penghentian penyidikan dan penuntutan dalam perkara tindak pidana korupsi.1358 V.4.2.2.13 Koordinasi dengan instansi lain Komisi Pemberantasan Korupsi dapat melaksanakan kerja sama dalam penyelidikan, penyidikan, dan penuntutan tindak pidana korupsi dengan lembaga penegak hukum negara lain sesuai dengan peraturan perundangundangan yang berlaku atau berdasarkan perjanjian internasional yang telah diakui oleh Pemerintah Republik Indonesia.1359 Komisi Pemberantasan Korupsi berwenang mengkoordinasikan dan mengendalikan penyelidikan, penyidikan, dan penuntutan tindak pidana korupsi yang dilakukan bersama-sama oleh orang yang tunduk pada peradilan militer dan peradilan umum.1360 V.5 Penyidikan oleh Badan Narkotika Nasional (BNN) Bahwa kewenangan melakukan Penyelidikan terhadap atau untuk Tindak Pidana Narkotika, bagi Penyidik BNN didasarkan pada Pasal 71 Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika. Selanjutnya dasar hukum untuk melaksanakan Penyidikan untuk Tindak Pidana Pencucian Uang yang berasal dari tindak pidana

1358 Pasal 40 Undang-Undang RI No. 30 Tahun 2002 tentang Komisi Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi. 1359 Pasal 41 Undang-Undang RI No. 30 Tahun 2002 tentang Komisi Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi. 1360 Pasal 42 Undang-Undang RI No. 30 Tahun 2002 tentang Komisi Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi.

Penegakan Hukum

561

Narkotika yang penyidikannya ditangani oleh Penyidik BNN merujuk pada Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika dan selebihnya mengacu pada KUHAP. Penyidikan, penuntutan, dan pemeriksaan di sidang pengadilan serta pelaksanaan putusan yang telah memperoleh kekuatan hukum tetap terhadap tindak pidana sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang ini dilakukan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan, kecuali ditentukan lain dalam Undang-Undang ini.1361 V.5.1 Penyelidikan V.5.1.1 Pejabat/Anggota BNN sebagai Penyelidik Dalam melaksanakan tugas pemberantasan penyalahgunaan dan peredaran gelap Narkotika dan Prekursor Narkotika, BNN berwenang melakukan penyelidikan dan penyidikan penyalahgunaan dan peredaran gelap Narkotika dan Prekursor Narkotika.1362 V.5.1.2 Sasaran Penyelidikan Sasaran Penyelidikan adalah: 1) 2) 3) 4) V.5.1.3 Orang. Benda/barang. Tempat/lokasi. Peristiwa/kejadian.1363

Proses Penyelidikan Proses penyelidikan sebagai berikut : 1) Kegiatan Penyelidikan, dilakukan untuk: a) Mencari dan mengumpulkan keteranganketerangan dan bukti guna menentukan apakah suatu peristiwa yang terjadi/ diinformasikan, issue, dilaporkan atau

1361 Pasal 68 Undang-Undang RI No. 8 Tahun 2010 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang. 1362 1363

Pasal 71 Undang-Undang RI No. 35 Tahun 2009 tentang Narkotika.

Lampiran SKEP Kepala BNN Nomor SKEP/.../I/2010 tentang Pedoman Penyidikan Tindak Pidana Narkotika.

562 Ikhtisar Ketentuan AML & CFT

diadukan, merupakan tindak pidana atau bukan. b) Melengkapi keterangan dan bukti-bukti yang telah diperoleh, sebelum maupun selama dilakukan tindakan proses penyidikan. c) Pemeriksaan/Pengolahan Tempat Kejadian Perkara. 2) Penyelidikan dilakukan dengan cara terbuka sepanjang hal itu dapat menghasilkan keterangan-keterangan yang diperlukan dan dilakukan secara tertutup apabila keterangan yang diperlukan tidak mungkin diperoleh secara terbuka. 3) Hasil Penyelidikan dituangkan di dalam laporan Hasil Penyelidikan yang kemudian dipelajari, dianalisis/diolah sehingga merupakan keterangan-keterangan yang berguna untuk kepentingan penyidikan. 4) Dalam kasus-kasus tertentu penyelidikan dilakukan dalam bentuk pemeriksaan/ pengolahan TKP (Crime Scene Processing) yaitu: a) Mencari keterangan, petunjuk, bukti serta identitas tersangka dan korban maupun saksi di dan sekitar TKP; b) Pencarian, pengambilan, pengumpulan dan pengawetan barang bukti dilakukan dengan metode-metode ilmiah tertentu/ kriminalistik, melibatkan dukungan teknis Kepolisian, Laboratorium Forensik, Identifikasi Polri, Kedokteran Foreksik dan bidang-bidang keahlian lainnya. 5) Tindakan pemeriksaan/pengolahan TKP sesuai kebutuhan dapat dilakukan berulang kali/secara tidak terbatas, pelaksanaan dan hasilnya dituangkan dalam Berita Acara Pemeriksaan di TKP yang ditandatangani Penyidik.

Penegakan Hukum

563

6) Hal-hal lain yang harus diperhatikan a) Dalam melaksanakan penyelidikan, Penyelidik memperhatikan : 1. Tidak bertentangan dengan suatu aturan hukum 2. Selaras dengan kewajiban hukum yang mengharuskan dilakukannya tindakan jabatan 3. Tindakan itu harus patut dan masuk akal serta termasuk dalam lingkungan jabatannya 4. Atas pertimbangan yang layak berdasarkan keadaan yang memaksa 5. Menghormati Hak Asasi Manusia b) Penyelidikan yang dilakukan dalam rangka pengembangan atau menyertai kegiatan penindakan dan pemeriksaan, harus selalu koordinasi, pengawasan dan pemberian petunjuk dari Penyidik sehingga penyelidikan terarah dan dapat dicegah timbulnya kekeliruan/bias penyelidikan c) Dalam melaksanakan penyelidikan secara terbuka, Penyidik wajib menunjukkan tanda pengenal serta menggunakan tehnik wawancara yang benar (mengandung 7 kah). d) Dalam melaksanakan penyelidikan secara tertutup penyelidik menggunakan tehniktehnik observasi, under cover, surveilance, Penyelidik harus menghindari tindakan yang dapat merugikan penyelidikan maupun tindakan penyidikan selanjutnya. Dalam kasus tertangkap tangan dan tertentu lainnya yang sejak awal telah dapat diketahui bahwa peristiwa tersebut cukup bukti merupakan tindak pidana, maka tindakan penyidikan Tahap Kedua atau

564 Ikhtisar Ketentuan AML & CFT

Penindakan dan Pemeriksaan, dapat segera dilakukan.1364 V.5.1.4 Penyelidikan merupakan kegiatan yang tidak terhenti Penyelidikan merupakan kegiatan yang tidak terhenti, mulai dari awal proses penyidikan, penindakan dan pemeriksaaan, penyelesaian dan penyerahan berkas perkara kepada Penuntut Umum, pelaksanaan persidangan pengadilan sampai putusan sidang pengadilan mempunyai kekuatan hukum tetap.1365 V.5.2 Penyidikan V.5.2.1 Penindakan dan Pemeriksaan Setelah diketahui bahwa suatu peristiwa yang terjadi/dilaporkan/diadukan, menurut batasan bukti permulaan yang cukup merupakan tindak pidana narkotika, maka proses penyidikan ditingkatkan/ dilanjutkan ke upaya pembuktian melalui tindakan Tahap kedua yaitu pelaksanaan Penindakan dan pemriksaan. Sebelum tahapan ini, Atasan Penyidik terlebih dahulu memilih/menunjuk Penyidik perkara dengan menerbitkan Surat Perintah Penyidikan. Berdasarkan perintah tersebut Penyidik perkara menyusun dan mengajukan Rencana (Tindakan) Penyidikan untuk memperoleh persetujuan. Sejak Rencana Penyidikan disetujui, Penyidik perkera segera melakukan tahapan Penindakan dan Pemeriksaan.1366 V.5.2.2 Penundaan Transaksi (1) Penyidik, penuntut umum, atau hakim berwenang memerintahkan Pihak Pelapor
1364 Lampiran SKEP Kepala BNN Nomor SKEP/.../I/2010 tentang Pedoman Penyidikan Tindak Pidana Narkotika. 1365 Lampiran SKEP Kepala BNN Nomor SKEP/.../I/2010 tentang Pedoman Penyidikan Tindak Pidana Narkotika. 1366 Lampiran SKEP Kepala BNN Nomor SKEP/.../I/2010 tentang Pedoman Penyidikan Tindak Pidana Narkotika.

Penegakan Hukum

565

untuk melakukan penundaan Transaksi terhadap Harta Kekayaan yang diketahui atau patut diduga merupakan hasil tindak pidana. (2) Perintah penyidik, penuntut umum, atau hakim sebagaimana dimaksud pada ayat (1) harus dilakukan secara tertulis dengan menyebutkan secara jelas mengenai: a. nama dan jabatan yang meminta penundaan Transaksi; b. identitas setiap orang yang Transaksinya akan dilakukan penundaan; c. alasan penundaan Transaksi; dan d. tempat Harta Kekayaan berada. (3) Penundaan Transaksi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan paling lama 5 (lima) hari kerja. (4) Pihak Pelapor wajib melaksanakan penundaan Transaksi sesaat setelah surat perintah/ permintaan penundaan Transaksi diterima dari penyidik, penuntut umum, atau hakim. (5) Pihak Pelapor wajib menyerahkan berita acara pelaksanaan penundaan Transaksi kepada penyidik, penuntut umum, atau hakim yang meminta penundaan Transaksi paling lama 1 (satu) hari kerja sejak tanggal pelaksanaan penundaan Transaksi.1367 V.5.2.3 Pemblokiran (1) Penyidik, penuntut umum, atau hakim berwenang memerintahkan Pihak Pelapor untuk melakukan pemblokiran Harta Kekayaan yang diketahui atau patut diduga merupakan hasil tindak pidana dari:

1367 Pasal 70 Undang-Undang RI No. 8 Tahun 2010 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang.

566 Ikhtisar Ketentuan AML & CFT

a.

setiap orang yang telah dilaporkan oleh PPATK kepada penyidik; b. tersangka; atau c. terdakwa. (2) Perintah penyidik, penuntut umum, atau hakim sebagaimana dimaksud pada ayat (1) harus dilakukan secara tertulis dengan menyebutkan secara jelas mengenai: a. b. nama dan jabatan penyidik, penuntut umum, atau hakim; identitas setiap orang yang telah dilaporkan oleh PPATK kepada penyidik, tersangka, atau terdakwa; alasan pemblokiran; tindak pidana yang disangkakan atau didakwakan; dan tempat Harta Kekayaan berada.

c. d. e.

(3) Pemblokiran sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan paling lama 30 (tiga puluh) hari kerja. (4) Dalam hal jangka waktu pemblokiran sebagaimana dimaksud pada ayat (3) berakhir, Pihak Pelapor wajib mengakhiri pemblokiran demi hukum. (5) Pihak Pelapor wajib melaksanakan pemblokiran sesaat setelah surat perintah pemblokiran diterima dari penyidik, penuntut umum, atau hakim. (6) Pihak Pelapor wajib menyerahkan berita acara pelaksanaan pemblokiran kepada penyidik, penuntut umum, atau hakim yang memerintahkan pemblokiran paling lama 1 (satu) hari kerja sejak tanggal pelaksanaan pemblokiran. (7) Harta Kekayaan yang diblokir harus tetap berada pada Pihak Pelapor yang bersangkutan.1368
1368 Pasal 71 Undang-Undang RI No. 8 Tahun 2010 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang.

Penegakan Hukum

567

V.5.2.4

Permintaan keterangan dari Penyedia Jasa Keuangan (1) Untuk kepentingan pemeriksaan dalam perkara tindak pidana pencucian uang, penyidik, penuntut umum, atau hakim berwenang meminta Pihak Pelapor untuk memberikan keterangan secara tertulis mengenai Harta Kekayaan dari: a. orang yang telah dilaporkan oleh PPATK kepada penyidik; b. tersangka; atau c. terdakwa. (2) Dalam meminta keterangan sebagaimana dimaksud pada ayat (1), bagi penyidik, penuntut umum, atau hakim tidak berlaku ketentuan peraturan perundang-undangan yang mengatur rahasia bank dan kerahasiaan Transaksi Keuangan lain. (3) Permintaan keterangan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) harus diajukan dengan menyebutkan secara jelas mengenai: a. nama dan jabatan penyidik, penuntut umum, atau hakim; b. identitas orang yang terindikasi dari hasil analisis atau pemeriksaan PPATK, tersangka, atau terdakwa; c. uraian singkat tindak pidana yang disangkakan atau didakwakan; dan d. tempat Harta Kekayaan berada. (4) Permintaan sebagaimana dimaksud pada ayat (3) harus disertai dengan: a. laporan polisi dan surat perintah penyidikan; b. surat penunjukan sebagai penuntut umum; atau c. surat penetapan majelis hakim. (5) Surat permintaan untuk memperoleh keterangan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (3) harus ditandatangani oleh:

568 Ikhtisar Ketentuan AML & CFT

a.

Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia atau kepala kepolisian daerah dalam hal permintaan diajukan oleh penyidik dari Kepolisian Negara Republik Indonesia; b. pimpinan instansi atau lembaga atau komisi dalam hal permintaan diajukan oleh penyidik selain penyidik Kepolisian Negara Republik Indonesia; c. Jaksa Agung atau kepala kejaksaan tinggi dalam hal permintaan diajukan oleh jaksa penyidik dan/atau penuntut umum; atau d. hakim ketua majelis yang memeriksa perkara yang bersangkutan. (6) Surat permintaan sebagaimana dimaksud pada ayat (4) ditembuskan kepada PPATK.1369 V.5.2.5 Pemanggilan V.5.2.5.1 Wewenang Pemanggilan Penyidikan, penuntutan, dan pemeriksaan di sidang pengadilan terhadap penyalahgunaan dan peredaran gelap Narkotika dan Prekursor Narkotika dilakukan berdasarkan peraturan perundangundangan, kecuali ditentukan lain dalam Undang- Undang ini.1370 Dalam rangka melakukan penyidikan, penyidik BNN berwenang: a. melakukan penyelidikan atas kebenaran laporan serta keterangan tentang adanya penyalahgunaan dan peredaran gelap Narkotika dan Prekursor Narkotika;

1369 Pasal 72 Undang-Undang RI No. 8 Tahun 2010 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang. 1370

Pasal 73 Undang-Undang RI No. 35 Tahun 2009 tentang Narkotika.

Penegakan Hukum

569

b. memeriksa orang atau korporasi yang diduga melakukan penyalahgunaan dan peredaran gelap Narkotika dan Prekursor Narkotika; c. memanggil orang untuk didengar keterangannya sebagai saksi; d. menyuruh berhenti orang yang diduga melakukan penyalahgunaan dan peredaran gelap Narkotika dan Prekursor Narkotika serta memeriksa tanda pengenal diri tersangka; e. memeriksa, menggeledah, dan menyita barang bukti tindak pidana dalam penyalahgunaan dan peredaran gelap Narkotika dan Prekursor Narkotika; f. memeriksa surat dan/atau dokumen lain tentang penyalahgunaan dan peredaran gelap Narkotika dan Prekursor Narkotika; g. menangkap dan menahan orang yang diduga melakukan penyalahgunaan dan peredaran gelap Narkotika dan Prekursor Narkotika; h. melakukan interdiksi terhadap peredaran gelap Narkotika dan Prekursor Narkotika di seluruh wilayah juridiksi nasional; i. melakukan penyadapan yang terkait dengan penyalahgunaan dan peredaran gelap Narkotika dan Prekursor Narkotika setelah terdapat bukti awal yang cukup; j. melakukan teknik penyidikan pembelian terselubung dan penyerahan di bawah pengawasan;

570 Ikhtisar Ketentuan AML & CFT

k. memusnahkan Narkotika dan Prekursor Narkotika; l. melakukan tes urine, tes darah, tes rambut, tes asam dioksiribonukleat (DNA), dan/atau tes bagian tubuh lainnya; m. mengambil sidik jari dan memotret tersangka; n. melakukan pemindaian terhadap orang, barang, binatang, dan tanaman; o. membuka dan memeriksa setiap barang kiriman melalui pos dan alat-alat perhubungan lainnya yang diduga mempunyai hubungan dengan penyalahgunaan dan peredaran gelap Narkotika dan Prekursor Narkotika; p. melakukan penyegelan terhadap Narkotika dan Prekursor Narkotika yang disita; q. melakukan uji laboratorium terhadap sampel dan barang bukti Narkotika dan Prekursor Narkotika; r. meminta bantuan tenaga ahli yang diperlukan dalam hubungannya dengan tugas penyidikan penyalahgunaan dan peredaran gelap Narkotika dan Prekursor Narkotika; dan s. menghentikan penyidikan apabila tidak cukup bukti adanya dugaan penyalahgunaan dan peredaran gelap Narkotika dan Prekursor Narkotika.1371

1371

Pasal 75 Undang-Undang RI No. 35 Tahun 2009 tentang Narkotika.

