P. 1
Kajian Kritis Dan Analitis Terhadap Dimensi Teori - Teori Kriminologi Dalam Perspektif Ilmu Pengetahuan Hukum Pidana Modern

Kajian Kritis Dan Analitis Terhadap Dimensi Teori - Teori Kriminologi Dalam Perspektif Ilmu Pengetahuan Hukum Pidana Modern

|Views: 1,455|Likes:
Published by eentan

More info:

Published by: eentan on Jun 10, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

12/29/2012

pdf

text

original

KAJIAN KRITIS DAN ANALITIS TERHADAP DIMENSI TEORI-TEORI KRIMINOLOGI DALAM PERSPEKTIF ILMU PENGETAHUAN HUKUM PIDANA

MODERN

OLEH: Dr. LILIK MULYADI, S.H., M.H.1

A. TERMINOLOGI DAN DIMENSI TENTANG KRIMINOLOGI Terminologi atau istilah kriminologi pertama kali dipergunakan antropolog Prancis, Paul Topiward dari kata crimen (kejahatan/penjahat) dan logos (ilmu pengetahuan). Kemudian Edwin H. Sutherland dan Donald R. Cressey menyebutkan kriminologi sebagai : “.... the body of knowledge regarding delinquency and crime as social phenomenon. It includes within its scope the process of making law, the breaking of laws, and reacting to word the breaking of laws ...” 2 Melalui optik tersebut maka kriminologi berorientasi pada3 : Pertama, pembuatan hukum yang dapat meliputi telaah konsep kejahatan, siapa pembuat hukum dengan faktor-faktor yang harus diperhatikan dalam pembuatan hukum. Kedua, pelanggaran hukum yang dapat meliputi siapa pelakunya, mengapa sampai terjadi pelanggaran hukum tersebut serta faktor-faktor yang mempengaruhinya. Ketiga, reaksi terhadap pelanggaran hukum melalui proses peradilan pidana dan reaksi masyarakat. Kemudian dalam perkembangannya, guna membahas dimensi kejahatan/penjahat, dikenal teori-teori kriminologi. Menurut Williams III

Doktor Ilmu Hukum Universitas Padjadjaran, Bandung, Wakil Ketua Pengadilan Negeri Kepanjen, Hakim Niaga/Hakim Pengadilan Hubungan Industrial, Penulis Buku Ilmu Hukum dan Dosen Program Pascasarjana Ilmu Hukum Universitas Merdeka, Malang 2 Edwin H. Sutherland dan Donald R. Cressey, Principles of Criminology, New York Lippincontt Company, New York, 1974, hlm. 3, dan Lilik Mulyadi, Kapita Selekta Hukum Pidana, Kriminologi dan Victimologi, Penerbit PT Djambatan, Jakarta, 2007, hlm. 111-112 3 Lilik Mulyadi, Bunga Rampai Hukum Pidana Perspektif, Teoretis Dan Praktik, Penerbit PT Alumni, Bandung, 2008, hlm. 317-318 dan Lilik Mulyadi, Kapita Selekta Hukum...., Ibid., hlm. 110

1

2 dan Marilyn McShane4 teori itu diklasifikasikan menjadi 3 (tiga) kelompok yaitu : Pertama, golongan teori abstrak atau teori-teori makro (macrotheories). Pada asasnya, teori-teori dalam klasifikasi ini mendeskripsikan korelasi antara kejahatan dengan struktur masyarakat. Termasuk ke dalam macrotheories ini adalah teori Anomie dan teori Konflik. Kedua, teori-teori mikro (microtheories) yang bersifat lebih konkret. Teori ini ingin menjawab mengapa seorang/kelompok orang dalam masyarakat melakukan kejahatan atau menjadi kriminal (etiology criminal). Konkritnya, teori-teori ini lebih bertendensi pada pendekatan psikologis atau biologis. Termasuk dalam teori-teori ini adalah Social Control Theory dan Social Learning theory. Ketiga, Beidging Theories yang tidak termasuk ke dalam kategori teori makro/mikro dan mendeskripsikan tentang struktur sosial dan bagaimana seseorang menjadi jahat. Namun kenyataannya, klasifikasi teori-teori ini kerap membahas epidemiologi yang menjelaskan rates of crime dan etiologi pelaku kejahatan. Termasuk kelompok ini adalah Subculture Theory dan Differential Opportunity Theory. Selain klasifikasi di atas, Frank P. William III dan Marilyn McShane5 juga mengklasifikasikan berbagai teori kriminologi menjadi 3 (tiga) bagian lagi, yaitu: 1. Teori Klasik dan Teori Positivis Asasnya, teori klasik membahas legal statutes, struktur pemerintahan dan hak asasi manusia (HAM). Teori positivis terfokus pada patologi kriminal, penanggulangan dan perbaikan perilaku kriminal individu. 2. Teori Struktural dan Teori Proses Teori struktural terfokus pada cara masyarakat diorganisasikan dan dampak dari tingkah laku. Teori struktural juga lazim disebut Strain Theories karena, “Their assumption that a disorganized society creates strain which leads to deviant behavior”. Tegasnya, asumsi dasarnya adalah masyarakat yang menciptakan ketegangan dan dapat mengarah pada tingkah laku menyimpang. Sementara teori Proses, membahas, menjelaskan dan menganalisis bagaimana orang menjadi penjahat.

Frank P. William III dan Marilyn McShane, Criminological Theory, New Jersey Printice hall, Englewood Cliffs , 1988, hlm. 4. 5 Frank P. William III dan Marilyn McShane, Criminological ..., Ibid., hlm. 6.

4

Aspek ini teoritisi utama (dramatis personal) yang mencetuskannya. Modern Criminology : Crime. teori Kultur Kelas dan teori Opportunity yang menekankan mengapa adanya sebagian kecil orang menentang aturan yang telah ditetapkan masyarakat dimana mereka tinggal/hidup. Kemudian. pengklasifikasian teori juga dipengaruhi adanya subyektivitas orang yang melakukan klasifikasi sehingga relatif menimbulkan dikotomi dan bersifat artifisial. teori Netralisasi dan teori Kontrol Sosial. hlm. Sedangkan teori konflik mempunyai asumsi dasar yang berbeda yaitu dalam masyarakat hanya terdapat sedikit kesepakatan dan orang-orang berpegang pada nilai pertentangan. 6 . Dari klasifikasi di atas. 148-228. Status dan Opportunity seperti teori Status Frustasi. B. Berikutnya. dipandang bahwa kejahatan merupakan bagian bidang sosiologi. Teori Konsensus dan Teori Konflik Teori Konsensus menggunakan asumsi dasar bahwa dalam masyarakat terjadi konsensus/ persetujuan sehingga terdapat nilai-nilai bersifat umum yang kemudian disepakati secara bersama. sejak diperhatikannya data ekologi mazhab Chicago (Chicago School) dan data statistik. sebagai perbandingan John Hagan6 mengklasifikasikan teori-teori kriminologi menjadi :  Teori-teori Under Control atau teori-teori untuk mengatasi perilaku jahat seperti teori Disorganisasi Sosial. teori-teori ini membahas mengapa ada orang melanggar hukum sedangkan kebanyakan orang tidak demikian. teori Konflik Kelompok dan teori Marxis. Selain itu. Singapura. Criminal Behavior and Its Control. tumbuh dan berkembang dari kondisi sosial (social heritage) tahun 1920 dan 1930 dimana FBI (Federal Bureau Investigation-Amerika Serikat) memulai prosedur pelaporan tahunan kejahatan kepada polisi. selain bidang biologi atau psikologi.  Teori Over Control yang terdiri dari teori Labeling. McGraw Hill Book Com. dalam masyarakat AS John Hagan. TEORI DIFFERENTIAL ASSOCIATION/ASOSIASI DIFERENSIAL Pada hakikatnya.3 3. Selain itu.  Teori-teori Kultur. Pada asasnya. dapat ditarik konklusi bahwa antara satu klasifikasi dengan klasifikasi yang lain tidaklah identik/sama. Teori-teori ini lebih menekankan pada masalah mengapa orang bereaksi terhadap kejahatan. 1987. teori Differential Association lahir. DIMENSI TEORI-TEORI KRIMINOLOGI DALAM PERSPEKTIF ILMU PENGETAHUAN HUKUM PIDANA MODERN 1.