Penegakan Hukum

571

V.5.2.5.1.1 Pemanggilan Saksi 1) Pejabat yang berwenang memanggil dengan mengeluarkan Surat Oenggilan adalah Penyidik BNN 2) Dalam hal melakukan pemanggilan adalah Kepala Kesatuan atau pejabat struktural, surat panggilan ditandatangani yang bersangkutan selaku Penyidik.1372 V.5.2.5.1.2 Pemanggilan terhadap Pejabat Tertentu Pemanggilan terhadap pejabat-pejabat tertentu (eksekutif/legislatif), dilakukan sesuai aturan yang berlaku a. Terhadap anggota legislatif Pemanggilan dan tindakantindakan lain dalam rangka penyidikan, agar diperhatikan ketentuan sebagaimana diatur dalam UU Nomor 22 Tahun 2003 tentang Susunan dan Kedudukan MPR, DPR, DPD dan DPRD. (1) Dalam hal Anggota MPR, DPR, dan DPD diduga melakukan perbuatan pidana, pemanggilan, permintaan keterangan, dan penyidikannya harus mendapat persetujuan tertulis dari Presiden. (2) Dalam hal seorang Anggota DPRD Provinsi diduga melakukan perbuatan pidana,

1372 Lampiran SKEP Kepala BNN No. SKEP/.../I/2010 tentang Pedoman Penyidikan Tindak Pidana Narkotika.

572 Ikhtisar Ketentuan AML & CFT

(3)

(4)

(5)

(6)

pemanggilan, permintaan keterangan, dan penyidikannya harus mendapat persetujuan tertulis dari Menteri Dalam Negeri atas nama Presiden. Dalam hal seorang Anggota DPRD Kabupaten/Kota diduga melakukan perbuatan pidana, pemanggilan, permintaan keterangan, dan penyidikannya harus mendapat persetujuan tertulis dari gubernur atas nama Menteri Dalam Negeri. Ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1), ayat (2), dan ayat (3) tidak berlaku apabila Anggota MPR, DPR, DPD, DPRD Provinsi, dan DPRD Kabupaten/Kota melakukan tindak pidana korupsi dan terorisme serta tertangkap tangan. Setelah tindakan pada ayat (4) dilakukan, harus dilaporkan kepada pejabat yang berwenang agar memberikan ijin selambatlambatnya dalam dua kali 24 jam. Selama Anggota MPR, DPR, DPD, DPRD Provinsi, dan DPRD Kabupaten/Kota menjalani proses penyidikan, penuntutan, pemeriksaan di depan pengadilan, yang bersangkutan tetap menerima hak-hak keuangan dan administrasi sampai dengan

Penegakan Hukum

573

adanya putusan pengadilan yang mempunyai kekuatan hukum tetap.1373 (1) bahwa persetujuan tertulis baik dari Presiden, Menteri Dalam Negeri atas nama Presiden, dan Gubernur atas nama Menteri Dalam Negeri, adalah persetujuan tertulis langsung tampa hak substitusi (2) Pemanggilan sebagai saksi, termasuk harus mendapat persetujuan tertulis.1374 b. Terhadap Kepala Daerah Agar diperhatikan ketentuan sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah (1) Tindakan penyelidikan dan penyidikan terhadap kepala daerah dan/atau wakil kepala daerah dilaksanakan setelah adanya persetujuan tertulis dari Presiden atas permintaan penyidik. (2) Dalam hal persetujuan tertulis sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tidak diberikan oleh Presiden dalam waktu paling
1373 Pasal 106 Undang-Undang RI No. 22 Tahun 2003 tentang Susunan Dan Kedudukan Majelis Permusyawaratan Rakyat, Dewan Perwakilan Rakyat, Dewan Perwakilan Daerah, Dan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah. 1374 Penjelasan Pasal 106 Undang-Undang RI No. 22 Tahun 2003 tentang Susunan Dan Kedudukan Majelis Permusyawaratan Rakyat, Dewan Perwakilan Rakyat, Dewan Perwakilan Daerah, Dan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah.

574 Ikhtisar Ketentuan AML & CFT

lambat 60 (enam puluh) hari terhitung sejak diterimanya permohonan, proses penyelidikan dan penyidikan dapat dilakukan. (3) Tindakan penyidikan yang dilanjutkan dengan penahanan diperlukan persetujuan tertulis sesuai dengan ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2). (4) Hal-hal yang dikecualikan dari ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) adalah: a. tertangkap tangan melakukan tindak pidana kejahatan; atau b. disangka telah melakukan tindak pidana kejahatan yang diancam dengan pidana mati, atau telah melakukan tindak pidana kejahatan terhadap keamanan negara. (5) Tindakan penyidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (4) setelah dilakukan wajib dilaporkan kepada Presiden paling lambat dalam waktu 2 (dua) kali 24 (dua puluh empat) jam.1375 V.5.2.5.2 Penangkapan

V.5.2.5.2.1 Wewenang Penangkapan Dalam rangka melakukan penyidikan, penyidik BNN berwenang:
1375

Pasal 36 Undang-Undang RI No. 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah.

Penegakan Hukum

575

menangkap dan menahan orang yang diduga melakukan penyalahgunaan dan peredaran gelap Narkotika dan Prekursor Narkotika.1376 (1) Pelaksanaan kewenangan penangkapan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 75 huruf g dilakukan paling lama 3 x 24 (tiga kali dua puluh empat) jam terhitung sejak surat penangkapan diterima penyidik. (2) Penangkapan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat diperpanjang paling lama 3 x 24 (tiga kali dua puluh empat) jam.1377 Pejabat yang berwenang melakukan penangkapan: 1) Penyidik BNN Pusat; 2) Penyidik BNN Daerah (Propinsi); 3) Penyelidik Penyidik.1378 V.5.2.5.3 Penahanan atas perintah

V.5.2.5.3.1 Wewenang Penahanan Dalam rangka melakukan penyidikan, penyidik BNN berwenang: menangkap dan menahan orang yang diduga melakukan penyalahgunaan dan peredaran gelap Narkotika dan Prekursor Narkotika.1379

1376 1377 1378

Pasal 75 huruf g Undang-Undang RI No. 35 Tahun 2009 tentang Narkotika. Pasal 76 Undang-Undang RI No. 35 Tahun 2009 tentang Narkotika.

Lampiran SKEP Kepala BNN No. SKEP/.../I/2010 tentang Pedoman Penyidikan Tindak Pidana Narkotika.
1379

Pasal 75 huruf g Undang-Undang RI No. 35 Tahun 2009 tentang Narkotika.

576 Ikhtisar Ketentuan AML & CFT

V.5.2.5.3.2 Jenis Penahanan Jenis penahanan dapat berupa: a) Penahanan di Rumah Tahanan Negara (RUTAN). b) Penahanan di Rumah. c) Penahanan di Kota.1380 Penyidik berwenang untuk mengalihkan jenis penahanan yang satu ke jenis penahanan yang lain, hal tersebut yang dinyatakan dengan Surat Perintah Penyidik.1381 V.5.2.5.3.3 Jangka Waktu Penahanan a) Penyidik berwenang melakukan penahanan paling lama 20 hari. b) Apabila diperlukan untuk kepentingan penyidikan/ pemeriksaan, dapat diperpanjang selama 40 hari oleh Jaksa Penuntut Umum atas permintaan Penyidikan yang bersangkutan. c) Apabila pemeriksaan belum selesai, dalam hal adanya alasan yang patut dan tidak dapat dihindarkan karena tersangka menderita gangguan fisik atau mentalberat yang dibuktikan dengan Surat Keterangan Dokter atau tersangka diperiksa dalam perkara yang diancam dengan penjara 9 tahun atau lebih, maka penahanan terhadapnya dapat diperpanjang lagi palng lama 2 x 30 hari oleh ketua Pengadilan

Lampiran SKEP Kepala BNN No. SKEP/.../I/2010 tentang Pedoman Penyidikan Tindak Pidana Narkotika.
1381 Lampiran SKEP Kepala BNN No. SKEP/.../I/2010 tentang Pedoman Penyidikan Tindak Pidana Narkotika.

1380

Penegakan Hukum

577

Negeri atas permintaan Penyidik yang bersangkutan yang disertai dengan laporan hasil penyidikan/ pemeriksaan.1382 V.5.2.5.4 Penggeledahan

V.5.2.5.4.1 Wewenang Penggeledahan Dalam rangka melakukan penyidikan, penyidik BNN berwenang: memeriksa, menggeledah, dan menyita barang bukti tindak pidana dalam penyalahgunaan dan peredaran gelap Narkotika dan Prekursor Narkotika.1383 Pejabat yang memiliki wewenang penggeledahan adalah: 1) Penyidik; 2) Penyelidik, pada saat menangkap tersangka hanya berwenang menggeledah pakaian, tersangka benda yang dibawa apabila terdapat dugaan keras bahwa pada tersangka terdapat benda yang dapat disita.1384 V.5.2.5.4.2 Sasaran Penggeledahan Sasaran penggeledahan adalah: a) rumah atau bangunan dan tempat-tempat tertutup lainnya.

1382 Lampiran SKEP Kepala BNN No. SKEP/.../I/2010 tentang Pedoman Penyidikan Tindak Pidana Narkotika. 1383 1384

Pasal 75 huruf e Undang-Undang RI No. 35 Tahun 2009 tentang Narkotika.

Lampiran SKEP Kepala BNN No. SKEP/.../I/2010 tentang Pedoman Penyidikan Tindak Pidana Narkotika.

578 Ikhtisar Ketentuan AML & CFT

b) pakaian. c) badan. d) sarana angkutan.1385 Kecuali dalam hal tertangkap tangan, Penyidik tidak diperkenankan memasuki: a) ruang dimana sedang berlangsung sidang MPR, DPR atau DPRD. b) tempat dimana sedang berlangsung ibadah atau upacara keagamaan. c) ruang dimana sedang berlangsung Sidang Pengadilan.1386 Dalam keadaan yang sangat perlu dan mendesak, bilamana Penyidik harus segera bertindak dan tidak mungkin untuk mendapatkan surat izin terlebih dahulu, Penyidik dapat melakukan penggeledahan: a) pada halaman rumah tersangka bertempat tinggal, berdiam, atau berada dan yang ada di atasnya. b) Pada setiap tempat lain tersangka bertempat tinggal, berdiam atau ada di tempat tindak pidana dilakukan atau terdapat berkasnya. di tempat penginapan dan tempat umum lainnya.1387
1385 Lampiran SKEP Kepala BNN No. SKEP/.../I/2010 tentang Pedoman Penyidikan Tindak Pidana Narkotika. 1386 Lampiran SKEP Kepala BNN No. SKEP/.../I/2010 tentang Pedoman Penyidikan Tindak Pidana Narkotika. 1387 Lampiran SKEP Kepala BNN No. SKEP/.../I/2010 tentang Pedoman Penyidikan Tindak Pidana Narkotika.

Penegakan Hukum

579

V.5.2.5.5

Penyitaan

V.5.2.5.5.1 Wewenang Penyitaan Dalam rangka melakukan penyidikan, penyidik BNN berwenang: memeriksa, menggeledah, dan menyita barang bukti tindak pidana dalam penyalahgunaan dan peredaran gelap Narkotika dan Prekursor Narkotika.1388 (1) Untuk keperluan penyidikan, penuntutan, dan pemeriksaan di sidang pengadilan, penyidik Kepolisian Negara Republik Indonesia, penyidik BNN, dan penyidik pegawai negeri sipil menyisihkan sebagian kecil barang sitaan Narkotika dan Prekursor Narkotika untuk dijadikan sampel guna pengujian di laboratorium tertentu dan dilaksanakan dalam waktu paling lama 3 x 24 (tiga kali dua puluh empat) jam sejak dilakukan penyitaan. (2) Ketentuan lebih lanjut mengenai syarat dan tata cara pengambilan dan pengujian sampel di laboratorium tertentu diatur dengan Peraturan Pemerintah.1389 (1) Penyidik Kepolisian Negara Republik Indonesia dan penyidik BNN wajib memusnahkan

1388 1389

Pasal 75 huruf e Undang-Undang RI No. 35 Tahun 2009 tentang Narkotika. Pasal 90 Undang-Undang RI No. 35 Tahun 2009 tentang Narkotika.

580 Ikhtisar Ketentuan AML & CFT

tanaman Narkotika yang ditemukan dalam waktu paling lama 2 x 24 (dua kali dua puluh empat) jam sejak saat ditemukan, setelah disisihkan sebagian kecil untuk kepentingan penyidikan, penuntutan, pemeriksaan di sidang pengadilan, dan dapat disisihkan untuk kepentingan pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, serta untuk kepentingan pendidikan dan pelatihan. (2) Untuk tanaman Narkotika yang karena jumlahnya dan daerah yang sulit terjangkau karena faktor geografis atau transportasi, pemusnahan dilakukan dalam waktu paling lama 14 (empat belas) hari. (3) Pemusnahan dan penyisihan sebagian tanaman Narkotika sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan dengan pembuatan berita acara yang sekurangkurangnya memuat: a. nama, jenis, sifat, dan jumlah; b. keterangan mengenai tempat, jam, hari, tanggal, bulan, dan tahun ditemukan dan dilakukan pemusnahan; c. keterangan mengenai pemilik atau yang menguasai tanaman Narkotika; dan d. tanda tangan dan identitas lengkap pelaksana dan pejabat atau pihak terkait lainnya yang menyaksikan pemusnahan.

Penegakan Hukum

581

(4) Sebagian kecil tanaman Narkotika yang tidak dimusnahkan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) disimpan oleh penyidik untuk kepentingan pembuktian. (5) Sebagian kecil tanaman Narkotika yang tidak dimusnahkan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) disimpan oleh Menteri dan Badan Pengawas Obat dan Makanan untuk kepentingan pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. (6) Sebagian kecil tanaman Narkotika yang tidak dimusnahkan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) disimpan oleh BNN untuk kepentingan pendidikan dan pelatihan.1390 (7) Pejabat yang berwenang melakukan penyitaan adalah: 1) Penyidik BNN. 2) Penyidik BNN Daerah (Propinsi). 3) Penyelidik atas perintah Penyidik melakukan penyitaan.1391 V.5.2.5.5.2 Sasaran Penyitaan Sasaran penyitaan adalah: a) Benda atau tagihan tersangka yang seluruh atau sebagian
1390 1391

Pasal 92 Undang-Undang RI No. 35 Tahun 2009 tentang Narkotika.

Lampiran SKEP Kepala BNN No. SKEP/.../I/2010 tentang Pedoman Penyidikan Tindak Pidana Narkotika.

582 Ikhtisar Ketentuan AML & CFT

b)

c)

d)

e)

f)

g)

diduga diperoleh dari tindak pidana atau sebagai hasil dari tindak pidana. Benda yang telah dipergunakan secara langsung untuk melakukan tindak pidana atau untuk mempersiapkannya. Benda yang dipergunakan untuk menghalang-halangi penyelidikan tindak pidana. Benda yang khusus dibuat atau diperuntukkan melakukan tindak pidana. Benda lain yang mempunyai hubungan langsung dengan tindak pidana yang dilakukan. Benda yang berada dalam sitaan kaena perkara perdata atau karena pailit sepanjang memenuhi ketentuan sebagaimana dimaksud pada huruf a sampai dengan huruf f. Surat, buku atau kitab, daftar dan sebainya yang diduga kuat dapat diperoleh keterangan tentang sesuatu tindak pidana.1393

V. 5.2.5.6

Pemeriksaan Dalam rangka melakukan penyidikan, penyidik BNN berwenang: “memeriksa, menggeledah, dan menyita barang bukti tindak pidana dalam penyalahgunaan dan

1392 Lampiran SKEP Kepala BN No. SKEP/.../I/2010 tentang Pedoman Penyidikan Tindak Pidana Narkotika.

Penegakan Hukum

583

peredaran gelap Narkotika dan Prekursor Narkotika”.1393 V. 5.2.5.6.1 Wewenang Pemeriksaan Penyidik BNN sebagaimana dimaksud dalam Pasal 75, juga berwenang: a. mengajukan langsung berkas perkara, tersangka, dan barang bukti, termasuk harta kekayaan yang disita kepada jaksa penuntut umum; b. memerintahkan kepada pihak bank atau lembaga keuangan lainnya untuk memblokir rekening yang diduga dari hasil penyalahgunaan dan peredaran gelap Narkotika dan Prekursor Narkotika milik tersangka atau pihak lain yang terkait; c. untuk mendapat keterangan dari pihak bank atau lembaga keuangan lainnya tentang keadaan keuangan tersangka yang sedang diperiksa; d. untuk mendapat informasi dari Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan yang terkait dengan penyalahgunaan dan peredaran gelap Narkotika dan Prekursor Narkotika; e. meminta secara langsung kepada instansi yang berwenang untuk melarang seseorang bepergian ke luar negeri;
1393

Pasal 75 huruf e Undang-Undang RI No. 35 Tahun 2009 tentang Narkotika.

584 Ikhtisar Ketentuan AML & CFT

f.

meminta data kekayaan dan data perpajakan tersangka kepada instansi terkait; g. menghentikan sementara suatu transaksi keuangan, transaksi perdagangan, dan perjanjian lainnya atau mencabut sementara izin, lisensi, serta konsesi yang dilakukan atau dimiliki oleh tersangka yang diduga berdasarkan bukti awal yang cukup ada hubungannya dengan penyalahgunaan dan peredaran gelap Narkotika dan Prekursor Narkotika yang sedang diperiksa; dan h. meminta bantuan interpol Indonesia atau instansi penegak hukum Negara lain untuk melakukan pencarian, penangkapan, dan penyitaan barang bukti di luar negeri.1394 Penyidik Kepolisian Negara Republik Indonesia dan penyidik BNN berwenang melakukan penyidikan terhadap penyalahgunaan dan peredaran gelap Narkotika dan Prekursor Narkotika berdasarkan UndangUndang ini.1395 Pejabat yang berwenang melakukan pemeriksaan adalah: 1) Pejabat BNN. 2) Penyidik BNN (Propinsi).

1394 1395

Pasal 80 Undang-Undang RI No. 35 Tahun 2009 tentang Narkotika. Pasal 81 Undang-Undang RI No. 35 Tahun 2009 tentang Narkotika.

Penegakan Hukum

585

3) Penyelidik atas perintah Penyidik.1396 V. 5.2.5.6.2 Pemeriksaan Alat Bukti Selanjutnya dasar hukum untuk melaksanakan pemeriksaan alat bukti untuk tindak pidana narkotika dan tindak pidana pencucian uang yang penyidikannya ditangani oleh Penyidik BNN mengacu pada KUHAP. V.5.2.5.6.2.1 Konfrontasi dan rekonstruksi 1) Apabila dalam pemeriksaan, antara tersangka yang satu dengan tersangka yang lain, antara tersangka dengan saksi maupun antara saksi dengan saksi yang lain terdapat pertentangan atau ketidak cocokan keterangan yang diberikan kepada pemeriksa, maka bila dipandang perlu diadakan konfrontasi. 2) Demikian pula halnya untuk perkara tertentu, apabila dipandang perlu dalam pembuktiannya dapat dilakukan rekonstruksi. 3) Pelaksanaan Konfrontasi dan rekonstruksi: (a) Konfrontasi (1) Maksud diadakannya konfrontasi ialah untuk mencari

1396 Lampiran SKEP Kepala BN No. SKEP/.../I/2010 tentang Pedoman Penyidikan Tindak Pidana Narkotika.

586 Ikhtisar Ketentuan AML & CFT

persesuaian diantara beberapa keterangan yang berasal baik dari tersangka maupun saksi dengan tujuan mendapatkan kepastian manakah diantara keteranganketerangan tersebut yang benar atau paling mendekati kebenaran. (2) cara melakukan konfrontasi i. Langsung Te r s a n g k a / p a r a tersangka dan atau saksi/para saksi yang keterangannya saling tidak ada kecocokan atau tidak terdapat persesuaian satu sama lain, dipertemukan satu sama lain dihadapan pemeriksa guna diuji manakah diantara keterangan-keterangan tersebut yang benar atau paling mendekati kebenaran. ii. Tidak Langsung Tersangka/orang yang dicari dicampur dengan beberapa orang (3 orang atau lebih)

Penegakan Hukum

587

yang belum dikenal oleh saksi, berdiri atau duduk berjajar dan masingmasing diberi nomor, ditempatkan didalam suatu ruangan yang dapat dilihat saksi. Sedangkan saksi bersama pemeriksa berada di luar ruangan tersebut, dapat melihat orang-orang tersebut. Manakah yang dimaksudkan dalam keterangannya tersebut, cara ini biasa disebut dengan link up. iii. Hasil konfrontasi supaya dituangkan dalam Berita Acara Konfrontasi. (b)Rekonstruksi (1) Maksud diadakannya rekonstruksi ialah untuk memberikan gambaran tentang terjadinya suatu tindak pidana dengan jalan memperagakan kembali cara tersangka melakukan tindak pidana dengan tujuan untuk lebih meyakinkan kepada

588 Ikhtisar Ketentuan AML & CFT

pemeriksa tentang kebenaran keterangan tersangka atau saksi. (2) Rekonstruksi dapat dilakukan di tempat kejadian perkara (TKP). (3) Setiap peragaan perlu diambil foto-fotonya dan jalannya peragaan dituangkan dalam Berita Acara. (4) Hasil rekonstruksi agar dianalisa terutama pada bagianbagian yang sama dan berbeda dengan isi Berita Acara Pemeriksaan.1397 V.5.2.5.6.2.2 Evaluasi Hasil Pemeriksaan a) Agar memperoleh keterangan, petunjuk-petunjuk, bukti-bukti, data yang cukup dan benar, maka hasil pemeriksaan Tersangka/ Saksi/Ahli yang dituangkan dalam Berita Acara Pemeriksaan baik secara sendirisendiri maupun secara keseluruhan dievaluasi guna mengembangkan dan mengarahkan pemeriksaan berikutnya ataupun untuk membuat suatu kesimpulan

1397 Lampiran SKEP Kepala BNN No. SKEP/.../I/2010 tentang Pedoman Penyidikan Tindak Pidana Narkotika.

Penegakan Hukum

589

dari pemeriksaan sebagai salah satu kegiatan penyidikan yang dilakukan. Adapun proses dari evaluasi meliputi tahap-tahap sebagai berikut: (1) Tahap Inventarisasi Penyidik/Penyidik Pembantu berusaha menarik dan mengumpulkan semua keterangan-keterangan yang benar-benar yang mengarah kepada unsurunsur Pasal tindak pidana sebanyak mungkin. (2) Tahap Seleksi Dari keteranganketerangan yang telah dikumpulkan tersebut kemudian diseleksi untuk mencari keteranganketerangan yang ada relevansinya dengan peristiwa pidana yang terjadi dan mempunyai hubungan yang logis. (3) Tahap Pengkajian b) Dari keterangan-keterangan yang telah diseleksi tersebut penyidik/penyidik pembantu mengkaji, dan menguji kebenarannya dengan buktibukti serta petunjuk-petunjuk yang ada, sehingga dapat ditarik suatu kesimpulan apakah keterangan tersebut

590 Ikhtisar Ketentuan AML & CFT

betul-betul dapat dipercaya, dengan cara: (1) Menilai adanya persesuaian untuk keterangan saksi. (2) Menilai adanya persesuaian keterangan saksi dengan keterangan ahli dan bukti yang ada. (3) Adanya alasan yang logis dari setiap keterangan saksi. c) Setelah diperoleh gambaran atau konstruksi perkara pidanya secara bulat, maka dapat diketahui: (1) Bahwa benar peristiwa tindak pidana telah terjadi. (2) Peranan dari masingmasing tersangka yang terlibat. (3) Siapa-siapa saksinya, baik yang menguntungkan maupun yang merugikan. (4) Barang/benda yang menjadi barang bukti. Dari hasil-hasil evaluasi tersebut, penyidik/penyidik pembantu dapat menyusun resume.1398 V.5.2.5.7 Pemusnahan Barang Bukti (1) Kepala kejaksaan negeri setempat setelah menerima pemberitahuan tentang

1398 Lampiran SKEP Kepala BNN No. SKEP/.../I/2010 tentang Pedoman Penyidikan Tindak Pidana Narkotika.

Penegakan Hukum

591

penyitaan barang Narkotika dan Prekursor Narkotika dari penyidik Kepolisian Negara Republik Indonesia atau penyidik BNN, dalam waktu paling lama 7 (tujuh) hari wajib menetapkan status barang sitaan Narkotika dan Prekursor Narkotika tersebut untuk kepentingan pembuktian perkara, kepentingan pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, kepentingan pendidikan dan pelatihan, dan/atau dimusnahkan. (2) Barang sitaan Narkotika dan Prekursor Narkotika yang berada dalam penyimpanan dan pengamanan penyidik yang telah ditetapkan untuk dimusnahkan, wajib dimusnahkan dalam waktu paling lama 7 (tujuh) hari terhitung sejak menerima penetapan pemusnahan dari kepala kejaksaan negeri setempat. (3) Penyidik wajib membuat berita acara pemusnahan dalam waktu paling lama 1 x 24 (satu kali dua puluh empat) jam sejak pemusnahan tersebut dilakukan dan menyerahkan berita acara tersebut kepada penyidik BNN atau penyidik Kepolisian Negara Republik Indonesia setempat dan tembusan berita acaranya disampaikan kepada

592 Ikhtisar Ketentuan AML & CFT

(4)

(5)

(6)

(7)

kepala kejaksaan negeri setempat, ketua pengadilan negeri setempat, Menteri, dan Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan. Dalam keadaan tertentu, batas waktu pemusnahan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dapat diperpanjang 1 (satu) kali untuk jangka waktu yang sama. Pemusnahan barang sitaan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dilaksanakan berdasarkan ketentuan Pasal 75 huruf k. Barang sitaan untuk kepentingan pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi diserahkan kepada Menteri dan untuk kepentingan pendidikan dan pelatihan diserahkan kepada Kepala BNN dan Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia dalam waktu paling lama 5 (lima) hari terhitung sejak menerima penetapan dari kepala kejaksaan negeri setempat. Kepala BNN dan Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia sebagaimana dimaksud pada ayat (6) menyampaikan laporan kepada Menteri mengenai penggunaan barang sitaan untuk kepentingan pendidikan dan pelatihan.1399

1399

Pasal 91 Undang-Undang RI No. 35 Tahun 2009 tentang Narkotika.

Penegakan Hukum

593

V.5.2.5.8

Pemanfaatan Barang Bukti (1) Penyidik Kepolisian Negara Republik Indonesia dan penyidik BNN wajib memusnahkan tanaman Narkotika yang ditemukan dalam waktu paling lama 2 x 24 (dua kali dua puluh empat) jam sejak saat ditemukan, setelah disisihkan sebagian kecil untuk kepentingan penyidikan, penuntutan, pemeriksaan di sidang pengadilan, dan dapat disisihkan untuk kepentingan pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, serta untuk kepentingan pendidikan dan pelatihan. (2) Untuk tanaman Narkotika yang karena jumlahnya dan daerah yang sulit terjangkau karena faktor geografis atau transportasi, pemusnahan dilakukan dalam waktu paling lama 14 (empat belas) hari. (3) Pemusnahan dan penyisihan sebagian tanaman Narkotika sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan dengan pembuatan berita acara yang sekurang-kurangnya memuat: a. nama, jenis, sifat, dan jumlah; b. keterangan mengenai tempat, jam, hari, tanggal, bulan, dan tahun ditemukan dan dilakukan pemusnahan;

594 Ikhtisar Ketentuan AML & CFT

c. keterangan mengenai pemilik atau yang menguasai tanaman Narkotika; dan d. tanda tangan dan identitas lengkap pelaksana dan pejabat atau pihak terkait lainnya yang menyaksikan pemusnahan. (4) Sebagian kecil tanaman Narkotika yang tidak dimusnahkan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) disimpan oleh penyidik untuk kepentingan pembuktian. (5) Sebagian kecil tanaman Narkotika yang tidak dimusnahkan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) disimpan oleh Menteri dan Badan Pengawas Obat dan Makanan untuk kepentingan pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. (6) Sebagian kecil tanaman Narkotika yang tidak dimusnahkan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) disimpan oleh BNN untuk kepentingan pendidikan dan pelatihan.1400 V.5.2.6 Penyelesaian dan Penyerahan Berkas Perkara Penyelesaian dan penyerahan berkas perkara merupakan kegiatan akhir dari proses penyidikan tindak pidana yang dilakukan oleh penyidik BNN
1400

Pasal 92 Undang-Undang RI No. 35 Tahun 2009 tentang Narkotika.

Penegakan Hukum

595

kepada Penuntut Umum1401 V.5.2.6.1 Pembuatan Berita Acara Pendapat/ Resume 1) Pembuatan Berita Acara Pendapat/ Resume merupakan kegiatan penyidik untuk menyusun ikhtisar dan kesimpulan berdasarkan hasil penyelidikan tindak pidana yang terjadi. 2) Resume harus memenuhi persyaratan formal dan persyaratan materil serta persyaratan penulisan yang telah ditentukan.1402 V.5.2.6.2 Penyusunan Isi Berkas Perkara Susunan isi berkas meliputi: 1) Sampul Berkas Perkara 2) Daftar Isi Berkas Perkara 3) Isi Berkas Acara meliputi: a) Berita Acara Resume b) Laporan Kejadian Narkotika c) Berita Acara (tindakan Penyidik) d) Surat-surat meliputi: ~ surat-surat biasa ~ surat-surat perintah e) Daftar Saksi f) Daftar Tersangka g) Daftar Barang Bukti1403

1401 Lampiran SKEP Kepala BNN No. SKEP/.../I/2010 tentang Pedoman Penyidikan Tindak Pidana Narkotika. 1402 Lampiran SKEP Kepala BNN No. SKEP/.../I/2010 tentang Pedoman Penyidikan Tindak Pidana Narkotika. 1303 Lampiran SKEP Kepala BNN Nomor SKEP/.../I/2010 tentang Pedoman Penyidikan Tindak Pidana Narkotika

596 Ikhtisar Ketentuan AML & CFT

V.5.2.6.3 Pemberkasan Pemberkasan merupakan kegiatan menyusun hasil penyidikan dalam bentuk tulisan dengan susunan dan syarat-syarat pengikatan, penjilidan serta penyegelan. V.5.2.6.4 Penyerahan Berkas Perkara Penyerahan Berkas Perkara merupakan kegiatan pengiriman Berkas Perkara berikut penyerahan tanggung jawab atas tersangka dan barang buktinya kepada Penuntut Umum yang dilakukan dalam dua tahap sebagai berikut: a) Pada tahap pertama, penyidik hanya menyerahkan Berkas Perkara. b) Tahap kedua, penyidik menyerahkan tanggung jawab tersangka dan barang buktinya kepada Penuntut Umum/setelah berkas perkara dinyatakan lengkap oleh Penuntut Umum. c) Apabila dalam waktu 14 hari berkas perkara tidak dikembalikan oleh Penuntut Umum, maka penyidikan dianggap selesai dan penyidik menyerahkan tanggung jawab tersangka dan barang buktinya kepada Penuntut Umum.1404 V.5.2.6.5 Penghentian Penyidikan Penghentian Penyidikan merupakan salah satu kegiatan penyelesaian perkara yang dilakukan apabila: a) Tidak terdapat cukup bukti.
1404 Lampiran SKEP Kepala BNN Nomor SKEP/.../I/2010 tentang Pedoman Penyidikan Tindak Pidana Narkotika.