Thomas. pada tahun 1947 Edwin H. Ibid. William III dan Marilyn McShane.  Third. Tegasnya. William III dan Marilyn McShane.4 terjadi depresi sehingga kejahatan timbul dari “product of situation. setiap orang akan menerima dan mengikuti pola-pola prilaku yang dapat dilaksanakan). Op. Cit. Symbolic Interactionism dan Culture Conflict Theory”7 Teori Differential Association terbagi dua versi. Sutherland. pola perilaku jahat tidak diwariskan tapi dipelajari melalui suatu pergaulan Frank P. Shaw dan Henry D.. Selanjutnya. 8 Frank P.. Park dan Burgess dan aliran ekologi dari Clifford R. hlm. seorang ahli sosiologi AS bernama Edwin H... Kemudian. 49-50. Edwin H. 7 . kegagalan untuk mengikuti pola tingkah laku menimbulkan inkonsistensi dan ketidakharmonisan). akan tetapi yang terpenting adalah isi dari proses komunikasi dari orang lain. failure to follow a prescribed pattern of behavior is due to the inconsistencies and lack of harmony in the influences which direct the individual. hlm. dalam bukunya Principles of Criminology mengemukakan teori Differential Association. Criminological . Bila dirinci lebih detail. Konkritnya. Versi pertama terdapat dalam buku Principle of Criminology edisi ketiga yang menegaskan aspek-aspek berikut :8  First any person can be trained to adopt and follow any pattern of behavior which he is able to execute. Dimana versi pertama dikemukakan tahun 1939.  Second. sebenarnya asumsi dasar teori ini banyak dipengaruhi oleh William I. Sutherland mengartikan Differential Association sebagai “the contens of the patterns presented in association”. konflik budaya merupakan prinsip dasar dalam menjelaskan kejahatan). (Pertama. Sutherland menyajikan versi kedua dari teori Differential Association yang menekankan bahwa semua tingkah laku itu dipelajari. opportunity and of comes values” (produk dari situasi... McKay serta Culture Conflict dari Thorsten Sellin.. kesempatan dan nilai). Untuk pertama kalinya. versi kedua tahun 1947. tahun 1934. tidak ada yang diturunkan berdasarkan pewarisan orang tua. teori Differential Association berlandaskan kepada : “Ecological and Cultural Transmission Theory. (Ketiga. the conflict of cultures is therefore the fundamental principle in the explanation of crime. pengaruh aliran Symbolic Interactionism dari George Mead. 51.. Criminological . (Kedua. Ini tidak berarti bahwa hanya pergaulan dengan penjahat yang akan menyebabkan perilaku kriminal.

such as movies. 1985.Peacock Publishers Inc. the learning includes (a) techniques of committing the crime. Theories of Deviance. Nelson Hall. Criminology. secara relatif tidak mempunyai peranan penting dalam terjadinya kejahatan). Mc Graw Hill Inc. maka yang dipelajari termasuk : (a) teknik melakukan kejahatan. hlm.. Edwin H. Trauband Craig B. (Perilaku kejahatan dipelajari dalam interaksi dengan orang lain dalam suatu proses komunikasi. Negatively.5 yang akrab. 9 . Op. (Arah dan motif dorongan itu dipelajari melalui Edwin H. hlm 179-181. (2) Criminal behaviour is learned in interaction with other persons in a process of communication. this means that the interpersonal agencies of communication. hlm.. In some societies and individual is surrounded by persons who inveriably define the legal codes as rules to be observed while in other he is surrounded by person whose definitions are favorable to the violation of legal codes. Second Edition. Little. 1989. F. 1995. this means that criminal behaviour is not inherited. Third Edition. USA. Cit. drives. (b) motif-motif. Criminological . (3) The principle part of the learning of criminal behaviour occurs within intimate personal groups. (Perilaku kejahatan adalah perilaku yang dipelajari. Untuk itu.. sometimes very simple. (Ketika perilaku kejahatan dipelajari. (5) The specific direction of motives and drives is learned from definitions of the legal codes as favorable on unfavorable. 124. William III dan Marilyn McShane. plays a relatively unimportant part in the genesis of criminal behaviour.E. Lippincot Company 1978.B. This communication is verbal in many respects but includes also “the communication of gesture”.. Sutherland kemudian menjelaskan proses terjadinya kejahatan melalui 9 (sembilan) proposisi sebagai berikut :9 (1) Criminal behaviour is learned. Sutherland. Secara negatif ini berarti bahwa komunikasi interpersonal seperti melalui bioskop. Secara negatif berarti perilaku itu tidak diwariskan). Chicago. Negatively. J. Tenth Ed. Komunikasi tersebut terutama dapat bersifat lisan ataupun menggunakan bahasa tubuh). and newspaper. surat kabar. Frank P. which are sometimes very complicated. Hagan. dorongan-dorongan. hlm. USA. Introduction to Criminology Theories. rationalization and attitudes. (Bagian terpenting dalam proses mempelajari perilaku kejahatan terjadi dalam kelompok personal yang intim. 80-82 vide pula: Stuart H. and Criminal Behavior. hlm. 443-444. alasanalasan pembenar dan sikap-sikap tertentu).. Frank E. Methodes. 52 dan Freda Adler dkk. Criminology : The Shorter Version. (4) When criminal behaviour is learned. (b) the specific direction of motives.

namun kadang ia dikelilingi orangorang yang melihat aturan hukum sebagai sesuatu yang memberikan peluang dilakukannya kejahatan). (Proses mempelajari perilaku jahat diperoleh melalui hubungan dengan pola-pola kejahatan dan mekanisme yang lazimterjadi dalam setiap proses belajar secara umum).6 definisi-definisi dari peraturan hukum. Kriminologi. kadang seseorang dikelilingi orang-orang yang secara bersamaan melihat apa yang diatur dalam peraturan hukum sebagai sesuatu yang perlu diperhatikan dan dipatuhi. hlm. Edwin H. Dalam suatu masyarakat.S. Juvenile delinquency. it is not explained by those general needs and values since non-criminal behaviour is an expression of the same needs and values. (Seseorang menjadi delinkuen karena ekses pola-pola pikir yang lebih melihat aturan hukum sebagai pemberi peluang melakukan kejahatan daripada melihat hukum sebagai sesuatu yang harus diperhatikan dan dipatuhi). (6) A person becomes delinquent because of an excess of definition favorable to violation of law over definitions unfavorable to violation of law. baik kejahatan konvensial maupun kejahatan White-Collar. apabila dikaji dari dimensi sekarang. duration. Sutherland ingin menjadikan pandangannya sebagai teori yang dapat menjelaskan sebab-sebab terjadinya kejahatan. hlm. John Wiley and Sons Inc. namun tidak dijelaskan bahwa perilaku yang bukan jahat pun merupakan ekspresi dari kebutuhan dan nilai-nilai umum yang sama).. temyata teori Differential Association mempunyai kekuatan dan kelemahan tersendiri. Rose Giallombardo. Susanto. Adapun kekuatan teori Differential Association bertumpu pada aspek-aspek : (a) Teori ini relatif mampu untuk menjelaskan sebab-sebab timbulnya kejahatan akibat penyakit sosial . Second Edition. Dengan diajukannya teori ini. 1995. 61. Fakultas Hukum Undip. prioritas serta intensitasnya). (8) The process of learning criminal behaviour by association with criminal and anticriminal patterns incloves all of the mechanism that are involved in any other learning. (7) Differention Association may vary in frequency. (9) While criminal is an expressions of general need and values. 1972. priority and intensity.10 Terlepas dari aspek tersebut. Book Readings. Semarang. 10 . (Asosiasi Diferensial bervariasi dalam frekuensi. (Sementara perilaku jahat merupakan ekspresi dari kebutuhan nilai umum. New York. 89 dan vide pula: I. Sutherland kemudian melakukan studi tentang kejahatan White-Collar agar teorinya dapat menjelaskan sebab-sebab kejahatan. A. Dalam rangka usaha tersebut. durasi.

. Criminological . 2. (b) Bahwa teori ini belum membahas. menjelaskan dan tidak peduli pada karakter orang-orang yang terlibat dalam proses belajar tersebut. Kemudian dalam buku The Division of Labor in Society (1893) Emile Durkheim mempergunakan istilah anomie untuk mendeskripsikan keadaan “deregulation” di dalam masyarakat yang diartikan sebagai tidak ditaatinya aturan-aturan yang terdapat pada masyarakat sehingga orang tidak tahu apa yang diharapkan dari orang lain dan keadaan ini menyebabkan deviasi... Sedangkan kelemahan mendasar teori ini terletak pada aspek : (a) Bahwa tidak semua orang atau setiap orang yang berhubungan dengan kejahatan akan meniru/memilih pola-pola kriminal. Cit. Cit. petugas pemasyarakatan/penjara atau krimilog yang telah berhubungan dengan tingkah laku kriminal secara ekstensif. teori anomie terdiri dari tiga perspektif.. Frank P.. 62 dan Lilik Mulyadi. William III dan Marilyn McShane. nyatanya tidak menjadi penjahat. frekuensi dan prioritasnya.. hlm. 11 . (c) Bahwa teori ini tidak mampu menjelaskan mengapa seseorang suka melanggar daripada menaati undang-undang dan belum mampu menjelaskan causa kejahatan yang lahir karena spontanitas. begitu pentingnya teori analisis struktur sosial sangat dilatarbelakangi usaha New Deal Reform pemerintah dengan fokus penyusunan kembali masyarakat. Loc.11 Menurut Emile Durkheim. dan (c) Ternyata teori ini berlandaskan kepada fakta dan bersifat rasional. durasi. TEORI ANOMIE Secara global. tumbuh dan berkembang berdasarkan kondisi sosial (social heritage) munculnya revolusi industri hingga great depression di Prancis dan Eropa tahun 1930an menghasilkan deregulasi tradisi sosial.. Aspek ini terbukti untuk beberapa golongan orang. istilah Anomie diperkenalkan Emile Durkheim yang diartikan sebagai suatu keadaan tanpa norma (the concept of anomie referred to on absence of social regulation normlessness). Untuk pertama kalinya. efek bagi individu dan lembaga sosial/masyarakat. Perkembangan berikutnya. Op. Kapita Selekta Hukum. bukan hanya karena teoritik tetapi juga harus menentukan intensitas. yaitu :  Manusia adalah mahluk sosial (man is social animal). (d) Bahwa apabila ditinjau dari aspek operasionalnya ternyata teori ini agak sulit untuk diteliti.7 (b) Teori ini mampu menjelaskan bagaimana seseorang karena adanya/melalui proses belajar menjadi jahat .. seperti petugas polisi. aktual dan representatif teori anomie lahir.