Penegakan Hukum

597

b) Peristiwa tersebut bukan merupakan tindak pidana. c) Demi hukum karena: (1) Tersangka meninggal dunia. (2) Tuntutan tindak pidana telah kadaluarsa. (3) Pengaduan dicabut bagi delik aduan. (4) Ne bis en Idem (Tindak Pidana tersebut telah memperoleh putusan Hakim yang mempunyai kekuatan hukum yang tetap dan pasti). d) Dalam hal penghentian penyidikan, berkas perkara tidak diserahkan kepada Penuntut Umum, tetapi Penyidik/Penyidik pembantu wajib mengirimkan Surat Pemberitahuan Penghentian Penyidikan kepada Penuntut Umum, tersangka dan pelapor. e) Dalam hal penghentian penyidikan dinyatakan tidak sah oleh putusan Pra peradilan dan atau ditemukan bukti baru maka penyidik harus melanjutkan penyidikan kembali dengan menerbitkan Surat Ketetapan Pencabutan Penghentian Penyidikan dan Surat Perintah Penyidikan Lanjutan.1405 V.6 Penyidikan Tindak Pidana di bidang Perpajakan oleh Direktorat Jenderal Pajak V.6.1 Wewenang Penyidikan (1) Penyidikan tindak pidana di bidang perpajakan hanya dapat dilakukan oleh Pejabat Pegawai Negeri Sipil tertentu
1405 Lampiran SKEP Kepala BNN Nomor SKEP/.../I/2010 tentang Pedoman Penyidikan Tindak Pidana Narkotika

598 Ikhtisar Ketentuan AML & CFT

di lingkungan Direktorat Jenderal Pajak yang diberi wewenang khusus sebagai penyidik tindak pidana di bidang perpajakan. (2) Wewenang penyidik sebagaimana dimaksud pada ayat (1) adalah: a. menerima, mencari, mengumpulkan, dan meneliti keterangan atau laporan berkenaan dengan tindak pidana di bidang perpajakan agar keterangan atau laporan tersebut menjadi lebih lengkap dan jelas; meneliti, mencari, dan mengumpulkan keterangan mengenai orang pribadi atau badan tentang kebenaran perbuatan yang dilakukan sehubungan dengan tindak pidana di bidang perpajakan; meminta keterangan dan bahan bukti dari orang pribadi atau badan sehubungan dengan tindak pidana di bidang perpajakan; memeriksa buku, catatan, dan dokumen lain berkenaan dengan tindak pidana di bidang perpajakan; melakukan penggeledahan untuk mendapatkan bahan bukti pembukuan, pencatatan, dan dokumen lain, serta melakukan penyitaan terhadap bahan bukti tersebut; meminta bantuan tenaga ahli dalam rangka pelaksanaan tugas penyidikan tindak pidana di bidang perpajakan; menyuruh berhenti dan/atau melarang seseorang meninggalkan ruangan atau tempat pada saat pemeriksaan sedang berlangsung dan memeriksa identitas orang, benda, dan/atau dokumen yang dibawa; memotret seseorang yang berkaitan dengan tindak pidana di bidang perpajakan; memanggil orang untuk didengar keterangannya dan diperiksa sebagai tersangka atau saksi; menghentikan penyidikan; dan/atau melakukan tindakan lain yang perlu untuk kelancaran penyidikan tindak pidana di bidang perpajakan menurut ketentuan peraturan perundang-undangan.

b.

c.

d. e.

f.

g.

h. i. j. k.

(3) Penyidik sebagaimana dimaksud pada ayat (1)

Penegakan Hukum

599

memberitahukan dimulainya penyidikan dan menyampaikan hasil penyidikannya kepada penuntut umum melalui penyidik pejabat Polisi Negara Republik Indonesia sesuai dengan ketentuan yang diatur dalam Undang-Undang Hukum Acara Pidana. (4) Dalam rangka pelaksanaan kewenangan penyidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1), penyidik dapat meminta bantuan aparat penegak hukum lain.1406 Pejabat Pegawai Negeri Sipil tertentu di lingkungan Direktorat Jenderal Pajak yang diangkat sebagai penyidik tindak pidana di bidang perpajakan oleh pejabat yang berwenang adalah penyidik tindak pidana di bidang perpajakan. Penyidikan tindak pidana di bidang perpajakan dilaksanakan menurut ketentuan yang diatur dalam Undang-Undang Hukum Acara Pidana yang berlaku.1407 Pada ayat ini diatur wewenang Pejabat Pegawai Negeri Sipil tertentu di lingkungan Direktorat Jenderal Pajak sebagai penyidik tindak pidana di bidang perpajakan, termasuk melakukan penyitaan. Penyitaan tersebut dapat dilakukan, baik terhadap barang bergerak maupun tidak bergerak, termasuk rekening bank, piutang, dan surat berharga milik Wajib Pajak, Penanggung Pajak, dan/atau pihak lain yang telah ditetapkan sebagai tersangka.1408 (1) Direktur Jenderal Pajak berdasarkan informasi, data, laporan, dan pengaduan berwenang melakukan pemeriksaan bukti permulaan sebelum dilakukan penyidikan tindak pidana di bidang perpajakan. (2) Dalam hal terdapat indikasi tindak pidana di bidang perpajakan yang menyangkut petugas Direktorat Jenderal Pajak, Menteri Keuangan dapat menugasi unit pemeriksa internal di lingkungan Departemen Keuangan untuk melakukan pemeriksaan bukti permulaan.
1406 Pasal 44 Undang-Undang RI No. 28 Tahun 2007 tentang Perubahan Atas UndangUndang No. 6 Tahun 1983 tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan. 1407 Penjelasan Pasal 44 ayat (1) Undang-Undang RI No. 28 Tahun 2007 tentang Perubahan Atas Undang-Undang No. 6 Tahun 1983 tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan. 1408 Penjelasan Pasal 44 ayat (2) Undang-Undang RI No. 28 Tahun 2007 tentang Perubahan Atas Undang-Undang No. 6 Tahun 1983 tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan.

600 Ikhtisar Ketentuan AML & CFT

(3) Apabila dari bukti permulaan ditemukan unsur tindak pidana korupsi, pegawai Direktorat Jenderal Pajak yang tersangkut wajib diproses menurut ketentuan hukum Tindak Pidana Korupsi. (4) Tata cara pemeriksaan bukti permulaan tindak pidana di bidang perpajakan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) diatur dengan atau berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan.1409 V.6.2 Pemeriksaan Bukti Permulaan Bukti Permulaan adalah keadaan, perbuatan, dan/atau bukti berupa keterangan, tulisan, atau benda yang dapat memberikan petunjuk adanya dugaan kuat bahwa sedang atau telah terjadi suatu tindak pidana di bidang perpajakan yang dilakukan oleh siapa saja yang dapat menimbulkan kerugian pada pendapatan negara.1410 Pemeriksaan Bukti Permulaan adalah pemeriksaan yang dilakukan untuk mendapatkan bukti permulaan tentang adanya dugaan telah terjadi tindak pidana di bidang perpajakan.1411 Usul melakukan Pemeriksaan Bukti Permulaan dilakukan oleh: a. Sub Direktorat Intelijen Perpajakan berdasarkan laporan Kegiatan Intelijen yang terdapat indikasi tindak pidana di bidang perpajakan, dan disampaikan kepada Direktur Intelijen dan Penyidikan; b. Sub Direktorat Rekayasa Keuangan berdasarkan pengembangan dan analisis informasi, Data, Laporan, atau pengaduan dan disampaikan kepada Direktur Intelijen dan Penyidikan; c. Sub Direktorat Pemeriksaan Bukti Permulaan berdasarkan pengembangan Pemeriksaan Bukti Permulaan dan disampaikan kepada Direktur Intelijen dan Penyidikan;

1409 Pasal 43A Undang-Undang RI No. 28 Tahun 2007 tentang Perubahan Atas UndangUndang No. 6 Tahun 1983 tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan. 1410 Pasal 1 angka 26 Undang-Undang RI No. 28 Tahun 2007 tentang Perubahan Atas Undang-Undang No. 6 Tahun 1983 tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan. 1411 Pasal 1 angka 27 Undang-Undang RI No. 28 Tahun 2007 tentang Perubahan Atas Undang-Undang No. 6 Tahun 1983 tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan.

Penegakan Hukum

601

d. Sub Direktorat Penyidikan berdasarkan pengembangan Penyidikan dan disampaikan kepada Direktur Intelijen dan Penyidikan; dan e. Kepala Bidang Pemeriksaan, Penyidikan, dan Penagihan Pajak berdasarkan pengembangan dan analisis informasi, Data, Laporan, atau Pengaduan (IDLP), pengembangan Pemeriksaan Bukti Permulaan atau Pengembangan Penyidikan, dan disampaikan kepada Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pajak.1412 Instruksi Pemeriksaan Bukti Permulaan diterbitkan berdasarkan usul Pemeriksaan Bukti Permulaan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2. Instruksi Pemeriksaan Bukti Permulaan diterbitkan oleh : a. Direktur Jenderal Pajak dalam hal usul Pemeriksaan Bukti Permulaan ditujukan kepada Direktur Jenderal Pajak sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat (4), dan ditujukan kepada Direktur Intelijen dan Penyidikan atau kepada Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pajak. b. Direktur Intelijen dan Penyidikan dalam hal usul Pemeriksaan Bukti Permulaan ditujukan kepada Direktur Intelijen dan Penyidikan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat (2), dan ditujukan kepada Kepala Sub Direktorat Pemeriksaan Bukti Permulaan Direktorat Intelijen dan Penyidikan atau Kepada Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pajak; atau c. Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pajak dalam hal usul Pemeriksaan Bukti Permulaan ditujukan kepada Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pajak sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat (3), dan ditujukan kepada Kepala Bidang Pemeriksaan, Penyidikan, dan Penagihan Pajak Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pajak.1413

1412 Pasal 2 Peraturan Direktorat Jenderal Pajak Nomor PER-47/PJ/2009 tentang Petunjuk Pelaksanaan Pemeriksaan Bukti Permulaan terhadap wajib pajak yang duga melakukan tindak pidana di bidang perpajakan. 1413 Pasal 3 Peraturan Direktorat Jenderal Pajak Nomor PER-47/PJ/2009 tentang Petunjuk Pelaksanaan Pemeriksaan Bukti Permulaan Terhadap Wajib Pajak yang Diduga Melakukan Tindak Pidana di Bidang Perpajakan.

602 Ikhtisar Ketentuan AML & CFT

Surat Perintah Pemeriksaan Bukti Permulaan diterbitkan berdasarkan instruksi Pemeriksaan Bukti Permulaan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3.1414 a). Pemeriksa Bukti Permulaan harus dilengkapi dengan Kartu Tanda Pengenal Pemeriksa Bukti Permulaan dan wajib memperlihatkannya kepada Wajib Pajak pada saat pemeriksaan pertama. b).Tim Pemeriksa Bukti Permulaan wajib memberitahukan kepada Kantor Pelayanan Pajak tempat Wajib Pajak terdaftar dengan menyampaikan Surat Pemberitahuan Pemeriksaan Bukti Permulaan paling lambat 7 (tujuh) hari sejak Surat Perintah Pemeriksaan Bukti Permulaan diterima oleh Tim Pemeriksa Bukti Permulaan. c).Tim Pemeriksa Bukti Permulaan wajib meminjam dan mengamankan berkas-berkas Wajib Pajak yang diperlukan dalam Pemeriksaan Bukti Permulaan yang ada di Kantor Pelayanan Pajak tempat Wajib Pajak terdaftar. d).Tim Pemeriksa Bukti Permulaan wajib menyampaikan Surat Pemberitahuan Pemeriksaan Bukti Permulaan kepada Wajib Pajak paling lambat 14 (empat belas) hari sejak Surat Perintah Pemeriksaan Bukti Permulaan diterima Tim Pemeriksa Bukti Permulaan dan sejak tanggal itu Pemeriksaan Bukti Permulaan dimulai. e). Semua dokumen, catatan, pembukuan, dan data elektronik yang berkaitan dengan Pemeriksaan Bukti Permulaan baik yang dikuasai Wajib Pajak ataupun pihak ketiga wajib dipinjam dan diamankan oleh Tim Pemeriksa Bukti Permulaan. f). Dalam hal Wajib Pajak atau Kuasa Wajib Pajak menolak untuk dilakukan Pemeriksaan Bukti Permulaan, Tim Pemeriksa Bukti Permulaan wajib membuat Berita Acara Penolakan Pemeriksaan Bukti Permulaan yang ditandatangani oleh kedua belah pihak dengan disaksikan 2 (dua) orang saksi yang netral, antara lain Ketua RT, Ketua RW, atau Polisi
1414 Pasal 4 Peraturan Direktorat Jenderal Pajak Nomor PER-47/PJ/2009 tentang Petunjuk Pelaksanaan Pemeriksaan Bukti Permulaan Terhadap Wajib Pajak yang Diduga Melakukan Tindak Pidana di Bidang Perpajakan.

Penegakan Hukum

603

g).Dalam hal Wajib Pajak atau Kuasa Wajib Pajak menolak untuk menandatangani Berita Acara sebagaimana dimaksud pada ayat (5), Tim Pemeriksa Bukti Permulaan Wajib membuat Berita Acara Penolakan menandatangani Berita Acara sebagaimana dimaksud pada ayat (5) dengan disaksikan 2 (dua) orang saksi yang netral, antara lain Ketua RT, Ketua RW, atau Polisi.1415 (1) Pemeriksaan Bukti Permulaan dapat dilaksanakan di kantor Direktorat Jenderal pajak, tempat kegiatan usaha atau pekerjaan bebas Wajib Pajak, tempat tinggal Wajib Pajak, atau di tempat lain yang dianggap perlu oleh Pemeriksa Bukti Permulaan. (2) Pemeriksaan Bukti Permulaan di tempat sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan pada jam kerja sesuai dengan ketentuan yang berlaku di Direktorat Jenderal Pajak, dan dalam hal dipandang perlu dapat dilanjutkan di luar jam kerja.1416 (1) Dalam hal Wajib Pajak tidak ada di tempat pada saat pertama kali Tim Pemeriksa Bukti Permulaan melakukan Pemeriksaan Bukti Permulaan, Pemeriksaan Bukti Permulaan tetap dapat dilaksanakan sepanjang ada pihak yang dapat mewakili Wajib Pajak. (2) Apabila Pemeriksaan Bukti Permulaan dilanjutkan pada hari berikutnya, Tim Pemeriksa Bukti Permulaan dalam hal dipandang perlu harus mengambil langkah pengamanan dengan melakukan penyegelan dan membuat Berita Acara Penyegelan terhadap tempat yang diduga sebagai penyimpanan dokumen namun belum sempat dilakukan Pemeriksaan Bukti Permulaan. (3) Pemeriksaan Bukti Permulaan dapat dilanjutkan pada hari berikutnya dengan pembukaan segel dan membuat Berita Acara Pembukaan Segel. (4) Dalam hal ditemukan bukti-bukti perusakan segel
1415 Pasal 5 Peraturan Direktorat Jenderal Pajak Nomor PER-47/PJ/2009 tentang Petunjuk Pelaksanaan Pemeriksaan Bukti Permulaan Terhadap Wajib Pajak yang Diduga Melakukan Tindak Pidana di Bidang Perpajakan. 1416 Pasal 6 Peraturan Direktorat Jenderal Pajak Nomor PER-47/PJ/2009 tentang Petunjuk Pelaksanaan Pemeriksaan Bukti Permulaan Terhadap Wajib Pajak yang Diduga Melakukan Tindak Pidana di Bidang Perpajakan.

604 Ikhtisar Ketentuan AML & CFT

yang dimaksud pada ayat (2), Tim Pemeriksa Bukti Permulaan harus melaporkan kepada Polisi.1417 Penyegelan dilakukan dalam hal : a). Wajib Pajak atau kuasanya tidak memberi kesempatan kepada Pemeriksa Bukti Permulaan untuk memasuki tempat atau ruang serta barang bergerak dan/atau tidak bergerak, yang diduga atau patut diduga digunakan untuk menyimpan buku atau catatan, dokumen, termasuk hasil pengolahan data dari pembukuan yang dikelola secara elektronik atau secara program aplikasi on-line yang dapat memberi petunjuk tentang kegiatan usaha atau pekerjaan bebas Wajib Pajak; b). Wajib Pajak atau kuasanya menolak memberi bantuan guna kelancaran Pemeriksaan Bukti Permulaan yang antara lain berupa tidak memberi kesempatan kepada Pemeriksa Bukti Permulaan untuk mengakses data yang dikelola secara elektronik atau membuka barang bergerak dan/atau tidak bergerak; c). Wajib Pajak atau kuasanya tidak berada di tempat dan tidak ada pihak yang mempunyai kewenangan untuk bertindak selaku yang mewakili Wajib Pajak, sehingga diperlukan upaya pengamanan Pemeriksaan Bukti Permulaan sebelum Pemeriksaan Bukti Permulaan ditunda; atau d). Wajib Pajak atau kuasanya tidak berada di tempat dan Pegawai Wajib Pajak yang mempunyai kewenangan untuk bertindak selaku yang mewakili Wajib Pajak menolak memberi bantuan guna kelancaran Pemeriksaan Bukti Permulaan.1418 (1) Buku-buku, catatan-catatan, dan dokumen-dokumen termasuk hasil pengolahan data dari pembukuan yang dikelola secara elektronik atau secara program aplikasi
1417 Pasal 7 Peraturan Direktorat Jenderal Pajak Nomor PER-47/PJ/2009 tentang Petunjuk Pelaksanaan Pemeriksaan Bukti Permulaan Terhadap Wajib Pajak yang Diduga Melakukan Tindak Pidana di Bidang Perpajakan. 1418 Pasal 8 Peraturan Direktorat Jenderal Pajak Nomor PER-47/PJ/2009 tentang Petunjuk Pelaksanaan Pemeriksaan Bukti Permulaan Terhadap Wajib Pajak yang Diduga Melakukan Tindak Pidana di Bidang Perpajakan.

Penegakan Hukum

605

on-line, catatan, dokumen, keterangan dan/atau benda lainnya yang menjadi dasar, sarana dan/atau hasil pembukuan, pencatatan, atau pembuatan dokumen termasuk dokumen perpajakan yang berhubungan langsung maupun tidak langsung dengan pekerjaan, kegiatan usaha, pekerjaan bebas Wajib Pajak, atau objek yang yang terutang pajak yang diperlukan dan ditemukan pada saat pelaksanaan Pemeriksaan Bukti Permulaan di tempat Wajib Pajak dipinjam/diperoleh pada saat itu juga dan Pemeriksa Bukti Permulaan membuat Tanda Bukti Peminjaman Buku, Catatan, Dokumen, dan Lain-lain Kepada Wajib Pajak. (2) Atas sebagian atau seluruh bahan bukti yang belum dipinjam/diperoleh pada saat pelaksanaan Pemeriksaan Bukti Permulaan sebagaimana dimaksud pada ayat (1), Pemeriksa Bukti Permulaan dapat membuat Surat Permintaan Peminjaman/Perolehan Bahan Bukti dan/atau mencari Bahan Bukti di tempat Wajib Pajak atau di tempat lain. (3) Bahan Bukti yang diminta sebagaimana dimaksud pada ayat (2) harus diserahkan kepada Pemeriksa Bukti Permulaan paling lama 7 (tujuh) hari terhitung sejak Surat Permintaan Peminjaman Bahan Bukti diterima oleh Wajib Pajak. (4) Apabila Wajib Pajak tidak memenuhi jangka waktu yang dimaksud pada ayat (3), Pemeriksa Bukti Permulaan harus mengirim Surat Peringatan I, dan apabila dalam jangka waktu 7 (tujuh) hari Surat Peringatan I tidak dipenuhi, Surat Peringatan II segera diterbitkan. (5) Terhadap setiap penyerahan Bahan Bukti dari Wajib Pajak berkaitan dengan pemenuhan Surat Permintaan Peminjaman/Perolehan Bahan Bukti sebagaimana dimaksud pada ayat (3), baik yang diserahkan sebagian maupun seluruhnya, Pemeriksa harus membuat Bukti Peminjaman/Perolehan Bahan Bukti. (6) Dalam hal data hasil pengolahan elektronik disimpan dalam media disket, compact disk, tape backup, hard disk, atau media penyimpanan lainnya yang tidak dapat diperiksa karena kendala teknis, Pemeriksa Bukti Permulaan dapat meminta bantuan Tenaga Ahli untuk

606 Ikhtisar Ketentuan AML & CFT

melakukan pengubahan media atau pengubahan teknis lainnya sehingga data dimaksud dapat diperiksa, dengan menggunakan Surat Permintaan Bantuan Tenaga Ahli. (7) Dalam hal untuk mengakses dan/atau mengunduh data yang dikelola secara elektronik memerlukan peralatan dan/atau keahlian khusus, Pemeriksa Bukti Permulaan: a). dapat meminta bantuan kepada Wajib Pajak untuk menyediakan tenaga dan/atau peralatan atas biaya Wajib Pajak; atau b). meminta bantuan dari seorang atau lebih yang memiliki keahlian tertentu yang bukan merupakan Pemeriksa Bukti Permulaan, baik yang berasal dari Direktorat Jenderal Pajak maupun yang berasal dari instansi di luar Direktorat Jenderal Pajak yang telah ditunjuk oleh Direktur Jenderal Pajak dengan menggunakan Surat Permintaan Bantuan Tenaga Ahli.1419 (1) Pemeriksa Bukti Permulaan harus memanggil para calon tersangka, calon saksi, dan/atau pihak-pihak lain yang berkaitan untuk memperoleh keterangan yang diperlukan melalui Kepala Unit Pelaksana Pemeriksaan Bukti Permulaan. (2) Pemanggilan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan dengan mengirimkan Surat Panggilan I. (3) Keterangan yang diperoleh dari calon tersangka, calon saksi, dan/atau pihak-pihak lain yang berkaitan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) harus dituangkan dalam bentuk Berita Acara Permintaan Keterangan. (4) Dalam hal para calon tersangka, calon saksi, dan/ atau pihak-pihak lain yang dipanggil dengan Surat Panggilan I tidak hadir, Pemeriksa Bukti Permulaan mengirimkan Surat Panggilan II dalam jangka waktu 3 (tiga) hari setelah Surat Pemanggilan I. (5) Dalam hal para calon tersangka, calon saksi, dan/ atau pihak-pihak sebagaimana dimaksud pada ayat yang dipanggil dengan Surat Panggilan II tidak hadir,

1419 Pasal 9 Peraturan Direktorat Jenderal Pajak Nomor PER-47/PJ/2009 tentang Petunjuk Pelaksanaan Pemeriksaan Bukti Permulaan Terhadap Wajib Pajak yang Diduga Melakukan Tindak Pidana di Bidang Perpajakan.

Penegakan Hukum

607

Pemeriksa Bukti Permulaan melakukan upaya lain sesuai dengan ketentuan yang berlaku.1420 (1)Pemeriksaan Bukti Permulaan harus diselesaikan dalam jangka waktu 4 (empat) bulan sejak Surat Perintah Pemeriksaan Bukti Permulaan diterima oleh Wajib Pajak. Apabila jangka waktu sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tidak dapat dipenuhi, Pemeriksa Bukti Permulaan paling lambat 7 (tujuh) hari sebelum jatuh tempo wajib menyampaikan permohonan perpanjangan jangka waktu penyelesaian kepada penerbit Surat Perintah Pemeriksaan Bukti Permulaan. (2) Setiap permohonan perpanjangan jangka waktu penyelesaian Pemeriksaan Bukti Permulaan wajib dilampiri dengan Laporan Kemajuan Pemeriksaan Bukti Permulaan. (3) Berdasarkan permohonan sebagaimana dimaksud pada ayat (3), Kepala Unit Pelaksana Pemeriksaan Bukti Permulaan penerbit Surat Perintah Pemeriksa Bukti Permulaan wajib memutuskan permohonan yang dimaksud dalam jangka waktu 3 (tiga) hari sejak permohonan diterima. (4) Perpanjangan jangka waktu penyelesaian Pemeriksaan Bukti Permulaan yang pertama paling lama dapat diberikan untuk 2 (dua) bulan dan yang kedua kali paling lama dapat diberikan untuk 2 (dua) bulan.1421 (1) Hasil Pemeriksaan Bukti Permulaan harus dituangkan dalam Laporan Pemeriksaan Bukti Permulaan. (2) Laporan Pemeriksaan Bukti Permulaan antara lain harus mencantumkan hal-hal sebagai berikut: a. Instruksi Pemeriksaan Bukti Permulaan; b. Surat Perintah Pemeriksaan Bukti Permulaan; c. Surat Tugas; d. identitas Wajib Pajak;
1420 Pasal 10 Peraturan Direktorat Jenderal Pajak Nomor PER-47/PJ/2009 tentang Petunjuk Pelaksanaan Pemeriksaan Bukti Permulaan Terhadap Wajib Pajak yang Diduga Melakukan Tindak Pidana di Bidang Perpajakan. 1421 Pasal 11 Peraturan Direktorat Jenderal Pajak Nomor PER-47/PJ/2009 tentang Petunjuk Pelaksanaan Pemeriksaan Bukti Permulaan Terhadap Wajib Pajak yang Diduga Melakukan Tindak Pidana di Bidang Perpajakan.

608 Ikhtisar Ketentuan AML & CFT

e. pemenuhan kewajiban perpajakan Tahun Pajak yang diperiksa; f. alasan dilakukan Pemeriksaan Bukti Permulaan (bukti awal); g. tempat dan waktu kejadian; h. pembukuan atau pencatatan Wajib Pajak; i. data/informasi yang tersedia dari Kantor Pelayanan Pajak; j. daftar buku dan dokumen yang dipinjam; dan k. hasil Pemeriksaan Bukti Permulaan, termasuk: 1) modus operandi; 2) calon tersangka; 3) calon saksi; 4) kerugian negara; 5) pasal-pasal yang dilanggar; 6) bahan bukti yang diperoleh; dan 7) kesimpulan dan usul.1422 (1) Konsep Laporan Pemeriksaan Bukti Permulaan disampaikan kepada Direktur Intelijen dan Penyidikan dalam hal instruksi Pemeriksaan Bukti Permulaan diterbitkan oleh Direktur Jenderal Pajak atau Direktur Intelijen dan Penyidikan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 ayat (2) huruf a dan b untuk ditelaah. (2) Konsep Laporan Pemeriksaan Bukti Permulaan disampaikan kepada Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pajak yang menerbitkan instruksi Pemeriksaan Bukti Permulaan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 ayat (2) huruf c untuk ditelaah. (3) Setelah konsep Laporan Pemeriksaan Bukti Permulaan diterima, selanjutnya Pejabat yang bersangkutan membuat resume atas konsep Laporan Pemeriksaan Bukti Permulaan dan menjadwalkan pemaparan dengan Tim Pemeriksa Bukti Permulaan dihadapan Tim Penelaah. (4) Tim Penelaah agar dibentuk dengan Surat Keputusan Kepala Unit Pelaksana Pemeriksaan Bukti Permulaan yang
1422 Pasal 12 Peraturan Direktorat Jenderal Pajak Nomor PER-47/PJ/2009 tentang Petunjuk Pelaksanaan Pemeriksaan Bukti Permulaan Terhadap Wajib Pajak yang Diduga Melakukan Tindak Pidana di Bidang Perpajakan.

Penegakan Hukum

609

bersangkutan, dengan jumlah anggota minimal 3 (tiga) orang, yang berasal dari sub direktorat/bidang yang menangani Pemeriksaan Bukti Permulaan dan sub direktorat/bidang lainnya. (5) Tugas Tim Penelaah adalah mereview dan membahas konsep Laporan Pemeriksaan Bukti Permulaan dengan Tim Pemeriksa Bukti Permulaan. (6) Hasil penelaahan sebagaimana dimaksud ayat (5) dituangkan dalam bentuk Berita Acara Penelaahan yang digunakan sebagai dasar penentuan tindak lanjut Pemeriksaan Bukti Permulaan oleh Kepala Unit Pelaksana Pemeriksaan Bukti Permulaan. (7) Tindak lanjut Pemeriksaan Bukti Permulaan sebagaimana dimaksud pada ayat (6) dapat berupa: a. usul penyidikan; atau b. tindakan lainnya, berupa: 1) penerbitan surat ketetapan pajak dalam hal Wajib Pajak melakukan perbuatan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 13A Undang-Undang KUP; 2) penerbitan surat ketetapan pajak dalam hal Wajib Pajak badan tidak memenuhi ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 29 ayat (3) dan ayat (3a) Undang-Undang KUP, tetapi tidak ditemukan Bukti Permulaan bahwa Wajib Pajak melakukan tindak pidana di bidang perpajakan; 3) pembuatan laporan kepada pihak lain yang berwenang apabila ditemukan Bukti Permulaan yang mengandung adanya unsur tindak pidana selain di bidang perpajakan; 4) pembuatan laporan sumir apabila Wajib Pajak mengungkapkan ketidakbenaran perbuatannya sebagaimana dimaksud dalam Pasal 8 ayat (3) Undang-Undang KUP;atau 5) pembuatan laporan sumir apabila tidak ditemukan adanya indikasi tindak pidana di bidang perpajakan, Wajib Pajak yang dilakukan Pemeriksaan Bukti Permulaan tidak ditemukan, Wajib Pajak orang pribadi yang dilakukan Pemeriksaan Bukti Permulaan meninggal dunia.1423
1423 Pasal 13 Peraturan Direktorat Jenderal Pajak Nomor PER-47/PJ/2009 tentang Petunjuk Pelaksanaan Pemeriksaan Bukti Permulaan Terhadap Wajib Pajak yang Diduga Melakukan Tindak Pidana di Bidang Perpajakan.

610 Ikhtisar Ketentuan AML & CFT

(1) Dalam hal keputusan tindak lanjut yang diambil berupa penyidikan, Direktur Intelijen dan Penyidikan membuat usulan kepada Direktur Jenderal Pajak untuk diterbitkan instruksi penyidikan. (2) Usulan penyidikan dari Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pajak disampaikan kepada Direktur Jenderal Pajak melalui Direktur Intelijen dan Penyidikan. (3) Usulan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dilampiri dengan konsep Laporan Pemeriksaan Bukti Permulaan dan Berita Acara Penelaahan sebagaimana dimaksud pada Pasal 13 ayat (6) untuk dilakukan penelaahan oleh Tim Penelaah Penyidikan Direktorat Intelijen dan Penyidikan sebelum dibuatkan usulan kepada Direktur Jenderal Pajak sebagaimana dimaksud pada ayat (1). (4) Dalam hal usul penyidikan disetujui, Laporan Pemeriksaan Bukti Permulaan segera ditutup dan dibuatkan Laporan Kejadian.1424 (1) Dalam hal keputusan tindak lanjut yang diambil berupa penerbitan surat ketetapan pajak sebagaimana dimaksud dalam Pasal 13 huruf a angka (1) Peraturan Menteri Keuangan 202/ PMK.03/2007 tentang Tata Cara Pemeriksaan Bukti Permulaan Tindak Pidana di Bidang Perpajakan, Pemeriksa Bukti Permulaan menindaklanjuti Pemeriksaan Bukti Permulaan tersebut dengan membuat Nota Perhitungan sebagai dasar penerbitan surat ketetapan pajak sebagaimana dimaksud dalam Pasal 13A Undang-Undang KUP. (2) Dalam hal keputusan tindak lanjut yang diambil berupa penerbitan surat ketetapan pajak sebagaimana dimaksud dalam Pasal 13 huruf a angka (2) Peraturan Menteri Keuangan 202/ PMK.03/2007 tentang Tata Cara Pemeriksaan Bukti Permulaan Tindak Pidana di Bidang Perpajakan, Pemeriksa Bukti Permulaan menindaklanjuti hasil Pemeriksaan Bukti Permulaan sesuai dengan Pasal 14 sampai dengan Pasal 22 Peraturan Direktur Jenderal Pajak Nomor PER-19/PJ./2008 tentang Petunjuk Pelaksanaan Pemeriksaan Lapangan.

1424 Pasal 14 Peraturan Direktorat Jenderal Pajak Nomor PER-47/PJ/2009 tentang Petunjuk Pelaksanaan Pemeriksaan Bukti Permulaan Terhadap Wajib Pajak yang Diduga Melakukan Tindak Pidana di Bidang Perpajakan.