Karena itu. 12 .13 Romli Atmasasmita. skema hipotesis Durkheim terlihat sebagai berikut :  Social Conditions Social integration Social regulation High Altruism Fatalism Low Egoism Anomie Emile Durkheim mengemukakan bahwa bunuh diri atau suicide berasal dari tiga kondisi sosial yang menekan (stress). hlm.8 Keberadaan manusia sebagai mahluk sosial (human being is a social animal).. konsep anomie diredefinisi sebagai ketidaksesuaian atau timbulnya diskrepansi/perbedaan antara cultural goals dan institutional means sebagai akibat cara masyarakat diatur (struktur masyarakat) karena adanya pembagian kelas. Robert K.. Lebih lanjut. teori anomie Robert K..12 Pada tahun 1938. (3) kurangnya integrasi struktural atau egoisme. Sorokin (1928) dalam bukunya Contemporary Sociological Theories dan Talcot Parsons (1937) dalam buku The Structure of Social Action. Cit. 197. Hipotesis keempat dari suicide menunjuk kepada proses sosialisasi dari seorang individu kepada suatu nilai budaya altruistic mendorong yang bersangkutan untuk melaksanakan bunuh diri. Hipotesis keempat ini bukan termasuk teori stress.  Manusia cenderung hidup dalam masyarakat dan keberadaannya sangat tergantung pada masyarakat tersebut sebagai koloni (tending to live in colonies. Merton. Op. menurut John Hagan. (2) regulasi yang keterlaluan atau fatalism . Penerbit PT Eresco. Merton mengadopsi konsep anomie Emile Durkheim untuk menjelaskan deviasi di Amerika. Merton berorientasi pada kelas (“Merton is in exploring variations in crime and deviance by social class”). Modern Criminology : Crime.. 25. Bandung. hlm. Teori dan Kapita Selekta Kriminologi. 13 John Hagan. Konsepsi Merton ini sebenarnya dipengaruhi intelectual heritage Pitirin A. 1992.. Menurut Robert K. istilah anomie dikemukakan Emile Durkheim dalam bukunya Suicide (1897) yang mengemukakan asumsi bunuh diri dalam masyarakat merupakan akhir puncak dari anomie karena dua keadaan sosial berupa social integration dan social regulation. and his/her survival dependent upon moral conextions). yaitu : (1) deregulasi kebutuhan atau anomi . Kemudian.

Kriminologi.17 Tabel Model of Adaptation Adjustment/adaptation Cultural goals Institutionalized forms means 1. 15 Frank P. William III dan Marilyn McShane. Criminological .16 Robert K. Merton mengemukakan lima cara mengatasi anomie dalam setiap anggota kelompok masyarakat dengan tujuan yang membudaya (goals) dan cara yang melembaga (means).. akan tetapi ada yang melakukan cara tidak sesuai dengan caracara yang telah ditetapkan (illegitime means). Penerbit PT Raja Grafindo Persada. ada dua unsur bentuk perilaku delinkuen yaitu unsur dari struktur sosial dan kultural.. 16 Made Darma Weda.. Criminological . Cit.. 1996. William III dan Marilyn McShane. menurut Robert K.15 Misalnya. Karena itu...14 Dalam perkembangan berikutnya. Secara sederhana. unsur kultur melahirkan goals dan unsur struktural melahirkan means. Merton. Robert K. 62... Merton pada mulanya mendeskripsikan korelasi antara perilaku delinkuen dengan tahapan tertentu pada struktur sosial akan menimbulkan. ternyata tidak setiap orang menggunakan sarana-sarana yang tersedia.. struktur sosial berbentuk kelas-kelas sehingga menyebabkan adanya perbedaan-perbedaan kesempatan dalam mencapai tujuan. Jakarta. hlm. Dalam pencapaian tujuan tersebut. Merton membagi norma sosial berupa tujuan sosial (sociatae goals) dan sarana-sarana yang tersedia (acceptable means) untuk mencapai tujuan tersebut. melahirkan dan menumbuhkan suatu kondisi terhadap pelanggaran norma masyarakat yang merupakan reaksi normal.. seperti tampak pada tabel Model of Adaptation.9 Teori anomie Robert K. hlm. Konkritnya. Untuk itu. Loc. pengertian anomie mengalami perubahan dengan adanya pembagian tujuan-tujuan dan saranasarana dalam masyarakat yang terstruktur. Aspek ini dikarenakan. 32. Conformity + + Frank P. goals diartikan sebagai tujuantujuan dan kepentingan membudaya meliputi kerangka aspirasi dasar manusia. Cit.. 63. Ibid. mereka yang berasal dari kelas rendah (lower class) mempunyai kesempatan lebih kecil dalam mencapai tujuan bila dibandingkan dengan mereka yang berasal dari kelas tinggi (uper class). Op. William III dan Marilyn McShane. 14 . Criminological . Sedangkan means diartikan aturan dan cara kontrol yang melembaga dan diterima sebagai sarana mencapai tujuan. 17 Frank P. hlm.

atau dengan melalui pendekatan teorinya secara sociological (Frank Hagan). 3. (5) Rebellion (pemberontakan) adalah suatu keadaan dimana tujuan dan sarana yang terdapat dalam masyarakat ditolak dan berusaha untuk mengganti atau mengubah seluruhnya. Teori anomie Robert K. Karena itu. ritualisme. Sebagai sebuah teori. (3) Ritualism (ritualisme) yaitu keadaan dimana warga masyarakat menolak tujuan yang telah ditetapkan namun sarana-sarana yang telah ditentukan tetap dipilih. Merton diperbaiki Cloward & Ohlin (1959) dengan mengetengahkan teori differential opportunity. (2) Innovation (inovasi) yaitu keadaan dimana tujuan dalam masyarakat diakui dan dipelihara tetapi mengubah sarana-sarana yang dipergunakan untuk mencapai tujuan tersebut. (4) Retreatism (penarikan diri) merupakan keadaan dimana para warga masyarakat menolak tujuan dan sarana yang telah disediakan. penarikan diri dan pemberontakan merupakan bentuk penyesuaian diri yang menyimpang dari norma-norma yang berlaku.10 2. Dari skema penyesuaian diri Robert K. 4.elliminaation (penolakan) +/. 5. Merton di atas maka inovasi. Cloward & Ohlin mengatakan bahwa sesungguhnya terdapat cara-cara untuk mencapai . Merton (Problems of acces to legitimate means of achieving the goals are the focus of Anomie Theory). William dan Marilyn McShane. Innovation + Ritualism + Retreatism Rebelion +/+/Keterangan : + acceptances (penerimaan) .rejection and subtitution of new goals and means (penolakan dan penggantian tujuan dan cara baru) Kelima bentuk penyesuaian tersebut dapat diuraikan sebagai berikut : (1) Conformity (konformitas) adalah suatu keadaan dimana warga masyarakat tetap menerima tujuan dan sarana-sarana yang terdapat dalam masyarakat karena adanya tekanan moral. pengadaptasian yang gagal pada struktur sosial merupakan fokus dari teori Robert K. maka Anomie merupakan golongan teori abstrak/macrotheoriess dalam klasifikasi teori positif Frank P.

Hasil pengujiannya menunjukkan bahwa ada ikatan antara hierarki politis dan kejahatan teroganisir. yaitu cara yang disebutnya “legitimate dan illegitimate”. Di sisi lain. konklusi dasarnya menyebutkan bahwa perilaku delinkuen di kalangan remaja. Karena ikatan tersebut begitu kuat sehingga Kobrin mengacu kepada “Kelompok Pengontrol Tunggal” (single controlling group) yang melahirkan konsep komunitas integrasi. hlm. memunculkan urbanisasi yang membuat daerah pusat kota menjadi kacau balau dan hal ini merupakan problem perkotaan. Cit... Hagan. hlm. teori sub-culture membahas dan menjelaskan bentuk kenakalan remaja serta perkembangan berbagai tipe gang... merupakan cermin ketidakpuasan terhadap norma dan nilai kelompok kelas menengah yang mendominasi kultur Amerika. Di bidang pendidikan. usia muda masyarakat kelas bawah.. dan: Lilik Mulyadi. 29 dan vide pula: Frank E. Akibatnya. Dalam kepustakaan kriminologi dikenal dua teori sub-culture. Karena itu. timbul  Romli Atmasasmita. konsep anomie Robert K. TEORI SUB-CULTURE Pada dasarnya. Cit.. para kelas menengah mengharapkan pendidikan universitas bagi anak-anak mereka. Kemudian dalam bidang iptek. Merton hanya mengakui cara yang pertama. Kapita Selekta Hukum. Op.Loc. Introduction to Criminology Theories …. Sebagai social heritage. keberhasilan Uni Soviet mengorbitkan satelit pertamanya akhirnya berpengaruh besar dalam sistem pendidikan di AS. Teori sub-culture sebenarnya dipengaruhi kondisi intelektual (intelectual heritage) aliran Chicago.. 432. 18 . kenakalan adalah problem kelas bawah serta gang adalah bentuk paling nyata dari pelanggaran tersebut. Op.. Sedangkan Robert K.18 3.. Cit. Sutherland dan teori Anomie Albert K.. teori ini dimulai tahun 1950-an dengan bangkitnya perilaku konsumtif kelas menengah Amerika.. Teori dan Kapita Selekta. teori Differential Association dari Edwin H. Cohen berusaha menjelaskan terjadinya peningkatan perilaku delinkuen di daerah kumuh (slum).11 sukses. Cohen disebut sebagai “Status Frustration”. yaitu: TEORI DELINQUENT SUB-CULTURE Teori ini dikemukakan Albert K. Merton dan Solomon Kobrin yang melakukan pengujian terhadap hubungan antara gang jalanan dengan laki-laki yang berasal dari komunitas kelas bawah (lower class). Sehingga. Cohen dalam bukunya delinquent boys (1955) yang berusaha memecahkan masalah bagaimana kenakalan subculture dimuali dengan menggabungkan perspektif teori Disorganisasi Sosial dari Shaw dan McKay. Kondisi demikian mendorong adanya konflik budaya yang oleh Albert K.