Penegakan Hukum

611

(3) Dalam hal berdasarkan hasil Pemeriksaan Bukti Permulaan ditemukan Bukti Permulaan yang mengandung adanya unsur tindak pidana selain di bidang perpajakan, Pemeriksa Bukti Permulaan melaporkan kepada Kepala Unit Pelaksana Pemeriksaan Bukti Permulaan untuk ditelaah lebih lanjut, dan dalam hal terdapat cukup bukti adanya tindak pidana lain maka Kepala Unit Pelaksana Pemeriksaan Bukti Permulaan meneruskan laporan ini kepada pihak lain yang berwenang dan Pemeriksaan Bukti Permulaan atas tindak pidana perpajakannya tetap dilanjutkan. (4) Dalam hal Wajib Pajak menggunakan Pasal 8 ayat (3) Undang-Undang KUP dan hasil penelahaan Tim Penelaah menyatakan bahwa pengungkapan ketidakbenaran perbuatan Wajib Pajak telah sesuai dengan ketentuan yang ada dalam Pasal 8 ayat (3) Undang-Undang KUP serta telah mendapat persetujuan dari Kepala Unit Pelaksana Pemeriksaan Bukti Permulaan, Pemeriksa Bukti Permulaan menghentikan Pemeriksaan Bukti Permulaan dengan membuat laporan sumir. (5) Dalam hal keputusan tindak lanjut yang diambil berupa pembuatan laporan sumir karena di dalam Pemeriksaan Bukti Permulaan tidak ditemukan adanya indikasi tindak pidana di bidang perpajakan, namun terdapat pajak yang terhutang maka Pemeriksa Bukti Permulaan membuat risalah temuan kepada Kantor Pelayanan Pajak tempat wajib Pajak terdaftar. (6) Dalam hal keputusan tindak lanjut yang diambil berupa pembuatan laporan sumir karena Wajib Pajak tidak ditemukan, Pemeriksa Bukti Permulaan membuat laporan sumir dengan catatan apabila di kemudian hari Wajib Pajak ditemukan maka Pemeriksaan Bukti Permulaan dibuka kembali. (7) Dalam hal keputusan tindak lanjut yang diambil berupa pembuatan laporan sumir karena Wajib Pajak orang pribadi meninggal dunia, namun terdapat pajak yang terutang maka Pemeriksa Bukti Permulaan membuat laporan sumir dan mengirimkan risalah temuan kepada Kantor Pelayanan Pajak tempat Wajib Pajak terdaftar. (8) Risalah temuan sebagaimana dimaksud pada ayat (5) dan ayat (7) merupakan keterangan lain sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7 ayat (2) Peraturan Pemerintah Nomor 80 Tahun 2007 tentang Tata Cara Pelaksanaan Hak dan Kewajiban Perpajakan Berdasarkan Undang-Undang Nomor 6 Tahun

612 Ikhtisar Ketentuan AML & CFT

1983 tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan sebagaimana telah beberapa kali diubah terakhir dengan Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2007.1425 Dalam hal keputusan tindak lanjut yang diambil berupa pembuatan laporan sumir karena di dalam Pemeriksaan Bukti Permulaan tidak ditemukan adanya indikasi tindak pidana di bidang perpajakan, namun terdapat permohonan pengembalian kelebihan pembayaran pajak sebagaimana dimaksud dalam Pasal 17B ayat (4) Undang-Undang KUP, Pemeriksa Bukti Permulaan mengirimkan laporan sumir kepada Direktorat Pemeriksaan dan Penagihan.1426 Dalam hal hasil Pemeriksaan Bukti Permulaan ditemukan adanya aparat pajak yang terkait dengan tindak pidana yang dilakukan oleh Wajib Pajak, Pemeriksa Bukti Permulaan wajib melaporkan kepada Direktur Jenderal Pajak berupa Laporan Keterlibatan Aparat Pajak untuk ditindaklanjuti dan Pemeriksaan Bukti Permulaan terhadap Wajib Pajak diteruskan sebagaimana ketentuan yang berlaku.1427 (1) Dalam hal Pemeriksaan Bukti Permulaan ditindaklanjuti dengan tindakan penyidikan, Bahan Bukti yang diperoleh atau ditemukan dalam Pemeriksaan Bukti Permulaan yang menimbulkan dugaan kuat tentang terjadinya tindak pidana di bidang perpajakan dan/atau tindak pidana umum yang dilakukan oleh Wajib Pajak yang sedang diperiksa dan/atau oleh pihak lain yang berkaitan dengan Wajib Pajak harus disimpan oleh Pemeriksa Bukti Permulaan untuk kepentingan penyidikan. (2) Dalam hal Pemeriksaan Bukti Permulaan tidak dilanjutkan ke tindakan penyidikan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 15 ayat (1), ayat (2), ayat (4), ayat (5), dan ayat (7) maka
1425 Pasal 15 Peraturan Direktorat Jenderal Pajak Nomor PER-47/PJ/2009 tentang Petunjuk Pelaksanaan Pemeriksaan Bukti Permulaan Terhadap Wajib Pajak yang Diduga Melakukan Tindak Pidana di Bidang Perpajakan. 1426 Pasal 16 Peraturan Direktorat Jenderal Pajak Nomor PER-47/PJ/2009 tentang Petunjuk Pelaksanaan Pemeriksaan Bukti Permulaan Terhadap Wajib Pajak yang Diduga Melakukan Tindak Pidana di Bidang Perpajakan. 1427 Pasal 17 Peraturan Direktorat Jenderal Pajak Nomor PER-47/PJ/2009 tentang Petunjuk Pelaksanaan Pemeriksaan Bukti Permulaan Terhadap Wajib Pajak yang Diduga Melakukan Tindak Pidana di Bidang Perpajakan.

Penegakan Hukum

613

buku-buku, catatan-catatan, dan dokumen-dokumen lainnya yang dipinjam oleh Pemeriksa Bukti Permulaan berdasarkan bukti Peminjaman, termasuk dokumen yang disimpan di media penyimpanan elektronik milik Wajib Pajak harus dikembalikan kepada Wajib Pajak dengan menggunakan Bukti Pengembalian paling lambat 14 (empat belas) hari setelah tanggal Laporan Pemeriksaan Bukti Permulaan.1428 Dalam hal dalam Pemeriksaan Bukti Permulaan ditemukan adanya indikasi tindak pidana di bidang perpajakan yang: 1) dilakukan oleh Wajib Pajak terperiksa dalam Tahun Pajak yang berbeda dengan Tahun Pajak yang sedang dilakukan Pemeriksaan Bukti Permulaan, Pemeriksa Bukti Permulaan segera mengusulkan perluasan Pemeriksaan Bukti Permulaan kepada Kepala Unit Pelaksana Pemeriksaan Bukti Permulaan penerbit instruksi Pemeriksaan Bukti Permulaan. 2) dilakukan oleh Wajib Pajak lainnya, di mana Wajib Pajak tersebut terdaftar di Kantor Pelayanan Pajak di lingkungan Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pajak yang sama, Pemeriksa Bukti Permulaan membuat laporan kepada Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pajak untuk ditindak lanjuti. 3) dilakukan oleh Wajib Pajak lainnya, di mana Wajib Pajak tersebut terdaftar di Kantor Pelayanan Pajak di luar lingkungan Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pajaknya, Pemeriksa Bukti Permulaan membuat laporan kepada Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pajaknya untuk ditindaklanjuti kepada Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pajak terkait.1429 Walaupun telah dilakukan tindakan pemeriksaan, tetapi belum dilakukan tindakan penyidikan mengenai adanya ketidakbenaran yang dilakukan Wajib Pajak sebagaimana dimaksud dalam Pasal 38, terhadap ketidakbenaran perbuatan
1428 Pasal 18 Peraturan Direktorat Jenderal Pajak Nomor PER-47/PJ/2009 tentang Petunjuk Pelaksanaan Pemeriksaan Bukti Permulaan Terhadap Wajib Pajak yang Diduga Melakukan Tindak Pidana di Bidang Perpajakan. 1429 Pasal 19 Peraturan Direktorat Jenderal Pajak Nomor PER-47/PJ/2009 tentang Petunjuk Pelaksanaan Pemeriksaan Bukti Permulaan Terhadap Wajib Pajak yang Diduga Melakukan Tindak Pidana di Bidang Perpajakan.

614 Ikhtisar Ketentuan AML & CFT

Wajib Pajak tersebut tidak akan dilakukan penyidikan, apabila Wajib Pajak dengan kemauan sendiri mengungkapkan ketidakbenaran perbuatannya tersebut dengan disertai pelunasan kekurangan pembayaran jumlah pajak yang sebenarnya terutang beserta sanksi administrasi berupa denda sebesar 150% (seratus lima puluh persen) dari jumlah pajak yang kurang dibayar.1430 Wajib Pajak yang melanggar ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 38 selama belum dilakukan penyidikan, sekalipun telah dilakukan pemeriksaan dan Wajib Pajak telah mengungkapkan kesalahannya dan sekaligus melunasi jumlah pajak yang sebenarnya terutang beserta sanksi administrasi berupa denda sebesar 150% (seratus lima puluh persen) dari jumlah pajak yang kurang dibayar, terhadapnya tidak akan dilakukan penyidikan. Namun, apabila telah dilakukan tindakan penyidikan dan mulainya penyidikan tersebut diberitahukan kepada Penuntut Umum, kesempatan untuk mengungkapkan ketidakbenaran perbuatannya sudah tertutup bagi Wajib Pajak yang bersangkutan.1431 Apabila dalam mengungkapkan pembukuan, pencatatan, atau dokumen serta keterangan yang diminta, Wajib Pajak terikat oleh suatu kewajiban untuk merahasiakannya, maka kewajiban untuk merahasiakan itu ditiadakan oleh permintaan untuk keperluan pemeriksaan sebagaimana dimaksud pada ayat (1).1432 Untuk mencegah adanya dalih bahwa Wajib Pajak yang sedang diperiksa terikat pada kerahasiaan sehingga pembukuan, catatan, dokumen serta keterangan-keterangan iain yang diperlukan tidak dapat diberikan oleh Wajib Pajak maka ayat ini menegaskan bahwa kewajiban merahasiakan itu ditiadakan.1433
1430 Pasal 8 ayat (3) Undang-Undang RI No. 28 Tahun 2007 tentang Perubahan Atas Undang-Undang No. 6 Tahun 1983 tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan. 1431 Penjelasan Pasal 8 ayat (3) Undang-Undang RI No. 28 Tahun 2007 tentang Perubahan Atas Undang-Undang No. 6 Tahun 1983 tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan. 1432 Pasal 29 ayat (4) Undang-Undang RI No. 28 Tahun 2007 tentang Perubahan Atas Undang-Undang No. 6 Tahun 1983 tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan. 1433 Penjelasan Pasal 29 Ayat (4) Undang-Undang RI No. 28 Tahun 2007 tentang Perubahan Atas Undang-Undang No. 6 Tahun 1983 tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan.

Penegakan Hukum

615

(1) Apabila dalam menjalankan ketentuan peraturan perundangundangan perpajakan diperlukan keterangan atau bukti dari bank, akuntan publik, notaris, konsultan pajak, kantor administrasi, dan/atau pihak ketiga lainnya, yang mempunyai hubungan dengan Wajib Pajak yang dilakukan pemeriksaan pajak, penagihan pajak, atau penyidikan tindak pidana di bidang perpajakan, atas permintaan tertulis dari Direktur Jenderal Pajak, pihak-pihak tersebut wajib memberikan keterangan atau bukti yang diminta. (2) Dalam hal pihak-pihak sebagaimana dimaksud pada ayat (1) terikat oleh kewajiban merahasiakan, untuk keperluan pemeriksaan, penagihan pajak, atau penyidikan tindak pidana di bidang perpajakan, kewajiban merahasiakan tersebut ditiadakan, kecuali untuk bank, kewajiban merahasiakan ditiadakan atas permintaan tertulis dari Menteri Keuangan. (3) Tata cara permintaan keterangan atau bukti dari pihakpihak yang terikat oleh kewajiban merahasiakan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) diatur dengan atau berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan.1434 Untuk menjalankan ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan, atas permintaan tertulis Direktur Jenderal Pajak, pihak ketiga yaitu bank, akuntan publik, notaris, konsultan pajak, kantor administrasi, dan pihak ketiga lainnya yang mempunyai hubungan dengan kegiatan usaha Wajib Pajak yang dilakukan pemeriksaan pajak atau penagihan pajak atau penyidikan tindak pidana di bidang perpajakan harus memberikan keterangan atau bukti-bukti yang diminta. Yang dimaksud dengan ”konsultan pajak” adalah setiap orang yang dalam lingkungan pekerjaannya secara bebas memberikan jasa konsultasi kepada Wajib Pajak dalam melaksanakan hak dan memenuhi kewajiban perpajakannya sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan.1435 Untuk kepentingan perpajakan, pimpinan Bank Indonesia atas permintaan Menteri Keuangan berwenang mengeluarkan
1434 Pasal 35 Undang-Undang RI No. 28 Tahun 2007 tentang Perubahan Atas UndangUndang No. 6 Tahun 1983 tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan. 1435 Penjelasan Pasal 35 ayat (1) Undang-Undang RI No. 28 Tahun 2007 tentang Perubahan Atas Undang-Undang No. 6 Tahun 1983 tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan.

616 Ikhtisar Ketentuan AML & CFT

perintah tertulis kepada bank agar memberikan keterangan dan memperlihatkan bukti-bukti tertulis serta surat-surat mengenai keadaan keuangan nasabah penyimpan tertentu kepada pejabat pajak.1436 V.6. 3 Penyidikan Penyidikan tindak pidana di bidang perpajakan adalah serangkaian tindakan yang dilakukan oleh penyidik untuk mencari serta mengumpulkan bukti yang dengan bukti itu membuat terang tindak pidana di bidang perpajakan yang terjadi serta menemukan tersangkanya.1437 Penyidikan tindak pidana di bidang perpajakan yang selanjutnya disebut penyidikan adalah serangkaian tindakan yang dilakukan oleh penyidik untuk mencari serta mengumpulkan bukti yang dengan bukti itu membuat terang tindak pidana di bidang perpajakan yang terjadi serta menemukan tersangkanya sepanjang belum dilimpahkan ke pengadilan.1438 Penyidik adalah pejabat Pegawai Negeri Sipil tertentu di lingkungan Direktorat Jenderal Pajak yang diberi wewenang khusus sebagai penyidik untuk melakukan penyidikan tindak pidana di bidang per pajakan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.1439 Penyidik sebagaimana dimaksud pada ayat (1) memberitahukan dimulainya penyidikan dan menyampaikan hasil penyidikannya kepada penuntut umum melalui penyidik pejabat Polisi Negara Republik Indonesia sesuai dengan ketentuan yang diatur dalam Undang-Undang Hukum Acara Pidana.1440

1436 Penjelasan Pasal 35 ayat (2) Undang-Undang RI No. 28 Tahun 2007 tentang Perubahan Atas Undang-Undang No. 6 Tahun 1983 tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan. 1437 Pasal 1 angka 31 Undang-Undang RI No. 28 Tahun 2007 tentang Perubahan Atas Undang-Undang No. 6 Tahun 1983 tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan. 1438 Pasal 1 angka 2 Peraturan Menteri Keuangan Nomor 130/PMK.03/2009 tentang Tata Cara Penghentian Penyidikan di Bidang Perpajakan untuk Kepentingan Penerimaan Negara. 1439 Pasal 1 angka 32 Undang-Undang RI No. 28 Tahun 2007 tentang Perubahan Atas Undang-Undang No. 6 Tahun 1983 tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan. 1440 Pasal 44 ayat (3) Undang-Undang RI No. 28 Tahun 2007 tentang Perubahan Atas Undang-Undang No. 6 Tahun 1983 tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan.