Cohen bersama James Short melakukan klasifikasi sub-sub budaya delinkuen. (b) The conflict-oriented sub-culture the culture of a large gang that engages in collective violence . teori Differential Opportunity berorientasi dan membahas penyimpangan di wilayah perkotaan.. Ibid. 73. Cloward dan Leyod E. Cit.. hlm. and (e) Middle-class sub-culture-delinquent group that rise. dengki dan jahat)”. 75.. Menurut Cloward. 21 Frank P. Untuk itu. William III dan Marilyn McShane. menjadi : (a) A parent male sub-culture the negativistic sub culture originally identified to delinquent boys .. 20 . Ohlin dalam bukunya Delinquency and Opportunity: a Theory of Delinquent Gang (1960) yang membahas perilaku delinkuen kalangan remaja (gang) di Amerika dengan perspektif Shaw dan McKay serta Sutherland.19 Konsekuensi logis dari konteks diatas. Criminological .20 Akhirnya. Albert K. malicious and negativistic (tidak berfaedah. hlm. Penyimpangan tersebut merupakan fungsi perbedaan kesempatan yang dimiliki anak-anak untuk mencapai tujuan legal maupun illegal.. TEORI DIFFERENTIAL OPPORTUNITY Teori perbedaan kesempatan (differential opportunity) dikemukakan Richard A. (c) The drug addict sub-culture groups of youth whose lives revolve around the purchase sale. (d) Semi profesional theft-youths who engage in the theft or robbery of merchandise for the purpose of later sale and monetary gain . William III dan Marilyn McShane.. Criminological . Merton yaitu adanya kesempatan tidak sah (the illegitimate opportunity structure). terdapat struktur kesempatan kedua yang tidak dibahas teori anomie Robert K. Frank P... hlm. William III dan Marilyn McShane.21 Pada dasarnya. Op. use of narcotics . gang akan berlaku sebagai kelompok para remaja yang belajar dari  19 Frank P. 72. yaitu : (a) Criminal Sub-culture. Ibid.. because of the pressures of living in middle-class environments.. karena tidak adanya kesempatan yang sama dalam mencari status sosial pada struktur sosial maka para remaja kelas bawah akan mengalami problem status di kalangan remaja.12 keterlibatan lebih lanjut anak-anak kelas bawah dan gang-gang dan berperilaku menyimpang yang bersifat “nonutilitarian... Criminological . bilamana masyarakat secara penuh berintegrasi. Cloward dan Ohlin mengemukakan 3 (tiga) tipe gang kenakalan Subculture.

Frank P. 4.. Criminological . Gang subculture demikian ini cenderung memperlihatkan perilaku yang bebas. 22 . Ibid.. banyak kajian dilakukan tentang konflik budaya dan kenakalan. Berangkat dari polarisasi pemikiran di atas lebih lanjut dikaji mengenai :  Social Heritage/kondisi sosial Sejak beberapa tahun terakhir. Kriminal sub-culture menekankan aktivitas yang menghasilkan keuntungan materi. terdapat dalam suatu masyarakat yang tidak terintegrasi. hlm. TEORI CULTURE CONFLICT Teori Culture Conflict atau konflik kebudayaan akan dikaji dari perspektif social heritage. Frank Speek menyatakan bahwa konflik budaya dapat terjadi akibat dari pertumbuhan peradaban. William III dan Marilyn McShane. intellectual heritage. Aspek itu berkorelasi dengan organisasi kriminal. (b) Retreatist Sub-culture.. sehingga suatu organisasi menjadi lemah. penyalah gunaan narkoba dan lain sebagainya). (c) Conflict Sub-culture. uang atau harta benda dan berusaha menghindari penggunaan kekerasan. yaitu : a. Asumsinya bahwa keberadaan conduct norm yang legal maupun tidak. Menurut aliran Chicago. Ciri khas gang ini seperti adanya kekerasan.13 orang dewasa. perampasan harta benda dan perlikau menyimpang lainnya. kelompok persahabatan dan kelompok sosial yang menjadi lebih individual. berada dalam konflik satu sama lainnya. sehingga timbul konflik. dimana remaja tidak memiliki struktur kesempatan dan lebih banyak melakukan perilaku menyimpang (mabukmabukan.. teori serta asumsi dasarnya sehingga diharapkan relatif memadai untuk memahami teori culture conflict. urbanisasi dan industrialisasi telah menciptakan masyarakat yang memiliki variasi budaya bersaing dan berpeluang terpecah belah sebagai ulah masing-masing keluarga. Konflik budaya yang menyertai conduct norm merupakan akibat migrasi (perpindahan conduct norm dari satu budaya atau wilayah yang kompleks ke budaya lainnya). 43. Perilaku menyimpang umumnya terjadi tatkala seseorang berperilaku menurut tindakannya yang berkonflik dengan tatanan budaya yang dominan.22  Intellectual Heritage Teori konflik budaya dipengaruhi kondisi intelektual (Intellectual Heritage) dari beberapa kaum intelektual.

hlm. setiap kelompok mempunyai norma dan setiap norma dalam setiap kelompok lain memungkinkan untuk konflik. jika norma kelompoknya bertentangan dengan norma yang dominan dalam masyarakat..14 b. . 126. Cit. Clifford Shaw menunjukkan bahwa daerah perkotaan ditandai adanya kemiskinan yang amat sangat. “crime is product of culture”. perumahan kumuh yang tidak layak huni... d. Setiap individu boleh setuju dirinya berperan sebagai penjahat melalui norma yang disetujui kelompoknya. Begitu pula. Taft menyatakan.. c. semua culture conflict merupakan konflik dalam nilai sosial. adanya kelompok gang anak-anak nakal. Konsekuensinya. Sutherland menyatakan bahwa culture conflict merupakan dasar terjadinya kejahatan. Konflik norma tingkah laku dapat timbul karena adanya perbedaan cara dan nilai sosial yang berlaku di antara kelompok-kelompok.. kepentingan dan norma. Karena itu. Louis With menyatakan bahwa culture conflict merupakan faktor penting dalam timbulnya kejahatan. pengaruh tetangga yang kurang menguntungkan. konflik kadang-kadang merupakan hasil sampingan dari proses perkembangan kebudayaan dan peradaban atau acapkali sebagai hasil berpindahnya norma-norma perilaku daerah/budaya satu ke budaya lain dan dipelajari sebagai konflik mental. norma adalah aturan-aturan yang merefleksikan sikap dari kelompok satu dengan lainnya.. e.  Asumsi Dasar Teori Culture Conflict Secara gradual dan substansial.. 23 Freda Adler dkk..  Teori Culture Conflict Teori ini dikemukakan Thorsten Sellin dalam bukunya Culture Conflict and Crime (1938). Konflik norma dalam aturan-aturan kultural yang berbeda dapat terjadi antara lain disebabkan tiga aspek. Criminology : The Shorter . merupakan bagian terpenting untuk membedakan antara yang kriminal dan nonkriminal dimana yang satu menghormati pada perbedaan 23 kehendak/tabiat norma. Thorsten Sellin menyetujui bahwa maksud norma-norma mengatur kehidupan manusia setiap hari. Edwin H. menjadi pemicu terjadinya konflik perilaku. Op. Persetujuan pada rasionalisasi ini. menurut Thorsten Sellin. Fokus utama teori ini mengacu pada dasar norma kriminal dan corak pikiran/sikap. konflik norma terjadi karena berpindahnya orang desa ke kota. yaitu :  Bertemunya dua budaya besar.

atau bergolaknya daerah Siberia ketika diterapkannya hukum Uni Soviet. Misalnya.15 Konflik budaya dapat terjadi apabila adanya benturan aturan pada batas daerah kultur yang berdampingan. Konflik primer dapat terjadi ketika norma dari dua kultur. dengan menggunakan self report study yaitu interviu . Pertemuan tersebut mengakibatkan terjadinya kontak budaya di antara mereka. bertemunya orang-orang Indian dengan orang-orang kulit putih di AS. Contohnya. teori menggunakan perspektif baru dalam kajian terhadap kejahatan dan penjahat . Namun. diberlakukannya hukum Perancis terhadap suku Khabile di Aljazair.  Budaya besar menguasai budaya kecil. Konflik sekunder timbul ketika dari sebuah kultur kemudian terjadi varietas kultur. teori labeling mempunyai beberapa spesifikasi. Tipe konflik ini terjadi ketika kesederhanaan kultur pada masyarakat yang homogen berubah menjadi masyarakat yang kompleks. walaupun mempunyai budaya vendetta. Berdasar asumsi di atas ternyata Thorsten Sellin membedakan antara konflik primer dan konflik sekunder. 5. Misalnya. Konflik budaya dapat juga terjadi apabila satu budaya memperluas daerah berlakunya budaya tersebut terhadap budaya lain. yaitu :  Teori labeling merupakan cabang dari teori terdahulu. bertentangan. Aspek ini terjadi dengan norma hukum dimana undang-undang suatu kelompok kultural diperlakukan untuk daerah lain.  Teori labeling menggunakan metode baru untuk mengetahui adanya kejahatan. TEORI LABELING Teori Labeling timbul pada awal tahun 1960-an dan banyak dipengaruhi aliran Chicago. Pertentangan ini dapat terjadi pada batas areal kultur yang dimiliki masing-masing ketika hukum dari kelompok lain muncul ke permukaan daerah/teritorial lain atau ketika orang-orang satu kelompok pindah pada kultur yang lain. baik terhadap agama. Dibandingkan dengan teori lainnya. karena pindah ke AS maka orangorang Sicilia tunduk pada hukum AS. cara bisnis dan budaya minum minuman kerasnya yang dapat memperlemah budaya suku Indian tersebut. Konflik budaya timbul karena orang-orang yang hidup dengan budaya tertentu kemudian pindah ke lain budaya yang berbeda. salah satunya dibentuk dari penormaan sikap/tabiat.  Apabila anggota dari suatu budaya pindah ke budaya lain.