Penegakan Hukum

617

(1) Penyidikan tindak pidana di bidang perpajakan dilakukan oleh Penyidik Pajak berdasarkan Surat Perintah Penyidikan. (2) Saat dimulainya Penyidikan adalah pada saat disampaikannya Surat Pemberitahuan Dimulainya Penyidikan kepada Jaksa atau Penuntut Umum melalui Kepolisian Negara Republik Indonesia dan kepada Tersangka. (3) Penyidikan pajak dilakukan berdasarkan hasil pemeriksaan bukti permulaan.1441 (1) Dalam melakukan Penyidikan, Penyidik Pajak wajib memperhatikan asas-asas hukum yang berlaku, termasuk: a. Asas praduga tak bersalah, yaitu bahwa setiap orang yang disangka, dituntut, dan atau dihadapkan di muka sidang pengadilan, wajib dianggap tidak bersalah sampai adanya putusan pengadilan yang menyatakan kesalahannya dan memperoleh kekuatan hukum tetap; b. Asas persamaan di muka hukum, yaitu bahwa setiap orang mempunyai hak dan kewajiban yang sama dimuka hukum, tanpa ada perbedaan; (2) Pada tahap pemeriksaan dalam proses penyidikan, setiap Tersangka perkara tindak pidana di bidang perpajakan dapat didampingi penasehat hukumnya. (3) Dalam hal diperlukan penangkapan dan atau penahanan, dilakukan dengan bantuan Kepolisian Negara Republik Indonesia.1442 (1) Dalam melakukan tugasnya, Penyidik Pajak harus berlandaskan pada undang-undang hukum acara pidana, hukum pidana dan ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan yang berlaku. (2) Untuk melindungi bahan bukti yang ditemukan dalam proses penyidikan, Penyidik Pajak berwenang untuk melakukan tindakan penyegelan sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan yang berlaku.
1441 Pasal 7 Keputusan Direktur Jenderal Pajak Nomor KEP-272/PJ/2002 tentang Petunjuk Pelaksanaan Pengamatan, Pemeriksaan Bukti Permulaan, dan Penyidikan Tindak Pidana di Bidang Perpajakan. 1442 Pasal 8 Keputusan Direktur Jenderal Pajak Nomor KEP-272/PJ/2002 tentang Petunjuk Pelaksanaan Pengamatan, Pemeriksanaan Bukti Permulaan, dan Penyidikan Tindak Pidana di Bidang Perpajakan.

618 Ikhtisar Ketentuan AML & CFT

(3) Dalam melakukan tugasnya : a. Penyidik Pajak sebagai penegak hukum wajib memelihara dan meningkatkan sikap terpuji sejalan dengan tugas, fungsi, wewenang, serta tanggung jawabnya; b. Penyidik Pajak wajib menunjukkan Tanda Pengenal Penyidik Pajak dan Surat Perintah Penyidikan pada saat melakukan Penyidikan; c. Penyidik Pajak dapat dibantu oleh petugas pajak lain atas tanggung jawabnya berdasarkan izin tertulis dari atasannya; d. Penyidik Pajak dalam setiap tindakan penyidikan wajib membuat laporan dan berita acara; e. Penyidik Pajak harus berpedoman pada kode etik yang berlaku. 1443

(1) Instruksi untuk melakukan penyidikan pajak diterbitkan oleh Direktur Jenderal Pajak berdasarkan Laporan Pemeriksaan Bukti Permulaan. (2) Surat Perintah Penyidikan ditandatangani oleh Pejabat yang berwenang sebagaimana dimaksud Pasal 1 angka 20, berdasarkan Instruksi Penyidikan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1).1444 Penyidik Pajak wajib memberitahukan secara tertulis saat dimulainya Penyidikan dan menyampaikan hasil Penyidikannya kepada Jaksa atau Penuntut Umum melalui penyidik Kepolisian Negara Republik Indonesia sesuai ketentuan yang berlaku.1445 Penundaan Transaksi (1) Penyidik, penuntut umum, atau hakim berwenang memerintahkan Pihak Pelapor untuk melakukan

1443 Pasal 9 Keputusan Direktur Jenderal Pajak Nomor KEP-272/PJ/2002 tentang Petunjuk Pelaksanaan Pengamatan, Pemeriksanaan Bukti Permulaan, dan Penyidikan Tindak Pidana di Bidang Perpajakan. 1444 Pasal 10 Keputusan Direktur Jenderal Pajak Nomor KEP-272/PJ/2002 tentang Petunjuk Pelaksanaan Pengamatan, Pemeriksanaan Bukti Permulaan, dan Penyidikan Tindak Pidana di Bidang Perpajakan. 1445 Pasal 11 Keputusan Direktur Jenderal Pajak Nomor KEP-272/PJ/2002. tentang Petunjuk Pelaksanaan Pengamatan, Pemeriksanaan Bukti Permulaan, dan Penyidikan Tindak Pidana di Bidang Perpajakan.

Penegakan Hukum

619

(2)

(3) (4)

(5)

penundaan Transaksi terhadap Harta Kekayaan yang diketahui atau patut diduga merupakan hasil tindak pidana. Perintah penyidik, penuntut umum, atau hakim sebagaimana dimaksud pada ayat (1) harus dilakukan secara tertulis dengan menyebutkan secara jelas mengenai: a. nama dan jabatan yang meminta penundaan Transaksi; b. identitas setiap orang yang Transaksinya akan dilakukan penundaan; c. alasan penundaan Transaksi; dan d. tempat Harta Kekayaan berada. Penundaan Transaksi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan paling lama 5 (lima) hari kerja. Pihak Pelapor wajib melaksanakan penundaan Transaksi sesaat setelah surat perintah/permintaan penundaan Transaksi diterima dari penyidik, penuntut umum, atau hakim. Pihak Pelapor wajib menyerahkan berita acara pelaksanaan penundaan Transaksi kepada penyidik, penuntut umum, atau hakim yang meminta penundaan Transaksi paling lama 1 (satu) hari kerja sejak tanggal pelaksanaan penundaan Transaksi.1446

Pemblokiran (1) Penyidik, penuntut umum, atau hakim berwenang memerintahkan Pihak Pelapor untuk melakukan pemblokiran Harta Kekayaan yang diketahui atau patut diduga merupakan hasil tindak pidana dari: a. setiap orang yang telah dilaporkan oleh PPATK kepada penyidik; b. tersangka; atau c. terdakwa. (2) Perintah penyidik, penuntut umum, atau hakim sebagaimana dimaksud pada ayat (1) harus dilakukan secara tertulis dengan menyebutkan secara jelas mengenai:

1446 Pasal 70 Undang-Undang RI No. 8 Tahun 2010 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang.

620 Ikhtisar Ketentuan AML & CFT

a.

(3) (4)

(5)

(6)

(7)

nama dan jabatan penyidik, penuntut umum, atau hakim; b. identitas setiap orang yang telah dilaporkan oleh PPATK kepada penyidik, tersangka, atau terdakwa; c. alasan pemblokiran; d. tindak pidana yang disangkakan atau didakwakan; dan e. tempat Harta Kekayaan berada. Pemblokiran sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan paling lama 30 (tiga puluh) hari kerja. Dalam hal jangka waktu pemblokiran sebagaimana dimaksud pada ayat (3) berakhir, Pihak Pelapor wajib mengakhiri pemblokiran demi hukum. Pihak Pelapor wajib melaksanakan pemblokiran sesaat setelah surat perintah pemblokiran diterima dari penyidik, penuntut umum, atau hakim. Pihak Pelapor wajib menyerahkan berita acara pelaksanaan pemblokiran kepada penyidik, penuntut umum, atau hakim yang memerintahkan pemblokiran paling lama 1 (satu) hari kerja sejak tanggal pelaksanaan pemblokiran. Harta Kekayaan yang diblokir harus tetap berada pada Pihak Pelapor yang bersangkutan.1447

Permintaan keterangan dari Penyedia Jasa Keuangan (1) Untuk kepentingan pemeriksaan dalam perkara tindak pidana pencucian uang, penyidik, penuntut umum, atau hakim berwenang meminta Pihak Pelapor untuk memberikan keterangan secara tertulis mengenai Harta Kekayaan dari: a. orang yang telah dilaporkan oleh PPATK kepada penyidik; b. tersangka; atau c. terdakwa. (2) Dalam meminta keterangan sebagaimana dimaksud pada ayat (1), bagi penyidik, penuntut umum, atau hakim tidak berlaku ketentuan peraturan perundang-undangan yang mengatur rahasia bank dan kerahasiaan Transaksi Keuangan lain.
1447 Pasal 71 Undang-Undang RI No. 8 Tahun 2010 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang.

Penegakan Hukum

621

(3) Permintaan keterangan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) harus diajukan dengan menyebutkan secara jelas mengenai: a. nama dan jabatan penyidik, penuntut umum, atau hakim; b. identitas orang yang terindikasi dari hasil analisis atau pemeriksaan PPATK, tersangka, atau terdakwa; c. uraian singkat tindak pidana yang disangkakan atau didakwakan; dan d. tempat Harta Kekayaan berada. (4) Permintaan sebagaimana dimaksud pada ayat (3) harus disertai dengan: a. laporan polisi dan surat perintah penyidikan; b. surat penunjukan sebagai penuntut umum; atau c. surat penetapan majelis hakim. (5) Surat permintaan untuk memperoleh keterangan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (3) harus ditandatangani oleh: a. Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia atau kepala kepolisian daerah dalam hal permintaan diajukan oleh penyidik dari Kepolisian Negara Republik Indonesia; b. pimpinan instansi atau lembaga atau komisi dalam hal permintaan diajukan oleh penyidik selain penyidik Kepolisian Negara Republik Indonesia; c. Jaksa Agung atau kepala kejaksaan tinggi dalam hal permintaan diajukan oleh jaksa penyidik dan/atau penuntut umum; atau d. hakim ketua majelis yang memeriksa perkara yang bersangkutan. Surat permintaan sebagaimana dimaksud pada ayat (4) ditembuskan kepada PPATK.1448 (1) Penyidik Pajak dalam melakukan penggeledahan dan atau penyitaan harus terlebih dahulu mendapat izin tertulis Ketua Pengadilan Negeri setempat dan harus berdasarkan Surat Perintah Penggeledahan dan atau Penyitaan dari pejabat yang berwenang selaku Penyidik.
1448 Undang-Undang RI No. 8 Tahun 2010 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian uang.

622 Ikhtisar Ketentuan AML & CFT

(2) Penyidik Pajak yang melakukan penggeledahan dan atau penyitaan harus membuat berita acara dalam waktu 2 (dua) hari setelah melakukan penggeledahan dan atau penyitaan, dan tindasannya disampaikan kepada pihak atau wakil atau kuasa atau pegawai dari pihak yang menguasai tempat yang digeledah dan atau bahan bukti yang disita. (3) Tindasan berita acara sebagaimana tersebut dalam ayat (2) yang dilengkapi daftar rincian bahan bukti yang disita diserahkan dengan bukti penerimaan. (4) Penggeledahan dan penyitaan yang dilakukan oleh Penyidik Pajak harus disaksikan sekurang-kurangnya oleh 2 (dua) orang saksi.1449 Dalam keadaan yang sangat perlu dan mendesak, apabila Penyidik Pajak harus segera bertindak dan tidak mungkin untuk mendapatkan surat izin terlebih dahulu, Penyidik Pajak dapat melakukan penggeledahan dan atau penyitaan atas bendabenda yang berkaitan dengan tindak pidana di bidang perpajakan dengan kewajiban segera melaporkan kepada Ketua Pengadilan Negeri setempat guna memperoleh persetujuannya, selambat-lambatnya 2 (dua) hari setelah pelaksanaan penggeledahan dan atau penyitaan.1450 Prosedur dan tatacara pengurusan barang bukti yang disita diatur lebih lanjut dalam Petunjuk Teknis Penyidikan.1451 (1) Pemanggilan tersangka atau saksi oleh Penyidik Pajak dalam rangka pemeriksaan untuk menambah atau melengkapi petunjuk dan bukti yang ada dilakukan dengan surat panggilan yang sah. (2) Surat panggilan harus sudah diterima oleh yang dipanggil selambat-lambatnya tiga hari sebelum tanggal hadir yang ditentukan.
1449 Pasal 12 Keputusan Direktur Jenderal Pajak Nomor KEP-272/PJ/2002 tentang Petunjuk Pelaksanaan Pengamatan, Pemeriksanaan Bukti Permulaan, dan Penyidikan Tindak Pidana di Bidang Perpajakan. 1450 Pasal 13 Keputusan Direktur Jenderal Pajak Nomor KEP-272/PJ/2002 tentang Petunjuk Pelaksanaan Pengamatan, Pemeriksanaan Bukti Permulaan, dan Penyidikan Tindak Pidana di Bidang Perpajakan. 1451 Pasal 14 Keputusan Direktur Jenderal Pajak Nomor KEP-272/PJ/2002 tentang Petunjuk Pelaksanaan Pengamatan, Pemeriksanaan Bukti Permulaan, dan Penyidikan Tindak Pidana di Bidang Perpajakan.

Penegakan Hukum

623

(3) Dalam hal seseorang yang dipanggil tidak ada ditempat atau menolak untuk menerima, surat panggilan tersebut dapat disampaikan kepada keluarganya atau Ketua Rukun Tetangga atau Ketua Rukun Warga atau Ketua Lingkungan atau Kepala Desa atau orang lain yang dapat menjamin bahwa surat panggilan tersebut akan disampaikan kepada yang bersangkutan, dengan disertai tanda terima. (4) Terhadap tersangka atau saksi yang tidak memenuhi panggilan tanpa alasan yang patut dan wajar, kepadanya diterbitkan dan diberikan surat panggilan kedua. (5) Dalam hal tersangka atau saksi yang dipanggil untuk kedua kalinya tetap tidak memenuhi panggilan tanpa alasan yang patut dan wajar atau tetap menolak untuk menerima dan menandatangani surat panggilan kedua, Penyidik Pajak dapat meminta bantuan Kepolisian Negara Republik Indonesia untuk menghadirkan yang bersangkutan.1452 (1) Sebelum pemeriksaan terhadap tersangka dimulai, kepadanya diberitahukan hak tersangka untuk mendapatkan bantuan hukum dari penasihat hukumnya. (2) Penasehat hukum dapat mengikuti jalannya pemeriksaan pada saat Penyidik Pajak melakukan pemeriksaan terhadap tersangka dengan cara melihat atau mendengarkan pemeriksaan. (3) Tersangka atau Saksi yang diperiksa harus dalam keadaan sehat jasmani dan rohani. (4) Kepada Tersangka diberitahukan tentang apa yang disangkakan kepadanya dengan jelas dan dalam bahasa yang dimengerti. (5) Tersangka berhak didampingi penerjemah dalam hal tidak mengerti bahasa Indonesia. (6) Dalam rangka pelaksanaan tugas penyidikan tindak pidana di bidang perpajakan, Penyidik Pajak dapat meminta bantuan tenaga ahli. (7) Hasil pemeriksaan Tersangka, Saksi, serta keterangan Ahli dituangkan dalam berita acara pemeriksaan.1453
1452 Pasal 15 Keputusan Direktur Jenderal Pajak Nomor KEP-272/PJ/2002 tentang Petunjuk Pelaksanaan Pengamatan, Pemeriksanaan Bukti Permulaan, dan Penyidikan Tindak Pidana di Bidang Perpajakan. 1453 Pasal 16 Keputusan Direktur Jenderal Pajak Nomor KEP-272/PJ/2002 tentang Petunjuk Pelaksanaan Pengamatan, Pemeriksanaan Bukti Permulaan, dan Penyidikan Tindak Pidana di Bidang Perpajakan.

624 Ikhtisar Ketentuan AML & CFT

(1) Dalam hal Tersangka atau Saksi dikhawatirkan akan meninggalkan wilayah Indonesia, Penyidik Pajak segera meminta bantuan Kejaksaan Agung untuk melakukan pencegahan. (2) Jika Saksi diperkirakan tidak dapat hadir pada saat persidangan, pemeriksaan terhadapnya dilakukan setelah terlebih dahulu diambil sumpahnya oleh Penyidik Pajak.1454 Dalam hal Tersangka dikhawatirkan akan melarikan diri, merusak, atau menghilangkan barang bukti, Penyidik pajak dapat meminta bantuan kepada Kepolisian Negara Republik Indonesia agar dilakukan penangkapan dan atau penahanan terhadap Tersangka.1455 Laporan Kemajuan Pelaksanaan Penyidikan disampaikan kepada Kepolisian Negara Republik Indonesia.1456 1) Setelah proses penyidikan selesai Penyidik Pajak membuat Berita Acara Pendapat, dalam rangka penyusunan. (2) Penyidik Pajak menyerahkan berkas perkara, dan barang bukti kepada Penuntut Umum melalui Penyidik Kepolisian Negara Republik Indonesia sesuai dengan ketentuan yang berlaku. (3) Dalam hal berkas perkara dikembalikan oleh Kepolisian Negara Republik Indonesia atau Penuntut Umum, Penyidik Pajak harus segera menyempurnakan dan melengkapi sesuai dengan petunjuknya.1457 (1) Penyidik menghentikan penyidikan dalam hal peristiwanya memenuhi ketentuan Pasal 44A Undang-Undang Nomor 6 Tahun 1983 tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara
1454 Pasal 17 Keputusan Direktur Jenderal Pajak Nomor KEP-272/PJ/2002 tentang Petunjuk Pelaksanaan Pengamatan, Pemeriksanaan Bukti Permulaan, dan Penyidikan Tindak Pidana di Bidang Perpajakan. 1455 Pasal 18 Keputusan Direktur Jenderal Pajak Nomor KEP-272/PJ/2002 tentang Petunjuk Pelaksanaan Pengamatan, Pemeriksanaan Bukti Permulaan, dan Penyidikan Tindak Pidana di Bidang Perpajakan. 1456 Pasal 19 Keputusan Direktur Jenderal Pajak Nomor KEP-272/PJ/2002 tentang Petunjuk Pelaksanaan Pengamatan, Pemeriksanaan Bukti Permulaan, dan Penyidikan Tindak Pidana di Bidang Perpajakan. 1457 Pasal 20 Keputusan Direktur Jenderal Pajak Nomor KEP-272/PJ/2002 tentang Petunjuk Pelaksanaan Pengamatan, Pemeriksanaan Bukti Permulaan, dan Penyidikan Tindak Pidana di Bidang Perpajakan.