Pelanggaran hukum merupakan perilaku. Para ahli teori label mengemukakan bahwa penyimpangan sekunder adalah yang paling penting. Kemudian F. F. penyimpangan primer tidak mengakibatkan reorganisasi simbolis pada tingkat sikap diri dan peran sosial. reaksi masyarakat terhadap suatu perilaku dapat menimbulkan perilaku jahat. secara gradual asumsi dasar teori labeling meliputi aspek-aspek : . sedangkan kejahatan adalah reaksi kepada orang lain terhadap perilaku itu. Pengaruh/efek dari label sebagai suatu konsekuensi penyimpangan tingkah laku.M. Erikson (Notes on the Sociology of Deviance. Becker. sebagai pola-pola perilaku kejahatan terorganisir dalam sub-sub kultur atau sistem tingkah laku. sebagai hasil stres atau tekanan dari keadaan . Dari perspektif Howard S. Apabila dijabarkan. Lemert. 1967) dan Edwin Schur (Labeling Deviant Behavioer. Menurut Howard S. Pada dasarnya. terkait dengan masalah kejahatan yang dilakukan. yaitu : Menjelaskan tentang mengapa dan bagaimana orang-orang tertentu diberi cap atau label. yaitu : (a) Individual deviation. Penyimpangan primer muncul dalam konteks sosial. 1963).M. dimana timbulnya penyimpangan diakibatkan tekanan psikis dari dalam . budaya dan yang sangat bervariasi dan hanya mempunyai efek samping bagi struktur fisik individu. 1964). (b) Situational deviation. Dengan demikian. dan (c) Systematic deviation. Pelabelan terhadap seseorang terjadi pada saat/waktu ketika melakukan aksi. Becker. kajian terhadap teori label menekankan kepada dua aspek. siapa yang melakukan dan siapa korbannya serta persepsi masyarakat terhadap konsekuensi aksinya. Penyimpangan sekunder adalah perilaku menyimpang atau peran sosial yang berdasar pada penyimpangan primer. Kemudian dikembangkan oleh Howard Becker (The Outsider. karena merupakan proses interaksi antara orang yang dilabel dengan pelabel dan pendekatan ini sering disebut teori interaksi. Edwin Lemert (Human Deviance Social Problem and Social Control. 1971). Kai T. teori labeling dikorelasikan dengan buku Crime and the Community dari Frank Tannenbaum (1938). membedakan tiga bentuk penyimpangan. Lemert juga membedakan antara penyimpangan primer (primary deviance) dan penyimpangan sekunder (secondary deviance). Pada asasnya. harus dibedakan antara pelanggar hukum dengan pelaku kejahatan.16 terhadap pelaku kejahatan yang tidak tertangkap/tidak diketahui polisi.

Turk (1964) diarahkan pada reaksi masyarakat (societal reaction). Akhirnya. Menurut Bonger. Kemudian. model kehidupan orang tua mereka yang konvensional. yaitu jahat dan orang tidak jahat. sejumlah demonstrasi muncul dalam rangka menentang perang Vietnam pada tahun 1965-1968. pendorong penting terhadap bentuk konservatif teori konflik adalah Lewis Coser (1956) dan Ralf Dahrendorf (1958.  Intelectual Heritage Pada hakikatnya. Pemikiran teori konflik berakar dari teori-teori sosial Jerman seperti Hegel.  Perumusan kejahatan dilakukan oleh kelompok yang bersifat dominan atau kelompok berkuasa. seperti kelompok wanita dan homoseksual yang mencari ciri-ciri mereka sendiri dan persamaan dalam kesempatankesempatan sosial. Sementara itu. banyak orang di AS kecewa pada masyarakat mereka. sehingga tidak patut jika dibuat dua kategori. Adanya kesuksesan gerakan hak-hak sipil berhasil memberi inspirasi. TEORI KONFLIK  Social Heritage Pada dasarnya dekade tahun 1965-1975 merupakan masa kekacauan yang melanda masyarakat Amerika. meningkatnya radikalisme kaum akademis. Semua peristiwa ini merupakan bagian suasana dari kalangan orang muda yang menanyakan nilai-nilai kelas menengah Amerika. Ilmuan sosial bereaksi terhadap peristiwa-peristiwa waktu itu mulai menanyakan tentang sosial dan struktur hukum mengenai label yang sudah ditolak pernyataan Richard Quinney (1965) dan Austin T. tapi karena ditetapkan demikian oleh penguasa. pada awal abad ke-20 terjadi penciptaan teori kriminologi yang menggabungkan Marxis dan pendekatan psychoanalytic. Simmel dan Weber untuk memperoleh arah. secara umum menghidupkan lagi kepentingan . Gagasan-gagasan mereka inilah yang memperluas sudut pandang di tahun 60-an. Selanjutnya.  Pada dasarnya semua orang pernah melakukan kejahatan. skandal politik watergate memecahkan bayangan keraguan sinisme mengenai moralitas dan integritas semua aspek dari pemerintah Amerika. 1959). 6.  Orang tidak menjadi penjahat karena melanggar hukum.17  Tidak ada satupun perbuatan yang pada dasarnya bersifat kriminal.  Penerapan aturan tentang kejahatan dilakukan untuk kepentingan pihak yang berkuasa . teori konflik merupakan cabang dari teori label. Setelah berakhirnya periode optimisme (akhir 1950 sampai awal 1960-an). Karl Marx.

perilaku menyimpang didefinisikan oleh kelompok berkuasa dalam masyarakat untuk kepentingan mereka sendiri. Dengan kekuasaannya tersebut mereka dapat mempengaruhi pembuatan keputusan. Sehingga disetiap perubahan. 1.  hukum dibuat untuk kepentingan mereka yang memiliki kekuasaan politik . konflik konservatif dan konflik radikal. perspektif konflik menganut prinsip-prinsip sebagai berikut :  masyarakat terdiri dari kelompok-kelompok yang berbeda .  kepentingan utama dari pemegang kekuasaan politik untuk menegakkan hukum adalah menjaga dan memelihara kekuasaannya. Teori konflik mempunyai asumsi bahwa siapa yang memiliki kekuasaan lebih tinggi dalam kelas sosial akan memiliki powerful members pada masyarakat. . peranan kekuasaan terhadap kelompok masyarakat lain terus terjadi . Berangkat dari asumsi dasar di atas.  pada tiap tingkat. Perspektif Konflik Konservatif Konsep dasar dari teori konflik adalah kekuasaan dan penggunannya. penggunaan kekuasaan hukum dan penegakan hukum selalu menjadi alat dan mempunyai peranan penting dalam masyarakat.  kompetisi untuk terjadinya perubahan selalu eksis . asumsi dasar teori konflik berorientasi kepada aspekaspek sebagai berikut :  konflik merupakan hal yang bersifat alamiah dalam masyarakat . juga dapat memaksakan nilai-nilai terhadap kelas sosial yang lebih rendah.  Asumsi Dasar Hakikatnya. Dalam teori konflik. masyarakat cenderung mengalami perubahan.  dalam kompetisi. Teori ini beranggapan bahwa konflik terjadi di antara kelompok-kelompok yang mencoba menggunakan kontrol atas suatu situasi.  konflik antara kelompok-kelompok tersebut mencerminkan kekuasaan politik . Berangkat dari asumsi dasar dan prinsip-prinsip tersebut di maka bentuk teori konflik dapat dibagi menjadi dua bagian.  terjadi perbedaan penilaian dalam kelompok-kelompok tersebut tentang baik dan buruk .18 teori Marx dan beberapa teoritisi mulai memakai teori Marxist terhadap kejahatan dan struktur legal.

ia menyimpulkan dari beberapa premis dasar teori konflik. Vold berbicara mengenai adanya konflik dalam hukum pidana. Vold berpendapat bahwa sejak kelompok minoritas tidak memiliki kekuatan untuk mempengaruhi proses legislatif. law breaking and law enforcement. Dua tokoh teori konflik yang mengilustrasikan karakteristik bentuk konflik adalah George B. Turk mengatakan bahwa ketertiban masyarakat merupakan hasil dari kekuasaan kelompok tertentu untuk mengontrol masyarakat itu sendiri. Kontrol ini adalah pemaksaan Stuart H..24 Perilaku kejahatan menjelaskan dalam hubungan ideologi konflik dimana konflik timbul.. kekuasaan dan kejahatan. Austin T. E.19 Pada proses pembentukan hukum. George B.. sebagai berikut : “. and law enforcement directly refleas deep-seated and fundamental conflics between group interest and the more general struggles among group for control of the police of the state”. berakibat. 24 . New York. Tokoh teori konflik lainnya. Keduanya melahirkan suatu teori dengan menekankan bahwa dalam suatu masyarakat terdapat kelompok alamiah dan berbagai kelompok kepentingan yang berlomba terhadap kelompok alamiah lain. Dalam analisisnya. Hal ini bisa disebut sebagai refleksi konflik kelas terhadap proses politik tentang law making. hlm.the whole process of law making. Little. Vold. Pembentukan hukum merupakan perwujudan nilainilai para pembuatnya. Vold dan Austin T. tingkah laku mereka akan dikategorikan sebagai perbuatan kriminal. Vold. F. Theories of Deviance. kelas sosial yang lebih dominan dalam masyarakat akan menggunakan kekuasaan untuk mempengaruhi hukum tersebut dengan nilai-nilai mereka. Vold menilai. teori labeling cocok dengan teori konflik untuk menjelaskan proses reaksi dimana kelas yang sedikit memiliki kekuasaan akan menjadi perhatian dari para penegak hukum. sebagai akses dari kelompok minoritas dengan sedikit atau tanpa kekuasaan yang mempengaruhi perubahan dalam hukum. 334. persaingan kelompok-kelompok berkepentingan mempengaruhi pembuat peraturan untuk kepentingan kelompoknya. Pada aspek ini. law breaking. Akhirnya Austin T. Peacock Publisher to Inc. Kelas sosial tersebut akan menjadi pemegang dan siapa yang menentang mereka akan menjadi target dari penegak hukum. Teori konflik konservatif juga mengemukakan hubungan antara penggunaan kekuasaan dan pembentukan hukum. hukum dalam menentukan perbuatan kriminalisasi lebih diarahkan kepada mereka yang berada di luar kelompok pemegang kekuasaan. Austin T. di antara kelompok tersebut akan terjadi konflik kepentingan dan berkompetisi. bahwa kejahatan merupakan produk kekuasaan politik dalam masyarakat yang heterogen. Austin T. Menurut Austin T. George menganalisis mengenai konflik. Traub dan Craig B.

Austin T. Turk mengemukakan dua cara yang dipergunakan untuk mengontrol masyarakat. lebih bersifat halus.20 dari penempatan nilai-nilai ke dalam hukum dan kemudian adanya kekuasaan untuk menegakkan hukum. Menurut mereka. Ketika K. Austin T. Hal ini diperlukan karena mereka merasa kesulitan untuk mengontrol masyarakat. Marx. Penguasa lebih banyak menggunakan paksaan agar hukum ditaati. yang diterima sebagai norma sosial. Perspektif Konflik Radikal Teori konflik radikal memposisikan diri dari anarki politik menyambung Marxisme dan materialisme ekonomis menuju perbedaan nilai. K. Turk melihat bahwa penguasa harus menghadapi fakta dalam kehidupan. Marx melihat konflik dalam masyarakat disebabkan adanya hak manusia atas sumber-sumber tersebut. Konsep hubungan penguasa dengan subyek merupakan suatu hubungan yang penting. Austin T. Ketidaksamaan ini tercipta karena konflik kepentingan antara yang memiliki dan yang tidak memiliki kekuasaan. beberapa tokoh radikal kriminologi menyesuaikan contohcontoh umum masyarakat untuk menjelaskan mengenai kejahatan. 2) Menetapkan aturan-aturan untuk memproses orang-orang melalui penilaian sistem hukum. Pertama. Para tokoh teori ini adalah Camblis. Turk memulai konflik dengan artikel yang disebutnya sebagai “the study of criminality as opposed to criminal behavior” (1964). Seseorang dapat dinyatakan sebagai penjahat dalam hubungan antara penguasa dan subyek. Bentuk kontrol yang kedua. Quinney. Gordon Bohm dan K. Austin T. konflik akan timbul di antara para pekerja dan kaum pemilik modal. yang biasanya memerlukan alat untuk menjalankan kekuasaannya. yang meru- . Karena itu terdapat dua tipe hukum. Semua versi dari tokoh-tokoh di atas menyesuaikan uraiannya terhadap pendapat K. Mark. Marx sangat sedikit menyinggung masalah kejahatan dan penjahat. Turk kemudian menyatakan bahwa kejahatan merupakan status yang diperoleh penentang norma. Dalam masyarakat industri. Austin T. penguasa menggunakan paksaan atau kekuatan fisik. hukum merupakan sesuatu yang penting. Lebih lanjut. yaitu : 1) Aturan dari para petugas tentang bentuk perilaku jahat beserta pidana yang dikenakan. Sangat sulit untuk menentukan pendekatan apa yang digunakan. Para pekerja. 2. la mencoba untuk mencari hubungan antara kejahatan dengan hukum pidana. Digunakannya proses hukum ini memperlihatkan para penguasa menggunakan kontrol secant halus. Turk menjelaskan bahwa kejahatan hanya dapat ditemukan hukum pidana/kriminal. khususnya mengenai kekuasaan.

Sedangkan prilaku rulling class secara umum tidak ditempatkan di bawah hukum pidana.. mereka menganggap bahwa kelompoknya merupakan alat dari kaum rulling class. tetapi berlebihnya jumlah buruh yang sangat besar akan menimbulkan permasalahan. konflik kepentingan tercipta dalam proses pembuatan hukum. Pertama.” Menurut Gusfield's produksi.. yakni perebutan kepentingan dan persepsi terhadap konflik. terdapat dua hal yang menyebabkan kelompok.. Selanjutnya. Joseph R. 25 III dan Marilyn McShane. Marx. kaum radikal melihat semua kejahatan sebagai hasil perebutan kelompok yang merupakan pencerminan dari individualisme dan kompetisi. penjualan dan minuman keras masih didominasi kelompok yang berkepentingan tetapi bukan masalah Frank P. (4) mereka menolak untuk sekolah atau tidak percaya terhadap yang diperoleh dari kehidupan keluarga . 102. (5) mereka akan mengusulkan suatu masyarakat yang nonkapitalis. hlm. (2) mereka akan menolak untuk bekerja . Pengertian kejahatan dalam hukum merupakan refleksi pada konsep kapitalisme. Konflik dalam masyarakat ditentukan oleh kelompok-kelompok. perilaku menyimpang didefinisikan oleh kelompok berkuasa dalam masyarakat untuk kepentingan mereka sendiri. Gusfield's menjelaskan mengenai “Temperance movement. Berlebihnya buruh akan menyebabkan gaji rendah. Menurut kaum radikal. Pada akhir pembahasan mengenai konflik radikal.. Cit. Konflik merupakan :  fenomena yang alami/wajar . Richard Quinny (1977) dan Steven Spitze (1975) membahas berlebihnya jumlah buruh sebagai suatu permasalahan dalam masyarakat kapitalis. Menurut teori konflik K.  berdasarkan atas persepsi dan makna. . Kedua.21 pakan kaum buruh. didasarkan atas kepentingan mereka dan persepsi terhadap konflik dan biasanya konflik kepentingan tercipta dalam proses pembuatan hukum. William Criminological . akan mengembangkan prinsip perebutan (struggle) dan mereka menganggap kedudukan sebagai pemilik modal dalam masyarakat merupakan hal yang sangat menarik perhatian."25 Beberapa tokoh juga mengemukakan pendapat lain tentang teori konflik.  selalu terdapat dalam masyarakat . (3) mereka tetap menggunakan obat bius . Steven Spitzer mengemukakan lima tipe akibat berlebihnya jumlah buruh yang dikatakan sebagai population problem. Biasanya. yaitu : (1) orang miskin akan mencuri dari orang kaya . Op.