Penegakan Hukum

625

Perpajakan sebagaimana telah diubah terakhir dengan UndangUndang Nomor 16 Tahun 2000. (2) Penyidikan dihentikan atas perintah Jaksa Agung atas kuasa Pasal 44B Undang-undang Nomor 6 Tahun 1983 tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan sebagaimana telah diubah terakhir dengan Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2000. (3) Penyidik Pajak memberitahukan penghentian penyidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) kepada Jaksa atau penuntut Umum, Tersangka, atau keluarganya melalui Penyidik Kepolisian Negara Republik Indonesia. (4) Dalam hal penyidikan tindak pidana di bidang perpajakan dihentikan, Penyidik Pajak menyampaikan laporan kemajuan atau berkas perkara kepada pejabat yang menerbitkan Surat Perintah Penyidikan untuk tindak lanjut penagihan pajak-pajak terutang, kecuali karena peristiwanya telah daluwarsa. (5) Penghentian penyidikan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) baru dapat dilaksanakan setelah mendapat persetujuan dari Direktur Jenderal Pajak.1458 Dalam hal penghentian penyidikan sebagaimana dimaksud Pasal 21 ayat (2) Penyidik Pajak memberitahukan hal tersebut kepada Penyidik Kepolisian Negara Republik Indonesia.1459 Penyidik tindak pidana di bidang perpajakan memberitahukan dimulainya penyidikan dan menyampaikan hasil penyidikannya kepada penuntut umum melalui penyidik pejabat Polisi Negara Republik Indonesia sesuai dengan ketentuan yang diatur dalam Undang-Undang Hukum Acara Pidana.1460 (1) Administrasi penyidikan tindak pidana di bidang perpajakan merupakan penata usahaan kegiatan penyidikan, pencatatan, pelaporan dan pendataan, baik untuk kepentingan peradilan, operasional maupun pengawasan.
1458 Pasal 21 Keputusan Direktur Jenderal Pajak Nomor KEP-272/PJ/2002 tentang Petunjuk Pelaksanaan Pengamatan, Pemeriksanaan Bukti Permulaan, dan Penyidikan Tindak Pidana di Bidang Perpajakan. 159 Pasal 22 Keputusan Direktur Jenderal Pajak Nomor KEP-272/PJ/2002 tentang Petunjuk Pelaksanaan Pengamatan, Pemeriksanaan Bukti Permulaan, dan Penyidikan Tindak Pidana di Bidang Perpajakan. 1460 Pasal 44 ayat (3) Undang-Undang RI No. 28 Tahun 2007 tentang Perubahan Atas Undang-Undang No. 6 Tahun 1983 tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan.

626 Ikhtisar Ketentuan AML & CFT

(2) Rincian tindakan pelaksanaan, administrasi, bentuk, jenis formulir, dan laporan, serta buku-buku yang diperlukan untuk melaksanakan kegiatan Pengamatan, Pemeriksaan Bukti Permulaan, dan Penyidikan Tindak Pidana Di Bidang Perpajakan diatur lebih lanjut dalam Petunjuk Teknis Penyidikan.1461 Dalam rangka pelaksanaan kewenangan penyidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1), penyidik dapat meminta bantuan aparat penegak hukum lain.1462 (1) Untuk kepentingan penerimaan negara, atas permintaan Menteri Keuangan, Jaksa Agung dapat menghentikan penyidikan tindak pidana di bidang perpajakan paling lama dalam jangka waktu 6 (enam) bulan sejak tanggal surat permintaan. (2) Penghentian penyidikan tindak pidana di bidang perpajakan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) hanya dilakukan setelah Wajib Pajak melunasi utang pajak yang tidak atau kurang dibayar atau yang tidak seharusnya dikembalikan dan ditambah dengan sanksi administrasi berupa denda sebesar 4 (empat) kali jumlah pajak yang tidak atau kurang dibayar, atau yang tidak seharusnya dikembalikan. 1463 Untuk kepentingan penerimaan negara, atas permintaan Menteri Keuangan, Jaksa Agung dapat menghentikan penyidikan tindak pidana perpajakan sepanjang perkara pidana tersebut belum dilimpahkan ke pengadilan.1464 PasUntuk memperoleh penghentian penyidikan sebagaimana Pasal 2, Wajib Pajak mengajukan permohonan secara tertulis kepada Menteri Keuangan dengan memberikan tembusan kepada Direktur Jenderal Pajak.1465
1461 Pasal 23 Keputusan Direktur Jenderal Pajak Nomor KEP-272/PJ/2002 tentang Petunjuk Pelaksanaan Pengamatan, Pemeriksanaan Bukti Permulaan, dan Penyidikan Tindak Pidana di Bidang Perpajakan. 1462 Pasal 44 ayat (4) Undang-Undang RI No. 28 Tahun 2007 tentang Perubahan Atas Undang-Undang No. 6 Tahun 1983 tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan. 1463 Pasal 44B Undang-Undang RI No. 28 Tahun 2007 tentang Perubahan Atas UndangUndang No. 6 Tahun 1983 tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan. 1464 Penjelasan Pasal 44B ayat (1) Undang-Undang RI No. 28 Tahun 2007 tentang Perubahan Atas Undang-Undang No. 6 Tahun 1983 tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan. 1465 Pasal 4 ayat (1) Peraturan Menteri Keuangan Nomor 130/PMK.03/2009 Tentang Tata Cara Penghentian Penyidikan Tindak Pidana Di Bidang Perpajakan Untuk Kepentingan Penerimaan Negara.

Penegakan Hukum

627

V.7

Penyidikan oleh Direktorat Jenderal Bea dan Cukai Bahwa kewenangan melakukan Penyelidikan terhadap atau untuk Tindak Pidana Kepabeanan dan Cukai, bagi Penyidik Bea dan Cukai didasarkan pada Pasal 63 Undang-Undang Nomor 11 Tahun 1995 tentang Cukai dan Pasal 112 Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1995 tentang Kepabeanan. Selanjutnya dasar hukum untuk melaksanakan Penyidikan untuk Tindak Pidana Pencucian Uang yang berasal dari tindak pidana Kepabeanan dan Cukai yang penyidikannya ditangani oleh Penyidik Bea dan Cukai merujuk pada Undang-Undang Nomor 11 Tahun 1995 tentang Cukai dan UndangUndang Nomor 10 Tahun 1995 tentang Kepabeanan dan selebihnya mengacu pada KUHAP. Penyidikan, penuntutan, dan pemeriksaan di sidang pengadilan serta pelaksanaan putusan yang telah memperoleh kekuatan hukum tetap terhadap tindak pidana sebagaimana dimaksud dalam UndangUndang ini dilakukan sesuai dengan ketentuan peraturan perundangundangan, kecuali ditentukan lain dalam Undang-Undang ini.1466 V.7.1 Pengertian Penyidik Penyidik adalah Penyidik Pegawai Negeri Sipil Direktorat Jenderal Bea dan Cukai.1467 V.7.2 Pengertian Penyidikan Penyidikan adalah serangkaian tindakan Penyidik untuk mencari dan mengumpulkan bukti yang dengan bukti itu membuat terang tentang tindak pidana yang terjadi dan guna menemukan tersangkanya.1468 V.7.3 Kewenangan Penyidikan Pejabat Pegawai Negeri Sipil tertentu di lingkungan Direktorat Jenderal Bea dan Cukai diberi wewenang khusus sebagai penyidik sebagaimana dimaksud dalam Undangundang Nomor 8 Tahun 1981 tentang Hukum Acara Pidana

1466 Pasal 68 Undang-Undang RI No. 8 Tahun 2010 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang. 1467 Pasal 1 angka 1 Keputusan Menteri Keuangan RI No. 92/KMK.05/1997 tentang Pelaksanaan Penyidikan Tindak Pidana Dibidang Kepabeanan dan Cukai. 1468 Pasal 1 angka 2 Keputusan Menteri Keuangan RI No. 92/KMK.05/1997 tentang Pelaksanaan Penyidikan Tindak Pidana Dibidang Kepabeanan dan Cukai.

628 Ikhtisar Ketentuan AML & CFT

untuk melakukan penyidikan tindak pidana di bidang Kepabeanan.1469 Pejabat Pengawai Negeri Sipil tertentu di lingkungan Direktur Jenderal Bea dan Cukai diberi wewenang khusus sebagai penyidik sebagaimana dimaksud dalam Undangundang Nomor 8 Tahun 1981 tentang Hukum Acara Pidana untuk melakukan penyidikan tindak pidana di bidang cukai.1470 (1) Penyidikan terhadap tindak pidana di bidang Kepabeanan dan Cukai dilakukan oleh Penyidik Pegawai Negeri Sipil Direktorat Jenderal Bea dan Cukai. (2) Dalam situasi lertenlu penyidikan terhadap lindak pidana di bidang Kepabeanan dan Cukai dapat dilakukan oleh Penyidik Kepolisian Negara Republik Indonesia.1471 Yang dimaksud dengan «dalam situasi tertentu». adalah keadaan yang tidak memungkinkan dilakukannya penyidikan oleh Penyidik Pegawai Negeri Sipil Direktorat Jenderal Bea dan Cukai karena hambatan geografis, keterbatasan sarana, atau tertangkap tangan oleh pejabat polisi negara Republik Indonesia untuk barang-barang yang dikeluarkan di luar Kawasan Pabean.1472 (1) Pejabat Bea Dan Cukai Yang Mengetahui Terjadinya Tindak Pidana Wajib Melaporkannya Kepada Penyidik Di Wilayah Kerja Tempat Terjadinya Tindak Pidana. (2) Komandan Patroli Bea Dan Cukai Melaporkan Tindak Pidana Yang Ditemukan Oleh Kapal Patroli Bea Dan Cukai Kepada Penyidik : a. Di Wilayah Kerja Terjadinya Tindak Pidana; b. Di Kantor Terdekat Dengan Tempat Terjadinya Tindak Pidana; atau

1469 1470

Pasal 112 Undang-Undang RI No. 10 Tahun 1995 tentang Kepabeanan. Pasal 63 Undang-Undang RI No. 11 Tahun 1995 tentang Cukai.

1471 Pasal 1 Peraturan Pemerintah RI No. 55 Tahun 1996 tentang Penyidikan Tindak Pidana Di Bidang Kepabeanan dan Cukai. 1472 Penjelasan Pasal 1 ayat (2) Peraturan Pemerintah RI No. 55 Tahun 1996 tentang Penyidikan Tindak Pidana Di Bidang Kepabeanan dan Cukai.

Penegakan Hukum

629

c. Di Pangkalan Kapal Patroli Bea Dan Cukai Yang Bersangkutan.1473 (1) Penyidik wajib segera melakukan penyidikan terhadap tindak pidana yang terjadi di wilayah kerjanya. (2) Dalam hal tindak pidana tidak memungkinkan dilakukan penyidikan oleh penyidik karena hambatan geografis, keterbatasan sarana atau tertangkap tangan oleh Pejabat Kepolisian Negara Republik Indonesia untuk barang-barang yang dikeluarkan di luar Kawasan Pabean, penyidikan dilakukan oleh Penyidik Kepolisian Negara Republik Indonesia.1474 V.7.3.1 Penundaan Transaksi (1) Penyidik, penuntut umum, atau hakim berwenang memerintahkan Pihak Pelapor untuk melakukan penundaan Transaksi terhadap Harta Kekayaan yang diketahui atau patut diduga merupakan hasil tindak pidana. (2) Perintah penyidik, penuntut umum, atau hakim sebagaimana dimaksud pada ayat (1) harus dilakukan secara tertulis dengan menyebutkan secara jelas mengenai: a. nama dan jabatan yang meminta penundaan Transaksi; b. identitas setiap orang yang Transaksinya akan dilakukan penundaan; c. alasan penundaan Transaksi; dan d. tempat Harta Kekayaan berada. (3) Penundaan Transaksi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan paling lama 5 (lima) hari kerja. (4) Pihak Pelapor wajib melaksanakan penundaan Transaksi sesaat setelah surat perintah/permintaan penundaan Transaksi diterima dari penyidik, penuntut umum, atau hakim. (5) Pihak Pelapor wajib menyerahkan berita acara pelaksanaan penundaan Transaksi kepada penyidik, penuntut umum, atau hakim yang meminta penundaan
1463 Pasal 2 Keputusan Menteri Keuangan RI No. 92/KMK.05/1997 tentang Pelaksanaan Penyidikan Tindak Pidana Dibidang Kepabeanan dan Cukai. 1474 Pasal 3 Keputusan Menteri Keuangan RI No. 92/KMK.05/1997 tentang Pelaksanaan Penyidikan Tindak Pidana Dibidang Kepabeanan dan Cukai.

630 Ikhtisar Ketentuan AML & CFT

Transaksi paling lama 1 (satu) hari kerja sejak tanggal pelaksanaan penundaan Transaksi.1475 V.7.3.2 Pemblokiran (1) Penyidik, penuntut umum, atau hakim berwenang memerintahkan Pihak Pelapor untuk melakukan pemblokiran Harta Kekayaan yang diketahui atau patut diduga merupakan hasil tindak pidana dari: a. setiap orang yang telah dilaporkan oleh PPATK kepada penyidik; b. tersangka; atau c. terdakwa. (2) Perintah penyidik, penuntut umum, atau hakim sebagaimana dimaksud pada ayat (1) harus dilakukan secara tertulis dengan menyebutkan secara jelas mengenai: 1) nama dan jabatan penyidik, penuntut umum, atau hakim; 2) identitas setiap orang yang telah dilaporkan oleh PPATK kepada penyidik, tersangka, atau terdakwa; 3) alasan pemblokiran; 4) tindak pidana yang disangkakan atau didakwakan; dan 5) tempat Harta Kekayaan berada. 3) Pemblokiran sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan paling lama 30 (tiga puluh) hari kerja. (4) Dalam hal jangka waktu pemblokiran sebagaimana dimaksud pada ayat (3) berakhir, Pihak Pelapor wajib mengakhiri pemblokiran demi hukum. (5) Pihak Pelapor wajib melaksanakan pemblokiran sesaat setelah surat perintah pemblokiran diterima dari penyidik, penuntut umum, atau hakim. (6) Pihak Pelapor wajib menyerahkan berita acara pelaksanaan pemblokiran kepada penyidik, penuntut umum, atau hakim yang memerintahkan pemblokiran paling lama 1 (satu) hari kerja sejak tanggal pelaksanaan pemblokiran.

1475 Pasal 70 Undang-Undang RI No. 8 Tahun 2010 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang.

Penegakan Hukum

631

(7) Harta Kekayaan yang diblokir harus tetap berada pada Pihak Pelapor yang bersangkutan.1476 V.7.3.3 Permintaan keterangan dari Penyedia Jasa Keuangan (1) Untuk kepentingan pemeriksaan dalam perkara tindak pidana pencucian uang, penyidik, penuntut umum, atau hakim berwenang meminta Pihak Pelapor untuk memberikan keterangan secara tertulis mengenai Harta Kekayaan dari: a. orang yang telah dilaporkan oleh PPATK kepada penyidik; b. tersangka; atau c. terdakwa. (2) Dalam meminta keterangan sebagaimana dimaksud pada ayat (1), bagi penyidik, penuntut umum,