Ketiga perspektif dan paradigma tadi berkaitan erat satu sama lain sehingga secara skematis dapat digambarkan sebagai berikut : PERSPEKTIF PARADIGMA KONSENSUS (Conservative) POSITIVIS PLURALIS (Liberal) INTERAKSIONIS KONFLIK (Radikal) SOSIALIS Perspektif konsensus beranjak dari nilai-nilai yang hidup di tengah-tengah masyarakat Amerika Serikat. Jika model konsensus mengenai adanya kesepakatan-kesepakatan atas nilai-nilai (values) dan kepentingan-kepentingan (interest). positivis menekankan pada determinisme dimana tingkah laku seseorang adalah hasil hubungan sebab-akibat yang erat individu bersangkutan dengan lingkungannya. menurut model pluraris. “. dan 3. Hukum. Perspektif dimaksud adalah consencus.22 moralitas. maka perspektif pluralis justru mengakui adanya pelbagai kelompok dalam masyarakat yang memiliki berbagai ragam kepentingan dan nilai-nilai. mereka yang melanggar hukum mencerminkan keunikan-keunikan atau merupakan kelompok yang unik. 2. agama dan suku bangsa . Simecca dan Lee mengetengahkan tiga perspektif hubungan antara hukum dan organisasi kemasyarakatan serta tiga paradigma tentang studi kejahatan. . Prinsip-prinsip yang dianut perspektif konsensus ini memiliki dampak terhadap paradigma positivis dari studi kejahatan. tumbuh dalam masyarakat bukan karena kesepakatan-kesepakatan melainkan justru karena tidak adanya kesepakatan di antara anggota dalam masyarakat. Gusfield's memperhatikan amandemen ke-18 dimana. Perspektif pluralis dihasilkan dari suatu keadaan masyarakat majemuk dan kompleks. ketiga paradigma dimaksud adalah positivis. Joseph R. hukum merupakan pencerminan dari kehendak masyarakat banyak . Sementara. liberal dan terakhir radikal.. interaksionis dan sosialis. Prinsip-prinsip yang dianut oleh perspektif ini adalah : 1. Teori labeling menfokuskan diri pada bentuk “dramatic” dari penyimpangan. Sebagai suatu paradigma studi kejahatan. undang-undang larangan perdagangan minuman keras merupakan simbol kemenangan dari kelas menengah pedesaan melawan kaum imigran. hukum melayani semua orang tanpa kecuali atau secara negatif dapat dikatakan bahwa hukum tidak membeda-bedakan seseorang atas dasar ras. pluralist dan conflict atau dipandang sebagai suatu keseimbangan yang bergerak dari konservatif.” Alexander Liazos menjelaskan mengenai peranan kekuasaan dalam menentukan defmisi kejahatan..

23 Prinsip yang dianut pluralis adalah : 1. 2. Ditinjau dari akibatnya. Criminological .. William III dan Marilyn McShane. Pada tahun 1951. yaitu penjahat (criminal). Menurut Reiss. Frank P. yaitu : 1. Albert J. selama tahun 1950-an beberapa teorisi mempergunakan pendekatan teori kontrol terhadap kenakalan remaja. Ibid.. A lack of proper internal controls developed during childhood (kurangnya kontrol internal yang memadai selama masa anak-anak). terdapat tiga komponen kontrol sosial dalam menjelaskan kenakalan remaja. Kriminologi konservatif (sebagaimana teori ini berpijak) kucang menyukai “kriminologi baru” atau “new criminology” dan hendak kembali kepada subyek semula.26 Perkembangan berikutnya. bahkan pertentangan mengenai apa yang disebut benar dan salah . teori kontrol tidak lagi mempertanyakan mengapa orang melakukan kejahatan tetapi berorientasi kepada pertanyaan mengapa tidak semua orang melanggar hukum atau mengapa orang taat kepada hukum. dan 5. Reiss. hlm. teori kontrol berusaha mencari jawaban mengapa orang melakukan kejahatan. Pengaruh model perspektif pluralis terhadap paradigma studi kejahatan yang interaksionis terletak pada pengakuannya atas kemajemukan kondisi yang tumbuh dalam masyarakat. pemunculan teori kontrol disebabkan tiga ragam perkembangan dalam kriminologi. sistem hukum berpihak pada kesejahteraan terbesar masyarakat. 7. Pengaruh dimaksud kemudian menumbuhkan pentingnya peran pada penganut paradigma interaksionis. Kedua. munculnya studi tentang “criminal justice” dimana sebagai suatu ilmu baru telah mempengaruhi kriminologi menjadi lebih pragmatis dan berorientasi pada sistem. 2. yakni selfreport survey.. sistem hukum memiliki sifat bebas-nilai . khususnya bagi tingkah laku anak/remaja. dalam kelompok-kelompok ini terjadi perbedaan. A breakdown of those internal controls (hilangnya kontrol internal). 26 . 4. Pertama. masyarakat terdiri dari pelbagai kelompok .. Jr menggabungkan konsep kepribadian dan sosialisasi dengan hasil penelitian dari aliran Chicago dan menghasilkan teori kontrol sosial. teori kontrol sosial telah dikaitkan dengan suatu teknik penelitian baru. TEORI KONTROL Pada dasarnya. Ketiga. Berbeda dengan teori lain. terdapat kesepakatan tentang mekanisme penyelesaian sengketa . 109-110. adanya reaksi terhadap orientasi labeling dan konflik yang kembali menyelidiki tingkah laku kriminal. 3.

menurut F. William III dan Marilyn McShane. Stuart H. 111. lingkungan dekat. Traub dan Craig B. Criminological . alternatif untuk mencapai tujuan terbatas. Ivan Nye manusia diberi kendali supaya tidak melakukan pelanggaran. internalisasi. Kemudian. karena keluarga merupakan tempat terjadinya pembentukan kepribadian. Jr membedakan dua macam kontrol. “Apabila internal dan eksternal kontrol lemah. karena itu proses sosialisasi yang adequat (memadai) akan mengurangi 27 Frank P.. Kejahatan atau delinkuen dilakukan oleh keluarga. Pendekatan lain digunakan Walter Reckless (1961) dengan bantuan rekannya Simon Dinitz.” hal ini merupakan sesuatu yang jarang terjadi. Menurut F.Op. An absence of or conflict in social rules provided by important social group (the family.. 247-250. contaiment internal dan eksternal memiliki posisi netral. hlm.. Little. sekolah).. Walter Walter Reckless menyampaikan Contaiment Theory yang menjelaskan bahwa kenakalan remaja merupakan hasil (akibat) dari interelasi antara dua bentuk kontrol. the school) (tidak adanya norma-norma sosial atau konflik antara norma-norma dimaksud di keluarga. yaitu internal (inner) dan eksternal (outer). F. Menurut Walter Reckless. . close other.24 3. F. Ivan Nye disebabkan gabungan antara hasil proses belajar dan kontrol sosial yang tidak efektif. Reiss. berada dalam tarikan sosial (social pull) lingkungan dan dorongan dari dalam individu. maka terjadilah delinkuen. yaitu personal control dan sosial control. Sedangkan social control adalah kemampuan kelompok sosial atau lembaga-lembaga di masyarakat melaksanakan norma-norma atau peraturan-peraturan menjadi efektif.27 Selanjutnya. orang belajar baik dan buruk dari keluarga. Ibid. Albert J. 28 hlm. di samping unsur subkultur dalam proses terjadinya kejahatan. Theories of …. Jackson Toby memperkenalkan pengertian “Commitment” individu sebagai kekuatan yang sangat menentukan dalam membentuk sikap kontrol sosial. Ivan Nye dalam tulisannya yang berjudul Family Relationsip and Delinquent Behavior (1958). Personal control adalah kemampuan seseorang untuk menahan diri agar tidak mencapai kebutuhannya dengan cara melanggar norma-norma yang berlaku di masyarakat.. Ivan Nye pada hakikatnya tidak menolak adanya unsur-unsur psikologis. Sebagian kasus delinkuen. Cit. Scot Briar dan Irvine Piliavian menyatakan bahwa peningkatan komitmen individu dan adaptasi/ penyesuaian diri memegang peranan dalam mengurangi penyimpangan.28 mengemukakan teori kontrol tidak sebagai suatu penjelasan umum tentang kejahatan melainkan penjelasan yang bersifat kasuistis. Pada tahun 1957.

Ibid. dan d. Menurut F. sekalipun dilakukan oleh mereka yang berasal dari strata sosial rendah. internalized control exercised from within through conscience (kontrol internalisasi yang dilakukan dari dalam diri secara sadar) . faktor internal dan eksternal kontrol harus kuat.25 terjadinya delinkuensi. David Matza dan Gresham Sykes mengemukakan konsep atau teori yang dikenal dengan technique of netralization. Little. yaitu suatu teknik yang memberikan kesempatan bagi seorang individu untuk melonggarkan keterikatannya dengan sistem nilai-nilai yang dominan sehingga bebas untuk melakukan kenakalan. terikat pada sistem-sistem nilai dominan di dalam masyarakat. Ivan Nye terdapat empat tipe kontrol sosial. Traub dan Craig B.. menunjuk pada suatu anggapan di kalangan remaja nakal yang menyatakan bahwa dirinya 29 Stuart H. Teknik netralisasi ini dirinci David Matza dan Gresham Sykes. akan mengurangi terjadinya delinkuen. availability of alternative to goal and values (ketersediaan saranasarana dan nilai-nilai alternatif untuk mencapai tujuan). indirect control related to affectional identification with parent and other non-criminal persons. c. c. di sinilah dilakukan proses pendidikan terhadap seseorang yang diajari untuk melakukan pengekangan keinginan (impulse). sebagai berikut : 1. Theories of …. hlm. manusia diberikan kaidah-kaidah supaya tidak melakukan pelanggaran . diharapkan remaja mentaati hukum (law abiding). harus ada kontrol internal maupun eksternal. Asumsi teori kontrol yang dikemukakan F. . Kemudian. 247. b. b. direct control imposed from without by means of restriction and punishment (kontrol langsung yang diberikan tanpa mempergunakan alat pembatas dan hukum) . karena di situlah dilakukan proses pendidikan terhadap seseorang . yaitu :29 a. Konsep kontrol eksternal menjadi dominan setelah David Matza dan Gresham Sykes melakukan kritik terhadap teori subkultur dari Albert Cohen. Teknik yang disebut denial of responsibility. Ivan Nye terdiri dari : a. pentingnya proses sosialisasi bahwa ada sosialisasi yang adequat (memadai). Kritik tersebut menegaskan bahwa kenakalan remaja. juga dengan ketaatan terhadap hukum (law-abiding). dan d. Sebab. Di samping itu. (kontrol tidak langunsung yang berhubungan dengan pengenalan (identifikasi) yang berpengaruh dengan orang tua dan orang-orang yang bukan pelaku kriminal lainnya) .

Sehingga. Travis Hirschi berpendapat bahwa seseorang bebas untuk melakukan kejahatan atau penyimpangan tingkah lakunya. Versi teori sosial yang paling andal dan sangat populer dikemukakan Travis Hirschi (1969). Travis Travis Hirschi juga menegaskan bahwa tingkah laku tersebut diakibatkan oleh tidak adanya keterikatan atau kurangnya keterikatan (moral) pelaku terhadap masyarakat. perkelahian antara gang merupakan pertengkaran biasa. 3. 4. Kelima teknik netralisasi di atas menurut David Matza (1964). 5. 2. menunjuk pada suatu anggapan di kalangan remaja nakal bahwa mereka tertangkap di antara tuntutan masyarakat. menjadi “baik” atau “jahat”. mengakibatkan seseorang terjerumus dalam keadaan dimana kenakalan remaja atau penyimpangan tingkah laku sebagai sesuatu yang diperbolehkan. Teknik appeal to higher loyalties. yang kemudian ditegaskan sebagai penyimpangan atas apa yang disebut sebagai bond to moral order. Travis Hirschi sependapat dengan Durkheim dan yakin bahwa tingkah laku seseorang mencerminkan pelbagai ragam pandangan tentang kesusilaan/morality. Teori kontrol atau sering juga disebut dengan Teori Kontrol Sosial berangkat dari suatu asumsi atau anggapan bahwa individu di masyarakat mempunyai kecenderungan yang sama kemungkinannya. menunjuk kepada suatu anggapan bahwa polisi sebagai hipokrit. Teknik denial of injury. Teknik denial of the victim. Pengaruh teknik ini adalah mengubah subyek yang menjadi pusat perhatian. lingkungan pergaulan yang buruk atau berasal dari tempat tinggal kumuh (slum). Selain menggunakan teknik netralisasi untuk menjelaskan tingkah laku dimaksud. mereka beranggapan bahwa vandalisme merupakan kelalaian semata-mata dan mencuri mobil sesungguhnya meminjam mobil. telah memberikan suatu gambaran jelas mengenai konsep social bond. hukum dan kehendak kelompok mereka. berpaling dari perbuatan-perbuatan kejahatan yang telah dilakukannya. Teknik yang disebut condemnation of the comdemners. dengan keahlian merevisi teori-teori sebelumnya tentang kontrol sosial. munafik atau pelaku kejahatan terselubung yang melakukan kesalahan atau memiliki perasaan tidak senang pada mereka. menunjuk kepada suatu keyakinan diri pada remaja nakal bahwa mereka adalah pahlawan sedangkan korban justru dipandang sebagai mereka yang melakukan kejahatan. Ia menjadi baik kalau masyarakatnya membuatnya demikian. menunjuk kepada suatu alasan di kalangan remaja nakal bahwa tingkah laku mereka sesungguhnya tidak merupakan suatu bahaya yang besar/berarti. pun ia menjadi jahat apabila . Baik jahatnya seseorang sepenuhnya tergantung pada masyarakatnya.26 merupakan korban dari orang tua yang tidak kasih. Hirschi.

Penerbit PT. ia tidak sempat lagi memikirkan hal-hal yang bertentangan dengan hukum. Sahetapy.27 masyarakat membuatnya begitu. Kedua. Keempat. Criminological . dan sebagainya. maka orang tersebut akan peka terhadap pikiran. segala aktivitas yang dapat memberi manfaat akan mencegah orang itu melakukan perbuatan yang bertentangan dengan hukum.. Teori Kriminologi Suatu Pengantar. Segala kegiatan yang dilakukan seseorang seperti sekolah. Kaitan attachment dengan penyimpangan adalah sejauh mana orang tersebut peka terhadap pikiran. organisasi dan sebagainya. reputasi. 20. Op. Cit. keterikatan dengan sekolah (guru) dan keterikatan dengan teman sebaya.. Belief merupakan kepercayaan seseorang pada nilai-nilai moral yang ada. Involvement merupakan aktivitas seseorang dalam subsistem. kegiatan dalam organisasi akan mendatangkan manfaat bagi orang tersebut.. Pertanyaan dasar yang dilontarkan paham ini berkaitan dengan unsur-unsur pencegah yang mampu menangkal timbulnya perilaku delinkuen di kalangan anggota masyarakat. Kepercayaan seseorang terhadap norma-norma yang ada menimbulkan kepatuhan terhadap norma tersebut. perasaan dan kehendak orang lain sehingga ia dapat dengan bebas melakukan penyimpangan. Sehingga. 113. Attachment sering diartikan secara bebas dengan keterikatan.. Pertama. pekerjaan. 30 . Bandung. Traub dan Craig B. Komitmen merupakan aspek rasional yang ada dalam ikatan sosial. “mengapa kita patuh dan taat pada norma-norma masyarakat” atau “mengapa kita tidak melakukan penyimpangan?” Menurut Travis Hirschi. Frank P. William III dan Marilyn McShane. masa depan. Logika pengertian ini adalah bila orang aktif di segala kegiatan maka ia akan menghabiskan waktu dan tenaganya dalam kegiatan tersebut. Ikatan pertama yaitu keterikatan dengan orang tua. Cit. Citra Aditya Bakti. hlm. Belief merupakan aspek moral yang terdapat dalam ikatan sosial dan tentunya berbeda dengan ketiga aspek di atas. Jika seseorang berperan aktif dalam organisasi maka kecil kecenderungannya untuk melakukan penyimpangan. Little. perasaan dan kehendak orang lain. Theories of …. Kepatuhan terhadap norma tersebut tentunya akan mengurangi hasrat untuk melanggar. utamanya para remaja. Commitment adalah keterikatan seseorang pada subsistem konvensional seperti sekolah. Lihat Stuart H. Attachment adalah kemampuan manusia untuk melibatkan dirinya terhadap orang lain. 257 dan dapat pula dilihat. J. Manfaat tersebut dapat berupa harta benda.30 terdapat empat elemen ikatan sosial (social bond) dalam setiap masyarakat.. bila orang tidak mematuhi norma-norma maka lebih besar kemungkinan melakukan pelanggaran. E. hlm. pekerjaan. Kalau attachment ini sudah terbentuk. Ketiga. Dengan demikian. hlm. Op. Tetapi.

anak lelaki yang terbebas dari keterikatan ini lebih memungkinkan untuk berpindah-pindah ke kelas atas.28 Hubungan antara Attachment dan Commitment seringkali dinyatakan cenderung berubah-ubah secara terbalik. kegagalan dalam menjelaskan peluang kejadian yang menghasilkan lebih tidaknya social bond. teori ini dapat diuji secara empiris oleh banyak sarjana seperti Wiatrowski. Menurut riset stratifikasi. . Sedangkan kekuatan kontrol sosial terletak pada aspek-aspek : 1. belief. Menurut riset tentang delinkuen. Kita dapat berusaha memperlihatkan bagaimana komitmen membatasi kesempatan seseorang untuk melakukan kejahatan dan dengan demikian dijauhkan dari anggapan (asumsi) banyak teori kontrol bahwa kesempatankesempatan seperti itu secara sederhana dan acak disebarkan melalui populasi yang diperlukan. teori ini berusaha menjelaskan kenakalan remaja dan bukan kejahatan oleh orang dewasa . Keterikatan yang mencegahnya mencurahkan waktu dan energi yang cukup bagi aspirasi pendidikan dan pekerjaan. salah satu “masalah” anak remaja dari kelas bawah adalah bahwa dia tidak mampu memutuskan keterikatan dengan orang tua dan kawan sebaya. Hubungan elemen terakhir dari teori kontrol sosial adalah antara Attachment dan Belief. Griswold dan Roberts . kita bisa menyimpulkan bahwa baik attachment maupun commitment tidak akan dihubungkan dengan kejahatan. ikatan sosial (social bond) dalam teori Hirschi seperti values. 4. Teori kontrol mempunyai sejumlah kelemahan maupun kelebihan. teori ini menaruh perhatian cukup besar pada sikap. keinginan dan tingkah laku yang meski menyimpang sering merupakan tingkah laku orang dewasa . bahwa terdapat hubungan yang kurang lebih berbanding lurus antara keterikatan dengan yang lainnya dan kepercayaan dalam keabsahan moral dari peraturan yang ada. 2. 3. Adapun kelemahannya berorientasi pada : 1. Kedua tradisi riset demikian menyatakan bahwa orang-orang yang terikat pada conformity (persesuaian) karena alasan-alasan instrumental kurang mungkin untuk terikat persesuaian berdasarkan alasan emosional yang lainnya. norma dan attitudes tidak pernah secara jelas didefinisikan . Apabila mereka yang tidak terikat dikompensasikan atas kekurangan keterikatan berdasarkan komitmen untuk berprestasi dan apabila yang tidak melakukannya berubah menjadi terikat dengan orang-orang. Pertautan paling jelas antara unsur/elemen commitment dan involvement nampak dalam komitmen di bidang pendidikan dan pekerjaan sertaketerlibatan dalam aktivitas-aktivitas konvensional.

Malang. teori kontrol sosial merupakan salah satu teori kontemporer yang memiliki daya tarik kuat dalam dalam hal mendorong penelitianpenelitian yang berarti. 5-6 Januari 2009 .29 2.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->